banyak buku-buku sejarah awal ditulis oleh penulis-penulis Sunni atas sokongan Umayyah dan kemudian penguasa Abbasiyah

penulis-penulis ini meriwayatkan beberapa legenda yang jelas-jelas palsu dan tidak masuk akal tentang Abdullah bin Saba’. Riwayat-riwayat ini diberikan oleh orang-orang yang menulis buku tentang al-Milal wa an-Nihal (cerita tentang peradaban dan kebudayaan) atau buku al-Firaq (perpecahan/aliran-aliran)

Di antara kaum Sunni yang menyebutkan nama Abdullah bin Saba’ dalam cerita mereka tanpa memberikan sumber klaim mereka adalah: Ali bin Isma’il Asyari (330) dalam bukunya yang berjudul  Maqalat al-Islamiyyin (esai mengenai masyarakat Islam).

Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)

Asy-Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari  telah berkata, “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib  atas seluruh sahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakar dan ‘Umar  , serta memandang bolehnya memberontak  terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya.

Maka ia katakan kepada mereka:
رَفَضْتُمُوْنِي؟
“Kalian tinggalkan aku?”
Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137)

Mereka juga dinamakan sebagai rafîdlah (penolak), karena menurut Abu Hasan al Asy’ari mereka menolak dan mengingkari kepemimpinan Abu Bakar dan ‘Umar.Mereka sepakat bahwa Nabi Saw. telah menggariskan bahwa ‘Ali lah pemangku kekhalifahan setelah beliau, dengan menyebut namanya secara jelas dan telah mendeklarasikannya kepada umat. Mereka juga berpendapat bahwa mayoritas sahabat Rasulullah Saw. telah sesat karena tidak mengikuti ‘Ali setelah wafatnya Rasulullah Saw. Mereka juga berpendapat bahwa imamah hanya dapat diterima jika telah digariskan oleh nash dan imamah tersebut merupakan hak khusus keturunan Rasulullah Saw

Abdul Qahir bin Thahir Baghdadi (429) dalam bukunya yang berjudul al-Farq Bain al-Firaq (perbedaan di antara aliran-aliran). Penulis ini meriwayatkan beberapa legenda yang jelas-jelas palsu dan tidak masuk akal tentang Abdullah bin Saba’

Muhammad bin Abdul Karim Syahrastani (548) dalam bukunya yang berjudul al-Milal wa an-Nihal (Negara dan Kebudayaan). Penulis ini meriwayatkan beberapa legenda yang jelas-jelas palsu dan tidak masuk akal tentang Abdullah bin Saba’

Di kalangan tokoh-tokoh ahli Sunnah pula yang menyebutkan ajaran Ibnu Saba‟ dan peranannya dalam memecahbelahkan umat Islam ialah Abu Hasan al-Asyaari dalam “Maqalat al-Islamiyin” (Jilid 1 hal.  50), Abdul Qahir al-Baghdadi dalam “al-Farqu Baina al-Firaq” (hal. 233-235), al-Isfiraini dalam “at-Tabsir fi ad-Din” (hal. 108-109), Syahrastani dalam “al-Milal wa an-Nihal” (Jilid 2 hal. 11), at-Tabari dalam “Tarikh alUmam wa al-Muluk” (Jilid 5 hal. 90), Ibnu Kathir dalam “al-Bidayah wa an-Nihayah” (Jilid 7 hal. 167), Hafiz Ibnu Hajar dalam “Lisan al-Mizan” (Jilid 3 hal. 289) dan lainlain.

Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati

Descriptions

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007

isi  Buku Prof. Dr. Quraish Shihab :

Abdullah  bin  Saba’  Tidak  Ada  Kaitannya  Dengan  Syiah

QS: ”Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65)

Biodata

 Nama  : Abu Abdillah Saif bin Umar Usaidi Tamimi

Tokoh fiksi yang dia tulis  : Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman)

Lahir      : Tahun 736 M  pada masa raja Hisyam bin Abdul-Malik (106- 126 H/724-743 M)

Mati      : 796 M/180 H ketika ia dituduh zindik dalam inkuisisi masa  Harun Al Rasyid (170-193/786-809) di Baghdad Irak

Asal  :  Kufah, Irak

Alamat   :  Baghdad

Berasal dari suku   : Tamim, yang hidup di Kufah

Judul Buku Karyanya   :

  1. Al-Futuh wa ar-Riddah”, yang merupakan sejarah periode sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW hingga khalifah ketiga, Usman,
  2. Al-Jamal wa Masiri Aisyah wa Ali”, yang merupakan sejarah dari pembunuhan Utsman hingga perang Jamal

Buku disponsori oleh   Beberapa raja Dinasti Bani Umayyah yang telah mewujud kan kisah  dongeng ini, dan kemudian penguasa Abbasiah

Dimana buku tersebut ?

