Mengenal lebih dekat islam sunni (NU) & syiah

:lol:

Lihat gambar ukuran penuh Lihat gambar ukuran penuh

Direktur Utama Lembaga Dakwah Islam Kurdistan Iran, Hujjatul Islam Masoud Safi-yari menekankan pentingnya perhatian terhadap masalah persatuan antarmazhab Islam dan mengatakan, “Persatuan yaitu ketika hati kita menyatu di satu jalan dan tujuan. Tujuan kita juga sudah jelas seperti yang dipaparkan dalam al-Quran dan sunnah.”

Kepada Mehr News (7/1) Safi-yari mengatakan, “Persatuan adalah prinsip dasar agama dan al-Quran serta merupakan sunnah Rasulullah Saw. Maksudnya melebihi penyatuan mazhab karena yang diacu adalah penyatuan hati di satu jalan dan tujuan.”

Menyinggung propaganda musuh dalam upaya menyulut perpecahan antarmazhab Islam yang mengklaim Imam Ali as sebagai simbol perpecahan, Safi-yari menegaskan, “Sebaliknya, Imam Ali as adalah simbol persatuan dan persaudaraan. Saudara-saudara Sunni khususnya yang bermazhab Syafii di Kurdistan mengenal Imam Ali as sebagai sosok agung Islam dan pejuang sejati.”

Di wilayah Kurdistan Iran, menurut Safi-yari, diterbitkan kitab “Tolaye Welayat” yang merupakan kitab kumpulan syair-syair indah dari saudara-saudara Sunni tentang Imam Ali as. Dan ini membuktikan bahwa tidak ada masalah antara Sunni dan Syiah tentang Imam Ali as.

yang saya tahu syiah itu bermazhab pada imam ali yang merupakan ahlul bait nabi dan merupakan mazhab yang paling masuk akal (:lol: Maaf  NU yang saya maksud bukanlah NU gaya si habib tua ,begitu mudahnya si Ahmad bin Zen Alkaf menjadi pengurus NU,padaha dia itu lulusan TKI di Saudi,kerja di toko di wilayah Jeddah,pulang gak mengerti apa-apa,lalu mendompeng ke toko Wahabi Bangil Muhammad Ba Abdullah,orang kepercayaan Wahabi Saudi,semenjak 25 tahun

 

sampai sekarang,semua habaib tahu sepak terjangnya,mereka diam,karena ditutup oleh riyal-riyal yg di rupiahkan oleh Ahmad bin Zen Alkaf,dan di yys Al-Bayyinat dia ingin ditetapkan sebagai ketua seumur hidup,di Pekalongan 3 tahun yang lalu,orang2 hampir tidak memilih dia,karena dia mengancam jika tidak dia,maka tidak ada dana yg mengalir,sampai-sampai akan terjadi perkalian

yg begitulah si antek Wahabi tsb,Saya yakin dia menyuap kyai-kyai dg riyal-riyal,maka dari itu dikejutkan dg mendapat kedudukan di NU.Jadi kusarankan kepada toko2 NU untuk waspada atas sepak terjangnya si Ahmad Alkaf ini,liahatlah,apa yg dia tampilkan di forum2,hanya untuk memecah belah umat aja,memasukan rasa kebencian sesama NU khususnya,umat Islam pada umumnya.Sadarlah sebelum terlambat wahai saudara-saudaraku NU>:lol:

Syi’ah dan NU memiliki titik temu dibidang fikih dan tasawuf seperti tahlilan, qunut, maulidan, ziarah kubur, hormati ahlulbait  dll jadi bisa bersatu

Titik Temu Islam Ahlusunnah (NU) dan Islam Syi’ah ada dibidang fikih dan tasawuf serta sama sama anti WAHABi  NEJED.

Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia

Melarang syi’ah berarti melarang kemajuan filsafat Indonesia masa depan..

Ditengah derasnya paham sekularisme, pluralisme dan liberalisme maka Syi’ah MENGHIDUPKAN KEMBALI ILMU-ILMU FILSAFAT Islam di Indonesia..

