gerakan wahabi di masjid Muhammadiyah makin meresahkan warga Muhammadiyah

MAJELIS TARJIH PWM KALSEL KAJI PERSOALAN SALAFI
Sabtu, 16-06-2012
Bertempat di Aula PWM Kalsel Lt. 1, Majelis Tarjih dan Tajdid PW. Muhammadiyah Kalimantan Selatan pada Sabtu (16/6/2012) bersama-sama seluruh pakar tarjih se Kalimantan Selatan secara intens mengkaji persoalan keumatan. Salah satunya adalah maraknya gerakan salafi di masjid Muhammadiyah yang makin meresahkan warga Muhammadiyah

.

Berdasarkan laporan PD. Muhammadiyah persoalan tersebut semakin menggejala hampir di seluruh masjid Muhammadiyah se Kalimantan Selatan. “Perseteruan” antara Muhammadiyah dengan salafi tersebut, pada awalnya hanya persoalan berbeda pendapat saja, tapi belakangan hal tersebut merembet sampai menyalahkan dan menganggap pendapat yang dipahami Muhammadiyah adalah salah. Lebih dari pada itu, persoalan yang cukup krusial, adanya upaya “pengambilalihan” masjid/mushalla Muhammadiyah yang dijadikan lahan untuk mengembangkan paham salafi.

Menanggapi hal tersebut, peserta pengajian merekomendasikan agar pimpinan wilayah secara tegas membuat surat edaran kepada seluruh pengelola masjid/mushalla Muhammadiyah untuk selektif dalam memilih khatib/penceramah dalam pengajiannya. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa penceramah di luar Muhammadiyah ketika berceramah di lingkungan Muhammadiyah justru mematahkan atau bahkan mengobok-obok paham yang diyakini Muhammadiyah. Masih menurut peserta pengajian, ketegasan pimpinan sangat diperlukan demi menjaga kestabilan umat di akar rumput, sehingga tidak mengalami kebimbangan atau keraguan dalam beribadah.

Pengajian perdana yang digagas majelis tarjih dan tajdid tersebut juga membicarakan berbagai hal dalam ibadah yang selama ini diperselisihkan antara Muhammadiyah dan salafi. Para peserta pengajian mengharapkan agar pimpinan wilayah bisa membuat pedoman yang dapat dijadikan sandaran dalam beribadah bagi warga persyarikatan di tingkat bawah. [Kh]

http://kalsel.muhammadiyah.or.id/berita-1258-detail-majelis-tarjih-pwm-kalsel-kaji-persoalan-salafi.html

Senin, 22 Oktober 2012

Pengajian Ahad Petang, KH.Achmad Munir : Muhammadiyah bukan Wahabi

Pengajian Ahad petang PWM Kaltim di SD Muhammadiyah Jl.Sungai Berantas Samarinda disampaikan oleh KH.Achmad Munir, Wakil Ketua Majlis Tarjih PWM Jawa Timur. Beliau menyampaikan bahwa Muhamamadiyah adalah termasuk juga dalam ahlu sunnah wal jamaah. Bahwa Muhammadiyah bukan Wahabi, atau Muhammadiyah tidak sama dengan Wahabi, memang ada persamaan dalam hal gerakan pemurnian aqidah, tapi dalam hal lain banyak juga perbedaannya.

See full size image

Yunahar Ilyas: Muhammadiyah Beda Dengan Wahabi

Minggu, 22-01-2012

See full size image

Magelang-

Pada sesi kedua Pelatihan Kader Tarjih Tingkat Nasional  (Sabtu 21/01/2012), Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc. M.A.  pada materi Paham Agama dalam Muhammadiyah mengatakan bahwa tidak diragukan lagi, KHA Dahlan banyak dipengaruhi ide-ide Muhammad bin Abdul Wahab, khususnya dalam bidang akidah

.

Hal ini tentu saja memberi pengaruh pada gerakan Muhammadiyah yang didirikannya. Namun begitu, tidak berarti Muhammadiyah berafiliasi mazhab kepada Abdul Wahab (baca: Wahabi/Salafi). Banyak hal lain yang memberikan inspirasi KHA Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah, sedang pemikiran Abdul Wahab hanya salah satunya

.

Bahkan Yunahar menegaskan, Muhammadiyah berbeda dengan Wahabi. Dalam hal dakwah khususnya, Wahabi bergandeng tangan dengan penguasa untuk menghancurkan tempat-tempat yang digunakan untuk melakukan perbuatan syirik secara frontal. Sementara Muhammadiyah dalam beramar makruf nahi munkar lebih mengedepankan prinsip tausiyah, menyampaikan nasehat kebenaran

.

