Month: April 2012

Siapakah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?

Senin, 07 Mei 2012 14:44 Redaksi
E-mail Cetak PDF
Bandung -
Usai bedah buku “Potret Ulama” di Masjid kompleks Darul Hikam wal Ihsan, Bandung, pada Ahad (6/5/2012), KH Athian Ali Muhamad Da’i, selaku Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), menerangkan tentang status para dai yang menyebarkan agama Syiah.

“Mereka yang berkeyakinan terhadap paham-paham tersebut (Syiah-red) adalah sesat, baik mengaku Syiah ataupun mengaku tidak.” tegas beliau.

Sebelumnya, FUUI menyelenggarakan Musyawarah Ulama dan Ummat Islam Indonesia, dengan agenda tunggal : “Merumuskan Langkah Strategis untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syiah”. Acara tersebut dilaksanakan pada Ahad (22/04/2012) di Masjid Al-Fajr, Jalan Cijagra, Bandung, Jawa Barat

Apa Itu Ahlussunnah Wal JamaahSungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92].

Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?setelah  Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak

Dahulu Bani Umayyah Memerangi Imam Ali! Kini kaum takfir lintas mazhab Memerangi Syi’ah Ali!

Perda Anti Syi’ah Itu Sudah Ketinggalan Zaman!

Jika dahulu bani Umayyah,  dimulai dengan Abu Sufyan, Mu’awiyah dan Yazid kemudian setelahnya dilanjutkan oleh para penguasa tiran bani Umayyah tak henti-hentinya dengan segala cara memerangi Imam Ali as. simbol Islam dan keimanan… Mulai kekerasan teratur yang mereka langsungkan semasa hidup Nabi saw. terhadap Nabi saw dan Ahlulbait as. serta para sahabat setia beliau hingga mengobarkan peperangan demi peperangan; peran Badar, Uhud, Khandaq dll sebagaimana dicatat dalam sejarah… semua itu telah mereka lakukan untuk memusnahkan Dakwah Islam tetapi hasilnya adalah Islam terus berjaya hingga kota Mekkah (yang saat itu menjadi benteng terakhir kemusyrikan) ditaklukkkan…

Islam berjaya… Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid (abang Mu’awiyah, bukan Yazid anaknya) dan sisa-sisa aimmatul kufri/gembong-gembong kekafiran (bukan-bukan sekedan gembong kaum Musyrik, perhatikan baik-baik!) lainnya betekuk lutut di hadapan kejayaan Islam dan Nabi Muhammad saw. dan kegigihan perjuangan Ali bin Abi Thalib as. dan para sahabat setia lainnya.

Abu Sufyan dan putra harapannya beserta para mantan Musyrik itu segera mengubah strategi balas dendam mereka atas kekalahan di hadapan kemenangan dan kejayaan Nabi Islam!

Bertahun-tahun setelah itu… tepatnya setelah wafat Nabi saw. mereka bangkit lagi berusaha membalas kekalahan di perang Badar, Uhud, Khandaq dll…. hanya beberapa tahun setelah wafat Nabi saw. Abu Sufyan memalui kedua putranya; Yazid dan dilanjutkan oleh Mu’awiyah berhasil mendapat posisi strategis dalam pemerintahan Islam yang membuatnya berani menentang Khalifah yang sah saat itu; Ali bin Abi Thlaib as dan kemudian mengobarkan pemberontakan!

Setelah kesyahidan Imam Ali as. Mu’awiyah berkuasa… Maka agenda pertama Mu’awiyah adalah membalas dendam kekalahan para moyangnya di perang Badar dan Uhud… kini dendamnya dimuntahkan kepada keluarga suci Nabi saw. … kepada Ali dan Ahlulbait as.

Tidak puas dengan kematian Imam Ali as., Mu’awiyah mencanangkan agenda besar dalam rangka balasa dendam itu… maka yang ia lakukan antara lain:

A)    Melaknati Imam Ali as. dan mewajibkan umat Islam melaknatinya dan mencaci maki beliau as. di setiap kesempatan umum.

B)    Menteror dan memerangi Syi’ah Ali as. dengan berbagai cara dan merangsang umat Islam agar membenci dan memusuhi Imam Ali as. dan Syi’ah Ali.

C)    Memberikan posisi istimewa dan gaji melimpah bagi siapapun yang setia menjalankan program “Anti Ali dan Syi’ah Ali”.

D)    Menghukum siapa saja yang diketahui mencintai Ali dan Ahlulbait Nabi mulia as.

Di antara dokumen yang sempat diselamatkan sejarah adalah surat ketetapan Mu’awiyah yang diumumkan kepada umat Islam (bukan lagi Perda yang sekarang lagi marak digalang oleh meerka yang setia kepada program bani Umayyah dan khususnya Mu’awiyah) dan agar dijadikan pedoman pelaksanaan teror terprogram atas Ahlulbait as. dan Syi’ah Ali adalah surat ketatapan di bawah ini:

انْظُرُوْا إِلَى مَن قَامَتْ عليهِ الْبَيِّنَةُ أنَّهُ يُحِبُّ عَلِيًّا وَ أهْلَ بَيْتِهِ فَامْحُوْهُ مِنَ الدِّيوَانِ وَ أسْقِطُوا عَطَاءَهُ وَ رِزْقَهُ

“Perhatikan! Siapa yang terbukti mencintai Ali dan Ahlulbaitnya maka hapuslah namanya dari catatan sipil negara, gugurkan uang pemberian untuknya!”[1]

Dalam surat keputusan Mu’awiyah di atas, jelas sekali bahwa kecintaan kepada Sayidina Imam Ali as. dan Ahlulbiatnya as adalah sebuah dosa yang karenanya seorang harus dihukum dengan tidak dianggap sebagai warga negara Muslim yang berhak atas hak-haknya sebagai Muslim… mereka tidak berhak mendapat uang jaminan sosial seperti kaum Muslim lainnya… langkah licik perang ekonomi untuk membuat para pecinta Ali dan Ahlulbaitnya agar segera menaggalkan keimanan dan kesetian mereka kepada Nabi saw dan agamanya! Nama para pencinta Ali dan Ahlulbaitnya pun harus segera digugurkan dari catatn sipil!

Tidak puas dengan kebijakannya yang kejam dan menyimpang dari jiwa Islam itu, Mu’awiyah melengkapinya dengan surat ketetapan berikutnya dengan harapan agar agenda pembungkaman suara keadilan Islam lebih cepat terwujud… Mu’awiyah menuliskan sepecuk surat susulan sebagai berikut:

مَنْ اتَّهَمْتُمُوْهُ بِمُوَالاَةِ هَؤُلاَءِ القَوْمِ فَنَكِّلُوْا بِهِ وَ اهْدِمُوْا دَارَهُ

“Barang siapa yang kalian curigai mencintai Ali dari mereka maka jatuhkan sanksi berat atasnya! Dan hancurkan rumahnya!” [2]

Dengan surat keputusan itu, Mu’awiyah berharap agar kaum Muslimin menjadi pelaksana lapangan eksekusi pembantaian dan penghancuran rumah-rumah para Syi’ah Ali! Dan itulah yang terjadi! Para Syi’ah Ali dikejar-kejar… dibunuh secara keji tanpa belas kasih… rumah-rumah mereka dibakar… dirobohkan… dan keluarga mereka diusir dari tempat tinggal mereka…

Mu’awiyah mendidik umat Islam untuk menjadi srigala-srigala buas yang siap memangsa para Syi’ah Ali. …

Berabad-abad setelah kematian Mu’awiyah dan runtuhnya dinasti tiran keluarga Umayyah; pohon terkutuk dalam Al Qur’an keberingasan sebagian umat Islam masih juga dirasakankan di berbagai belahan dunia Islam… mereka menjadikan Syi’ah Ali sebagai mangsa-mangsa keganasan dan ketidakadilan mereka!

Mimbar-mimbar dijadikan media pengkafiran Syi’ah … kaum Muslimin yang semestinya saling berkasih-sayang kini dicuci otak mereka oleh para pelanjut Misi Mu’awiyah agar membenci dan memerangi Syi’ah Ali… keberanian mereka diarahkan untuk memerangi Syi’ah Ali!

Saya sangat khawatir bahwa kaum Muslimin sedang tertipu oleh ketidak-tahuan mereka… mereka tidak menyadari bahwa mereka telah memerangi ‘Sayyidina Ali mereka’ dan mensukseskan agenda besar musuh ‘Sayyidina Ali mereka’ yaitu Mu’awiyah putra Abu Sufyan; gembong kekafiran dan pengayom kaum munafik!

Kini apa yang dicita-citakan Mu’awiyah dan para tiran keluarga pohon terkutk dalam Al Qur’an saat mereka berkuasa diusahakan kembali oleh ‘kaum Muslim’ dengan segala macam cara agar diperdakan!

Para tukang fitnah dan para pemuja pohon terkutuk itu berusaha menggalang kekuatan dan memobilisasi massa untuk memerangi Sayyidina Ali dan Syi’ahnya!

Akankah kezaliman Setan mengalahkan keadilan Tuhan?!

Akankah kegelapan mengusir cahaya wahyu langit?!

Akankan mereka berjaya dan Syi’ah Ali terlantar setelah doa Nabi suci: Allahuma wâli man Wâlâhu…. wan Shur man nasharahu… wakhdzul man khadzalahu/Ya Allah bimbinglah para pecinta Ali yang mengakui kepemipinannya…. belalah siapa yang membelanya… hinakan siapa yang menghinakan Ali?!

Akankah tiupan mulut-mulut mereka memadamkan cahaya Ilahi?! Sedangkan Allah yang Maha Kuasa telah berfirman:

يُريدُونَ أَنْ يُطْفِؤُا نُورَ اللَّهِ بِأَفْواهِهِمْ وَ يَأْبَى اللَّهُ إِلاَّ أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَ لَوْ كَرِهَ الْكافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At Taubah [9];32)

يُريدُونَ لِيُطْفِؤُا نُورَ اللَّهِ بِأَفْواهِهِمْ وَ اللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَ لَوْ كَرِهَ الْكافِرُونَ

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya- Nya meskipun orang- orang kafir benci.” (QS. Ash Shaff [61];8 (

Sebagaimana Allah kecewakan Mu’awiyah dan musuh-musuh Islam dalam agenda jahat mereka… Allah juga akan mengecewakan agenda jahat siapapun yang berbuat makar atas umat Islam dengan memerangi Syi’ah Ali!

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنا وَ الَّذينَ آمَنُوا فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَ يَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهادُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Ghafir [40];51 )

Dan tidak kekuatan apapun di alam semesta ini akan akan mengalahkan kekuatan Allah… dan siapapun yang ditolong Allah pastilah tidak dapat dikalahkan…

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غالِبَ لَكُمْ وَ إِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَ عَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu ( tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain ) dari Allah sesudah itu Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”  (QS. Âlu Imrân [3];160)

Inilah janji Allah…

وَ مَنْ أَوْفى‏ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ

Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah.“ (QS. At taubah [9];111)

Shadaqallahul ‘Adzîm


[1] Syarah Nahj al Balâghah, jilid III/juz 11/14-17.

[2] Syarah Nahj al Balâghah, jilid III/juz 11/14-17.

Bahaya Islam Umawi

Persembahan Buat Para Salafiyyîn Pemuja Pohon Terkutuk!

Berbeda dengan pemahaman kebanyakan kalangan bahwa Islam itu hanya tampil dengan dua wajah; Ahlusunnah dan Syi’ah! Tetapi anggapan itu tidak benar… . Ternyata ada wajah lain yang cenderung terlupakan atau kurang disoroti. Ia adalah wajah Islam Umawy, islam vesri Bani Umayyah yang justeru berambisi sejak awal kemunculannya untuk memonopoli sebagai Islam sejati!

Ketika keberadaan islam Umawy ini terlupakan atau tidak diperhitungkan maka akan menimbulkan banyak dampak negetif dalam kajian para pengkaji sejarah dan ajaran Islam di samping berbahaya dalam praktik keberagamaan umat Muslim! Di antaranya, bahwa bisa saja akan ada sekelompok dari orang Syi’ah yang secara keliru menganggap seluruh Ahlusunnah adalah Nashibi, mengingat mereka mendapati beberapa tokoh islam Umawy yang berkedok sebagai tokoh Ahlusunnah menampakkan kesinisan bahkan permusuhannya kepada Ahlulbait Nabi as.!

.

Sebagaimana bisa jadi para penganut faham Ahlusunnah menjadi tertipu karena menganggap beberapa tokoh Islam Umawy itu sebagai tokoh Islam Ahlusunnah-nya! Dan akibatnya mereka membela para tokoh islam Umawy itu dan yang lebih bahaya dari itu adalah kita meniru ulah mereka dan dengan tidak menyadari telah terjebak dalam jaring perangkap islam Umawy. Karenanya pembagian wajah Islam menjadi tiga; (1) Islam Ahlusunnah (2) Islam Syi’ah dan (3) Islam Umawy adalah sebuah keniscayaan dan bukan pula hal mengada-ngada mengingat memang demikian kenyataannya!

Islam Umawy ini diwakili oleh Ibnu Taimiyah Cs dan sekarang tongkat estafet itu diambil alih oleh kaum Wahhâbi-Salafi.

Tentu islam Umawy ini memiliki ciri yang membedakannya dari Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah! Sebagaimana ada titik temu antara Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah.

Titik Temu Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah

Yang palig mencirikan kedua wajah Islam ini adalah kentalnya kecintaan, penghormatan, pengagungan dan hubungan emosional yang sangat dalam dengan Nabi Muhammad Saw. dan Ahlulbait beliau as. Ini adalah titik temu yang benar-benar menggannggu tidur nyenyak dan ketentraman para penganut islam Umawy.

Sementara itu ciri yang sangat menonjol dari islam Umawy di samping kekakuan sikap dan kesembronoannya dalam menvonis kafir setiap yang berbeda dengan mereka dan tentunya yang paling special dari mereka adalah sikap kebencian yang mendalam kepada Ahlulbait as. dan kurangnya penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw.

Mu’awiyah Adalah Pencetus Islam Umawy

Tidak diragukan lagi bahwa Mu’awiyah adalah ‘Putra Harapan Kaum Kafir Quraisy’ yang diharap mampu menjayakan proyek para pembesar kafir Quriasy yang bertekuk lutut di hadapan kejayaan Islam, puncaknya dengan ditaklukkannya kota Mekkah. Abu Sufyan berusaha meraih kembali kejayaan palsu kemusyrikan kaum Musyrik Quraisy melalui putra kebanggaannya, Mu’awiyah. Setelah berhasil merebut kekhalifahan, Mu’awiyah segera menjalankan agenda besarnya; memerangi Islam yang dibawa dan diperjuangkan Nabi bersama para sahabat mulianya. Namun kali ini, ia tidak menggunakan cara-cara klasik para moyangnya. Ia menjalankan peperangan ini dengan cerdas, halus, berlahan namun pasti dan tidak lupa, ia perangi Islam Rasulullah Saw. dengan menggunakan nama Islam itu sendiri sebagai senjata, tentunya setelah membodohi banyak kalangan dengan tipu muslihat dan makar jahatnya!

Mu’awiyah Menghancurkan Wibawa Nabi Saw. dan Kebanbian!

Tidaklah akan ada gunanya rasanya apabila kekuasaan yang telah ia rebut dengan makar dan tipu muslihat, dan ia pertahankan tangan besi dari umat Islam itu tidak ia jadikan senjata ampuh untuk menghancurkan Islam yang sejak dahulu ia perangi ‘mati-matian’ bersama ayah-ibunya, paman-pamannya dan kakek-kakeknya dan yang untuknya keluarga besanya telah kehilangan banyak anggota keluarga dan kerabat kesayangan mereka, selain tentunya harta yang tidak sedikit! Karenanya, agenda besar islam Umawy adalah bagaimana Islam sejati yang dibawa Rasulullah Muhammad Saw dapat dimusnahkan dan diganti dengan islam versi Umayyah.

Untuk itu semua, pertama-tama yang harus dilakukan adalah bagaimana kewibawaan Nabi Saw. dan kenabian harus segera diruntuhkan. Muhammad saw. –dalam pandangan Mu’awiyah dan Bani Umayyah- jangan terlalu dijadikan nabi… ia harus jadi Muhammad biasa… Muhammad putra Abu Kabsyah! Bukan Muhammad yang Wamâ yanthiqu ‘Anil hawâ in huwa illâ wahyun yûhâTiada ia berucap dari hawa nafsunya melainkan seluruh ucapannya dari wahyu dan berdasar bimbingan wahyu! Demikian pula, segala panji yang akan mengingatkan kita kepada Nabi Muhammad saw. harus segera dimusnahkan… semua yang mewakili wajah cemerlang Nabi Saw. harus dicoreng dan dihinakan serta dikubur! Dan umat harus dibutakan terhadapnya… Mesti harus dibina generasi yang hanya mengenal wajah islam Umawy yang mewakili satu-satunya Islam edisi resmi yang otentik… . Hindun sebagai wanita sucinya yang harus dikuduskan… Abu Sufyan sebagai Kekek kaum Muslimin dan Mu’awiyah, selain sebagai Khalifah resmi Rasulullah Saw. ia juga ‘Paman Kaum Muslimin/Khâlul Mu’minin’. Dan tentunya tidak ketinggalan bahwa Yazid adalah pewaris sejati tahta kenabian dan duta Tuhan di muka bumi-Nya!

Tidak sulit medapatkan bukti-bukti yang mendukung apa yang saya katakan di atas. Namun karena terbatasnya waktu dan ruang saya hanya akan saya cukupkan dengan menghadirkan beberapa bukti saja.

Bukti Pertama:

Zubair bin Bakkâr (yang perlu dicatat di sini bahwa ia tidak perlu diragukan keberpihakannya kepada islam Umawy, sehingga Anda tidak perlu meragukan penulikannya) dalam kitab al Muwaffaqiyyât-nya meriwayatkan,

“Mathraf bin Mughîrah bin Syu’bah berkata, ‘Aku bersama ayahku masuk menjumpai Mu’awiyah. Dan ayahku biasa mendatangi Mu’awiyah dan berbincang-bincang lalu sepulangnya ia menceritakan kepada kami kehebatan akal dan ide-ide Mu’awiyah. Lalu pada suatu malam ayahku pulang dan ia menahan diri dari menyantap makan malamnya, aku menyaksikannya sedih. Aku menantinya. Aku mengira kesedihannya karena kami. Lalu aku berkata, ‘Wahai ayah! Mengapakah aku menyaksikanmu bersedih sepanjang malam? Maka ia menjawab, ‘Hai anakku! Aku baru saja datang dari seorang yang paling kafir dan paling busuk’! Aku bertanya, ‘Apa itu?’ ia berkata, ‘Aku berkata kepada Mu’awiyah di saat aku berduaan dengannya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya engkau telah mencapai usia lanjut, andai engkau tampakkan keadilan dan kamu berikan kebaikan. Andai engkau memperhatikan kondisi kerabatmu dari Bani Hasyim, engkau sambung tali rahim mereka. Demi Allah, tidak ada lagi pada mereka sesuatu yang perlu engkau takutkan. Hal itu akan membuat nama harum Anda menjadi langgeng dan pahala tetap untuk Anda. Maka ia berkata, ‘TIDAK! TIDAK! Sebutan apa yang aku harap dapat langgeng! Saudara dari suku Taim (Abu Bakar maksudnya) berkuasa lalu ia berbuat baik, lalu apa? Ia mati dan sebutannya pun juga mati bersamanya! Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, ‘Abu Bakar! Abu Bakar! Saudara suku Adi (Umar maksudnya) berkuasa, lalu ia bersungguh-sungguh dalam berbuat baik, kemudian ia mati, maka mati pula sebutannya. Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, Umar! Umar!

.

SEMENTARA ITU ANAK PAK ABU KABSYAH NAMANYA DIPEKIKKAN SETIAP HARI LIMA KALI; “AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH” Amal dan sebutan apa yang akan langgeng! Celakalah engkau! Tidak! sehingga nama orang itu (Nabi Muhammad Saw maksudnya) dikubur dalam-dalam/ dafnan-dafnan![1]

Dalam kata-katanya yang penuh dengan luapan kekafiran itu ia menyebut Nabi Mulia saw. dengn sebutan putra Abu Kabsyah tentu dengan tujuan menghina, sebab kaum kafir Quraisy dahulu demikian memanggil Nabi Muhammad Saw. dengan maksud menghina. Abu Kabsyah adalah nama bapak asuh Nabi saw. saat kanak-kanak! Kata-kata itu sendiri dapat menjadi bukti betapa Mu’awiyah tidak kuasa menyembunyikan kekafirannya dan sekaligus kedengkiannya kepada Nabi Islam Muhammad Saw.

Bukti Kedua:

Ketika Mu’awiyah mendengar seorang muadzdzin mengumandangkan suara adzan, dan ia sampai pada pasal: Asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Mu’awiyah berkata, ‘Untukmu ayahmu hai anak Abdullah! Engkau benar-benar berambisi besarEngkau tidak puas sehingga engkau gandengkan namamu dengan nama Rabbul ‘Âlâmîn.[2]

Penyebutan nama Nabi Saw. dalam syahadatain baik dalam pasal adzan maupun selainnya adalah sepenuhnya berdasarkan wahyu. Kita kaum Muslimin meyakini bahwa beliau saw. adalah Nabi dan Utusan Allah, tiada berkata dan bertindak melainkan atas dasar bimbingan wahyu… akan tetapi mereka yang tidak mempercayai beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah pasti akan memaknai apa yang dibawa Nabi Saw. sebagai buatan dan kepalsuan yang dibuat-buat oleh Muhammad Saw. Kenyataan ini telah ditegaskan dalam Al Qur’an. Kecuali apabila Mu’awiyah juga berani menuduh ayat tentangnya sebagai kepalsuan buatan Nabi Muhammad Saw.

Allah berfirman:

أَ لَمْ نَشرَحْ لَك صدْرَك (*) وَ وَضَعْنا عَنْكَ وِزْرَكَ (*) الَّذي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (*) وَ رَفَعْنا لَكَ ذِكْرَكَ (*) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (*) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (*) فَإِذا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (*) وَ إِلى‏ رَبِّكَ فَارْغَبْ

َ.

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu.* Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,* Yang  memberatkan punggungmu.* Dan Kami tinggikan bagimu sebutan ( nama ) mu.* Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,* sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.* Maka apabila kamu telah selesai ( dari sesuatu urusan ), kerjakanlah dengan sungguh- sungguh ( urusan ) yang lain,* Dan  hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”(QS asy Syarh [94];1-8(

Imam asy Syafi’i meriwayatkan  tafsir ayat kelima di atas dari Mujahid, ia berkata: “Tiada Aku (Allah) disebut melainkan engkau juga disebut bersamaku, “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Bukti Ketiga:

Dalam kitab al Mu’ammarîn karya Abu Hâtim as Sijistâni, “Pada suatu hari Mu’awiyah bertanya kepada Amad bin Abad al Hadhrami (seorang yang berusia panjang), ‘Apakah engkau pernah menyaksikan Hasyim (kakek ayah Nabi saw.)? ia menjawab, ‘Ya. Pernah. Ia seorang yang tinggi gagah dan tanpan …’ Mu’awiyah melanjutkan, ‘Apakah engkau pernah melihat Muhammad?’ Amad bertanya balik, ‘Muhammad siapa?’ Mu’awiyah menjawab, ‘Rasul Allah.’ Amad menjawab, ‘Mengapakah engkau tidak mengagungkannya sebagaimana Allah mengagungkannya, mengapakah kamu tidak menggelarinya dengan Rasulullah?[3]

Bukti Keempat:

Mu’awiyah Bangga Dipanggil Sebagai Rasulullah!

Imam ath Thabari dalam kitab Târîkh-nya meriwayatkan bahwa ketika ‘Amr bin Âsh mendelegasikan serombongan penduduk Mesir untuk menemui Mu’awiyah di istananya, ia berpesan agar mereka tidak memanggil Mu’awiyah dengan gelar Amirul Mukminin, ‘Amr bin Âsh berkata, ‘Perhatikan! Jika kalian masuk menemui putra Hindun maka hendaknya kalian tidak mengucapkan salam dengan mengatakan ‘Assalamu alaikum wahai Khalifah. Karena yang demikian membuat kalian lebih dihargai oleh Mu’awiyah. Dan hinakan dia sebisa kalian. Mu’awiyah sepertinya telah merasakan adanya makar jahat ‘Amr bin Âsh. Ia berkata kepada penjaga istana, ‘Sepertinya aku telah mengetahui bahwa putra Nâbighah (nama ibu ‘Amr bin Âsh yang juga dikenal sebagai pelacur murahan_pen) hendak menghinakan kedudukanku di hadapan mereka. Kerenanya, perhatikan jika delegasi itu datang, tahan mereka di luar dengan cara hina sehingga setiap dari mereka hanya akan memikirkan keselamat dirinya sendiri. Setelah mereka dipersilahkan masuk, orang yang pertama kali masuk adalah seorang dari penduduk Mesir bernama Ibnu Khayyâth, ia ketakutan sampai-sampai ia terputus-putus bicaranya, lalu ia berkata, “SALAM ATASMU WAHAI RASULULLAH. Kemudian yang lainnya pun mengikuti dengan menggelari Mu’awiyah dengan gelar Rasulullah! Dan Mu’awiyah pun tidak menghardik atau menyalahkan mereka karena hal itu![4]

Mu’awiyah Mengolok-olok Syariat Rasulullah Saw.

Adapun sikap pelecehan dan menghina terhadap syari’at Nabi Muhammad Saw. yang ditampakkan terang-terangan oleh Mu’awiyah maka bukanlah hal samar…. Mengakui Ziyâd yang lahir dari pasangan suami istri yang tidak sah sebagai anak Abu Sufyan sebab ibu Ziyad yang bernama Sumayyah telah melacur dengan Abu Sufyan (yang memang sangat dikenal suka berzina)… maka Mu’awiyah mengakuinya sebagai Ziyad bin Abu Sufyan setelah sebelumnya disebut Ziyad bin Abihi (Ziyad putra ayahnya) adalah satu dari puluhan jika bukan ratusan contoh kasus pelecehan terhadap Syari’at dan bukan hanya sekedar pelanggaran hukum semata! Sehingga rasanya, untuk sementara waktu tidak perlu saya berlama-lama menyita waktu pembaca terhormat dengan menyebutnya satu persatu. Mungkin dalam kesempatan lain kami akan menyajikannya untuk para pembaca.

Mu’awiyah Sukses Membangun Jaringan Front Pembela Bani Umayyah.

Dan sebagai bukti keberhasilan Mu’awiyah dalam kejahatannya merusak kesadaran kaum Muslimin, ia mampu menciptakan di setiap zaman kelompok yang getol membela bani Umayyah dan mengecam siapapun yang berani membongkar kejahatan Mu’awiyah dan Bani Umayyah dengan menuduhnya sebagai Syi’ah! Pembenci Salaf Shaleh! Zindiq dll. Kenyataan ini akan Anda ketahui buktinya segera setelah artikel ini diterbitkan… Anda akan menyaksikan bagaimana mereka akan menvonis kami sebagai Syi’ah Rafidhah yang Zindiq! Sebab dalam kamus islam Umawy, wajib hukumnya bahkan mungkin termasuk rukun iman terselubung mengagungkan Mu’awiyah. Maka barang siapa yang membongkar kejahatan Mu’awiyah dan Bani Umayyah maka ia zindiq/bukan Muslim!

 

[1] Al Akhbâr al Muwaffaqiyyât:576-577, Murûj adz Dzahab; al Ms’ûdi,4/41 dan an Nashâih al Kâfiyah; Sayyid Habib Muhammad bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya Al Alawi al Hadhrami asy Syafi’i:93. Setelahnya al Habib Muhammad bin Aqil menyebutkan bahwa Zubair bin Bakkâr adalah Qadhi kota suci Mekkah, seorang yang sangat masyhur di kalangan para Muhadditsin dan parawi hadis shahih. Dan ia tidak tertuduh menjelek-jelekkan keutamaan dan keadilan Mu’awiyah sebab ia tergolong dari pembela Mu’wiyah. Dan seperti Anda ketahui bahwa di antara keluarga Zubairiyyin banyak yang menyimpang dari Ali (karramallahu wajhahu).

[2] Syarah Ibn Abil Hadîd al Mu’tazili,10/101. Para tokoh Islam Umawy selalu menuduh siapapun yang tidak berpihak kepada Mu’wiyah sebagai Syi’ah Rafidhah tidak terkecuali Imam Ibnu Abil Hadîd, Imam al Hâkim, Imam ath Thabari, Imam Syafi’i dll. Seperti dapat dibuktikan!

[3] An Nashâih al Kâfiyah:95.

[4] Kisah lebih lanjut dapat Anda baca langsung dalam Târîkh ath Thabari. Baca juga an Nashâih al Kâfiyah:94.

Bahaya Islam Umawi Dalam Merusak Agama!

Persembahan Buat Para Salafiyyîn Pemuja Pohon Terkutuk!

Mu’awiyah Menentang Hukum Allah dan Rasul-Nya dengan Biadab!

bahwa sulit rasanya menghitung-hitung kejahatan Mu’awiyah dan rezimnya terhadap agama ini dan kehormatan hukumnya serta kemuliaan Nabi-nya! Mengakui Ziyâd bin Ubaid (nama asli ayah Ziyâd dari pasangan istri bernama Sumayyah) sebagai anak Abu Sufyân padahal Sumayyah ketika hamil ia masih sah berstatus sebagai istri Ubaid adalah penentangan terang-terangan yang sulit bahkan mustahil dicarikan pembelaannya. Sebab dalam hukum Islam yang diketahui umum oleh semua kaum Muslim baik yang awam apalagi yang berilmu bahwa setiap anak akan diikutkan penasabannya kepada bapak sah bukan kepada bapak biologisnya!

Kejahatan ini tidak semata karena motivasi politik semata, namun lebih dari itu, dengannya Mu’awiyah mengumumkan perang terbuka dengan hukum Allah dan rasul-Nya! Karenanya dan karena tindakan yang membuktikan kemunafikan dan kekafirannya yang lain, tidak sedikit di antara para ulama yang tegas-tegas mangkafirkan Mu’wiyah! Bahwa penampakan dua kalimat syahadat dan menjalankan ritual-ritual tertentu itu ia lakukan dengan kedok kemunafikan tidak lain!

Ibnu Abil Hadîd al Mu’tazili menegaskan, “Mu’awiyah cacat (diragukan) agamanya di kalangan para masyâikh (tokoh-tokoh) kami –semoga Allah merahmati mereka. Mu’awiyah disinyalir adalah seorang ateis/tidak beragama.![1]

Beliau juga mengatakan, “Banyak dari ulama kami mengecam agama Mu’awiyah. Mereka tidak hanya menvonisnya sebagai orang FASIQ. Mereka mengatakan bahwa ia adalah seorang ateis yang tidak percaya kepada kenabian. Para ulama kami itu telah menukil ketergelinciran ucapannya yang terekam yang tegas-tegas menunjukkan kenyataan itu!. (kemudian beliau menyebutkan kisah yang diriwayatkan oleh Zubair bin Bakkâr dalam kitab al Muwaffaqiyât-nya, seperti telah kami sebutkan dalam bukti pertama dalam artikel yang lalu.[2]

Dan setelahnya, Ibnu Abil Hadîd melanjutkan, “Adapun tindakan-tindakannya yang menyimpang dari keadilan yang nyata seperti ia mengenakan baju sutra, menenggak minuman dalam cawan-cawan emas dan perak sehingga Abu Da’rdâ’ menegurnya dengan keras seraya mengatakan aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang yang meminum dari gelas-gelas dari emas dan perak sesungguhnya ia akan tersungkur dalam api neraka.” Lalu jawaban Mu’awiyah yang mengatakan, ‘Tetapi menurutku tidak apa-apa! Maka Abu Dardâ’ berkata, “Siapakah yang akan membelaku dari Mu’awiyah?! Aku kabarkan kepadanya hukum Rasulullah saw. tetapi ia bantah aku dengan pendapat pribadinya. Demi Allah! Aku tidak akan tinggal bersamamu di satu negeri pun!

Berita ini telah diriwayatkan oleh para ahli hadis dan para ahli fikih dalam kitab-kitab mereka dalam masalah tentang pembuktiann dibolehkanya berhujjah dengan khabar seorang yang adil. Berita ini mencacat keadilannya (Mu’awiyah) sebagaimana mencacat akidah/keimanannya. Sebab seorang yang terang-terangan menentang hukum yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dengan mengatakan, ‘Tetapi menurutku tidak apa-apa!’ terhadap sesuatu yang tegas-tegas telah diharamkan Rasulullah saw jelas orang seperti itu tidak sehat akidahnya.

Hal lain yang telah diketahui umum dari prilaku Mu’awiyah adalah bahwa:

  • Ia memonopoli harta umat Islam.
  • Menghukum dera orang yang tidak bersalah.
  • Menggugurkan hukum Allah atas orang yang bersalah.
  • Menetapkan hukum berdasarkan pendapat pribadinya/sekehendaknya terhadap rakyat dan juga terhadap hukum agama.
  • Ia mengakui Ziyâd sebagai anak Abu Sufyân padahal ia tahu sabda Nabi saw., “Seorang anak itu akan dinisbatkan kepada si pemilik ranjang/suami dari wanita yang melahirkan anak itu adapaun bagi si pezina adalah dihalangi dari mengakuinya sebagai anak.”
  • Ia membantai Hujr bin Adi dan kawan-kawannya sementara mereka adalah orang-orang yang haram dicucurkan darah-darah mereka.
  • Ia menghinakan Abu Dzarr al Ghiffâri dan mencaci-makinya serta memulangkan ke kota Madinah dengan dinaikkan kendaraan tanpa pelana semua ia lakukan karena Abu Dzarr mengkritik penyimpangannya.
  • Ia melaknati Ali, Hasan dan Husain serta Abdullah bin Abbas di atas mimbar-mimbar Islam.
  • Ia melimpahkan kekhilafahan kepada Yazîd putranya padahal telah nyata kefasikan dan kegemarannya meminum minuman keras secara terang-terangan, bermain alat-alat permainan yang diharamkan Islam. Tidur bersama para penyanyi dan penari wanita cabul serta membawa mereka kemana pun ia pergi.
  • Memberikan peluang untuk bani Umayyah merampas total maqam/kedudukan mulia Rasulullah saw. dan kekhilafahannya sehingga manusia-manusia seperti Yazîd bin Abdul Malik dan al Walîd bin Yazîd yang jelas-jelas fasik dan bejat itu berhasil menjadi khalifah. Padahal mereka itu terbukti fasik dan gemar menggubah bait-bait syair yang menghujat Tuhan dan yang membuktikan ketidak beragamaan mereka!.. [3]

Saya tidak akan menanti dari para pemuja pohon tertkutuk dalam Al Qur’an untuk membenarkan seluruh data sejarah yang membongkar kejahatan, kefasikan dan kekafiran Mu’awiyah dan rezim Umayyah! Sebab bagi mereka mengimani kesucian Mu’awiyah dan bani Umayyah adalah rukun iman paling inti! Mereka siap mengkufuri ayat-ayat suci Al Qur’an dan sabda-sabda Nabi saw. yang berani menyentuh kesucian Bani Umayyah! Apalagi sekedar data-data sejarah! Pasti mereka akan mengkufurinya. Bagi mereka bani Umayyah titisan dewa suci yang harus disucikan sesuci-sucinya! Dan siapapun yang berani membongkar data-data kejahatan mereka langsung divonis zindiq, Rafidhah khabîts dan lain sebagainya.

