Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

Dunia Soroti Intoleransi Di Indonesia

Email Cetak PDF

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan masyarakat internasional mulai menyoroti intoleransi yang terjadi di Indonesia. Sejumlah negara, kata Marty, bahkan telah meminta penjelasan langsung dari pemerintah. “Kami sampaikan dalam konteks yang tepat. Jangan sampai aksi dan ulah sekelompok orang mendefinisikan keseluruhan Indonesia tidak toleran,” kata Marty di kantornya, Senin, 21 Mei 2012.

Negara-negara itu di antaranya Denmark, Jerman, Norwegia, Slovenia, dan Britania Raya. Mereka mempertanyakan laporan HAM Indonesia yang dikirimkan ke Dewan HAM PBB pada Februari lalu. Negara-negara itu juga secara spesifik mempertanyakan penyerangan terhadap pemeluk agama minoritas dan penyerangan gereja sejak 2009.

Menurut Marty, pertanyaan mereka kadang didasarkan pada keterangan yang belum utuh. “Untuk itu, perwakilan Indonesia di luar negeri, juga di New York (markas Perserikatan Bangsa-Bangsa) dan Jenewa (kantor Dewan HAM PBB), bertugas menyampaikan fakta dan isu secara utuh,” kata dia.

Marty mengatakan, di luar sejumlah insiden intoleransi, demokrasi di Indonesia mengalami kemajuan yang pesat pasca reformasi 1998. “Itu yang yang terpenting. Adanya konsolidasi demokrasi bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh,” kata dia.

Selain itu, kredibilitas Indonesia dalam mempromosikan HAM masih diakui dunia. Indonesia mendorong sejumlah negara tetangga, seperti Myanmar, untuk turut menghormati hak asasi manusia. “Kalau tidak dianggap kredibel, tahun lalu Indonesia tidak akan dipilih menjadi anggota Dewan HAM dengan suara terbanyak,” kata dia.

Pada Rabu, 23 Mei 2012 besok, Dewan HAM PBB akan menggelar sidang. Sejumlah pihak menyebut kedudukan Indonesia di Dewan HAM rawan setelah terjadinya insiden intoleransi secara bertubi-tubi dalam beberapa tahun terakhir.

Marty tidak cemas menghadapi sidang tersebut. “Bagaimanapun ini tetap momen yang berharga. Kami akan mempresentasikan segala sesuatu (tentang HAM) sesuai apa yang ada, perkembangan dan tantangannya,” kata dia

 


Fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme dan terorisme di Timur Tengah menjadi sangat rumit karena perbedaan definisi dan penggunaan yang (sengaja ataupun tidak) menimbulkan tumpang tindih dan penerapan yang sembarangan. Ketiadaan kriteria dan standar tunggal telah menjadikan tema-tema ini lebih sering “diatur” oleh media ketimbang “didefinisikan” secara ilmiah. Kontroversi seputar tema-tema ini makin keruh dengan munculnya stereotip seputar Islam sebagai agama yang mengajarkan jihad, dan asosiasi jihad dengan kekerasan. Akibatnya, gerakan-gerakan Islam fundamentalis dengan mudah dituduh sebagai kelompok ekstremis yang mendorong aksi-aksi teroris pada pihak-pihak lain, terutama AS dan Barat. Tuduhan seperti ini tentu memperunyam masalah. Selain dapat dianggap sebagai mengungkapkan tuduhan tak berdasar, juga dapat memperkuat praduga yang ada di kalangan gerakan Islam sendiri bahwa Barat memiliki apa yang disebut sebagai Islamofobia.

Upaya Mencari Beberapa Definisi

Fundamentalisme sebenarnya merupakan istilah yang tumbuh dalam sejarah pemikiran Barat. Ia merujuk pada sikap sebagian kaum Kristen yang berpegang teguh pada doktrin-doktrin teologis yang biasanya dipahami sebagai reaksi terhadap gerakan liberalis yang mengajak setiap orang untuk bersikap longgar terhadap doktrin-doktrin teologisnya.[i] Istilah “fundamentalisme” dipakai oleh para pendukungnya untuk menjelaskan seperangkat ajaran teologis yang dikembangkan menjadi gerakan dalam komunitas Protestan Amerika Serikat pada paruh awal abad 20.[ii] Singkatnya, istilah ini umumnya memiliki konotasi religius yang menunjukkan ikatan yang kokoh pada sejumlah ajaran agama secara menyeluruh. Namun demikian, istilah fundamentalis kini juga dipakai dalam terminologi politik dengan makna yang peyoratif, terutama ketika dipakai sebagai kata sifat seperti dalam ungkapan “Islam fundamentalis”.

Istilah lain yang sering menimbulkan kebingungan adalah radikalisme. Radikal secara bahasa berasal dari kata Latin radix yang berarti akar. Dalam terminologi politik, radikalisme dipakai untuk menunjukkan prinsip-prinsip politik yang bertujuan mengubah struktur politik dengan cara-cara revolusioner dan mengubah sistem nilai sosial secara fundamental. Secara historis, radikalisme kerap dipakai untuk mengacu pada “kelompok kiri radikal”. Namun, sama seperti istilah “kelompok fundamentalis”, gerakan radikalis sering digunakan oleh kalangan status-quo dalam makna yang tidak baik, dan dikaitkan dengan kekerasan. Dalam penggunaannya, radikalisme sering dikaitkan dengan ideologi fundamentalis dan revolusioner, sehingga ketiga istilah ini memiliki penggunaan yang berdekatan.

Berbeda dengan kedua istilah di atas, ekstremisme dipakai untuk mengacu pada ideologi atau aksi politik yang keluar dari poros atau pusat, yang sering dipersepsi sebagai standar moral umum. Dalam masyarakat Barat, ekstremisme sering dikaitkan dengan individu atau kelompok yang mendorong penggantian demokrasi dengan otoritarianisme. Demikian pula sebaliknya, di negara-negara otoritarian, individu atau kelompok yang ingin mengganti rezim secara total dicap sebagai ekstremis. Bahkan, para pejuang kemerdekaan di negara-negara yang dijajah juga sering disebut sebagai ekstremis.[iii] Karena itu, dalam konotasi keagamaan, ekstremisme (tatharruf) lebih dekat dengan makna fanatisme (ta’ashshub) ketimbang fundamentalisme.

Dalam diskursus Islam, individu atau kelompok ekstremis biasanya dikaitkan dengan pola pikir keagamaan yang kaku, jumud, menolak rasionalitas dan menolak pihak lain baik melalui cap sesat ataupun kafir. Kelompok-kelompok Islam yang berafiliasi dengan mazhab Salafi-Wahabbi paling sering dianggap sebagai ekstremis yang menolak segala rupa peluang kompromi atau jalan tengah dengan pihak mana pun, termasuk dengan pihak-pihak internal Islam sendiri.

 

Konteks Timur Tengah

Mungkin tak ada wilayah di dunia ini yang lebih dinamis dengan situasi yang lebih kompleks daripada Timur Tengah. Kompleksitas ini menyebabkan tumpang-tindihnya kategorisasi dan penggunaan masing-masing istilah di atas. Tentu campur-tangan dan kepentingan asing adalah penyumbang terbesar munculnya kompleksitas bahkan kontradiksi dalam berbagai persoalan di Timur Tengah. Namun demikian, faktor-faktor eksternal itu tidak tidak akan efektif tanpa kehadiran faktor-faktor internal dalam masyarakat Timur Tengah itu sendiri, terutama di tengah umat Islam.

Diakui atau tidak, Islam adalah kekuatan tunggal paling potensial untuk mempersatukan seluruh elemen gerakan di Timur Tengah. Selama berpuluh-puluh tahun, Islam menjadi sumber inspirasi berbagai gerakan Islam, baik gerakan kemerdekaan maupun gerakan kebangkitan. Tapi, sayangnya, antara pemahaman Islam dan pengalaman dalam mempraktikkannya terbentang jurang yang sangat lebar. Kita dapat mempersempit pembahasan dengan menelisik pemahaman tentang konsep jihad dan penerapannya secara objektif. Melalui jendela ini kita dapat melihat mana gerakan Islam yang bergeser ke arah ekstrem sampai menjadi “teroris” dan mana yang masih bergerak di sisi “fundamentalis”.

Semua persoalan di atas masih harus ditambah dengan upaya media arus utama yang dikuasai oleh klik adidaya untuk terus-menerus menghembuskan tuduhan dan menciptakan labelisasi dan stereotip terhadap aspirasi umat Muslim Timur Tengah. Melalui labelisasi dan stereotyping itulah aspirasi ini ingin direduksi menjadi sekadar kemarahan tanpa makna, dan akhirnya dicap sebagai terorisme semata-mata.

 

Ketegangan antara Teori dan Praktik

Salah satu masalah besar yang sering dihadapi umat Islam ialah kesenjangan antara pemahaman tentang teori dan pengalaman dalam praktik. Dalam bukunya yang berjudul Khathawat ‘ala Thariq Al-Islam, M. H. Fadhlallah menunjukkan bahwa masalah ini merupakan sebab timbulnya ketegangan yang serius dalam tubuh gerakan-gerakan Islam. Demikian besarnya ketegangan itu sampai satu gerakan Islam dapat menafikan gerakan lain hanya karena perbedaan dalam penerapan konsep Islam yang telah disepakati bersama.[iv]

Akibat ketegangan ini, berbagai gerakan Islam memiliki cara yang berbeda-beda dalam merespons situasi objektif yang terjadi. Bahkan, satu gerakan dapat mengutuk aksi dari gerakan lain yang sebenarnya bersumber dari konsep yang disepakati bersama. Untuk memperjelas masalah, kita dapat melihat respons terhadap satu peristiwa yang sama dari berbagai gerakan yang mengatasnamakan Jihad yang diperintahkan oleh Islam tersebut. Ambil contoh respons terhadap pengeboman dua menara kembar WTC di awal milenium lalu. Meski polemik soal jihad telah ada sejak lama dalam khazanah pemikiran Islam, tapi serangkaian peristiwa pasca 11 September mengantarkan polemik ini dalam konteks yang lebih luas dan lebih serius.

Osama bin Laden, pucuk pimpinan dan ikon al-Qaedah yang menjadi organisasi induk dari berbagai gerakan Islam berbasis ideologi Wahabi, mengakui keterlibatannya dalam peristwa 11 September.[v] Dalam rekaman video lain yang ditayangkan sejumlah jaringan televisi internasional pada tanggal 27 Desember 2001, Osama bin Laden menyatakan bahwa, “terorisme atas Amerika layak untuk disanjung karena ia merupakan respons terhadap ketidakadilan, bertujuan untuk memaksa Amerika menghentikan dukungannya atas Israel, yang membunuh umat kita.”[vi]

Namun demikian, di sisi lain, kita menyaksikan sejumlah ulama Islam menentang jihad model Al-Qaidah atau Jamaah Islamiyah ini. Syaikh Yusuf al-Qardhawi, Muhammad al-Sayyid Thanthawi[vii] dan Pemimpin tertinggi Republik Islam Iran, Ayatullah Ali Khamenei,[viii] dan Ayatullah Ali al-Sistani sama-sama mengutuk aksi tersebut. Al-Sistani bahkan mengeluarkan fatwa yang memerintahkan seluruh Muslim untuk mematuhi hukum yang berlaku di tiap negara yang ditinggalinya. “Setiap Muslim dan Muslimah harus bertindak demi kepentingan tertinggi negara tempat tinggalnya dan menjaganya dari segala tindakan yang membahayakan.”[ix] Yang lebih menarik, dalam hampir semua peristiwa di atas maupun aksi-aksi serupa yang menyasar warga atau sarana sipil, Hizbullah Lebanon, selalu memberikan pernyataan kutukan. [x]

Nawaf al-Musawi, ketua departemen luar negeri Hizbullah, Lebanon, secara tegas menolak serangan terhadap warga sipil World Trade Center. Dia mengecam tindakan itu sebagai aksi terorisme. Pernyataan resmi Hizbullah mengutuk aksi Al-Qaeda yang menyasar masyarakat sipil New York, tapi tidak memberikan pernyataan soal serangan ke Pentagon. Hizbullah juga mengutuk rangkaian aksi pembantaian di Aljazair oleh kelompok bersenjata Islam GIA, serangan-serangan Al-Jama’ah Al-Islamiyyah, serangan pada para wisatawan di Mesir, pembunuhan Nick Berg,[xi] pengeboman Gereja Koptik di Aleksandria[xii] dan yang terakhir pengeboman Bandara Moskow.[xiii]

 

Beberapa Usulan

Melihat kompleksitas yang ada, maka beberapa usulan berikut dapat dipertimbangkan:

  1. Perlu perumusan definisi yang ilmiah dan komprehensif terhadap istilah fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme dan terorisme.
  2. Kalangan tokoh gerakan Islam perlu segera merumuskan definisi dan batasan istilah-istilah kunci dalam Islam yang sering dikaitkan dengan terorisme dan aksi kekerasan, seperti amar makruf nahi munkar, jihad dan sebagainya.
  3. Hasil-hasil rumusan tersebut harus disosialisasikan secara luas dan dijadikan sebagai standar bersama.
  4. Gerakan-gerakan Islam perlu menutup ketegangan antara teori dan praktik dengan menghidupkan eksperimen-eksperimen yang beragam dan mencari pengalaman-pengalaman dari sebanyak mungkin kalangan lain.

 

 


[i] George M. Marsden, “Fundamentalism and American Culture”, (1980)pp 4-5, dikutip kembali dari http://en.wikipedia.org/wiki/Fundamentalism.

[ii] David Stricklin, http://www.tshaonline.org/handbook/online/articles/itf01

[iii] http://en.wikipedia.org/wiki/Extremism

[iv] M. H. Fadhlallah, Khathawat ‘ala Thariq Al-Islam, Dar Al-Milak, Beirut (1987), hal. 51.

[v] http://www.cbc.ca/news/world/story/2004/10/29/binladen_message041029.html

[vi] Ibid.

[vii][vii]http://theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/muslim_voices_against_extremism_and_terrorism_part_i_fatwas/0012209

[viii]http://news.bbc.co.uk/2/hi/middle_east/1549573.stm

[ix]http://theamericanmuslim.org/tam.php/features/articles/muslim_voices_against_extremism_and_terrorism_part_i_fatwas/0012209

[x] Amal Saad- Ghorayeb, Hizbullah: Politics and Religion, Pluto Press, 2002, hal. 101.

[xi] Ibid.

[xii] http://www.english.moqawama.org/essaydetails.php?eid=13076&cid=265

[xiii] http://www.english.moqawama.org/essaydetails.php?eid=13282&cid=265

Mencari nafkah dan rezeki menurut syi’ah

Mencari nafkah dan rezeki menurut syi’ah  haruslah dengan cara halal, kali kita  mengkaji seputar efek-efek negatif harta haram bagi kehidupan beragama. “Harta haram dapat mendatangkan kehidupan kelam bagi manusia,” ujarnya. Berikut ini adalah ringkasan pelajaran akhlak berharga ini:Mikraj Insani

Manusia diciptakan supaya ia bermikraj, sisi jasmaniahnya cemerlang, dan bergerak ke suatu tempat yang ia tidak akan mengenal selain Allah. Yaitu, ia diciptakan untuk meniti gerak kesempurnaan. Jika ia terjatuh di pertengahan jalan, selama Allah masih menjadi Tuhan, gerak ini masih tetap berlanjut dan ia harus bergerak menuju haribaan Qurb Ilahi.

Pada hakikatnya, manusia diciptakan untuk naik. Akan tetapi, sangat disayangkan, kadang-kadang ia memilih sendiri jalan untuk terjerambab dengan tangannya sendiri. Jika ia tidak sadar, maka keterjerambaban ini akan mengabadi sehingga ia akan terjerumus ke tingkat neraka Jahanam yang paling rendah. “Sesungguhnya orang-orang munafik berada di tingkat neraka paling rendah.” (QS. Al-Nisa':145)

Sedikit penyelewengan dari jalan yang lurus dapat mengantarkan kita kepada keterjerumusan. Dalam frase ayat “tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus” yang harus kita baca dalam setiap shalat dengan memperhatikan maknanya, kita mengharap kepada Allah supaya tidak setitip pun penyelewengan muncul dalam diri kita, baik ke kanan maupun ke kiri. Di samping itu, kita juga memohon taufik kepada Allah supaya kita dapat mencapai tujuan akhir.

Jika kemauan dan taufik dapat berjalan beriringan, niscaya hidayah Ilahi akan menuntun tangan kita dan menunjukkan kepada kita jalan lurus yang lebih halus daripada sehelai rambut, lebih panas daripada api, dan lebih tajam daripada pedang berkilau. Hal ini akan berlanjut hingga kita berjumpa dengan Allah. Keberhasilan dalam bidang ini memerlukan perhatian yang sangat serius. Berpegang teguh kepada Al-Quran dan Itrah dapat menjadi penerang jalan kita, dan tawasul kepada Ahlul Bait as dapat membukakan jalan bagi kita.

Harta Haram Salah Satu Faktor

Salah satu sumber dan faktor kejatuhan manusia adalah harta haram. Makanan dan minuman haram memiliki banyak macam dan ragam. Makanan dan minuman memabukkan atau beralkohol adalah salah satu jenis makanan dan minuman haram ini. Jenis ini dapat memusnahkan umat manusia.

Yang akan kita kupas bersama pada kesempatan ini adalah harta haram yang dapat menjatuhkan kehidupan manusia. Al-Quran dan Ahlul Bait as selalu berpesan supaya kita menjauhi harta haram. Sebelum sperma terwujud sekalipun, banyak pesan supaya orang tua memperhatikan kehalalan makanan dan minuman mereka. Makanan dan minuman haram sangat berbahaya bagi sperma.

Dalam ajaran agama, sudah dijelaskan pengaruh negatif makanan dan minuman haran terhadap jiwa manusia. Oleh karena itu, Islam sangat menekankan kehalalan makanan dan minuman seorang ibu pada masa kehamilan dan menyusui, begitu pula kehalalan makanan yang disantap oleh anak-anak ketika kecil, dan begitu juga kehalalan manusia hingga akhir usianya.

Salah satu efek makanan haram adalah harta ini dapat merampas perhatian dan kesadaran kita; harta ini akan menjerumuskan kita ke dalam kelalaian. Jika hal ini sudah terjadi, kita tidak akan memiliki semangat untuk beribadah. Kita tidak akan merasakan kelezatan shalat. Lebih parah lagi, kita akan merasa lezat apabilal bermaksiat.

Kita akan sampai para suatu tingkatan yang menyebabkan kita merasa sulit untuk melakukan hubungan dengan Allah. Kita bukan hanya tidak memperoleh taufik untuk dapat mengerjakan shalat malam, bahkan taufik untuk mengerjakan shalat di awal waktu juga akan tersingkirkan dari diri kita.

Efek lain harta haram adalah seseorang akan ditimpa jahil murakkab. Yakni ia akan memandang perilaku buruk sebagai sebuah perilaku yang indah dan baik. Menurut penilaian Al-Quran, orang yang paling merugi kelak di akhirat adalah orang yang menganggap perilaku jeleknya sebagai perilaku yang baik. “Katakanlah maukah kalian Kami beritahukan tentang siapakah orang yang paling merugi? Mereka adalah orang-orang yang usaha mereka musnah di dunia, sedang mereka menyangka bahwa mereka sedang berbuat kebajikan.” (QS. Al-A’raf:103-104)

Anggota sebuah masyarakat yang bregelumuran harta haram pasti akan mengalami jahil murakkab. Mereka akan sampai pada sebuah titik dimana problematika kebudayaan mencengkeram mereka, sementara itu mereka berpikiran sedang memiliki budaya yang paling ideal. Budaya Islami di kalangan mereka dinilai sebagai sebuah khurafat. Hijab tidak memiliki nilai dalam pandangan mereka. Konsep ini dianggap sebagai sebuah khurafat. Mereka lebih memberikan nilai kepada model pakaian bangsa Barat dan mengolok-olokkan agama, shalat, masjid, dan mihrab. Sebaliknya, mereka mengacungkan jempol terhadap perilaku buruk dan kultur bangsa Barat.

Kelaliman dalam masyarakat seperti ini memiliki sebuah nilai. Riba dan uang pelicin menjadi sebuah budaya yang lumrah dan dianggap sebagai sebuah kelebihan.

Harta haram akan memutuskan hubungan manusia dengan Allah secara keseluruhan. Sebaliknya, harta ini akan menyambungkan manusia dengan setan. Jika ia telah menyambung hubungan dengan setan, niscaya ia akan terjerambab ke dalam sebuah jalan yang akan berakhir kepada keterjatuhan. Ia akan meniti jalan ini hingga ajal menjemputnya.

Sangat disayangkan lagi, di dunia akhirat, keterjatuhan ini juga masih berlanjut. Kita memohon kepada Allah jangan sampai kita terjerumus ke dalam tempat hina ini sehingga keterjatuhan kita masih tetap berlangsung hingga pada hari kiamat kelak.

Lebih dari itu semua, orang yang menggunakan harta haram masih harus mengganti hak orang lain pada hari kiamat kelak. Tentu masalah ini tidak ada hubungannya dengan keterjemusan dan siksanya di Jahanam kelak.

Allah swt pernah bersumpah demi keagungan dan kemuliaan-Nya sembari berfirman, “Aku mungkin memaafkan hak-Ku. Tapi Aku tidak akan pernah memaafkan hak manusia.”

Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak, seluruh ibadah dan perbuatan baik pengutang akan diberikan kepada pemiutang supaya ia rela. Jika penghutang tidak memiliki amal kebaikan atau amal kebaikannya sudah habis, maka dosa-dosa pemiutang akan ditransfer ke buku amal pengutang.

Harta haram memiliki banyak efek negatif lain yang tidak mungkin bisa dikupas tuntas pada kesempatan ini. Atas dasar ini, mencari harta halal khususnya pada masa sekarang ini, sekalipun sangat sulit, tapi harus dilakukan.

Sikap Tegas Imam Shadiq as

Pada suatu hari, Imam Shadiq as mengutus seorang pembantunya seraya berkata,

“Untuk menjalankan roda kehidupan, saya memerlukan sebuah penghasilan.”

Setelah berkata demikian, Imam Shadiq as menyerahkan sekantong uang senilai 1000 keping emas supaya pembantu itu melakukan sebuah perniagaan.

Akhirnya, sang pembantu membeli sebuah barang niaga dan berangkat ke Mesir bersama para pedagang. Di pertengahan jalan, ia berjumpa dengan kafilah perdagangan yang sedang kembali dari Mesir. Ia pun menanyakan kondisi barang niaga yang telah dibelinya itu kepada mereka. Mereka mengatakan barang niaga itu sangat dibutuhkan oleh seluruh rakyat Mesir.

Mendengar berita itu, para pedagang yang ada dalam kafilah niaga ini pun bersepakat untuk menjual barang niaga sebesar dua kali lipat harga pembelian. Setelah kembali dari perniagaan, pembantu itu sangat gembira dan meletakkan dua kantong uang di hadapan Imam Shadiq as sembari memberikan laporan perjalanan niaga tersebut.

Mendengar laporan itu, Imam Shadiq as sangat murka lantaran pembantu itu telah menjual mahal barang niaga yang telah dibawanya. “Maha Suci Allah! Kalian saling sepakat untuk mengeruk keuntungan satu dinar dari sesama muslimin?”, tanya Imam Shadiq as.

Setelah bertanya demikian, Imam Shadiq as hanya mengambil modal pertama seraya berkata, “Saya tidak memerlukan keuntungan seperti ini.”

Setelah berkata demikian, Imam Shadiq as berkata, “Pertempuran pedang lebih mudah daripada mencari harta yang halal.” (Al-Kafi, jld. 5, hlm. 161)

Harta Haram dan Pendidikan Anak

Harta haram tidak hanya menjerumuskan seseorang ke dalam jurang keterjatuhan. Harta ini juga akan menyengsarakan anak keturunannya. Kondisi kebudayaan mengenaskan dan dekadensi moral yang dialami oleh masyarakat kita sekarang ini bersumber dari harta haram yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka. Kondisi sebagian pemuda dan pemudi sangat buruk sehingga kita katakan bahwa kita sudah tidak memiliki kesucian dan kepekaan komunal.

Dekadensi moral dan etika telah mendominasi masyarakat kita dengan sangat berani. Kesucian telah hengkang dari kalbu kaum wanita dan kepekaan telah sirna dari dada kaum pria. Akhirnya, hal ini menjadi sebuahu nilai di tengah masyrakat luas kita.

Mengapa hal ini sampai terjadi? Kita kan pengikut Mazhab Syiah. Kita memiliki syiar yang sangat ideal dari sisi agama dan mazhab. Kita adalah para pecinta Ahlul Bait as. Mengapa semua ini bisa terjadi? Semua ini lantaran harta haram.

Di perkantoran kita masih ditemukan orang yang tidak bekerja, menyepelekan kerja, dan uang pelicin masih digemari. Sangat jelas, uang yang diterima oleh mereka yang menerima harta suap atau di kantor tidak bekerja atau malas kerja adalah harta haram. Anak-anak mereka lantaran suapan haram ini pasti akan kehilangan kesucian mereka. Lebih buruk lagi apalagi hal ini telah menjadi sebuah nilai dalam diri mereka. Mereka tidak pernah pergi ke masjid dan menganggap hal-hal spiritual sebagai sebuah khurafat. Mereka hanya menyibukkan diri dengan telpon genggam. Mengerikan sekali. HP ini telah menjadi sarang setan bagi sebagian kalangan muda mudi.

Pasar kita bukan pasar yang Islami. Riba, penjualan dengan harga mahal, dan penimbunan barang sering terjadi dalam bentuk yang sangat menakjubkan. Penipuan dalam transaksi jual beli sering terjadi. Jelas, pedagang seperti ini tidak akan dapat menyerahkan putra dan putri yang suci kepada masyarakatnya.

Oleh karena itu, kita kadang-kadang menyaksikan seorang ayah memiliki hubungan khusus dengan masjid (ahli masjid). Tapi anak-anaknya bukan hanya muak melihat masjid, mereka malah mengolok-olok ayah mereka yang sedang pergi ke masjid.

Ketika khumus sudah menjadi sebuah realita yang dianggap sebagai anti nilai dalam kehidupan masyarakat, jelas makanan yang tersebar di tengah masyarakat ini adalah makanan haram. Ketika anak-anak kita memakan makanan ini, mereka bukan hanya malas mendengar kata agama, tapi malah terjerumus ke dalam keterjatuhan yang menakjubkan.

Belajar dari Sejarah

Anak-anaku kaum muda! Belajarlah dari sejarah. Pada masa kekuasaan Mutawakkil Abbasi, salah seorang alim yang bernama Syuraik memiliki hubungan khusus dengan istana. Mutawakkil meminta kepadanya supaya menjadi Qadhil Qudhat (posisi setingkat Mahkamah Agung). Syuraik dengan berani menjawab, “Pemerintahanmu adalah pemerintahan yang zalim.” Ia tidak menerima tawaran itu.

“Paling tidak jadilah guru bagi anak-anakku,” pinta Mutawakkil lagi. “Ini juga sejenis pembantuan terhadap kezaliman, dan saya tidak akan pernah menerima,” jawab Syuraik tegas.

“Jika begitu, jadilah tamuku dalam makan malam kali ini,” pinta Mutawakil. Lantaran tidak menemukan alasan untuk menolak, Syuraik menerima permintaan ini dan menyantap makan malam istana. Ia pun lantas kembali ke rumah.

Setelah pulang ke rumah, pemikiran menyeleweng lantaran menyantap makanan haram menguasai pikiran Syuraik.

Memang sudah selayaknya demikian. Jika seseorang memakan harta haram, maka sangat tidak mungkin ia akan memiliki pikiran Ilahi dan spiritual. Harta haram adalah fasilitas paling bagi setan yang dapat mempermudah tugasnya.

Oleh karena itu, pikiran satanis merasuk ke dalam relung hati Syuraik. Menurut pikirannya, jika saya menerima posisi Qadhil Qudhat, maka saya dapat berkhidmat kepada masyarakat melalui jalan ini.

Rayuan setan telah menguasai diri Syuraik dan menggambarkan posisi Qadhil Qudhat sebagai sebuah posisi yang sangat indah dan bermanfaat. Lantas ia berpikir lagi, jika saya dapat mendidik anak-anak Mutawakil, tentu hal ini sangatlah bernilai. Mengapa saya harus menolak masalah suci ini?

Dari sejak permulaan malam hingga pagi hari, Syuraik merenungkan pikiran-pikiran satanis yang telah merasuki dirinya. Pada hari berikutnya, ia pergi menemui Mutawakil dan menyatakan kesiapan untuk menerima kedua posisi tersebut. Lantaran khidmatnya yang besar terhadap istana, Mutawakil menentukan gaji bulanan yang sangat besar untuk Syuraik.

Makanan haram, sekalipun hanya sekadar makan malam, dapat memperdaya manusia untuk siap menjual agamanya. Lebih anehnya, Syuraik sendiri menyadari penyelewengan dirinya dan bahwa dirinya telah menjual agama. Sayangnay, harta haram tidak mengizinkan dia kembali.

Pada suatu hari, ketika tengah menerima gaji, Syuraik melihat bahwa satu keping emas cacat. Dengan tujuan menukar keping emas itu, ia pergi menemui petugas yang membagi-bagikan gaji. Petugas itu menjawab, “Memangnya kenapa bila sekeping emas di antara kepingan-kepingan ini cacat? Memang kamu telah menjual harta warisan dari ayahmu sebagai ganti kepingan-kepingan ini?”

Syuraik dengan kesal menjawab, “Tidak! Untuk menerima kepingan-kepingan ini, saya telah menjual agamaku. Untuk itu, saya tidak akan pernah menutup mata sekalipun sekeping.”

Amirul Mukminin Ali as ketika mendengar berita bahwa gubenurnya mendatangi jamuan orang-orang kaya dan menyantap makanan seperti gaya mereka sangat marah sekali. Ia menulis surat pedas kepadanya, “Menghadiri jamuan pertamuan orang-orang kaya dan menyantap makanan golongan kelas tinggi tidak layak bagi gubernurku. Saya sebagai pemimpin rakyat hanya mencukupkan diri dengan dua keping roti dan dua pakaian bertambal untuk sehari. Mungkinkah saya menghabiskan harta Baitul Mal hanya demi menyantap makanan lezat dan pakaian halus?” (Nahjul Balaghah, surat no. 45)

Para aparat negara dan pegawai, pedagang, ulama, dan semua lapisan lapisan masyarakat harus camkan bersama bahwa harta haram akan menjerumuskan seseorang ke dalam sebuah jurang yang setelah itu tidak ada tempat kembali.

