Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

Al Quran membolehkan melaknat dan mencaci atas tujuh golongan !! Ironi tuduhan syi’ah tukang laknat sahabat !!

ilust_1Adapun laknat, maka tidak bisa kita katakana tidak boleh atau haram, sebab Allah SWT di dalam Al Quran menyebutkan kurang lebih 38 kali, bahwa diri-Nya melaknat orang-orang yang dzalim, orang-orang kafir, orang-orang yang tidak melakukan amar makruf dan nahi mungkar dari kaum Bani Israil melalui Nabi Isa dan Daud. Begitu juga dalam banyak hadits disebutkan, bahwa Allah melaknat orang yang menyuap dan penerima suap, yang membangun kuburan sebagai sesembahan, yang meminum minuman khamer, penjualnya, yang memproduksinya, yang membawanya dan banyak lagi yang lainnya.

Hal itu menunjukkan, bahwa melaknat itu boleh asal tepat sasaran. Yakni orang yang kita doakan agar jauh dari rahmat Allah adalah orang yang memang tidak akan menerima rahmat Allah SWT sebagaimana disebutkan dalam Al Quran.

Laknat adalah bentuk ekspresi ketidaksetujuan atas prilaku seseorang yang bertentangan dengan agama, ia merupakan lawan dari shalawat, permohonan kerelaan dari Allah bagi orang-orang baik. Hal ini tentu adalah sebuah keniscayaan, sebab di dalam agama memang kita dituntut untuk berlepas diri dari musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya, artinya kita tidak menyetujui apa yang mereka lakukan, kalau tidak begitu maka berarti kita tidak beriman dan tidak lah mencintai Allah dan Rasul-Nya.

Karena itulah kita dapatkan laknat dalam berbagai doa ziarah yang diajarkan oleh para Imam Ahlul Bait as kepada kita. Karena kita memang dituntut untuk melepaskan diri dari para musuh Ahlul Bait sebagai bukti kecintaan kita kepada mereka.

Namun apakah ekspresi boleh dilakukan dalam semua keadaan? Tentu tidak, di saat ada orang-orang yang tidak memahami dan tidak ada kesempatan untuk menjelaskan kepada mereka, sehingga mereka memiliki kesalah pahaman atas kita, maka kita tidak boleh melakukan hal itu.

Coba renungkan ayat 104 dari surah Al Baqarah dimana Allah SWT melarang kaum mukminin untuk mengatakan ra’inaa kepada Nabi saw dan diperintahkan untuk mengatakan undzurnaa sebagai gantinya, padahal dua kata itu memiliki makna yang sama. Sebabnya adalah karena kata yang pertama memiliki makna jelek dalam bahasa Ibrani sehingga orang-orang Yahudi mengejek kaum muslimin atas hal itu.

Mungkin ini yang dimaksudkan oleh sebuah hadits dari Imam Ali bin Abi Thalib as dimana beliau kurang menyukai banyak melaknat musuh-musuhnya, seperti dalam sabdanya yang disebutkan dalam kitab Bihar Al Anwar Juz 32 Hal 399, yang artinya aku tidak menyukai kalian banyak melaknat dan mencaci-maki kemudian berlepas diri. Aku lebih suka dan lebih benar menurutku jika kalian mengatakan, bahwa mereka itu adalah begini dan begini lalu kalian berdoa: Ya Allah selamatkanlah darah mereka dan darah kami dan perbaikilah hubungan kami dengan mereka, berilah mereka petunjuk dari kesesatan mereka sehingga mereka mengetahui hal-hal yang belum mereka ketahui dan mereka luruskan hal-hal yang bengkok dan permusuhan mereka.

  1. Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’it yang telah dinamakan oleh Allah sebagai fasiq ketika diutuskan oleh Nabi SAW untuk memungut zakat daripada Bani Mustalaq. Dia pulang dan memberi tahu Nabi SAW  bahawa Bani Mustalaq telah keluar untuk memeranginya. Lalu Nabi SAW` bersiap sedia dengan tentera untuk memerangi mereka.

Maka Allah berfirman: Terjemahan:”Hai orang-orang yang beriman, jika     datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita maka periksalah       dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal          atau perbuatanmu itu.”[ Qs. Al-Hujurat (49):6]

Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’it  merupakan famili Khalifah Uthman dari         sebelah ibunya. Semasa pemerintahannya, Khalifah Uthman melantik beliau        sebagai gabenor di Kufah, al-Baladhuri, al-Ansab al-Asyraf, V, hlm.22; Ibn        Abd al-Barr, al-Isti’ab, III, hlm.594 menceritakan bahawa al-Walid bin        Uqbah adalah seorang peminum arak. Beliau pernah sembahyang Subuh     dalam keadaan mabuk. Ibn Qutaibah di dalam al-Imamah wa al-Siyasah,      Cairo, 1957, I, hlm.32,menyatakan al-Walid bin Uqbah sembahyang Subuh       empat rakaat kerana mabuk.

Al-Walid termasuk  kalangan sahabat, lalu di manakah keadilan seorang     yang fasiq?

2.   Al-Jadd  bin  Qais dari  Bani Salmah telah diturunkan ayat mengenai           dirinya.      FirmanNya: “Di antara mereka ada orang yang berkata: “Berilah       saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya         terjerumus kedalam fitnah”. Ketahuilah bahawa mereka telah terjerumus ke    dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-        orang kafir.” [Al-Taubah (9):49]

3.   Tha’labah bin Hatib bin Umar bin Umayyah di antara orang yang turut berperang di dalam peperangan Badar dan Uhud. Dia tidak mahu      mengeluarkan      zakat hartanya. Lalu Allah berfirman: Dia tidak mahu   mengeluarkan zakat hartanya.

Lalu Allah berfirman: Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar   kepada Allah:”Sesungguhnya jika Allah memberi sebahagian kurniaNya    kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk      orang yang saleh.”[Qs. Al-Taubah (9):75-76]

4. Hujr bin Adi dan tujuh sahabat Rasulullah SAWA telah dibunuh oleh   Muawiyah kerana mereka tidak melaknati Ali AS.  (sumber : Ibn al-Athir, Tarikh,I,hlm.18-55;al-Muttaqi al-Hind, Kunz al-Ummal,VII,hlm.88)

‘Aisyah menentang Muawiyah kerana membunuh Hujr bin Adi dan sahabat sahabatnya. ‘Aisyah berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sekumpulan manusia akan membunuh di ‘Azra’ di mana Allah dan seluruh penghuni langit akan memarahi mereka” [ Ibn Kathir, Tarikh,VIII,hlm.55]

5. Jika memang semua isteri Nabi saw itu adil dan bisa dijadikan landasan sunnah, maka pasti Rasul tidak akan bersabda tentang ummu’l mu’minin ‘A’isyah:

“Diriwayatkan oleh Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’, dari ‘Abdullah yang berkata: “Nabi saw sedang berkhotbah dan beliau menunjuk ke arah kediaman ‘A’isyah sambil bersabda : “Di sinilah akan muncul fitnah, di sinilah akan munculfitnah, di sinilah akan muncul fitnah darimana munculnya tanduk syaitan” (Shahih Bukhari, bab “Ma jaa’a fi buyutil azwajin Nabi” dan Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 23 dan 26)

‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah saw keluar dari rumah ‘Aisyah dan bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk setan’. (Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 23 )

Rasul Allah saw keluar dari rumah ‘A’isyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini akan muncul tanduk setan.” (Imam Ahmad bin Hambal,Musnad, jilid 2, hlm. 26. )

ilust_1
Sunni Malaysia berteriak teriak : “Syi’ah mengkafirkan para sahabat”
.
Sunni Indonesia berteriak teriak : “Syi’ah melaknat para sahabat”
.
Duhai  tuduhan yang mengada ada…
.
Kafir versi syi’ah = tidak taat, bukan kafir tulen
.
Murtad versi syi’ah = berbalik meninggalkan wasiat Rasul SAW, bukan murtad tulen
.
Lucu jika syi’ah dituduh kafir kan sahabat… 

NB : Sobat Sobat Jangan Lupa Berkomentar, Setelah Download Buku Disini..
 

Konsep Laknat dalam al-Quran

Konsep Laknat dalam al-Quran eBook Download For Free 

Untuk download, silahkan langsung kesini Link Download

KONSEP LAKNAT DI DALAM AL-QUR’AN

Pengenalan

Perkataan la‘nat (laknat) dan pecahannya disebut sekurang-kurangnya 32 kali di dalam al-Qur’an dalam pelbagai perkara yang melanggari perintah Allah dan Rasul-Nya. Mengikut  Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi perkataan la‘nat (laknat) memberi erti “pengusiran dan berjauhan dari kebaikan” (al-Tard wa al-Ib’ad mina l-khair) (Mukhtar al-Sihhah, hlm. 108, Cairo, 1950). J. Milton Cowan menyatakan la‘nat adalah “curse”. La‘natullahi ‘Alaihi bererti “God’s curse upon him” (A Dictionary of Written Arabic, London 1971, hlm. 870). Manakala menurut Kamus Dewan pula menyatakan laknat adalah “kemurkaan Allah dan jauh dari petunjuk-Nya; setiap perbuatan jahat akan menerima kutukan (laknat) daripada Allah (Kamus Dewan, hlm. 694, Kuala Lumpur, 1971).

Mereka yang dilaknati di dalam al-Qur’an

Di sini dikemukakan sebahagian daripada mereka yang dilaknati di dalam al- Qur’an seperti berikut:

1Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perintah-Nya

Firman-Nya Sesungguhnya Allah melaknat (mengutuk) orang-orang yang kafir (ingkar) dan menyediakan untuk mereka api yang menyala-nyala” (Al- Ahzab (33):64) “Sesungguhnya di atas engkau laknat sampai hari pembalasan” (Al-Hijr (15):35) “Sesungguhnya  di atasmu laknatkusampai hari pembalasan” (Sad (38):78)

Ini menunjukkan barangsiapa yang mengingkari walaupun satu hukum daripada hukum-hukum-Nya adalah termasuk orang yang ingkar terhadap hukum-Nya. Apatah lagi jika seorang itu menukarkan hukum Allah dengan hukumnya sendiri. Kerana setiap individu Muslim sama ada Nabi (Saw.) atau bukan Nabi tidak boleh menyalahi al-Qur’an. Firman-Nya “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhan-ku, akan azab hari yang besar” (Al-An’am (96):15). Jika Nabi (Saw.) merasa takut kepada Allah jika dia mendurhakai-Nya, maka orang lain sama ada yang bergelar khalifah atau sahabat atau mana-mana individu sepatutnya lebih takut lagi untuk mendurhakai perintah-Nya.

2Laknat Allah kepada mereka yang menyakiti-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, nescaya mereka dilaknati Allah di Dunia dan di Akhirat dan Dia menyediakan untuk mereka  seksa yang menghinakan (mereka) (Al-Ahzab (33):57).

Ini bererti barang siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya walau dengan apa cara sekalipun dilaknati Allah, Rasul-Nya,para Malaikat-Nya dan  Mukminun. Sama ada dengan menentang hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya atau menghina Allah dan Rasul-Nya dengan membatalkan hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya di atas alasanmaslahah umum atau sebagainya.

Justeru itu, orang yang menghina Nabi (Saw.) dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau” di hadapan Nabi (Saw.) “Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]”. “Orang yang telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.), Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar” [Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida,Tarikh, I, hlm. 156],  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II ,hlm.14; Umar Ridha Kahhalah,A’lam al-Nisa’, III, hlm. 208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah” Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dan lain-lain).

Mereka yang membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V, hlm. 140), “Menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.)” [al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111] , mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’’ hlm.136) adalah termasuk orang yang dilaknati Allah, Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun. Dan jika seorang itu tidak melakukan laknat kepada mereka di atas perbuatan mereka yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka dia bukanlah Mukmin yang sebenar. Apatah lagi jika dia mempertahankan perbuatan mereka tersebut sebagai sunnah atau agama bagi bertaqarrub kepada Allah (swt).

3. Laknat Allah kepada mereka yang menyembunyikan hukum-Nya di dalam kitab-Nya

Firman-Nya “Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada orang ramai, nescaya mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh orang-orang yang mengutuknya” (Al-Baqarah (2):159).

Ini bererti barang siapa yang menyembunyikan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya yang sepatutnya didedahkan kepada masyarakat, tetapi dia tidak menerangkannya kepada mereka kerana kepentingan tertentu maka dia dilaknati Allah dan orang-orang yang melaknatinya. Apatah lagi jika dia seorang yang mempunyai autoritatif di dalam agama. Kerana konsep hukum Allah tidak boleh disembunyikannya, kerana ia harus dilaksanakannya. Di samping itu, dia tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang zalim, kerana Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah, kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).

4Laknat Allah kepada mereka yang membohongi-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya “Barang siapa yang membantah engkau tentang kebenaran itu, setelah datang kepada engkau ilmu pengetahuan, maka katakanlah: Marilah kami panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubahalah (bersungguh-sungguh berdoa), lalu kita jadikan laknat Allah atas orang yang berbohong” (Ali ‘Imran (3):61).

Ini bererti mereka  yang membohongi Allah dan Rasul-Nya selepas dikemukakan hukum al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, tetapi mereka masih membantahnya, maka mereka itu dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini dikenali dengan ayat al-Mubahalah. Ia berlaku di antara Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya (a.s) di satu pihak dan Nasrani Najran di pihak yang lain.

Nabi (Saw.) telah mempertaruhkan kepada Nasrani Najran (abna’a-na) anak-anak kami (al-Hasan dan al-Husain a.s), (nisa’-ana) perempuan kami (Fatimah a.s) dan (anfusa-na) diri kami (Ali a.s). Imam Ali al-Ridha berkata: “Sesungguhnya ia dimaksudkan dengan Ali bin Abi Talib (a.s). Buktinya sebuah hadis telah menerangkan  maksud yang sama, seperti berikut: ” ... aku akan mengutuskan kepada mereka seorang lelaki seperti diriku [ka-nafsi]” Iaitu Ali bin Abi Talib. Ini adalah suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, kelebihan yang tidak boleh dikaitkan dengan orang lain dan kemuliaan yang tidak dapat didahului oleh sesiapa pun kerana diri Ali seperti dirinya sendiri” (Muhammad Babawaih al-Qummi, Amali al-Saduq Najaf, 1970, hlm.468).

Akhirnya mereka enggan bermubahalah dengan Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya, lalu mereka membayar jizyah kepada Nabi (Saw.). Jika Nasrani Najran tidak berani menyahuti mubahalah Nabi (Saw.) dengan pertaruhan Ahlu l-Baitnya, kerana kebenarannya, apakah gerangan mereka yang mengakui al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya sebagai asas agama mereka berani menentang Ahlu l-Bait (a.s), kemudian menyembunyikan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, khususnys mengenai mereka? Jika mereka melakukan sedemikian, nescaya mereka dilaknati oleh Allah  dan Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun.

5. Laknat Allah kepada mereka yang mendurhakai-Nya dan Rasul-Nya

Firman-Nya “Telah dilaknati orang-orang yang kafir di kalangan Bani Isra’il di atas lidah Daud dan Isa anak lelaki Maryam. Demikian itu disebabkan mereka telah mendurhaka dan melampaui batas. Mereka tidak melarang sesuatu yang mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat jahat apa yang mereka perbuat” (Al-Ma’idah (5):78-79).

Firman-Nya “Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35).

Ini bererti barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya; sama ada melakukan perkara-perkara yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta tidak melakukan konsep “AmruMa’ruf wa Nahyu Munkar”, maka mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka para Malaikat dan Mukminun akan melaknati mereka.

6Laknat Allah kepada mereka yang zalim

Firman-Nya “Ahli syurga menyeru ahli neraka: Kami telah memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami  dengan sebenarnya. Adakah kamu memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya? Mereka itu menjawab: Ya. Lalu menyeru orang yang menyeru (Malaikat) di kalanggan mereka: Sesungguhnyalaknat Allah ke atas orang yang zalim (iaitu) orang-orang yang menghalangi jalan Allah dan mereka mencari jalan bengkok, sedang mereka itu kafir terhadap Akhirat” (Al-A’raf (7): 44-45) dan, “Barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum Allah, maka merekalah orang yang zalim”) Al-Ma’dah (5):45)

Ini bererti sebarang kecenderungan terhadap orang-orang yang zalim akan di sambar oleh api neraka. Apatah lagi jika seorang itu meredai atau menyokong mereka atau bekerja sama dengan mereka. Saidina Ali (a.s) berkata: “Mereka yang bersekutu di dalam kezaliman adalah tiga: Pelaku kezaliman, pembantunya dan orang yang meridhai kezaliman itu” (Tuhafu al ‘Uqul ‘an Ali r-Rasul, hlm. 23 dan lain-lain. Justeru itu mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya serta Mukminun.

7. Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perjanjian Allah, melakukan kerosakan di bumi dan memutuskan silaturahim

Firman-Nya “Mereka yang mengingkari janji Allah sesudah eratnya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah supaya diperhubungkan dan mereka yang membuat kerosakan di muka bumi, untuk mereka laknat dan untuk mereka tempat yang buruk” (Al-Ra’d (13):25) dan “Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu melakukan kerosakan di muka bumi dan memutuskan silatu r-Rahim? Mereka itulah yang dilaknati Allah, lalu Dia memekakkan mereka dan membutakan pemandangan mereka ” (Muhammad (47): 22-23).

Ini bererti mereka yang mengingkari janji Allah dengan mendurhakai-Nya, kemudian melakukan kerosakkan di muka bumi dengan mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta memutuskan silaturahim, maka bagi mereka laknat Allah dan Rasul-Nya.

Justeru itu tidak hairanlah jika Saidina Ali (a.s) telah melaknati mereka yang telah mengubah agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Laknatilah mereka yang telah mengubah agama-Mu, menukar ni‘kmat-Mu (khilafah), menuduh perkara-perkara yang bukan-bukan terhadap Rasul-Mu (Saw.), menentang jalan-Mu, menyalahi agama-Mu, mengingkari nikmat-Mu, menentang kalam-Mu, mempersenda-sendakan Rasul-Mu…(al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Beirut 1991, xxx,  hlm. 393). Sementara Imam Ja‘far al-Sadiq pula berdoa: Wahai Tuhanku! Pertingkatkanlah laknat-Mu dan azab-Mu ke atas mereka yang telah mengingkari ni‘mat-Mu, mengkhianati Rasul-Mu, menuduh Nabi-Mu perkara yang bukan-bukan dan menentangnya…(Ibid, hlm. 395).

Kesimpulan

Berdasarkan kepada ayat-ayat tersebut, maka Laknat boleh atau harus dilakukan kepada mereka yang mempersendakan Allah dan Rasulullah (Saw.), menghina, mengingkari, membatal, mengubah, menangguh dan menggantikan sebahagian daripada hukum Allah (SWT) dan Sunnah Rasul-Nya dengan pendapat atau sunnah mereka sendiri sama ada orang itu bergelar khalifah atau sahabat atau tabi‘in dan sebagainya.

Justeru itu, ungkapan “melaknat khalifah atau sahabat tertentu atau polan dan polan” tidak menjadi perkara sensitif lagi jika kita meletakkan mereka sama ada khalifah, sahabat, individu atau kita sendiri di bawah martabat Rasulullah (Saw.), dan Rasulullah (Saw.) pula di bawah martabat Allah (SWT). Tetapi jika mereka  meletakkan seorang khalifah, sahabat  atau mana-mana individu lebih tinggi daripada martabat Allah dan Rasul-Nya dari segi pengamalan hukum dan sebagainya, maka mereka tidak akan meredai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya di dalam perkara tersebut. Kerana  penilaian kebenaran bagi mereka bukanlah al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) secara keseluruhannya, malah seorang khalifah atau sahabat menjadi penilaian kebenaran mereka. Lalu mereka menjadikan pendapat atau sunnah “mereka” yang menyalahi Nas sebagai agama bagi mendekatkan diri mereka kepada-Nya.

.

Doa Qunut Imam Ali Terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash Beserta Pengikut Mereka

Tulisan ini kami persembahkan kepada para pendengki Ahlul Bait yang senang sekali memuliakanorang-orang yang menyimpang dari Ahlul Bait. Tentu saja mereka tidak akan mau menunjukkanwajah asli kedengkian mereka terhadap Ahlul Bait. Mereka tidak mau menunjukkan terang-terangan kebencian mereka kepada Ahlul Bait oleh karena itu mereka melampiaskan kebencian itu dengan memuliakan musuh-musuh Ahlul Bait.

Mereka memuliakan orang-orang yang menyakiti Ahlul bait. Membela kesalahan mereka seraya berkata “itu cuma ijtihad” yang walaupun salah tetap mendapat pahala. Berbeda dengan mereka, Imam Ali justru mengakui kalau orang-orang yang menyimpang[pembangkang] seperti Muawiyah dan Amru bin Ash layak dihukum untuk kesalahan mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya”.[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Atsar ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai ke Ali bin Abi Thalib Alaihis Salam.

  • Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 100 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya. Dalam At Taqrib 2/269 Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5979 menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat.
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 2 no 659 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/222 menyatakan ia tsiqat dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 1124 menyatakan ia tsiqat hujjah.
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 6 no 543 dan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah. Dalam At Taqrib 1/591 ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar.

Atsar ini adalah sebaik-baik dalil yang menunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah, Amru bin Ash dan para pengikutnya. Tentu saja para nashibi yang adalah Syiah-nya Muawiyah tidak akan senang melihat Atsar ini. Dan untuk mereka kita katakan “Matilah dengan kemarahanmu”.

..
Judul : 100 Golongan Yang Dilaknat ALLAH dan RASULNYA
Penulis : Salman Nashif Al-Dahduh
No ISBN : 979-552-334-1
Kategori : Referensi Ibadah
Cover : Soft Cover
Isi : 181 hal
Ukuran : 12.5×17
Berat : 500 gr
Harga : Rp 24.000,00
Diskon : 10 %
Harga Netto : Rp 21.600,00

100 Golongan Yang Dilaknat ALLAH dan RASULNYA

Ada seratus golongan manusia yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya, dijauhkan dari rahmat dan kekasihnya, dan dihalangi pandangan dari petunjuknya, sehingga pandangandari petunjuknya, sehingga pandangan merekamenjadi buta dan hati mereka menjadi keras.Itu baru merupakan siksaan duniawi, sedang di akherat mereka akan diperhinakanakibat perbuatan dan kemaksiatannya. Golongan Apa sajakah mereka itu yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka sehingga dijatuhkan laknat padanya? Dosa apakah yang derajatnya begitu berat? dengan mengenali Seratus Golongan ini, maka kita dapat menghindari diri dari kemaksiatan dan dosa yang akan memutus rahmat dan kasih-Nya

.



Rasulullah s.a.w telah bersabda yang maksudnya kalangan yang pada waktu pagi mereka dimurkai Allah dan pada waktu petangnya juga dimurkai Allah. Abu Hurairah bertanya: Siapa mereka wahai Rasulullah? Jawab baginda

; Orang lelaki yang berlagak seperti wanita, kaum wanita yang berlagak seperti lelaki. Orang yang bersetubuh dengan binatang dan orang yang melakukan hubungan sejenis.” (At-Tabrani dan al-Baihaqi)
Huraian

:
1. Allah S.W.T melaknat orang yang melakukan perbuatan keji dan terkutuk seperti golongan bapuk (maknyah), perempuan yang berperwatakan lelaki, mereka yang bersetubuh dengan binatang dan orang yang melakukan homoseks dan lesbian

.
2. Semua perbuatan ini jelas menunjukkan penentangan terhadap hukum fitrah manusia yang seolah-olah menolak ketetapan Allah S.W.T. Mereka membiarkan hawa nafsu menguasai diri hingga sanggup melakukan perkara mungkar bahkan lebih jijik lagi sanggup bersetubuh dengan binatang

.
3. Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang amat dimuliakan oleh Allah S.W.T. Sewajarnya mereka bertindak selaku orang yang berakal fikiran bukan seperti binatang yang bernafsu buas tanpa mengenal buruk baik, halal dan haram

.
4. Syaitan adalah musuh utama manusia. Setiap perbuatan buruk yang dilakukan adalah petanda bahawa seseorang itu sudah terpengaruh dengan godaan dan hasutannya

.

!!!Sebagai Peringatan!!!

“Ada enam golongan manusia yang aku laknati (Sabda ini jadi doa Nabi saw, pasti di-ijabahi-) Allah pun melaknati. Setiap nabi juga melaknati mereka dengan doa nya (padahal doa para nabi di-ijabahi Allah). Dan di hari Qiyamat semua makhluk Allah juga melaknati enam golongan itu.

Enam golongan manusia yang aku (Nabi saw) laknati adalah :

  1. Manusia yang menambah-nambahi (ayat) kitab suci Allah.
  2. Manusia yang mendustakan taqdir Allah.
  3. Manusia yang berkuasa dengan arogan, memaksakan kehendak, memuliakan orang-orang yang hina di haribaan Allah dan meremehkan para Ahlul Haq yang dimuliakan Allah.
  4. Manusia yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah.
  5. Manusia yang halalkan perbuatan yang diharamkan Allah atas Ahli Bait-ku.
  6. Manusia yang meninggalkan dan meremehkan Sunnah-ku (Nabi saw).

Dan pada Hari Qiyamat Allah tidak akan menatap mereka (keenam golongan manusia yang disebutkan di atas) dengan tatapan penuh rahmat.” {HR.Tirmidzi dan Hakim}.

Rasulullah juga melaknat orang yang berzina dengan istri tetangga, orang yang melakukan onani, Orang yang menikahi ibu dan anak tirinya, orang yang melakukan suap menyuap, orang yang merahasiakan ilmu, dan Orang yang menghina sesama muslim. Naudzubillah…

Ya Allah bersihkanlah hati ini dari segala bentuk kesyirikan dan jadikanlah diri ini sebagai orang yang selalu dekat denganMu dengan tekun menjalankan perintah dan laranganMu.

Ya Allah Lindungilah diri ini dari segala bentuk perbuatan maksiat yang menjadikan-MU murka kepada kami…. Amin Ya Allah…. Amin Ya Rabbal Alamin…

Wa Allahu A’lam… :D

Ternyata Allah SWT, Al Quran dan Rasul SAW juga ada melaknat bukan ???

mengingkari imamah Ali dan 11 khalifah bermakna mengingkari Al Quran, mengingkari Allah dan Rasul Nya

Pembahasan ini termasuk sejelas-jelasnya pembahsan. Karena tidak ada seorang pun manusia yang pura-pura tidak mengenal Ahlul Bait kecuali mereka para penentang yang tidak menemukan jalan keluar dari dalil-dalil yang pasti tentang wajibnya mengikuti mereka, lalu mereka pun berlindung kepada keragu-raguan tentang siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Inilah yang dapat saya saksikan dari berbagai diskusi yang saya lakukan dengan teman-teman. Ketika salah seorang mereka tidak menemukan jalan untuk menghindar dari keharusan mengikuti Ahlul Bait, dengan serta-merta dia melontarkan berbagai pertanyaan yang meragukan,

Siapa Ahlul Bait itu?

Bukankah istri-istri Rasulullah saw termasuk Ahlul Baitnya?!

Bukankah Rasulullah saw telah bersabda, “Salman dari kalangan kami Ahlul Bait”?!

Bahkan, bukankah Abu Jahal juga termasuk keluarga Rasulullah saw?!

Tidak ada yang mereka inginkan dari seluruh pertanyaan ini kecuali keinginan untuk mengingkari kenyataan hadis Tsaqalain, yang merupakan salah satu hadis yang menunjukkan kepada keimamahan Ahlul Bait, mereka menduga bahwa dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan ini, mereka dapat membungkam akalnya dan membungkam seruan nuraninya. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan perkiraan mereka, dan hujjah tetap tegak berdiri meskipun dia mengingkari atau pun tidak mengingkari.

Saya pernah mengatakan kepada sebagian mereka manakala mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti ini, “Kenapa Anda menginginkan segala sesuatunya tersedia dengan tanpa susah-payah?! Sesungguhnya pikiran-pikiran yang sudah dikemas tidak memberikan faidah. Saya mampu memberikan jawaban, namun Anda pun mampu menolak dan mengingkari jawaban saya, karena Anda tidak merasakan pahitnya melakukan pembahasan dan tidak menanggung kesulitan untuk bisa memberikan jawaban. Apakah hanya saya yang diwajibkan untuk menjawab? Apakah Rasulullah saw telah memerintahkan kepada saya secara khusus untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait?! Tidak, kita semua diwajibkan untuk menjawab pertanyaan ini. Karena telah tegak hujjah atas kita akan wajibnya mengikuti Ahlul Bait dan mengambil agama dari mereka, sehingga kita wajib mengenal mereka dan untuk kemudian mengikuti mereka.”

Pada kesempatan ini pun saya tidak akan memperluas argumentasi dan dalil, melainkan saya cukup mengemukakan beberapa petunjuk yang jelas, dan bagi siapa yang menginginkan keterangan yang lebih maka dia sendiri yang harus memperdalamnya.

Ahlul Bait Di Dalam Ayat Tathhir

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.”

(QS. al-Ahzab: 33)

Sesungguhnya turunnya ayat ini kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain adalah termasuk perkara yang amat jelas bagi mereka yang mengkaji kitab-kitab hadis dan tafsir. Dalam hal ini Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya mayoritas para mufassir mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.” [1]

Ayat ini, disebabkan penunjukkannya yang jelas terhadap kemaksuman Ahlul Bait, tidak sejalan kecuali dengan mereka. Ini dikarenakan apa yang telah kita jelaskan, yaitu bahwa mereka itu adalah pusaka umat ini dan para pemimpin sepeninggal Rasulullah saw. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan kita untuk mengikuti mereka. Arti kemaksuman juga dengan jelas dapat disaksikan dari ayat ini, bagi mereka yang mempunyai hati dan mau mendengarkan. Hal itu dikarenakan mustahil tidak terlaksananya maksud jika yang mempunyai maksud itu adalah Allah SWT; dan huruf al-hashr (pembatasan) yaitu kata “innama” menunjukkan kepada arti ini. Yang menjadi fokus perhatian kita di dalam pembahasan ini ialah membuktikan bahwa ayat ini khusus turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Hadis Al-Kisa“ Menentukan Siapa Yang Dimaksud Dengan Ahlul Bait

Argumentasi terdekat dan terjelas yang berkenaan dengan penafsiran ayat ini ialah sebuah hadis yang dikenal di kalangan para ahli hadis dengan sebutan hadis al-Kisa“, yang tingkat kesahihan dan kemutawatirannya tidak kalah dari hadis Tsaqalain.

1. Al-Hakim telah meriwayatkan di dalam kitabnya al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain fi al-Hadis:

“Dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib yang berkata, ‘Ketika Rasulullah saw memandang ke arah rahmat yang turun, Rasulullah saw berkata, ‘Panggilkan untukku, panggilkan untukku.’ Shafiyyah bertanya, ‘Siapa, ya Rasulullah?!’ Rasulullah menjawab, ‘Ahlul Baitku, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.’ Maka mereka pun dihadirkan ke hadapan Rasulullah, lalu Rasulullah saw meletakkan pakaiannya ke atas mereka, kemudian Rasulullah saw mengangkat kedua tangannya dan berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah keluargaku (maka sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad).’ Lalu Allah SWT menurunkan ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya. ‘” [2]

Al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih sanadnya.”

2. Al-Hakim meriwayatkan hadis serupa dari Ummu Salamah yang berkata, “Di rumah saya turun ayat yang berbunyi ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Lalu Rasulullah saw mengirim Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan kemudian berkata, ‘Mereka inilah Ahlul Baitku.'” [3]Kemudian, al-Hakim berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat Bukhari.”

Di tempat lain al-Hakim juga meriwayatkan hadis ini dari Watsilah, dan kemudian berkata, “Hadis ini sahih menurut syarat mereka berdua.”

3. Muslim meriwayatkan hadis ini di dalam kitab sahihnya dari Aisyah yang berkata, “Rasulullah saw pergi ke luar rumah pagi-pagi sekali dengan mengenakan pakaian (yang tidak dijahit dan) bergambar. Lalu Hasan bin Ali datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu Husain datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; lalu datang Fatimah, dan Rasulullah saw pun memasukkannya ke dalam pakaiannya; berikutnya Ali juga datang, dan Rasulullah saw memasukkannya ke dalam pakaiannya; kemudian Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” [4]

Berita ini dapat ditemukan di dalam banyak riwayat yang terdapat di dalam kitab-kitab sahih, kitab-kitab hadis dan kitab-kitab tafsir. [5]Hadis al-Kisa` termasuk hadis yang sahih dan mutawatir, yang tidak ada seorang pun yang mendhaifkannya, baik dari kalangan terdahulu maupun kalangan terkemudian. Sungguh akan banyak memakan waktu jika kita menyebutkan seluruh riwayat ini. Saya menghitung ada dua puluh tujuh riwayat yang kesemuanya sahih.

Di antara riwayat yang paling jelas di dalam bab ini —di dalam menentukan siapa Ahlul Bait— ialah riwayat yang dinukil oleh as-Suyuthi di dalam kitab tafsirnya ad-Durr al-Mantsur, yang berasal dari Ibnu Mardawaih, dari Ummu Salamah yang berkata, “Di rumahku turun ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’ Saat itu di rumahku ada tujuh orang yaitu Jibril, Mikail, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, sementara aku berada di pintu rumah. Kemudian saya berkata, ‘Ya Rasulullah, tidakkah aku termasuk Ahlul Bait?!’ Rasulullah saw menjawab, ‘Sesungguhnya engkau berada pada kebajikan, dan sesungguhnya engkau termasuk istri Rasulullah saw.'” [6]

Pada riwayat al-Hakim di dalam kitab Mustadraknya disebutkan, Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasulullah, saya tidak termasuk Ahlul Bait?” Rasulullah saw menjawab, “Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan, mereka itulah Ahlul Baitku. Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku yang lebih berhak.” [7]

Pada riwayat Ahmad disebutkan, “Saya mengangkat pakaian penutup untuk masuk bersama mereka namun Rasulullah saw menarik tangan saya sambil berkata, ‘Sesungguhnya engkau berada dalam kebajikan.'” [8]

Ini cukup membuktikan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait ialah mereka Ashabul Kisa, sehingga dengan demikian mereka itu adalah padanan al-Qur’an, yang kita telah diperintahkan oleh Rasulullah saw — di dalam hadis Tsaqalain — untuk berpegang teguh kepada mereka.

Orang yang mengatakan bahwa ‘itrah itu artinya keluarga, sehingga mengubah makna, perkataannya itu tidak dapat diterima. Karena tidak ada seorang pun dari para pakar bahasa yang mengatakan demikian. Ibnu Mandzur menukil di dalam kitabnya Lisan al-‘Arab, “Sesungguhnya ‘itrah Rasulullah saw adalah keturunan Fatimah ra.

Ini adalah perkataan Ibnu Sayyidah. Al-Azhari berkata, ‘Di dalam hadis Zaid bin Tsabit yang berkata, ‘Rasulullah saw bersabda, ‘… lalu dia menyebut hadis Tsaqalain’ . Maka di sini Rasulullah menjadikan ‘itrahnya sebagai Ahlul Bait.’

Abu Ubaid dan yang lainnya berkata, “Itrah seorang laki-laki adalah kerabatnya.’ Ibnu Atsir berkata, “Itrah seorang laki-laki lebih khusus dari kaum kerabatnya.’ Ibnu A’rabi berkata, “Itrah seorang laki-laki ialah anak dan keturunannya yang berasal dari tulang sulbinya.’ Ibnu A’rabi melanjutkan perkataannya, ‘Maka ‘itrah Rasulullah saw adalah keturunan Fatimah.” [9]

Dari makna-makna ini menjadi jelas bahwa yang dimaksud Ahlul Bait bukan mutlak kaum kerabat, melainkan kaum kerabat yang paling khusus. Oleh karena itu, di dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa tatkala Zaid bin Arqam ditanya, siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait Rasulullah? Apakah istri-istrinya?

Zaid bin Arqam menjawab, “Tidak, demi Allah. Sesungguhnya seorang wanita tidak selamanya bersama suaminya, karena jika dia ditalak maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun yang dimaksud Ahlul Bait Rasulullah saw ialah keluarga nasabnya, yang diharamkan sedekah atas mereka sepeninggalnya (Rasulullah saw).”

Menjadi anggota Ahlul Bait tidak pernah diklaim oleh seorang pun dari kaum kerabat Rasulullah saw, dan begitu juga oleh istri-istrinya. Karena jika tidak, maka tentunya sejarah akan menceritakan hal itu kepada kita. Tidak ada di dalam sejarah dan juga di dalam hadis yang menyebutkan bahwa istri Rasulullah saw berhujjah dengan ayat ini. Sebaliknya dengan Ahlul Bait. Inilah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as berkata, “Sesungguhnya Allah Azza Wajalla mengutamakan kami Ahlul Bait. Bagaimana tidak demikian padahal Allah SWT telah berfirman di dalam Kitab-Nya, ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.’ Allah SWT telah mensucikan kami dari berbagai kotoran, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Maka kami berada di atas jalan kebenaran.”

Putranya al-Hasan as berkata, “Wahai manusia, barangsiapa yang mengenalku maka sungguh dia telah mengenalku, dan barangsiapa yang tidak mengenalku maka inilah aku Hasan putra Ali. Akulah anak seorang laki-laki pemberi kabar gembira dan peringatan, penyeru kepada Allah dengan ijin-Nya, dan pelita yang bercahaya. Saya termasuk Ahlul Bait yang mana Jibril turun naik kepada mereka. Saya termasuk Ahlul Bait yang telah Allah hilangkan dosa dari mereka dan telah Allah sucikan mereka sesuci-sucinya.”

Pada kesempatan yang lain al-Hasan berkata, “Wahai manusia, dengarkanlah. Kamu mempunyai hati dan telinga, maka perhatikanlah. Sesungguhnya kami ini adalah Ahlul Bait yang telah Allah muliakan dengan Islam, dan Allah telah memilih kami, maka Dia pun menghilangkan dosa dari kami dan mensucikan kami sesuci-sucinya.”

Adapun argumentasi Ibnu Katsir tentang keharusan memasukkan istri-istri Rasulullah saw tidaklah dapat diterima, karena kehujjahan zhuhur bersandar kepada kesatuan ucapan. Sebagaimana di ketahui bahwa ucapan telah berubah dari bentuk ta’nits pada ayat-ayat sebelumnya kepada bentuk tadzkir pada ayat ini. Jika yang di maksud dari ayat ini adalah istri-istri Rasulullah saw maka tentunya ucapan ayat berbunyi “Innama Yuridullah Liyudzhiba ‘Ankunnar Rijsa Ahlal Bait wa Yuthahhirakunna Tathhira “, karena ayat-ayat tersebut khusus untuk istri-istri Rasulullah saw.

Oleh karena itu, Allah SWT memulai firmannya setelah ayat ini, “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah….” (QS. al-Ahzab: 34)

Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa ayat Tathhir turun kepada istri-istri Rasulullah saw selain dari Ikrimah dan Muqatil. Ikrimah mengatakan, “Barangsiapa yang menginginkan keluarganya maka sesungguhnya ayat ini turun kepada istri-istri Nabi saw.” [10]

Perkataan Ikrimah ini tidak dapat diterima, disebabkan bertentangan dengan riwayat-riwayat sahih yang dengan jelas mengatakan bahwa Ahlul Bait itu ialah para ashabul kisa, sebagaimana yang telah dijelaskan.

