Penulis: syiahali

syiah tidak sesat

banyak ulama-ulama Al Azhar di antaranya Syeikh Ahmad Al Tayyib Syeikh Al Azhar, Syeikh Al Syarawi dan yang lain mengakui kebenaran fatwa Syeikh Shaltut.

 

Senin, 2012 Juni 18 09:21

Dalam usahanya menangkis gelombang baru serangan kelompok Salafi terhadap komunitas Syiah, kaum muda Mesir mengumumkan bahwa Syeikh Al Azhar membenarkan fatwa yang dikeluarkan Syeikh Shaltut.

 

Menurut laporan FarsNews (17/6) mengutip dari Shada Al Balad, sebuah gerakan yang bernama Gerakan Pemuda Syiah Mesir mengutuk usaha-usaha yang dilakukan kelompok-kelompok Salafi dan Wahabi untuk menghancurkan persatuan Islam.

 

Dalam laporannya, pemuda-pemuda ini membendung konspirasi kaum Salafi dan Wahabi yang berusaha menebarkan keraguan atas kebenaran fatwa yang dikeluarkan Syeikh Shaltut berkenaan dengan mazhab Jafari. Mereka menjelaskan bahwa statemen-statemen seperti bahwa fatwa itu adalah pendapat pribadi Syeikh Shaltut adalah tidak benar dan mengatakan,Syeikh Shaltut adalah Syeikh Al Azhar dan bukanlah salah satu dari dosen-dosen universitas tersebut.

 

Mahmoud Hamed seorang peneliti Mesir yang juga adalah juru bicara gerakan pemuda ini, berkenaan dengan hal ini mengatakan, banyak dari ulama-ulama Al Azhar di antaranya Syeikh Ahmad Al Tayyib Syeikh Al Azhar, Syeikh Al Syarawi dan yang lain mengakui kebenaran fatwa Syeikh Shaltut.

 

Islam Al Radhawi salah seorang aktifis hukum gerakan ini menilai bahwa tindakan yang dilakukan kelompok Salafi dan Wahabi ini adalah tindakan bodoh, ia menegaskan,jika mereka menginginkan kebenaran, carilah di Al Azhar sehingga di sana mereka bisa melakukan penelitian yang memadai berkenaan dengan fatwa tersebut.

 

Fitnah tentang Husainiyah-husainiyah dan serangan-serangan yang dilakukan terhadap orang-orang Syiah Mesir beberapa waktu lalu membuat orang-orang Syiah Mesir saat itu merujuk kepada fatwa Syeikh Shaltut dan menilai bahwa mengikuti madzhab Syiah Itsna Asyari dibenarkan oleh Al Azhar.

 

Respon atas jawaban orang-orang Syiah tersebut adalah munculnya gelombang baru konspirasi menentang orang-orang Syiah Mesir, berusaha menjatuhkan keabsahan fatwa Syeikh Shaltut. (

Intimidasi, tekanan dan represi dilancarkan rezim Abbasiyah terhadap siapa pun yang membantu Imam as dan Ahlulbait Nabi Saw.

Beda antara Akal dan Adab

Abu Hasyim, seorang ahli fiqih di masa Imam Ridha as dan Imam Jawad as berkata, “Suatu hari saya berada di majelis Imam Ridha as bersama orang-orang lainnya. Pembicaraan yang ada tentang akal dan adab. Setiap orang yang hadir menyampaikan pendapatnya.

Ketika Imam Ridha as berkata, “Akal merupakan pemberian Allah Swt. Sementara adab hanya bisa didapatkan dengan usaha dan menghadapi kesulitan. Oleh karenanya, siapa saja yang berusaha keras dalam mendapatkannya, maka adab akan menjadi miliknya. Berbeda dengan akal, barang siapa yang berusaha keras untuk mendapatkannya, maka hanya kebodohan yang bakal diraihnya.”

Penjelasan:Karena akal adalah pemberian dan bukan pencarian, tetapi untuk mendapatkan adab harus melalui kerja keras dan bila itu dilakukan, maka orang yang meraihnya dapat mencapai derajat yang tinggi

.

Mengenang Keutamaan Ahlul Bait:
 Imam Musa Kadzim, Pelita Pencerahan
Madrasah Imam Musa as, sebagai kelanjutan madrasah Imam Shadiq, terus berperan dalam menetapkan dan mengembangkan tradisi intelektual—yang cahayanya memancar dari para ulama dan murid-muridnya-demi meninggikan peradaban Islam di antara peradaban-peradaban lainnya. Bahkan, peradaban-peradaban cemerlang lainnya banyak berutang kepada para sarjana terkemuka dan mujtahid yang lahir dari madrasah Imam Shadiq, yang dilanjutkan Imam Musa.
Imam Musa Kadzim, Pelita PencerahanImam Musa Kadzim bin Ja’far dilahirkan tahun 128 H di akhir akhir masa Dinasti Umayah. Imam menyaksikan periode tumbangnya kekuasaan rezim yang telah banyak membuat kerusakan dan keburukan di negeri Islam dengan mengatasnamakan khalifah Rasulullah. Imam Musa mengalami awal kemunculan Imperium Abbasiah, yang menopang kekuasaannya dengan kebohongan dan propaganda, atas nama restu Ahlul Bait Muhammad Saw, dengan mengibarkan bendera “demi ridha keluarga Muhammad”.Imam Musa hidup di bawah bimbingan langsung sang ayah, Imam Ja’far Shadiq selama dua dekade dari usianya yang penuh keberkahan. Dia menikmati keluasan ilmu sang ayah yang dikenal luas di kalangan umat Islam sebagai gurunya para guru; tempat bertanya manusia; pendiri madrasah; dan pelita penerang bagi dunia keilmuan Islam.

Sang ayah, Imam Shadiq mengalami kekejaman penguasa lalim. Pada 25 Syawal 148 H, Manshur, ikut andil dalam kejadian terbunuhnya Imam Shadiq. Imamah dan kepemimpinan Ilahi pun berganti kepada Imam Musa Kadzim. Terbunuhnya Imam Shadiq membuat situasi dan kondisi yang melingkupi Ahlulbait Nabi menjadi teramat sulit, termasuk semakin terancamnya hidup Imam Musa.

Jauh-jauh hari, sang ayah, Imam Shadiq, telah berpesan kepadanya untuk menjaga dan melanjutkan gerakan risalah Ilahi. Meskipun keadaan politik kian mengancam, pohon kehidupan dan kenabian harus tetap tegak di bumi Tuhan. Udara kebebasan dan ruh kebenaran harus tetap bisa dihirup dan dinikmati umat manusia.

Pada era Harun Rasyid, Imam Musa as hidup selama tiga dekade dari usianya. Tekanan pada periode ini tidaklah surut, melainkan terus dilancarkan rezim Abbasiyah terhadap siapa pun yang membantu Imam as dan Ahlulbait Nabi Saw. Intimidasi dan represi yang sama juga dihadapi mereka yang berani berdiri sebagai oposan Harun Rasyid. Pemenjaraan dan pembunuhan sudah menjadi kebiasaan dan metode standar imperium lalim, yang kerap mencitrakan diri mereka sebagai representasi Allah swt dan Rasulullah Saw.

Riwayat mencatat bagaimana Rasyid, dengan meminta maaf kepada Rasulullah saw, memenjarakan cucundanya, Imam Musa bin Ja’far as dengan dalih bahwa keberadaan Imam yang dicintai rakyat itu telah mengakibatkan perpecahan umat Islam.

Imam Musa dalam menjalankan kepemimpinan Ilahi bergerak sesuai dengan metode Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya, demi menjaga autentisitas risalah Tuhan dari kehancuran dan interpolasi kepentingan politik golongan. Imam pun berjuang menjaga garis tradisi muhammadi agar umat tidak terus terbenam dalam fitnah konflik yang tak berkesudahan ini. Di sisi lain, Imam pun tak lupa menegaskan urgensi dan signifikansi prinsip amar makruf dan nahi mungkar di hadapan penguasa lalim dan sewenang-wenang.

Madrasah Imam Musa as, sebagai kelanjutan madrasah Imam Shadiq, terus berperan dalam menetapkan dan mengembangkan tradisi intelektual—yang cahayanya memancar dari para ulama dan murid-muridnya-demi meninggikan peradaban Islam di antara peradaban-peradaban lainnya. Bahkan, peradaban-peradaban cemerlang lainnya banyak berutang kepada para sarjana terkemuka dan mujtahid yang lahir dari madrasah Imam Shadiq, yang dilanjutkan Imam Musa.

Aktivitas-aktivitas pendidikan Imam Musa terbukti mampu menjaga dan mewariskan metode berpikir yang lurus kepada kelompok orang-orang yang saleh dan mencintai kebenaran. Penataan terus dilakukan demi masa depan umat Islam. Para perintis dari madrasah Ahlulbait ini tak tinggal diam dalam menjaga dan mengembangkan warisan pencerahan Rasulullah saw pada masa yang penuh dengan fitnah dan kecemasan. Terbukti madrasah-madrasah dan aktivitas-aktivitas keilmuan keturunan suci Nabi saw ini melampaui pencapaian sekolah-sekolah mana pun pada masa itu hingga sekarang.

Keteguhan, ketakwaan, dan kesabaran Imam Musa al-Kadzim as dalam merespon intimidasi dan represi rezim Abbasiah telah menjadi gerbang bagi kaum-kaum yang saleh untuk dapat terus mengidentifikasi, mana cahaya dan kegelapan; mana emas dan mana loyang.

Pada tanggal 17 Dzulqa’dah 179 H, Imam Musa diasingkan dari Madinah ke Basrah atas perintah Harun al-Rashid, Khalifah Abbasiah. Beliau tiba di Basrah pada tanggal 7 Dzulhijjah dan langsung dijebloskan ke dalam penjara oleh penguasa lalim ketika itu.

Imam Musa Kadzim as mendekam dalam penjara di era kekuasaan Isa bin Ja’far penguasa Basrah hingga beberapa waktu. Namun, kemudian Isa bin Ja’far menulis surat kepada Harun al-Rashid yang isinya meminta agar Imam dipindahkan ke penjara yang dikelola gubernur lain. Isa bin Ja’far beralasan bahwa setelah memeriksa Imam Kadzim as, ia tidak menemukan bukti yang memberatkannya agar dipenjara.

Membaca surat Isa bin Ja’far, Harun al-Rashid kemudian memerintahkan agar Imam Kadzim as dipindahkan ke Baghdad dan meminta kepada menterinya, Fadhl bin Rabi’ agar membunuh Imam Musa Kadzim as, namun permintaan ini ditolak oleh Fadhl bin Rabi’.

Imam as tidak diperkenankan untuk terus membimbing dan menjaga risalah Rasulullah hingga beliau syahid pada 25 Rajab 184 H akibat racun yang direkayasa oleh pihak-pihak yang menjalin kolusi dengan penguasa imperium Abbasiah. Sindi bin Syahik membunuh Imam Musa Kadzim as atas perintah Yahra bin Khalid Barmaki, seorang menteri yang diperintah oleh Harun al-Rashid.

Salam sejahtera untukmu, wahai Imam Musa bin Ja’far, pada saat hari engkau dilahirkan; pada hari engkau berjihad di jalan Allah Swt; dan pada hari engkau syahid; dan pada hari ketika engkau akan dibangkitkan

Studi Kritis Riwayat Zaid bin Aliy Tentang Fadak : Bantahan Untuk Nashibi


Studi Kritis Riwayat Zaid bin Aliy Tentang Fadak : Bantahan Untuk Nashibi

Tulisan ini hanya sedikit tambahan dari tulisan sebelumnya yang membahas tentang riwayat Zaid bin Ali bin Husain dimana ia menyepakati Abu Bakar dalam masalah Fadak. Pada tulisan sebelumnya kami telah membahas illat [cacat] riwayat tersebut yaitu bahwa riwayat Zaid bin Aliy berasal dari seorang yang majhul. Nashibi yang tidak suka kalau hujjah mereka dipatahkan membuat bantahan ngawur untuk membela riwayat Zaid bin Aliy tersebut. Tulisan ini kami buat sebagai bantahan bagi Nashibi yang dimaksud.

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمَّادٍ، قَالَنَا عَمِّي، قَالَ نَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ نَا ابْنُ دَاوُدَ، عَنْ فُضَيْلِ بْنِ مَرْزُوقٍ، قَالَ قَالَ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، أَمَّا أَنَا فَلَوْ كُنْتُ مَكَانَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَحَكَمْتُ بِمِثْلِ مَا حَكَمَ بِهِ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي فَدَكٍ

Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hammaad yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku yang berkata telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aliy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Dawud dari Fudhail bin Marzuuq yang berkata Zaid bin Ali bin Husain berkata “adapun aku seandainya berada dalam posisi Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] maka aku akan memutuskan seperti keputusan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] dalam masalah Fadak” [Fadhail Ash Shahabah Daruquthniy no 52]

Riwayat ini juga disebutkan Hammad bin Ishaq dalam Tirkatun Nabiy 1/86  oleh Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 6/302, Dalaail An Nubuwwah 7/281 dan Al I’tiqaad 1/279 semuanya dengan jalan sanad dari Ismail bin Ishaq Al Qadhiy [pamannya Ibrahim bin Hammaad] dari Nashr bin Ali dari ‘Abdullah bin Dawud dari Fudhail bin Marzuuq.

Atsar ini dhaif karena Fudhail bin Marzuq tidak meriwayatkan langsung dari Zaid bin Aliy bin Husain. Ia terbukti melakukan tadlis, atsar ini diambil Fudhail bin Marzuq dari An Numairy bin Hassaan dari Zaid bin Aliy bin Husain. An Numairiy bin Hassaan adalah seorang yang majhul. Inilah buktinya

 حدثنا محمد بن عبد الله بن الزبير قال حدثنا فضيل ابن مرزوق قال حدثني النميري بن حسان قال قلت لزيد بن علي رحمة الله عليه وأنا أريد أن أهجن أمر أبي بكر إن أبا بكر رضي الله عنه انتزع من فاطمة رضي الله عنها فدك فقال إن أبا بكر رضي الله عنه كان رجلا رحيما وكان يكره أن يغير شئيا تركه رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتته فاطمة رضي الله عنها فقالت إن رسول الله صلى الله عليه وسلم أعطاني فدك فقال لها هل لك على هذا بينة ؟ فجاءت بعلي رضي الله عنه فشهد لها، ثم جاءت بأم أيمن فقالت أليس تشهد أني من أهل الجنة ؟ قال بلى قال أبو أحمد يعني أنها قالت ذاك لابي بكر وعمر رضي الله عنهما – قالت فأشهد أن النبي صلى الله عليه وسلم أعطاها فدك فقال أبو بكر رضي الله عنه: فبرجل وامرأة تستحقينها أو تستحقين بها القضية ؟ قال زيد بن علي وأيم الله لو رجع الامر إلى لقضيت فيها بقضاء أبي بكر رضي الله عنه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair yang berkata telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Marzuuq yang berkata telah menceritakan kepadaku An Numairiy bin Hassaan yang berkata aku berkata kepada Zaid bin Aliy [rahmat Allah atasnya] dan aku ingin merendahkan Abu Bakar bahwa Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] merampas Fadak dari Fathimah [radiallahu ‘anha]. Maka Zaid berkata “Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] adalah seorang yang penyayang dan ia tidak menyukai mengubah sesuatu yang ditinggalkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], kemudian datanglah Fathimah [radiallahu ‘anha] dan berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan Fadak kepadaku”. Abu Bakar berkata kepadanya “apakah ada yang bisa membuktikannya?” maka datanglah Aliy [radiallahu ‘anhu] dan bersaksi untuknya kemudian datang Ummu Aiman yang berkata “tidakkah kalian bersaksi bahwa aku termasuk ahli surga?”. Abu Bakar menjawab “benar” [Abu Ahmad berkata bahwa Ummu Aiman mengatakan hal itu kepada Abu Bakar dan Umar]. Ummu Aiman berkata “maka aku bersaksi bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah memberikan fadak kepadanya”. Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] kemudian berkata “maka apakah dengan seorang laki-laki dan seorang perempuan bersaksi atasnya hal ini bisa diputuskan?”. Zaid bin Ali berkata “demi Allah seandainya perkara ini terjadi padaku maka aku akan memutuskan tentangnya dengan keputusan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] [Tarikh Al Madinah Ibnu Syabbah 1/199-200]

Riwayat Ibnu Syabbah dalam Tarikh Madinah ini adalah riwayat yang shahih sanadnya hingga Fudhail bin Marzuq. Maka riwayat ini melengkapi riwayat Daruquthniy sebelumnya. Riwayat Daruquthni dkk memuat sanad dimana “Fudhail bin Marzuq berkata Zaid bin Aliy berkata” sedangkan riwayat Ibnu Syabbah memuat sanad yaitu “Fudhail bin Marzuq berkata telah mengabarkan kepadaku An Numairiy bin Hassaan bahwa Zaid bin Aliy berkata”. Maka ini menjadi bukti Fudhail bin Marzuq tidak meriwayatkan langsung dari Zaid bin Aliy melainkan melalui perantara yang majhul. Kesimpulannya riwayat tersebut dhaif.

Ada seorang nashibi yang berusaha membela riwayat ini dengan pembelaan yang mengada-ada. Ia seolah-olah menunjukkan bantahan ilmiah padahal bantahannya ngawur dan tidak sesuai dengan kaidah ilmu hadis. Pada pembahasannya ia mengatakan apakah tambahan Numairiy bin Hassaan itu mahfuudh?. Ia mengatakan bahwa riwayat Ibnu Syabbah tidak mahfuudh dan yang mahfuudh adalah riwayat tanpa tambahan sanad Numairiy bin Hassaan. Mari kita lihat satu persatu alasannya

Nashibi itu mengatakan bahwa riwayat Ibnu Syabbah sangat gharib karena hanya dibawakan Ibnu Syabbah dalam Tarikh Madinah dan dalam riwayat itu saja. Kami katakan ini alasan yang mengada-ada. Apa riwayat Daruquthni dkk yang ia bawakan itu adalah riwayat yang masyhur?. Jelas sekali bahwa semua riwayat yang ia nukil itu berujung pada Ismaail bin Ishaq Al Qadhiy dari Nashr bin Aliy dari Ibnu Dawud dari Fudhail bin Marzuq. Hanya sanad ini saja, tidak ada sanad lain. Jadi kedudukan riwayat Daruquthni dan riwayat Ibnu Syabbah dari sisi ini adalah sama yaitu sama-sama diriwayatkan dengan satu jalan sanad. Walaupun atsar Zaid bin Aliy ini diriwayatkan oleh Ibnu Syabbah saja, itu tidak menjadi alasan untuk melemahkan atau menyatakan riwayat tersebut gharib. Mengapa riwayat Ibnu Syabbah yang dikatakan gharib?. Mengapa bukan riwayat Ismail bin Ishaq Al Qadhiy yang dikatakan gharib?. Kalau riwayat Ibnu Syabbah dikatakan gharib maka riwayat Ismail bin Ishaq Al Qaadhiy pun bisa dikatakan gharib.

Sebenarnya jika kita teliti dengan baik riwayat Ibnu Syabbah itu sanadnya lebih tinggi dari riwayat Daruquthni, Baihaqi dan Hammad bin Ishaq karena sebelum mereka [Daruquthni, Baihaqi dan Hammad bin Ishaq] itu lahir, Ibnu Syabbah telah meriwayatkan atsar Zaid bin Aliy tersebut.

Kemudian nashibi yang dimaksud juga menyatakan riwayat Ibnu Syabbah tidak mahfuudh karena diriwayatkan oleh An Numairiy yang majhul. Ini jelas cara penarikan kesimpulan yang ngawur. An Numairiy itu terletak diantara Fudhail bin Marzuq dan Zaid bin Aliy, justru riwayat Ibnu Syabbah menunjukkan illat [cacat] riwayat Ismail bin Ishaaq Al Qaadhiy yaitu Fudhail bin Marzuq melakukan tadlis dalam riwayat tersebut. Lain halnya jika perawi majhul tersebut terletak diantara Ibnu Syabbah dan Fudhail bin Marzuq maka beralasan untuk menyatakan riwayat Ibnu Syabbah itu tidak mahfuudh karena sanadnya tidak shahih sampai Fudhail bin Marzuuq. Lha ini jelas-jelas riwayat Ibnu Syabbah tersebut sanadnya shahih hingga Fudhail bin Marzuq. Sungguh kami dibuat terheran-heran dengan ilmu hadis ala nashibi.

Nashibi itu menyebarkan Syubhat lain yaitu Ibnu Syabbah walaupun seorang tsiqat tetapi bukan dalam derajat ketsiqahan yang tinggi, Nashibi itu mengutip Ibnu Hajar yang mengkritik riwayatnya dan hal ini membuat Ibnu Hajar menurunkan kredibilitasnya kedalam derajat shaduq.

Kami katakan Ibnu Syabbah itu seorang yang tsiqat. Kritikan terhadapnya itu tidak beralasan alias hanya perkiraan yang tidak menafikan perkiraan lainnya. Daruquthni berkata “tsiqat”. Ibnu Abi Hatim berkata “shaduq”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata “mustaqiim al hadits”. Al Khatib berkata “tsiqat”. Al Marzabaaniy berkata “shaduq tsiqat”. Maslamah bin Qasim berkata “tsiqat”. Muhammad bin Sahl berkata “shaduq cerdas”. [At Tahdzib juz 7 no 768]. Ibnu Hajar berkata “shaduq” [At Taqrib 1/719] tetapi Ibnu Hajar dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa Ibnu Syabbah seorang yang tsiqat. Adz Dzahabi menyatakan “tsiqat” [Al Kasyf no 4071]

Nashibi itu mengutip Al Bazzar, Ibnu Asakir dan Ibnu Hajar yang mengkritik salah satu riwayat Ibnu Syabbah dimana ia meriwayatkan dari Hushain bin Hafsh dari Sufyan Ats Tsawriy dari Zubaid dari Murrah dari Ibnu Mas’ud secara marfu’. Ibnu Syabbah dikatakan keliru karena riwayat yang masyhur adalah dari Ats Tsawriy dari Mughhirah bin Nu’man dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas secara marfu’.

