Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

Benarkah Muawiyah Menangisi Kematian Imam Ali?

Benarkah Muawiyah Menangisi Kematian Imam Ali?

Ada trend basi di kalangan pengikut nashibi …..

Riwayat yang mereka jadikan hujjah adalah riwayat dhaif bahkan sebagian sanadnya dhaif jiddan atau maudhu’

Sudah kehabisan hujjah/dalil mengais-ngais di tempat sampah pun mereka lakukan demi sang idola Muawiyah Pengajak orang ke neraka (versi Rasul saw) dan Imam yang memberi petunjuk versi Nashibi wahabi/salafy

Nashibi apapun dilakukan demi keyakinannya yang bathil… apapun mereka lakukan mulai memalsu,memalsu blog bahkan memalsu kitab2 rujukan, memelintir hadis dan ayat al Qur’an… tanpa malu dan tanpa takut azab Allah SWT

Ada trend basi di kalangan pengikut nashibi yaitu mereka menggebu gebu ingin membuktikan kemesraan hubungan antara Muawiyah dan Imam Ali. Di antara hujjah mereka yang paling banyak dikutip adalah Muawiyah menangis dan bersedih atas kematian Imam Ali. Tentu saja tujuan mereka bukan untuk mengutamakan Imam Ali tetapi untuk mengangkat keutamaan Muawiyah dan untuk menghapus fakta bahwa Muawiyah termasuk yang mencaci Imam Ali.

Riwayat yang mereka jadikan hujjah adalah riwayat dhaif bahkan sebagian sanadnya dhaif jiddan atau maudhu’. Sangat mengagumkan, nashibi yang biasa mencela syiah [yang kata mereka banyak mengutip riwayat dhaif dan palsu] ternyata juga suka berhujjah dengan riwayat dhaif. Betapa munafiknya kalian wahai nashibi.

وقال جرير بن عبد الحميد ، عن مغيرة قال : لما جاء خبر قتل علي إلى معاوية جعل يبكي ، فقالت له امرأته : أتبكيه وقد قاتلته ؟ فقال : ويحك ! إنك لا تدرين ما فقد الناس من الفضل والفقه والعلم

Jarir bin ‘Abdul Hamiid berkata dari Mughirah yang berkata “ketika kabar terbunuhnya Ali sampai kepada Muawiyah, maka ia menangis. Kemudian istrinya berkata “engkau menangisinya padahal engkau memeranginya”. Muawiyah berkata “celaka engkau, engkau tidak mengetahui bahwa orang-orang telah kehilangan seorang yang utama, faqih dan alim [Al Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir 11/429]

Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah dan diikuti oleh para nashibi untuk dijadikan hujjah. Jika mereka tidak malas dan bukan pemalas maka sangat mudah untuk mengetahui sumber riwayat tersebut. Riwayat Mughirah yang dinukil Ibnu Katsir itu disebutkan dengan sanad yang lengkap oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya.

أخبرنا أبو محمد طاهر بن سهل أنا أبو الحسن بن صصرى إجازة نا أبو منصور العماري نا أبو القاسم السقطي نا إسحاق السوسي حدثني سعيد بن المفضل نا عبد الله ابن هاشم عن علي بن عبد الله عن جرير بن عبد الحميد عن مغيرة قال لما جاء قتل علي إلى معاوية جعل يبكي ويسترجع فقالت له امرأته تبكي عليه وقد كنت تقاتله فقال لها ويحك إنك لا تدرين ما فقد الناس من الفضل والفقه والعلم

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Thaahir bin Sahl yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan bin Shashraa telah menceritakan kepada kami Abu Manshur Al ‘Ammaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Qaasim As Saqathiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq As Suusiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Haasyim dari ‘Ali bin ‘Abdullah dari Jarir bin ‘Abdul Hamiid dari Mughirah yang berkata “ketika kabar terbunuhnya Ali sampai kepada Muawiyah maka ia menangis dan mengucapkan istirja’. Istrinya berkata “engkau menangisinya padahal engkau dahulu memeranginya”. Muawiyah berkata kepada istrinya “celaka engkau, engkau tidak mengetahui bahwa orang-orang telah kehilangan orang yang utama, faqih dan alim[Tarikh Ibnu Asakir 59/142]

Riwayat Mughirah dengan lafaz ini adalah maudhu’ karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang tertuduh memalsu hadis, perawi yang majhul dan riwayat Mughirah tersebut sanadnya terputus [mursal].

  • Ishaq As Suusiy adalah Ishaq bin Muhammad bin Ishaq As Suusiy. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Lisan Al Mizan dan menyatakan ia membawakan riwayat riwayat palsu tentang keutamaan Muawiyah, ia tertuduh karenanya atau para syaikhnya yang majhul [Lisan Al Mizan juz 1 no 1159]. Hal yang sama juga disebutkan oleh Abul Wafa’ dalam Kasyf Al Hatsiits [Kasyf Al Hatsiits no 124]
  • Sa’id bin Mufadhdhal yaitu syaikh [guru] Ishaq As Suusiy tidak ditemukan keterangan biorafinya sehingga ia tidak dikenal kredibilitasnya atau majhul
  • Mughirah bin Miqsaam adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat wafat tahun 136 H termasuk perawi thabaqat keenam [At Taqrib 2/208]. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perawi thabaqat keenam tidaklah bertemu satu orang sahabatpun maka riwayat Mughirah tentang perkataan Muawiyah tersebut adalah mursal.

Riwayat Mughirah bin Miqsam yang serupa juga disebutkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Maqtal Aliy no 106 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 42/582-583 dengan jalan sanad dari Yusuf bin Musa dari Jarir dari Mughirah. Status riwayat Mughirah ini adalah dhaif karena Mughirah bin Miqsam tidak bertemu dengan Muawiyah alias mursal. Setelah melihat kualitas riwayat yang menjadi hujjah kaum nashibi maka cukuplah menjadi bukti bahwa nashibi itu adalah orang-orang munafik. Mereka mencela orang lain padahal mereka sendiri sangat tercela. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari nashibi munafik.

.

.

Note : berikut contoh nashibi yang mengutip atau berhujjah dengan riwayat palsu yang dinukil Ibnu Katsir [penulis pernah berdiskusi secara tidak langsung atau melalui perantara dengan para nashibi ini]

  1. Orang yang menyebut dirinya “Tripoly Sunni” yang dapat anda lihat disinihttp://www.sunniforum.com/forum/archive/index.php/t-69443.html
  2. Orang yang menyebut dirinya “swords of sunnah” yang dapat anda lihat dalam salah satu tulisannya disinihttp://youpuncturedtheark.wordpress.com/2011/03/02/part-9-nature-of-relationship-between-ahlebaytra-and-muawiyara/

Kedua nashibi aneh ini dalam diskusi suka merendahkan argumen lawan diskusi yang mereka tuduh syiah seperti dengan kata kata “munafik” atau “stupid”. Ternyata kualitas mereka sendiri tidak jauh dari perkataan yang mereka katakan itu

.

KOMENTAR  LUCU :

Saya tidak membantah kalau Muawiyah menangis atas kematian Imam Ali. Dan itu mungkin saja. Tapi menangis sebagai manusia yang bagaimana.
Saya teringat atas riwayat Nabi Yusuf dengan 10 suadaranya.Yang Allah ceritakan dalam Alqur’an (Surah Yusuf)
Karena kebencian dan iri/hasut mereka pada Nabi Yusuf, mereka merencanakan membunuhnya. Tapi kehendak Allah lain. Akhirnya dimasukan dalam sumur dipadang pengembalaan mereka. Pada waktu Nabi Ya’kub menayakan mana Yusuf semua menangis dengan sedih melaporkan Nabi Yusuf diterkam Serigala. Mereka menangis dengan sedih. Tapi menangisnya adalah tangisan MUNAFIK

 

Mengapa Aku Memilih Ahlulbait

Salamun alaikum wa rahmatollah.

Bismillahi Taala. Buku ini di tulis oleh seorang Qadhi besar mazhab Syafi’i dari Syiria, menceritakan perjalanan beliau dalam memeluk jalan kebenaran ini.

Bab 1: Sejarah Ringkas Hidup Ku

Aku dilahirkan pada tahun 1344H/1894M di kampung Unsu di Wilayah Antakiyah. Sebuah kampung yang cantik, udaranya nyaman dipenuhi oleh bermacam-macam tumbuhan seperti zaitun, anggur dan lain-lain. Di sana terdapat seorang Syaikh yang mengajar membaca dan menulis al-Qur’an kepada kanak-kanak. Bapaku meletakkanku di sisinya supaya aku belajar membaca dan menulis al-Qur’an. Selepas aku selesai membaca dan menulis, bapaku mengambilku supaya aku menolong sebahagian daripada kerja-kerjanya.

Apabila umurku meningkat remaja, aku mulai mencintai ilmu pengetahuan dan para ulama. Lantaran itu apabila aku melihat sahaja seorang ulama, aku dengan segera melakukan khidmatku kepadanya menurut kemampuanku.

Kemudian terbenam dihatiku perasaan cinta kepada ilmu dan ianya makin memuncak. Pada masa itu seorang syaikh bernama Syaikh Rajab adalah seorang alim tinggal berhampiran dengan kampung kami. Maka di sanalah aku dan saudaraku Ahmad belajar darinya hampir tiga tahun. Kemudian kami berpindah ke bandar Antakiyyah dan kami memasuki madrasah melalui Syaikh Nazif. Kami belajar darinya dan bapanya Syaikh Ahmad Afandi al-Tawil hampir tujuh tahun. Pada masa itu juga datang seorang alim yang dihormati bernama Syaikh Muhammad Sa’id al-’Urfiyy dari daerah Dair al-Zur. Dia telah dibuang daerah oleh pihak kerajaan Perancis sepanjang penjajahan negara Syria selepas tamatnya peperangan dunia yang pertama pada tahun 1919M. Kami sempat belajar darinya semasa dia berada di Antakiyyah.

Di Universiti al-Azhar

Kemudian aku sampai juga di Mesir sekalipun saudaraku Ahmad telah sampai lebih awal daripadaku. Hampir sebulan kami belajar di Universiti al-Azhar, Syaikh Sai;d al-’Urfiyy pun datang. Dan kedatangannya ke Mesir banyak memberi faedah kepada kami. Dan di Universiti al-Azharlah kami menuntut berbagai-bagai ilmu pengetahun daripada Syaikh-syaikh al-Azhar yang termasyhur.

Guru-guruku di Universiti al-Azhar

1. al-Allamah al-Akbar Syaikh Mustafa al-Maraghi, Rektor Universiti al-Azhar dan Ketua Majlis Islam.

2. al-Allamah al-Kabir Syaikh Muhammad Abu Taha al-Mihniyy.

3. al-Allamah al-Kabir Syaikh Rahim dan syaikh-syaikh al-Azhar yang lain.

Pencapaian Ijazah dari Universiti al-Azhar

Manakala kami tamat belajar, kami telah memperolehi beberapa ijazah yang tinggi dari Universiti al-Azhar. Dan apabila kami ingin pulang ke tanah air, beberapa orang yang terkemuka di Mesir meminta supaya kami menjadi Pensyarah di Universiti al-Azhar. Tetapi disebabkan negara kami lebih memerlukan kami apatah lagi Mesir sebuah negara ilmu yang mempunyai para ulama yang masyhur, tidak begitu memerlukan kami sedangkan negara kami hampir tidak mempunyai ulama yang berwibawa di dalam ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadith.

Kembalinya kami ke tanah air

Kami kembali ke negara kami dan bertugas sebagai imam sembahyang jama’ah dan Juma’at, mengajar, memberi fatwa dan syarahan selama lima belas tahun.

Perselisihan di kalangan mazhab empat

Selama lima belas tahun kami mengkaji tentang perselisihan (Khilaff) di kalangan empat mazhab. Aku dan saudaraku Ahmad merasai suatu kepelikan kerana kami dapati perselisihan berlaku di dalam satu masalah di dalam mazhab yang sama. Lebih-lebih lagi perselisihan yang berlaku di antara satu mazhab dengan tiga mazhab yang lain. Sehingga kami dapati satu mazhab menghalalkan satu masalah sementara mazhab yang lain pula mengharamkannya. Begitu juga satu mazhab mengatakan ianya makruh sementara mazhab yang lain pula mengatakan ianya sunnat. Begitulah seterusnya. Sebagai contoh Syafi’i berpendapat bahawa menyentuhi perempuan ajnabi membatalkan wudhuk sementara Hanafi berpendapat ianya tidak membatalkan wudhuk.

Malik pula berpendapat bahawa sentuhan jika dengan syahwat atau sengaja membatalkan wudhuk. Jika tidak maka ia tidak membatalkan wudhuk.

Syafi’i mengharuskan seseorang mengahwini anak perempuan zinanya, sementara Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hanbal mengharamkannya.

Hanafi berpendapat bahawa sedikit darah yang keluar dari tubuh badan adalah membatalkan wudhuk. Sementara yang tiga lagi berpendapat bahawa ianya tidak membatalkannya.

Hanafi berpendapat bahawa wudhuk harus dilakukan dengan Nabidh (air kurma umpamanya) dan susu yang bercampur dengan air. Sementara tiga lagi berpendapat ianya tidak harus.

Malik berpendapat bahawa memakan daging anjing adalah harus. Sementara yang tiga lagi berpendapat bahawa ianya tidak harus.

Syafi’i berpendapat bahawa memakan daging serigala (Tha’lab), daging musang (dhab’) dan daging belut (jar’y) adalah harus. Sementara Abu Hanifah berpendapat bahawa memakannya adalah haram.

Syafi’i berpendapat bahawa landak (qunfuz) adalah halal sementara yang tiga lagi berpendapat ianya haram. Dan banyak lagi perselisihan-perselisihan yang berlaku di kalangan mereka bermula dari bab fiqh hinggalah ke akhirnya.

Subhanallah! Adakah syariat Islam itu tidak lengkap sehingga mereka melengkapinya dengan perselisihan di kalangan mereka? Satu mazhab menghalalkannya, dan satu lagi mengharamkannya. Sementara yang lain pula mengharuskannya dan yang lain pula berpendapat sebaliknya.

Perhatikanlah bagaimana Syafi’i telah menyusun mazhabnya yang lama (Qadim) dan menyebarkannnya di kalangan kaum Muslimin di Iraq, Hijaz, Yaman, dan Syria. Kemudian dia berpindah ke Mesir kerana sebab-sebab tertentu. Di sana dia bergaul dengan orang Maghribi dan mengambil ilmu daripada mereka. Lalu dia berpindah dari mazhabnya yang lama dengan menyusun mazhabnya yang dia menamakannya dengan mazhab jadid (baru). Sehingga beberapa masalah sahaja tinggal pada mazhabnya yang pertama.

Aku berkata: Sekiranya mazhab pertamanya betul kenapa dia mencipta mazhab yang kedua dan sebaliknya. Begitu juga kita perhatikan Abu Hanifah memberi pendapatnya di dalam satu-satu masalah, murid-muridnya, Abu Yusuf, Muhammad dan Zufar menyalahinya. Kadangkala seorang daripada mereka sependapat dengannya. Sementara dua lagi menyalahinya. Atau ketiga-tiga menyalahinya atau bersetuju dengannya. Begitu juga Malik dan Ahmad bin Hanbal, perselisihan berlaku di kalangan mereka dalam semua masalah  dan ia tentu sekali membuatkan kita berada di dalam keraguan.

Fahaman Wahabi(1)

Kami mendengar daripada orang Wahabi bahawa mereka melaksanakan hukum hudud dan hukum-hukum syarak yang lain dengan sepenuhnya.

Akhirnya kami berpindah ke Hijaz dan bersahabat dengan mereka beberapa kali. Tetapi sayangnya kami dapati berita-berita yang telah sampai kepada kami dahulu dari Hijaz adalah bertentangan dengan hakikat sebenar. Kerana Wahabi adalah lebih membahayakan Islam daripada yang lain. Mereka telah mengkaburkan imej Islam dengan perbuatan-perbuatan dan fatwa-fatwa ulama mereka serta layanan mereka yang jahat terhadap itrah tahirah dengan merosakkan makam-makam mereka.

Malah mereka telah mencuba untuk merosakkan makam Nabi yang suci(s). Tetapi ianya ditentang oleh kebanyakan Mukminin di Timur dan di Barat. Justeru itu mereka tidak melaksanakannya kerana takut fitnah dan pemberontakan. Perhatikanlah fatwa-fatwa mereka yang pelik. Wahabi berkata:

“Apabila seorang haji atau seorang meletakkan tangannya di atas kubur, maka dia adalah musyrik (Dia dihampiri oleh seoran polis Saudi seraya berkata: Angkatlah tangan anda wahai musyrik). Dan apabila seorang memegang kubur atau mengucupnya, atau mengambil berkat dengannya, maka dia adalah seorang musyrik (polis akan memukulnya dan menengkingnya sambil berkata kepadanya: Jangan anda melakukannya wahai musyrik).

Demikianlah di antara fikiran-fikiran cetek yang tidak sejajar dengan syariat Islam yang mulia malah ianya mentertawakan. Di dalam khutbah-khutbah, mereka mengeji amalan suci tersebut dengan perkataan: Wahai musyrik, wahai kafir, itu adalah pada peringkat pertama jika tidak, darahnya halal dan ia wajib dibunuh sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wahabi di Hijaz, di Iraq, dan lain-lain. Apakah pendapat kalian wahai kaum Muslimin di Timur dan di Barat tentang mazhab kotor yang baru direka untuk  menentang Islam hakiki dan Muslimin selain daripada mereka? Maka kepada Engkaulah wahai Tuhan rayuan kami terhadap mereka.

Ringkasnya, apabila kami telah melihat perlakuan-perlakuan mereka, maka kami pun kembali ke negara kami. Dan meneruskan kerja kami dahulu. Maka berpanjanganlah keadaan kami sehingga bila wahai Tuhanku?

Disebabkan  kami sentiasa di dalam keadaan syak kepada apa yang kami lihat tentang perselisihan-perselisihan yang berlaku di kalangan mazhab empat bersama mereka sendiri. Kemungkinan ia adalah di antara sebab-sebab yang membawa kepada terjalinnya hubungan kami dengan golongan Syi’ah.

Siapakah Syi’ah?

Mereka itulah golongan yang benar dan yang terpilih daripada makhluk Allah. Golongan yang berjaya yang berpegang kepada wila’ Allah, RasulNya dan para imam yang suci daripada Ahlu l-Baitnya(a). Mereka mengetahui hak para imam mereka dengan sebenar-benarnya; mengetahui orang yang memusuhi mereka. Lalu memberikan setiap mereka hak mereka pula. Mereka menyembah Allah yang satu, tidak ada sekutu dan tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya.

Mereka beriman dengan risalah Nabi yang teragung Muhammad bin ‘Abdullah SAWAW. Mereka beriman dengan:

  1. Imam Amiru l-Mukminin Abu l-Hasan Ali bin Abi Talib, al-Murtadha. (Lahir 23 tahun sebelum Hijrah, wafat 40H./601-661M)
  2. Abu Muhammad Hasan bin ‘Ali, al-Mujtaba (3-50H/625-670M)
  1. Abu ‘Abdullah Husain bin Ali, Saiyyidu sy-Syuhada’ (4-61H/626-680M).
  1. Abu l-Hasan ‘Ali bin Husain, Zaina l-’Abidin (38-95H/658-713M)
  2. Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali, al-Baqir (57-114H/478-732M)
  3. Abu ‘Abdillah J’afar bin Muhammad, al-Sadiq (83-148H/702-765M)
  4. Abu l-Hasan Musa bin Ja’far, al-Kazim (128-183H/745-799M)
  5. Abu l-Hasan ’Ali bin Musa, al-Ridha (148-203H/732-818M)
  6. Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali, al-Taqiyy al-Jawad (195-220H/810-835M)
  7. Abu l-Hasan ’Ali bin Muhammad, al-Hadi al-Naqiyy (212-254H/827-868M)
  8. Abu Muhammad Hasan bin ‘Ali, al-Zakiyy al-’Askari (232-260H/846-870M)
  1. Abu l-Qasim Muhammad bin Hasan, al-Mahdi al-Muntazar (256H/870M)

Syi’ah mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, khums, mengerjakan haji, berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak takut kerana Allah (di atas) celaan orang yang mencela. Menyuruh perkara baik dan menegah kemungkaran. Bersegera kepada kebaikan, melakukan kewajipan dan menegah segala yang diharamkan.

Syi’ah adalah golongan yang berjaya

Sebab kejayaan golongan ini di samping apa yang telah disebutkan, ialah keistimewaannya daripada semua golongan Islam sebagaimana sabda Nabi SAWAW yang bermaksud:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan semuanya ke neraka melainkan satu golongan sahaja.”

Kita dapati bahawa umat Islam semuanya mengucap: La-illaha illa lah Muhammadun Rasulullah. Sekiranya kita berkata: Semuanya berjaya, nescaya kita membohongi hadith ini. Dan jika kita berkata: Semuanya binasa, nescaya kita membohongi hadith tersebut.

Lantaran itu golongan yang berjaya ialah golongan yang berpegang kepada Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW. Dan dalil kejayaannya ialah wujudnya dalil-dalil daripada al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWAW dikedua-dua pihak Sunnah dan Syi’ah.

Lantaran itu golongan yang berjaya mesti mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh semua golongan iaitu al-Wila’ (mewalikan Ahlu l-Bait AS) dan al-Bara’ (membersihkan diri dari musuh Ahlu l-Bait AS). Mereka juga percaya kemaksuman para imam mereka.

Dengan nama Tuhan wahai pembaca yang insaf, mulia dan mukmin. Adakah dikatakan kepada orang seperti itu kafir, musyrik, murtad dan halal darah mereka? Dikaitkan kepada mereka dengan segala tohmahan yang penuh dengan kebatilan,pembohongan yang diciptakan dan kata-kata yang bohong dan keji sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibn Taimiyyah, Ibn Hajar al-Haithami, al-Qusaimi, al-Hafnawi, Musa Jarullah, Ahmad Amin, al-Jabhani dan lain-lain.

Begitu juga dengan Syaikh Nuh yang telah memberi fatwa kekafiran Syi’ah, pembunuhan mereka, perampasan harta mereka dan lain-lain. Dia mengakhiri fatwanya yang panjang dengan kata-katanya: Sama ada mereka bertaubat ataupun tidak. Lihatlah fatwanya yang ditulis oleh Imam Syarafuddin di dalam bukunya Fusul al-Muhimmah(2) bab sembilan.

Tidakkah anda mengetahui wahai pembaca yang budiman apakah dosa Syi’ah? Adakah disebabkan mereka tidak mengiktiraf khilafah selain dari para imam mereka atau kerana mereka berkata: Khilafah adalah untuk mereka dari awal kerasulan Muhammad SAWAW hinggalah keakhirnya dunia. Maka dengan nama Tuhan kalian katakanlah: Adakah dosa ini menyebabkan kekafiran dan kemurtadan? La haula wala Quwwata illa bi llah.

Selepas kajian yang mendalam, kami dapati bahawa bilangan Syi’ah hari ini lebih daripada seratus juta(Nota Ibnu Azmi:Bilangan Syiah ketika itu). Dan jikalaulah mereka tidak menghadapi pembunuhan, permusuhan daripada musuh-musuh mereka, serta berbagai-bagai kezaliman dan tekanan sepanjang abad-abad yang lalu, nescaya bilangan mereka hari ini sekurang-kurangnya seribu juta. Mereka berkembang di seluruh pelusuk dunia, timur dan barat, utara dan selatan.

Kebanyakan mereka berada di dalam negara-negara Islam. Mereka menyebarkan dakwah Islam menurut mazhab mereka. Mereka telah melakukan perkhidmatan yang besar di mana orang-orang Islam bermegah dengan khidmat mereka. Buku-buku mereka melimpahi dunia sehingga tidak terhitung banyaknya. Untuk tujuan ini lihatlah buku al-Dahri’ah ila Tasanif al-Syi’ah karangan Syaikh Bazrak al-Tahrani. Dan ini merupakan sebahagian kecil daripada senarai buku-buku tersebut.

Di kalangan Syi’ah terdapat para ulama Islam, Fuqaha’, Failasuf dan ahli-ahli fikir. Sultan-sultan, menteri-menteri, sasterawan-sasterawan, penyair-penyair, penulis-penulis, pakar-pakar ilmu bintang, matematik, falak, arkitek-arkitek, doktor-doktor, ahli-ahli seni dan lain-lain. Mereka memenuhi bumi Allah yang luas dengan ilmu dan amal. Mereka mempunyai pusat-pusat pengajian tinggi, masjid-masjid yang besar yang dipenuhi oleh orang-orang yang datang bersembahyang, baik di Timur mahupun di Barat.

Sebagai contoh Imam al-Akbar al-Sayyid Abu l-Hasan al-Musawi al-Asfahani (RH) telah membina masjid-masjid dan madrasah-madrasah di merata tempat di dunia. Begitu juga al-Imam al-Burujurdi (RH) telah menghantar pendakwah-pendakwah ke seluruh dunia dan membina masjid-masjid di Amerika, Jerman, London dan Paris. Adakah anda benar-benar mengenali Syi’ah wahai pencaci?

Apa yang mendukacitakan ialah kami tidak dapati di dalam buku-buku sirah, dan sejarah di kalangan Ahlus Sunnah selain daripada cacian, malah pengkafiran terhadap Syi’ah secara terang-terangan. Kenapa? Sebabnya kerana mereka (Syi’ah) adalah Musyrikin! Begitulah ditulis di dalam buku al-Sawa’iq am-Muhriqah (petir-petir yang membakar) oleh Ibn Hajr al-Haithami. Semoga Allah membakar penulisnya di akhirat kelak.

Jika dikatakan kerana mereka tidak hadir sembahyang Juma’at dan jama’ah, ini adalah tuduhan yang besar. Adakah harus mengkafirkan muslim yang meninggalkan juma’at dan jama’ah wahai Muslimun?

Sebab-sebab yang mendorong kami berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS.

1. Aku fikir beramal dengan mazhab Ahlu l-Bait AS diberi ganjaran yang sewajarnya di samping mendapat kebersihan jiwa tanpa sebarang syak. Apatah lagi ramai di kalangan ulama Ahlus Sunnah yang terdahulu dan sekarang telah memberi fatwa-fatwa mereka tentang keharusan berpegang kepada mazhab Syi’ah Ja’fariyyah seperti sahabat kami Syaikh al-Akbar, Syaikh Mahmud Syaltut. Dia telah mengeluarkan fatwanya yang disiarkan pada tahun 1959M, di majalah Risalatu l-Islam yang diterbitkan oleh Darul al-Taqrib baina l-Madhahib al-Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan antara Mazhab-mazhab dalam Islam, yang berpusat di Kairo, Mesir, nombor 3 tahun 11 halaman 227 sebagai berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu mazhab tertentu atas siapapun di antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu mazhab yang mana jua yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan menyakinkan. Dan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab mazhab yang bersangkutan, yang memang dikhususkan untuknya. Begitu pula, setiap orang yang telah mengikuti salah satu di antara mazhab-mazhab itu , diperbolehkan pula untuk berpindah ke mazhab yang lain – yang manapun juga – dan dia tidak berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Kemudian dia berkata lagi:”Sesungguhnya mazhab Ja’fariyyah yang dikenali dengan sebutan mazhab Syi’ah Imamiyyah Ithna Asy’ariyah adalah satu mazhab yang setiap orang boleh beribadah dengan berpegang kepada aturan-aturannya seperti juga mazhab-mazhab yang lain….”

“Kaum Muslimin sayugia mengerti tentang hal ini, dan berusaha melepaskan diri dari kongkongan ‘Asabiyyah (fanatik) dalam membela sesuatu mazhab tertentu tanpa berasaskan kebenaran….”

2. Dalil-dalil yang kuat dan hujah-hujah yang kukuh dan terang seperti matahari di waktu siang tanpa dilindungi awan, telah menyakinkan kami bahawa mazhab Ahlu l-Bait AS adalah mazhab yang benar yang telah diambil oleh Syi’ah daripada para imam Ahlu l-Bait AS dan daripada datuk mereka Rasulullah SAWAW daripada Jibrail AS daripada Allah SWT. Mereka tidak akan menukarkannya dengan yang lain sehingga mereka berjumpa dengan Allah SWT.

3. Wahyu telah diturunkan di rumah mereka dan Ahlul l-Bait (isi rumah) lebih mengetahui dengan apa yang ada dalam rumah daripada orang lain. Lantaran itu orang yang berfikiran waras tidak akan meninggalkan dalil-dalil dari Ahlu l-Bait AS dengan mengambil dalil-dalil dari orang-orang asing (di luar rumah).

4. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menyokong dakwaan kami dan kami akan menerangkannya kepada kalian nanti.

5. Banyak hadith-hadith yang sahih daripada Nabi SAWAW yang menunjukkan  kebenaran Ahlu l-Bait AS di dalam buku-buku Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Sila lihat buku kami Syi’ah Wa Hujjahtu-hum al-Tasyayyu’ (Syi’ah dan hujah mereka tentang Tasyayyu’) dan juga buku al-Muruja’at (Dialog Sunnah – Syi’ah) khususnya dialog keempat. Ianya akan memuaskan hati anda jika anda orang yang insaf. Jiika tidak, keuzuran anda adalah disebabkan kejahilan anda sendiri.

Dialog di antara aku dan para ulama Syi’ah

Ianya juga merupakan sebahagian daripada sebab-sebab yang mendorongku menjadi seorang Syi’ah. Manakala berdialog dengan mereka, aku dapati diriku dikalahkan oleh hujah-hujah mereka, tetapi aku tetap berdegil. Aku cuba mempertahankan hujah-hujahku yang lemah walhal aku mempunyai keilmuan yang tinggi di dalam mazhab Syafi’i dan mazhab lain. Kerana aku telah menuntut di universiti al-Azhar sehingga aku memperolehi ijazah yang tinggi sebagaimana aku telah menyebutkannya.

Dialog kami mengambil masa tidak kurang daripada tiga tahun. Kemudian aku mula mengesyaki mazhab empat kerana perselisihan sesama sendiri begitu ketara sekali.(3)

Mengkaji buku al-Muraja’at (Dialog Sunnah – Syi’ah)

Akhirnya aku mengkaji buku al-Muraja’at (Dialog Sunnah – Syi’ah) karangan Ayatullah al-’Uzma Sayyid Syarafuddin. Aku mengkajinya dengan teliti. Gaya bahasa dan kemanisan lafaznya mengkagumkanku dan membuatkan aku berfikir bagaimana dia dapat memberi hujah-hujah yang kuat di dalam dialognya dengan Syaikh al-Akbar Syaikh Salim al-Busyra, Rektor Universiti al-Azhar ketika itu.

Aku dapati pengarangnya ketika berhujah tidak berpegang kepada buku-buku Syi’ah, malah dia berpegang kepada buku-buku Sunnah wal-Jama’ah. Lantaran itu ianya menjadi sukar bagi lawannya untuk menolaknya. Pada malam itu aku tidak dapat tidur sehingga aku puas hati bahawa kebenaran adalah bersama Syi’ah. Mereka berada di atas mazhab yang benar sabit daripada Rasulullah SAWAW dan Ahlu l-Baitnya AS. Tidak ada syubhat sedikitpun padaku. Aku percaya bahawa mereka tidaklah sebagaimana apa yang diperkatakan kepada mereka oleh tuduhan, celaan, dan kata-kata batil yang diciptakan.

Buku al-Muraja’at (Dialog Sunnah Syi’ah) untuk saudaraku

Pada keesokannya, aku memberi buku tersebut kepada saudaraku Ahmad. Dia berkata kepadaku: Apakah ini? Aku menjawab kitab Syi’ah oleh pengarang Syi’ah. Lantas dia berkata kepadaku: Jauhkanlah buku itu dariku, sebanyak tiga kali. Ia adalah daripada buku-buku yang sesat, aku tidak perlu kepadanya. Aku benci kepada Syi’ah dan perkara yang berkaitan dengan Syi’ah. Aku berkata: Ambillah dan bacalah sahaja kerana kita tidak perlu beramal dengannya. Ia tidak akan merosakkan anda jika anda membacanya. Lalu diapun mengambil buku tersebut, mengkajinya dengan teliti. Dan akhirnya dia mengakui kebenaran mazhab Syi’ah. Dia berkata: Syi’ah di atas kebenaran. Selain daripada mereka adalah bersalah (Khati’un).

Kemudian aku dan saudaraku meninggalkan mazhab Syafi’i dan kami berpegang kepada mazhab Syi’ah Ja’fariyyah. Ini disebabkan oleh dalil-dalil yang banyak dan terang. Hati kecilku menikmati ketenangan dengan berpegang kepada mazhab Ja’fari, mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW kerana aku mengetahui bahawa aku telah sampai kepada matlamat yang paling jauh iaitu berpegang kepada mazhab yang paling suci iaitu berpegang kepada mazhab keluarga suci (al-Itrah al-Tahirah).

Justeru itu aku mempercayai suatu keyakinan yang tidak dicampuri syak bahawa aku telah berjaya daripada siksaan Allah SWT. Aku bersyukur kepada Allah SWT di atas kejayaan semua keluargaku dan kebanyakan kaum kerabatku, sahabat-sahabatku dan lain-lain. Ini adalah satu kurniaan dan nikmat daripada Allah SWT yang tidak dapat dinilainya selain daripada Dia; Wilayah keluarga Rasul SAWAW kerana tidak ada kejayaan kecuali dengan mengangkat mereka sebagai auliya’.

Sebuah hadith Rasul SAWAW yang dipersetujui oleh Sunnah dan Syi’ah yang bermaksud:“Umpama keluargaku sepertilah bahtera Nuh, sesiapa yang menaikinya ia akan berjaya dan sesiapa yang tidak menaikinya akan tenggelam dan binasa.

Aku memohon kepada Allah SWT agar merestui kami kerana mengangkat wilayah Ahlu l-Bait AS dan mencintai mereka.

Beberapa kumpulan menjadi Syi’ah bersama-sama kami

Sebilangan besar daripada saudara-saudara kami Ahlus Sunnah dari Syria, Lubnan, Turkey dan lain-lain telah turut menjadi Syi’ah bersama kami. Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayat kepada kami dan kami tidak akan mendapat hidayah sekiranya Allah tidak memberi hidayah kepada kami.

Apabila tersebarnya berita mengenai kami, orang ramai berpusu-pusu datang kepada kami, bertanya kami sebab-sebab yang mendorong kami berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait dan meninggalkan mazhab Syafi’i. Kami memberikan jawapan kepada mereka bahawa dalil-dalil yang kuat bersama kami. Maka sesiapa yang ingin supaya kami menerangkan kepadanya mazhab al-Haqq, maka hendaklah ia datang kepada kami.

Orang ramai membuat rujukan kepada kami

Dalam masa yang singkat saja, orang ramai telah datang kepada kami. Mereka terdiri daripada para ulama, guru, pegawai, peniaga dan lain-lain. Kami menjelaskan kepada mereka kebenaran mazhab Ahlu l-Bait AS berdasarkan rujukan Ahlu s-Sunnah yang muktabar. Di kalangan mereka ada yang mendengar dan berpuas hati, kemudian berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS, dengan meninggalkan mazhab yang terdahulu. Di kalangan mereka ada yang fanatik, dan terus berpegang kepada mazhabnya.

Keuzurannya adalah kejahilannya, dan fanatiknya adalah kesedarannya bahawa dia tidak mampu mempertahankan mazhabnya. Demikianlah berlalunya hari-hari, kami terus berdakwah sehingga ramai orang berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS di Syria, dan di Turkey, al-Hamdu Lillah.

Muzakarah di antaraku dan saudaraku

Untuk menambahkan keyakinan, aku dan saudaraku bermuzakarah tentang mazhab Ja’fari. Kadang-kadang dia jadikan dirinya sebagai seorang Syi’ah dan aku menjadikan diriku seorang Sunnah. Kemudian kami memulakan perbincangan. Aku mengemukakan kepadanya beberapa persoalan, maka dia memberi jawapan kepadaku mengenainya berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.

Di dalam perbincangan itu, aku melihat diriku dikalahkan olehnya, lalu aku melihat kebenaran bersama Syi’ah. Dan pada masa yang lain aku jadikan diriku sebagai seorang Syi’ah dan saudaraku sebagai seorang Sunnah, maka kami pun bermuzakarah di dalam beberapa masalah. Dia ketawa dan melihat dirinya dikalahkan dan berkata: Kebenaran adalah bersama Syi’ah.

Demikianlah berulangnya muzakarah di antara kami. Dan dengan cara ini kami dapati bahawa sesungguhnya kebenaran bersama Syi’ah kerana kebenaran adalah tinggi dan tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripadanya.

Sebagai contoh manakala dia jadikan dirinya sebagai seorang Syi’ah, dia meminta dalil daripadaku kerana berpegang kepada salah satu daripada mazhab yang empat seraya berkata:”Apakah dalil anda berpegang kepada mazhab Syafi’i atau Hanafi, Maliki atau Hanbali? Adakah anda dapati dalil daripada ayat al-Qur’an seperti maksud firmanNya (di dalam Surah al-An’am (6): 153 yang bermaksud:

” dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus,maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain) kerana jalan itu menceraiberaikan kami dari jalanNya.” 

Lihatlah bagaimana Allah SWT menyuruh orang-orang Mukminin supaya berpegang kepada jalanNya yang lurus, dan melarang kami daripada mengambil jalan-jalan (Subul) yang bermacam-macam supaya kami tidak sesat daripada jalanNya.

Dia bertanya lagi: Adakah anda mendapati hadith Sahih yang menyokong pegangan anda kepada salah satu daripada empat mazhab?

Aku menjawab: Ijmak. Maka dia berkata kepadaku: Tidak ada ijmak, kerana mereka berselisih faham pada mazhab-mazhab tersebut bagaimana pula ijmak dapat dilakukan.

Apabila dia bertanya kepadaku, aku jadikan diriku sebagai seorang Ja’fari, aku memberikan dalil-dalil daripada al-Qur’an dan Sunnah RasulNya. Aku berkata: Sebuah hadith Rasulullah SAWAW yang bermaksud:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berharga, kitab Allah dan Itrah  Ahlu l-Baitku selama kalian berpegang kepada kedua-duanya, kalian tidak akan sesat selepasku selama-lamanya. Kedua-duanya tidak akan terpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh. Justeru itu jagalah baik-baik, bagaimana kalian memperlakukan kedua peninggalanku itu.”

Dan sabda Rasulullah SAWAW yang bermaksud:”Umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh, sesiapa yang menaikinya berjaya, dan sesiapa yang tidak menaikinya tenggelam.” Dia menyerah kalah dan berkata kepadaku: Kebenaran bersama anda.

Begitulah kami melihat kebenaran itu tetap di samping Ahlu l-Bait (4) Rasulullah SAWAW.

Pengisytiharan Sebagai Syi’ah

Sebagaimana kalian telah mengetahui bahawa dalil-dalil yang kuat dan hujah-hujah yang terang terdapat di dalam buku-buku Ahlus Sunnah dan Syi’ah tentang kebenaran berpegang kepada mazhab Ja’fari kerana ianya merupakan salsilah keemasan yang tersusun rapi dan tidak dapat dipisahkan sebagaimana firmanNya dalam (Surah al-Baqarah (2): 256 yang bermaksud:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Kerana itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.”

Sebagaimana sebuah hadith muktabar yang diriwayatkan oleh Ali AS daripada Nabi SAWAW bersabda:”Kamilah al-Urwah al-Wusthqa (buhul tali yang amat kuat).”

Di dalam riwayat yang lain beliau bersabda:”Kamilah al-Sirat al-Mustaqim kamilah subul jalan-jalan kepada Allah.” Contoh-contoh hadith seperti ini adalah banyak. Semuanya menjelaskan kepada kita sabil (jalan) untuk berpegang kepada mazhab Syi’ah. Maka kami menerimanya dengan penuh kegembiraan kerana inginkan kejayaan dan kemenangan di akhirat kelak. Semoga Allah juga memberi petunjuk kepada kalian.

Sebagaimana seorang penyair bernama al-Kumait berkata dalam puisinya:

“Aku adalah Syi’ah Ahmad

dan mazhabku adalah mazhab al-Haqq.

Imam Syafi’i berkata: Manakala aku melihat manusia berpegang kepada mazhab yang bermacam-macam di lautan kebodohan dan kejahilan. Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan mereka adalah Ahlu l-Bait al-Mustafa dan penamat segala Rasul

Aku berpegang kepada tali Allah dengan mewalikan mereka sebagaimana Dia memerintahkan kita berpegang kepada taliNya.

Telah berpecah di dalam agama tujuh puluh golongan lebih sebagaimana tercatat di dalam hadith.

Semuanya tidak berjaya kecuali satu golongan maka katakanlah kepadaku mengenainya wahai orang yang mempunyai fikiran dan akal.

Adakah golongan yang binasa itu Ali Muhammad?

atau golongan lain yang berjaya? Katakanlah kepadaku.

Sekiranya anda berkata mengenai orang-orang yang berjaya, maka jawapannya ialah satu (keluarga Muhammad dan pengikut-pengikutnya).

Dan sekiranya anda berkata tentang golongan yang binasa nescaya anda tidak boleh berbuat apa-apa lagi.

Dan sekiranya maula mereka adalah daripada mereka (Ahlu l-Bait AS) maka sesungguhnya aku telah meredhai mereka dan sentiasa berteduh di bayangan mereka.

Kalian tinggallah Ali untukku sebagai Wali dan Keturunannya.

Dan kalian termasuk orang-orang yang tinggal di dalam kesenangan (abadi di akhirat kelak).

Dan dia berkata lagi:

Jikalau anda ingin mencari untuk diri anda satu mazhab yang akan menyelamatkan anda di hari kiamat daripada jilatan api

Maka tinggallah pendapat Syafi’i dan Malik dan Ahmad dan apa yang diriwayatkan oleh Ka’ab Ahbar

Maka perwalikanlah orang-orang dimana kata-kata dan percakapan mereka telah diriwayatkan oleh datuk kami daripada Jibra’il daripada Allah SWT.”

Dan aku akan kemukakan kepada anda kelebihan-kelebihan al-itrah al-Tahirah dari buku-buku rujukan saudara-saudara kami Ahlus Sunnah di dalam buku ini nanti Insya Allah.

Rancangan-rancangan jahat bagi menentang kami

Apabila kami mengisytiharkan bahawa kami telah berpegang kepada mazhab Syi’ah, maka ianya tersebar cepat ke seluruh negara. Orang ramai mulai berpegang kepada Syi’ah, secara kumpulan dan ada yang secara individu.

Pada masa itu beberapa kumpulan yang menentang mazhab Ahlu l-Bait AS kerana kejahilan mereka mengenai mazhab tersebut, menjadi musuh kepada apa yang mereka tidak tahu. Lantaran itu mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan serta layanan yang keji terhadap kami di mana kami merasa mahu untuk menyatakannya disebabkan kekejiannya.

Sesungguhnya kebanyakan daripada mereka menghukum kami dengan kekafiran, dan kemurtadan.(5) Lantaran itu kami menentang tuduhan mereka. Lalu mereka menggalakkan orang-orang yang bodoh mereka Sufaha’u-hum menentang kami. Mereka juga menggalakkan kanak-kanak mereka supaya menyakiti kami dengan kata-kata keji dan melontar kami dengan batu seraya berkata kepada kami: Wahai penyembah al-Qarmidah. Mereka maksudkan: Wahai penyembah turbah Husainiyyah.

Mereka mulai mengingatkan orang ramai melalui mimbar-mimbar masjid tentang “pergaulan kami” dengan tuduhan kekufuran dan kemurtadan. Mereka memotong mata pencarian kami. Sekiranya kami mahu menyewa rumah untuk didiami, mereka akan datang kepada tuannya dan mengugutnya pula seraya berkata: Mereka itu adalah Musyrikun. Mereka mencaci sahabat. Jangan sekali-kali anda menyewakan rumah anda kepada mereka. Dan jikalau anda menyewakannya, nescaya kami akan menyakiti anda.”

Ianya sungguh menghairankan seolah-olah kami telah keluar dari agama Islam dengan berpegang kepada mazhab ahlu l-Bait AS. Begitu juga dengan sekumpulan syaikh-syaikh di Halab, mereka telah menubuhkan persatuan yang mereka namakan “Persatuan dakwah Muhammadiyyah ke jalan yang lurus.” Seorang daripada mereka bernama Amin Airudh telah mengarang sebuah buku dengan nama persatuan tersebut. Dia menulis di dalam kata-kata  yang keji bagi menentang kami di antaranya:” Tasyayyu’ telah berkembang di seluruh Halab di tahap yang menakutkan. Justeru itu kami menentang golongan tersebut.”

Ia telah menjadi riuh rendah kemudian ia padam kerana suara kebenaran menjadi tinggi menjulang dan suaranya sentiasa kedengaran sehingga ia berkembang dengan pesat, sehingga tidak boleh didiamkannya oleh gegaran.

Walau apapun terjadi kami tetap cekal seperti gunung yang kukuh, tidak dapat digerakkan oleh ribut taufan. Kerana kami berpegang kepada kebenaran. Kami menyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik dan berbincang dengan cara yang lebih baik dan perkataaan siapakah yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal salih dan berkata:”Sesungguhnya aku adalah daripada orang-orang Islam.”Sesungguhnya Allah telah menolong kami menghadapi mereka dengan berkat Ahlu l-Bait AS. Sebenarnya merekalah yang gagal dan rugi, malah “perbuatan” mereka di hari kiamat nanti akan dibalas.

Suatu keluhan

Terlintas di hatiku untuk menulis satu tajuk yang mendukacita dan memalukan tentang ahli agama yang sentiasa mencari keaiban Muslimin salihin terutamanya mengenai keaiban Syi’ah yang baik, pengikut Ahlu l-Bait AS. Mereka adalah kuman kejahatan yang berusaha untuk melakukan kerosakan di bumi. Mereka tidak hidup dengan jiwa yang bersih bersama golongan-golongan Islam, dan menjamin hak-hak mereka.

Malah mereka menaburkan fitnah di kalangan barisan Muslimin untuk menyebarkan sebab-sebab kefasadan bagi menangguk di air yang keruh bagi mengecapi kesenangan duniawi sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka. Seolah-olah berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS menurut pandangan mereka yang jahat, telah terkeluar daripada agama Islam. Darahku pada masa itu menjadi halal dan penghormatan tidak ada lagi untukku.

Jikalau mereka kembali kepada pendapat yang betul dan berdiri di atas mazhab Ahlu l-Bait AS, nescaya mereka mengetahui sesungguhnya Syi’ah berada di pihak yang benar. Sesungguhnya orang yang memperkuatkan mazhab ini adalah Nabi Muhammad SAWAW sendiri. Dan orang yang menetapkan tiang-tiangnya ialah Ali dan anak-anaknya yang disucikan oleh Allah daripada kekotoran dosa. Dialah yang menjaga mereka dari melakukan dosa kecil ataupun besar. Lantaran itu hadith mereka ialah hadith anak daripada bapanya daripada datuknya daripada Rasulullah SAWAW daripada Jibra’il daripada Allah SWT.

Begitulah Syi’ah telah mengambilnya dari tangan ke tangan, kebenaran dari kebenaran dan yang akhir mereka tidak membelakangi yang awal mereka. Adalah menghairankan sekali, orang yang benar itu dibunuh dan orang yang batil itu dilepaskan? Adakah orang yang berpegang kepada mazhab ini dicela? Dan orang yang beribada menurut cara mereka dianggap sesat, ia dikafir dan dilontarkan dengan batu?

Adakah hartanya dirampas, anak-anaknya dibunuh dan semua manfaat ditegah untuknya? Adakah dikatakan kepadanya wahai penyembah berhala sedangkan dia menyembah Allah SWT dengan kebenaran dan keyakinan. Hatinya tersimpul kepada wilayah Allah, RasulNya dan para imam yang suci dan siapa yang mewalikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya parti Allah yang mendapat kemenangan (Surah al-Maidah (5): 56).

Tetapi sudah menjadi lumrah bahawa pendusta dimuliakan sementara orang yang benar dihina.

Lihatlah apa yang dlakukan oleh Bani Umaiyyah terhadap Rasul SAWAW, itrahnya AS dan Syi’ah mereka yang terpilih. Abu Sufyan telah menentang Rasul SAWAW, Muawiyah menentang Amiru l-Mukminin Ali AS, Yazid menentang Sayyid Syuhuda Husayn AS, Bani Marwan menentang Syi’ah yang baik. Begitulah keadaannya sehingga Allah memotong belakang mereka. Begitulah keadaannya di hari kami memilih mazhab Syi’ah dan meninggalkan mazhab Syafi’i. Berlakulah ‘kiamat” dan penentangan mereka terhadap kami.

Kami tidak mencela orang yang mempunyai akhlak seperti ini. Kerana itulah cara mereka dididik. Mereka menjadi talibarut Bani Umaiyyah dan kuncu Bani Marwan. Pertalian yang rapat di antara satu sama lain di mana tidak ada perbezaan di antara akhir mereka dengan yang awal mereka sehingga tiba suatu hari orang yang zalim diberikan balasan dan orang yang dizalimi diselamatkan. Kezaliman lebih dikenali oleh orang yang cekal menghadapinya.

Sikap Imam Akbar Ayatullah al-Burujurdi terhadap kami

Apabila berita kesulitan hidup kami sampai kepada Sayyid Syarafuddin RH, dia mengutus surat kepada Ayatullah al-’Uzma Sayyid al-Husain al-Tabataba’i RH menerangkan keadaan kami. Lalu Ayatullah Burujurdi menolong kami. Pada hakikatnya dialah yang menyokong kami di dalam menyampaikan mazhab yang benar daripada Allah, Rasul dan itrahnya yang disucikan AS. Begitulah juga Sayyid Syarafuddin RH yang telah memainkan peranan yang tidak kurang juga pentingnya. Lantaran itu kami membuat keputusan untuk melawat Iraq dan Iran kerana sebab-sebab tertentu.

Lawatanku ke Iraq

Pada tahun 1370H/1950M, dengan taufik Allah SWT aku dapat menziarahi makam-makam yang suci di Iraq. Aku juga diberi kesempatan untuk bertemu dengan para ulama dan para mujtahid yang mulia, dengan penuh kemesraan yang aku tidak dapat membayangkannya.

Bandar Baghdad

Di Baghdad aku menjadi tetamu kepada Sayyid al-Sadr, Perdana Menteri Iraq. Sepanjang aku di Baghdad, aku berjumpa dengan kebanyakan ulama di Baghdad seperti Allamah Sayyid Hibat al-Din al-Syarastani, Sayyid Ali Naqiyy al-Hadiri, Ustaz Ahmad Amin, pengarang buku al-Takamul fi l-Islam dan lain-lain.

Bandar Kazimiyyah yang mulia

Aku juga berjumpa dengan para ulama di Kazimiyyah seperti al-’Allamah Ahmad al-Kisywan, al-’Allamah al-Sayyid ‘Ali al-Sadr, al-’Allamah al-Sayyid Muhammasd al-Mahdi al-Isfahani al-Kazimi, al-’Allamah Syaikh Marzah Ali Zanjani dan lain-lain.

Bandar Karbala al-Muqaddasah

Di bandar ini aku menjadi tetamu kepada al-’Allamah al-Sayyid al-’Abbas al-Kasyani. Aku juga sempat berjumpa mujtahid Sayyid Mirza Hadi al-Khurasani, Mujtahid al-Sayyid al-Hasan Aghamar, Mujtahid Syaikh Muhammad al-Khatib, Mujtahid Mahdi Syirazi, Mujtahid Muhammad Ridha al-Asfahani al-Hai’ri, Mujtahid Sayyid Muhammad al-Tahir al-Bahrani, Sayyid Murtadha daripada keluarga Tabataba’i, al-’Allamah Syaikh Muhammad ‘Ali daripada keluarga Sibawaih, Sayyid al-Milani, Syaikh Ja’far al-Rasyti dan lain-lain.

Bandar Najaf al-Asyraf

Di Najaf aku menjadi tetamu kepada Ayatullah al-’Uzma Sayyid al-Muhsin al-Hakim al-Tabataba’i. Semasa di Najaf aku berjumpa para mujtahid yang masyhur seperti Ayatullah al-’Uzma Sayyid Mirzah ‘Abdu l-Hadi Syirazi, Ayatullah al-’Uzma Sayyid Mahmud al-Syahrudi, Ayatullah al-’Uzma Sayyid Abu l-Qasim al-Khu’i.(6)Ayatullah Sayyid al-Husain al-Hamami, Ayatullah Sayyid Mirzah Agha al-Istahbanani, Ayatullah al-’Uzma Syaikh Muhammad al-Hasan al-Muzaffar, Ayatullah Syaikh Muhammad al-Baghdadi, Ayatullah Agha Bazrak al-Tahrani, Al-’Allamah ‘Abdu l-Muhsin Ahmad al-Amini, Syaikh Nasrullah al-Khalkhali dan lain-lain lagi. Mereka menghormatiku sesuai dengan kedudukanku. Kemudian aku pulang dengan penuh kegembiraan.

Lawatanku ke Iran

Aku meninggalkan Iraq menuju ke Iran untuk menziarahi makam Imam Ridha AS dan bertemu dengan Marja’ Taqlid Ayatullah al-’Uzma Sayyid Agha Husain al-Tabataba’i al-Burujurdi. Aku berjumpa dengannya di bandar Qom al-Muqaddasah. Aku mendapatinya seorang yang tenang, mempunyai kehebatan dan keistimewaan tertentu. Dia menghormatiku sejajar dengan kedudukanku. Dan aku kembali dengan senang hati.

Aku menyedari bahawa kebanyakan pemimpin-pemimpin dunia Islam dan individu-individu yang masyhur datang menziarahinya. Walaupun begitu mereka tidak dibenarkan berjumpa dengannya secara terus. Ini disebabkan kesibukannya melayani urusan Muslimin. Dia telah memberi kepadaku hadiah yang sesuai dengan kedudukannya dan kedudukanku. Selamat sejahtera di hari dia dilahirkan dan selamat sejahtera di hari dia dimatikan dan selamat sejahtera di hari dia dibangkitkan.

Bandar Qom al-Muqaddasah

Sepanjang aku berada di sini, aku sempat berjumpa dengan para mujtahid yang masyhur seperti Ayatullah Sayyid Muhammad al-Hujjah, marja’ taqlid Ayatullah Sayyid Sadr al-Din Sadr, Ayatullah Sayyid Muhammad Taqi al-Khunsari, Ayatullah Sayyid Syahabuddin Najafi al-Mar’asyi, Ayatullah Sayyid Kazim Syariat Madari, Ayatullah Sayyid Muhammad Ridha Gulpaigani, Ayatullah al-’Uzma Sayyid Ruhullah al-Musawi al-Khumaini.(7)Ayatullah Syaikh Mirzah Ahmad Isytiani, Ayatollah Syaikh Muhammad al-Ghurawi Kasyani dan lain-lain.

Bandar Khurasan

Di Khurasan aku menziarahi makam Imam Ridha AS. Aku berjumpa marja’ taqlid yang termasyhur Ayatullah al-’Uzma Muhammad al-Hadi al-Milani dan lain-lain. Aku begitu gembira dengan layanan dan sambutan mereka yang begitu mesra yang layak dengan kedudukanku. Aku meneruskan khidmatku untuk menyebarkan mazhab Ahlu l-Bait AS. Meskipun aku menghadapi berbagai-bagai ugutan dan tekanan yang menyedihkan. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah SWT. kerana Dia sebaik-baik wakil, sebaik-baik maula dan sebaik-baik pembantu. La haula wala Quuwata illabillahi l-’Azim.

Endnote

1. Wahabi adalah golongan yang dinisbahkan kepada Muhammad bin ‘Abdu l-Wahab yang lahir pada 1111H. Di antara ajarannya ialah pengharaman perayaan terhadap orang yang telah meninggal dunia termasuk para Nabi dan para imam. Pengharaman pembinaan di atas kubur, tawasul, syafa’at melalui para Nabi dan para wali. Untuk mengetahui aqidah-aqidah Wahabi yang menyalahi nas, lihat Tauhid dan Syirik oleh Syaikh Ja’far Subhani, Mizan, 1987.

2. Telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan jodol Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah Syi’ah.

3. Sila lihat lampiran D

4. Untuk mengetahui dialog Imam Ridha AS dengan para ulama Baghdad dan Khurasan mengenai Ahlu l-Bait AS, sila lihat Lampiran A.

5. Untuk mengetahui aqidah Syi’ah tentang al-Qur’an, sila lihat lampiran C.

6. Ayatullah al-’Uzma Sayyid Abu l-Qasim al-Musawi al-Khu’i adalah seorang Marja’ Taqlid yang mempunyai ramai pengikut di seluruh dunia. Beliau adalah dari keturuan Imam Musa al-Kazim AS, Imam Ketujuh Mazhab Ahlu l-Bait (wafat pada 8hb. Ogos 1992). Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas ruhnya yang mulia.

7. Ayatullah al-’Uzma Imam al-Khomaini adalah pengasas Republik Islam Iran. Pemimpin yang begitu unik di abad ini. Beliau adalah dari keturunan Imam Musa al-Kazim AS (wafat pada 3hb. Jun 1989). Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas ruhnya yang mulia

.

Bab 2: Syiah dan Al Quran

Syi’ah mengambil hukum-hukum agama mereka selepas Nabi SAWAW daripada al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah. Adapun daripada al-Qur’an para mujtahid mereka mengambil hukum-hukum daripada nas-nas yang terang. Adapun nas-nas yang memerlukan penafsiran, mereka merujukkan kepada penafsiran al-Itrah yang suci.

Bagi orang yang bukan mujtahid, sama ada dia seorang muhtat yang memilih hukum untuk dirinya sendiri atau seorang muqallid yang mentaklidkan kepada seorang mujtahid yang adil menurut syarat-syarat yang ditetapkan di dalam buku-buku mereka. Apa yang paling penting baginya ialah mujtahid tersebut mestilah mengambil fiqhnya daripada Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya yang suci bersama al-Qur’an dan membuat kesimpulan dengan cahaya akal: Syi’ah mempunyai hujah-hujah yang kuat di dalam buku-buku mereka. Justeru itu aku kemukakan kepada kalian sebahagian daripada ayat-ayat al-Qur’an dan hadith-hadith Nabi SAWAW yang menunjukkan sabitnya hak dan dakwaan mereka.

Di sini dikemukakan ayat-ayat al-Qur’an yang menyokong dakwaan Syi’ah yang telah ditafsirkan oleh para ulama Ahlu l-Sunnah yang sejajar dengan pentafsiran Syi’ah seperti berikut:

1. Ayat al-Wilayah

FirmanNya di dalam (Surah al-Maidah (5): 55):“Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat dalam keadaaan rukuk.”

Telah sepakat semua Ahlu l-Bait AS, para ulama Tafsir dan Hadith dari golongan Syi’ah dan kebanyakan para ulama tafsir Ahlu s-Sunnah, malah keseluruhan mereka bahawa ayat ini telah diturunkan pada Amiru l-Mukminin Ali AS, ketika beliau memberi sadqah cincinnya kepada si miskin di dalam keadaan beliau (Ali AS) sedang solat di Masjid Rasulullah SAWAW.

Peristiwa ini telah diakui oleh para sahabat pada zaman Nabi SAWAW, para tabi’in dan penyair-penyair yang terdahulu sehingga mereka memasukkan peristiwa ini ke dalam syair-syair mereka.

Di sini diperturunkan kenyataan para ulama Ahlu s-Sunnah mengenai perkara tersebut seperti berikut:

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(1) berkata: al-Khatib telah mengeluarkannya di dalam al-Muttafaq daripada Ibnu Abbas, dia berkata:‘Ali AS telah menyedekahkan cincinnya dalam keadaan rukuk. Maka Nabi SAWAW bersabda: Siapakah yang memberikan kepada anda cincin ini? Lelaki ini menjawab: Lelaki yang sedang rukuk itu. Maka Allah SWT menurunkan ayat “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat di dalam keadaan rukuk (Surah al-Maidah(5): 55).

Al-Tabrani telah menulisnya di dalam al-Ausat(2)   Ibn Mardawaih daripada ‘Ammar bin Yassir berkata: Seorang peminta sadqah berdiri di sisi Ali yang sedang rukuk di dalam sembahyang sunat. Lalu beliau mencabutkan cincinnya dan memberikannya kepada peminta tersebut. Kemudian dia memberitahukan Rasulullah SAWAW mengenainya. Lalu ayat tersebut diturunkan. Kemudian Nabi SAWAW membacakannya kepada para sahabatnya. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku, hormatilah orang yang memperwalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya, cintailah orang orang mencintainya, bencilah orang yang membencinya, tolonglah orang yang menolongnya, tinggallah orang yang meninggalkannya dan penuhilah kebenaran bersamanya di mana saja dia berada.”

Begitu juga Abdu l-Razzaq, ‘Abd b. Hamid, Ibn Jarir dan Abu Syaikh telah mengesahkan bahawa Ibn Mardawaih meriwayatkannya daripada Ibn Abbas, dia berkata: ayat “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman…..(Surah al-Maidah (5):55) telah diturunkan ke atas ‘Ali bin Abi Talib.

Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh Ibn Abi Hatim, Abu Syaikh dan Ibn ‘Asakir daripada Salmah bin Kuhail. Dia berkata: Ali menyedekahkan cincinnya dalam keadaan rukuk. Kemudian ayat (Surah al-Ahzab (33): 33) diturunkan.

Begitu juga Ibn Jarir, daripada Sudi dan ‘Atbah bin Hakim telah mengeluarkan hadith yang sama, sementara Abu Syaikh dan Ibn Mardawaih meriwayatkan hadith ini daripada ‘Ali bin Abi Talib. Dia berkata: Ayat (Surah al-Maidah (5):55) “Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman…..” adalah diturunkan kepada Rasulullah SAWAW di rumahnya. Lalu Rasulullah SAWAW keluar dari rumahnya dan memasuki masjid. Orang ramai bersembahyang di antara rujuk dan sujud, malah ada yang berdiri. Tiba-tiba datang seorang peminta sadqah, adakah seseorang telah memberikan kepada anda sesuatu? Dia menjawab: Tidak, selain daripada lelaki yang sedang rukuk iaitu ‘Ali bin Abi Talib telah memberikan cincinnya kepadaku.

Ibn Mardawaih telah mengeluarkan hadith ini melalui al-Kalbi daripada Abi Salih daripada Ibn Abbas dia berkata: ‘Abdullah bin Salam dan beberapa orang Ahlu l-Kitab datang kepada Nabi SAWAW di waktu zuhur. Mereka berkata: Sesungguhnya jarak rumah-rumah kami jauh sekali. Kami tidak dapati orang yang ingin duduk bersama kami dan bergaul dengan kami selain di masjid ini. Dan sesungguhnya kaum kami apabila mereka melihat kami telah membenarkan Allah dan RasulNya, dan meninggalkan agama mereka, lalu mereka melahirkan permusuhan mereka dan bersumpah supaya mereka tidak bergaul dengan kami, mereka tidak makan bersama-sama kami. Lantaran itu ianya menimbulkan kesulitan kepada kami. Dan di kalangan mereka ada yang merayu perkara itu kepada Rasulullah SAWAW. Dan kemudian ayat yang bermaksud: Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang yang beriman..[al-Maidah (5): 55] diturunkan. Kemudian azan diadakan bagi menunaikan solat Zuhr.

Kemudian Rasulullah SAWAW keluar ke masjid, tiba-tiba beliau melihat peminta sadqah lalu beliau bersabda: Adakah seseorang telah  memberikan anda sesuatu? Dia menjawab: Ya. Beliau bertanya: Siapa? Dia menjawab: Lelaki yang sedang berdiri itu. Beliau bertanya lagi: Di dalam keadaan manakah dia memberikannya kepada anda? Dia menjawab: Dalam keadaan rukuk. Beliau bersabda: Itulah ‘Ali bin Abi Talib AS. Lalu Rasulullah SAWAW bertakbir dan di masa itu beliau membaca ayat al-Qur’an (Surah al-Maidah (5): 55):”Sesiapa yang mewalikan Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya parti Allah itulah yang pasti kemenangan.”

Al-Kanji al-Syafi’i telah menyebutkannya di dalam Kifayah al-Talib(3)  daripada Anas bin Malik: Sesungguhnya ada seorang peminta sadqah di masjid bertanya: Siapakah yang akan memberikan sadqah kepadanya. ‘Ali yang sedang rukuk memberikan isyarat kepadanya supaya mencabutkan cincin di tangannnya. Rasulullah SAWAW bersabda: Wahai ‘Umar! Sesungguhnya telah wajib baginya (‘Ali) syurga kerana Allah tidak mencabutkannya daripada tangannya sehingga Dia mencabutkan segala dosa dan kesalahan daripadanya. Dan ayat (Surah al-Maidah (5):55) diturunkan.

Kemudian penyair Hasan bin Tsabit memperkatakan syairnya:

Wahai Abu l-Hasan! Jiwa ragaku berkorban untukmu dan setiap pencinta petunjuk

Adakah akan sia-sia orang yang memujimu?

Orang yang memuji pada zat Allah tidak akan sesat

 

Kaulah yang telah memberi di dalam keadaan rukuk

seluruh jiwa ragaku berkorban untukmu

wahai sebaik-baik orang yang rukuk.

Di antara perawi-perawi yang menegaskan bahawa ayat ini telah diturunkan pada Amiru l-Mukminin Ali AS ialah Fakhruddin al-Razi di dalam tafsirnya(4)  Dia telah meriwayatkannya daripada ‘Ata’ daripada Ibn Abbas bahawa sesungguhnya ayat ini diturunkan pada ‘Ali bin Abi Talib AS. Dia meriwayatkan bahawa ‘Abdullah bin Salam berkata: Manakala ayat ini diturunkan, aku bertanyakan Rasulullah SAWAW wahai Rasulullah SAWAW! Aku melihat Ali memberikan cincinnya kepada seorang yang memerlukannya di dalam keadaan rukuk, maka kamipun mewalikannya.

