Penulis: syiahali

web syiah imamiyah

Kewaspadaan Syi’ah Terhadap Fitnah Perpecahan Islam

Persatuan dan solidaritas merupakan langkah logis dan rasional, juga sesuai dengan ajaran agama Islam. Sebaliknya perpecahan merupakan fenomena tidak logis dan bertentangan dengan karakter manusia bahkan bertentangan dengan anjuran AlQuran. Meski demikian, dengan alasan-alasan sejarah dan politik, dewasa ini terdapat perselisihan dan perpecahan di dunia Islam. Kondisi ini melemahkan sikap umat Islam terhadap musuh-musuh imperialis. Sejak dulu, para cendikiawan Islam menekankan persatuan umat Islam berporoskan berbagai sisi kolektif yang dimiliki dan banyak merealisasikan upaya dalam hal ini. Menyusul kemenangan Revolusi Islam Iran, langkah-langkah menuju persatuan semakin dipercepat dan telah diambil langkah penting dalam hal ini oleh pendiri Republik Islam Iran, Ayatullah Khomeini ra. Kini kita juga menyaksikan bahwa Rahbar, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, juga menjadikan persatuan dan solidaritas Islam sebagai pedoman kebijakannya.

 

Rahbar dalam pertemuan dengan masyarakat dan para pejabat tinggi negara, menekankan pentingnya persatuan dan solidaritas tersebut. Tentunya Rahbar menekankan bahwa persatuan antarmasyarakat dan umat Islam lebih penting dari persatuan antarpemerintahan. Beliau mengatakan, “Umat Islam adalah inti dari struktur ini. Berkah dan kebaikan terdapat dalam struktur besar ini dan tekad mereka dapat memindahkan gunung-gunung. Gerakan mereka dapat memperluas dan menyebarkan nilai-nilai Islam ke seluruh penjuru dunia.” Menurut Rahbar, dalam beberapa abad terakhir, faktor utama perpecahan umat Islam adalah faktor eksternal, yakni makar musuh-musuh Islam khususnya makar para penjajah Barat. Kaum imperialis Barat mencampuri urusan dalam negeri negara-negara dunia ketiga dan merampas kekayaan dan sumber-sumber alam negara-negara itu dengan menebar perpecahan di tengah masyarakat. Pemerintah Barat kini menggunakan berbagai macam cara untuk menyulut perpecahan antar umat Islam.

 

Seraya menyeru kembali umat Islam pada persatuan, Rahbar juga memperingatkan faktor-faktor perpecahan dan perselisihan. Dikatakannya, “Saya kembali menyatakan seruan bangsa Iran untuk ke-100 dan ke-1.000 kalinya, kepada saudara-saudara Muslim di seluruh penjuru dunia, jagalah persatuan kalian. Jangan sampai kalian menjadi permainan musuh-musuh kolektif kalian yang ingin menyulut perpecahan dengan mengemukakan isu etnis arab dan ajam, sunni atau Syiah, atau berbagai isu lainnya.” Rahbar berharap umat Islam untuk tidak menanti sikap dari para pemerintah dan menghindari perpecahan. Apalagi di dunia Islam, sejumlah pemerintahan yang tergantung pada pihak asing sengaja mengobarkan perpecahan demi melanggengkan dan menjaga kepentingan mereka. Makar ‘Bulan Sabit Syiah’ dan propagandanya di media massa yang berafiliasi dengan sejumlah pemerintahan Arab di kawasan, juga dalam rangka menyulut perpecahan dalam umat Islam.

 

Akan tetapi Rahbar tidak mendefinisikan persatuan dengan menjadi satu, karena perbedaan antarmanusia merupakan hal yang alami dan lumrah. Beliau berpendapat bahwa perselisihan pendapat di jalan yang benar adalah hal yang berguna dan dapat menjadi faktor perkembangan dan kemajuan. Pada saat yang sama, Rahbar menekankan bahwa perselisihan seperti ini jangan sampai dimanfaatkan oleh musuh. Dalam hal ini Rahbar mengatakan, “Jelas bahwa dua madzhab di sebagian masalah ushul dan furu’ berbeda pendapat, namun dalam banyak sisi juga memiliki persamaan pendapat. Akan tetapi perbedaan pendapat itu tidak berarti permusuhan.” Ayatullah Khamenei berpendapat bahwa perbedaan pendapat dua madzhab Sunni dan Syiah tidak boleh berubah menjadi dendam dan permusuhan. Apalagi kedua pihak memiliki kekolektifan pendapat di berbagai bidang ushul dan furu’ agama seperti Keesaan Allah swt, kenabian Muhammad saaw, AlQuran, kiamat, dan berbagai ibadah seperti shalat, puasa, haji, jihad, dan lain-lain.

 

Dalam menjelaskan pentingnya toleransi terhadap keyakinan pihak lain, Rahbar menjelaskan, “Fatwa-fatwa para fuqaha Syiah dalam banyak hal berbeda 180 derajat. Fatwa-fatwa para ahli fiqih Sunni juga berbeda-beda dalam banyak hal. Namun kita tidak perlu saling melontarkan olokan atau cacian. Si polan bermadzhab ini dan si polan bermadzhab itu. Rahbar menegaskan, “Tentunya, hal yang menggembirakan adalah keyakinan sebagian besar umat Islam terhadap solidaritas dan persatuan Islam, serta penghindaran perpecahan. Masalah kebangkitan umat Islam yang seiring dengan berlalunya waktu juga semakin meningkat. Menurut beliau pentingnya persatuan kini telah dirasakan semua pihak. Oleh karena itu, upaya musuh pun juga akan semakin meningkat. Lebih lanjut Rahbar mengatakan, “Dewasa ini serangan terhadap Islam dan nilai-niai sucinya semakin gencar. Ini bukan dikarenakan kekuatan mereka semakin meningkat, melainkan karena mereka semakin khawatir atas gerakan besar umat Islam. Sebab itu mereka mengerahkan seluruh senjata propaganda mereka untuk menakut-nakuti bangsa dan pemerintahan Islam. Dan satu-satunya cara terbaik untuk menghadapi makar tersebut adalah dengan menjaga persatuan.”

 

Mengingat eskalasi kebangkitan Islam dan kecenderungan terhadap persatuan dan solidaritas Islam, sejumlah oknum dan kelompok menyimpang dan fanatik, serta anasir pihak-pihak asing, berupaya menyulut perpecahan dalam umat Islam. Rahbar berulangkali menyatakan bahwa pihak-pihak tersebut sadar atau tidak telah dijadikan alat oleh musuh Islam. Beberapa waktu lalu, dalam kunjungannya ke Propinsi Kurdistan yang sebagian besar warga di wilayah ini bermadzhab Sunni, Rahbar secara gamblang menyatakan bahwa penebaran perpecahan dari pihak manapun, bertentangan dengan syariat Islam. Beliau mengatakan, “Terkadang sebagian orang menjadi antek-antek musuh namun mereka tidak menyadarinya. Banyak orang salafi dan wahabi yang didukung dengan ‘dolar-dolar minyak’ untuk melancarkan aksi teror di sana-sini, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menjadi antek-antek musuh. Oknum Syiah yang menistakan nilai-nilai suci kaum Sunni juga antek-antek musuh, meski ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah dilakukannya. Saya katakan bahwa faktor-faktor utama perpecahan ini adalah musuh.”

 

Sayang sekali pemikiran dan perspektif keliru sejumlah ulama yang terbelakang kian memperparah perselisihan tersebut. Fatwa-fatwa pengkafiran terhadap kaum Syiah juga bersumber dari keyakinan menyimpang dan anti-persatuan ini. Lebih lanjut Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran ini menjelaskan, “Dewasa ini, kelompok Wahabi dan Salafi, menyebut kaum Syiah kafir, begitu pula dengan kaum Sunni yang mencintai Ahlul Bait. Dari mana asalnyanya pemikiran keliru seperti ini?” Fanatisme dan penyimpangan sejumlah ulama Wahabi membuat mereka terjerumus dalam kelompok orang yang memperjuangkan kepentingan ilegal musuh. Padahal berdasarkan berbagai hadis terpercaya, setiap orang yang mengucapkan dua kalimat syahadah adalah Muslim dan mengalirkan darahnya adalah dosa yang tidak dapat diampuni. Namun sayang sekali kita menyaksikan di Irak, Afghanistan, dan Pakistan, muncul oknum-oknum yang mengaku Muslim namun setiap hari melakukan pengeboman yang menewaskan puluhan orang termasuk perempuan dan anak-anak. Rahbar menyebut aksi pengeboman itu sebagai ‘Bom anti-persatuan’ dan menyatakan, “Salah satu tujuan pasti dari aksi-aksi berdarah itu adalah menyulut perpecahan antara Syiah dan Sunni.”

 

Tentang kecintaan terhadap Ahlul Bait yang biasanya dinisbatkan kepada kaum Syiah, Rahbar menegaskan, “Tidak ada pihak yang boleh beranggapan bahwa Ahlul Bait (keluarga) Rasulullah hanya untuk orang-orang Syiah saja. Tidak. Mereka adalah milik seluruh dunia Islam. Siapa yang tidak mengakui Fatimah Az-Zahra sa? Siapa yang tidak menerima Imam Hasan dan Husain as, penghulu pemuda penghuni sorga? Siapa yang tidak mengakui para imam Syiah yang mulia?” Dengan demikian, Rahbar berupaya untuk menghapus kesalahpahaman dan perspektif menyimpang, serta menyeru seluruh umat Islam untuk bersatu. Beliau berpendapat bahwa tuntutan utama dunia Islam saat ini adalah persatuan dan solidaritas. Beliau menandaskan, “Jika seruan persatuan Islam ini terwujud, kalian saksikan fenomena besar seperti apa yang akan terjadi.” Persatuan seperti itu telah disebutkan dalam AlQuran. “Dan berpegang teguhlah kalian pada tali Allah dan jangan kalian berpecah-belah.”

Ghadir Kum, Peristiwa Yang Disembunyikan Sunni

Berkenaan dengan hari raya Ghadir Khum yang didalam riwayat-riwayat kita disebut dengan ied akbar, saya ucapkan selamat kepada segenap umat Syiah dunia, kepada bangsa Iran yang mulia, kepada hadirin sekalian yang terhormat, dan kepada segenap orang mengakui tingginya kedudukan makrifat-makrifat Ilahi yang murni.
Pada hari-hari pertama tahun ini, terdapat beberapa hari bahagia untuk masyarakat secara umum yaitu hari raya Norouz yang sebelumnya adalah Idul Adha, dan sekarang ialah hari raya Ghadir Khoum. Dalam suasana penuh vitalitas, suka cita dan di sisi makam suci Hazrat Abul Hasan Imam Ali bin Musa Arridha A.S ini masalah pertama yang ingin saya kemukakan di depan para hadirin saudara dan saudari sekalian ialah menyangkut masalah AlGhadir sendiri.
Al-Ghadir adalah masalah keislaman dan bukan masalah kesyiahan saja. Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah mengutarakan suatu pernyataan dan beliau aktualisasikan. Pernyataan dan aktualisasi ini memiliki pelajaran dan makna dari berbagai aspeknya. Kita tidak bisa mengatakan bahwa AlGhadir dan hadits AlGhadir hanya digunakan oleh kaum Syiah sedangkan umat Islam lainnya tidak memanfaatkan kandungan ucapan mulia Rasul yang kaya muatan dan tidak dikhususkan untuk masa tertentu ini. Hanya saja, karena dalam kasus Ghadir Khoum ini terdapat pengangkatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib A.S, maka umat Syiah lebih menaruh perhatian kepada hari dan hadits ini. Tetapi, kandungan hadits AlGhadir tidak hanya menyangkut masalah pengangkatan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, melainkan juga mengandung muatan-muatan lain yang bisa diaplikasikan oleh umat Islam lainnya.
Mengenai prinsip terjadinya peristiwa AlGhadir, sudah sepatutnya semua orang yang berminat kepada masalah-masalah sejarah Islam mengetahui bahwa masalah Ghadir Khoum adalah satu masalah yang diakui dan tidak diragukan kebenarannya. Bukan hanya orang Syiah yang meriwayatkannya. Para ahli hadits Sunni maupun Syiah, baik pada periode terdahulu maupun periode pertengahan dan setelahnya, telah meriwayatkan peristiwa yang terjadi dalam perjalanan Haji Wada’ Rasul di Ghadir Khoum. Rombongan besar umat Islam yang turut menunaikan haji bersama Rasul dalam perjalanan ini sebagian ada yang di depan. Rasul mengirim para kurir kepada mereka yang ada di depan supaya kembali ke belakang dan berhenti agar mereka yang berada di barisan belakang tiba di tempat.
Rapat akbar pun terjadi. Sebagian orang mengatakan jumlahnya 90 ribu, sebagian lagi mengatakan 100 ribu, ada pula yang mengatakan 120 ribu. Di saat cuaca panas, masyarakat Jazirah Arab yang sebagian besar adalah penghuni gurun sahara dan desa-desa yang terbiasa dengan cuaca panas bahkan ada yang tidak tahan dengan panas cuaca saat itu. Mereka berdiri di atas tanah yang panas menyala. Mereka meletakkan pakaian aba’ah di bawah kaki supaya tahan panas. Hal ini juga disebutkan dalam riwayat-riwayat Ahlussunah.
Dalam situasi seperti ini, Rasululllah Saw menampilkan Amirul Mukminin di depan mata orang-orang kemudian berkata:
“Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinya, maka Ali-lah pemimpinnya. Ya Allah tolonglah orang yang menolongnya, dan musuhilah orang yang memusuhinya.”
Kata-kata ini tentunya juga beliau utarakan sebelum dan sesudahnya. Tetapi masalahnya yang terpenting ialah bahwa di sini beliau mengutarakan secara resmi dan tegas masalah wilayat (kepemimpinan), yakni masalah pemerintahan Islam serta menunjuk Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sebagai figur pilihan. Seperti yang tentu pernah Anda dengar dan pernah pula saya utarakan, saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah juga meriwayatkannya dalam puluhan kitab-kitab muktabar mereka, dan bukan dalam satu atau dua kitab saja. Riwayat-riwayat ini sudah dihimpun oleh Almarhum AlAllamah AlAmini. Selain beliau, juga banyak para penulis yang mencatatnya dalam jumlah kitab yang besar. Atas dasar ini, pertama-tama hari ini adalah hari wilayat (kepemimpin), dan kedua adalah hari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib.
Dalam kalimat yang diucapkan Rasul ini, apakah makna wilayat? Secara ringkas, maknanya ialah bahwa Islam tidak terbatas hanya pada solat, puasa, zakat, dan amal-amal ibadah individual. Islam juga memiliki sistem politik dan pemerintahan yang berlandaskan ketentuan-ketentuan yang sudah dipertimbangkan. Dalam terminologi Islam, pemerintahan Islam ialah wilayat. Dalam bentuk bagaimanakah wilayat itu? Wilayat ialah suatu pemerintahan di mana sosok yang berkuasa memiliki ikatan-ikatan cinta, batin, pemikiran dan akidah dengan segenap lapisan masyarakat. Makna wilayat bukanlah pemerintahan yang dipaksakan, pemerintahan yang disertai kudeta, pemerintahan yang penguasanya tidak menerima akidah rakyatnya, tidak mementingkan pikiran-pikiran dan sensibilitas rakyatnya, dan bahkan pemerintahan yang sudah umum ditengah masyarakat -sebagaimana pemerintahan-pemerintahan yang ada di dunia sekarang ini- dimana penguasanya menikmati berbagai fasilitas khusus dan perlakuan istimewa serta terdapat zona khusus untuknya guna mendapatkan kenikmatan-kenikmatan duniawi.
Wilayat adalah pemerintahan yang didalamnya terdapat ikatan-ikatan pemikiran, akidah, kasih sayang, kemanusiaan, dan cinta antara penguasa dan rakyat. Pemerintahan dimana rakyat bersambung dan bergabung dengan penguasa, menaruh simpati kepadanya, dan penguasanya pun menganggap sumber seluruh sistem politik beserta tugas-tugasnya ini adalah dari Allah, serta memandang dirinya sebagai hamba dan abdi Allah. Dalam wilayat tidak ada aroganisme.

