Subhanallah, Jasad Sahabat Nabi saw yang Dibongkar Wahabi Masih Utuh ! Mu’awiyah (RAJA TIRAN) pembunuh Hujur bin Adiy dianggap adil oleh wahabi

Tanggal: 2013/05/03 – 09:32

 

Suriah:
 Biadab, Teroris Wahabi Bongkar Makam Sahabat Nabi
Berdasarkan laporan berbagai media, kelompok teroris Suriah awalnya merusak pagar makam sahabat Nabi Saw Hujr bin Adi kemudian menggalinya dan membawa jenazahnya ke tempat yang tidak diketahui. Menurut kesaksian saksi mata, disebutkan, jenazah sahabat Nabi Saw dan juga Imam Ali as tersebut masih utuh. Para tokoh agama dan masyarakat mengecam aksi penodaan terhadap sahabat Nabi Saw tersebut. 

 

Biadab, Teroris Wahabi Bongkar Makam Sahabat Nabi

 teroris Wahabi di Suriah semakin menggila, bukan hanya membunuhi warga sipil yang tidak berdosa dengan cara keji, merusak dan merubuhkan masjid namun juga membongkar kuburan sahabat Nabi Saw. Makam salah seorang sahabat Nabi Saw yang bernama Hujr Ibn Adi al Kindi yang terletak di distrik Adra dekat Damaskus dan mengambil jenazahnya dan membawanya ke tempat yang tidak diketahui kamis (2/5).

Berdasarkan laporan berbagai media, kelompok teroris Suriah awalnya merusak pagar makam tersebut dan kemudian menggalinya. Menurut kesaksian saksi mata, disebutkan, jenazah sahabat Nabi Saw dan juga Imam Ali as tersebut masih utuh.

Hujr Ibn Adi al Kindi adalah salah seorang sahabat dekat Nabi Muhammad Saw dan juga sahabat Imam Ali as. Ia memimpin pasukan Muslim untuk meraih kemenangan dalam beberapa pertempuran penting. Diantaranya perang kemenangan merebut kota Syam.

Hujr dan anak-anaknya telah mengorbankan diri mereka untuk mendukung Imam Ali as dan keluarga Rasulullah Saw. Mereka akhirnya dibunuh atas perintah Khalifah Umayyah, Muawiyah bin Abu Sufyan pada tahun 660 Masehi atau tahun 51 H (versi lain menyebutkan tahun 53 H).

Hujr bin Adi telah masuk Islam semenjak masih remaja bersama saudara laki-lakinya Hani bin Adi karena tertarik dengan akhlak dan apa yang Rasulullah ajarkan. Tidak lama setelah beliau menyatakan diri sebagai muslim, Rasulullah Saw meninggal dunia. Beliau dikenal dengan akhlaknya yang mulia, karena itu beliau dijuluki dengan Hujr al Khair. Beliau juga dikenal sebagai sahabat terdekat dan pendukung Imam Ali as. Dimasa kekhalifaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, beliau memegang posisi penting dalam pemerintahan termasuk bergabung dalam tiga perang penting menghadapi fitnah kaum pemberontak. Beliau bergabung di perang Siffin, Nahrawan dan perang Jamal.

Setelah kesyahidan Imam Ali as dan terjadinya perdamaian oleh Imam Hasan as sehingga tampuk kekhalifaan Islam berada ditangan Muawiyah, dimulailah masa-masa sulit bagi umat Syiah yang merupakan pengikut dan pendukung Imam Ali as. Atas perintah Muawiyah, Syiah mendapat perlakuan zalim dan tidak adil dari penguasa-penguasa setempat yang kesemuanya berasal dari Bani Ummayyah, termasuk untuk menangkap dan menyiksa Hujr bin Adi, namun Mugairah yang saat itu menjadi hakim, karena mengetahui kedudukan dan posisi sahabat Imam Ali as itu ditengah-tengah masyarakat menolak perintah tersebut. Diriwayatkan dia berkata, “Saya tidak punya kekuatan dan keberanian untuk menghabisi nyawa orang yang dikenal terbaik dan paling shalih di kota ini, sebab tahu, kematiannya akan mengangkat derajatnya di sisi Allah sementara saya akan sengsara di akhirat nanti.