Dia juga meriwayatkan daripada Abu Dhar RH bahawa dia berkata: Pada suatu hari aku menunaikan solat Zuhr bersama Rasulullah SAWAW. Maka seorang peminta sadqah di masjid meminta (sesuatu), tidak seorangpun memperdulikannya. Lantas peminta itu mengangkat tangannya ke langit dan berkata: Wahai Tuhanku persaksikanlah sesungguhnya aku telah meminta di masjid Rasulullah SAWAW, tetapi tidak ada seorangpun yang memberi sesuatu kepadaku. Dan ‘Ali AS pada ketika itu sedang rukuk lalu beliau memberikan isyarat kepadanya dengan anak jari tangan kanannya yang bercincin. Maka lelaki tadi datang mencabutnya dan ianya dilihat oleh Nabi SAWAW lalu beliau bersabda:

Sesungguhnya saudaraku Musa telah meminta kepada Engkau dan berkata:(Surah Taha (20): 25): Wahai Tuhanku lapangkanlah untukku dadaku dan jadikanlah dia sekutu di dalam urusanku. Maka ayat (Surah al-Qasas (28): 35)”Kami akan membantumu dengan saudaramu dan kami berikan kamu berdua kekuasaan yang besar” diturunkan.

“Wahai Tuhanku, aku adalah Muhammad Nabi kalian dan pilihan kalian,  maka lapangkanlah dadaku dan permudahkanlah urusanku dan jadikanlah untukku seorang pembantuku (wazir) daripada keluargaku ‘Ali dan perkukuhkanlah dengannya kekuatan.” Abu Dhar berkata:”Demi Allah sebaik saja Rasulullah SAWAW selesai membaca doa itu, Jibra’il turun dan berkata: Wahai Muhammad “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan solat, dan memberikan zakat di dalam keadaan rukuk (al-Maidah (5): 55).

Hadith ini juga telah diriwayatkan oleh al-Syablanji di dalam Nur al-Absar(5)  sanadnya sampai kepada Abu Dhar. Di antara orang-orang yang meriwayatkan hadith ini diturunkan pada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS ialah al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul,(6) al-Zamakhsyari di dalam tafsirnya al-Kasysyaf (7)  bahawa ayat ini diturunkan kepada ‘Ali ketika peminta sadqah meminta kepada beliau di dalam keadaan rukuk di dalam solatnya, maka beliaupun mencampakkan cincinnya. Ibn Hajr al-Asqalani, di dalam al-Kafi al-Syafi fi Takhrij Ahadith al-Kasysyaf (8)  ketika mengeluarkan hadith ini, dia berkata: Hadith ini telah diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan Salmah bin Kuhail dia berkata: ‘Ali bersadqah dengan cincinnya dalam keadaan rukuk. Maka ayat “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman” [al-Maidah (5): 55] diturunkan.

Hadith ini juga diriwayatkan daripada Ibn Mardawaih dan Sufyan al-Thauri daripada Ibn Sinan daripada al-Dhahak daripada Ibn ‘Abbas, dia berkata:”Ali AS sedang menunaikan solat di dalam keadaan berdiri, tiba-tiba datang seorang peminta sadqah ketika ‘Ali sedang rukuk. Maka beliaupun memberikan cincinnya kepada orang itu. Lalu ayat yang bermaksud:”Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya…..”[al-Maidah (5): 55] diturunkan.

Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali al-Razi al-Hanafi di dalam Ahkam al-Qur’an (9)  mengeluarkan beberapa riwayat yang menunjukkan bahawa ayat ini diturunkan mengenai hak ‘Ali AS. Sanad-sanadnya berakhir kepada Mujahid, Sudi, Abu Ja’far, ‘Atbah bin Abi Hakim dan lain-lain.

Al-Qurtubi al-Andalusi di dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an,(10)  mengambil hadith ini daripada Imam al-Baqir AS bahawa ayat ini diturunkan kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS dan keluarganya. Dia berkata: Mereka memberi zakat di dalam keadaan rukuk menunjukkan bahawa sadqah sunat dinamakan zakat kerana ‘Ali AS telah bersadqah sunat dengan cincinnya semasa rukuk.

Rasyid Ridha yang bermazhab Wahabi di dalam tafsirnya al-Manar,(11)  al-Alusi di dalam Ruh al-Ma’ani (12)menyatakan bahawa ayat ini diturunkan kepada hak Amiru l-Mukminin ‘Ali AS dengan berbagai riwayat yang berakhir setengahnya kepada Ibn ‘Abbas dan setengahnya kepada Abdullah bin Salam.

Muhibbuddin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba,(13)   telah meriwayatkan beberapa riwayat yang sahih di dalam bab ini. Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Huffaz.(14)

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Gha’ib,(15)  mengatakan bahawa ayat ini menunjukkan bahawa imam selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali bin Abi Talib AS. Justeru itu untuk mengukuhkannya, aku berkata: Bahawa sesungguhnya ayat ini menunjukkan bahawa apa yang dimaksudkannya ialah seorang imam. Dan apabila ianya menunjukkan sedemikian maka imam tadi mestilah ‘Ali bin Abi Talib AS.

al-Bahrani di dalam Ghayah al-Maram (16)  telah mengemukakan hadith-hadith yang menunjukkan ayat ini telah diturunkan kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS. Dia meriwayatkan sebanyak dua puluh empat hadith menurut saluran Ahlu s-Sunnah dan dua puluh hadith menurut saluran Syi’ah.

Begitu juga al-Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir (17)  telah mencatat enam puluh enam nama-nama ulama Ahlu s-Sunnah yang masyhur yang telah menyebutkan hadith ini dan mereka pula menegaskan bahawa ayat ini telah diturunkan kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS dengan menyebutkan perawi-perawinya sekali.

Aku berkata: Ini sahajalah peluang yang mengizinkan kami menyebutkan kata-kata Ahlu s-Sunnah di dalam bab ini. Adapun sahabat-sahabat kami Imamiyyah, Syi’ah keluarga suci, mereka bersepakat di dalam buku-buku Hadith, Tafsir dan ilmu l-Kalam bahawa ayat tersebut diturunkan pada hak ‘Ali AS. Sesungguhnya beliaulah yang dimaksudkan dengan ayat ini. Tidak seorangpun menyalahinya. Kadangkala mereka mendakwa bahawa hadith ini telah sampai ke peringkat kemutawatirannya. Lantaran itu tidak ada ruang dan helah bagi seseorang itu untuk mengesyaki dan menolaknya melainkan ianya seorang pemarah, penentang ataupun terlalu rendah daya pemikirannya.

Aku berkata: Ayat ini menentukan bahawa sesungguhnya imam dan khalifah selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali bin Abi Talib AS kerana Allah SWT mengiringi wilayah ‘Ali dengan wilayahNya dan wilayah RasulNya.

Perkataan innama (bahawa sesungguhnya) di dalam ayat tersebut memberi maksud al-Hasr dengan persetujuan ahli bahasa. Lantaran itu wilayah adalah ditentukan untuk mereka. Dan maksud dengan wali di sini adalah orang yang paling utama (aula) untuk mengurus sesuatu  dan seseorang itu tidak dikatakan aula (lebih utama) melainkan apabila dia adalah khalifah dan imam. Ini adalah pengertian yang masyhur menurut ahli bahasa.

Dari segi syarak mereka berkata: Sultan adalah wali kepada orang yang tidak mempunyai wali. Dan mereka berkata: Wali darah dan wali mayat, si anu adalah wali urusan rakyat dan si anu adalah wali bagi orang yang kurang daya kecerdikan. Nabi bersabda: Mana-mana perempuan yang mengahwini dirinya tanpa keizinan walinya, maka nikahnya adalah batil. Apa yang dimaksudkan dengan wali di dalam contoh-contoh tadi ialah al-Aula sebagaimana kata Mibrad di dalam buku al-’Ibarah tentang sifat-sifat Tuhan bahawa wali ialah aula.

Wali sekalipun sah dikaitakan dari segi bahasa dengan al-Nasr (pembantu) dan muhibb (pencinta) tetapi kedua-kedua pengertian itu tidak sesuai di tempat ini kerana kedua-duanya adalah umum, tanpa terbatas kepada orang yang dikehendaki di dalam ayat yang mulia ini iaitu firmanNya di dalam (surah al-Taubah (9):71):”Dan mukminin dan mukminah setengah mereka  menjadi Auliya’ ke atas setengah yang lain.”

Jika ditanya bagaimana dikehendaki dengan al-Ladhi na amanu (orang-orang yang beriman) itu Imam Amiru l-Mukminin AS seorang sahaja, sedangkan perkataan itu adalah umum? Maka kami menjawabnya:

1. Banyak terdapat di dalam percakapan Arab penggunaan perkataan jamak tetapi dikehendaki seorang sahaja berserta Qarinah dan sebaliknya. Ini adalah masyhur di kalangan mereka. Di dalam al-Qur’an firmanNya (Surah Ali Imran(3): 173):”Orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan sesungguhnya “manusia” telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerana itu takutlah kepada “mereka.” Apa yang dimaksudkan dengannya ialah Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’i sahaja dengan ijmak ahli Tafsir dan Hadith.

2. Sesungguhnya Allah SWT telah mensifatkan al-Ladhi na amanu di dalam ayat yang mulia ini dengan sifat yang tidak menyeluruh kepada semua iaitu yuqimu s-Solah wa yu’tuna z-Zakat wa hum raki’un (yang mendirikan solat dan menunaikan zakat di dalam keadaan rukuk).

3. Ahli bahasa menggunakan perkataan jamak kepada seseorang adalah untuk ta’zim(penghormatan) sebagaimana disebutkan oleh al-Tabarsi di dalam Tafsirnya (18)  mengenai ayat ini dengan menerangkan bahawa penggunaan perkataan jamak kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS adalah untuk tafkhim (kemuliaan) dan penghormatan. Dia berkata: Cara ini adalah paling masyhur di dalam percakapan mereka tanpa memerlukan dalil lagi.

4. Apa yang pasti jika dikehendaki dengan “semua” jami’ ialah penyatuan wali dan mutawalli tetapi yang lazimnya ialah menyalahi kedua-duanya.

Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf (19)  mengatakan bahawa ayat ini diturunkan kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS. Jika anda bertanya: Bagaimana boleh ianya untuk ‘Ali AS sedangkan perkataaan di dalam ayat tersebut adalah jamak? Aku menjawab:Ianya dibawa dengan perkataan jamak sekalipun sebabnya seorang lelaki sahaja adalah untuk menerangkan kepada orang ramai supaya mengikuti perbuatannya  (‘Ali AS). Maka dengan ini, mereka akan mendapat pahala setanding dengan pahalanya. Dan menyedarkan bahawa tabiat Mukminin mestilah mempunyai matlamat bagi melakukan kebaikan, ihsan, dan melayani faqir miskin sehingga tidak menangguhkannya meskipun di dalam solat sehingga selesai solat.

Jika ditanya: Sesungguhnya Amiru l-Mukminin ‘Ali AS telah menunaikan solat menghadapi Tuhannya dengan sepenuh hatinya tanpa merasai sesuatu di luar solatnya. Maka bagaimana beliau “merasai” perkataan peminta sadqah dan memahaminya. Maka jawapannya: Fahamannya tentang percakapan peminta sadqah tidak menafikan kekhusyukannya di dalam solat kerana ianya ibadah di dalam ibadah. Tidak ada jawapan yang lebih baik daripada apa yang telah dijawabkan oleh Abu l-Faraj al-Jauzi ketika ditanya mengenainya:

Dia menuang dan meminum tanpa dilalaikan oleh kemabukkannya

daripada minuman dan tidak melupai gelasnya.

Kemabukan yang mematuhinya sehingga membolehkannya

(melakukan) perbuatan orang yang segar, maka ini seunik-unik manusia.

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul mencatatkan wa man yatawalla iaitu sesiapa yang mencintai Allah dan RasulNya dan al-lladhina amanu iaitu ‘Ali, fa inna hizballah(sesungguhnnya parti Allah) iaitun Syi’ah Allah dan RasulNya dan walinya hum al-Ghalibun(mereka yang pasti menang) iaitu merekalah yang mendapat kemenangan.(Di dalam naskhah yang lain) al-’Alimun (mengetahui) sebagai ganti al-Ghalibun yang mendapat kemenangan. Dan di dalam perkiraannya (al-Hisab);”Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat, mengeluarkan zakat di dalam keadaan rukuk penilaiannya ialah Muhammad SAWAW selepasnya ‘Ali bin Abi Talib dan itrahnya AS.

Di dalam al-Kafi daripada Ja’far bin Muhammad daripada bapanya daripada datuknya AS, beliau berkata: Manakala ayat innama wa liyyukumu llah wa Rasuluh diturunkan beberapa orang sahabat Rasulullah SAWAW berkumpul di Masjid Madinah. Sebahagian mereka berkata kepada sebahagian yang lain: Apa pendapat kalian tentang ayat ini? Sebahagian mereka menjawab: Sekiranya kita mengingkari ayat ini nescaya kita mengingkari kesemuanya (al-Qur’an). Dan sekiranya kita mempercayainya, maka ianya merupakan satu kehinaan kepada kita manakala ‘Ali menguasai ke atas kita. Mereka menjawab: Sesungguhnya kalian telah mengetahui bahawa Muhammad adalah benar apa yang diucapkannya. Justeru itu kita menjadikannya wali tetapi kita tidak akan mematuhi ‘Ali tentang yang diperintahkannya. Maka turunlah ayat (Surah al-Nahl (16): 83):”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya” iaitu wilayah Muhammad SAWAAW (dan kebanyakan mereka mengingkarinya) iaitu wilayah ‘Ali AS.

Al-Saduq di dalam al-Amali berkata:”Umar bin al-Khattab berkata:Aku telah bersadqah cincin dalam keadaan rukuk supaya diturunkan (ayat) sebagaimana telah diturunkan kepada ‘Ali bin Abi Talib AS, tetapi ia tidak juga turun.

Aku berkata: Apabila anda mengetahui dalil-dalil Sunnah dan Syi’ah yang telah aku kemukakan, maka aku berkata:Tidak harus mendahului selain daripada ‘Ali ke atas ‘Ali sebagaimana tidak harus mendahului seseorangpun ke atas Nabi SAWAW kerana sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan Muhammad dan ‘Ali bersamaNya di dalam ayat al-Wilayah. Adapun orang-orang yang bertentangan dengan kami sekalipun mereka mengetahui sesungguhnya ayat al-Wilayah telah diturunkan pada ‘Ali AS secara Qat’i sebagaimana telah aku kemukakan tadi, mereka sengaja mengubah maknanya menurut mazhab mereka dan hawa nafsu mereka.

2. Ayat at-Tathir

FirmanNya di dalam (Surah al-Ahzab (33): 33):”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu (‘an-kum) wahai Ahlu l-Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Menurut tafsir-tafsir Syi’ah, ayat ini diturunkan secara khusus kepada Ahlu l-Bait AS sahaja. Sementara orang lain tidak termasuk di dalam ayat-ayat tersebut. Manakala tafsir-tafsir Ahlu s-Sunnah pula, ada yang mengakui bahawa ayat tersebut dikhususkan untuk Ahlu l-Bait AS sahaja, ada yang menyatakan ayat tersebut termasuk isteri-isteri Nabi (SAWAW), dan ada yang mengatakan ianya dikhususkan kepada isteri-isterinya (SAWAW) sahaja.

Lantaran itu ianya bertentangan dengan kaedah Bahasa Arab yang tidak menggunakan Dhamir Ta’nith (gantinama perempuan) untuk perempuan di dalam ayat tersebut. Malah Allah SWT menggunakan Dhamir Tadhkir (gantinama lelaki) iaitu perkataan ‘an-kum (daripada kamu) dan perkataan yutahhira-kum membersihkan kamu (lelaki).

Kaedah ini memang diketahui oleh penuntut-penuntut yang kecil dan kebanyakan orang awam. Di dalam ertikata yang lain, jikalau Allah SWT di dalam ayat tadi menghendaki isteri-isteri Nabi (SAWAW), nescaya Dia menggunakan dhamir Ta’nith‘an-kunna (daripada kamu isteri-isteri) dan yutahhirakunna Dia membersihkan (kamu isteri-isteri) sebagaimana Dia menggunakan dhamir Ta’nith sebelumnya (Surah al-Ahzab (33):32. Lantaran itu Allah telah menggunakan dhamir tadhkir untuk mengeluarkan isteri-isteri daripada ayat tersebut.

‘Ali bin Ibrahim di dalam Tafsirnya (20)  daripada Zaid bin ‘Ali AS dia berkata: Sesungguhnya orang-orang yang jahil mengatakan bahawa Allah menghendaki dengan ayat ini isteri-isteri Nabi SAWAW. Pada hakikatnya mereka berbohong dan mereka berdosa. Demi Allah sekiranya Dia maksudkan isteri-isteri Nabi SAWAW, nescaya Dia akan berkata: an kunna al-Rijs (daripada kalian isteri-isteri) dan yutahhira-kunna (membersihkan kalian isteri-isteri dengan sebersih-bersihnya. Dan Dia menggunakan perkataan muannathan (ganti nama perempuan) sebagaimana Dia berfirman: Wazkurna mayutla fibuyuti-kunna, wa la Tabarrajna, wa lastunna Kaahadin min l-Nisa.’

Oleh itu ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33):33) tidak harus pada isteri-isteri Nabi SAWAW sekalipun ianya ditafsirkan sebagai berkongsi dengan Ahlu l-Bait AS. Kerana Allah SWT telah mengancam mereka sebelum ayat Tathir dalam firmanNya (Surah al-Ahzab (33): 28-30).

Dan Dia juga telah mengancam mereka dengan firmanNya (Surah al-Tahrim (66):4-5):”Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”

Inilah adalah menurut apa yang difirmankanNya (al-Mantuq). Adapun mafhumNya: Wahai-wahai isteri-isteri Nabi kalian tidaklah mukminat, qanitat, ta’ibat, sekiranya kalian masih menyakitinya SAWAW. Dan diriwayatkan bahawa Nabi SAWAW tidak mencampuri mereka selama sebulan kerana mereka menyakiti hatinya SAWAW. Rujuklah kepada tafsir-tafsir Ahlu s-Sunnah mengenai ayat ini.

Dan apa yang jelas terdapat di kalangan isteri-isteri tersebut yang telah memerangi Khalifah ‘Ali, Hasan dan Husain AS. Memerangi mereka bererti memerangi Allah menurut hadith Rasulullah (SAWAW): Jangan anda melupai bahawa ‘Aisyah telah mengetuai angkatan bersenjata kerana memprotes jenazah Hasan untuk disemadikan di samping datuknya Rasulullah SAWAW.(21)  Jikalau ‘Aisyah masih hidup di hari peperangan Husain AS di Karbala, nescaya dia akan memerangi Husain bin ‘Ali AS pula kerana sifatnya yang sentiasa memerangi Ahlu l-Bait AS.

Justeru itu tidak hairanlah jika Ibn ‘Abbas berkata kepada ‘Aisyah:

Anda menaiki unta, menaiki baghal,

dan sekiranya anda hidup anda akan menaiki gajah.

Bagi anda sepersembilan daripada seperlapan tetapi anda memiliki kesemuanya.

Iaitu anda memiliki rumah anda sedangkan anda memiliki sepersembilan daripada seperlapan dan bakinya adalah untuk isteri-isterinya (SAWAW). Dan tujuh perlapan adalah untuk Fatimah kemudian untuk anak-anaknya.

Jikalau setengah daripada isteri-isteri beliau bertindak begitu keadaannya, bagaimana mereka termasuk di dalam ayat at-Tathir yang disucikan daripada segala dosa? Telah diriwayatkan bahawa ‘Aisyah RD berkata kepada Nabi SAWAW di dalam keadaan marah:”Tidakkah anda sahaja yang menyangka anda seorang Nabi Allah?”(22)

Adakah mereka layak dengan tindakan mereka yang menyalahi peradaban sebagai isteri, lebih-lebih lagi suami mereka itu adalah Rasulullah SAWAW, dimasukkan ke dalam ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33):33) daripada dosa sedangkan mereka berlumuran dengannya?

Jikalau ayat itu termasuk “isteri-isteri” khususnya ‘Aisyah, nescaya dia berpesta dan memberitahukannya kepada orang yang masih hidup dan orang yang telah mati. Dan tentu sekali Umm Salmah lebih berhak untuk dimasukkan di dalam ayat tersebut. Kerana kedudukannya di sisi Rasulullah SAWAW dan ayat Tathir telah diturunkan di rumahnya. Manakala mereka tidak dimaksudkan di dalam ayat tersebut, Rasulullah SAWAW mengeluarkannya (Umm Salmah) dengan menarikkan al-Kisa’ daripada tangannya lantas Umm Salmah bertanya: Tidak. Berdirilah di tempat anda. Mudah-mudahan anda berada di dalam kebaikan.

Sebagaimana juga beliau menegah ‘Aisyah dan Zainab dari memasuki bersama mereka dan memberi jawapan kepada mereka berdua sebagaimana jawapan beliau terhadap Umm Salmah.

Rasulullah SAWAW telah menutup ke atas ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dengan al-Kisa’(pakaian) dan mengangkatkan tangannya ke atas mereka sambil membaca ayat Tathir yang bermaksud:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kami (‘an-kum) wahai Ahlu -Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” adalah semata-mata untuk memisahkan mereka daripada isteri-isteri dan orang-orang Islam yang lain, dan sabdanya aku bermaksud: Wahai Tuhanku, mereka itulah Ahlu l-Baitku.

Di dalam riwayat yang lain (Ahli) keluargaku iaitu tidak ada selain daripada mereka. Penafsir kepada ayat ini ialah Rasulullah SAWAW sendiri. Manakah penafsiran yang diterima selepas penafsirannya? Adakah orang yang datang dengan al-Qur’an (Nabi SAWAW) yang mengeluarkan isteri-isterinya daripada ayat al-Tathir lebih diterima penafsirannya? Atau sebaliknya orang yang tidak mengetahui takwilannya sehingga memasukkan isteri-isterinya atau sebaliknya di dalam ayat tersebut?

Dan juga dalil yang lebih kuat bahawa isteri-isteri Nabi SAWAW tidak termasuk Ahlu l-Baitnya ialah  Nabi SAWAW tidak membawa mereka keluar di Hari Mubahalah dengan Kristian Najran kerana beliau menjanjikan mereka untuk membawa wanita-wanitanya bersama sebagaimana firmanNya di dalam (Surah Ali Imran (3):61):”maka katakanlah (kepadanya):Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Sebagaimana ketua Kristian Najran berpidato kepada kumpulannya: Sekiranya Muhammad keluar dengan Ahlu l-Baitnya, maka jangan kalian lakukan mubahalah. Dan sekiranya beliau keluar dengan sahabat-sahabatnya, maka lakukanlah mubahalah. Semua ahli tafsir dan sejarah bersepakat bahawa Nabi SAWAW tidak keluar bersamanya untuk mubahalah selain daripada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS. Justeru itu merekalah Ahlu l-Baitnya bukan orang lain. Sekiranya ada orang lain selain daripada mereka nescaya Nabi SAWAW akan mengajak mereka keluar untuk “bermubahalah” bersama di sa’at yang paling genting bagi menentang kebatilan.

Oleh itu orang yang Nabi SAWAW bermubahalah bersama mereka bagi menentang Nasara Najran ialah orang yang Allah telah menghilangkan daripada mereka kekotoran di dalam al-Qur’an yang mulia. Lagipun apabila perkataan Ahlu l-Bait AS diucapkan secara langsung bererti al-itrah al-Tahirah AS;’Ali, Fatimah, Hasan dan Husain Ali tidak termasuk isteri-isteri. Justeru itulah Nabi SAWAW memaksudkan mereka semenjak beliau mewasiatkan mereka dan menerangkan kelebihan-kelebihan mereka di dalam hadith-hadithnya yang mutawatir di dalam buku-buku Sahih “mereka.” Dan tidak seorang pun memasukkan “isteri-isteri” di dalam hadith-hadith tersebut. Di antaranya dua hadith yang muktabar yang diriwayatkan oleh jumhur Muslimin”

1. Hadith Thaqalain: Sabda Nabi SAWAW yang bermaksud: Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berharga; Kitab Allah dan ‘Itrahku (Ahlu l-Baitku) selama kalian berpegang kepada kedua-duanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.(23)

2. Hadith al-Safinah: Sesungguhnya yang bermaksud: Umpama Ahlu l-Baitku sepertilah Bahtera Nuh, siapa yagn menaikinya akan berjaya, dan siapa yang tidak menaikinya akan sesat selama-lamanya.(24)

Adapun menjadi kebiasaan kepada kaum Muslimin apabila mereka menyebutkan Ahlu l-Bait di dalam majlis-majlis mereka, mereka tidak maksudkan isteri-isteri Nabi SAWAW.

Begitu juga penyair-penyair Ahlu s-Sunnah dan Syi’ah apabila mereka menyusun syair memuji Ahlu l-Bait AS mereka maksudkan lima Ahlu l-Kisa’: Muhammad SAWAW, Fatimah, ‘Ali, Hasan dan Husain AS. Perhatikanlah kenyataan yang dibuat oleh Imam Syafi’i mengenai Ahlu l-Bait AS:

Wahai Ahlu l-Bait Rasulullah cintamu suatu fardhu daripada Tuhan di dalam al-Qur’an telah diturunkan.

Memadailah kebesaran Nabimu sesungguhnya kami siapa yang tidak bersalawat ke atas kamu tidak sah sembahyangnya.

Dimaksudkan dengan Ahlu l-Bait AS ialah ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain AS. Demikianlah juga beribu-ribu karangan para ulama Ahlu s-Sunnah menjelaskan bahawa maksud Ahlu l-Bait ialah Nabi SAWAW dan keturunan ‘Ali yang disucikan.

Ya, memang terdapat orang-orang seperti ‘Ikramah al-Barbari, Muqatil dan lain-lain yang terkenal dengan pembohongan ke atas Rasulullah SAWAW telah membuat hadith-hadith palsu. Rasulullah SAWAW bersabda maksudnya: Akan banyak pembohongan ke atasku, siapa yang membohongi ke atasku dengan sengaja maka hendaklah ia duduk di tempatnya di neraka.

Oleh itu mengkhususkan “isteri-isteri” atau meletakkan mereka bersama Ahlu l-Bait AS di dalam ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33): 33) adalah rekaan musuh-musuh Ahlu l-Bait. Malah mereka mencipta perkara-perkara yang berlawanan dengan Ahlu l-Bait AS, perkara ini adalah jelas. Lantaran itu menolak hadith-hadith palsu dan membersihkan buku-buku sirah dan sejarah daripadanya adalah perkara yang wajib dilaksanakan.

Justeru itu ianya suatu kepastian bahawa ayat Tathir dan pembersihan kekotoran daripada mereka adalah istimewa untuk para imam Ahlu l-Bait AS. Mereka adalah zuriat Rasulullah SAWAW dan mereka lebih berhak dengannya. Justeru itu perkataan innama di dalam ayat tersebut bermaksud al-Hasr (pengkhususan kepada mereka sahaja).

Ayat ini juga dengan jelas menunjukkan bersihnya “itrah Nabi SAWAW daripada keaiban dan kemaksuman mereka daripada dosa-dosa. Dan aku akan menerangkan dalam bukuku ini bahawa imamah tidak layak melainkan bagi mereka yang bersih daripada segala keaiban dan dosa. Justeru itu sabitnya imamah ’Ali dan anak-anaknya AS sama ada mereka memegang jawatan itu ataupun tidak disebabkan orang ramai tidak menyokong mereka sebagaimana sabdanya:”Hasan dan Husain kedua-duanya imam sama ada mereka memegang jawatan  ataupun tidak” kerana kedua-duanya telah dilantik oleh Allah SWT. Dan sesiapa yang mempunyai kedudukan sedemikian, keimamahannya tidak akan dicacatkan oleh penentangan orang ramai terhadapnya.

Kerana imamah bukanlah melalui perlantikan orang ramai, malah melalui nas daripada Allah SWT.

Imam al-Bahrani di dalam Ghayat a-Maram(Ghayat al-Maram, hlm. 150.)  telah mencatat lebih daripada satu ratus dua puluh hadith mengkhususkan  Ahlu l-Bait AS dengan “mereka” bukan isteri-isteri Nabi SAWAW dan lebih sepertiga daripada hadith-hadith tersebut adalah menurut saluran Ahlu s-Sunnah. Oleh itu buatlah rujukan kepada buku-buku tersebut wahai pembaca yang budiman.

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(al-Durr al-Manthur, V, hlm. 18)  menegaskan bahawa ayat tersebut diturunkan kepada lima orang Ahlu l-Kisa melalui dua puluh saluran. Al-Tabari di dalam Jami’ al-Bayan(Jami’ al-Bayan, XXII, hlm. 198)   menyatakan ianya diturunkan kepada Nabi SAWAW, Fatimah, ‘Ali, Hasan dan Husain melalui enam belas saluran. Al-Sayyid Syihabuddin dan al-Mar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haq   karangan Qadhi Nur Allah al-Tastari RH telah menyebutkan riwayat-riwayat dan hadith-hadith yang banyak semuanya menurut saluran Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah bahawa ayat tersebut telah diturunkan kepada lima orang Ahlu l-Kisa’;Muhammad, Fatimah,’Ali, Hasan dan Husain AS.

Di sini diperturunkan beberapa riwayat Ahlu s-Sunnah yang menunjukkan bahawa ayat Tathir diturunkan kepada lima orang Ashabu l-Kisa’ seperti berikut:

1. Ahmad bin Hanbal telah mencatat dalam Musnadnya(29)   daripada Anas bin Malik bahawa Nabi SAWAW telah melalui rumah Fatimah AS selama enam bulan. Apabila beliau keluar untuk sembahyang Subuh, beliau bersabda: wahai Ahlu l-Bait! Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan daripada kamu kekotoran Ahlu l-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul(30)   telah menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan bahawa ianya diturunkan kepada lima orang Ashabu l-Kisa’.

2. Ibn Jarir telah mencatat di dalam Tafsirnya begitu juga Ibn al-Mundhir, Ibn Abi Hatim, Ibn Mardawaih,al-Tabrani, dan lain-lain. Al-Turmudhi dan al-Hakim menyatakan kesahihan hadith tersebut. Begitu juga al-Baihaqi di dalam Sunannya dengan bermacam-macam saluran. Umm Salamah berkata: Ayat Tathir telah diturunkan di rumahku. Di dalam rumah itu ada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Maka Rasulullah SAWAW menyelimutkan mereka dengan al-Kisa’ (kain berwarna hitam) dan bersabda: Wahai Tuhanku, mereka itulah Ahlu l-Baitku. Justeru itu hilanglah daripada mereka kekotoran dan bersihlah mereka dengan sebersih-bersihnya.

3. Muslim di dalam Sahihnya(31)  bab ‘Fadhl Ahlu l-Bait AS’ meriwayatkan daripada ‘Aisyah dia berkata: Rasulullah keluar di waktu pagi, di atasnya kain hitam, maka datanglah Hasan bin ‘Ali, maka beliau memasukkan ke dalamnya. Kemudian datang Husain, maka dia memasukkan bersamanya, kemudian datang ‘Ali, maka beliau memasukkannya. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan daripada kamu kekotoran dosa Ahlu l-Bait dan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya.” Hadith ini telah dikeluarkan oleh Ahmad daripada hadith ‘Aisyah di dalam Musnadnya. Dan ianya juga telah dikeluarkan oleh Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim, al-Hakim pengarang al-Jami’ baina al-Sahihaini, dan pengarang al-Jami’ Baina al-Sihah al-Sittah. Dan sesiapa yang ingin mengetahui dengan lebih lanjut, hendaklah membuat rujukan kepada Rasyfah al-Sadi karangan Abu Bakar Syahabuddin dan Muruja’at (Dialog Sunnah-Syi’ah) karangan Sayyid Syarafuddin tentang pengkhususan ayat Tathir kepada lima Ahlu l-Kisa’.Dan ianya sudah mencukupi bagi orang yang mempunyai mata hati.

Di sini aku akan mengemukakan sebahagian daripada nas-nas yang menerangkan tentang terkeluarnya isteri-isteri Nabi SAWAW dari ayat al-Tathir dan ianya tidak bertentangan dengan nas-nas yang telah lepas yang mengkhususkan ayat tersebut kepada lima orang AS. Sesungguhnya apa yang dikemukakan di sini adalah berdasarkan kepada penerangan Nabi SAWAW sendiri bahawa isteri-isterinya adalah terkeluar daripada ayat tersebut di antaranya:

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya(32)  daripada ‘Abdu l-Malik daripada ‘Ata ibn Abi Rayah dia berkata: Orang yang telah mendengar Umm Salmah meriwayatkan kepadaku bahawa dia berkata: Sesungguhnya Nabi SAWAW berada di rumahnya. Maka Fatimah mendatanginya dengan cerek yang berisi makanan, maka dia memberikan kepadanya. Lalu beliau bersabda: Panggilkan suami anda dan dua anak lelaki anda. Dia berkata: Maka datanglah ‘Ali, Hasan dan Husain, maka merekapun masuk dan memakan makanan tersebut. Nabi SAWAW berada di atas tempat tidurnya di penjuru di bawah al-Kisa’ Khaibar. Dia bersabda: Aku sedang sembahyang di dalam kamarku, maka Allahpun menurunkan ayat (Surah al-Ahzab (33):33)”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu wahai Ahlu l-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Maka dia berkata: Beliau (Nabi SAWAW) mengambil al-Kisa’ dan membentangkannya ke atas mereka. Kemudian beliau mengeluarkan tangannya mengangkat ke langit sambil berkata: Wahai Tuhanku mereka itulah Ahlu l-Bait dan orang istimewaku. Hilanglah daripada mereka kekotoran dan bersihlah mereka dengan sebersih-bersihnya. Dia berkata: Aku memasukkan kepalaku di dalamnya maka aku berkata: Aku bersama kalian wahai Rasulullah.

Beliau bersabda: Sesungguhnya anda akan mendapat kebaikan di akhirat kelak. Ahmad berkata selepas meriwayatkan hadith ini,”Abdu l-Malik berkata: Abu Laila telah meriwayatkan kepadaku daripada Umm Salmah seperti hadith ‘Ata. ‘Abdu l-Malik berkata: Daud bin Abi ‘Auf al-Jahaf telah meriwayatkan kepadaku daripada Hausyab daripada Umm Salmah seumpamanya.

Ibn Kathir di dalam Tafsirnya(33)  telah meriwayatkan hadith ini. Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul(34) daripada ‘Ata. Ibn al-Sibagh al-Maliki dalam al-Fusul al-Muhimmah(35)  meriwayatkannya daripada al-Wahidi.

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur,(36)  Ibn Jarir, Ibn al-Mundhir, Ibn Abi Hatim, al-Tabari dan Ibn Mardawaih daripada Umm Salmah RD isteri Nabi SAWAW: Sesungguhnya Rasulullah SAWAW berada di rumahnya (Umm Salmah) di atas tempat tidur dan di bawahnya al-Kisa’ Khaibar. Maka Fatimah membawa kepadanya cerek yang berisi makanan. Maka Rasulullah SAWAW berkata: Panggillah suami anda dan dua anak lelaki anda, Hasan dan Husain. Maka beliaupun memanggil mereka dan ketika mereka sedang makan, tiba-tiba diturunkan ke atas Rasulullah (Surah al-Ahzab (33):33)”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu wahai Ahlu l-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Maka Nabi SAWAW mengambil al-Kisa’ dan membentangkannya ke atas mereka kemudian beliau mengeluarkan tangannya daripada al-Kisa’ dan memberi isyarat ke langit sambil bersabda:”Wahai Tuhanku! Mereka itulah Ahlu l-Baitku dan orang istimewaku. Oleh itu hilanglah daripada mereka kekotoran dan bersihlah mereka dengan sebersih-bersihnya. Beliau berkata sebanyak tiga kali. Umm Salmah berkata: Aku memasukkan kepalaku ke dalam al-Kisa’ maka aku berkata; Wahai Rasulullah! Aku bersama kalian? Beliau menjawab: Sesungguhnya anda akan mendapat kebaikan (di akhirat kelak). Beliau mengulanginya sebanyak dua kali.

Hadith ini telah juga diriwayatkan oleh Sayyid Muhsin al-Amini di dalam A’yan al-Syi’ah(37)  daripada Usd al-Ghabah.

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur juga mengatakan: Al-Tabrani telah mengeluarkan hadith ini daripada Umm Salmah RD, sesungguhnya Rasulullah SAWAW bersabda kepada Fatimah AS: Panggillah suami dan dua anak lelaki anda. Maka beliaupun datang bersama mereka semua. Kemudian beliau bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itulah Ali Muhammad. Di dalam perkataan lain: Jadikanlah salawat Engkau ke atas Ali Muhammad sebagaimana Engkau telah menjadikannya untuk Ali Ibrahim Innaka hamidun majid.

Maka Umm Salmah berkata: Akupun mengangkat al-Kisa’ supaya aku memasuki bersama mereka. Tetapi beliau menariknya daripada tanganku dan bersabda: Sesungguhnya anda akan mendapat kebaikan (di akhirat kelak). Hadith ini telah diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya(38)  daripada Umm Salmah. Al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib(39)  daripada Ahmad di dalam Manaqib ‘Ali AS dan daripada Syahr bin Hausyab daripada Umm Salmah RD.

Al-Tabrani di dalam Dhakha’ir al-’Uqba,(40)  al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal,(41)  Ibn Kathir di dalam Tafsirnya,(42)  Ibn Sibagh al-Maliki di dalam al-Fusul al-Muhimmah,(43) al-Turmudhi di dalam Sahihnya,(44)  al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah,(45) al-Syablanji al-Syafi’i di dalam Nur al-Absar,(46) Syaikh Muhammad al-Siban di dalam As’af al-’Raghibin Hamisy Nur al-Absar,(47) dan lain-lain pembesar-pembesar ulama Ahlu s-Sunnah yang meriwayatkan hadith tersebut dengan sedikit perbezaan dari segi lafaz.

Nas-nas yang sahih dan mutawatir yang dikemukakan adalah diriwayatkan oleh semua lapisan Muslimin dan ianya merupakan bukti-bukti yang jelas dan hujah-hujah yang kuat tentang terkeluarnya isteri-isteri Nabi SAWAW daripada ayat tersebut dan iannya diturunkan kepada lima manusia suci Ashabul l-Kisa’ dan iannya tidak dapat diingkari melainkan oleh orang-orang yang fanatik (muta’assib) kepada kebatilan.

Apa yang telah aku kemukakan tentang terkeluarnya ‘isteri-isteri’ daripada ayat al-Tathir dan turunnya ayat tersebut ke atas lima manusia suci Ahlu l-Kisa’ AS, adalah mencukupi untuk menolak sangkaan yang menyatakan ianya diturunkan ke atas ‘isteri-isteri’ secara khusus atau secara perkongsian (al-Isytirak). Dan sekiranya anda ingin mendapatkan maklumat yang lebih daripada apa yang telahku kemukakan, maka buatlah rujukan kepada bukuku yang berjudul al-Syi’ah wa hujjatu hum fi al-Tasyayyu’ (Syi’ah dan hujah mereka tentang Tasyayyu’).

Oleh itu aku ingin menegaskan bahawa apa yang telahku kemukakan adalah menunjukkan bahawa ayat al-Tathir adalah dikhususkan kepada lima Ashab al-Kisa’ dan juga menunjukkan bahawa mereka adalah maksum daripada segala dosa. Dan ianya menunjukkan bahawa khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara terus ialah ‘Ali bin Abi Talib AS. Selepas beliau ialah Hasan, kemudian Husain, kemudian sembilan daripada anak-anak Husain AS secara berturut-turut menuruti nas-nas yang wujud dalam buku-buku Sunnah dan Syi’ah.

Dalilku di atas dakwaan tersebut ada dua perkara:

1. al-’Ismah adalah menjadi syarat pada seorang imam menurut Syi’ah kerana imam yang diikuti selepas Nabi SAWAW bila tidak maksum, tidak boleh dipercayai kata-katanya. Oleh itu sabitnya ‘ismah imam seperti sabitnya ‘ismah Nabi SAWAW. Ayat tersebut telah menunjukkan kemaksuman Amiru l-Mukminin Ali dan dua anaknya Hasan dan Husain AS. Justeru itu, terbukti bahawa jawatan khalifah adalah untuk mereka bukan selain daripada mereka.

Mereka itulah para imam dan khalifah-khalifah selepas Rasulullah SAWAW. Setiap orang daripada mereka mengnaskan kepada imam selepasnya. Begitulah seterusnya sehingga sampai kepada Imam Mahdi al-Muntazar AS. Oleh itu berpegang kepada pendapat mereka adalah wajib kerana orang lain tidak maksum. Dan apabila tidak wujudnya ‘ismah maka berlakulah kesalahan. Oleh itu ianya tidak sah untuk menjadi khalifah yang mengendalikan syariat Rasulullah SAWAW tanpa ‘ismah.

2. Imam Amiru l-Mukimin telah berulang-ulang kali menuntut jawatan khalifah untuk dirinya di tempat-tempat yang bermacam-macam. Di antaranya beliau berkata di dalam khutbah al-Syiqsyiqiyyah(48)  yang dicatat oleh jumhur Muslimin Sunnah dan Syi’ah seperti berikut:

” Demi Allah Ibn Abi Qahafah (Abu Bakar ibn Abi Qahafah) telah mengenakan pakaian khalifah itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahawakedudukanku sehubungan dengan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan pasak dengan roda. Air mengalir menjauhiku dan burung tidak dapat terbang kepadaku. Aku memasang tirai (terhadap kekhalifahan) dan melepaskan diri daripadanya.”

” Aku pun mulai berfikir, apakah aku akan menyerangnya atau aku harus menanggung cubaan sengsara kegelapan yang membutakan itu hingga orang dewasa menjadi daif, orang muda mejadi tua, dan mu’min yang soleh hidup dalam kongkongan sehingga ia menemui Allah (di saat kematiannya). Aku pun berpendapat bahawa adalah lebih bijaksana untuk menanggungnya dengan tabah. Aku lalu menempuh jalan kesabaran, walaupun mata rasa tertusuk-tusuk dan kerongkong rasa tercekik. Aku menyaksikan perampasan terhadap warisanku hingga yang pertama (Abu Bakar) menemui ajalnya; namun ia menyerahkan kekhalifahan itu kepada Ibn Khattab (Umar al-Khattab) sendiri. (Lalu Ali mengutip syair A’sya:)

“ 

Hari-hariku kini berlalu di punggung unta,

       Dan berlalu sudah hariku bersama Jabir, saudara Hayyan.” ” Sungguh aneh, semasa hidupnya ia ingin terbebas dari jawatan khalifah, tetapi ia mengukuhkannya kepada yang lain itu (Umar) setelah kematiannya. Tidak syak lagi kedua orang ini hanya berbahagi puting susu di antara keduanya sahaja. Yang satu ini (Umar) mengunci  kekhalifahan rapat-rapat, di mana ucapannya sombong dan sentuhannya kasar. Kekeliruan sangat banyak, dan kerana itu maka dalihnya pun sangat banyak. Orang yang berhubungan dengan kekhalifahan itu ibarat menunggang unta yang degil. Apabila penunggang itu menarik kekangnya maka muncung unta itu akan robek; dan apabila penunggang itu membiarkannya maka ia sendiri akan jatuh terlempar. Sebagai akibatnya, demi Allah, rakyat terjerumus ke dalam ketidakpedulian, kejahatan, kegoyahan dan penyelewengan. Sekalipun demikian, aku tetap bersabar dalam waktu yang lama dengan cubaan yang keras, hingga ketika (Umar) menemui ajalnya ia menyerahkan urusan kekhalifahan itu kepada satu kelompok dan menganggap aku sebagai salah seorang daripada mereka.”

” Tetapi, Ya Allah! Apa urusanku dengan syura ini! Di manakah keraguan tentang diriku dibandingkan dengan yang pertama dari antara mereka (Abu Bakar) sehingga sekarang aku harus dipandang sama dengan orang-orang ini? Namun, aku terus merendah sementara mereka merendah, dan membumbung tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka berpaling menentangku kerana hubungan kekeluargaannya, sedangkan yang lainnya cenderung memihak ke jalan lain kerana hubungan iparnya, dan ini, dan itu, sampai yang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung di antaranya (Bani Umayyah) pun bangkit menelan harta Allah, bagaikan unta memakan dedaunan musim semi, sampai talinya putus, tindak tanduknya mengakhirinya dan keserakahannya menyebabkan ia terguling.”

” Pada saat itu tiada yang mengejutkan aku lebih daripada (tindakan) orang ramai  yang berpusu ke arahku dari segala penjuru seperti serbuan sekumpulan rubah (hyena) sehingga Hasanain (Hasan dan Husayn, dua putra Fatimah dan Ali) terinjak dan kedua bahagian bahu pakaianku terkoyak. Mereka berkumpul di sekelilingku seperti kawanan domba dan kambing. Ketika aku memegang tampuk pemerintahan sebahagian memutuskan bai’ahnya (nakatsa) dan sebahagian lagi mengingkarinya (maraqa) dan yang lain bertindak salah (qasata), kerana mereka tidak mendengar firman Allah SWT yang berbunyi [bermaksud]:

“ (Kebahagian) di negeri akhirat Kami sediakan bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerosakan di bumi. Dan kesudahannya (adalah baik) bagi mereka yang bertaqwa.” [Surah al-Qasas(28):83]

Tidak, demi Allah, mereka mendengarnya dan memahaminya tetapi dunia terlihat berkilau di mata mereka dan hiasan dunia menggoda mereka. Lihat, demi Dia yang mengembangkan biji-bijian dan menciptakan makhluk hidup, apabila orang-orang tidak datang kepadaku dan pendukung-pendukung tidak menegakkan hujah dalam bentuk penolong itu (pasukan yang membantu Ali) dan bila tidak ada perjanjian Allah dengan ulama bahawa mereka tidak boleh bungkam terhadap kerakusan seorang yang zalim dan kelaparan orang yang dizalimi maka aku akan melemparkan tali kekang (kekhalifahan) itu dan akan aku beri minum kepada yang terakhir dengan piala yang aku gunakan untuk orang yang pertama. Maka akan kamu lihat  bahawa dalam padanganku duniamu tidak lebih dari bersinnya seekor kambing.“(49)

Begitu juga anak perempuan Rasulullah, dan kedua-dua anaknya Hasan dan Husain dan sembilan anak-anak Husain AS menuntut khalifah untuk Amiru l-Mukminin AS. Lantaran itu, ianya menjadi kewajipan kepada umat membenarkan mereka kerana kemaksuman mereka. Dan tidak harus ke atas mereka pembohongan kerana pembohongan adalah suatu kekotoran (rijsun) yang dinafikan daripada mereka oleh ayat tersebut.

Oleh itu jelaslah sabitnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW bagi ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan ianya bukanlah mencukupi dengan ayat-ayat at-Tathir sahaja, malah banyak dalil-dalil dan hujah-hujah yang kuat yang menunjukkan ‘Ali AS berhak menjadi khalifah selepas Rasulullah SAWAW sehingga diakui oleh musuh-musuhnya dan diketahui oleh yang terdekat dan yang jauh.

Dan buku-buku mengenainya telah ditulis dengan banyak. Di antaranya buku karangan Ayatullah al-’Uzma Muhammad bin Yusuf bin al-Mutahhar dikenali dengan al-’Allamah al-Hulli RH. Dia telah menulis dua ribu dalil menyokong ‘Ali AS. sebagai khalifah selepas Rasulullah SAWAW. Satu daripadanya mengandungi dalil-dalil aqliyyah dan seribu lagi mengandungi dalil-dalil naqliyyah. Dan dia menamakan bukunya al-Faini.

Nota Kaki:

1. al-Durr al-Manthur, II, hlm. 293.

2. al-Ausat, hlm. 89-90.

3. Kifayah al-Talib, hlm. 106.

4. Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 417.

5. al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 105.

6. Asbab al-Nuzul, I, hlm. 422.

7. al-Kasysyaf, I, hlm. 422.

8. al-Kafi al-Syafi, hlm. 56.

9. Ahkam al-Qur’an, II, hlm. 543.

10. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, VI, hlm. 221.

11. Tafsir al-Manar, VI, hlm. 442

12. Ruh al-Ma’ani, VI, hlm. 149.

13. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 88.

14. Tadhirah al-Huffaz, hlm. 18.

15. Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 156.

16. Ghayah al-Maram, hlm. 103-107.

17. al-Ghadir, III, hlm. 156

18. Majma’ al-Bayan, I, hlm. 148.

19. al-Kasysyaf, I, hlm. 422.

20. Tafsir ‘Ali bin Ibrahim, hlm. 531.

21. Hasan AS disemadikan berjauhan dari datuknya SAWAW sebagai menyahuti protes ‘Aisyah RD; Sibt Ibnu Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 122.

22. Ihya’ ‘Ulum al-Din, II, hlm. 20.

23. Muslim, Sahih, VII, hlm. 123; Turmudhi, al-Sunan, II, hlm. 307; al-Darimi, al-Sunan, II, hlm. 332; Ibn Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 14,17, dan 36.

24. al-Mustadrak, II, hlm. 343.

25. Ghayat al-Maram, hlm. 150.

26. al-Durr al-Manthur, V, hlm. 18.

27. Jami’ al-Bayan, XXII, hlm. 198.

28. Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq, II, hlm. 502.

29. al-Musnad, II, hlm. 259.

30. Asbab al-Nuzul, hlm. 251.

31. Sahih, hlm. 331.

32. al-Musnad, VI, hlm. 292.

33. Tafsir Ibn Kathir, III, hlm. 484.

34. Al-Wahidi, op.cit. hlm. 268.

35. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 8.

36. al-Sayuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 198.

37. A’yan al-Syi’ah, II, hlm. 433.

38. al-Musnad, VI, hlm. 32.

39. Kifayah al-Talib, hlm. 228.

40. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 21.

41. Kanz al-Ummal, VII, hlm. 103.

42. Tafsir Ibn Kathir, III, hlm. 484.

43. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 7.

44. Sahih, II, hlm. 308.

45. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 78.

46. Nur al-Absar, hlm. 104.

47. As’af al-Raghibin, hlm. 104.

48. Seramai dua puluh lapan orang para ulama Ahlu s-Sunnah memperakui kesahihan Khutbah al-Syiqsyiqiyyah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, I, hlm. 82-85.

49. Nahj al-Balaghah, hlm. 48-50.

3. Ayat al-Mubahalah

Iaitu firmanNya yang di dalam (surah Ali Imran (3): 61)”Sesiapa yang membantahmu mengenai (kisah ‘Isa) sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubalahah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Semua ulama Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahawa ayat al-Mubahalah diturunkan kepada lima manusia suci; Muhammad, ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Di sana terdapat para sahabat lelaki tetapi beliau tidak memanggil seorang pun daripada mereka selain daripada ‘Ali, Hasan dan Husain. Kemudian di sana juga terdapat Ummahat al-Mukminin dan wanita-wanita Bani Hasyim, tetapi beliau tidak memanggil seorangpun daripada mereka selain daripada anak kandungnya Fatimah al-Zahra’ AS.

Satu hakikat yang tidak dapat disembunyikan lagi oleh orang yang mempunyai pandangan yang tajam bahawa maksud Anfusa-na (diri kami) di sini ialah saudara Rasulullah SAWAW yang kedudukannya di sisi Rasulullah SAWAW samalah dengan kedudukan Harun di sini Musa. Beliau ialah Imam Amiru l-Mukiminin ‘Ali AS kerana Allah menjadikannya (‘Ali AS) di dalam ayat ini nafs Muhammad SAWAW (diri Muhammad itu sendiri).

Demi Allah sesungguhnya itu adalah keistimewaan yang besar yang dikhususkan oleh Allah SWT kepada mereka dan tidak ada orang lain selain daripada mereka dari umat ini. Ibn Hajr telah menyebutkannya di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah di dalam bab kesebelas riwayat daripada al-Dar al-Qutni bahawa ‘Ali di majlis Syura (‘Umar) telah berhujah dengan menyatakan: Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian seorang yang lebih hampir kepada Rasulullah dari segi kekeluargaan selain daripadaku? Dan siapakah yang telah dijadikan dirinya oleh beliau seperti dirinya sendiri? Anak-anaknya seperti anak-anaknya dan wanita-wanitanya seperti wanita-wanitanya selain daripadaku? Mereka menjawab: Allahuma la. Wahai Tuhanku! Tidak ada seorang pun selain daripada anda sekeluarga.

Seorang penyair yang memuji Imam ‘Ali AS mengemukakan syairnya:

Dia di dalam ayat al-Tabahul adalah diri Nabi sendiri

Tiada selain daripadanya (‘Ali) yang dimaksudkan dengannya.

Kemudian hadith al-Mubahalah adalah masyhur dan disebutkan oleh Ahli Tafsir, Hadith dan Sirah. Mereka menulis peristiwa itu pada tahun kesepuluh Hijrah iaitu tahun Mubahalah. Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib(50)  berkata: Ketahuilah, sesungguhnya riwayat ini adalah seperti disepakati  kesahihannya di kalangan Ahli-ahli Tafsir, Hadith dan lain-lain.

Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf(51)  mengenai ayat al-Mubahalah berkata: Ianya diriwayatkan manakala Rasulullah SAWAW menyeru Kristian Najran untuk bermubahalah, mereka berkata: Kami akan pulang dan kami akan membuat keputusannya. Manakala mereka pergi, mereka berkata kepada ‘Aqib seorang yang pintar mereka, wahai hamba al-Masih apa pandangan anda? Dia menjawab: Demi Allah sesungguhnya kalian telah mengetahui bahawa sesungguhnya Muhammad adalah seorang Nabi yang diutuskan. Dia telah mendatangi kalian dengan keterangan daripada Tuhan kalian. Demi Allah tidak ada satu kaumpun yang pernah bermubahalah dengan seorang Nabi sehingga yang kecil dan besar mereka dapat hidup. Sekiranya kalian lakukan, nescaya kalian akan binasa. Dan sekiranya kalian enggan bermubahalah maka dia akan membiarkan agama kalian dan kalian kekal dengan agama kalian. Lantaran itu ucaplah selamat tinggal kepada lelaki itu dan kembalilah ke tempat kalian.

Maka merekapun datang kembali menemui Rasulullah SAWAW pada ketika itu beliau sedang mendukung Husain, memegang tangan Hasan, Fatimah berjalan di belakangnya dan ‘Ali di belakang Fatimah AS. dan bersabda:Tidakkah aku telah menyeru kalian maka berimanlah. Lalu Bisyop Najran menjawab: Wahai kaum Nasara! Sesungguhnya aku sedang melihat kepada muka-muka mereka, sekiranya Allah mahu menghilangkan bukit dari tempatnya, nescaya Dia akan menghilangkannya melalui kemuliaan muka-muka mereka. Justeru itu janganlah kalian bermubahalah, nanti kalian akan binasa, dan tidak tinggal lagi seorang Nasranipun di bumi ini hingga di Hari Kiamat. Mereka berkata: Wahai Abu Qasim, kami fikir kami tidak akan bermubahalah dengan anda sebaliknya kami mengakui anda di atas agama anda sementara kami kekal di atas agama kami. Nabi SAWAW menjawab:”Sekiranya, kalian enggan bermubalahah, maka masuklah Islam. Kalian akan dilayani dengan baik dan mendapat hak seperti mereka.”

Lantas mereka menolaknya, kemudian beliau SAWAW bersabda: Aku melepaskan kalian. Mereka menjawab: Kami tidak mampu untuk memerangi Arab, justeru itu kami membuat perdamaian dengan anda supaya anda tidak memerangi kami, menakut-nakutkan kami dan memaksa kami supaya meninggalkan agama kami. Sebagai balasan kami akan memberikan kepada anda setiap tahun dua ribu Hillah, seribu pada bulan Safar, dan seribu pada bulan Rajab, dan tiga puluh baju besi biasa.

Maka beliau SAWAW mengadakan perdamaian dengan mereka dengan syarat-syarat tersebut. Beliau bersabda: Demi diriku di tangannya sesungguhnya kebinasaan telah jelas ke atas ahli Najran. Dan sekiranya mereka bermubahalah, nescaya mereka bertukar menjadi kera dan babi serta lembah ini menjadi api membakar mereka. Allah SWT akan melenyapkan Najran dan penduduk-penduduknya sekali sehingga burung yang hinggap di atas pokok.” Manakala genap setahun mereka dibinasakan (kerana tidak menepati janji mereka).

Daripada ‘Aisyah RD: Sesungguhnya Rasulullah SAWAW keluar dengan meletakkan kain hitam di atasnya. Maka Hasan pun datang, lalu beliaupun memasukkannya, kemudian Husain maka beliau memasukkannya, kemudian Fatimah, kemudian ‘Ali, lalu beliau membaca ayat at-Tathir (Surah al-Ahzab (33):33)”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu wahai Ahlu l-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Ini menunjukkan tidak ada dalil yang lebih kuat daripada ini tentang kelebihan Ashab al-Kisa’ AS. Aku berkata: Ianya suatu kemuliaan yang sejati dan penghormatan yang agung di mana Dia tidak akan mengurniakan seorangpun dengannya sebelum dan selepas mereka. Dan ketahuilah sesungguhnya hadith-hadith muktabar yang diriwayatkan adalah mutawatir tentang turunnya ayat ini mengenai Ahlu l-Bait AS, ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS. Ianya telah dicatat oleh Ahli-ahli Tafsir, Hadith dan Sirah. Semuanya mencatat peristiwa-peristiwa tahun kesepuluh Hijrah iaitu Tahun Mubahalah.

Di sini aku ingin mengemukakan kepada pembaca yang budiman, sebahagian daripada nama-nama para imam Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah yang menulis mengenai seperti berikut:

Muslim di dalam Sahihnya(52)  mengatakan bahawa Qutaibah bin Sai’d dan Muhammad bin ‘Ubbad telah memberitahukannya kepada kami dengan lafaz yang hampir sama. Mereka berdua berkata: Hatim telah memberitahukan kami (iaitu anak lelaki Ismail) daripada Bakir bin Miswar daripada ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqas daripada bapanya dia berkata: Muawiyah bin Abu Sufyan memerintahkan Sa’ad bahawa dia berkata: Apa yang menegah anda dari mencaci Abu Turab (‘Ali AS)? Maka dia menjawab: Aku mengingati tiga perkara di mana Rasulullah SAWA mengucapkan kepadanya. Justeru itu aku sekali-kali tidak akan mencacinya kerana jikalaulah aku mempunyai satu perkara sahaja adalah lebih aku cintai daripada segala nikmat; sehingga dia berkata: Manakala turun ayat al-Mubahalah: Maka katalah:”Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu.” Maka Rasulullah SAWAW menyeru ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Dia bersabda: Allahumma Haula’ Ahli (Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah keluargaku).

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya(53) berkata:’Abdullah telah memberitahukan kami dia berkata:Bapaku memberitahuku dia berkata: Qutaibah bin Sa’id dan Hatim bin Isma’il telah memberitahukan kami daripada Bakir bin Mismar daripada Amir bin Saad daripada bapanya dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda kepadanya: Dia berkata: Manakala turun ayat al-Mubahalah maka beliau SAWAW menyeru ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan bersabda:Wahai Tuhanku, mereka itulah keluargaku.

Al-Tabari di dalam Jami’ al-Bayan(54)  telah mengeluarkan banyak hadith-hadith mengenai ayat al-Mubahalah dengan saluran yang bermacam-macam daripada Zaid bin ‘Ali al-Sudi, Qatadah, Thana bin Zaid dan daripada al-Yasykari.

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(55)  daripada Jabir dia berkata di akhirnya: Jabir berkata: Anfusa-nawa anfusa-kum (diri kami dan diri kamu):Rasulullah SAWAW dan ‘Ali AS wa abnaa-na (anak-anak lelaki kami):Hasan dan Husain dan Nisaa-ana(wanita-wanita kami): Fatimah.

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul(56)  berkata pada akhirnya:Sya’bi berkata: Abnaa-na(anak-anak lelaki kami):Hasan dan Husain dan Nisaa-na (wanita-wanita kami):Fatimah, Wa anfusa-na (diri-diri kami):’Ali bin Abi Talib AS.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah(57)  meriwayatkan bahawa ‘Ali bin Abi Talib AS adalah nafs Rasulullah (diri Rasulullah sendiri) sejajar dengan nas tersebut.

Al-Syablanji di dalam Nur al-Absar(58)  menyatakan bahawa maksud Nisaa-na (wanita-wanita kami) ialah Fatimah, Abnaa-na (anak-anak lelaki kami) ialah Hasan dan Husain,Anfusa-na (diri-diri kami) ialah nafsu-hu dirinya sendiri dan diri ‘Ali AS.

Muhibbudin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba.59

Al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib.60

al-Hakim di dalam al-Mustadrak.61

Abu Nu’aim di dalam Dala’il al-Nubuwwah.62

al-Baghawi di dalam Ma’alim al-Tanzil.63

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib.64

Al-Dhahabi di dalam al-Talkhisnya.65

Ibn al-Athir al-Jazari di dalam Usd al-Ghabah.66

Sibt al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Huffaz.67

Al-Qurtubi di dalam Jami’ li Ahkam al-Qur’an.68

Al-Baidhawi di dalam Anwar al-Tanzil.69

Ibn Hajr al-’Asqalani di dalam al-Isabah.70

Syaikh Muhammad bin Talhah al-Syafi’i di dalam Matalib al-Su’ul,(71)   menyatakan bahawa ayat al-Mubahalah telah diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah bahawa ianya diturunkan pada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS.

Dan ramai lagi bilangan para imam Ahlu s-Sunnah yang aku tidak dapat menyebutkan nama mereka di dalam buku ini. Semuanya menegaskan bahwa ayat ini diturunkan kepada lima manusia yang suci. Imam Bahrani telah menyatakan di dalam Ghayah al-Maram(72)   bahawa ayat ini telah diturunkan kepada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS. melalui sembilan belas hadith menurut Ahlu s-Sunnah dan lima belas hadith menurut Syi’ah.

Ayatullah al-Najafi telah menyebutkan nama-nama para ulama Ahlu s-Sunnah yang menyatakan bahawa ayat al-Mubahalah diturunkan kepada lima manusia yang suci di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haq.(73)

Justeru itu aku membuat kesimpulan bahawa khalifah yang wajib selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali bin Abi Talib AS kerana ‘Ali di dalam ayat tersebut ialah nafs Muhammad SAWAW. Dengan ilmunya, akhlaknya, kemuliaannya, keberaniannya, lemah lembutnya, kasihan belasnya terhadap orang-orang yang lemah, garangnya terhadap orang yang zalim dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah selain daripada kenabian, bersandarkan sabda Nabi SAWAW maksudnya:”Anda di sisiku sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa hanya tiada Nabi selepasku.” Lantaran itu seorangpun tidak harus mendahuluinya kerana ‘mendahuluinya’ sepertilah mendahului Rasulullah SAWAW. Oleh itu berwaspadalah anda dan insaflah wahai pembaca yang budiman.

4. Ayat al-Muwaddah

Iaitu firmanNya dalam (Surah al-Syu’ara (42): 23):”Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (al-qurba). Dan siapa yang mengerjakan kebaikan (al-Hasanah) akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Ahli Tafsir Syi’ah bersepakat bahawa ayat tersebut diturunkan secara khusus kepada Ahlu l-Bait; ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Demikian juga kebanyakan Ahli Tafsir Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah di dalam buku-buku Sahih dan Musnad mereka mengakui bahawa ayat tersebut diturunkan kepada ‘itrah yang suci. Tetapi terdapat sebilangan kecil daripada mereka yang membuat pentafsiran yang menyalahi apa yang diturunkan Allah SWT.

Ahlu l-Bait AS dan para ulama Syi’ah bersepakat bahawa perkataaan al-Qur’ba di dalam ayat tersebut ialah kerabat Rasulullah SAWAW; ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Merekalah orang yang paling rapat dengan Rasulullah SAWAW. Dan perkataan al-Hasanah (kebaikan) bererti kasih sayang kepada mereka dan menjadikan mereka imam, kerana Allah amat mengampuni orang yang mewalikan mereka.

Dan ini adalah satu perkara yang disepakati oleh kami kerana ianya merupakan suatu kepastian kerana banyak hadith-hadith muktabar mengenainya. Kami akan kemukakan kepada pembaca kami yang budiman beberapa hadith yang muktabar menurut Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah seperti berikut:

Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan di dalam Manaqib, al-Tabrani, al-Hakim dan Ibn Abi Hatim daripada ‘Abbas sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam pentafsiran ayat 14 daripada ayat-ayat yang telah dinyatakan di dalam fasal pertama daripada bab sebelas daripada al-Sawa’iqnya dia berkata: Manakala turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau SAWAW menjawab: ‘Ali, Fatimah dan dua anak lelaki mereka berdua.

Hadith ini juga telah dicatatkan oleh Ibn Mardawaih,(74)  diriwayatkan daripada  Ibn ‘Abbas oleh Ibn Mundhir, al-Muqrizi, al-Baghawi, al-Tha’labi di dalam tafsir-tafsir mereka. Al-Suyuti di dalam Durr al-Manthur, Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya, al-Hamawaini di dalam al-Fara’id, al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul dan Ibn Maghazili di dalam al-Manaqib, al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf,(75)  Muhibbuddin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba,(76)  Talhah al-Syafi’i di dalam Matalib Su’ul,(77) Abu Sa’id di dalam Tafsirnya,(78) al-Nasafi di dalam Tafsirnya,(79) Abu Hayyan di dalam Tafsirnya,(80)  Ibn Sibagh al-Maliki di dalam Fusul al-Muhimmah,(81) al-Hafiz al-Haithami di dalam al-Majma’,(82)  al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib.(83)

Al-Qastalani di dalam al-Mawahib, berkata: Allah memastikan kasih sayang kepada semua kerabat Rasulullah SAWAW dan mewajibkan kasih sayang sebahagian daripada Ahlu l-Baitnya AS dan zuriatnya. Justeru itu Dia berfirman dalam (Surah al-Syura’(42):23)…..”Katakanlah: Aku tidak meminta upahmu sesuatu upahpun ke atas seruanku kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan.” al-Zurqani di dalam Syarh al-Mawahib,(84) al-Syablanji di dalam Nur al-Absar,(85)  Ibn Hajr di dalam Sawa’iq al-Muhriqah,(86) al-Suyuti di dalam ‘Ihya al-Mayyit di Hamisy al-Ithaf.(87)

Al-Bukhari di dalam Sahihnya,(88) daripada Ibn ‘Abbas RD bahawa dia ditanya mengenai firmanNya:…”kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan.” Dia menjawab: Ianya adalah kerabat Rasulullah SAWAW.

