Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

Mazhab Ahlusunnah wal Jama’ah (sunni) mengurangi keutamaan ahlul bait sehingga menjauhkan umat dari berpegang teguh pada ahlul bait [sampai ke taraf biasa]-dan sunni membela kezaliman terhadap ahlul-bait dengan dalih membela sahabat yang dianggap salah ijtihad

nashibi zaman sekarang hobinya mengurangi keutamaan ahlul bait,

menjauhkan orang dari berpegang teguh pada ahlul bait

serta menebar kebencian kepada setiap orang yang mereka anggap sebagai Syiah..

sehingga makin lama orang-orang menjadi takut untuk mencintai-

dan membela Ahlul Bait karena akan dituduh syiah

Nashibi model baru ini adalah bentuk mutasi nashibi lama-

karena nashibi lama yang terang terangan mencaci ahlul bait-

akan dimusuhi oleh mayoritas umat islam maka untuk-

mempertahankan diri, mereka beradaptasi dengan-

berpura-pura mencintai ahlul bait tetapi sedikit demi sedikit-

mengurangi keutamaan ahlul bait [sampai ke taraf biasa]-

dan sedikit demi sedikit membela kezaliman terhadap ahlul-

bait dengan dalih membela sahabat atau ijtihad

Apakah Abu Hurairah Pernah Lupa? Anomali Hadis Abu Hurairah

Awalnya kami ingin membuat judul “Apakah Abu Hurairah Berdusta?” tetapi menimbang ada sebagian orang yang lemah akalnya mudah diracuni oleh pikiran kotor sehingga ia tidak bisa membedakan antara “pertanyaan” dan “pernyataan” maka kami memutuskan membuat judul seperti di atas.

Sebagai seorang manusia yang tidak maksum maka sangat wajar kalau ada yang menyatakan Abu Hurairah bisa lupa, tetapi sebagian orang yang “tergila-gila” dengan sahabat merasa keberatan kalau Abu Hurairah bisa lupa. Amazing, mereka mudah sekali mengatakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa lupa tetapi keberatan kalau Abu Hurairah bisa lupa. Mengapa pikiran mereka jadi terbalik seperti itu?

Ada hadis yang dijadikan dasar Abu Hurairah tidak bisa lupa, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sendiri

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي الْفُدَيْكِ عَنْ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي سَمِعْتُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا فَأَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُ فَغَرَفَ بِيَدِهِ فِيهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ حَدِيثًا بَعْدُ

Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Mundzir yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Fudaik dari Ibnu Abi Dziib dari Al Maqburiy dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu yang berkata aku berkata “wahai Rasulullah aku telah mendengar darimu banyak hadis tetapi aku lupa, Rasulullah berkata “hamparkan selendangmu” maka aku menghamparkan kemudian Beliau menciduk sesuatu dengan tangannya dan berkata “ambillah” aku mengambilnya. Maka setelah itu aku tidak pernah lupa soal hadis [Shahih Bukhari 4/208 no 3648]

Fakta membuktikan ternyata Abu Hurairah pernah lupa, kami khawatir seandainya peristiwa [yang akan kami sebutkan] tidak dinyatakan sebagai lupa maka jatuhlah hal itu kepada “dusta”. Silakan perhatikan hadis berikut

حدثني أبي قال حدثنا عبد الأعلى عن معمر عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا عدوى ولا صفر ولا هامة فقال أعرابي يا رسول الله ما بال الإبل تكون في الرمال كأنها الظباء فيخالطها البعير الأجرب فتجرب كلها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم فمن أعدى الأول قال أبو سلمة ثم سميت أبا هريرة بعد ذلك بزمان يقول قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يوردن ممرض على مصح فقال رجل أما حدثتنا عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال لا عدوى فقال لا قال أبو سلمة فما سمعته نسي حديثا قط قبله وأشهد بالله لقد سمعته منه

Telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul A’laa dari Ma’mar dari Az Zuhriy dari Abu Salamah dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Tidak ada ‘adwa [penyakit menular], tidak ada shafar dan tidak ada hamah”. Seorang arab badui berkata “wahai Rasulullah bagaimana dengan sekelompok unta yang sehat di padang pasir kemudian didatangi oleh unta yang terkena kudis maka unta-unta itu terkena kudis semuanya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “lalu siapa yang menulari unta pertama?”. Abu Salamah berkata “kemudian aku mendengar Abu Hurairah setelah itu mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Janganlah yang sakit dicampurbaurkan dengan yang sehat” seorang laki-laki berkata “bukankah engkau menceritakan kepada kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Beliau bersabda “tidak ada ‘adwa [penyakit menular]”. Abu Hurairah berkata “tidak” Abu Salamah berkata “aku tidak pernah mendengar ia [Abu Hurairah] lupa soal hadis sebelumnya dan aku bersaksi demi Allah sungguh aku telah mendengar hadis itu darinya” [Al Ilal Ma’rifat Ar Rijal Ahmad bin Hanbal juz 3 no 4865 & 4866]

Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal di atas shahih diriwayatkan para perawi yang tsiqat. Hadis di atas adalah riwayat Abdullah bin Ahmad dari ayahnya Ahmad bin Hanbal dimana ia adalah seorang ulama yang dikenal tsiqat

  • Abdul A’la bin Abdul A’la Al Bashriy adalah perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat sebagaimana yang disebutkan Ibnu Hajar dalam At Taqrib [At Taqrib 1/551]
  • Ma’mar bin Raasyid Al Azdiy adalah perawi Bukhari dan Muslim seorang yang tsiqat tsabit dan memiliki keutamaan [At Taqrib 2/202]
  • Ibnu Syihab Az Zuhri termasuk perawi Bukhari dan Muslim seorang faqih hafizh yang disepakati kemuliaan dan keteguhannya, dia adalah pemimpin thabaqat keempat [At Taqrib 2/133].
  • Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf adalah tabiin thabaqat ketiga perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat [At Taqrib 2/409]

Hadis di atas kedudukannya shahih sesuai dengan persyaratan Bukhari dan Muslim. Abu Salamah bersaksi bahwa Abu Hurairah pernah menyampaikan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]“tidak ada ‘adwa [penyakit menular]” tetapi setelah itu Abu Hurairah mengingkari telah meriwayatkan hadis ini, silakan perhatikan jawaban Abu Hurairah ketika ada orang yang bertanya padanya “bukankah engkau menceritakan kepada kami dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Beliau bersabda “tidak ada ‘adwa [penyakit menular]”, Abu Hurairah berkata“tidak”

.

Ini jelas sesuatu yang musykil, makanya Abu Salamah menyatakan kalau Abu Hurairah lupa soal hadis tersebut karena Abu Salamah bersumpah bahwa ia mendengar Abu Hurairah menyampaikan hadis ini sebelumnya. Jika bukan lupa maka tidak lain apa yang dinyatakan oleh Abu Hurairah adalah suatu kedustaan. Kami berprasangka baik saja dalam hal ini, mungkin saja Abu Hurairah terlupa dengan hadis tersebut. Yah ternyata bisa lupa juga kan?

.

 

Lihat saja perkataan mereka tentang hadis Abu Hurairah

menunjukkan bahwa mereka tidak membaca hadis tersebut

dari kitab hadis Ahlus sunnah. Hadis Abu Hurairah yang

menyatakan ia tidak pernah lupa disebutkan dalam Shahih

Bukhari dan Shahih Muslim dengan lafaz yang jelas dari

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu “tidak akan lupa”.

Berikut hadis yang dimaksud dalam Shahih Muslim :

حدثنا قتيبة بن سعيد وأبو بكر بن أبي شيبة

وزهير بن حرب جميعا عن سفيان

قال زهير حدثنا سفيان بن عيينة عن

الزهري عن الأعرج قال سمعت أبا هريرة

يقول إنكم تزعمون أن أبا هريرة يكثر الحديث

عن رسول الله صلى الله عليه و سلم

والله الموعد كنت رجلا مسكينا أخدم رسول الله

صلى الله عليه و سلم على ملء بطني

وكان المهاجرون يشغلهم الصفق بالأسواق

وكانت الأنصار يشغلهم القيام على أموالهم فقال

رسول الله صلى الله عليه و سلم

من يبسط ثوبه فلن ينسى شيئا سمعه مني

فبسطت ثوبي حتى قضى حديثه ثم ضممته إلي فما نسيت شيئا سمعته منه

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id,

Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb semuanya

dari Sufyan [Zuhair berkata] telah menceritakan kepada

kami Sufyan bin Uyainah dari Zuhriy dari Al A’raj yang

berkata aku mendengar Abu Hurairah berkata sesungguhnya

kalian mengira bahwa Abu Hurairah sangat banyak

meriwayatkan hadis dari Rasulullah [shallallahu

‘alaihi wasallam] dan Allah Maha memenuhi Janji.

Aku dahulu adalah orang miskin yang menyertai

Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

demi makanan untuk mengisi perutku.

Sedangkan orang-orang Muhajirin disibukkan

oleh perniagaan mereka di pasar pasar dan orang

orang Anshar disibukkan dengan harta harta mereka.

Kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

bersabda “barang siapa yang membentangkan

pakaiannya maka ia tidak akan lupa sedikitpun

apa yang ia dengar dariku”. Maka aku pun

membantangkan pakaianku hingga Beliau selesai

bersabda kemudian aku tangkupkan pada diriku,

sejak itu aku tidak pernah lupa sedikitpun apa yang

aku dengar dari Beliau [Shahih Muslim 4/1939 no 2492]

friksi yang bahkan berujung pada bentrokan menyangkut penentuan pewaris tahta di dalam keluarga kerajaan Saudi

Raja Saudi Mendapat Ancaman dari Seorang Pangeran
Fanatik Ajaran PAham Kelompok Pilihan Pemimpinnya Akibatkan Perpecahan Umat……………………………………………………………………………………………Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz, yang berwenang menentukan pewaris tahta, mendapat ancaman dengan senjata oleh salah satu pangeran dari keluarga kerajaan.IRNA (26/10) mengutip keterangan Naseem melaporkan, setelah kematian Pangeran Mahkota Sultan bin Abdul Aziz di sebuah rumah sakit New York, muncul friksi yang bahkan berujung pada bentrokan menyangkut penentuan pewaris tahta di dalam keluarga kerajaan Saudi.Laporan itu menambahkan, dalam Syuro Baiat, yang dibentuk oleh Abdullah bin Abdul Aziz, Raja Saudi itu berniat menunjuk Pangeran Nayef bin Abdul Aziz sebagai pewaris tahta, namun mendapat penentangan dari salah satu pangeran yang langsung mengancam raja dengan menggunakan senjata.”Berdasarkan laporan yang bocor dari Syuro tersebut, salah seorang pangeran Saudi memprotes penunjukan Pangeran Nayef dengan mengarahkan senjatanya ke arah Raja Abdullah.Laporan sebelumnya menyebutkan, terjadi bentrokan antar pangeran Saudi pada acara pemakaman Pangeran Sultan bin Abdul Aziz. Televisi nasional Arab Saudi yang menayangkan acara yang pemakaman itu secara langsung, sempat merekam kejadian tersebut.

Kematian Pangeran Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz al-Saud, yang merupakan pewaris tahta kerajaan, itu menyebabkan kevakuman kekuatan di Arab Saudi.

Tidak seperti di sistem monarki lain di dunia, garis suksesi tidak melintang langsung dari ayah ke anak sulung atau anak perempuan, namun menuju garis saudara-saudara raja. Jika garis saudara raja tidak berhasil maka dilimpahkan ke barisan berikutnya yaitu putra sulung raja atau saudaranya.

Raja Arab Saudi Abdullah telah menunjuk Manteri dalam Negeri Pangeran Nayef sebagai putera mahkota yang baru, kata sebuah pernyataan istana kerajaan yang dibacakan di televisi negara pada Jumat pagi sekali.

“Kami memilih Yang Mulia Pangeran Nayef bin Abdulaziz sebagai putera mahkota,” kata pernyataan itu, yang disiarkan kantor berita resmi SPA.

Pernyataan itu mengatakan Nayef ditunjuk setelah raja memberitahu Dewan Kesetiaan, badan keluarga yang dibentuk pada 2006 untuk melakukan proses suksesi di kerajaan Islam yang konservatif, pengekspor utama minyak dunia itu.

Itu adalah pertama kalinya dewan tersebut diminta untuk mengkonfirmasi pilihan raja akan putera mahkota, tindakan yang beberapa pengamat katakan akan membantu sistem suksesi yang tidak transparan.

Putera Mahkota Sultan telah meninggal karena kanker usus besar di New York hampir sepekan lalu. Ia juga menteri pertahanan dan penerbangan negara itu selama hampir lima dasawarsa. Belum ada pengganti untuk jabatan itu yang telah ditunjuk.

Pangeran Nayef selama ini telah membangun reputasi sebagai seorang konservatif yang memiliki hubungan dekat dengan kekuasaan keagamaan Saudi.

Bagaimanapun, beberapa pengamat dan mantan diplomat di Arab Saudi, tempat lahir Islam, mengatakan ia mungkin akan menunjukkan sisi yang berbeda dari karakternya dalam jabatan barunya.

Dalam beberapa tahun belakangan ia telah memimpin kerajaan itu dari hari ke hari ketika Raja Abdullah dan Pangeran Sultan tidak ada. Masalah punggung Raja Abdullah yang sering kambuh telah menyebabkan dia sering pergi ke luar negeri untuk perawatan medis. Sultan juga sudah lama sakit, bahkan terakhir berbulan-bulan di AS menjalani perawatan sebelum dinyatakan meninggal.

Menurut pernyataan itu, Pangeran Nayef juga ditunjuk sebagai wakil perdana menteri. Ia kini secara luas juga dianggap sebagai calon yang paling mungkin untuk mengambil-alih jabatan menteri pertahanan.

Sebagai menteri dalam negeri, Nayef memimpin upaya yang berhasil untuk mengakhiri gelombang serangan Al Qaida di kerajaan itu dari 2003.

Ia senang melukiskan dirinya sebagai seorang tentara di bawah komando raja Saudi.

Para pengamat sekarang menunggu siapa yang pada akhirnya akan mendapat jabatan menteri pertahanan — sangat penting dalam hubungannya dengan negara-negara besar Barat, dengan siapa kontrak persenjataan miliran dolar ditandatangani, dan khususnya jika jabatan itu diberikan pada seorang anggota keluarga kerajaan yang lebih muda.

Sekarang ini, jabatan-jabatan kementerian penting diduduki oleh putera-putera pendiri kerajaan, Raja Abdulaziz Ibn Saud, semuanya berusia 70-an dan 80-an tahun, dan beberapa di antara mereka memiliki masalah kesehatan.

Raja Abdullah sendiri baru keluar dari rumah sakit untuk operasi punggung, serta tampak lelah dan lemah pada upacara pemakaman Sultan

 

Diplomat Arab: Pangeran Nayef Dinilai Anti-reformasi

 Sejumlah kalangan khawatir, jika Pangeran Nayef yang lahir pada 1933 itu, menjadi Raja, maka akan memundurkan upaya reformasi yang sudah dilaksanakan Raja Abdullah. Pasalnya, di kalangan Arab liberal, untuk masalah sosial, Nayef dinilai anti-reformasi.

Sementara dalam hal kebijakan luar negeri, Nayef sangat mementingkan keamanan nasional. Namun demikian, sejumlah diplomat di Riyadh mengatakan, kekhawatiran tersebut tidak beralasan karena sebenarnya Nayef adalah sosok yang pragmatis.

Oleh karena itu, saat waktunya tiba bagi Nayef untuk berkuasa, kebijakan reformis yang sudah dijalankan Abdullah tidak akan terganggu. Selain itu, hubungan Arab Saudi dengan sekutu utamanya, Amerika, juga tidak akan terganggu.

.

.

Tawuran Antarpangeran Saudi Terekam Televisi
Pangeran Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz, dimakamkan Selasa (26/10). Acara pemakamannya dihadiri para pejabat asing.Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz, yang dalam kondisi sakit juga menghadiri acara tersebut.Sebelumnya, pada hari penyambutan jenazah Sultan bin Abdul Aziz dari New York, disiarkan secara langsung oleh televisi nasional Arab Saudi. Namun siaran langsung itu segera diputus setelah terjadi bentrokan antar pangeran Arab Saudi.Berikut ini link video dari bentrokan tersebut.

Pasukan Saudi Semakin Ganas di Awamiyah
Pasukan Keamanan rezim Al Saud meningkatkan penangkapan dan penumpasannya di wilayah Awamiyah, timur Arab Saudi.Televisi al-Alam melaporkan, pasukan Saudi menangkap seorang pemuda yang bernama Humaili Al Humaili di pusat pemerikasaan pintu masuk sebelah tenggara Awamiyah. Pusat informasi di Awamiyah menambahkan, pemuda tersebut ditangkap setelah perang mulut dengan pasukan keamanan.Pasukan Saudi juga menangkap seorang warga yang bernama Ali Abdullah al-Munasif di depan rumahnya di lokasi al-Zareh. Namun beberapa jam kemudian dibebaskan. Ia ditangkap tanpa ada alasan apapun.Pada saat yang sama, pasukan keamanan yang berada di pusat kepolisian Awamiyah juga menembak dua pemuda dengan peluru tajam. Akibatnya, kedua orang pemuda itu dilarikan ke rumah sakit pusat Qatif. Aksi-aksi brutal rezim Al Saud merupakan buntut dari insiden 3 Oktober di wilayah al-Awamiyah.Berdasarkan laporan tersebut, gelombang brutalitas dan penembakan dengan peluru tajam ke arah warga dimulai sejak aksi damai Februari lalu di wilayah Awamiyah. Di wilayah tersebut terjadi beberapa aksi protes yang mengutuk pendudukan Saudi terhadap Bahrain. Para demonstran juga menuntut hak-hak warga seperti pembebasan terhadap para tahanan politik.Sebelumnya, wilayah al-Qatif juga dipenuhi demonstrasi yang diikuti oleh 10 ribu orang. Pasukan rezim Riyadh menembaki mereka dengan peluru tajam dan plastik serta menyemprotkan gas air mata

.

Perebutan Kekuasan di Saudi Semakin Memanas
Seorang aktivis politik Arab Saudi, Ali al-Ahmad memprediksikan terjadinya perebutan kekuasaan di antara keluarga Al Saud, khususnya masalah putra mahkota. Hal itu akibat meninggalnya Pangeran Mahkota Saudi, Sultan bin Abdul Aziz. Demi memperebutkan kedudukan tersebut diperkirakan anak-anak dan saudara-saudara Raja Saudi akan masuk medan perang kekuasaan.Ali al-Ahmad hari ini (Ahad, 23/10), dalam wawancaranya dengan televisi al-Alam di Washington mengatakan bahwa Pangeran Nayef dan keturunan Raja Abdullah mempunyai kesempatan lebih besar untuk mendapatkan posisi Putra Mahkota dan Kementerian Pertahanan. Oleh sebab itu ia memprediksikan akan terjadi perang kekuasaan di antara keturunan dan saudara-saudara Raja Saudi.Al-Ahmad Menandaskan bahwa meninggalnya Putra Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz menyebabkan kekosongan piramida kekuasaan Arab Saudi. Dengan meninggalnya setiap anggota utama keluarga penguasa Saudi, maka akan terjadi kontroversi di antara keluarga guna merebutkan posisi kunci dalam pemerintahan tersebut.Ali al-Ahmad juga menegaskan bahwa, kondisi Saudi saat ini sangat sensitif mengingat meninggalnya Pangeran Sultan dan kondisi kritis Raja Abdullah. Oleh sebab itu, akan terjadi pergolakan keras di antara keturunan Raja Abdullah dan keluarga Pangeran Sultan serta Pangeran Nayef.Al-Ahmad juga menyinggung tentang pengaruh meninggalnya Pangeran Sultan terhadap masalah kawasan, seraya mengatakan, “Sebelum masalah-masalah ini diatur oleh sekelompok orang. Masalah itu telah diatur oleh sistem yang ada. Sultan merupakan penanggung jawab berkas Yaman. Saat ini berkas itu berada ditangan Muhammad bin Nayef, putra dari Menteri Dalam Negeri. Berkas-berkas lainnya akan di bagi kepada para pejabat lainnya.”Ali al-Ahmad juga menyatakan, Nayef merupakan saudara tiri dan orang yang paling dekat dengan Sultan. Banyak tanggung jawab dan kasus-kasus yang dipegang oleh Sultan yang nantinya akan dilimpahkan kepada Nayef.

Stabilitas dan keamanan keluarga Al Saud sangat penting bagi Amerika. Sebab apa yang diinginkan Amerika dilakukan keluarga tersebut. Sebenarnya, kendali pemerintahan Riyadh diserahkan kepada Washington

.

Siapa Pangeran Sultan?
Pangeran Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz, Sabtu (22/10) meninggal pada usia 81 di sebuah rumah sakit New York, karena penyakit kanker.Sultan bin Abdul Aziz adalah pangeran mahkota, wakil ketua dewan kabinet, menteri pertahanan dan penerbangan, serta penyidik umum, dan putra kelimabelas pendiri kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz al-Saud.BiografiSultan adalah saudara tiri Raja Abdullah bin Abdul Aziz al-Saud, yang saat ini juga berada dalam perawatan medis. Sultan bin Abdul Aziz dilahirkan pada 5 Januari 1931 di kota Riyadh dan ibunya bernama Hassa bin Ahmad bin Muhammad al-Sadbari.Jabatan dan TugasSultan ditunjuk sebagai Walikota Riyadh pada tahun 1947 dan pada 1953 ia menjabat sebagai menteri pertanian. Dua tahun kemudian diangkat sebagai menteri telekomunikasi.Pada tahun 1962, mendiang raja Faisal, mengangkat Sultan sebagai Menteri Penerbangan Arab Saudi. Pada masa tugasnya, Sultan meningkatkan kemampuan angkatan Udara Arab Saudi.

Terjangkit Kanker

Pada tahun 2004, para dokter menyatakan bahwa Sultan bin Abdul Aziz menderita kanker di usus besar dan oleh karena itu, ia telah menjalani berbagai operasi.

Kembali pada tahun 2009 Pangeran Sultan bin Abdul Aziz menderita sakit parah dan harus terbaring di rumah sakit New York selama berbulan-bulan.

Setelah kematian saudaranya Fahad bin Abdul Aziz pada Agustus 2005, Sultan menjadi Pangeran Mahkota Arab Saudi.

Pewaris

Putra Pangeran Sultan yang paling terkenal adalah Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz, yang juga mantan dubes Saudi untuk Amerika Serikat. Putra Sultan lainnya adalah Pangeran Khaled bin Sultan, yang pernah menjadi Panglima Tinggi Militer Saudi para Perang Teluk tahun 1991.

Kematiannya dan Eskalasi Perebutan Tahta di Arab Saudi

Tidak diragukan lagi bahwa kematian Sultan memperuncing persaingan perebutan tahta di kerajaan Saudi. Apalagi seluruh calon raja pada barisan pertama sudah tua dan dalam kondisi kesehatan yang buruk.

Kandidat yang paling kuat untuk menduduki tahta setelah Sultan adalah Pangeran Nayef. Namun pangeran tersebut juga berada dalam kondisi kesehatan yang buruk dan telah menjalani perawatan secara intensif dalam 20 bulan terakhir.

Selain itu, tidak boleh dilupakan pengaruh kuat Pengeran Bandar bin Sultan, yang pernah menjabat sebagai dubes di Amerika Serikat dan saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Keamanan Nasional Saudi, karena ia merasa tidak puas dengan wewenang yang dimilikinya.

Selain Bandar, ada juga Pangeran Salman bin Abdul Aziz, yang memiliki pengaruh sangat kuat di antara keluarga kerajaan.
.

Jika Nayef Jadi Raja, Akan Terjadi Pemberontakan di Saudi

Pangeran Nayef bin Abdul Aziz

Kematian Pangeran Mahkota Arab Saudi, Sultan bin Abdul Aziz al-Saud, yang merupakan pewaris tahta kerajaan, itu menyebabkan kevakuman kekuatan di Arab Saudi.Calon utama pewaris tahta Raja Saudi saat ini adalah Pangeran Nayef bin Abdul Aziz al-Saud, namun ia masih harus mendapat persetujuan dari Dewan Kesetiaan Saudi. Dewan tersebut adalah yang mengawasi masalah suksesi.

Direktur Institut Hubungan Teluk [Persia] (I[P]GA), Ali al-Ahmad dalam wawancaranya dengan Press TV Ahad, (23/10) menyatakan, bahwa kematian Pangeran Sultan akan memantik perebutan kekuasaan di Arab Saudi.

Dikatakannya, “Pangeran Nayef dikenal sebagai politisi yang kasar dan merupakan sosok yang melawan segala bentuk reformasi dan dia juga bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran kemanusiaan di Saudi.”

“Banyak warga Arab Saudi yang khawatir jika Pangeran Nayef menjadi Raja Arab Saudi karena penindakan keras terhadap rakyat juga akan semakin meningkat. Namun demikian, munculnya Nayef sebagai Raja Saudi justru membantu mempercepat proses perubahan di negara ini,” tegas al-Ahmad.

Lebih lanjut dijelaskannya, jika Nayef menjadi Raja, media massa Barat khususnya Amerika Serikat akan mengesankan dia sebagai seorang reformer. Namun rakyat Saudi tidak akan dapat melupakan seluruh kejahatan yang dilakukan Nayef selama ini. Tidak ada elemen dan lapisan dalam masyarakat Saudi, telah tidak menjadi korban kejahatan Nayef.

Menurutnya, akan lebih mudah bagi masyarakat, aktivis politik dan HAM Arab Saudi untuk melawan Nayef yang sudah tidak mungkin bersumbunyi di balik pencitraan Barat atau dengan aksi menebar pesona seperti yang dilakukan Raja Abdullah dengan kata-kata dan janji-janjinya.

 

Salafi wahabi adalah Jama’ah Peliharaan Amerika di Indonesia untuk menghadang pengaruh Iran dan syi’ah

Salafi wahabi adalah  Jama’ah Peliharaan Amerika di Indonesia untuk  menghadang pengaruh Iran dan syi’ah
Salafi wahabi adalah  Jama’ah  pengkhianat  islam..

Bocoran telegram diplomat Amerika Serikat di situsWikiLeaks semestinya membuka mata siapa saja pada spionase, paranoia, gila urusan, standar ganda dan mulut ‘ember’ penulisnya – tentu saja kalangan diplomat Amerika, atau begitu lah keinginan awal para pendiri situs semisal Julian Assange. Tapi di Jakarta di awal Syawal ini, konteks besar itu ‘secara misterius’ hilang dalam liputan hampir semua media besar dan ini dampaknya membunuh: lambung pemerintah kita sobek di sana-sini akibat gossip ini itu dalam telegram sementara diplomat Amerika, alih-alih terpojok dan menanggung malu, justru terkesan sebagai pahlawan, penegak pilar demokrasi dan, bahkan, penjaga ‘kewarasan’ orang sebangsa. Ini khususnya tampak dalam pemberitaan pers Jakarta atas isi telegram yang mereka gadang-gadang sebagai ‘fakta percintaan gelap’ antara Front Pembela Islam dan kalangan petinggi polisi dan intelijen, seperti yang dilaporkan diplomat Amerika di Jakarta ke bos-bos mereka di Washington.

Dari pemeriksaan yang lebih dalam atas sejumlah telegram bersubjek Indonesia yang telah terpajang di WikiLeaks dalam dua pekan terakhir, dan membandingkannya dengan isi pers Jakarta, Islam Times juga mendapati adanya semacam ‘permakluman’ yang besar – jika tidak self-censorship – di kalangan redaksi media yang berujung pada keputusan mereka untuk, sejauh ini, tak menuliskan detil-detil ‘sensitif’ dalam telegram di berita mereka, sebuah isyarat adanya kemungkinan pengkhianatan besar pada janji profesi mereka untuk meletakkan kepentingan publik di atas segalanya.

Pemeriksaan lebih jauh dengan membandingkan naskah utuh sejumlah telegram yang terpajang diWikiLeaks dengan isi liputan The Age, koran Australia yang lebih dulu mendapatkan akses ‘eksklusif’ pada arsip WikiLeaks dan mempublikasikan laporannya pada 11 Maret 2011 — The Agehingga kini tak pernah mempublikasikan naskah utuh telegram yang mereka klaim terima secara khusus dari WikiLeaks, Islam Times mendapati media Australia itu cenderung hanya memberitakan apa yang menurut mereka perlu publik ketahui dan bukan pada informasi utuh yang tertera dalam telegram. Bahkan, kami mendapati ada kesan media Australia itu dengan sengaja menyitir pemberitaan.

Kami juga mendapati adanya ‘keanehan besar’ dalam pemberitaan media-media besar Jakarta yang dalam beberapa hari terakhir ini seolah terobsesi menyoroti ‘koneksi’ FPI-Polisi-Intelijen meski faktanya, dalam telegram yang sama, ada banyak subjek lain yang penting, menarik dan patut diketahui publik.

Dalam ulasan bersambung berikut, telegram pertama yang menjadi subjek pemeriksaan kami adalah kawat diplomatik berjudul “Indonesian Biographical and Political Gossip”. Kode Q4 2005/Q1 2006 di kepala dokumen mengisyaratkan gossip politik dalam kawat ini adalah yang muncul di jagad politik nasional dalam rentang kuartal IV 2005 hingga kuartal pertama 2006. Temanya beragam dengan jumlah total dua lusin lebih:

1. Soal ‘Peran Informal’ Keluarga Presiden
Diplomat Amerika dalam subjek ini menyandarkan gosip yang mereka kirim ke Washington pada Roy Janis, bekas politisi PDI-Perjuangan. Kata telegram, dari Roy lah diplomat Amerika di Jakarta mendengar kalau keluarga besar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya peran yang lebih besar dalam penentuan kebijakan negara. (Roy dalam bagian ini digambarkan tetap bisa menjalin hubungan ‘tak langsung’ dengan Presiden Susilo via ‘keluarga presiden’, bahkan setelah dia keluar dari PDI-P pada 2005). Digambarkan sebagai ‘kelompok informal’, keluarga besar presiden disebutkan ‘rutin bertemu’ untuk mendiskusikan ‘urusan-urusan kebijakan’. Rapat, kata telegram, dihadiri oleh istri presiden, Kristiani Yudhoyono; Gatot Suwondo (ipar presiden yang sekaligus pejabat senior di Bank BNI); Brigadir Jenderal Pramono Edhi Wibowo (ipar lain presiden yang, kala telegram dikawatkan ke Washington, masih menjabat sebagai Komandan Kopassus). Roy, kata telegram, juga mengklaim kalau Hadi Utomo, juga ipar presiden, baru menjadi peserta tetap rapat keluarga itu setelah dia menjadi petinggi di Partai Demokrat, partai rintisan presiden.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak mencantumkan teks telegram bagian ini saat menurunkan laporannya bertajuk “Yudhoyono abused power”, 11 Maret 2011. Pihak Presiden Susilo juga telah melayangkan bantahan keras sejak The Age melansir berita yang di dalamnya menyebut-nyebut peran sentral Ibu Negara Kristiani Yudhoyono dalam pengambilan kebijakan pemerintahan).

2. Soal Hubungan Presiden dan Taufik Kiemas
Sumber gossip yang dalam tema ini dari T.B. Silalahi, penasihat presiden di tahun 2005. Kata telegram, Silalahi berbicara dengan diplomat Amerika di Jakarta pada Oktober 2005 dan membisikkan kalau Hendarman Supandji, seorang jaksa senior kala itu, yang kebetulan memimpin tim pemberantasan korupsi di kejaksaan usat, telah mengantongi cukup bukti untuk mengeluarkan surat penangkapan atas apa yang digambarkan dalam telegram sebagai ‘korupsi’ Taufik Kiemas. Tapi, kata Silalahi, Presiden Susilo sendiri yang mengistruksikan ke Hendarman untuk menghentikan penyidikan atas diri Taufik.

(Catatan Islam Times: dalam telegram yang lain, T.B Silalahi digambarkan oleh diplomat Amerika di Jakarta sebagai “sepupu” Sudi Silalahi).

(Catatan Islam Times: The Age memuat utuh isi telegram bagian ini).

3. Soal Dana Kampanye Presiden Susilo
Gossip dalam subjek ini bersumber dari Silo Marbun, orang dekat Vence Rumengkang, politisi yang pernah menjabat sebagai Deputi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat. Telegram bilang kalau usai Pemilu 2004, Presiden Susilo menawarkan jabatan ke Vence, plus cek Rp 5 miliar. Yang terakhir digambarkan sebagai imbalan atas kontribusi besar Vence pada Partai. (“Marbun menggambarkan Vence sebagai donatur utama Demokrat di tahun-tahun awal partai). Vence kabarnya menolak dua tawaran Presiden Susilo itu dan bilang dia hanya berharap berlanjutnya sokongan Presiden. Marbun juga bergosip dan bilang kalau Aburizal Bakrie menyumbang Rp 200 miliar untuk kampanye Presiden Susilo pada Pemilu 2004.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyebut bagian ini).

3. Soal ‘Pembangkangan’ Yusril Ihza Mahendra
Gossip dalam subjek ini bersumber dari Yahya Asagaf yang disebutkan sebagai “asisten Kepala Badan Intelijen Negara”, Syamsir Siregar. Yahya, kata telegram, bilang kalau Presiden Susilo pernah memanggil Syamsir dan minta yang terakhir mengirim spion untuk memata-matai gerak Sekretaris Kabinet, Yusril Ihza Mahendra. Presiden Yudhoyono, kata telegram, marah sebab Yusril berdalih minta izin cuti sepekan untuk kembali ke kampung halaman demi mengurus urusan keluarga tapi belakangan diketahui bepergian ke Singapura dan Vietnam. Kata Yahya, pejabat di Singapura belakangan mengetahui kalau Yusril datang untuk bertemu kalangan pebisnis China. Yahya, kabarnya berada di ruang yang sama saat Syamsir menerima telepon dari Presiden Susilo, bilang kalau ini sudah kali kedua Yusril melakukan perjalanan yang tak disetujui presiden.

(Catatan Islam Times: Laporan The Age dan pers Jakarta sejauh ini ‘menyembunyikan’ sosok Yahya, menggambarkannya ‘hanya’ sebagai “agen BIN”, dan seperti sengaja ‘menceraikannya’ dengan sosok Syamsir Siregar dalam telegram. Laporan The Age juga menyebutkan kalau pengutusan intel BIN untuk memata-matai gerak Yusril semata karena dia adalah musuh politik presiden dan bukan karena soal Yusril sudah dua kali mengajukan alasan izin palsu: … “The cables say Dr Yudhoyono has personally intervened to influence prosecutors and judges to protect corrupt political figures and pressure his adversaries, while using the Indonesian intelligence service to spy on political rivals and, at least once, a senior minister in his own government.”)

4. Soal Dugaan ‘Simpati’ Seorang Menteri pada Ba’asyir
Sumber dalam gossip tema ini masih Yahya Asagaf. Yahya bergosip ke diplomat Amerika di Jakarta kalau Menteri Agama di tahun itu, Maftuh Basyuni, bersimpati pada Abu Bakar Ba’asyir, sosok kontroversial yang, dalam telegram, digambarkan sebagai bos besar ‘Jamaah Islamiyah’. Kata Yahya, usai mengikuti sebuah seminar di pesantren Ba’asyir, Maftuh kembali ke Jakarta dan bilang ke Yahya kalau orang-orang Ngruki “baik” dan “intelektual”. Yahya juga bilang kalau Mahfuh berencana mendukung pembangunan jalan baru menuju kawasan pesantren. Kata Yahya lagi, berdasarkan yang dia dengar dari Maftuh, bos besar BIN, Syamsir Siregar, pernah mengirim donasi untuk Ngruki. Di telegram, Yahya bilang kalau dia belum mengkonfirmasi soal yang terakhir ini ke Syamsir kendati dia bilang dia menduga ini benar adanya, mengingat Syamsir ingin mendukung kalangan ‘moderat’ di Ngruki.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyinggung tema ini)

5. Soal Tuduhan Menteri Sudi Terkait Rusuh di Ambon
Gossip dalam tema ini bersumber dari Roy Janis. Tanggal gossip tak disebutkan. Intinya: Roy kabarnya pernah mendengar kalau Sudi Silalahi, kala itu adalah Menteri Koordinator Politik dan Keamanan), berada di balik pecahnya kekerasan sektarian di Maluku. Roy, kata telegram, telah mengecek kabar ini ke Engelina Pattiasina, seorang anggota parlemen dari Maluku, dan mengeluhkan kekerasan di Maluku dan sosok Sudi di baliknya. Tak berapa lama lepas itu, kekerasan di Maluku berhenti dan Roy menangkap kejadian itu sebagai ‘bukti’ kemampuan Sudi mengontrol situasi dan, sebab itu, dia punya saham di balik kekerasan di Ambon. (Catatan Islam Times: dalam telegram, tak ada penjelasan apa kaitan antara Engelina dan Sudi).

Sumber gossip kedua dalam tema ini adalah “seorang diplomat Singapura” yang identitasnya tak disebutkan. Intinya, sang diplomat Singapura mendapati kesan kalau Sudi membina hubungan dengan “kelompok-kelompok radikal Islam”. Kata sang diplomat Singapura, beberapa editor senior media secara terpisah menaikkan berita seputar sebuah pertemuan di bulan Ramadhan 2005 yang dihadiri oleh seorang perwakilan Noordin Top (buron, tokoh sentral Jamaah Islamiyah kala itu) dan seorang wakil Sudi, kalau tidak Sudi sendiri. Kalangan editor berbisik ke sang diplomat Singapura kalau wajar Sudi hadir dalam rapat seperti itu mengingat dia punya koneksi dengan kalangan kelompok Islam. Ada catatan dalam telegram sekaitan hal ini. Disebutkan bahwa pada 15 November 2005, Harian Kompas menggambarkan terjadinya sebuah pertemuan pada 7 November, beberapa hari sebelum polisi membunuh Azahari dalam sebuah penggerebekan. Tujuan pertemuan disebutkan untuk memfasilitasi gencatan senjata agar JI berhenti dari menebar teror bom dan sebagai gantinya pemerintah tak akan mengejar mereka lagi.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyinggung tema ini)

6. Soal Tuduhan Presiden Menekan Hakim
Telegram bilang kalau Yenny Wahid (kala itu masih menjabat sebagai Deputi Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa) telah berbicara ke diplomat Amerika di Jakarta dan bilang kalau PKB “tak punya pilihan” kecuali mengatur mendukung Presiden Susilo di tengah perlawanan keras Abdurrahman Wahid (ayahnya, sekaligus bekas presiden) pada rezim yang berkuasa. Yenny disebutkan bilang orang-orang sangat berpengaruh di lingkaran Presiden Susilo telah mencoba mempengaruhi hasil persidangan, dengan mengintimidasi hakim, terkait sengketa dualisme PKB di pengadilan. Telegram bilang Yenny nampaknya merujuk ke sosok Sudi Silalahi. Kata telegram, Sudi mengirim orang-orangnya ke hakim yang menangani perkara dan bilang kalau Wahid adalah pembuat onar, dan jika putusan memenangkan Wahid, bisa jadi pemerintah tumbang. Yenny kemudian bilang kalau hakim yang kena tekanan melaporkan insiden ini ke tokoh PKB, yang kemudian mengajukan komplain ke Presiden Susilo. Yenny lalu bilang kalau presiden kala itu terlihat ‘terperajat’ dan ‘kecewa’ mendengarnya. Yenny juga bilang penunjukan Erman Suparno sebagai Menteri Tenaga Kerja kala itu nampaknya sebagai kompensasi atas intervensi rezim dalam kasus sengketa dualisme PKB.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyinggung tema ini. Di sejumlah media Jakarta, lepas The Age menurunkan berita eksklusif yang antara lain menggambarkan adanya tekanan Sudi pada hakim yang mengadili sengketa dualisme kepengurusan PKB, Yenny termasuk yang menyayangkan adanya intervensi dari pemerintah).

7. Soal Tudingan Aksa Mahmud ‘Bermain’ di PKB
Gosip dalam tema ini masih bersumber pada sosok Yenny Wahid. Yenny, kata telegram, membisikkan ke telinga diplomat Amerika di Jakarta kalau Aksa Mahmud, besan Jusuf Kalla (dalam telegram digambarkan salah sebagai “saudara” Jusuf Kalla), menggelontorkan banyak uang demi kemenangan kubu Alwi Shihab dalam Kongres PKB pada 2005.

Sumber lain gosip dalam tema ini adalah bekas politisi Partai Amanat Nasional, Alvin Lie. Dalam telegram, Alvin disebutkan membisikkan gosip kalau Ali Masykur Musa (kala itu menjabat sebagai Ketua Fraksi PKB di DPR) bentrok dengan bos besar partai kala itu, Abdurrahman Wahid. Ceritanya, dalam sebuah debat soal pemotongan subsidi bensin di DPR pada Maret 2005, Ali Masykur menerima “banyak uang” dari Aksa Mahmud sebagai gantinya PKB akan mendukung rencana pemerintah memangkas subsidi bensin. Kendati, kata telegram, Ali Masykur memakan sendiri uang itu dan sebab itulah partai tak mendapat dukungan rezim.

(Catatan Islam Times: bagian ini sama sekali tak tercantum dalam laporan The Age).

8. Soal Yenny Wahid yang Dianggap Belum Lihat Membagi Amplop
Yenny jadi subjek gosip dalam tema ini. Sumbernya: diplomat Singapura yang tak disebutkan identitasnya. Kata sang diplomat Singapura, berdasarkan informasi yang dia dengar dari Khofifah Indar Parawansa, Yenny mencoba mempengaruhi delegasi Kongres Fatayat NU agar mendukung kandidat lawan Khofifah dengan membagi-bagikan sendiri ‘amplop’ ke peserta kongres. Sang diplomat menggambarkan Yenny bukan juru bayar yang ‘baik’. Langkahnya mudah dibaca, sosoknya selalu terlihat, dan kerap membagikan uang justru ke asisten peserta kongres dan bahkan ke peserta kongres yang telah berniat memilih Khofifah. Yang terakhir menang telak dalam kongres kala itu.

(Catatan Islam Times: The Age sama sekali tak menyinggung subjek ini, begitupun dengan hampir semua media Jakarta hingga hari ini).

9. Soal Tuduhan Hubungan Gelap FPI-Polisi-Intelijen
Yahya Asagaf kembali jadi sumber gosip dalam tema ini. Kata telegram, Yahya punya hubungan yang cukup baik dengan FPI sehingga bisa membisikkan sejak awal ke kalangan diplomat Amerika di Jakarta kalau FPI bakal menggelar ‘vandalisme’ di depan Kedutaan pada 19 Februari. (CatatanIslam Times: informasi ini mungkin bisa menjawab keheranan banyak kelangan kenapa diplomat Amerika di Jakarta begitu sigap dan siap merekam kekerasan yang terjadi di luar pagar kedutaan tempo hari). Yahya, kata telegram, sebelumnya juga membisikkan kalau bos besar Polisi Indonesia kala itu, Sutanto (kini Kepala BIN), telah mengalokasikan sejumlah dana ke FPI namun pasca insiden itu dia memutuskan menghentikannya. Yahya, saat ditanya oleh diplomat Amerika di Jakarta kenapa Sutanto mau berbuat seperti itu, menjawab kalau Sutanto mendapati FPI baik jika bisa menjadi “anjing penyerang”. Saat dikejar dengan pertanyaan kegunaan FPI bagi Sutanto, mengingat polisi juga bisa mengintimidasi (jika mau), Yahya lalu menggambarkan FPI sebagai alat multiguna yang bisa menyelamatkan ‘aparat keamanan’ dari kena kritik sebagai pelanggar hak asasi. Dia juga bilang kalau kebijakan aparat keamanan mendanai FPI sudah jadi sebuah “tradisi”. Kata Yahya, Ali As’ad, bekas deputi BIN, adalah tokoh intelejen utama yang mendanai FPI. Yahya bilang kalau dana FPI bersumber dari kalangan aparat keamanan, namun sejak medio Februari, FPI mendadak kesulitan dana.

[(Catatan Islam Times: sejauh ini, setidaknya ada enam lembar telegram di WikiLeaks yang memuat nama Yahya Asagaf. Di masing-masingnya, tercantum keterangan yang bervariasi soal siapa dia. Dia sekali digambarkan sebagai “seorang penasihat yang dekat dengan Kepala BIN Syamsir Siregar”, sekali sebagai “penasihat Syamsir Siregar untuk urusan Timur Tengah, dua kali sebagai “a political appointee at the State Intelligence Agency (BIN)”, sekali sebagai “ State Intelligence Agency (BIN) Chairman)”, sekali sebagai “State Intelligence Agency (BIN) official”, sekali sebagai “an assistant to State Intelligence Agency (BIN) Chief, Syamsir Siregar”.

Sementara itu, di TempoInteraktif.com, 4 September 2011, Ketua Dewan Pengurus Pusat FPI, Munarman, menggambarkan Yahya sebagai “antek Amerika”, “pengkhianat”, penjual “informasi negara”, dan bilang kalau salah seorang anak Yahya, Hani Y Assegaf, sebagai pendiri Indonesia Israel Publik Affair Commitee (IIPAC), kelompok lobi pro Israel berbasis Jakarta, yang belakangan sempat memicu kontroversi dengan menggusung rencana Perayaan Hari Kemerdekaan Israel di Jakarta.

Kendati, sumber-sumber Islam Times di jalur keamanan non-formal menegaskan kalau Yahya Asagaf bukan personel BIN meski lembaga intelijen negara pernah menggunakan ‘jasanya’ (kemungkinan dalam kaitannya kontak dengan pemerintah Israel). Seorang sumber menggambarkan Yahya sebagai warga keturunan Arab kelahiran Jawa Tengah yang tak memiliki “darah Assegaf”, punya koneksi luas di dalam dan luar negeri (termasuk Eropa dan Israel), dan “tak tersentuh” bahkan oleh pejabat BIN yang masih aktif sekalipun. Sejauh ini belum ada respon dari intelijen negara sementara polisi telah menyatakan bantahan keras atas tuduhan mereka ‘memelihara’ FPI. )]

10. Soal Majalah Playboy dan FPI
Sumber gosip tema ini adalah Ponti Carolus Pandean, bos PT Velvel Silver Media, penerbit Majalah saru Playboy. Telegram bilang kalau Ponti berbicara ke diplomat Amerika di Jakarta kalau dia beberapa kali mencoba ‘membeli’ petinggi FPI demi kelancaran peluncuran perdana majalahnya. Ponti, digambarkan masih tercatat sebagai Deputi Sekretaris Jenderal Partai Demokrat hingga 2005), pernah menyerahkan sekitar US$ 1.500 ke Rizieq Shihab, bos besar FPI, sebagai kompensasi Rizieq bersedia diwawancarai. Saat Playboy terbit dan kontroversi membara, dia juga bilang ke diplomat Amerika kalau dia kembali menemui Rizieq dan menyerahkan uang sekitar Rp 40 juta, sebagai hadiah lebaran Idul Adha. Kata Ponti lagi, pengurus FPI kelas cere juga kerap datang ke kantornya meminta uang yang nilainya sekitar US$ 50. Telegram lalu mencantumkan informasi bahwa FPI cenderung diam saat peluncuran Playboy namun pada 12 April, saat majalah terbit pertama kali, massa FPI menyambangi dan merusak kantor majalah.

Kata Ponti lagi, Presiden Susilo awalnya setuju diinterview di edisi perdana Playboy. Presiden, katanya lagi, juga awalnya setuju hadir dalam peluncuran perdana majalah di Bali (sekalipun belakangan batal seiring pecahnya kontroversi akibat kehadiran majalah). Kata Ponti, Presiden Susilo sempat memberi sumbang saran agar wanita yang pose syurnya terpajang di majalah itu bukan warga Indonesia.)

11. Soal Keinginan Agung Laksono Merintis Poros Jakarta-Tehran
Sumber gosip soal ini adalah Arief Budiman, yang dalam telegram digambarkan sebagai bos Kelompok Intelektual Muda Partai Golkar. Kata Arief, Ketua DPR kala itu, Agung Laksono, sempat berkonsultasi dengan figur terkenal Shiah di Indonesia, Jalaluddin Rakhmat, menjelang kunjungannya ke Tehran.

Agung kabarnya mengharapkan ada jalinan kerjasama antara DPR dan parlemen di Iran, dan mengharapkan Jalaluddin bisa membantu dengan menggalang dukungan via majelis ulama di Iran. Arief, kata telegram, mengklaim kalau Agung terlihat simpatik pada proyek pembangkit listrik nuklir Iran dan percaya kalau langkah pemerintah Iran di bidang itu sepenuhnya dalam tujuan damai.

12. Soal Hubungan PKS-Hamas-Ikhwanul Muslimin
Telegram bilang kalau Zulkiflimansyah, anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera, mengklaim kalau PKS, dalam kontak-kontaknya dengan pihak Ikhwanul Muslimin di Mesir dan Hamas di Palestina, mendorong kelompok-kelompok itu untuk menggapai kekuasaan via pemilu. Zulkiflimansyah, kata telegram, menyebut Anis Matta sebagai kanal komunikasi utama partai dengan Hamas dan Ikhwan di Mesir.

13. Soal Fuad Bawasyir dan Al-Irsyad
Telegram bilang kalau diplomat Amerika sempat bersua Fuad Bawazier dan menanyakan kabar burung kedekatannya dengan organisasi Al-Irsyad. Fuad, kata telegram, bilang dia tak punya koneksi apapun, meski pernah sempat mencoba mendamaikan faksi-faksi dalam organisasi tersebut. Di bagian ini, gosip lain bersumber dari Yahya Asegaf (digambarkan sebagai pejabat BIN). Telegram bilang kalau Yahya percaya kalau dalam Al-Irsyad ada veteran Perang Afghanistan dan sekitar 50 orang di antara anggota organisasi itu telah menerima militer di Yaman. Yahya bilang bakal sulit bagi pemerintah memberangus Al Irsyad sebab Jaksa Agung Abdurrahman Saleh adalah anggota organisasi.

14. Soal Kemampuan Berbahasa Inggris Hadi Utomo
Bagian ini bukan gosip. Telegram bilang Duta Besar Amerika bersua bos besar Partai Demokrat, Hadi Utomo, dan para pejabat senior partai lainnya, di markas besar partai. Kata telegram, bahasa Inggris Hadi pas-pasan. Tiap kali pembicaraan berpusar pada soal politik, dia memilih menggunakan Bahasa Indonesia. Bahkan dalam pertemuan yang digambarkan dalam telegram sebagai “informal”, Hadi berpatokan pada tulisan yang telah dikonsep sebelumnya dan memilih ‘menitip’ pertanyaan ke bawahannya untuk duta Amerika.

15. Soal Suripto: Pengaruh dan Latar Belakang
Gosip soal ini bersumber dari “seorang bekas pejabat Kementrian Pertanian”. Kata telegram, lepas Anton Apriyantono jadi Menteri Pertanian, Ketua Dewan Pakar PKS, Suripto, menempatkan orang-orang PKS di beberapa posisi eselon satu di kementrian, demi memastikan adanya loyalitas pada partai. Sumber lain gosip dalam tema ini adalah Hariman Siregar. Kata telegram, diplomat Amerika bersua dengan Hariman mendiskusikan ‘tuduhan’ kalau Suripto ikut terlibat dalam Kerusuhan Malari 1972. Hariman lalu bilang ke diplomat Amerika kalau Suripto tak ikut dalam kejadian itu, sekalipun rumor bilang sebaliknya. Kendati, kata Hariman, rumor bahwa Suripto tersangkut kejadian itu menjadi penyebab istri Suripto sakit dan akhirnya meninggal. Hariman mengklaim kalau Suripto adalah tangan kanan Fuad Hassan saat Fuad menjabat Menteri Pendidikan (1985-1993). Telegram bilang kalau anggota DPR dari Fraksi PDI-Perjuangan, Amris Hassan (anak Fuad Hassan), telah berbicara ke diplomat Amerika di Jakarta dan bilang kalau Fuad dan Suripto punya hubungan dekat. Amris juga menggambarkan ke diplomat Amerika kalau Suripto punya koneksi terbaik ke seluruh spektrum organisasi mahasiswa, dari ekstrim kiri hingga ekstrim kanan.

16. Soal Koneksi Penasihat Presiden ke Kubu Megawati
Telegram bilang kalau penasihat Presiden Susilo, T.B. Silalahi, membisikkan ke diplomat Amerika di Jakarta kalau dia telah berulang kali membujuk Megawati Soekarnoputri untuk bertemu Presiden Susilo, namun Megawati selalu menolak. Telegram lalu menyebut alternatif kanal hubungan Silalahi ke Megawati: Puan Mahari (putri Megawati), Guruh Soekarnoputra dan Tjahjo Kumolo, politisi senior PDI-P.

17. Soal Hendropriyono Mengincar Kursi Gubernur Jakarta?
Sumber gosip soal ini adalah Yahya Asagaf. Telegram bilang kalau Yahya pernah mendengar sendiri dari bekas Kepala BIN, Hendropriyono, pada akhir 2005 kalau dia mengincar jabatan Gubernur DKI Jakarta pada Pemilu 2007. Kata telegram, sejak saat itu Yahya tak pernah lagi mendengar kabar lain soal rencana ini. Informan-informan diplomat Amerika lainnya bilang kalau Hendropriyono memang pernah serius dengan ide itu, namun hanya sedikit yang menyokong.

18. Soal Kedekatan PKS dan Menteri Kesehatan
Kata telegram, anggota Majelis Syuro PKS, Syahfan Badri, pernah bilang ke diplomat Amerika di Jakarta kalau PKS punya hubungan dekat dengan Menteri Kesehatan, Siti Fadilah Supari. Badri, kata telegram, bilang kalau Siti kerap mengundang anggota parlemen dari PKS untuk berkunjung ke kawasan yang kena krisis kesehatan. Telegram memberi catatan: informasi ini mengisyaratkan reputasi PKS di bidang penangangan bencana dan penyaluran bantuan).

19. Soal Amien Rais Mengecam Amerika
Telegram bilang kalau menurut Alvin Lie, dulunya anggota DPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional, hubungan Amien Rais dan Soetrisno Bachir memburuk pada akhir 2005. Dalam konteks itulah, kata Alvin, Amien kemudian secara sengaja fokus pada soal-soal internasional, guna membangun citra pemimpin yang berkelas sekaligus menghindari konflik dengan Soetrisno. Telegram lalu mendaftar nada-nada “anti Amerika” dalam pernyataan Amien Rais. Amien disebutkan mengkritik invasi Amerika atas Irak dan Afghanistan, skandal penyiksaan tahanan di Irak dan Guantanamo, dan menyebut respon pemerintah Amerika pada korban Badai Katrina menunjukkan “sikap rasis”. Amin, kata telegram, juga mengingatkan pemerintah untuk menghindar dari rencana penggerebekan pesantren (disebutkan sebagai bagian dari counter-terrorisme) dan bila pemerintah berkeras dalam melakukannya maka pemerintah beresiko kena stigma sebagai “alat imperialisme Amerika Serikat.”

20. Soal Daftar Calon Menteri Partai Golkar
Telegram bilang kalau berdasarkan informasi dari Arief Budiman, diplomat Amerika di Jakarta mengetahui 10 nama yang diusulkan Partai Golkar saat Presiden Susilo merencanakan kocok ulang susunan kabinet. Nama-nama tersebut adalah: Theo Sambuaga (Menteri Pertahanan), Andi Mattalatta (Menteri Hak Asasi Manusia), Burhanuddin Napitupulu (Menteri Perumahan), Aulia Rachman (Menteri Hak Asasi Manusia atau Jaksa Agung), Rully Azwar (Menteri Perindustrian), Paskah Suzetta (Menteri Keuangan), Yuddy Krisnandi (Menteri Pemuda dan Olah Raga), Firman Subagio (Menteri Kooperasi), Yuniwati (Menteri Peranan Wanita), Agus Manafendi (Menteri Energi). Telegram membubuhkan catatan yang berisi ‘keyakinan’ diplomat Amerika pada Arief yang mereka anggap punya cukup akses untuk mendapatkan daftar calon menteri usulan partai dari Ketua Umum Golkar, Agung Laksono.

21. Soal Hubungan Mitra Tomy Winata dengan Presiden Susilo
Soal ini, telegram diplomat Amerika di Jakarta ke Washington merujuk pada informasi dari Alvien Lie, anggota parlemen yang digambarkan berdarah China-Indonesia. Kata telegram, saat masa kampanye Pemilu 2004, dua warga berdarah China aktif mendorong dia untuk bergabung dalam kubu Presiden Susilo. Alvien menyebut nama: Ridwan Soeriyadi (yang digambarkan oleh diplomat Amerika sebagai punya koneksi dengan Partai Demokrat) dan Sugima Kusuma alias Sugianto Kusuma alias Aguan. Telegram bilang kalau dalam sesi terpisah, diplomat Amerika di Jakarta mendengar dari David Lin, bos Kamar Dagang dan Industri Taiwan, kalau dia kerap bertemua Aguan, dan bilang kalau Aguan adalah parner bisnis senior Tomy Winata (digambarkan dalam telegram sebagai “underworld figure”). Lin, kata telegram lagi, mengisyaratkan kalau Aguan punya kepentingan yang sama dengan Tomy meski dia pada dasarnya lebih nyaman dalam berhubungan dengan kalangan diplomat. Telegram lalu membubuhkan catatan akhir: Pada Maret 2003, MajalahGatra mewawancarai Tomy yang isinya antara lain pernyataan Tomy kalau dia dan Sugiyanto punya hubungan. Dalam laporan Gatra, kata telegram, Tomy menggambarkan Sugiyanto sebagai seorang “bos”. Kata telegram, ada kabar burung kalau Sugiyanto dan Tomy adalah anggota “Gang of Nine” atau “Sembilan Naga”, sindikat perjudian papan atas.

[(Catatan Islam Times: dalam mewartawan bagian ini, The Age sama sekali tak menyebut nama Alvien Lie dan Aguan saat menggambarkan Tomy sebagai “underworld figure”. (Tomy belakangan membantah isi pemberitaan The Age). Media Australia itu terkesan hanya mengambil bagian ‘sensasional’ dan menggabungkannya dengan isi telegram lain.