Pada ketarangan Ibnu Abil Hadîd al Mu’tazili di atas banyak data tentang kejahatan Mu’awiyah yang sengaja disembunyikan dengan rapi oleh para pemuja pohon terkutuk; bani Umayyah! Sementara sebagian lainnya berusaha membelanya dengan mencari-carikan seribu satu uzur konyol demi menyelamatkan sisa-sisa harga diri tuan mereka! Bahkan ada yang dengan tanpa malu menyulap sederetan kejahatan terkutuk itu menjadi kebaikan dan hasanât yang akan meberatkan timbangan amal Mu’awiyah kelak di akhirat! Sungguh memalukan!

Ya, banyak sekali data rahasia yang dibongkar Ibnu Abil Hadîd dalam keterangannya di atas. Akan tetapi saya hanya akan menyoroti beberapa saja darinya dalam kesempatan ini.

Mu’awiyah Memproklamasikan Ziyâd Sebagai Anak Abu Sufyân

Sebelum saya menyebutkan kisah rinci proses proklamasi Ziyâd sebagai anak Abu Sufyan oleh Mu’awiyah, saya ingin mengatakan bahwa: Tidak ada seorang yang biadab dan durhaka serta tidak punya rasa malu melebihi seorang anak yang mensohorkan bapaknya sebagai PEZINA MURAHAN dan kemudian mengakui anak hasil zinanya dengan seorang palacur murahan adalah anak bapaknya dan nasabnya pun disambungkan dengan nasab bapaknya! Semua orang yang waras dan punya harga diri pasti akan malu jika diketahui umum bahwa bapaknya adalah seorang pezina murahan yang doyan wanita murahan! Namun berbeda dengan Khalifah kebanggaan para pemuji pohon terkutuk; Mu’awiyah. Ia bangga memproklamasikan bahwa bapaknya, Pak Abu Sufyân putra Shakhr telah berzina dengan seorang pelacur murahan bernama Sumayyah yang masih berstatus sebagai istri sah Ubaid. Dengan proklamasi itu, Mu’awiyah seakan hendak mengatakan –baik ia sadari maupun tidak- bahwa Abu Sufyân, bapakku adalah seorang lelaki hidung belang dan pezina murahan. Ia telah menzinai seorang pelacur profesional murahan bernama Sumayyah dan hasilnya adalah anak hasil zina yang bernama Ziyâd!

Yang juga tidak kalah gilanya adalah si Ziyâd! Ia bangga diproklamasikan sebagai anak hasil zina! Hasil bersundal ibu bejatnya dengan Abu Sufyân sebagai pelanggan tetap rumah pelacuran di kota Thaif yang dikelolah oleh tuannya.

Kisah Proklamasi Ziyâd Sebagai Anak hasil Zina Abuu Sufyân; Bapak Mu’awiyah Sebagaimana diriwayatkan Para Ulama Ahlusunnah!

Imam Ibnu Jarîr ath Thabari dan para ulama ahli sejarah lainnya seperti al Mas’udi, Ibnu al Atsir, Ibnu Asâkir, Ibnu Hajar, al Ya’qûbi melaporkan peristiwa memalukan itu dalam rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 44 H. Dan laporan para ulama ahli sejarah itu saling melangkapi.

Pada awalnya, Sumayyah adalah budak milik seorang kepala suku desa Zindurad. Ketika ia sakit, ia memanggil seorang tabib bernama Hârits bin Kaladah ats Tsaqafi. Setelah ia obati, ia berhasil sembuh dari penyakitnya. Sebagai rasa terima kasihnya, ia hadiahkan Sumayyah kepadanya. Sumayyah sempat melahirkan dua anak. Pertama bernama Nafî’ (yang dipanggil dengan sapaan Abu Bakrah) tetapi Hârits tidak sudi mengakuinya sebagai anaknya. Kemudian Sumayah melahirlkan lagi untuk tuannya seorang bayi bernama Nâfi’. Bayi ini pun tidak ia akui juga sebagai anaknya!

Dan ketika Nabi saw. mengepung kota Thaif, Abu Bakrah turun menemui Nabi saw. dan beriman kepada beliau.

Maka kemudian Hârits berkata kepada anak keduanya yang bernama Nâfi’ (yang pada awalnya ia ingkari sebagai anaknya itu), “Engkau adalah putraku.”

Hârits telah mengawinkan Summayah dengan budak laki-lakinya yang bernama Ubaid. Ia seorang budak berkebangsaan Romawi. Sumayyah melahirkan Ziyâd untuk Ubaid, suaminya.

Ketika Abu Sufyân berkunjung ke kota Thaif di masa Jahiliyah. Ia singgah ke kedai khamer/cafe miras yang dikelolah oleh seorang bernama Abu Maryâm as Salûli (dilaporkan bahwa di kemudian hari ia memeluk Islam dan bersahabat dengan Nabi saw.).

Abu Sufyân berkata kepadanya, “Aku lagi memuncak syahwatku, maka carikan untukku seorang wanita lacur!”

Abu Maryâm berkata, “Apakah kamu berhasrat dengan Sumayyah?”

Abu Sufyân, “Ya, bolehlah, walaupun ia wanita yang sudah memanjang payu daranya dan mengendor perut buncitnya!’

Maka Abu Maryâm mendatangkan Sumayyah. Segera Abu Sufyân menyeretnya ke kamar lacur dan bersundal dengannya. Tidak lama setelahanya, Abu Sufyân keluar sambil menghempas-hembaskan jubbah. Abu Maryâm berkata bertanya, ‘Hai Abu Sufyân, bagaimana engkau rasakan Sumayyah? Abu Sufyân menjawab, ‘Boleh juga pelacur itu, andai bukan karena payu daranya yang sudah mengendur dan bau mulutnya yang busuk. Lalu tak lama kemudian, Sumayyah hamil dan setelahnya ia melahirkan Ziyâd. Sejak kelahirannya, Ziyâd dipanggil Ziyâd bin Udaid dan terkadang juga dipanggil Ziyâd bin Sumayyah! Sebab memang Sumayyah itu adalah istri Ubaid yang dipekerjakan sebagai pelacur oleh tuannya, Hârits bin Kaladah. Ia harus giat melacur untuk menyetor upeti kepada tuannya. Sumayyah dikenal sebagai pelacur profesional yang bergabung bersama para pekerja seks yang melayani para laki laki bejat tak bermoral seperti Abu Sufyân bapaknya Mu’awiyah dan ditempatkan di sebuah lokalisasi di luar pinggiran kota Thaif yang dikenal dengan nama Hârah al Baghâyâ/KAMPUNG PELACUR!

Inilah kisah persundalan Abu sufyan bapak Mu’awiyah!

Nah, sekarang Anda pasti ingin mendengar prosesi proklamasi Ziyâd sebagai Anak Abu Sufyân yang dilakukan oleh Mu’awiyah demi tujuan-tujuan jahatnya!

Pada awalnya, Ziyâd adalah di pihak Imam Ali as. ia ditugasi menjadi gubernur daerah Persia. Ia menjalankan tugas dengan baik dan mampu menyatukan wilayah yang dipimpinnya mengakui kekhalifahan Imam Ali as.

Mu’awiyah sangat terganggu dengan keberhasilan Ziyâd. Ia mengancamnya. Busr bin Arthât (orang suruan Mu’awiyah) menangkap kedua putra Ziyâd yang bernama Ubaidullah dan Sâlim dan mengancam akan membunuh keduanya jika Ziyâd tidak mau membelot dan membela Mu’awiyah.

Imam Ali menyurati Ziyâd mengingatkan bahaya kelicikan Mu’awiyah. Tetapi setelah kematian Imam Ali as. Ziyâd  berkhianat, ia tunduk di bawah tekanan Mu’awiyah. Ziyâd segera bergabung dengan Mu’awiyah dan kemudian dikembalikan lagi ke tugasnya sebagai gebernur di wilayah Persia.

Beberapa tahun setelahnya, Mu’awiyah bermaksud mengakuinya sebagai anak bapaknya dari hasil perzinahannya dengaan Sumayyah ibu Ziyâd.

Mu’awiyah memerintahkan saudarinya yang bernama Juwairiyah mengundang Ziyâd ke rumanya, setelah ia datang dan dipersilahkan masuk, Juwairiyah membuka kerudungnya dan berkata kepadanya, ‘Engkau adalah saudaraku!’ Abu Maryam yang memberitahukan kepadaku. Setelahnya, Mu’awiyah mengumpulkan penduduk kota Syam di masjid dan kemudian mengajak Ziyâd bersama menuju masjid. Abu Maryâm diminta berdiri dan memberikan kesaksian bahwa Ziyâd adalah anak Abu Sufyân. Ia berpidato, “Aku bersaksi bahwa Abu Sufyân datang ke tempat kami di Thaif, saat itu, di masa jahilyah aku adalah penjual khamer. Abu Sufyân berkata, ‘Aku ingin melacur.’ Maka aku datangi ia dan aku katakan, ‘Aku tidak mendapatkan seorang palacur pun selain Sumayyah, budaknya Hârits bin Kaladah.’ Abu Sufyân berkata, Bawakan ia ke mari walaupun ia sudah kendur semua badanya dan jorok juga penampilannya.”

Mendengar kesaksian Abu Mryâm yang membongkar kehinaan status ibunya,  Ziyâd segera memotong dan berkata, ‘Hai Abu Maryam! Engkau didatangkan di sini sebagai saksi bukan  sebagai pencaci-maki.”

Abu Maryam menjawab, ‘Anda sejak pertama, aku dibebaskan dari tugas ini pasti lebih aku sukai. Aku hanya bersaksi apa yang aku saksikan dan aku lihat. Demi Allah, aku menyaksikan Abu Sufyân menarik lengan bajunya lalu mengajaknya masuk ke makar mesum dan mengunci pintunya. Sumayyah terlentang melayani nafsu birahi Abu Sufyân. Sesaat kemudian Abu Sufyân keluar sambil mengusap-ngusap keringat di dahinya. Aku berkata kepadanya, ‘Hai Abu Sufyân, bagaimana engkau dapati pelayanannya?’ Abu Sufyân menjawab, Hai Abu Maryam, aku tidak merasakan pelacur sehebat dia tapi sayang payu daranya telah bergelantungan/mengendur berat dan busuk bau mulutnya.

Ziyâd berkata, ‘Hai sekalain hadirin. Orang ini telah bersaksi dan menyampaikan apa yang telah kalian dengar. Aku tidak tau apakah yang ia sampaikan itu benar atau palsu. Dan para saksi lebih mengatahui apa yang mereka katakan.

Maka seorang bernama Yunus bin Ubaid –saudara Shafiyyah binti Ubaid bin Asad ats Tasaqafi dan Shafiyyah itu  adalah tuannya Sumayyah- berdiri dan berkata, ‘Wahai Mu’awiyah! Rasulullah saw. telah menetapkan hukum bahwa anak harus dinisbatkan kepada suami ibunya/si pemilik ranjang sah/suami sah wanita yang melahirkan anak dari rahimnya. Sedangkan bagi pelacur dicegah dari mengaku anaknya dari hasil zina! Sementara engkau menetapkan bahwa anak dinisbatkan kepada lelaki yang menghamili ibu anak itu. Engkau sengaja menentang Kitabullah dan bersebrangan   dengan Rasulullah saw. hanya karena kesaksian Abu Maryâm bahwa Abu Sufyan berzina dengan Sumayyah. Mu’awiyah marah berat dengan berkata kepadanya, “Dsemi Allah hai Yunus! Berhentilah kamu atau akan aku buat melayang kepalamu! Yunus berkata, “Bukankah setelahnya aku akan kembali kepada Allah.

Sungguh luar biasa kedurhakaan dan kebejatan mental Mu’awiyah… ia bangga diproklamasikan bapaknya sebagai pezina murahan dan marah ketika dibela ayahnya agar tidak ditersohorkan bapaknya sebagai pezina!

Seorang penyair berkata:

Ketahuilah! Sampaikan kepada Mu’awiyah putra Harb dari seorang panyair dari negeri Yaman

Apakah engkau marah ketika dikatakan bapakmu seorang pria baik/terhormat… sedangkan engkau bangga bapakmu disebuat sebagai si pezina

Saksikanlah bahwa hubungan kekerabatanmu dengan Ziyâd seperti hubungan kekerabatan gajah dengan kuda peranakan (hasil kawin silang kuda dengan keledai). [4]

Inilah kisah pelacuran Sumayyah dengan Abu Sufyân dan kekafiran Mu’awiyah dengan memproklamasikan Ziyâd anak hasil pelacuran itu sebagai anak Abu Sufyân sebagai penentangan terang-terangan terhadap Allah dan Rasul-Nya!

Dan pada apa yang dilakukan Mu’awiyah di atas terdapat hal yang harus menjadi perhatian  kita semua yaitu bahwa Mu’awiyah benar-benar tidak memberikan nilai dan penghormatan sedikit pun kepada hukum Allah dan Syari’at Rasulullah saw. ia terang-terangan menentangnya dan  dengan ganas akan menghabisi nyawa siapapun yang berani menentangnya dalam penentangannya terhadap hukum Allah dan Syari’at Rasul-Nya saw.

Mu’awiyah bermaksud untuk mengatakan bahwa biarlah Muhammad berbicara menetapkan hukum sekehendaknya. Tetapi aku, Mu’awiyah juga berhak tidak menggubrisnya  dan berhak pula menetapkan hukum berdasarkan pendapat pribadi saja betapapun hukum Allah itu sudah segamblang matahari di siang bolong!

Dengan sikapnya itu Mu’awiyah bermaksud menghancurkan wibawa kenabian den mengubur dalam-dalam syari’at Rasulullah saw.! dan sikap inilah yang harus terus dipraktikkan oleh para khalifah setelahnya nanti.

Ia hendak membangun   sebuah bangunan yang pondasinya adalah penentangan terhadap syari’at Allah dan Rasul-Nya… Andai ia berhasil dalam proyek setannya itu pastilah umat Islam akan kesulitan menemukan syari’at yang dibawa Nabi Muhammad saw… yang akan kita dapati adalah hukum-hukum prodak keluarga besar Pohon Terkutuk, bani Umayyah. Inilah bahaya islam Umawi yang sedang dipromosikan Mu’awiyah dan para penguasa rezim tiran Bani Umayyah!

Karenanya Saad bin Qais berkata kepada Mu’awiyah, “Engkau adalah WATSANI/penyembah berhala/musyrik putra seorang WATSANI. Engkau masuk ke dalam Islam dengan terpaksa dan keluar kembali dengan suka rela. Imanmu tidak berakar dan kemunafikanmu tidak tersembunyi. Kami adalah para pembela agama yang engkau keluar darinya dan musuh-musuh agama yang engkau masuk ke dalamnya.” [5]

Al Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat 12 surah at Taubah:

“Dengan ayat:

وَ طَعَنُوا في‏ دينِكُمْ

“ … dan mereka mencerca agamamu,

sebagian ulama berdalil atas kewajiban dibunuhnya setiap orang yang mencerca agama sebab ia adalah KAFIR.

Dan ath Tha’nu/mencerca agama itu adalah dengan menisbatkan kepada agama sesuatu yang tidak pantas atau menentang dengan meremehkan sesuatu yang pasti dari bagian agama.[6]

Ternyata Hindun; Ibu Mu’awiyah Juga Wanita Bejat dan Doyan Melacur!

Subhanallah! Rupanya memang keluarga Abu Sufyân itu merangkum anggota-anggota yang luar biasa. Keluarga terkutuk itu ternyata beranggotakan:

Suami: Abu Sufyân (nama aslinya Shakhr) bin Harb bin Umayyyah.

Hobi: Melacur.

Pekerjaan Tetap: Memerangi Rasulullah saw, dan agama Islam.

Istri: Hindun.

Hobi: Bersundal dengan kaum muda berbadan kekar dan khususnya pria kekar berkulit hitam.

Hobi Lain: Mengunyah jantung Hamzah ra. paman Nabi saw. setelah memutilasinya.

Pekerjaan Tetap: Mencari lelaki hidung belang yang siap berselingkuh dengannya.

Sejarah mencatat bahwa sebagian penduduk kota Mekkah mencurigai bahwa Mu’awiyah bukan anak Hindun dari Abu Sufyan, suaminya, tetapi dari satu di antara empat orang selingkuhan Hindun… Hindun benar-benar tante girang yang gemar bersundal, na’udzubillah min dzâlik.

Gosib bahwa Hindun gemar melacurkan diri bahkan dengan teman-teman suaminya adalah berita yang masyhur dan menjadi buah bibir masyarakat Arab tidak hanya penduduk kota Mekkah… memang suatu yang aneh. Kerena biasanya yang melacur dengan tanpa malu itu hanya kaum budak sahaya yang memang dipekerjakan oleh tuan-tuan mereka, seperti Sumayyah ibnu Ziyâd yang dizinai oleh Abu Sufyân suami Hindun! Adapun kaum merdeka apalagi dari keluarga yang lumayan terpandang biasa enggan berterang-terangan dalam berzina. Tapi berbeda dengan Hindun… Kebejatannya tidak lagi tersembunyi…. sehingga menjadi bahan perbincangan masyarakat Arab.

Hassân bin Tsâbit penyair Rasulullah (atas perintah beliau saw.) membalas ejekan para penyair kafir Quraisy dengan banyak bait syairnya yang membuat bungkam  kaum kafir Quraisy itu. Di antaranya Hassân bin Tsâbit berkata menyindir Hindun:

Bayi siapakah yang dibuang di sebelah lembah … tergeletak di atas tanah padang pasir tanpa ayunan…

Bait-bait syair Hassân bin Tsâbit itu dapat Anda jumpai dalam banyak referensi utama seperti Rabî’ul Abrâr oleh az Zamakhsyari,3/551 dan Dîwân (kumpulan syair-syair) Hassân bin Tsâbit:87.

Bait-bait syair itu digubah Hassân bin Tsâbit di hadapan Nabi saw. dan para sahabat yang di dalamnya ia menyebut-nyebut berbagai kebejetan dan kejahatan Abu Sufyân dan Hindun dan juga adalah tuduhan bahwa Hindun  adalah wanita gemar melacur, namun demikian beliau saw. tidak menegurnya dan apalagi melarangnya, misalnya dengan mengatakan, ‘jangan engkau menuduh secara palsu seorang wanita suci itu telah berzina.! Itu artinya, Nabi saw. membenarkan bahwa Hindun memang demikian. Dan para sahabat pun mengetahuinya.

Al Kalbi juga melaporkan  dalam kitab al Matsâlib bahwa Hindun termasuk di antara wanita-wanita yang gemar berzina dengan anak-anak muda dan ia condong kepada pria negro. Dan jika terlanjur hamil ia bunuh anaknya segera setelah kelahirannya[7]

Kisah perselingkuhannya dengan seorang tamu suaminya yang bernama Fakih bin Mughirah al Makhzûmi, yang kemudian diketahui olehnya dan berakhir dengan diusir dan diceraikannya Hindun adalah berita masyhur. Para ulama telah meriwayatkannya dalam berbagai karya berharga mereka, seperti Ibnu Abil Hadid dalam Syarah Nahjul Balâghah (dengan tahqiq Muhammad Abul Fadhl Ibrahim),1/336 Imam as Suyûthi dalam Târîkh al Khulafâ’:205, Ibnu Katsir dalam al Bidâyah wa an Nihâyah,8/124 dan 125, Imam al- Haitsmai dalam Majma’ az Zawâid,9/265, Ibnu Abdi Rabbih al Andalusi dalam al ‘Iqdu al Farîd,6/95 dan Imam Sibthu Ibn Jauzi dalam Tadzkirah al Khawâsh:185.

Ringkas kata, untuk menyebutkan data-data pelacuran keluarga Abu Sufyan dan Hindun ini rasanya akan menyita berlembar-lembar … Dan rasanya juga menjijikkan. Jadi saya cukupkan sampai di sini!


[1] Syarah Nahjul Balâghah,1/340.

[2] Dan untuk sekedar memudahkan pembaca, kami cantumkan kembali riwayat itu di sini. Zubair bin Bakkâr (dan yang perlu dicatat di sini bahwa ia tidak perlu diragukan keberpihakannya kepada islam Umawy, sehingga Anda tidak perlu meragukan penulikannya) dalam kitab al Muwaffaqiyyât-nya meriwayatkan, “Mathraf bin Mughîrah bin Syu’bah berkata, ‘Aku bersama ayahku masuk menjumpai Mu’awiyah. Dan ayahku biasa mendatangi Mu’awiyah dan berbincang-bincang lalu sepulangnya ia menceritakan kepada kami kehebatan akal dan ide-ide Mu’awiyah. Lalu pada suatu malam ayahku pulang dan ia menahan diri dari menyantap makan malamnya, aku menyaksikannya sedih. Aku menantinya. Aku mengira kesedihannya karena kami. Lalu aku berkata, ‘Wahai ayah! Mengapakah aku menyaksikanmu bersedih sepanjang malam?

.

Maka ia menjawab, ‘Hai anakku! Aku baru saja datang dari seorang yang paling kafir dan paling busuk’! Aku bertanya, ‘Apa itu?’ ia berkata, ‘Aku berkata kepada Mu’awiyah di saat aku berduaan dengannya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya engkau telah mencapai usia lanjut, andai engkau tanpakkan keadilan dan kamu berikan kebaikan. Andai engkau memerhatikan kondisi kerabatmu dari Bani Hasyim, engkau sambung tali rahim mereka. Demi Allah, tidak ada lagi pada mereka sesuatu yang perlu engkau takutkan. Hal itu akan membuat nama harum Anda menjadi langgeng dan pahala tetap untuk Anda. Maka ia berkata, ‘TIDAK! TIDAK!

.

Sebutan apa yang aku harap dapat langgeng! Saudara dari suku Taim (Abu Bakar maksudnya) berkuasa lalu ia berbuat baik, lalu apa? Ia mati dan sebutannya pun juga mati bersamanya! Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, ‘Abu Bakar! Abu Bakar! Saudara suku Adi (Umar maksudnya) berkuasa, lalu ia bersungguh-sungguh dalam berbuat baik, kemudian ia mati, maka mati pula sebutannya. Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, Umar! Umar! .

.

SEMENTARA ITU ANAK PAK ABU KABSYAH NAMANYA DIPEKIKKAN SETIAP HARI LIMA KALI; “AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH” Amal dan sebutan apa yang akan langgeng! Celakalah engkau! Tidak! sehingga nama orang itu (Nabi Muhammad Saw maksudnya) dikubur dalam-dalam/ dafnan-dafnan!

[3] Ibid,5/129.

[4] Untuk kisah lengkap di atas dapat Anda baca dalam: al Istî’âb; Ibnu Abdil Barr ketika menyebut biodata Ziyâd, Târîkh Damasqus; Ibnu Asâkir,5/409, Usdul Ghabah; Ibnu al Atsîr dan al Ishâbah; Ibnu Hajar, Murujud adz Dzahab,3/14-17 ketika menyebut sejarah Mu’awiyah,  Al Ya’qubi dalam Târîkh-nya,2/195, Ibnu katsir dalam Târîkh-nya,8/28 dan sumber-sumber lain.

[5] Al ‘Iqdu al Farîd,4/315.

[6] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,8/82.

[7] Coba lebih lanjut Anda baca dalam Tadzkirah al Khawâsh; Imam Sibthu Ibn Jauzi:184-185.

LAHIRNYA NAMA AHLUSSUNNAH WALJAMAAH

Senin, 07 Mei 2012 14:44 Redaksi
E-mail Cetak PDF
Bandung -
Usai bedah buku “Potret Ulama” di Masjid kompleks Darul Hikam wal Ihsan, Bandung, pada Ahad (6/5/2012), KH Athian Ali Muhamad Da’i, selaku Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI), menerangkan tentang status para dai yang menyebarkan agama Syiah.

“Mereka yang berkeyakinan terhadap paham-paham tersebut (Syiah-red) adalah sesat, baik mengaku Syiah ataupun mengaku tidak.” tegas beliau.

Sebelumnya, FUUI menyelenggarakan Musyawarah Ulama dan Ummat Islam Indonesia, dengan agenda tunggal : “Merumuskan Langkah Strategis untuk Menyikapi Penyesatan dan Penghinaan Para Penganut Syiah”. Acara tersebut dilaksanakan pada Ahad (22/04/2012) di Masjid Al-Fajr, Jalan Cijagra, Bandung, Jawa Barat

Sungguh sayang sungguh malang, umat Islam di masa ini bak buih di lautan, banyak jumlahnya namun tercerai-berai. Heran bukan kepalang melihat fenomena ini, kita semua tahu bahwa Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam hanya 1 macam, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang artinya: “Sesungguhnya kalian adalah umat yang satu dan Aku adalah Rabb kalian, maka beribadahlah kepada-Ku” [Al-Anbiyaa : 92].

Namun mengapa hari ini Islam menjadi bermacam-macam? Aneh bukan?setelah  Rasulullah SAW. wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak

Dahulu Bani Umayyah Memerangi Imam Ali! Kini kaum takfir lintas mazhab Memerangi Syi’ah Ali!

Perda Anti Syi’ah Itu Sudah Ketinggalan Zaman!

Jika dahulu bani Umayyah,  dimulai dengan Abu Sufyan, Mu’awiyah dan Yazid kemudian setelahnya dilanjutkan oleh para penguasa tiran bani Umayyah tak henti-hentinya dengan segala cara memerangi Imam Ali as. simbol Islam dan keimanan… Mulai kekerasan teratur yang mereka langsungkan semasa hidup Nabi saw. terhadap Nabi saw dan Ahlulbait as. serta para sahabat setia beliau hingga mengobarkan peperangan demi peperangan; peran Badar, Uhud, Khandaq dll sebagaimana dicatat dalam sejarah… semua itu telah mereka lakukan untuk memusnahkan Dakwah Islam tetapi hasilnya adalah Islam terus berjaya hingga kota Mekkah (yang saat itu menjadi benteng terakhir kemusyrikan) ditaklukkkan…

Islam berjaya… Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid (abang Mu’awiyah, bukan Yazid anaknya) dan sisa-sisa aimmatul kufri/gembong-gembong kekafiran (bukan-bukan sekedan gembong kaum Musyrik, perhatikan baik-baik!) lainnya betekuk lutut di hadapan kejayaan Islam dan Nabi Muhammad saw. dan kegigihan perjuangan Ali bin Abi Thalib as. dan para sahabat setia lainnya.

Abu Sufyan dan putra harapannya beserta para mantan Musyrik itu segera mengubah strategi balas dendam mereka atas kekalahan di hadapan kemenangan dan kejayaan Nabi Islam!

Bertahun-tahun setelah itu… tepatnya setelah wafat Nabi saw. mereka bangkit lagi berusaha membalas kekalahan di perang Badar, Uhud, Khandaq dll…. hanya beberapa tahun setelah wafat Nabi saw. Abu Sufyan memalui kedua putranya; Yazid dan dilanjutkan oleh Mu’awiyah berhasil mendapat posisi strategis dalam pemerintahan Islam yang membuatnya berani menentang Khalifah yang sah saat itu; Ali bin Abi Thlaib as dan kemudian mengobarkan pemberontakan!

Setelah kesyahidan Imam Ali as. Mu’awiyah berkuasa… Maka agenda pertama Mu’awiyah adalah membalas dendam kekalahan para moyangnya di perang Badar dan Uhud… kini dendamnya dimuntahkan kepada keluarga suci Nabi saw. … kepada Ali dan Ahlulbait as.

Tidak puas dengan kematian Imam Ali as., Mu’awiyah mencanangkan agenda besar dalam rangka balasa dendam itu… maka yang ia lakukan antara lain:

A)    Melaknati Imam Ali as. dan mewajibkan umat Islam melaknatinya dan mencaci maki beliau as. di setiap kesempatan umum.

B)    Menteror dan memerangi Syi’ah Ali as. dengan berbagai cara dan merangsang umat Islam agar membenci dan memusuhi Imam Ali as. dan Syi’ah Ali.

C)    Memberikan posisi istimewa dan gaji melimpah bagi siapapun yang setia menjalankan program “Anti Ali dan Syi’ah Ali”.

D)    Menghukum siapa saja yang diketahui mencintai Ali dan Ahlulbait Nabi mulia as.

Di antara dokumen yang sempat diselamatkan sejarah adalah surat ketetapan Mu’awiyah yang diumumkan kepada umat Islam (bukan lagi Perda yang sekarang lagi marak digalang oleh meerka yang setia kepada program bani Umayyah dan khususnya Mu’awiyah) dan agar dijadikan pedoman pelaksanaan teror terprogram atas Ahlulbait as. dan Syi’ah Ali adalah surat ketatapan di bawah ini:

انْظُرُوْا إِلَى مَن قَامَتْ عليهِ الْبَيِّنَةُ أنَّهُ يُحِبُّ عَلِيًّا وَ أهْلَ بَيْتِهِ فَامْحُوْهُ مِنَ الدِّيوَانِ وَ أسْقِطُوا عَطَاءَهُ وَ رِزْقَهُ

“Perhatikan! Siapa yang terbukti mencintai Ali dan Ahlulbaitnya maka hapuslah namanya dari catatan sipil negara, gugurkan uang pemberian untuknya!”[1]

Dalam surat keputusan Mu’awiyah di atas, jelas sekali bahwa kecintaan kepada Sayidina Imam Ali as. dan Ahlulbiatnya as adalah sebuah dosa yang karenanya seorang harus dihukum dengan tidak dianggap sebagai warga negara Muslim yang berhak atas hak-haknya sebagai Muslim… mereka tidak berhak mendapat uang jaminan sosial seperti kaum Muslim lainnya… langkah licik perang ekonomi untuk membuat para pecinta Ali dan Ahlulbaitnya agar segera menaggalkan keimanan dan kesetian mereka kepada Nabi saw dan agamanya! Nama para pencinta Ali dan Ahlulbaitnya pun harus segera digugurkan dari catatn sipil!

Tidak puas dengan kebijakannya yang kejam dan menyimpang dari jiwa Islam itu, Mu’awiyah melengkapinya dengan surat ketetapan berikutnya dengan harapan agar agenda pembungkaman suara keadilan Islam lebih cepat terwujud… Mu’awiyah menuliskan sepecuk surat susulan sebagai berikut:

مَنْ اتَّهَمْتُمُوْهُ بِمُوَالاَةِ هَؤُلاَءِ القَوْمِ فَنَكِّلُوْا بِهِ وَ اهْدِمُوْا دَارَهُ

“Barang siapa yang kalian curigai mencintai Ali dari mereka maka jatuhkan sanksi berat atasnya! Dan hancurkan rumahnya!” [2]

Dengan surat keputusan itu, Mu’awiyah berharap agar kaum Muslimin menjadi pelaksana lapangan eksekusi pembantaian dan penghancuran rumah-rumah para Syi’ah Ali! Dan itulah yang terjadi! Para Syi’ah Ali dikejar-kejar… dibunuh secara keji tanpa belas kasih… rumah-rumah mereka dibakar… dirobohkan… dan keluarga mereka diusir dari tempat tinggal mereka…

Mu’awiyah mendidik umat Islam untuk menjadi srigala-srigala buas yang siap memangsa para Syi’ah Ali. …

Berabad-abad setelah kematian Mu’awiyah dan runtuhnya dinasti tiran keluarga Umayyah; pohon terkutuk dalam Al Qur’an keberingasan sebagian umat Islam masih juga dirasakankan di berbagai belahan dunia Islam… mereka menjadikan Syi’ah Ali sebagai mangsa-mangsa keganasan dan ketidakadilan mereka!

Mimbar-mimbar dijadikan media pengkafiran Syi’ah … kaum Muslimin yang semestinya saling berkasih-sayang kini dicuci otak mereka oleh para pelanjut Misi Mu’awiyah agar membenci dan memerangi Syi’ah Ali… keberanian mereka diarahkan untuk memerangi Syi’ah Ali!

Saya sangat khawatir bahwa kaum Muslimin sedang tertipu oleh ketidak-tahuan mereka… mereka tidak menyadari bahwa mereka telah memerangi ‘Sayyidina Ali mereka’ dan mensukseskan agenda besar musuh ‘Sayyidina Ali mereka’ yaitu Mu’awiyah putra Abu Sufyan; gembong kekafiran dan pengayom kaum munafik!

Kini apa yang dicita-citakan Mu’awiyah dan para tiran keluarga pohon terkutk dalam Al Qur’an saat mereka berkuasa diusahakan kembali oleh ‘kaum Muslim’ dengan segala macam cara agar diperdakan!

Para tukang fitnah dan para pemuja pohon terkutuk itu berusaha menggalang kekuatan dan memobilisasi massa untuk memerangi Sayyidina Ali dan Syi’ahnya!

Akankah kezaliman Setan mengalahkan keadilan Tuhan?!

Akankah kegelapan mengusir cahaya wahyu langit?!

Akankan mereka berjaya dan Syi’ah Ali terlantar setelah doa Nabi suci: Allahuma wâli man Wâlâhu…. wan Shur man nasharahu… wakhdzul man khadzalahu/Ya Allah bimbinglah para pecinta Ali yang mengakui kepemipinannya…. belalah siapa yang membelanya… hinakan siapa yang menghinakan Ali?!

Akankah tiupan mulut-mulut mereka memadamkan cahaya Ilahi?! Sedangkan Allah yang Maha Kuasa telah berfirman:

يُريدُونَ أَنْ يُطْفِؤُا نُورَ اللَّهِ بِأَفْواهِهِمْ وَ يَأْبَى اللَّهُ إِلاَّ أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَ لَوْ كَرِهَ الْكافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At Taubah [9];32)

يُريدُونَ لِيُطْفِؤُا نُورَ اللَّهِ بِأَفْواهِهِمْ وَ اللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَ لَوْ كَرِهَ الْكافِرُونَ

Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya- Nya meskipun orang- orang kafir benci.” (QS. Ash Shaff [61];8 (

Sebagaimana Allah kecewakan Mu’awiyah dan musuh-musuh Islam dalam agenda jahat mereka… Allah juga akan mengecewakan agenda jahat siapapun yang berbuat makar atas umat Islam dengan memerangi Syi’ah Ali!

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنا وَ الَّذينَ آمَنُوا فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَ يَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهادُ

“Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat).” (QS. Ghafir [40];51 )

Dan tidak kekuatan apapun di alam semesta ini akan akan mengalahkan kekuatan Allah… dan siapapun yang ditolong Allah pastilah tidak dapat dikalahkan…

إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلا غالِبَ لَكُمْ وَ إِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ وَ عَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu ( tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain ) dari Allah sesudah itu Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.”  (QS. Âlu Imrân [3];160)

Inilah janji Allah…

وَ مَنْ أَوْفى‏ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ

Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah.“ (QS. At taubah [9];111)

Shadaqallahul ‘Adzîm


[1] Syarah Nahj al Balâghah, jilid III/juz 11/14-17.

[2] Syarah Nahj al Balâghah, jilid III/juz 11/14-17.

Bahaya Islam Umawi

Persembahan Buat Para Salafiyyîn Pemuja Pohon Terkutuk!

Berbeda dengan pemahaman kebanyakan kalangan bahwa Islam itu hanya tampil dengan dua wajah; Ahlusunnah dan Syi’ah! Tetapi anggapan itu tidak benar… . Ternyata ada wajah lain yang cenderung terlupakan atau kurang disoroti. Ia adalah wajah Islam Umawy, islam vesri Bani Umayyah yang justeru berambisi sejak awal kemunculannya untuk memonopoli sebagai Islam sejati!