Apa Kata Tokoh Indonesia Tentang Syi’ah ?? Gelombang pro Syi’ah pusingkan wahabi

.

 

Said Agil Siradj (Ketua Umum PB NU)

Ajaran syiah tidak sesat dan termasuk Islam seperti halnya sunni. Di universitas di dunia manapun tidak ada yang menganggap Syiah sesat(tempo.co)

Din Syamsuddin (Ketua Umum PP Muhammadiyah)

Tidak ada beda Sunni dan Syi’ah. Dialog merupakan jalan yang paling baik dan tepat, guna mengatasi perbedaan aliran dalam keluarga besar sesama muslim(republika.co.id)


Buya Syafii Ma’arif (Cendikiawan Muslim, Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

Kalau Syiah dikalangan mazhab, dianggap sebagai mazhab kelima, (okezone.com)


Amin Rais (Mantan Ketua PP Muhammadiyah)

Sunnah dan Syi’ah adalah madzhab-madzhab yang legitimate dan sah saja dalam Islam

(satuislam.wordpress.com)


Marzuki Ali (Ketua DPR RI)

“ Syi’ah itu mahzab yang diterima di negara manapun diseluruh dunia, dan tidak ada satupun negara yang menegaskan bahwa Islam Syi’ah adalah aliran sesat

(okezone.com)


Jusuf Kalla (Mantan Wakil Presiden RI)
Harus ada toleransi terhadap perbedaan karena perbedaan adalah rahmat (tempo.co)


Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Cendikiawan Muslim, Direktur Sekolah PascaSarjana UIN Jakarta)

Syiah adalah bagian integral dari umat Islam dan tidak ada perbedaan yang prinsipil dan fundamental dalam Syiah dan Sunni, kecuali masalah kepemimpinan politik

“ Fatwa haram atau sesat Syiah itu tidak diperlukan, baik secara teologis, ibadah dan fiqh karena pertaruhannya Ukhuwah Islamiyah di Indonesia,”

(republika.co.id)

Prof. Dr. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

“ Syiah merupakan bagian dari sejarah Islam dalam perebutan kekuasaan, dari masa sahabat, Karenanya akidahnya sama, Alqurannya, dan nabinya juga sama,”

(republika.co.id)

KH. Alie Yafie (Ulama Besar Indonesia)

Dengan tergabungnya Iran yang mayoritas bermazhab Syiah sebagai negara Islam dalam wadah OKI tersebut, berarti Iran diakui sebagai bagian dari Islam. Itu sudah cukup. Yang jelas, kenyataannya seluruh dunia Islam, yang tergabung dalam 60 negara menerima Iran sebagai negara Islam.(tempointeraktif)

Rhoma Irama ( Seniman dan Mubaligh )

Tuhan kita sama, nabi kita sama, kiblat kita sama, sholat kita sama, puasa kita sama, zakat kita sama, haji kita sama, kenapa harus saling mengkafirkan(tempo.co)

Slamet Effendy Yusuf (Ketua PB NU)

Caranya terus menjaga persamaan sesame Umat Islam, bukan mencari perbedaannya,

(republika.co.id)

Muhammad Mahfud MD (Ketua MK)

Kalau saya mengatakan semua keyakinan itu tidak boleh diintervensi oleh negara. Keyakinan itu tak boleh diganggu orang lain, kecuali dia mengganggu keyakinan orang lain,

(Okezone.com)

Prof. Dr. Umar Shihab (Ketua MUI Pusat)

Syiah bukan ajaran sesat, baik Sunni maupun Syiah tetap diakui Konferensi Ulama Islam International sebagai bagian dari Islam,

(rakyamerdekaonline.com)

Alm, Buya Hamka (Mantan Ketua Umum MUI Pusat)

Mengutip pernyataan Imam Syafi’i

Jika saya dituduh Syiah karena mencintai keluarga Muhammad Saw, maka saksikanlah wahai Jin dan Manusia, bahwa saya ini orang Syiah. Jika dituduhkan kepada saya bahwa saya Syiah karena membela Imam Ali, saya bersaksi bahwa saya Syiah

(majalah.tempointeraktif.com)

KH Nur Iskandar Sq (Ketua Dewan Syuro PPP)

Kami sangat menghargai kaum Muslimin Syiah,

(Inilah.com)

Aliran Syi’ah Di Nusantara, O L E H: PROF. DR. H. ABOEBAKAR ATJEH

PENDAHULUAN.

Sesudah saya menulis beberapa kitab mengenai Mazhab Syi’ah, terutama Syi’ah Isna Asyar Imamiyah atau Mazhab Ahlil Ba’it, dan tersiar tidak saja diseluruh Indonesia, tetapi juga diluar Negeri, misalnya di Malaysia, banyak orang bertanya kepada saya, kapan aliran Syi’ah itu masuk ke Indonesia.

Saya jawab, bahwa mengenai Islam, aliran Syi’ah-lah yang mulamula masuk ke Indonesia, melalui orang2 Hindu, yang sudah masuk Islam, dan yang terserak ditepi pantai pulau2  indonesia mengurus perdagangan dengan bangsa2 Asing yang datang berdagang ke Indonesia itu. Ada yang termasuk Mazhab Ahlil Ba’it, dan ada yang menyeleweng diantara orang2 Syi’ah yang datang ke Indonesia ini. Kitab2 dalam Bahasa Belanda, diantaranya, “De Leering van  alisongo” ada dijelaskan hal itu dan kitab2 yang lain misalnya karangan Prof.Dr. C. Snouck Hurgronje. Prof. Dr. Pangeran Aria Hussain Djayadiningrat, B.J.O. Schrieke, dll. menyebutkan, bahwa orang2 Islam yang mula2 masuk ke Indonesia itu adalah orang2 Syi’ah, dengan lain perkataan yang dinamakan „golongan Sayid atau Syarif” yang kebanyakkannya kemudian menjadi raja-raja di Nusantara. Keterangan yang lebih lanjut dapat juga dibaca dalam kitab2 penerbitan gerakan Ba Alawi, yang teratur sekali mendaftarkan keturunan Ali bin Abi Thalib di Indonesia.

Sekali-kali bukanlah golongan Salaf yang mula pertama masuk ke Indonesia menyiarkan agama Islam, boleh jadi juga golongan Salaf tetapi Salaf Syi’ah, yang kebanyakannya di-kejar2 di tanah Semenanjung Arab oleh Bani Abbas di Timur atau Bani Umayyah di Barat, lalu mereka lari ke Asia dan menyiarkan agama Islam disini.

Maka saya catatlah beberapa hal tentang kedatangan orang2 Syi’ah itu ke Indonesia, mula-mula atas permintaan bahagian kebudayaan dari Pemerintah Malaysia, kemudian saya terbitkan disini sebagai risalah ini, untuk dibaca oleh bangsa Indonesia sendiri. Atas keterangan saya ini saya mempunyai lengkap dokumentasi. Demikianlah adanya.

Jakarta, 24 Juli 1977.

Wassalam,

H. Aboebakar Atjeh.

NAMA DAN AJARAN.

NAMA Syi’ah itu pada awal mulanya berarti golongan, firqah dalam bahasa Arab. Tetapi telah pada permulaan Islam nama ini terutama digunakan untuk suatu golongan yang tertentu, yaitu golongan yang sepaham dan membela Ali bin Abi Thalib, khalifah yang keempat, suami dari anak junjungan kita Nabi Muhammad s.a.w., bernama Fatimah dan kemenakan penuh dari Nabi, karena ia anak pamannya Abu Thalib, saudaranya ayahnya.

Dalam masa salaf, zaman Nabi dan sahabatnya, perkataan ini belum digunakan orang, tetapi untuk itu dipakai perkataan Ahlil Bait atau Alawi atau Bani Ali atau Ba Alawi. Orang-orang Syi’ah itu, artinya orang-orang yang masuk golongan Saidina A l i , mempercayai bahwa Saidina A l i itulah orang yang berhak menjadi pengganti Nabi sesudah wafatnya, begitu pula khalifahan itu turun-menurun dari padanya, sebagai orang yang berhak menjadi Imam, yaitu kepala masyarakat kaum muslimin, karena mereka itulah, yang juga dinamakan Ahlil Bait, yang lebih mengetahui dan lebih dekat serta lebih meyakini akan ajaran Nabi Muhammad.

Uraian yang panjang lebar tentang segala sesuatu mengenai Syi’ah, sudah saya uraikan dalam karangan saya, “Syi’ah, rasionalisme dalam Islam”, (Semarang, 1972), dan kitab “Al-Ja’fari, Mashaf Ahlil Bait” (sedang dicetak). Disana saya uraikan lengkap mengenai sejarah terjadi dan pertumbuhannya, perkembangan aliran dan mashafnya mengenai tafsir, ilmu liadtts, ilmu fiqh, tarikh tasyriq, bermacammacam aliran Syi’ah, seperti Isyna Asysar Imamiyah, Zaidiyah, Isma’ iliyah, Jabaliyah, dll. Imam-Imam dan sejarah perjuangannya, ulamaulama dan pengarang-pengarang, penyiaran kitab-kitabnya, yang bersifat agama dan ilmu pengetahuan, jasa-jasanya dalam penyiaran dan perkembangan Islam seluruh dunia.

Beberapa kejadian sesudah wafat Nabi, seperti bangkit kembali Bani Umayah dan Bani Abbas, dengan kerajaan-kerajaannya, yang kemudian, juga bercekcokan dengan keturunan Ali bin Abi Thalib, pembunuhan atas diri khalifah Usman, yang dituduhkan secara palsu oleh Yazid bin Mu’awiyah, kepada Ali dll. menyebabkan pada akhirnya keluarga-keluarga Ahlil Bait ini, mengungsi kedaerah Persia dan India, Cina, Asia Tengah, Afrika dan Nusantara yang dapat menampung mereka, dan menyelamatkannya. Hal ini terutama sesudah terjadi pembunuhan atas diri Sayidina Hasan dgn racun, dan Sayidina Husain dalam peperangan di Karbala. Sayidina A l i sendiri dalam th. 40 H.

(661 M) dibunuh oleh salah seorang fanatik, Ibn Muijam, dari golongan Khawarij, dan sesudah gugur pula anaknya dalam pertempuran yang dahsat dimedan peperangan Karbala pada th. 61 H. (680 M), sebagai putra Mahkota yang melawan Yazid dari Bani Umayah, maka makin bertambah tambahlah hebatnya perkembangan golongan Syi’ah ini, yang meluap kesebelah timur, terutama Persia dan India, dan Asia Tengah serta Afrika Utara. Sebenarnya hubungan Iran-Indonesia telah berlangsung lama dan selalu baik. Dalam buku „Al-Islam Fi Indonesia” karangan Dzya Shahab dan Haji Abdullah b. Nuh, yang diterbitkan “Badan Penerbit Saudi Arabia” Jeddah, dikisahkan bahwa pelayaran laut ke Asia Tenggara dan Asia Timur lama dikuasai orangorang Persia bersama Arab. Hubungan teluk Persia dengan Indonesia lalulintas kuat. Banyak kota-kota di Indonesia di diami orang-orang Persia dan Arab. Juga dinukil dari buku Al-Damashky, yang mengatakan dalam bukunya „Nakhbat-al-Dahr” bahwa arusperpindahan Mus limin ke Indonesia, meningkat pada zaman bani Umayah, yang dikenal karena kezalimannya.

Ibn Batuta, pelancong Marokko diabad ke 13 (787 H) menyatakan bahwa ketika mengunjungi Samudra dan Pasai dia banyak bertemu dengan Muslimin dan orang-orang Persia. Terdapat ulama besar Abdullah Shah Muhammad bin Shaikh Taher (wafat 787 H).

Pada zaman Malik al-Kamil terdapat Qadhi (hakim) Al-Sharief Amir Sayyid Al-Shirazi. Sedangkan dizaman Al-Malik al-Zahir, terdapat ulama besar Tajuddin Al-Isphahani dan banyak lagi yang namanama mereka terukir dalam nisan-nisan diatas kuburnya masing2″.

Ibn Batuta berkata pula bahwa wakil Laksamana di Samudra- Pasai adalah seorang Persia bernama Behruz. Terdapat sebuah desa di Samudra kubur dari Hisauddin yg wafat pada tahun 1420 M. Menurut Sir Richard Winsted, kuburannya sangat menarik karena terukir beberapa shair dari Sa’di, pujangga Iran yang dikubur di Shiraz, a.1. berbunyi :

Ribuan tahun akan datang dan pergi diatas kubur kita melintasi Selama itu air mengalir dan angin Saba mengembus dan waktu hidup segera terputus Mengapa melintasi kubur orang dengan jalan angkuh lantang ?

Disamping itu kita juga lihat berbagai nama raja-raja di Indonesia memakai gelar-gelar yang dipakai juga di Iran. Berbagai adat istiadat di Jawa, Sumatra dan Sulawesi banyak persamaannya dengan yang ada di Iran. Kebiasaan-kebiasaan tidak menikahkan atau merayakan pesta-pesta pada bulan Suro, mirip dengan kebiasaan Iran. Demikian pula kisah bubur merah bubur putih dan cerita-cerita yatim, mempunyai latar belakang yang sama.

Prof. Husein Jayadiningrat almarhum, banyak mengadakan penelitian mengenai hubungan kebudayaan Iran-Indonesia, dimana kemudian Prof. Husein Jayadiningrat mengatakan banyak pengaruh Iran dalam bahasa Indonesia.

Dalam aliran Sufi di Indonesia banyak masuk pengaruh Tasauf Persia seperti pengaruh Junaid, Hallaj, Jalaluddin al Rumi, Shams al-Tebrisi. Belum lagi pengaruh Al-Gazali yang demikian popuier di Indonesia. Cerita-cerita Iskandar Zulkarnaen, Kisah Am’r Hamzah, Kisah Yusuf dan Zulaikha, Mu’jizat-mu’jizat para Nabi sangat terkenal dikawasan ini berasal dari literatuur Iran.

Di daerah ini aliran Syi’ah dianut, dan bersama dengan orangorang Persia dan India ulama-ulama dan pemimpin-pemimpin Syi’ah itu pergi ke Nusantara untuk menyiarkan agama Islam menurut pahamnya, sambil melanjutkan perdagangan dengan Timur Jauh, yang sudah terjadi sejak dahulu, Lih. karangan saya “Sejarah Al-Qur’an” (Surabaya-Malang, 1956. eet. ke-IV).

Keturunan dari Sayidina Hasan biasa sehari-hari dinamakan Syarif, dari Sayidina Husain disebut Syayid, keturunan wanita masingmasing dinamakan Syarifah dan Syayidah. Perlu dicatat disini, bahwa hijrah dari pada keturunan Ahlil Bait ini, banyak ke Mesir, dan dari sana kedaerah-daerah Islam yang lain, sebagaimana banyak yang hijrah ke Persia dan India, yang kemud’an kedaerah Islam yang lain.

Baik juga pembaca memperhatikan sebuah kitab baru yang diterbitkan oleh “Al-Majlisul A’la Lisy-Syu’unil Islamiyah” di Cairo, yang bernama “Ahlul Bait fi Misr”, karangan Ust. Abdul Hafid Faragli (Cairo Desember 1974 M).

AHLIL BAIT, DAN MASHAFNYA

Dalam kitab karangan saya mengenai “Syi’ah, nasionalisme dalam Islam” (Semarang, 1972), saya uraikan tentang pengikut Syi’ah li ini dengan mashafnya, yang bernama Ahlil Bait, sebagai berikut.

Memang disana — sini kita mendengar kecaman terhadap Mashaf Ahlil Bait, yang menggunakan hadits-hadits tersendiri dan berbuat bid’ah. misalnya oleh pengarang sejarah yang terkenal Ibn Khaldun (Muqaddimah, hal. 274), tetapi acap kali orang lupa, bahwa dibelakang tuduhan-tuduhan itu terdapat politik propaganda Bani Umayah atau Bani Abbas, yang membenci mashaf ini, karena ia teruntuk khusus bagi Syi’ah Ali bin Abi Thalib. Untuk kemaslahatan dan keselamatan diri serta karangan-karangannya, banyak penyusun-penyusun kitab dalam segala bidang meninggalkan kemegahan bagi Syi’ah, meskipun pada bathinnya kadang-kadang mereka membenarkannya.

Mengenai jawaban ilmiyah atas kecaman Ibn Khaldun, bacalah kitab “Al-lmam as-Shadiq wal Mazahibil Arba’ah”, karangan Asad Haidar, diantara lain jilid kesatu, hal. 216 — 218. Sebenarnya bukan tidak beralasan, baik Bani Umayyah maupun Bani Abbas, menuduh Syi’ah Ali senantiasa kalah menggerakkan pemberontakan rakyat terhadap pemerintahan mereka. Jiwa pengajaran Islam dalam daerahnya banyak dititik beratkan kepada kehidupan duniawi, melalui jalan kasar atau jalan halus terhadap ulama-ulamanya, sedang ajaran Islam menurut Mashaf Ahlil Bait lebih banyak ditekankan kepada kehidupan dunia dan akhirat.

Jiwa pengajaran Imam As-Shadiq diantara lain adalah kemerdekaan roh, yang sangat dihargakan tinggi oleh Islam, dan dengan demikian pengikut-pengikutnya selalu berdaya upaya meiepaskan kemerdekaan jiwanya itu dari pada belenggu kekuasaan yang dianggap zalim ketika itu. Sejak berdirinya mashaf ini terikat dengan dua peninggalan Nabi yang kuat “As-sagalain” yaitu Kitabullah dan Itrah Rasulnya, Qur’an dan keluarga Nabi, yang berpadu keduanya, tidak berccrai dalam penunaian kewajibannya untuk memberi petunjuk dan hidavat kepada umat. (“Haditsuts Tsaqalain”, 1952 M., penerbitan “Damt Taqrib bainal Mazahibil Islamiyah”).

Qur’an mencegah memberi bantuan kepada orang yang berbuat zalim dan mempercayainya. Dalam sebuah firman Tuhan berseru :

“Jangan kamu lekatkan kepercayaanmu kepada mereka yang berbuat zalim karena pasti kamu akan masuk neraka. Tidak ada lain pemimpinmu kecuali Allah, yang lain tidak akan dapat menolongmu” (Qur’an surat Hud, ayat 113).

Ajaran seperti dalam masa Nabi ini sudah tidak sesuai lagi dengan masa Bani Umayyah dan Bani Abbas yang tamak kekayaan dan bertindak secara kekerasan. Mereka menganggap ajaran-ajaran Imam as-Shadiq itu ditujukan kepadanya.

Dengan penuh keberanian Imam menjalankan terus ajaran semacam ini. Pengikut-pengikutnya diajar meresapkan rasa adil, yang merupakan pokok terpenting daripada dasar-dasar penetapan hokum Islam. Murid-muridnya hanya mematuhi peraturan-peraturan yang tidak melampaui batas Tuhan, yaitu Qur’an dan mentaati imam-imam yang adil serta memelihara agama, imam-imam yang ingin damai, bermutu tinggi dalam akhlak dan budi pekerti.

Sebagai akibatnya rakyat tidak mau mencari penjelasan dalam urusannya kepada hakim-hakim pemerintah yang d’anggap zalim itu, menjauhkan dirinya dari ulama-ulama yang ditunggangi oleh pemerintah (Abu Na’im Halyatul Aulia, III : 195). Dengan demikian Khalifah Mansur As-Saffah dan Hajjaj bin Yusuf lalu mengambil tindakan, dan gugurlah ulama-ulama hadits dan fiqh dalam mempertahankan agamanya itu.

Imam As-Shadiq menghendaki, agar disamping pemerintah dunia,  terdapat pimpinan agama, yang betul-betul menjalankan kebijaksanaannya menurut hukum Tuhan, berdasarkan kepada da’wah yang benar kebajikan, keadilan, persamaan ukhuwah Islamiyah umum, peradaban yang baik dan kebudayaan yang benar, membasmi hawa nafsu, membasmi bid’ah dan kesesatan, yang semuanya itu dapat diperoleh hanya dari keturunan suci, pemimpin-pemimpm mashaf ini. Karena merekalah yang sanggup memimpin umat kepada agamanya, membawanya kepada kebahagiaan, kepada tujuan-tujuan yang mulia dan tinggi, kepada contoh-contoh yang tinggi.

Mashaf Ahlil Bait ini adalah mashaf yang terdahulu lahir dalam sejarahnya, karena sebenarnya bukan Imam As-Shadiq yang meletakkan batu pertama dan menaburkan benihnya, tetapi ialah Rasulullah sendiri. Nabilah yang meletakkan sumber-sumber dan peraturannya dengan ucapannya menyuruh berpegang kepada Qur’an dan keluarganya, agar umat jangan tersesat (Hadits).

Mashaf ini terlahir dalam masa Nabi dan Imam yang pertama ialah Ali bin Abi ThaVb, Imam yang paling tinggi nilainya dan paling banyak ilmunya. Ia merupakan diri Nabi Muhammad mengikutinya alam segala waktu, menampung ilmu langsung dari padanya, memperoleh tasyri’amali sahabatnya dikampung dan dalam perjalanan, ia duduk jika Nabi duduk, ia bekerja jika Nabi bekerja. Rasulullah adalah guru langsung dari A l i , pendidik dan pengasuhnya.

Penyair Mutanabbi menggambarkan keindahan pewarisan ilmu  itu kepada A l i sebagai berikut :

Kuletakkan sanjunganku kepada pewaris, Pewaris Nabi, wasiat Rasul, Karena ia nur cahaya berbaris, Sambung menyambung, susul menyusul. Sesuatu yang tetap terus menerus, Pasti akhirnya berdiri sendiri, Busah lenyap karena arus, Laksana sifat matahari. Tatkala Ali wafat, gerakan ilmiyah dan pimpinan mashaf ini dipimpin oleh puteranya, Imam Hasan, cucu Rasulullah dan mainan hatinya. Dialah tempat rakyat mengembalikan urusannya dan segala persengketaan. Tetapi urusan mashaf itu tidak berjalan dengan lancar, karena tekanan beberapa kejadian dan saling sengketa dengan Mu’awiyah. Kecurangan-kecurangan Mu’awiyah terhadap keluarga A l I dan kekejaman-kekejamannya yang banyak menumpahkan darah, menghambat kemajuan perkembangan hukum. Kita ketahui bahwa perjanjian antara Hasan dan Mu’awiyah untuk menyelamatkan perkembangan hukum dan ajaran Islam, yang sebenarnya, tidak ditepati oleh Mu’awiyah.

Masa Imam Husain yang menggantikan saudaranya, lebih kacau lagi. Tidak saja peperangan-peperangan sudah terbuka, tetapi kekuasaan yang telah dicapai oleh Mu’awiyah digunakannya dengan sengaja untuk merusakkan kedudukan hukum kaum muslimin. Urusan peradilan diserahkan kepada anaknya Jazid, seorang fasik dalam berbuat dosa dan kufur yang tidak ada taranya. Kemudian ia menjadi khalifah buat orang Islam, menjadi imam yang duduk diatas singgasana kekhalifahan Islam.

Siapa Yazid ? Dalam “As-Sa’ral Anwal Fil Islam”, karangan Muhammad Abdul Baqi (hal. 79) kita baca, bahwa ia seorang fasik yang durhaka, ia membolehkan berzina, memperkenankan meminum-minuman keras, membolehkan berzina, memperkenankan nyayian-nyanyian dalam mejelis-majelis kehormatan menjadikan adat kebiasaan meminum anggur dalam sidang-sidang pengadilan, memberikan rantai dan kalung anjing dan monyet mainannya dengan emas, sedang ratusan orang Islam disekeliling tempat itu mati kelaparan.

Lalu menjadilah kedudukan hukum Islam ketika itu sangat buruk. Imam Husain tidak dapat berdiam diri, ia terpaksa bangkit membela kebenaran, melakukan amar-ma’ruf nahi munkar, hingga terpaksa ia mengorbankan jiwanya dengan cara yang sangat menyedihkan scbagai pahlawan Islam.

Urusan peradilan Islam dan pimpinan mashaf berpindah kepada anaknya Imam Ali bin Husain, yang bergelar Zainal Abidin, seorang yang sangat wara’ dan taqwa dalam masanya, tetapi juga

seorang alim dalam segala bidang ilmu Islam. Dengan cara diamdiam ia meneruskan usaha ayahnya,, yang meskipun suasana ketika itu sangat buruk, melahirkan banyak ulama-ulama ahli hukum dan ahli hadits.

Masa anaknya Imam Al-Baqir, memimpin mashaf Ahlil Bait ini, suasana politik sudah agak berubah, pemerintah Bani Umayyah sudah mulai lemah, diserang kanan kiri dan dibenci oleh rakyat karena sifat feodalnya. Pengajaran-pengajaran Ahlil Bait digiatkan kembali dimana-mana, ulama-ulamanya memancar pergi menyiarkan ajaran Kitabullah dan Sunnah Nabi di Madinah dan dalam MasjidU Haram, terutama ruang yang terkuat dengan nama “Ruang Ibn Mahil”. Kemajuan yang sangat pesat dicapai dalam masa Imam As-Shadiq.

Ditiap negeri sudah ada orang alim yang mengajar mashaf ini. Madrasah Imam As-Shadiq di Madinah merupakan sebuah universitas yang besar, yang dikunjungi oleh mahasiswa dari seluruh pojok bumi Islam. Banyak yang mengirimkan utusan-utusannya. Sejarah pendidikannya menerangkan, bahwa ia seorang mujtahid besar; Tidak ada pertanyaan yang tidak dijawab dan jawabannya itu menjadi sumber hukum pula bagi murid-muridnya.

Terkenal sebuah ucapannya : “Tanyakanlah kepadaku sebelum aku mati, tidak akan ada seorangpun dapat memberikan kepadamu penjelasan seperti yang engkau dengar daripadaku” (Tazkiratul Huffaz, II : 157). Mengapa tidak demikian, karena dialah pewaris ilmu kakeknya yang masyhur itu. Mengenai A l i bin Abi Thalib, Nabi berkata : „Aku ini gudang ilmu dan Ali pintunya” (Hadits).

Maka oleh karena itu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam As-Shadiq dari ayahnya Al-Baqir, dari ayahnya Zainal Abidin, dari Husain bin Ali dan dari Nabi, dianggap sanad yang paling baik dan paling kuat Riwayat semacam ini dinamakan “Silsilah  zahabiyah”, urutan keemasan demikian tersebut dalam kitab “Ma’-rifah Ulumut Hadits, karangan Hakim An-Naisaburi, hal. 55.

Jelaslah kepada kita mengapa ulama-ulama mengutamakan mashaf ini dalam sesuatu penetapan hukum. Tidak lain sebabnya melainkan karena salurannya sangat bersih. Pemerintah melihat bahayanya orang banyak dari mencari hokum kepada Imam As-Shadiq, dan tidak mau mendatangi hakim-hakim dan pengadilan resmi. Lalu diambil siasat, menyuruh ulamanya mengeluarkan fatwa, bahwa pintu ijtihad hukum Islam sudah tertutup.

Mashaf Ahlil Bait, yang kemudian terkenal dengan Mashaf Al- Ja’fari, tidak mau mentaati siasat pemerintah ini, pertama karena rakyat tidak mau mematuhinya, kedua karena menyebabkan orang Islam menjadi beku, tidak mau berfikir dan menggunakan akal, satusatunya anugerah Tuhan yang sangat mulia kepada manusia. Sebagai akibat keputusan ini, pemerintah menganggap-anggap mashaf itu meneutang kebijaksanaannya dan menghukum orang-orang yang tidak taat itu.

Dengan alasan ini pemerintah menganggap mashaf Ahlil Bait musuhnya, lalu dinyatakan sebagai suatu golongan yang dianggap keluar dari Islam karena salah i’tikadnya, padahal ulama-ulama Ahlil Bait tidak mau mentaatinya karena hakim-hakim itu zalim, dan umat Islam diperintahkan meninggalkan orang-orang yang zalim itu dan rajanya.

Sebagaimana terjadi dalam salah satu permusuhan, pemerintahan Bani Abbas lalu mencari-cari dan membuat-buat alasan untuk memburuk-burukkan mashaf ini dan Syi’ah A l i yang memeluknya. Mereka menggunakan uang untuk menggaji mubaligh-mubaligh yang menyampaikan kecaman-kecaman mereka dalam mesjid-mesjid, menggunakan ahli-ahli pidato yang ulung dijalan-jalan, mengumpulkan ulama-ulama untuk mengeluarkan fatwa yang sesuai dengan hawa nafsu mereka untuk menyerang Syi’ah sebagai musuh negara dan sebagai musuh Islam.

Mereka menyiarkan berita bohong, bahwa Syi’ah mengkafirkan semua sahabat Nabi, bahwa mereka tidak beramal menurut Qur’an dll. Dengan demikian diracuni pikiran rakyat dan digerakkan untuk membasmi golongan yang disebut salah itu. Bacalah kitab “Imam As-Shadiq wal Mazhahihil Arba’ah”, karangan Asad Haidar, terutama jilid ketiga, hal. 21 — 23.

Dengan demikian pula tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan kepada Syi’ah ini berlarut-larut dari generasi-kegenerasi, dari ulamakeulama dari kitab kekitab, sebagaimana yang akan kita singgung juga dimana ada kesempatan.

ALI DAN QUR’AN.