Al-Tabari di dalam Tafsirnya,(89)  daripada Sa’id bin Jubair tentang firmanNya, Surah al-Syura’(42):23)…..”Katakanlah: Aku tidak meminta upahmu sesuatu upahpun ke atas seruanku kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan.” Dia menjawab: Ianya adalah kerabat Rasulullah SAWAW.

Ibn Hajr al-’Asqalani di dalam al-Kafi al-Syafi fi Takhrij Ahadith al-Kasysyaf,(90) berkata: al-Tabrani, Ibn Abi Hatim dan al-Hakim telah meriwayatkannya di dalam Manaqib al-Syafi’i daripada Husayn Asyqar daripada Qais bin al-Rabi’ daripada A’masy daripada Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas ditanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab:’Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah,91 berkata: Ahmad telah meriwayatkan di dalam Musnadnya dengan sanadnya daripda Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas RD bahawa ayat ini diturunkan kepada lima orang. Al-Tabrani di dalam Mu’jam al-Kabirnya menyatakan ayat ini diturunkan kepada lima orang.

Ibn Abi Hatim di dalam Tafsirnya dan al-Hakim di dalam al-Manaqibnya menyatakan ayat ini diturunkan kepada lima orang. Al-Wahidi di dalam al-Wasit, Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, al-Tha’labi di dalam Tafsirnya, al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin, Abu Bakar bin Syahabbuddin al-Syafi’i dalam Rasyfah Sadi92 semuannya meriwayatkan bahawa ayat tersebut di turunkan kepada lima orang.

Al-Mulla di dalam Sirahnya meriwayatkan sebuah hadith:”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ke atas kalian kasih sayang terhadap kerabatku dan aku bertanyakan kalian tentang mereka di hari esok.” Ahmad di dalam Manaqib dan al-Tabrani di dalam al-Kabir meriwayatkan daripada ‘Abbas RD dia berkata: Manakala turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah SAWAW siapakah kerabat kamu yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab: ‘Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak lelaki mereka.

Al-Baghawi dan al-Tha’labi meriwayatkan di dalam Tafsir mereka daripada ‘Ibn Abbas RD dia berkata: Manakala turunnya ayat  (Surah al-Syu’ara’(42):23), sebahagian orang ramai pula berkata: Beliau hanya menghendaki supaya kita mengasihi kerabatnya. Lantas Jibrail memberitahukan Nabi SAWAW tentang tuduhan mereka. Maka turunlah ayat  (Surah al-Syu’ara’(42):24) “Bahkan mereka mengatakan: Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.” Maka sebahagian mereka pula berkata: Wahai Rasulullah kami menyaksikan sesungguhnya anda adalah seorang yang benar. Maka turunlah pula  (Surah al-Syu’ara’(42):25): “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Al-Tabrani di dalam al-Ausat dan al-Kabir telah meriwayatkan daripada Abu Tufail sebuah khutbah Hasan AS:Kami daripada Ahlu l-Bait yang telah difardhukan Allah untuk mengasihi mereka dan menjadikan mereka pemimpin. Maka beliau berkata:Di antara apa yang telah diturunkan ke atas Muhammad SAWAW ialah:Katakanlah:”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun ke atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”

Di dalam riwayat yang lain:Kami adalah daripada Ahlu l-Bait yang telah fardhukan Allah ke atas setiap Muslim mengasihi mereka. Maka turunlah ayat (Surah al-Syu’ara(24):23):”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun ke atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Al-Sudi meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas mengenai firmanNya:”Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” dia berkata: al-Muawaddah (cinta) terhadap kerabat keluarga Muhammad SAWAW.

Al-Hakim di dalam al-Mustadrak(93)   dengan membuang sanad-sanadnya daripada ‘Umar bin ‘Ali daripada bapanya daripada ‘Ali bin Husain dia berkata:Hasan bin Ali berpidato ketika pembunuhan ‘Ali AS. Beliau memuji Tuhan hingga akhirnya beliau berkata:”Kami adalah daripada Ahlu l-Bait yang dihilangkan kekotoran mereka oleh Allah dan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya. Dan kamilah Ahlu l-Bait yang difardhukan Allah ke atas setiap Muslim supaya mengasihi mereka. Maka beliau berkata: Allah berfirman kepada NabiNya: Katakanlah ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun…..”

Al-Dhahabi juga meriwayatkan hadith tersebut di dalam al-Talkhisnya.(94) Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf(95)  berkata: Manakala ayat tersebut diturunkan, ada orang bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab:’Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak lelaki mereka.

Dan diriwayatkan daripada ‘Ali AS: Aku merayu kepada Rasulullah SAWAW tentang hasad dengki manusia terhadapku. Maka beliau menjawab: Tidakkah anda meridhai bahawa anda di kalangan empat orang yang pertama akan memasuki syurga? Aku, anda, Hasan dan Husain…..

Al-Karimi meriwayatkan daripada ‘Aisyah dengan sanadnya daripada ‘Ali RD. al-Tabrani meriwayatkannya daripada Abi Rafi’ di dalam Takhrij al-Kasysyaf daripada Nabi SAWAW: Diharamkan syurga ke atas orang yang menzalimi Ahlu l-Baitku dan menyakitiku pada itrahku. Hadith ini juga telah diriwayatkan oleh al-Tha’labi di dalam al-Takhrij al-Kasysyat.

Al-Khawarizmi di dalam Maqtal al-Husain,(96) Ibn Batriq di dalam al-Umdah(97)  daripada Musnad Ahmad dengan membuang beberapa sanad daripada Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas bahawa ayat tersebut telah diturunkan kepada lima orang.

Muhammad bin Talhah al-Syafi’i dalam Matalib al-Su’ul(98)  berkata: Merekalah dhawi l-Qurba di dalam ayat tersebut, ianya telah diterangkan dan diperakui oleh perawi-perawi hadith di dalam musnad-musnad mereka daripada Jubair daripada ‘Ibn ‘Abbas manakala turunnya firmanNya:”Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Mereka bertanya wahai Rasulullah SAWAW: Siapakah mereka yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau SAWAW menjawab:’Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Al-Wahidi dan al-Tha’labi meriwayatkan hadith ini dengan sanadnya al-Tha’labi menyatakan: Ketika Rasulullah SAWAW melihat kepada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain beliau bersabda: Aku memerangi orang yang memerangi kalian dan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian.

Al-Hijazi di dalam al-Wadhih(99)  berkata: Mereka itu ialah ‘Ali, Fatimah kedua-dua anak lelaki mereka berdua. Dia berkata lagi: Pengertian ini telah diriwayatkan oleh Rasulullah SAWAW yang telah diterangkan oleh Allah SWT.

Al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib(100)  dengan membuang beberapa sanad daripada Jabir bin ‘Abdullah, berkata: Seorang badwi datang kepada Nabi SAWAW dengan berkata: Wahai Muhammad bentangkan ke atasku Islam. Maka dia berkata: Kami naik saksi bahawa tiada tuhan melainkan Dia yang Tunggal tiada sekutu bagiNya dan sesungguhnya Muhammad adalah hambaNya dan pesuruhNya. Dia bertanya: Adakah anda meminta upah dariku ke atasnya? Beliau menjawab: Tidak! Melainkan mengasihi kerabatku. Dia bertanya: Kerabatku atau kerabat anda? Beliau menjawab: Kerabatku. Dia menjawab: Sekarang aku membai’ah anda, dan bagi orang yang tidak mencintai anda dan mencintai kerabat anda, maka laknat Allah ke atas mereka. Maka Nabi SAWAW bersabda: Amin…..

Buatlah rujukan kepada buku-buku hadith karangan Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah, nescaya anda akan mendapati hadith-hadith yang banyak mengenainya.

Ayatullah Mar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq(101)   karangan al-Sa’id al-Syahid Nur Allah al-Tastari, telah mengumpulkan hadith-hadith yang banyak dari rujukan-rujukan Ahlu s-Sunnah dengan menyebutkan perawi-perawi mereka. Begitu juga al-’Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir.102

Justeru itu rujukan-rujukan Ahlu s-Sunnah sendiri telah mengukuhkan dakwaan Syi’ah kerana terdapat hadith-hadith yang muktabar dan mutawatir tentang hak ‘Ali dan keluarganya AS. Sesungguhnya kebenaran terserlah wa l-hamdulillah.

Ringkasnya, dengan ayat ini orang yang menjadi imam dan khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah imam ‘Amiru l-Mukmimin ‘Ali AS. Kerana ayat tersebut membuktikan bahawa mengasihi ‘Ali AS adalah wajib kerana Allah memberikan pahala kepada orang yang mengasihi kerabatnya. Oleh itu jika kesalahan berlaku daripada mereka maka kasih sayang kepada mereka wajib dihentikan kerana firmanNya di dalam (Surah al-Mujadalah(58): 22):”Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya.”

Dan selain daripada ‘Ali AS adalah tidak maksum. Oleh itu, beliaulah imam secara langsung. Ayatullah al-’Uzma al-Syahid al-Nur al-Tastari di dalam buku Ihqaq al-Haqa’iq berkata: Orang-orang Syi’ah mengemukakan dalil-dali tentang keimamahan ‘Ali AS terhadap Ahlu s-Sunnah bukanlah suatu perkara yang wajib, malah ianya suatu amalan sukarela kerana Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah telah bersetuju sesama mereka tentang keimamahan ‘Ali AS selepas Rasulullah SAWAW. Tetapi perbezaannya Syi’ah menafikan wasitah(103) sedangkan Ahlu s-Sunnah menetapkannya.

Justeru itu ianya dikemukakan  oleh orang-orang yang menetapkannya (al-Muthbit) dan bukan orang yang menafikannya sebagaimana telah ditetapkan di dalam kaedah usul fiqh melainkan mereka telah mencari ijmak dengan mengingkari keimamahannya secara mutlak. Lantaran itu Syi’ah wajib mengemukakan dalil. Dan Allah adalah Penunjuk kepada jalan yang benar.

5. Ayat Salawat

Iaitu firmanNya di dalam (Surah al-Ahzab (33):56):”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Syi’ah bersepakat bahawa ayat ini telah diturunkan kepada Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya AS. Begitu juga sebahagian besar ulama Ahlu s-Sunnah sependapat dengan Syi’ah bahawa ayat tersebut diturunkan kepada Muhammad, ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS.

Imam Syafi’i dalam Musnadnya berkata: Ibrahim bin Muhammad telah memberitahukan kami bahawa Safwan bin Sulaiman telah memberitahukan kami daripada Abi Salmah daripada ‘Abdu r-Rahman daripada Abu Hurairah dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana kami bersalawat ke atas anda? Maka Rasulullah SAWAW menjawab: Kalian berkata: Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad.(104)

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq ah-Muhriqah(105) mencatat riwayat daripada Ka’ab bin Ijrah. Dia berkata: Apabila turun ayat ini, kami bertanya wahai Rasulullah! Kami mengetahui bagaimana kami memberi salam ke atas anda. Tetapi kami tidak mengetahui bagaimana kami bersalawat ke atas anda? Maka beliau SAWAW bersabda: Kalian katakanlah Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad.

Dan diriwayatkan daripada Nabi SAWAW, beliau bersabda: Janganlah kalian bersalawat ke atasku dengan salawat yang terputus. Lalu mereka bertanya: Apakah salawat terputus itu? Beliau menjawab: Kalian berkata: Allahumma Salli ‘Ala Muhammad, kemudian kalian berhenti. Justeru itu katakan:Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad.

Al-Qurtubi di dalam Jami’ li-Ahkam al-Qur’an(106) menegaskan bahawa Ahlu l-Bait Nabi SAWAW dihubungkaitkan dengan Nabi SAWAW di dalam salawat ke atasnya. Sementara Ibn ‘Arabi di dalam Ahkam al-Qur’an(107) mengatakan bahawa ayat al-Mawaddah diturunkan kepada Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya yang disucikan.

Di sini dikemukakan sebahagian daripada riwayat-riwayat para ulama Ahlu s-Sunnah yang mengatakan bahawa ayat tersebut diturunkan kepada Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya seperti berikut:

1. al-Bukhari dalam Sahihnya, VI, hlm. 12

2. Al-Wahidi dalam Asbab al-Nuzul, hlm. 271.

3. al-Baghawi dalam Ma’alim al-Tanzil, V, hlm. 225.

4. al-Hakim dalam al-Mustadrak, III, hlm. 148.

5. Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, XV, hlm. 226.

6. al-Hafiz Abu Nu’aim al-Isfahani dalam Akhbar Isfahani, I, hlm. (31).

7. al-Hafiz Abu Bakr al-Khatib dalam Tarikh Baghdad, VI, hlm. 216.

8. Ibn ‘Abd al-Birr dalam Tajrid al-Tawhid, hlm. 85.

9. al-Nisaburi dalam al-Tafsir, XX, hlm. 30.

10. al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani, XXII, hlm. 22.

11. Muhibuddin al-Tabari dalam Dhakha’ir la-’Uqba, hlm. 19.

12. al-Nawawi dalam Riyadh al-Salihin, hlm. 155.

13. Ibn Kathir dalam al-Tafsir, III, hlm. 506.

14. Al-Tabari dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, XX, hlm. 27.

15. al-Khazin dalam al-Tafsir, V, hlm. 226.

16. al-Suyuti dalam al-Durr al-Manthur, V, hlm. 215; Bughyah al-Wu’at, hlm. 442.

17. al-Syaukani dalam Fath al-Qadir, IV, hlm. 293.

18. Abu Bakr al-Hadhrami dalam Rasyfah al-Sadi, hlm. 24.

19. al-Sayyid Ibrahim  Naqib, dalam al-Bayan wa Ta’rif, I, hlm. 134.

20. Muhammad Idris al-Hanafi dalam al-Ta’liq al-Sahih fi Syarh al-Masabih, I, hlm. 401 & 402 telah meriwayatkan hadith ini dengan sanad yang banyak dan bermacam-macam. Semuanya meliputi salawat ke atas Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya.

Aku berpendapat: “menyebut mereka” di dalam sembahyang dan bukan orang yang selain daripada mereka adalah dalil yang terang betapa tingginya kedudukan mereka. Lantaran itu tidak sah sembahyang seorang mukallaf sama ada dahulu ataupun sekarang tanpa pengucapan salawat ke atas mereka Ahlu l-Bait AS sama ada dia seorang yang bergelar al-Siddiq (Abu Bakr), al-Faruq (Umar atau dha-nur atau anwar (‘Uthman).

Al-Nisaburi dalam Tafsirnya(108) menyatakan ayat al-Mawaddah sudah cukup sebagai tanda penghormatan kepada Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW kerana tasyahhud di akhiri dengan ‘menyebutkan’ mereka dan selawat ke atas mereka pada setiap sembahyang.

Muhibbuddin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba(109)  meriwayatkan daripada Jabir dia berkata: Jika aku sembahyang dan tidak berselawat ke atas Muhammad dan Ahlu l-Baitnya, maka aku fikir sembahyangku tidak diterima.

Qadhi ‘Iyad telah menyatakan di dalam al-Syifa’ daripada Ibn Mas’ud secara marfu’: Sesiapa yang mengerjakan solat tanpa berselawat ke atasku dan Ahlu l-Baitku (di dalamnya), nescaya solatnya tidak diterima.(110)

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah(111) menyatakan bahawa al-Dar al-Qutni dan al-Baihaqi meriwayatkan hadith: Sesiapa mengerjakan solat dan tidak berselawat ke atasku dan Ahlu l-Baitku, maka solatnya tidak akan diterima.” Hadith ini merupakan sumber rujukan Imam Syafi’i rd. yang mengatakan bahawa selawat ke atas Al (Ahlu l-Bait) adalah sebahagian daripada kewajipan solat sepertilah selawat ke atas Nabi SAWAW. Pada hakikatnya ia adalah lemah kerana sumber rujukan yang sebenar ialah hadith Nabi SAWAW yang disepakati: Katakanlah Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa ‘Ali Muhammad. Perintah (amr) di dalam hadith tersebut adalah wajib.

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib(112) menegaskan bahawa selawat ke atas Ahlu l-Bait AS adalah satu kedudukan yang tinggi. Oleh itu selawat ke atas mereka dijadikan sebagai penamat tasyahhud. Dan sabdanya: ’Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad wa r-ham Muhammad wa ‘Ali Muhammad,’ adalah suatu kemuliaan yang tidak boleh  terjadi kepada selain daripada keluarga Muhammad SAWAW. Ini menunjukkan bahawa cinta kepada Muhammad dan ‘Ali Muhammad adalah wajib. Dan beliau bersabda: Ahlu l-Baitnya SAWAW menyamai di dalam lima perkara:

1. Di dalam Tasyahhud; selawat ke atas Nabi SAWAW dan ke atas mereka.

2. Di dalam Salam (Salam).

3. Di dalam kesucian at-Taharah

4. Di dalam pengharaman Sadqah

5. Di dalam kasih sayang al-Mahabbah

Apa yang telah kami kemukakan tadi menunjukkan bahawa selawat ke atas mereka adalah dituntut di dalam solat. Dan banyak lagi hadith-hadith di dalam buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menjelaskan hakikat ini.

Setelah aku membaca kesemua rujukan-rujukan di atas, aku dipenuhi kehairanan. Kenapa ‘mereka’ mendahului orang yang bukan Ahlu l-Bait daripada Ahlu l-Bait? Dan apa yang lebih menghairan ialah kata-kata Ibn Abi al-Hadid di dalam muqadimmah Syarh Nahj al-Balaghah(113) di mana dia berkata:

Segala puji bagi Allah yang telah mendahului al-Mafdhul (kurang baik) ke atas al-Fadhil (lebih baik).’ Kata-katanya adalah menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWAW kerana Allah tidak meredhai pengutamaan al-mafdhul ke atas al-Fadhil (pengutamaan Abu Bakr, Umar, dan Uthman ke atas ‘Ali) begitu juga RasulNya, dan orang yang mempunyai akal yang sejahtera dan mempunyai hati yang bebas.

Dan apa yang menghairankan juga ialah kenapa mereka begitu berani mencaci Syi’ah Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW yang mewalikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Sebagaimana firmanNya di dalam (Surah al-Maidah (5): 56)”Sesiapa yang mewalikan Allah dan RasulNya, maka parti Allah pasti mendapat kemenangan.” Syi’ah mengambil apa yang datang daripada Allah dan RasulNya, mereka tidak berganjak walau sedikitpun.

Ringkasnya Khilafah ‘Ali AS sabit selepas Rasulullah SAWAW menurut ayat Salawat kerana Allah SWT mengiringinya (‘Ali) bersama Rasulullah SAWAW dalam selawat ke atasnya. Justeru itu tidak seorangpun harus mendahuluinya sebagaimana ia tidak harus mendahului Rasulullah SAWAW. Berfikirlah wahai pembaca yang budiman jika anda orang yang berfikiran bebas.

6. Ayat Tabligh atau Hadith al-Ghadir

Iaitu firmanNya (Surah al-Mai’dah (5:67)”Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, bererti) kamu tidak menyampaikan anamatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Allah SWT telah memerintahkan NabiNya di Ghadir Khum supaya menyampaikan ayat yang mulia ini kepada umat Muslimin. Semua ahli Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahawa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum mengenai ‘Ali AS bagi melaksanakan urusan Imamah. Ianya merupakan nas bagi jawatan khalifah yang besar dan pimpinan agama yang mulia. Tidak akan mengesyakinya melainkan orang yang mengikut hawa nafsu atau kerana fanatik kepada mazhab yang dianuti.

Sikap tersebut adalah menyalahi Qur’an dan mengingkari hadith-hadith Nabi SAWAW yang mutawatir yang disepakati kesahihannya kecuali orang fanatik yang dikuasai oleh nafsu al-Ammarah. Lantaran itu dia akan binasa kerana pengingkarannya terhadap asas agama.

Al-’Allamah al-Sayyid al-’Abbas al-Kasyani menyatakan di dalam buku Masabih al-Jinan(114)bahawa hari perayaan al-Ghadir adalah perayaan Allah yang besar dan perayaan Ahlu l-Bayt Muhammad SAWAW. Ianya sebesar-besar perayaan dan semulia-mulia perayaan di sisi mereka. Iaitu hari di mana Rasulullah SAWAW telah melantik ‘Ali sebagai imam dan khalifah selepasnya dengan kehadiran beribu-ribu kaum Muslimin yang datang dari segenap pelusuk dunia.

Beliau telah memerintahkan mereka supaya membai’ahnya dan menyerahkan kepadanya urusan pemerintahan Mukminin. Peristiwa ini berlaku  semasa Haji Wida’ di suatu tempat bernama Ghadir Khum, tiga batu dari Juhfah berhampiran Rabigh selepas beliau kembali daripada mengerjakan haji di antara Makkah dan Madinah. Jibra’il datang kepada beliau untuk tujuan tersebut.

Nabi SAWAW merasa takut untuk menyalahi kaumnya, lalu beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kaumku masih baru dengan zaman Jahiliyyah. Apabila aku melakukan perintah ini, mereka akan berkata: Beliau  melakukannya kepada sepupunya. Kemudian Jibra’il AS datang kepadanya kali kedua di mana lima jam berlalunya siang dan berkata: Ya Muhammad! Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada anda dan berfirman maksudnya: Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhanmu (iaitu tentang ‘Ali) dan sekiranya kamu tidak melaksanakannya maka kamu tidak menyampaikan risalahNya.”

Bilangan hadirin adalah melebihi satu ratus ribu orang. Jibra’il memberitahu Nabi SAWAW supaya orang ramai berhenti di tempat itu, dan mengisytiharkan ‘Ali sebagai khalifah kepada mereka, dan menyampaikan kepada mereka bahawa sesungguhnya Allah SWT telah memeliharanya ‘Asamahu daripada orang ramai. Manakala tiba di Ghadir Khum, azan berkumandang di udara dan solat berjama’ah didirikan.

Di hari itu panas terik, sekiranya daging dicampakkan ke tanah nescaya ia akan masak. Nabi SAWAW menyuruh mereka supaya menyusun batu seperti mimbar kemudian diteduhi dengan kain di atasnya. Lalu beliau berdiri di atasnya manakala mereka berhimpun, beliau memberi khutbahnya yang paling bersejarah, menguatkan suaranya supaya dapat didengari oleh seratus ribu lebih Muslimin yang datang dari setiap pelusuk. Selepas memuji Allah, beliau menyampaikan nasihat dan mengisytiharkan kepada ummah tentang kematiannya seraya berkata: Aku telah dipanggil dan hampir aku menyahutinya dan denyutan jantung hatiku kian memuncak di hadapan kalian.” Kemudian beliau mengangkat tangan ‘Ali AS sehingga orang ramai melihat keputihan ketiak Rasulullah SAWAW sambil berkata: Wahai manusia! Tidakkah aku lebih aula daripada diri kalian? Mereka menjawab: Ya! Wahai Rasulullah (SAWAW). Beliau bersabda: Wahai Tuhanku, siapa yang aku telah menjadi maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku, cintailah mereka yang mewalikannya dan memusuhilah mereka yang memusuhinya. Dan tolonglah orang yang menolongnya. Hinalah orang yang menghinanya. Marahilah orang yang memarahinya. Cintailah orang yang mencintainya. Muliakanlah orang yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah menyempurnakan  bagi kalian agama kalian dengan wilayah dan imamahnya. Tidak memarahi ‘Ali melainkan orang yang celaka. Tidak mewalikan ‘Ali melainkan orang yang bertaqwa. Wahai manusia! Janganlah kalian kembali selepasku dalam keadaan kafir, bunuh membunuh sesama kalian. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang beharga jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan Itrah Ahlu l-Baitku. Kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh.

Wahai manusia! Telah sesat kebanyakan orang-orang yang terdahulu. Akulah Sirat al-Mustaqim di mana Allah telah memerintahkan kalian supaya berjalan di atasnya untuk mendapat petunjukNya. Ali selepasku, kemudian Hasan, Husain dan sembilan (manusia) imam daripada keturunannya yang menunjuk kebenaran. Sesungguhnya aku telah menerangkan kepada kalian dan memahamkan kalian. Dan inilah ‘Ali yang akan memahamkan kalian selepasku. Sesungguhnya aku menyeru kalian supaya berjabat tanganku sebagai tanda membai’ahnya dan memperakuinya. Sesungguhnya aku telah membai’ah Allah dan ‘Ali mengikut sama. Sesungguhnya bai’ah kalian kepadanya adalah daripada Allah. Justeru itu sesiapa yang mengingkari bai’ahnya maka dia sesungguhnya mengingkari dirinya sendiri. Dan sesiapa yang menepati apa yang telah dijanjikan Allah SWT maka Dia akan memberi ganjaran yang besar.”

Tiba-tiba ‘Umar bin al-Khattab berkata kepada ‘Ali: Tahniah kepada anda wahai anak lelaki Abu Talib. Anda adalah maulaku dan maula setiap Mukmin dan Mukminat. Di dalam riwayat yang lain pula Umar berkata: Selamat bahagia untuk anda wahai ‘Ali. Abu Sa’id al-Khudri berkata: Pada masa itu kami belum pulang sehingga turunnya ayat ikmalu d-Din (Surah al-Maidah (5):3) yang bermaksud:”Pada hari ini telahku sempurnakan bagimu agamamu, dan telahku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telahku redha Islam itu agamamu.”

 

Nabi bersabda: Allahu Akbar kerana menyempurnakan agama, menyempurnakan nikmat dan keredhaan Tuhan dengan risalahku dan dengan wilayah ‘Ali AS selepasku. Kemudian Hasan bin Tsabit bangun dan berkata: Izinkan aku wahai Rasulullah SAWAW untuk mengemukakan beberapa rangkapan syair mengenai ‘Ali supaya anda mendengarnya. Maka Rasulullah SAWAW menjawab: Katakanlah semoga anda di dalam keberkatan Allah. Maka Hasan mengemukakan syair berikut:

 

Mereka diseru di hari al-Ghadir oleh Nabi mereka

di Khum aku mendengar bersama Rasul seorang  penyeru.

Dia berkata: Siapakah maula dan wali kalian?

mereka menjawab: Mereka tidak melahirkan di sana sebarang kesamaran.

Tuhan anda ialah maula kami dan anda adalah wali kami hanya penderhaka sahaja yang menentang kami di dalam wilayah.

Maka dia berkata kepadanya: Berdirilah wahai ‘Ali,

maka sesungguhnya aku meredhai anda selepasku menjadi imam dan petunjuk.

Maka sesiapa yang telah menjadikan aku sebagai maulanya, maka ini adalah walinya maka jadikanlah kalian baginya pembantu-pembantu yang benar

Di sana beliau menyeru: Wahai Tuhanku perwalikanlah walinya

dan jadikanlah orang yang menentang ‘Ali sebagai musuhnya.

Al-Allamah al-Kasyani telah menyatakan di dalam Masabih al-Jinan(115)  bahawa ahli-ahli sejarah Islam dari berbagai mazhab telah menyebutkan pendirian Nabi SAWAW di Hari al-Ghadir dan perlantikan ‘Ali sebagai khalifah memadailah di hari yang bersejarah itu satu kehormatan dan kemuliaan telah diberikan oleh pengarang-pengarang penyair-penyair mengenainya. Justeru itu amatlah sukar untuk dikemukakan sekaligus apa yang terkandung di dalam buku-buku Tafsir, Hadith, Musnad, Sirah dan sastera mengenai al-Ghadir. Buatlah rujukan kepada dua buku yang masyhur; al-’Aqabat dan al-Ghadir.

Kesepakatan Ulama Tentang Ayat Tabligh

Aku berpendapat sebenarnya para ulama Islam telah bersepakat bahawa ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah(5):67) telah diturunkan kepada ‘Ali AS secara khusus bagi mengukuhkan khalifah untuknya. Di hari tersebut riwayat hadith al-Ghadir adalah Mutawatir. Ianya telah diriwayatkan oleh semua ahli sejarah dan ahli Hadith dari berbagai golongan dan ianya telah diperakukan oleh ahli Hadith dari golongan Sunnah dan Syi’ah. Ianya tidak dapat ditolak kecuali orang yang takbur, degil dan bodoh.

Sebahagian meriwayatkannya dengan panjang dan sebahagian yang lain pula meriwayatkannya secara ringkas. Bilangan perawi-perawinya dari kalangan sahabat melebihi satu ratus sepuluh orang termasuk sahabat-sahabat yang terlibat di dalam peperangan Badr.(116) Bilangan perawi-perawi dari kalangan tabi’in yagn meriwayatkannya ialah lapan puluh empat orang. Sementara bilangan ulama dan Muhaddithin di kalangan Ahlu s-Sunnah yang meriwayatkan hadith al-Ghadir ialah sebanyak tiga ratus enam puluh orang yang berdasarkan kepada buku-buku rujukan Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah.

Kemungkinan besar bilangan perawi-perawi yang tidak dapat dikesan adalah lebih ramai daripada itu. Sepatutnya bilangan perawi-perawi hadith tersebut berkali ganda ramai kerana bilangan mereka yang mendengar khutbah Nabi SAWAW adalah melebihi seratus ribu orang. Biasanya mereka menceritakan peristiwa tersebut apabila mereka kembali ke tanah air mereka sebagaimana seorang penyair berkata:

Dan ketahuilah sesungguhnya tetamu memberitahukan keluarga malam yang dilaluinya sekalipun

ianya tidak ditanya.

Ya! Semuanya akan melakukan sedemikian melainkan sebilangan daripada mereka yang mempunyai perasaan dendam kesumat di hati mereka. Lalu mereka menyembunyikannya kerana kemarahan dan hasad dengki mereka.

Adapun Syi’ah, mereka telah bersepakat tentang kemutawatirannya. Tetapi manakala sabitnya hadith al-Ghadir sehingga mencapai ke tahap di mana orang yang mempunyai perasaan iri hati tidak dapat menolaknya, lalu ditanamkan perasaan curiga kepada perawi-perawi dan riwayat-riwayat mereka pula. Mereka menakwilkan perkataan al-Maula menurut hawa nafsu mereka. Kadangkala mereka mentafsirkannya dengan pencinta (al-Muhibb), pembantu (al-Nasir) dan dengan perkataan al-Aula (lebih utama).

Demikianlah sekiranya mereka tidak ada jalan lain lagi untuk melakukan kecacatan dan ‘kelemahan’ di dalam penafsiran ayat dan hadith. Mereka juga mengatakan bahawa Nabi SAWAW berada di Ghadir Khum, dan berkhutbah bagi menerangkan kepada orang ramai tentang kedudukan ‘Ali dan memperkenalkannya (‘Ali) kepada orang ramai dan bukan bertujuan untuk menjadikannya khalifah selepasnya.

Adapun orang yang syak tentang perkataan al-Waliyy sebagaimana telah disebutkan, sekalipun ianya mungkin memberi pengertian-pengertian tersebut sebagaimana dikatakan oleh lawan yang angkuh, maka ianya pasti memberi pengertian ‘orang yang lebih berhak dengan khalifah’. Dan tidak harus seorangpun melakukan perkara tersebut selain daripadanya (‘Ali AS). Dalil kami ialah ayat al-Wilayah (Surah al-Maidah (5):55).

Adapun pendapat lawan yang menyatakan bahawa Rasulullah SAWAW berada di Ghadir Khum adalah untuk menerangkan kepada orang ramai tentang kedudukan ‘Ali AS sahaja dan bukan sebagai pengganti Nabi SAWAW adalah rekaan semata-mata. Lantaran itu percakapannya adalah batil, tidak sampai kepada hakikat dan ianya tidak dapat diterima.

Kerana seolah-olah ‘Ali AS tidak dikenali sebelumnya sehingga Rasulullah SAWAW berada di tempat tersebut dan memperkenalkannya kepada orang ramai pada masa yang mencemaskan dengan suhu yang tinggi. Sebagaimana telah diterangkan kepada kalian sesungguhnya ‘Ali lebih dikenali di dalam peperangan-peperangannya, disaksikan oleh peristiwa-peristiwa tersebut  dan beliau (‘Ali AS)lah yang telah mengukuhkan agama ini dengan pedangnya.

Oleh itu dalil yang paling kuat tentang kebenaran dakwaan kami ialah ‘Ali AS sendiri berdiri memberi khutbahnya di atas mimbar di Rahbah sebagaimana telah disebutkan oleh semua ahli sejarah selepas beliau menjadi khalifah.

Dia berkata: Aku menyeru kerana Allah bagi setiap orang yang mendengar Rasulullah SAWAW bersabda di Hari al-Ghadir supaya berdiri dan mempersaksikan apa yang telah didengarinya. Dan tidak boleh berdiri melainkan orang yang melihatnya (Nabi SAWAW) dengan matanya dan mendengar dengan kedua telinganya. Maka tiga puluh sahabat berdiri termasuk dua belas orang yang telah mengambil bahagian di dalam peperangan Badr. Maka mereka telah menyaksikan bahawa beliau SAWAW telah memegang ‘Ali dengan tangannya dan berkata kepada orang ramai: Tidakkah anda mengetahui bahawa sesungguhnya aku lebih aula dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri? Mereka menjawab: Ya. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.

Pembaca yang budiman tentu sekali tidak akan mengatakan bahawa tiga puluh sahabat itu telah berbohong, kerana ini tidak dapat diterima oleh akal yang waras. Lantaran itu pencapaian tahap kemutawatiran hadith al-Ghadir yang berlaku semata-mata dengan penyaksian mereka adalah Qat’i. Dan tidak syak lagi bahawa hadith ini pula diambil oleh semua orang yang berada di Rahbah di dalam perhimpunan tersebut, dan menyebarkannya selepas mereka pulang ke tempat-tempat mereka.

Sebagaimana Sayyid Syarafuddin al-Musawi berkata di dalam bukunya al-Murujaat(117)  (Dialog Sunnah-Syi’ah); Tidak dapat disembunyikan lagi bahawa hari Rahbah itu berlaku semasa Khalifah Amiru l-Mukminin. Beliau telah dibai’ah pada tiga puluh lima hijrah. Hari al-Ghadir ialah pada Haji Wida’ tahun kesepuluh. Dan jarak masa di antara dua hari tersebut (hari al-Ghadir dan hari Rahbah) ialah dua puluh lima tahun.

Di sepanjang masa tersebut telah menular penyakit taun dan berlaku beberapa peperangan yang telah meragut nyawa sebahagian besar para sahabat yang telah menyaksikan hari al-Ghadir dan pemuda-pemuda mereka yang terlibat di dalam peperangan meninggal dunia. Sehingga tinggal bilangan kecil yang masih hidup dan yang masih hidup pula tinggal di merata-rata tempat. Justeru itu mereka yang menyaksikan hari Rahbah ialah mereka yang tinggal bersama Amiru l-Mukminin di Iraq. Meskipun begitu tiga puluh sahabat berdiri dan memberikan penyaksian mereka. Dua belas daripada mereka terlibat di dalam peperangan Badr, telah menyaksikan hadith hari al-Ghadir dan mendengarnya daripada Nabi SAWAW.(118) Memang terdapat sahabat-sahabat seperti Anas bin Malik yang enggan memberi penyaksian tersebut di mana ‘Ali AS berkata kepadanya: Kenapa anda tidak berdiri bersama-sama sahabat-sahabat Rasulullah SAWAW untuk memberi penyaksian kepada apa yang telah anda dengari daripadanya di hari itu? Dia menjawab: Wahai Amiru l-Mukminin. Aku telah tua dan pelupa pula. Lantas ‘Ali AS berkata: Sekiranya anda berbohong, nescaya Allah akan mengenakan anda dengan penyakit keputihan kulit yang tidak dapat ditutupi serban. Dia tetap tidak berdiri sehingga mukanya di hinggapi keputihan kanser. Selepas itu dia berkata: Aku ditimpa penyakit ini disebabkan berkat hamba yang soleh (‘Ali AS).(119)

Jikalaulah Imam ‘Ali AS membuat persiapan bagi menghimpunkan semua sahabat yang masih hidup di masa itu, kemudian beliau menyeru mereka sebagaimana beliau telah melakukannya di hari Rahbah, nescaya bilangan mereka akan berlipat ganda lagi. Apatah lagi jika beliau membuat persiapan itu di Hijaz sebelum berlakunya Hari al-Ghadir. Lantaran itu hakikat ini nescaya anda akan mendapatinya sekuat-kuat dalil kemutawatiran hadith al-Ghadir.

Di sini aku akan kemukakan kepada pembaca yang budiman sebahagian daripada pendapat-pendapat ahli Tafsir dan ahli hadith mengenai ayat al-Tabligh (Surah al-Mai’dah (5):56)”Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu….”  dan ayat Ikmaluddin dalam (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu….” dan ayat (Surah al-Ma’arij (70):1)”Seorang telah meminta kedatangan azab….” serta hadith: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…..dan lain-lain hadith yang telah dikaitkan secara khusus mengenai ‘Ali AS untuk jawatan khilafah dan Imamah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung di Hari al-Ghadir.

Hadith al-Ghadir telah diriwayatkan oleh para ulama besar Muslimin dengan sanad yang mutawatir dan dikhususkan kepada Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali AS.

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul(120) berkata: Sesungguhnya ayat al-Tabligh (Surah al-Mai’dah(5):67) telah diturunkan di hari al-Ghadir pada ‘Ali bin Abi Talib RD. Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(121)  berkata: Ibn Abi Hatim, Ibn Mardawaih dan Ibn Asakir telah meriwayatkannya daripada Abu Sa’id al-Khudri bahawa ayat al-Tabligh (Surah al-Mai’dah(5): 67) telah diturunkan ke atas Rasulullah di hari al-Ghadir mengenai ‘Ali bin Abu Talib AS.

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib(122) berkata: Ahli Tafsir telah menyebutkan bahawa sebab turun ayat ini sehingga dia berkata: (kesepuluh) ayat ini telah diturunkan tentang kelebihan ‘Ali bin Abi Talib AS. Manakala ayat ini diturunkan Nabi SAWAW memegang tangan ‘Ali AS dan bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Hormatilah orang yang mewalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Kemudian Umar (RD) memujinya dan berkata: Tahniah kepada anda wahai anak Abu Talib. Anda telah menjadi maulaku dan maula semua mukmin dan mukminah. Ini adalah riwayat Ibn ‘Abbas, al-Barra’ bin Azib dan Muhammad bin Ali.

Al-Nisaburi di dalam Tafsirnya(123) menyatakan bahawa ayat ini telah diturunkan mengenai kelebihan ‘Ali bin Abi Talib RD di hari al-Ghadir. Dia menyebutkan sebagaimana telah disebutkan oleh Fakhruddin al-Razi satu demi satu.

Al-Syaukani di dalam Tafsirnya(124)  menyebutkan bahawa Abu al-Syaikh meriwayatkan daripada al-Hasan bahawa Rasulullah SAWAW bersabda:”Sesungguhnya Allah telah mengutuskan (kepadaku) satu misi yang mencemaskan, aku mengetahui bahawa sesungguhnya orang ramai akan membohongiku. Maka Dia telah menjanjikan aku supaya aku menyampaikannya atau Dia akan menyiksaku. Maka turunlah ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah (5):67)”Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu….Dia telah menyebutkan apa yang telah disebutkan oleh al-Suyuti bahawa ianya diturunkan di hari al-Ghadir Khum tentang ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan mereka membaca ayat tersebut dengan: Inna Aliyyan Maula al-Mukminin (Sesungguhnya ‘Ali adalah wali Mukminin).

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah(125) menulis: al-Tha’labi telah meriwayatkan daripada Ibn Salih daripada Ibn ‘Abbas daripada Muhammad al-Baqir RD mereka berdua berkata: Ayat ini diturunkan mengenai ‘Ali AS.

Al-Alusi di dalam Ruh al-Ma’ani(126) berkata: Ibn ‘Abbas berkata: Ayat ini diturunkan kepada ‘Ali AS. Allah SWT memerintahkan Nabi SAWAW supaya mengisytiharkan kepada orang ramai (para sahabatnya) mengenai wilayah ‘Ali AS. Rasulullah SAWAW merasa takut bahawa mereka akan berkata bahawa beliau SAWAW memilih sepupunya. Mereka akan menentang beliau mengenainya. Lantaran itu Allah menurunkan ayat ini, maka beliau melaksanakan wilayahnya (‘Ali AS) dan berkata: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….Dia telah menyebutkannya sebagaimana telah disebutkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur hingga ke akhirnya.

Nota kaki

50. Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 20.

51. al-Kasysyaf, I, hlm. 482.

52. Sahih, VII, hlm. 120.

53. al-Musnad, I, hlm. 185.

54. Jami’ al-Bayan, III, hlm. 192.

55. al-Durr al-Manthur, II, hlm. 38.

56. Asbab al-Nuzul, hlm. 47.

57. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 43.

58. Nur al-Absar, hlm. 101.

59. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 25.

60. KIfayah al-Talib, hlm. 54.

61. al-Mustadrak, III, hlm. 150.

62. Dala’il al-Nubuwwah, hlm. 297.

63. Ma’alim al-Tanzil, I, hlm. 302.

64. Mafatih al-Ghaib, VIII, hlm. 85.

65. al-Takhis, III, hlm. 150.

66. Usd al-Ghabah, IV, hlm. 25.

67. Tadhkhirah al-Huffaz, hlm. 17.

68. Jami’ li Ahkam al-Qur’an, III, hlm. 104.

69. Anwar al-Tanzil, II, hlm. 22.

70. Al-Isabah, II, hlm. 503.

71. Matalib, al-Su’ul, hlm. 7.

72. Ghayah al-Maram, hlm. 300.

73. Ta’Liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haq, hlm. 46.

74. al-Nabhan, al-Arba’in, hlm. 90.

75. al-Kasysyaf, II, hlm. 339.

76. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 25.

77. Matalibal-Su’ul, hlm. 8.

78. Hamisyh Mafatih al-Ghaib, VI, hlm. 665.

79. Tafsir al-Nasafi, hlm. 99.

80. Tafsir Abu Hayyan, VII, hlm. 156.

81. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 12.

82. Majma’ al-Zawaid, IX, hlm. 168.

83. Kifayah al-Talib, hlm. 31.

84. Syarh al-Mawahib, VII, hlm. 3 & 21.

85. Nur al-Absar, hlm. 112.

86. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 105.

87. Ihya’ al-Mayyit, 101 & 135.

88. Sahih, VI, hlm. 129.

89. Jami’ al-Bayan, XXV, hlm. 14-15.

90. al-Kafi al-Syafi’i, hlm. 145.

91. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 106.

92. Rasyfah al-Sadi, hlm. 21…106.

93. al-Mustadrak, III, hlm. 172.

94. al-Talkhis, III, hlm. 172.

95. al-Kasysyaf, III, hlm. 402.

96. Maqtal al-Husain, hlm.1.

97. al-Umdah, hlm. 23.

98. Matalib al-Su’ul, hlm. 3.

99. al-Wadhih, XXV, hlm. 19.

100. Kifayah al-Talib, hlm. 31.

101. Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq, III, hlm. 2 & 23.

102. al-Ghadir, II, hlm. 306.

103. Syi’ah mengatakan bahawa Imamah ‘Ali AS adalah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung tanpa wasitah iaitu tidak didahului oleh orang lain. Sementara Ahlu s-Sunnah mengatakan Imamah ‘Ali AS adalah selepas Rasulullah SAWAW secara wasitah (perantaraan) iaitu telah didahului oleh Khalifah AbuBakr.

104. al-Musnad, II, hlm. 97.

105. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 144

106. al-Jami’ li-Ahkam al-Qur’an, XIV, hlm. 233.

107. Ahkam al-Qur’an, I, hlm. 184.

108. Tafsir al-Nisaburi, XX, hlm. 30.

109. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 19.

110. al-Ghadir, II, hlm. 303.

111. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 144.

112. Mafatih al-Ghaib, VII, hlm. 391.

113. Syarh Nahj al-Balaghah, I, hlm. 1.

114. Masabih al-Jinan, hlm. 560.

115. Masabih al-Jinan, hlm. 560.

116. Lihat Lampiran B.

117. al-Muruja’at (Dialog Sunnah-Syi’ah), hlm. 262 dan seterusnya.

118. al-Musnad, IV, hlm. 370; Dialog Sunnah-Syi’ah, hlm. 254.

119. Ibn Qutaibah, Kitab al-Ma’arif, hlm. 251.

120. Asbab al-Nuzul, hlm. 150.

121. al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298.

122. Mafatih al-Ghaib, hlm. 636.

123. Tafsir al-Nisaburi, VI, hlm. 194.

124. Tafsir al-Syaukani, VI, hlm. 194.

125. Yanabi al-Mawaddah, hlm. 120.

126. Ruh al-Ma’ani, VI, hlm. 172.

Muhammad Rasyid Ridha di dalam Tafsir al-Manar(127) menyatakan bahawa Syaikh Muhammad ‘Abduh menyatakan bahawa ayat ini diturunkan di hari al-Ghadir mengenai ‘Ali bin Abu Talib AS. Dia menyebutkannya daripada Abi Hatim, Ibn Mardawaih dan Ibn Asakir. Kemudian dia menyebutkan riwayat Ibn ‘Abbas bahawa ayat yang mulia ini telah diturunkan mengenai (‘Ali AS) di Ghadir Khum sebagaimana telah disebutkan oleh al-Alusi mengenai ayat Ikmal al-Din (Surah al-Maidah(5):3)”Pada hari ini telahku sempurnakan bagimu agamamu.”

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(128) mengaitkan riwayat Ibn Mardawaih daripada Ibn Asakir kepada Abu Sai’d al-Khudri. Dia berkata: Manakala Rasulullah SAWAW melantik ‘Ali AS pada hari Ghadir Khum, maka beliau SAWAW mengisytiharkan wilayah ‘Ali AS. Lalu Jibra’il AS menurunkan ayat Ikmalu d-Din (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu.”

Melalui Ibn Mardawaih, Ibn Asakir dan al-Khatib kepada Abu Hurairah, dia berkata: Manakala Hari Ghadir Khum iaitu hari kelapan belas Dhul Hijjah, Nabi SAWAW bersabda:”Siapa yang telah menjadikan aku maulanya maka ‘Ali adalah maulanya. Maka Allah pun menurunkan ayat Ikmalu d-Din (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu….”

Al-Khatib di dalam Tarikh al-Baghdad(129) mengaitkan sanad secara langsung daripada Abu Hurairah: Manakala Nabi SAWAW memegang tangan Ali bin Abi Talib AS beliau bersabda: Tidakkah aku wali bagi Mukminin? Mereka menjawab:Ya! Wahai Rasulullah SAWAW. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Umar bin al-Khattab berkata: Selamat bahagia untuk anda anak lelaki Abu Talib. Anda menjadi maulaku dan maula setiap Muslim. Maka Allah pun menurunkan ayat Ikmalu d-Din (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu.”

Al-Samhudi di dalam Fara’id al-Simtin bab kedua belas dengan sanadnya berhubung dengan Abu Sa’id al-Khudri bahawa Rasulullah SAWAW telah menyeru orang ramai pada hari Ghadir Khum kepada (pimpinan) ‘Ali AS. Nabi SAWAW meminta ‘Ali AS berdiri. Peristiwa ini berlaku pada hari Khamis. Beliau SAWAW mengangkat tangan ‘Ali AS sehingga orang ramai melihat keputihan ketiak Rasulullah SAWAW. Kemudian mereka tidak meninggalkan tempat itu sehingga turunnya ayat (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu.” Maka Rasulullah SAWAW bersabda: Allahu Akbar kerana menyempurnakan agama dan menyempurnakan nikmat dan keridhaan Tuhan dengan risalahku dan wilayah ‘Ali AS selepasku, kemudian beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Alilah maulanya….”

Al-Ya’qubi di dalam Tarikhnya(130) berkata: Ada pendapat yang mengatakan bahawa ayat  yang akhir sekali diturunkan ialah “Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu.” Ia adalah riwayat yang sahih dan telah diturunkan pada hari perlantikan Amiru l-Mukmini ‘Ali bin Abi Talib AS di Ghadir Khum. Begitu juga mengenai ayat al-Ma’arij, mereka menyatakan bahawa ayat tersebut diturunkan mengenai hak ‘Ali AS.

Al-Syablanji di dalam Nur al-Absar(131) menjelaskan bahawa al-Tha’labi telah menyatakan bahawa Sufyan bin ‘Uyainah ditanya tentang (Surah al-Ma’arij(70):1-2)”Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang kafir yang tidak seorangpun dapat menolaknya.” Kepada siapakah ayat ini diturunkan ? Maka dia menjawab: Anda bertanya kepadaku tentang masalah yang tidak pernah ditanya oleh seorangpun mengenainya. Sebelum anda bapaku telah memberitahukannya kepadaku daripada Ja’far bin Muhammad AS daripada moyangnya bahawa Rasulullah manakala di Ghadir Khum, menyeru orang ramai supaya berhimpun. Maka beliau SAWAW memegang tangan ‘Ali AS dan bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…”

Perkara ini telah tersebar di seluruh negara sehingga sampai kepada al-Harith bin al-Nu’man al-Fihri. Lantas dia mendatangi Rasulullah SAWAW dengan menaiki untanya. Dia berkata: Wahai Muhammad! Anda telah memerintahkan kami supaya kami mengucap tiada tuhan yang lain melainkan Allah dan sesungguhnya anda pesuruhNya maka kami menerimanya daripada anda. Anda telah memerintahkan kami berpuasa pada bulan Ramadhan, maka kami menerimanya. Anda memerintahkan kami tentang Haji, maka kami menerimanya. Kemudian anda tidak puas lagi dengan ini semua sehingga anda mengangkat sepupu anda mendahului kami. Kemudian anda berkata: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya…Adakah ini daripada Allah atau daripada anda? Nabi SAWAW bersabda: Demi Tuhan, tiada tuhan yang lain selain daripada Dia sesungguhnya ini adalah daripada Allah ‘Azza wajalla. Lantas al-Harith berpaling untuk meneruskan perjalanannya seraya berkata: Wahai Tuhan, sekiranya apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar ‘maka hujanilah ke atas kami batu daripada langit atau datanglah kepada kami siksaan yang pedih.’ Maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat (Surah al-Ma’arij (70:1-2).

Ibn al-Sibagh al-Maliki dalam al-Fusul al-Muhimmah,(132) Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Khawwas,(133) Rasulullah SAWAW bersabda dalam keadaan dua matanya kelihatan merah: Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia bahawa ianya daripada Allah dan bukan daripadaku. Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.

Adapun hadith Nabi SAWAW: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya, Ahmad bin Hanbal di dalam al-Musnadnya(134)  telah mengambil sanadnya daripada al-Barra’ bin ‘Azib dia berkata: Kami bersama Rasulullah SAWAW di dalam satu perjalanan. Maka kamipun sampai di Ghadir Khum. Kami ‘diseru’ supaya melakukan solat secara berjamaah dan dibersihkan untuk Rasulullah SAWAW satu tempat di bawah dua pokok. Maka beliau mengerjakan solat Zuhr kemudian memegang tangan ‘Ali AS sambil bersabda: Tidakkah kalian mengetahui sesungguhnya aku lebih aula dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri? Mereka menjawab: Ya! Beliau bersabda lagi: Tidakkah kalian mengetahui bahawa aku lebih aula daripada setiap mukmin daripada dirinya? Mereka menjawab: Ya! Maka beliau memegang tangan ‘Ali AS dan bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…Maka ‘Umar menemuinya selepas itu dan berkata: Tahniah kepada anda wahai anak lelaki Abu Talib. Anda adalah maula setiap mukmin dan mukminat.

Ahmad bin Hanbal juga di dalam Musnadnya(135) meriwayatkan hadith ini daripada ‘Atiyyah al-’Aufi dia berkata: Aku bertanya Zaid bin Arqam. Dan aku berkata kepadanya bahawa menantuku telah memberitahukan kepadaku tentang anda mengenai hadith tentang ‘Ali AS pada hari Ghadir Khum. Aku ingin mendengarnya daripada anda sendiri. Maka dia menjawab: Wahai orang-orang Iraq! Kalian telah mengetahuinya. Maka aku berkata kepadanya teruskanlah. Maka dia berkata: Ya! Kami berada di Juhfah. Rasulullah SAWAW memegang tangan ‘Ali AS dan berkata: Wahai manusia! Tidakkah kalian mengetahui sesungguhnya aku lebih aula dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri? Mereka menjawab: Ya! Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…

Ibn Majah di dalam Sunannya(136)  telah meriwayatkannya sehingga kepada al-Barra’ bin ‘Azib. Al-Nasa’i di dalam Khasa’is ‘Ali(137) meriwayatkan sanadnya kepada Sa’ad, dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya…maka ‘Ali adalah maulanya….Dia juga meriwayatkan sanadnya sampai kepada Zaid bin al-Arqam, dia berkata: Rasulullah SAWAW berdiri, memuji Allah kemudian bersabda: Tidakkah kalian mengetahui sesungguhnya aku aula dengan setiap mukmin daripada dirinya? Mereka menjawab: Ya! Wahai Rasulullah SAWAW kami menyaksikan bahawa anda adalah aula bagi setiap mukmin daripada dirinya. Maka beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….Beliau lalu berlalu memegang tangan ‘Ali AS.

Ibn ‘Abd Rabbih di dalam al-’Aqd al-Farid(138) telah meriwayatkan ketika menyebutkan hujah al-Mukmun ke atas fuqaha’ mengenai kelebihan ‘Ali bin Abi Talib dia berkata di antaranya: Rasulullah SAWAW bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…

Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’(139) berkata al-Turmudhi telah meriwayatkannya daripada Abu Sarihah atau Zaid bin Arqam daripada Nabi SAWAW beliau bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya…Dia juga meriwayatkan perkara yang sama di dalam Kunuz al-Haqa’iq di Hamish al-Jami’ al-Saghir(140) hadith: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…..

Di dalam Is’af al-Raghibin(141) di Hamisy Nur al-Absar menyatakan bahawa Rasulullah SAWAW berada pada hari Ghadir Khum: Siapa yang menjadikan aku maulanya maka ‘Ali adalah maulanya….Al-Muhibb al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah(142)  berkata: Daripada ‘Umar bahawa dia berkata: ‘Ali adalah maula bagi orang yang telah menjadikan Rasulullah SAWAW sebagai maulanya.

Al-Baghawi di dalam Masabih al-Sunnah(143) meriwayatka daripada Nabi SAWAW beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan  aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Abu Nu’aim Al-Isfahani di dalam Hilyah al-Auliya(144) meriwayatkan daripada Nabi SAWAW beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….

Ibn al-Jauzi di dalam Tadhirah al-Huffaz(145) menyatakan bahawa Rasulullah SAWAW bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….

Al-Khatib di dalam Tarikh Baghdad(146) meriwayatkan hadith al-Ghadir daripada Anas, dia berkata: Aku mendengar Nabi SAWAW bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…

Demikianlah aku telah kemukakan kepada pembaca yang budiman sebahagian kecil daripada buku-buku rujukan  Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Walau bagaimanapun aku akan kemukakan pula kepada anda nama-nama perawi  dengan menyebutkan rujukan mereka bagi menambahkan lagi penjelasan seperti berikut:

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul.(147) Muhammad bin Talhah al-Syafi’i di dalam Matalib al-Su’ul.(148) Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib.(149) Al-Tha’labi di dalam Tafsirnya.(150) Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur. Ibn Sibagh al-Maliki di dalam Fusul al-Muhimmah.(151) Al-Turmudhi di dalam Sahihnya,(152) dia berkata: Hadith ini adalah Hasan sahih. Al-Hakim di dalam al-Mustadrak(153) berkata: Ini adalah hadith sahih menurut syarat al-Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim) tetapi  mereka berdua tidak meriwayatkannya. Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah.(154) Al-Ya’qubi di dalam Tarikhnya.(155)

Ibn Hajr di dalam fasal yang kelima daripada bab pertama bukunya al-Sawa’iq al-Muhriqah berkata: Ini adalah hadith sahih. Ianya telah diriwayatkan oleh golongan yang banyak seperti al-Turmudhi, al-Nasa’i dan Ahmad dengan cara yang banyak. Kemudian ianya diriwayatkan tiga puluh sahabat yang telah mendengarnya daripada Nabi SAWAW dan mempersaksikannya di hadapan ‘Ali pada masa pemerintahannya di Rahbah. Kebanyakan sanadnya sahih atau hasan.

Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah(156) berkata: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari pengarang al-Tafsir dan al-Tarikh telah mengumpulkan dua jilid riwayat dan lafaz-lafaznya. Begitu juga al-Hafiz Abu l-Qasim bin ‘Asakir telah meriwayatkan hadith-hadith yang banyak di dalam khutbahnya.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah(157) telah menceritakan daripada Abu l-Ma’ali al-Jawaini yang dikenali dengan Imam al-Haranaini, guru kepada al-Ghazali, bahawa dia menjadi hairan dan berkata: Aku melihat satu jilid buku mengenai hadith Ghadir Khum tertulis di atasnya jilid yang kedua puluh lapan. Ianya mengandungi berbagai riwayat tentang sabda Nabi SAWAW: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….dan ianya akan disusuli dengan jilid yang kedua puluh sembilan.

Sebenarnya hadith-hadith mengenai al-Ghadir yang kami telah kemukakan tadi adalah merupakan sebilangan kecil sahaja, jika dibandingkan dengan hadith-hadith yang telah diriwayatkan di dalam bab ini yang tidak terkira banyaknya.

Ayatullah al-’Uzma Sayyid Hamid Husain al-Nisaburi RH di dalam ‘Abaqat telah menyenaraikan nama-nama perawi yang telah menyebutkan hadith al-Ghadir. Semuanya daripada ulama-ulama besar Ahlu s-Sunnah. Ayatullah al-’Uzma Sayyid Syihab al-Din al-Mar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq  karangan al-Sa’id al-Syahid al-Qadhi Nur Allah al-Tastari, al-Allamah al-Amini di dalam bukunya al-Ghadir. Begitu juga al-Imam al-Sayyid bin Tawus RH di dalam bukunya al-Iqbal (hlm. 663) telah menyenaraikan nama-nama ulama besar Ahlu s-Sunnah bahawa sesungguhnya mereka telah meriwayatkan hadith al-Ghadir dan memperakukan kesahihannya. Rujuklah kepada buku-buku tersebut wahai pembaca yang budiman!

Tahniah para sahabat kepada ‘Ali kerana jawatan Khalifah

Manakala Rasulullah SAWAW memberi khutbahnya yang penuh bersejarah, beliau memerintahkan orang yang menyaksikan peristiwa itu termasuk Abu Bakr, Umar, syaikh-syaikh Quraisy dan pembesar-pembesar kaum Ansar, isteri-isteri beliau supaya tampil mengucap tahniah kepada Amiru l-Mukminin AS kerana memegang jawatan al-Wilayah, pelaksanaan, suruhan dan larangan di dalam agama Allah SWT.

Sebilangan besar para ulama Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah meriwayatkannya di antaranya:

Al-Tabari di dalam bukunya al-Wilayah(158) telah meriwawatkan hadith dengan sanadnya daripada Zaid bin Arqam dan diakhirnya dia berkata: Orang yang pertama berjabat tangan (salam) dengan Nabi SAWAW dan ‘Ali ialah Abu Bakar, ‘Umar, Uthman, Talhah, Zubair, Muhajirin, Ansar, dan lain-lain sehingga beliau mengerjakan solat Zuhr dan ‘Asr berjama’ah di dalam satu masa dan berpanjangan sehingga beliau SAWAW mengerjakan solat al-’Isya’in (solat Maghrib dan Isyak) di dalam satu masa. Para sahabat meneruskan bai’ah dan bertepuk tangan tiga kali.

Al-Dar al-Qutni: Ibn Hajr telah meriwayatkan daripadanya di dalam fasal kelima, bab pertama al-Sawa’iq al-Muhriqah bahawa Abu Bakar dan ‘Umar manakala kedua-duanya mendengar hadith al-Ghadir, mereka berkata kepada Imam ‘Ali AS: Andalah maula bagi setiap mukmin dan mukminah. Dikatakan kepada Umar: Sesungguhnya anda melakukan sesuatu kepada ‘Ali di mana anda tidak melakukannya kepada orang lain daripada sahabat-sahabat Rasulullah SAWAW. Dia menjawab: Sesungguhnya beliau adalah maulaku.

Al-Hafiz Abu Sa’id al-Nisaburi di dalam bukunya Syaraf al-Musfa dengan isnadnya daripada al-Barra’ bin ‘Azib dengan lafaz Ahmad bin Hanbal dan dengan isnad yang lain daripada  Abu Sa’id al-Khudri dan lafaznya. Kemudian Nabi SAWAW bersabda: Kalian ucaplah tahniah kepadaku, kalian ucaplah tahniah kepadaku. Sesungguhnya Allah telah memberi keistimewaanku dengan kenabian, dan memberikan keistimewaan Ahlul Baitku dengan Imamah. Maka Umar bin al-Khattab menemui Amiru l-Mukminin dan berkata: Alangkah beruntungnya anda wahai Abu l-Hassan. Anda menjadi maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminah.

Pengarang Raudhah al-Safa(159) selepas menyebutkan hadith al-Ghadir berkata: Kemudian Rasulullah SAWAW duduk di dalam satu khemah dan menempatkan ‘Ali di khemah yang lain. Beliau menyuruh para sahabat supaya memberi tahniah kepada ‘Ali di dalam khemahnya. Dan apabila orang lelaki selesai mengucap tahniah, beliau menyuruh isteri-isterinya pergi ke khemah dan mengucapkan tahniah kepada ‘Ali AS.

Kuand Amir di dalam Habib al-Siyar(160)  berkata: Kemudian Amiru l-Mukminin ‘Ali AS duduk di khemah khas. Para sahabat Rasulullah SAWAW datang kepadanya dan mengucap tahniah kepadanya. Di antara mereka ialah Abu Bakar dan ‘Umar. ‘Umar berkata: Alangkah beruntungnya anda wahai anak lelaki Abu Talib. Anda telah menjadi maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminah. Kemudian beliau memerintahkan Ummahat al-Mukminin supaya datang kepada ‘Ali AS dan mengucap tahniah kepadanya.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya,(161) al-Tabari di dalam Tafsirnya,(162) Ibn Mardawaih di dalam Tafsirnya,(163) al-Tha’labi di dalam Tafsirnya,(164) al-Baihaqi di dalam al-Sunan,(165) al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya,(166) Ibnu al-Maqhazali di dalam Manaqibnya(167), al-Ghazali di dalam Sirr al-’Alamain,(168) al-Syarastani di dalam al-Milal wa al-Nihal,(169) Abu l-Faraj Ibn al-Jauzi al-Hanbali di dalam Manaqibnya,(170) Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib,(171) al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib,(172)Muhibuddin al-Tabari di dalam Riyadh al-Nadhirah,(173) al-Hamawaini di dalam al-Fara’id al-Simtin(174) bab ketiga belas.

Abu l-Fida’, Ibn Kathir al-Syafi’i di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah,(175) al-Muqrizi di dalam al-Khutat,(176) Ibn Sibagh al-Maliki di dalam al-Fusul al-Muhimmah,(177) al-Suyuti di dalam Jami’ al-Jawami’,(178) al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-’Ummal,(179) al-Samhudi di dalam Wafa’ al-Wafa bi Akhbar Dar al-Mustafa.(180)

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah(181) dan lain-lain yang terdiri daripada ulama-ulama hadith, Tafsir, dan sejarah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah di mana kami tidak dapat menyenaraikan kesemua nama-nama mereka di dalam buku kami ini. Mereka semua meriwayatkan hadith ini di dalam musnad-musnad dan sahih-sahih mereka daripada perawi-perawi yang thiqah yang berakhir bukan hanya kepada seorang sahabat seperti Ibn ‘Abbas, Abu Hurairah, al-Barra’ bin ‘Azib, Zaid bin Arqam dan lain-lain.

Kata-kata yang agak menarik ialah ucapan yang dikatakan oleh al-Ghazali di dalam bukunya Sirr al-’Alamain:(182)Hujah telah terang, jumhur telah sepakat bahawa teks hadith adalah khutbah Rasulullah SAWAW di Hari al-Ghadir. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….’Umar berkata: Alangkah bahagianya anda wahai Abu l-Hasan. Anda telah menjadi maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminat. Ini adalah satu penyerahan, keredhaan dan pertimbangan yagn waras. Kemudian hawa nafsu lebih mencintai pangkat dan segala-galanya sehingga membawa kepada perselisihan dan pembunuhan. Lantaran itu mereka meninggalkan kebenaran di belakang lalu membelinya dengan harga yang murah. Maka sejahat-jahat apa yang mereka lakukan.

Segala puji bagi Allah yang telah membuat al-Ghazali bercakap benar di mana ianya adalah hujah kami dan ianya mengukuhkan dakwaan kami sebagaimana tertulis di dalam bukunya Sirr al-’Alamain. Kerana Allah membuatkan lidahnya bercakap dengan kebenaran dan menjelaskan hakikat yang sebenarnya, meskipun dia seorang yang dikenali dengan fanatik dan keras. Sebagaimana kata seorang pujangga: Kebenaran membuat orang yang insaf dan degil bercakap.

Tetapi apa yang mendukacitakan kami ialah sikap Ahlu s-Sunnah apabila seorang daripada mereka mengemukakan dalil yang mengukuhkan dakwaan Syi’ah tentang hak ‘Ali Amirul Mukminin dan anak-anaknya tentang jawatan khalifah, lantas mereka menuduhnya sebagai seorang Syi’ah sekalipun kami melihat mereka begitu fanatik kepada mazhab mereka. Mereka menuduh Syi’ah dengan pembohongan, tetapi Allah SWT membuatkan lidahnya bercakap benar secara sukarela ataupun tidak. Maka dia bercakap benar kerana kebenaran itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya.

Syi’ah adalah orang yang mempunyai ilmu kebenaran dan ijtihad. Mereka memenuhi bumi Allah dengan keilmuan, amalan, dan kebenaran di dalam percakapan meskipun musuh-musuh mereka memperkatakan apa yang mereka mahu dengan penuh pembohongan dan rekaan semata-mata.

