NU Menelanjangi Kesesatan Salafi Wahabi

Ali bin Abi Thalib ra. Aja Mereka Kafirkan!

Posted on Januari 2, 2012 by abusalafy

Ali bin Abi Thalib ra. Aja Mereka Kafirkan!

Akhir-akhir ini marak aksi pengafiran sesama Muslim hanya kerena dipicu oleh perbedaan mazhab atau aliran atau pendapat dalam memahami ajaran Islam.

Dahulu Imam Ali ra. dikafirkan oleh kaum Khawarij dengan tuduhan telah menjadikan  selain Allah sebagai Hakim dalam urusan umat Islam!

Rupanya pengkafiran sesama Muslim (yang seringkali dibarengi dengan penghalalan darah, harta dan kehormatan) sekarang menjadi gaya kaum NEO KHAWARIJ yang dilakoni oleh sebagian kaum yang menamakan diri mereka sebagai Pengikut Salaf/Salafi dan kaum awam selain mereka yang pikirannya telah dipermainkan oleh para pemuka agama yang sû’!

Kalau dahulu Imam Ali ra. mereka kafirkan dan mereka halalkan darahnya! Kini kaum Neo Khawarij mengulang aksi gilanya dengan mengkafirkan kelompok yang mencintai dan mengikuti Ali bin Abi Thalib ra.

Sementara, para ulama kita, Ahlusunnah, mereka tidak pernah mengafirkan kaum Syi’ah dan sangat berhati-hati dalam menjatuhkan vonis kafir kepada ahli La Ila Illallah Muhammadun Rasulullah! Allamah Sayyid Muhammad Alawi al Maliki -Guru besar para Kyai di Indonesia, tidak terkecuali para Kyai Madura- sangat tegas sikapnya! Beliau mengecam keras pengafiran Syi’ah! menurut beliau Syi’ah adalah bagian dari mazhab-mazhab Islam dan kaum Syi’ah adalah saudara kita… mereka Muslimun!

Jadi!

jadi, sampai kapankah kaum Muslim, khususnya sebagian ulama Ahlusunnah wal Jama’ah mau ditipu habis-habisan oleh pikiran kotor kaum Khawarij judud?! dan kemudian mengerahkan massa untuk mengkafirkan sesama Muslim?

Apa yang terjadi di Sampang Madura bukti bahaya kaum Takfiriyyûn alias Wahabi alias Neo Khawarij yang ajarannya ditegakkan di atas teror dan pengkafiran sesama Muslim!

Karenanya, ini adalah tangggung jawab semua Muslim, khususnya para ulama untuk tidak mendiamkan kesatuan umat Islam dikoyak-koyak oleh pihak ketiga yang menginginkan hancurnya persatuan Umat Islam!

Awas Bahaya Dari Kaum Takfiriyyun!

Yang gemar mengkafirkan kaum Muslimin diantaranya adalah kaum Salafi Wahhabi… hanya kerena bermaksud bertabarruk dengan makam Nabi saw, atau makam seorang wali , misalnya, kaum NU divonis KAFIR dan MUSYRIK! Sekarang -karena alasan-alasan politis- mereka mengarahkan vonis pengkafirannya kepada Syi’ah

Menurut Ketu PB NU, Kyai Said Aqi Siraj bahwa: Ada pihak-pihak yang ingin suasana Indonesia menjadi rusuh dan tak tenang.

Sejak dari dulu, di Madura tak pernah ada ketegangan antara penganut Sunni dan Syi’ah. Tambah Kyai Aqil.

Kalaupun terjadi seperti insiden pembakaran Kamis lalu, jelas ada tangan tak terlihat yang menginginkan terjadinya bentrokan. Jelas perbedaan Sunni-Syi’ah dijadikan alat.  (Baca Jawa Pos, edisi Minggu,1/1/2012)

sumber kutipan : http://abusalafy.wordpress.com/2012/01/02/ali-bin-abi-thalib-ra-aja-mereka-kafirkan/#more-1303

================================================================

sumber kutipan dari : http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/34226/Buku/Menelanjangi_Kesesatan_Salafi_Wahabi.html

 BUKU
24/10/2011 14:27

Menelanjangi Kesesatan Salafi WahabiJudul: Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi
Penulis: Syaikh Idahram
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan: I, 2011 
Tebal: 340 halaman, 13,5 x 20,5 cm 
ISBN: 602-8995-02-3
Peresensi: Hairul Anam

Selama ini, kaum Salafi Wahabi selalu getol menyesatkan umat Islam yang tak selaras dengan ideologinya. Mereka cenderung melakukan beragam cara, terutama melalui tindakan-tindakan anarkis yang meresahkan banyak kalangan.

