Gerakan Syi’ah di Indonesia Kian Pesat

Ulama Syiah Indonesia: “Menumbangkan Rezim Pembohong Tak Cukup dengan Puisi
Minggu, 16 Januari 2011 , 10:58:00 WIB

ILUSTRASI

fatwa ulama  Indonesia – Malaysia tak ubahnya seperti khotbah-khotbah semata, yakni didengar ketika khotbah berlangsung namun tidak dilakukan ketika khotbah itu selesai.

Apa faktor yang menyebabkan fatwa ulama itu tidak efektif? Faktornya adalah, pertama, Indonesia bukan negara para ulama, mullah atau negara yang berdasarkan hukum Islam. Bila negara yang mengacu ulama sebagai sumber hukum maka ucapan-ucapan para ulama itu menjadi hukum positif sehingga implementasinya di bawah dilaksanakan oleh aparat dengan ketat. Misalnya di Iran, ulama atau mullah sebagai salah satu sumber hukum maka fatwa-fatwa yang dikeluarkan akan dijalankan oleh aparat penegak hukum, dan yang terbukti melanggar akan dikenakan sanksi.

Di Indonesia secara keseluruhan menerapkan hukum didasari atas kesepakatan antara pemerintah dengan DPR, sehingga dimensi hukum yang ada tidak hanya dilandasi oleh faktor yang hanya mengedepankan moral (agama) semata namun juga aspek lainnya. Hukum inilah yang dijadikan pegangan dan rujukan. Bila ada permasalah hukum, yang dijadikan dasar penyelesaian harus mengacu pada tata urutan hukum yang ada, bukan mengacu pada fatwa. Sehingga sehebat apa pun fatwa, ia tidak bisa dijadikan acuan hukum.

Kedua, sebab Indonesia negara yang hukumnya tidak mengacu pada ulama, maka fatwa yang dikeluarkan itu sering saling negasi dengan hukum formal. Ketika salah satu organisasi keagamaan mengeluarkan fatwa haram merokok, fatwa itu sepertinya tidak membuat perokok berhenti merokok. Faktornya, secara hukum formal, misalnya peraturan daerah (perda) menyatakan tidak akan memberi sangsi perokok bila ketahuan merokok, hanya mengatur tempat merokok saja. Selain itu, pemerintah sendiri tidak melarang peredaran rokok dan iklan rokok. Jadi di sini ada hubungan yang saling menegasi antara fatwa dengan hukum formal. Kemudian perokok merasa bahwa fatwa tidak akan menjerat dirinya bila dirinya melanggar fatwa. Perokok merasa hukum formallah yang bisa menindak dirinya.

Ketiga, fatwa yang dikeluarkan oleh ulama biasanya melihat dari satu sisi semata, yakni sisi negatifnya saja. Akibat dari melihat dari sisi negatifnya saja maka sisi positif yang ada menjadi hilang. Misalnya saja ketika Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa facebook adalah haram. Alasan yang digunakan para ulama yang adalah Kitab Bariqah Mahmudiyah halaman 7, Kitab Ihya’ Ulumudin halaman 99, Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra halaman 203, serta sejumlah kitab dan tausyiyah dari ulama besar. Tentu apa yang dinyatakan yang hanya melihat dari sisi negatif penggunaan facebook, sementara sisi positifnya tidak dilihat.

Akibat dari penilaian secara sepihak, maka diantara ulama sendiri terjadi ketidaksepakatan dalam soal fatwa. Ketua MUI, H Amidhan, dalam masalah ini pernah mengatakan, ulama-ulama dari Jawa Timur tersebut tidak termasuk dalam wadah MUI pusat dan dalam masalah facebook, H Amidhan menyatakan, haramnya konten dalam facebook berbeda dengan haramnya babi. Sementara Ketua MUI Kalimantan Selatan Prof H Asywadie Syukur Lc berhati-hati dalam menyatakan keberadaan facebook itu boleh atau tidak.

Keempat, fatwa dari ulama tidak menimbulkan efek jera atau tidak efektif karena ada kecurigaan bahwa fatwa yang ada merupakan sebuah pesanan dengan imbalan dana kepada ulama. Tentu MUI tidak akan mengeluarkan fatwa tentang soal hemat energi bila tidak didekati oleh KESDM. Tentu KESDM tidak datang dengan tangan hampa, pastinya ada hal-hal yang dijanjikan buat MUI ketika keputusan yang mendukung program KESDM difatwakan.

Demikian pula soal fatwa haram merokok, lembaga yang mengeluarkan fatwa itu disebut-sebut menerima dana dari organisasi internasional yang bergerak di bidang anti rokok. Di sini menunjukkan bahwa ulama tidak tulus dan ikhlas ketika mengeluarkan fatwa

.

Tanpa amar maruf nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran), agama ibarat tubuh tanpa kepala.

“Untuk itu kritik tokoh agama kepada pemerintah yang dzalim, terutama Islam, mendapat landasan dari Quran dan Hadits. Kata Imam Ali, agama yang hanya shalat berkali-kali, haji dan umrah bolak-balik, tapi tidak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, ibarat badan tanpa kepala. Tanpa kepala tidak bisa disebut badan,” kata pembina Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi (STAIMI), Hasan Dalil, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Minggu, 16/1/2011).

Menurut ulama yang dikenal baik oleh Syiah dan kelompok Sunni Indonesia ini, kritik terhadap pemerintah juga mendapat landasan dari sisi hukum dan sejarah Islam.

“Hukum Islam selalu dimulai dari bab thaharah atau bersuci. Suci tidak hanya fisik tapi juga mental. Mental yang kotor dari penguasa harus dibersihkan. Begitu juga dari sisi sejarah. Setelah 50 tahun Nabi Muhammad SAW meninggal, penguasa sangat dzalim, menganggap harta negara sebagaimana harta pribadinya, maka munculah Imam Husein cucu Nabi untuk melawan. Bersama 18 keluarga Nabi dan 54 sahabat setia, Imam Husein melawan hingga syahid dan terbunuh. Kenapa Imam Husein? Kotor yang sedikit cukup dibersihkan oleh pencuci sedikit. Kotor yang banyak perlu dibersihkan oleh orang-orang yang luar biasa. Maka sangat tepat sikap para tokoh lintas agama yang membeberkan kebohongan pemerintah. Sebab perlu orang luar biasa, seperti ulama dan rohaniawan untuk membongkar ini. Imam memang terbunuh, tapi rakyat jadi melek dan sadar bahwa rezim ini bohong,” kata Hasan.

Hasan Dalil juga mengingatkan agar mengkritik pemerintah bukan hanya dengan himbauan maupun pusisi, tapi harus bergerak dengan sikap.

“Tidak cukup dengan puisi Adhie Massardi tentang Republik Kebohongan. Sebagaimana kata dia juga dalam pusisi sebelumnya, bahwa diskusi adalah selemah-lemah iman perjuangan. Maka harus bergerak menumbangkan rezim yang dzalim dan bertentangan dengan islam, Sebagaimana dalam satu sila, kerakyatatan yang dipimpin hikmat kebijaksaan. Bukan oleh koalisi partai untuk saling menutupi kebohongan,” demikian Hasan

………………………………………………………………………………

Kutip Gus Dur, NU Disebut Syiah Minus Imamah
Jumat, 01 Januari 2010, 10:11:26 WIB

 Sebagian sikap dan pemikiran Gus Dur mendapat apresiasi dari beberapa ulama Syiah Indonesia.
“Gus Dur selalu menganjurkan kebaikan kepada kelompok minoritas, termasuk kita yang berpegang pada madzhab Ahlul Bait, Syiah. Kita merasa dibela Gus Dur dari beberapa kelompok yang akan membubarkan Syiah. Gus Dur juga selalu mengatakan bahwa Syiah itu adalah NU plus imamah dan NU itu adalah Syiah minus imamah. Bahkan beliau orang yang pertama di Indonesia yang bukan Syiah yang menggelar peringatan Asyura di Ciganjur,” kata salah seorang ulama Syiah Indonesia, Hasan Dalil, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Jumat,1/1).

Namun demikian, kata Hasan Dalil, ada beberapa sikap Gus Dur yang mesti dikritisi termasuk keterlibatan dalam yayasan milik Israel. Menurut Pembina Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi ini, masalah Israel adalah masalah hitam putih yang bukan multitafsir.

“Sikap Gus Dur sering multitafsir. Tapi berkaitan dengan Israel harus hitam putih. Israel itu menginjak-injak hak asasi manusia dan menjajah. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan konstitusi tertinggi negara kita, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang melarang segala bentuk penjajahan. Kita kritik itu,” kata Hasan Dalil.

Namun satu hal yang menarik dari Gus Dur, kata Hasan Dalil, tidak pernah marah dan tersinggung jika dikritik. Hasan Dalil pun punya kesan pribadi dengan Gus Dur.

“Kita ulama Syiah datang pada beliau. Saya sebutkan pada beliau di kalangan atas elit dan intelektual, sudah memahami madzhab Ahlul Bait dan menghormati Ayatullah Imam Khomaini. Namun di kalangan sebagian NU di bawah ada yang masih berlaku keras pada kelompok Syiah. Saya contohkan peristiwa di Bangil. Ternyata Gus Dur langsung menelpon ulama NU Bangil dan memerintahkan untuk menjaga kelompok syiah dan mencegah segala bentuk kekerasan. Ini luar biasa,” kata Hasan Dalil.


Dialog Interaktif Sunni dan Syiah di STAIN Samarinda.

Konflik keyakinan yang berlangsung selama 90 tahun antara Islam Sunni dan Syiah sudah saatnya diakhiri. Arah menuju persatuan Sunni dan Syiah sedang dirintis oleh STAIN Samarinda dengan menggelar dialog interaktif Sunni dan Syiah dengan tema “Dialog Interaktif Sunni -Syiah dalam Keberagaman Ummat” dengan menghadirkan nara sumber Syekh Jawad Ibrahimi (syiah) dan Dr. Fakhrul Ghazi, Lc, MA (sunni) rabu siang (10/03) di gedung serba guna STAIN Samarinda Jl. KH Abul Hasan Samarinda.

Dialog yang dimulai jam 11:00 wita hingga jam 14:00 wita merupakan upaya mencari titik temu dan upaya untuk menyatukan kaum muslimin di mana persatuan kaum muslimin menjadi keharusan dan kebutuhan.

Pembicara pertama adalah Dr. Fakhrul Gazi, Lc. MA dari STAIN Samarinda. Dalam ceramah beliau yang berlangsung sekitar 40 menit beliau memaparkan ada jalan menuju ke arah persatuan antara sunni dan syiah dan langkah ke arah sana sudah dirintis oleh beberapa ulama di Mesir. Beberapa ulama syiah di mesir melakukan shalat berjamaah dan bermakmum kepada ulama sunni, begitu pula sebaliknya. dalam keterangan lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa dulu Imam Ghazali yang suni dari Persia seringkali melakukan shalat berjamaah bersama orang-orang syiah dan menjadi makmum.

Selanjutnya Syekh Jawad Ibrahimi sebagai pembicara kedua menyampaikan pandangannya bahwa sunni dan syiah tidak ada bedanya. “Karena saya melihat orang-orang sunni mencintai keluarga Nabi” tuturnya. Berbicara dihadapan sekitar 500 mahasiswa dan mahasiswi dengan menggunakan Bahasa Persia yang diterjemahkan oleh Ustadz Abdullah Hinduan beliau menyampaikan pula bahwa  kecintaan kepada keluarga Nabi adalah titik temu dari semua mazhab. Karena itu bila kita ingin mempersatukan kaum muslimin, persatukanlah mereka dari titik pertemuan ini; yaitu kecintaan kepada keluarga Nabi.

Dalam paparan lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa Dalam penjelasan hadis “Agama itu nashîhah”, selanjutnya disebutkan tentang kecintaan yang tulus atau nashîhah kita terhadap sesama kaum muslimin. Kecintaan kita kepada kaum muslimin dapat ditampakkan dalam usaha untuk menjaga kesatuan kaum muslimin. Lawan dari nashîhah adalah ghasâsah; mengkhianati kaum muslimin, berlaku tidak jujur, memfitnah mereka, dan bahkan mengkafirkan saudara-saudaranya. Hal ini termasuk kepada dosa besar. Oleh sebab itu kelompok ini dipisahkan oleh Rasulullah dari kaum mukmin dan disebut sebagai kelompok pengkhianat.

Dialog interaktif ini mengalir tanpa adanya ketegangan bersamaan dengan kondisi Kota samarinda yang sedang diguyur hujan. Beberapa pesrta yang hadir tampak bersemangat mendengarkan uraian-uraian dari kedua pembicara tersebut. Para peserta yang diberikan kesempatan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada session tanya jawab dengan antusias melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Syekh Jawad Ibrahimi seputar syiah. Dengan jawaban-jawaban yang argumentatif dan kuat beliau menjawab setiap permasalahan dan akan tercermin sebuah gambaran bahwa beliau adalah gudang ilmu.

Menteri Agama Membuka Seminar Nasional Ahlul Bait Ke-5

Seminar Nasional Ahlul Bait, Silatnas Ke-5, akan digelar di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, pada tanggal 2 hingga 4 April 2010. Silatnas kali ini akan dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI, Suryadharma Ali .

Dalam baliho Silatnas Ke-5 di depan Asrama Haji terpampang nama Ketua Mahkamah Konstitusi Profesor Moh Mahfud dan Menteri Kehutanan, Zukfili Hasan, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal TNI (Purn) yang akan menjadi pembicara utama di seminatr tersebut. Selain itu, juga terdapat nama pembicara inti lainnya seperti Dr Haidar Bagir MA, Dr Muhsin Labib MA, Ir. Sayuthi Asyathri dan Ust Zahir Yahya, MA.

Panitia Silatnas Ahlul Bait ketika dihubungi wartawan IRIB menjelaskan, “Silatnas Ke-5 bertujuan menjalin komunikasi antar-yayasan Ahlul Bait di seluruh Indonesia.”

