Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

Sinyalemen Kehancuran Kapitalisme

Gerakan Occupy Wall Street menembus jantung Kapitalisme global. Setelah lebih dari sebulan menduduki Wall Street, gelombang unjuk rasa anti-Kapitalisme meluas hingga Eropa. Dalam beberapa pekan terakhir, ratusan pengunjuk rasa anti-korporatisme telah berkemah di tempat-tempat umum di kota-kota besar di Eropa untuk hari ketiga berturut-turut. Mereka menggelar protes untuk melawan ketidakadilan yang disebabkan oleh krisis zona euro.

Di Frankfurt, pengunjuk rasa telah mendirikan sebuah desa darurat di depan Bank Sentral Eropa, sementara demonstran Belanda membangun tenda di luar bursa saham Amsterdam. Gerakan Menduduki Wall Street dimulai pada 17 September di distrik keuangan New York, sebagai protes atas sejumlah isu termasuk perang di Timur Tengah, krisis keuangan AS dan bonus yang tinggi bagi para eksekutif Wall Street. Pada hari Sabtu, demonstrasi meledak di 951 kota di 82 negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Latin, Asia dan Afrika.

Para pengunjuk rasa yang mengusung moto “Kami adalah 99 persen” menggunakan slogan itu untuk menunjukkan fakta bahwa mereka diperlakukan berbeda dari satu persen orang Amerika, yang menguasai sebagian besar kekayaan Negeri Paman Sam itu. Protes besar-besaran rencananya akan digelar pada 29 Oktober mendatang, menjelang KTT G20 di Paris, Perancis.

Ratusan ribu pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan di kota-kota Eropa untuk memprotes korporatisme, peningkatan korupsi dan langkah-langkah penghematan yang disponsori negara. Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Irlandia, dan Portugal adalah beberapa negara Eropa, yang dilanda protes besar anti-Kapitalisme pada Sabtu (15/10). Kekerasan juga meletus di beberapa kota, termasuk Roma dan London.

Para pengunjuk rasa di seluruh Italia mengekspresikan kemarahan mereka atas situasi ekonomi dan mosi percaya parlemen yang diberikan kepada Perdana Menteri Silvio Berlusconi baru-baru ini, serta serangkaian skandal politik dan moral yang mencoreng citra negara.

Sumber-sumber di Italia menyebut lebih dari 200.000 pengunjuk rasa tiba di Roma. Dilaporkan, lebih dari 70 orang termasuk petugas polisi dan warga setempat, terluka dalam bentrokan antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa di ibukota Italia. Sementara itu di London, aksi damai berubah menjadi kekerasan ketika polisi bentrok dengan para demonstran di dekat Katedral Santo Paulus. Demonstran anti-korupsi sekarang telah mendirikan tenda dalam upaya untuk menduduki daerah tersebut. Jumlah penangkapan di London masih belum jelas.

Di Jerman, lebih dari 40.000 pengunjuk rasa turun ke jalan-jalan, termasuk lebih dari 8.000 orang di Berlin dan 6.000 di Markas Besar Bank Sentral Eropa di Frankfurt. Mereka juga menyerukan demokrasi lebih luas dan mengakhiri keserakahan korporatisme keuangan.

Munich, Cologne, Hamburg, dan kota-kota lain di Jerman, juga menyaksikan demonstrasi besar yang dipentaskan oleh ribuan demonstran. Selain itu, ribuan warga Spanyol berkumpul dekat Plaza Cataluna di pusat Barcelona, menekankan bahwa warga biasa tidak akan membayar utang yang dikeluarkan oleh pemerintah dan perusahaan besar.

Mereka juga menyuarakan kemarahan dan frustrasi atas tingginya angka pengangguran, korupsi dalam politik dan pemotongan anggaran belanja publik.

Pemprotes anti-korporatisme mengatakan mereka terinspirasi oleh gerakan Occupy Wall Street (OWS), yang dimulai di Amerika Serikat pada pertengahan September untuk mengecam pengaruh besar perusahaan raksasa dan kebijakan finansial pemerintah yang salah arah.

Kini, muncul pertanyaan besar di benak rakyat AS dan Eropa, mengapa perusahaan-perusahan yang memainkan peran penting dalam krisis finansial justru mendapatkan kucuran bantuan finansial besar-besaran? Mengapa masyarakat yang harus menanggung beban akibat kesalahan para pemimpin institusi keuangan yang mendapat gaji besar dan bonus tambahan yang melimpah?

Sistem Kapitalisme di AS berdiri di atas pilar kerakusan dan ketidakadilan. Sejatinya, sistem Kapitalisme di AS merupakan sebuah bentuk diktatorisme finansial yang tampil secara tidak tranparan dan tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia.

Dengan prinsip tersebut, seluruh slogan gerakan protes baru-baru ini mengarah pada kesenjangan sosial dan ketidakadilan. Salsh seorang anggota Koalisi untuk reformasi dan keadilan dalam wawancara dengan Press TV menyatakan bahwa protes anti-Wall Street akan memberikan pengaruh besar terhadap masa depan negara itu.

Gerakan Occupy Wall Street dalam situsnya menyatakan bahwa berbagai kelompok dunia menyuarakan solidaritasnya terhadap gerakan Occupy Wall Street. Profesor David Michael Green dari Universitas Hofstra di New York menilai distribusi kekayaan di Amerika Serikat telah mengubah negara itu menjadi sebuah “Republik Pisang” di mana kekuasaan politik dibeli.

Green mengatakan, “Kami memiliki sistem politik yang sangat banyak melayani kepentingan pemilik uang yang mampu membeli kekuasaan politik dan membeli kebijakan.”Ditegaskannya, “Pengambil kebijakan terutama di Washington telah dibeli oleh kepentingan-kepentingan khusus, terutama kelompok elit ekonomi.”

Sekitar sebulan sejak dimulainya gerakan Occupy Wall Street, gerakan anti-Kapitalisme telah menyebar lebih dari seribu kota dari 80 wilayah di Amerika, Eropa dan Asia. Di setiap aksi unjuk rasa, para demonstran memrotes kondisi yang ada dan menuntut sistem baru bagi masa depan yang lebih baik.

Gerakan yang telah mengglobal ini punya akar masalah yang sama. Bangsa-bangsa di dunia sudah tidak dapat lagi menerima sistem Kapitalisme yang menguasai dunia saat ini. Karena dalam sistem ini, para pemilik modal besar adalah pelaku utama kebijakan dan ekonomi masyarakat Kapitalisme.

Sementara para politikus memainkan peran sebagai pelaksana kebijakan para pemodal. Dari gabungan para pelaku pasar dan politikus ini lahirlah sebuah kelompok kecil berjumlah satu persen, tapi sangat kaya. Mereka mengontrol seluruh alat-alat produksi dan kekayaan masyarakat. Sebaliknya, 99 persen warga hidup dalam kemiskinan, inflasi, pengangguran dan puluhan masalah sosial lainnya.

Gelombang ketiga krisis ekonomi yang meletus sejak tahun 2008 semakin membuktikan bahwa sistem Kapitalisme yang dipaksakan negara-negara Barat sebagai sistem ekonomi global, ternyata gagal mewujudkan kesejahteraan ekonomi dunia. Alih-alih tercapainya tujuan itu, sistem Kapitalisme semakin meningkatkan kesenjangan antara kalangan kaya dan miskin di dunia. Setiap hari, media massa gloabal menyiarkan deretan nama-nama orang terkaya di dunia. Namun pada saat yang sama, banyak orang yang meninggal karena kelaparan.

Sejatinya, sudah saatnya dunia meninjau ulang sistem ekonomi Kapitalisme yang sudah usang itu, dan menggantinya dengan sistem ekonomi yang berkeadilan

.

Rahbar: Jika Tahu Yang Sebenarnya, Rakyat di Dunia Barat Akan Membakar Kapitalisme
Seraya menjelaskan hegemoni kuat jaringan zionisme atas para petinggi AS dan Eropa, kepada para pemimpin Barat, Rahbar mengatakan, jika kelak rakyat kalian mengetahui bahwa faktor yang menyengsarakan mereka dan yang memicu kesulitan adalah ketundukan kalian kepada zionis, api kemarahan mereka akan berkobar untuk membakar sistem kapitalisme arogansi dan mengubahnya menjadi abu.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar
atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei di
hari kelima kunjungan ke Provinsi Kermanshah bertatap muka dengan ribuan
mahasiswa, dosen dan kalangan akademisi Kermanshah. Dalam pidatonya, beliau
menyatakan bahwa generasi muda memainkan peran kunci di negara ini baik di masa
lalu, sekarang maupun masa yang akan datang. Karena itu, pertemuan dengan para
pemuda memiliki nilai penting.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut saat ini sebagai masa perjuangan,
resistensi dan kearifan. Seraya menyinggung gelombang kebangkitan Islam dan
persaingan baik yang terbuka maupun terselubung untuk menentukan sistem
kenegaraan di Mesir, Tunisia dan negara-negara lain kawasan, beliau mengatakan,
di masa yang menentukan ini yang diwarnai dengan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan
baru di kawasan, kondisi umum pemerintahan Republik Islam menjadi salah satu
faktor yang berpengaruh dominan yang memainkan peran penting terhadap kondisi
sekarang dan masa depan kawasan ini.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menjelaskan tentang revolusi Islam dan menuturkan,
“Revolusi Islam berarti gerakan yang menumbangkan kekuasaan rezim Syah
yang bobrok lalu membuka jalan bagi terbentuknya sebuah pemerintahan.
Pemerintahan Islam berarti identitas dan bentuk umum negara seperti yang
dimaukan oleh rakyat. Pembentukan pemerintahan Islam berarti tegaknya rangkaian
lembaga dan institusi pengelolaan negara, pembentukan masyarakat Islam dan pada
tahap berikutnya, pembentukan umat Islam. Semua itu adalah mata rantai yang
memperjelas langkah di masa lalu, sekarang dan esok.”

Beliau lebih lanjut menerangkan bahwa tahap keempat dari mata rantai ini yaitu
pembentukan masyarakat Islam adalah target menengah tapi sangat penting dan
mulia. “Masyarakat Islam adalah masyarakat yang mewujudkan cita-cita besar
Islam untuk umat manusia,” kata beliau.

Masyarakat Islami menurut Rahbar memiliki sederet kriteria seperti keadilan,
kebebasan, peran serta rakyat dalam mengelola negara, harga diri bangsa,
kesejahteraan umum, dan kemajuan di berbagai bidang yang mesti diwujudkan.
“Tentunya, tujuan utama dari masyarakat Islami adalah membawa manusia
kepada kesempurnaan maknawiyah, penghambaan dan makrifat kepada Allah,”
tambah beliau.

Beliau mengingatkan untuk tidak menafsirkan ide pembentukan masyarakat Islami
dengan persepsi Barat. Sebagai contoh, keadilan, kebebasan dan martabat manusia
yang menjadi ciri khas masyarakat Islami hanya mengacu pada ajaran Islam hakiki
yang berbeda dengan persepsi Barat.

Meski demikian, lanjut Rahbar, Barat juga tidak komitmen dengan slogan-slogan
dan persepsi yang dibuatnya. Di Afghanistan, Irak, Libya dan negara-negara
lain, Barat mengangkat slogan-slogan seperti demokrasi, perang melawan senjata
atom, dan perang anti terror yang ternyata hanya kamuflase untuk menunjang
kepentingan busuknya seperti menguasai kawasan-kawasan penting ekonomi dan
kekayaan bangsa-bangsa lain serta untuk melindungi rezim Zionis Israel dan
menyempurnakan mata rantai arogansinya di dunia.

Di bagian lain pembicaraannya, Rahbar menyinggung skenario AS yang menuduh Republik
Islam Iran terlibat dalam sebuah rencana teror. Seraya menjelaskan bahwa
Republik Islam memantau dengan jeli segala gerak gerik di balik tabir skenario
ini, kepada para petinggi Washington beliau memperingatkan, dengan sekuat
tenaga, Republik Islam akan membalas setiap tipu daya dan gerakan destruktif
yang mengganggu.

Menurut beliau, skenario AS mungkin ditujukan untuk meredam gejolak yang
ditimbulkan oleh gerakan anti Wall Street. “Rakyat di 80 negara mendukung
gerakan yang semakin besar ini, dan ini menjadi fenomena yang pahit dan sulit
bagi para petinggi AS,” tandas beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, tindakan represif polisi dan tentara
mungkin bisa meredam gerakan ini tapi tak akan pernah bisa menghilangkannya,
dan ia akan menjadi api dalam sekam.

Seraya menjelaskan hegemoni kuat jaringan zionisme atas para petinggi AS dan
Eropa, kepada para pemimpin Barat, beliau mengatakan, jika kelak rakyat kalian
mengetahui bahwa faktor yang menyengsarakan mereka dan yang memicu kesulitan
adalah ketundukan kalian kepada zionis, api kemarahan mereka akan berkobar
untuk membakar sistem kapitalisme arogansi dan mengubahnya menjadi abu.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Kalian telah meninggalkan rakyat
dan mayoritas mereka membenci kalian. Kondisi di Republik Islam Iran justeru
sebaliknya. Pertemuan akbar rakyat menunjukkan tekad kuat dan keteguhan mereka
untuk melawan setiap tipudaya.”

Seraya mengingatkan bahwa selama 32 tahun, Republik Islam tak pernah tunduk
kepada kemauan lawan, beliau menandaskan, “Seluruh bangsa kita ada di
tengah medan. Kita semua adalah bagian dari bangsa dan prajurit untuk negara
dan Islam. Tubuh bangsa yang satu dan kuat ini siap melawan segala bentuk
konspirasi dan langkah setan tanpa mengenal kata mundur.”

Permusuhan setan yang paling keji di dunia terhadap bangsa Iran dan
pemerintahan Republik Islam, menurut Rahbar, menunjukkan kebenaran janji Ilahi.
“Seperti yang dikatakan al-Qur’an, segala kekejian itu hanya akan menambah
keimanan kita. Pertolongan Ilahi akan menunjukkan kemenangan bangsa Iran atas
para perancang tipudaya,” imbuh beliau.(abna.ir)

Rahbar: Para Petinggi AS Bahkan Terkucil di Negara Sendiri

“Dengan melayangkan tuduhan tak berdasar yang mengaitkan beberapa warga Iran, mereka berusaha mencari alasan untuk mengesankan Republik Islam Iran sebagai pendukung terorisme, untuk selanjutnya menjadikannya sasaran serangan diplomasi dan propaganda media. Tapi, konspirasi ini gagal, akan gagal dan tidak akan berhasil seperti konspirasi-konspirasi yang sebelumnya. Tidak seperti yang mereka bayangkan, konspirasi ini malah akan membuat mereka semakin terkucil,” tegas Rahbar.

Menurut Kantor Berita ABNA, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei di hari keempat kunjungan ke provinsi Kermanshah bertatap muka dengan ribuan warga Gilan-e Gharb. Dalam pertemuan akbar itu, beliau menyebut rakyat Iran khususnya para pemuda negeri ini sebagai pembela jatidiri, identitas dan harga diri bangsa dan agama. Seraya menyinggung tuduhan yang dialamatkan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini terhadap Republik Islam Iran, beliau mengatakan, musuh berusaha keras untuk menyebarkan Iranphobia, tetapi seperti yang sudah-sudah, tak ada yang mereka dapatkan kecuali kebencian bangsa-bangsa di dunia terhadap AS yang semakin besar dan kian meningkatnya kecintaan umum kepada slogan-slogan bangsa Iran yang membanggakan.

Dalam pertemuan agung yang digelar di lapangan olahraga Gilan-e Gharb Sabtu (15/10) pagi ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut keteguhan warga kota ini selama masa serbuan rezim Baath sebagai kebanggaan bagi para pemuda daerah ini. Seraya menceritakan kunjungan beberapa kali ke Gilan-e Gharb dan daerah-daerah sekitarnya selama perang delapan tahun, beliau menambahkan, para pemuda daerah ini mesti menyadari bahwa mereka dibesarkan di lingkungan keluarga yang mengkombinasikan antara keberanian dengan keterasingan mereka selama Perang Pertahanan Suci.

“Ini sangat membanggakan dan menunjukkan adanya potensi besar spiritualitas dan nilai kemanusiaan,” kata beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menilai era ini sebagai era suci untuk membela jatidiri dan harga diri bangsa serta keyakinan Islam yang kokoh. Beliau mengatakan, “Para pemuda, putra, putri dan semua mukmin yang tidak mengalami era pertahanan bangsa dan negara dengan senjata, kini tetap menyandang semangat kebangsaan dan siap membela kemuliaan dan jatidiri bangsa dan agama.”

Menyinggung tipudaya dan konspirasi asing untuk mengucilkan Republik Islam Iran, beliau menegaskan, AS, Eropa dan rezim-rezim dependen melakukan segala hal untuk melumpuhkan resistensi bangsa Iran. Realita ini menunjukkan keagungan nilai kegigihan dan keteguhan bangsa Iran terhadap cita-citanya.

Dalam beberapa hari terakhir, jelas Rahbar, jaringan media massa Zonisme internasional gencar memberitakan dukungan Iran kepada terorisme dan ini adalah bagian dari mata rantai tipudaya terus menerus yang dilakukan kubu arogansi dunia.

“Dengan melayangkan tuduhan tak berdasar yang mengaitkan beberapa warga Iran, mereka berusaha mencari alasan untuk mengesankan Republik Islam Iran sebagai pendukung terorisme, untuk selanjutnya menjadikannya sasaran serangan diplomasi dan propaganda media. Tapi, konspirasi ini gagal, akan gagal dan tidak akan berhasil seperti konspirasi-konspirasi yang sebelumnya. Tidak seperti yang mereka bayangkan, konspirasi ini malah akan membuat mereka semakin terkucil,” tegas beliau.

Pemimpin Besar Revolusi Islam lebih lanjut menjelaskan transformasi terkini di kawasan dan dunia seraya menyebut AS sebagai rezim dan negara yang paling dibenci oleh bangsa-bangsa di dunia. Beliau menambahkan, “Dua tahun lalu, Presiden AS saat berkunjung ke Mesir membuat pernyataan-pernyataan yang muluk untuk menipu opini umum di kawasan. Tapi kini, di negara yang sama dan di negara-negara lain di kawasan, rakyat justeru meneriakkan slogan-slogan anti AS.”

Seraya menerangkan kecemasan Presiden AS menghadapi bangsa-bangsa di kawasan, beliau mengungkapkan, “Saat berkunjung ke Afghanistan yang dikuasai oleh pasukan AS dan NATO, orang ini bahkan sama sekali tidak keluar dari pangkalan militer Begram. Dia tidak berani pergi ke Kabul. Sebab, dia terkucilkan di mata bangsa-bangsa dunia, dan takut terhadap mereka.”

Berbicara tentang kondisi di dalam negeri AS, Rahbar mengangkat masalah gerakan anti Wall Street yang merebak ke berbagai kota lainnya di AS. Kepada para petinggi AS beliau mengatakan, “Kalian bahkan dikucilkan oleh bangsa sendiri dan kalian takut kepada mayoritas rakyat kalian. Apakah dengan kondisi ini kalian ingin menyebarkan Iranphobia dengan omongan kosong kalian?”

Di bagian lain pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei memuji keteguhan bangsa Iran dalam menghadapi kubu arogansi dunia, seraya mengatakan, “Ingatlah selalu bahwa Republik Islam Iran berpihak kepada bangsa-bangsa tertindas dan melawan kaum penindas. Dengan segenap tenaga Republik Islam Iran siap menghadapi arogansi dan tak akan mundur sedikitpun dari cita-citanya.”

Seraya menyatakan bahwa slogan-slogan Republik Islam Iran diminati oleh bangsa-bangsa lain di dunia, beliau menambahkan, seiring dengan kecenderungan yang semakin besar ini, para petinggi AS hanya memiliki pengagum yang berjumlah kecil yakni hanya satu persen.

Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut kebangkitan Islam di kawasan yang semakin luas sebagai transformasi yang sangat penting di Timur Tengah. Beliau menjelaskan, para pemuda yang cerdas di negara ini harus mempertahankan Islam sebagai faktor yang menyelamatkan kehidupan materi dan spiritual. Tak diragukan, bahwa masa depan adalah milik Islam. Panji Islam, insya Allah, akan berkibar di seluruh kawasan dan akan terbentuk satu komunitas dari bangsa-bangsa di kawasan yang kuat, kompak dan terhormat.

Syi’ah melaknat sahabat vs Golongan Yang Dilaknat ALLAH dan RASULNYA ???

ilust_1
Benarkah syi’ah imamiyah adalah mazhab kotor dan sinting yang kerjanya adalah melaknat, mengkafirkan dan mencaci maki para Sahabat Nabi SAW ??
.
Sunni Malaysia berteriak teriak : “Syi’ah mengkafirkan para sahabat”
.
Sunni Indonesia berteriak teriak : “Syi’ah melaknat para sahabat”
.
Duhai  tuduhan yang mengada ada…
.
Kafir versi syi’ah = tidak taat, bukan kafir tulen
.
Murtad versi syi’ah = berbalik meninggalkan wasiat Rasul SAW, bukan murtad tulen
.
Lucu jika syi’ah dituduh kafir kan sahabat…

NB : Sobat Sobat Jangan Lupa Berkomentar, Setelah Download Buku Disini..

Konsep Laknat dalam al-Quran

Pengenalan

Perkataan la‘nat (laknat) dan pecahannya disebut sekurang-kurangnya 32 kali di dalam al-Qur’an dalam pelbagai perkara yang melanggari perintah Allah dan Rasul-Nya. Mengikut  Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi perkataan la‘nat (laknat) memberi erti “pengusiran dan berjauhan dari kebaikan” (al-Tard wa al-Ib’ad mina l-khair) (Mukhtar al-Sihhah, hlm. 108, Cairo, 1950). J. Milton Cowan menyatakan la‘nat adalah “curse”. La‘natullahi ‘Alaihi bererti “God’s curse upon him” (A Dictionary of Written Arabic, London 1971, hlm. 870). Manakala menurut Kamus Dewan pula menyatakan laknat adalah “kemurkaan Allah dan jauh dari petunjuk-Nya; setiap perbuatan jahat akan menerima kutukan (laknat) daripada Allah (Kamus Dewan, hlm. 694, Kuala Lumpur, 1971).

Mereka yang dilaknati di dalam al-Qur’an

Di sini dikemukakan sebahagian daripada mereka yang dilaknati di dalam al- Qur’an seperti berikut:

1Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perintah-Nya

Firman-Nya Sesungguhnya Allah melaknat (mengutuk) orang-orang yang kafir (ingkar) dan menyediakan untuk mereka api yang menyala-nyala” (Al- Ahzab (33):64) “Sesungguhnya di atas engkau laknat sampai hari pembalasan” (Al-Hijr (15):35) “Sesungguhnya  di atasmu laknatkusampai hari pembalasan” (Sad (38):78)

Ini menunjukkan barangsiapa yang mengingkari walaupun satu hukum daripada hukum-hukum-Nya adalah termasuk orang yang ingkar terhadap hukum-Nya. Apatah lagi jika seorang itu menukarkan hukum Allah dengan hukumnya sendiri. Kerana setiap individu Muslim sama ada Nabi (Saw.) atau bukan Nabi tidak boleh menyalahi al-Qur’an. Firman-Nya “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhan-ku, akan azab hari yang besar” (Al-An’am (96):15). Jika Nabi (Saw.) merasa takut kepada Allah jika dia mendurhakai-Nya, maka orang lain sama ada yang bergelar khalifah atau sahabat atau mana-mana individu sepatutnya lebih takut lagi untuk mendurhakai perintah-Nya.

2Laknat Allah kepada mereka yang menyakiti-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, nescaya mereka dilaknati Allah di Dunia dan di Akhirat dan Dia menyediakan untuk mereka  seksa yang menghinakan (mereka) (Al-Ahzab (33):57).

Ini bererti barang siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya walau dengan apa cara sekalipun dilaknati Allah, Rasul-Nya,para Malaikat-Nya dan  Mukminun. Sama ada dengan menentang hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya atau menghina Allah dan Rasul-Nya dengan membatalkan hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya di atas alasanmaslahah umum atau sebagainya.

Justeru itu, orang yang menghina Nabi (Saw.) dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau” di hadapan Nabi (Saw.) “Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]”. “Orang yang telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.), Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar” [Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida,Tarikh, I, hlm. 156],  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II ,hlm.14; Umar Ridha Kahhalah,A’lam al-Nisa’, III, hlm. 208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah” Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dan lain-lain).

Mereka yang membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V, hlm. 140), “Menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.)” [al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111] , mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’’ hlm.136) adalah termasuk orang yang dilaknati Allah, Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun. Dan jika seorang itu tidak melakukan laknat kepada mereka di atas perbuatan mereka yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka dia bukanlah Mukmin yang sebenar. Apatah lagi jika dia mempertahankan perbuatan mereka tersebut sebagai sunnah atau agama bagi bertaqarrub kepada Allah (swt).

3. Laknat Allah kepada mereka yang menyembunyikan hukum-Nya di dalam kitab-Nya

Firman-Nya “Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada orang ramai, nescaya mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh orang-orang yang mengutuknya” (Al-Baqarah (2):159).

Ini bererti barang siapa yang menyembunyikan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya yang sepatutnya didedahkan kepada masyarakat, tetapi dia tidak menerangkannya kepada mereka kerana kepentingan tertentu maka dia dilaknati Allah dan orang-orang yang melaknatinya. Apatah lagi jika dia seorang yang mempunyai autoritatif di dalam agama. Kerana konsep hukum Allah tidak boleh disembunyikannya, kerana ia harus dilaksanakannya. Di samping itu, dia tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang zalim, kerana Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah, kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).

4Laknat Allah kepada mereka yang membohongi-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya “Barang siapa yang membantah engkau tentang kebenaran itu, setelah datang kepada engkau ilmu pengetahuan, maka katakanlah: Marilah kami panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubahalah (bersungguh-sungguh berdoa), lalu kita jadikan laknat Allah atas orang yang berbohong” (Ali ‘Imran (3):61).

Ini bererti mereka  yang membohongi Allah dan Rasul-Nya selepas dikemukakan hukum al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, tetapi mereka masih membantahnya, maka mereka itu dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini dikenali dengan ayat al-Mubahalah. Ia berlaku di antara Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya (a.s) di satu pihak dan Nasrani Najran di pihak yang lain.

Nabi (Saw.) telah mempertaruhkan kepada Nasrani Najran (abna’a-na) anak-anak kami (al-Hasan dan al-Husain a.s), (nisa’-ana) perempuan kami (Fatimah a.s) dan (anfusa-na) diri kami (Ali a.s). Imam Ali al-Ridha berkata: “Sesungguhnya ia dimaksudkan dengan Ali bin Abi Talib (a.s). Buktinya sebuah hadis telah menerangkan  maksud yang sama, seperti berikut: ” ... aku akan mengutuskan kepada mereka seorang lelaki seperti diriku [ka-nafsi]” Iaitu Ali bin Abi Talib. Ini adalah suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, kelebihan yang tidak boleh dikaitkan dengan orang lain dan kemuliaan yang tidak dapat didahului oleh sesiapa pun kerana diri Ali seperti dirinya sendiri” (Muhammad Babawaih al-Qummi, Amali al-Saduq Najaf, 1970, hlm.468).

Akhirnya mereka enggan bermubahalah dengan Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya, lalu mereka membayar jizyah kepada Nabi (Saw.). Jika Nasrani Najran tidak berani menyahuti mubahalah Nabi (Saw.) dengan pertaruhan Ahlu l-Baitnya, kerana kebenarannya, apakah gerangan mereka yang mengakui al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya sebagai asas agama mereka berani menentang Ahlu l-Bait (a.s), kemudian menyembunyikan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, khususnys mengenai mereka? Jika mereka melakukan sedemikian, nescaya mereka dilaknati oleh Allah  dan Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun.

5. Laknat Allah kepada mereka yang mendurhakai-Nya dan Rasul-Nya

Firman-Nya “Telah dilaknati orang-orang yang kafir di kalangan Bani Isra’il di atas lidah Daud dan Isa anak lelaki Maryam. Demikian itu disebabkan mereka telah mendurhaka dan melampaui batas. Mereka tidak melarang sesuatu yang mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat jahat apa yang mereka perbuat” (Al-Ma’idah (5):78-79).

Firman-Nya “Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35).

Ini bererti barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya; sama ada melakukan perkara-perkara yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta tidak melakukan konsep “AmruMa’ruf wa Nahyu Munkar”, maka mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka para Malaikat dan Mukminun akan melaknati mereka.

6Laknat Allah kepada mereka yang zalim

Firman-Nya “Ahli syurga menyeru ahli neraka: Kami telah memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami  dengan sebenarnya. Adakah kamu memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya? Mereka itu menjawab: Ya. Lalu menyeru orang yang menyeru (Malaikat) di kalanggan mereka: Sesungguhnyalaknat Allah ke atas orang yang zalim (iaitu) orang-orang yang menghalangi jalan Allah dan mereka mencari jalan bengkok, sedang mereka itu kafir terhadap Akhirat” (Al-A’raf (7): 44-45) dan, “Barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum Allah, maka merekalah orang yang zalim”) Al-Ma’dah (5):45)

Ini bererti sebarang kecenderungan terhadap orang-orang yang zalim akan di sambar oleh api neraka. Apatah lagi jika seorang itu meredai atau menyokong mereka atau bekerja sama dengan mereka. Saidina Ali (a.s) berkata: “Mereka yang bersekutu di dalam kezaliman adalah tiga: Pelaku kezaliman, pembantunya dan orang yang meridhai kezaliman itu” (Tuhafu al ‘Uqul ‘an Ali r-Rasul, hlm. 23 dan lain-lain. Justeru itu mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya serta Mukminun.

7. Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perjanjian Allah, melakukan kerosakan di bumi dan memutuskan silaturahim

Firman-Nya “Mereka yang mengingkari janji Allah sesudah eratnya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah supaya diperhubungkan dan mereka yang membuat kerosakan di muka bumi, untuk mereka laknat dan untuk mereka tempat yang buruk” (Al-Ra’d (13):25) dan “Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu melakukan kerosakan di muka bumi dan memutuskan silatu r-Rahim? Mereka itulah yang dilaknati Allah, lalu Dia memekakkan mereka dan membutakan pemandangan mereka ” (Muhammad (47): 22-23).

Ini bererti mereka yang mengingkari janji Allah dengan mendurhakai-Nya, kemudian melakukan kerosakkan di muka bumi dengan mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta memutuskan silaturahim, maka bagi mereka laknat Allah dan Rasul-Nya.

Justeru itu tidak hairanlah jika Saidina Ali (a.s) telah melaknati mereka yang telah mengubah agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Laknatilah mereka yang telah mengubah agama-Mu, menukar ni‘kmat-Mu (khilafah), menuduh perkara-perkara yang bukan-bukan terhadap Rasul-Mu (Saw.), menentang jalan-Mu, menyalahi agama-Mu, mengingkari nikmat-Mu, menentang kalam-Mu, mempersenda-sendakan Rasul-Mu…(al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Beirut 1991, xxx,  hlm. 393). Sementara Imam Ja‘far al-Sadiq pula berdoa: Wahai Tuhanku! Pertingkatkanlah laknat-Mu dan azab-Mu ke atas mereka yang telah mengingkari ni‘mat-Mu, mengkhianati Rasul-Mu, menuduh Nabi-Mu perkara yang bukan-bukan dan menentangnya…(Ibid, hlm. 395).

Kesimpulan

Berdasarkan kepada ayat-ayat tersebut, maka Laknat boleh atau harus dilakukan kepada mereka yang mempersendakan Allah dan Rasulullah (Saw.), menghina, mengingkari, membatal, mengubah, menangguh dan menggantikan sebahagian daripada hukum Allah (SWT) dan Sunnah Rasul-Nya dengan pendapat atau sunnah mereka sendiri sama ada orang itu bergelar khalifah atau sahabat atau tabi‘in dan sebagainya.

Justeru itu, ungkapan “melaknat khalifah atau sahabat tertentu atau polan dan polan” tidak menjadi perkara sensitif lagi jika kita meletakkan mereka sama ada khalifah, sahabat, individu atau kita sendiri di bawah martabat Rasulullah (Saw.), dan Rasulullah (Saw.) pula di bawah martabat Allah (SWT). Tetapi jika mereka  meletakkan seorang khalifah, sahabat  atau mana-mana individu lebih tinggi daripada martabat Allah dan Rasul-Nya dari segi pengamalan hukum dan sebagainya, maka mereka tidak akan meredai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya di dalam perkara tersebut. Kerana  penilaian kebenaran bagi mereka bukanlah al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) secara keseluruhannya, malah seorang khalifah atau sahabat menjadi penilaian kebenaran mereka. Lalu mereka menjadikan pendapat atau sunnah “mereka” yang menyalahi Nas sebagai agama bagi mendekatkan diri mereka kepada-Nya.

.

Doa Qunut Imam Ali Terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash Beserta Pengikut Mereka

Tulisan ini kami persembahkan kepada para pendengki Ahlul Bait yang senang sekali memuliakanorang-orang yang menyimpang dari Ahlul Bait. Tentu saja mereka tidak akan mau menunjukkanwajah asli kedengkian mereka terhadap Ahlul Bait. Mereka tidak mau menunjukkan terang-terangan kebencian mereka kepada Ahlul Bait oleh karena itu mereka melampiaskan kebencian itu dengan memuliakan musuh-musuh Ahlul Bait.