Karena tidak seorang pun yang berani mendekati apalagi hendak membunuh Hujr bin Adi sebagaimana perintah Muawiyah, akhirnya Muawiyah sendiri yang melakukannya. Bersama dengan 6 orang lainnya, Hujr diperhadapkan dengan Muawiyah dan atas perintah Muawiyah, ketujuh orang shalih tersebut dibunuh satu demi satu. Saat tiba giliran Hujr, ia meminta kepada Muawiyah untuk diizinkan mendirikan shalat dua raka’at untuk yang terakhir kalinya. Muawiyahpun mengizinkan. Hujrpun mendirikan shalat terakhirnya. Ia shalat dengan sangat khusyuk dengan berlinangan air mata, bacaan shalat dan do’a-do’anyapun sangat panjang. Sehabis shalat ia ditanya, apakah ia sengaja memanjangkan shalatnya karena takut pada kematian?. Hujr menjawab, “Demi Allah, sepanjang umur saya, saya tidak pernah shalat dua rakaat sesingkat ini, karenanya jangan berpikir saya takut pada kematian. Saya meminta, setelah saya dieksekusi, jangan melepaskan ikatan pada tangan dan kaki saya, dan jangan membersihkan darah di tubuh saya, karena saya hendak berhadapan dengan Muawiyah di akhirat nanti dengan keadaan seperti itu.”

Berita kematian Hujr bin Adi dengan segera tersebar luas di negeri-negeri muslim. Kaum muslimin mengecam dan mengutuk tindakan tersebut, mereka mulai geram dengan kezaliman Bani Umayyah. Ketika Aisyah bertemua dengan Muawiyah pada musim haji, Aisyah bertanya kepada Muawiyah, “Mengapa engkau membunuh Hujr dan sahabat-sahabatnya? Apa kau tidak tahu apa yang pernah saya dengar Rasulullah mengenai Hujr? Nabi bersabda, kelak ada tujuh orang yang terbunuh, yang dengan kematian tujuh orang itu menyebabkan Allah dan para penghuni langit menjadi sangat murka kepada pelakunya.”

Muawiyah menjawab, “Sewaktu peristiwa tersebut, tidak ada seorangpun yang berakal yang mengingatkan dan mencegah saya melakukan perbuatan tersebut.”

Didetik-detik kematian Muawiyah, diriwayatkan ia berkata, “Wahai Hujr, karena kamu saya mengalami derita dan siksa berkepanjangan ini.”

Makam mulia sahabat nabi dan sahabat Imam Ali as tersebut dimuliakan dan banyak diziarahi kaum muslimin. Penduduk setempat mengagungkan kuburan tersebut sampai akhirnya kelompok teroris Wahabi merusak dinding-dinding makam, membongkar dan melecehkan jenazah sahabat Nabi Saw tersebut.

Selain ulama di kawasan Timur Tengah, ulama di Indonesia pun angkat bicara soal pembongkaran makam sahabat Nabi Muhammad SAW, Hujr bin Adi, di kawasan Adra, yang tidak jauh dari Damaskus, oleh para pemberontak Suriah.

Menurut Sekjen Ahlul Bait Indonesia (ABI), Ahmad Hidayat, pembongkaran makam tersebut merupakan satu petaka dan musibah dalam dunia islam, dan bahkan musibah bagi manusia dan kemanusiaan. Karena tidak ada ajaran agama manapun di dunia yang membenarkan kebencian kepada satu kelompok menjadi alasan untuk menganiaya jenazah yang sudah meninggal dunia.

Apalagi dalam agama Islam, kata Ahmad Hidayat, Islam sangat menghormtai dan menghargai setiap jenazah yang sudah meninggal dunia, siapapun itu. Apalagi ini jenazah sahabat Rasulullah SAW yang sangat dimuliakan dan dihormati oleh seluruh umat Islam di dunia.

“Kelompok yang membongkar makam itu adalah kelompok takfiri salafi wahabi yang sebenarnya mereka bukan muslim, tapi penyembah hawa nafsu. Di dalam al Quran disebutkan ada kelompok manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan. Karena permusuhan itu, rasionalitas mereka hilang dan mereka mengikuti hawa nafsu. Mereka pun menyembah hawa nafsunya karena kebencian kepada kelompok lain,” kata Ahmad Hidayat

Karena itu, Ahmad Hidayat juga mengajak umat Islam di Indonesia untuk tidak ikut kelompoktakfiri salafi wahabi, karena selain bertentangan dengan nilai-nilai agama, juga bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Umat Islam di Indonesia harus membuka mata dan telinga untuk mewaspadi gerakan ini.