Perhatikanlah wahai pembaca budiman. Bagaimana Allah SWT mendedahkan kebenaran Syi’ah sekalipun lama masanya terpendam, pasti akan  terserlah juga sama ada Ahlu s-Sunnah mahu ataupun tidak. Dan kebatilan pasti pudar juga sama ada mereka mahu ataupun tidak.

Aku pun telah mengemukakan kepada anda di dalam buku ini sebahagian daripada hadith-hadith yang berkaitan dengan hari al-Ghadir, sedangkan banyak lagi hadith-hadith yang ada kaitan dengannya dipandang sepi oleh Ahlu s-Sunnah kerana hasad  dan kemarahan mereka terhadap Amiru l-Mukminin AS. Lebih-lebih lagi di masa Muawiyah memegang jawatan khalifah. Sekalipun tekanan-tekanan yang kuat telah dilakukan kepada perawi-perawi hadith tentang hak Abu Turab (‘Ali AS) tetapi Allah menghendaki supaya kebenaran Amiru l-Mukminin terserlah dan memenuhi bumi ini dengan kelebihan-kelebihannya AS.

Di sini aku cuba meringkaskan apa yang telah aku kemukakan mengenai hadith al-Ghadir kerana ianya sudah memadai bagi orang yang mempunyai fikiran yang waras. Jikalau aku ingin membentangkan kesemuanya, nescaya aku akan menulis buku yang lebih tebal dan berjilid-jilid dan ini adalah bertentangan dengan “buku ringkas” yang aku telah janjikan kepada pembaca yang budiman.

Dan sesiapa yang ingin mendapatkan keterangan yang lebih lanjut mengenainya, hendaklah membuat rujukan kepada buku-buku yang telah aku sebutkan terlebih dahulu yang mengandungi dalil-dalil yang jelas tentang keutamaan Amiru l-Mukminin ‘Ali AS menjadi khalifah daripada orang lain.

Kerana apa yang dimaksudkan dengan perkataan al-Maula ialah aula di dalam segala urusan. Pengertian ini telah dikenali dari sudut bahasa dan penggunaannya di dalam al-Qur’an al-Nar aula-kum (api neraka itu adalah lebih utama untuk kalian) iaitu aula dengan kalian. Akhtal berkata: Maulanya mengandungi semua manusia.

Rasulullah SAWAW telah menentukan pengertian al-Maula di dalam sabdanya: Tidakkah aku aula dari kalian? Justeru itu beliau mengikutinya terus dengan sabdanya: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….Iaitu siapa yang aku aula dengannya daripada dirinya maka ‘Ali adalah aula dengannya daripada dirinya sendiri.

Maka ‘Ali AS aula di dalam pengurusan mereka. Dan beliau tidak menjadi aula melainkan apabila beliau menjadi khalifah dan imam. Ini merupakan nas yang terang menghendaki pimpinan ugama dan dunia. Kerana orang yang aula dengan ummat ini ialah Nabi dan Imam AS. sebagaimana urutan ayat terdahulu. Lagipun pengertian tersebut telah difahami oleh orang-orang yang fasih dengan madlul Bahasa Arab seperti Umar bin al-Khattab, Hasan bin Tsabit, Harith bin al-Nu’man al-Fihri sebagaimana anda mengetahui ucapan-ucapan mereka yang lalu. Oleh itu tidak seorangpun harus mendahului Rasulullah SAWAW sebagaimana juga ia tidak harus mendahului ‘Ali AS.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahawa maula yang dimaksudkan ialah aula yang memberi pengertian imamah dan imarah (pemerintahan), ialah tahniah para sahabat kepada ‘Ali AS sebagaimana aku telah menyebutkannya terlebih dahulu. Tidak ada dorongan yang lain bagi Abu Bakar dan Umar mengucap tahniah kepada ‘Ali apabila mereka berdua mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi SAWAW melainkan mereka berdua memahami perkataan maula iaitu imamah dan imarah. Inilah yang menyebabkan mereka berdua mengucap tahniah kepada ‘Ali AS. Bukan dengan pengertian pembantu (al-Nasir) atau pertolongan (al-Nusrah) yang diketahui oleh mereka dan ‘Ali AS. Dan tidaklah tepat jika para sahabat mengucap tahniah kepadanya disebabkan perkara-perkara biasa yang dilakukan olehnya (‘Ali AS).

Sebagaimana dorongan Umar bin al-Khattab melakukan kepada ‘Ali AS apa yang tidak dilakukan terhadap sahabat-sahabat Rasulullah SAWAW yang lain. Dia berkata: Beliau adalah maulaku. Iaitu apa yang dia memahami dan mengetahui pengertian al-imarah dan al-imamah bukan pengertian pembantu(al-Nasir) kerana ianya merupakan jawapan yang tidak memberi erti kerana pengertiannya: Beliaulah pembantuku. Dan apabila orang bertanya tadi jahil tentang pertolongan sahahat-sahabat Nabi SAWAW sesama mereka. Umar bin al-Khattab menjawab: Sesungguhnya ‘Ali adalah pembantuku. Sekiranya pengertian itulah yang dimaksudkan oleh Nabi SAWAW dan difahami oleh Umar bin al-Khattab, kenapa dia begitu marah kepada dua orang badwi yang sedang bertengkar. Dia berkata kepada ‘Ali AS: Adililah mereka berdua wahai Abu l-Hasan. Salah seorang daripada mereka berkata dengan angkuh: Lelaki inikah yang akan mengadili kamu berdua? Lalu Umar memarahkan badwi itu dan berkata: Celaka anda! Anda tidak mengetahui siapa ini? Ini adalah maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminat.

Pada masa yang lain pula Umar bertengkar dengan seorang lelaki di dalam satu masalah. Umar berkata: Lelaki yang sedang duduk itu akan mengadili aku dan anda. Dia mengisyaratkan kepada ‘Ali  AS. Maka lelaki itu menjawab: Ini hanyalah suku Arab biasa. Manakala Umar mengetahui bahawa lelaki itu merendahkan Ali dan memperkecilkannya, Umar terus berdiri dari tempat duduknya dan memegang pada pakaian lelaki itu sehingga dia mengangkatnya dari tanah. Kemudian dia berkata: Adakah anda mengetahui siapakah orang yang anda memperkecilkannya? Beliau adalah maulaku dan maula setiap mukmin.

Perhatikanlah wahai pembaca yang budiman, manakala dia berkata kepadanya: Adakah anda mengetahui siapakah orang yang anda memperkecilkannya? Beliaulah maulaku dan maula setiap mukmin. Kenyataan ini telah dipindahkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah(183) dan al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya(184) dengan beberapa riwayat yang sahih daripada Umar.

Sekiranya Umar tidak memahami perkataan maula sebagai al-imarah dan al-imamah, nescaya dia akan menjawab: Ini adalah pembantuku dan pembantu setiap muslim. Lihatlah betapa Umar begitu terkilan dan marah terhadap sikap lawannya yang memperkecilkan Ali AS. Katakanlah kepadaku sekiranya dia terkilan dan marah kepada badwi tadi disebabkan dia memperkecilkan pembantunya. Lantas dia ingin mengajar lelaki itu mengenainya dengan berdiri?

Sekiranya pembantunya bukan Ali maka dia bukanlah mukmin atau muslim. Adakah ini yang merisau dan memarahkan Umar? Atau perkara lain di sebalik itu yang lebih sesuai bagi Umar untuk bangun dari tempat duduknya memarahi lelaki itu dan lebih layak dia memarahinya? Ya! Demi kebenaran. Dia tidak merasa cemas dan marah kepadanya (badwi) melainkan dia mengetahui bahawa Ali AS adalah aula dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri. Justeru itu Umar mengambil tindakan yang serius dan menentang orang yang memperkecilkannya (‘Ali).

Dengan ini jelaslah apa yang didengarinya daripada Rasulullah SAWAW kemudian dia memperkuatkannya ke atas dirinya dan Mukminin pada masa itu di mana dia dan Mukminin mengucap tahniah kepadanya (‘Ali). Sebagaimana dicintai Allah SWT bahawa sesungguhnya beliaulah maula dan maula setiap muslim. Dan sesiapa orang yang tidak menjadikannya sebagai maulanya, maka dia bukanlah muslim sekalipun tanpa wilayah Nabi SAWAW. Di dalam keadaan demikian tidaklah patut bagi Umar jika maksud maula adalah pembantu.

Jikalaulah begitu bagaimana seorang itu boleh berada di dalam kesamaran jika maula dimaksudkan pembantu? Demikianlah percakapan Arab difahami sehingga ia menjadi percakapan yang fasih dan selari dengan keadaan semasa.

Di samping itu juga maula dengan pengertian pembantu membawa kepada pembohongan terhadap sabda Rasulullah SAWAW (wa l-’Iyazu bi Ilahi min Dhalika) kerana beberapa banyak berlaku penentangan terhadap agama dan perubahan peraturan pada umat ini selepas kematian beliau SAWAW. Kedua-duanya telah dilakukan oleh orang yang zalim dan orang yang dizalimi secara paksa serta orang murtad yang lari.

Kesemuanya itu dilihat dan didengari oleh Amiru l-Mukminin yang tinggal di rumahnya lebih dua puluh empat tahun, tidak pernah berhasrat untuk mendapat pertolongan daripada orang lain sehingga orang yang berada di dalam rumahnya. Sejarah telah memberitahukan kita tentang pertolongannya atau kemenangan ummah dengannya. Oleh itu di manakah sabdanya SAWAW: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…..iaitu pembantuku dan di  manakah bantuan ‘Ali AS pada masa itu dan orang yang membantunya?

Adapun apa yang telah ditakwilkan oleh orang yang mempunyai tujuan yang jahat dan mempunyai akhlak yang keji seperti Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah, pada fasal kelima daripada bab pertama, al-Qausyaji di dalam Syarh al-Tajrid(185)dan orang yang seumpama mereka bahawa maksud maula sebagai pencinta, pembantu sebagaimana yang telah disebutkan, adalah terbatal kerana ianya bertentangan dengan sabda Nabi SAWAW. Lagipun cinta dan bantuan adalah perkara-perkara yang diketahui oleh semua Muslimin, tanpa memerlukan keterangan kerana ayat al-Qur’an dan hadith telah menerangkannya. Sebagaimana firmanNya di dalam Surah al-Hujurat(49): 10:”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara. Dan firmanNya Surah al-Taubah (9): 71:”Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.”Dan firmanNya Surah al-Fath(48): 29:”Dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir” tidak memerlukan keterangan lagi.

Adapun wahyu yang mengancam Rasulullah SAWAW jika beliau tidak menyampaikannya, lalu beliau melaksanakan apa yang diperintahkannya dengan penuh kesulitan, menunjukkan bahawa ianya perkara yang besar dan memerlukan kepada keterangan iaitu awaliyyah (keutamaan) di dalam pengendalian urusan manusia. Ianya diturunkan di hadapan lebih daripada seratus dua puluh ribu sahabat di padang pasir yang panas. Beliau mengangkat tangan ‘Ali AS sambi bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.

Jikalau maksudnya ialah suatu penerangan cinta dan bantuan, maka kenapa diturunkan ayat Ikmaluddin (Surah al-Maidah(5):3″Pada hari ini telahKu sempurnakan bagimu agamamu….”Ketika turunnya ayat (Surah al-Hujurat(49):10)”Sesungguhnya orang mukmin adalah bersaudara.”Aku berkata: Ini adalah cukup bagi orang yang mempunyai fikiran yang waras, dan juga menjadi hujah yang pemutus ke atas lawan yang menentang dakwaan Syi’ah mengenai hak Amiru l-Mukminin ‘Ali AS terhadap jawatan khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWAW. Kami mempunyai dalil yang banyak untuk mengukuhkan dakwaan kami tentang hak ‘Ali selepas Rasulullah SAWAW secara langsung selain daripada apa yang kami telah kemukakan. Terdapat ramai ulama Sunnah dan Syi’ah yang telah mengarang buku-buku mengenai al-Ghadir. Mereka menyebutkannya di dalam buku-buku mereka yang tidak terkira banyaknya.

Ketahuilah sesungguhnya aku telah mengemukakan kepada anda enam ayat daripada al-Qur’an, iaitu:

1.Ayat al-Wilayah (Surah al-Maidah(5): 55)

2. Ayat al-Tathir (Surah al-Ahzab(33: 33)

3. Ayat al-Mubahalah (Surah Ali Imran(3): 61)

4. Ayat al-Mawaddah (Surah al-Syu’ara(42): 23)

5. Ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah(5): 67)

Kesemua ayat-ayat ini menunjukkan keistimewaan Amiru l-Mukminin ‘Ali AS terhadap jawatan khalifah sebaik sahaja kewafatan Nabi SAWAW dengan nas yang pemutus. Sehingga tidak ada ruang bagi si penipu untuk menentang dakwaan kami tentang hak ‘Ali AS. Lantaran itu jawatan khalifah untuk ‘Ali AS telah terserlah dengan enam ayat al-Qur’an yang telah diriwayatkan oleh ulama Ahlu s-Sunnah di samping para ulama syi’ah.

Oleh itu sayugialah bagi setiap orang yang mempunyai hati yang merdeka dan sejahtera supaya menyerahkan diri mereka kepada kebenaran dan tinggallah pertarungan yang wujud di antara Sunnah dan Syi’ah. Kerana Syi’ah tidak membawa sesuatu perkara begitu sahaja malah mereka telah mengukuhkan dakwaan mereka dengan al-Qur’an dan Sunnah. Justeru itu kenapa orang yang menetapkan dakwaannya dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWAW dicela, sedangkan banyak pendapat-pendapat  ulama besar mereka menyalahi mazhabnya?

Untuk menambahkan apa yang aku kemukakan kepada anda, Sa’id al-Syahid al-Qandhi Nur Allah al-Tastari RH telah mencatat di dalam Ihqaq al-Haq, Jilid ketiga, cetakan Iran, lapan puluh dua ayat yang lain di antara ayat-ayat yang turun mengenai Amiru l-Mukminin ‘Ali dan Ahlu l-Baitnya AS. Dan dia telah menyebutkan rujukan Ahlu s-Sunnah mengenainya secara terperinci.

Wahai pembaca yang budiman adalah alasan lain lagi selepas ini bagi orang yang mengesyaki keutamaan ‘Ali AS menjadi khalifah dan wasinya selain daripada orang yang angkuh dan degil kepada hati kecilnya atau tidak ingin melihat kepada apa yang telah kami kemukakan, sekalipun ianya terang seperti api di atas menara, matahari di siang hari. Aku tidak  mengetahui apakah keuzuran yang telah disediakan oleh Ahlu s-Sunnah di hari hisab kelak, di mana segala perkara akan diperlihatkan di hari itu dan hati akan sampai ke kerongkong.

Sampai bilakah penentangan mereka terhadap buku-buku Syi’ah yang baik? Dan sampai bilakah kedegilan dan kebebalan ini? dan sehingga bilakah penentangan mereka terhadap hak Rasulullah SAWAW, wasinya dan menantunya Amiru l-Mukminin ‘Ali. Wahai Tuhanku persaksikanlah sesungguhnya kami telah menyempurnakan hujah dan permudahkanlah jalan untuk saudara-saudara kami Ahlu s-Sunnah.

Wahai Tuhanku! Berikanlah hidayah kepada mereka sebagaimana Engkau telah memberikannya kepada kami. Sesungguhnya Engkau adalah Penunjuk dan Mursyid kepada jalan yang benar. Dan Engkau telah berfirman di dalam al-Qur’an (Surah al-Insan (76): 3):”Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

Endnote

127. Tafsir al-Manar, III, hlm. 463.

128. al-Durr al-Manthur, II, hlm. 259.

129. Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 290.

130. Tarikh al-Ya’qubi, II, hlm. 32.

131. Nur al-Absar, hlm. 75.

132. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 26-27.

133. Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 19.

134. al-Musnad, IV, hlm. 382.

135. al-Musnad, IV, I, 52 & 368.

136. al-Sunan, I, hlm. 55 -56.

137. Khasa’is ‘Ali, hlm. 22.

138. al-’Aqd al-Farid, III, hlm. 38.

139. Tarikh al-Khulafa’, hlm. 65.

140. Kunuz al-Haqa’iq di Hamisy al-Jami’ al-Saghir, II, hlm. 117.

141. Is’af al-Raghibin di Hamisy Nur al-Absar, hlm. 51.

142. Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 170.

143. Masabih al-Sunnah, II, hlm. 220.

144. Hilyah al-Auliya’, IV, hlm. 23; Nathr al-Li’ali, hlm. 166.

145. Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 10; Syaraf al-Muabbah, III.

146. Tarikh Baghdad, VII, hlm. 377.

147. Asbab al-Nuzul, hlm. 150.

148. Matalib al-Su’ul, hlm. 100.

149. Mafatih al-Ghaib, XII, hlm. 50.

150. Tafsir al-Tha’labi, III, hlm. 120.

151. Al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 23.

152. Sahih, II, hlm. 297.

153. al-Mustadrak, III, hlm. 109.

154. al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 208.

155. Tarikh al-Ya’qubi, II, hlm. 93.

156. al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 208.

157. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 30.

158. Kitab al-Wilayah, hlm. 18 dan seterusnya.

159. Raudhah al-Safa, I, hlm. 173.

160. Habib al-Siyar, III, hlm. 144.

161. al-Musnad, IV, hlm. 281.

162. Jami’ li Ahkam al-Qur’an, III, hlm. 428.

163. Tafsri al-Mardawaih, hlm. 58.

164. Tafsir al-Tha’labi, III, hlm. 428.

165. Al-Sunan, I, hlm. 55-58.

166. Tarikh al-Baghdad, VIII, hlm. 378.

167. al-Manaqib, hlm. 48-50.

168. Sir al-’Alamain, hlm. 9.

169. al-Milal wa l-Nihal, hlm. 9-14.

170. al-Manaqib, hlm. 49.-60.

171. al-Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 636.

172. Kifayah al-Talib, hlm. 48-52.

173. Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 169.

174. al-Fara’id al-Simtin, hlm. 50-61.

175. al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 209.

176. al-Khutat, II, hlm. 223.

177. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 25.

178. Jami’ al-Jawami’, hlm. 50-62.

179. Kanz al-Ummal, IV, hlm. 397.

180. Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Dar Al-Mustafa, II, hlm. 173.

181. al-Sawa’iq a-Muhriqah, hlm. 26.

182. Sirr al-’Alamain, hlm. 9-13.

183. Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 170.

184. al-Manaqib, hlm. 97.

185. Syarh al-Tajrid, hlm. 45

.

Syi’ah dan Sunnah Nabawiyyah

 

Syi’ah adalah mereka yang mengambil sunnah nabawiyyah yang dibawa oleh penghulu para Nabi AS. Mereka tidak berganjak sedikitpun dari landasannya semenjak hari pengisytiharan dakwah sehingga hari ini dan selepas hari ini. Mereka terus berpegang kepada al-’Urwah al-Wuthqa berjalan di atas landasannya yang benar. Mereka mengambilnya dari para imam yang suci dari segala kesalahan. Mereka mengikut sunnah tanpa syak padanya. Oleh itu mereka tidak mengambil riwayat selain daripada para imam dengan sanad mereka yang dipercayai; imam maksum daripada imam maksum seumpamanya, daripada Rasulullah daripada Jibra’il daripada Allah Rabu l-jalil. Di dalam ertikata yang lain, mereka mengambil hukum-hukum daripada hadith-hadith Nabi SAWAW dan para imam AS, perbuatan dan taqrir mereka sebagaimana tertulis di dalam al-Usul.

 

Lantaran itu penulis-penulis sirah dan sejarah tidak memberitahukan kita bahawa sesungguhnya seorang imam daripada para imam dua belas telah mengambil hadith daripada seorang sahabat, tabi’in atau orang lain. Sebaliknya orang ramai mengambilnya daripada mereka tetapi mereka tidak mengambilnya daripada orang lain.

 

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:”Aneh sekali mereka berkata: Mereka mengambil ilmu mereka semuanya daripada Rasulullah SAWAW. Lantas mereka mengetahui dan mendapat petunjuk daripadanya. Mereka fikir kami Ahlu l-Bait tidak mengambil ilmunya dan kami tidak mendapat petunjuk daripadanya. Sedangkan kami keluarganya dan zuriatnya. Di rumah kamilah turunnya wahyu. Dan dari kamilah ia mengalir kepada orang ramai. Adakah anda fikir merekalah yang mengetahui dan mendapat petunjuk sementara kami jahil dan sesat?

Imam Baqir AS berkata:”Sekiranya kami memberitahukan kepada orang ramai menurut pendapat dan hawa nafsu kami, nescaya kami binasa. Tetapi kami memberitahukan mereka dengan hadith-hadith yang kami kumpulkannya daripada Rasulullah SAWAW sebagaimana mereka mengumpulkan emas dan perak.”Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:”Hadithku adalah hadith bapaku. Hadith bapaku adalah hadith datukku. Hadith datukku adalah hadith Husain. Hadith Husain adalah Hadith Hasan. Hadith Hasan adalah hadith Amiru l-Mukminin. Hadith Amiru l-Mukminin adalah hadith Rasulullah SAWAW. Dan hadith-hadith Rasulullah SAWAW adalah firman Allah SWT.(1)

 

Dan beliau AS berkata:”Siapa yang meriwayatkan hadith tentang kami, maka kami akan bertanya kepadanya mengenainya di suatu hari. Sekiranya dia meriwayatkan kebenaran terhadap kami, seolah-olah dia meriwayatkan kebenaran terhadap Allah dan RasulNya. Dan sekiranya ia berbohong terhadap kami, seolah-olah dia berbohong terhadap Allah dan RasulNya, kerana kami apabila meriwayatkan hadith, kami tidak berkata: Fulan bin Fulan telah berkata, tetapi apa yang kami katakan: Allah berfirman dan RasulNya bersabda.”

 

Kemudian Syi’ah tidak mengamalkan mana-mana hadith yang datang daripada seorang muhaddith, atau riwayat yang datang daripada seorang perawi melainkan ianya sejajar dengan riwayat-riwayat yang datang daripada para imam yang suci AS, dan akan diperakukan oleh al-Qur’an ketika pembentangan dilakukan ke atasnya. Kerana mereka mengetahui dengan jelas apa yang telah berlaku ada masa Bani Umayyah, terutamanya pada masa thagut Muawiyah. Di mana hadith pada masa itu diperniagakan, perawi diberi upah mengikut kadar keberkesanan hadith (palsu)nya ke atas orang ramai sama ada dalam bentuk pujian atau cacian sebagaimana satu riwayat yang telah diriwayatkan oleh orang kepercayaan Muawiyah,”Tiga orang yang diamanahkan di dalam agama: Aku, Jibra’il, dan Muawiyah,” sebagaimana juga riwayat yang menjadikannya penulis wahyu dan Khal al-Mukmin, dan hadith pembukaan Makkah:”Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan adalah aman” seolah-olah dia menjadikannya “haram” sebagaimana Baitu l-Haram. Dan khutbah-khutbah yang menakutkan dan riwayat-riwayat yang mencela Imam Ali Amiru l-Mukminin dan keluarganya sehingga ‘Ali AS dicela di atas tujuh puluh ribu mimbar masjid.

 

Justeru itu Syi’ah tidak menerima riwayat-riwayat daripada perawi-perawi yang memalsukan hadith seperti mereka itu. Muawiyah telah menamakan dirinya dan orang yang menyokongnya dengan nama Ahlu l-Sunnah wa l-Jama’ah pada masa itu sebagai penipuan (kaidan) kepada Syi’ah ‘Ali AS. Oleh itu Syi’ah pada hakikatnya merekalah Ahlu s-Sunnah (Sunniyyun). Kerana mereka mengambil sunnah dari sumbernya yang asli, yang telah ditapis oleh orang-orang yang baik dan perawi-perawi yang terpilih.

 

Mereka mengambil hadith dan sunnah nabawiyyah daripada imam-imam, penghulu-penghulu mereka sebagaimana mereka menerimanya daripada penghulu para Nabi AS kerana mereka percaya bahawa hadith-hadith mereka adalah daripada Rasulullah SAWAW tanpa ijithad daripada mereka. Lantaran itu mereka mengambil(nya) daripada mereka dengan penuh keyakinan tanpa syak dan penentangan. Mereka bertanya kepada mereka di dalam semua hal yang mereka perlu. Oleh itu hadith-hadith riwayat mereka meliputi segala aspek.

 

Justeru itu tidak hairanlah jika Imam Ja’far al-Sadiq AS di datangi oleh beribu-ribu cerdik pandai sehingga Abu l-Hasan al-Wasya berkata kepada penduduk Kufah: Aku dapati masjid Kufah ini lebih daripada empat ribu syaikh yang warak. Semuanya berkata: Haddathani Ja’far bin Muhammad (Ja’far bin Muhammad telah meriwayatkan hadith kepadaku).

Di sinilah aku akan kemukakan sebahagian daripada hadith-hadith dan sunnah nabawiyyah yang menyokong dakwaan Syi’ah dan kebenaran mereka menurut apa yang dibawa oleh Rasulullah SAWAW dan imam-imam yang suci AS seperti berikut:

 

1. Hadith al-Dar atau al-Indhar (Hadith jemputan di rumah atau hadith peringatan)

 

Sabda Nabi SAWAW:”Ini ‘Ali saudaraku, wazirku, wasiku dan khalifahku selepasku.”

 

Hadith ini telah diriwayatkan oleh para penghafal, para ulama hadith, sirah, dan sejarah dari golongan Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka. Mereka mengakui kesahihan dan kemuliaannya serta perawinya yang ramai. Lantaran itu tidak hairanlah jika ianya diterima oleh sejarawan-sejarawan umat Islam kerana ianya adalah jelas dan  nyata, tidak ada kesamaran lagi bahawa hadith ini datangnya daripada Rasulullah SAWAW pada permulaan dakwahnya.

 

Al-Tabari telah menyebutkannya di dalam Tarikhnya(2) daripada Abu Hamid bahawa dia berkata:”Salmah telah memberitahukan kami dan dia berkata: Muhammad b. Ishak telah memberitahukan kepadaku daripada ‘Abdu l-Ghaffar b. al-Qasim daripada al-Minhal daripada ‘Umar daripada ‘Abdullah b. al-Harith b. Naufal b. al-Harith b. ‘Abdu l-Muttalib daripada ‘Abdullah b. ‘Abbas daripada ‘Ali bin Abu Talib AS berkata:Manakala ayat al-Indhar (al-Syuara’(26): 214):”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” diturunkan ke atas Rasulullah SAWAW, beliau memanggilku dan berkata: Wahai ‘Ali! Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku supaya memberi peringatan kepada keluarga anda yang terdekat. Maka akupun merasa cemas, kerana aku mengetahui bahawa apabila aku kemukakan kepada mereka perkara ini, aku akan lihat apa yang aku tidak meyukainya. Maka beliau terus berdiam diri mengenainya sehingga datang Jibra’il dan berkata: Wahai Muhammad! Sekiranya anda masih tidak melaksanakan apa yang diperintahkan kepada anda, nescaya anda akan disiksa oleh Tuhan anda.

 

Justeru itu sedialah (wahai ‘Ali) untuk kami segantang makanan dan letakkan di atasnya satu kaki kambing serta isikan untuk kami satu bekas yang berisi susu. Kemudian kumpulkan untukku Bani Abdu -Muttalib sehingga aku sendiri bercakap kepada mereka dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepadaku. Maka aku melakukan apa yang diperintahkannya. Kemudian aku menjemputkan mereka untuknya.

 

Bilangan mereka pada hari itu lebih kurang empat puluh orang lelaki. Di antaranya bapa-bapa saudaranya Abu Talib, Hamzah, al-’Abbas dan Abu Lahab. Apabila sahaja mereka berkumpul di tempatnya, beliau memanggilku supaya membawa makanan yang aku sediakan untuk mereka. Manakala aku meletakkanya, Rasulullah SAWAW mengambil sepotong daging dan memecahkannya dengan giginya. Kemudian mencampakkannya di tepi hidangan itu, kemudian beliau bersabda: Ambillah kalian dengan nama Allah. Orang ramai memakannya sehingga kenyang. Aku tidak melihat melainkan tempat tangan mereka. Demi Allah di mana jiwa ‘Ali di tanganNya. Sekiranya seorang daripada mereka memakannya, nescaya aku tidak dapat mengemukakannya kepada yang lain. Kemudian beliau bersabda:”Berikan minuman kepada mereka semua,” maka aku membawa kepada mereka bekas itu. Mereka meminumnya sehingga puas. Demi Tuhan sekiranya seorang daripada mereka meminumnya nescaya ianya tidak akan mencukupi untuk orang lain.

 

Apabila Rasulullah SAWAW ingin bercakap kepada mereka, Abu Lahab mendahuluinya dan berkata:”Sahabat kalian telah menyihirkan kalian. Maka orang ramaipun bersurai tanpa memberikan kesempatan kepada Rasulullah SAWAW untuk memperkatakan sesuatu kepada mereka. Maka beliau bersabda:”Besok wahai ‘Ali sesungguhnya lelaki ini telah mendahuluiku sebagaimana anda telah mendengarnya. Maka orang ramaipun bersurai sebelum sempat aku memperkatakan kepada mereka. Justeru tiu sedialah makanan untuk kami sebagaimana anda telah menyediakannya kelmarin. Kemudian kumpulkan mereka untukku. Maka akupun  melakukannya. Kemudian aku mengumpulkan mereka. Kemudian beliau memanggilku supaya aku membawa makanan itu. Maka akupun membawanya kepada mereka. Beliau melakukannya sebagaimana beliau telah melakukannya kelmarin. Mereka makan sehingga kenyang. Kemudian beliau bersabda:”Berikan mereka minuman,” maka akupun membawa minuman campuran susu itu.

 

Lalu mereka meminumnya dengan sepuas-puasnya. Kemudian Rasulullah SAWAW bercakap dan bersabda:”Wahai Bani ABdu l-Muttalib! Sesungguhnya demi Tuhan aku tidak mengetahui seorang pemuda Arab yang datang kepada kaumnya dapat mengemukakan apa yang lebih baik daripada apa yang aku kemukankan untuk kalian. Sesungguhnya aku akan membawa kepada kalian kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku supaya menyeru kalian kepadaNya. Maka siapakah di kalangan kalian yang akan membantuku di dalam urusan ini dan dialah yang akan menjadi saudaraku, wasiku, dan khalifahku pada kalian? Dia (‘Ali) berkata: Orang ramai mulai merasa cemas mengenainya. Maka akupun berkata: Sesungguhnya aku adalah orang yang paling muda di kalangan mereka, orang yang paling mengidap sakit mata di kalangan mereka, orang yang paling besar perut di kalangan mereka, dan orang yang paling kecil betisnya di kalangan mereka. Aku, wahai Nabi Allah, akan menjadi wazir anda di dalam perkara itu, maka beliaupun memegang tengkukku. Kemudian dia bersabda:”Sesungguhnya ini adalah saudaraku, wasiku dan khalifahku pada kalian. Maka dengarlah kalian kepadanya, dan patuhilah.” Beliau berkata: Orang ramai bangun dan ketawa sambil berkata kepada Abu Talib, sesungguhnya beliau telah memerintahkan anda supaya mendengar anak anda dan mematuhinya.

 

Al-Allamah al-Amini di dalam bukunya al-Ghadir(3)berkata: Abu Ja’far al-Iskafi al-Mu’tazili al-Baghdadi di dalam bukunya Naqd al-’Uthmaniyyah(4) telah meriwayatkannya dengan lafaz yang sama dan berkata:”Ianya telah diriwayatkan di dalam hadith yang sahih.”

 

Burhanuddin telah meriwayatkannya di dalam Anba’ Nujaba’ al-Anba’.(5) Ibn al-Athir di dalam al-Kamil(6), Abu l-Fida ‘Imaduddin al-Dimasyqi di dalam Tarikh(7)nya. Syahabuddin al-Khafaji di dalam Syarh al-Syifa’(8) karangan al-Qadhi al-’Ayadh berkata:”Ianya telah disebutkan di dalam Dala’il al-Baihaqi dan lain-lain dengan sanad yang sahih.”

 

Al-Khazin ‘Alauddin al-Baghdadi di dalam Tafsir(9)nya, Al-Suyuti di dalam Jam’ al-Jawami’ yang dinukilkan daripada al-Tabari dan para penghafal yang enam(10) Abu Ishaq, Ibn Jarir, Ibn Abu Hatim, Ibn Mardawaih, Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan Ibn Abu l-Hadid di dalam Syarh Nahj al-Balaghah(11)Ianya telah disebutkan juga oleh Jurji Zaidan di dalam Tarikh al-Tamaddun al-Islami(12)  Muhammad Husain Haikal di dalam Hayat Muhammad.13 Perawi-perawi sanadnya thiqah selain daripada Abu Maryam ‘Abd al-Ghaffar bin al-Qasim yang dianggap lemah oleh Ahlu s-Sunnah kerana dia adalah seorang Syi’ah. Tetapi Ibn ‘Uqdah memujinya sebagaimana di dalam Lisan al-Mizan(14)

 

Hadith ini telah diriwayatkan oleh para penghafal dan mereka adalah pakar-pakar di dalam hadith dan tidak seorangpun daripada mereka menganggap hadith ini sebagai lemah dan cacat disebabkan Abu Maryam di dalam sanad-sanadnya. Malah mereka berhujah dengannya tentang dalil-dalil kenabian dan keistimewaannya. Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad(15)nya menyatakan bahawa semua sanad perawi-perawinya adalah thiqah, mereka ialah Syarik al-A’masy, al-Minhal dan ‘Ubbad.

 

Justeru itu tidaklah hairan jika Ibn Taimiyyah menyatakan ianya adalah hadith yang lemah kerana dia adalah seorang yang fanatik, degil dan sudah menjadi kebiasaan baginya menentang perkara-perkara yang boleh diterima akal dan menolak perkara-perkara yang dharuriyyat. Pendapat-pendapatnya memang sudah dikenali kerana tidak sahnya hadih di sisinya ialah apabila ianya mengandungi unsur-unsur kelebihan keluarga Rasulullah SAWAW.

(Kemudian al-’Allamah al-Amini menyebutkannya di dalam bentuk kedua). Sila buat rujukan kepada bukunya al-Ghadir.

 

Dia berkata:”Ahmad bin Hanbal telah menyatakan di dalam Musnad(16)nya daripada ‘Affan bin Muslim, daripada Abi ‘Awanah, daripada ‘Uthman bin al-Mughirah, daripada Abi Sadiq, daripada Rabi’ah bin Najidh, daripada Ali Amiru l-Mukminin. Dengan sanad dan teks inilah al-Tabari telah menerangkannya di dalam Tarikh(17)nya, al-Nisa’i di dalam Khasa’is(18), al-Kanji al-Syafi’i di dalam al-Kifayah(19), Ibn Abi l-Hadid di dalam Syarh Nahj al-Balaghah(20), al-Suyuti di dalam Jam’ al-Jawami’(21)

(al-Allamah al-Amini telah menyebutkannya di dalam bentuknya yang ketiga). Daripada Amiru l-Mukminin AS berkata:”Manakala turun ayat al-Indhar (Surah al-Syuara’(26): 214):”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” beliau menyeru Bani ‘Abdul Muttalib.” Kemudian dia (al-Amini) berkata:”Hadith ini telah dicatat oleh Ibn Mardawaih dengan sanadnya-sanadnya dan dinukilkannya oleh al-Suyuti di dalam Jami’ al-Jawami’(22), sebagaimana di lakukan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam al-Kanz al-Ummal(23)

 

(al-’Allamah al-Amini telah menyebutkannya di dalam bentuknya yang keempat). Selepas menyebutkannya permulaan hadith, kemudian Rasulullah SAWAW bersabda:”Wahai Bani Abdu l-Muttalib! Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada semua makhluk dan kepada kalian semua. Maka beliau membaca ayat al-Indhar (al-Syuara’(26): 214):”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”Aku menyeru kalian kepada dua kalimah yang ringan di lidah tetapi berat di neraca. Tiada tuhan melainkan Allah dan aku adalah pesuruhNya. Sesiapa yang menyahuti seruanku di dalam perkara ini dan membantuku, dia akan menjadi saudaraku, wazirku,wasiku, pewarisku, dan khalifahku selepasku.”Tidak ada seorang pun daripada mereka menjawabnya. Maka ‘Alipun berdiri dan berkata:”Aku wahai Rasulullah.”Beliau berkata:”Duduklah wahai ‘Ali.”Kemudian beliau mengulanginya kepada mereka kali kedua. Mereka terus berdiam. ‘Alipun berdiri dan berkata:”Akulah wahai Rasulullah.” Maka beliau berkata:”Duduklah.” Kemudian beliau mengulanginya kepada mereka kali ketiga. Maka tidak seorangpun daripada mereka menjawabnya.’Ali terus bangun dan berkata:”Akulah wahai Rasulullah.”Maka Beliau berkata:”Duduklah, maka anda adalah saudaraku, wazirku, wasiku,pewarisku dan khalifah selepasku.”

 

Ibn Abi Hatim dan al-Ya’qubi telah meriwayatkannya dan dinukilkannya daripada mereka berdua oleh Ibn Taimiyah di dalam Minhaj al-Sunnah.(24) Al-Halabi meriwayatkannya daripadanya di dalam Sirah(25)nya.

 

(Kemudian al-’Allamah al-Amini menyebutkannya di dalam bentuk kelima), tentang hadith Qais dan Muawiyah menurut apa yang diriwayatkan oleh Sadiq al-Hilali di dalam bukunya daripada Qais.

(Kemudian al-’Allamah al-Amini menyebutkannya di dalam bentuk yang keenam). Ianya telah dicatat oleh Abu Ishak al-Tha’labi (w.427H.) di dalam tafsirnya al-Kasyf wa l-Bayan(26).Hadith ini juga telah disebutkan oleh al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib(27)

 

(Kemudian al-’Allamah al-Amini menyebutkannya di dalam bentuk ketujuh). Abu Ishak al-Tha’labi telah mengeluarkannya dai dalam al-Kasyf wa l-Bayan daripada Abu Rafi’ sebahagian daripada kata-katanya. Hadith ini juga disebutkan oleh seorang Kristian Mesir di dalam al-Ta’liq ‘Ala al-’Alawiyyah al-Mubarakah(28) dengan lafaz di akhir hadith: Sesiapa yang menyahuti seruanku untuk melakukan perkara ini. Dia telah menyebutkan hadith ini dengan begitu teratur. Buatlah rujukan kepada al-Ghadir(29)

 

Sayyid ‘abd al-Husayn Syarafuddin RH berkata di dalam bukunya al-Muruja’at(30) (Dialog Sunnah dan Syi’ah). Hadith ini iaitu hadith al-Dar telah diriwayatkan oleh Muhammad Husain Haikal di dalam cetakan pertama bukunya Hayat Muhammad. Tetapi dia tidak menyebutkannya di dalam cetakan kedua dan ketiga.

 

Aku berkata:”Telah berlaku keriuhan tentang penetapan hadith ini. Ianya menerangkan kekhalifahan Amiru l-Mukminin ‘Ali AS. Ketika berlakunya keriuhan ini, Muhammad Husain Haikal telah menyiarkan rujukan-rujukan hadith ini di dalam akhbar politiknya di Mesir pada bilangan 2751 yang dikeluarkan pada 12 Dhul Qai’dah 1350H. Sekiranya anda membuat rujukan kepada bilangan 2985, anda akan mendapatinya merujuk hadith ini kepada Muslim di dalam Sahihnya, Ahmad di dalam Musnadnya, ‘Abdullah bin Ahmad di dalam Ziyadat al-Musnad, Ibn Hajr al-Haithami di dalam Jami’ al-Fawa’id, Ibn Qutaibah di dalam ‘Uyun al-Akhbar, Ibn ‘Abd Rabbih di dalam al-’Aqd al-Farid, al-Jahiz di dalam risalahnya daripada Bani Hasyim dan al-Tha’labi di dalam Tafsirnya.”

 

Aku berkata:”Hadith yang mulia ini adalah satu dalil yang terang dan hujah yang pemutus bahawa khalifah selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali bin Abu Talib AS. Kerana Nabi SAWAW telah mengeluarkan perintah ini pada permulaan dakwahnya dan telah menjadikan ‘Ali wazirnya kerana tidak ada seorangpun dikalangan orang-orang yang menghadiri masjlis itu setelah tiga kali dilakukannya menyahut seruannya. Malah pada setiap kali ‘Ali berdiri sambil berkata: Aku wahai Rasulullah dan pada akhirnya Rasulullah SAWAW bersabda kepadanya:”Andalah saudaraku, wazirku, wasiku, khalifahku selepasku. Oleh itu kalian dengar dan patuhilah beliau.”

 

Demi Tuhan anda wahai pembaca yang budiman. Adakah di sana nas yang lebih terang daripada ini tentang khalifah Ali AS selepas Rasulullah SAWAW secara langsung? Wahai Muslimun! Kenapa fanatik terus berlaku sedangkan wujudnya nas yang terang di dalam buku-buku Ahlu s-Sunnah sendiri bahawa kekhalifahan ‘Ali adalah secara langsung. Dan penangguhannya memerlukan dalil dan tidak ada di sana sebarang dalil.

 

2. Hadith Thaqalain (Hadith dua perkara yang berharga)

 

Sabda Nabi SAWAW:”Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian thaqalain (dua perkara yang berharga) Kitab Allah dan itrah Ahlu l-Baitku. Sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya nescaya kalian tidak akan sesat selepasku selama-lamanya.”

 

Hadith ini telah mencapai kemuncak kemasyhurannya sehingga sumber-sumber rujukannya tidak dapat dipertikaikan lagi. Hadith ini telah diriwayatkan oleh Sunnah dan Syi’ah serta mereka mengakui kesahihannya. Malah ianya diketahui oleh segenap lapisan masyarakat dan dihafal oleh orang yang tua dan muda, alim dan jahil. Lantaran itu ianya hampir sampai had kemutawatirannya.

Meskipun perawi-perawinya tidak sepakat mengenai nas hadith ini, tetapi perselisihan pendapat itu tidak akan menambahkan matlamatnya sehingga ia tidak akan menjadi alasan bagi penakwilannya dan tidak akan menjadi sebab bagi melepaskan diri dari beban pengertiannya.

 

Tetapi perselisihan menyaksikan apa yang diperkatakan bahawa Rasulullah SAWAW telah bercakap mengenai pengertian hadith yang mulia ini di beberapa tempat dengan menjaga menyatuan makna serta matlamatnya.

 

Sebagaimana bilangan perawi-perawi di dalam hadith ini dan berbagai cara periwayatannya menggambarkan kepada kita bahawa ianya telah berlaku di beberapa tempat. Di antaranya berlaku di Haji Wida’, di Hari Wida’, di Hari Arafah ketika perhimpunan orang ramai, di Hari Ghadir Khum sebagaimana di dalam khutbahnya. Ianya berlaku ketika Nabi SAWAW sedang gering dan ketika berwasiat kepada ummatnya.

 

Di sini aku kemukakan kepada anda wahai pembaca yang budiman sebahagian daripada nama-nama pemuka Ahlu s-Sunnah yang meriwayatkan hadith thaqalain di dalam sahih-sahih, musnad-musnad, sunan-sunan, tafsir-tafsir, sirah-sirah, tarikh-tarikh mereka seperti berikut:

 

Muslim di dalam Sahih(31)nya mengutip sabda Nabi SAWAW: Aku tinggalkan kepada kalian Thaqalain (dua perkara yang berharga) pertamanya Kitab Allah padanya petunjuk dan cahaya. Oleh itu ambillah kalian dengan Kitab Allah dan peganglah kepadanya. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahlu l-Baitku ini.

 

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad(32)nya daripada Sa’id al-Khudri daripada Nabi SAWAW bersabda: Aku hampir dipanggil (oleh Tuhanku) dan aku segera menyahutinya. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian al-Thaqalain (dua perkara yang berharga) Kitab Allah dan ‘Itrahku. Kitab Allah adalah tali yang terbentang daripada langit ke bumi dan ‘Itrahku Ahlu l-Baitku. Sesungguhnya Allah SWT memberitahuku tentang kedua-duanya. Sesungguhnya kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga dikembali kepadaku di Haudh. Maka kalian jagalah baik-baik kedua peninggalanku itu.

 

Al-Muttaqi al-Hindi meriwayatkan hadith ini di dalam Kanz al-Ummal.(33) Sementara al-Turmudhi di dalam Sahih(34)nya daripada Jabir bin Abdullah al-Ansari dia berkata: Aku melihat Rasulullah SAWAW di Haji Wida’ hari Arafah ketika beliau berada di atas unta dan bersabda: Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian, jika kalian mengambilnya nescaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan ‘Itrah Ahlu l-Baitku. Al-Turmudhi berkata: Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Dhar, Abu Sa’id, Zaid bin Arqam dan Huzaifah bin Usayd.

 

Al-Turmudhi juga meriwayatkannya daripada Zaid bin Arqam bahawa Rasulullah SAWAW bersabda: Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian selama kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selepasku. Salah satunya lebih besar daripada yang lain: Kitab Allah merupakan tali yang terbentang daripada langit dan bumi dan ‘Itrah Ahlu l-Baitku. Kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh. Kalian jagalah baik-baik dan bagaimana kalian memperlakukan kedua-dua peninggalanku. Al-Turmudhi selepas mengeluarkan hadith ini menyatakan bahwa hadith ini adalah hadith Hasan.

 

Al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba,(35) al-Hakim di dalam al-Mustadrak(36) daripada Zaid bin Arqam, sesungguhnya Nabi SAWAW bersabda semasa Haji Wida’: Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian Thaqalain (dua perkara yang berharga) salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitab Allah dan Itrahku. Oleh itu jagalah kedua-duanya peninggalanku itu. Sesungguhnya kedua-duanya itu tidak akan berpisah sehingga dikembalikan di Haudh.

Al-Hakim(37)  selepas mengemukakan hadith ini menyatakan bahawa hadith ini adalah sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim. Juga al-Dhahabi di dalam Talkhis(38)nya.

 

Al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi’ al-Mawaddah(39) meriwayatkan daripada Imam al-Ridha AS bahawa beliau berkata tentang itrah: Mereka disabdakan Rasulullah SAWAW: Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berharga: Kitab Allah dan ‘itrah Ahlu l-Baitku. Sesungguhnya kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh. Dan jagalah baik-baik kedua-dua peninggalanku itu. Wahai manusia, janganlah kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui daripada kalian.

 

Ibn Kathir telah meriwayatkan hadith ini di dalam Tafsir(40)nya.

Ibn Hajr di dalam Sawa’iq nya bab kesebelas menyatakan bahawa hadith ini telah diriwayatkan dengan banyak. Ketahuilah bahawa hadith Thaqalain telah diriwayatkan oleh lebih daripada dua puluh sahabat. Ada yang menyatakan ianya berlaku di Haji Wida’ di Arafah, ada yang menyatakan di Madinah ketika Rasulullah SAWAW sedang gering di mana biliknya dipenuhi oleh para sahabat. Ada yang menyatakan ianya berlaku selepas beliau pulang dari Taif. Walau bagaimanapun ianya tidak menjadi halangan jika beliau mengulangi hadith tersebut di tempat-tempat yang berlainan kerana penekanan beliau yang serius terhadap Kitab Allah dan ‘itrahnya yang suci.

 

Al-Ya’qubi di dalam Tarikh(41)nya menyatakan bahawa Nabi SAWAW bersabda: Aku melintasi kalian ketika kalian dibentangkan di hadapan Haudh. Sesungguhnya aku akan bertanya kepada kalian ketika kalian  dikembalikan kepadaku tentang Thaqalain. Dan lihatlah bagaimana kalian memperlakukan kedua-dua peninggalanku. Mereka bertanya: Apakah Thaqalain (dua perkara yang berharga) wahai Rasulullah SAWAW? Beliau menjawab: Yang pertama adalah yang paling besar iaitu Kitab Allah (berada) ‘di tangan’ Allah dan di tangan kalian. Justeru itu kalian berpeganglah dengannya. Janganlah kalian menjadi sesat, dan janganlah kalian menukarnya dan kedua ‘itrah Ahlu l-Baitku.

 

Al-Darimi telah menyebutkannya di dalam al-Sunan(42), al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is(43)dan al-Khanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib44. Abu Nua’im al-Isfahani di dalam al-Hilyah(45), Ibn al-Kathir al-Jazari di dalam Usd al-Ghabah(46), Ibn Abd Rabbih di dalam al-Iqd al-Farid(47), Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Khawwas(48), al-Halabi al-Syafi’i di dalam Insan al-’Uyun(49), Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib(50), al-Nisaburi di dalam Tafsirnya(51), al-Khazin di dalam Tafsir(52)nya, Ibn Abi l-Hadid di dalam Syarh Nahj al-Balaghah(53), Syablanji di dalam Nur al-Absar(54), Ibn Sibaqh al-Maliki di dalam Fusul al-Muhimmah(55), dan al-Baghawi al-Syafi’i di dalam Masabih al-Sunnah.(56)

 

Sayyid Syarafuddin RH menyatakan di dalam bukunya al-Muraja’at(57) (Dialog Sunnah – Syi’ah) bahawa buku-buku sahih yang mewajibkan berpegang kepada Thaqalain (dua perkara berharga) adalah Mutawatir, dan ianya telah diriwayatkan oleh lebih dua puluh sahabat. Di mana Rasulullah SAWAW telah bersabda di tempat yang banyak, di hari Ghadir Khum, hari Arafah di Haji Wida’, selepas kembalinya dari Taif, di atas mimbar masjidnya di Madinah dan akhirnya di dalam biliknya semasa sakitnya. Bilik di waktu itu dipenuhi oleh para sahabat. Beliau bersabda: Wahai manusia! Hampir nyawaku diambil dengan cepat, dia (Izra’il) sedang datang kepadaku. Dan sesungguhnya aku telah mengemukakan kepada kalian kitab Allah ‘Azza Wa Jalla dan ‘Itrah Ahlul Baitku. Kemudian beliau mengambil tangan ‘Ali lalu mengangkatnya sambil bersabda: Ini ‘Ali bersama al-Qur’an, dan al-Qur’an bersama ‘Ali kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya kembali kepadaku di Haudh.

Anda mengetahui perkataan khutbah SAWAW di hari itu tidaklah berhenti dengan perkataan ini sahaja, tetapi sayangnya politik telah membelenggukan lidah-lidah pakar-pakar hadith, dan menahan pena penulis-penulis. Meskipun titisan yang sedikit (ini) dari lautan itu dan serpihan yang kecil dari keseluruhannya adalah memcukupi. al-Hamdulillah.

 

Sayyid Hasyim al-Bahrani dalam Ghayat al-Muram58 menyatakan bahawa hadith Thaqalain telah diriwayatkan dengan tiga puluh sembilan cara menurut Ahlu l-Sunnah dan lapan puluh dua cara menurut Syi’ah daripada Ahlu l-Bait AS.

 

Ayatullah al-’Uzma Sayyid Mir Hamid Husain al-Nisaburi telah menyebutkan hadith Thaqalain di dalam bukunya ‘Abaqat. Dia telah meriwayatkannya daripada hampir dua ratus para ulama yang besara daripada berbagai  mazhab bermula tahun 102 Hijrah berakhir tahun 113 Hijrah, daripada para sahabat lelaki dan perempuan meriwayatkan hadith yang mulia ini daripada Nabi SAWAW.

 

Aku berkata: Seorang yang insaf akan membuat kesimpulan bahawa hadith Thaqalain jelas menunjukkan kekhalifahan Amiru l-Mukminin dan anak-anak lelakinya semua sebelas orang imam maksum AS kerana Nabi SAWAW telah menyamakan mereka dengan Kitab al-Qur’an. Al-Qur’an adalah rujukan yang pertama bagi ummat Islam, tanpa dipertikaikan lagi sejak permulaan dakwah sehingga akhir dunia. Demikian juga ‘Ali dan kesebelas orang anak-anaknya AS akan mengakhiri dunia ini sepertilah al-Qur’an kerana beliau telah menjadikan dua khalifahnya di dunia ini. Dan kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan kepadanya di Haudh di hari kiamat. Dan beliau telah menjadikan berpegang kepada kedua-duanya sebagai syarat untuk tidak menjadi sesat. Dan sesiapa yang berpaling daripada kedua-duanya akan binasa kerana beliau menyamakan Ahlu -Baitnya dengan kitab Allah dan memerintahkan umatnya supaya berpegang kepada kedua-duanya sekali. Lantaran itu seorang itu tidak harus berpegang kepada salah satu daripada keduanya.

 

Justeru itu setiap mukallaf mesti berpegang kepada Thaqalain. Bukan hanya kepada Kitab Allah sahaja tanpa ‘itrah dan bukan al-’itrah sahaja tanpa Kitab Allah. Oleh itu berpegang kepada kedua-dua sekali kerana ianya merupakan satu ikatan yang tidak dapat dipisahkan kerana ‘itrah adalah lisan yang bercakap untuk kitab yang membisu.

 

Justeru itu kita tidak dinilai sekiranya kita berpegang kepada Kitab Allah tanpa menurut cara mereka. Kerana mengetahui ayat-ayat muhkam, mutasyabih, nasikh dan mansukh dan lain-lain, tidak tepat selain daripada penerangan dan penjelasan mereka. Lantaran itu berpegang kepada kedua-duanya akan menjamin kejayaan seseorang.

 

Dan penentang terhadap kedua-duanya atau salah satu daripadanya akan membawa kepada kebinasaan dan kerugian. Kerana Allah SWT telah memerintahkan orang ramai supaya berpegang kepada kedua-duanya. Rasulullah SAWAW tidak menyuruh orang ramai untuk melakukan sesuatu dengan sia-sia dan tidak menegah sesuatu dengan sia-sia. Kerana beliau tidak bercakap dengan hawa nafsunya malah dengan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Oleh itu berpegang kepada Kitab Allah dan ‘itrah yang suci adalah satu kewajipan bagi menjamin kejayaan manusia seluruhnya dengan nikmat yang abadi.

 

Sayyid Syarafuddin al-Musawi di dalam Muraja’at(59)nya menegaskan bahawa mafhum sabda Nabi SAWAW: Sesungguhnya aku tinggalkan  kepada kalian sekiranya kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan sesat selamanya; Kitab Allah dan ‘itrahku. Iaitu orang yang tidak berpegang kepada kedua-duanya adalah berada di dalam kesesatan.

 

Sebagaimana diperkuatkan oleh Hadith Nabi SAWAW: Janganlah kalian mendahului kedua-duanya nescaya kalian akan binasa dan janganlah kalian mengabaikan kedua-duanya nescaya kalian juga akan binasa. Dan janganlah kalian mengajar mereka kerana mereka itu lebih mengetahui daripada kalian.

 

Ibn Hajr berkata tentang sabdanya SAWAW di dalam al-Sawa’iqnya:”Janganlah kalian mendahului kedua-duanya, maka kalian akan binasa atau janganlah kalian mengabaikan kedua-duanya, nescaya kalian akan binasa. Dan janganlah kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui daripada kalian,(60) adalah dalil ke atas orang yang layak di kalangan mereka untuk memegang jawatan yang tinggi di dalam agama. Dan mereka diutamakan daripada orang lain.

 

Aku berpendapat: Rasulullah SAWAW menamakan Thaqalain kerana kedua-duanya mempunyai nilai yang tinggi. Lantaran itu pakar-pakar bahasa mengatakan setiap yang bernilai tinggi itu thiqal. Kerana berpegang kepada kedua-duanya bukanlah perkara yang mudah. Atau kerana beramal dengan kedua-duanya adalah berat sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibn Hajr dalam al-Sawa’iq Muhriqah bab wasiat Nabi SAWAW. Ini menunjukkan bahawa khilafah dan imamah adalah untuk mereka Ahlu l-Bait AS. Sebagaimana kata seorang penyair:

Mereka menyamai Kitab Allah yang bisu, sedangkan mereka adalah kitab yang bercakap.

 

Dari hadith Thaqalain ini menunjukkan kemaksuman Ahlu l-Bait AS sepertilah kemaksuman al-Qur’an yang tidak syak pada kemaksumannya kerana perintah Nabi SAWAW kepada ummatnya supaya merujuk kepada mereka selepasnya. Oleh itu segala urusan tidak akan diselesaikan melainkan oleh orang yang telah dipelihara dari kesalahan dan dosa. Dan dalil kemaksuman mereka ialah sabitnya kekhalifahan dan imamah untuk mereka. Justeru itu kemaksuman adalah menjadi syarat di dalam Khilafah dan Imamah. Dan orang yang selain daripada mereka tidaklah maksum secara ijmak.

 

3. Hadith al-Manzilah (Hadith mengenai kedudukan ‘Ali dan Harun)

 

Sabdanya SAWAW:”Tidakkah anda meridhai wahai ‘Ali, anda di sisiku seperti Manzilah (kedudukan) Harun di sisi Musa hanya tidak ada nabi selepasku.”

 

Kaum Muslimin bersepakat tentang kesahihan hadith yang mulia ini dan mencatatnya di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka yang muktabar. Sebab berlakunya hadith ini menurut pakar-pakar sejarah Hadih dan Sirah bahawa manakala Nabi SAWAW keluar untuk peperangan Tabuk, beliau melantik ‘Ali AS sebagai penggantinya di Madinah ke atas keluarganya. Maka ‘Ali AS berkata: Aku tidak suka jika anda keluar tanpa aku bersama anda. Maka beliau bersabda:”Tidakkah anda meredhai bahawa kedudukan anda di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya tiada nabi selepasku.”

 

Aku tidak mampu untuk menyebutkan kesemua nama-nama orang yang meriwayatkan hadith ini disebabkan perawi-perawinya terlalu ramai dan rujukan-rujukan yang banyak. Walau bagaimanapun aku akan kemukakan sebahagian daripada perawi-perawi yang masyhur di kalangan ulama Ahlu l-Sunnah bagi mengukuhkan rujukanku dan menyempurnakan tujuanku:

 

al-Bukhari di dalam Sahihnya, III, hlm. 54 di dalam ‘kitab al-Maghazi,’ bab ‘Peperangan Tabuk.’ Dan di dalam jilid keduanya, hlm. 185, bab ‘Bad’ al-Khalq’ tentang keistimewaan Ali bin Abu Talib AS.

 

Muslim di dalam Sahihnya, II, hlm. 236 dan 237 di dalam kitab ‘Fadhl al-Sahabah, ‘bab fadhl Ali AS.’

 

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 98, 118 & 119.

Al-Hakim di dalam al-Mustadraknya, III, hlm. 109, telah memperakui kesahihan hadith ini menurut syarat Bukhari dan Muslim.

 

Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-’Isti’ab, II, hlm. 437, riwayat hidup ‘Ali AS.

 

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 152-153.

 

Ibn Hajr al-Asqalani di dalam al-Isabah, II, hlm. 507, riwayat hidup ‘Ali AS.

 

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 30 dan 74.

 

Al-Syablanji di dalam Nur al-Absar, hlm. 68.

 

Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 65.

 

Ibn ‘Abd Rabbih di dalam al-’Iqd al-Farid, II, hlm. 194.

 

Al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is, hlm. 7.

 

Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, VII, hlm. 196.

 

Ibn Hisyam di dalam al-Sirah, II, hlm. 520.

Abu l-Fida’ di dalam Bidayah wa n-Nihayah, VII, hlm. 339.

 

Al-Muhibb al-Tabari di dalam dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 63.

 

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 204.

 

Al-Khawarizmi di dalam al-Manaqib, hlm. 79.

 

Ibn ‘Asakir di dalam Tarikhnya, IV, hlm. 196.

 

Ibn al-’Athir di dalam Usd al-Ghabah, IV, hlm. 26.

 

Ibn Abi l-Hadid di dalam Syarh Nahj Balaghah, II, hlm. 495.

 

Al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib, hlm. 148.

 

Abu Bakr al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, II, hlm. 432.

 

Ibn al-Jauzi di dalam Safwah al-Safwah, I, hlm. 120.

 

Al-Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 22.

 

Ibn Sa’d di dalam al-Tabaqat al-Kubra, III, hlm. 24.

 

Dan ianya dikutip oleh semua penulis-penulis riwayat hidup Imam Amiru l-Mukminin AS dahulu dan sekarang. Dan ianya juga dikutip oleh setiap orang yang menulis tentang kelebihan Ahlu l-Bait dan kelebihan sahabat, iaitu hadith yang diterima oleh orang dahulu dan sekarang.

 

Aku berkata: Hadith ini menunjukkan keutamaan Amiru l-Mukminin Ali AS menjadi khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung tanpa memberi peluang bagi orang yang mengingkarinya untuk menentang Syi’ah al-Abrar, Syi’ah Ahlu l-Bayt AS.

Sayyid Syarafuddin RH di dalam al-Muraja’at(61) berkata: Hadith ini mempunyai hujjah yang kuat bahawa ‘Ali AS adalah penggantinya dan khalifahnya selepasnya. Lihatlah bagaimana Nabi SAWAW menjadikannya walinya di dunia dan di akhirat. Dan beliau mengasihinya daripada semua keluarganya. Bagaimana beliau menjadikan kedudukannya seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Beliau tidak mengecualikannya selain daripada Nubuwwah. Dan pengecualiannya adalah bukti umum. Dan anda mengetahui bahawa kedudukan yang paling ketara bagi Harun di sisi Musa ialah menjadi wazir ke atas semua ummatnya.

 

Sebagaimana firmanNya di dalam Surah Taha(20):29-32:”Dan jadilah untukku seorang pembantu dari keluargaku iaitu Harun saudaraku, teguhlah dengan dia kekuatanku, dan jadilah dia sekutu dalam urusanku.” dan firmanNya di dalam Surah al-A’raf(7): 142:”Gantilah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang membuat kerosakan,” dan firmanNya di dalam Surah Taha(20):36:”Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa.”

 

Lantaran itu ‘Ali, menurut ayat ini, adalah khalifah Rasulullah pada kaumnya, wazirnya pada keluarganya dan rakan kongsinya di dalam urusannya sebagai penggantinya dan bukan sebagai nabi. Beliau adalah orang yang paling layak pada ummatnya semasa hidup dan mati. Oleh itu mereka wajib mentaatinya semasa beliau menjadi pembantunya seperti Harun kepada ummat Musa di zaman Musa.

 

Ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAWAW di dalam sabdanya:’Ali tidak boleh pergi tanpa anda menjadi khalifahku.’ Ini adalah nas yang terang bahawa ‘ali adalah khalifahnya. Malah ianya menunjukkan bahawa sekiranya Nabi SAWAW pergi tanpa melantik ‘Ali sebagai penggantinya, nescaya beliau telah melakukan perkara yang tidak sepatutnya beliau lakukan. Ini adalah disebabkan beliau telah diperintahkan oleh Allah SWT supaya melantik ‘Ali AS sebagaimana firmanNya di dalam Surah al-Ma’idah (5):67:”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, bererti) kamu tidak menyampaikan amanahNya. Allah memelihara kamu dari  (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

 

Kemudian perhatikanlah sabda Nabi SAWAW:”Sepatutnya aku tidak pergi tanpa anda menjadi khalifahku,’ nescaya anda dapati kedua-duanya menuju kepada satu tujuan sebagaimana juga sabdanya:’Andalah wali bagi setiap mukmin selepasku.’ Maka ia adalah nas bahawa beliau adalah wali al-Amr dan menduduki tempatnya mengenainya sebagaimana al-Kumait RH berkata:

Sebaik-baik wali al-Amr selepas walinya

dan tempat datangnya taqwa dan sebaik-baik pendidik

 

Al-Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir(62) berkata: Sabdanya:’Tidakkah anda meredhai bahawa anda di sisiku sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa…..’ mensabitkan setiap sifat yang ada pada Nabi SAWAW dari segi martabat, amal, maqam, kebangkitan, hukum, pemerintahan dan ketuanan pada Amiru l-Mukminin selain daripada kenabian sebagaimana Harun di sisi Musa. Justeru itu beliaulah khalifahnya SAWAW, pengurniaan kedudukan Ali seperti kedudukan dirinya bukanlah dikurniakan begitu sahaja sebagaimana yang telah disangkakan oleh semua orang.

 

Beliau telah melantik sebelum ini orang-orang tertentu di seluruh negara, dan beliau juga telah melantik beberapa orang dalam ekspedisi tentera, tetapi beliau tidak pernah bersabda sesuatu sebagaimana beliau bersabda kepada Ali AS. Justeru itu ianya suatu keistimewaan yang dikurniakan kepada Amiru l-Mukminin Ali AS.

 

Aku berkata: Ini menunjukkan bahawa khalifah selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali AS secara terus dan kemaksuman Ali AS sebagaimana maksumnya Harun AS selain daripada kenabian sebagaimana anda telah mengetahuinya.

 

 

4. Hadith al-Safinah (Hadith Bahtera)

 

Sabda Nabi SAWAW:”Umpama Ahlu l-Baitku samalah seperti bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya. Dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam.”

 

Para ulama Islam telah bersepakat tentang kesahihan hadith ini. Ianya telah diriwayatkan oleh para ulama Sunnah dan Syi’ah di mana lebih seratus daripada para penghafal, ahli Hadith,Sirah, Sejarah telah mencatatnya di dalam buku-buku mereka, mengakui kepentingannya kerana kepatuhan kepada kebesaran Allah SWT. Mereka menerimanya dengan senang hati.

 

Nas Hadith

 

Di sini diperturunkan sebahagian daripada nama-nama ulama Ahlu s-Sunnah  yang meriwayatkan hadith ini seperti berikut:

Al-Hakim di dalam al-Mustadrak(63) dengan sanadnya daripada Hunsy al-Kinani berkata: Aku mendengar Abu Dhar yang sedang berpegang di pintu Ka’bah berkata: Siapa yang mengenaliku, maka akulah orang yang kalian kenali dan siapa yang tidak mengenaliku, maka akulah Abu Dhar. Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam. Hadith ini adalah sahih menurut pensyaratan Muslim.

 

Al-Tabrani telah mencatatkan di dalam al-Ausat(64) daripada Abu Sa’id, Nabi SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam. Dan umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah pintu pengampunan bagi Bani Isra’il. Siapa yang memasukinya akan diampun.

 

Ibn Hajr dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah mengemukakan beberapa riwayat yang menyokong satu sama lain bahawa Nabi SAWAW bersabda: Sesungguhnya umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya. Di dalam riwayat Muslim:’Dan siapa yang membelakanginya akan tenggelamSesungguhnya umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah pintu pengampunan bagi Bani Isra’il. Siapa yang memasukinya akan diampun.’ Dan dalam riwayat yang lain:’Dosa-dosanya akan diampun.’