Ali bin Muhammad At-Thaus dalam kitabnya “Sa’dus Su’ud”, berdasarkan keterangan Abu Ja’far bin Mansur dan Muhammad bin Marwan, berkata, bahwa pengumpulan Qur’an dalam masa Abu Bakar oleh Zaid bin Sabit gagal, karena banyak dikeritik oleh Ubay, Ibn Mas’ud dan Salim, dan kemudian terpaksalah Usman mengadakan usaha mengumpulkan ayat-ayat Qur’an lebih hati-hati dan seksama, dibawah pengawasan Ali bin Abi Thalib (Az-Zanjani, hal. 45). Maka pengumpulan Qur’an dengan pengawasan Ali bin Abi Thalib inilah yang berhasil, karena pengumpulan itu, tidak saja disetujui oleh Ubay, Abdullah bin Mas’ud dan Salam Maulana Abu Huzaifah, tetapi juga oleh sahabat-sahabat yang lain. Mashaf Usman inilah yang kita namakan Qur’an umat Islam sekarang ini, yang tidak saja wahyu-wahyunya benar seperti yang disampaikan Nabi, tetapi bahasanya dan bunyi ucapannya sesuai dengan aslinya. Usman membuat beberapa buah diantara mashaf ini, sebuah untuk dirinya, sebuah untuk umum di Madinah, sebuah untuk Mekkah, sebuah untuk Kufah, sebuah untuk Basrah dan sebuah untuk Syam. Ibn Fazlullah al-Umri pernah melihat mashaf Usman ini pada pertengahan abad ke-VII H. dalam masjid Damsyiq (baca Maslikul Absar, I 195, c. Mesir), dan banyak orang menyangka, bahwa naskah mashaf ini pernah disimpan dalam perpustakaan di Liningrad, yang kemudian dipindahkan kesalah satu perpustakaan di Inggeris (Az-Zanjani, 46). Pengarang Sejarah Qur’an yang terkenal Abu Abdullah Az-Zanjani ini dalam kitabnya “Tarikhul Qur’an”, hal. 46, menerangkan bahwa ia pernah melihat dalam bulan Zulhijjah, th. 1353 H . dalam perpustakaan, yang bernama “Darul Kutub Al-AU>wiyah”, di Nejef sebuah mashaf dgn. khat Kufi, dan tertulis pada akhirnya “Ditulis oleh Ali bin Abi Thalib dalam th. 40 Hijrah”.

Al-Amadi At-Tughlabi, seorang ulama fiqh dan ilmu kalam, mgl. 617 H, menerangkan dalam kitabnya ”Al-Ajkarul Akbar”, bahwa mashaf-mashaf yang masyhur dalam zaman sahabat itu dibacakan kepada Nabi dan diperlihatkan mashafnya kepada Nabi. Ibn Sirin mendengar Ubaidah As-Salmani berkata, bahwa bacaan yang diperdengarkan kepada Nabi mengenai Qur’an pada saat-saat hampir wafatnya, adalah bacaan yang sampai sekarang dipergunakan orang.

Jika ada pembicaraan mengenai Qur’an A l i ” (yang sebenarnya mashaf Ali), yang berbeda dengan mashaf-mashaf Ubay bin Ka’ab (mgl. 20 H), Abdullah bin Mas’ud (mgl. 32 H), mashaf Abdullah bin Abbas (mgl. 68 H) dan mashaf Abu Abdullah Ja’far bin Muhammad As-Shadiq, adalah perbedaan mengenai susunan bahagian Qur’an, yang dinamakan “Surat”, bukan perbedaan mengenai ayat2 dan dialeknya, yang sesudah Ali dengan aktif turut menyusun mashaf itu dalam masa Usman sudah tidak berbeda lagi. Jika ada perkataan yang menyebut “Qur’an Syi’ah yang dimaksudkan ïalah mashaf asli A l i bin Abi Thalib atau mashaf asli imam Ja’far Shadiq, yang sekarang tidak ada lagi sudah menjadi mashaf Usman dengan ijma’ sahabat-sahabat Nabi ketika itu. Orang-orang Syi’ah memakai Qur’an Usman itu sebagaimana kita memakainya.

Jadi tuduhan, bahwa A l i mempunyai Qur’an yang berlainan ayatayatnya daripada wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Muhammad, dengan disaksikan oleh sahabat, dan bahwa Qur’an itu, sesudah ditambah atau dikurangi, digunakan khusus oleh golongan Syi’ah, tidak benar sama sekali adanya. Tuduhan i n i ditolak oleh sejarah dan oleh ulama-ulama Syi’ah sendiri, diantara lain oleh Abul Qasim A l – K h u l i , pengarang tafsir Syi’ah Imamiyah yang terkenal “Al-Bayan fi Tafsiril Qur’an” (Nejef, 1957). Dan juz yang pertama, pada halaman 171 dan berikutnya, dikupas panjang lebar, bahwa A l i b i n A b i Thalib tidak mempunyai mashaf yang berlainan ayat2nya dari mashaf-mashaf Sahabat lain, kecuali berlainan susunan Suratnya. Mashaf A l i yang dipusakai dari Nabi, penuh diberi catatan-catatan mengenai tanzil, masa dan sebab turun ayat, mengenai ta’wil, pengertian dan maksud yang pelik, yang berasal dari keterangan Nabi sendiri, selanjutnya mengenai ayat-ayat nasikh dan mansukh, ayat-ayat ahkam dan mutasyabihah (Tafsir As-Shafi, muk. VI : 11), mengenai halal dan haram, mengenai had atau hukum sampai kepada tetek bengek (Muk. Tafsir Al-Burhan hal. 27), ditolak semua oleh A l – K h u l i tuduhan yang tidak benar itu (172 — 175).

A l – K h u l i mengatakan sebagai khulasah, bahwa penambahan dalam mashaf A l i bukan ayat-ayat Qur’an, yang disuruh sampaikan oleh Nabi kepada ummatnya, dan bahwa tuduhan semacam ini adalah tidak berdasarkan kepada dalil yang benar, karena dengan ijma dalam masa Usman sudah dihilangkan semua penyelewengan atau tahrif.

Sebenarnya segala sesuatu mengenai Qur’an, baik sejarah turunnya wahyu, sejarah pengumpulannya dan penyusunan Qur’an dan penulisan mashaf, penterjemahan serta penafsirannya, sudah saya bicarakan dalam sebuah kitab khusus mengenai persoalan ini, yang saya namakan “Sejarah Al-Qur’an”, cetakan terakhir di Jakarta 1953, tetapi belum saya tinjau dari sudut pendirian golongan Syi’ah. Bahwa A l i bin Abi Thalib mempunyai bahagian dan kedudukan penting dalam penyusunan Al-Qur’an bukanlah suatu persoalan yang mesti dipertengkarkan, baik ulama-ulama Syi’ah, ulama-ulama Ahlus-Sunnah, maupun ulama-ulama aliran lain dalam Islam, semuanya mengakui bahwa Ali-lah yang mengetahui paling lengkap tentang turunnya wahyu-wahyu Tuhan kepada Nabi Muhammad, karena dialah yang mengikuti Nabi sejak permulaan keangkatannya menjadi Rasul dan selalu berdampingan dengan Rasulullah sebagai keluarga terdekat dalam segala keadaan. Disamping itu ia termasuk penulispenulis wahyu, yang ditunjuk oleh Nabi untuk mencatat tiap-tiap ada wahyu turun, baik siang ataupun malam hari.

Sahabac-sahabat dalam masa Nabi banyak yang sudah tahu menulis, dan kesenian menulis ini oleh Rasulullah sangat diperkembangkan. Bangsa Arab yang sudah tinggi kebudayaan sebelum Islam, sudah menggunakan huruf Hiri, suatu kota kebudayaan yang letaknya kira-kira tiga mil dari Kufah, dekat Nejef sekarang ini, dan oleh karena itu dinamakan juga huruf Kufi, begitu juga huruf Anbari, suatu kota dekat sungai Eufrat, tiga puluh mil sebelah barat Baghdad, semuanya berasal dari kemajuan kebudayaan Arab Kindah. Dari sebuah riwayat dari Ibn Abbas diterangkan asal-usul huruf ini masuk ketanah Hajaz dari Yaman (Kindah), bahkan sejarah pemakaian huruf ini sampai kepada Thari’, kepada Khaflajan, penulis wahyu yang diturunkan kepada Nabi Hud.

Abu Abdullah az-Zanjani menerangkan bahwa khat ini dimasukkan oleh Nabi Muhammad ke Madinah melalui orang-orang Yahudi, yang mengajarkan anak-anak Islam menulis. Ada sepuluh orang diantara kaum muslimin yang ahli dalam huruf ini diantaranya Sa’id bin Zaharah, Munzir bin Umar, Ubay bin Wahab, Zaid bin Sabit, Raff bin Malik dan Aus bin Khuli. yang kemudian ditambah dengan tawanan Badr, yang mengajarkan huruf-huruf ini kepada anak-anak Islam.

Bahwa wahyu-wahyu yang turun kepada Nabi ditulis dan dicatat orang merupakan mashaf simpanannya masing-masing tidaklah mengherankan, karena ada empat puluh tiga orang yang ditugaskan menulis wahyu itu dengan khat Nasakh, diantaranya yang termasyhur ialah Khalifah empat Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali, selanjutnya Abu Sufyan dengan dua anaknya Mu’awiyah dan Yazid, Sa’id ibn Ash dan anaknya Isan dan Khalid, Zaid bin Sabit, Zubair bin Awam Thalhah bin Ubaidillah. Sa’ad bin Abi Waqqs, Amir bin Fahiah, Abdullah ibn Argam, Abdullah bin Rawahah, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah, Ubay bin Ka’ab, Sabit ibn Qais, Hanzalah ibn Rabi’, Syurahbil bin Hasanah, Ula bin Hadrami, Khalid ibn Walid, Amr ibn Ash, Mughirah bin Syu’bah, Mu’aiqib bin Abi Fatimah ad-Dausi, Huzaifah ibn Yaman, Huwaithib bin Abdul ‘Uzza Al-Amiri, baik dalam masa Nabi maupun sesudah wafatnya.

Meskipun demikian yang tetap mengikuti Nabi dan yang dipercayanya adalah catatan dua orang, yaitu Zaid bin Sabit dan A l i bin Abi Thalib. Demikian kata Az-Zanjani dan menambahkan, bahwa banyak riwayat2 menerangkan, kedua orang itulah yang dengan sungguh-sungguh menghadapi penulisan dari pengumpulan wahyu itu.

Bukhari meriwayatkan dari Barra, bahwa tatkala turun wahyu “tidak sama orang mu’min yang diam dengan mereka yang menderita kemelaratan dan yang berjihad diatas jalan Allah” (Surat An-Nisa). Nabi dengan segera berkata : “Panggil Zaid datang kepadaku, membawa lah tinta dan tulang belikat unta”, dan sesudah Zaid datang, ia berkata : “Tulislah selengkapnya ayat i n i ” (Zanjani, hal. 20).

Dalam sebuah ceritera, Umar diperingatkan orang bahwa adiknya Fatimah telah masuk Islam. Umar marah dan pulang kerumahnya, didapatinya pada adiknya itu wahyu tertulis diatas perkamen sedang dibacanya. Hal ini terjadi dikala Umar belum masuk Islam, dan karena membaca wahyu yang tertulis itu, ia lalu masuk Islam.

Semua itu menunjukkan, bahwa Rasulullah menghendaki Qur’an itu ditulis dan penulisan itu sudah dimulai dalam masa hidupnya dan dengan petunjuk serta pengawasannya. Dalam masa Rasulullah Qur’an itu ditulis diatas tulang-tulang, kepingan batu, potongan daun atau kain, acapkali juga diatas kain sutera atau kulit kering dan diatas tulang belikat unta. Sudah menjadi

kebiasaan bangsa Arab menulis catatan demikian dan menamakannya “suhuf”, bungkusannya dinamakan „mashaf”. Sahabat-sahabat penting mempunyai mashaf itu secara lengkap atau tidak. Juga untuk Nabi diperbuat mashaf itu dan disimpan dirumahnya. Muhammad ibn Ishak menerangkan dalam ,,Fihris”nya, bahwa Qur’an yang ditulis dihadapan Rasulullah itu adalah diatas batu, tulang dan belikat unta. Bukhari menerangkan, bahwa Zaid bin Sabit pernah mengatakan:

„Kucari Qur’an itu dan kukumpulkannya dari batu, tulang dan dari hafalan orang”.

Al-‘Isyasyi, seorang ahli Tafsir Imamiyah, menerangkan dalam Tafsirnya, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berkata : „Rasulullah mevvasiatkan kepadaku, bahwa sesudah kukuburkan dia aku tidak keluar dari rumahku hingga aku menyusun Kitab Allah itu, yang tertulis pada pelepah korma dan pada tulang belikat unta”. Sebuah riwayat dari A l i bin Ibrahim bin Hasyim Al-Qummi, seorang ahli Hadits Imamiyah yang termasyhur, menerangkan, bahwa Abu Bakar Al’-Hadhrami pernah mendengar Abu Abdillah Ja’far bin Muhammad berceritera, bahwa Nabi ada berpesan kepada Ali bin Abi Thalib :

„Hai. Ali ! Qur’an itu ada dibelakang tempat tidurku dalam suhuf, sutera dan kertas. Ambil dan susunlah baik-baik, jangan engkau hilangkan sebagaimana Yahudi menghilangkan Taurat”. Ali memungut Qur’an itu dan mengumpulkannya dalam satu bungkusan kain kuning kemudian dicapnya. Al Haris Al-Muhasibi menerangkan, bahwa mengumpulkan Qur’an itu bukanlah suatu perbuatan bid’ah tetapi terjadi atas perintah Nabi, dan juga meletakkan ayat-ayat pada tempatnya atas petunjuk Nabi sendiri.

Meskipun yang menulis wahyu banyak dalam zaman Nabi, tetapi yang mengumpulkannya hingga lengkap merupakan mashaf tidak berapa orang. Yang dianggap pengumpulan yang agak lengkap oleh Muhammad bin Ishak ialah Ali bin Abi Tha}ib, Sa’ad bin Ubaid bin Nu’man Aï-Aus’, wafat dalam perang Qadisiyah tahun 15. H. Abu Darda Uwaimir bin Zaid, beroleh langsung dari Nabi, wafat tahun 32 H. Muaz bin Jalal bin Aus, yang dinamakan Nabi imam ulama, wafat tahun 18 H., Abu Zaid Sabit ibn Zaid bin Nu’man, Ubay bin Ka’ab bin Qais, seorang yang sangat dipuji Nabi2 bacaannya. mgl. Di Madinah th. 22 H, Ubaib bin Mu’awiyah, dan Zaid bin Sabit, penulis wahyu Rasulullah dan juru bahasanya, mgl. th. 45 H. Zaid bin Sabit adalah seorang yang sangat dicinta oleh Nabi dan dihormati oleh Ahlil Baitnya.

Demikian bunyi satu riwayat tentang mereka yang mengumpulkan Qur’an dalam masa Nabi, yang kurang sempurna disempurnakan sesudah wafat Nabi. Banyak riwayat lain yang berbeda jumlah dan namanya, tetapi Al-Khawarizmi berdasarkan keterangan Ali bin Riyah menerangkan, bahwa yang lengkap mengumpulkan Qur’an dalam masa Rasulullah ialah Ali bin Abi Thalib dan Ubay bin Ka’ab.

Riwayat-riwayat menunjukkan, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang mula-mula menulis Qur’an menurut tertib turun ayat, mencatat ayat mansukh terlebih dahulu dari nasikh dan memberikan catatan2 lain dalam mashafnya. Hal ini diceriterakan juga oleh Ibn Sirin.

Juga dibenarkan oleh Ibn Hajar, bahwa A l i menyusun Qur’an menurut tertib turun ayat, beberapa waktu dibelakang wafat Nabi Muhammad. Dalam kitab Syarh Al-Kafi Salih Al-Quzwini dari Ibn Qais Al-Halali menerangkan, bahwa Ali bin Abi Thalib sesudah wafat Nabi tidak keluar dari rumahnya karena menyusun Qur’an dan mengumpulkannya sampai selesai semuanya. Kemudian ia menulis catatan ayat-ayat nasikh dan mansukh, ayat-ayat mukhamah dan mutasyabih.

Kata Imam Muhammad bin Muhammad bin Nu’man, salah seorang ulama Syi’ah terbesar, dalam kitabnya „Al-Irsyad”, bahwa A l I dalam mashafnya mendahulukan ayat-ayat mansukh dari ayat-ayat nasikh, dan menulis ta’wil ayat-ayat serta tafsirnya dengan terperinci.

Syahrastani dalam mukaddimah Tafsirnya menerangkan, bahwa semua sahabat sepakat ilmu Qur’an itu khusus buat Ahlil Bait. Beberapa sahabat bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, apakah ilmu pengetahuan Qur’an hanya dikhususkan kepada Ahlil Bait. Ali menjawab, bawa ilmu tentang Qur’an, masa dan sebab-sebab turunnya begitu juga ta’wilnya, khusus buat Ahlil Bait, karena merekalah orang-orang yang terdekat dengan Nabi Muhammad (Az-Zanjani, Tarikhul Qur’an, Cairo. 1935. hal. 26).

AHLI TAFSIR SYI’AH.

Baik orang Syi’ah maupun orang ahli Sunnah menganggap Ali bin Abi Thalib adalah ahli tafsir Qur’an yang pertama dim. Sejarah Islam karena ia masih mendapati Nabi yang selalu memberi petunjuk dalam pengertian dan ta’rif daripada wahyu-wahyu Tuhan yang mentaati paham manusia biasa. Sudah kita katakan, bahwa Ali tidak saja berjasa mengawasi pengumpulan ayat-ayat Qur’an, tetapi juga mempunyai pengetahuan tentang sejarah turunnya ayat dan surat, tentang ayat hukum dan mutasyabih, ayat nasikh dan mansukh, bahkan ada riwayat yang mengatakan, bahwa ia mempunyai enam puluh macam ilmu Qur’an, dan sebagaimana yang sudah kita katakan, mashafnya penuh dengan catatan2, seperti masih dapat dilihat beberapa lembar dari padanya dalam perpustakaan di Nejef.

Seperti sudah kita terangkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang sahabat yang paling banyak meriwayatkan tentang Qur’an, sedang Ibn Abbas yang menjadi murid A l i , pernah berceritera, bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sangat tahu tentang ilmu lahir dan ilmu ghaib dari Al-Qur’an yang mulia. Sejarah hidup Ali tidak kita ulang lagi disini.

Salah seorang dari Ahli Tafsir Syi’ah adalah Ubay bin Ka’ab dari golongan Anshar. Sayuthi menghitungnya dalam karangannya yang terkenal „Al-ltqan” termasuk jumlah sepuluh orang ahli tafsir dari sahabat kurun pertama, dan Nabi sangat mencintainya. Ia meninggal tahun 30 H.

Abdullah bin Abbas adalah anak paman Nabi, yang sejak kecil sudah diramalkan oleh Nabi menjadi seorang ahli ilmu Qur’an, dan juga yang oleh Sayuthi dimasukkan sahabat sepuluh kurun pertama, yang hafal dan ahli Qur’an. Ada orang mengatakan bahwa ia orang yang ahli tentang tafsir daripada Tabi’in Mekkah. Tafsirnya sampai sekarang masih didapat orang dan terkenal dengan „Tafsir Ibn Abbas”, ia meninggal th. 68 H . Orang-orang Syi’ah menganggap tafsir itu mu’ tamad dan banyak digunakan untuk menguatkan pendirian-pendiriannya.

Dari golongan Tabi’in sesudah itu kita sebutkan nama-nama Maisam bin Jahya at-Tamanar (mgl. 60 H.), seorang khatib Syi’ah yang terkenal di Kuffah dan seorang ahli ilmu Kalam : Said bin Zubair (mgl. 94 H) yang pernah menyusun sebuah tafsir Qur’an dan banyak dipetik orang pendapatnya. Abu Saleh Miran dari Basrah (mgl. Sesudah abad pertama hijrah), murid Ibn Abbas, Thaus Al-Yamani (mgl. 106 H). Juga murid Ibn Abbas, yang oleh Ibn Taymiyah, Ibn Quthai bah dli sangat dipuji kecerdasannya dan dimasukkan kedalam golongan sahabat A l i .

Kemudian dapat kita sebutkan sebagai ahli-ahli yang ulung ialah Imam Muhammad al-Baqir (mgl. 114 H.), Ibn Nadim banyak menyebutkan nama-nama kitabnya mengenai tafsir dan ilmu-ilmu Qur’an yang lain. Abdul Jarud, seorang Syi’ah yang terkenal banyak meriwayatkan.

sesuatu dari Al-Baqir mengenai Qur’an. Tidak kurang pentingnya kita sebutkan nama Jabar bin Yazid Al-Ju’fï, yang menulis juga sebuah tafsir dan ia meninggal tahun 127 H. Suda Al-Kabir, nama yang sebenarnya Isma’il bin Abdurrahman, juga mempunyai sebuah tafsir yang oleh banyak orang dijadikan sumber keterangan mengenai ilmu Qur’an. Untuk jangan keliru kita bedakan antara Suda As-Saghir bukan seorang Syi’ah dan Suda Al-Kabir adalah seorang ahli tafsir Syi’ah yang terkenal (mgl. 127 H).

Saya tidak ingin menyebutkan semua ahli tafsir Syi’ah itu disini dengan perincian sejarah hidupnya, karena terlalu banyak. Dari penyelidikan saya dan dibenarkan oleh beberapa keterangan Ahli sejarah Islam, ternyata orang-orang Syi’ah banyak terkenal sebagai ulama dalam segala bidang, dan giat mengarang dalam bermacam-macam ilmu sejak hari-hari pertama fatsu kurun pertama.

Terutama dalam ilmu Qur’an yang pada waktu itu merupakan persoalan yang sangat penting, banyak terdapat pengarang-pengarang Syi’ah yang tcrkemuka. Sedangkan selanjutnya sebagai ahli tafsir kita sebutkan Abu Hamzah As Samali. Tabi’in dan meninggal 150 H., Abu Jamadah As-Saluli (mgl. pada pertengahan abad ke II H.) Abu Ali Al-Hariri (mgl. idem), Abu Alim bin Faddal, Abu Thalib bin Shalat (mgl. akhir abad ke-II), Muhammad bin Khalil Al-Barqi (mgl. idem), Hisyam bin Muhammad As-Said Al-Kalbi (mgl. 206 H), Al Waqidi (mgl. 207 H.), Yunus bin Abdurrahman Ali Yatin, Hasan bin Mahbub As-Sarrad (mgl. 224 H.), Abu Usman Al-Mazani (mgl. 248 H.), Muhammad bin Mas’ud A/-Ayasyi, Farrad bin Ibrahim, Ali bin Mahziar Al Ahwazi, Husain bin Said Al-Ahwazi, Hasan bin Ahwazi, Hasan bin Khalid Al-Barqi Ibrahim As-Saqafi meninggal 283 H.

Ahmad bin Asadi, hampir semua keluarga Al-Qummi mengarang tafsir. Al-]aludi, As-Suli, Al-Dlurjan’, Al-Musawi, Ibn Nu’man, At- Thusi, At-Tabrasi, Ar-Rawandi (mgl. 573 H.) M-Fatital Asy-Syirazi (mgl. 948 H.), As-Sabzawari (mgl. 910 H.), Azwari Al-Masyadi, Al- Hamdani, Al-Bahrani (mgl. 1107 H.) Jawad bin Hasan Al-Balaghi (mgl. 1302 H), dll. masing-masing menerangkan tafsir Qur’an yang ditinjau dari segala sudut ilmu. Ada yang lucu, kadang-kadang orang Salaf yang menamakan diri anti Syi’ah, menggunakan tafsir Syi’ah dengan tidak mengetahui pengarangnya.

Sebagaimana dalam ilmu tafsir, kita dapati pengarang-pengarang Syi’ah yang ulung dalam ilmu Qur’an yang lain, misalnya dalam ayatayat hukum khusus mengenai mashaf Syi’ah seperti pengarang Al-Kalbi, (mgl. 146 H.), Ar-Rawandi (mgl. 573 H.), As-Sayuri (mgl. 792.), Al-Ardabli (mgl. 993 H.), Al-Kazimi (mgl. abad ke-II H).

Astrabadi (mgl. 1026 H.), Al-]azairi (mgl. 1151 H.), dll. yang kitabnya sekarang dipakai diseluruh dunia. Juga dalam ilmu Qur’an lain terkenal ulama2 Syi’ah misalnya mengenai ayat-ayat Mutasyabih, seperti Hamzah bin Habib (mgl. 156 H.), meskipun menurut Sayuti orang yang mula-mula mengarang dalam ilmu ini ialah A)l-Kasa’i (mgl. 182 H.), kedua-duanya adalah

juga ahli Qira’at Tujuh. Kemudian terkenal namanya Muhammad bin Ahmad Al-Wazir (mgl. 433 H.), Ibn Syahrassyaub al-Muzandra (mgl. 588 H.), dll.

Dalam Gharibul Qur’an adalah Aban Ibn Tughlab (mgl. 141 H.), Ada orang mengatakan Abu Ubaidah (bukan Syi’ah), tetapi Abu Ubaidah meninggal tahun 200H, kemudian dari masa Ibn Tughlab. Selanjutnya yang mengarang dalam bidang ini ialah Muftadhall Salmah, Ibn Darid (mgl 321 H.), Abu Hasan al-Adawi Asy-Syamsyathi (mgl. permul. abad ke-IV), semuanya ulama Syi’ah.

Karangan-karangan mengenai Asbabun Nuzul dihari-hari pertama juga diperbuat oleh golongan Syi’ah, seperti Ibn Abbas (mgl. 67 H), Muhammad bin Khalid ai-Barqi (mgl. akhir abad ke-IT H), Ibrahim bin Muhammad As-Sakaji (mgl. 283 H) Abdul Azis bin Yahya al-Jaludi (mgl. 330 H), Ibnul Hijam dalam abad yang ke-IV juga semuanya ulama Syi’ah.

Selanjutnya mengenai nasikh dan mansukh juga yang mula-mula dan banyak mengarang orang-orang Syi’ah, seperti Abdurrahman al-Asam (abad ke-II), Ad-Damiri (abad ke-Il), Ibn al Kadri mgl. 246 H) atau anaknya Hisyam (mgl. 207 H), Ibnal Fadhal mempunyai kitab nasikh dan mansukh, sebagaimana Al-Qummi, baik Ahmad bin Muhammad maupun A l i bin Ibn Ibrahim, selanjutnya pengarang Syi’ah yang pertama juga didalam bidang ini ialah Al-Jatudi (mgl. 330 H), dan Suduq bin Babuwaih al-Qummi (mgl. 381 H).

Dalam ilmu Majazul Qur’an yang memulainya ialah ulama Syi’ah, seperti Ibn al-Mustanir (mgl. 206 H.), pendeknya dalam segala bidang ilmu Qur’an, seperti ilmu mengenai pembagian Qur’an ilmu mengenai perhentian membaca dan menyambung ayat Qur’an, ilmu mengenai wakaf, ilmu mengenai i’rab, ilmu mengenai sejarah titik dan baris, ilmu mengenai fadilat membaca Qur’an (ada yang mengatakan Ubai bin Ka’ab yang meninggal 30 H), ada yang mengatakan Muhammad Idris Asy-Syafi’i (mgl. 204 H), ilmu bermacam-macam qira’at ilmu tadwid, dan ilmu-ilmu lain mengenai kitab suci, yang terbanyak ditulis oleh ulama-ulama Syi’ah dan mereka juga yang memulainya.

Mengenai nama-nama kitabnya saya tidak sebutkan disini, karena sangat banyaknya. Saya hanya mempersilahkan saudara membacanya dalam kitab “A’yanusy Syi’ah”, Jus I, bahagian ke-2, halaman 53 – 74 (Beint, 1960).

HADITS DAN JA’FAR SHADIQ

Dalam uraian-uraian yang telah lalu, telah kita jelaskan, bahwa kedudukan Imam Jafar As-Shadiq mengenai pendidikan ulama2 Ahlul Hadits dan ahlul Ra’yi atau Ahlul Qiyas, yang lama-kelamaan merupakan imam-imam mazhab yang terpenting seperti Malik bin Anas dan Abu Hanifah dll. Mashaf-mashaf itu ada yang menggabungkan dirinya dalam ikatan Ahlus Sunnah, ada yang dalam ikatan mashaf Ahlul Bait, karena dalam hukum fiqh ingin melanjutkan cara berfikir Imam Ja’far As-Shadiq, yang mereka namakan Fiqh Al-Ja’far, dengan mengutamakan hadits-hadits riwayat Ahlul Bait atau perawiperawi dari ulama-ulama Syi’ah sendiri.

Dalam salah satu bahagian kita sudah jelaskan, bahwa tidak kurang dari empat ratus orang muridnya yang mengarang kitabkitab fiqh menurut jalan ini. Usul fiqh untuk mashaf Al-Ja’far ini, yang terkenal dengan pokok persoalan empat ratus, dikumpulkan dalam empat buah kitab besar, yang masing-masing bernama A\l-Kafi, Al-lsttbsar, At-Tahzib dan Ma La Yahduruhul Fiqh. Inilah kitab-kitab hadits yang terbesar dan menjadi pokok bagi ulama-ulama Syi’ah yang terkenal dengan Kitab Empat sebagaimana terkenal dengan Kitab Enam dalam pengumpulan hadits bagi penganut Ahlus Sunnah.

Imam Ja’far As-Shadiq sangat bijaksana sekali dalam menciptakan ulama ulamanya, yang kemudian disiarkan keseluruh negara Islam untuk membasmi keyakinan-keyakinan yang salah, memerangi sifat ilhad dan zindiq, berdebat tentang aqidah yang tidak benar, mengalahkan firqah-firqah yang menyeleweng dari ayaran Islam dalam masa pancaroba dan zaman kekacauan politik dan agama itu. Ulama-ulamanya terdapat di Irak, Khurasan, Harnas, Syam, Hadramaut, dll, terutama di Kufah dan Madinah dimana bibit keyakinan Syi’ah ini sudah tertanam dan tumbuh dengan suburnya.

Imam Ja’far mempersiapkan ulama2 muridnya menurut pembawaannya masing2 dan menurut kebutuhan daerah. yang mengirimkan utusan kepadanya. Oleh karena pengetahuannya sangat luas dalam segala bidang, mudah baginya melakukan hal yang demikian itu.Ulama-ulamanya ada yang diuntukkan mengajar, ada yang diuntukkan buat berdebat dsb.

Aban ibn Tughlab dikhususkan pendidikannya untuk ilmu fiqh, dan diperintahkan duduk dalam mesjid memberi fatwa kepada orang banyak dalam hukum fiqh, Hanaran bin A’yun ditugaskan menjawab masalah-masalah yang bertali dengan ilmu Qur’an, Zararah bin A’yun untuk berdebat dalam fiqh, Mu’min at-Thaq dalam masalah ilmu kalam, Thayyar dalam perkara amal ketaatan, Hisyam bin Hakam dalam berdebat mengenai immamah dan i’tikad Syi’ah dsb. Maka mengalirlah orang-orang itu ketiap-tiap kota untuk menghadapi manusia dan berda’wah menurut mashaf Ahlil Bait.

Tidak cukup tempat untuk menyebutkan nama ulama-ulama itu satu persatu, serta sejarah perjuangannya. Meskipun demikian beberapa tokoh terpenting akan kita bicarakan dibawah ini.