Kedua, apa yang telah memicu emosi Ikrimah sehingga dia berteriak-teriak di pasar menantang mubahalah?

Apakah karena kecintaan kepada istri-istri Nabi saw atau karena kebencian kepada para Ashabul Kisa`?! Dan kenapa dia mengajak ber-mubahalah jika ayat itu tidak diragukan turun kepada istri-istri Nabi saw?! Atau apakah karena pendapat umum yang berkembang mengatakan bahwa ayat itu turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain?! Dan memang demikian. Ini dapat dilihat dari perkataannya, “Yang benar bukanlah sebagaimana pendapat Anda semua, melainkan ayat ini turun hanya kepada istri-istri Nabi saw.” [11]

Ini artinya bahwa di kalangan para tabi’in ayat ini jelas turun kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain as.

Kita juga tidak mungkin bisa menerima Ikrimah sebagai saksi dan penengah dalam masalah ini, disebabkan dia sudah sangat dikenal amat memusuhi Ali. Dia termasuk kelompok Khawarij yang memerangi Ali, maka tentunya dia akan mengatakan bahwa ayat ini turun kepada istri-istri Nabi saw. Karena jika dia mengakui bahwa ayat ini turun kepada Ali maka berarti dia telah menghancurkan mazhabnya sendiri dan telah merobohkan pilar-pilar keyakinan yang mendorong dirinya dan para sahabatnya untuk keluar memerangi Ali as. Di samping sudah sangat terkenalnya kebohongan Ikrimah atas Ibnu Abbas, sehingga Ibnu al-Musayyab sampai mengatakan kepada budaknya, “Jangan kamu berbohong atasku sebagaimana Ikrimah telah berbohong atas Ibnu Abbas.” Di dalam kitab Mizan al-I’tidal disebutkan bahwa Ibnu Ummar pun mengatakan yang sama kepada budaknya yang bernama Nafi’.

Ali bin Abdullah bin Abbas telah berusaha mencegah Ikrimah dari perbuatan berdusta kepada ayahnya. Salah satu cara yang dilakukannya ialah dengan cara menggantung Ikrimah ke atas dinding supaya dia tidak berdusta lagi atas ayahnya. Abdullah bin Abi Harits berkata, “Saya menemui Ibnu Abdullah bin Abbas, dan saya mendapati Ikrimah tengah diikat di atas pintu dinding. Kemudian saya berkata kepadanya, ‘Beginikah kamu memperlakukan budakmu?’ Ibnu Abdullah bin Abbas menjawab, ‘Dia telah berdusta atas ayahku.'” [12]

Adapun Muqatil, dia tidak kalah dari Ikrimah di dalam permusuhannya terhadap Amirul Mukminin dan reputasi kebohongannya, sehingga an-Nasa’i memasukkannya ke dalam kelompok pembohong terkenal pembuat hadis. [13]

Al-Juzajani di dalam kitab Mizan adz-Dzahab berkata di dalam biografi Muqatil, “Muqatil adalah seorang pembohong yang berani. [14]

Muqatil pernah berkata kepada Mahdi al-‘Abbasi, “Jika Anda mau, saya bisa membuat hadis-hadis tentang keutamaan Abbas.” Namun Mahdi al-‘Abbasi menjawab, “Saya tidak perlu itu.” [15]

Kita tidak mungkin mengambil perkataan dari orang-orang seperti mereka. Karena perbuatan yang demikian adalah tidak lain bersumber dari kesombongan dan kebodohan. Karena hadis-hadis sahih yang mutawatir bertentangan dengannya, sebagaimana yang telah dijelaskan.

Dan ini selain dari riwayat-riwayat yang mengatakan bahwa setelah turunnya ayat ini Rasulullah saw mendatangi pintu Ali bin Abi Thalib setiap waktu salat selama sembilan bulan berturut-turut dengan mengatakan, “Salam, rahmat Allah dan keberkahan atasmu, wahai Ahlul Bait. ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hal Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-suci-nya.”‘ Itu dilakukan oleh Rasulullah saw sebanyak lima kali dalam sehari. [16]

Di dalam Sahih Turmudzi, Musnad Ahmad, Musnad ath-Thayalisi, Mustadrak al-Hakim ‘ala ash-Shahihain, Usud al-Ghabah, tafsir ath-Thabari, Ibnu Katsir dan as-Suyuthi disebutkan bahwa Rasulullah saw mendatangi pintu rumah Fatimah selama enam bulan setiap kali keluar hendak melaksanakan salat Subuh dengan berseru, “Salat, wahai Ahlul Bait. ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.'” [17]

Dan riwayat-riwayat lainnya yang serupa yang berkenaan dengan bab ini.

Dengan keterangan-keterangan ini menjadi jelas bagi kita bahwa yang dimaksud dengan Ahlul Bait ialah Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Dan tidak ada tempat bagi siapa pun untuk mengingkarinya. Karena orang yang meragukan hal ini adalah tidak ubahnya seperti orang yang meragukan matahari di siang hari yang cerah.

AHLUL BAIT DIDALAM AYAT MUBAHALAH

Sesungguhnya pertarungan antara front kebenaraan dengan front kebatilan di medan peperangan adalah perkara yang sulit, namun jauh lebih sulit lagi jika dilakukan di medan mihrab. Yaitu manakala masing-masing orang membuka dirinya di hadapan Zat Yang Maha Mengetahui hal-hal yang gaib, dan menjadikan-Nya sebagai hakim di antara mereka. Pada keadaan ini tidak akan menang orang yang di dalam hatinya terdapat keraguan.

Mungkin saja seseorang merupakan petempur yang gagah di medan peperangan, dan oleh karena itu kita mendapati Rasulullah saw menyeru kepada setiap orang yang mampu memanggul senjata, meski pun dia seorang munafik, untuk berjihad menghadapi orang-orang kafir. Namun, ketika bentuk pertarungan telah berubah dari bentuk peperangan ke dalam bentuk mubahalah dengan orang-orang Nasrani, Rasulullah saw tidak memanggil seorang pun dari para sahabatnya untuk ikut terjun ke dalam bentuk pertarungan yang baru ini. Karena pada pertarungan yang semacam ini tidak akan ada yang bisa maju kecuali orang yang mempunyai hati yang lurus dan telah disucikan dari segala macam dosa dan kotoran.

Mereka itulah manusia-manusia pilihan. Orang-orang yang semacam itu tidak banyak jumlahnya di tengah-tengah manusia. Jumlah mereka sedikit, namun mereka adalah sebaik-baiknya penduduk bumi.

Siapakah orang-orang yang terpilih itu?

Ketika Rasulullah saw berdebat dengan cara yang paling baik dengan para pendeta Nasrani, Rasulullah saw tidak mendapati dari mereka kecuali kekufuran, pengingkaran dan pembangkangan, dan tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh selain dari bermubahalah.

Yaitu dengan cara masing-masing dari mereka memanggil orang-orang mereka, dan kemudian menjadikan laknat Allah menimpa orang-orang yang dusta. Pada saat itulah datang perintah dari Allah SWT,

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah kepadanya, ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri-diri kami dan diri-diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.'”

(QS. Ali ‘lmran: 61)

Ketika para pendeta menerima tantangan Rasulullah saw ini, sehingga akan menjadi peperangan penentu di antara mereka, maka para pendeta mengumpulkan orang-orang khusus mereka untuk bersiap-siap menghadapi hari yang telah ditentukan. Ketika telah tiba hari yang ditentukan maka berkumpullah sekelompok besar dari kalangan kaum Nasrani. Mereka maju dengan keyakinan bahwa Rasulullah saw akan keluar menghadapi mereka dengan sekumpulan besar para sahabatnya, sementara istri-istrinya di belakang dia. Namun, Rasulullah saw maju dengan langkah pasti bersama bintang kecil dari Ahlul Bait, yaitu Hasan di sebelah kanannya dan Husain di sebelah kirinya, sementara Ali dan Fatimah di belakangnya. Ketika orang-orang Nasrani melihat wajah-wajah yang bercahaya ini, mereka gemetar ketakutan. Maka mereka semua pun menoleh ke arah Uskup, pemimpin mereka seraya bertanya,

“Wahai Abu Harits, bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?”

Uskup itu menjawab, “Saya melihat wajah-wajah yang jika salah seorang dari mereka memohon kepada Allah supaya gunung dihilangkan dari tempatnya, maka Allah akan menghilangkan gunung itu.”

Bertambahlah ketercengangan mereka. Ketika Uskup merasakan yang demikian itu dari mereka, maka dia pun berkata, “Tidakkah engkau melihat Muhammad sedang mengangkat kedua tangannya sambil menunggu terkabulnya doanya. Demi al-Masih, jika dia menggerakkan mulutnya dengan satu kata saja, maka kita tidak akan bisa kembali kepada keluarga dan harta kita.” [18]

Akhirnya mereka memutuskan untuk segera pulang dan meninggalkan arena mubahalah. Mereka rela walau pun harus menanggung kehinaan dan memberikan jizyah (denda).

Dengan mereka yang lima Rasulullah saw mampu mengalahkan orang-orang Nasrani dan menjadikan mereka kecil. Rasulullah saw bersabda,

“Demi Dzat yang diriku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya azab tengah bergantung di atas kepala para penduduk Najran. Kalaulah tidak ada ampunan-Nya niscaya mereka telah diubah menjadi kera dan babi, dan dinyalakan atas mereka lembah menjadi lautan api, serta Allah binasakan perkampungan Najran dan seluruh para penghuninya, bahkan burung-burung yang berada di pepohonan sekali pun.”

Namun, kenapa Rasulullah saw menghadirkan mereka yang lima saja, dan tidak menghadirkan para sahabat dan istri-istrinya?

Pertanyaan itu dapat dijawab dengan satu kalimat, yaitu bahwa Ahlul Bait adalah seutama-utamanya makhluk setelah Rasulullah, dan manusia-manusia yang paling suci. Sifat-sifat yang telah Allah SWT tetapkan bagi Ahlul Bait di dalam ayat Tathhir ini tidak diberikan kepada selain mereka. Oleh karena itu, di dalam menerapkan ayat ini kita mendapati bagaimana Rasulullah menarik perhatian umat kepada kedudukan Ahlul Bait. Rasulullah menafsirkan firman Allah yang berbunyi “abna’ana” (anak-anak kami) dengan Hasan dan Husain, “nisa’ana” (istri-istri kami) dengan Sayyidah Fatimah az-Zahra as, dan “anfusana” (diri-diri kami) dengan Ali as. Itu dikarenakan imam Ali tidak masuk ke dalam kategori istri-istri dan tidak termasuk ke dalam kategori anak-anak, melainkan hanya masuk ke dalam kata “diri-diri kami”. Karena ungkapan “anfusana” (diri-diri kami) akan menjadi buruk jika seruan itu hanya ditujukan kepada diri Rasulullah saw saja.

Bagaimana mungkin Rasulullah saw memanggil dirinya?! Ini diperkuat dengan hadis Rasulullah saw yang berbunyi, “Aku dan Ali berasal dari pohon yang sama, sedangkan seluruh manusia yang lain berasal dari pohon yang bermacam-macam.”

Jika Imam Ali adalah diri Rasulullah saw sendiri, maka Imam Ali memiliki apa yang dimiliki oleh Rasulullah saw, berupa kepemimpinan atas kaum Muslimin, kecuali satu kedudukan yaitu kedudukan kenabian. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah saw di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, “Wahai Ali, kedudukan engkau di sisiku tidak ubahnya sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku.” [19]

Sesungguhnya argumentasi kita dengan ayat ini bukan untuk menjelaskan peristiwa mubahalah, melainkan semata-mata dalam rangka menjelaskan siapakah Ahlul Bait itu. Dan alhamdulillah, tidak ada perbedaan pendapat bahwa ayat ini turun kepada Ashabul Kisa`. Terdapat banyak riwayat dan hadis di dalam masalah ini. Muslim dan Turmudzi telah meriwayatkan di dalam bab keutamaan-keutamaan Ali:

Dari Sa’ad bin Abi Waqash yang berkata, “Ketika ayat ini turun, ‘Katakanlah, ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu…’ Rasulullah saw memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Lalu Rasulullah saw berkata, ‘Ya Allah, mereka inilah Ahlul Baitku.” [20]

Footenote:

[1].    Ash-Shawa’iq,hal. 143.

[2].    Mustadrak al-Hakim, Jilid 3, hal. 197-198

[3].    Ibid.

[4].    Sahih Muslim, Bab Keutamaan-keutamaan Ahlul Bait.

[5].    Baihaqi, didalam Sunan al-Kubra, Bab. Keterangan Ahlul Baitnya (Rasulullah saw); Tafsir ath-Thabari, Jilid 22, hal.5; tafsir Katsir, Jilid 3, hal.485; Tafsir ad-Durr al-Mantsur, Jilid 5, hal.198-199; Sahih Turmudzi, Bab Keutamaan-keutamaan Fatimah; Musnad Ahmad, Jilid 6, hal. 292-323.

[6].    Tafsir ad-Durr al-Mantsur, Jilid 5, hal.198

[7].    Mustadrak al-Hakim, Jilid 2, hal. 416

[8].    Musnad Ahmad, Jilid 6, hal. 292-323.

[9].    Lisan al-‘Arab, Jilid 9, hal.34.

[10].  Tafsir ad-Durr al-Mantsur, Jilid 5, hal.198

[11].  Ibid.

[12].  Wafayat al-A’yan, Jilid 1, hal. 320.

[13].  Dala’il ash-Shidq, Jilid 2, hal. 95.

[14].  Al-Kalimah al-Gharra, Syarafuddin, hal. 217.

[15].  Al-Ghadir, Jilid 5, hal. 266.

[16].  Penafsiran ayat dari Ibnu Abbas, didalam kitab Tafsir ad-Durr al-Mantsur, Jilid 5, hal.199.

[17].  Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Jilid 3, hal. 158.

[18].  Tafsir ad-Durr al-Mantsur, Jilid 2, pembahasan tafsir surat Ali ‘Imran ayat 61.

[19].  Sahih Bukhari, Kitab Manaqib; Sahih Muslim, Kitab Keutamaan-keutamaan Sahabat; dan Musnad Ahmad, riwayat nomer 1463.

[20].  Sahih Muslim, Jilid 2, hal. 360; Isa al-Halabi, Jilid 15, hal. 176; Sahih Turmudzi, Jilid 4, hal.293, hadis nomer 3085; Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Jilid 3, hal. 150

Orang-orang yang menyangsikan legalitas kekhilafahan pasca Rasul saw mengatakan, “Jika Imam Ali as menentang para khalifah, mengapa Imam Ali as tidak bersikap memerangi mereka? Mengapa Imam Ali as membaiat mereka? Mengapa Imam Ali as ikut shalat bersama mereka? Mengapa Imam Ali as dalam permasalahan politik, sosial dan fikih serta peradilan membantu mereka dan memberikan petunjuk kepada mereka? Mengapa Imam Ali as menamakan anak-anak beliau as dengan nama mereka?

Di bawah ini dipaparkan argumentasi atas pertanyaan tersebut.

Mengapa Imam Ali as Tidak Bangkit Melawan Para Khalifah?

Bagaimana mungkin ia akan memeranginya? Dengan kemampuan biasa atau kemampuan gaib (malakuti)?

Pertama: Dengan kekuatan atau kemampuan biasa

Jika Imam Ali as menginginkan perang dengan kekuatan atau kemampuan biasa maka tidaklan diyakini akan berhasil (kalah). Begitu halnya kesaksian dalam sejarah bahwa di Ghadir Khum sebanyak 100.000 orang mendengar pesan dari Nabi saw. Setelah berlalu 30 hari dari peristiwa Ghadir Khum, ketika Rasulullah saw meninggal, segelintir dari para pendukung Ali as memberikan kesaksian (atas hak kekhalifahan Imam Ali as ini) dan tidak membawa hasil hingga umat hari demi hari bertambah kesesatan mereka.

Kedua: Dengan kekuatan atau kemampuan gaib

Jika dengan kekuatan Ilahi mereka (para khalifah sebelumnya) berperang, seperti halnya beliau as mendobrak dan mencabut pintu Khaibar (dan menjadikannya sebagai tamengnya), maka semua rakyat akan terbunuh, hingga tidak ada lagi yang tersisa dari mereka dan pada saat itulah, mereka akan memerintah (umat). Maka sudah seharusnya rakyat dengan bebas memilih jalannya karena dunia adalah tempat ujian.

Ketiga: Jika Imam Ali as memiliki pengikut untuk berperang

Seperti halnya Thalhah dan Zubair menginginkan pemerintahan Kufah dan Basrah, Muawiyah juga tidak hadir untuk menyerahkan pemerintahan Syam. Amirul Mukminin as ketika itu memiliki pengikut hingga dia berperang melawan Muawiyah dan setelah itu, beliau menerima keinginan-keinginan dari pihak musuh yang tidak dikehendaki.

Yang sebenarnya, para khalifah telah merampas kekhalifahan dari beliau as. Mereka mengetahui bahwa kepemimpinan semua negeri Islam ada di tangan Imam Ali as. Bukanlah suatu argumen (yang tepat) bahwa Imam Ali as tidak bangkit melawan mereka, ketika beliau as tidak memiliki pengikut sekalipun. Begitu halnya dengan apa yang dikatakan beliau as dalam khotbah Syiqsyiqiyyah, beliau as berkata, “Apakah saya akan menyerang tanpa pengikut atau pasukan?”

Dalam khotbah ini, beliau as berkata, “Saya berfikir dalam perkara ini (imamah), apakah saya akan menyerang tanpa pengikut, atau saya akan bersabar atas kesesatan umat, yang karenanya orang tua akan senantiasa renta dan para pemuda akan menjadi tua. Seorang mukmin akan senantiasa berada dalam musibah hingga dia meninggal, dan saya telah bersabar atas musibah ini, dalam keadaan mata dan tenggorokan saya tertusuk duri”.

Mengapa Imam Ali as Membaiat Khalifah?

Pertama: Dalam sejarah disebutkan ketika Abu Bakar memimpin pemerintahan selam enam bulan, Musailamah Kadzdzab dengan pasukan murtadnya siap untuk menyerang Madinah. Abbas, paman Imam Ali as, yang berkhidmat kepada beliau as telah bersiap dan menyatakan, “Islam akan lenyap, dikarenakan tidak seorang pun yang taat pada perintah Abu Bakar untuk pergi perang melawan Musailamah dan pasukannya’. Rakyat berkata, ‘Karena Imam Ali as tidak membaiat Abu Bakar maka kami tidak ikut serta dalam peperangan melawan Musailamah.’

Akhirnya, Imam Ali as pun bangkit dan datang ke masjid membaiat Abu Bakar untuk menyelamatkan Islam. Ketika itu pula, rakyat memastikan untuk berperang melawan pasukan Musailamah. Tertulis dalam sejarah bahwa dalam peperangan melawam pasukan Musailamah, seratus orang penghafal al-Qur’an tewas, yang pada akhirnya Musailamah kalah. Jika Imam Ali as tidak membaiatnya, kaum Muslim dan Islam akan musnah (untuk selama-lamanya).

Kedua: Pada saat itu, Kaisar Romawi menanti kesempatan adanya perbedaan dan perselisihan di antara kaum Muslim yang ada di Madinah hingga dia siap untuk menyerang dan dapat menjatuhkan Islam.

Mengapa Imam Ali as Shalat Bersama Mereka?

Pada peristiwa penyerangan Musailamah, Imam Ali as membaiat Abu Bakar untuk langgengnya Islam. Namun, tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa Imam Ali as datang (shalat berjamaah) ke mesjid sebagai tanda keridhaannya atas kepemimpinan Abu Bakar. Selain itu, jika beliau as tidak ikut serta shalat bersama mereka (di mesjid), itu berarti bahwa beliau dianggap menentang baiat.

Mengapa Imam Ali as Memberikan Petunjuk Masalah Politik, Sosial, Fikih Dan Peradilan Walau Tidak Membantu Mereka?

Pemberian petunjuk dalam masalah politik, sosial, fikih dan peradilan sangat bermanfaat bagi masyarakat Islam ketika itu dan masa yang akan datang. Dengan melalui petunjuk beliau as, maka akan tampak kebodohan dan ketidaktahuan khalifah ketika itu. Oleh karenanya, dalam 70 kali kesempatan, Umar berkata, “Jika tidak ada Ali, maka Umar akan celaka”.

Dari sisi lain, dengan keagungan keilmuan bagi para peneliti dapat menemukan jalan kebenaran dan akan tersebar kapasitas dari keilmuan Imam Ali as.

Mengapa Imam Ali as Memberi Nama Anak-anaknya Dengan Nama Mereka?

Karena Imam Ali as lebih memandang jauh ke depan dan mengetahui kezaliman dan perlakuan buruk yang akan menimpa para pengikutnya. Ketika beliau as dan para pengikutnya dalam situasi dan kondisi yang gawat dan berbahaya, maka untuk menyelamatkan jiwa dan keluarganya dalam bentuk taqiyah, sehingga nama-nama tersebut diberikan untuk putra-putra beliau as.

Kisah di bawah ini juga sebagai penegasan dalam hal ini:

Seseorang datang menemui Imam Shadiq as, beliau as berkata kepadanya, “Ketika engkau telah sampai di Kufah, engkau akan menyaksikan bahwa Allah swt telah memberikan engkau seorang putra. Namanya adalah Umar. Ketika sampai di Kufah, dia memberi nama anaknya dengan nama Umar. Beberapa hari kemudian, sejumlah pengikut khalifah datang ke rumahnya dan mengucapkan selamat atas pemberian nama anaknya dengan nama Umar. Mereka berkata, ‘Kami sebelumnya, berburuk sangka atasmu dan mengira bahwa engkau sebagai salah satu dari para penentang khalifah. Dan kami bermaksud untuk membunuhmu. Namun, nyatanya kami telah berprasangka buruk atas Anda dan Anda akan selalu berada dalam keamanan’.

Pada akhir bagian ini, sangatlah perlu mendapat perhatian dalam peristiwa di bawah ini:

Dalam pandangan (para peneliti) sebagai hujah menyeluruh dan sempurna, Ahlusunnah tidak memiliki jawaban apa pun atas pertanyaan ini. Almarhum Ayatullah Durcei Isfahani, seorang guru dari Ayatullah Burujerdi, mengatakan, “Saya berziarah ke Najaf, selama tiga hari di sana, saya telah membahas dengan seorang alim Sunni tentang masalah kekhalifahan. Tidak menghasilkan jalan penyelesaian, dikarenakan dalam semua pembahasan, seorang alim Sunni itu mengatakan, “Mereka (para Khalifah sebelumnya) tidak memiliki perbedaan dengan khalifah Ali as”.

Almarhum Durcei mengatakan, ‘Saya berziarah ke makam suci Imam Ali as dan mengatakan, ‘Maulaku, saya tidak memiliki dalil lain lagi dengan seorang alim Sunni ini, apa yang harus kami katakan?’ Imam Ali as dalam alam mimpi, mengatakan kepadanya, ‘Katakan kepadanya, jika kami tidak memiliki perbedaan dengan para khalifah, tetapi mengapa kubur Fatimah tidak diketahui (tersembunyi)?’ Esoknya, saya pergi menemui orang alim Sunni tersebut dan saya berkata, ‘Jika Imam Ali as tidak memiliki perbedaan dengan mereka (para khalifah) dan ridha atas mereka, mengapa kubur Fatimah tersembunyi?’ Alim Sunni tersebut dengan suara keras dan menangis terseduh-seduh, seketika itu dia beralih ke mazhab Tasyayyu’(Syi’ah)’.

Khidhir as Dan Syaikhain

Ibnu Abbas mengatakan: Suatu hari, saya pergi ke rumah Abu Bakar, di sana Umar bin Khattab, Thalhah, Zubair dan Abdurrahman bin Auf sedang mengadakan pertemuan khusus. Abu Bakar berpesan, agar seseorang tidak diperkenankan masuk sebelum mendapat izinnya. Mereka sibuk memperbincangkan sesuatu. Tiba-tiba seorang pria tua berpakaian bergaris merah, berjubah panjang, bersandal hijau dan memegang tongkat di tangannya, masuk dan memberi salam. Kami menjawab salamnya. Abu Bakar berkata, “Wahai Syekh! Duduklah.’ Pria tua itu bersandar pada tongkatnya dan mengatakan, ‘Saya ingin pergi haji, tetangga saya (seorang perempuan) berpesan kepada saya dan dia mengatakan, ‘Sampaikan pesan saya kepada seorang khalifah Rasulullah.’ Saya berkata, ‘Apa pesanmu?’ Dia berkata, ‘Saya adalah seorang wanita yang lemah, ayah saya telah meninggal, sebuah ladang (sawah) darinya telah diwariskan kepada saya hingga saya mampu memberi nafkah anak-anak saya. Namun, Gubernur kota telah merampas sawah saya.’ Abu Bakar berkata, ‘Saya tidak melihat kebaikan dalam peraturan si zalim ini, yang merampas sawah wanita tersebut.’

Umar berkata kepada Abu Bakar, ‘Wahai khalifah Nabi, utuslah seseorang yang akan menyingkap kezaliman ini di tengah-tengah umat. Beri ganjaran atas perbuatannya, hingga dapat memberikan pelajaran bagi yang lain.’

Laki-laki tua itu berkata, ‘Saya berlindung kepada Allah, siap yang paling zalim dan fasik yang memperbolehkan berbuat zalim kepada putri Rasulullah (yang telah merampas tanah Fadak)?’ Laki-laki tua itu pun pergi meninggalkan kami. Abu Bakar berkata, ‘Panggillah kembali laki-laki tua tadi.’

Apa pun usaha pencaharian yang mereka lakukan, mereka tidak dapat menemukan jejaknya.

Abu Bakar berkata kepada penjaga pintu gerbang, ‘Sudah saya katakan, seseorang yang tanpa izinku, tidak diperbolehkan masuk.’ Penjaga pintu tersebut bersumpah bahwa saya tidak melihat masuknya laki-laki tua itu. Abu Bakar berkata kepada Umar, ‘Kau mendengar apa yang telah dikatakannya?’ Umar berkata, “Itu barangkali setan.’

Pada saat itu, panggilan dari alam gaib dengan suara tinggi membacakan syair berikut,

Wahai seseorang yang tidak layak untuk menanggung sebuah perkara di pundaknya, keluarga Yasin (Nabi) yang penuh dengan keberkahan, jangan menyalahkan mereka

(Wahai Umar) yang menamakan Khidhir as sebagai iblis, dalam keadaan engkau di antara orang-orang yang menyesatkan sangatlah berperilaku zalim

Kembalilah ke jalan Allah dari apa pun dosa yang telah kau lakukan kepada Nabi dan hentikanlah kezalimanmu kepada wali-wali Allah

Kami telah menjadi saksi bahwa putri Nabi telah berdalil dalam permasalahan tanah Fadak, (dikarenakan Fadak di tangan Fatimah as) beliau adalah wakil yang benar dan hakiki Nabi saw

Kemudian Allah mengetahui bahwa kebenaran adalah hak mereka, bukan hak golongan (Abu Bakar adalah dari golongan itu) dan bukan golongan musuh (Umar dari golongan musuh)

Wahai saudara (Abu Bakar), engkau telah bersaksi bahwa dia adalah washinya (Ali adalah washi Nabi), seorang alim yang lebih layak dan dia adalah penegak agama.

Wahai saudara (Abu Bakar), janganlah berbuat zalim kepada Abul Hasan, dikarenakan Allah telah memberikan kepadanya (Ali) keutamaan yang banyak di antara para washi

Pada suatu hari di mana masyarakat dalam kekufuran, Nabi telah memberikan keistimewaan pada Ali berupa hukum, ilmu, al-Qur’an dan agama.

Abu Bakar berkata kepada Ibnu Abbas, ‘Saya pun pergi menemui Ali as dan beliau as tersenyum serta berkata, ‘Ingatkah engkau akan sesuatu dari bait syair-syair tersebut?’ Saya berkata, ‘Ya, akan tetapi, mereka mengambil janji dariku agar saya tidak mengatakannya.’ Ali as memulai membacakan syair-syair tersebut, tanpa pengurangan dan tambahan. Saya merasa takut kepada para khalifah, hingga di masa khalifah Usman, saya tidak menukil kejadian ini kepada seorang pun jua.

Kesalahan Syaikhain Dan Hukum Abu Bakar

Setelah wafatnya Nabi saw, suatu pertemuan dibentuk pada malam hari. Pertemuan malam itu di rumah Umar saat Abu Bakar menjabat sebagai khalifah pertama. Sejumlah pendukungnya hadir dalam pertemuan itu. Ibnu Abbas juga ikut serta dalam pertemuan ini. Mereka menggelar alas makan yang berwarna-warni dan penjaga berdiri di pintu rumah hingga orang asing tidak dapat mengikuti pertemuan itu. Tiba-tiba seseorang muncul dari pintu rumah umar dan berkata, “Siapa di antara kalian sebagai washi Nabi saw?’ Abu Bakar menjawab, ‘Rakyat telah memilih saya.’ Kemudian orang itu berkata, ‘Saya memiliki seorang saudara ketika dia menjelang wafat, dia berwasiat, ‘Apa pun yang tersisa dari (harta) saya, saya akan berikan kepada menantu saya. Setelah saudara saya meninggal, sejumlah orang mencampuri masalah ini dan mereka merampas hak sang menantu tersebut. Mereka menyakiti isterinya. Coba kalian tetapkan suatu hukum dalam permasalahan ini.’

Abu Bakar berkata, ‘Benar, apa yang kau katakan. Surat ini menegaskan bahwa ia telah berwasiat untuk menantunya.’ Abu Bakar lalu menuliskan dalam surat itu bahwa tiada hak seorang pun untuk melanggar hak menantu tersebut dan dia membubuhi stempel, dan memberikannya kepada orang yang tidak dikenalnya itu.’

Setelah menerima surat, orang tak dikenal tersebut berkata, ‘Kalian telah menetapkan hukum secara Islami, sementara perbuatan Anda sendiri telah menentang hal tersebut. Kecuali Nabi saw tidak mewasiatkan kepada putrinya mengenai Ali bin Abi Thalib. Bagaimana mungkin hawa-nafsu telah mengalahkan kalian. Kalian telah merampas hak Ali as dengan menentang haknya secara jelas. Yang menjadikan beliau as banyak berdiam diri di rumah?

Setelah orang ini mengatakan perkataan demikian, maka dia keluar dari rumah itu. Mereka pun mencarinya untuk kembali, namun jejaknya tidak ditemukan. Penjaga pintu mengatakan, ‘Saya benar-benar tidak melihat ada orang masuk.’ Umar menenangkan kekhawatiran khalifah Abu Bakar, dia berkata, ‘Janganlah bersedih, dia adalah setan.’ Seketika itu terdengar suara di balik dinding, ‘Saya bukanlah setan! Akan tetapi kalian dan ayah kalian akan menjadi iblis.’ Di antara anggota pertemuan kepada saling berpesan untuk merahasiakan kejadian tersebut, khususnya kepada Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas berkata, ‘Ketika saya bersama Ali as, beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi dalam pertemuan malam tadi?’ Saya menjawab, ‘Engkau lebih mengetahui akan hal ini.’ Imam Ali as berkata, ‘Orang itu adalah saudaraku Khidhir, ini adalah surat yang telah ditanda tangani oleh Abu Bakar tadi malam.’

Janganlah kita asumsikan bahwa kejadian pertama (Khidhir as versus Syaikhain) dengan kejadian berikutnya adalah satu dan sama, karena ada perbedaan antara keduanya:

Kejadian Pertama:

–      Terjadi di rumah Abu Bakar

–      Terjadi siang hari

–      Keterangannya secara lisan

–      Kritikannya berupa syair-syair

Kejadian Kedua:

–      Terjadi di rumah Umar

–      Terjadi malam hari

–      Keterangannya secara tertulis

–      Kritikannya berupa percakapan

Sumber-sumber kedua kisah ini ada dalam kitab yang berbeda dan mu’tabar.

Allah menginginkan kedua kisah tersebut melalui perantaraan Khidhir as, di mana keduanya sebagai hujah yang sempurna dan kebenaran lebih akan tampak dan jelas bagi para peneliti.

Pada pembahasan yang lalu, telah jelas bagi Anda tentang kelemahan hadis “berpegang kepada sunah”, yang dianggap sebagai pilar utama bagi tegak berdirinya bangunan mazhab Ahlus Sunnah. Inilah yang menyebabkan kenapa para ulama mereka sedemikian bersungguh-sungguh menyembunyikan riwayat “Kitab Allah dan ‘itrahku”, dan menyebarkan hadis “Kitab Allah dan sunahku”, sehingga melekat ke dalam benak masyarakat sedemikian rupa, sampai derajat manakala saya menyebutkan hadis “‘itrah” kepada jamaah mana pun juga tampak keheranan pada wajah-wajah mereka.

Oleh karena itu, pada pasal ini saya ingin —supaya sempurna hujjah— membuktikan hadis “‘itrah” dari kitab-kitab Ahlus Sunnah dengan seluruh jalannya, dan inilah rinciannya:

SANAD HADIS

Jumlah Perawi Dari Kalangan Sahabat

Hadis ini telah mencapai derajat mutawatir dari sekumpulan sahabat, dan inilah sebagian nama-nama mereka:

1. Zaid bin Arqam.

2. Abu sa’id al-Khudri.

3. Jabir bin Abdullah.

4. Hudzaifah bin Usaid.

5. Khuzaimah bin Tsabit.

6. Zaid bin Tsabit.

7. Suhail bin Sa’ad.

8. Dhumair bin al-Asadi,

9. ‘Amir bin Abi Laila (al-Ghifari).

10. Abdurrahman bin ‘Auf.

11. Abdullah bin Abbas.

12. Abdullah bin Umar.

13. ‘Uday bin Hatim.

14. ‘Uqbah bin ‘Amir.

15. Ali bin Abi Thalib.

16. Abu Dzar al-Ghifari.

17. Abu Rafi’.

18. Abu Syarih al-Khaza’i.

19. Abu Qamah al-Anshari.

20. Abu Hurairah.

21. Abu Hatsim bin Taihan.

22. Ummu Salamah.

23. Ummu Hani binti Abi Thalib.

24. Dan banyak lagi laki-laki dari kalangan Quraisy.

Jumlah Perawi Dari Kalangan Thabi’in

Penukilan hadis ini juga telah mencapai tingkatan mutawatir pada jaman tabi’in, dan inilah sebagian dari para tabi’in yang menukil hadis “Kitab Allah dan ‘itrahku”:

1. Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah.

2. ‘Athiyyah bin Sa’id al-‘Ufi.

3. Huns bin Mu’tamar.

4. Harits al-Hamadani

5. Hubaib bin Abi Tsabit.

6. Ali bin Rabi’ah.

7. Qashim bin Hisan.

8. Hushain bin Sabrah.

9. ‘Amr bin Muslim.

10. Abu Dhuha Muslim bin Shubaih.

11. YahyabinJu’dah.

12. Ashbagh bin Nabatah.

13. Abdullahbin Abirafi’.

14. Muthalib bin Abdullah bin Hanthab.

15. Abdurrahman bin Abi sa’id.

16. Umar bin Ali bin Abi Thalib.

17. Fathimah binti Ali bin Abi Thalib.

18. Hasan bin Hasan bin bin Ali bin Abi Thalib.

19. Ali Zainal Abidin bin Husain, dan yang lainnya.

Jumlah Para Perawi Hadis Ini Pada Tiap-Tiap Abad

Adapun orang yang meriwayatkan hadis ini sesudah jaman sahabat dan tabi’in, dari kalangan ulama umat, para penghafal hadis dan para imam terkenal selama berabad-abad, bukanlah suatu jumlah yang dapat kami sebutkan nama dan riwayat mereka satu persatu. Sekelompok para ulama dan peneliti telah menghitung jumlah mereka, dan untuk lebih rincinya silahkan Anda merujuk kepada kitab ‘Abagat al-Anwar, juz pertama dan kedua.

Pada kesempatan ini saya mencukupkan diri dengan hanya menyebutkan jumlah mereka pada setiap tingkatan masa, dari abad kedua hingga abad keempat belas

• Abad kedua: Jumlah perawi sebanyak 36 orang.

• Abad ketiga: Jumlah perawi sebanyak 69 orang.

• Abad keempat: Jumlah perawi sebanyak 38 orang.

• Abad kelima: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.

• Abad keenam: Jumlah perawi sebanyak 27 orang.

• Abad ketujuh: Jumlah perawi sebanyak 21 orang.

• Abad kedelapan: Jumlah perawi sebanyak 24 orang.

• Abad kesembilan: Jumlah perawi seabanyak 13 orang.

• Abad kesepuluh: Jumlah perawi sebanyak 20 orang.

• Abad kesebelas: Jumlah perawi sebanyak 11 orang.

• Abad kedua belas: Jumlah perawi sebanyak 18 orang.

• Abad ketiga belas: Jumlah perawi sebanyak 12 orang.

• Abad keempat belas: Jumlah perawi sebanyak 13 orang.

Dengan begitu jumlah para perawi hadis dari abad ketiga hingga abad keempat belas semuanya berjumlah 323 orang. Perhatikanlah ini!

HADIS “KITAB DAN ‘ITRAH” DI DALAM KITAB-KITAB HADIS

Adapun mengenai kitab-kitab hadis yang meriwayatkan hadis ini jumlahnya banyak sekali. Kami akan menyebutkan sebagian darinya:

1. Sahih Muslim, juz 4, halaman 123, terbitan Dar al-Ma’arif Beirut – Lebanon.

Muslim meriwayatkan di dalam kitab sahihnya, “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Bakkar bin at-Tarian, “Telah berkata kepada kami Hisan (yaitu Ibnu Ibrahim), dari Sa’id (yaitu Ibnu Masruq), dari Yazid bin Hayan yang berkata, ‘Kami masuk kepada Zaid bin Arqam dan berkata, ‘Anda telah melihat kebajikan. Anda telah bersahabat dengan Rasulullah saw dan telah salat di belakangnya. Anda telah menjumpai banyak kebaikan, ya Zaid (bin Arqam). Katakanlah kepada kami, ya Zaid (bin Arqam), apa yang Anda telah dengar dari Rasulullah saw.’ Zaid (bin Arqam) berkata, ‘Wahai anak saudaraku, demi Allah, telah lanjut usiaku, telah berlalu masaku dan aku telah lupa sebagian yang pernah aku ingat ketika bersama Rasulullah. Oleh karena itu, apa yang aku katakan kepadamu terimalah, dan apa yang aku tidak katakan kepadamu janganlah kamu membebaniku dengannya.’ Kemudian Zaid bin Arqam berkata,

‘Pada suatu hari Rasulullah saw berdiri di tengah-tengah kami menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak di antara Mekkah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah saw berkata,

‘Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’ Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.’ Kemudian kami bertanya kepadanya (Zaid bin Arqam), ‘Siapakah Ahlul Baitnya, apakah istri-istrinya?’ Zaid bin Arqam menjawab, ‘Demi Allah, seorang wanita akan bersama suaminya untuk suatu masa tertentu. Kemudian jika suaminya menceraikannya maka dia akan kembali kepada ayah dan kaumnya. Adapun Ahlul Bait Rasulullah adalah keturunan Rasulullah saw yang mereka diharamkan menerima sedekah sepenggal beliau. ” Muslim juga meriwayatkan:

Dari Zuhair bin Harb dan Syuja’ bin Mukhallad, semuanya dari Ibnu ‘Uliyyah. Zuhair berkata, “Telah berkata kepada kami Ismail bin Ibrahim, ‘Telah berkata kepada kami Abu Hayan, ‘Telah berkata kepada kami Yazid bin Hayan yang berkata, ‘Saya pergi…’ dan kemudian dia menyebutkan hadis di atas.”

