Kelemahan Ahlusunnah (Sunni) Dalam Menilai Hadis ! Kelemahan Hadis Ahlusunnah (Sunni)

Aswaja Aswaja Aswaja

aswaja tidak bebas salah, tidak bebas polusi pemikiran

https://syiahali.files.wordpress.com/2013/07/caead-aswaja1.jpg

Sebuah manhaj dari sebuah kelompok mayoritas di bumi pertiwi yang paling banter meneriakkan pentingnya ikut ulama, menghargai dan menjunjung tinggi ulama. Tunduk dan kepatuhan yang dikemas dengan atribut Aswaja, adalah suatu ciri khas kelompok itu. Kendati antara nama dan sikap dan sifatnya tidak sama alias paradok.

Kelemahan Ahlusunnah (Sunni) Dalam Menilai Hadis :

1.Hadis  Sunni  Di Pengaruhi  Rezim  Politik… Mu’awiyah  telah mengumumkan dengan tegas bahwa barangsiapa menukil sebuah hadis tentang manâqib Ahlulbait as, maka jiwa, harta, dan harga dirinya tidak akan mendapatkan jaminan keselamatan dan ia juga memerintahkan.. Barangsiapa mendapatkan sebuah hadis tentang pujian dan manâqib para sahabat dan khalifah, maka ia berhak mendapatkan hadiah yang memuaskan.. Akhirnya, banyak hadis yang dibuat dan dipalsukan berkenaan dengan keutamaan para sahabat…Mu’awiyah  juga memerintahkan supaya Ali as dicaci-maki di atas mimbar-mimbar pidato di seluruh penjuru pemerintahan Islam.

2. Dinasti Bani Umayyah dan Dinasti  Bani  Abbasiyah  adalah  pendukung utama dari kelompok Sunni, bahkan mayoritas  khalifah kedua rezim tersebut  adalah termasuk kelompok Islam Sunni  yang  menzalimi  12  Imam  Ahlul Bait.. Kelompok Islam Sunni terlahir karena perkembangan masalah keagamaan dan juga masalah sosial dan politik dalam Islam yang dimulai sejak wafat Nabi Muhammad saw.

https://syiahali.files.wordpress.com/2013/07/caead-aswaja1.jpg

Fenomena Aswaja itu tersendiri dalam bingkai pemahaman ajaran Islam, terlahir dari sebuah rahim pemikiran merasa superior, terutama dari kisah kisah mitos dan kultus sebuah peradaban RAJA yang ada sebelumnya. Karena itulah Umayyah Abbasiyah bisa disebut sebagai perancang model agama (bid’ah), yang sulit tersentuh perasaan bersalah ketika ajarannya campur aduk dengan ajaran ajaran lain.

Setelah syahadah Amirul Mukminin Ali as, berdasarkan wasiatnya dan bai’at masyarakat, Imam Hasan bin Ali as yang dalam pandangan Syi‘ah adalah imam kedua menjadi khalifah. Akan tetapi, Mu‘awiyah tidak tinggal diam. Ia mengerahkan bala tentaranya ke Irak yang pada waktu itu adalah ibu kota pemerintahan dan memerangi Hasan bin Ali as.

Dengan berbagai propaganda dan iming-iming urang yang melimpah, sedikit demi sedikit ia berhasil merusak jiwa (perang) para sahabat dan komandan tentara Hasan bin Ali as. Akhirnya, ia memaksa Hasan bin Ali—dengan dalih perdamaian—untuk menyerahkan tampuk kekhalifahan kepada dirinya. Dan Hasan bin Ali pun—dengan syarat kekhalifahan harus kembali ke tangannya setelah Mu‘awiyah meninggal dunia dan para pengikut Syi‘ah tidak dianiaya—menyerahkan tampuk kekhilafahan kepadanya.[1]

Pada tahun 40 H., Mua’wiyah berhasil menguasai tampuk kekhalifahan Islam. Langsung ia berangkat ke Irak. Dalam sebuah ceramahnya di hadapan khalayak, ia menegaskan, “Aku tidak memerangi kamu sekalian karena ingin (menegakkan) puasa dan shalat. Tetapi, aku hanya ingin berkuasa atas kamu sekalian. Dan sekarang aku telah sampai kepada tujuan itu.”[2]

Ia juga menegaskan, “Perjanjian dengan Hasan yang telah kutandatangani telah kubatalkan dan berada di bawah kakiku.”[3] Dengan ucapannya ini, Mu‘awiyah ingin menegaskan bahwa ia ingin memisahkan politik dari agama dan tidak akan menjamin (pelaksanaan) undang-undang dan hukum Islam, serta selalu berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya demi menjaga kekekalan pemerintahannya. Jelas bahwa pemerintahan semacam ini adalah sistem kerajaan, bukan kekhalifahan Rasulullah saw. Atas dasar ini, sebagian orang yang pernah bertamu kepadanya, mereka mengucapkan salam kepadanya atas nama seorang raja.[4] Ia sendiri pun dalam sebagian pertemuan khususnya menegaskan bahwa pemerintahannya adalah sebuah pemerintahan kerajaan,[5] meskipun di hadapan khalayak ramai ia menyebut dirinya sebagai khalifah Rasulullah saw.