Ketika keberadaan islam Umawy ini terlupakan atau tidak diperhitungkan maka akan menimbulkan banyak dampak negetif dalam kajian para pengkaji sejarah dan ajaran Islam di samping berbahaya dalam praktik keberagamaan umat Muslim! Di antaranya, bahwa bisa saja akan ada sekelompok dari orang Syi’ah yang secara keliru menganggap seluruh Ahlusunnah adalah Nashibi, mengingat mereka mendapati beberapa tokoh islam Umawy yang berkedok sebagai tokoh Ahlusunnah menampakkan kesinisan bahkan permusuhannya kepada Ahlulbait Nabi as.!

.

Sebagaimana bisa jadi para penganut faham Ahlusunnah menjadi tertipu karena menganggap beberapa tokoh Islam Umawy itu sebagai tokoh Islam Ahlusunnah-nya! Dan akibatnya mereka membela para tokoh islam Umawy itu dan yang lebih bahaya dari itu adalah kita meniru ulah mereka dan dengan tidak menyadari telah terjebak dalam jaring perangkap islam Umawy. Karenanya pembagian wajah Islam menjadi tiga; (1) Islam Ahlusunnah (2) Islam Syi’ah dan (3) Islam Umawy adalah sebuah keniscayaan dan bukan pula hal mengada-ngada mengingat memang demikian kenyataannya!

Islam Umawy ini diwakili oleh Ibnu Taimiyah Cs dan sekarang tongkat estafet itu diambil alih oleh kaum Wahhâbi-Salafi.

Tentu islam Umawy ini memiliki ciri yang membedakannya dari Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah! Sebagaimana ada titik temu antara Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah.

Titik Temu Islam Ahlusunnah dan Islam Syi’ah

Yang palig mencirikan kedua wajah Islam ini adalah kentalnya kecintaan, penghormatan, pengagungan dan hubungan emosional yang sangat dalam dengan Nabi Muhammad Saw. dan Ahlulbait beliau as. Ini adalah titik temu yang benar-benar menggannggu tidur nyenyak dan ketentraman para penganut islam Umawy.

Sementara itu ciri yang sangat menonjol dari islam Umawy di samping kekakuan sikap dan kesembronoannya dalam menvonis kafir setiap yang berbeda dengan mereka dan tentunya yang paling special dari mereka adalah sikap kebencian yang mendalam kepada Ahlulbait as. dan kurangnya penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw.

Mu’awiyah Adalah Pencetus Islam Umawy

Tidak diragukan lagi bahwa Mu’awiyah adalah ‘Putra Harapan Kaum Kafir Quraisy’ yang diharap mampu menjayakan proyek para pembesar kafir Quriasy yang bertekuk lutut di hadapan kejayaan Islam, puncaknya dengan ditaklukkannya kota Mekkah. Abu Sufyan berusaha meraih kembali kejayaan palsu kemusyrikan kaum Musyrik Quraisy melalui putra kebanggaannya, Mu’awiyah. Setelah berhasil merebut kekhalifahan, Mu’awiyah segera menjalankan agenda besarnya; memerangi Islam yang dibawa dan diperjuangkan Nabi bersama para sahabat mulianya. Namun kali ini, ia tidak menggunakan cara-cara klasik para moyangnya. Ia menjalankan peperangan ini dengan cerdas, halus, berlahan namun pasti dan tidak lupa, ia perangi Islam Rasulullah Saw. dengan menggunakan nama Islam itu sendiri sebagai senjata, tentunya setelah membodohi banyak kalangan dengan tipu muslihat dan makar jahatnya!

Mu’awiyah Menghancurkan Wibawa Nabi Saw. dan Kebanbian!

Tidaklah akan ada gunanya rasanya apabila kekuasaan yang telah ia rebut dengan makar dan tipu muslihat, dan ia pertahankan tangan besi dari umat Islam itu tidak ia jadikan senjata ampuh untuk menghancurkan Islam yang sejak dahulu ia perangi ‘mati-matian’ bersama ayah-ibunya, paman-pamannya dan kakek-kakeknya dan yang untuknya keluarga besanya telah kehilangan banyak anggota keluarga dan kerabat kesayangan mereka, selain tentunya harta yang tidak sedikit! Karenanya, agenda besar islam Umawy adalah bagaimana Islam sejati yang dibawa Rasulullah Muhammad Saw dapat dimusnahkan dan diganti dengan islam versi Umayyah.

Untuk itu semua, pertama-tama yang harus dilakukan adalah bagaimana kewibawaan Nabi Saw. dan kenabian harus segera diruntuhkan. Muhammad saw. –dalam pandangan Mu’awiyah dan Bani Umayyah- jangan terlalu dijadikan nabi… ia harus jadi Muhammad biasa… Muhammad putra Abu Kabsyah! Bukan Muhammad yang Wamâ yanthiqu ‘Anil hawâ in huwa illâ wahyun yûhâTiada ia berucap dari hawa nafsunya melainkan seluruh ucapannya dari wahyu dan berdasar bimbingan wahyu! Demikian pula, segala panji yang akan mengingatkan kita kepada Nabi Muhammad saw. harus segera dimusnahkan… semua yang mewakili wajah cemerlang Nabi Saw. harus dicoreng dan dihinakan serta dikubur! Dan umat harus dibutakan terhadapnya… Mesti harus dibina generasi yang hanya mengenal wajah islam Umawy yang mewakili satu-satunya Islam edisi resmi yang otentik… . Hindun sebagai wanita sucinya yang harus dikuduskan… Abu Sufyan sebagai Kekek kaum Muslimin dan Mu’awiyah, selain sebagai Khalifah resmi Rasulullah Saw. ia juga ‘Paman Kaum Muslimin/Khâlul Mu’minin’. Dan tentunya tidak ketinggalan bahwa Yazid adalah pewaris sejati tahta kenabian dan duta Tuhan di muka bumi-Nya!

Tidak sulit medapatkan bukti-bukti yang mendukung apa yang saya katakan di atas. Namun karena terbatasnya waktu dan ruang saya hanya akan saya cukupkan dengan menghadirkan beberapa bukti saja.

Bukti Pertama:

Zubair bin Bakkâr (yang perlu dicatat di sini bahwa ia tidak perlu diragukan keberpihakannya kepada islam Umawy, sehingga Anda tidak perlu meragukan penulikannya) dalam kitab al Muwaffaqiyyât-nya meriwayatkan,

“Mathraf bin Mughîrah bin Syu’bah berkata, ‘Aku bersama ayahku masuk menjumpai Mu’awiyah. Dan ayahku biasa mendatangi Mu’awiyah dan berbincang-bincang lalu sepulangnya ia menceritakan kepada kami kehebatan akal dan ide-ide Mu’awiyah. Lalu pada suatu malam ayahku pulang dan ia menahan diri dari menyantap makan malamnya, aku menyaksikannya sedih. Aku menantinya. Aku mengira kesedihannya karena kami. Lalu aku berkata, ‘Wahai ayah! Mengapakah aku menyaksikanmu bersedih sepanjang malam? Maka ia menjawab, ‘Hai anakku! Aku baru saja datang dari seorang yang paling kafir dan paling busuk’! Aku bertanya, ‘Apa itu?’ ia berkata, ‘Aku berkata kepada Mu’awiyah di saat aku berduaan dengannya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya engkau telah mencapai usia lanjut, andai engkau tampakkan keadilan dan kamu berikan kebaikan. Andai engkau memperhatikan kondisi kerabatmu dari Bani Hasyim, engkau sambung tali rahim mereka. Demi Allah, tidak ada lagi pada mereka sesuatu yang perlu engkau takutkan. Hal itu akan membuat nama harum Anda menjadi langgeng dan pahala tetap untuk Anda. Maka ia berkata, ‘TIDAK! TIDAK! Sebutan apa yang aku harap dapat langgeng! Saudara dari suku Taim (Abu Bakar maksudnya) berkuasa lalu ia berbuat baik, lalu apa? Ia mati dan sebutannya pun juga mati bersamanya! Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, ‘Abu Bakar! Abu Bakar! Saudara suku Adi (Umar maksudnya) berkuasa, lalu ia bersungguh-sungguh dalam berbuat baik, kemudian ia mati, maka mati pula sebutannya. Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, Umar! Umar!

.

SEMENTARA ITU ANAK PAK ABU KABSYAH NAMANYA DIPEKIKKAN SETIAP HARI LIMA KALI; “AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH” Amal dan sebutan apa yang akan langgeng! Celakalah engkau! Tidak! sehingga nama orang itu (Nabi Muhammad Saw maksudnya) dikubur dalam-dalam/ dafnan-dafnan![1]

Dalam kata-katanya yang penuh dengan luapan kekafiran itu ia menyebut Nabi Mulia saw. dengn sebutan putra Abu Kabsyah tentu dengan tujuan menghina, sebab kaum kafir Quraisy dahulu demikian memanggil Nabi Muhammad Saw. dengan maksud menghina. Abu Kabsyah adalah nama bapak asuh Nabi saw. saat kanak-kanak! Kata-kata itu sendiri dapat menjadi bukti betapa Mu’awiyah tidak kuasa menyembunyikan kekafirannya dan sekaligus kedengkiannya kepada Nabi Islam Muhammad Saw.

Bukti Kedua:

Ketika Mu’awiyah mendengar seorang muadzdzin mengumandangkan suara adzan, dan ia sampai pada pasal: Asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Mu’awiyah berkata, ‘Untukmu ayahmu hai anak Abdullah! Engkau benar-benar berambisi besarEngkau tidak puas sehingga engkau gandengkan namamu dengan nama Rabbul ‘Âlâmîn.[2]

Penyebutan nama Nabi Saw. dalam syahadatain baik dalam pasal adzan maupun selainnya adalah sepenuhnya berdasarkan wahyu. Kita kaum Muslimin meyakini bahwa beliau saw. adalah Nabi dan Utusan Allah, tiada berkata dan bertindak melainkan atas dasar bimbingan wahyu… akan tetapi mereka yang tidak mempercayai beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah pasti akan memaknai apa yang dibawa Nabi Saw. sebagai buatan dan kepalsuan yang dibuat-buat oleh Muhammad Saw. Kenyataan ini telah ditegaskan dalam Al Qur’an. Kecuali apabila Mu’awiyah juga berani menuduh ayat tentangnya sebagai kepalsuan buatan Nabi Muhammad Saw.

Allah berfirman:

أَ لَمْ نَشرَحْ لَك صدْرَك (*) وَ وَضَعْنا عَنْكَ وِزْرَكَ (*) الَّذي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (*) وَ رَفَعْنا لَكَ ذِكْرَكَ (*) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (*) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (*) فَإِذا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (*) وَ إِلى‏ رَبِّكَ فَارْغَبْ

َ.

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu.* Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,* Yang  memberatkan punggungmu.* Dan Kami tinggikan bagimu sebutan ( nama ) mu.* Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,* sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.* Maka apabila kamu telah selesai ( dari sesuatu urusan ), kerjakanlah dengan sungguh- sungguh ( urusan ) yang lain,* Dan  hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”(QS asy Syarh [94];1-8(

Imam asy Syafi’i meriwayatkan  tafsir ayat kelima di atas dari Mujahid, ia berkata: “Tiada Aku (Allah) disebut melainkan engkau juga disebut bersamaku, “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Bukti Ketiga:

Dalam kitab al Mu’ammarîn karya Abu Hâtim as Sijistâni, “Pada suatu hari Mu’awiyah bertanya kepada Amad bin Abad al Hadhrami (seorang yang berusia panjang), ‘Apakah engkau pernah menyaksikan Hasyim (kakek ayah Nabi saw.)? ia menjawab, ‘Ya. Pernah. Ia seorang yang tinggi gagah dan tanpan …’ Mu’awiyah melanjutkan, ‘Apakah engkau pernah melihat Muhammad?’ Amad bertanya balik, ‘Muhammad siapa?’ Mu’awiyah menjawab, ‘Rasul Allah.’ Amad menjawab, ‘Mengapakah engkau tidak mengagungkannya sebagaimana Allah mengagungkannya, mengapakah kamu tidak menggelarinya dengan Rasulullah?[3]

Bukti Keempat:

Mu’awiyah Bangga Dipanggil Sebagai Rasulullah!

Imam ath Thabari dalam kitab Târîkh-nya meriwayatkan bahwa ketika ‘Amr bin Âsh mendelegasikan serombongan penduduk Mesir untuk menemui Mu’awiyah di istananya, ia berpesan agar mereka tidak memanggil Mu’awiyah dengan gelar Amirul Mukminin, ‘Amr bin Âsh berkata, ‘Perhatikan! Jika kalian masuk menemui putra Hindun maka hendaknya kalian tidak mengucapkan salam dengan mengatakan ‘Assalamu alaikum wahai Khalifah. Karena yang demikian membuat kalian lebih dihargai oleh Mu’awiyah. Dan hinakan dia sebisa kalian. Mu’awiyah sepertinya telah merasakan adanya makar jahat ‘Amr bin Âsh. Ia berkata kepada penjaga istana, ‘Sepertinya aku telah mengetahui bahwa putra Nâbighah (nama ibu ‘Amr bin Âsh yang juga dikenal sebagai pelacur murahan_pen) hendak menghinakan kedudukanku di hadapan mereka. Kerenanya, perhatikan jika delegasi itu datang, tahan mereka di luar dengan cara hina sehingga setiap dari mereka hanya akan memikirkan keselamat dirinya sendiri. Setelah mereka dipersilahkan masuk, orang yang pertama kali masuk adalah seorang dari penduduk Mesir bernama Ibnu Khayyâth, ia ketakutan sampai-sampai ia terputus-putus bicaranya, lalu ia berkata, “SALAM ATASMU WAHAI RASULULLAH. Kemudian yang lainnya pun mengikuti dengan menggelari Mu’awiyah dengan gelar Rasulullah! Dan Mu’awiyah pun tidak menghardik atau menyalahkan mereka karena hal itu![4]

Mu’awiyah Mengolok-olok Syariat Rasulullah Saw.

Adapun sikap pelecehan dan menghina terhadap syari’at Nabi Muhammad Saw. yang ditampakkan terang-terangan oleh Mu’awiyah maka bukanlah hal samar…. Mengakui Ziyâd yang lahir dari pasangan suami istri yang tidak sah sebagai anak Abu Sufyan sebab ibu Ziyad yang bernama Sumayyah telah melacur dengan Abu Sufyan (yang memang sangat dikenal suka berzina)… maka Mu’awiyah mengakuinya sebagai Ziyad bin Abu Sufyan setelah sebelumnya disebut Ziyad bin Abihi (Ziyad putra ayahnya) adalah satu dari puluhan jika bukan ratusan contoh kasus pelecehan terhadap Syari’at dan bukan hanya sekedar pelanggaran hukum semata! Sehingga rasanya, untuk sementara waktu tidak perlu saya berlama-lama menyita waktu pembaca terhormat dengan menyebutnya satu persatu. Mungkin dalam kesempatan lain kami akan menyajikannya untuk para pembaca.

Mu’awiyah Sukses Membangun Jaringan Front Pembela Bani Umayyah.

Dan sebagai bukti keberhasilan Mu’awiyah dalam kejahatannya merusak kesadaran kaum Muslimin, ia mampu menciptakan di setiap zaman kelompok yang getol membela bani Umayyah dan mengecam siapapun yang berani membongkar kejahatan Mu’awiyah dan Bani Umayyah dengan menuduhnya sebagai Syi’ah! Pembenci Salaf Shaleh! Zindiq dll. Kenyataan ini akan Anda ketahui buktinya segera setelah artikel ini diterbitkan… Anda akan menyaksikan bagaimana mereka akan menvonis kami sebagai Syi’ah Rafidhah yang Zindiq! Sebab dalam kamus islam Umawy, wajib hukumnya bahkan mungkin termasuk rukun iman terselubung mengagungkan Mu’awiyah. Maka barang siapa yang membongkar kejahatan Mu’awiyah dan Bani Umayyah maka ia zindiq/bukan Muslim!

 

[1] Al Akhbâr al Muwaffaqiyyât:576-577, Murûj adz Dzahab; al Ms’ûdi,4/41 dan an Nashâih al Kâfiyah; Sayyid Habib Muhammad bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya Al Alawi al Hadhrami asy Syafi’i:93. Setelahnya al Habib Muhammad bin Aqil menyebutkan bahwa Zubair bin Bakkâr adalah Qadhi kota suci Mekkah, seorang yang sangat masyhur di kalangan para Muhadditsin dan parawi hadis shahih. Dan ia tidak tertuduh menjelek-jelekkan keutamaan dan keadilan Mu’awiyah sebab ia tergolong dari pembela Mu’wiyah. Dan seperti Anda ketahui bahwa di antara keluarga Zubairiyyin banyak yang menyimpang dari Ali (karramallahu wajhahu).

[2] Syarah Ibn Abil Hadîd al Mu’tazili,10/101. Para tokoh Islam Umawy selalu menuduh siapapun yang tidak berpihak kepada Mu’wiyah sebagai Syi’ah Rafidhah tidak terkecuali Imam Ibnu Abil Hadîd, Imam al Hâkim, Imam ath Thabari, Imam Syafi’i dll. Seperti dapat dibuktikan!

[3] An Nashâih al Kâfiyah:95.

[4] Kisah lebih lanjut dapat Anda baca langsung dalam Târîkh ath Thabari. Baca juga an Nashâih al Kâfiyah:94.

Bahaya Islam Umawi Dalam Merusak Agama!

Persembahan Buat Para Salafiyyîn Pemuja Pohon Terkutuk!

Mu’awiyah Menentang Hukum Allah dan Rasul-Nya dengan Biadab!

bahwa sulit rasanya menghitung-hitung kejahatan Mu’awiyah dan rezimnya terhadap agama ini dan kehormatan hukumnya serta kemuliaan Nabi-nya! Mengakui Ziyâd bin Ubaid (nama asli ayah Ziyâd dari pasangan istri bernama Sumayyah) sebagai anak Abu Sufyân padahal Sumayyah ketika hamil ia masih sah berstatus sebagai istri Ubaid adalah penentangan terang-terangan yang sulit bahkan mustahil dicarikan pembelaannya. Sebab dalam hukum Islam yang diketahui umum oleh semua kaum Muslim baik yang awam apalagi yang berilmu bahwa setiap anak akan diikutkan penasabannya kepada bapak sah bukan kepada bapak biologisnya!

Kejahatan ini tidak semata karena motivasi politik semata, namun lebih dari itu, dengannya Mu’awiyah mengumumkan perang terbuka dengan hukum Allah dan rasul-Nya! Karenanya dan karena tindakan yang membuktikan kemunafikan dan kekafirannya yang lain, tidak sedikit di antara para ulama yang tegas-tegas mangkafirkan Mu’wiyah! Bahwa penampakan dua kalimat syahadat dan menjalankan ritual-ritual tertentu itu ia lakukan dengan kedok kemunafikan tidak lain!

Ibnu Abil Hadîd al Mu’tazili menegaskan, “Mu’awiyah cacat (diragukan) agamanya di kalangan para masyâikh (tokoh-tokoh) kami –semoga Allah merahmati mereka. Mu’awiyah disinyalir adalah seorang ateis/tidak beragama.![1]

Beliau juga mengatakan, “Banyak dari ulama kami mengecam agama Mu’awiyah. Mereka tidak hanya menvonisnya sebagai orang FASIQ. Mereka mengatakan bahwa ia adalah seorang ateis yang tidak percaya kepada kenabian. Para ulama kami itu telah menukil ketergelinciran ucapannya yang terekam yang tegas-tegas menunjukkan kenyataan itu!. (kemudian beliau menyebutkan kisah yang diriwayatkan oleh Zubair bin Bakkâr dalam kitab al Muwaffaqiyât-nya, seperti telah kami sebutkan dalam bukti pertama dalam artikel yang lalu.[2]

Dan setelahnya, Ibnu Abil Hadîd melanjutkan, “Adapun tindakan-tindakannya yang menyimpang dari keadilan yang nyata seperti ia mengenakan baju sutra, menenggak minuman dalam cawan-cawan emas dan perak sehingga Abu Da’rdâ’ menegurnya dengan keras seraya mengatakan aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang yang meminum dari gelas-gelas dari emas dan perak sesungguhnya ia akan tersungkur dalam api neraka.” Lalu jawaban Mu’awiyah yang mengatakan, ‘Tetapi menurutku tidak apa-apa! Maka Abu Dardâ’ berkata, “Siapakah yang akan membelaku dari Mu’awiyah?! Aku kabarkan kepadanya hukum Rasulullah saw. tetapi ia bantah aku dengan pendapat pribadinya. Demi Allah! Aku tidak akan tinggal bersamamu di satu negeri pun!

Berita ini telah diriwayatkan oleh para ahli hadis dan para ahli fikih dalam kitab-kitab mereka dalam masalah tentang pembuktiann dibolehkanya berhujjah dengan khabar seorang yang adil. Berita ini mencacat keadilannya (Mu’awiyah) sebagaimana mencacat akidah/keimanannya. Sebab seorang yang terang-terangan menentang hukum yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dengan mengatakan, ‘Tetapi menurutku tidak apa-apa!’ terhadap sesuatu yang tegas-tegas telah diharamkan Rasulullah saw jelas orang seperti itu tidak sehat akidahnya.

Hal lain yang telah diketahui umum dari prilaku Mu’awiyah adalah bahwa:

  • Ia memonopoli harta umat Islam.
  • Menghukum dera orang yang tidak bersalah.
  • Menggugurkan hukum Allah atas orang yang bersalah.
  • Menetapkan hukum berdasarkan pendapat pribadinya/sekehendaknya terhadap rakyat dan juga terhadap hukum agama.
  • Ia mengakui Ziyâd sebagai anak Abu Sufyân padahal ia tahu sabda Nabi saw., “Seorang anak itu akan dinisbatkan kepada si pemilik ranjang/suami dari wanita yang melahirkan anak itu adapaun bagi si pezina adalah dihalangi dari mengakuinya sebagai anak.”
  • Ia membantai Hujr bin Adi dan kawan-kawannya sementara mereka adalah orang-orang yang haram dicucurkan darah-darah mereka.
  • Ia menghinakan Abu Dzarr al Ghiffâri dan mencaci-makinya serta memulangkan ke kota Madinah dengan dinaikkan kendaraan tanpa pelana semua ia lakukan karena Abu Dzarr mengkritik penyimpangannya.
  • Ia melaknati Ali, Hasan dan Husain serta Abdullah bin Abbas di atas mimbar-mimbar Islam.
  • Ia melimpahkan kekhilafahan kepada Yazîd putranya padahal telah nyata kefasikan dan kegemarannya meminum minuman keras secara terang-terangan, bermain alat-alat permainan yang diharamkan Islam. Tidur bersama para penyanyi dan penari wanita cabul serta membawa mereka kemana pun ia pergi.
  • Memberikan peluang untuk bani Umayyah merampas total maqam/kedudukan mulia Rasulullah saw. dan kekhilafahannya sehingga manusia-manusia seperti Yazîd bin Abdul Malik dan al Walîd bin Yazîd yang jelas-jelas fasik dan bejat itu berhasil menjadi khalifah. Padahal mereka itu terbukti fasik dan gemar menggubah bait-bait syair yang menghujat Tuhan dan yang membuktikan ketidak beragamaan mereka!.. [3]

Saya tidak akan menanti dari para pemuja pohon tertkutuk dalam Al Qur’an untuk membenarkan seluruh data sejarah yang membongkar kejahatan, kefasikan dan kekafiran Mu’awiyah dan rezim Umayyah! Sebab bagi mereka mengimani kesucian Mu’awiyah dan bani Umayyah adalah rukun iman paling inti! Mereka siap mengkufuri ayat-ayat suci Al Qur’an dan sabda-sabda Nabi saw. yang berani menyentuh kesucian Bani Umayyah! Apalagi sekedar data-data sejarah! Pasti mereka akan mengkufurinya. Bagi mereka bani Umayyah titisan dewa suci yang harus disucikan sesuci-sucinya! Dan siapapun yang berani membongkar data-data kejahatan mereka langsung divonis zindiq, Rafidhah khabîts dan lain sebagainya.

Pada ketarangan Ibnu Abil Hadîd al Mu’tazili di atas banyak data tentang kejahatan Mu’awiyah yang sengaja disembunyikan dengan rapi oleh para pemuja pohon terkutuk; bani Umayyah! Sementara sebagian lainnya berusaha membelanya dengan mencari-carikan seribu satu uzur konyol demi menyelamatkan sisa-sisa harga diri tuan mereka! Bahkan ada yang dengan tanpa malu menyulap sederetan kejahatan terkutuk itu menjadi kebaikan dan hasanât yang akan meberatkan timbangan amal Mu’awiyah kelak di akhirat! Sungguh memalukan!

Ya, banyak sekali data rahasia yang dibongkar Ibnu Abil Hadîd dalam keterangannya di atas. Akan tetapi saya hanya akan menyoroti beberapa saja darinya dalam kesempatan ini.

Mu’awiyah Memproklamasikan Ziyâd Sebagai Anak Abu Sufyân

Sebelum saya menyebutkan kisah rinci proses proklamasi Ziyâd sebagai anak Abu Sufyan oleh Mu’awiyah, saya ingin mengatakan bahwa: Tidak ada seorang yang biadab dan durhaka serta tidak punya rasa malu melebihi seorang anak yang mensohorkan bapaknya sebagai PEZINA MURAHAN dan kemudian mengakui anak hasil zinanya dengan seorang palacur murahan adalah anak bapaknya dan nasabnya pun disambungkan dengan nasab bapaknya! Semua orang yang waras dan punya harga diri pasti akan malu jika diketahui umum bahwa bapaknya adalah seorang pezina murahan yang doyan wanita murahan! Namun berbeda dengan Khalifah kebanggaan para pemuji pohon terkutuk; Mu’awiyah. Ia bangga memproklamasikan bahwa bapaknya, Pak Abu Sufyân putra Shakhr telah berzina dengan seorang pelacur murahan bernama Sumayyah yang masih berstatus sebagai istri sah Ubaid. Dengan proklamasi itu, Mu’awiyah seakan hendak mengatakan –baik ia sadari maupun tidak- bahwa Abu Sufyân, bapakku adalah seorang lelaki hidung belang dan pezina murahan. Ia telah menzinai seorang pelacur profesional murahan bernama Sumayyah dan hasilnya adalah anak hasil zina yang bernama Ziyâd!

Yang juga tidak kalah gilanya adalah si Ziyâd! Ia bangga diproklamasikan sebagai anak hasil zina! Hasil bersundal ibu bejatnya dengan Abu Sufyân sebagai pelanggan tetap rumah pelacuran di kota Thaif yang dikelolah oleh tuannya.

Kisah Proklamasi Ziyâd Sebagai Anak hasil Zina Abuu Sufyân; Bapak Mu’awiyah Sebagaimana diriwayatkan Para Ulama Ahlusunnah!

Imam Ibnu Jarîr ath Thabari dan para ulama ahli sejarah lainnya seperti al Mas’udi, Ibnu al Atsir, Ibnu Asâkir, Ibnu Hajar, al Ya’qûbi melaporkan peristiwa memalukan itu dalam rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 44 H. Dan laporan para ulama ahli sejarah itu saling melangkapi.

Pada awalnya, Sumayyah adalah budak milik seorang kepala suku desa Zindurad. Ketika ia sakit, ia memanggil seorang tabib bernama Hârits bin Kaladah ats Tsaqafi. Setelah ia obati, ia berhasil sembuh dari penyakitnya. Sebagai rasa terima kasihnya, ia hadiahkan Sumayyah kepadanya. Sumayyah sempat melahirkan dua anak. Pertama bernama Nafî’ (yang dipanggil dengan sapaan Abu Bakrah) tetapi Hârits tidak sudi mengakuinya sebagai anaknya. Kemudian Sumayah melahirlkan lagi untuk tuannya seorang bayi bernama Nâfi’. Bayi ini pun tidak ia akui juga sebagai anaknya!

Dan ketika Nabi saw. mengepung kota Thaif, Abu Bakrah turun menemui Nabi saw. dan beriman kepada beliau.

Maka kemudian Hârits berkata kepada anak keduanya yang bernama Nâfi’ (yang pada awalnya ia ingkari sebagai anaknya itu), “Engkau adalah putraku.”

Hârits telah mengawinkan Summayah dengan budak laki-lakinya yang bernama Ubaid. Ia seorang budak berkebangsaan Romawi. Sumayyah melahirkan Ziyâd untuk Ubaid, suaminya.

Ketika Abu Sufyân berkunjung ke kota Thaif di masa Jahiliyah. Ia singgah ke kedai khamer/cafe miras yang dikelolah oleh seorang bernama Abu Maryâm as Salûli (dilaporkan bahwa di kemudian hari ia memeluk Islam dan bersahabat dengan Nabi saw.).

Abu Sufyân berkata kepadanya, “Aku lagi memuncak syahwatku, maka carikan untukku seorang wanita lacur!”

Abu Maryâm berkata, “Apakah kamu berhasrat dengan Sumayyah?”

Abu Sufyân, “Ya, bolehlah, walaupun ia wanita yang sudah memanjang payu daranya dan mengendor perut buncitnya!’

Maka Abu Maryâm mendatangkan Sumayyah. Segera Abu Sufyân menyeretnya ke kamar lacur dan bersundal dengannya. Tidak lama setelahanya, Abu Sufyân keluar sambil menghempas-hembaskan jubbah. Abu Maryâm berkata bertanya, ‘Hai Abu Sufyân, bagaimana engkau rasakan Sumayyah? Abu Sufyân menjawab, ‘Boleh juga pelacur itu, andai bukan karena payu daranya yang sudah mengendur dan bau mulutnya yang busuk. Lalu tak lama kemudian, Sumayyah hamil dan setelahnya ia melahirkan Ziyâd. Sejak kelahirannya, Ziyâd dipanggil Ziyâd bin Udaid dan terkadang juga dipanggil Ziyâd bin Sumayyah! Sebab memang Sumayyah itu adalah istri Ubaid yang dipekerjakan sebagai pelacur oleh tuannya, Hârits bin Kaladah. Ia harus giat melacur untuk menyetor upeti kepada tuannya. Sumayyah dikenal sebagai pelacur profesional yang bergabung bersama para pekerja seks yang melayani para laki laki bejat tak bermoral seperti Abu Sufyân bapaknya Mu’awiyah dan ditempatkan di sebuah lokalisasi di luar pinggiran kota Thaif yang dikenal dengan nama Hârah al Baghâyâ/KAMPUNG PELACUR!

Inilah kisah persundalan Abu sufyan bapak Mu’awiyah!

Nah, sekarang Anda pasti ingin mendengar prosesi proklamasi Ziyâd sebagai Anak Abu Sufyân yang dilakukan oleh Mu’awiyah demi tujuan-tujuan jahatnya!

Pada awalnya, Ziyâd adalah di pihak Imam Ali as. ia ditugasi menjadi gubernur daerah Persia. Ia menjalankan tugas dengan baik dan mampu menyatukan wilayah yang dipimpinnya mengakui kekhalifahan Imam Ali as.

Mu’awiyah sangat terganggu dengan keberhasilan Ziyâd. Ia mengancamnya. Busr bin Arthât (orang suruan Mu’awiyah) menangkap kedua putra Ziyâd yang bernama Ubaidullah dan Sâlim dan mengancam akan membunuh keduanya jika Ziyâd tidak mau membelot dan membela Mu’awiyah.

Imam Ali menyurati Ziyâd mengingatkan bahaya kelicikan Mu’awiyah. Tetapi setelah kematian Imam Ali as. Ziyâd  berkhianat, ia tunduk di bawah tekanan Mu’awiyah. Ziyâd segera bergabung dengan Mu’awiyah dan kemudian dikembalikan lagi ke tugasnya sebagai gebernur di wilayah Persia.

Beberapa tahun setelahnya, Mu’awiyah bermaksud mengakuinya sebagai anak bapaknya dari hasil perzinahannya dengaan Sumayyah ibu Ziyâd.

Mu’awiyah memerintahkan saudarinya yang bernama Juwairiyah mengundang Ziyâd ke rumanya, setelah ia datang dan dipersilahkan masuk, Juwairiyah membuka kerudungnya dan berkata kepadanya, ‘Engkau adalah saudaraku!’ Abu Maryam yang memberitahukan kepadaku. Setelahnya, Mu’awiyah mengumpulkan penduduk kota Syam di masjid dan kemudian mengajak Ziyâd bersama menuju masjid. Abu Maryâm diminta berdiri dan memberikan kesaksian bahwa Ziyâd adalah anak Abu Sufyân. Ia berpidato, “Aku bersaksi bahwa Abu Sufyân datang ke tempat kami di Thaif, saat itu, di masa jahilyah aku adalah penjual khamer. Abu Sufyân berkata, ‘Aku ingin melacur.’ Maka aku datangi ia dan aku katakan, ‘Aku tidak mendapatkan seorang palacur pun selain Sumayyah, budaknya Hârits bin Kaladah.’ Abu Sufyân berkata, Bawakan ia ke mari walaupun ia sudah kendur semua badanya dan jorok juga penampilannya.”

Mendengar kesaksian Abu Mryâm yang membongkar kehinaan status ibunya,  Ziyâd segera memotong dan berkata, ‘Hai Abu Maryam! Engkau didatangkan di sini sebagai saksi bukan  sebagai pencaci-maki.”

Abu Maryam menjawab, ‘Anda sejak pertama, aku dibebaskan dari tugas ini pasti lebih aku sukai. Aku hanya bersaksi apa yang aku saksikan dan aku lihat. Demi Allah, aku menyaksikan Abu Sufyân menarik lengan bajunya lalu mengajaknya masuk ke makar mesum dan mengunci pintunya. Sumayyah terlentang melayani nafsu birahi Abu Sufyân. Sesaat kemudian Abu Sufyân keluar sambil mengusap-ngusap keringat di dahinya. Aku berkata kepadanya, ‘Hai Abu Sufyân, bagaimana engkau dapati pelayanannya?’ Abu Sufyân menjawab, Hai Abu Maryam, aku tidak merasakan pelacur sehebat dia tapi sayang payu daranya telah bergelantungan/mengendur berat dan busuk bau mulutnya.

Ziyâd berkata, ‘Hai sekalain hadirin. Orang ini telah bersaksi dan menyampaikan apa yang telah kalian dengar. Aku tidak tau apakah yang ia sampaikan itu benar atau palsu. Dan para saksi lebih mengatahui apa yang mereka katakan.

Maka seorang bernama Yunus bin Ubaid –saudara Shafiyyah binti Ubaid bin Asad ats Tasaqafi dan Shafiyyah itu  adalah tuannya Sumayyah- berdiri dan berkata, ‘Wahai Mu’awiyah! Rasulullah saw. telah menetapkan hukum bahwa anak harus dinisbatkan kepada suami ibunya/si pemilik ranjang sah/suami sah wanita yang melahirkan anak dari rahimnya. Sedangkan bagi pelacur dicegah dari mengaku anaknya dari hasil zina! Sementara engkau menetapkan bahwa anak dinisbatkan kepada lelaki yang menghamili ibu anak itu. Engkau sengaja menentang Kitabullah dan bersebrangan   dengan Rasulullah saw. hanya karena kesaksian Abu Maryâm bahwa Abu Sufyan berzina dengan Sumayyah. Mu’awiyah marah berat dengan berkata kepadanya, “Dsemi Allah hai Yunus! Berhentilah kamu atau akan aku buat melayang kepalamu! Yunus berkata, “Bukankah setelahnya aku akan kembali kepada Allah.

Sungguh luar biasa kedurhakaan dan kebejatan mental Mu’awiyah… ia bangga diproklamasikan bapaknya sebagai pezina murahan dan marah ketika dibela ayahnya agar tidak ditersohorkan bapaknya sebagai pezina!