Muslim meriwayatkan dari Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata, “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Fudhail, ‘Telah berkata kepada kami Ishaq bin Ibrahim, ‘Telah memberitahukan kepada kami Jarir’, keduanya dari Abi Hayyan …. kemudian dia menyebutkan hadis.”

Seluruh riwayat Muslim kembali kepada Abi Hayyan bin Sa’id at-Tamimi. Adz-Dzahabi telah berkomentar tentangnya,

“Yahya bin Sa’id bin Hayyaan Abu Hayyan at-Tamimi adalah seorang pejuang yang diagungkan dan dipercaya. Ahmad bin Abdullah al-‘Ajali berkata tentangnya, ‘Dia seorang yang dapat dipercaya, saleh dan unggul sebagai pemilik sunah.” [1]

Adz-Dzahabi juga berkata di dalam kitab al- ‘lbar, jilid 1, halaman 205, “Di dalamnya terdapat Yahya bin Sa’id at-Tamimi, Mawla Tim ar-Rabbab al-Kufi. Dia itu seorang yang dapat dipercaya dan Imam pemilik sunah. Asy-Sya’bi dan yang lainnya meriwayatkan darinya.

Yafi’i berkata, “Di dalamnya terdapat Yahya bin Sa’id at-Tamimi al-Kufi. Dia itu seorang yang dapat dipercaya dan Imam pemilik sunah.” [2]

Al-‘Asqalani berkata, “Abu Hayyan at-Tamimi al-Kufi adalah seorang yang dapat dipercaya, salah seorang ahli ibadah yang enam, dan wafat pada tahun 45 Hijrah.”[3]

Dan komentar-komentar para ulama ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil lainnya tentang Abu Hayyan at-Tamimi.

Sebagaimana diketahui dengan jelas bahwa hadis ini diriwayatkan di dalam Sahih Muslim, dan ini menunjukkan akan kesasihannya, dikarenakan kaum Muslimin sepakat untuk mensahihkan selurah hadis yang diriwayatkannya.

Muslim sendiri dengan tegas telah mengatakan bahwa seluruh hadis yang terdapat di dalam Kitab Sahihnya telah disepakati kesahih-annya. Apalagi dalam pandangannya sudah tentu sahih. Hafidz as-Suyuthi telah berkata, “Muslim berkata, ‘Tidak semua yang sahih saya letakkan di sini, melainkan saya hanya meletakkan yang telah disepakati kesahihannya.'” Sebagaimana tertulis di dalam kitab at-Tadrin ar-Rawi.

An-Nawawi berkata di dalam biografi Muslim, “Muslim telah menyusun banyak kitab di dalam ilmu hadis, dan salah satunya adalah kitab sahih ini, yang telah Allah SWT anugrahkan kepada kaum Muslimin.” [4]

Dan komentar-komentar yang lainnya yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya.

2. Riwayat hadis pada al-Imam al-Hafidz Abi ‘Abdillah al-Hakim an-Naisaburi, di dalam kitab mustadraknya atas Bukhari dan Muslim, jilid 3, halaman 22, kitab Ma’rifah as-Shahabah, terbitan Dar al-Ma’rifah Beirut – Lebanon.

– Abu ‘Awanah meriwayatkan hadis ini dari al-A’masy Tsana Habib bin Abi Tsabit, dari Abi Laila, dari Zaid bin Arqam yang berkata, “Tatkala Rasulullah saw kembali dari haji wada’ dan singgah di Ghadir Khum, Rasulullah saw menyuruh para sahabatnya bernaung di bawah pepohonan.

Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Aku hampir dipanggil oleh Allah SWT, maka aku harus memenuhi panggilannya. Sesungguhnya aku meninggalkan dua perkara yang amat berharga, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah dan ‘itrah Ahlul Baitku. Maka perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadap keduanya, karena sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga.’ Kemudian Rasulullah melanjutkan sabdanya, ‘Sesungguhnya Allah Azza Wajalla adalah pemimpinku, dan aku adalah pemimpin setiap orang Mukmin’, lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali seraya berkata, ‘Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.”‘ Dengan demikian, Rasulullah saw menekankan bahwa yang pertama dari Ahlul Bait dan sekaligus pemimpin mereka yang wajib diikuti ialah Ali as.

Sebagaimana juga diriwayatkan dari dari Hassan bin Ibrahim al-Kirmani Tsana Muhammad bin Salma bin Kuhail, dari ayahnya, dari Abi Thufail, dari Ibnu Watsilah yang berkata bahwa dirinya mendengar Zaid bin Arqam berkata… (dan dia menyebutkan hadis sebagaimana yang di atas), hanya saja dia menambahkan, ‘Kemudian Rasulullah saw bersabda, Tidakkah kamu tahu bahwa aku lebih berhak atas orang-orang Mukmin dibandingkan diri mereka sendiri’ sebanyak tiga kali. Mereka menjawab, ‘Ya.’ Rasulullah saw bersabda lagi, ‘Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.'”

– Al-Hakim juga meriwayatkannya melalui dua jalan yang lain; dan supaya tidak terlalu panjang saya cukupkan dengan hanya mem-buktikan dua jalan.

Dan di antara bukti yang menunjukkan kesahihan dan kemutawatiran hadis ini ialah bahwa al-Hakim telah meriwayatkannya dan telah menetapkan kesahihannya berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.

3. Riwayat hadis pada Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, jilid 3, halaman 14, 17, 26 dan 59, terbitan Dar Shadir Beirut – Lebanon.

Telah berkata kepada kami Abdullah, ‘Telah berkata kepada kami Abi Tsana Abu an-Nadzar Tsana Muhammad, yaitu Ibnu Abi Thalhah, dari al-A’masy, dari ‘Athiyyah al-‘Ufi, dari Abi Sa’id al-Khudri, dari Rasulullah saw yang berkata, “Aku merasa segera akan dipanggil (oleh Allah) dan aku akan memenuhi panggilan itu. Aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yaitu Kitab Allah Azza Wajalla dan ‘itrahku (kerabatku). Kitab Allah, tali penghubung antara langit dan bumi; dan ‘itrahku, Ahlul Baitku. Dan sesungguhnya Allah Yang Maha Mengetahui telah berkata kepadaku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga berjumpa kembali denganku di telaga. Oleh karena itu, perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya itu.”

Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan, “Telah berkata kepada kami Abdullah, ‘Telah berkata kepada kami Tsana bin Namir Tsana Abdullah, yaitu Ibnu Abi Sulaiman, dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id al-Khudri yang berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Aku telah tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang mana salah satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul Baitku, Ketahuilah, sesungguhnya keduanya tidak akan pernah ber-pisah sehingga datang menemuiku di telaga.'” Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkannya dari berbagai jalan, selain jalan-jalan yang di atas.

4. Riwayat hadis dari Turmudzi, jilid 5, halaman 662 – 663, terbitan Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi.

Telah berkata kepada kami Ali bin Mundzir al-Kufi, “Telah berkata kepada kami Muhammad bin Fudhail, ‘Telah berkata kepada kami al-A’masy, dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id dan al-A’masy, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Zaid bin Arqam yang berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul Baitku. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya.”‘

5. Sebagaimana juga ‘Allamah ‘Alauddin Ali al-Muttaqi bin Hisam ad-Din al-Hindi, yang wafat pada tahun 975 H, meriwayatkan hadis ini di dalam kitabnya Kanz al-‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa al- Af’al, juz pertama, bab kedua (bab berpegang teguh kepada Al- Qur’an dan sunah), halaman 172, terbitan Muassasah ar-Risalah Beirut, cetakan kelima, tahun 1985, yaitu hadis nomer 810, 871, 872 dan 873.

Jika kita berlama-lama di dalam bab ini, untuk menyebutkan seluruh kitab yang meriwayatkan hadis ini, niscaya akan memakan waktu yang lama dan dibutuhkan kitab tersendiri. Sebagai contoh, di sini kami hanya akan menyebutkan sekumpulan para hafidz dan ulama yang meriwayatkan hadis ini. Adapun untuk lebih rincinya lagi silahkan Anda merujuk ke dalam kitab Ihqaq al-Haq, karya Asadullah al-Tusturi, jilid 9, halaman 311. Sebagian dari mereka itu ialah:

1.    Al-Hafidz ath-Thabrani, yang wafat tahun 340 H, di dalam kitabnya al-Mu ‘jam ash-Shaghir.

2.    ‘Allamah Muhibbuddin ath-Thabari, di dalam kitabnya Dzakha’ir al-‘Uqba.

3.    ‘Allamah asy-Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar al-Himwani, di dalam kitabnya Fara’id as-Sirnthain.

4.    Ibnu Sa’ad, di dalam kitabnya ath-Thabaqat al-Kubra.

5.    Al-Hafidz as-Suyuthi, di dalam kitabnya Ihya al-Mayyit.

6.    Al-Hafidz al-‘Asqalani, di dalam kitabnya al-Mawahib al- Ladunniyyah.

7.    Al-Hafidz Nuruddin al-Haitsami, di dalam kitabnya Majma’ az-zawa’id.

8.    ‘Allamah an-Nabhani, di dalam kitabnya al-Anwar al- Muhammadiyyah.

9.    Allamah ad-Darimi, di dalam sunannya.

10. Al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Husain bin Ali al-Baihaqi, di dalam kitabnya as-Sunan al-Kubra.

11. ‘Allamah al-Baghawi, di dalam kitabnya Mashabih as-Sunnah.

12. Al-Hafidz Abu al-Fida bin Katsir ad-Dimasyqi, di dalam kitabnya Tafsir al-Qur’an.

13. Kitab Jami’ al-Atsir, karya Ibnu Atsir.

14. Muhaddis terkenal, Ahmad bin Hajar al-Haitsami al-Maliki, yang wafat pada tahun 914 Hijrah, di dalam kitabnya ash- Shawa’ig al-Muhriqah fi ar-Radd ‘ala Ahlil Bida’ wa az- Zanadiqah, cetakan kedua, tahun 1965, Perpustakaan Kairo.

Setelah meriwayatkan hadis tsaqalain Ibnu Hajar berkata, “Ketahuilah bahwa hadis tentang kewajiban berpegang teguh pada keduanya (Kitab Allah dan Ahlul Bait) diriwayatkan melalui berbagai jalan oleh lebih dari dua puluh orang sahabat. Jalan riwayat hadis itu telah disebutkan secara terperinci pada bab kesebelas (dari kitabnya yang bernama ash-Shawa’iq al-Muhriqah).

Di antaranya disebutkan bahwa hadis itu diucapkan Rasulullah saw di Arafah pada waktu haji wada’. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengucapkannya ketika sakit menjelang wafat, di hadapan para sahabat yang memenuhi kamar beliau. Riwayat lain lagi menyebutkan bahwa beliau mengucapkannya di Ghadir Khum. Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengucapkan ucapannya itu pada saat beliau pulang dari Thaif, ketika beliau berpidato di hadapan para sahabat. Tidak dapat dikatakan bahwa riwayat-riwayat itu saling bertentangan, sebab mungkin saja Rasulullah saw sengaja mengulang-ulang pesannya itu di berbagai tempat dan situasi untuk menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap Al-Qur’an dan Ahlul Bait yang suci. Pada sebuah riwayat yang berasal dari Thabrani, dari Ibnu Umar yang berkata bahwa perkataan terakhir yang diucapkan oleh Rasulullah ialah, ‘Berbuat baiklah kamu terhadap Ahlul Baitku.’Sementara pada riwayat lain yang berasal dari Thabrani dan Abi Syeikh disebutkan,

‘Allah SWT mempunyai tiga kehormatan. Barangsiapa yang menjaga ketiganya maka Allah akan menjaga agama dan dunianya, dan barangsiapa yang tidak menjaga ketiganya maka Allah tidak akan menjaga dunia dan akhiratnya. Saya bertanya, ‘Apa ketiganya itu?’ Rasulullah saw menjawab, ‘Kehormatan Islam, kehormatanku dan kehormatan kerabatku.’

Pada riwayat Bukhari yang berasal dari ash-Shiddiq dikatakan, ‘Wahai manusia, apakah Muhammad mencintai Ahlul Baitnya? Artinya, jagalah Rasulullah dengan menjaga Ahlul Baitnya dan dengan tidak menyakitinya. Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan di dalam sirahnya bahwa Rasulullah saw telah bersabda, ‘Saya berpesan kepadamu untuk berbuat baik kepada Ahlul Baitku. Karena sesungguhnya besok aku akan memusuhimu tentang perihal mereka. Barang siapa yang aku menjadi musuhnya maka aku akan memusuhinya, dan barangsiapa yang aku musuhi maka dia akan masuk ke dalam neraka.’Juga disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang menjagaku pada Ahlul Baitku maka berarti dia telah mengambil perjanjian di sisi Allah.’Ibnu Sa’ad dan Mala meriwayatkan: Yang pertama, hadis yang berbunyi, ‘Aku dan Ahlul Baitku adalah sebuah pohon di surga, yang dahan-dahannya menjulur sampai ke dunia, maka barangsiapa yang hendak mengambil jalan menuju Allah maka dia harus berpegang teguh kepada Ahlul Baitku.’Adapun yang kedua adalah hadis yang berbunyi, ‘Pada setiap generasi umatku terdapat manusia-manusia adil dari kalangan Ahlul Baitku, yang menyingkirkan dari agama ini segala bentuk penyimpangan orang-orang yang sesat, pemalsuan orang-orang yang batil, dan petakwilan orang-orang yang bodoh.’Adapun riwayat yang kedua ialah hadis yang berbunyi, ‘lngatlah, sesungguhnya pemimpin-pemimpin kamu adalah utusan kamu kepada Allah, maka oleh karena itu perhatikanlah siapa yang kamu jadikan utusan …’ Kemudian mereka berkata, ‘Rasulullah saw menamakan keduanya dengan nama ats-Tsaqalain dikarenakan ats-tsaql ialah segala sesuatu yang berharga, mulia dan terjaga; dan ke-duanya memang demikian.

Karena keduanya adalah tambang ilmu-ilmu agama, hikmah dan hukum syariat. Oleh karena itu, Rasulullah saw menganjurkan untuk mengikuti mereka, berpegang teguh kepada mereka dan belajar dari mereka. Rasulullah saw bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan hikmah Ahlul Bait di tengah-tengah kita.’Ada pendapat yang mengatakan bahwa keduanya dinamakan dengan ats-Tsaqlain adalah dikarenakan beratnya bobot kewajiban menjaga hak-hak mereka …”

Apakah Anda telah menjaga semua ini, wahai Ibnu Hajar, menjaga Rasulullah saw di dalam Ahlul Baitnya, mengikuti mereka dan mengambil agama dari mereka?!

Atau sebaliknya, apakah Anda hanya mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada di hati Anda?! “Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.”

Sungguh benar Imam Ja’far ash-Shadiq as manakala mengatakan, “Mereka mengklaim mencintai kami namun pada saat yang sama mereka melakukan pembangkangan terhadap kami.” Ibnu Hajar dan orang-orang yang sepertinya, mereka mengklaim mencintai dan mengikuti Ahlul Bait, namun pada saat yang sama mereka mengambil agama mereka dari orang-orang yang telah menzalimi Ahlul Bait. Dan Ibnu Hajar sendiri, tatkala membuktikan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait dan mengakui kewajiban berpegang teguh kepada mereka, namun pada saat yang sama dia menyerang Syi’ah di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, memasukkan mereka ke dalam kelompok yang sesat, dan mencaci maki mereka dengan seburuk-buruknya cacian.

Lantas, apa dosa mereka, wahai Ibnu Hajar?! Apakah hanya karena mereka mengikuti Ahlul Bait dan mengambil agama dari kalangan mereka.

KERAGU-RAGUAN TERHADAP HADIS TSAQALAIN

Di dalam kitabnya yang berjudul al-‘llal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah Ibnu al-Jauzi mencela hadits ats-tsaqalain. Dia mengatakan, setelah sebelumnya mengutip hadis ini, “Hadis ini tidak sahih. Adapun ‘Athiyyah telah didhaifkan oleh Ahmad, Yahya dan selain dari mereka berdua. Adapun tentang Abdullah al-Quddus, Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan dia itu seorang rafidhi yang jahat. Sedang mengenai Abdullah bin Dahir, Ahmad dan Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan bukan termasuk manusia yang terdapat kebaikan dalam dirinya.”

Menolak Keragu-Raguan.

1. Sanad hadis tsaqalain tidah hanya terbatas pada sanad ini saja. Hadis tsaqalain telah diriwayatkan melalui berbagai jalan, sebagaimana yang telah dijelaskan.

2. Muslim telah meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya melalui banyak jalan. Dan, tidak diragukan bahwa riwayat Muslim, meski pun hanya melalui satu jalan sudah cukup untuk membuktikan kesahihannya, dan ini merupakan sesuatu yang tidak diperselisihkan di kalangan Ahlus Sunnah.

3. Demikian juga Turmudzi telah meriwayatkannya di dalam sahihnya melalui banyak jalan: Dari Jabir, dari Zaid bin Arqam, dari Abu Dzar, dari Abu Sa’id dan dari Khudzaifah.

4. Perkataan Ibnu al-Jauzi sendiri di dalam kitabnya al-Mawdhu’at, jilid 1, halaman 99 yang berbunyi,

“Manakala Anda melihat sebuah hadis yang tidak terdapat di dalam diwan-diwan Islam (al-Muwaththa, Musnad Ahmad, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Turmudzi dan sebagainya) maka periksalah. Jika hadis ini mempunyai bandingan di dalam kitab-kitab sahih dan hasan maka tetapkanlah urusannya.”

Dengan demikian berarti dia telah menentang dirinya sendiri, karena hadis ini telah diriwayatkan di dalam kitab-kitab hadis yang dinamakannya sebagai diwan-diwan Islam.

5. Sesungguhnya perkataan Ibnu al-Jauzi yang berkenaan dengan ‘Athiyyah itu tertolak disebabkan penguatan yang diberikan oleh Ibnu Sa’ad terhadapnya. Ibnu Hajar al-‘Asqalani telah berkata, “Ibnu Sa’ad telah berkata, “Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy’ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan ‘Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun ‘Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian ‘Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. ‘Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia se- orang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.” [5]

Padahal diketahui bahwa Ibnu Sa’ad adalah termasuk seorang nawasib yang memusuhi Ahlul Bait. Tingkat permusuhannya terhadap Ahlul Bait sampai sedemikian rupa sehingga Imam Ja’far ash-Shadiq as mendhaifkannya. Maka penguatan yang diberikannya kepada ‘Athiyyah cukup menjadi hujjah atas musuh.

6. Sesungguhnya ‘Athiyyah termasuk orangnya Ahmad bin Hanbal, dan Ahmad bin Hanbal tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah), sebagaimana yang sudah diketahui. Ahmad telah meriwayatkan banyak riwayat darinya, sehingga penisbahan pendhaifan ‘Athiyyah kepada Ahmad adalah sebuah kebohongan yang nyata. Taqi as-Sabaki telah mengatakan, “Ahmad —semoga Allah merahmatinya— tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah). Musuh (maksudnya Ibnu Taimiyyah) telah berterus terang tentang hal itu di dalam kitab yang dikarangnya untuk menjawab al-Bakri, setelah sepuluh kitab lainnya. Ibnu Taimiyyah berkata, ‘Sesungguhnya para ulama hadis yang mempercayai ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil ada dua kelompok. Sebagian dari mereka tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya dalam pandangan mereka, seperti Malik, Ahmad bin Hanbal dan lainnya.'” [6]

7. Penguatan yang diberilan oleh cucu Ibnu Jauzi kepada ‘Athiyyah. Cucu Ibnu Jauzi dengan tegas memberikan penguatan terhadap ‘Athiyyah dan menolak pendhaifannya.

8. Adapun usaha Ibnu Jauzi menisbahkan pendhaifan ‘Athiyyah kepada Yahya bin Mu’in itu tertolak, didasarkan kepada penukilan a-Dawri dari Ibnu Mu’in yang mengatakan bahwa ‘Athiyyah ada- lah seorang yang saleh. Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi ‘Athiyyah, “Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu’in bahwa ‘Athiyyah adalah seorang yang saleh.” [7]Dengan begitu, gugurlah apa yang telah dinisbahan Ibnu Jauzi kepada Yahya Mu’in.

Sesuatu yang menunjukkan kebodohan Ibnu Jauzi akan hadis tsaqalain ialah dia mengira bahwa dengan semata-mata mendhaifkan ‘Athiyyah berarti dia telah mendhaifkan hadis tsaqalain, padahal sudah diketahui dengan jelas bahwa penguatan atau pendhaifan ‘Athiyyah sama sekali tidak mencemarkan hadis tsaqalain. Karena hadis yang telah diriwayatkan oleh ‘Athiyyah dari Abi Sa’id juga telah diriwayatkan dari Abi Sa’id oleh Abu Thufail, yang termasuk ke dalam kategori sahabat. Dan jika kita melangkah lebih jauh lagi dari itu niscaya kita akan menemukan bahwa kesahihan hadis tsaqalain tidak bergantung kepada riwayat Abi Sa’id, baik yang melalui jalan ‘Athiyyah maupun yang melalui jalan Abu Thufail. Jika seandainya kita menerima ke-dhaifan riwayat Abi Sa’id dengan semua jalannya, maka yang demikian itu tidak membahayakan sedikit pun terhadap hadis ini, disebabkan banyaknya riwayat dan jalan lain yang dimilikinya.

Jawaban Kepada Ibnu Jauzi Atas Pendhaifannya Terhadap Ibnu Abdul Quddus

1. Adapun celaannya terhadap Abdullah bin Abdul Quddus tertolak dengan penguatan yang diberikan oleh al-Hafidz Muhammad bin Isa terhadap Abdullah bin Abdul Quddus. Al-Hafidz Muhammad bin Isa berkata tentang biografi Abdullah bin Abdul Quddus, “Ibnu ‘Uday telah menceritakan dari Muhammad bin Isa yang mengatakan, ‘Dia (Abdullah bin Abdul Quddus) itu dapat dipercaya.”‘ [8]

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Telah diceritakan bahwa Muhammad bin Isa telah berkata, ‘Dia itu dapat dipercaya.'” [9]

Adapun tentang Muhammad bin Isa, al-Hafidz adz-Dzahabi telah berkata, “Abu Hatim telah berkata, ‘Dia seorang yang dapat dipecaya. Saya belum pernah melihat dari kalangan muhaddis yang lebih menguasai bab-bab hadis melebihi dia.’ Abu Dawud telah berkata, ‘Dia seorang yang dapat dipercaya.'”

2. Muhammad bin Hayan memasukkan Abdullah bin Abdul Quddus ke dalam kelompok orang yang dapat dipercaya. Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Abdullah bin Abdul Quddus, “Ibnu Hayan telah memasukkannya ke dalam kelompok orang yang dapat di- percaya.” [10]

3. Al-Haitsami telah menukil di dalam kitabnya Majma’ az-Zawa’id, “Bukhari dan Ibnu Hayan telah menguatkannya.”

4. Al-Hafidz al-‘Asqalani telah berkata tentang biografinya, “Dia, pada dasarnya adalah seorang yang amat jujur, hanya saja dia meriwayatkan dari kaum-kaum yang dhaif.” [11]

Kritikan Bukhari terhadap Ibnu Abdul Quddus, setelah sebelumnya dia menguatkannya, bahwa dia meriwayatkan dari orang-orang yang lemah tidaklah tertuju kepada hadis ini. Karena Ibnu Abdul Quddus meriwayatkan hadis tsaqalain —yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi— dari al-A’masy, dan dia adalah seorang yang dapat dipercaya.

5. Abdulah bin Abdul Quddus adalah termasuk orangnya Bukhari di dalam kitab sahihnya, di dalam bab at-Ta’liqat. Sebagaimana juga disebutkan di dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, jilid 5, halaman 303; dan juga kitab Tagrib at-Tahdzib, jilid 1, halaman 430. Kelulusan yang diberikan oleh Bukhari kepadanya, meskipun itu terdapat di dalam bab at-Ta’liqat merupakan bukti penguatan Bukhari terhadapnya.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani, di dalam memberikan jawaban terhadap tuduhan yang dilontarkan kepada orang-orang Bukhari berkata di dalam mukaddimah Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari, “Sebelum menyelami masalah ini, hendaknya setiap orang yang sadar mengetahui bahwa kelulusan yang diberikan oleh pemilik kitab sahih ini —yaitu Bukhari— kepada perawi mana saja, menuntut keadilan perawi tersebut dalam pandangan Bukhari, kebenaran rekamannya dan ketidaklalaiannya. Apalagi mayoritas para imam menamakan kedua kitab ini sebagai dua kitab sahih. Makna ini tidak berlaku bagi orang yang tidak diluluskan di dalam kedua kitab sahih ini.”

6. Abdullah bin Abdul Quddus termasuk orangnya Turmudzi.

7. Pencemaran terhadap Abdullah bin Abdul Quddus juga tidak membahayakan hadis ini. Bahkan sekali pun dengan riwayat al-A’masy dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id, disebabkan tidak hanya Abdullah bin Abdul Quddus sendiri yang meriwayatkan hadis ini dari al- A’masy. Hadis ini juga telah diriwayatkan dari al-A’masy oleh Muhammad bin Thalhah bin al-Musharrih al-Yami dan Muhammad bin Fudhail bin Ghazwan adh-Dhibbi di dalam Musnad Ahmad dan Turmudzi, sebagaimana yang telah dijelaskan kepada Anda. Dan ini merapakan bukti kebenaran riwayat ini. Sebagaimana juga al- A’masy tidak hanya meriwayatkan hadis ini dari ‘Athiyyah, dia juga meriwayatkan hadis ini dari Abdul Malik bin Abi Sulaiman Masiri al-Ghazrami dan Abi Israil Ismail bin Khalifah al-‘Abasi, sebagaimana disebutkan di dalam Musnad Ahmad, dan juga dari Harun bin Sa’ad al-‘Ajali dan Katsir bin Ismail at-Timi, sebagaimana terdapat di dalam Mu’jam ath-Thabrani.

Adapun Pendhaifan Ibnu Jauzi Terhadap Abdullah bin Dahir:

1. Ini bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Karena tuduhan samar tidak dapat diterima dari siapa pun.

2. Tidak ada sebab yang rasional untuk menuduhnya di dalam riwayat ini, selain karena periwayatannya tentang keutamaan-keutamaan Amirul Mukminin. Sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi, “Ibnu ‘Adi berkata, ‘Kebanyakan riwayat yang diriwayatkannya berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Ali, dan dia menjadi tertuduh karena hal itu.'” [12]Sungguh, pendhaifannya karena sebab ini tidak dapat diterima.

3. Dan yang lebih mengherankan dari Ibnu al-Jauzi ialah dia berusaha sedemikian rupa untuk mendhaifkan hadis ini dengan cara memasukkan Abdullah bin Dahir ke dalam sanad hadis ini, padahal dengan jelas diketahui bahwa Abdullah bin Dahir sama sekali tidak termasuk ke dalam sanad hadis ini. Silahkan rujuk kepada riwayat- riwayat yang telah disebutkan dan juga riwayat-riwayat yang belum kami sebutkan, apakah Anda mendapati Abdullah bin Dahir di dalam sanad hadis ini?! Dan saya tidak memahami hal ini selain dari permusuhan kepada Ahlul Bait dan usaha-usaha untuk menghapus hak-hak mereka. Akan tetapi Allah enggan akan hal itu kecuali Dia menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang yang kafir tidak suka.

4. Cucu Ibnu al-Jauzi, setelah menyebutkan hadis tsaqalain dari Musnad Ahmad bin Hambal dia mengatakan, “Jika dikatakan, ‘Kakek Anda telah mengatakan di dalam kitab al-Wahiyah, ‘…. (lalu dia menyebutkan perkataan Ibnu al-Jauzi di dalam mendhaifkan hadis ini, sebagaimana yang telah disebutkan)’, maka saya katakan, ‘Hadis yang kami riwayatkan telah disahkan oleh Ahmad di dalam al-Fadhail, dan tidak ada seorang pun di dalam sanadnya yang didhaifkan oleh kakek saya. Abu Dawud juga telah mensahkannya di dalam sunannya, dan begitu juga Turmudzi dan mayoritas kalangan muhaddis. Razin juga telah menyebutkannya di dalam kitab al-Jam’ Baina ash-Shabah. Sungguh mengherankan bagaimana mungkin hadis yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam sahihnya dari Zaid bin Arqam dapat tersembunyi dari kakek saya.'” [13]Apa yang dikatakan oleh cucu Ibnu al-Jauzi tidak lain merupakan pembenaran bagi Ibnu al-Jauzi. Karena jika tidak maka tentu Ibnu al-Jauzi tidak lalai akan hadis yang dapat disaksikan di dalam referensi-referensi kaum Muslimin ini, dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, namun dia ingin menipu dan membuat makar maka Allah pun membuat makar terhadapnya dan menggagalkan urusannya.

Kritikan Ibnu Taimiyyah.

Adapun kritikan Ibnu Taimiyyah terhadap hadis tsaqalain di dalam kitabnya Minhaj as-Sunnah lebih lemah untuk kita diskusikan, namun dengan maksud untuk memaparkannya kita akan tetap menyebutkan pemikiran yang kosong ini, yang tidak mengekspresikan apa-apa kecuali kesalah-pahaman. Ketika Ibnu Taimiyyah tidak mampu mendhaifkan hadis tsaqalain dari sisi sanad, sebagaimana kebiasaannya di dalam mendhaifkan setiap hadis yang berbicara tentang keutaman Ahlul Bait, dia menggunakan cara lain yang tidak kita temukan pada yang lain selain dia. Dia mengatakan, hadis ini tidak menunjukkan kepada wajibnya berpegang teguh kepada Ahlul Bait melainkan hanya menunjukan kepada wajibnya berpegang teguh kepada Al-Qur’an saja.

Manusia berakal mana yang menarik kesimpulan dan pemahaman yang seperti ini dari nas yang sedemikian jelas ini?! Zahir hadis memastikan dan menekankan wajibnya berpegang teguh kepada keduanya, yaitu al-Kitab dan al-‘Itrah. Karena jika tidak maka apa artinya tsaqalain (dua benda yang sangat berharga)? (Aku tinggalkan padamu dua benda yang sangat berharga). Apa artinya sabda Rasulullah saw yang berbunyi, “Jika kamu berpegang teguh kepada keduanya”?!Akan tetapi kefanatikan telah membutakan hati, dan Ibnu Taimiyyah pun berargumentasi atas hal itu dengan sebuah hadis yang terdapat di dalam sahih Muslim yang berasal dari Jabir, dan kemudian dia melemparkan seluruh hadis yang lain ke dinding atau berpura-pura lalai darinya, meski pun hadis-hadis tersebut banyak riwayatnya dan banyak jalannya. Yaitu sebuah hadis yang dengan jelas tampak cacat bagi orang yang teliti apabila dibandingkan dengan hadis-hadis lain yang ada di dalam bab ini. Hadis yang dijadikan argumentasi oleh Ibnu Taimiyyah ialah, “Aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sesudahnya, yaitu Kitab Allah.”

Hadis ini jelas-jelas cacat dan menyimpang. Karena hadis Jabir sendiri terdapat di dalam riwayat Turmudzi, dimana di dalamnya terdapat perintah yang jelas akan wajibnya berpegang teguh kepada Ahlul Bait. Adapun bunyi nas hadis yang terdapat di dalam riwayat Turmudzi ialah, “Wahai manusia, sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan ‘ltrah Ahlul Baitku.”

Kritikan Ibnu Taimiyyah itu sendiri juga mengenai dirinya. Karena dia mengatakan wajibnya berpegang teguh kepada al-Kitab dan sunah. Tentunya perintah yang datang dari Rasulullah saw itu satu, apakah kewajiban berpegang teguh kepada al-Kitab saja atau kewajiban berpegang teguh kepada al-Kitab dan sunah. Ketika Ibnu Taimiyyah memilih kewajiban berpegang teguh kepada al-Qur’an saja, maka tentunya kewajiban berpegang teguh kepada sunah menjadi gugur. Ini jelas bertentangan dengan pendapat Ibnu Taimiyyah sendiri, sebagaimana tampakjelas dari mazhabnya—yaitu Ahlus Sunnah, sebagaimana juga dia menamakan kitab tempat dia menyebutkan hadis ini dengan nama Minhaj as-Sunnah, dan tidak dengan nama Minhaj al-Qur’an.

Jika menurut keyakinannya bahwa hadis yang disebutkannya ini tidak membatalkan hadis berpegang teguh kepada al-kitab dan sunah maka tentunya hadis ini pun tidak membatalkan hadis yang mengatakan wajibnya berpegang teguh kepada al-kitab dan ‘ltrah Ahlul Bait.

Ibnu Taimiyyah tidak berhenti sampai disini, dia mengatakan tentang hadis “… dan ‘ltrah Ahlul Baitku. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemuiku di telaga”, “Sesungguhnya hadis ini diriwayatkan oleh Turmudzi. Dan, Ahmad telah ditanya tentang hadis ini, serta tidak hanya seorang dari ahli ilmu yang mendhaifkan hadis ini. Mereka mengatakan bahwa hadis ini tidak sahih.”

Adapun jawaban terhadap Ibnu Taimiyyah, Anda dapat merasakan dari perkataan Ibnu Taimiyyah bahwa nas hadis ini tidak diriwayatkan kecuali oleh Turmudzi, padahal sebagaimana sudah Anda ketahui bahwa hadis ini telah diriwayatkan tidak hanya oleh seorang dari kalangan ulama Ahlus Sunnah dan para hafidz mereka.

Lantas, apa yang dia maksud dengan mengatakan hadis ini diriwayatkan oleh Turmudzi?!

Apakah dia ingin mengatakan riwayat Turmudzi menunjukkan kedhaifan hadis ini?!

Siapa yang telah bertanya kepada Ahmad?! Dan apa jawaban Ahmad kepadanya?!

Di mana perkataan ini dapat ditemukan?!

Bukankah Ahmad sendiri telah meriwayatkan dan menguatkan hadis ini?!

Dan siapa yang mendhaifkan hadis ini, sehingga Ibnu Taimiyyah mengatakan tidak hanya seorang?! Kenapa dia tidak menyebutkan nama-nama mereka?!

Dan banyak lagi pertanyaan lainnya yang dapat ditujukan kepada Ibnu Taimiyyah. Jika dia dapat memberikan jawaban yang kuat tentu kita akan menerima kritikannya terhadap hadis ini. Namun, kita tidak mungkin menerima pembicaraannya yang rancu dan samar.

Namun, inilah kebiasaan Ibnu Taimiyyah, dia bersedia menyesatkan umat dan menutupi kebenaran.

Inilah keragu-raguan yang paling tampak di dalam bab ini, dan menurut pengkajian saya, saya tidak melihat adanya orang yang mencela hadis tsaqalain, yang telah tertetapkan secara mutawatir dan telah diakui kesahihannya oleh para ulama umat, dari kalangan huffadz dan muhaddis. Tidak ada yang berani mencela hadis tsaqalain ini kecuali orang yang mempunyai hati yang jahat yang dipenuhi dengan ke-bencian kepada Ahlul Bait.

Setelah terbukti dengan jelas kesahihan hadis ini bagi kita, maka kita wajib menyingkap penunjukkan maknanya, untuk kemudian berpegang teguh kepadanya.

PENUNJUKKAN HADIS TSAQALAIN TERHADAP KEIMAMAHAN AHLUL BAIT

Penunjukkan makna hadis tsaqalain terhadap keimamahan Ahlul Bait adalah sesuatu yang amat jelas bagi setiap orang yang adil.

Karena makna hadis tsaqalain menunjukkan kepada wajibnya mengikuti mereka di dalam masalah-masalah keyakinan, hukum dan pendapat, dan tidak menentang mereka baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Karena amal perbuatan apa pun yang melenceng dari kerangka mereka maka dianggap telah keluar dari Al-Qur’an, dan tentunya juga telah keluar dari agama. Dengan demikian, mereka adalah ukuran yang teliti, yang dengannya dapat diketahui jalan yang benar. Karena sesungguhnya tidak ada petunjuk kecuali melalui jalan mereka dan tidak ada kesesatan kecuali dengan menentang mereka. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan, “jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat”. Karena yang dimaksud berpegang teguh kepada Al-Qur’an ialah mengamalkan apa yang ada di dalamnya, yaitu menuruti perintahnya dan menjauhi laranganya. Demikian juga halnya dengan berpegang teguh kepada ‘ltrah Ahlul Bait. Karena jawab syarat tidak akan dapat terlaksana kecuali dengan terlaksananya yang disyaratkan (al-masyruth) terlebih dahulu. Dhamir (kata ganti) “bihima” kembali kepada al-Kitab dan ‘ltrah. Saya kira tidak ada seorang pun dari orang Arab, yang mempunyai pemahaman sedikit tentang bahasa, yang menentang hal ini. Dengan demikian, maka mengikuti Ahlul Bait sepeninggal Rasulullah saw adalah sesuatu yang wajib, sebagaimana juga mengikuti Al-Qur’an adalah sesuatu yang wajib, terlepas dari siapa yang dimaksud dengan Ahlul Bait itu. Karena hal ini merupakan pembahasan berikutnya. Yang penting di sini ialah kita membuktikan bahwa perintah dan larangan serta ikutan adalah milik Ahlul Bait. Adapun pembahasan mengenai siapa mereka, berada di luar konteks pembahasan hadis ini.

Sebagaimana para ulama ilmu ushul mengatakan, “Sesungguhnya proposisi tidak menetapkan maudhu-nya”‘, maka tentu Ahlul Bait adalah para khalifah sepeninggal Rasulullah saw. Sabda Rasulullah yang berbunyi “Aku tinggalkan padamu….” adalah merupakan nas yang jelas bahwa Rasulullah saw menjadikan mereka sebagai khalifah sepeninggal beliau, dan berpesan kepada umat untuk mengikuti mereka. Rasulullah saw menekankan hal ini dengan sabdanya “Maka perhatikanlah bagaimana kamu memperlakukan keduanya sepeninggalku”. Kekhilafahan Al-Qur’an sudah jelas, sementara kekhilafahan Ahlul Bait tidak dapat terjadi kecuali dengan keimamahan mereka.

Oleh karena itu, Kitab Allah dan ‘ltrah Rasulullah saw adalah merupakan sebab yang menyampaikan manusia kepada keridaan Allah. Karena mereka adalah tali Allah yang kita telah telah diperintahkan oleh Allah untuk berpegang teguh kepadanya, “Dan berpegang teguh lah kamu kepada tali Allah.” (QS. Ali ‘lmran: 103)

Ayat ini bersifat umum di dalam menentukan apa dan siapa tali Allah yang dimaksud. Sesuatu yang dengan jelas dapat disimpulkan dari ayat ini ialah wajibnya berpegang teguh kepada tali Allah; lalu kemudian datang sunah dengan membawa hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya, yang menjelaskan bahwa tali yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya ialah Kitab Allah dan Rasulullah saw.

Sekelompok para mufassir telah mengatakan yang demikian itu. Ibnu Hajar telah menyebut nama-nama mereka di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, di dalam bab “Apa-Apa Yang Diturunkan Dari Al-Qur’an Tentang Ahlul Bait”. Silahkan Anda merujuknya!

