jamaah tabligh membongkar kedok salafi wahabi

Jamaah Tabligh, Bophal

Markas Jamaah Tabligh

Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh).

jamaah tabligh berdoa

Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita, terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai ‘biang pemecah belah umat’, membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.

Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; “Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh.

Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jamaah yang berkiblat ke India ini?

Jamaah Tabligh lebih solid dari salafi wahabi. Karakter salafi berupa “Merasa dirinya paling benar”  dan kebiasaan “mencela golongan/ulama lain”yang berseberangan pendapat dengan mereka bukanlah issu semata, tetapi dapat dibuktikan melalui fakta yang terjadi diinternal salafi sendiri.

Meskipun tidak memiliki nama resmi, symbol dan cirri-ciri sebagaimana lazimnya organisasi. Tapi sistem didalam jamaah tabligh sangat solid, efisien, dinamis dan accountable.

Saya yakin, tidak ada satu pun lembaga atau bahkan organisasi di tanah Jawa yang mengetahui dengan pasti jumlah masjid di Pulau Jawa. Tapi Jamaah Tabligh, mereka tidak hanya tahu berapa jumlahnya, tapi bahkan mendata dengan detil berapa jumlah orang yang sholat dan tidak sholat disekitar masjid. Mana yang pro dan kontra. Pokoknya data mengenai bagaimana kondisi dan situasi umat Islam setempat komplit sekomplitnya.

Jamah Tabligh dicela sesat dan bid’ah oleh wahabi : 

Ajaklah kaum salafi untuk diskusi dengan ilmu dan akhlak, karena tidak ada gunanya berdiskusi dengan orang mengabaikan akhlak dan merasa paling benar sendiri dan golongan lain selalu salah. Diskusi yang sehat adalah untuk “mencari kebenaran bukan kemenangan”, mencari hujjah yang paling kuat (quwwatut dalil). Jika meyakini hujjah lawan diskusi lebih kuat maka dengan lapang hati menerimanya, tetapi jika tidak ada titik temu dalam diskusi maka masing-masing harus menghargai perbedaan ijtihadnya.

joord jamaah tabligh

08/08/2008 17:18 WIB

Pertemuan 300 Ribu anggota Jamaah Tabligh

Pertemuan Ribuan Jamaah Tabligh
Silaturrahmi puluhan orang yang berjanggut dan berpakaian celana setumit kaki ini pun dihadiri sekitar 300 ribu orang.
icon_star_off icon_star_off icon_star_off icon_star_off icon_star_off

Foto Lain

  • Slide
  • Slide
  • Slide
  • Slide
  • Slide
  • Slide300 Ribu anggota Jamaah Tabligh berkumpuldi Kecamatan Serpong, Tangerang. Acara silaturahmi di antara para anggota dalam dan luar negeri ini digelar tiga hari. Mereka menginap di tenda-tenda.

    Perpecahan salafi menjadi beberapa kelompok antara lain: kelompok Al-Sofwah & Al-Haramain Jakarta; Imam Bukhari Solo, Al-Furqan Gresik, Islamic Center Bin Baaz & Jamilurahman As-Salafy Jogya; FKAWJ & Lasykar Jihad Jakarta; Dhiyaus Sunnah Cirebon. Ini belum termasuk kelompok salafi yang telah ditahdzir dan kemudian taubat, tetapi tidak bergabung dengan salafi “asli” dan membentuk kelompok sendiri.

    Orang awam yang baru mengenal salafi menjadi kebingungan, bagaimana mungkin satu golongan yang meyakini selamat dan masuk syurga, tetapi secara internal mereka sendiri berpecah-belah. Lantas mana golongan salafi yang asli, yang selamat dan masuk syurga itu?. Kembali kepada kaidah yang diyakini salafi: “Kebenaran hanya satu sedangkan kesesatan jumlahnya banyak sekali”, maka berarti salah satu salafi saja yang asli dan yang lain sesat dan bid’ah, atau bisa jadi semuanya salafi palsu!