Kritikan terhadap Ibnu Syabbah ini perlu ditinjau kembali, Ibnu Hibban memasukkan hadis Ibnu Mas’ud tersebut dalam kitab Shahih-nya. Artinya Ibnu Hibban tidak sependapat dengan yang mengatakan riwayat tersebut khata’

أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحٍسْيَنُ الْجَرَادِيُّ بِالْمَوْصِلِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ ، قَالَ : حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ حَفْصٍ ، قَالَ : حَدَّثَنَا سُفْيَانُ ، عَنْ زُبَيْدٍ ، عَنْ مُرَّةَ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلا ، وَأَوَّلُ الْخَلائِقِ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ

Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Husain Al Jaraadiy di Maushulliy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Syabbah yang berkata telah menceritakan kepada kami Husain bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Zubaid dari Murrah dari ‘Abdullah yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “sesungguhnya kalian dikumpulkan menuju Allah dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan. Dan makhluk pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat adalah Ibrahim [Shahih Ibnu Hibban no 7284]

Seandainya pun hadis Ibnu Mas’ud ini khata’ karena telah diriwayatkan banyak perawi tsiqat dari Ats Tsawriy dengan jalan sanad dari Mughirah bin Nu’man dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas secara marfu’ maka perawi yang patut dinyatakan melakukan kekeliruan adalah Husain bin Hafsh Al Ashbahaniy karena ia yang meriwayatkan dari Ats Tsawriy dan telah menyelisihi para perawi tsiqat.

Husain bin Hafsh Al Ashbahaniy biografinya disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam At Tahdzib. Abu Hatim berkata “mahallahu shidqu”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 597]. Melihat perkataan Abu Hatim tentangnya maka bisa dimpulkan bahwa Husain bin Hafsh bukan termasuk perawi yang kuat dhabitnya. Kedudukan Husain bin Hafsh jelas dibawah dari kedudukan Ibnu Syabbah dan Husain bin Hafsh adalah perawi yang menyelisihi perawi tsiqat dalam riwayatnya dari Ats Tsawriy. Kesimpulannya kritikan terhadap Ibnu Syabbah itu keliru.

Kemudian nashibi tersebut menyebarkan syubhat soal Abu Ahmad Az Zubairiy yang melakukan banyak kesalahan dari riwayat Ats Tsawriy.

وقال حنبل بن إسحاق عن أحمد بن حنبل كان كثير الخطأ في حديث سفيان

Hanbal bin Ishaq berkata dari Ahmad bin Hanbal “ia banyak melakukan kesalahan dalam hadis Sufyan” [At Tahdzib juz 9 no 422]

وقال أبو حاتم عابد مجتهد حافظ للحديث له أوهام

Abu Hatim berkata “ahli ibadah, mujtahid, hafiz dalam hadis, memiliki beberapa keraguan” [At Tahdzib juz 9 no 422]

Jika memang terdapat beberapa kesalahan yang dilakukan oleh Abu Ahmad Az Zubairiy maka itupun hanya terbatas pada sebagian riwayatnya dari Sufyan Ats Tsawriy. Pernyataan ini tidaklah mutlak melainkan hanya terbatas pada riwayatnya dari Tsawriy, itupun tidak mutlak untuk semua riwayatnya dari Ats Tsawriy melainkan hanya sebagian. Hal ini dikuatkan oleh beberapa petunjuk yang menguatkan

Riwayat Abu Ahmad Az Zubairiy dari Sufyan telah dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih. Kemudian sebagian ulama justru menguatkan riwayatnya dari Sufyan

نا عبد الرحمن حدثنى ابى حدثنى أبو بكر بن ابى عتاب الاعين قال سمعت احمد بن حنبل وسألته عن اصحاب سفيان قلت له الزبيري ومعاوية بن هشام ايهما احب اليك ؟ قال الزبيري، قلت له زيد بن الحباب أو الزبيري ؟ قال الزبيري

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Abi Itaab Al A’yan yang berkata aku mendengar Ahmad bin Hanbal dan aku bertanya kepadanya tentang sahabat Sufyan. Aku berkata kepadanya “Az Zubairiy dan Muawiyah bin Hisyaam yang mana diantara keduanya yang lebih engkau sukai?”. Ia berkata Az Zubairiy. Aku berkata kepadanya “Zaid bin Hubab atau Az Zubairiy?”. Ia berkata “Az Zubairiy” [Al Jarh Wat Ta’dil 7/297 no 1211]

قال أبو نعيم في أصحاب سفيان: ليس منهم أحد مثل أبي أحمد الزبيري، واسمه محمد بن عبد الله بن الزبير

Abu Nu’aim berkata tentang para sahabat Sufyan “tidak ada diantara mereka seorangpun yang menyerupai Abu Ahmad Az Zubairiy, Muhammad bin ‘Abdullah bin Zubair” [Ats Tsiqat Ibnu Syahiin no 1262]

قال نصر بن علي سمعت أحمد الزبيري يقول لا أبالي أن يسرق مني كتاب سفيان أني أحفظه كله

Nashr bin ‘Aliy berkata aku mendengar Ahmad Az Zubairiy mengatakan “aku tidak peduli jika seseorang mencuri dariku Kitab Sufyan karena aku telah menghafal semuanya” [At Tahdzib juz 9 no 422]

Abu Ahmad Az Zubairiy adalah seorang yang tsiqat tsabit hanya saja ia dikatakan melakukan kesalahan dalam sebagian riwayatnya dari Ats Tsawriy. Tentu saja hal ini tidaklah melemahkan riwayatnya dari selain Ats Tsawriy. Para perawi sekaliber Malik bin Anas dan Syu’bah saja pernah melakukan beberapa kesalahan dalam meriwayatkan hadis dan tidaklah itu menjatuhkan kedudukan mereka dalam riwayatnya yang lain. Karena sebagai seorang manusia tidak peduli seberapa tinggi kedudukan tsiqat yang ia miliki tetap bisa saja melakukan kesalahan.

Nashibi itu menyatakan bahwa Ismail bin Ishaq, Nashr bin Aliy dan Ibnu Dawud adalah tiga orang perawi yang memiliki martabat ketsiqahan yang tinggi. Kami katakan setinggi apapun tingkat ketsiqatan mereka, hal itu tidak membuat riwayat Ibnu Syabbah itu menjadi lemah, gharib ataupun tidak mahfuudh. Ibnu Syabbah adalah seorang yang tsiqat dan Abu Ahmad Az Zubairiy adalah seorang yang tsiqat lagi tsabit. Bahkan riwayat Ibnu Syabbah lebih tinggi sanadnya dan matannya lebih lengkap dari riwayat Ismail bin Ishaq Al Qaadhiy.

Kedua riwayat, yaitu riwayat Ismail bin Ishaq Al Qaadhiy dan riwayat Ibnu Syabbah adalah benar. Tidak ada dari kedua riwayat tersebut sesuatu yang perlu ditarjih sehingga riwayat yang satu diterima dan riwayat yang lain harus ditolak. Kedua riwayat tersebut sanadnya shahih sampai Fudhail bin Marzuq dan menunjukkan bahwa Fudhail bin Marzuq melakukan tadlis dalam perkataan Zaid bin Aliy dimana sebenarnya ia mengambil perkataan tersebut dari An Numairiy bin Hassaan seorang yang majhul.

Aneh sekali jika nashibi tersebut mempermasalahkan tingkat ketsiqatan para perawi yang ia jadikan hujjah mengingat Fudhail bin Marzuq sendiri adalah seorang yang hadisnya hanya bertaraf hasan dan tidak mencapai derajat ketsiqatan tinggi seperti yang ia katakan pada tiga perawi lain.

Nashibi tersebut kemudian menyatakan bahwa matan riwayat Ibnu Syabbah kontradiktif dengan riwayat shahih. Kami katakan hal itu jika memang benar maka tidaklah berpengaruh sedikitpun pada kedudukan riwayat Zaid bin Aliy disisi kami. Bukankah dari pembahasan sebelumnya kami katakan kalau riwayat Zaid bin Aliy tersebut dhaif maka jika matannya dikatakan nashibi itu bertentangan dengan riwayat shahih, hal itu justru menguatkan kedhaifan riwayat Zaid bin Aliy.

Kemudian nashibi itu mengatakan perkataan Zaid bin Aliy seandainya ia dalam posisi Abu Bakar maka ia akan menetapkan keputusan seperti Abu Bakar dalam masalah Fadak, tidaklah cocok diterapkan dalam konteks riwayat Ibnu Syabbah. Alasan nashibi itu adalah jika memang Zaid bin Aliy tahu persaksian Ali dan Ummu Aiman maka apakah mungkin ia akan menahan tanah Fadak?. Kami katakan kalau melihat secara utuh matan riwayat Ibnu Syabbah maka Abu Bakar tidak menerima kesaksian satu orang laki-laki [Ali bin Abi Thalib] dan satu orang perempuan [Ummu Aiman] sehingga ia menolak bahwa tanah Fadak itu adalah milik Sayyidah Fathimah. Inilah yang disepakati oleh Zaid bin Aliy bahwa kesaksian satu orang laki-laki dan satu orang perempuan tidaklah cukup dan yang menjadi hujjah adalah kesaksian satu orang laki-laki dan dua orang perempuan atau kesaksian dua orang laki-laki.

Nashibi ini telah mencampuradukkan antara hujjah riwayat dengan asumsinya sendiri. Tidak ada keterangan dalam riwayat Ismail bin Ishaaq Al Qaadhiy bahwa yang disepakati oleh Zaid bin Aliy adalah hadis Abu Bakar bahwa Nabi tidak mewariskan. Ini adalah asumsi nashibi itu sendiri. Riwayat Ismaail bin Ishaaq Al Qaadhiy adalah ringkasan dari riwayat Ibnu Syabbah, hal ini terlihat dari sanadnya yang berujung pada Fudhail bin Marzuq dan matannya yang serupa sehingga penjelasannya pun harus merujuk pada riwayat Ibnu Syabbah yang lebih lengkap baik sanad maupun matannya.

Kami pribadi juga tidak yakin Zaid bin Aliy akan menyepakati hadis Abu Bakar bahwa Nabi tidak mewariskan mengingat Sayyidah Fathimah sendiri mengingkari hadis tersebut dan Imam Ali setelah Sayyidah Fathimah wafat tetap mengakui di hadapan kaum muslimin bahwa Ahlul bait berhak akan tanah Fadak. Bukankah atsar Zaid bin Aliy dari sisi ini kontradiktif dengan pendirian Ahlul Bait. Maka sederhananya bisa saja dikatakan riwayat tersebut tertolak, apalagi Fudhail bin Marzuuq [meminjam bahasa nashibi itu] bukan perawi yang memiliki derajat ketsiqatan yang tinggi. Aneh bin ajaib nashibi tersebut tidak mengambil kesimpulan seperti ini mungkin karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Ia lebih suka melemahkan riwayat lain yang tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Dan telah kami tunjukkan di atas betapa menyedihkannya hujjah nashibi. Kesimpulannya baik dari segi sanad maupun matan, riwayat Zaid bin Aliy itu tertolak.

Apakah Ibnu Budail Al Khuza’iy Termasuk Sahabat Yang Mengepung Utsman?


Apakah Ibnu Budail Al Khuza’iy Termasuk Sahabat Yang Mengepung Utsman?

Tulisan ini sekaligus merevisi tulisan kami sebelumnya dan membantah syubhat nashibi. Dalam tulisan kami dahulu, kami pernah menyatakan bahwa sahabat yang bernama ‘Amru bin Budail Al Khuza’iy termasuk diantara orang-orang yang mengepung khalifah Utsman

Sebelumnya kami mengutip riwayat Ibnu Syabbah dalam kitabnya Tarikh Al Madinah yaitu riwayat berikut

حدثنا عفان قال، حدثنا أبو محصن قال، حدثنا حصين بن عبد الرحمن قال، حدثني جُهيم قال: أنا شاهدٌ، دَخَلَ عليه عمروُ بن بُدَيل الخزاعي واليُّجِيبي يطعنه أحدهما بمشقصٍ في أوداجه، وعلاهُ الآخر بالسيف فقتلوه

Telah menceritakan kepada kami Affan yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhsin yang berkata telah menceritakan kepada kami Hushain bin Abdurrahman yang berkata telah menceritakan kepadaku Juhaim yang berkata “aku menyaksikan bahwa Amru bin Budail Al Khuza’i dan At Tajiby masuk ke dalam rumah Usman. Salah satu dari mereka menusuknya dengan pisau dan yang lain memukulnya dengan pedang dan mereka membunuhnya” [Tarikh Al Madinah 4/1303]

Riwayat Juhaim Al Fihriy ini juga disebutkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/690-691, Al Bukhari dalam Tarikh Al Awsath 1/109 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 39/398-399 dimana ketiganya menyebutkan “Abu ‘Amru bin Budail Al Khuzaa’iy”. Jadi sebenarnya orang yang dimaksud adalah Abu ‘Amru bin Budail Al Khuzaa’iy. Riwayat Juhaim Al Fihriy ini mengandung kelemahan karena Juhaim tidak dikenal kredibilitasnya dan hanya disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat. Tetapi Juhaim adalah seorang tabiin maka hadisnya bisa dijadikan i’tibar.

المدائني عن أبي هلال عن ابن سيرين قال: جاء ابن بديل إلى عثمان، وكان بينهما شحناء، ومعه السيف وهو يقول: لأقتلنه،

Al Mada’iniy dari Abi Hilaal dari Ibnu Siriin yang berkata Ibnu Budail datang kepada Utsman dan diantara keduanya terdapat permusuhan, ia membawa pedang dan berkata “aku akan membunuhnya” [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/296]

Al Mada’iniy disebutkan Adz Dzahabi bahwa ia Allamah Hafizh shaduq. Ibnu Main berkata “tsiqat tsiqat tsiqat” [As Siyar Adz Dzahabi 10/400]. Ibnu Sirin adalah tabiin yang tsiqat tsabit ahli ibadah [At Taqrib 2/85]

Abu Hilaal adalah Muhammad bin Sulaim Ar Rasibiy perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari dan Ashabus Sunan. Abdurrahman bin Mahdi meriwayatkan darinya yang berarti ia menganggap Muhammad bin Sulaim tsiqat. Ibnu Ma’in terkadang berkata shaduq terkadang berkata tidak ada masalah padanya. Abu Dawud menyatakan ia tsiqat. Yahya bin Sa’id tidak meriwayatkan darinya. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ibnu Sa’ad berkata ada kelemahan padanya. Ahmad bin Hanbal menyatakan ia mudhtharib al hadis dari Qatadah. [At Tahdzib juz 9 no 303].

Ibnu Hajar menyatakan “shaduq ada kelemahan padanya” [At Taqrib 2/81]. Adz Dzahabi menyatakan ia shalih al hadits [Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 301]. Pada dasarnya ia seorang yang shaduq tetapi ada kelemahan padanya yaitu riwayatnya dari Qatadah yang mudhtharib sehingga sebagian ulama membicarakannya. Tetapi disini bukan riwayatnya dari Qatadah maka riwayatnya baik.

Riwayat Ibnu Sirin ini mengandung kelemahan yaitu Ibnu Sirin lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa khalifah Utsman maka ketika terjadi pengepungan terhadap Utsman usianya lebih kurang dua tahun dan ia tidak mungkin menyaksikan secara langsung peristiwa tersebut. Tetapi riwayat ini dapat dijadikan i’tibar.

حدثنا أحمد بن إبراهيم عن أبي داود عن حزم القطعي عن أبي الأسود عن طلق بن خشاف قال: قدمت المدينة بعد مقتل عثمان فسألت عائشة عن قتله فقالت: لعن الله قتلته فقد قتل مظلوماً، أقاد الله من ابن أبي بكر وأهدى إلى الأشتر سهماً من سهامه وهراق دم ابني بديل، فوالله ما من القوم أحد إلا أصابته دعوتها

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim dari Abu Dawud dari Hazm Al Qutha’iy dari Abil ‘Aswad dari Thalq bin Khusysyaaf yang berkata aku datang ke Madinah setelah terbunuhnya Utsman maka aku bertanya kepada Aisyah tentang orang yang membunuhnya. Maka ia berkata “laknat Allah terhadap para pembunuhnya sungguh ia terbunuh secara zalim, Allah akan menghukum Ibnu Abi Bakar, menimpakan kepada Al Asytar panah dari panah-panahnya dan mengalirkan darah kedua anak Budail” [Thalq berkata] demi Allah tidak seorangpun dari mereka kecuali menimpa dirinya keburukan [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/298]

Riwayat Thalq ini disebutkan juga oleh Al Bukhari dalam Tarikh Al Awsath 1/121, Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 1/57, dan Ibnu Syabbah dalam Tarikh Al Madinah 4/1244. Riwayat tersebut sanadnya shahih berikut keterangan para perawinya

  • Ahmad bin Ibrahim Ad Dawraqiy termasuk perawi Muslim. Abu Hatim berkata “shaduq”. Al Uqaili berkata “tsiqat”. Al Khaliliy berkata “tsiqat muttafaq ‘alaih”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 1 no 3]
  • Abu Dawud Ath Thayalisiy termasuk perawi Bukhari dalam At Ta’liq  dan perawi Muslim. Amru bin ‘Aliy menyatakan tsiqat. Ibnu Madini berkata “aku tidak pernah melihat orang yang lebih hafizh darinya”. Ibnu Mahdi berkata “Abu Dawud orang yang paling shaduq”. Nu’man bin ‘Abdus Salaam berkata “tsiqat ma’mun”. Al Ijli, Nasa’i dan Al Khatib menyatakan ia tsiqat. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 4 no 316]
  • Hazm bin Abi Hazm Al Qutha’iy termasuk perawi Bukhari. Ahmad dan Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim berkata “shaduq tidak ada masalah padanya dan ia termasuk orang yang tsiqat diantara sahabat Hasan”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 2 no 442]
  • Abul Aswad Al Bashriy termasuk perawi Muslim. Ahmad berkata “aku tidak melihat ada masalah padanya”. Abu Hatim berkata “syaikh”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Al Ijliy menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 251]

Thalq bin Khusysyaaf adalah salah seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagaimana yang dinyatakan oleh Abul Aswad Al Bashriy dalam riwayat yang shahih

نا مسلم نا سوادة نا أبي أنهم دخلوا على طلق بن خشاف رجل من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم

Telah menceritakan kepada kami Muslim yang berkata telah menceritakan kepada kami Sawaadah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku bahwa mereka menemui Thalq bin Khusysyaaf seorang sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 4 no 3137]

Muslim bin Ibrahim Al Azdiy perawi Bukhari dan Muslim seorang yang tsiqat ma’mun [At Taqrib 2/177]. Sawaadah bin Abul Aswad perawi Muslim seorang yang tsiqat [At Taqrib 1/402]. Abul Aswad telah disebutkan sebelumnya bahwa ia perawi Muslim yang tsiqat.

Semua riwayat di atas menunjukkan bahwa kedua anak Budail bin Warqa’a Al Khuza’iy termasuk diantara orang-orang yang mengepung khalifah Utsman [radiallahu ‘anhu]. Disebutkan bahwa salah satunya memiliki kuniyah Abu ‘Amru. Diantara anak Budail bin Warqa’a Al Khuza’iy yang kuniyahnya Abu ‘Amru adalah ‘Abdullah bin Budail bin Warqa’a Al Khuza’iy

Adz Dzahabi menyebutkan biografi ‘Abdullah bin Budail bin Warqa’a Al Khuza’iy dalam kitabnya Tarikh Al Islam dan ia menyebutkan bahwa kuniyahnya adalah Abu ‘Amru, ia yang disebutkan dalam riwayat Bukhari bahwa ia menyerang Utsman dan disebutkan bahwa ia memeluk islam bersama ayahnya sebelum Fathul Makkah [Tarikh Al Islam 3/567].

Takhrij Hadis Kisa’ Dengan Lafaz “Sesungguhnya Kamu Termasuk Ahliku”

Takhrij Hadis Kisa’ Dengan Lafaz “Sesungguhnya Kamu Termasuk Ahliku”

Berikutnya hadis kedua yang sering dijadikan hujjah oleh para nashibi adalah hadis kisa’ yang memuat lafaz “innaki min ahliy” artinya “sesungguhnya kamu termasuk ahliku”. Sama seperti tulisan sebelumnya, kami tidak akan membahas matan hadis tersebut tetapi menilai sejauh mana kekuatan hadis yang dijadikan hujjah oleh para nashibi.

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ: ثنا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، قَالَ: ثنا مُوسَى بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ: ثني هَاشِمُ بْنُ هَاشِمِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبِ بْنِ زَمْعَةَ، قَالَ: أَخْبَرَتْنِي أُمُّ سَلَمَةَ: “أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ عَلِيًّا وَالْحَسَنَيْنِ، ثُمَّ أَدْخَلَهُمْ تَحْتَ ثَوْبِهِ، ثُمَّ جَأَرَ إِلَى اللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: ” هَؤُلاءِ أَهْلُ بَيْتِي “، قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَدْخِلْنِي مَعَهُمْ، قَالَ: ” إِنَّكِ مِنْ أَهْلِي”

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Musa bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Haasyim bin Utbah bin Abi Waqqash dari ‘Abdullah bin Wahb bin Zam’ah yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ummu Salamah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengumpulkan Ali, Hasan dan Husain dan menyelimuti mereka dengan kain kemudian memohon kepada Allah “mereka adalah ahlul baitku”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah, masukkan aku bersama mereka?. Beliau berkata “engkau termasuk ahli-ku” [Tafsir Ath Thabariy 20/266]

Diriwayatkan oleh Ath Thahawiy dalam Musykil Al Atsar no 763, Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 19207 dengan jalan sanad Musa bin Ya’qub dari Haasyim bin Haasyim dari Abdullah bin Wahb bin Zam’ah dari Ummu Salamah. Diriwayatkan pula oleh Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir no 2597 dengan jalan sanad Musa bin Ya’qub dari Haasyim bin Haasyim dari Wahb bin ‘Abdullah bin Zam’ah dari Ummu Salamah.

Hadis ini mengandung illat [cacat] yaitu Musa bin Ya’qub Az Zam’iy adalah seorang yang diperbincangkan. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Ali bin Madini berkata “dhaif al hadis mungkar al hadits”. Abu Dawud berkata “shalih, telah meriwayatkan darinya Ibnu Mahdiy, ia memiliki guru guru yang majhul”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ahmad melemahkannya. Ibnu Qaththan berkata “tsiqat” [At Tahdzib juz 10 no 672].