Seorang penyair berkata:

Ketahuilah! Sampaikan kepada Mu’awiyah putra Harb dari seorang panyair dari negeri Yaman

Apakah engkau marah ketika dikatakan bapakmu seorang pria baik/terhormat… sedangkan engkau bangga bapakmu disebuat sebagai si pezina

Saksikanlah bahwa hubungan kekerabatanmu dengan Ziyâd seperti hubungan kekerabatan gajah dengan kuda peranakan (hasil kawin silang kuda dengan keledai). [4]

Inilah kisah pelacuran Sumayyah dengan Abu Sufyân dan kekafiran Mu’awiyah dengan memproklamasikan Ziyâd anak hasil pelacuran itu sebagai anak Abu Sufyân sebagai penentangan terang-terangan terhadap Allah dan Rasul-Nya!

Dan pada apa yang dilakukan Mu’awiyah di atas terdapat hal yang harus menjadi perhatian  kita semua yaitu bahwa Mu’awiyah benar-benar tidak memberikan nilai dan penghormatan sedikit pun kepada hukum Allah dan Syari’at Rasulullah saw. ia terang-terangan menentangnya dan  dengan ganas akan menghabisi nyawa siapapun yang berani menentangnya dalam penentangannya terhadap hukum Allah dan Syari’at Rasul-Nya saw.

Mu’awiyah bermaksud untuk mengatakan bahwa biarlah Muhammad berbicara menetapkan hukum sekehendaknya. Tetapi aku, Mu’awiyah juga berhak tidak menggubrisnya  dan berhak pula menetapkan hukum berdasarkan pendapat pribadi saja betapapun hukum Allah itu sudah segamblang matahari di siang bolong!

Dengan sikapnya itu Mu’awiyah bermaksud menghancurkan wibawa kenabian den mengubur dalam-dalam syari’at Rasulullah saw.! dan sikap inilah yang harus terus dipraktikkan oleh para khalifah setelahnya nanti.

Ia hendak membangun   sebuah bangunan yang pondasinya adalah penentangan terhadap syari’at Allah dan Rasul-Nya… Andai ia berhasil dalam proyek setannya itu pastilah umat Islam akan kesulitan menemukan syari’at yang dibawa Nabi Muhammad saw… yang akan kita dapati adalah hukum-hukum prodak keluarga besar Pohon Terkutuk, bani Umayyah. Inilah bahaya islam Umawi yang sedang dipromosikan Mu’awiyah dan para penguasa rezim tiran Bani Umayyah!

Karenanya Saad bin Qais berkata kepada Mu’awiyah, “Engkau adalah WATSANI/penyembah berhala/musyrik putra seorang WATSANI. Engkau masuk ke dalam Islam dengan terpaksa dan keluar kembali dengan suka rela. Imanmu tidak berakar dan kemunafikanmu tidak tersembunyi. Kami adalah para pembela agama yang engkau keluar darinya dan musuh-musuh agama yang engkau masuk ke dalamnya.” [5]

Al Qurthubi berkata ketika menafsirkan ayat 12 surah at Taubah:

“Dengan ayat:

وَ طَعَنُوا في‏ دينِكُمْ

“ … dan mereka mencerca agamamu,

sebagian ulama berdalil atas kewajiban dibunuhnya setiap orang yang mencerca agama sebab ia adalah KAFIR.

Dan ath Tha’nu/mencerca agama itu adalah dengan menisbatkan kepada agama sesuatu yang tidak pantas atau menentang dengan meremehkan sesuatu yang pasti dari bagian agama.[6]

Ternyata Hindun; Ibu Mu’awiyah Juga Wanita Bejat dan Doyan Melacur!

Subhanallah! Rupanya memang keluarga Abu Sufyân itu merangkum anggota-anggota yang luar biasa. Keluarga terkutuk itu ternyata beranggotakan:

Suami: Abu Sufyân (nama aslinya Shakhr) bin Harb bin Umayyyah.

Hobi: Melacur.

Pekerjaan Tetap: Memerangi Rasulullah saw, dan agama Islam.

Istri: Hindun.

Hobi: Bersundal dengan kaum muda berbadan kekar dan khususnya pria kekar berkulit hitam.

Hobi Lain: Mengunyah jantung Hamzah ra. paman Nabi saw. setelah memutilasinya.

Pekerjaan Tetap: Mencari lelaki hidung belang yang siap berselingkuh dengannya.

Sejarah mencatat bahwa sebagian penduduk kota Mekkah mencurigai bahwa Mu’awiyah bukan anak Hindun dari Abu Sufyan, suaminya, tetapi dari satu di antara empat orang selingkuhan Hindun… Hindun benar-benar tante girang yang gemar bersundal, na’udzubillah min dzâlik.

Gosib bahwa Hindun gemar melacurkan diri bahkan dengan teman-teman suaminya adalah berita yang masyhur dan menjadi buah bibir masyarakat Arab tidak hanya penduduk kota Mekkah… memang suatu yang aneh. Kerena biasanya yang melacur dengan tanpa malu itu hanya kaum budak sahaya yang memang dipekerjakan oleh tuan-tuan mereka, seperti Sumayyah ibnu Ziyâd yang dizinai oleh Abu Sufyân suami Hindun! Adapun kaum merdeka apalagi dari keluarga yang lumayan terpandang biasa enggan berterang-terangan dalam berzina. Tapi berbeda dengan Hindun… Kebejatannya tidak lagi tersembunyi…. sehingga menjadi bahan perbincangan masyarakat Arab.

Hassân bin Tsâbit penyair Rasulullah (atas perintah beliau saw.) membalas ejekan para penyair kafir Quraisy dengan banyak bait syairnya yang membuat bungkam  kaum kafir Quraisy itu. Di antaranya Hassân bin Tsâbit berkata menyindir Hindun:

Bayi siapakah yang dibuang di sebelah lembah … tergeletak di atas tanah padang pasir tanpa ayunan…

Bait-bait syair Hassân bin Tsâbit itu dapat Anda jumpai dalam banyak referensi utama seperti Rabî’ul Abrâr oleh az Zamakhsyari,3/551 dan Dîwân (kumpulan syair-syair) Hassân bin Tsâbit:87.

Bait-bait syair itu digubah Hassân bin Tsâbit di hadapan Nabi saw. dan para sahabat yang di dalamnya ia menyebut-nyebut berbagai kebejetan dan kejahatan Abu Sufyân dan Hindun dan juga adalah tuduhan bahwa Hindun  adalah wanita gemar melacur, namun demikian beliau saw. tidak menegurnya dan apalagi melarangnya, misalnya dengan mengatakan, ‘jangan engkau menuduh secara palsu seorang wanita suci itu telah berzina.! Itu artinya, Nabi saw. membenarkan bahwa Hindun memang demikian. Dan para sahabat pun mengetahuinya.

Al Kalbi juga melaporkan  dalam kitab al Matsâlib bahwa Hindun termasuk di antara wanita-wanita yang gemar berzina dengan anak-anak muda dan ia condong kepada pria negro. Dan jika terlanjur hamil ia bunuh anaknya segera setelah kelahirannya[7]

Kisah perselingkuhannya dengan seorang tamu suaminya yang bernama Fakih bin Mughirah al Makhzûmi, yang kemudian diketahui olehnya dan berakhir dengan diusir dan diceraikannya Hindun adalah berita masyhur. Para ulama telah meriwayatkannya dalam berbagai karya berharga mereka, seperti Ibnu Abil Hadid dalam Syarah Nahjul Balâghah (dengan tahqiq Muhammad Abul Fadhl Ibrahim),1/336 Imam as Suyûthi dalam Târîkh al Khulafâ’:205, Ibnu Katsir dalam al Bidâyah wa an Nihâyah,8/124 dan 125, Imam al- Haitsmai dalam Majma’ az Zawâid,9/265, Ibnu Abdi Rabbih al Andalusi dalam al ‘Iqdu al Farîd,6/95 dan Imam Sibthu Ibn Jauzi dalam Tadzkirah al Khawâsh:185.

Ringkas kata, untuk menyebutkan data-data pelacuran keluarga Abu Sufyan dan Hindun ini rasanya akan menyita berlembar-lembar … Dan rasanya juga menjijikkan. Jadi saya cukupkan sampai di sini!


[1] Syarah Nahjul Balâghah,1/340.

[2] Dan untuk sekedar memudahkan pembaca, kami cantumkan kembali riwayat itu di sini. Zubair bin Bakkâr (dan yang perlu dicatat di sini bahwa ia tidak perlu diragukan keberpihakannya kepada islam Umawy, sehingga Anda tidak perlu meragukan penulikannya) dalam kitab al Muwaffaqiyyât-nya meriwayatkan, “Mathraf bin Mughîrah bin Syu’bah berkata, ‘Aku bersama ayahku masuk menjumpai Mu’awiyah. Dan ayahku biasa mendatangi Mu’awiyah dan berbincang-bincang lalu sepulangnya ia menceritakan kepada kami kehebatan akal dan ide-ide Mu’awiyah. Lalu pada suatu malam ayahku pulang dan ia menahan diri dari menyantap makan malamnya, aku menyaksikannya sedih. Aku menantinya. Aku mengira kesedihannya karena kami. Lalu aku berkata, ‘Wahai ayah! Mengapakah aku menyaksikanmu bersedih sepanjang malam?

.

Maka ia menjawab, ‘Hai anakku! Aku baru saja datang dari seorang yang paling kafir dan paling busuk’! Aku bertanya, ‘Apa itu?’ ia berkata, ‘Aku berkata kepada Mu’awiyah di saat aku berduaan dengannya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya engkau telah mencapai usia lanjut, andai engkau tanpakkan keadilan dan kamu berikan kebaikan. Andai engkau memerhatikan kondisi kerabatmu dari Bani Hasyim, engkau sambung tali rahim mereka. Demi Allah, tidak ada lagi pada mereka sesuatu yang perlu engkau takutkan. Hal itu akan membuat nama harum Anda menjadi langgeng dan pahala tetap untuk Anda. Maka ia berkata, ‘TIDAK! TIDAK!

.

Sebutan apa yang aku harap dapat langgeng! Saudara dari suku Taim (Abu Bakar maksudnya) berkuasa lalu ia berbuat baik, lalu apa? Ia mati dan sebutannya pun juga mati bersamanya! Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, ‘Abu Bakar! Abu Bakar! Saudara suku Adi (Umar maksudnya) berkuasa, lalu ia bersungguh-sungguh dalam berbuat baik, kemudian ia mati, maka mati pula sebutannya. Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, Umar! Umar! .

.

SEMENTARA ITU ANAK PAK ABU KABSYAH NAMANYA DIPEKIKKAN SETIAP HARI LIMA KALI; “AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH” Amal dan sebutan apa yang akan langgeng! Celakalah engkau! Tidak! sehingga nama orang itu (Nabi Muhammad Saw maksudnya) dikubur dalam-dalam/ dafnan-dafnan!

[3] Ibid,5/129.

[4] Untuk kisah lengkap di atas dapat Anda baca dalam: al Istî’âb; Ibnu Abdil Barr ketika menyebut biodata Ziyâd, Târîkh Damasqus; Ibnu Asâkir,5/409, Usdul Ghabah; Ibnu al Atsîr dan al Ishâbah; Ibnu Hajar, Murujud adz Dzahab,3/14-17 ketika menyebut sejarah Mu’awiyah,  Al Ya’qubi dalam Târîkh-nya,2/195, Ibnu katsir dalam Târîkh-nya,8/28 dan sumber-sumber lain.

[5] Al ‘Iqdu al Farîd,4/315.

[6] Tafsir al Jâmi’ Li Ahkâm al Qur’ân,8/82.

[7] Coba lebih lanjut Anda baca dalam Tadzkirah al Khawâsh; Imam Sibthu Ibn Jauzi:184-185.

Wahabi kacaukan Indonesia melalui milyaran dollar dana AS / israel / saudi

Milyaran Dollar dana Wahabi mengalir ke Indonesia untuk hancurkan NU dan Syi’ah !! Gerakan anti Iran juga dilakukan di berbagai negara lain

Hamzah al-Hasan, aktivis Saudi mengungkap kenakalan Riyadh terhadap Tehran dengan membuka kantor-kantor perwakilan untuk kelompok oposisi Republik Islam di Kairo, Mesir

Fars News (15/2) melaporkan, Hamzah menilai undangan Riyadh kepada tokoh-tokoh anti-Iran yang tinggal di luar negeri dalam sebuah festival warisan budaya Arab Saudi sebagai langkah pendahuluan agar pihak-pihak lain juga melakukan hal yang saa.

Rezim al-Saud juga tengah mengupayakan sanksi terhadap Republik Islam Iran khususnya di sektor minyak dan menurut Hamzah, “Tampaknya Arab Saudi sangat mengkhawatirkan peningkatan popularitas Iran dan sambutan masyarakat regional terhadap perspektif revolusi Iran dan mereka beranggapan dengan mendukung kelompok oposisi, mereka dapat melemahkan posisi Republik Islam, akan tetapi mereka tidak sadar bahwa langkah-langkah tersebut justru sangat membayahakan Saudi.”

Aktivis Saudi itu kemudian menyinggung perluasan aksi demo dan protes warga di Timur Arab Saudi serta menujukan pernyataannya kepada para pemimpin negara ini dengan mengatakan, “Berhati-hatilah dengan dinding kaca rumah kalian, jangan kalian melempar batu ke arah dinding rumah pihak lain, karena sekali saja batu terlempar ke arah kalian, maka tidak akan tersisa rumah kalian.”

Menyinggung watak esktrim para pejabat Arab Saudi yang berusaha mencari gara-gara dengan Iran, Hamzah mengatakan, “Meski semua pejabat al-Saud berwatak ekstrim, akan tetapi sebagian mereka lebih ekstrim dan menuntut konfrontasi politik, ekonomi, dan bahkan keamanan dengan Iran, dan menurut saya dukungan terhadap kelompok-kelompok anti-Republik Islam hanya salah satu dari langkah mereka.”

Hamzah juga mengungkap pembukaan kantor perwakilan kelompok anti-Republik Islam di Kairo, Mesir, dengan dukungan finansial dari Arab Saudi dan mengatakan, “Dukungan dana Riyadh kepada kelompok oposisi anti-Republik Islam sebenarnya bukan masalah baru karena sudah sejak lama rezim Saudi mendukung aktivitas kelompok-kelompok oposisi anti-Republik Islam di Iran.”

Kemenangan Revolusi Islami Iran pada tahun 1979 menarik perhatian masyarakat dunia dan menunjukkan kepada mereka bagaimana Iran yang dengan tangan kosong dapat memenangkan revolusi berdarah. Dengan menangnya revolusi itu, Al-Qur’an dan sunah Rasul serta Ahlul Baitnya berhasil dijadikan pondasi utama undang-undang negeri ini.

Revolusi agung Iran mendorong para cendikiawan dunia untuk semakin mengenal Iran lebih jauh, khususnya tentang mazhab Syiah; mereka semakin ingin menyentuh fakta yang ada dengan jiwa dan raga mereka. Mazhab Syiah adalah mazhab pecinta Ahlul Bait yang sering disebutkan dalam Al-Qur’an, begitu pula pujian-pujian serta hak-haknya yang istimewa.

Fenomena ini begitu menakutkan bagi Barat dan musuh utama Islam, yaitu Israel. Mereka khawatir Iran dapat memberi pengaruh bagi negara-ngera lain yang mana hal itu pasti membahayakan kepentingan mereka. Oleh karena itu mereka berusaha menciptakan “kelompok-kelompok minoritas agama” yang sebelumnya sama sekali tidak ada, dengan tujuan terciptanya perpecahan dan ikhtilaf di antara umat Islam. Sehingga dengan demikian mazhab Ahlul Bait menemukan kendala dalam menyebarkan pemikirannya.

Di antara kelompok-kelompok minoritas yang ada, adalah kelompok Wahabi. Kelompok ini lebih menonjol ketimbang yang lainnya karena selalu difasilitasi secara luar biasa baik dari segi finansial maupun dukungan lainnya. Yang jelas, tak lama setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, dengan gencar Wahabi menulis buku, menyiarkan program-program televisi, radio, dan lain sebagainya, yang berisikan pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap mazhab Syiah; dengan tujuan menciptakan citra bahwa Syiah tidak rasional dan perlu dijauhi oleh kita semua.

Dalam sejarah mazhab-mazhab tidak ada yang melebihi Wahabi dalam hal dukungan finansial yang mereka dapat. Hanya sebuah buku yang berjudul Asy -Syiah va At-Tashih (buku yang mengkritik Syiah) ini saja dicetak sebanyak delapan juta eksemplar di kota Khartoum, ibukota Sudan, dan dua juta eksemplar di kota-kota lain negeri itu lantaran banyak penduduk Sudan yang tertarik dengan mazhab Ahlul Bait.

Banyak yang mengamati fenomena ini dan sampai ada yang menyatakan bahwa ada sekitar 40.000 website yang menyerukan pertentangannya terhadap Syiah. Ada kurang lebih 10.000 judul buku yang ditulis untuk mencela mazhab ini. Namun, anehnya usaha mereka semakin membuat banyak orang bertanya-tanya penasaran, memangnya ada apa dengan mazhab itu? Akhirnya mereka malah mencari tahu dan berusaha menyaksikan dengan mata kepala sendiri seperti apakah Syiah yang dipojokkan itu?

Banyak sekali para pencari kebenaran yang berdatangan ke Iran dan berhubungan langsung dengan para ulama setempat. Lalu mereka menyadari bahwa segala yang pernah ia dengar sebelumnya hanyalah omong kosong. Akhirnya mereka justru memeluk mazab ini. Sebagaimana firman Allah Swt yang berbunyi:

“…dan mereka memeluk agama Allah secara berkelompok-berkelompok.”

Dengan demikian tanpa ada upaya serta langkah apapun dari pihak ulama Syiah, dengan sendirinya banyak sekali dan bahkan terus bertambah orang yang berminat untuk mempelajari mazhab ini; sebagaimana halnya yang kita saksikan di Mesir, Jordania, dan tanah Arab lainnya. Tak hanya di Arab saja! Bahkan Amerika dan Eropa juga mulai mengikuti arus yang ada.

Sungguh menajubkan sekali, sejarah telah terulang. Vatikan juga pernah melakukan usaha yang sama demi merusak citra Islam sehingga muncul Islamophobia. Namun ternyata hasil yang didapat terbalik, justru gencar gerakan pro Islam kita saksikan akhir-akhir ini di Amerika dan Eropa. Dengan izin Allah, Eropa yang kini mayoritas beragama Kristen kelak akan memeluk Islam, Insya Allah.

Wahabi, yang lebih tepatnya Wahabiah adalah aliran yang muncul pada abad ke 8 yang disebarkan dan dikembangkan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Tujuannya adalah menciptakan perpecahan antar umat Islam. Mereka mengkafirkan semua orang selain penganut alirannya sendiri.

Wahabiah dicetuskan oleh Ibnu Taimiyah Harani pada abad ke 8. Ia bertentangan dengan sunah Rasulullah saw.; misalnya sama sekali tidak mau menikah. Karena pemikiran-pemikirannya yang menyeleweng, sesuai keputusan ulama setempat waktu itu ia sampai dipenjara sebanyak empat kali. Ibnu Taimiyah mendapat banyak kritikan pedas dari ulama Ahlu Sunah dan juga dicap kafir. Sebagian ulama Ahlu Sunah yang telah mengkafirkannya seperti:

1. Taqiuddin As-Sabki, salah seorang pembesar mazhab Syafi’iyah.[1]

2. Muhammad bin Ahmad bin Utsman Ad-Dzahabi, ahli sejarah dan ilmu Rijal yang diakui di kalangan Ahlu Sunah, yang mana ia dulu juga murid Ibnu Taimiyah. Ia mengkritik Ibnu Taimiyah dalam tulisannya yang berjudul Bayanu Zughlil Ilm wal Thalab.[2]

3. Ibnu Hajar Haitami, orang yang mengakui bahwa Ibnu Taimiah adalah hamba yang telah dihinakan Tuhan yang menjadi tuli dan dibutakan oleh-Nya.

4. Qadhi Tajuddin As-Sabki, yang menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah adalah orang yang membahayakan ulama. Ia pernah menulis dalam salah satu bukunya: “Ia telah menggiring murid-muridnya ke jurang neraka.”[3]

5. Allamah Taqiuddin Al-Hishni, menyebutkan bahwa Ibnu Taimiyah adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan penyakit. Ia orang yang sesat dan suka mengumbar fitnah.

6. Ibnu Hajar Al-Asqalani, penulis syarah Sahih Bukhari dan dikenal dengan sebutan Amir Al-Hadits. Ia begitu membenci Ibnu Taimiyah karena dikenal sebagai orang yang suka mencela dan tidak menerima hadits-hadits sahih. Ibnu Hajar menulis: “Ia selalu menolak hadits-hadits sahih dan sering mencela orang-orang (seperti Allamah Al-Hilli yang sezaman dengannya yang mana beliau disebut Ibnu Taimiyah dengan sebutan Ibnu Mutanajjis atau “anak orang yang najis”). Ia sangat berlebihan dalam hal itu sampai-sampai ia sempat pernah mencela Ali bin Abi Thalib.[4]

7. Alusi, penulis tafsir yang terkenal juga termasuk orang-orang yang telah mengkafirkannya. Ia juga sependapat dengan Ibnu Hajar dengan berkata, “Ia memang terkenal dengan caciannya dan perkataan kotornya.”[5]

8. Sayid Hasan As Saqaf, termasuk orang yang sezaman dengan kita, begitu juga Zahid AL-Kautsari serta sekelompok ulama lain berkata bahwa ia orang yang mengikuti Muawiyah dan selalu menyerang serta memojokkan Imam Ali as juga mencari aib-aibnya, orang seperti itu disebut oleh penganut Wahabi sebagai Syaikh Al-Islam dan pemikiran-pemikirannya dianggap sebagai wahyu yang turun dari langit.

Pemikiran Ibnu Taimiyah sempat redup pada suatu dekade dalam sejarah, namun tak lama kemudian dihidupkan kembali dan disebarluaskan oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Tujuan pencetus dan penyebar aliran ini hanyalah terciptanya perpecahan di antara umat Islam dan mengkafirkan kelompok-kelompok selain kelompoknya sendiri.

Kebijakan diskriminasi yang diterapkan rezim Al Saud menyebabkan meluasnya protes rakyat di Arab Saudi. Anehnya, Amerika Serikat selalu mendukung kebijakan Riyadh dan bersikap bungkam terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia yang semakin tak terkendalikan di Saudi.

Gelombang protes rakyat terhadap kebijakan diskriminatif rezim Al Saud telah memasuki tahap baru. Sikap Riyadh yang membatasi penggunaan fasilitas umum dan mengkhususkan miliaran dolar hasil ekspor minyak negara kepada keluarga kerajaan membuat kondisi semakin tidak dapat ditolerir rakyat.

Dari 22 juta penduduk Saudi, sekitar 2,5 -3 juta warga bermazhab Syiah (12 Imam, Zaidi, dan Ismailiyah). Pemerintah Riyadh memperlakukan mereka seperti warga tingkat kedua atau orang asing. Warga Syiah sama sekali tidak mempunyai peran dan pengaruh di pemerintahan Saudi. Mereka merasa seakan-akan bukan warga Saudi karena pemerintah kerajaan menganggap mereka seperti warga asing dan menempatkannya di tingkat sosial yang terendah.

Mayoritas warga Syiah Saudi tinggal di wilayah timur negara ini yang kaya minyak. Menurut laporan, jumlah warga Syiah Saudi antara 10 hingga 15 persen dari 22 juta penduduk negara itu. Namun warga Syiah meragukan kebenaran data tersebut. Mereka meyakini kebanyakan umat Syiah menyembunyikan mazhab mereka. Hal itu disebabkan tekanan dan diskriminasi pemerintah.

Pandangan Syiah bahwa setiap penguasa tidak dinilai sebagai “Wali Amr” dan penentangan terhadap penguasa zalim adalah kewajiban syariat, dianggap sebagai bahaya besar bagi rezim Saudi. Para pejabat Riyadh menyadari akan hal itu, oleh karena itu mereka mengambil langkah antisipasi dengan cara mengurangi jumlah warga Syiah yang bekerja di bidang-bidang yang dianggap sensitif.

Para pejabat Saudi rata-rata bermazhab Wahabi, di mana dalam pemikiran mereka ingin menghidupkan prinsip dan norma-norma umat Islam sesuai dengan pandangan mereka. Mereka menilai semua umat Islam yang bermazhab selain Wahabi dianggap kafir dan mengkafirkan lembaga-lembaga lain, bahkan untuk memberantas para oposisi, mereka menggunakan istilah “Takfiri” atau pengkafiran.

Selama abad 20, pemerintah Riyadh dan Wahabi telah memberlakukan tiga diskriminasi; mazhab, ekonomi dan politik terhadap warga Syiah, bahkan hingga kini sikap diskriminasi itu tetap subur di Saudi. Rezim Al Saud juga membatasi aktivitas-aktivitas keagamaan warga Syiah, termasuk pembangunan Husainiyyah, masjid, berpakaian khusus seperti pakaian hitam di hari Asyura.

Selain adanya diskriminasi mazhab dan keyakinan , warga Syiah juga menjadi kelompok paling teraniaya di Saudi. Provinsi timur Saudi yang merupakan wilayah berpenduduk Syiah adalah wilayah yang tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah kerajaan. Pemerintah Riyadh memperlakukan berbeda terhadap wilayah ini, misalnya dalam hal pendidikan, kesehatan dan pembangunan jalan. Warga Syiah juga tidak mendapat posisi penting dalam pemerintahan. Jabatan-jabatan penting, seperti bagian keamanan, negara, militer dan polisi diserahkan kepada keluarga kerajaan dan kelompok Wahabi. Bahkan warga Syiah di provinsi timur negara ini tidak pernah mendapat pekerjaan penting. Manajemen dan pengelolaan sekolah, universitas, dan lembaga-lembaga lain di wilayah itu diserahkan kepada warga non-Syiah.

Menurut koran Inggris Independent, pada dekade terakhir ini, warga Syiah Saudi menjadi korban diskriminasi dan perlakuan buruk dari para pejabat Riyadh. Koran tersebut menilai kebijakan rezim Al Saud terhadap warga Syiah seperti sikap rezim Apartheidterhadap warga kulit hitam di Afrika Selatan.

Mantan Duta Besar Mesir untuk Riyadh, Fathi al-Shazli menegaskan bahwa rezim Saudi terang-terangan telah melanggar hak-hak warga Syiah negara ini. Ditambahkannya, kezaliman dan diskriminasi Al Saud terhadap wilayah timur Saudi yang berpenduduk Syiah tampak jelas, sehingga tak seorangpun dapat mengingkarinya.

Menurutnya, kebijakan anti-warga Syiah oleh pemerintah Saudi disebabkan ketakutan mereka terhadap ideologi Syiah. Mereka mengangap warga Syiah sebagai ancaman. Oleh sebab itu, pemerintah Wahabi tidak ingin memenuhi hak-hak warga Syiah.

Dalam laporan tahunan lembaga-lembaga pembela HAM tentang kondisi HAM di Arab Saudi menyebutkan bahwa diskriminasi terhadap warga Syiah semakin meningkat. Menurut laporan tersebut, para pejabat keagamaan Saudi tidak mengizinkan warga Syiah melakukan aktivitas keyakinannya, jika hal itu dilanggar maka mereka diancam akan ditangkap. Hal itu tampak jelas di kota Mekah dan Madinah. Gelombang protes warga Saudi terhadap diskriminasi itu memaksa pemerintah Riyadh secara lahiriyah mengurangi tekanannya terhadap warga Syiah.

Bungkamnya negara-negara Barat khususnya Amerika terhadap pelanggaran HAM di Saudi dan mengambil sikap keras terhadap pelanggaran HAM di negara-negara lain membuat para aktivis sipil Barat protes. Mereka menyebut langkah pemerintah Presiden AS Barack Obama sebagai langkah yang hanya berbau pamer dan disesuaikan dengan kepentingannya.

Pengamat bidang strategi Arab Saudi, Fuad Ibrahim menandaskan, tujuan rezim al-Saud melakukan rangkaian kejahatan di wilayah Qatif, timur negara ini adalah untuk mematahkan tekad rakyat.

“Ulah pasukan keamanan Arab Saudi pada hari Kamis lalu membantai rakyat Qatif kembali menunjukkan niat busuk rezim yang anti warga Syiah,” ungkap Fuad Ibrahim Jum’at (10/2) saat diwawancarai al-Alam.

Seraya mengisyaratkan bahwa tidak ada peluang untuk berdialog dengan pembunuh yang menumpahkan darah rakyatnya sendiri, Fuad Ibrahim mengatakan, dialog dengan rezim al-Saud sama halnya dengan ikut serta dalam kejahatan Riyadh.

“Rezim al-Saud khawatir meluasnya kebangkitan Islam di Arab Saudi khususnya di wilayah yang dihuni warga Syiah dan mereka mengirim pasukannya untuk menumpas aksi demo warga demi mempertahankan kekuasaannya,” tandas Fuad Ibrahim.

Pengamat bidang strategi Arab Saudi ini menekankan, meski adanya dukungan penuh negara Barat khususnya Amerika Serikat terhadap rezim al-Saud, namun kehancuran rezim ini dalam waktu dekat dapat dipastikan terjadi.

Menteri Pertahanan dan Dukungan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Brigjen Ahmad Vahidi, kembali menekankan kemampuan para ahli Republik Islam Iran dan menyatakan bahwa saat ini tengah digulirkan sejumlah program dalam proyek produksi pesawat tempur dan militer.

IRNA melaporkan, hal itu dikemukakan Vahidi Senin (19/2) dalam Konferensi Organisasi Antariksa di Fakultas Penerbangan Shahid Sattari. Dikatakannya, Republik Islam Iran saat ini sudah mencapai kemajuan pesat dalam produksi berbagai pesawat militer, tempur, dan sipil.

“Ini menunjukkan kepercayaan diri dan kemampuan para ahli dalam negeri,” tegas Vahidi seraya menyatakan bahwa di sektor penerbangan telah dicapai terobosan-terobosan penting. Salah satunya adalah pesawat tempur Saeqeh yang kini telah bergabung dengan armada Angkatan Udara Republik Islam Iran.

Vahidi menjelaskan, “Banyak negara dunia yang memproduksi berbagai jenis pesawat akan tetapi di bawah lisensi negara tertentu atau proyeknya dilakukan secara kolektif. Akan tetapi kini Iran mampu memproduksi pesawat sendiri.”

Vahidi menegaskan, “Republik Islam Iran juga memiliki pusat reparasi terbesar untuk berbagai jenis mesin pesawat tempur maupun sipil.”

Salah satu di antara bukti keberhasilan Republik Islam Iran di bidang penerbangan adalah pesawat Iran-140 yang dapat digunakan untuk sektor militer maupun sipil.

Menyinggung kemampuan Iran di bidang rudal, Vahidi menjelaskan bahwa tingkat kemampuan ilmiah Iran di bidang produksi rudal telah diakui dan saat ini Republik Islam termasuk dalam jajaran 10 besar negara dunia dalam produksi rudal. Apalagi ditambah dengan nilai unggul dari fakta bahwa rudal-rudal tersebut merupakan produksi dalam negeri dan hasil kerja keras para ahli pribumi


[1] Pengantar buku Al-Radd Al-Mudhi’ah Ala Ibn Taimiyah.

[2] Sebagian orang mengingkari bahwa tulisan tersebut milik Dzahabi. Namun orang-orang seperti Hafidz Sahawi dalam kitabnya Al-I’lan bit Taubikh hlm. 77 menulis bahwa itu milik Dzzahabi.

[3] Thabaqat Asy Syafi’iyah, jld. 4, hlm. 76, nomor 759.

[4] Lisan Al-Mizan, jld. 6, hlm. 319.

[5] Ruh Al-Ma’ani, jld. 1, hlm. 18-19.

Koalisi Arab Saudi, Qatar, AS dan Israel Gulingkan Bashar Assad

Arab Saudi dan Qatar yang getol memusuhi pemerintahan Bashar Assad di Suriah dengan mendukung penuh kelompok bersenjata sejatinya menjadi pelaksana kebijakan Amerika Serikat dan Rezim Zionis Israel untuk mengobrak-abrik stabilitas kawasan Timur Tengah. Seiring dengan merebaknya gelombang kebangkitan Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara yang berujung pada lengsernya sejumlah diktator Arab seperti Hosni Mubarak di Mesir, Zein el Abidine ben Ali di Tunisia dan Muammar Gaddafi di Libya, Amerika dan negara Barat berusaha menggulingkan pemerintahan Bashar Assad demi menyelamatkan Israel dari keterkucilan dan mencegah bertambah kuatnya poros muqawama di kawasan.

Untuk merealisasikan ambisinya ini, AS memanfaatkan Arab Saudi dan Qatar, tentunya dengan imbalan seperti sikap bungkam Washington terhadap kondisi Hak Asasi Manusia (HAM) di kedua negara ini. Gedung Putih meminta Riyadh dan Doha mendukung kubu anti Assad serta mengobarkan krisis di Suriah. Arab Saudi dan Qatar dalam hal ini berusaha mengulang kesuksesan mereka di Yaman. Seperti diketahui P-GCC yang dimotori Arab Saudi mengusulkan penggantian Ali Abdullah Saleh, presiden Yaman dengan wakilnya, Abd Rabbu Mansour Hadi dan kini strategi ini akan diterapkan juga di Suriah. Selanjutnya mereka akan menentukan pemerintahan sesuai dengan selera dan kepentingan mereka.

Kini setelah upaya mereka gagal di Suriah, Arab Saudi dan Qatar berusaha menjadikan kasus Damaskus sebagai kasus internasional dan terus menekan Bashar Assad. Kedua negara ini dengan dalih melindungi warga sipil Suriah menuding Damaskus melakukan pelanggaran HAM. Tak cukup sampai di sini, Riyadh dan Doha membawa klaimnya tersebut ke Majelis Umum PBB. Sementara itu, upaya keras kedua negara Arab ini membawa tudingan mereka soal pelanggaran HAM Suriah ke Majelis Umum PBB tidak dibarengi dengan kondisi memuaskan di Arab Saudi dan Qatar sendiri. Kondisi HAM di Riyadh dan Doha sendiri saat ini cukup memprihatinkan.

Arab Saudi saat ini tercatat sebagai rezim yang paling tidak demokratis dan kejam di dunia. Wanita di negara ini tidak mendapat hak-hak sebagaimana mestinya. Mereka dilarang mengendarai kendaraan dan tidak diperkenankan berpartisipasi di pentas politik, termasuk tidak memiliki hak suara. Qatar sendiri tak berbeda jauh dengan Arab Saudi, pemerintahan Doha juga berbentuk kerajaan dan tidak terlihat demokrasi di negara ini.

Navi Pillay, Komisaris Tingggi Dewan HAM PBB menuding Suriah melanggar Hak Asasi Manusia di saat rezim al-Saud di Arab Saudi memenjarakan lebih dari 30 ribu warganya yang tak berdosa dan tanpa dakwaan yang jelas. Selain itu, Riyadh juga gencar menumpas aksi demo damai rakyatnya. Navi Pillay menyebut upaya pemerintah Damaskus melindungi warganya dari serangan kelompok bersenjata yang didukung Arab Saudi, Qatar, Israel, AS dan Turki sebagai pelanggaran HAM. Di sisi lain, Pillay tidak melihat aksi pengiriman tentara Arab Saudi ke Bahrain dan pembantaian warga Manama sebagai pelanggaran HAM.