Aban bin Tughlab bin Rabah, yang digelarkan Abu Sa’id al-Bakri al-Jariri (mgl. 141 H.), adalah ulama yang sangat terhormat dalam kalangan Syi’ah. Ia pernah belajar pada Imam Zainal Abidin, Al-Baqir dan As-Shadiq. Ia mempunyai majlis pengajaran khusus dalam mesjid.

Ia ulama fiqh Imamiyah yang terkenal menurut pendapat Yaqut, meriwayatkan banyak hadits dari A l i bin Husain, Abu Ja’far dan Abu Abdullah, fasih bahasa Arab, banyak mengetahui tentang pengertian Al-Qur’an, menurut Ahmad ibn Hanbal boleh dipercayai benar ucapannya, seorang yang tinggi adabnya, hadits riwayatnya banyak diambil oleh Muslim, Tarmizi, Abu Daud, An Nasa’i dan Ibn Majah.

Diantara gurunya juga ialah Al-Hakam bin Utaibah al-Kindi (mgl. 115 H), salah seorang perawi dalam Kitab Enam hadits Ahlus Sunnah, Fudhail bin Umar al-Fuqaimi (mgl. 110 H, yang hadits Ahlus banyak dipetik oleh Muslim dan Abu Ishaq Umar bin Abdullah al-Hamdani (mgl. 217 H.), salah seorang ulama Tabi’in dan perawi Hadits dalam Kitab Enam.

Banyak muridnya tersiar dimana-mana dan menjadi ulama-ulama besar. seperti Musa bin ‘Uqbah al-Asadi (mgl. 141 H.), salah seorang yang riwayat haditsnya banyak dimuat dalam Kitab Enam, Syi’bah bin al-Hajjaj, Hammad bin Zaid al-Azadi, seorang ahli hadits yang terkenal (mgl. 197 H), mendapat pujian dari Ibn Mahdi dan Imam Ahmad tentang kejujurannya, Sufyan bin ‘Uyaynah, yang riwayat hidupnya sudah dimuat dimana-mana. Muhammad bin Khazim at-Tamimi (mgl. 195 H), juga banyak digunakan orang riwayat haditshaditsnya termuat dalam kitab Enam oleh Ahmad Ibn Hanbal, oleh  Ishak bin Rahuwaih, Ibn Madani dan Ibn Mu’in, terutama hadits2nya yang dihafalnya dari Al-A’masy, dan Abdullah ibn Mubarak al-Hanzali (mgl. 181 H), seorang ulama besar yang sangat dipercayai, pernah menyelidiki hadits dan menulisnya dari empat ribu ulama.

Semua ulama-ulama hadits ini dipuji oleh Ibn Hajar dan Al-Khazraji dalam kitab-kitabnya yang terkenal.Aban bin Tughlab menghafal tidak kurang dari tiga ribu hadits  dari Imam As-Shadiq, ahli dalam fiqh Al-Ja’fari atau mashaf Ahlil Bait, termasuk tokoh Syi’ah yang terpenting. Atas pertanyaan Abu Balad, Aban menerangkan, apa arti Syi’ah padanya. Katanya : “Syi’ah itu ialah golongan manusia yang memegang kepada ucapan Ali, apabila tentang sesuatu masalah dari Nabi dipertengkarkan orang sudah mempertengkarkan ucapan dan sikap A l i ” . (Asad Haidar, III; 57).

Diantara kitab-kitabnya ialah Gharibul Qur’an, mengenai Kitabul Fadha’il Kitab Ma’anil Qur’an, Kitabul Qira’at dan Kitabul Usul mengenai riwayat mashaf Syi’ah, dan banyak lagi yang lain-lain sebagaimana yang disebut dalam Fihra’at, karangan At-Thusi.

Diantara ulama yang terbesar juga, kita sebut Aban bin Usman al-Lu’lu’i (mgl. 200 H), berasal dari Kufah, pernah tinggal lama di Basrah, banyak hadits-haditsnya mengenai syair, keturunan dan hari hari penting bangsa Arab, berguru pada Abu Abdullah, Abdul Hasan, Musa bin Ja’far dll. Diantara kitabnya, yang disebutkan orang disanasini ialah Al-Mabda, Al-Mab’as, Al-Maghazi, Al-Wafah, As-Wafah, As-Saqifah dan Ar-Ridah (baca Mu’jamul Udaba’ 1.108 — 109, Lisa nul Mizan I ; 24, Fihrasat At-Thusi, hal. 18 dll). Banyak sekali muridmuridnya yang menyiarkan pahamnya kesana-kesini, tidak kita sebutkan disini seorang demi seorang. Ulama-ulama Syi’ah yang lain dalam fiqh diantaranya Barid bin Ma’awiyah al’Ajadi (mgl. 150 H), sahabat Al-Baqir, dan As-Shadiq, ahli hadits dan fiqh, mempunyai kedudukan istimewa dalam mashaf Ahlil Bait, termasuk golongan enam orang yang sangat ahli dalam hukum fiqh, yaitu Zararah bin A’yun, Ma’ruf bin Kharbuz, Barid Al-Ajali, Abu Basir al-Asadi, Fudhil bin Yassar dan Muhammad bin Muslim At-Tha’ifi. Ia banyak meriwayatkan hadits dari Imam Baqir dan Imam As-Shadiq, yang sangat memuji-muji dia. Barid adalah salah seorang penulis yang terkenal dalam masa Imam As-Shadiq. Kemudian kita sebutkan pula Jamil bin Darraj an- Nakko’i termasuk sahabat Imam As-Shadiq dan anaknya Abu Hasan Musa, banyak mengarang dan meriwayatkan hadits-hadits, begitu juga Jamil bin Salih al-Asadi, dicintai oleh Imam As-Shadiq dan anaknya Musa.

Lain dari pada itu juga kita sebutkan Hammad bin Usman (mgl. 190 H) dan Hammad bin Isa al-Juhni, kedua-duanya sahabat Imam As-Shadiq dan Imam Al-Kazim dan kedua-duanya ahli fiqh dan hadits Ahlil Bait.

Tidak kurang pentingnya kita sebut Hubaid bin Sabit at-Kahili, berasal dari Kufah (mgl. 122 H), salah seorang dari pada Tabi’in dan perawi Kitab hadits Enam, banyak meriwayatkan hadits dari Zainal Abidin, Imam Al-Baqir dan anaknya As-Shadiq, begitu juga tidak kurang pentingnya kita peringatkan Hamzah bin Thayyar, salah seorang ulama fiqh Syi’ah dan tokohnya dalam ilmu kalam, memperdebatkan persoalan-persoalan yang menguntungkan mashaf Ahlil Bait, banyak sekali murid-muridnya tersiar dimana-mana.

Meskipun demikian yang lebih penting lagi kita bicarakan disini adalah dua tokoh ulama Syi’ah yang terbesar yang dalam perkembangan paham mashaf Al-Ja’fari dalam segala bidang, yaitu Mu’min Thaq dan Hisyam bin Hakam.

Mu’min Thaq adalah Muhammad bin A l i bin Nu’man al-Bajali, berasal dari Kufah, sahabat kental dari Imam Ja’far dan pencintanya. Mu’min Thaq adalah gelarnya yang berarti mu’min yang serba sanggup, demikian kesanggupannya dalam segala ilmu, sehingga ia dapat mengalahkan Imam Abu Hanifah dalam banyak persoalan, dan sehingga Abu Hanifah ini menamakannya Syaithan Thaq, sedang yang kesanggupannya luar biasa. Ulama-ulama Khawarij oleh Mu’min Thaq ini dikalahkan semuanya, tidak ada seorangpun diantara mereka yang berdebat dengannya dapat bertahan.

Hisyam pernah menemui Zaid Ibn Zainal Abidin, Ali bin Husain Zainal Abidin, Ilmunya banyak sekali, terutama sangat alim dim. Ilmu fiqh, ilmu kalam, hadits dan gubahan sajak. Ia sangat pandai dalam berdebat dan menggunakan kata-kata, tajam pandangan dan pikirannya dalam meninjau persoalan agama. Sambil berniaga ia mengunjungi banyak kota-kota Islam dan menyiarkan mashaf Ahli Bait. Sebagai contoh kita sebutkan perdebatan antaranya dan Abu Hanifah.

Abu Hanifah : Apa hukum nikah mut’ah padamu ?

Mu’min Thaq : Halal.

Abu Hanifah : Apakah boleh anakmu dan saudara-saudaramu bernikah mut’ah dengan orang lain ?

Mu’min Thaq : Yang demikian adalah sesuatu yang dihalalkan Tuhan, apa boleh buat. Tetapi sobat bagaimana hukum bier padamu ?

Abu Hanifah : Halal.

Mu’min Thaq : Apakah engkau akan girang, jika anakmu dan saudaramu menjadi pemabuk bier ?

Mu’min Thaq menulis kitab berisi perdebatan antaranya dengan

Abu Hanifah. Meskipun isi buku itu merupakan sendagurau dan penggeli hati tetapi berisi hukum-hukum fiqh dan cara berfikir antara seorang ulama Ahluh-Ra’yi dengan ulama Ahlil Bait.

Ibn Nadim menyebut bahwa dia adalah ulama kurun keempat, karena ia meninggal dalam tahun 385 H . Diantara kitab-kitab yang dikarangnya ialah mengenai persoalan Imamah, Ma’rifat, penolakan terhadap Mu’tazilah mengenai Imam Mafdhul, mengenai kehidupan Thalhah, Zubair dan Aisyah, mengenai penetapan wasiat, sebuah kitab yang bergelar “Kerajaan dan jangan kerjakan”.

Sebagaimana sudah kita katakan bahwa ia termasuk orang yang sangat dicintai oleh Imam As-Shadiq, yang pernah berkata : “Ada empat orang manusia yang kucintai hidup dan matinya, yaitu Barid bin Mu’awiyah al-Ajali, Zararah bin A’yun, Muhammad bin Muslim dan Abu Ja’far al-Ahwal”.

Gelaran senda gurau Syaitan Thaq oleh Abu Hanifah kepada Muhammad Al-Bajali oleh musuh-musuhnya disiar-siarkan secara sebaliknya sehingga musuh-musuh Syi’ah memakai nama-nama itu untuk membuktikan kesesatannya.

Belum dapat kita tutup karangan ini sebelum kita sebutkan Hisyam bin Hakam, al-Kindi (mgl. 197 H), lahir di Kufah, beberapa waktu berdagang di Baghdad, kemudian ditinggalkannya usahanya dan pergi belajar kepada Imam As-Shadiq sampai menjadi seorang alim dan sahabat Imam Musa Al-Kazim.

Hisyam adalah seorang yang banyak sekali pengetahuannya tentang mashaf-mashaf dalam Islam, sangat luas ilmunya dalam filsafat, seorang ahli ilmu kalam Syi’ah yang ulung, seorang yang petah lidahnya dalam mempertahankan persoalan imamah bagi Syi’ah. Zarkali mengatakan, bahwa Hisyam bin Hakam adalah seorang ahli hokum fiqh, ahli ilmu kalam dan manthik. Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa. Hisyam bin Hakam adalah tokoh ilmu kalam Syi’ah terbesar, murid dari Ja’far As-Shadiq seorang yg tidak dapat dipatahkan alasannya, sehingga Imam As-Shadiq, pernah memuji kêpribadiannya : “Hai H i syam, engkau selalu dikuatkan pendapatmu dgn. roh suci”. Imam Ridha mengatakan : “Moga2 Allah memberi rahmat kepada Hisyam, karena ia adalah seorang hamba yang salih”. Harun ar-Rasyid memuji Hisyam demikian : “Lidah Hisyam lebih dapat menghancurkan jiwa manusia daripada seribu pedang”.

Tatkala ia mendekati Imam As-Shadiq, orang besar ini segera melihat bahwa Hisyam seorang yg cerdas otaknya, seorang ikhlas dan seorang yang beriman, oleh karena itu lalu dididiknya Hisyam sampai menjadi seorang besar dalam ilmu pengetahuan menurut mashafnya, seorang tokoh filsafat, seorang yang bersih aqidahnya, yang dapat mempertahankan mashaf Ahlil Bait dari pada serangan-serangan aliran-aliran Islam lain yang memusuhinya, yaitu aliran-aliran yangsudah banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani.

Hisyam ahli dalam ilmu fiqh, hadits dan tafsir, dan banyak meriwayatkan hadits-hadits dalam segala bidang hukum. Didalam kitabkitab hadits dan fiqh banyak disebutkan riwayatnya, diantara lain oleh As-Sirfi, Al-Ajali, Al-Yaqthain dll. Ia banyak sekali mengarang kitab2 dalam segala bidang ilmu, diantara lain, sebagaimana yg. Disebutkan oleh Ibn Nadim, mengenai imamah, mengenai falsafat, mengenai penolakan terhadap orang2 zindiq, penolakan-penolakan terhadap musuh Syi’ah, mengenai Jabariyah dan Qadariyah dll. yang tinggi nilai dan mutunya.

Yang lebih aneh tentang dirinya ialah bahwa ia dapat membawa dirinya diterima oleh Harun ar-Rasyid dan oleh golongan Syi’ah. Untuk mengetahui, betapa hati-hati ia mengeluarkan pendapat-pendapatnya agar orang-orang mengerti tetapi tidak tersinggung perasaannya, kita sebut suatu percakapan antara Harun ar-Rasyid dengan Hisyam sebagai dibawah ini :

Harun ar-Rasyid: Hai Hisyam, tahukah engkau bahwa Ali pernah mengadukan Abbas kepada Abu Bakar ?

Hisyam : Sungguh ada. Harun ar-Rasyid : Mana yang lazim terhadap sahabatnya, Ali-kah atau Abbas ? (Hisyam sadar akan dirinya, bahwa persoalan ini untuk memancing sikapnya. Jika ia mengatakan Abbas yg zalim ia dianggap menghinakan Rasyid, Jika ia mengatakan Ali yang zalim ia merusakkan keyakinannya sebagai orang Syi’ah. KemudianHisyam berfikir dan mengeluarkan pendapatnya).

Hisyam: Kedua-duanya tidak zalim. Harun ar-Rasyid : Jika tidak ada yang zalim, bagaimana masuk di ‘akal, kedua-duanya datang mengadu pada Abu Bakar ?

Hisyam: Boleh saja daulat tuanku. Dua orang malaikat pernah mengadu nasibnya kepada Nabi Daud, sedang tak ada seorang diantaranya yang zalim, tetapi kedua-duanya ingin hendak memperingatkan suatu kejadian. Demikian pula Abbas dan Ali datang kepada Abu Bakar, datang hendak memperingatkan suatu kejadian, sedang keduaduanya tidak ada yang zalim.

Jawaban ini rupanya sangat mendapat penerimaan pada Khalifah Harun ar-Rasyid, dan oleh karena itu ia termasuk orang yang disenanginya, meskipun dalam bathinnya ia tetap mencintai A l i dan keturunannya.

Demikian beberapa patah kata tentang keistimewaan Hisyam sebagai ulama terbesar dan tokoh terpenting dalam mashaf Ahlil Bait. Ia dicintai oleh ulama-ulama dari aneka mashaf dan aliran, baik oleh musuh maupun oleh kawannya. Tuduhan-tuduhan Jahiz, dan dibelakang ini Dr. Ahmad Amin, bahwa Hisyam bin Hakam adalah penganut aliran Rifdhi dan membenci semua sahabat Nabi, oleh golongan Syi’ah tidak dapat diterima. Yang jelas adalah, bahwa Hisyam mencintai Ahlil Bait dan menyiarkan kecintaan ini dalam ajaran-ajarannya.

KEDATANGAN ISLAM DI NUSANTARA.

Kedatangan Islam di Nusantara sama dengan waktu kedatangan orang-orang Syi’ah ketempat ini, baik sebagai pedagang, maupun sebagai pengembara atau ahli da’wah, baik memakai nama Arab, maupun sudah merupakan keturunan orang-orang Persia atau India. Dr. C. Snouck Hurgronje menceriterakan dalam bukunya “De-Islam in Nederlandcsh-Indie” Serie II, No. 9 dari “Groote Godsdiensten” tentang masuknya Islam ke Nusantara sebagai berikut :

Tatkala raja Mongol Hulagu dalam thn. 1258 M. menghancurkan Baghdad yang lebih daripada lima abad lamanya merupakan Ibu negeri kerajaan Islam, kelihatan seakan-akan kesatuan kerajaan-kerajaan Islam itu lenyap. Hanya setengah abad sebelum kejadian yang penting itu berlaku, Islam dengan secara tenang berkembang dan masuk kepulau-pulau Nusantara dan sekitarnya. Perkembangan ini tidak dicampuri oleh sesuatu usaha Pemerintah mana juapun. Negara-negara pesisir Sumatera, seluruh Jawa, keliling pantai Borneo dan Sulawesi, begitu juga beberapa banyak pulau-pulau kecil yang lain, satu-persatu dimasuki oleh Islam, terutama dengan usaha saudara-saudara Islam atau orang-orang Islam yang ingin memperoleh tempat tinggal yang baru, datang dari daerah sebelah Barat. Usaha itu dibantu pula oleh anak negeri yang sudah masuk Islam didaerah pesisir, sebagian turut menyiarkan da’wah agama itu kedaerah pedalaman, dan sebahagian lagi pergi berlayar menyiarkan keyakinannya yang baru itu kepulaupulau yang terdekat, baik secara damai maupun secara jihad.

Batu-batu nisan yang bertulis, yang memuatkan ceritera-ceritera lama dalam kalangan anak negeri, begitu juga catatan-catatan yang ditinggalkan oleh seorang Venesia, Marco Polo, dari abad ke-XIII, begitu juga kisah pelayaran dari seorang peninjau Arab, Ibn Bathuthah, yang masih tersimpan sejak abad ke XIV, menerangkan kepada kita akan adanya sebuah kerajaan Islam di Sumatera Utara, bernama Pasé. Tentang masuknya Islam ke Minangkabau, ke Palembang, ke-Jambi dan kedaerah-daerah pesisir yang lain dari pulau itu, tidaklah kita ketahui pada permulaannya dengan kenyataan-kenyataan yang dapat kita percaya. Tentang kedatangan Islam di Jawa, akan kita bicarakan nanti dibawah ini.

Di Jawa kejatuhan kerajaan Hindu Majapahit kira-kira dalam th. 518 M., merupakan hasil yang gilang-gemilang bagi perjuangan yang gigih oleh mubaligh anak neger; sendiri, yang umumnya dinamakan Wali Sembilan (Wali Songo). Dalam abad ke-XVI itu juga telah berdin di Jawa kerajaan-kerajaan Islam Mataram, Banten dan Cirebon, yang meng-Islamkan seluruh rakyatnya.

Tentang pengetahuan mengenai masuknya agama baru ini kepulau-pulau yang lain, kita umumnya hanya mempunyai sumbersumber penerangan yang berasal dari anak negeri semata-mata, yang tefdiri dari dongeng-dongeng mengenai tempat kejadian sejarah, begitu juga beberapa kejadian-kejadian dan beberapa silsilah yang tidak lengkap. Isinya daripada dongeng-dongeng yang menceriterakan tentang orang-orang masuk Islam itu hampir semuanya ada bersamaan.

Seorang Wali Islam, biasanya datang dari negeri asal Islam, negeri Arab, mendapat mimpi diberi perintah oleh Nabi Muhammad, untuk berangkat dengan segera kesuatu daerah orang khafir, yang tidak berapa jauh letaknya dari tempat itu. Kedatangannya kenegeri tersebut biasanya sudah diumumkan kepada beberapa orang penduduknya, baik dengan mimpi atau dengan tanda alamat yang lain. Wali itupun berangkatlah, dan perjalanannya terjadi dalam sekejap mata, tak ada suatu rintangan-pun yang menghalanginya, gunung tidak lautpun tidak merintangi perlawatannya. Dengan keajaiban yang luar biasa, melebihi sihir2 orang khafir itu, wali yang suci itu dengan segera dapat mengembangkan ajaran Nabi Muhammad dan memperbanyak pemeluknya. Maka seketika itu juga berduyun-duyunlah orang-orang kafir itu datang menemui wali yang suci itu untuk bersama-sama mengerjakan Sembahyang secara Islam.

Ceritera yang demikian itu berakhir, bahwa ajaran Islam dengan segera berkembang ditempat itu, baik dengan berjihad atas jalan Allah maupun dengan da’wah yang dilakukan secara damai. Demikian kata Dr. C. Snouck Hurgronje. Tentang cara berkembang Islam di Nusantara dan bangsa mana yang mula-mula membawanya kemari, ia menerangkan sbb:

Jauh sebelum lahir Islam sudah banyak datang orang-orang dari Hindustan yang mencari tempat tinggal (kolonisasi) di Jawa dan pulau-pulau yang terletak disekitarnya, serta membawa peradaban yang disiarkannya ditempat-tempat itu.

Sesudah orang-orang Hindu masuk Islam, maka orang-orang Hindu yang Islam ini meneruskan jalan penghidupan yang sudah ditempuh dahulu itu. Orang-orang inilah yang mula-mula memperkenalkan Islam kepada bangsa-bangsa kita diseluruh Nusantara. Kedalam orangorang Hindu ini, termasuk orang-orang Syi’ah, meskipun memakai nama Persia atau Hindu, seperti nama Ar-Raniri, terambil dari perkataan Render di India, tetapi ia adalah seorang dari ulama Ahlil Bait.

Baca karangan Dr. Tujimah. Selanjutnya dapat kita jelaskan, bahwa barangkali mungkin sebelum kedatangan ke Nusantara, mereka sudah pernah ada ditengah-tengah bangsa-bangsa Islam yang lain, dan mungkin pula sudah bertempat tinggal dahulu disalah satu daerah Nusantara, tetapi belum memperlihatkan pengaruh yang berarti tentang keyakinan baru itu. Maka dengan jalan itu dengan mudah Islam tersiar di Nusantara, karena orang-orang kita disebelah Timur ini telah mempelajari agama Hindu pada orang-orang Hindu yang sebelumnya dating kemari. Penduduk Jawa dan Sumatera tidak begitu sukar menyesuaikan diri dengan kehidupan orang Hindu dan agama Hindu.

Segala ceritera, bahwa didalamnya digambarkan kejadian-kejadian yang semasa dengan Nabi atau dengan khalifah-khalifahnya sebagai yang terdapat disalin dalam bahasa Melayu (Indonesia), mungkin sudah banyak menyimpang dari pada kejadian-kejadian yang sebenarnya.

Kedalam masyarakat Islam Nusantara dengan jalan itu sudah dimasukkan pengaruh-pengaruh aliran, misalnya pengaruh Syi’ah, sebagaimana yang terdapat didaerah-daerah pesisir Malabar dan koromandel juga terdapat di Nusantara seluruhnya. Meskipun dikatakan Islam disitu diajarkan menurut Ahli Sunnah, tetapi pemeriksaan menunjukkan, bahwa banyak masalah-masalah sehari-hari yang dipecahkan menurut mashaf Syi’ah. Lain dari pada itu terdapat disana

disini paham Sufi menurut Mashaf Hululiyah atau Wihdatul Wujud, sementara waktu terdapat pula dalam Iapisan rakyat rendah takhayul-takhayul yang tidak sedikit banyaknya.

Semua kejadian itu menunjukkan, bahwa Islam di Nusantara pada zaman Purbakala itu tidak diterima langsung dari orang Arab Perhubungan dengan Mekkah dan Madinah baru mulai terbuka dalam abad yang ke-VII, dan pada ketika itu terjadilah hubungan yang langsung antara kedua kota suci itu dengan penduduk Nusantara, yang naik haji dan belajar disana, meskipun terkenal dengan nama masyarakat ‘Jawa” yang tidak sedikit jumlahnya. Orang-orang inilah yang boleh dianggap mula-mula mempelajari Islam pada sumber daerah tempat lahirnya Nabi Muhammad. Mereka yang pulang ketanah airnya tidak sedikit kemudian membuka tantangan terhadap ajaran-ajaran dan cara berfikir, yang dimasukkan orang-orang sebelumnya melalui Hindustan mengenai Islam, sebagaimana kemudian kedatangan orangorang Arab dari Hadramaut ke Nusantara membawa pengaruh dalam cara meyakini Islam dan berfikir.

BILAKAH MASUK ALIRAN SYI’AH KE NUSANTARA.

Diatas sudah saya kemukakan pendapat penulis-penulis Barat dan Timur tentang masuk agama Islam ke Nusantara, yang dalam kalar.gan Mubaligh-mubaligh Islam itu terdapat Ahlil Bait atau orang2  Syi’ah.

Persoalan ini sudah saya kupas waktu diadakan “Seminar mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia”, yang diadakan pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, dan pidato saya mengenai persoalan tersebut, yang berjudul “Berita tentang Perlak dan Pasai” dimuat dalam sebuah risalah besar yang diterbitkan oleh panitia Seminar, terutama dibawah pimpinan M . Said. Selain dari saya bicarakan tentang mubaligh-mubaligh Islam dizaman purbakala itu, yang terdiri

dari pada orang-orang Arab, Persia dan India saya jelaskan, bahwa kebanyakan dari pada mubaligh-mubaligh itu pada waktu tersebut memang berasal dari pada orang-orang, yang mengunjungi Aceh, dan Malaka, memasuki Nusantara dari Persia dan India, meskipun banyak diantaranya telah menggunakan nama-nama negeri-negeri tempat lahirnya di Persia dan di India itu. Dalam uraian saya itu saya telah mengambil beberapa kesimpulan, yaitu :

1. Islam ke Indonesia mula pertama di Aceh, tidak mungkin d;daerah lain,

2. Penyiar Islam pertama di Indonesia tidak hanya terdiri dari saudagar India dan Gujarat, tetapi juga terdiri dari mubaligh-mubaligh Islam dari bangsa Arab,

3. Diantara mashaf pertama dipeluk di Aceh ialah Syi’ah dan Syafi’i,

4. Pemeriksaan yang teliti dan jujut akan dapat menghasilkan tahun yang lebih tua untuk sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia.- Sebagai keterangan ialah karena Aceh itu merupakan pelabuhan yang pertama disinggahi kapal-kapal layar yang masuk ke Nusantara dari Hadramaut dan Gujarat. dan kemudian meneruskan pelayarannya ke Malaka, diantaranya ada yang berlayar ke Cina, seperti Marcopolo, Ibn Batuthah, dan Soelaiman,’ ) seorang Arab pelancong yang terkenal, dan sebaliknya kapal-kapal ini mengangkut orangorang dari Nusantara dari Aceh ke Mekkah, sehingga oleh karena itu Aceh itu dinamakan “Aceh Serambi Mekkah” 1 ) Lih. “Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh”, karangan Sayydd Alwi bin Thahir Al-Haddad, (Jakarta, 1957; hal. 9 dst.)

(Nama “Aceh tanah rencong” adalah nama yang diberikan pada daerah ini dalam masa peperangan dengan Belanda). Begitu juga jemaah Haji yang datang dari Jawa atau dari daerah Indonesia Timur, berkumpul dulu di Aceh, dan dari sana barulah berangkat dengan kapalkapal Gujarat itu ke Arab. Di Kuala Aceh masih terdapat sebuah kampong yang bernama “Kampong Jawa”, yang didalamnya tidak terdapat seorangpun, yang berasal dari Jawa.

ad. 2. Mengenai keadaan mubaligh-mubaligh dari Arab ke Indonesia, diantara kitab-kitab sejarah yang dikarangkan oleh Nabi ketimuran Belanda, banyak juga diceritakan dalam kitab “De Hadramieten in Ned. — Indie”, karangan S.A. Al-Attas, dan kitab-kitab lain, yang saya ceriterakan kembali secara ringkas dalam kitab “Sejarah Hidup A.W- Hasyim”, pada waktu saya membahas gerakan “Ar-Rabithah Al-Alawiyah” dan gerakan “Al-Irsyad”.

Keterangan yang lebih tua mengenai kedatangan mubaligh dari Persia dan India ke Nusantara, dapat kita baca dalam penyelidikan, yang dilakukan oleh dua ahli sejarah, yaitu Sayyid Moestafa At-Thabathaba’I dan Sayyid Dhiya’ Shahab yang terjadi sekitar bulan November 1960, berjudul “Hubungan Kebudajaan Indonesia — Iran” (Haulal ‘Alaqatith Thaqafiyah Baina Iran wa Indonesia), yang diterbitkan dalam th. 1339 oleh “The Iranian Cultural Office Jalan Budi Kemuliaan 4 A Jakarta — Indonesia”.

Diantara lain ia berkata : “Dekat Surabaya terdapat sebuah kota Gresik namanya, sebuah kota yang bersejarah di Jawa Timur. Di kota itu kami lihat bekasbekas yang sudah tidak terurus dan kuburan lama dari penyebarpenyebar Islam dan Alim Ulama, diantaranya kuburan Maulana Malik Ibrahim, yang wafat dalam th. 822 H. atau 1419 M. Beliau adalah boleh jadi seorang Iran asal dari Kashan. Dr. H.J de Graaf dalam bukunya “Geschiedenis van Indonesia”, hal. S7, menulis a.1. : Malik Ibrahim dalam mulut rakyat disebut “Orang Barat” ia ternyata masih dipandang sebagai seorang asing sangat boleh jadi seorang pedagang Persia asal dari Gujarat, yang masih belum begitu menjadi kaulanegara di Jawa, sehingga masih perlu didatangkan batu nesan dari negara asalnya seperti yang telah terjadi dengan raja-raja kecil di Sumatera Pantai Utara. Ketika saya melihat-lihat dan jalan-jalan diantara kuburan-kuburan itu, sedang matahari akan masuk, keperaduannya ,disebelah Barat, teringatlah saya akan kata-kata Imam Zainul Abidin, yang dalam bahasa Indonesianya k.1. seperti berikut “Tangan malaikat telah mencabut beberapa nyawa -dari abad ke-abad dan merobah duma ini dan membenamkan dalam tanah dari’ mereka yang saya kenal.

Bermacam-macam orang itu semua diantar kannya kedalam tanah. Hai jiwa, sampai kapankah kau bersandar atas kehidupan dan atas dunia ini dan kau perhaiikau kemakmurannya saya ? Apakah engkau tidak menarik pclajaran dari masa yang lalu dan ingat akan beribu-ribu orang yang; sudah tertutup oleh tanah dan sahabat-sahabatmu yang telah dipindahkan kedunia baka ? Lihatlah ummat-ummat yang lalu, zaman-zaman yang lampau» rajaraja yang kejam, dihancurkan oleh zaman, dihapus oleh mati, tanpa bekas didunia, dan hanya diceritanya saja yang masih ada. Mereka semua menjadi tulang, hancur lebur dalam tanah, rumah-rumah dan istana-istananya menjadi kosong ” Di kota Gresik kami bertemu dengan salah seorang yang terkenal, yaitu Sayyid Hasyim Asegaff. Dengan beliau kami banyak berbicara tentang soal-soal Syi’ah dan buku-bukunya.