The Age menulis: “In the course of investigating the President’s private, political and business interests, American diplomats noted alleged links between Yudhoyono and Chinese-Indonesian businessmen, most notably Tomy Winata, an alleged underworld figure and member of the “Gang of Nine” or “Nine Dragons,” a leading gambling syndicate.

In 2006, Agung Laksono, now Yudhoyono’s Co-ordinating Minister for People’s Welfare, told US embassy officers that TB Silalahi “functioned as a middleman, relaying funds from Winata to Yudhoyono, protecting the president from the potential liabilities that could arise if Yudhoyono were to deal with Tomy directly”.

Tomy Winata reportedly also used prominent entrepreneur Muhammad Lutfi as a channel of funding to Yudhoyono. Yudhoyono appointed Lutfi chairman of Indonesia’s Investment Co-ordinating Board.

Senior State Intelligence Agency official Yahya Asagaf also told the US embassy Tomy Winata was trying to cultivate influence by using a senior presidential aide as his channel to first lady Kristiani Herawati.”

Dari pemeriksaan telegram yang, semestinya, jadi rujukan The Age, Islam Times mendapati dua paragraf bersambung berikut yang intinya menunjukkan The Age melakukan ‘kesalahan fantastis’ dalam memahami dan memberitakan isi telegram:

“(C/NF) Dave Laksono told us presidential advisor T.B. Silalahi functioned as a middleman, relaying funds from Tomy to President Yudhoyono, protecting Yudhoyono from the potential liabilities that could arise if Yudhoyono were to deal with Tomy directly.”

“(C/NF) State Intelligency Agency (BIN) official Yahya Asagaf told us that Tomy Winata was trying to cultivate influence by using Presidential Secretary Kurdi Mustofa as his channel to First Lady Kristiani Herawati. A contact from the Golkar party told us that, during the 2004 campaign, Tomy also had sought to use Muhammad Lutfi (now Chairman of the Investment Coordination Board) as a channel of funding to Yudhoyono’s campaign.”

Telegram Dari Setan Besar (2):

Salafi wahabi adalah  Jama’ah Peliharaan Amerika di Indonesia untuk  menghadang pengaruh Iran dan syi’ah
Salafi wahabi adalah  Jama’ah  pengkhianat..

Ini bagian kedua dari pemeriksaan Islam Timesatas gulungan kawat diplomat Amerika Serikat di Jakarta yang jatuh ke tangan pengelola situs WikiLeaks dan kini bisa diakses oleh siapa saja. Kami memutuskan memberi perhatian khusus di tengah keputusan banyak media menutup mata pada informasi penting dalam dokumen. Ini lah kisah yang tak ingin didengar diplomat Amerika di Jakarta dan seluruh aset dan orang-orang yang pernah dan mungkin masih bermitra dengan mereka, swasta, partikelir, ataupun pejabat. Sebuah drama berbalut kasak-kusuk, spionase, dan cerita tentang loyalitas yang tergadai.

Islam Times- Dalam tulisan sebelumnya, Islam Times telah memaparkan ‘kesalahan fantastis’ koran tersohor Australia, The Age, dalam memahami dan melaporkan isi sebuah kawat diplomat Amerika di Jakarta yang mereka dapatkan secara eksklusif dari WikiLeaks pada Maret 2011. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan kalau koran menerapkan sejenis apartheisme atas mereka yang namanya muncul dalam telegram sebagai informan kedutaan. Koran, misalnya, tak masalah memberitakan kedekatan khusus T.B. Silalahi (bekas pejabat istana) dan Yahya Asagaf (orang dekat Syamsir Siregar, bekas Kepala BIN) dengan kalangan diplomat Amerika di Jakarta. Tapi, saat yang sama, koran seperti sengaja menyembunyikan identitas Yenny Wahid dan Dave Laksono meski telegram yang menjadi rujukan mereka adalah telegram yang sama yang memuat cerita T.B. Silalahi dan Yahya.

Yenny Wahid , bedasarkan sebuah telegram bertajuk “A Cabinet Of One — Indonesia’s First Lady Expands Her Influence (dikawatkan dari Jakarta pada 17 Oktober 2007 dengan status “Rahasia” oleh Joseph Legend Novak, perwira politik kedutaan), adalah “staf kepresidenan yang mengklaim pada medio Juni 2007 kalau sejumlah keluarga Ibu Negara Kristiani Yudhoyono secara khusus mengincar peluang-peluang bisnis di Badan Usaha Negara”. Yenny, kata telegram, menggambarkan Presiden Susilo bermain cantik, mendorong operator-operator terdekatnya (semisal Sudi Silalahi) di depan dan dia sendiri mempertahankan cukup jarak demi mencegah kemungkinan tersangkut.

Dave Laksono adalah putra Agung Laksono (bekas Ketua DPR) yang, dalam sejumlah telegram, digambarkan sebagai “operator politik Agung”. Dia lah yang menyebutkan kalau dalam sebuah pertemuan dengan Agung pada 5 Juni 2007, Presiden Susilo mengeluhkan kegagalannya membangun benteng bisnis yang memadai. “Dave – yang tidak mengindikasikan apakah dia turut hadir dalam diskusi itu – bilang Yudhoyono merasa perlu “mengejar ketertinggalan” dan berspekulasi kalau Presiden mungkin ingin memastikan kelak dia bisa mewariskan harta yang cukup besar untuk anak-anaknya.”

Dari pemeriksaan lebih jauh, Islam Times mendapati kalau dalam kawat ke Washington, pihak kedutaan juga menerapkan perlakukan berbeda atas informan mereka di Jakarta. Sebagian mereka sebut begitu saja, nama, jabatan ataupun profesi lalu informasi yang mereka bisikkan ke pihak kedutaan. Ini misalnya terjadi pada informan semacam Dave Laksono, T.B. Silalahim, Yahya Asegaf, Fachri Hamzah, Dzulkiflimansyah dan masih banyak lagi. Tapi sebagian nama informan lainnya mereka sebut dengan catatan khusus, “Strictly Protect”, dan sejumlah nama lainnya lagi mereka beri catatan “Please Protect” dan inilah subjek seri tulisan kali ini.

Makna “Strictly Protect” & “Please Protect”

Belum ada informasi resmi, dan mungkin tak akan pernah ada, soal apa makna “Strictly Protect”, secara harfiah berarti “Lindungi Ketat”, dan “Please Protect” (“Tolong Lindungi”) dalam telegram diplomat Amerika. Tapi sebagian kalangan percaya kalau kedua frase ini ‘sensitif’ dan merujuk pada orang-orang yang berbicara dalam kerahasiaan dengan pihak kedutaan. Ada pula yang berpendapat kalau kedua predikat itu berlaku bagi mereka yang memberi informasi secara reguler dan sensitif dan sebab itu lah kedutaan meminta Washington menjaganya rapat-rapat.

(Catatan Islam Times: keberadaan frase “Strictly Protect” dan “Please Protect” dalam telegram telah mendorong pejabat Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat dan kalangan “pegiat hak asasi” menyesalkan keputusan WikiLeaks memajang telegram tanpa sensor. Mereka bilang pemuatan nama bisa membawa dampak memukul bagi kalangan aktivis, jurnalis dan tokoh-tokoh masyarakat sipil yang menjadi informan kedutaan Amerika, utamanya mereka yang tinggal di negara “otoriter”).

Dari pemeriksaan, Islam Times mendapati kalau frase “Strictly Protect” ada di setengah lusin lebih telegram dari Kedutaan Amerika di Jakarta sementara “Please Protect” muncul dalam 38 telegram – dari total 3.059 telegram sekaitan Indonesia sejauh ini. Pemeriksaan lainnya menunjukkan kalau pada setiap mereka yang berstatus khusus itu punya kisahnya tersendiri, yang kemudian menjadi bagian dari informasi penting, dan juga kabar burung, yang dikawatkan para diplomat Amerika di Jakarta ke bos-bos mereka di Washington.

Berikut nama sejumlah pihak yang dalam telegram diplomat Amerika diberi predikat “Strictly Protect”:

1. Yenny Wahid

Nama Yenny Wahid muncul di 16 kawat diplomatik, sejauh ini. (Sebagai perbandingan, “Dave Laksono” muncul di delapan telegram, “Yahya Asagaf” enam telegram, “T.B Silalahi” 17 telegram dan “Kristiani Yudhoyono” delapan telegram). Diplomat Amerika umumnya menggambarkan Yenny sebagai pejabat senior Partai Kebangkitan Bangsa, sekali sebagai staf presiden (catatan: Yenny memang pernah bekerja sebagai staf Presiden Susilo), yang membagi banyak cerita, termasuk kirsuh dualisme kepemimpinan di PKB, soal hubungan khusus FPI dan dan pihak-pihak keamanan (polisi dan intelijen), soal dukungan diam-diam PKB pada pemerintahan Presiden Susilo (di saat Wahid menampilkan diri di media sebagai musuh presiden) dan beberapa soal lainnya.

Namun dari semua itu, di sebuah telegram (bertajuk “Indonesian Biographical And Political Gossip, Q2 2006”, dikawatkan dari Jakarta pada 3 Juli 2006 oleh perwira politik kedutaan, David R. Greenberg), frase “strictly protect” muncul setelah penulisan nama Yenny: “Dalam sebuah pertemuan pada Juni, Deputi Sekretaris Jenderal PKB Yenny Wahid (strictly protect) mengkonfirmasi ke kami kalau orang dekat Yudhoyono yang telah menekan seorang jaksa untuk menjatuhkan putusan yang merugikan Gus Dur dalam kasus yang telah disebutkan lebih dulu … adalah Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi … .”

2. Eko Sandjojo

Sejauh ini, nama Eko Sandjojo hanya muncul sekali dalam kawat diplomatik: “Indonesian Biographical And Political Gossip, Q2 2006”, dikawatkan dari Jakarta pada 3 Juli 2006 oleh perwira politik kedutaan, David R. Greenberg. Dalam sub judul “PKB BUYS FAVORABLE COURT VERDICT”, Greenberg menulis: “Orang yang bersimpati pada Tuan Besar Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdurrahman Wahid (alias Gus Dur), membayar hakim Rp 3 miliar (sekitar US$ 322.000), sebagai sogok guna memenangkan sebuah persidangan pada 2006, agar hakim memberi wewenangan sah kepengurusan pada kubu Wahid dan bukan pada musuh-muuhnya. Cerita ini datang dari Presiden Direktur Sierad, Eko Sandjojo (strictly protect), yang juga punya hubungan dekat dengan PKB. Eko mengklaim tahu informasi ini sebab salah seorang pengacara ternama, Soesilo Aribowo, yang juga bekerja untuk Eko (atau Sierad), telah menyalurkan uang itu ke hakim-hakim.”

(Catatan Islam Times: PT Sierad Produce Tbk adalah perusahaan pakan ternak yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek Jakarta.)

3. Poempida Hidayatulloh

Nama Peompida muncul di setidaknya sembilan kawat diplomatik. Diplomat Amerika memasang frase “Strictly Protect” untuk dia saat mengirim kabar berikut ke Washington pada 3 Juni 2006: “Bekas Komando Kopassus Prabowo Subianto kerap naik penerbangan komersil ke Bangkok untuk bersua pacarnya, seorang gadis Thailand yang tinggal di sana, menurut Deputi Bendahara Partai Golkar Poempida Hidayatulloh (strictly protect), yang sebelumnya punya hubungan dekat dengan Prabowo. Poempida mengklaim kalau Prabowo telah membuatkan sebuah perusahaan bisnis untuk pacarnya itu, dan pasangan itu cukup akrab hingga mereka semestinya sudah menikah andai Prabowo tak mencemaskan dampak berlanjut punya seorang istri berkewarganegaraan asing pada ambisinya merebut kursi kepresidenan.”

4. S. Eben Kirksey

Telegram menggambarkan dia adalah “seorang akademisi Amerika” yang ikut menulis laporan kemungkinan keterlibatan Tentara Nasional Indonesia dalam kasus terbunuhnya dua orang warga Amerika dan seorang warga lokal di Timika, Papua, pada tahun 2002. Saat menuliskan nama Eben dalam telegram, diplomat Amerika memasang himbauan “please strictly protect”.

Islam Times mendapati kalau ada cerita besar yang mengiringi masuknya nama Eben dalam telegram. Sebuah kontroversi yang lain dan ini melibatkan nama Andreas Harsono, seorang yang dalam telegram digambarkan sebagai “penulis freelance tersohor”, dan menjadi mitra Eben dalam menulis laporan kontroversial soal insiden berdarah di Timika. (Catatan Islam Times: Lebih jauh soal laporan bersama Eben dan Andreas soal insiden berdarah di Timika, berjudul Murder at Mile 63 bisa dilihat di http://andreasharsono.blogspot.com/2008_08_01_archive.html dan http://www.etan.org/news/2007/04mile63.htm)

Telegram bertajuk “Labor/human Rights Contacts Allege Harassment, Possibly By Goi Agencies”, dikawatkan dari Jakarta pada 2 September 2008, oleh perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak, merangkum isi pertemuan antara pihak kedutaan dan Andreas pada 26 Agustus 2008. (Andreas digambarkan lebih jauh sebagai seorang tokoh pergerakan demokrasi dan kebebasan pers di era-Suharto dan juga sebagai penerima beasiswa ternama Nieman Fellow di Harvard University).

Dalam rangkuman atas laporan, Novak menulis: “Seorang penulis freelance ternama Indonesia – dan seorang bekas fellow di Harvard – bilang ke Labatt (Labour Attache, red. Islam Times) kalau dia percaya dia sedang dalam intaian lembaga-lembaga intelejen pemerintah Indonesia. Dia bilang kalau ini mungkin karena laporan investigasinya atas isu-isu hak asasi manusia. Dia meminta USG (United Stated Goverment, red. Islam Times) menyimpan rapat-rapat urusan ini sementara waktu agar tak menambah besar perhatian atas dirinya. Kontak-kontak di organisasi buruh juga membisikkan ke Labatt seputar apa yang mereka tuduhkan sebagai pengintaian dan pelecehan oleh lembaga-lemabga intelijen. Jika akurat, kasus-kasus ini mungkin terkait dengan meningkatnya kepekaan Pemerintah Indonesia menjelang Pemilu 2009 … .”

Telegram lebih jauh juga menjelaskan hal yang melatari terjadinya briefing Andreas pada pihak kedutaan. Kata telegram: Andreas mengirim sebuah pesan ke organisasi hak asasi manusia di Amerika, yang memuat kecemasannya, yang kemudian diteruskan oleh DRL (Departement of Right & Labour, red. Islam Times) ke Labatt. Harsono bilang ke Labatt kalau pihak kedutaan maupun DRL sebaiknya tak mengambil langkah apapun yang bisa mengundang perhatian atas dirinya, dan pesan apapun yang mungkin kita sampaikan ke Pemerintah Indonesia atas nama dirinya mungkin tak akan membantu. Dia bilang dia tak begitu percaya kalau dirinya dalam bahaya meski dia sedikit cemas. Kami berjanji untuk bertemu secara reguler untuk memonitor situasi.”

(Catatan Islam Times: dari pemeriksaan arsip media Jakarta, Andreas pernah diberitakan bekerja untuk Human Right Watch, organisasi pemantau hak asasi berbasis New York. Dia juga belakangan sempat diberitakan sebagai pihak awal yang ikut mempublikasi video sadis pembantaian orang-orang Ahmadiyah di Banten ke situs YouTube.com yang kemudian memicu kehebohan publik lalu kecaman dari Kementrian Luar Negeri Amerika yang menuding minimnya perlindungan negara pada apa yang mereka sebut sebagai kelompok-kelompok minoritas. Pada 5 September, Kantor Berita 68H sempat mewawancarai Andreas, meminta komentarnya sekaitan apa yang mereka sebut keyakinan FPI kalau dokumen WikiLeaks hanya ‘permainan’ kedutaan Amerika. Andreas nampaknya belum sadar – atau mungkin pura-pura tidak tahu – kalau namanya ikut menghiasi dokumen WikiLeaks. Soal terakhir bisa dilihat di: http://www.kbr68h.com/berita/wawancara/11813-andreas-harsono-buktikan-kedekatan-polisi-fpi-)

5. Agus Mantik, A.S. Kobalen, Made Erata, Gusti Widana

Keempat nama ini hanya sekali muncul dalam telegram, yakni telegram bertajuk “Hindus Lament “islamization” Of Indonesia”, dikawatkan oleh perwira politik kedutaan, Sanjay Ramesh, pada 1 Februari 2007: “Pada 24 Januari, Poloff (political officer, red. Islam Times) menggelar pertemuan dengan beberapa pejabat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) termasuk pimpinannya Agus Mantik, Direktur Komunikasi Internasional A.S. Kobalen, Kepala Pengurus Harian Made Erata, dan Sekretaris Jenderal Gusti Widana. (Strictly Protect) … .”

Dalam rangkuman telegram, Ramesh menulis: “Beberapa pemimpin ternama Parisada Hindu Dharma Indonesia (PDHI) bilang ke kami kalau komunitas Hindu menghadapi peningkatan diskriminasi di tangan sebuah pemerintah dan komunitas Muslim Indonesia yang gemar mengislamkan kalangan lain. Dalam sebuah diskusi pada 24 Januari, mereka mengklaim kalau “Islamisasi Indonesia” telah berujung pada sebuah peraturan pemerintah tentang pembangunan tempat beribadah, yang telah diberlakukan dan mereka anggap punya syarat-syarat yang berat bagi kelompok-kelompok agama minoritas yang ingin membangun tempat ibadah yang baru. Bos-bos PHDI menuduh kalau umat Hindu di Jawa yang ingin mendapatkan layanan publik, termasuk akte lahir dan surat nikah, menghadapi diskriminasi yang menyeluruh. Bos-bos PHDI bilang kalau nestapa umat Hindu hanya mendapat sedikit perhatian mengingat komunitas Hindu tak punya dukungan internasional dan sumber-sumber keuangan seperti halnya umat Kristiani … .”

6. Georges Paclisanu

Nama Georges Paclisanu, bos besar Palang Merah Internasional, muncul dalam telegram bertajuk “Acehnese Villagers Exhuming Conflict Victims’ Graves”, dikawatkan oleh perwira politik kedutaan, Stanley J. Harsha, pada 18 Oktober 2006.

“Orang-orang desa di Aceh menggali kuburan mereka yang mati dibunuh dalam konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia, kata George Paclisanu (strictly protect), Kepala Delegasi Parang Merah Internasional (ICRC), ke kami belum lama ini,” kata telegram.

Isi telegram selebihnya menceritakan apa yang didengar dan dilihat sendiri oleh Georges saat menyaksikan pembongkaran kubur itu dalam sebuah kunjungan ke Aceh, plus penilaiannya atas dampak konflik di Aceh, sebuah isyarat adanya pelanggaran janji ‘kenetralan’ dalam kerja ICRC di Indonesia.

7. Wakil Indonesia dalam Komisi Kebenaran dan Persahabatan Timor Leste-Indonesia (CTF)

Dalam telegram bertajuk “East Timor/Indonesia Final Report Holds Goi Institutions Accountable”, dikawatkan oleh perwira politik kedutaan, Joseph Legend Novak, pada 24 April 2008, seseorang yang digambarkan sebagai “wakil Indonesia” di CTF menunjukkan ke seorang perwira politik kedutaan Excutive Summary laporan final CTF pada 22 April.

Kata telegram, laporan intinya menyebutkan kalau secara institusi, Pemerintah Indonesia, bertanggungjawab atas pelanggaran hak asasi berat di Timor Timur pada 1999. “Laporan menyebut personel militer, polisi dan pejabat sipil yang berkontribusi pada kekerasan via kerjasama mereka dengan milisi-milisi pro-integrasi.”

Telegram juga bilang: “Sumber orang Indonesia ini (strictly protect) telah meminta kalau semua referensi yang bisa merujuk pada dirinya dan fakta dari laporan yang kami lihat dirahasiakan mengingat laporan itu belum beredar secara resmi di pihak pemerintah Indonesia dan Timor Leste. Executive Summary dan naskah lengkap laporan final baru akan diserahkan ke presiden masing-masing negara dalam beberapa hari ke depan.”

8. Court Monitor

Court Monitor adalah nama sebuah lembaga berbasis Indonesia yang menyediakan jasa pengintaian dan pengamatan untuk Kedutaan Amerika. Ada sejumlah telegram yang menggambarkan tentang sepak terjang lembaga ini, meski tak ada satupun nama yang muncul tentang siapa sosok di baliknya.

Tapi sebuah telegram bertajuk “Terrorist Trials — New Funding Needed For Court Monitor”, dikawatkan oleh perwira politik kedutaan, Stan Harsha (kemungkinan ini nama pendek Stanley R. Harsha, red. Islam Times), pada 28 November 2007, dengan status RAHASIA, mungkin bisa memberi pengancar yang cukup. Dalam rangkuman telegram, Stanley menulis: “Dalam dua tahun terakhir, sebuah lembaga sewaan lokal, Court Monitor, telah menyediakan informasi berharga sekaitan persidangan hampir semua teroris paling berbahaya Indonesia. Di tengah kondisi kas yang menipis, Kedutaan meminta pendanaan baru dari Departemen (Luar Negeri, red. Islam Times) agar hubungan produktif ini bisa berlanjut. Dengan dukungan dana Tahun Anggaran 2005, Court Monitor telah mengamati dan secara rahasia melaporkan ke kami persidangan lebih dari 75 teroris, umumnya terkait jaringan teror Jamaah Islamiyah, dan menyediakan ke kami salinan dokumen pengadilan yang biasanya tak bisa diperoleh. Monitor juga telah membina hubungan dengan pihak pengacara yang tergabung dalam Tim Pembela Muslim (TPM), yang kemudian menjadi sumber informasi tambahan. Monitor adalah aset berharga dalam upaya counter-terorisme Kedutaan di Indonesia, dan sebab itu menjadi penting menjaga keberlanjutannya.”

Isi telegram memberi gambaran lebih dalam soal Court Monitor. Telegram menggambarkan tokoh utama dalam Court Monitor adalah “seorang perempuan” yang secara rutin menyediakan ke pihak Kedutaan informasi sekaitan dakwaan atas terdangka kasus-kasus terorisme, kualitas dakwaan, dan strategi tim pengacara yang terlibat. Perempuan ini – disebutkan juga digambarkan menyerahkan seabrek dokumen, termasuk dokumen dakwaan, replik, duplik, dan putusan pengadilan, sesuatu yang membuat Kedutaan punya “otoritas” dalam melaporkan jalannya persidangan.

Telegram juga bilang kalau hubungan sang perempuan pemilik Court Monitor dan Kedutaan “so sensitif” hingga tak dipublikasi dan identitasnya “strictly protected”. Informasi lain menggambarkan dia sebagai “perempuan Indonesia yang mampu berbahasa Inggris, punya latar belakangan hukum dan kehadirannya di banyak persidangan kasus terorisme menjadi leluasa dan tak mengundang perhatian sebab dia menggunakan jubah “penelitian hukum”, dan sebab itu pula kaitannya dengan Kedutaan tak terungkap. Telegram juga bilang kemampuan sang perempuan melakukan semua itu “sangat penting”, menghilangkan relevansi kedutaan mengirim orang ke persidangan yang justru bisa “memperkuat kredibilitas tim pengacara terdakwa terorisme”.

Telegram juga bilang kalau Kedutaan meminta pendanaan tambahan US$ 20.000 untuk “membina hubungan” dengan Court Monitor hingga dua tahun setelahnya. Kata telegram, angka itu adalah “investasi murah” untuk hasil yang “substansial”.

Dalam telegram lain, kedutaan menggambarkan perempuan pemilik Court Monitor bisa mengakses ‘pertahanan terdalam’ TPM, termasuk pembicaraan rahasia antara TPM dan para terdakwa yang mereka dampingi, tanpa identitasnya sebagai kontraktor untuk Kedutaan pernah terbongkar. Sang karyawan kontraktor juga disebutkan melaporkan banyak kerjasama dan kendala pihak kejaksaan dan Datasemen 88 dalam persiapan dakwaan atas para terdakwa kasus terorisme, kelemahan-kelemahan tim pengacara terdakwa.

(Catatan Islam Times: Islam Times sejauh ini tak menemukan ada referensi di media Jakarta soal Court Monitor sama sekali. Di sisi lain, sukar pula untuk membayangkan cerita yang hendak dibangun pihak kedutaan kalau seorang perempuan tangguh bisa mengikuti banyak persidangan kasus-kasus terorisme yang kerap berlangsung di hari yang sama di provinsi yang terpisah jauh. Ini kemudian membuka peluang hipotesa kalau Court Monitor bisa jadi adalah sebuah lembaga yang melibatkan banyak kepala dengan sang perempuan cakap berbahasa Inggris itu sebagai pimpinannya. Sekaitan dengan itu, dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah reporter kami mendengar kalau Sydney Jones, peneliti Internasional Crisis Group, telah merekrut dan memperkerjakan wartawan dalam jumlah yang tak diketahui untuk mengumpulkan dokumen persidangan kasus-kasus terorisme, kurang lebih seperti gambaran kegiatan Court Monitor dalam kawat diplomat Amerika. Sydney cukup fasih berbahasa Indonesia meski, harus kami sebutkan, dia bukan warga negara Indonesia. Beberapa reporter kami juga mendengar kalau beberapa wartawan dan peneliti yang bekerja untuk dia cukup lihai untuk membangun kedekatan dan koneksi dengan kubu TPM. Dari pemeriksaan dokumen WikiLeaks, Islam Times tidak ada atribusi “strictly protect” dalam sejumlah telegram yang di dalamnya menyebut Sydney Jones. Namun, dalam beberapa telegram yang lain, ada atribusi “Please Protect” untuk Sydney Jones.)

Berikut adalah sejumlah orang dan lembaga yang dalam telegram kedutaan mendapat predikat “Please Protect”:

1. Sydney Jones

Dalam sebuah telegram bertajuk “With Death Of Key Terrorist Confirmed, Police Continue Full-court Press”, dikawatkan dari Jakarta pada 23 September 2009 oleh perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak, disebutkan: “Banyak ahli konterterorisme telah berspekulasi ihwal siapa yang bisa mengambil alih pucuk pimpinan organisasi pecahan JI … Penasihat Senior International Crisis Group (ICG) Sidney Jones (Amcit—please protect) berspekulasi bahwa seorang teroris bernama Reno (hanya satu nama) bisa jadi mengambilalih pucuk pimpinan organisasi pecahan, kendati dia dengan cepat bilang bahwa JI tak perlu struktur pimpinan formal untuk menggelar operasi … .”

(Catatan Islam Times: atribusi Please Protect juga melekat pada nama Sydney Jones dalam sedikitnya lima telegram lain bertema penungkapan kasus “terorisme”.)

2. Kontak di Indonesia Corruption Watch (ICW)

Sebuah telegram bertajuk “Scrutiny Of Bank Century Bailout Iccreases”, dikawatkan dari Jakarta pada 6 November 2009, langsung oleh Duta Besar Cameron Hume, menyebutkan: “Seorang informan Kedutaan yang terpercaya di Indonesia Corruption Watch (PLEASE PROTECT) bilang ke kami kalau dia mengetahui bahwa dana-dana Bank Century telah digunakan untuk membiayai kampanye pemilihan ulang Presiden Yudhoyono. Dia percaya kalau informasi itu kredibel … .” (Catatan Islam Times: penulisan huruf kapilita “Please Protect” hanya tercantum dalam telegram ini dari 3.059 telegram yang berasal dari Kedutaan Amerika di Jakarta di situs WikiLeaks sejauh ini).

3. Henry Durant Centre for Humanitarian Dialogue

Sebuah telegram bertajuk “Papua — Tentative New Efforts To Address Grievances”, dikawatkan dari Jakarta pada 6 Maret 2009, membahas penilaian diplomat Amerika atas The Papua Roadmap besutan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Di salah satu bagian telegram tertera keterangan: “para pejabat LIPI terus membangun dukungan untuk Roadmap dalam pemerintahan dan telah mencari masukan dari Henry Durant Centre for Humanitarian Dialogue yang berbasis di Jenewa (please protect).”

4. David Cohen

Dalam telegram bertajuk “Human Rights — Encouraging Indonesia To Implement Truth Commission Report”, dikawatkan dari Jakarta pada 20 Oktober 2008, perwira politik kedutaan, Joseph L. Novak, menyebutkan kalau dalam sebuah pertemuan, seorang warga Amerika yang bekerja sebagai penasihat untuk Komisi Kebenaran dan Persahabatan Indonesia-Timor Leste (CTF) telah mengungkap sejumlah cara “mempercepat implementasi rekomendasi CTF untuk reformasi sektor keamanan di Indonesia via pendidikan hak asasi”. Sang penasihat itu juga menyarankan kalangan LSM melapangkan jalan dengan gencar mempublikasi laporan CTF, agar kesimpulan tentang pelanggaran hak asasi di Timor Timur dan perlunya reformasi bisa diketahui orang banyak. Telegram menggambarkan lebih jauh tentang sang penasihat: “David Cohen (AmCit – please protect), Direktur Barkeley War Crimes Studies Center di University of California, membriefing DepPol/C pada 10 Oktober sekaitan kemajuan implementasi laporan CTF, disebarkan untuk umum pada 15 Juli. (Catatan: Cohen saat ini adalah seorang konsultan bagi pemerintah Indonesia dan Sekretaris ASEAN, di luar pekerjaannya di Berkeley … .”

5. Komunitas Yahudi Surabaya

Dalam sebuah telegram bertajuk “Special Envoy Rickman Meets With Jewish Community In Surabaya”, dikawatkan dari Jakarta pada 7 Augustus 2008, Principal Officer Konsulat Amerika di Surabaya, Caryn R. McClelland, menuliskan ikhtisar berikut: “Utusan Khusus untuk Pengamatan & Perlawanan Anti Semitisme, Gregg Rickman, berkunjung ke Surabaya pada 30 Juli 2008, usai mampir di Jakarta. Rickman, ditemani Karen Paikin, dari Kantor Pengamatan dan Perlawanan Anti-Semitisme, dan Yakov Barouch, seorang Rabbi yang tinggal di Jakarta, berkunjung ke synagogue, satu dari hanya dua di Indonesia, dan sebuah pekuburan Yahudi, dan bertemu dengan anggota komunitas Yahudi, yang jumlahnya kurang dari 20 orang.”

Telegram lalu menjelaskan lagi: “Sinagog di Surabaya, awalnya sebuah rumah dan kantor dari seorang dokter warga negara Belanda, telah berfungsi sebagai sinagog sejak 1939. Tak ada pengamanan kcuali sebuah pagar besi rendah yang membalut bangunan. Anggota Keluarga Sayur bertindak sebagai pengurus sinagog dan tinggal di sebuah rumah yang bertetanggaan … Joseph Sayer dan istrinya Rivka tinggal di sana dengan seorang anak perempuan, Hanna, dan seorang cucu (please protect). Dua cucu lainnya saat ini sedang belajar di luar negeri: satu di Inggris dan satu di Amerika. Keluarga Sayer memegang paspor Belanda, tapi menetap di Indonesia seumur hidup mereka.

“…Rickman juga menemui Helen Nasim (please protect) di kediamannya. Dia punya seorang putra dan seorang cucu. Dia mengungkapkan pesimisme seputar peluang keluarganya tetap di Indonesia, dan bilang kalau dia selalu berusaha merahasiakan identitas keyahudiannya … .”

7. Doug Ramage

Dalam sebuah telegram bertajuk “Major Political Party Under Pressure”, dikawatkan dari Jakarta pada 16 Juli 2008, diplomat Amerika di Jakarta menuliskan: “ … Doug Ramage (AmCit–please protect), pimpinan Asia Foundation Office di Jakarta, bilang ke kami belum lama ini kalau “Golkar tak memproyeksikan sebuah citra bahwa ia siap menyelesaikan persoalan-persoalan yang ditanggung rata-rata orang.” … .”

8.Arief Budiman

Diplomat Amerika menggambarkan Arief sebagai “asisten” Ketua DPR Agung Laksono. Beberapa telegram menunjukkan kalau dari Arief lah kalangan diplomat Amerika bisa mengetahui langkah-langkah Agung dalam membina hubungan dengan kalangan parlemen di Iran. Dari sumber yang sama pula, diplomat Amerika bisa mendengar lebih awal tentang langkah-langkah politik pilihan pemerintah sekaitan program pembangkit nuklir Iran yang ditentang habis-habisan oleh Amerika, tentang hal-hal yang dikerjakan Presiden Yudhoyono kala berkunjung ke Tehran dan apa saja isi pembicaraan antara Agung dan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, saat yang terakhir berkunjung ke Jakarta. Di telegram lainnya, diplomat Amerika menggambarkan Agung sebagai sudah lama bersimpati pada Iran.

9. Michael Vatikiotis

Dalam sebuah telegram tertanggal 31 Oktober 2007, diplomat Amerika di Jakarta menggambarkan pertemuan mereka dengan Michael Vatikiotis, Direktur Regional Henry Dumont Centre for Humanitarian Dialogue, sehari sebelumnya. Subjek diskusi adalah politik Myanmar. Kata telegram: “Vatikiotis, (please protect), yang berbasis di Singapura, rutin dan very lucid interlocutor dalam sejumlah isu resolusi konflik, termasuk di Timur Tengah.” Telegram lebih jauh menyebutkan gagasan Vatikiotis seputar diplomasi di Myanmar dan bilang kalau pandangannya saat pertemuan “tidak sepenuhnya menggambarkan pandangan pemerintah Indonesia.”

10. Edwin Gerungan

Sebuah telegram sekaitan langkah Bank Mandiri membekukan rekening perusahaan Korea Utara menyebut nama Edwin Gerungan. Dalam telegram bertajuk “Bank Mandiri Closes Dprk Accounts”, dikawatkan pada 14 Agustus, disebutkan: “Pimpinan Board of Commissioners di Bank Mandiri Indonesia, Edwin Gerungan (please protect), bilang ke kedutaan pada 9Augustus kalau Mandiri telah menghentikan hubungan dengan dua bank Korea Utara pada Juli: Korea Daesong Bank dab Foreign Trade Bank … .”

12. Dr. Djaloeis

Dalam rangkuman telegram bertajuk “Political Intrigue Imperils Bapeten’s Chairman Job”, dikawatkan pada 28 Mei 2004, tercantum keterangan: Pimpinan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) Dr. Djaloeis (please protect) mengungkapkan ke kami pada 25 Juli bahwa sebuah intrik politik yang melibatkan salah seorang deputinya dan Menteri Riset dan Teknologi Hatta Rajasa, dan sebuah kelompok radikal yang sebelumnya tak diketahui dan bernama Tharbyah kemungkinan mengancam posisinya.” Djaloies, kata telegram, juga mengungkapkan kalau sebuah surat yang memuat pencapaiannya dan rencana-rencananya untuk Bapeten di masa datang berhasil meyakinkan Presiden Megawati untuk memperpanjang masa jabatannya lebih dari usia pensiun pegawai negeri umumnya, yakni 60 tahun.

* * *

Di Jakarta hari-hari ini, orang-orang yang berstatus “strictly protect” dan “please protect” di dalam dokumen WikiLeaks mungkin masih bisa sedikit tenang. Pemerintahan Presiden Susilo sejauh ini memilih ‘menganggap sepi’ semua bocoran WikiLeaks, mungkin sebab banyak di antaranya bercerita tentang rumor miring keluarga presiden, mungkin pula sebab membicarakan dokumen sama saja ‘mengamputasi’ diri sendiri, di tengah fakta banyaknya telegram yang memuat cerita kontak rutin hampir semua kalangan, dari politisi, pejabat, polisi, tentara, birokrat, pegiat media dan LSM, dengan kalangan diplomat Amerika (bagian ini bakal menjadi subjek pembahasan Islam Times berikutnya).

Sementara itu, media-media nasional, besar maupun kecil, nampaknya memilih menggunakan ‘kaca mata kuda’; seperti sengaja hanya memfokuskan pemberitaan pada informasi ‘percintaan gelap’ FPI-Polisi-Intelijen plus soal kasus pembunan Munir dalam dokumen WikiLeaks dan melupakan puluhan ribu dokumen lainnya yang notabene menawarkan kontroversi dan keaktualan yang tinggi — dan semua ini otomatis menjadikan publik buta dari kebenaran.

Di sisi lain, pihak Kedutaan Amerika di Jakarta – sejauh ini memilih tak mengomentari apapun sekaitan dokumen di WikiLeaks– mungkin pula telah menghubungi para penyandang status “strictly protect” untuk meminta ‘permakluman’, meredam ‘kekagetan’ dengan harapnya bisa tetap mendapatkan ‘loyalitas’ dari pihak yang telah mereka sedot informasinya.

Tapi dokumen WikiLeaks adalah gulungan kawat rahasia yang kini bebas diakses siapa saja. Cepat atau lambat, mata orang banyak bakal terbuka. Kini, di hadapan penguasa Jakarta, ada peluang emas, kesempatan besar untuk menunjukkan moral tinggi bangsa. Mereka hanya perlu merangkul kembali anak-anak mereka yang telah terpedaya oleh ‘kedigdayaan’ dan mulut manis para diplomat Amerika di Jakarta. Siapa tahu dari situ kita semua bisa melihat sisi-sisi lain laku diplomat Amerika yang tak terekam dalam gulungan kawat WikiLeaks. [Islam Times/K-014/Redaksi Islam Times]

Telegram dari Setan Besar (Tamat); Sangkur Besar


Ini tulisan ketiga sekaligus yang terakhir dari Islam Times sekaitan kawat diplomat Amerika Serikat yang jatuh ke tangan pengelola website WikiLeaks. Bahannya merujuk pada 3.000 lebih telegram yang bersumber dari Kedutaan Amerika di Jakarta – muncul tanpa sensor pertama kali di WikiLeaks pada awal September dan hingga kini, secara misterius, tak tersentuh oleh hampir semua media di Jakarta. Inilah kisah yang tak ingin didengar kalangan diplomat Amerika dan semua informan mereka. Sebuah cerita tentang tusukan infiltrasi yang sistematis dan perihnya nasib republik yang takluk di kaki Kedutaan Amerika.

Islam Times- PADA 5 September 2011, koran berbahasa Inggris, The Jakarta Globe, menurunkan komentar seorang juru bicara presiden atas bocoran telegram diplomat Amerika di situs WikiLeaks. Pemerintah “tak akan memberi tanggapan apapun”, kata Julian Aldrin Pasha, menyampaikan sikap resmi pemerintah. Katanya: informasi yang tertera di WikiLeaks “jauh dari kredibel” sebab berasal dari “sumber-sumber sekunder”.

Tapi dari pemeriksaan sepekan lebih atas gulungan kawat kontroversial di WikiLeaks, Islam Timesmendapati kalau Julian cenderung menutup fakta dan hanya mengungkap apa yang dia ingin publik dengarkan. Dari penelisikan, khususnya atas 3.059 kawat diplomatik yang bersumber dari Kedutaan Amerika di Jakarta, kami justru menemukan kalau porsi terbesar telegram diplomat Amerika datang dari ‘tangan pertama’ – dan sebab itu layak beli dan mendapat perhatian pemerintah, atau begitulah hemat kami. Kami telah mengungkap sebagian kecil isi telegram yang seperti itu dalam dua tulisan sebelumnya. Tapi sejatinya, masih banyak yang tak tersentuh dan hingga detik ini tetap jadi misteri bagi publik, utamanya di tengah kekompakan banyak media untuk menutup mata pada informasi sensitif, kontroversial dan menyangkut hajat hidup dan maruah bangsa di dalamnya. Ini misalnya termasuk sejumlah telegram yang merekam konsesi besar yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Kedutaan Amerika dan pilihan presiden untuk bermanis-manis dengan Israel – anak bejat Amerika di Timur Tengah yang hingga kini tak diakui keberadaannya oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Ambil contoh telegram bertajuk “President’s Chief Of Staff Ready To Make Potus Visit To Indonesia A Success”, dikawatkan oleh Duta Besar Amerika saat itu, Cameron R. Hume, pada 10 September 2009, menjelang rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama (yang kemudian batal dan baru terlaksana pada November 2010). Dalam subjudul “Embassy Land”, Hume menulis: “Rajasa mengkonfirmasi kalau Presiden Yudhoyono tak mengharuskan adanya persetujuan parlemen sebelum memberikan restu pada Kedutaan Amerika Serikat untuk membeli MMS3, petak lahan yang diperlukan untuk membangunan sebuah chancery (nampaknya ini istilah untuk gedung arsip, red. Islam Times). Dia menambahkan kalau Menteri Keuangan telah menyetujui pembelian itu, dan bahwa tak ada lagi hambatan bagi terbitnya surat presiden yang memungkinkan transaksi terlaksana.”

Rajasa dalam telegram merujuk pada sosok Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Dari pemeriksaan arsip media Jakarta di Internet, kami gagal mendapati jejak kabar adanya transaksi penjualan tanah negara ke pihak Kedutaan Amerika dalam rentang lima tahun terakhir.

Pemeriksaan lanjutan atas empat telegram bermarka SECRET lainnya, menunjukkan kalau Kedutaan Amerika telah meniatkan perluasan bangunan kedutaan sejak akhir 2007. Yang mereka incar adalah dua petak lahan yang, dalam sejumlah telegram, mereka beri kode MMS3 dan MMS4. Satu lahan digambarkan sebagai lahan siap beli dan satunya lagi mereka niatkan kepemilikannya via transaksi tukar guling lahan. Tak ada informasi pasti soal lokasi persis kedua lahan. Tapi sejumlah detil dalam telegram memberi gambaran kalau dua petak tanah itu adalah milik negara dan dalam penguasaan Kementrian Keuangan, kala itu.

Telegram bilang lokasi kedua tanah itu “berdekatan” dengan Kantor Wakil Presiden. Informasi lain dalam telegram bilang kalau di kedua tanah itu, Kedutaan Amerika akan mendirikan gedung baru kedutaan yang “lebih tinggi” dari kantor Wakil Presiden, dengan total dana proyek US$ 300 juta (setara Rp 3 triliun dengan kurs 1US$=Rp 10.000). Kalangan diplomat Amerika juga terekam bilang kalau soal “ketinggian bangunan” dan “keamanan” rancang gedung baru Kedutaan Amerika “sudah selesai”. Mereka telah meminta restu pada Jusuf Kalla (wakil presiden saat itu) dan juga pemerintah kota Jakarta. Mereka juga telah meminta Kalla untuk membantu pengurusan pembelian tanah ke Kementrian Keuangan.

Sementara itu, dalam sebuah telegram lainnya, Duta Besar Amerika, Cameron Hume, terekam menekan Sri Mulyani (Menteri Keuangan saat itu) untuk merespon pertanyaan kedutaan terkait harga MMS3 dan nilai tukar guling MMS4. Hume bilang kalau Sri Mulyani menerima “sudut pandang kedutaan” kalau Undang-Undang Perbendaharaan Negara No. 1 Tahun 2004 “nampaknya memberi pengecualian pada tanah yang digunakan untuk kantor-kantor kedutaan asing”. (Catatan Islam Times: Pasal 45 dan 46 Undang-Undang Perbendaraan Negara memestikan adanya persetujuan DPR/DPRD dalam setiap transaksi “pemindahtanganan barang milik negara/daerah dilakukan dengan cara dijual, dipertukarkan,dihibahkan, atau disertakan sebagai modal Pemerintah”. Kekecualian, seperti disebutkan dalam pasal 46, hanya berlaku pada tanah yang (1) sudah tidak sesuai dengan tata ruang wilayah atau penataan kota; (2) harus dihapuskan karena anggaran untuk bangunan pengganti sudah disediakan dalam dokumen pelaksanaan anggaran; (3) diperuntukkan bagi pegawai negeri; (4) diperuntukkan bagi kepentingan umum; (5) dikuasai negara berdasarkan keputusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap dan/atau berdasarkan ketentuan perundang-undangan, yang jika status kepemilikannya dipertahankan tidak layak secara ekonomis.)

Telegram juga bilang kalau Sri “percaya tak ada hambatan legal untuk tukar guling properti” dengan pihak Kedutaan Amerika.

Di arsip WikiLeaks sejauh ini, tak ada telegram yang memuat informasi seputar detil transaksi, khususnya waktu pelaksanan, nilai transaksi, dan siapa-siapa saja yang terlibat. Tapi bila fakta di lapangan jadi rujukan, transaksi yang digambarkan dalam telegram nampaknya telah terlaksana.

Dalam satu dua tahun terakhir, Islam Times mendapati tanah kosong (bekas markas Polisi Militer) yang bersisian dengan sisi selatan tembok Kedutaan Amerika, telah dipagari dan dipasangi plang bertuliskan bertuliskan: “Tanah Ini Milik Perusahaan Swasta … .” Meski diklaim sebagai “milik swasta”, sejumlah reporter kami melaporkan kalau petugas keamanan Kedutaan Amerika kerap keluar masuk lahan “milik swasta” itu. Petak tanah itu bersebelahan dengan sebuah petak tanah lain yang tak berpenghuni, bersisian dengan kantor milik PT Telkom. Jika Kedutaan Amerika Serikat benar telah menjadi pemilih sah kedua lahan itu, ini nampaknya sebuah ironi yang lain. Di Stasiun Gondangdia, hanya selemparan batu dari lokasi bakal bangunan baru Kedutaan Amerika, ada ratusan tunawisma yang setiap malam tidur di emper stasiun hanya beralaskan selembar koran.

Tapi soal transaksi penjualan tanah negara itu mungkin belum serapa dibanding kontroversi yang bisa muncul dari telegram yang merekam langkah rahasia Presiden Susilo membangun komunikasi dengan Israel. Dalam telegram berjudul “Indonesia Seeking Higher Profile In Middle East?”, dikawatkan pada 31 Januari 2007 oleh perwira politik kedutaan, Catherine E. Sweet, menulis: “SBY telah mengirim para penasihatnya untuk bertemu dengan pihak-pihak di Lebanon, Palestina dan, secara rahasia, Israel.” Catherine bilang semua itu dilatari keinginan presiden “memainkan peran di Timur Tengah”. Detail dari kisah ini berlimpah dalam tiga paragraf berikut (markas S di awal paragraf merujuk pada kode SECRET, rahasia):

“(S) Di belakang layar SBY sudah dua kali mengirim penasihat khususnya, T.B. Silalahi, ke Israel. Menurut Ilan Ben-Dov, Duta Besar Israel di Singapura, Silalahi bertemu dengan Perdana Menteri Olmert sebelum pengerahan pasukan UNIFIL (Tentara Indonesia masuk dalam formasi pasukan penjaga perdamaian UNIFIL di Lebanon, red. Islam Times). Meski Israel tak berharap bakal ada hubungan diplomati penuh atau kunjungan balasan dari seorang menteri kabinet, Ben-Dov bilang, mereka tertarik untuk membuka sebuah jalur dengan Indonesia dan sementara mencari jalan kemungkinan penyaluran bantuan.

(S) Mengingat sensitivitas politik, SBY menjadikan perjalanan Silalahi sangat tertutup, bahkan bagi kalangan orang-orang pemerintahan. Ben-Dov melaporkan kalau saat dia mengungkap perjalanan Silalahi ke Israel pada juru bicara SBY, Dino Patti Djalal, yang terakhir mengisyaratkan kalau dia tak ingin terlibat, memilih Silalahi yang mengontrol penuh urusan. Sebagai seorang Kristen tanpa ambisi politik, kata Djalal, Silalahi “aman”. Saat pemerintah Israel mendekati Utusan Khusus SBY untuk Timur Tengah, Alwi Shihab, Ben-Dov bilang kalau Silalahi marah, bilang kalau SBY tak ingin Shihab terlibat … .”

“(S) Pada 26 Januari, Silalahi membriefing kami sekaitan perjalanan keduanya ke Timur Tengah atas nama SBY, kali ini ke Israel dan Lebanon pada akhir November. Sekalipun dia tak secara khusus bercerita banyak seputar kunjungannya ke Israel, dia menyebut pertemuannya dengan Presiden Olmert “produktif”.”

Di paragraf terakhir, telegram mencantumkan “pandangan Silalahi kalau Indonesia tak ingin memainkan peran lebih aktif di Timur Tengah”. Usai berkunjung dan memberikan rekomendasi sekaitan Timur Tengah, kata Silalahi dalam telegram, Presiden SBY bilang Indonesia “masih perlu fokus pada urusan dalam negeri”. Kata Silalahi, pernyataan itu adalah “gaya Jawa SBY untuk bilang kalau dia tak ingin meneruskan urusan ini lebih jauh lagi”.

* * *

Di luar telegram yang bercerita soal rahasia gelap Presiden Susilo, Islam Times juga menelisik hampir 200 telegram bermarka “SECRET”, “SECRET/NOFORN” dan “CLASSIFIED” yang tak terjamah dalam dua tulisan kami sebelumnya. Pemeriksaan membawa kami pada sebuah gambaran besar tentang laku dan kegiatan ‘ekstra kulikuler’ kalangan diplomat Amerika di Jakarta dalam rentang 10 tahun terakhir; sebuah potret otentik yang bisa menuntun orang banyak membaca sendiri siapa kawan dan siapa lawan Kedutaan Amerika di Jakarta, mana kecap yang kerap mereka jual ke publik nasional, mana racun yang mereka simpan di kolong meja dan mana sangkur yang mereka siapkan untuk orang-orang yang mereka anggap musuh:

Kedutaan Amerika Mewakili Kepentingan Israel di Indonesia

Banyak orang menganggap demonstrasi anti-Israel yang kerap terjadi di depan Kedutaan Amerika di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, lebih dilatari karena tiadanya kedutaan Israel di Jakarta dan juga karena kalangan demonstran meyakini pembelaan Amerika pada Israel lah yang menyebabkan penjajahan Palestina tetap langgeng hingga hari ini.

Tapi sejumlah telegram di WikiLeaks menunjukkan kalau Kedutaan Amerika di Jakarta secara diam-diam aktif memposisikan diri sebagai wakil Israel di Indonesia – dan ini atas sepengetahuan orang-orang di lingkaran dalam Istana Negara:

1. Dalam telegram bertajuk “More Activity In Indonesia On Middle East Issues”, dikawatkan pada 15 Februari 2007, seorang diplomat Amerika menulis: “Seorang informan di kantor Presiden Yudhoyono bilang ke kami kalau sebuah delegasi yang tiga kementrian di Israel, Direktur Kementrian Luar Negeri Aharon Ambramovitch, Direktur Biro Kementrian Luar Negeri Israel di Asia Tenggara, Giora Becher, dan Duta Besar Israel di Singapura, Ilan Ben-Dov, bakal berkunjung ke Jakarta pada 21-22 Februari. Pejabat Israel itu berencana bertemu dengan tiga orang: Juru bicara Presiden, Dino Patti Djalal, Menteri Kelautan Freddy Numberi dan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Syaifullah Yusuf. (Catatan. Dalam sebuah pertemuan pada November 2006, Duta Besar Ben Dov meminta pandangan soal bidang-bidang dimana Israel bisa memfokuskan bantuan. Duta besar Pascoe menyarankan Israel mungkin bisa mulai dengan sejumlah program di kawasan pulau-pulau terpencil dimana populasinya mayoritas Kristen. Dia menyarakan Israel membagi keahliannya dalam pengelolaan kawasan kering, yang bisa berguna bagi pulau-pulau seperti Flores. Pertemuan dengan Menteri Perikanan dan Pembangunan Daerah Tertinggal menjadi masuk akal dalam soal ini. Akhir catatan.) Penasihat khusus SBY, T.B. Silalahi, mengatur seluruh urusan kedatangan, yang sangat tertutup rapat (menurut seorang asisten Silalahi, hanya SBY, Silalahi, Dirjen Kementrian Luar Negeri, Cotan – yang mengeluarkan visa untuk pejabat Israel itu – yang tahu soal perjalanan ini). Saat kami tanya apakah SBY mendukung konsep kunjungan itu, asisten Silalahi bilang kalau SBY hanya “tahu soal itu”. Perempuan asisten itu memperkuat dan bilang kalau SBY akan menjaga jarak dengan detail kunjungan itu agar ada selimut politik sekiranya kunjungan itu bocor ke media.”

2. Telegram berjudul “World Ocean Conference — Raising Israeli Participation”, dikawatkan pada 1 April 2009, menyebutkan: “Kedutaan telah mengetahui kalau Indonesia tak berniat mengundang perwakilan Israel dalam World Ocean Conference (WOC) yang bakal mereka selenggarakan, 11-15 Mei. Kami telah menyatakan kalau kegagalan mengundang perwakilan Israel bisa menggerus klaim WOC sebagai konferensi dunia. Dengan pertimbangan itu, orang-orang Indonesia yang bertindak sebagai penghubung kami, menyarankan kalau kehadiran pihak LSM Israel mungkin bisa. Poloff (political officer, red. Islam Times) juga membahas soal ini dengan Yahya Asagaf, seorang penasihat urusan Timur Tengah untuk Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar. (Catatan: BIN tetap menjadi kanal utama bagi Pemerintah Indonesia untuk kontak dengan pejabat Israel.) … .”

3. Telegram bertajuk “Discouraging Tni From Taking Manpads To Unifil Mission”, dikawatkan dari Jakarta pada 3 Oktober 2006 merekam pernyataan Charge d’Affaires Kedutaan Amerika, John A. Heffern, dengan kalangan birokrat di Jakarta sekaitan masuknya senjata MANPADS (man-portable air-defense systems) dalam daftar persenjataan yang bakal dibawa oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia yang ikut dalam misi pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon.

Heffern bilang kalau dia mengangkat soal ini saat bertemu Penasihat Luar Negeri Presiden Indonesia , Dino Patti Djalal (saat ini Duta Besar Indonesia di Washington) pada 2 Oktober. Heffern bilang kalau pasukan Indonesia bisa menciptakan “persoalan besar” jika memutuskan membawa senjata MANPADS ke Lebanon dan meminta pemerintah Indonesia “mempertimbangkan” kembali niat itu. Heffern juga menyarankan agar perwakilan Amerika Serikat di markas PBB di New York untuk membujuk Departemen Operasi Penjaga Perdamaian PBB (DPKO) agar bersedia berbicara ke Djalal dan penasihat presiden, TB Silalahi, saat keduanya berkunjung ke New York. Heffern, kata telegram, berharap DPKO mau membujuk Djalal dan Silalahi agar bersedia menafsirkan kalau ROE (rules of engagement, aturan penugasan) pasukan PBB di Lebanon tak memestikan perlunya persenjataan anti pertahanan udara dan meminta mereka menghapus MANPADS dari daftar persenjataan pasukan Indonesia.

Telegram juga bilang kalau atase militer Kedutaan Amerika juga telah membicarakan soal ini ke Asisten Operasi Mabes TNI, Brigadir Jenderal Bambang Darmono dan Wakil Asisten Intelijen, Brigadir Jenderal Eddi Budianto, pada 2 Oktober. Dari pertemuan, atase militer kemudian dapat gambaran soal jumlah pasukan yang bakal diterjunkan, jenis peralatan dan mulai penugasan. Kata telegram, Darmono bilang Indonesia bakal membawa 12 unit misil pertahanan udara QW-1. Kata Darmono lagi, dia percaya PBB telah memberi lampu hijau atas daftar persenjataan tentara Indonesia, termasuk MANPADS, dan bilang kalau “bakal jadi persoalan” jika TNI diminta tak membawa misil itu.

(Catatan Islam Times: tak ada informasi lanjutan dalam telegram lainnya sekaitan jadi tidaknya TNI membawa MANPADS ke Lebanon Selatan. Sebagai pelontar misil yang gahar, MANPADS bisa ‘mengerem’ keberingasan pasukan Israel di perbatasan Lebanon – dan sebab itu lah Kedutaan Amerika di sini sejak awal ingin memastikan senjata itu tak masuk dalam daftar persenjataan TNI di Lebanon.)

Terorisme: Pintu Masuk Infiltrasi Kedutaan dan Militer Amerika di Kepolisian, Kejaksaan & Kementrian Luar Negeri Indonesia

Ada belasan telegram yang merekam proyek kontra terorisme Kedutaan Amerika di Jakarta. Detil yang tertara di dalamnya memunculkan persepsi kalau Kedutaan Amerika di Jakarta adalah pihak yang paling diuntungkan dari setiap teror bom yang terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Teror bom, seperti terekam dalam telegram, melapangkan jalan bagi Kedutaan untuk membangun jalan tol kemesraan dengan pihak polisi, kejaksaan, kementrian luar negeri, kementrian kehakiman dan hak asasi, KPK, BPK, Kementrian Keuangan, PPATIK dan masih banyak lagi. Dalam soal dukungan mereka pada Datasemen Khusus 88, telegram bahkan seolah bercerita kalau via kerjasama kontraterorisme, Kedutaan Amerika – dan bahkan Komando Militer Amerika Serikat di Pasifik – bisa punya pasukan sendiri dalam tubuh kepolisian Indonesia; pasukan yang mereka bentuk, mereka latih, mereka biayai dan mereka perhatian setiap langkah dan kebutuhannya. Telegram juga merekam kalau terorisme membuka jalan bagi Kedutaan Amerika untuk membangun semacam pangkalan di pusat pendidikan dan pelatihan polisi di Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Dan dalam soal ini, Australia, New Zealand, Canada dan Singapura ikut menancapkan kukunya:

1. Telegram berjudul “Prosecutors Unfazed By Amrozi’s Testimony For Ba’asyir”, dikawatkan pada 20 April 2006, antara lain mengungkap ‘pembicaraan akrab’ antara seorang Jaksa Penuntut Umum di Pengadilan Jakarta Pusat, Salman Maryadi – juga disebutkan sebagai bekas jaksa penuntut utama dalam kasus Ba’asyir – dengan kalangan diplomat Amerika di Jakarta. Kata telegram: “Maryadi bilang ke kami (diplomat Amerika, red. Islam Times) kalau urusan Peninjauan Kembali (oleh kubu pengacara Baasyir) tak boleh jatuh ke tangan pejabat di Kantor Kejaksaan Tinggi hanya karena jabatannya, tapi harus tetap di tangan jaksa yang dia percaya dan berpengalaman dalam kasus Baasyir. Dia juga bilang kalau dia telah memilih sendiri jaksa-jaksa dari Jakarta untuk pergi ke Cilacap dan mengamati sesi dengan Amrozi. Kejaksaan mengirim Kuntadi (peserta International Visitors Program 2005), Narendra Jatna (peserta Paris Program 2005), Nanang Sigit (parserta Program IV 2006). (Catatan: Maryadi belum pernah ke Amerika meski telah mengungkapkan keinginannya untuk bisa dalam beberapa kali pertemuan. Akhir catatan.)”