Pelatihan Kader Tarjih tingkat Nasional yang diadakan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan beberapa narasumber ahli yang kompeten di bidangnya, yang berasal dari lingkungan Muhammadiyah sendiri. Pada kesempatan pertama, Jum’at, 20 Januari 2012 malam, Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, M.A., Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, dan KRT. Drs. H. A. Muhsin Kamaludiningrat membawakan materi Konsep Kelembagaan dan Manhaj Tarjih Muhammadiyah. Syamsul menyampaikan, tajdid sebagai identitas Muhammadiyah mempunyai dua makna, purifikasi dan dinamisasi. Purifikasi atau pemurnian untuk bidang akidah dan dinamisasi untuk bidang muamalah duniawiyah.

Muhammadiyah Itu Bukan Wahabisme
Meski memiliki misi yang sama, Muhammadiyah dengan Wahabisme jelas berbeda. Baik Muhammadiyah dan Wahabisme mengusung misi pemurnian ajaran Islam, namun dengan jalan yang berbeda.”Tetapi, Muhammdiyah pun tidak anti-wahabisme,” ujar Irfan Amir dari Badan Nasional Penanggulangan Teorisme (BNPT) dalam acara bedah buku, “Muhammadiyah dan Wahabisme” di Aula Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Jalan Sancang No 6 Bandung (20/6)
.
Irfan menambahkan, dalam ajaran Islam, jihad merupakan sebuah kewajiban bagi setiap Muslim. Ia menegaskan terorisme itu berbeda dengan jihad.“Jihad itu wajib, terorisme itu haram,” cetusnya.Wahabisme sempat menjadi perhatian banyak pihak sehubungan dengan pernyataan mantan ketua BIN, Hendropriyono yang menyatakan akar dari terorisme sekarang ini adalah Wahabisme.Terorisme menggejala setelah selesainya perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, yang dimenangkan oleh blok barat. Setelah jatuhnya komunis, Islam seakan menjadi musuh bersama dengan jargon baru teroris.

Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dadang Kahmad mengungkapkan, jalan dakwah tergantung pada sosial, budaya dan intelegensia masing-masing daerah.

“Tidak bisa menggunakan cara berdakwah seperti di Arab diterapkan di Indonesia.” tegasnya. Ulama Imam Syafii pun, kata dia, mengeluarkan pernyataan baru setelah pindah dari Damaskus ke Mesir. Ini membuktikan bahwa dakwah itu tergantung pada kondisi masyarakat setempat.

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandungi itu menambahkan, memang Muhammadiyah memiliki misi pemurnian ajaran Islam. Namun, dalam kehidupan yang berhubungan dengan keduniawiyahan Muhammadiyah cukup dinamis.

“Artinya, selama menyangkut hubungannya dengan kehidupan yang tidak berhubungan dengan ibadah langsung itu Muhammadiyah terbuka.” ungkapnya.

Pembantu Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Mujib, menilai kemunculan isu wahabisme terbilang sangat aneh.

”Sebab, kalau menggunakan terminologi Islam bukanlah Wahabisme tetapi Wahabiyah. Sementara, Wahabisme merupakan cara pandang Barat dalam memahami Wahabi,” tuturnya.

Di sisi lain, menurut Prof. Mujib, munculnya isu terorisme yang dikaitkan dengan Wahabi juga sangat tidak relevan.

“Arab Saudi itu Wahabi, tetapi mereka berteman dekat dengan Amerika,” tambahnya.

Prof Mujib pun menambahkan isu terorisme yang menyudutkan Islam pun sejatinya tidak pernah terbukti. Tetapi umat Islam di Timur Tengah lah yang menjadi korban.

Bagi guru besar UIN Sunan Gunung Djati ini, isu pemberantasan terorisme sekarang ini lebih cenderung pada usaha pencitraan Barat.

“Barat membutuhkan isu yang kuat untuk menghancurkan Islam, terorisme menjadi senjatanya.”

Muhammadiyah Itu Bukan Wahabisme

Perbedaannya :

Faham Wahabi mengharamkan Maulid Nabi, adapun Faham Muhammadiyah Sekarang sudah tidak mengharamkannya lagi, soalnya setiap tahun Organisasi Muhammadiyah merayakan HARLAH (Hari Lahir) Organisasi, mosok ya Maulid Nabi haram ?? Perubahan ini terjadi sekitar tahun 1980-an dibawah kepemimpinan Bapak Amin Rais(CMIIW), tapi sebelumnya di tahun 1970-an Maulid Nabi masih dianggap haram oleh Muhammadiyah.

Perbedaan Lainnya : Faham Wahabi mewajibkan memanjangkan Jenggot dan mengharamkan Kumis serta menggantung Celana Panjang / Jubah. Faham Muhammadiyah yang sekarang tidak begitu mempermasalahkan penampilan yang penting hatinya (niat) OK.