Kuburan-kuburan penyebar Islam yang dulu dan ulama-ulama yang banyak terdapat di Indonesia. Di Sumatera Utara umpamanya dulu ada kuburan raja-raja dan penyebar Islam dll., tetapi banyak yang sudah hilang. Suatu pandangan yang menyedihkan.

Diantara ulama-ulama Iran yang ada kuburannya ialah Sayyid Syarif Khair bin Amir Ali Istrabadi, yang wafat dalam th. 833 H. dan Na’ina Husain al-Din. Diatas kuburan Na’ina Husain al-Din ini terdapat tulisan Persia, syair Muslihuddin Sa’id.

Setelah saya kembali dari Surabaya saya berniat untuk mempelajari soal-soal ini. Saya cari keterangan-keterangan di perpustakaanperpustakaan dan dimusium-musium dan saya mendapat tulisan Dr. H.K.J. Cowan tentang kuburan ini, yang membuktikan bekas-bekas kebudayaan Iran dan bahasa Iran dikepulauan ini.

Karangan Dr. K.H.J. Cowan yang dimaksud oleh kedua penyelidik Islam Ath-Thabathaba’i dan Dhiya Shahab ini berjudul “A Persicm Inscription in Nort Sumatra”, yang dimuat dalam Majalah “Tijdschrift voor Taal-, Land en Volkendunde, Deel LXXX, 1940″.

Pedagang-pedagang Iran dan India sering kali datang kenegeri Indonesia. Ahli sejarah juga menyebutkan bahwa dipasar-pasar Banten Lama banyak terdapat pedagang Iran dan Khorasan (bangsa Iran juga), yang mendagangkan batu-batu berharga dan obat-obat. Orang-orang Arab dan Iran melintasi lautan kepulau-pulau ini dalam abad ke-X untuk berdagang dan menyiarkan agama Islam.

Pelayaran itu bertambah banyak ke Tiongkok pada zaman raja Chu ïsang, dan dipasar-pasar Pasai di Sumatra banyak terdapat pedagang- pedagang asing. diantaranya orang-orang Iran. Dalam sejarah disebutkan bahwa kapal-kapal dari Timur Jauh telah mengunjungi teluk Persia dan sudah tentu kapal-kapal itu menyinggahi kota-kota kedua pesisir pantai teluk itu.

RAJA-RAJA DARI KETURUNAN SYI’AH ATAU AHLIL BAIT DI NUSANTARA

L-W-C- van den Burg, dalam bukunya, “Le Hadramaut et les Arabs et India”, mengatakan : “Adapun hasil yang nyata dalam penyiaran agama Islam adalah dari orang-orang golongan Sayyid dan Syarif. Dengan perantaraan mereka, agama Islam tersiar diantara rajaraja Hindu di Jawa dan suku-suku yang belum beragama. Selain dari mereka ini, ada juga penyiar-penyiar Islam itu datang dari Arab Hadramaut”.

Sayed Alwi bin Tahir Al-Haddad, memberi komentar atas keterangan ini dalam kitabnya “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh” (Jakarta, 1957), bahwa agama Islam tersiar dan berkembang di Sumatera sedikit demi sedikit, sebagaimana tersiarnya Islam di Malabar dan Koromandel, dan diantara penyiar-penyiar agama Islam yang terkenal, banyak sekali diantara mereka adalah suku Sayid (Alawi). Pengarang ini mengemukakan, bahwa An-“Nihyatul Arab Fi Fununil Adab” dan Al-Dimasyqi, dalam kitabnya “Nuchbatuddahr Fi Ajaib el bar war bahr”, pernah menyebut tempat-tempatnya tersyiar agama Islam pada hari-hari pertama itu, yaitu dipulau-pulau “Hindia Timur” sampai ke India, dipulau Surandib (Sailan), antara Saribazah (Sri Wijaya) di Sumatera, dan Kelah (Kedah) di Semenanjung Melayu dan terus kepulau Zabaj atau Ranj (Kalimantan).

Ditempat-tempat tersebut berakarlah agama Islam itu, dan sebagai akibatnya tegaklah kerajaan-kerajaan kecil yang merupakan pemerintahan. Menurut sejarah keturunan sultan2 Brunai yang dimuat dalam the Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society di Singapore No. 1 sampai 5 thn. 1878 — 1880, yang disimpan di Raffles Library, dikatakan bahwa penyiar-penyiar agama Islam disana terdiri dari suku Sayid Syarif yang terikat dengan keluarga sultan-sultan di pulau-pulau Filipina.

Dalam sejarah Serawak juga dikatakan bahwa Sultan Barakat berasal dari keturunan Sayidina Hussein bin A l i (“A History of Serawak under two whit Rajabhs” S. Baring Gould, Raffles Library, Singapore).

Demikianlah terdapat riwayat raja-raja disekitar Mindanau, di Manila, dan di Sulu. Di Pontianak sampai sekarang masih terdapat keturunan raja-raja dari suku Al-Gadri. dalam silsilah, bahwa nenek moyang Sultan-sultan Brunei, Sulu dan Mindanau adalah kakak beradik dari pada keturunan Syarif Ali Zainal Abidin, keturunan Nabi Muhammad yang pindah dari Hadramaut, Arab Selatan ke Johor, Malaya Selatan dan berkembang disekitar daerah ini.

Diatas sudah diterangkan raja-raja di Aceh, yang nisannya menyebut gelar Al-Malik atau Raja, misalnya ada nisan yang terdapat di Blang Me, pada kuburan Al-Malik Al-Kamil (mgl. 7 Jumadil Awal 607 H/1210 M). Disampingnya terdapat kuburan Ya’cub, saudara misannya, yaitu seorang Panglima yang meng-Islamkan orang-orang Gayo dan beberapa suku di Sumatera Barat (mgl. 15 Muharram 630H/ 1237, M.)- Kemudian terdapat disana kuburan Al-Malik As-Salih, yang sudah dibicarakan diatas oleh Thabathaba’i dan Dr. Cowan, dengan nama Na’ina Husamuddin atau Husainnuddin (saya juga pernah melihat kuburan ini, dan saya tidak membaca “Naina”, tetapi huruf yang sudah rusak ini saya lebih yakin membaca “Maulana”, (mgl. 8 Ramaddan 696 H./1296 M). Maulana atau Malfi biasa digunakan di India untuk sahib-sahib atau orang-orang istimewa pengetahuan Islamnya atau kekuasaannya.

Al-Haddad, dan dalam terjemah Indonesia Dhiya Shahab, mengatakan dalam karangannya tersebut diatas, bahwa sesudah Sultan Al-Malik As-Salih ini memerintah pula anaknya Sultan Muhammad Al- Zahir (mgl. 12 Julhiyyah 726 H /1325 M ). Sesudah sultan ini memerintah pula anaknya bernama Sultan Ahmad bin Muhammad Al-Zahir.

Kuburannya terdapat di Meunasah Meucet didesa Blang Me, yang pada waktu hidupnya bergelar Abi Zainal Abidin (mgl. 4 Jumadil akhir 809 H /1406 M.), dan kemudian anaknya pula yang bergelar A l i Zainal Abidin (mgl. 811 H/1408 M.), yang sesudah mangkat digantikan oleh Abdullah Salahuddin dan isterinya Buhaya binti Zainal Abidin.

Kuburan-kuburan di Aceh terdapat bertabur pada beberapa tempat sekitar Gedung dan Baju, Meunasah Mancang, Blang Me, Pase, Samudra, dll. Al-Haddad berpendapat, bahwa keluarga-keluarga inilah merupakan asal-usul raja-raja Brunei, Cermin Lama, Serawak dan negerinegeri yang takluk padanya, juga raja-raja Sulu, Sibuh (Subuh), Mindanau dan Kanawi yaitu pulau yang boleh jadi yang dinamakan dalam kitab-kitab lama dalam bahasa Arab “Al-Alawiyah” dan menurut paham kami dari karangan Dr. Nageeb Saliby dalam bahagian tentang kepulauan-kepulauan yang banyaknya kira-kira seribu tujuh ratus pulau dimana disebut negeri-negeri. Ia berkata : “Jajahan yang terbesar ialah pulau Kanawi dimana berdiam seorang Syarif Alawi yang terkuat dipulau itu”.

Nama Al-Alawiyah dipulau itu disebut oleh pengarang “Nuchbatud dahr”. Selain di Aceh, yang raja-rajanya dalam susunan sejarah Pemerintah Aceh terdapat juga, gelar-gelar Sayyid dan Syarif, seperti Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin (1699/1702 ML). Syarif Lam Tui (1702 – 1903 M), Syarif Syaiful Alam (1815 – 1820 M), juga terdapat didaerah-daerah lain di Sumatera golongan Ahlil Bait ini turut memerintah, misalnya di Palembang dengan silsilah yang panjang,

seperti Tuan Fakih Jamaluddin yang bermakam di Talang Sura (1161 M.), yang ternyata, bahwa nama-namanya yang lengkap adalah Syayic Jamaluddin Agung bin Ahmad bin Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad, seterusnya sampai kepada Syaidina Husain. Dalam silsilah ini disebut bahwa Jamaluddin Akbar. itu mempunyai tujuh orang anak, tetapi yang disebut keturunannya ialah dari Zainul Akbar, yang menurunkan raja-raja Palembang, Pangeran-pangeran dan radenraden di Palembang, Sunan Giri dan Sunan Ampel. Ada orang berpendapat bahwa raden itu berasal dari perkataan Arab “ruhuddin” (jiwa agama) yang kemudian menjadi gelar bangsawan dari orang Jawa.

Sebuah silsilah yang terdapat di Banyuwangi, Jawa, juga bersamaan dengan silsilah yang terdapat di Palembang. Dengan demikian, melalui penyiaran agama kita dapati darahdarah Ahlil Bait ini bertabur dan bercampur dengan darah raja-raja Nusantara, baik diseluruh daerah Malaysia, termasuk yang terpenting Malaya, maupun di kepulauan Indonesia, baik di Ambon, dimana sampai sekarang terdengar nama Sayid Parintah, yang mengatur pemberontakan Patimura terhadap Belanda, maupun di Borneo dan Sulawesi, Halmahera, bahkan sampai ke Irian Barat, Terutama di Jawa, dalam masa da’wah Wali Sembilan (Wali songo), banyak sekali campuran darah Ahlil Bait ini dengan anak negeri dan sultan-sultan dan rajaraja dari zaman, Mataram Islam.

O L E H: PROF. DR. H. ABOEBAKAR ATJEH Diterbitkan oleh ISLAMIC RESEARCH INSTITUTE J A K A R T A 1977.

Cucu-Cucu :

Cm Yunjta Ichsani lahir 8 Yuni 1966, Gut Mulhia Zulfa latór 12 Mart 1968, Cut Neily Yulina lahir 20 Y u l i 1969, Teuku Irmansyab lahir 24 Yanuari 1972, Teuku Arniansyah lahir ,’i0 Deseniher 1975

BAHAN BACAAN

Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh : “Syi’ah, Rasionalisme dalam Islam”, (Semarang, 1972). Prof. Dr. H . Aboebakar Aceh : “Sejarah Al-Qur’an” (Surabaya – Malang, 1956 eet. ke-IV).

Abdul Hafid Faragli : “Ahlul Bait fi Misr”, (Cairo Desember 1974). Asad Haidar : “Al-Imam as-Shadiq wal Mazahilil Arba’ah”, (hal. 216 – 218). Haditsuts Tsaqalain”, 1952 M. Penerbitan „Darut Taqrib bainal Mazahibil Islamiyah”. Muhammad Abdul Baqi : „As-Sa’ral Anwal Fil Islam”. Hakim An-Naisaburi : “Ma’rifah Ulumul Hadits”. Abu Abdullah Az-Zanjani : “Tarikhul Qur’an.” Dr. C. Snouck Hurgronje : “De Islam in Nederlancsh-Indie”, Serie II, No. 9, dari “Groote Godsdiensten”. Sayyid Alawi bin Thahir Al-Haddad : “Sejarah Perkembangan Islam di Timur Jauh”, Jakarta, 1957. Dr. H. J. de Graaf : “Geschiedenis Van Indonesia”, (hal. 87). Dr. K.H.J. Cowan : “A Persian Inscription in Nort Sumatra” dimuat Dalam Majallah “Tijdschrift Voor Taal, Land en Vilkendunde, Deel LXXX, 1940″. L.W.C. Van den Burg : Le Hadramaut et les Arabs et India”.

Nasiruddin Al-Tusi tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, Baghdad, pada tahun 1258 M.

Ilmuwan serba bisa. Julukan itu rasanya amat pantas disandang Nasiruddin Al-Tusi. Sumbangannya bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern sungguh tak ternilai besarnya.

Selama hidupnya, ilmuwan Muslim dari Persia itu mendedikasikan diri untuk mengembangkan beragam ilmu seperti, astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran, hingga ilmu agama Islam.

Sarjana Muslim yang kemasyhurannya setara dengan teolog dan filsuf besar sejarah gereja, Thomas Aquinas, itu memiliki nama lengkap Abu Ja’far Muhammad ibn Muhammad ibn Al-Hasan Nasiruddin Al-Tusi.

Ia lahir pada 18 Februari 1201 M di Kota Tus yang terletak di dekat Meshed, sebelah timur laut Iran. Sebagai seorang ilmuwan yang amat kondang di zamannya, Nasiruddin memiliki banyak nama. Antara lain Muhaqqiq Al-Tusi, Khuwaja Tusi, dan Khuwaja Nasir.

Nasiruddin lahir di awal abad ke-13 M, ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat menginvasi wilayah kekuasaan Islam yang amat luas. Kota-kota Islam dihancurkan dan penduduknya dibantai habis tentara Mongol dengan sangat kejam.

Menurut JJ O’Connor dan EF Robertson, pada masa itu dunia diliputi kecemasan. Hilangnya rasa aman dan ketenangan itu membuat banyak ilmuwan sulit untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Nasiruddin pun tak dapat mengelak dari konflik yang melanda negerinya. Sejak kecil, Nasiruddin digembleng ilmu agama oleh ayahnya yang berprofesi sebagai seorang ahli hukum di Sekolah Imam Keduabelas.

Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, Nasiruddin juga mempelajari beragam topik ilmu pengetahuan lainnya dari sang paman. Menurut O’Connor dan Robertson, pengetahuan tambahan yang diperoleh dari pamannya itu begitu berpengaruh pada perkembangan intelektual Nasiruddin.

Pengetahuan pertama yang diperolehnya dari sang paman antara lain logika, fisika, dan metafisika. Selain itu, Nasiruddin juga mempelajari matematika pada guru lainnya. Ia begitu tertarik pada aljabar dan geometri.

Ketika menginjak usia 13 tahun, kondisi keamanan kian tak menentu. Pasukan Mongol di bawah pimpinan Jengis Khan yang berutal dan sadis mulai bergerak cepat dari Cina ke wilayah barat. Sebelum tentara Mongol menghancurkan kota kelahirannya, dia sudah mempelajari dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.

Untuk menimba ilmu lebih banyak lagi, Nasiruddin hijrah dari kota kelahirannya ke Nishapur—sebuah kota yang berjarak 75 kilometer di sebelah barat Tus.

Di kota itulah, Nasiruddin menyelesaikan pendidikan filsafat, kedokteran, dan matematika. Dia sungguh beruntung, karena bisa belajar matematika dari Kamaluddin ibn Yunus. Kariernya mulai melejit di Nishapur. Nasiruddin pun mulai dikenal sebagai seorang sarjana yang hebat.

Pada tahun 1220 M, invasi militer Mongol telah mencapai Tus dan kota kelahiran Nasiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Ismailiyah Nasiruddin ‘Abdurrahim mengajak sang ilmuwan itu untuk bergabung.

Tawaran itu tak disia-siakannya. Nasiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat di Istana Ismailiyah. Selama mengabdi di istana itu, Nasiruddin mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika, serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlag-i Nasiri yang ditulisnya pada 1232 M.

Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan—cucu Jengis Khan—pada tahun 1251 M akhirnya menguasai Istana Alamut dan meluluh-lantakannya. Nyawa Nasiruddin selamat, karena Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan.

Hulagu yang dikenal bengis dan kejam memperlakukan Nasiruddin dengan penuh hormat. Dia pun diangkat Hulagu menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan.

Meski telah menjadi penasihat pasukan Mongol, sayangnya Nasiruddin tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan kota metropolis intelektual dunia, Baghdad, pada tahun 1258 M.

Terlebih, saat itu Dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Musta’sim yang lemah. Terbukti, militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

Meski tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak Nasiruddin bisa menyelamatkan dirinya dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

“Hulagu sangat bangga karena berhasil menaklukkan Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuwan terkemuka seperti Al-Tusi bisa bergabung bersamanya,” papar O’Connor dan Robertson dalam tulisannya tentang sejarah Nasiruddin.

Hulagu juga amat senang, ketika Nasirrudin mengungkapan rencananya untuk membangun Observatorium di Maragha.

Saat itu, Hulagu telah menjadikan Maragha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya.

Pada tahun 1259 M, Nasiruddin pun mulai membangun observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada hingga sekarang.

Observatorium Maragha mulai beroperasi pada tahun 1262 M. Pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan sarjana dari Persia dibantu astronom dari Cina.

Teknologi yang digunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan Nasiruddin, salah satunya adalah ‘kuadran azimuth’.

Selain itu, dia juga membangun perpustakaan di observatorium itu. Koleksi bukunya tebilang lengkap, terdiri dari beragam ilmu pengetahuan. Di tempat itu, Nasiruddin tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan matematika dan filsafat.

Di observatorium yang dipimpinnya itu, Nasiruddin Al-Tusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang sangat akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-i Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin Observatorium Maragha.

Selain itu, Nasiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya berjudul Al-Tadhkira fi’ilm Al-Hay’a (Memoar Astronomi). Nasiruddin mampu memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit.

Nasiruddin meninggal dunia pada 26 Juni 1274 M di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang. Namanya, dibadikan mejadi salah satu nama kawah di bulan

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Siraj menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat.

Foto foto  Ormas Ahlulbait Indonesia (ABI)  Silaturahmi Ke PB NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Siraj menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat.
Category List
ed_img_4743
Image Detail Image Download
ed_img_4690
Image Detail Image Download
ed_img_4696
Image Detail Image Download
ed_img_4706
Image Detail Image Download
ed_img_4710
Image Detail Image Download
ed_img_4716
Image Detail Image Download
ed_img_4723
Image Detail Image Download
ed_img_4736
Image Detail Image Download
ed_img_4737
Image Detail Image Download
Kamis, 10 Mei 2012 11:53 administrator
Email Cetak PDF

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) Said Agil Sirad menegaskan bahwa PB NU tidak akan pernah menyatakan Syiah sesat. Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima rombongan DPP Ahlulbait Indonesia yang bersilaturahmi ke kantor PB NU rabu (9/5).

“PB NU tidak akan pernah mengatakan bahwa syiah sesat, jika syiah sesat sebagian peta dunia Islam ada yang hilang dong, wah itu sayang sekali, “katanya.

Tidak hanya itu lanjutnya,memang ada upaya yang nya untuk mengganggu keharmonisan antara Syiah dan NU, mereka iri akan keharmonisan tersebut. Karena memang keharmonisan ini adalah kedekatan tradisi yang dimiliki antara warga Nahdliyin dan Syiah.

“Kaum-kaum wahabi jelas tidak suka keharmonisan antara Syiah dan Nahdliyin. Mereka memang berusaha mengganggu agar dapat memecah belah persatuan dan keharmonisan ini, “ sambungnya.

Mungkin targetnya, setelah berhasil memecah belah umat Islam Indonesia, mereka ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia ini, ia melanjutkan.

Dalam silaturahmi ini rombongan Ahlulbait Indonesia dipimpin langsung oleh ketua umumnya, Ustadz Hasan Dalil Alaydrus, anggota Dewan Syuro Utadz Husein Shahab, didampingi juga oleh Sekjend Ustadz Ahmad Hidayat, wasekjend Ustadz Syafinnudin, dan beberapa pengurus DPP Ahlulbait lainnya.

Kunjungan ini juga menegaskan bahwa Ahlulbait Indonesia dan Nahdlatul Ulama tidak dalam posisi yang berseberangan, bahkan kehangatan dan keharmonisan tergambar jelas selama pembicaraan berlangsung.

Dalam silaturahmi ini berkembang wacana untuk menjalin kerjasama dan meningkatkan hubungan antar kedua ormas.

Ustad Hasan Dalil mengungkapkan bahwa demi memperkuat dan menjaga umat Islam Indonesia juga NKRI, perlu dijalin kerjasama yang lebih erat antar kedua ormas.

“Kedepan kedua ormas mesti meningkatkan kerjasama, saling memperkuat, dan mengingatkan. Ini penting karena ormas lah yang menjadi tulang punggung kedaulatan bangsa Indonesia ini,”pungkasnya

kenapa shalawat sunni tidak pernah menyebut wa Ash-hâbih/dan para sahabatnya, dan apalagi dengan pelengkap kata Ajmaîn/dan seluruh sahabatnya!!

Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka

Dalam sebuah hadits qudsi Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya setiap pagi dan sore Allah SWT selalu memandang wajah orang yang sudah tua, kemudian Allah SWT berfirman: Wahai hamba-Ku, semakin tua usiamu, semakin keriput kulitmu, semakin lemah tulangmu, semakin dekat ajalmu, semakin dekat pula engkau bertemu dengan-Ku. Malulah karena-Ku, karena Aku pun malu melihat ketuaanmu, dan Aku pun malu menyiksamu di dalam neraka.

Dikisahkan bahwa pada suatu ketika Imam Ali sedang tergesa-gesa berjalan menuju masjid untuk melakukan jamaah shubuh. Akan tetapi dalam perjalanan – di depan beliau – ada seorang kakek tua yang berjalan dengan tenang. Kemudian Imam Ali memperlambat langkah kaki tidak mendahuluinya karena memuliakan dan menghormati kakek tua tersebut. Hingga hampir mendekati waktu terbit matahari barulah beliau sampai dekat pintu masjid. Dan ternyata kakek tua tersebut berjalan terus tidak masuk ke dalam masjid, yang kemudian Imam Ali akhirnya mengetahui bahwa kakek tua tersebut adalah seorang Nasrani.

Pada saat Imam Ali masuk ke dalam masjid beliau melihat Rasulullah SAW beserta jamaah sedang dalam keadaan ruku’. (Sebagaimana diketahui bahwa ikut serta ruku’ bersama dengan imam berarti masih mendapatkan satu rakaat). Rasulullah SAW waktu itu memanjangkan waktu ruku’nya hingga kira-kira dua ruku’. Kemudian Imam Ali ber-takbiratul ihram dan langsung ikut serta ruku’.

Setelah selesai shalat para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah tidak biasanya engkau ruku’ selama ini, ada apakah gerangan? Beliau menjawab: Pada waktu aku telah selesai ruku’ dan hendak bangkit dari ruku’ tiba-tiba datang malaikat Jibril AS meletakkan sayapnya di atas punggungku, sehingga aku tidak bisa bangkit dari ruku’. Para sahabatpun bertanya: Mengapa terjadi demikian? Beliau menjawab: Aku sendiri pun tidak tahu.

Kemudian datanglah malaikat Jibril AS dan berkata: Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali waktu itu sedang bergegas menuju masjid untuk jama’ah shubuh, dan di perjalanan ada seorang kakek tua Nasrani berjalan di depannya, Ali pun tidak mengetahui kakek tua itu beragama Nasrani. Ali tidak mau mendahuluinya karena dia sangat menghormati dan memuliakan kakek tua tersebut. Kemudian aku diperintah oleh Allah SWT untuk menahanmu saat ruku’ sampai Ali datang dan tidak terlambat mengikuti jama’ah shubuh. Selain itu Allah SWT juga memerintah malaikat Mikail untuk menahan matahari menggunakan sayapnya hingga matahari tidak bersinar sampai jama’ah selesai.

Demikianlah hikmah kisah teladan Imam Ali yang sangat menghormati dan memuliakan orang yang tua walaupun beragama Nasrani. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Berebut Merek Lupa Esensi

Dua istilah yang sejak lama telah dimonopoli kelompok tertentu untuk mempropagandakan viliditasnya dalam mewakili Sunnah dan ajaran musrin Islam! Kelompok tertentu itu mengklaim bahwa kelompoknya lah satu-satunya yang mewakili ajaran/Sunnah Nabi saw. secara utuh dan kâffah! Sedangkan kelompok lain adalah Ahli Bid’ah yang menyimpang dari kemurnian ajaran dan Sunnah Nabi Islam!

Dahulu penamaan ini dimonopoli oleh kelompok Ahli hadis yang barisan terdepannya adalah kaum Hanâbilah (kelompok yang dalam akidahnya mengadopsi pemikiran yang dirancang Ahmad bin Hanbal, khususnya dalam masalah ketuhanan dan terlebih lagi dalam masalah sifat Allah)…. kaum Syi’ah, Mu’tazailah dan kelompok-kelompok lain digolongkan dalam Ahli Bid’ah!

Dengan kemunculan Abul Hasan Al Asy’ari yang merancang akidah barunya (di mana sebelumnya, selama kurang lebih empat puluh tahun ia bermazhab Mu’tazilah bahkan seorang tokoh pemberlanya, dan kemudian mendadak berbalik arah menentang mazhab Mu’tazilah dan membela Ahli Hadis dan merancang akidah baru yang tidak sepenuhnya persis dengan akidah Ahli hadis)… dengan kemunculannya, nama Ahlu Sunnah menjadi monopoli kaum Asy’ariyah! Maka siapapun selain yang berakidah Asyi’ari adalah Ahli Bid’ah!

Dengan kebangkitan kaum Wahhâbi yang sering kerkedok dengan nama Salafi yang dimotori oleh para ulama AS dan dengan dukungan penuh real AS… mereka merebut kembali monopoli nama Ahlu Sunnah hanya untuk mereka.. kini giliran kaum Asy’ariyah dikeluarkan dari Ahlu Sunnah… dalam keyakinan mereka kaum Asy’ariyah adalah Ahli Bid’ah!

Setelah keterangan singkat di atas, saya mengajak Anda merenungkan sejauh mana monopoli penamaan itu berguna?

Apakah dengan merebut nama dan hak paten merek Ahlu Sunnah seorang denagn otomatis benar-benar di atas Sunnah dan Ajaran Nabi saw.? Atau kepatuhan dan konsistensi dalam menjalankan Sunnah Nabi saw. secara utuh yang akan menentukan apakah dia/kelompok itu termausl Ahlu Sunnah atau Ahli Bid’ah!

Dalam Al Qur’an Allah Swt mengecam kaum Yahudi, Nashrani dan Shabi’in yang hanya sibuk memperebutkan kursi istimewa di sisi Allah dengan hanya mengandalkan nama dan gelar keanggotaan! Hal mana mestinya cukup menkadi pelajaran berharga bagi kaum Muslimin agar tidak terjebak dalam lembah kesesatan seperti umat-umat terdahulu!

Shalawat Kepada Nabi Saw. Adalah Bukti Kecil!

Di sini saya tidak ingin membebani pembaca dengan ratusan contoh kasus untuk mmebuktikan siapa yang Ahlu Sunnah dan siapa yang terjatuh dalam lembah penyimpangan sehingga berhak disebut sebagai Ahlu Bid’ah! Kasus praktik bershalawat atas Nabi saw. semestinya sudah cukup menjadi bukti di sampinh ratusan bukti lain.

Kendati para ulama dan para muhaddis Ahlusunnah telah meriwayatkan dan menshahihkan hadis yang mengatakan bahwa Nabi saw. dalam mengajarkan ibadah shalawat selalu menyertakan menyebutkan Ahlulbitnya as.; Allâhumma Shalli ‘Alâ Muhammad wa Âli Muhammad. Tidak ada satupun hadis shahih yang mengajarkan shalawat tanpa menyebut wa Âli Muhammad… sebagaimana tidak ada satu hadis pun baik yang maudhû’/palsu dan dh’aif/lemah apalagi yang shahih yang menyebutkan bahwa Nabi saw. menyertakan menyebut wa Ash-hâbih/dan para sahabatnya…  dan apalagi dengan pelengkap kata Ajmaîn/dan seluruh sahabatnya!!

Lalu mengapakan dan atas dasar apakah umat Islam Ahlusunnah menjalankan praktik menyimpang dengan menggurukan kata wa Âli Muhammad ? Siapakah yang mengajarkan bahwa ibdaha shalawat itu harus dengan mengurangi kata wa Âli Muhammad? Siapakah yang mengajarkan mereka menambah kata wa Ash-hâbih atau wa shahbih? Bukankan menambah dalam ibadah sesuatu yang tidak diajarkan sebagaimana juga menguranginya adalah itu Bid’ah? Bukankan pelaksana praktik bid’ah lebih pantas menyabdang gelar Ahlu Bid’ah bukan Ahlu Sunnah?!

Sementara kaum Syi’ah baik kaum awamnya apalagi ulamanya konsisten menjalan praktik ibadah shalawat sesuai yang diajarkan Nabi saw. jadi merekalah yang Ahlu Sunnah!

Dalam kesempatan singkat ini saya mengharap kapada seluruh ulama Ahlusunnah untuk mengajukan satu bukti dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahihah bahwa ibadah shalawat yang diajarkan Nabi Muhammad saw. itu tanpa menyebutkan wa Âlihi? Sebagimana saya menanti mereka mampu menyebutkan satu nash saja (kalau menghadirkan nash shahih mereka kerepotan maka saya akan tolerir walaupun hanya nash tidak shahih yang mereka hadirkan) bahwa Nabi mengajarkan kita agar juga menyebut para sahabatnya dalam shalawat!

Tantangan saya tidak dibatasi waktu… Saya akan sabar menanti walau sampai menjelang kiamat tiba!!

Bukankah ini bukti bahwa mereka Anti Sunnah Nabi saw. dalam ibadah Shalawat? Kalau bukan itu alasannya… kira-kira apa yang menjadikan mereka turun temurun menggugurkan sebuah kata kunci dalam sebuah amal ibadah shalawat?! Dan jika mereka menyebut kata wa Âlihi (yang memang diperintahkan Nabi saw.) mereka segera menyusulnya dengan kata wa Ash-hâbihi! Bukankah demikian yang kita saksikan dari kalian wahai kalian yang mengaku Ahlusunnah?!