“Dalam seminar itu akan diluncurkan sebuah silabus pelatihan dasar bagi kader kader Ahul Bait di seluruh Indonesia, ” tegas salah satu panitia silatnas yang namanya enggan disebut.

Menurut keterangan panitia, 300 yayasan Ahlul Bait yang tersebar dari Papua hingga Aceh akan ikut serta dalam Silatnas Ke-5 yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Silatnas Terakhir Ditutup, 3 Bulan Lagi Rakernas

JAKARTA –

Keharuan terpancar dari wajah-wajah peserta Seminar Nasional Ahlul Bait, Silatnas Ke-5, saat bersalaman setelah para peserta membaca doa wahdah . Kemaren (Ahad, 4/4 ) Seminar Nasional Ahlul Bait, Silatnas Ke-5, ditutup dengan lagu Indonesia Raya dan shalawat yang dipimpin oleh Ustadz Hasan Daliel dan doa yang dipimpin oleh Ustadz Omar Shahab.

SC Ustadz Ahmad Hidayat menutup secara resmi Seminar Nasional Ahlul Bait, Silatnas Ke-5, setelah sebelumnya dilaksanakan sidang pleno sebagai kelanjutan dari sidang pleno sabtu malam (3/4) yang memutuskan dibentuknya dewan pengarah dalam mengawal embrio yang nantinya melahirkan ormas.

Sidang pleno Ahad pagi (4/4) SC Ustadz Ahmad Hidayat membacakan hasil temuan Dewan Pengarah berupa body ormas yang akan dibentuk nantinya. Rapat Dewan Pengarah diantaranya memutuskan bahwa selambat-lambatnya 3 bulan setelah setelah Silatnas ke-5 dilaksanakan Rakernas. Rancangan body ormas yang dibuat oleh Dewan pengarah nantinya ormas itu terdiri :

  • 1. Dewan Syuro
  • 2. Dewan Tanfidiyah
  • 3. Dewan Pembina
  • 4. Departemen-departemen

Dewan pengarah akan melakukan tugas :

  • 1. Melengkapi susunan body ormas
  • 2. Merekomandasikan hasil Silatnas ke-5 untuk segera dilaksanakan Rakernas selambat-lambatnya 3 bulan.   Agenda Rakernas nanti merumuskan AD/ART dan memutuskan nama ormas

Silatnas ke-5 tahun 2010 ini merupakan Silatnas terakhir. Peserta diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti Silatnas kali ini. Peserta dari luar Jawa yang diwakili oleh Ustadz Sayyid Ahmad Syahab. “Saya merasakan bahwa Silatnas kali ini bebeda dengan silatnas-silatnas sebelumnya. Silatnas kali ini sungguh luar biasa”. Tuturnya. Dari pulau Jawa diwakili oleh Ustadz Miqdad Turkan. Beliau mengatakan kerja panitia Silatnas ini sungguh luar biasa dan beliau juga menyampaikan bahwa di acara ini bisa bertemu ikhwan dari berbagai penjuru tanah air

Meriahnya Acara Maulud Nabi SAW di Yayasan Az-Zahra Balikpapan

BALIKPAPAN, Ahad, (7/3) kemarin suasana yang berbeda terlihat di Yayasan Az-zahra Balikpapan Sejak pagi kesibukan mewarnai lingkungan Yayasan yang beralamat di  Jl Letjen Haryono MT Ring Road 100,Damai,Balikpapan.

Hari itu memang istimewa, telah menjadi kebiasaan bahwa setiap di bulan Rabiul Awal Yayasan Az-Zahra selalu mengadakan acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Demikian pula dengan tahun ini. Menurut ketua panitia Indra Gunawan Peringatan Maulid Nabi yang dimulai tepat pukul 7:00 wita dan berakhir hingga sebelum dzuhur ini terlihat sangat meriah. Acara kali ini dilaksanakan dengan mengadakan Khitanan massal dengan peserta 40 anak. 20 anak dari lingkunagn Kota Balikpapan dan 20 anak dari pinggir Kota Balikpapan yaitu Kelurahan Amburawang. Kemudian acara dimeriahkan pula dengan lomba tartil Qur’an & Tajwid, lomba puisi Rasulullah Saw dengan tema “Nabi Agung Saw” dan lomba membaca surat-surat pendek

Peringatan puncak dilaksanakan malam harinya berlangsung sekitar pukul 20.00 wita  menghadirkan penceramah dari bangil Ustadz Muhammad Bin Alwi BSA, Syekh Jawad Ibrahimi dari Islamic Cultural Center (ICC Jakarta) dan Ustadz Abdullah Hinduan sebagai penterjemah

Syekh Jawad Ibrahimi dalam ceramahnya yang menggunakan bahasa Persia yang diterjemahkan oleh Ustadz Abdullah Hinduan memaparkan “tidak ada nama yang lebih dicintai dan tidak ada nama yang lebih terkenal selain nama Muhammad”. lebih lanjut beliau mengatakan “Saya sangat bangga bersama kalian dan bisa bertatap muka dengan kalian di majelis agung yang membesarkan nama Muhammad Saw dan mari kita menanamkan kasih sayang dan kebersamaan “. Beliau juga menyampaikan bahwa beliau merasa bukan orang asing dihadapan hadirin dan beliau mengucapkan terima kasih.

Sementara itu sebagi pengisi puncak acara Ustadz Muhammad bin Alwi BSA dalam ceramahnya yang berlangsung sekitar 40 menit menjelaskan tujuan maulid adalah untuk memperkokoh persaudaraan umat. “Tidak ada lagi perbedaan warna kulit, bahasa, bangsa, dan status sosial. semua adalah saudara karena diikat kalimat La Ilaha Illallah Muhammadar Rasulullah”. Selanjutnya beliau memaparkan tujuan di ciptakannya para Nabi mulai nabi Adam hingga Nabi Isa adalah untuk mengabarkan kedatangan Nabi besar Muhammad Saw. Dipaparkan pula keagungan Nabi Muhammad adalah beberapa Nabi sebelum Nabi Muhammad dalam doa mereka ingin agar supaya dijadikan umat Nabi Muhammad Saw

Acara Peringatan maulid nabi Muhammad Saw kali ini dihadiri oleh Walikota Balikpapan Bapak Imdaad Hamid SE, Ketua MUI Cabang Balikpapan, Ketua Dewan Masjid Kota Balikpapan, dan Kepala Kantor Depag Balikpapan.

Dilaksanakan pula penyerahan cenderamata dan jas yayasan Az-Zahra kepada Bapak Walikota kemudian acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustadz Abdullah Hinduan dari Jakarta. (ET)

Milad Imam Mahdi Afs 1432 H & Deklarasi ABI DPW Kaltim

milad imam mahdiBismillahirrahmanirrahim
Allahumma Shalli Ala Muhammad wa Aali Muhammad
YAYASAN AL QO’IM KALIMANTAN TIMUR BEKERJASAMA DENGAN DPW AHLULBAIT INDONESIA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR MELAKSANAKAN PERAYAAN MILAD IMAM MAHDI AS DAN PELANTIKAN DPW AHLULBAIT INDONESIA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR. DEMI KELANCARAN DAN KESUKSESAN ACARA KAMI MOHOKAN DOANYA, SEKLAIGUS MENGUNDANG ANTUM SEKALIAN UNTUK MENGHADIRINYA DI GEDUNG PRAMUKA JL. M. YAMIN SAMARINDA TANGGAL 16 JULI 2011.

.

Ulama Iran Besok Hadiri Milad Imam Mahdi AFS. di Samarinda

Yayasan Al-Qo'im

Yayasan Al-qo’im Kaltim Samarinda bersama beberapa yayasan diantaranya yayasan Al-Munthazar Duabelas Samarinda, yayasan Ghipari Tenggarong, yayasan Az-zahra Balikpapan, yayasan YAPPIB Donghwa, yayasan Gemilang Samarinda, yayasan Gerbang Ilmu Samarinda, berencana menggelar Milad Imam Mahdi AFS besok Minggu (25/7).

“Acara Milad Imam Mahdi yang direncanakan tanggal 25 Juli 2010 nanti sudah menjadi agenda rutin yayasan serta hasil keputusan rapat beberapa yayasan yang tergabung di dalam wadah Forum Komunikasi Ahlul Bait Kaltim (FADAK) dengan tujuan memperingati kelahiran manusia yang dinjanjikan Allah akan kedatangannya” kata Sayyid Ahmad Syahab Ketua Yayasan Al-Qo’im Kaltim.

Ia mengatakan, Milad Imam Mahdi AFS kali ini mendatangkan seorang ulama dari Iran Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Murtadha Al-Musawi yang diharapkan mampu memberikan pencerahan kepada warga Samarinda dan sekitarnya dan sebagai upaya untuk mengisi nisfu Sya’ban yang di dalam Islam mempunyai f dhilah yang sangat besar..

Selain itu didatangkan pula ulama dari Bangil yang sudah tidak asing lagi di kalangan Ahlul Bait Samarinda, Ustadz Muhammad bin Alwi BSA dengan uraian-uraiannya yang luar biasa yang bisa membuka wawasan keagamaan bagi pendengarnya.

Hadir pula Ustadz Hasyim Abdullah Abdun untuk mengisi qasidah dan shalawat untuk acara yang dijadwalkan besok. Ustadz asal kota Malang ini telah banyak mengeluarkan album lagu-lagu qasidah maupun shalawat.

Nantinya, acara yang ketuai oleh Sayyid Fadhil Syafaril Baraqbah  ini dilaksanakan di Gedung Pramuka Jl. M. Yamin samping Mall Lembuswana Samarinda.

Milad Sayyidah Fatimah Zahra AS di Samarinda Hadirkan Ustadz Othman Omar Shihab

Ustadz Othman Umar Shihab: Islam Punya Batasan Penggunaan Teknologi

ALQOIMKALTIM.COM – Yayasan Al Qo’im Kaltim kembali menggelar tabligh bersama Ustadz Othman Omar Shihab dari Jakarta yang biasa mengasuh acara Iqra’ di Trans TV dan Tiaian Qalbu di TV One.

Kali ini menggandeng Yayasan Almuntazhar Duabelas dan pengurus Masjid Almukmin Komplek Lamin Etam, memperingati mauled Nabi dan hari kelahiran atau Milad Sayyidah Fatimah Azzahra AS, putri Baginda Rasulullah SAW.

Ditemui disekretariatnya, Ketua Yayasan Al Qo’im Kaltim Sayyid Ahmad Syahab menerangkan, kegiatan akan berlangsung Minggu (22/5) malam di Masjid Almukmin, Komplek Lamin Etam, pukul 19.00 Wita. Ini katanya, sekaligus undangan buat warga untuk hadir bersama-sama dalam majelis mulia ini.

Sangat penting memperingati hari kelahiran Sayyidah Fatimah Azzahra AS  agar umat Islam lebih mengenal sosok mulia ini. Beliau putrid tercinta Rasulullah SAW, yang dibersarkan dan dibimbing langsung oleh Rasulullah dalam rumah ke-Nabian” ujarnya.

“Beliau bukanlah sosok biasa. Beliau merupakan wanita luar biasa yang dalam beberapa riwayat Rasul bersabda, Wanita penghuni surge yang paling utama adalah Fatimah binti Muhammad, Khadijah binti Khuwailid, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Fir’aun. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Thabrani, Hakim, Thahawi dalam Shahih Al Jami’ As Shaghir no 1135 dan silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1508)” tuturnya.

Kemudian Dalam sabda Rasulullah SAW lainnya “Fatimah adalah bahagian dari padakau, barang siapa ragu terhadapnya berarti ragu terhadapku, dan membohonginya berarti membohongiku”. (Hadits riwayat Bukhari dalah Shahih Bukhari kitab nikah bab Dzabb ar-Rajuli).

Acara tersebut juga menghadirkan Ustadz Hasyim Abdullah Abdun dari Malang yang selama ini dikenal sebagai pelantun Qasidah dan Shalawat.

Peringatan Wiladah Imam Ali as Yayasan Az-Zahra Balikpapan

ALQOIMKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Yayasan Az-Zahra Balikpapan, Minggu (27/6/2010) bertepatan tanggal 15 Rajab 1431 H menggelar peringatan Wiladah Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib

Pantauan Alqoimkaltim.com, turut hadir dalam peringatan tersebut sejumlah beberpa ikhwan maupun akhwat kota Balikpapan. Hadir pula beberapa ikhwan maupun akhwat dari Samarinda, Tenggarong dan Penajam Paser Utara (PPU)

Acara yang digelar pukul 14.00 wite ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-quran, sambutan ketua panitia dan acara puncak adalah uraian hikmah wiladah Imam Ali as oleh Ustadz Ahmad Shahab.

Di dalam uraiannya Ustadz Ahmad Shahab memaparkan manusia diberi nikmat-nikmat oleh Allah swt, akan tetapi nikmat terbesar dari sekian banyaknya nikmat-nikmat itu adalah dikaruniakannya nikmat iman. Namun nikmat iman ini juga diberikan kepada umat-umat Nabi-Nabi terdahulu. Ada yang lebih agung dari nikmat iman, yaitu nikmat menjadi umat Nabi Muhammad saw sebagaimana Nabi Musa pernah berharap menjadi umat Muhammad saw. Nikmat-nikmat ini bertingkat-tingkat sebagaimana surga juga bertingkat-tingkat, ada yang lebih tinggi tingkatannya dari nikmat menjadi umat Nabi Muhammad yaitu nikmat berwilayah kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib as.