Pemerintahan yang diperkenalkan oleh Islam lebih merakyat daripada demokrasi-demokrasi yang popular di dunia. Pemerintahan ini memiliki ikatan dengan pikiran, perasaan, akidah dan berbagai kebutuhan pemikiran rakyat. Pemerintahan adalah untuk melayani masyarakat.
Secara materi, pemerintahan tidak boleh dipandang sebagai santapan untuk diri penguasa dan komponen pemerintahan. Bermegah-megahan bukanlah wilayat. Bukanlah sosok pemimpin orang yang berada di pucuk pemerintahan Islam kemudian mengincar materi demi kekuasaan, demi dirinya, demi kedudukan yang sudah dan akan dicapainya. Dalam pemerintahan Islam sosok wali amr yaitu orang yang diserahi urusan mengelola sistem politik secara hukum sederajat dengan orang lain. Dia memang berhak untuk melaksanakan berbagai pekerjaan besar untuk rakyat, negara, Islam dan umat Islam, namun dia sendiri juga berada di bawah hukum.
Sejak hari pertama hingga sekarang, khususnya setelah berdirinya pemerintahan Republik Islam, terdapat orang-orang yang menyelewengkan makna wilayat. Wilayat diperkenalkan sebagai sesuatu yang bukan apa adanya. Mereka katakan makna wilayat ialah bahwa rakyat itu terlarang dan memerlukan ketua dan pemimpin. Orang-orang yang punya nama secara tegas menulis sedemikian ini di dalam buku-buku dan artikel-artikel mereka. Ini adalah dusta belaka dan merupakan fitnah kepada Islam dan wilayat.
Dalam AlGhadir, masalah wilayat diutarakan Rasul sebagai satu masalah resmi, dan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ditunjuk sebagai substansinya. Tentu saja terdapat banyak rincian dalam masalah ini, dan Andapun mengetahuinya. Dan kalau masih ada orang yang tidak mengetahui rincian itu, khususnya para pemuda, maka hendaknya merujuk kepada berbagai tulisan dan kitab argumentatif dan ilmiah. Dalam hal ini berbagai kitab sudah ditulis dan bermanfaat.
Dalam permulaan tahun ini saya sudah mengemukakan seruan persatuan nasional dan keamanan nasional. Mengenai dua seruan ini, saya berminat untuk menjelaskan dua materi ringkas kepada hadirin yang mulia serta kepada segenap masyarakat Iran. Masalah Ghadir Khoum bisa dijadikan sebagai sumber persatuan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Almarhum Ayatullah Syahid Mutahari dalam artikelnya yang berjudul ‘Ghadir Khoum dan Persatuan Islam’. Beliau menyebut kitab AlGhadir yang membicarakan berbagai persoalan menyangkut peristiwa Ghadir Khoum sebagai salah satu poros persatuan Islam. Dan ini memang benar.
Kelihatannya mungkin aneh, tetapi inimerupakan kenyataan. Masalah AlGhadir, selain aspek dimana Syiah menerimanya sebagai keyakinam, yaitu penobatan Amirul Mukminin oleh Rasul sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits AlGhadir, juga mengemukakan masalah wilayat yang merupakan masalah lintas Sunnah dan Syiah. Jika sekarang ini umat Islam dunia dan bangsa-bangsa di negara-negara Islam meneriakkan seruan wilayat Islami, niscaya sebagian besar jalan keluar tidak akan hilang, berbagai kebuntuan umat Islam akan terbuka dan berbagai dilematika dunia Islam akan segera teratasi.
Masalah pemerintahan, sistem, dam otoritas politik adalah salah satu masalah yang tersulit untuk berbagai negara. Sebagian negara terbentur kepada despotisme dan diktatorial, kepada pemerintahan yang korup, kepada pemerintahan yang rentan, dan kepada pemerintahan boneka. Jika pemerintahan Islam sesuai maknanya yang hakiki, yakni wilayat, ditampilkan sebagai satu syiar untuk umat Islam, maka kelemahan akan terobati, begitu pula masalah ekonomi, masalah status sebagai negara boneka, dan masalah diktatorial. Atas dasar ini, bendera wilayat adalah satu bendera Islami.
Kepada segenap saudara-saudara dari kalangan Syiah dan Sunni di negara kita ini -untuk sementara ini sengaja saya kemukakan batasan geografis-, saya menghimbau supaya masalah AlGhadir ditinjau dengan kacamata ini, serta menaruh perhatian kepada bagian dari hadits dan masalah AlGhadir ini. Saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah hendaknya juga merayakan hari raya AlGhadir, hari raya wilayat, sebagaimana kami. Hari ini adalah merupakan asal kelahiran masalah wilayat, karena itu hari ini sangatlah penting, sebagaimana pentingnya wilayat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib yang disepakati bersama oleh kita dan saudara-saudara kita dari kalangan Sunni.
Baik pada masa pasca kemenangan revolusi maupun pada masa pra revolusi, saya selalu meyakini bahwa Syiah dan Sunnah sudah seharusnya menyingkirkan pertikaian lamanya dalam pergaulan mereka sehari-hari. Konfrontasi dan perdebatan harus disingkirkan lalu merekatkan berbagai persamaan mereka. Ini sendiri juga merupakan salah satu dari berbagai kesamaan itu. Sampai sekarang saya masih meyakini hal ini.
Dewasa ini, banyak sekali upaya untuk menciptakan ikhtilaf antara Syiah dan Sunnah. Namun orang-orang yang berpikir dan pandai menganalisis tentunya mengetahui keuntungan dan manfaat yang bisa diperoleh kaum mustakbirin dari upaya ini. Tujuan mereka ialah menceraikan Iran dari himpunan negara-negara Islam. Revolusi Islam hanya terbatas pada teritorial Iran. Mereka menciptakan kondisi supaya Iran mendapat tekanan dari negara-negara Islam lainnya, serta mencegah bangsa-bangsa lain mengambil pelajaran dari bangsa Iran. Kita harus benar-benar melawannya. Siapapun, baik dari lingkungan Sunnah maupun Syiah, yang membantu terjalinnya solidaritas dan komunikasi yang baik dan bersahabat antara Syiah dan Sunnah, maka ia telah melakukan pekerjaan yang menguntungkan revolusi, Islam dan cita-cita umat Islam. Dan siapapun yang berusaha menciptakan perpecahan, maka ia telah bergerak kepada arah yang berlawanan.
Saya mendapat informasi jelas bahwa sekarang sebagian negara Islam yang tidak ingin saya sebutkan namanya menaruh dan menggunakan uang dari kotak-kotak dana yang berkaitan dengan tujuan dan kehendak pihak-pihak asing, khususnya untuk menulis buku-buku yang mendiskreditkan Syiah, akidah Syiah, dan sejarah Syiah yang kemudian dipublikasikan ke Dunia Islam. Apakah mereka itu memang bersimpati kepada Ahlussunnah? Tidak. Mereka tidak menghendaki Syiah, tidak pula Sunnah. Mereka tidak bersahabat dengan Syiah maupun Sunnah. Namun, karena di Iran sekarang ini pemerintahan dan bendera Islam ada di tangan kelompok Syiah dan karena mereka memandang segenap komitmen rakyat Iran tertumpu pada Syiah, maka segala bentuk permusuhan mereka kepada revolusi tertumpu kepada revolusi Islam. Mereka berusaha memberantas Syiah agar pemerintahan politik Islam dan bendera kehormatan ini tidak menjalar ke tempat-tempat lain dan menarik simpati kaum muda di negara-negara lain.! Jangan sampai ada orang yang membantu pengkhianatan para musuh ini. Siapapun, baik di negara kita, di lembaga-lembaga Islam, di kalangan Syiah maupun diantara saudara-saudara kita dari kalangan Ahlussunah di negara kita, jangan sampai ada yang melakukan tindakan yang membantu ambisi kaum mustakbirin untuk menciptakan kebencian dan permusuhan.
Dengan pernyataan ini, tentu saja kami tidak bermaksud mengatakan supaya orang Syiah menjadi Sunni, atau orang Sunni menjadi Syiah, juga bukan supaya orang Syiah dan Sunni tidak lagi melakukan kegiatan ilmiah sesuai dengan kemampuannya untuk memperkuat akidah mereka. Kegiatan ilmiah kebetulan baik sekali. Sama sekali tidak ada masalah. Silahkan mereka menulis buku-buku ilmiah dan dalam lingkungan ilmiah, bukan dalam lingkungan non-ilmiah, apalagi dengan nada yang tercela dan keras. Dengan demikian, jika seseorang bisa membuktikan logikanya, maka kita tidak boleh mencegah kegiatannya. Namun, jika seseorang menghendaki perpecahan dengan kata-kata, tindakan dan berbagai macam cara, maka kita menganggapnya sebagai melayani musuh. Orang-orang Sunni harus waspada, begitu pula orang-orang Syiah. Persatuan nasional yang kami katakan tadi juga meliputi masalah ini.
Perlu juga saya ungkapkan di sini bahwa dewasa ini terdapat orang-orang yang memperlakukan persatuan nasional bukan sebagai semboyan-semboyan agamis, melainkan mencemarinya dengan slogan-slogan politik belaka. Kami sudah menasehati mereka dan sekarang pun kami juga menghimbau supaya persatuan bangsa yang besar dan bersatu ini jangan sampai goyah. Memisahkan bangsa yang besar ini satu dengan yang lain adalah tindakan melayani musuh bangsa ini. Jika bangsa yang besar dan matang ini memelihara persatuan nasional di negeri ini, niscaya akan tercipta peluang untuk persatuan bangsa-bangsa lain. Jika umat Islam yang berjumlah sekitar satu setengah milyar ini bersatu dalam berbagai persoalan prinsipal mereka, maka bisa Anda lihat betapa besarnya kekuatan yang akan tercipta di dunia ini. Namun, jika persatuan nasional ternyata retak, maka bicara soal persatuan Dunia Islam adalah omongan yang fiktif dan mengundang tawa semua orang. Sebagian orang menginginkan! supaya ini terjadi.
Bagaimanakah persatuan nasional bisa dipenuhi? Salah satu hal yang bisa menjamin persatuan nasional ialah bahwa orang-orang yang kata-katanya punya pengaruh di tengah masyarakat, atau para pejabat dan figur-figur agamawan dan rohaniwan hendaknya tidak memberikan pernyataan yang mengotori perasaan sekelompok masyarakat kepada kelompok-kelompok lain. Mereka jangan sampai membangkitkan fitnah. Membangkitkan fitnah dan membuat masyarakat saling curiga adalah salah satu bahan program para musuh terhadap bangsa ini. Radio-radio asing dan pusat-pusat pemberitaan ini mungkin bisa dikatakan bahwa separoh dari pernyataan-pernyataan mereka sudah direkayasa supaya satu kelompok masyarakat tertentu berburuk sangka kepada kelompok yang lain. Mereka duduk dan merancang pernyataan sedemikian rupa agar punya pengaruh.
Orang-orang yang bekerja dengan lisan dan pena pertama-tama harus waspada agar apa yang mereka nyatakan jangan sampai menciptakan prasangka buruk, jangan sampai menjadikan masyarakat saling berburuk sangka dan pessimis kepada pemerintah, karena hal ini juga merupakan satu bentuk tindakan membangkitkan fitnah dan perbuatan dosa lain. Sebagian orang sangat berkepentingan dengan pembuatan isu, membikin-bikin berita, mendistorsi berita, dan boleh jadi asal usul beritanya benar, namun berita ini dikemukakan sedemikian rupa agar materinya yang tidak sesuai dengan kenyataan bisa ditanamkan pada persepsi lawan bicaranya, agar hati rakyat, para pemuda, para pembaca dan pendengarnya berburuk sangka kepada para pejabat pemerintah, dan supaya orang-orang mengalami keragu-raguan.
Apa untungnya perbuatan ini? Perbuatan ini tidak mendatangkan hasil apapun kecuali menghambat laju perkembangan bangsa dan negara, membuat pemerintah ragu-ragu dalam bekerja, membuat rakyat frustasi kepada masa depan, dan merampas kekuatan optimisme yang besar dari tangan rakyat. orang berusaha menciptakan prasangka buruk orang-orang lain kepada pemerintahan secara keseluruhan atau kepada sebagian pejabat pemerintah. Padahal, kalau memang ada pernyataan yang benar, maka pernyataan ini bisa menghasilkan pengaruh yang jauh lebih baik jika disalurkan melalui jalur tertentu kepada pejabat atau kepada pejabat yang ada di atasnya. Ketika suatu peristiwa terjadi, kasus teror terjadi, kejahatan terjadi di suatu tempat, terdengarlah pernyataan yang sedemikian menyimpang, menimbulkan kecurigaan, dan membangkitkan keheranan para pembaca pernyataan orang-orang yang sama sekali tidak memiliki tanggungjawab. Coba lihat, betapa mereka yang memberitakan tentang fakt! a-fakta yang ada itu ternyata sangat jauh atau memang sengaja menjauhi fakta. Ini semua adalah masalah-masalah yang merusak persatuan nasional. Atas dasar ini, persatuan nasional adalah salah satu aspirasi yang paling mendasar dari sebuah bangsa.
Sebuah bangsa akan maju jika bersatu dalam memasuki gelanggang ekonomi dan terjadi peperangan. Dengan persatuan nasional wibawa bangsa akan lebih terpelihara. Di bawah naungan persatuan suatu bangsa akan berhasil meraih segala cita-cita besarnya. Perselisihan, perpecahan, hati yang saling tercerai, membenturkan berbagai kelompok dan tokoh tidak akan bisa memberikan pengabdian. Dengan demikian, ini merupakan satu prinsip yang mudah-mudahan bisa dijaga oleh kita semua. Ini adalah harapan kami kepada para pejabat yang berurusan dengan opini khalayak umum.
Materi kedua ialah materi keamanan nasional. Keamanan nasional sangatlah penting. Keamanan nasional tentunya mencakup keamanan dalam dan luar negeri. Keamanan luar negeri ialah menyangkut keamanan negara yang terancam dari arah kekuatan-kekuataan di luar perbatasan, atau tentara militer yang menyerang perbatasan suatu negara seperti beberapa perang yang pernah terjadi, atau berupa serangan politik dan propaganda terhadap sebuah negara yang adakalanya menimbulkan kekacauan dan kerusuhan. Hal ini berulang kali terjadi di pelbagai negara sehingga menimbulkan berbagai kesulitan. Keamanan dalam negeri merupakan upaya dalam skala besar yangmana jika segenap pejabat terkait bekerja dengan mengerahkan segenap kemampuannya akan sanggup menjamin aspirasi besar ini. Maka dari itu, keamanan bukanlah masalah kecil.
Seperti yang pernah saya katakan pada awal tahun, jika keamanan tidak ada, maka aktivitas ekonomi juga tidak akan ada, keadilan sosial tidak akan ada, pengetahuan dan kemajuan ilmu pengetahuan tidak akan terjadi, semua sektor sebuah negara secara bertahap akan porak poranda. Dengan demikian, keamanan merupakan tonggak dan fondasi.
Dalam masalah keamanan tentu ada contoh-contoh yang tidak begitu krusial, seperti ketidak amanan yang dialami oleh segenap masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya, atau pernah didengarnya dari orang-orang lain. Ini adalah sesuatu yang kalau toh penting, namun tidak terlalu mengancam. Contohnya ialah pencurian, walaupun aparat keamanan tetap harus mencegahnya. Pencurian adalah masalah yang tentu harus dicegah dengan serius oleh aparat kepolisian. Sejumlah orang mengacaukan keamanan rumah tangga orang lain demi tujuannya yang terselubung dan hina. Ini merupakan satu contoh untuk ketidak amanan, namun ini bukanlah contoh utama. Ini merupakan ketidak amanan dari orang-orang yang cuek, jahat dan hina yang tentunya menimbulkan dampak buruk dan mengganggu keamanan lingkungan. Ini juga merupakan ketidak amanan.
Di kanan kiri kita terdapat laporan-laporan yang tentunya sebagian dari Anda sudah pernah melihat atau mendengarnya. Orang-orang yang tidak komitmen kepada UU dan ketentuan adalah orang-orang jahat yang menciptakan ketidak amanan di berbagai tempat dan di majalah-majalah terhadap bangsa serta kehormatan dan wibawa masyarakat. Aparat kepolisian dan badan legislatif bertanggujawab menindaklanjuti kekejian dan kebrutalan para pengacau keamanan lingkungan dan urusan masyarakat, supaya mereka yang menjadikan titik kelemahan yang ada sebagai batu loncatan itu jangan sampai berpikir bahwa mereka berhak melakukan segala kesalahan dan perbuatan-perbuatan menyimpang. Mereka harus tahu bahwa mengacaukan kemanan lingkungan hidup masyarakat hukumannya bukan hanya meringkuk di dalam tahanan dalam waktu singkat. Islam memberikan hukuman yang lebih berat untuk para pengacau keamanan dan mereka yang menakut-nakuti masyarakat.
Jika hukum Ilahi diterapkan kepada mereka dan para pencuri, khususnya mereka yang menjadikan pekerjaan ini sebagai profesi, tentu hukum ini akan punya pengaruh besar. Tak usah mereka memperhatikan sebagian apa yang dianggap tabu di dunia serta berbagai gelombang propaganda, tetapi coba lihat apa itu hukum Allah? Hukum Allah menentukan segala sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan kadarnya. Kekacauan di bidang ekonomi juga merupakan bagian dari ketidak amanan. Mereka mengacaukan lingkungan ekonomi. Jika ada orang yang memiliki modal kecil, maka mereka menghancurkan modal-modal kecil dan fasilitas rakyat dengan tindakan-tindakan ilegal dan kelicikan. Mereka merampasnya demi keuntungan mereka sendiri. Selagi ada kesempatan, mereka tidak bosan melakukan penyalahgunaan-penyalahgunaan pribadi. Mereka mengacaukan lingkungan ekonomi.
Coba Anda perhatikan, jika kondisi ekonomi dalam sebuah negara sakit, maka salah satu penyakitnya ialah adanya celah-celah pelarian dari hukum yang bisa dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk memenuhi kantong-kantong mereka. Mereka merebut fasilitas masyarakat dan pemerintah demi interes dan kedudukan mereka.
Masalah yang lebih krusial ialah ketidak amanan sosial yang pada hakikatnya ketidak amanan nasional banyak berkaitan dengan masalah ini. Mereka mengacaukan keamanan lingkungan kerja, lingkungan ilmu, lingkungan mahasiswa. Sebelumnya pernah saya singgung bahwa seorang pejabat AS sebulan lalu menyatakan di Iran bakal terjadi kekacauan. Ini juga merupakan ketidak amanan. Mereka mempunyai berbagai program. Karena itu, segenap komponen masyarakat harus waspada. Orang-orang yang banyak mendapat gelombang konspirasi mereka juga harus waspada.
Sejak awal revolusi hingga sekarang, musuh sudah berkali-kali berusaha mengacaukan lingkungan kerja. Mereka berusaha menciptakan aksi mogok agar tenaga kerja berhenti melakukan kegiatan konstruktif di dalam negeri. Kendati sampai sekarang tidak pernah bisa, mereka tetap merancangnya. Mereka juga mengacaukan keamanan di dalam berbagai universitas. Mereka sudah mencobanya dalam satu dua kasus, tetapi mahasiswa sendiri telah menampar mulut musuh. Namun, boleh jadi musuh pernah berhasil di tempat-tempat tertentu. Upaya mereka ialah menghentikan aktivitas, kegiatan dan usaha di dalam kelas dan membuat para dosen dan mahasiswa menganggur, dengan cara menyulut ketegangan dan kerusuhan atas nama semboyan, unjuk rasa dsb.