Ibnu Hajar berkata “shaduq buruk hafalannya” [At Taqrib 2/230]. Adz Dzahabiy berkata “ada kelemahan padanya” [Al Kasyf no 5744]. Daruquthni berkata “tidak dapat dijadikan hujjah” [Al Ilal Daruquthni 1/195]

Hadis ini mengandung illat lain [cacat lain]. Terkadang Musa bin Ya’qub menyebutkan Abdullah bin Wahb bin Zam’ah dan terkadang ia menyebutkan Wahb bin ‘Abdullah bin Zam’ah. Ibnu Hibban membedakan keduanya

عبد الله بن وهب بن زمعة القرشي الأسدي يروى عن أم سلمة روى عنه الزهري

‘Abdullah bin Wahb bin Zam’ah Al Qurasy Al Asdiy meriwayatkan dari Ummu Salamah dan telah meriwayatkan darinya Az Zuhriy [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 3794]

وهب بن عبد الله بن زمعة بن الأسود بن عبد المطلب بن عبد العزى قتل يوم الحرة سنة ثلاث وستين

Wahb bin ‘Abdullah bin Zam’ah bin Aswad bin ‘Abdul Muthalib terbunuh saat peristiwa Al Harra tahun 63 H [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 5 no 5867]

Ibnu Hajar menyebutkan biografi Wahb bin ‘Abdu bin Zam’ah bahwa ia perawi Ibnu Majah. Ia meriwayatkan dari Ummu Salamah dan telah meriwayatkan darinya Az Zuhriy. Dikatakan pula bahwa Az Zuhriy meriwayatkan dengan lafaz dari Abdullah bin Wahb bin Zam’ah dari Ummu Salamah. Ibnu Hajar juga mengutip Ibnu Hibban bahwa ia terbunuh saat peristiwa Al Harra [At Tahdzib juz 11 no 282].

Nampak disini keduanya adalah orang yang sama, perbedaan nama itu muncul dari para perawinya, Adz Dzahabi dalam Al Kasyf menyatakan keduanya adalah orang yang sama. Terdapat petunjuk lain bahwa keduanya adalah orang yang sama yaitu disebutkan dalam Ansab Al Asyraf bahwa Abdullah bin Wahb bin Zam’ah terbunuh saat peristiwa Al Harra [Ansab Al Asyraf 3/288].

Abdullah bin Wahb bin Zam’ah ini adalah seorang tabiin [beda dengan saudaranya yang termasuk sahabat dan memiliki nama yang sama dengannya], diantara ulama mutaqaddimin hanya Ibnu Hibban yang memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar keduanya menyatakan ia tsiqat. Bagi para nashibi yang suka merendahkan Ibnu Hibban maka patutlah kita bertanya apa dasarnya Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat?. Bukankah mereka tergolong muta’akhirin yang menukil jarh dan ta’dil dari ulama mutaqaddimin Nampak bagi kami bahwa keduanya menerima tautsiq Ibnu Hibban terhadap Abdullah bin Wahb bin Zam’ah

Yang meriwayatkan dari Abdullah bin Wahb bin Zam’ah adalah Haasyim bin Haasyim bin Utbah. Ibnu Hibban menyebutkan bahwa ia wafat tahun 144 H [Ats Tsiqat juz 7 no 11586]. Jika memang Abdullah bin Wahb bin Zam’ah terbunuh saat peristiwa Al Harra tahun 63 H maka diantara wafat keduanya ada jarak 81 tahun.

Terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Haasyim mendengar langsung dari Abdullah tetapi itu diriwayatkan oleh Musa bin Ya’qub yang diperbincangkan dan buruk hafalannya. Jadi disini terdapat illat bahwa sanadnya mungkin inqitha’ antara Haasyim dan Abdullah bin Wahb.

Kesimpulannya hadis ini tidak bisa dijadikan hujjah karena kelemahan Musa bin Ya’qub dalam dhabit-nya sehingga hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah jika tafarrud ditambah lagi dengan adanya illat kemungkinan inqitha’ antara Haasyim dan Abdullah bin Wahb. Salam Damai    

Takhrij Atsar Imam Aliy : Ketenangan Ada Pada Lisan Umar bin Khaththab

Takhrij Atsar Imam Aliy : Ketenangan Ada Pada Lisan Umar bin Khaththab

Tulisan ini kami buat untuk menguji validitas atsar Imam Ali radiallahu ‘anhu yang memuat pujian terhadap Umar bin Khaththab yaitu “ketenangan ada pada lisan Umar”. Atsar ini telah dishahihkan oleh sebagian salafy nashibi. Diriwayatkan bahwa tabiin yang meriwayatkan ini dari Ali yaitu Asy Sya’biy, Zirr bin Hubaisy, ‘Amru bin Maimun, Zadzan dan Thariq bin Syihab.

.

.

Riwayat Asy Sya’biy dari Aliy

حدثنا جعفر قثنا وهب بن بقية قثنا خالد بن عبد الله عن إسماعيل بن أبي خالد عن الشعبي قال قال علي ما كنا نبعد ان السكينة تنطق على لسان عمر

Telah menceritakan kepada kami Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami Wahab bin Baqiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid bin ‘Abdullah dari Ismaiil bin Abi Khaliid dari Asy Sya’bi yang berkata Ali berkata “kami tidaklah menjauh bahwa ketenangan ada pada lisan Umar” [Fadhail Ash Shahabah no 523]

Diriwayatkan dalam Fadhail Ash Shahabah no 310, 601, 614, 627, diriwayatkan dalam Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawiy 1/461, Musnad Aliy bin Ja’d 1/348 no 2403, Juz Abu Aruubah [riwayat Abu Ahmad Al Hakim] no 35, Amaaliy Ibnu Busyraan no 176, Amaaliy Ibnu Bakhtariy no 92, Asy Syari’ah Al Ajurry 3/96, Al Madkhal Baihaqiy no 67, Al Ahadits Al Mukhtarah Al Maqdisiy no 549 & 550, Syarh Sunnah Al Baghawiy 14/86 no 3877, Hilyatul Auliya Abu Nu’aim 4/328 & 8/211 semuanya dengan jalan sanad Ismail bin Abi Khalid dari Asy Sya’bi dari Aliy.

Ismail bin Abi Khalid dalam periwayatan dari Asy Sya’biy memiliki mutaba’ah diantaranya dari Asy Syaibaniy sebagaimana tampak dalam riwayat berikut

حدثنا يحيى بن محمد قثنا يعقوب بن إبراهيم نا عبد الله بن إدريس عن الشيباني وإسماعيل بن أبي خالد عن الشعبي قال قال علي ما كنا نبعد أن السكينة تكون على لسان عمر

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Muhammad yang berkata telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahiim yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idriis dari Asy Syaibani dan Ismail bin Abi Khalid dari Asy Sya’bi yang berkata Ali berkata “kami tidaklah menjauh bahwa ketenangan ada pada lisan Umar” [Fadha’il Ash Shahabah no 634].

Diriwayatkan juga dalam Fadhail Ash Shahabah no 707 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/23 no 32637 dengan jalan sanad Asy Syaibani dan Ismail dari Asy Sya’bi dari Ali. Selain itu Ismail bin Abi Khalid mempunyai mutaba’ah yaitu Bayaan bin Bisyr Al Ahmasiy

حدثنا عبد الله قال حدثني هارون بن سفيان نا معاوية نا زائدة نا بيان عن عامر عن علي قال ان كنا لنتحدث ان السكينة تنطق على لسان عمر

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Haruun bin Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dari Zaidah dari Bayaan dari ‘Aamir dari ‘Aliy yang berkata “kami dulu berkata bahwa ketenangan ada pada lisan Umar” [Fadha’il Ash Shahabah no 470]

Riwayat Zaa’idah ini juga disebutkan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 44/108.  Zaa’idah dalam riwayat di atas memiliki mutaba’ah dari Jarir sebagaimana disebutkan Amaaliy Al Muhaamiliy [riwayat Ibnu Mahdiy] no 34 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 44/108 dengan jalan sanad Yusuf bin Musa dari Jarir dari Bayaan dari Asy Sya’biy dari Aliy. Ismaiil bin Abi Khalid juga memiliki mutaba’ah dari Mujalid bin Sa’id Al Hamdaniy sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Al Mathaalib Al ‘Aliyyah no 3883 dengan jalan sanad dari Hammad dan ‘Abbad bin ‘Abbad dari Mujalid dari Asy Sya’biy dari Aliy. Dan dari Abu Ismaiil Katsir An Nawaa’ sebagaimana disebutkan dalam Fadha’il Ash Shahabah no 711. Sejauh ini diketahui bahwa ada lima perawi yang meriwayatkan dari Asy Sya’biy dari Ali yaitu

  1. Ismaiil bin Abi Khalid perawi Bukhari Muslim yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/93]
  2. Abu Ishaq Asy Syaibaniy atau Sulaiman bin Abi Sulaiman termasuk perawi Bukhari Muslim yang tsiqat [At Taqrib 1/386]
  3. Bayaan bin Bisyr Al Ahmasiy termasuk perawi Bukhari Muslim yang tsiqat tsabit [At Taqrib 1/141]
  4. Mujalid bin Sa’id Al Hamdaniy termasuk perawi Muslim, dikatakan Ibnu Hajar “tidak kuat mengalami perubahan hafalan di akhir umurnya” [At Taqrib 2/159]
  5. Katsir An Nawaa’ termasuk perawi Tirmidzi yang dhaif [At Taqrib 2/37]

Riwayat Asy Sya’biy dari Ali ini kedudukannya dhaif karena inqitha’ [terputus]. Asy Sya’biy tidak mendengar dari Aliy. Al Hakim berkata

وأن الشعبي لم يسمع من عائشة ولا من عبد الله بن مسعود ولا من أسامة بن زيد ولا من علي

Dan Asy Sya’biy tidak mendengar dari Aisyah, tidak dari Abdullah bin Mas’ud, tidak dari Usamah bin Zaid dan tidak dari Aliy [Ma’rifat Ulumul Hadis 1/164]

Pernyataan Al Hakim ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hazm dalam Al Muhalla 11/348 bahwa Asy Sya’biy tidak mendengar dari Aliy. Hal yang sama juga dikatakan Ibnu Hibban sebagaimana dinukil Ibnu Jauzi dalam Al Maudhu’at 2/264. Al Qurthubiy berkata “Asy Sya’bi tidak bertemu dengan Aliy [Tafsir Al Qurthubiy 2/248]. Ibnu Abdil Barr juga berkata “Asy Sya’biy tidak bertemu dengan Aliy” [Al Istidzkar 8/168]

Disebutkan dalam salah satu riwayat bahwa Asy Sya’biy meriwayatkan atsar Ali ini dari Abu Juhaifah Wahb As Suwaa’iy sebagaimana yang tampak dalam riwayat berikut

حدثنا عبد الله قال حدثني هدية بن عبد الوهاب أبو صالح بمكة قثنا محمد بن عبيد الطنافسي قثنا يحيى بن أيوب البجلي عن الشعبي عن وهب السوائي قال خطبنا علي فقال من خير هذه الأمة بعد نبيها فقلنا أنت يا أمير المؤمنين فقال لا خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر ثم عمر وما كنا نبعد أن السكينة تنطق على لسان عمر

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Hadiyyah bin ‘Abdul Wahaab Abu Shalih di Mekkah yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaid Ath Thanaafisiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayuub Al Bajalliy dari Asy Sya’biy dari Wahb As Suwaa’iy yang berkata Ali berkhutbah kepada kami dan berkata “siapakah sebaik-baik umat setelah Nabi-Nya?”. Kami berkata “engkau wahai amirul mukminin”. Beliau berkata “tidak sebaik-baik umat setelah Nabi-Nya Abu Bakar kemudian Umar dan kami tidaklah menjauh bahwa ketenangan ada pada lisan Umar” [Fadhail Ash Shahabah no 50]

Atsar Yahya bin Ayub dari Asy Sya’biy di atas juga diriwayatkan Abdullah bin Ahmad dalam Zawaaid Musnad Ahmad 1/106 no 834 dan dalam As Sunnah no 1374. Diriwayatkan secara ringkas oleh Abu Nu’aim yaitu dengan matan berikut

حدثنا محمد بن أحمد بن الحسن، حدثنا الحسن بن علي بن الوليد حدثنا عبد الرحمن بن نافع، حدثنا مروان بن معاوية، عن يحيى بن أيوب البجلي، عن الشعبي، عن أبي حجيفة، قال: قال على كرم الله وجهه: ما كنا نبعد أن السكينة تنطق على لسان عمر رضي الله تعالى عنه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Al Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Aliy bin Waaliid yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Naafi’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Marwaan bin Muawiyah dari Yahya bin Ayuub Al Bajalliy dari Asy Sya’biy dari Abu Juhaifah yang berkata Ali berkata “kami tidaklah menjauh bahwa ketenangan ada pada lisan Umar” [Hilyatul Auliyaa Abu Nu’aim 1/42]

أخبرنا الحسن بن مروان بقيسارية ثنا إبراهيم بن معاوية بن ذكوان ثنا محمد بن يوسف الفريابي ثنا يحيى بن أيوب البجلي عن الشعبي عن أبي جحيفة عن علي بن أبي طالب أنه قال إن كنا لنعد ان السكينة تنطق على لسان عمر رضي الله عنه

Telah mengabarkan kepada kami Hasan bin Marwaan di Qaisariyah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mu’awiyah bin Dzakwaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yuusuf Al Faryaabiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayuub Al Bajalliy dari Asy Sya’biy dari Abu Juhaifah dari Aliy bin Abi Thalib bahwa ia berkata “kami tidaklah menjauh bahwa ketenangan ada pada lisan Umar radiallahu‘anhu” [Fawaid Ibnu Mandah no 51]

Riwayat Abdullah sanadnya shahih sampai ke Yahya bin Ayuub Al Bajalliy sedangkan riwayat Abu Nu’aim dan Ibnu Mandah tidak tsabit sanadnya hingga Yahya bin Ayuub. Riwayat Abu Nu’aim lemah karena Marwan bin Muawiyiah mudallis martabat ketiga [Thabaqat Al Mudallisin no 105] dan ia membawakan riwayatnya dengan ‘an anah. Sedangkan riwayat Ibnu Mandah lemah karena Hasan bin Marwan dan Ibrahim bin Muawiyah majhul tidak dikenal kredibilitasnya.

Atsar Asy Sya’bi dari Abu Juhaifah dari Aliy ini sanadnya khata’ karena Yahya bin Ayuub yang dikatakan Ibnu Hajar “tidak ada masalah padanya” [At Taqrib 2/297] telah menyelisihi para perawi yang lebih tsiqat darinya yaitu Ismail bin Abi Khalid, Asy Syaibaniy dan Bayaan bin Bisyr Al Ahmasiy dimana ketiganya meriwayatkan atsar tersebut dari Asy Sya’biy dari Aliy. Daruquthni juga mengisyaratkan kesalahan Yahya bin Ayuub dimana ia berkata bahwa yang shahih dari sanad tersebut adalah sanad dengan riwayat irsal Asy Sya’biy dari Aliy [Al Ilal Daruquthni no 471]. Dari segi matan, riwayat Yahya bin Ayuub juga menyelisihi perawi lain yang lebih tsiqat darinya. Perhatikan riwayat berikut

حدثنا عبد الله قال حدثني أبي نا سفيان بن عيينة عن بن أبي خالد عن الشعبي عن أبي جحيفة قال سمعت عليا يقول خير هذه الأمة بعد نبيها أبو بكر وعمر ولو شئت لحدثتكم بالثالث

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Ibnu Abi Khalid dari Asy Sya’biy dari Abu Juhaifah yang berkata aku mendengar Ali berkata “sebaik-baik umat setelah Nabi-Nya Abu Bakar dan Umar dan jika aku menghendaki maka akan aku kabarkan kepadamu yang ketiga”[Fadha’il Ash Shahabah no 260]

Ismail bin Abi Khalid dalam riwayat di atas memiliki mutaba’ah yaitu Abu Ishaq Asy Syaibani [Fadhail Ash Shahabah no 409], Bayaan bin Bisyr [Fadhail Ash Shahabah no 406, 547], dan Mutharrif bin Tharif [Fadha’il Ash Shahabah no 130]. Semuanya meriwayatkan dengan matan seperti di atas tanpa tambahan lafaz “kami tidaklah menjauh bahwa ketenangan ada pada lisan Umar”.

Yahya bin Ayuub Al Bajalliy telah melakukan kesalahan dengan mencampuradukkan kedua riwayat Asy Sya’bi. Yaitu riwayat Asy Sya’biy dari Abu Juhaifah dari Ali tentang sebaik-baik umat dan riwayat Asy Sya’biy dari Ali tentang ketenangan pada lisan Umar. Isma’il bin Abi Khalid, Asy Syaibani dan Bayaan bin Bisyr perawi yang lebih tsiqat dan lebih tsabit darinya telah memisahkan kedua riwayat tersebut.

.

.

Riwayat ‘Amru bin Maimun Dari Aliy

حدثنا محمد بن عثمان بن ابي شيبة قال حدثنا احمد بن يونس قال حدثنا ابو اسرائيل الملائي عن الوليد بن العيزار عن عمرو بن ميمون عن علي قال اذا ذكر الصالحون فحي هلا بعمر ما كنا نبعد اصحاب محمد عليه السلام ان السكينة تنطق على لسان عمر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Israiil Al Malaa’iy dari Waliid bin Aizaar dari ‘Amru bin Maimun dari Aliy yang berkata “Jika disebutkan orang-orang shalih maka penuhilah dengan Umar, kami sahabat Muhammad tidaklah menjauh bahwa ketenangan ada pada lisan Umar” [Mu’jam Al Awsath Thabraniy 5/359 no 5549]

Riwayat ‘Amru bin Maimun ini disebutkan Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya 1/42 dan 4/152, juga dalam Tatsbiitul Imamah no 65. Ahmad bin Yunus dalam periwayatan dari Abu Israiil memiliki mutaba’ah dari Ubaidillah bin Musa sebagaimana yang disebutkan Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh 1/462 dan Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah 6/369-370.

Riwayat ‘Amru bin Maimun ini dhaif karena Abu Israiil. Abu Israiil Al Malaa’iy Al Kufiyadalah Ismaiil bin Abu Ishaq Al ‘Absiy termasuk perawi Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ahmad mengatakan ia ditulis hadisnya dan telah meriwayatkan hadis mungkar. Ibnu Ma’in terkadang berkata “shalih” terkadang berkata “dhaif”. Bukhari berkata Ibnu Mahdi meninggalkannya dan ia dihaifkan Abu Waliid. Abu Zur’ah berkata shaduq. Abu Hatim berkata hasanul hadis tetapi tidak bisa dijadikan hujjah ditulis hadisnya dan buruk hafalannya. Nasa’i berkata “tidak tsiqat” dan terkadang berkata “dhaif”. Al Uqailiy berkata “dalam hadisnya terdapat waham dan idhthirab”. At Tirmidzi berkata “tidak kuat disisi ahli hadis”. Abu Ahmad Al Hakim berkata “matruk al hadits”. Ibnu Hibban menyatakan ia mungkar al hadits. Abu Israiil dikenal sebagai perawi yang mencela dan mengkafirkan Utsman bin ‘Affan [At Tahdzib juz 1 no 545].

Daruquthni berkata “dhaif” [Al Ilal no 1043] dan Daruquthni memasukkan namanya dalam Adh Dhu’afa [Adh Dhu’afa Daruquthni no 74]. Ibnu Hajar berkata “shaduq buruk hafalannya” [At Taqrib 1/93] tetapi dalam Talkhis Al Habir, Ibnu Hajar berkata “dhaif” [Talkhiish Al Habiir 1/502 no 296]. Adz Dzahabi berkata “dhaif” [Al Kasyf no 370]. Riwayat ini mengandung illat [cacat] lain yaitu Abu Israiil Al Malaa’iy disebutkan Ibnu Hajar sebagai mudallis martabat kelima [Thabaqat Al Mudallisin no 130] dan riwayatnya di atas dibawakan dengan ‘an anah maka kedudukannya dhaif.

Sebagian nashibi mengira bahwa Abu Israiil Al Kufiy dalam sanad di atas adalah Yunus bin Abi Ishaq, hal ini sangat jelas keliru. Dalam sanad tersebut Abu Israiil yang dimaksud adalah Abu Israiil Al Malaa’iy dan ia adalah Ismaiil bin Abu Ishaq bukannya Yunus bin Abi Ishaaq. Selain itu nashibi tersebut mengatakan kalau Daruquthni menshahihkan riwayat ‘Amru bin Maimun dari Aliy di atas. Inipun juga keliru, inilah yang dikatakan Daruquthni

وروي هذا الحديث عمرو بن ميمون الأودي عن علي حدث به أبو إسرائيل الملائي واختلف عنه فقال أبو فروة الرهاوي عن أبي غسان عن أبي إسرائيل عن العيزار بن حريث عن عمرو بن ميمون عن علي وخالفه محمد بن إسحاق بن سابق فرواه عن أبي إسرائيل عن الوليد بن العيزار عن عمرو بن ميمون عن علي وهو الصحيح

Dan diriwayatkan hadis ini oleh ‘Amru bin Maimun Al Awdiy dari Aliy, yaitu diceritakan oleh Abu Israiil Al Malaa’iy dimana terdapat perselisihan tentang riwayatnya. Berkata Abu Farwah Ar Rahaawiy dari Abu Ghassaan dari Abu Israiil dari Aizaar bin Huraits dari ‘Amru bin Maimun dari Aliy dan riwayat ini diselisihi oleh Muhammad bin Ishaq bin Saabiq, dimana riwayatnya adalah dari Abi Israail dari Waliid bin Aizaar dari ‘Amru bin Maimun dari Ali, dan inilah yang shahih. [Al Ilal Daruquthni no 471]

Jadi yang dimaksud perkataan Daruquthni “inilah yang shahih” adalah riwayat Abu Israiil yang tsabit itu adalah riwayat Abu Israail dari Walid bin Aizaar bukan riwayat Abu Israail dari Aizaar bin Huraits. Jadi perkataan shahih Daruquthni itu adalah untuk merajihkan salah satu riwayat yang bertentangan dengan riwayat lain. Bagaimana mungkin dikatakan Daruquthni menshahihkan riwayat Abu Israail Al Malaa’iy jika ia sendiri menyatakan Abu Israail dhaif [Al Ilal Daruquthni no 1043]. Ini kesalahan yang timbul dari ketidakmampuan memahami apa yang dibaca.

.

.