(Catatan Islam Times: Telegram lain menggambarkan Gugus Kerja Terorisme dan Kejahatan Transnasional di Kejaksaan Agung sebagai ‘kelompok elit dukungan Amerika’ yang berhasil memenangkan perkara atas 13 tersangka Jamaah Islamiyah pada 2007. Kami juga menemukan sebuah telegram yang merekam pengiriman sekitar 100 orang birokrat, dari kejaksaan, kepolisian, kehakiman, PPATK, BPK, KPK, Kementrian Keuangan, dalam proyek “peningkatan kapasitas” sekaitan “ perang melawan kejahatan keuangan, termasuk kontra keuangan terorisme” di Seattle, New York, Washington, Bangkok dan Singapura. Telegram bilang pendanaan proyek ini bersumber dari USAID, FBI, Kejaksaan Amerika, dan Kementraian Keuangan Amerika dan terlaksana via “kanal bilateral”.)

2. Sebuah telegram bertajuk “Ct Rewards Program Update”, dikawatkan dari Jakarta pada 27 Juni 2007, merekam penyerahan hadiah uang tunai untuk empat orang informan polisi Indonesia yang membantu mengungkap sebuah kasus terorisme. Telegram bilang uang hadiah itu bersumber dari program hadiah Departemen Pertahanan Amerika dalam anggaran U.S. Pacific Command, komando militer Amerika Serikat di Pasifik, yang kemudian diserahkan oleh Kedutaan Amerika ke polisi Indonesia: “Pada 20 Juni, investigator senior polisi di Yogyakarta menyerahkan hadiah uang tunai dalam rupiah pada keempat kandidat. Mereka adalah yang pertama yang menerima hadiah kontraterorisme dalam upaya di balik layar untuk membantu polisi Indonesia mengembangkan program hadiah dengan fokus pada kontraterorisme. Keempat kandidat telah membantu polisi menemukan jejak Azahari, Jabir dan Abdul Hadi.”

Telegram juga bilang kalau penyerahan uang hadiah berlangsung pada 20 Juni di Yogyakarta, di sebuah tempat yang dipilih oleh Polisi Indonesia dan disetujui oleh Rewards Working Group, gugus kerja pembagian hadiah di Kedutaan Amerika. Kata telegram, dua orang pejabat kedutaan dan dua perwakilan PACOM (Komando Militer Amerika di Pasifik) di Kedutaan datang ke Yogyakarta dan menyaksikan penyerahan hadiah dari sebuah ruang yang bersebelahan dengan tempat acara, via kamera CCTV. Inspektur Gories Mere, kata telegram, memberikan pengantar singkat saat acara dan menyampaikan ucapan terima kasih dari bos besar Polisi Indonesia, Sutanto. Pejabat lainnya yang hadir adalah Brigadir Jenderal Surya Dharma (Komandang Gugus Kerja Kontraterorisme), Petrus Golose dan Rycko Amelza.”

Lepas penyerahan, telegram bilang kalau RWG bertemu lagi (dengan pihak polisi Indonesia) pada 25 Juni. Bersama-sama, katanya, mereka mengevaluasi penyerahan hadiah pekan sebelumnya. “Baik Kedutaan dan Polisi Indonesia tetap setuju kalau bantuan Amerika dan program hadiah harus tetap dirahasiakan dan tak diketahui publik. Baik upaya penyerahannya dan informannya tak bakal diungkap ke publik,” kata telegram.

Di bagian akhir, telegram menyebut kalau ada anggaran US$ 800.000 (sekitar Rp 8 miliar) dari U.S. Special Operations Command ( Komando Operasi Khusus Militer Amerika, USSOCOM) untuk pengembangan, produksi dan diseminasi produk TV, radio, cetak, dan material promo yang mendukung Program Anti Kekerasan di Indonesia. Sebagian dana itu, kata telegram, juga bakal digunakan untuk penyiapan perangkat nomer telpon pengaduan setiap aktivitas kriminal/terorisme di Indonesia.

(Catatan Islam Times: telegram ini nampaknya bisa menjelaskan kemunculan mural dan pamflet yang mengutuk terorisme di sudut-sudut Jakarta sejak beberapa tahun silam – sebagiannya hingga kini masih bisa disaksikan. Ia juga nampaknya bisa menjelaskan sumber pendanaan acara di sejumlah tv nasional yang formatnya mirip acara perburuan buronan di tv Amerika.)

3. Pada 7 September 2007, dalam sebuah telegram bertajuk “Request For Dod Rewards Program Assistance For Indonesian Police”, kedutaan melaporkan kalau mereka telah mengkaji peristiwa penangkapan Abu Dujana dan percaya kalau kerja polisi patut mendapat hadiah. Dalam kaitan itu, mereka meminta agar unit polisi di Jawa Tengah “dipertimbangkan untuk mendapat hadiah” dari anggaran USPACOM.

4. Pada 12 Juni 2008, dalam sebuah telegram bertajuk “Dod Rewards — Indonesian Police Pay 13 Informants For Abu Dujana Arrest”, kedutaan melaporkan kalau polisi – dengan dana dari USPACOM — telah menyerahkan masing-masing US$ 3.000 ke 13 orang yang membantu polisi menangkap Abu Dujana setahun sebelumnya. Telegram bilang ini adalah pemberian hadiah yang kedua untuk informan polisi. “Kemampuan polisi untuk memberi hadiah pada warga yang membantu mereka menangkap teroris adalah penting pada upaya kontraterorisme polisi. Jumlah yang diberikan ke setiap informan (US$ 3.000) adalah realistis, jika tak berlebih, mengingat standar hidup indonesia dan memberi kredibilitas pada presentasi program yang disebutkan diatur dan didanai oleh polisi. Polisi mengapresiasi bantuan Amerika, dengan dasar polisi Indonesia sejauh ini telah menyerahkan hadiah uang tunai yang totalnya mencapai US$ 187.000 untuk 17 informan.”

(Catatan Islam Times: Sebuah telegram bertajuk “Indonesia’s Top Three Wanted Terrorists And A Promising New Lead”, dikawatkan pada 18 Desember 2006, mengungkap kalau polisi Indonesia sudah lama mengetahui keberadaan Abu Dujana, memantau pergerakannya setiap saat dan baru memutuskan melakukan penangkapan pada 9 Juni 2007: “Laporan seorang Polisi Federal Australia (AFP) yang dibagi ke kami belum lama ini mengkonfirmasi kalau polisi Indonesia telah mengetahui keberadaan Dujanah dan saat ini telah menempatkan dia dalam penyelidikan di Jawa Tengah. Tim pengintaian polisi telah mengamati pertemuan Dujanah dengan anaknya, Yusuf. Laporan AFP selanjutnya mengkonfirmasi niat polisi menggelar pemantauan guna mencari tahu adakah dari situ bisa terbaca kaitan dia dengan Noordin Top.”

(Catatan Islam Times: Telegram bilang Ainul Bahri alias Abu Dujana adalah veteran Perang Afghanistan, fasih berbahasa Arab dan pernah menajdi sekretaris pribadi Abu Bakar Baasyir.)

5. Sebuah telegram bertajuk “Jakarta – Ds/ata And Special Detachment 88”, dikawatkan pada 15 November 2007, memberi gambaran hubungan mesra antara Kedutaan Amerika Serikat, Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat dan polisi Indonesia via Diplomatic Security Anti-terrorism Assitance Program (DS/ATA). Telegram antara lain bilang kalau ada Memorandum of Intent (nota kesepahaman) antara Kedutaan Amerika dan Polisi Indonesia dalam soal kontraterorisme. Memorandum ini antara lain membuka jalan DS/ATA untuk mendukung program kontraterorisme Datasemen Khusus 88. Kata diplomat Amerika, mereka sempat terpikir menggunakan personel militer Amerika untuk melatih polisi Indonesia, tapi kecemasan kalau TNI mengetahui soal ini dan lalu marah, membuat pilihan mereka jatuhkan pada “sipil dengan pengalaman SWAT”. Telegram juga bilang kalau sebuah tim penasihat teknis DS/ATA bakal merancang evaluasi kemampuan Datasemen 88 dan pengembangannya, dan menerapkan sebuah program training yang “bisa membawa Datasemen 88 ke level berikutnya”.

Telegram bilang, Datasemen masih perlu latihan beragam jenis operasi taktis – kota ataupun desa. Personel Datasemen 88 juga perlu mengembangkan kemampuan pengintaian dan investigasi, kemampuan intelijen teknis, dan tekni “room entry”. Telegram juga bilang kalau penting bagi DS/ATA untuk tetap low profile dan berada “di balik layar” dan di luar jangkauan media dan memberi kredit “ke pihak seharusnya”, yakni polisi Indonesia. Telegram juga bilang, guna menjadikan Datasemen 88 lebih efektif dan unit yang kohesif, DS/ATA sedang dalam proses membangun sebuah pusat pelatihan khusus untuk SD-88 di pusat pelatihan kontra terorisme Polisi Indonesia. Fasilitas berlokasi di Cikeas yang nantinya berisi pusat komando dan briefing room. Pembangunan diperkirakan kelar pada Mei 2008.

Telegram juga mencantumkan nama dan nomer telpon Regional Security Officer (RSO) Kedutaan Amerika di Jakarta: Jeff Lischke, 62-21-3435-9013.

6. Telegram berjudul “Indonesian Counterterrorism And Deradicalization Initiatives”, dikawatkan pada 6 Februari 2008, merekam pertemuan pejabat senior Kedutaan Amerika dengan koordinator desk kontraterorisme Indonesia, Inspektur Jenderal Ansyaad Mbai, pada 30 Januari. Mbai, digambarkan dalam telegram sebagai “pensiunan polisi”, “koordinator kontra terorisme di Kantor Kementrian Politik dan Keamanan”. Telegram bilang Mbai telah menjabat sejak Bom Bali I pada 2002, saat Presiden Susilo masih menjabat sebagai Menteri Koordinator di era Megawati. “Mbai ditemani oleh bekas duta besar Rousdy Soeriaatmadja, kontak langsung Kedutaan dalam program bantuan kontraterorisme”.

Telegram bilang Mbai mengungkapkan terima kasih pada Kedutaan yang ikut menangkal “rekrutmen teroris” lewat kampanye via media tradional, seperti pagelaran wayang, klinik sepak bola dan workshop kontraterorisme. Kata telegram, Mbai “menekankan dampak negatif jika publik luas mengetahui Amerika mensponsori program-program itu” dan meminta agar kerjasama di antara mereka tetap tidak didiskusikan ke publik”.

7. Sebuah telegram berjudul “Counterterrorism — Indonesian Developments”, dikawatkan dari Jakarta pada 19 Maret 2009, mengungkap sosok “Team Bomb”. Isi telegram bilang kalau inilah gugus kerja ad hoc kontraterorisme di kepolisian Indonesia, yang memainkan peran utama, kadang lebih berpengaruh dari Datasemen 88, dalam melacak orang-orang Jamaah Islamiyah dan kelompok-kelompok militant lainnya. Kode “protect” di belakang penyebutan nama “Team Bomb” dalam telegram, mengisyaratkan kalau polisi yang bergabung dalam tim ini rutin memasok informasi rahasia ke Kedutaan Amerika. Telegram juga bilang kalau “… Team Bomb (protect), yang mengorganisir pembayaran hadiah untuk informan polisi dan bekerja dengan pejabat Kementrian Pertahanan dan Kementrian Luar Negeri Amerika “agar uang bisa sampai ke markas polisi di Jakarta”.)

Telegram juga bilang kalau “Team Bomb dan Datasemen Khusus 88 (SD-88) punya target dan misi kontraterorisme yang saling mendukung. Operasi Team Bomb pada dasarnya bagian dari SD-88 dan unit kepolisian lainnya karena alasan keamanan dan konterintelijen, dan pemisahan unit kerja ini “berkontribusi pada kesuksesan Team Bomb”. Team Bomb disebutkan juga sebagai “gugus kerja kontra terorisme yang “pre-eminent”, paling mantap. Telegram lain bilang: sementara SD-88, digambarkan sebagai tim respon kontraterorisme, yang banyak menerima kredit publik atas penangkapan tokoh-tokoh JI, khususnya Zarkasih dan Abu Dujani pada Juni 2007, Team Bomb lah yang sebenarnya mengumpulkan informasi sekaitan sejumlah teroris, mengeksekusi serangan ke rumah-rumah persembunyian, dan melakukan penangkapan. Telegram juga bilang dengan satunya pimpinan Team Bomb dan Densus 88, yakni di bawah komando Surya Dharma, kedutaan berharap koordinasi upaya kontra terorisme menjadi lebih baik.

8. Sebuah telegram berjudul “Counterterrorism — Goi Deradicalization Efforts Show Promise”, dikawatkan pada 24 Maret 2009, menyebutkan “… “Bersama Team Bomb, gugus kerja polisi ad hoc dalam urusan kontra terorisme, pejabat SD-88 mengindentifikasi tersangka dan terpidana terorisme di penjara yang cenderung pada ide –ide moderat dan membina hubungan dengan mereka. Pejabat ini, yang semua muslim, menyediakan bagi keluarga radikal yang ditahan bantuan uang dan membuka peluang para teroris untuk berhubungan dengan keluarga dan masyarakat selama masa penahahan. Dengan shalat dan makan bersama tersangka teroris, pejabat memperlihatkan alternatif dalam berislam. Individual ini terus mendampingi terpidana selama masa persidangan, pemenjaran dan pelepasan dari tahanan.

(Catatan Islam Times: sebuah telegram lain mengungkap kalau Mbai pernah bilang ke diplomat Amerika di Jakarta kalau Brigadir Jenderal Surya Dharma punya daftar 100 orang terpidana teroris yang berpotensi untuk dijinakkan, dijadikan berpandangan moderat sekaligus informan polisi. Mereka, katanya, umumnya miskin dan bakal senang jika ada yang membantu pendanaan lepas dari penjara).

9. Telegram bertajuk “Jakarta Resolute In Aftermath Of Bomb Blasts”, dikawatkan pada 21 Juli 2009, merekam kerjasama polisi Indonesia dan Biro Penyidik Federal Amerika Serikat, FBI, dalam penyelidikan Tragedi Bom Marriott dan Ritz Carlton. Telegram bilang: “Sekalipun Pemerintah Indonesia di muka umum bilang kalau mereka tak memerlukan bantuan dalam penyelidikan dan tak secara formal menerima bantuan, Polisi Nasional Indonesia diam-diam telah meminta bantuan FBI untuk meningkatkan kualitas footage video pengamatan di kedua hotel. Agen-agen FBI, yang akan membantu permintaan ini, akan tiba di Jakarta pada 25 Juli … (Catatan: sekaitan peristiwa 17 Juli, pertukaran informasi kontraterorisme menjadi kian penting. Publikasi adanya bantuan FBI akan … menjadikannya tak efektif dan membahayakan kepercayaan yang telah kami bangun dengan penegak hukum Indonesia. Akhir Catatan.)”

(Catatan Islam Times: di bagian lain dokumen ada tertulis kalau Herry Nurdi, digambarkan sebagai Editor-In-Chief Majalah Sabili, “majalah paling populer yang menawarkan pandangan anti Barat dan anti Semit paling keras, bilang ke kami kalau majalahnya akan mengeluarkan sebuah edisi yang berisi kututkan atas serangan”.)

10. Telegram bertajuk “Counterterrorism — Proposal For Additional Usg Involvement In Key Law Enforcement Training Center”, dikawatkan pada 14 September 2009, antara lain menyebutkan: “Pemerintah Amerika Serikat berhasil menggelar kelas dan konferensi anti-terorisme di JCLEC (Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation, pusat pendidikan kontra terorisme kerjasama polisi Indonesia dan Australia) di masa lalu, tapi pengajaran yang reguler di JCLEC kerap jadi persoalan karena jadwal yang tak pas. Sejak 2006, Kedutaan Amerika telah mendukung pelatihan tahunan kontra terorisme di JCLEC … Program Diplomatic Security’s Anti-Terrorism Assistance telah menggelar pelatihan di JCLEC di masa lalu (sebagai tambahan atas pelatihan yang dilaksanakan di pusat pelatihan milik DS/ATA sendiri di Megamendung, Jawa Barat).”

(Catatan Islam Times: pusat pelatihan DS/ATA berada dalam kompleks pendidikan polisi di Megamendung, Bogor. Kabarnya, Kedutaan Amerika ‘menyewa’ sebuah ruangan di situ selama berlangsungnya pelatihan kontra terorisme.)

11. Telegram bertajuk “Jayapura – Special Detachment 88”, tertanggal 9 November 2007, merekam perjalanan ‘nyaman’ Duta Besar Amerika berkeliling kawasan Freeport – dengan penjagaan lengkap pasukan Densus 88. Telegram dikawatkan oleh Regional Security Officer Kedutaan Amerika di Jakarta, Jeff Lischke. Jeff menulis: “1. (U) RSO belum lama ini menemani Duta Besar ke Jayapura di Papua. Alasan utama kunjungan ini adalah bertemu pejabat Indonesia dan berkunjung ke kawasan tambang Freeport McMoRan di Timika dan BP di Babo. Selama kunjungan, RSO bertanya soal Datasemen 88 untuk mencari tahu adalah personel awal unit ini, yang mendapat pelatihan di fasilitas pelatihan DS/ATA pada Februari 2007, masih utuh. 2. (C) Kami bertemu Komandan Datasemen Khusus 88, Kolonel S.H. Fachruddin, dan bertanya padanya tentang Datasemen Khusus 88. Dia bilang kalau bawahannya adalah petugas pengamanan polisi Indonesia selama Duta Besar berada di Jayapura. Dia bilang kalau kantornya tak jauh dari komplek Gubernur, Kapolda dan Panglima Daerah Militer. Sekalipun kami tak sempat mengunjungi kantor mereka dan menginspeksi peralatan mereka, sang Kolonel bilang kalau semua peralatan dan kendaraan yang diberikan DS/ATA masih ada dan dalam kondisi bagus. (Harap dicatat kalau salah satu kendaraan yang digunakan dalam iring-iringan kendaraan Duta Besar adalah mobil Datasemen Khusus 88 dan mobil itu dalam kondisi sempurna). … .”

Standar Ganda Kedutaan dalam soal Kasus Pembunuhan Munir

Setidaknya ada 94 telegram yang memuat nama Munir dalam kawat diplomatik yang bersumber dari Kedutaan Amerika di Jakarta. Jumlah itu menggambarkan ‘kegigihan’ Kedutaan Amerika untuk menggunakan kasus pembunuhan Munir sebagai pintu masuk untuk mempererat hubungan dengan sejumlah institusi negara – senyampang mengarahkan tombak mematikan ke tubuh Badan Intelijen Negara, pihak yang mereka sebut patut diduga berada di balik pembunuhan Munir.

Dalam sebuah telegram bertajuk “Munir Case: Ambassador Signals Continued U.s. Focus On Justice; Widow Plans Second Visit To Dc”, dikawatkan pada 13 April 2006, tertulis kalau Duta Besar Hume mengundang Suciwati ke kedutaan pada 11 April “untuk mendiskusikan nasib … almarhum Munir, yang mati diracun pada September 2004”. Suciwati, kata telegram, datang ditemani empat aktivis hak asasi: Usman Hamid (Kontras); Rachland Nashidik (Imparsial); Rafendi Djamin (Koalisi HAM); Binny Buchori (Infid). Telegram bilang ini adalah pertemuan kedua Hume dan Suciwati, lepas yang pertama pada November 2004. Hume, kata telegam, mempertegas sokongan Amerika agar Suciwati dapat keadilan, termasuk usahanya mengeluarkan “pertanyaan keras” lepas Pollycarpus dinyatakan bersalah pada Desember 2005. Hume, kata telegram lagi, juga bilang kalau dia telah mengungkapkan keprihatinannya sekaitan kasus Munir ke Presiden Yudhoyono dan bos polisi, Jenderal Sutanto.

Telegram selanjutnya menyebut rencana Suciwati berkunjung ke Amerika pada sekitar 23 April untuk “mempertahankan perhatian masyarakat internasional pada kasus” Munir sekaligus untuk bertemu dengan anggota dan staf di KongresAmerika. Telegram bilang, Suciwat ingin bertanya ke Kongres “adakah mereka telah mendapatkan respon dari Presiden Yudhoyono atas surat mereka (terkait kematian Munir, red. Islam Times) di awal tahun.

“Meski masih menimbang pendekatan yang bakal dia pilih,” kata Hume dalam telegram, “Suciwati berpikiran kalau Amerika Serikat bisa memberi tekanan “dengan meninjau ulang bantuan pada polisi dan militer Indonesia”. Lepas itu, tertera respon Hume yang “menasehati Suci untuk menarik diri dari meminta pembatasan bantuan Amerika (atas polisi dan militer Indonesia, red.Islam Times) dan tetap fokus pada tujuan mendapatkan keadilan untuk suaminya yang terbunuh.

(Catatan Islam Times: Agak aneh sebenarnya membaca ‘kepedulian’ Kedutaan Amerika pada kasus Munir. Ini bila mengingat Kedutaan pernah menolak visa perjalan almarhum Munir ke Amerika Serikat hanya karena dia pernah ikut berdemo membela Palestina dan mengecam Israel dan Amerika di depan Kedutaan Amerika di Jakarta. Di sisi lain, ada banyak telegram yang mengungkap keengganan Kedutaan untuk mengikutkan Kopassus dalam program kerjasama militer antarnegara dengan dalih Kopassus “pernah terlihat pelanggaran hak berat”. So, orang kini bisa melihat betapa Kedutaan menerapkan standar ganda. Densus 88 dan “Team Bomb”, dua tim kontraterorisme bentukan Amerika, kerap membunuh para tersangka kasus-kasus terorisme tanpa izin pengadilan; sebuah laku kontroversial yang belakangan bahkan mengundang kritik tajam langsung dari Kepala Badan Intelijen Strategis TNI. Tapi alih-alih menarik diri, menjauh dan menghentikan dukungan pada Densus 88, seperti halnya yang mereka lakukan pada Kopassus, Kedutaan Amerika justru ‘menasehati’ Suciwati untuk tak bicara apapun soal “penghentian bantuan ke polisi”.)

(Catatan Islam Times: masih dalam telegram yang sama yang merekam pertemuan Hume dan Suciwati, ada tertera informasi kalau kalau diplomat Amerika punya hubungan mesra dengan penyidik Anton Charilyan. Kode “protect” setelah penyebutan nama Anton dalam telegram nampaknya mengisyaratkan kalau dia kerap membagi informasi rahasia ke Kedutaan Amerika. Telegram bilang, pejabat kedutaan “bertemu Anton Charilyan (protect) pada 22 Maret lalu membangun komunikasi lagi pada 12 April. Anton merespon via sms, sebagai berikut: “Terhadap kasusnya (Munir), hingga saat ini kami masih menyelidiki secara intensif, tapi kami melakukan ini dengan sangat rahasia karena kami tidak berhadapan dengan (tersangka) orang biasa. Suci, di lain pihak, ingin kami mengumumkan setiap perkembangan. Jika ini dilakukan seperti dalam fase investigasi terakhir, hanya sebagai sarana untuk mengangkat popularitas individu tertentu, maka pada akhirnya ini bakal menyibak ke musuh-musuh kami setiap langkah penyelidikan polisi. Kami sudah mengungkap jalan cerita utama, tapi kami masih berupaya mendapatkan saksi-saksi pendukung dan bukti-bukti lain, masih minim hingga saat ini, agar nantinya kesimpulan kami bisa menjadi bukti legal yang kuat di pengadilan. Dan kerja-kerja ini, tentu saja, tak bisa diselesaikan dalam tempo yang singkat. Lebih jauh, jika ada tenggat waktu yang ditetapkan untuk investigasi ini, ini akan menciptakan kesulitan tersendiri bagi kami.” Telegram yang lain bilang kalau belakangan Kedutaan Amerika kehilangan kontak dengan Anton yang disebutkan resah di tengah banyak kabar informasi yang terbagi ke pihal lain.)

Birokrat Negara Tunduk pada Tekanan Kedutaan Amerika untuk Menekan Iran

Di forum-forum resmi internasional, Indonesia nyaris tak pernah menyetujui saksi apapun atas Iran. Pernyataan pejabat negara sekaitan program pembangkit nuklir Iran selalu bernada positif, mendukung hak Iran dalam pengembangan energi nuklir damai, dan cenderung jauh dari keinginan Amerika dan negara-negara sekutu yang gemar menhancurkan citra Iran dan menghukum Iran lewat aneka sanksi ekonomi. Tapi sejumlah telegram WikiLeaks menunjukkan kalau Jakarta bermuka dua dengan mendukung diam-diam sanski ilegal Amerika atas Iran di dalam negeri. Telegram juga memunculkan kesan kalau Amerika begitu paranoid pada setiap kabar yang berisi kemungkinan Iran bisa berinvestasi dan membangunan hubungan dengan kalangan sipil dan militer di Indonesia:

1. Telegram bertajuk “Demarche Delivered Regarding Preventing Establishment Of Iranian Joint Bank In Indonesia”, dikawatkan pada 10 September 2008, menyebutkan kalau: “orang-orang penghubung di pemerintah Indonesia telah mengkonfirmasi kalau Bank Melli telah menanyakan aturan bisnis bank asing di Indonesia, tapi belum melayangkan surat permohonan untuk membuka cabang, anak perusahaan atau bermitra dengan Bank Panin atau institusi keuangan Indonesia lainnya. Seorang pejabat di Kementrian Luar Negeri bilang kalau Deplu belum lama ini menggelar pertemuan antarlembaga dan sebuah pertemuan dengan kalangan bank dan komunitas bisnis dan membriefing mereka sekaitan implikasi saksi atas Iran dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB (UNSCR) belakangan ini.”

(Catatan Islam Times: telegram lainnya mengungkap keleluasaan diplomat Amerika mencari tahu segala hal terkait bisnis perusahaan Iran di Indonesia, utamanya via Pusat Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), yang dalam telegram digambarkan sebagai “lembaga penerima bantuan USAID”. Telegram lain menyebut adanya permintaan bantuan dari Yunus Hussein, bos besar PPATK, ke DOJ/OPDAT (Departement of Justice/ Office of Overseas Prosecutorial Development, Assistance and Training) agar pemerintah Amerika “membantu perumusan draft Rancangan Undang-Undang Pendanaan Terorisme”. Yunus kini tercatat sebagai salah satu kandidat Pimpinan KPK.)

2. Dalam sebuah telegram bertajuk “Iran — Indonesia To Urge For Release Of Detained Amcits”, dikawatkan pada 19 Februari 2010 dengan marka SECRET//NOFORN, Duta Besar Amerika, Cameron Hume, menulis: “Jurubicara presiden, Dino Djalal, bilang ke DCM pada 19 Februari kalau Indonesia akan meminta Iran melepas tiga warga Amerika yang ditahan di Iran dengan peritmbangan kemanusiaan. Bekas Sekretaris Jenderal D-8, Dipo Alam (kini Menteri Sekretaris Kabinet) akan bertandang ke Tehran pada 1 Maret sebagia bagian dari serangkaian kunjungan ke para pemimpin negara-negara D-8. Alam dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Manouchehr Mottaki dan kemungkinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. Djalal bilang ke kami kalau atas nama Pemerintah Indonesia (dan bukan Amerika Serikat), Alam akan meminta Iran melepas warga Amerika yang ditahan dengan pertimbangan kemanusiaan … .”

(Catatan Islam Times: di telegram lain, ada terekam kalau Djalal menjadi ‘mata dan telinga’ Kedutaan Amerika dalam melaporkan pertemuan antara Presiden Yudhyono dan Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Sayyid Ali Khamenei.)

Kedutaan Amerika ‘Memberi Restu’ pada Rencana Jahat Eksekutif Newmont

Sebuah telegram bertajuk “Rick Ness Testifies In Newmont Case This Week”, dikawatkan dari Jakarta pada 24 Agustus 2006, merekam pengamatan diplomat Amerika atas persidangan Richard Ness, bos besar PT Newmont Minahasa Raya. Lepas memaparkan jalannya persidangan, telegram menyebutkan: “di sela-sela persidangan, kami mendengar sejumlah isyarat dari eksekutif NMR kalau mereka telah menyiapkan sebuah rencana darurat sekiranya Ness diputus bersalah. Dalam sebuah pertemuan sosial lepas persidangan di Manado, mereka memberi isyarat kalau Newmont telah mengontak sebuah perusahaan keamanan swasta untuk menyelundupkan Ness ke luar Indonesia sekiranya dia dinyatakan bersalah setelah semua peluang banding habis. Mengingat minimnya bukti-bukti adanya kejahatan, dan nada-nada politik yang jelas di balik keputusan masuknya kasus ini ke pengadilan, eksekutif Newmont memberi kesan pembenaran pada rencana mereka melarikan Ness ke luar negeri agar dia tak sehari pun menginap di terungku.”

(Catatan Islam Times: Dalam telegram, tak ada informasi apapun yang mengungkap adanya keberatan diplomat Amerika lepas mendengar rencana penyelundupan Ness oleh para pejabat senior Newmont. Pada 2007, pengadilan di Manado membebaskan Richard Ness dan PT Newmont Minahasa Raya dari semua tuduhan sekaitan gugatan pencemaran di Teluk Buyat.)

Kedutaan Amerika Ingin Menaklukkan Setiap Penentangan atas Hegemoni Amerika

Pada 12 November 2009, dalam sebuah telegram bertajuk “Indonesian Foreign Policy–realizing The Potential Of President Yudhoyono’s Second Term”, Ted Osius, Charge d’Affaires menulis kebijakan yang patut diambil Washington seiring kembali terpilihnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di pemilu di bulan sebelumnya. Marka “CONFIDENTIAL” di awal telegram mengisyaratkan kalau semua yang dia kawatkan hari itu bisa ‘merusak’ keamanan nasional Amerika bila sampai terungkap ke publik.

Pemeriksaan Islam Times menunjukkan kalau dokumen ini memuat semacam grand desainkedutaan yang ingin memotong kaki perlawanan anak bangsa atas hegemoni Amerika – dan juga Israel yang diam-diam mereka wakilkan kepentingannya – atas Jakarta. Sebuah skenario besar berbungkus sarung tangan belundru “Kemitraan Komprehensif”, dengan Presiden Susilo sebagai partner utama mereka.

Di awal bagian awal dari telegram, Osius (masih aktif sebagai Wakil Duta Besar Amerika di Jakarta hingga saat ini) banyak bercerita tentang sosok Presiden Susilo. Osius bilang presiden ingin ‘tampil’ di forum internasional di luar Asia, (forum G20 mungkin venue yang tepat, katanya), ingin dilihat sebagai sosok yang bisa menjembatani perbedaan-perbedaan dunia. Dengan “pendekatan yang tepat”, kata Osius, besar kemungkinan Presiden Susilo berdiri di belakang Amerika dalam soal Afghanistan, Myanmar, Iran, Climate Change dan Palestina. Katanya, Misi Amerika di Jakarta “sedang mengekspolorasi kemungkinan melibatkan Indonesia dalam melatih polisi di Afghanistan”. Jika ini berhasil, Indonesia bisa berperan lebih besar di Afghanistan, katanya. Dia juga bilang kalau dalam periode kedua pemerintahan Presiden Yudhoyono, Indonesia ada kemungkinan menunjukkan “kelonggaran” atas Israel.

Osius lalu bercerita tentang orang-orang yang bisa membantu mewujudkan visi Presiden – dan sekaligus Amerika. Dia menyebut nama Menteri Marty Natalegawa, yang dia gambarkan sebagai sosok yang ‘berpikiran terbuka’, pragmatis dan menyukai ‘pendekatan inklusif dalam diplomasi’. Dia juga ada menyebut nama Kemal Stamboel, wakil Partai Keadilan Sejahtera di Komisi I DPR (bidang luar negeri, keamanan) yang, menurutnya, berpandangan positif dalam soal climate change, anti korupsi dan isu-isu lain ‘yang penting bagi Amerika’.

Di bagian berikutnya, dia menyebut pihak-pihak yang berpotensi mengganjal visi presiden. Yang paling pertama adalah yang dia identifikasi sebagai pejabat Kementrian Luar Negeri – “khususnya yang berada di level madya”, katanya – yang “masih penuh dengan pandangan dunia kabur Gerakan Non-Blok yang anti-Barat”. “Reaksi pertama mereka biasanya menentang inisiatif-inisiatif kita, khususnya dalam konteks multilateral. Mereka juga cenderung memberontak dalam sejumlah pesoalan semisal protokol, hak-hak istimewa dan imunitas, dan banyak urusan formal lainnya.”

Pihak kedua yang disebutkan bisa menggalkan langkah Presiden Yudhoyono – dan ini juga berarti inisiatif Amerika Serikat di Indonesia – adalah Dewan Perwakilan Rakyat. Kata telegram, suara-suara moderat (baca: pro Amerika) di DPR kerap dalam tekanan saat yang jadi urusan adalah hal-hal yang sensitif terhadap Muslim.

Telegram juga menyebut kalau Indonesia secara reguler masih mengekor pada sikap Negara-negara Non-Blok dan OKI dalam penentuan suara di PBB, seperti yang terkait Laporan Goldstone soal konflik Gaza. Ada juga keluhan soal “lambatnya kemajuan pendirian Indonesia-United States Center for Biomedical and Public Health Research akibat kecangnya serangan bermotif politik pada Menteri Kesehatan (Endang Sedyaningsih, red. Islam Times), yang telah dituduh terlalu dekat pada Amerika”.

Hambatan serupa ini tak bakal hilang dalam semalam,” kata Ted.

Di bagian akhir, Ted menuliskan resep yang dia anggap manjur agar Amerika bisa keluar dari semua kemelut dan sampai pada tujuannya: “Sebuah visi strategis yang menjangkau jauh dan pelibatan kukuh pejabat senior pemerintahan Amerika dengan pihak Indonesia adalah sebuah kemestian demi mewujudkan potensi penuh peluang-peluang kerjasama.

Ted juga bilang kalau Amerika “perlu menaklukkan kebiasaan-kebiasaan yang ternanam dalam di birokrasi Kementrian Luar Negeri dan legislatif”. Katanya lagi: “Kita juga perlu memenangkan opini publik yang tak selalu simpati pada posisi Amerika. Pengembangan Kemitraan Komprehensif Indonesia-Amerika adalah mekanisme kunci untuk menjalankan semua itu. Seiring upaya kita mengembangkan Kemitraan, kita seharusnya bisa mencapai kesepakatan atas sejumlah prinsip-prinsip strategis bersama. Penting pula bagi kita untuk melembagakan forum-foum konsultasi bilateral yang rutin di tingkat kementrian dan level di bawahnya.” ***

Muawiyah Pengajak orang ke neraka (versi Rasul saw) dan Imam yang memberi petunjuk versi sunni

Ada trend basi di kalangan pengikut nashibi …..

Riwayat yang mereka jadikan hujjah adalah riwayat dhaif bahkan sebagian sanadnya dhaif jiddan atau maudhu’

Sudah kehabisan hujjah/dalil mengais-ngais di tempat sampah pun mereka lakukan demi sang idola Muawiyah Pengajak orang ke neraka (versi Rasul saw) dan Imam yang memberi petunjuk versi Nashibi wahabi/salafy

Nashibi apapun dilakukan demi keyakinannya yang bathil… apapun mereka lakukan mulai memalsu,memalsu blog bahkan memalsu kitab2 rujukan, memelintir hadis dan ayat al Qur’an… tanpa malu dan tanpa takut azab Allah SWT

Berikutan penghinaan Abdul Aziz Al Syaikh, imam solat Jumaat di Riyadh ke atas pengikut mazhab Ahlul Bait (a.s) dan kelancangan khatib Madinah Syaikh Huzaifi terhadap Imam Zaman, Setiausaha Agung Majma’ Ahlul Bait mengecam keras ucapan mereka yang dianggap cuba melindungi jenayah Al Saud.

Hujjatul Islam Muhammad Hasan Akhtari berkata, “Tanggapan kami terhadap ucapan tidak berasas Abdul Aziz Al Syaikh dan Syaikh Huzaifi adalah jelas, ianya bertujuan menggelapkan peristiwa dalaman yang terjadi di Arab Saudi”.

Syeikh Akhtari

.

Merujuk kepada kebencian Syaikh Huzaifi terhadap Ahlul Bait, Akhtari mengatakan, “Huzaifi beberapa kali mengungkapkan ucapan sebelah pihak seperti ini dengan kelancangan bahasanya, beliau sudah beberapa kali bersikap biadap, mencela dan menuduh secara tidak adil terhadap pengikut Ahlul Bait (a.s)”.

Beliau menegaskan bahawa para ulama Wahabi Arab Saudi memperalatkan kedudukan agama mereka demi mengambil bahagian dalam membela pemerintah yang membunuh orang tidak berdosa. Kata beliau, “Sudah tentu Huzaifi sendiri telah memberi jawapan kepada dirinya sendiri di dalam ucapannya. Beliau menuduh sebuah negara asing telah masuk campur dalam urusan Arab Saudi; sedangkan jika masuk campur dalam urusan sebuah negara itu adalah tidak sah, terlebih dahulu lebih baik beliau memprotes kerajaan Al Saud yang melakukan jenayah selain menuntut askar mereka keluar dari Bahrain”.

“Apa hak mereka menyerang Bahrain dan menjajahnya? Apa sebab dan hasrat mereka menjadikan rakyat Bahrain sebagai musuh mereka? dan mereka juga membunuh lelaki, perempuan, kanak-kanak, remaja dan orang tua? Sekarang sudah berpuluh-puluh rakyat Bahrain dibunuh. Jikalau mencampuri urusan dalaman sesebuah negara tidak dibenarkan – iaitu kita juga tidak membenarkannya – Huzafi dan Al Syaikh hendaklah memulakan kritikan terhadap kerajaan Arab Saudi. Jikalau mereka berani, hendaklah mereka menyerang Al Saud dan bertanya: Mengapakah kamu melancarkan kempen ketenteraan dan menduduki Bahrain?”.

“Perumpamaan Huzaifi tidak akan sekali-kali menjadi sebahagian daripada iman kepada Allah. Beliau memperalatkan solat dan minbar demi hawa nafsu dan kegunaan peribadinya. Beliau selalu menyalahgunakan pentas-pentas masjidil haram dan masjid Nabawi”.

Merujuk kepada fatwa-fatwa ulama Wahabi yang tidak Islamik, beliau mengatakan, “Mereka mempergunakan kedudukan pemberi fatwa bukan untuk kebenaran dan mengkafirkan umat Islam. Mereka belum cukup dengan hanya mengkafirkan Syiah sahaja”.

Anggota Majlis Ilmu Rahbar ini turut mengkritik keangkuhan Huzaifi dalam membicarakan akidah mahdawiyah. Akhtari mengatakan, “Orang ini jahil dan tidak berpelajaran sehingga biadab terhadap Imam Zaman. Masalah kewujudan Imam Zaman sangat jelas bagi mereka yang kurang maklumat dari sumber-sumber agama, Al-Quran dan Hadis. Namun orang seperti beliau tidak bersedia merujuk kepada kitab-kitab sendiri seperti Sahih Sittah, untuk melihat dan memahami riwayat-riwayat tentang Imam Mahdi yang dinantikan. Tokoh-tokoh dan ulama Syiah selalu memaklumkan bahawa kami bersedia berbicara bersama mereka di dalam majlis rasmi dan ilmiyah supaya mereka membawa dalil dan logikal untuk kami dengar. Namun mereka tidak sedia berdebat”.

Setiausaha Agung Majma’ Ahlul Bait turut menyentuh tentang dakwaan-dakwaan ulama bahawa Saudi memberikan kebebasan kepada masyarakat Syiah di negaranya. Beliau mengatakan, “Sekiranya mereka prihatin terhadap rakyat Arab Saudi dan hak-hak Syiah, lebih baik mereka ke kawasan penduduk Syiah seperti wilayah Timur dan melihat dengan mata sendiri secara lebih dekat, di mana Syiah di Arab Saudi dilarang dan diharamkan dari melangsungkan solat berjemaah dan majlis Al-Quran. Apakah mereka tidak melihat samada Huzaifi memberi kebebasan atau menyakiti pengikut Ahlul Bait di Madinah, Makkah, Qatif dan Awwamiyah? Atau kerana mereka jahil dan fanatik untuk memahami apa yang terjadi?”.

Akhtari mengatakan kepada Huzaifi dan Al Syaikh, “Mereka mesti memberikan jawapan mengapakah Syiah di Arab Saudi dilarang dari menjawat jawatan dalam kerajaan? Mengapakah mereka dilarang dari memperolehi hak-hak sebagaimana penduduk di kawasan Arab Saudi yang lain? Semua ini terjadi sedangkan lebih 3 juta Syiah, mazhab-mazhab dan berbagai suku tinggal di Arab Saudi”.

Setiausaha Agung Majma’ Jahani Ahlul Bait menerangkan punca-punca pernyataan Al Syaikh dan Huzaifi dengan mengatakan, “Saya dapat merasakan bahawa Huzaifi dan Al Syaikh seperti mana Bin Baz dan para ulama yang lain serta penyokong kezaliman, disebabkan mempunyai rasa benci dan perseteruan dengan Ahlul Bait, mereka menjadi seperti hari ini. Sungguh pun mereka juga mendakwa mencintai Ahlul Bait, namun ungkapan cinta pada Ahlul Bait tidak dapat memperdayakan umat Islam dan mereka tidak menerima kata-kata seperti ini”.

Beliau menambah, “Dari sisi lain, semua orang tahu bahawa individu seperi ini adalah boneka. Mereka adalah orang upahan Al Saud dan kerajaan Saudi tidak sering turun ke lapangan politik dan masyarakat. Mereka tidak mampu menghadapi tuntutan-tuntutan hak rakyat, disamping menyerang pemikir bebas dan yayasan-yayasan hak asasi manusia. Ejen mereka ini digerakkan dan mereka diminta berbicara tentang ini”.

Selain itu, beliau turut menceritakan tentang berbagai kerosakan di kalangan keluarga Raja Saudi, “Kerosakan dan kekejian mereka serta keluarga mereka di Eropah, dan berbagai tempat yang lain adalah tidak dapat dinafikan. Sekarang jikalau ulama Wahabi jujur berbicara, bincangkanlah tentang mereka yang meminum arak, judi dan bermain anjing. Jikalau mereka ini sedar tentang Islam, sekurang-kurangnya ada sekali dalam setahun mengkritik semua jenayah dan kerosakan Al Saud, termasuk melakukannya di dalam Haramain. Namun individu seperi ini tidak berani susah berbicara untuk menentang kehendak Al Saud. Mereka ini adalah ejen dan tidak mempunyai pilihan lebih dari seorang hamba supaya dapat berkata di depan tuannya”.

Berikutan kebangkitan penduduk Syiah di Arab Saudi, ulama Saudi Abdul Aziz Al Syaikh dan Syaikh Ali Al-Huzaifi dalam khutbah Jumaat lalu di kota Riyadh dan Madinah melancarkan serangan sengit terhadap Syiah sambil menyatakan rasa sakit hati terhadap kesedaran dan kebangkitan penduduk serantau yang dikaitkan dengan Iran. Akibatnya mereka ini berlaku biadap terhadap kesucian mazhab Ahlul Bait (a.s)

Benarkah Muawiyah Menangisi Kematian Imam Ali?

Benarkah Muawiyah Menangisi Kematian Imam Ali?

Ada trend basi di kalangan pengikut nashibi …..

Riwayat yang mereka jadikan hujjah adalah riwayat dhaif bahkan sebagian sanadnya dhaif jiddan atau maudhu’

Sudah kehabisan hujjah/dalil mengais-ngais di tempat sampah pun mereka lakukan demi sang idola Muawiyah Pengajak orang ke neraka (versi Rasul saw) dan Imam yang memberi petunjuk versi Nashibi wahabi/salafy

Nashibi apapun dilakukan demi keyakinannya yang bathil… apapun mereka lakukan mulai memalsu,memalsu blog bahkan memalsu kitab2 rujukan, memelintir hadis dan ayat al Qur’an… tanpa malu dan tanpa takut azab Allah SWT

Ada trend basi di kalangan pengikut nashibi yaitu mereka menggebu gebu ingin membuktikan kemesraan hubungan antara Muawiyah dan Imam Ali. Di antara hujjah mereka yang paling banyak dikutip adalah Muawiyah menangis dan bersedih atas kematian Imam Ali. Tentu saja tujuan mereka bukan untuk mengutamakan Imam Ali tetapi untuk mengangkat keutamaan Muawiyah dan untuk menghapus fakta bahwa Muawiyah termasuk yang mencaci Imam Ali.

Riwayat yang mereka jadikan hujjah adalah riwayat dhaif bahkan sebagian sanadnya dhaif jiddan atau maudhu’. Sangat mengagumkan, nashibi yang biasa mencela syiah [yang kata mereka banyak mengutip riwayat dhaif dan palsu] ternyata juga suka berhujjah dengan riwayat dhaif. Betapa munafiknya kalian wahai nashibi.

وقال جرير بن عبد الحميد ، عن مغيرة قال : لما جاء خبر قتل علي إلى معاوية جعل يبكي ، فقالت له امرأته : أتبكيه وقد قاتلته ؟ فقال : ويحك ! إنك لا تدرين ما فقد الناس من الفضل والفقه والعلم

Jarir bin ‘Abdul Hamiid berkata dari Mughirah yang berkata “ketika kabar terbunuhnya Ali sampai kepada Muawiyah, maka ia menangis. Kemudian istrinya berkata “engkau menangisinya padahal engkau memeranginya”. Muawiyah berkata “celaka engkau, engkau tidak mengetahui bahwa orang-orang telah kehilangan seorang yang utama, faqih dan alim [Al Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir 11/429]

Riwayat ini dinukil oleh Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah dan diikuti oleh para nashibi untuk dijadikan hujjah. Jika mereka tidak malas dan bukan pemalas maka sangat mudah untuk mengetahui sumber riwayat tersebut. Riwayat Mughirah yang dinukil Ibnu Katsir itu disebutkan dengan sanad yang lengkap oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya.

أخبرنا أبو محمد طاهر بن سهل أنا أبو الحسن بن صصرى إجازة نا أبو منصور العماري نا أبو القاسم السقطي نا إسحاق السوسي حدثني سعيد بن المفضل نا عبد الله ابن هاشم عن علي بن عبد الله عن جرير بن عبد الحميد عن مغيرة قال لما جاء قتل علي إلى معاوية جعل يبكي ويسترجع فقالت له امرأته تبكي عليه وقد كنت تقاتله فقال لها ويحك إنك لا تدرين ما فقد الناس من الفضل والفقه والعلم

Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Thaahir bin Sahl yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hasan bin Shashraa telah menceritakan kepada kami Abu Manshur Al ‘Ammaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Qaasim As Saqathiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ishaq As Suusiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Haasyim dari ‘Ali bin ‘Abdullah dari Jarir bin ‘Abdul Hamiid dari Mughirah yang berkata “ketika kabar terbunuhnya Ali sampai kepada Muawiyah maka ia menangis dan mengucapkan istirja’. Istrinya berkata “engkau menangisinya padahal engkau dahulu memeranginya”. Muawiyah berkata kepada istrinya “celaka engkau, engkau tidak mengetahui bahwa orang-orang telah kehilangan orang yang utama, faqih dan alim[Tarikh Ibnu Asakir 59/142]

Riwayat Mughirah dengan lafaz ini adalah maudhu’ karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang tertuduh memalsu hadis, perawi yang majhul dan riwayat Mughirah tersebut sanadnya terputus [mursal].

  • Ishaq As Suusiy adalah Ishaq bin Muhammad bin Ishaq As Suusiy. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam Lisan Al Mizan dan menyatakan ia membawakan riwayat riwayat palsu tentang keutamaan Muawiyah, ia tertuduh karenanya atau para syaikhnya yang majhul [Lisan Al Mizan juz 1 no 1159]. Hal yang sama juga disebutkan oleh Abul Wafa’ dalam Kasyf Al Hatsiits [Kasyf Al Hatsiits no 124]
  • Sa’id bin Mufadhdhal yaitu syaikh [guru] Ishaq As Suusiy tidak ditemukan keterangan biorafinya sehingga ia tidak dikenal kredibilitasnya atau majhul
  • Mughirah bin Miqsaam adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat wafat tahun 136 H termasuk perawi thabaqat keenam [At Taqrib 2/208]. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perawi thabaqat keenam tidaklah bertemu satu orang sahabatpun maka riwayat Mughirah tentang perkataan Muawiyah tersebut adalah mursal.

Riwayat Mughirah bin Miqsam yang serupa juga disebutkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam Maqtal Aliy no 106 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 42/582-583 dengan jalan sanad dari Yusuf bin Musa dari Jarir dari Mughirah. Status riwayat Mughirah ini adalah dhaif karena Mughirah bin Miqsam tidak bertemu dengan Muawiyah alias mursal. Setelah melihat kualitas riwayat yang menjadi hujjah kaum nashibi maka cukuplah menjadi bukti bahwa nashibi itu adalah orang-orang munafik. Mereka mencela orang lain padahal mereka sendiri sangat tercela. Semoga Allah SWT melindungi kita semua dari nashibi munafik.

.

.

Note : berikut contoh nashibi yang mengutip atau berhujjah dengan riwayat palsu yang dinukil Ibnu Katsir [penulis pernah berdiskusi secara tidak langsung atau melalui perantara dengan para nashibi ini]

  1. Orang yang menyebut dirinya “Tripoly Sunni” yang dapat anda lihat disinihttp://www.sunniforum.com/forum/archive/index.php/t-69443.html
  2. Orang yang menyebut dirinya “swords of sunnah” yang dapat anda lihat dalam salah satu tulisannya disinihttp://youpuncturedtheark.wordpress.com/2011/03/02/part-9-nature-of-relationship-between-ahlebaytra-and-muawiyara/

Kedua nashibi aneh ini dalam diskusi suka merendahkan argumen lawan diskusi yang mereka tuduh syiah seperti dengan kata kata “munafik” atau “stupid”. Ternyata kualitas mereka sendiri tidak jauh dari perkataan yang mereka katakan itu

.

KOMENTAR  LUCU :

Saya tidak membantah kalau Muawiyah menangis atas kematian Imam Ali. Dan itu mungkin saja. Tapi menangis sebagai manusia yang bagaimana.
Saya teringat atas riwayat Nabi Yusuf dengan 10 suadaranya.Yang Allah ceritakan dalam Alqur’an (Surah Yusuf)
Karena kebencian dan iri/hasut mereka pada Nabi Yusuf, mereka merencanakan membunuhnya. Tapi kehendak Allah lain. Akhirnya dimasukan dalam sumur dipadang pengembalaan mereka. Pada waktu Nabi Ya’kub menayakan mana Yusuf semua menangis dengan sedih melaporkan Nabi Yusuf diterkam Serigala. Mereka menangis dengan sedih. Tapi menangisnya adalah tangisan MUNAFIK

 

Mengapa Aku Memilih Ahlulbait

Salamun alaikum wa rahmatollah.

Bismillahi Taala. Buku ini di tulis oleh seorang Qadhi besar mazhab Syafi’i dari Syiria, menceritakan perjalanan beliau dalam memeluk jalan kebenaran ini.

Bab 1: Sejarah Ringkas Hidup Ku

Aku dilahirkan pada tahun 1344H/1894M di kampung Unsu di Wilayah Antakiyah. Sebuah kampung yang cantik, udaranya nyaman dipenuhi oleh bermacam-macam tumbuhan seperti zaitun, anggur dan lain-lain. Di sana terdapat seorang Syaikh yang mengajar membaca dan menulis al-Qur’an kepada kanak-kanak. Bapaku meletakkanku di sisinya supaya aku belajar membaca dan menulis al-Qur’an. Selepas aku selesai membaca dan menulis, bapaku mengambilku supaya aku menolong sebahagian daripada kerja-kerjanya.

Apabila umurku meningkat remaja, aku mulai mencintai ilmu pengetahuan dan para ulama. Lantaran itu apabila aku melihat sahaja seorang ulama, aku dengan segera melakukan khidmatku kepadanya menurut kemampuanku.

Kemudian terbenam dihatiku perasaan cinta kepada ilmu dan ianya makin memuncak. Pada masa itu seorang syaikh bernama Syaikh Rajab adalah seorang alim tinggal berhampiran dengan kampung kami. Maka di sanalah aku dan saudaraku Ahmad belajar darinya hampir tiga tahun. Kemudian kami berpindah ke bandar Antakiyyah dan kami memasuki madrasah melalui Syaikh Nazif. Kami belajar darinya dan bapanya Syaikh Ahmad Afandi al-Tawil hampir tujuh tahun. Pada masa itu juga datang seorang alim yang dihormati bernama Syaikh Muhammad Sa’id al-’Urfiyy dari daerah Dair al-Zur. Dia telah dibuang daerah oleh pihak kerajaan Perancis sepanjang penjajahan negara Syria selepas tamatnya peperangan dunia yang pertama pada tahun 1919M. Kami sempat belajar darinya semasa dia berada di Antakiyyah.

Di Universiti al-Azhar

Kemudian aku sampai juga di Mesir sekalipun saudaraku Ahmad telah sampai lebih awal daripadaku. Hampir sebulan kami belajar di Universiti al-Azhar, Syaikh Sai;d al-’Urfiyy pun datang. Dan kedatangannya ke Mesir banyak memberi faedah kepada kami. Dan di Universiti al-Azharlah kami menuntut berbagai-bagai ilmu pengetahun daripada Syaikh-syaikh al-Azhar yang termasyhur.

Guru-guruku di Universiti al-Azhar

1. al-Allamah al-Akbar Syaikh Mustafa al-Maraghi, Rektor Universiti al-Azhar dan Ketua Majlis Islam.

2. al-Allamah al-Kabir Syaikh Muhammad Abu Taha al-Mihniyy.

3. al-Allamah al-Kabir Syaikh Rahim dan syaikh-syaikh al-Azhar yang lain.

Pencapaian Ijazah dari Universiti al-Azhar

Manakala kami tamat belajar, kami telah memperolehi beberapa ijazah yang tinggi dari Universiti al-Azhar. Dan apabila kami ingin pulang ke tanah air, beberapa orang yang terkemuka di Mesir meminta supaya kami menjadi Pensyarah di Universiti al-Azhar. Tetapi disebabkan negara kami lebih memerlukan kami apatah lagi Mesir sebuah negara ilmu yang mempunyai para ulama yang masyhur, tidak begitu memerlukan kami sedangkan negara kami hampir tidak mempunyai ulama yang berwibawa di dalam ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadith.

Kembalinya kami ke tanah air

Kami kembali ke negara kami dan bertugas sebagai imam sembahyang jama’ah dan Juma’at, mengajar, memberi fatwa dan syarahan selama lima belas tahun.

Perselisihan di kalangan mazhab empat

Selama lima belas tahun kami mengkaji tentang perselisihan (Khilaff) di kalangan empat mazhab. Aku dan saudaraku Ahmad merasai suatu kepelikan kerana kami dapati perselisihan berlaku di dalam satu masalah di dalam mazhab yang sama. Lebih-lebih lagi perselisihan yang berlaku di antara satu mazhab dengan tiga mazhab yang lain. Sehingga kami dapati satu mazhab menghalalkan satu masalah sementara mazhab yang lain pula mengharamkannya. Begitu juga satu mazhab mengatakan ianya makruh sementara mazhab yang lain pula mengatakan ianya sunnat. Begitulah seterusnya. Sebagai contoh Syafi’i berpendapat bahawa menyentuhi perempuan ajnabi membatalkan wudhuk sementara Hanafi berpendapat ianya tidak membatalkan wudhuk.

Malik pula berpendapat bahawa sentuhan jika dengan syahwat atau sengaja membatalkan wudhuk. Jika tidak maka ia tidak membatalkan wudhuk.

Syafi’i mengharuskan seseorang mengahwini anak perempuan zinanya, sementara Abu Hanifah, Malik dan Ahmad bin Hanbal mengharamkannya.

Hanafi berpendapat bahawa sedikit darah yang keluar dari tubuh badan adalah membatalkan wudhuk. Sementara yang tiga lagi berpendapat bahawa ianya tidak membatalkannya.

Hanafi berpendapat bahawa wudhuk harus dilakukan dengan Nabidh (air kurma umpamanya) dan susu yang bercampur dengan air. Sementara tiga lagi berpendapat ianya tidak harus.

Malik berpendapat bahawa memakan daging anjing adalah harus. Sementara yang tiga lagi berpendapat bahawa ianya tidak harus.

Syafi’i berpendapat bahawa memakan daging serigala (Tha’lab), daging musang (dhab’) dan daging belut (jar’y) adalah harus. Sementara Abu Hanifah berpendapat bahawa memakannya adalah haram.

Syafi’i berpendapat bahawa landak (qunfuz) adalah halal sementara yang tiga lagi berpendapat ianya haram. Dan banyak lagi perselisihan-perselisihan yang berlaku di kalangan mereka bermula dari bab fiqh hinggalah ke akhirnya.

Subhanallah! Adakah syariat Islam itu tidak lengkap sehingga mereka melengkapinya dengan perselisihan di kalangan mereka? Satu mazhab menghalalkannya, dan satu lagi mengharamkannya. Sementara yang lain pula mengharuskannya dan yang lain pula berpendapat sebaliknya.

Perhatikanlah bagaimana Syafi’i telah menyusun mazhabnya yang lama (Qadim) dan menyebarkannnya di kalangan kaum Muslimin di Iraq, Hijaz, Yaman, dan Syria. Kemudian dia berpindah ke Mesir kerana sebab-sebab tertentu. Di sana dia bergaul dengan orang Maghribi dan mengambil ilmu daripada mereka. Lalu dia berpindah dari mazhabnya yang lama dengan menyusun mazhabnya yang dia menamakannya dengan mazhab jadid (baru). Sehingga beberapa masalah sahaja tinggal pada mazhabnya yang pertama.

