Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

Semakin banyak orang yang masuk syi’ah

Phillippe Senderos Masuk Islam  Syiah

baca juga : Syiah Sesat ?? Kaum Sunni Yang Masuk Syi’ah di Indonesia sudah 2,5 juta jiwa

Philippe Senderos, centre back Fulham dan timnas Swiss masuk Islam. Hal tersebut dimulai ketika mantan punggawa Arsenal dan AC Milan itu, tertangkap kamera seorang fotografer tengah bersama seorang ulama.

“Saya sangat tertarik dengan agama-agama yang ada di dunia dan membaca banyak buku tentang subyek itu,” demikian ujar Senderos pada sebuah wawancara untuk Arsenal Magazine beberapa tahun lalu.

“If I wasn’t playing football, I would probably have become a priest.” lanjutnya.

Ternyata situs Syiah ternama, Ahlul Bayt News Agency (ABNA) menginfokan bahwa Senderos berpindah dari Agamanya yang lama ke Agama islam Syiah.

Lebih jelasnya di situs tersebut dinyatakan bahwa Senderos menyatakan imannya di kota Manchester Inggris, dalam sebuah pusat Islam yang didedikasikan untuk menyebarkan ajaran-ajaran Ahlulbait.

Philippe Sylvain Senderos lahir di Jenewa, Swiss, 14 Februari 1985. Senderos berdarah Spanyol dari ayahnya dan Serbia dari ibunya. Ia mengawali karier sebagai pemain yunior Servette. Senderos pernah bermain untuk tim utama Servette, Arsenal, A.C. Milan dan Everton sebelum bergabung dengan Fulham pada bulan Juni 2010. Senderos telah memperkuat timnas Swiss sejak bulan Maret 2005 dengan mencatat 45 kali penampilan dan 5 gol.

======================================================
Sri Lanka:
31 Keluarga Menyatakan Diri Masuk Syiah
“Dengan kehadiran ramai keluarga-keluarga Ahlusunnah di wilayah ini dan kesadaran mereka mengenai hakikat Ahlul Bait yang kami bicarakan, mereka cenderung ke arah mazhab Ahlul Bait. Kami juga melanjutkan usaha memberi membimbing mereka ke arah jalan yang lurus.”
31 Keluarga Menyatakan Diri Masuk SyiahZawini Jalil, pengurus Komunitas Persatuan Perempuan Az Zahra di Sri Lanka menyatakan 31 kepala keluarga di wilayah Nuwara Elya telah menerima mazhab Syiah. Menurutnya, keberhasilan tersebut diraih setelah 2 tahun melakukan amal sosial di kawasan tersebut
.
Lebih lanjut, beliau mengatakan, “Sewaktu kami hendak membagikan makanan sebagaimana tugas rutin kami setiap bulannya buat warga wilayah Nuwara Elya, tanpa kami duga, semua anggota keluarga tersebut menyatakan niat tulus mereka untuk menjadi pengikut Ahlul Bait. Inilah pencapaian dan keberhasilan terbesar kami.”
.
“Setelah kami melihat mereka ini benar-benar ingin mengikuti mazhab Syiah, setiap pekan kami konsisten mengajari mereka bagaimana cara berwudhu, shalat dan bagaimana membaca doa sesuai ajaran Ahlul Bait”. Tambahnya.Zawini Jalil selanjutnya menceritakan kegiatan Komunitas Persatuan Perempuan Az Zahra yang dipimpinnya dalam menyelenggarakan berbagai majelis di wilayah tersebut, “Kami memperkenalkan keutamaan Nabi SAWW dan Ahlul Bait AS dalam setiap ucapan kami. Kami juga sukses mengadakan majelis-majelis Asyura dalam bulan Muharam di wilayah Nuwara Elya
.
“Zawini Jalil turut menjelaskan bahwa saudara-saudara dari kalangan Ahlusunnah di wilayah tersebut juga turut hadir dalam acara-acara mereka, “Dengan kehadiran ramai keluarga-keluarga Ahlusunnah di wilayah ini dan kesadaran mereka mengenai hakikat Ahlul Bait yang kami bicarakan, mereka cenderung ke arah mazhab Ahlul Bait. Kami juga melanjutkan usaha memberi membimbing mereka ke arah jalan yang lurus.”

Yahya Hayder, Perjalanan Spiritual dari Wahabi ke Syiah

Selasa, 2012 Februari 07 08:30

Nama saya Yahya Hayder Seymour. Saya dilahirkan di Filipina pada tahun 1987 dengan nama Sean Andrew Seymour. Ayah saya warga Skotlandia dan ibu saya seorang Filipina. Itu berari seorang berdarah campuran atau dengan istilah half cast seperti yang disebut oleh rekan-rekan saya. Kedua orang tua saya bercerai ketika saya masih muda. Ibu saya terpaksa membesarkan kakak saya yang waktu itu berusia 3 tahun, sementara saya baru berusia 9 bulan. Ibu berusaha keras untuk membesarkan kami, meskipun ia berada di sebuah negara asing, Skotlandia. Sebuah Negara yang agak kasar terhadap orang asing.

Berasal dari Filipina, secara alami saya adalah seorang Katolik Romawi. Saya memang percaya akan wujudnya Tuhan, tetapi bukan dalam bentuk dogma yang tertentu. Bukan juga dari sudut pandang Panteisme. Walaupun saya punya minat dalam berbagai agama yang dilahirkan dalam sejarah, saya sering membaca agama, mitos dan legenda.

Pada usia 13-14, saya berteman dengan orang-orang yang salah. Mungkin karena saya ingin merasa punya kelompok dan mendapat perhatian. Oleh karena itu, saya menjadi salah seorang anak dari keluarga yang berlatarbelakang kelas menengah yang dihormati, yang berlagak kononnya ghetto, dan seperti itu. Saya mulai merokok pada usia 14 tahun, dan minum Binge pada usia yang sama. Sayangnya kebiasaan ini memberi dampak buruk bagi pelajaran saya. Nilai-nilai di sekolah mulai menurun  dan akhirnya saya dikeluarkan dari sana. Pada usia tersebut, guru pembimbing saya telah memberikan saran agar saya melakukan proyek pribadi sebagai hukuman. Tugas ini harus dilakukan selama 2 bulan dan tugasnya mengkaji tradisi Filipina. Proyek ini menjadi bertambah menarik karena dengan sendirinya saya mulai mengenal agama Islam. Boleh jadi Islam merupakan keyakinan besar dunia yang tidak pernah timbul dibenak saya sebelum ini.

Sejarah membuktikan bahwa leluhur saya dahulu adalah muslim sebelum kedatangan Spanyol ke Filipina. Orang-orang Spanyol inilah yang memaksakan agama Kristen di bagian Utara Negara ini dan sebagian besarnya dengan cara brutal. Bagaimanapun saya tidak melihat Islam secara mendalam pada saat itu.

Saya mula membaca sejarah dan politik dunia sebagai hobi, sesuatu yang sebelum ini tidak pernah terlintas di pikiran saya. Saya mula memutuskan bahwa kehidupan saya akan menjadi mimpi buruk bila saya tidak segera mengambil sikap. Ia akan menjadi akhir kehidupan saya tanpa meninggalkan kelayakan mendasar dan tidak juga mampu untuk maju serta gagal dalam kehidupan.

Saya berubah dan serius mengikut agama yang seharus dipatuhi oleh kedua orang tua saya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menumpukan perhatian serius kepada Katolik dan melaksanakan ajarannya. Sekalipun doktrin Trinitas membuat minat saya mengkaji Katolik, di sisi lain, saya juga tidak yakin Paus menjadi wakil Tuhan di bumi.

Saat ke Mesir, saya mengunjungi ayah. Di sana saya diberikan sebuah al-Quran terjemahan bahasa Inggris. Saya mulai membacanya. Saya mendapai al-Quran sungguh menarik. Terutama di dalamnya disebutkan nabi-nabi yang saya akrab dengannya termasuklah Nabi Isa as yang mempunyai peran lebih logis dalam agama ini. Saya juga merasakan bahwa buku ini, meletakkan Tuhan di posisi yang tinggi selayaknya dibandingkan dengan Old Testament yang memberi penjelasan tentang Tuhan.

Dalam Old Testament atau Perjanjian Lama menyebut Tuhan adalah penerobosan dari Israiliyyat atau sekelompok hadis palsu yang dikaitkan dengan Nabi Muhammad Saw, yang secara umumnya telah dipalsukan oleh yahudi dan Kristen, malah sebagian umat Islam juga meyakininya…. Semoga Allah melindungi kita dari penyimpangan tersebut.

Setahun melakukan penelitian sayapun memeluk agama Islam pada usia 15/16 tahun. Saya menjadi seorang muslim yang setia dan mulai memusatkan diri dalam mempelajari agama ini. Kononnya ketika itu saya ingin menjadi contoh yang bersinar kepada mereka yang berada dalam kegelapan(seperti yang dijelaskan oleh Malcolm X dalam biografinya). Saya melibatkan diri dalam masyarakat lokal dan pada masa itu saya menjadi pengikut Najdi (Salafi atau Wahabi) yang tidak toleran dan meremehkan status Nabi dan keluarganya serta meninggikan status mereka yang menjadi sahabat Nabi tanpa mengetahui apakah itu layak atau tidak. Bagaimanapun Salafi sangat terorganisir dan begitu memahami kehendak masyarakat serta menarik perhatian anak muda.

Dengan mendapatkan dukungan dari negara kaya minyak Teluk Persia, terutama dari Arab Saudi dan Kuwait, kelompok Salafi-Wahabi ini mendapat dana mencukupi dan terorganisir. Selain itu mereka juga lebih aktif dalam berbagai bidang dan tugas-tugas misionaris dari syiah.

Bagian final kemajuan atau perkembangan spiritual saya ketika berusia 17 tahun. Kebetulan saya mendengar ceramah Sayed Mahdi Modaressi pada tanggal 1 Muharram di London……

Sebuah kisah lelaki, wanita dan anak-anak yang telah dibunuh dengan kejam oleh ekstrim muslim………siapakah mereka ini???

Cucu baginda Rasulullah Saw Husein dan keluarganya.

Saya terperanjat.

Selama berbulan-bulan saya melakukan penelitian, kemudian saya memutuskan bahwa terdapat bukti yang sahih lewat buku hadis kita sendiri(Ahlu Sunnah) bahwa mazhab Syaih adalah yang paling akurat dan status Ahlul Bait as serta peran mereka melindungi agama. Demikian juga cinta tulus terhadap keluarga Nabi, semuanya bersumber dari hari wafatnya Rasulullah dan juga peristiwa Saqifah.

Bagaimana bisa saya tidak merasakan kesedihan Rasulullah Saw, insan teragung di atas muka bumi? Banyak buku-buku sejarah yang merekam peristiwa hitam dalam kehidupannya, bagaimana mereka yang akrab dengannya berusaha untuk menghancurkannya dan warisannya. Sebagai seorang sunni, saya tahu benar bagaimana dua khalifah yang pertama begitu diberi pujian, begitu juga Khalid ibn al-Walid dan Imam Ali as, bagaimanapun kita tidak mengetahui apa-apa berkaitan Hasan dan Husein.

Saya masih teringat bagaimana saya bertanya mengapa Aishah memerangi Ali dan kemudian peperangan Imam Ali dengan Muawiyah? Bagaimana kejadian tersebut bisa berlaku ke atas generasi yang paling benar?? Sebenarnya, terlalu sedikit kebenaran yang terdapat mengenai mereka.

Sepanjang saya sebagai sunni, saya berusaha untuk menjelaskan kepada rekan dan keluarga yang non-muslim, yang percaya bahwa Islam sebagai agama fanatik dan teroris bahwa Islam tidak sedemikian. Bagaimanapun, saya kemudian menyadari bahwa Islam tidak jauh dari hakikat….

…. Islam yang diyakini oleh sebagian mayoritas Muslim benar mewakili sedikit teror dan ekstrim. Nabi Muhammad Saw dan keluarga baginda bukanlah arsitek dan tidak juga lambing terorisme, malah merekalah yang menjadi korban terbesar dan syahid yang diambil dari kita oleh teroris.

Muhammad, Fatima, Ali, Hasan dan Husein as adalah korban semua terorisme ini.

Akhirnya, saya dapat bernafas, hijab yang menutup mata saya terangkat dan saya dapat melihat dengan jelas jalan bimbingan.

Saya menyadari bahwa sejarah sering ditulis oleh pihak tirani. Kita masih saja membiarkan Islam dikorup dan dirusak oleh sampah masyarakat. Bani Umayah yang merupakan musuh Nabi ketika baginda hidup dan tidak lama selepas kewafatan baginda, toh seluruh dinasti Umayyah dibiarkan menjadikan penjaga dan memerintah seluruh umat, bagaimana bisa perkara seperti ini masuk akal??

Syiah merupakan keadilan yang revolusioner dan pusat jantung Islam, dan saya telah menemuinya. Syiah memberi hakikat gambaran yang amat menyedihkan kepada saya. Nabi Muhammad Saw dan mereka yang loyal kepada Tuhan adalah yang paling bertakwa, paling dermawan dan paling menyayangi; merekalah yang paling menderita, mereka menderita ditangan orang yang menganiaya mereka dan seterusnya menganiaya yang lain.

Bagaimanapun sebaik saja rantai ujian dan penderitaan berakhir dan kegelapan tenggelam, keadilan pun timbul dan merebak.

Saya menerima Syiah pada tahun 2004, dan meninggalkan cinta saya pada taghut dan penganiaya keluarga Muhammad Saw. Saya memberi baiahtsaya kepada Imam al-Mahdi, semoga Allah mempercepatkan kehadirannya. Sejak itu saya meninggalkan Universitas Skotlandia dan bergabung dengan Hawza Ilmiah London, dimana saya mendapat banyak ilmu dari Sheik Mohammed Saeed Bahmanpour, Sheikh Hakimelahi, Dr. Jassim Hussain dan Ayatollah Sayyed Fadhil Milani.

Segala puji kepada Allah, selawat dan salam ke atas Nabi Muhammad dan keluarganya. Laknat Allah ke atas pembunuh mereka.

Rabu, 15 Februari 2012 14:30 WIB

Putra Oliver Stone, Aktor dan Sutradara AS Masuk Syiah di Iran

Ali Stone: Ketika Mengucapkan Syahadat, Aku Merasa Berhadapan dengan Orang Suci

Rabu, 2012 Februari 15 13:54

Sean Stone setelah memeluk Islam dan mengganti namanya Ali Stone mengatakan, “Menurut saya, sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia saat ini juga bakal hancur. Karena masyarakat dengan keimanannya telah memulai kebangkitan di Timur Tengah.”

Di sela-sela acara pembacaan dua kalimat syahadat di Isfahan, Fars News sempat mewawancarai Sean Stone yang akhirnya memilih nama Ali Stone setelah memeluk Islam. Kepada Fars Ali Stone mengatakan bahwa Gerakan Occupy Wall Street tidak akan padam. Karena ia berada di hati setiap orang.

“Agama Islam adalah lanjutan dari “Firman Tuhan”. Allah yang telah mengutus Nabi Ibrahim as dan Musa as, serta menyatukan seluruh mazhab dan prinsip-prinsip agama,” jelas Ali Stone mengenai alasan mengapa ia memeluk Islam.

Seniman Amerika ini juga memaparkan bahwa Nabi Muhammad Saw berhasil menyatukan seluruh masyarakat yang waktu itu penuh dengan kekufuran. Menurutnya, saya dapat memahami keberanian dan ketulusan Nabi Muhammad Saw. “Itulah mengapa saya memeluk Islam,” ujar Ali Stone.

Seraya menyinggung bahwa agama-agama lain menyembah Allah sama dengan Islam, Stone menekankan, “Laa Ilaaha Illa Allah” bukan pengertian yang baru. Kalimat ini senantiasa ada bersama agama-agama yang ada. Perbedaannya hanya pada cara penjelasannya.”

Ketika ditanya apakah keluarganya mengetahui ia berencana memeluk Islam dan apa reaksi mereka, Ali Stone mengatakan, “Tidak. Mereka tidak banyak tahu tentang masalah ini. Dengan memeluk Islam, pada dasarnya saya mengikuti seluruh agama. Kita semua satu di mata Allah yang Maha Kuasa.”

Kembali Ali Stone ditanya mengapa di usia 27 tahun ia memutuskan untuk memeluk Islam. “Saya telah membaca al-Quran. Tapi tentu saja orang tidak bisa menjadi muslim hanya dengan membaca al-Quran semalaman. Karena seseorang harus membaca al-Quran selama hidupnya. Proses saya memeluk Islam merupakan perintah Allah. Saya bukan orangnya yang menentukan kapan saya harus muslim,” ujar anak sutradara terkenal Amerika, Oliver Stone.

Sekaitan dengan perasaannya saat mengucapkan dua kalimat syahadat, Ali Stone mengatakan, “Saya berhadapan dengan seorang alim rabbani dan suci. Saya berpikir ia memiliki hubungan khusus dengan Allah.”

Berbicara mengenai masa depan umat Islam di Timur Tengah, Ali Stone menjelaskan bahwa sebagaimana pemerintahan Babel musnah, kekuatan dunia juga akan tumbang. “Di sinilah perbedaan antara seseorang yang beriman dengan Barat yang tidak percaya,” tambahnya.

Ketika ditanya mengenai masa depan gerakan Occupy Wall Street, Ali Stone mengatakan, “Wall Street merupakan sebuah gerakan yang tidak pernah padam. Karena ia ada di hati setiap orang.

Putra Oliver Stone Masuk Islam di Iran 

Aktor Amerika dan pembuat film dokumenter Sean Stone, putra sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, masuk Syiah saat upacara keagamaan di Iran.

Stone menjadi seorang penganut Syiah dan memilih menggantinya namanya menjadi Ali pada upacara yang diadakan di kota bersejarah Isfahan Iran pada tanggal 14 Februari kemarin.

“Pindah agama ke “Islam” tidak berartu meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengannya,” kata Stone.

“Artinya saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” tambahnya dalam panggilan telepon singkat.

Lahir dari ayah Yahudi dan ibu Kristen, Stone tidak mengatakan mengapa ia masuk Syiah.

Stone yang mengunjungi Iran beberapa bulan lalu mengatakan ia ingin mengetahui lebih banyak tentang budaya dan peradaban Persia serta akrab dengan tradisi Iran.

Stone menyebut Iran sebagai salah satu pusat utama Asia dalam pembuatan film sembari mengatakan bahwa ia “ingin memperkenalkan budaya Persia dan peradabannya ke Barat.”

Pembuat film berusia 27-tahun ini adalah lulusan sejarah dari Princeton University dan telah berkolaborasi pada banyak proyek ayahnya. Dia juga telah menyutradai beberapa film dokumenter

Pembuat film AS, Sean Stone, putra dari sutradara pemenang Oscar Oliver Stone, dilaporkan masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, saat tengah membuat film dokumenter.

“Konversi ke Islam tidak meninggalkan Kristen atau Yudaisme, yang saya lahir dengan. Ini berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” kata Sean, lewat sebuah panggilan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, tempat di mana ia menjalani ritual, seperti dikutip AFP.

Ayah Sean, Oliver Stone terkenal sebagai penganut Yahudi, sedangkan ibunya beragama Kristen.

Pria pembuat film berusia 27 tahun itu tidak mengungkapkan alasan mengapa ia masuk Islam.

Menurut kantor berita Iran, Fars, Sean Stone telah menjadi penganut Syiah dan memilih dikenal dengan nama depan Muslim, Ali.

Sebelumnya, Sean (Ali Stone) telah beraksi dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, kini telah mengarahkan sendiri beberapa film dokumenter.

Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran

Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.
Sean Stone Memeluk Islam dan Menjadi Syiah di Iran
 Sean Stone, seorang sutradara film dokumentasi Amerika Serikat, putra Oliver Stone yang juga produsen film terkemuka Amerika, memeluk agama Islam.Mehr News (14/2) melaporkan, Sean berkunjung ke Iran dalam rangka merekam film dokumentasi tentang Iran, dan hari Selasa (14/2) ia menyatakan memeluk agama Islam, di kota Isfahan.Dalam wawancaranya dengan AFP, Sean menyatakan bahwa konversi ke agama Islam itu berarti dia telah menerima Muhammad sebagai nabi di antara nabi-nabi lainnya
.
Ayah Sean, yaitu Oliver Stone adalah seorang Yahudi dan ibunya seorang Kristen. Produsen film dokumenter berusia 27 tahun itu sebelumnya pernah tampil singkat dalam film-film produksi ayahnya.Sean memilih nama Ali dan ia memilih mazhab Syiah.
Sean Stone, anak sutradara kondang Oliver Stone, memutuskan untuk masuk Islam di Iran. Ia tengah membuat film dokumenter di negeri itu.Namun, pemuda 27 tahun ini menyatakan tak akan meninggalkan akar Kristen yang Yahudi orang tuanya, kendati dia telah menjadi Muslim. Tanpa menyebut alasannya, dia mengaku menjadi penganut Syiah dengan nama depan Ali.“Menjadi Muslim berarti saya telah menerima Muhammad dan para nabi lainnya,” ujar Stone di Isfahan, Iran, di mana upacara konversi dilakukan
.
Dia tengah membuat film dokumenter tentang Rumi, seorang penyair mistis. Sebelumnya, ia terlibat dalam 12 film yang disutradarai ayahnya. Sebuah dokumen mencatat, dia merupakan pembela Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad
.
Lulusan Princeton University ini pernah tampil dalam film Wall Street: Money Never Sleeps pada tahun 2010, Nixon pada tahun 1995, dan JFK pada tahun 1991 – semua besutan oleh ayahnya.Tehran Times melaporkan, dia mengikrarkan keislamannya di Isfahan, di kantor ulama Syiah Ayatollah Mohammad Nasseri Dowlatabadi. Dia berada di Iran sejak awal bulan ini untuk sebuah acara apreasiasi film Hollywood yang dihadiri Ahmadinejad
Produser film terkenal Amerika, Sean Stone, yang juga anak dari sutradara pemenang Oscar, Oliver Stone, masuk Islam pada hari Selasa (14/2) di Iran, tempat di mana ia sedang membuat film dokumenter, katanya kepada AFP.

Bagusnya, ia masuk Islam di Iran sehingga ia menjadi seorang Syiah.

“Masuk Islam tidaklah mengabaikan agama Kristen atau Yudaisme, yang mana saya sudah peluk semenjak lahir. Ini berarti saya telah menerima Muhammad (saw) dan para nabi lainnya,” katanya dalam sebuah percakapan telepon singkat dari pusat kota Iran, Isfahan, di mana ia menjalani upacara peresmian keIslamannya.

Ayahnya yang terkenal, Sean Stone adalah Yahudi, sedangkan ibunya adalah Kristen.

Produser film yang berumur 27 tahun ini tidak mengatakan mengapa ia bisa masuk Islam.