Al-Qanduzi menyebutkannya di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah. Dia berkata tentang firman Allah SWT yang berbunyi “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah”, “Tsa’labi telah mengeluarkan dari Aban bin Taghlab, dari Ja’far ash-Shadiq as yang berkata, ‘Kami inilah tali Allah yang telah Allah katakan di dalam firman-Nya ‘Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali Allah dan janganlah berpecah-belah.'”Penulis kitab al-Manaqib juga mengeluarkan dari Sa’id bin Jabir, dari Ibnu Abbas yang berkata, “Kami pernah duduk di sisi Rasulullah saw, lalu datang seorang orang Arab yang berkata, ‘Ya Rasulullah, saya dengar Anda berkata, ‘Berpegang teguhlah kamu kepada tali Allah’, lalu apa yang dimaksud tali Allah yang kita diwajibkan berpegang teguh kepadanya?’ Rasulullah saw memukulkan tangannya ke tangan Ali seraya berkata, ‘Berpegang teguhlah kepada ini, dia lah tali Allah yang kokoh itu.’[14]

Adapun sabda Rasulullah saw yang berbunyi “Keduanya tidak akan pernah berpisah hingga menemui aku di telaga”, menunjukkan kepada beberapa arti berikut:

Pertama, menetapkan kemaksuman mereka. Karena keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang sama sekali tidak ada sedikit pun kebatilan di dalamnya, menunjukkan pengetahuan mereka tentang apa yang ada di dalam Kitab Allah dan bahwa mereka tidak akan menyalahinya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

Jelas, munculnya penentangan dalam bentuk apa pun dari mereka terhadap Kitab Allah, baik disengaja maupun tidak disengaja, itu berarti keterpisahan mereka dari Kitab Allah. Padahal, secara tegas hadis mengatakan keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga menjumpai Rasulullah saw di telaga. Karena jika tidak demikian, maka itu berarti menuduh Rasulullah saw berbohong. Pemahaman ini juga dikuatkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an dan sunah. Kita akan tunda pembahasan ini pada tempatnya.

Kedua, sesungguhnya kata lan menunjukkan arti pelanggengan (ta’bidiyyah). Yaitu berarti bahwa berpegang teguh kepada keduanya akan mencegah manusia dari kesesatan untuk selamanya, dan itu tidak dapat terjadi kecuali dengan berpegang teguh kepada keduanya secara bersama-sama, tidak hanya kepada salah satunya saja. Sabda Rasulullah saw di dalam riwayat Thabrani yang berbunyi “Janganlah kamu mendahului mereka karena kamu akan celaka, janganlah kamu tertinggal dari mereka karena kamu akan binasa, dan janganlah kamu mengajari mereka karena sesungguhnya mereka lebih mengetahui dari kamu”memperkuat makna ini.

Ketiga, keberadaan ‘ltrah di sisi Kitab Allah akan tetap berlangsung hingga datangnya hari kiamat, dan tidak ada satu pun masa yang kosong dari mereka. Ibnu Hajar telah mendekatkan makna ini di dalam kitabnya ash-Shawa’iq, “Di dalam hadis-hadis yang menganjurkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait, terdapat isyarat yang mengatakan tidak akan terputusnya kelayakan untuk berpegang teguh kepada mereka hingga hari kiamat. Demikian juga halnya dengan Kitab Allah. Oleh karena itu, mereka adalah para pelindung bagi penduduk bumi, sebagaimana yang akan dijelaskan nanti. Hadis yang berbunyi ‘Pada setiap generasi dari umatku akan ada orang-orang yang adil dari Ahlul Baitku’, memberikan kesaksian akan hal ini.

Kemudian, orang yang paling berhak untuk diikuti dari kalangan mereka, yang merupakan imam mereka ialah Ali bin Abi Thalib —karramallah wajhah, dikarenakan keluasan ilmunya dan ketelitian hasil-hasil istinbathnya. [15]

Keempat, kata ini juga menunjukkan kelebihan mereka dan pengetahuan mereka terhadap rincian syariat; dan itu dikarenakan keseiringan mereka dengan Kitab Allah yang tidak mengabaikan hal-hal yang kecil apalagi hal-hal yang besar. Sebagaimana Rasulullah saw telah bersabda, “Janganlah kamu mengajari mereka karena mereka lebih tahu darimu.”

Ringkasnya, mau tidak mau harus ada seorang dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman hingga datangnya hari kiamat, yang ucapan dan perbuatannya tidak menyalahi Al-Qur’an, sehingga tidak berpisah darinya. Dan arti dari “tidak berpisah dari Al-Qur’an secara perkataan maupun perbuatan” ialah berarti dia maksum dari segi perkataan dan perbuatan, sehingga wajib diikuti karena merupakan pelindung dari kesesatan.

Tidak ada yang mengatakan arti yang seperti ini kecuali Syi’ah, di mana mereka mengatakan wajibnya adanya imam dari kalangan Ahlul Bait pada setiap jaman, yang terjaga dari segala kesalahan, yang kita wajib mengenal dan mengikutinya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak mengenal Imam jaman-nya maka dia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.”

Makna yang demikian ditunjukkan oleh firman Allah SWT yang berbunyi, “Dan pada hari di saat Kami memanggil setiap manusia dengan Imam mereka.”

Footenote:

[1].    Tahdzib at-Tahdzib

[2].    Mir’at al-Jinan, Jilid 1, hal.301.

[3].    Taqrib at-Tahdzib,Jilid 2, hal. 348.

[4].    Tahdzib al-Asma wa al-Lughat, Jilid 2, hal.91.

[5].    Tahdzib at-Tahdzib, Jilid 2, hal.226.

[6].    Syifa al-Asqam,Jilid 10, hal. 11.

[7].    Tahdzib at-Tahdzib, Jilid 7, hal.220.

[8].    Khulashah ‘Abaqat al-Anwar, Jilid 2, hal. 47.

[9].    Tahdzib at-Tahdzib, Jilid 5, hal.303.

[10].  Ibid.

[11].  Ibid.

[12].  Mizan al-I’tidal, Jilid 2, hal.417.

[13].  Tadzkirah Khawash.

[14].  Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 104, terbitan Yayasan a Muassasah, Beirut-Lebanon.

[15].  Ash-hawa’iq,hal. 151.

.

Hadith membaiki kasut adalah bukti yang amat jelas terhadap Imam dan khalifanya Ali.

Hadith membaiki kasut adalah bukti yang amat jelas terhadap Imam dan khalifanya Ali.

Shia membuat carian dan pertanyan kepada peristiwa yang telah lalu 1 400 tahun dahulu. Dengan pengetahuan ayat-ayat al-Quran dan buku-buku sahih dari kedua golongan ulama, mereka telah membuat rumusan yang adil. Kami percaya bahawa, walaupun pada sejarah Ali telah diberikan kedudukan keempat, satu  kedudukan yang kelihatan rendah, tetapi ianya tidak memberi kesan kepada kecemerlangannya tidak juga memperkecilkan pentingnya hadith yang membuktikan hak dia yang sebenar sebagai pengganti nabi.

Kami juga mengakui bahawa fakta yang telah dirakamkan oleh sejarah bahawa Abu Bakr [melalui cara politik] telah dilantik khalifa di Saqifa dengan ketiadaan Ali, Bani Hashim dan sahabat nabi yang terkenal lainnya, walaupun dengan bantahan kaum Ansar Khazraj. Selepas itu adalah melalui diktator perseorangan maka Umar dan Uthman memenuhi kerusi khalifa. Tetapi terdapat perbezaan. Mereka ini adalah khalifa ummah; penyokong mereka telah menjadikan mereka khalifa. Sebaliknya Amirul-Mukminin Ali adalah khalifa nabi dan telah dilantik oleh Allah dan nabi untuk menjadi wazir.

Sheikh:                    Ini sesuatu tidak baik dari kamu. Tidak ada perbezaan diantara mereka. Manusia sama yang telah membuat keputusan untuk memberikan kedudukan khalifa kepada tiga orang khalifa: Abu Bakr, Umar, Uthman juga menyerahkannya kepada Ali.

CARA PERLANTIKKAN YANG BERBEZA DARI TIGA KHALIFA PERTAMA ADALAH BUKTI KEPADA TIDAK SAHNYA KHALIFA MEREKA.

Shirazi:                    Terdapat banyak perbezaan yang jelas dalam cara melantik khalifa. Pertama, kamu merujuk kepada ijma. Adalah perlu untuk mengulangi tujuan maksud saya. Saya telah buktikan pada malam yang terdahulu isu ijma tidak berasas. Tidak terdapat keputusan sebulat suara mengenai kedudukan khalifa setiap mereka.

BUKTI YANG LAIN PADA TIDAK SAHNYA IJMA.

Kedua, jika kamu bergantung kepada ijma sebagai asas kepada khalifa dan menganggapnya dibolehkan dari pihak Allah dan juga nabi maka apabila khalifa mati, ummah hendaklah berkumpul semula untuk melantik khalifa lagi. Sesiapa yang dilantik dengan sebulat suara boleh menjadi khalifa ummah [ya bukannya khalifa nabi Allah] Dan prosedur ini hendaklah diikuti sepanjang zaman.

Kamu hendaklah mengakui bahawa ijma yang sedemikian tidak pernah diadakan. Walaupun ijma yang tidak sempurna, yang mana Bani Hashim dan Ansar tidak hadir, tidak diadakan untuk sesiapa melainkan [katakanlah] Abu Bakr bin Abi Qahafa. Khalifa Umar, menurut pendapat ahli sejarah islam, telah diasaskan pada keputusan seorang Abu Bakr bin Qahafa. Jika ijma diperlukan kepada perlantikan khalifa, mengapa ianya tidak diadakan masa melantik khalifa Umar, dan kenapa pendapat ijma tidak didapatkan selepas itu?

Sheikh:                    Telah nyata bahawa apabila Abu Bakr telah dijadikan khalifa melalui ijma, keputusan bagi khalifa untuk melantik penggantinya adalah sah. Tidak ada perlunya pada memanggil ijma. Bahkan keputusan khalifa pada melantik khalifa selepasnya adalah pada asasnya telah mencukupi. Hak ini telah diberikan kepada khalifa bahawa dia hendaklah melantik khalifa selepasnya supaya manusia tidak dijadikan di dalam kekacauan dan kebingungan. Apabila khalifa yang diterima Abu Bakr melantik melalui persetujuan umum Umar sebagai khalifa selepasnya, dia menjadi khalifa nabi yang sah.

NABI MELANTIK ALI DIKETEPIKAN DAN ABU BAKR MELANTIK UMAR DISOKONG.

Shirazi:                    Kami percaya bahawa khalifa yang diterima mempunyai hak melantik penggantinya. Adalah tanggong jawabnya tidak meninggalkan ummah binggung dan tanpa petunjuk, dan keputusannya mencukupi kepada perlantikkan khalifa. Tetapi jika kamu percayakan ini, mengapa kamu menafikan nabi akan haknya? Dan mengapa kamu mengabaikan semua petunjuk yang jelas yang nabi telah tekankan berkali-kali dan menyampaikan diberbagai keadaan, menamakan Ali sebagai penggantinya, dan semuanya ada tertulis di dalam buku-buku sahih kamu. Kamu hanya melincung ketepi apabila isu ini ditimbulkan dan ketengahkan penterjemahan yang tidak berkaitan sebagaimana yang dilakukan Ibn Abil-Hadid apabila menolak hadith dari Umme Salma diatas dasar yang tidak munasabah.

Lebih lagi atas dasar apa kamu katakan bahawa khalifa pertama yang dilantik oleh ijma, mempunyai hak untuk melantik penggantinya. Adakah nabi meninggalkan sebarang arahan untuk itu? Tidak. Kamu juga mengatakan apabila khalifa pertama memantapkan kedudukannya melalui ijma, tidak ada perlunya melantik lain khalifa melalui ijma. Khalifa yang sama mempunyai kuasa dari ummah untuk melantik khalifa selepasnya.

BANTAHAN TERHADAP BADAN PERUNDINGAN.

Jika begitu, mengapa prisip itu digunakan untuk khalifa Umar sahaja? Untuk khalifa Uthman prinsip ini telah tidak diikuti. Sepatutnya dia melantik khalifa selepasnya, Umar kini telah meninggalkan persoalan yang perlu diputuskan oleh badan perundingan yang mengandungi enam ahli. Saya tidak tahu apakah yang kamu anggap sebagai prinsip dimana pemilihan khalifa telah diasaskan. Kamu sedia maklum jika ada perbezaan asas di dalam penghujahan, isu yang sebenar menjadi batal.

Jika pendirian kamu bahawa asas khalifa adalah ijma maka keseluruh ummah hendaklah membuat keputusan [tidak perlulah disebut fakta sebenar bahawa ijma tidak pernah diadakan untuk khalifa Abu Bakr] jadi mengapa ijma yang sedemikian tidak diadakan untuk khalifa Umar? Jika kamu menganggap ijma adalah perlu hanya kepada khalifa pertama, dan pada perlantikkan khalifa seterusnya keputusan khalifa yang ada telah mencukupi, jadi mengapa prinsip ini tidak diikuti di dalam kes Uthman? Mengapa khalifa Umar meninggalkan prinsip yang diadakah oleh Abu Bakr? Mengapa dia meninggalkan pemilihan khalifa kepada Majlis-e-Shura? Khalifa Umar sesuka hati memilih kommiti yang dengannya perlu ada badan perwakilan bagi ummah [supaya dengannya ada sedikit perwakilan dan pandangan dari yang ramai]

BANTAHAN TERHADAP ABDUR-RAHMAN BIN AUF SEBAGAI PEMUTUSKATA.

Perkara yang paling aneh adalah bahawa kesemua hak ahli kommiti telah dijadikan dibawah Abdur-Rahman bin Auf. Kami tidak tahu atas dasar apa Abdur-Rahman bin Auf dipilih. Adakah atas agama, reputasi, pengetahuan atau kejayaan? Yang kami pasti dia adalah kerabat terdekat Uthman dan tidak akan menyokong sesiapa melainkan dia. Ianya telah diputuskan bahawa Abdur-Rahman adalah benar, dan apabila dia memberikan bai’ah kepada sesiapa yang lain hendaklah ikut.

MENURUT NABI, ALI HENDAKLAH DIIKUTI DI DALAM MERUJUK KEPADA SEMUA YANG LAIN.

Apabila kita pertimbangkan perkara ini dengan tiliti, kami dapati ini adalah arahan diktator yang menyamar dengan nama shura. Bahkan hari ini kita lihat bahawa prinsip demokrasi sepenuhnya bertentangan dengan prinsip itu. Tetapi nabi berulang kali berkata: ‘Ali berputar sekeliling kebenaran dan kebenaran berputar keliling Ali.’ Nabi juga berkata: ‘Ali adalah ‘Faruq’ pemisah bagi ummah yang membahagikan diantara benar dan salah.’ Hakim di dalam Mustadrak, Hafiz Abu Nu’aim di dalam Hilya; Tabrani di dalam Ausat; Ibn Asakir di dalam Ta’rikh; Muhammad Bin Yusuf Ganji Shafi’i di dalam Kifayatu’t-Talib; Muhibu’d-din Tabari di dalam  Riyazu’n-Nuzra; Hamwaini di dalam Fara’id; Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha dan Suyuti di dalam Durru’l-Mansur menyampaikan dari Ibn Abbas, Salman, Abu Dharr dan Hudhaifa bahawa nabi berkata: ‘Sejurus selepas saya, kekacauan akan berlaku. Pada ketika itu adalah perlu untuk kamu berdamping dengan Ali Ibn Abi Talib, oleh kerana dia adalah orang pertama yang berjabat tangan dengan saya dihari pengadilan. Dia adalah yang paling benar dan ‘Faruq’ bagi ummah; dia membahagikan diantara yang benar dengan yang salah, dia adalah ketua bagi yang beriman.

Menurut hadith dari Ammar Yasir [yang mana saya telah rujuk dahulu dengan mendalam puncanya] nabi telah berkata: ‘Jika semua orang pergi kesatu arah dan Ali pergi kearah berlainan, kamu hendaklah mengikut Ali dan tinggalkan yang lain. Wahai Ammar! Ali tidak akan menyesatkan kamu dan tidak akan membawa kamu kepada kemusnahan. Wahai Ammar! Patuh kepada Ali adalah patuh kepada saya, dan patuh kepada saya adalah patuh kepada Allah.’

KEKEJAMAN YANG AMAT SANGAT TELAH DILAKUKAN OLEH UMAR KEPADA AMIRUL-MUKMININ.

Walaupun begitu, khalifa Umar, telah melanggar arahan nabi, menjadikan Ali dibawah Abdur-Rahman bin Auf di dalam shura. Adakah penguasaan itu betul dengan merendahkan sahabat yang terkenal? Tuan yang dihormati! Berlaku adillah! Selidiklah kejadian sejarah di era ini seperti Isti’ab, Isaba dan Hilyatu’l-Auliya. Kemudian bandingkan Ali dengan Abdur-Rahman, dan lihatlah siapa yang lebih berhak kepada undian veto dia atau Amirul-Mukminin. Kamu akan dapati melalui komplot politik hak Ali telah dirampas.

Lebih-lebih lagi, jika cara pemilihan yang diguna pakai khalifa Umar adalah wajar diikuti, iaitu Majlis-e-Shura adalah perlu untuk melantik khalifa, mengapa ianya tidak dilakukan apabila Amirul-Mukminin dijadi khalifa?

Adalah pelik bahawa untuk kedudukan bagi keempat khalifa [Abu Bakr, Umar, Uthman dan Ali] empat cara yang belainan telah diguna pakai.Sekarang cara yang mana pada asasnya adalah betul dan cara mana yang salah? Jika kamu kata kesemuanya adalah betul, maka kamu kena akui kamu tidak punya prinsip asas pada perlantikkan kedudukan khalifa.

Sheikh:                    Mungkin kenyataan kamu betul. Kamu katakan kami perlu selidikki persoalan ini. Kami dapati bahawa kedudukan khalifa Ali juga meragukan keadaannya, oleh kerana ijma yang sama yang melantik khalifa terdahulu Abu Bakr, Umar dan Uthman, ijma itu juga yang melantik Ali.

Shirazi:                    Apa yang kamu katakan mungkin boleh dipertikaikan jika ianya bukan dari kenyataan nabi. Yang sebenarnya khalifa Ali tidak bergantung kepada ijma ummah. Ianya adalah perlantikkan Allah.

KHALIFAH ALI ADALAH DIPERINTAHKAN OLEH ALLAH

Imam yang suci mengambil kedudukan khalifa adalah umpama mengambil haknya yang sah. Jika hak sesaorang telah dirampas, dia boleh mengambilnya kembali pada bila-bila masa yang dia berkesempatan melakukannya. Begitulah, apabila tidak ada rintangan dan keadaan menghendakkinya, Imam yang suci mengambil haknya.

Jika kamu telah lupa maksud yang saya telah sampaikan dahulu, kamu boleh merujuk surat khabar yang melaporkan maklumat yang saya telah bentangkan mengenai isu ini. Kami telah buktikan bahawa Ali menduduki kedudukan khalifa berasaskan ayat al-Quran dan juga hadith nabi.

Kamu tidak dapat menyebutkan satu hadith yang diterima oleh kedua golongan yang mana nabi berkata bahawa Abu Bakr, Umar atau Uthman adalah penggantinya. Sudah tentu selain dari hadith dari buku shia, terdapat juga hadith yang banyak dari nabi yang telah dirakamkan oleh buku sahih kamu, yang menunjukkan bahawa nabi secara khusus melantik Ali sebagai penggantinya.

Sheikh:                    Terdapat juga hadith yang menunjukkan bahawa nabi berkata Abu Bakr adalah juga khalifanya

Shirazi:                    Nampaknya kamu telah terlupa pada hujah saya terdahulu yang menolak penerimaan hadith tersebut. Saya akan, bagaimana pun menjawab sekali lagi malam ini. Sheikh Mujaddidu’din Firuzabadi, pengarang Qamusu’l-Lughat berkata di dalam Kitab-e-Safaru’s-Sa’adat: ‘Apa sahaja yang telah dikatakan pada memuji Abu Bakr adalah berasaskan pada cerita rekaan dimana minda yang waras tidak dapat menerimannya sebagai benar,’

Jika kamu teliti masalah kedudukan khalifa, kamu akan dapati bahawa tidak terdapat ijma yang sebenar untuk mana-mana khalifa empat yang pertama [Abu Bakr, Umar, Uthman dan Ali] atau untuk mana-mana khalifa Umayya dan Abbasid. Ummah tidak pernah berkumpul dan tidak juga diwakil berkumpul yang memberikan undian mereka.Tetapi jika dikatakan secara perbandingan, kita dapati khalifa Ali telah disokong oleh apa yang dikatakan hampir kepada ijma.

Ahli sejarah dan ulama kamu menulis bahawa untuk khalifa Abu Bakr pada mulanya hanya Umar dan Abu Ubaida Jarra, penggali kubur, yang hadir. Kemudian beberapa orang dari kaum Aus memberikan bai’ah kepadanya oleh sebab mereka ditentang oleh kaum Khazraj yang telah melantik Sa’d bin Ubaida sebagai calon. Kemudian yang lain melalui kekerasan, [sebagaimana saya telah nyatakan secara mendalam dahulu] ada kumpulan yang digerakkan oleh pertimbangan politik telah memberikan bai’ah kepada Abu Bakr. Pihak Ansar yang mengikuti Sa’d bin Ubaida tidak mengiktiraf khalifa sehingga saat terakhir.

Kemudian khalifa Umar yang telah dilantik hanya dengan cadangan Abu Bakr, dan tidak ada kena mengena dengan ijma. Uthman yang berikutnya menjadi khalifa melalui keputusan Majlis-e-shura yang telah ditubuhkan secara paksa oleh khalifa Umar.

Pada masa khalifa Ali kebanyakkan perwakilan dari kebanyakan negeri islam, dengan tidak secara langsung berada di Madina kerana hendak mencari penyelesian terhadap masalah mereka, telah mendesak Ali supaya menjadi khalifa.

Nawab:                   Adakah perwakilan dari negara islam berkumpul di Madina untuk tujuan malantik khalifa mereka?

Shirazi:                    Tidak, khalifa Uthman masih khalifa. Perwakilah dari kebanyakkan negara islam, suku kaum dan puak berkumpul di Madina untuk mengadu mengenai orang kenama Umayya, gabenor, pegawai kerajaan, orang kenamaan istana seperti Marwan dan lainnya. Keputusan dari ijma ini bahawa Uthman yang berkeras dengan polisi penindasannya telah dibunuh.

Selepas kejadian ini bahawa penduduk Madina bertemu dengan Ali dan dengan desakan membawa dia ke masjid, dimana manusia memberikan bai’ah kepadanya. Ijam yang begini terbuka telah tidak berlaku pada mana-mana khalifa yang tiga terdahulu. Penduduk Madina dan ketua negara telah memberikan bai’ah kepada orang perseorangan dan mengiktirafnya sebagai khalifa mereka.

ASAS SEBENAR KHALIFA ALI BUKAN IJMA TETAPI PENGISTIHARAN NABI.

Walaupun ijma telah diadakan untuk Amirul-Mukminin, kami tidak menganggap itu sebagai asas khalifanya. Untuk mengesahkan kedudukan khalifanya kami bergantung pada al-Quran dan juga perintah nabi. Itu adalah amalan para nabi bahawa mereka sendiri, dengan mematuhi perintah Allah, telah melantik pengganti mereka dan juga khalifa.

Kamu katakan tidak ada perbezaan diantara Amirul-Mukminin, dan khalifa yang lain. Dan bahkan terdapat banyak petunjuk bahawa adanya perbezaan yang besar diantara Ali dengan khalifa yang lain.

ALI LEBIH CEMERLANG DARI KHALIFA YANG LAIN.

Ciri pertama yang menjadikan Amirul-Mukminin lebih berwibawa dari khalifa yang lainnya adalah dia dilantik sebagai pengganti nabi oleh Allah dan rasulNya. Yang lainnya dilantik oleh sekumpulan kecil manusia. Sudah pasti khalifa yang dilantik oleh Allah dan rasulNya adalah lebih cemerlang dari mereka yang telah dilantik oleh manusia. Sifat Amirul-Mukminin yang terpuji adalah paling berpengetahuan, mulia dan wara’. Semua ulama dari ummah [melainkan sebilangan kecil Khariji dan Nasibi, dan pengikut Abu bakr] semuanya sependapat di dalam pandangan mereka bahawa selepas nabi, Ali mendahului semua yang lain di dalam pengetahuan, kemuliaan, keadilan, kebangsawanan dan kewara’an.

Di dalam menyokong fakta ini, saya telah menyebutkan dahulu beberapa hadith dan ayat al-Quran. Sekarang saya teringat beberapa hadith lagi dengan maksud ini.

HADITH NABI MENGENAI KECEMERLANGAN ALI.

Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Abu’l-Mu’ayyid Muwaffaq Ibn Ahmad Khawarizmi di dalam bab keempat Manaqib; Mir Seyyed Ali Hamadani Shafi’i di dalam Mawaddatu’l-Qurba, Hafiz Abu Bakr Baihaqi Shafi’i di dalam Sunan, dan ramai lagi telah menyampaikan dari nabi dengan perbezaan perkataan dan versinya sedikit, bahawa dia berlata: ‘Ali diantara kamu adalah yang paling terpelajar, yang paling mulia dan yang pengadil yang terbaik. Sesiapa yang menolak kenyataannya, amalannya atau pendapatnya, sebenarnya telah menolak saya. Sesiapa yang menolak saya, telah menolak Allah, dan dia di dalam lingkungan yang kafir.’ Labih lagi, Ibn Abil-Hadid ulama kamu yang terkenal telah menulis dibeberapa tempat di dalam Sharh-Nahjul-Balagha bahawa cemerlangnya Amirul-Mukminin Ali telah diakui oleh ramai para sahabat dan pengikut. Sheikh dari Baghdada juga mengakuinya.

Sila beritahu kami apa yang kamu pertimbangkan di dalam kemuliaan sesaorang yang menjadikan dia lebih cemerlang dari yang lain?

Sheikh:                    Sebenarnya terdapat banyak kemuliaan dan kualiti yang terpuji yang boleh dikatakan cemerlang dari yang lain, tetapi pendapat saya kualiti yang paling menyinar selepas percaya kepada Allah dan nabiNya adalah [1] keturunan yang suci [2] pengetahuan [3] wara’

Shirazi:                    Allah merahmati kamu! Saya akan hadkan perbincangan pada tiga tujuan ini.

Sebenarnya setiap sahabat, sama ada dia khalifa atau tidak, mempunyai kualiti baik tertentu. Tetapi mereka yang memilikki semua kemuliaan ini sudah pastinya lebih cemerlang dari yang lain semua. Jika saya buktikan ketiga ciri-ciri ini terdapat pada Amirul-Mukminin yang melebihi dari yang lain, maka kamu hendaklah mengakui orang yang suci ini adalah lebih berhak kepada tuntutan khalifa. Dan jika dia dihalang dari kedudukan tersebut, itu adalah disebabkan oleh helah politik.

KETURUNAN ALI YANG SUCI.

Di dalam perkara keturunan dengan pengecualian nabi, tiada siapa yang boleh dibandingkan dengan Ali. Bahkan sebahagian dari ulama yang fanatik seperti Ala’u’d-din Mulla Ali Bin Muhammad Ushji, Abu Uthman Amr Bin Bahr Jahiz Nasibi, dan Sa’idu’d-din Mas’ud Bin Umar Taftazani telah berkata: ‘Kami amat kagum pada perkataan Ali yang mengatakan, ‘Kami adalah ahli bayt nabi. Tiada siapa dapat dibandingkan dengan kami.’

Juga di dalam syarahan kedua Nahjul-Balagha Imam yang suci selepas menerima kedudukan khalifa berkata: ‘Tiada  siapa dari ummah ini boleh dibandingkan dengan kelurga Muhammad. Bagaimana mungkin mereka [ummah] yang menerima rahmat, pengetahuan dan kebajikan dari mereka [ahli bayt] sama dengan mereka [ahli bayt]? Mereka adalah pengasas bagi agama dan tiang bagi keimanan. Mereka [ummah] yang menyimpang dari jalan yang benar berpaling kepada mereka [ahli bayt], dan mereka [ummah] yang tertinggal dibelakang, cepatlah maju untuk berdampingan dengan mereka [ahli bayt] Hanya mereka sahaja yang mempunyai hak yang khusus pada Imami dan wazir. Hanya untuk mereka sahaja yang nabi membuat wasiat. Mereka adalah pewaris nabi yang sebenar. Sekarang hak sebenar telah dipulangkan kepada penuntut hak yang sah dan telah sampai ditempat yang dimana ianya telah dipindahkan.’

Kenyataan Amirul-Mukminin mengenai tuntutannya pada kedudukan khalifa adalah bukti yang terbaik menunjukkan haknya pada kedudukan itu.

Tetapi kata-kata ini tidak dinyatakan oleh Amirul-Mukminin sahaja. Bahkan penentangnya juga telah mengakui perkara yang sama. Saya telah tunjukkan pada malam yang lalu bahawa Mir Seyyed Ali Hamdani mengatakan di dalam Mawaddatu’l-Qurba Mawadda 7, dari Abi Wa’il, yang mengatakan bahawa Abdullah Bin Umar berkata, ‘Di dalam menunjukkan para sahabat nabi, kami sebutkan nama Abu Bakr, Umar dan Uthman. Seorang bertanya dimana nama Ali. Kami katakan, ‘Ali tergolong di dalam ahli bayt nabi, dan tiada siapa yang boleh dibandingkan dengan dia; dia adalah bersama dengan nabi Allah pada kedudukan.’

Juga dia mengatakan dari Ahmad Bin Muhammad Kurgi Baghdadi, yang berkata bahawa Abdullah Bin Ahmad Hanbal berkata mengenai sahabat yang layak dipuji, dia namakan Abu Bakr, Umar dan Uthman. Dia kemudian ditanya apakah pendapatnya mengenai Ali Ibn Abi Talib. Ahmad bin Hanbal berkata, ‘Dia tergolong di dalam ahli bayt. Yang lain tidak boleh dibandingkan dengan dia.’

Mengenai keturuan Ali, ianya mempunyai dua aspek, satu dari cahaya dan satu lagi bagi jasad. Maka dalam aspek ini Ali mempunyai kedudukan yang unik selepas nabi Allah.

KEJADIAN ALI DARI CAHAYA DAN PENYATUANNYA DENGAN NABI.

Dari sudut pandangan cahaya, Amirul-Mukminin menduduki tempat yang pertama, sebagaimana banyak dari ulama kamu telah katakan. Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Mir Seyyed Ali Hamdani Faqih Shafi’i di dalam Mawaddatu’l-Qurba; Ibn Maghazili Shafi’i di dalam Manaqib dan Muhammad Bin Talha Shafi’i di dalam Matalibu’s-Su’ul Fi Manaqib-e-alu’r-Rasul menyampaikan dai nabi yang berkata, ‘Saya dan Ali Ibn Abi Talib adalah dari cahaya yang sama di hadrat Allah 14 000 tahun sebelum kajadian Adam. Apabila Allah menjadikan Adam, Dia meletakkan cahaya ini pada tempat peranakkan Adam. Kami tinggal kekal bersama sebagai satu cahaya sehingga kami dipisahkan ditempat peranakan Abul-Muttalib. Kemudian saya dianugerahkan dengan kenabian dan Ali dengan khalifa.’

Mir Seyyed Ali Hamdani Faqih Shafi’i di dalam Mawaddatu’l-Qurba, Mawadda VII, menyebutkan perkara ini. ‘Ali dan nabi adalah dari cahaya yang sama. Ali telah dianugerahkan dengan kualiti yang mana tidak diberikan kepada semua manusia yang lain di dalam dunia ini.’

Diantara hadith yang telah dirakamkan di dalam Mawadda ini, terdapat kenyataan dari khalifa ketiga Uthman bin Affan, yang berkata bahawa nabi telah berkata, ‘Saya dan Ali telah dijadikan dari satu cahaya 4 000 tahun sebelum di jadikan Adam. Apabila Allah menjadikan Adam, Dia memasukkan cahaya ini ditempat peranakan Adam. Kami tinggal sebagai satu cahaya sehingga kami dipisahkan ditempat peranakan Abdul-Muttalib. Kemudian saya dianugerahkan dengan kenabian dan Ali dengan wazir.’

Di dalam hadith yang lain dia menulis bahawa nabi, kepada Ali dia berkata, ‘Maka kenabian dan kerasulan datang kepada saya. Wazir dan Imami datang kepada kamu, Ali.’

Hadith yang sama telah disampaikan oleh Ibn Abi’l-Hadid Mu’tazali di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha, jilid II, ms 450 (dicetak di Egypt) dari pengarang buku Kitab-e-Firdaus. Juga Sheikh Sulayman Balkhi di dalam Yanabiu’l-Mawadda, bahagian I, menyatakan dari Jam’u’l-Fawa’id, Manaqib oleh Ibn Maghazili Shafi’i, Firdaus oleh Dailami, Fara’idu’s-Simtain oleh Hamwaini dan Manaqib oleh Khawarizmi, dengan sedikit perbezaan pada perkataan tetapi tidak pada maksud, bahawa nabi Muhammad dan Ali telah dijadikan dari cahaya ribuan tahun sebelum kejadian cakrawala dan kedua mereka adalah dari satu cahaya sehingga mereka dipisahkan dari satu sama lain pada tempat peranakan Abdul-Muttalib. Satu bahagian pada tempat peranakan Abdullah dan melaluinya nabi telah dilahirkan. Yang satu lagi telah ditempatkan ditempat peranakan Abu Talib dan melaluinya Ali dilahirkan. Muhammad telah dipilih sebagai nabi dan Ali sebagai wazir, sebagaimana telah dinyatakan oleh nabi sendiri.

Abu’l-Mu’ayyid Mu’affaq Bin Ahmad Khawarizmi dan ramai yang lain lagi telah nyatakan dari punca yang dipercayai bahawa nabi telah berkata, ‘Saya dan Ali telah dilahirkan dari satu cahaya,. Kami tinggal bersama sehingga kami sampai ketempat peranakan Abdul-Muttalib dimana kami berpisah.’

Setelah saya selesai dari pembahasan yang pertama, yang telah membebani pikiran dan jiwa saya, dan menjadikan diri saya hidup dalam suasana bertarung dengan hati nurani, di satu sisi, dan dengan teman-teman dan dosen saya di kampus, di sisi yang lain, akhirnya saya cukup puas untuk bisa meragukan matahari namun tidak bisa meragukannya. Kesimpulan dari pembahasan saya, sebagaimana yang telah saya jelaskan ialah wajibnya mengikuti Ahlul Bait dan meng-ambil agama dari mereka. Inilah kepuasan pertama saya setelah berjalan beberapa waktu. Namun saya belum mampu menentukan sikap dan memilih mazhab saya meski pun hati nurani saya mendesak saya untuk mengikuti mazhab Syi’ah, dan meski pun keluarga dan teman-teman saya telah menyebut saya orang Syi’ah. Banyak dari mereka yang memanggil saya sebagai orang Syi’ah, dan bahkan sebagian dari mereka memanggil saya sebagai pengikut Khomeini! Padahal saat itu saya belum menentukan sikap saya. Saya tidak ragu dengan apa yang telah saya capai, namun hawa nafsu yang senantiasa menyuruh kepada keburukan ini selalu menahan saya dan meniupkan keragu-raguan kepada diri saya:

Bagaimana Anda dapat meninggalkan agama yang telah Anda dapati pada orang-orang tua Anda?!

Apa yang dapat Anda perbuat bersama kelompok yang jauh berbeda dengan keyakinan-keyakinan Anda?!

Anda ini siapa, sehingga sampai ke sini?! Apakah Anda melupakan ulama-ulama besar?! Dan bahkan mayoritas kaum Muslimin?!

Dan, beribu-ribu pertanyaan dan keragu-raguan lainnya yang kebanyakannya tidak mampu mengalahkan dan menghentikan saya, namun terkadang mampu merusak pikiran dan nurani saya. Demikian seterusnya, terjadi tarik ulur, sehingga menimbulkan keresahan dan kegelisahan pada diri saya. Tidak ada tempat pelarian, tidak ada teman dan tidak ada orang dekat tempat mencurahkan keluh kesah hati.

Maka mulailah saya mencari buku-buku yang membantah Syi’ah, mudah-mudahan dapat membebaskan saya dari keadaan yang sedang saya alami dan dapat menjelaskan hakikat-hakikat yang mungkin luput dari pandangan saya. Orang-orang Wahabi mencukupi saya dengan mengumpulkan buku-buku. Imam salat jamaah di mesjid desa kami mendatangkan seluruh buku yang saya minta.

Setelah mempelajari buku-buku itu justru semakin bertambah keresahan dan kegelisahan saya, dan saya tidak mendapati di dalamnya apa yang saya inginkan. Karena buku-buku itu kosong dari objektifitas dan dialog-dialog yang logis.

Seluruh isinya hanya berisi caci maki, pelaknatan, sumpah serapah dan kebohongan. Pada awalnya, buku-buku itu dapat menciptakan hijab bagi saya, namun setelah pengaruh propagandanya dilepas maka tampak di hadapan saya buku-buku itu lebih rapuh dibandingkan sarang laba-laba.

Setelah itu saya pun bertekad untuk meneruskan pengkajian saya, meski pun saya telah merasa cukup dengan apa yang telah saya capai pada pengkajian pertama, untuk membendung bujukan-bujukan diri saya, dan sekaligus untuk melihat kebenaran dengan lebih jelas. Maka pilihan saya jatuh kepada pembahasan mengenai dalil-dalil kepemimpinan Imam Ali as dan nas-nas yang menunjukkan keimamahannya. Di dalam benak saya terdapat sekumpulan dalil yang dapat memenuhi tujuan ini, meski pun itu hanya cukup bagi orang yang mempunyai akal yang bersih dan hati yang jernih. Namun, saya menginginkan sebuah pembahasan pemutus, antara apakah saya akan menjadi seorang Ahlus Sunnah yang meyakini kekhilafahan Abu bakar, Umar dan Usman, atau akan menjadi seorang Syi’ah yang meyakini keimamahan Imam Ali as.

Setelah melakukan pembahasan, tiba-tiba saya mendapati diri saya tidak mampu —bahkan hingga sekarang— mengumpulkan, menghitung dan mempelajari seluruh dalil, baik yang naqli maupun yang akli, yang mengatakan dengan jelas akan keimamahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, dengan jelas di dalam penunjukkannya dan sebagiannya lagi memerlukan mukaddimah yang panjang.

Apa yang saya tulis di dalam pasal ini adalah merupakan cuplikan-cuplikan ringkas, dan itu dilakukan dengan tujuan untuk menjaga keringkasan dan mendorong pembahasan. Menurut keyakinan saya, itu sudah cukup setelah ditambah penjelasan dan penjabaran.

A. Firman Allah SWT yang berbunyi,

“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang yang beriman yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan ruku.”

(QS. al-Maidah: 55)

Bentuk Argumentasi Dari Ayat Ini

Ayat ini akan menjadi jelas berbicara tentang kepemimpinan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as jika terbukti bahwa yang dimaksud dari firman Allah SWT “Orang yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan ruku” adalah Imam Ali as, dan juga jika terbukti bahwa yang dimaksud dengan kata “wali” di sini ialah berarti orang yang lebih berhak mengatur.

Referensi-Referensi Yang Membuktikan Ayat Ini Turun Kepada Imam Ali as.