Buku-buku tersebut sekarang sudah tidak ada namun sempat bertahan beberapa abad setelah masa hidupnya Saif. Orang terakhir yang menyatakan  bahwa ia memiliki buku Saif  adalah  Ibnu Hajar Al Asqalani (852  H)

Motif penulisan buku  karena Tokoh  Ibnu Saba’ merupakan cara untuk melawan Syi’ah`,  Abdullah bin Saba’ adalah kambing hitam yang tepat

Sebenarnya, banyak buku-buku sejarah awal ditulis oleh penulis-penulis Sunni atas sokongan Umayyah dan kemudian penguasa Abbasiyah. Saif bin Umar dibayar untuk menciptakan suatu peristiwa dan menghubungkannya kepada umat Islam. Sosok Abdullah bin Saba’ sebagai solusi jitu mengatasi rumitnya pertentangan dan perseteruan yang terjadi pada awal sejarah Islam, dimulai ketika Rasulullah wafat pada 11-40 H. Cerita Saif hanya terpusat pada periode ini dan tidak pada periode selanjutnya, dia melakukan hal ini untuk mencari alasan atas tuduhan palsu dan serangan kepada pengikut keluarga Nabi Muhamrnad SAW. Saif yang pendusta ingin menyenangkan penguasa masa  itu

Cerita-cerita bohong seputar tokoh Abdullah bin Saba merupakan hasil karya keji seseorang. la mengarang cerita ini berdasarkan beberapa fakta utama yang ia temukan dalam sejarah Islam yang ada saat itu. Saif menulis sebuah novel yang tidak berbeda dengan novel Satanic Verses karangan Salman Rushdi dengan motif yang serupa, tetapi dengan perbedaan bahwa peranan setan dalam bukunya diberikan kepada Abdullah bin Saba.

Saif bin Umar mengubah biografi beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW untuk menyenangkan pemerintah yang berkuasa saat itu, dan menyimpangkan sejarah Syi’ah serta mengolok-olok Islam. Saif adalah seorang pengikut setia Bani Umayah, salah satu musuh besar Ahlulbait di sepanjang sejarah, dan niat utamanya mengarang cerita-cerita seperti itu adalah untuk merendahkan Syi’ah.

Banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa’d ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Utsman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah saba’iyyah ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini

Saif juga berusaha mengkait-kaitkan kisah Abdullah bin Saba dengan Syi’ah Ali Kemudian ia melengkapi kisahnya dengan menambahkan dua sahabat ke dalam daftar pengikut Ibnu Saba’. Saif menyatakan bahwa pionir-pionir Islam yang setia pada Ali seperti Abu Dzar  dan Ammar bin Yasir adalah murid dari Abdullah bin Saba ketika Utsman memerintah. Saif  mencaci dan mengutuk Ammar bin Yasir yang dia sebut Abdullah bin Saba’ atau Ibnu Sauda’. Demikianlah cacian dan kutukan terhadap Ammar bin Yasir yang mereka sebut Abdullah bin Saba’ atau Ibnu Sauda’  

Syi’ah memaparkan sejumlah bukti bahwa Abdullah bin Saba’ yang difitnahkan Saif adalah ‘Ammar bin Yasir.

Dr. Aly Al Wardy dalam kitabnya Wu’adzus Salatin dan Dr, Kamil Mustafa As Syaibi dalam kitabnya As Shilah Baina Tashawuf wa al Tasyyu’ mengalamatkan inisial Ibnu Saba’ pada Amar bin Yasir dengan beberapa faktor :

  1. Ibu Amar bin Yasir, Sumayah adalah seorang budak hingga ia pun dijuluki Ibnu Sauda
  2. Amar bin Yasir berasal dari kabilah Ansy pecahan dari klan Saba’
  3. Fanatisme  Ammar terhadap Ali, diriwayatkan bahwa ia memandang Ali lebih berhak  menjadi Khalifah dibanding Utsman. Ammar menyerukan pengangkatan Ali sebagai khalifah
  4. Amar bin Yasir mengkampanyekan pemikirannya di Madinah dan Mesir·

Golongan Sabaiyah yang ditengarai bentukan milisi ekstrim Ibnu Saba tidak lain adalah kelompok muslimin yang berasal dari klan Saba yang memang setia mendukung Aly, dan seringkali bertindak oposisi di masa pemerintahan Utsman, kelompok ini diwakili Amar bin Yasir, Abu Dzar Al Ghifari dan kaum Anshar yang memang berasal dari klan Saba.

kebencian Saif bin Umar Tamimi, yang hidup pada abad kedua setelah Rasulullah wafat, dan kebencian para pengikutnya kepada Syi’ah, mendorong mereka menyebarkan propaganda seperti itu. Dalam kisah Abdullah ibn Saba’ , yang dikatakan berasal dari San’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Ibn Saba’ dan golongan Sabai’yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng, banyak sejarahwan Sunni juga menolak keberadaan Abdullah bin Saba dan/atau cerita-cerita bohongnya. Di antara mereka adalah  Dr. Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami,Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabidlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

Dr. Taha Husain, salah seorang tokoh Sunni yang terkenal secara langsung mengatakan musuh-musuh Syiah yang mencipta ‘Abdullah bin Saba untuk mempertikaikan kebudayaan Syiah: Mereka ingin memerangi Syiah dengan memasukkan elemen Yahudi ke dalam usul mazhab ini. – al-Fitnatul Kubra –  karyaDr. Taha Husain, jilid 2 halaman 98.