Semua orang mengetahui bahwa para mahasiswa kita memiliki potensi yang cemerlang. Di tengah kegiatan para mahasiswa, kita melihat hal-hal yang memang benar-benar membangkitkan harapan dan sinyalemen cerahnya masa depan. Salah satu pekerjaan musuh ialah menciptakan ketidak amanan di lingkungan universitas. Yakni mereka melakukan tindakan untuk mempersulit dan memustahilkan kegiatan belajar, sekolah, mengajar dan kegiatan di laboratorium, atau mereka berusaha merusak keamanan kota sebagaimana yang pernah terjadi di Teheran pada tanggal 12 dan 13 Juli 1999, dimana jiwa para pemuda, anak kecil, para wanita, para pejalan kaki dan orang-orang yang berada di balik jendela rumahnya terancam bahaya. Mengapa? Karena sebagian orang lebih mementingkan aksi turun ke jalan-jalan dan menciptakan kerusuhan dengan melancarkan gerakan kekerasan dan pembangkangan. Mereka membakari kendaraan bermotor atau memecahkan kaca-kaca.
Kemudian mereka membuat-buat alasan. Tetapi alasan manakah yang membolehkan sekelompok orang menciptakan kerusuhan di sebuah negara yang merupakan rumah mereka sendiri -ini bukan rumah orang asing-? Di saat peristiwa seperti ini terjadi, petugas keamanan, pasukan militer, dan pasukan sukarelawan tentu tidak akan diam berpangku tangan. Siapakah yang harus waspada di depan kseperti ini? Jawabannya tak lain ialah masyarakat sendiri, para pemuda sendiri, para aparat sendiri, para mahasiswa sendiri dan lingkungan-lingkungan yang menjadi sasaran aksi makar ini sendiri. Haruslah diperhatikan, kalau mereka melihat seseorang tampil ke depan untuk mengompori situasi, maka orang itu harus ditangkap. Ketahuilah, mulut musuhlah yang sedang berkoar, suara musuhlah yang keluar dari kerongkongan orang ini.
Sebagaimana di setiap tempat para musuh selalu mencari-cari sesuatu, di dalam setiap kasus pun mereka menemukan hal-hal seperti ini. Setelah segenap masyarakat waspada, tanggungjawab keamanan ada di tangan instansi-instansi terkait, yaitu kementerian inteljen, kementerian dalam negeri, aparat kepolisian, badan yudikatif dsb. Inilah harapan rakyat yang paling besar kepada aparat pemerintah, dan ini juga merupakan permintaan saya yang paling utama kepada instansi-instansi terkait. Semuanya harus waspada dan mengawasi. Semuanya harus menunjukkan sikap waspada terhadap berbagai kasus. Kita tidak boleh membiarkan musuh melakukan apa saja yang mereka kehendaki.
Dalam masalah keamanan dalam negeri ini, adakalanya berkaitan dengan pihak di luar negeri, seperti halnya tindakan mengompori. Lihatlah, beberapa hari lalu seorang menteri AS menyampaikan pidato. Setelah hampir setengah abad, orang-orang AS baru mengakui bahwa merekalah yang menggerakkan kudeta 28 Mordad (1953). Mereka baru mengakui telah menyokong pemerintahan Pahlevi yang penindas, diktator, dan korup. Hampir 47 tahun setelah kudeta 28 Mordad, baru sekarang mereka mengakui hal ini. Kemudian mereka juga mengakui telah menyokong Saddam Husain dalam memerangi Iran.
Menurut Anda, bagaimanakah perasaan bangsa Iran yang teraniaya ini depan sikap dan pengakuan-pengakuan tersebut? Perang delapan tahun telah dipaksakan Rezim Irak terhadap kita. Berbagai kota dibom bardir, sumber-sumber kehidupan musnah, para pemuda berguguran sebagai syahid, trilyunan aset nasional musnah, berbagai kesempatan lenyap, sebuah kejahatan besar dalam sejarah terjadi. Sejak saat itu sudah berkali-kali kami tegaskan bahwa AS membantu Saddam Husain. Dalam berbagai pidato pada hari-hari peperangan berulang kali kami menegaskan masalah ini. Tetapi mereka memungkirinya dan mengatakan tidak berpihak. Kini, 12 tahun setelah perang usai, Menlu AS dalam pidatonya yang transparan di sebuah lembaga pusat secara resmi mengakui telah membantu Saddam Husain.
Sekarang, apa gunanya pengakuan-pengakuan kalian itu untuk kita. 25 tahun Muhammad Reza Pahlevi yang tiran, penindas dan bejat telah menjadikan musuh bangsa ini berkuasa. Sekarang kalian mengakui dan mengatakan: “Ya, kitalah yang melakukan perbuatan itu?” Apa gunanya untuk masa sekarang ini?! Seseorang memukul, membunuh anak dan kesayangan orang lain lalu begitu saja mengatakan saya minta maaf. Apalagi mereka juga tidak menyatakan permohonan maaf. Mereka hanya menyatakan pengakuan. Kalian (AS) telah menggerakkan kudeta 28 Mordad. Setelah itu, kalian memasung negara ini ke dalam kezaliman dan kebejatan. Sekarang kalian baru mengatakan: “Memang, kamilah yang melakukannya.” Apa gunanya pengakuan kalian sehubungan dengan masa itu untuk masa kami sekarang ini?!
Saya katakan sekarang, boleh jadi 20 atau 25 tahun mendatang seorang menteri AS lainnya tampil dan mengatakan pengakuannya: “Memang, pada satu waktu -yaitu masa sekarang ini- kami telah melakukan konspirasi anti Iran. Kami telah melancarkan gerakan ini, kami telah melakukan perbuatan menyimpang ini, kami telah membekali musuh-musuh Iran sedemikian rupa, kami telah mengorganisasikan para pembangkang pemerintah Iran, dan seterusnya”
Setelah sekian tahun berbuat kejahatan, dan sekarang pun kalian masih melakukan tindakan-tindakan serupa dengan tindakan pada masa-masa itu, lantas untuk apa pengakuan kalian itu untuk bangsa Iran?! Dalam pernyataan kalian, ada dua kalimat yang kalian katakan, yaitu bahwa Iran memiliki bangsa yang besar dan memiliki kebudayaan yang tua. Apakah ini cukup untuk menghapus semua pengkhianatan, permusuhan dan pembunuhan hak bangsa ini?! Apakah kalian sedang mengecohkan bocah kecil?! Bangsa ini sendiri jauh labih mengetahui bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang tua dan memiliki warisan-warisan budaya yang bernilai. Sebelum kalian, kami sendiri tahu bahwa letak geografis kami sangatlah penting dan strategis. Namun, apakah baru sekarang masalah ini membuat kalian bersusah payah dan apakah baru sekarang kalian mengetahuinya?! Inilah perangai orang-orang yang hanya ingin memperlakukan sebuah bangsa dengan sikap tirani dan otoriter.
Keaiban besar AS yang merupakan malapetaka besar bagi umat manusia sekarang ini ialah sikapnya yang tirani dan mempraktikkan posisi antara tuan dan rakyat jelata dalam memperlakukan bangsa-bangsa dan masyarakat dunia. Kepada OPEC bersikap tirani. Kepada bangsa-bangsa dan politik suatu negara juga demikian. Untuk apa bersikap tirani? Apakah demi aspirasi? Tidak, sikap tirani itu hanya untuk interesnya sendiri. Mereka (AS) hanya menghendaki pelayan yang menjamin kepentingan-kepentingannya. Bisa jadi, karena berbagai alasan, suatu negara dan bangsa bersedia berada di bawah sikap tirani ini. Namun, (lain lagi) jika ada suatu bangsa seperti Iran dimana pemerintahnya tidak berhutang kepada kalian, tangan mereka tidak berada di bawah pisau kalian, tidak punya kelemahan di depan kalian, tidak melakukan perbuatan yang membuat mereka takut kepada ekspos kalian, dan memiliki hubungan dengan rakyat. Bangsa Iran juga merupakan bangsa yang telah menjajaki kehor! matan dan Islam serta keteguhan kepada akidah dan kehidupan yang disertai dengan keyakinan yang mendalam dan merdeka. Apakah berdosa jika bangsa yang sedemikian ini tidak bersedia tunduk di bawah tirani kalian ? Dengan cara dan instrumen apakah kalian akan menaklukkannya jika bangsa ini tidak bersedia menerima tirani dan mengatakan, kami menolak prinsip tirani dan kesewenang-wenangan kalian? Bagaimana mungkin kalian bisa melakukannya?!
Kekuatan-kekuatan adi daya bersikeras untuk mengesankan bahwa apa saja yang mereka kehendaki di dunia bisa mereka lakukan. Di berbagai tempat hal ini memang terjadi, tetapi mengapa terjadi? Sebabnya ialah para pemimpin negara di situ berposisi sebagai boneka dan lemah.
Pemerintahan Islam dan rakyat Iran dengan keteguhannya selama 20 tahun dan kemajuan yang dicapainya kendati adi daya AS menentang habis-habisan bangsa Iran dan tujuan-tujuannya telah membuktikan bahwa AS dan ada daya lain atau konsolidasi semua adi daya tidak akan bisa berbuat tidak senonoh di depan suatu bangsa yang sadar, pemberani serta mengetahui dan membela hak-haknya.
Saya katakan pula, pemerintah AS yang sekarang mengaku 25 tahun membela kediktatoran, sampai sekarang masih tetap membela kediktatoran.tersebut, namun dengan cara propaganda dan gangguan. Sekarang mereka (Rezim Pahlevi) sudah tiada. Mereka sudah pergi menuju jahannam. Yang ada hanya sampah-sampah mereka di AS yang bernaung di bawah dukungan pemerintah AS. Para antek dan orang-orang bayaran mereka di pelosok dunia manapun, termasuk yang ada di sudut-sudut negara kita ini, selalu didukung oleh AS.
Sekarang seorang menteri AS tersebut dalam pidatonya juga masih mempromosikan Rezim Syah dengan kebohongan. Dikatakannya bahwa Rezim Syah memang diktator, namun telah memajukan ekonomi Iran. Ini merupakan kebohongan terbesar dan menggelikan yang telah diucapkan oleh seorang menteri luar negeri AS dalam situasi sekarang. Benarkah mereka telah memajukan ekonomi Iran?! Tentang ini, ketahuilah, khususnya para pemuda, bahwa orang-orang yang mengalami masa itu telah merasakan fakta-fakta yang ada dari dekat bahwa Iran pada masa itu Rezim Pahlevi telah melakukan pengkhianatan terbesar kepada ekonomi Iran, baik dari aspek taraf ekonomi pada masa itu maupun dari aspek fondasi-fondasi ekonomi yang dampaknya masih terasa hingga tahun-tahun setelahnya. Iran dijadikan sebagai gudang produk-produk impor dari Barat yang tak ada nilai dan faedahnya. Sarana-sarana yang tak laku, barang-barang lebihan dan tak diperlukan dibeli dengan harga yang tinggi.
Pertanian negara yang pernah meswasembada penuh dihancurkan secara total oleh Rezim Pahlevi sehingga keadaan masih tetap tak berubah sampai bertahun-tahun. Pertanian kita masih belum pulih seperti sediakala. Sebabnya ialah arus urbanisasi yang terjadi dengan dorongan dari mereka. Masalah ini tentu tidak bisa dicegah dengan mudah. Mereka telah membuat bangsa ini bergantung kepada negara asing dalam sektor pertanian. Ketika itu Iran membeli gandum dari AS, sedangkan lumbung-lumbung gandum dibuat oleh orang-orang Rusia. Jadi, bukan hanya dari sisi gandum Iran bergantung kepada luar, tetapi juga dari sisi penyimpanannya. Ketika itu mereka merusak desa-desa. Industri negara yang saat itu mengalami kemajuan dihentikan. Kemajuan yang seharusnya terjadi dalam industri demi mencegah barang-barang impor akhirnya tidak terjadi. Industri yang sangat aktif di negara ini dicegah Industri yang digalakkan hanyalah industri yang memiliki ketergantungan yang s! ama besarnya dengan produk-produk yang dihasilkannya, atau bahkan lebih.
Kegiatan ilmu pengetahuan mereka hentikan. Mereka bicara tentang universitas dan mahasiswa, tetapi dalam praktik kegiatan ilmiah di universitas-universitas Iran sangat minim. Orang-orang yang pikirannya aktif dan memiliki potensi yang cemerlang ingin bekerja seandainya di dalam negeri tidak ditindas, tetapi mereka terpaksa pergi dan bekerja di luar negeri karena di sini tidak bisa.
Perusahaan-perusahaan asing mendominasi sebagian besar sumber-sumber ekonomi negara. Mereka memusnahkan sebagian besar sumber-sumber minyak dengan cuma-cuma. Sekarangpun harga minyak tentunya juga murah. Uang yang kini diperoleh para produsen minyak pada hakikatnya bisa dikatakan bahwa mereka hanya menerima sepersepuluh dari uang yang seharusnya mereka dapati. Saya katakan pula sekarang bahwa uang yang didapati negara-negara importir minyak sebagai pajak jumlahnya lebih banyak dari keuntungan yang diperoleh negara-negara eksportir minyak. Sampai sekarang masih demikian. Namun saat itu tidak bisa dibandingkan dengan sekarang.
Selama sekian tahun hingga tahun 50-an, harga minyak perbarel di bawah satu US dolar . Lalu, karena orang-orang Eropa dan AS ingin menjual produk-produknya kepada mereka (para produsen minyak) dengan harga mahal, sedangkan mereka tidak punya uang, maka Eropa dan AS mendongkrak harga minyak sesuai keinginannya sendiri hingga mencapai angka 8 sampai 9 US dolar, supaya mereka bisa mendapatkan uang dan membeli produk-produk tersebut.
Pada zaman Rezim Syah, uang-uang Iran dalam jumlah yang besar ditransfer ke dalam rekening-rekening milik AS. Sebagai imbalannya, AS memberi dan menjual berbagai suku cadang pesawat dan barang-barang keperluan lainnya. Jadi, masalah produksi sendiri tidak dibicarakan. Ekonomi Iran saat itu adalah ekonomi yang terburuk untuk rakyat Iran. Dan ini tentunya sangat baik untuk para penjarah dan orang-orang AS. Kini masa sudah berlalu sekian tahun, dan para analis dan ekonom tentu tahu, dan bukan rahasia lagi untuk para ahli saat itu bahwa Rezim Syah telah mendatangkan bencana untuk ekonomi Iran.
Rezim ini dikatakan telah memajukan ekonomi Iran. Mengapa baru sekarang hal ini diutarakan?! Sebabnya ialah supaya para pemuda Iran sekarang yang terkadang mengalami kesulitan akibat kondisi ekonomi yang ada beranggapan bahwa pada masa rezim lama ekonomi Iran lebih baik. Trik dengan maksud seperti ini diutarakan oleh politisi itu dengan sangat polos. Niatnya ialah menyatakan dan menyebarkan persepsi bahwa ekonomi Iran pada masa lalu adalah ekonomi yang berkembang. Padahal masa itu adalah masa yang paling buruk untuk lapisan rakyat miskin, dan masa yang paling buruk dari sisi perampasan dan penjarahan sumber-sumber alam di Iran oleh pihak-pihak asing, terutama AS.
Maksud musuh dari luar negeri ini ialah menciptakan ketidak-amanan, perselisihan, keragu-raguan dan guncangan. Bukannya tanpa alasan jika sekarang rakyat dan pemerintah Iran memandang AS sebagai musuh. Mereka (AS) mengatakan, “Mari kita robohkan dinding ketidak percayaan.” Ini dikatakan oleh Menlu AS di sana. Di sini pun sebagian penulis langsung memohon kepada Allah (agar ini terjadi). Mereka inilah yang sebagian kemungkinan besar berafiliasi dengan lembaga-lembaga (AS) tersebut dan mendapat dukungan dari sana. Mereka langsung menindak-lanjuti masalah ini.
Masalahnya bukanlah ada atau tidak adanya kepercayaan. Masalahnya ialah bangsa Iran melihat masa lalunya. Sejak awal revolusi, bangsa Iran segera melihat AS sebagai musuh. Sejak awal-awal revolusi sampai sekarang, AS masih terlihat memusuhi bangsa Iran, kepentingan nasional bangsa Iran dan pemerintahan yang diminati bangsa Iran. Hanya saja, sebagian dari aksi permusuhan ini dibantah oleh AS, tetapi sebagian lain diakuinya. Mereka mengakui bantuannya kepada Saddam. Bisa dipastikan, dalam waktu relatif dekat, AS juga akan mengakui dengan cara apa mereka menyerahkan bom-bom kimia kepada pemerintah Irak. Kami punya para korban-korban luka senjata kimia. Kita memiliki orang-orang yang cacat akibat persitiwa ini. Kami telah melihat semua bahaya ini. Apapun yang dilihat bangsa Iran, masalah-masalah seperti ini akan terlihat.
Dewasa ini pun, berbagai sarana propaganda mereka digunakan untuk menyudutkan Iran. Begitu juga fasilitas politiknya. Mereka mengesahkan dana untuk memusuhi keamanan. Sepak terjang politik luar negeri mereka selalu merongrong Iran. Bangsa Iran melihat ada musuh yang sedang berdiri di sana. Atas dasar ini, persepsi bangsa kami tentang AS bukanlah tidak adanya kepercayaan kepada AS, melainkan memandangnya sebagai musuh.
Mereka katakan siap berunding dengan pemerintah Iran. Ini merupakan sebentuk langkah-langkah pendahuluan untuk menambah permusuhan. Ini adalah tipuan. Sebagian orang mengatakan kita harus pergi untuk berunding dengan AS agar permusuhan ini bisa dienyahkan. Tetapi, tidak. Permusuhan dengan AS tidak akan teratasi dengan perundingan. AS hanya memburu kepentingannya sendiri di Iran. Jika di sini terdapat pemerintahan boneka seperti Rezim Syah, AS akan menghantam bangsa Iran seperti pada saat itu. Jika pemerintahan Iran independen, maka AS akan melakukan aksi permusuhan seperti sekarang. Jika kita lakukan perbandingan, akan kita lihat bahwa bahaya orang yang merdeka di depan AS jauh lebih kecil ketimbang bahaya tunduk kepada tekanan-tekanan AS.
Persepsi bangsa Iran ialah mengandalkan spirit keberanian dan pengorbanannya di depan konspirasi dan penipuan, di depan ketidak amanan, dan permusuhan. Bangsa Iran mengandalkan kekuatan dirinya, kekuatan akalnya, manajemen dan intelektualitas pemerintahnya serta kepada keberanian dan keteguhannya. Bangsa Iran percaya bahwa suatu saat mereka akan bisa membuat segenap musuhnya, termasuk AS, menyesali aksi permusuhan kepada mereka, sebagaimana yang terjadi pada sebagian musuh yang tadinya memang musuh tetapi kemudian tampil menjadi pihak mediator secara normal.
Ya Rabbi, dengan berkat Nabi Muhammad dan keluarganya, turunkanlah anugerah-Mu dari detik ke detik kepada bangsa ini. Menangkanlah bangsa ini dalam meniti jalan untuk menggapai cita-cita besar yang telah mereka gariskan. Ya Rabbi, binasakan dan jungkirkanlah musuh bangsa ini. Berkat Nabi Muhammad dan keluarganya, tunjukkanlah kekuatan hakiki dan gaib-Mu terhadap orang-orang yang melancarkan aksi makar terhadap bangsa ini.
Ya Rabbi, terimalah pembelaan dengan segenap jiwa dan raga bangsa ini atas citra, kemerdekaan, agama dan pribadinya sebagai salah satu perjuangan untuk mendekatkan diri kepada-Mu. Ya Rabbi, jagalah kaum muda kami dan jadikanlah hati mereka yang cemerlang itu semakin banyak mengenal-Mu. Ya Rabbi, singkirkanlah sesegera mungkin berbagai kesulitan yang dialami bangsa ini. Tolonglah orang-orang yang mengabdi kepada bangsa ini. Hadapkan kepada amarah dan murka-Mu orang-orang yang mengkhianati bangsa ini. Ceriakanlah hati AlMahdi Sahibuzzaman atas kami. Gembirakanlah arwah suci Imam Khomaini atas kami. Gembirakan dan puaskanlah arwah suci para syuhada atas kami.
Wassalamualaikum. Wr.Wb.