Pada uraian selanjutnya Ustadz Ahmad Shahab menceritakan riwayat lahirnya Amirul Mukminin ali bin Abi Tholib as di dalam Ka’bah yang menjadi kiblatnya umat Islam di manapun berada dan apapun mazhabnya. Diriwayatkan oleh Abbas bin Adul Mutholib paman Rasulullah saw tatkala Ibunda Imam Ali Fathimah binti Assad as saat mengandung beliau thawaf  mengelilingi Ka’bah. Tampak kelelahan, keringat mengucur deras seraya berpegangan pada dinding Ka’bah. Dia berdoa memandang kepada Allah seraya matanya memandang ke langit “ya Rob ketahuilah ya Allah sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan beriman kepada Rasul-Rasul dan kitab-kitab yang dibawa oleh mereka dan aku memenuhi seruan kakekku Al-Khalil Nabi Ibrahim as. Dialah yang membangun tempat ini. Demi yang membangun tempat ini dan demi janin yang aku kandung permudahlah kelahiran bayiku ini”. Fathimah binti Assad tidak saja bertawasul kepada Nabi Ibrahim as dan Ka’bah wanita mulia ini juga bertawasul kepada bayi yang masih dalam kandungannya yaitu Imam Ali as. Fathimah binti Assad mengetahui kedudukan mulia yang ada pada anaknya. Tak lama setelah itu dinding Ka’bah bergetar dan terbukalah dinding Ka’bah kemudian masuklah Fathimah binti Assad kedalam Ka’bah kemudian dinding Ka’bah itu menutup kembali hingga 4 hari kemudian ibunda Imam Ali as keluar dari pintu sambil menggendong putra yang baru dilahirkannya. Kejadian ini menggemparkan kota Makkah hingga orang berdatangan. Tatkala beliau keluar dari dalam Ka’bah orang pertama yang mencium bayi suci itu adalah Imam Ali as.Hali ini menjadi isyarat sebagaimana Ka’bah seseorang tidak sah sholatnya bila tidak menghadap ke Ka’bah, maka seseorang tidak sah keislamannya bila tidak menjadikan Imkam Ali as sebagai rujukan sepeninggal Rasulullah saw.

Acara Wiladah Imam Ali bin Abi Tholib iyang diselenggarakan di Yayasan Az-Zahra Balikpapan ini ditutup dengan pembacaan doa ziarah oleh Ustadz Alimin dari PPU

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Yayasn Al-Qo’im Kaltim dan Peluncuran Website Yayasan

SAMARINDA-Bertempat di Husainiyah Yayasan Al-Qo’im Kaltim Sealasa malam (9/3), acara peringatan Maulid Nabi Muhammad benar-benar semarak dan hikmat. Hal ini ditandai dengan kehadiran para ulama-ulama dari Iran dan jakarta Syekh Jawad Ibrahimi (Iran) dan Ustadz Abdullah Hinduan (Jakarta) dan banyaknya pecxinta Ahlul Bait yang hadir. Kehadiran para ulama besar itu benar-benar sangat diharapkan oleh para jamaah Ahlul Bait Kota Samarinda dan Kaltim

Semangatnya para ikhwan maupun akhwat dalam mengagungkan Nabi Agung Muhammad Saw tergambar manakala sejak sore hari sudah hadir di Husainiyah Yayasan Al-Qo’im Kaltim dan mereka dengan khusu’ mengikuti sholat maghrib dan isya’ secara berjamaah yang di Imami oleh Syekh Jawad Ibrahimi dari Iran

 

Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa Atawasul yang dipimpin oleh Amir Patang. Hal ini benar-benar semakin hikmat saat bait-bait doa dilantunkan dengan khusu’.

Setelah istirahat sekitar 10 menit tibalah acara peringatan maulid nabi Muhammad saw dan peluncuran website Yayasan Al-qo’im Kaltim yang dimulai dengan diawali sholawat. Ketua panitia sayyid Syafaril Baraqbah menugaskan Rudiyansyah untuk memandu acara ini.

Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan pembacaan Hadits Kisa yang dibacakan oleh Amir patang dihadapan tamu-tamu mulia. Riwayat tentang Ahlul Kisa dan asbabun nuzul turunnya surat Al-Ahzab 33 tidak asing lagi di kalangan pecinta Ahlul Bait Kota Samarinda maupun Kaltim.

Selanjutnya Ketua yayasan Al-Qo’im kaltim Ustadz Ahmad Syahab memberikan kata sambutan. Dengan wajah sangat bahagia memberitahukan telah hadirnya media berupa website dari Yayasan Al-Qo’im Kaltim sebagai sarana informasi dan sarana dakwah. Dalam  kesempatan ini pula mengucapkan terima kasih kepada kedua Ulama yang mulia ini atas kehadiran mereka untuk memberikan tausiyah, Dalam kata sambutan selanjutnya beliau mengucapkan terima kasih pula kepada panita yang telah bekerja keras demi suksenya acara ini serta atas kehadiran ikhwan maupun akhwat.

Kata sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ustadz Abdullah Hinduan dari Jakarta. Inti dari kata sambutan beliau adalah bila mana suatu tempat atau suatu majelis yang di sana digunakan untuk mengagungkan nama Muhammad Saw maka tempat ataupun majelis itu bernilai di sisi Allah, dan tiada perkataan yang lebih agung dan mulia di sisi Allah selain di mana perkataan itu adalah digunakan untuk mengagungkan Rasulullah Saw. Tiada sarana yang lebih bernilai dan agung di sisi Allah selain sarana yang digunakan untuk mengagungkan ajaran Muhammad Saw. Dalam paparannya lebih lanjut beliau menyampaikan ungkapan terima kasih dan penghargaan kepada ustadz Ahmad Syahab, Sayiid Abdlu Rahman Syahab, dan pengurus-pengurus Yayasn Al-Qo’im Kaltim yang telah bekerja keras mengembangkan dakwah Ahlul Bait ditengah umat yang telah digelincirkan oleh sejarah.

Kemudian acara dilanjutkan dengan peluncuran website yayasan Al-Qo’im Kaltim yang beralamat di http://www.alqoimkaltim.com. Syekh Jawad Ibrahimi dan Ustadz Abdullah Hinduan didampingi oleh ketua yayasan serta Rudiansyah diberikan kehoramatan untuk meluncurkan secara resmi website ini.

Tibalah acara puncak acara Maulid Nabi Muhammad Saw yang disampaikan oleh Syekh Jawad Ibrahimi. Dengan menggunakan bahasa Persia yang diterjemhakan oleh Ustadz Jawad Ibrahimi beliau memaparkan bahwa Nabi Muhammad Saw menjadi tujuan diciptakan makhluk Allah. Alam akan bernilai bilamana keberadaan Rasulullah saw dan keluaraga sucinya didalamnya. Dalam paparan lebih lanjut beliau menguraikan Rasulullah Saw adalah emanasi dari sifat-sifat sempurna Allah. Semua sifat-sifat sempurna Allah, sifat keindahan, keagunagn dan sifat-sifat sempurna Allah yang lain terkumpul dalam diri pribadi Nabi, Nabi dan keluarga sucinya mampu menyerap dan melaksanakan sifat-sifat sempurna Allah tersebut. Selanjutnya beliau menguraikan Rasulullah saw mencapai kedudukan tertinggi dari makhluk dengan mencapai kedudukan manusia kamil. dalam paparan lebih lanjut beliau menguraikan pula bahwa ketaantan kepada Ulil Amr disejajarkan dengan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah Saw. Artinya bahwa ketaatan kepada Ulil Amr ini karena Allah dan Rasulullah Saw adalah suci dan Ulil Amr harus suci pula. Barometer ketaan ini adalah kemaksuman. Keluaraga suci rasulullah saw yang telah dimaksumkan oleh Allah menduduki kedudukan mulia sebagi pribadi-pribadi yang wajib ditaatidan mereka adalah Ulil Amr yang dimaksudkan oleh Allah itu. Karena barometer ketaatan adalah kemaksuman maka Sayyidah Fathimah Zahra juga sebagi pribadi yang wajib untuk ditaati

Sebelum mengakhiri ceramhnya beliau memanjatkan doa kepada yang hadir juga kepada kaum mukminin mukminat, dan muslimin muslimat.

Peringatan Maulid Yayasan Al-Muntadzar12 Semarak Melibatkan Warga

foto : wardianto

Samarinda-Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1431 Hijriah yang jatuh pada, Sabtu malam(6/3), diadakan oleh Yayasan Al-Muntadzar12 Samarinda bekerjasama dengan pengurus Masjid Babul Jannah Samarinda, kalimantan Timur (Kaltim) dipadati beberapa ikhwan dan akhwat maupun warga di sekitar Masjid.

Peringatan puncak perayaan yang berlangsung sekitar pukul 20.00 wita itu juga menghadirkan penceramah dari Islamic Cultural Center (ICC Jakarta) Syekh Jawad Ibrahimi dan Ustadz Abdullah Hinduan sebagai penterjemah

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dipusatkan di Lingkungan warga jalan Merdeka itu adalah Rangkaian dari Safari Syekh jawad Ibrahimi yang sebelumnya pada hari Jum’at malam (5/3) telah dilangsungkan acara SILATURRAHMI SYEKH JAWAD IBRAHIMI DENGAN IKHWAN & AKHWAT di Yayasan Al-Muntadzar12. Setelah ini beliau mengisi acara yang sama  di Donghwa Penajam Paser Utara, di Yayasan Ghipari Tenggarong, di Yayasan Al-Qo’im Kaltim Samarinda pada hari selasa malam (9/3), dan Yayasan Gerbang Ilmu Sangatta.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dilaksanakan oleh Yayasan Al-Munthadzar12 bekerjasama dengan Masjid Babul Jannah ini sudah pernah beberapa kali dilaksanakan dengan tujuan demi siar Islam, ukhuwah Islamiyah serta mengenang hari kelahiran nabi besar Muhammad SAW sebagai Nabi yang Uswatun Khasanah pembawa kebajikan bagi umat manusia yang ada di muka bumi ini.

Untuk menyemarakkan kegiatan tersebut, panitia telah bekerja ekstra keras dengan menjalin kersama beberapa Yayasan dilingkungan Kota Samarinda dan Tenggarong serta pengurus-pengurus Masjid maupun warga masyarakat.

Inti ceramah Syekh Jawad Ibrahimi yang menggunakan bahasa Persia yang diterjemahkan Oleh Ustadz Abdullah Hinduan adalah lahirnya Rasulullah Saw sebagai Rahmat Bagi keseluruhan alam dengan menghilangkan perbedaan ras, suku bangsa, agama, strata ekonomi, dan perbedaan-perbedaan lainya dan menjujung persamaan manusia. “tidak ada perbedaan orang Indonesia dan Iran, tidak ada bedanya laki-laki dan perempuan, tidak ada bedanya yang kaya dan yang miskin, tidak ada bedanya Islam dan agama lainnya.” tuturnya.

Acara ini dipandu oleh pembawa acara dari Masjid Babul Jannah, dirangkai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an kemudian ditutup dengan do’a (

.

Syi’ah politik adalah mereka yang memiliki cita-cita politik untuk membentuk negara Islam

Syi’ah politik aktivitasnya menekankan pada penyebaran ide-ide politik dan pembentukan lapisan intelektual Syi’ah

Strategi dakwah Syi’ah politik pada awalnya menggunakan pendekatan kampus. Beberapa kampus yang menjadi basisnya adalah Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Jayabaya Jakarta, Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun karena gagal dan kalah berkembang dengan kelompok Ihwan, akhirnya pada tahun 1990-an strateginya diubah. Kini kelompok Syi’ah keluar dari kampus dan mengembangkan dakwahnya langsung ke tengah masyarakat melalui pendirian sejumlah yayasan dan membentuk ormas bernama IJABI (Iakatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Yayasan-yayasan itu sebagian mengkhususkan pada kegiatan penerbitan buku, sebagian lainnya membangun kelompok-kelompok intelektual dengan program beasiswa ke luar negeri (ke Qum, Iran) dan sebagian lagi mengembangkan kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.

Sejauh yang dapat diketahui, generasi program beasiswa ke Qum, Iran, yang pertama adalah Umar Shahab dan Husein Shahab. Keduanya berasal dari YAPI, Bangil, dan pulang ke Indonesia tahun 1970-an. Kedua tokoh inilah yang mengembangkan Syi’ah dikalangan kampus pada awal 1980-an. Tidak banyak yang berhasil dikader dan menjadi tokoh. Dari UI misalnya, diantaranya adalah Agus Abubakar dan Sayuti As-Syatiri. Dari Universitas Jayabaya muncul Zulfan Lindan, dan dari ITB muncul Haidar Bagir. Namun perlu digarisbawahi, di luar jalur kedua tokoh diatas, pada pertengahan 1980-an muncul Jalaluddin Rahmat sebagai cendekiawan Syi’ah.

Namun seiring berhasilnya revolusi Islam di Iran, sejak 1981 gelombang pengiriman mahasiswa ke Qum mulai semakin intensif. Generasi alumni Qum kedua inilah yang sekarang banyak memimpin yayasan-yayasan Syi’ah dan  menjadi pelopor gerakan Syi’ah di Indonesia.

Kini, gerakan Syiah di Indonesia diorganisir olehl Islamic Cultural Center (ICC), dipimpin Syaikh Mohsen Hakimollah, yang datang langsung dari Iran. Secara formal organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. ICC Jakarta dibawah kendali dan pengawasan langsung Supreme Cultural Revolution Council (SCRC) Iran.

Di bidang pendidikan ICC mengorganisir lembaga-lembaga pendidikan, sosial dan penerbitan yang jumlahnya sangat banyak dan bertebaran diberbagai daerah. Sedangkan dibidang dakwah, ICC bergerak di dua sektor, pertama, gerakan kemasyarakatan, yang dijalankan oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait (IJABI), kedua, gerakan politik, yang dijalankan oleh yayasan OASE. Yayasan ini mengkhusukan bergerak dibidang mobilisasi opini publik. Sedangkan untuk bidang gerakan politik dan parlemen dikomandani oleh sejumlah tokoh. Strategi politik parlementer yang mereka tempuh ini dilakukan dengan cara menyebarkan kader ke sejumlah partai politik.