 

(Kemudian dia berkata) selepas mengemukakan hadith ini dan hadith-hadith yang seumpamanya dan membentangkan perumpamaan mereka dengan bahtera bahawa sesungguhnya orang yang mencintai mereka, dan menghormati mereka kerana mensyukuri nikmat yang dikurniakan dan berjaya daripada kegelapan perselisihan. Dan sesiapa yang membelakanginya, nescaya akan tenggelam di lautan kekufuran nikmat dan binasa di dalam arus kezaliman. Sehingga dia berkata: Cinta kepada Ahlu l-Bait adalah menjadi sebab ummat ini dijadikan.

 

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin dengan membuang sanad-sanadnya daripada Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda kepada ‘Ali AS:Wahai ‘Ali, aku adalah bandar hikmat, dan anda adalah pintunya, dan tidak akan memasuki bandar melainkan melalui pintunya. Dan berbohonglah orang yang menyatakan bahawa dia mencintaiku sedangkan dia memarahi anda, kerana anda adalah daripadaku, dan aku adalah daripada anda. Daging anda adalah dagingku. Darah anda adalah darahku. Jiwa anda adalah jiwaku. Batin anda adalah batinku. Zahir anda adalah zahirku. Anda adalah imam umatku dan khalifahku ke atasnya selepasku. Berbahagialah orang yang mentaati anda. Celakalah orang yang menderhakai anda. Beruntunglah orang yang mewalikan anda. Rugilah orang yang memusuhi anda. Beroleh kemenanganlah orang yang berada di samping anda. Dan binasalah orang yang menjauhi anda. Anda samalah seperti para imam daripada anak-anak lelaki anda selepasku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang membelakanginya akan tenggelam. Dan kalian sepertilah bintang-bintang setiap kali satu bintang tidak kelihatan, timbul pula bintang yang lain sehingga ke hari kiamat.

 

Ibn al-Maghazili al-Syafi’i meriwayatkan tentang kelebihan-kelebihan Ahlu l-Bait AS dengan sanadnya daripada Harun al-Rasyid daripada al-Mahdi daripada al-Mansur daripada bapanya daripada datuknya daripada Ibn ‘Abbas RD berkata: Rasulullah SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku sepertilah bahtera Nuh, siapa yang menaikinya berjaya. Dan siapa yang enggan atau terlambat akan binasa. Tetapi apa yang menghairankan ialah tindakan kekerasan mereka terhadap Ahlu l-Bait AS meskipun mereka mempercayai kelebihan ‘mereka.’

 

Al-Syablanji di dalam Nur al-Absar meriwayatkan bahawa sekumpulan pengarang-pengarang Sunan telah meriwayatkan daripada para sahabat bahawa Nabi SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku pada kalian samalah seperti bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang membelakanginya binasa. Di dalam riwayat yang lain ‘tenggelam.’

 

Hadith ini bukan sahaja mutawatir di kalangan Ahlu l-Sunnah malah ianya menjadi mutawatir di kalangan Syi’ah. Aku berkata: Ini adalah ringkasan tentang hadith al-Safinah yang banyak. Walau bagaimanapun aku kemukakan sebahagian daripada nama-nama ulama Ahlu l-Sunnah yang meriwayatkan hadith al-Safinah di dalam buku-buku mereka:

 

Muslim di dalam Sahihnya, Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, al-Tabari di dalam Tarikhnya, al-Hakim di dalam al-Mustadrak, Muhibuddin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba, Abu Nua’im al-Asfahani di dalam al-Hilyah dan Dala’il al-Nubuwwah, Ibn  ‘Abd Birr di dalam al-Isti’ab, al-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, Ibn al-Athir al-Jazari di dalam Usd al-Ghabah, Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib, Ibn Talhah al-Syafi’i di dalam Matalib al-Su’ul, Muhibb al-Tabari di dalam Riyadh al-Nadhirah, Sibt Ibn al-Jauzi di dalam al-Tadhkirah, Ibn al-Sabagh al-Maliki di dalam al-Fusul al-Muhimmah, al-Suyuti di dalam al-Jami’ al-Saghir, Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq, al-Syblanji di dalam Nur al-Absar, al-Siban di dalam al-Is’af, al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib, dan lain-lain.

 

Di antara orang yang mengakui kesahihannya ialah Imam al-Syafi’i sendiri. Al-Ujaili telah mengaitkan kata-kata Syafi’i di dalam Dhakhirah al-Mal:

 

Manakala aku melihat manusia telah berpegang kepada mazhab yang bermacam-macam di lautan kebodohan dan kejahilan

 

Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustafa dan penamat segala Rasul.

Wahai pembaca yang budiman, sesungguhnya hadith yang mulia ini datangnya daripada Nabi SAWAW. Beliau telah menutup jalan-jalan yang  banyak. Justeru itu beliau tidak meninggalkan selain daripada jalan Ahlu l-Bait yang terang seperti matahari di siang hari. Beliau telah memimpin mereka ke jalan yang benar dengan hujah yang terang yang akan membawa mereka ke syurga.

 

Dan perumpamaan Ahlu l-Baitnya dengan bahtera Nuh adalah jelas menunjukkan bahawa mengikuti mereka, mematuhi kata-kata dan perbuatan-perbuatan mereka adalah wajib. Dan untuk mendapat kejayaan adalah dengan menaiki bahtera, nescaya mereka berjaya daripada tenggelam kerana bahtera itu terselamat daripada keaiban. Sekiranya terdapat kecacatan, nescaya binasalah orang yang berada di dalamnya tanpa syak lagi. Kerana ombak-ombak taufan begitu kuat memukul seperti bukit sebagaimana diceritakan oleh al-Qur’an tentang kesengsaraan yang menakutkan. Nuh menyeru anak lelakinya dari jauh:”Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah anda berada bersama orang yang kafir. Anaknya berdegil tidak mahu menaikinya sambil berkata: Aku akan berlindung di bukit yang dapat memeliharaku daripada air. Maka Nuh menjawab: Tidak ada pemeliharaan di hari ini (sesuatupun) dari suruhan Allah (selama-lamanya) selain daripada orang yang dirahmati Allah (dengan menaiki bahtera). Lantas orang yang ingkar tetap berkeras dengan penuh penentangannya. Maka ombak telah memisahkan di antara keduanya, maka termasuklah dia dari golongan orang yang tenggelam yang berdegil di atas kekufuran mereka. Maka ombak-ombak tadi memukul mereka, lalu mereka pun binasa. Wa l-Hamdulillah ‘Ala Halaki Ahli l-Kufr.

 

Demikianlah para imam Ahlu l-Bait AS dengan ummat ini. Siapa yang berlindung kepada mereka dan berjalan menurut jalan mereka yang lurus, berpegang kepada ikatan kukuh yang tidak akan berpisah buat selama-lamanya, mengambil daripada mereka asas-asas agamanya serta cabang-cabangnya, berakhlak dengan akhlak mereka yang mulia, berpegang kepada kewalian mereka, benar-benar mencintai mereka di dalam ertikata orang lain tidak mendahului mereka, nescaya dia akan berjaya dari tenggelam  dan akan mendapat ganjaran yang sewajarnya. Selamat daripada siksaan Allah di hari akhirat dan akan mendapat ganjaran daripada Allah dan Nabi SAWAW. Dan sesiapa  yang membelakangi mereka adalah seperti orang yang berlindung di hari Taufan kepada bukit untuk menyelamatkannya daripada urusan Allah. Maka dia disambar oleh ombak lalu tenggelam dan binasa. Demikian juga ombak-ombak fitnah  telah melanda (mereka) bertubi-tubi samalah seperti ombak-ombak Taufan Nuh. Tidak ada beza di antara kedua-duanya menurut nas hadith. Ombak mengambilnya dan menenggelamkannya kemudian dia tinggal di neraka. Perbezaan yang pertama tenggelam di air sementara yang kedua tenggelam di neraka jahannam (Wa l-’Iyadhubillah).

 

Nota Kaki:

 

1. al-’Allamah Sayyid Muhsin al-Amini, A’yan al-Syi’ah, III, hlm. 34.

2. Tarikh, II, hlm. 216.

3. al-Ghadir, II, hlm. 279.

4. Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 263.

5. Anba’ Nujaba’ al-Anba’, hlm. 44-48.

6. ak-Kamil, hlm. 24.

7. Tarikh Abu Fida’, I, hlm. 116.

8. Syarh al-Syifa, III, hlm. 37.

9. Tafsir al-Khazin, hlm. 390.

10. Jami’ Jawami’, VI, hlm. 302-307.

11. Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 254.

12. Tarikh al-Tamaddun al-Islami, hlm. 1, 31.

13. Hayat Muhammad, hlm. 104.

14. Lisan al-Mizan, IV, hlm. 43.

15. al-Musnad, I, hlm. 111.

16. Ibid, hlm. 78, 86 & 159.

17. Tarikh, I, hlm. 217.

18. al-Khasa’is, hlm. 8

19. Kifayah al-Talib, hlm. 89.

20. Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 255.

21. Jam’ Jawami’, hlm. 408.

22. Ibid.

23. Kanz al-Ummal, VI, hlm. 401.

24. Minhaj al-Sunnah, IV, hlm. 80.

25. al-Sirah al-Halabiyyah, I, hlm. 304.

26. al-Kasyf wa l-Bayan, I, hlm. 101.

27. Kifayah al-Talib, hlm. 89.

28. al-Ta’liq ‘Ala al-’Alawiyyah al-Mubarakah, hlm. 76.

29. al-Ghadir, II, hlm. 284.

30. al-Muraja’at, hlm. 119.

31. Sahih, II, hlm. 238.

32. al-Musnad, III, hlm. 17, 26, 59, dan IV, hlm. 267.

33. Kanz al-Ummal, VII, hlm. 112.

34. Sahih, II, hlm. 308.

35. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 16.

36. al-Mustadrak, III, hlm. 109, 148 & 532.

37. Ibid., hlm. 109.

38. al-Talkhis, III, hlm. 109.

39. Yanabi al-Mawaddah, hlm. 25.

40. Tafsir Ibn Kathir, III, hlm. 486.

41. Tarikh al-Ya’qubi, II, hlm. 93.

42. al-Sunan, II, hlm. 432.

43. al-Khasa’is, hlm. 30.

44. Kifayah al-Talib, hlm. 89.

45. Hilyah al-Auliya’, I, hlm. 355.

46. Usd al-Ghabah, I, hlm. 12; II, hlm. 147.

47. al-’Iqd al-Farid, II, hlm. 346.

48. Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 332.

49. Insan al-’Uyun, III, hlm. 308.

50. Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 18.

51. Tafsir al-Nisaburi, I, hlm. 349.

52. Tafsir al-Khazin, I, hlm. 257.

53. Syarh Nahj al-Balaghah, VI, hlm. 130.

54. Nur al-Absar, hlm. 99.

55. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 25.

56. Masabih al-Sunnah, III, hlm. 2056.

57. al-Muraja’at, hlm. 22.

58. Ghayat al-Maram, hlm. 211 & 217.

59. al-Muraja’at, hlm. 23.

60. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 153.

61. al-Muraja’at, hlm. 127.

62. al-Ghadir, III, hlm. 199.

63. al-Mustadrak, II, hlm. 343

 

Begitu juga hadith ini mewajibkan mukmin berpegang kepada Ahlu l-Bait AS bagi mendapat kejayaan yang abadi dan menjauhi siksaan di hari hisab.

 

Al-Sayyid al-Muhsin al-Amin al-’Amili(65) berkata: Manakah kata-kata yang lebih jelas daripada sabdanya:”Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang membelakanginya binasa atau tenggelam” sebagaimana orang yang menaiki bahtera Nuh berjaya daripada tenggelam. Dan siapa yang tidak menaikinya tenggelam dan binasa. Begitu juga dengan orang yang mengikuti Ahlu l-Bait AS berada di dalam kebenaran dan selamat daripada kemurkaan Allah SWT serta mendapat kemenangan dengan keridhaanNya. Dan siapa yang menyalahi mereka akan binasa dan jatuh ke dalam kemurkaan Allah dan siksaanNya. Ini menunjukkan kemaksuman mereka. Jikalau tidak, bagaimana orang yang mengikuti mereka berjaya dan orang yang menyalahi mereka binasa.

 

Ini adalah secara umum dan khusus sebagaimana telah diterangkan di dalam hadith Thaqalain. Apa yang dimaksudkan di dalam hadith itu ialah para imam Ahlu l-Bait yang telah disepakati kelebihan mereka. Dikenali dengan keilmuan, kezuhudan dan kewarakan mereka. Dan ummat juga bersepakat selain daripada mereka tidaklah maksum. Orang yang tidak maksum tidak menjamin kejayaan pengikutnya, dan penentangnya pula tidaklah binasa dalam setiap keadaan.

 

Justeru itu memadailah mereka dinamakan pintu pengampunan kerana kejayaan terletak pada mengikuti mereka dan pelepasan dosa serta kemaksiatan, adalah dengan mengambil jalan mereka.

Aku berkata: Hadith ini yang mulia ini merupakan hujah yang pemutus dan dalil yang kuat terhadap dakwaan Syi’ah al-Abrar dan pengikut-pengikut Ahlu l-Bait AS bahawa khalifah adalah untuk ‘Ali Amirul Mukminin AS. Selepas Rasulullah SAWAW secara langsung dan selepasnya adalah zuriatnya yang terpilih berdasarkan kepada nas hadith bahawa orang-orang yang berpegang kepada ‘itrah yang suci akan berjaya. Dan orang yang membelakangi mereka akan binasa. Lantaran itu tidak ada ruang bagi seseorang untuk menentang hujah mereka dan mengambil selain daripada mereka serta mendakwa kejayaan bagi dirinya. Aku memohon kepada Allah supaya menunjukkan Muslimin kepada jalan yang benar dan menyatukan pemikiran mereka bagi mengikuti kebenaran dan mengilhamkan mereka percakapan yang benar.

 

5. Hadith Madinah al-’Ilm (Hadith Bandar Ilmu)

 

Sabda Nabi SAWAW:”Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.”

 

Hadith ini adalah di antara hadith-hadith yang sabit di sisi para ulama Islam secara langsung daripada para penghafal hadith, pakar-pakar sejarah dan sirah. Dan pemindahannya adalah secara mutawatir daripada para ulama Islam dari berbagai-bagai pihak di setiap masa.

 

Adapun para sahabat yang meriwayatkan hadith ini adalah ramai di antaranya:

 

Imam Amiru l-Mukminin Ali AS, Imam Hasan AS, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah al-Ansari, Abdullah bin Mas’ud al-Hazali, Huzaifah bin al-Yaman, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Amru bin al-’As dan lain-lain.

 

Adapun para perawi hadith ini di peringkat Tabi’in ialah:

Imam Zain al-’Abidin bin ‘Ali bin al-Husain  AS. Anaknya Imam Muhammad al-Baqir AS, Asbagh bin Nubatah, Jarir al-Dhubi, Haris bin Abdullah al-Hamdani al-Kufi, Sa’d bin Tarif al-Hamzali al-Kufi, Sa’id bin Jubair al-Asadi al-Kufi, Salmah bin Kuhail al-Hadhrami al-Kufi, Sulaiman bin Mihran al-Asadi al-Kufi, ‘Asim bin Hamzah al-Saluli al-Kufi, ‘Abdullah bin Uthman bin Khaitham al-Qari’ al-Makki, Abdul Rahman bin Uthman, Abdullah bin Usailah al-Muradi Abu Abdullah al-Sinaiji, Mujahid bin Jubair Abu al-Hajjaj al-Makhzumi al-Makki.

 

Adapun para ulama yang menghukum kesahihannya adalah ramai di antaranya: al-Tabari di dalam Tahdhib al-Athar, al-Hakim di dalam Mustadrak(66), al-Suyuti di dalam Jam’ al-Jawami’, al-Biruni di dalam Asna al-Matalib, al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, Fadhulullah bin Ruzabhan al-Syirazi di dalam Abtal al-Abatil, al-Fairuz Abadi di dalam Naqd al-Sahih, Ibn Hajr al-Asqalani di dalam beberapa fatwanya yang diceritakan oleh al-Suyuti di dalam al-Li’ali al-Masnu’ah dan Jam’ al-Jawami’, al-Sakhawi di dalam al-Maqasid al-Hasanah, Muhammad bin Yusuf al-Syammi di dalam Subul al-Huda wa-Rasyad fi Asma’ al-’Ibad, Ibn Hajr di dalam Sawa’iq al-Muhriqah, al-Muhawi di dalam Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Saghir, ‘Abd al-Haq al-Dahlawi di dalam al-Luma’at, al-Siban al-Misri di dalam Is’af al-Raghibin dan lain-lain.

 

Adapun para ulama yang mencatat hadith ini di dalam buku-buku dan musnad-musnad mereka adalah ramai di antaranya: al-Hakim di dalam al-Mustadrak, dia berkata: Abu al-Abbas Muhammad bin Ya’qub telah memberitahukan  kami, Muhammad bin Abd al-Rahim al-Harwi telah memberitahukan kami di Ramlah, Abu al-Salt Abd al-Salam bin Salih telah memberitahukan kami, Abu Muawiyah telah memberitahukan kami daripada al-’Amasy daripada Mujahid daripada Ibn Abbas RD dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda: Aku adalah bandar ilmu dan Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang ingin datang ke bandar ilmu, maka hendaklah dia datang melalui pintunya. Sanad hadith ini adalah sahih tetapi Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya di dalam sahih-sahih mereka.

 

Al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad(67) berkata: Yahya bin ‘Ali al-Daskari Bahlawan telah memberitahukan kami. Begitu juga Abu Bakr Muhammad bin al-Muqri, Abu Tayyib Muhammad bin Abd al-Samad al-Daqqaq al-Baghdadi, Ahmad bin Abdullah Abu Ja’far al-Maktab. Abd al-Razzaq. Sufyan al-Thauri telah memberitahukan kami daripada Abdullah bin Uthman, dia berkata: Aku telah mendengar Jabir bin Abdullah RD berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda di dalam keadaan memegang lengan Ali bin Abu Talib AS:’Inilah amir orang-orang yang baik,pembunuh orang-orang yang jahat, menolong orang yang menolongnya, menghina orang yang menghinanya. Aku adalah bandar ilmu dan Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang ingin datang ke bandar ilmu, maka hendaklah dia datang melalui pintunya.’

 

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah(68), hlm. 183 berkata: Ibn ‘Udayy dan al-Hakim telah meriwayatkan daripada Jabir, dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Dan sesiapa yang ingin datang kepada bandar ilmu, maka hendaklah dia datang melalui pintunya.’

 

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah(69) menerangkan bahawa hadith ini telah diriwayatkan melalui al-’Uqaili dan Ibn ‘Udayy daripada Ibn Umar dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.’ Di dalam riwayat yang lain pula ‘Sesiapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya.’

 

Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah(70) berkata:’Hadith ini telah diriwayatkan oleh Suwaid bin Sa’id daripada Syarik daripada Salmah daripada al-Sinaiji daripada ‘Ali secara marfu’:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya.’

 

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal(71) menyatakan bahawa hadith ini telah diriwayatkan daripada Ali sebagaimana telah disebutkan oleh Ibn Kathir.

 

Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab(72) berkata: Hadith ini telah diriwayatkan daripada Nabi SAWAW, beliau bersabda:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah melalui pintunya.’

 

Muhibb al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah(73) menerangkan bahawa hadith ini telah diriwayatkan melalui Abu ‘Umar sebagaimana telah diterangkan di dalam al-Isti’ab dan Dhakha’ir al-’Uqba(74).

 

Ibn Abi l-Hadid di dalam Syarh Nahj al-Balaghah(75) berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang ingin datang ke bandar ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya.’ Hadith ini juga telah dicatat oleh Ibn al-Athir al-Jazari di dalam Usd al-Ghabah(76), al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib(77), al-Dhahabi di dalam al-Talkhis(78), Ibn Hajr al-’Asqalani di dalam Lisan al-Mizan(79) dan Tahdhib al-Tahdhib(80), al-Sakhawi di dalam al-Maqasid al-Hasanah, al-Nabhani di dalam al-Fath al-Kabir al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’ dan al-Jami’ al-Saghir, Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Khawwas dan lain-lain.

 

Sayyid Najafi’ al-Mar’asyi telah menyebutkan hadith ini di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq karangan Ayatullah ‘Uzma Sayyid Qadhi Nurullah al-Tastari RH. Kemudian dia menyebutkan nama-nama ulama Ahlu l-Sunnah yang menyokong hadith ini di dalam Jilid, V, hlm. 469-514.

 

Aku berkata: Sekiranya Ahlu s-Sunnah yang meriwayatkan hadith ini telah membohongi Rasulullah SAWAW sebagaimana telah disangkakan oleh dajal-dajal yang menjadi kebiasaan mereka melakukan keaiban-keaiban dan berusaha untuk kerosakan dan menentang darurat, maka mereka akan dipertanggungjawabkan terhadap agama di hadapan Allah SWT. Ya! Kita dapati ramai daripada orang yang memalsukan hadith ke atas Rasulullah SAWAW mengenai ‘kelebihan sahabat’ telah menerima upah yang lumayan dan ada yang melakukannya secara sukarela. Apabila mereka dapati tidak ada kecacatan pada hadith ini, kerana ia diakui oleh Sunnah dan Syi’ah, lalu mereka menambahkan beberapa rangkaian padanya bagi mengalihkannya daripada apa yang sepatutnya. Maka mereka memindahkannya seperti: Aku adalah bandar ilmu, Abu Bakr asasnya, ‘Umar dindingnya, ‘Uthman bumbungnya dan ‘Ali pintunya.

 

Para ulama Ahlu s-Sunnah mencela sesama mereka. Kerana mereka menjadikan ‘Uthman bumbungnya lalu berkata: Bandar tidak ada bumbung. Sekiranya mereka berfikir sejenak nescaya mereka mengetahui bahawa madinah al-ilm (Bandar ilmu) adalah ‘suasananya.’ Bagaimana Abu Bakr menjadi asasnya sedangkan dia tidak mengetahui perkataan Abba. Sebagaimana diriwayatkan oleh para ahli Tafsir dari golongan Sunah dan Syi’ah bahawa dia pernah ditanya tentang firmanNya di dalam Surah ‘Abbasa(80):31:”Fakihatan wa abba (buah-buah dan rumput-rumputan).’”Fakihatan  kami mengetahui maknanya adapun Abba kami tidak mengetahuinya. Bumi manakah yang aku akan pijak dan langit manakah yang aku akan junjung, apabila aku berkata sesuatu tentang kitab Allah dengan fikiranku sedangkan aku tidak mengetahuinya.”Dia juga berkata:”Sesungguhnya syaitan selalu menggodaku dan apabila aku melakukan kesalahan, maka perbetulkanlah (kesalahan)ku.”

 

Begitu juga halnya dengan ‘Umar. Bagaimana dia boleh menjadi dindingnya sedangkan dia berkata:”Orang ramai lebih mengetahui daripada Umar sehingga gadis-gadis sunti di dalam khemah.” Dia berkata:”Sekiranya ‘Ali tidak ada, nescaya binasalah Umar.” Dia juga berkata:”Semoga Allah tidak meninggalkan aku di dalam permasalahan di mana Abu l-Hasan tidak ada.” Dan banyak lagi contoh-contoh seumpama itu dari pengakuannya sendiri tentang kejahilannya di dalam beberapa perkara termasuk hukum-hukum dan lain-lain. Demi Tuhan Ka’bah, Ahlu s-Sunnah tidak boleh mengatakan bahawa kata-kata Umar itu sebagai tawadhuk (merendah diri).

 

Keuzuran yang sejuk ini tidak mempunyai kemuliaan lagi kerana dia tidak ada jalan keluar bagi sifat tawadhuk yang disangkakan. Kerana maqam yang kita bincangkan sekarang adalah maqam khilafah daripada Nabi SAWAW yang maksum yang membawa syariat yang kuat sehingga berakhirnya dunia ini. Sebagai menunaikan kewajipan tersebut maka tawadhuk tidak menjadi alasan lagi. Dan sesungguhnya dakwah tawadhuk memerlukan dalil dan tidak ada dalil bagi Ahlu s-Sunnah. Kemudian kata-kata ‘Umar itu menunjukkan kelebihan ‘Ali AS di setiap keadaan. Dan cukuplah itu menjadi dalil bagi Syi’ah al-Abrar.

 

Dengan nama Tuhan anda, katakanlah kepadaku wahai Muslim yang budiman! Adakah layak orang seperti Umar yang mengakui kejahilannya sendiri menjadi khalifah kepada ummat yang baru Islam sedangkan ada orang yang disabdakan oleh Rasulullah SAWAW:”Anda wahai ‘Ali! Pewaris ilmuku, suami anak perempuanku, pelaksana agamaku dan khalifahku selepasku.”

 

Justeru itu Amirul Mukminin telah menunjuk kepada dadanya di suatu hari di atas mimbar Masjid di Kufah sebanyak tiga kali sambil berkata:”Disinilah sifat ilmu. Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah sekiranya kalian bertanya kepadaku tentang jalan-jalan langit dan bumi, nescaya aku akan memberitahukan kalian mengenainya. Maka sesungguhnya aku lebih mengetahui jalan-jalan langit dan bumi.” Hadith-hadith seumpama ini memanglah banyak, maka di manakah nilainya wahai Muslimun!

 

Mereka juga telah menjadikan Uthman sebagai bumbung, ianya ditertawakan oleh ibu yang kehilangan anaknya. Mereka menjadi Abu Bakr sebagai asas dan Umar sebagai dindingnya. Aku tidak mengerti syaitan, jin dan manusia mana yang membuat tambahan kepada hadith ini? Kerana apa yang terdapat di dalam musnad-musnad Ahlu s-Sunnah menyalahinya. Malah terdapat sanadnya yang tidak boleh dipercayai. Mudah-mudahan mereka akan sedar dari kelalaian mereka dan memerhatikan hadith yang mulia ini dari segi balaghah dan fasahah nya.

 

Malah penambahan kepada hadith tersebut, telah menurunkan darjat ketiga-tiga khalifah dan menghina mereka. Kerana orang yang menuju ke bandar ilmu tidak akan memasuki melalui asasnya, dindingnya dan bumbungnya, malah melalui pintunya.

 

Hadith (tambahan) seperti ini telah dilakukan di zaman Tahgut Mu’awiyah yang telah mengambil hadith sebagai bahan perniagaan sebagaimana kami telah kemukakannya sebelum ini. Dia telah memerintahkan gabenor-gabenornya supaya memalsukan hadith tentang kelebihan sahabat dan mencela Ahlu l-Bait AS. Apatah lagi tentang hak Amiru l-Mukminin AS.

 

Kesimpulan: Tertegaknya khalifah Amiru l-Mukminin Ali AS selepas Rasulullah SAWAW secara langsung dengan hadith: Aku adalah bandar ilmu dan Ali adalah pintunya di samping dalil-dalil akal dan naqliyyah kerana Rasulullah SAWAW telah menjadikan Ali sebagai pintu bandar ilmu yang didatangi oleh penuntut-penuntut ilmu dari segenap pelusuk dunia. Dan Nabi SAWAW tidak pernah mewakilkan urusan ini selain daripada Ali, kerana orang lain tidak mempunyai kelayakan untuk memikul bebanan yang berat dan besar di mana kejayaan ummat terletak di atasnya.

 

Atau  kebinasaan jika ia menyalahi dan mendurhakai perintah orang yang memerintah. Sebagaimana sabdanya:’Siapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya dan siapa yang datang bukan melalui pintunya dikira pencuri dan dia adalah dari parti ‘iblis.’

 

Sayyid Mir Hamid Husain al-Nisaburi di dalam bukunya al-’Abaqat telah menyebutkan hadith ‘Aku adalah bandar ilmu, maka ‘Ali adalah pintunya.’ Kemudian dia mengatakan bahawa ‘Ali berhak menjadi khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung dan mengemukakan dalil yang kuat mengenainya.

 

Ringkasnya, aku telah mengemukakan di sini lima hadith ma’thurah daripada Rasulullah SAWAW yang sabit di dalam buku-buku Ahlu s-Sunnah. Dan yang dipersetujui oleh mereka bagi menunjukkan betapa benarnya dakwaan Syi’ah tentang keutamaan Amiru l-Mukminin ‘Ali AS menjadi khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWAW:

 

1. Hadith al-Dar atau al-Indhar.

2. Hadith al-Thaqalain.

3. Hadith al-Manzilah.

4. Hadith al-Safinah.

5. Hadith al-Madinah.

 

Aku telah mengemukakannya kepada anda wahai pembaca yang budiman, setelah aku memaparkan enam ayat al-Qur’an:

 

1. Ayat al-Wilayah [al-Mai’dah(5):55)].

2. Ayat al-Tathir [al-Ahzab (33):33].

3. Ayat al-Mubahalah [‘Ali Imran(3):61].

4. Ayat al-Mawaddah [al-Syura'(42):20].

5. Ayat al-Salawat [al-Ahzab(33):56].

  1. Ayat al-Tabligh [al-Mai’dah(5):67]

 

 

Lantaran itu enam ayat al-Qur’an dan lima hadith ma’thurah, maka jumlahnya sebelas yang saling lengkap-melengkapi dan diakui oleh Ahlu s-Sunnah dan Syi’ah. Justeru itu tidak seorangpun akan menentangnya kecuali orang yang dikuasai oleh hawa nafsunya. Lantaran itu dia akan dibawa ke jurang yang amat dalam, yang tidak ada batasan dan penentuan baginya. Oleh itu urusan khalifah terserlah secara langsung kepada ‘Ali AS.

 

Sebelas dalil yang sempurna ini telah dicatat oleh para ulama Islam dan telah disahkan oleh pemuka-pemuka ulama Sunnah di samping ulama Syi’ah al-Abrar. Justeru itu tidak ada jalan (tipudaya) untuk memisahkan Ali AS dari menjadi khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWAW.

 

Apa yang diharap-harapkan ialah supaya saudara-saudaraku Ahlu s-Sunnah mematuhi kebenaran dan meninggalkan celaan ke atas saudara-saudara mereka Syi’ah. Kerana mereka berjalan menurut jalan Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW. Mereka tidak berganjak sedikitpun daripada mereka (Ahlu l-Bait AS). Oleh itu janganlah  mengaitkan mereka dengan pembohongan-pembohongan yang keji dan rekaan-rekaan yang hina serta perkataan yang dibuat-buat.

 

Dan tidak menghubungkaitkan mereka dengan tohmahan-tohmahan yang batil sebagaimana dilakukan oleh sebahagian Ahlu s-Sunnah seperti Ibn Taimiyah, Ibn Hazm, Ibn Hajr, Ahmad Amin Mesir, Musa Jarullah, Muhammad Thabit al-Misri, al-Hafnawi dan al-Jubhan. Seperti Syaikh Nuh yang telah mengeluarkan fatwa tentang kekafiran Syi’ah al-Abrar, dan membunuh mereka…..sama ada mereka bertaubat ataupun tidak. Dan orang-orang yang menurut jejak langkah mereka yang jahat. Mereka menjadi kuncu-kuncu Bani Umaiyyah. Aku memoho perlindungan kepada Tuhan Arasy daripada golongan yang melakukan kezaliman dan permusuhan ke atas kami, sama ada secara jahil atau berpura-pura jahil, mengambil upah atau secara sukarela.

 

Aku juga berharap dari saudara-saudaraku Ahlu s-Sunnah supaya mengkaji kebenaran yang terdapat di dalam buku-buku mereka sendiri tentang Syi’ah dan meninggalkan celaan ke atas mereka dan apa yang tidak diredhai Allah SWT. Dan janganlah mereka menulis di dalam buku-buku mereka apa yang tidak terdapat di dalam buku-buku Syi’ah. Apatah lagi jika ianya telah menjadi asas mazhab mereka kerana zaman sekarang adalah zaman cahaya. Hakikat kebenaran Syi’ah telah terserlah kepada kebanyakan orang. Dan orang ramai mulai berpegang kepada mazhab Tasyayu’ secara beramai-ramai.

 

Sesungguhnya aku memberi nasihatku yang berguna ini kerana aku mengetahui celaan-celaan dan cacian-cacian yang menggerunkan jiwa-jiwa yang sejahtera terdapat di dalam buku-buku karangan Ahlu s-Sunnah. Allah menjadi saksi sesungguhnya aku sebelum berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS, sentiasa menasihati sahabat-sahabatku dan ulama-ulama yang besar di Qahirah, Damsyiq, Halah, Makkah, Madinah dan lain-lainnya terutamanya penulis-penulis supaya tidak mencela golongan yang berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS sambil berkata: Sebaik-baik bagi kalian menentang Syi’ah dengan cara yang lebih baik iaitu dengan dalil akal atau naql bukan dengan cacian dan tohmahan kerana ianya tidak sesuai dengan peradaban Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAWAW.

 

Kalian perhatikanlah buku-buku karangan Syi’ah, pasti mempunyai hujah-hujah yang mengukuhkan dakwaan mereka dan mereka menahan daripada cacian dan tohmahan yang batil. Malah mereka menyeru kalian (Ahlu s-Sunnah) dengan kata-kata yang sopan: Mudah-mudahan Allah memperbaiki saudara-saudara kami Ahlu s-Sunnah. Inilah akhlak mereka yang diambil daripada imam-imam mereka dan buku-buku mereka berada di merata-rata tempat. Justeru itu hendaklah kalian mengkajinya atau menjawabnya jika kalian mampu.

 

Aku mengkaji banyak buku-buku karangan Syi’ah, maka aku dapati ianya menyalahi apa yang dikatakan kepada mereka. Demi Allah! Mereka adalah golongan Mukminin kepada hukum lima yang yang datang daripada Allah dan RasulNya dan akan terus beramal dengannya dari hari beliau diutuskan sehingga hari beliau dibangkitkan. Aku tidak mendapati dosa mereka selain dari tidak mengutamakan selain daripada Ahlu l-Bait ke atas Ahlu l-Bait AS. Dan adakah ini dikira dosa wahai Muslimin?

 

 

Nota kaki

64. al-Ausat, hlm. 216.

65. A’yan al-Syi’ah, III, hlm. 265.

66. al-Mustadrak, III, hlm. 126.

67. Tarikh al-Baghdad, II, hlm. 377.

68. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 183.

69. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 37.

70. al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm. 358.

71. Kanz al-Ummal, V,  hlm. 30.

72. al-Isti’ab, II,hlm. 30.

73. al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 193.

74. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 77.

75. Syarh Nahj al-Balaghah, II, hlm. 236.

76. Usd al-Ghabah, IV, hlm. 27.

77. Kifayah al-Talib, hlm. 99.

78. al-Talkhis, III, hlm. 126.

79. Lisan al-Mizan, I, hlm. 432.

80. Tahdhib al-Tahdhib, II, hlm. 320

Analisis Riwayat: Aisyah Bersujud Ketika Kematian Imam Ali(as)

Salamun alaikum warahmatollah. Bismillahi Taala
Benarkah `Aisyah sujud tatkala mendengar berita kematian Ali bin Abi Talib?
.
Abul Faraj Al-Isfahani, tokoh yang terkenal dan diterima di sisi Ahlusunnah di dalam kitab Maqatil Al-Talibin telah menukilkan riwayat yang sahih seperti berikut:
حدثني محمد بن الحسين الأشناني، قال: حدثنا أحمد بن حازم، قال: حدثنا عاصم بن عامر، وعثمان بن أبي شيبة، قالا: حدثنا جرير، عن الأعمش، عن عمرو بن مرة، عن أبي البختري، قال:
لما أن جاء عائشة قتل علي عليه السلام سجدت.
الاصفهاني، مقاتل الطالبيين، اسم المؤلف: أبو الفرج علي بن الحسين (متوفاى356هـ)، ج1، ص11، طبق برنامه الجامع الكبير.
`Aisyah bersujud ketika mendapat berita kematian Ali (a.s) – Al-Isfahani, Maqatil Al-Talibin, jilid 1 halaman 11, software Jami’ah Al-Kabir.
Sanad riwayat ini semuanya sahih dan seluruh perawinya adalah thiqah.

Gambar jilid kitab:Penelitian sanad riwayat:


1) Muhammad bin Husain.

Zahabi mengatakan tentangnya:

الخثعمي. الإمام الحجة المحدث أبو جعفر محمد بن الحسين بن حفص الخثعمي الكوفي الأشناني قدم بغداد
قال الدارقطني أبو جعفر ثقة مأمون.
الذهبي الشافعي، شمس الدين ابوعبد الله محمد بن أحمد بن عثمان (متوفاى 748 هـ)، سير أعلام النبلاء، ج14، ص302، تحقيق: شعيب الأرناؤوط , محمد نعيم العرقسوسي، ناشر: مؤسسة الرسالة – بيروت، الطبعة: التاسعة، 1413هـ.

Al-Khats`ami, Al-Imam Al-Hujjah (mereka yang menghafal tiga ratus ribu hadis beserta sanad dan matannya), dan seorang ahli hadis, Abu Ja`far Muhammad bin Al-Husain bin Hafsh Al-Kats`ami Al-Kufi.
Al-Darqatani berkata: Abu Ja`far adalah seorang yang boleh dipercayai dan amanah.

 

2) Ahmad bin Hazim.

Zahabi mengatakan tentangnya:

ابن أبي غرزة الامام الحافظ الصدوق أحمد بن حازم بن محمد بن يونس بن قيس بن أبي غرزة أبو عمرو الغفاري الكوفي صاحب المسند ولد سنة بضع وثمانين ومئة
وله مسند كبير وقع لنا منه جزء وذكره ابن حبان في الثقات وقال كان متقنا.
سير أعلام النبلاء ج13، ص239

 

Ibnu Abi Gharazah, seorang imam Al-Hafiz (mereka yang menghafal seratus ribu hadis) dan sangat jujur berbicara. Beliau mempunyai musnad yang besar dan salah satu daripadanya telah sampai kepadaku, Ibnu Habban menyebutnya di dalam golongan yang tsiqah dan berkata: Beliau adalah orang yang teliti. – Siyar A`lam Al-Nubala.

3) Uthman bin Abi Syaibah.

Merupakan salah seorang perawi hadis Al-bukhari, Muslim dan Sahih Sittah yang lain. Zahabi mengatakan tentangnya:

عثمان بن أبي شيبة أبو الحسن العبسي مولاهم الكوفي الحافظ عن شريك وجرير وأبي الأحوص وعنه البخاري ومسلم وأبو داود وابن ماجة وابنه محمد وأبو يعلى والبغوي مات في محرم 239 خ م د ق.
الذهبي الشافعي، شمس الدين ابوعبد الله محمد بن أحمد بن عثمان (متوفاى 748 هـ)، الكاشف في معرفة من له رواية في الكتب الستة، ج2، ص12، رقم: 3735، تحقيق محمد عوامة، ناشر: دار القبلة للثقافة الإسلامية، مؤسسة علو – جدة، الطبعة: الأولى، 1413هـ – 1992م.

 

Uthman bin Abi Syaibah seorang penghafal. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ibnu Majah menukilkan riwayat daripadanya. – Al-Zahabi, Al-Kasyif fi Ma`rifah Man Lahu Riwayah fil Kutub Al-Sittah, jilid 2 halaman 12, nombor 3735.

4) Jarir bin Abdul Hamid

Beliau adalah perawi hadis Al-Bukhari, Muslim dan Sahih Sittah yang lain. Ibnu Hajar menulis tentang beliau:

جرير بن عبد الحميد بن قرط بضم القاف وسكون الراء بعدها طاء مهملة الضبي الكوفي نزيل الري وقاضيها ثقة صحيح الكتاب قيل كان في آخر عمره يهم من حفظه مات سنة ثمان وثمانين وله إحدى وسبعون سنة ع
العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاى852هـ)، تقريب التهذيب، ج1، ص139، رقم: 916، تحقيق: محمد عوامة، ناشر: دار الرشيد – سوريا، الطبعة: الأولى، 1406 – 1986.

 

Jarir bin Abdul Hamid bin Qurth dengan dhommah huruf Qafm dan sukun pada huruf Ra’, setelahnya Tha’ muhmalah, adalah warga Kufah dan tinggal di Rey dan menjadi Qadi di sana. Beliau seorang tsiqah dan Sahih Kitab. – Al-‘Asqalani Al-Shafi`i, Ahmad bin Ali bin Hujr Abul Fadhl, Taqrib Al-Tahzib, jilid 1 halaman 139, nombor 916.

5) Sulaiman bin Mihran.

Beliau merupakan perawi hadis Al-Bukhari, Muslim dan Sahih Sittah yang lain. Ibnu Hajar Al-`Asqalani menulis tentang beliau:

سليمان بن مهران الأسدي الكاهلي أبو محمد الكوفي الأعمش ثقة حافظ عارف بالقراءات ورع لكنه يدلس.
تقريب التهذيب ج1، ص254، رقم: 2615

 

Sulaiman bin Mihran adalah seorang yang tsiqah, hafiz (orang yang menghafal seratus ribu hadis), berpengetahuan dalam berbagai bacaan, seorang yang wara`, namun ada menyembunyikan sesuatu. – Taqrib Al-Tazib, jilid 1 halaman 254, nombor 2615.

6) `Amru bin Murrah.

Merupakan perawi hadis Al-Bukhari, Muslim dan Sahih Sittah yang lain. Ibnu Hajar Al-`Asqalani mengatakan tentang beliau:

عمرو بن مرة بن عبد الله بن طارق الجملي بفتح الجيم والميم المرادي أبو عبد الله الكوفي الأعمى ثقة عابد كان لا يدلس ورمي بالإرجاء من الخامسة مات سنة ثماني عشرة ومائة وقيل قبلها ع
تقريب التهذيب ج1، ص246، رقم: 5112

 

`Amru bin Murrah bin `Abdullah bin Thariq Al-Jamali dengan fathah huruf jim dan mim, seorang yang tsiqah, ahli ibadah dan tidak menyembunyikan sesuatu. Beliau dituduh dengan mazhab Murji’ah. – Taqrib Al-Tazib, jilid 1 halaman 246, nombor 5112.

7) Abi Al-Bakhtari, Sa`id bin Fairuz:

Merupakan perawi hadis Al-Bukhari, Muslim dan Sahih Sittah yang lain. Zahabi mengatakan tentang beliau:

سعيد بن فيروز أبو البختري الطائي مولاهم الكوفي… قال حبيب بن أبي ثابت كان أعلمنا وأفقهنا توفي 83 ع.
الكاشف ج1، ص442، رقم: 1946

 

Sa`id bin Fairuz Abu Al-Bakhtari Al-Tha’i… Habib bin Abi Tsabit berkata beliau seorang yang paling alim dan faqih. – Al-Kasyif, jilid 1 halaman 442, nombor 1946.

Zahabi mensyarahkan beliau sebagai berikut:

 

سعيد بن فيروز أبو البختري بفتح الموحدة والمثناة بينهما معجمة بن أبي عمران الطائي مولاهم الكوفي ثقة ثبت فيه تشيع قليل كثير الإرسال من الثالثة مات سنة ثلاث وثمانين ع.
تقريب التهذيب ج1، ص240، رقم: 2380

Sa`id bin Fairuz, seorang yang boleh dipercayai, ada dikaitkan sedikit dengan Syiah dan banyak menukilkan riwayat yang mursal. – Taqrib Al-Tahzib, jilid 1 halaman 240, nombor 2380.

Selain itu, beberapa ulama Sunni yang diterima di sisi Ahlusunnah seperti Ibnu Sa`ad di dalam Thabaqat Al-Kubra, Tabari di dalam Tarikhnya, Abul Faraj Isfahani di dalam Maqatil Al-Talibin, Ibnu Sama`un Baghdadi di dalam Al-Amali, Ibnu Athir Al-Juzri di dalam Al-Kamil Fi Tarikh, Damiri di dalam Hayat Al-Hayawan Al-Kubra, Ibnu Al-Dimasqi di dalam Jawahir Al-Mathalib dan lain-lain lagi menukilkan bahawa tatkala sampai berita kematian Ali bin Abi Talib kepada `Aisyah, beliau membaca syair ini sebagai tanda gembira:

وذهب بقتل علي عليه السلام إلى الحجاز سفيان بن أمية بن أبي سفيان بن أمية بن عبد شمس فبلغ ذلك عائشة فقالت:
فأَلقتْ عَصاها واستقرَّ بها النَّوى كما قرَّ عيناً بالإيابِ المُسافِرُ

الزهري، محمد بن سعد بن منيع ابوعبدالله البصري (متوفاى230هـ)، الطبقات الكبرى، ج3، ص40، ناشر: دار صادر – بيروت؛
الطبري، أبو جعفر محمد بن جرير بن يزيد بن كثير بن غالب (متوفاى310)، تاريخ الطبري، ج3، ص159، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت.
الاصفهاني، أبو الفرج علي بن الحسين (متوفاى356هـ)، مقاتل الطالبيين، ج1، ص11، طبق برنامه الجامع الكبير
ابن سمعون البغدادي، أبو الحسين محمد بن أحمد بن إسماعيل بن عنبس (متوفاى387هـ)، أمالي ابن سمعون، ج1، ص43، طبق برنامه الجامع الكبير.
ابن أثير الجزري، عز الدين بن الأثير أبي الحسن علي بن محمد (متوفاى630هـ) الكامل في التاريخ، ج3، ص259، تحقيق عبد الله القاضي، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة الثانية، 1415هـ.
الدميري المصري الشافعي، كمال الدين محمد بن موسى بن عيسى (متوفاى808 هـ)، حياة الحيوان الكبرى، ج1، ص75، تحقيق: أحمد حسن بسج، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت / لبنان، الطبعة: الثانية، 1424 هـ – 2003م.
الدمشقي الباعوني الشافعي، أبو البركات شمس الدين محمد بن أحمد (متوفاى871 هـ)، جواهر المطالب في مناقب الإمام علي بن أبي طالب ( ع )، ج2 ص 104، تحقيق: الشيخ محمد باقر المحمودي، ناشر: مجمع إحياء الثقافة الاسلامية ـ قم، الطبعة: الأولي، 1412هـ

Sufyan ibnu Umayyah bin Abi Sufyan bin Umayyah bin Abdu Sham membawa berita terbunuhnya Ali (a.s) ke Hijaz. Ketika berita ini sampai kepada Aisyah, beliau mengatakan:

 

Dia meletakkan tongkatnya, gembira dan senang. Sebagaimana gembiranya musafir yang pulang.

Rujukan: Al-Tabaqat Al-Kubra, jilid 3 halaman 40; Tarikh Al-Tabari, jilid 3 halaman 159; Maqatil Al-Talibin, jilid 1 halaman 11; Amali Ibnu Sama’un, jilid 1 halaman 43 (Software Al-Jami’ Al-Kabir). Al-Kamil Fi Tarikh, jilid 3 halaman 259; Hayat Al-Hayawan Al-Kubra, jilid 1 halaman 75; Jawahir Al-Matalb Fi Manaqib Al-Imam Ali bin Abi Talib jilid 2 halaman 104.

 

Ini adalah bait syair dari zaman Jahiliyah yang masih digunakan untuk menyatakan kelegaan dari kesusahan, kesulitan dan banyak masalah.

Perkataan meletakkan tongkat adalah metafora mengenai ketenangan hati. Apabila hati dan fikiran seseorang manusia mencapai kelegaan dan ketenangan, ia menggunakan perkataan “القى عصاه”.
Berdasarkan syair ini, hakikatnya Aisyah mengucapkan bahawa perasaan dan hati beliau tenang setelah mendapat khabar tentang Ali. Dadanya menjadi lapang dan fikirannya senang. Kerana beliau sentiasa menunggu berita seperti ini bagaikan orang yang menunggu musafir di mana kedatangan musafir menyebabkannya gembira dan hatinya tenang?!

Aisyah Tidak Mahu Menyebut Nama Ali

Perseteruan Aisyah terhadap Amirul Mukminin (a.s) tidak hanya bertumpu pada perang Jamal dan setelahnya. Sahih Al-Bukhari dan Sahih Sittah yang lain menyebut bahawa kebencian Aisyah sampai ke peringkat tidak mahu menyebut nama Ali bin Abi Talib:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ مَعْمَرٍ عَنِ الزُّهْرِىِّ قَالَ أَخْبَرَنِى عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَتْ عَائِشَةُ لَمَّا ثَقُلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَاشْتَدَّ وَجَعُهُ اسْتَأْذَنَ أَزْوَاجَهُ أَنْ يُمَرَّضَ فِى بَيْتِى فَأَذِنَّ لَهُ، فَخَرَجَ بَيْنَ رَجُلَيْنِ تَخُطُّ رِجْلاَهُ الأَرْضَ، وَكَانَ بَيْنَ الْعَبَّاسِ وَرَجُلٍ آخَرَ. قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ مَا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقَالَ لِى وَهَلْ تَدْرِى مَنِ الرَّجُلُ الَّذِى لَمْ تُسَمِّ عَائِشَةُ قُلْتُ لاَ. قَالَ هُوَ عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ.
البخاري الجعفي، ابوعبدالله محمد بن إسماعيل (متوفاى256هـ)، صحيح البخاري، ج 1   ص 83، ح195، كِتَاب الْوُضُوءِ، بَاب الْغُسْلِ وَالْوُضُوءِ في الْمِخْضَبِ وَالْقَدَحِ وَالْخَشَبِ وَالْحِجَارَةِ ؛ ج 1   ص 236، ح634، كتاب الْجَمَاعَةِ وَالْإِمَامَةِ، بَاب حَدِّ الْمَرِيضِ أَنْ يَشْهَدَ الْجَمَاعَةَ ؛ ج 2   ص 914، ح2448، كِتَاب الْهِبَةِ وَفَضْلِهَا، بَاب هِبَةِ الرَّجُلِ لِامْرَأَتِهِ وَالْمَرْأَةِ لِزَوْجِهَا ؛ ج 5   ص 2160، ح5384، كِتَاب الطِّبِّ، بَاب اللَّدُودِ، تحقيق د. مصطفي ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.
النيسابوري القشيري، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج 1   ص 312، ح418، كِتَاب الصَّلَاةِ، بَاب اسْتِخْلَافِ الْإِمَامِ إذا عَرَضَ له عُذْرٌ من مَرَضٍ وَسَفَرٍ، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Ubaidullah bin Abdillah berkata: Aisyah berkata: Ketika Nabi (s.a.w) sakit keras, baginda meminta izin daripada para isterinya untuk dirawat di rumahku. Maka mereka mengizinkan. Baginda keluar dengan di papah oleh dua lelaki dengan kakinya terseret di tanah. Lelaki itu ialah Ibnu Abbas dan seorang yang lain. Ubaidullah berkata: Saya menyebut ucapan Aisyah kepada Ibnu Abbas, maka beliau berkata kepada saya: Apakah engkau tahu siapakah lelaki yang tidak disebut namanya oleh Aisyah? Jawabku: Tidak. Ibnu Abbas menjawab: beliau ialah Ali bin Abi Talib. – Sahih Muslim, jilid 1 halaman 312.

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari dan Badruddin di dalam Umdatul Qura mensyarahkan riwayat ini dengan mengatakan:

قوله قال هو على بن أبى طالب زاد الإسماعيلى من رواية عبد الرزاق عن معمر ولكن عائشة لا تطيب نفسا له بخير ولابن إسحاق في المغازي عن الزهري ولكنها لا تقدر على أن تذكره بخير.
العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاى852 هـ)، فتح الباري شرح صحيح البخاري، ج 2   ص 156، تحقيق: محب الدين الخطيب، ناشر: دار المعرفة – بيروت.
العيني الغيتابي الحنفي، بدر الدين ابومحمد محمود بن أحمد (متوفاى 855هـ)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري، ج 5   ص 192، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Kata-kata yang dinukilkan oleh Al-Bukhari: “قال هو على بن أبىطالب”, telah ditambah oleh Al-Ismaili daripada riwayat Abdul Razzaq, daripada mu`ammar. Namun Aisyah tidak senang hati dengan Ali. Ibnu Ishaq di dalam Al-Maghazi menukilkan daripada Al-Zuhri bahawa Aisyah tidak terdaya menyebut beliau (Ali) dengan kebaikan. – Al-`Asqalani Al-Syafie, Fathul Bari Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 2 halaman 156; Umdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 5 halaman 192.

Ahmad bin Hanbal juga menukil riwayat ini dengan menambah:

وَلَكِنَّ عَائِشَةَ لاَ تَطِيبُ له نَفْساً.
مسند الإمام أحمد بن حنبل، ج 6، ص 228، ح25956

Namun jiwa Aisyah tidak berbahagia terhadapnya (tidak suka kepadanya). – Musnad Al-Imam Ahmad bin Hanbal, jilid 6 halaman 228.
Kesimpulan dari analisis hadis ini:
  • Aisyah mensyukuri dan tenang dengan syahidnya Imam Ali(a)
  • Bukti bukan semua para sahabat itu bersifat adil, malah mereka ada sampai ke tahap berperang dan membunuh sesama mereka, bagaimana boleh dikatakan Allah redha kepada mereka semua?
  • Membuktikan bahawa wujudnya perasaan dengki di hati Ummul Mukminin Aisyah, maka tidak mungkin Ahlulbait(a) yang disucikan dari segala jenis kekotoran(33:33) juga turut termasuk mereka

13 Tentara Amerika Tewas Dihajar Bom Mobil

Kabul – Serangan bom bunuh diri dengan menggunakan mobil telah menewaskan sedikitnya 13 pasukan International Security Assistance Force (ISAF) di Kabul, ibu kota Afganistan. Serangan ini dianggap paling mematikan pada 10 tahun terakhir terhadap pasukan yang dipimpin NATO di Afganistan. “Kami dapat memastikan bahwa 13 anggota International Security Assistance Force (ISAF) telah tewas,” kata juru bicara ISAF, Sabtu (29/10).

Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Juru bicara Taliban memastikan serangan itu dari pihak mereka “Serangan bunuh diri telah kami lakukan pada bus pengangkut pasukan asing,” demikian pernyataan Zabiullah Mujahid dalam pesan tertulis kepada kantor berita AP. Taliban mengatakan mereka telah mengisi penuh kendaraan dengan 700 kg bahan peledak.

Salah satu saksi mata mengatakan, mobil toyota corolla merah telah terlihat dengan kecepatan tinggi mengejar bus RHINO lapis baja. “Itu adalah ledakan besar,” kata Mohammad Wali, salah seorang mahasiswa yang sedang menyeberang jalan tepat di depan konvoi ISAF.

Serangan tersebut terjadi pada saat ISAF melakukan konvoi dengan kendaraan militernya di daerah Darulaman, bagian barat kota, di dekat Museum Nasional. Entah bagaimana Kabul yang dijaga lebih ketat dibanding daerah selatan dan timur Afganistan dapat dijebol oleh pelaku bom bunuh diri. Juru bicara Pentagon menegaskan bahwa 13 tentara yang tewas tersebut adalah orang Amerika. Tak hanya menewaskan 13 anggota ISAF, serangan tersebut juga turut merenggut nyawa lima orang warga sipil dan seorang polisi. Hal ini diungkapkan oleh juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afganistan.

Pada hari yang sama, terjadi juga penembakan terhadap tiga warga Australia dan seorang ahli bahasa di Provinsi Uruzgan, Afghanistan Selatan. Penembakan tersebut dilakukan oleh seorang yang mengenakan seragam Tentara Nasional Afganistan. PBB mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi saat ini merupakan yang paling buruk semenjak dimulainya perang 10 tahun yang lalu, meskipun 130.000 tentara asing telah dikerahkan.

Peristiwa ini menambah daftar panjang pasukan Amerika pimpinan NATO yang tewas di Afganistan. Bulan Agustus 2011 lalu, sebuah helikopter Chinook NATO juga ditembak jatuh oleh gerilyawan Taliban. Serangan itu menewaskan 31 tentara pasukan khusus Amerika dalam salah satu insiden tunggal terburuk di Afganistan. Pesawat itu dihantam sebuah granat roket dan jatuh di lembah Tangi, Provinsi Wardak, sebelah barat ibu kota Afganistan, Kabul. Hal itu menjadikannya insiden paling berdarah bagi Amerika Serikat dan koalisi dalam perang selama satu dekade.

Dalil-dalil Raj’ah, menjawab ejekan Wahabi

Salamun alaikum wa rahmatollah. Bismillahi Taala

Dalil-dalil Raj’ah, menjawab ejekan Wahabi, kecaman terhadap saluran satelit Ahlul Bait (saluran dalam bahasa Parsi ini telah ditutup kerana menghina Ahlusunnah).

بسم الله الرحمن الرحيم

Tajuk perbahasan: I’tiqad tentang Raj’ah menurut Al-Quran, Syiah dan Ahlusunnah.
Saluran Satelit Velayat: 22/12/1389.
Perhatian: Kebanyakan sumber-sumber yang disebut berasal dari peranti lunak Maktabah Ahlul Bait.

Muhsini: Atas permintaan penonton yang dihormati, klip video dari beberapa saluran satelit yang mengandungi syubhat (keraguan) akan kita tayangkan kepada penonton dan jawapan-jawapannya akan kita dengar daripada ustaz Husaini Al-Qazwini.

[Tayangan klip 01].

Sajudi: Sudah tentu ada beberapa akidah aneh dan terpencil lain yang mereka katakan setelah kita mati – (sebenarnya kita tidak mempercayainya) – kita akan dibangkitkan dan diruj’ahkan, dan selama 50 ribu tahun akan hidup dan meraja lela. Kata-kata yang kurang waras di mana nabi Muhammad akan berdiri dan 50 ribu tahun menjadi raja di dunia dan memerintah. Beberapa orang telah mencipta hadis-hadis ini secara luar biasa, iaitu secara tidak waras. Sudah tentu dibawah pengaruh dadah. Jikalau tidak bagaimana mungkin mereka mengatakan hadrat Ali akan datang dan 40 ribu tahun memerintah. Bagaimana pula tajuk kiamat sehingga sekali lagi kembali ke dunia? Ruj’ah salah satu akidah yang dipegang dengannya oleh saudara kita Syiah. [Tayangan klip berakhir]

Muhsini: Salah satu akidah-akidah Syiah ialah Raj’ah. Tolong jelaskan tentang Raj’ah untuk penonton menurut ulama Syiah.

Ustaz Husaini Al-Qazwini:

هر دم از اين باغ، بري مي‌رسد تازه‌تر از تازه‌تري مي‌رسد

Sebuah saluran satelit yang kita harapkan melaung sumber pegangan Ahlusunnah, namun malangnya ia sudah menjadi alat kelui Wahabi, dan ruang untuk menuturkan beberapa penghinaan mengarut terhadap kesucian Syiah. Orang ini sampai sekarang tidak tahu, samada Raj’ah yang betul atau Ruj’ah. Ia tampil selaku pakar menghina dan berkata biadap terhadap akidah Syiah. Ini bukanlah metodologi memberi ucapan. Jikalau ia tulus berbicara, bawakan riwayat-riwayat dan ayat-ayat yang berkaitan dengan Raj’ah dan telitilah, kritiklah secara ilmiyah dan katakanlah riwayat ini contohnya bertentangan dengan ayat dan riwayat tertentu. Kata-kata sebegini seperti “menggunakan perkataan dadah” adalah ucapan yang buruk dan penyamun. Jika tidak buruk dan penyamun, ia tidak juga dikatakan orang ini berbicara dengan kesusasteraan.

Raj’ah jelas merupakan salah satu akidah Syiah dan Syiah beri’tiqad bahawa setelah kemunculan Hadrat Waliyul Asr (Imam Mahdi), akan kembali beberapa orang individu yang mempunyai keimanan ikhlas, dan menurut amalan mereka berada di peringkat yang tinggi, dan sesiapa yang mempunyai kemunafikan yang tertinggi juga akan kembali.

1. Syaikh Mufid

Al-Marhum Syaikh Mufid (meninggal pada tahun 413 Hijrah) merupakan salah seorang ulama besar Syiah berkata:

و الرجعة إنما هي لممحضي الإيمان من أهل الملة و ممحضي النفاق منهم، دون من سلف من الأمم الخالية.
المسائل السروية للشيخ المفيد، ص 35
Raj’ah hanyalah untuk mereka yang mempunyai iman keseluruhan dan juga buat mereka yang munafik. Raj’ah tidak termasuk umat sebelumnya. – Al-Masail Al-Sarawiyah Li Syaikh Mufid, halaman 35.

2. Sayid Murtadha

Al-Marhum Sayid Murtadha (meninggal pada tahun 436 Hijrah), murid Syaikh Mufid berkata:

إعلم أن الذي تذهب الشيعة الإمامية إليه أن الله تعالي يعيد عند ظهور إمام الزمان المهدي عليه السلام قوما ممن كان قد تقدم موته من شيعته، ليفوزوا بثواب نصرته و معونته و مشاهدة دولته و يعيد أيضا قوما من أعدائه لينتقم منهم.
رسائل المرتضي للسيد المرتضي، ج 1، ص 125 ـ تفسير مجمع البيان للشيخ الطبرسي، ج 7، ص 405
Ketahuilah sesungguhnya pandangan Syiah Al-Imamiyah ialah ketika kemunculan Imam Al-Zaman Al-Mahdi (a.s), Allah Ta’ala akan mengembalikan kelompok Syiah daripada mereka yang sudah meninggal, untuk memenangkan dengan bantuan dan pertolongan mereka, mereka menyaksikan kerajaannya. Allah Ta’ala mengembalikan kelompok daripada musuh-musuhnya (Ahlul Bait) supaya Imam Mahdi dapat membalas dendam ke atas mereka. – Rasail Al-Murtadha Li Sayid Al-Murtadha, jilid 1 halaman 125, tafsir Majma’ Al-Bayan Li Syaikh Al-Tabrisi, jilid 7 halaman 405.

Sudah tentu kita juga mempunyai riwayat bahawa barangsiapa yang membaca Doa ‘Ahdi selama 40 kali sesudah solat subuh, Allah akan membangkitkanya ketika kemunculan Al-Mahdi (a.s) dan ia diberi taufiq untuk membantu beliau.

Sebahagian Ahlusunnah dan sahabat seperti Abu Tufail Kinani, iaitu ‘Amirah bin Washilah dan beberapa orang sahabat yang meninggal dunia dalam tahun 101 Hijrah merupakan sebahagian daripada mereka yang berakidah dengan Raj’ah iaitu beberapa individu akan kembali ke dunia. – Al-Mu’arif Li ibnu Qutaibah (المعارف لإبن قتيبة الدينوري), jilid 1 halaman 341.

Begitu juga dikatakan Abdul Razzaq, guru kepada Bukhari dan tuan punya kitab Al-Mushannaf adalah sebahagian daripada mereka yang mempunyai akidah Raj’ah. – Al-Imam Ja’far Al-Sodiq, Li Abdul Halim Al-Jundi, cetakan Majlis A’la Islami (الإمام جعفر الصادق لعبد الحليم الجندي), Mesir, halaman 225.

Zahabi menukilkan tentang Abdul Razzaq, daripada Ibnu Ma’in yang juga salah seorang tokoh besar Ahlusunnah telah berkata:

لو إرتد عبد الرزاق عن دينه ما تركنا حديثه.
سير أعلام النبلاء للذهبي، ج 9، ص 573 ـ ميزان الإعتدال للذهبي، ج 2، ص 612
Jikalau sekali pun Abdul Razzaq murtad dari agamanya, kami tidak akan meninggalkan hadisnya. – Siyar A’lam Al-Nubala, jilid 9 halaman 573, Mizan Al-i’tidal Li Zahabi, jilid 2 halaman 612.

Oleh itu bukan hanya Syiah sahaja yang beri’tiqad dengan Raj’ah, namun para sahabat dan beberapa tokoh terkenal Ahlusunnah seperti Abdul Razzaq dan Abu Tufail Kanani juga mempunyai akidah Raj’ah.

Muhsini:
Apakah wujud ayat-ayat Al-Quran tentang Raj’ah atau tidak?

Ustaz Husaini Al-Qazwini:
Dalam kaitan dengan Al-Quran, ianya sangat jelas dan terang. Jikalau sesiapapun yang terbiasa dengan Al-Quran, ia akan melihat bahawa terdapat ayat-ayat yang menerangkan tentang Raj’ah.

Ayat pertama:
Allah (s.a.w) berfirman di dalam surah Al-Naml ayat 83:

وَ يَوْمَ نَحْشُرُ مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ فَوْجًا مِمَّنْ يُكَذِّبُ بِآَيَاتِنَا فَهُمْ يُوزَعُونَ
Dan (ingatlah) hari Kami himpunkan dari tiap-tiap umat sekumpulan besar orang-orang yang mendustakan ayat-ayat keterangan Kami, lalu mereka dijaga serta diatur keadaan dan perjalanan masing-masing.

Jelas sekali perhimpunan ini bukanlah perhimpunan di hari kiamat. Ini disebabkan dalam perhimpunan kiamat, semua akan dikumpulkan:

وَ حَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا
سوره كهف / آيه 47

dan Kami himpunkan mereka (di padang Mahsyar) sehingga Kami tidak akan tinggalkan seorang pun daripada mereka. – Surah Al-Kahfi, ayat 47.

Oleh itu ayat 83, surah Al-Naml bukanlah untuk kiamat dan ia adalah untuk sebelumnya.

Di dalam ayat 87 surah Al-Naml juga Allah berfirman:

وَ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَ مَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَ كُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ

Dan (ingatkanlah) hari di tiup sangkakala, lalu terkejutlah – gerun gementar – makhluk-makhluk yang ada di langit dan yang ada di bumi, kecuali mereka yang dikekhendaki Allah; dan kesemuanya akan datang kepadaNya dengan keadaan tunduk patuh.

Tidak syak lagi, bahawa di hari kiamat semua orang hadir.