    Jamaah Tabligh, siapa yang tak kenal dengan kelompok ini. Ciri mereka mudah dikenali, pakaian gamis/jubah, kepala bersorban, mata bercelak, dan seringnya bergerombol di masjid, pasar, dan tempat-tempat umum lainnya untuk mengajak orang shalat. Sepintas, memang tampilan mereka tampak islami dan nyunnah sehingga banyak banyak orang terpesona dengan tampang dan keramahan mereka dan tidak sedikit kaum muslimin yang menyambut ajaran mereka. Selain itu Jamaah Tabligh sangat kental dengan ajaran sufi.

    Daurah kitab salafy, daurah masyayikh timur tengah, daurah kitab slafay utsaimin, daurah salafy malaysia, syaikh utsaimin kafirkan imam ibnu hajar dan imam nawawi

     

    SS SYEIKH MUHAMMAD SOLEH AL-UTHAIMIN


    Kitab Syeikh Liqa’ Bab al-Maftuh 8,
    yang diselia Dr Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al-Thayyar,
    Cetakan Dar al-Wathan, Riyadh

    Garisan kuning: Soalan penanya : “Sbgmana kita menjadikan al-Nawawi dan Ibn Hajar al-Asqalani kedua-duanya bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah?

    .

    Jawapan : “Berdasarkan kepada apa yang dimazhabkan (diputuskan) pendapat mereka di dalam isu-isu perbahasan Nama-nama dan Sifat-Sifat Allah, kedua-dua mereka bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah (kafir).”

    .

    Soalan susulan : “Secara mutlak, mereka bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah?

    Jawapan : “Kita tidak menjadikannya secara mutlak. Saya beritahu anda bahawa barangsiapa yang menyanggahi golongan al-Salaf dalam memahami Sifat Allah tidak diberi gelaran mutlak bahawa ia bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah. Bahkan ditaqyidkan…hingga bila dikatakan dia (seseorang itu) Ahli Sunnah Wal Jamaah (mungkin) dari sudut feqhiyyah contohnya. Adapun jika tareqat (metodologinya) itu bid’ah..ia bukan dari Ahli Sunnah Wal Jamaah.”

    .

    Dengan memahami karakter asli salafi, kita bisa berlapang dada jika dicela sesat dan bid’ah oleh salafi, karena jangankan kelompok non salafi sesama salafi sendiri saja saling mencela sebagai sesat dan bid’ah.

    Sudahkah Anda Mengenal Jama'ah Tabligh
    GO  TABLIGH
     
    Jamaah Tabligh termasuk ASWAJA , mereka berupaya mengislamkan orang Nasrani dan Hindu tetapi malah dilaknat oleh wahabi
    Jamaah Tabligh Versus Wahabi !! Siapa kuat ?? Entahlah, yang jelas JT yang berdakwah bagai merayap diatas bumi masih terlalu bersabar terhadap keganasan wahabi.  TERKESAN JT lemah pada wahabi !
    Jamaah Tabligh didirikan oleh syeikh Muhammad Ilyas bin Syeikh Muhammad Ismail, bermazhab Hanafi, Dyupandi, al-Jisyti, Kandahlawi (1303-1364 H). Syeikh Ilyas dilahirkan di Kandahlah sebuah desa di Saharnapur, India. Ilyas sebelumnya seorang pimpinan militer Pakistan yang belajar ilmu agama, menuntut ilmu di desanya, kemudian pindah ke Delhi sampai berhasil menyelesaikan pelajarannya di sekolah Dioband, kemudian diterima di Jam’iyah Islamiyah fakultas syari’ah selesai tahun 1398 H. Sekolah Dioband ini merupakan sekolah terbesar untuk pengikut Imam Hanafi di anak benua India yang didirikan pada tahun 1283H/1867M.Di Indonesia, hanya membutuhkan waktu dua dekade, Jamaah Tabligh (JT) sudah menggurita. Hampir tidak ada kota di Indonesia yang belum tersentuh oleh model dakwah mereka. Tanda kebesaran dan keluasan pengaruhnya sudah ditunjukkan pada saat mengadakan “pertemuan nasional” di Pesantren Al-Fatah Desa Temboro, Magetan, Jawa Timur pada tahun 2004. Kenyataan ini sungguh di luar dugaan untuk sebuah organisasi yang relatif baru dan tidak mempunyai akar di Indonesia.Merebaknya JT sebenarnya hanyalah salah satu sekuen dari perkembangan serupa di banyak negara. Kelompok ini sekarang sedang mewabah di seluruh dunia, dan menjadi ujung tombak gerakan islamisasi di negara-negara atau daerah-daerah non-muslim. Mereka bisa karena menawarkan format Islam yang lebih ramah, sederhana, sentuhan personal serta tekanan pengayaan spritualitas personal. Format semacam ini bagaimanapun mengisi ruang kosong yang ditinggakan oleh kapitalisme dan modernisme.