Sementara itu, pemerintahan Bashar Assad berbeda dengan Arab Saudi dan Bahrain. Assad mendapat dukungan penuh dari rakyatnya. Hal ini terlihat dari aksi demo warga mendukung pemimpin mereka yang digelar hampir tiap hari. Poin penting di sini adalah baik Arab Saudi, Qatar, AS dan Israel sama-sama memiliki satu tujuan yaitu melemahkan poros muqawama serta mencegah keterkucilan Tel Aviv dengan menggulingkan pemerintahan Bashar Assad.

 

Salman dan Ammar menerima jabatan Gubernur Madain dan Kufah atas restu dan izin Imam Ali As.

Ringkasan Pertanyaan
.
Salman Parsi dan Ammar bin Yasir pada masa pemerintahan Umar menerima posisi sebagai gubernur, mengapa keduanya menerima posisi gubernur ini?Salman Parsi pada masa khilafah Umar adalah Gubernur Madain. Dan Ammar bin Yasir menjabat sebagai Gubernur Kufah. Keduanya merupakan sahabat dan Syiah Ali bin Abi Thalib As , mengapa mereka menerima jabatan tersebut? Tentu mereka sekali-kali tidak akan membantu orang-orang jahat dan orang-orang murtad. Karena Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka.” (Qs. Al-Hud [11]:113)
sumpah jabatan telah mengalami degradasi ganti saja dengan
.
Jawaban Global

Menyimak beberapa poin berikut ini mungkin akan dapat membantuk kita untuk menemukan jawaban dan hakikat persoalan ini:

1.     Syiah meski memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad. Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.

2.     “Ru-ku-n” derivatnya dari klausa ru-k-n yang bermakna tiang dan dinding-dinding yang menjaga bangunan atau segala sesuatu yang lain tetap berdiri. Kemudian dimaknai bersandar dan mengandalkan sesuatu. Harap diperhatikan bahwa rukun tidak semata-mata bermakna penyandaran melainkan penyandaran yang senantiasa disertai dengan kecendrungan.

Yang dimaksud dengan “zhalamu” adalah seluruh orang yang melakukan kezaliman di antara para hamba Tuhan dan menjadikan mereka sebagai budak dan hambanya.

3.     Syiah meyakini bahwa meski manusia tidak boleh berpartisipasi dalam kezaliman dan kejahatan para zalim dan meminta pertolongan dari mereka serta memiliki kecendrungan terhadap mereka namun boleh jadi mereka berpartisipasi pada pemerintahan-pemerintahan tiran karena motivasi-motivasi positif dalam beberapa kondisi tertentu dan mereka tidak menjadi mitra dalam kezaliman mereka. Keberadaan mereka berada pada tataran ingin mengerjakan pekerjaan-pekerjaan positif dan memenuhi hajat-hajat masyarakat. Penjelasan masalah ini akan dibeberkan pada jawaban detil pada site ini.

4.     Kita ketahui bahwa situasi dan kondisi yang berkembang pada masa-masa kemunculan Islam adalah situasi dan kondisi khusus. Islam baru saja berdiri dan berada dalam kepungan musuh dalam dan luar negeri. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, dengan motivasi ingin menjaga Islam dan membantu supaya Islam mengalami kemajuan dan kesempurnaan, maka tidak ada halangan bahwa Imam Ali As bekerja sama dengan para khalifah sebagai konsultan maksum yang memberikan musyawarah dan panduan kepada para khalifah. Demikian juga Salman dan Ammar menerima jabatan Gubernur Madain dan Kufah atas restu dan izin Imam Ali As

.

Jawaban Detil

Untuk sampai pada sebuah kesimpulan kokoh dan final kita harus mengkaji beberapa masalah krusial sebagaimana berikut:

Apakah Syiah meyakini kemurtadan para khalifah?

Apa makna rukun dan zhulm pada ayat yang dimaksud?

Apakah penerimaan tanggung jawab pada pemerintahan-pemerintahan tiran sama sekali tidak dibenarkan?

Apakah penerimaan tanggung jawab pada pemerintahan bermakna sokongan dan dukungan terhadap pemerintahan dan penguasanya?

.

1. Apakah Syiah meyakini kemurtadan para khalifah?

Meski Syiah memiliki beberapa kritikan terhadap para khalifah namun mereka tidak memandangnya sebagai orang murtad. Apabila pada sebagian riwayat Ahlusunnah terdapat penyandaran kemurtadan terhadap para sahabat Rasulullah Saw maka Syiah tidak memaknainya sebagai kemurtadan dalam pengertian teknis teologis.

.

Kriteria dan pakem Syiah dalam berhadapan dengan para khalifah adalah interaksi para Imam Maksum As khususnya Imam Ali As dengan mereka bukan ucapan-ucapan orang awam karena Syiah sejati berpandangan bahwa mereka adalah pengikut dan pecinta para Imam Maksum As.

.

Apa yang paling penting bagi Imam Ali As dan para Imam Maksum lainnya sedemikian sehingga seluruh wujudnya dikorbankan adalah menjaga asas dan pilar Islam. Atas dasar ini, Imam Ali As tidak pernah urung dan menolak untuk bekerjasama dengan para khalifah sepanjang pokok dan inti ajaran Islam tetap terjaga. Tatkala beliau diminta untuk memberikan bimbingan dan musyawarah maka beliau memberikan sebaik-baik bimbingan dan musyawarah kepada mereka. Dalam banyak hal, Imam Ali As mengutus putra-putranya untuk ke medan perang di bawah komando para khalifah. Karena Imam Ali As tidak menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Segala yang diinginkannya adalah Islam.  Mengingat bahwa Abu Bakar dan Umar, bagaimanapun, berada pada di pucuk kepemimpinan umat Islam sehingga apabila Imam Ali menentang mereka, itu pun pada masa-masa sensitif seperti itu Islam tengah mengalami perkembangan, pelbagai penaklukan dan memiliki banyak musuh, maka akan menyebabkan penyalahgunaan musuh-musuh Islam khususnya dua emperium besar Persia dan Roma. Imam Ali dengan kejelian danmengambil sikap yang benar sepert ini telah membuat para musuh putus harapan.[3]

2. Apa makna rukun dan zhulm pada ayat terkait?[4]

Ru-kun derivatnya dari kata ru-k-n yang bermakna pilar dan dinding-dinding yang menopang bangunan atau segala sesuatu yang lain. Kemudian bermakna bersandar dan bertopang kepada sesuatu.[5]

Alladzina zhalamu (orang-orang yang zhalim) juga mencakup seluruh orang yang berbuat zalim dan jahat di antara para hamba Tuhan dan menjadikan mereka sebagai budaknya dan memanfaatkan tenaga-tenaga mereka untuk memperoleh manfaat.[6]

Namun kiranya kita perlu mengingat poin ini bahwa rukun (pada redaksi ayat la tarkun) tidak semata-mata bermakna bersandar melainkan bersandar yang disertai dengan kecendrungan. Atas dasar itu, kata tersebut menjadi intransitif dengan huruf “ila” bukan dengan “’ala.” Penafsiran yang dilakukan oleh para ahli bahasa adalah penafsiran umum yang merupakan tradisi dan kebiasaan para ahli bahasa.[7]

Karena itu, rukun (cenderung) kepada para penjahat merupakan sejenis penyandaran yang bersumber dari kecendrungan dan gairah kepada mereka. Terlepas apakah kecondongan ini berkaitan dengan pokok agama misalnya mereka berkata-kata ihwal sebagian hakikat agama yang menguntungkan mereka dan mendiamkan apa yang mendatangkan kerugian bagi mereka, atau pada kehidupan beragama misalnya memberikan izin para penjahat untuk berbuat seenaknya dalam mengatur urusan masyarakat agama dan mengambil wewenang urusan-urusan umum masyarakat, atau ia menyukai mereka dan kesukaannya berujung pada meleburnya ia dengan mereka dan ujung-ujungnya menyisakan pengaruh buruk pada konteks kehidupan masyarakat atau seseorang di tengah masyarakat.

Dengan demikian, mempercayai para penjahat dalam interaksi dan transaksi jual-beli dan demikian juga mengandalkan mereka dan pada sebagian urusan memandang mereka sebagai orang terpercaya tidak tercakup dalam ayat di atas. Kita sendiri menyaksikan Rasulullah Saw pada malam Hijrah, tatkala beliau bergerak dari Mekah ke goa Tsur beliau menjadikan seorang Quraisy sebagai orang kepercayaannya (amin) dan menyewa kendaraan darinya untuk perjalanan ke Madinah. Demikian juga, Rasulullah Saw memandangnya sebagai amin dan dapat dipercayabahkan hingga setelah tiga hari. Kaum Muslimin sendiri dalam mengikut jejak Rasulullah Saw melakukan transaksi dengan orang-orang kafir dan musyrik.[8]

Atas dasar ini, Syiah meyakini bahwa pada tingkatan pertama kita tidak boleh ikut serta dalam setiap kezaliman dan kejahatan dan mengambil pertolongan darinya. Pada tingkatan-tingkatan berikutnya, mempercayai mereka pada hal-hal yang dapat menyebabkan lemahnya masyarakat Islam dan hilangnya kemerdekaan, kemandirian dan menjadikan mereka bergantung harus dihindari karena kecendrungan (rukn) seperti ini hanya membuahkan kekalahan, kelemahan dan kejatuhan kaum Muslimin.[9]

Namun dalam riwayat-riwayat Ahlusunnah disebutkan bahwa kaum Muslimin harus tunduk di bawah penguasa zamannya yang dikenal sebagai Ulul Amri, terlepas siapa pun dia. Misalnya dinukil dari sebuah hadis Rasulullah Saw yang menegaskan bahwa kalian harus menaati penguasa meski ia merampas hartamu dan mencambukmu! Demikian juga riwayat-riwayat lainnya yang menegaskan keharusan taat kepada penguasa dalam arti yang luas.[10]

3. Apakah penerimaan tanggung jawab pada pemerintahan-pemerintahan tiran sama sekali tidak dibenarkan?

Dari makna ayat yang telah diuraikan menjadi jelas bahwa rukn ke arah zalim bermakna bersandar dan percaya kepadanya disertai dengan adanya kecendrungan.

Adapun penerimaan tanggung jawab dari pemerintahan-pemerintahan tiran, senantiasa tidak disertai dengan pendekatan seperti ini. Karena itu penerimaan tanggung jawab pada pemerintahan-pemerintahan seperti ini tidak dapat dihukum sebagai terlarang.

Kehadiran pada pemerintahan-pemerintahan tiran ini boleh jadi memiliki ragam motivasi di antaranya:

1.     Untuk mengokohkan pemerintahan tiran

2.     Untuk menyebarluaskan kejahatan.

3.     Untuk memenuhi ambisi duniawi.

Apabila sesorang memikul jabatan pemerintahan tiran dengan motivasi-motivasi seperti ini maka hukumnya adalah tercela, buruk dan haram.

Meski kehadiran seseorang pada pemerintahan adalah sejenis sokongan terhadap pemerintahan tersebut atau minimal hal tersebut dapat disimpulkan seperti ini. Demikian juga dapat menyebabkan penguatan dan pengokohan pemerintahan tersebut.

Namun dalam sebagian urusan terdapat orang-orang dengan motivasi-motivasi positif berpartisipasi dalam pemerintahan tiran.  Tentu saja nilai mereka berbeda dengan kelompok pertama.

Atas dasar itu, terdapat perbedaan hukum atas orang-orang dengan motivasi positif dan yang memiliki motivasi negatif di atas. Hal ini bergantung pada signifikansi kehadiran orang tersebut pada lingkungan seperti itu boleh jadi hukumnya adalah mubah (boleh), mustahab (dianjurkan) bahkan wajib.

Dalam kitab Wasâil al-Syiah terdapat sebuah pembahasan dengan judul pembahasan, “Bab Kebolehan Menerima Tanggung Jawab dari Penguasa Tiran untuk Membantu Orang-orang Beriman dan Mengenyahkan Keburukan yang Akan Menimpa Mereka serta Menunaikan Kebenaran Apabila Memungkinkan.”[11]

Dalam bab ini, terdapat banyak riwayat yang menunjukkan kebolehan penerimaan tanggung jawab dari pihak penguasa tiran. Sebagai contoh, kami akan menyebutkan beberapa riwayat tersebut sebagai contoh adalah sebagaimana berikut ini:

1.     Dari Ali bin Yaqtin (menteri Harun al-Rasyid Khalifah Abbasiyah) dinukil bahwa ia berkata, “Imam Musa Kazhim As bersabda kepadaku, “Terdapat beberapa sahabat yang bekerja di samping para penguasa semata-mata untuk Tuhan dengan maksud untuk menguburkan keburukan-keburukan mereka terhadap para wali Allah Swt.”[12]

2.     Demikian juga bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang dibebaskan Allah Swt dari api neraka.”[13]

3.     Imam Shadiq As bersabda, “Kompensasi pelayanan kepada penguasa (sultan) adalah berbuat baik kepada saudara-saudara.”[14]

Qurb al-Asnâd dengan sanadnya hingga Ali bin Yaqtin yang menulis surat kepada Imam Musa Kazhim, bekerja sebagai pelayan (menteri) sultan sangat mengganggu perasaanku. Apabila Tuan mengizinkan saya mengundurkan diri dari jabatanku. Imam menjawab bahwa saya tidak menginzinkan engkau mundur dari pekerjaanmu. Bertakwalah kepada Allah.”[15]

Dalam banyak riwayat juga kita kita membaca bahwa para Imam Ahlulbait As juga memberikan izin seperti ini kepada selain Ali bin Yaqtin.[16]

Bagaimanapun menerima atau menolak jabatan-jabatan seperti ini mengikut pada aturan penting (muhim) dan lebih penting (aham). Untung dan rugi agama dan masyarakat harus menjadi bahan pertimbangan.

Karena itu, menerima jabatan dalam pemerintahan tiran boleh jadi memiliki motivasi positif dan memberikan efek yang banyak.

Sebagian motivasi positif, sebagai bandingan motivasi negatif di atas, adalah sebagai berikut:

Pada sebagian urusan terdapat preferensi bagi sebagian orang yang berseberangan dengan kecendrungan batin atau pelbagai intimidasi yang mengancamnya siap untuk menerima jabatan pada pemerintahan-pemerintahan tiran. Sebagian preferensi tersebut adalah sebagai berikut:

1.     Berbuat baik kepada saudara-saudara seagama

Bandar bin Ashim berkata, Imam Musa bin Ja’far bersabda kepada Ali bin Yaqtin salah seorang pejabat Harun al-Rasyid, “Wahai Ali! Jaminkan sesuatu bagiku maka aku akan menjaminkan tiga sifat kepadamu. Berjanjilah bahwa setiap kali engkau melihat salah seorang sahabat kami maka hormatilah ia maka aku akan menjaminkan tiga hal untukmu. “Tajamnya pedang, derita penjara, kehinaan miskin tidak akan datang kepadamu.” Kemudian setelah itu, terkadang Ali bin Yaqtin tatkala melihat salah seorang pecinta Ahlulbait Nabi Saw maka ia akan menundukkan kepalanya di hadapan orang itu.”[17]

2.     Melayani masyarakat

Dalam sebuah riwayat dari Imam Ridha As disebutkan, “Yusuf pada tujuh tahun pertama, mengumpulkan dan menghimpun gandum. Pada tujuh tahun kedua, ketika musim kemarau mulai, gandum itu secara perlahan diserahkan ke masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keseharian masyarakat dan dengan penuh amanah Yusuf mampu menyelamatkan negeri Mesir dari kesengsaraan. Yusuf pada tujuh tahun musim kemarau, sekali-kali tidak pernah hidup dengan kenyang supaya jangan sampai ia lupa kalau-kalau ada orang yang kelaparan.[18]

3.     Mengurangi Kezaliman Orang-orang Zalim dan Memberikan Petunjuk kepada Para Penguasa Tiran

Dalam kitab tafsir Majma’ al-Bayân dan al-Mizân, disebutkan ihwal model kinerja Yusuf sedemikian, “Tatkala musim kemarau mulai Nabi Yusuf pada masa-masa musim kemarau melakukan transaksi dengan masyarakat langsung dengan menukar gandum dengan emas dan perak, permata, hewan piaraan, budak-budak, rumah-rumah, sawah-sawah. Tatkala musim kemarau berakhir, Yusuf berkata kepada Raja Mesir, “Seluruh orang dan modal mereka berada dalam kekuasaan saya. Namun saya menjadikan Tuhan sebagai saksi dan Anda juga menjadi saksi bahwa seluruh orang aku bebaskan dan seluruh harta mereka aku akan kembalikan. Istana dan singgasanamu juga aku akan serahkan. Pemerintahan bagiku hanyalah sebuah alat untuk menyelamatkan rakyat. Bukan untuk hal lain. Berlaku adillah dengan mereka.”[19]

Beberapa Kegunaan Menerima Jabatan pada Pemerintahan Tiran

1.     Boleh jadi orang yang menerima jabatan seperti ini pada akhirnya akan melucuti kekuasaan pemerintah tiran (sebagaimana sebagian riwayat dalam kisah Nabi Yusuf).

2.     Terkadang menjadi sumber untuk revolusi-revolusi dan kebangkitan-kebangkitan selanjutnya, karena ia telah menyiapkan persiapan revolusi dari dalam pemerintahan. (Boleh jadi Mukmin Keluarga Fir’aun dapat dijadikan contoh dalam kasus ini).

3.     Terkadang minimal orang-orang seperti ini menjadi penopang dan tempat berlindung bagi orang-orang tertindas dan mengurangi tekanan pemerintah tiran lewat cara seperti ini.

Ketiga hal di atas masing-masing dengan sendirinya dapat menjadi pembenar untuk menerima pos-pos seperti ini.[20]

Poin yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa pertanyaan semacam ini memiliki latar belakang yang panjang hingga sebagian orang tanpa pengetahuan yang cukup atau dengan maksud-maksud tertentu mengajukan pertanyaan seperti ini kepada Imam Ridha As.

Dalam beberapa riwayat dari Imam Ridha As kita membaca:

Sebagian orang memprotes Imam Ridha As mengapa dengan segala kezuhudan dan ketidapedulian terhadap dunia mau menerima maqam wilayah ahd Makmun? Imam menjawab, “Apakah Rasulullah Saw lebih tinggi dari washi Rasulullah? Mereka menjawab, “Rasulullah lebih tinggi.” Imam Ridha As bersabda, “Kaum Muslimin lebih unggul atau orang-orang Musyrik?” Orang-orang menjawab, “Kaum Muslimin.” “Azis Mesir adalah orang musyrik, Yusuf adalah Rasul dan Makmun adalah orang Muslim dan aku adalah washi Rasulullah Saw.  Yusuf meminta kepada Azis Mesir untuk menyerahkan khazanah Mesir kepadanya dan berkata aku adalah penjaga yang baik lagi berilmu sementara saya terpaksa harus menerima maqam ini.”[21]

4.     Apakah Menerima Tanggung Jawab pada Pemerintahan Bermakna Sokongan Terhadap Pemerintahan atau Penguasa?

Dari apa yang telah diuraikan menjadi jelas bahwa kondisi seperti ini tidak selamanya berlaku bahwa kehadiran seseorang pada sebuah pemerintahan bermakna sokongan dan dukungan terhadap pemerintahan dan penguasanya.

Dengan mencermati kondisi-kondisi istimewa pada masa awal-awal kemunculannya, Islam berada dalam kepungan dan marabahaya musuh-musuh dalam dan luar negeri. Islam dapat mendekatkan kita pada jawaban ihwal kehadiran Salman, Ammar pada pemerintahan dan lebih tinggi dari itu kerjasama Imam Ali dengan para khalifah. Dengan kata lain, dalam kondisi istimewa seperti ini, dengan motivasi ingin menjaga Islam dan membantu mengembangkan dan mematangkan Islam, maka tiada halangan Ali berkedudukan sebagai konsultan maksum dan bekerja sama dengan para khalifah.[22] Demikian juga terkait dengan Salman dan Ammar. Dapat dipastikan bahwa keduanya menerima tugas sebagai gubernur di Madain dan Kufah dengan izindan restu Imam Ali.[23]

.


sumber :

[3]. Diadaptasi dari Indeks No. 1348 (Site: 2982)

[4]. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain dari Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Qs. Al-Hud [11]:113)

[5]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 260, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1374 S, Cetakan Pertama.

[6]. Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 263.

[7]. Mufradat Raghib, klausa “ru-k-n

[8]. Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, edisi Persia terjemahan Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, jil. 11, hal. 68 – 75, Daftar Intisyarat-e Islami Jamiah Mudarrisin Hauzah Ilmiyah Qum, 1374 S, Cetakan Kelima.

[9]. Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 261.

[10]. Tafsir Nemune, jil. 9, hal. 264.

[11]. Hurr Amuli, Wasâil al-Syiah, jil. 17, hal. 192, Muassasah Ali al-Bait, Qum, 1409 H.

[12]. Wasâil al-Syiah, jil. 17, Hadis 22326.

[13]. Ibid, jil. 17, Hadis 22327.

[14]. Behzad Ja’fari, hal. 387, Nasyir Islamiyah, Teheran, 1380 S, Cetakan Pertama.

[15]. Allamah Majlisi, Bihar al-AnwarÂdâb Mu’asyirât, terjemahan Persia jilid 16 Bihâr al-Anwâr, jil. 2, hal. 234, Muhammad Baqir Kumrei, Nasyir Islamiyah, Teheran, 1364 S, Cetakan Pertama.

[16]. Tafsir Nemune, jil. 10, hal. 7 dan 8.

[17]. Al-Âdab al-Diniyah al-Mu’iniyah, terjemahan Abidi, hal. 365.

[18]. Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur, jil. 6, hal. 105, Markaz Farhanggi Dars-ha-ye az Qur’an, Teheran, 1383 S, Cetakan Kesebelas.

[19]. Ibid, jil. 6, hal. 105 dan 106.

[20]. Tafsir Nemune, jil. 10, hal. 7 dan 8.

[21]. Wasâil al-Syiah, jil. 12, hal. 146.

[22]. Karena itu Imam Ali As bersabda, “Demi Allah, selama urusan kaum Muslim tetap utuh dan tak ada kelaliman di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu (dari Allah) dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang Anda perebutkan.” Nahj al-Balâghah, terjemahan Dasyti, Khutbah 74, hal. 122 dan 123. Ibnu Abi al-Hadid, jil. 6, hal. 166. Subhi Shaleh, hal. 102.

[23]. Mengingat penghormatan kedua orang besar ini kepada Imam dan Pemimpin Maksumnya sangat jauh kemungkinan keduanya menerima tanggung jawab gubernur tanpa izin Imam Ali As.

Berpegang teguh pada Qur’an dan Ahlul Bait, bukan pada Hanafi, Hanbali, Maliki, Syafi’i

Ahlul Bait dalam Al Qur'an dan Hadits

Berikut ini adalah penggalan dari e-book Ahlul Bait dalam Al Qur’an dan Hadits, yang dapat anda download di sini.

Perhatian: Buku ini dituliskan dengan gaya bahasa Melayu.

Al-Qur’an al-Karim merupakan sumber pemikiran, syariah dan nilai setiap yang dibawa oleh al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan dan kalam Allah yang Maha Suci, yang menggubal cara hidup dan menetapkan undang-undangnya. Setiap muslim mengetahui bahawa apa juga yang dibawa oleh al-Qur’an adalah -syariah Allah dan risalah yang diwajibkan beramal dengannya dan berjalan menurut petunjuknya.
Al-Qur’an menceritakan tentang Ahi al-Bayt dengan mengguna uslub yang berikut:
1. Dengan terus terang menyebut nama mereka dengan menggunakan istilah yang digunakan al-Qur’an, adakala al-Qur’an menyebut mereka dengar nama Ahl a1-Bayt, sebagaimana dalam ayat al-Tathir’1 dan kadang-kadang disebut dengan “Al-Qurba” sepertimana dalam ayat al-Mawaddah2. Dengan sebab itu turunnya beberapa ayat al-Qur’an yang dijelàskan oleh Sunnah Nabi dan dihuraikan untuk umat pada ketika itu, serta diriwayatkan oleh ahli-ahli tafsir, perawi-perawi hadis dan ahli-ahli sejarah dalam kitab-kitab dan ensikiopedia mereka….

Anda dapat download buku tersebut melalui link-link di bawah ini:

Bagian 1: Ahlul Bait dalam Al Qur’an

Bagian 2: Ahlul Bait dalam Hadits

Kebenaran mengikuti ajaran Ahlul Bait

Dalam sebuah majlis yang cukup ramai dan dihadiri oleh ulama Ahlu Sunah dan Syiah, salah seorang dari ulama Ahlu Sunah bertanya kepada seorang alim Syiah, “Jika kita disuruh untuk memilih satu di antara lima madzhab (Hanafi, Hanbali, Maliki, Syafi’i dan Ja’fari), manakah yang harus kita pilih?”

Alim Syiah menjawab, “Jika kita mau jujur kepada diri sendiri, kita memilih madzhab Ja’fari. Karena madzhab Ja’fari berasal dari ajaran Imam Ja’far Shadqi as dan Ahlul Bait nabi as. Apa yang diajarkan oleh Imam Ja’far Shadiq as pasti berasal dari Al Qur’an dan sunah nabi, dan beliau lebih faham tentang keduanya. Karena beliau adalah bagian dari Ahlul Bait, yakni penghuni rumah; dan penghuni rumah lebih faham apa yang ada di dalam rumah ketimbang orang lain.”

Syaikh Mahmud Syaltut, seorang mufti bersejarah dan dosen agung Universitas Al Ahzhar Mesir, pada tahun 1379 H. secara resmi mengeluarkan fatwa yang dicetak dalam majalah Risalatul Islam Darul Taqrib Mesir. Isi fatwanya adalah:

“Sesungguhnya Madzhab Ja’fari, yang dikenal dengan Syiah Itsna Asyariah (Syiah 12 Imam) adalah madzhab yang sah secara Syar’i, dan dapat dipilih sebagaimana Ahlu Sunnah. Oleh karena itu selayaknya umat Islam memahami hal ini, meninggalkan fanatisme terhadap madzhab masing-masing. Semua ulama madhzab-madzhab ini adalah mujtahid dan fatwa mereka diterima di sisi Allah. Orang yang bukan mujtahid dapat mengikuti mereka (para mujtahid), dan mengamalkan fatwa-fatwanya. Dalam hal ini pun tidak ada bedanya baik dalam masalah ibadah maupun mu’amalah.”[1]

Para ulama besar Ahlu Sunah seperti Muhammad Fakham seorang mantan dosen Universitas Al Azhar, Abdurrahman An Najjari pengurus masjid-masjid Kairo, Abdul Fattah Abdul Maqsud seorang dosen dan penulis terkenal Mesir, semuanya membenarkan fatwa Syaikh Mahmud Syaltut.

Muhammad Fakham berkata, “Saat ini juga kami berfatwa berdasarkan fatwa Syaikh Syaltut. Yakni kami tidak membatasi diri hanya pada empat madzhab Ahlu Sunah. Syaikh Syaltut adalah seorang imam dan mujtahid; pemikiran dan pendapatnya bagaikan kebenaran dan hakikat.”

Abdul Fattah Abdul Maqsud juga berkata, “Madzhab Syiah Itsna Asyariah dapat dijadikan madzhab yang sebaris dengan madzhab-madzhab Ahlu Sunah. Tidak ada salahnya bagi siapapun untuk memeluk madzhab Syiah, madzhab yang berasal dari Ali bin Abi Thalib, seorang yang paling alim setelah nabi dalam Islam.”[2]


[1] Seratus Satu Perdebatan, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 346.

[2] Fi Sabilil Wahdatil Islamiyah, Sayid Murtadha Ar Radhawi, halaman 52, 54 dan 55.

Berpegang teguh pada Qur'an dan Ahlul Bait

Muhammad Tijani Samawi, bagi sebagian orang mungkin merupakan seorang tokoh fiktif yang dibuat-buat oleh orang Syiah. Namun orang yang sedang menginap di hotel Lale Tehran ini ternyata benar-benar nyata. Ia adalah orang yang lembut dan sangat pintar. Murah senyum, berjenggot tipis dan rapi. Senang sekali ia bersedia untuk diwawancarai selama satu jam.

Ia begitu dikenal di Iran dengan karyanya yang berjudul “Akhirnya aku temukan kebenaran”. Sebuah buku tentang bagaimana ia menjadi Syiah yang mulanya bermadzhab Syafi’i. Ia menyatakan bahwa dirinya begitu berusaha keras dalam mengajak sesamanya untuk memeluk madzhab Ja’fari, dan dijelaskannya bahwa pekerjaan itu baginya memiliki arti yang luar biasa dalam hidupnya.

Muhammad Tijani Samawi yang kini berusia 70 tahun mendapatkan gelar doktor dari Sorbonne dan begitu mahir dalam berbahasa Perancis. Ia sangat bertentangan dengan pola pikir kasta yang memisah-misah lapisan masyarakat. Tak pernah ia berhenti mengajak para pemuda pemudi Muslim untuk terus belajar dan mengkaji dalam agama.

Sayid Muhammad Tijani Samawi selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan Iran. Seakan ia sedang hidup di Iran. Masalah militer saja diikuti perkembangan beritanya oleh beliau, apa lagi masalah nuklir Iran.

Dialog ini berlangsung di hotel Lale Tehran, yang diluput oleh wartawan Fars News.

Tolong perkenalkan diri anda secara singkat

Secara singkat! Memang hidupku begitu sederhana dan singkat-singkat saja. Kelahiranku pun juga sederhana dan singkat. Salam sejahtera bagi Rasulullah, Muhammad saw beserta keluarganya yang suci. Salam juga buat para pendengar sekalian di manapun anda berada. Mengenai diriku, secara singkat, aku adalah Muhammad Tijani Samawi, dari Tunisia Selatan. Sebenarnya aku juga selalu menekankan bahwa aku ini orang Iraq, hanya saja lahir di Tunisia. Keluargaku berasal dari Samawe, Iraq, yang karena takut akan kejahatan pemerintah Abbasiah, kami berjihjrah ke Afrika Utara.

Mengenai pendidikan anda?

Aku memulai pendidikan tinggiku selama dua tahun di salah satu cabang universitas Zaitunah. Selepas kemerdekaan Tunisia, dan setelah universitas Zaitunah ditutup, aku pindah ke sekolah Franko Arabi; dan seusai menyelesaikannya, aku melanjutkan pendidikan SMA dan Diploma.

Di akhir masa pembelajaran aku pernah menjadi asisten dosen di sebuah Lembaga Diploma Yubsai. Selama 17 tahun aku mengajar dalam posisi itu. Setelah itu aku mengajukan permohonan cuti kepada kementrian pendidikan untuk belajar di Perancis, tepatnya di Sorbonne, Paris. Selama 8 tahun aku sibuk mengkaji perbandingan agama-agama; seperti agama-agama monoteis… Setelah mengambil gelar sarjana, aku melanjutkan kuliahku di bidang Falsafah dan Humaniora. Lalu setelah itu aku mengambil bidang Sejarah dan Madzhab-Madzhab Islam di kedoktoran tingkat 3 universitas tersebut, lalu aku mengambil gelar kedoktoran internasional.

Apa tema thesis doktoral anda?

Judul thesisku di universitas itu adalah “Pemikiran Islami dalam Nahjul Balaghah”, karya Imam Ali as. Anda sekalian pasti memahami nilai Nahjul Balaghah baik dari segi sastra dan bahasanya. Menterjemahkan buku itu ke bahasa Perancis sangat susah sekali, karena para ahli sastra Arab sendiri mengaku banyak menghadapi kesulitan dalam menjelaskan dan menafsirkan kata-kata Imam Ali as, sampai Ibnu Abil Hadid berkata bahwa buku itu dan ucapan-ucapan yang di dalamnya lebih tinggi dari ucapan makhluk dan di bawah ucapan Tuhan.

Aku sendiri menemukan banyak kesulitan dalam menterjemahkan buku itu ke bahasa Perancis. Karena di Sorbonne kita tidak bisa menulis thesis kecuali dengan bahasa Perancis. Seusai itu, selama setahun di universitas Sorbonne dan 3 tahun mengajar di lembaga Balzak di Paris, aku mulai menulis buku dan sampai saat ini sudah ada 11 buku yang telah aku tulis. Buku pertamaku adalah buku yang dikenal dengan “Akhirnya Kutemukan Kebenaran”, yang telah diterjemahkan ke 14 bahasa dunia dan karyaku yang terakhir adalah “Aku menjawab seruan orang yang mengajak kepada Tuhan.”

Sebelum Syiah, apa madzhab anda? Hal apa yang telah membuat anda memeluk ajaran Syiah? Sehingga karena itu anda sampai menulis buku “Akhirnya kutemukan kebenaran”…?

Panjang sekali ceritanya. Dalam buku itu aku sendiri telah menjelaskannya panjang lebar. Di sini akan aku ceritakan secara singkat saja. Pada tahun 1964, aku hadir dalam sebuah konfrensi yang berkenaan dengan Orang-Orang Arab Muslim di Makkah, oleh karena itu aku begitu terpengaruh oleh Wahabiah. Oleh karena itu aku mulai condong ke ajaran itu. Namun ketika aku bertekat untuk pergi ke Saudi Arabia untuk melaksanakan Haji dan Umrah, dalam kapal aku bertemu dengan salah seorang Syiah yang ternyata seorang dosen di universitas Baghdad.

Ceritakan lebih lanjut mengenai pertemuan anda dengan seorang alim Syiah…

Pertemuan itu sangat bermanfaat sekali. Karena ia adalah faktor utama aku mulai menjalin hubungan dengan para ulama Syiah di Najaf. Akhirnya karena jalinan hubungan itu aku faham bahwa selama ini yang telah aku dengar tentang Syiah adalah palsu. Semua itu hanyalah propaganda. Sejak itu aku mulai banyak membahas dan berdiskusi dengan ulama Syiah. Setelah mengkaji selama tiga tahun, akhirnya kutemukan madzhab yang benar, oleh karena itu aku menerima Syiah dan aku mulai menyebarkan ajaran-ajaran Syiah. Dengan demikian aku banyak menulis tentang Syiah. Aku mengenalkan Ahlul Bait yang kukenal dengan cara ini.

Sungguh cara yang ilmiah dalam memilih agama…

Ya, benar, cara ini berbeda dengan orang-orang Syiah yang memah terlahir sebagai Syiah. Aku bukan Syiah karena ikut-ikutan belaka, namun benar-benar ilmiah dan atas dasar pengetahuan, pembahasan dan diskusi.

Dulunya aku Syafi’i. Namun karena terus membahas dan mengkaji, aku memilih madzhab Ja’fari, yakni Madzhab Imam Ja’far Shadiq as. Artinya aku memilih madzhab ini karena pengetahuan dan kajian selama tiga tahun.

Salah satu sahabatku adalah seorang Suni, berasal dari Aljazair, saat kami sama-sama mahasiswa, ia sering berkata bahwa Muhammad Tijani Samawi setelah menulis buku “Akhirnya kutemukan kebenaran” menulis buku lain yang isinya menjelaskan bahwa ia kembali ke Ahlu Sunah. Benarkah itu?

Itu semua adalah propaganda Saudi dan Wahabi. Karena begitu ada orang yang mulai memilih kebenaran, sejak saat itu juga pasti musuh-musuh yang bertentangan mulai mengada-ada, menciptakan syubhat, melontarkan berbagai macam isu, kritik dan pertanyaan yang tidak benar. Apa yang terjadi padaku juga seperti ini. Begitu aku masuk Syiah, mereka semua mulai ramai menyebar syubhat.