Mengenai IJABI sebagai motor gerakan kemasyarakatan, hingga sekarang strukturnya telah meluas secara nasional hingga di Daerah Tingkat II. Tentu format yang demikian dapat  menjadi kekuatan efektif untuk memobilisasi pengaruh dan kepentingan politik. Kader-kader IJABI selain telah banyak yang aktif di dunia kampus, kelompok-kelompok pengajian, lembaga-lembaga sosial dan media, di daerah-daerah juga telah banyak yang menjadi anggota parlemen. Di level daerah inilah IJABI memiliki peranan penting sebagai simpul gerakan dakwah dan politik di masing-masing daerah.

…………..

“Maka apakah mereka tidak melakukan “Nazhor” (memperhatikan) unta, bagamana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gemunung, bagaimana mereka ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dibentangkan?

Q.S. Al-Ghaasyiyah: 17-20

Bagaimana perasaan Anda, jika mengetahui sedikit informasi tentang alam semesta dari seorang ilmuwan? Misalnya, ia mengatakan bahwa alam semesta asalnya hanya sebuah materi yang berada pada volum titik nol (ketiadaan), kemudian terjadi dentuman besar (big bang) sehingga langit dan bumi terpisah seperti yang kita saksikan sekarang. Galaksi yang kita huni ini sebetulnya hanyalah bagian kecil—jika tidak mengatakannya seperti debu—dari miliaran bintang gemintang dan planet-planet lainnya di tatar jagat raya. Langit yang senantiasa memayungi kita tanpa tiang ini pun sebetulnya terus mengembang menjauhi bumi dengan kecepatan tinggi.

Ilmuwan itu juga mengatakan, bahwa matahari sebagai pusat garis edar Bumi pun mempunyai garis edaranya, di mana ia berputar di jalurnya mengelilingi pusat edar. Di luar angkasa juga ada sebuah lubang hitam (black hole: bintang mati), dimana daya hisap gravitasinya sangat besar, sampai-sampai mampu menghisap dirinya sendiri dan benda yang bergerak didekatnya sebesar dan secepat apapun. Dan Ia juga mengatakan, Ratusan, ribuan, bahkan jutaan miliar benda planet yang ada di luar angkasa berjalan pada garisnya masing-masing, tidak berkeliaran dengan bebas, sehingga antar bintang dan planet tidak saling betabrakan.

Selain tentang luar angkasa, bagaimana jika Anda mengetahui sedikit Informasi tentang Bumi dari ilmuwan pula. Bahwa, daratan yang ada di Bumi, di mana gunung-gemunung ditancapkan di atasnya, itu senantiasa bergerak—melaju bukan bergetar—kendati sangat lambat. Juga, laut yang terdiri dari jutaan miliar liter air. Itu tidak semua airnya bercampur. Seperti gelas yang berisi air manis dan air tawar. Kedua airnya tidak menyatu, dari satu sisi kita merasakan airnya tawar, dari
sisi lain airnya manis, padahal kedua air itu menempati gelas yang sama. Seperti analogi itu, air laut pun benar-benar ada yang terpisah. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa kendati air di laut dalam satu wadah, namun airnya itu berkelompok-kelompok (tidak campur).

Juga, di dalam dedaunan dari tetumbuhan, itu ada unsur apinya. Yakni setiap zat hijau daun (klorifil) itu menyimpan energi panas yang dipancarkan matahari melalui proses fotosintesis. Dan, awan-gemawan yang hilir mudik di langit itu mengangkut jutaan bahkan miliar liter air, yang suatu saat akan ditumpahkannya kebumi menjadi hujan. Dan, Tahukah Anda ? alam semesta yang secara indrawi sangat besar ini. sesungguhnya semua itu hanya partikel-partikel yang sangat kecil terdiri dari atom atau molekul.

Sekali lagi, bagaimana perasaan Anda mengetahui informasi—tepatnya pengetahuan—itu dari seorang ilmuwan terkemuka zaman sekarang? Percaya atau tidak? Subjektivitas saya, kalau ilmuwan terkemuka yang mengatakannya, akan banyak orang yang percaya.

Lalu, bagaimana kalau Anda mengetahui pengetahuan itu dari seorang manusia yang bukan ilmuwan, tidak pernah sekolah, bahkan ia juga tidak pandai membaca dan menulis (ummy) pada abad ketujuh. Dia menceritkan kejadian-kejadian itu berdasarkan pengetehuan yang diperolehnya dari kitab suci al-Quran pada abad ke-7, dimana pengetahuan manusia pada ilmu alam sangat terbatas, bahkan belum sampai pada hal-hal yang disebutkan tadi.

Sekarang yang jadi pertanyaan bukan pada seorang ummy itu. Meleinkan apa yang disampaikan al-Quran itu. Percayakah Anda apa yang disampaikan al-Quran itu ucapan manusia? Merasa takjubkah Anda sebuah Kitab telah “bercerita” tentang ilmu pengetahuan modern yang ditemukan baru-baru ini dengan berbagai perabot canggih, tapi Kitab itu sudah menyinggungnya pada abad ke-7?

Anda berhak menjawabnya, sesuka Anda.
***
Mengimani seluruh ayat-Nya

Saat al-Quran diturunkan, manusia tidak mengerti sama sekali tentang ilmu alam—kalau pun ada—hanya samara-samar dan masih sangat terbatas. Maksudnya, ilmu tentang alam semesta yang dimiliki manusia saat itu, pengetahuannya belum sampai menemukan apa-apa yang telah di ungkapkan al-Quran. Dan, barulah sekitar abad lima belas ke sini, para ilmuwan mencapai puncaknya dalam pengetahuan tersebut. Sehingga, ayat-ayat “kauniyah” (ayat yang menceritakan tentang alam semesta), beberapa kebenarannya mulai terbukti melalui penemuan-penemuan mereka.

al-Quran adalah Kitabnya umat Islam. Seharusnya yang pertama kali bisa mengungkap “rahasia alam semesta” dalam pandangan “sains modern” itu orang Islam. Sejatinya, jika Muslim memang mengerti dan “membaca” al-Quran, walaupun ia tidak bisa mengungkap alam semesata, minimal ia tahu tentang kejadian itu secara garis besar. Sebagaiamana al-Quran menginformasikannya.

Di sini, sepertinya kita sebagai muslim harus berpikir sejenak. Betulkah kita sudah “membaca” seluruh ayat al-Quran? Yakinkah bahwa al-Quran itu sebagai “pedoman” sekaligus sebagai “induknya pengetahuan”? al-Quran memang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman kehidupan. Namun, kita jangan hanya membidik ayat-ayat tentang ubudiyah saja, apalagi ayat itu untuk menyerang sesama saudara Muslim. Salah besar jika al-Quran hanya pedoman ritual ibadah saja. Sebab, selain ayat tentang ibadah, akidah dan tauhid, al-Quran juga menyajikan ayat-ayat ‘kauniyah’. Yaitu, ayat-ayat yang menjelaskan atau menceritakan tentang alam semesta, sifat, sikap, dan gejalanya.

Sebagai “pembaca” kitab suci Islam, tidaklah baik mengimani sebagian ayat dan mengacuhkan bahkan tidak menganggap penting ayat yang lainnya. Sebab Allah SWT menceritakan tentang “kauniyah” di dalam al-Quran, tentu saja agar hal itu diyakini kebenarannya dan dipikirkan kejadiannya. Al-Quran beberapa kali mengatakan “ulul al-bab, ulul al-abshar, …tafakkarun, … ta’qilun, … tadabbarun, … dll”, semua kata itu mempunyai konotasi yang sama, yakni Penggunaan akal”. Yang esensinya, betapa hamba Allah harus memahami betul-betul ayat-ayat Allah. Karena, pada ungkapan itu Allah cenderung menyinggung “pikiran” dari pada “hati”. Artinya, tentu saja agar kita bisa memahami kehidupan (alam semesta), bukan sekadar melihat dan merasakan keindahannya.

Dalam beberapa tempat Al Qur’an memberikan Isyarat Ilmiah yang kebenarannya telah dibuktikan oleh sains modern Abad 20. Sehingga bisa dikatakan bahwa ia adalah dalil terbesar akan kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah swt. Inilah yang disebut dengan Mukjizat Sains/Ilmiah dalam Al Qur’an.

Untuk memahami kebenaran ayat sains tentu tidak cukup hanya dengan membaca Al Qur’an dan tafsirnya. Karena ungkapan Alqur’an bersifat global atau tidak merincinya secara detail dan ilmiah. Untuk memahaminya kita perlu merujuk kepada sumber-sumber ilmiah lain yang lebih rinci menjelaskan ayat-ayat tersebut.

Kebenaran mutlak tentang sains yang disebutkan Al Qur’an tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran mutlak hasil penemuan Ilmiah modern. Sedangkan ayat Al qur’an yang masih diperselisihkan maksudnya (dzonniyyud dalalah) tidak bisa dijadikan dalil bagi penemuan ilmiyahh yang masih diragukan.

Ayat-ayat sains merupakan pembenaran dari Firman Allah saw : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar”. (QS. Fushshilat : 53). Ia adalah ajakan untuk beriman, berpengetahuan dan beramal. Sekaligus sebagai sarana paling ampuh untuk berdakwah di kalangan para scientist khususnya di dunia barat.

Demikianlah sekilas panduan dalam memahami ayat-ayat sains. Adapun untuk memahami kandungan ayat demi ayatnya, kita perlu merujuk pada sumber-sumber lain seperti buku-buku astronomi, kedokteran, biologi dan sebagainya.

Catatan :

Isyarat-isyarat sains dalam Al Qur’an sebenarnya jauh lebih banyak dari yang telah dirinci dalam “Indeks ayat sains dan teknologi dalam Al Qur’an”. Namun hanya ayat-ayat yang memiliki kaitan erat dan kandungan sainsnya lebih banyak yang disebutkan disini. Sementara ayat yang kaitannya terlalu jauh tidak dimasukkan ke dalam daftar.

Kita, di dunia ini, tidak pernah bisa melihat Allah. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Allah memang ada dan tidak ada sekutu bagi-Nya? Dan bagaimana kita bisa mengenal-Nya?

Memang, Allah telah menetapkan bahwa kita tidak akan bisa melihat-Nya di dunia ini, namun Allah telah menampakkan kepada kita ayat-ayat-Nya. Kemudian, Allah telah menganugerahkan kepada kita akal pikiran dan hati agar kita bisa memahami ayat-ayat-Nya.

Allah telah menyediakan untuk kita dua jenis ayat. Yang pertama, ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya. Al-Qur’an adalah ayat qauliyah. Yang kedua, ayat kauniyah, yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos). Bahkan diri kita baik secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS Fushshilat ayat 53:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Hubungan antara Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah

Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah terdapat hubungan yang sangat erat karena keduanya sama-sama berasal dari Allah. Kalau kita memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an, kita akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah satu diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam QS Adz-Dzariyat ayat 20-21:

“Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Dalam ayat diatas, jelas-jelas Allah mengajukan sebuah kalimat retoris: “Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain adalah perintah agar kita memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada di bumi dan juga yang ada pada diri kita masing-masing. Inilah ayat-ayat Allah dalam bentuk alam semesta (ath-thabi’ah, nature).

Dalam QS Yusuf ayat 109, Allah berfirman: “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”

Ini juga perintah dari Allah agar kita memperhatikan jenis lain dari ayat-ayat kauniyah, yaitu sejarah dan ihwal manusia (at-tarikh wal-basyariyah).

Disamping itu, sebagian diantara ayat-ayat kauniyah juga tidak jarang disebutkan secara eksplisit dalam ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an. Tidak jarang dalam Al-Qur’an Allah memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan ketika para ilmuwan menyelidiki dengan seksama paparan dalam ayat-ayat tersebut, mereka terkesima dan takjub bukan kepalang karena menemukan keajaiban ilmiah pada ayat-ayat tersebut, sementara Al-Qur’an diturunkan beberapa ratus tahun yang lalu, dimana belum pernah ada penelitian-penelitian ilmiah.

Karena itu, tidak hanya ayat-ayat qauliyah yang menguatkan ayat-ayat kauniyah. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah juga senantiasa menguatkan ayat-ayat qauliyah. Adanya penemuan-penemuan ilmiah yang menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Al-Qur’an tidak diragukan lagi merupakan bentuk penguatan ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah.

Kewajiban Kita terhadap Ayat-ayat Allah

Setelah kita mengetahui bentuk ayat-ayat Allah, yang menjadi penting untuk dipertanyakan adalah apa yang harus kita lakukan terhadap ayat-ayat tersebut. Atau dengan kata lain, apa kewajiban kita terhadap ayat-ayat tersebut? Dan jawabannya ternyata hanya satu kata: iqra’ (bacalah), dan inilah perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq: 1-5)

Lalu bagaimana kita membaca ayat-ayat Allah? Jawabannya ada pada dua kata: tadabbur dan tafakkur.

Terhadap ayat-ayat qauliyah, kewajiban kita adalah tadabbur, yakni membacanya dan berusaha untuk memahami dan merenungi makna dan kandungannya. Sedangkan terhadap ayat-ayat kauniyah, kewajiban kita adalah tafakkur, yakni memperhatikan, merenungi, dan mempelajarinya dengan seksama. Dan untuk melakukan dua kewajiban tersebut, kita menggunakan akal pikiran dan hati yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Mengenai kewajiban tadabbur, Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang lalai melakukannya. Allah berfirman dalam QS Muhammad ayat 24: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Dan mengenai kewajiban tafakkur, Allah menjadikannya sebagai salah satu sifat orang-orang yang berakal (ulul albab). Dalam QS Ali ‘Imran ayat 190 – 191, Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Tujuan Membaca Ayat-ayat Allah

Tujuan utama dan pertama kita membaca ayat-ayat Allah adalah agar kita semakin mengenal Allah (ma’rifatullah). Dan ketika kita telah mengenal Allah dengan baik, secara otomatis kita akan semakin takut, semakin beriman, dan semakin bertakwa kepada-Nya. Karena itu, indikasi bahwa kita telah membaca ayat-ayat Allah dengan baik adalah meningkatnya keimanan, ketakwaan, dan rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat qauliyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfal: 2)

Dan yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat kauniyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran: 191)

Selanjutnya, kita juga membaca ayat-ayat Allah agar kita memahami sunnah-sunnah Allah (sunnatullah), baik itu sunnah Allah pada manusia dalam bentuk ketentuan syar’i (taqdir syar’i) maupun sunnah Allah pada ciptaan-Nya dalam bentuk ketentuan penciptaan (taqdir kauni).