Inilah contoh bid’ah yang kalian warisi dari Salaf kalian… yang telah terpengaruh oleh kesesatan Bani Umayyah yang siang malam memerangi Ahlulbait Nabi as…. kini kesesatan dan penyimpangan itu benar-benar telah berubah dan diyakini sebagai Sunah!

“Tujuan dari para Anbiyah diutus ke muka bumi adalah untuk mengajarkan ilmu dan mendidik umat manusia. Mengapa harus dibarengkan mengajar ilmu dan mendidik? Karena ilmu tanpa pendidikan tidak ada faidahnya, orang berilmu yang tidak terdidik justru akan menjadi orang yang paling berbahaya dan paling banyak menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Menurut Kantor Berita ABNA, Ayatullah Al Uzhma Luthfullah Shafi Ghulpagani dalam pertemuannya dengan sejumlah budayawan di kota Busyhahr Republik Islam Iran menyatakan bahwa tidak ada satupun ilmu dan ma’rifat yang lebih mulia dan lebih agung dari ma’rifat dan hidayah Ahlul Bait As. Beliau berkata, “Manusia jika menginginkan budaya yang sebenarnya, maka ia harus mencarinya dalam petunjuk Al-Qur’an lalu setelah itu petunjuk dari Ahlul Bait, misalnya dalam Nahjul Balaghah, Shahifah Sajjadiyah dan perkataan-perkataan Ahlul Bait lainnya.”

Lebih lanjut beliau menjelaskdisi dan kebiasaan Aimmah as adalah petunjuk dan hidayah bagi manusia, tidak terlepas dari dua unsur, ilmu dan akhlak.”

Ulama Syiah yang dikenal juga sebagai ulama marja taklid tersebut dalam penjelasan selanjutnya menyebutkan, “Jika kita menghendaki ma’rifat dan pengenalan lebih dalam mengenai Tuhan, Kenabian, Ma’ad (hari akhirat), akhlak, keadilan dan sebagainya maka kita dapat menemukan dari mutiara-mutiara hikmah yang pernah disampaikan oleh para Aimmah as. Madrasah Ahlul Bait adalah madrasah teragung dan termulia untuk mendapatkan semua ilmu, pendidikan, akhlak serta keteladanan.”

“Alhamdulillah, kita bersyukur mengenal agama yang telah mendapat pengakuan dari ribuan ilmuan dan peneliti yang menyatakan tidak ada agama yang lebih sempurna dan lebih lengkap berbicara mengenai kemanusiaan selain Islam. Dan tidak ada manhaj yang lebih memperjuangkan kemanusiaan selain manhaj Nabi Muhammad Saww beserta keluarganya As.” Ungkap beliau lebih lanjut.

Ayatullah Shafi Ghulpaghani pada bagian lain dari ceramahnya yang ditujukan kepada sejumlah budayawan yang hadir menyatakan, “Kalian sebagai budayawan harus mengetahui, fakultas ilmu dan pendidikan lebih tinggi dari semua fakultas yang ada. Tujuan dari para Anbiyah diutus ke muka bumi adalah untuk mengajarkan ilmu dan mendidik umat manusia. Mengapa harus dibarengkan mengajar ilmu dan mendidik? Karena ilmu tanpa pendidikan tidak ada faidahnya, orang berilmu yang tidak terdidik justru akan menjadi orang yang paling berbahaya dan paling banyak menimbulkan kerusakan di muka bumi.”

Beliau melanjutkan, “Kita melihat buktinya dalam dunia sekarang, tidak sedikit yang menjadi penguasa dan pemimpin justru berlaku zalim. Mereka bukan orang-orang bodoh yang tidak berlimu. Mereka berilmu hanya saja tidak terdidik karena itu tidak memiliki akhlak yang baik. Kita lihat Eropa dan AS zalim kepada bangsa-bangsa yang lain padahal mereka dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi jauh lebih maju, namun mereka tidak mendapatkan pendidikan akhlak.”

“Anbiyah as diutus selainkan mengajarkan ilmu dan pengetahuan, mereka juga menyempurnakan akhlak manusia. Mereka meluruskan penyimpangan-penyimpangan akhlak yang terjadi di masyarakat yang mereka temui. Sebagaimana pernah diucapkan oleh seorang tokoh besar, kita membutuhkan ilmu dan mendukung kemajuan ilmu dan pengetahuan namun lebih dari itu kita lebih membutuhkan akhlak.”ujarnya lebih lanjut.

Guru besar Hauzah Ilmiyah Qom tersebut kemudian menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh tertinggal dalam mengejar ilmu dan pengetahuan, bahkan umat Islam harus berada dalam barisan terdepan dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Beliau berkata, “Mengejar ilmu setinggi-tingginya adalah perintah Nabi Muhammad saww, agar umat Islam tidak membutuhkan bantuan dan peranan umat lain. Umat Islam harus mandiri dan mampu membangun peradaban dengan kemampuan sendiri, sehingga tidak dipandang remeh oleh umat-umat yang lain.”

Ayatullah Shafi Ghulpaghani dengan tegas menyatakan seorang muslim harus memiliki akhlak yang baik yang dengan akhlak baik itu ia melakukan interaksi dan komunikasi dengan yang lainnya, sehingga diharapkan dengan akhlak yang baik itu seorang muslim menjadi panutan dan teladan dalam masyarakatnya. “Kita harus mempersaksikan diri bahwa kita adalah seorang muslim, kitab kita Al-Qur’anul Karim, Nabi kita Muhammad saww dan manhaj kita manhaj Ahlul Bait as. Pemuda muslim hari ini harus tahu bahwa nasib Islam dimasa datang ada di tangan mereka. Dan lebih dari semua itu, apapun yang dilakukan seorang muslim dalam mendidik diri dan menuntut ilmu harus diniatkan karena mengharapkan keridhaan Allah Swt.”

Dipenghujung ceramahnya, Ayatullah Shafi Ghulpaghani menegaskan, “Dengan semua anugerah dan nikmat yang telah diberikan namun tidak mampu mencapai kemajuan maka sesungguhnya kita telah berlaku zalim, bukan hanya kepada diri sendiri namun juga kepada Allah Swt. Segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah Swt.”

kondisi beragama, budaya, sosial, ekonomi dan intelektual masyarakat tidak akan teratur kecuali memiliki pemerintah yang saleh dan memiliki kebijakan yang benar,

Sayyid Ali Khamanei:
Bangsa Iran Semakin Optimis Menyongsong Masa Depan
Panglima Tinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyatakan, bangsa Iran dalam dekade kemajuan dan keadilan melanjutkan perjalanannya dengan gerak lebih cepat menuju perkembangan lebih besar dan dan realisasi keadilan, sementara front zalim dan adidaya dunia bertentangan dengan penampilan lahiriyah, mereka semakin lemah dan menuju kehancurannya.
Bangsa Iran Semakin Optimis Menyongsong Masa Depan.
dalam menyambut bulan Rajab dan peringatan hari kelahiran Imam Muhammad Baqir as yang tahun ini bertepatan dengan peringatan pembebasan kota Khorramshahr, yang berlangsung di Universitas Imam Husein as, Panglima Tinggi Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyatakan, bangsa Iran dalam dekade kemajuan dan keadilan melanjutkan perjalanannya dengan gerak lebih cepat menuju perkembangan lebih besar dan dan realisasi keadilan, sementara front zalim dan adidaya dunia bertentangan dengan penampilan lahiriyah, mereka semakin lemah dan menuju kehancurannya
.
Di depan para mahasiswa fakultas militer dan calon perwira di universitas tersebut, Rahbar menegaskan, “Kemuliaan dan kekokohan yang terus meningkat bangsa Iran merupakan hasil dari ketabahan dan perjuangan di jalan baiat ilahi
.
Ditegaskan beliau bahwa bangsa Iran semakin optimis menyongsong masa depan sementara ufuk-ufuk masa depan juga tersenyum kepada bangsa ini.
Rahbar dalam pidatonya juga menyebut harga diri dan kekuatan bangsa Iran yang semakin besar sebagai buah dari kegigihan dan keteguhan dalam memegang janji setia dan baiat Ilahi. Beliau mengatakan, “Pada dekade kemajuan dan keadilan, bangsa Iran akan terus melanjutkan gerak langkahnya yang cepat untuk meraih kemajuan dan mewujudkan keadilan yang lebih besar. Sementara, tidak seperti yang digembar-gemborkan di luar sana, kubu kezaliman, istikbar dan arogansi justeru semakin melemah.”
.
Seraya menekankan bahwa bangsa Iran sangat optimis menatap masa depan dan tersenyum memandang cakrawala hari esok, Ayatollah al-Udzma Khamenei menambahkan, “Sebagai pemilik negeri ini, para pemuda mesti meneruskan langkah bangsa Iran sampai kebesaran umat Islam benar-benar terwujud.”.
Jalan menuju puncak kesejahteraan, menurut beliau, sudah tersedia berkat perjuangan generasi yang lalu. “Tapi tersedianya jalan bukan berarti tak ada lagi kesulitan dan keharusan untuk bekerja keras. Kelanjutan langkah ini tetap memerlukan kegigihan dan keteguhan,” kata beliau mengingatkan.
Rahbar yang juga Panglima Tertinggi Seluruh Korps Angkatan Bersenjata memuji keteguhan seluruh angkatan bersenjata termasuk Pasdaran, Tentara dan Relawan Basij dalam memegang baiat Ilahi

.
“Seluruh korps angkatan bersenjata sudah membukukan banyak pengalaman berharga sepanjang masa Perang Pertahanan Suci yang harus selalu dimanfaatkan dan dijadikan pelita penerang jalan menuju masa depan,” tegas beliau
.
Dalam kesempatan itu, Panglima Pasukan Garda Revolusi Islam (Sepah-e Pasdaran) Mayor Jenderal Ja’fari dalam laporannya menjelaskan kesiapan seluruh pasukan Pasdaran dan Basij. Laporan itu juga menyinggung tentang program pelatihan dan peningkatan kemampuan pertahanan sesuai dengan doktrin pertahanan Islami
.
Sementara itu, Laksamana Muda Morteza Saffari, Kepala Akademi Keperwiraan dan Pelatihan Kepengawalan Akademi Imam Husain (as) membawakan laporan tentang program pendidikan dan pelatihan di akademi ini
.
Di akhir acara, sejumlah keluarga syuhada, veteran perang, taruna, perwira tinggi dan pelatih teladan mendapat penghargaan dari tangan Rahbar. Selain itu, beliau juga menyematkan tanda kenaikan pangkat di pundak para taruna pilihan. Acara ditutup dengan peragaan keahlian para taruna dan parade militer
.

Agama dan Kebangkitan Kontemporer

Para pemimpin agama dari 14 negara dunia berkumpul di Ibukota Iran, Tehran pada 30 April hingga 1 Mei 2012 untuk mendiskusikan peran tokoh agama dalam kebangkitan kontemporer. Konferensi internasional ini mengusung tema “Agama dan Kebangkitan Kontemporer” dan menghadirkan sejumlah tokoh, pemikir, dan cendekiawan dari Syiah, Sunni, Kristen, Yahudi, Hindu dan Budha. .

Sekretaris konferensi, Mohammadreza Dehshiri mengatakan, konferensi itu bertujuan mendorong para pemimpin agama untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran masyarakat. Dehshiri menuturkan bahwa fokus utama pertemuan itu adalah peran pemimpin agama dalam kebangkitan kontemporer bangsa dan menyerukan peningkatan peran mereka di tengah masyarakat. Dia menambahkan, gerakan kontemporer memerlukan pemimpin agama dan agama dapat memainkan peran cukup konstruktif dalam mencerahkan masyarakat dan menyelesaikan krisis dunia saat ini.

.

Sejumlah profesor, filusuf, dan tokoh dari Albania, Yunani, Jerman, Vatikan, Kanada, dan Amerika Serikat berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Selain mereka, pertemuan itu juga menghadirkan kepala studi Budha dari Thailand dan pemimpin agama dari Ethiopia, Sudan, Lebanon, dan Pakistan. Topik utama yang dibahas dalam konferensi ini antara lain, “Peran Pendidikan dan Ajaran Agama; Melampaui Kebangkitan Pikiran dan Hati Nurani Manusia”, “Peran Pengikut Agama dalam Pembangunan dan Kebangkitan di Dunia”, “Identitas dan Kualitas Gerakan Kepemimpinan” dan juga tema-tema seputar tantangan masa depan dan isu-isu kekinian.

.

Kata kebangkitan memiliki konsep yang sangat luas. Dari segi etimologi, kebangkitan berarti mulai sadar dan tercerahkan. Akan tetapi, konsep universal kebangkitan adalah kebangkitan akal, kesadaran manusia, upaya untuk menyadarkan seluruh masyarakat, dan membebaskan umat manusia dari kekangan para tiran.

 

Ketika Nabi Muhammad Saw diutus dengan membawa pesan iqra (bacalah), sejak hari itu Rasul Saw menjadikan kebangkitan pikiran dan hati sebagai landasan dakwahnya. Beliau membebaskan umat manusia dari kebodohan, kelalaian, dan penghambaan kepada berhala. Tak lama setelah itu, obor dakwah Rasul Saw berhasil menerangi belahan timur dan barat bumi.

.

Gerakan kebangkitan dan pencerahan mengalami pasang surat di tengah berbagai komunitas. Kemuliaan dan kehormatan akan diperoleh oleh manusia setiap kali mereka mampu menjaga identitas, independensi, dan kesadarannya. Namun, setiap kali masyarakat terjebak dalam dekadensi pemikiran dan kelalaian dari nilai-nilai kemanusiaan, maka mereka akan merasa asing dan tidak mandiri.

 

Sekjen Forum Internasional Pendekatan Mazhab-mazhab Islam (FIPMI), Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri dalam konferensi tersebut, mengatakan, “Jika manusia telah jauh dari cahaya iman dan menganggap nilai-nilai semu sebagai hal yang mutlak, maka ia seperti telah tertidur pulas dan tak sadarkan diri. Begitu juga, ketika seseorang meyakini nilai-nilai relatif, maka ia telah kehilangan kesadaran dan stagnan dan bahkan menganggap nilai-nilai relatif itu lebih tinggi kedudukannya dari nilai-nilai mutlak.”

.

Ayatullah Taskhiri menilai kondisi itu semacam penyakit dan mengatakan bahwa setiap tindakan kriminal yang terjadi sepanjang sejarah terkait erat dengan hawa nafsu dan kelalaian. Manusia dalam kondisi seperti itu dapat disebut mati. Allah Swt mengutus para Nabi as untuk menyelematkan manusia dari kelalaian dan menyadarkan mereka. Para pemimpin agama juga bertugas untuk menyelamatkan manusia dari faktor-faktor yang mendorong terjadinya kejahatan dan kriminalitas.

.

Parapemimpin agama dan orang-orang bijak memiliki peran sifnifikan dalam menghidupkan pemikiran dan nilai-nilai religius serta kebangkitan akal. Dapat dikatakan bahwa usaha dan perjuangan para pemikir telah menciptakan peluang bagi lahirnya Kebangkitan Islam pada masa sekarang. Salah satu hasil gemilang perjuangan itu adalah kemenangan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Kemenangan ini telah meningkatkan kepecayaan Muslim terhadap kekuatan kepemimpinan dalam Islam. Mereka percaya bahwa jika pemikiran dan tindakan didasari pada ajaran-ajaran Islam, maka era keterpurukan akan berakhir dan kemenangan akan diraih.

.

Kebanyakan pengamat politik meyakini bahwa kemenangan Revolusi Islam telah melahirkan kembali Kebangkitan Islam. Agama suci ini lahir dengan semangat baru dan jauh dari kerangka kepartaian dan gerakan-gerakan politik yang sempit. Republik Islam Iran selain memainkan peran penting dalam mengarahkan kebangkitan dan menghidupkan pemikiran Islam, juga aktif melawan gerakan-gerakan menyimpang dan mengambil langkah-langkah efektif. Sejauh ini, Iran telah menggelar berbagai konferensi dan seminar untuk mengkaji pemikiran para ilmuwan dunia guna memperkaya pandangan-pandangannya.

.

Ketua Lembaga Budaya dan Hubungan Islam Iran, Doktor Mohammad Khurram Shad mengumumkan bahwa konferensi itu bertujuan untuk mendekatkan pemikiran dan dialog dalam nuansa Kebangkitan Islam dan kebangkitan dunia dengan berpijak pada unsur-unsur agama. Menurutnya, tema konferensi tersebut menekankan pada kebangkitan universal. Dari segi geografi, gerakan-gerakan global tentu saja lebih luas dari wilayah Kebangkitan Islam dan dapat berperan efektif untuk meredam radikalisme agama serta menciptakan kesepahaman nyata dan berkelanjutan di antara para pemeluk agama.

.

Khurram Shad seraya menilai kebangkitan global adalah kembali kepada agama, mengatakan agama adalah sebuah realita yang melampaui sejarah, budaya, zaman, dan tempat. Isu utama yang menjadi fokus kebangkitan kontemporer adalah kembali kepada Tuhan dan nilai-nilai Ilahi. Ini adalah sesuatu yang diperintahkan oleh ayat-ayat al-Quran kepada manusia yaitu, menghambakan diri kepada Tuhan, menjauhi penghambaan kepada selain-Nya, mensucikan diri, dan mematahkan rantai-rantai perbudakan yang membelenggu umat manusia. Risalah seluruh Nabi as adalah menyeru untuk menyembah Tuhan dan tidak tunduk pada tiran.

.

Sementara itu, peserta dari Amerika Serikat dalam pidatonya, menilai rasa saling percaya dan sikap menghormati sebagai kebutuhan dialog antar-agama agar berjalan sukses. Charles Randall Paulus, Presiden Yayasan Diplomasi Antar Agama, yang berbasis di AS menggarisbawahi keterbukaan pikiran untuk menerima kritik yang jujur sebagai bagianpenting dari dialog antar-agama. Ditambahkannya, “Visi kami adalah untuk menciptakan persahabatan antara pengikut agama yang berbeda dan untuk mewujudkan kepercayaan antara kelompok yang berseberangan.”

 

Randall Paulus berkata, “Setiap interaksi manusia memiliki unsur keinginan bahwa orang lain menanggapi Anda dengan cara yang baru. Persuasi ini mungkin berpusat pada kebenaran pandangan keagamaan seseorang.” Ketika berbicara tentang dakwah, Randall Paulus menuturkan, dakwah adalah deskripsi yang jujur dari keyakinan terdalam Anda, yang Anda sampaikan kepada orang lain.

.

Deklarasi konferensi itu menyebutkan bahwa kebangkitan sosial yang terjadi hari ini di berbagai negara mengindikasikan perubahan mendasar dalam kecenderungan dan tuntutan manusia modern di bidang politik, sosial, dan ekonomi. Peserta konferensi juga menilai adanya keselarasan antara gerakan-gerakan kebangkitan kontemporer dan tujuan-tujuan ajaran agama seperti, keadilan, kemuliaan manusia, dan perang melawan penindasan. Pertemuan tersebut menyeru para pemimpin agama, pemikir, dan pemeluk agama untuk melaksanakan tanggung jawabnya dan mengadopsi nilai-nilai spiritual untuk diterapkan dalam kehidupan sosial dan individual.

Islam yang didasarkan pada al-Quran dan Sunnah memandang penyebaran budaya adalah upaya untuk mengajak masyarakat kepada nilai-nilai tinggi dan menumbuhkan tanggung jawab dalam diri mereka. Salah satu jalan efektif untuk menyebarkan budaya Islam adalah koordinasi antara pemerintah dan ajaran agama.

Maksud dari penyebaran budaya telah dijelaskan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO) pada awal dekade 1980. Penyebaran budaya diartikan sebagai proses peningkatan kehidupan kultural di masyarakat dan meraih nilai-nilai transenden. Dalam proses itu, semua aspek materi dan spiritual dalam kehidupan individu dan sosial akan mengalami perbaikan dan peningkatan. Pengembangan budaya akan menumbuhkan kemampuan potensi masyarakat dan meningkatkan kreativitas mereka.

Terkait hal itu, budaya Islam memberikan berbagai petunjuk. Jika manusia menjalani kehidupanya sejalan dengan budaya ini, maka manusia akan melangkah dengan benar demi meraih tujuannya dan sekaligus selaras dengan pandangan Islam. Iman kepada Allah Swt adalah prinsip paling mendasar bagi gerak dan kemajuan Islam. Jika antara takwa dan pengendalian diri dipadukan, maka kehidupan manusia di dunia dan akhirat akan terjamin. Dalam surat al-Araf ayat 96, Allah Swt berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk di berbagai negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Islam yang didasarkan pada al-Quran dan Sunnah memandang penyebaran budaya adalah upaya mengajak masyarakat kepada nilai-nilai tinggi dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri mereka. Salah satu jalan efektif untuk menyebarkan budaya Islam adalah koordinasi antara pemerintah dan ajaran agama. Dalam pandangan ini, pemerintah harus menciptakan suasana yang mendukung supaya terjadi pertukaran pandangan dalam konteks ketentuan dan aturan Islam. Pemerintah berkewajiban untuk memperluas kapasitas budaya masyarakat di semua aspek kehidupan baik individu maupun sosial, dengan kata lain harus berupaya memperluas budaya.

Nabi Muhammad Saw sejak awal masuk ke kota Madinah telah membentuk pemerintah Islam kemudian memperluas pemerintahannya itu. Beliau menyebarkan ajaran Ilahi ke seluruh dunia melalui jalan tersebut. Terdapat poin penting yang harus diperhatikan dalam metode dan sirah Nabi Saw bahwa tujuan terpenting dari pendirian pemerintahan adalah untuk menciptakan perubahan akhlak individu dan sosial berdasarkan iman kepada Allah Swt dan pahala di hari akhir (kiamat).

Terkait hal itu, Allah Swt berfirman, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-i-Imran ayat 163)

Rasulullah Saw dan Ahlul Bait as telah memberikan platform yang sesuai guna menumbuhkan budaya manusia. Mereka mengenalkan manusia kepada Tuhan sehingga tercipta kondisi yang mendukung bagi manusia untuk menyerap perilaku yang baik dan menjahui sifat-sifat buruk dan tercela. Mengingat pembenahan manusia adalah awal bagi perbaikan masyarakat, Nabi Saw memandang bahwa perubahan jiwa dan ruh manusia berpengaruh pada perbaikan masyarakat dan dapat menjauhkan mereka dari sifat tercela serta menciptakan kondisi yang sehat. Imam Jafar Shadiq as sebagai tauladan ilmu dan takwa, berkata, “Perilaku baik dan akhlak terpuji dapat memakmurkan kota dan memperpanjang umur manusia.”

Poin penting yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengubah karakter dan menyebarkan akhlak mulia ke dalam masyarakat.

Menurut pandangan para ahli psikologi, mengenal baik dan buruk memiliki peran efektif dalam  penyebaran akhlak mulia dan memperbaiki perilaku masyarakat. Sebagian perilaku buruk dan tercela muncul akibat kebodohan. Namun perlu kita ketahui bahwa pengetahuan tersebut dapat memperbaiki perilaku masyarakat dan memperluas akhlak yang mulia dengan catatan para cendekiawan, ulama dan pemimpin masyarakat teliti terhadap kebijakan-kebijakannya dan melangkah berdasarkan ilmu dan akhlak yang terpuji, tentunya juga dibarengi dengan praktek terhadap pengetahuan mereka. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka perilaku mereka sama dengan orang-orang yang bodoh.

Imam Ali as berkata, “Seorang ulama yang perilakunya berlawanan dengan ilmunya, maka ia bagaikan seorang bodoh yang mengembara. Ia tidak mengetahui benar dan salah serta tidak akan keluar dari kebodohannya.”

Pembenahan diri adalah cara lain untuk mengubah akhlak. Jiwa manusia dari berbagai sisi mengalami perubahan sebagaimana fisiknya. Terkadang banyak perilaku karena sering dikerjakan sehingga menjadi sebuah kebiasaan. Manusia dapat mengubah kebiasaan tersebut dan melangkah sesuai keinginan fitrah sucinya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw saat menyambut sahabatnya pulang dari medan perang melawan kaum kafir dengan kemenangan, menyebut perang tersebut sebagai “Jihad Ashghar” dan beliau menyerukan kepada sahabatnya untuk melakukan “Jihad Akbar”, yaitu memerangi hawa nafsu. Rasulullah Saw menjelaskan bahwa Jihad Akbar adalah jihad yang paling tinggi derajatnya.

Tauladan yang baik adalah faktor lain yang mendukung untuk mengubah sifat buruk dan memperluas budaya di masyarakat. Sebab karavan manusia membutuhkan pemimpin dalam meniti jalan kesempurnaan, khususnya jalan menuju kebahagiaan, di mana tauladan tersebut merupakan perwujudan dari semua kabajikan, sehingga masyarakat mencontohnya dan menjadi landasan dalam melangkah menuju tujuan mulia.

Terkait hal itu, kita akan menyinggung surat Imam Ali as kepada salah satu gubernurnya di Basrah. Dalam Nahjul Balaghah disebutkan bahwa Imam Ali as mengkritik Utsman Ibn Hunaif, Gubernur Basrah karena telah menghadiri jamuan orang-orang kaya di kota tersebut, sementara orang miskin tidak mungkin hadir di dalamnya. Imam Ali as menulis, “Ketahuilah bahwa setiap petugas memiliki pemimpin, dan setiap pengikut mengikuti pemimpinnya serta memanfaatkan cahaya ilmunya. Ketahuilah bahwa pemimpinmu telah merasa cukup hanya dengan dua pakain tuanya dan makan hanya dengan dua potong roti  jelei.”

Dari riwayat tersebut dapat diambil kesimpulan umum bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan setiap kelompok masyarakat banyak tergantung pada tauladan yang diberikan pemerintah yang berkuasa. Oleh sebab itu, hal ini dapat menjadi faktor terpenting dalam menyebarkan akhlak dan budaya masyakarat.

Melaksanakan perintah Allah Swt adalah faktor lain bagi kemajuan dan pengembangan budaya Islam baik di masa Nabi Muhammad Saw maupun sesudah masa beliau. Menariknya, di zaman Rasulullah Saw hal itu dilakukan dengan penuh cinta, sebab alat terpenting untuk menyebarkan budaya Islam adalah menciptakan kasih sayang dan kebenaran.

Al-Quran melarang pemaksaan terhadap masyakarat untuk beragama sebagaimana tertera dalam surat Yunus ayat 99, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” Di bagian ayat yang lain, al-Quran dengan jelas menerangkan bahwa tidak ada paksaan dalam beragama.

Terdapat poin penting yang harus diperhatikan bahwa kontribusi masyarakat dalam mengawasi semua aktivitas pemerintah dalam kerangka Islam adalah hal yang sangat ditegaskan. Hubungan timbal balik dan saling mengawasi dapat menciptakan kondisi yang tepat untuk mengembangkan budaya. Berdasarkan prinsip tersebut, kebijakan pemerintah Islam harus didasarkan pada al-Quran dan Sunnah, sehingga masyarakat dapat hidup bersama dengan tenang meski terdapat perbedaan pendapat.

Imam Ali as berkata, kondisi beragama, budaya, sosial, ekonomi dan intelektual masyarakat tidak akan teratur kecuali memiliki pemerintah yang saleh dan memiliki kebijakan yang benar, dan pemerintah seperti itu tidak terwujud kecuali rakyatnya jujur dan memberikan konstribusinya serta komitmen dan membarengi aturan dan agenda pemerintah.

29-30 April 2012, Tehran menjadi tuan rumah Konferensi Seni dan Peradaban Syiah. Di konferensi tersebut, para peneliti dan cendikiawan menyerahkan karya mereka ke panitia. Peneliti dan ilmuwan Iran terkenal seperti Muhamad Ali Rajabi, Iraj Naimai, Mahnaz Shayestefar, Ismail Bani Ardalan, Hasan Bolkhari dan Zohreh Roh Far menyerahkan penelitian mereka terkait seni dan peradaban Syiah. Sejumah cendikiawan ini di konferensi tersebut berhasil meraih penghargaan.

Di Konferensi Seni dan Peradaban Syiah dibahas ideologi Syiah dan pengaruhnya terhadap budaya serta karya seni dalam beberapa abad ini. Selain itu, terbentuknya pemerintahan Islam di Iran dan pengaruh peradaban Syiah terhadap seni serta puisi khususnya arsitek. Isu-isu ini menjadi agenda pembicaraan di konferensi Tehran. Kini kami akan mengupas berbagai contoh dari ideologi Syiah di Seni Islam.

Ketika Islam berkembang, sejatinya sebuah peradaban yang kaya tengah tersebar. Dasar-dasar agama Islam bersumber dari ideologi dan keyakinan serta peradaban. Meski Islam tersebar di berbagai wilayah dunia, namun peradaban ini tetap murni bersumber pada ajaran Islam. Seni Islam yang muncul di bawah ajaran suci agama ini mulai dari India, Spanyol dan Andalusia meski di luarnya beragam, namun memiliki esensi satu.

Proses terbentuknya pemerintahan independen di abad-abad pertama Hijriah, membuka kesempatan bagi berkembangnya sebuah ideologi mazhab tertentu termasuk Syiah serta mendapat dukungan dari pemerintah. Pembahasan seperti peristiwa Asyura menyebabkan munculnya seni serta membantu tersebarnya tragedi yang menimpa Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw. Oleh karena itu, seni Islam yang dipengaruhi oleh budaya Syiah terkadang juga berpengaruh pada seluruh budaya serta peradaban Islam dan terkadang memunculkan seni tersendiri.

Saat merunut sejarah munculnya seni ini, pertama-tama kita harus membahas pemerintahan di Iran setelah masuknya Islam ke negara ini. Meski setelah Bani Safavi berkuasa, mazhab resmi di Iran bukan Syiah, namun saat itu populasi pengikut Syiah di negara ini semakin meningkat. Ketika Dinasti Timurian di abad 15 Hijriah berkuasa, komunitas Syiah banyak memberi warna di pemerintahan meski dinasti ini menganut mazhab Sunni. Hal ini dapat ditemukan di berbagai karya seni saat itu seperti karya lukis, kaligrafi dan prasasti yang memiliki unsur ideologi Syiah.

Proses pergantian mazhab berlangsung hingga dinasti Safaviah berkuasa di permulaan abad ke 16 Hijriah, selanjutnya mazhab resmi di Iran adalah Syiah. Dengan demikian saat itu, karya budaya dan seni di Iran sangat kental dengan ideologi Syiah.