    kesesatan jama'ah tabligh

    Mengenal Lebih Dekat Jamaah Tabligh

    http://www.griyasunnah.com/wp-content/uploads/2010/07/jamaah-tabligh-kenyataan-pengakuan.jpg

    Sebuah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Sunnah dan Syi’ah dalam 92 kitab yang berbeda menyatakan, “Barang siapa yang mati tanpa mengenal Imam Zaman as, ia akan mati dalam keadaan jahiliah.” Kata “mati” dalam hadis ini ditafsirkan oleh ulama sebagai tujuan kehidupan duniawi ini.

    Al-Quran menyatakan, “Setiap jiwa akan merasakan kematian”. Dalam berbagai tempat dalam kitab-Nya, Allah menerangkan bahwa tujuan kehidupan duniawi ini tidak berarti berakhirnya (perjalanan) jiwa. Sebaliknya, kematian semata-mata merupakan perpindahan dari kefanaan pada keabadian.

    Suatu saat, Jabir meminta Imam Shadiq as untuk menerangkan filsafat kematian. Imam as menerangkan, “Kematian bukan kehancuran sebagaimana orang kira melainkan perubahan bentuk dalam kehidupan. Jika seorang Muslim memiliki keimanan dan kearifan, ia tidak akan takut akan transformasinya. Namun, jika saya berdebat dengan seorang non-Muslim dan ia menanyakan kepadaku mengapa Allah menjadikan manusia mati yang ia ciptakan dan ia beri kehidupan? Aku akan menjawabnya bahwa kematian merupakan suatu pasase ke kehidupan lain dan bahwa dalam fase berikutnya, ia diberi kehidupan lagi.

    Dalam Surah al-Hadid ayat 19, Allah Swt menjanjikan pahala bagi mereka “yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya”. “Mereka, kata Allah, “orang yang adil dan para syuhada dalam pandangan Tuhan mereka.”

    Betapa agungnya penghormatan Allah kepada mereka yang beriman kepada para rasul-Nya! Mereka dipandang sebagai “para syuhada dalam pandangan Tuhan mereka”. Dengan penuh kasih, Allah menjamin, “mereka mendapatkan upah mereka dan cahaya mereka.” Namun, di sisi lain, mereka yang mengingkari para utusan Tuhan dan menolak untuk mengakui mereka dipastikan sebagai penghuni neraka. Allah Swt berfirman, “Kecuali orang-orang kafir, yang telah mendustakan ayat-ayat Kami, mereka adalah para penghuni neraka.”

    Arti penting mengenal Imam Zaman as ditekankan oleh kenyataan bahwa para maksum menjamin kematian jahiliah bagi siapa saja yang lalai menunaikan kewajiban ini, kita diperintahkan bahwa, “…barangsiapa yang mati tanpa mengenal Imam Zaman as, matinya adalah matinya jahiliah.” Apakah yang diisyaratkan dengan kata “mengenal” dalam hadis yang disebutkan tadi? Bagaimana seharusnya kita mengenal imam kita? Apakah ini berarti kita harus bertemunya secara pribadi, mendengarnya, dan memandangnya ataukah apakah itu hanya menuntut kita untuk mendapatkan pengetahuan tentangnya dan mengetahui siapa sebenarnya ia?

    Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dengan kecintaan kepada Muhammad dan keluarganya, ia termasuk golongan syuhada.”

    Hadis ini dibenarkan oleh ayat dari Surah Hadid yang dinukil di atas. Allah berfirman, Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka itu orang-orang Shiddiqien dan para syuhada di sisi Tuhan mereka. (57:19) Mengenal dan menghormati para nabi dan para imam secara berkali-kali ditekankan dalam agama kita karena dalam kitab-Nya, Allah mengandarkan mereka sebagai orang-orang “mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.”