Menurut kantor berita Iran Fars, Sean Stone telah menjadi Syiah dan memilih nama Ali Muslim.

Sean Stone pernah akting dalam peran kecil di beberapa film ayahnya, dan telah menyutradarai beberapa film dokumenter

Cucu Malcolm X Masuk Syi’ah

Setelah masa muda yang penuh masalah, Malcolm Shabazz berusaha untuk mengikuti jejak kakeknya, Malcolm X. Dia juga cucu dari Dr. Betty Shabazz yang meninggal pada tahun 1997 setelah menderita luka bakar di apartemennya. Malcolm yang saat itu berusia 12 tahun mengaku bersalah telah menyulut api. Ibunya yang pada saat umur empat tahun melihat ayahnya ditembak, Qubilah Shabazz, memberi tahu bahwa neneknya wafat.

Malcolm duduk di penjara dan berbicara kepada arwah neneknya, memohon tanda agar dimaafkan. “Saya hanya ingin dia tahu bahwa saya menyesal. Saya ingin tahu bahwa dia menerima permohonan maaf ini, karena saya tidak bermaksud demikian,” kenangnya. “Tapi saya tidak mendapat jawaban, meski ingin.” Enam tahun setelah kebakaran, dia kembali masuk penjara—kali ini penjara orang dewasa dengan tuduhan pencobaan perampokan. Tapi ia masih mencari kesempatan untuk melanjutkan kehidupan, dan dunia melihatnya akan melihatnya sebagai cucu dari seorang martir.

Malcolm tumbuh jauh dari kilauan ketenaran nama yang diwariskan. Selama bertahun-tahun ia berjuang memenuhi harapan untuk mengikuti jejak kakeknya, meskipun ia mendapat manfaat hubungan keluarga dan dukungan para pengagum Malcolm X. Tapi dia ingin mencapainya sendiri. “Saya punya tujuan. Saya punya rencana. Saya ingin orang tahu apa yang terjadi pada saya.”

Butuh waktu selama 22 bulan. Bahkan untuk menghadapi komentar sinis tentangnya: pembakar dengan gangguan mental. “Menurut catatan, saya didiagnosa dengan banyak hal. Saya mendengar banyak suara dan hal. Saya skizofrenia, saya depresi berat. Saya tidak akan bisa duduk tenang jika semua itu benar.” Ruth Clark, ibu baptis Malcom, berkata, “Banyak tekanan menjadi cucu Malcolm X. Setiap orang memiliki harapan tinggi.”

Sama seperti kakeknya, ia banyak menghabiskan waktu di jalanan dan penjara. Sama seperti kakeknya, di balik penjara ia menemukan kembali iman dan tenggelam ke dalam Islam. Ketika dikarantina di Attica Correctional Facility di New York, Malcolm Shabazz mengatakan bahwa dia tidak memiliki perlengkapan yang bersih dan bahan bacaan. Tapi saat itu, ia bertemua napi lainnya asal Meksiko-Iran. Menurut Shabazz, orang ini menjadi teman diskusi dengan banyak teks keagamaan.

“Saya dibesarkan sebagai suni, semua keluarga saya suni.” Perpindahannya kepada Syiah menyebabkan reaksi yang mirip seperti ketika kakeknya meninggalkan Nation of Islam pada tahun 1964 dan menyatakan dirinya sebagai suni. Tersebarnya berita itu, membuat beberapa pemimpin suni and anggota komunitas menyatakan ketidaknyamanan mereka. Banyak orang menulis kepadanya, “Bagaimana Anda bisa menjadi Syiah?”

Shabazz menceritakan bahwa dirinya telah diberi tahu bahwa Syiah bukan muslim dan mereka adalah kelompok radikal. Semua yang dikatakan kepadanya sudah ia anggap sebagai propaganda biasa. Karena setiap informasi yang diterima Shabazz tentang mazhab ahlulbait ini berasal dari musuh-musuhnya yang telah dikemas ulang. Shabazz mengatakan, jika kita ingin tahu tentang apapun maka kita harus merujuk pada sumber aslinya dan tidak hanya cukup kepada satu orang awam Syiah, tapi harus kepada alim.

Shabazz Malcolm terkesan dengan buku-buku seperti Peshawar Nights dan Then I was Guided. Malcolm Shabazz kagum dengan perjuangan Imam Husain a.s. yang menurut beberapa alim juga diperjuangkan oleh kakeknya Malcolm X, sama seperti perjuangan Nabi Musa melawan firaun.

Setelah dibebaskan, Shabazz memutuskan untuk pindah ke Suriah dan belajar di sebuah lembaga keislaman dan menghabiskan delapan bulan berikutnya untuk mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak. “Saya keluar dari penjara dan ingin pergi sementara waktu.” Setelah kembali dari Suriah, Shabbaz kembali ke Miami dan menyiapkan sebuah memoar yang akan menyingkap kesalahpahaman agar semua menjadi jelas.

Setelah kembali ke Amerika Serikat, ia memutuskan untuk mengikuti jejak kakeknya pergi haji. Pengalaman seumur hidup Shabazz ini membuktikan kekuatan keimanan. Selain salat di tanah suci Mekah dan Madinah, Shabazz juga berkunjung ke Riyadh dan Jeddah.

Selengkapnya di blog Malcolm Shabazz: Live From Saudi Arabia

Shabazz sempat ditanya oleh seorang jendral Arab Saudi yang fasih berbahasa Inggris, “Brother, are you Shia or are you Sunni?” Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan menjadi terdiam. Shabazz menjawab, “Brother, I’m a Muslim.” Shabazz juga mengunjungi komunitas Syiah kulit hitam di Madinah yang menurutnya sudah tinggal sejak masa awal Islam. Di sana ia menceritakan tentang siapa dirinya lalu didoakan agar ibadah hajinya di terima Allah Swt.

Puluhan tahun sebelumnya, kakeknya telah membuat perubahan pada kultur Amerika dengan mengambil pendekatan radikal untuk menuntut persamaan hak. Ketika ditanya apakah kakeknya akan mengagumi Presiden Obama jika ia masih hidup hari ini, Shabazz menjawab, “Jelas tidak. Bagi saya, dia tidak ada bedanya dengan Bush.”

Shabazz mengatakan bahwa demokrasi di negaranya palsu, sebuah ilusi yang diabadikan para elite penguasa. Meski secara khusus ia tidak mengagumi Obama, ia berharap pemilihan presiden Afrika-Amerika pertama ini bisa “meningkatkan harga diri pemuda kulit hitam”. Pesan-pesan yang disampaikan Malcolm X semakin lebih penting saatnya daripada sebelumnya.

“Kakek saya pernah mengatakan bahwa hanya ada dua kekuatan yang dihargai di Amerika Serikat—kekuatan ekonomi dan kekuata politik—dan dia menjelaskan bagaimana kekuatan sosial berasal dari keduanya. Sayangnya, mayoritas masyarakat (saat ini) buta huruf secara ekonomi dan naif secara politik. Mereka percaya dengan apa yang mereka lihat di televisi dan baca di koran. Saya katakan, percaya sebagian yang Anda lihat, dan jangan percaya apa yang Anda dengar.”

Shabazz percaya bahwa perubahan dapat dimulai dengan pendidikan dan persatuan. “Pendidikan dapat dilakukan melalui musik, puisi yang diucapkan, seni, ceramah dari mimbar, atau terlibat dalam pekerjaan fisik.” Terkait persatuan, ia mencontohkan Uni Eropa, sebagai organisasi “di mana negara-negara yang tidak saling suka satu sama lain tapi karena memiliki akal sehat untuk bersama dengan satu tujuan atau melawan musuh bersama.”

“Setelah peristiwa 11 September, banyak orang tidak tahu (tentang Islam). Tapi mereka mulai menyelidiki dan belajar lebih.” Meski reaksi pertama orang adalah berpaling dari agama jihad, Shabazz merasa banyak orang juga butuh mendidik diri mereka sendiri—dan menemukan ada banyak sisi lain Islam dari yang media gambarkan. Bagi seorang pemuda yang telah menjalani kehidupan penuh gejolak, Shabazz mencari sesuatu yang mendasar bagi keimanannya: “Saya ingin ketenangan pikiran.”

Kunjungan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ke Iran

26 April 2011 17:26

Kunjungan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ke Iran sebagai ketua Delegasi MUI Pusat

Menlu Iran Sedih Banyak Umat Tak Paham dengan Mazhab-mazhab Islam

RMOL. Selain berbicara tentang pentingnya menjalin kerjasama bilateral antara Indonesia dan Iran, Menteri Luar Negeri Iran, Ali Akbar Salehi, juga menegaskan pentingnya merajut kerjasama dalam bidang kesepahaman antarpengikut mazhab di antara umat Islam di kedua negara.

Di sela-sela acara penerimaan tamu delegasi Majelis Ulama Indonesia, Salehi menceritakan kisah sedih terkait perbedaan mazhab yang menimpanya ketika berkunjung ke Mesir.

Diceritakannya, suatu hari dia berkunjung ke salah satu masjid di kota Kairo. Pada saat itu, sayup-sayup terdengar kumandang syair-syair yang biasa dilantunkan para ulama Iran. Oleh karena suara dan cara membaca yang cukup bagus, Salehi mendekati sumber suara.

Setelah bertemu dan bertatap muka, ia lalu memuji bacaan yang bagus dan suara yang indah dari sang pembaca syair.
Mendapat pujian tersebut, sang pembaca syair bertanya, “Darimana Anda?”
Dengan tidak ragu-ragu Salehi pun menjawab, “Saya dari Iran.”

Tiba-tiba orang tersebut tersentak seraya berteriak, “Anda sesat, Anda Kafir, Anda bukan Muslim.”
Mendengar itu, Salehi mengucapkan istighfar serta mengucapkan mohon maaf bila dia dianggap mengganggu. Hal itu terjadi kebanyakan Mesir beraliran Sunni.

Kepada para delegasi MUI, Menlu Iran mengatakan, apa yang dialaminya itu adalah merupakan kisah yang kerap dijumpai, meski dengan model berbeda, di tengah-tengah umat Islam.

“Bayangkan, syair-syair yang dibaca adalah syair-syair para ulama Iran. Namun oleh karena ketidaktahuannya, sang pembaca syair menganggap saya bukan orang Islam karena saya dari Iran. Saya yakin bahwa mereka yang juga mengeritik mazhab Syi’ah Ja’fari bukan karena tidak suka, tetapi mungkin karena tidak tahu dan belum paham. Itulah sebabnya mengapa kita perlu bertukar informasi dan bertukar pengetahuan soal faham keagamaan yang ada di tengah-tengah kita,” demikian Salehi mengakhiri ceritanya.

MUI yang terdiri dari delapan orang berkunjung ke Iran mulai Kamis (21/4) hingga besok (Rabu, 27/4). Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Saleh Partonan Daulay(Ketua Pemuda Muhammadiyah), seorang dari delapan delegasi MUI, menceritakan apa yang disampaikan Menlu Iran itu kepada Rakyat Merdeka Online melalui surat elektronik kemarin.

Indonesia-Iran Selenggarakan Festival Seni Budaya Al-Quran

PDFCetakE-mail

03 Agustus 2011 06:16

Jakarta (ANTARA News) Kedutaan Besar Republik Islam Iran dengan PP Pemuda Muhammadiyah menggelar “Festival Seni Budaya Al-Quran” yang berlangsung mulai Senin (1/8) di Jakarta. “Islam sangat banyak memiliki seni yang indah dan harus dikembangkan tiap tahunnya. Dan itu membutuhkan peran kita semua”, kata Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dr. Saleh Daulay.

Dalam acara pembukaan tersebut hadir Duta Besar Republik Islam Iran, Dr.Mahmoud Farazandeh. Ia mengatakan seni budaya salah satu cara menunjukkan kekuasaan Tuhan.

“Ini merupakan bentuk kerjasama yang baru antara Indonesia dengan Iran dan berharap kedepannya bisa berkerjasama dalam bidang yang lain”, ujarnya.

Festival Seni Budaya Al-Quran berlangsung 1-3 Agustus 2011 di Masjid Raya Al-Isra Jakarta. Selain pemeran kaligrafi dan kesenian Al-Quran acara ini juga diisi pertujukkan nasyid, haflatul qari dan pameran buku Islami dari kedua negara.

Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan yang juga hadir dalam festival mengungkapkan pentingnya kaum muslim saat ini berkembang dalam bidang seni dan isu-isu lain yang sedang berkembang sebagai upaya mendorong pemuda Islam agar lebih aktif.

“Negara kita perlu banyak belajar dari Iran sebagai negara yang memiliki umur jauh lebih panjang mengenai seni budaya Islam”, demikian ujarnya.

SENI BUDAYA ISLAM
Karena Kita Terlalu Sering Mengagumi Kebudayaan Barat…
Senin, 01 Agustus 2011 , 18:17:00 WIB



DALAM rangka menyemarakkan dan menggembirakan kedatangan bulan suci Ramadhan, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah menyelenggarakan Festival Seni Budaya Islam dengan menjalin kerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Islam Iran.

Pembukaan Festival tersebut dihadiri oleh Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Dutabesar Iran Mahmoud Faranzadeh, AM Fatwa dan sejumlah tamu undangan lain dari keluarga besar Pemuda Muhammadiyah.

Festival Budaya Islam ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat khazanah kebudayaan Islam yang berasal dari Iran. Festival ini akan menampilkan pameran kaligrafi dan kesenian Al-Quran, haflatul Quran qari Iran dan Indonesia, parade nasyid Iran dan Indonesia, pameran buku-buku Islam, dan pemutaran film-film Islam asal Iran. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Al Isra Jalan Tanjung Duren Raya, Jakarta Barat yang berlangsung dari tanggal 1-3 Ramadan 1432 H.

“Kita sering sekali mengagumi kebudayaan-kebudayaan Barat dan melupakan kebudayaan-kebudayaan Islam. Padahal, kekayaan kebudayaan Islam sudah sangat terkenal sejak ribuan tahun lalu. Dan Iran adalah tempat yang paling baik untuk mengeksplorasi kebudayaan tersebut. Di sinilah letak signifikansi kegiatan ini dilaksanakan,” kata Saleh P. Daulay.

Sementara itu, Din sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini. Dia menilai bahwa kegiatan ini dapat dijadikan sebagai alternatif dalam memerangi krisis moral di tengah masyarakat.

“Krisis moral yang terjadi di tengah masyarakat dapat diperbaiki dengan memperbaiki kebudayaannya. Oleh karena itu, Muhammadiyah sangat berterima kasih kepada kedutaan Iran yang telah menjalin kerjasama dengan PP. Pemuda Muhammadiyah,” demikian disampaikan Din Syamsuddin.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Duta Besar Iran, Mahmoud Faranzadeh. Dia menilai kerjasama dalam bidang budaya ini dapat dilanjutkan lebih jauh dalam bidang-bidang lain seperti pendidikan, ekonomi, politik, dan lain-lain.

“Kerjasama ini tentu akan memperdalam kesepahaman antara masyarakat Muslim Indonesia dan masyarakat Muslim Iran. Kesepahaman ini tentu akan membuahkan kerjasama dalam segala bidang yang pada akhirnya dapat menaikkan martabat kedua negara,” ujar Mahmoud Faranzadeh.

Sementara itu, Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa melalui kegiatan ini Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah telah menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi yang diperhitungkan. Dia mengajak komponen organisasi pemuda lain untuk mencontoh prakarsa Pemuda Muhammadiyah ini.

“Bila Pemuda Muhammadiyah mampu melaksanakan kegiatan semacam ini, saya yakin Pemuda Muhammadiyah pasti mampu juga memprakarsai penanaman pohon di seluruh Indonesia. Karena penanaman pohon juga merupakan salah satu strategi kebudayaan dalam membangun masa depan Indonesia,” demikian Zulkifli Hasan.

Saat ini Iranian Corner sudah ada 12 Universitas diantaranya adalah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, UIN Malang, UIN Bandung, dan UIN Riau.

Rabu, 26 Desember 2012
Follow :

Tokoh Syiah: “Kami Hormati semua Mazhab Islam kecuali Wahabi”

  pembukaan Iran Corner di UNJ

Ahad, 23 September 2012

Seorang tokoh Syiah bernama Sayid Mohammad Saidi mengaku siap berdialog dengan kelompok agama dan madzab apapun, kecuali dengan kelompok Wahabi.

Mehr News (22/09/2012) dikutip Radio Iran, Irib versi indonesia melaporkan, Sayid Mohammad Saidi mengatakan hal itu di hadapan delegasi dari parlemen Indonesia yang tengah berkunjung di kompleks yang yakini makam Fatimah Azzahra.

Dalam pernyataannya kepada anggota parlemen Indonesia itu, ia juga menuduh kaum Wahabi membunuh kaum Muslim dan merusak masjid.

“Kami menghormati semua mazhab Islam kecuali Wahabi karena mereka menentang dialog ilmiah, logis dan argumentatif. Mereka membunuh Muslim tak berdosa dan merusak masjid-masjid dengan mengatasnamakan Islam.”

“Pesan kami kepada kaum Wahabi adalah jika mereka memiliki dalil untuk membuktikan kebenaran mereka, maka sampaikan kepada orang lain sesuai dengan logika, prinsip-prinsip, dan argumentasi, bukan dengan radikalisme dan pembunuhan massal,” tuturnya.

Ia juga meminta parlemen Indonesia mewaspadai kelompok radikal di Indonesia.

“Anda harus mencegah perluasan kelompok radikal dalam masyarakat Anda dan jangan membiarkan ada pihak-pihak yang mengecam atau menyudutkan kelompok yang mengemukakan pendapatnya dengan baik dan sopan.”

“Kami siap berdialog dengan semua kelompok dari berbagai golongan tentang berbagai masalah agama,” jelasnya.

Sebagaimana Amerika Serikat (AS), Iran adalah negeri kaum Syiah yang saat ini tengah mencari pengaruh kawasan. Iran bahkan menanamkan pengaruh paham Syiah ke beberapa kampus di Indonesia dengan kerjasama menempatkan “Iran Corner” (Pojok Iran), termasuk di beberapa kampus Universitas Muhammadiyah di Indonesia.

Setiap saat, Negara ini mengundang secara gratis tokoh-tokoh agama, cendekiawan, dosen, wartawan dan kalangan professional untuk keliling secara gratis ke negeri tersebut. Sampai berita dimuat, belum jelas siapa saja rombongan parleman Indonesia yang telah diundang negeri Syiah tersebut.

Membaca kalimat awal di salah satu Universitas Muhammadiyah yang mempunyai Iranian Corner, tujuan mendirikan Iranian Corner itu adalah untuk: “….Dalam mewujudkan Universitas kelas dunia”

Habib Zein Al Kaff mengatakan: “wahabi sama-sama Ahlussunnah, kalau mereka (Syiah) bukan. Kalau wahabi kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama, sedangkan Syiah berbeda,” tegas Habib yang memimpin Yayasan Al-Bayyinat Jawa Timur dan anggota dewan Syuriah PWNU Jawa Timur tersebut.

Tentang Iran (baca: Syi’ah), Dien Syamsudin pernah mengemukakan stand of pointnya. Ketika Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh, berkunjung ke PP Muhammadiyah dan bertemu Dien pada 22 Desember 2010 lalu, selepas pertemuan Dien berkata baik Sunni dan Syiah “mengakui Tuhan dan Rasul yang sama. “Soal itu perlu diluruskan agar tidak memecah persaudaraan umat Islam,” katanya ke Kantor Berita Antara.

Kata Dien, pertemuan itu terkait kerja sama Iran dengan Muhammadiyah untuk “mempererat hubungan” di bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. “Semuanya untuk memajukan umat,” kata Dien.

Iranian Corner” Sediakan Informasi Tentang Iran

Siang itu, di ruangan seluas 14 x 18 meter persegi yang berada di lantai dua Fakultas Usuluddin dan Filsafatnampak beberapa mahasiswa sedang serius membaca buku. Di ruangan ini terdapat buku-buku yang berasal dari Iran yang berisi tentang ajaran syi’ah, filsafat, teologi, akhlak, dan kebudayaan Iran. Buku-buku itu ditulis dalam beragam bahasa seperti Parsi, Arab, Indonesia dan Inggris. Di dinding ruangan itu juga terpampang foto tokoh revolusi islam Iran Ayatullah Khomeini, pemimpin spiritual Iran Ayatullah Ali Khomenei dan foto presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadi Nejad.

Ruangan ini juga digunakan untuk berdiskusi dan Resos mengenai Ahlulbait, filsafat, akhlak dan logika. Selain itu, Iranian Corner juga memiliki program kursus bahasa Arab dan Persia gratis yang dilaksanakan pada hari senin sampai kamis. Kursus yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas ini sudah berjalan sejak berdirinya Iran Corner pada 2005.

Rata-rata pengunjung Iran Corner perhari mencapai 20-30 orang. Setiap hari jumat, para pengunjung diberi kesempatan untuk menonton film-film dokumenter mengenai Islam dan Iran. Iranin Corner juga memnyediakan TV dengan cenel internasional, VCD player dan Internet.

Iranian Corner ini merupakan bentuk kerjasama antara Fakultas Usuluddin, Islamic Cultural Center (ICC) dan Kedutaan Besar Iran.

Iranian Corner UIN Jakarta merupakan pusat Iranian Corner yang ada di seluruh Indonesia. Saat ini Iranian Corner sudah ada 12 Universitas diantaranya adalah di Universitas Muhammadiyah Jakarta, UIN Malang, UIN Bandung, dan UIN Riau.

Corner yang diresmikan langsung oleh Duta Besar Iran ini bertujuan untuk memperkenalkan Iran secara benar ”pasalnya ada pandangan bahwa Iran anti demokrasi dan intoleran.” jelas pengelola Iran Corner Masyhar, MA.

Alasan lain dibukanya Iran Corner karena di fakultas Usuluddin dan filsafat terdapat jurusan akidah filsafat yang sangat relevan dengan kebudayan iran yang masih mempertahankan filsafat. ”Karena Iran merupakan satu-satunya negara yang tetap eksis mempertahankan filsafat yang sudah banyak ditinggalkan oleh negara lain.” ujar kepala perpustakaan FUF Agus Rifai.

Iranian Corner di Universitas Muhammadiyah

Dalam mewujudkan Universitas kelas dunia, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menjalin kerjasama dengan kedutaan Iran mendirikan Iranian Corner yang berlokasi di gedung Perpustakaan Pusat Lantai II, dan dikoordinasikan secara langsung dari Knowledge and Learning Center (KLC) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Iranian Corner yang diresmikan tanggal 29 November 2007 menyediakan referensi filsafat dan kajian Islam (karya-karya pemikir terkemukan Iran), CD Tafsir dan Hadis serta siaran televisi Iran melalui antena parabola yang kesemuanya ditujukan untuk memperkaya wawasan pengetahuan dan menciptakan atmosfir akademik sivitas akademika UMY.