Shalat Hakiki Harus Disertai Tafakkur dan Khusyuk

Saya ingin seperti Fatimah, dapat mengerjakan shalat. Fatimah adalah salah satu sahabatku di kampus. Pada awalnya, saya tidak tahu; apakah shalat itu? Pada suatu hari, saya ingin berangkat ke kampus bersama Fatimah. Fatimah tiba-tiba teringat belum mengerjakan shalat. Fatimah pun meminta maaf kepada saya karena harus mengerakan shalat terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Saya pun mempersilahkannya.

 

Fatimah mengerjakan shalat dengan khusyuk. Saya pun dapat merasakan ketenangan pada diri Fatimah saat shalat. Fatimah ketika shalat, seakan-akan tidak mengenalku dan hanya tertuju pada satu titik. Ia juga membaca bacaan shalat dengan tenang. Ketika bangun dari sujud, spritual yang dahsyat tampak pada diri Fatimah yang tengah mengerjakan shalat.

 

Menyaksikan pemandangan indah itu, muncul sebuah pertanyaan di benakku; Siapakah yang diajak berbicara oleh Fatimah yang dapat mengubah kondisinya? Ketika melihat Fatimah yang tengah shalat, saya merasakan daya tarik ke arah ibadah itu. Saya ingin melihat kembali Fatimah mengerjakan shalat kembali.

 

Saat shalat, Fatimah membaca bacaan-bacaan khusus dengan penuh kerinduan kelembutan. Kerinduan beribadah sangat tampak pada diri Fatimah saat shalat. Pandanganku akan dunia secara perlahan-lahan pun bergeser. Semenjak itu, saya mempelajari agama Islam. Tidak lama setelah itu, saya menerima agama itu dan memasuki dunia spritual yang luar biasa dengan mengerjakan shalat. Itulah tadi sebuah pengalaman seorang mengenal Islam setelah melihat spritual shalat.

 

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa manusia selalu membutuhkan shalat. Tidak ada sarana penghubung terkokoh manusia kepada Allah Swt selain shalat. Perlu diketahui pula bahwa berbagai riset membuktikan bahwa shalat adalah cara terefektif dalam membentuk individu dan masyarakat ideal. Melalui shalat, masyarakat dapat terlepas dari dekadensi moral yang saat ini menjadi kendala utama bagi dunia moderen. Ada tiga hal utama pada shalat yang berperan penting dalam membentuk spritual manusia. Ketiga hal tersebut adalah mengajak seseorang meninggalkan dosa, menghidupkan spirit ibadah dan mempersembahkan ketenangan.

 

Shalat dengan tuntunan konstruktifnya merupakan manifestasi kesempurnaan ibadah, penghambaan dan keimanan kepada Allah Swt. Shalat dapat melepaskan batasan-batasan sempit dan sisi gelap dunia, serta dapat mengontrol hawa nafsu dan emosional. Menurut agama-agama samawi, shalat adalah simbol religius dan keimanan. Akan tetapi shalat yang diajarkan Islam merupakan shalat terbaik dari sisi kualitas.

 

Sangat disayangkan, sejumlah pihak hanya memperhatikan lahiriah shalat. Bagi mereka, banyak beribadah dapat membuka jalan kebahagiaan. Padahal banyak riwayat menekankan bahwa keimanan dan perbuatan harus diimbangi dengan akal dan makrifat. Ishak bin Ammar kepada Imam Jafar Shadiq as mengatakan, “Saya mempunyai tetangga yang selalu mengerjakan shalat, memberi sedekah dan mengerjakan haji. Tidak ada kekuarangan pada dirinya.” Mendengar cerita Ishak, Imam Jafar as berkata, “Wahai Ishak, bagaimana dengan akalnya? Ishak menjawab: “Ia tidak mempunyai hal itu”. Imam berkata: “Ia tidak akan mencapai derajat itu.”

 

Bertafakur atau merenung dapat menumbuhkan kesadaran dan makrifat. Manusia-manusia sukses adalah mereka yang mencarii khazanah internal dalam renungan dan tafakur. Rasulullah Saw bersabda, “Dua rakaat shalat yang dilandasi dengan tafakur lebih baik daripada shalat semalaman.” Imam Ali as berkata, “Tidur dilandasi dengan ilmu dan keyakinan lebih baik dari mengerjakan shalat yang dilandasi kebodohan dan keraguan.”

 

Dengan memperhatikan urgensi shalat, para wali Allah Swt menekankan bahwa ibadah dapat diterima saat dikerjakan berlandaskan ilmu dan makrefat. Seorang ulama muslim kepada anaknya berwasiat, “Wahai anakku, tafakur adalah sarana terbesar bagi kesadaran diri dan kesucian hati. Tafakur dalam rangka mengalahkan hawa nafsu, menjauhkan diri dari kecongkakan dan menyadari akan kekuatan abadi, mempunyai peran yang luar biasa. Dalam riwayat disebutkan, tafakur tentang Allah Swt dan keagungannya merupakan ibadah terbaik. Hal itu bisa dilihat dari kekuatan tafakur yang dapat menghantarkan manusia kepada Allah SWt. Dengan demikian, pahala ibadah dapat digapai setelah bertafakur.”

 

Kontak internal dengan Allah Swt dan ibadah yang dikerjakan dengan khusyuk adalah di antara dampak penting dari tafakur dan kesadaran. Dalam kondisi seperti itu, seorang yang mengerjakan shalat akan memperhatikan bacaan yang ada dengan khusyuk dan rendah diri. Terkait hal ini, Rasulullah Saww bersabda, “Manusia terbaik adalah orang yang mengerjakan shalat dengan senang hati dan khusyuk. Saat mengerjakan shalat, ia terlepas dari segala sesuatu.”

 

Kita juga harus ingat bahwa hubungan spritual antara manusia dan  Allah Swt selama shalat dapat membebaskan kekuatan spritual yang terbelenggu dan memperkokoh kemauan untuk beramal dan berbuat baik. Rendah hati dan khusyuk dalam shalat mencerminkan makrefat kepada Allah Swt. Dalam al-Quran disebutkan bahwa Allah Swt memberikan kabar gembira bagi para pendiri shalat yang hati mereka bergetar saat shalat. Allah Swt dalam surat Al-Mu’minun ayat 1-2 berfirman, “Sesunguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya.

 

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan, “Manusia dihadapkan pada berbagai kekeliruan. Setiap manusia baik kecil, besar, muda maupun tua mempunyai kesalahan-kesalahan dan melakukan perbuatan dosa. Sebagaimana disinggung dalam al-Quran, Allah Swt berfirman, “Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagiaan permulaan daripada malam, Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Surat Huud ayat 114)

 

Setelah mendengar penjelasan tadi, kita sudah sewajarnya mengerjakan shalat dengan khusyuk. Jika memahami dengan baik makna bacaan-bacaan shalat, kita akan menyadari saat itu bahwa shalat sangat menyenangkan. Dengan mendengar azan, khususnya pada kalimat “Hayya Ala As-Sholah“, yang artinya; “Marilah bersegera mengerjakan shalat,” kita sudah sepatutnya mempersiapkan diri menghadap Allah Swt melalui shalat.

Imam Ali Ar-Ridha as dan Kelicikan Dinasti Abbasiyah

 

Ahlul Bait as adalah manusia-manusia pilihan. Mereka dipilih oleh Allah Swt untuk membimbing masyarakat secara benar dan menjadi teladan ideal untuk mencapai derajat kemanusiaan dan akhlak mulia. Salah satu manusia pilihan tersebut adalah Imam Ali Ar-Ridha as yang dimakamkan di kota Mashad, timur Iran.

 

Imam Ali Ar-Ridha adalah pewaris keimamahan atau kepemimpinan umat setelah ayahnya, Musa al-Kazim as, yang wafat diracun oleh Harun Ar-Rasyid. Ibu Imam Ali Ar-Ridha bernama Taktam yang dijuluki Ummu al-Banin. Dia adalah seorang yang shalehah, ahli ibadah, sosok unggul dalam akal dan agamanya. Setelah melahirkan Imam Ali ar-Ridha as, ibunya mendapat gelar Thahirah yang artinya sosok yang suci. Imam Ali ar-Ridha as hidup di bawah bimbingan, pengajaran dan didikan ayahnya selama tiga puluh lima tahun.
Sejarah menjadi saksi nyata bahwa para Imam Ahlul Bait as ini sangat unggul dari sisi kedudukannya yang sekaligus merupakan panutan bagi kaum muslimin dalam setiap permasalahan. Imam Ali ar-Ridha tumbuh dalam didikan ayahnya, Imam Musa Al-Kadzim as. Sepeninggal ayahnya, Imam Ali Ar-Ridha ditunjuk menjadi Imam Kedelapan.

 

Putra Mahkota
Selain itu, Imam Ali ar-Ridha as menjadi putra mahkota di istana Makmun. Pada dasarnya, Makmun memaksa Imam Ali Ar-Ridha as sebagai putra mahkota dengan tujuan merusak reputasi Ahlul Bait as. Namun makar itu telah diketahui oleh Imam ar-Ridha as. Kepada Makmun, Imam Ali Ar-Ridha as berkata, “Dengan langkah itu, kamu hendak merekayasa agar orang-orang beranggapan bahwa Imam Ali ar-Ridha bin Musa as sebenarnya tidaklah zuhud pada dunia. Dan agar orang-orang berkata; Bukankah kalian lihat bagaimana ia menerima posisi pemerintahan karena tamak pada kursi kekhalifahan?”

 

Pernyataan Imam Ali Ar-Ridha as itu mengungkap kedok di balik tujuan Makmun yang memberikan jabatan putra mahkota kepada sosok manusia suci ini dengan niat busuk. Pada awalnya, Imam Ali Ar-Ridha as menolak jabatan putra mahkota itu, tapi Makmun memaksanya. Akan tetapi dengan izin Allah Swt, jabatan putra mahkota yang merupakan bagian makar Makmun, malah memperluas ruang lingkup dakwah Imam Ali Ar-Ridha as hingga menembus para pejabat istana. Padahal Imam Ali Ar-Ridha as yang mendapat gelar putra mahkota, dilarang menggunakan jabatannya untuk menolong kaum muslimin yang terzalimi dan melepaskan belenggu dari kelaliman Makmun.

 

Bukanlah hal yang mengherankan, Imam Ali Ar-Ridha as menerima tawaran putra mahkota dengan sangat terpaksa sekali. Imam berkata, “Allah telah mengetahui keenggananku untuk menerima itu (putra mahkota). Sesungguhnya aku tidak menduduki jabatan ini kecuali untuk keluar darinya. Dan Allah-lah tempat mengadu. Dia-lah pemberi pertolongan.” (Uyunul Akhbar Ar-Ridha as, Jild II hal 139)

 

Imamah dan Jabatan Politik
Pernyataan Imam Ar-Ridha as yang enggan menerima gelar putra mahkota bermaksud meluruskan pemahaman kaum muslimin tentang konsep Imamah. Beliau ingin menjelaskan bahwa Imamah bukanlah jabatan politik bahkan tidak ada hubungan sama sekali antara Imamah dan jabatan politik. Jabatan politik hanyalah alat yang digunakan untuk memberikan petunjuk kepada manusia. Tugas Imam sama seperti tugas Nabi Saw.

 

Kerinduan manusia pada sesuatu yang lebih sempurna, “memaksa” Tuhan untuk memenuhi semua kebutuhan manusia tersebut. Sebagaimana Allah Swt menganugerahkan rasa lapar, maka Allah Swt menciptakan makanan untuk dikonsumsi manusia. Ketika Allah Swt menganugerahkan rasa haus, Allah Swt dengan sifat keadilan-Nya, juga menyediakan air untuk menghilangkan dahaga.
Hal yang sama juga terjadi pada peran Imam. Sebagaimana Allah Swt menganugerahkan fitrah dan kebutuhan kepada figur yang serba sempurna, maka Allah Swt dengan sifat bijaksana-Nya, menciptakan figur dan sosok yang sempurna dan suci tanpa cela. Untuk itu, Allah Swt selalu menghadirkan figur-figur suci seperti Nabi dan Imam di muka bumi ini. Dengan ungkapan lain, konsep imamah adalah aplikasi keadilan Ilahi.

 

Manusia pada dasarnya membutuhkan suatu figur yang serba maha dan serba sempurna. Bahkan hal itu bisa dilihat dari predikat-predikat seperti Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Tahu, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Besar, Maha Pencipta, Maha Pengatur dan lain-lain. Kebutuhan inilah yang menjadi motivasi utama manusia untuk memformulasikan figur personal maupun impersonal sesuai kemampuan masing-masing.

 

Semua itu merupakan ekspresi kerinduan manusia akan keberadaan figur agung yang dapat memuaskan semua angan dan idealismenya. Pada dasarnya, kebutuhan itulah yang memotivasi manusia supaya berinteraksi dengan alam semesta. Kerinduan itu pada gilirannya, juga melahirkan kegairahan dan memberikan harapan serta idealisme yang kemudian diaplikasikan. Inilah yang melahirkan kebaikan, sifat-sifat luhur, mulia dan agung sesuai dengan kapasitas idealisme masing-masing.

 

Mitos
Motivasi fitri ini pulalah yg menciptakan mitos. Mengapa manusia menciptakan mitos? Sebagai contoh, manusia mendambakan seorang figur yang dapat berkorban demi orang lain tanpa pamrih, manusia ingin melihat sosok yang sanggup mengorbankan miliknya yang paling berharga dalam dirinya yaitu jiwa dan raganya untuk orang lain dan sosok yang mampu menyingkirkan semua egoisme. Namun ketika manusia mulai melihat di sekitarnya, ia tak menemukannya. Manusia pun akan berusaha membuka lembar demi lembar sejarah untuk menemukan sosok sempurna.

 

Lalu bagaimana manusia dapat memuaskan semua dahaganya akan figur dan sosok sempurna yang ia dambakan? Pada akhirnya, manusia mulai menciptakan mitos dan figur imajinatif yang disifati dengan seluruh kesempurnaan yang didambakan.