Riwayat Zirr bin Hubaisy Dari Aliy

أخبرنا عبد الرزاق قال اخبرنا معمر عن عاصم عن زر بن حبيش عن علي قال ما كنا نبعد أن السكينة تنطق على لسان عمر

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari ‘Aashim dari Zirr bin Hubaisy dari Aliy yang berkata “kami tidaklah menjauh bahwa ketenangan ada pada lisan Umar” [Mushannaf ‘Abdurrazaq 11/222 no 20380]

Riwayat Zirr bin Hubaisy ini juga diriwayatkan dalam Fadahail Ash Shahabah no 522 dan Asy Syari’ah Al Ajjuriy no 1327. Riwayat ini mengandung illat [cacat] yaitu ‘Ashim bin Abi Najud dikatakan sebagian ulama mengalami ikhtilath di akhir umurnya. Hammad bin Salamah berkata “Ashim mengalami ikhtilath di akhir umurnya” [At Tahdzib juz 5 no 67]. Ibnu Hibban dalam Al Majruhin yaitu biografi Umar bin Ghiyaats mengutip bahwa ‘Aashim mengalami ikhtilath di akhir umurnya [Al Majruhin 2/88]  dan tidak diketahui apakah Ma’mar meriwayatkan darinya sebelum atau sesudah ‘Ashim mengalami ikhtilath.

Riwayat ini juga dhaif karena mengandung illat lain yaitu sebagaimana dikatakan Ibnu Ma’in riwayat Ma’mar dari ‘Aashim idhthirab dan banyak mengandung kesalahan

قال يحيى وحديث معمر عن ثابت وعاصم بن أبي النجود وهشام بن عروة وهذا الضرب مضطرب كثير الأوهام

Yahya berkata “dan hadis Ma’mar dari Tsabit, ‘Aashim bin Abi Najuud, Hisyaam bin Urwah mudhtharib banyak mengandung kesalahan” [At Tahdzib juz 10 no 441]

Ma’mar dalam periwayatan dari ‘Aashim telah menyelisihi Syarik yang meriwayatkan atsar ini dari ‘Aashim dari Musayyab bin Raafi’ dari Abdullah bin Mas’udsebagaimana disebutkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 6/354 no 31981 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh-nya 44/111. Syarik Al Qadhiy adalah perawi yang tsiqat shaduq tetapi diperbincangkan hafalannya, pada dasarnya riwayat Syarik dan Ma’mar dari ‘Aashim masing-masing mengandung kelemahan tetapi riwayat Syarik didahulukan dari riwayat Ma’mar karena ‘Aashim termasuk orang Kufah dan Syarik dikatakan sebagian ulama bahwa ia lebih alim dalam riwayat dari orang-orang Kufah. Jadi Ma’mar dalam riwayatnya dari ‘Aashim telah melakukan kesalahan dalam menisbatkan riwayat ini kepada Aliy bin Abi Thalib.

.

Riwayat Zaadzan dari Aliy

 Atsar Aliy [radiallahu ‘anhu] ini juga diriwayatkan oleh Zaadzan Al Kindiy sebagaimana yang disebutkan Daruquthni dalam Al Ilal dengan sanad berikut

حدثنا أبو وهب الأبلي يحيى بن موسى قال ثنا موسى بن سفيان ثنا عبد الله بن الجهم قال ثنا عمرو بن أبي قيس عن أعين بن عبد الله عن أبي اليقظان عن زاذان عن علي

Telah menceritakan kepada kami Abu Wahb Al ‘Abliy Yahya bin Musa yang berkata telah menceritakan kepada kami Muusa bin Sufyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Jahm yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Abi Qais dari A’yan bin ‘Abdullah dari Abi Yaqzhaan dari Zadzaan dari Aliy. [Al Ilal Daruquthni no 471]

Riwayat ini sanadnya shahih sampai ‘Abdullah bin Jahm. Daruquthni telah berhujjah dengan para perawi riwayat ini sampai Abdullah bin Jahm. Daruquthni berkata

وروي هذا الحديث عن زاذان أبي عمر عن علي حدث به عمرو بن أبي قيس واختلف عنه فرواه محمد بن سعيد بن سابق عن عرمو بن أبي قيس عن أبي اليقظان عن زاذان عن علي وخالفه عبد الله بن الجهم فرواه عن عمرو بن أبي قيس عن أعين بن عبد الله قاضي الري عن أبي اليقظان عن زاذان عن علي وهو الصحيح

Dan diriwayatkan hadis ini dari Zaadzaan Abi Umar dari Aliy, hal ini diceritakan oleh ‘Amru bin Abi Qais dan terdapat perselisihan dalam riwayatnya. Telah meriwayatkan Muhammad bin Sa’id bin Saabiq dari ‘Amru bin Abi Qais dari Abul Yaqzhaan dari Zaadzaan dari Aliy. Dan Abdullah bin Jahm menyelisihinya dimana ia meriwayatkan dari ‘Amru bin Abi Qais dari A’yan bin ‘Abdullah Qadhi Ray dari Abul Yaqzhaan dari Zaadzaan dari Aliy dan inilah yang shahih [Al Ilal Daruquthni no 471]

Penshahihan Daruquthni terhadap riwayat Abdullah bin Jahm menunjukkan bahwa di sisi Daruquthni, Abul Wahb Yahya bin Musa, Musa bin Sufyan dan Abdullah bin Jahm adalah para perawi tsiqat. Musa bin Sufyaan adalah Musa bin Sufyan bin Ziyad Al Askariy biografinya disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 9/163 no 15787]. Telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqat diantaranya Abu Awanah yang memasukkan hadisnya dalam Shahih Abu Awanah.

Riwayat Muhammad bin Sa’id bin Saabiq yang disebutkan Daruquthni diriwayatkan oleh Ibnu Busyraan dalam Amaliy Ibnu Busyraan no 913 dengan jalan sanad dari Abu Aliy Ahmad bin Fadhl bin Khuzaimah dari Ya’qub bin Yusuf Al Qazwainiy dari Muhammad bin Sa’id bin Saabiq dari ‘Amru bin Abi Qais dari Abul Yaqzhaan dari Zaadzaan dari Aliy. Daruquthni merajihkan riwayat Abdullah bin Jahm yaitu dimana‘Amru bin Abi Qais meriwayatkan dari A’yan bin ‘Abdullah dari Abul Yaqzhaan.  Dari sini dapat disimpulkan bahwa Amru bin Abi Qais terkadang meriwayatkan langsung dari Abul Yaqzhaan dan terkadang meriwayatkan melalui perantara A’yan bin Abdullah seorang yang majhul. Maka disini terdapat illat [cacat] bahwa ‘Amru bin Abi Qais tidak mendengar langsung hadis ini dari Abul Yaqzhaan.

Selain itu riwayat Zaadzaan ini dhaif karena Abul Yaqzhaan, dia adalah Utsman bin Umair Al Bajalliy. Ahmad berkata “dhaif al hadits”. Ibnu Mahdi meninggalkannya. Muhammad bin Abdullah bin Numair mendhaifkannya. Abu Hatim berkata “dhaif al hadits mungkar al hadits”. Daruquthni berkata “matruk”. Ibnu Abdil Barr mendhaifkannya. Ibnu Hibban mendhaifkannya dan menyatakan ia mengalami ikhtilath dan tidak boleh berhujjah dengannya [At Tahdzib juz 7 no 293]. Ibnu Hajar menyatakan ia dhaif mengalami ikhtilath dan sering melakukan tadlis [At Taqrib no 4539]. Maka riwayat Abul Yaqzhaan ini dhaif karena ia sendiri seorang yang dhaif ditambah lagi ia mengalami ikhtilath sering melakukan tadlis dan riwayatnya di atas dibawakan dengan ‘an anah maka hal ini lebih menguatkan kedhaifan riwayat tersebut.

.

.

Riwayat Thariq bin Syihaab dari Aliy

حدثنا محمد بن أحمد بن علي بن مخلد ثنا محمد بن يونس ثنا عمر بن حفص ثنا شعبة عن قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب قال قال علي رضي الله عنه كنا نتحدث أن ملكاً ينطق على لسان عمر رضي الله عنه

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Aliy bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihaab yang berkata Ali radiallahu ‘anhu berkata kami dahulu berkata bahwa Malaikat berbicara pada lisan Umar radiallahu ‘anhu [Al Imamah Wal Rad ‘Ala Raafidhah Abu Nu’aim no 92]

Abu Nu’aim Al Ashbahaaniy juga meriwayatkan atsar Imam Ali ini dalam kitabnya Hilyatul Auliya 1/42 dan Tasbiitul Imamah Wa Tartib Al Khilaafah no 90 dengan jalan sanad dari Muhammad bin Ahmad bin Makhlad dari Muhammad bin Yunus dari Utsman bin Umar dari Syu’bah dari Qais bin Muslim dari Thaariq bin Syihaab dari Aliy radiallahu ‘anhu. Riwayat ini sanadnya dhaif karena Muhammad bin Yuunus Al Kadiimiy. Adz Dzahabiy menyatakan bahwa ia salah seorang yang matruk. Ibnu Adiy, Ibnu Hibban dan Daruquthni menuduhnya memalsukan hadis. Abu Dawud, Musa bin Haruun dan Qaasim bin Zakariya menyatakan ia pendusta. [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/74-75 no 8353]

Riwayat Muhammad bin Yunus Al Kadiimiy dari Utsman bin Umar dari Syu’bah diselisihi oleh riwayat Yahya bin Abi Bukair, Muslim bin Ibrahiim, Asad bin Musa dan ‘Aashim bin Aliy dimana mereka meriwayatkan dari Syu’bah dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihaab tanpa menyebutkan dari Aliy. Riwayat Thariq bin Syihaab [tanpa menyebutkan dari Aliy] disebutkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 6/358 no 32011 [riwayat Yahya bin Bukair], Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 44/111 [riwayat Muslim bin Ibrahiim], Ya’qub Al Fasawiy dalam Ma’rifat Wal Tarikh 1/241 [riwayat Muslim bin Ibrahiim] dan Ath Thabraniy dalam Mu’jam Al Kabir 8/320 no 8202 [riwayat Asad bin Musa dan ‘Aashim bin Aliy].

.

.

Secara ringkas riwayat Imam Ali di atas yang memuji Umar bahwa “ketenangan ada pada lisan Umar” terdiri atas beberapa jalan yang dhaif yaitu

  1. Riwayat Asy Sya’biy dari Aliy kedudukannya dhaif karena inqitha’ atau sanadnya terputus. Apalagi Asy Sya’biy dikenal sering memursalkan hadis dari Aliy yang sebenarnya ia ambil dari Harits Al A’war seorang yang dhaif dan pendusta. Maka terdapat kemungkinan riwayat ini diambil Asy Sya’bi dari Al Harits.
  2. Riwayat ‘Amru bin Maimun dari Aliy kedudukannya dhaif dan tidak tsabit sanadnya hingga ‘Amru bin Maimun karena kelemahan Abu Israail Al Mala’iy. Selain itu riwayat ‘Amru dhaif karena Abu Israail seorang mudallis dan riwayatnya disini dengan ‘an anah.
  3. Riwayat Zirr bin Hubaisy dari Aliy kedudukannya dhaif dan tidak tsabit sanadnya hingga Zirr bin Hubaisy karena ‘Aashim dikatakan ikhtilath dan tidak diketahui Ma’mar meriwayatkan darinya sebelum atau sesudah ‘Aashim ikhtilath. Selain itu riwayat Zirr lemah karena kelemahan riwayat Ma’mar dari ‘Aashim yang Idhthirab dan banyak mengandung kesalahan.
  4. Riwayat Zaadzaan dari Aliy kedudukannya dhaif dan tidak tsabit sanadnya hingga Zaadzaan karena kelemahan Abul Yaqzhaan seorang yang dhaif matruk, mengalami ikhtilath dan sering melakukan tadlis. Jadi selain riwayat Zaadzaan lemah karena ia seorang yang matruk juga karena tidak diketahui apakah riwayat Zaadzaan ini diriwayatkan sebelum atau sesudah ia mengalami ikhtilath dan lemah karena Zaadzaan seorang mudallis dan riwayatnya ini dengan ‘an anah.
  5. Riwayat Thariq bin Syihaab dari Aliy kedudukannya dhaif dan tidak tsabit sanadnya dari Aliy karena Muhammad bin Yunus Al Kadiimiy seorang yang dituduh pemalsu hadis dan pendusta. Apalagi terbukti bahwa riwayat yang tsabit adalah perkataan Thariq bin Syihaab bukan perkataan Aliy.

Satu-satunya sanad terkuat dari Atsar Aliy di atas adalah riwayat Asy Sya’biy dari Ali dan inipun kedudukannya dhaif apalagi seperti yang kami katakan Asy Sya’biy seringkali memursalkan hadis Aliy yang sebenarnya ia riwayatkan dari Al Harits Al A’waar seorang yang dhaif baik dari segi ‘adalah maupun dhabitnya. Maka terdapat kemungkinan Asy Sya’biy meriwayatkan atsar ini dari Al Harits dari Aliy. Kesimpulannya riwayat Imam Aliy ini dhaif dengan keseluruhan jalan-jalannya.

Wahabi Salafi kaki tangan AS dan Israel dibalik gerakan anti syi’ah

KAMIS, 14 JUNI 2012 10:50
.
EmailCetakPDF
web http://syiahindonesia.com milik Wahabi Salafi kaki tangan AS dan Israel dibalik gerakan anti syi’ah
.
Seorang analis politik terkemuka Amerika menyatakan bahwa Israel akan beraksi dengan melakukan berbagai pelanggaran hukum internasional menyusul para pejabat Zionis adalah klien dari Amerika Serikat dan oleh karena itu mereka menikmati kekebalan total. Demikian dilaporkan Press TV
.

“… Itu (Israel) adalah negara klien Amerika Serikat; Amerika Serikat memiliki kekebalan total dan yang diwariskan kepada sekutu dan kliennya,” kata filsuf dan ahli linguistik Amerika, Noam Chomsky dalam wawancaranya dengan Press TV Rabu (13/6)

.

Pernyataan itu dikemukakan Chomsky menyinggung komitmen Presiden AS Barack Obama pada 5 Juni yang kembali menyatakan dukungan tak tergoyahkan Washington terhadap Tel Aviv. Ditambahkannya bahwa jelas Washington lebih perhatian terhadap Israel ketimbang Palestina

.

Obama, mengemukakan pernyataannya itu dalam pertemuan antara Kepala Staf Gedung Putih, Jack Lew dan delegasi komunitas Ortodoks Yahudi AS. Bahkan Obama juga meminta audiens untuk tidak meragukan loyalitasnya kepada Israel

.

“Seperti itulah kekuatan,” tutur Chomsky seraya menegaskan, “Jadi Amerika Serikat tidak mungkin diseret ke pengadilan internasional. Upaya pihak yang ingin melakukannya, akan diabaikan oleh Mahkamah Internasional-AS.”

.

Chomsky lebih lanjut menjelaskan bahwa apa yang dimaksud AS ketika menyinggung masyarakat internasional berbeda dari istilah yang dipahami pada umumnya

.

“Ketika istilah (masyarakat internasional) digunakan di Barat, masyarakat internasional mengacu pada Amerika Serikat dan siapa saja yang kebetulan bersamanya. Jika seandainya sebagian besar dunia menentang, maka [menurut Amerika Serikat] mereka bukan bagian dari masyarakat internasional,” ungkap Chomsky.

Potret Ketaqwa’an Raja Arab Saudi Yang Wahhabi nan Salafy

.
George Bush, Presiden Cina Hu Jintao, dan Raja Salafy Wahhabi Lagi Asyik Ber-Toast-ria.
.
Beginilah “Khadimul Haramain”, Raja Abdullah ibn Abdil Aziz memperagakan pengalaman yang tepat dan kâffah dalam “berpegang teguh” dengan syari’at Islam yang melarang meniru dan bertasyabbuh dengan kaum Yahdi, Nashrani dan orang-orang kafir!!
.
Wahai saudaraku pemegang hak paten Mazhab Salaf Shaleh (PS2) apakah Anda berprasangka baik/husnudzdzan bahwa yang sedang ditenggak raja kebanggaan ulama mazhab Wahabi-Salafy bersama penjahat perang yang tangannya berlumuran darah-darah suci umat Islam itu adalah air Zamzam?! Bukan wisky?!
.
Baiklah, mari kita berhusnudzdzan bahwa itu adalah menimun yang halal, terus bagaimana dengan budaya “Toast” yang diperagakan Raja Salafy-Wahabi itu, bukankah itu  budaya orang kafir?, yang tidak dikenal dalam syariat Nabi Muhammad Saw? bukankah seorang ulama besar dan mantan mufti dinasti al-Saud Bin Baz kebanggaan wahhabi-salafy pernah mengharamkan bertepuk tangan dengan alasan bertasyabuh dengan orang-oramg kafir, lalu mana fatwa Dewan Fatwa Kerajaan Wahhabi-Salafy Saudi Arabia (Hai’ah al Kibar al Ulama) tentang hukum ber-”Toast”yang jelas-jelas bertasyabuh dengan orang-0rang kafir itu?!
.
Apakah Nabi Muhammad saw.pernah mencontohkan prilaku “miring” tradisi “Toast”atau “Ting Tung” alias minum bareng seperti itu apalagi dengan penjahat perang?
.
Di manakah ulama Wahabi-Salafy Arab itu sehingga membiarkan rajanya melakukan adegan bermesraan dengan penjahat perang, dan ber-toast-ria?! Apakah semua ulama Wahhâbi itu buta? Atau pura-pura buta? Atau mereka adalah sekawanan para penjilat yang berkedok agamis? Atau memang mereka juga alat Imprialisme Barat/Amerika dan kaki tangan Zionis?
.
Mengapakah kaum Salafi-wahhabi di tanah air juga menjadi tuli dan buta dari menyaksikan kenyataan ini?!
.
Wahai saudaraku kaum Muslimin, tanah suci kaum Muslimin harus dibebaskan dari cengkeraman kaum yang tidak memelihara kesucian Haramain!
Kota suci Mekkah dan Madinah bukan milik kaum Wahhabi Salafy bukan pula milik keluarga kerajaan Arab Saudi! Berdasarkan ayat Al Qur’an, Allah SWT menjadikannya untuk umat manusia yang mukmin guna menegakkan penghambaan kepada Allah!
***********************
.
Galery Foto Keluarga Kerajaan Saudi Al Wahhabi Al Salafy
.
Raja Abdullah bin Abdul Aziz  dengan Paus Bennedict
.
Raja Abdullah bin Abdul Aziz dengan Tokoh Yahudi
.
Cipika-cipiki Raja Abdullah dengan Sang Tuan George Bush
.
Raja Abdullah memberikan medali penghargaan untuk sang boss Mr. Bush
.
Raja Abdullah bin Abdul Aziz,…Thank you Bos !
.
Lagi medali penghargaan untuk sang Tuan Baru Mr. Obama, dari Raja Abdullah bin Abdul Aziz -Amir wahabiyyun Salafiyyun-
.
Tuan Bush dan Abdullah bin Abdul Aziz bergandengan tangan
.
Bergandengan Tangan Raja Abdullah dengan sang Tuan Mr. Bush Senior dan Staf Dick Cheney dan Jenderal Perang Teluk Colin Powell
.
Raja Abdullah dan Obama dan di Belakang Lukisan Mendiang Raja-Raja Saudi Yang Telah Al Marhum, Bagaimana dengan Fatwa ulama Wahhabi-Salafy yang mengharamkan lukisan dan foto?
.
Dari kiri, Raja Abdullah (Saudi), Menlu Arab Saudi, Saud Al-faisal, Raja Abdullah (Jordan), dan Tuan Mereka Mr.George Bush
.
Amir  Al Waleed bin Talal bin Abdul Aziz dan Istri, mana jilbabnya Ya?
.
Amir  Al Waleed bin Talal bin Abdul Aziz dan Istri, lagi mana jilbabnya Ya?
.
Amir  Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz dengan Tuannya Mr Bush
.
Amir Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz dengan seorang “Teman” mungkin para Wahabiyyun Salafiyyun mengetahui siapa dia?
.
Jenderal Khalid Bin Sultan Bin Abdul Aziz (menteri Pertahanan Kerajaan Islam Salafy Saudi), dengan “teman-teman” wanitanya

Shahih Bukhari; segolongan sahabat Rasulullah ada yang Murtad sepeninggal Rasulullah ! menjawab http://nahimunkar.com/11398/beberapa-tulisan-jalaluddin-rakhmat-mengkafirkan-sahabat-nabi-saw/

Shahih Bukhari; segolongan sahabat Rasulullah ada yang Murtad sepeninggal Rasulullah.

Shahih Bukhari,Hadits No.3100 :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا ثُمَّ قَرَأَ { كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ } وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ وَإِنَّ أُنَاسًا مِنْ أَصْحَابِي يُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِي أَصْحَابِي فَيَقُولُ إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ { وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي إِلَى قَوْلِهِ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ }

3100. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Al Mughirah bin an-Nu’man berkata telah bercerita kepadaku Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (pada hari qiyamat) dalam keadaan telanjang dan tidak dikhitan. Lalu Beliau membaca firman Allah QS al-Anbiya’ ayat 104 yang artinya (Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan yang pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti dari Kami. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya). Dan orang yang pertama kali diberikan pakaian pada hari qiyamat adalah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan ada segolongan orang dari sahabatku yang akan diculik dari arah kiri lalu aku katakan: Itu Sahabatku, Itu sahabatku. Maka Allah Ta’ala berfirman: Sesungguhnya mereka menjadi murtad sepeninggal kamu. Aku katakan sebagaimana ucapan hamba yang shalih (firman Allah dalam QS al-Maidah ayat 117 – 118 yang artinya (Dan aku menjadi saksi atas mereka selagi aku bersama mereka. Namun setelah Engkau mewafatkan aku…) hingga firman-Nya (….Engkau Maha Perkasa lagi Maha bijaksana).