Dengan memahami ketentuan syar’i, kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan syariat yang ia kehendaki, dan dalam hal ini kita bebas untuk memilih untuk taat atau ingkar. Namun, apapun pilihan kita, taat atau ingkar, memiliki konsekuensinya masing-masing.

Adapun dengan memahami ketentuan penciptaan, baik itu mengenai alam maupun sejarah dan ihwal manusia, kita akan mampu memanfaatkan alam dan sarana-sarana kehidupan untuk kemakmuran bumi dan kesejahteraan umat manusia. Dengan pemahaman yang baik mengenai ketentuan tersebut, kita akan mampu mengelola kehidupan tanpa melakukan perusakan

Maktabah Alawiyyin Syiah Imamiyah 12 Indonesia, tahun 1379 H
Dari kiri Ali Baqir al-Musawi, Doktor Muhammad Sa’id Thayyib, Sayyid Hasyim as-Salmân, almarhûm Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, Doktor Sâmi dan Amin al-Aththâs.
Habib Ali Al Habsyi Kwitang, habib Ali Al Atthas Bungur, dan Syeikh Mudzaffar Ulama Syiah berdo’a bersama
Habib Ali Al Habsyi Kwitang, habib Ali Al Atthas Bungur, Ulama Syiah Syeikh Mudzaffar, Habib Salim Bin Jindan
Ulama Syiah Syeikh Mudzaffar bersama Habib Salim Bin Jindan
JANGAN ADA LAGI INSIDEN SEPERTI ANTARA PONDOK YAPI DAN KELOMPOK ASWAJA. MESKI HABIB SALIM BIN JINDAN DAN SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI ADALAH SUNNI, BELIAU TETAP MAU DUDUK DAN FOTO BERSAMA DENGAN ULAMA SYIAH. TIRULAH BELIAU-BELIAU. JANGAN ADA LAGI KEKERASAN ANTARA SUNNI DAN SYIAH. APALAGI KEKERASAN YANG DIKOBARKAN OLEH SEBAGIAN MURID ULAMA YANG ADA DI ATAS.

.
Syekh Ahmad Deedat, kristolog masyhur yang juga seorang ulama suni mengatakan:
“Saya katakan kenapa Anda tidak bisa menerima ikhwan Syiah sebagai mazhab kelima? Hal yang mengherankan adalah mereka mengatakan kepada Anda ingin bersatu. Mereka tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. Mereka berteriak “Tidak ada suni atau Syiah, hanya ada satu, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah belah. Bisakah Anda membayangkan, kita suni adalah 90% dari muslim dunia dan 10%-nya adalah Syiah yang ingin menjadi saudara seiman, tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka (Syiah) yang seharusnya ketakutan.”

.

Hingga saat ini Iran disebut-sebut sebagai negara Islam yang paling maju terutama dalam bidang Sains diantara negara-negara Islam lainnya. Tapi negara inipun masih belum juga diakui sebagai salah satu negara maju (secara keseluruhan), diantara negara-negara lain di dunia. Sedangkan Israel, yang masih dalam kontroversi (karena wilayahnya yang merupakan hasil rampasan dari wilayah Palestina), sudah mendapat pengakuan dan predikat sebagai salah-satu negara maju di dunia.

Sekarang, apakah menjadi negara maju itu harus?. Sebagian besar dari kita pasti menjawab “Ya”. Tapi, coba kita lihat sekali lagi, apakah Islam itu cocok untuk kehidupan masyarakat negara maju seperti Jepang ataupun Amerika Serikat?—Yang notabene adalah negara super power yang saat ini memengang kendali Dunia. Saya rasa “Tidak Terlalu”. Ya, kenapa saya berpendapat demikian?.

Lihatlah kehidupan warga negara Amerika Serikat yang begitu bebas, termasuk untuk perilaku seks bebas (yang menimbulkan HIV-AIDS). Dan saat ini, ada 14 negara bagian di AS yang melegalkan marijuana, yaitu: Alaska, California, Colorado, Hawaii, Maine, Maryland, Michigan, Montana, Nevada, New Mexico, Oregon, Rhode Island, Vermont dan Washington.

negara maju di barat

Atau kehidupan warga negara Jepang yang dikenal sebagai pekerja keras, memiliki penanganan medis yang sangat baik, dan standar hidup yang tinggi, yang membuat mereka memiliki harapan hidup yang lebih panjang. Tapi, ketahuilah kebanyakan dari mereka hidup penuh tekanan, hal ini dapat dilihat dari predikat Jepang yang merupakan salah-satu negara dengan tingkat kasus bunuh diri paling tinggi di dunia.

jepang negara bunuh diri tertinggi

Di bawah ini, adalah peta yang menunjukkan pembagian negara-negara berdasarkan jumlah kasus bunuh dirinya:

kasus bunuh diri negara maju

Rata-rata kasus bunuh diri:
Merah: di atas 13
Kuning: 6.5-13
Biru Tua: kurang dari 6.5
Abu-abu: Tidak ada

Apa gunanya angka harapan hidup yang tinggi, kalau banyak yang bunuh diri karena tekanan hidup yang berlebih?.

Seperti yang kita ketahui, bagi kita umat Islam, bunuh diri ataupun mencoba bunuh diri merupakan salah satu dosa yang paling besar di hadapan Allah Swt. Dan lihatlah negara-negara mayoritas penduduk Islam, di daerah Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika, hampir tidak tercatat adanya kasus bunuh diri disana.

Selain itu, negara-negara maju juga sudah melegalkan perjudian maupun minuman beralkohol di negaranya. Di negara maju yang super sibuk, tentu memiliki jam kerja yang begitu padat hingga larut malam, dan mereka hampir tidak memiliki waktu istirahat (mungkin termasuk untuk Shalat). Bahkan saat ini, di Italia (dan mungkin dinegara-negara maju lainnya), muncul sebuah kebijakan “aneh” yaitu, melarang para pekerja Muslim untuk berpuasa di bulan Ramadhan karena alasan keseahatan (Larangan tersebut dikeluarkan Komite Keselamatan Kegiatan Pertanian Italia. Mereka mengharuskan pekerja di ladang, termasuk Muslim, untuk tetap makan dan minum selama Ramadhan). Dan bagi mereka yang melanggar, dipecat adalah konsekuensinya.

Alkohol merupakan salah satu penyebab utama tindakan kriminal (Bahkan sudah dijelaskan dalam sebuah kisah Islami, bahwa alkohol bisa membuat seseorang nekad untuk memperkosa dan lalu membunuh). Karena legalitas dari alkohol di negara-negara maju. maka inilah hasilnya:


Secara perhitungan “kasar”, negara-negara maju seperti, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan Jepang berada di enam teratas, sebagai negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia (Meskipun tidak semua tindak kriminalitas dinegara-negera maju tersebut merupakan kejahatan yang disebabkan oleh minuman beralkohol). Dan anda tidak akan menemukan negara Islam sampai urutan ke 32 (Turki). Dan hanya beberapa negara Islam yang masuk dalam 82 negara dalam daftar tersebut.

Jadi, apakah kehidupan penduduk di negara maju saat ini, bisa berjalan sesuai syariat Islam?. Mungkin dulu ya, tapi sekarang tidak. Coba bandingkan kehidupan kita dengan orang-orang di barat sana. Mengapa dinegara kita yang masih banyak terdapat orang-orang muslim yang taat beribadah, justru tertinggal dari meraka (orang barat) yang hidup penuh kebebasan dan sangat jauh dari syariat Islam, tapi mereka berhasil mendirikan negara-negara yang maju.

Tapi, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang, kejayaan Islam akan bangkit kembali dengan cara yang tidak kita duga-duga.

Namun, “Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing” (HR Muslim).

Mungkin saja kita sedang dalam masa kembalinya Islam, siapa tahu? Wallah hu Alam, kiamat semakin dekat bukan?, dan saat itu, sudah tidak ada lagi orang-orang yang beriman alias kaum Muslimin. Berdasarkan hadits-hadits shohih, Nabi Muhammad Saw. Sebelum kiamat terjadi, tanda-tanda besar akan bermunculan, ketika kiamat sudah dekat sekali (seribu tahun mungkin dianggap dekat, mengingat sejarah bumi yang begitu panjang). Maka Allah Swt, akan mendatangkan sebuah angin sejuk yang menyebabkan setiap orang beriman menemui ajalnya saat tersentuh angin tersebut. Sebab Allah Swt, tidak akan mengizinkan kiamat terjadi ketika masih ada kaum beriman di muka bumi walau hanya seorangpun.

Saya samasekali tidak bermaksud, membuat anda berfikir bahwa “Islam merupakan penghalang suatu negara untuk maju di jaman yang modern ini”. Tapi, yang ingin saya tekankan adalah “Apa yang baik di mata manusia belum tentu baik di hadapan Allah Swt.”, dan “Tak mengapa miskin di dunia, asalkan tak miskin di Akhirat”. Bukankah seseorang yang “ndeso”, miskin, berkulit hitam, dan berbibir tebal sekalipun, akan lebih baik di hadapan Allah Swt, ketika ia memiliki keimanan yang teguh kepada-Nya. Daripada seseorang (ilmuwan sekalipun) yang mendapat puja dan puji karena kecerdasannya, kaya raya, modern, atau berpenamplian sangat menarik, tetapi ia tidak percaya akan adanya Tuhan, yaitu Allah Swt. Dan bukan berarti saya menganggap miskin itu lebih baik dan menjadi kaya dan maju itu adalah buruk. Karena miskin dan kaya itu relatif (tergantung dari sudut pandang apa kita melihatnya).

Agnes Monica sang Nasrani dipuja puja para remaja muslim karena mengajarkan “cinta” melalui lagu lagu dan sinetron…

Akibat kelakuan para artis maka anak anak Jamal Mirdad yang ikut agama ibunya dianggap sah sah saja…

perkawinan antar agama oleh para artis kini seolah hal hal biasa saja..

Atas nama cinta para artis maka agama menjadi rusak…

Ulama sunni diam karena kualitas mereka dan pengaruh mereka tidak relevan dengan tantangan zaman…

Siti Nurhaliza  dengan bebas bisa memamerkan aurat disebuah negara yang mengklaim dirinya Islam…

Para ulama Malaysia terdiam dan menikmatinya…

Ujung ujungnya malah syi’ah yang dikejar kejar dan dituduh sesat…

Wow ! Artis dianggap lebih suci daripada mazhab ahlulbait !

………………………………………..

 Sabtu, 09 April 2011

Ulama Syiah Ancam Aktifkan Milisi jika Pasukan AS Tak Tinggalkan Irak

Moqtada al-Sadr mengatakan para pendukungnya akan melanjutkan pertempuran jika pasukan AS tetap berada di Irak setelah akhir tahun ini.

Foto: AP
Ulama radikal Syiah Irak, Muqtada al-Sadr saat melakukan shalat Jumat di Kufa (14/1).

Ulama Syiah yang berpengaruh, Moqtada al-Sadr, mengatakan para pendukungnya akan melanjutkan pertempuran mereka melawan pasukan Amerika di Irak jika pasukan Amerika tetap berada di Irak melampaui batas waktu untuk menarik diri pada akhir tahun ini.

Seorang juru bicara membacakan pernyataan dari ulama itu hari Sabtu kepada ratusan ribu pendukungnya yang berkumpul di Baghdad. Milisi Laskar Mahdi pimpinan Sadr bertempur melawan pasukan Amerika selama bertahun-tahun setelah invasi Amerika ke Irak, sampai gencatan senjata dinyatakan tahun 2008.

Pengumuman Moqtada al-Sadr itu dikeluarkan setelah Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates mengatakan kepada pasukan Amerika di Irak bahwa Amerika Serikat akan bersedia untuk tetap menempatkan pasukan militernya di Irak setelah akhir tahun ini jika pemerintah Irak menghendakinya.

Sekarang ini, kurang lebih 47.000 tentara Amerika masih berada di negara itu untuk melatih pasukan keamanan Irak. PM Irak Nuri al-Maliki baru-baru ini mengatakan, kemampuan angkatan bersenjatanya makin meningkat untuk menjaga keamanan Irak

.

oleh  Amin Farazala  Al malaya ( nick name : Ustad Syi’ah Ali / Ibnu Jakfari )

( Membantah Yayasan Al Bayyinat /  Thohir Abdullah Al-Kaff )

———————————————————————————————-

Pergerakan Syi’ah di Indonesia

Berlian tak perlu digembar-gemborkan lagi tentang mahal dan keistimewaannya,

yang paling penting adalah bagaimana memasarkannya agar setiap orang
–yang tidak memiliki uang sekalipun—dapat memilikinya!

Keberhasilan dakwah Syi’ah di Tanah Air, jelas tidak terlepas dari gerakan mereka yang tersusun rapih, sistematis, dan terorganisir. Terbukti, betapa gencarnya dakwah Syi’ah yang dilakukan dalam berbagai sarana dan prasarana sehingga mudah menyasar kaum mayoritas sunnah di mana pun dan bukan saja di Tanah Air.

Menurut satu di antara tiga teori sejarah awal kedatangan Syi’ah di Indonesia, Syi’ah baru datang setelah peristiwa Revolusi Islam Iran (RII) yang dimulai antara lain dengan tulisan-tulisan Ali Shariati disusul pemikir Islam Iran lain. Sebetulnya, banyak orang terpengaruh Syi’ah kerena peristiwa RII.