“Mereka membawa paham yang  sama sekali tidak menunjukkan ajaran agama Islam yang suci dan agung. Dan saya yakin, tidak ada satu ulama pun di dunia, yang memiliki akal sehat, yang membenarkan pembongkaran makam sahabat Nabi,” demikian Ahmad hidayat.

Sebagaimana dilansir beberapa media seperti Al Alam dan Al Manaar pada Kamis malam (2/5) waktu setempat, sekelompok pemberontak membongkar makam Hujr bin Adi. Hujr bin Adi merupakan salah satu sahabat dekat Rasulullah dan ikut terlibat dalam berbagai peperangan mempertahankan agama. Di masa Khalifah Imam Ali bin Abi Thalib, Hujr ikut membela Imam dalam perang Jamal, Siffin dan perang Nahrawan.

Kelompok bersenjata Jabhah Nushrah (Front Penolong) yang sedang menentang rezim Basyar Asad di Suriah mengatakan bahwa mereka bertanggungjawab atas pembongkaran kuburan seorang sahabat Nabi SAW. yang bernama Hujr bin Adi dan memindahkannya ke suatu tempat yang tidak diketahui. Mereka melakukan itu karena kaum Syiah acap kali menggunakannya untuk beribadah (tabaruk).

DR. Abdul Ghafar, dosen Universitas Al-Azhar Mesir mengatakan bahwa pembongkaran kuburan seorang sahabat Nabi SAW. merupakan tindak pidana yang sangat tidak bisa diterima. Tindakan ini sangat meremehkan simbol-simbol Islam. Dan para pelakunya adalah orang-orang yang telah keluar dari agama.

DR. Muhammad Kamal Imam Mantan Ketua Bidang Syariah Islam Fakultas Hukum Universitas Alexandria mengatakan bahwa kemuliaan orang-orang yang telah meninggal dunia tidak boleh dinodai. Mengganggu mayat seorang sahabat Nabi SAW. merupakan tindak pidana yang sangat bertentangan dengan syariah Islam.

Hal senada juga diungkapkan oleh DR. Ibrahim Abdu asy-Syafi Mantan Dekan Fakultas Studi Ilmu Islam dan Arab Universitas Al-Azhar Mesir. Dia menegaskan bahwa Islam mengecam segala bentuk tindak radikal dan teror, seperti pembongkaran kuburan seorang sahabat Nabi SAW. yang mulia. Itu justru akan semakin memperkeruh situasi di Suriah dan memecah belah umat Islam di sana, seperti yang terjadi di Irak. Dan satu-satunya yang akan mengambil keuntungan dari kejadian ini adalah Zionis Israel.

Asy-Syafi meminta untuk diadakan konferensi para ulama Suriah dan ulama Al-Azhar demi menyelesaikan fitnah yang sekarang terjadi di Suriah. Semua pihak terkait diminta berkumpulkan dan membahas solusi terbaik demi menghentikan pertumpahan darah yang terjadi seperti saat ini.

Sementara itu, DR. Abdul Khaliq Syarif anggota Persatuan Ulama Islam Dunia berpendapat bahwa tragedi pembongkaran kuburan sahabat Nabi SAW. di Suriah sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam. Karena Islam sangat menghormati manusia, baik saat hidup maupun setelah meninggal dunia. Dia menegaskan bahwa patung-patung yang mengelilingi Ka’bah sebelum diutusnya Nabi SAW. tidak pernah beliau dihancurkan. Beliau hanya memindahkannya saja.

Sedangkan Prof. DR. Ibrahim Khuli anggota Front Ulama Al-Azhar Mesir mengecam keras tindakan kelompok bersenjata Suriah yang melakukan pembongkaran kuburan tersebut. Dia menjelaskan bahwa manhaj Al-Azhar sangat jelas, yaitu menentang segala bentuk gangguan terhadap seorang mayit secara umum, dan para sahabat Nabi SAW. secara khusus. Karena mereka memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT. Dan Hujr bin Adi memiliki kedudukan sangat baik di sisi Rasulllah SAW.

See full size image

Karena Kejahatan, Kekejaman Dan Dosa-dosa Besarnya, Sebelum Matinya, Mu’awiyah Mengalami Gangguan Jiwa!