Link sumber ambilan Hadits : http://bb.indoquran.com/en/hadith-bukhari/surah/42.html

Volume 4, Book 55, Number 568 :

Narrated by Ibn Abbas

The Prophet said, “You will be gathered (on the Day of Judgment), bare-footed, naked and not circumcised.” He then recited:–’As We began the first creation, We, shall repeat it: A Promise We have undertaken: Truly we shall do it.’ (21.104) He added, “The first to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham, and some of my companions will be taken towards the left side (i.e. to the (Hell) Fire), and I will say: ‘My companions! My companions!’ It will be said: ‘They renegade from Islam after you left them.’ Then I will say as the Pious slave of Allah (i.e. Jesus) said. ‘And I was a witness Over them while I dwelt amongst them. When You took me up You were the Watcher over them, And You are a witness to all things. If You punish them. They are Your slaves And if You forgive them, Verily you, only You are the All-Mighty, the All-Wise.”(5.120-121)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.sahih-bukhari.com/Pages/Bukhari_4_55.php

Narrated Ibn Abbas: The Prophet said, “You will be gathered (on the Day of Judgment), bare-footed, naked and not circumcised.” He then recited:–’As We began the first creation, We, shall repeat it: A Promise We have undertaken: Truly we shall do it.’ (21.104) He added, “The first to be dressed on the Day of Resurrection, will be Abraham, and some of my companions will be taken towards the left side (i.e. to the (Hell) Fire), and I will say: ‘My companions! My companions!’ It will be said: ‘They renegade from Islam after you left them.’ Then I will say as the Pious slave of Allah (i.e. Jesus) said. ‘And I was a witness Over them while I dwelt amongst them. When You took me up You were the Watcher over them, And You are a witness to all things. If You punish them. They are Your slaves And if You forgive them, Verily you, only You are the All-Mighty, the All-Wise.”(5.120-121)

Link sumber ambilan Hadits : http://www.searchtruth.com/book_display.php?book=55&translator=1&start=19&number=561

_______________________________________

Ternyata menurut Hadits yang ada dalam Shahih Bukhari ini,sepeninggal Rasulullah ada sekumpulan para Sahabat Rasulullah yang Murtad,karena di dalam Hadits ini Rasulullah memanggil mereka “Ashabi .. Ashabi (Sahabatku .. Sahabatku) kemudian dalam kalimat bahasa Arab di dalam Hadits ini memakai lafazh “Murtadina” yang berarti menunjukkan kepada kata Jamak atau banyak orang atau sekumpulan orang,dengan memakai lafazh jamak,itu menunjukkan bahwa sahabat Rasulullah yang murtad itu banyak,tidak satu orang.

Siapa sajakah para Sahabat Rasulullah yang murtad itu ?

Hadits ini ada di dalam kitab Shahih Bukhari dengan sanad dari Ibnu Abbas ra ,Kitab/Bab Para Nabi/Prophets. Jika umat Sunni dan umat agama Wahabi berani menuduh sesat Syi’ah karena Syi’ah berpendapat bahwa sebagian Sahabat Rasulullah ada yang murtad sepeninggal Rasulullah,beranikah umat Sunni dan umat agama Wahabi menuduh sesat Imam Bukhari dan Ibnu. Abbas ra ? karena ternyata Imam Bukhari dengan sanad dari Ibnu Abbas telah meriwayatkan bahwa ada segolongan Sahabat Rasulullah yang murtad sepeninggal Rasulullah.

Beranikah umat Sunni mengatakan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas ra sesat ?

Beranikah umat agama Wahabi mengatakan Imam Bukhari dan Ibnu Abbas ra sesat ?

Mau menolak Hadits ini ? Atau mau menuduh ini Hadits palsu buatan Syi’ah ? Atau mau menuduh ini Hadits Palsu buatan Non-Muslim ?

Jangan buru-buru ,silahkan periksa dulu Kitab Shahih Bukhari yang ada di rumah kalian.

Mau mendhai’fkan Hadits ini ? Maaf,Hadits ini ada dalam Kitab Shahih Bukhari,Kitab Hadits paling Shahih no.1 menurut Sunni dan Wahabi. Jadi mutlak Shahih.

Silahkan berapologi wahai Sunni dan buatlah beribu alasan wahai umat agama Wahabi

Periksalah rumahmu sebelum mengatakan rumah orang lain kotor

“…. memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, ….”(QS.Yasin:6)

Banu Hashim – Sebelum kelahiran Islam

Didalam abad ke 5 A.D. seorang bernama Qusay, telah dilahirkan di dalam suku kaum Quraysh. Dia telah mendapatkan kehormatan yang besar dan termashor untuk kaumnya dari kebijaksanaannya. Dia telah membina semula Kaabah yang di dalam keadaan musnah, dan memerintahkan orang-orang Arab supaya membina rumah-rumah mereka disekelilingnya. Dia juga membina ‘Dewan Bandaran’ Makkah, yang pertama di tanah Arab. Ketua dari berbagai-bagai suku kaum berhimpun di dalam dewan ini untuk memikirkan masalah social, perdagangan, budaya dan juga masalah politik mereka. Qusay mengubal rang undang-undang bagi membekalkan makanan dan air kepada para jamaah yang datang ke Makah, dan dia juga membuat orang-orang Arab membayar cukai dari sokongan mereka.

Edward Gibbon: Qusay, dilahirkan diantara A.D. 400, moyang kepada Abdul Muttalib, dan seterusnya yang kelima di dalam pertalian keturunan dari Muhammad, mendapat kuasa tertinggi di Makkah. [The decline and fall of the Roman Empire]

Qusay meninggal di dalam A.D. 480, dan anaknya, Abd Manaf, mengambil alih tugas-tugas beliau. Dia juga telah memaparkan diri dengan kebolehannya. Dia telah dikenali dengan kemurahan hati dan kebijaksanaan. Dia kemudian digantikan oleh anaknya Hashim. Hashim seorang yang luar biasa. Dia telah menjadikan Quraysh pedagang dan putera-putera pedagang. Dialah orang pertama yang memulakan dua perjalanan kafilah Quraysh, musim panas dan musim sejuk, dan yang pertama menyediakan bubur kepada Arab. Jika tidak kerana dia, Arab mungkin tinggal sebagai penggembala kambing selama-lamanya.

Kebijaksanaan dan kepimpinan yang baik serta kemurahan hati, adalah sekadar dua dari banyaknya kualiti-kualiti yang Muhammad, bakal Rasul, ‘warisi’ dari datuk-datuknya. Hashim telah berkahwin dengan seorang wanita Yathrib, dan darinya dia mendapat seorang anak lelaki – Abdul Muttalib. Apabila tiba masanya, Abdul Muttalib akan menggantikan bapanya sebagai pemimpin Banu Hashim.

Edward Gibbon: Datuk kepada Muhammad [Abdul Muttalib] dan jalinan keturunannya, telah dilihat di dalam arena perdagangan didalam dan diluar negara sebagai putera-putera dari negara mereka; merekalah yang berpengaruh, seperti Percales di Athen, atau Medic di Florence, dengan pendapat dari kebijaksanaan serta kejujuran mereka; pengaruh mereka telah dibahagikan bersama dengan warisan mereka.

Suku kaum Koreish, dengan penipuan atau paksaan, telah mendapat penjagaan Kabah, jawatan suci ini dipusakai melalui empat keturunan sehingga kepada datuk Muhammad, iaitu keluarga Hashim, di dalamnya baginda telah dilahirkan, adalah keluarga yang paling dihormati dan mulia pada pandangan penduduk negeri mereka. Keturunan Muhammad dari Ismael adalah suatu kebanggaan bangsanya ataupun suatu rekaan dongengan; tetapi jika susur pertama dari keturunannya adalah kabur dan dipersoalkan, dia masih boleh menghasilkan banyak generasi terhormat yang asli dan tulen; dia sendiri datang dari kaum Koreish dan keluarga Hashim, yang paling terkenal dari kalangan Arab, putera Makah, dan turun temurun penjaga kabah. [The decline and Fall of the Roman Empire]

Hashim mempunyai adik yang bernama al-Muttalib, anak Abd Manaf. Untuk satu jangka waktu, dia adalah pemimpin kaum, dan apabila dia meninggal dunia, anak saudaranya – Abdul Muttalib – anak kepada Hashim, menggantikannya sebagai pemimpin yang baru. Abdul Muttalib telah menunjukan semua kualiti yang telah menjadikan nama bapa dan datuknya mashor dan terkenal.

Sebagaimana yang telah dinyatakan dahulu, kota Makah, sama seperti tanah Arab yang lain, tidak mempunyai kerajaan dan pemerintah, tetapi ianya dikuasai oleh kaum Quraysh. Quraysh mengandungi 12 suku kaum, dan Banu Hashim satu darinya. Untuk bertindak diatas kezaliman diketika itu, ahli dari Banu Hashim, telah melakukan, setengah abad sebelum kelahiran Muhammad, beberapa usaha untuk membendung keruntuhan moral Arab dan untuk memperbaiki keadaan suasana social, ekonomi dan intelektual negara tersebut. Maka mereka telah menubuhkan ‘Kumpulan yang Mulia’. Tujuan utama kumpulan ini adalah untuk menghalang bermulanya peperangan, dan untuk melindungi yang lemah dan daif dari musuh-musuh mereka.

Banu Hashim juga mempunyai minat didalam kebajikan ekonomi Arab, dan telah memperkenalkan sistem perdagangan dengan negara jiran; iaitu dengan menghantar kafilah ke Syria dimusim panas dan ke Yaman dimusim sejuk, sebagaimana dinyatakan terdahulu. Kafilah ini meninggalkan Makah sarat dengan muatan seperti kurma, peralatan kuda dan unta, selimut diperbuat dari bulu binatang atau bulu unta, minyak wangi dan herba wangian; rempah, kemenyan, kulit dari binatang padang pasir, dan kuda baka. Mereka membawa pulang bersama mereka kain, minyak zaitun, senjata, kopi, buah-buahan dan bijiran.
Kedua-dua ini, ‘Kumpulan yang Mulia’ dan ‘perdagangan kafilah’ adalah pemberian besar Banu Hashim yang tidak dipersoalkan lagi kepada Arab. Tetapi hadiahnya yang terbesar, tidak hanya kepada Arab, tetapi kepada seluruh dunia, adalah merupakan seorang bayi yang akan dipanggil Muhammad, anak lelaki Abdullah ibn Abdul Muttalib dan Amina bint Wahab. Dia akan menjadi pembawa rahmat teragung, bukan sahaja kepada Arab tetapi kepada semua manusia. Satu peristiwa penting yang berlaku semasa pimpinan Abdul Muttalib sebagai penjaga Kabah, adalah serangan terhadap Makah oleh tentera Abyssinia yang diketuai oleh seorang general kristian, Abraha. Percubaan menawan Makah gagal sebagaimana yang dilaporkan di dalam ayat yang berikut dari al-Quran.

‘Dan Dia menghantarkan kepada mereka sekumpulan burung. Melemparkan kepada mereka dengan batu dari tanah yang dikeraskan. Lalu Dia menjadikan mereka seperti ladang yang lapang dan daun-daunnya yang telah dimakan ulat.’ [105: 3,4,5]

Oleh kerana pasukan penyerang telah membawa beberapa ekor gajah bersama mereka, maka tahun kempen itu telah dipanggil ‘Tahun Gajah’. Tahun gajah bersamaan dengan A.D. 570 yang mana juga tahun kelahiran Muhammad, bakal Rasul. Tentera penyerang berundur dari Makah dan syarat-syarat perdamaian telah dibincangkan, bagi pihak kota Makah oleh Abdul Muttalib.

Sir John Glubb: Didalam tahun 570, Kristian Abyssinia pemerintah Yaman, berbaris menuju Makah. Quraysh terlalu takut atau terlalu lemah untuk menentang tentera Abyssinia dan Abdul Muttalib, sebagai ketua perwakilan telah keluar untuk berbincang dengan Abraha. [The Great Arab Conquest, 1963]

Seorang saudara jauh; sepupu kepada Hashim, bernama Abd Shams. Dia dari kaum Umayya telah mengaku bahawa dirinya adalah anak Abd Sham, telah cemburu terhadap penguasaan dan kehormatan Abdul Muttalib. Pada suatu ketika, dia telah membuat satu percubaan untuk merampas kuasa dan pemerintahan, tetapi gagal. Kegagalan itu telah menyakitkan hatinya. Dia telah memendamkan kebencian terhadap Abdul Muttalib dan anak-anaknya, dan telah menurunkan kebencian tersebut kepada anak-anak dan cucunya yang kemudian akan bergelar Banu Umayya
Tetapi terdapat lebih dari hanya kebencian didalam permusuhan Banu Umayya dengan Banu Hashim. Dua kaum ini saling bertentangan diantara mereka didalam keperibadian, kelakuan, dan juga pandangan mereka terhadap kehidupan, sebagaimana peristiwa demi peristiwa akan tersingkap apabila mereka [Banu Umayya] mengetuai kumpulan di dalam menentang Islam.

Ketentuan telah menetapkan Banu Hashim untuk menjadi benteng kepada Islam. Allah sendiri telah memilih mereka untuk tugas yang suci ini. Ibn Khaldun, ahli sejarah terkenal dan juga ahli sosiologi, menulis di dalam mukadimah bukunya bahawa kesemua Rasul yang benar [dipilih] mesti menikmati sokongan dari kumpulan yang kuat. Sokongan ini katanya adalah perlu, kerana ia merupakan benteng yang mempertahankan mereka dari musuh dan memberikan mereka keselamatan; tanpanya mereka tidak dapat meneruskan missi ketuhanan mereka.
Didalam kes Muhammad, Rasul Islam, Banu Hashim mewakili ‘kumpulan yang berkuasa’ mempertahankannya dari perbuatan jahat Banu Umayya, memberikannya perlindungan dan membolehkannya untuk melaksanakan missi ketuhanan. Abdul Muttalib mempunyai 10 anak lelaki.

4 darinya menjadi terkenal didalam sejarah. Mereka adalah:

1. Abdullah, bapa kepada Muhammad
2. Abu Talib, bapa kepada Ali
3. Hamza, wira syuhada pada peperangan Uhud
4. Abbas, pengasas khalifa Abbasi di Baghdad

Abdullah dan Abu Talib adalah anak dari ibu yang sama sedangkan yang lapan lagi dari anak-anak lelaki Abdul Muttalib telah dilahirkan dari ibu-ibu yang lain.

Menggugat konsep ‘Adalatus Shohabah ( عدالة الصحابة )

Pada tulisan kali ini saya akan mengajak anda berpikir dengan jernih mengenai permasalahan ‘ADALATUS SHAHABAH (Keadilan para sahabat) ini sehingga anda pun bisa mengerti jalan pemikiran saya dan juga bisa membangkitkan adrenalin anda untuk mau berpikir kritis tentang doktrin-doktrin yang ditanamkan dikepala kita selama ini sehingga tidak jarang menimbulkan pengkultusan individu terhapad hal-hal maupun orang-orang tertentu, baik kita sadari atau tidak.

Sebelumnya saya sudah beberapa kali juga menyinggung bahwasanya saya tidak memihak, anda boleh menyebut saya seorang syiah, tetapi buat saya pribadi penyebutan seperti itu tidak penting, yang saya pahami, Islam adalah Islam, tidak ada madzhab dalam Islam. Madzhab adalah cara pandang terhadap sesuatu yang akhirnya menjadi thariqah untuk pengamalannya. Adalah bisa dimengerti dan dipahami selama itu tidak menjerumuskan pada tingkat saling pengkafiran apalagi saling bunuh. Jika terhadap orang kafir saja kita dilarang berbuat zalim, apakah lagi kepada sesama muslim.

Jauhi prasangka, itulah kata kitab suci :

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain.Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. -Qs. 49 al-Hujuurat :12

Bila kita melihat saudara kita berbeda pemahaman dengan apa yang kita pahami, mari dialog, buka hati dan buka pikiran, pergunakan dalil yang obyektif sehingga tidak terjebak dalam debat kusir yang hanya berdasarkan emosional semata, sebab tindakan emosional tidak akan mengantarkan pada pemecahan masalah yang baik.

Wahai orang-orang yang beriman ! Jangan sekalipun kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil (bersikap subyektif); Berlakulah adil (berbuatlah obyektif) karena adil itu sangat dekat kepada taqwa – Qs. 5 al-Ma’idah : 8

Dan berangkat dari ayat ini, maka berikut akan saya uraikan pemahaman saya mengenai sifat ‘ADALATUS SHAHABAH, mohon maaf apabila banyak nantinya yang merasa tersinggung dengan tulisan ini, silahkan anda mendebat tulisan saya ini dengan dalil-dalil pula dan bukan sekedar menurut anggapan anda atau ulama anu dan syaikh anu.

‘ADALATUS SHAHABAH artinya sifat keadilan sahabat, beberapa ulama hadis mempersempit makna ini menjadi kebersihan semua shahabat dan keterbebasan mereka dari perbuatan salah, mulai dari tindakan hingga pada ucapannya.  Penyempitan defenisi ini akhirnya menimbulkan tindakan taklid berlebihan terhadap diri para sahabat Nabi, semua kajian keagamaan akhirnya seringkali tidak obyektif dan manakala ada pihak yang mencoba melakukan kritik terhadap para sahabat maka orang itu beramai-ramai langsung dicap kafir, sesat, munafik, sok mulia dan sebagainya.

Akhirnya terjadilah jurang didunia Islam secara berabad-abad antara kaum ahlussunah yang berkesan mendewakan sahabat dengan kaum syi’ah yang membela ahlulbait

Padahal masalah ini bisa kita bawa secara obyektif dengan terlebih dahulu menanggalkan semua bentuk kefanatikan kita terhadap masing-masing pemahaman.

Kitab suci al-Qur’an banyak memberikan contoh bagaimana seorang Adam, seorang Musa, seorang Yunus dan seorang Muhammad terlepas dari status kedekatan dan hubungannya dengan Allah ternyata mampu melakukan kesalahan-kesalahan manusiawi sebagaimana fitrah dari kemanusiaan itu sendiri. Bahkan dalam banyak ayat di al-Qur’an betapa Nabi disuruh mengulang-ulangi ucapan : Aku ini manusia biasa seperti kamu tetapi aku diberi wahyu … artinya apa ? tidak lain ini sebagai bentuk teguran kepada manusia lain diluarnya bahwa sesaleh apapun seseorang namun selama dia bernama manusia, dia tidak akan bisa melepaskan semua sifat-sifat kemanusiawiannya.

Ada kalanya mereka mengeluh, ada kalanya mereka menangis sedih, ada kalanya mereka tertawa, bersenda gurau, marah, gusar, terluka bahkan terbunuh … semua ini ada ayatnya dalam al-Qur’an dan ini sangat rasional sekali, sangat kausalitas.

ini semua perlu kajian lebih jauh, lebih mendalam, ada yang salah dari cara kita memahami nash-nash yang tertulis sehingga berkesan Islam itu penuh konflik kontradiksi internal.

Padahal al-Qur’an berkata :

Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur’an?  Kalau kiranya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. -Qs. An-Nisa’ 4:82

Tidak adanya pertentangan yang banyak bukan berarti ada pertentangan yang sedikit, kenapa ?

Tidak datang kepadanya (al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari (Tuhan) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. -Qs. 41:42

Berarti saat kita menemukan adanya konflik didalam ajaran Islam sebenarnya konflik itu ada pada diri kita sendiri, bukan pada ajaran Islam.

Aksi pengeboman berlabel jihad adalah salah satu contoh pemahaman Islam yang salah sama salahnya dengan tindakan negara-negara barat yang memposisikan Islam sebagai agama teroris. Padahal Allah telah memberikan rumus sederhana untuk memahami agama-Nya dengan baik :

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui -Qs. 30:30

Hadapkanlah mukamu kepada agama yang tulus dan ikhlas dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik. -Qs. 10:105

Sederhana sekali, untuk memahami agama kita hanya dituntut untuk mengerti fitrah kita, fitrah manusiawi.

Jangan berpikir untuk menjadikan diri kita berfitrah malaikat sebab kita memang bukan malaikat dan memang Allah tidak hendak menjadikan kita sebagai malaikat, oleh karena itu pula jangan menganggap orang lain sebagai malaikat, kembalikan fitrah mereka pada haknya. Para sahabat adalah manusia dan mari kita memahami mereka sebagai manusia … inilah fitrah.

Benar bahwa kita harus memperlakukan mereka secara terhormat, bagaimanapun diantara mereka banyak yang berjuang atas dasar penegakan Iman, mereka gugur di Badar, merekapun gugur di Uhud dan diberbagai peperangan penegakan panji-panji Allah yang lainnya. Tanpa mereka seorang Muhammad tidak akan bisa berbuat banyak, Islam bisa sampai pada kita karena jasa mereka, ini tidak perlu dipungkiri, karena itu Allah dan Rasul-Nya pun banyak mengeluarkan pujian untuk mereka. Akan tetapi … jangan berhenti sampai disini.

Karena pembelajaran kita memang belum harus berhenti, ada banyak hal yang menggelitik hati kita apabila melihat fakta sejarah yang berlaku dan melibatkan para sahabat.

Apakah sikap para sahabat yang berebut kekuasaan, para sahabat yang haus kekuasaan, para sahabat yang memenggal kepala cucu Nabi tercinta, para sahabat yang terlibat konflik berdarah sesamanya, para sahabat yang memaki-maki keturunan Nabi … tetap disebut bersifat ‘adalah (adil, bersih) ?

Apa benar membunuh sesama saudaranya seiman disebut sebagai tindakan ikhtilafiah ?

Saya kok tidak yakin Allah dan Rasul-Nya meridhoi perbuatan-perbuatan para sahabat yang saya sebutkan tadi.

Anda bacalah al-Qur’an, anda bacalah sirah Nabawiah … anda analisa dan renungkan kebenaran dari apa yang saya katakan ini.

Beberapa argumentatif yang diajukan seputar diri para sahabat, misalnya :

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan kalian beriman kepada Allah”. (Ali-Imran : 110)

“Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kalian umat yang adil  dan pilihan”. (Al-Baqarah : 143)

Padahal kata umat diayat-ayat tersebut merujuk pada kaum secara umum.

Jadi disini tidak hanya berhubungan dengan sahabat saja, saat Allah menyebut umat terbaik, maka maksudnya disini adalah umat Islam, dan jika sudah berbicara masalah umat Islam maka berarti berbicara mengenai orang banyak, terlepas dari rentang ruang dan waktu. Baik dahulu sekarang maupun umat Islam yang akan datang.

Praktis, penerapan hukum terhadap umat adalah sama, tidak ada kecuali. Jika salah ya salah. munafik ya munafik.