Jika wahabi maju maka umat NU akan terus merosot, milyaran dolar dana AS/saudi/israel digunakan wahabi untuk bangun pesantren, cetak buku, cetak vcd yang membid’ah bid’ah kan NU

Gerakan trans nasional wahabi juga merampok masjid masjid NU dan me wahabikan kaum NU yang awam. Gerakan anti syi’ah di Indonesia dilakukan wahabi dengan memprovokasi kaum NU, maka keluarlah fatwa sesat dari NU Jatim.. Wahabi gembira dengan politik kotor ini

wahabi memiliki dua aliran :

1. salafi dakwah, tukang takfir dan tukang tuduh bid’ah

2. salafi jihadi, yakni neo khawarij alias teroris

Yang paling mencirikan kedua wajah Islam NU dengan syi’ah  adalah kentalnya kecintaan, penghormatan, pengagungan dan hubungan emosional yang sangat dalam dengan Nabi Muhammad Saw. dan Ahlulbait beliau as. Ini adalah titik temu yang benar-benar menggannggu tidur nyenyak dan ketentraman para penganut islam wahabi

Suatu hari di tahun 1982, pemerintah Iran pimpinan Khomeini mengirim tiga orang utusannya ke Indonesia . Mereka adalah Ayatollah Ibrahim Amini, Ayatollah Masduqi, dan Hujjatul Islam Mahmudi. Salah satu dari kegiatan mullah-mullah ini adalah kunjungan ke Yayasan Pesantren Islam (YAPI) di Desa Kenep, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, untuk menemui pimpinannya, Husein al-Habsyi
.
Hasil dari pertemuan tersebut adalah diterimanya 10 murid pilihan Husein al-Habsyi untuk belajar di hauzah ‘ilmiyyah di kota Qom, Iran. Sejak saat itu hingga wafatnya pada tahun 1994, Husein al-Habsyi bertanggung jawab penuh menyeleksi para kandidat yang ingin nyantri ke hauzah ‘ilmiyyah di Qom, dan kota-kota lainnya di Iran
.
Direktur pusat Kebudayaan Iran (Islamic Cultural Center-Jakarta), Mohsen Hakimollahi mengatakan, selepas wafatnya Husein al-Habsyi, rekomendasi untuk kuliah ke Iran dilakukan oleh tokoh-tokoh ormas Islam seperti Amien Rais, Said Aqil Siradj, ataupun Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Selama berabad-abad lamanya, hubungan antara Sunni dan Syiah terus diwarnai perselisihan. Berbagai dialog untuk mempertemukan kedua aliran dalam Islam itu kerap dilakukan. Namun, ketegangan di antara kedua kubu itu tak juga kunjung mereda.

Akankah kedua aliran besar dalam Islam itu bersatu? Prof Dr Musthafa Ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, berupaya mencari benang merah yang menautkan antara Sunni dan Syiah.

Tokoh kelahiran Troblus, Lebanon, pada 1924 itu mencoba menghadirkan perspektif yang berbeda dan mengkaji kedua aliran itu secara berimbang (fair), tanpa menghilangkan bobot dan nilai akademik.

Kitab ini mengkaji tentang kemungkinan mempersatukan antara dua kubu Sunni dan Syiah. Ar-Rifa’i menyertakan beberapa kajian penting dalam kitabnya. Ia mengupas bahasan tentang sebab kemunculan paham keagamaan Syiah, alasan penting bersatu, varian sekte yang ada dalam Syiah, serta prinsip-prinsip dan paham keagamaan mereka.

Bebarapa hal penting menjadi perhatian Ar-Rifa’i, di antaranya perbedaan hukum nikah mut’ah, konsep imamah, dan kemunculan Imam Mahdi. Ulasan tentang persoalan itu diuraikan dengan mengomparasikan pandangan kedua belah pihak. Kesimpulannya, diarahkan untuk mencari persamaan yang mempertemukan Sunni dan Syiah.

Ar-Rifa’i menegaskan, mempertemukan kedua kubu itu bukanlah hal yang mustahil. Perbedaan yang selama ini mencuat, kata dia, pada hakikatnya bukan persoalan prinsip, melainkan masalah khilafiyah yang dapat ditoleransi. Pada tataran ijtihad dan tradisi ilmiah lain misalnya, terbuka peluang Sunni-Syiah bertemu.

Setidaknya, menurut dia, pandangan tentang sikap saling menghormati dan toleransi diteladankan oleh para ulama Salaf. Imam Abu Hanifah mewakili Sunni dan Imam Ja’far bin Ash-Shadiq mewakili Syiah. Meski berbeda mazhab dan cara pandang, kedua tokoh tak saling bermusuhan dan tidak saling menafikan.

Menurut Ar-Rifa’i, keduanya justru saling meningkatkan sikap hormat dan menghormati. Dalam sebuah kisah dijelaskan bagaimana kedua pemimpin yang berbeda aliran itu hidup berdampingan dalam ukhuwah Islamiyah.

Dikisahkan, Zaid bin Ali seorang pemimpin kelompok Syiah Zaidiyyah—menerima pelajaran fikih dan dasar akidah dari Abu Hanifah yang notabene tersohor sebagai imam di kalangan Sunni. Demikian sebaliknya, Abu Hanifah mempelajari hadits dan disiplin ilmu lainnya dari Imam Ja’far Ash-Shadiq.