Persembahan Untuk Para Pemuja Gembong Kaum Pemberontak !

Sulit rasanya menemukan tandingan di antara para tiran dan penguasa kejam untuk kejahatan, dosa-dosa besar, kabâir dan kekejaman-kekejaman yang telah dilakukan Mu’awiyah bi Abi Sufyan selama ia berkuasa, baik selama dua puluh tahun menjadi Gubernur maupun setelah ia merampas kekuasaan dari kaum Muslimin dan menjadi RAJA TIRAN !

Dan akibat dari bertumpuknya dosa dan kejahatan kemanusiaan yang telah mencabut dari dalam jiwanya sisa-sisa nilai kemanusian maka ia benar-benar telah berpengaruh pada jiwanya. Sebab setiap dosa, khususnya yang mengangkut hak manusia banyak, dan terkhusus lagi yang terkait dengan para Wali Allah dan hamba-hamba kekasih-Nya pasti berpengaruh dalam kestabilan kewarasan jiwa pelakunya!

Para sejarawan Islam melaporkan bahwa menjelang kematianya Mu’awiyah mengalami gangguan jiwa. Ia seakan melihat sesuatu yang menakutkannya. Ia menjerit-jerit ketakutan! Ia mengomel-ngomel dengan kata-kata yang tidak dipahami! Meminta-minta minum, setelah diberinya minum berkali-kali namun ia pun tak terpuaskan dahaganya! Sampai-sampai ia tak sadarkan diri, terkadang sehari dan terkadang dua hari baru siuman! Dan setelah siuman ia pun  menjerit-jerit: “Apa urusanku denganmu hai Hujur bin ‘Adiy!!    “Apa urusanku denganmu hai ‘Amr bin Hamq!! “Apa urusanku denganmu hai putra Abu Thalib!!

Imam ath Thabari melaporkan dalam Târîkh-nya,4/241 bahwa Mu’awiyah dalam sakitnya mengalami naffâtsât!

Semua itu adalah akibat dosa dan kejatahannya dalam membangkang dan memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib dan kemudian merampas kekhalifahan dan memaksakan kekuasaanya atas umat Islam dengan tangan besi! Dan juga akibat dari dosa-dosanya dengan membunuh para sahabat dan para Wali Allah seperti Hujur bin Adiy dan kawan-kawan! Mu’awiyah seakan atau boleh jadi menyaksikan ruh-ruh suci dan baying-bayang mereka mengejar-ngejarnya!

Ibnu Katsir –yang sangat dikenal membela Mu’awiyah dan bani Umayyah, musuh-musuh Khalifah Ali ra dengan berbagai cara dan dengan seribi satu alas an palsu- telah melaporkan dalam kitab al Bidâyah wa an Nihâyah-nya,8/52 (Cet. Dâr al Hadîts- Cairo) bahwa Ibnu Jarir ath Thabari,4/191meriwayatkan: “Menjelang matinya, Mu’awiyah yugharghir, mengeluarkan suara dari kerongkongannya seakan suara binatang yang sedang disembelih sambil berkata, “Sesungguhnya hariku darimu sangat panjang hai Hujur bin Adiy! Ia ulanginya tiga kali!”

Keterangan serupa juga telah dilaporkan oleh Ibnu al Atsîr dalam al Kâmil-nya,3/338.

Dalam kitab al Futûh-nya Ibnu al A;tsum melaporkan bahwa: Menjelang matinya Mu’awiyah menangis karena apa yang ia alami… dalam sakitnya itu ia menyaksikan banyak hal yang tidak menggembirakannya! Sampai-sampai ia mengoceh seperti ocehan seorang yang sedang sekarat. Ia berkata, ‘Beri aku minum! Beri aku minum! Ia pun minum banyak air tapi tidak terpuaskan rasa hausnya! Bahkan terkadang ia tak sadarkan diri seharian dan terkadang dua hari. Dan ketika ia siuman dari sekaratnya itu ia menjerit-jerit, “Apa urusanku denganmu hai Hujur bin ‘Adiy!!    “Apa urusanku denganmu hai ‘Amr bin Hamq!! “Apa urusanku denganmu hai putra Abu Thalib!!

ustad husain ardilla:

Inilah nasin akhir Mu’awiyah si gembong pemberontak yang berkuasa secara kejam dan tiran atas umat Islam bak Fir’aun! Karenanya tidaklah heran apabila Nabi Muhammad saw. telah menyebut MU’AWIYAH dalam hadis shahih sebagai KELOMPOK PEMBERONTAK  seperti disabdakan Nabi Muhammad saw dalam hadis shahihnya pula! (seperti akan kami buktikan satu persatu keshahihan hadis-hadis di atas dalam artikel khusus. Nantikan!