Dr. Thaha Husain, yang telah menganalisis kisah ini dan menolaknya. la menulis dalam al-Fitnah al-Kubra bahwa: Menurut saya, orang-orang yang berusaha membenarkan cerita Abdullah bin Saba telah melakukan kejahatan dalam sejarah dan merugikan diri mereka sendiri. Hal pertama yang diteliti adalah bahwa dalam koleksi hadis Sunni, nama Ibnu Saba tidak muncul ketika mereka membahas tentang pemberontakan terhadap Utsman. Ibnu Sa’d tidak menyebutkan nama Abdullah bin Saba ketika ia membicarakan tentang Khalifah Utsman dan pemberontakan terhadapnya. Juga, kitab Baladzuri, berjudul Ansab al-Asyraf, yang menurut saya merupakan buku paling penting dan paling lengkap membahas pemberontakan terhadap Utsman, nama Abdullah bin Saba tidak pernah disebutkan. Nampaknya, Thabari adalah orang pertama yang meriwayatkan cerita lbnu Saba dari Saif, lalu sejarahwan lain mengutip darinya.

Dalam buku lainnya berjudul Ali wa Banuh maka Dr. Taha Husain juga menyebutkan : Cerita tentang Abbdullah bin Saba tidak lain adalah dongeng semata dan merupakan ciptaan beberapa sejarahwan karena cerita ini bertentangan dengan catatan sejarah lain. Kenyataanvya adalah bahwa pergesekan antara Syi’ah dan Sunni memiliki banyak bentuk, dan masing-masing kelompok saling mengagungkan diri sendiri dan mencela dengan cara apapun yang mungkin dilakukan. Hal ini menjadikan seorang sejarahwan harus ekstra hati-hati ketika menganalisis riwayat kontroversial yang berkaitan dengan fitnah dan pemberontakan.

Dr. Ali Nasysyar, salah seorang pemikit Islam dan professor falsafah berkata di dalam kitab Nasyatul Fikr Fi al-Islam, jilid 2 halaman 39 sebagai: ‘Abdullah bin Saba di dalam teks sejarah adalah hasil rekaan. Sejarah menyebut nama beliau untuk menuduhnya sebagai pencetus fitnah pembunuhan Uhtman dan peperangan Jamal. ‘Ammar bin Yasir lah yang dianggap Abdullah bin Saba.

Dr. Hamid Dawud Hanafi, iaitu salah seorang tokoh Mesir yang mendapat gelaran Doktor di Universiti Sastera Kaherah mengakui pembikinan kisah ini di dalam mukadimah kitab ‘Allamah ‘Askari, jilid 1 halaman 17.

Muhammad Kamil Husain, seorang doktor, ulama dan ahli falsafah Mesir menyebut kisah ‘Abdullah bin Saba sebagai khayalan di dalam kitab Adab Misr al-Fatimiyyah,halaman 7.

Pensyarah universiti Malik Sa’ud di Riyadh, Dr. Abdul Aziz al-Halabi berkata: kesimpulannya Abdullah bin Saba ialah: Personaliti khayalan, tidak mungkin ia wujud. (Dirasah lil-Riwayah al-Tarikhiyyah ‘An Dawrihi fil Fitnah, halaman 73).

Peneliti buku al-Muntazam Ibnu Jawzi, Dr. Sahil menyebut tentang pembikinan Abdullah bin Saba dalam kitab tersebut.

Mereka ini adalah tokoh tersohor Ahlusunnah yang percaya bahwa pembikinan kisah dongeng Abdullah bin Saba. Akibatnya, Bukhari tidak meriwayatkan bahkan satu hadis pun tentang Abdullah bin Saba dalam sembilan jilid kitab hadis sahihnya.

Ulama-ulama gadungan ikut ikutan  menggunakan istilah Saba’iyah untuk merendahkan ketaatan pengikut keluarga Nabi. Riwayat tersebut berdasarkanpada rumor yang di propaganda kan oleh rezim Umayyah dan Abbasiyah dengan meniru karya Saif yang sampai pada mereka, menghancurkan lawan politik  yang didasarkan pada kreativitas pengarang cerita fiksi. Telah terbukti bahwa ulama  ulama gadungan yang menyebutkan bahwa pendiri Syi’ah adalah Abdullah bin Saba merupakan  pengikut sunnah keluarga Abu Sufyan dan Marwan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s