Aku berkata: Sekiranya mazhab pertamanya betul kenapa dia mencipta mazhab yang kedua dan sebaliknya. Begitu juga kita perhatikan Abu Hanifah memberi pendapatnya di dalam satu-satu masalah, murid-muridnya, Abu Yusuf, Muhammad dan Zufar menyalahinya. Kadangkala seorang daripada mereka sependapat dengannya. Sementara dua lagi menyalahinya. Atau ketiga-tiga menyalahinya atau bersetuju dengannya. Begitu juga Malik dan Ahmad bin Hanbal, perselisihan berlaku di kalangan mereka dalam semua masalah  dan ia tentu sekali membuatkan kita berada di dalam keraguan.

Fahaman Wahabi(1)

Kami mendengar daripada orang Wahabi bahawa mereka melaksanakan hukum hudud dan hukum-hukum syarak yang lain dengan sepenuhnya.

Akhirnya kami berpindah ke Hijaz dan bersahabat dengan mereka beberapa kali. Tetapi sayangnya kami dapati berita-berita yang telah sampai kepada kami dahulu dari Hijaz adalah bertentangan dengan hakikat sebenar. Kerana Wahabi adalah lebih membahayakan Islam daripada yang lain. Mereka telah mengkaburkan imej Islam dengan perbuatan-perbuatan dan fatwa-fatwa ulama mereka serta layanan mereka yang jahat terhadap itrah tahirah dengan merosakkan makam-makam mereka.

Malah mereka telah mencuba untuk merosakkan makam Nabi yang suci(s). Tetapi ianya ditentang oleh kebanyakan Mukminin di Timur dan di Barat. Justeru itu mereka tidak melaksanakannya kerana takut fitnah dan pemberontakan. Perhatikanlah fatwa-fatwa mereka yang pelik. Wahabi berkata:

“Apabila seorang haji atau seorang meletakkan tangannya di atas kubur, maka dia adalah musyrik (Dia dihampiri oleh seoran polis Saudi seraya berkata: Angkatlah tangan anda wahai musyrik). Dan apabila seorang memegang kubur atau mengucupnya, atau mengambil berkat dengannya, maka dia adalah seorang musyrik (polis akan memukulnya dan menengkingnya sambil berkata kepadanya: Jangan anda melakukannya wahai musyrik).

Demikianlah di antara fikiran-fikiran cetek yang tidak sejajar dengan syariat Islam yang mulia malah ianya mentertawakan. Di dalam khutbah-khutbah, mereka mengeji amalan suci tersebut dengan perkataan: Wahai musyrik, wahai kafir, itu adalah pada peringkat pertama jika tidak, darahnya halal dan ia wajib dibunuh sebagaimana yang telah dilakukan oleh Wahabi di Hijaz, di Iraq, dan lain-lain. Apakah pendapat kalian wahai kaum Muslimin di Timur dan di Barat tentang mazhab kotor yang baru direka untuk  menentang Islam hakiki dan Muslimin selain daripada mereka? Maka kepada Engkaulah wahai Tuhan rayuan kami terhadap mereka.

Ringkasnya, apabila kami telah melihat perlakuan-perlakuan mereka, maka kami pun kembali ke negara kami. Dan meneruskan kerja kami dahulu. Maka berpanjanganlah keadaan kami sehingga bila wahai Tuhanku?

Disebabkan  kami sentiasa di dalam keadaan syak kepada apa yang kami lihat tentang perselisihan-perselisihan yang berlaku di kalangan mazhab empat bersama mereka sendiri. Kemungkinan ia adalah di antara sebab-sebab yang membawa kepada terjalinnya hubungan kami dengan golongan Syi’ah.

Siapakah Syi’ah?

Mereka itulah golongan yang benar dan yang terpilih daripada makhluk Allah. Golongan yang berjaya yang berpegang kepada wila’ Allah, RasulNya dan para imam yang suci daripada Ahlu l-Baitnya(a). Mereka mengetahui hak para imam mereka dengan sebenar-benarnya; mengetahui orang yang memusuhi mereka. Lalu memberikan setiap mereka hak mereka pula. Mereka menyembah Allah yang satu, tidak ada sekutu dan tidak ada sesuatupun yang menyerupaiNya.

Mereka beriman dengan risalah Nabi yang teragung Muhammad bin ‘Abdullah SAWAW. Mereka beriman dengan:

  1. Imam Amiru l-Mukminin Abu l-Hasan Ali bin Abi Talib, al-Murtadha. (Lahir 23 tahun sebelum Hijrah, wafat 40H./601-661M)
  2. Abu Muhammad Hasan bin ‘Ali, al-Mujtaba (3-50H/625-670M)
  1. Abu ‘Abdullah Husain bin Ali, Saiyyidu sy-Syuhada’ (4-61H/626-680M).
  1. Abu l-Hasan ‘Ali bin Husain, Zaina l-’Abidin (38-95H/658-713M)
  2. Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali, al-Baqir (57-114H/478-732M)
  3. Abu ‘Abdillah J’afar bin Muhammad, al-Sadiq (83-148H/702-765M)
  4. Abu l-Hasan Musa bin Ja’far, al-Kazim (128-183H/745-799M)
  5. Abu l-Hasan ’Ali bin Musa, al-Ridha (148-203H/732-818M)
  6. Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali, al-Taqiyy al-Jawad (195-220H/810-835M)
  7. Abu l-Hasan ’Ali bin Muhammad, al-Hadi al-Naqiyy (212-254H/827-868M)
  8. Abu Muhammad Hasan bin ‘Ali, al-Zakiyy al-’Askari (232-260H/846-870M)
  1. Abu l-Qasim Muhammad bin Hasan, al-Mahdi al-Muntazar (256H/870M)

Syi’ah mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, khums, mengerjakan haji, berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka sebagaimana diperintahkan oleh Allah dan RasulNya, dan tidak takut kerana Allah (di atas) celaan orang yang mencela. Menyuruh perkara baik dan menegah kemungkaran. Bersegera kepada kebaikan, melakukan kewajipan dan menegah segala yang diharamkan.

Syi’ah adalah golongan yang berjaya

Sebab kejayaan golongan ini di samping apa yang telah disebutkan, ialah keistimewaannya daripada semua golongan Islam sebagaimana sabda Nabi SAWAW yang bermaksud:”Umatku akan berpecah kepada 73 golongan semuanya ke neraka melainkan satu golongan sahaja.”

Kita dapati bahawa umat Islam semuanya mengucap: La-illaha illa lah Muhammadun Rasulullah. Sekiranya kita berkata: Semuanya berjaya, nescaya kita membohongi hadith ini. Dan jika kita berkata: Semuanya binasa, nescaya kita membohongi hadith tersebut.

Lantaran itu golongan yang berjaya ialah golongan yang berpegang kepada Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW. Dan dalil kejayaannya ialah wujudnya dalil-dalil daripada al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWAW dikedua-dua pihak Sunnah dan Syi’ah.

Lantaran itu golongan yang berjaya mesti mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh semua golongan iaitu al-Wila’ (mewalikan Ahlu l-Bait AS) dan al-Bara’ (membersihkan diri dari musuh Ahlu l-Bait AS). Mereka juga percaya kemaksuman para imam mereka.

Dengan nama Tuhan wahai pembaca yang insaf, mulia dan mukmin. Adakah dikatakan kepada orang seperti itu kafir, musyrik, murtad dan halal darah mereka? Dikaitkan kepada mereka dengan segala tohmahan yang penuh dengan kebatilan,pembohongan yang diciptakan dan kata-kata yang bohong dan keji sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ibn Taimiyyah, Ibn Hajar al-Haithami, al-Qusaimi, al-Hafnawi, Musa Jarullah, Ahmad Amin, al-Jabhani dan lain-lain.

Begitu juga dengan Syaikh Nuh yang telah memberi fatwa kekafiran Syi’ah, pembunuhan mereka, perampasan harta mereka dan lain-lain. Dia mengakhiri fatwanya yang panjang dengan kata-katanya: Sama ada mereka bertaubat ataupun tidak. Lihatlah fatwanya yang ditulis oleh Imam Syarafuddin di dalam bukunya Fusul al-Muhimmah(2) bab sembilan.

Tidakkah anda mengetahui wahai pembaca yang budiman apakah dosa Syi’ah? Adakah disebabkan mereka tidak mengiktiraf khilafah selain dari para imam mereka atau kerana mereka berkata: Khilafah adalah untuk mereka dari awal kerasulan Muhammad SAWAW hinggalah keakhirnya dunia. Maka dengan nama Tuhan kalian katakanlah: Adakah dosa ini menyebabkan kekafiran dan kemurtadan? La haula wala Quwwata illa bi llah.

Selepas kajian yang mendalam, kami dapati bahawa bilangan Syi’ah hari ini lebih daripada seratus juta(Nota Ibnu Azmi:Bilangan Syiah ketika itu). Dan jikalaulah mereka tidak menghadapi pembunuhan, permusuhan daripada musuh-musuh mereka, serta berbagai-bagai kezaliman dan tekanan sepanjang abad-abad yang lalu, nescaya bilangan mereka hari ini sekurang-kurangnya seribu juta. Mereka berkembang di seluruh pelusuk dunia, timur dan barat, utara dan selatan.

Kebanyakan mereka berada di dalam negara-negara Islam. Mereka menyebarkan dakwah Islam menurut mazhab mereka. Mereka telah melakukan perkhidmatan yang besar di mana orang-orang Islam bermegah dengan khidmat mereka. Buku-buku mereka melimpahi dunia sehingga tidak terhitung banyaknya. Untuk tujuan ini lihatlah buku al-Dahri’ah ila Tasanif al-Syi’ah karangan Syaikh Bazrak al-Tahrani. Dan ini merupakan sebahagian kecil daripada senarai buku-buku tersebut.

Di kalangan Syi’ah terdapat para ulama Islam, Fuqaha’, Failasuf dan ahli-ahli fikir. Sultan-sultan, menteri-menteri, sasterawan-sasterawan, penyair-penyair, penulis-penulis, pakar-pakar ilmu bintang, matematik, falak, arkitek-arkitek, doktor-doktor, ahli-ahli seni dan lain-lain. Mereka memenuhi bumi Allah yang luas dengan ilmu dan amal. Mereka mempunyai pusat-pusat pengajian tinggi, masjid-masjid yang besar yang dipenuhi oleh orang-orang yang datang bersembahyang, baik di Timur mahupun di Barat.

Sebagai contoh Imam al-Akbar al-Sayyid Abu l-Hasan al-Musawi al-Asfahani (RH) telah membina masjid-masjid dan madrasah-madrasah di merata tempat di dunia. Begitu juga al-Imam al-Burujurdi (RH) telah menghantar pendakwah-pendakwah ke seluruh dunia dan membina masjid-masjid di Amerika, Jerman, London dan Paris. Adakah anda benar-benar mengenali Syi’ah wahai pencaci?

Apa yang mendukacitakan ialah kami tidak dapati di dalam buku-buku sirah, dan sejarah di kalangan Ahlus Sunnah selain daripada cacian, malah pengkafiran terhadap Syi’ah secara terang-terangan. Kenapa? Sebabnya kerana mereka (Syi’ah) adalah Musyrikin! Begitulah ditulis di dalam buku al-Sawa’iq am-Muhriqah (petir-petir yang membakar) oleh Ibn Hajr al-Haithami. Semoga Allah membakar penulisnya di akhirat kelak.

Jika dikatakan kerana mereka tidak hadir sembahyang Juma’at dan jama’ah, ini adalah tuduhan yang besar. Adakah harus mengkafirkan muslim yang meninggalkan juma’at dan jama’ah wahai Muslimun?

Sebab-sebab yang mendorong kami berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS.

1. Aku fikir beramal dengan mazhab Ahlu l-Bait AS diberi ganjaran yang sewajarnya di samping mendapat kebersihan jiwa tanpa sebarang syak. Apatah lagi ramai di kalangan ulama Ahlus Sunnah yang terdahulu dan sekarang telah memberi fatwa-fatwa mereka tentang keharusan berpegang kepada mazhab Syi’ah Ja’fariyyah seperti sahabat kami Syaikh al-Akbar, Syaikh Mahmud Syaltut. Dia telah mengeluarkan fatwanya yang disiarkan pada tahun 1959M, di majalah Risalatu l-Islam yang diterbitkan oleh Darul al-Taqrib baina l-Madhahib al-Islamiyyah atau Lembaga Pendekatan antara Mazhab-mazhab dalam Islam, yang berpusat di Kairo, Mesir, nombor 3 tahun 11 halaman 227 sebagai berikut:

“Agama Islam tidak mewajibkan suatu mazhab tertentu atas siapapun di antara pengikutnya. Setiap Muslim berhak sepenuhnya untuk mengikuti salah satu mazhab yang mana jua yang telah sampai kepadanya dengan cara yang benar dan menyakinkan. Dan hukum-hukum yang berlaku di dalamnya telah dicatat dengan teliti dan sempurna dalam kitab-kitab mazhab yang bersangkutan, yang memang dikhususkan untuknya. Begitu pula, setiap orang yang telah mengikuti salah satu di antara mazhab-mazhab itu , diperbolehkan pula untuk berpindah ke mazhab yang lain – yang manapun juga – dan dia tidak berdosa sedikitpun dalam perbuatannya itu…..”

Kemudian dia berkata lagi:”Sesungguhnya mazhab Ja’fariyyah yang dikenali dengan sebutan mazhab Syi’ah Imamiyyah Ithna Asy’ariyah adalah satu mazhab yang setiap orang boleh beribadah dengan berpegang kepada aturan-aturannya seperti juga mazhab-mazhab yang lain….”

“Kaum Muslimin sayugia mengerti tentang hal ini, dan berusaha melepaskan diri dari kongkongan ‘Asabiyyah (fanatik) dalam membela sesuatu mazhab tertentu tanpa berasaskan kebenaran….”

2. Dalil-dalil yang kuat dan hujah-hujah yang kukuh dan terang seperti matahari di waktu siang tanpa dilindungi awan, telah menyakinkan kami bahawa mazhab Ahlu l-Bait AS adalah mazhab yang benar yang telah diambil oleh Syi’ah daripada para imam Ahlu l-Bait AS dan daripada datuk mereka Rasulullah SAWAW daripada Jibrail AS daripada Allah SWT. Mereka tidak akan menukarkannya dengan yang lain sehingga mereka berjumpa dengan Allah SWT.

3. Wahyu telah diturunkan di rumah mereka dan Ahlul l-Bait (isi rumah) lebih mengetahui dengan apa yang ada dalam rumah daripada orang lain. Lantaran itu orang yang berfikiran waras tidak akan meninggalkan dalil-dalil dari Ahlu l-Bait AS dengan mengambil dalil-dalil dari orang-orang asing (di luar rumah).

4. Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang menyokong dakwaan kami dan kami akan menerangkannya kepada kalian nanti.

5. Banyak hadith-hadith yang sahih daripada Nabi SAWAW yang menunjukkan  kebenaran Ahlu l-Bait AS di dalam buku-buku Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Sila lihat buku kami Syi’ah Wa Hujjahtu-hum al-Tasyayyu’ (Syi’ah dan hujah mereka tentang Tasyayyu’) dan juga buku al-Muruja’at (Dialog Sunnah – Syi’ah) khususnya dialog keempat. Ianya akan memuaskan hati anda jika anda orang yang insaf. Jiika tidak, keuzuran anda adalah disebabkan kejahilan anda sendiri.

Dialog di antara aku dan para ulama Syi’ah

Ianya juga merupakan sebahagian daripada sebab-sebab yang mendorongku menjadi seorang Syi’ah. Manakala berdialog dengan mereka, aku dapati diriku dikalahkan oleh hujah-hujah mereka, tetapi aku tetap berdegil. Aku cuba mempertahankan hujah-hujahku yang lemah walhal aku mempunyai keilmuan yang tinggi di dalam mazhab Syafi’i dan mazhab lain. Kerana aku telah menuntut di universiti al-Azhar sehingga aku memperolehi ijazah yang tinggi sebagaimana aku telah menyebutkannya.

Dialog kami mengambil masa tidak kurang daripada tiga tahun. Kemudian aku mula mengesyaki mazhab empat kerana perselisihan sesama sendiri begitu ketara sekali.(3)

Mengkaji buku al-Muraja’at (Dialog Sunnah – Syi’ah)

Akhirnya aku mengkaji buku al-Muraja’at (Dialog Sunnah – Syi’ah) karangan Ayatullah al-’Uzma Sayyid Syarafuddin. Aku mengkajinya dengan teliti. Gaya bahasa dan kemanisan lafaznya mengkagumkanku dan membuatkan aku berfikir bagaimana dia dapat memberi hujah-hujah yang kuat di dalam dialognya dengan Syaikh al-Akbar Syaikh Salim al-Busyra, Rektor Universiti al-Azhar ketika itu.

Aku dapati pengarangnya ketika berhujah tidak berpegang kepada buku-buku Syi’ah, malah dia berpegang kepada buku-buku Sunnah wal-Jama’ah. Lantaran itu ianya menjadi sukar bagi lawannya untuk menolaknya. Pada malam itu aku tidak dapat tidur sehingga aku puas hati bahawa kebenaran adalah bersama Syi’ah. Mereka berada di atas mazhab yang benar sabit daripada Rasulullah SAWAW dan Ahlu l-Baitnya AS. Tidak ada syubhat sedikitpun padaku. Aku percaya bahawa mereka tidaklah sebagaimana apa yang diperkatakan kepada mereka oleh tuduhan, celaan, dan kata-kata batil yang diciptakan.

Buku al-Muraja’at (Dialog Sunnah Syi’ah) untuk saudaraku

Pada keesokannya, aku memberi buku tersebut kepada saudaraku Ahmad. Dia berkata kepadaku: Apakah ini? Aku menjawab kitab Syi’ah oleh pengarang Syi’ah. Lantas dia berkata kepadaku: Jauhkanlah buku itu dariku, sebanyak tiga kali. Ia adalah daripada buku-buku yang sesat, aku tidak perlu kepadanya. Aku benci kepada Syi’ah dan perkara yang berkaitan dengan Syi’ah. Aku berkata: Ambillah dan bacalah sahaja kerana kita tidak perlu beramal dengannya. Ia tidak akan merosakkan anda jika anda membacanya. Lalu diapun mengambil buku tersebut, mengkajinya dengan teliti. Dan akhirnya dia mengakui kebenaran mazhab Syi’ah. Dia berkata: Syi’ah di atas kebenaran. Selain daripada mereka adalah bersalah (Khati’un).

Kemudian aku dan saudaraku meninggalkan mazhab Syafi’i dan kami berpegang kepada mazhab Syi’ah Ja’fariyyah. Ini disebabkan oleh dalil-dalil yang banyak dan terang. Hati kecilku menikmati ketenangan dengan berpegang kepada mazhab Ja’fari, mazhab Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW kerana aku mengetahui bahawa aku telah sampai kepada matlamat yang paling jauh iaitu berpegang kepada mazhab yang paling suci iaitu berpegang kepada mazhab keluarga suci (al-Itrah al-Tahirah).

Justeru itu aku mempercayai suatu keyakinan yang tidak dicampuri syak bahawa aku telah berjaya daripada siksaan Allah SWT. Aku bersyukur kepada Allah SWT di atas kejayaan semua keluargaku dan kebanyakan kaum kerabatku, sahabat-sahabatku dan lain-lain. Ini adalah satu kurniaan dan nikmat daripada Allah SWT yang tidak dapat dinilainya selain daripada Dia; Wilayah keluarga Rasul SAWAW kerana tidak ada kejayaan kecuali dengan mengangkat mereka sebagai auliya’.

Sebuah hadith Rasul SAWAW yang dipersetujui oleh Sunnah dan Syi’ah yang bermaksud:“Umpama keluargaku sepertilah bahtera Nuh, sesiapa yang menaikinya ia akan berjaya dan sesiapa yang tidak menaikinya akan tenggelam dan binasa.

Aku memohon kepada Allah SWT agar merestui kami kerana mengangkat wilayah Ahlu l-Bait AS dan mencintai mereka.

Beberapa kumpulan menjadi Syi’ah bersama-sama kami

Sebilangan besar daripada saudara-saudara kami Ahlus Sunnah dari Syria, Lubnan, Turkey dan lain-lain telah turut menjadi Syi’ah bersama kami. Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayat kepada kami dan kami tidak akan mendapat hidayah sekiranya Allah tidak memberi hidayah kepada kami.

Apabila tersebarnya berita mengenai kami, orang ramai berpusu-pusu datang kepada kami, bertanya kami sebab-sebab yang mendorong kami berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait dan meninggalkan mazhab Syafi’i. Kami memberikan jawapan kepada mereka bahawa dalil-dalil yang kuat bersama kami. Maka sesiapa yang ingin supaya kami menerangkan kepadanya mazhab al-Haqq, maka hendaklah ia datang kepada kami.

Orang ramai membuat rujukan kepada kami

Dalam masa yang singkat saja, orang ramai telah datang kepada kami. Mereka terdiri daripada para ulama, guru, pegawai, peniaga dan lain-lain. Kami menjelaskan kepada mereka kebenaran mazhab Ahlu l-Bait AS berdasarkan rujukan Ahlu s-Sunnah yang muktabar. Di kalangan mereka ada yang mendengar dan berpuas hati, kemudian berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS, dengan meninggalkan mazhab yang terdahulu. Di kalangan mereka ada yang fanatik, dan terus berpegang kepada mazhabnya.

Keuzurannya adalah kejahilannya, dan fanatiknya adalah kesedarannya bahawa dia tidak mampu mempertahankan mazhabnya. Demikianlah berlalunya hari-hari, kami terus berdakwah sehingga ramai orang berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS di Syria, dan di Turkey, al-Hamdu Lillah.

Muzakarah di antaraku dan saudaraku

Untuk menambahkan keyakinan, aku dan saudaraku bermuzakarah tentang mazhab Ja’fari. Kadang-kadang dia jadikan dirinya sebagai seorang Syi’ah dan aku menjadikan diriku seorang Sunnah. Kemudian kami memulakan perbincangan. Aku mengemukakan kepadanya beberapa persoalan, maka dia memberi jawapan kepadaku mengenainya berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.

Di dalam perbincangan itu, aku melihat diriku dikalahkan olehnya, lalu aku melihat kebenaran bersama Syi’ah. Dan pada masa yang lain aku jadikan diriku sebagai seorang Syi’ah dan saudaraku sebagai seorang Sunnah, maka kami pun bermuzakarah di dalam beberapa masalah. Dia ketawa dan melihat dirinya dikalahkan dan berkata: Kebenaran adalah bersama Syi’ah.

Demikianlah berulangnya muzakarah di antara kami. Dan dengan cara ini kami dapati bahawa sesungguhnya kebenaran bersama Syi’ah kerana kebenaran adalah tinggi dan tidak ada sesuatu yang lebih tinggi daripadanya.

Sebagai contoh manakala dia jadikan dirinya sebagai seorang Syi’ah, dia meminta dalil daripadaku kerana berpegang kepada salah satu daripada mazhab yang empat seraya berkata:”Apakah dalil anda berpegang kepada mazhab Syafi’i atau Hanafi, Maliki atau Hanbali? Adakah anda dapati dalil daripada ayat al-Qur’an seperti maksud firmanNya (di dalam Surah al-An’am (6): 153 yang bermaksud:

” dan bahawa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanku yang lurus,maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan (yang lain) kerana jalan itu menceraiberaikan kami dari jalanNya.” 

Lihatlah bagaimana Allah SWT menyuruh orang-orang Mukminin supaya berpegang kepada jalanNya yang lurus, dan melarang kami daripada mengambil jalan-jalan (Subul) yang bermacam-macam supaya kami tidak sesat daripada jalanNya.

Dia bertanya lagi: Adakah anda mendapati hadith Sahih yang menyokong pegangan anda kepada salah satu daripada empat mazhab?

Aku menjawab: Ijmak. Maka dia berkata kepadaku: Tidak ada ijmak, kerana mereka berselisih faham pada mazhab-mazhab tersebut bagaimana pula ijmak dapat dilakukan.

Apabila dia bertanya kepadaku, aku jadikan diriku sebagai seorang Ja’fari, aku memberikan dalil-dalil daripada al-Qur’an dan Sunnah RasulNya. Aku berkata: Sebuah hadith Rasulullah SAWAW yang bermaksud:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berharga, kitab Allah dan Itrah  Ahlu l-Baitku selama kalian berpegang kepada kedua-duanya, kalian tidak akan sesat selepasku selama-lamanya. Kedua-duanya tidak akan terpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh. Justeru itu jagalah baik-baik, bagaimana kalian memperlakukan kedua peninggalanku itu.”

Dan sabda Rasulullah SAWAW yang bermaksud:”Umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh, sesiapa yang menaikinya berjaya, dan sesiapa yang tidak menaikinya tenggelam.” Dia menyerah kalah dan berkata kepadaku: Kebenaran bersama anda.

Begitulah kami melihat kebenaran itu tetap di samping Ahlu l-Bait (4) Rasulullah SAWAW.

Pengisytiharan Sebagai Syi’ah

Sebagaimana kalian telah mengetahui bahawa dalil-dalil yang kuat dan hujah-hujah yang terang terdapat di dalam buku-buku Ahlus Sunnah dan Syi’ah tentang kebenaran berpegang kepada mazhab Ja’fari kerana ianya merupakan salsilah keemasan yang tersusun rapi dan tidak dapat dipisahkan sebagaimana firmanNya dalam (Surah al-Baqarah (2): 256 yang bermaksud:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Kerana itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.”

Sebagaimana sebuah hadith muktabar yang diriwayatkan oleh Ali AS daripada Nabi SAWAW bersabda:”Kamilah al-Urwah al-Wusthqa (buhul tali yang amat kuat).”

Di dalam riwayat yang lain beliau bersabda:”Kamilah al-Sirat al-Mustaqim kamilah subul jalan-jalan kepada Allah.” Contoh-contoh hadith seperti ini adalah banyak. Semuanya menjelaskan kepada kita sabil (jalan) untuk berpegang kepada mazhab Syi’ah. Maka kami menerimanya dengan penuh kegembiraan kerana inginkan kejayaan dan kemenangan di akhirat kelak. Semoga Allah juga memberi petunjuk kepada kalian.

Sebagaimana seorang penyair bernama al-Kumait berkata dalam puisinya:

“Aku adalah Syi’ah Ahmad

dan mazhabku adalah mazhab al-Haqq.

Imam Syafi’i berkata: Manakala aku melihat manusia berpegang kepada mazhab yang bermacam-macam di lautan kebodohan dan kejahilan. Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan mereka adalah Ahlu l-Bait al-Mustafa dan penamat segala Rasul

Aku berpegang kepada tali Allah dengan mewalikan mereka sebagaimana Dia memerintahkan kita berpegang kepada taliNya.

Telah berpecah di dalam agama tujuh puluh golongan lebih sebagaimana tercatat di dalam hadith.

Semuanya tidak berjaya kecuali satu golongan maka katakanlah kepadaku mengenainya wahai orang yang mempunyai fikiran dan akal.

Adakah golongan yang binasa itu Ali Muhammad?

atau golongan lain yang berjaya? Katakanlah kepadaku.

Sekiranya anda berkata mengenai orang-orang yang berjaya, maka jawapannya ialah satu (keluarga Muhammad dan pengikut-pengikutnya).

Dan sekiranya anda berkata tentang golongan yang binasa nescaya anda tidak boleh berbuat apa-apa lagi.

Dan sekiranya maula mereka adalah daripada mereka (Ahlu l-Bait AS) maka sesungguhnya aku telah meredhai mereka dan sentiasa berteduh di bayangan mereka.

Kalian tinggallah Ali untukku sebagai Wali dan Keturunannya.

Dan kalian termasuk orang-orang yang tinggal di dalam kesenangan (abadi di akhirat kelak).

Dan dia berkata lagi:

Jikalau anda ingin mencari untuk diri anda satu mazhab yang akan menyelamatkan anda di hari kiamat daripada jilatan api

Maka tinggallah pendapat Syafi’i dan Malik dan Ahmad dan apa yang diriwayatkan oleh Ka’ab Ahbar

Maka perwalikanlah orang-orang dimana kata-kata dan percakapan mereka telah diriwayatkan oleh datuk kami daripada Jibra’il daripada Allah SWT.”

Dan aku akan kemukakan kepada anda kelebihan-kelebihan al-itrah al-Tahirah dari buku-buku rujukan saudara-saudara kami Ahlus Sunnah di dalam buku ini nanti Insya Allah.

Rancangan-rancangan jahat bagi menentang kami

Apabila kami mengisytiharkan bahawa kami telah berpegang kepada mazhab Syi’ah, maka ianya tersebar cepat ke seluruh negara. Orang ramai mulai berpegang kepada Syi’ah, secara kumpulan dan ada yang secara individu.

Pada masa itu beberapa kumpulan yang menentang mazhab Ahlu l-Bait AS kerana kejahilan mereka mengenai mazhab tersebut, menjadi musuh kepada apa yang mereka tidak tahu. Lantaran itu mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan serta layanan yang keji terhadap kami di mana kami merasa mahu untuk menyatakannya disebabkan kekejiannya.

Sesungguhnya kebanyakan daripada mereka menghukum kami dengan kekafiran, dan kemurtadan.(5) Lantaran itu kami menentang tuduhan mereka. Lalu mereka menggalakkan orang-orang yang bodoh mereka Sufaha’u-hum menentang kami. Mereka juga menggalakkan kanak-kanak mereka supaya menyakiti kami dengan kata-kata keji dan melontar kami dengan batu seraya berkata kepada kami: Wahai penyembah al-Qarmidah. Mereka maksudkan: Wahai penyembah turbah Husainiyyah.

Mereka mulai mengingatkan orang ramai melalui mimbar-mimbar masjid tentang “pergaulan kami” dengan tuduhan kekufuran dan kemurtadan. Mereka memotong mata pencarian kami. Sekiranya kami mahu menyewa rumah untuk didiami, mereka akan datang kepada tuannya dan mengugutnya pula seraya berkata: Mereka itu adalah Musyrikun. Mereka mencaci sahabat. Jangan sekali-kali anda menyewakan rumah anda kepada mereka. Dan jikalau anda menyewakannya, nescaya kami akan menyakiti anda.”

Ianya sungguh menghairankan seolah-olah kami telah keluar dari agama Islam dengan berpegang kepada mazhab ahlu l-Bait AS. Begitu juga dengan sekumpulan syaikh-syaikh di Halab, mereka telah menubuhkan persatuan yang mereka namakan “Persatuan dakwah Muhammadiyyah ke jalan yang lurus.” Seorang daripada mereka bernama Amin Airudh telah mengarang sebuah buku dengan nama persatuan tersebut. Dia menulis di dalam kata-kata  yang keji bagi menentang kami di antaranya:” Tasyayyu’ telah berkembang di seluruh Halab di tahap yang menakutkan. Justeru itu kami menentang golongan tersebut.”

Ia telah menjadi riuh rendah kemudian ia padam kerana suara kebenaran menjadi tinggi menjulang dan suaranya sentiasa kedengaran sehingga ia berkembang dengan pesat, sehingga tidak boleh didiamkannya oleh gegaran.

Walau apapun terjadi kami tetap cekal seperti gunung yang kukuh, tidak dapat digerakkan oleh ribut taufan. Kerana kami berpegang kepada kebenaran. Kami menyeru kepada jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik dan berbincang dengan cara yang lebih baik dan perkataaan siapakah yang lebih baik daripada orang yang menyeru kepada Allah dan beramal salih dan berkata:”Sesungguhnya aku adalah daripada orang-orang Islam.”Sesungguhnya Allah telah menolong kami menghadapi mereka dengan berkat Ahlu l-Bait AS. Sebenarnya merekalah yang gagal dan rugi, malah “perbuatan” mereka di hari kiamat nanti akan dibalas.

Suatu keluhan

Terlintas di hatiku untuk menulis satu tajuk yang mendukacita dan memalukan tentang ahli agama yang sentiasa mencari keaiban Muslimin salihin terutamanya mengenai keaiban Syi’ah yang baik, pengikut Ahlu l-Bait AS. Mereka adalah kuman kejahatan yang berusaha untuk melakukan kerosakan di bumi. Mereka tidak hidup dengan jiwa yang bersih bersama golongan-golongan Islam, dan menjamin hak-hak mereka.

Malah mereka menaburkan fitnah di kalangan barisan Muslimin untuk menyebarkan sebab-sebab kefasadan bagi menangguk di air yang keruh bagi mengecapi kesenangan duniawi sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka. Seolah-olah berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS menurut pandangan mereka yang jahat, telah terkeluar daripada agama Islam. Darahku pada masa itu menjadi halal dan penghormatan tidak ada lagi untukku.

Jikalau mereka kembali kepada pendapat yang betul dan berdiri di atas mazhab Ahlu l-Bait AS, nescaya mereka mengetahui sesungguhnya Syi’ah berada di pihak yang benar. Sesungguhnya orang yang memperkuatkan mazhab ini adalah Nabi Muhammad SAWAW sendiri. Dan orang yang menetapkan tiang-tiangnya ialah Ali dan anak-anaknya yang disucikan oleh Allah daripada kekotoran dosa. Dialah yang menjaga mereka dari melakukan dosa kecil ataupun besar. Lantaran itu hadith mereka ialah hadith anak daripada bapanya daripada datuknya daripada Rasulullah SAWAW daripada Jibra’il daripada Allah SWT.

Begitulah Syi’ah telah mengambilnya dari tangan ke tangan, kebenaran dari kebenaran dan yang akhir mereka tidak membelakangi yang awal mereka. Adalah menghairankan sekali, orang yang benar itu dibunuh dan orang yang batil itu dilepaskan? Adakah orang yang berpegang kepada mazhab ini dicela? Dan orang yang beribada menurut cara mereka dianggap sesat, ia dikafir dan dilontarkan dengan batu?

Adakah hartanya dirampas, anak-anaknya dibunuh dan semua manfaat ditegah untuknya? Adakah dikatakan kepadanya wahai penyembah berhala sedangkan dia menyembah Allah SWT dengan kebenaran dan keyakinan. Hatinya tersimpul kepada wilayah Allah, RasulNya dan para imam yang suci dan siapa yang mewalikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya parti Allah yang mendapat kemenangan (Surah al-Maidah (5): 56).

Tetapi sudah menjadi lumrah bahawa pendusta dimuliakan sementara orang yang benar dihina.

Lihatlah apa yang dlakukan oleh Bani Umaiyyah terhadap Rasul SAWAW, itrahnya AS dan Syi’ah mereka yang terpilih. Abu Sufyan telah menentang Rasul SAWAW, Muawiyah menentang Amiru l-Mukminin Ali AS, Yazid menentang Sayyid Syuhuda Husayn AS, Bani Marwan menentang Syi’ah yang baik. Begitulah keadaannya sehingga Allah memotong belakang mereka. Begitulah keadaannya di hari kami memilih mazhab Syi’ah dan meninggalkan mazhab Syafi’i. Berlakulah ‘kiamat” dan penentangan mereka terhadap kami.

Kami tidak mencela orang yang mempunyai akhlak seperti ini. Kerana itulah cara mereka dididik. Mereka menjadi talibarut Bani Umaiyyah dan kuncu Bani Marwan. Pertalian yang rapat di antara satu sama lain di mana tidak ada perbezaan di antara akhir mereka dengan yang awal mereka sehingga tiba suatu hari orang yang zalim diberikan balasan dan orang yang dizalimi diselamatkan. Kezaliman lebih dikenali oleh orang yang cekal menghadapinya.

Sikap Imam Akbar Ayatullah al-Burujurdi terhadap kami

Apabila berita kesulitan hidup kami sampai kepada Sayyid Syarafuddin RH, dia mengutus surat kepada Ayatullah al-’Uzma Sayyid al-Husain al-Tabataba’i RH menerangkan keadaan kami. Lalu Ayatullah Burujurdi menolong kami. Pada hakikatnya dialah yang menyokong kami di dalam menyampaikan mazhab yang benar daripada Allah, Rasul dan itrahnya yang disucikan AS. Begitulah juga Sayyid Syarafuddin RH yang telah memainkan peranan yang tidak kurang juga pentingnya. Lantaran itu kami membuat keputusan untuk melawat Iraq dan Iran kerana sebab-sebab tertentu.

Lawatanku ke Iraq

Pada tahun 1370H/1950M, dengan taufik Allah SWT aku dapat menziarahi makam-makam yang suci di Iraq. Aku juga diberi kesempatan untuk bertemu dengan para ulama dan para mujtahid yang mulia, dengan penuh kemesraan yang aku tidak dapat membayangkannya.

Bandar Baghdad

Di Baghdad aku menjadi tetamu kepada Sayyid al-Sadr, Perdana Menteri Iraq. Sepanjang aku di Baghdad, aku berjumpa dengan kebanyakan ulama di Baghdad seperti Allamah Sayyid Hibat al-Din al-Syarastani, Sayyid Ali Naqiyy al-Hadiri, Ustaz Ahmad Amin, pengarang buku al-Takamul fi l-Islam dan lain-lain.

Bandar Kazimiyyah yang mulia

Aku juga berjumpa dengan para ulama di Kazimiyyah seperti al-’Allamah Ahmad al-Kisywan, al-’Allamah al-Sayyid ‘Ali al-Sadr, al-’Allamah al-Sayyid Muhammasd al-Mahdi al-Isfahani al-Kazimi, al-’Allamah Syaikh Marzah Ali Zanjani dan lain-lain.

Bandar Karbala al-Muqaddasah

Di bandar ini aku menjadi tetamu kepada al-’Allamah al-Sayyid al-’Abbas al-Kasyani. Aku juga sempat berjumpa mujtahid Sayyid Mirza Hadi al-Khurasani, Mujtahid al-Sayyid al-Hasan Aghamar, Mujtahid Syaikh Muhammad al-Khatib, Mujtahid Mahdi Syirazi, Mujtahid Muhammad Ridha al-Asfahani al-Hai’ri, Mujtahid Sayyid Muhammad al-Tahir al-Bahrani, Sayyid Murtadha daripada keluarga Tabataba’i, al-’Allamah Syaikh Muhammad ‘Ali daripada keluarga Sibawaih, Sayyid al-Milani, Syaikh Ja’far al-Rasyti dan lain-lain.

Bandar Najaf al-Asyraf

Di Najaf aku menjadi tetamu kepada Ayatullah al-’Uzma Sayyid al-Muhsin al-Hakim al-Tabataba’i. Semasa di Najaf aku berjumpa para mujtahid yang masyhur seperti Ayatullah al-’Uzma Sayyid Mirzah ‘Abdu l-Hadi Syirazi, Ayatullah al-’Uzma Sayyid Mahmud al-Syahrudi, Ayatullah al-’Uzma Sayyid Abu l-Qasim al-Khu’i.(6)Ayatullah Sayyid al-Husain al-Hamami, Ayatullah Sayyid Mirzah Agha al-Istahbanani, Ayatullah al-’Uzma Syaikh Muhammad al-Hasan al-Muzaffar, Ayatullah Syaikh Muhammad al-Baghdadi, Ayatullah Agha Bazrak al-Tahrani, Al-’Allamah ‘Abdu l-Muhsin Ahmad al-Amini, Syaikh Nasrullah al-Khalkhali dan lain-lain lagi. Mereka menghormatiku sesuai dengan kedudukanku. Kemudian aku pulang dengan penuh kegembiraan.

Lawatanku ke Iran

Aku meninggalkan Iraq menuju ke Iran untuk menziarahi makam Imam Ridha AS dan bertemu dengan Marja’ Taqlid Ayatullah al-’Uzma Sayyid Agha Husain al-Tabataba’i al-Burujurdi. Aku berjumpa dengannya di bandar Qom al-Muqaddasah. Aku mendapatinya seorang yang tenang, mempunyai kehebatan dan keistimewaan tertentu. Dia menghormatiku sejajar dengan kedudukanku. Dan aku kembali dengan senang hati.

Aku menyedari bahawa kebanyakan pemimpin-pemimpin dunia Islam dan individu-individu yang masyhur datang menziarahinya. Walaupun begitu mereka tidak dibenarkan berjumpa dengannya secara terus. Ini disebabkan kesibukannya melayani urusan Muslimin. Dia telah memberi kepadaku hadiah yang sesuai dengan kedudukannya dan kedudukanku. Selamat sejahtera di hari dia dilahirkan dan selamat sejahtera di hari dia dimatikan dan selamat sejahtera di hari dia dibangkitkan.

Bandar Qom al-Muqaddasah

Sepanjang aku berada di sini, aku sempat berjumpa dengan para mujtahid yang masyhur seperti Ayatullah Sayyid Muhammad al-Hujjah, marja’ taqlid Ayatullah Sayyid Sadr al-Din Sadr, Ayatullah Sayyid Muhammad Taqi al-Khunsari, Ayatullah Sayyid Syahabuddin Najafi al-Mar’asyi, Ayatullah Sayyid Kazim Syariat Madari, Ayatullah Sayyid Muhammad Ridha Gulpaigani, Ayatullah al-’Uzma Sayyid Ruhullah al-Musawi al-Khumaini.(7)Ayatullah Syaikh Mirzah Ahmad Isytiani, Ayatollah Syaikh Muhammad al-Ghurawi Kasyani dan lain-lain.

Bandar Khurasan

Di Khurasan aku menziarahi makam Imam Ridha AS. Aku berjumpa marja’ taqlid yang termasyhur Ayatullah al-’Uzma Muhammad al-Hadi al-Milani dan lain-lain. Aku begitu gembira dengan layanan dan sambutan mereka yang begitu mesra yang layak dengan kedudukanku. Aku meneruskan khidmatku untuk menyebarkan mazhab Ahlu l-Bait AS. Meskipun aku menghadapi berbagai-bagai ugutan dan tekanan yang menyedihkan. Aku menyerahkan urusanku kepada Allah SWT. kerana Dia sebaik-baik wakil, sebaik-baik maula dan sebaik-baik pembantu. La haula wala Quuwata illabillahi l-’Azim.

Endnote

1. Wahabi adalah golongan yang dinisbahkan kepada Muhammad bin ‘Abdu l-Wahab yang lahir pada 1111H. Di antara ajarannya ialah pengharaman perayaan terhadap orang yang telah meninggal dunia termasuk para Nabi dan para imam. Pengharaman pembinaan di atas kubur, tawasul, syafa’at melalui para Nabi dan para wali. Untuk mengetahui aqidah-aqidah Wahabi yang menyalahi nas, lihat Tauhid dan Syirik oleh Syaikh Ja’far Subhani, Mizan, 1987.

2. Telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan jodol Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah Syi’ah.

3. Sila lihat lampiran D

4. Untuk mengetahui dialog Imam Ridha AS dengan para ulama Baghdad dan Khurasan mengenai Ahlu l-Bait AS, sila lihat Lampiran A.

5. Untuk mengetahui aqidah Syi’ah tentang al-Qur’an, sila lihat lampiran C.

6. Ayatullah al-’Uzma Sayyid Abu l-Qasim al-Musawi al-Khu’i adalah seorang Marja’ Taqlid yang mempunyai ramai pengikut di seluruh dunia. Beliau adalah dari keturuan Imam Musa al-Kazim AS, Imam Ketujuh Mazhab Ahlu l-Bait (wafat pada 8hb. Ogos 1992). Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas ruhnya yang mulia.

7. Ayatullah al-’Uzma Imam al-Khomaini adalah pengasas Republik Islam Iran. Pemimpin yang begitu unik di abad ini. Beliau adalah dari keturunan Imam Musa al-Kazim AS (wafat pada 3hb. Jun 1989). Semoga Allah mencucuri rahmat ke atas ruhnya yang mulia

.

Bab 2: Syiah dan Al Quran

Syi’ah mengambil hukum-hukum agama mereka selepas Nabi SAWAW daripada al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyyah. Adapun daripada al-Qur’an para mujtahid mereka mengambil hukum-hukum daripada nas-nas yang terang. Adapun nas-nas yang memerlukan penafsiran, mereka merujukkan kepada penafsiran al-Itrah yang suci.

Bagi orang yang bukan mujtahid, sama ada dia seorang muhtat yang memilih hukum untuk dirinya sendiri atau seorang muqallid yang mentaklidkan kepada seorang mujtahid yang adil menurut syarat-syarat yang ditetapkan di dalam buku-buku mereka. Apa yang paling penting baginya ialah mujtahid tersebut mestilah mengambil fiqhnya daripada Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya yang suci bersama al-Qur’an dan membuat kesimpulan dengan cahaya akal: Syi’ah mempunyai hujah-hujah yang kuat di dalam buku-buku mereka. Justeru itu aku kemukakan kepada kalian sebahagian daripada ayat-ayat al-Qur’an dan hadith-hadith Nabi SAWAW yang menunjukkan sabitnya hak dan dakwaan mereka.

Di sini dikemukakan ayat-ayat al-Qur’an yang menyokong dakwaan Syi’ah yang telah ditafsirkan oleh para ulama Ahlu l-Sunnah yang sejajar dengan pentafsiran Syi’ah seperti berikut:

1. Ayat al-Wilayah

FirmanNya di dalam (Surah al-Maidah (5): 55):“Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat dalam keadaaan rukuk.”

Telah sepakat semua Ahlu l-Bait AS, para ulama Tafsir dan Hadith dari golongan Syi’ah dan kebanyakan para ulama tafsir Ahlu s-Sunnah, malah keseluruhan mereka bahawa ayat ini telah diturunkan pada Amiru l-Mukminin Ali AS, ketika beliau memberi sadqah cincinnya kepada si miskin di dalam keadaan beliau (Ali AS) sedang solat di Masjid Rasulullah SAWAW.

Peristiwa ini telah diakui oleh para sahabat pada zaman Nabi SAWAW, para tabi’in dan penyair-penyair yang terdahulu sehingga mereka memasukkan peristiwa ini ke dalam syair-syair mereka.

Di sini diperturunkan kenyataan para ulama Ahlu s-Sunnah mengenai perkara tersebut seperti berikut:

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(1) berkata: al-Khatib telah mengeluarkannya di dalam al-Muttafaq daripada Ibnu Abbas, dia berkata:‘Ali AS telah menyedekahkan cincinnya dalam keadaan rukuk. Maka Nabi SAWAW bersabda: Siapakah yang memberikan kepada anda cincin ini? Lelaki ini menjawab: Lelaki yang sedang rukuk itu. Maka Allah SWT menurunkan ayat “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat di dalam keadaan rukuk (Surah al-Maidah(5): 55).

Al-Tabrani telah menulisnya di dalam al-Ausat(2)   Ibn Mardawaih daripada ‘Ammar bin Yassir berkata: Seorang peminta sadqah berdiri di sisi Ali yang sedang rukuk di dalam sembahyang sunat. Lalu beliau mencabutkan cincinnya dan memberikannya kepada peminta tersebut. Kemudian dia memberitahukan Rasulullah SAWAW mengenainya. Lalu ayat tersebut diturunkan. Kemudian Nabi SAWAW membacakannya kepada para sahabatnya. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku, hormatilah orang yang memperwalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya, cintailah orang orang mencintainya, bencilah orang yang membencinya, tolonglah orang yang menolongnya, tinggallah orang yang meninggalkannya dan penuhilah kebenaran bersamanya di mana saja dia berada.”

Begitu juga Abdu l-Razzaq, ‘Abd b. Hamid, Ibn Jarir dan Abu Syaikh telah mengesahkan bahawa Ibn Mardawaih meriwayatkannya daripada Ibn Abbas, dia berkata: ayat “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman…..(Surah al-Maidah (5):55) telah diturunkan ke atas ‘Ali bin Abi Talib.

Hadith ini telah dikeluarkan juga oleh Ibn Abi Hatim, Abu Syaikh dan Ibn ‘Asakir daripada Salmah bin Kuhail. Dia berkata: Ali menyedekahkan cincinnya dalam keadaan rukuk. Kemudian ayat (Surah al-Ahzab (33): 33) diturunkan.

Begitu juga Ibn Jarir, daripada Sudi dan ‘Atbah bin Hakim telah mengeluarkan hadith yang sama, sementara Abu Syaikh dan Ibn Mardawaih meriwayatkan hadith ini daripada ‘Ali bin Abi Talib. Dia berkata: Ayat (Surah al-Maidah (5):55) “Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman…..” adalah diturunkan kepada Rasulullah SAWAW di rumahnya. Lalu Rasulullah SAWAW keluar dari rumahnya dan memasuki masjid. Orang ramai bersembahyang di antara rujuk dan sujud, malah ada yang berdiri. Tiba-tiba datang seorang peminta sadqah, adakah seseorang telah memberikan kepada anda sesuatu? Dia menjawab: Tidak, selain daripada lelaki yang sedang rukuk iaitu ‘Ali bin Abi Talib telah memberikan cincinnya kepadaku.

Ibn Mardawaih telah mengeluarkan hadith ini melalui al-Kalbi daripada Abi Salih daripada Ibn Abbas dia berkata: ‘Abdullah bin Salam dan beberapa orang Ahlu l-Kitab datang kepada Nabi SAWAW di waktu zuhur. Mereka berkata: Sesungguhnya jarak rumah-rumah kami jauh sekali. Kami tidak dapati orang yang ingin duduk bersama kami dan bergaul dengan kami selain di masjid ini. Dan sesungguhnya kaum kami apabila mereka melihat kami telah membenarkan Allah dan RasulNya, dan meninggalkan agama mereka, lalu mereka melahirkan permusuhan mereka dan bersumpah supaya mereka tidak bergaul dengan kami, mereka tidak makan bersama-sama kami. Lantaran itu ianya menimbulkan kesulitan kepada kami. Dan di kalangan mereka ada yang merayu perkara itu kepada Rasulullah SAWAW. Dan kemudian ayat yang bermaksud: Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang yang beriman..[al-Maidah (5): 55] diturunkan. Kemudian azan diadakan bagi menunaikan solat Zuhr.

Kemudian Rasulullah SAWAW keluar ke masjid, tiba-tiba beliau melihat peminta sadqah lalu beliau bersabda: Adakah seseorang telah  memberikan anda sesuatu? Dia menjawab: Ya. Beliau bertanya: Siapa? Dia menjawab: Lelaki yang sedang berdiri itu. Beliau bertanya lagi: Di dalam keadaan manakah dia memberikannya kepada anda? Dia menjawab: Dalam keadaan rukuk. Beliau bersabda: Itulah ‘Ali bin Abi Talib AS. Lalu Rasulullah SAWAW bertakbir dan di masa itu beliau membaca ayat al-Qur’an (Surah al-Maidah (5): 55):”Sesiapa yang mewalikan Allah dan RasulNya dan orang-orang yang beriman, maka sesungguhnya parti Allah itulah yang pasti kemenangan.”

Al-Kanji al-Syafi’i telah menyebutkannya di dalam Kifayah al-Talib(3)  daripada Anas bin Malik: Sesungguhnya ada seorang peminta sadqah di masjid bertanya: Siapakah yang akan memberikan sadqah kepadanya. ‘Ali yang sedang rukuk memberikan isyarat kepadanya supaya mencabutkan cincin di tangannnya. Rasulullah SAWAW bersabda: Wahai ‘Umar! Sesungguhnya telah wajib baginya (‘Ali) syurga kerana Allah tidak mencabutkannya daripada tangannya sehingga Dia mencabutkan segala dosa dan kesalahan daripadanya. Dan ayat (Surah al-Maidah (5):55) diturunkan.

Kemudian penyair Hasan bin Tsabit memperkatakan syairnya:

Wahai Abu l-Hasan! Jiwa ragaku berkorban untukmu dan setiap pencinta petunjuk

Adakah akan sia-sia orang yang memujimu?

Orang yang memuji pada zat Allah tidak akan sesat

 

Kaulah yang telah memberi di dalam keadaan rukuk

seluruh jiwa ragaku berkorban untukmu

wahai sebaik-baik orang yang rukuk.

Di antara perawi-perawi yang menegaskan bahawa ayat ini telah diturunkan pada Amiru l-Mukminin Ali AS ialah Fakhruddin al-Razi di dalam tafsirnya(4)  Dia telah meriwayatkannya daripada ‘Ata’ daripada Ibn Abbas bahawa sesungguhnya ayat ini diturunkan pada ‘Ali bin Abi Talib AS. Dia meriwayatkan bahawa ‘Abdullah bin Salam berkata: Manakala ayat ini diturunkan, aku bertanyakan Rasulullah SAWAW wahai Rasulullah SAWAW! Aku melihat Ali memberikan cincinnya kepada seorang yang memerlukannya di dalam keadaan rukuk, maka kamipun mewalikannya.

Dia juga meriwayatkan daripada Abu Dhar RH bahawa dia berkata: Pada suatu hari aku menunaikan solat Zuhr bersama Rasulullah SAWAW. Maka seorang peminta sadqah di masjid meminta (sesuatu), tidak seorangpun memperdulikannya. Lantas peminta itu mengangkat tangannya ke langit dan berkata: Wahai Tuhanku persaksikanlah sesungguhnya aku telah meminta di masjid Rasulullah SAWAW, tetapi tidak ada seorangpun yang memberi sesuatu kepadaku. Dan ‘Ali AS pada ketika itu sedang rukuk lalu beliau memberikan isyarat kepadanya dengan anak jari tangan kanannya yang bercincin. Maka lelaki tadi datang mencabutnya dan ianya dilihat oleh Nabi SAWAW lalu beliau bersabda:

Sesungguhnya saudaraku Musa telah meminta kepada Engkau dan berkata:(Surah Taha (20): 25): Wahai Tuhanku lapangkanlah untukku dadaku dan jadikanlah dia sekutu di dalam urusanku. Maka ayat (Surah al-Qasas (28): 35)”Kami akan membantumu dengan saudaramu dan kami berikan kamu berdua kekuasaan yang besar” diturunkan.

“Wahai Tuhanku, aku adalah Muhammad Nabi kalian dan pilihan kalian,  maka lapangkanlah dadaku dan permudahkanlah urusanku dan jadikanlah untukku seorang pembantuku (wazir) daripada keluargaku ‘Ali dan perkukuhkanlah dengannya kekuatan.” Abu Dhar berkata:”Demi Allah sebaik saja Rasulullah SAWAW selesai membaca doa itu, Jibra’il turun dan berkata: Wahai Muhammad “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan solat, dan memberikan zakat di dalam keadaan rukuk (al-Maidah (5): 55).

Hadith ini juga telah diriwayatkan oleh al-Syablanji di dalam Nur al-Absar(5)  sanadnya sampai kepada Abu Dhar. Di antara orang-orang yang meriwayatkan hadith ini diturunkan pada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS ialah al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul,(6) al-Zamakhsyari di dalam tafsirnya al-Kasysyaf (7)  bahawa ayat ini diturunkan kepada ‘Ali ketika peminta sadqah meminta kepada beliau di dalam keadaan rukuk di dalam solatnya, maka beliaupun mencampakkan cincinnya. Ibn Hajr al-Asqalani, di dalam al-Kafi al-Syafi fi Takhrij Ahadith al-Kasysyaf (8)  ketika mengeluarkan hadith ini, dia berkata: Hadith ini telah diriwayatkan oleh Ibn Abi Hatim dan Salmah bin Kuhail dia berkata: ‘Ali bersadqah dengan cincinnya dalam keadaan rukuk. Maka ayat “Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman” [al-Maidah (5): 55] diturunkan.

Hadith ini juga diriwayatkan daripada Ibn Mardawaih dan Sufyan al-Thauri daripada Ibn Sinan daripada al-Dhahak daripada Ibn ‘Abbas, dia berkata:”Ali AS sedang menunaikan solat di dalam keadaan berdiri, tiba-tiba datang seorang peminta sadqah ketika ‘Ali sedang rukuk. Maka beliaupun memberikan cincinnya kepada orang itu. Lalu ayat yang bermaksud:”Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya…..”[al-Maidah (5): 55] diturunkan.

Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali al-Razi al-Hanafi di dalam Ahkam al-Qur’an (9)  mengeluarkan beberapa riwayat yang menunjukkan bahawa ayat ini diturunkan mengenai hak ‘Ali AS. Sanad-sanadnya berakhir kepada Mujahid, Sudi, Abu Ja’far, ‘Atbah bin Abi Hakim dan lain-lain.

Al-Qurtubi al-Andalusi di dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an,(10)  mengambil hadith ini daripada Imam al-Baqir AS bahawa ayat ini diturunkan kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS dan keluarganya. Dia berkata: Mereka memberi zakat di dalam keadaan rukuk menunjukkan bahawa sadqah sunat dinamakan zakat kerana ‘Ali AS telah bersadqah sunat dengan cincinnya semasa rukuk.

Rasyid Ridha yang bermazhab Wahabi di dalam tafsirnya al-Manar,(11)  al-Alusi di dalam Ruh al-Ma’ani (12)menyatakan bahawa ayat ini diturunkan kepada hak Amiru l-Mukminin ‘Ali AS dengan berbagai riwayat yang berakhir setengahnya kepada Ibn ‘Abbas dan setengahnya kepada Abdullah bin Salam.

Muhibbuddin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba,(13)   telah meriwayatkan beberapa riwayat yang sahih di dalam bab ini. Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Huffaz.(14)

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Gha’ib,(15)  mengatakan bahawa ayat ini menunjukkan bahawa imam selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali bin Abi Talib AS. Justeru itu untuk mengukuhkannya, aku berkata: Bahawa sesungguhnya ayat ini menunjukkan bahawa apa yang dimaksudkannya ialah seorang imam. Dan apabila ianya menunjukkan sedemikian maka imam tadi mestilah ‘Ali bin Abi Talib AS.

al-Bahrani di dalam Ghayah al-Maram (16)  telah mengemukakan hadith-hadith yang menunjukkan ayat ini telah diturunkan kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS. Dia meriwayatkan sebanyak dua puluh empat hadith menurut saluran Ahlu s-Sunnah dan dua puluh hadith menurut saluran Syi’ah.

Begitu juga al-Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir (17)  telah mencatat enam puluh enam nama-nama ulama Ahlu s-Sunnah yang masyhur yang telah menyebutkan hadith ini dan mereka pula menegaskan bahawa ayat ini telah diturunkan kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS dengan menyebutkan perawi-perawinya sekali.

Aku berkata: Ini sahajalah peluang yang mengizinkan kami menyebutkan kata-kata Ahlu s-Sunnah di dalam bab ini. Adapun sahabat-sahabat kami Imamiyyah, Syi’ah keluarga suci, mereka bersepakat di dalam buku-buku Hadith, Tafsir dan ilmu l-Kalam bahawa ayat tersebut diturunkan pada hak ‘Ali AS. Sesungguhnya beliaulah yang dimaksudkan dengan ayat ini. Tidak seorangpun menyalahinya. Kadangkala mereka mendakwa bahawa hadith ini telah sampai ke peringkat kemutawatirannya. Lantaran itu tidak ada ruang dan helah bagi seseorang itu untuk mengesyaki dan menolaknya melainkan ianya seorang pemarah, penentang ataupun terlalu rendah daya pemikirannya.