Bahkan, Abu Hanifah berguru langsung ke tokoh Syiah tersebut selama dua tahun penuh. Pujian pun kerap dilontarkan Abu Hanifah ke gurunya itu. “Tak pernah bertemu guru lebih fakih dibanding Ja’far bin Muhammad,” ujarnya.

Menurut Ar-Rifa’i, perbedaan yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil. Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furu’iyyah yang dapat ditoleransi. Hal itu didasari kuat oleh pemahaman terhadap ijtihad sebagai upaya memahami teks-teks agama.

Ijtihad tersebut menggunakan berbagai dasar dan sumber hukum, antara lain Alquran, hadits, ijma (konsensus), dan qiyas (analogi). Tak jauh berbeda dengan metode yang akrab di kalangan Syiah.

Tradisi ijtihad tersebut populer di kalangan umat hingga akhirnya luntur seiring lemahnya pemerintahan Dinasti Abbasiyah di pertengahan abad ke-4 Hijriah, ketika dinasti tersebut dikuasai oleh dinasti-dinasti yang terpecah dan tersebar di sejumlah wilayah.

Bersamaan dengan itu pula, ruh ijtihad mulai melemah. Sebagian umat kala itu, kembali memilih taklid dibandingkan mengembangkan budaya ijtihad. Kondisi ini menjadi satu dari sekian faktor yang mengakibatkan perbedaan antar dua kubu tersebut kian memanas.

Dalam konteks masa kini, Ar-Rafa’i meyakini faktor lain yang amat kuat mempengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperialis Barat. Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Umat bersaudara

Dalam konteks kemanusiaan, setidaknya ada beberapa hal yang mempertemukan Sunni-Syiah. Bahkan, prinsip itu menyatukan pula berbagai elemen dalam bingkai kemanusiaan. Perspektif ini—tidak boleh tidak—perlu didudukkan sebagai landasan cara pandang dan pola berpikir.

Prinsip yang pertama, persamaan asal mula. Islam menyatakan manusia berasal dari fitrah yang sama. Asal mula mereka sama, yakni diciptakan dari sari pati tanah. “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.” (QS. Thaha: 55).

Prinsip selanjutnya yang mendasari urgensi mempertemukan kedua kubu tersebut adalah persamaan nilai. Manusia mempunyai tempat yang sama di sisi Allah. Titik yang membedakan adalah kadar dan tingkat ketakwaan seseorang. Tanpa itu, maka tak ada yang patut menjadi jurang pemisah satu sama lainnya. (QS. Al-Hujurat: 130).

Prinsip lain yang tak boleh diabaikan pula adalah bagaimana meletakkan pandangan bahwasanya manusia akan dikembalikan pada titik dan tempat yang sama, yaitu tanah. Apabila semua prinsip tersebut dijadikan sebagai mindset oleh berbagai kelompok— tak kerkecuali Sunni dan Syiah—maka paling tidak, permulaan itu akan memunculkan empati kebersamaan, rasa saling menghargai, dan toleransi satu sama lain.

Di Batam, Lagi-lagi Ketua Umum PBNU Serukan Perangi Ajaran Wahabi.

kini dengan lantang Said Aqil berada di garda terdepan pembela Syi’ah

Inilah untuk kesekian kalinya, Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj menyerukan untuk memerangi ajaran Wahabi. Kali ini seruan itu diucapkan Said Aqil di Aula Politeknik Negeri, Batam, Ahad (5/2) dalam sebuah acara bedah bukuSejarah Berdarah Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram yang digelar Gerakan Ansor Provinsi Kepulauan Riau.

Said mengatakan gerakan Wahabi yang berkembang di Indonesia berasal dari Arab Saudi. Tujuan mereka ingin mengajarkan pemurnian Islam versi mereka, sementara ajaran lain dianggap tidak benar dan harus diperangi.”Konsep tersebut tidak cocok diterapkan di Indonesia dan harus diwaspadai. Karena dalam perkembangannya Wahabi atau Salafi itu cenderung mengarah gerakan radikal,” kata dia.

Ia mengatakan, Wahabi memang bukan teroris, namun ajaran-ajaran yang disampaikan menganggap ajaran lain tidak benar sehingga harus ditentang dan mereka mengatasnamakan Islam. “Wahabi selalu mengatasnamakan Islam dalam doktrin atau ajaran yang dilakukan, namun tindakannya kadang tidak islami. Meraka sering menganggap umat lain menjalankan tradisi bidah yang tak diajarkan agama seperti ziarah kubur, baca tahlil, sehingga ajaran itu harus diperangi,” kata dia.