Mulanya mereka menyebarkan isu, bahwa nama yang tertulis di buku itu adalah palsu, bukan Muhammad Tijani yang sebenarnya. Panjang sekali ceritanya. Ada yang mengatakan bahwa buku itu adalah ciptaan orang-orang Israel. Mereka selalu begitu agar masyarakat terjebak dalam keraguan. Ada yang bilang Tijani setelah menjadi Syiah ia mejadi murtad. Ada juga yang bilang Tijani tidak Syiah dan tidak Suni. Apapun yang mereka katakan, Tuhan yang tahu, bahwa aku tetap pada jalan keyakinanku.

Berapa banyak karya tulis anda tentang Syiah?

Sampai saat ini ada sebelas buku yang telah ditulis untuk berdakwah dan menyebarkan ajaran Ahlul Bait. Dalam buku-buku itu aku menjelaskan kebenaran yang sebenarnya. Dan berkat taufik Allah aku menjelaskan hak-hak Ahlul Bait yang mana kebanyakan saudara kita Ahlu Sunah lalai akan itu. Syukur aku terus berusaha di jalan ini. Alhasil apa yang mereka katakan tentangku adalah bohong dan propaganda.

Siapakah di antara para ulama Syiah yang paling berkesan bagi anda?

Salah seorang alim Syiah yang paling mengesankan bagi saya adalah Muhammad Baqir Shadr, yang mana aku sempat hidup dengannya untuk beberapa lama. Sangat sering kami duduk berdiskusi. Penjelasannya ada di buku “Akhirnya kutemukan kebenaran”. Ia adalah tauladan dalam akhlak. Akhlaknya yang sangat baik dan begitu juga keilmuannya membuatku sangat tertarik padanya. Padahal ia selalu rendah hati. Namun setiap kali aku bertanya, kurang lebih ia memberikan jawaban yang berdasarkan Al Qur’an dan sunah, yang semua itu benar-benar rasional dan memuaskan. Ia adalah yang pertama. Dan yang kedua adalah Allamah Syarafuddin, apa lagi dengan bukunya Al Muraja’at dan An Nash wal Ijtihad; begitu pula dengan karya-karya beliau yang lainnya.

Menurut anda, masalah apakah yang paling penting buat umat Islam saat ini?

Masalah yang paling penting buat umat Islam menurutku adalah persatuan umat, meninggalkan rasisme, fanatisme, dan bantah membantah yang menyebabkan perpecahan umat.

Tolong jelaskan lebih banyak lagi

Ya, sangat menyedihkan, misalnya akhir-akhir ini Qardhawi dan orang-orang sepertinya sedang menjalankan aksi-aksinya. Qardhawi termasuk bagian dari ulama yang dikenal dan ucapannya didengar oleh jutaan Muslim. Aljazirah menyebutnya sebagai kutub dunia Islam. Untuk beberapa kalinya ia mnyerang Syiah dan akhirnya tercipta persengketaan antar kelompok. Masalah yang paling penting bagiku adalah bagaimana caranya agar semua orang tidak mudah dipengaruhi oleh propaganda-propaganda orang-orang seperti Qardhawi, yang misalnya menyatakan bahwa Al Qur’an milik umat Syiah berbeda dengan Al Qur’an yang ada saat ini.

Banyak sekali permusuhan yang diciptakan oleh sebagian ulama, misalnya ulama yang berfatwa bahwa kita diharamkan berdoa untuk kemenangan Hizbullah atas Israel, karena anggota mereka adalah Syiah. Inilah satu-satunya penghalang besar bagi perkembangan dan kemajuan umat Islam.

Menurut anda, apa faktor permusuhan dan kedengkian ini?

Semua ini dikarenakan kefakuman pemikiran, kekolotan, dan karena umat Islam mudah menerima isu yang tidak jelas kebenarannya. Padahal Allah swt sendiri telah berfirman, bahwa ketika ada orang fasik datang kepada kita dengan membawa sebuah kabar, maka kita harus meneliti dan mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu sebelum menerimanya. Namun sayang Muslimin tidak mengamalkan ayat ini. Tanpa mencari tahu kebenaran isu, mereka langsung menerimanya begitu saja.

Namun saya tetap optimis bahwa kebenaran pasti akan menang. Karena Tuhan sendiri telah menjanjikan dalam kitab suci-Nya bahwa Ia hendak menyempurnakan cahayanya meskipun banyak sekali penentang yang menghalangi.

Bagaimana kondisi umat Syiah sekarang ini?

Saat ini umat Syiah berada dalam kondisi yang cukup baik. Karena kebanyakan ulama Ahlu Sunah dan kebanyakan dari pelajar-pelajar agama dari kalangan Ahlu Sunah mau mempelajari dan mengkaji ajaran Ahlul Bait, bahkan menerimanya. Tak sedikit dari mereka yang mau menerima ajaran ini. Karena Ahlul Bait adalah asas madzhab dalam Islam yang sebenarnya. Dan ajaran seperti ini benar-benar kosong dari hal-hal yang bersifat politik, dalam artian yang negatif. Salah seorang pendahulu kita berkata bahwa Tuhan melaknat politik dan para pelakunya karena di manapun ada politik, di situlah politik merusak segalanya.

Yakni apakah anda meyakini keterpisahan antara agama dan politik?

Yang aku maksud adalah politik yang menyeleweng, seperti politik Bani Umayah dan Bani Abbas. Mereka merusak keyakinan umat Islam dengan politik mereka, sehingga mereka dapat mencapai tujuan-tujuan mereka masing-masing yang berkaitan dengan politik. Sebagai contoh yang lebih detil, sebagian ulama Syiah berusaha menyatakan bahwa Syiah hanyalah sekedar gerakan politik yang muncul pasca terbunuhnya Imam Husain as. Padahal bagi kita Syiah sudah ada sejak jaman nabi. Karena nabi sendiri yang telah berkata kepada Ali bahwa ia dan para pengikutnya, yakni Syiahnya, adalah orang yang beruntung. Kata Syiah dalam bahasa Arab berarti para pecinta dan sahabat. Bahkan hal ini juga telah dijelaskan dalam Al Qur’an.

Sebagian ulama Suni hanya membesarkan sisi politik ajaran ini dengan berkata bahwa Syiah muncul sepeninggal Imam Husain. Oleh karena itu Syiah adalah masalah yang sama sekali politik, dan tidak ada kaitannya sama ajaran agama dan akidah Islam. Padahal menurut kita tidak, Syiah bukan hanya sekedar aliran politik, namun Syiah adalah ajaran yang bersumber dari nabi dan sudah aja sejak jaman Rasulullah saw.

Kira-kira apa sebenarnya target utama mereka?

Mereka ingin mencoreng wajah akidah kita. Mereka ingin merusak akidah agama ini dengan mencampurkan kebusukan-kebusukan politik di dalamnya. Karena politik selalu berubah-ubah, dan kebanyakan politik adalah tipu daya, kemunafikan dan perkara yang sia-sia. Adapun agama, merupakan perkara Ilahi, yang berdasarkan Al Quran dan sunah nabi; tak ada satupun yang bisa merubah dan melencengkannya.

Apa pendapat anda tentang umat Syiah di Iran jika dibandingkan dengan umat Syiah di negara-negara Arab atau selainnya?

Jelas banyak sekali perbedaannya. Yang jelas ushul dan furu’ yang mereka yakini pasti sama. Namun, apa yang diikuti oleh Syiah Iran dengan Syiah Arab, dan juga keyakinan-keyakinan mereka, dapat dikata memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini dikarenakan daya faham umat Syiah Iran terhadap teks-teks berbahasa Arab. Karena bahasa umat Syiah Iran adalah Parsi, mereka tidak mampu memahami semua itu secara sempurna, dan dengan penjelasan lain, umat Syiah Iran begitu sangat fanatik terhadap perkara-perkara yang bersumber dari riwayat, namun mereka tidak terlalu fanatik dengan masalah-masalah yang berdasarkan Al Qur’an.

Bisakah anda sedikit jelaskan maksud anda dengan memberikan contoh?

Misalnya di Iran banyak orang yang berpesta karena Abu Lu’lu’, karena ia adalah orang yang telah membunuh Umar bin Khatab. Padahal perkara ini adalah perkara yang sifatnya “Iran sekali”, dan orang Arab sama sekali tidak mementingkannya. Aku membela Syiah dengan kriteria ke-Arabannya.

Mengapa anda membela dari segi ke-Arabannya?

Karena semua orang berusaha mengenalkan Syiah sebagai Madzhab Parsi, madzhab “Iran”, dan mengidentikkannya dengan ke-Iran-an. Misalnya mentri agama Tunisia dalam sebuah buku menyebutkan bahwa asal muasal Syiah adalah negri Persia. Karena orang-orang Persia mengagungkan raja-raja mereka dengan keagungan Ilahi. Dan kini mereka melakukan hal yang sama dengan Imam-Imam mereka. Oleh karena itu, Syiah merasuki Islam karena orang-orang Persia. Dan juga, istri Imam Husain adalah orang Persia.

Yakni anda sedang berusaha membersihkan Syiah dari syubhat-syubhat sedemikian rupa?

Ya, tepat sekali. Aku ingin berkata bahwa Syiah bukanlah Persia, namun sebuah pergerakan yang dimulai dari Arab. Bahkan banyak ulama Syiah, seperti Imam Khumaini dan Imam Ali Khamenei, mereka adalah keturunan Rasulullah saw, yakni Sayid. Aku ingin katakan bahwa pondasi ke-Syiahan adalah Arab. Syiah Arab adalah Syiah asli di jaman risalah Islam. Seperti Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Dzar Al Ghifari. Dan memang di antara mereka juga ada Salman Al Farisi.

Ya, Syiah bermula dari sahabat-sahabat nabi yang demikian. Adapun orang-orang Iran berusaha memberikan kriteria lain terhadapnya. Padahal kami ingin memahamkan keapada semua orang bahwa Syiah dan ke-Syiahan pada asalnya berkaitan langsung dengan Arab. Bahkan kebanyakan ulama Persia dan Iran, asal muasal mereka adalah Arab, dari keturunan Rasulullah saw. Imam Khumaini itu juga sayid, asal muasalnya adalah Arab, dari keturunan nabi. Namun dikarenakan kondisi sosial dan ekonomi, nenek moyang beliau berhijrah ke Iran dan akhirnya orang tuanya melahirkan beliau di sini, lalu mereka menyebutnya sebagai orang Iran.

Misalnya orang bijak ini di Iraq, atau Imam Musa Shadr dan selainnya, tidak bisa kita sebut mereka sebagai orang Iran dikarenakan mereka Syiah; karena mereka mengenakan ‘amamah hitam yang menunjukkan mereka adalah Sayid dan dari keturunan Rasulullah saw. Masyarakat dunia harus memahami bahwa asal mula ajaran Syiah adalah dari Arab, dan dari nabi, yang disebarluaskan oleh sahabat-sahabatnya.

Dalam bukuku akhir-akhir ini aku menulis bahwa apa salahnya kalau kita katakan bahwa tokoh-tokoh pendahulu yang bermadzhab Suni adalah orang Persia; dan orang-orang Iran yang berbahasa Parsi, imam-imam mereka semuanya adalah orang Arab, seperti Imam Ali as dan keturunannya. Jadi yang seharusnya dijelaskan sekarang adalah kebalikan apa yang telah kita fahami selama ini, yakni orang-orang Syiah memiliki Imam-Imam yang merupakan orang Arab, dan Ahlu Sunah memiliki Imam-Imam yang merupakan orang Persia.

Yakni ulama-ulama ternama Ahlu Sunnah adalah orang Iran?

Ya! Sangat tepat sekali! Abu Hanifah adalah orang Persia. Tirmidzi adalah orang Persia. Ibnu Majah, Bukhari, Muslim, Sajistani, Nasa’i, Ghazali, Ibnu Sina, semua itu orang Persia. Kebanyakan dari pembesar Ahlu Sunah adalah orang-orang Persia. Namun meskipun dengan kenyataan seperti ini, tetap saja mereka berusaha mengidentikkan Syiah dengan Persia.

Menurut anda, setelah revolusi Islam Iran, apakah Syiah tidak tersebar luas? Apa pendapat anda?

Harus dijawab, ya, memang demikian. Sebagai contoh, muridku saja (sambil mengisyarah kepada seseorang yang juga bisa sedikit berbahasa Parsi), dan kebanyakan orang-orang Syiah di Tunisia, berada dalam keterasingan sebelum kemenangan revolusi Islam Iran. Namun semenjak kemenangan revolusi yang dipimpin oleh Imam Khumaini, kebanyakan orang jadi jatuh cinta kepada beliau. Akhirnya banyak orang yang bertanya-tanya tentang Syiah. Dengan demikian perkembangan Syiah di Tunisia sangat terbantu.

Banyak orang datang kepada kami dan berkata, “Imam Khumaini adalah Syiah. Aku ingin tahu banyak tentang orang-orang Syiah.”

Tuhan telah menolong orang-orang Syiah memerangi Syah dan memengangkan revolusi mereka. Setelah Mesir keluar dari golongan umat Arab, Tuhan telah menaikkan orang-orang Persia atau Iran ke atas panggung dan ini adalah kenyataan, sejarah yang benar-benar terjadi.

Ketika ada ayat yang diturunkan kepada nabi bahwa Tuhan dapat menggantikan suatu kaum dengan kaum lainnya, para sahabat bertanya tentang itu, lalu nabi memegang pundak Salman Alfarisi dan berkata, “Mereka adalah dari kaum orang ini.”

Allah swt memuji mereka dan berfirman tentang mereka, “Mereka mulia di hadapan orang-orang kafir dan rendah hati di hadapan orang-orang yang beriman. Mereka berjuang di jalan Allah dengan sebaik-baiknya perjuangan.”

Apa yang anda lihat di Iran setelah 27 tahun merayakan kemenangan revolusinya?

Kini pun aku melihat revolusi Islami Iran adalah titik terang yang telah membantu umat Syiah di seluruh dunia. Ke manapun aku pergi, aku pasti menemukan para pecinta Imam Khumaini. Saat aku berbicara dengan mereka, mereka benar-benar mendengarkanku. Dengan mudah mereka mau mengikutiku dan mempelajari ajaran ini.

Ada lagi yang menjadi faktor kejayaan kita, umat Syiah, yaitu kemenangan Hizbullah yang dipimpin oleh Sayid Hasan Nashrullah terhadap Israel. Kini semua orang sangat menghormati Sayid Hasan Nasrullah, dan ini pun menurut beliau berkat Imam Khumaini. Kini dari Jakarta sampai Maroko, smua orang memajang foto mereka (Sayid Hasan Nashrullah dan Imam Khumaini), dan mengakui mereka sebagai pemimpin, tanpa ada rasa takut sedikitpun. Bahkan ada seorang perempuan dari Mesir dalam salah satu program televisi berkata, “Syukur kepada Tuhan karena di antara umat Arab ada orang seperti ini.”

Apakah anda juga pernah membaca surat wasiat Imam Khumaini?

Ya, sayang sekali surat wasiat beliau tidak dihiraukan sepeninggalnya. Padahal seharusnya wasiat beliau harus ditulis dengan tinta emas, dan dibagikan ke seluruh penjuru dunia, sehingga semua orang tahu apa yang diinginkan oleh Imam dalam wasiatnya dan apa yang diserukan beliau. Aku masih ingat benar bahwa Imam Khumaini begitu menginginkan persatuan umat Islam di bawah satu payung yang berupa hadits nabi yang berkata, “Aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian: Kitab Allah dan Ahlul Baitku.” Hadits ini diriwayatkan oleh kebanyakan ulama Suni dan disebutkan dalam kitab-kitab Shahih mereka.

Iran juga sangat berhasil dalam dunia politik. Karena Iran mampu mengalahkan Amerika dan negara-negara adidaya lainnya. Misalnya dalam perkara nuklir, Barat masih menyeru Iran untuk kembali ke meja perundingan, namun Iran tetap maju tanpa melangkah mundur selangkahpun untuk kembali berunding dalam menjalankan program nuklirnya. Kalau negara-negara Arab, pasti semuanya takut akan segala ancaman. Namun Iran sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atas ancaman apapun, dan terus maju mengejar tujuannya. Hal inilah yang membuat semua umat Islam bangga. Kini mereka bangga dengan Iran; terlebih lagi dengan melihat manuver-manuver militer dengan menggunakan senjata-senjata buatan sendiri. Begitu juga ketika semua orang melihat kekuatan Hizbullah di hadapan Israel, mereka jadi lebih bangga lagi kepada Iran.

Murid Iran inilah yang telah memberi pelajaran berharga kepada dunia. Karena pertahanan Lebanon bukanlah pertahanan atas serangan Israel saja, namun terhadap serangan seluruh negara-negara adidaya; ya, bagai perang dunia. Banyak sekali negara-negara lain yang ikut campur memerangi Hizbullah, seperti Amerika, Jerman, Perancis, Inggris, dan negara-negara Arab sendiri. Namun akhirnya Hizbullah menang, berkat pertolongan Tuhan, betapa ada kelompok yang sedikit jumlahnya namun mengalahkan kelompok yang lebih besar jumlahnya. Sungguh Allah bersama orang-orang yang bersabar.

Saat ini banyak sekali yang membahas masalah modernitas dan agama, dan sebagian orang berkeyakinan bahwa agama, khususnya Islam, tidak dapat sejalan dengan modernitas. Apa pendapat anda tentang masalah ini?

Agama Islam bukanlah agama beku, namun fleksibel dan dapat berkembang. Ayat-ayat Al Qur’an menunjukkan bahwa agama Islam senantiasa terus berada dalam perubahan. Imam Ali as berkata, “Didiklah anak-anak kalian dengan cara yang berbeda dengan bagaimana kalian dididik. Karena mereka hidup di suatu masa yang berbeda dengan masa dimana kamu hidup.”

Ucapan beliau menunjukkan adanya perubahan dalam jaman ini. Namun pasti ada unsur-unsur yang tetap dan lain lagi aturannya. Dalam madzhab Ahlul Bait, tidak bisa kita merubah unsur-unsur yang telah ditetapkan dengan jelas, alias kita tidak bisa berijtihad sendiri di hadapan kejelasan. Ijtihad hanya diperbolehkan dalam masalah-masalah yang tidak ada nash sharih mengenainya. Rasulullah saw bersabda, “Allah swt sering diam dalam sebagian masalah, namun bukan berarti Ia tidak mengetahui. Namun itu merupakan rahmat-Nya bagi kalian. Kelak suatu hari jika telah tiba saatnya, akan datang para alim dan mujtahid yang faham akan agama-Nya yang akan mengeluarkan hukum dan fatwa berdasarkan ijtihad mereka.”

Misalnya, kemajuan ilmu membuktikan apa maksud di jaman nabi disebutkan bahwa manusia dapat memberikan darahnya untuk menghidupkan jiwa lainnya. Saat ini semua faqih Syiah berkata bahwa menyumbangkan darah untuk orang lain, atau bahkan anggota tubuh, boleh hukumnya. Inilah bedanya Islam dengan agama lainnya. Misalnya dalam Kristen kita tidak diperbolehkan untuk menyumbangkan darah kita setetespun kepada orang lain. Islam, khususnya madzhab Syiah, mempunyai pembahasan-pembahasan fikih yang disebut Masail Musthdatsah, yakni “masalah-masalah baru”, yang artinya Islam selalu memberi jawaban terhadap perkembangan dunia.

Di Amerika aku pernah berceramah dan mengatakan bahwa Islam adalah agama moderen yang tidak dapat disepelekan. Aku membuktikannya dengan ayat-ayat Al Qur’an.

Untuk mengakhiri dialog ini, ada lagi yang ingin anda sampaikan?

Aku hanya ingin berdoa kepada Allah agar umat Islam terus berhasil dan mengenalkan mereka kepada Ahlul Bait. Semoga mereka tetap berpegangan dengan wasiat nabi, Al Qur’an dan Ahlul Baitnya.

Ketika kita menanggalkan pemikiran salah dan menggapai pemikiran yang benar, itu artinya kita telah memilih cahaya daripada kegelapan. Semoga Allah selalu memberi taufiq kepada kita semua. Alhamdulillahi Rabbil Alamin.

 

banyak orang-orang Syiah awam yang suka mencaci para khalifah. Adapun para ulama, mereka berikhtilaf. Sebagian saja yang membolehkan hal itu

Tentang Mut’ah

Aku ditanya, “Apakah kalian, orang-orang Syiah, melakukan Mut’ah? Apakah menurut kalian nikah Mut’ah boleh hukumnya?”

Aku jawab, “Ya, memang boleh hukumnya.”

“Apa dalilnya?” Tanya dia padaku.

Aku katakan, “Dengan dalil sebuah hadits terkenal yang kalian tukil dari Umar bin Khattab, bahwa ia pernah berkata, “Ada dua Mut’ah yang di jaman nabi halal hukumnya, namun aku mengharamkannya: Nikah Mut’ah dan Haji Mut’ah.”

Yakni Umar yang mengharamkan keduanya, padahal di jaman nabi halal hukumnya.

Kini jawab pertanyaanku,  atas dasar apa dan punya hak apa Umar mengharamkan sesuatu yang dihalalkan nabi? Bukannya nabi pernah berkata bahwa halalnya Muhammad adalah halal hingga hari kiamat, dan haramnya Muhammad saw adalah haram hingga hari kiamat?

Tentang mencaci para khalifah

“Kalian, orang-orang Syiah, terkenal suka mencaci para khalifah. Apakah itu perbuatan yang benar? Apa dalil kalian membenarkan berbuatan itu?” Tanya seseorang padaku.

Aku jawab, “Ya, banyak orang-orang Syiah awam yang suka mencaci para khalifah. Adapun para ulama, mereka berikhtilaf. Sebagian saja yang membolehkan hal itu.”

“Mengapa? Apa alasannya?” Tanya kembali.

Aku bertanya padanya, “Apakah menurutmu mencaci Ali bin Abi Thalib itu boleh? Padahal ia adalah menantu nabi, kemenakan nabi, suami Fathima Zahra, dan ayah Hasan dan Husain cucu kesayangan Rasulullah saw?”

Ia jawab, “Tidak, tak boleh.”

Aku berkata, “Lalu mengapa Mu’awiyah memerintahkan dengan tegas umat Islam di manapun untuk mencaci Ali bin Abi Thalib? Kalau kamu hidup di jaman Mu’awiyah dan antek-anteknya, apakah kamu tidak kesal terhadapnya, lalu melaknat mereka?”

“Tidak, aku tidak akan melaknat mereka.” Begitu katanya.

Aku heran, “Mengapa? Bukannya tadi kamu bilang tidak dibenarkan mencaci Ali bin Abi Thalib? Pasti karena kamu akan berkata bahwa Muawiyah berijtihad, lalu menurut ijtihadnya ia harus memerintahkan umat Islam untuk melaknat Ali; dan bagimu ijtihad itu betul meskipun sebenarnya salah. Iya kan?”

Ia berkata, “Ya, Muawiyah memang berijtihad, dan atas dasar ijtihadnya ia memilih untuk memusuhi Ali bin Abi Thalib.”

Lalu aku menjawab, “Pertama, ulama Syiah juga atas dasar ijtihad mereka membolehkan pengikutnya untuk mencela para khalifah. Lalu orang-orang awam Syiah pun mengikuti fatwa mereka. Kalau begitu apa yang mereka lakukan wajar. Namun mengapa kalian, orang-orang Wahabi, menghalalkan darah orang yang mencaci khalifah-khalifah tapi kalian diam saja saat Ali bin Abi Thalib dicaci Muawiyah dan pengikutnya?

Kedua, Mu’awiyah telah berhasil menjadikan perintahnya itu sebagai tradisi yang terus dijalankan selama 80 tahun! Dengan perbuatan seperti ini mengapa bagi kalian Muawiyah adalah segalanya? Padahal nyata sekali Muawiyah memusuhi Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husain as! Padahal nabi pernah bersabda bahwa orang yang menyakiti Ali berarti menyakiti nabi; dan dalam Al Qur’an disebutkan bahwa barang siapa menyakiti Rasulullah saw berarti menyakiti Allah swt dan laknat Allah bagi mereka di dunia dan di akhirat.”

Apakah sujud di atas tanah dan batu syirik?

Salah seorang marja’ taqlid bercerita, pada suatu hari, aku menjalankan ibadah shalat subuh di Masjid Nabawi, Madinah. Lalu aku membaca ayat-ayat Al Qur’an. Lalu tak lama kemudian, datang seorang Syiah shalat di sebelah kananku. Di sebela kiriku, ada beberapa orang yang bersandaran di tiang masjid, sepertinya mereka dari Mesir. Orang Syiah itu di dalam shalatnya merogoh kantungnya untuk mengeluarkan turbah, tanah kering yang telah dibentuk dan digunakan untuk bersujud. Ia meletekkannya di atas karpet masjid lalu sujud dengan meletakkan keningnya di atas turbah.

Aku mendengar orang mesir itu berkata kepada temannya, “Lihatlah orang asing itu, ia bersujud kepada tanah.” Saat orang Syiah itu hendak bersujud, dengan segera orang-orang Mesir itu menghampirinya untuk mencegahnya bersujud dan mengambil turbah itu. Namun aku dengan cepat mencegah mereka dan kukatakan, “Mengapa kalian berusaha membatalkan shalat seorang Muslim? Bukankah ini tempat suci? Di dekat makam nabi?”

Salah satu dari mereka berkata, “Ia sedang sujud kepada batu.” Lalu aku bertanya, “Memang kenapa kalau ia sujud di atas tanah? Aku juga sujud di atas tanah.”

“Mengapa dan supaya apa?” Tanya mereka.

Aku jawab, “Ia adalah Syiah, pengikut madzhab Ja’fari. Apakah kalian mengenal Ja’far bin Muhammad As Shadiq?”

Dijawabnya, “Ya.”

Aku bertanya, “Bukankah ia termasuk Ahlul Bait nabi?”

Dijawabnya lagi, “Ya.”

Aku jelaskan, “Ia adalah pemimpin madzhab yang kami anut ini. Ia berkata bahwa kita tidak boleh sujud di atas karpet seperti ini; kita harus sujud di atas tanah atau apapun yang tumbuh dari tanah.”

Orang itu berkata, “Bukannya agama itu satu dan shalat itu juga satu?”

Aku jawab, “Ya, agama dan shalat memang satu. Tapi kalian sendiri mengapa saat berdiri dalam shalat berbeda-beda caranya? Misalnya orang-orang Maliki shalat dengan meluruska tangannya, sebagian lainnya meletakkan tangan di dada, padahal shalat yang diajarkan nabi hanya satu. Tentunya kalian menjawab hal itu dikarenakan perbedaan pendapat Abu Hanifa, Maliki, Hambali dan Syafi’i bukan?”

Mereka menjawab, “Ya memang demikian.”

Aku tambahkan, “Ja’far bin Muhammad As Shadiq yang kalian aku itu adalah bagian dari Ahlul Bait nabi. Dan orang yang termasuk Ahlul Bait nabi lebih tahu tentang nabi ketimbang orang lain. Tidak mungkin Abu Hanifah atau selainnya lebih tau dari Ja’far bin Muhammad. Beliau berkata bahwa kita tidak bisa sujud selain di atas tanah atau apapun yang tumbuh dan berasal (secara langsung) dari tanah. Perbedaan antara kami dengan kalian sama persis dengan perbedaan antara kalian dalam cara berdiri dalam shalat sehari-hari.”

Aku mengingatkan mereka tentang masalah Ahlul Bait as. Dan akhirnya orang-orang yang mendengar pembicaraanku tadi membenarkanku dan menyalahkan orang itu karena berusaha membatalkan shalat seseorang.

 

Akar peristiwa al-Ghadir menurut nukilan sejarah merupakan peristiwa yang telah ditetapkan dan dibuktikan validitasnya.  Para penulis sejarah dengan merekam pelbagai peristiwa dan menukil turun-temurun kisah ini dan menjadi sandaran masyarakat melalui jalan yang beragam, mengakui kebenaran masalah ini.  Sedemikian masalah ini argumentatif sedemikian sehingga ia dapat dijumpai pada sastra, teologi, tafsir, dan bahkan kitab-kitab hadis standar Ahlusunnah dan Syiah dimana Nasai salah seorang ulama besar Ahlusunnah menukil hadis ini melalui 250 sanad.

Definisi Syi’ah

Kata Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syi’ah Ali adalah pendukung Ali atau pembela Ali. Syi’ah Muawiyyah adalah pendukung Muawiyyah.
.
Al-Mufid, seorang tokoh Syi’ah abad ke 5 H (w. 413 H/1022 M) mendefinisikan Syi’ah sebagai:
الشِّيْعَةُ أَتْبَاعُ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَى سَبِيْلِ الْولاَءِ وَالْاِعْتِقَادِ بِإِمَامَتِهِ بَعْدَ الرَّسُوْلِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَأَلِهِ بِلاَ فَصْلٍ, وَنَفَي الاِمَامَةَ عَمَّنْ تَقَدَّمَهُ فِي مَقَامِ الخِلاَفَةِ, وَجَعَلَهُ فِي الاِعْتِقَادِ مَتْبُوْعًا لَهُ غَيْرَ تَابِعٍ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ عَلىَ وَجْهِ الاِقْتِدَاءِ (اوائل المقالات :2-4).
“Syi’ah adalah pengikut Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) shalawatullah ‘alaih atas dasar mencintai dan meyakini kepemimpinannya (imamah) sesudah Rasul SAW tanpa terputus (oleh orang lain seperti Abu Bakar dan lainnya). Tidak mengakui keimamahan imamah orang sebelumnya (Ali) sebagai pewaris kedudukan khalifah dan hanya meyakini Ali sebagai pemimpin, bukan mengikuti salah satu dari orang-orang sebelumnya (Abu Bakar, Umar dan Utsman).” (Al-Mufid, Awa’il al-Maqalat, hal. 2-4).

Definisi Al-Mufid di atas secara tegas menunjukkan bahwa kami tidak mengakui kekhalifahan sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman.


Yang dimaksud orang kafir yang najis hukumnya adalah:

1. Orang yang mengingkari Tuhan (tidak menerima adanya Tuhan).

2. Orang yang mengingkari kenabian Rasulullah saw.

3. Orang yang tidak mengesakan Tuhan (menganggap ada lebih dari satu Tuhan).

4. Orang yang mengingkari hal-hal paling penting dalam agama, yang sekiranya pengingkaran itu melazimkan pengingkaran terhadap nabi atau menyebabkan tidak sempurnanya agama.

5. Orang yang mencela para imam maksum atau bahkan memusuhi mereka

Rukun Iman Syi’ah
Pada dasarnya, dalam hal kepercayaan kepada Allah, Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah wal Jama’ah. Syi’ah juga percaya bahwa Allah adalah Esa, tidak beranak dan diperanakkan. Kami juga meyakini bahwa Allah tidak serupa dengan sesuatu apapun, dan kami menghukumi kafir terhadap orang-orang yang menyekutukan Allah
.
Akan tetapi yang membuat doktrin Syi’ah dan Ahlussunnah berbeda adalah penambahan Syi’ah terhadap doktrin imamah. Menurut kami  siapapun yang beriman kepada Allah namun  mengi’tiqadkan juhud (ingkar)  terhadap kepemimpinan Sayyidina Ali setelah Nabi SAW dan para imam keturunan beliau, maka hukumnya melebihi hukum orang yang mengingkari shalat fardhu jika HUJJAH atau Dalil telah sampai kepadanya
.
Muhammad Jawad al-Amili berkata:
الإِيْمَانُ عِنْدَنَا إِنَّمَا يَتَحَقَّقُ بِالاِعْتِرَافِ بِإِمَامَةِ الأَئِمَّةِ الاِثْنيَ عَشَرَ عَلَيْهِمْ السَّلاَمُ, إِلاَّ مَنْ مَاتَ فِي عَهْدِ أَحَدِهِمْ فَلاَ يُشْتَرَطُ فِي إِيْمانِهِ إلاَّ مَعْرِفَةُ إمَامِ زَمَانِهِ وَمِنْ قَبْلِهِ.
“Iman menurut kami hanya terwujudkan dengan cara mengakui keimamahan Imam yang dua belas, kecuali bagi orang yang mati pada zaman salah satu dari mereka maka tidak disyaratkan beriman kecuali mengetahui Imam pada masanya dan masa sebelumnya.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 693)
.
Al-Kulaini dalam kitabnya menyebutkan suatu riwayat, sebagai berikut:
وعن أبي جعفر قال : “….. لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ عِنْدَ المَوْتِ شَهَادَةَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَالْوِلاَيَةَ.
“Tuntunlah orang yang sedang sakratul maut bacaan syahadat (persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah) dan wilayah (pengakuan atas kepemimpina Ali).” (Furu’ al-Kafi, 1/34)
.
Demikianlah, konsep imamah menjadi sentral doktrin kaum syi’ah. Kami menjadikan imamah sebagai salah satu rukun dari rukun-rukun agama Islam. Namun syi’ah tidak mengkafirkan kelompok lain yang tidak mengakui keimamahan Ali dan imam-imam keturunannya karena bisa saja diantara mereka ada yang belum sampai hujjah kepadanya. Jangan lupa ! Ilmu tentang syi’ah banyak disensor ulama sunni
.
Disebutkan dalam kitab al-Wasa’il karangan al-Mufid:
اِتَّفَقَتْ الإِمَامِيَّةُ عَلَى أَنَّ مَنْ أَنْكَرَ إِمَامَةَ أَحَدٍ مِنَ الأَئِمَّةِ وَجَحَدَ مَا أَوْجَبَهُ اللهُ تعالى لَهُ مِنْ فَرْضِ الطَّاعَةِ فَهُوَ كَافِرٌ ضَالٌّ مُسْتَحِقٌّ لِلْخُلُوْدِ فِي النَّارِ.
“Syi’ah Imamiyyah sepakat bahwa orang yang tidak meyakini keimamahan salah satu dari para imam dan mengingkari apa yang telah diwajibkan Allah SWT kepadanya dari kewajiban taat (kepada para imam), maka dia kafir, sesat dan layak kekal di neraka.” (Ushul Madzhab al-Syi’ah, hal. 867). Riwayat tersebut juga dikutip oleh al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar (8/366)
.
Adapun dalam hal nubuwwah (kenabian), Syi’ah tidak berbeda dengan Ahlussunnah. Kami juga mengakui eksistensi nubuwwah. Namun demikian, kami tetap menjadikan imamah sebagai sentral dari doktrin kami
.
Al-Thusi, salah satu ulama Syi’ah, menganggap bahwa orang yang menolak keyakinan imamah ini jika disertai i’tiqad juhud (ingkar) sama halnya dengan menolak nubuwwah, sebagaimana perkataannya:
وَدَفْعُ الاِمَامَةِ كُفْرٌ, كَمَا أَنَ دَفْعَ النُّبُوَّةِ كُفْرٌ, لِاَنَّ الجَهْلَ بِهِمِا عَلَى حَدٍّ وَاحِدٍ.
Menyangkal keimaman adalah kafir, seperti halnya menyangkal kenabian. Sebab (hukum)  tidak tahu pada keduanya berada pada taraf yang sama.” (al-Thusi, Talkhis al-Syafi, 4/131)
.
Konsep imamah menjadi salah satu doktrin utama dalam keyakinan Syi’ah. Imamah adalah sebuah konsep kepemimpinan Syi’ah yang merupakan teori absolut. Konsep inilah sebenarnya menjadi dasar paling asasi dari doktrin-doktrin Syi’ah yang lain.Dalam Syi’ah, imamah tidak hanya merupakan kepemimpinan duniawi saja, akan tetapi juga mencakup urusan ukhrawi. Bagi Syi’ah, imamah merupakan penerus kenabian yang dasar-dasarnya berada pada dalil-dalil syara’ (nash ilahiy)
.
Syi’ah meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menunjuk sayyidina Ali secara langsung sebagai imam pengganti beliau dengan penunjukan yang jelas dan tegas

Ali dengan nabi bagai Harun dengan Musa

Tanya: Syiah berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib berhak untuk menjadi khalifah setelah Nabi; karena Nabi berkata kepadanya, “Engkau bagiku bagaikan Harun di sisi Musa.” Pertanyaannya adalah, bukankah Harun bukan pengganti Musa? Harun telah meninggal sebelum Musa, dan pengganti Musa adalah Yusya’ bin Nun?!