Aku berkata: Ayat ini menentukan bahawa sesungguhnya imam dan khalifah selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali bin Abi Talib AS kerana Allah SWT mengiringi wilayah ‘Ali dengan wilayahNya dan wilayah RasulNya.

Perkataan innama (bahawa sesungguhnya) di dalam ayat tersebut memberi maksud al-Hasr dengan persetujuan ahli bahasa. Lantaran itu wilayah adalah ditentukan untuk mereka. Dan maksud dengan wali di sini adalah orang yang paling utama (aula) untuk mengurus sesuatu  dan seseorang itu tidak dikatakan aula (lebih utama) melainkan apabila dia adalah khalifah dan imam. Ini adalah pengertian yang masyhur menurut ahli bahasa.

Dari segi syarak mereka berkata: Sultan adalah wali kepada orang yang tidak mempunyai wali. Dan mereka berkata: Wali darah dan wali mayat, si anu adalah wali urusan rakyat dan si anu adalah wali bagi orang yang kurang daya kecerdikan. Nabi bersabda: Mana-mana perempuan yang mengahwini dirinya tanpa keizinan walinya, maka nikahnya adalah batil. Apa yang dimaksudkan dengan wali di dalam contoh-contoh tadi ialah al-Aula sebagaimana kata Mibrad di dalam buku al-’Ibarah tentang sifat-sifat Tuhan bahawa wali ialah aula.

Wali sekalipun sah dikaitakan dari segi bahasa dengan al-Nasr (pembantu) dan muhibb (pencinta) tetapi kedua-kedua pengertian itu tidak sesuai di tempat ini kerana kedua-duanya adalah umum, tanpa terbatas kepada orang yang dikehendaki di dalam ayat yang mulia ini iaitu firmanNya di dalam (surah al-Taubah (9):71):”Dan mukminin dan mukminah setengah mereka  menjadi Auliya’ ke atas setengah yang lain.”

Jika ditanya bagaimana dikehendaki dengan al-Ladhi na amanu (orang-orang yang beriman) itu Imam Amiru l-Mukminin AS seorang sahaja, sedangkan perkataan itu adalah umum? Maka kami menjawabnya:

1. Banyak terdapat di dalam percakapan Arab penggunaan perkataan jamak tetapi dikehendaki seorang sahaja berserta Qarinah dan sebaliknya. Ini adalah masyhur di kalangan mereka. Di dalam al-Qur’an firmanNya (Surah Ali Imran(3): 173):”Orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan sesungguhnya “manusia” telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, kerana itu takutlah kepada “mereka.” Apa yang dimaksudkan dengannya ialah Nu’aim bin Mas’ud al-Asyja’i sahaja dengan ijmak ahli Tafsir dan Hadith.

2. Sesungguhnya Allah SWT telah mensifatkan al-Ladhi na amanu di dalam ayat yang mulia ini dengan sifat yang tidak menyeluruh kepada semua iaitu yuqimu s-Solah wa yu’tuna z-Zakat wa hum raki’un (yang mendirikan solat dan menunaikan zakat di dalam keadaan rukuk).

3. Ahli bahasa menggunakan perkataan jamak kepada seseorang adalah untuk ta’zim(penghormatan) sebagaimana disebutkan oleh al-Tabarsi di dalam Tafsirnya (18)  mengenai ayat ini dengan menerangkan bahawa penggunaan perkataan jamak kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS adalah untuk tafkhim (kemuliaan) dan penghormatan. Dia berkata: Cara ini adalah paling masyhur di dalam percakapan mereka tanpa memerlukan dalil lagi.

4. Apa yang pasti jika dikehendaki dengan “semua” jami’ ialah penyatuan wali dan mutawalli tetapi yang lazimnya ialah menyalahi kedua-duanya.

Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf (19)  mengatakan bahawa ayat ini diturunkan kepada Amiru l-Mukminin ‘Ali AS. Jika anda bertanya: Bagaimana boleh ianya untuk ‘Ali AS sedangkan perkataaan di dalam ayat tersebut adalah jamak? Aku menjawab:Ianya dibawa dengan perkataan jamak sekalipun sebabnya seorang lelaki sahaja adalah untuk menerangkan kepada orang ramai supaya mengikuti perbuatannya  (‘Ali AS). Maka dengan ini, mereka akan mendapat pahala setanding dengan pahalanya. Dan menyedarkan bahawa tabiat Mukminin mestilah mempunyai matlamat bagi melakukan kebaikan, ihsan, dan melayani faqir miskin sehingga tidak menangguhkannya meskipun di dalam solat sehingga selesai solat.

Jika ditanya: Sesungguhnya Amiru l-Mukminin ‘Ali AS telah menunaikan solat menghadapi Tuhannya dengan sepenuh hatinya tanpa merasai sesuatu di luar solatnya. Maka bagaimana beliau “merasai” perkataan peminta sadqah dan memahaminya. Maka jawapannya: Fahamannya tentang percakapan peminta sadqah tidak menafikan kekhusyukannya di dalam solat kerana ianya ibadah di dalam ibadah. Tidak ada jawapan yang lebih baik daripada apa yang telah dijawabkan oleh Abu l-Faraj al-Jauzi ketika ditanya mengenainya:

Dia menuang dan meminum tanpa dilalaikan oleh kemabukkannya

daripada minuman dan tidak melupai gelasnya.

Kemabukan yang mematuhinya sehingga membolehkannya

(melakukan) perbuatan orang yang segar, maka ini seunik-unik manusia.

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul mencatatkan wa man yatawalla iaitu sesiapa yang mencintai Allah dan RasulNya dan al-lladhina amanu iaitu ‘Ali, fa inna hizballah(sesungguhnnya parti Allah) iaitun Syi’ah Allah dan RasulNya dan walinya hum al-Ghalibun(mereka yang pasti menang) iaitu merekalah yang mendapat kemenangan.(Di dalam naskhah yang lain) al-’Alimun (mengetahui) sebagai ganti al-Ghalibun yang mendapat kemenangan. Dan di dalam perkiraannya (al-Hisab);”Sesungguhnya wali kami adalah Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat, mengeluarkan zakat di dalam keadaan rukuk penilaiannya ialah Muhammad SAWAW selepasnya ‘Ali bin Abi Talib dan itrahnya AS.

Di dalam al-Kafi daripada Ja’far bin Muhammad daripada bapanya daripada datuknya AS, beliau berkata: Manakala ayat innama wa liyyukumu llah wa Rasuluh diturunkan beberapa orang sahabat Rasulullah SAWAW berkumpul di Masjid Madinah. Sebahagian mereka berkata kepada sebahagian yang lain: Apa pendapat kalian tentang ayat ini? Sebahagian mereka menjawab: Sekiranya kita mengingkari ayat ini nescaya kita mengingkari kesemuanya (al-Qur’an). Dan sekiranya kita mempercayainya, maka ianya merupakan satu kehinaan kepada kita manakala ‘Ali menguasai ke atas kita. Mereka menjawab: Sesungguhnya kalian telah mengetahui bahawa Muhammad adalah benar apa yang diucapkannya. Justeru itu kita menjadikannya wali tetapi kita tidak akan mematuhi ‘Ali tentang yang diperintahkannya. Maka turunlah ayat (Surah al-Nahl (16): 83):”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya” iaitu wilayah Muhammad SAWAAW (dan kebanyakan mereka mengingkarinya) iaitu wilayah ‘Ali AS.

Al-Saduq di dalam al-Amali berkata:”Umar bin al-Khattab berkata:Aku telah bersadqah cincin dalam keadaan rukuk supaya diturunkan (ayat) sebagaimana telah diturunkan kepada ‘Ali bin Abi Talib AS, tetapi ia tidak juga turun.

Aku berkata: Apabila anda mengetahui dalil-dalil Sunnah dan Syi’ah yang telah aku kemukakan, maka aku berkata:Tidak harus mendahului selain daripada ‘Ali ke atas ‘Ali sebagaimana tidak harus mendahului seseorangpun ke atas Nabi SAWAW kerana sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan Muhammad dan ‘Ali bersamaNya di dalam ayat al-Wilayah. Adapun orang-orang yang bertentangan dengan kami sekalipun mereka mengetahui sesungguhnya ayat al-Wilayah telah diturunkan pada ‘Ali AS secara Qat’i sebagaimana telah aku kemukakan tadi, mereka sengaja mengubah maknanya menurut mazhab mereka dan hawa nafsu mereka.

2. Ayat at-Tathir

FirmanNya di dalam (Surah al-Ahzab (33): 33):”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu (‘an-kum) wahai Ahlu l-Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Menurut tafsir-tafsir Syi’ah, ayat ini diturunkan secara khusus kepada Ahlu l-Bait AS sahaja. Sementara orang lain tidak termasuk di dalam ayat-ayat tersebut. Manakala tafsir-tafsir Ahlu s-Sunnah pula, ada yang mengakui bahawa ayat tersebut dikhususkan untuk Ahlu l-Bait AS sahaja, ada yang menyatakan ayat tersebut termasuk isteri-isteri Nabi (SAWAW), dan ada yang mengatakan ianya dikhususkan kepada isteri-isterinya (SAWAW) sahaja.

Lantaran itu ianya bertentangan dengan kaedah Bahasa Arab yang tidak menggunakan Dhamir Ta’nith (gantinama perempuan) untuk perempuan di dalam ayat tersebut. Malah Allah SWT menggunakan Dhamir Tadhkir (gantinama lelaki) iaitu perkataan ‘an-kum (daripada kamu) dan perkataan yutahhira-kum membersihkan kamu (lelaki).

Kaedah ini memang diketahui oleh penuntut-penuntut yang kecil dan kebanyakan orang awam. Di dalam ertikata yang lain, jikalau Allah SWT di dalam ayat tadi menghendaki isteri-isteri Nabi (SAWAW), nescaya Dia menggunakan dhamir Ta’nith‘an-kunna (daripada kamu isteri-isteri) dan yutahhirakunna Dia membersihkan (kamu isteri-isteri) sebagaimana Dia menggunakan dhamir Ta’nith sebelumnya (Surah al-Ahzab (33):32. Lantaran itu Allah telah menggunakan dhamir tadhkir untuk mengeluarkan isteri-isteri daripada ayat tersebut.

‘Ali bin Ibrahim di dalam Tafsirnya (20)  daripada Zaid bin ‘Ali AS dia berkata: Sesungguhnya orang-orang yang jahil mengatakan bahawa Allah menghendaki dengan ayat ini isteri-isteri Nabi SAWAW. Pada hakikatnya mereka berbohong dan mereka berdosa. Demi Allah sekiranya Dia maksudkan isteri-isteri Nabi SAWAW, nescaya Dia akan berkata: an kunna al-Rijs (daripada kalian isteri-isteri) dan yutahhira-kunna (membersihkan kalian isteri-isteri dengan sebersih-bersihnya. Dan Dia menggunakan perkataan muannathan (ganti nama perempuan) sebagaimana Dia berfirman: Wazkurna mayutla fibuyuti-kunna, wa la Tabarrajna, wa lastunna Kaahadin min l-Nisa.’

Oleh itu ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33):33) tidak harus pada isteri-isteri Nabi SAWAW sekalipun ianya ditafsirkan sebagai berkongsi dengan Ahlu l-Bait AS. Kerana Allah SWT telah mengancam mereka sebelum ayat Tathir dalam firmanNya (Surah al-Ahzab (33): 28-30).

Dan Dia juga telah mengancam mereka dengan firmanNya (Surah al-Tahrim (66):4-5):”Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang Mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri-isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”

Inilah adalah menurut apa yang difirmankanNya (al-Mantuq). Adapun mafhumNya: Wahai-wahai isteri-isteri Nabi kalian tidaklah mukminat, qanitat, ta’ibat, sekiranya kalian masih menyakitinya SAWAW. Dan diriwayatkan bahawa Nabi SAWAW tidak mencampuri mereka selama sebulan kerana mereka menyakiti hatinya SAWAW. Rujuklah kepada tafsir-tafsir Ahlu s-Sunnah mengenai ayat ini.

Dan apa yang jelas terdapat di kalangan isteri-isteri tersebut yang telah memerangi Khalifah ‘Ali, Hasan dan Husain AS. Memerangi mereka bererti memerangi Allah menurut hadith Rasulullah (SAWAW): Jangan anda melupai bahawa ‘Aisyah telah mengetuai angkatan bersenjata kerana memprotes jenazah Hasan untuk disemadikan di samping datuknya Rasulullah SAWAW.(21)  Jikalau ‘Aisyah masih hidup di hari peperangan Husain AS di Karbala, nescaya dia akan memerangi Husain bin ‘Ali AS pula kerana sifatnya yang sentiasa memerangi Ahlu l-Bait AS.

Justeru itu tidak hairanlah jika Ibn ‘Abbas berkata kepada ‘Aisyah:

Anda menaiki unta, menaiki baghal,

dan sekiranya anda hidup anda akan menaiki gajah.

Bagi anda sepersembilan daripada seperlapan tetapi anda memiliki kesemuanya.

Iaitu anda memiliki rumah anda sedangkan anda memiliki sepersembilan daripada seperlapan dan bakinya adalah untuk isteri-isterinya (SAWAW). Dan tujuh perlapan adalah untuk Fatimah kemudian untuk anak-anaknya.

Jikalau setengah daripada isteri-isteri beliau bertindak begitu keadaannya, bagaimana mereka termasuk di dalam ayat at-Tathir yang disucikan daripada segala dosa? Telah diriwayatkan bahawa ‘Aisyah RD berkata kepada Nabi SAWAW di dalam keadaan marah:”Tidakkah anda sahaja yang menyangka anda seorang Nabi Allah?”(22)

Adakah mereka layak dengan tindakan mereka yang menyalahi peradaban sebagai isteri, lebih-lebih lagi suami mereka itu adalah Rasulullah SAWAW, dimasukkan ke dalam ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33):33) daripada dosa sedangkan mereka berlumuran dengannya?

Jikalau ayat itu termasuk “isteri-isteri” khususnya ‘Aisyah, nescaya dia berpesta dan memberitahukannya kepada orang yang masih hidup dan orang yang telah mati. Dan tentu sekali Umm Salmah lebih berhak untuk dimasukkan di dalam ayat tersebut. Kerana kedudukannya di sisi Rasulullah SAWAW dan ayat Tathir telah diturunkan di rumahnya. Manakala mereka tidak dimaksudkan di dalam ayat tersebut, Rasulullah SAWAW mengeluarkannya (Umm Salmah) dengan menarikkan al-Kisa’ daripada tangannya lantas Umm Salmah bertanya: Tidak. Berdirilah di tempat anda. Mudah-mudahan anda berada di dalam kebaikan.

Sebagaimana juga beliau menegah ‘Aisyah dan Zainab dari memasuki bersama mereka dan memberi jawapan kepada mereka berdua sebagaimana jawapan beliau terhadap Umm Salmah.

Rasulullah SAWAW telah menutup ke atas ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dengan al-Kisa’(pakaian) dan mengangkatkan tangannya ke atas mereka sambil membaca ayat Tathir yang bermaksud:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kami (‘an-kum) wahai Ahlu -Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” adalah semata-mata untuk memisahkan mereka daripada isteri-isteri dan orang-orang Islam yang lain, dan sabdanya aku bermaksud: Wahai Tuhanku, mereka itulah Ahlu l-Baitku.

Di dalam riwayat yang lain (Ahli) keluargaku iaitu tidak ada selain daripada mereka. Penafsir kepada ayat ini ialah Rasulullah SAWAW sendiri. Manakah penafsiran yang diterima selepas penafsirannya? Adakah orang yang datang dengan al-Qur’an (Nabi SAWAW) yang mengeluarkan isteri-isterinya daripada ayat al-Tathir lebih diterima penafsirannya? Atau sebaliknya orang yang tidak mengetahui takwilannya sehingga memasukkan isteri-isterinya atau sebaliknya di dalam ayat tersebut?

Dan juga dalil yang lebih kuat bahawa isteri-isteri Nabi SAWAW tidak termasuk Ahlu l-Baitnya ialah  Nabi SAWAW tidak membawa mereka keluar di Hari Mubahalah dengan Kristian Najran kerana beliau menjanjikan mereka untuk membawa wanita-wanitanya bersama sebagaimana firmanNya di dalam (Surah Ali Imran (3):61):”maka katakanlah (kepadanya):Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Sebagaimana ketua Kristian Najran berpidato kepada kumpulannya: Sekiranya Muhammad keluar dengan Ahlu l-Baitnya, maka jangan kalian lakukan mubahalah. Dan sekiranya beliau keluar dengan sahabat-sahabatnya, maka lakukanlah mubahalah. Semua ahli tafsir dan sejarah bersepakat bahawa Nabi SAWAW tidak keluar bersamanya untuk mubahalah selain daripada Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS. Justeru itu merekalah Ahlu l-Baitnya bukan orang lain. Sekiranya ada orang lain selain daripada mereka nescaya Nabi SAWAW akan mengajak mereka keluar untuk “bermubahalah” bersama di sa’at yang paling genting bagi menentang kebatilan.

Oleh itu orang yang Nabi SAWAW bermubahalah bersama mereka bagi menentang Nasara Najran ialah orang yang Allah telah menghilangkan daripada mereka kekotoran di dalam al-Qur’an yang mulia. Lagipun apabila perkataan Ahlu l-Bait AS diucapkan secara langsung bererti al-itrah al-Tahirah AS;’Ali, Fatimah, Hasan dan Husain Ali tidak termasuk isteri-isteri. Justeru itulah Nabi SAWAW memaksudkan mereka semenjak beliau mewasiatkan mereka dan menerangkan kelebihan-kelebihan mereka di dalam hadith-hadithnya yang mutawatir di dalam buku-buku Sahih “mereka.” Dan tidak seorang pun memasukkan “isteri-isteri” di dalam hadith-hadith tersebut. Di antaranya dua hadith yang muktabar yang diriwayatkan oleh jumhur Muslimin”

1. Hadith Thaqalain: Sabda Nabi SAWAW yang bermaksud: Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berharga; Kitab Allah dan ‘Itrahku (Ahlu l-Baitku) selama kalian berpegang kepada kedua-duanya kalian tidak akan sesat selama-lamanya.(23)

2. Hadith al-Safinah: Sesungguhnya yang bermaksud: Umpama Ahlu l-Baitku sepertilah Bahtera Nuh, siapa yagn menaikinya akan berjaya, dan siapa yang tidak menaikinya akan sesat selama-lamanya.(24)

Adapun menjadi kebiasaan kepada kaum Muslimin apabila mereka menyebutkan Ahlu l-Bait di dalam majlis-majlis mereka, mereka tidak maksudkan isteri-isteri Nabi SAWAW.

Begitu juga penyair-penyair Ahlu s-Sunnah dan Syi’ah apabila mereka menyusun syair memuji Ahlu l-Bait AS mereka maksudkan lima Ahlu l-Kisa’: Muhammad SAWAW, Fatimah, ‘Ali, Hasan dan Husain AS. Perhatikanlah kenyataan yang dibuat oleh Imam Syafi’i mengenai Ahlu l-Bait AS:

Wahai Ahlu l-Bait Rasulullah cintamu suatu fardhu daripada Tuhan di dalam al-Qur’an telah diturunkan.

Memadailah kebesaran Nabimu sesungguhnya kami siapa yang tidak bersalawat ke atas kamu tidak sah sembahyangnya.

Dimaksudkan dengan Ahlu l-Bait AS ialah ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain AS. Demikianlah juga beribu-ribu karangan para ulama Ahlu s-Sunnah menjelaskan bahawa maksud Ahlu l-Bait ialah Nabi SAWAW dan keturunan ‘Ali yang disucikan.

Ya, memang terdapat orang-orang seperti ‘Ikramah al-Barbari, Muqatil dan lain-lain yang terkenal dengan pembohongan ke atas Rasulullah SAWAW telah membuat hadith-hadith palsu. Rasulullah SAWAW bersabda maksudnya: Akan banyak pembohongan ke atasku, siapa yang membohongi ke atasku dengan sengaja maka hendaklah ia duduk di tempatnya di neraka.

Oleh itu mengkhususkan “isteri-isteri” atau meletakkan mereka bersama Ahlu l-Bait AS di dalam ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33): 33) adalah rekaan musuh-musuh Ahlu l-Bait. Malah mereka mencipta perkara-perkara yang berlawanan dengan Ahlu l-Bait AS, perkara ini adalah jelas. Lantaran itu menolak hadith-hadith palsu dan membersihkan buku-buku sirah dan sejarah daripadanya adalah perkara yang wajib dilaksanakan.

Justeru itu ianya suatu kepastian bahawa ayat Tathir dan pembersihan kekotoran daripada mereka adalah istimewa untuk para imam Ahlu l-Bait AS. Mereka adalah zuriat Rasulullah SAWAW dan mereka lebih berhak dengannya. Justeru itu perkataan innama di dalam ayat tersebut bermaksud al-Hasr (pengkhususan kepada mereka sahaja).

Ayat ini juga dengan jelas menunjukkan bersihnya “itrah Nabi SAWAW daripada keaiban dan kemaksuman mereka daripada dosa-dosa. Dan aku akan menerangkan dalam bukuku ini bahawa imamah tidak layak melainkan bagi mereka yang bersih daripada segala keaiban dan dosa. Justeru itu sabitnya imamah ’Ali dan anak-anaknya AS sama ada mereka memegang jawatan itu ataupun tidak disebabkan orang ramai tidak menyokong mereka sebagaimana sabdanya:”Hasan dan Husain kedua-duanya imam sama ada mereka memegang jawatan  ataupun tidak” kerana kedua-duanya telah dilantik oleh Allah SWT. Dan sesiapa yang mempunyai kedudukan sedemikian, keimamahannya tidak akan dicacatkan oleh penentangan orang ramai terhadapnya.

Kerana imamah bukanlah melalui perlantikan orang ramai, malah melalui nas daripada Allah SWT.

Imam al-Bahrani di dalam Ghayat a-Maram(Ghayat al-Maram, hlm. 150.)  telah mencatat lebih daripada satu ratus dua puluh hadith mengkhususkan  Ahlu l-Bait AS dengan “mereka” bukan isteri-isteri Nabi SAWAW dan lebih sepertiga daripada hadith-hadith tersebut adalah menurut saluran Ahlu s-Sunnah. Oleh itu buatlah rujukan kepada buku-buku tersebut wahai pembaca yang budiman.

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(al-Durr al-Manthur, V, hlm. 18)  menegaskan bahawa ayat tersebut diturunkan kepada lima orang Ahlu l-Kisa melalui dua puluh saluran. Al-Tabari di dalam Jami’ al-Bayan(Jami’ al-Bayan, XXII, hlm. 198)   menyatakan ianya diturunkan kepada Nabi SAWAW, Fatimah, ‘Ali, Hasan dan Husain melalui enam belas saluran. Al-Sayyid Syihabuddin dan al-Mar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haq   karangan Qadhi Nur Allah al-Tastari RH telah menyebutkan riwayat-riwayat dan hadith-hadith yang banyak semuanya menurut saluran Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah bahawa ayat tersebut telah diturunkan kepada lima orang Ahlu l-Kisa’;Muhammad, Fatimah,’Ali, Hasan dan Husain AS.

Di sini diperturunkan beberapa riwayat Ahlu s-Sunnah yang menunjukkan bahawa ayat Tathir diturunkan kepada lima orang Ashabu l-Kisa’ seperti berikut:

1. Ahmad bin Hanbal telah mencatat dalam Musnadnya(29)   daripada Anas bin Malik bahawa Nabi SAWAW telah melalui rumah Fatimah AS selama enam bulan. Apabila beliau keluar untuk sembahyang Subuh, beliau bersabda: wahai Ahlu l-Bait! Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan daripada kamu kekotoran Ahlu l-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul(30)   telah menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan bahawa ianya diturunkan kepada lima orang Ashabu l-Kisa’.

2. Ibn Jarir telah mencatat di dalam Tafsirnya begitu juga Ibn al-Mundhir, Ibn Abi Hatim, Ibn Mardawaih,al-Tabrani, dan lain-lain. Al-Turmudhi dan al-Hakim menyatakan kesahihan hadith tersebut. Begitu juga al-Baihaqi di dalam Sunannya dengan bermacam-macam saluran. Umm Salamah berkata: Ayat Tathir telah diturunkan di rumahku. Di dalam rumah itu ada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Maka Rasulullah SAWAW menyelimutkan mereka dengan al-Kisa’ (kain berwarna hitam) dan bersabda: Wahai Tuhanku, mereka itulah Ahlu l-Baitku. Justeru itu hilanglah daripada mereka kekotoran dan bersihlah mereka dengan sebersih-bersihnya.

3. Muslim di dalam Sahihnya(31)  bab ‘Fadhl Ahlu l-Bait AS’ meriwayatkan daripada ‘Aisyah dia berkata: Rasulullah keluar di waktu pagi, di atasnya kain hitam, maka datanglah Hasan bin ‘Ali, maka beliau memasukkan ke dalamnya. Kemudian datang Husain, maka dia memasukkan bersamanya, kemudian datang ‘Ali, maka beliau memasukkannya. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan daripada kamu kekotoran dosa Ahlu l-Bait dan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya.” Hadith ini telah dikeluarkan oleh Ahmad daripada hadith ‘Aisyah di dalam Musnadnya. Dan ianya juga telah dikeluarkan oleh Ibn Jarir, Ibn Abi Hatim, al-Hakim pengarang al-Jami’ baina al-Sahihaini, dan pengarang al-Jami’ Baina al-Sihah al-Sittah. Dan sesiapa yang ingin mengetahui dengan lebih lanjut, hendaklah membuat rujukan kepada Rasyfah al-Sadi karangan Abu Bakar Syahabuddin dan Muruja’at (Dialog Sunnah-Syi’ah) karangan Sayyid Syarafuddin tentang pengkhususan ayat Tathir kepada lima Ahlu l-Kisa’.Dan ianya sudah mencukupi bagi orang yang mempunyai mata hati.

Di sini aku akan mengemukakan sebahagian daripada nas-nas yang menerangkan tentang terkeluarnya isteri-isteri Nabi SAWAW dari ayat al-Tathir dan ianya tidak bertentangan dengan nas-nas yang telah lepas yang mengkhususkan ayat tersebut kepada lima orang AS. Sesungguhnya apa yang dikemukakan di sini adalah berdasarkan kepada penerangan Nabi SAWAW sendiri bahawa isteri-isterinya adalah terkeluar daripada ayat tersebut di antaranya:

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya(32)  daripada ‘Abdu l-Malik daripada ‘Ata ibn Abi Rayah dia berkata: Orang yang telah mendengar Umm Salmah meriwayatkan kepadaku bahawa dia berkata: Sesungguhnya Nabi SAWAW berada di rumahnya. Maka Fatimah mendatanginya dengan cerek yang berisi makanan, maka dia memberikan kepadanya. Lalu beliau bersabda: Panggilkan suami anda dan dua anak lelaki anda. Dia berkata: Maka datanglah ‘Ali, Hasan dan Husain, maka merekapun masuk dan memakan makanan tersebut. Nabi SAWAW berada di atas tempat tidurnya di penjuru di bawah al-Kisa’ Khaibar. Dia bersabda: Aku sedang sembahyang di dalam kamarku, maka Allahpun menurunkan ayat (Surah al-Ahzab (33):33)”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu wahai Ahlu l-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Maka dia berkata: Beliau (Nabi SAWAW) mengambil al-Kisa’ dan membentangkannya ke atas mereka. Kemudian beliau mengeluarkan tangannya mengangkat ke langit sambil berkata: Wahai Tuhanku mereka itulah Ahlu l-Bait dan orang istimewaku. Hilanglah daripada mereka kekotoran dan bersihlah mereka dengan sebersih-bersihnya. Dia berkata: Aku memasukkan kepalaku di dalamnya maka aku berkata: Aku bersama kalian wahai Rasulullah.

Beliau bersabda: Sesungguhnya anda akan mendapat kebaikan di akhirat kelak. Ahmad berkata selepas meriwayatkan hadith ini,”Abdu l-Malik berkata: Abu Laila telah meriwayatkan kepadaku daripada Umm Salmah seperti hadith ‘Ata. ‘Abdu l-Malik berkata: Daud bin Abi ‘Auf al-Jahaf telah meriwayatkan kepadaku daripada Hausyab daripada Umm Salmah seumpamanya.

Ibn Kathir di dalam Tafsirnya(33)  telah meriwayatkan hadith ini. Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul(34) daripada ‘Ata. Ibn al-Sibagh al-Maliki dalam al-Fusul al-Muhimmah(35)  meriwayatkannya daripada al-Wahidi.

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur,(36)  Ibn Jarir, Ibn al-Mundhir, Ibn Abi Hatim, al-Tabari dan Ibn Mardawaih daripada Umm Salmah RD isteri Nabi SAWAW: Sesungguhnya Rasulullah SAWAW berada di rumahnya (Umm Salmah) di atas tempat tidur dan di bawahnya al-Kisa’ Khaibar. Maka Fatimah membawa kepadanya cerek yang berisi makanan. Maka Rasulullah SAWAW berkata: Panggillah suami anda dan dua anak lelaki anda, Hasan dan Husain. Maka beliaupun memanggil mereka dan ketika mereka sedang makan, tiba-tiba diturunkan ke atas Rasulullah (Surah al-Ahzab (33):33)”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu wahai Ahlu l-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Maka Nabi SAWAW mengambil al-Kisa’ dan membentangkannya ke atas mereka kemudian beliau mengeluarkan tangannya daripada al-Kisa’ dan memberi isyarat ke langit sambil bersabda:”Wahai Tuhanku! Mereka itulah Ahlu l-Baitku dan orang istimewaku. Oleh itu hilanglah daripada mereka kekotoran dan bersihlah mereka dengan sebersih-bersihnya. Beliau berkata sebanyak tiga kali. Umm Salmah berkata: Aku memasukkan kepalaku ke dalam al-Kisa’ maka aku berkata; Wahai Rasulullah! Aku bersama kalian? Beliau menjawab: Sesungguhnya anda akan mendapat kebaikan (di akhirat kelak). Beliau mengulanginya sebanyak dua kali.

Hadith ini telah juga diriwayatkan oleh Sayyid Muhsin al-Amini di dalam A’yan al-Syi’ah(37)  daripada Usd al-Ghabah.

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur juga mengatakan: Al-Tabrani telah mengeluarkan hadith ini daripada Umm Salmah RD, sesungguhnya Rasulullah SAWAW bersabda kepada Fatimah AS: Panggillah suami dan dua anak lelaki anda. Maka beliaupun datang bersama mereka semua. Kemudian beliau bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka itulah Ali Muhammad. Di dalam perkataan lain: Jadikanlah salawat Engkau ke atas Ali Muhammad sebagaimana Engkau telah menjadikannya untuk Ali Ibrahim Innaka hamidun majid.

Maka Umm Salmah berkata: Akupun mengangkat al-Kisa’ supaya aku memasuki bersama mereka. Tetapi beliau menariknya daripada tanganku dan bersabda: Sesungguhnya anda akan mendapat kebaikan (di akhirat kelak). Hadith ini telah diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya(38)  daripada Umm Salmah. Al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib(39)  daripada Ahmad di dalam Manaqib ‘Ali AS dan daripada Syahr bin Hausyab daripada Umm Salmah RD.

Al-Tabrani di dalam Dhakha’ir al-’Uqba,(40)  al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal,(41)  Ibn Kathir di dalam Tafsirnya,(42)  Ibn Sibagh al-Maliki di dalam al-Fusul al-Muhimmah,(43) al-Turmudhi di dalam Sahihnya,(44)  al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah,(45) al-Syablanji al-Syafi’i di dalam Nur al-Absar,(46) Syaikh Muhammad al-Siban di dalam As’af al-’Raghibin Hamisy Nur al-Absar,(47) dan lain-lain pembesar-pembesar ulama Ahlu s-Sunnah yang meriwayatkan hadith tersebut dengan sedikit perbezaan dari segi lafaz.

Nas-nas yang sahih dan mutawatir yang dikemukakan adalah diriwayatkan oleh semua lapisan Muslimin dan ianya merupakan bukti-bukti yang jelas dan hujah-hujah yang kuat tentang terkeluarnya isteri-isteri Nabi SAWAW daripada ayat tersebut dan iannya diturunkan kepada lima manusia suci Ashabul l-Kisa’ dan iannya tidak dapat diingkari melainkan oleh orang-orang yang fanatik (muta’assib) kepada kebatilan.

Apa yang telah aku kemukakan tentang terkeluarnya ‘isteri-isteri’ daripada ayat al-Tathir dan turunnya ayat tersebut ke atas lima manusia suci Ahlu l-Kisa’ AS, adalah mencukupi untuk menolak sangkaan yang menyatakan ianya diturunkan ke atas ‘isteri-isteri’ secara khusus atau secara perkongsian (al-Isytirak). Dan sekiranya anda ingin mendapatkan maklumat yang lebih daripada apa yang telahku kemukakan, maka buatlah rujukan kepada bukuku yang berjudul al-Syi’ah wa hujjatu hum fi al-Tasyayyu’ (Syi’ah dan hujah mereka tentang Tasyayyu’).

Oleh itu aku ingin menegaskan bahawa apa yang telahku kemukakan adalah menunjukkan bahawa ayat al-Tathir adalah dikhususkan kepada lima Ashab al-Kisa’ dan juga menunjukkan bahawa mereka adalah maksum daripada segala dosa. Dan ianya menunjukkan bahawa khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara terus ialah ‘Ali bin Abi Talib AS. Selepas beliau ialah Hasan, kemudian Husain, kemudian sembilan daripada anak-anak Husain AS secara berturut-turut menuruti nas-nas yang wujud dalam buku-buku Sunnah dan Syi’ah.

Dalilku di atas dakwaan tersebut ada dua perkara:

1. al-’Ismah adalah menjadi syarat pada seorang imam menurut Syi’ah kerana imam yang diikuti selepas Nabi SAWAW bila tidak maksum, tidak boleh dipercayai kata-katanya. Oleh itu sabitnya ‘ismah imam seperti sabitnya ‘ismah Nabi SAWAW. Ayat tersebut telah menunjukkan kemaksuman Amiru l-Mukminin Ali dan dua anaknya Hasan dan Husain AS. Justeru itu, terbukti bahawa jawatan khalifah adalah untuk mereka bukan selain daripada mereka.

Mereka itulah para imam dan khalifah-khalifah selepas Rasulullah SAWAW. Setiap orang daripada mereka mengnaskan kepada imam selepasnya. Begitulah seterusnya sehingga sampai kepada Imam Mahdi al-Muntazar AS. Oleh itu berpegang kepada pendapat mereka adalah wajib kerana orang lain tidak maksum. Dan apabila tidak wujudnya ‘ismah maka berlakulah kesalahan. Oleh itu ianya tidak sah untuk menjadi khalifah yang mengendalikan syariat Rasulullah SAWAW tanpa ‘ismah.

2. Imam Amiru l-Mukimin telah berulang-ulang kali menuntut jawatan khalifah untuk dirinya di tempat-tempat yang bermacam-macam. Di antaranya beliau berkata di dalam khutbah al-Syiqsyiqiyyah(48)  yang dicatat oleh jumhur Muslimin Sunnah dan Syi’ah seperti berikut:

” Demi Allah Ibn Abi Qahafah (Abu Bakar ibn Abi Qahafah) telah mengenakan pakaian khalifah itu, padahal ia mengetahui dengan yakinnya bahawakedudukanku sehubungan dengan (kekhalifahan) itu sama seperti hubungan pasak dengan roda. Air mengalir menjauhiku dan burung tidak dapat terbang kepadaku. Aku memasang tirai (terhadap kekhalifahan) dan melepaskan diri daripadanya.”

” Aku pun mulai berfikir, apakah aku akan menyerangnya atau aku harus menanggung cubaan sengsara kegelapan yang membutakan itu hingga orang dewasa menjadi daif, orang muda mejadi tua, dan mu’min yang soleh hidup dalam kongkongan sehingga ia menemui Allah (di saat kematiannya). Aku pun berpendapat bahawa adalah lebih bijaksana untuk menanggungnya dengan tabah. Aku lalu menempuh jalan kesabaran, walaupun mata rasa tertusuk-tusuk dan kerongkong rasa tercekik. Aku menyaksikan perampasan terhadap warisanku hingga yang pertama (Abu Bakar) menemui ajalnya; namun ia menyerahkan kekhalifahan itu kepada Ibn Khattab (Umar al-Khattab) sendiri. (Lalu Ali mengutip syair A’sya:)

“ 

Hari-hariku kini berlalu di punggung unta,

       Dan berlalu sudah hariku bersama Jabir, saudara Hayyan.” ” Sungguh aneh, semasa hidupnya ia ingin terbebas dari jawatan khalifah, tetapi ia mengukuhkannya kepada yang lain itu (Umar) setelah kematiannya. Tidak syak lagi kedua orang ini hanya berbahagi puting susu di antara keduanya sahaja. Yang satu ini (Umar) mengunci  kekhalifahan rapat-rapat, di mana ucapannya sombong dan sentuhannya kasar. Kekeliruan sangat banyak, dan kerana itu maka dalihnya pun sangat banyak. Orang yang berhubungan dengan kekhalifahan itu ibarat menunggang unta yang degil. Apabila penunggang itu menarik kekangnya maka muncung unta itu akan robek; dan apabila penunggang itu membiarkannya maka ia sendiri akan jatuh terlempar. Sebagai akibatnya, demi Allah, rakyat terjerumus ke dalam ketidakpedulian, kejahatan, kegoyahan dan penyelewengan. Sekalipun demikian, aku tetap bersabar dalam waktu yang lama dengan cubaan yang keras, hingga ketika (Umar) menemui ajalnya ia menyerahkan urusan kekhalifahan itu kepada satu kelompok dan menganggap aku sebagai salah seorang daripada mereka.”

” Tetapi, Ya Allah! Apa urusanku dengan syura ini! Di manakah keraguan tentang diriku dibandingkan dengan yang pertama dari antara mereka (Abu Bakar) sehingga sekarang aku harus dipandang sama dengan orang-orang ini? Namun, aku terus merendah sementara mereka merendah, dan membumbung tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka berpaling menentangku kerana hubungan kekeluargaannya, sedangkan yang lainnya cenderung memihak ke jalan lain kerana hubungan iparnya, dan ini, dan itu, sampai yang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung di antaranya (Bani Umayyah) pun bangkit menelan harta Allah, bagaikan unta memakan dedaunan musim semi, sampai talinya putus, tindak tanduknya mengakhirinya dan keserakahannya menyebabkan ia terguling.”

” Pada saat itu tiada yang mengejutkan aku lebih daripada (tindakan) orang ramai  yang berpusu ke arahku dari segala penjuru seperti serbuan sekumpulan rubah (hyena) sehingga Hasanain (Hasan dan Husayn, dua putra Fatimah dan Ali) terinjak dan kedua bahagian bahu pakaianku terkoyak. Mereka berkumpul di sekelilingku seperti kawanan domba dan kambing. Ketika aku memegang tampuk pemerintahan sebahagian memutuskan bai’ahnya (nakatsa) dan sebahagian lagi mengingkarinya (maraqa) dan yang lain bertindak salah (qasata), kerana mereka tidak mendengar firman Allah SWT yang berbunyi [bermaksud]:

“ (Kebahagian) di negeri akhirat Kami sediakan bagi mereka yang tidak suka menyombongkan diri dan melakukan kerosakan di bumi. Dan kesudahannya (adalah baik) bagi mereka yang bertaqwa.” [Surah al-Qasas(28):83]

Tidak, demi Allah, mereka mendengarnya dan memahaminya tetapi dunia terlihat berkilau di mata mereka dan hiasan dunia menggoda mereka. Lihat, demi Dia yang mengembangkan biji-bijian dan menciptakan makhluk hidup, apabila orang-orang tidak datang kepadaku dan pendukung-pendukung tidak menegakkan hujah dalam bentuk penolong itu (pasukan yang membantu Ali) dan bila tidak ada perjanjian Allah dengan ulama bahawa mereka tidak boleh bungkam terhadap kerakusan seorang yang zalim dan kelaparan orang yang dizalimi maka aku akan melemparkan tali kekang (kekhalifahan) itu dan akan aku beri minum kepada yang terakhir dengan piala yang aku gunakan untuk orang yang pertama. Maka akan kamu lihat  bahawa dalam padanganku duniamu tidak lebih dari bersinnya seekor kambing.“(49)

Begitu juga anak perempuan Rasulullah, dan kedua-dua anaknya Hasan dan Husain dan sembilan anak-anak Husain AS menuntut khalifah untuk Amiru l-Mukminin AS. Lantaran itu, ianya menjadi kewajipan kepada umat membenarkan mereka kerana kemaksuman mereka. Dan tidak harus ke atas mereka pembohongan kerana pembohongan adalah suatu kekotoran (rijsun) yang dinafikan daripada mereka oleh ayat tersebut.

Oleh itu jelaslah sabitnya khalifah selepas Rasulullah SAWAW bagi ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan ianya bukanlah mencukupi dengan ayat-ayat at-Tathir sahaja, malah banyak dalil-dalil dan hujah-hujah yang kuat yang menunjukkan ‘Ali AS berhak menjadi khalifah selepas Rasulullah SAWAW sehingga diakui oleh musuh-musuhnya dan diketahui oleh yang terdekat dan yang jauh.

Dan buku-buku mengenainya telah ditulis dengan banyak. Di antaranya buku karangan Ayatullah al-’Uzma Muhammad bin Yusuf bin al-Mutahhar dikenali dengan al-’Allamah al-Hulli RH. Dia telah menulis dua ribu dalil menyokong ‘Ali AS. sebagai khalifah selepas Rasulullah SAWAW. Satu daripadanya mengandungi dalil-dalil aqliyyah dan seribu lagi mengandungi dalil-dalil naqliyyah. Dan dia menamakan bukunya al-Faini.

Nota Kaki:

1. al-Durr al-Manthur, II, hlm. 293.

2. al-Ausat, hlm. 89-90.

3. Kifayah al-Talib, hlm. 106.

4. Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 417.

5. al-Syablanji, Nur al-Absar, hlm. 105.

6. Asbab al-Nuzul, I, hlm. 422.

7. al-Kasysyaf, I, hlm. 422.

8. al-Kafi al-Syafi, hlm. 56.

9. Ahkam al-Qur’an, II, hlm. 543.

10. al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, VI, hlm. 221.

11. Tafsir al-Manar, VI, hlm. 442

12. Ruh al-Ma’ani, VI, hlm. 149.

13. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 88.

14. Tadhirah al-Huffaz, hlm. 18.

15. Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 156.

16. Ghayah al-Maram, hlm. 103-107.

17. al-Ghadir, III, hlm. 156

18. Majma’ al-Bayan, I, hlm. 148.

19. al-Kasysyaf, I, hlm. 422.

20. Tafsir ‘Ali bin Ibrahim, hlm. 531.

21. Hasan AS disemadikan berjauhan dari datuknya SAWAW sebagai menyahuti protes ‘Aisyah RD; Sibt Ibnu Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 122.

22. Ihya’ ‘Ulum al-Din, II, hlm. 20.

23. Muslim, Sahih, VII, hlm. 123; Turmudhi, al-Sunan, II, hlm. 307; al-Darimi, al-Sunan, II, hlm. 332; Ibn Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 14,17, dan 36.

24. al-Mustadrak, II, hlm. 343.

25. Ghayat al-Maram, hlm. 150.

26. al-Durr al-Manthur, V, hlm. 18.

27. Jami’ al-Bayan, XXII, hlm. 198.

28. Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq, II, hlm. 502.

29. al-Musnad, II, hlm. 259.

30. Asbab al-Nuzul, hlm. 251.

31. Sahih, hlm. 331.

32. al-Musnad, VI, hlm. 292.

33. Tafsir Ibn Kathir, III, hlm. 484.

34. Al-Wahidi, op.cit. hlm. 268.

35. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 8.

36. al-Sayuti, al-Durr al-Manthur, V, hlm. 198.

37. A’yan al-Syi’ah, II, hlm. 433.

38. al-Musnad, VI, hlm. 32.

39. Kifayah al-Talib, hlm. 228.

40. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 21.

41. Kanz al-Ummal, VII, hlm. 103.

42. Tafsir Ibn Kathir, III, hlm. 484.

43. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 7.

44. Sahih, II, hlm. 308.

45. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 78.

46. Nur al-Absar, hlm. 104.

47. As’af al-Raghibin, hlm. 104.

48. Seramai dua puluh lapan orang para ulama Ahlu s-Sunnah memperakui kesahihan Khutbah al-Syiqsyiqiyyah. Lihat al-Amini, al-Ghadir, I, hlm. 82-85.

49. Nahj al-Balaghah, hlm. 48-50.

3. Ayat al-Mubahalah

Iaitu firmanNya yang di dalam (surah Ali Imran (3): 61)”Sesiapa yang membantahmu mengenai (kisah ‘Isa) sesudah datang ilmu (yang menyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubalahah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”

Semua ulama Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahawa ayat al-Mubahalah diturunkan kepada lima manusia suci; Muhammad, ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Di sana terdapat para sahabat lelaki tetapi beliau tidak memanggil seorang pun daripada mereka selain daripada ‘Ali, Hasan dan Husain. Kemudian di sana juga terdapat Ummahat al-Mukminin dan wanita-wanita Bani Hasyim, tetapi beliau tidak memanggil seorangpun daripada mereka selain daripada anak kandungnya Fatimah al-Zahra’ AS.

Satu hakikat yang tidak dapat disembunyikan lagi oleh orang yang mempunyai pandangan yang tajam bahawa maksud Anfusa-na (diri kami) di sini ialah saudara Rasulullah SAWAW yang kedudukannya di sisi Rasulullah SAWAW samalah dengan kedudukan Harun di sini Musa. Beliau ialah Imam Amiru l-Mukiminin ‘Ali AS kerana Allah menjadikannya (‘Ali AS) di dalam ayat ini nafs Muhammad SAWAW (diri Muhammad itu sendiri).

Demi Allah sesungguhnya itu adalah keistimewaan yang besar yang dikhususkan oleh Allah SWT kepada mereka dan tidak ada orang lain selain daripada mereka dari umat ini. Ibn Hajr telah menyebutkannya di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah di dalam bab kesebelas riwayat daripada al-Dar al-Qutni bahawa ‘Ali di majlis Syura (‘Umar) telah berhujah dengan menyatakan: Aku menyeru kalian dengan nama Allah adakah kalian seorang yang lebih hampir kepada Rasulullah dari segi kekeluargaan selain daripadaku? Dan siapakah yang telah dijadikan dirinya oleh beliau seperti dirinya sendiri? Anak-anaknya seperti anak-anaknya dan wanita-wanitanya seperti wanita-wanitanya selain daripadaku? Mereka menjawab: Allahuma la. Wahai Tuhanku! Tidak ada seorang pun selain daripada anda sekeluarga.

Seorang penyair yang memuji Imam ‘Ali AS mengemukakan syairnya:

Dia di dalam ayat al-Tabahul adalah diri Nabi sendiri

Tiada selain daripadanya (‘Ali) yang dimaksudkan dengannya.

Kemudian hadith al-Mubahalah adalah masyhur dan disebutkan oleh Ahli Tafsir, Hadith dan Sirah. Mereka menulis peristiwa itu pada tahun kesepuluh Hijrah iaitu tahun Mubahalah. Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib(50)  berkata: Ketahuilah, sesungguhnya riwayat ini adalah seperti disepakati  kesahihannya di kalangan Ahli-ahli Tafsir, Hadith dan lain-lain.

Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf(51)  mengenai ayat al-Mubahalah berkata: Ianya diriwayatkan manakala Rasulullah SAWAW menyeru Kristian Najran untuk bermubahalah, mereka berkata: Kami akan pulang dan kami akan membuat keputusannya. Manakala mereka pergi, mereka berkata kepada ‘Aqib seorang yang pintar mereka, wahai hamba al-Masih apa pandangan anda? Dia menjawab: Demi Allah sesungguhnya kalian telah mengetahui bahawa sesungguhnya Muhammad adalah seorang Nabi yang diutuskan. Dia telah mendatangi kalian dengan keterangan daripada Tuhan kalian. Demi Allah tidak ada satu kaumpun yang pernah bermubahalah dengan seorang Nabi sehingga yang kecil dan besar mereka dapat hidup. Sekiranya kalian lakukan, nescaya kalian akan binasa. Dan sekiranya kalian enggan bermubahalah maka dia akan membiarkan agama kalian dan kalian kekal dengan agama kalian. Lantaran itu ucaplah selamat tinggal kepada lelaki itu dan kembalilah ke tempat kalian.

Maka merekapun datang kembali menemui Rasulullah SAWAW pada ketika itu beliau sedang mendukung Husain, memegang tangan Hasan, Fatimah berjalan di belakangnya dan ‘Ali di belakang Fatimah AS. dan bersabda:Tidakkah aku telah menyeru kalian maka berimanlah. Lalu Bisyop Najran menjawab: Wahai kaum Nasara! Sesungguhnya aku sedang melihat kepada muka-muka mereka, sekiranya Allah mahu menghilangkan bukit dari tempatnya, nescaya Dia akan menghilangkannya melalui kemuliaan muka-muka mereka. Justeru itu janganlah kalian bermubahalah, nanti kalian akan binasa, dan tidak tinggal lagi seorang Nasranipun di bumi ini hingga di Hari Kiamat. Mereka berkata: Wahai Abu Qasim, kami fikir kami tidak akan bermubahalah dengan anda sebaliknya kami mengakui anda di atas agama anda sementara kami kekal di atas agama kami. Nabi SAWAW menjawab:”Sekiranya, kalian enggan bermubalahah, maka masuklah Islam. Kalian akan dilayani dengan baik dan mendapat hak seperti mereka.”

Lantas mereka menolaknya, kemudian beliau SAWAW bersabda: Aku melepaskan kalian. Mereka menjawab: Kami tidak mampu untuk memerangi Arab, justeru itu kami membuat perdamaian dengan anda supaya anda tidak memerangi kami, menakut-nakutkan kami dan memaksa kami supaya meninggalkan agama kami. Sebagai balasan kami akan memberikan kepada anda setiap tahun dua ribu Hillah, seribu pada bulan Safar, dan seribu pada bulan Rajab, dan tiga puluh baju besi biasa.

Maka beliau SAWAW mengadakan perdamaian dengan mereka dengan syarat-syarat tersebut. Beliau bersabda: Demi diriku di tangannya sesungguhnya kebinasaan telah jelas ke atas ahli Najran. Dan sekiranya mereka bermubahalah, nescaya mereka bertukar menjadi kera dan babi serta lembah ini menjadi api membakar mereka. Allah SWT akan melenyapkan Najran dan penduduk-penduduknya sekali sehingga burung yang hinggap di atas pokok.” Manakala genap setahun mereka dibinasakan (kerana tidak menepati janji mereka).

Daripada ‘Aisyah RD: Sesungguhnya Rasulullah SAWAW keluar dengan meletakkan kain hitam di atasnya. Maka Hasan pun datang, lalu beliaupun memasukkannya, kemudian Husain maka beliau memasukkannya, kemudian Fatimah, kemudian ‘Ali, lalu beliau membaca ayat at-Tathir (Surah al-Ahzab (33):33)”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu wahai Ahlu l-Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Ini menunjukkan tidak ada dalil yang lebih kuat daripada ini tentang kelebihan Ashab al-Kisa’ AS. Aku berkata: Ianya suatu kemuliaan yang sejati dan penghormatan yang agung di mana Dia tidak akan mengurniakan seorangpun dengannya sebelum dan selepas mereka. Dan ketahuilah sesungguhnya hadith-hadith muktabar yang diriwayatkan adalah mutawatir tentang turunnya ayat ini mengenai Ahlu l-Bait AS, ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS. Ianya telah dicatat oleh Ahli-ahli Tafsir, Hadith dan Sirah. Semuanya mencatat peristiwa-peristiwa tahun kesepuluh Hijrah iaitu Tahun Mubahalah.

Di sini aku ingin mengemukakan kepada pembaca yang budiman, sebahagian daripada nama-nama para imam Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah yang menulis mengenai seperti berikut:

Muslim di dalam Sahihnya(52)  mengatakan bahawa Qutaibah bin Sai’d dan Muhammad bin ‘Ubbad telah memberitahukannya kepada kami dengan lafaz yang hampir sama. Mereka berdua berkata: Hatim telah memberitahukan kami (iaitu anak lelaki Ismail) daripada Bakir bin Miswar daripada ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqas daripada bapanya dia berkata: Muawiyah bin Abu Sufyan memerintahkan Sa’ad bahawa dia berkata: Apa yang menegah anda dari mencaci Abu Turab (‘Ali AS)? Maka dia menjawab: Aku mengingati tiga perkara di mana Rasulullah SAWA mengucapkan kepadanya. Justeru itu aku sekali-kali tidak akan mencacinya kerana jikalaulah aku mempunyai satu perkara sahaja adalah lebih aku cintai daripada segala nikmat; sehingga dia berkata: Manakala turun ayat al-Mubahalah: Maka katalah:”Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, wanita-wanita kami dan wanita-wanita kamu.” Maka Rasulullah SAWAW menyeru ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Dia bersabda: Allahumma Haula’ Ahli (Wahai Tuhanku! Mereka itu adalah keluargaku).

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya(53) berkata:’Abdullah telah memberitahukan kami dia berkata:Bapaku memberitahuku dia berkata: Qutaibah bin Sa’id dan Hatim bin Isma’il telah memberitahukan kami daripada Bakir bin Mismar daripada Amir bin Saad daripada bapanya dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda kepadanya: Dia berkata: Manakala turun ayat al-Mubahalah maka beliau SAWAW menyeru ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan bersabda:Wahai Tuhanku, mereka itulah keluargaku.

Al-Tabari di dalam Jami’ al-Bayan(54)  telah mengeluarkan banyak hadith-hadith mengenai ayat al-Mubahalah dengan saluran yang bermacam-macam daripada Zaid bin ‘Ali al-Sudi, Qatadah, Thana bin Zaid dan daripada al-Yasykari.

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(55)  daripada Jabir dia berkata di akhirnya: Jabir berkata: Anfusa-nawa anfusa-kum (diri kami dan diri kamu):Rasulullah SAWAW dan ‘Ali AS wa abnaa-na (anak-anak lelaki kami):Hasan dan Husain dan Nisaa-ana(wanita-wanita kami): Fatimah.

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul(56)  berkata pada akhirnya:Sya’bi berkata: Abnaa-na(anak-anak lelaki kami):Hasan dan Husain dan Nisaa-na (wanita-wanita kami):Fatimah, Wa anfusa-na (diri-diri kami):’Ali bin Abi Talib AS.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah(57)  meriwayatkan bahawa ‘Ali bin Abi Talib AS adalah nafs Rasulullah (diri Rasulullah sendiri) sejajar dengan nas tersebut.

Al-Syablanji di dalam Nur al-Absar(58)  menyatakan bahawa maksud Nisaa-na (wanita-wanita kami) ialah Fatimah, Abnaa-na (anak-anak lelaki kami) ialah Hasan dan Husain,Anfusa-na (diri-diri kami) ialah nafsu-hu dirinya sendiri dan diri ‘Ali AS.

Muhibbudin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba.59

Al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib.60

al-Hakim di dalam al-Mustadrak.61

Abu Nu’aim di dalam Dala’il al-Nubuwwah.62

al-Baghawi di dalam Ma’alim al-Tanzil.63

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib.64

Al-Dhahabi di dalam al-Talkhisnya.65

Ibn al-Athir al-Jazari di dalam Usd al-Ghabah.66

Sibt al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Huffaz.67

Al-Qurtubi di dalam Jami’ li Ahkam al-Qur’an.68

Al-Baidhawi di dalam Anwar al-Tanzil.69

Ibn Hajr al-’Asqalani di dalam al-Isabah.70

Syaikh Muhammad bin Talhah al-Syafi’i di dalam Matalib al-Su’ul,(71)   menyatakan bahawa ayat al-Mubahalah telah diriwayatkan oleh perawi-perawi yang thiqah bahawa ianya diturunkan pada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS.

Dan ramai lagi bilangan para imam Ahlu s-Sunnah yang aku tidak dapat menyebutkan nama mereka di dalam buku ini. Semuanya menegaskan bahwa ayat ini diturunkan kepada lima manusia yang suci. Imam Bahrani telah menyatakan di dalam Ghayah al-Maram(72)   bahawa ayat ini telah diturunkan kepada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS. melalui sembilan belas hadith menurut Ahlu s-Sunnah dan lima belas hadith menurut Syi’ah.

Ayatullah al-Najafi telah menyebutkan nama-nama para ulama Ahlu s-Sunnah yang menyatakan bahawa ayat al-Mubahalah diturunkan kepada lima manusia yang suci di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haq.(73)

Justeru itu aku membuat kesimpulan bahawa khalifah yang wajib selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali bin Abi Talib AS kerana ‘Ali di dalam ayat tersebut ialah nafs Muhammad SAWAW. Dengan ilmunya, akhlaknya, kemuliaannya, keberaniannya, lemah lembutnya, kasihan belasnya terhadap orang-orang yang lemah, garangnya terhadap orang yang zalim dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah selain daripada kenabian, bersandarkan sabda Nabi SAWAW maksudnya:”Anda di sisiku sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa hanya tiada Nabi selepasku.” Lantaran itu seorangpun tidak harus mendahuluinya kerana ‘mendahuluinya’ sepertilah mendahului Rasulullah SAWAW. Oleh itu berwaspadalah anda dan insaflah wahai pembaca yang budiman.

4. Ayat al-Muwaddah

Iaitu firmanNya dalam (Surah al-Syu’ara (42): 23):”Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (al-qurba). Dan siapa yang mengerjakan kebaikan (al-Hasanah) akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Ahli Tafsir Syi’ah bersepakat bahawa ayat tersebut diturunkan secara khusus kepada Ahlu l-Bait; ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Demikian juga kebanyakan Ahli Tafsir Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah di dalam buku-buku Sahih dan Musnad mereka mengakui bahawa ayat tersebut diturunkan kepada ‘itrah yang suci. Tetapi terdapat sebilangan kecil daripada mereka yang membuat pentafsiran yang menyalahi apa yang diturunkan Allah SWT.