Saat mendambakan kecantikan, manusia menciptakan figur sendiri seperti Venus yang dilukiskan sebagai dewa yang sangat cantik tanpa noda kejelekan sedikitpun. Saat mendambakan cinta sejati dan pengorbanan, Shakespeare bersedia menggoreskan fantasinya dalam sebuah drama tragis kisah Romeo dan Juliet.
Saat manusia mendambakan figur kepahlawanan, Firdaus menciptakan Rustam yang mulai berperang semenjak berumur tiga tahun dan tidak pernah dikalahkan di medan laga. Bahkan Firdaus mengakui Rustam sebagai seorang pahlawan biasa yang berasal dari Sistan, dan menjadikannya sebagai figur pahlawan dalam kisahnya. Sebab, bangsa Iran menurut Firdaus, membutuhkan Rustam. Jika Rustam bukanlah seorang pahlawan maka orang lain pasti akan diciptakan sebagai pahlawan untuk memenuhi rasa dahaga akan figur kepahlawanan yang sempurna.

 

Mitos-mitos tersebut sengaja dimunculkan sebagai solusi bagi manusia yang mendambakan sosok sempurna. Sementara itu, para Imam adalah pribadi idealis dan manusia pilihan yang merupakan manifestasi dari semua dewa-dewa yang digambarkan dalam mitos-mitos itu.

 

Figur Sempurna
Mimpi manusia yang mengharapkan kesempurnaan tercermin dalam mitos-mitos. Pada dasarnya, harapan inilah yang dirusak oleh Makmun. Makmun sengaja merusak figur sempurna Imam Ali Ar-Ridha as.

 

Imam Ali ar-Ridha as terpaksa menerima jabatan politik sebagai putra mahkota, karena Imam tahu bahwa Makmun bertujuan merusak reputasi sosok sempurna yang merupakan dambaan manusia. Jika Makmun berhasil merusak reputasi beliau sebagai manusia sempurna, maka umat akan kehilangan arah dan akan mulai mencari figur sempurna yang lain selain Imam Ali ar-Ridha as. Pada saat itu, para penguasa akan menjerumuskan manusia dengan dewa-dewa hasil kreasi imajinasi.

 

Imam Ali Ar-Ridha as dalam segala perilakunya tercermin sebagai sosok sempurna. Ibrahim bin Abbas berkata “Aku tidak pernah mendengar Abul Hasan Ar-Ridha as mengatakan sesuatu yang merusak kehormatan seseorang. Beliau juga tidak pernah memotong pembicaraan seseorang hingga ia menuntaskannya, dan tidak pernah menolak permintaan seseorang tatkala dia mampu membantunya. Beliau tidak pernah menjulurkan kakinya ke tengah majelis. Aku tidak pernah melihatnya meludah, tidak pernah terbahak-bahak ketika tertawa. Sebab, tawanya adalah senyum. Di waktu-waktu senggang, beliau menghamparkan suprah dan duduk bersama para pembantu, mulai dari penjaga pintu sampai pejabat pemerintahan. Dan barang siapa yang mengaku pernah melihat keluhuran budi pekerti seseorang seperti beliau, maka janganlah kau percaya.”

 

Di bidang keilmuan, Imam Ali Ar-Ridha as juga unggul. Abdul Salam Harowi pernah berkisah bahwa suatu ketika Makmun mengumpulkan para Pendeta, Rabi dan para cendikiawan untuk menanyakan berbagai macam hal kepada Imam Ali ar-Ridha as. Hal itu sengaja dilakukan Makmun untuk mempermalukan Imam dihadapan khalayak. Makmun ingin sekali melihat Imam tidak berdaya menghadapi serangan pertanyaan para ahli ilmu yang hadir pada saat itu. Namun momentum itu justru menjadi peluang bagi Imam untuk menunjukan keunggulan ilmunya. Yang menarik, Imam Ali Ar-Ridha as menjawab pendeta Nasrani dengan Injilnya. Beliau juga menjawab Rabi Yahudi dengan Tauratnya. Pada kesempatan itu, Imam Ali Ar-Ridha as juga mampu mematahkan argumentasi logis dari para pemimpin aliran-aliran teologi yang berkembang pada masa itu.

 

Gejolak jiwa manusia yang selalu mencari figur sempurna akan selalu ada sepanjang kehidupan manusia di muka bumi ini. Karena itulah keberadaan manusia yang merupakan manifestasi dari kesempurnaan mutlak harus tetap ada. Untuk itu, satu detik pun di bumi ini tidak akan kosong dari seorang Imam. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda:
من مات ولم يعرف امام زمانه مات ميتة جاهلية
“Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengetahui Imam zamannya, maka ia akan mati dalam keadaan jahiliyah.”

 

Syahadah
Setelah merasa jenuh dan putus asa membujuk Imam Ali Ar-Ridha as dengan iming-iming kekuasaan, Makmun akhirnya meracuninya hingga gugur syahid.
Sementara di Baghdad, Bani Abbas khawatir akan berpindahnya kekuasaan ke tangan orang-orang Alawiyah. Mereka menyatakan pembangkangannya, bahkan membaiat orang-orang kaya sebagai khalifah pengganti Makmun.

 

Untuk menarik simpati mereka di Baghdad dan tetap mengakuinya sebagai khalifah, Makmun merencanakan pembunuhan terhadap Imam. Khalifah Makmun akhirnya membubuhkan racun ganas di dalam buah anggur. Imam Ar-Ridha as gugur syahid karena racun ganas itu. Imam Ali Ar-Ridha as syahid pada tahun 203 H dan dimakamkan di kota Thus, yang sekarang dikenal dengan kota Mashad, timur Iran.

 

Makmun yang juga pembunuh Imam Ali Ar-Ridha as, di hadapan masyarakat, sengaja menampakkan dirinya sedih dengan tujuan menepis kecurigaan. Dia pun ikut serta mengantarkan jenazah suci Imam as dan berjalan tanpa alas kaki sambil menangis.

Anomali Hadis Abu Hurairah Yang Tidak Pernah Lupa? Dilema Para Nashibi

Anomali Hadis Abu Hurairah Yang Tidak Pernah Lupa? Dilema Para Nashibi

Kami melanjutkan pembahasan tentang ini setelah kami melihat betapa lucunya para nashibi yang“kebingungan” menanggapi tulisan kami. Kami katakan lucu karena para nashibi itu berdalih bahwa dalam hadis Abu Hurairah tidak ada keterangan yang menyebutkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan Abu Hurairah tidak akan lupa. Jadi menurut para nashibi itu hadis Abu Hurairah hanya menunjukkan ingatan Abu Hurairah yang kuat tetapi tetap saja bisa lupa. Komentar para nashibi itu dapat para pembaca lihat disini http://islamic-forum.net/index.php?showtopic=15121

.

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الْفُدَيْكِ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي سَمِعْتُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا فَأَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُ فَغَرَفَ بِيَدِهِ فِيهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ حَدِيثًا بَعْدُ

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Fudaik dari Ibnu Abi Dziib dari Al Maqburiy dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu yang berkata aku berkata “wahai Rasulullah aku telah mendengar darimu banyak hadis tetapi aku lupa, Rasulullah berkata “hamparkan selendangmu” maka aku menghamparkan kemudian Beliau menciduk sesuatu dengan tangannya dan berkata “ambillah” aku mengambilnya. Maka setelah itu aku tidak pernah lupa soal hadis [Shahih Bukhari 4/208 no 3648]

Sepertinya para nashibi itu bukan ahlussunnah karena mereka tidak akrab dengan kitab kitab ahlus sunnah. Lihat saja perkataan mereka tentang hadis Abu Hurairah menunjukkan bahwa mereka tidak membaca hadis tersebut dari kitab hadis Ahlus sunnah. Hadis Abu Hurairah yang menyatakan ia tidak pernah lupa disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang jelas dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu “tidak akan lupa”. Berikut hadis yang dimaksud dalam Shahih Muslim

حدثنا قتيبة بن سعيد وأبو بكر بن أبي شيبة وزهير بن حرب جميعا عن سفيان قال زهير حدثنا سفيان بن عيينة عن الزهري عن الأعرج قال سمعت أبا هريرة يقول إنكم تزعمون أن أبا هريرة يكثر الحديث عن رسول الله صلى الله عليه و سلم والله الموعد كنت رجلا مسكينا أخدم رسول الله صلى الله عليه و سلم على ملء بطني وكان المهاجرون يشغلهم الصفق بالأسواق وكانت الأنصار يشغلهم القيام على أموالهم فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم من يبسط ثوبه فلن ينسى شيئا سمعه مني فبسطت ثوبي حتى قضى حديثه ثم ضممته إلي فما نسيت شيئا سمعته منه

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb semuanya dari Sufyan [Zuhair berkata] telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Zuhriy dari Al A’raj yang berkata aku mendengar Abu Hurairah berkata sesungguhnya kalian mengira bahwa Abu Hurairah sangat banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Allah Maha memenuhi Janji. Aku dahulu adalah orang miskin yang menyertai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] demi makanan untuk mengisi perutku. Sedangkan orang-orang Muhajirin disibukkan oleh perniagaan mereka di pasar pasar dan orang orang Anshar disibukkan dengan harta harta mereka. Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “barang siapa yang membentangkan pakaiannya maka ia tidak akan lupa sedikitpun apa yang ia dengar dariku”. Maka aku pun membantangkan pakaianku hingga Beliau selesai bersabda kemudian aku tangkupkan pada diriku, sejak itu aku tidak pernah lupa sedikitpun apa yang aku dengar dari Beliau [Shahih Muslim 4/1939 no 2492]

.

.

Maka betapa anehnya orang yang menyebut dirinya “tripoly sunni” dimana ia berkataExactly, In the Hadith itself the Prophet SAWS does not tell Abu Huraira (ra) “You will never forget” unless there is another Hadith I am not aware of, Abu Huraira (ra) told the Prophet SAWS that he narrated a lot and that he’s having a problem as he forgets some of the narrations, so the Prophet SAWS made Du’ah for him just like he made Du’ah for many of the companions and just like he made Du’ah to the whole nation several times, Abu Huraira (ra) himself admits that the Du’ah helped him a lot and he said “I never forgot a Hadith since”, yet again he was not infallible nor is he above Human nature and sooner or later he forgot.

Lucu sekali bukan. Sepertinya tripoly sunni ini membaca hadis tersebut tetapi ia mengatakan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak berkata kepada Abu Hurairah “kamu tidak akan lupa”. Silakan para pembaca lihat hadis Shahih Muslim di atas sangat jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakannya. Itulah hadis yang dibawakan oleh Abu Hurairah tentang dirinya.

Perhatikan komentar aneh dari tripoly sunni yang terakhir yet again he was not infallible nor is he above Human nature and sooner or later he forgot. Aneh sekali kalau ada ahlu sunnah yang mengaitkan kema’shuman dengan lupa, seolah olah ia ingin mengatakan hanya seorang ma’shum yang tidak bisa lupa. Sungguh menggelikan padahal di sisi ahlu sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ma’shum tetapi tetap dikatakan “bisa lupa”. Jelas kema’shuman yang diyakini triploy sunni ini bukan kema’shuman versi ahlu sunnah. Nah kalau bukan ahlu sunnah maka siapakah tripoly sunni ini?

Komentar lucu lain muncul dari seorang yang menyebut dirinya “abdaal” ia berkataTrue. If Prophets (as) can forget due to inertia, how can we expect Abu Huraira (ra) to be excused from this weakness ?. Kami jadi ingin tahu bagaimana respon orang ini setelah ia melihat hadis Shahih Muslim di atas. Mungkinkah ia akan menuduh Abu Hurairah berdusta ketika Abu Hurairah mengatakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mendoakannya tidak akan lupa.

Ada lagi orang yang menyebut dirinya “sword of sunnah” ia membuat dalih menggelikan dengan berkata when could abu huriara(ra) have made this statement? I mean how much time after the dua of Prophet(saw)?. Lets assume 5 years , soi he might have not forgotten any narration for 5 years, thats not impossible. But yes could have forgotten, later..(years after he made this statement).

Apa orang ini akan mengatakan hal yang sama terhadap perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di atas?. Bagaimana jadinya jika perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “tidak akan lupa” dikatakan hanya berlaku beberapa tahun saja, sedangkan untuk berikutnya setelah itu Abu Hurairah bisa lupa?. Ini namanya “ngibul”. Apa ada perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berlaku sampai saat tertentu saja tidak untuk seterusnya. Heh sepertinya orang yang menyebut dirinya “sword of sunnah” itu berbicara sesuka hatinya.

.

.

Yah begitulah akibatnya jika asal berkomentar tanpa meneliti hadisnya terlebih dahulu. Hobi mereka ini memang cuma membantah apa saja yang menjadi hujjah dari orang yang mereka tuduh syiah. Pokoknya apapun yang syiah [orang yang mereka tuduh syiah] tulis harus dibantah bahkan dengan dalih konyol menggelikan. Fenomena apakah itu?. Tidak lain itu penyakit akibat virus nashibi model baru. Kami menyebutnya “Neonashibi”.

Nashibi zaman dulu hobinya mencaci ahlul bait terutama Imam Ali tetapi nashibi zaman sekarang hobinya mengurangi keutamaan ahlul bait, menjauhkan orang dari berpegang teguh pada ahlul bait serta menebar kebencian kepada setiap orang yang mereka anggap sebagai Syiah. Bahkan orang yang bukan syiah tetapi mencintai Ahlul Bait akan mereka tuduh syiah sehingga makin lama orang-orang menjadi takut untuk mencintai dan membela Ahlul Bait karena akan dituduh syiah.

Nashibi model baru ini adalah bentuk mutasi nashibi lama karena nashibi lama yang terang terangan mencaci ahlul bait akan dimusuhi oleh mayoritas umat islam maka untuk mempertahankan diri, mereka beradaptasi dengan berpura-pura mencintai ahlul bait tetapi sedikit demi sedikit mengurangi keutamaan ahlul bait [sampai ke taraf biasa] dan sedikit demi sedikit membela kezaliman terhadap ahlul bait dengan dalih membela sahabat atau ijtihad. Semoga Allah SWT melindungi kita dari mereka dan penyakit yang mereka derita

Muzik: Falsafah Pengharamannya

Tidak wujud banyak perbezaan pendapat dalam isu pengharaman muzik, bagaimanapun, kesukaran muncul dalam membezakan dan mendifinasikan apa itu muzik?

 

Adakah semua bunyian yang bermelodi dan sedap didengar digelar muzik?

 

Tanpa keraguan, muzik bukanlah sedemikian, kerana apa yang telah diriwayatkan oleh dari hadis Rasulullah(s) bahawa Quran dan azan harus di baca dengan alunan suara yang sedap dan bermelodi; tambahan pula, perbuatan kaum Muslimin menunjukkan perkara sedemikian.

 

Adakah setiap bunyian yang mempunyai Tarji’ dikenali sebagai muzik? Ini juga tidak ditetapkan.

 

Kesimpulan yang dapat diambil dari kenyataan Fuqaha Sunni dan Syiah, muzik adalah alunan melodi menyeronokkan, yang melalaikan, tiada kegunaan yang serius atau tujuan, dan bersifat sia-sia.

 

Untuk menyatakan dengan lebih terang, melodi yang dikenali bersesuaian bersama majlis maksiat, individu yang korup dan berdosa adalah diklasifikasikan sebagai muzik.

 

Dengan kata lain, sebuah melodi yang meransang naluri dalaman seorang manusia, di mana dalam kondisi itu, seseorang itu terfikir untuk(contohnya) meminum arak dan menikmati hubungan seks haram, adalah sangat bersesuaian dengan apa yang dipanggil muzik.

 

Adalah penting untuk di ambil perhatian, dalam satu keadaan,

 

  1. Dalam satu gubahan, suatu melodi itu bersifat muzik, dan begitu juga untaian liriknya- seperti sajak romantik dan yang tidak bermoral yang diiringi oleh melodi yang meransangkan.
  2. Dalam keadaan yang lain, hanya melodi itu sahaja yang diklasifikasi sebagai muzik, contohnya apabila bacaan Al Quran, doa dibaca dengan melodi yang terkenal bersesuaian dengan perhimpunan bermaksiat dan tidak bermoral.(Ibnu Azmi: Contohnya, surah Quran dibaca dengan irama lagu dangdut atau jazz dsb)

Kedua bentuk di atas adalah haram dan dilarang.(Ambil perhatian)

 

Harus di nyatakan di sini, kadang kala, muzik diperhatikan mempunyai 2 makna, yakni yang umum dan yang khusus. Makna khusus adalah seperti yang telah disebutkan di atas, yakni, sebuah melodi yang meransang naluri dalaman dan terkenal bersama dengan perhimpunan maksiat. Namun, makna yang umum memberi gambaran secara tidak langsung kepada setiap bunyi yang bermelodi dan menyenangkan. Atas sebab ini, mereka yang memandang muzik berdasarkan makna umum, telah mebahagikannya kepada 2 ketegori, iaitu halal dan haram.

 

Muzik yang halal adalah irama melodi yang tidak meransang perbuatan tidak bermoral dan tidak bersesuaian dengan perhimpunan kejahatan dan korup. Sementara muzik yang haram adalah yang mempunyai karekteristik seperti yang telah disebutkan.

 

Oleh itu, berkaitan dengan pengharaman muzik, tidak wujud sebarang percanggahan pendapat tentangnya. Percanggahan hanya wujud dalam penafsiran apa itu muzik sahaja.