Ia mengatakan, segala kegiatan yang dilakukan umat Islam terutama kaum Nahdiyin (NU) semua berdasarkan ajaran dan tuntunan serta tidak ada yang mengada-ngada. Satu alasan mengapa NU menyatakan memerangi Wahabi karena ajaran yang disampaikannya malah membuat perpecahan dalam tubuh Islam.”NU tegas terhadap Wahabi, kami justru menghargai madzhab (dan agama lain),” kata dia. Hal tersebut, tambah Said, karena dalam Al-Quran juga diajarkan untuk saling menghargai antarumat beragama.

Humor
Dituduh Lebih Syiah

Ketika memasuki ruangan ketua Umum PBNU Kiai Hasyim Muzadi, tiba-tiba Kiai Said Agil Siradj nyeletuk. “Wah ini benar-benar tidak adil,” kata Said Agil sambil memandangi foto-foto yang dipajang di ruangan.

“Apanya yang tidak adil?” tanya Kiai Hasyim Muzadi keheranan karena dituduh tidak adil.

“Ya, sebenarnya sampeyan itu sangat Syiah lho, itu lihat banyak foto-bersama Ayatullah, tetapi kok hanya saya yang dituduh Syiah,” kata Kiai Said.

“Ooo.. beda saya dengan sampean Pak Said, kalau saya bolak balik ke Iran hanya membela reaktor nuklir Iran. Sementara sampeyan membela ajaran Syiah,” papar Kiai Hasyim.

“Ah enggak juga saya kan hanya menjelaskan beberapa kesamaan Syiah dengan Ahlussunnah, masa gitu aja sudah dianggap Syiah. Padahal masuk Syiah ada syahadat dan baiat sendiri.”

“Ah wong namanya tuduhan biarin aja nanti kan reda sendiri,” hibur Kiai Hasyim Muzadi. 

Riset Aktivis NU: Syiah Tampil Damai dan Sejuk

on April 2, 2012

islam Syiah yang lagi ramai-ramainya dibicarakan di Indonesia, baru kali ini diteliti secara ilmiah nan mendalam. Komunitas Syiah di Kabupaten Jepara yang tak pernah muncul dalam berita, dilaporkan secara sangat bagus oleh mahasiswa S3 IAIN Walisongo M Muhsin Jamil MAg, yang merupakan ketua Lakpesdam PW Jawa Tengah 2004-2005.

Situs NU online melaporkan, riset yang luar biasa karena langka itu dinilai sangat bagus kala Muhsin mempresentasikannya di ujian promosi doktor dirinya di Kampus I IAIN Walisongo kemarin (Kamis, 19/1). Sehingga promovenda ini diganjar nilai yudisium IP 3,78 dan dikukuhkan sebagai doktor ke-7 yang diluluskan IAIN Walisongo Semarang.

Para pengujinya adalah Prof Dr Muhibbin, Ahmad Hakim Ph.D, Prof Dr Nurdien H Kistanto, Prof Dr A Ghazali Munir, Prof Dr Ibnu Hadjar, Abu Hapsin Ph D. Adapun promotornya  adalah Prof Dr Mudjahirin Rohir  dan co promotor Dr M Nafis.

Dengan disertasi berjudul Dinamika Identitas dan Strategi Adaptasi Minoritas Syiah di Jepara, dosen Fak Ushuluddin IAIN Walisongo ini mengungkapkan, Syiah di Jepara dan umumnya Indonesia, tidak seperti Syiah Imamiyah di negara-negara Arab.

Golongan minoritas ini, kata dia, berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat lokal yang secara tradisi adalah penganut sunni (mayoritas dunia). Amalan keagamaan yang mereka lakukan juga dibuat sama dengan saudara-saudaranya sesama muslim. Seperti Mauludan, Muharoman atau Suronan.

“Komunitas Syiah di Jepara yang merupakan terbesar di Jawa Tengah, melakukan adaptasi dan dinamisasi dengan masyarakat sekitar. Identitas mereka tidak lagi tampak sebagai minoritas yang “aneh” apalagi sampai disebut menyimpang.

Hasil observasinya, kelompok Syiah di Jepara tidak menampilkan diri sebagai golongan yang berbeda dengan kebanyakan muslim lainnya. Tak satupun dari anggota Syiah Jepara, kata Muhsin, melakukan kawin kontrak alias nikah mut’ah. Mereka juga berbaur dan mengamalkan ritual keagamaan yang sama dengan sunni.

“Komunitas Syiah di Jepara sangat anteng. Mereka rukun saja dan selama ini guyub dengan komunitas lain yaitu NU dan Muhammadiyah. Tak pernah ada konflik walaupun sekedar debat,”  tuturnya.

Nikah mut’ah, ajaran Syiah yang sering dipraktekkan di Arab, jelas Muhsin, justru banyak dilakukan orang non Syiah. Yaitu wanita-wanita Jepara yang karena motivasi ekonomi, rela dinikahi orang asing secara kontrak alias berbatas waktu, semata untuk kepentingan bisnis mebel.