Mereka memuliakan orang-orang yang menyakiti Ahlul bait. Membela kesalahan mereka seraya berkata “itu cuma ijtihad” yang walaupun salah tetap mendapat pahala. Berbeda dengan mereka, Imam Ali justru mengakui kalau orang-orang yang menyimpang[pembangkang] seperti Muawiyah dan Amru bin Ash layak dihukum untuk kesalahan mereka.

حدثنا هشيم قال أخبرنا حصين قال حدثنا عبد الرحمن بن معقل قال صليت مع علي صلاة الغداة قال فقنت فقال في قنوته اللهم عليك بمعاوية وأشياعه وعمرو بن العاص وأشياعه وأبا السلمي وأشياعه وعبد الله بن قيس وأشياعه

Telah menceritakan kepada kami Husyaim yang berkata telah mengabarkan kepada kami Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ma’qil yang berkata Aku shalat bersama Ali dalam shalat fajar dan kemudian ketika Qunut Beliau berkata “Ya Allah hukumlah Muawiyah dan pengikutnya, Amru bin Ash dan pengikutnya, Abu As Sulami dan pengikutnya, Abdullah bin Qais dan pengikutnya”.[Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/108 no 7050]

Atsar ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih sampai ke Ali bin Abi Thalib Alaihis Salam.

  • Husyaim adalah Husyaim bin Basyiir seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 11 no 100 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Saad dan Abu Hatim. Ibnu Mahdi, Abu Zar’ah dan Abu Hatim memuji hafalannya. Dalam At Taqrib 2/269 Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit. Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 5979 menyebutkan kalau Husyaim seorang Hafiz Baghdad Imam yang tsiqat.
  • Hushain adalah Hushain bin Abdurrahman As Sulami Al Kufi seorang perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 2 no 659 dan menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Al Ajli, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/222 menyatakan ia tsiqat dan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 1124 menyatakan ia tsiqat hujjah.
  • Abdurrahman bin Ma’qil Al Muzanni adalah perawi Abu Dawud seorang tabiin [walaupun ada yang mengatakan ia sahabat]. Ibnu Hajar menuliskan biografinya dalam At Tahdzib juz 6 no 543 dan ia dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Hibban dan Abu Zur’ah. Dalam At Taqrib 1/591 ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar.

Atsar ini adalah sebaik-baik dalil yang menunjukkan bagaimana pandangan Imam Ali terhadap Muawiyah, Amru bin Ash dan para pengikutnya. Tentu saja para nashibi yang adalah Syiah-nya Muawiyah tidak akan senang melihat Atsar ini. Dan untuk mereka kita katakan “Matilah dengan kemarahanmu”.

..
Judul : 100 Golongan Yang Dilaknat ALLAH dan RASULNYA
Penulis : Salman Nashif Al-Dahduh
No ISBN : 979-552-334-1
Kategori : Referensi Ibadah
Cover : Soft Cover
Isi : 181 hal
Ukuran : 12.5×17
Berat : 500 gr
Harga : Rp 24.000,00
Diskon : 10 %
Harga Netto : Rp 21.600,00

100 Golongan Yang Dilaknat ALLAH dan RASULNYA

Ada seratus golongan manusia yang dilaknat Allah dan Rasul-Nya, dijauhkan dari rahmat dan kekasihnya, dan dihalangi pandangan dari petunjuknya, sehingga pandangandari petunjuknya, sehingga pandangan merekamenjadi buta dan hati mereka menjadi keras.Itu baru merupakan siksaan duniawi, sedang di akherat mereka akan diperhinakanakibat perbuatan dan kemaksiatannya. Golongan Apa sajakah mereka itu yang membuat Allah dan Rasul-Nya murka sehingga dijatuhkan laknat padanya? Dosa apakah yang derajatnya begitu berat? dengan mengenali Seratus Golongan ini, maka kita dapat menghindari diri dari kemaksiatan dan dosa yang akan memutus rahmat dan kasih-Nya

.



Rasulullah s.a.w telah bersabda yang maksudnya kalangan yang pada waktu pagi mereka dimurkai Allah dan pada waktu petangnya juga dimurkai Allah. Abu Hurairah bertanya: Siapa mereka wahai Rasulullah? Jawab baginda

; Orang lelaki yang berlagak seperti wanita, kaum wanita yang berlagak seperti lelaki. Orang yang bersetubuh dengan binatang dan orang yang melakukan hubungan sejenis.” (At-Tabrani dan al-Baihaqi)
Huraian

:
1. Allah S.W.T melaknat orang yang melakukan perbuatan keji dan terkutuk seperti golongan bapuk (maknyah), perempuan yang berperwatakan lelaki, mereka yang bersetubuh dengan binatang dan orang yang melakukan homoseks dan lesbian

.
2. Semua perbuatan ini jelas menunjukkan penentangan terhadap hukum fitrah manusia yang seolah-olah menolak ketetapan Allah S.W.T. Mereka membiarkan hawa nafsu menguasai diri hingga sanggup melakukan perkara mungkar bahkan lebih jijik lagi sanggup bersetubuh dengan binatang

.
3. Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang amat dimuliakan oleh Allah S.W.T. Sewajarnya mereka bertindak selaku orang yang berakal fikiran bukan seperti binatang yang bernafsu buas tanpa mengenal buruk baik, halal dan haram

.
4. Syaitan adalah musuh utama manusia. Setiap perbuatan buruk yang dilakukan adalah petanda bahawa seseorang itu sudah terpengaruh dengan godaan dan hasutannya

.

!!!Sebagai Peringatan!!!

“Ada enam golongan manusia yang aku laknati (Sabda ini jadi doa Nabi saw, pasti di-ijabahi-) Allah pun melaknati. Setiap nabi juga melaknati mereka dengan doa nya (padahal doa para nabi di-ijabahi Allah). Dan di hari Qiyamat semua makhluk Allah juga melaknati enam golongan itu.

Enam golongan manusia yang aku (Nabi saw) laknati adalah :

  1. Manusia yang menambah-nambahi (ayat) kitab suci Allah.
  2. Manusia yang mendustakan taqdir Allah.
  3. Manusia yang berkuasa dengan arogan, memaksakan kehendak, memuliakan orang-orang yang hina di haribaan Allah dan meremehkan para Ahlul Haq yang dimuliakan Allah.
  4. Manusia yang menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah.
  5. Manusia yang halalkan perbuatan yang diharamkan Allah atas Ahli Bait-ku.
  6. Manusia yang meninggalkan dan meremehkan Sunnah-ku (Nabi saw).

Dan pada Hari Qiyamat Allah tidak akan menatap mereka (keenam golongan manusia yang disebutkan di atas) dengan tatapan penuh rahmat.” {HR.Tirmidzi dan Hakim}.

Rasulullah juga melaknat orang yang berzina dengan istri tetangga, orang yang melakukan onani, Orang yang menikahi ibu dan anak tirinya, orang yang melakukan suap menyuap, orang yang merahasiakan ilmu, dan Orang yang menghina sesama muslim. Naudzubillah…

Ya Allah bersihkanlah hati ini dari segala bentuk kesyirikan dan jadikanlah diri ini sebagai orang yang selalu dekat denganMu dengan tekun menjalankan perintah dan laranganMu.

Ya Allah Lindungilah diri ini dari segala bentuk perbuatan maksiat yang menjadikan-MU murka kepada kami…. Amin Ya Allah…. Amin Ya Rabbal Alamin…

Wa Allahu A’lam… :D

Ternyata Allah SWT, Al Quran dan Rasul SAW juga ada melaknat bukan ???

Syi’ah mengkafirkan sahabat ???

murtad tulen atau kafir tulen jika pindah agama

.

baca : Mayoritas Umat Mengkhianati Ali Sepeninggal Nabi SAW Diabadikan Tafsir Al Quran

Syi’ah mengkafirkan sahabat ???

selain Ahlulbait Nabi Saw tiada seorang pun sahabat yang maksum dan terjaga dari dosa karena itu terdapat banyak nukilan yang mengisahkan kesalahan-kesalahan kebanyakan sahabat yang sebagian darinya sedemikian masyhur sehingga sampai pada derajat tawatur (baca: hadis-hadis mutawatir).

MURTAD / KAFiR versi syi’ah bermakna berbuat bid’ah sehingga menentang sunnah Nabi SAW, berbalik arah pasca wafat Nabi SAW.. Jadi syi’ah tidak pernah menuduh murtad/kafir nya oknum sahabat sebagai murtad tulen atau kafir tulen ! Perbuatan mereka merubah ajaran Nabi , menolak  ajaran Islam yang dibawa   Itrah Ahlul Bayt nya.

Kemurtadan (dalam arti diatas) para sahabat dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah lebih banyak dan riwayat-riwayat yang banyak dan mutawatir, sementara pada literatur-literatur Syiah riwayat-riwayat sahih yang menjelaskan kemurtadan para sahabat tidak lebih dari dua riwayat dan meminjam istilah ilmu hadis, tidak melewati batasan kabar wahid. Karena itu, saudara-saudara Ahlusnnah harus memberikan jawaban terkait dengan kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat mutawatir ini apa maksudnya?

Adapun ulama Syiah meyakini bahwa kemurtadan yang disebutkan pada sebagian riwayat disandarkan pada sebagian sahabat dan tidak bermakna kafir dan kembali menyembah berhala, melainkan bermakna melanggar janji wilayah dan membangkang Nabi Saw dalam masalah khilafah. Oleh itu, mereka yang turut serta dalam pelbagai penaklukan Islam seluruhnya adalah muslim dan berupaya dalam menyebarkan Islam. Kendati boleh jadi mereka melakukan dosa dan kesalahan dalam kehidupan mereka.

orang-orang Syiah tidak memaknai kemurtadan (irtidâd) itu sebagai kekafiran dalam artian paganisme atau kembalinya mereka ke masa jahiliyah. Demikian juga, mereka tidak memaknai kemunafikan sebagai penyembahan berhala dan kemusyrikan kepada Allah Swt.

Meski para sahabat memiliki banyak perbedaan namun terdapat banyak common point di antara mereka. Dan kami (Syiah) tidak meyakini bahwa mereka telah kafir dan menjadi penyembah berhala. Hanya saja pada beberapa kejadian, mereka mengabaikan dan membangkang instruksi-instruksi Rasulullah Saw.

contoh perlakuan terhadap  Ahlulbait Nabi Saw:

1.     Tragedi memilukan pasca wafatnya Rasulullah Saw untuk memberikan baiat kepada Baginda Ali As dan sahabat lainnya, yang berkumpul di kediaman beliau.

2.     Perlakuan tidak senonoh yang dilakukan terhadap Fatimah Zahra Sa dalam mengabaikan haknya terkait dengan tanah Fadak.

3. Peristiwa pengambilan baiat dari sahabat yang menentang khilafah Abu Bakar yang berujung pada pembakaran kediaman Ali bin Abi Thalib As.

Boleh jadi perlakuan tidak senonoh yang dilakukan terhadap Ahlulbait Nabi As pasca wafatnya Rasulullah Saw seperti peristiwa-peristiwa pengambilan baiat dari Ali bin Abi Thalib As. Dainawari salah seorang ulama Ahlusunnah mengutip, “Tatkala Abu Bakar mengetahui bahwa sebagian kaum Muslimin menolak untuk memberikan baiat kepadanya dan berkumpul di rumah Ali bin Abi Thalib, ia mengutus Umar bin Khattab kepada mereka. Umar bin Khattab menyeru mereka untuk berbaiat dan karena mereka menolak seruan ini, Umar bin Khattab meminta supaya kayu bakar dikumpulkan. Katanya, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya! (Hanya ada dua pilihan) Apakah kalian keluar dari rumah atau aku membakar rumah ini beserta seluruh apa yang ada di dalamnya. Seseorang berkata, “Di dalam rumah ada Fatimah!” Umar menjawab perkataan ini dengan berseru lantang, “Bahkan sekiranya Fatimah berada di dalam rumah ini.”[Ibnu Qutaibah Dainawari, al-Imâmah wa al-Siyâsah, jil. 1, hal. 30, Dar al-Adhwa, Beirut, Cetakan Pertama, 1410 H  

Peristiwa lainnya yang terjadi atas tanah Fadak yang menghadap-hadapkan Fatimah Sa dengan para khalifah. Pada peristiwa ini, terjadi perlakuan-perlakuan yang tidak senonoh terhadap putri Nabi Saw; seorang yang murkanya sama dengan murka Rasulullah Saw dan Allah Swt sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Katsir dari Aisyah bahwa Fatimah murka hingga akhir hayatnya.[Ibnu Katsir, al-Bidâyah wa al-Nihâyah, jil. 5, hal. 285, Dar al-Fikr Beirut, 1407 H. Sesuai nukilan Ibnu Katsir, Bukhari juga menyebutkan riwayat ini dalalm kitab al-Maghâzi dengan sanad sahih.   ]

Perlakuan-perlakuan yang terjadi pada hari-hari pertama pasca wafatnya Rasulullah Saw dalam rangka mengambil baiat dari para penentang. Karena para sahabat lainnya selain Ahlulbait As telah dilecehkan dan direndahkan dalam peristiwa ini.[Ibnu Qutaibah Dainawari, al-Imâmah wa al-Siyâsah, jil. 1, hal. 30 ]

Baladzuri meriwayatkan, “Tatkala Usman memberikan sejumlah besar uang kepada sebagian orang seperti Marwan bin Hakam, Abu Dzar mulai melancarkan protes dengan melontarkan singgungan dan berkata bergembiralah dengan azab jahanam bagi orang yang menyimpan harta benda. Ucapan ini sampai ke telinga Usman dan ia melarangnya. Usman berkata di hadapan Abu Dzar, adapun bahwa Allah Swt ridha dan Usman murka adalah lebih baik daripada Usman ridha dan Allah Swt murka. Karena kediaman Abu Dzar dipindahkan ke Syam (Suriah) Muawiyah juga tidak lolos dari lontaran kritikannya; hingga Muawiyah menulis surat kepada Usman yang isinya menyatakan bahwa Abu Dzar telah merusak Syam dan harus segara diatasi. Usman menjawab, “Kirimlah ia kepadaku dengan paksa!” Tatkala Abu Dzar tiba di Madinah, ia tetap mengkritisi Usman. Usman berkata kepadanya, pilihlah satu negeri yang engkau sukai dan pergilah ke sana! Abu Dzar menimpali, “Mekkah.” Usman menolak pilihan itu. Abu Dzar kembali berkata, “Baitul Muqaddas” Kembali Usman menentang pilihan Abu Dzar. Abu Dzar berkata, “Kufah atau Basrah.” Lagi-lagi Usman menolak dan menukas, “Engkau akan aku kirim ke Rabadzah.”[Al-Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 541]

Diasingkannya Abu Dzar oleh Usman dan meninggalnya Abu Dzar di tempat itu yang hanya ditemani oleh istri dan putranya merupakan hal-hal yang pasti dalam sejarah.[Silahkan lihat, al-Sam’ani, Al-Ansâb, jil. 10, hal. 65, Majlis Dairat al-Ma’arif al-‘Utsmaniyah, Haidar Abad, Cetakan Pertama, 1382. Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 541-545. Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, jil. 2, hal. 165, Dar al-Fikr, Beirut, 1407 H.]

Baladzuri dalam kitabnya Ansâb al-Asyrâf menukil bahwa suatu masa Usman mengangkat Walid bin Uqbah sebagai gubernur Kufah. Abdullah bin Mas’ud angkat bicara dan mengecam tindakan Usman ini. “Barang siapa yang membuat perubahan ini semoga Allah Swt mengubahnya dalam (urusan pemerintahan dan khilafah) dan tidak rela kepadanya…” Pungkas Abdullah bin Mas’ud. Walid menyampaikan kecaman Ibnu Mas’ud kepada Usman dan Usman memerintahkan Walid untuk mengirim Ibnu Mas’ud ke Madinah. Abdullah bin Mas’ud dengan dikawal oleh masyarakat Kufah menyampaikan ucapan selamat tinggal kepada mereka dan bertolak menuju Madinah. Tatkala Abdullah bin Mas’ud memasuki kota Madinah, Usman sedang menyampaikan pidato di atas mimbar Rasulullah Saw dan saat itu ia melihat Abdullah bin Mas’ud. Pada saat itu juga Usman berkata, “Ayyuhannas! Telah datang kepada kalian seseorang laksana serangga penganggu yang menghinggapi makanan setiap orang. Orang yang menyantap makanan entah ia menghabisinya atau akan terjangkiti penyakit diare.” Ibnu Mas’ud menimpali bahwa aku tidaklah demikian adanya. Aku adalah orang yang bersama Rasulullah Saw pada perang Badar dan pada hari baiat ridwan. Pada saat itu, Aisyah berseru, “Wahai Usman! Apakah engkau berkata-kata hal ini pada sahabat Rasulullah Saw?” Usman kemudian menitahkan supaya ia dikeluarkan dari masjid dengan paksa dan Abdullah bin Za’mah membantingnya. Juga disebutkan bahwa Yahmum, budak Usman, mengeluarkannya secara paksa dari masjid dan Abdullah bin Mas’ud dalam kondisi yang mengenaskan terjatuh dan giginya copot. Baginda Ali bin Abi Thalib As juga di tempat itu menyampaikan protes kepada Usman dan berkata, “Apakah karena ucapan Walid engkau memperlakukan sahabat Rasulullah Saw seperti ini?” Baginda Ali merawat Abdullah bin Mas’ud dan membawanya ke rumahnya. Hingga akhir hayatnya, Usman tidak memberikan izin bagi Abdullah bin Mas’ud untuk meninggalkan Madinah bahkan ia tidak boleh pergi berperang melawan Syam.[Al-Baladzuri, Ansâb al-Asyrâf, jil. 5, hal. 524, Beirut, Dar al-Fikr, Cetakan Pertama, 1417 H.   ]

Ibnu Abi al-Hadid juga menukil peristiwa ini dari Waqidi dalam Syarh Nahj al-Balaghah-nya.[Ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 12, hal. 42, Kitabkhane Ayatullah Mar’asyi, Qum, 1404 H.  ]

Harap diperhatikan bahwa perlakuan ini menyisakan pengaruh buruk dalam benak setiap kaum Muslimin terhadap Usman sedemikian sehingga sebagian sejarawan memandang hal tersebut sebagai cikal-bakal pemberontakan rakyat melawan Usman.

Khalifah Pertama dan Kedua sesuai dengan keyakinan Ahlusunnah demikian juga Syiah senantiasa bersama dan seiring sejalan serta membantu satu sama lain. Pada banyak hal mereka juga berselisih dan berbeda pendapat sedemikian sehingga suara dua sahabat Rasulullah Saw ini sedemikian keras sehingga turun ayat al-Qur’an yang menegur orang-orang beriman supaya tidak bersuara keras di hadapan Rasulullah Saw dan dipandang sebagai penyebab terhapusnya perbuatan-perbuatan baik.[ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Qs. Al-Hujurat [49]: 2)]

Kitab riwayat paling sahih Ahlusunnah yaitu Bukhari dalam hal ini menjelaskan bahwa hampir saja kedua orang baik ini yaitu Abu Bakar dan Umar binasa dengan turunnya ayat-ayat ini! Keduanya, suatu waktu sekelompok orang datang kepada Rasulullah Saw, mereka berbeda pendapat secara tajam tentang kelompok tersebut. Abu Bakar berkata kepada Umar: “Keputusanmu semata-mata untuk menentangku!” Umar juga menjawab, “Tidak benar demikian.” Dan perselisihan mereka berlanjut dan suara mereka terdengar kencang dan keras di hadapan Rasulullah Saw. Sebagai akibatnya, Allah Swt menurunkan ayat-ayat pertama surah al-Hujurat.[Shahih Bukhâri, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 6, hal. 46-47 dan jil. 8, hal. 145, Dar al-Fikr, Beirut, 1401 H.  ]

Contoh Kedua: Ketika Rasulullah Saw meminta pena dan tinta pada detik-detik terakhir kehidupannya supaya beliau menuliskan wasiatnya, Khalifah Kedua menghalangi terpenuhinya permintaan Rasulullah Saw ini.[Shahih Bukhâri, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 5, hal. 137 – 138.  ] Sebagai akibatnya, sebagian sahabat menghendaki supaya permintaan Rasulullah Saw dipenuhi dan sebagian lainnya berdiri menentangnya. Mereka berdalih  bahwa Rasulullah Saw bersabda tidak pantas bertikai di samping Rasulullah Saw.

Contoh Ketiga: Ibnu Mas’ud salah seorang sahabat besar dan penghafal al-Qur’an banyak bertikai dengan Khalifah Ketiga dan setelah wafatnya, ia dikuburkan pada malam hari oleh Zubair dan sebagai akibatnya Zubair dihukum oleh Usman atas perbuatannya ini.[‘Usd al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahâbah, Ibnu Atsir, jil. 3, hal. 260, Intisyarat-e Ismailiyan, Teheran.]

Contoh Keempat: Sahabat berada pada dua kubu yang berperang pada perang Jamal dan Shiffin. Banyak jumlah dari mereka yang gugur pada dua perang ini.

Contoh Kelima: Meski Rasulullah Saw bersabda bahwa tiada yang lebih jujur daripada Abu Dzar di bawah kolong langit, setelah bertikai dengan Muawiyah, ia diasingkan oleh Khalifah Ketiga ke Rabadzah dan meninggal di tempat itu dalam keadaan terasing.[Usd al-Ghabah fi Ma’rifat al-Shahâbah, Ibnu Atsir,jil. 1, hal. 301.  ] Ketiganya adalah sahabat utama dan pertama Rasulullah Saw.

Contoh Keenam: Ammar adalah salah seorang yang bertikai dengan Khalifah Ketiga[Thabaqât al-Kubrâ, Muhammad bin Sa’ad, jil. 3, hal. 260, Dar Shadir, Beirut.  ] dan keduanya adalah sahabat ternama!

Dengan merujuk pada kitab-kitab Ahlusunnah, Anda dapat menjumpai hal-hal seperti ini dan pada kesempatan yang singkat ini kami tidak berada pada tataran menjelaskan seluruh masalah yang menjadi obyek ikhtilaf dan sengketa di antara para sahabat karena hal itu memerlukan buku bervolume besar yang membahas masalah ini secara khusus.

Adapun pertanyaan kami bahwa sejatinya apabila para sahabat sehati lantas mengapa peristiwa Saqifah harus terjadi dan mengapa Sa’ad bin Ubadah yang merupakan salah satu pembesar kaum Anshar dan di antara sahabat yang tidak berbaiat hingga akhir usianya, terbunuh dalam keadaan misterius? Dan mengapa Imam Ali As baru berbaiat setelah enam belas pasca wafatnya Fatimah Sa?[Shahih Bukhâri, jil. 5, hal. 82 – 83.  ]

kami tidak menerima bahwa sahabat Rasulullah Saw telah kafir dan murtad. Namun apabila kekufuran dan kemurtadan bermakna kufur nikmat dan membangkang terhadap sebagian instruksi Rasulullah Saw maka dapat dikatakan bahwa kebanyakan orang di antara sahabat yang telah melakukan hal ini

Dan hal ini juga tidak terkhusus pada masa pasca Rasulullah Saw, melainkan pada masa hidup beliau dan pada masa nabi-nabi lainnya juga terjadi pelbagai pembelotan sedemikian sehingga Allah Swt menghukum kaum Muslimin dan berfirman kepada mereka, Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila kamu diseru, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit?” (Qs. Al-Taubah [9]:38)

Atau setelah pembangkangan Bani Israel, Nabi Musa bertutur kata kepada Allah Swt, Musa berkata, “Ya Tuhan-ku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.” (Qs. Al-Maidah [5]:25)

Tidak satu pun dari dua ayat ini yang menyatakan para sahabat Rasulullah Saw dan Nabi Musa As telah kafir yang bermakna menyembah berhala namun karena membangkang perintah (baca: kafir terhadap) para rasul mereka mendapatkan hukuman!

Tatkala di antara jumlah besar Bani Israel, kecuali Harun  tiada orang lain lagi yang menaati titah Nabi Musa As, lantas bagaimana Anda memandang ketidaktaatan sahabat Rasulullah Saw kepada beliau dalam beberapa hal tertentu sebagai suatu hal yang mustahil padahal Ahlusunnah sendiri menukil dari Rasulullah Saw bahwa seluruh kejadian yang menimpa Bani Israel juga secara beruntun akan menimpa umat ini[Shahih Tirmidzi, jil. 4, hal. 135, Dar al-Fikr, Beirut, 1403 H.  ]

di antara mereka tidak sehati dan saling mencemburui satu sama lain misalnya saudara-saudara Yusuf yang bersatu dan melemparkannya ke dalam sumur! Apakah ini suatu hal mustahil bahwa sahabat sebagaimana saudara Yusuf, untuk kepentingan tertentu, telah menyimpangkan rel khilâfah dari relnya yang asli?

Nabi Isa mencium gelagat kekufuran dari seluruh sahabatnya kecuali pada segelintir kecil orang (kurang lebih 12 orang) dan mengecualikan kaum Hawariyun,[Qs. Ali Imran [3]:52]

Syiah tidak meyakini kemunafikan dan kekufuran sahabat sebagaimana yang Anda gambarkan, melainkan meyakini bahwa kebanyakan dari mereka menutup mata terhadap wasiat-wasiat Rasulullah saw dan menyimpangkan Islam hingga batasan tertentu dari relnya yang benar, kecuali beberapa gelintir orang dari mereka yang tetap teguh di jalan kebenaran. Dengan memperhatikan sejarah dan kehidupan para nabi sebelumnya dan juga nabi kita Muhammad saw, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa mungkin saja manusia berada pada kelompok minoritas namun tidak terbunuh oleh kelompok penentang mereka. Ideologi dan keyakinan mereka, setelah berlalunya waktu, mengglobal dan mendunia bahkan sebagian besar dari penentang mereka pada periode selanjutnya malah bergabung dengan mereka.

Dalam tafsir Ibnu Abi Hatim kita membaca bahwa pada masa jahiliyah terdapat permusuhan dan pertempuran sengit antara suku Aus dan Khazraj. Suatu hari setelah kedatangan Islam dan pada masa hidup Rasulullah Saw, mereka dengan menukil kenangan-kenangan yang telah lalu menjadi marah dan berang. Kedua suku ini saling menghunus pedang. Setelah kejadian ini, Allah Swt mewahyukan ayat 101 surah Ali Imran (3) yang menyatakan bahwa bagaimana Anda telah kafir sementara ayat-ayat Allah Swt dibacakan pada kalian dan Rasul-Nya berada di tengah-tengah kalian.”[Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhim, Ibnu Abi Hatim, jil. 3, hal. 720, Maktabah Nizar Mustafa al-Baz, Arab Saudi, 1419 H.]

Tentu saja, orang-orang Aus dan Khazraj tidak menjadi penyembah berhala, namun dengan demikian Allah Swt menggunakan redaksi kufur (kekufuran) lantaran perbuatan yang tidak patut mereka lakukan! Hal yang serupa dengan hal ini juga dapat disaksikan pada ayat-ayat lain al-Qur’an.[“Ketika Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Isra’il), berkatalah ia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” “Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka berkata, “Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikutimu.” Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.”   (Qs. Ali Imran [3]:52 & 167);

“Hai rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera  (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengarkan (berita-berita) bohong, dan amat suka (juga) mendengarkan dan menaati ucapan-ucapan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka suka mengubah ucapan-ucapan dari arti yang sebenarnya.” (Qs. Al-Maidah [5]:41).  ]

Kemurtadan juga digunakan untuk ragam makna. Dengan memandang ayat 21 surah al-Maidah (5)[“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”] dan ayat-ayat setelahnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa Bani Israel pada masa hidup Nabi Musa as telah murtad, namun bukan kemurtadan yang bermakna kembali pada kekufuran dan kemusyrikan. Ketahuilah secara global bahwa apa yang disandarkan pada Syiah bahwa mereka meyakini kemurtadan dan kekufuran sahabat, tentu saja tidak bermakna kembalinya mereka kepada syirik dan penyembahan berhala, melainkan sebuah kekufuran sebagaimana yang disandarkan Allah Swt pada dua kelompok kaum Muslimin dari suku Aus dan Khazraj.

Namun amat disayangkan pada umat kita, kaum Muslimin, juga berlaku hal demikian. Para sahabat mulia mengabaikan wasiat Rasulullah saw dan merumahkan seorang saudara beliau, yang sesuai dengan pengakuan seluruh kaum Muslimin baik Syiah maupun Sunni, saudara Rasulullah saw itu adalah laksana Harun bagi Musa.[Shahih Bukhâri, Muhammad bin Ismail Bukhari, jil. 4, hal. 208 dan jil. 5, Dar al-Fikr, 1401 H.  ]

Secara praktik, kondisi yang ditimbulkan bagi umat Islam sama dengan kondisi yang ditimbulkan Bani Israil. Sebagai akibatnya Amirul Mukminin dengan latar belakang yang cemerlang dikesampingkan dan menyebabkan peluang kaum Muslimin untuk memanfaatkan Harun umat ini menjadi sirna. Kesalahan ini telah menjadi celah dan penghalang bagi umat Islam untuk sampai kepada kedudukannya yang ideal.

Apalagi mayoritas kaum Muslimin, meski secara politik telah terbawa arus penguasa dan berpaling dari Ali as, namun mereka mengetahui kedudukan beliau di sisi Rasulullah saw dan pengorbanan beliau yang tanpa tanding demi kemajuan Islam.

Sekarang pertanyaan yang mengemuka adalah mengapa masyarakat yang sedemikian besar, tidak melancarkan protes dan memilih jalan untuk bungkam di hadapan penyelewengan Saqifah!? Bukankah hal ini menegaskan bahwa hadis Ghadir tidak menandaskan dan menunjukkan wilayah Imam Ali As?!

Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa sejatinya secara umum tiadanya protes para sahabat di Saqifah dapat digugurkan dan dibatalkan; karena para sahabat besar seperti Salman, Miqdad, Thalha dan sebagainya melancarkan protes kepada para pembesar Saqifah dan bahkan Zubair menghunuskan pedangnya di hadapan para pembesar Saqifah.

Terlepas dari itu, berkumpulnya manusia sedemikian besar dan banyak di Ghadir Khum ini bukan merupakan sesuatu yang tidak masuk akal, karena peristiwa Ghadir Khum, terjadi di daerah yang bernama Rabigh, sebuah daerah yang letaknya kurang-lebih dua ratus kilometer dari Mekkah. Sebuah persimpangan jalan-jalan menuju Irak, Madinah,Mesir dan Yaman.

Khalil Abdulkarim, salah seorang ulama kiwari Ahlusunnah, dalam pembahasan pengumpulan al-Qur’an, menulis: “Bilangan para sahabat Nabi Saw, pada haji al-Widâ’ (haji perpisahan, dimana peristiwa al-Ghadir terjadi ketika itu) adalah sejumlah seratus dua puluh empat ribu.”[Mujtma’ al-Yatsrib, Khalil Abdulkarim, hal. 20.]

Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa, klaim tiadanya protes para sahabat terkait peristiwa Ghadir Khum merupakan klaim yang tidak benar. Dan tidak sedikit para pengikut sejati yang tetap setia memegang teguh baiat dan ikrar mereka serta melarang para pembesar Saqifah dari tindakan berbahaya mereka.

Imam Ali As yang menjalankan wasiat Nabi Saw untuk tidak membiarkan kaum Muslimin bertikai dan berpecah belah, karena itu beliau hanya melakukan penentangan lisan dan tidak mengangkat senjata untuk melaksanakan titah Ghadir Khum. Beliau tidak membaiat Abu Bakar selama Fatimah As masih hidup. Tatkala Fatimah As syahid, Imam Ali terpaksa dan berdasarkan pada kemaslahatan memberikan baiat kepada Abu Bakar. Namun beliau menyampaikan protes lisannya pada pelbagai kesempatan dengan bersandar pada hadis Ghadir.

Sahabat-sahabat besar seperti Salman, Abu Dzar, Thalha, Zubair[Farâidh al-Simthaîn, Ibrahim bin Muhammad Juwaini Khurasani, jil. 2, hal. 82. ] dan lainnya angkat suara menentang keputusan Saqifah dan tidak memberikan baiat mereka kepada Abu Bakar. Melainkan mereka tidak mencukupkan diri saja dengan protes ini, bahkan mereka menghunus pedang di hadapan para pembesar Saqifah.[Al-Saqifah wa al-Fadak, Abi Bakar Ahmad bin Abdulaziz Jauhari, hal. 50]

Sebagian lainnya seperti Abbas paman Nabi Saw, kendati ia tidak menyatakan penentangan secara terang-terangan, karena ingin menghindar dari pertumpahan darah dan perpecahan. Namun ia juga tidak menyatakan sokongan terhadap pembesar Saqifah dan tidak memberikan baiat kepada mereka.[Syarh Nahj al-Balâgha, Ibn Abi al-Hadid, jil. 1, hal. 73.

Dalam masalah ini, terdapat ragam kelompok sahabat dalam menyikapi hadis al-Ghadir. Ada sekelompok sahabat yang memilih untuk diam; atau demi untuk menjaga kemaslahatan dan menghindar dari perpecahan dan perberaian, seperti yang dilakukan Abbas paman Nabi Saw

Atau di antara mereka banyak mendapatkan keuntungan dengan berkuasanya kelompok Saqifah. Seperti banyak di antara sahabat yang baik atau mereka yang dari golongan Bani Umayyah. Sebagaimana terdapat kelompok lainnya bukan karena ancaman atau larangan, karena mereka mengenal Ali sebagai penguasa yang ingin menyebarkan keadilan, mereka menolak untuk menentang penyimpangan di Saqifah ini.