Dan tentunya siksa Allah yang sangat pedih telah menantinya di alam barzakh dan alam akhirat nanti! Dan Allah Maha Adil, tiada menyamakan kaum munafik dangan kaum Mukmin di dunia maupun di akhirat nanti!

Sekilas Tentang Kejahatan  Mu’awiyah Atas Hujr bin Adiy Dkk!

Adapun tentang kejahatan Mu’awiyah yang berakhir dengan pembunuhan terhadap Hujur bin Adiy –seorang sahabat mulia Nabi saw. yang dikenal sangat shaleh dan gigih dalam berjuang dan banyak jasanya dalam perjuangan Islam-, ‘Amr bin Hamq dkk. maka akan kami habas secara khusus dalam artikel-artikel kami tentang hal ini. Hanya saja di sini kami ingin sampaikan bahwa pembunuhan keji yang dilakukan Mu’awiyah terhadap Hujur dan kawan-kawan itu dikarenakan Hujur dan kawan-kawan enggan menuruti Mu’awiyah dan aparatnya untuk mencaci dan melaknati Khalifah Ali ra.!

Demi keimanan dan kesetiaan mereka kepada Imam mereka; Ali bin Abi Thalib ra mereka rela mempersembahakan nyawa mereka! Semoga Allah meridhai dan merahmati mereka dan mengutuk Mu’awiyah dan semua yang terlibat dalam pembunuhan keji terhadap jiwa-jiwa mukminah pecinta Rasul dan Ahlulbaitnya yang dihormati Allah SWT.


Ketika di sebutkan riwayat shahih tentang matinya Muawiyah di luar agama islam, para Wahabi Nashibi membela Muawiyah dengan mengatakan bahwa Imam Hasan (as) telah melakukan perjanjian damai dengan Muawiyah, apakah berarti Imam Hasan (as) salah dalam melakukan hal tersebut? Bahkan lucunya mereka mengolok-olok syiah karena menganggap syiah bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh Imam Hasan (as). Yang sering muncul dari ucapan mereka (para nashibi) :“Mana mungkin Hasan bin Ali bin Abi Thalib berdamai dengan Muawiyah jika Muawiyah kafir, salah, musuh ahlul bait, dll?”

Untuk para Wahabi Nashibi, kenapa kalian heran dengan hal tersebut..? bukankah Rasulullah (saww) telah melakukan perjanjian dengan orang kafir dalam perjanjian Hudaibiyah..?

Mengapa Rasulullah (saww) berdamai dengan kafir Mekah di Hudaibyah? Padahal orang-orang kafir Mekah dikenal dengan karakter mereka buruk dan sifat jahat mereka, namun Nabi (saww) membuat perjanjian damai dengan mereka. Beliau (saww) membuat perjanjian yang mengikat dengan orang kafir, salah satu yang bahkan berarti (dengan syarat) bahwa mereka tidak akan melakukan haji, dan  setiap orang kafir harus dikembalikan ke anggota suku mereka. Bahkan pada perjanjian tertulis tersebut Nabi (saww) menerima syarat dihilangkan kata “Rasulullah” dan hanya menyebut nama beliau (saww). Dan anehnya masih ada juga sahabat yang meragukan keputusan Rasulullah (saww)..!

.

Perjanjian Imam Hasan (as) Dengan Muawiyah

Dalam Al Bidayah wa Al Nihayah (8 /80) “Dzikr 57 H”, tercatat :

“Ketika Muawiyah berdamai dengan Hasan, ia (muawiyah) membuat janji bahwa kepemimpinan akan pindah kepada Hasan setelahnya (setelah Muawiyah)”

Dalam Tarikh ibn Asakir (13/ 280 ) tercatat bahwa SETELAH Imam Hasan (as) melakukan perjanjian dengan Muawiyah, Malik bin Dhumrah berkata kepada Hasan : “Kau telah menghitamkan wajah orang-orang mukmin”