Telah sampai tingkatan mutawatir riwayat-riwayat kedua belah pihak yang mengatakan bahwa ayat ini turun kepada Rasulullah saw khusus berkenaan dengan Imam Ali as yang mensedekahkan cincinnya tatkala dalam keadaan ruku. Berita ini telah diriwayatkan oleh sekumpulan besar para sahabat. Di antaranya ialah:

1.    Abu Dzar al-Ghifari. Sekumpulan para huffadz telah meriwayatkan berita ini darinya, seperti,

a.   Abu Ishaq Ahmad bin Ibrahim ats-Tsa’labi di dalam kitab tafsir al-Kasyfwa al-bayan ‘an Tafsir al-Qur’an.

b.   Al-Hafidz al-Kabk al-Hakim al-Hiskani di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 177, terbitan Beirut.

c.  Cucu Ibnu Jauzi, di dalam kitab at-Tadzkirah, halaman 18.

d.   Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani, di dalam kitab al-Kaff asy-Syaf, halaman 56.

e.   Dan yang lainnya dari kalangan para huffadz dan muhaddis.

2.    Miqdad bin Aswad. Al-Hafidz al-Hiskani meriwayatkan darinya di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 171, terbitan Beirut.

3.    Abu Rafi’ al-Qibthi, budak Rasulullah saw. Sekumpulan orang- orang berilmu meriwayatkan darinya, seperti,

a.   Al-Hafidz Ibnu Mardawaih, di dalam kitab al-Fadha’il.

b.   Al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi, di dalam kitab tafsir ad-Durr al-Mantsur.

c. Muhaddis al-Muttaqi al-Hindi, di dalam kitab Kanz al-‘Ummal, jilid 1, halaman 305 dan seterusnya.

4.    Ammar bin Yasir. Orang-orang yang telah mengeluarkan riwayat ini darinya ialah,

a.   Muhaddis Kabir ath-Thabrani, di dalam kitab Mu’jamah al- Awsath.

b.   Al-Hafidz Abu Bakar bin Mardawaih, di dalam kitab al-Fadha’il.

c.   Al-Hafidz al-Hiskani, di dalam kitab Syawahid at-Tanzil.

d.   Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani, di dalam kitab al-Kaff asy-Syaf, halaman 56, dari ath-Thabrani dan Ibnu Mardawaih.

5.    Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Adapun orang-orang yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah,

a.   Al-Hakim an-Naisaburi, al-Hafidz al-Kabir, di dalam kitab Ma’rifah ‘Ulum al-Haditz, halaman 102, terbitan Mesir, tahun 1937.

b.   Al-Hafidz Ibnu al-Maghazili asy-Syafi’i, di dalam kitab al-Managib, halaman 311.

c.   Al-Hafidz al-Hanafi al-Khawarizmi di dalam kitab al-Manaqib, halaman 187.

d.   Al-Hafidz Ibnu ‘Asakir ad-Dimasyqi (Tarikh Dimasyq), jilid 2, halaman 409.

e.   Al-Hafidz Ibnu Katsir ad-Dimasyqi, di dalam kitab al-Bidayah wa an-Nihayah, jilid 7, halaman 357.

f.    Al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqalani, di dalam kitab al-Kaff asy-Syaf fi Takhrij Ahadits al-Kasysyaf, halaman 56, terbitan Mesir.

g.   Muhaddis al-Muttaqi al-Hindi, di dalam kitab Kanz al- ‘Ummal, jilid 15, halaman 146, bab keutamaan Ali as.

6.    Amr bin Ash. Adapun orang-orang yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah al-Hafidz Akhthab Khawarijmi al-Hafidz Abu al- Muayyad, di dalam kitab al-Manaqib, halaman 128.

7.    Abdullah bin Salam. Adapun yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah Muhibuddin ath-Thabari, di dalam kitab Dzakha’ir al-‘Ugba, halaman 201; dan kitab ar-Riyadh an-Nadhirah, jilid 2, halaman 227.

8.    Abdullah bin Abbas. Adapun yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah,

a.   Ahmad bin Yahya al-Baladzari, di dalam kitab Ansab al-Asyraf, jilid 2, halaman 150, terbitan Beirut, diperiksa oleh Mahmudi.

b.   Al-Wahidi, di dalam kitab Asbab an-Nuzul, halaman 192, cetakan pertama, tahun 1389, diperiksa oleh Sayyid Ahmad ash-Shamad.

c.   Al-Hakim al-Hiskani, di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 18.

d.   Ibnu al-Maghazili asy-Syafi’i, di dalam kitab al-Manaqib, halaman 314, diperiksa oleh Mahmudi.

e.   Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, di dalam kitab al-Kaff asy-Syaf fi Takhrij Ahadits al-Kasysyaf, cetakan Mesir.

f.    Jalaluddin as-Suyuthi.

9.    Jabir bin Abdullah al-Anshari. Di antara orang-orang yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah Al-Hakim al-Hiskani, di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 174.

10. Anas bin Malik, pembantu Rasulullah saw. Adapun orang yang mengeluarkan riwayat ini darinya ialah,

a.  Al-Hafidz al-Hiskani, di dalam kitab asy-Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 145.

b.   Muhaddis al-Kabir al-Hamawi al-Juwaini al-Khurasani, di dalam kitab Fara’idh as-Simthain, jilid 1, halaman 187.

Dari riwayat yang banyak ini kita memilih riwayat yang diriwayatkan oleh Abu Dzar, sebuah riwayat yang panjang yang dikeluarkan oleh al-Hakim al-Hiskani dengan sanadnya di dalam kitab Syawahid at-Tanzil, jilid 1, halaman 177, terbitan Beirut.

Abu Dzar berkata, “Wahai manusia, barangsiapa yang mengenalku maka berarti dia telah mengenalku, dan barangsiapa yang tidak mengenalku maka inilah aku Jundub bin Janadah al-Badri Abu Dzar al-Ghifari. Aku telah mendengar Rasulullah saw dengan kedua telingaku ini, dan jika tidak maka tulilah kedua telingaku ini. Aku telah menyaksikan beliau dengan kedua mataku ini, dan jika tidak maka butalah kedua matakku ini. Yaitu Rasulullah saw telah bersabda, ‘Ali adalah pemimpin kelompok orang-orang yang lurus. Pejuang yang memerangi kaum yang kafir. Jayalah siapa yang membantunya. Hinalah siapa yang menelantarkan dukungan baginya.’ Suatu hari aku salat Zhuhur bersama Rasulullah saw, lalu masuklah ke dalam mesjid seorang peminta-minta, namun tidak ada seorang pun yang memberi kepadanya. Kemudian peminta-minta itu mengangkat tangannya ke langit seraya berkata, ‘Ya Allah, saksikanlah, aku meminta-minta di mesjid Rasulullah saw namun tidak seorang pun yang memberi sesuatu kepadaku.’ Pada saat itu Ali sedang salat dalam keadaan ruku, lalu dia memberi isyarat dengan jari manis tangan kanannya yang bercincin. Pengemis itu lalu menghampirinya dan menarik cincin itu dari jari Ali. Rasulullah saw menyaksikan hal itu, dan setelah menyelesaikan salatnya Rasulullah saw mengangkat kepalanya ke langit seraya berkata,

‘Ya Allah, sesungguhnya Musa telah memohon kepadamu. Dia berkata, ‘Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku: Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami dapat banyak bertasbih kepada-Mu dan banyak mengingat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui keadaan kami.’

Maka Engkau telah wahyukan kepadanya ‘Kami teguhkan lenganmu dengan saudaramu.’

Dan aku ini, Ya Allah, adalah hamba dan Nabi-Mu. Lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku: Ali, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku …'”

Abu Dzar berkata, “Demi Allah, belum sampai Rasulullah saw menyelesaikan ucapannya itu, Jibril al-Amin turun dari sisi Allah SWT. Jibril al-Amin berkata, ‘Ya Muhammad, selamat, atas apa yang telah Allah anugrahkan untukmu tentang saudaramu.’ Rasulullah saw bertanya, ‘Apa itu, ya Jibril?’

Jibril menjawab, ‘Allah SWT telah memerintahkan umatmu untuk menjadikannnya sebagai pemimpin hingga hari kiamat, dan menurunkan kepadamu,

‘Sesungguhnya wali (pemimpin) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku.'”

(QS. Al Maidah [5] : 55)

Riwayat ini datang dengan berbagai macam redaksi, namun pada kesempatan ini kita hanya membatasi dengan riwayat ini saja, karena ini pun sudah cukup untuk menjelaskan permasalahan.

Ini merupakan keutamaan yang tidak ada seorang pun bersekutu dengan Amirul Mukminin di dalamnya. Kita tidak mendapati seorang pun di dalam sejarah yang mengklaim dirinya telah mengeluarkan zakat dalam keadaan ruku. Ini sudah merupakan hujjah yang cukup dan petunjuk yang jelas bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah Amirul Mukminin, tidak yang lainnya.

Terkadang sebagian kalangan berusaha meragukan apa yang disebutkan di dalam ayat ini, dan tentang penisbahannya kepada Amirul Mukminin, dengan menggunakan argumentasi-argumentasi yang tidak berdasar. Sebagai contoh, Anda mendapati al-Alusi memalingkan makna ruku kepada maknanya yang bukan zahir. Dia berkata, “Yang dimaksud dengan ruku (di dalam ayat ini) ialah khusyuk.” Ini adalah sebuah upaya penakwilan yang tidak dapat diterima. Karena tidak ada petunjuk yang memalingkan makna hakiki yang zahir di dalam ayat —yaitu ruku yang mempunyai gerakan yang telah ditentukan. Pernah suatu hari saya berdiskusi dengan sekelompok teman-teman saya di kampus tentang ayat ini. Setelah saya buktikan kepada mereka bahwa ayat ini turun kepada Amirul Mukminin as, salah seorang dari mereka menyanggah,

“Jika memang terbukti ayat ini turun kepada Ali maka berarti ayat ini juga membuktikan kekurangan Ali?”

Saya bertanya kepadanya, “Bagaimana bisa begitu?”

Dia menjawab, “Karena yang demikian itu menunjukkan ketidakkhusyukannya di dalam salat. Karena jika tidak, bagaimana bisa dia mendengar perkataan peminta-minta dan kemudian menjawabnya? Karena para ahli ibadah dan orang-orang yang bertakwa tidak menyadari orang-orang yang ada di sekelilingnya pada saat mereka sedang menghadap Allah SWT.”

Saya katakan, “Ucapan Anda tidak bisa diterima, berdasarkan petunjuk ayat ini sendiri. Karena salat itu untuk Allah, dan begitu pula ketundukkan dan kekhusyukan. Sementara Allah SWT telah mengabarkan kita bahwa Dia menerima salat ini, dan bahkan dengan salat ini Dia menetapkan kepemimpinan bagi pelakunya. Kedudukan pujian tampak jelas terlihat di dalam konteks ayat ini, baik yang bersedekah itu Ali atau pun yang lainnya. Jika Anda mempunyai kritikan terhadap kekhusyukan Ali, maka terlebih lagi Anda mempunyai kritikan terhadap Al-Qur’an.”

Ayat ini jauh lebih kokoh dan akurat dibandingkan peragu-raguan yang dilontarkan para peragu. Ayat ini jelas menunjukkan kepada keimamahan Amirul Mukminin, dan pembuktian tentang keimamahan Amirul Mukminin adalah termasuk perkara yang amat jelas di dalam Al-Qur’an. Saya pernah mengatakan ini kepada sebagian teman, namun salah seorang dari mereka menantang,

“Coba sebutkan satu ayat yang mendukung pengakuan Anda.”

Saya jawab, “Sebelum itu marilah kita coba untuk melihat apa yang telah dikatakan Rasulullah saw tentang Ali as. Bukhari telah meriwayatkan di dalam sahihnya bahwa Rasulullah saw telah berkata kepada Ali, ‘Kedudukanmu di sisiku tidak ubahnya sebagaimana kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi sepeninggalku.’ [1]

Dari sini tampak bahwa semua yang dimiliki Harun juga dimiliki Ali as. Ali as memiliki keimamahan, kekhilafahan, kewaziran dan yang lainnya, kecuali kenabian, sebagaimana Harun.”

Mereka semua marah seraya mengatakan,”Dari mana Anda dapatkan ini?! …”

Saya katakan, “Sebentar, apa kedudukan Harun di sisi Musa? Bukankah Musa sendiri telah berkata, ‘Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku: Harun, saudaraku. Teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku.'”

Mereka berkata, “Kami belum pernah mendengarnya, mungkin ayat itu tidak berbunyi demikian….!” Saya merasakan kefanatikan dan kekeraskepalaan mereka. Saya berkata dengan penuh keheranan akan keadaan mereka, “Sesungguhnya ini perkara yang jelas sekali, yang tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.”

Salah seorang dari mereka berkata, “Kenapa berbelit-belit. Ini Al-Qur’an ada di hadapan Anda… Coba tunjukkan ayat itu, jika kamu benar.”

Di sini saya gemetar, karena saya lupa sama sekali di dalam surat apa dan di dalam juz berapa ayat ini terdapat. Setelah beberapa saat, saya memberanikan diri sambil mengucapkan di dalam hati “Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad” (ya Allah, sampaikanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad), lalu saya membuka Mushaf Al-Qur’an secara acak.

Pandangan pertama mata saya jatuh kepada ayat, “Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, mudahkanlah untukku urusanku …. dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku.”

Keharuan mencekik tenggorokan saya, sementara air mata mengalir di kedua pipi saya. Saya tidak bisa membacakan ayat karena sangat paniknya, lalu saya pun menyerahkan Mushaf yang terbuka sambil menunjukkan ayat yang dimaksud kepada mereka. Mereka semua tercengang karena sangat kagetnya.

Penunjukkan Ayat “Sesungguhnya Wali (pemimpin) kamu hanyalah Allah … ” Terhadap Kepemimpinan Amirul Mukminin as

Setelah terbukti pada pembahasan pertama bahwa ayat di atas turun kepada Imam Ali as, maka arti ayat di atas menjadi “Sesungguhnya wali (pemimpin) kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan Ali bin Abi Thalib.”

Tidak ada seorang pun yang dapat mengkritik, kenapa Allah berbicara kepada seorang individu dengan menggunakan dhamir (kata ganti) bentuk jamak?!

Karena yang demikian itu sesuatu yang dibolehkan di dalam bahasa Arab. Dengan demikian, penggunaan bentuk jamak di dalam ayat ini adalah untuk penghormatan. Banyak sekali bukti-bukti yang mendukung hal ini, seperti firman Allah SWT yang berbunyi, “Orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah fakir sedangkan kami orang-orang kaya.'” Orang yang berkata di sini ialah Huyay bin Akhthab. Juga seperti firman Allah SWT yang berbunyi, “Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, ‘Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.'”(Surat at-Taubah: 61) Ayat ini turun berkenaan dengan seorang laki-laki dari kalangan orang-orang munafik; apakah itu al-Jalas bin Sawilah, Nabtal bin al-Harts atau ‘ltab bin Qusyairah. Silahkan rujuk tafsir ath-Thabari, jilid 8, halaman 198.

Setelah itu barulah pembahasan mengenai arti kata “wali”.

Syi’ah berpendapat bahwa kata “wali” di dalam ayat ini adalah berarti orang yang paling berhak dalam bertindak. Sehingga kata “wali amril Muslimin” atau kata “wali amris sulthan” adalah berarti orang yang paling berhak bertindak di dalam urusan mereka.

Oleh karena itu, Syi’ah mengatakan wajibnya mengikuti Amirul Mukminin Ali as, karena dia orang yang paling berhak bertindak dalam urusan kaum Muslimin. Sesuatu yang menunjukkan kepada makna ini ialah bahwa Allah SWT telah menafikan kita memiliki “wali” selain Dia, selain Rasul-Nya dan selain “orang-orang yang beriman yang mengerjakan salat dan menunaikan zakat dalam ke-adaan ruku” dengan kata innama (hanya saja). Jika yang dimaksud dengan kata “wali” adalah penolong di dalam agama maka tentu tidak dikhususkan bagi orang-orang yang disebutkan. Karena penolong di dalam agama adalah mencakup seluruh orang-orang Mukmin. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang Mukimin laki-laki serta orang-orang Mukmin perempuan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian mereka yang lain.” Dengan demikian, maka takhshish (peng-khususan) menunjukkan kepada satu bentuk wilayah yang berbeda dari wilayah orang-orang Mukimin, di antara sebagian mereka dengan sebagian mereka yang lain.

Tidak mungkin sesuatu yang dimaksud dari kata-kata “orang-orang yang beriman yang mengerjakkan salat dan menunaikan zakat dalam keadaan ruku ” itu orang-orang Mukmin secara umum, melainkan khusus imam Ali, dengan dalil kata innama yang memberikan arti pengkhususan, sehingga menafikan orang-orang Mukmin yang lain, di samping hadis-hadis sebelumnya yang menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib. Sifat yang disebutkan di dalam ayat, “mereka memberi zakat dalam keadaan ruku ” tidak klop pada seorang pun dan tidak ada seorang pun yang mengklaimnya selain Amirul Mukminin. Dialah yang memberikan zakat dalam keadaan ruku. Karena kata-kata “wahum raki’un” adalah merupakan hal bagi kata-kata “yu’tunaz zakat”. Adapun ruku adalah sebuah gerakan yang khusus, sehingga usaha memalingkan ruku dari makna hakikinya adalah merupakan satu bentuk pentakwilan yang tidak berdasar. Karena, di dalam ayat di atas tidak terdapat pe-tunjuk yang memalingkan ruku dari makna hakikinya. Demikian juga, kata-kata “wahum raki’un” tidak boleh di-athaf-kan kepada kata-kata sebelumnya, karena kata salat telah disebutkan sebelumnya. Ibadah salat mencakup ruku, maka oleh karena itu penyebutan kata ruku sesudah penyebutan kata salat di sini adalah merupakan hal (keadaan pada saat sebuah perbuatan dilakukan —penerj.), di samping kesepakatan umat juga menyebutkan bahwa Ali memberikan zakat dalam keadaan ruku, sehingga dengan begitu ayat di atas dikhususkan untuk Ali. Al-Qusyaji telah menukil —di dalam kitabnya Syarih at-Tajrid— dari para mufassir yang mengatakan mereka sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali pada saat Ali memberi sedekah dalam keadaan ruku. Demikian juga Ibnu Syahrasyub telah menukil yang demikian di dalam kitabnya al-Fadha’il. Dia mengatakan di dalam mukaddimah kitabnya itu sebagai berikut,

“Umat sepakat bahwa ayat ini turun kepada Amirul Mukminin.[2]Dan begitu juga hadis-hadis yang mendukung pendapat ini telah mencapai derajat mutawatir. Sayyid Hasyim al-Bahrani telah menukil di dalam kitabnya Ghayah al-Muram dua puluh empat hadis dari jalan Ahlus Sunnah yang mengatakan bahwa ayat ini turun kepada Ali, dan juga sembilan belas hadis dari jalan Syi’ah.”

Jika ayat ini khusus kepada Amirul Mukminin maka tentu maksud dari kata “wali” di sini bukanlah wilayah dalam arti umum, yaitu penolong dan pecinta, melainkan wilayah dalam arti khusus, yaitu orang yang paling berhak dalam bertindak. ‘Allamah al-Mudzaffar telah berkata tentang hal ini, “Jika yang dimaksud dengan kata wali adalah penolong, maka pembatasan penolong kepada Allah, Rasul-Nya dan Ali tidaklah dapat dibenarkan kecuali dengan melihat kepada salah satu di antara dua sisi: Yang pertama, bahwa pertolongan mereka (Allah, Rasul-Nya dan Ali) kepada orang-orang Mukmin mencakup tindakan dalam urusan mereka (orang-orang Mukmin), maka ini berarti kembali kepada makna yang dimaksud. Adapun yang kedua, bahwa pertolongan yang lain kepada orang-orang Mukmin, semuanya dinisbahkan kepada pertolongan mereka (Allah, Rasul-Nya dan Ali), maka di sini tercapai pula apa yang dimaksud. Karena itu termasuk keharusan dari pertolongan menyeluruh kepada orang-orang Mukmin.” [3]

Dengan demikian, terbuktilah bahwa wilayah Allah, Rasul-Nya dan “orang-orang yang beriman” —yaitu Ali— adalah wilayah dari jenis yang sama, yaitu wilayah yang berarti “hak bertindak”. Adapun dalil yang menunjukkan kepada hal ini ialah penggunaan kata yang sama bagi semua tingkatan.

Karena, jika artinya tidak sama maka tentu akan menimbulkan kekaburan maksud, dan tentunya Allah SWT tidak akan mungkin menyesatkan para hamba-Nya. Karena jika Allah SWT menghendaki arti lain bagi wilayah Amirul Mukminin, tentunya lebih sesuai jika wilayah Amirul Mukminin disebutkan secara terpisah, untuk menghilangkan kesamaran. Sebagaimana yang dilakukan di dalam ayat yang lain, “Taatilah Allah dan taatilah Rasul”. Di dalam ayat ini penyebutan kata “taat” diulang. Atas dasar-dasar inilah maka Amirul Mukminin layak menjadi imam orang-orang bertakwa dan pemimpin orang-orang Mukmin.

B. Ayat Tabhg, Nas Jelas Tentang Kepemimpinan

Allah SWT berfirman,

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah memeliharamu dari (gangguan) manusia.”

(QS. Al-Maidah [5]: 67)

Ayat ini turun untuk menerangkan keutamaan Amirul Mukminin as di Ghadir Khum, sebagaimana yang telah diisyaratkan di dalam hadis Zaid bin Arqam di dalam Sahih Muslim.

Pada mulanya saya berpikir cukup mengisyaratkan saja peristiwa ini, sebab sedemikian jelas bagi orang yang membaca kitab-kitab hadis dan kitab-kitab sejarah. Akan tetapi, saya teragitasi oleh seorang penulis Sudan —yaitu Insinyur Shadiq Amin— yang menyerang dan mengecam Syi’ah di surat kabar Sudan (berita terakhir). Dia mengatakan di dalam tulisannya, “Pada hakikatnya, sesungguhnya peristiwa yang diriwayatkan oleh kitab-kitab Syi’ah yang berkenaan dengan Ghadir Khum ini …, dan demikianlah para ulama Syi’ah secara terus menerus selalu menyebut (khurafat) ini, yang terhitung sebagai pilar dasar mazhab Syi’ah …”

Saya tidak tahu apakah ini memperlihatkan kebodohan akan sejarah atau memperlihatkan kebencian terhadap Imam Ali as dan pengingkaran terhadap keutamaan-keutamaannya?! Peristiwa ini amat jelas, sehingga memenuhi buku-buku sejarah.

Bagaimana peristiwa ini luput dari penglihatan insinyur ini?!

Yang jelas, dia tidak membebani dirinya untuk menutup kedua matanya, lalu mengambil kitab hadis atau kitab sejarah Ahlus Sunnah mana saja, dan kemudian membacanya. Jika dia tidak menemukan peristiwa itu di dalam kitab yang dibacanya maka barulah dia berhak untuk menisbahkan buku tersebut kepada kitab-kitab Syi’ah, atau menamakannya sebagai khurafat.

Al-Ghadir Dalam Referensi-Referensi Islam

Hadis al-Ghadir termasuk hadis yang paling mutawatir. Para perawinya dari kalangan sahabat mencapai seratus sepuluh orang sahabat. ‘Allamah al-Amini telah menghitung mereka beserta kitab-kitab yang telah mengeluarkan riwayat-riwayatnya, di dalam kitabnya al-Ghadir, jilid 1, halaman 14 sampai halaman 61.

Sangat panjang kiranya sekiranya kami menyebutkan nama-nama mereka dan buku-buku Ahlus Sunnah yang mengeluarkan hadis-hadis mereka pada kesempatan sekarang ini.

Adapun para perawainya dari kalangan tabi’in mencapai delapan puluh empat orang perawi, sebagaimana di sebutkan di dalam kitab al-Ghadir, halaman 62 sampai halaman 72. Para perawi hadis al-Ghadir tidak berhenti sampai batas ini, melainkan juga dinukil secara mutawatir pada setiap tingkatan-tingkatannya. Jumlah para perawinya dari abad kedua hingga abad keempat belas Hijrah mencapai tiga ratus enam puluh orang perawai. Di samping beribu-ribu kitab Ahlus Sunnah yang menyebutkan hadis ini.

Bagaimana begitu mudah —setelah semua ini— penulis ini mengatakan bahwa ini adalah khurafat Syi’ah. Padahal diketahui bahwa riwayat al-ghadir yang melalui jalur-jalur Syi’ah kurang dari setengahnya dari yang terdapat di dalam jalur-jalur Ahlus Sunnah.

Namun inilah kesulitan orang-orang terpelajar, mereka mengeluarkan kata-kata dengan tanpa melakukan pengkajian. Para ulama Ahlus Sunnah dan orang-orang terpercaya dari kalangan mereka, baik dari kalangan terdahulu maupun kalangan terkemudian, dengan tegas mengakui kesahihan hadis al-ghadir. Sebagai contoh di antara mereka ialah:

1. Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Dia berkata di dalam kitabnya Syarih Shahih al-Bukhari, “Adapun hadis ‘Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya’ telah di keluarkan oleh Turmudzi dan Nasa’i. Hadis ini banyak sekali jalannya. Ibnu ‘Uqdah telah memuat jalan-jalannya di dalam kitab tersendiri, dan mayoritas sanadnya adalah sahih dan hasan.” [4]

Kitab yang diisyaratkan oleh Ibnu Hajar ini ialah kitab al-Wilayah fi Thurug Hadits al-Ghadir, karya Abu Abbas Ahmad bin Muhammad bin Sa’id al-Hamadani, yaitu al-Hafidz yang terkenal dengan sebutan Ibnu ‘Uqdah, yang wafat pada tahun 333 Hijrah.

Ibnu Atsir banyak menukil darinya di dalam kitabnya Usud al-Ghabah, dan begitu juga Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Ibnu Hajar al-‘Asqalani juga telah menyebutnya di dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, jilid 7, halaman 337, setelah menyebutkan hadis al-Ghadir. Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata, “Abul Abbas Ibnu ‘Uqdah mensahihkannya dan menaruh perhatian kepada seluruh jalan-jalannya. Dia mengeluarkannya dari hadis tujuh puluh orang sahabat atau lebih.” Ibnu Taimiyyah telah mengisyaratkan penulis ini di dalam menetapkan jalan-jalan hadis al-Ghadir dengan kata-katanya, “Abul Abbas Ibnu ‘Uqdah telah menulis sebuah kitab yang mengumpulkan jalan-jalannya.” [5]

2. Ibnu al-Maghazili asy-Syafi’i. Setelah menyebutkan hadis wilayah bersama dengan sanadnya Ibnu al-Maghazili asy-Syafi’i berkata, “Ini adalah hadis yang sahih dari Rasulullah saw. Kurang lebih seratus orang sahabat, termasuk di antaranya sepuluh orang yang dijamin masuk surga, telah meriwayatkan hadis Ghadir Khum dari Rasulullah. Hadis ini adalah hadis yang kokoh, yang saya tidak lihat ada kekurangannya. Hadis ini mengkhususkan keutamaan ini bagi Ali, dan tidak ada seorang pun yang menyertainya.” [6]

3. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid ath-Thabari —penulis kitab tarikh Thabari— telah mengkhususkan sebuah kitab yang mengeluarkan hadis-hadis al-Ghadir. Penulis kitab al-‘Umdah telah menyebutkan hal itu dengan mengatakan, “Ibnu Jarir ath-Thabari, penulis kitab tarikh, telah menyebutkan hadis hari al-Ghadir beserta jalan-jalannya di dalam tujuh puluh lima jalan, dan dia mengkhususkan sebuah kitab untuk itu yang dinamakannya dengan kitab al-Wilayah”.[7]

Di dalam Syarah at-Tuhfah al-‘Alawiyyah, karya Muhammad bin Ismail disebutkan, “Al-Hafidz adz-Dzahabi telah mengatakan di dalam kitab Tadzkirah al-Huffadz, di dalam biografi hadis ‘Barang-siapa yang aku menjadi pemimpinnya’, ‘Muhammad bin Jarir telah menulis sebuah kitab tentangnya. Saya —adz-Dzahabi— memeriksanya, dan saya terkejut karena bagitu banyak jalannya.'”

Ibnu Katsir juga telah menyebut kitab Ibnu Jarir di dalam kitab tarikhnya, “Sungguh, saya telah melihat sebuah kitab yang terhimpun di dalamnya hadis-hadis Ghadir Khum dalam dua jilid besar.” [8]

4. Al-Hafidz Abu Sa’id Mas’ud bin Nashir bin Abi Zaid as-Sajistani, yang wafat pada tahun 477 Hijrah, mensahkan hadis Ghadir Khum di dalam kitabnya ad-Dirayahfi Hadits al-Wilayah, di mana di dalam 17 juznya terhimpun jalan-jalan hadis al-Ghadir yang diriwayatkan dari 120 orang sahabat.

Di dalam kitab al-Ghadir, Al-Amini telah menyebutkan sebanyak 26 orang ulama Ahlus Sunnah terkemuka yang menulis kitab-kitab khusus yang mensahkan hadis al-Ghadir, apalagi kitab-kitab yang menyebutkan riwayatnya. Kita akhiri pembicaraan kita di sini dengan apa yang dikatakan oleh Ibnu Katsir tentang al-Juwaini, “Dia terkejut dan mengatakan, ‘Di Bagdad saya menyaksi-kan kitab berjilid-jilid di tangan seorang redaktur, yang di dalam-nya termuat riwayat-riwayat hadis ini. Pada kitab-kitab itu tertulis: Jilid kedua puluh delapan dari jalan-jalan hadis ‘Barangsiapa yang aku menjadi pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya’, dan akan menyusul lagi jilid kedua puluh sembilan.'” [9]

Referensi-Referensi Yang Menetapkan Ayat Ini Turun Kepada Ali

Adapun berkenaan dengan turunnya ayat ini “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Danjika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah memeliharamu dari (ganguan) manusia ” khusus kepada Ali, banyak sekali dari mereka yang secara terang-terangan mengakuinya. Di antaranya ialah:

1. As-Suyuthi di dalam kitab ad-Durr al-Mantsur, di dalam menafsir-kan ayat di atas, dari Ibnu Abi Khatim, Ibnu Abi Mardawaih dan Ibnu ‘Asakir, dengan sanad-sanad mereka yang berasal dari Abi Sa’id yang mengatakan, “Ayat ini turun kepada Rasulullah saw di Ghadir Khum berkenaan dengan Ali.” As-Suyuthi juga menukil dari Ibnu Mardawaih dengan sanad-sanadnya yang sampai kepada Ibnu Mas’ud yang berkata, “Pada masa Rasulullah saw kami membaca, ‘Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu bahwa Ali adalah pemimpin orang-orang Mukmin. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah rnerneliharamu dari (gangguan) manusia.'”  [10]

2. Al-Wahidi meriwayatkan di dalam kitab Asbab an-Nuzul, dari Abi Sa’id yang mengatakan, “Ayat ini turun pada hari Ghadir Khum kepada Ali.” [11]

3. Al-Hafidz Abu Bakar al-Farsi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Ma Nuzzila fi Amiril Mukminin dengan bersanad dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa ayat ini turun pada hari Ghadir Khum kepada Ali bin Abi Thalib.

4. Al-Hafidz Abu Na’im al-Isbahani, dengan sanadnya dari al-A’masy, dari ‘Athiyyah yang berkata, “Ayat ini turun kepada Rasulullah saw pada hari Ghadir Khum.” [12]

5. Al-Hafidz Ibnu Asakir asy-Syafi’i, dengan bersanad dari Abi Sa’id al-Khudzri yang mengatakan bahwa ayat ini turun pada hari Ghadir Khum kepada Ali bin Abi Thalib. [13]

6. Badruddin bin al-‘Aini al-Hanafi. Dia mengatakan di dalam kitab ‘Umdah al-Qari’fi Syarh Shahih al-Bukhari yang berkata, “Telah berkata Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin al-Husain. Artinya, ‘Sampaikanlah apa yang telah diturunkan dari Tuhanmu tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib ra.’ Ketika ayat ini turun Rasulullah mengangkat tangan Ali dan berkata, ‘Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.'”

Teks Khutbah

Dan puluhan orang lainnya dari mereka menetapkan bahwa ayat ini turun kepada Ali bin Abi Thalib. Dari sekian banyak riwayat-riwayat ini kita memilih riwayat al-Hafidz Abi Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari.

Ibnu Jarir ath-Thabari mengeluarkan riwayat ini beserta dengan sanadnya di dalam kitab al-Wilayahfi Thurug Ahadits al-Ghadir, yang bunyi teksnya sebagai berikut:

“Dari zaid bin Arqam yang berkata, ‘Ketika Rasulullah saw sampai ke Ghadir Khum, di dalam perjalanan kembalinya dari haji wada'; ketika itu waktu dhuha, sementara cuaca sangat panas sekali, Rasulullah saw memerintahkan para sahabatnya untuk bernaung di pepohonan. Kemudian Rasulullah menyerukan salat berjamaah. Maka kami pun berkumpul, lalu Rasulullah saw menyampaikan sebuah khutbah yang indah. Rasulullah saw berkata, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan kepadaku ayat ‘Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, danjika kamu tidak melakukan (apa yang diperintahkan, berarti) kamu tidak menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah menjagamu dari (gangguan) manusia.’ Sesungguhnya aku telah diperintahkan oleh Allah melalui Jibril supaya berdiri di tempat keramaian ini, dan memberitahukan (bangsa) putih dan hitam bahwa Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, washi-ku, penggantiku dan imam sepeninggalku. Lalu aku meminta kepada Jibril supaya me-mohonkan ampunan bagiku kepada Tuhanku, karena aku tahu betapa sedikitnya orang-orang yang bertakwa dan betapa banyaknya orang-orang yang mengganggu serta mencemoohku karena seringnya aku bersama Ali dan memberikan perhatian yang lebih kepadanya, sehingga mereka menyebutku sebagai udzun (orang yang tidak teliti dan cepat percaya pada setiap berita yang didengarnya). Sehingga Allah berfirman,

‘Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan, ‘Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.’ Katakanlah, ‘la mempercayai semua yang baik bagimu.’

Seandainya aku mau sebutkan nama-nama mereka niscaya akan aku sebutkan, dan seandainya aku mau tunjukkan wajah-wajah mereka niscaya akan aku tunjukkan. Namun aku berketetapan hati rnerahasiakan nama-nama mereka, dan akan terus bersikap bersahabat terhadap mereka. Namun demikian, Allah tetap mendesakkan dan tidak akan rela padaku melainkan aku sampaikan apa yang diturunkan-Nya kepadaku.

Ketahuilah —wahai manusia— sesungguhnya Allah telah menetapkan Ali sebagai wali dan imam kamu, dan telah mewajibkan kepada setiap orang darimu untuk mentaatinya. Sah keputusan hukum yang diambilnya, dan berlaku kata-katanya. Terlaknat orang yang menentangnya, dan memperoleh rahmat orang yang mempercayainya.

Dengarlah dan patuhilah, sesungguhnya Allah adalah Tuhanmu dan Ali adalah pemimpinmu. Kemudian keimamahan dan kepemimpinan (berikutnya) ada pada keturunan yang berasal dari tulang sulbinya, sehingga tiba hari kiamat.

Sesungguhnya tidak ada yang halal kecuali apa yang telah dihalalkan oleh Allah, Rasul-Nya dan mereka, dan tidak ada yang haram kecuali apa yang telah diharamkan oleh Allah, Rasul-Nya dan mereka.

Tidak ada satu ilmu pun kecuali telah Allah tetapkan dan pindahkan kepada mereka. Maka oleh karena itu janganlah kamu berpaling dari-nya, dan janganlah kamu bersikap sombong dan enggan menerima kepemimpinannya. Karena dialah orang yang akan menunjukkan kepada kebenaran dan mengamalkannya. Allah tidak akan mengampuni orang-orang yang mengingkari wilayah dan kepemimpinannya, dan tidak akan pernah memaafkannya sekali-kali. Sungguh, Allah telah memastikan diri-Nya untuk melakukan itu bagi mereka yang menentang perintah-Nya dalam perkara ini, dan akan menimpakan kepadanya azab yang amat pedih selama-lamanya.

Dia adalah manusia yang paling utama setelahku. Karena kamilah kemudian Allah turunkan rezeki-Nya (kepada kamu) dan (karena kami juga maka) seluruh makhluk memperoleh kehidupan. Sungguh terkutuk orang yang menentangnya. Ucapanku ini berasal dari Jibril, dan Jibril dari Allah SWT. Karena itu hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang akan disiapkannya untuk hari esok.

Pahamilah ayat-ayat muhkamat Al-Qur’an, dan janganlah kamu ikuti (secara lahiriyyah) makna ayat-ayat mutasyabihat-nya. Tidak akan ada orang yang bisa menerangkan tafsirnya kepadamu melainkan orang yang aku pegang tangannya, yang aku naikkan dia ke sisiku dan yang aku angkat lengannya. Kini aku umumkan, ‘Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya.’ Perintah untuk mengangkatnya sebagai pemimpin ini adalah berasal dari Allah SWT yang telah diturunkan kepadaku. Ingatlah, sungguh aku telah tunai-kan (perintah ini). Ingatlah, sungguh aku telah sampaikan. Ingaflah, sungguh aku telah perdengarkan. Ingatlah, sungguh aku telah aku jelaskan.

Tidak diperkenankan siapa pun menyandang gelar Amirul Mukminin (pemimpin orang-orang yang beriman) sepeninggalku selain dia.’ Kemudian Rasulullah saw mengangkatnya tinggi-tinggi, sebegitu tingginya sehingga kakinya sejajar dengan lutut Rasulullah saw. Kemudian Rasulullah saw berkata,

‘Wahai manusia, ini adalah Ali, saudaraku dan washi-ku, pemelihara ilmuku, khalifahku bagi orang yang beriman kepadaku dan wakilku dalam menafsirkan Kitab Allah Azza Wajalla.’ Pada riwayat lain disebutkan, ‘Ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, perangilah orang yang memeranginya, kutuklah orang yang mengingkarinya dan murkailah orang yang mengingkari haknya.'”

Khutbah ini tidak lagi memerlukan penjelasan. Seorang yang berakal wajib merenunginya.

Khutbah ini menunjukkan dengan jelas wajibnya mengikuti Imam Ali as, dan di dalamnya terdapat jawaban yang cukup atas orang yang mengatakan bahwa maksud dari kata “wali” adalah penolong atau pecinta. Karena petunjuk-petunjuk kontekstual dan verbal mencegah pengertian itu. Sungguh tidaklah masuk akal Rasulullah saw menahan sekumpulan manusia besar ini di bawah terik matahari yang sangat panas hanya untuk mengatakan kepada mereka bahwa inilah Ali, cintai dan tolonglah dia. Orang berakal mana yang mempertimbangkan arti ini? Dengan perkataan ini berarti dia telah menuduh Rasulullah saw telah melakukan sesuatu yang sia-sia. Sebagaimana ucapan yang ter-surat juga memperkuat hal ini. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguh-nya Ali bin Abi Thalib adalah saudaraku, washiku, khalifahku dan Imam sepeninggalku.” Rasulullah juga telah bersabda, “Maka sesung-guhnya Allah telah mengangkatnya sebagai pemimpin dan Imam bagi kamu, dan telah mewajibkan ketaatan kepadanya atas setiap orang…”

Urusan kepemimpinan bukanlah urusan yang sederhana. Seluruh ajaran Islam bersandar kepadanya.

Bukankah Islam adalah ketundukkan dan kepatuhan?!

Maka orang yang tidak tunduk kepada kepemimpinan Ilahi dan tidak patuh kepada mereka di dalam seluruh perintahnya, apakah kita berhak menyebut dia sebagai seorang Muslim?!