Di dalam tafsir Ali bin Ibrahim Al-Qumi terdapat bahawa seorang perawi bertanya kepada Imam Sodiq (a.s) tentang ayat yang mulia ini 83 surah Al-Naml, yang Ahlusunnah mengatakan ayat ini berkaitan dengan hari kiamat. Beliau mengatakan:

يحشر الله تعالي في القيامة من كل أمة فوجا و يذر الباقين؟ إنما ذلك في الرجعة، فأما آية القيامة فهذه «وَ حَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَداً … ».
تفسير القمي لعلي بن إبراهيم القمي، ج 2، ص 37 ـ بحار الأنوار للعلامة المجلسي، ج 53، ص 51، ح 27

Apakah Allah Ta’ala memilih dan menghimpunkan sekumpulan daripada tiap-tiap umat di hari kiamat, dan baki yang lain tidak dihimpunkan? Ayat ini hanya berkaitan dengan Raj’ah. Maka ini ayat tentang kiamat: dan Kami himpunkan mereka (di padang Mahsyar) sehingga Kami tidak akan tinggalkan seorang pun daripada mereka. – Tafsir Al-Qumi Li Ali bin Ibrahim Al-Qumi, jilid 2 halaman 37; Biharul Anwar Li Allamah Al-Majlisi, jilid 53 halmaan 51, hadis 27.

Ayat ke-dua:

Di dalam surah Al-Ghafir ayat ke-11, Allah (s.w.t) berfirman:

رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَ أَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَي خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ

Wahai Tuhan kami! Engkau telah mematikan kami dua kali, dan telah menghidupkan kami dua kali, maka kami mengakui akan dosa-dosa kami. Oleh itu adakah sebarang jalan untuk keluar (dari neraka)?”

Kami bertanya kepada orang-orang ini tentang dua kali mati dan dua kali hidup untuk apa? Manusia satu kali hidup di dunia dan satu kali meninggal dunia. Oleh itu tidak ada maknanya dua kali mati dan dua kali hidup. Melainkan daripada yang kami percaya, ayat ini berkaitan dengan Raj’ah dan beberapa orang yang sudah mati akan hidup, dan dua kali mati, keesokan hari kiamat juga dua kali dihidupkan.

Ayat ke-tiga:

Di dalam surah Al-Baqarah ayat 259, tentang Nabi Uzair (a.s):

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَي قَرْيَةٍ وَ هِيَ خَاوِيَةٌ عَلَي عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّي يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِئَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِئَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَي طَعَامِكَ وَ شَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَ انْظُرْ إِلَي حِمَارِكَ وَ لِنَجْعَلَكَ آَيَةً لِلنَّاسِ وَ انْظُرْ إِلَي الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَي كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Atau (tidakkah engkau pelik memikirkan wahai Muhammad) tentang orang yang melalui sebuah negeri yang telah runtuh segala bangunannya, orang itu berkata: “Bagaimana Allah akan menghidupkan (membina semula) negeri ini sesudah matinya (rosak binasanya)? ” Lalu ia dimatikan oleh Allah (dan dibiarkan tidak berubah) selama seratus tahun, kemudian Allah hidupkan dia semula lalu bertanya kepadanya: “Berapa lama engkau tinggal (di sini)?” Ia menjawab: “Aku telah tinggal (di sini) sehari atau setengah hari”. Allah berfirman:” (Tidak benar), bahkan engkau telah tinggal (berkeadaan demikian) selama seratus tahun. Oleh itu, perhatikanlah kepada makanan dan minumanmu, masih tidak berubah keadaannya, dan perhatikanlah pula kepada keldaimu (hanya tinggal tulang-tulangnya bersepah), dan Kami (lakukan ini ialah untuk) menjadikan engkau sebagai tanda (kekuasaan Kami) bagi umat manusia; dan lihatlah kepada tulang-tulang (keldai) itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali kemudian Kami menyalutnya dengan daging “. Maka apabila telah jelas kepadanya (apa yang berlaku itu), berkatalah dia: Sekarang aku mengetahuinya (dengan yakin), sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”.

Ayat ke-empat:

Di dalam ayat 55 dan 56 surah Al-Baqarah, Allah berfirman:

وَ إِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَي لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّي نَرَي اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَ أَنْتُمْ تَنْظُرُونَ / ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan (kenangkanlah) ketika kamu berkata: “Wahai Musa! Kami tidak akan beriman kepadamu sehingga kami dapat melihat Allah dengan terang (dengan mata kepala kami)”. Maka kerana itu kamu disambar petir, sedang kamu semua melihatnya.

Kemudian kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati (atau pengsan dari sambaran petir itu), supaya kamu bersyukur.

Oleh itu perbahasan Raj’ah bukanlah semata-mata khusus kepada Syiah. Al-Quran juga menerangkan masalah ini dan Raj’ah mempunyai asas di sisi al-Quran. Tidak ada sesuatu yang kami lihat di dalamnya.

Muhsini:
Apakah wujud di dalam kitab Ahlusunnah perkara yang berkaitan dengan Raj’ah seseorang setelah kematian?

Ustaz Husaini Al-Qazwini:

Di antara kitab-kitab Ahlusunnah, Baihaqi mempunyai kitab yang bernama “Hayat Al-Anbiya ba’da wafatihim” (حياة الأنبياء بعد وفاتهم) di mana ia adalah kitab terperinci dan mengaitkan beberapa orang nabi yang hidup setelah mati dan tinggal di dunia. Begitu juga Ibnu Abi Al-Dunya iaitu salah seorang ulama besar Ahlusunnah yang masyhur dengan Al-Hafiz, beliau mempunyai kitab yang dinamakan (من عاش بعد الموت), dan di dalamya ada nama seseorang yang hidup setelah kematian dan tinggal di dunia. Oleh itu jelaslah bahawa orang-orang ini tidak membaca tentang perkara ini.

Begitu juga Ibnu Kathir Dimasyqi Al-Salafi di dalam kitab Al-Bidayah Wa Al-Nihayah, beliau mengatakan tentang saudara lelaki Rabi’ bin Khirash bahawa ia telah meninggal dunia dan hidup setelah mati. Khabar ini disampaikan kepada seseorang dan ia berkata, ketika saya mati, saya bertemu dengan tuhan:

و لكن لقيت بعدكم ربي و لقيني بروح و ريحان و رب غير غضبان.
البداية و النهاية لإبن كثير الدمشقي، ج 6، ص 175

Begitu juga Baihaqi di dalam kitab Dalail Al-Nubuwwah (دلائل النبوة) menukilkan, seseorang yang bernama Abdullah bin Ubaid Anshari yang telah mati di dalam peperangan Shiffin atau jamal. Setelah mati beliau hidup kembali dan mula memberikan ucapan dan menyampaikan berita:

محمد رسول الله و أبو بكر الصديق و عمر الشهيد و عثمان الرحيم.
دلائل النبوة للبيهقي، ج 5، ص 55 ـ البداية و النهاية لإبن كثير الدمشقي، ج 6، ص 175 ـ تاريخ مدينة دمشق لإبن عساكر، ج 39، ص 222

Saudara-saudara yang mencipta orang-orang ini tidak menggunakan dadah kerana ia ada memberi manfaat mereka. Pengikut Ahlusunnah dan Wahabi hendaklah melihat baik-baik kitab Ibnu Kasir Al-Dimasyqi. Contoh-contoh perkara ini di dalam riwayat saudara kita terlalu banyak, kitab-kitab mereka sendiri menceritakannya, dan tidak ada masalah yang timbul jika dapat memberi manfaat kepada mereka. Namun jika mendatangkan faedah kepada Syiah, mereka menuduh sebagai mencipta hadis dengan menggunakan dadah.

Muhsini: Apakah pandangan anda tentang kata-kata saudara ini di dalam klip tersebut?

Ustaz Husaini Al-Qazwini: Matlamat mereka ini ialah mengejek seluruh akidah Syiah. Jika mereka tidak demikian, kita tidak akan membalas dengan mengungkit khurafat mereka. Antaranya ialah:

Contoh-contoh khurafat di dalam kitab Ahlusunnah

Contoh pertama:

Abu Muhammad Dhiauddin di dalam kitab Raudhatul Nazir, halaman 55 menukilkan daripada Sayid Ahmad Rafa’i dan berkata:

Beliau datang ke Madinah untuk menziarahi makam nabi (s.a.w):

فظهرت له يد جده عليه الصلاة و السلام فقبلها و الناس ينظرون.

Kelihatan padanya tangan Rasulullah (s.a.w) dan beliau mencium tangan baginda. Orang ramai menyaksikan peristiwa ini.

و هذه القصة تواتر خبرها و علا ذكرها و صحت أسانيدها و كتبها الحفاظ و المحدثون و كثير من أهل الطبقات و المؤرخين.

Kisah ini mutawatir dan mempunyai reputasi yang luas, sanadnya sahih, ianya ditulis para huffaz, muhaddisun serta ramai ahli sejarah.

Mereka yang mencipta perkara ini tidak menggunakan dadah dan ia bukanlah dalam situasi luar biasa.

Contoh ke-dua:
Mengenai Zaid bin Kharijah daripada kalangan Anshar yang meninggal di zaman Usman. Al-Bukhari di dalam Tarikh Al-Kabir, jilid 3 halaman 383 menukilkan bahawa beliau hidup kembali setelah mati dan berkata:

أبو بكر القوي في أمر الله … و عمر الأمير و عثمان علي منهاجهم انقطع العدل، أكل الشديد الضعيف.
تاريخ مدينة دمشق لإبن عساكر، ج 30، ص 406

Abu Bakar kuat dalam urusan Allah… Umar adalah amir dan setelah Usman, keadilan terputus… – Tarikh Madinah Dimasyqi Li ibnu Asakir, jilid 30 halaman 406.

Iaitu setelah Usman, terputuskah keadilan selepas kedatangan Ali bin Abi Talib.

Mizzi salah seorang tokoh ilmu rijal Ahlusunnah di dalam Tahzibul Kamal Fi Asma Rijal, jilid 10 halaman 62 mengatakan:

Zaid bin Kharijah tidak mengatakan demikian, namun ia mengatakan:

صدق صدق صدق أبو بكر الصديق، ضعيف في جسده، قوي في أمر الله، كان ذلك في الكتاب الأول، صدق صدق صدق عمر بن الخطاب، قوي في جسده، قوي في أمر الله، كان ذلك في الكتاب الأول، صدق صدق صدق عثمان بن عفان، مضت إثنتان و بقي أربع.

Abu Bakat berkata benar, berkata benar, berkata benar, lemah badannya, kuat dalam urusan Allah. Perkara ini ada di dalam kitab terawal. Umar Ibnu Al-Khattab berkata benar, berkata benar, berkata benar. Beliau mempunyai kekuatan fizikal dan kuat di dalam urusan Allah. Itulah yang ada di dalam kitab-kitab terawal. Usman berkata benar, berkata benar, berkata benar, dua khalifah sudah berlalu, dan tertinggal empat orang.

Saudara-saudara perhatikanlah! dua orang khulafa yang sudah pergi dikatakan Abu bakar dan Umar dan masih ada empat orang lagi. Iaitu Usman, Ali bin Abi Talib, Muawiyah dan Yazid! Lihatlah! Mereka tidak menyampaikan kabar-kabar tersebut tanpa menggunakan dadah dan mereka adalah manusia biasa. Mata Sajudi tidak pernah melihat mereka ini. Namun ketika sampai kepada perbahasan Raj’ah yang juga perbahasan Al-Quran, yang mempunyai berbagai riwayat tentang perkara ini, beliau mengatakan: Ramai yang mencipta hadis-hadis ini bukan dalam keadaan biasa, iaitu secara tidak waras, sudah tentu di bawah pengaruh dadah.

Contoh ke-tiga:
Ibnu Al-Qayyim Jawziyah, murid Ibnu Taimiyah dan seorang penyebar pemikiran Ibnu Taimiyah, mempunyai sebuah kitab yang bernama Al-Ruh. Saudara sekelian perhatikan baik-baik, harap diberi perhatian penuh kata-kata saya supaya asas kata-kata Ibnu Qayyim dapat didengar dengan baik. Beliau menukilkan daripada Abi Hatim Al-Razi yang berkata:

Pernah ketika kami di Makkah seorang yang sebelah mukanya hitam dan sebelah lagi putih bangun dan memberi ucapan kepada orang ramai di tepi Baitullah Al-Haram. Katanya:

يا أيها الناس! اعتبروا بي! فإني كنت أتناول الشيخين و أشتمهما، … أذ أتاني آت فرفع يده فلطم وجهي و قال: يا عدو الله! يا فاسق! ألست تسبّ أبا بكر و عمر (رضي الله عنهما)؟! و فأصبحت و أنا علي هذه الحالة.
الروح لإبن قيّم الجوزية، ص 190، چاپ دار الكتب العلمية و ص 207، چاپ مكتبة الصفا

Wahai manusia! ambillah pengajaran daripadaku! Sesungguhnya aku berkata lancang terhadap kedua-dua Syaikh… Pada suatu malam seseorang datang ke dalam mimpiku seraya mengangkat tangannya dan menampar wajahku. Beliau berkata: Wahai musuh Allah! Wahai orang yang fasiq! Tidakkah engkau menghina Abu Bakar dan Umar? Apabila bangun tidur dan aku menjadi seperti ini. – Al-Ruh Li Ibnu Qayyim Al-Jawziyah, halaman 190, cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyah, halaman 207.

Ada seorang yang mengatakan barangsiapa yang setiap hari menghina di dalam saluran satelit, hendaklah seluruh badannya menjadi hitam.

Contoh ke-empat:

Ibnu Qayyim Al-Jawziyah juga di dalam kitab yang sama, Al-Ruh, halaman 191, beliau menukilkan kisah yang lain dan berkata:

Muhammad bin Abdullah Al-Muhallabi berkata: Saya bermimpi seperti berada di suatu tempat Bani Fulan.

و إذن النبي (صلي الله عليه و سلم) جالس و معه أبو بكر و عمر واقف قدامة، فقال له عمر: يا رسول الله! إن هذا يشتمني و يشتم أبا بكر، فقال: جئ به يا أبا حفص! فأتي برجل فأذن هو العماني و كان مشهورا بسبهما، فقال له النبي (صلي الله عليه و سلم): …. .

Nabi (s.a.w) juga duduk di sana dan bersama baginda ialah Abu Bakar dan Umat yang duduk di depannya. Maka Umar berkata kepada baginda: Orang ini mengutuk aku dan Abu Bakar. Maka baginda bersabda: Bawakan dia kepadaku wahai Aba Hafsh! Lelaki yang berwarga Oman itu dibawa dan beliau terkenal dengan menghina kedua-dua Abu Bakar dan Umar.

Rasulullah bersabda: Seksalah ia. Aku pun menyeksa ia. Kemudian Rasulullah bersabda: Sembelihlah ia…. aku bangun dari tidur dan pergi kepada orang yang berada di dalam mimpiku. Aku mendengar dari rumahnya suara tangisan dan aku bertanya: Apa yang terjadi? Mereka mengatakan: Kepala beliau disembelih malam tadi di atas katilnya. Saya pergi dan melihat lehernya, mirip sepertimana beliau disembelih dalam mimpiku.

Ini semua dicipta tanpa menggunakan dadah kerana ia memberikan manfaat kepada Abu Bakar dan Umar.

Contoh ke-lima:

Dalam riwayat yang lain, iaitu halaman yang sama beliau nukilkan daripada perawi tersebut, yang mengatakan: Saya melihat sesuatu perkara yang ajaib di Madinah:

كان رجل يسب أبا بكر و عمر فبينا نحن يوما من الأيام بعد صلاة الصبح إذ أقبل رجل و قد خرجت عيناه و سالتا علي خديه.

Lelaki yang mencerca Abu Bakar dan Umar, matanya keluar dari kelopak dan tergantung di pipi.

Aku bertanya: Apa yang terjadi. Jawabnya: Malam tadi aku bermimpi bahawa Rasulullah (s.a.w) ada bersama Ali di mana Abu Bakar dan Umar turut bergabung dengan mereka. Mereka berdua (Abu Bakar dan Umar) berkata kepada Rasulullah:

هذا الذي يؤذينا و يسبنا.

Inilah orang yang menyakiti dan mencerca kami. Rasulullah (s.a.w) bersabda:

من أمرك بهذا يا أبا قيس؟ فقلت له: علي!!!

Siapakah yang menyuruh kamu begini wahai Aba Qais? Maka aku pun menjawab: Ali!!!

Sungguh aneh sekali! Mereka yang mencipta perkara ini sama sekali dalam keadaan waras!

فأقبل علي بوجهه و يده و قد ضم أصابعه و بسط السبابة و الوسطي و قصد به إلي عيني … .

Maka Ali menjadi marah dan mengeluarkan mataku dari kelopaknya. Ketika aku bangun dari tidur, aku melihat mataku terkeluar dari kelopaknya dan tergantung di pipi. Oleh kerana itu aku ke masjid untuk memberitahu ini adalah akibat menghina Abu Bakar dan Umar.

Ibnu Qayyim merupakan salah seorang tokoh penting di kalangan Wahabi yang mempunyai keinginan luar biasa seperti Encik Sajudi. Ia berkata seperti ini tanpa sebarang masalah, tanpa pengambilan dadah, atau arak atau nabiz. Namun jikalau ada satu riwayat bahawa Imam Sodiq berkata:

Beberapa orang mukmin akan Raj’ah di zaman kemunculan Imam Mahdi.

Mereka mengatakan ianya bermasalah dan orang yang mencipta hadis ini telah menggunakan dadah.

Contoh ke-enam:
Saya ingin bertanya kepada Encik Sajudi, saya berharap dia tahu tentang orang mati ini agar dapat memberikan jawapan:

Dalam kemajuan sains teknologi ini, telah terbukti bahawa bayi tidak akan tinggal di dalam rahim ibunya lebih dari 9 bulan. Saudara kita Ahlusunnah ini mengatakan tempoh paling lama kehamilan ialah 4 tahun. Apakah ini? Ada sebahagian yang lain seperti Maliki mengatakan bahawa bayi boleh berada di dalam rahim ibunya selama 5 tahun. – ruj. Al-Fiqh ‘alal Mazahib Arba’ah Li Ibnu Jawzi, jilid 4 halaman 246 (الفقه علي المذاهب الأربعة لإبن الجزري).

Nawawi salah seorang ilmuan terkenal Ahlusunnah juga mengatakan:

أقصي مدة الحمل أربع سنين و به قال أحمد و هو المشهور عن مالك.
المجموع لمحيي الدين النووي، ج 18، ص 194

Tempoh paling lama kehamilan ialah empat tahun menurut Ahmad bin Hanbal. Imam Malik juga mempunyai pandangan seperti ini. – Al-Majmu’ Li Muhiyuddin Al-Nawawi, jilid 18 halaman 194.

Ibnu Hazm Al-Andalusi di dalam kitab Al-Mahalla, jilid 10 halaman 317 mengatakan:

و ذهب الإمام مالك إلي أن أقصي مدة الحمل سبع سنين.

Imam Malik berpandangan bahawa tempoh paling lama kehamilan ialah tujuh tahun.

Kemudian ia mengatakan:

فلو طلق الرجل إمرأته أو مات عنها، فلم تنكح زوجا آخر، ثم جاءت بولد بعد سبع سنين من الوفاة أو الطلاق، لحقه الولد.

Jikalau seorang lelaki menceraikan isterinya atau mati, maka isterinya tidak menikah dengan lelaki yang lain. Setelah tujuh tahun kematian suami atau ditalak ia melahirkan anak, maka bapa anak itu adalah lelaki tersebut.

Menurut pandangan saudara-saudara kita ini, ianya tidak mempunyai masalah dan mereka tidak menggunakan dadah untuk mencipta perkara ini, situasinya adalah tidak luar biasa, mereka mengerjakan solat dan membaca al-Quran setelahnya, beristikharah, dan mengeluarkan fatwa seperti ini.

Contoh ke-tujuh:

Jikalau Encik Sajudi merujuk kepada kitab paling sahih di kalangan kitab-kitabnya sendiri seperti Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim, beliau akan melihat tuhan yang mereka sembah adalah tuhan yang akan meletakkan kakinya ke dalam api neraka, kemudian api neraka akan mengatakan cukuplah:

يقال لجهنم: هل امتلأت؟ و تقول: هل من مزيد؟ فيضع الرب تبارك و تعالي قدمه عليها، فتقول: قط قط.
صحيح البخاري لمحمد بن اسماعيل البخاري، ج 6، ص 48

Contoh ke-lapan:
Musa (a.s) datang dan menampar wajah malaikat maut sampai terkeluar biji mata dari kelopaknya. Malaikat maut pergi kepada Allah dan mengadu tentang Musa (a.s):

أرسل ملك الموت إلي موسي عليهما السلام، فلما جاءه صكه، فرجع إلي ربه، فقال: أرسلتني إلي عبد لا يريد الموت، فرد الله عز وجل عليه عينه … .
صحيح البخاري لمحمد بن اسماعيل البخاري، ج 2، ص 92، ح 1339

Semua ini tidak ada masalah dan mereka tidak menggunakan dadah untuk membuat hadis ini.

Contoh ke-sembilan:
Dengan megahnya mereka ini tidak segan silu berkata lancang terhadap Rasulullah dengan mengatakan:

Rasulullah (s.a.w) menggiliri 11 isteri-isterinya di dalam satu jam di malam dan siang hari. Mereka bertanya kepada Anas: Mampukah insan menggiliri 11 orang dalam satu jam? Beliau menjawab: Iya, kami menceritakan bahawa baginda dikurniakan kekuatan 30 lelaki. – Sahih Al-Bukhari, jilid 1 halaman 71 hadis nombor 278.

أنس بن مالك قال: كان النبي صلي الله عليه و سلم يدور علي نسائه في الساعة الواحدة من الليل و النهار و هن إحدي عشرة، قال: قلت لأنس: أو كان يطيقه؟ قال: كنا نتحدث أنه أعطي قوة ثلاثين.
صحيح البخاري لمحمد بن اسماعيل البخاري، ج 1، ص 71، ح 278

Lihatlah! mereka mencipta pembohongan demi pembohongan! semua ini tidak bermasalah.
dan… Nabi (s.a.w) meletakkan Aisyah di atas bahunya agar ia dapat melihat menonton acara tarian , Nabi berhasrat ingin membunuh diri…

Semua ini tidak ada masalah dan Encik Sajudi tidak membicarakan perkara ini bahawa mereka telah menggunakan dadah.

Saya mohon maaf kepada saudara-saudara Ahlusunnah. Ketika mereka ini bersikap biadap terhadap kesucian Syiah, kami tidak ada pilihan memberikan reaksi. Andainya seseorang bertanya kepada Encik Sajudi: Mereka ini mereka cipta khurafat dan ia ada juga di dalam kitab Sahih kamu, iaitu mereka telah minum dan mabuk dengan jag arak yang sudah khalifah ke-dua minum, dalam keadaan mabuk mereka mencipta hadis ini. Apakah jawapan anda? Kerana Ibnu Abi Syaibah Al-Kufi guru kepada Al-Bukhari sendiri di dalam kitab Al-Mushannaf, jilid 6 halaman 502 berkata:

أن عمر بن الخطاب سائر رجلا في سفر و كان صائما، فلما أفطر أهوي إلي قربة لعمر معلقة فيها نبيذ قد خضخضها البعير، فشرب منها فسكر، فضربه عمر الحد، فقال له: إنما شربت من قربتك، فقال له عمر: إنما جلدناك لسكرك.

Seorang lelaki meminum arak daripada wadah khalifah ke-dua dan mabuk. Umar pun menjatuhkan hukuman had peminum arak dan lelaki itu berkata: Saya minum dari wadah yang engkau minum. Umar berkata: Aku tidak menghukum engkau kerana minum, tapi kerana engkau mabuk.

Encik Sajudi! Jikalau ada orang bertanya kepada kamu: mereka yang mencipta hadis-hadis seperti Nabi (s.a.w) menggiliri 11 orang isterinya dalam satu jam, Bani Israel menonton Nabi Musa (a.s) terlanjang, atau Nabi (s.a.w) kelihatan di Baitullah haram secara terlanjang, mungkinkah mereka ini meminum dari wadah kepunyaan khalifah kedua. Apakah jawapan kamu?

Kami tidak berniat menghina, semua ini kami bawa daripada kitab-kitab kamu beserta dengan sanadnya. Perkara ini diceritakan di dalam kitab Al-Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, iaitu guru kepada Al-Bukhari, yang merupakan kitab muktabar di kalangan Ahlusunnah.

Mungkin Ahlusunnah mengatakan bahawa tidak ada masalah dengan nabiz. Nawawi di dalam kitab Al-Majmu’, jilid 2 halaman 563 mengatakan:

و أما النبيذ فهو نجس، لأنه شراب، فيه شدة مطربة، فكان نجسا كالخمر.

“Sesungguhnya Nabiz adalah najis, kerana ia adalah arak, dalamnya sungguh kacau, ia adalah najis seperti khamar”.

Sehinggakan Ibnu Hajar Al-Asqalani, di dalam Fathul Bari Fi Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 7 halaman 52; Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushannaf jilid 5 halaman 488; Ibnu Abdil Bar di dalam Al-Isti’ab Fi Ma’rifatil Sahabah jilid 3 halaman 1154 telah menukilkan:

Khalifah Umar sendiri ketika luka parah di akhir hayatnya telah berkata:

أسقوني نبيذا. فكان من أحب الشراب إليه. فخرج النبيذ من جرحه مع صديد الدم.

الطبقات الكبري لمحمد بن سعد، ج 3، ص 354 ـ تاريخ مدينة دمشق لإبن عساكر، ج 44، ص 430 ـ تاريخ المدينة لإبن شبة النميري، ج 3، ص 910 ـ الامامة و السياسة لإبن قتيبة الدينوري، تحقيق الزيني، ج 1، ص 26 ـ تاريخ الطبري، ج 3، ص 265 ـ كتاب الفتوح لأحمد بن أعثم الكوفي، ج 2، ص 327 ـ النهاية في غريب الحديث لإبن الأثير، ج 2، ص 496 ـ لسان العرب لإبن منظور، ج 11، ص 358

Berikan aku minum nabiz. Nabiz adalah arak yang paling dia suka. Maka nabiz pun keluar dari lukanya bersama darah.

– Al-Tabaqat Al-Kubra Li Muhamad Ibnu Sa’ad, jilid 3 halaman 354; Tarikh Madinah Al-Dimasyq Li Ibnu Asakir, jilid 44 halaman 430; Tarikh Al-Madinah Li Ibnu Syabah Al-Numairi, jilid 3halaman 910; Al-Imamah Wa Siyasah Li Ibnu Qutaibah Al-Dainuri, tahqiq Al-Zaini, jilid 1 halaman 26; Tarikh Al-Tabari, jilid 3 halmaan 265; Kitab Al-Futuh Li Ahmad bin A’tham Al-Kufi, jilid 2 halaman 327; Al-Nihayah Fi Gharib Al-Hadis Li Ibnu Athir, jilid 2 halaman 496; Lisanul Arab Li Ibnu Manzur, jilid 11 halaman 358.

Mereka yang membawa perbahasan ini dan perkara-perkara ini tidak dipermasalahkan. Pada pandangan orang yang membawa perkara ini, mereka tidak perlu memberi penghormatan kepada khalifah kedua. Apa yang mereka nukilkan, khalifah ke-dua minum nabiz di penghujung riwayat hidupnya sehingga mengalir keluar bersama darah dari badannya, mereka ini tidak dipermasalahkan. Namun jikalau perkara ini terdapat di dalam kitab Syiah atau misalannya Allamah Al-Majlisi menulis:

“Seorang lelaki meminum arak daripada wadah khalifah ke-dua dan mabuk. Umar pun menjatuhkan hukuman had peminum arak dan lelaki itu berkata: Saya minum dari wadah yang engkau minum. Umar berkata: Aku tidak menghukum engkau kerana minum, tapi kerana engkau mabuk”.

Jikalau di dalam kitab Syiah tertulis seperti ini yang mengaitkannya kepada Umar, apa yang Sajudi lakukan? Tidakkah ia akan datang ke saluran satelit melemparkan seribu satu penghinaan kepada Syiah, Allamah Majlisi dan Syaikh Al-Tusi? Beginikah beliau tampil sebagai anak lelaki menukilkan perkara ini daripada Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hajar Asqalani, Ibnu Abdul Bar dan Muhammad Ibnu Sa’ad kemudian mengatakan mereka ini menggunakan dadah, meminum arak dan mabuk?

Kami tidak tahu apakah yang akan mereka katakan! Namun mereka hendaklah mengatakan:

فأنا تصرفون؟!

Ketahuilah bahawa kiamat itu wujud, mahsyar juga wujud. Wahai encik Sajudi! encik Haidari! Fulan bin Fulan! Begini anda datang ke saluran satelit dan berbicara, bukannya di belakang pintu, semua orang menontonnya. Anda akan ditanya oleh Allah tentang apa yang anda lakukan nanti. Jika kamu benar-benar mempunyai masalah ilmu, kami akan terima permasalah ilmiyah. Kamu datanglah dan katakan riwayat ini ada di dalam kitab-kitab Syiah sedangkan ia bertentangan dengan al-Quran dan Sunnah. Kami akan melihat anda selaku anak lelaki iaitu tampil melakukan perbahasan ilmiyah, kami juga akan tampil dan memberikan jawapan kepada persoalan ilmiyah anda. Bukan seperti yang anda tampil menghina, mempermainkan dan menuturkan kata-kata kesat mengatakan riwayat-riwayat ini dicipta oleh orang yang menggunakan dadah dan dalam keadaan tidak waras! Kita ada membaca syair Turki bahawa salah satu syair daripada lantunan kata-kata Zainab Al-Kubra terhadap Yazid:

گورخ او گونن بيزه جبريل امين ياور اولا گورولا محكمه الله آرادا داور اولا
سن ايلن حرمله منلنده علي اصغر اولا

Takutlah hari di mana Jibrail Al-Amin yang kita percaya dan tertegaknya mahkamah. Allah akan menjadi hakimnya. Harmalah mengiringi engkau dan Ali Asghar mengiringi kami.

Encik Sajudi! takutlah kepada hari yang pengadilan daripada Allah Yang Maha Mengetahui, hakim dan Qadi adalah Nabi (s.a.w). Kamu hendaklah menjawab kebiadapan-kebiadapan kamu terhadap Ahlul Bait yang suci dan maksum.

Muhsini:

Beliau dalam tambahan kata-katanya menyatakan:

Kata-kata yang kurang waras di mana nabi Muhammad akan berdiri dan 50 ribu tahun menjadi raja di dunia dan memerintah. Beberapa orang telah mencipta hadis-hadis ini secara luar biasa, iaitu secara tidak waras… Jikalau tidak bagaimana mungkin mereka mengatakan hadrat Ali akan datang dan 40 ribu tahun memerintah.

Apakah wujud riwayat seperti ini?

Ustaz Husaini Al-Qazwini:

Kita tidak mempunyai kitab seperti Ahlusunnah seperti Sahih Al-Bukhari dan Sahih Muslim sehingga kita mengatakan ianya dari awal hingga akhir adalah sahih. Kita mempunyai kitab-kitab riwayat dan kita teliti menurut kaedah rijal kita sendiri. Setiap riwayat yang sahih mengikut kriteria, timbangan dan perbandingan rijal, kita akan terima. Jika tidak sahih maka kita tidak akan terima.

Noktah pertama:

Al-Marhum Allamah Majlisi di dalam Biharul Anwar, jilid 53, halaman 104, Hasan bin Sulaiman Al-Hilli di halaman 183 menukilkan daripada Mukhtasar Al-Bashair dan mengatakan:

طريقه عن اسد بن اسماعيل عن أبي عبد الله أنه قال حين سئل عن اليوم الذي ذكر الله مقداره في القرآن «فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ (معارج / 5) » و هي كرة رسول الله صلي الله عليه و آله، فيكون ملكه في كرته خمسين ألف سنة و يملك أمير المؤمنين في كرته أربعة و أربعين ألف سنة.

Daripada Imam Sodiq yang ditanya tentang tempoh yang disebut oleh Allah di dalam Al-Quran:
“pada suatu masa yang banyak bilangan tahunnya menurut hitungan masa kamu yang biasa (Surah Al-Sajdah, ayat 5)” Zaman Rasulullah Raj’ah ialah 50 ribu tahun manakala Ali bin Abi Talib ialah 44 ribu tahun.

Noktah ke-dua:
Riwayat ini sama sekali mursal. Kerana orang yang menukilkan riwayat ini Hasan bin Sulaiman Al-Hilli (meninggal pada tahun 830 Hijrah), yang menukilkan daripada Baha’uddin Ali bin Abdul Hamid Husain (meninggal pada tahun 768 Hijrah) adalah tuan punya kitab Al-Anwar Al-Mudhi’ah yang menjadi murid kepada Syahid Awwal. Beliau adalah orang yang menukilkan riwayat daripada mereka yang meninggal pada kurun ke-lapan Hijrah, iaitu daripada Asad bin Ismail. Hampir 650 tahun jurang di antara kedua-dua riwayat ini, dan jikalau diandaikan jurang antara sanad-sanad perawi adalah 35 tahun, terdapat hampir 18 tahun jurang yang tidak ia sebutkan nama perawinya. Asad bin Ismail juga adalah seorang yang majhul di mana beliau tidak pernah dipuji di dalam kitab rijal Syiah mahupun Ahlusunnah. Ayatullah Al-Khu’i di dalam kitab Mu’jam Al-Rijal Al-Hadis, jilid 3 halaman 241, nombor 1218 menjelaskan:

أسد بن إسماعيل: من أصحاب الصادق عليه السلام، رجال الشيخ و ذكره البرقي.

Tidak sedikitpun menerangkan pujian atau kecaman terhadap beliau dan beliau sama sekali seorang yang majhul dan tidak muktabar dari sisi pandangan Syiah, tidak juga dari pandangan Ahlusunnah.

Dengan ini, Sajudi telah menukilkan satu riwayat daripada seorang perawi yang majhul menurut perspektif Syiah untuk dijadikan hujjah sambil mengatakan orang yang mencipta hadis ini tidaklah dalam keadaan waras dan beliau mula menyerang akidah Syiah.

Muhsini: Klip yang kedua siap untuk ditayang, mari kita tonton:

[Tayangan klip ke-dua]

Sajudi:
Sekarang kami bertanya kepada anda, di manakah Imam? Apakah anda mengatakan ada di mana-mana atau tidak? Kamu melihat Imam di semua tempat; ada di setiap bilik. Mengapakah kamu mengatakan ‘Ya Imam Ridha’ beliau akan segera mendengarnya samada di bawah laut, di atas tujuh langit, di mana-mana tempat. Kami tidak lihat beza di antara Allah dan imam, kedua-duanya sudah menjadi satu. Sekelip mata mereka menyedari dan memahami. Mereka punyai kuasa yang di luar semulajadi. Mereka mengerti berbagai bahasa. Mereka tidak perlu mengulang. Ini kami katakan sifat untuk Tuhan di mana setiap tempat kita pergi, samada di dalam laut, di atas, kita menadah tangan dan berdoa ‘Ya Allah’. Kita tahu bahawa di mana-mana kita berada, Dia mendengar suara kita. وَ هُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ . Ini adalah sifat Allah. Kamu mengatakan ia (Imam) bersama kamu di mana pun kamu berada. Kamu meletakkan sifat Allah kepada hambanya. Kamu letakkan kepada 11 dan yang lain. Kami menganggap sifat ini hanya pada Allah. Namun kamu mengatakan sesuatu yang lain, lagi pun saya mengatakan dalam ucapan-ucapan saya bahawa… sampai kita tidak pernah mendengar tentang Allah walau pun kita tahu sifat ini ada pada mereka…. Namun seperti ini adalah khayalan…. Iaitu kamu mengatakan bahawa ia mempunyai sifat khayalan…. Iaitu manusia juga melihat dalam khayalan, maknanya saya duduk dalam satu majlis yang zalim, saya tidak mampu katakan Ya Ali Madad…. Dalam hati saya katakan “Wahai Ali bantulah”, saya mengatakannya dalam hati… suara hati saya didengarinya. Bukan setakat hati saya, malah hati semua orang. Bagi kami ini hanyalah sifat untuk Allah sahaja, kamu meletakkannya kepada hamba… masalahnya di sini… kalau saya hitung memang terlalu banyak…
Adalah menghairankan, bukan hanya di dunia ini sahaja… saya mengatakan mereka ini bukan dalam keadaan biasa ketika mencipta hadis ini, saya yakin mereka bukan dalam situasi normal, namun mereka sedang di bawah pengaruh dadah.

[Penghujung tayangan klip]

Ustaz Husaini Al-Qazwini:
الحمد الله الذي جعل اعدائنا من الحمقاء
Noktah pertama: Saudara ini mengatakan:

وَ هُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

Kami anggap sifat ini hanya untuk Allah.

Siapalah engkau ingin mengatakan begini wahai Sajudi?! Tidakkah mufti besar Arab Saudi dan Lujnah ‘Ali Ifta (لجنه عالي إفتاء) mengingkari ayat ini secara rasmi dan mengatakan ayat ini tidak benar?!

من إعتقد أن الله في كل مكان فهو من الحلولية … .
فتاوي اللجنة الدائمة للبحوث و الإفتاء، ج 3، ص 216 – 218

Barangsiapa yang beriktikad bahawa Allah berada di mana sahaja, maka ia daripada kalangan Al-Haluliyyah, maka pertamanya ia perlu bertaubat, jika tidak ia adalah kafir dan murtad dari Islam. – Fatawa Al-Lujnah Al-Daimah Lil Buhus Al-Ifta’, jilid 3 halaman 216 hingga 218.

Maksudnya, barangsiapa yang mengatakan Allah berada di mana-mana, maka ia kafir dan murtad.

Mula-mula anda hendaklah pergi membetulkan tauhid kamu. Kamu mengatakan begini: “Tuhan berada di mana-mana sahaja dan anda meletakkannya kepada para imam” Kamu yang tidak menerima sifat ini pada tuhan. Bila pula kami harapkan menerima perletakan sifat ini pada para Imam? Ketuhanan yang menjadi pegangan kamu boleh menunggang nyamuk dan bersiar-siar di atas langit! – Al-Ta’sis fi Rad Asas Al-Taqdis Li Ibnu Taimiyah (التأسيس في ردّ اساس التقديس لإبن تيمية), jilid 1 halaman 568.

Nabi (s.a.w) bersabda: Saya melihat Allah dalam keadaan:

شاب أمرد جعد قطط، عليه حلية حمراء … .
الطبقات الحنابلة، ج 3، ص 81

Seorang pemuda yang berambut kerinting, berkain merah- Al-Tabaqat Al-Hanabilah, jilid 3 halaman 81.

Beginilah Allah menurut kamu! Tentang tuhan manakah yang sedang kamu bicarakan?!

Pembesar dan pemimpin kamu Abu Bakar bin Arabi berkata:

Tuhan yang kami (Wahabi) kenal ialah mempunyai semua; iaitu mata, telinga, tangan dan kaki. Hanya dua yang tidak ada iaitu janggut dan aurat.

Kamu mengatakan:

ألزموني ما شئتم، فإني إلتزمه إلا اللحية و العورة.
العواصم من القواصم، ج 2، ص 283

Wahai encik Sajudi! Andainya anda datang ke sini dan menerangkan perkara ini daripada ulama besar kamu kepada penonton. Apakah masalahnya jika tuhan mempunyai janggut?! Tuhan ynag mempunyai telinga, tangan, kaki, mata dan mulut, kenapakah tuhan tidak perlu ada janggut?! Apa sebab tuhan tidak perlu ada aurat?! Kamu yang berkata: Ketika tuhan bersemanyam di atas arasy, ia lebih besar empat jari dari setiap bahagian. Pegilah betulkan tauhid kamu terlebih dahulu dan kenalilah tuhan kamu sebaik-baiknya. Kemudian barulah datang dan berkata bahawa Syiah meletakkan sifat Allah kepada para Imam (a.s)!.

كلم الله موسي … و عليه جبة صوف و سراويل صدف و نعلان من جلد حمار غير ذكي.
ذيل تاريخ بغداد للذهبي، ج 17، ص 200 ـ تاريخ الإسلام للذهبي، ج 27، ص 148 ـ ميزان الإعتدال للذهبي، ج 1، ص 615 ـ الكامل لعبد الله بن عدي، ج 2، ص 273 ـ تاريخ مدينة دمشق لإبن عساكر، ج 61، ص 48 و 49 ـ ذيل تاريخ بغداد لإبن النجار البغدادي، ج 2، ص 147 ـ تهذيب الكمال في أسماء الرجال للمزي، ج 7، ص 412 ـ سير أعلام النبلاء للذهبي، ج 16، ص 532 ـ لسان الميزان لإبن حجر العسقلاني، ج 4، ص 114 ـ المستدرك علي الصحيحين للحاكم النيشابوري، ج 2، ص 379 ـ مسند أبي يعلي، ج 8، ص 399 ـ التمهيد لدبن عبد البر، ج 17، ص 435 ـ جامع البيان لإبن جرير الطبري، ج 16، ص 181 ـ أحكام القرآن لإبن العربي، ج 3، ص 253 ـ تفسير القرآن العظيم لإبن كثير الدمشقي، ج 1، ص 601 ـ الدر المنثور لجلال الدين السيوطي، ج 3، ص 116

Allah berbicara dengan Nabi Musa (a.s)… beliau mempunyai jubah diperbuat dari bulu, seluar daripada kulit cengkerang dan 2 sepatu dari kulit keledai yang tidak pintar.

Saudara Sajudi yang dihormati! Pergilah anda betulkan ini semua!

Noktah ke-dua:

Saya ingin bertanya kepada anda:

Seluruh umat Islam di serata dunia, di Arab Saudi, Iran Amerika, Eropah, Afrika dan Australia sembahyang, mereka menuturkan di dalam solat: Assalamu Alaika Ya Ayyuhannabiyyu Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh (السلام عليك أيها النبي و رحمة الله و بركاته).

Apakah Nabi (s.a.w) tidak mendengar salam ini? Jikalau Bani (s.a.w) tidak mendengarnya, mengapakah Allah berkuasa memberikan kudrat pengertian ini kepada Nabi-Nya di mana baginda mendengar dari jauh suara salam berjuta-juta insan dan perkara ini tidak bermasalah sama sekali? Kamu bertanya bagaimanakah ia menjadi begitu? Sehinggakan kamu hendaklah bertanya kepada Lujnah Ali Ifta Saudi sendiri: Bolehkah di tempat السلام عليك أيها النبي و رحمة الله و بركاته kita mengucapkan السلام علي النبي و رحمة الله و بركاته?
Mereka akan katakan tidak boleh. – Fatawa Al-Lujnah Al-Daimiyyah Lil Buhuth Wal Ifta’, jilid 7 halaman 7, fatwa nombor 6035.

Apa yang Muhammad bin Ismail Al-Bukhari di dalam Sahih Al-Bukhari serta Muslim bin Hajjaj Nisyaburi dalam Sahih Muslim nukilkan daripada Abdullah bin Mas’ud bahawa hendaklah insan mengatakan:
السلام عليك أيها النبي و رحمة الله و بركاته.
صحيح البخاري لمحمد بن اسماعيل البخاري، ج 2، ص 59 ـ صحيح مسلم لمسلم بن حجاج النيشابوري، ج 2، ص 13

Salam hendaklah kepada orang yang dibicarakan. Tokoh anda juga pernah mengeluarkan fatwa bahawa sembahyang boleh dikerjakan dalam bahasa bukan Arab dan Abu Hanifah mengatakan tidak ada masalah:

تجوز قراءة القرآن بالفارسية و غيرها من الألسنة، فيجعل كأنه قرأ القرآن بالسريانية و العبرانية، فتجوز الصلاة عنده لهذا.
المبسوط للسرخسي، ج 1، ص 234 ـ بدائع الصنائع لأبي بكر الكاشاني، ج 1، ص 131

Dibolehkan bacaan Al-Quran dengan bahasa Parsi dan selain daripadanya sepertimana pembacaan Al-Quran dibolehkan dengan bahasa Siryani dan Ibrani, maka solat pun dibolehkan dengannya.

Maknanya, tidak ada masalah solat dalam bahasa Parsi, Turki, Inggeris, Perancis, Jerman, Kurdis dan Lori!

Sehinggakan beliau berkata:

و لو إفتتح الصلاة بالفارسية بأن قال: «خداي بزركتر أو خداي بزرك» يصير شارعا عند أبي حنيفة.
بدائع الصنائع لأبي بكر الكاشاني، ج 1، ص 131

Jikalau perbukaan solat diucapkan dengan bahasa Parsi: Khudaya Buzurktar atau Khudaya Buzurk, ianya tidak bermasalah menurut Abu Hanifah. – Bidai’ Al-Shanai’ Li Abi Bakr Al-Kasyani, jilid 1 halaman 131.

Ibnu Nujaim Al-Misr di dalam kitabnya Bahrul Raiq (بحر الرائق), jilid 1, halaman 536 dan Hashiyah Rad Al-Muhtar (حاشيه ردّ المحتار) Ibnu Abidin, jilid 1 halaman 522 telah mengeluarkan fatwa:

و لو كبر بالفارسية أو سمي بالفارسية عند الذبح أو لبي عند الاحرام بالفارسية أو بأي لسان سواء كان يحسن العربية أو لا، جاز بالإتفاق.
المبسوط للسرخسي، ج 1، ص 36

Jikalau bertakbir atau menyebut Bismillah dalam ketika menyembelih, atau Labbaik ketika ihram dengan bahasa Parsi atau dengan mana-mana bahasa alah dibenarkan menurut kesepakatan ulama. – Al-Mabsut Lil Sarakhsi, jilid 1 halaman 36.

Wahai Sajudi! Sebelum anda menjadi Wahabi, anda adalah pengikut Hanafi. Hasyiah Rad Al-Muhtar Ibnu Abidin dan Dar Al-Mukhtar adalah kitab Fikah Hanafi. Oleh itu barangsiapa yang membaca “Ya Rasulallah! Durud bar to (يا رسول الله! درود بر تو)” sebagai ganti السلام عليك أيها النبي و رحمة الله و بركاته, atau dalam bahasa Inggeris, Perancis dan Jerman, ianya tidak bermasalah dalam pandangan anda.

Baiklah, bagaimana Nabi (s.a.w) menjawab semua salam ini dengan berbagai bahasa? Ini menunjukkan bahawa mereka ini tidak mempunyai bakat dengan al-Quran dan syariat.

Noktah ke-tiga:

Mereka mengatakan kepada kita:

“Di mana pun kamu berada, di di bawah laut, di dalam pesawat, di Amerika, di Soviet dan Australia, jika menyeru Imam Ridha (a.s), beliau mendengar nama kamu, ini sifat khusus untuk Allah yang telah kamu letakkan kepada Imam Rhida. Bolehkah manusia mendengar suara orang ramai dari tempat lain?

Apa yang kamu katakan tentang malaikat maut? Sayuthi salah seorang tokoh besar ilmuan kamu menukilkan daripada Ibnu Abbas dan mengatakan:

أنه سئل عن نفسين إتفق موتهما في طرفة عين واحد في المشرق و واحد في المغرب، كيف قدرة ملك الموت عليهما؟ قال: ما قدرة ملك الموت علي أهل المشارق و المغارب و الظلمات و الهواء و البحور إلا كرجل بين يديه مائدة يتناول من أيها شاء.
الدر المنثور لجلال الدين السيوطي، ج 5، ص 172

Sesungguhnya beliau ditanya tentang dua jiwa yang mati serentak satu di sebelah timur dan satu lagi di sebelah barat, bagaimakah malaikat maut mempunyai kuasa atas kedua-duanya? Beliau menjawab: Tidaklah berkuasa malaikat Maut terhadap orang Timur, Barat, dalam kegelapan, di udara dan samudera melainkan seperti seorang lelaki yang ada hidangan di hadapannya, beliau mengambil yang mana ia suka. – Al-Dur Al-Mansur Li Jalaluddin Al-Sayuthi, jilid 5 halaman 172.

Sayuthi di dalam kitab yang sama di halaman 172 mengatakan:

إن الله حوي الدنيا لملك الموت حتي جعلها كالطست بين يدي أحدكم، فهل يفوته منها شئ؟

Sesungguhnya Allah meletakkan dunia untuk malaikat maut seperti sebuat wadah yang dia dapat melihat semuanya…

Encik Sajudi! Tuhan yang Maha Berkuasa menganugerahkan kudrat ini kepada malaikat maut, dapat melihat sekalian seluruh dunia dan orang ramai dalam satu tempat itu, ia mencabut nyawa ribuan nyawa tanpa sebarang masalah dalam kerjanya, Tuhan yang Maha Berkuasa itu sudah tentu tidak bermasalah mengurniakan kudrat tersebut kepada seorang Imam yang maksum yang mana ayat Tathir telah menyebut tentangnya. Ibnu Kasir Dimasyqi sendiri di dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim (تفسير القرآن العظيم), jilid 3 halaman 466 ada menjelaskan bahawa malaikat maut berkata kepada Nabi (s.a.w):

و أنا أتصفحهم في كل يوم خمس مرات، حتي أني أعرف بصغيرهم و كبيرهم منهم بأنفسهم و الله! يا محمد! لو أني أردت أن أقبض روح بعوضة ما قدرت علي ذلك حتي يكون الله هو الآمر بقبضها.
Setiap hari saya bersua 5 kali dengan mereka, sehingga saya tahu diri mereka samada kanak-kanak dan dewasa. Demi Allah! Wahai Muhammad! sekiranya aku ingin mencabut nyawa seekor nyamuk, aku tidak berkuasa melainkan Allah mengarahkannya.

Allah telah memberikan kuasa kepada malaikat maut, apa masalahnya jikalau kuasa ini diberikan kepada Imam maksum?

Noktah ke-empat:

Pergilah kamu mengenal Tuhan kemudian barulah tampil menyatakan pandangan yang berkaitan kuasa yang ada pada para imam. Paling kurang kamu sekadar mengenal Al-Quran. Allah berfirman dalam ayat 42 surah Al-Zummar:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا
Allah mengambil dan memisahkan satu-satu jiwa dari badannya, jiwa orang yang sampai ajalnya semasa matinya.

Encik Sajudi! Anda mengatakan bahawa Malaikat Maut mencabut nyawa semua orang, apakah anda meletakkan sifat ketuhanan kepada Malaikat Maut? Tidakkah ini kufur menurut pandangan anda? Allah iaitu:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا
itulah yang difirmankan dalam ayat 11 surah Sajdah:

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلى‏ رَبِّكُمْ تُرْجَعُون‏
Katakanlah (wahai Muhammad); “Nyawa kamu akan diambil oleh Malikil Maut yang ditugaskan berbuat demikian ketika habis ajal kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Tuhan kamu”.

Di dalam surah Al-Nahl ayat 32:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ

(Iaitu) mereka yang diambil nyawanya oleh malaikat dalam keadaan mereka bersih suci.

Ini semua tidak ada masalah. Mengapakah kamu tidak tentu arah? Kejahilan diri sendiri kamu jadikan timbangan dan mula bersikap biadap terhadap para Imam (a.s) dan menuduh Syiah menggunakan dadah untuk mencipta riwayat ini. Tanggapan ini bukan sahaja dimuatkan di dalam satu saluran satelit dan bukan juga daripada sorang alim sahaja. Bahkan keburukan orang ini di sini yang mengatakan: “Kami sendiri dahulunya Syiah, kemudian menjadi Sunni”! Kalau benar kata-katanya, kamu hendaklah mengatakan seperti Tijani: “Saya dahulu seorang Sunni, guru saya dahulu ialah si fulan dan di tempat itu saya belajar”. Syarif Zahi juga mengatakan: “Saya dahulu seorang Sunni dan Imam solat Jumaat di masjid kota itu, belajar di madrasah itu, si fulan itu adalah guru saya dan sekarang saya sudah masuk Syiah”. Jikalau anda berkata jujur, ceritakan jurai keturunan anda iaitu dari keluarga mana, belajar dari madrasah mana, di belakang ulama Syiah mana anda solat dan marji’ mana anda bertaqlid? Tampillah dan maklumkan anda dari jurai keturunan mana supaya orang ramai dapat tahu siapakah anda sebelum ini. Pernah ada seorang yang pernah menulis kitab, beliau berkata: “Saya dahulu pelajar di Qom dan seorang Syiah, sekarang sudah menjadi Sunni”. Setelah beliau menulis penerangan tentang dirinya, ia mengatakan: “Saya dahulu berada di Qom dan pernah mendaftar dengan Ayatullah Wahid Khurasani untuk pelajaran Bahtsil Kharij”. Seluruh dunia tahu bahawa pengajian Kharij marji’ besar Taqlid tidak perlu berdaftar. Iaitu Tuhan menghina orang ini dengan lidahnya sendiri. Sayid Husain Musawi tampil dengan sebuah pembohongan yang dicipta bahawa “Saya dahulu seorang Syiah dan telah melakukan itu dan ini, dan dengan Ayatullah Sayid Lutfullah Sofi…”, sedangkan Ayatullah Al-Uzma Sofi Gulpaygani adalah seorang Syaikh, bukannya Sayid. Sehinggakan beliau diperingkat tidak tahu beza antara Sayid dan Syaikh menurut pandangan Syiah dan tampil mendakwa: “Saya dahulu seorang Syiah dan menjadi Sunni kerana beberapa perkara”. Tidak ada masalah jikalau benar-benar anda menyelidik dan melihat mazhab Ahlusunnah itu benar, semoga anda diberkati. Kami bukannya tidak senang, namun kami akan mengucapkan keberkatan untuk kamu. Namun janganlah berbohong seperti ini dan bersikap biadab begini.

Pertanyaan penonton.

Pertanyaan 1:

Saya ada pertanyaan tentang saluran satelit Ahlul Bait. Kami yakin ini adalah saluran Syiah, ia mendapat bantuan dana yang banyak dan banyak menyampaikan tabligh. Malangnya beberapa hari lalu kami menyedari pengurus telah menukar warna saluran dan mula menghina sistem kerajaan Islam Iran dan kedudukan rahbar menggantikan perbahasan-perbahasan akidah dan pemikiran agama. Bagi kami terbuktilah ianya sebuah saluran anti revolusid dan bekerja untuk kuasa angkuh dunia, matlamatnya juga menghancurkan Iran dan Syiah.

Pertanyaan saya ialah saya dan penyikut saya memberi banyak bantuan dana sehingga hari ini, apakah hukumnya? Kami benar-benar rasa bersalah. Dengan mengamati bahawa kami sama sekali tidak reda dan Allah juga tidak meredainya. Kami ingin mengambil kembali bantuan-bantuan yang telah kami beri. Di manakah tempat yang harus kami rujuk?

Jawapan 1:

Saluran satelit ini mempunyai laman webnya, anda boleh berkomunikasi dengan mereka dan katakan bahawa kami pernah memberi wang, kami tidak reda secara syar’i, jikalau mereka ini orang syar’i maka hendaklah mereka pulangkan wang-wang ini. Ini disebabkan hibbah dan hibbah tidak boleh ditukar, mereka boleh kembalikan. Contohnya anda telah sumbangkan Saluran Satelit Wilayat dan setelah 50 tahuun kemudian anda mengatakan saya tidak ridha, maka kami bertanggungjawab memulangkan hibbah. Adalah lebih baik jikalau anda bertanya perkara ini kepada rumah-rumah Marji’ taqlid. Saya secara peribadi menganggap perlu dipulangkan mengikut hukum syarak.

Pertanyaan 2:

Saya mempunyai masalah seperti mana penonton sebelum ini di mana saya pernah membantu saluran satelit ini dan sekarang beberapa bulan sangat sukakan saluran satelit anda dan saluran Ahlul Bait. Namun saya yakin bahawa saluran Ahlul Bait, malangnua ia telah melukakan hati saya dan ketika saya menonton saluran sateli ini, kadang-kadang saya tidak dapat tidur dari malam sampai siang. Saya sudah beberapa kali menelefon kepada saluran ini kerana saya pernah membantu saluran ini. Ketika saya menelefon, mereka akan putuskan panggilan dan berkata jangan berbicara tentang politik. Namun mereka sendiri memburukkan kedudukan besar rahbar, menghina Imam Khomeini dan melemparkan cercaan-cercaan yang sangat memalukan, mereka benar-benar melukakan hati insan. Kami pernah menyumbangkan dana kepada saluran ini dan kami tidak tahu bahawa ia akan menjadi begini. Setelah beberapa ketika pejabat saluran ini di Qom telah mereka tutup, sebelum perkara ini terjadi, mereka tidak pernah membicarakan perkara politik, tidak pernah menghina sesiapa pun, kemudian mula mempersoalkan revolusi Imam Khomeini dan mengatakan revolusi ini bukan syar’i. Mereka membawa dalil sendiri dan mula mengarut sendiran. Malangnya, saya yakin bahawa saluran ini bukan hanya diasaskan untuk memfitnah sunni dan Syiah, namun ia juga untuk memfitnah sesama Syiah di mana mereka membawa beberapa orang Syiah Iran, Tajikistan dan Afghanistan dalam beberapa bahagian dan memecah belahkan antara mereka. Kami benar-benar mengadu tentang saluran satelit ini.

Jawapan 2

Beberapa bulan yang lalu ketika mereka bertanya kepada saya, bahawa kami pernah mengutarakan dan saya memberikan beberapa pandangan. Mereka ini rasa tidak senang hati mengapakan si fulan mengkritik kami dan mengapakah ia mengkritik sebuah saluran Syiah, rancangan tv Wilayat? kami telah membicarakan perkara ini beberapa bulan lalu.

Ayatullah Al-Uzma Muhaqqiq Kabali sendiri bukanlah orang Iran dan ia adalah marji’ taqlid Afghanistan. hampir lima bulan lalu dia mengatakan:

هرگونه كمك به اين شبكه، خلاف شرع است و از باب إعانه بر إثم و عدوان است.

Sebarang sumbangan terhadap saluran ini bertentangan dengan Syara’ dan bantuan terhadapnya adalah dosa.

Pernah pada suatu hari kamu menyaksikan salah seorang warga Afghanistan ini menelefon dan berkata:

من مقلد حضرت آيت الله العظمي محقق كابلي بودم، ولي حرف ايشان را قبول ندارم و محكوم مي‌كنم.

Saya dahulu bertaqlid kepada Ayatullah Al-Uzma Muhaqqiq Kabali, namun kata-katanya tidak saya terima dan saya mengecamnya.

Mereka ini hakikatnya sedang menuju ke arah jalan Khawarij. Jika kamu benar-benar seorang muqallid, kamu perlu berpegang dengan fatwa-fatwa marji’ taqlid sendiri dan tidak boleh membantah. Kamu hendaklah menjadi samada muqallid atau mujtahid.

Perkara ini telah pun berlalu dan hendaklah memohon kepada Allah supaya nasib kita tidak terjebak. Ayatullah Syahid Madani pernah membaca sebuah riwayat dan air matanya mengalir, dia berkata:

Pada suatu hari salah seorang daripada isteri-isteri Nabi (s.a.w) (Samada Aisyah atau Ummu Salamah) bangun dari tidur dan melihat Nabi (s.a.w) tiada di katilnya. Pada mulanya beliau menyangka bahawa Nabi (s.a.w) pergi kepada salah seorang isterinya. Setelah itu beliau tidak melihat baginda di bilik lain dan mendengar suara tangisan dari atas bumbung rumah. Beliau pergi ke sana dan melihat Nabi (s.a.w) dalam keadaan sujud. Titisan air matanya membasahi lantai. Badannya menggigil seperti orang digigit ular, dan menangis seperti ibu muda yang kehilangan sesuatu. Baginda menyebut dua ayat:

رب لا تكلني إلي نفسي طرفة عين ابداً … .

Wahai Tuhanku, selama-lamanya janganlah biarkan aku memutuskan sendiri walau sekedip mata! Janganlah Kau ambil nikmat-nikmat yang baik telah Kau berikan padaku.

Ketika doa baginda selesai, isteri baginda berkata, aku pergi ke hadapan baginda dan berkata: Wahai Rasullah! ketika engkau mengatakan “janganlah biarkan aku memutuskan sendiri walau sekedip mata selama-lamanya!” Maka apakah yang perlu kita lakukan?

Baginda bersabda: Saudaraku Yunus (a.s) membuat keputusan sendiri sekelip mata, baginda terkurung dalam perut ikan.

Kesimpulannya adalah, kita semua ketika melakukan kesilapan, tidak kira saya atau sesiapun, maka kita berada dalam serangan Syaitan. Oleh itu hendaklah kita berdoa supaya Allah menjadikan akibat baik untuk kita, dan berserahlah kepada Allah. Hari ini di zaman keghaiban Imam Zaman (a.s), para marji’ taqlid adalah timbalan umum Imam Zaman. Maka hendaklah kita lihat apakah pandangan marji’ taqlid agar amalan-amalan kita mematuhi pandangan para marji’.

Pertanyaan ke-3:

1. Dalam ayat ke 18 surah Fath:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
Ayat ini mengenai 1400 orang di mana ia termasuk Abu Bakar, Umar, Talhah, Zubair dan Ali. Manakala ayat:

وَ السَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَ الْأَنْصَارِ وَ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَ رَضُوا عَنْهُ وَ أَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
سوره توبه / آيه 100

Ini juga tentang mereka. Lelaki yang pertama adalah Abu Bakar (r.a), remaja pertama ialah Ali (a.s), perempuan pertama ialah Khadijah dan hamba yang pertama ialah Bilal. Jikalau Allahiyari mengatakan mereka ini murtad, maka terdapat di dalam surah Al-Maidah ayat 54:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَ يُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَ لَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah dari ugamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Ia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela.

Kaum tersebut murtad setelah kewafatan Nabi (s.a.w) dan siapakah kaum ini (فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَ يُحِبُّونَهُ) yang mengasihi Allah dan Allah mengasihi mereka?

2. Kami tidak menganggap encik Allahiyari sebagai seorang Syiah untuk kita bicarakan tentagnya. Barangsiapa yang ingin mencari Rafidhah janganlah meneliti saluran Ahlul Bait. Saya adalah seorang Sunni, ketika Rahbar berkata begini, saya kesal ramai Syiah Iran benar-benar membuat panggilan kepada saluran tersebut. Kalau beliau anak jantan, pastilah beliau membela negaranya Afghanistan.

Jawapan 3:

Saya berjanji, insyallah samada saya sendiri atau kawan-kawan kita Yazdani, atau Abul Qosimi akan berbicara khusus tentang sahabat.

Ikhtilaf asas kita dengan saudara-saudara Ahlusunnah yang dikasihi adalah perbahasan Ilmu. Sebarang penghinaan adalah bertentangan dengan pandangan semua orang. Hari ini saya melihat beberapa kali laman web Ayatullah Sistani, beliau menyatakan pada tarikh 28/11/2007 begini:

لأن السنة هم أنفسنا و ليس إخواننا فقط.

Kerana Ahlusunnah, mereka itu adalah diri kita, bukan sekadar saudara kita.

Inilah sikap beliau. Tapi ini bukanlah dalil bahawa kita tidak ada perbahasan ilmiyah.

Fatwa Ayatullah Al-Uzma Wahid Khurasani tentang hubungan dengan Ahlusunnah.

Ayatullah Al-Uzma Al-Khurasani, yang mereka serang, pada 25 Aban 1387, dalam kebanyakan laman web seperti Tabnak, ShiaNews dan Valiasr telah menyebarkan berita dari laman webnya:

تعدادي از افراد نوشته‌اند: ما جمعي هستيم كه در ميان أهل سنت زندگي مي‌كنيم و آنها ما را كافر مي‌دانند و مي‌گويند شيعه كافر است. در اين صورت، آيا ما هم مي‌توانيم با آنها معامله به مثل كنيم؟ همان‌طوري كه آنها ما را كافر مي‌دانند، ما هم با آنها معامله كفار كنيم. مستدعي است وظيفه شرعي ما را در مقابل اين حملات بيان كنيد.

Beberapa individu menulis: Kami adalah masyarakat yang tinggal di kalangan Ahlusunnah. Mereka menganggap kami sebagai kafir dan mengatakan Syiah itu kafir. Dalam perkara ini, apakah kami boleh bermuamalah dengan mereka? Sebagaimana mereka menganggap kami kafir, kami juga bermuamalah kuffar dengan mereka. Mohon diperjelaskan kewajipan kami dalam menghadapi serangan-serangan ini.

Masyarakan mukminin ini menandatangani kertas ini dan mengirimnya kepada Ayatullah Al-Uzma Wahid Al-Khurasani. Beliau pun menjawab:

بسم الله الرحمن الرحيم
هر كس شهادت به وحدانيت خداوند متعال و رسالت خاتم أنبياء (صلي الله عليه و آله و سلم) بدهد، مسلمان است. جان و عِرض و مال او مانند جان و عِرض و مال كسي كه پيرو مذهب جعفري است، محترم است. وظيفه شرعي شما آن است با گوينده شهادتين، هر چند شما را كافر بداند، به حسن معاشرت رفتار كنيد و اگر آنها به ناحق با شما رفتار كردند، شما از صراط مستقيم حق و عدل منحرف نشويد. اگر كسي از آنها مريض شد، به عيادت آنها برويد و اگر از دنيا رفت، بر تشييع جنازه او حاضر شويد و اگر حاجتي به شما داشت، حاجت او را برآوريد. به حكم خدا تسليم باشيد كه فرمود:
وَ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
سوره مائده / آيه 8
و به فرمان خداوند متعال عمل كنيد كه فرمود:
وَ لَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا
سوره نساء / آيه 94
و السلام عليكم و رحمة الله و بركاته.

Dengan nama Allah yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang

Barangsiapa yang menyaksikan keesaan Allah Ta’ala dan kerasulan penutup para Nabi (s.a.w) adalah orang Islam. Nyawa, maruah dan hartanya dihormati seperti nyawa, maruah dan harta pengikut mazhab Ja’fari. Tanggungjawab syar’i anda terhadap orang yang mengucap dua kalimah syahadah ialah berlaku baik dalam sosial walau sebanyak mana pun mereka mengkafirkan anda. Jika mereka bersikap tanpa hak terhadap anda, janganlah menyimpang dari jalan yang lurus dan keadilan. Kalau ada di antara mereka yang sakit, pergilah menziarahi mereka. Jika meninggal dunia, hadirlah dalam pengiringan jenazah mereka. Jikalau ia berhajat sesuatu daripada anda, penuhilah. Patuhilah hukum Allah yang mana Dia berfirman:

Beramallah dengan firman Allah:
وَ لَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
سوره مائده / آيه 8

Surah Al-Nisa, ayat 94.
وَ لَا تَقُولُوا لِمَنْ أَلْقَى إِلَيْكُمُ السَّلَامَ لَسْتَ مُؤْمِنًا
سوره نساء / آيه 94

Wassalamualaikum Wa Rahmatullah Wa Barakatuh.