Dan terakhir,mereka mengetahui bahwa mereka tidak kuasa berada di bawah kekuasaan Ali bin Abi Thalib atau mereka memiliki dendam kepadanya, karena kebanyakan dari kabilah orang-orang Kafir atau Musyrikin yang terbunuh dalam pelbagai medan perang

Imam Ali juga sesuai dengan wasiat Nabi Saw bertugas untuk tidak membiarkan komunitas Muslimin ini bercerai-berai dan terpecah belah, karena itu beliau puluhan kali melancarkan protes pada pelbagai kesempatan dengan bersandar pada hadis al-Ghadir meski protes dan penentangannya ini terbatas pada penentangan lisan saja.

Syiah berpandangan bahwa kita tidak dapat memandang seluruh sahabat itu sebagai orang-orang yang adil karena, pertama, dengan merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an kita jumpai bahwa para sahabat memiliki derajat dan tingkatan yang berbeda-beda dan kita tidak dapat menghukumi bahwa mereka itu semua adalah orang-orang yang adil.

Al-Qur’an secara tegas menyebutkan bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang pendusta (kaddzâbin), orang-orang munafik, para pendosa (ushat), berbantahan dengan Rasulullah Saw dalam urusan perang, berat hati untuk berperang (mutsaqilain), dan orang-orang yang mengingkari Rasulullah Saw.

Di samping itu, dokumen-dokumen sejarah melaporkan bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang yang melakukan zina sebagaimana Walid, Mughirah dan yang lainnya seperti kelompok Qâsitin (perang Jamal), Nâkitsin (perang Shiffin), dan Mâriqin (perang Nahrawan). Dari apa yang diuraikan menjadi jelas bahwa apa yang dinegasikan Syiah adalah terkait dengan keadilan seluruh sahabat bukan masalah kemunafikan dalam artian terminologis.

Sebelum menjawab inti persoalan kiranya kita perlu memperhatikan beberapa poin penting.

Masalah penyandaran kemurtadan para sahabat kepada Syiah merupakan satu tudingan yang tidak berdasar terhadap Syiah. Apakah mungkin satu mazhab besar seperti Syiah, mencintai Rasulullah Saw akan tetapi menuding para sahabatnya telah murtad?

Jumlah sahabat Rasulullah Saw melebih ratusan ribu. Para ahli tarajim mencatat dan merekam lima belas ribu dalam kitab-kitab rijal.[1] Ada dari mereka yang tetap sebagai Syiah dan pengikut Ali bin Abi Thalib As. Nama-nama mereka kebanyakan disebutkan pada kitab “Huwiyat Syiah” (Identitas Syiah).[2] Karena itu, apakah layak seorang Muslim yang beriman kepada Allah Swt dan hari Kiamat menuding murtad orang-orang besar ini?

Terlepas dari jumlah bilangan sahabat ini, kehidupan mereka tidak diketahui dalam sejarah dan informasi tentang mereka tidak kita pantau semua. Karena itu, apakah nurani manusia membolehkan orang-orang yang tidak diketahui kita melemparkan tudingan bahwa mereka semua adil ??

Dengan demikian, kita berkata bahwa masalah ini tidak sebagaimana yang disampaikan orang-orang.

Logika Syiah adalah logika imam dan pemimpin mereka Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As yang disebutkan dalam Khutbah 98 Nahj al-Balâgha: “Saya telah melihat para sahabat Nabi, tetapi saya tak menemukan seseorang yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah (dalam kesukaran hidup) dan melewatkan malam dalam sujud dan berdiri dalam salat. Kadang-kadang mereka letakkan sujudkan dahi mereka, dan kadang-kadang pipi mereka. Dengan ingatan akan kebangkitan, mereka nampak seakan berdiri di atas bara menyala. Nampak seakan di antara mata mereka ada tanda-tanda seperti lutut kambing, akibat sujud yang lama. Bilamana nama Allah disebutkan, air mata mereka mengalir deras hingga kerah baju mereka basah. Mereka gemetar karena takut akan hukuman dan harapan akan pahala, seperti pohon gemetar pada hari angin topan. Dari hukuman yang mereka takuti atau ganjaran yang mereka harapkan.”

Iya, apa yang diyakini Syiah adalah bahwa sebagian dari sahabat  setelah wafatnya Rasulullah Saw memperlakukan Ahlulbait As dengan buruk. Atas dasar ini (perlakuan buruk ini) Syiah membenci mereka dan hal ini merupakan suatu hal yang wajar. Rasulullah Saw sendiri menyatakan antipati terhadap apa yang dilakukan Khalid bin Walid. Beliau bersabda, “Tuhanku! Aku berlepas dari apa yang dilakukan Khalid.”

Masalah ini juga berlaku pada riwayat-riwayat yang dikenal sebagai riwayat-riwayat “haudh” dan disebutkan pada kitab-kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.[3]

Setelah menyampaikan pendahuluan ini kami meminta Anda memperhatikan beberapa poin di bawah ini:

Pertama, kemurtadan para sahabat dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah sangat banyak dan dikemukakan secara mutawatir dimana kami hanya mencukupkan diri dengan menyebut referensinya saja:

1.     Syarh Shahîh Muslim, Nawawi, jil. 15-16, hal. 5 dan 59

2.     ‘Umdat al-Qâri, 23/135.

3.     Syarh Shahîh Bukhâri, Kermani, 23/63.

4.     Al-Tamhid, Ibn ‘Abdilbarr, 2910/2.

5.     Shahîh Bukhâri, Kitâb Riqâq, bab 53, hadis-hadis 6212; 2114.

6.     Shahîh Muslim, Kitâb Fadhâil, bab 9.

7.     Mishbâh al-Sunnah, 5370/3.

8.     Al-Targhib wa al-Tarhib, Mindzari, 4/422.

9.     Al-Nihâyat fii Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir, 5/274.

10.  Fath al-Bâri, Ibnu Hajar, 11/475.

11.  Umdat al-Qâri, ‘Aini, 23/142.

12.  Irsyâd al-Sâri, Qasthalani, 9/342.

Di sini kami hanya akan menyebutkan satu riwayat sebagai contoh di antara beberapa riwayat yang terdapat pada literatur-literatur Ahlusunnah dan kami persilahkan kepada ahli makrifat untuk merujuk pada literatur-literatur yang mazhab sunni :

Abu Hurairah menukil dari Rasulullah Saw yang bersabda: “Aku berdiri di atas telaga Kautsar. Pada saat itu, sekelompok orang yang aku kenal datang. (salah seorang petugas dari petugas-petugas Allah yang menjagai mereka) keluar dan berkata kepada mereka: Marilah! Aku bertanya, “Kemana?” Jawabnya, “Demi Allah! Ke neraka. Aku bertanya, “Apa dosa mereka?” Jawabnya, “Mereka kembali kepada pikiran dan keyakinan mereka sebelumnya (jahiliyah). Kemudian ia membawa sekelompok orang lainnya yang aku kenal. (salah seorang petugas dari petugas-petugas Allah yang menjagai mereka) keluar dan berkata kepada mereka, “Marilah kita pergi!” Aku bertanya, “Kemana?” Jawabnya, “Ke neraka.” Aku bertanya, “Apa dosa mereka?” Jawabnya, “Mereka kembali kepada pikiran dan keyakinan mereka sebelumnya (jahiliyah). Aku pikir tidak ada yang dapat menyelamatkan mereka kecuali bilangan kecil unta yang terpisah dari kelompoknya lantaran tiadanya penggembala, hilang dan tak-terurus.[4] (kiasan bahwa orang-orang yang selamat jumlahnya sangat sedikit). [5]

Kedua, makna kemurtadan (irtidâd) yang mengemuka dalam hadis-hadis ini:

Mengingat banyaknya dan mutawatirnya hadis-hadis irtidâd (kemurtadan) para sahabat dalam literatur-literatur Ahlusunnah maka saudara-saudara kita Ahlusunnah harus memberi jawaban apa yang dimaksud dengan irtidâd (kemurtadan) para sahabat dalam riwayat-riwayat ini? Apa pun makna yang mereka sodorkan dan terima maka makna itu pun yang kita akan terima.

Akan tetapi ulama Syiah berpandangan bahwa irtidâd (kemurtadan) yang disandarkan sebagian riwayat kepada para sahabat tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada penyembahan berhala, melainkan bermakna pelanggaran terhadap ikrar wilayah dan pembangkangan terhadap Rasulullah Saw dalam urusan khilafah.

Ayatullah Subhani berpandangan bahwa kemurtadan ini tidak bermakna kekufuran dan kembalinya mereka kepada jahiliyah, melainkan tidak loyalnya mereka terhadap ikrar yang mereka nyatakan pada hari Ghadir Khum.

Imam Khomeini Ra juga dalam kitab Thahârah-nya pada pembahasan apakah para penentang Syiah itu kafir atau tidak. Beliau berkata, “Orang-orang dikatakan Islam apabila diketahui keyakinannya terhadap uluhiyyah, tauhid, kenabian dan ma’ad (meski terdapat perbedaan ulama dalam hal ini).” Beliau berpandangan bahwa masalah imâmah merupakan prinsip (ushul) mazhab Syiah dan menentang prinsip (ushul) mazhab ini hanya akan mengeluarkan orang dari Syiah bukan Islam. Imam Khomeini dalam hal ini mengkaji riwayat-riwayat yang menyandarkan kekufuran kepada Ahlusunnah dan meyakini bahwa dalam penyandaran-penyandaran kekufuran ini bukan kekufuran dalam artian teknis. Lantaran hal ini berseberangan dengan riwayat-riwayat mustafidha bahkan mutawatir terkait dengan masalah ini dan adanya interaksi orang-orang Syiah dan para imam dengan Ahlusunnah (bahkan tidak dalam konteks taqiyyah).[6]

Karena itu, dalam pandangan Syiah, kemurtadan yang mengemuka dalam riwayat-riwayat ini sama sekali berbeda dengan kemurtadan orang-orang seperti Musailamah, para pengikut Thuliha bin Khuwailid, para pengikut Aswad Ansi, dan Sujjah. Mereka pada hakikatnya telah meminggirkan Islam dan kafir. Sementara sebagian besar sahabat membangkang Rasulullah Saw dan melanggar ikrar wilayah.

Dalam literatur-literatur sejarah dilaporkan bahwa Imam Ali As dalam beberapa hal tertentu bermusyawarah dengan para khalifah dan membimbing mereka sehingga mereka meraih kemenangan dalam pelbagai penaklukan (futuhât).[7] Hal ini merupakan tanda kerelaan beliau terhadap inti penaklukan; kendati apabila pelbagai penaklukan ini dilakukan dengan petunjuk dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib As maka hasilnya tentu akan lebih baik dan dapat mencegah sebagian kesalahan yang dilakukan. Karena itu, mereka yang turut serta dalam pelbagai penaklukan Islam seluruhnya adalah Muslim dan telah berupaya untuk menyebarkan Islam; meski boleh jadi mereka melakukan banyak kesalahan dan dosa dalam hidup mereka.

Saya bawakan Hadis Haudh yg menunjukkan WUJUDNYA sahabat yang merubah ajaran Rasulullah saaw:
1. Narrated by Anas:The Prophet said, “Some of my companions will come to me at my Lake Fount, and after I recognize them, they will then be taken away from me, whereupon I will say, ‘My companions!’ Then it will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you.”[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 584]……………………
.
2. Narrated by Abu Hazim from Sahl bin Sa’d:The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will drink from it and whoever will drink from it, he will never be thirsty. There will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said. “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, ” I bear witness that I heard Abu Said Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: ‘I will say: They are of me (i.e. my followers). It will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left’. I will say, ‘Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.” Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, ‘O Lord (those are) my companions!’ It will be said, ‘You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”
.
[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 585]3. Narrated by Abu Hazim from Sahl bin Sa’d:The Prophet said, “I am your predecessor (forerunner) at the Lake-Fount, and whoever will pass by there, he will drink from it and whoever will drink from it, he will never be thirsty. There will come to me some people whom I will recognize, and they will recognize me, but a barrier will be placed between me and them.” Abu Hazim added: An-Nu’man bin Abi ‘Aiyash, on hearing me, said. “Did you hear this from Sahl?” I said, “Yes.” He said, ” I bear witness that I heard Abu Said Al-Khudri saying the same, adding that the Prophet said: ‘I will say: They are of me (i.e. my followers). It will be said, ‘You do not know what they innovated (new things) in the religion after you left’. I will say, ‘Far removed, far removed (from mercy), those who changed (their religion) after me.” Abu Huraira narrated that the Prophet said, “On the Day of Resurrection a group of companions will come to me, but will be driven away from the Lake-Fount, and I will say, ‘O Lord (those are) my companions!’ It will be said, ‘You have no knowledge as to what they innovated after you left; they turned apostate as renegades (reverted from Islam).”[Shahih Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 586]
.
Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”[Silahkah lihat, Fushul al-Muhimmah, Abdulhusain Syarafuddin, hal. 189.]
.
Karena itu, dalam pandangan Syiah kriterianya adalah keadilan, berpegang teguh kepada sirah Rasulullah Saw dan menjalankan sunnah beliau semasa hidupnya dan pasca wafatnya. Barang siapa yang berada di jalan ini maka, dalam pandangan Syiah, ia harus dihormati dan jalannya diikuti serta didoakan semoga rahmat Tuhan baginya melimpah dan memohon supaya ditinggikan derajatnya. Namun orang-orang yang tidak berada di jalan ini kami tidak memandangnya sebagai orang adil. Sebagai contoh dua orang sahabat mengusung lasykar disertai dengan salah seorang istri Rasulullah Saw lalu  berhadap-hadapan dengan khalifah legal Rasulullah Saw Ali bin Abi Thalib As menghunus pedang di hadapannya di perang Jamal. Mereka memulai perang yang menelan ribuan korban jiwa kaum Muslimin
.
Izinkan kami bertanya apakah angkat senjata dan menumpahkan darah orang-orang tak berdosa ini dapat dibenarkan? Atau orang lain yang disebut sebagai sahabat Rasulullah Saw dan menghunus pedang pada sebuah peperangan yang disebut sebagai Shiffin. Kami berkata perbuatan ini bertentangan dengan syariat dan memberontak kepada imam dan khalifah legal. Perbuatan-perbuatan ini tidak dapat diterima dengan membuat justifikasi bahwa mereka adalah sahabat. Demikianlah poin asasi perbedaan pandangan antara Syiah dan yang lainnya. Jelas bahwa di sini yang mengemuka bukan pembahasan mencela dan melaknat sahabat.Mungkin ada baiknya menyebutkan hal ini: bahwa kebanyakan sahabat Rasulullah saw pada periode-periode selanjutnya menebus kesalahan ini dengan cara bergabung dan berada pada barisan Imam Ali as dalam peperangan bersama Amirul Mukminin menghadapi para Nakitsin (pada perang Jamal), Qasithin (pada perang Shiffin) dan Mariqin (pada saat perang Nahrawan).
.
Namun terkait dengan apa yang dijelaskan pada ayat-ayat al-Qur’an harus dikatakan bahwa: Allah Swt dalam al-Qur’an berfirman:
A.            Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.(Qs. Al-Taubah [9]:101)Apakah ayat al-Qur’an ini tidak menengarai bahwa terdapat orang-orang munafik dari kalangan sahabat bahkan setelah setahun kemunculan Islam yang sebagian dari mereka telah dikenali?
.
B.            Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.(Qs. Ali Imran [3]:144)
.
C.            Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa sesungguhnya mereka termasuk golonganmu; padahal mereka bukanlah dari golonganmu. Tetapi mereka adalah kaum yang sangat penakut.”(Qs. Al-Taubah [9]:56)
.
D.            “Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah untuk tidak akan berbalik ke belakang (mundur). Dan perjanjian dengan Allah itu akan dimintai pertanggunganjawab.(Qs. Al-Ahzab [33]:15)
.
E.            Allah telah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang jujur dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?(Qs. Al-Taubah [9]:43)
.
F.            Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka (di Mekah), “(Sementara ini), tahanlah tanganmu (dari berjihad), dirikanlah salat, dan tunaikanlah zakat!” (Tetapi mereka marah atas perintah ini). Setelah jihad diwajibkan kepada mereka (di Madinah), tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan ketakutan mereka lebih sangat dari itu. Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan jihad kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berjihad ini) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun.”(Qs. Al-Nisa [4]:77)
.
G.            Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), (ketakutan meliputi diri mereka) seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat sendiri (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (kafilah dagang dan bala tentara Quraisy yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu, padahal Allah menghendaki untuk menguatkan kebenaran dengan kalimat-kalimat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. agar Allah menetapkan yang hak dan membatalkan yang batil walaupun orang-orang yang berdosa itu tidak menyukainya.” (Qs. Al-Anfal [8]:5-8)Dari ayat ini kita jumpai sekelompok orang-orang beriman yang enggan menyertai Rasulullah Saw ke medan perang.
.
H.            Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, “Hai penduduk Yatsrib (Madinah), di sini bukanlah tempatmu (untuk bertinggal), maka kembalilah kamu.” Dan sebagian dari mereka minta izin kepada nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, “Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga).” Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (Qs. Al-Ahzab [33]:13)
.
I.              Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila kamu diseru, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu merasa puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (Qs. Al-Taubah [9]:38Padahal ayat-ayat ini menggunakan seruan “Wahai orang-orang beriman” dan kita ketahui bahwa Allah Swt mengancam orang-orang yang bersikap lemah untuk pergi berperang (karena alasan terik dan panas) dengan berfirman, Orang-orang yang membangkang (tidak ikut perang Tabuk) itu merasa gembira karena menentang (perintah) Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka berkata (kepada sesama mereka dan kepada orang-orang mukmin), “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah, “Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya)”, jika mereka mengetahui.(Qs. Al-Taubah [9]:81)
.
J.             Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu. Karena itu, mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan mereka. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.” Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.”(Qs. Al-Taubah [9]:45-47)
.
Tidak diragukan bahwa pertama dan utama ayat-ayat ini berbicara tentang para sahabat Rasulullah Saw. Apakah dengan ayat-ayat ini kita dapat memandang seluruh sahabat itu adil dan berkata bahwa seseorang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dalam hitungan semenit sekali pun maka ia adalah seorang yang adil? Sebenarnya pandangan ini dilontarkan oleh sebagian orang untuk menjustifikasi kezaliman dan kejahatan Bani Umayyah.Dan karena itu kami berkata bahwa apabila kita merujuk pada ayat-ayat al-Qur’an maka akan kita jumpai bahwa para sahabat memiliki tingkatan derajat yang berbeda-beda dan kita tidak dapat menghukumi bahwa mereka semuanya adalah orang adil; lantaran ayat-ayat secara lugas menyatakan bahwa di antara para sahabat Rasulullah Saw terdapat para pendusta, orang-orang munafik, para pendosa (ushat), berbantahan dengan Rasulullah Saw dalam urusan perang, orang-orang takut perang, orang-orang yang mengingkari Rasulullah Saw, berat hati untuk menyertai Rasulullah berperang dan lain sebagainya.[Silahkan lihat, al-Alusi wa al-Tasyayyu’, hal. 69.  ]
.
Sebagaimana yang Anda amati pada sebagian ayat-ayat ini seruan yang digunakan adalah seruan “Wahai orang-orang yang beriman” artinya secara tegas dan keras mengarah kepada orang-orang beriman. Demikian juga menjadi maklum bahwa sesuai dengan ayat-ayat ini pengeksklusifan para sahabat Rasulullah Saw sebagai sahabat adil dan munafik tidak dapat dibenarkan; artinya apabila kita tidak memandang seorang sahabat sebagai seorang yang adil maka kita harus memandangnya sebagai orang munafik. Bahjka para sahabat bisa saja tergolong sebagai pendosa dan jelas bahwa semata-mata melakukan dosa seseorang tidak akan tergolong dalam barisan orang-orang munafik.bukankah Rasulullah Saw pada akhir-akhir hayatnya berulang kali mengungkapkan rasa takutnya dari orang-orang yang berada di sekelilinya? Pada teks-teks dalam literature-literatur Ahlusunnah terdapat nukilan riwayat bahwa tatkala ayat “balligh ma unzila ilaika” diwahyukan Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Tuhanku! Aku hanya sendiri apa yang harus aku lakukan? AtU Mereka akan berkumpul melawanku.” Kemudian Ayat “wain lam taf’al fama ballaghta risalatahu” diturunkan.[Tafsir Thabari, jil. 10, hal. 468:, Al-Durr al-Mantsur, jil. 3, hal. 418. Software Maktabat al-Syâmilah:]

Tentu saja takut dan gentar ini bukan takut dan gentar kepada orang-orang kafir; karena peristiwa al-Ghadir terjadi pada tahun kesepuluh Hijriah, dan ketika itu tidak terdapat orang kafir sehingga Rasulullah Saw bertugas untuk menyampaikan hukum Ilahi. Apabila banyak sahabat yang tulus ikhlas di sekeliling Rasulullah Saw, lantas mengapa beliau berkata lirih, “Innama ana wahidun, kaifa asn’a yajtami’u ‘ala al-nas.”[ Silahkan lihat, ‘Abaqât al-Anwâr fi Imâmat al-Aimmah al-Thâhirah, jil. 9, hal. 228-230.]

Dalam al-Qur’an terdapat ayat-ayat seperti ayat ini, Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.[Qs. Ali Imran [3]:144]   sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa ayat-ayat ini dengan jelas menafikan keadilan seluruh sahabat dan menetapkan adanya kemungkinan kemurtadan sebagian orang.[Dalam hal ini, silahkan lihat riwayat-riwayat haudh (Telaga), No. 1589]

5.    sejarah berkata bahwa di antara para sahabat terdapat orang-orang yang membunuh orang lain atau berzinah seperti Walid dan Mughirah[Futûh al-Buldân, 344; Tarikh Thabari, 2/492-494. Al-Aghani, 16/103-110. Al-Kâmil fi al-Târikh, 2/384-385. Al-Bidâyah wa al-Nihâyah, 7//66-67:] atau Qasithin, Nakitsin, dan Mariqin. Dan persis atas dasar ini Syafi’i berkata, “Syahadah empat orang tidak diterima. Keempat orang ini adalah Muawiyah, Amru bin Ash, Mughirah dan Ziyad.[Al-Mukhtashar fi Akhbâr al-Basyar, 1/186:]

Bukti lain dari ucapan kami adalah bahwa sebagian dari sahabat ini sendiri, tidak memandang adil sebagian lainnya dan bahkan terkadang sesama mereka saling melemparkan tuduhan munafik kepada yang lain.[Shahih Bukhâri, jil. 9, hal. 148]

di antara sahabat Imam Husain As disebutkan lima orang dari sahabat Rasulullah Saw yang tergolong sebagai orang-orang yang gugur dan syahid di Karbala. Kelima orang ini adalah sebagai berikut:

1. Anas bin Harits Kahili:

Samawi dalam “Abshâr al-‘Ain fî Anshâr al-Husain” menyebutkan Anas bin Harits sebagai orang yang gugur sebagai syahid Karbala.[Muhammad bin Thahir Samawi, Abshâr al-Ain fî Anshâr al-Husain, riset oleh Muhamad bin Ja’far Thabasi, hal. 192, Pazyuhesy Kadeh Tahqiqat-e Islami, Qum, 1384 S.]

Syaikh Thusi juga menyebut ia sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw,[Muhammad bin Hasan Thusi, Kitâb al-Rijâl, hal. 21, Intisyarat-e Haidariyah, Najaf, 1381 H.  ] dan juga di antara orang-orang yang gugur sebagai syahid bersama Imam Husain As.[Muhammad bin Hasan Thusi, Kitâb al-Rijâl, hal. 99, Intisyarat-e Haidariyah, Najaf, 1381 H.  ] Tatkala menyebutkan Anas bin Harits sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw, Syaikh Thusi mengingatkan bahwa ia menggapai syahid di samping Imam Husain As. Anas bin Harits sedemikian tinggi kedudukannya dan masyhur sehingga sesuai dengan nukilan Allamah Muhsin Amin dalam A’yân al-Syiah,[Muhsin Amin ‘Amili memandang lebih tepat apabila nama Habib bin Mazhahir ditulis dengan Muzhahhar. Silahkan lihat A’yân al-Syiah, jil. 4, hal. 553. ]

Kumait bin Zaid, salah seorang pujangga yang terkenal Ahlulbait As, menyebut Anas bin Harits dalam lirik syairnya. Kumait menggubah sebuah syair yang menyebutkan Anas bin Harits Kahili al-Kahili sebagaimana berikut:

Siwa ‘ushbatun fihim Habib muaffarun

Qadha nahbahu wa al-Kahili Murammalun

Kecuali sekelompok orang di antara mereka yaitu Habib yang berkorban jiwa dan tubuhnya berguling di tanah dan raga al-Kahili bersimbah darah.

2. Habib bin Muzhahhar:[Muhsin Amin ‘Amili, A’yân al-Syiah, jil. 3, hal. 500, Dar al-Ta’arif, Beirut, 1406 H.]

Habib bin Muzhahhar adalah salah seorang sahabat Rasulullah Saw dan merupakan sahabat besar Imam Ali As yang turut serta dalam tiga peperangan, Shiffin, Nahrawan dan Jamal.[Jawad Muhadditsi, Farhangg-e ‘Âsyurâ, hal. 151, Nasyr Ma’ruf, Qum, 1381 S.  ]

Syaikh Thusi tidak menyebutkan ia sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw, kendati demikian Syaikh Thusi menyebut ia sebagai salah seorang sahabat Imam Ali As dan Imam Husain As.[A’yân al-Syiah, jil. 4, hal. 553]

Sebagian ulama seperti Samawi penulis Abshar al-Ain menyebutkan nama Habib bin Muzhahhar sebagai sahabat Rasulullah Saw yang gugur sebagai syahid di padang Karbala.[bshâr al-‘Ain, hal. 193.]

3. Muslim bin Awsaja:

Samawi dalam kitab Abshâr al-‘Ain menghitungnya sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw dan Imam Ali As.[bshâr al-‘Ain, hal. 193.] Allamah Muhsin Amin juga dalam kitab A’yân al-Syiah, tatkala menjelaskan sahabat-sahabat Imam Husain As, menyebut Muslim bin Awsaja sebagai sahabat (shahabi) Rasulullah Saw.[A’yân al-Syiah, jil. 1, hal. 612.  ]

4. Hani bin Urwah:

Salah seorang penolong Imam Husain lainnya yang tergolong sebagai sahabat Rasulullah Saw adalah Hani bin Urwah. Ia adalah seorang tua dan pembesar kabilah Muradi yang turut serta dalam tiga peperangan di samping Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.[Samawi mencatat namanya sebagai sahabat Rasulullah Saw. Dari sisi usia, mengingat bahwa Hani adalah seorang renta dan syaikh (pembesar) kabilahnya serta usianya lebih tua dari Imam Husain As, boleh jadi ia merupakan salah seorang sahabat Rasulullah Saw. Silahkan lihat, Abshâr al-‘Ain, hal. 192.  ]

5. Abdullah bin Baqthar (Yaqthar) Himyari:

Abdullah bin Baqthar (Yaqthar) adalah saudara sesusuan Imam Husain As.[Rijâl Thûsi, hal. 103.] Ayahnya Baqthar (Yaqthar) adalah khadim (pembantu) Rasulullah Saw. Ia membawa surat Imam Husain As untuk Muslim bin Aqil di Kufah kemudian ditangkap (oleh Ibnu Ziyad) dan langsung gugur sebagai syahid.[Farhangg-e ‘Âsyurâ, hal. 322. Meski namanya tidak disebutkan sebagai salah seorang sahabat Rasulllah Saw dalam kitab-kitab Rijal, namun mengingat bahwa ia merupakan saudara sesusuan Imam Husain As, penyandaran seperti ini mungkin saja benar adanya. Karena itu dalam kitab Abshâr al-‘Ain tercatat sebagai salah seorang sahabat Rasulullah Saw.]

Mengapa Imam Ali pada masa kekhalifahannya tidak menunjukkan penentangan terhadap para khalifah dan tidak menguburkan pelbagai bid’ah yang dimunculkan oleh mereka. Apabila para khalifah telah kafir lalu mengapa tatkala menjadi khalifah Imam Ali tidak mengumumkan kekufuran dan bahwa kekhalifahan mereka adalah hasil rampasan?

dikarenakan adanya pelarangan Bani Umayyah untuk menukil pelbagai keutamaan Amirul Mukminin. Hal ini juga disebabkan oleh adanya penyelewengan sejarah yang dilakukan oleh Bani Umayyah dan antek-anteknya yang didorong oleh tujuan-tujuan politis dan amat disayangkan atas dasar ini, hal ini terus berlanjut, seperti di antaranya pertanyaan-pertanyaan yang Anda ajukan. Sebelum menjawab pertanyaan Anda, kami anjurkan bahwa apabila Anda benar-benar ingin mencari dan menemukan kebenaran dan Anda tidak bermaksud untuk menyebarkan benih-benih perpecahan di antara Syiah dan Sunni yang tidak lain hanya akan dimanfaatkan oleh kelompok non-Muslim, Anda dapat merujuk pada kitab-kitab teologis yang ditulis oleh ulama Syiah dan tanpa adanya pra-judis, maka Anda akan sampai pada kenyataan yang sebenarnya. Dan yakinlah “Allah Swt akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalannya.” (Qs. Al-Ankabut [29]:69)

Dan tentu saja Anda tahu bahwa riwayat mutâwatir yang dapat dijadikan sebagai sandaran adalah riwayat yang diterima oleh kedua belah pihak, Syiah dan Sunni. Sebagai contoh, hal-hal berikut ini dapat disebut sebagai riwayat mutawatir di antara kedua belah pihak, karena di samping terdapat pada literatur-literatur Ahlusunnah juga dapat dijumpai pada literatur-literatur Syiah. Di sini kami hanya akan menyandarkan hal-hal yang dapat dijadikan contoh sebagai riwayat mutawatir pada literatur-literatur Ahlusunnah di bawah ini:

1.     Bahwa hubungan Amirul Mukminin As bagi Rasulullah Saw adalah laksana hubungan Harun bagi Musa.[Muhammad bin Ismail Bukhari, Shahîh Bukhâri, jil. 4, hal. 208, dan jil. 5, hal. 129, Dar al-Fikr, Beirut, 1401.  ]

2.     Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang membuat murka Fatimah As maka sesungguhnya ia telah membuatku murka.”[Shahîh Bukhâri jil. 4, hal. 219.  ]

3.     Bahwa terdapat seseorang mencegah Rasulullah Saw, pada masa hidupnya, untuk menuliskan sesuatu (wasiat) dan orang itu berkata bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw sedang meracau.[Shahîh Bukhâri jil. 5, hal. 137-138 . Rasulullah Saw dicegah Untuk Menulis Wasiat.  ]

4.     Bahwa Fatimah tidak ridha kepada Khalifah Pertama dan Khalifah Kedua hingga ajal menjemputnya.[Shahîh Bukhâri jilid 5 hal. 42 dan jil. 5, hal. 82-83.  ]

5.     Bahwa Rasulullah Saw mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menyampaikan pesan barâ’at menggantikan posisi Abu Bakar.[Shahîh Bukhâri jil. 5, hal. 202-203 ]

6.     Bahwa Khalifah Pertama dan Kedua sedemikan keras suaranya di hadapan Rasulullah Saw sehingga turun ayat-ayat pertama surah Hujurat yang mencela mereka.[Shahîh Bukhâri jil. 6, hal. 46-47.] Kendati Ahlusunnah berpandangan bahwa Allah Swt setelah itu mengampuni keduanya.

Abu Khalid Kabuli menukil, “Aku berkata kepada Imam Sajjad As bersabda, “Orang-orang[Silahkan cermati dalam riwayat ini disebutkan orang-orang dan bukan Imam Ali As.] berkata bahwa sebaik-baik manusia setelah Rasulullah Saw secara berurutan adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali As. Imam Sajjad dalam menjawab perkataan ini bersabda, “Lalu apa yang akan mereka katakan terhadap sebuah riwayat yang dinukil Sa’id bin Musayyab bin Abi Waqqas dari Rasulullah Saw dimana beliau bersabda kepada Ali bin Abi Thalib As bahwa “Engkau bagiku adalah laksana Harun bagi Musa hanya saja tiada nabi selepasku.”[Sebagaimana yang telah dijelaskan, hadis ini merupakan hadis mutawatir di kalangan Syiah dan Ahlusunnah dan terdapat pada kitab-kitab sahih Ahlusunnah.  ]

Apakah ada orang yang laksana Harun di masa Nabi Musa As (pada masa Rasulullah Saw)?[Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 37, hal. 237, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1404 H. ]

Imam Sajjad As dengan bersandar pada hadis manzilah yang diterima oleh kedua mazhab, mempertanyakan validitas dan keabsahan hadis yang dilontarkan oleh masyarakat dan Anda memandangnya disandarkan kepada Imam Ali As.  Argumen yang disampaikan oleh Imam Sajjad ini nampak logis terlepas dari siapa pun yang menyampaikanya dan akan dapat diterima.