Akhirnya, Mu‘awiyah yang memang kekuasaannya dibangun di atas pondasi paksaan dan ingin membangun sebuah kerajaan dengan sistem warisan mangaktuaslisaikan niatnya tersebut. Ia mengangkat anaknya, Yazid yang arogan dan tidak memiliki jiwa keagamaan sedikit pun sebagai putra mahkota dan memilihnya sebagai penggantinya.[6] Dan Yazid telah menyulut api peristiwa-peristiwa yang sangat memalukan itu.

Dengan ucapannya itu, Mu‘awiyah ingin menegaskan bahwa ia tidak akan mengizinkan Hasan as memegang kembali kekhalifahan. Yaitu, berkenaan dengan kekhalifahan setelah dirinya, ia mempunyai pogram lain. Program tersebut adalah membunuh Hasan as dengan menggunakan racun,[7] dan dengan itu, ia ingin melapangkan jalan bagi anaknya sendiri. Dengan menginjak-injak pernjanjian damai itu, Mu‘awiyah ingin memahamkan kepada masyarakat luas bahwa ia tidak akan memberikan kesempatan kepada para pengikut Syi‘ah untuk hidup aman dan tenang, dan untuk—seperti masa-masa sebelumnya—meneruskan kegiatan-kegiatan mereka. Ia pun telah merealisasikan niat buruknya itu.[8]

Mu’awiyah  telah mengumumkan (dengan tegas) bahwa barangsiapa menukil sebuah hadis tentang manâqib Ahlulbait as, maka jiwa, harta, dan harga dirinya tidak akan mendapatkan jaminan keselamatan[9] dan ia juga memerintahkan, barangsiapa mendapatkan sebuah hadis tentang pujian dan manâqib para sahabat dan khalifah, maka ia berhak mendapatkan hadiah yang memuaskan.

Akhirnya, banyak hadis yang dibuat dan dipalsukan berkenaan dengan keutamaan para sahabat [10]

Ia juga memerintahkan supaya Ali as dicaci-maki di atas mimbar-mimbar pidato di seluruh penjuru pemerintahan Islam. (Perintah ini masih terus berlaku hingga masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, salah seorang khalifah dari dinasti Bani Umaiyah, pada tahun 99-101 H.). Ia dengan bantuan para antek dan sutradara politiknya yang sebagian mereka adalah sahabat telah membunuh para pengikut Ali as dan menancapkan kepala sebagian dari mereka di atas tombak, lalu mengelilingkannya di kota-kota. Ia memaksa para pengikut Syi‘ah di mana pun mereka berada untuk mencaci-maki Ali, dan jika mereka enggan melakukannya, maka mereka akan dibunuh.[11]

Masa Terpahit Bagi Syi‘ah

Masa terpahit bagi Syi‘ah sepanjang sejarah perkembangannya adalah masa dua puluh tahun pemerintahan Mu‘awiyah. Mereka tidak memiliki jaminan keselamatan sama sekali, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang dikenal dan dapat ditemukan dengan mudah.

Dua imam mazhab Syi‘ah, imam kedua dan ketiga, yang hidup sezaman dengan Mu‘awiyah tidak memiliki sarana dan prasarana paling minimal sekalipun untuk memperbaiki situasi dan kondisi yang sangat menyakitkan itu. Imam ketiga pun yang bangkit menentang Yazid di enam bulan pertama kekhalifahannya dan syahid bersama seluruh sahabat dan putra-putranya, tidak memiliki kesempatan untuk mengadakan perombakan itu selama sepuluh tahun ia hidup pada masa kekhalifahan Mu‘awiyah.