 

Bagaimanapun, muzik, seperti mana konsep yang lain, juga mempunya bentuk yang syak dan meragukan di mana, di waktu tertentu, seseorang itu gagal mengklasifikasikan samada muzik itu haram atau tidak. falam keadaan ini, mengikut asas hukum Baraa’t, ia akan dianggap halal.(sudah tentu, tiada keraguan untuk menganggap muzik patriotisme, heroisme, kesukanan dan yang setaraf dengannya sebagai haram)

 

 

Falsafah Pengharaman Muzik

 

Sebuah kajian terperinci tentang makna muzik bersama dengan syarat yang telah kami sebutkan di atas, secara terang telah menerangkan falsafah di sebalik pengharaman muzik. Ringkasnya, muzik terkenal didampingi dengan kejahatan seperti berikut:

 

1. Menggalakkan Kejatuhan Nilai Moral

 

Pengalaman merupakan saksi yang terbaik, telah mendedahkan betapa ramainya individu yang dipengaruhi oleh muzik, telah meninggalkan tawadhuk dan mengarah kepada nafsu dan nilai tidak bermoral. Perhimpunan muzik selalunya adalah pusat untuk segala jenis kejahatan dan muzik merupakan “pembakar” untuk kegiatan ini. Betapa kerapa kita lihat di media, di dalam perhimpunan muzik yang mana lelaki dan wanita berkumpul bersama dan melakukan pelbagai perkara yang memalukan untuk disebut di sini.

 

Di dalam Tafsir Ruh al Maani, menceritakan seorang tua Bani Umayyah yang berkata kepada mereka: Jauhi muzik kerana ia mengurangkan kesederhanaan, meningkatkan ghairah, merosakkan personaliti, pengganti kepada perkara yang memabukkan dan mengarah kepada perbuatan yang sama akibat dari kemabukkan.(Tafseer Ruh Al-Ma’ani, vol. 21, halaman. 60)

 

Ini menunjukkan walaupun Bani Umayyah sendiri melihat muzik sebagai satu bentuk kejahatan. Dan jika tradisi Islami sendiri berulang kali menyatakan muzik menguatkan jiwa munafik di dalam seorang manusia, maka ini menguatkan kebenaran ini, kerana jiwa yang munafik adalah jiwa yang tercemar akibat dari jauhnya tawadhuk. Dan hadis sendiri menyatakan bahawa malaikat tidak akan memasuki rumah yang dimainkan muzik di dalamnya, kerana ia satu bentuk pencemaran, manakala malaikat pula adaah satu entiti yang suci dan mencari kesuciaan.

 

 

2. Menjauhkan Diri Dari Zikrullah(Mengingati Allah)

 

Di dalam sesetengah hadis, muzik telah ditafsirkan sebagai lahw(keseronokan, sukan yang sia-sia)- penguat kepada fakta, bahawa muzik memabukkan seseorang di dalam keghairahan dan nafsu, sehingga membuatkan beliau mengabaikan Tuhannya.

 

Sebuah hadis dari Imam Ali(a) menyebutkan:

كُلُّ ماَ اَلهىَ عَن ذِكرِ اللهِ فَهُوَ مِنَ الْمَيسر 

Segala sesuatu yang membuatkan manusia tidak mengingati Allah, adalah satu perjudian.[Wasaail al-Shia’h, vol. 12, halaman. 235.]

 

3. Kesan yang merbahaya kepada saraf

 

Realitinya, muzik adalah salah satu faktor penting yang menyebabkan narcosis(suatu kesan lali akibat dadah) kepada saraf. Dengan kata lain, bahan narkotik memasuki badan kita melalui mulut, seperti alkohol, atau melalui deria bau seperti heroin, atau melalui suntikan seperti morfin, atau melalui telinga melalui muzik.

 

Atas sebab ini, di waktu tertentu, beberapa bentuk muzik memandu seseorang manusia kepada semangat yang sangat tinggi, yang mana keadaan yang serupa jika mereka dalam kemabukan. Tidak dapat dinafikan, ada juga keadaan yang mana tahap ini tidak dicapai, tetapi tetap sahaja akal akan berada dalam keadaan sedikit terleka. Atas sebab inilah banyak kesan buruk narkotik dapat dilihat dalam muzik.

 

Jika diteliti biografi ahli muzik terkenal, akan membongkar di dalam alur kehidupan mereka, secara perlahan akan mengidap masalah mental atau psikologi, menjadi pesakit ketidak tentuan psikologi, sesetengah dari mereka kehilangan pertimbangan akal dan ada yang menjadi gila. Ada juga sesetengah mereka yang mengalami serangan jantung akibat peningkatan tekanan darah.(Ibnu Azmi: Lihat sahaja artis-artis Hollywood seperti Britney Spears, atau Michael Jackson, contoh mudah yang dapat dilihat)

 

Ringkasan Fatwa Rahbar Berkaitan Muzik

 

Ikut Serta Dalam Membaca Lirik Lagu dan Kontes Budaya 

 

Soal: Saya adalah seorang mahasiswa perguruan tinggi Kasymir. Di sini setiap tahun diselenggarakan seminar, dimana pada acara ini para mahasiswa menyajikan acara-acara budaya seperti menyanyi, lomba, pembacaan lirik lagu dan sebagainya yang disajikan dengan harmonis dan kompak. Dalam kontes ini saya juga akan berpartisipasi dalam pembacaan lirik. Apakah keputusan saya ini benar? Mohon pendapat Anda mengenai acara-acara semacam ini.

 

Jawab: Pada dasarnya, membaca lirik lagu dan menyanyi tidaklah bermasalah. Akan tetapi apabila cara menyanyi dan membaca lirik tersebut dilakukan dengan turun naiknya suara sebagaimana dalam majelis-majelis maksiat, maka hal seperti ini tidak diperbolehkan. Demikian juga apabila musik yang disiarkan diiringi dengan nyanyian dan pembacaan lirik yang sesuai dengan mejelis-majelis maksiat dan pesta pora, maka hal tersebut tidak diperbolehkan.

 

Mendengarkan Musik Pada saat Olah Raga 

 

Soal: Bagaimana hukumnya ikut serta dalam kelas-kelas olah raga yang memperdengarkan musik di dalamnya? Bagaimana jika kami menggunakan headphone supaya tidak mendengar musik tersebut atau kalaupun terdengar, akan terdengar dengan sangat lemah?

Jawab: Jika musik tersebut tidak mutrib dan tidak lahwi (sia-sia belaka), maka tidak bermasalah. Dan untuk menentukan mutrib atau tidaknya adalah tugas mukallaf.

 

Nyanyian Perempuan 

 

Soal: Bagaimana hukumnya mendengarkan nyanyian perempuan apabila dari sisi syair dan musiknya tidak termasuk sia-sia dan omong kosong?

Jawab: Jika nyanyian perempuan tersebut dapat membangkitkan syahwat atau mendengarkannya akan menyebabkan kerusakan moral, maka tidak ada kebolehan untuk mendengarkannya.

 

Penentuan Musik yang Haram dan Lagu

 

Soal: Saya menemui kesulitan dalam menentukan antara lagu dan musik yang halal dari yang haram, lalu apa kewajiban saya?

Jawab: Penentuan lagu dan musik lahwi (sia-sia) yang haram bergantung pada ‘urfi (pandangan masyarakat umum) mukallaf.

 

Lagu dan Suara Perempuan 

 

Soal: Jika dalam sebuah kasus suara perempuan tidak termasuk lagu, bagaimana hukum mendengarkannya?

Jawab: Dalam keharaman lagu tidak ada perbedaan antara yang membawakan lagu tersebut adalah perempuan ataukah laki-laki. Sedangkan mendengarkan suara perempuan jika bukan lagu-lagu (nyanyian),  maka secara syar’i  tidak ada keharaman, kecuali apabila dilakukan dengan tujuan raibah (untuk menikmati) atau akan menyebabkan kerusakan. Akan tetapi mendengarkan suara penyanyi perempuan yang biasanya di dalamnya mengandung kerusakan, adalah tidak diperbolehkan.

 

Sumber: Ayatollah Makarem Shirazi, 108 Persoalan Agama

Keunikan Jemaah Haji Iran

Jemaah haji Indonesia tentunya sering bertemu dengan jemaah haji asal Republik Islam Iran. Pernahkah jemaah haji Indonesia mengetahui secara persis keunikan penyelenggaraan ibadah haji yang ditangani pemerintah Republik Islam Iran?

Sungguh, selama ini jemaah haji Indonesia mengenal jemaah haji Iran sebagai jemaah yang sering aksi unjuk rasa.

Dalam hal ini, ada suatu hal yang menarik yakni jemaah haji Iran pada umumnya solid dan keberadaannya di tanah suci benar-benar didukung sepenuhnya oleh pemerintah Republik Islam Iran.

Salah satu bentuk pemanjaan terhadap jemaah hajinya, pemerintah Iran mengadakan aktivitas mobil ambulans keliling di tanah suci. Salah satu tugasnya adalah membantu jemaah haji Iran yang tersesat atau mengalami gangguan kesehatan.

Disubsidi dana

Pemerintah Republik Islam Iran juga sangat besar perhatiannya terhadap pemondokan para jemaah hajinya. Ini termasuk pula soal suplai makanan minuman, pakaian ihram, peralatan kecil jemaah, dan bahkan tentang pemandu jemaah selama berada di tanah suci. Kamar-kamarnya jemaah haji Iran jauh lebih nyaman dibandingkan dengan kamar-kamar tempat jemaah haji ONH biasa tinggal. Satu kamar rata-rata ditempati 3-4 orang. Tentu saja tidak ada percampuran tempat tinggal antara jemaah haji laki-laki dan perempuan.

Adapun tentang suplai makanan dan minuman, jemaah haji Iran juga dimanjakan oleh pemerintah. Jemaah haji Iran tidak perlu memikirkan apa pun soal konsumsi makanan dan minuman.

Hal lain yang sangat mengagumkan yakni pemerintahan Iran memberikan subsidi dana setiap warga Iran yang akan menunaikan ibadah haji. Jadi, tiap tahunnya, jutaan dolar AS– anggaran negara Iran– dikeluarkan untuk menyubsidi jemaah haji Iran.

Data terakhir yang penulis dapatkan dari Sazman-e Haj wa Zeyarat (Lembaga Haji dan Ziarah) Iran menyebutkan bahwa biaya sebenarnya (real cost) ibadah haji per orang sekitar 25 juta riyal. Ini setara dengan Rp 25 juta. Namun, dana yang harus dikeluarkan oleh seorang yang pergi haji hanya sekitar Rp 14,5 juta hingga 15,5 juta.

Perinciannya sebagai berikut, seseorang yang ingin pergi haji harus menyetor uang pendaftaran sebesar 10 juta riyal kepada lembaga haji. Karena sangat banyaknya orang yang mendaftar, orang yang baru mendaftar untuk pergi haji tahun ini baru akan diberangkatkan 4-5 tahun lagi.

Uang pendaftaran itu kemudian disimpan oleh lembaga haji di bank pemerintah atas nama orang tersebut. Setelah 4-5 tahun, yaitu ketika sudah tiba giliran orang itu untuk pergi haji, uang yang disimpan atas namanya di bank pemerintah itu sudah bertambah antara 40 hingga 50 persen.

Dengan demikian, uangnya menjadi sekitar Rp 14 juta s.d. Rp 15 juta. Pemerintah kemudian memberikan subsidi Rp 5,5 juta. Sisa uang yang harus disetor sekitar Rp 4,5 sampai 5,5 juta. Jadi, total uang yang harus dikeluarkan orang Iran untuk pergi haji Rp 14,5 hingga Rp 15,5 juta. Untuk kalangan tertentu seperti keluarga syuhada dan veteran perang, subsidi yang diberikan oleh pemerintah lebih besar lagi, yaitu sampai Rp 10 juta.

Dengan uang sebesar itu, jemaah haji Iran berhak mendapatkan pelayanan penuh dan nyaman dari pemerintahnya. Biaya sebesar ini sudah termasuk manasik, vaksin, pemeriksaan kesehatan, pembimbing, hewan kurban, dll.

Rata-rata jemaah haji Iran yang bisa berangkat haji berdasarkan kuota yang diberikan oleh pemerintah Arab Saudi sebanyak 70.000 orang. Dengan perkiraan rata-rata tiap orangnya mendapat subsidi Rp 5 juta, jumlah seluruhan subsidi yang dikeluarkan pemerintah untuk membiayai pelaksanaan ibadah haji rakyatnya sebesar 350 miliar riyal (kurang lebih sama dengan Rp 350 miliar).

Dengan kebijakan seperti ini, tidak heran jika berangkat haji bukanlah sesuatu yang sangat mewah atau berat bagi rakyat Iran yang secara ekonomis lebih makmur jika dibandingkan dengan rakyat Indonesia. Kebijakan lain pemerintah Iran yang membuat ibadah haji lebih bisa dilakukan oleh rakyat negara ini, adalah kaitannya dengan peraturan ketat giliran pergi haji. Karena haji itu adalah ibadah dalam Islam yang hukumnya wajib sekali seumur hidup bagi yang mampu.

Saudi Larang Warga Syiah Arab Saudi Menunaikan Ibadah Haji

Para pejabat Arab Saudi melarang warga Syiah Arab Saudi yang berasal dari daerah Ihsa dan Qatif ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji.

Menurut laporan situs televisi al-Alam Jumat (04/11) mengutip situs Nahrainnet, pasukan militer Arab Saudi menghentikan puluhan bus yang mengangkut pria dan wanita di dekat pintu masuk kota Mekah. Mereka diminta agar kembali ke daerahnya di kawasan timur Arab Saudi.

Kepada Nahrainnet mereka mengatakan bahwa para penumpang bus-bus itu sebagian besar berasal dari daerah Ihsa dan Awamiyah. Mereka menuju Mekah untuk melaksanakan ibadah haji.

Ketika pasukan keamanan tetap bersikeras tidak mengizinkan mereka memasuki kota Mekah, para penumpang melakukan aksi mogok dan memutuskan untuk tidak pulang ke kotanya

Musuh Berusaha Mencegah Tampilnya Bangsa Iran Sebagai Teladan Umat Islam


Rahbar: Jika Tak Maju, Musuh Tak Akan Bersusah Payah Merusak Citra Iran

Mengenai kebangkitan Islam di kawasan, Rahbar menandaskan, sambutan hangat bangsa-bangsa ini terhadap pemikiran bangsa Iran terkait ‘Islam dan mengikuti syariat’ telah membuktikan akan kepedulian bangsa-bangsa ini untuk menjadikan Republik Islam sebagai contoh.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Kamis (20/10) pagi di hari kesembilan dan terakhir kunjungan ke Kermanshah menyebut pengabdian yang tulus dalam pemerintahan Islam sebagai taufik Ilahi serta amalan yang bisa mendatangkan keridhaan Allah dan membantu mengokohkan hubungan rakyat dengan pemerintahan.

Berbicara di depan para pejabat dan pegawai berbagai instansi negara di provinsi Kermanshah, beliau mengatakan, kinerja pejabat negara di tingkat nasional maupun lokal bisa meningkatkan atau -naudzubillah- mengurangi kehormatan negara. Karena itu, sebisa mungkin para pejabat hendaknya meningkatkan kualitas kerja dan pengabdiannya yang membanggakan.

Ayatollah al-Udzma Khamenei memuji kesiapan selalu rakyat untuk terlibat di medan manapun saat diperlukan dan menyebutnya sebagai fenomena yang menakjubkan.

“Lisan tidak mampu menyampaikan rasa terima kasih yang semestinya. Meski ada kesulitan dan kekurangan, mereka selalu lebih siap membela Islam dan revolusi dibanding para pejabat negara,” ungkap beliau.

Beliau mengimbau para pajabat untuk bekerja lebih keras dan sempurna dalam melayani bangsa yang terhormat, mulia dan penyabar ini.

Di bagian lain pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyinggung konspirasi musuh terhadap bangsa ini dan menilainya sebagai bukti kemajuan yang dicapai oleh Republik Islam Iran.

Beliau mengatakan, serangan gencar propaganda, politik, ekonomi, dan keamanan yang dilancarkan kubu arogansi adalah bukti yang jelas akan pesatnya gerakan bangsa Iran dalam upaya mewujudkan cita-citanya. Sebab, jika gerakan bangsa ini terhenti, mundur dan lemah musuh tak akan pernah menyusahkan diri seperti ini.

Mengenai kebangkitan Islam di kawasan, Rahbar menandaskan, sambutan hangat bangsa-bangsa ini terhadap pemikiran bangsa Iran terkait ‘Islam dan mengikuti syariat’ telah membuktikan akan kepedulian bangsa-bangsa ini untuk menjadikan Republik Islam sebagai contoh.

Dalam kondisi yang menentukan ini, kata beliau, ketika bangsa Iran menjadi teladan dan panutan bagi bangsa-bangsa di kawasan, kita harus mawas diri untuk selalu menampilkan wajah Iran yang lebih indah, menarik dan kompak di benak bangsa-bangsa lain, supaya kerja keras musuh merusak citra Iran bisa digagalkan

Rahbar: Musuh Berusaha Mencegah Tampilnya Bangsa Iran Sebagai Teladan Umat Islam

“Tegarlah menghadapi musuh seperti ketegaran bangsa Iran. Sebab, jika tidak, musuh akan semakin berani. Setelah berhasil memecah-belah antara Syiah dan Sunni mereka akan mencerai-beraikan antara kelompok-kelompok di tubuh Ahlussunnah sendiri.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei di hari keenam kunjungan ke provinsi Kermanshah, hari ini (17/10) bertatap muka dengan warga kota Paveh dan Uramanat. Dalam pertemuan akbar yang dihadiri oleh ribuan orang itu, beliau mengingatkan upaya musuh yang dilakukan terus menerus dalam menebar perselisihan antara Syiah dan Sunni.
“Bangsa Iran yang bersatu telah memadukan antara kesetiaan kepada Islam dan cita-cita revolusi Islam dengan logika, kemajuan ilmu dan ekonomi serta partisipasi di berbagai kancah politik dan sosial, yang melahirkan parameter yang menjadi petunjuk arah bagi gerakan agung bangsa-bangsa di kawasan,” kata beliau.
Seraya menekankan untuk tetap menjaga identitas ‘Irani-Islami’, Ayatolah al-Udzma Khamenei menandaskan, berkat kemenangan revolusi Islam, serta partisipasi dan keterlibatan rakyat dalam berbagai persoalan negara, dunia saat ini memandang bangsa Iran sebagai bangsa Muslim yang pandai dan arif serta bangsa yang terdepan dan maju di berbagai bidang. Dengan mengandalkan identitas kolektif ini bangsa Iran bisa memainkan peran besar di era kebangkitan Islam ini.
Menurut beliau, pandangan kagum bangsa-bangsa di kawasan terhadap bangsa Iran ini adalah kesempatan yang bagus untuk berperan lebih besar dalam membangun opini umum Dunia Islam.