Selain ketersediaan sumber informasi, Iranian Corner juga memiliki serangkaian kegiatan ilmiah untuk menunjang peningkatan kualitas akademik dan pemahaman antarbudaya dan antar peradaban.
Produk dan kegiatan

Pertemuan Ilmiah

Iranian Corner UMY memprakarsai Seminar Nasional dan Internasional dengan menghadirkan pembicara dalam dan luar negeri yang membedah isu-isu actual seputar politik, hokum, ekonomi, agama dan kebudayaan.

Kajian Filsafat Islam dan Logika

Dalam upaya menguatkan daya kritis dan nalar civitas akademika Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Iranian Corner memiliki program kajian filsafat dan logika. Kajian ersebut bertujuan menjadikan filsafat dan logika sebagai metode berpikir sehingga peserta mampu berpikir secara kritis analistis, rasional dan sistematis namun tidak kehilangan nilai transedental.

Debat Bahasa Arab

Bersama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al-Mujaddid, Iranian Corner menyelenggarakan pelatihan debat bahasa Arab. Tujuan kegiatan ini adalah mempertajam kemampuan berargumentasi dan mempersiapkan timu untuk mengikuti kompetisi debat baik di tingkat regional, nasional bahkan internasional.

Layanan Internet dan Parabola

Iranian Corner UMY dilengkapi dengan unit computer yang terhubung dengan saluran internet serta antenna parabola, sehingga sivitas akademika dapat memanfaatkannya untuk menggali informasi global terkini.

Referensi

Iranian Corner UMY memiliki sejumlah pustaka dan referensi karya ulama dan pemikir-pemikir Iran terkemuka baik dalam bidang kajian keislaman maupun bidang lain.

DPW ABI Jawa Tengah Menjalin Komunikasi Dengan DPW Muhammadiyah
Senin, 18 Juni 2012
.
Dalam rangka membangun hubungan komunikasi dan mempererat persatuan umat Islam, terutama antar ormas Islam di Jawa Tengah, DPW ABI Jateng melakukan kunjungan silaturahmi ke Dewan Pengurus Wilayah Muhammadiyah di Semarang (14/6). Rombongan yang dipimpin oleh Ust Akhmad Nurkholis tersebut, disambut hangat oleh Drs. KH. Mustman Thalib dan beberapa unsur pimpinan Muhammadiyah yang lainDalam kesempatan tersebut, DPW ABI Jateng, memperkenalkan keberadaan Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan identitasnya sebagai ormas yang bermadhabkan Syiah Imamiyah.

Drs. KH. Mustman Thalib, selaku pimpinan Muhammadiyah wilayah Jawa Tengah, dalam sambutannya menyatakan: Antar umat Islam harus saling memahami dan mengormati. Perbedaan pandangan dan mazhab tidak boleh menjadi alasan terjadinya anarkisme agama, di samping itu, Allah juga telah melarangnya. Beliau juga menghimbau agar ABI dapat melakukan silaturahmi ke tingkat DPD Muhammadiyah di masing-masing daerah sehingga terjalin hubungan yang semakin kuat. Sementara, pimpinan yang lain menambahkan; mazhab Syi’ah bukan hal baru, di beberapa perguruan tinggi Islam, Syiah justru telah menjadi bagian penting yang dikaji. “Kenapa anda menggunakan Ahlul Bait Indonesia (ABI), kenapa tidak menggunakan Syi’ah saja, apakah anda takut dicela?” Cetusnya, yang kemudian disambut ketawa oleh yang hadir

Kunjungan ini membuktikan bahwa Ahlulbait Indonesia, baik di tingkat pusat, wilayah dan daerah, memiliki semangat kuat untuk membangun persatuan Islam . Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam lebih ini berjalan dengan baik, penuh keharmonisan dan kehangatan.

Yunahar Ilyas: Muhammadiyah Beda Dengan Wahabi

Yunahar Ilyas: Muhammadiyah Beda Dengan Wahabi

Minggu, 22-01-2012

Magelang-

Pada sesi kedua Pelatihan Kader Tarjih Tingkat Nasional  (Sabtu 21/01/2012), Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A.  pada materi Paham Agama dalam Muhammadiyah mengatakan bahwa tidak diragukan lagi, KHA Dahlan banyak dipengaruhi ide-ide Muhammad bin Abdul Wahab, khususnya dalam bidang akidah

.

Hal ini tentu saja memberi pengaruh pada gerakan Muhammadiyah yang didirikannya. Namun begitu, tidak berarti Muhammadiyah berafiliasi mazhab kepada Abdul Wahab (baca: Wahabi/Salafi). Banyak hal lain yang memberikan inspirasi KHA Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah, sedang pemikiran Abdul Wahab hanya salah satunya

.

Bahkan Yunahar menegaskan, Muhammadiyah berbeda dengan Wahabi. Dalam hal dakwah khususnya, Wahabi bergandeng tangan dengan penguasa untuk menghancurkan tempat-tempat yang digunakan untuk melakukan perbuatan syirik secara frontal. Sementara Muhammadiyah dalam beramar makruf nahi munkar lebih mengedepankan prinsip tausiyah, menyampaikan nasehat kebenaran

.

Pelatihan Kader Tarjih tingkat Nasional yang diadakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan beberapa narasumber ahli yang kompeten di bidangnya, yang berasal dari lingkungan Muhammadiyah sendiri. Pada kesempatan pertama, Jum’at, 20 Januari 2012 malam, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dan KRT. Drs. H. A. Muhsin Kamaludiningrat membawakan materi Konsep Kelembagaan dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Syamsul menyampaikan, tajdid sebagai identitas Muhammadiyah mempunyai dua makna, purifikasi dan dinamisasi. Purifikasi atau pemurnian untuk bidang akidah dan dinamisasi untuk bidang muamalah duniawiyah.

Muhammadiyah Itu Bukan Wahabisme
Meski memiliki misi yang sama, Muhammadiyah dengan Wahabisme jelas berbeda. Baik Muhammadiyah dan Wahabisme mengusung misi pemurnian ajaran Islam, namun dengan jalan yang berbeda.”Tetapi, Muhammdiyah pun tidak anti-wahabisme,” ujar Irfan Amir dari Badan Nasional Penanggulangan Teorisme (BNPT) dalam acara bedah buku, “Muhammadiyah dan Wahabisme” di Aula Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Jalan Sancang No 6 Bandung (20/6)
.
Irfan menambahkan, dalam ajaran Islam, jihad merupakan sebuah kewajiban bagi setiap Muslim. Ia menegaskan terorisme itu berbeda dengan jihad.“Jihad itu wajib, terorisme itu haram,” cetusnya.Wahabisme sempat menjadi perhatian banyak pihak sehubungan dengan pernyataan mantan ketua BIN, Hendropriyono yang menyatakan akar dari terorisme sekarang ini adalah Wahabisme.Terorisme menggejala setelah selesainya perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, yang dimenangkan oleh blok barat. Setelah jatuhnya komunis, Islam seakan menjadi musuh bersama dengan jargon baru teroris.

Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad mengungkapkan, jalan dakwah tergantung pada sosial, budaya dan intelegensia masing-masing daerah.

“Tidak bisa menggunakan cara berdakwah seperti di Arab diterapkan di Indonesia.” tegasnya. Ulama Imam Syafii pun, kata dia, mengeluarkan pernyataan baru setelah pindah dari Damaskus ke Mesir. Ini membuktikan bahwa dakwah itu tergantung pada kondisi masyarakat setempat.

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandungi itu menambahkan, memang Muhammadiyah memiliki misi pemurnian ajaran Islam. Namun, dalam kehidupan yang berhubungan dengan keduniawiyahan Muhammadiyah cukup dinamis.

“Artinya, selama menyangkut hubungannya dengan kehidupan yang tidak berhubungan dengan ibadah langsung itu Muhammadiyah terbuka.” ungkapnya.

Pembantu Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Mujib, menilai kemunculan isu wahabisme terbilang sangat aneh.

”Sebab, kalau menggunakan terminologi Islam bukanlah Wahabisme tetapi Wahabiyah. Sementara, Wahabisme merupakan cara pandang Barat dalam memahami Wahabi,” tuturnya.

Di sisi lain, menurut Prof. Mujib, munculnya isu terorisme yang dikaitkan dengan Wahabi juga sangat tidak relevan.

“Arab Saudi itu Wahabi, tetapi mereka berteman dekat dengan Amerika,” tambahnya.

Prof Mujib pun menambahkan isu terorisme yang menyudutkan Islam pun sejatinya tidak pernah terbukti. Tetapi umat Islam di Timur Tengah lah yang menjadi korban.

Bagi guru besar UIN Sunan Gunung Djati ini, isu pemberantasan terorisme sekarang ini lebih cenderung pada usaha pencitraan Barat.

“Barat membutuhkan isu yang kuat untuk menghancurkan Islam, terorisme menjadi senjatanya.”

Muhammadiyah Itu Bukan Wahabisme

Perbedaannya :

Faham Wahabi mengharamkan Maulid Nabi, adapun Faham Muhammadiyah Sekarang sudah tidak mengharamkannya lagi, soalnya setiap tahun Organisasi Muhammadiyah merayakan HARLAH (Hari Lahir) Organisasi, mosok ya Maulid Nabi haram ?? Perubahan ini terjadi sekitar tahun 1980-an dibawah kepemimpinan Bapak Amin Rais(CMIIW), tapi sebelumnya di tahun 1970-an Maulid Nabi masih dianggap haram oleh Muhammadiyah.

Perbedaan Lainnya : Faham Wahabi mewajibkan memanjangkan Jenggot dan mengharamkan Kumis serta menggantung Celana Panjang / Jubah. Faham Muhammadiyah yang sekarang tidak begitu mempermasalahkan penampilan yang penting hatinya (niat) OK.

Faham Wahabi MASIH mempermasalahkan hal-hal yang bersifat khilafiah para ulama, misalnya soal bid’ah dan hal-hal sepele (furu’/cabang) Adapun Faham Muhammadiyah yang sekarang (sejak 1980-an) tidak begitu mempermasalahkannya lagi, semua tergantung niatnya masing-masing (Innama a’malu bin-niyyah) Kecuali bagi perorangan2, hal- hal seperti itu masih suka diperdebatkan, tapi gaungnya tidak seperti jaman dulu dibawah 1980-an.

Sebenarnya kedua-duanya mengambil dalil dari Riwayat suatu Hadits yang sama, yaitu HANYA hadits- hadits shohih saja, baik dalam hal Ibadah maupun muamalah maupun Fadhilail Amal.

Faham Wahabi malahan sangat leterleks (tektual) sehingga nampak begitu ekstrim dalam memahami suatu hadits/Ayat, mereka tak ingin menggunakan akal/ra’yu (walaupun akal sehat) untuk menafsirkan suatu ayat/teks hadits. Pokoknya bagi mereka hitam-putih.

Muhammadiyah agak sedikit moderat, bila tak ada nash yang sharih, ulama-ulama mereka melakukan ijtihad untuk mengambil suatu keputusan (semacam baitul masail di NU) tapi KITAB KUNING (kitab- kitab rujukan NU karangan ulama-ulama di masa lalu) bagi mereka tetap tidak berlaku. Hadits-hadits daif walapun sekedar fadhilail amal (Menambah semangat dalam beribadah) mereka sama- sama tidak menggunakannya

peristiwa Tsaqîfah yang telah menyulut api fitnah di antara mereka dan membuka pintu kehancuran

The Garden Used To Be The Tsaqifah Bani Sa’adah

The Garden Used To Be The Tsaqifah Bani Sa'adah

Tsaqifah Bani Saidah

the Tsaqifah Bani Saidah Garden nearby the Prophet’s Mosque

.

Tragedi Hari Kamis Kelabu; “Sejarah Wafatnya Rasulullah Saaw”

Sebelum meninggal dunia, Rasulullah saw. melihat pentingnya memperkokoh baiat terhadap washî dan pintu kota ilmunya yang telah terlaksana di Ghadir Khum untuk menutup kesempatan bagi para pengkhianat. Ia saw. berkata: “Ambilkan secarik kertas dan pena untukku. Aku akan menulis untuk kalian sebuah wasiat agar kalian tidak tersesat untuk selamanya.”

Betapa besar nikmat tersebut bagi kaum muslimin. Karena hal itu adalah sebuah jaminan dari penghulu alam, Rasulullah saw. bahwa umat manusia tidak akan tersesat sepeninggalannya. Mereka senantiasa dapat berjalan di atas jalan lurus yang tidak tercerabuti oleh penyimpangan sedikit pun. Wasiat apakah yang dapat menjamin petunjuk dan kebaikan bagi umat Islam itu? Wasiat itu tidak lain adalah kepemimpinan Ali as. atas umat manusia sepeninggalnya.

Sebagian sahabat mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw. bermaksud ingin menulis wasiat mengenai kekhalifahan Ali as. sepeninggalnya. Oleh karena itu, mereka menolak permintaannya itu sembari berteriak: “Cukup bagi kita kitab Allah!”

Setiap orang yang merenungkan penolakan tersebut pasti mengetahui apa maksud ucapan itu. Sahabat yang menolak itu merasa yakin bahwa Nabi saw. akan mengangkat Imam Ali as. sebagai khalifah sepeninggalnya melalui wasiat tersebut. Seandainya sahabat itu tahu bahwa ia hanya ingin berwasiat supaya perbatasan-perbatasan wilayah negara Islam dijaga atau ajaran-ajaran agama Islam diperhatikan, pasti ia tidak akan menolak permintaannya seberani itu.

Yang jelas, ketika itu terjadi keributan di antara orang-orang yang hadir di rumah Rasulullah saw. Sekelompok dari mereka berusaha agar permintaannya itu segera dilaksanakan. Sementara sekelompok yang lain berusaha menghalanginya menulis wasiat tersebut. Beberapa Ummul Mukminin dan para wanita yang lain melawan sikap para penentang yang telah berani menghalang-halanginya di saat-saat terakhir Hayâhnya itu. Mereka berkata dengan nada protes: “Tidakkah kalian mendengar ucapan Rasulullah saw.? Tidakkah kalian ingin melaksanakan keinginan Rasulullah saw.?”

Khalifah Umar, dalang dan otak penentangan itu, bangkit dan berteriak kepada para wanita itu. Ia berkata: “Sungguh kalian adalah wanita-wanita yusuf. Apabila ia sakit, kalian hanya bisa menangis. Dan Jika ia sehat, kalian senantiasa membebaninya”.

Mendengar teriakan itu, Rasulullah saw. berkata seraya membidikkan pandangan matanya yang tajam ke arah Umar: “Biarkan para wanita itu. Sungguh mereka lebih baik dibandingkan dengan kalian semua!”

Pertikaian di antara orang-orang yang hadir pun bertambah sengit. Hampir saja kelompok yang mendukung Nabi saw. untuk menulis wasiat itu memenangkan pertikaian. Tetapi seorang penentang segera bangkit dan membidikkan panahnya untuk menghancurkan taktiknya. Orang itu berkata: “Sesungguhnyanya sedang mengigau.”

Betapa lancangnya orang itu berkata demikian kepada Rasulullah saw. dan sungguh berani ia menentang poros kenabian. Dia berani mengatakan bahwa Rasulullah saw. sedang mengigau, padahal Al-Qur’an berfirman: “Sahabat kalian itu tidak tersesat dan juga tidak menyimpang. Dia tidak berbicara atas dasar hawa nafsu, melainkan atas dasar wahyu yang diturunkan kepadanya. Dia dididik oleh Dzat Yang Maha Perkasa.” (QS. An-Najm [53]:2-5)

Nabi Muhammad saw. mengigau? Padahal Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya itu adalah ucapan seorang rasul yang mulia, yang memiliki kekuatan di sisi ‘Arsy yang tersembunyi.” (QS. At-Takwîr [81]:19-20)

Kita harus melihat peristiwa tersebut secara obyektif dan dengan kesadaran yang bukan penuh, bukan dengan perasaan dan emosi. Karena hal itu berkaitan erat dengan realitas agama kita dan dapat mengungkap bagi kita suatu realitas yang menunjukkan tipu daya musuh terhadap Islam.

Ala kulli hal, taktkala Ibn Abbâs, panutan umat yang alim itu, menyebutkan peristiwa yang mengenaskan itu, hatinya pilu bak tersayat sembilu dan melinangkan air mata bagaikan butiran-butiran permata. Dia berkata: “Hari Kamis! Oh betapa memilukan tragedi hari Kamis. Pada hari Kamis itu Rasulullah saw. bersabda: ‘Ambilkan kertas dan pena untukku. Aku ingin menulis sebuah wasiat untuk kalian, agar kalian tidak akan tersesat selama-lamanya.’ Tetapi mereka berkata: ‘Sesungguhnya Rasulullah sedang mengigau.’”

Satu-satunya kemungkinan yang bisa kita ungkapkan berkenaan dengan masalah ini adalah sekiranya Rasulullah saw. sempat menulis wasiat berkenaan dengan hak Imam Ali as. itu, wasiat itu tidak akan bermanfaat sama sekali. Mereka akan menuduhnya saw. sedang mengigau dan tidak sadarkan diri. Padahal tuduhan semacam ini adalah sebuah tikaman yang sangat telak atas kesucian kenabian.

Rasulullah saw. Menghadap ke Haribaan Ilahi

Kini tiba saatnya manifestasi kelembutan Ilahi itu harus berangkat ke langit yang tinggi. Kini tiba saatnya cahaya yang menerangi alam semesta ini harus pindah ke haribaan suci Ilahi. Malaikat maut telah mendekat menghampirinya saw. untuk menerima roh yang agung itu. Pada saat itu, ia saw. menoleh ke washî dan pintu kota ilmunya. Ia saw. bersabda: “Letakkanlah kepalaku di atas pangkuanmu. Utusan Allah telah tiba. Apabila rohku telah keluar, maka raih roh itu dan usaplah wajahmu dengannya. Kemudian hadapkanlah aku ke arah kiblat, uruslah jenazahku, dan salatilah aku. Engkaulah orang pertama yang menyalatiku. Janganlah engkau tinggalkan aku hingga engkau kuburkan aku di dalam tanah, dan mintalah bantuan kepada Allah swt.”

Imam Ali as. segera meraih kepala Rasulullah saw. dan meletakkan kepala suci itu di atas pangkuannya, lalu ia meletakkan tangan kanannya di bawah dagunya. Tidak lama kemudian, roh Rasulullah saw. yang agung pun berangkat. Imam Ali mengusap wajahnya dengan rohnya itu.

Bumi bergoncang dan cahaya keadilan pun lenyap. Oh, betapa hari-hari yang panjang ini penuh dengan kesedihan, hari yang gelap gulita tidak ada tandingannya. Telah sirna mimpi-mimpi kaum muslimin. Kaum wanita Madinah pun keluar sambil menampar-nampar pipi mereka. Suara duka dan kesedihan mereka terdengar nyaring. Para Ummul Mukminin menghempaskan jilbab-jilbab dari atas kepala sembari memukul-mukul dada. Sementara tenggorokan kaum wanita Anshar parau karena berteriak histris.

Di antara keluarga Rasulullah saw. yang paling terpukul dan sedih adalah buah hati dan putri semata wayangnya, Sayyidah Az-Zahrâ’ as. Ia merebahkan diri ke atas jenazah ayahanda tercinta sembari berkata dengan suara yang pilu: “Oh, ayahku! Oh, nabi rahmatku! Kini wahyu tak ‘kan datang lagi. Kini terputuslah hubungan kami dengan Jibril. Ya Allah, susulkanlah rohku dengan rohnya. Berikanlah aku syafaat untuk dapat melihat wajahnya. Janganlah Engkau halangi aku untuk memperoleh pahala dan syafaatnya pada Hari Kiamat kelak.”

Az-Zahrâ’ as. berjalan mondar-mandir di seputar jenazah ayahandanya yang agung itu dengan duka yang mendalam. Peristiwa itu telah membungkam lidahnya. Ia hanya dapat berkata: “Oh, ayahku! Kepada Jibril aku menyampaikan bela sungkawa ini. Oh, ayahku! Surga Firdaus tempat ia berteduh. Oh, ayahku! Ia telah memenuhi panggilan Tuhan yang telah memanggilnya.”

Kewafatan ayahanda tercinta telah membuat Sayyidah Az-Zahrâ’ bisu bagaikan mayat yang tak bernyawa lagi. Betapa sedihnya Az-Zahra as., buah hati Rasulullah saw. itu.

Menangani Proses Pemakaman Jenazah yang Agung

Imam Ali as. menangani proses pemakaman jenazah saudara dan putra pamannya itu sambil mencucurkan air mata yang deras. Ali as. memandikan jasad yang suci itu sambil berkata dengan suara yang lirih: “Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, dengan kepergianmu ini telah terputus kenabian dan berita langit yang tidak pernah terputus dengan kematian orang lain selainmu. Engkau dikhususkan (dengan kenabian) sehingga engkau senantiasa menjadi pelipur lara bagi orang lain, dan missimu bersifat umum sehingga seluruh manusia sama di hadapanmu. Sekiranya engkau tidak menyuruhku untuk bersabar dan tidak melarangku untuk berkeluh-kesah, niscaya telah kutumpahkan seluruh kesedihanku, problem pun berkepanjangan, dan kesedihan pun berkelanjutan.”

Setelah selesai memandikan jasad Rasulullah saw., Ali as. mengkafaninya dan meletakkan jazad mulia itu di atas keranda untuk dimakamkan.

Menyalati Jenazah Rasulullah saw.

Orang pertama yang menyalati jenazah Rasulullah saw. yang suci adalah Allah swt. di atas ‘Arsy-Nya, kemudian Jibril as., kemudian Israfil as., dan kemudian para malaikat serombongan demi serombongan. Setelah itu, kaum muslimin berbondong-bondong menyalati jenazah nabi mereka. Imam Ali as. berkata: “Tak seorang pun yang menjadi imam dalam salat ini. Ia adalah imam kalian, baik ketika hidup maupun setelah wafat.”

Mereka masuk ke dalam ruangan sekelompok demi sekelompok dan menyalati jenazahnya dengan berbaris tanpa imam. Salat tersebut dilakukan secara khusus. Imam Ali as. membacakan bacaan-bacaan salat, sementara mereka mengikuti bacaan terebut.

Bacaan itu adalah:

?لسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَشْهَدُ أَنَّهُ قَدْ بَلَّغَ مَا

أُنْزِلَ إِلَيْهِ، وَ نَصَحَ لِأُمَّتِهِ، وَ جَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتىَّ أَعَزَّ اللهُ دِيْنَهُ وَ تَمَّتْ كَلِمَتُهُ،

اللَّهُمَّ فَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَتَّبِعُ مَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ، وَ ثَبِّتْنَا بَعْدَهُ وَ اجْمَعْ بَيْنَنَا وَ بَيْنَهُ

Salam sejahtera, juga rahmat, dan seluruh berkah Allah untukmu, wahai nabi Allah. Ya Allah, kami bersaksi bahwa ia telah menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadanya, telah menasihati umatnya, dan telah berjuang di jalan Allah sehingga Allah memuliakan agama-Nya dan menyempurnakan kalimat-Nya. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang mengikuti apa yang telah diturunkan kepadanya. Teguhkanlah kami sepeninggalnya dan himpunlah kami dengannya.