Ahlu l-Bait AS dan para ulama Syi’ah bersepakat bahawa perkataaan al-Qur’ba di dalam ayat tersebut ialah kerabat Rasulullah SAWAW; ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Merekalah orang yang paling rapat dengan Rasulullah SAWAW. Dan perkataan al-Hasanah (kebaikan) bererti kasih sayang kepada mereka dan menjadikan mereka imam, kerana Allah amat mengampuni orang yang mewalikan mereka.

Dan ini adalah satu perkara yang disepakati oleh kami kerana ianya merupakan suatu kepastian kerana banyak hadith-hadith muktabar mengenainya. Kami akan kemukakan kepada pembaca kami yang budiman beberapa hadith yang muktabar menurut Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah seperti berikut:

Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan di dalam Manaqib, al-Tabrani, al-Hakim dan Ibn Abi Hatim daripada ‘Abbas sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam pentafsiran ayat 14 daripada ayat-ayat yang telah dinyatakan di dalam fasal pertama daripada bab sebelas daripada al-Sawa’iqnya dia berkata: Manakala turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau SAWAW menjawab: ‘Ali, Fatimah dan dua anak lelaki mereka berdua.

Hadith ini juga telah dicatatkan oleh Ibn Mardawaih,(74)  diriwayatkan daripada  Ibn ‘Abbas oleh Ibn Mundhir, al-Muqrizi, al-Baghawi, al-Tha’labi di dalam tafsir-tafsir mereka. Al-Suyuti di dalam Durr al-Manthur, Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya, al-Hamawaini di dalam al-Fara’id, al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul dan Ibn Maghazili di dalam al-Manaqib, al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf,(75)  Muhibbuddin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba,(76)  Talhah al-Syafi’i di dalam Matalib Su’ul,(77) Abu Sa’id di dalam Tafsirnya,(78) al-Nasafi di dalam Tafsirnya,(79) Abu Hayyan di dalam Tafsirnya,(80)  Ibn Sibagh al-Maliki di dalam Fusul al-Muhimmah,(81) al-Hafiz al-Haithami di dalam al-Majma’,(82)  al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib.(83)

Al-Qastalani di dalam al-Mawahib, berkata: Allah memastikan kasih sayang kepada semua kerabat Rasulullah SAWAW dan mewajibkan kasih sayang sebahagian daripada Ahlu l-Baitnya AS dan zuriatnya. Justeru itu Dia berfirman dalam (Surah al-Syura’(42):23)…..”Katakanlah: Aku tidak meminta upahmu sesuatu upahpun ke atas seruanku kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan.” al-Zurqani di dalam Syarh al-Mawahib,(84) al-Syablanji di dalam Nur al-Absar,(85)  Ibn Hajr di dalam Sawa’iq al-Muhriqah,(86) al-Suyuti di dalam ‘Ihya al-Mayyit di Hamisy al-Ithaf.(87)

Al-Bukhari di dalam Sahihnya,(88) daripada Ibn ‘Abbas RD bahawa dia ditanya mengenai firmanNya:…”kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan.” Dia menjawab: Ianya adalah kerabat Rasulullah SAWAW.

Al-Tabari di dalam Tafsirnya,(89)  daripada Sa’id bin Jubair tentang firmanNya, Surah al-Syura’(42):23)…..”Katakanlah: Aku tidak meminta upahmu sesuatu upahpun ke atas seruanku kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan.” Dia menjawab: Ianya adalah kerabat Rasulullah SAWAW.

Ibn Hajr al-’Asqalani di dalam al-Kafi al-Syafi fi Takhrij Ahadith al-Kasysyaf,(90) berkata: al-Tabrani, Ibn Abi Hatim dan al-Hakim telah meriwayatkannya di dalam Manaqib al-Syafi’i daripada Husayn Asyqar daripada Qais bin al-Rabi’ daripada A’masy daripada Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas ditanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab:’Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah,91 berkata: Ahmad telah meriwayatkan di dalam Musnadnya dengan sanadnya daripda Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas RD bahawa ayat ini diturunkan kepada lima orang. Al-Tabrani di dalam Mu’jam al-Kabirnya menyatakan ayat ini diturunkan kepada lima orang.

Ibn Abi Hatim di dalam Tafsirnya dan al-Hakim di dalam al-Manaqibnya menyatakan ayat ini diturunkan kepada lima orang. Al-Wahidi di dalam al-Wasit, Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, al-Tha’labi di dalam Tafsirnya, al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin, Abu Bakar bin Syahabbuddin al-Syafi’i dalam Rasyfah Sadi92 semuannya meriwayatkan bahawa ayat tersebut di turunkan kepada lima orang.

Al-Mulla di dalam Sirahnya meriwayatkan sebuah hadith:”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ke atas kalian kasih sayang terhadap kerabatku dan aku bertanyakan kalian tentang mereka di hari esok.” Ahmad di dalam Manaqib dan al-Tabrani di dalam al-Kabir meriwayatkan daripada ‘Abbas RD dia berkata: Manakala turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah SAWAW siapakah kerabat kamu yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab: ‘Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak lelaki mereka.

Al-Baghawi dan al-Tha’labi meriwayatkan di dalam Tafsir mereka daripada ‘Ibn Abbas RD dia berkata: Manakala turunnya ayat  (Surah al-Syu’ara’(42):23), sebahagian orang ramai pula berkata: Beliau hanya menghendaki supaya kita mengasihi kerabatnya. Lantas Jibrail memberitahukan Nabi SAWAW tentang tuduhan mereka. Maka turunlah ayat  (Surah al-Syu’ara’(42):24) “Bahkan mereka mengatakan: Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.” Maka sebahagian mereka pula berkata: Wahai Rasulullah kami menyaksikan sesungguhnya anda adalah seorang yang benar. Maka turunlah pula  (Surah al-Syu’ara’(42):25): “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Al-Tabrani di dalam al-Ausat dan al-Kabir telah meriwayatkan daripada Abu Tufail sebuah khutbah Hasan AS:Kami daripada Ahlu l-Bait yang telah difardhukan Allah untuk mengasihi mereka dan menjadikan mereka pemimpin. Maka beliau berkata:Di antara apa yang telah diturunkan ke atas Muhammad SAWAW ialah:Katakanlah:”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun ke atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.”

Di dalam riwayat yang lain:Kami adalah daripada Ahlu l-Bait yang telah fardhukan Allah ke atas setiap Muslim mengasihi mereka. Maka turunlah ayat (Surah al-Syu’ara(24):23):”Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun ke atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.”

Al-Sudi meriwayatkan daripada Ibn ‘Abbas mengenai firmanNya:”Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” dia berkata: al-Muawaddah (cinta) terhadap kerabat keluarga Muhammad SAWAW.

Al-Hakim di dalam al-Mustadrak(93)   dengan membuang sanad-sanadnya daripada ‘Umar bin ‘Ali daripada bapanya daripada ‘Ali bin Husain dia berkata:Hasan bin Ali berpidato ketika pembunuhan ‘Ali AS. Beliau memuji Tuhan hingga akhirnya beliau berkata:”Kami adalah daripada Ahlu l-Bait yang dihilangkan kekotoran mereka oleh Allah dan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya. Dan kamilah Ahlu l-Bait yang difardhukan Allah ke atas setiap Muslim supaya mengasihi mereka. Maka beliau berkata: Allah berfirman kepada NabiNya: Katakanlah ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun…..”

Al-Dhahabi juga meriwayatkan hadith tersebut di dalam al-Talkhisnya.(94) Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf(95)  berkata: Manakala ayat tersebut diturunkan, ada orang bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab:’Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak lelaki mereka.

Dan diriwayatkan daripada ‘Ali AS: Aku merayu kepada Rasulullah SAWAW tentang hasad dengki manusia terhadapku. Maka beliau menjawab: Tidakkah anda meridhai bahawa anda di kalangan empat orang yang pertama akan memasuki syurga? Aku, anda, Hasan dan Husain…..

Al-Karimi meriwayatkan daripada ‘Aisyah dengan sanadnya daripada ‘Ali RD. al-Tabrani meriwayatkannya daripada Abi Rafi’ di dalam Takhrij al-Kasysyaf daripada Nabi SAWAW: Diharamkan syurga ke atas orang yang menzalimi Ahlu l-Baitku dan menyakitiku pada itrahku. Hadith ini juga telah diriwayatkan oleh al-Tha’labi di dalam al-Takhrij al-Kasysyat.

Al-Khawarizmi di dalam Maqtal al-Husain,(96) Ibn Batriq di dalam al-Umdah(97)  daripada Musnad Ahmad dengan membuang beberapa sanad daripada Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas bahawa ayat tersebut telah diturunkan kepada lima orang.

Muhammad bin Talhah al-Syafi’i dalam Matalib al-Su’ul(98)  berkata: Merekalah dhawi l-Qurba di dalam ayat tersebut, ianya telah diterangkan dan diperakui oleh perawi-perawi hadith di dalam musnad-musnad mereka daripada Jubair daripada ‘Ibn ‘Abbas manakala turunnya firmanNya:”Katakanlah: Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” Mereka bertanya wahai Rasulullah SAWAW: Siapakah mereka yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau SAWAW menjawab:’Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.

Al-Wahidi dan al-Tha’labi meriwayatkan hadith ini dengan sanadnya al-Tha’labi menyatakan: Ketika Rasulullah SAWAW melihat kepada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain beliau bersabda: Aku memerangi orang yang memerangi kalian dan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian.

Al-Hijazi di dalam al-Wadhih(99)  berkata: Mereka itu ialah ‘Ali, Fatimah kedua-dua anak lelaki mereka berdua. Dia berkata lagi: Pengertian ini telah diriwayatkan oleh Rasulullah SAWAW yang telah diterangkan oleh Allah SWT.

Al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib(100)  dengan membuang beberapa sanad daripada Jabir bin ‘Abdullah, berkata: Seorang badwi datang kepada Nabi SAWAW dengan berkata: Wahai Muhammad bentangkan ke atasku Islam. Maka dia berkata: Kami naik saksi bahawa tiada tuhan melainkan Dia yang Tunggal tiada sekutu bagiNya dan sesungguhnya Muhammad adalah hambaNya dan pesuruhNya. Dia bertanya: Adakah anda meminta upah dariku ke atasnya? Beliau menjawab: Tidak! Melainkan mengasihi kerabatku. Dia bertanya: Kerabatku atau kerabat anda? Beliau menjawab: Kerabatku. Dia menjawab: Sekarang aku membai’ah anda, dan bagi orang yang tidak mencintai anda dan mencintai kerabat anda, maka laknat Allah ke atas mereka. Maka Nabi SAWAW bersabda: Amin…..

Buatlah rujukan kepada buku-buku hadith karangan Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah, nescaya anda akan mendapati hadith-hadith yang banyak mengenainya.

Ayatullah Mar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq(101)   karangan al-Sa’id al-Syahid Nur Allah al-Tastari, telah mengumpulkan hadith-hadith yang banyak dari rujukan-rujukan Ahlu s-Sunnah dengan menyebutkan perawi-perawi mereka. Begitu juga al-’Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir.102

Justeru itu rujukan-rujukan Ahlu s-Sunnah sendiri telah mengukuhkan dakwaan Syi’ah kerana terdapat hadith-hadith yang muktabar dan mutawatir tentang hak ‘Ali dan keluarganya AS. Sesungguhnya kebenaran terserlah wa l-hamdulillah.

Ringkasnya, dengan ayat ini orang yang menjadi imam dan khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung ialah imam ‘Amiru l-Mukmimin ‘Ali AS. Kerana ayat tersebut membuktikan bahawa mengasihi ‘Ali AS adalah wajib kerana Allah memberikan pahala kepada orang yang mengasihi kerabatnya. Oleh itu jika kesalahan berlaku daripada mereka maka kasih sayang kepada mereka wajib dihentikan kerana firmanNya di dalam (Surah al-Mujadalah(58): 22):”Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya.”

Dan selain daripada ‘Ali AS adalah tidak maksum. Oleh itu, beliaulah imam secara langsung. Ayatullah al-’Uzma al-Syahid al-Nur al-Tastari di dalam buku Ihqaq al-Haqa’iq berkata: Orang-orang Syi’ah mengemukakan dalil-dali tentang keimamahan ‘Ali AS terhadap Ahlu s-Sunnah bukanlah suatu perkara yang wajib, malah ianya suatu amalan sukarela kerana Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah telah bersetuju sesama mereka tentang keimamahan ‘Ali AS selepas Rasulullah SAWAW. Tetapi perbezaannya Syi’ah menafikan wasitah(103) sedangkan Ahlu s-Sunnah menetapkannya.

Justeru itu ianya dikemukakan  oleh orang-orang yang menetapkannya (al-Muthbit) dan bukan orang yang menafikannya sebagaimana telah ditetapkan di dalam kaedah usul fiqh melainkan mereka telah mencari ijmak dengan mengingkari keimamahannya secara mutlak. Lantaran itu Syi’ah wajib mengemukakan dalil. Dan Allah adalah Penunjuk kepada jalan yang benar.

5. Ayat Salawat

Iaitu firmanNya di dalam (Surah al-Ahzab (33):56):”Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bersalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Syi’ah bersepakat bahawa ayat ini telah diturunkan kepada Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya AS. Begitu juga sebahagian besar ulama Ahlu s-Sunnah sependapat dengan Syi’ah bahawa ayat tersebut diturunkan kepada Muhammad, ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain AS.

Imam Syafi’i dalam Musnadnya berkata: Ibrahim bin Muhammad telah memberitahukan kami bahawa Safwan bin Sulaiman telah memberitahukan kami daripada Abi Salmah daripada ‘Abdu r-Rahman daripada Abu Hurairah dia bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana kami bersalawat ke atas anda? Maka Rasulullah SAWAW menjawab: Kalian berkata: Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad.(104)

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq ah-Muhriqah(105) mencatat riwayat daripada Ka’ab bin Ijrah. Dia berkata: Apabila turun ayat ini, kami bertanya wahai Rasulullah! Kami mengetahui bagaimana kami memberi salam ke atas anda. Tetapi kami tidak mengetahui bagaimana kami bersalawat ke atas anda? Maka beliau SAWAW bersabda: Kalian katakanlah Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad.

Dan diriwayatkan daripada Nabi SAWAW, beliau bersabda: Janganlah kalian bersalawat ke atasku dengan salawat yang terputus. Lalu mereka bertanya: Apakah salawat terputus itu? Beliau menjawab: Kalian berkata: Allahumma Salli ‘Ala Muhammad, kemudian kalian berhenti. Justeru itu katakan:Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad.

Al-Qurtubi di dalam Jami’ li-Ahkam al-Qur’an(106) menegaskan bahawa Ahlu l-Bait Nabi SAWAW dihubungkaitkan dengan Nabi SAWAW di dalam salawat ke atasnya. Sementara Ibn ‘Arabi di dalam Ahkam al-Qur’an(107) mengatakan bahawa ayat al-Mawaddah diturunkan kepada Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya yang disucikan.

Di sini dikemukakan sebahagian daripada riwayat-riwayat para ulama Ahlu s-Sunnah yang mengatakan bahawa ayat tersebut diturunkan kepada Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya seperti berikut:

1. al-Bukhari dalam Sahihnya, VI, hlm. 12

2. Al-Wahidi dalam Asbab al-Nuzul, hlm. 271.

3. al-Baghawi dalam Ma’alim al-Tanzil, V, hlm. 225.

4. al-Hakim dalam al-Mustadrak, III, hlm. 148.

5. Fakhruddin al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, XV, hlm. 226.

6. al-Hafiz Abu Nu’aim al-Isfahani dalam Akhbar Isfahani, I, hlm. (31).

7. al-Hafiz Abu Bakr al-Khatib dalam Tarikh Baghdad, VI, hlm. 216.

8. Ibn ‘Abd al-Birr dalam Tajrid al-Tawhid, hlm. 85.

9. al-Nisaburi dalam al-Tafsir, XX, hlm. 30.

10. al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani, XXII, hlm. 22.

11. Muhibuddin al-Tabari dalam Dhakha’ir la-’Uqba, hlm. 19.

12. al-Nawawi dalam Riyadh al-Salihin, hlm. 155.

13. Ibn Kathir dalam al-Tafsir, III, hlm. 506.

14. Al-Tabari dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, XX, hlm. 27.

15. al-Khazin dalam al-Tafsir, V, hlm. 226.

16. al-Suyuti dalam al-Durr al-Manthur, V, hlm. 215; Bughyah al-Wu’at, hlm. 442.

17. al-Syaukani dalam Fath al-Qadir, IV, hlm. 293.

18. Abu Bakr al-Hadhrami dalam Rasyfah al-Sadi, hlm. 24.

19. al-Sayyid Ibrahim  Naqib, dalam al-Bayan wa Ta’rif, I, hlm. 134.

20. Muhammad Idris al-Hanafi dalam al-Ta’liq al-Sahih fi Syarh al-Masabih, I, hlm. 401 & 402 telah meriwayatkan hadith ini dengan sanad yang banyak dan bermacam-macam. Semuanya meliputi salawat ke atas Nabi SAWAW dan Ahlu l-Baitnya.

Aku berpendapat: “menyebut mereka” di dalam sembahyang dan bukan orang yang selain daripada mereka adalah dalil yang terang betapa tingginya kedudukan mereka. Lantaran itu tidak sah sembahyang seorang mukallaf sama ada dahulu ataupun sekarang tanpa pengucapan salawat ke atas mereka Ahlu l-Bait AS sama ada dia seorang yang bergelar al-Siddiq (Abu Bakr), al-Faruq (Umar atau dha-nur atau anwar (‘Uthman).

Al-Nisaburi dalam Tafsirnya(108) menyatakan ayat al-Mawaddah sudah cukup sebagai tanda penghormatan kepada Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW kerana tasyahhud di akhiri dengan ‘menyebutkan’ mereka dan selawat ke atas mereka pada setiap sembahyang.

Muhibbuddin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba(109)  meriwayatkan daripada Jabir dia berkata: Jika aku sembahyang dan tidak berselawat ke atas Muhammad dan Ahlu l-Baitnya, maka aku fikir sembahyangku tidak diterima.

Qadhi ‘Iyad telah menyatakan di dalam al-Syifa’ daripada Ibn Mas’ud secara marfu’: Sesiapa yang mengerjakan solat tanpa berselawat ke atasku dan Ahlu l-Baitku (di dalamnya), nescaya solatnya tidak diterima.(110)

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah(111) menyatakan bahawa al-Dar al-Qutni dan al-Baihaqi meriwayatkan hadith: Sesiapa mengerjakan solat dan tidak berselawat ke atasku dan Ahlu l-Baitku, maka solatnya tidak akan diterima.” Hadith ini merupakan sumber rujukan Imam Syafi’i rd. yang mengatakan bahawa selawat ke atas Al (Ahlu l-Bait) adalah sebahagian daripada kewajipan solat sepertilah selawat ke atas Nabi SAWAW. Pada hakikatnya ia adalah lemah kerana sumber rujukan yang sebenar ialah hadith Nabi SAWAW yang disepakati: Katakanlah Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa ‘Ali Muhammad. Perintah (amr) di dalam hadith tersebut adalah wajib.

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib(112) menegaskan bahawa selawat ke atas Ahlu l-Bait AS adalah satu kedudukan yang tinggi. Oleh itu selawat ke atas mereka dijadikan sebagai penamat tasyahhud. Dan sabdanya: ’Allahumma Salli ‘Ala Muhammad wa Ali Muhammad wa r-ham Muhammad wa ‘Ali Muhammad,’ adalah suatu kemuliaan yang tidak boleh  terjadi kepada selain daripada keluarga Muhammad SAWAW. Ini menunjukkan bahawa cinta kepada Muhammad dan ‘Ali Muhammad adalah wajib. Dan beliau bersabda: Ahlu l-Baitnya SAWAW menyamai di dalam lima perkara:

1. Di dalam Tasyahhud; selawat ke atas Nabi SAWAW dan ke atas mereka.

2. Di dalam Salam (Salam).

3. Di dalam kesucian at-Taharah

4. Di dalam pengharaman Sadqah

5. Di dalam kasih sayang al-Mahabbah

Apa yang telah kami kemukakan tadi menunjukkan bahawa selawat ke atas mereka adalah dituntut di dalam solat. Dan banyak lagi hadith-hadith di dalam buku-buku Ahlu s-Sunnah yang menjelaskan hakikat ini.

Setelah aku membaca kesemua rujukan-rujukan di atas, aku dipenuhi kehairanan. Kenapa ‘mereka’ mendahului orang yang bukan Ahlu l-Bait daripada Ahlu l-Bait? Dan apa yang lebih menghairan ialah kata-kata Ibn Abi al-Hadid di dalam muqadimmah Syarh Nahj al-Balaghah(113) di mana dia berkata:

Segala puji bagi Allah yang telah mendahului al-Mafdhul (kurang baik) ke atas al-Fadhil (lebih baik).’ Kata-katanya adalah menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWAW kerana Allah tidak meredhai pengutamaan al-mafdhul ke atas al-Fadhil (pengutamaan Abu Bakr, Umar, dan Uthman ke atas ‘Ali) begitu juga RasulNya, dan orang yang mempunyai akal yang sejahtera dan mempunyai hati yang bebas.

Dan apa yang menghairankan juga ialah kenapa mereka begitu berani mencaci Syi’ah Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW yang mewalikan Allah, RasulNya dan orang-orang yang beriman. Sebagaimana firmanNya di dalam (Surah al-Maidah (5): 56)”Sesiapa yang mewalikan Allah dan RasulNya, maka parti Allah pasti mendapat kemenangan.” Syi’ah mengambil apa yang datang daripada Allah dan RasulNya, mereka tidak berganjak walau sedikitpun.

Ringkasnya Khilafah ‘Ali AS sabit selepas Rasulullah SAWAW menurut ayat Salawat kerana Allah SWT mengiringinya (‘Ali) bersama Rasulullah SAWAW dalam selawat ke atasnya. Justeru itu tidak seorangpun harus mendahuluinya sebagaimana ia tidak harus mendahului Rasulullah SAWAW. Berfikirlah wahai pembaca yang budiman jika anda orang yang berfikiran bebas.

6. Ayat Tabligh atau Hadith al-Ghadir

Iaitu firmanNya (Surah al-Mai’dah (5:67)”Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, bererti) kamu tidak menyampaikan anamatNya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Allah SWT telah memerintahkan NabiNya di Ghadir Khum supaya menyampaikan ayat yang mulia ini kepada umat Muslimin. Semua ahli Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahawa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum mengenai ‘Ali AS bagi melaksanakan urusan Imamah. Ianya merupakan nas bagi jawatan khalifah yang besar dan pimpinan agama yang mulia. Tidak akan mengesyakinya melainkan orang yang mengikut hawa nafsu atau kerana fanatik kepada mazhab yang dianuti.

Sikap tersebut adalah menyalahi Qur’an dan mengingkari hadith-hadith Nabi SAWAW yang mutawatir yang disepakati kesahihannya kecuali orang fanatik yang dikuasai oleh nafsu al-Ammarah. Lantaran itu dia akan binasa kerana pengingkarannya terhadap asas agama.

Al-’Allamah al-Sayyid al-’Abbas al-Kasyani menyatakan di dalam buku Masabih al-Jinan(114)bahawa hari perayaan al-Ghadir adalah perayaan Allah yang besar dan perayaan Ahlu l-Bayt Muhammad SAWAW. Ianya sebesar-besar perayaan dan semulia-mulia perayaan di sisi mereka. Iaitu hari di mana Rasulullah SAWAW telah melantik ‘Ali sebagai imam dan khalifah selepasnya dengan kehadiran beribu-ribu kaum Muslimin yang datang dari segenap pelusuk dunia.

Beliau telah memerintahkan mereka supaya membai’ahnya dan menyerahkan kepadanya urusan pemerintahan Mukminin. Peristiwa ini berlaku  semasa Haji Wida’ di suatu tempat bernama Ghadir Khum, tiga batu dari Juhfah berhampiran Rabigh selepas beliau kembali daripada mengerjakan haji di antara Makkah dan Madinah. Jibra’il datang kepada beliau untuk tujuan tersebut.

Nabi SAWAW merasa takut untuk menyalahi kaumnya, lalu beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Sesungguhnya kaumku masih baru dengan zaman Jahiliyyah. Apabila aku melakukan perintah ini, mereka akan berkata: Beliau  melakukannya kepada sepupunya. Kemudian Jibra’il AS datang kepadanya kali kedua di mana lima jam berlalunya siang dan berkata: Ya Muhammad! Sesungguhnya Allah menyampaikan salam kepada anda dan berfirman maksudnya: Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepada kamu dari Tuhanmu (iaitu tentang ‘Ali) dan sekiranya kamu tidak melaksanakannya maka kamu tidak menyampaikan risalahNya.”

Bilangan hadirin adalah melebihi satu ratus ribu orang. Jibra’il memberitahu Nabi SAWAW supaya orang ramai berhenti di tempat itu, dan mengisytiharkan ‘Ali sebagai khalifah kepada mereka, dan menyampaikan kepada mereka bahawa sesungguhnya Allah SWT telah memeliharanya ‘Asamahu daripada orang ramai. Manakala tiba di Ghadir Khum, azan berkumandang di udara dan solat berjama’ah didirikan.

Di hari itu panas terik, sekiranya daging dicampakkan ke tanah nescaya ia akan masak. Nabi SAWAW menyuruh mereka supaya menyusun batu seperti mimbar kemudian diteduhi dengan kain di atasnya. Lalu beliau berdiri di atasnya manakala mereka berhimpun, beliau memberi khutbahnya yang paling bersejarah, menguatkan suaranya supaya dapat didengari oleh seratus ribu lebih Muslimin yang datang dari setiap pelusuk. Selepas memuji Allah, beliau menyampaikan nasihat dan mengisytiharkan kepada ummah tentang kematiannya seraya berkata: Aku telah dipanggil dan hampir aku menyahutinya dan denyutan jantung hatiku kian memuncak di hadapan kalian.” Kemudian beliau mengangkat tangan ‘Ali AS sehingga orang ramai melihat keputihan ketiak Rasulullah SAWAW sambil berkata: Wahai manusia! Tidakkah aku lebih aula daripada diri kalian? Mereka menjawab: Ya! Wahai Rasulullah (SAWAW). Beliau bersabda: Wahai Tuhanku, siapa yang aku telah menjadi maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Wahai Tuhanku, cintailah mereka yang mewalikannya dan memusuhilah mereka yang memusuhinya. Dan tolonglah orang yang menolongnya. Hinalah orang yang menghinanya. Marahilah orang yang memarahinya. Cintailah orang yang mencintainya. Muliakanlah orang yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah menyempurnakan  bagi kalian agama kalian dengan wilayah dan imamahnya. Tidak memarahi ‘Ali melainkan orang yang celaka. Tidak mewalikan ‘Ali melainkan orang yang bertaqwa. Wahai manusia! Janganlah kalian kembali selepasku dalam keadaan kafir, bunuh membunuh sesama kalian. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang beharga jika kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan Itrah Ahlu l-Baitku. Kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh.

Wahai manusia! Telah sesat kebanyakan orang-orang yang terdahulu. Akulah Sirat al-Mustaqim di mana Allah telah memerintahkan kalian supaya berjalan di atasnya untuk mendapat petunjukNya. Ali selepasku, kemudian Hasan, Husain dan sembilan (manusia) imam daripada keturunannya yang menunjuk kebenaran. Sesungguhnya aku telah menerangkan kepada kalian dan memahamkan kalian. Dan inilah ‘Ali yang akan memahamkan kalian selepasku. Sesungguhnya aku menyeru kalian supaya berjabat tanganku sebagai tanda membai’ahnya dan memperakuinya. Sesungguhnya aku telah membai’ah Allah dan ‘Ali mengikut sama. Sesungguhnya bai’ah kalian kepadanya adalah daripada Allah. Justeru itu sesiapa yang mengingkari bai’ahnya maka dia sesungguhnya mengingkari dirinya sendiri. Dan sesiapa yang menepati apa yang telah dijanjikan Allah SWT maka Dia akan memberi ganjaran yang besar.”

Tiba-tiba ‘Umar bin al-Khattab berkata kepada ‘Ali: Tahniah kepada anda wahai anak lelaki Abu Talib. Anda adalah maulaku dan maula setiap Mukmin dan Mukminat. Di dalam riwayat yang lain pula Umar berkata: Selamat bahagia untuk anda wahai ‘Ali. Abu Sa’id al-Khudri berkata: Pada masa itu kami belum pulang sehingga turunnya ayat ikmalu d-Din (Surah al-Maidah (5):3) yang bermaksud:”Pada hari ini telahku sempurnakan bagimu agamamu, dan telahku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telahku redha Islam itu agamamu.”

 

Nabi bersabda: Allahu Akbar kerana menyempurnakan agama, menyempurnakan nikmat dan keredhaan Tuhan dengan risalahku dan dengan wilayah ‘Ali AS selepasku. Kemudian Hasan bin Tsabit bangun dan berkata: Izinkan aku wahai Rasulullah SAWAW untuk mengemukakan beberapa rangkapan syair mengenai ‘Ali supaya anda mendengarnya. Maka Rasulullah SAWAW menjawab: Katakanlah semoga anda di dalam keberkatan Allah. Maka Hasan mengemukakan syair berikut:

 

Mereka diseru di hari al-Ghadir oleh Nabi mereka

di Khum aku mendengar bersama Rasul seorang  penyeru.

Dia berkata: Siapakah maula dan wali kalian?

mereka menjawab: Mereka tidak melahirkan di sana sebarang kesamaran.

Tuhan anda ialah maula kami dan anda adalah wali kami hanya penderhaka sahaja yang menentang kami di dalam wilayah.

Maka dia berkata kepadanya: Berdirilah wahai ‘Ali,

maka sesungguhnya aku meredhai anda selepasku menjadi imam dan petunjuk.

Maka sesiapa yang telah menjadikan aku sebagai maulanya, maka ini adalah walinya maka jadikanlah kalian baginya pembantu-pembantu yang benar

Di sana beliau menyeru: Wahai Tuhanku perwalikanlah walinya

dan jadikanlah orang yang menentang ‘Ali sebagai musuhnya.

Al-Allamah al-Kasyani telah menyatakan di dalam Masabih al-Jinan(115)  bahawa ahli-ahli sejarah Islam dari berbagai mazhab telah menyebutkan pendirian Nabi SAWAW di Hari al-Ghadir dan perlantikan ‘Ali sebagai khalifah memadailah di hari yang bersejarah itu satu kehormatan dan kemuliaan telah diberikan oleh pengarang-pengarang penyair-penyair mengenainya. Justeru itu amatlah sukar untuk dikemukakan sekaligus apa yang terkandung di dalam buku-buku Tafsir, Hadith, Musnad, Sirah dan sastera mengenai al-Ghadir. Buatlah rujukan kepada dua buku yang masyhur; al-’Aqabat dan al-Ghadir.

Kesepakatan Ulama Tentang Ayat Tabligh

Aku berpendapat sebenarnya para ulama Islam telah bersepakat bahawa ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah(5):67) telah diturunkan kepada ‘Ali AS secara khusus bagi mengukuhkan khalifah untuknya. Di hari tersebut riwayat hadith al-Ghadir adalah Mutawatir. Ianya telah diriwayatkan oleh semua ahli sejarah dan ahli Hadith dari berbagai golongan dan ianya telah diperakukan oleh ahli Hadith dari golongan Sunnah dan Syi’ah. Ianya tidak dapat ditolak kecuali orang yang takbur, degil dan bodoh.

Sebahagian meriwayatkannya dengan panjang dan sebahagian yang lain pula meriwayatkannya secara ringkas. Bilangan perawi-perawinya dari kalangan sahabat melebihi satu ratus sepuluh orang termasuk sahabat-sahabat yang terlibat di dalam peperangan Badr.(116) Bilangan perawi-perawi dari kalangan tabi’in yagn meriwayatkannya ialah lapan puluh empat orang. Sementara bilangan ulama dan Muhaddithin di kalangan Ahlu s-Sunnah yang meriwayatkan hadith al-Ghadir ialah sebanyak tiga ratus enam puluh orang yang berdasarkan kepada buku-buku rujukan Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah.

Kemungkinan besar bilangan perawi-perawi yang tidak dapat dikesan adalah lebih ramai daripada itu. Sepatutnya bilangan perawi-perawi hadith tersebut berkali ganda ramai kerana bilangan mereka yang mendengar khutbah Nabi SAWAW adalah melebihi seratus ribu orang. Biasanya mereka menceritakan peristiwa tersebut apabila mereka kembali ke tanah air mereka sebagaimana seorang penyair berkata:

Dan ketahuilah sesungguhnya tetamu memberitahukan keluarga malam yang dilaluinya sekalipun

ianya tidak ditanya.

Ya! Semuanya akan melakukan sedemikian melainkan sebilangan daripada mereka yang mempunyai perasaan dendam kesumat di hati mereka. Lalu mereka menyembunyikannya kerana kemarahan dan hasad dengki mereka.

Adapun Syi’ah, mereka telah bersepakat tentang kemutawatirannya. Tetapi manakala sabitnya hadith al-Ghadir sehingga mencapai ke tahap di mana orang yang mempunyai perasaan iri hati tidak dapat menolaknya, lalu ditanamkan perasaan curiga kepada perawi-perawi dan riwayat-riwayat mereka pula. Mereka menakwilkan perkataan al-Maula menurut hawa nafsu mereka. Kadangkala mereka mentafsirkannya dengan pencinta (al-Muhibb), pembantu (al-Nasir) dan dengan perkataan al-Aula (lebih utama).

Demikianlah sekiranya mereka tidak ada jalan lain lagi untuk melakukan kecacatan dan ‘kelemahan’ di dalam penafsiran ayat dan hadith. Mereka juga mengatakan bahawa Nabi SAWAW berada di Ghadir Khum, dan berkhutbah bagi menerangkan kepada orang ramai tentang kedudukan ‘Ali dan memperkenalkannya (‘Ali) kepada orang ramai dan bukan bertujuan untuk menjadikannya khalifah selepasnya.

Adapun orang yang syak tentang perkataan al-Waliyy sebagaimana telah disebutkan, sekalipun ianya mungkin memberi pengertian-pengertian tersebut sebagaimana dikatakan oleh lawan yang angkuh, maka ianya pasti memberi pengertian ‘orang yang lebih berhak dengan khalifah’. Dan tidak harus seorangpun melakukan perkara tersebut selain daripadanya (‘Ali AS). Dalil kami ialah ayat al-Wilayah (Surah al-Maidah (5):55).

Adapun pendapat lawan yang menyatakan bahawa Rasulullah SAWAW berada di Ghadir Khum adalah untuk menerangkan kepada orang ramai tentang kedudukan ‘Ali AS sahaja dan bukan sebagai pengganti Nabi SAWAW adalah rekaan semata-mata. Lantaran itu percakapannya adalah batil, tidak sampai kepada hakikat dan ianya tidak dapat diterima.

Kerana seolah-olah ‘Ali AS tidak dikenali sebelumnya sehingga Rasulullah SAWAW berada di tempat tersebut dan memperkenalkannya kepada orang ramai pada masa yang mencemaskan dengan suhu yang tinggi. Sebagaimana telah diterangkan kepada kalian sesungguhnya ‘Ali lebih dikenali di dalam peperangan-peperangannya, disaksikan oleh peristiwa-peristiwa tersebut  dan beliau (‘Ali AS)lah yang telah mengukuhkan agama ini dengan pedangnya.

Oleh itu dalil yang paling kuat tentang kebenaran dakwaan kami ialah ‘Ali AS sendiri berdiri memberi khutbahnya di atas mimbar di Rahbah sebagaimana telah disebutkan oleh semua ahli sejarah selepas beliau menjadi khalifah.

Dia berkata: Aku menyeru kerana Allah bagi setiap orang yang mendengar Rasulullah SAWAW bersabda di Hari al-Ghadir supaya berdiri dan mempersaksikan apa yang telah didengarinya. Dan tidak boleh berdiri melainkan orang yang melihatnya (Nabi SAWAW) dengan matanya dan mendengar dengan kedua telinganya. Maka tiga puluh sahabat berdiri termasuk dua belas orang yang telah mengambil bahagian di dalam peperangan Badr. Maka mereka telah menyaksikan bahawa beliau SAWAW telah memegang ‘Ali dengan tangannya dan berkata kepada orang ramai: Tidakkah anda mengetahui bahawa sesungguhnya aku lebih aula dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri? Mereka menjawab: Ya. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.

Pembaca yang budiman tentu sekali tidak akan mengatakan bahawa tiga puluh sahabat itu telah berbohong, kerana ini tidak dapat diterima oleh akal yang waras. Lantaran itu pencapaian tahap kemutawatiran hadith al-Ghadir yang berlaku semata-mata dengan penyaksian mereka adalah Qat’i. Dan tidak syak lagi bahawa hadith ini pula diambil oleh semua orang yang berada di Rahbah di dalam perhimpunan tersebut, dan menyebarkannya selepas mereka pulang ke tempat-tempat mereka.

Sebagaimana Sayyid Syarafuddin al-Musawi berkata di dalam bukunya al-Murujaat(117)  (Dialog Sunnah-Syi’ah); Tidak dapat disembunyikan lagi bahawa hari Rahbah itu berlaku semasa Khalifah Amiru l-Mukminin. Beliau telah dibai’ah pada tiga puluh lima hijrah. Hari al-Ghadir ialah pada Haji Wida’ tahun kesepuluh. Dan jarak masa di antara dua hari tersebut (hari al-Ghadir dan hari Rahbah) ialah dua puluh lima tahun.

Di sepanjang masa tersebut telah menular penyakit taun dan berlaku beberapa peperangan yang telah meragut nyawa sebahagian besar para sahabat yang telah menyaksikan hari al-Ghadir dan pemuda-pemuda mereka yang terlibat di dalam peperangan meninggal dunia. Sehingga tinggal bilangan kecil yang masih hidup dan yang masih hidup pula tinggal di merata-rata tempat. Justeru itu mereka yang menyaksikan hari Rahbah ialah mereka yang tinggal bersama Amiru l-Mukminin di Iraq. Meskipun begitu tiga puluh sahabat berdiri dan memberikan penyaksian mereka. Dua belas daripada mereka terlibat di dalam peperangan Badr, telah menyaksikan hadith hari al-Ghadir dan mendengarnya daripada Nabi SAWAW.(118) Memang terdapat sahabat-sahabat seperti Anas bin Malik yang enggan memberi penyaksian tersebut di mana ‘Ali AS berkata kepadanya: Kenapa anda tidak berdiri bersama-sama sahabat-sahabat Rasulullah SAWAW untuk memberi penyaksian kepada apa yang telah anda dengari daripadanya di hari itu? Dia menjawab: Wahai Amiru l-Mukminin. Aku telah tua dan pelupa pula. Lantas ‘Ali AS berkata: Sekiranya anda berbohong, nescaya Allah akan mengenakan anda dengan penyakit keputihan kulit yang tidak dapat ditutupi serban. Dia tetap tidak berdiri sehingga mukanya di hinggapi keputihan kanser. Selepas itu dia berkata: Aku ditimpa penyakit ini disebabkan berkat hamba yang soleh (‘Ali AS).(119)

Jikalaulah Imam ‘Ali AS membuat persiapan bagi menghimpunkan semua sahabat yang masih hidup di masa itu, kemudian beliau menyeru mereka sebagaimana beliau telah melakukannya di hari Rahbah, nescaya bilangan mereka akan berlipat ganda lagi. Apatah lagi jika beliau membuat persiapan itu di Hijaz sebelum berlakunya Hari al-Ghadir. Lantaran itu hakikat ini nescaya anda akan mendapatinya sekuat-kuat dalil kemutawatiran hadith al-Ghadir.

Di sini aku akan kemukakan kepada pembaca yang budiman sebahagian daripada pendapat-pendapat ahli Tafsir dan ahli hadith mengenai ayat al-Tabligh (Surah al-Mai’dah (5):56)”Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu….”  dan ayat Ikmaluddin dalam (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu….” dan ayat (Surah al-Ma’arij (70):1)”Seorang telah meminta kedatangan azab….” serta hadith: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…..dan lain-lain hadith yang telah dikaitkan secara khusus mengenai ‘Ali AS untuk jawatan khilafah dan Imamah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung di Hari al-Ghadir.

Hadith al-Ghadir telah diriwayatkan oleh para ulama besar Muslimin dengan sanad yang mutawatir dan dikhususkan kepada Imam Amiru l-Mukminin ‘Ali AS.

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul(120) berkata: Sesungguhnya ayat al-Tabligh (Surah al-Mai’dah(5):67) telah diturunkan di hari al-Ghadir pada ‘Ali bin Abi Talib RD. Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(121)  berkata: Ibn Abi Hatim, Ibn Mardawaih dan Ibn Asakir telah meriwayatkannya daripada Abu Sa’id al-Khudri bahawa ayat al-Tabligh (Surah al-Mai’dah(5): 67) telah diturunkan ke atas Rasulullah di hari al-Ghadir mengenai ‘Ali bin Abu Talib AS.

Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib(122) berkata: Ahli Tafsir telah menyebutkan bahawa sebab turun ayat ini sehingga dia berkata: (kesepuluh) ayat ini telah diturunkan tentang kelebihan ‘Ali bin Abi Talib AS. Manakala ayat ini diturunkan Nabi SAWAW memegang tangan ‘Ali AS dan bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Hormatilah orang yang mewalikannya dan musuhilah orang yang memusuhinya. Kemudian Umar (RD) memujinya dan berkata: Tahniah kepada anda wahai anak Abu Talib. Anda telah menjadi maulaku dan maula semua mukmin dan mukminah. Ini adalah riwayat Ibn ‘Abbas, al-Barra’ bin Azib dan Muhammad bin Ali.

Al-Nisaburi di dalam Tafsirnya(123) menyatakan bahawa ayat ini telah diturunkan mengenai kelebihan ‘Ali bin Abi Talib RD di hari al-Ghadir. Dia menyebutkan sebagaimana telah disebutkan oleh Fakhruddin al-Razi satu demi satu.

Al-Syaukani di dalam Tafsirnya(124)  menyebutkan bahawa Abu al-Syaikh meriwayatkan daripada al-Hasan bahawa Rasulullah SAWAW bersabda:”Sesungguhnya Allah telah mengutuskan (kepadaku) satu misi yang mencemaskan, aku mengetahui bahawa sesungguhnya orang ramai akan membohongiku. Maka Dia telah menjanjikan aku supaya aku menyampaikannya atau Dia akan menyiksaku. Maka turunlah ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah (5):67)”Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu….Dia telah menyebutkan apa yang telah disebutkan oleh al-Suyuti bahawa ianya diturunkan di hari al-Ghadir Khum tentang ‘Ali bin Abi Talib AS. Dan mereka membaca ayat tersebut dengan: Inna Aliyyan Maula al-Mukminin (Sesungguhnya ‘Ali adalah wali Mukminin).

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah(125) menulis: al-Tha’labi telah meriwayatkan daripada Ibn Salih daripada Ibn ‘Abbas daripada Muhammad al-Baqir RD mereka berdua berkata: Ayat ini diturunkan mengenai ‘Ali AS.

Al-Alusi di dalam Ruh al-Ma’ani(126) berkata: Ibn ‘Abbas berkata: Ayat ini diturunkan kepada ‘Ali AS. Allah SWT memerintahkan Nabi SAWAW supaya mengisytiharkan kepada orang ramai (para sahabatnya) mengenai wilayah ‘Ali AS. Rasulullah SAWAW merasa takut bahawa mereka akan berkata bahawa beliau SAWAW memilih sepupunya. Mereka akan menentang beliau mengenainya. Lantaran itu Allah menurunkan ayat ini, maka beliau melaksanakan wilayahnya (‘Ali AS) dan berkata: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….Dia telah menyebutkannya sebagaimana telah disebutkan oleh al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur hingga ke akhirnya.

Nota kaki

50. Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 20.

51. al-Kasysyaf, I, hlm. 482.

52. Sahih, VII, hlm. 120.

53. al-Musnad, I, hlm. 185.

54. Jami’ al-Bayan, III, hlm. 192.

55. al-Durr al-Manthur, II, hlm. 38.

56. Asbab al-Nuzul, hlm. 47.

57. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 43.

58. Nur al-Absar, hlm. 101.

59. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 25.

60. KIfayah al-Talib, hlm. 54.

61. al-Mustadrak, III, hlm. 150.

62. Dala’il al-Nubuwwah, hlm. 297.

63. Ma’alim al-Tanzil, I, hlm. 302.

64. Mafatih al-Ghaib, VIII, hlm. 85.

65. al-Takhis, III, hlm. 150.

66. Usd al-Ghabah, IV, hlm. 25.

67. Tadhkhirah al-Huffaz, hlm. 17.

68. Jami’ li Ahkam al-Qur’an, III, hlm. 104.

69. Anwar al-Tanzil, II, hlm. 22.

70. Al-Isabah, II, hlm. 503.

71. Matalib, al-Su’ul, hlm. 7.

72. Ghayah al-Maram, hlm. 300.

73. Ta’Liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haq, hlm. 46.

74. al-Nabhan, al-Arba’in, hlm. 90.

75. al-Kasysyaf, II, hlm. 339.

76. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 25.

77. Matalibal-Su’ul, hlm. 8.

78. Hamisyh Mafatih al-Ghaib, VI, hlm. 665.

79. Tafsir al-Nasafi, hlm. 99.

80. Tafsir Abu Hayyan, VII, hlm. 156.

81. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 12.

82. Majma’ al-Zawaid, IX, hlm. 168.

83. Kifayah al-Talib, hlm. 31.

84. Syarh al-Mawahib, VII, hlm. 3 & 21.

85. Nur al-Absar, hlm. 112.

86. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 105.

87. Ihya’ al-Mayyit, 101 & 135.

88. Sahih, VI, hlm. 129.

89. Jami’ al-Bayan, XXV, hlm. 14-15.

90. al-Kafi al-Syafi’i, hlm. 145.

91. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 106.

92. Rasyfah al-Sadi, hlm. 21…106.

93. al-Mustadrak, III, hlm. 172.

94. al-Talkhis, III, hlm. 172.

95. al-Kasysyaf, III, hlm. 402.

96. Maqtal al-Husain, hlm.1.

97. al-Umdah, hlm. 23.

98. Matalib al-Su’ul, hlm. 3.

99. al-Wadhih, XXV, hlm. 19.

100. Kifayah al-Talib, hlm. 31.

101. Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq, III, hlm. 2 & 23.

102. al-Ghadir, II, hlm. 306.

103. Syi’ah mengatakan bahawa Imamah ‘Ali AS adalah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung tanpa wasitah iaitu tidak didahului oleh orang lain. Sementara Ahlu s-Sunnah mengatakan Imamah ‘Ali AS adalah selepas Rasulullah SAWAW secara wasitah (perantaraan) iaitu telah didahului oleh Khalifah AbuBakr.

104. al-Musnad, II, hlm. 97.

105. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 144

106. al-Jami’ li-Ahkam al-Qur’an, XIV, hlm. 233.

107. Ahkam al-Qur’an, I, hlm. 184.

108. Tafsir al-Nisaburi, XX, hlm. 30.

109. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 19.

110. al-Ghadir, II, hlm. 303.

111. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 144.

112. Mafatih al-Ghaib, VII, hlm. 391.

113. Syarh Nahj al-Balaghah, I, hlm. 1.

114. Masabih al-Jinan, hlm. 560.

115. Masabih al-Jinan, hlm. 560.

116. Lihat Lampiran B.

117. al-Muruja’at (Dialog Sunnah-Syi’ah), hlm. 262 dan seterusnya.

118. al-Musnad, IV, hlm. 370; Dialog Sunnah-Syi’ah, hlm. 254.

119. Ibn Qutaibah, Kitab al-Ma’arif, hlm. 251.

120. Asbab al-Nuzul, hlm. 150.

121. al-Durr al-Manthur, II, hlm. 298.

122. Mafatih al-Ghaib, hlm. 636.

123. Tafsir al-Nisaburi, VI, hlm. 194.

124. Tafsir al-Syaukani, VI, hlm. 194.

125. Yanabi al-Mawaddah, hlm. 120.

126. Ruh al-Ma’ani, VI, hlm. 172.

Muhammad Rasyid Ridha di dalam Tafsir al-Manar(127) menyatakan bahawa Syaikh Muhammad ‘Abduh menyatakan bahawa ayat ini diturunkan di hari al-Ghadir mengenai ‘Ali bin Abu Talib AS. Dia menyebutkannya daripada Abi Hatim, Ibn Mardawaih dan Ibn Asakir. Kemudian dia menyebutkan riwayat Ibn ‘Abbas bahawa ayat yang mulia ini telah diturunkan mengenai (‘Ali AS) di Ghadir Khum sebagaimana telah disebutkan oleh al-Alusi mengenai ayat Ikmal al-Din (Surah al-Maidah(5):3)”Pada hari ini telahku sempurnakan bagimu agamamu.”

Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur(128) mengaitkan riwayat Ibn Mardawaih daripada Ibn Asakir kepada Abu Sai’d al-Khudri. Dia berkata: Manakala Rasulullah SAWAW melantik ‘Ali AS pada hari Ghadir Khum, maka beliau SAWAW mengisytiharkan wilayah ‘Ali AS. Lalu Jibra’il AS menurunkan ayat Ikmalu d-Din (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu.”

Melalui Ibn Mardawaih, Ibn Asakir dan al-Khatib kepada Abu Hurairah, dia berkata: Manakala Hari Ghadir Khum iaitu hari kelapan belas Dhul Hijjah, Nabi SAWAW bersabda:”Siapa yang telah menjadikan aku maulanya maka ‘Ali adalah maulanya. Maka Allah pun menurunkan ayat Ikmalu d-Din (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu….”

Al-Khatib di dalam Tarikh al-Baghdad(129) mengaitkan sanad secara langsung daripada Abu Hurairah: Manakala Nabi SAWAW memegang tangan Ali bin Abi Talib AS beliau bersabda: Tidakkah aku wali bagi Mukminin? Mereka menjawab:Ya! Wahai Rasulullah SAWAW. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Umar bin al-Khattab berkata: Selamat bahagia untuk anda anak lelaki Abu Talib. Anda menjadi maulaku dan maula setiap Muslim. Maka Allah pun menurunkan ayat Ikmalu d-Din (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu.”

Al-Samhudi di dalam Fara’id al-Simtin bab kedua belas dengan sanadnya berhubung dengan Abu Sa’id al-Khudri bahawa Rasulullah SAWAW telah menyeru orang ramai pada hari Ghadir Khum kepada (pimpinan) ‘Ali AS. Nabi SAWAW meminta ‘Ali AS berdiri. Peristiwa ini berlaku pada hari Khamis. Beliau SAWAW mengangkat tangan ‘Ali AS sehingga orang ramai melihat keputihan ketiak Rasulullah SAWAW. Kemudian mereka tidak meninggalkan tempat itu sehingga turunnya ayat (Surah al-Mai’dah(5):3)”Pada hari ini telah aku sempurnakan agamamu.” Maka Rasulullah SAWAW bersabda: Allahu Akbar kerana menyempurnakan agama dan menyempurnakan nikmat dan keridhaan Tuhan dengan risalahku dan wilayah ‘Ali AS selepasku, kemudian beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Alilah maulanya….”

Al-Ya’qubi di dalam Tarikhnya(130) berkata: Ada pendapat yang mengatakan bahawa ayat  yang akhir sekali diturunkan ialah “Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu.” Ia adalah riwayat yang sahih dan telah diturunkan pada hari perlantikan Amiru l-Mukmini ‘Ali bin Abi Talib AS di Ghadir Khum. Begitu juga mengenai ayat al-Ma’arij, mereka menyatakan bahawa ayat tersebut diturunkan mengenai hak ‘Ali AS.

Al-Syablanji di dalam Nur al-Absar(131) menjelaskan bahawa al-Tha’labi telah menyatakan bahawa Sufyan bin ‘Uyainah ditanya tentang (Surah al-Ma’arij(70):1-2)”Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang kafir yang tidak seorangpun dapat menolaknya.” Kepada siapakah ayat ini diturunkan ? Maka dia menjawab: Anda bertanya kepadaku tentang masalah yang tidak pernah ditanya oleh seorangpun mengenainya. Sebelum anda bapaku telah memberitahukannya kepadaku daripada Ja’far bin Muhammad AS daripada moyangnya bahawa Rasulullah manakala di Ghadir Khum, menyeru orang ramai supaya berhimpun. Maka beliau SAWAW memegang tangan ‘Ali AS dan bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…”

Perkara ini telah tersebar di seluruh negara sehingga sampai kepada al-Harith bin al-Nu’man al-Fihri. Lantas dia mendatangi Rasulullah SAWAW dengan menaiki untanya. Dia berkata: Wahai Muhammad! Anda telah memerintahkan kami supaya kami mengucap tiada tuhan yang lain melainkan Allah dan sesungguhnya anda pesuruhNya maka kami menerimanya daripada anda. Anda telah memerintahkan kami berpuasa pada bulan Ramadhan, maka kami menerimanya. Anda memerintahkan kami tentang Haji, maka kami menerimanya. Kemudian anda tidak puas lagi dengan ini semua sehingga anda mengangkat sepupu anda mendahului kami. Kemudian anda berkata: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya…Adakah ini daripada Allah atau daripada anda? Nabi SAWAW bersabda: Demi Tuhan, tiada tuhan yang lain selain daripada Dia sesungguhnya ini adalah daripada Allah ‘Azza wajalla. Lantas al-Harith berpaling untuk meneruskan perjalanannya seraya berkata: Wahai Tuhan, sekiranya apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar ‘maka hujanilah ke atas kami batu daripada langit atau datanglah kepada kami siksaan yang pedih.’ Maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat (Surah al-Ma’arij (70:1-2).

Ibn al-Sibagh al-Maliki dalam al-Fusul al-Muhimmah,(132) Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Khawwas,(133) Rasulullah SAWAW bersabda dalam keadaan dua matanya kelihatan merah: Demi Allah yang tiada tuhan melainkan Dia bahawa ianya daripada Allah dan bukan daripadaku. Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali.

Adapun hadith Nabi SAWAW: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya, Ahmad bin Hanbal di dalam al-Musnadnya(134)  telah mengambil sanadnya daripada al-Barra’ bin ‘Azib dia berkata: Kami bersama Rasulullah SAWAW di dalam satu perjalanan. Maka kamipun sampai di Ghadir Khum. Kami ‘diseru’ supaya melakukan solat secara berjamaah dan dibersihkan untuk Rasulullah SAWAW satu tempat di bawah dua pokok. Maka beliau mengerjakan solat Zuhr kemudian memegang tangan ‘Ali AS sambil bersabda: Tidakkah kalian mengetahui sesungguhnya aku lebih aula dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri? Mereka menjawab: Ya! Beliau bersabda lagi: Tidakkah kalian mengetahui bahawa aku lebih aula daripada setiap mukmin daripada dirinya? Mereka menjawab: Ya! Maka beliau memegang tangan ‘Ali AS dan bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…Maka ‘Umar menemuinya selepas itu dan berkata: Tahniah kepada anda wahai anak lelaki Abu Talib. Anda adalah maula setiap mukmin dan mukminat.

Ahmad bin Hanbal juga di dalam Musnadnya(135) meriwayatkan hadith ini daripada ‘Atiyyah al-’Aufi dia berkata: Aku bertanya Zaid bin Arqam. Dan aku berkata kepadanya bahawa menantuku telah memberitahukan kepadaku tentang anda mengenai hadith tentang ‘Ali AS pada hari Ghadir Khum. Aku ingin mendengarnya daripada anda sendiri. Maka dia menjawab: Wahai orang-orang Iraq! Kalian telah mengetahuinya. Maka aku berkata kepadanya teruskanlah. Maka dia berkata: Ya! Kami berada di Juhfah. Rasulullah SAWAW memegang tangan ‘Ali AS dan berkata: Wahai manusia! Tidakkah kalian mengetahui sesungguhnya aku lebih aula dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri? Mereka menjawab: Ya! Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…

Ibn Majah di dalam Sunannya(136)  telah meriwayatkannya sehingga kepada al-Barra’ bin ‘Azib. Al-Nasa’i di dalam Khasa’is ‘Ali(137) meriwayatkan sanadnya kepada Sa’ad, dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya…maka ‘Ali adalah maulanya….Dia juga meriwayatkan sanadnya sampai kepada Zaid bin al-Arqam, dia berkata: Rasulullah SAWAW berdiri, memuji Allah kemudian bersabda: Tidakkah kalian mengetahui sesungguhnya aku aula dengan setiap mukmin daripada dirinya? Mereka menjawab: Ya! Wahai Rasulullah SAWAW kami menyaksikan bahawa anda adalah aula bagi setiap mukmin daripada dirinya. Maka beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….Beliau lalu berlalu memegang tangan ‘Ali AS.

Ibn ‘Abd Rabbih di dalam al-’Aqd al-Farid(138) telah meriwayatkan ketika menyebutkan hujah al-Mukmun ke atas fuqaha’ mengenai kelebihan ‘Ali bin Abi Talib dia berkata di antaranya: Rasulullah SAWAW bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…

Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’(139) berkata al-Turmudhi telah meriwayatkannya daripada Abu Sarihah atau Zaid bin Arqam daripada Nabi SAWAW beliau bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka Ali adalah maulanya…Dia juga meriwayatkan perkara yang sama di dalam Kunuz al-Haqa’iq di Hamish al-Jami’ al-Saghir(140) hadith: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…..

Di dalam Is’af al-Raghibin(141) di Hamisy Nur al-Absar menyatakan bahawa Rasulullah SAWAW berada pada hari Ghadir Khum: Siapa yang menjadikan aku maulanya maka ‘Ali adalah maulanya….Al-Muhibb al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah(142)  berkata: Daripada ‘Umar bahawa dia berkata: ‘Ali adalah maula bagi orang yang telah menjadikan Rasulullah SAWAW sebagai maulanya.