Hasan menjawab : “Wahai Malik, jangan katakan itu, aku khawatir umat muslim di basmi dari muka bumi. Keinginanku adalah bahwa beberapa orang akan tetap di bumi yang akan menyebutkan Islam kepada orang-orang”

Imam kami melakukannya untuk menyelamatkan kehidupan umat muslim sebagaimana cara yang sama dilakukan oleh Nabi (saww) yang berdamai dengan kafir Mekah untuk menghindari pertumpahan darah Muslim, dan semua itu jelas bahwa Imam Hasan (as) melakukan hal yang sama ketika ia melakukan perjanjian dengan Muawiyah..! Dan kami tidak akan meragukan imamah dari Imam Hasan (as) atas perjanjian yang Beliau (as) lakukan dengan Muawiyah walaupun Muawiyah adalah seorang NASHIBI..!

.

Ucapan-ucapan Tentang Muawiyah

Muhammad bin Abu Bakar berkata kepada Muawiyah (Muruj al-Dzahab j.3 h.20) :

“Kau adalah Anak terkutuk dari orang (ayah) terkutuk”

Dan tercatat dalam Al Kamil fi Tarikh (3/180) dan Tarikh Ibn al Wardi  (1/245)

“Setelah wafatnya Muhammad bin Abu Bakar rakyat Mesir memberikan baiat untuk Muawiyah. Bersamaan kejadian tersebut Ummul Mukminin Aisyah mengutuk Muawiyah dan Amru  bin Ash setiap selesai shalat”.

.

.

Pada tulisan yang lalu telah disebutkan bahwa Ali bin Ja’d telah mengatakan bahwa Muawiyah mati bukan dalam agama Islam. Dan dibawah ini kami akan membawa riwayat dari Tarikh Baghdad (6/248) : http://islamport.com/d/3/tkh/1/79/2061.html (online)

العتيقي: مات معاوية على غير ملة الإسلام

Al ‘Atiqi berkata : “Muawiyah mati di luar agama Islam”

Para Nashibi ingin menebar keraguan dengan melemahkan riwayat diatas demi membela Muawiyah dengan cara melemahkan salah satu perawinya yaitu Yahya bin Abdul Hamid Hamani, padahal ia salah satu perawi Muslim, dan dinyatakan Tsiqah oleh ulama Sunni sendiri, diantaranya :

  1. Yahya Ibn Mu’in (Tahdib al-Kamal j.31, h.423),
  2. Ibn Numair dan Muhammad al Busyanji (Tahdib al-Tahdib j.11, h.248)
  3. Allamah Ibn Syahin memasukkan Yahya bin Abdul Hamid Hamani dalam kitabnya “Tarikh Asma al-Tsiqat” h. 270.

Adz-Dzahabi dalam Siyar Alam Al-Nubala (17/602) mencatat tentang Al-Atiqi :

“Seorang Imam Muhadist, Tsiqah, Abu al-Hasan Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Mansur al-Baghdadi al-Atiqi”

Dan Al-Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad (5/143) mencatat :

“Aku mencatat darinya, dan dia Shaduq”

.

Qays bin Sa’d : Muawiyah adalah Berhala Jahiliyah

Dalam al Bidayah (8 /108) “Dzikr Qays bin Sa’d bin Ibada” tercatat bahwa Qays berkata kepada Muawiyah :

“Wahai Muawiyah..! Kau adalah berhala di antara berhala-berhala Jahiliyah.”

Dalam Muruj al-Dzahab (8 /125) :

“Anakmu adalah penyembah berhala seperti dirimu”

.

Mencintai Imam Ali (as) sekaligus mencintai Muawiyah?

Imam Mawardi dalam Kitabnya  Adab al-Dunya wa al-Din (h.197) dan Syamsudin Abu Al-Barakat Al-Dimasyqi Asy-Syafi’i (w.871 H) dalam Jawahir al-Matalib (2/158) mencatat  :

“Seseorang menghampiri Ali dan berkata kepadanya : “Aku mencintaimu dan mencintai Muawiyah. Dia (Ali) ra menjawab : ‘Sekarang kau hanya mempunyai satu mata, lebih baik disembuhkan atau menjadi buta (sekalian)”

Jawaban dari Pintu Kota Ilmu Nabi diatas adalah sebenar-benarnya logika, yaitu TIDAK bisa mencintai orang yang di dzalimi dan dalam waktu yang sama mencintai orang yang mendzalimi .