Sementara seluruh masyarakat yang menyalatinya itu mengucapkan: “Amîn.”
Kaum muslimin berjalan melalui jenazah nabi yang agung itu sembari menatapnya dengan kesedihan dan rasa duka yang sangat dalam. Mereka kini telah kehilangan penyelamat dan pembimbing. Pembangun negara dan peradAbân yang tinggi itu telah wafat meninggalkan mereka.

Menguburkan Jenazah Rasulullah saw.

Seusai kaum muslimin menyalati jenazah Rasulullah saw., Imam Ali as. menggali kuburan untuknya. Setelah itu, ia menguburkan jenazah saudaranya itu.

Kekuatan Ali telah melemah. Ia berdiri di pinggiran kubur sembari menutupi kuburan itu dengan tanah dengan disertai linangan air mata. Ia mengeluh: “Sesungguhnya sabar itu indah, kecuali terhadapmu. Sesungguhnya berkeluh-kesah itu buruk, kecuali atas dirimu. Sesungguhnya musibah atasmu sangat besar. Dan sesungguhnya sebelum dan sesudahmu terdapat peristiwa besar.”

Pada hari bersejarah itu, bendera keadilan telah terlipat di alam kesedihan, tonggak-tonggak kebenaran telah roboh, dan cahaya yang telah menyinari alam telah lenyap. Beliaulah yang telah berhasil mengubah perjalanan hidup umat manusia dari kezaliman yang gelap gulita kepada kehidupan sejahtera yang penuh dengan peradAbân dan keadilan. Dalam kehidupan ini, suara para tiran musnah dan jeritan orang-orang jelata mendapat perhatian. Seluruh karunia Allah terhampar luas untuk hamba-hamba-Nya dan tak seorang pun memiliki kesempatan untuk menimbun harta untuk kepentingannya sendiri

.

Sejarah Peristiwa Saqifah Bani Sa’idah

Dalam sejarah dunia Islam, muslimin tidak pernah menghadapi tragedi yang sangat berat sebagai cobaan dalam kehidupan mereka seberat peristiwa Tsaqîfah yang telah menyulut api fitnah di antara mereka dan membuka pintu kehancuran bagi kehidupan mereka.

Kaum Anshar telah melangsungkan muktamar di Tsaqîfah Bani Sâ’idah pada hari Rasulullah saw. wafat. Muktamar itu dihadiri oleh dua kubu, suku Aus dan Khazraj. Mereka berusaha mengatur siasat supaya kekhalifahan tidak keluar dari kalangan mereka. Mereka tidak ingin muktamar tersebut diikuti oleh kaum Muhajirin yang secara terus terang telah menolak untuk membaiat Imam Ali as. yang telah dikukuhkan oleh Rasulullah saw. sebagai khalifah dan pemimpin umat pada peristiwa Ghadir Khum.

Mereka tidak ingin bila kenabian dan kekhalifahan berkumpul di satu rumah, sebagaimana sebagian pembesar mereka juga pernah menentang Rasulullah saw. untuk menulis wasiat berkenaan dengan hak Ali as. Ketika itu mereka melontarkan tuduhan bahwa Rasulullah saw. sedang mengigau sehingga mereka pun berhasil melakukan makar tersebut.

Ala kulli hal, kaum Anshar merupakan tulang punggung bagi kekuatan bersenjata pasukan Rasulullah saw. dan mereka pernah menebarkan kesedihan dan duka di rumah-rumah kaum Quraisy yang kala itu hendak melakukan perlawanan terhadap Rasulullah saw. Ketika itu orang-orang Quraisy betul-betul merasa dengki terhadap kaum Anshar. Oleh karena itu, kaum Anshar segera mengadakan muktamar, karena khawatir terhadap kaum Muhajirin.

Hubâb bin Munzdir berkata: “Kami betul-betul merasa khawatir bila kalian diperintah oleh orang-orang yang anak-anak, nenek moyang, dan saudara-saudara mereka telah kita bunuh.”

Kekhawatiran Hubbâb itu ternyata menjadi kenyataan. Setelah usia pemerintahan para khalifah usai, dinasti Bani kaum Umayyah berkuasa. Mereka berusaha untuk merendahkan dan menghinakan mereka. Mu’âwiyah telah berbuat zalim dan kejam. Ketika Yazîd bin Mu’âwiyah memerintah, ia juga bertindak sewenang-wenang dan menghancurkan kehormatan mereka dengan berbagai macam siksa dan kejahatan. Yazîd menghalalkan harta, darah, dan kehormatan mereka pada tragedi Harrah. Sejarah tidak pernah menyaksikan kekejian dan kekezaman semacam itu.

Ala kulli hal, pada muktamar Tsaqîfah tersebut, kaum Anshar mencalonkan Sa’d sebagai khalifah, kecuali Khudhair bin Usaid, pemimpin suku Aus. Ia enggan berbaiat kepada Sa’d karena kedengkian yang telah tertanam antara sukunya dan suku Sa’d, Khazraj. Sudah sejak lama, memang hubungan antara kedua suku ini tegang.

‘Uwaim bin Sâ’idah bangkit bersama Ma’n bin ‘Adî, sekutu Anshar, untuk menjumpai Abu Bakar dan Umar. Mereka ingin memberitahukan kepada Abu Bakar dan Umar peristiwa yang sedang berlangsung di Tsaqîfah. Abu Bakar dan Umar terkejut. Mereka segera pergi menuju ke Tsaqîfah secara tiba-tiba. Musnahlah seluruh cita-cita yang telah dirajut oleh kaum Anshar. Wajah Sa’d berubah. Setelah terjadi pertikaian yang tajam antara Abu Bakar dan kaum Anshar, kelompok Abu Bakar segera bangkit untuk membaiatnya. Umar yang bertindak sebagai pahlawan dalam baiat itu telah memainkan peranannya yang aktif dalam ajang pertikaian kekuasaan itu.

Dia menggiring masyarakat untuk membaiat sahabatnya, Abu Bakar. Abu Bakar keluar dari Tsaqîfah diikuti oleh para pendukungnya menuju ke masjid Rasulullah saw. dengan diiringi oleh teriakan suara takbir dan tahlil. Dalam baiat ini, pendapat keluarga Nabi saw. tidak dihiraukan. Begitu pula pendapat para pemuka sahabatnya, seperti Ammâr bin Yâsir, Abu Dzar, Miqdâd, dan sahabat-sahabat yang lain.

Sikap Imam Ali as. Terhadap Pembaiatan Abu Bakar

Para sejarawan dan perawi hadis bersepakat bahwa Imam Ali as. menolak dan tidak menerima pembaiatan atas Abu Bakar. Ia lebih berhak untuk menjadi khalifah. Karena beliaulah orang yang paling dekat dengan Rasulullah saw. Kedudukan Ali as. di sisi Rasulullah saw. adalah seperti kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Islam tegak karena perjuangan dan keberaniannya. Dia mengalami berbagai macam bencana dalam menegakkan Islam. Nabi saw. menjadikan Ali as. sebagai saudaranya. Rasulullah saw. pernah bersabda kepada kaum muslimin: “Barang siapa yang aku adalah pemimpinnya, maka Ali adalah juga pemimpinnya.”

Atas dasar ini, Ali as. menolak untuk membaiat Abu Bakar. Abu Bakar dan Umar telah bersepakat untuk menyeret Ali as. dan memaksanya berbaiat. Umar bin Khaththab bersama sekelompok pengikutnya mengepung rumah Ali as. Umar menakut-nakuti, mengancam, dan menggertak Ali as. dengan menggenggam api untuk membakar rumah wahyu itu.

Buah hati Rasulullah saw. dan penghulu para wanita semesta alam keluar dan bertanya dengan suara lantang: “Hai anak Khaththab, apa yang kamu bawa itu?” Umar menjawab dengan keras: “Yang aku bawa ini lebih hebat daripada yang telah dibawa oleh ayahmu.”

Sangat disayangkan dan menggoncang kalbu setiap muslim! Mereka telah berani bertindak keras seperti itu terhadap Az-Zahrâ’ as., buah hati Rasulullah saw.

Padahal Allah rida karena keridaan Az-Zahrâ’ dan murka karena kemurkaannya. Melihat kelancangan ini, tidak ada yang layak kita ucapkan selain innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn.

Akhirnya, mereka memaksa Imam Ali as. keluar dari rumahnya dengan paksa. Para pendukung Khalifah Abu Bakar menyeret Imam Ali as. untuk menghadap dengan pedang terhunus. Mereka berkata dengan lantang: “Baiatlah Abu Bakar! Baiatlah Abu Bakar!”

Imam Ali as. membela diri dengan hujah yang kokoh dan tanpa rasa takut sedikit pun terhadap kekerasan dan kekezaman mereka. Ia berkata: “Aku lebih berhak atas masalah ini daripada kalian. Aku tidak akan membaiat kalian, tetapi kalian sebenarnya yang harus membaiatku. Kalian telah merampas urusan ini dari kaum Anshar dengan alasan bahwa kalian memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi saw.

Tetapi kalian telah menggasab kekhalifahan itu dari kami Ahlul Bait secara paksa. Bukankah kamu telah mengaku di hadapan kaum Anshar bahwa kamu lebih utama dalam urusan ini daripada mereka karena Nabi Muhammad saw. berasal dari kalangan kalian, sehingga mereka rela memberikan dan menyerahkan kepemimpinan itu kepadamu? Kini aku juga ingin berdalih kepadamu seperti kamu berdalih kepada kaum Anshar.

Sesungguhnya aku adalah orang yang lebih utama dan lebih dekat dengan Rasulullah saw., baik Ketika ia masih hidup maupun setelah wafat. Camkanlah ucapanku ini, jika kamu beriman. Jika tidak, maka kamu telah berbuat zalim sedang kamu mengetahuinya.”

Betapa indah hujah dan dalil tersebut. Kaum Muhajirin dapat mengalahkan kaum Anshar lantaran hujah itu, karena mereka merasa memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan Nabi saw. Argumentasi Imam Ali as. lebih tepat, lantaran suku Quraisy yang terdiri dari banyak kabilah dan memiliki hubungan kekeluargaan dengan Nabi saw. itu bukan anak-anak paman atau bibinya. Sementara hubungan kekerabatan antara Nabi saw. dengan Imam Ali as. terjelma dalam bentuk yang paling sempurna. Karena Ali as. adalah sepupu Nabi saw., ayah dua orang cucunya, dan suami untuk putri semata wayangnya.

Walau demikian, Umar tetap memaksa Imam Ali as. Umar berkata: “Berbaiatlah!”
“Jika aku tidak melakukannya?”, tanya Imam Ali pendek.

“Demi Allah yang tiada tuhan selain Dia, jika engkau tidak membaiat, aku akan penggal lehermu”, jawab Umar pendek.
Imam Ali as. diam sejenak. Ia memandang ke arah kaum yang telah disesatkan oleh hawa nafsu dan dibutakan oleh cinta kekuasaan itu. Imam Ali as. melihat tidak ada orang yang akan menolong dan membelanya dari kejahatan mereka. Akhirnya ia menjawab dengan nada sedih: “Jika demikian, kamu telah membunuh hamba Allah dan saudara Rasulullah.”
Umar segera menimpali dengan berang: “Membunuh hamba Allah, ya. Tetapi saudara Rasulullah, tidak.”

Umar telah lupa dengan sabda Rasulullah saw. bahwa Imam Ali as. adalah saudaranya, pintu kota ilmunya, dan kedudukannya di sisinya adalah sama dengan kedudukan Hârûn di sisi Mûsâ as. Ali as. adalah pejuang pertama Islam. Semua realita dan keutamaan itu telah dilupakan dan diingkari oleh Umar.

Kemudian Umar menoleh ke arah Abu Bakar seraya menyuruhnya untuk mengingkari hal itu. Umar berkata kepada Abu Bakar: “Mengapa engkau tidak menggunakan kekuasaanmu untuk memaksanya?”

Abu Bakar takut fitnah dan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Dia akhirnya menentukan sikap: “Aku tidak akan memaksanya, selama Fathimah berada di sisinya.”

khirnya mereka membebaskan Imam Ali as. Ia berlari-lari menuju ke makam saudaranya, Rasulullah saw. untuk mengadukan cobaan dan aral yang sedang menimpanya. Ia menangis tersedu-sedu seraya berkata: “Wahai putra ibuku, sesungguhnya kaum ini telah meremehkanku dan hampir saja mereka membunuhku.”

Mereka telah meremehkan Imam Ali as. dan mengingkari wasiat-wasiat Nabi saw. berkenaan dengan dirinya. Setelah itu ia kembali ke rumah dengan hati yang hancur luluh dan sedih. Benar telah terjadi apa yang telah diberitakan oleh Allah swt. akan terjadi pada umat Islam setelah Rasulullah saw. wafat. Mereka kembali kepada kekufuran. Allah swt. berfirman: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul.

Apakah jika ia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun ….” (QS. ?li ‘Imrân [3]:144)

Sungguh mereka telah kembali kepada kekufuran, kekufuran yang dapat menghancurkan iman dan harapan-harapan mereka. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn.

Kita tutup lembaran peristiwa-peristiwa yang mengenaskan dan segala kebijakan pemerintah Abu Bakar yang tiran terhadap keluarga Nabi saw. ini, seperti merampas tanah Fadak, menghapus khumus, dan kebijakan-kebijakan yang lain. Seluruh peristiwa ini telah kami jelaskan secara rinci dalam Mawsû’ah Al-Imam Amiril Mukminin as

.

Shohihkah Riwayat Sejarah Pembakaran Rumah Fathimah as?
[Studi Kritis Riwayat Ancaman Pembakaran Rumah Ahlul Bait: Membantah Para Nashibi]

Riwayat Sejarah Pembakaran Rumah Fathimah as Sayyidah FatimahWahabi dan orang-orang yang terinfeksi virus Nashibi selalu tidak henti-hentinya menyebarkan syubhat untuk menyudutkan Ahlul Bait. Demi membela sahabat pujaan mereka [entah mungkin karena sikap ghuluw] mereka membuat syubhat membuat bantahan mandul yang menunjuk kan rendahnya kualitas ilmu dan akal.

Kebencian yang besar terhadap Syiah membuat mereka tidak bisa berpikir dengan objektif bahkan siapapun orangnya yang membela Ahlul Bait dan menyalahkan sahabat mereka tuduh sebagai Syiah. Orang seperti mereka cukup untuk dikatakan sebagai nashibi atau neo nashibi.

Ada beberapa situs baik yang indo maupun English berusaha membuat bantahan terhadap riwayat ancaman pembakaran rumah Ahlul Bait. Bantahan mandul bergaya “pengacara urakan” mencari-cari pembelaan yang tidak ilmiah. Ada tiga situs yang akan kami bahas:

Kami akan membahas bantahan tersebut bukan karena bantahan tersebut memang layak untuk ditanggapi tetapi karena permintaan saudara kami dan untuk menunjukkan kepada umat islam betapa lemahnya akal pengikut neonashibi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ ، عْن أَبِيهِ أَسْلَمَ ؛ أَنَّهُ حِينَ بُويِعَ لأَبِي بَكْرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، كَانَ عَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ يَدْخُلاَنِ عَلَى فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَيُشَاوِرُونَهَا وَيَرْتَجِعُونَ فِي أَمْرِهِمْ ، فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَرَجَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى فَاطِمَةَ ، فَقَالَ : يَا بِنْتَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَاللهِ مَا مِنْ الْخَلْقِ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيك ، وَمَا مِنْ أَحَدٍ أَحَبَّ إِلَيْنَا بَعْدَ أَبِيك مِنْك ، وَأَيْمُ اللهِ ، مَا ذَاكَ بِمَانِعِيَّ إِنَ اجْتَمَعَ هَؤُلاَءِ النَّفَرُ عِنْدَكِ ، أَنْ آمُرَ بِهِمْ أَنْ يُحَرَّقَ عَلَيْهِمَ الْبَيْتُ قَالَ : فَلَمَّا خَرَجَ عُمَرُ جَاؤُوهَا ، فَقَالَتْ : تَعْلَمُونَ أَنَّ عُمَرَ قَدْ جَاءَنِي ، وَقَدْ حَلَفَ بِاللهِ لَئِنْ عُدْتُمْ لَيُحَرِّقَنَّ عَلَيْكُمَ الْبَيْتَ ، وَأَيْمُ اللهِ ، لَيَمْضِيَنَّ لِمَا حَلَفَ عَلَيْهِ ، فَانْصَرِفُوا رَاشِدِينَ فَرُوْا رَأْيَكُمْ ، وَلاَ تَرْجِعُوا إِلَيَّ ، فَانْصَرَفُوا عنها ، فَلَمْ يَرْجِعُوا إِلَيْهَا ، حَتَّى بَايَعُوا لأَبِي بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Aslam Ayahnya yang berkata bahwasanya ketika bai’at telah diberikan kepada Abu Bakar sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali dan Zubair masuk menemui Fatimah binti Rasulullah, mereka bermusyawarah dengannya mengenai urusan mereka. Ketika berita itu sampai kepada Umar bin Khaththab, ia bergegas keluar menemui Fatimah dan berkata ”wahai Putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] demi Allah tidak ada seorangpun yang lebih kami cintai daripada Ayahmu dan setelah Ayahmu tidak ada yang lebih kami cintai dibanding dirimu tetapi demi Allah hal itu tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk kuperintahkan agar membakar rumah ini tempat mereka berkumpul”.

Ketika Umar pergi, mereka datang dan Fatimah berkata “tahukah kalian bahwa Umar telah datang kepadaku dan bersumpah jika kalian kembali ia akan membakar rumah ini tempat kalian berkumpul. Demi Allah ia akan melakukan apa yang ia telah bersumpah atasnya jadi pergilah dengan damai, simpan pandangan kalian dan janganlah kalian kembali menemuiku”. Maka mereka pergi darinya dan tidak kembali menemuinya sampai mereka membaiat Abu Bakar [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 14/567 no 38200 dengan sanad shahih sesuai syarat Bukhari Muslim]

Riwayat di atas sanadnya shahih dan kami pernah membahas kedudukan riwayat tersebut secara khusus. Ketiga situs yang kami sebutkan juga tidak mempermasalahkan status riwayat tersebut bahkan situs yang English juga menyatakan keshahihannya. Bantahan mereka adalah seputar matan hadis yang mereka pelintir agar sesuai dengan keyakinan mereka, bantahan mereka adalah yang kami kutip.

Alfanarku menyebutkan empat poin yang ia katakan bahkan menyerang klaim syiah sendiri. Kami katakan mau menyerang klaim syiah atau klaim sunni atau siapa saja itu tidak berpengaruh sedikitpun terhadap kami. Kami tidak akan berbasa-basi membela sahabat dan menyudutkan Ahlul Bait, maaf itu bukan akhlak kami. Kami meyakini kebenaran untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait dan setiap sahabat yang menyakiti ahlul bait maka sudah jelas sahabat itu salah, tidak peduli apapun alasan naifnya. Poin pertama alfanarku

Saat Bai’at umat kepada Abu Bakar, diberitakan Ali dan Zubair sedang berada di rumah Fatimah membicarakan tentang urusan mereka, dan hal ini yang terdengar oleh Umar. Dan hal ini adalah sesuatu yang keliru menurut Umar, karena seharusnya mereka segera ikut membai’at Abu Bakar dimana hampir semua kaum muslimin telah membai’at Abu Bakar hari itu.

Kami jawab : Silakan saja kalau Umar berpandangan mereka keliru, kami pribadi justru melihat pada sisi Ahlul Bait yaitu Sayyidah Fathimah dan Imam Ali, kalau memang keduanya menganggap pembaiatan terhadap Abu Bakar adalah benar maka tidak perlu keduanya mengadakan pertemuan dengan orang-orang di rumah keduanya. Adanya pertemuan itu justru menunjukkan kalau Imam Ali dan Sayyidah Fathimah menganggap apa yang dilakukan oleh Umar dan pengikutnya itu keliru. Seharusnya Umar, Abu Bakar dan kaum Anshar lainnya tidak terburu-buru dan meninggalkan Ahlul Bait dalam perkara ini. Siapakah yang menjadi pedoman dan pegangan bagi umat islam seperti yang dikatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam hadis Tsaqalain? Tidak lain adalah Ahlul Bait, tetapi mereka malah menuruti pendapatnya sendiri dan meninggalkan Ahlul Bait bahkan setelah itu memaksakan pandangan mereka dalam bentuk ancaman kepada Ahlul Bait. Dimana akhlak kalian wahai yang mengaku mencintai Ahlul Bait?

Poin kedua alfanarku justru menunjukkan pandangan yang skizofrenik dan lemahnya pemahaman, tidak lain itu karena kebenciannya yang dalam terhadap Syiah. Jika kebencian memenuhi kepala maka akal tertutupi dan nafsu yang berbicara

Orang yang paling dicintai Umar setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam adalah Fatimah, ini menggugurkan klaim syi’ah secara telak, yaitu tidak mungkin seseorang akan menyakiti seseorang yang paling dia cintai

Kami jawab : dimana letak hujjahnya perkataan ini?. Apa dia lupa, kalau Syiah dan Sunni sama-sama mengaku mencintai Ahlul Bait?. Apakah alfanarku itu tidak bisa membedakan antara klaim dan fakta?. Siapapun bisa saja mengaku ahlul bait adalah yang paling mereka cintai, tetapi apa gunanya pengakuan jika perbuatannya justru menyakiti ahlul bait. Faktanya Umar memang mengancam membakar rumah Ahlul Bait [berdasarkan riwayat shahih di atas] ada tidaknya pengakuan atau klaim Umar itu tidak menafikan ancaman yang ia lakukan. Jika Umar memang benar-benar mencintai Ahlul Bait bukan begitu caranya. Kalau mau mengingatkan atau menasehati orang yang kita cintai [apalagi kita hormati] kita pasti akan menggunakan tutur kata yang lemah lembut bukan ancaman yang menyakitkan. Ini hal sederhana tetapi tidak terpikirkan oleh alfanarku karena dirinya tersibukkan dengan apa yang ia sebut “klaim Syiah”. Lanjut ke poin ketiga yang menunjukkan lemahnya ilmu dan penuh dengan basa-basi

Umar yang memiliki sifat yang tegas dan keras mengingatkan Ali dan Zubair melalui Fatimah, dan sama sekali tidak sedang mengancam pribadi Fatimah, hal ini bisa diketahui dari perkataan Umar kepada Fatimah “maka tidak ada yang dapat mencegahku untuk memerintahkan membakar rumah tersebut bersama mereka yang ada di dalamnya” kata yang dipakai ‘Alaihim’ dan bukan ‘Alaikum’ ” أن يحرق عليهم البيت ”. Dan kenyataannya Umar tidak pernah melakukan apa yang diucapkan-nya tersebut, Dan kenyataannya Ali dan Zubair sedang tidak ada di rumah Fatimah saat itu.