Al-Baghawi di dalam Masabih al-Sunnah(143) meriwayatka daripada Nabi SAWAW beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan  aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya. Abu Nu’aim Al-Isfahani di dalam Hilyah al-Auliya(144) meriwayatkan daripada Nabi SAWAW beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….

Ibn al-Jauzi di dalam Tadhirah al-Huffaz(145) menyatakan bahawa Rasulullah SAWAW bersabda: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….

Al-Khatib di dalam Tarikh Baghdad(146) meriwayatkan hadith al-Ghadir daripada Anas, dia berkata: Aku mendengar Nabi SAWAW bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…

Demikianlah aku telah kemukakan kepada pembaca yang budiman sebahagian kecil daripada buku-buku rujukan  Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah. Walau bagaimanapun aku akan kemukakan pula kepada anda nama-nama perawi  dengan menyebutkan rujukan mereka bagi menambahkan lagi penjelasan seperti berikut:

Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul.(147) Muhammad bin Talhah al-Syafi’i di dalam Matalib al-Su’ul.(148) Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib.(149) Al-Tha’labi di dalam Tafsirnya.(150) Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthur. Ibn Sibagh al-Maliki di dalam Fusul al-Muhimmah.(151) Al-Turmudhi di dalam Sahihnya,(152) dia berkata: Hadith ini adalah Hasan sahih. Al-Hakim di dalam al-Mustadrak(153) berkata: Ini adalah hadith sahih menurut syarat al-Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim) tetapi  mereka berdua tidak meriwayatkannya. Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah.(154) Al-Ya’qubi di dalam Tarikhnya.(155)

Ibn Hajr di dalam fasal yang kelima daripada bab pertama bukunya al-Sawa’iq al-Muhriqah berkata: Ini adalah hadith sahih. Ianya telah diriwayatkan oleh golongan yang banyak seperti al-Turmudhi, al-Nasa’i dan Ahmad dengan cara yang banyak. Kemudian ianya diriwayatkan tiga puluh sahabat yang telah mendengarnya daripada Nabi SAWAW dan mempersaksikannya di hadapan ‘Ali pada masa pemerintahannya di Rahbah. Kebanyakan sanadnya sahih atau hasan.

Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah(156) berkata: Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Tabari pengarang al-Tafsir dan al-Tarikh telah mengumpulkan dua jilid riwayat dan lafaz-lafaznya. Begitu juga al-Hafiz Abu l-Qasim bin ‘Asakir telah meriwayatkan hadith-hadith yang banyak di dalam khutbahnya.

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah(157) telah menceritakan daripada Abu l-Ma’ali al-Jawaini yang dikenali dengan Imam al-Haranaini, guru kepada al-Ghazali, bahawa dia menjadi hairan dan berkata: Aku melihat satu jilid buku mengenai hadith Ghadir Khum tertulis di atasnya jilid yang kedua puluh lapan. Ianya mengandungi berbagai riwayat tentang sabda Nabi SAWAW: Siapa yang menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….dan ianya akan disusuli dengan jilid yang kedua puluh sembilan.

Sebenarnya hadith-hadith mengenai al-Ghadir yang kami telah kemukakan tadi adalah merupakan sebilangan kecil sahaja, jika dibandingkan dengan hadith-hadith yang telah diriwayatkan di dalam bab ini yang tidak terkira banyaknya.

Ayatullah al-’Uzma Sayyid Hamid Husain al-Nisaburi RH di dalam ‘Abaqat telah menyenaraikan nama-nama perawi yang telah menyebutkan hadith al-Ghadir. Semuanya daripada ulama-ulama besar Ahlu s-Sunnah. Ayatullah al-’Uzma Sayyid Syihab al-Din al-Mar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq  karangan al-Sa’id al-Syahid al-Qadhi Nur Allah al-Tastari, al-Allamah al-Amini di dalam bukunya al-Ghadir. Begitu juga al-Imam al-Sayyid bin Tawus RH di dalam bukunya al-Iqbal (hlm. 663) telah menyenaraikan nama-nama ulama besar Ahlu s-Sunnah bahawa sesungguhnya mereka telah meriwayatkan hadith al-Ghadir dan memperakukan kesahihannya. Rujuklah kepada buku-buku tersebut wahai pembaca yang budiman!

Tahniah para sahabat kepada ‘Ali kerana jawatan Khalifah

Manakala Rasulullah SAWAW memberi khutbahnya yang penuh bersejarah, beliau memerintahkan orang yang menyaksikan peristiwa itu termasuk Abu Bakr, Umar, syaikh-syaikh Quraisy dan pembesar-pembesar kaum Ansar, isteri-isteri beliau supaya tampil mengucap tahniah kepada Amiru l-Mukminin AS kerana memegang jawatan al-Wilayah, pelaksanaan, suruhan dan larangan di dalam agama Allah SWT.

Sebilangan besar para ulama Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah meriwayatkannya di antaranya:

Al-Tabari di dalam bukunya al-Wilayah(158) telah meriwawatkan hadith dengan sanadnya daripada Zaid bin Arqam dan diakhirnya dia berkata: Orang yang pertama berjabat tangan (salam) dengan Nabi SAWAW dan ‘Ali ialah Abu Bakar, ‘Umar, Uthman, Talhah, Zubair, Muhajirin, Ansar, dan lain-lain sehingga beliau mengerjakan solat Zuhr dan ‘Asr berjama’ah di dalam satu masa dan berpanjangan sehingga beliau SAWAW mengerjakan solat al-’Isya’in (solat Maghrib dan Isyak) di dalam satu masa. Para sahabat meneruskan bai’ah dan bertepuk tangan tiga kali.

Al-Dar al-Qutni: Ibn Hajr telah meriwayatkan daripadanya di dalam fasal kelima, bab pertama al-Sawa’iq al-Muhriqah bahawa Abu Bakar dan ‘Umar manakala kedua-duanya mendengar hadith al-Ghadir, mereka berkata kepada Imam ‘Ali AS: Andalah maula bagi setiap mukmin dan mukminah. Dikatakan kepada Umar: Sesungguhnya anda melakukan sesuatu kepada ‘Ali di mana anda tidak melakukannya kepada orang lain daripada sahabat-sahabat Rasulullah SAWAW. Dia menjawab: Sesungguhnya beliau adalah maulaku.

Al-Hafiz Abu Sa’id al-Nisaburi di dalam bukunya Syaraf al-Musfa dengan isnadnya daripada al-Barra’ bin ‘Azib dengan lafaz Ahmad bin Hanbal dan dengan isnad yang lain daripada  Abu Sa’id al-Khudri dan lafaznya. Kemudian Nabi SAWAW bersabda: Kalian ucaplah tahniah kepadaku, kalian ucaplah tahniah kepadaku. Sesungguhnya Allah telah memberi keistimewaanku dengan kenabian, dan memberikan keistimewaan Ahlul Baitku dengan Imamah. Maka Umar bin al-Khattab menemui Amiru l-Mukminin dan berkata: Alangkah beruntungnya anda wahai Abu l-Hassan. Anda menjadi maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminah.

Pengarang Raudhah al-Safa(159) selepas menyebutkan hadith al-Ghadir berkata: Kemudian Rasulullah SAWAW duduk di dalam satu khemah dan menempatkan ‘Ali di khemah yang lain. Beliau menyuruh para sahabat supaya memberi tahniah kepada ‘Ali di dalam khemahnya. Dan apabila orang lelaki selesai mengucap tahniah, beliau menyuruh isteri-isterinya pergi ke khemah dan mengucapkan tahniah kepada ‘Ali AS.

Kuand Amir di dalam Habib al-Siyar(160)  berkata: Kemudian Amiru l-Mukminin ‘Ali AS duduk di khemah khas. Para sahabat Rasulullah SAWAW datang kepadanya dan mengucap tahniah kepadanya. Di antara mereka ialah Abu Bakar dan ‘Umar. ‘Umar berkata: Alangkah beruntungnya anda wahai anak lelaki Abu Talib. Anda telah menjadi maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminah. Kemudian beliau memerintahkan Ummahat al-Mukminin supaya datang kepada ‘Ali AS dan mengucap tahniah kepadanya.

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya,(161) al-Tabari di dalam Tafsirnya,(162) Ibn Mardawaih di dalam Tafsirnya,(163) al-Tha’labi di dalam Tafsirnya,(164) al-Baihaqi di dalam al-Sunan,(165) al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikhnya,(166) Ibnu al-Maqhazali di dalam Manaqibnya(167), al-Ghazali di dalam Sirr al-’Alamain,(168) al-Syarastani di dalam al-Milal wa al-Nihal,(169) Abu l-Faraj Ibn al-Jauzi al-Hanbali di dalam Manaqibnya,(170) Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib,(171) al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib,(172)Muhibuddin al-Tabari di dalam Riyadh al-Nadhirah,(173) al-Hamawaini di dalam al-Fara’id al-Simtin(174) bab ketiga belas.

Abu l-Fida’, Ibn Kathir al-Syafi’i di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah,(175) al-Muqrizi di dalam al-Khutat,(176) Ibn Sibagh al-Maliki di dalam al-Fusul al-Muhimmah,(177) al-Suyuti di dalam Jami’ al-Jawami’,(178) al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-’Ummal,(179) al-Samhudi di dalam Wafa’ al-Wafa bi Akhbar Dar al-Mustafa.(180)

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah(181) dan lain-lain yang terdiri daripada ulama-ulama hadith, Tafsir, dan sejarah Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah di mana kami tidak dapat menyenaraikan kesemua nama-nama mereka di dalam buku kami ini. Mereka semua meriwayatkan hadith ini di dalam musnad-musnad dan sahih-sahih mereka daripada perawi-perawi yang thiqah yang berakhir bukan hanya kepada seorang sahabat seperti Ibn ‘Abbas, Abu Hurairah, al-Barra’ bin ‘Azib, Zaid bin Arqam dan lain-lain.

Kata-kata yang agak menarik ialah ucapan yang dikatakan oleh al-Ghazali di dalam bukunya Sirr al-’Alamain:(182)Hujah telah terang, jumhur telah sepakat bahawa teks hadith adalah khutbah Rasulullah SAWAW di Hari al-Ghadir. Beliau bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….’Umar berkata: Alangkah bahagianya anda wahai Abu l-Hasan. Anda telah menjadi maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminat. Ini adalah satu penyerahan, keredhaan dan pertimbangan yagn waras. Kemudian hawa nafsu lebih mencintai pangkat dan segala-galanya sehingga membawa kepada perselisihan dan pembunuhan. Lantaran itu mereka meninggalkan kebenaran di belakang lalu membelinya dengan harga yang murah. Maka sejahat-jahat apa yang mereka lakukan.

Segala puji bagi Allah yang telah membuat al-Ghazali bercakap benar di mana ianya adalah hujah kami dan ianya mengukuhkan dakwaan kami sebagaimana tertulis di dalam bukunya Sirr al-’Alamain. Kerana Allah membuatkan lidahnya bercakap dengan kebenaran dan menjelaskan hakikat yang sebenarnya, meskipun dia seorang yang dikenali dengan fanatik dan keras. Sebagaimana kata seorang pujangga: Kebenaran membuat orang yang insaf dan degil bercakap.

Tetapi apa yang mendukacitakan kami ialah sikap Ahlu s-Sunnah apabila seorang daripada mereka mengemukakan dalil yang mengukuhkan dakwaan Syi’ah tentang hak ‘Ali Amirul Mukminin dan anak-anaknya tentang jawatan khalifah, lantas mereka menuduhnya sebagai seorang Syi’ah sekalipun kami melihat mereka begitu fanatik kepada mazhab mereka. Mereka menuduh Syi’ah dengan pembohongan, tetapi Allah SWT membuatkan lidahnya bercakap benar secara sukarela ataupun tidak. Maka dia bercakap benar kerana kebenaran itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya.

Syi’ah adalah orang yang mempunyai ilmu kebenaran dan ijtihad. Mereka memenuhi bumi Allah dengan keilmuan, amalan, dan kebenaran di dalam percakapan meskipun musuh-musuh mereka memperkatakan apa yang mereka mahu dengan penuh pembohongan dan rekaan semata-mata.

Perhatikanlah wahai pembaca budiman. Bagaimana Allah SWT mendedahkan kebenaran Syi’ah sekalipun lama masanya terpendam, pasti akan  terserlah juga sama ada Ahlu s-Sunnah mahu ataupun tidak. Dan kebatilan pasti pudar juga sama ada mereka mahu ataupun tidak.

Aku pun telah mengemukakan kepada anda di dalam buku ini sebahagian daripada hadith-hadith yang berkaitan dengan hari al-Ghadir, sedangkan banyak lagi hadith-hadith yang ada kaitan dengannya dipandang sepi oleh Ahlu s-Sunnah kerana hasad  dan kemarahan mereka terhadap Amiru l-Mukminin AS. Lebih-lebih lagi di masa Muawiyah memegang jawatan khalifah. Sekalipun tekanan-tekanan yang kuat telah dilakukan kepada perawi-perawi hadith tentang hak Abu Turab (‘Ali AS) tetapi Allah menghendaki supaya kebenaran Amiru l-Mukminin terserlah dan memenuhi bumi ini dengan kelebihan-kelebihannya AS.

Di sini aku cuba meringkaskan apa yang telah aku kemukakan mengenai hadith al-Ghadir kerana ianya sudah memadai bagi orang yang mempunyai fikiran yang waras. Jikalau aku ingin membentangkan kesemuanya, nescaya aku akan menulis buku yang lebih tebal dan berjilid-jilid dan ini adalah bertentangan dengan “buku ringkas” yang aku telah janjikan kepada pembaca yang budiman.

Dan sesiapa yang ingin mendapatkan keterangan yang lebih lanjut mengenainya, hendaklah membuat rujukan kepada buku-buku yang telah aku sebutkan terlebih dahulu yang mengandungi dalil-dalil yang jelas tentang keutamaan Amiru l-Mukminin ‘Ali AS menjadi khalifah daripada orang lain.

Kerana apa yang dimaksudkan dengan perkataan al-Maula ialah aula di dalam segala urusan. Pengertian ini telah dikenali dari sudut bahasa dan penggunaannya di dalam al-Qur’an al-Nar aula-kum (api neraka itu adalah lebih utama untuk kalian) iaitu aula dengan kalian. Akhtal berkata: Maulanya mengandungi semua manusia.

Rasulullah SAWAW telah menentukan pengertian al-Maula di dalam sabdanya: Tidakkah aku aula dari kalian? Justeru itu beliau mengikutinya terus dengan sabdanya: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya….Iaitu siapa yang aku aula dengannya daripada dirinya maka ‘Ali adalah aula dengannya daripada dirinya sendiri.

Maka ‘Ali AS aula di dalam pengurusan mereka. Dan beliau tidak menjadi aula melainkan apabila beliau menjadi khalifah dan imam. Ini merupakan nas yang terang menghendaki pimpinan ugama dan dunia. Kerana orang yang aula dengan ummat ini ialah Nabi dan Imam AS. sebagaimana urutan ayat terdahulu. Lagipun pengertian tersebut telah difahami oleh orang-orang yang fasih dengan madlul Bahasa Arab seperti Umar bin al-Khattab, Hasan bin Tsabit, Harith bin al-Nu’man al-Fihri sebagaimana anda mengetahui ucapan-ucapan mereka yang lalu. Oleh itu tidak seorangpun harus mendahului Rasulullah SAWAW sebagaimana juga ia tidak harus mendahului ‘Ali AS.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahawa maula yang dimaksudkan ialah aula yang memberi pengertian imamah dan imarah (pemerintahan), ialah tahniah para sahabat kepada ‘Ali AS sebagaimana aku telah menyebutkannya terlebih dahulu. Tidak ada dorongan yang lain bagi Abu Bakar dan Umar mengucap tahniah kepada ‘Ali apabila mereka berdua mendengar apa yang disabdakan oleh Nabi SAWAW melainkan mereka berdua memahami perkataan maula iaitu imamah dan imarah. Inilah yang menyebabkan mereka berdua mengucap tahniah kepada ‘Ali AS. Bukan dengan pengertian pembantu (al-Nasir) atau pertolongan (al-Nusrah) yang diketahui oleh mereka dan ‘Ali AS. Dan tidaklah tepat jika para sahabat mengucap tahniah kepadanya disebabkan perkara-perkara biasa yang dilakukan olehnya (‘Ali AS).

Sebagaimana dorongan Umar bin al-Khattab melakukan kepada ‘Ali AS apa yang tidak dilakukan terhadap sahabat-sahabat Rasulullah SAWAW yang lain. Dia berkata: Beliau adalah maulaku. Iaitu apa yang dia memahami dan mengetahui pengertian al-imarah dan al-imamah bukan pengertian pembantu(al-Nasir) kerana ianya merupakan jawapan yang tidak memberi erti kerana pengertiannya: Beliaulah pembantuku. Dan apabila orang bertanya tadi jahil tentang pertolongan sahahat-sahabat Nabi SAWAW sesama mereka. Umar bin al-Khattab menjawab: Sesungguhnya ‘Ali adalah pembantuku. Sekiranya pengertian itulah yang dimaksudkan oleh Nabi SAWAW dan difahami oleh Umar bin al-Khattab, kenapa dia begitu marah kepada dua orang badwi yang sedang bertengkar. Dia berkata kepada ‘Ali AS: Adililah mereka berdua wahai Abu l-Hasan. Salah seorang daripada mereka berkata dengan angkuh: Lelaki inikah yang akan mengadili kamu berdua? Lalu Umar memarahkan badwi itu dan berkata: Celaka anda! Anda tidak mengetahui siapa ini? Ini adalah maulaku dan maula setiap mukmin dan mukminat.

Pada masa yang lain pula Umar bertengkar dengan seorang lelaki di dalam satu masalah. Umar berkata: Lelaki yang sedang duduk itu akan mengadili aku dan anda. Dia mengisyaratkan kepada ‘Ali  AS. Maka lelaki itu menjawab: Ini hanyalah suku Arab biasa. Manakala Umar mengetahui bahawa lelaki itu merendahkan Ali dan memperkecilkannya, Umar terus berdiri dari tempat duduknya dan memegang pada pakaian lelaki itu sehingga dia mengangkatnya dari tanah. Kemudian dia berkata: Adakah anda mengetahui siapakah orang yang anda memperkecilkannya? Beliau adalah maulaku dan maula setiap mukmin.

Perhatikanlah wahai pembaca yang budiman, manakala dia berkata kepadanya: Adakah anda mengetahui siapakah orang yang anda memperkecilkannya? Beliaulah maulaku dan maula setiap mukmin. Kenyataan ini telah dipindahkan oleh Muhibuddin al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah(183) dan al-Khawarizmi di dalam Manaqibnya(184) dengan beberapa riwayat yang sahih daripada Umar.

Sekiranya Umar tidak memahami perkataan maula sebagai al-imarah dan al-imamah, nescaya dia akan menjawab: Ini adalah pembantuku dan pembantu setiap muslim. Lihatlah betapa Umar begitu terkilan dan marah terhadap sikap lawannya yang memperkecilkan Ali AS. Katakanlah kepadaku sekiranya dia terkilan dan marah kepada badwi tadi disebabkan dia memperkecilkan pembantunya. Lantas dia ingin mengajar lelaki itu mengenainya dengan berdiri?

Sekiranya pembantunya bukan Ali maka dia bukanlah mukmin atau muslim. Adakah ini yang merisau dan memarahkan Umar? Atau perkara lain di sebalik itu yang lebih sesuai bagi Umar untuk bangun dari tempat duduknya memarahi lelaki itu dan lebih layak dia memarahinya? Ya! Demi kebenaran. Dia tidak merasa cemas dan marah kepadanya (badwi) melainkan dia mengetahui bahawa Ali AS adalah aula dengan Mukminin daripada diri mereka sendiri. Justeru itu Umar mengambil tindakan yang serius dan menentang orang yang memperkecilkannya (‘Ali).

Dengan ini jelaslah apa yang didengarinya daripada Rasulullah SAWAW kemudian dia memperkuatkannya ke atas dirinya dan Mukminin pada masa itu di mana dia dan Mukminin mengucap tahniah kepadanya (‘Ali). Sebagaimana dicintai Allah SWT bahawa sesungguhnya beliaulah maula dan maula setiap muslim. Dan sesiapa orang yang tidak menjadikannya sebagai maulanya, maka dia bukanlah muslim sekalipun tanpa wilayah Nabi SAWAW. Di dalam keadaan demikian tidaklah patut bagi Umar jika maksud maula adalah pembantu.

Jikalaulah begitu bagaimana seorang itu boleh berada di dalam kesamaran jika maula dimaksudkan pembantu? Demikianlah percakapan Arab difahami sehingga ia menjadi percakapan yang fasih dan selari dengan keadaan semasa.

Di samping itu juga maula dengan pengertian pembantu membawa kepada pembohongan terhadap sabda Rasulullah SAWAW (wa l-’Iyazu bi Ilahi min Dhalika) kerana beberapa banyak berlaku penentangan terhadap agama dan perubahan peraturan pada umat ini selepas kematian beliau SAWAW. Kedua-duanya telah dilakukan oleh orang yang zalim dan orang yang dizalimi secara paksa serta orang murtad yang lari.

Kesemuanya itu dilihat dan didengari oleh Amiru l-Mukminin yang tinggal di rumahnya lebih dua puluh empat tahun, tidak pernah berhasrat untuk mendapat pertolongan daripada orang lain sehingga orang yang berada di dalam rumahnya. Sejarah telah memberitahukan kita tentang pertolongannya atau kemenangan ummah dengannya. Oleh itu di manakah sabdanya SAWAW: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya…..iaitu pembantuku dan di  manakah bantuan ‘Ali AS pada masa itu dan orang yang membantunya?

Adapun apa yang telah ditakwilkan oleh orang yang mempunyai tujuan yang jahat dan mempunyai akhlak yang keji seperti Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah, pada fasal kelima daripada bab pertama, al-Qausyaji di dalam Syarh al-Tajrid(185)dan orang yang seumpama mereka bahawa maksud maula sebagai pencinta, pembantu sebagaimana yang telah disebutkan, adalah terbatal kerana ianya bertentangan dengan sabda Nabi SAWAW. Lagipun cinta dan bantuan adalah perkara-perkara yang diketahui oleh semua Muslimin, tanpa memerlukan keterangan kerana ayat al-Qur’an dan hadith telah menerangkannya. Sebagaimana firmanNya di dalam Surah al-Hujurat(49): 10:”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara. Dan firmanNya Surah al-Taubah (9): 71:”Dan orang-orang yang beriman lelaki dan perempuan, sebahagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebahagian yang lain.”Dan firmanNya Surah al-Fath(48): 29:”Dan orang-orang yang bersama dengan dia (Muhammad) adalah keras terhadap orang-orang kafir” tidak memerlukan keterangan lagi.

Adapun wahyu yang mengancam Rasulullah SAWAW jika beliau tidak menyampaikannya, lalu beliau melaksanakan apa yang diperintahkannya dengan penuh kesulitan, menunjukkan bahawa ianya perkara yang besar dan memerlukan kepada keterangan iaitu awaliyyah (keutamaan) di dalam pengendalian urusan manusia. Ianya diturunkan di hadapan lebih daripada seratus dua puluh ribu sahabat di padang pasir yang panas. Beliau mengangkat tangan ‘Ali AS sambi bersabda: Siapa yang telah menjadikan aku maulanya, maka ‘Ali adalah maulanya.

Jikalau maksudnya ialah suatu penerangan cinta dan bantuan, maka kenapa diturunkan ayat Ikmaluddin (Surah al-Maidah(5):3″Pada hari ini telahKu sempurnakan bagimu agamamu….”Ketika turunnya ayat (Surah al-Hujurat(49):10)”Sesungguhnya orang mukmin adalah bersaudara.”Aku berkata: Ini adalah cukup bagi orang yang mempunyai fikiran yang waras, dan juga menjadi hujah yang pemutus ke atas lawan yang menentang dakwaan Syi’ah mengenai hak Amiru l-Mukminin ‘Ali AS terhadap jawatan khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWAW. Kami mempunyai dalil yang banyak untuk mengukuhkan dakwaan kami tentang hak ‘Ali selepas Rasulullah SAWAW secara langsung selain daripada apa yang kami telah kemukakan. Terdapat ramai ulama Sunnah dan Syi’ah yang telah mengarang buku-buku mengenai al-Ghadir. Mereka menyebutkannya di dalam buku-buku mereka yang tidak terkira banyaknya.

Ketahuilah sesungguhnya aku telah mengemukakan kepada anda enam ayat daripada al-Qur’an, iaitu:

1.Ayat al-Wilayah (Surah al-Maidah(5): 55)

2. Ayat al-Tathir (Surah al-Ahzab(33: 33)

3. Ayat al-Mubahalah (Surah Ali Imran(3): 61)

4. Ayat al-Mawaddah (Surah al-Syu’ara(42): 23)

5. Ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah(5): 67)

Kesemua ayat-ayat ini menunjukkan keistimewaan Amiru l-Mukminin ‘Ali AS terhadap jawatan khalifah sebaik sahaja kewafatan Nabi SAWAW dengan nas yang pemutus. Sehingga tidak ada ruang bagi si penipu untuk menentang dakwaan kami tentang hak ‘Ali AS. Lantaran itu jawatan khalifah untuk ‘Ali AS telah terserlah dengan enam ayat al-Qur’an yang telah diriwayatkan oleh ulama Ahlu s-Sunnah di samping para ulama syi’ah.

Oleh itu sayugialah bagi setiap orang yang mempunyai hati yang merdeka dan sejahtera supaya menyerahkan diri mereka kepada kebenaran dan tinggallah pertarungan yang wujud di antara Sunnah dan Syi’ah. Kerana Syi’ah tidak membawa sesuatu perkara begitu sahaja malah mereka telah mengukuhkan dakwaan mereka dengan al-Qur’an dan Sunnah. Justeru itu kenapa orang yang menetapkan dakwaannya dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAWAW dicela, sedangkan banyak pendapat-pendapat  ulama besar mereka menyalahi mazhabnya?

Untuk menambahkan apa yang aku kemukakan kepada anda, Sa’id al-Syahid al-Qandhi Nur Allah al-Tastari RH telah mencatat di dalam Ihqaq al-Haq, Jilid ketiga, cetakan Iran, lapan puluh dua ayat yang lain di antara ayat-ayat yang turun mengenai Amiru l-Mukminin ‘Ali dan Ahlu l-Baitnya AS. Dan dia telah menyebutkan rujukan Ahlu s-Sunnah mengenainya secara terperinci.

Wahai pembaca yang budiman adalah alasan lain lagi selepas ini bagi orang yang mengesyaki keutamaan ‘Ali AS menjadi khalifah dan wasinya selain daripada orang yang angkuh dan degil kepada hati kecilnya atau tidak ingin melihat kepada apa yang telah kami kemukakan, sekalipun ianya terang seperti api di atas menara, matahari di siang hari. Aku tidak  mengetahui apakah keuzuran yang telah disediakan oleh Ahlu s-Sunnah di hari hisab kelak, di mana segala perkara akan diperlihatkan di hari itu dan hati akan sampai ke kerongkong.

Sampai bilakah penentangan mereka terhadap buku-buku Syi’ah yang baik? Dan sampai bilakah kedegilan dan kebebalan ini? dan sehingga bilakah penentangan mereka terhadap hak Rasulullah SAWAW, wasinya dan menantunya Amiru l-Mukminin ‘Ali. Wahai Tuhanku persaksikanlah sesungguhnya kami telah menyempurnakan hujah dan permudahkanlah jalan untuk saudara-saudara kami Ahlu s-Sunnah.

Wahai Tuhanku! Berikanlah hidayah kepada mereka sebagaimana Engkau telah memberikannya kepada kami. Sesungguhnya Engkau adalah Penunjuk dan Mursyid kepada jalan yang benar. Dan Engkau telah berfirman di dalam al-Qur’an (Surah al-Insan (76): 3):”Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.

Endnote

127. Tafsir al-Manar, III, hlm. 463.

128. al-Durr al-Manthur, II, hlm. 259.

129. Tarikh Baghdad, VIII, hlm. 290.

130. Tarikh al-Ya’qubi, II, hlm. 32.

131. Nur al-Absar, hlm. 75.

132. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 26-27.

133. Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 19.

134. al-Musnad, IV, hlm. 382.

135. al-Musnad, IV, I, 52 & 368.

136. al-Sunan, I, hlm. 55 -56.

137. Khasa’is ‘Ali, hlm. 22.

138. al-’Aqd al-Farid, III, hlm. 38.

139. Tarikh al-Khulafa’, hlm. 65.

140. Kunuz al-Haqa’iq di Hamisy al-Jami’ al-Saghir, II, hlm. 117.

141. Is’af al-Raghibin di Hamisy Nur al-Absar, hlm. 51.

142. Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 170.

143. Masabih al-Sunnah, II, hlm. 220.

144. Hilyah al-Auliya’, IV, hlm. 23; Nathr al-Li’ali, hlm. 166.

145. Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 10; Syaraf al-Muabbah, III.

146. Tarikh Baghdad, VII, hlm. 377.

147. Asbab al-Nuzul, hlm. 150.

148. Matalib al-Su’ul, hlm. 100.

149. Mafatih al-Ghaib, XII, hlm. 50.

150. Tafsir al-Tha’labi, III, hlm. 120.

151. Al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 23.

152. Sahih, II, hlm. 297.

153. al-Mustadrak, III, hlm. 109.

154. al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 208.

155. Tarikh al-Ya’qubi, II, hlm. 93.

156. al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 208.

157. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 30.

158. Kitab al-Wilayah, hlm. 18 dan seterusnya.

159. Raudhah al-Safa, I, hlm. 173.

160. Habib al-Siyar, III, hlm. 144.

161. al-Musnad, IV, hlm. 281.

162. Jami’ li Ahkam al-Qur’an, III, hlm. 428.

163. Tafsri al-Mardawaih, hlm. 58.

164. Tafsir al-Tha’labi, III, hlm. 428.

165. Al-Sunan, I, hlm. 55-58.

166. Tarikh al-Baghdad, VIII, hlm. 378.

167. al-Manaqib, hlm. 48-50.

168. Sir al-’Alamain, hlm. 9.

169. al-Milal wa l-Nihal, hlm. 9-14.

170. al-Manaqib, hlm. 49.-60.

171. al-Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 636.

172. Kifayah al-Talib, hlm. 48-52.

173. Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 169.

174. al-Fara’id al-Simtin, hlm. 50-61.

175. al-Bidayah wa al-Nihayah, V, hlm. 209.

176. al-Khutat, II, hlm. 223.

177. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 25.

178. Jami’ al-Jawami’, hlm. 50-62.

179. Kanz al-Ummal, IV, hlm. 397.

180. Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Dar Al-Mustafa, II, hlm. 173.

181. al-Sawa’iq a-Muhriqah, hlm. 26.

182. Sirr al-’Alamain, hlm. 9-13.

183. Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 170.

184. al-Manaqib, hlm. 97.

185. Syarh al-Tajrid, hlm. 45

.

Syi’ah dan Sunnah Nabawiyyah

 

Syi’ah adalah mereka yang mengambil sunnah nabawiyyah yang dibawa oleh penghulu para Nabi AS. Mereka tidak berganjak sedikitpun dari landasannya semenjak hari pengisytiharan dakwah sehingga hari ini dan selepas hari ini. Mereka terus berpegang kepada al-’Urwah al-Wuthqa berjalan di atas landasannya yang benar. Mereka mengambilnya dari para imam yang suci dari segala kesalahan. Mereka mengikut sunnah tanpa syak padanya. Oleh itu mereka tidak mengambil riwayat selain daripada para imam dengan sanad mereka yang dipercayai; imam maksum daripada imam maksum seumpamanya, daripada Rasulullah daripada Jibra’il daripada Allah Rabu l-jalil. Di dalam ertikata yang lain, mereka mengambil hukum-hukum daripada hadith-hadith Nabi SAWAW dan para imam AS, perbuatan dan taqrir mereka sebagaimana tertulis di dalam al-Usul.

 

Lantaran itu penulis-penulis sirah dan sejarah tidak memberitahukan kita bahawa sesungguhnya seorang imam daripada para imam dua belas telah mengambil hadith daripada seorang sahabat, tabi’in atau orang lain. Sebaliknya orang ramai mengambilnya daripada mereka tetapi mereka tidak mengambilnya daripada orang lain.

 

Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:”Aneh sekali mereka berkata: Mereka mengambil ilmu mereka semuanya daripada Rasulullah SAWAW. Lantas mereka mengetahui dan mendapat petunjuk daripadanya. Mereka fikir kami Ahlu l-Bait tidak mengambil ilmunya dan kami tidak mendapat petunjuk daripadanya. Sedangkan kami keluarganya dan zuriatnya. Di rumah kamilah turunnya wahyu. Dan dari kamilah ia mengalir kepada orang ramai. Adakah anda fikir merekalah yang mengetahui dan mendapat petunjuk sementara kami jahil dan sesat?

Imam Baqir AS berkata:”Sekiranya kami memberitahukan kepada orang ramai menurut pendapat dan hawa nafsu kami, nescaya kami binasa. Tetapi kami memberitahukan mereka dengan hadith-hadith yang kami kumpulkannya daripada Rasulullah SAWAW sebagaimana mereka mengumpulkan emas dan perak.”Imam Ja’far al-Sadiq AS berkata:”Hadithku adalah hadith bapaku. Hadith bapaku adalah hadith datukku. Hadith datukku adalah hadith Husain. Hadith Husain adalah Hadith Hasan. Hadith Hasan adalah hadith Amiru l-Mukminin. Hadith Amiru l-Mukminin adalah hadith Rasulullah SAWAW. Dan hadith-hadith Rasulullah SAWAW adalah firman Allah SWT.(1)

 

Dan beliau AS berkata:”Siapa yang meriwayatkan hadith tentang kami, maka kami akan bertanya kepadanya mengenainya di suatu hari. Sekiranya dia meriwayatkan kebenaran terhadap kami, seolah-olah dia meriwayatkan kebenaran terhadap Allah dan RasulNya. Dan sekiranya ia berbohong terhadap kami, seolah-olah dia berbohong terhadap Allah dan RasulNya, kerana kami apabila meriwayatkan hadith, kami tidak berkata: Fulan bin Fulan telah berkata, tetapi apa yang kami katakan: Allah berfirman dan RasulNya bersabda.”

 

Kemudian Syi’ah tidak mengamalkan mana-mana hadith yang datang daripada seorang muhaddith, atau riwayat yang datang daripada seorang perawi melainkan ianya sejajar dengan riwayat-riwayat yang datang daripada para imam yang suci AS, dan akan diperakukan oleh al-Qur’an ketika pembentangan dilakukan ke atasnya. Kerana mereka mengetahui dengan jelas apa yang telah berlaku ada masa Bani Umayyah, terutamanya pada masa thagut Muawiyah. Di mana hadith pada masa itu diperniagakan, perawi diberi upah mengikut kadar keberkesanan hadith (palsu)nya ke atas orang ramai sama ada dalam bentuk pujian atau cacian sebagaimana satu riwayat yang telah diriwayatkan oleh orang kepercayaan Muawiyah,”Tiga orang yang diamanahkan di dalam agama: Aku, Jibra’il, dan Muawiyah,” sebagaimana juga riwayat yang menjadikannya penulis wahyu dan Khal al-Mukmin, dan hadith pembukaan Makkah:”Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan adalah aman” seolah-olah dia menjadikannya “haram” sebagaimana Baitu l-Haram. Dan khutbah-khutbah yang menakutkan dan riwayat-riwayat yang mencela Imam Ali Amiru l-Mukminin dan keluarganya sehingga ‘Ali AS dicela di atas tujuh puluh ribu mimbar masjid.

 

Justeru itu Syi’ah tidak menerima riwayat-riwayat daripada perawi-perawi yang memalsukan hadith seperti mereka itu. Muawiyah telah menamakan dirinya dan orang yang menyokongnya dengan nama Ahlu l-Sunnah wa l-Jama’ah pada masa itu sebagai penipuan (kaidan) kepada Syi’ah ‘Ali AS. Oleh itu Syi’ah pada hakikatnya merekalah Ahlu s-Sunnah (Sunniyyun). Kerana mereka mengambil sunnah dari sumbernya yang asli, yang telah ditapis oleh orang-orang yang baik dan perawi-perawi yang terpilih.

 

Mereka mengambil hadith dan sunnah nabawiyyah daripada imam-imam, penghulu-penghulu mereka sebagaimana mereka menerimanya daripada penghulu para Nabi AS kerana mereka percaya bahawa hadith-hadith mereka adalah daripada Rasulullah SAWAW tanpa ijithad daripada mereka. Lantaran itu mereka mengambil(nya) daripada mereka dengan penuh keyakinan tanpa syak dan penentangan. Mereka bertanya kepada mereka di dalam semua hal yang mereka perlu. Oleh itu hadith-hadith riwayat mereka meliputi segala aspek.

 

Justeru itu tidak hairanlah jika Imam Ja’far al-Sadiq AS di datangi oleh beribu-ribu cerdik pandai sehingga Abu l-Hasan al-Wasya berkata kepada penduduk Kufah: Aku dapati masjid Kufah ini lebih daripada empat ribu syaikh yang warak. Semuanya berkata: Haddathani Ja’far bin Muhammad (Ja’far bin Muhammad telah meriwayatkan hadith kepadaku).

Di sinilah aku akan kemukakan sebahagian daripada hadith-hadith dan sunnah nabawiyyah yang menyokong dakwaan Syi’ah dan kebenaran mereka menurut apa yang dibawa oleh Rasulullah SAWAW dan imam-imam yang suci AS seperti berikut:

 

1. Hadith al-Dar atau al-Indhar (Hadith jemputan di rumah atau hadith peringatan)

 

Sabda Nabi SAWAW:”Ini ‘Ali saudaraku, wazirku, wasiku dan khalifahku selepasku.”

 

Hadith ini telah diriwayatkan oleh para penghafal, para ulama hadith, sirah, dan sejarah dari golongan Sunnah dan Syi’ah di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka. Mereka mengakui kesahihan dan kemuliaannya serta perawinya yang ramai. Lantaran itu tidak hairanlah jika ianya diterima oleh sejarawan-sejarawan umat Islam kerana ianya adalah jelas dan  nyata, tidak ada kesamaran lagi bahawa hadith ini datangnya daripada Rasulullah SAWAW pada permulaan dakwahnya.

 

Al-Tabari telah menyebutkannya di dalam Tarikhnya(2) daripada Abu Hamid bahawa dia berkata:”Salmah telah memberitahukan kami dan dia berkata: Muhammad b. Ishak telah memberitahukan kepadaku daripada ‘Abdu l-Ghaffar b. al-Qasim daripada al-Minhal daripada ‘Umar daripada ‘Abdullah b. al-Harith b. Naufal b. al-Harith b. ‘Abdu l-Muttalib daripada ‘Abdullah b. ‘Abbas daripada ‘Ali bin Abu Talib AS berkata:Manakala ayat al-Indhar (al-Syuara’(26): 214):”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” diturunkan ke atas Rasulullah SAWAW, beliau memanggilku dan berkata: Wahai ‘Ali! Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku supaya memberi peringatan kepada keluarga anda yang terdekat. Maka akupun merasa cemas, kerana aku mengetahui bahawa apabila aku kemukakan kepada mereka perkara ini, aku akan lihat apa yang aku tidak meyukainya. Maka beliau terus berdiam diri mengenainya sehingga datang Jibra’il dan berkata: Wahai Muhammad! Sekiranya anda masih tidak melaksanakan apa yang diperintahkan kepada anda, nescaya anda akan disiksa oleh Tuhan anda.

 

Justeru itu sedialah (wahai ‘Ali) untuk kami segantang makanan dan letakkan di atasnya satu kaki kambing serta isikan untuk kami satu bekas yang berisi susu. Kemudian kumpulkan untukku Bani Abdu -Muttalib sehingga aku sendiri bercakap kepada mereka dan menyampaikan apa yang diperintahkan kepadaku. Maka aku melakukan apa yang diperintahkannya. Kemudian aku menjemputkan mereka untuknya.

 

Bilangan mereka pada hari itu lebih kurang empat puluh orang lelaki. Di antaranya bapa-bapa saudaranya Abu Talib, Hamzah, al-’Abbas dan Abu Lahab. Apabila sahaja mereka berkumpul di tempatnya, beliau memanggilku supaya membawa makanan yang aku sediakan untuk mereka. Manakala aku meletakkanya, Rasulullah SAWAW mengambil sepotong daging dan memecahkannya dengan giginya. Kemudian mencampakkannya di tepi hidangan itu, kemudian beliau bersabda: Ambillah kalian dengan nama Allah. Orang ramai memakannya sehingga kenyang. Aku tidak melihat melainkan tempat tangan mereka. Demi Allah di mana jiwa ‘Ali di tanganNya. Sekiranya seorang daripada mereka memakannya, nescaya aku tidak dapat mengemukakannya kepada yang lain. Kemudian beliau bersabda:”Berikan minuman kepada mereka semua,” maka aku membawa kepada mereka bekas itu. Mereka meminumnya sehingga puas. Demi Tuhan sekiranya seorang daripada mereka meminumnya nescaya ianya tidak akan mencukupi untuk orang lain.

 

Apabila Rasulullah SAWAW ingin bercakap kepada mereka, Abu Lahab mendahuluinya dan berkata:”Sahabat kalian telah menyihirkan kalian. Maka orang ramaipun bersurai tanpa memberikan kesempatan kepada Rasulullah SAWAW untuk memperkatakan sesuatu kepada mereka. Maka beliau bersabda:”Besok wahai ‘Ali sesungguhnya lelaki ini telah mendahuluiku sebagaimana anda telah mendengarnya. Maka orang ramaipun bersurai sebelum sempat aku memperkatakan kepada mereka. Justeru tiu sedialah makanan untuk kami sebagaimana anda telah menyediakannya kelmarin. Kemudian kumpulkan mereka untukku. Maka akupun  melakukannya. Kemudian aku mengumpulkan mereka. Kemudian beliau memanggilku supaya aku membawa makanan itu. Maka akupun membawanya kepada mereka. Beliau melakukannya sebagaimana beliau telah melakukannya kelmarin. Mereka makan sehingga kenyang. Kemudian beliau bersabda:”Berikan mereka minuman,” maka akupun membawa minuman campuran susu itu.

 

Lalu mereka meminumnya dengan sepuas-puasnya. Kemudian Rasulullah SAWAW bercakap dan bersabda:”Wahai Bani ABdu l-Muttalib! Sesungguhnya demi Tuhan aku tidak mengetahui seorang pemuda Arab yang datang kepada kaumnya dapat mengemukakan apa yang lebih baik daripada apa yang aku kemukankan untuk kalian. Sesungguhnya aku akan membawa kepada kalian kebaikan dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah telah memerintahkanku supaya menyeru kalian kepadaNya. Maka siapakah di kalangan kalian yang akan membantuku di dalam urusan ini dan dialah yang akan menjadi saudaraku, wasiku, dan khalifahku pada kalian? Dia (‘Ali) berkata: Orang ramai mulai merasa cemas mengenainya. Maka akupun berkata: Sesungguhnya aku adalah orang yang paling muda di kalangan mereka, orang yang paling mengidap sakit mata di kalangan mereka, orang yang paling besar perut di kalangan mereka, dan orang yang paling kecil betisnya di kalangan mereka. Aku, wahai Nabi Allah, akan menjadi wazir anda di dalam perkara itu, maka beliaupun memegang tengkukku. Kemudian dia bersabda:”Sesungguhnya ini adalah saudaraku, wasiku dan khalifahku pada kalian. Maka dengarlah kalian kepadanya, dan patuhilah.” Beliau berkata: Orang ramai bangun dan ketawa sambil berkata kepada Abu Talib, sesungguhnya beliau telah memerintahkan anda supaya mendengar anak anda dan mematuhinya.

 

Al-Allamah al-Amini di dalam bukunya al-Ghadir(3)berkata: Abu Ja’far al-Iskafi al-Mu’tazili al-Baghdadi di dalam bukunya Naqd al-’Uthmaniyyah(4) telah meriwayatkannya dengan lafaz yang sama dan berkata:”Ianya telah diriwayatkan di dalam hadith yang sahih.”

 

Burhanuddin telah meriwayatkannya di dalam Anba’ Nujaba’ al-Anba’.(5) Ibn al-Athir di dalam al-Kamil(6), Abu l-Fida ‘Imaduddin al-Dimasyqi di dalam Tarikh(7)nya. Syahabuddin al-Khafaji di dalam Syarh al-Syifa’(8) karangan al-Qadhi al-’Ayadh berkata:”Ianya telah disebutkan di dalam Dala’il al-Baihaqi dan lain-lain dengan sanad yang sahih.”

 

Al-Khazin ‘Alauddin al-Baghdadi di dalam Tafsir(9)nya, Al-Suyuti di dalam Jam’ al-Jawami’ yang dinukilkan daripada al-Tabari dan para penghafal yang enam(10) Abu Ishaq, Ibn Jarir, Ibn Abu Hatim, Ibn Mardawaih, Abu Nu’aim, al-Baihaqi dan Ibn Abu l-Hadid di dalam Syarh Nahj al-Balaghah(11)Ianya telah disebutkan juga oleh Jurji Zaidan di dalam Tarikh al-Tamaddun al-Islami(12)  Muhammad Husain Haikal di dalam Hayat Muhammad.13 Perawi-perawi sanadnya thiqah selain daripada Abu Maryam ‘Abd al-Ghaffar bin al-Qasim yang dianggap lemah oleh Ahlu s-Sunnah kerana dia adalah seorang Syi’ah. Tetapi Ibn ‘Uqdah memujinya sebagaimana di dalam Lisan al-Mizan(14)

 

Hadith ini telah diriwayatkan oleh para penghafal dan mereka adalah pakar-pakar di dalam hadith dan tidak seorangpun daripada mereka menganggap hadith ini sebagai lemah dan cacat disebabkan Abu Maryam di dalam sanad-sanadnya. Malah mereka berhujah dengannya tentang dalil-dalil kenabian dan keistimewaannya. Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad(15)nya menyatakan bahawa semua sanad perawi-perawinya adalah thiqah, mereka ialah Syarik al-A’masy, al-Minhal dan ‘Ubbad.

 

Justeru itu tidaklah hairan jika Ibn Taimiyyah menyatakan ianya adalah hadith yang lemah kerana dia adalah seorang yang fanatik, degil dan sudah menjadi kebiasaan baginya menentang perkara-perkara yang boleh diterima akal dan menolak perkara-perkara yang dharuriyyat. Pendapat-pendapatnya memang sudah dikenali kerana tidak sahnya hadih di sisinya ialah apabila ianya mengandungi unsur-unsur kelebihan keluarga Rasulullah SAWAW.

(Kemudian al-’Allamah al-Amini menyebutkannya di dalam bentuk kedua). Sila buat rujukan kepada bukunya al-Ghadir.

 

Dia berkata:”Ahmad bin Hanbal telah menyatakan di dalam Musnad(16)nya daripada ‘Affan bin Muslim, daripada Abi ‘Awanah, daripada ‘Uthman bin al-Mughirah, daripada Abi Sadiq, daripada Rabi’ah bin Najidh, daripada Ali Amiru l-Mukminin. Dengan sanad dan teks inilah al-Tabari telah menerangkannya di dalam Tarikh(17)nya, al-Nisa’i di dalam Khasa’is(18), al-Kanji al-Syafi’i di dalam al-Kifayah(19), Ibn Abi l-Hadid di dalam Syarh Nahj al-Balaghah(20), al-Suyuti di dalam Jam’ al-Jawami’(21)

(al-Allamah al-Amini telah menyebutkannya di dalam bentuknya yang ketiga). Daripada Amiru l-Mukminin AS berkata:”Manakala turun ayat al-Indhar (Surah al-Syuara’(26): 214):”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” beliau menyeru Bani ‘Abdul Muttalib.” Kemudian dia (al-Amini) berkata:”Hadith ini telah dicatat oleh Ibn Mardawaih dengan sanadnya-sanadnya dan dinukilkannya oleh al-Suyuti di dalam Jami’ al-Jawami’(22), sebagaimana di lakukan oleh al-Muttaqi al-Hindi di dalam al-Kanz al-Ummal(23)

 

(al-’Allamah al-Amini telah menyebutkannya di dalam bentuknya yang keempat). Selepas menyebutkannya permulaan hadith, kemudian Rasulullah SAWAW bersabda:”Wahai Bani Abdu l-Muttalib! Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada semua makhluk dan kepada kalian semua. Maka beliau membaca ayat al-Indhar (al-Syuara’(26): 214):”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”Aku menyeru kalian kepada dua kalimah yang ringan di lidah tetapi berat di neraca. Tiada tuhan melainkan Allah dan aku adalah pesuruhNya. Sesiapa yang menyahuti seruanku di dalam perkara ini dan membantuku, dia akan menjadi saudaraku, wazirku,wasiku, pewarisku, dan khalifahku selepasku.”Tidak ada seorang pun daripada mereka menjawabnya. Maka ‘Alipun berdiri dan berkata:”Aku wahai Rasulullah.”Beliau berkata:”Duduklah wahai ‘Ali.”Kemudian beliau mengulanginya kepada mereka kali kedua. Mereka terus berdiam. ‘Alipun berdiri dan berkata:”Akulah wahai Rasulullah.” Maka beliau berkata:”Duduklah.” Kemudian beliau mengulanginya kepada mereka kali ketiga. Maka tidak seorangpun daripada mereka menjawabnya.’Ali terus bangun dan berkata:”Akulah wahai Rasulullah.”Maka Beliau berkata:”Duduklah, maka anda adalah saudaraku, wazirku, wasiku,pewarisku dan khalifah selepasku.”

 

Ibn Abi Hatim dan al-Ya’qubi telah meriwayatkannya dan dinukilkannya daripada mereka berdua oleh Ibn Taimiyah di dalam Minhaj al-Sunnah.(24) Al-Halabi meriwayatkannya daripadanya di dalam Sirah(25)nya.

 

(Kemudian al-’Allamah al-Amini menyebutkannya di dalam bentuk kelima), tentang hadith Qais dan Muawiyah menurut apa yang diriwayatkan oleh Sadiq al-Hilali di dalam bukunya daripada Qais.

(Kemudian al-’Allamah al-Amini menyebutkannya di dalam bentuk yang keenam). Ianya telah dicatat oleh Abu Ishak al-Tha’labi (w.427H.) di dalam tafsirnya al-Kasyf wa l-Bayan(26).Hadith ini juga telah disebutkan oleh al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib(27)

 

(Kemudian al-’Allamah al-Amini menyebutkannya di dalam bentuk ketujuh). Abu Ishak al-Tha’labi telah mengeluarkannya dai dalam al-Kasyf wa l-Bayan daripada Abu Rafi’ sebahagian daripada kata-katanya. Hadith ini juga disebutkan oleh seorang Kristian Mesir di dalam al-Ta’liq ‘Ala al-’Alawiyyah al-Mubarakah(28) dengan lafaz di akhir hadith: Sesiapa yang menyahuti seruanku untuk melakukan perkara ini. Dia telah menyebutkan hadith ini dengan begitu teratur. Buatlah rujukan kepada al-Ghadir(29)

 

Sayyid ‘abd al-Husayn Syarafuddin RH berkata di dalam bukunya al-Muruja’at(30) (Dialog Sunnah dan Syi’ah). Hadith ini iaitu hadith al-Dar telah diriwayatkan oleh Muhammad Husain Haikal di dalam cetakan pertama bukunya Hayat Muhammad. Tetapi dia tidak menyebutkannya di dalam cetakan kedua dan ketiga.

 

Aku berkata:”Telah berlaku keriuhan tentang penetapan hadith ini. Ianya menerangkan kekhalifahan Amiru l-Mukminin ‘Ali AS. Ketika berlakunya keriuhan ini, Muhammad Husain Haikal telah menyiarkan rujukan-rujukan hadith ini di dalam akhbar politiknya di Mesir pada bilangan 2751 yang dikeluarkan pada 12 Dhul Qai’dah 1350H. Sekiranya anda membuat rujukan kepada bilangan 2985, anda akan mendapatinya merujuk hadith ini kepada Muslim di dalam Sahihnya, Ahmad di dalam Musnadnya, ‘Abdullah bin Ahmad di dalam Ziyadat al-Musnad, Ibn Hajr al-Haithami di dalam Jami’ al-Fawa’id, Ibn Qutaibah di dalam ‘Uyun al-Akhbar, Ibn ‘Abd Rabbih di dalam al-’Aqd al-Farid, al-Jahiz di dalam risalahnya daripada Bani Hasyim dan al-Tha’labi di dalam Tafsirnya.”

 

Aku berkata:”Hadith yang mulia ini adalah satu dalil yang terang dan hujah yang pemutus bahawa khalifah selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali bin Abu Talib AS. Kerana Nabi SAWAW telah mengeluarkan perintah ini pada permulaan dakwahnya dan telah menjadikan ‘Ali wazirnya kerana tidak ada seorangpun dikalangan orang-orang yang menghadiri masjlis itu setelah tiga kali dilakukannya menyahut seruannya. Malah pada setiap kali ‘Ali berdiri sambil berkata: Aku wahai Rasulullah dan pada akhirnya Rasulullah SAWAW bersabda kepadanya:”Andalah saudaraku, wazirku, wasiku, khalifahku selepasku. Oleh itu kalian dengar dan patuhilah beliau.”

 

Demi Tuhan anda wahai pembaca yang budiman. Adakah di sana nas yang lebih terang daripada ini tentang khalifah Ali AS selepas Rasulullah SAWAW secara langsung? Wahai Muslimun! Kenapa fanatik terus berlaku sedangkan wujudnya nas yang terang di dalam buku-buku Ahlu s-Sunnah sendiri bahawa kekhalifahan ‘Ali adalah secara langsung. Dan penangguhannya memerlukan dalil dan tidak ada di sana sebarang dalil.

 

2. Hadith Thaqalain (Hadith dua perkara yang berharga)

 

Sabda Nabi SAWAW:”Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian thaqalain (dua perkara yang berharga) Kitab Allah dan itrah Ahlu l-Baitku. Sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya nescaya kalian tidak akan sesat selepasku selama-lamanya.”

 

Hadith ini telah mencapai kemuncak kemasyhurannya sehingga sumber-sumber rujukannya tidak dapat dipertikaikan lagi. Hadith ini telah diriwayatkan oleh Sunnah dan Syi’ah serta mereka mengakui kesahihannya. Malah ianya diketahui oleh segenap lapisan masyarakat dan dihafal oleh orang yang tua dan muda, alim dan jahil. Lantaran itu ianya hampir sampai had kemutawatirannya.

Meskipun perawi-perawinya tidak sepakat mengenai nas hadith ini, tetapi perselisihan pendapat itu tidak akan menambahkan matlamatnya sehingga ia tidak akan menjadi alasan bagi penakwilannya dan tidak akan menjadi sebab bagi melepaskan diri dari beban pengertiannya.

 

Tetapi perselisihan menyaksikan apa yang diperkatakan bahawa Rasulullah SAWAW telah bercakap mengenai pengertian hadith yang mulia ini di beberapa tempat dengan menjaga menyatuan makna serta matlamatnya.

 

Sebagaimana bilangan perawi-perawi di dalam hadith ini dan berbagai cara periwayatannya menggambarkan kepada kita bahawa ianya telah berlaku di beberapa tempat. Di antaranya berlaku di Haji Wida’, di Hari Wida’, di Hari Arafah ketika perhimpunan orang ramai, di Hari Ghadir Khum sebagaimana di dalam khutbahnya. Ianya berlaku ketika Nabi SAWAW sedang gering dan ketika berwasiat kepada ummatnya.

 

Di sini aku kemukakan kepada anda wahai pembaca yang budiman sebahagian daripada nama-nama pemuka Ahlu s-Sunnah yang meriwayatkan hadith thaqalain di dalam sahih-sahih, musnad-musnad, sunan-sunan, tafsir-tafsir, sirah-sirah, tarikh-tarikh mereka seperti berikut:

 

Muslim di dalam Sahih(31)nya mengutip sabda Nabi SAWAW: Aku tinggalkan kepada kalian Thaqalain (dua perkara yang berharga) pertamanya Kitab Allah padanya petunjuk dan cahaya. Oleh itu ambillah kalian dengan Kitab Allah dan peganglah kepadanya. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahlu l-Baitku ini.

 

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnad(32)nya daripada Sa’id al-Khudri daripada Nabi SAWAW bersabda: Aku hampir dipanggil (oleh Tuhanku) dan aku segera menyahutinya. Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian al-Thaqalain (dua perkara yang berharga) Kitab Allah dan ‘Itrahku. Kitab Allah adalah tali yang terbentang daripada langit ke bumi dan ‘Itrahku Ahlu l-Baitku. Sesungguhnya Allah SWT memberitahuku tentang kedua-duanya. Sesungguhnya kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga dikembali kepadaku di Haudh. Maka kalian jagalah baik-baik kedua peninggalanku itu.

 

Al-Muttaqi al-Hindi meriwayatkan hadith ini di dalam Kanz al-Ummal.(33) Sementara al-Turmudhi di dalam Sahih(34)nya daripada Jabir bin Abdullah al-Ansari dia berkata: Aku melihat Rasulullah SAWAW di Haji Wida’ hari Arafah ketika beliau berada di atas unta dan bersabda: Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian, jika kalian mengambilnya nescaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya: Kitab Allah dan ‘Itrah Ahlu l-Baitku. Al-Turmudhi berkata: Hadith ini diriwayatkan oleh Abu Dhar, Abu Sa’id, Zaid bin Arqam dan Huzaifah bin Usayd.

 

Al-Turmudhi juga meriwayatkannya daripada Zaid bin Arqam bahawa Rasulullah SAWAW bersabda: Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian selama kalian berpegang teguh kepadanya, kalian tidak akan sesat selepasku. Salah satunya lebih besar daripada yang lain: Kitab Allah merupakan tali yang terbentang daripada langit dan bumi dan ‘Itrah Ahlu l-Baitku. Kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh. Kalian jagalah baik-baik dan bagaimana kalian memperlakukan kedua-dua peninggalanku. Al-Turmudhi selepas mengeluarkan hadith ini menyatakan bahwa hadith ini adalah hadith Hasan.