Perkembangan Syi’ah seolah menemukan momentumnya pasca Revolusi Iran 12 Januari 1979. Seperti umumnya terjadi di Indonesia, ia dibawa oleh para pelajar yang menuntut ilmu di Negeri Iran. Semenjak itu, Syi’ah menjadi wacana intelektual yang menarik perhatian. Diskusi-diskusi digelar, buku-buku karya ulama dan intelektual Syi’ah dikaji. Perlahan-lahan, Syi’ah pun mulai mendapatkan pengikutnya.

Seperti diakui Muhsin Labib, salah seorang penulis Syi’ah Indonesia, Revolusi Islam Iran yang diletuskan oleh Khomeini telah menjadi momentum historis bagi tersebarnya ajaran Ahlul Bait ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Keberhasilan Khomeini menumbangkan monarki Pahlevi yang menjadi anak emas Amerika di Timur Tengah telah membuat bangsa Indonesia terbelalak.

Para pemuda dan mahasiswa dengan antusiasme tinggi mempelajari buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan revolusioner Iran, seperti Murtadha Muthahhari dan Ali Shariati. Sejak saat itulah terjadilah gelombang besar masyarakat Indonesia memasuki ajaran Syi’ah. Maraknya antusiasme kepada Syi’ah, sebagai negara Muslim terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara, tentu berpengaruh terhadap berkembangnya ajaran Syi’ah di Malaysia dan kawasan Asia Tenggara.

Pada dekade terakhir ini, diskursus pemikiran Syi’ah kembali meramaikan kancah pergulatan pemikiran di Indonesia. Dalam banyak hal, ia merupakan bias logis angin perubahan (the wind of changes) yang ditiupkan oleh keberhasilan revolusi Islam Iran (RII) yang digerakkan oleh sekte Islam Syi’ah.

Tentang pengaruh revolusi tersebut, Dr. Richard N. Frye, ahli masalah Iran di Universitas Harvard, seperti dikutip Jalaluddin Rahmat, berkomentar, “Hubungan revolusi Islam (Syi’ah) di Iran dengan dunia ketiga, yakni bangsa-bangsa yang tidak memiliki kekayaan dan kekuatan di dunia, adalah sama seperti hubungan antara revolusi Perancis dengan bangsa-bangsa Eropa Barat. Revolsi Islam di Iran bukan hanya titik-balik dalam sejarah Iran saja. Revolusi itu juga merupakan satu titik-balik rakyat di seluruh negara-negara Islam, bahkan bagi massa rakyat di dunia ketiga.”

Revolusi Iran, dengan pemikir-pemikir yang mendukung di belakangnya, seperti Dr. Ali Shariati, MH. Thabathabai dan Murtadha Muthahhari, memberikan alternatif kepada mereka. Maka tidak mengherankan jika kita dapati sebagian intelektual Indonesia dengan begitu fasih mengutip Ali Shariati, Muthahhari atau pemikir-pemikir Syi’ah lainnya. Jalaluddin Rahmat, bahkan dengan jelas menamakan yayasan yang didirikannya: Yayasan Muthahhari, nama tokoh Syi’ah terkenal itu.

Pasca peristiwa 11 September 2001, invasi AS ke Irak, naiknya Ahmadinejad sebagai Presiden Iran dan kemenangan Hizbullah atas Israel adalah sebagian fenomena-fenomena global yang memengaruhi posisi dan grafik pertumbuhan ajaran Syi’ah di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya.

Saat ini, menurut keterangan Ahmad Barakbah –salah seorang alumni Qum Iran– seperti ditulis redaksi jurnal Ulumul Qur’an, di Indonesia terdapat kurang lebih 40 yayasan Syi’ah yang tersebar di sejumlah kota besar seperti Malang, Jember, Pontianak, Jakarta, Bangil, Samarinda, Banjarmasin, dan sebagainya.

Selain itu, peran lulusan Iran aktif menyebarkan paham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren. Di antaranya Ahmad Barakbah yang mendirikan Pesantren Al-Hadi di Pekalongan (sudah hangus dibakar massa), ada juga Husein Al-Kaff yang mendirikan Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih banyak puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perkembangan Syi’ah di Jawa pun tidak ketinggalan. Achmad Alatas, Ketua Yayaan Nuruts Tsaqolain Semarang menyebut, Habib Abdulkadir Bafaqih, pimpinan Pondok Pesantren Alqairat Bangsri Jepara sebagai ulama yang kali pertama terang-terangan menahbiskan diri sebagai penganut Syi’ah di Jawa Tengah. Ia yang sebelumnya seorang Sunni mulai mengajarkan akidah Syi’ah kepada santri-santrinya.

Menurut pusat data lembaga penelitian Syi’ah di Yogyakarta, Rausyan Fikr, seperti disampaikan dalam makalah yang ditulis oleh Pengurus wilayah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Yogyakarta, AM Safwan, pada tahun 2001, terdapat 36 yayasan Syi’ah di Indonesia dengan 43 kelompok pengajian. Sebanyak 21 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat provinsi, dan 33 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat kabupaten dan kota.

Namun dalam perkembangannya, justru kecenderungan untuk mempelajari Syi’ah makin meningkat. Buku-buku tentang Syi’ah pun dengan gampang bisa diperoleh di toko-toko buku. Bahkan lembaga atau komunitas Syi’ah juga berkembang pesat tanpa lagi takut dengan pelbagai gunjingan miring tentangnya. Menurut hasil hitungan Rausyan Fikr, hingga Februari 2001 saja, tidak kurang 373 judul buku mengenai Syi’ah telah diterbitkan oleh 59 penerbit yang ada di Indonesia.

Seiring dengan terbukanya era reformasi, tak dimungkiri menjadi semacam pintu yang begitu leluasa bagi kebangkitan sejumlah aliran keagamaan di Indonesia yang sebelumnya justru terpinggirkan. Satu di antaranya kaum Syi’ah. Setelah sekian lama bergerak di bawah tanah, mereka mulai berani menunjukkan eksistensi dirinya.

Dari cuplikan singkat sejarah di atas, penulis menyimpulkan sedikitnya ada empat strategi dakwah yang mereka lakukan bertujuan untuk membumikan keyakinan mereka di mana pun. Dengan menjadikan negara Iran sebagai pusat sumber ilmu ajaran Syi’ah, kebanyakan tokoh besar Syi’ah semuanya berasal dari Iran di mana misi-misi dakwah dijalankan oleh wakil-wakil Iran seperti pihak kedutaan, LSM, perusahaan maupun perdagangan bahkan hingga pusat-pusat pendidikan beberapa negara-negara Ahl al-Sunnah.

Adapun misi dakwah mereka ialah:

1.    Mempersiapkan dan mengkader juru dakwah yang terdiri dari segala bangsa
2.    Menerjemahkan dan meluaskan penerbitan buku-buku pro-Syi‘ah berbahasa Persia.
3.    Menjalankan proyek bantuan sosial dan kebajikan pada orang-orang miskin secara ikhlas
4.    Mendirikan situs-situs online dalam berbagai bahasa untuk misi perluasan jangkauan dakwah tanpa pengawasan ketat dari pihak pemerintah.

Sejak tumbangnya Syah Reza Pahlevi yaitu meletusnya Revolusi Iran pada tahun 1979 yang dipimpin oleh tokoh spiritual Ayatullah Khomeini sejak itu pula paham Syi’ah merembes ke berbagai Negara. Gema jihad melawan “kemungkaran” dan Iran lantas menembus hampir di seluruh dunia. Gerakan itu mendapat respons positif berupa terbentuknya solidaritas muslim dunia secara moral mendukung gerakan itu.

Ada aspek menarik dari gerakan itu, yaitu militansi ke-Islaman. Mungkin aspek itulah yang membentuk rasa solidaritas di dunia Islam. Lalu di Indonesia.

Beberapa lama kemudian di tanah air muncul kelompok-kelompok yang dinilai oleh beberapa pihak mengarah ke gerakan Syi’ah seperti di Iran atau muncul gema gerakan Syi’ah dihembuskan tokoh-tokoh Iran yang sengaja disebar ke beberapa negara. Barangkali itu yang disebut Ekspor Revolusi yang begitu dikhawatirkan.

Perkembangan Syi’ah atau yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait di Indonesia memang cukup pesat. Sejumlah lembaga yang berbentuk pesantren maupun yayasan didirikan di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan di luar Jawa. Dan membanjirnya buku-buku tentang Syi’ah yang sengaja diterbitkan oleh para penerbit yang memang berindikasi Syi’ah atau lewat media massa, ceramah-ceramah agama dan lewat pendidikan dan pengkaderan di pesantren-pesantren, di majelis-majelis ta’lim.

Gerak mereka tidak seragam ada yang begitu agresif dalam menda’wahkan Syi’ahnya dan ada juga yang lebih lambat. Ada yang terasa demikian frontal dan ada juga yang terkesan amat sensitif. Namun demikian semuanya menuju kepada titik yang sama, Syi’ah! Besar sekali memang dana yang dibutuhkan untuk mempropagandakan dan memperkenalkan revolusi itu, tetapi itu memang sangat dibutuhkan untuk mengangkat panji-panji revolusi. Memperkenalkan Syi’ah di panggung politik dunia dan yang terpenting mendesakkan kepada dunia Islam untuk mengakui keberadaan Syi’ah sebagai salah satu aliran yang sah di dunia Islam.

Apalagi vokalitas dalam mensikapi kekuatan Barat yang cenderung ingin menjadi penguasa dunia, semakin menarik perhatian kaum Muslimin

Syiah adalah sebuah mazhab yang sangat identik dengan perlawanan terhadap segala bentuk kebatilan, ketidak adilan dan segala macam model penindasan terhadap manusia. Dari awal kemunculannya yakni di masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, Syiah telah memperlihatkan eksistensi dan konsistensinya menegakkan hukum agama seperti apa yang diajarkan Muhammad SAW. Persis sama seperti yang di gambarkan Taha Husein yang menyatakan bahwa “Syiah adalah sebuah kekuatan yang berdiri tegar dan tegas, melawan kezaliman dan karenya Syiah eksis, kokoh dan semakin hidup”.

Di Indonesia, Mazhab ini berkembang sangat pesat terutama dikampus-kampus. Ini menjadi salah satu karakter mazhab ini karena selalu tumbuh dan berkembang di pusat-pusat ilmu pengetahuan. Karakter ini yang kemudian menjadi daya tarik sendiri, dan Syiah banyak diminati mahasiswa untuk mempelajari. Banyak kemudian yang tertarik dan menjadi pengikut mazhab ini.

Disisi lain, disaat  Indonesia dililit ketidak adilan Mazhab Syiah menawarkan model pembebasan yang sangat manusiawi. Terlebih lagi ketika Revolusi Islam Iran bergulir mazhab ini telah memperlihatkan model perlawanan yang efektif. Mazhab ini kemudian semakin tumbuh pesat bahkan sudah banyak pengikutnya dengan terang-terangan melakukan perlawanan terhadap ketidak adilan yang dilakukan pemerintah.

Pergerakan Syi’ah di sini akan penulis batasi pada konteks sekarang. Sebab yang lebih menarik, tentu bukan sekedar menengok pergolakan sejarah masa lalunya saja. Di mana mengenali pergerakan Islam Syi’ah kontemporer di Indonesia sangat diperlukan guna mengenali titik-titik kerawanan yang bisa muncul akibat ketidakmengertian kita menangkap sinyal-sinyal perbedaan “furuiyyah” mereka dengan Islam mainstream.

Paling tidak, pergerakan Syi’ah ini dapat kita lihat dari tiga sisi, yaitu; politik, intelektual dan sosial-keagamaan.

A. Pada Ranah Politik

Seperti yang diulas di atas, bahwa hampir terdapat kesepakatan mayoritas intelektual Muslim, bahwa kemunculan Syi’ah terkait dengan persoalan politik; atau tepatnya adalah perebutan hegemoni kepemimpinan politik umat Islam setelah mangkatnya Rasulullah. Sekalipun sebagian kalangan berharap agar “tragedi” tersebut dijadikan bagian dari sejarah masa lalu (the past histories), yang seharusnya dikubur atau dibuang jauh-jauh dari memori umat kini. Namun, nampaknya untuk sampai pada harapan ini, tidaklah semudah membalikkan telapang tangan. Justru bagi sebagian kalangan, legenda itu sengaja dijadikan sebagai simbol bagi tetap eksisnya clash lama menuju persaingan hegemoni politik atau “politik identitas”.

Dan dilematisnya, pertarungan ini semakin menemukan momentumnya pada saat-saat sekarang. Terutama paska keberhasilan revolusi Islam yang diusung oleh Imam Khomeini pada 1979, di mana secara tidak langsung revolusi ini menggiring mata dunia untuk mengenal satu bentuk konsep politik yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian, rentetan perang antara Irak vs Iran, Hizbullah (Lebanon) vs Israel, Amerika vs Irak dan Afghanistan; perang yang terakhir ini merupakan satu paket agenda Amerika untuk melawan terorisme internasional. Dan yang harus dicatat, negara-negara terakhir tersebut merupakan Negara Sunni mayoritas. Banyak kalangan, mengamati krisis yang terjadi di Negara Muslim khususnya di Timur Tengah ini, tidak terlepas dari problem sektarianisme kelompok yang mudah sekali “dimanfaatkan” baik bagi kepentingan imprealisme Barat, ataupun syahwat politik penguasa lokal.