Tentu tidak. Karena jika tidak, maka tentu terjadi tanaqudh (kontradiksi). Tindakan mengikuti kepemimpinan palsu dan tunduk kepadanya, Al-Qur’an masukkan ke dalam kategori syirik.

Allah SWT berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah.”(QS. at-Taubah: 31)

Mereka tidak menjadikan orang-orang alim mereka dan rahib-rahib mereka sebagai berhala-berhala yang disembah, melainkan rahib-rahib mereka itu menghalalkan bagi mereka apa-apa yang Allah haramkan dan mengharamkan bagi mereka apa-apa yang Allah halalkan. Demikian juga orang yang membangkang kepada kepemimpinan Ilahi, dia dianggap orang musyrik.

Orang yang merenungi ayat di atas dengan kesadaran dan mata hati niscaya akan hal itu akan terbuka baginya. Allah SWT berfirman, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu…” Ayat ini merupakan bagian dari surat al-Maidah, yang merupakan surat Al-Qur’an terakhir, sebagaimana yang disebut-kan di dalam Mustadrak al-Hakim.

Telah disebutkan bahwa ayat ini turun di Ghadir Khum, yaitu pada saat sepulangnya Rasulullah saw dari haji wada.

Lantas, perintah Ilahi yang manakah ini, yang perbuatan tidak menyampaikannya berarti sama dengan tidak menyampaikan risalah sama sekali?!

Mau tidak mau pasti perintah Ilahi tersebut merupakan substansi dan tujuan Islam. Yaitu ketundukkan kepada kepemimpinan Ilahi dan kepatuhan kepada perintah-perintahnya. Jelas, perkara ini menciptakan ketidakrelaan dari sebagian para sahabat. Sebagian besar dari mereka menolaknya. Oleh karena itu, di dalam sebuah riwayatnya Rasulullah saw berkata kepada Jibril, yang artinya, sesungguhnya kami telah memerangi mereka selama dua puluh tiga tahun sehingga mereka mengakui kenabianku, lalu bagaimana mungkin mereka dapat menerima keimamahan Ali hanya dalam waktu sekejap. Dari sinilah kemudian datang firman Allah yang berbunyi, “Dan Allah menjaga kamu dari (gangguan) manusia.”

Setelah Rasulullah menyampaikan perintah yang menyamai seluruh risalah ini, maka turunlah ayat yang berbunyi,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagi agamamu.”

(QS. Al Maidah [5] : 3)

Banyak dari kalangan para muhaddis yang dengan tegas mengatakan bahwa ayat ini turun kepada Ali. Allamah al-Amini telah menyebutkan enam belas sumber dari mereka di dalam kitabnya al-Ghadir, jilid 1, halaman 230 sampai dengan halaman 237. Dengan demikian, penyempurnaan agama dan pencukupan nikmat adalah dengan kepemimpinan Ali as. Dari sini kita dapat memberi kemungkinan kepada riwayat-riwayat yang mengatakan, sesungguhnya diterimanya amal perbuatan seorang hamba bergantung kepada penerimaannya terhadap kepemimpinan Ahlul Bait. Karena mereka adalah jalan yang telah Allah perintahkan kepada kita untuk mengikutinya. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah apa pun kepadamu atas risalah yang aku sampaikan selain dari kecintaan kepada Ahlul Baitku.'” Kecintaan terhadap mereka bukan semata-mata dengan mencintai mereka, melainkan dengan menolong dan mengikuti mereka dan juga mengambil ajaran-ajaran agama dari mereka.

Di dalam sebuah hadis yang berasal dari Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq as disebutkan bahwa Imam Ja’far ash-Shadiq telah berkata,

“Sesungguhnya sesuatu yang pertama kali akan ditanya kepada seorang hamba tatkala dia berada di hadapan Allah SWT ialah mengenai salat yang diwajibkan, zakat yang diwajibkan, puasa yang diwajibkan, dan mengenai kepemimpinan kami Ahlul Bait. Jika dia mengakui kepemimpinan kami, lalu dia mati, maka diterima salatnya, puasanya, zakatnya dan hajinya. Dan jika dia tidak mengakui kepemimpinan kami di hadapan Allah maka Allah tidak akan menerima sedikit pun amal perbuatannya. ” [14]

Dari Ali as yang berkata, “Tidak ada kebaikan di dunia kecuali bagi salah seorang di antara dua orang laki-laki. Yaitu seorang laki-laki yang bertambah kebaikannya setiap harinya, dan seorang laki-laki yang menyusul keburukannya dengan tobat. Demi Allah, kalau sekiranya seorang hamba bersujud hingga terputus lehernya niscaya Allah tetap tidak akan menerima tobatnya kecuali dia mengakui kepemimpinan kami Ahlul Bait”

Dari Anas bin Malik, dari Rasulullah saw yang bersabda,

“Wahai manusia, jika dlsebut keluarga Ibrahim kepadamu tampak berseri-seri wajahmu, namun jika disebut keluarga Muhammad kepadamu tampak seolah-olah biji-biji delima memecah di wajahmu? Demi Zat yang telah mengutusku sebagai nabi dengan kebenaran, jika salah seorang dari kamu datang pada hari kiamat dengan membawa amal perbuatan sebesar gunung Uhud namun dia tidak datang dengan membawa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as niscaya Allah akan lemparkan dia ke dalam neraka.” [15]

Dan riwayat-riwayat lainnya yang semisal dengan itu.

Footenote:

[1].    Sahih Bukhari, Kitab Manaqib; Sahih Muslim, Bab Keutamaan-keutamaan Sahabat.

[2].    Al-Khatim li Washiyi al-Khatim, hal. 392.

[3].    Dala’il ash-Shidq, Jilid 2, hal. 60.

[4].    Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari, Jilid 7, hal. 61.

[5].    Minhaj as-Sunnah, Jilid 4, hal. 86.

[6].    Manaqib Amiral Mukminin, hal. 26-27.

[7].    Al-‘Umdah, hal. 55.

[8].    Tarikh Ibnu Katsir, Jilid 11, hal. 147.

[9].    Al-Khulashah, Jilid 2, hal. 298.

[10].  Asbab an-Nuzul.

[11].  Asbab an-Nuzul, Al Wahidi, hal. 150.

[12].  Al-Khasha’is, hal. 29.

[13].  Tafsir ad-Durr al-Mantsur, Jilid 2, hal.298.

[14].  Biharal-Anwar, Jilid 27, hal.170.

[15].  Ibid, hal. 170.

AL-QURAN YANG SUCI MEMUJI SAHABAT YANG BAIK DAN JUGA MENGUTUK SAHABAT YANG JAHAT.

Saya akan berikan lagi ayat al-Quran sebagai tambahan dan hadith sahih dari ulama sunni supaya kamu jangan tersalah faham mengenai perkataan ‘sahabat’. Perkataan ini telah digunakan untuk semua sahabat, sama ada mereka muslim ataupun kafir.

[1] Di dalam surah Najm [bintang], Allah berkata kepada yang kafir, ‘Sahabat kamu tidak membuat salah, dan tidak juga sesat.’ [53:2]

[2] Di dalam surah Saba [Sheba] Allah berkata, ‘Katakan, aku menyuruh kamu pada satu perkara, bahawa kamu bangun untuk Allah secara berpasangan atau sendirian, kemudian fikirkan; sahabat kamu tidak dirasuk.’ [34:46]

[3] Di dalam surah Kahf [Gua] Allah berkata, ‘dan berkata ia kepada sahabatnya sedang ia berselisih dengan dia: Saya punyai harta yang lebih dari kamu dan lebih ramai pengikut.. ‘ [18:34]

[4] di dalam surah yang sama, Allah berkata, ‘Sahabatnya berkata kepada dia sedang ia berselisih dengan dia: Adakah kamu percaya kepada Dia, yang menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setitik mani, kemudian Dia menjadikan kamu manusia yang sempurna.’ [18:37]

[5] Di dalam surah al-A’raf [tempat yang ditinggikan], Allah berkata, ‘Tidakkah mereka bayangkan bahawa sahabat mereka bukannya gila? Dia hanya sekadar memberi peringatan.’ [7:184]

[6] Di dalam surah An’am [ternakkan], Allah berkata, ‘Katakan: haruskan kita memanggil selain dari Allah, yang tidak memberi faedah kepada kami amhupun menganiaya kami, dan haruskan kami berpatah kebelakang setelah Allah membimbing kami, seperti mereka yang syaitan telah membuat mereka jatuh kebinggongan didunia. Dia mempunyai sahabat yang mengajak kepada jalan yang benar [berkata], ‘Marilah kepada kami’ Katakan sesungguhnya petunjuk Allah, adalah petunjuk yang benar, dan kita diarah supaya menyerah kepada tuhan alam ini.’ [6:71]

[7] Di dalam surah Yusuf, dia berkata, ‘[Yusuf berkata kepad dua orang sahabatnya yang kafir] Wahai sahabat aku di penjara berdua! Adakah banyak tuhan lebih baik dari Allah, yang satu, yang berkuasa?’ [12:39]

Ini adalah beberapa ayat yang saya telah sampaikan sebagai contoh. Adalah jelas bahawa perkataan ‘sahaba’, ‘sahib’ ‘musahib’ dan ‘ashab’ tidak mempunyai kaitan khusus kepada muslim. Ianya digunakan kepada muslim dan bukan muslim sama sahaja. Sebagaimana saya telah katakan, sesaorang yang mempunyai hubungan sosial dengan seorang yang lain dipanggil musahib atau ashab. Sahabat nabi dirujuk kepada mereka yang mempunyai hubungan sosial dengan diri baginda.

Sudah pasti diantara para sahabat nabi dan diantara mereka yang duduk-duduk dalam kumpulannya, terdapat segala jenis manusia, baik dan jahat, yang beriman dan juga hipokrit. Ayat yang diwahyukan pada memuji para sahabat tidak boleh dikatakan untuk mereka semua. Ianya hanya merujuk kepada sahabat yang baik. Adalah benar bahawa tidak ada nabi yang terdahulu mampunyai sahabat yang terkenal seperti yang ada kepada nabi kita. Sebagai contoh sahabat pada Badr, Uhud dan Hunain yang telah berdiri teguh dengan berlalunya dugaan masa. Mereka telah menolong nabi dan teguh dengan keputusan.

Tetapi diantara sahabatnya terdapat beberapa orang yang berperangai buruk, musuh kepada nabi dan ahli baytnya, manusia seperti Abdullah bin Ubayy, Abu Sifyan, Hakam bin As, Abu Huraira, Thalabi, Yazid bin Sufyan, Walid Bin Aqaba, Habib Bin Musailima, Samra Bin Jundab, Amr Bin As, Busr Bin Artat (seorang zalim yang hauskan darah manusia), Mughira Bin Sha’ba, Mu’awiya Bin Abi Sufyan, and Dhu’s-Sadiyya. Manusia ini, semasa hidup nabi dan juga setelah nabi wafat, telah memyebabkan bencana yang besar kepada manusia. Seorang yang seperti itu adalah Muawiya, yang nabi telah kutuk masa hidup baginda. Setelah wafatnya nabi, apabila Muawiya mempunyai peluang, dia bangun memberontak dengan nama mencari pembalasan terhadap pembunuhan Uthman dan telah menyebabkan pertumpahan darah yang banyak diantara muslim. Di dalam pembunuhan ini ramai dari sahabat nabi yang terhormat, seperti Ammar Yasir telah terbunuh syahid. Nabi sendiri telah meramalkan akan syahidnya. Saya telah sampaikan hadith mengenai kejadian itu.

AL-QURAN YANG SUCI MEMUJI SAHABAT YANG BAIK DAN JUGA MENGUTUK SAHABAT YANG JAHAT.

Terdapat banyak ayat dari al-Quran dan hadith yang memuji sahabat yang terkenal dan wara serta beriman. Dan terdapat juga banyak ayat dan hadith yang mengutuk para sahabat yang keji.

Sheikh:                    Bagaimana kamu boleh mengatakan bahawa sahabat nabi menyebabkan kekacauan umum?

Shirazi:                    Ini bukan sahaja kata-kata saya. Allah di dalam sura ahli Imran berkata: ‘Jika dia [Muhammad] mati atau terbunuh, adakah kamu akan berpaling semula?’ [3:144]

Selain dari itu dan ayat yang lain dari al-Quran, Ulama kamu, termasuk Bukhari, Muslim, Ibn Asakir, Yaqub Bin Sufyan, Ahmad Bin Hanbal, Abdu’l-Bar, dan lainnya telah merakamkan laporan dan hadith mengenai kutukan terhadap sebahagian sahabat. Saya akan merujuk hanya dua hadith. Bukhari menyatakan dari Sahl Ibn Sa’d dan Abdullah Ibn Mas’ud bahawa nabi Allah berkata, ‘Saya akan menunggu kamu dipancutan Kauthar. Apabila sekumpulan dari kamu telah sesat dari jalan saya. Saya akan berkata, ‘Wahai Allah! Mereka semua adalah sahabat saya!’ Kemudian jawapan dariNya akan sampai kepada saya, ‘Kamu tidak tahu apakah perubahan yang mereka telah adakan selepas kamu.’

Dan lagi Imam Ahmad Bin Hanbal di dalam Musnad, Tabrani di dalam Kabir, dan Abu Nasr Sakhri di dalam Ibana menyampaikan dari Ibn Abbas bahawa nabi berkata, ‘Saya hendak menyelamatkan kamu dari siksaan neraka. Saya meminta kamu takutlah kepada neraka dan janganlah membuat perubahan pada agama Allah. Apabila saya mati dan berpisah dengan kamu, saya akan berada dipancutan Kauthar. Sesiapa yang sampai kepada saya disana selamat. Dan pada penghujung masa apabila saya dapati ramai dari manusia di dalam siksaan tuhan, saya akan berkata, ‘Wahai Allah! Ini adalah manusia dari ummah saya,’ Jawapannya akan sampai, ‘Sesungguhnya, mereka ini kebali kebelakang sesudah kamu.’ Menurut dari kenyataan Tabrani di dalam Kabir, jawapannya adalah, ’Kamu tidak tahu apakah perubahan yang mereka adakan selepas kamu. Mereka menerima agama mereka yang terdahulu.’

ABU TALIB SEORANG YANG KUAT BERIMAN.

Kamu menekankan bahawa Muawiya dan Yazid adalah muslim walaupun banyak kesalahan mereka telah dirakamkan di dalam buku kamu. Sebahagian dari ulama sunni menulis sebuah buku mengenai kutukan terhadap mereka, tetapi kamu masih berkeras mengatakan bahawa mereka berhak dipuji dan bahawa Abu Talib yang beriman tulus kamu katakan kafir.

Memang dapat dilihat kata-kata begini adalah hasil dari kebencian terhadap Amirul-Mukminin Ali. Kamu cuba membantah hujah yang membuktikan kekafiran dan hipokritnya Muawiya dan Yazid. Dan bahkan kamu menolak kenyataan Abu Talib secara terbuka mengenai imannya kepada Allah dan nabi.

BUKTI TAMBAHAN TERHADAP IMAN ABU TALIB.

Bukankah ianya satu fakta bahawa ahli bayt nabi telah mengatakan bahawa Abu Talib adalah seorang yang beriman dan dia mati sebagai yang beriman? Tidakkah Asbagh Bin Nabuta, seorang yang dipercayai, telah menyampaikan dari Amirul-Mukminin bahawa dia berkata, ‘Saya bersumpah dengan Allah bahawa bapa saya, Abu Talib, datuk saya Abdul-Muttalib Hashim dan Abdul-Munaf tidak pernah menyembah berhala.’

Adakah wajar bahawa kamu menolak kenyataan Ali dan ahli bayt yang suci dan memberikan kepujian kepada kenyataan yang terkutuk Mughira, Amawis, Khariji, Nasibi dan musuh-musuh lain Amirul-mukminin.

JAFAR TAYYAR MEMELUK ISLAM ATAS ARAHAN BAPANYA.

Lebih-lebih lagi ramai ulama kamu, termasuk Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha telah menulis bahawa satu hari Abu Talib datang ke masjid dan melihat nabi sedang sembahyang. Ali sedang sembahyang pada sebelah kanan baginda. Abu Talib mengarahkan anaknya Jafar, yang bersama dengannya dan belum lagi memeluk islam, ‘berdirilah disebelah sepupu kamu dan lakukan sembahyang bersamanya’ Jafar pergi berdiri kesebelah kiri nabi dan mula bersembahyang. Pada ketika itu Abu Talib mengubah syair ini, ‘Sesungguhnya Ali dan Jafar adalah kekuatan saya dan penghibur di dalam kesusahan dan kekeciwaan. Wahai Ali dan Jafar! Janganlah tinggalkan berdampingan dengan sepupu kamu dan anak saudara ku, tetapi bantulah dia. Saya bersumpah, saya tidak akan meninggalkan nabi. Bolehkah sesiapa meninggalkan kumpulan nabi yang begitu mulia?’

Maka itu adalah pandangan semua ulama kamu bahawa Jafar memeluk islam dan melakukan sembahyang dengan nabi adalah arahan dari Abu Talib.

NABI MENANGIS DENGAN KEMATIAN ABU TALIB DAN MENDOAKAN RAHMAT ALLAH PADANYA.

Ibn Abi’l-Hadid di dalam Sharh-e-Nahju’l-Balagha dan Ibn Jauzi di dalam Tadhkirat-e-Khawasu’l-Umma mengatakan dari Tabaqat-e-Muhammad Ibn Sa’d, yang menyampaikan dari Waqidi dan Allama Seyyed Muhammad Bin Seyyed Rasul Barzanji di dalam Kitabu’l-Islam Fi’l-‘am-o-Aba’-e-Seyyedu’l-An’am, kenyataan dari Ibn Sa’d dan Ibn Asakir, yang menyampaikan dari punca yang sahih dari Muhammad Bin Ishaq bahawa  Ali berkata, ‘Apabila Abu Talib meninggal dan saya memberitahu nabi Allah mengenainya, baginda menangis. Kemudian dia berkata kepada saya, ‘Pergi dan mandikan jasadnya di dalam persediaan untuk pengkebumian, balut dirinya dengan kafan dan kebumikan dia. Semoga Allah merahmatinya dan keampunan keatasnya!’

Adakah dibolehkan oleh islam untuk melakukan upacara pengkebumian kepada kafir? Adakah dibenarkan kepada kita untuk mengatakan bahawa nabi mendoakan kerahmatan Allah keatas orang kafir dan musyirik? Nabi tidak meninggalkan rumahnya untuk beberapa hari dan berterusan mendoakan untuk keamanan abadi Abu Talib

imam Ali dan Kesulitan-kesulitan Pasca Saqifah !! Mempertimbangkan kondisi demikian ini, Ali harus memilih jalan tengah yang dapat mewujudkan sebesar mungkin tujuan risalah yang diembannya

Para Penentang Saqifah

.
Pada peristiwa Saqifah, sangat alamiah bila ada kelompok-kelompok. Hal itu diperkuat dengan ketidaklayakan sikap orang yang terpilih sebagai khalifah. Dalam peristiwa Saqifah ada tiga kelompok:

.
Anshar. Kaum Anshar termasuk kelompok politik yang berpengaruh. Dari sisi kuantitas, mereka memiliki jumlah yang tidak kecil. Oleh karenanya, kaum Anshar perlu mendapat perhitungan yang serius sebagai kandidat dalam pemilihan. Mereka tidak setuju dengan khalifah terpilih dan pendukungnya di Saqifah Bani Saidah. Sempat terjadi adu mulut yang cukup alot yang berakhir dengan kemenangan Quraisy

.
Abu Bakar dan pendukungnya mendapat keuntungan dalam menghadapi Anshar dari dua sisi:
Mengkristalnya pemikiran pewarisan agama dalam benak bangsa Arab. Dan hal itu dapat ditelusuri dari ucapan yang mengatakan bahwa Quraisy masih serumpun dengan Nabi dan lebih dekat dibandingkan dengan suku lainnya. Dengan alasan ini, mereka merasa lebih layak ketimbang kaum muslimin yang lain dan selanjutnya, yang paling layak menjadi khalifah adalah dari Quraisy

.
Kaum Anshar sendiri tidak memiliki satu pendapat. Suara mereka terpecah antara yang mendukung Abu Bakar dan yang menentangnya. Alasan perpecahan mereka dapat ditafsirkan dengan mengakarnya pemikiran kesukuan dan kedengkian antara satu dengan yang lain, atau sebuah upaya untuk lebih dekat dengan khalifah terpilih dari Quraisy. Pemikiran ini tampak dalam ucapan Usaid bin Hudhair di Saqifah: “Bila kalian menjadikan Saad sebagai khalifah, kekhalifahan akan senantiasa bersama kalian, demikian pula dengan keutamaan. Namun diperhatikan! Bahwa Saad tidak akan membagi-bagikan kekuasaan ini dengan kalian selama-lamanya. Sekarang, bangkitlah dan Baiatlah Abu Bakar!”

.
Pertemuan Saqifah sendiri memberi kekuatan kepada Abu Bakar dari dua sisi:
Melemahnya peran Ali bin Abi Thalib dalam mengarahkan suku-suku karena  Anshar adalah kekuatan yang tidak mungkin berada di barisan Ali bin Abi Thalib pasca Saqifah, apa lagi membela dan membantu Ali untuk merebut kekhalifahan

.
Munculnya Abu Bakar sebagai satu-satunya pembela hak-hak kaum Muhajirin secara keseluruhan dan Quraisy secara khusus di tengah-tengah kaum Anshar. Kondisi saat itu memang sangat mendukung, karena tidak adanya kelompok dari Muhajirin sendiri yang dapat mencegah mereka meraih tujuan yang telah direncanakan sebelumnya

.
Bani Umayyah. Keturunan Umayyah memiliki ambisi yang luar biasa besar akan kekuasaan. Dari kejadian ini mereka berharap dapat memperoleh posisi dan mengembalikan segalanya seperti di zaman Jahiliyah. Bani Umayyah dipimpin oleh Abu Sufyan. Abu Bakar dan kelompoknya telah melakukan kerja sama dengan Bani Umayyah, karena tahu betul keinginan-keinginan mereka, baik secara politis maupun materi. Sangat mudah bagi Abu Bakar untuk kemudian tidak mengindahkan sebagian prinsip dan hukum-hukum syariat lalu memberikannya kepada Abu Sufyan. Abu Bakar memberikan kepada Abu Sufyan sebagian harta dan hasil zakat kaum muslimin yang dikumpulkannya sejak ia ditugaskan oleh Nabi

.
Pada sisi yang lain, kelompok yang menang di Saqifah tidak menunjukkan ketidaksukaan mereka kepada Bani Umayyah dan tidak menekan Abu Sufyan atas apa yang diucapkannya sebagai pendukung Ali bin Abi Thalib .as. dan Bani Hasyim

.
Tidak itu saja. Abu Bakar dan kelompoknya malah memanfaatkan Bani Umayyah untuk melemahkan peran Bani Hasyim, mulai sejak itu hingga masa-masa yang akan datang. Abu Bakar dan kelompoknya memberikan posisi-posisi penting dalam pemerintahan kepada Bani Umayyah.
Bani Hasyim dan beberapa sahabat pengikut mereka seperti Ammar bin Yasir, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghiffari dan Miqdad r.a. dan sejumlah besar sahabat yang memandang keluarga Hasyim sebagai yang layak memiliki legitimasi dari syariat untuk menjadi khalifah. Bani Hasyim adalah pewaris Rasulullah saw. dengan dukungan teks wahyu di peristiwa Ghadir Khum

.
Mereka tidak tunduk pada argumentasi-argumentasi lemah yang disampaikan para pendukung Saqifah. Mereka melihat para pendukung Saqifah bagaikan kumpulan kepentingan-kepentingan yang mencoba untuk menguasai dan mengeksploitasi kekuasaan demi memenuhi hasrat dan kerakusan, dan sebagai sebuah upaya untuk menyesatkan perjalanan dan eksperimen Islam dari jalannya yang sah dan benar

.

Hasil-hasil Saqifah
Abu Bakar dan kelompoknya telah menjadi pemenang dalam menghadapi Anshar dan Bani Umayyah. Kekhalifahan telah jatuh di tangan mereka. Namun, kemenangan ini tidak sesederhana yang dibayangkan. Karena setelah itu muncul masalah yang lebih besar tentang pertikaian. Tentunya ini bermula dari argumentasi mereka untuk meraih kursi kepemimpinan yang bertumpu pada kesukuan dan kekerabatan dengan Rasulullah saw. Atas dasar inilah tidak salah bila pasca Saqifah muncul mazhab rasialis dan keturunan dalam kepemimpinan agama.
Keberadaan Bani Hasyim sebagai kelompok yang menentang proses Saqifah mampu membalikkan situasi. Mereka berargumentasi dalam menghadapi kelompok Saqifah dengan alasan yang sama yang dipakai Abu Bakar dan kelompoknya ketika menghadapi kaum Anshar. Argumentasi itu demikian; bila Quraisy merasa lebih layak dan dekat dengan Rasulullah saw. dari sekian kabilah-kabilah Arab, maka Bani Hasyim lebih tepat dan layak untuk memegang tampuk kekhalifahan dibandingkan dengan kelompok Quraisy lainnya

.
Argumentasi inilah yang diangkat oleh Ali bin Abi Thalib ketika ia berkata: “Kaum Muhajirin berargumentasi dengan kedekatan mereka dengan Rasulullah saw. Ini juga argumentasi kami terhadap kaum Muhajirin. Bila argumentasi yang dipakai adalah kedekatan hubungan kekeluargaan, maka itu dapat benar ke atas yang lain, tidak ke atas kami; Bani Hasyim. Bila argumentasi mereka juga berlaku atas kami, maka kaum Anshar tetap kuat dengan klaimnya”

.
Abbas juga menjelaskan hal yang sama dalam obrolannya dengan Abu Bakar: “Ucapanmu ketika di Saqifah bahwa kami serumpun dengan Rasulullah saw, sesungguhnya kalian hanya tetangga sedangkan kami kami adalah rantingnya”

.
Pada intinya, Ali bin Abi Thalib a.s. adalah sumber ketakutan bagi mereka yang bermain di Saqifah. Ali adalah satu-satunya penghalang yang mampu melenyapkan semua ambisi yang selama ini terpendam. Ali mampu menahan tangan-tangan yang bermain di Saqifah, dan jumlah mereka sangat banyak; yaitu orang-orang yang pada umumnya ikut ke mana angin bertiup tanpa memiliki identitas, ikut berteriak bersama mereka yang menjual suaranya di bursa kekuasaan politik. Merka adalah orang-orang yang ingin mengenyangkan perut-perut mereka sepeninggal Nabi dengan harta khumus (seperlima) dan hasil perkebunan Madinah, begitu juga tanah subur Fadak (tanah milik Nabi yang diwariskan kepada Fathimah)

.
Ali bin Abi Thalib enggan menjadi khalifah dengan tujuan-tujuan hina semacam itu atau demi ketenaran pribadi. Dari sisi lain, ia berusaha untuk berargumentasi di hadapan tokoh-tokoh penting Saqifah dengan prinsip yang sama; yaitu kedekatan keluarga. Argumentasi yang pada gilirannya menjadi koin keberuntungan di tangan Ali dengan ucapannya: “Mereka berargumentasi dengan pohon (kedekatan dengan Nabi), namun pada saat yang sama mereka lupa akan buah dari pohon itu”.
Sebagian besar masyarakat Islam masih menguduskan Ahlul Bait Nabi dan menghormati mereka, karena mereka adalah buah dari pohon kenabian yang pada gilirannya, kekuasaan politik memasuki masa paling kritis yang tidak ada jalan keluarnya. Untungnya, Ali adalah seorang pribadi yang lebih mulia dari sekedar perebutan kekuasaan. Ia lebih mengedepankan maslahat umat Islam ketimbang kepentingan pribadinya sebagai penguasa yang sah yang mendapat legitimasi langsung dari Nabi

.
Untuk mengantisipasi kemungkinan Ali bin Abi Thalib menggoyahkan rencana yang telah dijalankan, kelompok Saqifah berada dalam keraguan di antara dua sikap:
1. Meninggalkan prinsip kedekatan kekeluargaan sebagai argumentasi utama untuk menjadi khalifah. Namun ini sama dengan mengabaikan legitimasi wahyu atas kekhalifahan Abu Bakar yang telah direbutnya sejak peristiwa Saqifah.
2. Memperkuat dan menegaskan kembali prinsip-prinsip yang telah diperjuangkan sejak Saqifah (kedekatan kekeluargaan) dalam menghadapi kelompok-kelompok penentang. Sosialisasi harus dilakukan sehingga hak Bani Hasyim sekaitan dengan kepemimpinan dan kekhalifahan tidak lagi menjadi sesuatu yang penting, sekalipun kekerabatan mereka termasuk yang paling dekat dengan Nabi. sekalipun kekhalifahan masih merupakan hak Bani Hasyim, namun itu tidak pada saat-saat masyarakat menyepakati pemerintahan yang telah terbentuk

.
Tampaknya, kemungkinan kedua menjadi pilihan yang lebih menguntungkan pemerintahan yang ada.

Ali bin Abi Thalib a.s. di Zaman Abu Bakar
Siasat Penguasa Menghadapi para penentang
Jelas, kelompok yang berhasil menguasai kekuasaan tidak mungkin mundur kembali. Kondisi ini menjadi lebih sulit setelah rencananya telah disiapkan sebelumnya. Kelompok ini menegaskan pandangan-pandangan yang telah disosialisasikan di Saqifah dengan berbagai cara terlepas dari legitimasi yang dimilikinya sah atau tidak dalam rangka melindungi Islam. Oleh karenanya, dapat ditemukan sebagian kejadian dan agenda-agenda politik yang diusung oleh kelompok ini. Mereka senantiasa berusaha menjauhkan keluarga Nabi Muhammad saw. dari kekuasaan secara total bahkan lebih dari itu, mereka berusaha untuk melenyapkan prinsip-prinsip yang menguatkan Bani Hasyim secara politis

.

Hal itu tidak saja untuk masa itu, namun sebelumnya mereka telah memperhitungkan kemungkinan yang akan datang. Kemungkinan-kemungkinan tersebut seperti:
Penguasa baru menganggap mereka yang menentang sebagai kekuatan/ oknum penyulut fitnah di tengah-tengah kaum muslimin, dan hukum menciptakan fitnah adalah haram dalam Islam. Hal itu ditambah dengan stabilitas negara yang mapan, di samping musuh-musuh di luar teritorial Islam yang senantiasa menanti kesempatan melemahnya pemerintahan Islam untuk kemudian mencaploknya. Di sisi lain, munculnya gejala pemurtadan sebagian kaum muslimin sepeninggal Rasulullah saw. di dalam kawasan Islam sendiri

.
Tindak-tindak kekerasan yang dipakai oleh khalifah terpilih dan kronixnya terhadap Ali bin Abi Thalib a.s. dan orang-orang yang masih setia dengannya, persis dengan cara yang dipakai untuk membungkam Saad bin Ubadah di Saqifah. Kekerasan yang ditunjukkan oleh penguasa nampak sekali pada perilaku Umar bin Khatthab yang sesumbar akan membakar rumah Ali, sekalipun Fathimah, putri Rasulullah, berada di dalamnya. Sikap Umar menunjukkan bahwa Fathimah, keluarga Muhammad saw., tidak lagi memiliki hak-hak untuk dihormati oleh pemerintah, karena kebijakan mereka sama.
Abu Bakar dan pendukungnya tidak memberikan bagian posisi pun dalam pemerintahannya kepada satu dari keluarga Bani Hasyim. Sikap ini kepanjangan dari prinsip pertama agar suatu saat jangan sampai Bani Hasyim dapat mengambil kembali kekhalifahan yang menjadi hak mereka. Bahkan lebih dari itu, tidak satu pun dari Bani Hasyim yang kemudian ditunjuk untuk menjadi gubernur di sebuh kawasan Islam

.
Mempersiapkan front politik besar sebagai rival keluarga Muhammad saw. agar dapat meraih kepemimpinan dan menguasai posisi-posisi penting di pemerintahan. Di sini, terlihat bahwa Bani Umayyah memiliki garis yang jelas dalam sikap politiknya. Mereka menduduki posisi-posisi strategis di zaman Abu Bakar dan Umar. Di samping itu,  prinsip Syura’ yang dikembangkan Umar secara pasti untuk memunculkan Utsman bin Affan sebagai kandidat akan terpilih oleh mayoritas kandidat yang ada

.
Front ini digambarkan akan bertahan lama bahkan akan semakin meluas dan membesar, karena ia tidak terbentuk secara perseorangan, namun mengambil bentuk sebuah insitusi besar. Pada gilirannya, front ini tidak memberikan kesempatan kepada keluarga Muhammad saw. untuk dapat meraih kekuasaan. Seandainya hal itu mungkin, maka tidak akan didapatkan dengan mudah

.
Menyingkirkan semua unsur pendukung Bani Hasyim. Diriwayatkan bahwa Abu Bakar telah menyingkirkan Khalid bin Said bin Al-Ash. Semula, ia adalah komandan tentara yang dipersiapkan menguasai Syam (Syiria). Namun, Umar membisikkan dan memperingatkan Abu Bakar bahwa Khalid bin Said dari keluarga Bani Hasyim dan condong kepada Ali bin Abi Thalib. Tidak cukup itu saja, Umar mengingatkannya juga bahwa Khalid termasuk orang yang menentang mereka sepeninggal Nabi

.
Melemahkan kekuatan ekonomi Ali bin Abi Thalib. Sebab, kekuatan ekonomi yang dimilikinya dapat dipergunakan untuk membiayai pergerakannya guna meraih kembali haknya yang terampas sebagai khalifah. Untuk itu, Khalifah memulai usahanya dengan memblokir dan merampas tanah Fadak dari Fathimah a.s. Abu Bakar tahu bahwa Fathimah bagi Ali adalah kekuatan utama yang senantiasa mengiringinya untuk menuntut haknya. Selain itu, kekuatan-kekuatan politik yang ada telah menjual suaranya kepada pemerintah. Sangat mungkin sekali pemerintah  akan membatalkan kontrak dagang dengannya, sekalipun mendatangkan keuntungan yang besar. Sebagaimana diketahui juga, bahwa Abu Bakar sendiri menggunakan politik uang sebagai alat untuk mendapatkan dukungan masa

.
Di samping data di atas, Fathimah, putri Rasulullah saw., adalah bukti terbesar yang sering diandalkan oleh pendukung Ali bin Abi Thalib untuk menjelaskan kebenaran; bahwa kekhalifahan adalah hak Ali. Di sisi lain, khalifah akan dianggap benar-benar sukses dalam usaha-usahanya yang bersifat politis bila mampu membuat Fathimah, pendukung Ali, mengambil sikap netral. Cara paling ampuh adalah dengan tidak langsung memahamkan kaum muslimin bahwa Fathimah hanyalah seorang wanita yang tidak pantas untuk didengar omongannya dalam pengaduannya tentang masalah Fadak yang jelas-jelas merupakan masalah sederhana, apa lagi tentang masalah yang lebih penting seperti masalah khilafah. Bila Fathimah menuntut tanah yang bukan haknya, maka sangat mungkin sekali ia menuntut pemerintahan Islam untuk suaminya. Sementara Ali tidak memiliki hak sama sekali, sebagaimana yang diklaim oleh para sahabat yang menjadikan dirinya sebagai kandidat untuk menjadi khalifah Rasulullah saw

.
Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar berkuasa, ia mengutus kepada wakil Fathimah Zahra yang menjaga Fadak, kemudian mengusirnya dari tanah Fadak lali ia menguasainya. Ia berargumentasi dengan sebuah hadis yang tidak pernah didengar oleh sahabat lain selain dirinya. Ia mendengar bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kami para Nabi tidak mewariskan apapun, dan apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah”. Dengan alasan hadis ini Nabi tidak mewariskan apapun. Seandainya ada, itu menjadi milik kaum fakir miskin.

Argumentasi para Penentang Khalifah Terpilih di Saqifah
Sejumlah sahabat, pendukung Ali bin Abi Thalib yang menuntut hak Ali sebagai khalifah berargumentasi dengan argumen yang kuat, jelas dan atas dasar teks-teks wahyu dengan memakai metode yang menunjukkan antusiasi mereka akan menangnya kebenaran dan terjaganya pemerintahan Islam dari penyesatan. Mereka berkumpul di masjid Nabi. Salah satu dari mereka bernama Khuzaimah bin Sabit dan berkata: “Wahai kaum muslimin! Apakah kalian tidak tahu bahwa Rasulullah saw. menerima kesaksianku seorang  diri?” Mereka berkata: “Ya! Kami tahu”. Khuzaimah melanjutkan: “Saksikanlah bahwa aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Ahlul Baitku adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Mereka adalah para imam yang harus diikuti. Aku telah mengucapkan apa yang kutahu, seorang utusan tugasnya hanyalah menyampaikan”

.
Ammar bin Yasir berargumentasi dengan ucapannya: “Wahai Quraisy! Wahai kaum muslimin! Bila kalian telah mengetahui, maka biarkan itu yang berlaku. Namun, bila kalian belum mengetahui, ketahuilah bahwa Ahlul Bait Nabi lebih utama dan lebih berhak atas warisan Nabi. Ahlul Bait Nabi lebih tangguh dalam urusan agama dan lebih tepercaya bagi orang mukmin, lebih menjaga umat Islam dan lebih memperhatikan umat Islam dan menginginkan kebaikan mereka. Perintahkanlah tuan kalian, Abu Bakar, agar ia mengembalikan hak yang diambil dari pemiliknya sebelum urusan-urusan kalian melemah, berpecah belah dan sebelum fitnah membesar di tengah kalian”

.
Sahl bin Hanif berdiri dan berkata: “Wahai Quraisy! Bersaksilah atas Rasulullah saw! Aku telah melihatnya di tempat ini (masjid). Nabi mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib seraya berkata: “Wahai manusia! Ini adalah Ali; Imam kalian setelahku, penerus wasiatku ketika aku hidup dan setelah matiku, hakim agamaku, bukti janjiku. Dialah orang pertama yang menjabat tanganku di telaga Kautsar pada Hari Kiamat. Sangat beruntung orang yang mengikuti dan menolongnya. Celakalah orang yang mengingkari dan menghinakannya”

.
Abu Al-Haitsam bin At-Tihan tidak mau ketinggalan. Ia berdiri dan berkata: “Aku bersaksi atas Rasulullah saw. bahwa beliau pernah mengangkat Ali pada Hari Hadir Kaum. Kaum Anshar pada waktu itu berkata: “Nabi mengangkat Ali dalam urusan kekhalifahan. Sebagian lain berucap: “Nabi melakukan hal itu tidak lain agar manusia tahu bahwa Ali adalah pemimpin bagi siapa yang menjadikan Rasulullah saw sebagai pemimpinnya. Banyak suara-suara yang mencoba menafsirkan hal itu, akhirnya kami mengutus seseorang menemui Rasulullah untuk menanyakan masalah ini. Nabi menjawab: “Ali adalah wali dan pemimpin kaum mukminin sepeninggalku dan orang yang paling peduli menasihati umatku. Dan aku, Abu Haitsam, bersaksi dengan Zat yang menciptakanku, terserah kalian untuk memilih percaya atau tidak, sesungguhnya azab Hari Kiamat sangat pedih”

.
Kemudian secara berturut-turut berdiri Abu Ayub Al-Anshari, Utbah bin Abi Lahab, An-Nu’man bin ‘Ajalan dan Salman Al-Farisi menyampaikan argumentasinya di hadapan kaum muslimin

.