Adapun pertanyaan bahwa mengapa Amirul Mukminin As setelah memegang tampuk kekuasaan tidak menyatakan penentangan kepada para khalifah sebelumnya? Harus dikatakan bahwa sesuai dengan keyakinan kami (Syiah) dan apa yang terdapat pada kitab-kitab kami, berulang kali Baginda Ali As menyampaikan kritikan dan protes kepada para khalifah sebelumnya. Sebagai contoh kita dapat menyebut Khutbah Syaqsyaqiyyah yang terdapat pada kitab Nahj al-Balâgha.

Namun terkait dengan penyandaran riwayat mutâwatir di kalangan dua belah mazhab kami akan mengajukan beberapa pertanyaan:

1.     Apakah pemakzulan Mu’awiyah (yang telah diangkat oleh Khalifah Kedua sebelumnya) bukan merupakan bentuk penentangan kepadanya?

2.     Apakah pendistribusian bait al-mal dengan model baru yang amat ketat dijalankan oleh Baginda Ali As tidak tergolong sebagai penentangan?

3.     Apakah tiadanya perhatian untuk melanjutkan pelbagai penaklukan negeri-negeri luar dan upaya untuk mensterilkan masyarakat Islam bukan merupakan perubahan kebijakan yang menentang kebijakan para khalifah sebelumnya? Dan lain sebagainya.

Yang kami tahu bahwa Baginda Ali As pada masa kekuasaan kekhalifahan sebelumnya dipandang sebagai seorang pemrotes dan kritikus terhadap sistem yang ada ketika itu. Misalnya salah satu contoh, di antara puluhan contoh, kami bertanya kepada Anda bahwa mengapa beliau tidak membaiat Abu Bakar hingga masa wafatnya Fatimah Sa, dan prosesi pemakamannya yang dilakukan pada malam hari, yang Anda kenal sebagai sebaik-baik manusia setelah Rasulullah Saw? (Silahkan lihat, Shahîh Bukhâri, jil. 5, hal. 82-83.]

Namun bagi Baginda Ali As, dengan alasan menjaga pokok Islam, meski dengan pelbagai kritikan dan protes yang dilontarkan kepada para khalifah, beliau tetap mengurus urusan kaum Muslimin dengan para khalifah  dan sesuai dengan ungkapannya yang indah, “Kami memiliki hak yang alangkah baiknya apabila mereka serahkan (kepada kami sebagai pemilik yang sah) dan kalau tidak kami memilih sebagai orang kedua, menaiki pundak unta meski berujung pada masa yang panjang.”[Nahj al-Balâgha, hal. 472, Intisyarat Dar al-Hijrah, Qum.]

Pada hakikatnya, Baginda Ali As hanya memandang kekuasaan sebagai media bukan sebagai tujuan. Atas dasar itu, baik pada masa para khalifah sebelumnya juga pada masa pemerintahan lahirianya[Setelah 25 tahun Baginda Ali As memilih untuk diam dan masyarakat termasuk para khalifah banyak meminta pendapat kepadanya untuk menyelesaikan pelbagai persoalan keumatan yang dihadapi.   ] Baginda Ali As memilih diam dalam banyak hal dan membiarkan masyarakat sendiri di masa yang akan datang yang kelak menilainya.

Terkait dengan kekufuran orang-orang yang Anda jelaskan harus dikatakan bahwa akidah Syiah menyatakan bahwa setiap orang yang mengucapkan kalimat syahadat melalui lisannya adalah seorang Muslim.

Beberapa hal yang dijelaskan di atas dan terdapat puluhan riwayat lainnya yang dapat disebut sebagai mutâwatir di antara kedua mazhab. Karena di samping bahwa riwayat tersebut dinukil dalam literatur-literatur Syiah, ia juga dikutip dalam literatur-literatur Ahlusunnah yang paling standar. Keenam riwayat di atas kami nukil dari kitab Shahih Bukhâri yang kedudukannya di kalangan Ahlusunnah sebagai saudari al-Qur’an.

Pada dasarnya, tatkala pemerintahan berada di tangannya yang tadinya menjalani masa diam selama 25 tahun, akibat aksi propaganda secara berketerusan telah membuat masyarakat Muslim membenarkan perbuatan-perbuatan para khalifah sebelumnya. Dan pelbagai penetangan Baginda Ali telah menimbulkan permasalahan pada sebagian perkara seperti pengembalian tanah Fadak yang menurut anggapan sebagian orang merupakan sebuah upaya untuk kepentingan pribadi. Pendeknya, masa pemerintahan Baginda Ali sedemikan pendek dan disertai dengan pelbagai peperangan dan banyaknya tindakan menghalang-halangi oleh pihak musuh sehingga tidak memberikan izin dan peluang kepada Amirul Mukminin Ali As untuk melakukan perbaikan asasi dalam banyak bidang.

Apakah sesuai dengan ayat 30 surah Muhammad[Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya.   ]

dan ayat 101 surah Taubah,[Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. ]

Allah Swt dapat memperkenalkan orang-orang munafik kepada Rasulullah Saw namun beliau tidak meminta kepada Tuhan untuk hal tersebut dapat disebut sebagai pengkhianatan kepada Islam dan kaum Muslimin?

Apakahnya sikap diam Harun terkat dengan penyembahan Bani Israil terhadap sapi dan pengajuan minta maaf kepada Musa As bahwa Bani Israel memandang saya lemah dan nyaris mereka membunuh saya,[(Qs. Al-A’raf [7]:150)] adalah sebuah pengkhianatan?

Tidak satu pun dari hal ini merupakan pengkhianatan dan diamnya Baginda Ali As (yang kedudukannya laksana Harun As) dengan penjelasan beberapa hal juga dalam kondisi yang sama. Baginda Ali As berperang dengan tiga kelompok kaum Muslimin dan banyak orang lagi yang menentangnya dan sebagai akibatnya mereka mensyahidkan Baginda Ali As. Sekali lagi sikap diam Imam Ali As bukanlah sebuah pengkhianatan, dan hal ini menjadi tugas Anda dan kami untuk melakukan riset imparsial dan fair untuk sampai kepada kebenaran dan hakikat

.

catatan kaki :


[1]. Silahkan lihat kitab-kitab yang membahas tentang ilmu Rijal seperti, ‘Ayan al-Syiah, Rijal al-Thusi dan Mu’jam Rijal al-Hadits.

[2]. Silahkan lihat, Huwiyat al-Syi’ah, al-Syaikh Ahmad al-Waili, hal. 36.

[3]. Jâmi’ al-Ushûl, jil. 11, hal. 119-123.

[4]. Shahîh Bukhâri, Kitâb Riqâq, bab 53, hadis 2115; Lisan al-Arab, Ibnu Manzhur, jil. 15, hal. 135; Al-Targhib wa al-Tarhib, Mindzari, jil. 4, hal. 422; Al-Nihayat fi Gharib al-Hadits, Ibnu Atsir, jil. 5, hal. 274; Fath al-Bari, Ibnu Hajar, jil. 11, hal. 475; ‘Umdat al-Qari, ‘Aini, jil. 23, hal. 142; Irsyad al-Sari, Qasthalani, jil. 9, hal. 342.

«بینا أنا قائم إذا زمرة، حتی إذا عرفتهم خرج رجل من بینی و بینهم، فقال: هلم، فقلت: أین؟ قال: الی النار والله، قلت: و ماشأنهم؟ قال: إنهم ارتدوا بعدک علی أدبارهم القهقری. ثم إذا زمرة، حتی إذا عرفتهم خرج رجل من بینی و بینهم، فقال: هلم، قلت: أین؟ قال: إلی النار والله. قلت: ماشأنهم؟ قال: أنهم ارتدوا بعدک علی أدبارهم القهقری، فلا أراه یخلص منهم الا مثل همل النعم».

[5]. Diadaptasi dari Pertanyaan 1589 (Site:1980), Indeks: Makna Kemurtadan Sahabat dan Dalil-dalilnya.

[6]. Imam Khomeini, Kitâb al-Thahârah, jil. 3, hal. 437, cetakan pertama, Muassasah Tanzhim wa Nasyr Atsar-e Imam Khomeini, 1379 S. Diadaptasi dari Pertanyaan 2808 (Site:3501).

[7]. Wawancara dengan Ayatullah Wa’izh Zadeh Khurasani, Nasyriyeh Hauzah, tahun 24.
 Benarkah Syiah mencela Para Sahabat?

Mazhab Ahlusunnah wal Jama’ah (sunni) mengurangi keutamaan ahlul bait sehingga menjauhkan umat dari berpegang teguh pada ahlul bait [sampai ke taraf biasa]-dan sunni membela kezaliman terhadap ahlul-bait dengan dalih membela sahabat yang dianggap salah ijtihad

nashibi zaman sekarang hobinya mengurangi keutamaan ahlul bait,

menjauhkan orang dari berpegang teguh pada ahlul bait

serta menebar kebencian kepada setiap orang yang mereka anggap sebagai Syiah..

sehingga makin lama orang-orang menjadi takut untuk mencintai-

dan membela Ahlul Bait karena akan dituduh syiah

Nashibi model baru ini adalah bentuk mutasi nashibi lama-

karena nashibi lama yang terang terangan mencaci ahlul bait-

akan dimusuhi oleh mayoritas umat islam maka untuk-

mempertahankan diri, mereka beradaptasi dengan-

berpura-pura mencintai ahlul bait tetapi sedikit demi sedikit-

mengurangi keutamaan ahlul bait [sampai ke taraf biasa]-

dan sedikit demi sedikit membela kezaliman terhadap ahlul-

bait dengan dalih membela sahabat atau ijtihad

Apakah Abu Hurairah Pernah Lupa? Anomali Hadis Abu Hurairah

Awalnya kami ingin membuat judul “Apakah Abu Hurairah Berdusta?” tetapi menimbang ada sebagian orang yang lemah akalnya mudah diracuni oleh pikiran kotor sehingga ia tidak bisa membedakan antara “pertanyaan” dan “pernyataan” maka kami memutuskan membuat judul seperti di atas.

Sebagai seorang manusia yang tidak maksum maka sangat wajar kalau ada yang menyatakan Abu Hurairah bisa lupa, tetapi sebagian orang yang “tergila-gila” dengan sahabat merasa keberatan kalau Abu Hurairah bisa lupa. Amazing, mereka mudah sekali mengatakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa lupa tetapi keberatan kalau Abu Hurairah bisa lupa. Mengapa pikiran mereka jadi terbalik seperti itu?

Ada hadis yang dijadikan dasar Abu Hurairah tidak bisa lupa, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sendiri

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الْفُدَيْكِ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي سَمِعْتُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا فَأَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُ فَغَرَفَ بِيَدِهِ فِيهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ حَدِيثًا بَعْدُ

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Fudaik dari Ibnu Abi Dziib dari Al Maqburiy dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu yang berkata aku berkata “wahai Rasulullah aku telah mendengar darimu banyak hadis tetapi aku lupa, Rasulullah berkata “hamparkan selendangmu” maka aku menghamparkan kemudian Beliau menciduk sesuatu dengan tangannya dan berkata “ambillah” aku mengambilnya. Maka setelah itu aku tidak pernah lupa soal hadis [Shahih Bukhari 4/208 no 3648]

Fakta membuktikan ternyata Abu Hurairah pernah lupa, kami khawatir seandainya peristiwa [yang akan kami sebutkan] tidak dinyatakan sebagai lupa maka jatuhlah hal itu kepada “dusta”. Silakan perhatikan hadis berikut

حدثني أبي قال حدثنا عبد الأعلى عن معمر عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا عدوى ولا صفر ولا هامة فقال أعرابي يا رسول الله ما بال الإبل تكون في الرمال كأنها الظباء فيخالطها البعير الأجرب فتجرب كلها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فمن أعدى الأول قال أبو سلمة ثم سميت أبا هريرة بعد ذلك بزمان يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يوردن ممرض على مصح فقال رجل أما حدثتنا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال لا عدوى فقال لا قال أبو سلمة فما سمعته نسي حديثا قط قبله وأشهد بالله لقد سمعته منه

Telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa dari Ma’mar dari Az Zuhriy dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Tidak ada ‘adwa [penyakit menular], tidak ada shafar dan tidak ada hamah”. Seorang arab badui berkata “wahai Rasulullah bagaimana dengan sekelompok unta yang sehat di padang pasir kemudian didatangi oleh unta yang terkena kudis maka unta-unta itu terkena kudis semuanya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “lalu siapa yang menulari unta pertama?”. Abu Salamah berkata “kemudian aku mendengar Abu Hurairah setelah itu mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat” seorang laki-laki berkata “bukankah engkau menceritakan kepada kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Beliau bersabda “tidak ada ‘adwa [penyakit menular]”. Abu Hurairah berkata “tidak” Abu Salamah berkata “aku tidak pernah mendengar ia [Abu Hurairah] lupa soal hadis sebelumnya dan aku bersaksi demi Allah sungguh aku telah mendengar hadis itu darinya” [Al Ilal Ma’rifat Ar Rijal Ahmad bin Hanbal juz 3 no 4865 & 4866]

Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal di atas shahih diriwayatkan para perawi yang tsiqat. Hadis di atas adalah riwayat Abdullah bin Ahmad dari ayahnya Ahmad bin Hanbal dimana ia adalah seorang ulama yang dikenal tsiqat

  • Abdul A’la bin Abdul A’la Al Bashriy adalah perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar dalam At Taqrib [At Taqrib 1/551]
  • Ma’mar bin Raasyid Al Azdiy adalah perawi Bukhari dan Muslim seorang yang tsiqat tsabit dan memiliki keutamaan [At Taqrib 2/202]
  • Ibnu Syihab Az Zuhri termasuk perawi Bukhari dan Muslim seorang faqih hafizh yang disepakati kemuliaan dan keteguhannya, dia adalah pemimpin thabaqat keempat [At Taqrib 2/133].
  • Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah tabiin thabaqat ketiga perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/409]

Hadis di atas kedudukannya shahih sesuai dengan persyaratan Bukhari dan Muslim. Abu Salamah bersaksi bahwa Abu Hurairah pernah menyampaikan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]“tidak ada ‘adwa [penyakit menular]” tetapi setelah itu Abu Hurairah mengingkari telah meriwayatkan hadis ini, silakan perhatikan jawaban Abu Hurairah ketika ada orang yang bertanya padanya “bukankah engkau menceritakan kepada kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Beliau bersabda “tidak ada ‘adwa [penyakit menular]”, Abu Hurairah berkata“tidak”

.

Ini jelas sesuatu yang musykil, makanya Abu Salamah menyatakan kalau Abu Hurairah lupa soal hadis tersebut karena Abu Salamah bersumpah bahwa ia mendengar Abu Hurairah menyampaikan hadis ini sebelumnya. Jika bukan lupa maka tidak lain apa yang dinyatakan oleh Abu Hurairah adalah suatu kedustaan. Kami berprasangka baik saja dalam hal ini, mungkin saja Abu Hurairah terlupa dengan hadis tersebut. Yah ternyata bisa lupa juga kan?

.

 

Lihat saja perkataan mereka tentang hadis Abu Hurairah

menunjukkan bahwa mereka tidak membaca hadis tersebut

dari kitab hadis Ahlus sunnah. Hadis Abu Hurairah yang

menyatakan ia tidak pernah lupa disebutkan dalam Shahih

Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang jelas dari

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu “tidak akan lupa”.

Berikut hadis yang dimaksud dalam Shahih Muslim :

حدثنا قتيبة بن سعيد وأبو بكر بن أبي شيبة

وزهير بن حرب جميعا عن سفيان

قال زهير حدثنا سفيان بن عيينة عن

الزهري عن الأعرج قال سمعت أبا هريرة

يقول إنكم تزعمون أن أبا هريرة يكثر الحديث

عن رسول الله صلى الله عليه و سلم

والله الموعد كنت رجلا مسكينا أخدم رسول الله

صلى الله عليه و سلم على ملء بطني

وكان المهاجرون يشغلهم الصفق بالأسواق

وكانت الأنصار يشغلهم القيام على أموالهم فقال

رسول الله صلى الله عليه و سلم

من يبسط ثوبه فلن ينسى شيئا سمعه مني

فبسطت ثوبي حتى قضى حديثه ثم ضممته إلي فما نسيت شيئا سمعته منه

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id,

Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb semuanya

dari Sufyan [Zuhair berkata] telah menceritakan kepada

kami Sufyan bin Uyainah dari Zuhriy dari Al A’raj yang

berkata aku mendengar Abu Hurairah berkata sesungguhnya

kalian mengira bahwa Abu Hurairah sangat banyak

meriwayatkan hadis dari Rasulullah [shallallahu

‘alaihi wasallam] dan Allah Maha memenuhi Janji.

Aku dahulu adalah orang miskin yang menyertai

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

demi makanan untuk mengisi perutku.

Sedangkan orang-orang Muhajirin disibukkan

oleh perniagaan mereka di pasar pasar dan orang

orang Anshar disibukkan dengan harta harta mereka.

Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

bersabda “barang siapa yang membentangkan

pakaiannya maka ia tidak akan lupa sedikitpun

apa yang ia dengar dariku”. Maka aku pun

membantangkan pakaianku hingga Beliau selesai

bersabda kemudian aku tangkupkan pada diriku,

sejak itu aku tidak pernah lupa sedikitpun apa yang

aku dengar dari Beliau [Shahih Muslim 4/1939 no 2492]

friksi yang bahkan berujung pada bentrokan menyangkut penentuan pewaris tahta di dalam keluarga kerajaan Saudi

Raja Saudi Mendapat Ancaman dari Seorang Pangeran
Fanatik Ajaran PAham Kelompok Pilihan Pemimpinnya Akibatkan Perpecahan Umat……………………………………………………………………………………………Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz, yang berwenang menentukan pewaris tahta, mendapat ancaman dengan senjata oleh salah satu pangeran dari keluarga kerajaan.IRNA (26/10) mengutip keterangan Naseem melaporkan, setelah kematian Pangeran Mahkota Sultan bin Abdul Aziz di sebuah rumah sakit New York, muncul friksi yang bahkan berujung pada bentrokan menyangkut penentuan pewaris tahta di dalam keluarga kerajaan Saudi.Laporan itu menambahkan, dalam Syuro Baiat, yang dibentuk oleh Abdullah bin Abdul Aziz, Raja Saudi itu berniat menunjuk Pangeran Nayef bin Abdul Aziz sebagai pewaris tahta, namun mendapat penentangan dari salah satu pangeran yang langsung mengancam raja dengan menggunakan senjata.”Berdasarkan laporan yang bocor dari Syuro tersebut, salah seorang pangeran Saudi memprotes penunjukan Pangeran Nayef dengan mengarahkan senjatanya ke arah Raja Abdullah.Laporan sebelumnya menyebutkan, terjadi bentrokan antar pangeran Saudi pada acara pemakaman Pangeran Sultan bin Abdul Aziz. Televisi nasional Arab Saudi yang menayangkan acara yang pemakaman itu secara langsung, sempat merekam kejadian tersebut.

Kematian Pangeran Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz al-Saud, yang merupakan pewaris tahta kerajaan, itu menyebabkan kevakuman kekuatan di Arab Saudi.

Tidak seperti di sistem monarki lain di dunia, garis suksesi tidak melintang langsung dari ayah ke anak sulung atau anak perempuan, namun menuju garis saudara-saudara raja. Jika garis saudara raja tidak berhasil maka dilimpahkan ke barisan berikutnya yaitu putra sulung raja atau saudaranya.

Raja Arab Saudi Abdullah telah menunjuk Manteri dalam Negeri Pangeran Nayef sebagai putera mahkota yang baru, kata sebuah pernyataan istana kerajaan yang dibacakan di televisi negara pada Jumat pagi sekali.

“Kami memilih Yang Mulia Pangeran Nayef bin Abdulaziz sebagai putera mahkota,” kata pernyataan itu, yang disiarkan kantor berita resmi SPA.

Pernyataan itu mengatakan Nayef ditunjuk setelah raja memberitahu Dewan Kesetiaan, badan keluarga yang dibentuk pada 2006 untuk melakukan proses suksesi di kerajaan Islam yang konservatif, pengekspor utama minyak dunia itu.

Itu adalah pertama kalinya dewan tersebut diminta untuk mengkonfirmasi pilihan raja akan putera mahkota, tindakan yang beberapa pengamat katakan akan membantu sistem suksesi yang tidak transparan.

Putera Mahkota Sultan telah meninggal karena kanker usus besar di New York hampir sepekan lalu. Ia juga menteri pertahanan dan penerbangan negara itu selama hampir lima dasawarsa. Belum ada pengganti untuk jabatan itu yang telah ditunjuk.

Pangeran Nayef selama ini telah membangun reputasi sebagai seorang konservatif yang memiliki hubungan dekat dengan kekuasaan keagamaan Saudi.

Bagaimanapun, beberapa pengamat dan mantan diplomat di Arab Saudi, tempat lahir Islam, mengatakan ia mungkin akan menunjukkan sisi yang berbeda dari karakternya dalam jabatan barunya.

Dalam beberapa tahun belakangan ia telah memimpin kerajaan itu dari hari ke hari ketika Raja Abdullah dan Pangeran Sultan tidak ada. Masalah punggung Raja Abdullah yang sering kambuh telah menyebabkan dia sering pergi ke luar negeri untuk perawatan medis. Sultan juga sudah lama sakit, bahkan terakhir berbulan-bulan di AS menjalani perawatan sebelum dinyatakan meninggal.

Menurut pernyataan itu, Pangeran Nayef juga ditunjuk sebagai wakil perdana menteri. Ia kini secara luas juga dianggap sebagai calon yang paling mungkin untuk mengambil-alih jabatan menteri pertahanan.

Sebagai menteri dalam negeri, Nayef memimpin upaya yang berhasil untuk mengakhiri gelombang serangan Al Qaida di kerajaan itu dari 2003.

Ia senang melukiskan dirinya sebagai seorang tentara di bawah komando raja Saudi.

Para pengamat sekarang menunggu siapa yang pada akhirnya akan mendapat jabatan menteri pertahanan — sangat penting dalam hubungannya dengan negara-negara besar Barat, dengan siapa kontrak persenjataan miliran dolar ditandatangani, dan khususnya jika jabatan itu diberikan pada seorang anggota keluarga kerajaan yang lebih muda.

Sekarang ini, jabatan-jabatan kementerian penting diduduki oleh putera-putera pendiri kerajaan, Raja Abdulaziz Ibn Saud, semuanya berusia 70-an dan 80-an tahun, dan beberapa di antara mereka memiliki masalah kesehatan.

Raja Abdullah sendiri baru keluar dari rumah sakit untuk operasi punggung, serta tampak lelah dan lemah pada upacara pemakaman Sultan

 

Diplomat Arab: Pangeran Nayef Dinilai Anti-reformasi

 Sejumlah kalangan khawatir, jika Pangeran Nayef yang lahir pada 1933 itu, menjadi Raja, maka akan memundurkan upaya reformasi yang sudah dilaksanakan Raja Abdullah. Pasalnya, di kalangan Arab liberal, untuk masalah sosial, Nayef dinilai anti-reformasi.

Sementara dalam hal kebijakan luar negeri, Nayef sangat mementingkan keamanan nasional. Namun demikian, sejumlah diplomat di Riyadh mengatakan, kekhawatiran tersebut tidak beralasan karena sebenarnya Nayef adalah sosok yang pragmatis.

Oleh karena itu, saat waktunya tiba bagi Nayef untuk berkuasa, kebijakan reformis yang sudah dijalankan Abdullah tidak akan terganggu. Selain itu, hubungan Arab Saudi dengan sekutu utamanya, Amerika, juga tidak akan terganggu.

.

.

Tawuran Antarpangeran Saudi Terekam Televisi
Pangeran Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz, dimakamkan Selasa (26/10). Acara pemakamannya dihadiri para pejabat asing.Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz, yang dalam kondisi sakit juga menghadiri acara tersebut.Sebelumnya, pada hari penyambutan jenazah Sultan bin Abdul Aziz dari New York, disiarkan secara langsung oleh televisi nasional Arab Saudi. Namun siaran langsung itu segera diputus setelah terjadi bentrokan antar pangeran Arab Saudi.Berikut ini link video dari bentrokan tersebut.

Pasukan Saudi Semakin Ganas di Awamiyah
Pasukan Keamanan rezim Al Saud meningkatkan penangkapan dan penumpasannya di wilayah Awamiyah, timur Arab Saudi.Televisi al-Alam melaporkan, pasukan Saudi menangkap seorang pemuda yang bernama Humaili Al Humaili di pusat pemerikasaan pintu masuk sebelah tenggara Awamiyah. Pusat informasi di Awamiyah menambahkan, pemuda tersebut ditangkap setelah perang mulut dengan pasukan keamanan.Pasukan Saudi juga menangkap seorang warga yang bernama Ali Abdullah al-Munasif di depan rumahnya di lokasi al-Zareh. Namun beberapa jam kemudian dibebaskan. Ia ditangkap tanpa ada alasan apapun.Pada saat yang sama, pasukan keamanan yang berada di pusat kepolisian Awamiyah juga menembak dua pemuda dengan peluru tajam. Akibatnya, kedua orang pemuda itu dilarikan ke rumah sakit pusat Qatif. Aksi-aksi brutal rezim Al Saud merupakan buntut dari insiden 3 Oktober di wilayah al-Awamiyah.Berdasarkan laporan tersebut, gelombang brutalitas dan penembakan dengan peluru tajam ke arah warga dimulai sejak aksi damai Februari lalu di wilayah Awamiyah. Di wilayah tersebut terjadi beberapa aksi protes yang mengutuk pendudukan Saudi terhadap Bahrain. Para demonstran juga menuntut hak-hak warga seperti pembebasan terhadap para tahanan politik.Sebelumnya, wilayah al-Qatif juga dipenuhi demonstrasi yang diikuti oleh 10 ribu orang. Pasukan rezim Riyadh menembaki mereka dengan peluru tajam dan plastik serta menyemprotkan gas air mata

.

Perebutan Kekuasan di Saudi Semakin Memanas
Seorang aktivis politik Arab Saudi, Ali al-Ahmad memprediksikan terjadinya perebutan kekuasaan di antara keluarga Al Saud, khususnya masalah putra mahkota. Hal itu akibat meninggalnya Pangeran Mahkota Saudi, Sultan bin Abdul Aziz. Demi memperebutkan kedudukan tersebut diperkirakan anak-anak dan saudara-saudara Raja Saudi akan masuk medan perang kekuasaan.Ali al-Ahmad hari ini (Ahad, 23/10), dalam wawancaranya dengan televisi al-Alam di Washington mengatakan bahwa Pangeran Nayef dan keturunan Raja Abdullah mempunyai kesempatan lebih besar untuk mendapatkan posisi Putra Mahkota dan Kementerian Pertahanan. Oleh sebab itu ia memprediksikan akan terjadi perang kekuasaan di antara keturunan dan saudara-saudara Raja Saudi.Al-Ahmad Menandaskan bahwa meninggalnya Putra Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz menyebabkan kekosongan piramida kekuasaan Arab Saudi. Dengan meninggalnya setiap anggota utama keluarga penguasa Saudi, maka akan terjadi kontroversi di antara keluarga guna merebutkan posisi kunci dalam pemerintahan tersebut.Ali al-Ahmad juga menegaskan bahwa, kondisi Saudi saat ini sangat sensitif mengingat meninggalnya Pangeran Sultan dan kondisi kritis Raja Abdullah. Oleh sebab itu, akan terjadi pergolakan keras di antara keturunan Raja Abdullah dan keluarga Pangeran Sultan serta Pangeran Nayef.Al-Ahmad juga menyinggung tentang pengaruh meninggalnya Pangeran Sultan terhadap masalah kawasan, seraya mengatakan, “Sebelum masalah-masalah ini diatur oleh sekelompok orang. Masalah itu telah diatur oleh sistem yang ada. Sultan merupakan penanggung jawab berkas Yaman. Saat ini berkas itu berada ditangan Muhammad bin Nayef, putra dari Menteri Dalam Negeri. Berkas-berkas lainnya akan di bagi kepada para pejabat lainnya.”Ali al-Ahmad juga menyatakan, Nayef merupakan saudara tiri dan orang yang paling dekat dengan Sultan. Banyak tanggung jawab dan kasus-kasus yang dipegang oleh Sultan yang nantinya akan dilimpahkan kepada Nayef.

Stabilitas dan keamanan keluarga Al Saud sangat penting bagi Amerika. Sebab apa yang diinginkan Amerika dilakukan keluarga tersebut. Sebenarnya, kendali pemerintahan Riyadh diserahkan kepada Washington

.

Siapa Pangeran Sultan?
Pangeran Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz, Sabtu (22/10) meninggal pada usia 81 di sebuah rumah sakit New York, karena penyakit kanker.Sultan bin Abdul Aziz adalah pangeran mahkota, wakil ketua dewan kabinet, menteri pertahanan dan penerbangan, serta penyidik umum, dan putra kelimabelas pendiri kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz al-Saud.BiografiSultan adalah saudara tiri Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud, yang saat ini juga berada dalam perawatan medis. Sultan bin Abdul Aziz dilahirkan pada 5 Januari 1931 di kota Riyadh dan ibunya bernama Hassa bin Ahmad bin Muhammad al-Sadbari.Jabatan dan TugasSultan ditunjuk sebagai Walikota Riyadh pada tahun 1947 dan pada 1953 ia menjabat sebagai menteri pertanian. Dua tahun kemudian diangkat sebagai menteri telekomunikasi.Pada tahun 1962, mendiang raja Faisal, mengangkat Sultan sebagai Menteri Penerbangan Arab Saudi. Pada masa tugasnya, Sultan meningkatkan kemampuan angkatan Udara Arab Saudi.

Terjangkit Kanker

Pada tahun 2004, para dokter menyatakan bahwa Sultan bin Abdul Aziz menderita kanker di usus besar dan oleh karena itu, ia telah menjalani berbagai operasi.

Kembali pada tahun 2009 Pangeran Sultan bin Abdul Aziz menderita sakit parah dan harus terbaring di rumah sakit New York selama berbulan-bulan.

Setelah kematian saudaranya Fahad bin Abdul Aziz pada Agustus 2005, Sultan menjadi Pangeran Mahkota Arab Saudi.

Pewaris

Putra Pangeran Sultan yang paling terkenal adalah Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz, yang juga mantan dubes Saudi untuk Amerika Serikat. Putra Sultan lainnya adalah Pangeran Khaled bin Sultan, yang pernah menjadi Panglima Tinggi Militer Saudi para Perang Teluk tahun 1991.

Kematiannya dan Eskalasi Perebutan Tahta di Arab Saudi

Tidak diragukan lagi bahwa kematian Sultan memperuncing persaingan perebutan tahta di kerajaan Saudi. Apalagi seluruh calon raja pada barisan pertama sudah tua dan dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Kandidat yang paling kuat untuk menduduki tahta setelah Sultan adalah Pangeran Nayef. Namun pangeran tersebut juga berada dalam kondisi kesehatan yang buruk dan telah menjalani perawatan secara intensif dalam 20 bulan terakhir.

Selain itu, tidak boleh dilupakan pengaruh kuat Pengeran Bandar bin Sultan, yang pernah menjabat sebagai dubes di Amerika Serikat dan saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Keamanan Nasional Saudi, karena ia merasa tidak puas dengan wewenang yang dimilikinya.

Selain Bandar, ada juga Pangeran Salman bin Abdul Aziz, yang memiliki pengaruh sangat kuat di antara keluarga kerajaan.
.

Jika Nayef Jadi Raja, Akan Terjadi Pemberontakan di Saudi

Pangeran Nayef bin Abdul Aziz

Kematian Pangeran Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz al-Saud, yang merupakan pewaris tahta kerajaan, itu menyebabkan kevakuman kekuatan di Arab Saudi.Calon utama pewaris tahta Raja Saudi saat ini adalah Pangeran Nayef bin Abdul Aziz al-Saud, namun ia masih harus mendapat persetujuan dari Dewan Kesetiaan Saudi. Dewan tersebut adalah yang mengawasi masalah suksesi.

Direktur Institut Hubungan Teluk [Persia] (I[P]GA), Ali al-Ahmad dalam wawancaranya dengan Press TV Ahad, (23/10) menyatakan, bahwa kematian Pangeran Sultan akan memantik perebutan kekuasaan di Arab Saudi.

Dikatakannya, “Pangeran Nayef dikenal sebagai politisi yang kasar dan merupakan sosok yang melawan segala bentuk reformasi dan dia juga bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran kemanusiaan di Saudi.”

“Banyak warga Arab Saudi yang khawatir jika Pangeran Nayef menjadi Raja Arab Saudi karena penindakan keras terhadap rakyat juga akan semakin meningkat. Namun demikian, munculnya Nayef sebagai Raja Saudi justru membantu mempercepat proses perubahan di negara ini,” tegas al-Ahmad.

Lebih lanjut dijelaskannya, jika Nayef menjadi Raja, media massa Barat khususnya Amerika Serikat akan mengesankan dia sebagai seorang reformer. Namun rakyat Saudi tidak akan dapat melupakan seluruh kejahatan yang dilakukan Nayef selama ini. Tidak ada elemen dan lapisan dalam masyarakat Saudi, telah tidak menjadi korban kejahatan Nayef.

Menurutnya, akan lebih mudah bagi masyarakat, aktivis politik dan HAM Arab Saudi untuk melawan Nayef yang sudah tidak mungkin bersumbunyi di balik pencitraan Barat atau dengan aksi menebar pesona seperti yang dilakukan Raja Abdullah dengan kata-kata dan janji-janjinya.