Kalau kita ambil contoh dalam konteks relasi Sunni-Syi’ah saja, aroma politik ini lalu mudah dipetakan menjadi sebuah konflik yang telah menyejarah lama. Kongkritnya, Sunni menganggap, bahwa akhir dari drama peperangan ini merupakan awal dari kemenangan Syi’ah dalam meraih hegemoni kepemimipinan politik dunia. Atau pameo yang sering kita dengar adalah; dalam suatu pertarungan, biasanya akan ada kelompok yang keluar sebagai pemenang atau unsur yang diuntungkan sekalipun ia tidak terlibat langsung secara fisik. Seperti contohnya, Amerika yang berperang dengan Irak, setelah Irak kalah, dan Sadam Husein jatuh, kekuatan politik Syi’ah yang selama ini termarjinalkan menjadi bisa bernafas lega. Pertimbangannya cukup sederhana, sebab Sadam walau bagaimanapun adalah Sunni, dan tipikal kepemimpinan Sunni, sudah mereka (baca; Syi’ah) kenal sejak dulu; tidak akan memberikan kesempatan bagi sekte Syi’ah untuk “hidup” bebas.[Dapat dibaca sejarah klasik perang Shiffin; perang antara Muawiyyah dan Ali bin Abi Thalib, yang berakhir dengan terbunuhnya ahlul bait di Karbala-Irak. Banyak pemikir Syi’ah yang mengambil referensi termarjinalkannya Syi’ah masa kini dari sejarah kelam masa lalu itu, sehingga terminologi “mustad’afin” (orang-orang lemah/termarjinalkan) menjadi satu trend di khazanah pemikiran sosial-politik Syi’ah. Tragedi Karbala -yang sesungguhnya berpangkal dari perampasan hak politik Ali di Tsaqifah bani Sa’idah- bagi mereka tidak hanya memiliki dampak politis, akan tetapi juga dampak teologis. Di antaranya adalah, pemalsuan hadits, bermunculannya sekte-sekte ‘sempalan’ di umat Islam, pengingkaran atas kemaksuman Rasulullah dan para Imam ahlul bait, dll. Untuk lebih detil lihat: Dr. Asad al-Qasim, al-Khilafah wa al-Imamah wa Atsaruha al-Muashirah, Daar Ihya at-Turats, Qom-Iran, 1418 H.)
]

Sebaliknya bagi kalangan Syi’ah memandang, bahwa dengan kekalahan yang dialami oleh negara-negara Muslim Sunni mayoritas itu, ialah suatu starting point untuk merebut hegemoni politik, sebagai alternatif model kepemimpinan baru yang tidak lagi Sunni oriented. Bahkan sebagian pemikir Syi’ah menyebut kesempatan ini sebagai babak baru bagi sebuah kebangkitan Syi’ah di masa depan.[Untuk mengetahui pandangan ini secara lebih komferehensif, dapat ditemukan pada pemikir Syi’ah kontemporer, seperti Vali R. Nasr. Baca buku: Vali Nasr, “Kebangkitan Syi’ah, Islam, Konflik, dan Masa Depan”, Diwan Press, Jakarta, cet. I, 2007, (terjh. M. Ide Murteza).]

Pada konteks Indonesia, untuk mencapai target seperti yang telah diungkapkan tadi, barangkali masih sangat jauh. Tarik-menarik politik hegemoni tidak terlalu mempengaruhi alur pemikiran kalangan Syi’ah juga Sunni di Indonesia. Hal ini dapat disebabkan diantaranya, masih minimnya jumlah pengikut Syi’ah di Indonesia dan adanya penilaian masyarakat atas aliran ini sebagai sekte sempalan Islam yang ‘berbahaya’, sehingga tahapan yang sepertinya tengah dibangun saat ini adalah terbatas pada “politik pencitraan” dan transformasi ideologi dalam berbagai bentuk aktivitas yang “cenderung” inklusif dan tidak konfrontatif. Penegasan identitas kesyi’ahan hampir jarang ditampakkan pada ranah politik.

Suatu kondisi yang membedakannya dengan gerakan Islam politik semacam, organisasi “Usrah” (baca; Moslem Brotherhood- nya Indonesia), Hizbut Tahrir, Majelis Mujahiddin Indonesia, dan sebagainya. Bahkan sebenarnya kalangan Syi’ah di Indonesia dan juga di banyak negara di dunia, diam-diam mengkritisi sekaligus tidak merasa optimis dengan masa depan politik yang diusung oleh kalangan Islam politik yang penulis sebut di atas. Sebab menurut mereka, terbukti kurang berhasil dan hanya melahirkan “kegaduhan” politik di mana-mana. Serangkaian aksi kekerasan (terorisme) yang berlindung di jubah penegakkan hukum Allah, yang banyak dilakukan oleh kalangan Sunni seperti, Wahhabi, Salafi, Jihadi, Ikhwan dan sebagainya, bagi sebagian pendukung Syi’ah dianggap sebagai sebuah sikap yang keliru dan mencoreng nama Islam. Lebih-lebih pada kekerasaan sektarianisme kalangan-kalangan tersebut atas minoritas Syi’ah, yang masih menganggap Syi’ah lebih berbahaya dari pada orang-orang kafir yang halal darahnya.

Namun, iklim demokrasi di Indonesia mampu memberikan ruang aktualisasi pada berbagai aliran dan sekte apapun, termasuk di dalamnya Syi’ah. Bukan suatu hal yang mustahil sekte ini pun akan tergiur memberikan warna politiknya di panggung Indonesia. Sekalipun penulis masih ragu dalam waktu dekat ini akan dapat terwujud. Tantangan terbesar sejatinya tidak datang dari konstitusi, akan tetapi dari “konstituen” atau masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang bersedia menerima kehadiran Islam yang tidak menjadi mainstream Sunni masih terlalu sedikit. Banyak faktor yang menjadi kendalanya, di antaranya adalah pendidikan dan pengetahuan. Kalangan Syi’ah di Indonesia mengetahui benar dilema ini, maka jalur politik sementara waktu masih merupakan “barang haram” bagi mereka. Sehingga sekalipun mereka berpolitik, politik itu dimaknai dalam bentuk yang berbeda, seperti politik kerakyatan dan pendidikan yang tidak praktis, namun lebih menyentuh pada aspek sosial dan budaya.

B. Pada Ranah Intelektual

Senada dengan analisa Martin van Bruinessen,[Martin adalah seorang Indonesianist, ia sampaikan analisanya ini dalam makalah ilmiah, berjudul: “Sectarian Movements in Indonesian Islam: Social and Cultural Background"), Ulumul Qur'an, vol. III no. 1, 1992, hlm. 16-27. ] bahwa telah terjadi pergeseran orientasi di kalangan Syi’ah dari murni sebuah gerakan politik ke arah pergerakan intelektual. Hal ini terbukti dengan maraknya etos transformatif dari kalangan mereka, melalui usaha memperkenalkan khazanah pemikiran tokoh-tokoh terkenal Syi’ah yang tidak semata politik minded, namun disejajarkan dengan bidang-bidang humaniora lainnya. Hal ini merupakan indikasi baru; tengah adanya kesadaran intelektual dalam bentuk memperkenalkan studi filsafat dan sains Syi’ah di luar politik kepada pembaca lain di seluruh dunia.  Di tanah air, pergeseran ini antara lain terlihat dalam urutan terjemahan karya penulis Syi’ah: Ali Syari’ati disusul oleh Murtadha Muthahhari dan kemudian Baqir Al-Shadr. Khomeini pertama-tama dilihat sebagai pemimpin revolusi saja, kemudian juga sebagai ahli ‘irfan (tasawwuf dan metafisika). Sekarang diskusi-diskusi lebih sering berkisar sekitar filsafat atau persoalan ‘ishmah (apakah para Imam Duabelas ma’shum?) daripada situasi politik Iran.

Gairah intelektual muslim Syi’ah Indonesia ini juga tampak pada maraknya penerbitan-penerbitan buku yang mengusung ide-ide pencerahan ala Syi’ah. Penulis belum mengetahui secara pasti lembaga penerbit apa saja yang murni berasal dari proyeksi Syi’ah. Namun paling tidak, melihat beberapa karya yang sering mengusung gagasan kesyi’ahan ini, telah ratusan karya baik karangan buku, jurnal, majalah,  maupun terjemahan yang tersebar di seluruh Indonesia. Penulis ambil satu contoh saja, adalah jurnal ‘Al-Huda’ yang dikeluarkan oleh Islamic Cultural Centre (ICC) Jakarta, selalu mengetengahkan pemikiran revolusioner Syi’ah, mulai dari isu politik, filsafat, metafisika, sosiologi, mantik, tasawuf, fikih, tafsir, hadits dan lain-lain. Banyak juga mahasiswa Indonesia yang masih belajar di Iran menulis artikelnya pada jurnal ini, bahkan sekembalinya mereka ke tanah air ada yang menjadi manajer Jurnal tersebut. Sehingga, muatan tulisan yang dibaca begitu sangat aktual, karena nampaknya mereka selalu berusaha untuk menghadirkan kajian ini secara empirik dan dari sumbernya yang otentik.

Di samping itu, lembaga ICC ini juga aktif melakukan aktifitas lainnya, seperti amal bhakti sosial, kajian, perayaan hari besar Islam, peringatan hari-hari keramat Syi’ah, kerjasama lembaga inter dan intra negara, pelatihan-pelatihan, dan lain-lain.

Pendirian lembaga-lembaga riset dan kajian tentang kesyi’ahan di tanah air merupakan langkah yang patut kita apresiasi, dalam memberikan studi keislaman yang berbeda dari kajian-kajian biasanya. Studi keislaman seperti sejarah, fikih, tasawuf, teologi, filsafat, dan lain-lain di tanah air yang didominasi oleh satu atau dua warna aliran saja, masih belum bisa memperkaya khazanah keislaman yang dibutuhkan. Lebih-lebih dapat menyediakan jawaban atas pelbagai permasalahan-permasalahan baru. Penulis percaya, bahwa dengan semakin diperkenalkannya persfektif fikih Syi’ah (ahlul bait) contohnya, akan mampu memberikan alternatif solusi atas permasalahan fikih kontemporer. Fikih Ja’fari misalnya yang konon lebih dekat dengan fikih Syafi’i, sebisa mungkin disosialisasikan dan diaplikasikan dalam forum-forum bahtsul masail atau majelis tarjih yang telah ada. Pengenalan fikih ahlul bait ini, tidaklah cukup hanya sekedar mengangkat sisi historis kemunculannya ke tengah-tengah masyarakat seperti yang ada saat ini, namun sudah harus mengarah kepada sisi aplikasinya terhadap pemecahan masalah-masalah kontemporer. Sehingga, siapa tahu dengan kehadiran pendekatan fikih yang baru ini, lebih membuka kesempatan berijtihad yang lebih elastis dan terbuka lagi.

Kehadiran satu warna fikih yang menjadi “andalan” umat Islam Indonesia seperti sekarang, sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Sebab, selain tidak membuka kran pintu ijtihad, juga akan memunculkan fatwa-fatwa fikih yang sempit dan menyulitkan. Nah, kemunculan Syi’ah di Indonesia, dengan membawa warna pendekatan Islam yang lain, semakin memberikan alternatif-alternatif solusi bagi persoalan keumataan yang ada. Tentu, hal ini tidak cukup hanya dengan menjadikan apa-apa yang khas dari Syi’ah itu, ditransformasikan sebatas wacana saja. Tapi harus lebih menukik kepada kajian-kajian yang aplikabel. Untuk mewujudkannya, tentu tidak hanya dibutuhkan banyaknya penganut Syi’ah di tanah air, namun lebih ditentukan oleh faktor banyaknya pakar-pakar atau ketersediaan SDM yang mampu mengambil alih tugas ini. Di sinilah, kalangan Syi’ah harus lebih bekerja keras lagi memikirkan munculnya intelektual-intelektual yang memiliki kapabilitas dimaksud.

C. Pada Ranah Sosial-Keagamaan

Kehadiran Syiah sempat mendapat tentangan luas, bahkan paham Syiah dituduh “sesat” dan akan menjadi ancaman bagi akidah umat Islam Indonesia yang mayoritas berpaham Sunni. Sebuah seminar di Istiqlal, Jakarta, pada September 1997, malah merekomendasikan pelarangan ajaran itu di Indonesia.[Seminar ini digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), hadir dalam kesempatan ini, sejumlah tokoh dan ulama dari berbagai ormas Islam, di antara tokoh yang memberikan makalah adalah, K.H. Kholil Ridlwan, K.H. Hasan Basri, K.H. Drs. Dawan Anwar, Dr. Ridlwan Saidi, dan lain-lain. Acara seminar ini sempat mengalami protes dari pihak yang tidak setuju, diantaranya dari ketua umum PBNU saat itu,  KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan beberapa tokoh HAM dan Kebebasan Beragama di Indonesia.]

Bahkan tak jarang banyak pula kekerasan massa yang dialami oleh aktifitas yang dilakukan oleh kalangan Syi’ah ini. Berdasarkan pengalaman tersebut, para pengikut aliran ini mulai sering melakukan introspeksi diri, untuk lebih berhati-hati dan profesional lagi dalam melakukan misi dakwahnya.

Memang perlu diakui, bahwa memperkenalkan suatu aliran apapun saja bentuknya, lebih-lebih ia dikesankan “eksentrik” dengan pandangan rata-rata, bukanlah suatu usaha yang mudah. Asumsi ini bukan saja didasarkan pada fakta empirik, akan tetapi nampaknya ia telah menjadi sebuah hukum alam. Dan hal ini seharusnya sudah disadari betul oleh pengikut aliran Syi’ah di Indonesia. Penulis menilai, adalah sebuah langkah yang sangat keliru apabila dalam kondisi “keterbatasannya” Syi’ah di Indonesia lebih memfokuskan pada penguatan simbol-simbol kesyi’ahan, ketimbang karya nyata yang menelanjangkan diri dari formalitas simbol. Yang lebih keliru lagi, apabila belakangan orang lain tidak menemukan esensi apa-apa di balik formalitas tersebut, kecuali simbol itu sendiri. Tindakan serupa mau tidak mau justru malah mendulang reaksi yang kontraproduktif dari masyarakat Islam mainstream. Pelarangan, atau aksi anarkis terhadap sekte ini boleh jadi terkait dengan kekeliruan langkah strategi tersebut.