Kami jawab : begitulah kalau orang tidak memperhatikan lafaz arabnya dengan baik. Riwayat di atas menunjukkan kalau Ali dan Zubair menemui Sayyidah Fathimah, dalam salah satu riwayat shahih Umar pernah berkata [dalam hadis Saqifah yang panjang]

وإنه كان من خيرنا حين توفى رسول الله صلى الله عليه وسلم إن عليا والزبير ومن تبعهما تخلفوا عنا في بيت فاطمة

Bahwa diantara berita yang sampai kepada kami ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat adalah Ali, Zubair dan orang-orang yang mengikuti keduanya menyelisihi kami di rumah Fathimah [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 1/164 dengan sanad shahih]

Saat itu yang mengadakan pertemuan adalah Ali, Zubair dan orang-orang yang bersama mereka dimana merekapun bermusyawarah dengan Sayyidah Fathimah di kediaman Sayyidah Fathimah sendiri. Umar tidak senang dengan kabar ini dan mengancam dengan kata-kata:

وَأَيْمُ اللهِ ، مَا ذَاكَ بِمَانِعِيَّ إِنَ اجْتَمَعَ هَؤُلاَءِ النَّفَرُ عِنْدَكِ ، أَنْ آمُرَ بِهِمْ أَنْ يُحَرَّقَ عَلَيْهِمَ الْبَيْتُ

demi Allah hal itu tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk kuperintahkan agar membakar rumah ini tempat mereka berkumpul

Alfanarku berbasa-basi bahwa Umar tidak mengancam Sayyidah Fathimah [alaihis salam] karena lafaz yang digunakan ‘Alaihim bukan ‘Alaikum. Tentu saja pembelaan ini mandul, ia tidak memperhatikan bahwa lafaznya adalah ‘Alaihimul bait” yang artinya rumah tempat mereka berkumpul dan rumah itu adalah rumah Sayyidah Fathimah. Jadi lafaz itu menunjukkan Umar mengancam akan membakar rumah Sayyidah Fathimah kalau orang itu masih berkumpul di sisi Sayyidah Fathimah. Apa kalau ada orang yang mengancam akan membakar rumah anda maka ancaman itu bukan tertuju pada anda?. Mengenai perkataan kenyataannya Umar tidak pernah melakukan apa yang diucapkannya, itu justru disebabkan oleh kebijakan Sayyidah Fathimah sendiri yang memerintahkan agar mereka yang berkumpul di rumahnya yaitu Zubair dan orang-orang yang bersamanya untuk tidak lagi menemuinya atau kembali ke rumahnya. Seandainya mereka masih kembali dan Sayyidah Fathimah membiarkannya maka mungkin pembakaran itu akan terjadi sebagaimana Sayyidah Fathimah sendiri yang berkata:

وَأَيْمُ اللهِ ، لَيَمْضِيَنَّ لِمَا حَلَفَ عَلَيْهِ ، فَانْصَرِفُوا رَاشِدِينَ فَرُوْا رَأْيَكُمْ ، وَلاَ تَرْجِعُوا إِلَيَّ

Demi Allah ia akan melakukan apa yang ia telah bersumpah atasnya jadi pergilah dengan damai, simpan pandangan kalian dan janganlah kalian kembali menemuiku

Poin keempat kembali menunjukkan lemahnya ilmu, alfanarku mempermasalahkan soal baiat terhadap Abu Bakar, ia berkata

Fakta yang begitu jelas dari riwayat tersebut adalah Ali dan Zubair melakukan bai’at kepada Abu Bakar di hari pembai’atan kaum Muslimin, hal ini juga menggugurkan klaim syi’ah bahwa Ali hanya baru memba’iat Abu Bakar setelah 6 bulan setelah kewafatan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam

Kami jawab : orang itu telah salah dalam mempersepsi riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas. Tidak ada keterangan dalam riwayat di atas kalau Ali dan Zubair berbaiat kepada Abu Bakar pada hari pembaiatan kaum Muslimin. Lafaz yang ia jadikan hujjah adalah:

فَانْصَرَفُوا عنها ، فَلَمْ يَرْجِعُوا إِلَيْهَا ، حَتَّى بَايَعُوا لأَبِي بَكْرٍ

Maka mereka pergi darinya dan tidak kembali menemuinya sampai mereka membaiat Abu Bakar

Hujjah pertama : Pada lafaz ini tidak ada keterangan kalau peristiwa baiat yang dimaksud langsung terjadi setelahnya. Lafaz “hatta” [sampai] di atas adalah penunjukkan waktu bahwa mereka tidak lagi menemui Sayyidah Fathimah sampai mereka membaiat Abu Bakar, mengenai waktunya bisa sebentar, beberapa lama, nanti atau dalam waktu lama. Tidak ada keterangan yang menyebutkan lamanya waktu itu. Lafaz itu sama halnya dengan lafaz “dia tidak akan kembali ke rumah sampai dia mendapatkan uang seratus juta”. Apakah lafaz ini menunjukkan kalau setelah itu ia langsung mendapatkan uang seratus juta?. Tidak, bisa saja satu bulan, dua bulang enam bulan atau satu tahun.

Hujjah kedua : perkataan itu tidak tertuju pada Imam Ali, perhatikan lafaz “maka mereka pergi darinya dan tidak kembali menemuinya”. Siapakah mereka yang dimaksud?. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas, mereka yang dimaksud adalah mereka yang disuruh pergi oleh Sayyidah Fathimah:

فَانْصَرِفُوا رَاشِدِينَ فَرُوْا رَأْيَكُمْ ، وَلاَ تَرْجِعُوا إِلَيَّ

Jadi pergilah dengan damai, simpan pandangan kalian dan janganlah kalian kembali menemuiku

Sayyidah Fathimah berkata “Jangan kalian kembali menemuiku”. Perkataan ini tidak mungkin ditujukan kepada Imam Ali tetapi ditujukan kepada Zubair dan orang-orang yang mengikutinya yang ikut berkumpul di rumah Sayyidah Fathimah. Jadi mereka yang dinyatakan dengan lafaz “sampai mereka membaiat Abu Bakar” adalah mereka yang diusir dari rumah Sayyidah Fathimah. Imam Ali bukan termasuk yang diusir dari rumah Sayyidah Fathimah, lha itu kan rumah Beliau sendiri. Mengenai baiat Imam Ali terhadap Abu Bakar itu telah disebutkan dalam hadis Shahih Bukhari riwayat Aisyah bahwa itu terjadi setelah Sayyidah Fathimah wafat yaitu setelah enam bulan.

Jika orang syi’ah ingin berhujjah dengan riwayat di atas untuk mendiskreditkan Umar, maka mau ga mau mereka juga harus menerima beberapa fakta yang terekam dalam riwayat tersebut yang menjatuhkan klaim-klaim mereka.

Orang ini tidak rela kalau ada yang mendiskreditkan Umar tetapi ketika ada orang yang mengancam dan menyakiti Ahlul Bait ia berkata “itu memang ada ajarannya dari Nabi”. Sungguh betapa anehnya mereka ini. Kami sarankan padanya agar mempelajari bahasa arab dengan lebih baik sehingga ia tidak salah mempersepsi dan membantah orang dengan salah persepsinya itu.

Mungkin akan ada yang menjawab, bahwa mengenai pembai’atan Imam Ali kepada Abu Bakar dilakukan setelah 6 bulan berdalilkan riwayat Bukhari dari Aisyah, Kita jawab, berarti riwayat di atas keliru, kalau begitu tidak usah menjadikan riwayat tersebut sebagai dalil sama sekali atau kita jawab, apa yang diriwayatkan Aisyah dalam shahih Bukhari adalah apa yang Aisyah ketahui mengenai bai’at Ali, bisa jadi Aisyah tidak mengetahui bahwa Ali sudah memba’iat Abu Bakar di awal-awal, dan bai’at Ali pada bulan ke enam adalah bai’at beliau kedua untuk mengclearkan permasalahan.

Riwayat Ibnu Abi Syaibah di atas tidak bertentangan dengan riwayat baiat Imam Ali dalam Shahih Bukhari sebagaimana yang telah kami jelaskan. Riwayat Aisyah tersebut shahih dan tidak ada istilah baiat kedua, itu cuma istilah yang dibuat-buat, lagipula kalau memang Imam Ali sudah membaiat di depan orang banyak maka permasalahan apa lagi yang perlu dipermasalahkan sehingga perlu ada baiat kedua lagi di depan orang banyak pula. Cuma orang yang lemah akalnya yang berkata begitu.

Aisyah tidaklah menyendiri dalam pernyataan Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan. Dalam hadis shahih Bukhari soal baiat Imam Ali itu terdapat pengakuan Abu Bakar sendiri bahwa Imam Ali memang tidak pernah membaiatnya selama enam bulan. Aisyah berkata:

فَلَمَّا صَلَّى أَبُو بَكْرٍ الظُّهْرَ رَقِيَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَتَشَهَّدَ وَذَكَرَ شَأْنَ عَلِيٍّ وَتَخَلُّفَهُ عَنْ الْبَيْعَةِ وَعُذْرَهُ بِالَّذِي اعْتَذَرَ إِلَيْهِ ثُمَّ اسْتَغْفَرَ

Ketika Abu Bakar telah shalat zhuhur, ia naik ke mimbar mengucapkan syahadat dan menyebutkan masalah Ali dan ketidakikutsertaannya dari baiat dan alasannya, meminta maaf padanya kemudian beristighfar [Shahih Bukhari 5/139 no 4240 & 4241]

Jadi apa yang dikatakan Aisyah adalah apa yang ia dengar dan saksikan dari pengakuan Abu Bakar ra [ayahnya] sendiri. Adakah hujjah yang lebih kuat dari itu?. Abu Bakar sendiri mengakui kalau Imam Ali memang tidak membaiat dirinya. Jadi darimana muncul istilah baiat pertama? Itulah akibat jika orang membaca hadis tidak secara mendalam dan hanya mengkopipaste hujjah yang suka mentakwil dan mencari-cari dalih.

Mungkin akan ada yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Umar dengan memperingatkan Ali dan Zubair dengan keras saat itu adalah perbuatan yang buruk dan tidak berdasar, kita jawab bahwa Umar berlaku tegas seperti itu bisa kita pahami karena memang terdapat ajaran dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam :“Barang siapa datang kepada kalian, sedang ketika itu urusan kalian ada pada satu orang, kemudian ia ingin membelah tongkat kalian atau memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah ia.” Dalam riwayat lain: “Pukullah ia dengan pedang, siapa pun orangnya”.

مَنْ أَتَاكُمْ وَأَمْرُكُمْ جَمْيْعٌ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ، فَأَرَادَ أَنْ يَشُقَّ عَصَاكُمْ أَوْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ ؛ فَاقْتُلُوْهُ. وَفِيْ رِوَايَةٍ : فَاضْرِبُوْهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ.

Shahîh. HR Muslim (no. 1852) dari Sahabat ‘Arjafah Radhiyallahu ‘anhu.

Justru dengan hadis di atas alfanarku ini mau menyatakan kalau Ali dan Zubair ingin memecah belah jama’ah kaum muslimin sehingga mereka layak untuk dibunuh. Kita kembalikan perkataan ini kepadanya, itu mendiskreditkan Ali dan Zubair atau tidak?. Jangan terus ngeluyur berbicara kalau tidak bisa menjaga perkataan. Apa buktinya Imam Ali mau memecah belah kaum muslimin? Bukankah kabar tersebut baru sampai kepada Umar? Bukankah ada baiknya Umar tabyyun terlebih dahulu?. Apakah Ali dan Zubair itu orang arab badui yang perlu pakai ancam mengancam? Mengapa Umar tidak menasehati mereka dengan hadis yang dikutip alfanarku?. Apakah ada disebutkan Umar mau membunuh Ali dan Zubair? Lantas mengapa Umar malah mau membakar rumah Sayyidah Fathimah? Bagian mana dari hadis yang dikutip alfanarku yang menyebutkan soal bakar membakar.

Dan maaf alfanarku sepertinya anda lupa Umar itu sedang berbicara dengan siapa?. Sayyidah Fathimah yang merupakan putri kesayangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] Sayyidah wanita di surga, seorang ahlul bait yang disucikan dan menjadi pegangan umat islam. Antara Umar dan Sayyidah Fathimah terdapat kedudukan yang berbeda jauh. Jelas sangat tidak layak Umar berkata seperti itu kepada Sayyidah Fathimah apapun alasan naïf yang anda buat untuk membela Umar. Mau anda kemanakan hadis:

حدثني أبو معمر إسماعيل بن إبراهيم الهذلي حدثنا سفيان عن عمرو عن ابن أبي مليكة عن المسور بن مخرمة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إنما فاطمة بضعة مني يؤذيني ما آذاها

Telah menceritakan kepadaku Abu Ma’mar Ismail bin Ibrahim Al Hudzaliy telah menceritakan kepada kami Sufyan dari ‘Amru dari Ibnu Abi Mulaikah dari Miswar bin Makhramah yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “sesungguhnya Fathimah adalah bagian dari diriku, menyakitiku apa saja yang menyakitinya” [Shahih Muslim 4/1902 no 2449]

Jadi akhlak atau sikap kepada Sayyidah Fathimah adalah akhlak dan sikap kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Menyakitinya berarti menyakiti Nabi [shallallahu alaihi wasallam]. Mengancamnya berarti sama saja dengan mengancam Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Anggap saja Umar memang punya alasan seperti yang alfanarku bilang tetapi apakah memang harus dengan ancaman seperti itu?. Apa Umar tidak memiliki cara lain sehingga ancaman membakar itu adalah cara satu-satunya yang ia miliki?. Apakah dengan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] Umar akan bersikap seperti itu? Kalau Umar berbicara dengan baik kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka apa salahnya berbicara dengan baik kepada Sayyidah Fathimah [alaihis salam] dan tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti Beliau.

Anda alfanarku hanya terjebak pada kebencian anda kepada Syiah dan mengkait-kaitkan kami dengan Syiah. Seolah-olah kami disini sedang melaknat dan mengutuk Umar. Ketahuilah kami tidak pernah melakukan hal itu, kami hanya menunjukkan bahwa tindakan Umar itu salah dan tidak baik. Kami disini menyampaikan pembelaan kami terhadap Ahlul Bait. Perkara anda yang merasa sahabat Umar direndahkan itu adalah persepsi anda sendiri. Bukankah anda berpandangan sahabat itu tidak maksum tetapi anehnya sikap anda seolah tidak pernah terima kalau sahabat Umar melakukan kesalahan. Pembelaan yang anda buat hanya menunjukkan sikap yang tidak baik kepada Ahlul Bait, tanpa anda sadari anda telah merendahkan Ahlul Bait dengan menuduh mereka memecah belah kaum muslimin. Na’udzubillah.

Kami lanjutkan bantahan terhadap orang yang menyebut dirinya sebagai “pencari kebenaran” alangkah baiknya jika memang demikian. Setelah kami baca gaya bantahannya hanya ikut-ikutan bergaya pengacara ala alfanarku

Ali r.a dan Zubair r.a agak lewat dalam memba’aiah Abu Bakar. Berita ini menyebabkan Umar r.a risau dan menyebabkan dia datang ke rumah Fatimah r.a untuk memberikan ancaman kepada mereka. Umar r.a khuatir mereka akan menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam

Kalau orang ini mau berpendapat seperti alfanarku ya silakan, tetapi perhatikan dan pikirkan apakah hanya “kekhawatiran” membuat Umar layak untuk mengancam membakar rumah Ahlul Bait?. Seperti yang kami katakan, terlepas dari alasan atau seribu alasan yang anda cari untuk Umar itu tetap membuat ia tidak layak mengancam Ahlul Bait. Tidak bisakah Umar datang dan berbicara dengan baik kepada Sayyidah Fathimah menunggu Ali, Zubair dan orang-orang yang mengikuti mereka. Tidak bisakah Umar untuk tidak mengeluarkan ancaman mau membakar rumah Sayyidah Fathimah. Bukankah ketika Umar datang orang-orang tersebut tidak ada? Seharusnya Umar bersabar dan memastikan apa benar orang-orang yang berkumpul di rumah Sayyidah Fathimah itu memang mau memecah belah kaum muslimin. Justru yang nampak terlihat Umar begitu saja menyampaikan ancamannya kepada Sayyidah Fathimah kemudian pergi.

Ancaman Umar r.a tidak memasukkan Fatimah r.a. Lihat semula kepada perkataan yang diboldkan merah

إن أمرتهم أن يحرق عليهم البيت

Terjemahan: Maka tidak ada yang dapat mencegahku untuk memerintahkan membakar rumah tersebut bersama mereka yang ada di dalamnya

Sekiranya Umar r.a ingin membakar Fatimah r.a, maka dah tentu dia akan mengatakan ‘Aku akan membakar kamu’

Hujjah ini benar-benar seperti anak kecil yang baru belajar bicara. Ketika anak kecil diancam oleh orang jahat “berikan uangmu atau aku bakar rumah orangtuamu”. Anak kecilnya tertawa dan berkata “ah bukan aku yang diancam tapi rumah orang tuaku”. Dan sepertinya anak kecil itu lupa kalau ia tinggal di rumah tersebut. Hujjah yang mirip dengan seorang istri yang “aneh” ketika ada orang jahat mengancam “kalau tidak pindah dari rumah ini akan kubakar suamimu” dan istri menjawab “ah ancaman itu bukan untukku tapi untuk suamiku”. Kami bertanya kepada anda wahai “pencari kebenaran” rumah siapa yang anda sebut dalam terjemahan anda “membakar rumah tersebut” dan Siapa orang yang anda katakan “mereka yang ada di dalamnya”?. Adakah Imam Ali termasuk di dalam rumah tersebut?. Adakah Sayyidah Fathimah termasuk di dalam rumah tersebut?. Rumah yang diancam akan dibakar Umar itu adalah rumah tempat mereka Ali Zubair dan orang yang mengikuti keduanya berkumpul yaitu rumah Sayyidah Fathimah. Kami kasihan kalau anda berhujjah dengan gaya seperti itu karena untuk menjawabnya kami terpaksa menjawab dengan penjelasan seperti kami menjelaskan sesuatu kepada anak kecil.

Hadith ini dengan sendirinya menjadi salah satu hujah kukuh bahawa Ali r.a dan Zubair r.a telah memba’iah Abu Bakar r.a pada hari tersebut dan bukannya selepas 6 bulan seperti dakwaan syiah

Maaf sekedar informasi buat anda, Imam Ali membaiat Abu Bakar setelah enam bulan bukanlah dakwaan Syiah tetapi begitulah yang disebutkan dalam hadis Shahih Bukhari riwayat Aisyah ra. Jika itu dianggap Syiah atau sumber Syiah maka kami sarankan agar anda mengecek kembali definisi Syiah yang sudah anda pelajari.

Satu lagi point penting yang didiamkan syiah ialah kemuliaan Fatimah r..a disisi Umar r.a. Kita lihat semula bagaimana Umar r.a memanggil Fatimah r.a dengan panggilan mulia. Rujuk kepada teks yang diboldkan ungu

يا بنت رسول الله (ص) ! والله ما من أحد أحب إلينا من أبيك ، وما من أحد أحب إلينا بعد أبيك منك

Terjemahan: ”Wahai puteri Rasulullah SAW, demi Allah tidaklah dari seorangpun yang lebih kami cintai daripada ayahmu, dan tidaklah dari seorangpun yang kami lebih cintai selepas ayahmu daripada kamu

Persoalannya, apakah logik seseorang yang benar-benar ingin membakar rumah musuhnya akan memanggil musuhnya dengan perkataan yang menunjukkan kasih sayang?? Lebih dari, apakah logik dalam riwayat-riwayat jahat syiah mengatakan Umar r.a memukul Fatimah sehingga gugur janinnya sedangkan pada awalnya Umar r.a sendiri sangat menghormati beliau??

Maaf pada situasi tersebut kami ragu dengan apa yang anda katakan “Umar sangat menghormati Beliau”. Dimana letak rasa hormatnya, ketika ia mengancam membakar rumah orang yang dihormatinya?. Seperti alfanarku andapun mengidap penyakit yang sama. Anda tidak bisa membedakan antara “klaim” dan “fakta”. Ucapan Umar kalau Sayyidah Fathimah yang paling kami cintai adalah klaim tetapi ucapan Umar yang mengancam membakar rumah Sayyidah Fathimah adalah fakta, Ternyata cinta yang ia katakan itu tidak mampu mencegahnya dari mengancam membakar rumah ahlul bait. Jadi tidak ada kaitannya dengan logik dan tidak logik, kemudian satu lagi kami tidak pernah menyatakan Umar membakar rumah Ahlul Bait yang benar adalah Umar mengancam akan membakar rumah Ahlul Bait. Ada bedanya itu wahai kisanak dan Soal riwayat syiah, Umar memukul Fathimah maaf itu bukan urusan kami dan kami tidak pernah mengutipnya. Itu adalah riwayat Syiah yang kami pribadi tidak mengetahui kebenarannya

Umar r.a al-Khattab merupakan seorang yang faqih dalam urusan agama. Tindakan beliau mengancam untuk membakar bukanlah untuk membunuh ahlul bait sebaliknya ia fahami sebagai kewajipan berba’aiah kepada khalifah yang sah dan mengelakkan perpecahan

عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَرْفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ

Terjemahan: Dari Ziyad bin ‘Ilaqah, katanya, ‘Aku mendengar ‘Arjafah katanya,’ Aku mendengar nabi SAW berkata, ‘ Sesungguhnya akan terjadi bencana dan kekacauan, maka sesiapa saja yang ingin memecah belahkan persatuan umat ini maka penggallah dengan pedang walau siapapun dia

Rujukan: Sahih Muslim, Kitab Kepimpinan, Bab Hukum Bagi Orang Yang Memecahbelahkan Urusan Kaum Muslimin, hadith no 3442, Maktabah Shamela

Oh begitu, adakah hadis shahihnya bahwa kewajiban berbaiat kepada Khalifah ditegakkan dengan mengancam membakar rumah. Perpecahan mana yang anda katakan “dielakkan”. Siapakah yang anda tuduh membuat perpecahan? Sayyidah Fathimah dan Imam Ali?. Jadi begitukah tindakan seorang faqih jika putri kesayangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak membaiat maka diancam rumahnya akan dibakar. Mengapa anda mengutip hadis Shahih Muslim untuk membenarkan tindakan Umar padahal didalamnya tidak ada sedikitpun keterangan soal bakar membakar. Bukankah dalam hadis tersebut “siapa saja yang memecah belah umat maka penggallah dia”. Mengapa dalam bahasa Umar kata “penggallah dengan pedang” berubah menjadi “membakar rumah”. Umar ra yang tidak paham atau anda yang sedang melantur berhujjah dengan hadis Shahih Muslim yang tidak pada tempatnya.