Mudjahirin Tohir dalam ulasannya usai sidang yudisium menyampaikan selamat atas kegigihan Muhsin Jamil melakukan penelitian. Suami dari Nur Rochayati SAg ini dinilai seorang muslim sejati. Karena sebagai orang berpaham sunni –mayoritas—Muhsin mampu menjadi peneliti yang netral dan meneguhkan dia sebagai aktivis multikulturalisme.

Pergumulannya di organisasi Nahdlatul Ulama sejak lama, kata Mudjahirin, membuah ayah dari Nahdiya Bella Pertiwi dan Zaka Aulia Nala Udhma ini sukses membawa pengertian yang luhur tentang syiah. Sehingga ormas seperti NU maupun lembaga MUI bisa turut menjaga iklim damai dan berdialog dengan Syiah secara nyaman.

Namun Rektor IAIN Walisongo yang juga menjadi penguji, Muhibbin menyatakan, pihaknya terpaksa tidak bisa memberi predikat cum laude kepada Muhsin karena sang promovenda melebihi batas waktu penyelesaian studi doktoral. Yakni lebih dari lima tahun yang dipersyaratkan.

“Anda mendapat nilai sangat memuaskan, tetapi tidak bisa diberi predikat cum laude. Karena disertasi Anda baru diujikan lebih dari lima tahun kuliah,” kata Muhibbin.

Muhsin lahir di Tegal, 15 Februari 1970. pendidikan SD dan Mts dia tempuh di kampung halaman, Danawarih, Balapulang, Tegal. Lalu jenjang MAN dia tempuh di Cilacap sambil mondok di Pesantren Sufyan Tsauri Cigaru Majenang Cilacap. Selanjutnya, S1 dan S2 dia tamatkan di IAIN Walisongo Semarang.

Pendidikan pendek berupa training maupun kursus banyak dia dapatkan di luar maupun dalam negeri. Karya tulisnya juga sudah cukup banyak. Diantara buku karangannya adalah “Agama-Agama Baru di Indonesia” dan “Membongkar Mitos, Menegakkan Nalar: Kontestasi Literalism dan Liberalisme Islam” yang diterbitkan Pustaka Pelajar Yogyakarta.

Pengajar etika tasawuf ini juga pernah menulis buku berjudul “Tarekat dan Dinamika Sosial Politik NU: Tafsir Sosial Sufisme Nusantara” dengan penerbit sama.

Adapun aktivitas pengabdian masyarakat yang dilakoninya sekarang adalah Wakil Sekretaris Badan Pengelola Masjid Agung Jateng dan Direktur Komunitas Seni Madina.

Imam Musa Shadr, Menggagas Persatuan Fiqih Menggalang Persatuan Islam

Persatuan Fiqih

Kata persatuan fiqih “Wahdah Fiqh” pertama kalinya diperkenalkan oleh Imam Musa Shadr setelah terbentuknya Majelis Tertinggi Syiah Lebanon dan sekaligus ia menjadi pimpinannya. Dalam pidatonya pertamanya sebagai ketua tanggal 23 Mei 1969, ia meletakkan dua khitthah penting:

1. Prinsip mencegah perselisihan antar kaum muslimin dan usaha keras demi terwujudnya persatuan.

2. Kerja sama dengan semua kelompok etnis dan mazhab di Lebanon dan menjaga persatuan nasional.

Imam Musa Shadr tidak cukup dengan menjelaskan khitthahnya tapi langsung berbuat. Pada bulan Oktober 1969, ia menuliskan sebuah surat bersejarah yang ditujukan kepada Mufti Lebanon Syaikh Hasan Khalid.[10] Dalam isi surat itu untuk pertama kalinya Imam Musa Shadr mempergunakan kata persatuan fiqih. Selain menjelaskan konsepnya, ia memerikan beberapa petunjuk pelaksanaan. Membicarakan konsep persatuan fiqih Imam Musa Shadr harus dilihat dari dua sisi. Pertama, masalah penjelasan substansi konsep persatuan fiqih dan kedua, aksi-aksi Imam Musa Shadr dalam mewujudkan ide-idenya.

Konsep persatuan fiqih

Imam Musa Shadr memulai konsep persatuan fiqihnya dengan mengingatkan kembali akan prinsip-prinsip Islam. Pada dasarnya umat Islam satu dalam akidah, kitab suci, pencipta dan keyakinan akan hari akhir. Kesamaan yang luas semacam ini membutuhkan kesatuan pula dalam masalah-masalah parsial. Persatuan kaum muslimin dalam masalah parsial juga merupakan keinginan ulama terdahulu kita. Sambil membeberkan beberapa nama seperti Syaikh Thusi yang menulis buku al-Khilaf sebagai buku fiqih perbandingan. Menurutnya, fiqih perbandingan adalah modal utama dalam mewujudkan persatuan fiqih dan penyempurna syariat yang satu.