 

Salafi wahabi adalah Jama’ah Peliharaan Amerika di Indonesia untuk menghadang pengaruh Iran dan syi’ah

Salafi wahabi adalah  Jama’ah Peliharaan Amerika di Indonesia untuk  menghadang pengaruh Iran dan syi’ah
Salafi wahabi adalah  Jama’ah  pengkhianat  islam..

Bocoran telegram diplomat Amerika Serikat di situsWikiLeaks semestinya membuka mata siapa saja pada spionase, paranoia, gila urusan, standar ganda dan mulut ‘ember’ penulisnya – tentu saja kalangan diplomat Amerika, atau begitu lah keinginan awal para pendiri situs semisal Julian Assange. Tapi di Jakarta di awal Syawal ini, konteks besar itu ‘secara misterius’ hilang dalam liputan hampir semua media besar dan ini dampaknya membunuh: lambung pemerintah kita sobek di sana-sini akibat gossip ini itu dalam telegram sementara diplomat Amerika, alih-alih terpojok dan menanggung malu, justru terkesan sebagai pahlawan, penegak pilar demokrasi dan, bahkan, penjaga ‘kewarasan’ orang sebangsa. Ini khususnya tampak dalam pemberitaan pers Jakarta atas isi telegram yang mereka gadang-gadang sebagai ‘fakta percintaan gelap’ antara Front Pembela Islam dan kalangan petinggi polisi dan intelijen, seperti yang dilaporkan diplomat Amerika di Jakarta ke bos-bos mereka di Washington.

Dari pemeriksaan yang lebih dalam atas sejumlah telegram bersubjek Indonesia yang telah terpajang di WikiLeaks dalam dua pekan terakhir, dan membandingkannya dengan isi pers Jakarta, Islam Times juga mendapati adanya semacam ‘permakluman’ yang besar – jika tidak self-censorship – di kalangan redaksi media yang berujung pada keputusan mereka untuk, sejauh ini, tak menuliskan detil-detil ‘sensitif’ dalam telegram di berita mereka, sebuah isyarat adanya kemungkinan pengkhianatan besar pada janji profesi mereka untuk meletakkan kepentingan publik di atas segalanya.

Pemeriksaan lebih jauh dengan membandingkan naskah utuh sejumlah telegram yang terpajang diWikiLeaks dengan isi liputan The Age, koran Australia yang lebih dulu mendapatkan akses ‘eksklusif’ pada arsip WikiLeaks dan mempublikasikan laporannya pada 11 Maret 2011 — The Agehingga kini tak pernah mempublikasikan naskah utuh telegram yang mereka klaim terima secara khusus dari WikiLeaks, Islam Times mendapati media Australia itu cenderung hanya memberitakan apa yang menurut mereka perlu publik ketahui dan bukan pada informasi utuh yang tertera dalam telegram. Bahkan, kami mendapati ada kesan media Australia itu dengan sengaja menyitir pemberitaan.

Kami juga mendapati adanya ‘keanehan besar’ dalam pemberitaan media-media besar Jakarta yang dalam beberapa hari terakhir ini seolah terobsesi menyoroti ‘koneksi’ FPI-Polisi-Intelijen meski faktanya, dalam telegram yang sama, ada banyak subjek lain yang penting, menarik dan patut diketahui publik.

Dalam ulasan bersambung berikut, telegram pertama yang menjadi subjek pemeriksaan kami adalah kawat diplomatik berjudul “Indonesian Biographical and Political Gossip”. Kode Q4 2005/Q1 2006 di kepala dokumen mengisyaratkan gossip politik dalam kawat ini adalah yang muncul di jagad politik nasional dalam rentang kuartal IV 2005 hingga kuartal pertama 2006. Temanya beragam dengan jumlah total dua lusin lebih:

1. Soal ‘Peran Informal’ Keluarga Presiden
Diplomat Amerika dalam subjek ini menyandarkan gosip yang mereka kirim ke Washington pada Roy Janis, bekas politisi PDI-Perjuangan. Kata telegram, dari Roy lah diplomat Amerika di Jakarta mendengar kalau keluarga besar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya peran yang lebih besar dalam penentuan kebijakan negara. (Roy dalam bagian ini digambarkan tetap bisa menjalin hubungan ‘tak langsung’ dengan Presiden Susilo via ‘keluarga presiden’, bahkan setelah dia keluar dari PDI-P pada 2005). Digambarkan sebagai ‘kelompok informal’, keluarga besar presiden disebutkan ‘rutin bertemu’ untuk mendiskusikan ‘urusan-urusan kebijakan’. Rapat, kata telegram, dihadiri oleh istri presiden, Kristiani Yudhoyono; Gatot Suwondo (ipar presiden yang sekaligus pejabat senior di Bank BNI); Brigadir Jenderal Pramono Edhi Wibowo (ipar lain presiden yang, kala telegram dikawatkan ke Washington, masih menjabat sebagai Komandan Kopassus). Roy, kata telegram, juga mengklaim kalau Hadi Utomo, juga ipar presiden, baru menjadi peserta tetap rapat keluarga itu setelah dia menjadi petinggi di Partai Demokrat, partai rintisan presiden.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak mencantumkan teks telegram bagian ini saat menurunkan laporannya bertajuk “Yudhoyono abused power”, 11 Maret 2011. Pihak Presiden Susilo juga telah melayangkan bantahan keras sejak The Age melansir berita yang di dalamnya menyebut-nyebut peran sentral Ibu Negara Kristiani Yudhoyono dalam pengambilan kebijakan pemerintahan).

2. Soal Hubungan Presiden dan Taufik Kiemas
Sumber gossip yang dalam tema ini dari T.B. Silalahi, penasihat presiden di tahun 2005. Kata telegram, Silalahi berbicara dengan diplomat Amerika di Jakarta pada Oktober 2005 dan membisikkan kalau Hendarman Supandji, seorang jaksa senior kala itu, yang kebetulan memimpin tim pemberantasan korupsi di kejaksaan usat, telah mengantongi cukup bukti untuk mengeluarkan surat penangkapan atas apa yang digambarkan dalam telegram sebagai ‘korupsi’ Taufik Kiemas. Tapi, kata Silalahi, Presiden Susilo sendiri yang mengistruksikan ke Hendarman untuk menghentikan penyidikan atas diri Taufik.

(Catatan Islam Times: dalam telegram yang lain, T.B Silalahi digambarkan oleh diplomat Amerika di Jakarta sebagai “sepupu” Sudi Silalahi).

(Catatan Islam Times: The Age memuat utuh isi telegram bagian ini).

3. Soal Dana Kampanye Presiden Susilo
Gossip dalam subjek ini bersumber dari Silo Marbun, orang dekat Vence Rumengkang, politisi yang pernah menjabat sebagai Deputi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Telegram bilang kalau usai Pemilu 2004, Presiden Susilo menawarkan jabatan ke Vence, plus cek Rp 5 miliar. Yang terakhir digambarkan sebagai imbalan atas kontribusi besar Vence pada Partai. (“Marbun menggambarkan Vence sebagai donatur utama Demokrat di tahun-tahun awal partai). Vence kabarnya menolak dua tawaran Presiden Susilo itu dan bilang dia hanya berharap berlanjutnya sokongan Presiden. Marbun juga bergosip dan bilang kalau Aburizal Bakrie menyumbang Rp 200 miliar untuk kampanye Presiden Susilo pada Pemilu 2004.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyebut bagian ini).

3. Soal ‘Pembangkangan’ Yusril Ihza Mahendra
Gossip dalam subjek ini bersumber dari Yahya Asagaf yang disebutkan sebagai “asisten Kepala Badan Intelijen Negara”, Syamsir Siregar. Yahya, kata telegram, bilang kalau Presiden Susilo pernah memanggil Syamsir dan minta yang terakhir mengirim spion untuk memata-matai gerak Sekretaris Kabinet, Yusril Ihza Mahendra. Presiden Yudhoyono, kata telegram, marah sebab Yusril berdalih minta izin cuti sepekan untuk kembali ke kampung halaman demi mengurus urusan keluarga tapi belakangan diketahui bepergian ke Singapura dan Vietnam. Kata Yahya, pejabat di Singapura belakangan mengetahui kalau Yusril datang untuk bertemu kalangan pebisnis China. Yahya, kabarnya berada di ruang yang sama saat Syamsir menerima telepon dari Presiden Susilo, bilang kalau ini sudah kali kedua Yusril melakukan perjalanan yang tak disetujui presiden.

(Catatan Islam Times: Laporan The Age dan pers Jakarta sejauh ini ‘menyembunyikan’ sosok Yahya, menggambarkannya ‘hanya’ sebagai “agen BIN”, dan seperti sengaja ‘menceraikannya’ dengan sosok Syamsir Siregar dalam telegram. Laporan The Age juga menyebutkan kalau pengutusan intel BIN untuk memata-matai gerak Yusril semata karena dia adalah musuh politik presiden dan bukan karena soal Yusril sudah dua kali mengajukan alasan izin palsu: … “The cables say Dr Yudhoyono has personally intervened to influence prosecutors and judges to protect corrupt political figures and pressure his adversaries, while using the Indonesian intelligence service to spy on political rivals and, at least once, a senior minister in his own government.”)

4. Soal Dugaan ‘Simpati’ Seorang Menteri pada Ba’asyir
Sumber dalam gossip tema ini masih Yahya Asagaf. Yahya bergosip ke diplomat Amerika di Jakarta kalau Menteri Agama di tahun itu, Maftuh Basyuni, bersimpati pada Abu Bakar Ba’asyir, sosok kontroversial yang, dalam telegram, digambarkan sebagai bos besar ‘Jamaah Islamiyah’. Kata Yahya, usai mengikuti sebuah seminar di pesantren Ba’asyir, Maftuh kembali ke Jakarta dan bilang ke Yahya kalau orang-orang Ngruki “baik” dan “intelektual”. Yahya juga bilang kalau Mahfuh berencana mendukung pembangunan jalan baru menuju kawasan pesantren. Kata Yahya lagi, berdasarkan yang dia dengar dari Maftuh, bos besar BIN, Syamsir Siregar, pernah mengirim donasi untuk Ngruki. Di telegram, Yahya bilang kalau dia belum mengkonfirmasi soal yang terakhir ini ke Syamsir kendati dia bilang dia menduga ini benar adanya, mengingat Syamsir ingin mendukung kalangan ‘moderat’ di Ngruki.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyinggung tema ini)

5. Soal Tuduhan Menteri Sudi Terkait Rusuh di Ambon
Gossip dalam tema ini bersumber dari Roy Janis. Tanggal gossip tak disebutkan. Intinya: Roy kabarnya pernah mendengar kalau Sudi Silalahi, kala itu adalah Menteri Koordinator Politik dan Keamanan), berada di balik pecahnya kekerasan sektarian di Maluku. Roy, kata telegram, telah mengecek kabar ini ke Engelina Pattiasina, seorang anggota parlemen dari Maluku, dan mengeluhkan kekerasan di Maluku dan sosok Sudi di baliknya. Tak berapa lama lepas itu, kekerasan di Maluku berhenti dan Roy menangkap kejadian itu sebagai ‘bukti’ kemampuan Sudi mengontrol situasi dan, sebab itu, dia punya saham di balik kekerasan di Ambon. (Catatan Islam Times: dalam telegram, tak ada penjelasan apa kaitan antara Engelina dan Sudi).

Sumber gossip kedua dalam tema ini adalah “seorang diplomat Singapura” yang identitasnya tak disebutkan. Intinya, sang diplomat Singapura mendapati kesan kalau Sudi membina hubungan dengan “kelompok-kelompok radikal Islam”. Kata sang diplomat Singapura, beberapa editor senior media secara terpisah menaikkan berita seputar sebuah pertemuan di bulan Ramadhan 2005 yang dihadiri oleh seorang perwakilan Noordin Top (buron, tokoh sentral Jamaah Islamiyah kala itu) dan seorang wakil Sudi, kalau tidak Sudi sendiri. Kalangan editor berbisik ke sang diplomat Singapura kalau wajar Sudi hadir dalam rapat seperti itu mengingat dia punya koneksi dengan kalangan kelompok Islam. Ada catatan dalam telegram sekaitan hal ini. Disebutkan bahwa pada 15 November 2005, Harian Kompas menggambarkan terjadinya sebuah pertemuan pada 7 November, beberapa hari sebelum polisi membunuh Azahari dalam sebuah penggerebekan. Tujuan pertemuan disebutkan untuk memfasilitasi gencatan senjata agar JI berhenti dari menebar teror bom dan sebagai gantinya pemerintah tak akan mengejar mereka lagi.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyinggung tema ini)

6. Soal Tuduhan Presiden Menekan Hakim
Telegram bilang kalau Yenny Wahid (kala itu masih menjabat sebagai Deputi Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa) telah berbicara ke diplomat Amerika di Jakarta dan bilang kalau PKB “tak punya pilihan” kecuali mengatur mendukung Presiden Susilo di tengah perlawanan keras Abdurrahman Wahid (ayahnya, sekaligus bekas presiden) pada rezim yang berkuasa. Yenny disebutkan bilang orang-orang sangat berpengaruh di lingkaran Presiden Susilo telah mencoba mempengaruhi hasil persidangan, dengan mengintimidasi hakim, terkait sengketa dualisme PKB di pengadilan. Telegram bilang Yenny nampaknya merujuk ke sosok Sudi Silalahi. Kata telegram, Sudi mengirim orang-orangnya ke hakim yang menangani perkara dan bilang kalau Wahid adalah pembuat onar, dan jika putusan memenangkan Wahid, bisa jadi pemerintah tumbang. Yenny kemudian bilang kalau hakim yang kena tekanan melaporkan insiden ini ke tokoh PKB, yang kemudian mengajukan komplain ke Presiden Susilo. Yenny lalu bilang kalau presiden kala itu terlihat ‘terperajat’ dan ‘kecewa’ mendengarnya. Yenny juga bilang penunjukan Erman Suparno sebagai Menteri Tenaga Kerja kala itu nampaknya sebagai kompensasi atas intervensi rezim dalam kasus sengketa dualisme PKB.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyinggung tema ini. Di sejumlah media Jakarta, lepas The Age menurunkan berita eksklusif yang antara lain menggambarkan adanya tekanan Sudi pada hakim yang mengadili sengketa dualisme kepengurusan PKB, Yenny termasuk yang menyayangkan adanya intervensi dari pemerintah).

7. Soal Tudingan Aksa Mahmud ‘Bermain’ di PKB
Gosip dalam tema ini masih bersumber pada sosok Yenny Wahid. Yenny, kata telegram, membisikkan ke telinga diplomat Amerika di Jakarta kalau Aksa Mahmud, besan Jusuf Kalla (dalam telegram digambarkan salah sebagai “saudara” Jusuf Kalla), menggelontorkan banyak uang demi kemenangan kubu Alwi Shihab dalam Kongres PKB pada 2005.

Sumber lain gosip dalam tema ini adalah bekas politisi Partai Amanat Nasional, Alvin Lie. Dalam telegram, Alvin disebutkan membisikkan gosip kalau Ali Masykur Musa (kala itu menjabat sebagai Ketua Fraksi PKB di DPR) bentrok dengan bos besar partai kala itu, Abdurrahman Wahid. Ceritanya, dalam sebuah debat soal pemotongan subsidi bensin di DPR pada Maret 2005, Ali Masykur menerima “banyak uang” dari Aksa Mahmud sebagai gantinya PKB akan mendukung rencana pemerintah memangkas subsidi bensin. Kendati, kata telegram, Ali Masykur memakan sendiri uang itu dan sebab itulah partai tak mendapat dukungan rezim.

(Catatan Islam Times: bagian ini sama sekali tak tercantum dalam laporan The Age).

8. Soal Yenny Wahid yang Dianggap Belum Lihat Membagi Amplop
Yenny jadi subjek gosip dalam tema ini. Sumbernya: diplomat Singapura yang tak disebutkan identitasnya. Kata sang diplomat Singapura, berdasarkan informasi yang dia dengar dari Khofifah Indar Parawansa, Yenny mencoba mempengaruhi delegasi Kongres Fatayat NU agar mendukung kandidat lawan Khofifah dengan membagi-bagikan sendiri ‘amplop’ ke peserta kongres. Sang diplomat menggambarkan Yenny bukan juru bayar yang ‘baik’. Langkahnya mudah dibaca, sosoknya selalu terlihat, dan kerap membagikan uang justru ke asisten peserta kongres dan bahkan ke peserta kongres yang telah berniat memilih Khofifah. Yang terakhir menang telak dalam kongres kala itu.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyinggung subjek ini, begitupun dengan hampir semua media Jakarta hingga hari ini).

9. Soal Tuduhan Hubungan Gelap FPI-Polisi-Intelijen
Yahya Asagaf kembali jadi sumber gosip dalam tema ini. Kata telegram, Yahya punya hubungan yang cukup baik dengan FPI sehingga bisa membisikkan sejak awal ke kalangan diplomat Amerika di Jakarta kalau FPI bakal menggelar ‘vandalisme’ di depan Kedutaan pada 19 Februari. (CatatanIslam Times: informasi ini mungkin bisa menjawab keheranan banyak kelangan kenapa diplomat Amerika di Jakarta begitu sigap dan siap merekam kekerasan yang terjadi di luar pagar kedutaan tempo hari). Yahya, kata telegram, sebelumnya juga membisikkan kalau bos besar Polisi Indonesia kala itu, Sutanto (kini Kepala BIN), telah mengalokasikan sejumlah dana ke FPI namun pasca insiden itu dia memutuskan menghentikannya. Yahya, saat ditanya oleh diplomat Amerika di Jakarta kenapa Sutanto mau berbuat seperti itu, menjawab kalau Sutanto mendapati FPI baik jika bisa menjadi “anjing penyerang”. Saat dikejar dengan pertanyaan kegunaan FPI bagi Sutanto, mengingat polisi juga bisa mengintimidasi (jika mau), Yahya lalu menggambarkan FPI sebagai alat multiguna yang bisa menyelamatkan ‘aparat keamanan’ dari kena kritik sebagai pelanggar hak asasi. Dia juga bilang kalau kebijakan aparat keamanan mendanai FPI sudah jadi sebuah “tradisi”. Kata Yahya, Ali As’ad, bekas deputi BIN, adalah tokoh intelejen utama yang mendanai FPI. Yahya bilang kalau dana FPI bersumber dari kalangan aparat keamanan, namun sejak medio Februari, FPI mendadak kesulitan dana.

[(Catatan Islam Times: sejauh ini, setidaknya ada enam lembar telegram di WikiLeaks yang memuat nama Yahya Asagaf. Di masing-masingnya, tercantum keterangan yang bervariasi soal siapa dia. Dia sekali digambarkan sebagai “seorang penasihat yang dekat dengan Kepala BIN Syamsir Siregar”, sekali sebagai “penasihat Syamsir Siregar untuk urusan Timur Tengah, dua kali sebagai “a political appointee at the State Intelligence Agency (BIN)”, sekali sebagai “ State Intelligence Agency (BIN) Chairman)”, sekali sebagai “State Intelligence Agency (BIN) official”, sekali sebagai “an assistant to State Intelligence Agency (BIN) Chief, Syamsir Siregar”.

Sementara itu, di TempoInteraktif.com, 4 September 2011, Ketua Dewan Pengurus Pusat FPI, Munarman, menggambarkan Yahya sebagai “antek Amerika”, “pengkhianat”, penjual “informasi negara”, dan bilang kalau salah seorang anak Yahya, Hani Y Assegaf, sebagai pendiri Indonesia Israel Publik Affair Commitee (IIPAC), kelompok lobi pro Israel berbasis Jakarta, yang belakangan sempat memicu kontroversi dengan menggusung rencana Perayaan Hari Kemerdekaan Israel di Jakarta.

Kendati, sumber-sumber Islam Times di jalur keamanan non-formal menegaskan kalau Yahya Asagaf bukan personel BIN meski lembaga intelijen negara pernah menggunakan ‘jasanya’ (kemungkinan dalam kaitannya kontak dengan pemerintah Israel). Seorang sumber menggambarkan Yahya sebagai warga keturunan Arab kelahiran Jawa Tengah yang tak memiliki “darah Assegaf”, punya koneksi luas di dalam dan luar negeri (termasuk Eropa dan Israel), dan “tak tersentuh” bahkan oleh pejabat BIN yang masih aktif sekalipun. Sejauh ini belum ada respon dari intelijen negara sementara polisi telah menyatakan bantahan keras atas tuduhan mereka ‘memelihara’ FPI. )]

10. Soal Majalah Playboy dan FPI
Sumber gosip tema ini adalah Ponti Carolus Pandean, bos PT Velvel Silver Media, penerbit Majalah saru Playboy. Telegram bilang kalau Ponti berbicara ke diplomat Amerika di Jakarta kalau dia beberapa kali mencoba ‘membeli’ petinggi FPI demi kelancaran peluncuran perdana majalahnya. Ponti, digambarkan masih tercatat sebagai Deputi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat hingga 2005), pernah menyerahkan sekitar US$ 1.500 ke Rizieq Shihab, bos besar FPI, sebagai kompensasi Rizieq bersedia diwawancarai. Saat Playboy terbit dan kontroversi membara, dia juga bilang ke diplomat Amerika kalau dia kembali menemui Rizieq dan menyerahkan uang sekitar Rp 40 juta, sebagai hadiah lebaran Idul Adha. Kata Ponti lagi, pengurus FPI kelas cere juga kerap datang ke kantornya meminta uang yang nilainya sekitar US$ 50. Telegram lalu mencantumkan informasi bahwa FPI cenderung diam saat peluncuran Playboy namun pada 12 April, saat majalah terbit pertama kali, massa FPI menyambangi dan merusak kantor majalah.

Kata Ponti lagi, Presiden Susilo awalnya setuju diinterview di edisi perdana Playboy. Presiden, katanya lagi, juga awalnya setuju hadir dalam peluncuran perdana majalah di Bali (sekalipun belakangan batal seiring pecahnya kontroversi akibat kehadiran majalah). Kata Ponti, Presiden Susilo sempat memberi sumbang saran agar wanita yang pose syurnya terpajang di majalah itu bukan warga Indonesia.)

11. Soal Keinginan Agung Laksono Merintis Poros Jakarta-Tehran
Sumber gosip soal ini adalah Arief Budiman, yang dalam telegram digambarkan sebagai bos Kelompok Intelektual Muda Partai Golkar. Kata Arief, Ketua DPR kala itu, Agung Laksono, sempat berkonsultasi dengan figur terkenal Shiah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat, menjelang kunjungannya ke Tehran.

Agung kabarnya mengharapkan ada jalinan kerjasama antara DPR dan parlemen di Iran, dan mengharapkan Jalaluddin bisa membantu dengan menggalang dukungan via majelis ulama di Iran. Arief, kata telegram, mengklaim kalau Agung terlihat simpatik pada proyek pembangkit listrik nuklir Iran dan percaya kalau langkah pemerintah Iran di bidang itu sepenuhnya dalam tujuan damai.

12. Soal Hubungan PKS-Hamas-Ikhwanul Muslimin
Telegram bilang kalau Zulkiflimansyah, anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera, mengklaim kalau PKS, dalam kontak-kontaknya dengan pihak Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Hamas di Palestina, mendorong kelompok-kelompok itu untuk menggapai kekuasaan via pemilu. Zulkiflimansyah, kata telegram, menyebut Anis Matta sebagai kanal komunikasi utama partai dengan Hamas dan Ikhwan di Mesir.

13. Soal Fuad Bawasyir dan Al-Irsyad
Telegram bilang kalau diplomat Amerika sempat bersua Fuad Bawazier dan menanyakan kabar burung kedekatannya dengan organisasi Al-Irsyad. Fuad, kata telegram, bilang dia tak punya koneksi apapun, meski pernah sempat mencoba mendamaikan faksi-faksi dalam organisasi tersebut. Di bagian ini, gosip lain bersumber dari Yahya Asegaf (digambarkan sebagai pejabat BIN). Telegram bilang kalau Yahya percaya kalau dalam Al-Irsyad ada veteran Perang Afghanistan dan sekitar 50 orang di antara anggota organisasi itu telah menerima militer di Yaman. Yahya bilang bakal sulit bagi pemerintah memberangus Al Irsyad sebab Jaksa Agung Abdurrahman Saleh adalah anggota organisasi.

14. Soal Kemampuan Berbahasa Inggris Hadi Utomo
Bagian ini bukan gosip. Telegram bilang Duta Besar Amerika bersua bos besar Partai Demokrat, Hadi Utomo, dan para pejabat senior partai lainnya, di markas besar partai. Kata telegram, bahasa Inggris Hadi pas-pasan. Tiap kali pembicaraan berpusar pada soal politik, dia memilih menggunakan Bahasa Indonesia. Bahkan dalam pertemuan yang digambarkan dalam telegram sebagai “informal”, Hadi berpatokan pada tulisan yang telah dikonsep sebelumnya dan memilih ‘menitip’ pertanyaan ke bawahannya untuk duta Amerika.

15. Soal Suripto: Pengaruh dan Latar Belakang
Gosip soal ini bersumber dari “seorang bekas pejabat Kementrian Pertanian”. Kata telegram, lepas Anton Apriyantono jadi Menteri Pertanian, Ketua Dewan Pakar PKS, Suripto, menempatkan orang-orang PKS di beberapa posisi eselon satu di kementrian, demi memastikan adanya loyalitas pada partai. Sumber lain gosip dalam tema ini adalah Hariman Siregar. Kata telegram, diplomat Amerika bersua dengan Hariman mendiskusikan ‘tuduhan’ kalau Suripto ikut terlibat dalam Kerusuhan Malari 1972. Hariman lalu bilang ke diplomat Amerika kalau Suripto tak ikut dalam kejadian itu, sekalipun rumor bilang sebaliknya. Kendati, kata Hariman, rumor bahwa Suripto tersangkut kejadian itu menjadi penyebab istri Suripto sakit dan akhirnya meninggal. Hariman mengklaim kalau Suripto adalah tangan kanan Fuad Hassan saat Fuad menjabat Menteri Pendidikan (1985-1993). Telegram bilang kalau anggota DPR dari Fraksi PDI-Perjuangan, Amris Hassan (anak Fuad Hassan), telah berbicara ke diplomat Amerika di Jakarta dan bilang kalau Fuad dan Suripto punya hubungan dekat. Amris juga menggambarkan ke diplomat Amerika kalau Suripto punya koneksi terbaik ke seluruh spektrum organisasi mahasiswa, dari ekstrim kiri hingga ekstrim kanan.

16. Soal Koneksi Penasihat Presiden ke Kubu Megawati
Telegram bilang kalau penasihat Presiden Susilo, T.B. Silalahi, membisikkan ke diplomat Amerika di Jakarta kalau dia telah berulang kali membujuk Megawati Soekarnoputri untuk bertemu Presiden Susilo, namun Megawati selalu menolak. Telegram lalu menyebut alternatif kanal hubungan Silalahi ke Megawati: Puan Mahari (putri Megawati), Guruh Soekarnoputra dan Tjahjo Kumolo, politisi senior PDI-P.

17. Soal Hendropriyono Mengincar Kursi Gubernur Jakarta?
Sumber gosip soal ini adalah Yahya Asagaf. Telegram bilang kalau Yahya pernah mendengar sendiri dari bekas Kepala BIN, Hendropriyono, pada akhir 2005 kalau dia mengincar jabatan Gubernur DKI Jakarta pada Pemilu 2007. Kata telegram, sejak saat itu Yahya tak pernah lagi mendengar kabar lain soal rencana ini. Informan-informan diplomat Amerika lainnya bilang kalau Hendropriyono memang pernah serius dengan ide itu, namun hanya sedikit yang menyokong.

18. Soal Kedekatan PKS dan Menteri Kesehatan
Kata telegram, anggota Majelis Syuro PKS, Syahfan Badri, pernah bilang ke diplomat Amerika di Jakarta kalau PKS punya hubungan dekat dengan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari. Badri, kata telegram, bilang kalau Siti kerap mengundang anggota parlemen dari PKS untuk berkunjung ke kawasan yang kena krisis kesehatan. Telegram memberi catatan: informasi ini mengisyaratkan reputasi PKS di bidang penangangan bencana dan penyaluran bantuan).

19. Soal Amien Rais Mengecam Amerika
Telegram bilang kalau menurut Alvin Lie, dulunya anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional, hubungan Amien Rais dan Soetrisno Bachir memburuk pada akhir 2005. Dalam konteks itulah, kata Alvin, Amien kemudian secara sengaja fokus pada soal-soal internasional, guna membangun citra pemimpin yang berkelas sekaligus menghindari konflik dengan Soetrisno. Telegram lalu mendaftar nada-nada “anti Amerika” dalam pernyataan Amien Rais. Amien disebutkan mengkritik invasi Amerika atas Irak dan Afghanistan, skandal penyiksaan tahanan di Irak dan Guantanamo, dan menyebut respon pemerintah Amerika pada korban Badai Katrina menunjukkan “sikap rasis”. Amin, kata telegram, juga mengingatkan pemerintah untuk menghindar dari rencana penggerebekan pesantren (disebutkan sebagai bagian dari counter-terrorisme) dan bila pemerintah berkeras dalam melakukannya maka pemerintah beresiko kena stigma sebagai “alat imperialisme Amerika Serikat.”

20. Soal Daftar Calon Menteri Partai Golkar
Telegram bilang kalau berdasarkan informasi dari Arief Budiman, diplomat Amerika di Jakarta mengetahui 10 nama yang diusulkan Partai Golkar saat Presiden Susilo merencanakan kocok ulang susunan kabinet. Nama-nama tersebut adalah: Theo Sambuaga (Menteri Pertahanan), Andi Mattalatta (Menteri Hak Asasi Manusia), Burhanuddin Napitupulu (Menteri Perumahan), Aulia Rachman (Menteri Hak Asasi Manusia atau Jaksa Agung), Rully Azwar (Menteri Perindustrian), Paskah Suzetta (Menteri Keuangan), Yuddy Krisnandi (Menteri Pemuda dan Olah Raga), Firman Subagio (Menteri Kooperasi), Yuniwati (Menteri Peranan Wanita), Agus Manafendi (Menteri Energi). Telegram membubuhkan catatan yang berisi ‘keyakinan’ diplomat Amerika pada Arief yang mereka anggap punya cukup akses untuk mendapatkan daftar calon menteri usulan partai dari Ketua Umum Golkar, Agung Laksono.

21. Soal Hubungan Mitra Tomy Winata dengan Presiden Susilo
Soal ini, telegram diplomat Amerika di Jakarta ke Washington merujuk pada informasi dari Alvien Lie, anggota parlemen yang digambarkan berdarah China-Indonesia. Kata telegram, saat masa kampanye Pemilu 2004, dua warga berdarah China aktif mendorong dia untuk bergabung dalam kubu Presiden Susilo. Alvien menyebut nama: Ridwan Soeriyadi (yang digambarkan oleh diplomat Amerika sebagai punya koneksi dengan Partai Demokrat) dan Sugima Kusuma alias Sugianto Kusuma alias Aguan. Telegram bilang kalau dalam sesi terpisah, diplomat Amerika di Jakarta mendengar dari David Lin, bos Kamar Dagang dan Industri Taiwan, kalau dia kerap bertemua Aguan, dan bilang kalau Aguan adalah parner bisnis senior Tomy Winata (digambarkan dalam telegram sebagai “underworld figure”). Lin, kata telegram lagi, mengisyaratkan kalau Aguan punya kepentingan yang sama dengan Tomy meski dia pada dasarnya lebih nyaman dalam berhubungan dengan kalangan diplomat. Telegram lalu membubuhkan catatan akhir: Pada Maret 2003, MajalahGatra mewawancarai Tomy yang isinya antara lain pernyataan Tomy kalau dia dan Sugiyanto punya hubungan. Dalam laporan Gatra, kata telegram, Tomy menggambarkan Sugiyanto sebagai seorang “bos”. Kata telegram, ada kabar burung kalau Sugiyanto dan Tomy adalah anggota “Gang of Nine” atau “Sembilan Naga”, sindikat perjudian papan atas.

[(Catatan Islam Times: dalam mewartawan bagian ini, The Age sama sekali tak menyebut nama Alvien Lie dan Aguan saat menggambarkan Tomy sebagai “underworld figure”. (Tomy belakangan membantah isi pemberitaan The Age). Media Australia itu terkesan hanya mengambil bagian ‘sensasional’ dan menggabungkannya dengan isi telegram lain.

The Age menulis: “In the course of investigating the President’s private, political and business interests, American diplomats noted alleged links between Yudhoyono and Chinese-Indonesian businessmen, most notably Tomy Winata, an alleged underworld figure and member of the “Gang of Nine” or “Nine Dragons,” a leading gambling syndicate.

In 2006, Agung Laksono, now Yudhoyono’s Co-ordinating Minister for People’s Welfare, told US embassy officers that TB Silalahi “functioned as a middleman, relaying funds from Winata to Yudhoyono, protecting the president from the potential liabilities that could arise if Yudhoyono were to deal with Tomy directly”.

Tomy Winata reportedly also used prominent entrepreneur Muhammad Lutfi as a channel of funding to Yudhoyono. Yudhoyono appointed Lutfi chairman of Indonesia’s Investment Co-ordinating Board.

Senior State Intelligence Agency official Yahya Asagaf also told the US embassy Tomy Winata was trying to cultivate influence by using a senior presidential aide as his channel to first lady Kristiani Herawati.”