Jawab: Hadits diatas yang dikenal sebagai hadits manzilah termasuk hadits yang menjelaskan salah satu dari keutamaan Imam Ali as. Hadits tersebut memiliki puluhan sanad dalam Shahihain dan kitab-kitab hadits ternama lainnya. Saya ingin menukilkan hadits tersebut secara lengkap:

Ketika Rasulullah saw hendak pergi menuju Tabuk, beliau menjadikan Ali as sebagai penggantinya di kota. Kaum munafik penyebar isu berkata, “Hubungan Rasulullah saw dengan Ali telah menjadi suram karena beliau tidak membawanya berperang bersamanya. Imam Ali as menyampaikan apa yang ia dengar itu kepada Rasulullah saw. Sang Nabi berkata, “Apakah engkau tidak suka untuk menjadi seseorang yang bagiku kedudukannya sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku.”[1]

Al-Qur’an menjelaskan beberapa kedudukan yang dimiliki oleh Harun as:

1. Ia sama-sama Nabi sebagaimana halnya Nabi Musa as.

2. Ia adalah sahabat dan penasehat Musa as.

3. Kekuatan hebat bagi Musa as.

4. Pengganti Musa as di saat ia pergi.

Tidak diragukan bahwa Imam Ali as memiliki seluruh kedudukan yang dimiliki oleh Harun as kecuali kenabian. Oleh karenanya ia dijadikan khalifah Nabi, baik Nabi masih hidup maupun telah meninggal.

Adapun Harun as meninggal terlebih dahulu sebelum Musa as, jawabannya jika seandainya pun Ali as meninggal sebelum Nabi ia tidak akan menjadi khalifah, namun karena ia tidak meninggal maka ia menjadi pengganti Nabi; sama halnya jika seandainya Harun as tidak meninggal sebelum Musa as, pasti ia akan menjadi penerusnya; karena Harun as dan Imam Ali as sama-sama memiliki kedudukan yang agung tersebut, hanya saja Ali as berumur panjang dan hidup sampai 30 tahun sejak meninggalnya Rasulullah saw. Lalu apa salahnya kalau memang Harun as telah meninggal sebelum Musa as?


[1] Shahih Muslim, bab Keutamaan Ali bin Abi Thalib, hadits 2404; Shahih Bukhari, kitab 24, bab 4, Hadits 3706; Al-Mustadrak, Hakim Neysyaburi, jld. 3, hlm. 109.

apakah aku termasuk dari golongan Syiah

sooran.com

Seorang pria berkata kepada istrinya, “pergilah ke sisi Fathimah as. Dan tanyakan kepadanya bahwa apakah aku termasuk dari golongan Syiah (pengikut) nya?!.” Kemudian wanita itu datang dan menanyakan hal tersebut kepada beliau. Sayyidah Fathimah menjawab,

“Katakanlah kepadanya bahwa jika ia berperilaku sesuai dengan yang kami perintahkan, dan meninggalkan hal-hal yang kami larang, maka ia termasuk dari golongan Syiah kami. Jika tidak, maka bukanlah ia termasuk dari syiah kami.”

( Tafsir’e mansub be emam Hasane askari as. Hal. 308)

.

Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171 diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”

.

Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360

.

Sungguh orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya.” (Qs. Al-Bayyinah [98]: 7-8)

.

Berkenaan dengan ayat di atas, kita memfokuskan pembicaraan pada kata-kata, khairul bariyyah, sebaik-baik makhluk. Bariyyah berasal dari kata baraa yang artinya ciptaan. Karenanya kita mengenal Allah SWT dengan sebutan Al-Barii yang artinya khaliq atau pencipta dan makhluk atau ciptaan-Nya disebut, Bariyyah. Pendapat lain mengatakan, Bariyyah, berasal dari katabaryan (meraut), seperti pada kalimat baraitul qalam, saya meraut pensil. Karena itulah makhluk disebut juga bariyyah, karena Allah SWT lewat firman-Nya, meraut atau membentuk ciptaannya dalam bentuk yang berbeda-beda, sebagaimana misalnya pabrik yang memproduksi pensil dalam bentuk yang bermacam-macam

.

Untuk lebih dalam menelisik makna khairul bariyyah, kita bisa memulainya dari ayat sebelumnya pada surah yang sama. Pada ayat surah Al-Bayyinah, Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” Pada ayat ini Allah SWT berbicara mengenai,syarrul bariyyah, seburuk-buruknya makhluk. Seburuk-buruk makhluk khusus pada ayat ini adalah orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik. Mengenai seburuk-buruknya makhluk kita juga bisa melihat misalnya pada surah Al-Anfal ayat 22, “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya di sisi Allah ialah orang-orang yang bisu dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun.”

.

Pada ayat ini, Allah lebih memperluas cakupan siapa saja yang termasuk seburuk-buruknya makhluk dengan memperinci karakteristiknya. Dalam surah Al-A’raf ayat 179 Allah SWT lebih memperincinya lagi, mereka mempunyai hati namun tidak mempergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah, mempunyai mata namun tidak menggunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah dan mempunyai telinga namun tidak menggunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah, oleh Allah mereka tidak hanya disebut sebagai seburuk-buruknya makhluk bahkan lebih sesat dari binatang ternak

.

Mengenai syarrul bariyyah, yang dimaksud pada surah Al-Bayyinah -sebagaimana yang difirmankan Allah SWT pada ayat-ayat sebelumnya- tidaklah mencakup seluruh orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun seluruh orang-orang musyrik, namun terbatas hanya bagi mereka yang telah mendapatkan hujjah yang sangat jelas mengenai kebenaran  ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saww, namun mereka bukan hanya sekedar menolaknya namun juga melakukan penentangan yang keras. Sementara mereka yang tidak beriman dan bertauhid yang benar, karena dakwah Islam belum sampai kepada mereka atau karena memiliki halangan-halangan tertentu, bukan karena sejak awal melakukan penentangan, perhitungannya ada pada sisi Allah SWT

.

Selanjutnya, kita kembali berbincang mengenai khairul bariyyah. Pada ayat ke tujuh dan delapan, Allah SWT menyampaikan karakteristik orang-orang yang termasuk khairul bariyyah

.

Pertama, orang-orang yang beriman (alladziina aamanuu). Yang dimaksud mereka yang beriman adalah yang beriman kepada Allah SWT, para Anbiyah as dan kitab-kitab yang mereka bawa serta mereka yakin akan keberadaan hari akhirat. Sementara mereka yang musyrik ataupun orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab ataupun dari agama-agama selain Islam tidak termasuk dalam golongan ini

.

Kedua, mereka yang beramal shalih (wa ‘amilushshaalihat). Setelah mereka mengimani Allah  SWT dan ajaran-ajaran yang dibawa para Anbiyah as mereka mengejewantahkannya dalam laku perbuatan, dalam amalan-amalan dzahir mereka. Pengertian amal saleh, telah sedemikian jelas dan tidak memerlukan penjelasan lebih lanjut, sebagaimana yang termaktub dalam Shahih Muslim kitab al-Iman disebutkan bahwa sekedar menghilangkan penghalang yang menganggu pada jalanan yang dilalui kaum muslimin termasuk amal shalih dan sebaik-baiknya amal shalih adalah beriman kepada Allah SWT dan bersaksi hanya Allah yang berhak untuk disembah

.

Ketiga, mereka yang takut pada Tuhannya (dzalika liman  khasiya Rabba). Mereka yang termasuk dalamkhairul bariyyah adalah mereka yang beriman, beramal shalih dan takut kepada Rabbnya. Ketiga karakteristik ini mesti dimiliki seseorang yang ingin termasuk dalam khairul bariyyah, tidak memilah dan mengabaikan yang lain. Amal shalih misalnya, bisa saja dilakukan tanpa mesti beriman atau atas dasar takut kepada Allah, bisa saja karena paksaan, takut atau karena terbentuk dari kebiasaan dan tradisi keluarga atau lingkungan dimana dia berada

.

Setelah menjelaskan karakteristik khairul bariyyah, Allah SWT melanjutkannya, dengan menyampaikan balasan bagi mereka. Di akhirat mereka tidak hanya mendapat balasan dan pahala secara lahiriah saja namun juga secara maknawi atau batiniah. Sebagaimana mafhum, manusia terdiri atas dua bagian, lahiriah dan batiniah, jasmani dan ruhiyah, maka masing-masing dari kedua sisi manusia ini mendapatkan balasannya

.

Sebagaimana pada ayat terakhir pada surah Al-Bayyinah, “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” ini menunjukkan balasan lahiriah. Dan kata-kata selanjutnya, “Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.” Menunjukkan balasan atau pahala maknawi

.

Keridhaan adalah perasaan batiniah. Keridhaan Allah terhadap mereka karena amalan-amalan shalih mereka di dunia yang dibaluri keimanan yang kuat kepada-Nya dan keridhaan mereka kepada Allah karena balasan dan pemberian Allah berupa kenikmatan-kenikmatan yang tiada tara kepada mereka. Alangkah beruntungnya mereka yang termasuk khairul bariyyah, adakah kenikmatan dan balasan yang lebih mulia daripada keridhaan Allah SWT?

.

Pertanyaan yang biasanya hadir ketika berbicara mengenai ayat, diantaranya, apakah ayat tersebut termasuk ayat umum atau ayat khusus?. Berkenaan dengan pembahasan kita, maka kemungkinan timbul pertanyaan, apakah yang dimaksud Allah SWT khairul bariyyah adalah mencakup kesemua kaum mukminin yang beramal shalih atau hanya terbatas pada kelompok tertentu?. Untuk menjawabnya, tidak ada cara lain selain melihat asbabun nuzul (penyebab turunnya ayat), yang terdapat dalam riwayat-riwayat nabawiyah. Di sini saya mengajukan beberapa referensi dari kitab-kitab Ahlus Sunnah. Pada tafsir Tabari, jilid 30 hal. 171  diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah saww ketika ditanya siapakah khairul bariyyah itu, beliau saww menjawab,:”Hum anta, wa syi’atuka….Engkau ya Ali dan Syiahmu ( pengikutmu)”

.

Sementara riwayat lain menyebutkan, Jabir bin Abdullah Anshari ra berkata ketika ayat ‘khairul bariyyah’ turun, Nabi saww menghadap kepada Ali as dan berkata, “Hum anta, wa syi’atuka, taridu ‘alayya wa syi’atuka radhiina mardiyyiina, (maksud dari khairul bariyyah) adalah kamu  (Ali) dan pengikutmu, di hari kiamat kamu dan syiahmu masuk bersama saya dalam keadaan Allah ridha kepadamu, dan kamu ridha kepada Allah.” Riwayat ini terdapat dalam kitab Syawahid at Tanzil, oleh Imam Al-Hakim An-Naisyaburi, pada jilid 2 hal. 360

.

Saya mencukupkan dengan menukilkan riwayat dari dua kitab ini saja. Akan sangat membutuhkan banyak tempat kalau harus menukilkan dari semua kitab yang menjelaskan asbabun nuzul ayat yang sedang kita bicarakan, yang jelas semua riwayat mengerucut pada imam Ali as dan Syiahnya lah yang dimaksud Khairul Bariyyah. Timbul pertanyaan, mengapa harus ada tambahan persyaratan untuk terkategorikan sebagai makhluk yang terbaik, yakni harus menjadi pengikut dan syiahnya Imam Ali as?. Sebagaimana masyhur telah tercatat dalam kitab-kitab tarikh yang mu’tabar, umat Islam sepeninggal nabi Muhammad saww -terutama di masa pemerintahan Imam Ali as- terpecah menjadi bergolong-golongan. Perseteruan antara Imam Ali as dan Muawiyah menjadikan umat Islam setidaknya berpecah menjadi 4 kelompok besar. Pengikut imam Ali as, pengikut Muawiyah, Khawarij (yang tidak mengikuti salah satu diantara keduanya, malah membenci dan memusuhi keduanya) dan kelompok keempat yang terdiri dari banyak sahabat Nabi, tidak menjadi pengikut salah satu diantara keduanya, namun juga tidak membenci keduanya

.

Keempat golongan besar ini kesemuanya mendakwahkan diri sebagai umatnya Muhammad saww, namun lewat nubuat yang jauh-jauh sebelumnya telah disampaikan Nabi, bahwa tidak mungkin keempat golongan yang berpecah dan saling bermusuhan ini, bahkan terlibat dalam pertumpahan darah yang tragis semuanya benar. Sesungguhnya Nabi Muhammad saww ketika memberi penjelasan mengenai ayat “Khairul Bariyyah”, hakekatnya ingin menyampaikan, bahwa untuk menjadi makhluk yang terbaik, ikutilah Ali as jika terjadi perselisihan sepeninggalku

.

Saya menutup tulisan ini, dengan menukilkan kembali sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, dari Ali as yang berkata, “Demi Allah yang menumbuhkan jenis biji, menciptakan jenis insan, sesungguhnya Rasulullah saww telah menegaskan kepadaku, bahwa takkan cinta kepadaku kecuali orang mukmin, dan takkan benci kepadaku kecuali orang munafik.” (HR. Muslim hadits no. 48 bab Keimanan jilid I)

.

Rasulullah saww menyampaikan kepada kita diantara bukti keimanan adalah memberikan kecintaan kepada Imam Ali as, sebaik-baiknya makhluk Allah SWT. Semoga kita termasuk diantara pengikutnya. Insya Allah.

mengapa Ali bin Abi Thalib yang saat itu juga berada di Madinah tidak mau datang mengurusi jenazah Utsman bin Affan untuk dimandikan, dikafani dan dikuburkan? Padahal keduanya sahabat nabi? Kalau begitu pasti salah satu di antara mereka ada yang salah

Aisyah keluar rumah tanpa izin suaminya

Sibth bin Jauzai, salah seorang ulama besar Ahlu Sunah. Ia menulis banyak kitab terkenal. Ia selalu sibuk di masjid-masjid baghdad berceramah menyampaikan wejangan-wejangannya untuk memberi petunjuk kepada masyarakat sekitarnya. Ia wafat pada tahun 597 di Baghdad.[1]

Salah satu kriteria khas Imam Ali bin Abi Thalib as adalah, ia sering berkata kepada semua orang: “Tanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.”

Ucapan itu adalah ucapan khas Imam Ali as dan Imam-Imam setelahnya. Siapapun selain mereka yang berkata seperti itu pasti ujungnya malu sendiri.

Ada sebuah dialog antara Sibth bin Jauzi dengan seorang perempuan pemberani. Pada suatu hari, Sibth bin Jauzi mengaku sangat pintar dan berkata “Wahai orang-orang, tanyalah apapun kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.” Padahal saat itu banyak sekali hadirin yang duduk di sekitar mimbarnya.

Lalu seorang perempuan dari bawah mimbar berkata, “Beritahu aku, apakah hadits ini benar atau tidak; hadits yang mengatakan bahwa sekelompok Muslimin telah membunuh Utsman bin Affan lalu jenazahnya dibiarkan begitu saja sampai tiga hari dan tak satupun ada yang bersedia mengangkatnya untuk dikubur?”

Sibth bin Jauzi menjawab, “Ya, memang benar.”

Perempuan: “Apakah hadits ini juga benar; ada hadits yang mengatakan bahwa ketika Salman Al Farisi berada di Madain dan meninggal di sana, Imam Ali as dari Kufah datang ke Madain lalu menshalati jenazah Salman, mengkafani dan menguburkn jenazahnya karena ia tidak mau jenazah Salman tergeletak begitu saja?”

Sibth bin Jauzi: “Ya, benar hadits itu.”

Perempuan: “Lalu mengapa Ali bin Abi Thalib yang saat itu juga berada di Madinah tidak mau datang mengurusi jenazah Utsman bin Affan untuk dimandikan, dikafani dan dikuburkan? Padahal keduanya sahabat nabi? Kalau begitu pasti salah satu di antara mereka ada yang salah: Kalau bukan Ali yang salah karena tidak mau menguburkan orang yang beriman, berarti Utsman bukanlah orang yang beriman sehingga Ali tidak bersedia mengurus jenazahnya?[2]

Sibth bin Jauzi diam sejenak. Karena jika ia menyebut salah satu dari keduanya salah, berarti ia telah menentang keyakinannya bahwa keduanya adalah kahlifah yang benar. Oleh karena itu ia berkata:

“Wahai perempuan, jika engkau datang ke sini tanpa izin suamimu lalu engkau banyak berbicara dengan orang yang bukan muhrim seperti aku, maka semoga Tuhan melaknatmu. Namun jika engkau datang dengan izin suamimu, maka semoga Allah melaknat suamimu.”

Perempuan itu heran dan berkata: “Apakah Aisyah pergi ke luar rumah untuk berperang melawan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal telah minta izin terlebih dahulu kepada nabi atau tidak?”

Sibth bin Jauzi juga tidak bisa menjawab pertanyaannya. Karena jika ia menjawab bahwa Aisyah tidak meminta izin untuk keluar rumah, berarti ia telah menyalahkan Aisyah. Namun jika ia menjawab bahwa nabi mengizinkannya ke luar rumah, berarti ia telah menyalahkan Ali bin Abi Thalib.

Ia tidak berkata apa-apa. Lalu tak lama kemudian turun dari mimbarnya dan pulang ke rumah.[3]


[1] Safinatul Bihar, jilid 1, halaman 193.

[2] Namun akhirnya tiga hari kemudian ada sebagian orang yang secara diam-diam menggotong jenazahnya dan dikuburkan di belakang Baqi’, kuburan orang-orang Yahudi. (Tarikh, Thabari, jilid 9, halaman 143.

[3] Biharul Anwar, jilid 29, halaman 647.

Iman Imam Ali as saat masuk Islam

Alim Suni: “Memang tidak ada yang mengingkari bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang masuk Islam. Ia lebih dulu dari para khalifah-khalifah (Abu Bakar, Umar dan Utsman) dalam mengimani nabi. Namun, ada perbedaan antara iman para khalifah dengan iman Ali bin Abi Thalib. Jelas berbeda sekali. Iman para khalifah lebih afdhal dari iman Ali bin Abi Thalib. Karena saat mengimani nabi, Ali masih anak-anak yang belum baligh. Adapun Abu Bakar, Umar dan Utsman, ketiganya adalah syaikh kabir, orang tua yang mengimani nabi dan memeluk Islam dengan akal mereka. Jelas iman orang yang berakal lebih afdhal daripada iman anak kecil yang belum baligh. Apa lagi iman Ali berdasarkan “ikut-ikutan”, karena anak kecil yang tak punya taklif (belum punya kewajiban apa-apa) tidak akan beriman kecuali karena meniru orang yang lebih besar darinya. Ali saat itu masih berusia dua belas atau tiga belas tahun. Oleh karena itu ia pasti mengimani nabi bukan karena akalnya. Adapun Abu Bakar, Umar dan Utsman mengimani nabi atas dasar memahami kebenaran dan akal pikiran mereka. Jadi jelas mereka lebih afdhal dari Ali bin Abi halib.”

Alim Syiah: “Aku ingin bertanya padamu… Apakah iman Ali bin Abi Thalib, meskipun saat itu ia masih kecil, dikarenakan keinginannya sendiri ataukah karena diajak nabi?”

Suni: “Jelas karena diajak nabi; Ali tidak beriman karena keinginannya sendiri.”

Syiah: “Apakah Rasulullah saw berdakwah kepada Ali padahal dia tahu bahwa Ali masih kecil dan tidak memiliki tugas dan kewajiban apapun karena belum baligh? Atau Rasulullah tidak tahu bahwa anak kecil tidak punya kewajiban? Jika anda berkata nabi saat itu tidak faham kalau anak kecil tidak memiliki kewajiban, berarti anda menyebut nabi Muhammad sebagai orang bodoh! Jelas tidak mungkin kita memiliki nabi yang bodoh. Padahal nabi adalah manusia yang setiap gerak gerik dan perkataannya adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.[1]

Oleh karena itu yang jelas nabi tahu bahwa Ali bukanlah anak kecil yang tak tahu apa-apa. Nabi tahu bahwa Ali layak dan siap menerima ajakannya. Atas dasar itulah nabi mengajaknya untuk masuk Islam. Lebih dari itu, umur yang masih sedikit tidak bertentangan dengan kesempurnaan akal, karena baligh berkaitan dengan perkarya Syar’i (syari’at), bukan perkara Aqli (yang berkaitan dengan akal). Iman adalah hal yang berkatian dengan akal, tidak berkaitan dengan perkara Syar’i. Jadi iman Ali bin Abi Thalib di saat ia masih kecul termasuk keistimewaan beliau.

Berkenaan dengan ini Allah swt pernah berfirman tentang nabi Isa as yang baru saja lahir. Ia berfirman bahwa begitu nabi Isa as lahir, ia berkata:

“Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, Allah yang memberiku Al Kitab dan menjadikanku nabi dan menjadikanku penuh berkah.” (QS Maryam: 19)

Ia juga berfirman tentang nabi Yahya as:

“Dan kami mengaruniainya hukum-hukum saat ia masih kecil.” (QS Maryam: 12)

Dan, kebanyakan ulama Suni juga mengakui bahwa misalnya Sulaiman Balkhi menukil dari Ahmad bin Abudllah Syafi’i bahwa Umar bin Khattab berkata, “Aku, Abu Bakar, Abu Ubaidah Jarrah dan beberapa sahabat lain sedang berkumpul di sekeliling nabi. Beliau meletakkan tangan penuh berkahnya ke pundak Ali bin Abi Thalib as dan berkata, “Wahai Ali, engkau adalah Muslim pertama dalam keimanan. Kamu paling pertama dari Muslimin lainnya yang masuk Islam. Engkau bagiku bagai Harun di sisi Musa.”[2]

Dan juga Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya menukil bahwa Ibnu Abbas pernah berkata, “Aku, Abu Bakar, Abu Ubaidah Jarrah dan sekumpulan sahabat lainnya berada di samping nabi. Lalu beliau meletakkan tangannya di pundak Ali bin Abi Thalib as seraya berkata, “Wahai Ali, engkau adalah orang pertama yang masuk Islam dan engkau adalah orang pertama yang beriman, dan engkau bagiku bagai Harun di sisi Musa. Sungguh bohong wahai Ali, orang yang mengaku mencintaiku namun membencimu.”

Justru aku bisa mengatakan bahwa Ali lebih istimewa dari yang lainnya, bukan hanya karena ia orang pertama yang masuk Islam, tapi karena ia memang orang yang sejak kecil sudah masuk Islam tanpa memiliki riwayat kafir seperti Abu Bakar, Umar dan Utsman yang mana sebelum masuk Islam mereka bertahun-tahun menyembah berhala dan musyrik. Ali mengimani nabi berdasarkan fitrah suci yang tidak pernah ternodai kekufuran, tidak seperti orang lainnya. Sebagaimana yang beliau katakan sendiri: “Aku adalah orang yang terlahir atas fitrah dan mendahului yang lain dalam beriman dan hijrah.”[3]


[1] An Najm, ayat 3 dan 4.

[2] Yanabi’ul Mawaddah, halaman 202.

[3] Malam-Malam di Peshawar, Sultan Al Wa’idzin Syirazi, halaman 393.

Diperbolehkannya menggabung dua shalat

saat saya tanya ke orang2 Syi’ah di milis FB, mereka bilang bahwa sholat mereka tetap 5x. Namun dilakukan di 3 waktu sebagaimana Muslim Sunni melakukannya saat shalat Jamak di perjalanan. Misalnya shalat Dzuhur waktunya digabung dgn shalat Ashar, Shalat Maghrib dgn  Isya.

Syiah dikenal menggabung dua shalatnya. Misalnya, ketika seorang Syiah telah melakukan shalat dhuhur, secara langsung setelahnya ia dapat melakukan shalat ashar. Begitu juga setelah shalat maghrib ia bisa langsung shalat isya’.Itu tidak diperbolehkan bagi Ahlu Sunah. 

Doktor Muhammad Tijani Samawi sebelum Syiah memiliki pengalaman menarik berkaitan dengan hal ini. Ia bercerita bahwa saat itu ia sedang shalat menjadi makmum Ayatullah Bagir Shadr, seorang marj’a besar Syiah di Iraq.

Saat itu mereka sedang shalat dhuhur berjama’ah. Seusai shalat dhuhur, setelah melakukan shalat-shalat sunah, imam langsung berdiri lagi untuk melakukan shalat ashar. Doktor Tijani pun bingung apakah dia harus ikut shalat ashar langsung setelah dhuhur atau tidak. Karena ia berada di tengah-tengah shaf jama’ah dan tidak memungkinkan baginya untuk keluar, akhirnya ia pun ikut shalat ashar berjama’ah. Namun sampai seusai shalat ia tetap bingung apakah shalat asharnya benar atau tidak karena dilakukan langsung seusai shalat dhuhur.

Ia pun menanyakan hal itu kepada Ayatullah Baqir Shadr, apakah perbuatan itu betul?

Shahid Shadr berkata: “Ya, betul. Kita diperbolehkan melakukan dua shalat wajib bersamaan (shalat dhuhur dan asar, shalat maghrib dan isya’). Yakni seusai shalat yang satu, dilanjutkan shalat yang kedua secara langsung; meskipun tidak ada udzur atau hal-hal yang menuntut kita untuk melakukannya bersamaan.”

Shalat

Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang Muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.

Nabi (s) bersabda “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sembahyang (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 1939)”. Shalat merupakan salah satu daripada Furu’ ud-Din (cabang agama) yang tanpanya maka tidak sempurnalah agama seseorang itu. Waktu-waktu Shalat dalam mazhab Syiah ialah:

1 – Waktu Shalat Subuh, dari terbit fajar hingga terbit matahari
2- Waktu Shalat Zuhur dan Asar, ketika matahari tegak di atas kepala hingga bergerak ke arah maghrib (barat)
3- Waktu Shalat Maghrib dan Isya’, selepas terbenam matahari hingga ke pertengahan malam.

Nabi (s) telah menghimpunkan shalat zuhur dalam waktu asar, asar dalam waktu zuhur (mengerjakan shalat zuhur 4 rakaat kemudian terus shalat asar 4 rakaat), maghrib dalam waktu isya’, dan Isya dalam waktu maghrib (mengerjakan shalat Maghrib 3 rakaat dan terus mengerjakan Isya’ 4 rakaat) bukan kerana ketakutan, bukan kerana peperangan atau bukan kerana perjalanan supaya tidak menyulitkan umatnya. Shalat seperti telah diamalkan oleh orang-orang Syiah sejak zaman Rasulullah (s). (Rujukan Sahih Muslim, cetakan Klang Book Centre, Hadis no 666 – 671.

                                                                                             
Hadis tentang Shalat itu ditemui juga dalam sahih Bukhari (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 307, 310).

Shalat Asar saat matahari belum tergelincir:

Shalat Asar sesudah Shalat Zuhur:

Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –

Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnya

Malik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”

Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”

ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat

Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.

Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu. Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.

Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.

Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.

Berhentilah menyebarkan kebohongan tentang kaum Syiah; supaya dosa dosa antum tidak bertambah banyak.

Menjamak Shalat Menurut Syiah Imamiah

Mereka percaya bahwa setiap kewajiban yang bersifat harian, memiliki waktu tertentu, dan waktu-waktu shalat harian adalah Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Yang paling penting adalah melakukan setiap shalat pada waktunya yang khusus. Hanya saja, mereka melakukan jamak antara dua shalat Zuhur dan Ashar dan antara Magrib dan Isya karena Rasulullah saw. melakukan jamak dua shalat tanpa uzur, tanpa sakit dan tanpa berpergian, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim dan kitab hadis lainnya, “Sebagai keringanan untuk umat serta untuk mempermudah bagi mereka”. Dan itu telah menjadi masalah biasa pada masa kita sekarang ini..Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian ingin mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan (keberatan) pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut (khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan.

Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Lantas apa yang akan dikatakan oleh mereka yang seenaknya berkata bahwa hal ini adalah bid’ah dan seenaknya menuduh orang yang Menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ sebagai Sesat. Begitulah akibatnya kalau membiarkan diri tenggelam dalam prasangka-prasangka. Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata ” Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”. Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW. Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).

Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya. Bagi siapapun yang mau berpegang pada prasangka mereka atau pada doktrin Ulama mereka bahwa hal ini tidak dibenarkan maka kami katakan Rasulullah SAW lebih layak untuk dijadikan pegangan

.

Solat Jamak menurut Al-Quran dan Sunnah Nabi

Sembahyang tetap 5 kali sehari semalam. Cuma waktunya sahaja yang ditakrifkan sebagai waktu bersama (jamak) – Subuh, Zohor bersama Asar, dan Maghrib bersama Isyak. Ini telah difirmankan dalam Al-Quran dan diterangkan dalam sunah Nabi. Dan, sememangnya yang lebih afdal adalah 5 kali dalam lima waktu.

Berikut adalah petikan ayat suci Al-Quran dan Hadis Nabi yang menerangkan lebih lanjut sekitar perkara ini:

1.    Surah al-Israk ayat 78:
“Dirikanlah solat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula) solat subuh. Sesungguhnya solat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.

a.    Sesudah matahari tergelincir: Waktu bersama (jamak) Zuhur dan Asar.

b.    Gelap malam: Waktu bersama (jamak) Maghrib dan Isyak.

c.    Solat Subuh.

(Inilah konsep 3 waktu tapi 5 kali sehari semalam- namun afdalnya dipisahkan seperti yang dilaksanakan sekarang).

2.    Surah al-Israk ayat 79:

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagi kamu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”

Sebahagian malam hari: Sesudah waktu bersama (jamak) Maghrib dan Isyak habis (Sesudah lebih kurang 12.30  t/malam)- Inilah waktu solat tahajjud yang sebenarnya.

Ayat al-Quran berikut ini lebih mengkhususkan lagi:

3.    Surah Hud ayat 114:

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam”.

Kedua tepi siang (pagi dan petang): Mengisyaratkan waktu solat subuh (pagi) dan waktu solat Zuhur bersama Asar (petang).

Bahagian permulaan daripada malam: Mengisyaratkan waktu bersama antara Maghrib dan Isyak. Digunakan istilah bahagian permulaan daripada malam sebab bahagian akhir daripada malam adalah untuk solat tahajjud. (Lihat Surah al-Israk ayat 79).

Sehubungan itu, dikemukakan sebahagian kecil daripada hadis-hadis tentang solat jamak. Dalam kitab hadis Shahih Bukhari (diterjemah H. Zainuddin Hamidy – H.Fachruddin Hs, H. Hasharuddin Thaha – Johar Arifin, A. Rahman Zainuddin M.A; cetakan 2003 oleh Darel Fajr Publishing House, No. 37, Geylang Street, Singapore):

Hadis no. 306 Berita dari Ibnu Abbas ra. mengatakan, bahawa Nabi saw salat di Madinah tujuh dan lapan rakaat. Yaitu salat zohor dan asar (dikerjakan berturut-turut pada waktu yang sama tujuh rakaat).

Hadis no 310 kata Abu Umammah ra. “Kami solat zohor bersama Umar bin Abdul Aziz, setelah itu kami pergi menemui Anas bin Malik dan kami dapati dia sedang salat asar. kataku kepadanya ‘Hai pakcik! salat apakah yang pakcik kerjakan ini?’ jawabnya, ‘Salat Asar! dan inilah (waktunya) salat asar Rasulullah saw, dimana kami pernah salat bersama-sama dengan beliau’.

……dan dalam kitab Sahih Muslim (diterjemah Ma’Mur Daud ditashih Syekh H. Abd. Syukur Rahimy; cetakan 2003 oleh Darel Fajr Publishing House, No. 37, Geylang Street, Singapore):

Hadis no. 666 Dari Ibnu’ Abbas r.a., katanya: “Rasulullah saw pernah (baca: telah) menjama’ salat Zuhur dan Asar, Maghrib dan Isyak tidak ketika takut dan tidak pula dalam perjalanan (baca: musafir)”.

Hadis no. 667. dari Ibnu Abbas ra. katanya: “Rasulullah saw pernah menjama’ salat suhur dan asar di Madinah tidak pada waktu takut (perang atau dalam keadaan bahaya) dan tidak pula dalam perjalanan. Kata Abu Zubair, dia menanyakan hal itu kepada Sa’id, “Kenapa Rasulullah saw sampai berbuat demikian?’ Jawab Sa’id, “Aku pun pernah bertanya seperti itu kepada Ibnu Abbas, maka jawab Ibnu Abbas: ‘Beliau ingin untuk tidak menyulitkan umatnya’

Hadis no. 670 dari Ibnu Abbas ra. katanya: ‘Ketika Rasulullah berada di Madinah, beliau pernah menjamak solat zohor dengan asar, dan salat maghrib dengan Isya’, tidak pada saat perang dan tidak pula ketika hujan. Waki’ bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa sebabnya Nabi saw berbuat demikian?’ Jawab Ibnu Abbas, “Supaya tidak menyulitkan umatnya”…. .

Hadis no. 671 dari Abdullah bin Syaqiq ra. katanya: ‘Pada satu hari sesudah asar, Ibnu Abbas memberikan pengajian dihadapan kami hingga terbenam matahari dan bintang-bintang sudah terbit. lalu jemaah berteriak, “salat! salat!” bahkan seorang laki-laki Bani Tamim langsung berdiri ke hadapan Ibnu Abbas, lalu ia berkata “salat! salat!” Kata Ibnu Abbas, “Apakah engkau hendak mengajariku tentang Sunnah Nabi, yang engkau belum tahu? Aku melihat Rasulullah saw menjama salat Zuhur dan Asar dan Maghrib dengan Isya’”. Kata Abdullah bin Syaqiq, ‘Aku ragu kebenaran ucapan Ibnu Abbas itu. Kerana itu aku bertanya kepada Abu Hurairah. Ternyata Abu Hurairah membenarkan ucapan Ibnu Abbas itu”.

Berdasarkan hadis-hadis ini dapat disimpulkan bahawa di kalangan para sahabat sendiri telah berlaku perselisihan pendapat sama ada boleh atau tidak menjamakkan solat tanpa musafir. Lihat misalnya Abu Umammah (bertanya kepada Anas bin Malik) dan Abdullah bin Syaqiq (merujuk kepada Abu Hurairah) bagi memastikan kebenarannya. Jika para sahabat Nabi yang terkenal dengan ilmunya masih berselisih pendapat maka tidak hairanlah jikalau kita masih meneruskan tradisi saling berselisih pendapat seperti pada zaman para sahabat. Bukankah sahabat itu seperti bintang-bintang?

Yang pastinya hadis-hadis tentang solat jamak ini bukan sahaja terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim namun terdapat juga dalam kitab-kitab hadis yang lain.

Hukum Shalat Jamak Ketika Tidak Sedang Dalam Perjalanan

Hal yang sangat dikenal di kalangan umat islam adalah diperbolehkannya Menjamak Shalat Ketika Sedang Dalam Perjalanan. Tetapi sangat disayangkan banyak orang Islam yang tidak tahu kalau sebenarnya Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan. Tidak jarang diantara mereka yang tidak tahu itu, pikirannya dipenuhi dengan prasangka-prasangka yang merendahkan ketika melihat orang lain Menjamak Shalat padahal tidak ada Uzur apapun. Beberapa dari mereka berkata “Jangan berbuat Bid’ah” atau “Ah itu mah kerjaan orang Syiah”. Coba lihat dialog ini

Si A :Ntar bareng kesana ya

Si B :Ok, tapi kita shalat dulu

Si A :hmm lagi nanggung, ntar aja deh aku jama’ dengan Ashar

Si B :( terpana)…. emang boleh seenaknya dijamak gitu, bukannya Jama’ itu boleh kalau dalam perjalanan.