Upaya Pemaksaan Baiat atas Ali
Keengganan Ali bin Abi Thalib untuk berbaiat kepada Abu Bakar dan protes sejumlah sahabat besar secara terang-terangan dan tuntutan untuk mengembalikan kekuasaan kepada pemiliknya yang sah, memiliki pengaruh efektif dalam menggerakkan emosi kaum muslimin untuk bergabung dengan barisan Ali. ditambah dengan adanya sebagian kelompok muslim nomaden yang tinggal di pinggiran kota Madinah seperti: Asad, Fazarah, Bani Hanifah dan selainnya yang menyaksikan secara langsung pembaiatan di Hari Ghadir Khum yang dilakukan oleh Nabi kepada Ali sebagai pemimpin kaum mukminin sepeninggal dirinya. Semua itu membuat mereka enggan berbaiat kepada Abu Bakar. Mereka juga tidak membayar zakat kepada pemerintah terpilih, karena menganggap bahwa pemerintahan ini tidak sah. Namun pada saat yang sama, mereka tetap melakukan shalat dan ibadah lainnya. Semua ini menjadi bahaya laten bagi pemerintahan yang ada. Oleh karenanya, pemerintah merasa terdesak untuk mengambil langkah-langkah guna meminimalkan bahaya tersebut. Cara paling ampuh adalah memaksa pimpinan para penentang,  yaitu Ali bin Abi Thalib, untuk berbaiat kepada Abu Bakar

.
Sebagian sejarawan menyebutkan: “Pada suatu hari Umar bin Khatthab mendatangi Abu Bakar dan berkata: “Mengapa sampai saat ini engkau belum mengambil baiat dari si pembangkang, Ali bin Abi Thalib Wahai Abu Bakar? Kau tidak akan dapat melakukan apapun bila Ali belum melakukan baiat kepadamu! Utus pasukan kepadanya sehingga ia berbaiat kepadamu”

.
Abu Bakar dan kroninya sepakat untuk memaksa Ali agar berbaiat kepadanya. Mereka mengirim sebuah pasukan berkekuatan penuh mengepung rumahnya dan masuk ke dalam rumah Ali secara paksa. Mereka menyeretnya keluar dengan cara yang tidak pantas. Nabi menyifatinya sebagai pembantu utamanya seperti dalam hadis, “Engkau di sisiku seperti Harun di sisi Musa, hanya tidak ada nabi sepeninggalku”

.
Mereka membawanya ke hadapan Abu Bakar. Mereka berteriak dengan suara keras sambil memaksanya: “Lakukan baiat kepada Abu Bakar!” Ali menjawab dengan logika yang kokoh dan penuh keberanian: “Aku lebih berhak  menjadi khalifah dibandingkan kalian. Aku tidak akan berbaiat kepada kalian. Lebih tepat kalian berbaiat kepadaku. Kalian telah merampas kekhalifahan dari kaum Anshar dengan argumentasi kedekatan kekeluargaan kalian dengan Rasulullah saw. Apakah kalian ingin mengambilnya pula secara paksa dari kami Ahlul Bait Nabi dengan argumentasi yang sama?! Apakah kalian tidak berdalil di hadapan kaum Anshar bahwa kalian lebih berhak untuk memimpin dibandingkan mereka, karena Muhammad saw. adalah dari kalian dan karenanya mereka menyerahkan kepemimpinan kepada kalian? Sekarang aku juga ingin berargumentasi dengan cara yang telah kalian lakukan terhadap kaum Anshar. Kami lebih layak dan dekat kepada Rasulullah saw; baik semasa ia hidup atau sepeninggalnya. Bersikaplah adil bila kalian masih beriman! Bila tidak, lakukan kezaliman yang kalian inginkan sementara kalian tahu apa balasannya nanti!”

.
Penjelasan tegas yang diberikan oleh Ali bin Abi Thalib a.s. akan kebenaran sebagai kendaraan politiknya tidak begitu saja diterima oleh penguasa waktu itu, sekalipun sudah tidak berdaya untuk menjawab tantangan argumentasinya. Untuk sesaat, semua terdiam. Namun setelah itu, Umar bin Khatthab bangkit dan terpaksa menggunakan jalan kekerasan sambil berkata kepada Ali: “Engkau tidak akan kami biarkan hidup sampai melakukan baiat kepada Abu Bakar”. Ali a.s. tetap tidak bergeming dengan pendiriannya dan menjawab: “Wahai Umar! Engkau telah memeras dengan sungguh-sungguh segala kecerdikan yang kau miliki. Mulai hari ini persiapkan masalah ini (kekhalifahan) untuk dirimu, karena mungkin masalah kekhalifahan menjadi bagianmu kelak. Demi Allah! Wahai Umar, aku tidak mengikuti omonganmu dan tidak akan membaiat Abu Bakar”

.
Ucapan Ali bin Abi Thalib ini menyingkap kedok rahasia perjuangan Umar dan semangatnya untuk mendapat baiat dari Ali. Sikapnya selama ini ialah setelah Abu Bakar, kekhalifahan akan jatuh ke tangannya

.
Abu Bakar sendiri khawatir kejadian akan berkembang tidak sesuai dengan yang diinginkannya. Ia takut akan kemarahan Ali. Akhirnya ia berkata: “Bila engkau tidak ingin membaiatku, aku tidak akan memaksamu”. Namun pada saat itu, Abu Ubaidah bin Al-Harraj berusaha untuk tetap menundukkan Ali sebagai caranya untuk merebut hati Abu Bakar dengan perkataanya:
“Wahai anak pamanku! usiamu masih belum seberapa dibandingkan dengan mereka yang telah berumur. Engkau masih muda dan belum punya banyak pengalaman dalam menyelesaikan masalah-masalah kenegaraan. Yang kutahu,  dalam masalah ini Abu Bakar lebih baik dibandingkan engkau. Di samping itu, Abu Bakar lebih luas pengetahuannya dibanding denganmu. Serahkan saja urusan pemerintahan ini kepada Abu Bakar! Bila engkau masih hidup dan diberi umur panjang, pada waktu itu engkau yang lebih tepat untuk memerintah karena keutamaan, agama, ilmu, pemahaman, pengalaman, keturunan dan hubungan dekatmu berkat perkawinan”

.
Puncaknya ungkapan-ungkapan politis semacam ini hanya untuk mengelabui orang lain. Namun tentunya, ini tidak akan berpengaruh bila diucapkan kepada Ali bin Abi Thalib. Ali tidak kehilangan kesadarannya, bahkan jiwanya merasa tertusuk dengan penyimpangan yang telah terjadi ini. Akhirnya ia berdiri dan berpidato di hadapan kelompok Abu Bakar untuk mengingatkan mereka akan kesalahan yang telah diperbuat

.
Ali berkata: “Takutlah kepada Allah wahai kaum Muhajirin! Jangan kalian keluarkan kekuasaan Muhammad di Arab dari dalam rumahnya ke rumah kalian. Jangan kalian hempaskan keluarga Muhammad dari  posisinya yang sah dan dari manusia. Demi Allah! Wahai kaum Muhajirin, kami lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan manusia yang lain, karena kami adalah Ahlul Bait Nabi. Kami lebih berhak atas kekhalifahan dibandingkan dengan kalian. Kami adalah orang yang membaca Kitab Allah. Kami adalah orang yang memahami dengan benar agama Allah. Kami adalah orang yang mengenal betul sunah-sunah Nabi Muhammad saw. Kami lebih faham masalah kemasyarakatan. Kami adalah orang yang akan menjauhkan keburukan dari kalian. Kami adalah pemutus yang adil. Demi Allah! Semua ini ada pada kami. Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu, karena itu akan membuat kalian sesat dan celaka dari jalan Allah, dan semakin kalian berjalan akan semakin jauh dari kebenaran”

.
Diriwayatkan bahwa Fathimah, putri Nabi, keluar mengikuti Ali bin Abi Thalib dari belakang. Ia khawatir mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Fathimah a.s. keluar sambil menggandeng kedua tangan anaknya; Hasan dan Husein a.s. Melihat itu, Bani Hasyim keluar bersamanya. Ketika sampai di masjid, ia menantang mereka dan akan menyumpahi mereka bila tidak meninggalkan Ali. Fathimah a.s. berkata: “Lepaskan anak pamanku! Bebaskan suamiku! Demi Allah! Aku akan membuka kain penutup kepalaku dan membiarkan rambutku tergerai dan akan kuletakkan pakaian ayahku di atas kepalaku dan aku akan menyumpahi kalian! Unta Nabi Saleh tidak lebih mulia di hadapan Allah dibanding denganku. Anaknya tidak lebih mulia di hadapan Allah dibanding anakku”

.

Ali dan Kesulitan-kesulitan Pasca Saqifah
Bila sikap dan posisi Ali bin Abi Thalib membuat semua orang merasa takut, maka sikap dan posisinya terhadap kekhalifahan setelah Rasulullah saw. adalah yang paling menakutkan. Inayah ilahiyah menginginkan di setiap zaman ada pahlawan yang mengorbankan jiwanya untuk menegakkan dan memuliakan prinsipnya. Hal inilah yang mendorong Ali untuk tidur di atas pembaringan maut dan untuk berhijrah mengikuti Nabi ke Madinah. Ujian yang masih belum dilakukannya adalah mengorbankan kedua anak laki-lakinya; Hasan dan Husein

.
Ali tidak mengorbankan kedua anaknya dalam peristiwa kekhalifahan agar kembali kepada arahnya yang tepat dan benar, karena ia tahu betul bahwa itu tidak lagi menyisakan seseorang yang melanjutkan pesan wahyu dari sisi yang lain. Kedua cucu Nabi adalah anak kecil yang belum disiapkan untuk masalah khilafah saat ini

.
Ali bin Abi Thalib memiliki kesiapan penuh untuk menjadikan dirinya sebagai korban demi prinsip Islam di setiap periode kehidupannya, sejak dilahirkan di dalam Ka’bah hingga menjadi syahid di masjid Kufah. Ia telah mengorbankan dirinya demi posisi yang telah disahkan oleh Nabi Muhammad saw. dengan menerima kenyataan untuk tidak berkuasa sebagai khalifah zhahir dalam rangka kemaslahatan utama umat Islam. Hal itu juga lantaran Rasulullah telah menyebutnya sebagai pengemban wasiat dan penjaga umat dan agama

.
Ali bin Abi Thalib berada di persimpangan jalan yang semua arahnya menyulitkan dirinya:
Ali harus membaiat Abu Bakar. Kondisi Ali dalam masalah pembaiatan tidak berbeda jauh dengan sebagian kaum muslimin yang lain. Dan pada saat yang sama, ia harus melindungi diri, kepentingan pribadi, masa depan yang baik dan dihormati oleh aparat pemerintah. Namun, ini tentu tidak mungkin; di mana kedua-duanya bakal diraihnya. Membaiat Abu Bakar dan mengakui kekuasaannya artinya menyimpang dan meninggalkan perintah Rasullah saw. yang pada gilirannya, berakibat penyimpangan khilafah dan kepemimpinan dari jalannya yang sah dan dari makna hakikinya hingga akhir zaman. Semua usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan dirinya sendiri untuk menguatkan sendi-sendi Islam dan khilafah islamiyah menjadi sia-sia, yang pada akhirnya terjadi penyimpangan peradaban Islam yang telah dibangun selama ini secara seksama dan merata

.
Ali mengambil sikap diam, sekalipun dari kecil mengganggu matanya dan tenggorokannya. Ia harus berusaha untuk bersikap arif dan bijaksana agar tetap dapat menjaga eksistensi Islam sekaligus melindungi kaum muslimin, sekalipun ia harus rela menunggu hasil usahanya lebih lambat.
Ali mengumumkan pemberontakan bersenjata terhadap kepemimpinan Abu Bakar dengan mengajak kaum muslimin untuk membantunya menghadapi khalifah yang berkuasa

.
Seandainya opsi ketiga dipilih oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu melakukan gerakan bersenjata, apa yang bakal didapatkannya? Kondisi inilah yang ingin dicoba untuk dianalisa sesuai dengan kondisi sejarah yang sulit waktu itu

.
Tidak sesederhana itu bila para penguasa langsung turun dari tahtanya dengan sedikit pemberontakan yang dihadapi, apa lagi dengan melihat kenyataan bahwa mereka sangat rakus dengan yang namanya kekuasaan. Artinya, mereka pasti dengan sekuat tenaga berusaha untuk membela dan mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun. Pada saat seperti itu, sangat logis bila Saad bin Ubadah akan memanfaatkan kesempatan emas ini untuk juga mengumumkan perang lainnya guna memenuhi hawa nafsunya untuk menguasai kekuasaan

.
Analisa ini muncul ketika Saad mengancam kelompok terpilih sebagai penguasa, Abu Bakar, untuk memerangi mereka bila ia dituntut untuk memberikan baiat. Ia sempat berkata: “Tidak! Demi Allah, aku tidak akan memberikan baiat hingga aku memerangi kalian dengan panah-panahku yang kucat ujungnya dengan darah kalian. Aku akan memerangi kalian dengan pedangku dan membunuh kalian satu persatu bersama keluargaku dan mereka yang masih taat kepadaku. Seandainya Semua manusia dan jin berkumpul dan membela kalian aku tidak akan melakukan baiat”

.
Kemungkinan yang paling bisa dilakukan oleh Sa’ad bin Ubadah ialah menyiapkan diri untuk melakukan kudeta. Hanya saja, ia tidak berani menjadi orang pertama yang mengangkat senjata. Ia merasa cukup dengan ancaman kerasnya sebagai pewrnyataan perang. Ia menanti buruknya kondisi untuk menjadi bagian dari orang-orang yang menentang khalifah terpilih. Ia bebas kapan saja melakukan kudeta saat melihat kelompok penguasa menjadi lemah dan ada kelompok kuat lainnya yang ingin juga mengkudeta pemerintah. Pada saat itu, ia berharap dapat mengusir kaum Muhajirin dari Madinah atau menghabisi mereka di sana, sebagaimana diungkapkan di Saqifah

.
Perlu dicatat bahwa masih ada kelompok Bani Umayyah yang menanti posisi dan kekuasaan. Mereka masih punya pengaruh yang besar di Mekkah sejak tahun-tahun Jahiliyah terakhir; bagaimana Abu Sufyan sebagai pemimpin mereka menentang dan ingin menghancurkan Islam. Di sisinya, ada wakil yang benar-benar taat kepadanya. Ia bernama Itab bin Usaid bin Abi Al-Ash bin Umayyah

.
Bila direnungkan kejadian di hari-hari itu, kabar wafatnya Rasulullah saw. telah sampai ke Mekkah di bawah pemerintahan Itab bin Usaid bin Abi Al-Ash bin Umayyah. Ia menyembunyikan kabar tersebut sementara di Madinah terjadi kegelisahan, dan itu hampir membuat penduduk Mekkah menjadi murtad. Tentunya, tidak ada yang rela terhadap penyebab kemurtadan mereka. Kemurtadan itu berawal dari kemenangan Abu Bakar yang sekaligus menunjukkan kemenangan mereka atas penduduk kota Madinah sebagaimana sebagian peneliti menjelaskan hal itu, karena Abu bakar menjadi khalifah pada hari Rasulullah wafat

.
Kemungkinan besar, kabar Abu Bakar menjadi khalifah datang bersamaan dengan kabar wafatnya Nabi. Sebab kejadian itu dapat disebutkan dengan penjelasan ini: Gubernur yang diangkat oleh dinasti Umaiyah ‘Itab bin Usaid berusaha untuk menjelaskan sikap politis yang diyakini oleh Bani Umayyah waktu itu. Ia menyembunyikan kabar kemenangan Abu Bakar dan menyebarkan kematian Rasulullah saw. Pada awalnya ia berusaha menyembunyikan kabar ini karena tahu bahwa Abu Sufyan kecewa dengan sikap dan pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Kabar itu kemudian disebarkan setelah tahu kerelaan Abu Sufya setelah terjadi pertemuan yang menghasilkan beberapa kesepakatan yang menguntungkan dinasti Umayah

.
Dengan demikian, hubungan politis antara tokoh-tokoh Umawiyah dengan pemerintahan terpilih mulai terbangun sejak saat itu. Ini memberikan penafsiran adanya sebuah kekuatan yang tersimpan di balik ucapan-ucapan Abu Sufyan, yaitu ketika ia kecewa kepada Abu Bakar dan teman-temannya. Abu Sufyan berkata: “Aku sedang melihat segerombolan unta-unta yang hanya bisa dibasmi dengan darah. Dan ia berkata tentang Ali bin Abi Thalib dan Abbas: “Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, akan kuangkat tangan keduanya menjadi pemimpin”

.
Bani Umayyah telah mempersiapkan diri untuk melakukan kudeta, dan Ali bin Abi Thalib a.s. mengetahui niat mereka yang diungkapkan dalam kejadian Saqifah. Di samping itu, Ali tahu bahwa mereka orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Yang mereka inginkan adalah kepentingan pribadi. Oleh karenanya, Ali menolak permintaan Bani Umayyah. Sejak saat itu Bani Umayyah menanti perpecahan; ketika kelompok-kelompok bersenjata melakukan peperangan. Mereka tidak pernah yakin akan kemampuan pemerintah untuk menjamin kepentingan mereka. Dan makna pemisahan mereka dari jamaah pada waktu itu adalah sebuah pengumuman keluarnya mereka dari agama dan memisahkan Mekkah dari Madinah

.
Dengan demikian, bila pada masa itu kelompok Ali bin Abi Thalib melakukan pemberontakan menentang penguasa yang mengambilnya haknya, akan terjadi pertumpahan darah yang diikuti oleh banyak kepentingan, dan pada saat yang sama, memberikan peluang kepada mereka yang menghendaki terjadinya fitnah dan kaum munafikin akan memanfaatkan situasi

.
Kondisi yang sulit ini tidak memberikan kesempatan kepada Ali bin Abi Thalib untuk mengangkat suaranya melawan penguasa, karena yang akan terjadi adalah pertumpahan darah dan pembunuhan antara kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan-kepentingan sendiri. Akibatnya eksistensi Islam akan lenyap pada saat-saat kaum muslimin perlu berlindung di balik satu kepemimpinan. Kaum muslimin perlu memusatkan kekuatannya untuk mencegah terjadinya fitnah dan kudeta

.
Mempertimbangkan kondisi demikian ini, Ali harus memilih jalan tengah yang dapat mewujudkan sebesar mungkin tujuan risalah yang diembannya.
Dari sini dapat diketahui bahwa Rasulullah saw. telah menyiapkan dua garis acuan atau sebuah acuan yang memiliki dua tahap.
Tahap pertama, pengangkatan Ali sebagai imam dan khalifah secara resmi dengan pengumuman resmi dan pengambilan baiat dari kaum muslimin di hari Ghadir Khum. Rasul sebagai pemimpin politik diakui sepanjang sejarah oleh orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Nabi memiliki pandangan yang tajam dan jauh ke depan. Keinginannya akan kebaikan umatnya dan hubungannya yang terus menerus dengan alam gaib dan ilmu ilahi yang berwujud syariat Islam sebagai penutup segala syariat, merupakan tujuan risalah ilahi yang dapat terwujudkan secara keseluruhan

.
Dari sini dan dari sisi pengetahuannya akan seberapa besar kesadaran umat Islam akan risalah Islam di zamannya dan seberapa besar peleburan sikap mereka dengan nilai-nilai risalah Islam, serta kondisi masyarakat yang menerima atau terpaksa menerima negara yang didirikan oleh Nabi yang mencakup kabilah-kabilah dan nilai-nilai Jahiliyah, tidaklah mudah untuk menghilangkannya dengan cepat dan dengan langkah-langkah pendidikan jangka pendek. Semua ini dapat diketahui oleh orang yang merenungi kondisi yang meliputi kehidupan Nabi dan negara. Orang akan merasakan keharusan adanya rencana jangka panjang yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan besar risalah Islam setelah ketidakmungkinan mewujudkannya pada waktu hidup Nabi dan dalam kondisi masyarakat yang seperti ini dalam waktu singkat

.
Dengan demikian, tahap kedua adalah setelah umat Islam berpaling dari ajaran-ajaran Nabi. Dan langkah yang harus diambil oleh Ali bin Abi Thalib adalah sabar, waspada dan kembali menggariskan secara praktis proses pembinaan yang lebih mengakar di bawah pemerintahan Islam yang  baru dengan harapan, bahwa suatu saat kondisi memungkinkan untuk menguasai pemerintahan dan mewujudkan ajaran-ajaran Nabi. Pada saat itu, semua tujuan-tujuan dapat diwujudkan dan umat Islam dapat mempraktekkan syariat Islam secara benar

.

Ali dan Pengumpulan Al-Qur’an
Semua riwayat yang sahih sepakat bahwa setelah melakukan prosesi penguburan jasad Nabi Muhammad saw. Ali bin Abi Thalib tinggal di rumahnya dan menyibukkan dirinya mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dan menertibkannya sesuai waktu turunnya. Ali bin Abi Thalib mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an dari tulisan-tulisan yang berserakan

.
Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq a.s. bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ali! Al-Qur’an berada di balik pembaringanku, masih berada dalam mushaf, kain sutera dan kertas. Ambillah dan kumpulkan Al-Qur’an itu! Dan jangan biarkan ia hilang sebagaimana orang-orang yahudi menghilangkan Taurat” kitab asli. Kemudian Ali pergi mengambil dan mengumpulkannya lalu meletakkannya dalam sebuah pakaian kuning

.
Diriwayatkan pula, bahwa Ali bin Abi Thalib melihat orang-orang dalam kondisi kebingungan ketika Nabi wafat. Kemudian ia bersumpah untuk tidak menyelempangkan surbannya sampai selesai mengumpulkan Al-Qur’an. Lalu ia mengumpulkan Al-Qur’an selama tiga hari tanpa keluar rumah.
Diriwayatkan pula, Ali bin Abi Thalib tidak melakukan kontak dengan orang-orang untuk beberapa waktu sampai ia mengumpulkan Al-Qur’an. Kemudian ia keluar menemui orang-orang dengan memakai gamis, sementara orang-orang sedang berkumpul di masjid. Setelah berada di tengah-tengah mereka, Ali meletakkan Al-Qur’an di hadapan mereka sambil berkata: “Sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda: “Kutinggalkan kepada kalian sesuatu yang bila kalian berpegang padanya,  niscaya kalian tidak akan sesat; kitab Allah dan itrahku, Ahlul Baitku. Ini adalah kitab Allah dan aku adalah itrah Ahlul Bait”.kemudian ia menambahkan: “Aku menjelaskan hal ini agar kelak kalian tidak berkata: “Kami lupa tentang masalah ini”.
Ali menambahkan: “Jangan sampai pada Hari Kiamat, kalian berkata bahwa aku belum mengajak kalian untuk membela, aku belum mengingatkan kalian tentang hakku, dan aku belum mengajak kalian kepada kitab Allah dari pembukaannya hingga akhir”

.
Umar bin Khatthab berkata kepada Ali: “Bila engkau memiliki Al-Qur’an, kami memiliki yang sama. Oleh karenanya, kami tidak membutuhkan Al-Qur’an yang berada di tanganmu dan dirimu”

.
Tampaknya, Ali bin Abi Thalib tidak cukup hanya dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga menertibkannya sesuai waktu turunnya. Ali juga menjelaskan mana ayat yang umum dan khusus, mutlak dan muqayyad, muhkam dan mutasyabih, nasikh dan mansukh, surat-surat yang wajib sujud dan yang tidak, dan sunah-sunah dan adab yang berkaitan dengan Al-Qur’an. begitu juga Ali bin Abi Thalib menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat (Asbab An-Nuzul). Ia juga mendiktekan penulisan enam puluh macam prinsip yang berkaitan dengan ilmu Al-Qur’an; setiap satu prinsip dibawakan contoh khusus yang berkaitan dengannya

.
Pekerjaan besar yang dilakukan Ali mengangkatnya pelindung prinsip-prinsip utama Islam. Ali mengarahkan akal seorang muslim untuk mengkaji lebih dalam tentang ilmu-ilmu yang dikandung oleh Al-Qur’an. Tujuannya tidak lain agar Al-Qur’an menjadi sumber utama pemikiran manusia yang dibutuhkan dalam kehidupannya

.
Apa yang dikerjakan oleh Ali bin Abi Thalib perlu mendapat apresiasi yang besar. Ia sendiri pernah berkata: “Setiap ayat yang turun kepada Rasulullah saw. pasti dibacakan kepadaku, kemudian aku menulisnya dengan tanganku sendiri. Nabi mengajarkanku takwil ayat tersebut, tafsir, nasikh dan mansukhnya dan muhkam dan mutasyabihnya. Kemudian Nabi berdoa kepada Allah swt. agar aku dapat memahami apa yang diajarkannya. Aku tidak pernah lupa sebuah ayat dari Al-Qur’an, bahkan sebuah ilmu yang kutulis lewat ajaran Nabi. Allah telah mengajarkan kepada Nabi segala sesuatu baik halal dan haram, perintah dan larangan, dan apa yang telah terjadi atau yang akan terjadi yang berkaitan dengan ketaatan atau kemaksiatan, pasti Nabi mengajarkannya kepadaku, dan aku menghafalkannya. Aku tidak pernah lupa walaupun satu huruf”

.

Sikap Ali di Zaman Abu Bakar
Ali bin Abi Thalib a.s. berkata: “Demi Allah! Tidak pernah terpikirkan dalam benakku bahwa Arab akan mengambil kekhalifahan sepeninggal Nabi dari Ahlul Baitnya,  atau aku akan dicegah untuk memerintah. Satu hal yang membuatku gusar adalah orang-orang yang berduyun-duyun membaiat Abu Bakar. Aku tetap pada posisiku, sampai suatu saat aku melihat bahwa masyarakat Islam tidak lagi berpegang pada Islam, atau mereka ingin menghancurkan agama Muhammad saw. Pada saat itu, aku khawatir bila tetap tinggal diam menyaksikan hal itu terjadi. Aku harus maju menolong Islam dan pengikutnya. Kondisi ini buatku lebih sulit dari sekadar melepaskan kekuasaan yang menjadi hakku atas kalian. Kekuasaan yang menurutku tidak lebih dari sebuah barang yang pada akhirnya akan lenyap seperti fatamorgana, atau bagaikan awan yang cepat berlalu. Oleh karenanya, aku harus berdiri di tengah-tengah kekacauan ini sampai kebatilan lenyap dan agama tetap tegak

.
Semua kejadian yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw. dan sistem yang berkuasa berusaha menjauhkan masyarakat dari kebenaran. Seluruhnya belum melupakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pengemban wasiat; menuntun umat Islam dan mempraktekkan risalah Islam

.
Baiat yang dilakukan kepada Abu Bakar telah menyingkirkan Ali bin Abi Thalib dari mengatur kehidupan umat Islam secara langsung. Kondisi ini pula memaksanya untuk meminggirkan dirinya dari dunia politik, sementara wasiat Nabi adalah untuknya sebagai sebuah kewajiban ilahi untuk melindungi umat Islam. Keinginannya yang kuat dan dalam akan risalah Islam sementara masyarakat Islam yang terkoyak-koyak selama ini telah menjadikanya sebagai pemimpin sekaligus panutan yang membela Islam di setiap medan

.
Berdasarkan hal-hal di atas, Ali bin Abi Thalib mulai menyampaikan pandangan-pandangannya, menjelaskan prinsip-prinsip agama yang benar di setiap kondisi yang sulit, di mana orang-orang mengikuti kepemimpinan yang ada di zaman yang sulit dan pada umat yang akidah Islamnya masih belum kuat dan mengkristal dalam jiwanya. Ali adalah tolok ukur dalam masalah-masalah peradilan dan fatwa dalam kehidupan masyarakat Islam, mulai dari peradilan, sosial dan manajemen, di zaman Abu Bakar hingga Utsman bin Affan

.
Posisi penting lain Ali adalah melindungi Madinah sebagai benteng di hadapan serangan kaum yang murtad bersama-sama beberapa sahabat setianya yang siap setiap saat di sisinya

.

Wasiat Abu Bakar kepada Umar
Ali bin Abi Thalib senantiasa dizalimi. Ia mempertahankan haknya yang dirampas. Hatinya pedih melihat kondisi kekhalifahan dan Islam. Yang bisa dilakukannya hanyalah sabar dan membuka mata lebar-lebar untuk memahami apa yang terjadi. Ia mengungkapkan kepedihan dan kesedihannya dalam pidato terkenalnya yang bernama Syiqsyiqiah. Ali bin Abi Thalib berkata:
“Demi Allah! Ketahuilah, Abu Bakar bin Abi Quhafah telah memakai jubah kekhalifahan. Padahal, ia tahu bagaimana posisiku dalam kekhalifahan. Aku laksana poros penggilingan yang senantiasa berputar mengelilingku. Ia tahu bahwa ilmu-ilmu tersebar melaluiku. Setiap orang yang ingin mencapai kesempurnaan tidak akan dapat melebihiku. Aku kemudian berusaha meminggirkan diriku dari usaha perebutan kekhalifahan yang menjadi hakku. Aku senantiasa berpikir, apakah mungkin seorang diri aku menuntut hakku? Ataukah dalam situasi yang tidak menentu aku perlu mengambil sikap sabar? Kondisi ini memaksa orang-orang tua musnah sementara para pemuda menjadi tua. Mereka yang beriman sampai kiamat dan bertemu dengan Allah dalam situasi sedih. Melihat kondisi yang semacam ini, aku merasa sikap yang paling tepat adalah sabar. Oleh karenanya aku bersabar melihat semua ini seakan menahan duri yang menusuk mata dan tulang yang tersangkut di tenggorokkan. Dalam pandanganku, warisanku dirampok oleh mereka! Semua terjadi sampai Abu Bakar mati dan menyerahkan masalah kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab. Sangat aneh! Abu Bakar meminta maaf kepada kaum muslimin selagi masih hidup. Bagaimana mungkin menjelang kematiannya ia memberikan hak kekhalifahan kepada orang lain (Umar bin Khatthab)? Keduanya telah bersusah payah memeras unta kekhalifahan dan bersenang-senang dengan perasannya. Pada akhirnya, khalifah pertama (Abu Bakar) memberikan hak kekhalifahan dan pemerintahan kepada seseorang yang terkenal dengan setumpuk kebobrokannya. Ia orang yang menyukai kekerasan, mempersulit orang lain dan sering melakukan kesalahan yang akhirnya menyesal dan meminta maaf”

.
Masa hidup Abu Bakar tidak panjang. Ia mulai lemah karena penyakit dan mulai mendekati ajalnya. Ia mengambil keputusan untuk menyerahkan urusan kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab sepeninggalnya. Keputusan ini ditentang oleh mayoritas Muhajirin dan Anshar. Mereka mengumumkan kebencian terhadap keputusan itu, karena tahu sifat keras Umar dan perilakunya yang buruk terhadap orang lain.
Abu Bakar tidak menanggapi bahkan bersikeras dengan pendapatnya

.
Kemudian Abu Bakar memanggil Utsman bin Affan menghadapnya untuk menuliskan surat keputusan pengangkatan Umar. Abu Bakar berkata kepada Utsman bin Affan: “Tuliskan: Bismillahirrahmanirrahim, ini adalah keputusan yang dibuat oleh Abu Bakar bin Abi Quhafah kepada kaum muslimin. Amma ba’du” Kemudian Abu Bakar pingsan. Utsman menulis lanjutannya: “Sesungguhnya aku telah menjadikan Umar bin Khatthab sebagai penggantiku, aku bukan yang terbaik di antara kalian”. Lalu Abu bakar tersadar dari pingsannya. Ia berkata kepada Utsman: “Bacakan untukku! Utsman membaca apa yang ditulisnya. Setelah mendengar itu, Abu Bakar lantas mengucapkan takbir lalu berkata: “Aku tahu engkau khawatir kaum muslimin akan berselisih bila aku mati dalam keadaan pingsan”. Utsman bin Affan menjawab: “Ya”. Abu Bakar berkata: “Semoga Allah memberikan balasan kebaikan untukmu”

.

Keberatan terhadap Wasiat Abu Bakar
Ali bin Abi Thalib a.s. tidak dapat menerima apa yang diperbuat oleh Abu Bakar dengan alasan-alasan berikut:
Abu Bakar tidak melakukan musyawarah dengan satupun dari kaum muslimin untuk meletakkan kendali kekhalifahan kecuali dengan Abdurrahman bin ‘Auf dan Utsman bin Affan. Kedua orang ini adalah yang paling tahu kecenderungannya untuk menjadikan Umar bin Khatthab sebagai pengganti setelahnya. Sikap Abu Bakar itu muncul dari rasa kekhawatiran para sahabat yang ikhlas yang akan menolak Umar bin Khatthab sebagai penggantinya kelak

.
Penegasan untuk menjauhkan Ali bin Abi Thalib dari peta politik dan dari penentuan arah kekhalifahan. Oleh karenanya, dalam masalah ini Abu Bakar tidak pernah melakukan konsultasi dengan Ali. Padahal Abu Bakar selalu membutuhkan Ali untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sulit atau sekurang-kurangnya, menurut Abu Bakar, pandangan dan sikap Ali selalu benar dibandingkan pandangan selainnya

.
Abu Bakar menjadikan Umar bin Khatthab sebagai pemimpin dan mewajibkan seluruh kaum muslimin untuk menaatinya, seakan-akan Abu Bakar pengemban wasiat kaum muslimin, demikian ini merujuk ucapannya: “Aku telah mengangkat Umar menjadi khalifah bagi kalian sepeninggalku. Dengar dan taatilah dia!” Ucapan ini selalu diungkapkan Abu Bakar meskipun ia melihat tanda kemarahan di wajah mayoritas sahabat Nabi

.
Abu Bakar melanggar keyakinannya selama ini; bahwa ia berjalan dan memerintah sesuai dengan cara yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Ia mengklaim bahwa ketika Nabi meninggal dunia, beliau tidak menetapkan seorang pun sebagai penggantinya. Sementara sekarang ia malah mewasiatkan temannya sendiri, Umar bin Khatthab, sebagai khalifah setelahnya

.
Abu Bakar tengah mempersiapkan kerajaan Bani Umayyah yang telah menyengsarakan kaum muslimin dan Islam. Dan itu terjadi karena ketamakan-ketamakan mereka akan kekuasaan, di samping keberanian mereka untuk menguasainya. Hal ini tersirat dari ucapan Abu Bakar kepada Utsman bin Affan: “Seandainya Umar tidak ada, aku pasti akan memilihmu”. Abu Bakar tahu benar bahwa Utsman secara emosional lemah dan condong ke Bani Umayyah dan mereka pasti akan menguasainya

.
Ali bin Abi Thalib di Zaman Umar bin Khatthab
Abu Bakar telah menyiapkan tahta kekhalifahan kepada Umar bin Khatthab  yang lalu dikuasainya dengan mudah tanpa protes yang berarti dari tokoh-tokoh penentang dari kaum Muhajirin dan Anshar. Umar telah menguasai kekhalifahan dengan kekuatan sehingga pertemuannya dengan tokoh-tokoh sahabat menjadi terhambat. Quraisy Jahiliyah telah berhasil mewujudkan kemenangan secara politis untuk yang kesekian kalinya. Sekali lagi, rencana mereka untuk tidak memberikan hak dan ruang kepada Bani Hasyim terlaksana dan Umar sebagai lokomotifnya mampu melaksanakannya dengan baik dan lebih kokoh.
Ali bin Abi Thalib sendiri tidak bangkit untuk meminta kembali haknya yang dirampas setelah menyaksikan perilaku penguasa dan masyarakat yang tidak juga sadar apa yang harus diperbuat sementara penyimpangan terus terjadi. Ali tidak punya cara lain selain menjadi penasihat tepercaya khalifah baru. Tanggung jawabnya kali ini lebih berat dari sebelumnya. Kini Ia menjadi orang tepercaya atas keselamatan Islam dan umatnya

.
Ali berusaha untuk berbuat sesuatu kepada masyarakat umum sesuai dengan kemampuannya. Ia melakukan usaha-usaha yang lebih krusial dibandingkan dengan apa yang dilakukannya di zaman Abu Bakar, mulai dari bidang pendidikan hingga peradilan. Luas teritorial Islam semakin melebar yang dengan sendirinya memunculkan banyak persoalan baru yang tidak mampu dijawab oleh khalifah baru dan pendukungnya. Tidak ada yang mampu menyelesaikan masalah-masalah ini selain orang yang dijaga oleh Allah dari perbuatan salah dan dosa. Dia adalah Ali. Oleh karenanya, Umar bin Khatthab bersikap lebih bisa bekerja sama dengan Ali, menghormati pendapatnya dan melaksanakan hukum yang diputuskannya. Bahkan diriwayatkan bahwa berkali-kali, di berbagai tempat dan situasi yang kritis ia berkata: “Allah tidak akan membiarkan aku tetap hidup menghadapi sebuah masalah tanpa ada Abu Al-Hasan (Ali bin Abi Thalib)”

.
Diriwayatkan bahwa suatu saat Umar hendak merajam seorang wanita gila yang dituduh telah berbuat zina. Namun Ali bin Abi Thalib membatalkan hukum tersebut. Ali mengingatkan sebuah hadis Rasulullah saw: “terdapat tiga kelompok manusia yang tidak dipertanggungjawabkan; orang gila sampai sadar, orang yang tidur hingga terbangun, dan seorang anak hingga berakal (balig)”. Mendengar itu, Umar berkata: “Seandainya Ali bin Abi Thalib tidak ada, niscaya Umar bin Khatthab telah celaka”

.

Perilaku dan Kebijakan Umar bin Khatthab
Sikap keras yang ditonjolkan sekaitan dengan masyarakat memunculkan rasa takut di hati semua orang. Salah satu contoh sikap Umar tampak ketika seorang wanita hamil menanyakan sebuah masalah kepadanya. Lantaran rasa takut yang sangat, kandungan wanita itu pun gugur. Ia menceritakan kekerasan sikap Umar kepada kelompoknya sampai membuat mereka murtad dan lari ke negeri Romawi

.
Umar membedakan pemberian di antara kaum muslimin. Umar membedakan satu muslim dari yang lain berdasarkan hukum yang tidak pernah ada landasannya dari Nabi dan Al-Qur’an. Bahkan dapat dikatakan dasar pembagianUmar adalah kesukuan

.
Salah satu dampak dari kebijakan ini adanya kelas-kelas dalam masyarakat. Orang-orang ramai menyusun nasab dan memilah-milah kabilah berdasarkan kriteria-kriteria yang mengakibatkan kebencian orang-orang non Arab yang baru masuk Islam kepada orang-orang Arab. Perilaku ini sangat bertentangan dengan perilaku Rasulullah saw. dan Abu Bakar

.
Umar bin Khatthab pada akhir hayatnya menyesali kebijakan yang diberlakukannya ketika melihat dampaknya yang merusak kebanyakan sahabat. Ia tidak senang dengan akibat yang terjadi. Ia berkata: “Bila aku menerima kekhalifahan, niscaya aku tidak akan meninggalkannya sampai aku  mengambil kelebihan harta dari orang-orang kaya lalu kuberikan kepada kaum fakir miskin”

.
Tidak teliti dan obyektif dalam memilih pejabat berdasarkan prinsip-prinsip Islam yang dapat memberikan legitimasi kepada pemerintahan Islam dan melindungi eksisitensi umat Islam. Ia memperbantukan orang-orang yang bejat dan tidak memiliki keikhlasan dalam beragama. Dengan kebijakan ini, Umar bin Khatthab bersikeras untuk menjauhkan apa saja yang ada hubungannya dengan kekhalifahan seperti Ali bin Abi Thalib dan pendukungnya yang senantiasa bersamanya

.
Tidak melakukan pengawasan kepada Muawiyah yang menyebabkan Muawiyah memperkuat pengaruhnya dan membiarkannya melakukan apa saja yang diinginkan selama bertahun-tahun. Hal ini membantu Muawiyah untuk bersikap zalim dan memisahkan pemerintahannya di Syam dari kekhalifahan Utsman bin Affan. Ini berdasarkan ucapan Umar bin Khatthab ketika menjustifikasi perbuatan Muawiyah: “Muawiyah adalah kaisar Arab”

.