Dari pemeriksaan telegram yang, semestinya, jadi rujukan The Age, Islam Times mendapati dua paragraf bersambung berikut yang intinya menunjukkan The Age melakukan ‘kesalahan fantastis’ dalam memahami dan memberitakan isi telegram:

“(C/NF) Dave Laksono told us presidential advisor T.B. Silalahi functioned as a middleman, relaying funds from Tomy to President Yudhoyono, protecting Yudhoyono from the potential liabilities that could arise if Yudhoyono were to deal with Tomy directly.”

“(C/NF) State Intelligency Agency (BIN) official Yahya Asagaf told us that Tomy Winata was trying to cultivate influence by using Presidential Secretary Kurdi Mustofa as his channel to First Lady Kristiani Herawati. A contact from the Golkar party told us that, during the 2004 campaign, Tomy also had sought to use Muhammad Lutfi (now Chairman of the Investment Coordination Board) as a channel of funding to Yudhoyono’s campaign.”

Telegram Dari Setan Besar (2):

Salafi wahabi adalah  Jama’ah Peliharaan Amerika di Indonesia untuk  menghadang pengaruh Iran dan syi’ah
Salafi wahabi adalah  Jama’ah  pengkhianat..

Ini bagian kedua dari pemeriksaan Islam Timesatas gulungan kawat diplomat Amerika Serikat di Jakarta yang jatuh ke tangan pengelola situs WikiLeaks dan kini bisa diakses oleh siapa saja. Kami memutuskan memberi perhatian khusus di tengah keputusan banyak media menutup mata pada informasi penting dalam dokumen. Ini lah kisah yang tak ingin didengar diplomat Amerika di Jakarta dan seluruh aset dan orang-orang yang pernah dan mungkin masih bermitra dengan mereka, swasta, partikelir, ataupun pejabat. Sebuah drama berbalut kasak-kusuk, spionase, dan cerita tentang loyalitas yang tergadai.

Islam Times- Dalam tulisan sebelumnya, Islam Times telah memaparkan ‘kesalahan fantastis’ koran tersohor Australia, The Age, dalam memahami dan melaporkan isi sebuah kawat diplomat Amerika di Jakarta yang mereka dapatkan secara eksklusif dari WikiLeaks pada Maret 2011. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan kalau koran menerapkan sejenis apartheisme atas mereka yang namanya muncul dalam telegram sebagai informan kedutaan. Koran, misalnya, tak masalah memberitakan kedekatan khusus T.B. Silalahi (bekas pejabat istana) dan Yahya Asagaf (orang dekat Syamsir Siregar, bekas Kepala BIN) dengan kalangan diplomat Amerika di Jakarta. Tapi, saat yang sama, koran seperti sengaja menyembunyikan identitas Yenny Wahid dan Dave Laksono meski telegram yang menjadi rujukan mereka adalah telegram yang sama yang memuat cerita T.B. Silalahi dan Yahya.

Yenny Wahid , bedasarkan sebuah telegram bertajuk “A Cabinet Of One — Indonesia’s First Lady Expands Her Influence (dikawatkan dari Jakarta pada 17 Oktober 2007 dengan status “Rahasia” oleh Joseph Legend Novak, perwira politik kedutaan), adalah “staf kepresidenan yang mengklaim pada medio Juni 2007 kalau sejumlah keluarga Ibu Negara Kristiani Yudhoyono secara khusus mengincar peluang-peluang bisnis di Badan Usaha Negara”. Yenny, kata telegram, menggambarkan Presiden Susilo bermain cantik, mendorong operator-operator terdekatnya (semisal Sudi Silalahi) di depan dan dia sendiri mempertahankan cukup jarak demi mencegah kemungkinan tersangkut.

Dave Laksono adalah putra Agung Laksono (bekas Ketua DPR) yang, dalam sejumlah telegram, digambarkan sebagai “operator politik Agung”. Dia lah yang menyebutkan kalau dalam sebuah pertemuan dengan Agung pada 5 Juni 2007, Presiden Susilo mengeluhkan kegagalannya membangun benteng bisnis yang memadai. “Dave – yang tidak mengindikasikan apakah dia turut hadir dalam diskusi itu – bilang Yudhoyono merasa perlu “mengejar ketertinggalan” dan berspekulasi kalau Presiden mungkin ingin memastikan kelak dia bisa mewariskan harta yang cukup besar untuk anak-anaknya.”

Dari pemeriksaan lebih jauh, Islam Times mendapati kalau dalam kawat ke Washington, pihak kedutaan juga menerapkan perlakukan berbeda atas informan mereka di Jakarta. Sebagian mereka sebut begitu saja, nama, jabatan ataupun profesi lalu informasi yang mereka bisikkan ke pihak kedutaan. Ini misalnya terjadi pada informan semacam Dave Laksono, T.B. Silalahim, Yahya Asegaf, Fachri Hamzah, Dzulkiflimansyah dan masih banyak lagi. Tapi sebagian nama informan lainnya mereka sebut dengan catatan khusus, “Strictly Protect”, dan sejumlah nama lainnya lagi mereka beri catatan “Please Protect” dan inilah subjek seri tulisan kali ini.

Makna “Strictly Protect” & “Please Protect”

Belum ada informasi resmi, dan mungkin tak akan pernah ada, soal apa makna “Strictly Protect”, secara harfiah berarti “Lindungi Ketat”, dan “Please Protect” (“Tolong Lindungi”) dalam telegram diplomat Amerika. Tapi sebagian kalangan percaya kalau kedua frase ini ‘sensitif’ dan merujuk pada orang-orang yang berbicara dalam kerahasiaan dengan pihak kedutaan. Ada pula yang berpendapat kalau kedua predikat itu berlaku bagi mereka yang memberi informasi secara reguler dan sensitif dan sebab itu lah kedutaan meminta Washington menjaganya rapat-rapat.

(Catatan Islam Times: keberadaan frase “Strictly Protect” dan “Please Protect” dalam telegram telah mendorong pejabat Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat dan kalangan “pegiat hak asasi” menyesalkan keputusan WikiLeaks memajang telegram tanpa sensor. Mereka bilang pemuatan nama bisa membawa dampak memukul bagi kalangan aktivis, jurnalis dan tokoh-tokoh masyarakat sipil yang menjadi informan kedutaan Amerika, utamanya mereka yang tinggal di negara “otoriter”).

Dari pemeriksaan, Islam Times mendapati kalau frase “Strictly Protect” ada di setengah lusin lebih telegram dari Kedutaan Amerika di Jakarta sementara “Please Protect” muncul dalam 38 telegram – dari total 3.059 telegram sekaitan Indonesia sejauh ini. Pemeriksaan lainnya menunjukkan kalau pada setiap mereka yang berstatus khusus itu punya kisahnya tersendiri, yang kemudian menjadi bagian dari informasi penting, dan juga kabar burung, yang dikawatkan para diplomat Amerika di Jakarta ke bos-bos mereka di Washington.

Berikut nama sejumlah pihak yang dalam telegram diplomat Amerika diberi predikat “Strictly Protect”:

1. Yenny Wahid

Nama Yenny Wahid muncul di 16 kawat diplomatik, sejauh ini. (Sebagai perbandingan, “Dave Laksono” muncul di delapan telegram, “Yahya Asagaf” enam telegram, “T.B Silalahi” 17 telegram dan “Kristiani Yudhoyono” delapan telegram). Diplomat Amerika umumnya menggambarkan Yenny sebagai pejabat senior Partai Kebangkitan Bangsa, sekali sebagai staf presiden (catatan: Yenny memang pernah bekerja sebagai staf Presiden Susilo), yang membagi banyak cerita, termasuk kirsuh dualisme kepemimpinan di PKB, soal hubungan khusus FPI dan dan pihak-pihak keamanan (polisi dan intelijen), soal dukungan diam-diam PKB pada pemerintahan Presiden Susilo (di saat Wahid menampilkan diri di media sebagai musuh presiden) dan beberapa soal lainnya.

Namun dari semua itu, di sebuah telegram (bertajuk “Indonesian Biographical And Political Gossip, Q2 2006”, dikawatkan dari Jakarta pada 3 Juli 2006 oleh perwira politik kedutaan, David R. Greenberg), frase “strictly protect” muncul setelah penulisan nama Yenny: “Dalam sebuah pertemuan pada Juni, Deputi Sekretaris Jenderal PKB Yenny Wahid (strictly protect) mengkonfirmasi ke kami kalau orang dekat Yudhoyono yang telah menekan seorang jaksa untuk menjatuhkan putusan yang merugikan Gus Dur dalam kasus yang telah disebutkan lebih dulu … adalah Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi … .”

2. Eko Sandjojo

Sejauh ini, nama Eko Sandjojo hanya muncul sekali dalam kawat diplomatik: “Indonesian Biographical And Political Gossip, Q2 2006”, dikawatkan dari Jakarta pada 3 Juli 2006 oleh perwira politik kedutaan, David R. Greenberg. Dalam sub judul “PKB BUYS FAVORABLE COURT VERDICT”, Greenberg menulis: “Orang yang bersimpati pada Tuan Besar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdurrahman Wahid (alias Gus Dur), membayar hakim Rp 3 miliar (sekitar US$ 322.000), sebagai sogok guna memenangkan sebuah persidangan pada 2006, agar hakim memberi wewenangan sah kepengurusan pada kubu Wahid dan bukan pada musuh-muuhnya. Cerita ini datang dari Presiden Direktur Sierad, Eko Sandjojo (strictly protect), yang juga punya hubungan dekat dengan PKB. Eko mengklaim tahu informasi ini sebab salah seorang pengacara ternama, Soesilo Aribowo, yang juga bekerja untuk Eko (atau Sierad), telah menyalurkan uang itu ke hakim-hakim.”

(Catatan Islam Times: PT Sierad Produce Tbk adalah perusahaan pakan ternak yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek Jakarta.)

3. Poempida Hidayatulloh

Nama Peompida muncul di setidaknya sembilan kawat diplomatik. Diplomat Amerika memasang frase “Strictly Protect” untuk dia saat mengirim kabar berikut ke Washington pada 3 Juni 2006: “Bekas Komando Kopassus Prabowo Subianto kerap naik penerbangan komersil ke Bangkok untuk bersua pacarnya, seorang gadis Thailand yang tinggal di sana, menurut Deputi Bendahara Partai Golkar Poempida Hidayatulloh (strictly protect), yang sebelumnya punya hubungan dekat dengan Prabowo. Poempida mengklaim kalau Prabowo telah membuatkan sebuah perusahaan bisnis untuk pacarnya itu, dan pasangan itu cukup akrab hingga mereka semestinya sudah menikah andai Prabowo tak mencemaskan dampak berlanjut punya seorang istri berkewarganegaraan asing pada ambisinya merebut kursi kepresidenan.”

4. S. Eben Kirksey

Telegram menggambarkan dia adalah “seorang akademisi Amerika” yang ikut menulis laporan kemungkinan keterlibatan Tentara Nasional Indonesia dalam kasus terbunuhnya dua orang warga Amerika dan seorang warga lokal di Timika, Papua, pada tahun 2002. Saat menuliskan nama Eben dalam telegram, diplomat Amerika memasang himbauan “please strictly protect”.

Islam Times mendapati kalau ada cerita besar yang mengiringi masuknya nama Eben dalam telegram. Sebuah kontroversi yang lain dan ini melibatkan nama Andreas Harsono, seorang yang dalam telegram digambarkan sebagai “penulis freelance tersohor”, dan menjadi mitra Eben dalam menulis laporan kontroversial soal insiden berdarah di Timika. (Catatan Islam Times: Lebih jauh soal laporan bersama Eben dan Andreas soal insiden berdarah di Timika, berjudul Murder at Mile 63 bisa dilihat di http://andreasharsono.blogspot.com/2008_08_01_archive.html dan http://www.etan.org/news/2007/04mile63.htm)

Telegram bertajuk “Labor/human Rights Contacts Allege Harassment, Possibly By Goi Agencies”, dikawatkan dari Jakarta pada 2 September 2008, oleh perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak, merangkum isi pertemuan antara pihak kedutaan dan Andreas pada 26 Agustus 2008. (Andreas digambarkan lebih jauh sebagai seorang tokoh pergerakan demokrasi dan kebebasan pers di era-Suharto dan juga sebagai penerima beasiswa ternama Nieman Fellow di Harvard University).

Dalam rangkuman atas laporan, Novak menulis: “Seorang penulis freelance ternama Indonesia – dan seorang bekas fellow di Harvard – bilang ke Labatt (Labour Attache, red. Islam Times) kalau dia percaya dia sedang dalam intaian lembaga-lembaga intelejen pemerintah Indonesia. Dia bilang kalau ini mungkin karena laporan investigasinya atas isu-isu hak asasi manusia. Dia meminta USG (United Stated Goverment, red. Islam Times) menyimpan rapat-rapat urusan ini sementara waktu agar tak menambah besar perhatian atas dirinya. Kontak-kontak di organisasi buruh juga membisikkan ke Labatt seputar apa yang mereka tuduhkan sebagai pengintaian dan pelecehan oleh lembaga-lemabga intelijen. Jika akurat, kasus-kasus ini mungkin terkait dengan meningkatnya kepekaan Pemerintah Indonesia menjelang Pemilu 2009 … .”

Telegram lebih jauh juga menjelaskan hal yang melatari terjadinya briefing Andreas pada pihak kedutaan. Kata telegram: Andreas mengirim sebuah pesan ke organisasi hak asasi manusia di Amerika, yang memuat kecemasannya, yang kemudian diteruskan oleh DRL (Departement of Right & Labour, red. Islam Times) ke Labatt. Harsono bilang ke Labatt kalau pihak kedutaan maupun DRL sebaiknya tak mengambil langkah apapun yang bisa mengundang perhatian atas dirinya, dan pesan apapun yang mungkin kita sampaikan ke Pemerintah Indonesia atas nama dirinya mungkin tak akan membantu. Dia bilang dia tak begitu percaya kalau dirinya dalam bahaya meski dia sedikit cemas. Kami berjanji untuk bertemu secara reguler untuk memonitor situasi.”

(Catatan Islam Times: dari pemeriksaan arsip media Jakarta, Andreas pernah diberitakan bekerja untuk Human Right Watch, organisasi pemantau hak asasi berbasis New York. Dia juga belakangan sempat diberitakan sebagai pihak awal yang ikut mempublikasi video sadis pembantaian orang-orang Ahmadiyah di Banten ke situs YouTube.com yang kemudian memicu kehebohan publik lalu kecaman dari Kementrian Luar Negeri Amerika yang menuding minimnya perlindungan negara pada apa yang mereka sebut sebagai kelompok-kelompok minoritas. Pada 5 September, Kantor Berita 68H sempat mewawancarai Andreas, meminta komentarnya sekaitan apa yang mereka sebut keyakinan FPI kalau dokumen WikiLeaks hanya ‘permainan’ kedutaan Amerika. Andreas nampaknya belum sadar – atau mungkin pura-pura tidak tahu – kalau namanya ikut menghiasi dokumen WikiLeaks. Soal terakhir bisa dilihat di: http://www.kbr68h.com/berita/wawancara/11813-andreas-harsono-buktikan-kedekatan-polisi-fpi-)

5. Agus Mantik, A.S. Kobalen, Made Erata, Gusti Widana

Keempat nama ini hanya sekali muncul dalam telegram, yakni telegram bertajuk “Hindus Lament “islamization” Of Indonesia”, dikawatkan oleh perwira politik kedutaan, Sanjay Ramesh, pada 1 Februari 2007: “Pada 24 Januari, Poloff (political officer, red. Islam Times) menggelar pertemuan dengan beberapa pejabat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) termasuk pimpinannya Agus Mantik, Direktur Komunikasi Internasional A.S. Kobalen, Kepala Pengurus Harian Made Erata, dan Sekretaris Jenderal Gusti Widana. (Strictly Protect) … .”

Dalam rangkuman telegram, Ramesh menulis: “Beberapa pemimpin ternama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) bilang ke kami kalau komunitas Hindu menghadapi peningkatan diskriminasi di tangan sebuah pemerintah dan komunitas Muslim Indonesia yang gemar mengislamkan kalangan lain. Dalam sebuah diskusi pada 24 Januari, mereka mengklaim kalau “Islamisasi Indonesia” telah berujung pada sebuah peraturan pemerintah tentang pembangunan tempat beribadah, yang telah diberlakukan dan mereka anggap punya syarat-syarat yang berat bagi kelompok-kelompok agama minoritas yang ingin membangun tempat ibadah yang baru. Bos-bos PHDI menuduh kalau umat Hindu di Jawa yang ingin mendapatkan layanan publik, termasuk akte lahir dan surat nikah, menghadapi diskriminasi yang menyeluruh. Bos-bos PHDI bilang kalau nestapa umat Hindu hanya mendapat sedikit perhatian mengingat komunitas Hindu tak punya dukungan internasional dan sumber-sumber keuangan seperti halnya umat Kristiani … .”

6. Georges Paclisanu

Nama Georges Paclisanu, bos besar Palang Merah Internasional, muncul dalam telegram bertajuk “Acehnese Villagers Exhuming Conflict Victims’ Graves”, dikawatkan oleh perwira politik kedutaan, Stanley J. Harsha, pada 18 Oktober 2006.

“Orang-orang desa di Aceh menggali kuburan mereka yang mati dibunuh dalam konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia, kata George Paclisanu (strictly protect), Kepala Delegasi Parang Merah Internasional (ICRC), ke kami belum lama ini,” kata telegram.

Isi telegram selebihnya menceritakan apa yang didengar dan dilihat sendiri oleh Georges saat menyaksikan pembongkaran kubur itu dalam sebuah kunjungan ke Aceh, plus penilaiannya atas dampak konflik di Aceh, sebuah isyarat adanya pelanggaran janji ‘kenetralan’ dalam kerja ICRC di Indonesia.

7. Wakil Indonesia dalam Komisi Kebenaran dan Persahabatan Timor Leste-Indonesia (CTF)

Dalam telegram bertajuk “East Timor/Indonesia Final Report Holds Goi Institutions Accountable”, dikawatkan oleh perwira politik kedutaan, Joseph Legend Novak, pada 24 April 2008, seseorang yang digambarkan sebagai “wakil Indonesia” di CTF menunjukkan ke seorang perwira politik kedutaan Excutive Summary laporan final CTF pada 22 April.

Kata telegram, laporan intinya menyebutkan kalau secara institusi, Pemerintah Indonesia, bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi berat di Timor Timur pada 1999. “Laporan menyebut personel militer, polisi dan pejabat sipil yang berkontribusi pada kekerasan via kerjasama mereka dengan milisi-milisi pro-integrasi.”

Telegram juga bilang: “Sumber orang Indonesia ini (strictly protect) telah meminta kalau semua referensi yang bisa merujuk pada dirinya dan fakta dari laporan yang kami lihat dirahasiakan mengingat laporan itu belum beredar secara resmi di pihak pemerintah Indonesia dan Timor Leste. Executive Summary dan naskah lengkap laporan final baru akan diserahkan ke presiden masing-masing negara dalam beberapa hari ke depan.”

8. Court Monitor

Court Monitor adalah nama sebuah lembaga berbasis Indonesia yang menyediakan jasa pengintaian dan pengamatan untuk Kedutaan Amerika. Ada sejumlah telegram yang menggambarkan tentang sepak terjang lembaga ini, meski tak ada satupun nama yang muncul tentang siapa sosok di baliknya.

Tapi sebuah telegram bertajuk “Terrorist Trials — New Funding Needed For Court Monitor”, dikawatkan oleh perwira politik kedutaan, Stan Harsha (kemungkinan ini nama pendek Stanley R. Harsha, red. Islam Times), pada 28 November 2007, dengan status RAHASIA, mungkin bisa memberi pengancar yang cukup. Dalam rangkuman telegram, Stanley menulis: “Dalam dua tahun terakhir, sebuah lembaga sewaan lokal, Court Monitor, telah menyediakan informasi berharga sekaitan persidangan hampir semua teroris paling berbahaya Indonesia. Di tengah kondisi kas yang menipis, Kedutaan meminta pendanaan baru dari Departemen (Luar Negeri, red. Islam Times) agar hubungan produktif ini bisa berlanjut. Dengan dukungan dana Tahun Anggaran 2005, Court Monitor telah mengamati dan secara rahasia melaporkan ke kami persidangan lebih dari 75 teroris, umumnya terkait jaringan teror Jamaah Islamiyah, dan menyediakan ke kami salinan dokumen pengadilan yang biasanya tak bisa diperoleh. Monitor juga telah membina hubungan dengan pihak pengacara yang tergabung dalam Tim Pembela Muslim (TPM), yang kemudian menjadi sumber informasi tambahan. Monitor adalah aset berharga dalam upaya counter-terorisme Kedutaan di Indonesia, dan sebab itu menjadi penting menjaga keberlanjutannya.”

Isi telegram memberi gambaran lebih dalam soal Court Monitor. Telegram menggambarkan tokoh utama dalam Court Monitor adalah “seorang perempuan” yang secara rutin menyediakan ke pihak Kedutaan informasi sekaitan dakwaan atas terdangka kasus-kasus terorisme, kualitas dakwaan, dan strategi tim pengacara yang terlibat. Perempuan ini – disebutkan juga digambarkan menyerahkan seabrek dokumen, termasuk dokumen dakwaan, replik, duplik, dan putusan pengadilan, sesuatu yang membuat Kedutaan punya “otoritas” dalam melaporkan jalannya persidangan.

Telegram juga bilang kalau hubungan sang perempuan pemilik Court Monitor dan Kedutaan “so sensitif” hingga tak dipublikasi dan identitasnya “strictly protected”. Informasi lain menggambarkan dia sebagai “perempuan Indonesia yang mampu berbahasa Inggris, punya latar belakangan hukum dan kehadirannya di banyak persidangan kasus terorisme menjadi leluasa dan tak mengundang perhatian sebab dia menggunakan jubah “penelitian hukum”, dan sebab itu pula kaitannya dengan Kedutaan tak terungkap. Telegram juga bilang kemampuan sang perempuan melakukan semua itu “sangat penting”, menghilangkan relevansi kedutaan mengirim orang ke persidangan yang justru bisa “memperkuat kredibilitas tim pengacara terdakwa terorisme”.

Telegram juga bilang kalau Kedutaan meminta pendanaan tambahan US$ 20.000 untuk “membina hubungan” dengan Court Monitor hingga dua tahun setelahnya. Kata telegram, angka itu adalah “investasi murah” untuk hasil yang “substansial”.

Dalam telegram lain, kedutaan menggambarkan perempuan pemilik Court Monitor bisa mengakses ‘pertahanan terdalam’ TPM, termasuk pembicaraan rahasia antara TPM dan para terdakwa yang mereka dampingi, tanpa identitasnya sebagai kontraktor untuk Kedutaan pernah terbongkar. Sang karyawan kontraktor juga disebutkan melaporkan banyak kerjasama dan kendala pihak kejaksaan dan Datasemen 88 dalam persiapan dakwaan atas para terdakwa kasus terorisme, kelemahan-kelemahan tim pengacara terdakwa.

(Catatan Islam Times: Islam Times sejauh ini tak menemukan ada referensi di media Jakarta soal Court Monitor sama sekali. Di sisi lain, sukar pula untuk membayangkan cerita yang hendak dibangun pihak kedutaan kalau seorang perempuan tangguh bisa mengikuti banyak persidangan kasus-kasus terorisme yang kerap berlangsung di hari yang sama di provinsi yang terpisah jauh. Ini kemudian membuka peluang hipotesa kalau Court Monitor bisa jadi adalah sebuah lembaga yang melibatkan banyak kepala dengan sang perempuan cakap berbahasa Inggris itu sebagai pimpinannya. Sekaitan dengan itu, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah reporter kami mendengar kalau Sydney Jones, peneliti Internasional Crisis Group, telah merekrut dan memperkerjakan wartawan dalam jumlah yang tak diketahui untuk mengumpulkan dokumen persidangan kasus-kasus terorisme, kurang lebih seperti gambaran kegiatan Court Monitor dalam kawat diplomat Amerika. Sydney cukup fasih berbahasa Indonesia meski, harus kami sebutkan, dia bukan warga negara Indonesia. Beberapa reporter kami juga mendengar kalau beberapa wartawan dan peneliti yang bekerja untuk dia cukup lihai untuk membangun kedekatan dan koneksi dengan kubu TPM. Dari pemeriksaan dokumen WikiLeaks, Islam Times tidak ada atribusi “strictly protect” dalam sejumlah telegram yang di dalamnya menyebut Sydney Jones. Namun, dalam beberapa telegram yang lain, ada atribusi “Please Protect” untuk Sydney Jones.)

Berikut adalah sejumlah orang dan lembaga yang dalam telegram kedutaan mendapat predikat “Please Protect”:

1. Sydney Jones

Dalam sebuah telegram bertajuk “With Death Of Key Terrorist Confirmed, Police Continue Full-court Press”, dikawatkan dari Jakarta pada 23 September 2009 oleh perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak, disebutkan: “Banyak ahli konterterorisme telah berspekulasi ihwal siapa yang bisa mengambil alih pucuk pimpinan organisasi pecahan JI … Penasihat Senior International Crisis Group (ICG) Sidney Jones (Amcit—please protect) berspekulasi bahwa seorang teroris bernama Reno (hanya satu nama) bisa jadi mengambilalih pucuk pimpinan organisasi pecahan, kendati dia dengan cepat bilang bahwa JI tak perlu struktur pimpinan formal untuk menggelar operasi … .”

(Catatan Islam Times: atribusi Please Protect juga melekat pada nama Sydney Jones dalam sedikitnya lima telegram lain bertema penungkapan kasus “terorisme”.)

2. Kontak di Indonesia Corruption Watch (ICW)

Sebuah telegram bertajuk “Scrutiny Of Bank Century Bailout Iccreases”, dikawatkan dari Jakarta pada 6 November 2009, langsung oleh Duta Besar Cameron Hume, menyebutkan: “Seorang informan Kedutaan yang terpercaya di Indonesia Corruption Watch (PLEASE PROTECT) bilang ke kami kalau dia mengetahui bahwa dana-dana Bank Century telah digunakan untuk membiayai kampanye pemilihan ulang Presiden Yudhoyono. Dia percaya kalau informasi itu kredibel … .” (Catatan Islam Times: penulisan huruf kapilita “Please Protect” hanya tercantum dalam telegram ini dari 3.059 telegram yang berasal dari Kedutaan Amerika di Jakarta di situs WikiLeaks sejauh ini).

3. Henry Durant Centre for Humanitarian Dialogue

Sebuah telegram bertajuk “Papua — Tentative New Efforts To Address Grievances”, dikawatkan dari Jakarta pada 6 Maret 2009, membahas penilaian diplomat Amerika atas The Papua Roadmap besutan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Di salah satu bagian telegram tertera keterangan: “para pejabat LIPI terus membangun dukungan untuk Roadmap dalam pemerintahan dan telah mencari masukan dari Henry Durant Centre for Humanitarian Dialogue yang berbasis di Jenewa (please protect).”

4. David Cohen

Dalam telegram bertajuk “Human Rights — Encouraging Indonesia To Implement Truth Commission Report”, dikawatkan dari Jakarta pada 20 Oktober 2008, perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak, menyebutkan kalau dalam sebuah pertemuan, seorang warga Amerika yang bekerja sebagai penasihat untuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia-Timor Leste (CTF) telah mengungkap sejumlah cara “mempercepat implementasi rekomendasi CTF untuk reformasi sektor keamanan di Indonesia via pendidikan hak asasi”. Sang penasihat itu juga menyarankan kalangan LSM melapangkan jalan dengan gencar mempublikasi laporan CTF, agar kesimpulan tentang pelanggaran hak asasi di Timor Timur dan perlunya reformasi bisa diketahui orang banyak. Telegram menggambarkan lebih jauh tentang sang penasihat: “David Cohen (AmCit – please protect), Direktur Barkeley War Crimes Studies Center di University of California, membriefing DepPol/C pada 10 Oktober sekaitan kemajuan implementasi laporan CTF, disebarkan untuk umum pada 15 Juli. (Catatan: Cohen saat ini adalah seorang konsultan bagi pemerintah Indonesia dan Sekretaris ASEAN, di luar pekerjaannya di Berkeley … .”

5. Komunitas Yahudi Surabaya

Dalam sebuah telegram bertajuk “Special Envoy Rickman Meets With Jewish Community In Surabaya”, dikawatkan dari Jakarta pada 7 Augustus 2008, Principal Officer Konsulat Amerika di Surabaya, Caryn R. McClelland, menuliskan ikhtisar berikut: “Utusan Khusus untuk Pengamatan & Perlawanan Anti Semitisme, Gregg Rickman, berkunjung ke Surabaya pada 30 Juli 2008, usai mampir di Jakarta. Rickman, ditemani Karen Paikin, dari Kantor Pengamatan dan Perlawanan Anti-Semitisme, dan Yakov Barouch, seorang Rabbi yang tinggal di Jakarta, berkunjung ke synagogue, satu dari hanya dua di Indonesia, dan sebuah pekuburan Yahudi, dan bertemu dengan anggota komunitas Yahudi, yang jumlahnya kurang dari 20 orang.”

Telegram lalu menjelaskan lagi: “Sinagog di Surabaya, awalnya sebuah rumah dan kantor dari seorang dokter warga negara Belanda, telah berfungsi sebagai sinagog sejak 1939. Tak ada pengamanan kcuali sebuah pagar besi rendah yang membalut bangunan. Anggota Keluarga Sayur bertindak sebagai pengurus sinagog dan tinggal di sebuah rumah yang bertetanggaan … Joseph Sayer dan istrinya Rivka tinggal di sana dengan seorang anak perempuan, Hanna, dan seorang cucu (please protect). Dua cucu lainnya saat ini sedang belajar di luar negeri: satu di Inggris dan satu di Amerika. Keluarga Sayer memegang paspor Belanda, tapi menetap di Indonesia seumur hidup mereka.

“…Rickman juga menemui Helen Nasim (please protect) di kediamannya. Dia punya seorang putra dan seorang cucu. Dia mengungkapkan pesimisme seputar peluang keluarganya tetap di Indonesia, dan bilang kalau dia selalu berusaha merahasiakan identitas keyahudiannya … .”

7. Doug Ramage

Dalam sebuah telegram bertajuk “Major Political Party Under Pressure”, dikawatkan dari Jakarta pada 16 Juli 2008, diplomat Amerika di Jakarta menuliskan: “ … Doug Ramage (AmCit–please protect), pimpinan Asia Foundation Office di Jakarta, bilang ke kami belum lama ini kalau “Golkar tak memproyeksikan sebuah citra bahwa ia siap menyelesaikan persoalan-persoalan yang ditanggung rata-rata orang.” … .”

8.Arief Budiman

Diplomat Amerika menggambarkan Arief sebagai “asisten” Ketua DPR Agung Laksono. Beberapa telegram menunjukkan kalau dari Arief lah kalangan diplomat Amerika bisa mengetahui langkah-langkah Agung dalam membina hubungan dengan kalangan parlemen di Iran. Dari sumber yang sama pula, diplomat Amerika bisa mendengar lebih awal tentang langkah-langkah politik pilihan pemerintah sekaitan program pembangkit nuklir Iran yang ditentang habis-habisan oleh Amerika, tentang hal-hal yang dikerjakan Presiden Yudhoyono kala berkunjung ke Tehran dan apa saja isi pembicaraan antara Agung dan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, saat yang terakhir berkunjung ke Jakarta. Di telegram lainnya, diplomat Amerika menggambarkan Agung sebagai sudah lama bersimpati pada Iran.

9. Michael Vatikiotis

Dalam sebuah telegram tertanggal 31 Oktober 2007, diplomat Amerika di Jakarta menggambarkan pertemuan mereka dengan Michael Vatikiotis, Direktur Regional Henry Dumont Centre for Humanitarian Dialogue, sehari sebelumnya. Subjek diskusi adalah politik Myanmar. Kata telegram: “Vatikiotis, (please protect), yang berbasis di Singapura, rutin dan very lucid interlocutor dalam sejumlah isu resolusi konflik, termasuk di Timur Tengah.” Telegram lebih jauh menyebutkan gagasan Vatikiotis seputar diplomasi di Myanmar dan bilang kalau pandangannya saat pertemuan “tidak sepenuhnya menggambarkan pandangan pemerintah Indonesia.”

10. Edwin Gerungan

Sebuah telegram sekaitan langkah Bank Mandiri membekukan rekening perusahaan Korea Utara menyebut nama Edwin Gerungan. Dalam telegram bertajuk “Bank Mandiri Closes Dprk Accounts”, dikawatkan pada 14 Agustus, disebutkan: “Pimpinan Board of Commissioners di Bank Mandiri Indonesia, Edwin Gerungan (please protect), bilang ke kedutaan pada 9Augustus kalau Mandiri telah menghentikan hubungan dengan dua bank Korea Utara pada Juli: Korea Daesong Bank dab Foreign Trade Bank … .”

12. Dr. Djaloeis

Dalam rangkuman telegram bertajuk “Political Intrigue Imperils Bapeten’s Chairman Job”, dikawatkan pada 28 Mei 2004, tercantum keterangan: Pimpinan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Dr. Djaloeis (please protect) mengungkapkan ke kami pada 25 Juli bahwa sebuah intrik politik yang melibatkan salah seorang deputinya dan Menteri Riset dan Teknologi Hatta Rajasa, dan sebuah kelompok radikal yang sebelumnya tak diketahui dan bernama Tharbyah kemungkinan mengancam posisinya.” Djaloies, kata telegram, juga mengungkapkan kalau sebuah surat yang memuat pencapaiannya dan rencana-rencananya untuk Bapeten di masa datang berhasil meyakinkan Presiden Megawati untuk memperpanjang masa jabatannya lebih dari usia pensiun pegawai negeri umumnya, yakni 60 tahun.