 

Al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba,(35) al-Hakim di dalam al-Mustadrak(36) daripada Zaid bin Arqam, sesungguhnya Nabi SAWAW bersabda semasa Haji Wida’: Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian Thaqalain (dua perkara yang berharga) salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitab Allah dan Itrahku. Oleh itu jagalah kedua-duanya peninggalanku itu. Sesungguhnya kedua-duanya itu tidak akan berpisah sehingga dikembalikan di Haudh.

Al-Hakim(37)  selepas mengemukakan hadith ini menyatakan bahawa hadith ini adalah sahih menurut syarat Bukhari dan Muslim. Juga al-Dhahabi di dalam Talkhis(38)nya.

 

Al-Qunduzi al-Hanafi dalam Yanabi’ al-Mawaddah(39) meriwayatkan daripada Imam al-Ridha AS bahawa beliau berkata tentang itrah: Mereka disabdakan Rasulullah SAWAW: Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berharga: Kitab Allah dan ‘itrah Ahlu l-Baitku. Sesungguhnya kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan di Haudh. Dan jagalah baik-baik kedua-dua peninggalanku itu. Wahai manusia, janganlah kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui daripada kalian.

 

Ibn Kathir telah meriwayatkan hadith ini di dalam Tafsir(40)nya.

Ibn Hajr di dalam Sawa’iq nya bab kesebelas menyatakan bahawa hadith ini telah diriwayatkan dengan banyak. Ketahuilah bahawa hadith Thaqalain telah diriwayatkan oleh lebih daripada dua puluh sahabat. Ada yang menyatakan ianya berlaku di Haji Wida’ di Arafah, ada yang menyatakan di Madinah ketika Rasulullah SAWAW sedang gering di mana biliknya dipenuhi oleh para sahabat. Ada yang menyatakan ianya berlaku selepas beliau pulang dari Taif. Walau bagaimanapun ianya tidak menjadi halangan jika beliau mengulangi hadith tersebut di tempat-tempat yang berlainan kerana penekanan beliau yang serius terhadap Kitab Allah dan ‘itrahnya yang suci.

 

Al-Ya’qubi di dalam Tarikh(41)nya menyatakan bahawa Nabi SAWAW bersabda: Aku melintasi kalian ketika kalian dibentangkan di hadapan Haudh. Sesungguhnya aku akan bertanya kepada kalian ketika kalian  dikembalikan kepadaku tentang Thaqalain. Dan lihatlah bagaimana kalian memperlakukan kedua-dua peninggalanku. Mereka bertanya: Apakah Thaqalain (dua perkara yang berharga) wahai Rasulullah SAWAW? Beliau menjawab: Yang pertama adalah yang paling besar iaitu Kitab Allah (berada) ‘di tangan’ Allah dan di tangan kalian. Justeru itu kalian berpeganglah dengannya. Janganlah kalian menjadi sesat, dan janganlah kalian menukarnya dan kedua ‘itrah Ahlu l-Baitku.

 

Al-Darimi telah menyebutkannya di dalam al-Sunan(42), al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is(43)dan al-Khanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib44. Abu Nua’im al-Isfahani di dalam al-Hilyah(45), Ibn al-Kathir al-Jazari di dalam Usd al-Ghabah(46), Ibn Abd Rabbih di dalam al-Iqd al-Farid(47), Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Khawwas(48), al-Halabi al-Syafi’i di dalam Insan al-’Uyun(49), Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib(50), al-Nisaburi di dalam Tafsirnya(51), al-Khazin di dalam Tafsir(52)nya, Ibn Abi l-Hadid di dalam Syarh Nahj al-Balaghah(53), Syablanji di dalam Nur al-Absar(54), Ibn Sibaqh al-Maliki di dalam Fusul al-Muhimmah(55), dan al-Baghawi al-Syafi’i di dalam Masabih al-Sunnah.(56)

 

Sayyid Syarafuddin RH menyatakan di dalam bukunya al-Muraja’at(57) (Dialog Sunnah – Syi’ah) bahawa buku-buku sahih yang mewajibkan berpegang kepada Thaqalain (dua perkara berharga) adalah Mutawatir, dan ianya telah diriwayatkan oleh lebih dua puluh sahabat. Di mana Rasulullah SAWAW telah bersabda di tempat yang banyak, di hari Ghadir Khum, hari Arafah di Haji Wida’, selepas kembalinya dari Taif, di atas mimbar masjidnya di Madinah dan akhirnya di dalam biliknya semasa sakitnya. Bilik di waktu itu dipenuhi oleh para sahabat. Beliau bersabda: Wahai manusia! Hampir nyawaku diambil dengan cepat, dia (Izra’il) sedang datang kepadaku. Dan sesungguhnya aku telah mengemukakan kepada kalian kitab Allah ‘Azza Wa Jalla dan ‘Itrah Ahlul Baitku. Kemudian beliau mengambil tangan ‘Ali lalu mengangkatnya sambil bersabda: Ini ‘Ali bersama al-Qur’an, dan al-Qur’an bersama ‘Ali kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya kembali kepadaku di Haudh.

Anda mengetahui perkataan khutbah SAWAW di hari itu tidaklah berhenti dengan perkataan ini sahaja, tetapi sayangnya politik telah membelenggukan lidah-lidah pakar-pakar hadith, dan menahan pena penulis-penulis. Meskipun titisan yang sedikit (ini) dari lautan itu dan serpihan yang kecil dari keseluruhannya adalah memcukupi. al-Hamdulillah.

 

Sayyid Hasyim al-Bahrani dalam Ghayat al-Muram58 menyatakan bahawa hadith Thaqalain telah diriwayatkan dengan tiga puluh sembilan cara menurut Ahlu l-Sunnah dan lapan puluh dua cara menurut Syi’ah daripada Ahlu l-Bait AS.

 

Ayatullah al-’Uzma Sayyid Mir Hamid Husain al-Nisaburi telah menyebutkan hadith Thaqalain di dalam bukunya ‘Abaqat. Dia telah meriwayatkannya daripada hampir dua ratus para ulama yang besara daripada berbagai  mazhab bermula tahun 102 Hijrah berakhir tahun 113 Hijrah, daripada para sahabat lelaki dan perempuan meriwayatkan hadith yang mulia ini daripada Nabi SAWAW.

 

Aku berkata: Seorang yang insaf akan membuat kesimpulan bahawa hadith Thaqalain jelas menunjukkan kekhalifahan Amiru l-Mukminin dan anak-anak lelakinya semua sebelas orang imam maksum AS kerana Nabi SAWAW telah menyamakan mereka dengan Kitab al-Qur’an. Al-Qur’an adalah rujukan yang pertama bagi ummat Islam, tanpa dipertikaikan lagi sejak permulaan dakwah sehingga akhir dunia. Demikian juga ‘Ali dan kesebelas orang anak-anaknya AS akan mengakhiri dunia ini sepertilah al-Qur’an kerana beliau telah menjadikan dua khalifahnya di dunia ini. Dan kedua-duanya tidak akan berpisah sehingga kedua-duanya dikembalikan kepadanya di Haudh di hari kiamat. Dan beliau telah menjadikan berpegang kepada kedua-duanya sebagai syarat untuk tidak menjadi sesat. Dan sesiapa yang berpaling daripada kedua-duanya akan binasa kerana beliau menyamakan Ahlu -Baitnya dengan kitab Allah dan memerintahkan umatnya supaya berpegang kepada kedua-duanya sekali. Lantaran itu seorang itu tidak harus berpegang kepada salah satu daripada keduanya.

 

Justeru itu setiap mukallaf mesti berpegang kepada Thaqalain. Bukan hanya kepada Kitab Allah sahaja tanpa ‘itrah dan bukan al-’itrah sahaja tanpa Kitab Allah. Oleh itu berpegang kepada kedua-dua sekali kerana ianya merupakan satu ikatan yang tidak dapat dipisahkan kerana ‘itrah adalah lisan yang bercakap untuk kitab yang membisu.

 

Justeru itu kita tidak dinilai sekiranya kita berpegang kepada Kitab Allah tanpa menurut cara mereka. Kerana mengetahui ayat-ayat muhkam, mutasyabih, nasikh dan mansukh dan lain-lain, tidak tepat selain daripada penerangan dan penjelasan mereka. Lantaran itu berpegang kepada kedua-duanya akan menjamin kejayaan seseorang.

 

Dan penentang terhadap kedua-duanya atau salah satu daripadanya akan membawa kepada kebinasaan dan kerugian. Kerana Allah SWT telah memerintahkan orang ramai supaya berpegang kepada kedua-duanya. Rasulullah SAWAW tidak menyuruh orang ramai untuk melakukan sesuatu dengan sia-sia dan tidak menegah sesuatu dengan sia-sia. Kerana beliau tidak bercakap dengan hawa nafsunya malah dengan wahyu yang diwahyukan kepadanya. Oleh itu berpegang kepada Kitab Allah dan ‘itrah yang suci adalah satu kewajipan bagi menjamin kejayaan manusia seluruhnya dengan nikmat yang abadi.

 

Sayyid Syarafuddin al-Musawi di dalam Muraja’at(59)nya menegaskan bahawa mafhum sabda Nabi SAWAW: Sesungguhnya aku tinggalkan  kepada kalian sekiranya kalian berpegang kepadanya, kalian tidak akan sesat selamanya; Kitab Allah dan ‘itrahku. Iaitu orang yang tidak berpegang kepada kedua-duanya adalah berada di dalam kesesatan.

 

Sebagaimana diperkuatkan oleh Hadith Nabi SAWAW: Janganlah kalian mendahului kedua-duanya nescaya kalian akan binasa dan janganlah kalian mengabaikan kedua-duanya nescaya kalian juga akan binasa. Dan janganlah kalian mengajar mereka kerana mereka itu lebih mengetahui daripada kalian.

 

Ibn Hajr berkata tentang sabdanya SAWAW di dalam al-Sawa’iqnya:”Janganlah kalian mendahului kedua-duanya, maka kalian akan binasa atau janganlah kalian mengabaikan kedua-duanya, nescaya kalian akan binasa. Dan janganlah kalian mengajar mereka kerana mereka lebih mengetahui daripada kalian,(60) adalah dalil ke atas orang yang layak di kalangan mereka untuk memegang jawatan yang tinggi di dalam agama. Dan mereka diutamakan daripada orang lain.

 

Aku berpendapat: Rasulullah SAWAW menamakan Thaqalain kerana kedua-duanya mempunyai nilai yang tinggi. Lantaran itu pakar-pakar bahasa mengatakan setiap yang bernilai tinggi itu thiqal. Kerana berpegang kepada kedua-duanya bukanlah perkara yang mudah. Atau kerana beramal dengan kedua-duanya adalah berat sebagaimana telah dinyatakan oleh Ibn Hajr dalam al-Sawa’iq Muhriqah bab wasiat Nabi SAWAW. Ini menunjukkan bahawa khilafah dan imamah adalah untuk mereka Ahlu l-Bait AS. Sebagaimana kata seorang penyair:

Mereka menyamai Kitab Allah yang bisu, sedangkan mereka adalah kitab yang bercakap.

 

Dari hadith Thaqalain ini menunjukkan kemaksuman Ahlu l-Bait AS sepertilah kemaksuman al-Qur’an yang tidak syak pada kemaksumannya kerana perintah Nabi SAWAW kepada ummatnya supaya merujuk kepada mereka selepasnya. Oleh itu segala urusan tidak akan diselesaikan melainkan oleh orang yang telah dipelihara dari kesalahan dan dosa. Dan dalil kemaksuman mereka ialah sabitnya kekhalifahan dan imamah untuk mereka. Justeru itu kemaksuman adalah menjadi syarat di dalam Khilafah dan Imamah. Dan orang yang selain daripada mereka tidaklah maksum secara ijmak.

 

3. Hadith al-Manzilah (Hadith mengenai kedudukan ‘Ali dan Harun)

 

Sabdanya SAWAW:”Tidakkah anda meridhai wahai ‘Ali, anda di sisiku seperti Manzilah (kedudukan) Harun di sisi Musa hanya tidak ada nabi selepasku.”

 

Kaum Muslimin bersepakat tentang kesahihan hadith yang mulia ini dan mencatatnya di dalam Sahih-sahih dan Musnad-musnad mereka yang muktabar. Sebab berlakunya hadith ini menurut pakar-pakar sejarah Hadih dan Sirah bahawa manakala Nabi SAWAW keluar untuk peperangan Tabuk, beliau melantik ‘Ali AS sebagai penggantinya di Madinah ke atas keluarganya. Maka ‘Ali AS berkata: Aku tidak suka jika anda keluar tanpa aku bersama anda. Maka beliau bersabda:”Tidakkah anda meredhai bahawa kedudukan anda di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya tiada nabi selepasku.”

 

Aku tidak mampu untuk menyebutkan kesemua nama-nama orang yang meriwayatkan hadith ini disebabkan perawi-perawinya terlalu ramai dan rujukan-rujukan yang banyak. Walau bagaimanapun aku akan kemukakan sebahagian daripada perawi-perawi yang masyhur di kalangan ulama Ahlu l-Sunnah bagi mengukuhkan rujukanku dan menyempurnakan tujuanku:

 

al-Bukhari di dalam Sahihnya, III, hlm. 54 di dalam ‘kitab al-Maghazi,’ bab ‘Peperangan Tabuk.’ Dan di dalam jilid keduanya, hlm. 185, bab ‘Bad’ al-Khalq’ tentang keistimewaan Ali bin Abu Talib AS.

 

Muslim di dalam Sahihnya, II, hlm. 236 dan 237 di dalam kitab ‘Fadhl al-Sahabah, ‘bab fadhl Ali AS.’

 

Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, I, hlm. 98, 118 & 119.

Al-Hakim di dalam al-Mustadraknya, III, hlm. 109, telah memperakui kesahihan hadith ini menurut syarat Bukhari dan Muslim.

 

Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-’Isti’ab, II, hlm. 437, riwayat hidup ‘Ali AS.

 

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, VI, hlm. 152-153.

 

Ibn Hajr al-Asqalani di dalam al-Isabah, II, hlm. 507, riwayat hidup ‘Ali AS.

 

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 30 dan 74.

 

Al-Syablanji di dalam Nur al-Absar, hlm. 68.

 

Al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’, hlm. 65.

 

Ibn ‘Abd Rabbih di dalam al-’Iqd al-Farid, II, hlm. 194.

 

Al-Nasa’i di dalam al-Khasa’is, hlm. 7.

 

Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, VII, hlm. 196.

 

Ibn Hisyam di dalam al-Sirah, II, hlm. 520.

Abu l-Fida’ di dalam Bidayah wa n-Nihayah, VII, hlm. 339.

 

Al-Muhibb al-Tabari di dalam dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 63.

 

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 204.

 

Al-Khawarizmi di dalam al-Manaqib, hlm. 79.

 

Ibn ‘Asakir di dalam Tarikhnya, IV, hlm. 196.

 

Ibn al-’Athir di dalam Usd al-Ghabah, IV, hlm. 26.

 

Ibn Abi l-Hadid di dalam Syarh Nahj Balaghah, II, hlm. 495.

 

Al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib, hlm. 148.

 

Abu Bakr al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad, II, hlm. 432.

 

Ibn al-Jauzi di dalam Safwah al-Safwah, I, hlm. 120.

 

Al-Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 22.

 

Ibn Sa’d di dalam al-Tabaqat al-Kubra, III, hlm. 24.

 

Dan ianya dikutip oleh semua penulis-penulis riwayat hidup Imam Amiru l-Mukminin AS dahulu dan sekarang. Dan ianya juga dikutip oleh setiap orang yang menulis tentang kelebihan Ahlu l-Bait dan kelebihan sahabat, iaitu hadith yang diterima oleh orang dahulu dan sekarang.

 

Aku berkata: Hadith ini menunjukkan keutamaan Amiru l-Mukminin Ali AS menjadi khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung tanpa memberi peluang bagi orang yang mengingkarinya untuk menentang Syi’ah al-Abrar, Syi’ah Ahlu l-Bayt AS.

Sayyid Syarafuddin RH di dalam al-Muraja’at(61) berkata: Hadith ini mempunyai hujjah yang kuat bahawa ‘Ali AS adalah penggantinya dan khalifahnya selepasnya. Lihatlah bagaimana Nabi SAWAW menjadikannya walinya di dunia dan di akhirat. Dan beliau mengasihinya daripada semua keluarganya. Bagaimana beliau menjadikan kedudukannya seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Beliau tidak mengecualikannya selain daripada Nubuwwah. Dan pengecualiannya adalah bukti umum. Dan anda mengetahui bahawa kedudukan yang paling ketara bagi Harun di sisi Musa ialah menjadi wazir ke atas semua ummatnya.

 

Sebagaimana firmanNya di dalam Surah Taha(20):29-32:”Dan jadilah untukku seorang pembantu dari keluargaku iaitu Harun saudaraku, teguhlah dengan dia kekuatanku, dan jadilah dia sekutu dalam urusanku.” dan firmanNya di dalam Surah al-A’raf(7): 142:”Gantilah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang membuat kerosakan,” dan firmanNya di dalam Surah Taha(20):36:”Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, wahai Musa.”

 

Lantaran itu ‘Ali, menurut ayat ini, adalah khalifah Rasulullah pada kaumnya, wazirnya pada keluarganya dan rakan kongsinya di dalam urusannya sebagai penggantinya dan bukan sebagai nabi. Beliau adalah orang yang paling layak pada ummatnya semasa hidup dan mati. Oleh itu mereka wajib mentaatinya semasa beliau menjadi pembantunya seperti Harun kepada ummat Musa di zaman Musa.

 

Ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAWAW di dalam sabdanya:’Ali tidak boleh pergi tanpa anda menjadi khalifahku.’ Ini adalah nas yang terang bahawa ‘ali adalah khalifahnya. Malah ianya menunjukkan bahawa sekiranya Nabi SAWAW pergi tanpa melantik ‘Ali sebagai penggantinya, nescaya beliau telah melakukan perkara yang tidak sepatutnya beliau lakukan. Ini adalah disebabkan beliau telah diperintahkan oleh Allah SWT supaya melantik ‘Ali AS sebagaimana firmanNya di dalam Surah al-Ma’idah (5):67:”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, bererti) kamu tidak menyampaikan amanahNya. Allah memelihara kamu dari  (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

 

Kemudian perhatikanlah sabda Nabi SAWAW:”Sepatutnya aku tidak pergi tanpa anda menjadi khalifahku,’ nescaya anda dapati kedua-duanya menuju kepada satu tujuan sebagaimana juga sabdanya:’Andalah wali bagi setiap mukmin selepasku.’ Maka ia adalah nas bahawa beliau adalah wali al-Amr dan menduduki tempatnya mengenainya sebagaimana al-Kumait RH berkata:

Sebaik-baik wali al-Amr selepas walinya

dan tempat datangnya taqwa dan sebaik-baik pendidik

 

Al-Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir(62) berkata: Sabdanya:’Tidakkah anda meredhai bahawa anda di sisiku sepertilah kedudukan Harun di sisi Musa…..’ mensabitkan setiap sifat yang ada pada Nabi SAWAW dari segi martabat, amal, maqam, kebangkitan, hukum, pemerintahan dan ketuanan pada Amiru l-Mukminin selain daripada kenabian sebagaimana Harun di sisi Musa. Justeru itu beliaulah khalifahnya SAWAW, pengurniaan kedudukan Ali seperti kedudukan dirinya bukanlah dikurniakan begitu sahaja sebagaimana yang telah disangkakan oleh semua orang.

 

Beliau telah melantik sebelum ini orang-orang tertentu di seluruh negara, dan beliau juga telah melantik beberapa orang dalam ekspedisi tentera, tetapi beliau tidak pernah bersabda sesuatu sebagaimana beliau bersabda kepada Ali AS. Justeru itu ianya suatu keistimewaan yang dikurniakan kepada Amiru l-Mukminin Ali AS.

 

Aku berkata: Ini menunjukkan bahawa khalifah selepas Rasulullah SAWAW ialah ‘Ali AS secara terus dan kemaksuman Ali AS sebagaimana maksumnya Harun AS selain daripada kenabian sebagaimana anda telah mengetahuinya.

 

 

4. Hadith al-Safinah (Hadith Bahtera)

 

Sabda Nabi SAWAW:”Umpama Ahlu l-Baitku samalah seperti bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya. Dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam.”

 

Para ulama Islam telah bersepakat tentang kesahihan hadith ini. Ianya telah diriwayatkan oleh para ulama Sunnah dan Syi’ah di mana lebih seratus daripada para penghafal, ahli Hadith,Sirah, Sejarah telah mencatatnya di dalam buku-buku mereka, mengakui kepentingannya kerana kepatuhan kepada kebesaran Allah SWT. Mereka menerimanya dengan senang hati.

 

Nas Hadith

 

Di sini diperturunkan sebahagian daripada nama-nama ulama Ahlu s-Sunnah  yang meriwayatkan hadith ini seperti berikut:

Al-Hakim di dalam al-Mustadrak(63) dengan sanadnya daripada Hunsy al-Kinani berkata: Aku mendengar Abu Dhar yang sedang berpegang di pintu Ka’bah berkata: Siapa yang mengenaliku, maka akulah orang yang kalian kenali dan siapa yang tidak mengenaliku, maka akulah Abu Dhar. Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam. Hadith ini adalah sahih menurut pensyaratan Muslim.

 

Al-Tabrani telah mencatatkan di dalam al-Ausat(64) daripada Abu Sa’id, Nabi SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang enggan atau terlambat akan tenggelam. Dan umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah pintu pengampunan bagi Bani Isra’il. Siapa yang memasukinya akan diampun.

 

Ibn Hajr dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah mengemukakan beberapa riwayat yang menyokong satu sama lain bahawa Nabi SAWAW bersabda: Sesungguhnya umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya. Di dalam riwayat Muslim:’Dan siapa yang membelakanginya akan tenggelamSesungguhnya umpama Ahlu l-Baitku pada kalian sepertilah pintu pengampunan bagi Bani Isra’il. Siapa yang memasukinya akan diampun.’ Dan dalam riwayat yang lain:’Dosa-dosanya akan diampun.’

 

(Kemudian dia berkata) selepas mengemukakan hadith ini dan hadith-hadith yang seumpamanya dan membentangkan perumpamaan mereka dengan bahtera bahawa sesungguhnya orang yang mencintai mereka, dan menghormati mereka kerana mensyukuri nikmat yang dikurniakan dan berjaya daripada kegelapan perselisihan. Dan sesiapa yang membelakanginya, nescaya akan tenggelam di lautan kekufuran nikmat dan binasa di dalam arus kezaliman. Sehingga dia berkata: Cinta kepada Ahlu l-Bait adalah menjadi sebab ummat ini dijadikan.

 

Al-Hamawaini di dalam Fara’id al-Simtin dengan membuang sanad-sanadnya daripada Sa’id bin Jubair daripada Ibn ‘Abbas, dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda kepada ‘Ali AS:Wahai ‘Ali, aku adalah bandar hikmat, dan anda adalah pintunya, dan tidak akan memasuki bandar melainkan melalui pintunya. Dan berbohonglah orang yang menyatakan bahawa dia mencintaiku sedangkan dia memarahi anda, kerana anda adalah daripadaku, dan aku adalah daripada anda. Daging anda adalah dagingku. Darah anda adalah darahku. Jiwa anda adalah jiwaku. Batin anda adalah batinku. Zahir anda adalah zahirku. Anda adalah imam umatku dan khalifahku ke atasnya selepasku. Berbahagialah orang yang mentaati anda. Celakalah orang yang menderhakai anda. Beruntunglah orang yang mewalikan anda. Rugilah orang yang memusuhi anda. Beroleh kemenanganlah orang yang berada di samping anda. Dan binasalah orang yang menjauhi anda. Anda samalah seperti para imam daripada anak-anak lelaki anda selepasku seperti bahtera Nuh siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang membelakanginya akan tenggelam. Dan kalian sepertilah bintang-bintang setiap kali satu bintang tidak kelihatan, timbul pula bintang yang lain sehingga ke hari kiamat.

 

Ibn al-Maghazili al-Syafi’i meriwayatkan tentang kelebihan-kelebihan Ahlu l-Bait AS dengan sanadnya daripada Harun al-Rasyid daripada al-Mahdi daripada al-Mansur daripada bapanya daripada datuknya daripada Ibn ‘Abbas RD berkata: Rasulullah SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku sepertilah bahtera Nuh, siapa yang menaikinya berjaya. Dan siapa yang enggan atau terlambat akan binasa. Tetapi apa yang menghairankan ialah tindakan kekerasan mereka terhadap Ahlu l-Bait AS meskipun mereka mempercayai kelebihan ‘mereka.’

 

Al-Syablanji di dalam Nur al-Absar meriwayatkan bahawa sekumpulan pengarang-pengarang Sunan telah meriwayatkan daripada para sahabat bahawa Nabi SAWAW bersabda: Umpama Ahlu l-Baitku pada kalian samalah seperti bahtera Nuh. Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang membelakanginya binasa. Di dalam riwayat yang lain ‘tenggelam.’

 

Hadith ini bukan sahaja mutawatir di kalangan Ahlu l-Sunnah malah ianya menjadi mutawatir di kalangan Syi’ah. Aku berkata: Ini adalah ringkasan tentang hadith al-Safinah yang banyak. Walau bagaimanapun aku kemukakan sebahagian daripada nama-nama ulama Ahlu l-Sunnah yang meriwayatkan hadith al-Safinah di dalam buku-buku mereka:

 

Muslim di dalam Sahihnya, Ahmad bin Hanbal di dalam Musnadnya, al-Tabari di dalam Tarikhnya, al-Hakim di dalam al-Mustadrak, Muhibuddin al-Tabari di dalam Dhakha’ir al-’Uqba, Abu Nua’im al-Asfahani di dalam al-Hilyah dan Dala’il al-Nubuwwah, Ibn  ‘Abd Birr di dalam al-Isti’ab, al-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, Ibn al-Athir al-Jazari di dalam Usd al-Ghabah, Fakhruddin al-Razi di dalam Mafatih al-Ghaib, Ibn Talhah al-Syafi’i di dalam Matalib al-Su’ul, Muhibb al-Tabari di dalam Riyadh al-Nadhirah, Sibt Ibn al-Jauzi di dalam al-Tadhkirah, Ibn al-Sabagh al-Maliki di dalam al-Fusul al-Muhimmah, al-Suyuti di dalam al-Jami’ al-Saghir, Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq, al-Syblanji di dalam Nur al-Absar, al-Siban di dalam al-Is’af, al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah, al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib, dan lain-lain.

 

Di antara orang yang mengakui kesahihannya ialah Imam al-Syafi’i sendiri. Al-Ujaili telah mengaitkan kata-kata Syafi’i di dalam Dhakhirah al-Mal:

 

Manakala aku melihat manusia telah berpegang kepada mazhab yang bermacam-macam di lautan kebodohan dan kejahilan

 

Aku menaiki dengan nama Allah bahtera kejayaan mereka itulah Ahlu l-Bait al-Mustafa dan penamat segala Rasul.

Wahai pembaca yang budiman, sesungguhnya hadith yang mulia ini datangnya daripada Nabi SAWAW. Beliau telah menutup jalan-jalan yang  banyak. Justeru itu beliau tidak meninggalkan selain daripada jalan Ahlu l-Bait yang terang seperti matahari di siang hari. Beliau telah memimpin mereka ke jalan yang benar dengan hujah yang terang yang akan membawa mereka ke syurga.

 

Dan perumpamaan Ahlu l-Baitnya dengan bahtera Nuh adalah jelas menunjukkan bahawa mengikuti mereka, mematuhi kata-kata dan perbuatan-perbuatan mereka adalah wajib. Dan untuk mendapat kejayaan adalah dengan menaiki bahtera, nescaya mereka berjaya daripada tenggelam kerana bahtera itu terselamat daripada keaiban. Sekiranya terdapat kecacatan, nescaya binasalah orang yang berada di dalamnya tanpa syak lagi. Kerana ombak-ombak taufan begitu kuat memukul seperti bukit sebagaimana diceritakan oleh al-Qur’an tentang kesengsaraan yang menakutkan. Nuh menyeru anak lelakinya dari jauh:”Wahai anakku! Naiklah bersama kami dan janganlah anda berada bersama orang yang kafir. Anaknya berdegil tidak mahu menaikinya sambil berkata: Aku akan berlindung di bukit yang dapat memeliharaku daripada air. Maka Nuh menjawab: Tidak ada pemeliharaan di hari ini (sesuatupun) dari suruhan Allah (selama-lamanya) selain daripada orang yang dirahmati Allah (dengan menaiki bahtera). Lantas orang yang ingkar tetap berkeras dengan penuh penentangannya. Maka ombak telah memisahkan di antara keduanya, maka termasuklah dia dari golongan orang yang tenggelam yang berdegil di atas kekufuran mereka. Maka ombak-ombak tadi memukul mereka, lalu mereka pun binasa. Wa l-Hamdulillah ‘Ala Halaki Ahli l-Kufr.

 

Demikianlah para imam Ahlu l-Bait AS dengan ummat ini. Siapa yang berlindung kepada mereka dan berjalan menurut jalan mereka yang lurus, berpegang kepada ikatan kukuh yang tidak akan berpisah buat selama-lamanya, mengambil daripada mereka asas-asas agamanya serta cabang-cabangnya, berakhlak dengan akhlak mereka yang mulia, berpegang kepada kewalian mereka, benar-benar mencintai mereka di dalam ertikata orang lain tidak mendahului mereka, nescaya dia akan berjaya dari tenggelam  dan akan mendapat ganjaran yang sewajarnya. Selamat daripada siksaan Allah di hari akhirat dan akan mendapat ganjaran daripada Allah dan Nabi SAWAW. Dan sesiapa  yang membelakangi mereka adalah seperti orang yang berlindung di hari Taufan kepada bukit untuk menyelamatkannya daripada urusan Allah. Maka dia disambar oleh ombak lalu tenggelam dan binasa. Demikian juga ombak-ombak fitnah  telah melanda (mereka) bertubi-tubi samalah seperti ombak-ombak Taufan Nuh. Tidak ada beza di antara kedua-duanya menurut nas hadith. Ombak mengambilnya dan menenggelamkannya kemudian dia tinggal di neraka. Perbezaan yang pertama tenggelam di air sementara yang kedua tenggelam di neraka jahannam (Wa l-’Iyadhubillah).

 

Nota Kaki:

 

1. al-’Allamah Sayyid Muhsin al-Amini, A’yan al-Syi’ah, III, hlm. 34.

2. Tarikh, II, hlm. 216.

3. al-Ghadir, II, hlm. 279.

4. Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 263.

5. Anba’ Nujaba’ al-Anba’, hlm. 44-48.

6. ak-Kamil, hlm. 24.

7. Tarikh Abu Fida’, I, hlm. 116.

8. Syarh al-Syifa, III, hlm. 37.

9. Tafsir al-Khazin, hlm. 390.

10. Jami’ Jawami’, VI, hlm. 302-307.

11. Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 254.

12. Tarikh al-Tamaddun al-Islami, hlm. 1, 31.

13. Hayat Muhammad, hlm. 104.

14. Lisan al-Mizan, IV, hlm. 43.

15. al-Musnad, I, hlm. 111.

16. Ibid, hlm. 78, 86 & 159.

17. Tarikh, I, hlm. 217.

18. al-Khasa’is, hlm. 8

19. Kifayah al-Talib, hlm. 89.

20. Syarh Nahj al-Balaghah, III, hlm. 255.

21. Jam’ Jawami’, hlm. 408.

22. Ibid.

23. Kanz al-Ummal, VI, hlm. 401.

24. Minhaj al-Sunnah, IV, hlm. 80.

25. al-Sirah al-Halabiyyah, I, hlm. 304.

26. al-Kasyf wa l-Bayan, I, hlm. 101.

27. Kifayah al-Talib, hlm. 89.

28. al-Ta’liq ‘Ala al-’Alawiyyah al-Mubarakah, hlm. 76.

29. al-Ghadir, II, hlm. 284.

30. al-Muraja’at, hlm. 119.

31. Sahih, II, hlm. 238.

32. al-Musnad, III, hlm. 17, 26, 59, dan IV, hlm. 267.

33. Kanz al-Ummal, VII, hlm. 112.

34. Sahih, II, hlm. 308.

35. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 16.

36. al-Mustadrak, III, hlm. 109, 148 & 532.

37. Ibid., hlm. 109.

38. al-Talkhis, III, hlm. 109.

39. Yanabi al-Mawaddah, hlm. 25.

40. Tafsir Ibn Kathir, III, hlm. 486.

41. Tarikh al-Ya’qubi, II, hlm. 93.

42. al-Sunan, II, hlm. 432.

43. al-Khasa’is, hlm. 30.

44. Kifayah al-Talib, hlm. 89.

45. Hilyah al-Auliya’, I, hlm. 355.

46. Usd al-Ghabah, I, hlm. 12; II, hlm. 147.

47. al-’Iqd al-Farid, II, hlm. 346.

48. Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 332.

49. Insan al-’Uyun, III, hlm. 308.

50. Mafatih al-Ghaib, III, hlm. 18.

51. Tafsir al-Nisaburi, I, hlm. 349.

52. Tafsir al-Khazin, I, hlm. 257.

53. Syarh Nahj al-Balaghah, VI, hlm. 130.

54. Nur al-Absar, hlm. 99.

55. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 25.

56. Masabih al-Sunnah, III, hlm. 2056.

57. al-Muraja’at, hlm. 22.

58. Ghayat al-Maram, hlm. 211 & 217.

59. al-Muraja’at, hlm. 23.

60. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 153.

61. al-Muraja’at, hlm. 127.

62. al-Ghadir, III, hlm. 199.

63. al-Mustadrak, II, hlm. 343

 

Begitu juga hadith ini mewajibkan mukmin berpegang kepada Ahlu l-Bait AS bagi mendapat kejayaan yang abadi dan menjauhi siksaan di hari hisab.

 

Al-Sayyid al-Muhsin al-Amin al-’Amili(65) berkata: Manakah kata-kata yang lebih jelas daripada sabdanya:”Siapa yang menaikinya berjaya dan siapa yang membelakanginya binasa atau tenggelam” sebagaimana orang yang menaiki bahtera Nuh berjaya daripada tenggelam. Dan siapa yang tidak menaikinya tenggelam dan binasa. Begitu juga dengan orang yang mengikuti Ahlu l-Bait AS berada di dalam kebenaran dan selamat daripada kemurkaan Allah SWT serta mendapat kemenangan dengan keridhaanNya. Dan siapa yang menyalahi mereka akan binasa dan jatuh ke dalam kemurkaan Allah dan siksaanNya. Ini menunjukkan kemaksuman mereka. Jikalau tidak, bagaimana orang yang mengikuti mereka berjaya dan orang yang menyalahi mereka binasa.

 

Ini adalah secara umum dan khusus sebagaimana telah diterangkan di dalam hadith Thaqalain. Apa yang dimaksudkan di dalam hadith itu ialah para imam Ahlu l-Bait yang telah disepakati kelebihan mereka. Dikenali dengan keilmuan, kezuhudan dan kewarakan mereka. Dan ummat juga bersepakat selain daripada mereka tidaklah maksum. Orang yang tidak maksum tidak menjamin kejayaan pengikutnya, dan penentangnya pula tidaklah binasa dalam setiap keadaan.

 

Justeru itu memadailah mereka dinamakan pintu pengampunan kerana kejayaan terletak pada mengikuti mereka dan pelepasan dosa serta kemaksiatan, adalah dengan mengambil jalan mereka.

Aku berkata: Hadith ini yang mulia ini merupakan hujah yang pemutus dan dalil yang kuat terhadap dakwaan Syi’ah al-Abrar dan pengikut-pengikut Ahlu l-Bait AS bahawa khalifah adalah untuk ‘Ali Amirul Mukminin AS. Selepas Rasulullah SAWAW secara langsung dan selepasnya adalah zuriatnya yang terpilih berdasarkan kepada nas hadith bahawa orang-orang yang berpegang kepada ‘itrah yang suci akan berjaya. Dan orang yang membelakangi mereka akan binasa. Lantaran itu tidak ada ruang bagi seseorang untuk menentang hujah mereka dan mengambil selain daripada mereka serta mendakwa kejayaan bagi dirinya. Aku memohon kepada Allah supaya menunjukkan Muslimin kepada jalan yang benar dan menyatukan pemikiran mereka bagi mengikuti kebenaran dan mengilhamkan mereka percakapan yang benar.

 

5. Hadith Madinah al-’Ilm (Hadith Bandar Ilmu)

 

Sabda Nabi SAWAW:”Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.”

 

Hadith ini adalah di antara hadith-hadith yang sabit di sisi para ulama Islam secara langsung daripada para penghafal hadith, pakar-pakar sejarah dan sirah. Dan pemindahannya adalah secara mutawatir daripada para ulama Islam dari berbagai-bagai pihak di setiap masa.

 

Adapun para sahabat yang meriwayatkan hadith ini adalah ramai di antaranya:

 

Imam Amiru l-Mukminin Ali AS, Imam Hasan AS, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah al-Ansari, Abdullah bin Mas’ud al-Hazali, Huzaifah bin al-Yaman, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Amru bin al-’As dan lain-lain.

 

Adapun para perawi hadith ini di peringkat Tabi’in ialah:

Imam Zain al-’Abidin bin ‘Ali bin al-Husain  AS. Anaknya Imam Muhammad al-Baqir AS, Asbagh bin Nubatah, Jarir al-Dhubi, Haris bin Abdullah al-Hamdani al-Kufi, Sa’d bin Tarif al-Hamzali al-Kufi, Sa’id bin Jubair al-Asadi al-Kufi, Salmah bin Kuhail al-Hadhrami al-Kufi, Sulaiman bin Mihran al-Asadi al-Kufi, ‘Asim bin Hamzah al-Saluli al-Kufi, ‘Abdullah bin Uthman bin Khaitham al-Qari’ al-Makki, Abdul Rahman bin Uthman, Abdullah bin Usailah al-Muradi Abu Abdullah al-Sinaiji, Mujahid bin Jubair Abu al-Hajjaj al-Makhzumi al-Makki.

 

Adapun para ulama yang menghukum kesahihannya adalah ramai di antaranya: al-Tabari di dalam Tahdhib al-Athar, al-Hakim di dalam Mustadrak(66), al-Suyuti di dalam Jam’ al-Jawami’, al-Biruni di dalam Asna al-Matalib, al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal, Fadhulullah bin Ruzabhan al-Syirazi di dalam Abtal al-Abatil, al-Fairuz Abadi di dalam Naqd al-Sahih, Ibn Hajr al-Asqalani di dalam beberapa fatwanya yang diceritakan oleh al-Suyuti di dalam al-Li’ali al-Masnu’ah dan Jam’ al-Jawami’, al-Sakhawi di dalam al-Maqasid al-Hasanah, Muhammad bin Yusuf al-Syammi di dalam Subul al-Huda wa-Rasyad fi Asma’ al-’Ibad, Ibn Hajr di dalam Sawa’iq al-Muhriqah, al-Muhawi di dalam Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Saghir, ‘Abd al-Haq al-Dahlawi di dalam al-Luma’at, al-Siban al-Misri di dalam Is’af al-Raghibin dan lain-lain.

 

Adapun para ulama yang mencatat hadith ini di dalam buku-buku dan musnad-musnad mereka adalah ramai di antaranya: al-Hakim di dalam al-Mustadrak, dia berkata: Abu al-Abbas Muhammad bin Ya’qub telah memberitahukan  kami, Muhammad bin Abd al-Rahim al-Harwi telah memberitahukan kami di Ramlah, Abu al-Salt Abd al-Salam bin Salih telah memberitahukan kami, Abu Muawiyah telah memberitahukan kami daripada al-’Amasy daripada Mujahid daripada Ibn Abbas RD dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda: Aku adalah bandar ilmu dan Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang ingin datang ke bandar ilmu, maka hendaklah dia datang melalui pintunya. Sanad hadith ini adalah sahih tetapi Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya di dalam sahih-sahih mereka.

 

Al-Khatib al-Baghdadi di dalam Tarikh Baghdad(67) berkata: Yahya bin ‘Ali al-Daskari Bahlawan telah memberitahukan kami. Begitu juga Abu Bakr Muhammad bin al-Muqri, Abu Tayyib Muhammad bin Abd al-Samad al-Daqqaq al-Baghdadi, Ahmad bin Abdullah Abu Ja’far al-Maktab. Abd al-Razzaq. Sufyan al-Thauri telah memberitahukan kami daripada Abdullah bin Uthman, dia berkata: Aku telah mendengar Jabir bin Abdullah RD berkata: Aku mendengar Rasulullah SAWAW bersabda di dalam keadaan memegang lengan Ali bin Abu Talib AS:’Inilah amir orang-orang yang baik,pembunuh orang-orang yang jahat, menolong orang yang menolongnya, menghina orang yang menghinanya. Aku adalah bandar ilmu dan Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang ingin datang ke bandar ilmu, maka hendaklah dia datang melalui pintunya.’

 

Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi’ al-Mawaddah(68), hlm. 183 berkata: Ibn ‘Udayy dan al-Hakim telah meriwayatkan daripada Jabir, dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Dan sesiapa yang ingin datang kepada bandar ilmu, maka hendaklah dia datang melalui pintunya.’

 

Ibn Hajr di dalam al-Sawa’iq al-Muhriqah(69) menerangkan bahawa hadith ini telah diriwayatkan melalui al-’Uqaili dan Ibn ‘Udayy daripada Ibn Umar dia berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya.’ Di dalam riwayat yang lain pula ‘Sesiapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya.’

 

Ibn Kathir di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah(70) berkata:’Hadith ini telah diriwayatkan oleh Suwaid bin Sa’id daripada Syarik daripada Salmah daripada al-Sinaiji daripada ‘Ali secara marfu’:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya.’

 

Al-Muttaqi al-Hindi di dalam Kanz al-Ummal(71) menyatakan bahawa hadith ini telah diriwayatkan daripada Ali sebagaimana telah disebutkan oleh Ibn Kathir.

 

Ibn ‘Abd al-Birr di dalam al-Isti’ab(72) berkata: Hadith ini telah diriwayatkan daripada Nabi SAWAW, beliau bersabda:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah melalui pintunya.’

 

Muhibb al-Tabari di dalam al-Riyadh al-Nadhirah(73) menerangkan bahawa hadith ini telah diriwayatkan melalui Abu ‘Umar sebagaimana telah diterangkan di dalam al-Isti’ab dan Dhakha’ir al-’Uqba(74).

 

Ibn Abi l-Hadid di dalam Syarh Nahj al-Balaghah(75) berkata: Rasulullah SAWAW bersabda:’Aku adalah bandar ilmu dan ‘Ali adalah pintunya. Maka sesiapa yang ingin datang ke bandar ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya.’ Hadith ini juga telah dicatat oleh Ibn al-Athir al-Jazari di dalam Usd al-Ghabah(76), al-Kanji al-Syafi’i di dalam Kifayah al-Talib(77), al-Dhahabi di dalam al-Talkhis(78), Ibn Hajr al-’Asqalani di dalam Lisan al-Mizan(79) dan Tahdhib al-Tahdhib(80), al-Sakhawi di dalam al-Maqasid al-Hasanah, al-Nabhani di dalam al-Fath al-Kabir al-Suyuti di dalam Tarikh al-Khulafa’ dan al-Jami’ al-Saghir, Sibt Ibn al-Jauzi di dalam Tadhkirah al-Khawwas dan lain-lain.

 

Sayyid Najafi’ al-Mar’asyi telah menyebutkan hadith ini di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq karangan Ayatullah ‘Uzma Sayyid Qadhi Nurullah al-Tastari RH. Kemudian dia menyebutkan nama-nama ulama Ahlu l-Sunnah yang menyokong hadith ini di dalam Jilid, V, hlm. 469-514.

 

Aku berkata: Sekiranya Ahlu s-Sunnah yang meriwayatkan hadith ini telah membohongi Rasulullah SAWAW sebagaimana telah disangkakan oleh dajal-dajal yang menjadi kebiasaan mereka melakukan keaiban-keaiban dan berusaha untuk kerosakan dan menentang darurat, maka mereka akan dipertanggungjawabkan terhadap agama di hadapan Allah SWT. Ya! Kita dapati ramai daripada orang yang memalsukan hadith ke atas Rasulullah SAWAW mengenai ‘kelebihan sahabat’ telah menerima upah yang lumayan dan ada yang melakukannya secara sukarela. Apabila mereka dapati tidak ada kecacatan pada hadith ini, kerana ia diakui oleh Sunnah dan Syi’ah, lalu mereka menambahkan beberapa rangkaian padanya bagi mengalihkannya daripada apa yang sepatutnya. Maka mereka memindahkannya seperti: Aku adalah bandar ilmu, Abu Bakr asasnya, ‘Umar dindingnya, ‘Uthman bumbungnya dan ‘Ali pintunya.

 

Para ulama Ahlu s-Sunnah mencela sesama mereka. Kerana mereka menjadikan ‘Uthman bumbungnya lalu berkata: Bandar tidak ada bumbung. Sekiranya mereka berfikir sejenak nescaya mereka mengetahui bahawa madinah al-ilm (Bandar ilmu) adalah ‘suasananya.’ Bagaimana Abu Bakr menjadi asasnya sedangkan dia tidak mengetahui perkataan Abba. Sebagaimana diriwayatkan oleh para ahli Tafsir dari golongan Sunah dan Syi’ah bahawa dia pernah ditanya tentang firmanNya di dalam Surah ‘Abbasa(80):31:”Fakihatan wa abba (buah-buah dan rumput-rumputan).’”Fakihatan  kami mengetahui maknanya adapun Abba kami tidak mengetahuinya. Bumi manakah yang aku akan pijak dan langit manakah yang aku akan junjung, apabila aku berkata sesuatu tentang kitab Allah dengan fikiranku sedangkan aku tidak mengetahuinya.”Dia juga berkata:”Sesungguhnya syaitan selalu menggodaku dan apabila aku melakukan kesalahan, maka perbetulkanlah (kesalahan)ku.”

 

Begitu juga halnya dengan ‘Umar. Bagaimana dia boleh menjadi dindingnya sedangkan dia berkata:”Orang ramai lebih mengetahui daripada Umar sehingga gadis-gadis sunti di dalam khemah.” Dia berkata:”Sekiranya ‘Ali tidak ada, nescaya binasalah Umar.” Dia juga berkata:”Semoga Allah tidak meninggalkan aku di dalam permasalahan di mana Abu l-Hasan tidak ada.” Dan banyak lagi contoh-contoh seumpama itu dari pengakuannya sendiri tentang kejahilannya di dalam beberapa perkara termasuk hukum-hukum dan lain-lain. Demi Tuhan Ka’bah, Ahlu s-Sunnah tidak boleh mengatakan bahawa kata-kata Umar itu sebagai tawadhuk (merendah diri).

 

Keuzuran yang sejuk ini tidak mempunyai kemuliaan lagi kerana dia tidak ada jalan keluar bagi sifat tawadhuk yang disangkakan. Kerana maqam yang kita bincangkan sekarang adalah maqam khilafah daripada Nabi SAWAW yang maksum yang membawa syariat yang kuat sehingga berakhirnya dunia ini. Sebagai menunaikan kewajipan tersebut maka tawadhuk tidak menjadi alasan lagi. Dan sesungguhnya dakwah tawadhuk memerlukan dalil dan tidak ada dalil bagi Ahlu s-Sunnah. Kemudian kata-kata ‘Umar itu menunjukkan kelebihan ‘Ali AS di setiap keadaan. Dan cukuplah itu menjadi dalil bagi Syi’ah al-Abrar.

 

Dengan nama Tuhan anda, katakanlah kepadaku wahai Muslim yang budiman! Adakah layak orang seperti Umar yang mengakui kejahilannya sendiri menjadi khalifah kepada ummat yang baru Islam sedangkan ada orang yang disabdakan oleh Rasulullah SAWAW:”Anda wahai ‘Ali! Pewaris ilmuku, suami anak perempuanku, pelaksana agamaku dan khalifahku selepasku.”

 

Justeru itu Amirul Mukminin telah menunjuk kepada dadanya di suatu hari di atas mimbar Masjid di Kufah sebanyak tiga kali sambil berkata:”Disinilah sifat ilmu. Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Demi Allah sekiranya kalian bertanya kepadaku tentang jalan-jalan langit dan bumi, nescaya aku akan memberitahukan kalian mengenainya. Maka sesungguhnya aku lebih mengetahui jalan-jalan langit dan bumi.” Hadith-hadith seumpama ini memanglah banyak, maka di manakah nilainya wahai Muslimun!

 

Mereka juga telah menjadikan Uthman sebagai bumbung, ianya ditertawakan oleh ibu yang kehilangan anaknya. Mereka menjadi Abu Bakr sebagai asas dan Umar sebagai dindingnya. Aku tidak mengerti syaitan, jin dan manusia mana yang membuat tambahan kepada hadith ini? Kerana apa yang terdapat di dalam musnad-musnad Ahlu s-Sunnah menyalahinya. Malah terdapat sanadnya yang tidak boleh dipercayai. Mudah-mudahan mereka akan sedar dari kelalaian mereka dan memerhatikan hadith yang mulia ini dari segi balaghah dan fasahah nya.

 

Malah penambahan kepada hadith tersebut, telah menurunkan darjat ketiga-tiga khalifah dan menghina mereka. Kerana orang yang menuju ke bandar ilmu tidak akan memasuki melalui asasnya, dindingnya dan bumbungnya, malah melalui pintunya.

 

Hadith (tambahan) seperti ini telah dilakukan di zaman Tahgut Mu’awiyah yang telah mengambil hadith sebagai bahan perniagaan sebagaimana kami telah kemukakannya sebelum ini. Dia telah memerintahkan gabenor-gabenornya supaya memalsukan hadith tentang kelebihan sahabat dan mencela Ahlu l-Bait AS. Apatah lagi tentang hak Amiru l-Mukminin AS.

 

Kesimpulan: Tertegaknya khalifah Amiru l-Mukminin Ali AS selepas Rasulullah SAWAW secara langsung dengan hadith: Aku adalah bandar ilmu dan Ali adalah pintunya di samping dalil-dalil akal dan naqliyyah kerana Rasulullah SAWAW telah menjadikan Ali sebagai pintu bandar ilmu yang didatangi oleh penuntut-penuntut ilmu dari segenap pelusuk dunia. Dan Nabi SAWAW tidak pernah mewakilkan urusan ini selain daripada Ali, kerana orang lain tidak mempunyai kelayakan untuk memikul bebanan yang berat dan besar di mana kejayaan ummat terletak di atasnya.

 

Atau  kebinasaan jika ia menyalahi dan mendurhakai perintah orang yang memerintah. Sebagaimana sabdanya:’Siapa yang inginkan ilmu, maka hendaklah datang melalui pintunya dan siapa yang datang bukan melalui pintunya dikira pencuri dan dia adalah dari parti ‘iblis.’

 

Sayyid Mir Hamid Husain al-Nisaburi di dalam bukunya al-’Abaqat telah menyebutkan hadith ‘Aku adalah bandar ilmu, maka ‘Ali adalah pintunya.’ Kemudian dia mengatakan bahawa ‘Ali berhak menjadi khalifah selepas Rasulullah SAWAW secara langsung dan mengemukakan dalil yang kuat mengenainya.

 

Ringkasnya, aku telah mengemukakan di sini lima hadith ma’thurah daripada Rasulullah SAWAW yang sabit di dalam buku-buku Ahlu s-Sunnah. Dan yang dipersetujui oleh mereka bagi menunjukkan betapa benarnya dakwaan Syi’ah tentang keutamaan Amiru l-Mukminin ‘Ali AS menjadi khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWAW:

 

1. Hadith al-Dar atau al-Indhar.

2. Hadith al-Thaqalain.

3. Hadith al-Manzilah.

4. Hadith al-Safinah.

5. Hadith al-Madinah.

 

Aku telah mengemukakannya kepada anda wahai pembaca yang budiman, setelah aku memaparkan enam ayat al-Qur’an:

 

1. Ayat al-Wilayah [al-Mai’dah(5):55)].

2. Ayat al-Tathir [al-Ahzab (33):33].

3. Ayat al-Mubahalah [‘Ali Imran(3):61].

4. Ayat al-Mawaddah [al-Syura'(42):20].

5. Ayat al-Salawat [al-Ahzab(33):56].

  1. Ayat al-Tabligh [al-Mai’dah(5):67]

 

 

Lantaran itu enam ayat al-Qur’an dan lima hadith ma’thurah, maka jumlahnya sebelas yang saling lengkap-melengkapi dan diakui oleh Ahlu s-Sunnah dan Syi’ah. Justeru itu tidak seorangpun akan menentangnya kecuali orang yang dikuasai oleh hawa nafsunya. Lantaran itu dia akan dibawa ke jurang yang amat dalam, yang tidak ada batasan dan penentuan baginya. Oleh itu urusan khalifah terserlah secara langsung kepada ‘Ali AS.

 

Sebelas dalil yang sempurna ini telah dicatat oleh para ulama Islam dan telah disahkan oleh pemuka-pemuka ulama Sunnah di samping ulama Syi’ah al-Abrar. Justeru itu tidak ada jalan (tipudaya) untuk memisahkan Ali AS dari menjadi khalifah secara langsung selepas Rasulullah SAWAW.

 

Apa yang diharap-harapkan ialah supaya saudara-saudaraku Ahlu s-Sunnah mematuhi kebenaran dan meninggalkan celaan ke atas saudara-saudara mereka Syi’ah. Kerana mereka berjalan menurut jalan Ahlu l-Bait Rasulullah SAWAW. Mereka tidak berganjak sedikitpun daripada mereka (Ahlu l-Bait AS). Oleh itu janganlah  mengaitkan mereka dengan pembohongan-pembohongan yang keji dan rekaan-rekaan yang hina serta perkataan yang dibuat-buat.

 

Dan tidak menghubungkaitkan mereka dengan tohmahan-tohmahan yang batil sebagaimana dilakukan oleh sebahagian Ahlu s-Sunnah seperti Ibn Taimiyah, Ibn Hazm, Ibn Hajr, Ahmad Amin Mesir, Musa Jarullah, Muhammad Thabit al-Misri, al-Hafnawi dan al-Jubhan. Seperti Syaikh Nuh yang telah mengeluarkan fatwa tentang kekafiran Syi’ah al-Abrar, dan membunuh mereka…..sama ada mereka bertaubat ataupun tidak. Dan orang-orang yang menurut jejak langkah mereka yang jahat. Mereka menjadi kuncu-kuncu Bani Umaiyyah. Aku memoho perlindungan kepada Tuhan Arasy daripada golongan yang melakukan kezaliman dan permusuhan ke atas kami, sama ada secara jahil atau berpura-pura jahil, mengambil upah atau secara sukarela.

 

Aku juga berharap dari saudara-saudaraku Ahlu s-Sunnah supaya mengkaji kebenaran yang terdapat di dalam buku-buku mereka sendiri tentang Syi’ah dan meninggalkan celaan ke atas mereka dan apa yang tidak diredhai Allah SWT. Dan janganlah mereka menulis di dalam buku-buku mereka apa yang tidak terdapat di dalam buku-buku Syi’ah. Apatah lagi jika ianya telah menjadi asas mazhab mereka kerana zaman sekarang adalah zaman cahaya. Hakikat kebenaran Syi’ah telah terserlah kepada kebanyakan orang. Dan orang ramai mulai berpegang kepada mazhab Tasyayu’ secara beramai-ramai.

 

Sesungguhnya aku memberi nasihatku yang berguna ini kerana aku mengetahui celaan-celaan dan cacian-cacian yang menggerunkan jiwa-jiwa yang sejahtera terdapat di dalam buku-buku karangan Ahlu s-Sunnah. Allah menjadi saksi sesungguhnya aku sebelum berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS, sentiasa menasihati sahabat-sahabatku dan ulama-ulama yang besar di Qahirah, Damsyiq, Halah, Makkah, Madinah dan lain-lainnya terutamanya penulis-penulis supaya tidak mencela golongan yang berpegang kepada mazhab Ahlu l-Bait AS sambil berkata: Sebaik-baik bagi kalian menentang Syi’ah dengan cara yang lebih baik iaitu dengan dalil akal atau naql bukan dengan cacian dan tohmahan kerana ianya tidak sesuai dengan peradaban Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAWAW.

 

Kalian perhatikanlah buku-buku karangan Syi’ah, pasti mempunyai hujah-hujah yang mengukuhkan dakwaan mereka dan mereka menahan daripada cacian dan tohmahan yang batil. Malah mereka menyeru kalian (Ahlu s-Sunnah) dengan kata-kata yang sopan: Mudah-mudahan Allah memperbaiki saudara-saudara kami Ahlu s-Sunnah. Inilah akhlak mereka yang diambil daripada imam-imam mereka dan buku-buku mereka berada di merata-rata tempat. Justeru itu hendaklah kalian mengkajinya atau menjawabnya jika kalian mampu.

 

Aku mengkaji banyak buku-buku karangan Syi’ah, maka aku dapati ianya menyalahi apa yang dikatakan kepada mereka. Demi Allah! Mereka adalah golongan Mukminin kepada hukum lima yang yang datang daripada Allah dan RasulNya dan akan terus beramal dengannya dari hari beliau diutuskan sehingga hari beliau dibangkitkan. Aku tidak mendapati dosa mereka selain dari tidak mengutamakan selain daripada Ahlu l-Bait ke atas Ahlu l-Bait AS. Dan adakah ini dikira dosa wahai Muslimin?

 

 

Nota kaki

64. al-Ausat, hlm. 216.

65. A’yan al-Syi’ah, III, hlm. 265.

66. al-Mustadrak, III, hlm. 126.

67. Tarikh al-Baghdad, II, hlm. 377.

68. Yanabi’ al-Mawaddah, hlm. 183.

69. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 37.

70. al-Bidayah wa al-Nihayah, VII, hlm. 358.

71. Kanz al-Ummal, V,  hlm. 30.

72. al-Isti’ab, II,hlm. 30.

73. al-Riyadh al-Nadhirah, II, hlm. 193.

74. Dhakha’ir al-’Uqba, hlm. 77.

75. Syarh Nahj al-Balaghah, II, hlm. 236.

76. Usd al-Ghabah, IV, hlm. 27.

77. Kifayah al-Talib, hlm. 99.

78. al-Talkhis, III, hlm. 126.

79. Lisan al-Mizan, I, hlm. 432.

80. Tahdhib al-Tahdhib, II, hlm. 320