“Rakyat Iran bisa menjadi teladan di benak bangsa-bangsa di kawasan, dan fenomena ini menguntungkan bangsa Iran dan bangsa-bangsa kawasan,” imbuh beliau.
Pemimpin Besar Revolusi Islam mengungkapkan bahwa bangsa Iran dan pemerintahan Islam di Iran tidak mengklaim diri sebagai pemimpin bagi bangsa-bangsa di kawasan.
“Setiap bangsa harus mengandalkan potensi, kemampuan dan jatidirinya masing-masing untuk memilih jalan yang dimaukan. Tapi tak diragukan bahwa bangsa-bangsa di kawasan menaruh perhatian yang khusus kepada bangsa Iran karena melihat potensi dan kapabilitas yang dimiliki bangsa Iran dalam 32 tahun terakhir,” jelas beliau.
Rahbar mengingatkan kembali bahwa musuh mengenal dengan baik potensi bangsa Iran untuk menjadi teladan. Karena itu, musuh-musuh Islam dan Iran berusaha keras mencegah terbentuknya persepsi yang memandang Republik Islam Iran sebagai panutan di kawasan.
Beliau menyebut upaya menebar perselisihan antara Syiah dan Sunni baik di Dunia Islam maupun di dalam wilayah Iran sebagai agenda strategik musuh saat ini. Beliau menambahkan, “Kita umat Islam, Syiah dan Sunni, memiliki banyak kesamaan dalam agama dan akidah. Kita juga mempunya banyak kepentingan yang sama. Tetapi musuh berusaha mengecilkan persamaan-persamaan yang ada untuk mewujudkan target hegemoni mereka.”
Ayatollah al-Udzma Khamenei menyatakan bahwa keakraban dan solidaritas yang kuat di antara Syiah dan Sunni di Iran ibarat pukulan telak di muka para konspirator. Beliau menandaskan, kelestarian hubungan yang akrab dan bersaudara ini membawa pesan kepada musuh bahwa Iran bukan tempat untuk menebar perselisihan. Sama seperti yang sudah-sudah, bangsa Iran yang bersatu maupun para pejabat negara, baik saat ini maupun di masa mendatang, tak akan mundur menghadapi siapapun dan tekanan apapun.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut perlawanan dan muqamawah yang kontinyu dan secara sadar sebagai solusi tunggal untuk menggagalkan aksi musuh-musuh Islam dan umat Islam. Kepada umat Islam beliau mengatakan, “Tegarlah menghadapi musuh seperti ketegaran bangsa Iran. Sebab, jika tidak, musuh akan semakin berani. Setelah berhasil memecah-belah antara Syiah dan Sunni mereka akan mencerai-beraikan antara kelompok-kelompok di tubuh Ahlussunnah sendiri.”(abna/2/11/2011)

Rahbar: Teruslah Bekerja Penuh Semangat Sampai Hari Terakhir Masa Tugas

Seraya memuji semangat kerja pemerintah dan para anggota kabinet pemerintahan Ahmadi Nejad Rahbar menasehati, “Teruslah bekerja dengan semangat mengabdi sampai hari terakhir masa tugas. Jangan biarkan dua tahun yang tersisa dari masa pemerintahan ini dan berakhirnya tanggung jawab Anda menimbulkan kesan negatif pada kinerja Anda.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Rabu malam (19/10) dalam pertemuan dengan para anggota kabinet menekankan untuk mengatasi masalah dan kesulitan yang ada di provinsi Kermanshah. Menurut beliau, hal ini memerlukan perhatian penuh, kerja keras dan manajemen yang khusus. Dalam pertemuan yang digelar setelah rapat kabinet di Kermanshah itu, Rahbar mengapresiasi kepedulian pemerintah terhadap provinsi ini dan mengatakan, terjun ke medan pengabdian kepada warga di provinsi ini memerlukan kesungguhan dan kecekatan penuh agar tercipta perbaikan yang bisa dirasakan.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut ‘kelaziman mengabdi kepada rakyat di seluruh penjuru negeri’, ‘ketulusan dan keramahan khas warga provinsi ini’, dan ‘ketertinggalan dalam banyak parameter dibanding kondisi rata-rata provinsi di Iran’ sebagai tiga alasan utama bagi pemerintah untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada provinsi Kermanshah.

“Sudah ada pekerjaan-pekerjaan yang bagus di provinsi ini. Tapi untuk mencapai kondisi yang layak bagi warganya yang mulia, masih ada jarak yang jauh,” kata beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa kekhawatiran para pejabat negara dalam menjalankan tugas dan pertanggungan jawab mereka kepada rakyat adalah satu keharusan.

“Pemerintah mesti membentuk tim kerja khusus untuk menindaklanjuti keputusan yang sudah diambil terkait provinsi Kermanshah. Pada tahap berikutnya, Gubernur dan para anggota parlemen yang mewakili provinsi ini bersama Wakil Wali Faqih untuk provinsi Kermanshah akan meninjau dengan serius pelaksanaan keputusan yang ada, supaya ada perubahan dalam kondisi warga di daerah ini,” imbuh beliau.

Menurut Rahbar, lapangan kerja adalah masalah utama yang dihadapi provinsi ini. Seraya mengimbau seluruh pejabat negara untuk bekerja keras mengatasi masalah ini, beliau menandaskan, dengan membuka peluang yang semestinya seperti dorongan investasi di bidang swasta, pengadaan infra struktur yang diperlukan untuk sektor pertanian, industri dan lainnya, diharapkan masalah lapangan kerja yang merupakan masalah utama warga dan para pemuda di provinsi ini bisa teratasi.

Kepada para anggota kabinet dan pemerintahan, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyerukan untuk membuat prioritas akan kebutuhan utama provinsi ini dan menghindari hal-hal yang tidak perlu.

Seraya memuji semangat kerja pemerintah dan para anggota kabinet ini, beliau menasehati, “Teruslah bekerja dengan semangat mengabdi sampai hari terakhir masa tugas. Jangan biarkan dua tahun yang tersisa dari masa pemerintahan ini dan berakhirnya tanggung jawab Anda menimbulkan kesan negatif pada kinerja Anda.”

Hegemoni AS di Dunia Berakhir

Khatib Tehran: Hegemoni AS di Dunia Berakhir

Khatib shalat Jumat Tehran, Ayatollah Sayid Ahmad khatami dalam khutbahnya, menyinggung peristiwa pendudukan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tehran pada 4 November 1979 silam, yang kini dikenal sebagai Hari Anti Imperialisme dan Hari Mahasiswa Iran. Dikatakannya, hegemoni AS atas dunia mulai redup dan kapitalisme dunia gagal menjawab tuntutan-tuntutan masyarakat.

Seraya menyatakan bahwa AS sedang menghadapi tumpukan masalah baik di dalam maupun luar negeri, Ayatullah Khatami menandaskan, berlanjutnya protes di Wall Street mengindikasikan sebuah realita bahwa sistem Barat telah gagal dan terjebak dalam kubang yang digali oleh mereka sendiri.

Berbicara tentang usulan baru-baru ini sejumlah pejabat AS untuk meneror para panglima Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (Pasdaran), Ayatollah Khatami menegaskan, semua bukti dan dokumen menunjukkan bahwa AS adalah terorisme negara terbesar di dunia. Ditambahkannya, pengakuan untuk meneror para panglima Pasdaran merupakan puncak kehinaan AS di kancah internasional.

Menyinggung tentang dukungan Washington terhadap para diktator di kawasan, ulama terkemuka ini mengatakan, AS tidak mampu membendung gelombang kebangkitan Islam yang menerpa Timur Tengah dan Afrika Utara, sebab era hegemoni telah berakhir dan para penguasa tiran tidak punya tempat di tengah masyarakat.

Pada bagian lain khutbahnya, Ayatollah Khatami berbicara tentang kekejaman rezim Al Khalifa di Bahrain. Dikatakannya, AS dan Arab Saudi adalah pendukung utama rezim Bahrain. Mereka berupaya mempertahankan pemerintah diktator dengan membantai rakyat.

Seraya menyinggung penahanan sejumlah perempuan tak berdosa di penjara-penjara rezim Al Khalifa, Ayatullah Khatami menjelaskan, mereka disiksa dengan cara yang paling buruk dan dosa mereka adalah menyampaikan tuntutan yang sah.

Ayatollah Khatami lebih lanjut menyoroti penarikan pasukan AS dari Irak. Menurutnya, AS setelah pendudukan panjang, terpaksa meninggalkan Irak, karena pendudukan negara itu tidak memberi sesuatu kepada Washington kecuali bencana dan kehinaan.

“Selama 50 tahun lalu, AS telah melakukan intervensi militer baik langsung atau tidak terhadap puluhan negara. Akhirnya, mereka juga terpaksa keluar secara memalukan dari Irak,” tambahnya.

“Bahtera AS di kancah internasional telah terdampar dalam lumpur dan arogansi dunia tidak akan pernah mampu mengibarkan panji melawan gelombang kebangkitan Islam,” tegas Ayatollah Khatami, yang diikuti pekikan takbir para jamaah shalat Jumat.

.

Iran Segera Publikasikan Dokumen Soal Teror Amerika

Anggota parlemen Republik Islam Iran, Kazem Jalali menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan dapat kembali mengeksploitasi terorisme setelah Iran nanti akan mempublikasikan informasi dan data-data yang terkumpul terkait aktivitas terorisme Amerika Serikat.

Fars News melaporkan, Jalali yang juga menjabat sebagai juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran menambahkan, “Dokumen yang telah dikumpulkan oleh Iran akan menunjukkan bahwa Amerika Serikat adalah kriminal dan semua tindak kejahatan Washington dapat dibuktikan.”

“100 dokumen terkait aktivitas teror Amerika Serikat telah dikumpulkan dalam waktu beberapa tahun,” demikian ungkap Jalali Jumat (4/11), seraya menambahkan bahwa AS adalah sponsor utama seluruh aksi teror di dunia.

Sebelumnya, Sekretaris Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran, Saeed Jalili juga menunjukkan dua dokumen yang membuktikan bahwa pemerintah Amerika memiliki hubungan dengan kelompok dan anasir teroris terkenal.

Jalili juga menegaskan bahwa Iran memiliki bukti-bukti solid bahwa para pejabat Amerika Serikat mengirim para anasirnya untuk melancarkan teror di Iran dan di negara-negara regional.

Ditambahkannya pula bahwa Iran berhak mengambil tindakan hukum anti-Amerika baik dalam negeri maupun di pengadilan internasional. Iran juga akan menyerahkan dokumen tersebut kepada Sekjen PBB, Ban Ki-moon untuk dibagikan kepada para anggota PBB.

Kabar bahwa Tehran memiliki dokumen-dokumen yang berkaitan dengan keterlibatan Amerika dalam aksi teror di seluruh penjuru dunia itu, disampaikan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei.

 

 

Rahbar: AS Teroris Terbesar di Dunia

“Mereka berusaha menuduh unsur perjuangan yang paling terhormat di Republik Islam dengan tudingan terorisme, padahal hari ini, teroris terbesar di dunia adalah AS,”

Menurut
Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah
al-Udzma Sayyid Ali Khamenei har2/11) dalam pertemuan dengam ribuan
pelajar dan mahasiswa menjelang peringatan 13 Aban yang di Iran diperingati
sebagai Hari Pelajar dan Hari Nasional Melawan Arogansi Dunia, mengingatkan
akan makar dan beragam konspirasi kubu arogansi dunia pimpinan Amerika Serikat
(AS) dan Zionis terhadap bangsa Iran. Beliau mengatakan, musuh mencemaskan kian
meluasnya kecenderungan meneladani pemikiran politik kokoh yang diperlihatkan
oleh Republik Islam Iran.
Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan, di tengah kesulitan yang semakin
menumpuk dan kian meluasnya gerakan umum anti Wall Street, pemerintah AS
berusaha mengaitkan Republik Islam dengan gerakan terorisme yang konyol,
irasional dan keliru. Akan tetapi, siapa saja di dunia ini yang menggunakan
logika dan cerdik pasti akan menolak skenario menggelikan ini.
Menurut beliau, skenario di balik tuduhan ini adalah untuk memalingkan opini
umum dari gerakan anti Wall Street sekaligus menekan Republik Islam Iran.
“Mereka berusaha menuduh unsur perjuangan yang paling terhormat di
Republik Islam dengan tudingan terorisme, padahal hari ini, teroris terbesar di
dunia adalah AS,” kata beliau.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, “Kami mengantongi seratus
dokumen yang tak terbantahkan terkait peran AS dalam mengendalikan teror dan
anasir teroris di Iran dan di kawasan. Dengan membeberkan keseratus dokumen
ini, di depan publik dunia kami akan mempermalukan AS dan mereka yang mengklaim
diri sebagai pembela hak asasi manusia dan pihak yang memerangi
terorisme.”
Seraya menyebut AS sebagai pecundang dan tak punya kehormatan, beliau
menegaskan, saat ini, AS adalah pecundang di Afghanistan dan Irak. Tak ada
pilihan lain baginya kecuali keluar dari dua negara itu. Kegagalan yang sama
juga dialami di wilayah utara Afrika.
AS, kata Rahbar, gagal mempertahankan kekuasaan Hosni Mubarak dan Ben Ali di
Mesir dan Tunisia. Sebab rakyat telah mengungguli mereka. Kejadian yang sama
terulang di Libya. Meski ada kontak tersembunyi dengan Qaddafi sebelum mati
secara hina, AS gagal mempertahankannya.

Ayatollah al-Udzma Khamenei lebih lanjut menyinggung kebangkitan rakyat di AS
dan 80 negara menentang sistem liberal demokrasi. Menurut beliau, fenomena ini
menunjukkan kekandasan sistem kapitalisme Barat.
“Mungkin rezim AS dan Barat bisa menumpas gerakan ini, namun baranya tak
akan pernah bisa dipadamkan,” jelas beliau.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut Republik Islam Iran sebagai poros
pemantik gerakan di kawasan dan dunia. Untuk itu, kata beliau, musuh berusaha
menebar keputusasaan di tengah rakyat khususnya kalangan pemuda dan para pejabat
dengan tujuan untuk mengganggu gerak maju poros ini. Akan tetapi, berkat
tawakkal kepada Allah, optimisme dan kekuatan, para pemuda dan pejabat Iran
tetap solid dan tegar.
“Bangsa yang arif, penyabar, cerdik, pejuang dan selalu bertawakkal kepada
Allah tidak akan bisa ditundukkan,” imbuh beliau.

Sinyalemen Kehancuran Kapitalisme

Gerakan Occupy Wall Street menembus jantung Kapitalisme global. Setelah lebih dari sebulan menduduki Wall Street, gelombang unjuk rasa anti-Kapitalisme meluas hingga Eropa. Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan pengunjuk rasa anti-korporatisme telah berkemah di tempat-tempat umum di kota-kota besar di Eropa untuk hari ketiga berturut-turut. Mereka menggelar protes untuk melawan ketidakadilan yang disebabkan oleh krisis zona euro.

Di Frankfurt, pengunjuk rasa telah mendirikan sebuah desa darurat di depan Bank Sentral Eropa, sementara demonstran Belanda membangun tenda di luar bursa saham Amsterdam. Gerakan Menduduki Wall Street dimulai pada 17 September di distrik keuangan New York, sebagai protes atas sejumlah isu termasuk perang di Timur Tengah, krisis keuangan AS dan bonus yang tinggi bagi para eksekutif Wall Street. Pada hari Sabtu, demonstrasi meledak di 951 kota di 82 negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Asia dan Afrika.

Para pengunjuk rasa yang mengusung moto “Kami adalah 99 persen” menggunakan slogan itu untuk menunjukkan fakta bahwa mereka diperlakukan berbeda dari satu persen orang Amerika, yang menguasai sebagian besar kekayaan Negeri Paman Sam itu. Protes besar-besaran rencananya akan digelar pada 29 Oktober mendatang, menjelang KTT G20 di Paris, Perancis.

Ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di kota-kota Eropa untuk memprotes korporatisme, peningkatan korupsi dan langkah-langkah penghematan yang disponsori negara. Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Irlandia, dan Portugal adalah beberapa negara Eropa, yang dilanda protes besar anti-Kapitalisme pada Sabtu (15/10). Kekerasan juga meletus di beberapa kota, termasuk Roma dan London.

Para pengunjuk rasa di seluruh Italia mengekspresikan kemarahan mereka atas situasi ekonomi dan mosi percaya parlemen yang diberikan kepada Perdana Menteri Silvio Berlusconi baru-baru ini, serta serangkaian skandal politik dan moral yang mencoreng citra negara.

Sumber-sumber di Italia menyebut lebih dari 200.000 pengunjuk rasa tiba di Roma. Dilaporkan, lebih dari 70 orang termasuk petugas polisi dan warga setempat, terluka dalam bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa di ibukota Italia. Sementara itu di London, aksi damai berubah menjadi kekerasan ketika polisi bentrok dengan para demonstran di dekat Katedral Santo Paulus. Demonstran anti-korupsi sekarang telah mendirikan tenda dalam upaya untuk menduduki daerah tersebut. Jumlah penangkapan di London masih belum jelas.