Padahal, ketika dilakukan kajian mendalam, justru Salafi Wahabi-lah yang sarat dengan pemahaman menyesatkan. Sesat karena berbanding terbalik dengan ajaran Islam yang terkandung di dalam hadis dan al-Qur’an. Setidaknya, buku ini memberikan gambaran jelas akan hal itu.

Buku berjudul Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi, ini secara komprehensif mengungkap kesesatan pemikiran para ulama yang menjadi panutan utama kaum Salafi Wahabi. Didalamnya dijelaskan betapa para ulama Salafi Wahabi itu menggerus otentisitas ajaran Islam, disesuaikan dengan kepentingan mereka. Terdapat tiga tokoh utama Salafi Wahabi: Ibnu Taimiyah al-Harrani, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, dan Muhammad Nashiruddin al-Albani. Pemikiran mereka nyaris tidak membangun jarak dengan kerancuan serta beragam penyimpangan.

Penyimpangan yang dilakukan Ibnu Taimiyah (soko guru Salafi Wahabi) ialah meliputi spirit menyebarkan paham bahwa zat Allah sama dengan makhluk-Nya, meyakini kemurnian Injil dan Taurat bahkan menjadikannya referensi, alam dunia dan makhluk diyakini kekal abadi, membenci keluarga Nabi, menghina para sahabat utama Nabi, melemahkan hadis yang bertentangan dengan pahamnya, dan masih banyak lagi lainnya.

Dalam pada itu, wajar manakala ratusan ulama terkemuka dari berbagai mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Ja’fari/Ahlul Bait, dan Syiah Itsna Asyariah) sepakat atas kesesatan Ibnu Taimiyah, juga kesesatan orang-orang yang mengikutinya, kaum Salafi Wahabi. Lihat di antaranya kitab al-Wahhabiyah fi Shuratiha al-Haqiqiyyah karya Sha’ib Abdul Hamid dan kitab ad-Dalil al-Kafi fi ar-Raddi ‘ala al-Wahhabi karya Syaikh Al-Bairuti. (hal. 90).

Sebagai penguat dari fenomena itu, terdapat ratusan tokoh ulama, ahli fikih dan qadhi yang membantah Ibnu Taimiyah. Para ulama Indonesia pun ikut andil dalam menyoroti kesesatan Ibnu Taimiyah ini, seperti  KH Muhammad Hasyim Asy’ari (Rais ‘Am Nahdhatul Ulama dari Jombang Jawa Timur), KH. Abu al-Fadhl (Tuban Jawa Timur), KH. Ahmad Abdul Hamid (Kendal Jawa Tengah), dan ulama-ulama nusantara tersohor lainnya.

Pendiri Salafi Wahabi, Muhammad Ibnu Abdul Wahab, juga membiaskan pemikiran yang membuat banyak umat Islam galau kehidupannya. Ragam nama dan pemikiran ulama yang menguak penyimpangannya dimunculkan secara terang-terangan dalam buku ini, dilengkapi dengan argumentasi yang nyaris tak bisa terpatahkan.

Dibanding Ibnu Taimiyah, sikap keberagamaan Abdul Wahab tak kalah memiriskan. Ada sebelas penyimpangan Abdul Wahab yang terbilang amat kentara. Yakni: Mewajibkan umat Islam yang mengikuti mazhabnya hijrah ke Najd, mengharamkan shalawat kepada Nabi, menafsirkan al-Qur’an & berijtihad semaunya, mewajibkan pengikutnya agar bersaksi atas kekafiran umat Islam, merasa lebih baik dari Rasulullah, menyamakan orang-orang kafir dengan orang-orang Islam, mengkafirkan para pengguna kata “sayyid”, mengkafirkan ulama Islam di zamannya secara terang-terangan, mengkafirkan imam Ibnu Arabi, Ibnu Sab’in dan Ibnu Faridh, mengkafirkan umat Islam yang tidak mau mengkafirkan, dan memuji kafir Quraisy-munafik-murtad tapi mencaci kaum Muslimin. (hal. 97-120).