Manuskrip kuno, bangunan bersejarah dan industri kesenian termasuk karya terpenting seni dan mendapat perhatian besar para seniman. Karya-karya ini juga menampilkan keyakinan para seniman tersebut. Sejak era Timurian dan Safavi banyak ditemukan manuskrip yang menjelaskan kepribadian Nabi Muhamad, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husein. Pusat-pusat seni saat itu ramai memproduksi buku-buku yang menggambarkan sosok Rasulullah beserta Ahlul Kisa. Selain itu, ditemukan juga manuskrip yang ditulis abad ke 11 Hijriah yang memuat gambar khayalan tentang para Imam Syiah di samping teks-teks keagamaan seperti hadis atau buku sastra.

Salah satu karya penting dalam hal ini adalah buku terjemah kitab Tarikh Tabari yang dicetak di akhir abad ke tujuh Hijriah (13 Masehi) yang menggambarkan kehidupan Nabi Muhammad dengan sangat indah. Poin penting di buku ini adalah peran Imam Ali as di berbagai peristiwa, jihad dan resistensi melawan kaum musyrik.

Menyimak perkembangan kwalitas seni Iran khususnya terkait interaksi antara mazhab dan seni, arsitek dalam hal ini sangat menonjol. Dinasti Timurian dan Safavi merupakan penguasa yang melestarikan kebudayaan Iran setelah Islam masuk ke negara ini. Selama kedua dinasti ini memerintah, seni arsitek mengalami puncak kejayaan. Terlepas dari pembangunan berbagai bangunan dengan beragam fungsinya, ornamen di dalam bangunan menunjukkan ideologi para seniman saat itu condong ke Syiah serta kecintaannya terhadap Ahlul Bait.

Di Dunia Islam, seni kaligrafi memiliki posisi sangat penting, khususnya berkaitan dengan al-Quran. Hampir di seluruh bangunan Islam selalu dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat al-Quran, hadis atau doa. Kaligrafi ini banyak ditemukan di pintu masuk bangunan, menara, kubah, mihrab atau pojok-pojok bangunan. Kaligrafi ini kebanyakan menggunakan keramik yang beraneka ragam warnanya serta menggunakan khat Kufi.

Selain ayat-ayat al-Quran, hadis dari nabi dan para Imam Maksum juga banyak digunakan para seniman untuk menghiasai karya mereka. Dalil kepemimpinan Imam Ali as setelah wafatnya Rasulullah juga banyak ditemukan di seni kaligrafi mereka. Di antaranya adalah kalimat علیا و لی الله yang marak di era pemerintahan Safavi. Masjid-masjid di kota Isfahan, Yazd dan Herat yang hingga kini masih tersisa menjadi saksi atas hal ini. Sepertinya seniman yang meninggalkan karya ini berusaha menjelaskan kedudukan Imam Ali as sebagai hamba terkasih Allah dan berulang kali mendapat pujian-Nya.

Ayat dan riwayat ini menunjukkan realita bahwa ketinggian ilmu dan pengetahuan Imam Ali tentang Islam merupakan sumber ilmu dan menjadi perhatian para seniman. Rasulullah Saw dalam sebuah hadisnya bersabda, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya.” Selain itu, masih terdapat karya seni lainnya yang banyak ditemukan di bangunan-bangunan Iran. Nama Allah yang disebutkan bersama-sama nama Ahlul Kisa, menjadi perhatian besar para seniman kala itu. Sehingga sampai saat ini kita masih menemukan peninggalan besar mereka. Kaligrafi yang bertuliskan nama Allah, Muhamad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein banyak menghiasi bangunan di era Safavi.

Masjid Sheikh Lutfullah di Isfahan merupakan salah satu contoh kejayaan seni Islam Syiah. Di sekitar mihrab masjid ini nama dua belas Imam Syiah dari keturunan Rasulullah ditulis dengan indah. Selain itu, masjid ini masih menyimpan berbagai seni kaligrafi lainnya. Berbagai kaligrafi ayat, hadis dan doa dari para Imam maksum di era Safavi ditulis oleh seniman terkenal, Ali Reza Abbasi. Prasasti dan kaligrafi yang ditulis tahun 1025 H (1616 M) ini bukan hanya menambah relijius masjid ini, namun juga menampilkan asas ketuhanan di Islam dan posisi penting para pemimpin agama. Prasasti ini sekali lagi menekankan bahwa para Imam Syiah merupakan pengganti Rasulullah dan mereka memiliki ilmu yang tinggi.

Karya seni lainnya yang menunjukkan ideologi Syiah di Iran adalah karya kerajinan tangan keramik dan ukiran dari logam serta kayu. Para pengrajin logam Iran di abad sembilan Hijriah (15 Masehi) sejatinya merefleksikan keyakinan atas ketuhanan. Ayat, hadis dan doa menjadi bahan utama ukiran para pengrajin ini. Bukti utama hal ini adalah ukiran di bagian atas mangkuk yang berisi doa dan shalawat kepada para Imam serta zikir یا محمد یا علی. Ayat al-Quran diukir dengan indah di bibir mangkuk dan sejumlah kalimat lain yang memuji Imam Ali as. Mangkuk seperti ini merupakan idaman rakyat Iran, Turki dan India saat itu. Masyarakat memiliki keyakinan bahwa air yang mereka minum dari mangkuk seperti ini memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit.

Dengan demikian, karya seni bersejarah yang masih dapat ditemukan membuktikan babak baru dari sejarah Islam yang dimulai dari pemerintahan Safavi. Perubahan budaya di Iran dimulai ketika Dinasti Safavi memimpin dan menetapkan Syiah sebagai mazhab resmi. Oleh karena itu, penelitian terhadap seni Iran sejak era Safavi hingga kini tak lengkap tanpa memperhatikan peristiwa bersejarah ini.

Imam Al-Baqir as syahid diracun Hisyam bin Abdul Malik

Mengenal Imam Ahlul Bait:
Imam Muhammad Al Baqir, Penyingkap Khazanah Ilmu

 

Riwayat Singkat Imam Al-Baqir as
Nama : Muhammad.
Gelar : Al-Baqir.
Panggilan : Abu Ja’far.
Ayah : Ali Zainal Abidin.
Ibu : Fatimah.
Kelahiran : Madinah, 1 Rajab 57 H.
Kesyahidan : 7 Dzulhijjah 114 H.
Makam : Pemakaman Baqi‘, Madinah.

 

Imam Muhammad Al Baqir, Penyingkap Khazanah Ilmu

Hari Lahir

Imam Muhammad Al-Baqir as dilahirkan pada awal bulan Rajab tahun 57 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kelima Ahlulbait as. Ayahnya adalah Imam Ali Zainal Abidin as, dan ibunya adalah seorang wanita dari keturunan Imam Hasan as yang bernama Fatimah.

Dengan demikian, Imam Muhammad Baqir as adalah imam pertama yang memiliki nasab keturunan Rasulullah saw dari pihak ayah dan ibu, sekaligus.

Imam Al-Baqir as mengalami hidup bersama kakeknya, Imam Husain as pada saat tragedi Karbala, yang ketika itu beliau masih berusia empat tahun.

Beliau hidup bersama ayahnya selama 18 tahun dan masa itu adalah masa keimamahan (kepemimpinan)-nya. Beliau mengkhidmatkan masa-masa hidupnya demi menyebarkan ilmu pengetahuan Islam.

Orang-orang memberi beliau gelar Al-Baqir (Sang Jenius), karena beliau telah membongkar ilmu pengetahuan dari khazanah-khazanahnya. Imam as juga memiliki gelar-gelar lain yang menunjukkan sifat dan akhlak agung beliau, seperti Asy-Syakir (yang banyak bersyukur) dan Al-Hadi (pemberi petunjuk).

Sewaktu masih berusia belia, Imam Muhammad Al-Baqir as bertemu dengan sebagian besar sahabat utama Nabi, seperti Jabir bin Abdillah Al-Anshari. Kepada beliau Jabir mengatakan, “Rasulullah mengirimkan salam untukmu.” Salam ini membuat orang-orang yang hadir saat itu menjadi heran.

Jabir melanjutkan, “Suatu hari aku sedang duduk bersama Rasulullah, sedangkan Husain as berada di haribaannya. Beliau berkata padaku, ‘Hai Jabir, putraku ini kelak mempunyai seorang anak yang bernama Ali. Dan pada Hari Kiamat, seseorang akan memanggilnya ‘Sayyidul Abidin’. Kemudian melalui Ali, seorang anak yang bernama Muhammad Al-Baqir—yang memiliki keluasan ilmu—akan lahir. Bila engkau berjumpa dengannya, sampaikan salamku kepadanya.’”

Imam Al-Baqir as memiliki dua kebun yang dikelola oleh beliau sendiri. Beliau melibatkan para petani untuk menuai hasil kebunnya, serta menginfakkan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Pada zaman itu, beliau dikenal sebagai orang yang paling dermawan.

Dinukil dalam kitab-kitab sejarah, bahwa seorang sufi bernama Muhammad bin Al-Munkadir berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang seperti Ali bin Husain as yang meninggalkan keturunan yang begitu utama, sampai aku melihat putranya Muhammad as. Aku hendak menasihatinya, ia malah lebih dulu menasihatiku. Pada suatu hari, saat matahari terik menyinari bumi, aku keluar menuju sebuah daerah di luar kota Madinah. Aku bertemu dengan Muhammad bin Ali as yang sedang bersandar pada dua orang budaknya. Aku berkata pada diriku sendiri, ‘Orang tua Quraisy di saat seperti ini masih sibuk mencari dunia? Demi Allah, aku akan menasihatinya.’

“Aku mendekatinya dan mengucapkan salam kepadanya. Ia pun menjawab salamku. Aku melihat dia penuh dengan peluh yang membasahi tubuhnya. Aku berkata padanya, ‘Semoga Allah memberikan hidayah-Nya padamu, wahai orang tua Quraisy. Di saat seperti ini kau masih sibuk mencari dunia? Bagaimana kalau sekiranya maut datang menjemputmu sedang kau dalam keadaan seperti ini?’

“Ia melepaskan kedua tangannya dari sandaran kedua budaknya dan berkata, ‘Demi Allah, jika sekiranya maut datang kepadaku dalam keadaan seperti ini, sungguh ia datang kepadaku sedang aku dalam ketaatan kepada Allah, yang dengannya jiwaku bisa terhindar darimu dan manusia lainnya. Sesungguhnya yang aku takutkan adalah bila kematian itu datang sedang aku dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.’

“Mendengar jawabannya, aku membalas kagum, ‘Semoga Allah mengasihimu. Aku sebenarnya ingin menasihatimu, malah kaulah yang menasihatiku.’”

Dalam kisah ini, Imam Muhammad Al-Baqir as menunjukkan sikap tegas beliau sehingga orang dapat memahami, bahwa mencari rezeki itu adalah ibadah dan ketaatan kepada Allah SWT, bukan malah meninggalkan pekerjaan dan menghabiskan waktunya untuk salat sementara hidupnya menjadi tanggungan orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kaum sufi, seperti Ibn Al-Munkadir dan yang lainnya.

Keilmuan Imam

Seorang warga Syam, yang sebelumnya enggan hadir di majlis Imam Muhammad Al-Baqir as, berkata kepada beliau, “Tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang lebih aku benci daripadamu. Kebencian padamu sungguh ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Meski begitu, aku melihatmu begitu sopan, beradab serta bertutur-kata yang santun. Maka ketahuilah, kehadiranku di majlismu ini karena kebaikan budi dan bahasamu.”

Dalam setiap kesempatan, Imam Al-Baqir as selalu mengatakan yang baik. Kepada orang Syam itu Imam as mengatakan, “Tiada sesuatu pun yang tersembunyi di sisi Allah SWT.”

Selang beberapa hari, orang tersebut tidak pernah kelihatan lagi. Imam as merasa kehilangan. Beliau bertanya kepada orang-orang yang mengenalnya. Kata mereka, orang itu sedang sakit.

Imam as bergegas menjenguknya. Beliau duduk di sisinya sambil bercakap-cakap dan bertanya tentang penyebab sakitnya. Lalu, Imam menganjurkan agar memakan makanan yang dingin dan segar. Setelah itu, Imam as pun meninggalkan orang tersebut.

Beberapa hari kemudian, orang itu pulih dari sakitnya. Pertama kali yang dia lakukan ialah pergi ke majelis Imam as. Di sana, dia memohon maaf kepada Imam, dan akhirnya menjadi salah satu sahabat beliau.

Dikisahkan, seseorang bertanya kepada Abdullah bin Umar tentang sebuah masalah. Abdullah kebingungan menjawabnya. Ia berkata kepada si penanya, “Pergilah kepada anak itu, dan tanyalah padanya, kemudian beritahukan jawabannya kepadaku.” Anak yang dimaksudkannya itu ialah Imam Muhammad Al-Baqir as.

Maka orang tersebut datang kepada Imam as. dan bertanya padanya. Selekas itu, ia kembali kepada Abdullah dengan membawa jawaban yang didapatkannya dari beliau. Abdullah berkata, “Sesungguhnya mereka adalah Ahlul Bait Nabi yang telah diberikan pemahaman tentang segala sesuatu.”

Dialog dengan Pendeta

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menceritakan, bahwa suatu ketika beliau berada di Syam bersama ayahnya (Imam Muhammad Al-Baqir as). Keberadaan mereka di Syam karena Khalifah Hisyam bin Abdul Malik meminta mereka untuk datang ke sana.

Pada suatu hari, Imam Al-Baqir as melihat kerumunan orang-orang di sebuah tempat. Semua sedang menantikan seseorang. Beliau menanyakan perihal mereka itu. Dijawab, “Mereka itu sedang menunggu salah seorang pendeta, karena ia hanya muncul setahun sekali. Mereka bertanya dan meminta fatwa darinya.”

Imam as ikut menunggu bersama mereka sampai pendeta tersebut datang. Tatkala pendeta itu melihat Imam, ia menyapa beliau, “Apakah Anda dari golongan kami atau dari umat yang perlu dikasihani ini?”

Imam as menjawab, “Aku dari umat ini.”

Pendeta bertanya lagi, “Dari orang awam umat ini atau dari ulamanya?”

Imam menjawab, “Aku bukan dari orang awamnya.”

Pendeta berkata lebih serius, “Aku punya beberapa pertanyaan untuk Anda; dari mana Anda percaya bahwa penghuni surga makan dan minum tapi mereka tidak buang air?”

Imam as menjawab, “Bukti kami adalah janin yang ada dalam rahim ibunya. Ia makan tapi tidak buang kotoran.”

Pendeta itu bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang setenggat waktu yang tidak terhitung malam juga tidak terhitung siang.”

Imam as menjawab, “Waktu di antara terbitnya fajar dan terbitnya matahari.”

Mendengar jawaban-jawaban Imam as, sang pendeta terkejut. Ia ingin sekali membungkam Imam dengan pertanyaan lain. Ia berkata, “Kabarkan kepadaku tentang dua bayi yang keduanya dilahirkan pada hari yang sama dan meninggal pada hari yang sama juga. Umur bayi yang pertama 50 tahun dan yang kedua 150 tahun.”

Imam as menjawab, “Uzair dan saudaranya, saat itu usia Uzair 25 tahun. Tatkala melewati suatu desa di Antakia yang ditinggal mati oleh penduduknya, ia merenung, ‘Bagaimana Allah akan menghidupkan penduduk ini setelah kematian mereka?’

“Kemudian Allah SWT mematikan Uzair selama 100 tahun, lalu membangkitkannya lagi dan ia kembali ke rumahnya dalam keadaan muda, sementara saudaranya sudah tua-renta. Uzair hidup bersama saudaranya selama 25 tahun, dan kedua bersaudara itu pun meninggal pada hari yang sama.”

Melihat keluasan dan ketinggian ilmu Imam Al-Baqir as ini, pendeta itu lagi-lagi takjub. Tak ayal lagi, ia pun menyatakan keislamannya di depan khalayak, dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya.

Di Majelis Hisyam

Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mengundang Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq. Karena itu, keduanya meninggalkan Madinah, bergerak menuju Syam. Tujuan undangan Hisyam sebenarnya hendak menunjukkan kebesaran kerajaannya.

Setibanya di Syam, Imam Al-Baqir as memasuki istana, yang ketika itu Hisyam duduk di atas singgasana dengan dikelilingi oleh pengawal bersenjata dan di depannya ada golongan elite yang siap berlomba memanah. Hisyam berkata, “Ya Muhammad! Coba kau bertanding melawan orang-orang ini dan bidikkan panah ke sasaran!”

Imam as berkata, “Sesungguhnya aku sudah lama meninggalkan permainan memanah. Maafkan aku.”

Hisyam menolak alasan Imam, dan memaksanya untuk melakukannya. Ia pun menyuruh seorang tokoh dari Bani Umayyah untuk mengambilkan panah dan busurnya. Akhirnya, Imam as menerimanya dan meletakkan anak panah itu pada busurnya, kemudian ia lesatkan ke sasaran dan tepat mengenai titik pusatnya. Untuk kedua kalinya, beliau membidikkan anak panah, hingga yang kesembilan kali. Semua anak panah itu menancap tepat pada sasaran.

Hisyam pun tercengang melihat kepandaian Imam as dan memujinya sambil berkata, “Alangkah pandainya kau wahai Abu Ja’far. Kau adalah orang yang paling pandai memanah dari kalangan Arab dan Ajam. Beginikah kau katakan, ‘Aku sudah lama meninggalkan permainan memanah?”

Kemudian, Hisyam menuntun Imam Al-Baqir as dan mendudukkannya di sampingnya. Ia berkata, “Wahai Muhammad! Bangsa Arab dan Ajam akan senantiasa mengikuti orang-orang Quraisy selagi di tengah-tengah mereka ada orang sepertimu. Demi Allah, siapa yang mengajarimu memanah? Dan pada usia berapakah kau mempelajarinya?”

Imam as menjawab, “Aku belajar di masa aku masih kecil, kemudian aku tinggalkan.”

Hisyam berkata, “Aku tidak pernah menyangka bahwa di atas bumi ini masih ada orang yang memanah seperti ini. Apakah Ja’far (putra Imam as) juga dapat memanah seperti ini? Apakah dia juga dapat memanah sebagaimana engkau memanah?”

Imam as menjawab, “Kami Ahlulbait Nabi mewarisi kesempurnaan dan kelengkapan yang keduanya telah Allah SWT turunkan kepada Nabinya saw dalam firmannya, ‘Pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah aku lengkapkan nikmatku untukmu serta aku rela Islam sebagai agamamu.’

Mendengar jawaban itu, muka Hisyam memerah lantaran marah dan berkata, “Dari mana kau mewarisi ilmu ini, padahal tidak ada nabi setelah Muhammad dan kau sendiri juga bukanlah seorang nabi?”

Imam as menjawab, “Kami mewarisinya dari datuk kami Ali bin Abi Thalib as. Beliau pernah berkata, ‘Rasulullah saw telah mengajariku seribu pintu ilmu … Dari setiap pintunya terbuka seribu ilmu lagi ….”

Hisyam pun diam tertunduk sambil berpikir. Lalu ia memerintahkan pengawalnya untuk mengembalikan Imam Muhammad Al-Baqir as dan putranya, Imam Ja’far Ash-Shadiq as ke Madinah secepat mungkin, karena ia takut kehadiran dua Imam ini di Syam akan mengundang simpati warga kota kepada mereka.

Mata Uang Islam

Perebutan batas-batas wilayah yang sangat keras sekali telah terjadi antara negara Islam dan Romawi. Imperium Romawi mengancam Abdul Malik bin Marwan akan memutus mata uang negara Islam bila tidak menyerahkan wilayah-wilayah yang dipersengketakan. Abdul Malik merasa ketakutan dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia kumpulkan pemuka-pemuka dan tokoh-tokoh umat Islam untuk dimintai pendapatnya, tapi mereka tidak bisa memberikan keputusan apa-apa. Akhirnya, sebagian mereka mengusulkan agar merujuk kepada Imam Muhammad Al-Baqir as.

Lalu, Abdul Malik mengutus utusan untuk memanggil Imam as ke Syam. Beliau pun memenuhi panggilan tersebut. Setelah mengetahui duduk persoalan, beliau mengatakan kepada Abdul Malik, “Tidak ada yang perlu ditakutkan. Cepat kirim utusan ke Kaisar Romawi dan mintalah jangka waktu darinya. Di sela-sela itu, kirimlah surat ke gubernur-gubernur daerah, dan perintahkan mereka untuk mengumpulkan emas dan perak, sehingga bila telah sampai jumlah yang cukup, segeralah engkau mencetak mata uang Islam!”

Kemudian, Imam as menentukan timbangan dan bentuknya. Beliau memerintahkan Abdul Malik untuk menuliskan di atas salah satu sisi uang tersebut kalimat “Muhammad Rasulullah.” Bila pekerjaan ini telah selesai, tidak akan terjadi transaksi dengan mata uang Romawi. Ketika itulah Imperium Romawi tidak akan punya kekuatan lagi di hadapan pemerintahan Islam.

Setelah pekerjaan itu selesai dan mata uang Islam sudah tersebar, Abdul Malik mengeluarkan keputusannya yang terakhir mengenai persengketaan batas-batas wilayah.

Dan ternyata, Imperium Romawi tidak mendapatkan cara apapun untuk melancarkan tekanan terhadap ekonomi negara Islam. Maka, dipilihlah jalan militer. Akan tetapi, mereka pun gagal, setelah laskar-laskar muslimin menyerang pasukan mereka.

Demikianlah Imam kita, Imam Muhammad Al-Baqir as. Dengan pikiran dan arahannya yang cemerlang, beliau telah menyelamatkan pemerintahan Islam dari ancaman musuh-musuh, sehingga kaum muslimin memiliki mata uang sendiri yang menjadi lambang kebesaran Islam.

Sahabat-Sahabat Imam

Tatkala orang-orang Bani Umayyah sibuk meredam kekacauan dan kerusuhan massa di sana-sini, Imam Muhammad Al-Baqir as mendapatkan kesempatan yang baik untuk menyebarkan ilmu pengetahuan, membina kader-kader, dan mengokohkan ajaran-ajaran Ahlulbait as.

Pada zaman Imam as, telah muncul sebagian murid-murid utama beliau yang memiliki peranan besar dalam penyebaran ajaran-ajaran tersebut. Di antara mereka yang paling menonjol ialah:

1. Aban bin Taghlib

Ia pernah hidup sezaman dengan tiga imam Ahlulbait. Ia juga pernah menghadiri majelis Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Muhammad Al-Baqir as, dan Imam Ja’far Ash-Shadiq as. Namun begitu, ia lebih banyak belajar pada Imam Al-Baqir as.

Aban menonjol di bidang ilmu Fiqh, Hadis, Sastra Arab, Tafsir, dan Nahwu. Imam Al-Baqir as pernah berkata kepadanya, “Duduklah di masjid Madinah dan ajarilah masyarakat, karena sesungguhnya aku lebih suka melihat orang sepertimu di antara pengikutku.”

2. Zurarah bin A’yun

Tentang Zurarah, Imam Ja’far as mengatakan, “Sekiranya tidak ada Zurarah, niscaya hadis-hadis ayahku akan hilang.”

Dalam kesempatan yang lain, Imam as menyatakan, “Semoga Allah mengasihi dan merahmati Zurarah bin A’yun. Seandainya tidak ada Zurarah dan orang-orang sepertinya, tidak akan ada yang tersisa lagi hadis-hadis ayahku.”

3. Muhammad bin Muslim Ats-Tsaqafi

Imam Ja’far Ash-Shadiq as sangat menghormati dan mencintai Muhammad. Dia adalah salah seorang sahabat utama dari empat orang sahabat Imam Ja’far as. Beliau berkata, “Empat orang manusia yang sangat aku cintai, baik mereka masih hidup maupun sesudah meninggal dunia.”

Imam Ja’far as memerintahkan sebagian sahabat-sahabatnya untuk merujuk kepada Muhammad dengan perkataannya, “Ia telah mendengarkan hadis-hadis ayahku, dan dia orang terpandang di sisi ayahku.”

Muhammad bin Muslim sendiri pernah menyatakan, “Aku bertanya kepada Imam Muhammad Al-Baqir as tentang tiga puluh ribu hadis.”

Imam Ja’far as seringkali memuji sahabat-sahabat ayahnya. Beliau mengatakan, “Sekiranya sahabat-sahabatku mendengarkan dan taat kepadaku, niscaya akan aku titipkan kepada mereka apa yang ayahku titipkan pada sahabat-sahabatnya. Sesungguhnya semua sahabat ayahku menjadi penghias bagi kami, di masa hidupnya maupun matinya.”

Di antara sahabat Imam Muhammad Al-Baqir as yang lain adalah Al-Kumait Al-Asady, seorang pujangga ternama. Setiap kali berjumpa dengannya, Imam Al-Baqir as memanjatkan doa, “Ya Allah! Curahkanlah ampunan-Mu kepada Al-Kumait!”

Hari Kesyahidan

Meskipun usaha Imam Muhammad Al-Baqir as hanya tercurahkan di bidang-bidang ilmu pengetahuan dan penyebaran agama, akan tetapi para penguasa Bani Umayyah tidak bisa tenang melihat keberadaannya, khususnya setelah orang-orang mengetahui keutamaan, keluhuran, dan keluasan ilmu beliau. Kepribadian, akhlak, dan rasa kemanusiannnya menyinari mereka. Sebagaimana dari silsilah nasab beliau yang bersambung langsung ke Rasulullah saw, semua itu mengangkat kedudukannya di hati umat Islam menjadi begitu tinggi nan agung.

Begitu pula bagi Hisyam bin Abdul Malik. Dia senantiasa berpikir untuk membunuh Imam Al-Baqir as. Akhirnya, dia gunakan racun untuk membunuh beliau. Di tangannyalah Imam as syahid pada 7 Dzulhijjah 114 H.

Imam Muhammad Al-Baqir as telah menjalani masa hidupnya selama 57 tahun untuk mengabdi sepenuhnya kepada Islam dan kaum muslimin serta menyebarkan ilmu pengetahuan dan ajaran Ahlulbait as.[]

Mutiara Hadis Imam Al-Baqir as

• “Kesombongan tidak akan masuk ke dalam hati seseorang kecuali akalnya kurang.”

• “Seorang alim yang mengamalkan ilmunya adalah lebih utama dari seribu orang ‘abid (yang tekun ibadah). Demi Allah, kematian seorang alim lebih disukai oleh iblis daripada kematian tujuh puluh orang ‘abid.”

• Kepada salah seorang anaknya, beliau mengatakan, “Wahai anakku, jauhilah kemalasan dan kebosanan, karena keduanya adalah kunci segala keburukan. Sesungguhnya bila kamu malas, niscaya engkau tidak akan pernah menunaikan tanggung jawabmu, dan bila kamu bosan niscaya engkau tidak akan bersabar dalam melaksanakan tugasmu.”

• “Cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memandang aib orang lain sementara aibnya sendiri tidak pernah ia lihat. Dan cukuplah besarnya aib seseorang tatkala ia memerintahkan orang lain akan suatu yang ia sendiri tidak mampu mengembannya.”

• Dalam nasihat untuk salah seorang sahabatnya, Imam as mengatakan, “Aku wasiatkan kepadamu lima perkara: bila engkau dianiaya, maka janganlah kau membalasnya, bila engkau dikhianati, maka janganlah kau balas dengan khianat pula, bila kau didustai, maka janganlah kau balas dengan dusta pula, bila engkau dipuji, maka janganlah kau merasa puas, dan bila kau dicela, maka janganlah kau bersedih.”

pada masa Imam Al Hadi as kebencian Al-Mutawakkil terhadap Ahlulbait Nabi as dan Syi’ahnya begitu besar

Khatib solat jumaat;
Pihak yang menghina status Imam Al-Hadi akan segera terima akibatnya
Khatib solat Jumaat mengutuk penghinaan terhadap para imam maksum dan mengingatkan bahawa ajal mereka yang mencerca Imam Hadi (a.s) telah hampir tiba walau di mana pun mereka berada.
Pihak yang menghina status Imam Al-Hadi akan segera terima akibatnya.
Ayatullah Sayid Ahmad Khatami dalam khutbah Jumaat di Universiti Tehran mengecam pihak yang menghina kesucian Imam Hadi (a.s) sambil menyatakan mereka telah tersilap meskipun mendapat bantuan terbuka daripada Barat dan kuasa angkuh dunia.“Sekarang tidak ada lagi jaminan keselamatan mereka walau di mana pun. Saya berharap ini akan menjadi pengajaran buat sesiapa yang sedar tentang status imam maksum (a.s) di kalangan Syiah.”Ayatollah Khatami melanjutkan khutbahnya dengan mengucapkan tahniah di atas kelahiran Imam Muhammad Baqir (a.s) sambil menyatakan bahawa dunia Islam terhutang budi dengan jasa-jasa yang telah disumbangkan oleh beliau dan anaknya, Imam Jaafar Sodiq yang telah mengembangkan Islam sejati.

Mengenai plan menyatukan Bahrain dan Saudi, beliau menganggap rancangan itu sebagai satu penganiayaan dan tekanan terhadap keberanian rakyat Bahrain yang tidak mengizinkan pemerintah mereka membolot kekayaan negara secara tidak adil.

Selain itu beliau turut membari amaran kepada pemimpin Azerbaijan agar tidak menentang Islam dengan menjalinkan hubungan bilateral bersama regim Zionis.

.

Metode Imam Ali Al-Hadi as Mengokohkan Pemikiran Ahlul Bait

Hari ketiga dari bulan Rajab merupakan hari syahadahnya Imam Hadi as. Pada zamannya, beliau adalah pribadi agung yang berusaha kuat menjaga budaya dan pemikiran Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw dari pengaruh perubahan. Sebelumnya kami mengucapkan belasungkawa di hari ini dan untuk memperingati keagungan posisi Imam Hadi as, dalam beberapa saat bersama anda kami akan membahas tentang strategi politik dan budaya beliau dalam menghadapi pelbagai konspirasi yang mengancam Islam dan ajaran pemikiran Ahlul Bait Rasulullah Saw.