* * *

Di Jakarta hari-hari ini, orang-orang yang berstatus “strictly protect” dan “please protect” di dalam dokumen WikiLeaks mungkin masih bisa sedikit tenang. Pemerintahan Presiden Susilo sejauh ini memilih ‘menganggap sepi’ semua bocoran WikiLeaks, mungkin sebab banyak di antaranya bercerita tentang rumor miring keluarga presiden, mungkin pula sebab membicarakan dokumen sama saja ‘mengamputasi’ diri sendiri, di tengah fakta banyaknya telegram yang memuat cerita kontak rutin hampir semua kalangan, dari politisi, pejabat, polisi, tentara, birokrat, pegiat media dan LSM, dengan kalangan diplomat Amerika (bagian ini bakal menjadi subjek pembahasan Islam Times berikutnya).

Sementara itu, media-media nasional, besar maupun kecil, nampaknya memilih menggunakan ‘kaca mata kuda’; seperti sengaja hanya memfokuskan pemberitaan pada informasi ‘percintaan gelap’ FPI-Polisi-Intelijen plus soal kasus pembunan Munir dalam dokumen WikiLeaks dan melupakan puluhan ribu dokumen lainnya yang notabene menawarkan kontroversi dan keaktualan yang tinggi — dan semua ini otomatis menjadikan publik buta dari kebenaran.

Di sisi lain, pihak Kedutaan Amerika di Jakarta – sejauh ini memilih tak mengomentari apapun sekaitan dokumen di WikiLeaks– mungkin pula telah menghubungi para penyandang status “strictly protect” untuk meminta ‘permakluman’, meredam ‘kekagetan’ dengan harapnya bisa tetap mendapatkan ‘loyalitas’ dari pihak yang telah mereka sedot informasinya.

Tapi dokumen WikiLeaks adalah gulungan kawat rahasia yang kini bebas diakses siapa saja. Cepat atau lambat, mata orang banyak bakal terbuka. Kini, di hadapan penguasa Jakarta, ada peluang emas, kesempatan besar untuk menunjukkan moral tinggi bangsa. Mereka hanya perlu merangkul kembali anak-anak mereka yang telah terpedaya oleh ‘kedigdayaan’ dan mulut manis para diplomat Amerika di Jakarta. Siapa tahu dari situ kita semua bisa melihat sisi-sisi lain laku diplomat Amerika yang tak terekam dalam gulungan kawat WikiLeaks. [Islam Times/K-014/Redaksi Islam Times]

Telegram dari Setan Besar (Tamat); Sangkur Besar


Ini tulisan ketiga sekaligus yang terakhir dari Islam Times sekaitan kawat diplomat Amerika Serikat yang jatuh ke tangan pengelola website WikiLeaks. Bahannya merujuk pada 3.000 lebih telegram yang bersumber dari Kedutaan Amerika di Jakarta – muncul tanpa sensor pertama kali di WikiLeaks pada awal September dan hingga kini, secara misterius, tak tersentuh oleh hampir semua media di Jakarta. Inilah kisah yang tak ingin didengar kalangan diplomat Amerika dan semua informan mereka. Sebuah cerita tentang tusukan infiltrasi yang sistematis dan perihnya nasib republik yang takluk di kaki Kedutaan Amerika.

Islam Times- PADA 5 September 2011, koran berbahasa Inggris, The Jakarta Globe, menurunkan komentar seorang juru bicara presiden atas bocoran telegram diplomat Amerika di situs WikiLeaks. Pemerintah “tak akan memberi tanggapan apapun”, kata Julian Aldrin Pasha, menyampaikan sikap resmi pemerintah. Katanya: informasi yang tertera di WikiLeaks “jauh dari kredibel” sebab berasal dari “sumber-sumber sekunder”.

Tapi dari pemeriksaan sepekan lebih atas gulungan kawat kontroversial di WikiLeaks, Islam Timesmendapati kalau Julian cenderung menutup fakta dan hanya mengungkap apa yang dia ingin publik dengarkan. Dari penelisikan, khususnya atas 3.059 kawat diplomatik yang bersumber dari Kedutaan Amerika di Jakarta, kami justru menemukan kalau porsi terbesar telegram diplomat Amerika datang dari ‘tangan pertama’ – dan sebab itu layak beli dan mendapat perhatian pemerintah, atau begitulah hemat kami. Kami telah mengungkap sebagian kecil isi telegram yang seperti itu dalam dua tulisan sebelumnya. Tapi sejatinya, masih banyak yang tak tersentuh dan hingga detik ini tetap jadi misteri bagi publik, utamanya di tengah kekompakan banyak media untuk menutup mata pada informasi sensitif, kontroversial dan menyangkut hajat hidup dan maruah bangsa di dalamnya. Ini misalnya termasuk sejumlah telegram yang merekam konsesi besar yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Kedutaan Amerika dan pilihan presiden untuk bermanis-manis dengan Israel – anak bejat Amerika di Timur Tengah yang hingga kini tak diakui keberadaannya oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Ambil contoh telegram bertajuk “President’s Chief Of Staff Ready To Make Potus Visit To Indonesia A Success”, dikawatkan oleh Duta Besar Amerika saat itu, Cameron R. Hume, pada 10 September 2009, menjelang rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama (yang kemudian batal dan baru terlaksana pada November 2010). Dalam subjudul “Embassy Land”, Hume menulis: “Rajasa mengkonfirmasi kalau Presiden Yudhoyono tak mengharuskan adanya persetujuan parlemen sebelum memberikan restu pada Kedutaan Amerika Serikat untuk membeli MMS3, petak lahan yang diperlukan untuk membangunan sebuah chancery (nampaknya ini istilah untuk gedung arsip, red. Islam Times). Dia menambahkan kalau Menteri Keuangan telah menyetujui pembelian itu, dan bahwa tak ada lagi hambatan bagi terbitnya surat presiden yang memungkinkan transaksi terlaksana.”

Rajasa dalam telegram merujuk pada sosok Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Dari pemeriksaan arsip media Jakarta di Internet, kami gagal mendapati jejak kabar adanya transaksi penjualan tanah negara ke pihak Kedutaan Amerika dalam rentang lima tahun terakhir.

Pemeriksaan lanjutan atas empat telegram bermarka SECRET lainnya, menunjukkan kalau Kedutaan Amerika telah meniatkan perluasan bangunan kedutaan sejak akhir 2007. Yang mereka incar adalah dua petak lahan yang, dalam sejumlah telegram, mereka beri kode MMS3 dan MMS4. Satu lahan digambarkan sebagai lahan siap beli dan satunya lagi mereka niatkan kepemilikannya via transaksi tukar guling lahan. Tak ada informasi pasti soal lokasi persis kedua lahan. Tapi sejumlah detil dalam telegram memberi gambaran kalau dua petak tanah itu adalah milik negara dan dalam penguasaan Kementrian Keuangan, kala itu.

Telegram bilang lokasi kedua tanah itu “berdekatan” dengan Kantor Wakil Presiden. Informasi lain dalam telegram bilang kalau di kedua tanah itu, Kedutaan Amerika akan mendirikan gedung baru kedutaan yang “lebih tinggi” dari kantor Wakil Presiden, dengan total dana proyek US$ 300 juta (setara Rp 3 triliun dengan kurs 1US$=Rp 10.000). Kalangan diplomat Amerika juga terekam bilang kalau soal “ketinggian bangunan” dan “keamanan” rancang gedung baru Kedutaan Amerika “sudah selesai”. Mereka telah meminta restu pada Jusuf Kalla (wakil presiden saat itu) dan juga pemerintah kota Jakarta. Mereka juga telah meminta Kalla untuk membantu pengurusan pembelian tanah ke Kementrian Keuangan.

Sementara itu, dalam sebuah telegram lainnya, Duta Besar Amerika, Cameron Hume, terekam menekan Sri Mulyani (Menteri Keuangan saat itu) untuk merespon pertanyaan kedutaan terkait harga MMS3 dan nilai tukar guling MMS4. Hume bilang kalau Sri Mulyani menerima “sudut pandang kedutaan” kalau Undang-Undang Perbendaharaan Negara No. 1 Tahun 2004 “nampaknya memberi pengecualian pada tanah yang digunakan untuk kantor-kantor kedutaan asing”. (Catatan Islam Times: Pasal 45 dan 46 Undang-Undang Perbendaraan Negara memestikan adanya persetujuan DPR/DPRD dalam setiap transaksi “pemindahtanganan barang milik negara/daerah dilakukan dengan cara dijual, dipertukarkan,dihibahkan, atau disertakan sebagai modal Pemerintah”. Kekecualian, seperti disebutkan dalam pasal 46, hanya berlaku pada tanah yang (1) sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota; (2) harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah disediakan dalam dokumen pelaksanaan anggaran; (3) diperuntukkan bagi pegawai negeri; (4) diperuntukkan bagi kepentingan umum; (5) dikuasai negara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan, yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak secara ekonomis.)

Telegram juga bilang kalau Sri “percaya tak ada hambatan legal untuk tukar guling properti” dengan pihak Kedutaan Amerika.

Di arsip WikiLeaks sejauh ini, tak ada telegram yang memuat informasi seputar detil transaksi, khususnya waktu pelaksanan, nilai transaksi, dan siapa-siapa saja yang terlibat. Tapi bila fakta di lapangan jadi rujukan, transaksi yang digambarkan dalam telegram nampaknya telah terlaksana.

Dalam satu dua tahun terakhir, Islam Times mendapati tanah kosong (bekas markas Polisi Militer) yang bersisian dengan sisi selatan tembok Kedutaan Amerika, telah dipagari dan dipasangi plang bertuliskan bertuliskan: “Tanah Ini Milik Perusahaan Swasta … .” Meski diklaim sebagai “milik swasta”, sejumlah reporter kami melaporkan kalau petugas keamanan Kedutaan Amerika kerap keluar masuk lahan “milik swasta” itu. Petak tanah itu bersebelahan dengan sebuah petak tanah lain yang tak berpenghuni, bersisian dengan kantor milik PT Telkom. Jika Kedutaan Amerika Serikat benar telah menjadi pemilih sah kedua lahan itu, ini nampaknya sebuah ironi yang lain. Di Stasiun Gondangdia, hanya selemparan batu dari lokasi bakal bangunan baru Kedutaan Amerika, ada ratusan tunawisma yang setiap malam tidur di emper stasiun hanya beralaskan selembar koran.

Tapi soal transaksi penjualan tanah negara itu mungkin belum serapa dibanding kontroversi yang bisa muncul dari telegram yang merekam langkah rahasia Presiden Susilo membangun komunikasi dengan Israel. Dalam telegram berjudul “Indonesia Seeking Higher Profile In Middle East?”, dikawatkan pada 31 Januari 2007 oleh perwira politik kedutaan, Catherine E. Sweet, menulis: “SBY telah mengirim para penasihatnya untuk bertemu dengan pihak-pihak di Lebanon, Palestina dan, secara rahasia, Israel.” Catherine bilang semua itu dilatari keinginan presiden “memainkan peran di Timur Tengah”. Detail dari kisah ini berlimpah dalam tiga paragraf berikut (markas S di awal paragraf merujuk pada kode SECRET, rahasia):

“(S) Di belakang layar SBY sudah dua kali mengirim penasihat khususnya, T.B. Silalahi, ke Israel. Menurut Ilan Ben-Dov, Duta Besar Israel di Singapura, Silalahi bertemu dengan Perdana Menteri Olmert sebelum pengerahan pasukan UNIFIL (Tentara Indonesia masuk dalam formasi pasukan penjaga perdamaian UNIFIL di Lebanon, red. Islam Times). Meski Israel tak berharap bakal ada hubungan diplomati penuh atau kunjungan balasan dari seorang menteri kabinet, Ben-Dov bilang, mereka tertarik untuk membuka sebuah jalur dengan Indonesia dan sementara mencari jalan kemungkinan penyaluran bantuan.

(S) Mengingat sensitivitas politik, SBY menjadikan perjalanan Silalahi sangat tertutup, bahkan bagi kalangan orang-orang pemerintahan. Ben-Dov melaporkan kalau saat dia mengungkap perjalanan Silalahi ke Israel pada juru bicara SBY, Dino Patti Djalal, yang terakhir mengisyaratkan kalau dia tak ingin terlibat, memilih Silalahi yang mengontrol penuh urusan. Sebagai seorang Kristen tanpa ambisi politik, kata Djalal, Silalahi “aman”. Saat pemerintah Israel mendekati Utusan Khusus SBY untuk Timur Tengah, Alwi Shihab, Ben-Dov bilang kalau Silalahi marah, bilang kalau SBY tak ingin Shihab terlibat … .”

“(S) Pada 26 Januari, Silalahi membriefing kami sekaitan perjalanan keduanya ke Timur Tengah atas nama SBY, kali ini ke Israel dan Lebanon pada akhir November. Sekalipun dia tak secara khusus bercerita banyak seputar kunjungannya ke Israel, dia menyebut pertemuannya dengan Presiden Olmert “produktif”.”

Di paragraf terakhir, telegram mencantumkan “pandangan Silalahi kalau Indonesia tak ingin memainkan peran lebih aktif di Timur Tengah”. Usai berkunjung dan memberikan rekomendasi sekaitan Timur Tengah, kata Silalahi dalam telegram, Presiden SBY bilang Indonesia “masih perlu fokus pada urusan dalam negeri”. Kata Silalahi, pernyataan itu adalah “gaya Jawa SBY untuk bilang kalau dia tak ingin meneruskan urusan ini lebih jauh lagi”.

* * *

Di luar telegram yang bercerita soal rahasia gelap Presiden Susilo, Islam Times juga menelisik hampir 200 telegram bermarka “SECRET”, “SECRET/NOFORN” dan “CLASSIFIED” yang tak terjamah dalam dua tulisan kami sebelumnya. Pemeriksaan membawa kami pada sebuah gambaran besar tentang laku dan kegiatan ‘ekstra kulikuler’ kalangan diplomat Amerika di Jakarta dalam rentang 10 tahun terakhir; sebuah potret otentik yang bisa menuntun orang banyak membaca sendiri siapa kawan dan siapa lawan Kedutaan Amerika di Jakarta, mana kecap yang kerap mereka jual ke publik nasional, mana racun yang mereka simpan di kolong meja dan mana sangkur yang mereka siapkan untuk orang-orang yang mereka anggap musuh:

Kedutaan Amerika Mewakili Kepentingan Israel di Indonesia

Banyak orang menganggap demonstrasi anti-Israel yang kerap terjadi di depan Kedutaan Amerika di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, lebih dilatari karena tiadanya kedutaan Israel di Jakarta dan juga karena kalangan demonstran meyakini pembelaan Amerika pada Israel lah yang menyebabkan penjajahan Palestina tetap langgeng hingga hari ini.

Tapi sejumlah telegram di WikiLeaks menunjukkan kalau Kedutaan Amerika di Jakarta secara diam-diam aktif memposisikan diri sebagai wakil Israel di Indonesia – dan ini atas sepengetahuan orang-orang di lingkaran dalam Istana Negara:

1. Dalam telegram bertajuk “More Activity In Indonesia On Middle East Issues”, dikawatkan pada 15 Februari 2007, seorang diplomat Amerika menulis: “Seorang informan di kantor Presiden Yudhoyono bilang ke kami kalau sebuah delegasi yang tiga kementrian di Israel, Direktur Kementrian Luar Negeri Aharon Ambramovitch, Direktur Biro Kementrian Luar Negeri Israel di Asia Tenggara, Giora Becher, dan Duta Besar Israel di Singapura, Ilan Ben-Dov, bakal berkunjung ke Jakarta pada 21-22 Februari. Pejabat Israel itu berencana bertemu dengan tiga orang: Juru bicara Presiden, Dino Patti Djalal, Menteri Kelautan Freddy Numberi dan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Syaifullah Yusuf. (Catatan. Dalam sebuah pertemuan pada November 2006, Duta Besar Ben Dov meminta pandangan soal bidang-bidang dimana Israel bisa memfokuskan bantuan. Duta besar Pascoe menyarankan Israel mungkin bisa mulai dengan sejumlah program di kawasan pulau-pulau terpencil dimana populasinya mayoritas Kristen. Dia menyarakan Israel membagi keahliannya dalam pengelolaan kawasan kering, yang bisa berguna bagi pulau-pulau seperti Flores. Pertemuan dengan Menteri Perikanan dan Pembangunan Daerah Tertinggal menjadi masuk akal dalam soal ini. Akhir catatan.) Penasihat khusus SBY, T.B. Silalahi, mengatur seluruh urusan kedatangan, yang sangat tertutup rapat (menurut seorang asisten Silalahi, hanya SBY, Silalahi, Dirjen Kementrian Luar Negeri, Cotan – yang mengeluarkan visa untuk pejabat Israel itu – yang tahu soal perjalanan ini). Saat kami tanya apakah SBY mendukung konsep kunjungan itu, asisten Silalahi bilang kalau SBY hanya “tahu soal itu”. Perempuan asisten itu memperkuat dan bilang kalau SBY akan menjaga jarak dengan detail kunjungan itu agar ada selimut politik sekiranya kunjungan itu bocor ke media.”

2. Telegram berjudul “World Ocean Conference — Raising Israeli Participation”, dikawatkan pada 1 April 2009, menyebutkan: “Kedutaan telah mengetahui kalau Indonesia tak berniat mengundang perwakilan Israel dalam World Ocean Conference (WOC) yang bakal mereka selenggarakan, 11-15 Mei. Kami telah menyatakan kalau kegagalan mengundang perwakilan Israel bisa menggerus klaim WOC sebagai konferensi dunia. Dengan pertimbangan itu, orang-orang Indonesia yang bertindak sebagai penghubung kami, menyarankan kalau kehadiran pihak LSM Israel mungkin bisa. Poloff (political officer, red. Islam Times) juga membahas soal ini dengan Yahya Asagaf, seorang penasihat urusan Timur Tengah untuk Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar. (Catatan: BIN tetap menjadi kanal utama bagi Pemerintah Indonesia untuk kontak dengan pejabat Israel.) … .”

3. Telegram bertajuk “Discouraging Tni From Taking Manpads To Unifil Mission”, dikawatkan dari Jakarta pada 3 Oktober 2006 merekam pernyataan Charge d’Affaires Kedutaan Amerika, John A. Heffern, dengan kalangan birokrat di Jakarta sekaitan masuknya senjata MANPADS (man-portable air-defense systems) dalam daftar persenjataan yang bakal dibawa oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia yang ikut dalam misi pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon.

Heffern bilang kalau dia mengangkat soal ini saat bertemu Penasihat Luar Negeri Presiden Indonesia , Dino Patti Djalal (saat ini Duta Besar Indonesia di Washington) pada 2 Oktober. Heffern bilang kalau pasukan Indonesia bisa menciptakan “persoalan besar” jika memutuskan membawa senjata MANPADS ke Lebanon dan meminta pemerintah Indonesia “mempertimbangkan” kembali niat itu. Heffern juga menyarankan agar perwakilan Amerika Serikat di markas PBB di New York untuk membujuk Departemen Operasi Penjaga Perdamaian PBB (DPKO) agar bersedia berbicara ke Djalal dan penasihat presiden, TB Silalahi, saat keduanya berkunjung ke New York. Heffern, kata telegram, berharap DPKO mau membujuk Djalal dan Silalahi agar bersedia menafsirkan kalau ROE (rules of engagement, aturan penugasan) pasukan PBB di Lebanon tak memestikan perlunya persenjataan anti pertahanan udara dan meminta mereka menghapus MANPADS dari daftar persenjataan pasukan Indonesia.

Telegram juga bilang kalau atase militer Kedutaan Amerika juga telah membicarakan soal ini ke Asisten Operasi Mabes TNI, Brigadir Jenderal Bambang Darmono dan Wakil Asisten Intelijen, Brigadir Jenderal Eddi Budianto, pada 2 Oktober. Dari pertemuan, atase militer kemudian dapat gambaran soal jumlah pasukan yang bakal diterjunkan, jenis peralatan dan mulai penugasan. Kata telegram, Darmono bilang Indonesia bakal membawa 12 unit misil pertahanan udara QW-1. Kata Darmono lagi, dia percaya PBB telah memberi lampu hijau atas daftar persenjataan tentara Indonesia, termasuk MANPADS, dan bilang kalau “bakal jadi persoalan” jika TNI diminta tak membawa misil itu.

(Catatan Islam Times: tak ada informasi lanjutan dalam telegram lainnya sekaitan jadi tidaknya TNI membawa MANPADS ke Lebanon Selatan. Sebagai pelontar misil yang gahar, MANPADS bisa ‘mengerem’ keberingasan pasukan Israel di perbatasan Lebanon – dan sebab itu lah Kedutaan Amerika di sini sejak awal ingin memastikan senjata itu tak masuk dalam daftar persenjataan TNI di Lebanon.)

Terorisme: Pintu Masuk Infiltrasi Kedutaan dan Militer Amerika di Kepolisian, Kejaksaan & Kementrian Luar Negeri Indonesia

Ada belasan telegram yang merekam proyek kontra terorisme Kedutaan Amerika di Jakarta. Detil yang tertara di dalamnya memunculkan persepsi kalau Kedutaan Amerika di Jakarta adalah pihak yang paling diuntungkan dari setiap teror bom yang terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Teror bom, seperti terekam dalam telegram, melapangkan jalan bagi Kedutaan untuk membangun jalan tol kemesraan dengan pihak polisi, kejaksaan, kementrian luar negeri, kementrian kehakiman dan hak asasi, KPK, BPK, Kementrian Keuangan, PPATIK dan masih banyak lagi. Dalam soal dukungan mereka pada Datasemen Khusus 88, telegram bahkan seolah bercerita kalau via kerjasama kontraterorisme, Kedutaan Amerika – dan bahkan Komando Militer Amerika Serikat di Pasifik – bisa punya pasukan sendiri dalam tubuh kepolisian Indonesia; pasukan yang mereka bentuk, mereka latih, mereka biayai dan mereka perhatian setiap langkah dan kebutuhannya. Telegram juga merekam kalau terorisme membuka jalan bagi Kedutaan Amerika untuk membangun semacam pangkalan di pusat pendidikan dan pelatihan polisi di Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Dan dalam soal ini, Australia, New Zealand, Canada dan Singapura ikut menancapkan kukunya:

1. Telegram berjudul “Prosecutors Unfazed By Amrozi’s Testimony For Ba’asyir”, dikawatkan pada 20 April 2006, antara lain mengungkap ‘pembicaraan akrab’ antara seorang Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Jakarta Pusat, Salman Maryadi – juga disebutkan sebagai bekas jaksa penuntut utama dalam kasus Ba’asyir – dengan kalangan diplomat Amerika di Jakarta. Kata telegram: “Maryadi bilang ke kami (diplomat Amerika, red. Islam Times) kalau urusan Peninjauan Kembali (oleh kubu pengacara Baasyir) tak boleh jatuh ke tangan pejabat di Kantor Kejaksaan Tinggi hanya karena jabatannya, tapi harus tetap di tangan jaksa yang dia percaya dan berpengalaman dalam kasus Baasyir. Dia juga bilang kalau dia telah memilih sendiri jaksa-jaksa dari Jakarta untuk pergi ke Cilacap dan mengamati sesi dengan Amrozi. Kejaksaan mengirim Kuntadi (peserta International Visitors Program 2005), Narendra Jatna (peserta Paris Program 2005), Nanang Sigit (parserta Program IV 2006). (Catatan: Maryadi belum pernah ke Amerika meski telah mengungkapkan keinginannya untuk bisa dalam beberapa kali pertemuan. Akhir catatan.)”

(Catatan Islam Times: Telegram lain menggambarkan Gugus Kerja Terorisme dan Kejahatan Transnasional di Kejaksaan Agung sebagai ‘kelompok elit dukungan Amerika’ yang berhasil memenangkan perkara atas 13 tersangka Jamaah Islamiyah pada 2007. Kami juga menemukan sebuah telegram yang merekam pengiriman sekitar 100 orang birokrat, dari kejaksaan, kepolisian, kehakiman, PPATK, BPK, KPK, Kementrian Keuangan, dalam proyek “peningkatan kapasitas” sekaitan “ perang melawan kejahatan keuangan, termasuk kontra keuangan terorisme” di Seattle, New York, Washington, Bangkok dan Singapura. Telegram bilang pendanaan proyek ini bersumber dari USAID, FBI, Kejaksaan Amerika, dan Kementraian Keuangan Amerika dan terlaksana via “kanal bilateral”.)

2. Sebuah telegram bertajuk “Ct Rewards Program Update”, dikawatkan dari Jakarta pada 27 Juni 2007, merekam penyerahan hadiah uang tunai untuk empat orang informan polisi Indonesia yang membantu mengungkap sebuah kasus terorisme. Telegram bilang uang hadiah itu bersumber dari program hadiah Departemen Pertahanan Amerika dalam anggaran U.S. Pacific Command, komando militer Amerika Serikat di Pasifik, yang kemudian diserahkan oleh Kedutaan Amerika ke polisi Indonesia: “Pada 20 Juni, investigator senior polisi di Yogyakarta menyerahkan hadiah uang tunai dalam rupiah pada keempat kandidat. Mereka adalah yang pertama yang menerima hadiah kontraterorisme dalam upaya di balik layar untuk membantu polisi Indonesia mengembangkan program hadiah dengan fokus pada kontraterorisme. Keempat kandidat telah membantu polisi menemukan jejak Azahari, Jabir dan Abdul Hadi.”

Telegram juga bilang kalau penyerahan uang hadiah berlangsung pada 20 Juni di Yogyakarta, di sebuah tempat yang dipilih oleh Polisi Indonesia dan disetujui oleh Rewards Working Group, gugus kerja pembagian hadiah di Kedutaan Amerika. Kata telegram, dua orang pejabat kedutaan dan dua perwakilan PACOM (Komando Militer Amerika di Pasifik) di Kedutaan datang ke Yogyakarta dan menyaksikan penyerahan hadiah dari sebuah ruang yang bersebelahan dengan tempat acara, via kamera CCTV. Inspektur Gories Mere, kata telegram, memberikan pengantar singkat saat acara dan menyampaikan ucapan terima kasih dari bos besar Polisi Indonesia, Sutanto. Pejabat lainnya yang hadir adalah Brigadir Jenderal Surya Dharma (Komandang Gugus Kerja Kontraterorisme), Petrus Golose dan Rycko Amelza.”

Lepas penyerahan, telegram bilang kalau RWG bertemu lagi (dengan pihak polisi Indonesia) pada 25 Juni. Bersama-sama, katanya, mereka mengevaluasi penyerahan hadiah pekan sebelumnya. “Baik Kedutaan dan Polisi Indonesia tetap setuju kalau bantuan Amerika dan program hadiah harus tetap dirahasiakan dan tak diketahui publik. Baik upaya penyerahannya dan informannya tak bakal diungkap ke publik,” kata telegram.

Di bagian akhir, telegram menyebut kalau ada anggaran US$ 800.000 (sekitar Rp 8 miliar) dari U.S. Special Operations Command ( Komando Operasi Khusus Militer Amerika, USSOCOM) untuk pengembangan, produksi dan diseminasi produk TV, radio, cetak, dan material promo yang mendukung Program Anti Kekerasan di Indonesia. Sebagian dana itu, kata telegram, juga bakal digunakan untuk penyiapan perangkat nomer telpon pengaduan setiap aktivitas kriminal/terorisme di Indonesia.

(Catatan Islam Times: telegram ini nampaknya bisa menjelaskan kemunculan mural dan pamflet yang mengutuk terorisme di sudut-sudut Jakarta sejak beberapa tahun silam – sebagiannya hingga kini masih bisa disaksikan. Ia juga nampaknya bisa menjelaskan sumber pendanaan acara di sejumlah tv nasional yang formatnya mirip acara perburuan buronan di tv Amerika.)

3. Pada 7 September 2007, dalam sebuah telegram bertajuk “Request For Dod Rewards Program Assistance For Indonesian Police”, kedutaan melaporkan kalau mereka telah mengkaji peristiwa penangkapan Abu Dujana dan percaya kalau kerja polisi patut mendapat hadiah. Dalam kaitan itu, mereka meminta agar unit polisi di Jawa Tengah “dipertimbangkan untuk mendapat hadiah” dari anggaran USPACOM.

4. Pada 12 Juni 2008, dalam sebuah telegram bertajuk “Dod Rewards — Indonesian Police Pay 13 Informants For Abu Dujana Arrest”, kedutaan melaporkan kalau polisi – dengan dana dari USPACOM — telah menyerahkan masing-masing US$ 3.000 ke 13 orang yang membantu polisi menangkap Abu Dujana setahun sebelumnya. Telegram bilang ini adalah pemberian hadiah yang kedua untuk informan polisi. “Kemampuan polisi untuk memberi hadiah pada warga yang membantu mereka menangkap teroris adalah penting pada upaya kontraterorisme polisi. Jumlah yang diberikan ke setiap informan (US$ 3.000) adalah realistis, jika tak berlebih, mengingat standar hidup indonesia dan memberi kredibilitas pada presentasi program yang disebutkan diatur dan didanai oleh polisi. Polisi mengapresiasi bantuan Amerika, dengan dasar polisi Indonesia sejauh ini telah menyerahkan hadiah uang tunai yang totalnya mencapai US$ 187.000 untuk 17 informan.”

(Catatan Islam Times: Sebuah telegram bertajuk “Indonesia’s Top Three Wanted Terrorists And A Promising New Lead”, dikawatkan pada 18 Desember 2006, mengungkap kalau polisi Indonesia sudah lama mengetahui keberadaan Abu Dujana, memantau pergerakannya setiap saat dan baru memutuskan melakukan penangkapan pada 9 Juni 2007: “Laporan seorang Polisi Federal Australia (AFP) yang dibagi ke kami belum lama ini mengkonfirmasi kalau polisi Indonesia telah mengetahui keberadaan Dujanah dan saat ini telah menempatkan dia dalam penyelidikan di Jawa Tengah. Tim pengintaian polisi telah mengamati pertemuan Dujanah dengan anaknya, Yusuf. Laporan AFP selanjutnya mengkonfirmasi niat polisi menggelar pemantauan guna mencari tahu adakah dari situ bisa terbaca kaitan dia dengan Noordin Top.”

(Catatan Islam Times: Telegram bilang Ainul Bahri alias Abu Dujana adalah veteran Perang Afghanistan, fasih berbahasa Arab dan pernah menajdi sekretaris pribadi Abu Bakar Baasyir.)

5. Sebuah telegram bertajuk “Jakarta – Ds/ata And Special Detachment 88”, dikawatkan pada 15 November 2007, memberi gambaran hubungan mesra antara Kedutaan Amerika Serikat, Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat dan polisi Indonesia via Diplomatic Security Anti-terrorism Assitance Program (DS/ATA). Telegram antara lain bilang kalau ada Memorandum of Intent (nota kesepahaman) antara Kedutaan Amerika dan Polisi Indonesia dalam soal kontraterorisme. Memorandum ini antara lain membuka jalan DS/ATA untuk mendukung program kontraterorisme Datasemen Khusus 88. Kata diplomat Amerika, mereka sempat terpikir menggunakan personel militer Amerika untuk melatih polisi Indonesia, tapi kecemasan kalau TNI mengetahui soal ini dan lalu marah, membuat pilihan mereka jatuhkan pada “sipil dengan pengalaman SWAT”. Telegram juga bilang kalau sebuah tim penasihat teknis DS/ATA bakal merancang evaluasi kemampuan Datasemen 88 dan pengembangannya, dan menerapkan sebuah program training yang “bisa membawa Datasemen 88 ke level berikutnya”.

Telegram bilang, Datasemen masih perlu latihan beragam jenis operasi taktis – kota ataupun desa. Personel Datasemen 88 juga perlu mengembangkan kemampuan pengintaian dan investigasi, kemampuan intelijen teknis, dan tekni “room entry”. Telegram juga bilang kalau penting bagi DS/ATA untuk tetap low profile dan berada “di balik layar” dan di luar jangkauan media dan memberi kredit “ke pihak seharusnya”, yakni polisi Indonesia. Telegram juga bilang, guna menjadikan Datasemen 88 lebih efektif dan unit yang kohesif, DS/ATA sedang dalam proses membangun sebuah pusat pelatihan khusus untuk SD-88 di pusat pelatihan kontra terorisme Polisi Indonesia. Fasilitas berlokasi di Cikeas yang nantinya berisi pusat komando dan briefing room. Pembangunan diperkirakan kelar pada Mei 2008.

Telegram juga mencantumkan nama dan nomer telpon Regional Security Officer (RSO) Kedutaan Amerika di Jakarta: Jeff Lischke, 62-21-3435-9013.

6. Telegram berjudul “Indonesian Counterterrorism And Deradicalization Initiatives”, dikawatkan pada 6 Februari 2008, merekam pertemuan pejabat senior Kedutaan Amerika dengan koordinator desk kontraterorisme Indonesia, Inspektur Jenderal Ansyaad Mbai, pada 30 Januari. Mbai, digambarkan dalam telegram sebagai “pensiunan polisi”, “koordinator kontra terorisme di Kantor Kementrian Politik dan Keamanan”. Telegram bilang Mbai telah menjabat sejak Bom Bali I pada 2002, saat Presiden Susilo masih menjabat sebagai Menteri Koordinator di era Megawati. “Mbai ditemani oleh bekas duta besar Rousdy Soeriaatmadja, kontak langsung Kedutaan dalam program bantuan kontraterorisme”.