    Dalam surah an-Nisa ayat 59, Dia berfirman, Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Hadis-hadis menerangkan bahwa “ulil amri” yang ditaati bukanlah para khalifah, presiden, raja, ataupun penguasa yang dipilih oleh mereka sendiri melainkan orang-orang yang telah diberi otoritas oleh sang Pencipta sendiri. Al-Khaliq memilih Nabi saw dan Ahlulbaitnya sebagai model dan guru bagi umat manusia. Dia menganugerahkan kepada mereka ilmu dan otoritas khusus dan disebutkan dalam surah al-Ahzab ayat 33, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlulbait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

    Karena itu, kita harus mengenal dan mengikuti para imam yang telah disucikan dan dibersihkan oleh Allah sendiri sebagai guru dan teladan bagi manusia

 

2 comments

  1. Saya hanya yakin kepada yang Allah SWT, firmankan yaitu :

    Ini cuplikannya saja;
    “Lebih banyak manusia tidak bersyukur”,
    ” Kebanyakan manusia tidak tahu”,
    ” Aku berikan Dua (2) Petunjuk”,
    ” Aku Jadikan kalian berpasangan (2)”,

    Dan setelah Allah SWT ciptakan 14 Maksumim, maka dengan sendirinya akan tercipta atas pilihannya adalah 14 Dhalimin dan itu Notabene telah diwakili oleh Bani Umayyah yang Kekhalifahannya berhenti pada angka 14, dan dilalahnya Surat dan Ayat yang menyatakan tentang Kepemimpinan ternyata 12 saja, yang berarti sebagai penegasan terhadap Informasi yang disampaikan oleh Shahih Muslim dan Buchori ternyata Rosul hanya menyampaikan Penerusnya hanya 12, sementara Al Azhab 33 (QS [33]:33) – Jumlahnya 12, apa ini kebenaran atau code yang diselipkan oleh Allah SWT, hanya untuk menguji Muslim secara keseluruhan, hanya tergantung bagi yang mencari atau cuek bukek, sehingga ga tahu apa-apa dan bagi saya gagalnya PILKADA ketika Umar – Mati, hanyalah untuk mempermudah, bahwa Islam terbagi hanya kepada Kedua Kelompok saja :

    1. Syiah Ali – Menjadi Syiah 12 Imam. (Al Haq).
    2. Syiah Muawiyah – Sunni (?)

    Syiah Muawiyah – sudah melanggar

    Al Baqarah 124 dan Luqman (Terkhusus Guru Utamanya yang dicontoh dia).
    An-Nisa 59 dan An-Nisa 93 – Sudah tidak bernilai lagi bagi mereka, karena bila bernilai – maka tak mungkin mereka melakukan Genocide terhadap Keluarga Rosul via racun dan dilanjutkan oleh Bani Abasiyah – Yang lebih sadistis bila dicerna dengan Nalar Yang Sehat – Kecuali Tutup mata dengan Kaca mata Kuda.

    Sementara Pelanjutnya, hanya punya nilai yang sama seperti Ketetapan Konsili Nicea – Hanya untuk menetapkan Perubahan Monotheis menjadi Trinity dan Umat mengamininya.

    Sementara Muawiyah dengan segala Kelihaiannya Bermain Politik, berhasil :

    Melenyapkan Keutamaan Keluarga Rosul, menjadi tak berarti apa-apa dan tidak ada satupun informasi tentang hadist-hadist yang diteruskan atau disampaikan oleh :

    Fatimah Az Zahra as,
    Ali bin Abi Thalib as,
    Hasan as, dan
    Husein as.

    Yang seolah-olah Rosul telah gagal mendidik keluarganya, malah mengutamakan Para Sahabat dan ini berrtentangan denga Firmman-Nya : ” Hindarkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka”, seperti Hadist Ahad yang disampaikan ” Abubakar” —Bahwa tidak ada waris dari nabi —Yang benar-benar bertolak belakang dengan Firman-Nya.

    Untuk Rosul dan Keluarganya – tak mungkinlah seperti diatas, tapi memang ada ” Grand Plan ” yang sesuai atau equivalent dengan Konsili Nicea. salam

  2. Believe in Allah SWT & Rasulullah Muhammad SAW saja deh.. Jalanin apa yang di perintahkan & jauhi apa yang di larang. Udah, itu cukup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s