Nasib Abdul Wahab tidak jauh beda dengan Ibnu Taimiyah; ratusan tokoh ulama sezaman dan setelahnya menyatakan kesesatannya. Di antara para ulama yang menyatakan hal itu adalah ulama terkenal Ibnu Abidin al-Hanafi di dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar. Juga Syaikh ash-Shawi al-Mishri dalam hasyiah-nya atas kitab Tafsir al-Jalalainketika membahas pengkafiran Abdul Wahab terhadap umat Islam.

Searah dengan Ibnu Taimiyah dan Abdul Wahab, Muhammad Nashiruddin al-Albani melakukan tindakan yang membentur kemurnian ajaran Islam. Ia telah mengubah hadis-hadis dengan sesuatu yang tidak boleh menurut Ulama Hadis. Sehingga, sebagaimana diakui Prof Dr Muhammad al-Ghazali, al-Albani tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam menetapkan nilai suatu hadis, baik shahih maupun dhaif.

Selain ketiga ulama di atas, ada 18 ulama Salafi Wahabi yang juga diungkap dalam buku ini. Mereka telah menelorkan banyak karya dan memiliki pengaruh besar terhadap konstelasi pemikiran kaum Salafi Wahabi. Di samping itu, Syaikh Idahram juga menghimbau agar umat Islam mewaspadai terhadap tokoh Salafi Wahabi generasi baru. Mereka adalah anak murid para ulama Salafi Wahabi. Secara umum, mereka berdomisili di Saudi Arabia.

Menariknya, buku ini kaya perspektif. Referensi yang digunakannya langsung merujuk pada sumber utama. Data-datanya terbilang valid. Validitas data tersebut dapat dimaklumi, mengingat karya fenomenal ini berpangkal dari hasil penelitian selama sembilan tahun, mulai 2001 sampai 2010. Selamat membaca!

* Penggiat buku di Intitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep.

8 comments

  1. memang benar sekali…. kaum salafi cenderung mengkafirkan umat islam yg tak sefaham dgn nya… di daerah tmpat saya (riau) jg sdh byk sekali pengikutnya… penampilannya saja yg bagus,tp akhlaknya msh sangat jauh dari bagus….

  2. Di tempat saya juga sudah mulai ramai dan kantorku juga ada beberapa orang kurang lebih 5 s/d 7 orang dari 200 org sih, mereka selalu aja punya jawaban untuk membantah kita.
    semoga kita di beri petunjuk oleh Allah swt amin…

  3. Salafi selalu berangapan merkelah yg benar, pada hal sudah banyak kesalahan di lihat dan di dengar tapi mereka gak peduliin malah meraka yg bilang kita ini yg salah dan banyak berbuat Bid’ah.
    Semoga Allah membuka kebusukan dan kesesatan mereka Amin …….

  4. Para Saudara-Saudara kami Kaum Muslimin, para Awam; Ulama; Habaib, mari bergandeng tangan sudah banyak kelompok-kelompok sesat dimata kita, jangan buat kelompok lagi seperti ada kata-kata ” kamu kan murid si anu, kamu murid sini ” Selama ajaran Ulama/ guru-gurunya benar, mari kita bersatu padu. Tanamkan keikhlasan dalam berda’wah, hilangkan ubud dun-ya, jangan pilih kasih, jalin hubungan silaturrahim diantara Ulama-Habaib dan Awam. Kaum muda & kaum awam saat ini sangat butuh figur yang dapat didengar kata-katanya, dicontoh akhlaknya jika dalam ta’lim maupun dimimbar umum terasa sejuk kata-kata keilmuannya, sejuk dilihat wajahnya, jadi panutan dan tempat bertanya, Ulama semacam ini belum ada di NKRI kita. Pantaslah kalau ulama salafi wahabi yang memiliki titel tinggi namun akhirnya menyesatkan ummat, akhirnya jadi panutan.kaum muda silahkan lihat dimana ulama wahabi muncul disitu ribuan jamaahnya hadir, karena mereka bisa merangkul, mereka tanya bahkan datangi apabila ada salah seorang mereka tidak hadir dalam kelompok mereka. Mari kita bersatu-bersatu, jangan rebutan murid, jangan pamer harta, jangan pilih kasih, da’wah cara tradisional saat ini hampir tidak laku lagi, dalam mengajar pergunakanlah teknologi modern, pergunakan laptop, pergunakan infokus dll. mari kita mulai sekarang saatnya kita merubah pola pikir tradisional ke arah mengikuti perkembangan zaman.