Selain itu, bukti ancaman menunjukkan kepentingan satu urusan boleh difahami dengan melihat ancaman yang yang dilakukan nabi Muhammad s.a.w sendiri.

Telah tsabit dalam hadith yang sahih nabi mengancam untuk membakar rumah-rumah mereka yang tidak bersolat jemaah bahkan nabi juga mengancam untuk memotong tangan pencuri hatta Fatimah r.a sekalipun!!

Astaghfirullah, sekarang anda mengatasnamakan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk membenarkan ancaman Umar kepada Sayyidah Fathimah. Mari kami tunjukkan hadis shahih yang anda maksud

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf yang berkata telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abi Zanaad dari Al A’raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya sungguh aku berkeinginan kiranya aku memerintahkan orang-orang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan mereka shalat yang telah dikumandangkan azannya kemudian aku memerintahkan salah seorang menjadi imam lalu aku menuju orang-orang yang tidak shalat berjama’ah kemudian aku bakar rumah-rumah mereka [Shahih Bukhari 1/131 no 644]

Kalau hadis ini yang anda jadikan hujjah maka kami katakan hujjah anda itu “absurd”. Perhatikan lafaz perkataan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “hamamtu” yang bisa diartikan berkeinginan dalam hatiku maksudnya itu adalah sesuatu yang terbersit di dalam hati Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau ucapkan bukan sebagai ancaman tetapi untuk menekankan betapa penting dan wajibnya shalat berjama’ah. Kalau anda mengartikan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedang mengancam langsung kepada orang-orang tersebut maka anda keliru, Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak sedang berbicara kepada mereka yang tidak shalat berjamaah dengan kata-kata ancaman. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutarakan apa yang terbersit dalam hatinya kepada sahabat yang kebetulan berada di sana yaitu Abu Hurairah. Tidak ada ceritanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang menemui mereka yang punya rumah dan mengancam membakar rumah mereka kalau mereka tidak shalat berjama’ah. Ada perbedaan yang nyata antara melakukannya mengancam langsung dengan mengutarakan apa yang terbersit di dalam hati. Itu adalah bahasa kiasan yang menunjukkan betapa pentingnya shalat berjama’ah bukannya diartikan sebagai ancaman langsung Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kepada orang-orang tersebut.

Berbeda dengan kasus ini, Umar bin Khaththab itu jelas-jelas datang menemui Sayyidah Fathimah dan bersumpah dengan nama Allah SWT kalau orang-orang tersebut berkumpul di rumah atau di sisi Sayyidah Fathimah maka ia akan membakar rumah Sayyidah Fathimah. Ini benar-benar ancaman bahkan Sayyidah Fathimah mengatakan kalau Umar akan melakukan apa yang telah bersumpah atasnya. Itulah sebabnya Sayyidah Fathimah mengusir orang-orang tersebut dari rumahnya dan berkata jangan menemuinya lagi untuk mencegah tindakan Umar.

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami Laits dari Ibnu Syihaab dari Urwah dari Aisyah radiallahu ‘anha bahwa kaum Quraisy menghadapi masalah yaitu wanita suku Mahzumiy mencuri kemudian mereka berkata “siapa yang mau membicarakan tentangnya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Mereka berkata “tidak ada yang berani menghadap Beliau kecuali Usamah bin Zaid yang paling dicintai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka berbicaralah Usamah. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Apakah kamu meminta keringanan pelanggaran aturan Allah?. Kemudian Beliau berdiri menyampaikan khutbah kemudian bersabda “sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena apabila ada orang dari kalangan terhormat mereka mencuri mereka membiarkannya dan apabila ada orang dari kalangan rendah mencuri maka mereka menagakkan atasnya hukum. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri pasti aku potong tangannya [Shahih Bukhari 4/175 no 3475]

Hadis inikah yang anda jadikan hujjah. Siapa yang menurut anda sedang diancam oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Apa anda mau mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedang mengancam Sayyidah Fathimah?. Maaf tolong perbaiki terlebih dahulu cara anda berhujjah. Hadis ini sangat jelas tidak sama dengan apa yang dilakukan Umar ketika ia mengancam mau membakar rumah Sayyidah Fathimah. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedang menyampaikan hukum Allah SWT kepada umatnya dan bahasa yang Beliau gunakan bukanlah ancaman kepada orang tertentu.

Kemudian terakhir anda mengutip riwayat Syiah yang menguatkan hujjah anda bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah mengancam orang yang tidak ikut shalat berjama’ah secara langsung.

Ketahuilah, dalam kitab syiah sendiri terdapat riwayat-riwayat nabi Muhammad SAW ingin membakar rumah-rumah mereka yang tidak mengerjakan solat jemaah bersama baginda. Walaupun kitab syiah tidak bernilai disisi sunni, kita tetap menukilkannya supaya syiah sedar akan keburukan tohama

عن النبي صلى الله عليه وآله ، أنه قال لجماعة لم يحضروا المسجد معه : ( لتحضرن المسجد ، أو لاحرقن عليكم منازلكم

Terjemahan: Dari nabi s.a.w, sesungguhnya baginda berkata kepada jemaah yang tidak hadir bersamanya ke masjid, ‘ Hadirlah kamu ke masjid atau aku akan membakar rumah-rumah kamu

Sumber: Man La Yahduru al-Faqih, hadith 1092 , Bab Jamaah dan kelebihannya, Wasail Shia, no 10697

Kami sekedar iseng menggoogle riwayat yang anda kutip. Ternyata riwayat yang anda kutip tidak memiliki sanad dalam referensi syiah yang anda sebutkan. Jadi secara ilmu hadis yang sederhana saja maka riwayat tersebut dhaif. Tentu saja saudara kami yang Syiah lebih berkompeten untuk menilai hadis ini. Kami pribadi tidak menemukan adanya riwayat shahih bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengancam langsung kepada para sahabat yang tidak ikut shalat berjama’ah agar datang ke masjid kalau tidak rumah mereka akan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bakar. Tetapi ada hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang berbunyi menyakiti Fathimah berarti menyakitiku. Anda mau kemanakan hadis ini, walaupun anda mencari seribu alasan untuk membenarkan tindakan Umar kami akan katakan tindakan Umar salah cukup dengan hadis ini.

Umat Islam seharusnya berhati-hati dengan taktik kotor syiah dalam memfitnah Umar r.a. Kita dapat lihat sendiri bagaimana mereka mempertahankan status riwayat ini namun mendiamkan konteks yang sebenar.

Justru saya melihat bantahan anda yang kotor. Syiah tidak memfitnah Umar, jika Syiah mencela Umar dengan riwayat-riwayat dalam kitab mereka maka itu urusan mereka sendiri dan akan mereka pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Tetapi ketika Syiah mengutip riwayat Ibnu Abi Syaibah maka itu adalah benar dan tidak ada fitnah yang anda maksud. Begitu pula ketika kami membahas riwayat ini dimana kami menyalahkan Umar dan membela Ahlul Bait. Soal konteks yang anda sebut maka itu adalah persepsi anda yang anda gunakan untuk membenarkan tindakan Umar. Walaupun konteks tersebut ada tetap saja tindakan Umar yang mengancam membakar rumah Sayyidah Fathimah itu salah. Menegakkan hukum itu dengan dalil dan bukti. Apa buktinya Sayyidah Fathimah mau memecah belah umat?. Apa dalilnya kalau baiat ditegakkan dengan ancaman membakar rumah?. Siapakah Umar saat itu? Apakah ia khalifah yang sedang dibaiat sehingga berhak menentukan hukum?. Sebelum anda sibuk mencari-cari konteks tolong pahami dulu baik-baik apa yang sedang dipermasalahkan. Konteks yang anda buat tidak menjadikan tindakan ancaman Umar membakar rumah Sayyidah Fathimah sebagai perbuatan yang dibenarkan.

Terakhir kami akan membantah salah satu situs berbahasa inggris yang juga membahas riwayat ini. Dengan angkuhnya ia mengatakan Syiah sebagai jahil dalam bahasa Arab. Silakan dilihat poin yang ia katakan dan nilailah sendiri siapa sebenarnya yang jahil. Inilah perkataannya

Points to note:

1. Ameer al-Mu‘mineen Omar bin al-Khattab[ra] showed the rank of Fatima[ra] by saying she was most beloved to the people and him after her father.

2. Omar[ra] did not threaten Fatima[ra], but warned her about those gathering in her house. This can be seen by the statement ‘Alaihim’ and not ‘Alaikum’ in the statement ” أن يحرق عليهم البيت ” “if that group gathers in your house, to order that their house be set afire”.

Comment: But shia play the game with arabic because they are jahil persians

Persis seperti yang dilakukan dua orang sebelumnya atau lebih tepatnya mungkin mereka berdua mengkopipaste cara situs ini berargumentasi. Poin pertama sudah dijawab. Klaim atau pengakuan tidak menjadi hujjah yang menafikan apa yang telah dilakukan oleh Umar yaitu mengancam membakar rumah Sayyidah Fathimah. Kami lebih tertarik dengan poin kedua dimana ia berakrobat kalau kata yang digunakan adalah “Alaihim” bukan “Alaikum” dan lihat terjemahannya untuk kata:

أن يحرق عليهم البيت

Ia terjemahkan dengan “that their house be set afire”. Jadi bahasa indonesianya perkataan Umar adalah seperti ini “jika orang-orang ini berkumpul di rumahmu maka aku perintahkan untuk membakar rumah-rumah mereka dengan api”.

Justru orang ini yang jahil dalam bahasa arab dan sedang bermain-main. Kalau memang itu artinya “that their house be set afire” maka lafaz arabnya bukan عليهم البيت ‘Alaihimul bait tetapi عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ ‘Alaihimul buyutihum. Kata Their house atau rumah-rumah mereka adalah bentuk jamak sedangkan lafaz riwayat Ibnu Abi Syaibah diatas “bait” dalam bentuk tunggal. Jelas bahwa terjemahan yang benar adalah rumah tempat mereka berkumpul yaitu rumah Sayyidah Fathimah. Dan seandainyapun ia berkeras dengan salah terjemahannya tetap saja kata “their house” mencakup rumah Imam Ali karena mereka yang dimaksud itu adalah Ali, Zubair dan orang-orang yang mengikuti keduanya. Jadi menurut terjemahan situs berbahasa inggris itu maka Umar mau membakar rumah masing-masing mereka termasuk rumah Imam Ali yang merupakan rumah Sayyidah Fathimah juga. Itulah dari awal mengapa kami katakan kalau bantahan mereka neonashibi itu mandul semua. Niatnya membantah tetapi faktanya tidak ada yang mereka bantah.

ketika Imam Sajjad memegang tampuk kepemimpinan umat Islam menggantikan Imam Husein as …

5 Syaban, Imam Zainal Abidin Lahir

Imam Zainal Abidin Lahir

Tanggal 5 Sya’ban tahun 38 Hijriah, Imam Ali Zainal Abidin, putra dari Imam Husein as, terlahir ke dunia di kota Madinah. Imam Husein adalah putra dari Fathimah az-Zahra, putri Rasulullah Saw dan Imam Ali bin Abi Thalib as. Imam Ali Zainal Abidin dibesarkan dalam bimbingan Imam Husein hingga mencapai ilmu dan hakikat Ilahi. Beliau sangat tekun beribadah dan sering bersujud dalam waktu lama.

Oleh karena itulah beliau dijuluki sebagai Imam as-Sajjad. Dalam peristiwa Asyura di Padang Karbala yang membuat ayah beliau dan para cucu Rasulullah lainnya gugur syahid, Imam Sajjad tidak turut bertempur karena sedang sakit keras.Kemudian, Imam Sajjad memegang tampuk kepemimpinan umat Islam menggantikan Imam Husein as hingga akhir hayat beliau di tahun 94 Hijriah.

Imam Sajjad, Teladan Pengabdian

Tanggal lima Sya’ban tahun 38 H seorang manusia mulia lahir ke dunia. Beliau adalah Imam Ali bin Husein yang dikenal dengan panggilan Imam Ali Zainal Abidin. Beliau juga dijuluki dengan sebutan Imam Sajjad, karena tekun beribadah dan bersujud kepada Allah Swt. Selain dekat dengan Tuhan, Imam Sajjad juga dikenal sebagai orang yang sangat dermawan, penyantun terutama kepada orang miskin, anak yatim dan orang-orang tertindas.

Manusia mulia ini juga dikenal dengan doa-doanya yang memiliki ketinggian bahasa dan kedalaman maknanya yang menjulang. Beliau menjalani malam dengan doa dan ibadah kepada sang maha Pencipta. Tentang ini, Imam Baqir as, putra Imam Sajjad berkata, “Ketika semua orang di rumah tertidur di awal malam, ayahku, Imam Sajjad bangun mengambil wudhu dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau mengambil bahan makanan dalam karung dan memanggulnya sendirian menuju daerah orang-orang miskin dan membagikan makanan kepada mereka. Tidak ada seorangpun yang mengenalnya. Setiap malam orang-orang miskin menunggu beliau di depan rumah mereka untuk menerima jatah makanannya. Tapak hitam dipunggung ayahku merupakan bukti bahwa beliau memanggul sendiri makanan yang dibagikan kepada orang miskin.”

Salah satu karakteristik manusia sejak dulu hingga kini adalah hidup bermasyarakat. Dalam interaksi sosial, potensi setiap orang akan muncul untuk memenuhi kebutuhannya masing-masing sekaligus orang lain. Demikian juga dengan kita sebagai anggota masyarakat. Kita tidak bisa hidup seorang diri tanpa orang lain. Menurut Imam Sajjad, hanya Allah yang tidak membutuhkan yang lain, kita sebagai makhluk saling membutuhkan. Untuk itu, ketika seseorang berkata, “Tuhanku, jadikan aku orang yang tidak membutuhkan orang lain,” beliau berkata. Jangan begitu, setiap orang membutuhkan orang lain. Seharusnya beginilah doamu, “Tuhanku! Jadikan aku orang yang tidak membutuhkan orang-orang yang buruk.”

Sejatinya, persahabatan dan pengabdian terhadap sesama merupakan salah satu sifat terpuji manusia. Setiap anggota masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjalani kehidupan ini. Imam Zainal Abidin dalam Risalah Huquq menyinggung hak antarsesama manusia. Dengan cemerlang, Imam Sajjad menjelaskan bagaimana hak pemimpin terhadap bawahannya dan sebaliknya. Tidak hanya itu, Imam Sajjad juga menjelaskan bagaimana hubungan keluarga menyangkut hak orang tua terhadap anaknya dan sebaliknya, hak bertetangga, berteman dan hak terhadap harta.

Menurut Imam Sajjad, manusia adalah pelayan bagi yang lain, sehingga di masyarakat tumbuh budaya gotong-royong dan saling membantu. Di bagian lain Imam Sajjad mengungkapkan perkataan tentang saudara. Beliau berkata, “Saudara yang buruk adalah orang yang memperhatikanmu ketika keadaan lapang, namun menjauhi ketika sulit.” Untuk itu seorang mukmin berkewajiban untuk berbuat baik kepada orang lain.

Dalam pandangan Imam Sajjad, melayani orang lain memiliki berbagai dampak yang sangat besar baik di dunia maupun di akhirat. Salah satunya yang paling natural adalah membantu orang yang terkena musibah dan membutuhkan pertolongan. Imam Sajjad berkata, “Di dunia ini tidak ada yang lebih mulia dari berbuat baik kepada saudara.”

Imam Sajjad dalam berbagai riwayat lain menjelaskan bahwa orang yang membantu orang lain akan mendapat ganjaran pahala akhirat, ampunan dosa, kedudukan yang tinggi di surga serta pahala lainnya. Beliau berkata, “Tuhanku, semoga shalawat tercurah atas Muhammad dan keluarganya.., anugerahilah tanganku ini agar bisa berbuat baik kepada orang lain, dan jangan rusakkan kebaikan itu dengan riya dalam diriku.”

Imam Sajjad bahkan dalam doanyapun memberikan contoh bagaimana mengabdi dan melayani kebutuhan orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Imam Zainal Abidin kepada putranya berkata, “Barang siapa yang meminta tolong padamu untuk melakukan suatu pekerjaan baik, maka lakukanlah. Jika kamu ahlinya maka lakukan dengan sebaik-baiknya, Jika bukan engkau telah berbuat baik.”

Pengabdian adalah tindakan yang dilakukan untuk memenuhi hak orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini meliputi hubungan antar sesama manusia, hubungan dengan Tuhan, dan alam semesta.

Pengabdian terhadap masyarakat akan memiliki kedudukan tinggi bukan diukur dari seberapa besar pekerjaan itu. Tapi, kualitas layanan dan ketulusan niatlah yang menjadi ukuran dari bernilai atau tidaknya pekerjaan itu. Dengan demikian akan menciptakan sebuah ketenangan spiritual bagi seseorang yang bisa berbuat kebaikan bagi orang lain. Terkait hal ini Imam Sajjad berkata, “Sikap bersahabat dan bersaudara seorang mukmin kepada saudara mukmin lainnya adalah ibadah.”

Di bagian lain, Imam Sajjad mengingatkan nilai spiritual berbuat baik kepada orang lain dengan mengatakan, ” Allah akan menggembirakan orang yang telah menggembirakan saudaramu.”

Imam Sajjad dengan tanpa pamrih dan hanya mengharap keridhaan Allah berbuat baik terhadap orang lain. Ketika bersama rombongan bergerak menuju Mekah untuk menjalankan ibadah haji, beliau meminta supaya pengurus rombongan tidak memperkenalkan jati dirinya kepada yang lain. Dengan cara ini rombongan lain tidak mengenalinya, dan beliau bisa leluasa melayani keperluan mereka yang hendak berangkat untuk menunaikan ibadah haji.

Dalam sebuah perjalanan seseorang mengenalinya dan berkata, “Apakah kalian tahu siapa pemuda ini ” Ia tidak lain adalah Ali bin Hussein. Rombongan itu berlari mendekati Imam Sajjad dan memberi hormat serta memohon maaf karena tidak mengenalinya. Imam berkata, “Suatu hari saya berangkat bersama rombongan haji dan anggota rombongan mengenalnya dan menghormatiku, sebagaimana mereka menghormati Rasulullah. Akhirnya merekalah yang melayani keperluanku bukan sebaliknya. Padahal saya ingin melayani keperluan mereka. Inilah alasan saya tidak ingin dikenali oleh mereka.”

Tanpa Akal Nilai Ibadah Berkurang

Nilai Berpikir: Tanpa Akal Nilai Ibadah Berkurang

 

Nilai Berpikir: Tanpa Akal Nilai Ibadah Berkurang

 

Ishaq bin Ammar berkata, “Saya berkata kepada Imam Shadiq as, “Saya punya tetangga dan ia rajin melakukan shalat, banyak berinfak, beberapa kali menunaikan ibadah haji dan tidak membenci keluarga Rasulullah Saw.

 

Imam Shadiq as bertanya, “Bagaimana dengan akalnya? Yakni, apakah ia memiliki akal sosial dan agama?

 

Saya menjawab, “Ia tidak punya akal dan dari sisi pemikiran sangat rendah.”

 

Imam Shadiq as berkata, “Karena ia tidak punya akal, derajatnya tidak bisa naik hanya karena ibadah-ibadahnya.”

 

Nilai Berpikir: Akal atau Hujjah yang Benar

 

Ibn Sikkit Ahwazi salah satu ilmuwan besar dan terkenal di zaman Imam Hadi as. Ia banyak mendapatkan ilmu dari Imam Hadi as dan imam-imam maksum sebelumnya. Suatu hari ia bertanya kepada Imam Hadi as, “Mengapa Allah mengutus Nabi Musa as dengan mukjizat tongkat, tangan yang bersinar dan alat-alat yang membatalkan sihirnya para tukang sihir? Mengapa Nabi Isa as diutus dengan peralatan pengobatan dan menyembuhkan orang-orang yang sakit jasmani? Tetapi Rasulullah Saw diutus dengan mukjizat penjelasan dan ucapan-ucapan yang menyenangkan?

 

Imam Hadi menjawab, “Di masa Nabi Musa as masalah sihir menyihir sangat terkenal. Beliau diutus untuk mengalahkan dan membatalkan sihirnya para tukang sihir. Dengan demikian ia telah membuktikan hujjah dan burhan kepada mereka. Di masa Nabi Isa as, penyakit lumpuh banyak sekali dan masyarakat sangat membutuhkan dokter dan pengobatan. Oleh karenanya, Nabi Isa as diutus dengan dibekali sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh para dokter masa itu. Dengan izin Allah ia menghidupkan orang yang mati. Menyembuhkan orang yang buta sejak lahir. Menyembuhkan orang yang sakit lepra. Dengan demikian, ia telah membuktikan hujjah kepada mereka mereka. Akan tetapi Rasulullah Saw diutus di masa ketika pidato dan bersyair dikenal luas. Rasulullah Saw membawa topik-topik detil dengan penjelasan yang indah dan jelas yang bisa mengalahkan ucapan-ucapan mereka. Dengan demikian beliau telah membuktikan dan menyempurnakan hujjah bagi mereka.”

 

Ibn Sikkit puas mendengar jawaban Imam Hadi as seraya berkata, “Demi Allah aku tidak pernah mendengar jawaban seperti ini dari siapapun.”

 

Kemudian Ibn Sikkit bertanya, “Apa hujjah Allah untuk masyarakat di masa ini?”

 

Imam Hadi as berkata, “Hujjah-Nya adalah akal. Karena dengan perantara akal manusia akan mengenali pemimpin yang benar dan menerimanya serta mengenali pemimpin palsu dan menolaknya.”

 

Ibn Sikkit berkata, “Demi Allah, ini adalah jawaban yang tepat.”

 

Nilai Berpikir: Pelbagai Tahapan Bergabungnya Akal dengan Manusia

 

Ishaq putra Ammar berkata, “Saya pergi mendatangi Imam Shadiq as dan menceritakan tetang kisah pertemuan saya dengan masyarakat dan pelbagai macam tingkat pemikiran mereka dalam memahami ucapan saya, antara lain;

 

1. Terkadang ketika saya mendatangi sebagian masyarakat dan menyampaikan sebagian kecil dari ucapan saya, karena kecerdasannya mereka langsung memahami seluruh ucapan dan maksud saya.