Mayoritas pengikut mazhab Ahlusunah dalam menjustifikasi seluruh pembantaian yang tidak berdasar dan arogansi yang dilakukan oleh para sahabat, khususnya Mu‘awiyah dan para sutradara politiknya itu hanya berkomentar, “Mereka adalah para sahabat dan berdasarkan hadis-hadis yang dinukil dari Rasulullah saw, mereka adalah mujtahid dan memiliki alasan (ma’dzûr), serta Allah SWT telah meridhai mereka. Setiap kriminalitas dan kejahatan yang mereka lakukan akan dimaafkan.” Akan tetapi, Syi‘ah tidak menerima justifikasi semacam ini, karena:

Pertama, tidak masuk akal seorang pemimpin masyarakat, seperti Rasulullah saw, yang telah bangkit untuk menghidupkan kebenaran, keadilan, dan kebebasan, telah menarik orang lain untuk meyakini keyakinannya, telah mengorbankan seluruh wujudnya di atas jalan tujuan yang suci itu, telah merealisasikan dan mencapai seluruh tujuannya, memberikan kebebasan mutlak kepada para pengikutnya atas masyarakat dan hukum-hukumnya yang suci, dan memaafkan segala jenis pembasmian atas kebenaran, kejahatan, dan arogansi. Menurut sebuah pepatah, ia membangun sebuah rumah dengan sebuah tangan dan peralatan, lalu ia menghancurkannya dengan tangan dan peralatan itu sendiri.

Kedua, hadis-hadis yang menyucikan sahabat, membenarkan seluruh tindakannya yang tidak benar, dan memperkenalkannya sebagai orang yang terampuni dosanya dan terjaga (dari segala kesalahan) telah sampai kepada kita melalui jalur sahabat dan dinisbahkan kepada hadis-hadisnya. Para sahabat sendiri—sesuai dengan kesaksian sejarah yang pasti—tidak pernah memperlakukan sahabat yang lain sebagai orang yang terjaga (dari kesalahan) dan terampuni dosanya. Para sahabat jugalah yang melakukan pembunuhan, pencaci-makian, laknat, dan pelecehan harga diri terhadap sahabat yang lain, dan mereka tidak pernah melakukan toleransi sedikitpun dalam hal ini.

Berdasarkan penjelasan di atas—dengan kesaksian para sahabat sendiri—hadis-hadis itu tidaklah sahih, dan seandainya pun hadis-hadis itu adalah sahih, maka maksudnya adalah arti lain selain keterjagaan dan penyucian secara hukum. Seandainya pada suatu hari Allah SWT dalam firman-Nya meridhai para sahabat[12] dikarenakan khidmat yang telah mereka laksanakan dalam menjalankan perintah-Nya, hal itu adalah sebuah penghargaan atas ketaatan mereka di masa lalu, bukan berarti bahwa di masa mendatang mereka dapat melakukan segala pembangkangan sesuai dengan kehendak hati mereka.

Sumber :

[1] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 191. Begitu juga buku-buku sejarah yang lain.

[2] Syarah Ibn Abil Hadid, jilid 4, hal. 160; Târîkh ath-Thabari, jilid 4, hal. 124; Târîkh Ibn Atsir, jilid 3, hal. 203.

[3] Ibid.

[4] Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 193.

[5] Ibid., hal. 202.

[6] Yazid adalah seorang pembual nafsu dan peminum khamar. Ia selalu mengenakan pakaian sutra yang menawan. Ia memiliki seekor anjing dan kera sebagai teman bermainnya. Malam-malamnya selalu ditemani oleh musik, nyanyian pembangkit nafsu, dan khamar. Nama keranya adalah Abu Qais. Ia selalu mengenakan pakaian yang indah kepadanya dan menghadirkannya di majelis perjudiannya. Kadang-kadang ia juga menunggangkannya di atas kuda dan mengirimnya untuk melakukan perlombaan. Silakan rujuk Târîkh al-Ya’qubi, jilid 2, hal. 196 dan Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 77.

[7] Murûj adz-Dzahab, jilid 3, hal. 5; Târîkh Abil Fida’, jilid 1, hal. 183.

[8] An-Nashâ’ih al-Kâfiyah, hal. 72, menukil dari buku-buku yang menjelaskan peristiwa-peristiwa sejarah.

[9] Abul Hasan al-Mada’ini dalam buku Al-Ahdâts berkata, “Setelah pembentukan tahun “Jamaah”, Mua’wiyah menulis sepucuk surat kepada seluruh pegawainya, ‘Pundakku bebas dari orang yang menukil sebuah hadis tentang keutamaan Abu Turab dan keluarganya.’” (Muhammad bin ‘Aqil, an-Nashâ’ih al-Kâfiyah, cetakan Najaf 1386 H., hal. 87 dan 194)

[10] An-Nashâ’ih al-Kâfiyah, hal. 72-73.

[11] Ibid. hal. 58, 64, 77, dan 78.

[12] “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama [masuk Islam] di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah [9]: 100)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s