Inilah fatwa Ayatullah Al-Uzma Wahid Khurasanni tentang Ahlusunnah.

Jikalau kita khilaf cara ini, kita mula mencerca dan menghina, sudah tentu saudara-saudara ini tidak akan mengenal para Imam. Kita mencanang tentang imam Zaman, namun dalam beramal dan sikap, amalan dan sikap kita bukan dari sirah dan sikap Waliyul Asr.

Oleh itu menurut sebahagian fatwa, salah satu doa yang wajib dibaca ialah di akhir Mafatih Al-Jinan iaitu memohon daripada Allah:

أللهم اجعلني من الراضيين بفعله.

Ya Allah, jadikanlah diriku daripada orang yang kerjanya diredai oleh Imam Zaman.

Pertamanya saya menasihatkan dan mau’izah pada diri saya sendiri, kemudian kepada ulama-ulama yang lain, seterusnya kepada penonton-penonton yang menerima kata-kata kami sebagai kebenaran dan harapan kebaikan. Kita mohon daripada Allah agar tidak biarkan diri kita. Janganlah kita diseret ke hadapan (pengadilan) Imam Zaman.

Pertanyaan ke-4:
1. Orang ini (saluran satelit) selalu menjaja nama Ayatullah Zanjani, Ayatullah Wahid Khurasani dan Ayatullah Sistani. Beliau mendakwa mempunyai hubungan rapat dengan Ayatullah tersebut. Pertanyaan saya ialah, oleh kerana kamu mempunyai hubungan marji’, mengapakah kamu tidak menerangkan tajuk-tajuk tersebut dengan marji’ tersebut supaya mereka ini turut melaksanakannya dan menyatakan maklumat? Orang ini mewujudkan kemunafikan di dalam masyarakat. Saya mohon para marji’ kita menyatakan sikap mereka, seperti pernyataan Ayatullah Kabali yang terdapat di dalam internet, dan saya sendiri melihatnya. Beliau memberikan penjelasan supaya para pemuda tidak sesat.

2. Rancangan anda lebih baik pada waktu malam, kerana ramai pemuda-pemuda yang menemui beraneka akidah dapat mendengar rancangan-rancangan agama dan sukakan rancangan anda. Jikalau anda tidak ada, mereka terpaksa menonton siaran yang lain. Namun jikalau kamu ada, yakinlah mereka akan mengadap siaran anda dan meraih lebih banyak maklumat.

Jawapan:

1. Mungkin tak ada orang yang mempunyai hubungan dengan Ayatullah Al-Uzma Zanjani seperti saya, dan saya 14 tahun bergabung dalam pelajaran Bahsil Kharij tokoh besar ini, saya bangga menjadi muridnya dan beliau sudah beberapa kali saya menerima kedatangan beliau ke rumah saya. Pada suatu hari saya bertanya kepada beliau:

Sebahagian orang membuat forum dengan nama Fathimah Az-Zahra (a.s) atau naik ke atas minbar dan mencerca serta menghina para khalifah. Apakah pandangan anda tentang ini?

Beliau berkata:

Para Imam tidak reda dengan kerja ini.

Inilah dia yang dikatakan sebagai “أشهد الله و ملائكته”, saya sendiri mendengar dengan kedua telinga saya daripada kedua bibir Ayatullah Zanjani. Sudah tentu beliau mengatakan:

Janganlah mencampur aduk perbahasan Tabarra dan Tawalla. Tanpa Tabarra, Tawalla tidak mempunyai makna.

2. Sekarang golongan elit hawzah bekerjasama dengan saluran satelit Wilayat. Dari perspektif intisari dan penilaian, kita membuat dakwaan, belum ada rancangan seperti saluran satelit ini di Republik Islam Iran, begitu juga belum ada orang (cendiakawan hebat) setanding dengan yang bekerjasama dengan kita. Hujjatul Islam Wal Muslimin Pishvayi yang selalu bersama kita dalam program merupakan salah seorang tokoh hawzah terknal dan salah seorang sejarawan hebat. Mungkin kita belum temui orang sehebat Hujjatul Islam Wal Muslimin Pishvayi selama 200, 3000 tahun sebelum ini. Hakikatnya, ketika beliau bercakap, saya duduk mendengar dan memanfaatkan ucapannya. Ini disebabkan beliau mempunyai kepakaran yang hebat di dalam bidangnya. Hujjatul Islam Wal Muslimin Ridhayi Esfahani juga mempunyai kepakaran dalam bidang ulum Al-Quran. Saya ingin mengatakan kepada penonton yang dikasihi, semoga tuhan tidak menjadikan kami bekerja kerana hasad. Tuhan tidak mengampunkan merek ayang melaksanakan tugas kerana beberapa matlamat. Sekarag saluran satelit yang lain seperti saluran Imam Husain (a.s), terdapat pejabat di mana-mana sahaja terutamanya di Isfahan.Saluran satelit thamin mempunyai pejabat di Qom dan Masyhad, dan saluran Salam yang mempunyai pejabat di Qom, Tehran dan Masyhad hampir 6 ke 7 tahun dan tidak ada orang yang memprotes mereka ini.
Jikalau diinginkan sebuah saluran satelit di Iran aktif dan mempunyai pejabat, yang menerima kerajaan Iran atau tidak, maka ia perlulah menghormati undang-undang Iran. Barangsiapa yang ingin tinggal di Iran, hendaklah mematuhi undang-undang. Kami telah menyatakannya berkali-kali dan teman-teman pernah bertanya seperti:

Kami berada di Perancis dan kami ingin turun di jalan untuk bermaktam, namun kerajaan ini melarang.

Saya katakan:

Turun ke jalan walau pun untuk maktam Imam Husain (a.s), adalah haram syar’i (dalam situasi tersebut).

Kamu datang melaksanakan satu kerja yang tidak betul, mencipta huru hara, dan beramal dengan sesuatu yang melanggar undang-undang. Apakah Imam Husain (a.s) reda? Imam Husaini (a.s) juga tidak reda. Jikalau anda mahukan majlis kedukaan, langsungkanlah azadari di Husainiyah dan di masjid.

Motifnya ini ialah setiap insan yang berada di setiap negara, jikalau ia ingin tinggal di sana, maka beliau hendaklah mematuhi, menjaga, menghormati undang-undang dan peraturan di negara itu. Apabila seseorang itu tidak mematuhi, hendaklah dia tanggung sendiri. Kami juga mempunyai pejabat di Qom. Demi Allah jikalau kami inginkan dua hari siang malam bersikap seperti itu, pada hari ke-tiga mereka akan membubarkan seluruh studio kami. Ketika kami ingin melaksanakan kerja, tidak ada pilihan lain, kecuali menjaga keharmonian.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Agama meliputi politik atau negara karena agama dan Negara tidak dapat dipisahkan atau bersatu tanpa dikotomi. Ahli hukum agama (faqih) memimpin Negara selama keghaiban imam Mahdi

Agama meliputi politik atau negara karena agama dan Negara tidak dapat dipisahkan atau bersatu tanpa dikotomi. Ahli hukum agama (faqih) memimpin Negara selama keghaiban imam Mahdi

.

Secara kronologis, sejarah lahirnya Syi’ah dapat dijelaskan sebagai berikut

.
Sejarah mencatat, bahwa hari-hari pertama setelah wafatnya Nabi SAW, persoalan yang timbul adalah persoalan kekuasaan, yaitu menyangkut sosok figur yang dianggap paling pantas menggantikan kepemimpinan Nabi SAW. Meskipun masalah itu untuk sementara waktu berhasil diselesaikan dengan diangkatnya Abu Bakar sebagai khalifah, akan tetapi hal itu oleh sebagian kelompok dipandang masih menyisakan agenda persoalan

.
Reaksi keras segera dimunculkan oleh para pendukung Ali yang mengklaim bahwa masalah kepemimpinan adalah hak mutlak Ali dan keturunannya atau Ahlul Bait, yang diyakini para pendukungnya dimana Ali telah menerima wasiat pengangkatan langsung dari Nabi SAW. Wasiat ini diberikan sekitar 80 hari sebelum Nabi SAW meninggal, di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum

.

Dewasa ini, Syi’ah dan politik seringkali diletakkan sebagai dua kata yang tidak mungkin dipisahkan. Dibanding dengan paham Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), Syi’ah dianggap lebih politis. Dilihat dari aspek sejarahnya pun, Syi’ah memang lahir karena faktor politik, yakni menyangkut masalah siapa yang berhak menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sepeninggal beliau. Masalah politik (kekuasaan) dalam Islam inilah yang menjadi sumber “perpecahan” antara Sunni dan Syi’ah

.
Keterkaitan yang sangat erat antara Syi’ah dan politik, memang dapat dimaklumi. Sayid Muhammad Husein Jafri mengatakan: “Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang pada dasarnya seorang guru keagamaan, namun pada saat yang sama, karena keadaan, juga sekaligus sebagai penguasa duniawi dan negarawan.” Begitu juga Syi’isme, dalam watak yang dibawanya selalu bersifat religius dan politik, dan oleh sebab itu, pada tingkat eksistensinya, sulit dibedakan mana “Syi’ah religius” dan mana “Syi’ah politik.”

.
Di kalangan umat Syi’ah hampir tidak dikenal pemisahan antara agama dan politik, baik dalam tataran konseptual maupun praktek politik. Setiap bentuk ritual keagamaan selalu dikaitkan dengan “ritual politik”. Dengan kata lain, hampir selalu ada dimensi sosio-politik dalam setiap upacara keagamaan

.

sebagaimana diketahui, secara historis sistem pemerintahan Syi’ah mengacu pada sistem imamah, yaitu suatu doktrin politik yang menyebutkan bahwa pemerintahan Islam sepeninggal Nabi SAW adalah hak mutlak ahlul bait (keluarga Nabi SAW.) yakni Ali bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya. Hal ini oleh banyak pengamat dianggap tidak memberikan peluang bagi pihak lain untuk mendapat hak yang sama, yaitu hak untuk dipilih sebagai pemimpin negara.

.

di kalangan Syi’isme dikenal istilah konsep Wilayat al-Faqih (kekuasaan para faqih), atau ahli hukum Islam. Dengan sistem baru ini, maka Islam Syi’ah telah mengawali babak baru sistem pemerintahan yang cukup demokratis. Oleh sebab itu, dapat dimengerti jika pemerintahan Islam di Iran menggunakan sistem “republik”, yaitu Republik Islam Iran.
Dalam sistem Wilayat al-Faqih, menurut Ayatullah Khomeini (seorang tokoh penggagas konsep tersebut), menyatakan bahwa negara Islam akan menjamin keadilan sosial, demokrasi yang sebenarnya dan kemerdekaan yang murni. Islam dan pemerintah Islam adalah fenomena Ilahi, yang penggunaannya menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat

.
Sebuah sistem pemerintahan yang mengamalkan hukum Tuhan, yang mendapat pengawasan dari para ahli hukum agama (faqih), sebagaimana dalam praktek sistem Wilayat al-Faqih, akan mengungguli semua sistem pemerintahan yang tidak adil di dunia ini. Sebab dengan sistem pemerintahan seperti ini maka umat Islam akan terhindar dari kesalahan dalam melaksanakan roda pemerintahan

.
Menurut Ayatullah Khomeini, Islam bukan sekedar agama etika (ethical religion) tetapi di dalam Islam terkandung seluruh hukum dan prinsip-prinsip yang diperlukan bagi pemerintahan dan administrasi sosial. Karena itu, pemerintahan Islam yang benar adalah sebuah pemerintahan konstitusional dengan Qur’an dan Hadis sebagai undang-undangnya. Kendati tidak ada aturan khusus di dalam Qur’an dan Hadis bagi ditegakkannya suatu pemerintahan selama kegaiban Imam al-Mahdi, tetapi tatanan sosial tetap diperlukan bagi pelaksanaan syari’at

.

Wilayat al-Faqih Sebagai Pemegang Kekuasaan Para Imam
Dalam konsep pemerintahan Wilayat al-Faqih, kaum ulama memiliki kewenangan sebagai pengawal, penafsir maupun pelaksana hukum-hukum Tuhan. Oleh sebab itu, pemerintahan yang demikian merupakan pemerintahan Islam yang sebenarnya dan adil. Dalam hubungan ini Imam Khomeini mengatakan:
Wilayat yang ditetapkan bagi Nabi SAW. dan para Imam as. dalam menegakkan pemerintahan, melaksanakan hukum dan mengatur urusan-urusan juga diperuntukkan bagi seorang faqih. Tetapi seorang faqih tidak mempunyai wilayat mutlak atas fuqaha lain di masa hidupnya, seperti menunjuk atau memberhentikan mereka. Tidak ada suatu tingkatan hirarkis yang menunjukkan bahwa faqih yang satu lebih unggul (kedudukannya) dari yang lainnya atau yang satu memiliki wilayat yang lebih dari yang lain

.
Setelah permasalahan ini menjadi jelas, maka wajib bagi fuqaha untuk menegakkan pemerintahan yang telah disyari’atkan, baik secara kolektif maupun individu, demi terlaksananya hukum-hukum Islam dan terlindunginya batas-batas teritorial Islam. Jika tugas ini telah dibebankan kepada salah satu dari mereka (fuqaha), maka wajib baginya untuk melaksanakan tugas itu, yakni wajib ‘ain (kewajiban yang mengikat ke seluruh orang tanpa kecuali). Bahkan jika tidak mungkin bagi mereka untuk melaksanakan tugas itu, wilayat para fuqaha tetap tidak menjadi batal (tetap berlaku) karena wilayat mereka merupakan ketetapan dari Allah swt. Namun, Jika mereka mampu melaksanakannya, maka mereka harus memungut pajak, seperti zakat, khumus dan kharaj dan memanfaatkannya bagi kesejahteraan kaum Muslim serta melaksanakan berbagai hukuman sesuai dengan hukum Islam. Kenyataan bahwa kita sekarang tak dapat menegakkan bentuk pemerintahan Islam yang lengkap dan menyeluruh tidak berarti kita hanya duduk berpangku tangan. Kita harus bangkit, dengan segala kemampuan kita, untuk mewujudkan hal yang dibutuhkan oleh kaum Muslim tersebut dan tugas-tugas yang harus dipikul oleh pemerintahan tersebut

.
Sebagai pemegang kekuasaan para imam, maka para faqih memiliki tanggung jawab dan tugas melanjutkan misi kenabian, sebagaimana tugas yang diemban oleh para imam. Aspek terpenting secara politis di sini adalah bagaimana mengatakan pemerintahan yang adil berdasarkan hukum Tuhan. Atas dasar itu, maka dalam pemerintahan Wilayat al-Faqih tidak dikenal pemisahan antara agama dan politik. Karena secara subtansial, keduanya sama-sama mengandung misi dan tujuan yang sama, yaitu menciptakan tatanan yang adil berdasarkan hukum Tuhan

.
Menurut Ayatullah Khomeini, pemisahan agama dan politik serta adanya tuntutan bahwa ulama tidak boleh ikut campur dalam masalah-masalah sosial politik merupakan bagian dari propaganda imperialisme. Ia mengecam para ulama yang enggan melibatkan diri dalam masalah sosial-politik. Mereka itu oleh Imam Khomeini dinilai sebagai orang-orang yang menolak kewajiban dan misi yang didelegasikan kepada mereka oleh para imam

.
Jika tonggak utama politik adalah perjuangan untuk memperoleh kekuasaan yang adil berdasarkan hukum Tuhan, maka misi meraih kekuasaan menjadi sesuatu yang wajib dan jika cita-cita untuk menegakkan hukum Tuhan tersebut hanya bisa dilakukan dengan sarana politik, maka upaya untuk merebut wilayah politik menjadi wajib adanya. Dalam pandangan Hamid Enayat, kekuasaan merupakan sarana pokok utama untuk mencapai cita-cita tersebut. Al-Qur’an menyeru orang-orang beriman untuk mengikuti teladan Nabi Muhammad, yang dijuluki sebagai “paradigma mulia”. Karena pencapaian utama Muhammad adalah keberhasilannnya meletakkan landasan sebuah negara yang berdasarkan pada ajaran-ajaran Islam, maka kaum Muslimin juga berkewajiban untuk mengikuti suri tauladan tersebut

.
Teladan yang telah diberikan Nabi Muhammad tersebut, secara konsisten dilanjutkan oleh para imam. Para imam merupakan manusia-manusia suci pilihan Tuhan setelah wafatnya Nabi Muhammad. Mereka dengan penuh kesabaran dan tanpa mengenal lelah terus berusaha semaksimal mungkin untuk menegakkan hukum Tuhan. Menegakkan hukum Tuhan di muka bumi ini adalah kewajiban bagi setiap manusia, karena tanpa penegakan hukum Tuhan, maka yang terjadi di dunia adalah tindakan-perilaku yang penuh kedlaliman dan kedurhakaan.
Ketika para imam tersebut telah wafat, maka misi ini kemudian dilanjutkan oleh para faqih, yaitu orang yang ahli dalam hukum Islam. karena pengetahuan mereka tentang agama yang melebihi dari orang-orang lain pada umumnya, maka tugas berat tersebut dibebankan di pundak mereka. Dengan demikian secara de jure mereka adalah pengganti para imam dalam hal menegakkan hukum Tuhan

.
Manakala cita-cita tersebut tidak bisa dicapai tanpa adanya kekuatan yaitu kekuatan untuk memaksa dan memerintah, maka mau tidak mau para faqih tersebut merasa terpanggil untuk merebut kekuasaan politik itu. Dalam konteks ini, kekuasaan politik bukanlah tujuan yang utama, melainkan sekedar sarana untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu memberlakukan kehidupan di dunia berdasarkan hukum Tuhan

.
Ada alasan yang lebih sederhana mengapa kaum Muslimin harus peduli dengan politik, yaitu bahwa sejumlah “fardlu kifayah” kaum Muslimin, di mana yang terpenting di antaranya adalah “amar ma’ruf nahyi munkar” dan mempertahankan wilayah Islam (dar a-Islam), dan hal itu hanya bisa dilaksanakan di dalam suatu negara yang sepenuhnya terikat pada Islam, paling tidak bersimpati terhadap tujuan-tujuan Islam. Dengan alasan ini, seorang Muslim yang hidup di bawah suatu rejim yang mengabdi atau bahkan hanya menunjang kepada Islam wajib aktif bekerja demi keberlangsungan rejim tersebut, sebaliknya seorang Muslim yang hidup di bawah suatu rejim yang memusuhi Islam wajib berjuang untuk menggulingkannya manakala hal itu dimungkinkan. Terakhir, jika pertanyaan mengenai “siapa yang harus berkuasa” dan mengapa kita harus taat kepada penguasa” adalah persoalan politik, maka tak seorang pun Muslim yang sadar dapat mengkaji sejarah Islam, sekalipun secara dangkal, tanpa terdorong untuk menanyakan kedua pertanyaan tersebut dan mendiskusikannya dengan sesama penganut agamanya. Dorongan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan jauh lebih kuat lagi manakala kaum Muslimin dipaksa tunduk kepada penguasa-penguasa asing atau antek-anteknya, sebagaimana yang dialami oleh sebagian besar negara mereka selama empat abad terakhir ini

.
Bahkan apabila dirunut ke belakang sejarah awal datangnya Islam, ia selalu tidak terlepas dari persoalan politik. Sebagaimana diketahui, bahwa sejak pertama misi keagamaan yang disampaikan Nabi Muhammad adalah ditunjukkan kepeda “qaum” atau “ummah”, suatu lembaga politik yang modelnya lebih dikenal oleh orang-orang Arab. Islam, sejak awal mulanya telah memiliki relevansi dengan organisasi sosial politik di masyarakat, dan kepemimpinan negara dalam Islam adalah dimaksudkan untuk meneruskan misi kenabian guna memelihara agama dan mengatur urusan dunia

.
Dengan dasar-dasar argumentasi semacam itu, kaum Syi’ah pada umumnya memandang bahwa politik merupakan lahan yang sangat vital untuk digunakan sebagai alat perealisasian hukum-hukum Tuhan. Di dunia modern, di mana kecenderungan di sebagian negara-negara Muslim untuk melakukan sekularisasi (pemisahan agama dan politik) berkembang begitu kuat, yang pada gilirannnya diikuti dengan adanya merginalisasi syari’ah dalam pranata hukum, maka hal ini semakin memperkuat alasan bagi Syi’isme untuk kembali mempertimbangkan signifikansi politik bagi kepentingan agama. Apabila memberlakukan hukum syari’ah adalah wajib, sementara hal itu hanya bisa direalisasikan jika didukung oleh kekuatan politik (kekuasaan), maka menjadi jelas bahwa meraih kekuasaan politik juga menjadi wajib hukumnya

.
Kedudukan Wilayat al-Faqih
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa dalam sistem pemerintahan Wilayat al-Faqih, kaum ulama (para faqih) menduduki posisi, baik sebagai pengawal, penafsir, maupun pelaksana hukum-hukum Tuhan. Sedangkan kekuasaan legislatif (pembuat undang-undang) sepenuhnya menjadi hak Tuhan. Dengan demikian, pemerintahan Islam yang didasarkan pada konsep Wilayat al-Faqih juga bisa disebut “pemerintahan hukum Tuhan atas manusia”

.
Posisi para faqih ini mirip sekali dengan posisi para imam. Namun ini bukan berarti bahwa kedudukan para faqih sederajat dengan kedudukan para imam. Dalam konteks ini, posisi para faqih hanyalah mengisi kekosongan kekuasaan ketika Imam al-Mahdi yang ditunggu-tunggu itu belum datang, namun jika Imam al-Mahddi sudah kembali, maka para faqih secara otomatis tidak memiliki kekuasaan lagi, karena kekuasaan keagamaan dan politik akan dipegang oleh Imam al-Mahdi

.
Dengan demikian, jika para imam bertugas membimbing umat setelah berakhirnya “siklus wahyu”, dengan satu perbedaan, jika para imam memiliki atribut keistimewaan, seperti memiliki sifat ma’shum, sementara para faqih tidak memilikinya

.
Pertanyaan yang seringkali muncul adalah, mengapa hanya para faqih atau ulama saja yang berhak memegang jabatan kekuasaan tertinggi? Jawaban yang dikemukakan adalah karena hanya para faqih sejalan sesungguhnya yang paling memahami dan mengerti hukum-hukum Tuhan dan dapat dipercaya untuk menjaga kemurniannya. Atas dasar pertimbangan inilah, maka dalam konsep Wilayat al-Faqih ulama memegang peranan penting dalam kepemimpinan Islam

.
Praktek pemerintahan dalam sistem Wilayat al-Faqih yang berlaku di Republik Islam Iran, sebagaimana ditulis oleh Jalaluddin Rahmat, dikenal tiga pemilu, yaitu: pemilihan presiden, pemilihan Majelis Syura dan pemilihan Majelis Khubregan (Dewan Ahli). Ketiga lembaga ini dipilih oleh rakyat

.
Tugas presiden adalah menjalankan roda pemerintahan, terutama di bidang politik. Majelis Syura mengajukan perundang-undangan untuk dilaksanakan oleh presiden. Sedangkan Majelis Khubregan adalah bertugas memilih Rahbar (pemimpin revolusi atau pemimpin tertinggi). Karena posisi Majelis Khubregan sangat penting, maka hanya orang-orang yang sudah mencapai tingkatan ulama mujtahid sajalah yang dapat mencalonkan diri, yakni dengan cara melalui tes tertulis dan wawancara yang dilakukan oleh Asosiasi Guru Besar Ilmu-Ilmu Islam (Jami’yat-e Modarresen-e Hawzeh-ye Ilmiyeh). Sementara untuk jabatan Rahbar tidak dibatasi oleh waktu, melainkan sejauhmana ia mampu menjaga kualifikasi-kualifikasi yang dimiliki. Sebagai catatan, salah satu kualifikasi Rahbar adalah hidup sederhana. Jadi, begitu ia kelihatan hidup mewah, ia segera diturunkan

.
Pada masa pemerintahan Islam Iran sejak tahun 1979, sampai saat ini baru dua orang yang pernah menduduki jabatan Rahbar: yang pertama adalah Ayatullah Khomeini dan setelah beliau wafat, murid nya, yang bernama Ali Khamenei terpilih untuk menduduki jabatan Rahbar menggantikan ayahnya

.
Fungsi dan Bentuk Pemerintahan dalam Wilayat Al-Faqih
Pemerintahan Islam adalah pemerintahan rakyat dengan berpegang pada hukum Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya pembuat undang-undang. Selama kegaiban al-Mahdi, pemerintahan tetap diperlukan bagi pelaksanaan syari’at. Pemerintahan Islam haruslah adil (yang berarti harus bertindak sesuai dengan syari’at) dan karenanya dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai syari’at di mana semua tindakan harus sesuai dengannya. Syarat-syarat ini hanya bisa dipenuhi oleh para faqih, ahli di bidang hukum Islam. Karenanya faqih merupakan figur yang paling siap untuk memerintah masyarakat Islam. Inilah sebenarnya gagasan inti Wilayat al-Faqih. Sebagai penguasa, faqih memiliki otoritas yang sama dan dapat menjalankan fungsi sebagai imam, walaupun ia tidak dengan sendirinya sama dengan imam

.
Sebagaimana sudah disinggung di muka, bahwa dalam pandangan Ayatullah Khomeini, selama gaibnya Imam al-Mahdi, kepemimpinan dalam pemerintahan Islam menjadi hak para faqih (ulama). Sekali seorang faqih berhasil membangun sebuah pemerintahan Islam, maka rakyat dan para faqih lain wajib mengikutinya. Karena ia akan memiliki kekuasaan dan otoritas pemerintahan yang sama sebagaimana yang dimiliki Nabi SAW dan para imam terdahulu. Tetapi, menurut Khomeini, tidak setiap faqih qualified sebagai pemimpin

.
Sekurang-kurangnya ada delapan persyaratan yang harus dipenuhi seorang faqih untuk bisa memimpin sebuah pemerintahan Islam, yaitu: (1) mempunyai pengetahuan yang luas tentang hukum Islam, (2) harus adil, dalam arti memiliki iman dan akhlak yang tinggi, (3) dapat dipercaya dan berbudi luhur, (4) jenius atau cerdas, (5) memiliki kemampuan administratif, (6) bebas dari segala pengaruh asing, (7) mampu mempertahankan hak-hak bangsa, kemerdekaan dan integritas territorial tanah Islam, sekalipun harus dibayar dengan nyawa dan (8) hidup sederhana.
Menurut Ayatullah Khomeini, banyak ahli hukum pada zaman kita ini yang memiliki kualitas yang dibutuhkan itu, yaitu orang yang pandai dan sederhana serta menguasai ilmu hukum Tuhan

.

Mengklaim kekuatan politik yang dimiliki Nabi SAW dan Ali bukan berarti bahwa orang itu menyatakan dirinya sama dengan mereka dalam hal kesucian ruhaninya, sebab kesucian mereka bukanlah merupakan jaminan bagi mereka untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar daripada yang telah ditetapkan bagi semua pemerintah oleh hukum Tuhan. Masing-masing imam itu di masa hidup mereka memiliki kekuasaan atas diri orang lain, termasuk pewaris mereka, maka para ahli hukum itu tidak bisa memiliki “hak pengawasan mutlak” atas ahli hukum lain, dia pun tidak bisa memilih atau memecat mereka. Tidak ada hirarki di antara mereka. Ahli hukum itu boleh membentuk pemerintahan sendiri-sendiri atau bersama-sama. Jika seseorang ahli hukum melanggar hukum, berarti dia melakukan tindakan yang salah dan dengan sendirinya dapat didiskualifikasi

.
Ayatullah Khomeini menegaskan, bahwa Islam itu bersifat politik, jika tidak, maka agama hanyalah omong kosong belaka. Qur’an memuat seratus kali lebih banyak ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah-masalah sosial daripada soal-soal ibadah. Dari lima puluh buku hadis, barangkali hanya ada tiga atau empat yang mempermasalahkan soal sembahyang atau kewajiban manusia terhadap Tuhan, sebagian kecil mengenai moralitas dan selebihnya selalu ada sangkut pautnya dengan masalah kemasyarakatan, ekonomi, hukum, politik dan negara. Ayatullah Khomeini menyatakan: “jangan sekali-kali mengatakan bahwa Islam itu hanya terdiri dari satu pengertian kecil; yang cuma menyangkut hubungan antara Tuhan dengan makhluk-makhluk-Nya. Masjid itu bukan gereja. Hukum Tuhan menyangkut seluruh kehidupan sejak manusia diciptakan di dalam kandungan sampai dia masuk liang kubur. Hukum Islam itu bersifat progresif, perfeksional dan universal”

.
Negara Islam adalah negara hukum. Pemerintahan Islam adalah pemerintahan konstitusional. Namun menurut Ayatullah Khomeini, pengertian konstitusional di sini berbeda dengan apa yang selama ini dikenal. Pengertian konstitusional yang merujuk pada “hukum yang disesuaikan dengan pendapat mayoritas”, tidak dikenal dalam sistem pemerintahan Islam. Karena dalam pemerintahan Islam hukum sudah ada, yaitu hukum Tuhan. Dengan kata lain, Tuhanlah pemegang kekuasaan legislatif dan sepenuhnya menjadi hak-Nya. Oleh sebab itu, pemerintahan Islam juga bisa disebut sebagai “pemerintahan hukum Tuhan atas manusia”. Tetapi bukan berarti tidak diperlukan parlemen. Parlemen (majelis) diperlukan guna ‘menyusun program untuk berbagai kementerian berdasarkan ajaran Islam dan menentukan bentuk pelayanan pemerintahan di seluruh negeri

.
Sesuai dengan tujuan dan misinya, pemerintah Islam dalam konsep Wilayat al-Faqih memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut: (1) mempertahankan lembaga-lembaga dan hukum Islam; (2) melaksanakan hukum Islam; (3) membangun tatanan yang adil; (4) memungut dan memanfaatkan pajak sesuai dengan ajaran Islam; (5) menentang segala bentuk agresi, mempertahankan kemerdekaan dan integrasi teritorial tanah Islam; (6) memajukan pendidikan; (7) memberantas korupsi dan segala jenis penyakit sosial lainnya; (8) memberikan perlakuan yang sama kepada semua warga tanpa diskriminasi; (9) memecahkan masalah kemiskinan dan (10) memberikan pelayanan kemanusiaan secara umum

.
Berdasarkan tujuan dan misi pemerintahan semacam itu, maka cita-cita untuk menciptakan tatanan sosial yang adil sesuai dengan ketentuan syari’at akan bisa direalisasikan. Cita-cita keadilan berdasarkan syari’at sebagaimana telah diuraikan di atas, merupakan cita-cita ideal bagi suatu pemerintahan Islam di bawah sistem Wilayat al-Faqih

.
Tujuan Pemerintahan Dalam Wilayat al-Faqih
Esensi dari tujuan pemerintahan Islam yang diakui secara umum adalah merealisaiskan pelaksanaan syari’ah dalam pemerintahan. Tujuan umum ini secara praktis dapat diterjemahkan sebagai upaya menegakkan keadilan di muka bumi. Tentu saja, keadilan yang dimaksudkan di sini adalah keadilan berdasarkan syari’at

.
Lalu apa sebenarnya keadilan itu ? Murtadha Muttahhari mendefinisikan dalam empat hal

:
Pertama, keadilan adalah keadaan sesuatu yang seimbang. Apabila kita melihat kelompok tertentu yang di dalamnya terdapat bagian-bagian yang beragam yang menunjukkan satu tujuan tertentu, maka di situ pasti terdapat banyak syarat, dari segi kadar yang dimiliki oleh setiap bagian tersebut. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok tersebut dapat bertahan dan dapat memberikan pengaruh yang dikehendaki darinya, serta dapat menentukan tugas yang diletakkan untuknya

.
Kedua, yang dimaksud keadilan adalah persamaan dan penafikan terhadap perbedaan apapun. Ketika dikatakan bahwa “si fulan adalah orang adil”, maka yang dimaksudkan adalah bahwa fulan tersebut memandang sama setiap individu tanpa melakukan perbedaan

.
Ketiga, keadilan adalah memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya dan menjaga dari kedzaliman. Pengertian keadilan seperti ini, yaitu keadilan sosial, adalah keadilan yang harus dihormati di dalam hukum manusia dan setiap individu benar-benar diperintahkan untuk menegakkannya

.
Keempat, pengertian keadilan ialah memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi dan tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan peralihan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk eksis dan melakukan transformasi

.

Implementasi Perundang-undangan dalam pemerintahan Wilayat al-Faqih
Konstitusi Republik Islam Iran merupakan satu-satunya undang-undang dasar di dunia yang secara eksplisit mencantumkan konsep Wilayat al-Faqih-nya Ayatullah Khomeini.
Pada bagian Pembukaan Konstitusi 1979, antara lain tertulis: “Rencana Pemerintahan Islam yang berdasarkan Wilayat al-Faqih yang diwakili oleh Imam Khomeini…” Juga disebutkan bahwa, “Berdasarkan prinsip-prinsip Wilayat al-Faqih dan kepemimpinan yang terus-menerus (imamah), maka konstitusi mempersiapkan lahan bagi terwujudnya kepemimpinan oleh faqih…”
Atas dasar suatu “reinterpretasi revolusioner” dari setiap konsep Wilayat al-amr dan konsep imamah sebagai suatu prinsip kesinambungan (musiamar) kepemimpinan teokratis, maka ulama yang memegang tampuk kekuasaan diidentifikasikan sebagai wali al-amr (yang memiliki kekuasaan) dan jabatan tertingginya didefinisikan sebagai “kepemimpinan” (rahbani). Pasal 2 Konstitusi 1979 misalnya, menyebutkan Republik Islam sebagai suatu tatanan yang berdasarkan keyakinan pada: (1) tauhid, kemahakuasaan-Nya dan syari’at-Nya…(5) imamah dan kelanjutan kepemimpinan, serta peranan fundamentalnya demi kelanggengan revolusi Islam

.
Oleh karena itu, sebagai realisasi dari pasal-pasal tersebut, langkah Islamisasi masyarakat Iran mencanangkan penghapusan unsur-unsur yang tidak Islami dan pelaksanaan secara optimal tatanan Islam. Perubahan besar dalam personal dan komite revolusi diikuti dengan penerapan hukum dan kebijakan-kebijakan baru untuk mendidik dan memelihara masyarakat Islam. Dewan Penyeru Kebajikan dan Pencegah Dosa dibentuk untuk memantau kerusakan moral dalam masyarakat. Musik dan tarian di depan umum dilarang, klab malam dan bar ditutup. Begitu juga alkohol, perjudian yang cepat dan hukuman yang berat diterapkan oleh pengadilan-pengadilan revolusi. Pelacuran, perdagangan obat terlarang dan bentuk-bentuk kemaksiatan lain dijatuhi hukuman mati. Masjid-masjid dan media massa dimanfaatkan untuk menyebar tuntunan dan ideologi Islami negara

.
Draf pertama Konstitusi Republik Islam Iran disusun pada Juni 1979 oleh Majelis Muassisan (Majelis Konstitusi) yang dibentuk berdasarkan dekrit Ayatullah Khomeini. Para anggota Majelis Muassisan, yang kemudian diubah menjadi Majelis-i Khubregan (Majelis Ahli) ini dipilih oleh rakyat. Ketika bersidang untuk membahas konstitusi itu, para anggota majelis dari Partai Republik Islam memperkenalkan pembaharuan penting yang mengubah sifat dasar konstitusi secara fundamental dengan memasukkan pasal 5 mengenai Wilayat al-Faqih. Pasal itu berbunyi sebagai berikut

:
Sepanjang kewajiban Imam segala zaman (semoga Tuhan mempercepat penjelmaannya yang diperbaharui), perintah dan kepemimpinan bangsa ada di tangan faqih yang adil dan alim, paham tentang keadaan zamannya, berani, bijak dan memiliki kemampuan administratif. Pada saat tidak ada faqih yang sangat dikenal oleh mayoritas, maka suatu dewan kepemimpinan yang terdiri dari fuqaha yang memiliki kecekapan seperti tersebut di atas akan memikul tanggung jawab sesuai pasal 107

.
Pasal 107 Konstitusi 1979 pada prinsipnya mensahkan Ayatullah Khomeini sebagai Wilayat al-Faqih, marja’ al-Iqlid yang terkemuka dan pemimpin revolusi. Kecakapan khusus pemimpin atau Dewan Kepemimpinan menurut pasal 109 adalah: (1) memenuhi persyaratan dalam hal keilmuan dan kebijakan yang esensial bagi kepemimpinan agama dan pengeluaran fatwa: (2) berwawasan sosial, berani, berkemampuan dan mempunyai cukup keahlian dalam pemerintahan.
Wilayat al-Faqih, menurut pasal 110 Konstitusi diberi tugas dan kekuasaan untuk menunjuk fuqaha pada Dewan Perwalian (Shuraye Nigabhan), wewenang pengadilan yang tertinggi, untuk mengangkat dan memberhentikan penglima tertinggi angkatan bersenjata dan panglima tertinggi pasukan pengawal revolusi Islam, untuk mengangkat keadaan perang dan damai, untuk menyetujui kelayakan calon-calon presiden dan untuk memberikan “presiden republik berdasarkan pada rasa hormat terhadap kepentingan negara”. Oleh karena itu Konstitusi 1979 memberikan wewenang negara yang tertinggi dan berakhir kepada Wilayat al-Faqih (atau Dewan Fuqaha bila tidak ada Wilayat al-Faqih)

.
Dari sedikit gambaran tentang konsep Wilayat al-Faqih dalam Konstitusi 1979 Iran, maka nampak jelas bahwa ia tetap didasarkan pada prinsip imamah yang menjadi salah satu “rukun iman” dalam mazhab Syi’ah Imamiyah. Bisa juga dikatakan bahwa Wilayat al-Faqih dimaksudkan untuk “mengisi kekosongan politik selama masa gaibnya Imam kedua belas (Imam al-Mahdi). Pada masa kegaiban itu, faqih yang memenuhi syarat berperan selaku wakil Imam al-Mahdi, guna membimbing umat, baik dalam masalah-masalah keagamaan maupun sosial-politik. Oleh sebab itu, berdasarkan konsep Wilayat al-Faqih, keberadaan sebuah pemerintahan Islam merupakan suatu keharusan spiritual maupun historis

.
Pada ulama Syi’ah menjunjung tinggi aspek asasiah doktrin imamah, dengan tetap berpegang pada keyakinan bahwa “hanya imam yang ditunjuk secara eksplisitlah yang berhak membuat keputusan mengikat dalam masalah yang mempengaruhi kesejahteraan umat manusia. Karena Imam itu ma’shum dan penafsir otoritatif wahyu Islami, maka ia adalah satu-satunya otoritas absah yang dapat menegakkan negara dan pemerintahan Islam. Namun, di bawah pengaruh kuat keadaan historis, imamah menjadi terbagi keadilan dalam temporal dan spiritual. Otoritas temporal Imam dipandang sebagai telah direbut oleh dinasti yang berkuasa, namun otoritas spiritual tetap dimiliki oleh Imam yang dipandang sebagai hujjah Tuhan mengenai kemahakuasaan-Nya, yang diberi kuasa untuk memandu kehidupan spiritual pada pengikutnya sebagai “Imam sejati”. Tetapi dengan berdirinya Republik Islam Iran yang didasarkan pada konsep Wilayat al-Faqih, maka untuk sementara waktu otoritas temporal dan spiritual itu dapat dipadukan dalam diri para faqih

.
Salah satu kritik yang muncul berkenaan dengan konsep Wilayat al-Faqih adalah soal kriteria faqih yang bisa diangkat sebagai pemimpin. Jelas tidak mudah (bahkan sangat sulit) menemukan seorang faqih yang bisa memenuhi kriteria sebagaimana disebutkan dalam Konstitusi 1979 Iran di atas. Hal ini juga terlihat di Iran sesudah wafatnya Ayatullah Khomeini. Kendati proses pemilihan Ayatullah Ali Khomeini sebagai pengganti Ayatullah Khomeini berjalan cukup mulus, namun banyak kalangan yang berpendapat bahwa “kelas” Ali Khomeini masih “jauh di bawah” tokoh yang digantikannya itu

.
Evaluasi atas pengalaman Iran sebagai sebuah Republik Islam sangat bervariasi, tetapi hanya sedikit yang meragukan bahwa perubahan-perubahan besar telah terjadi. Ketika menilai perubahan-perubahan selama ini setelah satu dasawarsa kepemimpinan Khomeini, Fouad Ajmi, seorang analis yang kritis mengenai struktur negara Timur Tengah, menyatakan: “Iran yang telah lahir setelah terjadinya pergeseran kekuasaan politik …oleh para teokrat dan kelompok mereka…Jika kita nilai catatanya sela satu dasawarsa, Iran merupakan sebuah negara yang mampu mengorganisasikan kampaye-kampaye besar yang mungkin dan tidak mungkin”

.
Negara yang tercipta melalui revolusi mempunyai kekuatan populis yang istimewa. Para faqih mampu memimpin negara jauh lebih mantap daripada sistem sebelumnya. Republik teokratis itu telah menutup kesenjangan yang melumpuhkan antara negara dan masyarakat yang sebelumnya menjadi ciri kehidupan politik Persia. Apakah upaya menjembatani kesenjangan antara negara dan masyarakat ini menandai adanya gerakan menuju sistem politik yang lebih demokratis atau tidak, hal ini masih diperdebatkan. Namun, ia telah memberikan landasan yang lebih memungkinkan terjadinya transisi yang sukses menuju era baru yang lebih baik

.
Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik di sini.
1. Di dalam pandangan kaum Syi’ah Imamiyah, terdapat kaitan yang sangan erat antara konsep imamah dan konsep Wilayat al-Faqih. Kedua-duanya merupakan pelanjut bagi misi kenabian guna memlihara agama dan mengatur urusan dunia. Jika para imam berkewajiban membimbing umat setelah berakhirnya “siklus wahyu”, artinya setelah wafatnya Rasulullah saw, maka para faqih bertugas membimbing umat setelah berakhirnya “siklus imamah”, dengan satu perbedaan, jika para imam memiliki sifah ma”shum, maka para faqih tidaklah memiliki sifat ishmah atau atribut-atribut istimewa lainnya sebagaimana yang dimiliki para imam

.
2. Implementasi perundang-undangan dalam pemerintahan Wilayat al-Faqih, adalah, jika kekuasaan eksekutif dan yudikatif ada pada faqih yang menjalankan fungsi selaku wakil para imam, maka kekuasaan legislatif sepenuhnya menjadi hak Tuhan. Oleh sebab itu, pemerintahan dalam Wilayat al-Faqih juga bisa disebut sebagai “pemerintahan hukum Tuhan atas manusia”. Tetapi, ini bukan berarti tidak diperlukan adanya parlemen. Parlemen (majelis) diperlukan guna menyusun program untuk berbagai kementrian berdasarkan ajaran Islam dan menentukan bentuk pelayanan pemerintahan di seluruh negeri. Hal ini secara jelas dapat dilihat dalam konstitusi di Republik Islam Iran

.
3. Dengan demikian, dalam sistem Wilayat al-Faqih, kaum ulama menduduki posisi, baik sebagai pengawal, penafsir maupun pelaksana hukum-hukum Tuhan. Kedudukan dan fungsi yang sangat spesifik dan istimewa ini adalah bertujuan agar cita-cita menegakkan keadilan di muka bumi berdasarkan hukum Tuhan dapat direalisasikan secara baik dan benar

.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, Abu Bakar, Syi’ah Rasionalisme dalam Islam, (Solo: Ramadhani, 1998).

Budiarjo, Mariam, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia, 1993)

Elwa, Mohammad S., Sistem Politik dalam Islam, terj. Ansori Thoyib, (Surabaya: Bina Ilmu, 1983).

Enayat, Hamid, Reaksi Politik Sunni-Syi’ah, terj. Asep Hikmat, (Bandung: Pustaka, 1988).

Esposito, John L. dan John O. Vall, Demokrasi di Negara-negara Muslim, terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Mizan, 1999).

Hadi, Sutrisno, Metodologi Riset, (yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1984).

Hashem, O., Saqifah, Awal Perselisihan Umat, (Jakarta: Yapi, 1989).

Hassan, Riaz, Islam: Dari Konservatisme samapi Fundamentalisme, (Jakarta: Rajawali Press, 1985).

Huwaidy, Fahmi, Demokrasi, Oposisi dan Masyarakat Madani, terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Mizan, 1996).

Iver, Mc., Jaringan-jaringan Pemerintahan, terj. Laila Hasyim, Jilid I, (Jakarta: Aksara Baru, 1983).

Jafri, Sayid Muhammad Husein, Dari Saqifah Sampai Imamah, terj. Meth Kierena, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989).

Khomeini, Imam, Sistem Pemerintahan Islam, terj. Muhamad Anis Maulachela, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2000)

Maududi, Abul A’la, Khalifah dan Kerajaan, terj. Muhammad Baqir, (Bandung: Mizan, 1987).

Mawardi, Imam Abu Hasan, Hukum Tata Negara dan Kepemimpinan dalam Takaran Islam, terj. Kartami dan Nurdin (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)

Mortimer, Edward, Islam dan Kekuasaan, terj. Ena Hadi, (Bandung: Mizan, 1984).

Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir, (Yogyakarta: PP.Krapyak, 1990).

Musawi, A.Syarafuddin, Dialog Sunnah-Syi’ah, terj. Muhamamad Baqir, (Bandung: Mizan, 1990)

Musawwi, Ahmad, dalam Mumtaz Ahmad (ed.), Masalah-masalah Teori Politik Islam, terj. Ena Hadi, (Bandung: Mizan, 1993).

Mutahhari, Murtadha, Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam, terj. Agus Efendi, (Bandung: Mizan, 1992).

Muzaffari, Mehdi, Kekuasaan Dalam Islam, terj. Abdurrahman Ahmed, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994).

Najjar, Fauzi M., “Demokrasi dalam Filsafat Politik Islam”, Al-Hikmah, Oktober 1990.

Puar, Yusuf Abdullah, Perjuangan Ayatullah Khomeini, (Jakarta: Pustaka Antara, 1979).

Rahmat, Jalaluddin, “Demokrasi Tanap Batas: Melihat Pemilud di Iran”, Republika, 15 Januari 1993.

Raziq, Ali Abd, Islam: Dasar-dasar Pemerintahan, terj. Zaid Su’udi, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002)

Sabon, Max Boli, Ilmu Negara , (Jakarta: Gramedia, 1992).

Sachedina, Abdul Azis A., “Penciptaan Tatanan Sosial yang Adil dalam Islam”, dalam Mumtaz Ahmad (ed.), Masalah-masalah teori Politik Islam, terj. Ena Hadi, (Bandung: Mizan, 1993).

——————–, Kepemimpinan Dalam Islam: Prespektif Syi’ah, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1991).

Shadr, Muhammad Baqir, Sistem Politik Islam, terj. Arif Mulyadi, (Jakarta: Lentera, 2001)

Sihbudi, M. Riza, “Tinjauan Teoritis dan Praktis atas Konsep Wilayat al-Faqih”, makalah seminar, (Jakarta: 1993).
Surbakti, Ramlan, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia, 1992)

Syafi’i, Inu Kencana, Pengantar Ilmu Pemerintahan, (Jakarta: Eresco, 1992).

Syamsuddin, Din, “Beberapa Catatan Kritis di Sektar Usaha Pencarian Konsep tentang Negara dalam Sejarah Pemikiran Politik Islam”, Makalah Seminar, Jakarta, 28 Januari 1993.

Syari’ati, Ali, Islam Mazhab Aksi dan Pemikiran, terj. Afif Muhammad, (bandung: Mizan, 1995).

Tabattaba’i, Sayid Husein Islam Syi’ah: Asal-usul dan Perkembangannya, terj. Djohan Efendi, (jakarta: Grafiti, 1993).

Taimiyah, Ibnu, Siyasah Syar’iyah, terj. Rofi’ Munawar, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995).

Watt, William Montgomery, Politik Islam dalam Lintasan Sejarah, terj. Helmi Ali, (Jakarta: P3M, 1988).

KONSEP TATA NEGARA WILAYAT AL-FAQIH DALAM SISTEM POLITIK ISLAM SYI’AH IMAMIYAH

Agama meliputi politik atau negara karena agama dan Negara tidak dapat dipisahkan atau bersatu tanpa dikotomi. Ahli hukum agama (faqih) memimpin Negara selama keghaiban imam Mahdi

.

Secara kronologis, sejarah lahirnya Syi’ah dapat dijelaskan sebagai berikut

.
Sejarah mencatat, bahwa hari-hari pertama setelah wafatnya Nabi SAW, persoalan yang timbul adalah persoalan kekuasaan, yaitu menyangkut sosok figur yang dianggap paling pantas menggantikan kepemimpinan Nabi SAW. Meskipun masalah itu untuk sementara waktu berhasil diselesaikan dengan diangkatnya Abu Bakar sebagai khalifah, akan tetapi hal itu oleh sebagian kelompok dipandang masih menyisakan agenda persoalan

.
Reaksi keras segera dimunculkan oleh para pendukung Ali yang mengklaim bahwa masalah kepemimpinan adalah hak mutlak Ali dan keturunannya atau Ahlul Bait, yang diyakini para pendukungnya dimana Ali telah menerima wasiat pengangkatan langsung dari Nabi SAW. Wasiat ini diberikan sekitar 80 hari sebelum Nabi SAW meninggal, di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum

.

Dewasa ini, Syi’ah dan politik seringkali diletakkan sebagai dua kata yang tidak mungkin dipisahkan. Dibanding dengan paham Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah), Syi’ah dianggap lebih politis. Dilihat dari aspek sejarahnya pun, Syi’ah memang lahir karena faktor politik, yakni menyangkut masalah siapa yang berhak menggantikan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sepeninggal beliau. Masalah politik (kekuasaan) dalam Islam inilah yang menjadi sumber “perpecahan” antara Sunni dan Syi’ah

.
Keterkaitan yang sangat erat antara Syi’ah dan politik, memang dapat dimaklumi. Sayid Muhammad Husein Jafri mengatakan: “Sebagaimana Nabi Muhammad SAW yang pada dasarnya seorang guru keagamaan, namun pada saat yang sama, karena keadaan, juga sekaligus sebagai penguasa duniawi dan negarawan.” Begitu juga Syi’isme, dalam watak yang dibawanya selalu bersifat religius dan politik, dan oleh sebab itu, pada tingkat eksistensinya, sulit dibedakan mana “Syi’ah religius” dan mana “Syi’ah politik.”

.
Di kalangan umat Syi’ah hampir tidak dikenal pemisahan antara agama dan politik, baik dalam tataran konseptual maupun praktek politik. Setiap bentuk ritual keagamaan selalu dikaitkan dengan “ritual politik”. Dengan kata lain, hampir selalu ada dimensi sosio-politik dalam setiap upacara keagamaan

.

sebagaimana diketahui, secara historis sistem pemerintahan Syi’ah mengacu pada sistem imamah, yaitu suatu doktrin politik yang menyebutkan bahwa pemerintahan Islam sepeninggal Nabi SAW adalah hak mutlak ahlul bait (keluarga Nabi SAW.) yakni Ali bin Abi Thalib dan sebelas keturunannya. Hal ini oleh banyak pengamat dianggap tidak memberikan peluang bagi pihak lain untuk mendapat hak yang sama, yaitu hak untuk dipilih sebagai pemimpin negara.

.

di kalangan Syi’isme dikenal istilah konsep Wilayat al-Faqih (kekuasaan para faqih), atau ahli hukum Islam. Dengan sistem baru ini, maka Islam Syi’ah telah mengawali babak baru sistem pemerintahan yang cukup demokratis. Oleh sebab itu, dapat dimengerti jika pemerintahan Islam di Iran menggunakan sistem “republik”, yaitu Republik Islam Iran.
Dalam sistem Wilayat al-Faqih, menurut Ayatullah Khomeini (seorang tokoh penggagas konsep tersebut), menyatakan bahwa negara Islam akan menjamin keadilan sosial, demokrasi yang sebenarnya dan kemerdekaan yang murni. Islam dan pemerintah Islam adalah fenomena Ilahi, yang penggunaannya menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat

.
Sebuah sistem pemerintahan yang mengamalkan hukum Tuhan, yang mendapat pengawasan dari para ahli hukum agama (faqih), sebagaimana dalam praktek sistem Wilayat al-Faqih, akan mengungguli semua sistem pemerintahan yang tidak adil di dunia ini. Sebab dengan sistem pemerintahan seperti ini maka umat Islam akan terhindar dari kesalahan dalam melaksanakan roda pemerintahan

.
Menurut Ayatullah Khomeini, Islam bukan sekedar agama etika (ethical religion) tetapi di dalam Islam terkandung seluruh hukum dan prinsip-prinsip yang diperlukan bagi pemerintahan dan administrasi sosial. Karena itu, pemerintahan Islam yang benar adalah sebuah pemerintahan konstitusional dengan Qur’an dan Hadis sebagai undang-undangnya. Kendati tidak ada aturan khusus di dalam Qur’an dan Hadis bagi ditegakkannya suatu pemerintahan selama kegaiban Imam al-Mahdi, tetapi tatanan sosial tetap diperlukan bagi pelaksanaan syari’at

.

Wilayat al-Faqih Sebagai Pemegang Kekuasaan Para Imam
Dalam konsep pemerintahan Wilayat al-Faqih, kaum ulama memiliki kewenangan sebagai pengawal, penafsir maupun pelaksana hukum-hukum Tuhan. Oleh sebab itu, pemerintahan yang demikian merupakan pemerintahan Islam yang sebenarnya dan adil. Dalam hubungan ini Imam Khomeini mengatakan:
Wilayat yang ditetapkan bagi Nabi SAW. dan para Imam as. dalam menegakkan pemerintahan, melaksanakan hukum dan mengatur urusan-urusan juga diperuntukkan bagi seorang faqih. Tetapi seorang faqih tidak mempunyai wilayat mutlak atas fuqaha lain di masa hidupnya, seperti menunjuk atau memberhentikan mereka. Tidak ada suatu tingkatan hirarkis yang menunjukkan bahwa faqih yang satu lebih unggul (kedudukannya) dari yang lainnya atau yang satu memiliki wilayat yang lebih dari yang lain

.
Setelah permasalahan ini menjadi jelas, maka wajib bagi fuqaha untuk menegakkan pemerintahan yang telah disyari’atkan, baik secara kolektif maupun individu, demi terlaksananya hukum-hukum Islam dan terlindunginya batas-batas teritorial Islam. Jika tugas ini telah dibebankan kepada salah satu dari mereka (fuqaha), maka wajib baginya untuk melaksanakan tugas itu, yakni wajib ‘ain (kewajiban yang mengikat ke seluruh orang tanpa kecuali). Bahkan jika tidak mungkin bagi mereka untuk melaksanakan tugas itu, wilayat para fuqaha tetap tidak menjadi batal (tetap berlaku) karena wilayat mereka merupakan ketetapan dari Allah swt. Namun, Jika mereka mampu melaksanakannya, maka mereka harus memungut pajak, seperti zakat, khumus dan kharaj dan memanfaatkannya bagi kesejahteraan kaum Muslim serta melaksanakan berbagai hukuman sesuai dengan hukum Islam. Kenyataan bahwa kita sekarang tak dapat menegakkan bentuk pemerintahan Islam yang lengkap dan menyeluruh tidak berarti kita hanya duduk berpangku tangan. Kita harus bangkit, dengan segala kemampuan kita, untuk mewujudkan hal yang dibutuhkan oleh kaum Muslim tersebut dan tugas-tugas yang harus dipikul oleh pemerintahan tersebut

.
Sebagai pemegang kekuasaan para imam, maka para faqih memiliki tanggung jawab dan tugas melanjutkan misi kenabian, sebagaimana tugas yang diemban oleh para imam. Aspek terpenting secara politis di sini adalah bagaimana mengatakan pemerintahan yang adil berdasarkan hukum Tuhan. Atas dasar itu, maka dalam pemerintahan Wilayat al-Faqih tidak dikenal pemisahan antara agama dan politik. Karena secara subtansial, keduanya sama-sama mengandung misi dan tujuan yang sama, yaitu menciptakan tatanan yang adil berdasarkan hukum Tuhan

.
Menurut Ayatullah Khomeini, pemisahan agama dan politik serta adanya tuntutan bahwa ulama tidak boleh ikut campur dalam masalah-masalah sosial politik merupakan bagian dari propaganda imperialisme. Ia mengecam para ulama yang enggan melibatkan diri dalam masalah sosial-politik. Mereka itu oleh Imam Khomeini dinilai sebagai orang-orang yang menolak kewajiban dan misi yang didelegasikan kepada mereka oleh para imam

.
Jika tonggak utama politik adalah perjuangan untuk memperoleh kekuasaan yang adil berdasarkan hukum Tuhan, maka misi meraih kekuasaan menjadi sesuatu yang wajib dan jika cita-cita untuk menegakkan hukum Tuhan tersebut hanya bisa dilakukan dengan sarana politik, maka upaya untuk merebut wilayah politik menjadi wajib adanya. Dalam pandangan Hamid Enayat, kekuasaan merupakan sarana pokok utama untuk mencapai cita-cita tersebut. Al-Qur’an menyeru orang-orang beriman untuk mengikuti teladan Nabi Muhammad, yang dijuluki sebagai “paradigma mulia”. Karena pencapaian utama Muhammad adalah keberhasilannnya meletakkan landasan sebuah negara yang berdasarkan pada ajaran-ajaran Islam, maka kaum Muslimin juga berkewajiban untuk mengikuti suri tauladan tersebut

.
Teladan yang telah diberikan Nabi Muhammad tersebut, secara konsisten dilanjutkan oleh para imam. Para imam merupakan manusia-manusia suci pilihan Tuhan setelah wafatnya Nabi Muhammad. Mereka dengan penuh kesabaran dan tanpa mengenal lelah terus berusaha semaksimal mungkin untuk menegakkan hukum Tuhan. Menegakkan hukum Tuhan di muka bumi ini adalah kewajiban bagi setiap manusia, karena tanpa penegakan hukum Tuhan, maka yang terjadi di dunia adalah tindakan-perilaku yang penuh kedlaliman dan kedurhakaan.
Ketika para imam tersebut telah wafat, maka misi ini kemudian dilanjutkan oleh para faqih, yaitu orang yang ahli dalam hukum Islam. karena pengetahuan mereka tentang agama yang melebihi dari orang-orang lain pada umumnya, maka tugas berat tersebut dibebankan di pundak mereka. Dengan demikian secara de jure mereka adalah pengganti para imam dalam hal menegakkan hukum Tuhan

.
Manakala cita-cita tersebut tidak bisa dicapai tanpa adanya kekuatan yaitu kekuatan untuk memaksa dan memerintah, maka mau tidak mau para faqih tersebut merasa terpanggil untuk merebut kekuasaan politik itu. Dalam konteks ini, kekuasaan politik bukanlah tujuan yang utama, melainkan sekedar sarana untuk mencapai tujuan utamanya, yaitu memberlakukan kehidupan di dunia berdasarkan hukum Tuhan

.
Ada alasan yang lebih sederhana mengapa kaum Muslimin harus peduli dengan politik, yaitu bahwa sejumlah “fardlu kifayah” kaum Muslimin, di mana yang terpenting di antaranya adalah “amar ma’ruf nahyi munkar” dan mempertahankan wilayah Islam (dar a-Islam), dan hal itu hanya bisa dilaksanakan di dalam suatu negara yang sepenuhnya terikat pada Islam, paling tidak bersimpati terhadap tujuan-tujuan Islam. Dengan alasan ini, seorang Muslim yang hidup di bawah suatu rejim yang mengabdi atau bahkan hanya menunjang kepada Islam wajib aktif bekerja demi keberlangsungan rejim tersebut, sebaliknya seorang Muslim yang hidup di bawah suatu rejim yang memusuhi Islam wajib berjuang untuk menggulingkannya manakala hal itu dimungkinkan. Terakhir, jika pertanyaan mengenai “siapa yang harus berkuasa” dan mengapa kita harus taat kepada penguasa” adalah persoalan politik, maka tak seorang pun Muslim yang sadar dapat mengkaji sejarah Islam, sekalipun secara dangkal, tanpa terdorong untuk menanyakan kedua pertanyaan tersebut dan mendiskusikannya dengan sesama penganut agamanya. Dorongan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut akan jauh lebih kuat lagi manakala kaum Muslimin dipaksa tunduk kepada penguasa-penguasa asing atau antek-anteknya, sebagaimana yang dialami oleh sebagian besar negara mereka selama empat abad terakhir ini

.
Bahkan apabila dirunut ke belakang sejarah awal datangnya Islam, ia selalu tidak terlepas dari persoalan politik. Sebagaimana diketahui, bahwa sejak pertama misi keagamaan yang disampaikan Nabi Muhammad adalah ditunjukkan kepeda “qaum” atau “ummah”, suatu lembaga politik yang modelnya lebih dikenal oleh orang-orang Arab. Islam, sejak awal mulanya telah memiliki relevansi dengan organisasi sosial politik di masyarakat, dan kepemimpinan negara dalam Islam adalah dimaksudkan untuk meneruskan misi kenabian guna memelihara agama dan mengatur urusan dunia

.
Dengan dasar-dasar argumentasi semacam itu, kaum Syi’ah pada umumnya memandang bahwa politik merupakan lahan yang sangat vital untuk digunakan sebagai alat perealisasian hukum-hukum Tuhan. Di dunia modern, di mana kecenderungan di sebagian negara-negara Muslim untuk melakukan sekularisasi (pemisahan agama dan politik) berkembang begitu kuat, yang pada gilirannnya diikuti dengan adanya merginalisasi syari’ah dalam pranata hukum, maka hal ini semakin memperkuat alasan bagi Syi’isme untuk kembali mempertimbangkan signifikansi politik bagi kepentingan agama. Apabila memberlakukan hukum syari’ah adalah wajib, sementara hal itu hanya bisa direalisasikan jika didukung oleh kekuatan politik (kekuasaan), maka menjadi jelas bahwa meraih kekuasaan politik juga menjadi wajib hukumnya

.
Kedudukan Wilayat al-Faqih
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa dalam sistem pemerintahan Wilayat al-Faqih, kaum ulama (para faqih) menduduki posisi, baik sebagai pengawal, penafsir, maupun pelaksana hukum-hukum Tuhan. Sedangkan kekuasaan legislatif (pembuat undang-undang) sepenuhnya menjadi hak Tuhan. Dengan demikian, pemerintahan Islam yang didasarkan pada konsep Wilayat al-Faqih juga bisa disebut “pemerintahan hukum Tuhan atas manusia”

.
Posisi para faqih ini mirip sekali dengan posisi para imam. Namun ini bukan berarti bahwa kedudukan para faqih sederajat dengan kedudukan para imam. Dalam konteks ini, posisi para faqih hanyalah mengisi kekosongan kekuasaan ketika Imam al-Mahdi yang ditunggu-tunggu itu belum datang, namun jika Imam al-Mahddi sudah kembali, maka para faqih secara otomatis tidak memiliki kekuasaan lagi, karena kekuasaan keagamaan dan politik akan dipegang oleh Imam al-Mahdi

.
Dengan demikian, jika para imam bertugas membimbing umat setelah berakhirnya “siklus wahyu”, dengan satu perbedaan, jika para imam memiliki atribut keistimewaan, seperti memiliki sifat ma’shum, sementara para faqih tidak memilikinya

.
Pertanyaan yang seringkali muncul adalah, mengapa hanya para faqih atau ulama saja yang berhak memegang jabatan kekuasaan tertinggi? Jawaban yang dikemukakan adalah karena hanya para faqih sejalan sesungguhnya yang paling memahami dan mengerti hukum-hukum Tuhan dan dapat dipercaya untuk menjaga kemurniannya. Atas dasar pertimbangan inilah, maka dalam konsep Wilayat al-Faqih ulama memegang peranan penting dalam kepemimpinan Islam

.
Praktek pemerintahan dalam sistem Wilayat al-Faqih yang berlaku di Republik Islam Iran, sebagaimana ditulis oleh Jalaluddin Rahmat, dikenal tiga pemilu, yaitu: pemilihan presiden, pemilihan Majelis Syura dan pemilihan Majelis Khubregan (Dewan Ahli). Ketiga lembaga ini dipilih oleh rakyat

.
Tugas presiden adalah menjalankan roda pemerintahan, terutama di bidang politik. Majelis Syura mengajukan perundang-undangan untuk dilaksanakan oleh presiden. Sedangkan Majelis Khubregan adalah bertugas memilih Rahbar (pemimpin revolusi atau pemimpin tertinggi). Karena posisi Majelis Khubregan sangat penting, maka hanya orang-orang yang sudah mencapai tingkatan ulama mujtahid sajalah yang dapat mencalonkan diri, yakni dengan cara melalui tes tertulis dan wawancara yang dilakukan oleh Asosiasi Guru Besar Ilmu-Ilmu Islam (Jami’yat-e Modarresen-e Hawzeh-ye Ilmiyeh). Sementara untuk jabatan Rahbar tidak dibatasi oleh waktu, melainkan sejauhmana ia mampu menjaga kualifikasi-kualifikasi yang dimiliki. Sebagai catatan, salah satu kualifikasi Rahbar adalah hidup sederhana. Jadi, begitu ia kelihatan hidup mewah, ia segera diturunkan

.
Pada masa pemerintahan Islam Iran sejak tahun 1979, sampai saat ini baru dua orang yang pernah menduduki jabatan Rahbar: yang pertama adalah Ayatullah Khomeini dan setelah beliau wafat, murid nya, yang bernama Ali Khamenei terpilih untuk menduduki jabatan Rahbar menggantikan ayahnya

.
Fungsi dan Bentuk Pemerintahan dalam Wilayat Al-Faqih
Pemerintahan Islam adalah pemerintahan rakyat dengan berpegang pada hukum Tuhan. Tuhan adalah satu-satunya pembuat undang-undang. Selama kegaiban al-Mahdi, pemerintahan tetap diperlukan bagi pelaksanaan syari’at. Pemerintahan Islam haruslah adil (yang berarti harus bertindak sesuai dengan syari’at) dan karenanya dibutuhkan pengetahuan yang luas mengenai syari’at di mana semua tindakan harus sesuai dengannya. Syarat-syarat ini hanya bisa dipenuhi oleh para faqih, ahli di bidang hukum Islam. Karenanya faqih merupakan figur yang paling siap untuk memerintah masyarakat Islam. Inilah sebenarnya gagasan inti Wilayat al-Faqih. Sebagai penguasa, faqih memiliki otoritas yang sama dan dapat menjalankan fungsi sebagai imam, walaupun ia tidak dengan sendirinya sama dengan imam

.
Sebagaimana sudah disinggung di muka, bahwa dalam pandangan Ayatullah Khomeini, selama gaibnya Imam al-Mahdi, kepemimpinan dalam pemerintahan Islam menjadi hak para faqih (ulama). Sekali seorang faqih berhasil membangun sebuah pemerintahan Islam, maka rakyat dan para faqih lain wajib mengikutinya. Karena ia akan memiliki kekuasaan dan otoritas pemerintahan yang sama sebagaimana yang dimiliki Nabi SAW dan para imam terdahulu. Tetapi, menurut Khomeini, tidak setiap faqih qualified sebagai pemimpin

.
Sekurang-kurangnya ada delapan persyaratan yang harus dipenuhi seorang faqih untuk bisa memimpin sebuah pemerintahan Islam, yaitu: (1) mempunyai pengetahuan yang luas tentang hukum Islam, (2) harus adil, dalam arti memiliki iman dan akhlak yang tinggi, (3) dapat dipercaya dan berbudi luhur, (4) jenius atau cerdas, (5) memiliki kemampuan administratif, (6) bebas dari segala pengaruh asing, (7) mampu mempertahankan hak-hak bangsa, kemerdekaan dan integritas territorial tanah Islam, sekalipun harus dibayar dengan nyawa dan (8) hidup sederhana.
Menurut Ayatullah Khomeini, banyak ahli hukum pada zaman kita ini yang memiliki kualitas yang dibutuhkan itu, yaitu orang yang pandai dan sederhana serta menguasai ilmu hukum Tuhan

.