  5. Hakikat Sombong adalah Menolak Kebenaran dan Meremehkan Orang lain.

    Hakikat Sombong adalah Menolak Kebenaran dan Meremehkan Orang lain Penulis: Syaikh Husain bin ‘Audah Al-Awayisyah Apa itu (hakikat) Al-Kibru atau kesombongan ? Dari Abdullah Bin Mas’ud radhiayallahu’anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
    وعن عبداللّه بن مسعودرضى اللّه عنه عن النّبىّ صلّى اللّه عليه وسلّم قال : لايدخل الجنّةمن كان فى قلبه مثقال ذرّةمن كبر ، فقال رجل : انّ الرّجل يحبّ ان يكون ثوبه حسناونعله حسنة ، قال : انّ اللّه جميل يحبّ الجمال . الكبر : بطرالحقّ وغمط النّاس (رواه مسلم)٠
    “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu)

    Dalam riwayat lain:
    لاَ يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيْمَانٍ وَلاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
    “Tidak akan masuk neraka seseorang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari keimanan dan tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan.” (HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu) Nabi telah menjelaskan Al-kibru (kesombongan) itu adalah: الْكِبْرُ بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ “Menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. Adapun batharul haq artinya mengingkari kebenaran dan menolaknya. Sedang ghomthunaas artinya meremehkan mereka (manusia). Maka orang yang sombong, selalu berambisi untuk meninggikan dirinya di hadapan Allah Ta’ala dengan cara menolak syariat dan ajaran agama. Padahal perkataan yang benar adalah dari Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya Shallallahu’alaihi wasallam dan dia meninggikan dirinya di hadapan manusia sehingga mengolok-olok, meremehkan serta menjelek-jelekan mereka. Sesungguhnya sombong adalah meremehkan sang Khaliq (Allah ‘Azza wa Jalla) dan sekaligus meremehkan makhluk (manusia), kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sifat tersebut. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman: وَلَقَدْ فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ وَأَنْ لا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ “Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada mereka seorang Rasul yang mulia, (dengan berkata): “Serahkanlah kepadaku hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak). Sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu, dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata.” [Ad-Dhukhan 17-19] Ibnu Katsir menjelaskan tentang tafsir firman Allah : وَأَنْ لا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ “dan janganlah kamu menyombongkan diri terhadap Allah.” Yakni: Janganlah kalian sombong dari mengikuti ayat-ayat-Nya dan melaksanakan hujah-hujah-Nya serta mengimani bukti-bukti-Nya. Sebagaimana firman-Nya ‘Azza wa Jalla : وَكَذَلِكَ حَقَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّهُمْ أَصْحَابُ النَّارِ “Dan demikianlah telah pasti berlaku ketetapan azab Rabb-mu terhadap orang-orang kafir, karena sesungguhnya mereka adalah penghuni neraka.”[Ghafir:6] Sumber: chm sunniy-salafy Dinukil dari buku Tawadhu’ kedudukannya dalam agama oleh Asy-Syaikh Husain bin ‘Audah Al-Awayisyah terbitan Maktabah Al-Ghuroba’ halaman 22-24, Judul: Hakikat Kesombongan Adalah Menolak Kebenaran dan Merendahkan Manusia

    Qs.3 Al Imron.77-78
    77. Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

    78. Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.

    Qs.16 An Nahl 25
    25. (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s