membongkar fitnah terhadap nu oleh rezim wahabi salafi ! Syi’ah Ajak NU mencontoh Ibadah Ali as

RAPIMDA LTMNU

Ini Alasan Masjid NU Dilabeli

Selasa, 19/03/2013 14:03
.
Sepak terjang aliran wahabi yang merampok masjid masjid NU lalu melaknat dan mencaci maki NU sebagai ahlul bid’ah sesat TELAH MEMBUAT GERAH para elit NU. Tak cuma itu, wahabi kerap menjadi kontributor bom !

Lima teroris kelompok Abu Umar divonis hari ini

Dua Terduga Teroris Ditangkap di Hutan Sidawangi

Densus tangkap satu orang di Bandung

Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi mengimbau supaya masjid-masjid yang didirikan dan dikelola Nahdliyin segera dilabeli atribut-atribut NU. Atribut itu dengan penempelan almanak atau jadwal waktu shalat berlogo NU.

“Apakah ini akan menyebabkan menguatnya ashabiyah (golonganisme, red) di kalangan umat Islam?” tanya Kiai Masdar kepada ratusan peserta Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) Lembaga Ta’mir Masjid (LTMNU) Kabupaten Subang, Ahad, (17/3) lalu.

Kiai Masdar menjawab dengan tegas, tidak!

Ia kemudian menukil kaidah ushul fiqh, la dharar wa la dhirar, jangan merugikan orang lain dan jangan membiarkan orang lain merugikan kita. Terjemahan bebas dalam konteks masjid NU sekarang adalah, jangan mengambil masjid milik orang lain dan jangan membiarkan orang lain mengambil masjid milik kita.

Ia menambahkan masjid yang tidak dilabeli justru menjadi tempat keributan, yaitu menjadi ajang perebutan antar-golongan. Ketika dilabeli NU, golongan yang akan berebut sudah paham ini milik orang lain.

Orang NU harus membolehkan golongan lain untuk shalat di masjid NU, tetapi mereka harus diperlakukan sebagai tamu yang tidak bisa mencampuri urusan rumah tangga masjid.

“Lalu bagaimana jika ada yang mengatakan bahwa setiap masjid itu milik Allah?” tanyanya.

Ia menjawab sendiri dengan analogi, jika seorang pencuri mengambil harta milik kita, ia akan menjawab juga bahwa yang dicuri adalah milik Allah.

Melabeli masjid NU bukan meruntuhkan pendapat bahwa masjid milik Allah, tetapi kita sebagai pemilik nisbi bertanggung jawab menjaganya dengan cara kita sendiri.

Kiai NU atau Wahabi Yang Sesat Tanpa Sadar? Jawaban Terhadap Buku-Buku Mahrus Ali

i

Kiai NU atau Wahabi Yang Sesat Tanpa Sadar? Jawaban Terhadap Buku-Buku Mahrus Ali

  • Kiai NU atau Wahabi Yang Sesat Tanpa Sadar?

Mahrus Ali sempat membuat heboh negeri ini, bukunya yang berjudul “Mantan Kyai NU Menggugat Shalawat dan Dzikir Syirik” yang beredar luas beberapa tahun silam membuat resah umat dan para kyai, khususnya dari kalangan Nahdliyin.

Buku sanggahannya pun muncul, ditulis oleh Lembaga Bahtsul Masail NU Jember. Kedua buku tersebut lalu menjadi perbincangan hangat dan polemik di masyarakat. Akhirnya pada tahun 2008, Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya menggelar debat ilmiah terbuka antar dua penulis buku tersebut. Namun Mahrus Ali tidak datang, dengan alasan keamanan dan hanya diwakilkan penulis kata pengantarnya, Ust. Muammal Hamidi.

Tiga tahun berselang, Mahrus Ali yang tidak menghadiri debat tersebut, tiba-tiba muncul dengan dua buku barunya “Bongkar Kesesatan Debat Terbuka Kyai NU di Pasca Sarjana Sunan Ampel Surabaya” dan buku “Sesat Tanpa Sadar.”

Buku ini hadir untuk menjawab atau membantah buku “Sesat Tanpa Sadar” karya Mahrus Ali, yang terbukti banyak melakukan pemelintiran data serta tidak jujur dalam mengutip teks-teks para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Bahkan yang lebih fatal, Mahrus Ali berani menyalahkan pendapat ulama rujukan utama sekte Wahabi seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan lain-lain.

Jika ini yang terjadi dalam tubuh ummat Islam, sampai kapan pun tujuan utama Islam tidak akan tercapai, bahkan akan dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dan ummatnya. Bisa jadi sudah dimanfaatkan? Yang berjuang jangan menyombongkan diri dan menyesatkan orang lain,  karena itu bukan ridha Allah swt yang akan didapatkan, tetapi sebaiknya murka Allah dan Rasul-Nya. Na’udzubillah min dzalik.