Argumentasi lainnya :

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalirkan sungai-sungai didalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (At-Taubah : 100)

Ayat diatas memang menyebutkan keridhoan Allah atas sahabat, tetapi jangan dipenggal sampai disana. Sebab maksud dari ayat tersebut adalah para sahabat yang mula-mula percaya kepada dakwah Rasulullah SAW, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar serta mereka-mereka yang mengikutinya secara baik. Jadi janji Allah ini tidak berlaku untuk mereka yang berbuat dzalim. Sama seperti saat Allah menjawab doa Nabi Ibrahim as :

Allah berfirman:”Janji-Ku tidak mengenai orang yang zalim”. -Qs. 2 al-Baqarah: 124

Rasul sendiri bersabda :

Shahih Bukhari 6098: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab mengatakan; telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Ibnul Musayyab; bahwasanya ia menceritakan dari beberapa sahabat Nabi, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Beberapa orang sahabatku mendatangi telaga, lalu mereka dijauhkan dari telaga, maka aku berkata; ‘(mereka) para sahabatku, ‘ Allah menjawab: ‘Sungguh engkau tidak mempunyai pengetahuan tentang apa yang mereka kerjakan sepeninggalmu, mereka berbalik ke belakang dengan melakukan murtad, bid’ah dan dosa besar.” Dan Syu’aib mengatakan dari Az Zuhri, Abu Hurairah menceritakan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan redaksi; ‘yujla`un’ sedang Uqail mengatakan dengan redaksi ‘Fayuhalla`uuna’, sedang Zubaidi mengatakan dari Az Zuhri dari Muhammad bin Ali dari Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari Abu Hurairah radliyallahu’anhu.

Musnad Ahmad 22229: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Amir telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Qatadah dari Abu Nadhrah dari Qais berkata; Aku berkata kepada ‘Ammar: Menurut kalian, perbuatan yang kalian lakukan ini karena pendapat ‘Ali yang kalian ketahui atau sesuatu yang diperintahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam kepada kalian? ‘Ammar berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam tidak memerintahkan apa pun kepada kami yang tidak beliau perintahkan kepada seluruh manusia, hanya saja Hudzaifah bin Al Yaman memberitahu kami dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Ditengah sahabat-sahabatku ada duabelas orang munafik, delapan diantaranya tidak masuk surga hingga unta masuk ke lubang jarum.”

Musnad Ahmad 22202: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdush Shamad telah bercerita kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Muslim telah bercerita kepada kami Hushain dari Abu Wa`il dari Hudzaifah bin Al Yaman bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Kaum-kaum sungguh akan mendatangi telagaku lalu mereka gelisah tanpaku lalu aku bersabda: Rabb! Sahabat-sahabatku, Rabb! Sahabat-sahabatku. Lalu dikatakan padaku: Engkau tidak tahu apa yang mereka buat-buat sepeninggalmu.”

Shahih Bukhari 6096: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Wuhaib telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Ada beberapa orang sahabatku menuju telagaku, hingga di waktu selanjutnya aku tahu bahwa mereka disingkirkan dariku sehingga aku berteriak-teriak; ‘(mereka) sahabatku!, ‘ maka Allah menjawab; ‘Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu’.”

Dalam [Q.S. At-Taubah 101], Allah berfirman : “Dan di antara orang-orang badui di sekelilingmu, ada orang munafik, dan juga di antara penduduk Madinah. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka. Kamilah yang mengetahui mereka. Kami akan siksa mereka dua kali kemudian mereka akan diberikan azab yang besar”.

Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut, bahwa ayat tersebut ditujukan untuk beberapa sahabat Rasul Saw yang munafik. Rasul Saw tahu bahwa penduduk Madinah yang menggaulinya dan dilihatnya tiap pagi dan senja, ada orang-orang munafik. Dalam [Q.S. Jumuah 11], Allah mengecam para sahabat yang meninggalkan Rasul Saw, yang sedang ber-khutbah jum’at, demi menyambut kafilah yang membawa barang dagangan.

Jabir bin Abdullah berkata :”Ketika Nabi Saw sedang berkhotbah jum’at, tiba-tiba datang kafilah dagang di Madinah, maka pergilah sahabat menyambut kafilah dagang itu, sehingga tiada sisa yang mendengarkan khotbah Rasul Saw, kecuali 12 orang, maka Rasul Saw bersabda :’Demi Allah yang jiwaku ada di tangannya, andaikata kamu semua mengikuti keluar sehingga tiada seorangpun yang tertinggal, niscaya lembah ini akan mengalir api’. Dan turunlah ayat tersebut.

Lihat juga [Q.S. Ali Imron 153], tentang kejadian perang Uhud, dimana sebagian sahabat lari meninggalkan Rasul Saw :

“(Ingatlah) ketika kalian lari dan tidak menoleh kepada seorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain, memanggil kalian, karena itu Allah menimpakan atas kalian kesusahan di atas kesusahan agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian dan apa yang menimpa kalian. Sungguh Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”.

Kisah tragedi hari kamis, dimana Rasulullah Saw marah kepada Umar bin Khatab dan beberapa sahabat lain :”Bawakan  dawat dan lembaran, akan ku (minta) tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak  lagi  akan  pernah sesat.” Dari  orang-orang  yang  hadir ada yang berkata, bahwa sakit Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada  kita  sudah  ada Qur’an,  maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang menyebutkan, bahwa UMAR -lah yang mengatakan itu. Di  kalangan yang  hadir  itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita  tidak  sesat.  Adapula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah. Setelah melihat pertengkaran itu, Nabi Muhammad berkata:  “Pergilah  kamu  sekalian!  Tidak  patut  kamu berselisih dihadapan Nabi.”

Musnad Ahmad 1834: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Sulaiman bin Abu Muslim paman Ibnu Abu Najih, dia mendengar Said bin Jubair berkata; Ibnu Abbas berkata: “Hari kamis, dan apakah hari kamis itu?” Kemudian ia menangis hingga air matanya mengalir. -Dalam kesempatan lain Said bin Jubair berkata; sampai butiran air matanya mengalir.- maka kami bertanya; “Wahai Abu Al Abbas, kenapa dengan hari kamis?” Dia berkata; “Pada hari tersebut sakit Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam semakin parah, lalu beliau berkata: “Kemarilah, aku tuliskan untuk kalian sebuah surat, sehingga kalian tidak akan tersesat setelahnya selamanya.” Namun mereka berselisih, padahal tidak pantas ada yang berselisih di dekat seorang Nabi. Mereka berkata; “Bagaimana keadaan beliau, apakah beliau mengigau? -Sufyan berkata; yaitu melantur, – hendaknya kalian tanyakan kembali kepada beliau.” lalu mereka pergi dan menyakannya kembali. Maka beliau bersabda: “Tinggalkan aku, keadaanku sekarang lebih baik daripada apa yang kalian kira.” Beliau menyuruh tiga hal -Sufyan berkata; Beliau mewasiatkan tiga hal.- beliau bersabda: “Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah Arab, dan perlakukan utusan sebagaimana saya memperlakukan mereka.” Tetapi Sa’id tidak menyebutkan wasiat yang ketiga, saya tidak tahu apakah dia sengaja mendiamkannya atau karena dia lupa. Dalam riwayat lain Sufyan berkata; Bisa jadi dia sengaja tidak menyebutkannya atau melupakannya.

Shahih Bukhari 111: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman berkata, telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahhab berkata, telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertambah parah sakitnya, beliau bersabda: “Berikan aku surat biar aku tuliskan sesuatu untuk kalian sehingga kalian tidak akan sesat setelahku.” Umar berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam semakin berat sakitnya dan di sisi kami ada Kitabullah, yang cukup buat kami. Kemudian orang-orang berselisih dan timbul suara gaduh, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pergilah kalian menjauh dariku, tidak pantas terjadi perdebatan di hadapanku.” Maka Ibnu ‘Abbas keluar seraya berkata, “Ini adalah musibah, dan sungguh segala musibah tidak boleh terjadi di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Al Qur’an.”

Secara obyektifitas, sikap Umar tersebut memang bisa dianggap sebagai suatu sikap yang sangat tidak bijak dan tidak pula patut. Disini saya menilai Umar justru sedang mengabaikan logika berpikirnya dan lebih mengutamakan emosional semata.

Jika Umar menggunakan pemikiran yang sehat, maka ucapannya ini tidak akan pernah keluar dari mulut beliau, sebab antara dia dan Nabi sudah terjalin persahabatan yang cukup lama waktunya dan seharusnya membuat beliau mengenal kepribadian sang Nabi lebih baik sehingga tidak mungkin secara logika, seorang Nabi bisa meracau ataupun kesurupan sekalipun sedang dalam kondisi yang sakit.

Jikapun ini bisa terjadi, pasti akan ada teguran ataupun bantuan dari Tuhan seperti kejadian-kejadian sebelumnya (lihat misalnya kisah ketika Nabi memastikan datangnya wahyu, Beliau ditegur oleh Allah, begitupula saat ada orang buta meminta pengajaran dan Beliau bermuka masam, inipun ditegur oleh Allah, apalagi bila sampai Nabi meracau dan mengatakan hal yang salah kepada umatnya, pastilah akan lebih mendapat teguran yang lebih keras lagi).

Karenanya sangat masuk akal bila Nabi pun menjadi marah dan mengusir orang-orang yang ada disekitarnya waktu itu agar keluar ruangan. Dirumah sakit saja bila kita menengok teman yang sakit pasti akan dijumpai tulisan “Jangan Berisik, demi kesembuhan pasien”.

Ini sikap para sahabat dimasa hidupnya Rasul …dan ini bukan kata Arman, tetapi kata sejarah yang terekam dalam kitab-kitab tafsir, tarikh bahkan al-Qur’an sendiri. Sepeninggal Nabi sikap para sahabatnya pun perlu dikaji lebih obyektif :

Dihari wafatnya Rasul misalnya, belum lagi jenazahnya dikubur, sejumlah sahabat malah ribut dan saling merasa lebih unggul satu dengan yang lain sehingga menurutnya jabatan Khalifah harus berada ditangan mereka, jika Abu Bakar dan Umar tidak datang bukan tidak mungkin akan terjadi konflik berdarah saat itu, apakah type sahabat yang seperti itu bisa dimasukkan kedalam kategori ‘adalah seperti yang diklaim oleh ulama hadis ?

Thalhah dan Zubair, keduanya sahabat Nabi dan ikut berjanji setia dibawah pohon, tetapi mereka juga orang yang paling bertanggung jawab atas terjadinya perang Jamal yang membuat ratusan sahabat saling bunuh dan membuat ummul mu’minin ‘Aisyah r.a mengangkat pedang terhadap Khalifah Ali bin Abu Thalib r.a, bisakah dibenarkan tindakan kedua sahabat tersebut ? -menurut saya jika anda membenarkannya maka secara tidak langsung andapun membenarkan tindakan pengeboman Dr. Azhari cs yang membuat puluhan nyawa melayang dan puluhan istri serta anak kecil kehilangan orang yang mereka cintai dan menaungi hidup mereka.

Selanjutnya Muawiyah bersama pengikutnya yang mengobarkan peperangan terhadap Imam Ali r.a dan menyebabkan banyak sahabat terbunuh dan lebih jauh lagi awal dari pencaci makian dan penghujatan terhadap seluruh keluarga Nabi dan pembantaian bagi para simpatisannya… apakah ini bisa dimasukkan dalam kategori sahabat yang bersifat ‘adalah ?

Ingat Sunan Tirmidzi 3658: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’il dari Bukair bin Mismar dari ‘Amir bin Sa’d bin Abu Waqash dari ayahnya dia berkata; “Muawiyah bin Abi Sufyan pernah mengangkat Sa’ad menjadi seorang pemimpin. Lalu dia berkata; “Apa yang menghalangimu untuk mencela Abu Turab (Ali)?” Sa’d menjawab; “Adapun tiga hal yang telah kamu sebutkan, semuanya telah disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka aku tidak akan pernah mencelanya. Aku lebih suka termasuk di antara tiga hal tersebut dari pada unta merah, karena aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali dan beliau pernah mengangkatnya sebagai wakil beliau (di Madinah) di salah satu peperangan (perang Tabuk) “.

Lalu Ali berkata kepada beliau; “Wahai Rasulullah, apakah anda hendak meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidakkah kamu rela bila kedudukanmu bagiku bagaikan kedudukan Harun terhadap Musa, hanya saja tidak ada Nabi sesudahku.”

Dan aku juga pernah mendengar beliau bersabda pada perang Khaibar: “Sungguh aku akan berikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, serta Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Lalu kami berebut untuk mendapatkannya, namun beliau bersabda: “Panggilkan Ali untukku.” Lalu dia pun didatangkan dan sedang menderita sakit mata, maka beliau meludahi matanya dan memberikan bendera tersebut kepadanya. kemudian Allah menaklukkan Khaibar melalui dirinya. Dan karenanya ayat berikut ini di turunkan; “Kami seru anak-anak kami, anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri kalian” (al-Ayat). Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a untuk ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husein seraya bersabda: “Ya Allah! mereka semua adalah keluargaku.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan shahih gharib melalui jalur ini.”

Dari beberapa kasus diatas, fakta bahwa tidak semua sahabat bisa disebut bersikap ‘adalah.

Ada orang-orang yang memecah janji setianya terhadap Allah dan Rasul-Nya, karena itu Allah berfirman :

Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk. – Qs. 13 ar-Ra’d : 25

Demikian kiranya sedikit pemahaman saya terhadap sifat ‘adalah para sahabat Nabi, bahwa benar mereka orang-orang yang bertemu, berbicara dan mendampingi hidup Nabi namun mereka tetap bisa salah, mereka tetap bisa bertindak bertentangan dengan ajaran Islam meski sekecil apapun itu … sebab mereka juga adalah manusia biasa.

Allah dan rasul-Nya suka mencela orang-orang yang zhalim, tetapi sebagian besar umat Islam tidak suka apabila orang tersebut dari ‘sahabat’ Rasul. Seakan-akan menganggap mereka semua suci dan jauh dari murka dan benci Allah dan rasul-Nya.

Demi Allah, yang maha pengasih dan maha penyayang, yang memberi cobaan bagi orang-orang yang beriman, fakta sejarah menjadi cobaan bagi kita, manakah yang lebih kita cintai, Allah dan Rasul-Nya, keluarga dan keturunan Rasul-Nya atau para sahabat?

Apakah Allah akan meridhai kita apabila kita rela terhadap pemenggal kepala cucu Rasul-Nya sang pemuka pemuda ahli surga?

Apakah Allah akan meridhai kita apabila kita percaya buta kepada para sahabat termasuk mereka-mereka yang mencaci maki Ahlul bait dan keturunan Rasul Allah saw ? Jika memang misalnya harus memilih … sekali lagi ini umpamanya : antara berpihak pada sahabat atau kepada keluarga Nabi, tanpa ragu saya akan memilih berpihak pada yang kedua, setidaknya dari hasil kajian saya selama ini jarang dan malah nyaris tidak ada celah-celah kemunafikan dari sisi para Ahli Bait Nabi (disini saya tidak memasukkan sebagian pengikut mereka yang banyak bertindak berlebih-lebihan). Setidaknya juga antara ucapan sholawat saya dengan sikap saya tidak bertentangan.

Bacalah lebih banyak, pelajarilah lebih obyektif dan tinggalkan prasangka, analisa dengan bijak.

Maaf apabila saya menyakiti anda para pengagum semua sahabat Rasul Allah, tujuan saya menulis semua ini hanya untuk mengajak anda untuk mempelajari sejarah secara obyektif.

Renungkanlah tanpa di bawah pengaruh apapun bahkan diri anda sendiri, . carilah penyelesaiannya dengan segenap kemampuan anda. dan berpegang pada sikap yang obyektif, berpeganglah pada prinsip cinta dan benci karena Allah.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (fakta) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. -Qs. An-Nisa’ 4:135

Kita hormati semua sahabat, namun bagaimanapun kita harus tetap meletakkan rasa hormat itu dibawah ketentuan kitab suci, meletakkannya pada posisi yang memang seharusnya.

Musnad Ahmad 21890: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Syarik telah menceritakan kepada kami Abu Rabi’ah dari ‘Abdullah bin Buraidah dari ayahnya berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ” Allah AzzaWaJalla mencintai empat orang dari sahabat-sahabatku, Ia memberitahuku bahwa Ia mencintai mereka dan memerintahkanku untuk mencintai mereka.” Mereka bertanya: Siapa mereka wahai Rasulullah! Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: ” ‘Ali termasuk diantara mereka, Abu Dzarr Al Ghifari, Salman Al Farisi dan Al Miqdad bin Al Aswad Al Kindi.”

Sunan Tirmidzi 3719: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al Ashbahani dari Yahya bin ‘Ubaid dari ‘Atha` bin Abu Rabah dari Umar bin Abu Salamah anak tiri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dia berkata; ayat ini yaitu; Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya QS Al Ahzab; 33 turun atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam rumah Ummu Salamah, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil Fathimah, Hasan dan Husain, lalu beliau menyelimuti mereka dengan selendang, sedangkan Ali berada di belakang beliau lalu beliau juga menyelimuti dengan selendang, kemudian beliau bersabda: “Ya Allah, mereka semua adalah ahli baitku, maka hilangkanlah dosa dari diri mereka dan sucikanlah mereka sebersih-bersihnya.” Ummu Salamah berkata; “Saya juga bersama mereka wahai Nabi Allah?” beliau bersabda: “kamu tetap berada di posisimu, dan akan tetap mendapatkan suatu kebaikan.” Perawi (Abu Isa) berkata; “Dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Ummu Salamah, Ma’qil bin Yasar, Abu Hamra` dan Anas.” Ia melanjutkan; “Hadits ini derajatnya gharib melalui jalur ini.”

Shahih Muslim 4450: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair dan lafazh ini milik Abu Bakr keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr dari Zakaria dari Mush’ab bin Syaibah dari Shafiyyah binti Syaibah dia berkata; ‘Aisyah berkata; “Pada suatu pagi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dari rumahnya dengan mengenakan kain bulu hitam yang berhias. Tak lama kemudian, datanglah Hasan bin Ali. Lalu Rasulullah menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Kemudian datanglah Husain dan beliau pun masuk bersamanya ke dalam rumah. Setelah itu datanglah Fatimah dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Akhirnya, datanglah Ali dan beliau pun menyuruhnya masuk ke dalam rumah. Lalu beliau membaca ayat Al Qur’an yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa darimu hai ahlul bait dan membersihkanmu sebersih-bersihnya.” (Al Ah zaab: 33).

Sunan Tirmidzi 3718: Telah menceritakan kepada kami Nahsr bin Abdurrahman Al Kuffi telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hasan, dia adalah seorang dari Anmath dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir bin Abdullah dia berkata; saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hajinya ketika di ‘Arafah, sementara beliau berkhutbah di atas untanya -Al Qahwa`- dan saya mendengar beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian sesuatu yang jika kalian berpegang kepadanya, maka kalian tidak akan pernah sesat, yaitu; kitabullah dan sanak saudara ahli baitku.” Perawi (Abu Isa) berkata; “Dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Abu Dzar, Abu Sa’id, Zaid bin Arqam dan Hudzaifah bin Asid. ia berkata; ” hadits ini derajatnya hasan gharib melalui jalur ini. Lalu ia melanjutkan; “Sa’id bin Sulaiman dan banyak dari kalangan ulama` yang telah meriwayatkan dari Zaid bin Hasan.”

Sunan Tirmidzi 3722: Telah menceritakan kepada kami Abu Daud Sulaiman bin Al Asy’ats dia berkata; telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ma’in telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Yusuf dari Abdullah bin Sulaiman An Naufali dari Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas dari ayahnya dari Abdullah bin Abbas dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Cintailah Allah atas nikmat yang telah di berikan oleh-Nya, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah serta cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku.” Abu Isa berkata; “Hadits ini adalah hadits hasan gharib, kami hanya mengetahui hadits ini dari jalur ini.”

Demikian, semoga membantu memberikan pencerahan.

Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang pasrah. Sesungguhnya (bisa jadi) Allah menolong agama ini dengan peran orang yang fasik.  (HR. Bukhari 3062 dan Muslim 111)

KISAH MUSLIMAH BANDUNG KORBAN kawin kontrak wahabi di Puncak ( Karna Nikah Kontrak Tertular Aids) ! NIKAH KONTRAK di Puncak( AIDS ADALAH PENYAKITNYA )

SEBELUM MEMBACA KISAHNYA, HARUS DIKETAHUI UNTUK :

wahabi berteriak : “Syiah sesat !”

Tahukah anda ternyata gerakan anti syi’ah di Indonesia tujuannya cuma demi uang ?? Bagaimana mungkin pemerkosa TKW mengerti agama !

WASPADA… kepada tokoh-tokoh negara wahabi,.. janganlah kita tertipu dan terkagum-kagum dengan wahabi,..

waspadailah makar-makar orang wahabi,.. jika tidak,.. indonesia akan dibuat tragedi , jika kita tidak waspada akan bahaya dan makar mereka,..

wahabi di indonesia masih lemah, ingatkan keluarga kita dari pemahaman mereka, selama wahabi masih lemah, mereka akan berpura-pura, tidak berani  juga berpura-pura mengedepankan ukhuwah, usaha penyatuan antara sunni dan wahabi,.. media mereka di indonesia banyak, baik dari media radio,televisi,majalah,koran, website, juga buku-buku yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit wahabi

Kawin Kontrak di Puncak Bikin Warga Marah

Remaja Pelaku 11 Kali Kawin Kontrak dengan Pria Timteng Digrebeg

Kawin kontrak di Puncak, wahabi gunakan uang dari program anti syi’ah untuk Kawin Kontrak di Puncak
.

Menjamurnya kembali praktik kawin kontrak dan pelacuran di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat membuat gerah sejumlah ulama dan tokoh masyarakat muslim setempat. Mereka mendesak adanya tindakan tegas dan proaktif dan pemerintah.

“Kami tak mau sebutan Puncak sebagai daerah wisata juga dikenal sebagai kawasan praktik kawin kontrak dan prostitusi. Sebab itu pemkab harus segera bertindak, jika tak mampu biarkan kami yang bertindak sendiri,” ujar Hidayatullah, tokoh masyarakat Cisarua, Rabu.

Sebelumnya sejumlah alima ulama dan santri yang tergabung dalam masyarakat muslim Puncak mendatangi kantor Kecamatan Cisarua. Mereka menuntut tindakan tegas pemkab terhadap maraknya praktik kawin kontrak dan prostitusi. “Kami warga Kampung Warung Kaleng, Desa Tugu Utara, yang tahu benar kondisi di sana. Pelacur dan praktik kawin kontrak masih ada. Kami minta pemerintah bertindak, sebab jika dengan imbauan berupa spanduk tak mempan, ” ujar Munajat, ulama setempat.

Menurut dia, tingginya angka kemaksiatan di kawasan wisata Puncak menimbulkan keresahan bagi masyarakat. “Umumnya dilakukan oleh turis asing yang berlibur,” tuturnya

.