Di Jerman, lebih dari 40.000 pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan, termasuk lebih dari 8.000 orang di Berlin dan 6.000 di Markas Besar Bank Sentral Eropa di Frankfurt. Mereka juga menyerukan demokrasi lebih luas dan mengakhiri keserakahan korporatisme keuangan.

Munich, Cologne, Hamburg, dan kota-kota lain di Jerman, juga menyaksikan demonstrasi besar yang dipentaskan oleh ribuan demonstran. Selain itu, ribuan warga Spanyol berkumpul dekat Plaza Cataluna di pusat Barcelona, menekankan bahwa warga biasa tidak akan membayar utang yang dikeluarkan oleh pemerintah dan perusahaan besar.

Mereka juga menyuarakan kemarahan dan frustrasi atas tingginya angka pengangguran, korupsi dalam politik dan pemotongan anggaran belanja publik.

Pemprotes anti-korporatisme mengatakan mereka terinspirasi oleh gerakan Occupy Wall Street (OWS), yang dimulai di Amerika Serikat pada pertengahan September untuk mengecam pengaruh besar perusahaan raksasa dan kebijakan finansial pemerintah yang salah arah.

Kini, muncul pertanyaan besar di benak rakyat AS dan Eropa, mengapa perusahaan-perusahan yang memainkan peran penting dalam krisis finansial justru mendapatkan kucuran bantuan finansial besar-besaran? Mengapa masyarakat yang harus menanggung beban akibat kesalahan para pemimpin institusi keuangan yang mendapat gaji besar dan bonus tambahan yang melimpah?

Sistem Kapitalisme di AS berdiri di atas pilar kerakusan dan ketidakadilan. Sejatinya, sistem Kapitalisme di AS merupakan sebuah bentuk diktatorisme finansial yang tampil secara tidak tranparan dan tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia.

Dengan prinsip tersebut, seluruh slogan gerakan protes baru-baru ini mengarah pada kesenjangan sosial dan ketidakadilan. Salsh seorang anggota Koalisi untuk reformasi dan keadilan dalam wawancara dengan Press TV menyatakan bahwa protes anti-Wall Street akan memberikan pengaruh besar terhadap masa depan negara itu.

Gerakan Occupy Wall Street dalam situsnya menyatakan bahwa berbagai kelompok dunia menyuarakan solidaritasnya terhadap gerakan Occupy Wall Street. Profesor David Michael Green dari Universitas Hofstra di New York menilai distribusi kekayaan di Amerika Serikat telah mengubah negara itu menjadi sebuah “Republik Pisang” di mana kekuasaan politik dibeli.

Green mengatakan, “Kami memiliki sistem politik yang sangat banyak melayani kepentingan pemilik uang yang mampu membeli kekuasaan politik dan membeli kebijakan.”Ditegaskannya, “Pengambil kebijakan terutama di Washington telah dibeli oleh kepentingan-kepentingan khusus, terutama kelompok elit ekonomi.”

Sekitar sebulan sejak dimulainya gerakan Occupy Wall Street, gerakan anti-Kapitalisme telah menyebar lebih dari seribu kota dari 80 wilayah di Amerika, Eropa dan Asia. Di setiap aksi unjuk rasa, para demonstran memrotes kondisi yang ada dan menuntut sistem baru bagi masa depan yang lebih baik.

Gerakan yang telah mengglobal ini punya akar masalah yang sama. Bangsa-bangsa di dunia sudah tidak dapat lagi menerima sistem Kapitalisme yang menguasai dunia saat ini. Karena dalam sistem ini, para pemilik modal besar adalah pelaku utama kebijakan dan ekonomi masyarakat Kapitalisme.

Sementara para politikus memainkan peran sebagai pelaksana kebijakan para pemodal. Dari gabungan para pelaku pasar dan politikus ini lahirlah sebuah kelompok kecil berjumlah satu persen, tapi sangat kaya. Mereka mengontrol seluruh alat-alat produksi dan kekayaan masyarakat. Sebaliknya, 99 persen warga hidup dalam kemiskinan, inflasi, pengangguran dan puluhan masalah sosial lainnya.

Gelombang ketiga krisis ekonomi yang meletus sejak tahun 2008 semakin membuktikan bahwa sistem Kapitalisme yang dipaksakan negara-negara Barat sebagai sistem ekonomi global, ternyata gagal mewujudkan kesejahteraan ekonomi dunia. Alih-alih tercapainya tujuan itu, sistem Kapitalisme semakin meningkatkan kesenjangan antara kalangan kaya dan miskin di dunia. Setiap hari, media massa gloabal menyiarkan deretan nama-nama orang terkaya di dunia. Namun pada saat yang sama, banyak orang yang meninggal karena kelaparan.

Sejatinya, sudah saatnya dunia meninjau ulang sistem ekonomi Kapitalisme yang sudah usang itu, dan menggantinya dengan sistem ekonomi yang berkeadilan

.

Rahbar: Jika Tahu Yang Sebenarnya, Rakyat di Dunia Barat Akan Membakar Kapitalisme
Seraya menjelaskan hegemoni kuat jaringan zionisme atas para petinggi AS dan Eropa, kepada para pemimpin Barat, Rahbar mengatakan, jika kelak rakyat kalian mengetahui bahwa faktor yang menyengsarakan mereka dan yang memicu kesulitan adalah ketundukan kalian kepada zionis, api kemarahan mereka akan berkobar untuk membakar sistem kapitalisme arogansi dan mengubahnya menjadi abu.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar
atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei di
hari kelima kunjungan ke Provinsi Kermanshah bertatap muka dengan ribuan
mahasiswa, dosen dan kalangan akademisi Kermanshah. Dalam pidatonya, beliau
menyatakan bahwa generasi muda memainkan peran kunci di negara ini baik di masa
lalu, sekarang maupun masa yang akan datang. Karena itu, pertemuan dengan para
pemuda memiliki nilai penting.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut saat ini sebagai masa perjuangan,
resistensi dan kearifan. Seraya menyinggung gelombang kebangkitan Islam dan
persaingan baik yang terbuka maupun terselubung untuk menentukan sistem
kenegaraan di Mesir, Tunisia dan negara-negara lain kawasan, beliau mengatakan,
di masa yang menentukan ini yang diwarnai dengan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan
baru di kawasan, kondisi umum pemerintahan Republik Islam menjadi salah satu
faktor yang berpengaruh dominan yang memainkan peran penting terhadap kondisi
sekarang dan masa depan kawasan ini.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan tentang revolusi Islam dan menuturkan,
“Revolusi Islam berarti gerakan yang menumbangkan kekuasaan rezim Syah
yang bobrok lalu membuka jalan bagi terbentuknya sebuah pemerintahan.
Pemerintahan Islam berarti identitas dan bentuk umum negara seperti yang
dimaukan oleh rakyat. Pembentukan pemerintahan Islam berarti tegaknya rangkaian
lembaga dan institusi pengelolaan negara, pembentukan masyarakat Islam dan pada
tahap berikutnya, pembentukan umat Islam. Semua itu adalah mata rantai yang
memperjelas langkah di masa lalu, sekarang dan esok.”

Beliau lebih lanjut menerangkan bahwa tahap keempat dari mata rantai ini yaitu
pembentukan masyarakat Islam adalah target menengah tapi sangat penting dan
mulia. “Masyarakat Islam adalah masyarakat yang mewujudkan cita-cita besar
Islam untuk umat manusia,” kata beliau.

Masyarakat Islami menurut Rahbar memiliki sederet kriteria seperti keadilan,
kebebasan, peran serta rakyat dalam mengelola negara, harga diri bangsa,
kesejahteraan umum, dan kemajuan di berbagai bidang yang mesti diwujudkan.
“Tentunya, tujuan utama dari masyarakat Islami adalah membawa manusia
kepada kesempurnaan maknawiyah, penghambaan dan makrifat kepada Allah,”
tambah beliau.

Beliau mengingatkan untuk tidak menafsirkan ide pembentukan masyarakat Islami
dengan persepsi Barat. Sebagai contoh, keadilan, kebebasan dan martabat manusia
yang menjadi ciri khas masyarakat Islami hanya mengacu pada ajaran Islam hakiki
yang berbeda dengan persepsi Barat.

Meski demikian, lanjut Rahbar, Barat juga tidak komitmen dengan slogan-slogan
dan persepsi yang dibuatnya. Di Afghanistan, Irak, Libya dan negara-negara
lain, Barat mengangkat slogan-slogan seperti demokrasi, perang melawan senjata
atom, dan perang anti terror yang ternyata hanya kamuflase untuk menunjang
kepentingan busuknya seperti menguasai kawasan-kawasan penting ekonomi dan
kekayaan bangsa-bangsa lain serta untuk melindungi rezim Zionis Israel dan
menyempurnakan mata rantai arogansinya di dunia.

Di bagian lain pembicaraannya, Rahbar menyinggung skenario AS yang menuduh Republik
Islam Iran terlibat dalam sebuah rencana teror. Seraya menjelaskan bahwa
Republik Islam memantau dengan jeli segala gerak gerik di balik tabir skenario
ini, kepada para petinggi Washington beliau memperingatkan, dengan sekuat
tenaga, Republik Islam akan membalas setiap tipu daya dan gerakan destruktif
yang mengganggu.

Menurut beliau, skenario AS mungkin ditujukan untuk meredam gejolak yang
ditimbulkan oleh gerakan anti Wall Street. “Rakyat di 80 negara mendukung
gerakan yang semakin besar ini, dan ini menjadi fenomena yang pahit dan sulit
bagi para petinggi AS,” tandas beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, tindakan represif polisi dan tentara
mungkin bisa meredam gerakan ini tapi tak akan pernah bisa menghilangkannya,
dan ia akan menjadi api dalam sekam.

Seraya menjelaskan hegemoni kuat jaringan zionisme atas para petinggi AS dan
Eropa, kepada para pemimpin Barat, beliau mengatakan, jika kelak rakyat kalian
mengetahui bahwa faktor yang menyengsarakan mereka dan yang memicu kesulitan
adalah ketundukan kalian kepada zionis, api kemarahan mereka akan berkobar
untuk membakar sistem kapitalisme arogansi dan mengubahnya menjadi abu.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Kalian telah meninggalkan rakyat
dan mayoritas mereka membenci kalian. Kondisi di Republik Islam Iran justeru
sebaliknya. Pertemuan akbar rakyat menunjukkan tekad kuat dan keteguhan mereka
untuk melawan setiap tipudaya.”

Seraya mengingatkan bahwa selama 32 tahun, Republik Islam tak pernah tunduk
kepada kemauan lawan, beliau menandaskan, “Seluruh bangsa kita ada di
tengah medan. Kita semua adalah bagian dari bangsa dan prajurit untuk negara
dan Islam. Tubuh bangsa yang satu dan kuat ini siap melawan segala bentuk
konspirasi dan langkah setan tanpa mengenal kata mundur.”

Permusuhan setan yang paling keji di dunia terhadap bangsa Iran dan
pemerintahan Republik Islam, menurut Rahbar, menunjukkan kebenaran janji Ilahi.
“Seperti yang dikatakan al-Qur’an, segala kekejian itu hanya akan menambah
keimanan kita. Pertolongan Ilahi akan menunjukkan kemenangan bangsa Iran atas
para perancang tipudaya,” imbuh beliau.(abna.ir)

Rahbar: Para Petinggi AS Bahkan Terkucil di Negara Sendiri

“Dengan melayangkan tuduhan tak berdasar yang mengaitkan beberapa warga Iran, mereka berusaha mencari alasan untuk mengesankan Republik Islam Iran sebagai pendukung terorisme, untuk selanjutnya menjadikannya sasaran serangan diplomasi dan propaganda media. Tapi, konspirasi ini gagal, akan gagal dan tidak akan berhasil seperti konspirasi-konspirasi yang sebelumnya. Tidak seperti yang mereka bayangkan, konspirasi ini malah akan membuat mereka semakin terkucil,” tegas Rahbar.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei di hari keempat kunjungan ke provinsi Kermanshah bertatap muka dengan ribuan warga Gilan-e Gharb. Dalam pertemuan akbar itu, beliau menyebut rakyat Iran khususnya para pemuda negeri ini sebagai pembela jatidiri, identitas dan harga diri bangsa dan agama. Seraya menyinggung tuduhan yang dialamatkan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini terhadap Republik Islam Iran, beliau mengatakan, musuh berusaha keras untuk menyebarkan Iranphobia, tetapi seperti yang sudah-sudah, tak ada yang mereka dapatkan kecuali kebencian bangsa-bangsa di dunia terhadap AS yang semakin besar dan kian meningkatnya kecintaan umum kepada slogan-slogan bangsa Iran yang membanggakan.

Dalam pertemuan agung yang digelar di lapangan olahraga Gilan-e Gharb Sabtu (15/10) pagi ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut keteguhan warga kota ini selama masa serbuan rezim Baath sebagai kebanggaan bagi para pemuda daerah ini. Seraya menceritakan kunjungan beberapa kali ke Gilan-e Gharb dan daerah-daerah sekitarnya selama perang delapan tahun, beliau menambahkan, para pemuda daerah ini mesti menyadari bahwa mereka dibesarkan di lingkungan keluarga yang mengkombinasikan antara keberanian dengan keterasingan mereka selama Perang Pertahanan Suci.

“Ini sangat membanggakan dan menunjukkan adanya potensi besar spiritualitas dan nilai kemanusiaan,” kata beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menilai era ini sebagai era suci untuk membela jatidiri dan harga diri bangsa serta keyakinan Islam yang kokoh. Beliau mengatakan, “Para pemuda, putra, putri dan semua mukmin yang tidak mengalami era pertahanan bangsa dan negara dengan senjata, kini tetap menyandang semangat kebangsaan dan siap membela kemuliaan dan jatidiri bangsa dan agama.”

Menyinggung tipudaya dan konspirasi asing untuk mengucilkan Republik Islam Iran, beliau menegaskan, AS, Eropa dan rezim-rezim dependen melakukan segala hal untuk melumpuhkan resistensi bangsa Iran. Realita ini menunjukkan keagungan nilai kegigihan dan keteguhan bangsa Iran terhadap cita-citanya.

Dalam beberapa hari terakhir, jelas Rahbar, jaringan media massa Zonisme internasional gencar memberitakan dukungan Iran kepada terorisme dan ini adalah bagian dari mata rantai tipudaya terus menerus yang dilakukan kubu arogansi dunia.

“Dengan melayangkan tuduhan tak berdasar yang mengaitkan beberapa warga Iran, mereka berusaha mencari alasan untuk mengesankan Republik Islam Iran sebagai pendukung terorisme, untuk selanjutnya menjadikannya sasaran serangan diplomasi dan propaganda media. Tapi, konspirasi ini gagal, akan gagal dan tidak akan berhasil seperti konspirasi-konspirasi yang sebelumnya. Tidak seperti yang mereka bayangkan, konspirasi ini malah akan membuat mereka semakin terkucil,” tegas beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut menjelaskan transformasi terkini di kawasan dan dunia seraya menyebut AS sebagai rezim dan negara yang paling dibenci oleh bangsa-bangsa di dunia. Beliau menambahkan, “Dua tahun lalu, Presiden AS saat berkunjung ke Mesir membuat pernyataan-pernyataan yang muluk untuk menipu opini umum di kawasan. Tapi kini, di negara yang sama dan di negara-negara lain di kawasan, rakyat justeru meneriakkan slogan-slogan anti AS.”

Seraya menerangkan kecemasan Presiden AS menghadapi bangsa-bangsa di kawasan, beliau mengungkapkan, “Saat berkunjung ke Afghanistan yang dikuasai oleh pasukan AS dan NATO, orang ini bahkan sama sekali tidak keluar dari pangkalan militer Begram. Dia tidak berani pergi ke Kabul. Sebab, dia terkucilkan di mata bangsa-bangsa dunia, dan takut terhadap mereka.”

Berbicara tentang kondisi di dalam negeri AS, Rahbar mengangkat masalah gerakan anti Wall Street yang merebak ke berbagai kota lainnya di AS. Kepada para petinggi AS beliau mengatakan, “Kalian bahkan dikucilkan oleh bangsa sendiri dan kalian takut kepada mayoritas rakyat kalian. Apakah dengan kondisi ini kalian ingin menyebarkan Iranphobia dengan omongan kosong kalian?”

Di bagian lain pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei memuji keteguhan bangsa Iran dalam menghadapi kubu arogansi dunia, seraya mengatakan, “Ingatlah selalu bahwa Republik Islam Iran berpihak kepada bangsa-bangsa tertindas dan melawan kaum penindas. Dengan segenap tenaga Republik Islam Iran siap menghadapi arogansi dan tak akan mundur sedikitpun dari cita-citanya.”

Seraya menyatakan bahwa slogan-slogan Republik Islam Iran diminati oleh bangsa-bangsa lain di dunia, beliau menambahkan, seiring dengan kecenderungan yang semakin besar ini, para petinggi AS hanya memiliki pengagum yang berjumlah kecil yakni hanya satu persen.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut kebangkitan Islam di kawasan yang semakin luas sebagai transformasi yang sangat penting di Timur Tengah. Beliau menjelaskan, para pemuda yang cerdas di negara ini harus mempertahankan Islam sebagai faktor yang menyelamatkan kehidupan materi dan spiritual. Tak diragukan, bahwa masa depan adalah milik Islam. Panji Islam, insya Allah, akan berkibar di seluruh kawasan dan akan terbentuk satu komunitas dari bangsa-bangsa di kawasan yang kuat, kompak dan terhormat.