Telegram bilang Mbai mengungkapkan terima kasih pada Kedutaan yang ikut menangkal “rekrutmen teroris” lewat kampanye via media tradional, seperti pagelaran wayang, klinik sepak bola dan workshop kontraterorisme. Kata telegram, Mbai “menekankan dampak negatif jika publik luas mengetahui Amerika mensponsori program-program itu” dan meminta agar kerjasama di antara mereka tetap tidak didiskusikan ke publik”.

7. Sebuah telegram berjudul “Counterterrorism — Indonesian Developments”, dikawatkan dari Jakarta pada 19 Maret 2009, mengungkap sosok “Team Bomb”. Isi telegram bilang kalau inilah gugus kerja ad hoc kontraterorisme di kepolisian Indonesia, yang memainkan peran utama, kadang lebih berpengaruh dari Datasemen 88, dalam melacak orang-orang Jamaah Islamiyah dan kelompok-kelompok militant lainnya. Kode “protect” di belakang penyebutan nama “Team Bomb” dalam telegram, mengisyaratkan kalau polisi yang bergabung dalam tim ini rutin memasok informasi rahasia ke Kedutaan Amerika. Telegram juga bilang kalau “… Team Bomb (protect), yang mengorganisir pembayaran hadiah untuk informan polisi dan bekerja dengan pejabat Kementrian Pertahanan dan Kementrian Luar Negeri Amerika “agar uang bisa sampai ke markas polisi di Jakarta”.)

Telegram juga bilang kalau “Team Bomb dan Datasemen Khusus 88 (SD-88) punya target dan misi kontraterorisme yang saling mendukung. Operasi Team Bomb pada dasarnya bagian dari SD-88 dan unit kepolisian lainnya karena alasan keamanan dan konterintelijen, dan pemisahan unit kerja ini “berkontribusi pada kesuksesan Team Bomb”. Team Bomb disebutkan juga sebagai “gugus kerja kontra terorisme yang “pre-eminent”, paling mantap. Telegram lain bilang: sementara SD-88, digambarkan sebagai tim respon kontraterorisme, yang banyak menerima kredit publik atas penangkapan tokoh-tokoh JI, khususnya Zarkasih dan Abu Dujani pada Juni 2007, Team Bomb lah yang sebenarnya mengumpulkan informasi sekaitan sejumlah teroris, mengeksekusi serangan ke rumah-rumah persembunyian, dan melakukan penangkapan. Telegram juga bilang dengan satunya pimpinan Team Bomb dan Densus 88, yakni di bawah komando Surya Dharma, kedutaan berharap koordinasi upaya kontra terorisme menjadi lebih baik.

8. Sebuah telegram berjudul “Counterterrorism — Goi Deradicalization Efforts Show Promise”, dikawatkan pada 24 Maret 2009, menyebutkan “… “Bersama Team Bomb, gugus kerja polisi ad hoc dalam urusan kontra terorisme, pejabat SD-88 mengindentifikasi tersangka dan terpidana terorisme di penjara yang cenderung pada ide –ide moderat dan membina hubungan dengan mereka. Pejabat ini, yang semua muslim, menyediakan bagi keluarga radikal yang ditahan bantuan uang dan membuka peluang para teroris untuk berhubungan dengan keluarga dan masyarakat selama masa penahahan. Dengan shalat dan makan bersama tersangka teroris, pejabat memperlihatkan alternatif dalam berislam. Individual ini terus mendampingi terpidana selama masa persidangan, pemenjaran dan pelepasan dari tahanan.

(Catatan Islam Times: sebuah telegram lain mengungkap kalau Mbai pernah bilang ke diplomat Amerika di Jakarta kalau Brigadir Jenderal Surya Dharma punya daftar 100 orang terpidana teroris yang berpotensi untuk dijinakkan, dijadikan berpandangan moderat sekaligus informan polisi. Mereka, katanya, umumnya miskin dan bakal senang jika ada yang membantu pendanaan lepas dari penjara).

9. Telegram bertajuk “Jakarta Resolute In Aftermath Of Bomb Blasts”, dikawatkan pada 21 Juli 2009, merekam kerjasama polisi Indonesia dan Biro Penyidik Federal Amerika Serikat, FBI, dalam penyelidikan Tragedi Bom Marriott dan Ritz Carlton. Telegram bilang: “Sekalipun Pemerintah Indonesia di muka umum bilang kalau mereka tak memerlukan bantuan dalam penyelidikan dan tak secara formal menerima bantuan, Polisi Nasional Indonesia diam-diam telah meminta bantuan FBI untuk meningkatkan kualitas footage video pengamatan di kedua hotel. Agen-agen FBI, yang akan membantu permintaan ini, akan tiba di Jakarta pada 25 Juli … (Catatan: sekaitan peristiwa 17 Juli, pertukaran informasi kontraterorisme menjadi kian penting. Publikasi adanya bantuan FBI akan … menjadikannya tak efektif dan membahayakan kepercayaan yang telah kami bangun dengan penegak hukum Indonesia. Akhir Catatan.)”

(Catatan Islam Times: di bagian lain dokumen ada tertulis kalau Herry Nurdi, digambarkan sebagai Editor-In-Chief Majalah Sabili, “majalah paling populer yang menawarkan pandangan anti Barat dan anti Semit paling keras, bilang ke kami kalau majalahnya akan mengeluarkan sebuah edisi yang berisi kututkan atas serangan”.)

10. Telegram bertajuk “Counterterrorism — Proposal For Additional Usg Involvement In Key Law Enforcement Training Center”, dikawatkan pada 14 September 2009, antara lain menyebutkan: “Pemerintah Amerika Serikat berhasil menggelar kelas dan konferensi anti-terorisme di JCLEC (Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation, pusat pendidikan kontra terorisme kerjasama polisi Indonesia dan Australia) di masa lalu, tapi pengajaran yang reguler di JCLEC kerap jadi persoalan karena jadwal yang tak pas. Sejak 2006, Kedutaan Amerika telah mendukung pelatihan tahunan kontra terorisme di JCLEC … Program Diplomatic Security’s Anti-Terrorism Assistance telah menggelar pelatihan di JCLEC di masa lalu (sebagai tambahan atas pelatihan yang dilaksanakan di pusat pelatihan milik DS/ATA sendiri di Megamendung, Jawa Barat).”

(Catatan Islam Times: pusat pelatihan DS/ATA berada dalam kompleks pendidikan polisi di Megamendung, Bogor. Kabarnya, Kedutaan Amerika ‘menyewa’ sebuah ruangan di situ selama berlangsungnya pelatihan kontra terorisme.)

11. Telegram bertajuk “Jayapura – Special Detachment 88”, tertanggal 9 November 2007, merekam perjalanan ‘nyaman’ Duta Besar Amerika berkeliling kawasan Freeport – dengan penjagaan lengkap pasukan Densus 88. Telegram dikawatkan oleh Regional Security Officer Kedutaan Amerika di Jakarta, Jeff Lischke. Jeff menulis: “1. (U) RSO belum lama ini menemani Duta Besar ke Jayapura di Papua. Alasan utama kunjungan ini adalah bertemu pejabat Indonesia dan berkunjung ke kawasan tambang Freeport McMoRan di Timika dan BP di Babo. Selama kunjungan, RSO bertanya soal Datasemen 88 untuk mencari tahu adalah personel awal unit ini, yang mendapat pelatihan di fasilitas pelatihan DS/ATA pada Februari 2007, masih utuh. 2. (C) Kami bertemu Komandan Datasemen Khusus 88, Kolonel S.H. Fachruddin, dan bertanya padanya tentang Datasemen Khusus 88. Dia bilang kalau bawahannya adalah petugas pengamanan polisi Indonesia selama Duta Besar berada di Jayapura. Dia bilang kalau kantornya tak jauh dari komplek Gubernur, Kapolda dan Panglima Daerah Militer. Sekalipun kami tak sempat mengunjungi kantor mereka dan menginspeksi peralatan mereka, sang Kolonel bilang kalau semua peralatan dan kendaraan yang diberikan DS/ATA masih ada dan dalam kondisi bagus. (Harap dicatat kalau salah satu kendaraan yang digunakan dalam iring-iringan kendaraan Duta Besar adalah mobil Datasemen Khusus 88 dan mobil itu dalam kondisi sempurna). … .”

Standar Ganda Kedutaan dalam soal Kasus Pembunuhan Munir

Setidaknya ada 94 telegram yang memuat nama Munir dalam kawat diplomatik yang bersumber dari Kedutaan Amerika di Jakarta. Jumlah itu menggambarkan ‘kegigihan’ Kedutaan Amerika untuk menggunakan kasus pembunuhan Munir sebagai pintu masuk untuk mempererat hubungan dengan sejumlah institusi negara – senyampang mengarahkan tombak mematikan ke tubuh Badan Intelijen Negara, pihak yang mereka sebut patut diduga berada di balik pembunuhan Munir.

Dalam sebuah telegram bertajuk “Munir Case: Ambassador Signals Continued U.s. Focus On Justice; Widow Plans Second Visit To Dc”, dikawatkan pada 13 April 2006, tertulis kalau Duta Besar Hume mengundang Suciwati ke kedutaan pada 11 April “untuk mendiskusikan nasib … almarhum Munir, yang mati diracun pada September 2004”. Suciwati, kata telegram, datang ditemani empat aktivis hak asasi: Usman Hamid (Kontras); Rachland Nashidik (Imparsial); Rafendi Djamin (Koalisi HAM); Binny Buchori (Infid). Telegram bilang ini adalah pertemuan kedua Hume dan Suciwati, lepas yang pertama pada November 2004. Hume, kata telegam, mempertegas sokongan Amerika agar Suciwati dapat keadilan, termasuk usahanya mengeluarkan “pertanyaan keras” lepas Pollycarpus dinyatakan bersalah pada Desember 2005. Hume, kata telegram lagi, juga bilang kalau dia telah mengungkapkan keprihatinannya sekaitan kasus Munir ke Presiden Yudhoyono dan bos polisi, Jenderal Sutanto.

Telegram selanjutnya menyebut rencana Suciwati berkunjung ke Amerika pada sekitar 23 April untuk “mempertahankan perhatian masyarakat internasional pada kasus” Munir sekaligus untuk bertemu dengan anggota dan staf di KongresAmerika. Telegram bilang, Suciwat ingin bertanya ke Kongres “adakah mereka telah mendapatkan respon dari Presiden Yudhoyono atas surat mereka (terkait kematian Munir, red. Islam Times) di awal tahun.

“Meski masih menimbang pendekatan yang bakal dia pilih,” kata Hume dalam telegram, “Suciwati berpikiran kalau Amerika Serikat bisa memberi tekanan “dengan meninjau ulang bantuan pada polisi dan militer Indonesia”. Lepas itu, tertera respon Hume yang “menasehati Suci untuk menarik diri dari meminta pembatasan bantuan Amerika (atas polisi dan militer Indonesia, red.Islam Times) dan tetap fokus pada tujuan mendapatkan keadilan untuk suaminya yang terbunuh.

(Catatan Islam Times: Agak aneh sebenarnya membaca ‘kepedulian’ Kedutaan Amerika pada kasus Munir. Ini bila mengingat Kedutaan pernah menolak visa perjalan almarhum Munir ke Amerika Serikat hanya karena dia pernah ikut berdemo membela Palestina dan mengecam Israel dan Amerika di depan Kedutaan Amerika di Jakarta. Di sisi lain, ada banyak telegram yang mengungkap keengganan Kedutaan untuk mengikutkan Kopassus dalam program kerjasama militer antarnegara dengan dalih Kopassus “pernah terlihat pelanggaran hak berat”. So, orang kini bisa melihat betapa Kedutaan menerapkan standar ganda. Densus 88 dan “Team Bomb”, dua tim kontraterorisme bentukan Amerika, kerap membunuh para tersangka kasus-kasus terorisme tanpa izin pengadilan; sebuah laku kontroversial yang belakangan bahkan mengundang kritik tajam langsung dari Kepala Badan Intelijen Strategis TNI. Tapi alih-alih menarik diri, menjauh dan menghentikan dukungan pada Densus 88, seperti halnya yang mereka lakukan pada Kopassus, Kedutaan Amerika justru ‘menasehati’ Suciwati untuk tak bicara apapun soal “penghentian bantuan ke polisi”.)

(Catatan Islam Times: masih dalam telegram yang sama yang merekam pertemuan Hume dan Suciwati, ada tertera informasi kalau kalau diplomat Amerika punya hubungan mesra dengan penyidik Anton Charilyan. Kode “protect” setelah penyebutan nama Anton dalam telegram nampaknya mengisyaratkan kalau dia kerap membagi informasi rahasia ke Kedutaan Amerika. Telegram bilang, pejabat kedutaan “bertemu Anton Charilyan (protect) pada 22 Maret lalu membangun komunikasi lagi pada 12 April. Anton merespon via sms, sebagai berikut: “Terhadap kasusnya (Munir), hingga saat ini kami masih menyelidiki secara intensif, tapi kami melakukan ini dengan sangat rahasia karena kami tidak berhadapan dengan (tersangka) orang biasa. Suci, di lain pihak, ingin kami mengumumkan setiap perkembangan. Jika ini dilakukan seperti dalam fase investigasi terakhir, hanya sebagai sarana untuk mengangkat popularitas individu tertentu, maka pada akhirnya ini bakal menyibak ke musuh-musuh kami setiap langkah penyelidikan polisi. Kami sudah mengungkap jalan cerita utama, tapi kami masih berupaya mendapatkan saksi-saksi pendukung dan bukti-bukti lain, masih minim hingga saat ini, agar nantinya kesimpulan kami bisa menjadi bukti legal yang kuat di pengadilan. Dan kerja-kerja ini, tentu saja, tak bisa diselesaikan dalam tempo yang singkat. Lebih jauh, jika ada tenggat waktu yang ditetapkan untuk investigasi ini, ini akan menciptakan kesulitan tersendiri bagi kami.” Telegram yang lain bilang kalau belakangan Kedutaan Amerika kehilangan kontak dengan Anton yang disebutkan resah di tengah banyak kabar informasi yang terbagi ke pihal lain.)

Birokrat Negara Tunduk pada Tekanan Kedutaan Amerika untuk Menekan Iran

Di forum-forum resmi internasional, Indonesia nyaris tak pernah menyetujui saksi apapun atas Iran. Pernyataan pejabat negara sekaitan program pembangkit nuklir Iran selalu bernada positif, mendukung hak Iran dalam pengembangan energi nuklir damai, dan cenderung jauh dari keinginan Amerika dan negara-negara sekutu yang gemar menhancurkan citra Iran dan menghukum Iran lewat aneka sanksi ekonomi. Tapi sejumlah telegram WikiLeaks menunjukkan kalau Jakarta bermuka dua dengan mendukung diam-diam sanski ilegal Amerika atas Iran di dalam negeri. Telegram juga memunculkan kesan kalau Amerika begitu paranoid pada setiap kabar yang berisi kemungkinan Iran bisa berinvestasi dan membangunan hubungan dengan kalangan sipil dan militer di Indonesia:

1. Telegram bertajuk “Demarche Delivered Regarding Preventing Establishment Of Iranian Joint Bank In Indonesia”, dikawatkan pada 10 September 2008, menyebutkan kalau: “orang-orang penghubung di pemerintah Indonesia telah mengkonfirmasi kalau Bank Melli telah menanyakan aturan bisnis bank asing di Indonesia, tapi belum melayangkan surat permohonan untuk membuka cabang, anak perusahaan atau bermitra dengan Bank Panin atau institusi keuangan Indonesia lainnya. Seorang pejabat di Kementrian Luar Negeri bilang kalau Deplu belum lama ini menggelar pertemuan antarlembaga dan sebuah pertemuan dengan kalangan bank dan komunitas bisnis dan membriefing mereka sekaitan implikasi saksi atas Iran dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB (UNSCR) belakangan ini.”

(Catatan Islam Times: telegram lainnya mengungkap keleluasaan diplomat Amerika mencari tahu segala hal terkait bisnis perusahaan Iran di Indonesia, utamanya via Pusat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang dalam telegram digambarkan sebagai “lembaga penerima bantuan USAID”. Telegram lain menyebut adanya permintaan bantuan dari Yunus Hussein, bos besar PPATK, ke DOJ/OPDAT (Departement of Justice/ Office of Overseas Prosecutorial Development, Assistance and Training) agar pemerintah Amerika “membantu perumusan draft Rancangan Undang-Undang Pendanaan Terorisme”. Yunus kini tercatat sebagai salah satu kandidat Pimpinan KPK.)

2. Dalam sebuah telegram bertajuk “Iran — Indonesia To Urge For Release Of Detained Amcits”, dikawatkan pada 19 Februari 2010 dengan marka SECRET//NOFORN, Duta Besar Amerika, Cameron Hume, menulis: “Jurubicara presiden, Dino Djalal, bilang ke DCM pada 19 Februari kalau Indonesia akan meminta Iran melepas tiga warga Amerika yang ditahan di Iran dengan peritmbangan kemanusiaan. Bekas Sekretaris Jenderal D-8, Dipo Alam (kini Menteri Sekretaris Kabinet) akan bertandang ke Tehran pada 1 Maret sebagia bagian dari serangkaian kunjungan ke para pemimpin negara-negara D-8. Alam dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Manouchehr Mottaki dan kemungkinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Djalal bilang ke kami kalau atas nama Pemerintah Indonesia (dan bukan Amerika Serikat), Alam akan meminta Iran melepas warga Amerika yang ditahan dengan pertimbangan kemanusiaan … .”

(Catatan Islam Times: di telegram lain, ada terekam kalau Djalal menjadi ‘mata dan telinga’ Kedutaan Amerika dalam melaporkan pertemuan antara Presiden Yudhyono dan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei.)

Kedutaan Amerika ‘Memberi Restu’ pada Rencana Jahat Eksekutif Newmont

Sebuah telegram bertajuk “Rick Ness Testifies In Newmont Case This Week”, dikawatkan dari Jakarta pada 24 Agustus 2006, merekam pengamatan diplomat Amerika atas persidangan Richard Ness, bos besar PT Newmont Minahasa Raya. Lepas memaparkan jalannya persidangan, telegram menyebutkan: “di sela-sela persidangan, kami mendengar sejumlah isyarat dari eksekutif NMR kalau mereka telah menyiapkan sebuah rencana darurat sekiranya Ness diputus bersalah. Dalam sebuah pertemuan sosial lepas persidangan di Manado, mereka memberi isyarat kalau Newmont telah mengontak sebuah perusahaan keamanan swasta untuk menyelundupkan Ness ke luar Indonesia sekiranya dia dinyatakan bersalah setelah semua peluang banding habis. Mengingat minimnya bukti-bukti adanya kejahatan, dan nada-nada politik yang jelas di balik keputusan masuknya kasus ini ke pengadilan, eksekutif Newmont memberi kesan pembenaran pada rencana mereka melarikan Ness ke luar negeri agar dia tak sehari pun menginap di terungku.”

(Catatan Islam Times: Dalam telegram, tak ada informasi apapun yang mengungkap adanya keberatan diplomat Amerika lepas mendengar rencana penyelundupan Ness oleh para pejabat senior Newmont. Pada 2007, pengadilan di Manado membebaskan Richard Ness dan PT Newmont Minahasa Raya dari semua tuduhan sekaitan gugatan pencemaran di Teluk Buyat.)

Kedutaan Amerika Ingin Menaklukkan Setiap Penentangan atas Hegemoni Amerika

Pada 12 November 2009, dalam sebuah telegram bertajuk “Indonesian Foreign Policy–realizing The Potential Of President Yudhoyono’s Second Term”, Ted Osius, Charge d’Affaires menulis kebijakan yang patut diambil Washington seiring kembali terpilihnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di pemilu di bulan sebelumnya. Marka “CONFIDENTIAL” di awal telegram mengisyaratkan kalau semua yang dia kawatkan hari itu bisa ‘merusak’ keamanan nasional Amerika bila sampai terungkap ke publik.

Pemeriksaan Islam Times menunjukkan kalau dokumen ini memuat semacam grand desainkedutaan yang ingin memotong kaki perlawanan anak bangsa atas hegemoni Amerika – dan juga Israel yang diam-diam mereka wakilkan kepentingannya – atas Jakarta. Sebuah skenario besar berbungkus sarung tangan belundru “Kemitraan Komprehensif”, dengan Presiden Susilo sebagai partner utama mereka.

Di awal bagian awal dari telegram, Osius (masih aktif sebagai Wakil Duta Besar Amerika di Jakarta hingga saat ini) banyak bercerita tentang sosok Presiden Susilo. Osius bilang presiden ingin ‘tampil’ di forum internasional di luar Asia, (forum G20 mungkin venue yang tepat, katanya), ingin dilihat sebagai sosok yang bisa menjembatani perbedaan-perbedaan dunia. Dengan “pendekatan yang tepat”, kata Osius, besar kemungkinan Presiden Susilo berdiri di belakang Amerika dalam soal Afghanistan, Myanmar, Iran, Climate Change dan Palestina. Katanya, Misi Amerika di Jakarta “sedang mengekspolorasi kemungkinan melibatkan Indonesia dalam melatih polisi di Afghanistan”. Jika ini berhasil, Indonesia bisa berperan lebih besar di Afghanistan, katanya. Dia juga bilang kalau dalam periode kedua pemerintahan Presiden Yudhoyono, Indonesia ada kemungkinan menunjukkan “kelonggaran” atas Israel.

Osius lalu bercerita tentang orang-orang yang bisa membantu mewujudkan visi Presiden – dan sekaligus Amerika. Dia menyebut nama Menteri Marty Natalegawa, yang dia gambarkan sebagai sosok yang ‘berpikiran terbuka’, pragmatis dan menyukai ‘pendekatan inklusif dalam diplomasi’. Dia juga ada menyebut nama Kemal Stamboel, wakil Partai Keadilan Sejahtera di Komisi I DPR (bidang luar negeri, keamanan) yang, menurutnya, berpandangan positif dalam soal climate change, anti korupsi dan isu-isu lain ‘yang penting bagi Amerika’.

Di bagian berikutnya, dia menyebut pihak-pihak yang berpotensi mengganjal visi presiden. Yang paling pertama adalah yang dia identifikasi sebagai pejabat Kementrian Luar Negeri – “khususnya yang berada di level madya”, katanya – yang “masih penuh dengan pandangan dunia kabur Gerakan Non-Blok yang anti-Barat”. “Reaksi pertama mereka biasanya menentang inisiatif-inisiatif kita, khususnya dalam konteks multilateral. Mereka juga cenderung memberontak dalam sejumlah pesoalan semisal protokol, hak-hak istimewa dan imunitas, dan banyak urusan formal lainnya.”

Pihak kedua yang disebutkan bisa menggalkan langkah Presiden Yudhoyono – dan ini juga berarti inisiatif Amerika Serikat di Indonesia – adalah Dewan Perwakilan Rakyat. Kata telegram, suara-suara moderat (baca: pro Amerika) di DPR kerap dalam tekanan saat yang jadi urusan adalah hal-hal yang sensitif terhadap Muslim.

Telegram juga menyebut kalau Indonesia secara reguler masih mengekor pada sikap Negara-negara Non-Blok dan OKI dalam penentuan suara di PBB, seperti yang terkait Laporan Goldstone soal konflik Gaza. Ada juga keluhan soal “lambatnya kemajuan pendirian Indonesia-United States Center for Biomedical and Public Health Research akibat kecangnya serangan bermotif politik pada Menteri Kesehatan (Endang Sedyaningsih, red. Islam Times), yang telah dituduh terlalu dekat pada Amerika”.

Hambatan serupa ini tak bakal hilang dalam semalam,” kata Ted.

Di bagian akhir, Ted menuliskan resep yang dia anggap manjur agar Amerika bisa keluar dari semua kemelut dan sampai pada tujuannya: “Sebuah visi strategis yang menjangkau jauh dan pelibatan kukuh pejabat senior pemerintahan Amerika dengan pihak Indonesia adalah sebuah kemestian demi mewujudkan potensi penuh peluang-peluang kerjasama.

Ted juga bilang kalau Amerika “perlu menaklukkan kebiasaan-kebiasaan yang ternanam dalam di birokrasi Kementrian Luar Negeri dan legislatif”. Katanya lagi: “Kita juga perlu memenangkan opini publik yang tak selalu simpati pada posisi Amerika. Pengembangan Kemitraan Komprehensif Indonesia-Amerika adalah mekanisme kunci untuk menjalankan semua itu. Seiring upaya kita mengembangkan Kemitraan, kita seharusnya bisa mencapai kesepakatan atas sejumlah prinsip-prinsip strategis bersama. Penting pula bagi kita untuk melembagakan forum-foum konsultasi bilateral yang rutin di tingkat kementrian dan level di bawahnya.” ***

Muawiyah Pengajak orang ke neraka (versi Rasul saw) dan Imam yang memberi petunjuk versi sunni

Ada trend basi di kalangan pengikut nashibi …..

Riwayat yang mereka jadikan hujjah adalah riwayat dhaif bahkan sebagian sanadnya dhaif jiddan atau maudhu’

Sudah kehabisan hujjah/dalil mengais-ngais di tempat sampah pun mereka lakukan demi sang idola Muawiyah Pengajak orang ke neraka (versi Rasul saw) dan Imam yang memberi petunjuk versi Nashibi wahabi/salafy

Nashibi apapun dilakukan demi keyakinannya yang bathil… apapun mereka lakukan mulai memalsu,memalsu blog bahkan memalsu kitab2 rujukan, memelintir hadis dan ayat al Qur’an… tanpa malu dan tanpa takut azab Allah SWT

Berikutan penghinaan Abdul Aziz Al Syaikh, imam solat Jumaat di Riyadh ke atas pengikut mazhab Ahlul Bait (a.s) dan kelancangan khatib Madinah Syaikh Huzaifi terhadap Imam Zaman, Setiausaha Agung Majma’ Ahlul Bait mengecam keras ucapan mereka yang dianggap cuba melindungi jenayah Al Saud.

Hujjatul Islam Muhammad Hasan Akhtari berkata, “Tanggapan kami terhadap ucapan tidak berasas Abdul Aziz Al Syaikh dan Syaikh Huzaifi adalah jelas, ianya bertujuan menggelapkan peristiwa dalaman yang terjadi di Arab Saudi”.

Syeikh Akhtari

.

Merujuk kepada kebencian Syaikh Huzaifi terhadap Ahlul Bait, Akhtari mengatakan, “Huzaifi beberapa kali mengungkapkan ucapan sebelah pihak seperti ini dengan kelancangan bahasanya, beliau sudah beberapa kali bersikap biadap, mencela dan menuduh secara tidak adil terhadap pengikut Ahlul Bait (a.s)”.

Beliau menegaskan bahawa para ulama Wahabi Arab Saudi memperalatkan kedudukan agama mereka demi mengambil bahagian dalam membela pemerintah yang membunuh orang tidak berdosa. Kata beliau, “Sudah tentu Huzaifi sendiri telah memberi jawapan kepada dirinya sendiri di dalam ucapannya. Beliau menuduh sebuah negara asing telah masuk campur dalam urusan Arab Saudi; sedangkan jika masuk campur dalam urusan sebuah negara itu adalah tidak sah, terlebih dahulu lebih baik beliau memprotes kerajaan Al Saud yang melakukan jenayah selain menuntut askar mereka keluar dari Bahrain”.

“Apa hak mereka menyerang Bahrain dan menjajahnya? Apa sebab dan hasrat mereka menjadikan rakyat Bahrain sebagai musuh mereka? dan mereka juga membunuh lelaki, perempuan, kanak-kanak, remaja dan orang tua? Sekarang sudah berpuluh-puluh rakyat Bahrain dibunuh. Jikalau mencampuri urusan dalaman sesebuah negara tidak dibenarkan – iaitu kita juga tidak membenarkannya – Huzafi dan Al Syaikh hendaklah memulakan kritikan terhadap kerajaan Arab Saudi. Jikalau mereka berani, hendaklah mereka menyerang Al Saud dan bertanya: Mengapakah kamu melancarkan kempen ketenteraan dan menduduki Bahrain?”.

“Perumpamaan Huzaifi tidak akan sekali-kali menjadi sebahagian daripada iman kepada Allah. Beliau memperalatkan solat dan minbar demi hawa nafsu dan kegunaan peribadinya. Beliau selalu menyalahgunakan pentas-pentas masjidil haram dan masjid Nabawi”.

Merujuk kepada fatwa-fatwa ulama Wahabi yang tidak Islamik, beliau mengatakan, “Mereka mempergunakan kedudukan pemberi fatwa bukan untuk kebenaran dan mengkafirkan umat Islam. Mereka belum cukup dengan hanya mengkafirkan Syiah sahaja”.

Anggota Majlis Ilmu Rahbar ini turut mengkritik keangkuhan Huzaifi dalam membicarakan akidah mahdawiyah. Akhtari mengatakan, “Orang ini jahil dan tidak berpelajaran sehingga biadab terhadap Imam Zaman. Masalah kewujudan Imam Zaman sangat jelas bagi mereka yang kurang maklumat dari sumber-sumber agama, Al-Quran dan Hadis. Namun orang seperti beliau tidak bersedia merujuk kepada kitab-kitab sendiri seperti Sahih Sittah, untuk melihat dan memahami riwayat-riwayat tentang Imam Mahdi yang dinantikan. Tokoh-tokoh dan ulama Syiah selalu memaklumkan bahawa kami bersedia berbicara bersama mereka di dalam majlis rasmi dan ilmiyah supaya mereka membawa dalil dan logikal untuk kami dengar. Namun mereka tidak sedia berdebat”.

Setiausaha Agung Majma’ Ahlul Bait turut menyentuh tentang dakwaan-dakwaan ulama bahawa Saudi memberikan kebebasan kepada masyarakat Syiah di negaranya. Beliau mengatakan, “Sekiranya mereka prihatin terhadap rakyat Arab Saudi dan hak-hak Syiah, lebih baik mereka ke kawasan penduduk Syiah seperti wilayah Timur dan melihat dengan mata sendiri secara lebih dekat, di mana Syiah di Arab Saudi dilarang dan diharamkan dari melangsungkan solat berjemaah dan majlis Al-Quran. Apakah mereka tidak melihat samada Huzaifi memberi kebebasan atau menyakiti pengikut Ahlul Bait di Madinah, Makkah, Qatif dan Awwamiyah? Atau kerana mereka jahil dan fanatik untuk memahami apa yang terjadi?”.

Akhtari mengatakan kepada Huzaifi dan Al Syaikh, “Mereka mesti memberikan jawapan mengapakah Syiah di Arab Saudi dilarang dari menjawat jawatan dalam kerajaan? Mengapakah mereka dilarang dari memperolehi hak-hak sebagaimana penduduk di kawasan Arab Saudi yang lain? Semua ini terjadi sedangkan lebih 3 juta Syiah, mazhab-mazhab dan berbagai suku tinggal di Arab Saudi”.

Setiausaha Agung Majma’ Jahani Ahlul Bait menerangkan punca-punca pernyataan Al Syaikh dan Huzaifi dengan mengatakan, “Saya dapat merasakan bahawa Huzaifi dan Al Syaikh seperti mana Bin Baz dan para ulama yang lain serta penyokong kezaliman, disebabkan mempunyai rasa benci dan perseteruan dengan Ahlul Bait, mereka menjadi seperti hari ini. Sungguh pun mereka juga mendakwa mencintai Ahlul Bait, namun ungkapan cinta pada Ahlul Bait tidak dapat memperdayakan umat Islam dan mereka tidak menerima kata-kata seperti ini”.

Beliau menambah, “Dari sisi lain, semua orang tahu bahawa individu seperi ini adalah boneka. Mereka adalah orang upahan Al Saud dan kerajaan Saudi tidak sering turun ke lapangan politik dan masyarakat. Mereka tidak mampu menghadapi tuntutan-tuntutan hak rakyat, disamping menyerang pemikir bebas dan yayasan-yayasan hak asasi manusia. Ejen mereka ini digerakkan dan mereka diminta berbicara tentang ini”.

Selain itu, beliau turut menceritakan tentang berbagai kerosakan di kalangan keluarga Raja Saudi, “Kerosakan dan kekejian mereka serta keluarga mereka di Eropah, dan berbagai tempat yang lain adalah tidak dapat dinafikan. Sekarang jikalau ulama Wahabi jujur berbicara, bincangkanlah tentang mereka yang meminum arak, judi dan bermain anjing. Jikalau mereka ini sedar tentang Islam, sekurang-kurangnya ada sekali dalam setahun mengkritik semua jenayah dan kerosakan Al Saud, termasuk melakukannya di dalam Haramain. Namun individu seperi ini tidak berani susah berbicara untuk menentang kehendak Al Saud. Mereka ini adalah ejen dan tidak mempunyai pilihan lebih dari seorang hamba supaya dapat berkata di depan tuannya”.

Berikutan kebangkitan penduduk Syiah di Arab Saudi, ulama Saudi Abdul Aziz Al Syaikh dan Syaikh Ali Al-Huzaifi dalam khutbah Jumaat lalu di kota Riyadh dan Madinah melancarkan serangan sengit terhadap Syiah sambil menyatakan rasa sakit hati terhadap kesedaran dan kebangkitan penduduk serantau yang dikaitkan dengan Iran. Akibatnya mereka ini berlaku biadap terhadap kesucian mazhab Ahlul Bait (a.s)