 

2. Terkadang ketika saya berbicara dengan sebagian mereka, mereka akan memahami dan menjawabnya bila saya menyampaikan seluruh ucapan saya.

 

3. Namun ada sebagian orang yang ketika saya berbicara, mereka tidak memahami ucapan saya dan mengatakan, ulangi lagi. Dengan demikian, manusia berbeda-beda dalam memahami sebuah topik. Apa sebabnya?

 

Imam Shadiq as berkata, “Orang pertama yang memahami maksudmu dari sebagian kecil ucapanmu adalah orang yang akalnya bergabung dengannya sejak saat dia masih berupa nutfah. Orang kedua adalah orang yang akalnya bergabung dengannya saat dia berada di rahim ibunya. Akan tetapi orang ketiga yang tidak memahami ucapanmu dan mengatakan ulangi lagi, adalah orang yang akalnya bergabung dengannya saat dia sudah besar.

 

Dengan demikian, orang yang cerdas dan orang yang sedang kecerdasannya berkaitan dengan asal usul akalnya. Jika akalnya lebih cepat bergabung dengannya, maka ia menjadi cerdas dan bila akalnya terlambat bergabung dengannya, maka ia tergolong orang yang lemah kecerdasannya.

 

Nilai Berpikir: Orang Was-was adalah Orang yang Tidak Berakal

 

Salah seorang muslim dalam berwudhu selalu merasa was-was. Beberapa kali ia membasuh anggota wudhu, tetapi ia tidak puas dan menganggapnya tidak benar akhirnya mengulanginya lagi.

 

Abdullah bin Sinan berkata, “Saya mendatangi Imam Shadiq as dan menceritakan masalah ini. saya berkata, “Padahal ia laki-laki yang berakal, namun waswas dalam berwudhu.”

 

Imam Shadiq as berkata, “Akal apa yang ada di dalam dirinya? Apa yang diikutinya itu setan, bukan akal.”

 

Saya berkata, “Bagaimana ia mengikuti setan?”

 

Imam berkata, “Tanyakan kepadanya, dari mana waswas ini muncul pada dirinya? Ia sendiri akan menjawab, “Dari usaha setan.” Karena ia tahu bahwa waswas dalam berkehendak dan kemauan merupakan bisikan setan. Perhatikan surat an-Nas ayat 4 dan 5 Allah berfirman, “Min Syarril Waswasil Khannaas. Alladzi Yuwaswisu Fi Shuduurinnaas.” (Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia). Akan tetapi ketika harus berbuat, ia tidak mampu menolak untuk tidak menaati setan, karena lemahnya kemauan dan kehendaknya.

Mantan Bek Arsenal Memeluk Islam-Syiah

Allahu Akbar! Pesebak Bola Inggris, Mantan Bek Arsenal Ini, Masuk Islam Syi’ah


Philipe Sanderos, pria kelahiran Swiss yang bermain sebagai punggawa klub Fulham Liga Premier Inggris, telah masuk Islam. Ia mendeklarasikan keyakinannya di sebuahIslamic Center di kota Manchester, Rabu (20//6/2012).

Senderos sebelumnya bermain untuk raksasa sepakbola Inggris, Arsenal, dan sekarang bermain untuk tim nasional negaranya, Swiss.

Philippe, lulusan teologi, menunjukkan banyak minat dalam agama-agama dunia dan menghabiskan sebagian besar waktunya di luar sepakbola untuk membaca segala hal mengenai agama sebelum dia memeluk Islam.

“Saya sangat tertarik pada agama-agama dunia dan membaca banyak buku tentang itu,” kata Senderos dalam sebuah wawancara dengan majalah Arsenal.

“Jika saya tidak bermain sepakbola, saya mungkin akan menjadi seorang imam,” tambahnya.

Senderos akhirnya mencari pengetahuan dan menemukan petunjuk dalam Islam. Allahu Akbar!

Amhamdulillah..!

Philippe Senderos, pemain sepakbola yang pernah memperkuat Arsenal dan AC Milan menyatakan telah menjadi mualaf di sebuah pusat agama Islam di Manchester Inggris, Rabu (20/6) lalu. 
pesepakbola asal Swiss yang saat ini bermain sebagai bek di klub Liga Premier Inggris, Fulham, Philippe Senderos memutuskan untuk memeluk Islam.

Menurut laporan tersebut pemain yang pernah memperkuat Arsenal tersebut menyatakan telah menjadi mualaf di sebuah pusat agama Islam di Manchester Inggris, Rabu (20/6) lalu.

Selain di Arsenal Philippe Senderos sebelumnya juga pernah bermain untuk AC Milan dan Everton. Saat ini ia didaulat untuk memperkuat tim nasional Swiss.

Philippe merupakan lulusan teologi, ia dilaporkan menunjukan banyak minat pada agama-agama di dunia. Di luar kegiatannya sebagai atlet sepakbola, ia banyak membaca dan mempelajari berbagai hal tentang agama.

“Saya sangat tertarik pada agama-agama di dunia,” kata Senderos seperti dikutip Press TV.

Senderos mengaku menemui manfaat dan pedoman dalam Islam. Oleh karenanya ia memutuskan memilih menjadi seorang Muslim.
“Jika saya tak bermain sepakbola mungkin saya akan menjadi seorang imam masjid,” kata dia

Sanderos dilahirkan di Genewa pada tahun 1985 dari seorang ibu berdarah Serbia. Hanya saja kemudian tidak sedikit yang mempersoalkan keislamannya, karena lebih memilih meyakini mazhab Syiah.

“Pilihan ini berdasarkan penelitian saya selama ini mengenai mazhab-mazhab dalam Islam.” Imbuhnya.
 

Mantan Bek Arsenal Ini Memeluk Islam

  
Mantan Bek Arsenal Ini Memeluk Islam
Phillipe Senderos
.
Pesepakbola asal Swiss yang saat ini bermain sebagai bek di klub Liga Premier Inggris, Fulham, Philippe Senderos memutuskan untuk memeluk Islam.

Ia menyatakan telah menjadi mualaf di sebuah pusat agama Islam di Manchester Inggris, Rabu (20/6) lalu.

Philippe Senderos sebelumnya pernah bermain untuk Arsenal, AC Milan dan Everton. Saat ini ia didaulat untuk memperkuat tim nasional Swiss.

Philippe merupakan lulusan teologi, ia dilaporkan menunjukan banyak minat pada agama-agama di dunia. Di luar kegiatannya sebagai atlet sepakbola, ia banyak membaca dan mempelajari berbagai hal tentang agama.

“Saya sangat tertarik pada agama-agama di dunia,” kata Senderos seperti dikutip Press TV.

Senderos mengaku menemui manfaat dan pedoman dalam Islam. Oleh karenanya ia memutuskan memilih menjadi seorang Muslim.

“Jika saya tak bermain sepakbola mungkin saya akan menjadi seorang imam,” kata dia.

Berikut gambar Phillipe Senderos, kanan, seperti dimuat di laman Press TV:

Philippe Senderos seorang pesepakbola yang kini merumput bersama klub Liga Premier Inggris, Fulham, memutuskan untuk memeluk Islam setelah menemukan banyak ketertarikan pada agama-agama di dunia. Pesepakbola asal Swiss ini telah menyatakan sebagai mualaf di sebuah pusat agama Islam yang ada di Manchester, Inggris, Rabu (20/6) kemarin
.
Senderos adalah seorang lulusan teologi yang menyatakan banyak minatnya terhadap agama-agama yang ada di dunia. “Saya sangat tertarik pada agama-agama di dunia,” kata Senderos seperti dikutip Press TV dalam Republika.co.id
.
Di luar kesibukannya sebagai pesepakbola profesional, ia banyak sekali menyempatkan dirinya untuk membaca dan mempelajari berbagai hal tentang agama. Ia mengaku banyak pula manfaat yang ia temui selama masa pendalaman agama tersebut. Khususnya ia menaruh perhatian lebih terhadap Islam yang sekarang akhirnya menjadi pilihan yang paling bagus untuk dirinya
.
Setelah keislamannya itu, mantan bek tangguh Arsenal ini pun mengungkapkan minatnya untuk menjadi seorang imam. “Jika saya tak bermain sepakbola mungkin saya akan menjadi seorang imam,” kata dia
.
Sebelum menjadi bek Fulham, Philippe Senderos juga pernah merumput bersama Arsenal, AC Milan, dan Everton
.
Kaka Pelajari Islam
Di tempat lain, Ricardo Kaka menemukan minatnya untuk mempelajari Islam ketika dia bersama keluarganya menyinggahi Dubai, Uni Emirat Arab beberapa waktu lalu. Pemain bola yang sekarang merumput bersama Real Madrid ini ternyata memiliki perhatian khusus terhadap Islam dengan cara mempelajari lebih dalam tentang dunia Islam
.
Kunjungan dalam rangka liburan selama 10 hari tersebut, Kaka habiskan dengan mengunjungi gedung tertinggi di dunia, yaitu Burj Khalifa, Palm Jumeirah, Burj Al-Arab, dan Jebel Ali Port. Megabintang sepak bola asal Brazil ini juga menyinggahi sebuahMasjid khusus yang dirancang untuk turis. Kaka bersama istri dan adiknya, Digao, dengan khusyuk menyimak penjelasan tentang cara hidup kaum Muslim dan bangsa Arab pada umumnya
.
Selama liburan yang ia nikmati di sana, banyak sekali kesan yang dirasakan. Dan Kaka juga mengaku ingin sekali lebih mendalami lagi penjelasan yang baru didengarnya
.
“Dubai adalah kota yang indah dan salah satu yang paling ramah di dunia. Saya sangat beruntung bisa berlibur ke sini. Saya sangat terkesan dengan sambutan yang saya dapatkan dan saya ingin kembali lagi ke Dubai secepatnya,” kata pencetak gol terbanyak Liga Champions 2006-2007 dengan torehan 10 gol itu

Benarkah Ketenangan Ada Pada Lisan Umar bin Khaththab?

Benarkah Ketenangan Ada Pada Lisan Umar bin Khaththab?

Tulisan kali ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang membahas atsar Imam Ali bahwa para sahabat Nabi mengatakan “ketenangan ada pada Lisan Umar”. Telah kami buktikan bahwa atsar ini kedudukannya dhaif dengan keseluruhan jalan-jalannya. Kali ini kami akan membahas matan atsar tersebut dan membuktikan bahwa atsar tersebut keliru. Para sahabat banyak yang tidak tenang dengan lisan Umar bin Khaththab.

Asma’ binti Umais termasuk salah seorang sahabat Nabi yang pernah marah dan tidak tenang atas perkataan [lisan] Umar bin Khaththab sampai-sampai ia mengadukannya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim

قال فدخلت أسماء بنت عميس وهي ممن قدم معنا على حفصة زوج النبي صلى الله عليه و سلم زائرة وقد كانت هاجرت إلى النجاشي فيمن هاجر إليه فدخل عمر على حفصة وأسماء عندها فقال عمر حين رأى أسماء من هذه ؟ قالت أسماء بنت عميس قال عمر الحبشية هذه ؟ البحرية هذه ؟ فقالت أسماء نعم فقال عمر سبقناكم بالهجرة فنحن أحق برسول الله صلى الله عليه و سلم منكم فغضبت وقالت كلمة كذبت يا عمر كلا والله كنتم مع رسول الله صلى الله عليه و سلم يطعم جائعكم ويعظ جاهلكم وكنا في دار أو في أرض البعداء البغضاء في الحبشة وذلك في الله وفي رسوله وايم الله لا أطعم طعاما ولا أشرب شرابا حتى أذكر ما قلت لرسول الله صلى الله عليه و سلم ونحن كنا نؤذى ونخاف وسأذكر ذلك لرسول الله صلى الله عليه و سلم وأسأله ووالله لا أكذب ولا أزيغ ولا أريد على ذلك قال فلما جاء النبي صلى الله عليه و سلم قالت يا نبي الله إن عمر قال كذا وكذا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم ليس بأحق بي منكم وله ولأصحابه هجرة واحدة ولكم أنتم أهل السفينة هجرتان

Asma’ binti Umais dan ia termasuk yang datang bersama kami, masuk ke rumah Hafshah istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan ia juga pernah hijrah ke tempat Raja Najasyiy maka masuklah Umar menemui Hafshah dan Asma’ ada disisinya. Ketika melihat Asma’, Umar berkata “siapa ini?”. Ia berkata “Asma’binti Umais”. Umar berkata “apakah ia ikut hijrah ke Habsyah?”. Asma’ berkata “benar”. Umar berkata “kalau begitu kami lebih berhak terhadap Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dari pada kalian”. Asma’ menjadi marah dan berkata “engkau berdusta wahai Umar, demi Allah kalian bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Beliau memberi makan orang yang lapar diantara kalian dan memberi nasehat pada orang yang tidak mengerti diantara kalian sedangkan kami berada di tanah yang jauh dan penuh tantangan di Habsyah dan itu karena Allah dan Rasul-Nya, demi Allah aku tidak akan makan dan minum sebelum melaporkan hal ini kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena kami merasa dihina dan dicemaskan. Demi Allah aku tidak berdusta dan tidak mengada-ada, ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang Asma’ berkata “wahai Rasulullah, Umar berkata begini dan begitu”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “ia tidaklah lebih berhak dari kalian terhadapku, ia dan sahabatnya hijrah satu kali sedangkan kalian ahlu safiinah hijrah dua kali” [Shahih Muslim no 2503]

Hadis diatas menunjukkan bahwa lisan [perkataan] Umar telah membuat Asma’ binti Umais marah dan menuduhnya dusta sehingga Asma’ mengadukan perkataan Umar kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ternyata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengingkari apa yang diucapkan Umar [radiallahu ‘anhu] dan membela Asma’ binti Umais. Hadis di atas termasuk dalil yang menunjukkan bahwa “ketenangan ada pada lisan Umar” adalah keliru.

عن ابن عباس قال لما حضر رسول الله صلى الله عليه و سلم وفي البيت رجال فيهم عمر ابن الخطاب فقال النبي صلى الله عليه و سلم ( هلم أكتب لكم كتابا لا تضلون بعده ) فقال عمر إن رسول الله صلى الله عليه و سلم قد غلب عليه الوجع وعندكم القرآن حسبنا كتاب الله فاختلف أهل البيت فاختصموا فمنهم من يقول قربوا يكتب لكم رسول الله صلى الله عليه و سلم كتابا لن تضلوا بعده ومنهم من يقول ما قال عمر فلما أكثروا اللغو والاختلاف عند رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( قوموا ) قال عبيدالله فكان ابن عباس يقول إن الرزية كل الرزية ما حال بين رسول الله صلى الله عليه و سلم وبين أن يكتب لهم ذلك الكتاب من اختلافهم ولغطهم

Dari Ibnu Abbas yang berkata “Ketika ajal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah hampir tiba dan di dalam rumah beliau ada beberapa orang diantara mereka adalah Umar bin Khattab. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “berikan kepadaku, aku akan menuliskan untuk kalian wasiat, agar kalian tidak sesat setelahnya”. Kemudian Umar berkata “sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dikuasai sakitnya dan di sisi kalian ada Al-Qur’an, cukuplah untuk kita Kitabullah” kemudian orang-orang di dalam rumah berselisih pendapat. Sebagian dari mereka berkata, “berikan apa yang dipinta Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam Agar beliau menuliskan bagi kamu sesuatu yang menghindarkan kamu dari kesesatan”. Sebagian lainnya mengatakan sama seperti ucapan Umar. Dan ketika keributan dan pertengkaran makin bertambah di hadapan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata “menyingkirlah kalian” Ubaidillah berkata Ibnu Abbas selalu berkata “musibah yang sebenar-benar musibah adalah penghalangan antara Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan penulisan wasiat untuk mereka disebabkan keributan dan perselisihan mereka” [Shahih Muslim no 1637]

Hadis Ibnu Abbas diatas tentang “musibah hari kamis” menunjukkan bahwa lisan [perkataan] Umar [radiallahu ‘anhu] telah memicu keributan dan perselisihan diantara sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian dari sahabat Nabi mengikuti ucapan Umar dan sebagian lain ingin memenuhi permintaan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Keributan inilah yang membuat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak suka dan menyebabkan terhalangnya penulisan wasiat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ ، حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ ، عْن أَبِيهِ أَسْلَمَ ؛ أَنَّهُ حِينَ بُويِعَ لأَبِي بَكْرٍ بَعْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، كَانَ عَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ يَدْخُلاَنِ عَلَى فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، فَيُشَاوِرُونَهَا وَيَرْتَجِعُونَ فِي أَمْرِهِمْ ، فَلَمَّا بَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ خَرَجَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى فَاطِمَةَ ، فَقَالَ : يَا بِنْتَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَاللهِ مَا مِنْ الْخَلْقِ أَحَدٌ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَبِيك ، وَمَا مِنْ أَحَدٍ أَحَبَّ إِلَيْنَا بَعْدَ أَبِيك مِنْك ، وَأَيْمُ اللهِ ، مَا ذَاكَ بِمَانِعِيَّ إِنَ اجْتَمَعَ هَؤُلاَءِ النَّفَرُ عِنْدَكِ ، أَنْ آمُرَ بِهِمْ أَنْ يُحَرَّقَ عَلَيْهِمَ الْبَيْتُ قَالَ : فَلَمَّا خَرَجَ عُمَرُ جَاؤُوهَا ، فَقَالَتْ : تَعْلَمُونَ أَنَّ عُمَرَ قَدْ جَاءَنِي ، وَقَدْ حَلَفَ بِاللهِ لَئِنْ عُدْتُمْ لَيُحَرِّقَنَّ عَلَيْكُمَ الْبَيْتَ ، وَأَيْمُ اللهِ ، لَيَمْضِيَنَّ لِمَا حَلَفَ عَلَيْهِ ، فَانْصَرِفُوا رَاشِدِينَ  فَرُوْا رَأْيَكُمْ ، وَلاَ تَرْجِعُوا إِلَيَّ ، فَانْصَرَفُوا عنها ، فَلَمْ يَرْجِعُوا إِلَيْهَا ، حَتَّى بَايَعُوا لأَبِي بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Umar telah menceritakan kepada kami Zaid bin Aslam dari Aslam Ayahnya yang berkata bahwasanya ketika bai’at telah diberikan kepada Abu Bakar sepeninggal Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali dan Zubair masuk menemui Fatimah binti Rasulullah, mereka bermusyawarah dengannya mengenai urusan mereka. Ketika berita itu sampai kepada Umar bin Khaththab, ia bergegas keluar menemui Fatimah dan berkata ”wahai Putri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] demi Allah tidak ada seorangpun yang lebih kami cintai daripada Ayahmu dan setelah Ayahmu tidak ada yang lebih kami cintai dibanding dirimu tetapi demi Allah hal itu tidak akan mencegahku jika mereka berkumpul di sisimu untuk kuperintahkan agar membakar rumah ini tempat mereka berkumpul”. Ketika Umar pergi, mereka datang dan Fatimah berkata “tahukah kalian bahwa Umar telah datang kepadaku dan bersumpah jika kalian kembali ia akan membakar rumah ini tempat kalian berkumpul. Demi Allah ia akan melakukan apa yang ia telah bersumpah atasnya jadi pergilah dengan damai, simpan pandangan kalian dan janganlah kalian kembali menemuiku”. Maka mereka pergi darinya dan tidak kembali menemuinya sampai mereka membaiat Abu Bakar [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 14/567 no 38200 dengan sanad shahih]

Riwayat diatas menunjukkan lisan [perkataan] Umar [radiallahu ‘anhu] kepada Sayyidah Fathimah [‘alaihis salaam] yang berupa ancaman membakar rumah ahlul bait. Perkataan Umar inilah yang membuat Sayyidah Fathimah khawatir dan meminta agar orang-orang tersebut tidak berkumpul di rumahnya. Jadi sangat tidak mungkin kalau Ahlul Bait berkata “ketenangan ada pada lisan Umar”. Apa ada ketenangan jika ada yang mengancam membakar rumah anda?.

أخبرني أبو بكر محمد بن أحمد المزكي بمرو حدثنا عبد الله بن روح المدايني حدثنا يزيد بن هارون أنبأ هشام بن حسان عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه قال قال لي عمر يا عدو الله وعدو الإسلام خنت مال الله قال قلت لست عدو الله ولا عدو الإسلام ولكني عدو من عاداهما ولم أخن مال الله ولكنها أثمان أبلي وسهام اجتمعت قال فأعادها علي وأعدت عليه هذا الكلام قال فغرمني اثني عشر ألفا قال فقمت في صلاة الغداة فقلت اللهم اغفر لأمير المؤمنين فلما كان بعد ذلك أرادني على العمل فأبيت عليه فقال ولم وقد سأل يوسف العمل وكان خيرا منك فقلت أن يوسف نبي بن نبي بن نبي بن نبي وأنا بن أميمة وأنا أخاف ثلاثا واثنتين قال أولا تقول خمسا قلت لا قال فما هن قلت أخاف أن أقول بغير علم وأن أفتي بغير علم وأن يضرب ظهري وأن يشتم عرضي وأن يؤخذ مالي بالضرب هذا حديث بإسناد صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه

Telah mengabarkan kepadaku Abu Bakar Muhammad bin Ahmad Al Muzakkiy di Marwa yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Rawh Al Madainiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah memberitakan kepada kami Hisyaam bin Hasan dari Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah yang berkata Umar berkata kepadaku “wahai Musuh Allah dan musuh Islam, engkau telah mengkhianati harta Allah. Aku berkata “aku bukan Musuh Allah dan juga bukan musuh Islam tetapi aku adalah musuh siapapun yang memusuhi keduanya, aku pun tidak mengkhianati harta Allah. Harta itu adalah hasil penjualan unta-untaku dan sejumlah harta yang aku kumpulkan. Ia [Umar] berkata “kembalikanlah” dan aku mengulangi perkataan yang tadi. [Abu Hurairah] berkata “maka ia mengambil dariku dua belas ribu [dirham]. [Abu Hurairah] berkata “maka aku mendirikan shalat malam dan berdoa “Ya Allah, ampunilah amirul mukminin”. Suatu ketika setelah peristiwa itu ia memintaku untuk bertugas dan aku menolaknya. Ia [Umar] berkata “bukankah sungguh telah bertugas Yusuf dan ia lebih baik darimu”. Aku [Abu Hurairah] berkata “Yusuf adalah Nabi anak Nabi anak Nabi anak Nabi sedangkan aku adalah anak Umaimah dan aku takut tiga dan dua”. Ia [Umar] berkata “kenapa tidak engkau katakan lima?”. Aku [Abu Hurairah] berkata “tidak”. Umar berkata “apakah itu?” Aku [Abu Hurairah] berkata “aku takut berbicara tanpa ilmu, berfatwa tanpa ilmu, punggungku dicambuk, harga diriku dicela dan hartaku diambil dengan paksa”. Al Hakim berkata “hadis ini sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim tetapi mereka tidak mengeluarkannya” [Al Mustadrak Ash Shahihain juz 2 no 3327]

Riwayat di atas menunjukkan bahwa lisan [perkataan] Umar [radiallahu ‘anhu] telah menuduh Abu Hurairah sebagai musuh Allah dan musuh Islam. Abu Hurairah menolak pernyataan itu dan mengakui kalau harta itu adalah miliknya. Umar menolak perkataan Abu Hurairah dan mengambil paksa hartanya. Abu Hurairah jelas tidak menyetujui lisan dan tindakah Umar sehingga ia berdoa memintakan ampun untuk Umar dan menolak ketika Umar memintanya bekerja kembali. Nampak dalam alasan Abu Hurairah adalah isyarat bahwa ia tidak ingin harga dirinya dicela dan hartanya diambil secara paksa. Apakah ada ketenangan jika ada yang menuduh anda musuh Allah dan musuh islam bahkan menuduh anda mengkhianati harta Allah?

Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa matan atsar “ketenangan ada pada lisan Umar” adalah mungkar karena bertentangan dengan kabar shahih. Hal ini menjadi penguat bahwa atsar tersebut kedudukannya dhaif. Nashibi yang mati-matian membela atsar tersebut hanya membuktikan kalau mereka ghuluw terhadap sahabat Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu]. Aneh tapi nyata, itulah Nashibi.

Salam damai

Benarkah Semua Peserta Perang Tabuk Dijamin Surga?

doqma “keadilan seluruh sahabat ” pun harus dipaksakan untuk membenarkan segala tingkah laku sebagian sahabat yang melenceng jauh

Dan semua yang dikatakan nabi (termasuk segala cacian & laknatan) adalah wahyu yang berasal dari Allah dan memang sangat pantas ditujukan bagi orang2 yang dia laknat. Dan dia bukanlah orang lemah mental / gila yang ketika marah membuatnya mencaci / melaknat orang yang tidak patut dilaknat . Sesungguhnya tiap perkataannya adalah kebenaran dan tiap laknatnya adalah laknat dari Allah azza wa jalla.

“Dan, dia (Muhammad) tidak bertutur dengan hawa
nafsunya, melainkan dengan wahyu yang diwahyukan”. ( QS 53:3-4 )

benar2 anda memaksakan berbagai alasan tidak masuk akal utk membela para sahabat yang jelas2 membangkang perintah Rasul utk terus mempertahankan dongeng “seluruh sahabat adalah adil”….baca Firman Allah :
4:65
“Maka demi Tuhanmu , mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan , kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya . ”

Lihat Allah mengatakan bahwa mereka tidak beriman hingga mereka tidak menolak sama sekali dengan tanpa keberatan hati sama sekali terhadap perintah Sayyidina Muhammad….

Dongeng seluruh sahabat pasti adil….ha..ha…ha….Jelas2 Rasul pernah melaknat mereka….tapi anda malah mengambil fatwa sebagian saja dr Syekh2 anda yg mengatakan mereka pasti adil…. Anda mengambil dongeng dan membuang fakta….!!!

benar2 anda memaksakan berbagai alasan tidak masuk akal utk membela para sahabat yang jelas2 membangkang perintah Rasul utk terus mempertahankan dongeng “seluruh sahabat adalah adil”….baca Firman Allah :
4:65
“Maka demi Tuhanmu , mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan , kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya . ”

Lihat Allah mengatakan bahwa mereka tidak beriman hingga mereka tidak menolak sama sekali dengan tanpa keberatan hati sama sekali terhadap perintah Sayyidina Muhammad….

Dongeng seluruh sahabat pasti adil….ha..ha…ha….Jelas2 Rasul pernah melaknat mereka….tapi anda malah mengambil fatwa sebagian saja dr Syekh2 anda yg mengatakan mereka pasti adil…. Anda mengambil dongeng dan membuang fakta….!!!

dalam hal ini sunni  keliru  besar,

pertama seperti saya katakan diatas bahwa ucapan Rasulullah saw itu wajib ditaati sebagaimana disebutkan dalam firman2 Allah SWT yg saya kutip diatas, dan tidak ada haq bagi kita umat Islam termasuk sahabat untuk membantah, karena ucapan beliau adalah wahyu!

Kedua, yang perlu anda ketahui bahwa perkara sebagian sahabat tidak menta’ati perintah Rasulullah saw… hal ini bukanlah sesuatu yang asing karena kitab sejarah dan hadis banyak yang melaporkan hal ini….

dibawah saya kutipkan hadis Bukhori tentang hal ini BAHWA DALAM PERANG UHUD NABI SAW… DITINGGALKAN BANYAK SAHABATNYA YG LARI DARI PEPERANGAN UNTUK MENYELAMATKAN DIRI, PADAHAL RASUL SAW TELAH MENYERU MEREKA AGAR KEMBALI, AKAN TETAPI MEREKA TETAP LARI KETAKUTAN DAN HANYA TERSISA 12 SAHABAT YANG SETIA MENEMANI NABI SAW PADA WAKTU ITU..

حدثنا ‏ ‏عمرو بن خالد ‏ ‏حدثنا ‏ ‏زهير ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أبو إسحاق ‏ ‏قال سمعت ‏ ‏البراء بن عازب ‏ ‏رضي الله عنهما ‏ ‏قال ‏
‏جعل النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏على ‏ ‏الرجالة ‏ ‏يوم ‏ ‏أحد ‏ ‏عبد الله بن جبير ‏ ‏وأقبلوا منهزمين فذاك إذ يدعوهم الرسول في أخراهم ولم يبق مع النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏غير اثني عشر رجلا ‏

SAHIH BUKHARI, KITAB تفسير القرآن ,
BAB قوله والرسول يدعوكم في أخراكم ,
anda bisa cek hadis ini di situs kementerian agama dan wakaf, saudi arabia:

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=6584

Jadi ketika saya di sekolah madrasah dulu diceritakan oleh guru-guru bahwa para sahabat Nabi saw semuanya adalah orang-orang yang ta’at dan patuh kepada Nabi saw dan siap mengorbankan dirinya untuk membela Nabi saw, sebagiannya ADALAH DONGENG BELAKA!!

Nyatanya dalam perang Uhud yang dihadiri sahabat dalam jumlah yang sangat besar, ternyata MAYORITAS SAHABAT LARI TUNGGANG-LANGGANG MENYELAMATKAN DIRI DAN HANYA TERSISA 12 ORANG SAHABAT YANG SETIA MENYERTAI BELIAU saw, ITULAH SAHABAT YANG SEBENARNYA SEMENTARA SAHABAT YANG LARI TENTU KWALITASNYA RENDAH.. bahkan al-Qur’an mengancam dengan neraka bagi orang-orang yang lari dari pertempuran

Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (QS. Al Anfal [8]:15)

Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al Anfal [8]:16)

Tidak hanya di perang Uhud beliau saw ditinggalkan umatnya, di perang Hunain pun Rasul saw ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya bahkan menurut sejarawan hanya tinggal 9 sahabat yang setia menemani beliau saw..

Jadi ketika di akhir hayatnya beliau saw mengirim pasukan dibawah pimpinan Usamah mereka enggan berangkat, hal ini bukanlah hal yang aneh karena banyak diantara sahabat yang takut berperang dan juga banyak yang tidak menta’ati beliau saw. !!

Ma’af mas hadis palsu diatas dibikin untuk melindungi sahabat yang dilaknat Nabi saw dan perbuatan mereka memang layak untuk dilaknat…!

Sekali lagi sahabat adalah manusia biasa, sementara Nabi saw adalah manusia yang luar biasa..!

Nabi adalah “Uswatun Hasanah” -teladan yang terbaik- Nabi adalah manusia dengan akhlak yang sempurna, jadi mustahil beliau saw mencaci-maki seseorang seenaknya tanpa sebab.. apalagi seseorang yang tidak patut dilaknat/dicaci.. apa anda kira Nabi saw “orang jalanan” yang seenaknya mengeluarkan caci-maki ke segala orang?!

Demi konsep “keadilan sahabat” yang tidak jelas, Nabi dilecehkan, sementara kesalahan sahabat dicari-carikakan udzur.. dan dibela mati-matian… tapi kalo dibilang “GHULU” terhadap sahabat menolak..! Aneh

Benarkah Semua Peserta Perang Tabuk Dijamin Surga?


Sebenarnya masalah siapa yang masuk surga atau tidak, itu adalah kuasa dan kehendak Allah SWT. Kita hanya berbicara sesuai dengan dalil yang ada baik dari firman Allah SWT ataupun hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian nashibi menukil surat At Taubah dan berhujjah bahwa “tidak ada orang munafik yang ikut perang Tabuk dan semua yang ikut perang Tabuk dijamin masuk surga”. Dengan pernyataan ini, nashibi ingin mengatakan kalau Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyah dijamin masuk surga karena mereka semua masuk surga.

Analisis ala perang Tabuk ini bisa dibilang kekeliruan nashibi yang memang awam dengan hadis-hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ditambah lagi dengan ketidakmampuan nashibi memahami hadis yang ia baca. Kami merasa lucu melihat cara nashibi berdalih soal orang-orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat perang Tabuk. Sebelum melihat kelucuan argumen nashibi itu mari kita lihat ayat yang mereka jadikan hujjah

لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar [QS At Taubah : 88-89]

Dengan ayat ini nashibi menetapkan bahwa semua yang ikut perang Tabuk yaitu orang-orang beriman telah dijamin surga. Nashibi berkata “tidak ada orang munafik yang ikut perang Tabuk”.

Ayat di atas bersifat umum dan tidak menafikan bahwa ada diantara orang yang ikut perang Tabuk tidak layak untuk dijamin surga. Riwayat-riwayat shahih membuktikan bahwa diantara orang yang ikut perang Tabuk terdapat

  1. Orang-orang yang mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya sehingga dikatakan kafir sesudah beriman
  2. Orang-orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Aqabah
  3. Orang-orang yang dilaknat oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثني يونس قال أخبرنا ابن وهب قال حدثني هشام بن سعد عن زيد بن أسلم عن عبد الله بن عمر قال : قال رجل في غزوة تبوك في مجلس : ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء ، أرغبَ بطونًا ، ولا أكذبَ ألسنًا ، ولا أجبن عند اللقاء! فقال رجل في المجلس : كذبتَ ، ولكنك منافق ! لأخبرن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم ونزل القرآن. قال عبد الله بن عمر : فأنا رأيته متعلقًا بحَقَب ناقة رسول الله صلى الله عليه وسلم تَنْكُبه الحجارة ، وهو يقول : ” يا رسول الله ، إنما كنا نخوض ونلعب! ” ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزؤن لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم)

Telah menceritakan kepada kami Yunus yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah menceritakan kepadaku Hisyaam bin Sa’ad dari Zaid bin Aslam dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata “seorang laki-laki berkata dalam suatu majelis saat perang Tabuk “aku belum pernah melihat orang yang seperti para qari [pembaca Al Qur’an] kami, mereka suka makan suka berdusta dan pengecut saat bertemu musuh”. Salah seorang dalam majelis berkata “engkau berdusta akan tetapi engkau seorang munafik, sungguh aku akan memberitahukan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Maka hal itu sampai kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan turunlah Al Qur’an. ‘Abdullah bin Umar berkata “aku melihat orang itu bergantung pada sabuk unta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hingga tersandung batu dan berdarah, sedangkan ia berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Apakah terhadap Allah dan ayat-ayatNya serta kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kalian berolok-olok? Tidak usah meminta maaf, sungguh kalian telah kafir sesudah kalian beriman” [Tafsir Ath Thabari 14/333-334 no 16912 tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan ia menshahihkannya]

ذَكَرَهُ أَبِي، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ الْكُوفِيِّ، ثنا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْقَرِيُّ، ثنا خَلادٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ”وَأَمَرَ بِالْغَزْوِ إِلَى تَبُوكَ، قَالَ: وَنَزَلَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَانِبٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: وَاللَّهِ إِنَّ أَرْغَبَنَا بُطُونًا، وَأَجَبْنَا عِنْدَ اللِّقَاءِ وَأَضْعَفَنَا، لَقُرَّاؤُنَا، فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّارًا، فَقَالَ: اذْهَبْ إِلَى هَؤُلاءِ الرَّهْطِ فَقُلْ لَهُمْ: مَا قُلْتُمْ ؟” ” وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ “

Ayahku menyebutkan dari ‘Abdullah bin Umar bin Aban Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Muhammad Al ‘Anqaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid dari ‘Abdullah bin Isaa dari Abdul Hamid bin Ka’ab bin Malik dari ayahnya yang berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar pada panas yang terik menuju perang Tabuk. [Ka’ab] berkata “ikut dalam rombongan itu sekelompok sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain “demi Allah, para qari [pembaca Qur’an] kami orang yang sangat suka makan, lemah dan pengecut saat perang”. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil ‘Ammar dan berkata “pergilah kepada orang-orang itu dan katakan kepada mereka “apa yang kalian katakan? Dan jika kamu tanyakan kepada mereka tentu mereka akan menjawab sesungguhnya kami hanya bersendagurau dan bermain-main saja. Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayatnya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok [Tafsir Ibnu Abi Hatim 6/1829 no 10046 dengan sanad shahih]

Riwayat Ibnu Jarir para perawinya tsiqat kecuali Hisyam bin Sa’ad ia seorang yang diperbincangkan tetapi dikatakan kalau ia tsabit dalam riwayatnya dari Zaid bin Aslam. Riwayat Ibnu Jarir dikuatkan oleh riwayat Ibnu Abi Hatim dimana para perawinya tsiqat.

Hadis diatas membawakan asbabun nuzul At Taubah 65-66 yaitu saat perang Tabuk dimana ada sebagian sahabat Nabi yang mengolok-olok dengan menyebut nama Allah dan ayat-ayatnya. Maka turunlah At Taubah 65-66 menyatakan bahwa mereka kafir sesudah beriman. Tidak diragukan lagi bahwa dalam hadis di atas mereka adalah sahabat Nabi yang ikut dalam perang Tabuk. Apakah mereka dijamin masuk surga?. Silakan dijawab wahai nashibi

.

.

Saat pulang dari perang Tabuk, sebagian sahabat yang ikut serta dalam perang Tabuk berkomplot berniat untuk membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di bukit Aqabah. Nashibi yang tahu fakta ini, membuat “bidasan” bahwa tidak ada bukti bahwa mereka berasal dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa saja mereka sudah lama menunggu di bukit Aqabah bukan dari peserta yang ikut perang Tabuk. Nashibi tersebut memang tidak bisa membaca dengan benar hadis riwayat Ahmad berikut

حدثنا عبد لله حدثني أبي ثنا يزيد أنا الوليد يعنى بن عبد الله بن جميع عن أبي الطفيل قال لما أقبل رسول الله صلى الله عليه و سلم من غزوة تبوك أمر مناديا فنادى ان رسول الله صلى الله عليه و سلم أخذ العقبة فلا يأخذها أحد فبينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يقوده حذيفة ويسوق به عمار إذ أقبل رهط متلثمون على الرواحل غشوا عمارا وهو يسوق برسول الله صلى الله عليه و سلم وأقبل عمار يضرب وجوه الرواحل فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لحذيفة قد قد حتى هبط رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما هبط رسول الله صلى الله عليه و سلم نزل ورجع عمار فقال يا عمار هل عرفت القوم فقال قد عرفت عامة الرواحل والقوم متلثمون قال هل تدري ما أرادوا قال الله ورسوله أعلم قال أرادوا ان ينفروا برسول الله صلى الله عليه و سلم فيطرحوه قال فسأل عمار رجلا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال نشدتك بالله كم تعلم كان أصحاب العقبة فقال أربعة عشر فقال ان كنت فيهم فقد كانوا خمسة عشر فعدد رسول الله صلى الله عليه و سلم منهم ثلاثة قالوا والله ما سمعنا منادي رسول الله صلى الله عليه و سلم وما علمنا ما أراد القوم فقال عمار أشهد أن الاثنى عشر الباقين حرب لله ولرسوله في الحياة الدنيا ويوم يقوم الأشهاد

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid yakni bin ‘Abdullah bin Jumai’ dari Abu Thufail yang berkata “Ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kembali dari perang Tabuk, Beliau memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hendak mengambil jalan ke bukit Aqabah maka tidak seorangpun diperbolehkan ke sana. Ketika itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikawal oleh Hudzaifah [radiallahu ‘anhu] dan unta Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] ditarik oleh Ammar [radiallahu ‘anhu], tiba-tiba sekumpulan orang yang memakai topeng [penutup wajah] dengan hewan tunggangan mendatangi mereka. Kemudian mereka menghalangi Ammar yang sedang menarik unta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ammar melawan mereka dengan memukul unta-unta tunggangan mereka. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Hudzaifah “sudah sudah”. Sampai akhirnya mereka menelusuri jalan turun dan setelah itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] turun dari untanya dan menghampiri Ammar, Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “wahai Ammar “apakah engkau mengenal orang-orang tadi”. Ammar menjawab “sungguh aku mengenal unta-unta tunggangan mereka tadi sedangkan orang-orang itu semuanya memakai topeng”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “apakah engkau mengetahui apa yang mereka inginkan”. Ammar menjawab “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “mereka bermaksud menakuti hewan tunggangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga mereka dapat menjatuhkannya dari bukit”. [Abu Thufail] berkata Ammar bertanya kepada salah seorang sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, tahukah engkau berapa jumlah Ashabul ‘Aqabah [orang-orang yang berada di bukit tadi]?. Ia berkata “empat belas orang”. Ammar berkata “jika engkau termasuk salah satu dari mereka maka jumlahnya lima belas orang”. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menghitung tiga dari mereka yang mengatakan “Demi Allah kami tidak mendengar penyeru Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami tidak mengetahui apa yang diinginkan orang-orang yang mendaki bukit itu”. Ammar berkata “aku bersaksi bahwa dua belas orang lainnya musuh Allah dan Rasul-Nya di kehidupan dunia dan pada hari dibangkitkannya para saksi [akhirat]“ [Musnad Ahmad 5/453 no 23843, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat dengan syarat Muslim”]

Nashibi mengatakan bahwa orang-orang yang ada di bukit Aqabah itu bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi memang sudah lama menunggu di bukit Aqabah. Hal ini keliru dengan alasan

  1. Dalam riwayat Ahmad di atas disebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memutuskan mengambil jalan ke bukit Aqabah itu saat pulang dari perang Tabuk, jadi bukanlah perkara yang sudah direncanakan dari awal. Oleh karena itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan penyerunya untuk menyerukan bahwa Beliau akan mengambil jalan ke bukit Aqabah dan sahabat lain tidak diperkenankan mengikutinya. Kalau dikatakan orang-orang di Aqabah itu sudah lama menunggu disana maka patutlah kita bertanya pada nashibi, darimana mereka tahu bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiba-tiba mengambil jalan ke bukit Aqabah?. Satu-satunya alasan mereka tahu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil jalan ke bukit Aqabah karena mereka berada diantara tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan mendengar penyeru Beliau mengatakannya.
  2. Dalam riwayat Ahmad di atas disebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menanyakan kepada ‘Ammar apakah ia tahu siapa mereka. ‘Ammar mengatakan bahwa ia mengenal hewan-hewan tunggangan mereka tetapi mereka sendiri tertutup wajahnya. Kalau orang-orang di bukit Aqabah itu adalah komplotan yang sejak semula berada disana maka darimana ‘Ammar bisa mengenal hewan tunggangan mereka. ‘Ammar mengenal hewan tunggangan mereka karena mereka sebelumnya berada diantara tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].
  3. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa ‘Ammar bertanya kepada salah seorang sahabat Nabi apakah ia tahu berapa orang di bukit Aqabah. Sahabat Nabi itu berkata “empat belas”. Kemudian perhatikan jawaban ‘Ammar ““jika engkau termasuk salah satu dari mereka maka jumlahnya lima belas orang”. Jawaban ini mengisyaratkan bahwa menurut ‘Ammar orang-orang itu adalah sahabat Nabi yang ikut dalam perang Tabuk sehingga ‘Ammar mengatakan jika sahabat Nabi itu termasuk maka jumlahnya menjadi lima belas. Jika orang-orang di bukit Aqabah itu adalah komplotan yang sudah lama menunggu di Aqabah bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka tidak mungkin ‘Ammar mengatakan demikian kepada sahabat Rasulullah.
  4. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa dua belas orang itu adalah musuh Allah dan Rasul-Nya di dunia dan akhirat. Hal ini selaras dengan riwayat Muslim dimana ‘Ammar membawakan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan lafaz “diantara Sahabatku ada dua belas orang munafik” dimana mereka semua akan masuk neraka. Kedua belas orang ini tidak lain adalah orang-orang yang berada di bukit Aqabah.
  5. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa tiga dari orang-orang di bukit Aqabah beralasan bahwa mereka tidak mendengar penyeru Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ini bukti nyata bahwa orang-orang di bukit Aqabah berasal dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukannya komplotan majhul yang sudah menunggu di bukit Aqabah.

Jadi ucapan nashibi bahwa orang-orang di bukit Aqabah adalah komplotan yang sudah lama menunggu di bukit Aqabah dan bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ucapan tidak berdasar dan bertentangan dengan riwayat Ahmad diatas.

.

.

Dalam riwayat Ahmad di atas juga disebutkan ada sebagian sahabat yang dilaknat oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena telah melanggar perintah Beliau.

قال الوليد وذكر أبو الطفيل في تلك الغزوة ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال للناس وذكر له ان في الماء قلة فأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم مناديا فنادى ان لا يرد الماء أحد قبل رسول الله صلى الله عليه و سلم فورده رسول الله صلى الله عليه و سلم فوجد رهطا قد وردوه قبله فلعنهم رسول الله صلى الله عليه و سلم يومئذ

Walid berkata Abu Thufail menyebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada manusia bahwa perbekalan air tinggal sedikit kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan penyerunya mengatakan“tidak boleh ada yang menyentuhnya sebelum Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang” maka Rasulullah datang dan Beliau mendapati telah ada sebagian orang yang mendahului Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melaknat mereka saat itu juga [Musnad Ahmad 5/453 no 23843, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat dengan syarat Muslim”]

Sangat jelas bahwa dalam riwayat Ahmad diatas yang dilaknat oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah para sahabat yang ikut perang Tabuk dan melanggar perintah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk tidak mendekati air. Ini menjadi bukti bahwa tidak semua sahabat yang ikut perang Tabuk dijamin surga.

Dengan tulisan ini bukan berarti kami mengatakan Abu Bakar, Umar, Utsman adalah orang munafik dan tidak dijamin surga. Yang ingin kami kritik adalah cara pendalilan nashibi yang tidak sesuai dengan kaidah kelimuan atau terjebak dalam fallacy.

Salam Damai