Mengklaim kekuatan politik yang dimiliki Nabi SAW dan Ali bukan berarti bahwa orang itu menyatakan dirinya sama dengan mereka dalam hal kesucian ruhaninya, sebab kesucian mereka bukanlah merupakan jaminan bagi mereka untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar daripada yang telah ditetapkan bagi semua pemerintah oleh hukum Tuhan. Masing-masing imam itu di masa hidup mereka memiliki kekuasaan atas diri orang lain, termasuk pewaris mereka, maka para ahli hukum itu tidak bisa memiliki “hak pengawasan mutlak” atas ahli hukum lain, dia pun tidak bisa memilih atau memecat mereka. Tidak ada hirarki di antara mereka. Ahli hukum itu boleh membentuk pemerintahan sendiri-sendiri atau bersama-sama. Jika seseorang ahli hukum melanggar hukum, berarti dia melakukan tindakan yang salah dan dengan sendirinya dapat didiskualifikasi

.
Ayatullah Khomeini menegaskan, bahwa Islam itu bersifat politik, jika tidak, maka agama hanyalah omong kosong belaka. Qur’an memuat seratus kali lebih banyak ayat-ayat yang berkenaan dengan masalah-masalah sosial daripada soal-soal ibadah. Dari lima puluh buku hadis, barangkali hanya ada tiga atau empat yang mempermasalahkan soal sembahyang atau kewajiban manusia terhadap Tuhan, sebagian kecil mengenai moralitas dan selebihnya selalu ada sangkut pautnya dengan masalah kemasyarakatan, ekonomi, hukum, politik dan negara. Ayatullah Khomeini menyatakan: “jangan sekali-kali mengatakan bahwa Islam itu hanya terdiri dari satu pengertian kecil; yang cuma menyangkut hubungan antara Tuhan dengan makhluk-makhluk-Nya. Masjid itu bukan gereja. Hukum Tuhan menyangkut seluruh kehidupan sejak manusia diciptakan di dalam kandungan sampai dia masuk liang kubur. Hukum Islam itu bersifat progresif, perfeksional dan universal”

.
Negara Islam adalah negara hukum. Pemerintahan Islam adalah pemerintahan konstitusional. Namun menurut Ayatullah Khomeini, pengertian konstitusional di sini berbeda dengan apa yang selama ini dikenal. Pengertian konstitusional yang merujuk pada “hukum yang disesuaikan dengan pendapat mayoritas”, tidak dikenal dalam sistem pemerintahan Islam. Karena dalam pemerintahan Islam hukum sudah ada, yaitu hukum Tuhan. Dengan kata lain, Tuhanlah pemegang kekuasaan legislatif dan sepenuhnya menjadi hak-Nya. Oleh sebab itu, pemerintahan Islam juga bisa disebut sebagai “pemerintahan hukum Tuhan atas manusia”. Tetapi bukan berarti tidak diperlukan parlemen. Parlemen (majelis) diperlukan guna ‘menyusun program untuk berbagai kementerian berdasarkan ajaran Islam dan menentukan bentuk pelayanan pemerintahan di seluruh negeri

.
Sesuai dengan tujuan dan misinya, pemerintah Islam dalam konsep Wilayat al-Faqih memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut: (1) mempertahankan lembaga-lembaga dan hukum Islam; (2) melaksanakan hukum Islam; (3) membangun tatanan yang adil; (4) memungut dan memanfaatkan pajak sesuai dengan ajaran Islam; (5) menentang segala bentuk agresi, mempertahankan kemerdekaan dan integrasi teritorial tanah Islam; (6) memajukan pendidikan; (7) memberantas korupsi dan segala jenis penyakit sosial lainnya; (8) memberikan perlakuan yang sama kepada semua warga tanpa diskriminasi; (9) memecahkan masalah kemiskinan dan (10) memberikan pelayanan kemanusiaan secara umum

.
Berdasarkan tujuan dan misi pemerintahan semacam itu, maka cita-cita untuk menciptakan tatanan sosial yang adil sesuai dengan ketentuan syari’at akan bisa direalisasikan. Cita-cita keadilan berdasarkan syari’at sebagaimana telah diuraikan di atas, merupakan cita-cita ideal bagi suatu pemerintahan Islam di bawah sistem Wilayat al-Faqih

.
Tujuan Pemerintahan Dalam Wilayat al-Faqih
Esensi dari tujuan pemerintahan Islam yang diakui secara umum adalah merealisaiskan pelaksanaan syari’ah dalam pemerintahan. Tujuan umum ini secara praktis dapat diterjemahkan sebagai upaya menegakkan keadilan di muka bumi. Tentu saja, keadilan yang dimaksudkan di sini adalah keadilan berdasarkan syari’at

.
Lalu apa sebenarnya keadilan itu ? Murtadha Muttahhari mendefinisikan dalam empat hal

:
Pertama, keadilan adalah keadaan sesuatu yang seimbang. Apabila kita melihat kelompok tertentu yang di dalamnya terdapat bagian-bagian yang beragam yang menunjukkan satu tujuan tertentu, maka di situ pasti terdapat banyak syarat, dari segi kadar yang dimiliki oleh setiap bagian tersebut. Dengan terhimpunnya syarat ini, kelompok tersebut dapat bertahan dan dapat memberikan pengaruh yang dikehendaki darinya, serta dapat menentukan tugas yang diletakkan untuknya

.
Kedua, yang dimaksud keadilan adalah persamaan dan penafikan terhadap perbedaan apapun. Ketika dikatakan bahwa “si fulan adalah orang adil”, maka yang dimaksudkan adalah bahwa fulan tersebut memandang sama setiap individu tanpa melakukan perbedaan

.
Ketiga, keadilan adalah memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya dan menjaga dari kedzaliman. Pengertian keadilan seperti ini, yaitu keadilan sosial, adalah keadilan yang harus dihormati di dalam hukum manusia dan setiap individu benar-benar diperintahkan untuk menegakkannya

.
Keempat, pengertian keadilan ialah memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi dan tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan peralihan rahmat sewaktu terdapat banyak kemungkinan untuk eksis dan melakukan transformasi

.

Implementasi Perundang-undangan dalam pemerintahan Wilayat al-Faqih
Konstitusi Republik Islam Iran merupakan satu-satunya undang-undang dasar di dunia yang secara eksplisit mencantumkan konsep Wilayat al-Faqih-nya Ayatullah Khomeini.
Pada bagian Pembukaan Konstitusi 1979, antara lain tertulis: “Rencana Pemerintahan Islam yang berdasarkan Wilayat al-Faqih yang diwakili oleh Imam Khomeini…” Juga disebutkan bahwa, “Berdasarkan prinsip-prinsip Wilayat al-Faqih dan kepemimpinan yang terus-menerus (imamah), maka konstitusi mempersiapkan lahan bagi terwujudnya kepemimpinan oleh faqih…”
Atas dasar suatu “reinterpretasi revolusioner” dari setiap konsep Wilayat al-amr dan konsep imamah sebagai suatu prinsip kesinambungan (musiamar) kepemimpinan teokratis, maka ulama yang memegang tampuk kekuasaan diidentifikasikan sebagai wali al-amr (yang memiliki kekuasaan) dan jabatan tertingginya didefinisikan sebagai “kepemimpinan” (rahbani). Pasal 2 Konstitusi 1979 misalnya, menyebutkan Republik Islam sebagai suatu tatanan yang berdasarkan keyakinan pada: (1) tauhid, kemahakuasaan-Nya dan syari’at-Nya…(5) imamah dan kelanjutan kepemimpinan, serta peranan fundamentalnya demi kelanggengan revolusi Islam

.
Oleh karena itu, sebagai realisasi dari pasal-pasal tersebut, langkah Islamisasi masyarakat Iran mencanangkan penghapusan unsur-unsur yang tidak Islami dan pelaksanaan secara optimal tatanan Islam. Perubahan besar dalam personal dan komite revolusi diikuti dengan penerapan hukum dan kebijakan-kebijakan baru untuk mendidik dan memelihara masyarakat Islam. Dewan Penyeru Kebajikan dan Pencegah Dosa dibentuk untuk memantau kerusakan moral dalam masyarakat. Musik dan tarian di depan umum dilarang, klab malam dan bar ditutup. Begitu juga alkohol, perjudian yang cepat dan hukuman yang berat diterapkan oleh pengadilan-pengadilan revolusi. Pelacuran, perdagangan obat terlarang dan bentuk-bentuk kemaksiatan lain dijatuhi hukuman mati. Masjid-masjid dan media massa dimanfaatkan untuk menyebar tuntunan dan ideologi Islami negara

.
Draf pertama Konstitusi Republik Islam Iran disusun pada Juni 1979 oleh Majelis Muassisan (Majelis Konstitusi) yang dibentuk berdasarkan dekrit Ayatullah Khomeini. Para anggota Majelis Muassisan, yang kemudian diubah menjadi Majelis-i Khubregan (Majelis Ahli) ini dipilih oleh rakyat. Ketika bersidang untuk membahas konstitusi itu, para anggota majelis dari Partai Republik Islam memperkenalkan pembaharuan penting yang mengubah sifat dasar konstitusi secara fundamental dengan memasukkan pasal 5 mengenai Wilayat al-Faqih. Pasal itu berbunyi sebagai berikut

:
Sepanjang kewajiban Imam segala zaman (semoga Tuhan mempercepat penjelmaannya yang diperbaharui), perintah dan kepemimpinan bangsa ada di tangan faqih yang adil dan alim, paham tentang keadaan zamannya, berani, bijak dan memiliki kemampuan administratif. Pada saat tidak ada faqih yang sangat dikenal oleh mayoritas, maka suatu dewan kepemimpinan yang terdiri dari fuqaha yang memiliki kecekapan seperti tersebut di atas akan memikul tanggung jawab sesuai pasal 107

.
Pasal 107 Konstitusi 1979 pada prinsipnya mensahkan Ayatullah Khomeini sebagai Wilayat al-Faqih, marja’ al-Iqlid yang terkemuka dan pemimpin revolusi. Kecakapan khusus pemimpin atau Dewan Kepemimpinan menurut pasal 109 adalah: (1) memenuhi persyaratan dalam hal keilmuan dan kebijakan yang esensial bagi kepemimpinan agama dan pengeluaran fatwa: (2) berwawasan sosial, berani, berkemampuan dan mempunyai cukup keahlian dalam pemerintahan.
Wilayat al-Faqih, menurut pasal 110 Konstitusi diberi tugas dan kekuasaan untuk menunjuk fuqaha pada Dewan Perwalian (Shuraye Nigabhan), wewenang pengadilan yang tertinggi, untuk mengangkat dan memberhentikan penglima tertinggi angkatan bersenjata dan panglima tertinggi pasukan pengawal revolusi Islam, untuk mengangkat keadaan perang dan damai, untuk menyetujui kelayakan calon-calon presiden dan untuk memberikan “presiden republik berdasarkan pada rasa hormat terhadap kepentingan negara”. Oleh karena itu Konstitusi 1979 memberikan wewenang negara yang tertinggi dan berakhir kepada Wilayat al-Faqih (atau Dewan Fuqaha bila tidak ada Wilayat al-Faqih)

.
Dari sedikit gambaran tentang konsep Wilayat al-Faqih dalam Konstitusi 1979 Iran, maka nampak jelas bahwa ia tetap didasarkan pada prinsip imamah yang menjadi salah satu “rukun iman” dalam mazhab Syi’ah Imamiyah. Bisa juga dikatakan bahwa Wilayat al-Faqih dimaksudkan untuk “mengisi kekosongan politik selama masa gaibnya Imam kedua belas (Imam al-Mahdi). Pada masa kegaiban itu, faqih yang memenuhi syarat berperan selaku wakil Imam al-Mahdi, guna membimbing umat, baik dalam masalah-masalah keagamaan maupun sosial-politik. Oleh sebab itu, berdasarkan konsep Wilayat al-Faqih, keberadaan sebuah pemerintahan Islam merupakan suatu keharusan spiritual maupun historis

.
Pada ulama Syi’ah menjunjung tinggi aspek asasiah doktrin imamah, dengan tetap berpegang pada keyakinan bahwa “hanya imam yang ditunjuk secara eksplisitlah yang berhak membuat keputusan mengikat dalam masalah yang mempengaruhi kesejahteraan umat manusia. Karena Imam itu ma’shum dan penafsir otoritatif wahyu Islami, maka ia adalah satu-satunya otoritas absah yang dapat menegakkan negara dan pemerintahan Islam. Namun, di bawah pengaruh kuat keadaan historis, imamah menjadi terbagi keadilan dalam temporal dan spiritual. Otoritas temporal Imam dipandang sebagai telah direbut oleh dinasti yang berkuasa, namun otoritas spiritual tetap dimiliki oleh Imam yang dipandang sebagai hujjah Tuhan mengenai kemahakuasaan-Nya, yang diberi kuasa untuk memandu kehidupan spiritual pada pengikutnya sebagai “Imam sejati”. Tetapi dengan berdirinya Republik Islam Iran yang didasarkan pada konsep Wilayat al-Faqih, maka untuk sementara waktu otoritas temporal dan spiritual itu dapat dipadukan dalam diri para faqih

.
Salah satu kritik yang muncul berkenaan dengan konsep Wilayat al-Faqih adalah soal kriteria faqih yang bisa diangkat sebagai pemimpin. Jelas tidak mudah (bahkan sangat sulit) menemukan seorang faqih yang bisa memenuhi kriteria sebagaimana disebutkan dalam Konstitusi 1979 Iran di atas. Hal ini juga terlihat di Iran sesudah wafatnya Ayatullah Khomeini. Kendati proses pemilihan Ayatullah Ali Khomeini sebagai pengganti Ayatullah Khomeini berjalan cukup mulus, namun banyak kalangan yang berpendapat bahwa “kelas” Ali Khomeini masih “jauh di bawah” tokoh yang digantikannya itu

.
Evaluasi atas pengalaman Iran sebagai sebuah Republik Islam sangat bervariasi, tetapi hanya sedikit yang meragukan bahwa perubahan-perubahan besar telah terjadi. Ketika menilai perubahan-perubahan selama ini setelah satu dasawarsa kepemimpinan Khomeini, Fouad Ajmi, seorang analis yang kritis mengenai struktur negara Timur Tengah, menyatakan: “Iran yang telah lahir setelah terjadinya pergeseran kekuasaan politik …oleh para teokrat dan kelompok mereka…Jika kita nilai catatanya sela satu dasawarsa, Iran merupakan sebuah negara yang mampu mengorganisasikan kampaye-kampaye besar yang mungkin dan tidak mungkin”

.
Negara yang tercipta melalui revolusi mempunyai kekuatan populis yang istimewa. Para faqih mampu memimpin negara jauh lebih mantap daripada sistem sebelumnya. Republik teokratis itu telah menutup kesenjangan yang melumpuhkan antara negara dan masyarakat yang sebelumnya menjadi ciri kehidupan politik Persia. Apakah upaya menjembatani kesenjangan antara negara dan masyarakat ini menandai adanya gerakan menuju sistem politik yang lebih demokratis atau tidak, hal ini masih diperdebatkan. Namun, ia telah memberikan landasan yang lebih memungkinkan terjadinya transisi yang sukses menuju era baru yang lebih baik

.
Kesimpulan
Ada beberapa kesimpulan yang dapat ditarik di sini.
1. Di dalam pandangan kaum Syi’ah Imamiyah, terdapat kaitan yang sangan erat antara konsep imamah dan konsep Wilayat al-Faqih. Kedua-duanya merupakan pelanjut bagi misi kenabian guna memlihara agama dan mengatur urusan dunia. Jika para imam berkewajiban membimbing umat setelah berakhirnya “siklus wahyu”, artinya setelah wafatnya Rasulullah saw, maka para faqih bertugas membimbing umat setelah berakhirnya “siklus imamah”, dengan satu perbedaan, jika para imam memiliki sifah ma”shum, maka para faqih tidaklah memiliki sifat ishmah atau atribut-atribut istimewa lainnya sebagaimana yang dimiliki para imam

.
2. Implementasi perundang-undangan dalam pemerintahan Wilayat al-Faqih, adalah, jika kekuasaan eksekutif dan yudikatif ada pada faqih yang menjalankan fungsi selaku wakil para imam, maka kekuasaan legislatif sepenuhnya menjadi hak Tuhan. Oleh sebab itu, pemerintahan dalam Wilayat al-Faqih juga bisa disebut sebagai “pemerintahan hukum Tuhan atas manusia”. Tetapi, ini bukan berarti tidak diperlukan adanya parlemen. Parlemen (majelis) diperlukan guna menyusun program untuk berbagai kementrian berdasarkan ajaran Islam dan menentukan bentuk pelayanan pemerintahan di seluruh negeri. Hal ini secara jelas dapat dilihat dalam konstitusi di Republik Islam Iran

.
3. Dengan demikian, dalam sistem Wilayat al-Faqih, kaum ulama menduduki posisi, baik sebagai pengawal, penafsir maupun pelaksana hukum-hukum Tuhan. Kedudukan dan fungsi yang sangat spesifik dan istimewa ini adalah bertujuan agar cita-cita menegakkan keadilan di muka bumi berdasarkan hukum Tuhan dapat direalisasikan secara baik dan benar

.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, Abu Bakar, Syi’ah Rasionalisme dalam Islam, (Solo: Ramadhani, 1998).

Budiarjo, Mariam, Dasar-dasar Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia, 1993)

Elwa, Mohammad S., Sistem Politik dalam Islam, terj. Ansori Thoyib, (Surabaya: Bina Ilmu, 1983).

Enayat, Hamid, Reaksi Politik Sunni-Syi’ah, terj. Asep Hikmat, (Bandung: Pustaka, 1988).

Esposito, John L. dan John O. Vall, Demokrasi di Negara-negara Muslim, terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Mizan, 1999).

Hadi, Sutrisno, Metodologi Riset, (yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, 1984).

Hashem, O., Saqifah, Awal Perselisihan Umat, (Jakarta: Yapi, 1989).

Hassan, Riaz, Islam: Dari Konservatisme samapi Fundamentalisme, (Jakarta: Rajawali Press, 1985).

Huwaidy, Fahmi, Demokrasi, Oposisi dan Masyarakat Madani, terj. Rahmani Astuti, (Bandung: Mizan, 1996).

Iver, Mc., Jaringan-jaringan Pemerintahan, terj. Laila Hasyim, Jilid I, (Jakarta: Aksara Baru, 1983).

Jafri, Sayid Muhammad Husein, Dari Saqifah Sampai Imamah, terj. Meth Kierena, (Jakarta: Pustaka Hidayah, 1989).

Khomeini, Imam, Sistem Pemerintahan Islam, terj. Muhamad Anis Maulachela, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2000)

Maududi, Abul A’la, Khalifah dan Kerajaan, terj. Muhammad Baqir, (Bandung: Mizan, 1987).

Mawardi, Imam Abu Hasan, Hukum Tata Negara dan Kepemimpinan dalam Takaran Islam, terj. Kartami dan Nurdin (Jakarta: Gema Insani Press, 2000)

Mortimer, Edward, Islam dan Kekuasaan, terj. Ena Hadi, (Bandung: Mizan, 1984).

Munawwir, Ahmad Warson, Kamus al-Munawwir, (Yogyakarta: PP.Krapyak, 1990).

Musawi, A.Syarafuddin, Dialog Sunnah-Syi’ah, terj. Muhamamad Baqir, (Bandung: Mizan, 1990)

Musawwi, Ahmad, dalam Mumtaz Ahmad (ed.), Masalah-masalah Teori Politik Islam, terj. Ena Hadi, (Bandung: Mizan, 1993).

Mutahhari, Murtadha, Keadilan Ilahi: Asas Pandangan Dunia Islam, terj. Agus Efendi, (Bandung: Mizan, 1992).

Muzaffari, Mehdi, Kekuasaan Dalam Islam, terj. Abdurrahman Ahmed, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994).

Najjar, Fauzi M., “Demokrasi dalam Filsafat Politik Islam”, Al-Hikmah, Oktober 1990.

Puar, Yusuf Abdullah, Perjuangan Ayatullah Khomeini, (Jakarta: Pustaka Antara, 1979).

Rahmat, Jalaluddin, “Demokrasi Tanap Batas: Melihat Pemilud di Iran”, Republika, 15 Januari 1993.

Raziq, Ali Abd, Islam: Dasar-dasar Pemerintahan, terj. Zaid Su’udi, (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002)

Sabon, Max Boli, Ilmu Negara , (Jakarta: Gramedia, 1992).

Sachedina, Abdul Azis A., “Penciptaan Tatanan Sosial yang Adil dalam Islam”, dalam Mumtaz Ahmad (ed.), Masalah-masalah teori Politik Islam, terj. Ena Hadi, (Bandung: Mizan, 1993).

——————–, Kepemimpinan Dalam Islam: Prespektif Syi’ah, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1991).

Shadr, Muhammad Baqir, Sistem Politik Islam, terj. Arif Mulyadi, (Jakarta: Lentera, 2001)

Sihbudi, M. Riza, “Tinjauan Teoritis dan Praktis atas Konsep Wilayat al-Faqih”, makalah seminar, (Jakarta: 1993).
Surbakti, Ramlan, Memahami Ilmu Politik, (Jakarta: Gramedia, 1992)

Syafi’i, Inu Kencana, Pengantar Ilmu Pemerintahan, (Jakarta: Eresco, 1992).

Syamsuddin, Din, “Beberapa Catatan Kritis di Sektar Usaha Pencarian Konsep tentang Negara dalam Sejarah Pemikiran Politik Islam”, Makalah Seminar, Jakarta, 28 Januari 1993.

Syari’ati, Ali, Islam Mazhab Aksi dan Pemikiran, terj. Afif Muhammad, (bandung: Mizan, 1995).

Tabattaba’i, Sayid Husein Islam Syi’ah: Asal-usul dan Perkembangannya, terj. Djohan Efendi, (jakarta: Grafiti, 1993).

Taimiyah, Ibnu, Siyasah Syar’iyah, terj. Rofi’ Munawar, (Surabaya: Risalah Gusti, 1995).

Watt, William Montgomery, Politik Islam dalam Lintasan Sejarah, terj. Helmi Ali, (Jakarta: P3M, 1988).

Demokrasi Islam Syi’ah vs Demokrasi Syirik Barat Sekuler

Sungguh menggelikan sunni yang memfitnah  bahwa Nabi SAW tidak menunjuk siapapun sebagai khalifah  .. Dalam Islam kepemimpinan bersifat tunggal dan tidak mengenal kepemimpinan kolektif
.
Tunggalnya kepemimpinan tersebut didasarkan pada hadits-hadits Nabi saw. Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah saw bersabda:
لا يحل لثلاثة نفر يكونون بأرض فلاة إلا أمروا عليهم أحدهم
Tidak halal bagi tiga orang yang melakukan perjalanan, kecuali mereka (bertiga) dipimpin oleh seorang di antara mereka (HR Ahmad)
.
Dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah saw bersabda:
إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدخم
Apabila ada tiga orang keluar untuk bepergian, hendaknya mereka (bertiga) dipimpin oleh salah seorang di antara mereka (HR Abu Dawud)
.
Kata أحد menunjukkan bilangan (adad) yakni jumlah satu. Karena lafadz yang menunjukkan bilangan dapat digunakan mafhum mukhalafah, selama tidak ada dalil lain yang menggugurkannya. Berdasarkan mafhum mukhalafah hadits-hadits diatas dapat dipahami bahwa kepimpinan yang ada dalam Islam tidak diperbolehkan lebih dari satu orang. Ini diperkuat oleh perbuatan Rasulullah saw dalam berbagai peristiwa yang beliau pimpin. Dalam berbagai peristiwa itu beliau selalu memimpin sendiri dengan seorang diri tanpa yang lain
.
Berdasarkan hadits-hadits tersebut maka kepemimpinan yang ada di dalam Islam harus dipegang satu orang. Tidak diperbolehkan dalam satu urusan atau satu tempat dipimpin lebih dari satu orang.

Beberapa waktu lalu, Rahbar Revolusi Islam Iran menghadiri Seminar Internasional Kebangkitan Islam yang telah diselenggarakan di Tehran, Republik Islam Iran. Pada kesempatan pembukaan seminar, Rahbar menguraikan substansi kebangkitan-kebangkitan rakyat ini dan hal-hal yang harus dilakukan. Rahbar menegaskan, “Unsur paling penting untuk seluruh revolusi ini adalah kehadiran sejati seluruh rakyat di arena amal, pertarungan, dan jihad.”

Poin utama yang dinilai oleh Rahbar sebagai pilar utama bagi percaturan kawasan Timur Tengah akhir-akhir ini adalah jihad seluruh rakyat dan kehadiran meriah mereka untuk menentang hagemoni para penguasa thagut.

Salah aktifitas Ayatullah Uzhma Alawi Gurgani salah seorang marja’ agung Mazhab Syiah Imamiah hari ini adalah menerima kunjungan para pegawai Angkatan Udara Sepah Pasdaran. Dalam kesempatan ini, ia menekankan supaya setiap orang alim harus mengamalkan ilmunya. “Sebagian ulama tidak mengingatkan khumus dan zakat kepada masyarakat. Kita berkewajiban mengutarakan seluruh kewajiban kepada masyarakat, sekalipun kita memperoleh perlakuan tak senonoh,” tegasnya.

“Banyak hukum yang tidak terlaksana di tengah masyarakat lantaran mereka tidak mengatahui masalah,” lanjutnya.

Ayatullah Alawi Gurgani pada kelanjutan uraiannya menguraikan hakikat kehidupan dunia yang sedang dijalani oleh manusia.

“Perumpamaan umur manusia adalah seperti tanah yang hijau rindang. Keindahan ini akan sirna ketika angin musim semi tiba,” pesannya.

Iya. Jihad adalah sebuah anugerah Ilahi yang telah dilupakan oleh Muslimin selama bertahun-tahun. Dan sekarang, ia telah kembali ke kehidupan sosial mereka. Ia kembali dengan meniupkan napas baru dan menyeret para penguasa lalim satu per satu.
Jihad adalah sebuah anugerah Ilahi yang telah menciptakan bahaya besar bagi kaum imperialis setelah mereka berhasil menguasai dunia, baik dalam bidang politik, sosial, maupun ekonomi selama 2 abad lamanya.

Para pemikir Muslim maupun non-Muslim pernah memprediksikan bahwa medan yang akan keluar sebagai pemenang dalam percaturan internasional adalah medan Islam. Hantington seorang pemikir Barat pernah memprediksikan bahwa Barat akan stagnan dalam menghadapi kekuatan Islam. Syiah meyakini bahwa masa depan hanya dimiliki oleh Islam.

Pihak-pihak penguasa imperialis senantiasa berusaha untuk menghentikan gerak kebangkitan Islami di kawasan Timur Tengah ini dengan cara kudeta, memberikan dukungan kepada negara-negara totaliter, memasyarakatkan arus pemikiran laik dan sekularis di negara-negara Islam, mengarahkan gerakan-gerakan cendekiawan Muslim, dan yang lebih penting, mendukung penuh rezim despotik Zionisme. Sekalipun demikian, gerak natural kebangkitan sudah dimulai bertahun-tahun yang lalu di kalangan masyarakat Islam. Dengan kemenangan Revolusi Islam Iran dan kemunculan seorang pemikir ulung seperti Imam Khomeini ra, periode baru kebangkitan ini telah dimulai.

Sekalipun umat Islam telah berhasil mewujudkan tujuan pertama mereka; yakni menggulingkan penguasa-penguasa anti-Islam, antirakyat, dan hanya berfungsi sebagai kaki tangan imperialisme dunia. Akan tetapi, seluruh tujuan umat Islam belum terwujud seutuhnya dan masih banya jenjang yang harus ditempuh.

Dari satu sisi yang lain, musuh yang telah terluka lantaran kebangkitan Islami ini selalu mencari-cari kesempatan untuk menenamkan pengaruh dan memaksakan kepentingan-kepentingannya terhadap seluruh bangsa yang ada di kawasan ini. Ia senantiasa berusaha untuk menyelewengkan kebangkitan-kebangkitan ini guna menguasai seluruh negara Islam dan mendominasi hasil-hasil yang telah diperoleh oleh seluruh kebangkitan ini.

Pada kondisi seperti ini, cara paling benar untuk melawan seluruh inspirasi ini adalah melanjutkan garis jihad dan perlawanan. Pada langkah pertama, jihad ini bertujuan mendepak musuh dan pada langkah kedua berguna untuk membangun sebuah sistem negara yang berlandaskan pada prinsip demokrasi dan ajaran-ajaran Islam.

Ketika berpesan kepada seluruh bangsa yang sudah bangkit ini, Rahbar Revolusi Islam Iran menegaskan, “Jangan Anda biarkan model-model pemerintahan sekular, Liberalisme Barat, Nasionalisme, aliran-aliran kiri, atau Markisme memaksakan kehendak mereka atas kalian.”

Demokrasi sekular Barat tidak memiliki hubungan sama sekali dengan demokrasi Islam yang memegang teguh nilai-nilai dan prinsip-prinsip utama Islami. Aliran pemikiran liberal demokrasi yang disebarkan oleh bangsa Barat dengan sangat sulit ke seluruh masyarakat dunia, khususnya dunia Islam, sekarang dalam pandangan masyarakat dunia tidak lebih dari sebuah pemikiran yang gagal, penimbul penyakit, dan distruktif.

Aliran pemikiran ini tidak hanya berbau syirik, tetapi sangat bertentangan dengan fitrah insani dan kemauan seluruh bangsa dunia yang sekarang sedang haus terhadap keadilan. Sekarang, bangsa barat sedang berusaha keras untuk mengekspor seluruh pemikiran yang telah dicanangkan rapi di negara-negara mereka. Padahal seluruh bangsa Muslim di dunia belum melupakan kenangan pahit atas penyelewengan kebangkitan-kebangkitan terdahulu dan aliran-aliran pemikiran impor perusak seperti nasionalisme, sosialisme, dan sekularisme.

Pada hakikatnya, kebangkitan-kebangkitan Islami sekarang ini merupakan sebuah balas dendam terhadap hegemoni ratusan tahun liberal demokrasi Barat atas dunia. Gerakan-gerakan ini dalam dirinya bukan hanya menyimpan pesan penafian terhadap hegemoni pemikiran ini atas seluruh bangsa Islam ini, tapi juga merupakan sebuah langkah permulaan untuk menyingkirkan liberal demokrasi yang digunakan oleh imperialisme sebagai senjata tajam untuk membunuh seluruh hak manusia di ranah dunia.

Demokrasi Islami adalah sebuah model yang bisa menciptakan sebuah sistem negara yang berlandaskan pada syariat dan kekuatan rakyat. Pengalaman berharga bagi keberhasilan konsep ini adalah pembentukan negara Republik Islam Iran sebagai sebuah buah kemenanganRevolusi Islam.

Islam syi’ah tidak mengenal paham demokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. Demokrasi barat adalah buatan manusia sekaligus produk dari pertentangan Barat terhadap agama sehingga cenderung sekuler.

demokrasi modern (Barat) merupakan sesuatu yang bersifat syirik. Sisi buruknya adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan yang haram dan menghalalkan yang haram. Islam menganut paham teokrasi (berdasarkan hukum Tuhan). Tentu saja bukan teokrasi yang diterapkan di Barat pada abad pertengahan yang telah memberikan kekuasaan tak terbatas pada para pendeta.

sejalan dengan kemenangan sekularisme atas agama, demokrasi barat  menjadi kehilangan sisi spiritualnya sehingga jauh dari etika. Demokrasi barat yang merupakan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat telah mengabaikan keberadaan agama. Parlemen sebagai salah satu pilar demokrasi dapat saja menetapkan hukum yang bertentangan dengan nilai agama kalau anggotanya menghendaki. Karenanya,Islam tidak dapat menerima model demokrasi Barat yang telah kehilangan basis moral dan spiritual. Atas dasar itu, syi’ah menawarkan sebuah konsep demokrasi spiritual yang dilandasi oleh etik dan moral ketuhanan.

Dalam demokrasi barat, kekuasaan legislatif (membuat dan menetapkan hukum) secara mutlak berada di tangan rakyat. Sementara, dalam sistem islam syi’ah kekuasaan tersebut merupakan wewenang Allah. Dialah pemegang kekuasaan hukum tertinggi. Wewenang manusia hanyalah menjabarkan dan merumuskan hukum sesuai dengan prinsip yang digariskan Tuhan serta berijtihad untuk sesuatu yang tidak diatur oleh ketentuan Allah

.
Jadi  dalam islam, Allah berposisi sebagai al-Syâri’ (legislator) sementara manusia berposisi sebagai faqîh (yang memahami dan menjabarkan) hukum-Nya

.
Demokrasi Barat berpulang pada pandangan mereka tentang batas kewenangan Tuhan. Menurut Aristoteles, setelah Tuhan menciptakan alam, Diia membiarkannya. Dalam filsafat Barat, manusia memiliki kewenangan legislatif dan eksekutif. Adapun yang tidak sejalan adalah ketika suara rakyat diberikan kebebasan secara mutlak sehingga bisa mengarah kepada sikap, tindakan, dan kebijakan yang keluar dari rambu-rambu ilahi

.
SUARA artis  seksi SAMA DENGAN SUARA ustad, SUARA PELACUR SAMA DENGAN SUARA “ULAMA, dimanakah persamaan demokrasi barat dengan demokrasi islam syi’ah ??

Dalam pandangan Islam Syi’ah, Allah-lah pemegang otoritas tersebut.

Allah berfirman : “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”(al-A’râf: 54)

.
Inilah batas yang membedakan antara sistem syariah Islam syi’ah dan Demokrasi Barat.

Pilpres iran merupakan bukti Adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam.

Musyawarah atau voting hanya berlaku pada persoalan ijtihadi; bukan pada persoalan yang sudah ditetapkan secara jelas oleh Alquran dan itrah ahlulbait.  Produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai agama

tujuan orang musyrik menyembah berhala juga mengandung  tujuan  menyembah Allah, lihat Qs.39:3,

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

agar lebih jelas mari kita lihat Qs.9:31,

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Arbaab (Tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb yg ahad, tidak ada Ilah(yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

didalam tafsir dijelaskan bahwa ketika mendengar ayat ini, seorang nasrani kemudian masuk Islam yg bernama adi bin hatim ‘protes kpd rasulullh saw, “ya rasulullah, kami (kaum nasrani) tidak menyembah, sholat ruku dan sujud kpd mereka (rahib dan pendetanya),” kemmudian rasulullah bertanya, “bukankah mereka menghalalkan yg Allah haramkan dan kalian mengitkuti? dan bukankah mereka menghalakan apa yg Allah haramkan kalian mengikuti?
adi menjawab, “betul ya rasulullah,”
“itulah penyembahan kalian…”
maka, siapapun yg menghalalkan hukum thaghut jahiliyah, maka dia kafir murtad menurut kesepakatan para fuqaha,, sebab apa? sebab UU jahiliyah   bertentangan dg hukum Allah,,

utk itu Allah beriman dalam Qs.4:60,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thoghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

Di antaranya: dalil-dalil yang mewajibkan kaum muslimin untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara mutlak (QS al-Nisa’: 59, 65, 105, 115; al-Baqarah: 20); mengembalikan semua persoalan hukum kepada syara’ (QS al-Syura: 10, al-Nisa’: 59), mengecam semua hukum selain hukum Allah dengan sebutan hukum thagut dan hukum jahiliyyah (QS al-Nisa’: 60, al-Maidah: 50), dan menyebut orang-orang yang berhukum kepada selain hukum Allah sebagai kafir, dzalim dan fasiq (QS al-Maidah: 44, 45, 47)

.
Allah SWT berfirman:
إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لايعلمون
Menetapkan hukum hanya hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS Yusuf: 40).

syi’ah menentang hagemoni para penguasa thagut

Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, kembali memperingatkan kaum adidaya dan perampas kekayaan bangsa-bangsa seraya menyatakan, “Jika mereka tidak menghentikan aksi-aksi mereka, maka mereka harus tahu bahwa seluruh bangsa akan bangkit dan akan menyeret mereka turun dari puncak-puncak kekuasaan.”

IRNA (27/10) melaporkan, hal itu dikemukakan Ahmadinejad pada kunjungan hari keempatnya ke Propinsi Khurasan Selatan. Ditambahkannya, “Saya mewakili bangsa Iran menasehati mereka untuk segera menghentikan aksi-aksinya dan segera hengkang dari kawasan, karena tujuan mereka tidak lain adalah perampasan kekayaan bangsa-bangsa.”

Ahmadinejad menekankan pula bahwa saat ini bangsa-bangsa regional dan dunia telah bangkit dan bahkan hal itu sedang terjadi di Eropa dan Amerika sendiri.

“Menyusul kebangkitan tersebut, kaum adidaya dan imperialis dunia berupaya mendistorsi perjalanan bangsa-bangsa, namun berkat pertolongan Allah Swt, hal itu tidak akan terjadi,” tambah Ahmadinejad.

Di bagian lain pernyataannya, Ahmadinejad menilai sejarah 60 tahun Eropa penuh dengan pembantaian dan kejahatan berbagai etnis seraya mengatakan, “Jika saat ini kita tidak menyaksikan adanya perang di antara mereka sendiri, adalah karena mereka sepakat untuk bersama-sama menyerang wilayah lain dan merampas kekayaannya.”

“Jika mereka tidak dapat lagi menjajah dan merampas di Afrika, Asia, dan Amerika Selatan, maka mereka akan seperti serigala saling membunuh,” tegas Ahmadinejad.

Menurut Ahmadinejad, melalui propaganda dan makar anti-Iran mereka berupaya menyulut perpecahan, karena tanpa perpecahan tidak terbuka peluang untuk menjajah dan merampas.

Para pejabat Amerika Serikat dalam sebuah sidang secara resmi dan terang-terangan mengusulkan dilakukannya operasi rahasia untuk meneror para pejabat tinggi Iran.

Fars News (27/10) melaporkan, belum lama Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad, berbicara mengenai budaya teror di Amerika Serikat dan sekutunya, pernyataan para pejabat Amerika Serikat dalam sidang Kongres itu membuktikan kebenaran pernyataan Ahmadinejad.

Beberapa waktu lalu, Ahmadinejad mereaksi tudingan seraya menyatakan, budaya teror adalah milik Amerika Serikat dan pihak-pihak yang tidak beradab, bukan bangsa Iran.

Setelah berbagai tekanan, sanksi, embargo, dan politik konfrontatif Barat dan Amerika Serikat anti-Iran dan sekutunya di kawasan termasuka Suriah dan Hizbullah Lebanon, para pejabat Amerika Rabu (26/10) secara resmi dalam sidang di Kongres mengusulkan teror sejumlah pejabat tinggi di Iran.

AFP melaporkan, sejumlah pejabat tinggi militer dan pengamat militer Amerika Serikat mengusulkan teror sejumlah pejabat dan tokoh di Iran khususnya di Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) atau Pasdaran.

Mantan panglima pasukan Angkatan Darat Amerika Serikat, Jack Kean, dalam sidang dengar pendapat Kongres mengatakan, “Mengapa kita tidak bunuh saja mereka [pejabat Iran]? Mereka telah membunuh sekitar seribu warga Amerika Serikat, lalu mengapa kita tidak meneror mereka? Saya tidak mengatakan melancarkan operasi militer, akan tetapi saya mengusulkan operasi rahasia [teror].”

Situs Aljazeera dalam hal ini melaporkan, “Setelah tuduhan para pejabat Amerika Serikat bahwa Pasdaran Iran terlibat dalam rencana teror Duta Besar Arab Saudi untuk Washington, kembali Amerika Serikat dan Iran saling bersitegang.”

Kean yang saat ini juga menjadi anggota Komisi Keamanan Dalam Negeri di Parlemen AS itu mengatakan, “Iran harus mendapat tekanan hebat.”

Reuel Marc Gerecht, mantan pengamat Timur Tengah di CIA dan anggota Lembaga Perjuangan Demokrasi, menjelaskan bahwa Pasdaran Iran tidak menggunakan logika yang digunakan oleh Amerika Serikat, dan bahwa Pasdaran tidak akan gentar kecuali salah satu pejabatnya ditangkap atau diteror.

Gerecht bahkan secara langsung menyebut nama Qasem Soleimani, Panglima Pasukan Qods Iran, untuk ditahan atau diteror.

Sebagian pengamat berpendapat bahwa setelah gagal melontarkan isu serangan militer ke Iran, sekarang Amerika Serikat mulai mencari alasan untuk menjustifikasi operasi rahasia teror para pejabat Iran. Langkah awalnya dengan melontarkan tudingan rencana teror Dubes Arab Saudi untuk Washington oleh Pasdaran Iran.

Sungguh menggelikan sunni yang memfitnah  bahwa Nabi SAW tidak menunjuk siapapun sebagai khalifah  .. Dalam Islam kepemimpinan bersifat tunggal dan tidak mengenal kepemimpinan kolektif
.
Tunggalnya kepemimpinan tersebut didasarkan pada hadits-hadits Nabi saw. Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah saw bersabda:
لا يحل لثلاثة نفر يكونون بأرض فلاة إلا أمروا عليهم أحدهم
Tidak halal bagi tiga orang yang melakukan perjalanan, kecuali mereka (bertiga) dipimpin oleh seorang di antara mereka (HR Ahmad)
.
Dari Abu Sa’id bahwa Rasulullah saw bersabda:
إذا خرج ثلاثة في سفر فليؤمروا أحدخم
Apabila ada tiga orang keluar untuk bepergian, hendaknya mereka (bertiga) dipimpin oleh salah seorang di antara mereka (HR Abu Dawud)
.
Kata أحد menunjukkan bilangan (adad) yakni jumlah satu. Karena lafadz yang menunjukkan bilangan dapat digunakan mafhum mukhalafah, selama tidak ada dalil lain yang menggugurkannya. Berdasarkan mafhum mukhalafah hadits-hadits diatas dapat dipahami bahwa kepimpinan yang ada dalam Islam tidak diperbolehkan lebih dari satu orang. Ini diperkuat oleh perbuatan Rasulullah saw dalam berbagai peristiwa yang beliau pimpin. Dalam berbagai peristiwa itu beliau selalu memimpin sendiri dengan seorang diri tanpa yang lain
.
Berdasarkan hadits-hadits tersebut maka kepemimpinan yang ada di dalam Islam harus dipegang satu orang. Tidak diperbolehkan dalam satu urusan atau satu tempat dipimpin lebih dari satu orang.

Beberapa waktu lalu, Rahbar Revolusi Islam Iran menghadiri Seminar Internasional Kebangkitan Islam yang telah diselenggarakan di Tehran, Republik Islam Iran. Pada kesempatan pembukaan seminar, Rahbar menguraikan substansi kebangkitan-kebangkitan rakyat ini dan hal-hal yang harus dilakukan. Rahbar menegaskan, “Unsur paling penting untuk seluruh revolusi ini adalah kehadiran sejati seluruh rakyat di arena amal, pertarungan, dan jihad.”

Poin utama yang dinilai oleh Rahbar sebagai pilar utama bagi percaturan kawasan Timur Tengah akhir-akhir ini adalah jihad seluruh rakyat dan kehadiran meriah mereka untuk menentang hagemoni para penguasa thagut.

Salah aktifitas Ayatullah Uzhma Alawi Gurgani salah seorang marja’ agung Mazhab Syiah Imamiah hari ini adalah menerima kunjungan para pegawai Angkatan Udara Sepah Pasdaran. Dalam kesempatan ini, ia menekankan supaya setiap orang alim harus mengamalkan ilmunya. “Sebagian ulama tidak mengingatkan khumus dan zakat kepada masyarakat. Kita berkewajiban mengutarakan seluruh kewajiban kepada masyarakat, sekalipun kita memperoleh perlakuan tak senonoh,” tegasnya.

“Banyak hukum yang tidak terlaksana di tengah masyarakat lantaran mereka tidak mengatahui masalah,” lanjutnya.

Ayatullah Alawi Gurgani pada kelanjutan uraiannya menguraikan hakikat kehidupan dunia yang sedang dijalani oleh manusia.

“Perumpamaan umur manusia adalah seperti tanah yang hijau rindang. Keindahan ini akan sirna ketika angin musim semi tiba,” pesannya.

Iya. Jihad adalah sebuah anugerah Ilahi yang telah dilupakan oleh Muslimin selama bertahun-tahun. Dan sekarang, ia telah kembali ke kehidupan sosial mereka. Ia kembali dengan meniupkan napas baru dan menyeret para penguasa lalim satu per satu.
Jihad adalah sebuah anugerah Ilahi yang telah menciptakan bahaya besar bagi kaum imperialis setelah mereka berhasil menguasai dunia, baik dalam bidang politik, sosial, maupun ekonomi selama 2 abad lamanya.

Para pemikir Muslim maupun non-Muslim pernah memprediksikan bahwa medan yang akan keluar sebagai pemenang dalam percaturan internasional adalah medan Islam. Hantington seorang pemikir Barat pernah memprediksikan bahwa Barat akan stagnan dalam menghadapi kekuatan Islam. Syiah meyakini bahwa masa depan hanya dimiliki oleh Islam.

Pihak-pihak penguasa imperialis senantiasa berusaha untuk menghentikan gerak kebangkitan Islami di kawasan Timur Tengah ini dengan cara kudeta, memberikan dukungan kepada negara-negara totaliter, memasyarakatkan arus pemikiran laik dan sekularis di negara-negara Islam, mengarahkan gerakan-gerakan cendekiawan Muslim, dan yang lebih penting, mendukung penuh rezim despotik Zionisme. Sekalipun demikian, gerak natural kebangkitan sudah dimulai bertahun-tahun yang lalu di kalangan masyarakat Islam. Dengan kemenangan Revolusi Islam Iran dan kemunculan seorang pemikir ulung seperti Imam Khomeini ra, periode baru kebangkitan ini telah dimulai.

Sekalipun umat Islam telah berhasil mewujudkan tujuan pertama mereka; yakni menggulingkan penguasa-penguasa anti-Islam, antirakyat, dan hanya berfungsi sebagai kaki tangan imperialisme dunia. Akan tetapi, seluruh tujuan umat Islam belum terwujud seutuhnya dan masih banya jenjang yang harus ditempuh.

Dari satu sisi yang lain, musuh yang telah terluka lantaran kebangkitan Islami ini selalu mencari-cari kesempatan untuk menenamkan pengaruh dan memaksakan kepentingan-kepentingannya terhadap seluruh bangsa yang ada di kawasan ini. Ia senantiasa berusaha untuk menyelewengkan kebangkitan-kebangkitan ini guna menguasai seluruh negara Islam dan mendominasi hasil-hasil yang telah diperoleh oleh seluruh kebangkitan ini.

Pada kondisi seperti ini, cara paling benar untuk melawan seluruh inspirasi ini adalah melanjutkan garis jihad dan perlawanan. Pada langkah pertama, jihad ini bertujuan mendepak musuh dan pada langkah kedua berguna untuk membangun sebuah sistem negara yang berlandaskan pada prinsip demokrasi dan ajaran-ajaran Islam.

Ketika berpesan kepada seluruh bangsa yang sudah bangkit ini, Rahbar Revolusi Islam Iran menegaskan, “Jangan Anda biarkan model-model pemerintahan sekular, Liberalisme Barat, Nasionalisme, aliran-aliran kiri, atau Markisme memaksakan kehendak mereka atas kalian.”

Demokrasi sekular Barat tidak memiliki hubungan sama sekali dengan demokrasi Islam yang memegang teguh nilai-nilai dan prinsip-prinsip utama Islami. Aliran pemikiran liberal demokrasi yang disebarkan oleh bangsa Barat dengan sangat sulit ke seluruh masyarakat dunia, khususnya dunia Islam, sekarang dalam pandangan masyarakat dunia tidak lebih dari sebuah pemikiran yang gagal, penimbul penyakit, dan distruktif.

Aliran pemikiran ini tidak hanya berbau syirik, tetapi sangat bertentangan dengan fitrah insani dan kemauan seluruh bangsa dunia yang sekarang sedang haus terhadap keadilan. Sekarang, bangsa barat sedang berusaha keras untuk mengekspor seluruh pemikiran yang telah dicanangkan rapi di negara-negara mereka. Padahal seluruh bangsa Muslim di dunia belum melupakan kenangan pahit atas penyelewengan kebangkitan-kebangkitan terdahulu dan aliran-aliran pemikiran impor perusak seperti nasionalisme, sosialisme, dan sekularisme.

Pada hakikatnya, kebangkitan-kebangkitan Islami sekarang ini merupakan sebuah balas dendam terhadap hegemoni ratusan tahun liberal demokrasi Barat atas dunia. Gerakan-gerakan ini dalam dirinya bukan hanya menyimpan pesan penafian terhadap hegemoni pemikiran ini atas seluruh bangsa Islam ini, tapi juga merupakan sebuah langkah permulaan untuk menyingkirkan liberal demokrasi yang digunakan oleh imperialisme sebagai senjata tajam untuk membunuh seluruh hak manusia di ranah dunia.

Demokrasi Islami adalah sebuah model yang bisa menciptakan sebuah sistem negara yang berlandaskan pada syariat dan kekuatan rakyat. Pengalaman berharga bagi keberhasilan konsep ini adalah pembentukan negara Republik Islam Iran sebagai sebuah buah kemenanganRevolusi Islam.

Islam syi’ah tidak mengenal paham demokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. Demokrasi barat adalah buatan manusia sekaligus produk dari pertentangan Barat terhadap agama sehingga cenderung sekuler.

demokrasi modern (Barat) merupakan sesuatu yang bersifat syirik. Sisi buruknya adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan yang haram dan menghalalkan yang haram. Islam menganut paham teokrasi (berdasarkan hukum Tuhan). Tentu saja bukan teokrasi yang diterapkan di Barat pada abad pertengahan yang telah memberikan kekuasaan tak terbatas pada para pendeta.

sejalan dengan kemenangan sekularisme atas agama, demokrasi barat  menjadi kehilangan sisi spiritualnya sehingga jauh dari etika. Demokrasi barat yang merupakan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat telah mengabaikan keberadaan agama. Parlemen sebagai salah satu pilar demokrasi dapat saja menetapkan hukum yang bertentangan dengan nilai agama kalau anggotanya menghendaki. Karenanya,Islam tidak dapat menerima model demokrasi Barat yang telah kehilangan basis moral dan spiritual. Atas dasar itu, syi’ah menawarkan sebuah konsep demokrasi spiritual yang dilandasi oleh etik dan moral ketuhanan.

Dalam demokrasi barat, kekuasaan legislatif (membuat dan menetapkan hukum) secara mutlak berada di tangan rakyat. Sementara, dalam sistem islam syi’ah kekuasaan tersebut merupakan wewenang Allah. Dialah pemegang kekuasaan hukum tertinggi. Wewenang manusia hanyalah menjabarkan dan merumuskan hukum sesuai dengan prinsip yang digariskan Tuhan serta berijtihad untuk sesuatu yang tidak diatur oleh ketentuan Allah

.
Jadi  dalam islam, Allah berposisi sebagai al-Syâri’ (legislator) sementara manusia berposisi sebagai faqîh (yang memahami dan menjabarkan) hukum-Nya

.
Demokrasi Barat berpulang pada pandangan mereka tentang batas kewenangan Tuhan. Menurut Aristoteles, setelah Tuhan menciptakan alam, Diia membiarkannya. Dalam filsafat Barat, manusia memiliki kewenangan legislatif dan eksekutif. Adapun yang tidak sejalan adalah ketika suara rakyat diberikan kebebasan secara mutlak sehingga bisa mengarah kepada sikap, tindakan, dan kebijakan yang keluar dari rambu-rambu ilahi

.
SUARA artis  seksi SAMA DENGAN SUARA ustad, SUARA PELACUR SAMA DENGAN SUARA “ULAMA, dimanakah persamaan demokrasi barat dengan demokrasi islam syi’ah ??

Dalam pandangan Islam Syi’ah, Allah-lah pemegang otoritas tersebut.

Allah berfirman : “Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”(al-A’râf: 54)

.
Inilah batas yang membedakan antara sistem syariah Islam syi’ah dan Demokrasi Barat.

Pilpres iran merupakan bukti Adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam.

Musyawarah atau voting hanya berlaku pada persoalan ijtihadi; bukan pada persoalan yang sudah ditetapkan secara jelas oleh Alquran dan itrah ahlulbait.  Produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai agama

tujuan orang musyrik menyembah berhala juga mengandung  tujuan  menyembah Allah, lihat Qs.39:3,

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.”

agar lebih jelas mari kita lihat Qs.9:31,

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Arbaab (Tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb yg ahad, tidak ada Ilah(yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

didalam tafsir dijelaskan bahwa ketika mendengar ayat ini, seorang nasrani kemudian masuk Islam yg bernama adi bin hatim ‘protes kpd rasulullh saw, “ya rasulullah, kami (kaum nasrani) tidak menyembah, sholat ruku dan sujud kpd mereka (rahib dan pendetanya),” kemmudian rasulullah bertanya, “bukankah mereka menghalalkan yg Allah haramkan dan kalian mengitkuti? dan bukankah mereka menghalakan apa yg Allah haramkan kalian mengikuti?
adi menjawab, “betul ya rasulullah,”
“itulah penyembahan kalian…”
maka, siapapun yg menghalalkan hukum thaghut jahiliyah, maka dia kafir murtad menurut kesepakatan para fuqaha,, sebab apa? sebab UU jahiliyah   bertentangan dg hukum Allah,,

utk itu Allah beriman dalam Qs.4:60,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thoghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”

Di antaranya: dalil-dalil yang mewajibkan kaum muslimin untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya secara mutlak (QS al-Nisa’: 59, 65, 105, 115; al-Baqarah: 20); mengembalikan semua persoalan hukum kepada syara’ (QS al-Syura: 10, al-Nisa’: 59), mengecam semua hukum selain hukum Allah dengan sebutan hukum thagut dan hukum jahiliyyah (QS al-Nisa’: 60, al-Maidah: 50), dan menyebut orang-orang yang berhukum kepada selain hukum Allah sebagai kafir, dzalim dan fasiq (QS al-Maidah: 44, 45, 47)

.
Allah SWT berfirman:
إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لايعلمون
Menetapkan hukum hanya hak Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS Yusuf: 40).

Al Quran telah meramalkan kemungkinan terjadinya pemalsuan/ penciptaan Hadis dan Sunah oleh musuh-musuh Nabi

“saya meninggalkan kepada kamu semua, apa yang jika kamu pegang teguh, kamu tidak akan sesat, (yaitu) Kitab Allah dan Keluargaku. (Muslim 44 / 4, No. 2408; Ibn Hanbal 4 / 366; Darimi 23 / 1, no. 3319.


“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An Nisa’ [4] : 115)

Menolak Imamah adalah kufr, seperti halnya menolak Nubuwwah adalah kufr. (Talkhis ash-Shafi vol. 4 hal. 131 (Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Qum, 3rd ed. 1394))

Dari Tsauban, Rasulullah bersabda:
“وَإِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي َاْلأَئِمَةَ الْمُضِلِّينَ
Sesungguhnya yang paling aku takutkan dari umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan.” (HR. Tirmidzi 2155 dishahihkan oleh Syaikh Al Albani Shahihul Jami’ 2316).

Bukti historis mendukung fakta ini, karena kata-kata dan tindakan (Hadis iSunni) dinisbahkan pada Nabi belum muncul hingga abad kedua setelah kematiannya.

Quran telah meramalkan kemungkinan terjadinya pemalsuan/ penciptaan Hadis dan Sunah oleh musuh-musuh Nabi:

Bisik-bisik Iblis dan Setan juga tidak harus berasal dengan bentuk-bentuk yang secara langsung berhubungan dengan esensi Jin yang gaib,namun ia juga bisa muncul dalam bentuk sebagai manusia. Hal ini semakin menegaskan bahwa Setan sebagai makhluk dapat dilahirkan dari Iblis yang berkelindan dengan makhluk Jin maupun manusia. Firman berikut menginformaiskan lebih tegas ,

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.(QS 6:112)

“Dan (juga) agar hati kecil orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat cenderung kepada bisikan itu, mereka merasa senang kepadanya dan supaya mereka mengerjakan apa yang mereka (syaitan) kerjakan..” 6:113

Imamah adalah suatu rahmat universal  (lutf ‘amm) sedangkan Nubuwwah adalah suatu rahmat khusus (lutf khass), karena, adalah memungkinkan bahwa suatu periode waktu tertentu dapat kosong dari Nabi yang hidup, sementara hal yang sama tidak benar bagi Imam. Menolak rahmat yang universal adalah lebih buruk dibanding menolak rahmat yang khusus. (Al-Alfayn hal. 3 (al-Maktabah al-Haydariyyah, Najaf, 3rd ed. 1388).)

Pada permulaan abad ke-4 Hijrah Kulayni telah melaporkan dalam hasil kerjanya Al-Kafi, sebanyak tujuh belas (17) hadits berbeda tentang 12-Imam, sedangkan Syekh Muhammad bin Ali Saduq, yang datang separuh abad kemudian, melaporkan tiga puluh lima (35) tradisi tentang isu ini, di dalam bukunya ‘Ikmal al-Din’. Hal ini dilengkapi oleh ulama lain -Muhammad bin Ali Al-Khazzaz pada ujung abad ke-4, di dalam hasil kerjanya ‘Kifayat al-Athar fi al-Nass ala al-A’imah al-Ithna Ashar, dengan menceritakan dua ratus (200) tradisi.

Asal dari teori ini, menurut sejarawan Syi’ah Mas’udi di dalam ‘Al-Tanbih wa al-Ishraf’- adalah buku yang ditulis oleh Salim bin Qays al-Hilali, yang muncul pada abad ke-4, dengan seorang pengarang yang dikatakan sebagai salah satu dari sahabat Imam Ali bin Abi Talib (AS). Terdapat sejumlah Hadiths di dalamnya yang dianggap berasal dari Rasul Allah (SAAW) dan Imam dari Ahl al-Bayt, yang menandai adanya nama dua belas Imam. (4) Al-Masudi, Al-Tanbih wa al-Ishraf, hal. 198.

Abu Bakr pada suatu ketika tidak begitu yakin apakah tetap menjaga apa yang ia ketahui dari hadis-hadis atau tidak. Dia telah mengumpulkan 500 Hadis selama persahabatan yang sangat panjang dengan Nabi Muhammad, tetapi dia tidak bisa tidur sampai akhirnya beliau membakar hadit-hadits tersebut.

Umar Ibn Al-Khattab bersikeras untuk memusnahkan Hadis yang dikumpulkan oleh putranya Abdullah. Sejarah Islam menyebutkan kisah Umar Ibn Al-Khattab yang menahan empat dari sahabat Nabi karena desakan mereka untuk menceritakan Hadis, merika ini adalah Ibnu Mas’oud, Abu al-Dardaa, Abu Mas’ud Al-Anssary dan Abu Dzarr Al-Ghaffary. Umar menyebut Abu Hurairah sebagai pembohong dan mengancam untuk mengirimnya kembali ke Yaman jika dia tidak berhenti mengatakan semua kebohongan tentang Nabi Muhammad. Dia lalu berhenti hingga Umar meninggal, kemudian mulai lagi menceritakan hadits.

Abu Hurairah meriwayatkan hadis lebih dari pada orang lain termasuk Abu Bakr, Umar, Ali, dan Aysha yang tinggal bersama nabi sepanjang hidup mereka. Dalam waktu kurang dari dua tahun bersama Nabi, Abu Hurairah mampu meriwayatkan Hadis lebih dari pada semua sahabat Nabi bila dikumpulkan. Dia meriwayatkan hadis sebanyak 5.374. Ibn Hanbal mencatat 3.848 Hadis darinya di dalam bukunya. Khalifah Terpimpin

setelah wafatnya Nabi. Seiring dengan berjalannya waktu, hadis hadis berisi kebohongan-kebohongan tentang Nabi Muhammad tersebar luas dan orang-orang meninggalkan/ mengabaikan Al-Quran dan mencari Hadis. Sejak saat itulah Islam bergeser dari Diin Allah, Quran, kepada Diin Hadis dan Sunnah

Sunni  „mem-berhalakan“ orang-orang seperti Bukhari, Muslim, Ahmad dan lain-lain sebagai pesaing Allah dalam menetapkan hukum-hukum untuk addiin yang besar dan sempurna ini

“Maka patutkah aku mencari hakim selain dari Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan terperinci? …..” 6:114

Mereka yang berfirqah-firqah harus menerima siksa yang pedih

Qs. Ali Imran Ayat ke 105

Artinya:Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.
Salah satu dari bahaya yang mengancam para pengikut agama-agama Ilahi adalah persoalan-persoalan yang membangkitkan perselisihan etnis dan kaum ataupun persoalan-persoalan sejarah dan pemerintahan. Dalam sajian sebelum ini, kami telah menjelaskan bahwa Allah swt telah mengajak semua mukminin untuk bersatu dan sehati dan Allah swt menyebut mereka sebagai bersaudara.

Oleh karenanya, para penyembah Tuhan di manapun berada, telah mewujudkan sejenis hubungan dan ikatan pemikiran antara mereka di mana perbatasan geografi tidak lagi dapat memisahkan mereka. Rasul saaw seribu empat ratus tahun yang lalu bersabda: “Saudara-saudara ku adalah orang-orang yang akan datang pada masa mendatang, mereka yang tidak pernah melihatku, namun beriman kepadaku, mereka adalah saudara-saudaraku yang sejati.

Keyakinan kepada Tuhan merupakan fokus persatuan yang paling kokoh yang sepatutnya menyebabkan faktor kesatuan hari antara semua penganut agama khususnya muslimin. Namun sayangnya, kepentingan-kepentingan material atau tendensi-tendensi politik yang menyebabkan adakalanya antara mukminin terlibat perang dan konflik yang belum prenah terjadi antara mereka an musuh-musuh Allah. Ayat ini merupakan suatu peringatan kepada semua, yang mana akhir perselisihan ini adalah siksa dan adzab di dunia maupun akhirat.

Dari ayat ini, kita dapat petik beberapa pelajaran:
1. Sumber sebagian besar perselisihan, bukanlah kebodohan. Sebagian meskipun mengetahui kebenaran, namun mereka memerangi kebenaran itu karena kepentingan-kepentingan pribadinya dan mewujudkan dinding pemisah antara muslimin.
2. Marilah kita mengambil pelajaran dari sejarah orang-orang terdahulu. Adakah kaum-kaum yang terlibat perselisihan, telah menggapai kebahagiaan, ataukah mereka hidup berdampingan dengan harmonis?

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” Al-An’am [6] : 159

Tanda orang musyrik, mereka suka berpecah-belah

Berikut ini jawabannya :
…Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Allah yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. Ar-Ruum [30] : 31-32)

bahkan Allah Pencipta kita melarang kita berpecah-belah bukan hanya satu ayat, misalnya surat Ar Ruum: 32, Hud:118-119. Didalam ayat ini Allah tidak mengecualikan perselisihan yang pasti terjadi, (karena ini merupakan kehendak kauni yang harus terjadi, bukan kehendak syar’i), maka Allah akan mengecualikan golongan yang dirahmati, yaitu: ‘ illa man rohima robbuka’ artinya: “Kecuali orang yang dirahmati oleh Rabbmu.” (QS. Hud [11] : 119)

Islam mengajak kita bersatu, dan melarang kita berpecah-belah, orang Islam dilarang berpecah-belah berdasarkan firmanNya didalam surat Al Imran: 105, surat Ar Ruum: 31-32.

Adapun dalil wajibnya kita bersatu, tidak boleh berpecah-belah dan bergolong-golong :

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran [3] : 103)

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah meridhoi kami tiga perkara dan membenci kamu tiga perkara: Dia meridhoi kamu apabila kamu beribadah kepadaNya dan tidak menyekutukan sesuatu kepadaNya, dan apabila kamu berpegang teguh kepada tali Allah semua dan kamu tidak berpecah-belah,… (HR. Muslim: 3236).

Tokoh umat hendaknya takut di hadapan pengadilan Allah pada saat pengikut mengadu pada hari kiamat. Baca Surat Ibrahim [14] : 21-22 dan surat Ghofir [23] : 47-48, surat As Saba’ [34] : 31-33. Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk kepada kita semua, menjadi pemimpin yang mengajak umat kepada yang haq yang diridhoi oleh Allah.