See full size image

Kejahatan Mu’awiyah yang membunuh dan memberontak membuktikan hadis sunni dipengaruhi faktor politik pada penyusunannya

Sejak akhir-akhir ini telah wujud kumpulan-kumpulan yang telah mempergunakan hadis-hadis Syiah dalam menjalankan kegiatan fahaman mereka. Yang pertama adalah dari kumpulan Syiah sendiri, yang digelar “rijalist total”. Kumpulan ini menjadikan ukuran sanad sebagai pengukur 100% kesahihan sesebuah riwayat itu. Jika wujud sedikit sahaja masalah dalam rantaian perawi, maka lantas, hadis itu ditolak, tanpa mempedulikan matan hadis tersebut.

Golongan kedua, adalah tidak lain dan tidak bukan golongan nasibi sendiri, yang mana kita perhatikan sejak akhir-akhir, kerap mengorek hadis-hadis Syiah, dengan harapan menjumpai hadis yang penuh kotradiksi, lalu menggunakannya untuk mendiskredit Syiah. Sudah pasti usaha mereka akan menjadi sia-sia. Pensahihan sesebuah hadis bukanlah semata-mata bergantung kepada isnad dan kekuatan perawi hadis, malah yang paling utama adalah matannya(isi hadis tersebut). Isinya lah yang menentukan samada hadis itu sahih atau tidak.

Ketetapan ini bukanlah ditetapkan oleh orang lain, melainkan oleh Allah dan para hujjahNya juga:

1) Tafseer Al Ayyashi – Bab Meninggalkan Hadis Yang Bercanggahan Dengan Quran

عن محمد بن مسلم قال: قال ابوعبدالله (عليه السلام): يا محمد ما جائك في رواية من بر أو فاجر يوافق القرآن فخذ به، وما جائك في رواية من بر او فاجر يخالف القرآن فلا تأخذ به

Abu Abdillah (as) bersabda:

 

“Wahai Muhammad, apabila sampai kepada kamu sebuah riwayat samada dari orang yang benar atau tidak yang selari dengan Al Quran, maka peganglah ia. Dan apa sahaja yang datang dari orang yang benar atau tidak yang bercanggahan dengan Quran, maka janganlah jadikan ia sebagai pegangan..”

Rujukan: http://www.tashayyu.org/hadiths/quran/abandoning-narrations-that-are-contrary-to-the-quran

2) Al Kafi : Kitab Keutamaan Ilmu : H 197, Ch. 22, h2

Muhammad ibn Yahya telah meriwayatkan dari ‘Abd Allah ibn Muhammad dari Ali ibn al-Hakam dari Aban ibn ‘Uthman dari ‘Abd Allah ibn abu Ya‘fur yang mengatakan berikut.

أنه حضر ابن أبي يعفور في هذا المجلس قال: سألت أبا عبدالله (عليه السلام) عن اختلاف الحديث يرويه من نثق به ومنهم من لا تثق به؟ قال إذا ورد عليكم حديث فوجدتم له شاهدا من كتاب الله أو من قول رسول الله (صلى الله عليه وآله) وإلا فالذي جاء كم به أولى به

“Di dalam sebuah perjumpaan yang mana Abu Ya’fur ada bersama, aku bertanya kepada Abu Abdillah(as) tentang perbezaan hadis yang diriwayatkan dari orang yang kami percayai dan tidak kami percayai.” Kemudian Imam membalas: “Jika kamu menjumpai sebuah hadis dan kami menjumpai bukti dari Quran untuk menyokongnya atau hadis dari Nabi(s)(maka ikutlah ia.)”

3) Rijal al-Kashi, hal.195

Imam Sadiq (a.s) bersabda tentang al-Moghira Ibn Sa`id:

“Sesungguhnya al Mughira ibn Sa’id telah menambah-nambah di dalam kitab-kitab hadis para sahabat bapaku. Beliau menambah perkara yang tidak disebutkan oleh bapaku. Oleh itu, takutlah Allah dan janganlah menerima apa sahaja yang didakwa dari kami yang mencanggahi perkataan Tuhan dan hadis Nabi(s).”

Hadis-hadis di atas, sebenarnya sangat selari dengan ayat Quran berikut yang mengatakan kita tidak boleh menolak sesebuah hadis hanya kerana kurangnya keboleh percayaan pada perawinya.