Warga di sana pun, sebenarnya  sudah gerah dengan keberadaan tradisi kawin kontrak yang menjadi incaran pelancong dari negara Timur Tengah. Seorang aktivitas di Kampung sampay, Ucu, menuding lemahnya aparat Satpol PP setempat dalam menertibkan kawin kontrak di Warung Kaleng, Kampung Sampay, Kecamatan Cisarua, kabupaten Bogor. Bahkan, warga di sana juga menyatakan bahwa yang menjadi korban kawin kontrak sebagian besar adalah perempuan pendatang yang sengaja ditempatkan di vila-vila yang dikontrak oleh turis wahabi saudi



BULAN Mei ini kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, bakal dibanjiri turis

asal  Arab Saudi wahabi. Mereka biasanya menghabiskan waktu liburan di sana hingga tiga bulan
berikutnya.

Selama musim liburan tersebut, para turis tersebut tinggal di sejumlah
hotel dan wisma di daerah Tugu Selatan dan Tugu Utara, Kecamatan
Cisarua. Situasi ini selalu terjadi setiap tahunnya, sehingga warga
setempat kerap menyebutnya sebagai ’Musim Arab’.

”Mereka selama ini tinggal di daerah Warungkaleng, Tugu Utara. Di sini
juga ada wilayah yang dinamakan perkampungan Arab,” kata Dede (45),
warga Kampung Sampai, Tugu Utara

Dipaparkan, meskipun musim Arab baru akan dimulai Mei, tapi beberapa
bulan sebelumnya sudah banyak vila, wisma, dan hotel kelas melati yang
sudah dipesan. Bagi warga setempat, membanjirnya turis asal Timur
Tengah membawa berkah tersendiri. ”Selain tempat penginapan penuh,
rental mobil juga laku,” kata Dede.

Menurut Risman, warga lainnya, turis Arab yang berlibur di kawasan
Puncak bisa menghabiskan uang hingga miliaran rupiah. Untuk
berbelanja, makan, minum, transportasi, dan sejenisnya turis tersebut
bisa menghabiskan Rp 3-5 juta per hari. ”Mereka biasanya datang secara
berkelompok,” tutur seorang pedagang rokok di kawasan Kampung Sampai
ini.

Di musim Arab ini, warga pun memanfaatkannya dengan membuka usaha
makanan asal Timur Tengah. Pasalnya, turis Arab kurang begitu suka
dengan makanan Indonesia. ”Mereka lebih suka makanan atau minuman asli
negaranya, makanya di sini banyak toko makanan dan restoran dengan
menu yang bertuliskan Arab,” ujar Risman.

Sekretaris Himpunan Pemandu Indonesia (HPI) Kabupaten Bogor Teguh
Mulyana, mengatakan, musim Arab juga membawa berkah bagi para pemandu
wisata. Namun, para guide tersebut tidak dibekali dengan standar
seorang pemandu yang profesional, sehingga justru ada pemandu yang
merugikan turis tersebut. ”Banyak warga yang fasih berbahasa Arab
kemudian menjadi guide, termasuk menjadi penunggu vila,” kata Teguh
Mulyana.

Rp 5 juta
Namun, katanya, tidak sedikit turis asing yang berperilaku nakal
selama berlibur di kawasan Puncak. ”Turis Arab rata-rata nakal.
Sebagiannya sering ’jajan’ atau memesan perempuan. Dan sebagian yang
lain ada saja yang melakukan kawin kontrak dengan warga sekitar,
dengan biaya antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. Itu baru mahar, belum
kebutuhan sehari-hari lainnya yang pasti dicukupi oleh si turis itu,”
ujarnya.

Gerakan anti syi’ah di Indonesia disponsori wahabi saudi, AS dan Israel
Uang dari pihak asing motifnya !

wahabi gunakan uang dari program anti syi’ah untuk Kawin Kontrak di Puncak

.
Maraknya orang asing terutama dari kawasan timur tengah di kawasan Cipanas dan Puncak, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mulai mendapatkan pengawasan ekstra. Disinyalir pula, para imigran gelap yang melarikan diri pada minggu lalu dari tahanan imigrasi Sukabumi, lari ke kawasan ini. Namun, untuk pengawasan orang asing Pemda Cianjur mendapatkan banyak kendala.“Beberapa kendala di antaranya menyangkut aturan penertiban. Para orang asing tidak bisa ditertibkan begitu saja, karena ada aturan internasional. Namun, jika tidak ditertibkan keberadaanya bisa meresahkan masyarakat setempat terutama sistem sosial,” ungkap Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Gatot Subroto, saat dihubungiVIVAnews, 9 Juni 2012
.
.
Gatot menjelaskan, langkah sementara yang dilakukan Pemda Cianjur adalah pembentukan tim pengawasan orang asing yang berada di kawasan Kabupaten Cianjur. Saat ini, draf pembentukan tim sedang dalam tahap penyusunan. Pembuatan draf ini sebagai kepanjangan akan diaktifkannya kembali lembaga pengawasan orang asing oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam waktu dekat.“Orang-orang Timur Tengah yang berada di Cipanas dan Puncak mulai bertambah banyak jumlahnya. Bahkan, mulai membentuk komunitas sendiri. Kala malam minggu kami bisa melihat mereka berkeliaran di sepanjang jalan atau mereka yang sedang asik kongkow di kedai-kedai Arab yang kian marak di kawasan Puncak dan Cipanas,” jelasnya.Gatot menjelaskan, dari sisi ekonomi mikro, ada hal positif keberadaan mereka
.
.
Di antaranya, banyak kedai bergaya Arab yang menjual berbagai makanan dan keperluan seperti di Arab. Tapi, secara makro ekonomi, tidak jelas keberadaan mereka dengan pemasukan PAD Pemda Cianjur.“Yang paling ditakutkan adalah daerah ini mulai masuk wacana politik lain. Isu teroris bukan mustahil ada di kawasan ini. Saya juga dapat kabar banyak imigran yang gagal menyeberang dan tertangkap aparat lari dan bersembunyi di kawasan ini,” tuturnya
.

Yang paling Gatot takutkan adalah maraknya kawin kontrak. Ini pelecehan dan akan menjadi beban panjang baik pemerintah daerah maupun pusat. “Mereka enak saja menikah dalam waktu tertentu. Setelah selesai kontrak dan punya anak bisa pergi dengan santai. Tanggung jawab anaknya siapa? Kondisi ini sudah terjadi,” keluhnya

.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Tom Dani Garniat mengatakan, payung hukum berbentuk SK Bupati itu nantinya akan mengatur mengenai tugas pokok dan fungsi tim pengawasan terhadap orang asing di Kabupaten Cianjur.

Aturan ini akan tidak jauh berbeda dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 49/2010 dan Permendagri Nomor 50/2010 tentang Pedoman Tata Kerja Tim Pengawasan Orang Asing.

“Nantinya kinerja atau tupoksi tim pengawasan orang asing ini diatur melalui SK bupati yang saat ini drafnya masih disusun. Kami koordinasi dengan berbagai instansi terkait, semisal dari kejaksaan dan aparat kepolisian, termasuk NGO,” ungkapnya.

Tom mengharapkan, terbitnya SK bupati menyangkut tim pengawasan orang asing ini bisa menjadi suatu upaya antisipasi menyusul maraknya kasus warga asing ilegal di berbagai di daerah. Di Kabupaten Cianjur pun, tak menutup kemungkinan banyak warga asing yang belum terdata.

“Apalagi, saat ini di Cianjur sudah mulai banyak berdiri perusahaan penanaman modal asing (PMA) yang mempekerjakan tenaga asing. Tentunya ini harus diawasi agar mereka terdata. Bukan hanya tenaga asing, termasuk juga peneliti maupun turis, karena dikhawatirkan izin tinggal mereka habis,” ucapnya

KISAH PEREMPUAN BANDUNG BERJILBAB RAPI NAMUN KORBAN wahabi di Puncak

Untuk kedua kalinya wanita itu pergi ke dokter rustam, seorang dokter spesialis kulit dan kelamin di kota bogor. Sore itu ia datang sambil membawa hasil laboratorium seperti yang diperintahkan dokter dua hari sebelumnya. Sudah beberapa Minggu dia mengeluh merasa sakit pada waktu buang air kecil (drysuria) serta mengeluarkan cairan yang berlebihan dari vagina (vagina discharge).

Sore itu suasana di rumah dokter penuh dengan pasien. Seorang anak tampak menangis kesakitan karena luka dikakinya, kayaknya dia menderita Pioderma. Disebelahnya duduk seorang ibu yang sesekali menggaruk badannya karena gatal. Di ujung kursi tampak seorang remaja putri melamun, merenungkan akne vulgaris (jerawat) yang ia alami.

Ketika wanita itu datang ia mendapat nomor terakhir. Ditunggunya satu per satu pasien yang berobat sampai tiba gilirannya. Ketika gilirannya tiba, dengan mengucap salam dia memasuki kamar periksa dokter rustam. Kamar periksa itu cukup luas dan rapi. Sebuah tempat tidur pasien dengan penutup warna putih. Sebuah meja dokter yang bersih. Dipojok ruang sebuah wastafel untuk mencuci tangan setelah memeriksa pasien serta kotak yang berisi obat-obatan.

Dokter : “anda hamil, kemana suami anda ?”

Pelacur Puncak Bogor : “Ngga punya pak”

Dokter : “Anda nikah mut’ah atau ngelonte ?”

Pelacur Puncak Bogor : “Ngapain nikah mut’ah, saya nikah dengan niat bercerai (nikah bi niyyat at-thalaq), dapat duit lagi”

Dokter : “dengan turis arab saudi ya ?”

Pelacur Puncak Bogor : “saya dapat duit banyak, sang makelar hanya menyuguhkan wanita jalanan seperti saya, walau hamil saya ngga takut, maklum makelar bilang saya artis ibukota, duit banyak nich”

Dokter : “Anda pezina !”
…………………………………………………………………

Fakta nyata :::
.
sunni menolak nikah mut’ah…
salafi wahabi menolak nikah mut’ah..
.
Turis Saudi Ada Yang Nikah dengan Niat Talak, Jadi Bukan Nikah Mut’ah !!!

Adalah keanehan yang nyata bahwa Poligami dan Pernikahan Dini ditentang habis, tetapi disisi lain penyimpangan-penyimpangan seperti Perkawinan sesama jenis, Lokalisasi, dan lain-lainnya tidak mendapatkan serangan/penentangan yang berarti.

Sebagai penambah wawasan (dalam artian ‘positif’), dibagian Lanjutan saya kutipkan beberapa artikel dan fatwa mengenai :
1. Nikah dengan Niat Talak
2. Kawin Kontrak
Beberapa istilah yang hampir serupa adalah :
3. Nikah Mut’ah (dibolehkan oleh kalangan Syi’ah)
4. Nikah Misywar (dibolehkan oleh beberapa Ulama Sunni).
Fatwa #1 :

Majmu’ Fatawa wa Maqulat Islamiyah
jilid 5, hal. 41-43.
oleh Syaikh bin Baz

Menikah di luar negeri itu mengandung bahaya besar dan sangat berbahaya, maka tidak boleh pergi ke luar negeri kecuali dengan syarat-syarat yang penting. Sebab pergi ke luar negeri itu dapat menyebabkan kekafiran kepada Allah dan dapat menjerumuskan kepada kemaksiatan, seperti minum minuman keras (khamar), melakukan zina dan tindak keja-hatan lainnya. Maka dari itulah para ulama menegaskan haramnya bepergian ke
negara-negara kafir, sebagai pengamalan hadits Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam :

“Aku tidak bertanggung jawab atas setiap Muslim yang bermukim (tinggal) di tengah-tengah masyarakat musyrikin.”

Bermukim di tengah-tengah masyarakat kafir itu sangat berbahaya sekali, apakah itu untuk keperluan tourism, studi, perniagaan maupun lainnya. Maka mereka yang musafir dari kalangan pelajar SLTA atau SLTP atau untuk studi di perguruan tinggi menghadapi bahaya yang sangat besar. Maka kewajiban negara adalah memberikan jaminan dapat belajar di dalam negeri, dan tidak mengizinkan mereka pergi ke luar negeri karena banyak mengandung resiko dan bahaya yang sangat besar bagi mereka.

Banyak sekali keburukan yang lahir dari situ, seperti riddah (murtad), meremehkan maksiat zina dan minuman keras, dan yang lebih dari itu adalah meninggalkan shalat, sebagaimana telah menjadi maklum bagi siapa saja yang memperhatikan kondisi orang-orang yang suka bepergian ke luar negeri, kecuali mereka yang dibelaskasihi Allah, dan itu pun sangat sedikit sekali. Maka wajib mencegah mereka dari hal-hal tersebut dan hendaknya tidak diperbolehkan ke luar negeri kecuali orang-orang tertentu saja dari kalangan orang-orang yang dikenal komit dalam beragama, beriman dan mempunyai ilmu bila untuk kepentingan dakwah atau mendalami spesialisasi suatu disiplin ilmu yang memang dibutuhkan oleh negara Islam.

Dan Hendaknya bagi musafir yang dikenal mempunyai ilmu, keunggulan dan iman, wajib tetap istiqamah agar dapat berdakwah kepada Allah atas dasar bashirah dan mempelajari sebagaimana mestinya apa yang dibebankan kepadanya. Ada pengecualian lain, yaitu terpaksa harus mempelajari disiplin ilmu tertentu di mana tidak ada orang yang mempelajarinya dan tidak mudah untuk mendatangkan tenaga pengajar ke dalam negeri. Maka orang yang diutus untuk belajar itu adalah orang yang dikenal konsisten
dalam beragama, mempunyai bekal iman yang cukup dan mempunyai keunggulan, sebagaimana kami sebut di atas.

Adapun tentang menikah dengan niat talak (cerai) terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama. Di antara mereka ada yang mengha-ramkannya, seperti Imam Al-Auza’i Rahimahullaah dan sederet ulama lainnya. Mereka mengatakan bahwa nikah dengan niat talak itu serupa dengan nikah mut’ah. Maka hendaknya seseorang tidak melakukan pernikahan dengan niat akan menceraikannya dikemudian hari. Demikian pendapat
mereka.

Mayoritas Ahlul ‘ilm (ulama), sebagaimana dicatat oleh Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah Rahimahullaah di dalam karya besarnya “al-Mughni” membolehkannya jika niatnya (hanya diketahui) dia dan Allah saja dan tanpa syarat. Maka jika seseorang melakukan perjalanan jauh untuk studi atau pekerjaan lainnya, sedangkan ia mengkhawatirkan dirinya (akan terjerumus ke dalam zina. pen), maka boleh menikah sekalipun dengan niat akan menceraikannya apabila tugasnya selesai. Pendapat ini yang lebih kuat apabila niatnya hanya antara dia dengan Allah saja tanpa suatu syarat dan tidak
diberitahukan kepada istri atau walinya; dan yang tahu hanya Allah saja.

Jumhur (mayoritas) ulama membolehkan hal tersebut, sebagaimana dijelaskan dan itu sama sekali tidak termasuk mut’ah, karena niatnya hanya diketahui dia dan Allah saja dan nikah tersebut dilakukan tanpa syarat.

Sedangkan nikah mut’ah ada keterikatan dengan syarat, seperti hanya untuk satu bulan, dua bulan, setahuan atau dua tahun saja, yang disepakati antara laki-laki yang menikah dengan keluarga istri atau antara dia dengan istri itu sendiri. Nikah yang seperti ini disebut nikah mut’ah dan hukumnya haram, sebagaimana ijma’ ulama, dan tidak ada yang menganggapnya enteng kecuali Rafidhah (Syi’ah). Memang pada awal
Islam itu diperbolehkan, namun kemudian dihapus dan diharamkan oleh Allah hingga hari kiamat, sebagaimana hal itu ditegaskan oleh hadits-hadits shahih.

Adapun menikah di suatu negeri yang ia datang ke sana untuk belajar (studi) atau ia datang ke sana sebagai duta atau karena sebab lainnya yang membolehkan ia bepergian ke negeri kafir, maka baginya boleh menikah dengan niat akan menceraikannya apabila ia akan kembali ke negaranya, sebagaimana dijelaskan di muka, apabila ia butuh nikah karena khawatir terhadap dirinya (akan perbuatan zina). Akan tetapi meninggalkan niat seperti itu lebih baik, sebagai sikap hati-hati di dalam beragama dan supaya keluar dari perbedaan pendapat para ulama, dan juga sebenarnya niat seperti itu tidak diperlukan. Sebab nikah itu sendiri tidak merupakan sesuatu yang terlarang dari talak bila memang ada maslahatnya sekalipun tidak ada niat talak ketika akan menikah.
_______________________________

Fatwa #2 :
Jawaban dari Ust. Ahmad Sarwat, Lc.

Dalam masalah nikah dengan niat untuk mentalak seperti ini, ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, niat itu sejak awal sudah disampaikan kepada calon istri atau kepada walinya dan mendapatkan persetujuan. Maka nikah itu namanya nikah mut’ah yang hukumnya haram. Nikahnya sendiri tidak sah bahkan kalau berkumpul suami istri hukumnya zina.

Kemungkinan kedua, niat itu dipendam di dalam hati tidak diberitahukan kepada calon istri. Hal itu berarti sejak awal ada niat untuk menzalimi istri atau menipu keluarganya. Nikahnya itu hanya pura-pura atau hanya untuk kepentingan sesaat. Nikah dengan jalan menipu ini pun dilarang dalam agama.

Namun bedanya antara nikah mut’ah di atas dan nikah dengan niat talak adalah bahwa nikah mut’ah itu haramnya seperti zina. Sedangkan nikah dengan niat talak itu berdosa, tetapi sesungguhnya nikahnya itu tetap sah. Yang dilarang adalah niat untuk menceraikannya sejak awal. Kalau saja ketika sejak mula nikah belum ada niat untuk menceraikan, tentu saja hukumnya halal.

Bahwa di kemudian hari terjadi sesuatu yang menyebabkan seorang suami menceraikan istrinya dengan sebab yang bisa diterima syariah, tentu hukumnya halal. Meski cerai itu tetap saja perkara halal yang paling dibenci Allah. Tetapi bila belum ada niat untuk menceraikan pada awalnya, hukumnya boleh.

Sedangkan bila sejak awal menikah sudah ada niat untuk menceraikannya, berdosalah dia ketika menceraikannya nanti. Namun pernikahannya itu tetap sah dan hubungan suami istri yang mereka lakukan juga sah. Dosanya ketika melaksanakan niatnya.

Adapun yang seringkali terjadi dan sudah bukan rahasia umum lagi adalah adanya para pezina dari negeri Arab yang datang ke negeri kita mencari pekerja seks profesional.Maka begitu puas berzina dan sudah merasa membayar kewajiban, mereka pun pulang dengan santainya ke negerinya di sana, sambil menyangka bahwa apa yang mereka lakukan itu halal.

Kalau kita punya anak perempuan yang sudah kita didik jadi anak wanita shalilah, kira-kira relakah kita menikahkannya dengan laki-laki macam begitu? Sementara kita sangat tahu bahwa dia hanya sementara saja di negeri ini. Dari visa masuk yang tertera di passport-nya saja kita bisa tahu bahwa kedatangannya hanya dalam rangka senang-senang dan wisata seks, bukan dalam rangka menikah secara syar’i.

Informasi ini bukan lagi hal yang perlu ditutup-tutupi, karena semuanya bebas terjadi di beberapa hotel mesum di Jakarta, serta jalur Bogor, Puncak, Cianjur (Bopunjur).
.
Di Puncak, turis-turis Timur Tengah menemukan surga dunia: pemandangan hijau, banyak bunga, air mengalir, dan bidadari berseliweran.

Indonesia Menjadi Obyek “Wisata Seks” Terpopuler Bagi Turis ArabRiyadh, Naif. Ketika Indonesia menjadi obyek dakwah dan ladang persemaian gerakan-gerakan Islam yang berasal dari negara-negara Arab, di sisi yang lain Indonesia juga menjadi obyek “wisata seks” yang sangat populer bagi turis-turis Arab.

Dan lebih naifnya lagi, praktik ini dilegalkan oleh fatwa beberapa ulama Saudi.

Baru-baru ini, Kepala Bidang Pembimbingan Masyarakat (Qism ar-Ra’aya) Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta mendesak Badan Pembesar Ulama (Hay’ah Kubbar al-Ulama) kerajaan petro dollar tersebut untuk mengeluarkan fatwa yang menyikapi maraknya fenomena “pernikahan” para lelaki Saudi dengan perempuan Indonesia “yang diniatkan adanya talak (cerai) setelahnya” (nikah bi niyyat at-thalaq).

Khalid al-Arrak, Kepbid Bimas Kedutaan Saudi di Jakarta menyatakan, pihaknya khawatir jika fenomena yang marak di kalangan lelaki negaranya itu kian hari kian merebak dan tak dapat dikontrol.

Harian Saudi Arabia al-Wathan (16/4) melansir, fenomena “nikah dengan niat talak di belakangnya” yang dilakukan oleh para lelaki Saudi dengan perempuan Indonesia itu sangat populer.

Al-Arrak menyatakan, para lelaki Saudi yang melakukan praktik ini tidak lagi memperhatikan undang-undang yang berlaku terkait pernikahan, karena mereka justru menyandarkan perbuatan mereka terhadap salah satu fatwa ulama yang melegalkannya. “Mereka melakukan pernikahan ini dengan bersandar pada fatwa ulama yang membolehkan nikah dengan niat bercerai (nikah bi niyyat at-thalaq),” ungkap al-Arrak.

Sayangnya, dari pihak perempuan Indonesia sendiri menjadikan praktik ini sebagai ladang pekerjaan. Lagi-lagi kemiskinan dan susahnya hidup yang melilit mereka adalah dendang usang kaset lawas yang dijadikan dalih. “Perempuan Indonesia beranggapan jika menikah dengan lelaki Saudi, sekalipun kelak akan diceraikan, dipandang sebagai solusi sesaat untuk mendulang uang dan jalan pintas untuk dapat keluar dari jerat kemiskinan,” tambah al-Arrak.

Kedutaan Saudi di Jakarta sendiri telah mencatat setiaknya 82 pengaduan pada tahun lalu, ditambah 18 pengaduan tahun ini yang diajukan oleh para “mantan istri” perkawinan ini, yang ternyata menghasilkan anak.

Meski tidak tercatat secara resmi di Kedutaan, namun pihaknya siap untuk memfasilitasi anak-anak yang diadukan itu untuk dapat pergi ke Saudi, negara bapak mereka berasal, dengan memberikan tiket dan visa masuk gratis.

Tetapi, dalam banyak kasus, para bapak mereka (pria Saudi) tidak akan mengakui kalau anak-anak tersebut adalah darah daging mereka, karena tidak adanya bukti-bukti legal dan lengkap dari pihak keluarga perempuan di Indonesia.

Salah seorang korban dari paktik ini, Isah Nur (24), mengaku pernah dinikahi pria Saudi saat ia berusia 16 tahun. Sekarang ia telah menjanda, dan meneruskan profesi lamanya sebagai “istri yang dinikahi sesaat untuk kemudian diceraikan” dengan menjalani kehidupan malam.

Lebih naif lagi, Isah mengaku senang saat dulu dinikahi pria Saudi tersebut, karena orang-orang Saudi dipercaya memiliki dan membawa berkah. “Umat Islam di Indonesia menganggap orang Mekkah dan Madinah memiliki dan membawa berkah,” katanya.

pria Saudi itu hanya akan menikmati tubuhnya saja,

“Saat meninggalkan kami, pria itu hanya memberikan uang Rp. 3 juta,” tutur Isah.

Praktik “pernikahan dengan niat bercerai sesudahnya” ini benar-benar naif, dan lebih naif lagi dilegalkan oleh fatwa ulama. Indonesia adalah tempat terpopuler untuk obyek praktik ini bagi orang-orang Arab, karena dipandang paling murah dan paling mudah. Praktik demikian sejatinya tak jauh beda dengan prostisusi, prostitusi yang kemudian terlegalkan oleh fatwa ulama. dan salah satu lokasi wisata favorit bagi turis-turis Arab untuk melegalkan praktik tersebut adalah kawasan puncak dan sekitarnya.

.

Bunyi musik terdengar dari sebuah vila: bising, sejenis musik keras dengan irama dan lirik padang pasir. Sebuah jendela yang gordennya terbuka mengungkapkan suasana ruang tamu vila yang bising itu. Di bawah lampu nan terang, seorang perempuan berdiri di hadapan seorang pria sambil meliuk-liukkan badannya seirama nada. Kedua tangannya terentang ke atas, pinggulnya diputar-putar. Memang, tak sedahsyat goyang Inul, penyanyi dangdut yang ngetop akhir-akhir ini

.
Pemandangan seperti itu sangat akrab dijumpai di Kampung Sampay saat musim Arab tiba, begitu orang-orang di sekitar puncak menyebutnya. Musim Arab adalah masa dimana turis-turis dari Timur Tengah menghabiskan waktu libur setelah musim haji.Kawasan puncak merupakan salah satu tempat favorit. Menikmati hawa sejuk dan menyewa vila-vila adalah salah satu kepuasan yang mereka cari.

Padahal, sang makelar kadang hanya menyuguhkan wanita jalanan. Tak hanya dari Cisarua, perempuan-perempuan pemburu rial juga datang dari Cianjur, Sukabumi, dan berbagai daerah lainnya

Tapi ada yang lebih memicu aliran darah dari sekotak pemandangan lewat jendela itu: setidaknya, tubuh bagian atas penari itu tak ditutup apa pun. Sebelum segalanya jelas, rupanya penghuni vila menyadari gorden yang terbuka. Tiba-tiba jendela itu pun ditutup.

Di pertengahan Februari lalu itu, mereka meliput kawasan tersebut, desa yang dikabarkan pada bulan tertentu menjadi Kampung Arab dengan segala gaya berlibur turis Timur Tengah.

Kampung Arab? Nama asli kampung itu sendiri yakni Kampung Sampay, satu dari tiga kampung di Desa Tugu Selatan, satu kilometer di atas Taman Safari, Cisarua, Bogor. Dari Jakarta, jarak menuju kampung ini sekitar 84 kilometer.
Tapi, kalau Anda bertanya kepada penduduk sekitar tentang Kampung Arab, mereka tampak terbengong-bengong. Satu atau dua orang yang tiba-tiba memahami arah pertanyaan akan menjawab:, maksudnya Warung Kaleng?

Benar, lebih dari Kampung Sampay, lebih dari Kampung Arab, nama Warung Kaleng dikenal bukan saja oleh warga setempat, tapi juga sopir taksi di Bandara Soekarno-Hatta. Masuklah ke sembarang taksi, lalu sebut Warung Kaleng; dijamin Anda akan sampai ke Desa Sampay, Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Bogor.

Warung Kaleng sebenarnya adalah sepotong Jalan Jakarta-Puncak di kilometer 84, tak lebih dari 50 meter panjangnya. Di kanan-kiri jalan, berjajar 30-an warung. Ini yang unik, papan-papan nama warung itu bukan hanya berhuruf latin dengan kata-kata bahasa Indonesia, tapi juga (bahkan ada yang hanya) papan nama berhuruf Arab, dari wartel sampai toko roti, dari toko kelontong sampai rumah makan. Dan yang juga khas dibandingkan kampung lain, di sini banyak terlihat warga bertampang Timur Tengah.

BIDADARI-BIDADARI
Nama Warung Kaleng sudah menjadi nama alternatif bagi Kampung Sampay sejak zaman kolonial Belanda. Dulu, kawasan itu secara administratif adalah tanah partikelir, yang kemudian dijadikan basis perdagangan oleh pedagang pendatang dari Cina. Lambat laun, para pedagang itu berasimilasi dengan penduduk setempat, lantas masuklah Islam.

Kata penduduk setempat, riwayat nama Warung Kaleng bermula dari warung-warung yang didirikan oleh para pedagang Cina itu: hampir semua warung beratap seng atau kaleng. Jadilah sepetak lahan itu kemudian di sebut Warung Kaleng

.
Nama itu tetap melekat meski suasana Cina praktis tak tercium lagi dan atap seng tak lagi terlihat. Kini, warung-warung itu bertembok dan sudah beratap genteng. Suasananya pun berganti ke-Arab-Araban. Belakangan, muncul sebutan baru itu: Kampung Arab—bukan hanya untuk sepetak Warung Kaleng, tapi juga untuk seluruh Kampung Sampay.

Jadi, melihat lokasinya, bolehlah dibilang Warung Kaleng merupakan gerbang Kampung Arab. Di kawasan warung itulah pusat lalu lintas turis Arab (kebanyakan dari Arab Saudi, Bah-rain, Kuwait, dan Qatar). Soalnya, sejauh ini, hanya di warung-warung itu tersedia segala kebutuhan turis Arab yang khas: mulai dari minuman (vodka yang didatangkan dari Jakarta), tembakau dan bumbunya (yang langsung diimpor dari Timur Tengah) untuk merokok gaya Arab, sampai roti arab (buatan lokal).

Alkisah, di awal 1990-an, ketika Irak diserbu Amerika dan sekutunya, banyak turis Timur Tengah datang ke Kampung Sampay. Mereka menginap di vila-vila selama kira-kira satu minggu hingga satu bulan. Di tahun-tahun sebelumnya, turis Arab juga sudah datang ke Kampung Sampay, namun tak banyak

.
Dikenalnya Kampung Sampay oleh turis Arab tentunya dimakcomblangi biro-biro pariwisata, terutama biro yang berkantor di sepanjang Jalan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Di kawasan ini, para turis itu boleh merasa setengah di rumah sendiri, setidaknya dalam hal makan, karena di jalan ini ada dua rumah makan khas Timur Tengah.

Tapi kenapa Kampung Sampay? Konon, turis-turis dari padang pasir itu merindukan suasana yang berbeda dengan negeri mereka yang panas dan berpantai. Mereka mengidamkan berlibur di kawasan pegunungan yang sejuk dan hijau. Lalu, dibawalah mereka ke kawasan Puncak, dari Cisarua sampai Cipanas. Bila kemudian Warung Kaleng menjadi terpopuler di antara turis Arab, ada ceritanya.

Menurut Syaiful Idries, Kepala Urusan Administrasi Desa Tugu Selatan, gambaran orang Arab tentang surga dunia itu adalah jabal ahdor atau gunung hijau. Di Kampung Sampay, kata Syaiful, mereka menemukan jabal ahdor itu. Di Puncak ini kan banyak bunga, air mengalir, lingkungannya hijau dan indah, tuturnya.

Tapi kalau hanya gunung hijau, bukan hanya Kampung Sampay yang punya. Kampung ini menjadi istimewa buat turis Arab karena banyak bidadari dan secara sosial lingkungan di sini longgar, warganya tak begitu peduli dengan urusan orang lain. Jadi (Syaiful melanjutkan ceritanya sambil tertawa), bagi orang Arab, Warung Kaleng bukan hanya jabal ahdor, tapi juga jabal al jannah, gunung surga. ˜Bidadari-bidadari itu didatangkan dari desa lain yang cukup jauh, paparnya.

MERACUNI ANAK-ANAK
Singkat cerita, kerasanlah turis-turis itu berlibur di jabal al jannah. Bahkan, secara sosial keagamaan, suasana di sini pun okey: ada suara azan berkumandang saat menjelang salat wajib. Di Kampung Sampay, ada tiga pondok pesantren, dan ada pula satu pesantren baru yang sedang dibangun.

Warga setempat pun menyambut para turis Arab dengan terbuka. Apa boleh buat, secara nyata, mereka memang mendatangkan fulus. Penginapan terisi, makanan terjual, sumbangan pun mengalir. Lihatlah Haji Samsudin, 65 tahun, yang sedang memimpin pendirian sebuah pondok pesantren baru di Kampung Sampay ini, namanya Pondok Sikoyatun Najah

.
Menurut Wak haji ini, sebagian biaya calon pesantrennya diperoleh dari sumbangan turis Arab. Di sebuah lorong di belakang Warung Kaleng, terpasang spanduk dalam tulisan dan bahasa Arab, yang artinya kurang lebih begini: Kami sedang membangun gedung untuk pondok pesantren di sini, mohon sumbangannya. Dengan bahasa dan huruf Arab, jelaslah sasaran spanduk itu. Lantas, Nanang Supriatna, salah seorang Ketua RT di Kampung Sampay, mengatakan: Enggak ada Arab, enggak hidup ekonomi orang-orang sini.

Nanang yang sehari-hari berjualan kambing, pada Idul Adha yang lalu berhasil menjual 11 kambing. Kalau enggak ada Arab, kambing saya paling-paling laku dua ekor, tuturnya kepada TRUST. Dan ternyata bukan hanya 11. Begitu ia selesai bertransaksi untuk kambing yang ke-11 dengan Samid (mahasiswa Arab Saudi yang menginap di Vila Barita), datang pesanan dua kambing lagi dari turis Arab yang menginap di Aldita, vila pertama di daerah itu.

Tapi tak seluruh penduduk mengangguk-angguk dan mengucapkan ahlan wasahlan kepada tamu-tamu Timur Tengah itu. Haji Ichwan Kurtubi, 55 tahun, seorang tokoh masyarakat Kampung Sampay, merasa tak enak melihat perilaku para turis itu. Para ulama, katanya, pasti tidak setuju warga di sini memfasilitasi para turis itu ber-dugem ria alias berdunia gemerlapan. Mereka itu enggak bener. Masa sih ada Arab zina

.
VODKA DI TANGAN KANAN
Tapi, anak-anak muda yang dijaga oleh Haji Ichwan itu sendiri tak peduli. Mereka dengan senang mengadakan ini dan itu untuk para turis. Dan dengan begitu ”mulai sebagai pemandu wisata, mencarikan kambing korban, mengantar si turis dengan ojek, mencarikan vila, sampai menjadi preman penjaga keamanan—mereka mendapatkan penghasilan. Kata Haji Ichwan: Ulama di sini sudah kalah sama anak-anak muda itu

Sedangkan Zaki al-Habsy, pengelola gerai penukaran uang di Warung Kaleng, mencoba bersikap realistis. Yang tidak suka dengan turis-turis Arab itu hanya orang-orang yang tidak berbisnis melayani mereka, kata Zaki yang juga agen perjalanan itu

.
Sebenarnya, di balik ketenangan hijaunya bukit dan pepohonan Kampung Sampay, ada keresahan yang tersembunyi. Perilaku dan gaya berlibur lelaki-lelaki dari padang pasir itu yang eksklusif dan tertutup bagi siapa saja, kecuali terhadap orang-orang yang mereka butuhkan selain melahirkan kecemburuan, juga menimbulkan ketersinggungan

.
Benar, wanita-wanita yang mereka datangkan bukan warga Tugu Selatan. Yang terlihat dari jendela itu, misalnya yang diminta menari striptease atau tari perut, konon, adalah perempuan dari Cianjur, 20-an kilometer dari Tugu. Tapi, menurut Haji Ichwan, suasana seperti itu di depan mata mereka adalah racun buat generasi muda. Apalagi, setidaknya, ada dua turis Arab meninggal di salah satu vila di Kampung Sampay selagi berpesta pora. ”Orang Arab kan sudah terkenal dengan pemeo: vodka di tangan kanan dan cewek di tangan kiri, kata Abubakar Sjarief, Kepala Desa Tugu Selatan.

Dan sebenarnya, Abubakar melanjutkan, yang mendapat rezeki dari turis Arab hanya beberapa orang saja. Pokoknya, rezeki (dari para turis) itu tidak berimbang dengan mudaratnya. Secara umum, ke depan, kami dirugikan,  ungkapnya

.
Memang, di luar tukang ojek, penjaga malam, tukang masak di vila, dan preman penjaga keamanan kampung, semua lahan usaha yang berhubungan dengan Arab dijalankan oleh pendatang. Kendati warga setempat bisa berbahasa arab, mereka tidak bisa menjadi pemandu wisata. Soalnya, untuk menjadi guide, mereka harus terdaftar di Ikatan Guide Puncak yang pengurusnya adalah pendatang

.
Itulah, dari pemandu wisata, penerjemah, pengelola trans-portasi, sampai pengelola penyewaan mobil, hampir semuanya orang Jawa Tengah—terutama dari Solo dan sekitarnya dan dari Jakarta. Juga toko-toko yang berderet di Warung Kaleng, sebagian besar dimiliki pendatang

.
Namun, soal rezeki ini tak pernah muncul ke permukaan sebagai konflik sosial. Konflik yang pernah terjadi adalah konflik moral. Tahun lalu, sejumlah santri mulai dari Ciawi hingga Cisarua menyerbu diskotek dan tempat mesum lain di kawasan Tugu Selatan. Gebrakan itu sampai sekarang masih terasa. Menurut Abubakar, sejak saat itu, wisata berbau seks di wilayah tersebut agak mereda. Turis Arab memang masih datang, tapi musik bising dari vila-vila jauh berkurang.

Menurut seorang pemandu wisata di situ, untuk sementara
mereka membawa turis Arab ber-dugem ke tempat lain: Cipanas, bahkan sampai ke Selabintana. Tapi, bisa jadi, wanita yang menari-nari di tempat menginap sama saja dengan perempuan yang terlihat dari jendela itu. Soalnya, nomor telepon genggam mereka sudah ada di tangan para calo. Jadi, kapan saja, per-empuan itu bisa dihubungi, baik secara langsung maupun dengan SMS.

.

Menjelang “Kumbang” Datang

Kawasan Warung Kaleng atau Kampung Sampay di Puncak, Cisarua, mulai menunjukkan tanda-tanda aktivitasnya. Sejumlah tempat peristirahatan berupa vila dan bungalo yang mudah ditemui ditemui disitu sudah mulai dipesan.

Hingga pekan ketiga April, peningkatan pemesanan untuk pemakaian awal bulan depan diperkirakan mencapai 50%. Padahal musim yang ditunggu itu baru akan dimulai pada Juni hingga Agustus mendatang.

Pada Juni hingga Agustus, kawasan Puncak yang kerap dijadikan tempat wisata itu berubah menjadi kawasan yang dipenuhi pria Arab.
Sungguh malang nasib Puncak, sekarang tidak lebih adalah merupakan
lokalisasi pelacuran pria-pria Arab hidung belang. Rasakan saja pria-pria
Arab hidung belang itu, untuk berzina saja harus pergi ke luar negeri
karena tidak bisa di negaranya sendiri. Sungguh malang nasib negara kita
ini, sebagian mucikari dan germo-germo di Puncak yang merasakan senang
karena mendapatkan lapangan pekerjaan menyediakan jasa esek-esek di Puncak
bagi laki-laki Arab hidung belang

.

Sungguh kasihan sekali bangsa kita ini
mau saja dijadikan lokalisasi pelacuran oleh laki-laki Arab hidung belang.
Demikian pun para germo dan para penari striptease serta pelacur itu
sangat berbahagia. Sungguh kasihan sekali bangsa kita ini yang senang
sekali menyediakan jasa esek-esek bagi lelaki Arab hidung belang.

Saya jadi teringat ketika masih mahasiswa, saya memarkir mobil saya di
sebuah rumah makan di puncak. Tiba-tiba, datang seorang menawarkan villa
kepada kami (saya bersama teman), bahkan dengan tersenyum dia menambahkan:
“ada isinya mas!”. Sekarang baru saya sadari bahwa kawasan Puncak telah
berubah menjadi kawasan maksiat lokalisasi bertaraf Internasional bagi
laki-laki hidung belang Arab. Saya membayangkan, bagaimana iklan syurga
Puncak itu beredar di kalangan laki-laki Arab hidung belang di Timur
Tengah sana. “Puncak, puncak, syurga, syurga!”

Daripada kita menuding laki-laki Arab yang hidung belang itu, lebih baik
kita bersedih atas mental melacur dan menggermo bangsa kita di Puncak
sana
.
Ada Musim Arab di Warung Kaleng

Nama Cisarua mungkin tak asing lagi. Kawasan wisata sejuk di Puncak, Kabupaten Bogor, itu kini semakin mencuat menyusul penggerebekan oleh polisi, Selasa (1/8) dini hari. Polisi menangkap para pelaku kawin kontrak yang melibatkan perempuan lokal dan WN Arab di kawasan tersebut.

Kecamatan Cisarua dipenuhi tempat hiburan dan penginapan. Ada yang berbentuk penginapan biasa, vila, atau hotel. Cisarua berada di ketinggian 650-1.100 meter di atas permukaan laut, memiliki suhu udara rata-rata 20,5 derajat Celsius, dengan curah hujan 112-161 milimeter persegi setiap tahunnya.

Cisarua terdiri dari sembilan desa dan satu kelurahan dengan total luas wilayah 6.373,62 hektar. Sembilan desa itu adalah Tugu Selatan (luas 1.712,61 hektar), Tugu Utara (1.703 hektar), Batulayang (226 hektar), Cibeureum (1.128,62 hektar), Citeko (461 hektar), Kopo (453,21 hektar), Leuwimalang (135,18 hektar), Jogjogan (154 hektar), dan Cilember (200 hektar). Satu kelurahan adalah Cisarua dengan luas 200 hektar. Di wilayah tersebut tercatat ada 1.577 vila, 42 hotel, 182 restoran dan 37 warung telekomunikasi. Fasilitas-fasilitas itu tersebar di seluruh desa dan kelurahan yang ada di Kecamatan Cisarua.

Namun, ada dua desa yang menjadi primadona wisatawan, terutama turis dari Arab Saudi dan negara Timur Tengah lainnya, yakni Tugu Utara dan Tugu Selatan. Tak mengherankan jika di jalanan di dua desa tersebut bertebaran tulisan dalam huruf Arab di sana-sini. Nama-nama atau plang papan nama usaha di sana kebanyakan ditulis dalam huruf Arab dan dipasang di kaca atau pintu. Warga di dua desa tersebut, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, juga sangat fasih berbahasa Arab. Mungkin dua desa itu bisa disebut Little Town Arabian.

Suasana Arab dangat kental terasa di Tugu Selatan. Desa itu terletak sekitar 84,2 kilometer dari Jakarta, 42 kilometer dari Kantor Bupati Bogor di Cibinong, dan 90,3 kilometer dari Bandung. Jumlah penduduk 15.380 jiwa dari 3695 kepala keluarga. Di wilayah kami ada 44 RT, 17 RW, dan 7 dusun. Di Tugu Selatan sekarang ada 5 hotel, 2 tempat rekreasi, 344 vila, dan 4 restoran,” kata Sekretaris Desa Tugu Selatan, Baini, ketika ditemui Warta Kota di kantornya.

Di Desa Tugu Selatan ada kampung yang namanya sangat populer di Jazirah Arab. Kampung tersebut bernama Sampay atau lebih terkenal dengan sebutan Warung Kaleng. Sekarang, jalan utama kampung itu diberi nama Jalan Sindang Subur. Toh, nama itu tetap kalah populer dibanding Warung Kaleng. Meskipun di sini sudah diberi nama Jalan Sindang Subur, tetapi orang-orang lebih mengenal dengan sebutan Warung Kaleng. Itu sudah terkenal sejak zaman revolusi,” kata Ketua RT 14, H Syukur.

Menurutnya, nama Warung Kaleng punya cerita tersendiri. Dahulu, beberapa rumah di sana dimiliki oleh orang Cina yang sudah masuk Islam, yaitu Abdul Fadli, Abdul Salim dan Nur Salim. Mereka adalah pedagang kelontong yang warungnya berada di jalan raya, atau terletak di ujung jalan masuk ke Kampung Sampay.

Para pedagang itu membuat atap rumahnya dari kaleng bekas minyak goreng atau kaleng ble. Mereka menggunting kaleng tersebut dan memanteknya dengan paku hingga menjadi atap pengganti genteng atau asbes. Konon pada zaman revolusi, warung mereka sangat terkenal. Orang-orang yang datang ke warung-warung tersebut selalu menyebutnya dengan sebutan Warung Kaleng. Nama tersebut terus menempel hingga sekarang.

Pada zaman kemerdekaan, semakin banyak turis yang datang ke kampung tersebut. Kebanyakan berasal dari Arab Saudi atau negara Timur Tengah lainnya. Mereka suka datang ke kampung tersebut karena udaranya sejuk dan bersih, jauh berbeda dengan udara di negaranya. Tak ayal, bisnis penginapan pun tumbuh pesat. Kini di Kampung Sampay berdiri 10 vila dan satu hotel.

Seringnya turis Arab datang ke kampung itu membuat di sana ada istilah Musim Arab. Musim itu terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Pada bulan-bulan tersebut, para pekerja di Arab Saudi libur, sehingga banyak yang berlibur ke Indonesia dan melepas penat di Warung Kaleng. Repotnya, hal itu juga disusul dengan munculnya praktik zina antara para turis Arab dengan perempuan-perempuan lokal.