Si A :he he he boleh, boleh.

Si B : kamu Syiah ya

Si A : bukan kok

Si B : ya udah terserah kamulah, yang penting saya shalat dulu

Saya cuma bisa tersenyum sinis mendengarkan mereka yang dipermainkan oleh Wahamnya ini. Pikiran mereka ini dipengaruhi oleh Syiahpobhia yang keterlaluan sehingga berpikir setiap amalan yang dilakukan oleh Syiah adalah sesat. Saya katakan Tidak ada urusan mau bagaimana Syiah mengamalkan Ritualnya. Sekarang yang sedang dibicarakan adalah Shalat Jama’ yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. ;)

.

.

Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.

Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut(khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan :mrgreen:

Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Lantas apa yang akan dikatakan oleh mereka yang seenaknya berkata bahwa hal ini adalah bid’ah atau dengan pengaruh Syiahpobhia seenaknya menuduh orang yang Menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ sebagai Syiah. Begitulah akibatnya kalau membiarkan diri tenggelam dalam prasangka-prasangka. :P

Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “ Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”.Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW.

Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya.

Bagi siapapun yang mau berpegang pada prasangka mereka atau pada doktrin Ulama mereka bahwa hal ini tidak dibenarkan maka kami katakan Rasulullah SAW lebih layak untuk dijadikan pegangan:) Wassalam

Catatan: Tulisan ini saya buat dalam kondisi sakit-sakitan, gak nyangka ternyata saya masih bisa-bisanya buat tulisan. Tolong doakan agar saya cepat sembuh ya, hmmm eh salah ding doakan agar badan saya enakan aja deh :mrgreen:

283791_460681150621691_171225324_n

shalat-penyembah-batu

Syiah menjadikan tanah sebagai tempat meletakkan dahi ketika sujud. Dalam bahasa Arab kata kerja ‘Sajada’ di tambah mim dalam perkataan ‘Masjid’ adalah ‘isim makan’ (kata nama tempat) yang membawa maksud tempat sujud. Nabi (s) menjadikan bumi sebagai tempat sujud, dalam Sunan Tirmidzi cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993, jil 1 menyatakan nabi (s) ketika sujud, baginda meletakkan hidung dan wajah baginda di bumi:
Nabi juga memerintahkan supaya sujud di atas Turab (tanah):

Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnyaMalik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”

.

Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat

.

Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu

.

Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.Berhentilah menyebarkan kebohongan tentang kaum Syiah; supaya dosa dosa antum tidak bertambah banyak.

Orang yang tidak sengaja sehingga telat bangun sehingga telat shalat subuh :

Hal ini ada keringanan dalam Syari’at sebagaimana dalam hadits berikut ini :

Dari Anas bin Malik Rodhiyalloohu ‘Anh. Bahwa Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan sholat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya.” (HR Muttafaqun ‘alayh).

Waktu solat mengikut al-Quran

Allah (swt) berfirman dalam kitabNya yang suci:

“Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam, dan (dirikanlah) sembahyang subuh sesungguhnya sembahyang subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya).” 
Qur’an 17:78

Waktu solat menurut al-Quran adalah tiga, bukan lima.

  1. Gelincir Matahari
  2. Waktu Gelap Malam
  3. Waktu Subuh.

Imam Fakhruddin Razi, pengulas al-Quran terkenal Sunni, menulis berkenaan ayat yang dipetik (Surah 17, Ayat 78):

“Jika kita menafsirkan waktu gelap malam (ghasaq) sebagai masa apabila kegelapan mula muncul maka terma ghasaq merujuk kepada bermulanya Maghrib. Berdasarkan hal ini, tiga waktu disebut dalam ayat: ‘waktu tergelincir matahari, waktu bermulanya Maghrib dan waktu Fajar’. Ini menyatakan bahawa waktu tergelincir matahari adalah waktu untuk Zuhur dan Asar, waktu ini dikongsi oleh dua solat ini. Waktu bermulanya Maghrib adalah adalah waktu untuk Maghrib dan Isyak maka waktu ini juga dikongsi oleh dua solat ini. Hal ini memerlukan kebolehan untuk menjamak antara Zuhur dan Asar serta antara Magnrib dan Isyak pada setiap masa. Akan tetapi terdapat bukti yang menunjukkan bahawa manjamak ketika di rumah tanpa sebarang alasan adalah tidak dibenarkan. Hal ini menjurus kepada pandangan bahawa menjamak adalah dibolehkan apabila sedang bemusafir atau apabila hujan dll.”

Tafseer Kabeer, m.s 107

Sementara kami akan InsyaAllah menyangkal komentar Razi berkenaan menjamak tanpa sebab adalah tidak dibenarkan, apa yang kita dapat dari sini adalah masa untuk solat fardhu hanyalah tiga:
1). Masa untuk dua solat fardhu, Zuhur (tengah hari) dan Asar (petang), yang dikongsi oleh keduanya.
2). Masa untuk dua solat fardhu, Maghrib (senja) dan Isyak (malam) yang juga dikongsi oleh keduanya.
3). Masa untuk solat Subuh (pagi) yang hanya spesifik untuknya sahaja.

Kami melaksanakan solat Zuhur dan Asar dan kemudian solat Maghrib dan Isyak dalam satu satu masa. Kami tidak melakukannya hanya berdasarkan penghakiman kami, malah hal ini dilakukan kerana ianya adalah Sunnah Nabi Muhammad (s). Adalah dilaporkan dalam Sahih Bukhari bahawa Ibn Annas [r] berkata:

“Aku mengerjakan lapan rakaat (Zuhur dan Asar) dan tujuh rakaat (Maghrib dan Isyak) pada satu satu masa bersama Nabi Muhammad (s) (dengan tiada solat sunat diantaranya.)” Umru berkata bahawa dia berkata kepada Abul Shaqa: “Aku fikir Nabi (s) mengerjakan Zuhur sedikit lewat dan Asar sedikit awal, dan Isyak sedikit awal, Maghrib sedikit lewat, Abul Shaqa menjawab bahawa dia juga merasakan yang sama.”

Kita baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 537, Bab Waktu Solat:

Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
Rasul Allah (salam dan salawat ke atasnya) melakukan di Madinah tujuh (rakaat) dan lapan (rakaat), i.e. (menjamak) solat tengah hari (Zuhur) dan petang (Asar) (lapan rakaat) dan solat senja (Maghrib) dan malam (Isyak) (tujuh rakaat).

Dalam mengulas mengenai hadis ini, pada muka surat yang sama dalam Tayseer al-Bari, Allamah Waheed uz Zaman berkata:

“Hadis ini agak jelas di mana dua solat boleh dilakukan pada satu masa. Hadis yang kedua memberitahu kita mengenai insiden di Madinah sewaktu tiada rasa takut mahupun sebarang paksaan. Telah pun disebut di atas bahawa Ahli Hadis menganggapnya dibolehkan, dan dalam kitab-kitab Imamiah terdapat banyak hadis-hadis dari Imam Hadis dalam bab menjamak (solat) dan tiada alasan untuk hadis-hadis ini dikategorikan sebagai palsu”

 Tayseer al Bari Sharh Sahih Bukhari, Jilid 2, Kitab Tahajjud, m.s 187, diterbitkan oleh Taj Company Limited, Karachi

Kita juga baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 518:

Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
“Nabi (s) melakukan solat lapan rakaat untuk Zuhur dan Asar, dan tujuh untuk solat Maghrib dan Isyak di Madinah.” Aiyub berkata, “Berkemungkinan ianya pada malam yang hujan.” Anas berkata, “Mungkin.”

Dalam ulasan berbahasa Urdu Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, dalam mengulas ungkapan terakhir Jabir di mana dia menduga bahawa berkemungkinan ianya malam yang hujan, Allamah Waheed uz-Zaman menulis:

“Kata-kata Jabir adalah berdasarkan kemungkinan, kesalahannya telah dibuktikan oleh riwayat Sahih Muslim yang menyatakan bahawa tiada hujan mahupun sebarang perasaan takut yang wujud.”

Maulana Waheed uz-Zaman menulis lagi:

“Ibn Abbas dalam riwayat yang lain berkata bahawa Nabi Muhammad (s) melakukannya untuk menyelamatkan umatnya dari sebarang kesukaran.”

 Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, Jilid 1, m.s 370, Kitab Waktu Solat, diterbitkan oleh Taj Company Limited.

Dalam perkaitan ini riwayat Sunni juga menyingkirkan sebarang tanggapan bahawa jamak tersebut mungkin dilakukan kerana keadaan cuaca yang buruk:

Nabi Muhammad (s) bersolat di Madinah, ketika bermastautin di sana, tidak bermusafir, tujuh dan lapan (ini merujuk kepada tujuh rakaat Maghrib dan Isyak dijamakkan, dan lapan rakaat Zuhur dan Asar dijamakkan).
Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, Jilid 1, m.s 221

“Nabi Muhammad (s) melakukan solat Zuhur dan Asar secara jamak serta Maghrib dan Isyak secara jamak tanpa perasaan takut mahupun dalam bermusafir.”
Malik ibn Anas, al-Muwatta’, Jilid 1, m.s 161

Sekarang mari kita lihat kepada hadis dari Sahih Muslim:

Ibn ‘Abbas melaporkan bahawa Rasul Allah (s) menjamak solat Zuhur dan Asar serta solat Maghrib dan Isyak di Madinah tanpa berada dalam keadaan merbahaya mahupun hujan. Dan di dalam sebuah hadis yang dirawikan oleh Waki’ (kata-katanya ialah): “Aku berkata kepada Ibn ‘Abbas: Apa yang membuatkan baginda melakukan hal tersebut? Dia berkata: Supaya umatnya (Rasulullah) tidak diletakkan dalam keadaan sukar (yang tidak diperlukan).”

Kami telah mengambil hadis ini dari sumber Sunni berikut:

  1. Sahih Muslim (terjemahan Inggeris), Kitab al-Salat, Buku 4, Bab 100 Menjamak solat apabila seseorang dalam bermastautin, hadis no. 1520;
  2. Jami al-Tirmidhi, Jilid 1, m.s 109, diterjemah oleh Badee’ uz-Zaman, diterbitkan oleh kedai buku No’mani, bazaar Urdu Lahore.
  3. Sunan Abi Daud, jilid 1, m.s 490, Bab: ‘Menjamak Solat’, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman

Dalam ulasannya mengenai hadis ini, Zaman menyatakan:

Terdapat dua jenis jamak solat, Jamak Taqdeem dan Jamak Takheer, yang awal bermaksud melaksanakan solat Asar pada waktu Zuhur dan Isyak pada waktu Maghrib, dan yang terkemudian adalah melakukan solat Zuhur pada waktu Asar dan Maghrib pada waktu Isyak, kedua-dua jenis adalah terbukti sah dari Sunnah Rasulullah.
Sunan Abu Daud, jilid 1, m.s 490, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman, diterbitkan di Lahore

Maulana Waheed uz-Zaman membuat rumusan pada muka surat yang sama dengan menyatakan:

“Hujah-hujah yang menentang jamak solat adalah lemah, sementara yang membenarkannya adalah kuat.”
Sunan Abu Daud, volume 1, page 490, translated by Maulana Waheed uz-Zaman, published in Lahore

Shah Waliullah Dehalwi menyatakan dalam Hujutallah Balagha, m.s 193:

Masa untuk solat sebenarnya adalah tiga, iaitu pagi, Zuhur dan pada waktu gelap malam dan ini adalah maksud kepada firman Allah ‘Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari’. Dan Dia berfirman hingga waktu gelap malam’ kerana masa untuk menunaikan solat Zuhur adalah sehingga matahari terbenam oleh kerana tiada kerenggangan antara duanya, maka, dalam keperluan, adalah dibolehkan untuk menjamak Zuhur dan Asar serta Maghrib dan Isyak

Sekarang kami sediakan testimoni Sahabat yang disayangi Ahli Sunnah bernama Abu Hurairah mengenai dibolehkan untuk menjamak solat. Kita baca dalam Musnad Ahmad:

Abdullah bin Shaqiq meriwayatkan bahawa pernah sekali selepas Asar, Ibn Abbas tinggal sehingga matahari terbenam dan bintang muncul, lalu orang berkata: ‘Solat’ dan di antara yang berkata adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang berkata: ‘Solat, solat’. Lalu dia (Ibn Abbas) manjadi marah dan berkata: ‘Bolehkah kamu mengajarku Sunnah!! Aku melihat Rasul Allah (sawa) menjamak solat Zuhur dan Asar, serta Maghrib dan Isyak’. Abdullah (bin Shaqiq) berkata: ‘Aku mempunyai keraguan mengenai perkara ini maka aku berjumpa Abu Hurairah dan bertanya kepadanya dan dia bersetuju dengan beliau (Ibn Abbas)’.

 Musnad Ahmad, Jilid 1 m.s 251 Hadis 2269

Shaykh Shu’aib al-Arnaout berkata:

‘Rataiannya adalah Sahih mengikut standard Muslim’.

Kami juga akan menyebut amalan Sahabat terkenal Anas bin Malik dan testimoninya mengenai mengerjakan solat Asar pada waktu Zuhur. Kita bca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 524:

Diriwayatkan Abu Bakr bin Uthman bin Sahl bin Hunaif:

bahawa dia mendengar Abu Umama berkata: Kami melakukan solat Zuhur bersama ‘Umar bin Abdul Aziz dan kemudian pergi kepada Anas bin Malik dan menjumpainya melakukan Solat Asar. Aku bertanya kepadanya, “Wahai pakcik! Solat apa yang kamu lakukan?” Dia berkata ‘Solat Asar dan ini adalah (waktu) solat Rasul Allah yang mana kami pernah bersolat bersama baginda.”

Riwayat ini memperkukuhkan tafsiran ayat 17:78 oleh Fakhruddin al-Razi yang mana menurutnya masa untuk melakukan Zuhur dan Asar adalah sama.

Melakukan dua solat dengan satu Azan

Apabila sudah terbukti bahawa jamak solat bukanlah satu pembaharuan, malah adalah Sunnah Nabi Muhammad (s) untuk menyelamatkan umatnya dari kesukaran, kita dibenarkan untuk menggunakan kemudahan ini. Mereka perlu tahu bahawa oleh kerana Sunnah Nabi membenarkan para jemaah untuk berkumpul di dalam masjid untuk solat Zohor dan Asar, kemudian panggilan kedua untuk solat Asar dan Isyak dilaungkan didalam masjid tanpa pembesar suara dan kemudian solat ditunaikan. Cara yang sama juga turut dipetik oleh ulama Sunni.

Allamah Abdul Rehman al-Jazeeri menulis:

“Cara yang betul untuk menghimpun orang untuk bersolat adalah dengan melaungkan azan Maghrib dengan suara kuat yang biasa, kemudian selepas azan, masa diperlukan untuk melakukan solat tiga rakaat perlu ditangguhkan. Kemudian solat Maghrib perlu dilaksanakan dan kemudian adalah elok untuk melaungkan azan Isyak di dalam masjid, azan sepatutnya tidak dilaungkan dari menara supaya ianya tidak akan memberi tanggapan bahawa masa tersebut adalah masa kebiasaan untuk solat Isyak, oleh sebab itulah azan tersebut perlu dilaungkan dengan suara perlahan dan kemudian solat Isyak boleh dilaksanakan.” 
Al-Fiqa al-Al Madahib al-Arba’a, jilid 1 m.s 781, diterjemah oleh Manzoor Ahmed Abbas, diterbitkan oleh Akademi Ulama, Charity department Punjab

Jelas dari sini, berdasarkan dalil-dalil yang sahih,menjamakkan solat walaupun bukan dalam keadaan yang memerlukan adalah mubah dan sah. Ini bertepatan dengan cara yang diikuti oleh pengikut Mazhab Ahlulbait(as).

Keutamaan Sholat di Awal Waktu; Pandangan Al-Quran, Hadits dan Sirah Imam-imam Maksum dan Ulama

Pendahuluan

Alhamdulillah, puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt dan sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan nabi besar islam Muhammad saww dan kepada keluarganya yang suci dan jauhkanlah rahmatmu ya Allah atas orang-orang yang memusuhi mereka.

Sholat adalah salah satu dari rukun-rukun islam yang sangat ditekankan kepada seluruh ummat islam untuk menjalankannya bahkan anjuran dari nabi besar Muhammad saw untuk tidak meninggalkannya, karena seluruh perbuatan baik dan buruk  tergantung pada yang satu ini. Jika sholat kita baik maka seluruh perbuatan kita juga akan baik, karena sholat yang kita lakukan setiap hari sebanyak lima waktu itu subuh, dzuhur, asar, magrib dan isya akan mencegah kita dari perbuatan jelek, namun sebaliknya jika kita mendirikan sholat dan masih juga melakukan hal yang tidak terpuji maka kita harus kembali pada diri kita masing-masing dan mengkoreksi kembali apakah sholat yang kita dirikan itu benar-benar sudah memenuhi syarat atau ketika kita mendirikannya, benak dan pikiran kita masih dikuasai atau diganggu oleh pikiran-pikiran selain Allah. Itu semua perlu juga kita perhatikan.

Sholat di awal waktu dalam pandangan Al-Quran

Allah swt berfirman: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[*]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”  [1]

Imam Shadiq as bersabda:

 امتحنوا شيعتنا عند مواقيت الصلاة كيف محافظتهم عليها

Ujilah syiah kami pada waktu-waktu sholat, bagaimana mereka menjaganya. [2]

Allah swt juga berfirman: “Celaka bagi orang-orang yang mendirikan sholat, yang mana mereka mendirikannya secara lalai.” [3] Berkenaan dengan ayat ini, Imam Shadiq as ditanya, beliau menjawab: “Yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang yang melalaikan sholatnya, dan ia tidak mendirikannya di awal waktu tanpa ada halangan (uzur).[4]

Keutamaan sholat di awal waktu dalam pandangan riwayat

Imam Bagir as bersabda:

اعلم ان اول الوقت ابدا افضل فتعجل الخيرابدا ما استطعت

 “Ketahuilah bahwa sesungguhnya awal waktu itu adalah sebuah keutamaan, oleh karena itu laksanakanlah secepatnya pekerjaan baikmu selagi kamu mampu,.”[5]

Imam Shodiq as bersabda:

لفضل الوقت الاول على الاخير خير من ولده وماله

“Sesungguhnya keutamaan yang ada di awal waktu dibandingkan akhirnya lebih baik bagi seorang mukmin dari anak-anaknya dan hartanya.”[6]

Beliau juga dalam haditsnya yang lain bersabda:

فضل الوقت الاول على الاخير كفضل الآخرة على النيا

“Keutamaan awal waktu atas akhirnya sebagaimana keutamaan akherat terhadap dunia.”[7]

Imam Musa bin Jakfar as bersabda: “Sholat-sholat wajib yang dilaksanakan pada awal waktu, dan syarat-syaratnya dijaga, hal ini lebih wangi dari bunga melati yang baru dipetik dari tangkainya, dari sisi kesucian, keharuman dan kesegaran. Dengan demikian maka berbahagialah bagi kalian yang melaksanakan perintah shalat di awal waktu.”[8]

Imam Shadiq as bersabda: “Seorang yang mengaku dirinya haq (Syiah) dapat diketahui dengan tiga perkara, tiga perkara itu adalah: 1. Dengan penolongnya, siapakah mereka. 2. Dengan sholatnya, bagaimana dan kapan ia melaksanakannya. 3. Jika ia memiliki kekayaan, ia akan teliti dimana dan kapan akan ia keluarkan.[9]

Sholat di awal waktu cermin kesuksesan ruhani

Diantara salah satu rahasia penting sholat di awal waktu adalah keteraturan hidup dengan tolak ukur agama dan tidak lalai kepada tuhan. Adapun orang yang mendirikan sholat, namun tidak terikat dengan awal waktu, dasar tolak ukur hidup mereka adalah ditentukan oleh permasalahan selain tuhan, dan ketika masuk waktu sholat, mereka mendirikannya, namun terkadang di awal waktu, pertengahan dan atau diakhirnya, permasalahan ini sudah sangat merendahkan dan meremehkan sholat itu sendiri sebagai tiang dan pondasi agama bahkan merupakan rukun islam bagi setiap muslim, dan dengan demikian seseorang akan merasa bahwa setiap permasalahan duniawi yang datang, akan lebih ia dahulukan ketimbang mengerjakan sholat, seperti contoh: Di tengah pekerjaan, makanan sudah dihidangkan, dikarenakan teman atau tamu yang bertandang kerumah dan lain sebagainya dari permasalahan dunia yang menyebabkan kita lalai dan tidak mengerjakannya di awal waktu. Hal semacam ini adalah sebuah kejangkaan dan tidak komitmen terhadap urusan agama.

Adapun orang yang terikat -dengan urusan agama- mereka mendirikan sholat di awal waktu. Tolak ukur kehidupan mereka, mereka susun sesuai dengan tolak ukur yang sudah ditentukan oleh Ilahi. Dalam artian bahwa setiap pekerjaan telah disusun sedemikian rupa sehingga ketika datang waktu sholat, mereka tidak disibukkan dengan pekerjaan yang lain selain ibadah sholat. Dan perhatikanlah jika menjanjikan sasuatu jangan mendekati waktu sholat, dan jika hendak menyantap makan siang atau malam, hendaknya tidak pada waktu sholat, dan jika hendak mengundang tamu atau berpergian untuk tamasya, hendaknya disusun sesuai dengan waktu sholat. Dengan demikian ia telah menunjukkan bahwa untuknya agama dan sholat adalah segala-galanya. Permasalahan inilah yang memiliki pengaruh yang sangat dalam untuk membentuk jiwa seorang insan menuju kesempurnaan.

Sholat di awal waktu adalah rumus untuk dapat menguasai jiwa, hawa nafsu dan pikiran serta menentang keinginan syahwat, karena dengan cara mengatur waktu dan janji yang kuat, seorang manusia seiring dengan berjalannya waktu dapat menemukan dan berhadapan dengan berbagai ragam hawa nafsu. Ketika keragaman seperti makan, istirahat, rekreasi dan pekerjaan menghadang, yang mana seseorang berkeinginan untuk melakukannya, namun dikarenakan waktu sholat telah tiba, hal itu dikesampingkan demi beribadah kepada Tuhannya (sholat), hal yang demikianlah yang disebut dengan tegarnya jiwa dan kuatnya iman.

Seorang yang ingin mendirikan sholatnya di awal waktu, tentu telah mengatur jadwal kehidupannya, misalnya: untuk dapat sukses melaksanakan sholat subuh di awal waktu, dia akan tidur lebih awal dan meninggalkan sebagian menu(kegiatan) yang menyebabkan ia begadang malam, karena hal itu bertentangan dengan keterjagaan di awal waktu. Di lain hal kita mengetahui bahwa bangun diwaktu(azan) subuh itu memiliki banyak barakah  dari sisi kejiwaan dan bahkan dari sisi materi.

Nah yang terpenting sekarang adalah kita harus mementingkan peranan sholat dalam diri kita, dan mulailah sejak saat ini mengambilnya sebagai rancangan yang mau tidak mau harus kita mulai dan kita kerjakan walaupun terkadang sering kali dalam memulainya kita ketinggalan untuk mengerjakan sholat itu di awal waktu, namun secepatnya kita mendirikannya. Bukan sebaliknya kemudian kita menaruhnya di akhir waktu, sehingga dengan cara ini, secara perlahan hal tersebut akan menjadi adat bagi kita untuk menjalankannya secara mudah dan tidak merasa beban. Dan ketika itulah sholat seseorang akan berbentur dengan keharuman dan kesucain yang luar biasa.

Dan Jika Tidak Sampai Laknatlah Aku

Almarhum Alamah Thabatabai dan Ayatullah Bahjat menukil dari almarhum Qadhi ra, ketika itu beliau berkata: “Kalau saja seorang yang mendirikan sholat wajibnya pada awal waktu dan ia tidak sampai pada jenjang yang tinggi (dari sisi keruhaniannya), maka laknatlah aku!.” (dalam naskah lain beliau berkata: “…maka ludahilah wajahku!”).

Awal waktu adalah rahasia yang sangat agung, karena firman allah swt yang berbunyi  “ حافظوا على الصلوات Peliharalah segala sholatmu…”, adalah salah satu poros dan sebagai pusat, dan selain itu juga terdapat firman Allah yang lain yang berbunyi “ واقيموا الصلاة Dan dirikanlah sholat…”, seorang insan yang mementingkan dan mengikat dirinya untuk mendirikan sholat di awal waktu, pada dasarnya itu adalah baik, dan memiliki pengaruh yang sangat besar dan positif untuk dirinya, walau tanpa dihadiri dengan sepenuh hati.[10]

Dari mana engkau dapatkan kedudukan ini

Mullah Mahdi Naroki yang sangat melatih dirinya dengan sifat-sifat baik seperti wara, kesucian, kesehatan, ketakwaan dan lain-lainnya, sehingga dengan itu semua beliau berhasil dapat melihat dengan mata akherat, berkata: “Pada hari raya, saya pergi berziarah ke tempat pemakaman, dan saya berdiri ke sebuah makam dan kepadanya saya katakan: “Adakah hadiah yang dapat engaku berikan padaku di hari raya ini?”.

Malam harinya ketika saya beranjak tidur, dalam mimpi, saya  melihat seseorang yang wajahnya indah dan bercahaya datang menghampiriku, dan berkata: “Datanglah esok hari ke makamku, akan aku berikan sesuatu kepadamu sebagai hadiah di hari raya”. Keesokan harinya aku datang kepemakaman yang diisyaratkan oleh mimpiku itu. Sesampainya aku di sana, tiba-tiba tersingkaplah alam barzah untukku. Ketika itu tampaklah sebuah taman yang indah dan sangat menakjubkan, di dalamnya ada sebuah pintu dan pepohonan yang sebelumnya tidak pernah seorang pun melihatnya, tapi aku dapat temukan di sana. Di tengahnya terdapat sebuah istana yang sangat megah berdiri kokoh. Kemudian saya diajak memasuki ke ruangan dalam istana, ketika aku masuk, aku melihat seseorang yang duduk penuh dengan keagungan di atas singgasana yang bertahtakan intan permata. Kepadanya aku katakan: “Dari golongan manakah engkau?. Ia menjawab: “Aku dari golongan orang-orang yang beribadah. Kemudian aku tanyakan kembali: “Dari manakah engkau dapatkan kedudukan ini?. Ia berkata: “Pekerjaan yang sehat, dan sholat berjamaah diawal waktu.[11]

Perjalanan Ahlul Bait as dalam Sholat di Awal Waktu:

Sholat Awal Waktu pada Perang Shiffiin (Shofain)

Dalam cuaca panas peperangan Shiffin, ketika imam Ali as sedang sibuk-sibuknya berperang, Ibnu Abbas ra melihat beliau yang sedang berada di tengah dua barisan perang itu, secara tiba-tiba menegadahkan wajahnya ke arah matahari, ia bertanya: “Wahai imam, Ya Amirul Mukminin, untuk apa hal itu engkau lakukan?. Beliau menjawab: “Aku melihatnya karena ingin memastikan apakah sudah masuk waktu sholat dzuhur, sehingga kita mendirikannya?. Kemudian Ibnu Abbas berkata: “Apakah sekarang ini saatnya untuk mendirikan sholat?. Peperangan telah menghalangi kita untuk mendirikan sholat, imam menjawab: “Untuk apa kita berperang melawan mereka?, Bukankah kita berperang dengan mereka supaya kita dapat mendirikan sholat?, hanya karena sholat kita berperang melawan mereka. Setelah itu perawi berkata: “Imam Ali sama sekali tidak pernah meninggalkan sholat malamnya walaupun pada malam “Lailatul Harrir”[12] (Lailatul Harrir adalah sebuah malam yang sangat genting dimana pasukan  Imam Ali dan Muawiah (laknat Allah kepadanya) meneruskan perang mereka sampai pagi.)

Sholat Terakhir Imam Husain as

Siang hari dari sepuluh Muharram yang dikenal dengan hari Asyura, keadaan yang begitu menyengat karena teriknya matahari, dan cuaca yang panas dengan peperangan yang tidak seimbang  sedang terjadi di tanah Karbala, salah seorang dari pembela Sayyidus Syuhada Imam Husain as bernama Abu Tsamamah Asshoidi kepada Imam berkata: “Wahai Aba Abdillah (Lakqab panggilan Imam Husain as), jiwaku aku korbankan untukmu, saya lihat para musuhmu ini sudah dekat denganmu, aku bersumpah demi Allah sungguh engkau tidak akan terbunuh, kecuali dengan seizin Allah aku kobankan dulu nyawaku, namun aku akan senang sekali menemui Tuhanku dalam keadaan aku telah menjalankan tugasku yaitu mendirikan sholat yang sekarang ini sudah saatnya melakukankan sholat dzuhur.

Seketika Imam Sayyidus Syuhada menengadahkan wajah suci beliau kearah langit dan melihat matahari (yang sudah condong) kemudian bersabda: “Engkau ingat akan sholat!, Semoga Allah swt menjadikan engkau termasuk orang-orang yang selalu ingat akan mendirikan sholat. Ya sekarang ini saatnya mendirikan sholat di awal waktu, mintalah dari mereka waktu sesaat untuk mengangkat senjata sehingga kita dapat mendirikan sholat. Seketika itu seorang yang terlaknat bernama Hashin bin Tamim berkata: “Sholat yang kalian dirikan tidak akan diterima., Kemudian perkataan itu dijawab oleh Habib bin Madzohir, dikatakan padanya: “Wahai peminum arak, kau pikir sholat yang didirikan oleh keluarga rasulullah saww tidak diterima Allah swt, sedangkan sholat yang kau dirikan diterima!, jangan kira begitu”.

Kemudian Imam Husain as mendirikan Sholat Khauf bersama segelintir para pembela beliau yang tersisa.[13]

Perjalanan Imam Khomaini dalam mendirikan sholat di awal waktu

Dalam sebuah media penerbitan yang menukil perkataan salah seorang dari putra Imam yang menceritakan bahwa: “Hari pertama kali Muhammad Reza Syah pergi, saat itu kami berada di kota Novel Losyatu. Hampir tiga atau empat ratus wartawan berkumpul mengelilingi rumah Imam, sebuah ranjang kecil disiapkan, dan Imam berdiri di atasnya. Seluruh kamera yang ada aktif mengontrol seluruh ruangan. Dan sesuai perjanjian setiap orang dari mereka melontarkan satu pertanyaan, setelah dua tiga pertanyaan, tiba-tiba suara azan terdengar, tanpa ada aba-aba Imam langsung meningalkan ruangan dan berkata: “Saat fadhilahnya (waktu yang diutamakan)  melaksanakan sholat dzuhur”. Semua orang yang hadir merasa heran dan takjub karena Imam meninggalkan ruangan begitu saja. Kemudian ada seseorang yang memohon kepada beliau untuk sedikit bersabar sampai minimalnya empat atau lima pertanyaan yang akan disampaikan beberapa wartawan, kemudian Imam dengan marahnya berkata: “Tidak bisa sama sekali” dan pergi meninggalkan ruangan.[14]

Imam Khomaini ra sampai akhir hayatnya, selalu merasa khawatir untuk tidak dapat menjalankan sholatnya di awal waktu, walaupun ketika beliau dirawat di rumah sakit. Dinukil dari Syekh Ansori ketika datang menjenguk beliau yang sedang dirawat, berkata: “Apakah engkau hendak mendirikan sholat?, kemudian beliau menggerakkan tangannya dan kami pun sadar bahwa beliau sedang beribadah sholat.[15]

Semua yang aku miliki dari menjalankan sholat di awal waktu

Hujjatul Islam Haji Hasyimi Nejad berkata: “Tempo lalu ada orang tua yang datang ke sebuah masjid bernama Loleh Zar pada bulan Ramadhan, ia termasuk seorang yang sukses di zaman itu, dan sebelum azan dikumandangkan ia selalu hadir di dalam masjid.

Kepadanya aku katakan: “Haji Fulan, saya lihat engkau termasuk orang yang sangat sukses, karena setiap hari saya datang ke masjid ini, pasti engkau lebih dahulu datang dariku dan mengambil tempat di salah satu bagian masjid. Ia menjawab: “Sebenarnya, semua yang aku miliki ini, karena sholat yang aku dirikan di awal waktu. Kemudian setelah itu ia meneruskan perkataannya: “Pada masa mudaku, aku pergi ke Masyhad dan aku berjumpa dengan Almarhum Haji Syekh Hasan Ali Bagceh-i, aku katakan padanya: “Aku memiliki tiga keinginan, dan aku ingin Allah memberikan ketiganya di masa mudaku, bisakah engkau mengajarkan sesuatu sehingga aku dapat mencapai semua keinginanku tadi.

Kemudian beliau bertanya, “Apa yang engkau inginkan; , aku katakan padanya: “Aku ingin di masa mudaku, aku bisa mengamalkan ibadah haji, karena ibadah haji di masa muda memiliki kelezatan tersendiri”.

Lalu ia berkata: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Dan kembali aku katakan: “Keinginanku yang kedua adalah aku ingin Tuhan memberikanku istri yang baik dan sholehah”.

Beliau pun menjawab: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Keinginanku yang terakhir aku katakan: “Aku ingin Allah memberikanku sebuah pekerjaan yang terhormat”.

Kemudian beliau menjawab sama seperti jawaban yang pertama dan kedua: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.

Setelah itu aku mulai jalankan amalan yang diajarkan Syekh itu kepadaku, dan dalam jangka waktu tiga tahun, Allah memberikan aku jalan untuk dapat menjalankan ibadah haji, dan mendapatkan istri yang mukminah dan sholehah dan memberikan padaku sebuah pekerjaan yang mulia.[16]  Allahu A’lam

Penulis: S2 Jurusan ulumul Quran di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran

Sumber: http://www.Islamalternatif.net

* Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Dan ada yang mengatakan bahwa sholat wusthaa itu adalah sholat dzuhur.


[1]  Surah Al-Baqarah ayat 238.

[2]  Biharul Anwar jilid 80 hal: 23, dinukil dari kitab Qurbul isnad.

[3]  Surah almaaun ayat 3-4.

[4]  Biharul Anwar jilid 80 hal: 6.

[5]  Idem dinukil dari kitab Asrar

[6]  Idem hal: 12, dari kitab Qurbul Isnad.

[7]  Idem dari kitab Tsawabul ‘Amaal.

[8]  Idem hal: 18-20, dinukil dari kitab Tsawabul ‘Amaal dan Almahasin

[9]  Idem.

[10]  Dar Mahzare Digaran, hal, 99.

[11]  Qeseha-e Namaz, hal: 92

[12]  Biharul Anwar, jilid 80 hal: 23 dinukil dari Irsyadul Qulub, Dailami.

[13]  Nafsul Mahmum, hal: 164.

[14]  Simo-e Farzonegan, hal: 159.

[15]  Dostonho-e Namaz, hal: 87. kemudian dikatakan bahwa Imam Khomaini setelah itu berkata: “Panggil perempuan-perempuan itu, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mereka”. Ketika mereka datang, beliau berkata: “Jalan, jalan yang sangat sulit dan meletihkan, kemudian beliau mengulangi perkataan beliau dan berkata: “janganlah kalian berbuat dosa”.

[16]  Idem.