Malapetaka Syura (Penetapan Enam Orang Kandidat Pemilih Khalifah)
Bila Saqifah dan baiat Abu Bakar merupakan kondisi darurat, -semoga Allah melindungi kaum muslimin dari keburukannya, sebagaimana ucapan Umar bin Khatthab- maka syura adalah fitnah yang lebih besar dan lebih luas penyelewengannya dari jalur risalah Islam. Syura telah meletakkan kaum muslimin dalam cobaan yang sangat berat; Perkara yang menuai fitnah, kesulitan-kesulitan dan kehancuran. perkara ini melemparkan kaum muslimin ke dalam lubang krisis yang sangat besar, karena menjadi semakin transparan persekongkolan untuk mengenyahkan Ali bin Abi Thalib dari pemerintahan dan menyerahkan kepemimpinan umat Islam kepada orang-orang yang menyelewengkan kekuasaan

.
Ketika Umar bin Khatthab semakin mendekati ajalnya, ia mendapatkan kritik keras. Dikatakan kepadanya: “Jadikan kami sebagai khalifah”. Umar bin Khatthab menjawab: “Aku tidak akan menyerahkan perkara ini kepada kalian selama aku masih hidup dan setelah matiku”. Ia melanjutkan: “Bila aku ingin menunjuk seseorang sebagai khalifah, maka orang yang lebih baik dari diriku (Abu Bakar) telah melakukannya. Dan bila aku ingin membiarkan kekhalifahan, maka orang yang lebih baik dariku (Rasulullah saw) telah membiarkannya”

.
Umar bin Khatthab lalu menyampaikan keinginan hatinya mengenai sebagian orang yang menyertainya dalam perjuangan merebut kekhalifahan. Ia berkata: “Seandainya Abu Ubaidah masih hidup, aku akan mengangkatnya sebagai khalifah penggantiku, karena ia orang yang paling tepercaya. Dan seandainya Salim budak Abu Hudzaifah masih hidup, aku akan menunjuknya sebagai khalifah penggantiku, karena ia adalah orang yang paling mencintai Allah”

.
Dikatakan kepadaUmar: “Wahai Amir Mukminin! Buatkan sebuah surat keputusan untuk penggantimu!”
Ia berkata: “Setelah aku menulis untuk kalian, Aku telah mengumpulkan beberapa orang dan salah satunya akan menjadi khalifah kalian. Ia adalah orang yang paling layak yang akan membawa kalian kepada kebenaran (sambil menunjuk kepada Ali bin Abi Thalib) Aku dalam kondisi tidak sadar ketika aku melihat seorang memasuki surga dan telah menanam di sana. Ia mulai memetik setiap yang lemah dan berlubang dan dikumpulkannya, kemudian berada di bawah tanamannya. Aku mengetahui bahwa Allah akan memenangkan urusannya dan menarik ajal Umar. Aku tidak ingin menanggung masalah kekhilafiahan kepada kalian selama hidup dan mati. Kalian adalah orang-orang yang dipuji oleh Nabi dengan ucapannya: “Mereka adalah ahli surga; Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdur Rahman bin ‘Auf, Sa’ad, Zubeir bin Awam dan Thalhah bin Ubaidillah. Pilihlah salah satu dari mereka. Bila keenam orang ini telah menetapkan seorang pemimpin, maka kalian harus berbuat baik dan membantuny

a.
Umar memerintahkan bawahannya untuk menyekap keenam orang tersebut hingga memilih salah satu dari mereka dalam jangka waktu tiga hari. Dan memerintahkan untuk memenggal leher siapa di antara mereka yang tidak setuju dengan suara mayoritas atau tidak setuju dengan kelompok yang di situ terdapat suara Abdur Rahman bin’Auf. Umar juga mengangkat Suhaib sebagai imam shalat Jamaah selama tiga hari sampai umat Islam memiliki seorang khalifah baru. Umar bin Khatthab meminta untuk menghadirkan tokoh-tokoh kaum Anshar sekalipun tidak ikut urusan apapun

.
Ketika enam orang anggota Syura telah berkumpul di hadapan Umar bin Khatthab, ia memberikan pengarahan sesuai pikirannya yang tidak menunjukkan transparansi dalam sebuah proses pemilihan yang dilakukan umat Islam dalam masa krisis. Umar berkata: “Demi Allah! Aku tidak punya alasan untuk tidak menjadikanmu sebagai khalifah wahai Sa’ad! Hanya saja kekakuan dan kekerasanmu sebagai tentara tidak memberiku izin untuk memilihmu. Wahai Abdurrahman! Satu alasan yang membuatku tidak memilihmu ialah karena engkau adalah Firaun-nya umat Islam. Wahai Zubeir! Engkau tidak kupilih menjadi khalifah karena ketika kau rela akan sesuatu kau adalah orang mukmin, dan bila marah engkau seperti orang kafir. Sedangkan aku tidak memilihmu Thalhah! karena kecongkakan dan kesombonganmu, Seandainya menjadi pemimpin engkau akan meletakkan keputusan terakhir di tangan seorang wanita. Wahai Utsman bin Affan! Aku tidak memilihmu karena fanatisme kekabilahanmu yang sangat kental. Wahai Ali bin Abi Thalib! Aku tidak memilihmu karena ambisimu pada kekhalifahan, sekalipun engkau adalah orang yang paling tepat. Bila engkau menjadi khalifah, engkau pasti akan menegakkan kebenaran dan mengantarkan kaum muslimin kepadanya”

.

Keberatan terhadap Syura
Sistem Syura yang dirintis oleh Umar bin Khatthab tidak memiliki legitimasi apapun, bahkan mengandung beberapa poin yang saling kontradiksi. Ada beberapa poin yang tidak diperkirakan dengan detil dan obyektif:
Enam orang kandidat yang diusulkan untuk duduk dalam Syura tidak memiliki kelebihan dengan dasar keutamaan sesuai aturan pemilihan; di mana dalam undang-undang politik mereka tidak memiliki kesamaan untuk menjadi kandidat dan dipilih. Selain itu, penyebutan Syura dalam sistem pemilihan seperti ini hanyalah semboyan kosong. Karena yang ada adalah usulan tentang seorang kandidat lewat sekumpulan orang yang kemudian menjadi kewajiban umat Islam untuk menerimanya. Oleh karenanya, perintah dikumpulkannya keenam anggota Syura adalah di bawah tekanan dan ancaman “dibunuh” bila tidak memilih seorang dari mereka

.
Anggota Syura berbeda satu dengan lainnya dalam kepribadian dan pemikiran. Setiap seorang dari mereka membawa suaranya sendiri-sendiri. Dengan melihat komposisi yang seperti ini, bagaimana mungkin mereka dianggap mewakili suara umat? Perselisihan yang saling tindih di antara mereka setelah Syura membuat kaum muslimin tercerai berai

.
Penghinaan terhadap kaum Anshar dengan tidak memandang peran mereka. Umar bin Khatthab meminta mereka untuk hadir namun tidak punya hak untuk memilih. Suara sah hanya terbatas pada enam orang kandidat. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah apa arti kehadiran mereka? Lebih dari itu, Umar menghina umat Islam secara keseluruhan ketika ia berharap agar Salim dan Abu Ubaidah hidup agar dapat memimpin umat, seakan-akan tidak ada yang mampu untuk memimpin

.
Pada dasarnya Umar bin Khatthab mengkritik dirinya sendiri dalam proses pemilihan anggota kandidat. Pada pertemuan Saqifah, ia mengklaim dan memaksakan bahwa kekhalifahan adalah hak Quraisy, sementara pada masa kekhalifahannya, ia berharap Salim budak Abu Hudzaifah masih hidup agar urusan kekhalifahan diberikan kepadanya. Sebagaimana ia hanya mengajak anggota Syura; tidak yang lainnya dengan alasan, bahwa Rasulullah saw. meninggal dalam keadaan rela kepada mereka, atau karena mereka adalah ahli surga. Namun, anehnya, pada saat yang sama, ia menyebutkan kejelekan-kejelekan mereka yang intinya tidak sesuai dengan kerelaan Nabi kepada mereka, apalagi sebagai penduduk ahli surga. Umar juga memerintahkan Shuhaib sebagai imam shalat Jamaah seluruh kaum muslimin di masjid Nabi selama tiga hari dengan alasan, bahwa imam shalat tidak ada hubungannya dengan masalah kekhilafiahan dan bukan kelazimannya. Sementara pada peristiwa Saqifah, ia berjuang mati-matian menjadikan Abu Bakar dengan alasan, bahwa Abu Bakar menjadi imam shalat, yang menurutnya,  sebagai salah satu bukti atas kelayakannya untuk menjadi khalifah.
Umar bin Khatthab berminat untuk menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah dengan alasan, bahwa Ali dapat membawa umat kepada arah yang lebih benar. Akan tetapi, suatu waktu ia pernah bermimpi yang akhirnya mengubah keputusannya dan menarik keinginan tersebut, seakan-akan ia bermaksud untuk merendahkan derajat dan posisi Ali dan kelayakannya

.
Umar bin Khatthab berkata: “Aku benci menanggung kekhalifahan, baik semasa hidup dan mati”. Namun, ia berbalik dan menetapkan enam orang, yang menurutnya sebagai perwakilan umat Islam. Perilaku ini masih menunjukkan kecenderungannya untuk berkuasa atas umat, bukannya malah tidak mau lagi memerintah

.
Pemilihan enam anggota Syura tampaknya berdasarkan maksud-maksud tertentu dengan kemungkinan; bahwa peluang Utsman bin Affan untuk terpilih lebih besar dari Ali bin Abi Thalib, sementara Ali adalah yang paling layak dengan legitimasi Allah dan rasul-Nya untuk memimpin umat. Terpilihnya Thalhah sebagai bentuk penegasan permusuhan mereka. Sebelumnya, Ali dianggap rival Abu Bakar dan kekhalifahannya sementara sekarang, ia dipasang untuk bertarung dengan seorang kandidat baru bernama Thalhah. Ali dihadapkan dengan Utsman bin Affan sebagai bentuk penegasan permusuhan dengan Bani Umayyah dalam perkara kekuasaan. Kali ini menghadapkan Ali dengan Abdurrahman bin Auf dan Saad, karena kedua orang terakhir ini dari Bani Zuhrah yang masih ada hubungan kekeluargaan dengan Bani Umayyah. Keduanya pasti akan memberikan suara mereka kepada Utsman bin Affan bila bersaing dengan Ali

.
Perintah Umar bin Khatthab untuk membunuh enam orang anggota Syura ketika tidak ada kesepakatan atau malah tidak setuju. Pertanyaannya, bagaimana perintah ini sesuai dengan ucapan Rasullah saw. yang mengatakan bahwa beliau meninggal dan rela dengan keenam orang ini? Bukankah menolak perintah Umar sama artinya dengan mati?

Kedudukan Wanita Menurut Ahlulbait

Dalam acara Muthârahât fil Aqîdah di stasiun televisi Al-Kautsar, Ayatullah Kamal Al-Haidari mendapatkan pertanyaan tentang kedudukan wanita dalam Islam menurut mazhab ahlulbait. Beliau memberikan penjelasan yang—bagi saya—melampaui (beyond) dari apa yang selama ini biasa kita dengar. Selamat merenungkannya, semoga bermanfaat.

“Saya tidak bisa berbicara terlalu banyak tentang topik ini karena di luar dari tema acara. Pertama, kita harus membedakan antara hukum-hukum fikih dengan kedudukan wanita. Hukum-hukum fikih tidak menandakan keunggulan pria jika dibandingkan dengan wanita. Artinya bahwa hal tersebut tidak menandakan bahwa pria lebih utama dari pada wanita dalam hal kemuliaan, kesempurnaan, ketakwaan, dan seterusnya.

“Terbukti jelas dalam Alquran bahwa setiap kali membicarakan mengenai tingkat kedekatan kepada Allah, Alquran selalu menyebutkan min dzakarin aw untsa.

Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang- orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan… (QS. 3: 195)

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun. (QS. 4: 124)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik… (QS. 16: 97)

“Atau ayat yang menyebutkan sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Malam ini saya akan memberi contoh dan silakan renungkan dalam-dalam. Apakah taklif atau kewajiban agama yang dibebankan kepada manusia dianggap sebagai kemuliaan atau perendahan?

“Ketika manusia diberikan kewajiban oleh Tuhan maka ia dianggap sebagai bentuk kehormatan dan hak istimewa bagi orang tersebut. Maka sesungguhnya wanita mendapatkan kemuliaan dan hak istimewa tersebut 6 (enam) tahun lebih dulu sebelum pria mendapatkannya.

“Seorang wanita, pada usia 9 tahun, telah mencapai tingkat intelektual (akal), pemahaman, penerimaan, di mana Tuhan mengajaknya berbicara, ‘Wahai orang-orang yang beriman…’ Apakah pria sudah mencapai tingkat tersebut? Belum. Pria harus menunggu 6 (enam) tahun sampai dia mencapai tingkatan tersebut sehingga barulah pria dapat dipanggil dengan sapaan, ‘Wahai orang-orang yang beriman.’

“Saudaraku, inilah logika ahlulbait, logika Alquran, logika Ali. Tidak seperti mereka yang… jika wanita mengemudi maka harus dicambuk sepuluh kali kemudian waliul amr (menurut istilah mereka) harus ikut campur dan seterusnya… Lihatlah perbedaan antara logika tersebut dengan logika ahlulbait.”

.

Apakah perempuan itu manusia? Inilah sebuah pertanyaan yang membingungkan orang Eropa dalam waktu yang lama. Mereka berkumpul pada tahun 586 SM di Perancis untuk meneliti isu ini dan menjawab pertanyaan tersebut. Kemudian mereka menyimpulkan—setelah pertemuan, konsultasi, dan diskusi—bahwa perempuan diciptakan untuk mengabdi kepada laki-laki, dan hal itu tidak terjadi kecuali 30 tahun hingga Nabi saw. bangkit, dan mengatakan kepada dunia bahwa perempuan adalah pasangan hidup laki-laki dan kehidupan dunia adalah perhiasan dan perhiasan yang terbaik adalah wanita yang salihah (baik). Banyak ayat Alquran dan hadis Nabi yang menghormati dan memuliakan perempuan serta fungsi pentingnya di masyarakat.

 

Sebelum masa Nabi Muhammad, di India, wanita tidak punya hak untuk hidup setelah kematian suaminya, tapi harus ikut dengan kematian suaminya. Setelah masa Nabi Muhammad, wanita adalah pendamping lelaki.

Sebenarnya, saudara dan saudari sekalian, siapapun yang membaca jalan hidup (sirah) Nabi akan mendapati bahwa peran perempuan dalam masyarakat pada saat itu lebih besar dari pada peran perempuan pada masa sekarang. Perempuan pada masa Nabi, berperan sebagai istri, ibu, pergi berperang, sebagai dokter, memberikan pendapat umum soal agama (fatwa), juga memberikan nasihat kepada hakim (dan penguasa). Oleh karena itu, banyak dari para istri Nabi yang biasa memberikan saran dalam bidang politik dan sosial.

Sebelum masa Nabi Muhammad, di Yahudi, ketika wantia mengalami menstruasi (haid), lelaki tidak makan atau minum bersama mereka. Lelaki menjauhi wanita. Setelah masa Nabi Muhammad, Aisyah meriwayatkan, “Saya terbiasa minum dari gelas yang dipakai Nabi untuk minum… dan dia juga minum setelah saya ketika masa periode (haid).”

Saya jadi berpikir, apakah peran perempuan masa sekarang kembali ke masa sebelum Nabi Muhammad saw?

Sebelum masa Nabi Muhammad, bangsa Arab, membunuh perempuan adalah perbuatan mulia. Setelah masa Nabi Muhammad, kehidupan dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita yang salihah (baik).

Hari ini, saudara dan saudari sekalian, masih ada para ayah yang memaksa putri mereka untuk menikah dengan pria yang tidak ia inginkan. Pernah datang kepada Nabi, seorang wanita yang mengeluh karena ayahnya memaksanya untuk menikahi pria yang tidak disukainya. Kemudian Nabi memanggil ayah itu dan menyerahkan situasi kepada pilihan wanita apakah setuju dengan tindakan ayahnya atau membatalkan perkawinan. Kemudian wanita itu (semoga Allah rida kepadanya) berkata, “Saya menerima apa yang ayah saya lakukan, tapi ini semua bertujuan untuk membebaskan wanita bahwa sebenarnya seorang ayah tidak berhak melakukan itu!”

Seorang suami memukul istrinya setiap 18 detik di Amerika Serikat.

Juga menjadi biasa dalam fenomena sosial, khususnya bangsa Arab, adalah beberapa pria malu untuk menyebutkan nama istri atau ibu mereka di depan teman-teman. Anda temukan mereka berkata, “Zaujatî, Allâh yakrimak (Istri saya, semoga Allah memuliakan Anda)” atau, “Al-mar’ah, Allah ya’izzak (Wanita itu, semoga Allah membesarkan Anda).” Kalimat ini sudah biasa. Seolah-olah nama perempuan itu aurat yang harus ditutupi. Padahal dulu Nabi ketika ditanya, “Siapa orang yang paling Anda cintai?” Beliau mengatakan, “Aisyah.” Beliau tidak mengatakan, “Istri kedua saya,” atau, “Ibunya anak-anak.”

Terungkap, 2 juta wanita telah dipukul di Perancis setiap tahunnya.

Saudariku, jika ada seseorang yang dianiaya, apakah oleh ayahnya atau suaminya, kirimkan pesan kepada kami melalui situs program ini. Kami berjanji akan menyampaikannya ke pemimpin eksekutif Amnesty Commision and the Reform of Albin, Dr. Nassir Az-Zahrani. Komite ini diketuai oleh Pangeran Abdulmajid bin Abdulaziz.

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Dengan maksud apa Anda memukul istri seperti memukul budak, kemudian tidur bersamanya pada malam hari?”

Tidak ada keraguan bahwa Islam memberikan banyak hak bagi lelaki “terhadap perempuan”. Nabi bersabda, “Seandainya saya memerintahkan seseorang untuk tunduk kepada orang lain, maka saya akan perintahkan istri untuk tunduk terhadap suaminya, karena besarnya hak suami terhadap istri.” Jadi tidak ada keraguan tentang ini dan tidak ada yang menolak, tapi Islam tidak memberikan hak bagi lelaki untuk bertindak zalim (tirani), menganiaya atau memukul istri dan putrinya. Karena bagi putri, perempuan dan istri ada kehormatan Islam yang harus kita hormati!

Di Inggris, 77 persen suami memukul istri karena tanpa sebab.

Rasulullah saw. bersabda, “Bermurah-hatilah terhadap qawarir (perempuan).” (Catatan: Nabi menggunakan kata qawarir yang dalam bahasa Arab merujuk pada mereka yang memiliki kehalusan hati, kebaikan, dan kelembutan). Salah seorang ulama mengatakan, “Benar bahwa perempuan adalah sebagian dari lingkungan sosial, tapi ingat bahwa ia adalah yang mengasuh sebagian yang lain. Maka wanita adalah keselurahan kehidupan sosial.”

Saya yakin, saudara saudariku, bahwa negara Islam tidak akan bangkit kecuali jika kita memberikan kepada perempuan kemuliaannya, ketinggiannya, dan penghormatannya di lingkungan sosial, baginya untuk menjadi seorang ibu yang memiliki martabat, yang melahirkan bagi kita seseorang seperti Umar bin Abdulaziz, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan pria-pria lain yang tiada tandingnya.

Ahmad Asy-SyaqiriSumber: Khawâthir Syâb merupakan acara yang pandu oleh Ahmad Asy-Syaqiri di televisi Arab Saudi yang khusus mengupas kehidupan sehari-hari dunia Arab dan ditayangkan pada bulan Ramadan.

Tidak boleh bekerja di bank-bank yang bertransaksi dengan riba karena hal itu berarti membantu mereka di dalam melakukan dosa dan pelanggaran

Tidak boleh bekerja di bank-bank yang bertransaksi dengan riba karena hal itu berarti membantu mereka di dalam melakukan dosa dan pelanggaran

Bekerja di bank konvensional:

Menurut para ulama bahwa bekerja di bank-bank konvensional secara mutlak tidak diperbolehkan, karena termasuk memakan harta riba, atau menuliskannya, atau menyaksikannya, atau membantu mereka yang bermuamalah dengannya

.
Sejumlah ulama besar telah mengeluarkan fatwa haramnya bekerja di bank-bank konvensional, meskipun pekerjaannya tidak berkaitan secara langsung dengan riba, seperti satpam, petugas kebersihan, pelayanan.

seorang muslim tidak boleh bekerja di bank yang bermuamalah dengan riba, meskipun pekerjaannya tidak langsung berkaitan dengan riba, tetapi karena dia menyediakan keperluan para pegawai yang bermuamalah dengan riba dan bantuan yang mereka perlukan untuk muamalah riba. Allah Ta’alaa berfirman: (janganlah kalian tolong menolong dalam dosa dan permusuhan) (QS Al-Maidah:2).

Sementara Allah telah berfirman “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” [Al-Ma’idah : 2]

Dan terdapat pula hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara shahih bahwasanya “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya. Beliau mengatakan “Mereka itu sama saja” [Hadits Riwayat Muslim, Kitab Al-Musaqah 1598].”

“Bekerja di sana diharamkan karena dua alasan.

Pertama : Membantu melakukan riba

Bila demikian, maka ia termasuk ke dalam laknat yang telah diarahkan kepada individunya langsung sebagaimana telah terdapat hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau : “melaknat pemakan riba, pemberi makan dengannya, penulisnya dan kedua saksinya.

Beliau mengatakan, “Mereka itu sama saja”.

Kedua : Bila tidak membantu, berarti setuju dengan perbuatan itu dan mengakuinya.

Oleh karena itu, tidak boleh hukumnya bekerja di bank-bank yang bertransaksi dengan riba.

“Barangsiapa yang mendapatkan harta yang haram dari hasil riba atau selainnya, kemudian dia bertaubat darinya; maka hendaknya dia menyedekahkannya dan tidak memakannya. Atau mengalokasikannya pada proyek kebajikan dengan tujuan untuk melepaskan diri darinya, bukan untuk tujuan mendapatkan pahala sebab ia adalah harta yang haram, sedangkan Allah Ta’ala adalah Maha Suci dan tidak menerima kecuali yang suci (baik-baik). Akan tetapi, pemiliknya ini mengeluarkannya dari kepemilikannya dan mengalokasikannya pada proyek kebajikan atau memberikannya kepada orang yang membutuhkan karena ia (harta tersebut) ibarat harta yang tidak bertuan yang dialokasikan untuk kemashlahatan. Ini semua dengan syarat, dia menghentikan pekerjaan yang haram tesebut dan tidak terus menerus larut di dalamnya.

“Bertransaksi dengan riba haram hukumnya terhadap perusahaan-perusahaan,bank-bank dan individu-individu. Tidak boleh seorang muslim bekerja pada tempat yang bertransaksi dengan riba meskipun persentase transaksinya minim sekali sebab pegawai/karyawan pada instansi-instansi dan tempat-tempat yang bertransaksi dengan riba berarti telah bekerja sama dengan mereka diatas perbuatan dosa dan melampaui batas. Orang-orang yang bekerja sama dan pemakan riba, sama-sama tercakup dalam laknat yang disabdakan oleh Rasulullah: “Allah telah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, pencatatnya serta kedua saksinya dan pencatatnya”.(HR.Muslim)

Jadi disini, Allah Ta’ala melaknat orang yang memberi makan dengan (hasil) riba, saksi dan pencatat karena mereka bekerja sama dengan pemakan riba itu.

Karenanya wajib bagi anda , untuk mencari pekerjaan yang jauh dari hal itu. Allah Ta’ala (artinya): “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan menganugerahinya rizki yang tidak dia sangka-sangka”.(Q,.s.ath-Thalaq: 2).

(Dan sabda Nabi- red) artinya: “Dan barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah Ta’ala maka Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik darinya”. (HR.Musnad Ahmad).

(Kebanyakan muamalah keuangan sekarang ini mengandung unsur riba, dan itu haram berdasarkan Al-Qur’an, Sunah dan Ijma umat. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam telah menghukumi bahwa orang yang membantu pemakan riba dan wakil yang menuliskannya, atau yang bersaksi untuknya atau semacamnya, maka dia bersekutu dengan pemakannya dan wakilnya dalam laknat dan kutukan dari rahmat Allah.

Telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan yang lain dari hadits Jabir radhiallahu ’anhu: (Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi makannya, penulisnya, dan para saksinya) dan beliau bersabda: (mereka sama (pent yakni dalam dosa)).

Dan mereka yang bekerja di bank-bank konvensional adalah para pembantu bagi majikan-majikan bank tersebut dalam mengatur pekerjaannya: sebagai penulis, saksi, pemindah dokumen, kasir, atau yang menerima uangnya dsb yang termasuk ”memberi bantuan bagi para pelaku riba”, oleh karena itu jelas bahwa pekerjaan di bank-bank sekarang adalah haram, dan hendaklah setiap muslim menghindarinya, dan mencari pendapatan dengan cara yang dihalalkan Allah, dan itu banyak, hendaklah bertakwa kepada Allah Rabbnya, dengan tidak menjerumuskan dirinya kepada laknat Allah dan Rasul-Nya.

Pertama: bekerja di bank-bank yang bermuamalah dengan riba haram, baik itu di negara Islam atau kafir, karena termasuk tolong-menolong dalam dosa dan pemusuhan yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’alaa dalam firman-Nya: (Tolong- menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan) (QS Al-Maidah: 2).

Kedua: Yang nampak bagi kami tidak ada bagian tertentu di bank konvensional yang dikecualikan dalam Syariat yang suci ini, karena tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan terjadi diantara seluruh pegawai bank).

tidak boleh bekerja di lembaga-lembaga riba meskipun hanya sebagai supir atau satpam, karena masuknya dia sebagai pegawai di lembaga riba bermakna dia rela, karena yang mengingkari sesuatu tidak mungkin bekerja untuk kepentingannya, jika bekerja untuk kepentingannya maka berarti dia ridho dengannya, dan yang ridho dengan sesuatu yang diharamkan akan menanggung dosanya.

Adapun orang yang secara langsung bertugas dalam penulisan, pengiriman, penyimpanan, dan semacamnya maka tidak ragu lagi dia berhubungan langsung dengan hal haram. Telah diriwayatkan dari Jabir radhiallahu anhu dalam hadits yang shahih bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam melaknat pemakan riba, yang memberi makan riba, kedua saksinya, dan penulisnya dan beliau berkata: mereka semua sama).

Dan banyak lagi fatwa yang masyhur dan terkenal yang mengharamkan bekerja di bank-bank konvensional, apapun posisinya, maka bagi yang masih bekerja di bank-bank tersebut hendaklah bertaubat kepada Allah serta meninggalkan pekerjaannya, dan memohon kepada Allah dengan bertawakal kepada-Nya serta yakin bahwa rizki dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’alaa: (Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan memberikannya jalan keluar dan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak disangka-sangka. Barang siapa yang bertawakal kepada Allah maka Dia Yang mencukupinya. Sesungguhnya Allah akan menyampaikan urusannya. Allah telah menentukan takdir bagi segala urusan) (QS Ath-thalaq:2-3).

Hendaknya kita semua betul-betul mencamkan ayat diatas dan berpegang dengannya dalam segala urusan kita.

“…Tidak diperbolehkan bekerja di bank seperti ini (bank riba), sebab termasuk ta’awun di atas dosa dan permusuhan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Al-Ma`idah: 2)

.
Disebutkan dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau:

لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكاَتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“Melaknat pelaku riba, yang memberi riba, penulis dan kedua saksinya. Beliau berkata: ‘Mereka semua sama’.”

.

dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيْمٍ

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 275-276)

.
Bertaubatlah dengan melakukan kepentingan-kepentingan kebaikan dan menyantuni fakir miskin, disertai dengan taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

.
Barangsiapa bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat nasuha niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima taubatnya dan mengampuni kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا تُوْبُوْا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahankesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At-Tahrim: 8)

.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pula:

وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ جَمِيْعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (An-Nur: 31)

Sistem ekonomi dalam Islam ditegakkan pada asas memerangi riba dan menganggapnya sebagai dosa besar yang dapat menghapuskan berkah dari individu dan masyarakat, bahkan dapat mendatangkan bencana di dunia dan di akhirat.

Hal ini telah disinyalir di dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta telah disepakati oleh umat. Cukuplah kiranya jika Anda membaca firman Allah Ta’ala berikut ini:

“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al Baqarah: 276)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketabuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu …” (Al Baqarah: 278-279)

Mengenai hal ini Rasulullah saw. bersabda

“Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menyediakan diri mereka untuk disiksa oleh Allah.” (HR Hakim)1

Dalam peraturan dan tuntunannya Islam menyuruh umatnya agar memerangi kemaksiatan. Apabila tidak sanggup, minimal ia harus menahan diri agar perkataan maupun perbuatannya tidak terlibat dalam kemaksiatan itu. Karena itu Islam mengharamkan semua bentuk kerja sama atas dosa dan permusuhan, dan menganggap setiap orang yang membantukemaksiatan bersekutu dalam dosanya bersama pelakunya, baik pertolongan itu dalam bentuk moril ataupun materil, perbuatan ataupun perkataan. Dalam sebuah hadits hasan, Rasulullah saw. bersabda mengenai kejahatan pembunuhan:

“Kalau penduduk langit dan penduduk bumi bersekutu dalam membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan membenamkan mereka dalam neraka.” (HR Tirmidzi)

Sedangkan tentang khamar beliau saw. bersabda:

“Allah melaknat khamar, peminumnya, penuangnya, pemerahnya, yang meminta diperahkan, pembawanya, dan yang dibawakannya. ” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Demikian juga terhadap praktek suap-menyuap:

“Rasulullah saw. melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap, dan yang menjadi perantaranya. ” (HR Ibnu Hibban dan Hakim)

Kemudian mengenai riba, Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan:

“Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orangyang menjadi saksinya.” Dan beliau bersabda: “Mereka itu sama.” (HR Muslim)

Ibnu Mas’ud meriwayatkan:

“Rasulullah saw. melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang saksinya, dan penulisnya.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)2

Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:

“Orang yang makan riba, orang yang memben makan dengan riba, dan dua orang saksinya jika mereka mengetahui hal itu– maka mereka itu dilaknat lewat lisan Nabi Muhammad saw. hingga han kiamat.” (HR Nasa’i)

Hadits-hadits sahih yang sharih itulah yang menyiksa hati orang-orang Islam yang bekerja di bank-bank atau syirkah (persekutuan) yang aktivitasnya tidak lepas dari tulis-menulis dan bunga riba. Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank atau penulisnya pada berbagai syirkah, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:

“Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki hanya dengan melarang seseorang bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba. Tetapi kerusakan sistem ekonomi yang disebabkan ulah golongan kapitalis ini hanya dapat diubah oleh sikap seluruh bangsa dan masyarakat Islam. Perubahan itu tentu saja harus diusahakan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan guncangan perekonomian yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik. Cara ini pernah ditempuh Islam ketika mulai mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad dan kemauan bersama, apabila tekad itu telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar.

Setiap muslim yang mempunyai kepedulian akan hal ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lisannya, dan segenap kemampuannya melalui berbagai wasilah (sarana) yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai contoh perbandingan, di dunia ini terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu  Iran

=========================

Bekerja di bank syariah:

Adapun bekerja di bank-bank syariat maka tidak mengapa apabila dapat dibuktikan bahwa itu benar-benar bank islami yang tidak bermuamalah kecuali dengan yang dihalalkan Allah.

Akan tetapi saat ini banyak Bank yang cuma berlabel syari’ah, misal : mereka cuma mau bagi untung tetapi tidak mau bagi rugi maka BANK berlabel syari’ah tersebut bukan Bank Syariah yang saya maksudkan disini

Sesungguhnya bank-bank syariat muncul sebagai upaya dari sebagian kaum muslimin yang sadar ingin membebaskan kaum muslimin dari dosa-dosa riba dan buruknya muamalah dengan riba, sehingga dibentuklah bentuk-bentuk transaksi yang diterapkan dalam muamalah sesama manusia yang lebih mendekati maksud syariat Insya Allah, akan tetapi muamalah-muamalah ini belum seluruhnya selamat dari riba atau syubhat riba.

Oleh karenanya, maka bermuamalah seperti ini dengan setiap lembaga yang hartanya masih bercampur, ada diantara ulama yang memfatwakan kebolehannya. Maka saya berpendapat tidak mengapa- Insya Allah – untuk menerima pekerjaan ini.

Ini benar Insya Allah, karena selama pihak manajemen bank menyatakan bahwa manajemen bank syariatnya terpisah dengan bank induknya yang konvesional, demikian juga menyatakan bahwa muamalahnya telah diusahakan sesuai dengan muamalah syariat maka kita tidak perlu lagi untuk memaksakan diri menyelidiki kebenarannya, karena Nabi shallallahu ’alaihi wasallam pernah diberi daging bakar oleh seorang wanita yahudi dan beliau tidak memaksakan diri untuk mencari tahu kepastian kehalalannya, seperti kita tahu bahwa makanan mereka dihalalkan untuk kita, padahal mereka termasuk orang yang bermuamalah dengan yang diharamkan seperti minuman keras atau daging babi dan sebagainya. Wallahu A’lam.

Hukum Pengambilan Pajak dari Barang-barang atau Perbuatan Haram

Hukum Pengambilan Pajak dari Barang-barang atau Perbuatan Haram

Sudah menjadi rahasia umum serta didukung dengan dalil-dalil qath’i bahwa khamr, perjudian dan perzinahan adalah perbuatan yang diharamkan Allah swt.

Oleh karena itu tidak diperbolehkan bagi negara mengambil pajak dari perdagangan khamr, judi atau tempat-tempat perzinahan berapa pun besar prosentasenya dan apa pun alasannya.

Mengambil pajak darinya bisa berarti ridho dengan kemunkaran tersebut dan termasuk bekerjasama dalam perbuatan dosa dan maksiat yang dilarang Allah swt:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Artinya: “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah [5] : 2)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.” (QS. An-Nisaa [4] : 29)

Pajak hanya bisa diambil dari barang-barang yang dihalalkan Allah yang disertai persyaratan tidak cukupnya keuangan baitul mal dan diharuskan pengembalian manfaat dari pajak seluruhnya kepada rakyat.

Abu Daud meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata; “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak akan masuk surga orang yang mengambil pajak secara zhalim’.”

segala sesuatu yang mengarahkan atau mendekatkan manusia kepada perbuatan haram maka hukumnya adalah haram

Tunduk Kepada Syariat Allah Sikap Seorang Mukmin

Diwajibkan bagi seorang Mukmin untuk menerima semua hukum Allah swt serta tunduk kepadanya baik dalam perkara-perkara yang bisa dicerna oleh akalnya maupun tidak. Seorang mukmin haruslah meyakini bahwa tidaklah Allah menentukan halal atau haram pada sesuatu kecuali didalamnya terdapat kebaikan dan kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Firman Allah swt:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)

Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al-Ahzab [33] : 36)

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51)

Artinya: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan Kami taat”. dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nuur [24] : 51)

Bertahap dalam Penerapan bukan Bertahap dalam Hukum Syariat

Adapun alasan perlunya bertahap dalam menghilangkan khamr, perjudian atau perzinahan dengan cara-cara menaikan pajak, melokalisir, atau membatasi pengunjungnya dengan berdalil pada tahapan pengharaman khamr pada masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah tidak benar dan menggunakan dalil yang benar untuk tujuan yang salah.

Betul bahwa syariat islam diturunkan tidak sekaligus akan tetapi dengan cara bertahap, sedikit demi sedikit sehingga menjadi sempurna. Hal ini bisa kita lihat pada diturunkannya al Qur’an sebagaimana firman Allah swt :

وَقُرْآَنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا (106)

Artinya: “Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. Al-Israa [17] : 106)

Begitu juga dengan pengharaman khamr dan riba dengan cara bertahap kepada generasi pertama umat ini di masa-masa awal islam. Akan tetapi tahapan-tahapan yang disebutkan pada dalil-dalil diatas bukan menjadi alasan pada hari ini untuk bertahap pula dalam pengharaman khamr, judi dan zina secara mutlak.

Karena tahapan-tahapan tersebut terjadi pada masa-masa awal islam sementara pada hari ini agama islam telah sempurna dan syariat Allah telah diteguhkan,

sebagaimana firman-Nya:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

Artinya: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5] : 2-3)

Jadi bertahap yang dimaksudkan di sini adalah bertahap dalam penerapan undang-undang syariat bukan bertahap dalam hukum syariat karena hukum terhadap khamr, judi atau zina telah final yaitu haram.

Hal ini mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang mengarahkan atau mendekatkannya kepada perbuatan haram tersebut adalah haram.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا (32)

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra [17] : 32)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (90)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah [5] : 90)

… kata yang digunakan pada kedua ayat tersebut adalah “janganlah kamu mendekati” dan “jauhilah” hal ini mengandung pengertian bahwa segala sesuatu yang bisa mendekatkan kepada perbuatan haram tersebut adalah haram.

Kalaulah dibolehkan seseorang berpendapat hari ini bahwa untuk menghilangkan khamr, judi atau zina dengan cara menaikkan pajaknya hingga puluhan persen, atau hanya diberlakukan di tempat-tempat khusus, atau untuk orang-orang tertentu saja maka bisa pula kemudian dikatakan pada saat sekarang ini riba dibolehkan jika sedikit, atau dibolehkan untuk orang-orang tertentu, atau boleh jika di tempatkan pada lokasi-lokasi tertentu?!

Jika demikian sama saja artinya mengharamkan khamr atau riba pada keadaan tertentu dan menghalalkannya pada keadaan yang lain, mengharamkannya terhadap orang-orang tertentu dan menghalalkannya terhadap yang lainnya padahal syariat Allah swt terhadap pengharamannya telah sempurna.

Inilah yang dimaksud dengan tidak tadarruj (bertahap) dalam hukum syariat yang telah ditetapkan Allah swt.

Adapun bertahap dalam penerapan hukum-hukum syariat adalah menerapkan perundang-undangan yang berdasarkan syariat Allah itu disesuaikan dengan kesiapan negeri tersebut. Jika suatu negeri baru memiliki kesiapan untuk menerapkan hukum pengharaman riba didalam setiap pratek-pratek muamalah maka hukum pengharaman riba ini harus diterapkan.

Kemudian apabila negeri ini telah memiliki kesiapan untuk penerapan had (hukum Islam) terhadap para pencuri maka penerapan hukum islam terhadap pencuri ini pun harus segera diterapkan. Dengan terus berusaha dan memiliki kemauan kuat untuk merubah hukum buatan manusia dengan hukum Allah swt secara bertahap, sedikit demi sedikit maka hukum Allah seluruhnya bisa diterapkan di negeri tersebut.

Firman Allah swt :

Artinya : “Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. at Taghabun : 16)