Menurut Imam Musa Shadr, persatuan fiqih adalah bentuk paling sempurna dari fiqih, bahkan syariat. Namun, itu tidak dengan makna bahwa Imam Musa Shadr menutup mata dari perbedaan yang ada. Menurut Imam Musa Shadr, selama perbedaan itu hanya pada tataran teoritis dan tidak sampai pada fatwa, maka perbedaan itu dapat diterima bahkan dipuji. Perbedaan pandangan dari setiap mazhab yang ada bukanlah titik akhir dari fiqih Islam, namun sebuah jembatan untuk mencapai kesatuan dalam tindakan.

Keragaman fatwa yang berhubungan erat dengan tindakan dan perilaku dalam sebuah masyarakat, tanpa disadari mengakibatkan terpecahnya pengikut fatwa. Terpecahnya pengikut fatwa sangat merugikan sebuah masyarakat dalam sebuah negara atau bahkan dalam konsep yang lebih luas lagi adalah umat Islam. Oleh karenanya, diperlukan sebuah fatwa agar umat Islam tidak terpecah belah.

Dalam suratnya, ia membeberkan tiga bidang yang dapat digarap sekaitan dengan masalah persatuan fiqih ini; tujuan-tujuan syariat, sosial dan negara. Dalam tulisan ini hanya akan membahas masalah syariat. Dan sebagai usulannya, Imam Musa Shadr mengajak untuk membicarakan sebuah usulan mengenai masalah penentuan hari raya Idul fitri. Ia mengajak Mufti Lebanon untuk memakai alat teropong dan lainnya untuk menentukan munculnya hilal. Dengan ini, diharapkan seluruh kaum muslimin di Lebanon merayakan lebaran secara bersamaan.

Menurutnya, hanya ada satu hari raya akan sangat menghemat waktu, pikiran, tenaga dan materi. Hari libur juga menjadi jelas dan anjang sana ke sanak famili tidak punya masalah. Berbilangnya hari raya bagi umat Islam bukan sebuah maslahat.

Tentunya, usulan Imam Musa Shadr ini bukan harga mati dan tidak boleh ada kesepakatan mengenai penentuan hilal dengan menggunakan cara ru’yat. Itu boleh-boleh saja, namun harus sesuai dengan kesepakatan yang akhirnya sama dengan cara sebelumnya. Cara silahkan dipilih, namun menurut Imam Musa Shadr yang terpenting adalah ketika mengeluarkan keputusan hari raya hanya satu.

Tahun 1970 Imam Musa Shadr mengikuti konferensi tahunan Majma Buhuts Islami dan menyampaikan ide-idenya tentang persatuan fiqih. Dalam menjawab pertanyaan wartawan majalah al-Mushawwir cetakan Kairo tentang persatuan antar mazhab ia menjawab:

“… Masalah ini akan terwujud setelah diterapkannya konsep persatuan fiqih. Hanya dengan dialog dan pembahasan kosong antara para pemimpin mazhab, harapan persatuan antara mazhab tidak akan terwujud. Karena mazhab telah terpatri dalam jiwa setiap pengikutnya. Saya sangat berharap dari Majma yang anggotanya dari ulama besar Islam dapat mewujudkan persatuan fiqih ini…”[11]

Setiap kali mengikuti konferensi Majma Buhuts Islami, Imam Musa Shadr senantiasa menyampaikan ide-idenya tentang persatuan fiqih. Konferensi ke enam yang dilaksanakan tanggal 19 April 1971 diikutinya juga. Setelah konferensi, dalam pertemuannya dengan para tokoh dan kalangan militer Mesir di terusan Suez ia menekankan lagi masalah persatuan umat Islam dan khususnya ide persatuan fiqih selain menjelaskan pentingnya jihad melawan rezim Zionis. Konferensi ke tujuh dilaksanakan di Aljazair. Di sana ketika diwawancarai oleh majalah al-Mujahid ia kembali menjelaskan idenya tentang persatuan fiqih.[12]

Penerapan persatuan fiqih

Usaha-usaha yang dilakukan oleh Imam Musa Shadr untuk merealisasikan persatuan fiqih sangat banyak. Ada beberapa contoh yang dapat disebutkan:

1. Orang-orang Syiah Lebanon tidak punya masjid untuk melakukan shalat Jumat. Setelah didirikannya Majelis Tertinggi Syiah Lebanon, Imam Musa Shadr berhasil meminta kepada tokoh-tokoh Ahli Sunah untuk melaksanakan shalat Jumat secara bergantian. Seminggu yang mengimami dari Ahli Sunah dan seminggu kemudian dari Syiah. Pelaksanaan shalat Jumat ini disiarkan langsung oleh radio Lebanon.