Marilah kita hentikan sikap sesat-menyesatkan, malu pada diri sendiri, malu kepada Allah dan Rasul-Nya. Kalaupun ada sekelompok saudara kita seperti Al-Qiyadah Al-Islamiyah, kita ajak dialog dari hati ke hati, kita anggap keluarga besar kita, kesulitan mereka kesulitan kita, kesengsaraan mereka kesengsaraan kita, dan kebahagiaan mereka kebahagian kita bersama. Bukankah kesuksesan missi Rasulullah saw  dengan cara ini, dan beliau menyampaikannya dengan mau’izhan dan hikmah.

Teristimewa bagi MUI dan Pejabat Negara. Bukankah MUI sebagai orang tua kita dalam missi Rasulullah saw, dan Pejabat Negara sebagai orang tua kita dalam missi Ketuhanan? Jika antara orang tua dan anak saling mencaki-maki, sesat menyesatkan. Apa jadinya negeri ini? Musibah ke musibah yang lain belum teratasi di negeri ini, ditambah lagi caci-maki dan saling menyesatkan antara anak dan orang tua. Saya khawatir musibah di negeri ini bukannya teratasi, bahkan diperbesar oleh Allah swt karena akibat prilaku dan perbuatan kita. Hal ini sudah terjadi di zaman terdahulu dan dilestarikan di dalam Al-Qur’an, seperti kaum negeri Saba’.

Wahai Bapak-bapak kami, di pundakmu beban yang berat, yang pasti dimintai pertangan jawab di hadapan Allah dan Rasul-Nya. Kami semua anak-anakmu kelak pasti  menyaksikanmu dan menjadi saksi di Mahkamah Ilahi. Betapa malunya kita di hadapan Mahkamah Ilahi saat Allah swt membuka semua aib dan dosa kita yang tak terampuni. Saat itu jelas kita mempermalukan Rasulullah saw di hadapan Allah dan para Malaikat-Nya, Nabi-nabi terdahulu dan ummatnya. Marilah kita renungkan bersama prilaku kita, renungkan sikap dan prilaku kita menjelang tidur sebagai lambang kematian.

Wahai saudara-saudaraku, hentikan segera sikap saling menyesatkan di antara kita, hanya karena beda paham dan pandangan. Biarlah sikap “Menyesatkan” itu hak prerogatif Allah dan Rasul-Nya, bukan hak kita. Al-Qur’an dan Al-Hadits bagaikan samudra ilmu, yang akan mengalir ke dalam pikiran dan hati kita jernih dan bersih. Mari kita kaji Al-Qur’an dan Al-Hadits dengan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Semoga Allah swt mengalirkan mata air kecemerlangan ke dalam kehidupan kita, agar negeri ini segera mendapat perlindungan Allah swt dari segala musibah yang kita takutkan, dan petolongan-Nya dari segala kesulitan ekonomi. Amin Ya Rabbal ‘alamin.

Wahai saudaraku, mari kita baca munajat yang diajarkan oleh Rasulullah saw kepada keluarganya, dan dikumandangkan oleh cucunya Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) di zamannya, zaman kezaliman, berikut ini munajatnya:

Ya Allah, sungguh kezaliman hamba-hamba-Mutelah tegak di negeri-Mu, sehingga keadilan dimatikan, jalan-jalan diputuskankebenaran dihapuskan, kejujuran disiasiakankebajikan disembunyikan, keburukan ditampakkanketakwaan direndahkan, petunjuk dihilangkankebaikan dimusnahkan, keburukan ditegakkankerusakan dikembangkan, kekufuran dikuatkankezaliman dipenuhi, perubahan dimusuhi Ya Allah, TuhankuTidak ada yang dapat melepaskan kami dari semuanya kecuali kekuasaan-MuTidak ada yang dapat melindungi kami dari semuanya kecuali anugrah-Mu Ya Allah, maka hancurkan kezaliman. Putuskan belenggu penindasan. Hancurkan pusat kemungkaran. Muliakan orang yang menghindari kezaliman. Cabikkan akar-akar para pelaku kesewenang-wenangan.Tutupkan kepada mereka kekurangan setelah mereka berlebihan. Ya Allah, segerakan kepada mereka kebinasaan. Porak-porandakan mereka denganperpecahan. Turunkan kepada mereka hukuman. Ambil nyawa kemungkaran. Sehingga tenanglah orang yang ketakutan. Tenteramlah orang yang kesulitan. Kenyanglah orang yang lapar. Dipelihara orang yang terlantar. Dilindungi orang yang terusir. Dikembalikan orang yang terbuang. Supaya orang fakir dikayakan.Orang yang meminta perlindungan dilindungi.Orang besar dihormati, orang kecil disayangi. Orang teraniaya dimuliakan, orang zalim dihinakan. Orang kesusahan dibahagiakan. Supaya lepaslah segala derita, dan hilanglah segala nistapaMatilah pertikaian dan hiduplah kasih sayangPengetahuan menjulang tinggi dan perdamaian menyebar luasPerpecahan disatukan dan ketenangan dikokohkanIman dikuatkan dan Al-Qur’an dibacakanSungguh, Engkaulah Maha Pembalas, Pemberi nikmat, Penabur karunia. (Manhaj Ad-Da’awat: 263)