Betapapun banyaknya karya yang muncul dari civitas kalangan Syi’ah ini –seperti yang telah disinggung di atas- seharusnya memiliki orientasi bagi penyelesaian permasalah kebangsaan (umat) yang tengah dirasakan, dari pada sebatas penguatan ideologi “langit” yang tidak menakar kepada realitas bumi. Penulis beranggapan, suburnya sikap anti pati suatu kelompok kepada kelompok yang lainnya,  boleh jadi karena masing-masing enggan keluar dari kubangan perdebatan “kalimat” yang cenderung tidak berpengaruh terhadap nilai mutualisme bagi semua. Di samping faktor keterjebakan mereka pada sikap over fanatism yang sangat tidak menguntungkan bagi umat Islam itu sendiri. Maka, karya nyata berupa kesalehan sosial yang dijelmakan dalam proyek pembangunan dan kesejahteraan rakyat yang tidak dibatasi khusus bagi pengikut Syi’ah, sejatinya bisa menjadi fly over untuk lebih mendekatkan umat kepada substansi ajaran Syi’ah ini. Opini publik tentang kehadiran aliran-aliran Islam “sempalan” justru tidak menambah masalah baru bagi umat, melainkan menjadi solusi bagi masalah tersebut, harus menjadi target kalangan pengusung aliran keislaman apapun saja, termasuk juga Syi’ah.

Dalam konteks ini, maka yang menjadi tolak ukur sukses dan tidaknya misi suatu aliran, bukan pada seberapa cantiknya ia menampilkan kemasan dalamnya saja, akan tetapi lebih kepada seberapa dalamkah aliran itu memberikan dampak sosial atau jawaban atas apa yang dihajatkan oleh bangsa.

Satu ilustrasi saja dari bentuk kekeliruan dakwah yang ada, bahwa orang akan enggan melihat apalagi terpanggil untuk ikut dalam aliran Syi’ah ini, atau paling tidak bisa menerima kehadirannya, jika agenda pertama dan/atau utama adalah bagaimana menjadikan umat Islam menjadi ragu dengan sifat-sifat keutamaan yang dimiliki para sahabat Nabi, sehingga yang tersisa bagi sebuah keutamaan tersebut hanyalah ototoritas para ahlul bait. Atau tragedi fitnah kubra masa lalu masih terus menyisakan dosa keturunan yang harus dibayar oleh semua orang yang tidak berpihak pada kelompok ahlul bait. Atau mengasumsikan terus berlangsungnya politik hegemoni sebagai sebuah setting mengembalikan hak otoritas kepemimpinan politik dunia yang telah dirampas, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian tokoh Syi’ah, semisal Vali Reza Nasr di atas.

Sebab menurut penulis, sekalipun –katakanlah- agenda semacam ini sukses, namun sedikit pun ia tidak akan memberikan solusi bagi problematika keummatan saat ini. Ia tak ubahnya sebatas wacana yang terlihat menarik jika tertata rapih pada rak-rak buku. Formula strategi seperti ini, -meminjam istilah Mohammed Arkoun- akan lebih dahulu tertolak sebelum diajukan.

Namun, satu hal yang cukup menarik dari pergerakan kelompok Syi’ah di Indonesia, adalah pada komitmennya untuk selalu menjalin kerjasama inter-intra lembaga, khususnya dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang telah ada. Suatu langkah yang patut didukung, sebagai upaya menghilangkan gap antara kalangan elit umat, sehingga dari sana dapat berakselerisasi kepada kesefahaman antar grass root masing-masing.

website https://syiahali.wordpress.com merupakan  web syi’ah imamiyah terlengkap di Indonesia, Malaysia dan Brunei  sehingga menjadi gerbong kebangkitan syi’ah imamiyah di Melayu

Lembaga-lembaga Syi’ah

Sejumlah lembaga, baik yang berbentuk pesantren maupun Yayasan, didirikan di beberapa kota di Indonesia.

Menurut pengakuan AHMAD BARAQBAH salah seorang alumni Qum, Iran: Di Indonesia sekarang ini terdapat kurang lebih 40 Yayasan Syi’ah yang tersebar di sejumlah kota besar seperti Malang, Jember, Pontianak, Jakarta, Bangil, Samarinda, Banjarmasin dan sebagainya. Secara informal yayasan itu biasa mengadakan pertemuan dan melakukan pembagian tugas, terutama dalam soal target sasaran. Misalnya, yayasan Al-Muntazhar untuk kalangan umum dan pesantren Al-Hadi lebih berorientasi kepada kelompok umur pendidikan dasar yang diharapkan dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Iran.

Dan sebagian dari lembaga-lembaga tersebut yaitu:

Yayasan Muthahhari

Yayasan ini didirikan di Bandung, nama Muthahhari diambil dari nama seorang pemikir Syi’ah. Pendukung Yayasan ini banyak yang berasal dari ITS dan UNPAD. Mereka sekarang telah lulus jadi sarjana dan tersebar di berbagai tempat. Dari Muthahhari juga keluar Jurnal Al-Hikmah yang banyak menunjukkan pikiran-pikiran Syi’ah.

Yayasan Al-Muntazhar

Yayasan Al-Muntazhar didirikan di Jakarta pada 7 Oktober 1991 oleh kelompok orang yang meyakini kebenaran Madzhab Ahlul Bait (Syi’ah). Perkenalan dengan madzhab ini diawali oleh minat di kalangan pendiri Yayasan untuk melakukan kajian terhadap madzhab Ahlul Bait. Kajian itu pada mulanya dilakukan secara bergilir dari rumah ke rumah. Namun, karena jama’ahnya makin hari makin banyak, para pengkaji dan peminat itu berkesimpulan bahwa alangkah lebih baiknya kalau dibuat satu Yayasan yang mempunyai landasan hukum dalam rangka mengembangkan kajian madzhab Ahlul Bait tersebut.

Atas dasar pemikiran itu, maka dibentuklah Yayasan Al-Muntazhar. Setelah terbentuk, para peminat kajian madzhab Ahlul Bait rupanya semakin banyak. Terakhir jumlah jama’ah itu tercatat sekitar 400 orang yang berasal dari berbagai kawasan Jakarta Barat dan sekitarnya seperti Tangerang, Cengkareng, dan kawasan Jakarta kota.

Pada perkembangan lebih lanjut, aktivitas jamaah Al-Muntazhar tidak terbatas pada pengkajian.Yayasan ini, antara lain juga menyelenggarakan program pendidikan dari tingkat anak-anak (TPA), SD, SMP, dan SMA.

Yayasan Al-Jawad

Yayasan Al-Jawad didirikan di Bandung oleh sekelompok peminat dan pengikut madzhab Ahlul Bait. Yayasan yang berlokasi di pinggir kota Bandung, ini oleh para pendirinya pertama-tama dimaksudkan sebagai wadah bagi pengkajian madzhab Ahlul Bait. Di antaranya, Yayasan ini pernah menyelenggarakan “Paket Ja’fari Terpadu” dan kursus-kursus sejenis. Tampaknya model kegiatan pengkajian yang diselenggarakan oleh yayasan ini adalah kursus-kursus intensif dengan peserta terbatas.

Meskipun hampir seluruh kegiatannya bersifat terbatas, namun komunitas yayasan ini boleh dikatakan sangat luas. Ini terlihat dari heterogenitasnya peserta kursus yang diselenggarakannya. Kebanyakan peserta kursus yayasan ini berasal dari pelbagai daerah di luar Bandung selain itu tentu saja dari daerah Bandung sendiri.

Karena komunitas yang demikian luas itulah, maka salah satu program yang mendapat perhatian yayasan ini adalah penerbitan. Melalui kegiatan penerbitan, yayasan ini selain dapat mengkomunikasikan pandangan dan doktrin madzhab Ahlul Bait kepada segenap komunitasnya, juga dapat mengkomunikasikan masalah-masalah individual yang berkaitan ke-Syi’ah-an.

Paling tidak ada dua jenis penerbitan yang dikelola oleh Yayasan Al-Jawad, yaitu Bulletin dan Buku. Untuk bulletin, yayasan ini menerbitkan Bulletin Al-Jawad. Bulletin ini yang diterbitkan rutin setiap bulan in hanya berisi doktrin madzhab Ahlul Bait, seperti shalat sunnah Rawatib, Ta’qib shalat fardhu dan sebagainya. Namun setelah berjalan beberapa waktu, Bulletin ini ditingkatkan baik dari segi jumlah maupun keanekaragaman isi, namanya kemudian diubah dengan Al-Ghadir

Yayasan Mulla Shadra

Yayasan Mulla Shadra didirikan di Bogor pada November 1993 oleh sejumlah orang yang tertarik dan ingin mengkaji doktrin-doktrin Syi’ah. Yayasan ini, pada mulanya dimaksudkan semata-mata sebagai forum-forum studi (Ta’lim). Namun, pada perkembangannya kemudian muncul gagasan dan keinginan untuk memperluas bidang kegiatan.

Yayasan ini tidak hanya studi tetapi juga meliputi kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan dan kesehatan. Hanya saja, karena sejumlah hambatan, gagasan dan keinginan itu di antaranya mendirikan sekolah umum dan madrasah sampai sekarang belum terwujud. Yang sudah berjalan lancar adalah les privat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar yayasan ini.

Yayasan ini berawal dari pengajian biasa yang dilanjutkan dengan pendalaman tentang Islam. Dari sinilah kemudian para anggota pengajian mulai tertarik pada buku-buku tentang Islam dan kajian-kajian tentang Intelektual, terutama pemikiran-pemikiran ‘Ali Syari’ati yang banyak memberikan inspirasi bagi kaum muda tentang revolusi, perubahan sosial dan sebagainya. Selanjutnya, para anggota yayasan ini mulai mengkaji latar belakang revolusi Iran yang boleh dikatakan menjadi ideal bagi anggota pengajian ini.

Selain itu, para anggota pengajian juga mencoba memahami konsep keislaman secara lebih utuh, misalnya konsep Tasyayyu’. Setelah itu, kajian lembaga ini beralih ke buku-buku karya Murtadha Muthahhari dan buku-buku lain terutama tentang Syi’ah yang baru terbit. Yayasan ini sengaja diberi nama Mulla Shadra mengambil nama salah seorang filosof Syi’i terkemuka

Pesantren YAPI, Bangil

Yayasan ini tertua dibanding yayasan yang tertera di atas. Pendirinya yaitu Al-Ustadz Husein Al-Habsyi. Banyak tokoh-tokoh Syi’ah Indonesia keluaran YAPI, hanya saja sang pendiri tidak mengaku dirinya beraliran Syi’ah seperti sering dilontarkan dalam ceramah-ceramahnya. Begitu juga dalam bukunya yang berjudul Ukhuwah Islamiyah,

Adapun Jalaluddin Rahmat mengatakan Ustadz Husein itu orang Syi’ah sebagaimana dalam wawancaranya. Kemudian belakangan mulai ada orang-orang Syi’ah yang sulit didefinisikan itu yang menulis buku. Sebetulnya mereka tidak membela paham Syi’ah misalnya Ustadz Husein Al-Habsyi menulis buku kecil berjudul “Rasulullah Tidak Bermuka Masam”

Bahkan Jalaluddin Rahmat menegaskan lebih dari itu bahwa: “Beliau adalah guru saya,” ujar KH Jalaluddin Rahmat Msc, dalam sambutannya pada menit-menit terakhir upacara pemakaman jenazah Ustadz Husein Al-Habsyi di Pondok YAPI Kenep Bangil.

Inilah sebagian potret sejumlah lembaga-lembaga Syi’ah, yang secara garis besar telah menggambarkan motif gerakan perkembangan Syi’ah di Indonesia. Tentu saja masih banyak lembaga lain dan tempat pengajian yang khusus Syi’ah seperti di Bangsri, Jawa Tengah.

Majalah Editor memberitakan: Di markas kampung Sidodadi (Surabaya) mereka biasa melakukan diskusi intensif di sebuah ruangan berukuran kurang lebih 18m2 belasan kader Syi’ah duduk bersimpuh, mendengarkan seseorang yang dijadikan imam. Dari situlah beberapa fatwa meluncur. Sang imam yang pendidikannya empat tahun di kota Qum Iran, kota kelahiran Khomeini. Konon pemuda tadi dan sejumlah pemuda lainnya dikirim ke Iran oleh Habib Husein Al-Habsyi, ulama yang cukup populer dari Bangil, Jawa Timur.

Yayasan Al-Muhibbin

Yayasan ini berdomisili di Probolinggo Jawa Timur, dan telah mengeluarkan kalender, dengan terang-terangan tertulis (dengan bahasa Arab) pada kalender tersebut akan kesaksian Ahlul Imam, yaitu kesaksian kepada Allah, Nabi Muhammad saw dan Imam-imam Dua belas.

Pesantren Al-Hadi

Pesantren ini didirikan pada tahun 1989 di Pekalongan Jawa Tengah. Pesantren yang secara khusus mengajarkan madzhab Ahlul Bait ini didirikan oleh Ustadz Ahmad Baraqbah, seorang alumni Qum, Ustadz Hasan Musawi dan sebagainya.

Juga disebutkan bahwa sistem pendidikan yang digunakan di pesantren ini kurang lebih sama dengan yang diterapkan di Qum, Iran. Para lulusan pesantren ini pun, jika ingin meneruskan jenjang pendidikannya, akan dikirim ke Qum. Karena itu, boleh dikatakan, inilah satu-satunya pesantren yang kurikulumnya sama dengan pesantren-pesantren di Qum. Pertama-tama para santri di sini diajarkan madzhab Ahlul Bait terutama fiqih Imam Ja’far Ash-Shadiq atau yang lebih dikenal dengan madzhab Ja’fari. Selanjutnya, para santri itu diajarkan Fiqih perbandingan madzhab, Muqaranah Al-Madzahib. Selain itu, kitab-kitab yang diajarkan di Iran juga diajarkan di Pesantren ini. