Indonesia’s brutal history brought to global attention ! Pramoedya: The Last Chapter

Man of letters and revolution
Pramoedya Ananta Toer, Novelist, 1925-2006

1.jpg

Pramoedya Ananta Toer: Indonesia’s greatest novelist

2.jpg

Pramoedya and the rebirth of national culture

Pramoedya dan kelahiran kembali kebudayaan nasional

One of the greatest pleasures of living in Indonesia has been discovering the work of the country’s finest novelist, Pramoedya Ananta Toer.

Salah satu kenikmatan terbesar hidup di Indonesia, karena  telah menemukan karya negara terbaik yaitu novelis Pramoedya Ananta Toer.

3

Critics lauded it as one of the 20th century’s finest artistic achievements. Pramoedya was frequently described as South-East Asia’s leading candidate for the Nobel Prize for Literature (though he never won).

Kritikus memuji sebagai salah satu prestasi artistik terbaik abad ke-20. Pramoedya sering digambarkan sebagai kandidat utama Asia Tenggara untuk
Hadiah Nobel untuk Sastra (meskipun ia tidak pernah menang).

4.jpg

Pramoedya was born in 1925. He worked in newspapers before taking up arms against the Dutch in the 1940s. The Dutch jailed him in 1947.

Pramoedya dilahirkan pada tahun 1925. Dia bekerja di surat kabar sebelum mengambil
senjata melawan Belanda di tahun 1940-an. Belanda memenjarakannya pada tahun 1947.

5.jpg

After Indonesia achieved its independence, in 1949 Pramoedya became a prominent and prolific writer of fiction, history and literary criticism. But he later fell out of President Sukarno’s favour and was jailed again.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1949 Pramoedya menjadi penulis terkemuka dan produktif fiksi, sejarah dan  kritik sastra. Tapi ia kemudian dijatuhkan oleh Presiden Sukarno dan dipenjara lagi.

6.jpg

Things only got worse under Suharto’s New Order, which banished Pramoedya without trial to a remote penitentiary for political prisoners on Buru Island, in Indonesia’s east.

Bahkan  mendapat nasib lebih buruk di bawah Soeharto Orde Baru,    dibuang lah
Pramoedya tanpa pengadilan ke penjara terpencil, menjadi tahanan politik di Pulau Buru, di timur Indonesia.

7.jpg

He lived there in harsh conditions for the next 14 years.

Dia tinggal di sana dalam kondisi yang keras selama 14 tahun ke depan.

8.jpg

Pramoedya had lost his immense library of archives, tapes and documents, and did not have even pen or paper.

Pramoedya telah kehilangan perpustakaan besar sekali arsip, kaset dan dokumen, dan tidak memiliki bahkan pena atau kertas.

9.jpg

Pramoedya was released from Buru in 1979 but was then forced to spend
13 years under city arrest. He was released in 1992 but only truly
became free when Suharto stepped down five years later.

Pramoedya dibebaskan dari Buru pada tahun 1979 tetapi kemudian dipaksa untuk menghabiskan 13 tahun tahanan kota. Ia dibebaskan pada tahun 1992 tetapi hanya benar-benar menjadi merdeka ketika Soeharto lengser lima tahun kemudian.

10.jpg

Pramoedya’s contribution to Indonesian literature, historical analysis and political thinking has been great indeed.

kontribusi Pramoedya untuk sastra Indonesia, analisis sejarah dan pemikiran politik telah memang besar.

11.jpeg

Pramoedya died in 2006, aged 81.

Pramoedya meninggal pada tahun 2006, berusia 81.

12.jpeg

4

Ferizal :

… After half a century Pramoedya Ananta Toer, one of Indonesia’s greatest writers, “has found a successor…

The novel is helping to establish Indonesia’s voice, which remains under represented within world literature, and can also illuminate how world literature has influenced Indonesian writers

Setelah setengah abad Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis terbesar di Indonesia, “telah menemukan pengganti

Novel ini membantu untuk membangun suara Indonesia, yang masih di bawah diwakili dalam sastra dunia, dan juga dapat menerangi bagaimana sastra dunia telah mempengaruhi penulis Indonesia

2

It occupies a unique position in the history of the Indonesian novel, which many argue is still in an experimental and nascent stage – at least as new as the Indonesian language itself, which was nationally instituted in 1945 

Ini menempati posisi yang unik dalam sejarah novel Indonesia, yang banyak yang berpendapat masih dalam tahap percobaan dan baru lahir – setidaknya baru sebagai bahasa Indonesia itu sendiri, yang secara nasional dilembagakan pada tahun 1945  

2

Ferizal  :

Ferizal is the pioneer of the literary novel dentist Indonesia

Genre active romance, Ferizal romantic poet Indonesia

Literature Novel Dentist build the image of Indonesia

1

Ferizal

Born : Bireuen, Indonesia, 1980

f5

Ferizal is the pioneer of the literary novel dentist Indonesia

Genre active romance, Ferizal romantic poet Indonesia

f4

Ferizal is the pioneer of the literary novel dentist Indonesia, Pierre Fauchard father of modern dentistry

Many have spotted the palpable influence of Khalil Gibran, Gabriel Garcia Marquez, JK Rowling and, most significantly, Pramoedya Ananta Toer in his works.

Banyak telah melihat terasa pengaruh  Khalil Gibran, Gabriel Garcia Marquez, JK Rowling dan, yang paling penting, Pramoedya Ananta Toer dalam karya-karyanya.

It is nice that after half a century, Pramoedya Ananta Toer has found a successor.

Itu bagus bahwa setelah setengah abad, Pramoedya Ananta Toer telah menemukan penggantinya.

versi-kecil14

Born in 1980, Ferizal  spent most of his childhood in the coastal area of Bireuen in Aceh before leaving to study at a high school in nearby North Aceh. However, struggling in the competitive environment.

Lahir pada tahun 1980, Ferizal menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di daerah pesisir Bireuen di Aceh, sebelum meninggalkan untuk belajar di sebuah sekolah tinggi di dekatnya Aceh Utara. Bagaimanapun, berjuang dalam lingkungan yang kompetitif

7

Source :

a.  https://maxlaneonline.com/2010/07/05/discovering-pramoedya-new-2011-review-of-the-buru-quartet/#more-814

b. Australian Associated Press July 4, 2010

c. Search engine google (news and pictures)

d.  http://www.noveldoktergigi.wordpress.com

e.  http://www.facebook.com/ferizal.dokternovel

f.  https://indonesiskalitteratur.wordpress.com/

g. Sydney Morning Herald, May 16, 2006

h.https://maxlaneonline.com/2006/07/04/death-of-pramoedya-ananta-toer/

i. https://www.facebook.com/groups/IndonesianLiterature/?fref=ts

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s