Quran; Surah 49, ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya”

Maka berdasarkan ayat di atas, kita seharusnya menyelidiki dahulu kebenaran sesebuah hadis itu dan tidak terus menerima atau menolak hanya berdasarkan kredibiliti perawinya.

Perkara ini turut ditekankan oleh Syeikh al Kulaini, penulis kitab Al Kafi di dalam mukadimahkitabnya:

“Saudara ku, semoga Allah memberi hidayah kepada kalian, sememangnya, tidak mungkin bagi sesiapa pun untuk membezakan -sekurang-kurangnya berdasarkan spekulasi dirinya sendiri- antara riwayat-riwayat dari para ulama yang mempunyai perbezaan dalam pengriwayatannya. Ini hanya dapat dilakukan dengan mengikuti  apa yang telah diajarkan oleh Imam(as): “Telitilah Al Quran, apa sahaja yang selari dengan Kitab Allah, maka ambillah. Apa sahaja yang menyanggahinya, tolaklah.”

Nota: Kata-kata Syeikh Al Kulaini ini sekaligus menafikan dakwaan sesetengah nasibi jahil bahawa beliau sendiri menyatakan kitabnya sahih.

Ada 2 sebuah lagi hadis yang menarik, yang mana para Aimmah(a) tidak membenarkan kita menolak mentah-mentah hadis yang dinisbahkan kepada mereka:

حدثنا محمد بن الحسين عن محمد بن اسماعيل عن حمزة بن بزيع عن على السنانى عن ابى الحسن ع انه كتب إليه في رسالة ولا تقل لما بلغك عنا أو نسب الينا هذا باطل وان كنت تعرفه خلافه فانك لا تدري لم قلنا وعلى أي وجه وصفة.

 

Muhammad b. al-Husayn meriwayatkan Muhammad b. Isma`il dari Hamza b. Bazi dari Ali the as-Sinani dari Abu ‘l-Hasan (as) ,

 

“Dan janganlah kamu katakan tentang apa yang telah sampai kepada kamu dari kami/ dinisbatkan kepada kamu, bahawa “ini adalah palsu”, walaupun kamu telah mengetahui lawannya. Ini sesungguhnya kerana kamu tidak mengetahui mengapa kami mengatakannya, dan berkaitan aspek apa yang disebutkan.”

[Sumber: Basair Al-Darajat hal. 538]

[٩٦٩] ٢ – محمد بن الحسن الصفار في بصائر الدرجات، عن محمد بن الحسين بن أبي الخطاب، عن محمد بن سنان، عن عمار بن مروان، عن المنخل، عن جابر قال: قال أبو جعفر ع: قال رسول الله (ص): إن حديث آل محمد صعب مستصعب، لا يؤمن به إلا ملك مقرب أو نبي مرسل أو عبد امتحن الله قلبه للإيمان، فما ورد عليكم من حديث آل محمد فلانت له قلوبكم وعرفتموه، فاقبلوه وما اشمأزت قلوبكم وأنكرتموه فردوه إلى الله وإلى الرسول وإلى العالم من آل محمد، وإنما الهالك أن يحدث بشئ منه لا يحتمله فيقول: والله ما كان هذا ثلاثا.

 

Sesungguhnya hadis-hadis keluarga Muhammad adalah sangat sulit dan menyulitkan. Hanya malaikat muqarrab, atau Nabi yang diutus atau hamba yang mana Allah telah menguji imannya sahaja yang akan mempercayainya. Jadi apa sahaja yang datang kepada kamu dari hadis keluarga Muhammad, dan hati kamu ringan ke arahnya, maka terimalah. Jika hati kamu menafikannya, maka pulangkanlah ia pada ALlah, RasulNya atau alim dari keluarga Muhammad. Dan mereka yang dimusnahkan itu adalah mereka yang meriwayatkan sesuatu yang hati mereka membencinya lalu dia mengatakan “Demi Allah, ini bukanlah ia” sebanyak 3 kali.(Bermaksud menafikan hadis tersebut)

[Sumber: Fusul al Muhimmah, bab 39]

Kesimpulan

Jelas dari artikel ringkas ini, bahawa ajaran Islam menjadikan konteks sesebuah hadis itu sebagai ukuran kesahihan sesebuah hadis. Ilmu Rijal bukanlah metod utama, dan keseimbangan harus wujud antara keduanya(Analisis matan dan rijal) dalam membuat penilaian hadis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s