Suatu waktu, hari Jumat bertepatan dengan hari Idul Ghadir. Imam Musa Shadr mengadakan acara yang meriah. Ia mengundang ulama Ahli Sunah untuk hadir. Salah satu dari mereka Syaikh Abdullah ‘Alaili diminta untuk menyampaikan ceramah. Syaikh ‘Alaili dalam ceramahnya menyinggung hadis Ghadir dan mengatakan bahwa hadis ini merupakan hadis qath’i.

2. Presiden Lebanon setiap tahunnya mengundang tokoh-tokoh agama untuk berbuka bersama. Sebagai ketua Majelis Tertinggi Syiah, Imam Musa Shadr diundang untuk hadir. Waktu berbuka puasa antara Syiah dan Ahli Sunah berbeda sedikit. Syiah berbuka beberapa menit setelah matahari terbenam. Sementara Ahli Sunah berbuka ketika matahari terbenam. Perbedaan ini cukup mencemaskan tuan rumah karena khawatir akan muncul keributan.

Ketika matahari terbenam, Imam Musa Shadr mengambil segelas teh. Semua yang hadir melihat perilaku Imam Musa Shadr dan merasa heran. Satu tangannya yang lain diangkatnya ke atas dan mulai berdoa. Imam Musa Shadr berdoa dan hadirin mengucapkan amin. Doa dilakukan sehingga masuk waktu berbuka puasa bagi orang-orang Syiah. Setelah berdoa, dengan tersenyum ia mengucapkan “Allahumma Laka Shumtu Wa Ala Rizqika Afthartu Wa Alaika Tawakkaltu” dan meminum tehnya.

3. Imam Musa Shadr melakukan perjalanan ke Iran untuk menyambangi teman-temannya. Tentang pengalamannya ia berkata: “Aku bak seorang veteran perang yang kembali dari medan pertempuran. Allah menganugerahkan tempat kerjaku berdekatan dengan musuh. Aku berada di garis depan berhadapan dengan musuh. Aku melihat dari dekat serangan dan perusakan musuh”.

Ia mengatakan bahwa salah masalah terbesar masyarakat Syiah adalah berbilangnya marja. Ketika Marja Ayatullah Hakim pergi menunaikan haji dan pesawat yang membawanya melewati Lebanon, saya bertanya kepada presiden Lebanon. Mengapa engkau tidak mengucapkan pesan kepadanya, padahal ia adalah pemimpin Syiah. Sementara engkau memberikan pesan penghormatan kepada Paus pemimpin Katolik? Presiden menjawab: “Paus adalah sebuah jabatan resmi dan di Lebanon ia punya duta besar begitu juga kami punya duta di Vatikan.

Ayatullah Hakim dan para marja yang lain tidak diakui secara resmi dan bukan satu tapi berbilang sehingga kami bisa bersikap dengan jelas. Saya tidak menyampaikan pesan penghormatan karena ini dan bukan karena tidak menghormati.

Konsep persatuan fiqih adalah sebuah pandangan paling berani dalam usaha mempersatukan umat Islam. Persatuan fiqih merupakan jembatan antara Taqrib dan Wahdah. Usaha pendekatan antara mazhab saja tidak akan pernah bisa menghasilkan persatuan antara mazhab, apa lagi persatuan umat Islam. Ini tidak berarti bahwa usaha pendekatan antar mazhab yang selama ini tidak memiliki arti, namun dengan melihat tujuan Taqrib itu sendiri menjadi sangat sulit mewujudkan persatuan mazhab.

Wahdah akan terwujudkan bila persatuan fiqih menjadi kenyataan. Kendala terbesar dari persatuan adalah masih terikatnya setiap pengikut mazhab dengan fatwa ulamanya. Sementara itu, bila fatwa yang akan diamalkan telah menjadi satu, maka sikap yang akan diambil juga tidak mendua.

Lebih dari itu, konsep persatuan fiqih akan menjadi landasan yang baik dalam kajian-kajian fiqih lintas mazhab yang sedang berkembang di Indonesia. Tanpa menjadikan persatuan fiqih sebagai dasar pemikirannya, studi fiqih lintas mazhab hanya daur ulang apa yang telah dilakukan ulama sebelumnya dengan menempelkan sejumlah istilah-istilah baru.