Faham Wahabi MASIH mempermasalahkan hal-hal yang bersifat khilafiah para ulama, misalnya soal bid’ah dan hal-hal sepele (furu’/cabang) Adapun Faham Muhammadiyah yang sekarang (sejak 1980-an) tidak begitu mempermasalahkannya lagi, semua tergantung niatnya masing-masing (Innama a’malu bin-niyyah) Kecuali bagi perorangan2, hal- hal seperti itu masih suka diperdebatkan, tapi gaungnya tidak seperti jaman dulu dibawah 1980-an.

Sebenarnya kedua-duanya mengambil dalil dari Riwayat suatu Hadits yang sama, yaitu HANYA hadits- hadits shohih saja, baik dalam hal Ibadah maupun muamalah maupun Fadhilail Amal.

Faham Wahabi malahan sangat leterleks (tektual) sehingga nampak begitu ekstrim dalam memahami suatu hadits/Ayat, mereka tak ingin menggunakan akal/ra’yu (walaupun akal sehat) untuk menafsirkan suatu ayat/teks hadits. Pokoknya bagi mereka hitam-putih.

Muhammadiyah agak sedikit moderat, bila tak ada nash yang sharih, ulama-ulama mereka melakukan ijtihad untuk mengambil suatu keputusan (semacam baitul masail di NU) tapi KITAB KUNING (kitab- kitab rujukan NU karangan ulama-ulama di masa lalu) bagi mereka tetap tidak berlaku. Hadits-hadits daif walapun sekedar fadhilail amal (Menambah semangat dalam beribadah) mereka sama- sama tidak menggunakannya

5 comments

  1. Assm..Kalau begitu Muhammadiyah tidak murni lagi dong. sudah banyak perubahan pada era 80an. bukankah yang bid’ah tetap bid’ah. Apakah yang haram suatu saat akan menjadi samar cenderung halal.
    Maaf… saya juga partisan Muhammadiyah sejak dari orang tua saya. Saya setuju Muhammdiyah beda dengan Wahabiyah tetapi itu sebagian besar dari metode pelaksnaannya. Wassmk..

  2. Muhammadiyah sudah melenceng dari niat awalnya. Lemah iman, takut kehilangan pengikut, tidak seperti KH Ahmad Dahlan. kalau muhammadiyah setia pada niatnya niscaya akan rujuk kembali pada manhaj salaf. Tapi yg terjadi saat ini Muhammadiyah sudah jadi hizbiyah, firqah baru dari Indonesia. Harusnya secara jantan saja mengakui bahwa dakwah muhammadiyah adalah dakwah salafiyah ahlussunnah waljamaah sesuai yg diusung oleh Syaikh Muhammad bin Abdul wahhab. Muhammad Abduh pun dengan jantan mengakui syaikh Muhammad bin Abdul Wahabbahkan ikut menyebarkan kitab beliau salah satunya Al Masail Al Jahiliyah. dan justru semestinya Muhammadiyah melakukan pembelaan terhadap manhaj salaf.

  3. soal cara metode dakwah jelas tidak bisa muhammadiyah mengikuti saudi. karena muhammadiyah tidak memiliki kuasa penuh dengan pemerintah, terlebih pemerintah indonesia memakai sistem demokrasi. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Muhammadiyah baru pada sampai taraf lisan, belum sampai pada taraf Nahi Munkar dengan tangan karena itu hak pemerintah. Sebenarnya nahi munkar berupa nasihat lebih dikedepankan oleh Salafiyin, Nahi Munkar dengan tangan harus lewat penguasa. tidak boleh dilakukan sendiri sendiri. Tapi jika Muhammadiyah berkuasa penuh terhadap pemerintah wajib buat muhammadiyah untuk nahi munkar dengan tangan. Harusnya muhammadiyah berani berdakwah pada kebenaran, perangi kesyirikan, perangi bid’ah, dengan Nasihat, karena Nasihat itu sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin.

  4. soal cara metode dakwah jelas tidak bisa muhammadiyah mengikuti saudi. karena muhammadiyah tidak memiliki kuasa penuh dengan pemerintah, terlebih pemerintah indonesia memakai sistem demokrasi. Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Muhammadiyah baru pada sampai taraf lisan, belum sampai pada taraf Nahi Munkar dengan tangan karena itu hak pemerintah. Sebenarnya nahi munkar berupa nasihat lebih dikedepankan oleh Salafiyin, Nahi Munkar dengan tangan harus lewat penguasa. tidak boleh dilakukan sendiri sendiri. Tapi jika Muhammadiyah berkuasa penuh terhadap pemerintah wajib buat muhammadiyah untuk nahi munkar dengan tangan. Harusnya muhammadiyah berani berdakwah pada kebenaran, perangi kesyirikan, perangi bid’ah, dengan Nasihat, karena Nasihat itu sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin. Dan syiah paling benci dengan Ahlussunnah Asli yaitu Ahlussunnah wal jamaah dengan manhaj salaf, atau para salafiyin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s