Syi’ah Ajak NU memcontoh Ibadah Ali as

Bukan satu hal yang berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa Imam Ali as termasuk orang yang berada pada derajat pertama dalam masalah ibadah. Dengan demikian dalam hal ibadah beliau menjadi pemimpin seluruh orang-orang Mukmin. Sebagian besar dari kehidupan penuh berkahnya dilewati dengan bermunajat kepada Allah Swt.Sekaitan dengan hal ini, Imam Musa Kazhim as berkata, “Ayat ini yang menyebutkan ‘… Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, …’(1) diturunkan mengenai Imam Ali as.”
.
Dalam riwayat disebutkan bahwa di tengah berkecamuknya perang Shiffin sebelah mata Imam Ali as mengawasi musuh dan sebelahnya lagi berjaga-jaga melihat matahari dan menanti azan berkumandang
.
Ibnu Abbas yang memperhatikan hal ini berkata kepada beliau, “Saat ini sedang mencapai puncaknya peperangan dan kita tidak punya kesempatan untuk melakukan shalat di awal waktu.”Imam Ali as menjawab, “Perang yang kita lakukan menghadapi musuh ini tujuannya untuk melindungi shalat agar tetap tegak.”Beliau sendiri pernah berkata, “Ya Allah! Saya tidak pernah menyembah-Mu karena takut akan api neraka dan berharap surga. Satu-satunya tujuanku adalah sampai kepada rahmat-Mu dan dekat kepada-Mu.” (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)
.
Catatan:1. QS. al-Fath: 29.

Amalan yang Mengubah Kesengsaraan Menjadi Kebahagiaan

Bersilaturahmi dalam Islam memiliki posisi dan peran penting menciptakan empati dalam diri manusia.

Silaturahmi berarti menjalin hubungan dengan keluarga dan termasuk kewajiban agama, sementara memutuskan silaturahmi hukumnya haram.

Sayidah Fathimah az-Zahra as terkait pentingnya masalah silaturahmi dan ketika ditanya mengapa manusia harus melakukan silaturahmi, beliau menjawab, “Allah Swt menjadikan silaturahmi agar manusia berkembang biak dan bertambah banyak.”(1)

Rasulullah Saw bersabda, “Memberi sedekah pada tempatnya, berbuat baik, berbuat baik kepada orang tua dan silaturahmi akan mengubah kesengsaraan menjadi kebahagiaan, memanjangkan umur dan mencegah kematian yang buruk.”(2)

Bersilaturahmi sedemikian bernilainya dalam Islam, sehingga banyak hadis yang berbicara tentangnya.

Imam Ali as berkata, “Silaturahmi membawa kasih sayang dan membuat musuh menjadi hina.”(3)

Imam Baqir as mengenai penting dan posisi silaturahmi dalam ibadah dan bagi kemanusiaan berkata, “Pahala silaturahmi lebih cepat sampai kepada pelakunya ketimbang perbuatan baik yang lain.”(4)

Imam Ali as saat ditanya apa zakat orang yang mampu, beliau menjawab, “Zakat orang yang mampu adalah berbuat baik kepada tetangga dan bersilaturahmi.”(5)

Rasulullah Saw juga bersabda, “Barangsiapa yang berusaha untuk bersilaturahmi dengan jiwa dan hartanya, maka Allah Swt akan memberikan pahala 100 syahid kepadanya.”(6)

Berdasarkan hadis-hadis dari Maksumin as, pengaruh dan berkah akibat bersilaturahmi banyak sekali seperti panjang umur, rezeki yang bertambah, akhlak yang baik, amal yang ikhlas, menolak bala dan bencana, pengitungan amal yang mudah, kota yang makmur dan lain-lain. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Catatan:

1. Bihar al-Anwar, 74/94/23, Muntakhab Mizan al-Hikmah, 232.

2. Nahjul Fashahah, hadis 1869.

3. Ghurar al-Hikam, jilid 4, hal 209, hadis 5825.

4. al-Kafi, jilid 2, hal 152, hadis 15.

5. Ghurar al-Hikam, hadis 5453.

6. Man Laa Yahdhuruhu al-Faqih.

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s