MUI Minta Sunni-Syiah Hindarkan Konflik

Jumat, 13 Januari 2012, 18:19 WIB
MUI Minta Sunni-Syiah Hindarkan Konflik
Slamet Effendy Yusuf
 .
 Konflik yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, diduga merupakan salah satu bentuk perbedaan pemahaman antara penganut Islam Sunni dan Syiah. Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Slamet Effendy Yusuf, konflik antara Sunni-Syiah tidak akan terselesaikan. Ini dikarenakan perbedaan faham keagamaan Islam yang sangat kontras di antara keduanya
.
Dengan adanya perbedaan pemahaman yang kontras di antara keduanya, Slamet, meminta agar semua warga masyarakat baik Sunni atau Syiah untuk menghindari konflik dengan tidak melihat perbedaan
.
“Caranya terus menjaga persamaan sesama umat Islam, bukan mencari perbedaannya,” jelas Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) ini, Jumat (13/1).Apabila umat muslim terus melihat perbedaan, menurutnya, tidak akan pernah selesai. Jangankan Sunni dan Syiah, kata dia, sesama Sunni pun banyak perbedaannya, seperti antara Wahabi non Wahabi. Tapi, untuk menjaga ukhuwah Islamiyah, dia menyarankan, ada baiknya pemerintah daerah dan ulama di Sampang harus berpikir secara lebih maslahat. “Jangan selalu terpancing dengan perbedaan sektarian,” tegasnya.

Syiah di Indonesia adalah Aliran Islam

Jumat, 06 Januari 2012, 20:15 WIB
  

Syiah di Indonesia adalah Aliran Islam
Tokoh Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat
Aliran Islam Syiah yang ada di Indonesia menurut kajian Centries sebenarnya merupakan aliran Islam dengan tokoh sentralnya adalah Djalaluddin Rahman, seorang cendikiawam Muslim asal Bandung.Berbeda dengan kelompok Islam lainnya, kelompok ini, kata Direktur Central for Religion and Political Studies (Centries) Madura Sulaisi Abdurrazak, memang cenderung menokohkan Khalifah Ali Bin Abi Tholib dibanding ketiga Khalifah lainnya, semisal Abu Bakar, Umar dan Usman.Sebab menurut Sulaisi, yang menjadi landasan pijakan mereka adalah Hadits Nabi Muhammad yang menyatakan ‘Aku ini adalah gudang ilmu dan Ali adalah pintunya.’”Syiah di Sampang ini menurut kajian kami sementara afiliasinya ke sana. Makanya, kami heran, ketika tiba-tiba ada pernyataan itu sesat hanya karena perbedaan cara pandang saja atau sebagian tradisi yang berbeda,” kata Sulaisi
.
Ke depan, pemuda yang pada masa kecilnya pernah mengenyam pendidikan di pesantren kelompok Islam Sunni ini menyatakan, pendidikan keagamaan yang plural, bukan hanya bertumpu pada salah satu paham dari sekian pemahamaan keagamaan yang berkembang adalah sangat diperlukan. Sehingga pemuda Islam lebih terbuka dan tidak hanya bertumpu pada satu titik pemahaman saja
.
Kegagalan lembaga pendidikan Islam selama ini, sambung dia, karena pemuda Islam hanya disuguhkan dengan satu pemahaman saja, atau satu cara pandang.”Perbandingan mazhab saya kira perlu mulai diajarkan kepada kaum muda Islam sejak dini. Selama ini kan tidak seperti itu. Santri yang mondok di pesantren tertentu hanya satu pahan keagamaan saja. Jadi pikiran merekan tentang Islam tetap picik,” katanya menambahkan.Akibatnya, kata pemuda lulusan magister ilmu politik Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini, semua jenis pemahamaan yang berbeda dan tidak lumrah terjadi di masyarakat lalu dianggap sesat, apalagi pernyataan itu memang disampaikan oleh tokoh ulama setempat yang dianggap paham agama.
Konflik bernuansa SARA antara kelompok Islam Syiah dengan kelompok Islam Sunni di Sampang, Madura ini bermula dari konflik pribadi antara pimpinan Islam Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya KH Rois yang beraliran Sunni.Dari konflik keluarga itu, lalu meluas menjadi konflik SARA setelah di kalangan pengikut Islam Sunni tersiar kabar bahwa aliran Islam Syiah merupakan aliran Islam sesat, sehingga pengikut Islam Sunni beramai-ramai mengusir pengikut Syiah yang ada di wilayah Kecamatan Omben dan Kecamatan Karangpenang.Puncaknya terjadi pada 29 Desember 2011 berupa pembakaran rumah, madrasah, mushalla dan pesantren kelompok Islam Syiah.

Sebanyak 335 orang pengikut aliran Islam Syiah dari total 351 orang lebih dievakuasi ke GOR Wijaya Kusuma depan kantor Bupati Sampang akibat kerusuhan yang terjadi ketika itu.

Konflik ini sudah terjadi sejak 2006, namun hingga kini belum bisa diredam hingga akhirnya terjadi aksi anarkis berupa pembakaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s