Imam Hadi as lahir pada tanggal 15 Dzulhijjah 212 Hq di Madinah. Ketika ayahnya Imam Jawad as mencapai syahadah pada tahun 220 Hq, Imam Hadi yang memegang tanggung jawab kepemimpinan. Beliau memberikan petunjuk dan penerangan kepada masyarakat selama 33 tahun. Kepemimpinan Imam Hadi as bersamaan semasa dengan enam orang khalifah Abbasiah. Di masa kepemimpinan beliau inilah Ahlul Bait Rasulullah Saw banyak mengalami tekanan dari pihak penguasa Abbasiah. Dan salah satu dari enam khalifah yang sezaman dengan beliau dan paling tampak permusuhannya terhadap Ahlul Bait adalah Mutawakkil. Ia berkuasa sekitar 15 tahun lamanya dan yang paling lama di antara enam orang khalifah waktu itu.

Imam Hadi as memulai perjuangannya melawan para penguasa Abbasiah secara tidak langsung dengan menggunakan metode dakwah, budaya dan pendidikan. Metode Imam Hadi as dalam menghadapi para penguasa Abbasiah pada hakikatnya bukan dengan cara memegang senjata atau berhadap-hadapan secara militer. Akan tetapi beliau menggunakan metode yang justru mampu mengalahkan musuh. Dengan kata lain, metode yang digunakan Imam Hadi as dalam menghadapi para penguasa zalim adalah metode sejenis perang lunak. Dalam kondisi zaman itu Imam Hadi as telah menggunakan beragam metode perjuangan yang membuat musuh kelabakan.

Dengan cara dan usaha inilah Ahlul Bait Rasulullah Saw berada di atas pondasi pemikiran dan keyakinan yang kokoh dan logis dan menyebarkannya dengan beragam cara meski mereka senantiasa berada di bawah tekanan politik Bani Umayyah dan Bani Abbasiah. Kapan saja Islam dihadapkan dengan masalah dan pertanyaan, satu-satunya jawaban yang paling memuaskan berasal dari ajaran Ahlul Bait. Para Imam as merancang prinsip-prinsip pemikiran Islam untuk membangun masyarakat Islam

Tekanan berat dari sisi politik dan menyebarnya kerancuan pemikiran dan keyakinan merupakan dua fenomena yang muncul di zaman Imam Hadi as. Tanpa Imam Hadi as, dasar keyakinan dan pemikiran Islam bakal terancam. Sebelum Imam Hadi as dipindahkan ke Samara oleh tentara Abbasiah, beliau tinggal di Madinah yang menjadi pusat keilmuan dan fikih dunia Islam. Aktifitas Imam Hadi as di Madinah membangkitkan kekhawatiran para penguasa zalim Abbasiah. Oleh karena itulah mereka memaksa Imam Hadi as untuk meninggalkan Madinah dan selama 10 tahun beliau hidup dalam tekanan berat di masa kekuasaan Bani Abbasiah. Tekanan berat politik para penguasa Abbasiah terhadap Imam Hadi as menyulitkan masyarakat untuk bisa menemui beliau.

Hal ini dilakukan mereka dengan harapan bahwa ketidakhadiran Imam Hadi as di tengah-tengah masyarakat bakal memunculkan masalah keyakinan. Ketidakhadiran beliau secara perlahan-lahan memunculkan aliran-aliran sesat baik dari sisi fiqih maupun keyakinan. Hal ini membuat agama Islam betul-betul berada dalam bahaya. Untuk menghadapi kondisi sulit ini, Imam Hadi as memperkuat “Lembaga Perwakilan” dan menyebarkannya ke daerah-daerah guna menciptakan koordinasi antara sesama pengikut Ahlul Bait yang tersebar di daerah-daerah.

Sebenarnya sebelum Imam Hadi as, telah ada lembaga perwakilan yang dibentuk oleh para Imam sebelumnya. Tapi kelebihan Imam Hadi as adalah menjadilan badan ini resmi perwakilan dirinya, sehingga masyarakat tetap dapat berkomunikasi dengan beliau lewat wakil-wakilnya. Dengan demikian, tuntunan beliau juga dapat sampai ke masyarakat, tanpa kehadirannya. Metode ini mampu melanggengkan sistem Imamah di tengah tekanan kuat penguasa.

Manajemen Imam Hadi di masa itu sangat berpengaruh dan efektik untuk bisa keluar dari krisis-krisis selanjutnya yang lebih sulit. Karena kondisi politik saat itu berkembang sedemikian rupa sehingga Ahlul Bait pasca Imam Hadi as yakni di masa Imam Hasan Askari as, semakin tertekan. Badan perwakilan sangat penting pengaruhnya dalam mengkoordinasi dan mengatur keilmuan, sosial dan keamanan para pengikut Ahlul Bait as. Dalam lembaga ini, pesan Imam akan sampai kepada para pengikutnya dengan cepat dan sistematik melalui satu kanal yang terpercaya dan resmi. Sehingga dari sisi keamanan tidak sampai menyulitkan para pengikut Ahlul Bait dan tempatnya tidak sampai diketahui oleh orang lain.

Jaringan penting ini dari sisi keilmuan dan fikih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dari sumber aslinya dan hasil pertamanya secara nyata adalah menjawab shubhah-shubhah keyakinan dan pemikiran. Mengambil jawaban  atas masalah-masalah fikih dan teologi dari kanal yang bisa dipercaya bak payung perlindungan yang besar bagi para pengikut Ahlul Bait yang bisa juga dipakai untuk menghadapi pelbagai serangan budaya. Jaringan perwakilan pada hakikatnya berposisi sebagai sebuah jaringan besar universitas yang menghubungkan para pengikut Ahlul Bait dengan pusat penyebaran pemikiran-pemikiran Ahlul Bait, yakni Imam dengan cara halus dan cepat baik dari sisi pemikiran maupun kebutuhan keilmuan sehari-hari.

Satu lagi tindakan Imam Hadi as dalam mengokohkan pemikiran Ahlul Bait adalah mengenalkan posisi Imamah.  Bukti yang paling nyata dan baik dari Imam Hadi as dalam mengenalkan imamah adalah ziarah Jamiah Kabirah yang merupakan sumber yang paling resmi tentang pengenalan Imam. Di mukadimah ziarah, Imam Hadi as menganggap perlu menyebutkan 100 kali takbir yang merupakan bukti keesaan Allah dan tauhid. Selanjutnya beliau menjelaskan tentang kedudukan hakiki Ahlul Bait dengan bahasa doa dan ziarah guna menggugurkan klaim orang-orang yang mengaku dirinya sebagai imam. Mengenalkan Ahlul Bait sebagai tambang dan sumber ilmu. Menolak keyakinan-keyakinan pelbagai kelompok yang meyakini kepemimpinan dan kekuasaan para penguasa Bani Umayah dan Abbasiah dan selainnya.

Ziarah Jamiah Kabirah merupakan sanad yang terbaik untuk mengkoordinasi pemikiran masyarakat Islam di masa itu dan kini menjadi sebab kokohnya pemikiran dan mencegah para pengikut Ahlul Bait agar jangan sampai menyimpang dari sekitar lentera imamah. Dengan ziarah ini ada dua target yang dibidik oleh Imam Hadi as; pertama membela posisi sosial dan peran pembimbing para Imam dan menetapkan kesinambungan hubungan umat dengan imam. Kedua, menolak dan menafikan pemikiran mereka yang mengkultuskan imamah dan Ahlul Bait.

Dengan menggunakan kesempatan yang tepat, Imam Hadi as mengenalkan Bani Abbasiah sebagai penguasa yang tidak sah dan melarang umat Islam untuk bekerjasama dengan mereka kecuali pada masalah-masalah darurat. Dengan usaha ini kedok mereka semakin jelas bagi masyarakat. Dengan menggunakan politik perlawanan negatif terhadap para penguasa zalim, Imam Hadi as menyadarkan masyarakat bahwa jangan sampai mereka mengorbankan ideologinya hanya karena kelezatan dunia yang sementara. Menyadarkan mereka bahwa berdamai dengan kezaliman adalah mengobarkan api yang akan membakar diri mereka sendiri.

Suatu hari seorang laki-laki bernama Ali bin Isa, seorang pegawai pemerintahan Abbasiah. Ia menulis surat kepada Imam Hadi as. Dalam suratnya ia menanyakan pendapat Imam tentang bekerja dengan Bani Abbasiah dan mengambil upah dari mereka. Imam menjawab, “Kerjasama yang dilakukan karena terpaksa tidak masalah dan Allah Maha Pengampun. Namun selain itu tidak baik dan tidak boleh. Kalau kamu tidak mendapatkan kerjaan kecuali hanya di Bani Abbasiah, maka sedikitnya lebih baik dari banyaknya.”

Ali bin Isa kembali menulis surat kepada Imam untuk menjelaskannya lebih jauh bahwa tujuan dia bekerjasama dengan mereka hanya untuk melakukan mencari jalan agar bisa menyerang mereka. Imam menjawab, “Dalam kondisi seperti ini, bekerjasama dengan mereka bukan hanya tidak haram bahkan ada pahalanya.” Dalam penjelasan ini Imam Hadi telah menjelaskan cara berjuang dan menjelaskannya dengan baik bahwa pemerintahan Abbasiah tidak memiliki keabsahan sedikitpun.

Akhirnya para penguasa zalim itu berusaha menyingkirkan Imam Hadi as karena mereka tidak tahan melihat ada pribadi agung seperti beliau ini. Akibatnya pada tanggal 3 Rajab tahun 254 Hq, Imam Hadi as dibunuh atas perintah Mu’taz melalui sebuah konspirasi.  Berita syahadah beliau ini membuat masyarakat memahami sebab syahid beliau karena sebuah konspirasi yang diperintahkan oleh Mu’taz. Reaksi berita syahadahnya Imam Hadi as ini telah membuat sedih masyarakat. di hari syahadahnya Imam Hadi as masyarakat berkumpul di rumah beliau dan semua orang di kota itu tenggelam dalam kesedihan dan tangisan.

Sekali lagi kami ucapkan belasungkawa di hari syahadahnya Imam Hadi as dan mengakhiri pembahasan ini dengan nasihat beliau yang berbunyi:

“Kemampuan dan kekayaan adalah kurangilah angan-anganmu dan ridhalah dengan apa yang mencukupimu.” (Bihar al-Anwar jilid 87, hal 863)(IRIB Indonesia)

.
Mengenal Imam Ahlul Bait as:
Imam Al Hadi as, Teguh di Atas Kebenaran
Riwayat Singkat Imam Ali Al-Hadi
Nama : Ali.
Gelar : Al-Hadi.
Panggilan : Abul Hasan.
Ayah : Imam Muhammad Al-Jawad.
Ibu : Samanah.
Kelahiran : Madinah, 212 H.
Kesyahidan : 254 H.
Makam : Samara, Irak.

Imam Al Hadi as, Teguh di Atas KebenaranHari Lahir

Imam Ali Al-Hadi as dilahirkan pada 15 Dzulhijjah 212 Hijriah di Madinah Al-Munawwarah. Beliau adalah Imam kesepuluh dari silsilah imam Ahlulbait as.

Ayah beliau ialah Imam Muhammad Al-Jawad as, dan ibu beliau berasal dari Maroko bernama Samanah; seorang wanita yang mulia dan bertakwa.

Ketika sang ayah syahid akibat diracun, Imam Al-Hadi as baru berusia 8 tahun. Pada usia yang masih sangat dini itu pula beliau memegang amanat Imamah (kepemimpinan Ilahi atas umat manusia).

Orang-orang memanggil Imam as dengan berbagai julukan, antara lain Al-Murtadha, Al-Hadi, An-Naqi, Al-’Alim, Al-Faqih, Al-Mu’taman, At-Thayyib. Yang paling masyhur di antara semua julukan itu adalah Al-Hadi dan An-Naqi.

Akhlak Luhur Imam

Imam Ali Al-Hadi as senantiasa menjalani kehidupannya dengan zuhud dan ibadah kepada Allah SWT. Di dalam sebuah kamar yang hanya dihiasai oleh selembar tikar kecil, beliau menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya.

Beliau menyambut orang-orang begitu ramah, berbelas kasih kepada orang-orang fakir, dan membantu orang-orang yang membutuhkannya.
Suatu hari, Khalifah Al-Mutawakkil mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar kepada beliau. Beliau membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin.

Pada kesempatan lain, Al-Mutawakil jatuh sakit sehingga para dokter pribadi khalifah kebingungan bagaimana mengobatinya. Lalu, ibu Al-mutawakil mengutus menterinya ,Al-Fath bin Khaqan untuk menemui Imam Ali as. Beliau segera memberinya obat yang reaksinya sangat cepat sekali, sehingga para dokter khalifah itu tercengang melihatnya.

Atas kesembuhan putranya, ibu khalifah mengirimkan uang sebesar 1.000 Dinar sebagai hadiah kepada Imam as, dan beliau pun membagi-bagikan uang tersebut kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Kisah Batu Cincin

Yunus An-Naqasi masuk datang ke rumah Imam Ali Al-Hadi as. Dalam keadaan gemetar ketakutan, ia berkata kepada beliau, “Wahai tuanku, seseorang dari istana telah datang kepadaku dengan membawa sepotong batu Firuz yang sangat berharga sekali. Ia memintaku untuk mengukirnya. Namun, ketika aku sedang melakukannya, batu tersebut terbelah jadi dua, padahal besok siang aku harus mengembalikannya. Bila dia tahu akan hal itu, pasti dia akan marah padaku.”

Imam as menenangkannya dan berkata, “Jangan kuatir! Tidak akan ada keburukan yang akan menimpamu. Bahkan, dengan izin Allah SWT engkau akan mendapatkan kebaikan darinya.”

Pada hari berikutnya, ajudan Khalifah datang dan berkata, “Sungguh aku telah mengubah pandanganku. Kalau sekiranya kamu bisa memotongnya menjadi dua, aku akan menambah upahmu!”

Pengukir tersebut berpura-pura berpikir padahal hatinya sangat bergembira. Kemudian berkata, “Baiklah, akan aku coba pesananmu itu!”

Akhirnya, pengawal Khalifah berterima kasih pada pengukir tersebut. Dari sana, pengukir itu bergegas menemui Imam Ali as untuk menumpahkan rasa terima kasih kepadanya. Dalam keadaan itu, Imam as berkata kepadanya, “Sungguh aku telah berdoa kepada Allah, semoga Dia memperlihatkan kebaikan khalifah kepadamu dan melindungimu dari kejahatannya.”

Al-Mutawakkil

Setelah Khalifah Al-Mu’tashim meninggal, kedudukannya digantikan oleh khalifah Al-Watsiq yang masa pemerintahannya berlangsung selama 5 tahun 6 bulan. Setelah itu, pemerintahan jatuh ke tangan Al-Mutawakkil.

Pada masa pemerintahan Al-Mutawakkil, kerusakan dan kezaliman telah mewabah di mana-mana. Pengaruh orang-orang Turki dalam kekhalifahan sangat kuat dan luas sekali, sehingga mereka menjadi pengendali jalannya roda pemerintahan dan khalifah Al-Mutawakkil pun menjadi alat permainan mereka.

Saat itu, kebencian Al-Mutawakkil terhadap Ahlulbait Nabi as dan Syi’ahnya begitu besar. Ia memerintahkan agar membuat sungai di atas makam Imam Husain as dan melarang kaum muslimin untuk menziarahi makamnya. Bahkan, ia telah membunuh banyak peziarah, sampai digambarkan dalam sebuah syair:

Demi Allah, bila Bani Umayyah telah melakukan pembunuhan
terhadap putra dan putri Nabinya secara teraniaya,
kini keluarga saudara ayahnya (Bani Abbas) melakukan hal yang sama.
Maka esok lusa demi Allah ia akan menghancurkan kuburnya.
Mereka menyesal bila seandainya saja tidak ikut serta membunuhnya.

Tak segan lagi, Al-Mutawakkil melakukan pengawasan yang ketat terhadap Imam Ali Al-Hadi as di Madinah. Mata-mata khalifah senantiasa mengintai setiap langkah Imam as, lalu melaporkan padanya setiap gerak dan pembicaraanya.

Al-Mutawakkil merasa kuatir sekali setelah tahu kepribadian dan kedudukan Imam as di tengah-tengah masyarakat. Mereka begitu menghormati dan mencintainya, karena beliau berbuat baik kepada mereka dan menghabiskan sebagian besar waktunya di masjid.
Al-Mutawakkil mengirim Yahya bin Harsamah sebagai utusan khusus untuk menghadirkan Imam Ali as. Segera ia memasuki kota Madinah. Sementara itu, berita tentang rencana jahat Al-Mutawakkil telah tersebar di tengah-tengah masyarakat, hingga orang-orang berkumpul di seputar tempat tinggal utusan khusus itu, sebagai bentuk kepedulian dan kekuatiran mereka atas apa yang akan terjadi pada diri Imam as.

Dalam pengkuannya, Yahya bin Harsamah mengatakan, “Aku sudah berupaya menenangkan mereka, dan bersumpah di hadapan mereka bahwa aku tidak diperintah untuk menyakitinya.”

Al-Mutawakkil senantiasa berpikir bagaimana cara menurunkan kedudukan tinggi Imam as di tengah masyarakat. Maka, sebagian penasehatnya mengusulkan untuk menebarkan berita-berita bohong yang dapat menjatuhkan kehormatan beliau, melalui saudaranya, Musa yang terkenal dengan perilakunya yang buruk.

Usulan tersebut disambut senang oleh Al-Mutawakkil. Segera ia memanggil Musa. Imam Ali as sendiri pernah memperingatkan saudaranya itu dengan ucapan, “Sesungguhnya khalifah menghadirkanmu untuk menghancurkan nama baikmu dan menyodorkan uang yang dapat menguasaimu. Maka, takutlah kepada Allah, wahai saudaraku dan jannganlah melakukan hal-hal yang diharamkan-Nya!”
Musa tidak mau menghiraukan nasehat Imam as. Ia bertekad bulat untuk melakukannya, dan ternyata Al-mutawakkil justru merendahkannya. Sejak saat itu pula Khalifah itu tidak menyambut Musa lagi.

Kalimat Hak di Hadapan Orang Zalim

Ibnu Sikkit adalah salah seorang ulama besar. Abul Abbas Al-Mubarrad pernah memberikan kesaksian, “Aku tidak pernah melihat buku karya tulis orang-orang Baghdad yang lebih baik dari buku Ibnu Sikkit tentang Logika.”

Al-Mutawakkil meminta kepada Ibnu Sikkit untuk mengajar kedua anaknya; Al-Mu’taz dan Al-Mu’ayyad.
Suatu hari, Al-Mutawakkil bertanya kepada Ibnu Sikkit, “Mana yang paling kau cintai, kedua anakku ini ataukah Hasan dan Husain?”
Ibnu Sikkit menjawab dengan penuh kebencian, “Demi Allah, sesungguhnya pembantu Imam Ali bin Abi Thalib lebih baik dari pada kamu dan kedua anakmu itu!”

Mendengar jawaban Ibnu Sikkit tersebut, Al-Mutawakkil terperanjat dan begitu berang. Segera ia memerintahkan algojo Turki untuk mencabut lidahnya sampai mati. Demikianlah, Ibnu Sikkit pun pergi ke hadapan Allah SWT dan menemui kesyahidan.
Rasulullah saw telah bersabda, “Penghulu para syahid adalah Hamzah dan seorang yang mengatakan kalimat hak di depan penguasa yang zalim.”

Politik Al-Mutawakkil

Al-Mutawakkil telah menghambur-hamburkan kekayaan umat Islam. Hidupnya dipenuhi dengan foya-foya, serbamewah, dan sombong. Umurnya ia habiskan untuk bermabuk-mabukan dan berpesta pora dengan menghamburkan milyaran uang.
Sementara itu, betapa banyak orang yang hidup dalam kesusahan dan kefakiran, apalagi golongan Alawi (keluarga dan pengikut Imam Ali bin Abi Thalib as) yang senantiasa menjalani hidup mereka dalam kefakiran yang mencekam. Belum lagi hak-hak mereka dirampas, sampai hal-hal yang sangat tidak bernilai dalam kehidupan mereka.

Imam Ali Al-Hadi as bersama putranya dipanggil ke kota Samara. Kemudian mereka diturunkan di sebuah kemah yang di sana sudah berbaris pasukan Al-Mutawakkil. Itu dilakukan supaya beliau berada di bawah pengawalan tentara-tentara yang sangat bengis dan dungu terhadap kedudukan Ahlulbait as.

Rupanya, tentara Al-Mutawakkil itu terdiri atas orang-orang Turki yang telah berbuat kejam, dengan membentuk kondisi dan menciptakan pribadi-pribadi yang tidak lagi mengerti kecuali ketaatan kepada raja-raja dan penguasa.

Beberapa Kisah Menarik

• Seseorang di antara tentara itu mempunyai anak yang tertimpa penyakit batu ginjal, kemudian seorang dokter menasehati agar anaknya menjalani operasi.

Pada saat operasi sedang berjalan, tiba-tiba anak tersebut mati. Lalu orang-orang mencelanya, “Kau telah membunuh anakmu sendiri, maka engkau pun harus bertanggung jawab atas kematiannya.”

Kemudian ia mengadu kepada Imam Al-Hadi as. Beliau mengatakan, “Bagi kamu tidak ada tanggung jawab apapun atas apa yang kamu perbuat. Ia meninggal hanya karena pengaruh obat, dan ajal anak tersebut memang sampai di situ.”

• Suatu hari, seorang anak menyodorkan bunga kepada Imam Ali Al-Hadi as. Lalu Imam as mengambil bnunga itu seraya menciumnya dan meletakkan di atas kedua pelupuk matanya. Kemudian beliau memberikan kepada salah seorang sahabatnya sembari berkata, “Barang siapa mengambil bunga mawar atau selasih kemudian mencium dan meletakkannya di atas kedua pelupuk matanya, lalu membaca shalawat atas Muhammad dan keluarga sucinya, maka Allah akan menulis untuknya kebaikan sejumlah kerikil-kerikil di padang sahara, dan akan menghapuskan kejelekan-kejelekannya sebanyak itu pula.”

Yahya bin Hartsamah yang menyertai perjalanan Imam Ali as dari Madinah ke Samara mengatakan, “Kami berjalan sedang langit dalam keadaan cerah. Tiba-tiba Imam as meminta sahabat-sahabatnya untuk mempersiapkan sesuatu yang bisa melindungi mereka dari hujan.
Sebagian dari kami merasa heran. Malah sebagian yang lain tertawa meledek. selang beberapa saat, tiba-tiba langit mendung dan hujan pun turun begitu derasnya. Imam as menoleh kepadaku dan berkata, “Sungguh engkau telah mengingkari hal itu, lalu kau kira bahwa aku mengetahui alam gaib dan hal itu terjadi bukanlah sebagaimana yang kau kira. Akan tetapi, aku hidup di daerah pedalaman. Aku mengetahui angin yang mengiringi hujan dan angin telah berhembus. Aku mencium bau hujan itu, maka aku pun bersiap-siap.”

• Suatu hari, Al-Mutawakkil menderita sakit. Ia bernazar untuk menyedekahkan uang yang banyak tanpa menentukan berapa jumlahnya. Dan ketika ia hendak menunaikan nazarnya, para fuqaha (ahli hukum) berselisih pendapat tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan oleh Al-Mutawakkil. Mereka pun tidak mendapatkan suatu kesepakatan.

Sebagian mereka mengusulkan untuk menanyakan masalah kepada Imam as. Tatkala ditanya tentang berapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan, Imam as menjawab, “Banyak itu adalah delapan puluh.”

Meresa belum puas. Mereka meminta dalil dari Imam as. Beliau mengatakan, “Allah berfirman, ‘Allah telah menolong kalian dalam berbagai kesempatan. Maka, Kami hitung medan-medan peperangan dalam Islam’. Dan jumlahnya medan peperangan itu adalah delapan puluh.”

Penggeledahan Rumah

Meskipun Imam Ali Al-Hadi as dalam tahanan rumah yang ketat, beliau tidak luput dari berbagai fitnah dan tuduhan kosong. Salah seorang di antara mereka melaporkan kepada Al-Mutawakkil, bahwa Imam as mengumpulkan senjata dan uang untuk mengadakan pemberontakan. Maka, Al-Mutawakkil memerintahkan Sa’id, penjaganya untuk memeriksa rumah beliau pada waktu malam, dan mengecek tentang kebenaran berita tersebut.

Tatkala ia memeriksa rumah Imam, ia dapati Imam as dalam sebuah kamar dan tidak ada sesuatu apapun di dalamnya kecuali sehelai tikar. Di dalamnya beliau sedang melakukan shalat dengan khusyuk.

Ia telah memeriksa rumah Imam as dengan awas dan jeli. Akan tetapi, ia tidak menemukan suatu apa pun. Kemudian ia berkata pada Imam, “Maafkan aku tuanku. Aku hanya diperintahkan.”

Imam as menjawab dengan sedih, “Sesungguhnya orang-orang yang zalim kelak akan mengetahui akibat perbuatan mereka sendiri.”

Kandang Binatang Buas

Seorang perempuan mengaku, bahwa dirinya adalah Zainab putri Ali bin Abi Thalib as. Ia berkata, bahwa masa mudanya terus berganti setiap 50 tahun.

Segera Al-Mutawakkil mengirimkan utusan dan bertanya kepada Bani Thalib. Mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Zainab as telah meninggal pada tanggal sekian dan telah dikuburkan. Akan tetapi, perempuan ini tetap saja bersikukuh pada pengakuannya.
Menteri Al-Mutawakkil yang bernama Al-Fath bin Khaqan jengkel melihat itu. Ia berkata, “Tidak ada yang bisa mengetahui tentang hal ini kecuali putra Imam Ridha as.”

Maka, Al-Mutawakkil mengutus utusan kepada Imam Ali Al-Hadi as dan menanyakan perihal perempuan tersebut padanya. Kemudian Imam as. menjawab, “Sesungguhnya terdapat tanda pada keturunan Ali as. Tanda itu adalah binatang buas tidak akan mengganggu dan menyakitinya. Maka, cobalah kumpulkan perempuan itu bersama binatang buas, dan bila dia tidak diterkam, maka dia benar.”

Tak tahan lagi, Al-Mutawakkil ingin sekali menguji kebenaran ucapan Imam as di atas. Beliau pun masuk ke dalam sangkar binatang buas dengan penuh keyakinan. Tiba-tiba binatang buas di dalamnya mengikuti beliau sambil mengebas-kebaskan ekor di telapak kaki beliau.
Saat itu Al-Mutawakkil memerintahkan untuk melemparkan wanita tersebut ke dalam sangkar itu. Tatkala binatang buas itu muncul, ia pun menjerit dan segera menarik balik pengakuannya.

Di Majelis Al-Mutawakkil

Di saat sedang mabuk, Al-Mutawakkil memerintahkan para pengawalnnya agar segera mendatangkan Imam Ali Al-Hadi as. Dengan cepat mereka bergegas menuju kediaman beliau. Sesampainya di sana, mereka memasuki rumah Imam as dengan keras dan menyeret beliau sampai di istana khilafah.

Ketika Imam as berdiri di hadapan Al-Mutawakkil, khalifah yang zalim itu mengambil kendi khamer dan meminumnya sampai mabuk, lalu ia mendekati Imam as dan menyodorkan segelas minuman haram tersebut kepada beliau.

Imam as menolak dan berkata, “Demi Allah, darah dagingku tidak bercampur sedikit pun dengan minuman ini.”
Hari Kesyahidan

Dengan penuh kesabaran dan keikhlasan pada Allah SWT, Imam Ali Al-Hadi as menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Cobaan demi cobaan telah beliau lewati dengan segenap ketabahan. Hingga akhirnya, pada tahun 254 Hijrih beliau menjumpai Tuhannya dalam keadaan syahid akibat racun yang merusak tubuhnya.

Ketika itu usia Imam as menginjak usia 42 tahun. Beliau dimakamkan di kota Samara yang kini ramai dikunjungi kaum msulimin dari berbagai belahan dunia.

Murid-Murid Imam Ali

Meskipun Imam as senantiasa hidup di bawah pengawasan yang begitu ketat, namun beliau memiliki murid-murid yang tetap setia kepadanya. Tidak mudah bagi mereka untuk dapat berjumpa dan bertatap muka dengan Imam as. Salah seorang dari mereka adalah Abdul ‘Azhim Al-Hasani.

Abdul ‘Azhim termasuk ulama besar dan seorang yang amat bertakwa. Dalam berbagai kesempatan, Imam Ali as seringkali memujinya. Ia senantiasa menunjukkan penentangannya terhadap penguasa. Kemudian ia bersembunyi di kota Rey dan meninggal di sana. Hingga sekarang ini, makam beliau masih selalu dipadati oleh para peziarah.

Murid beliau yang lain adalah Hasan bin Sa’id Al-Ahwazi. Ia juga termasuk sahabat Imam Ali Ar-Ridha as dan Imam Muhammad Al-Jawad as. Ia hidup di Kufah dan Ahwaz, kemudian pindah ke Qom dan meninggal dunia di sana. Hasan menyusun tiga puluh karya tulis di bidang Fiqih dan Akhlak. Di antara jajaran perawi, ia termasuk orang yang tsiqah (terdipercaya) dalam meriwatkan hadis-hadis.

Selain Abdul ‘Azhim dan Hasan, sahabat setia Imam Ali Al-Hadi as ialah Fadhl bin Syadzan An-Naisyaburi. Ia terkenal sebagai seorang ahli Fiqih besar dan ahli ilmu Kalam terkemuka.

Fadhl banyak meriwayatkan hadis dari Imam Ali as. Bahkan, anaknya pun ikut menjadi salah seorang sahabat Imam Hasan Askari as. Imam Ali as sering memujinya. Ia menasehati orang-orang Khurasan untuk merujuk kepada Fadhl dalam berbagai masalah yang mereka hadapi.[]
Mutiara Hadis Imam Ali Al-Hadi

• “Barang siapa taat kepada Allah, maka ia tidak akan kuatir terhadap kekecewaan makhluk.”
• “Barang siapa tunduk pada hawa nafsunya, maka ia tidak akan selamat dari kejelekannya.”
• “Barang siapa rela tunduk terhadap hawa nafsunya, maka akan banyak orang-orang yang tidak suka padanya.”
• “Kemarahan itu terdapat pada orang-orang yang memiliki kehinaan.”
• “Pelaku kebaikan itu lebih baik daripada kebaikan itu sendiri. Sedang pelaku keburukan itu lebih buruk daripada keburukan itu sendiri.”
• “Cercaan itu lebih baik dari pada kedengkian.”
• Beliau berkata kepada Al-Mutawakkil, “Janganlah engkau menuntut janji kepada orang yang telah engkau khianati.”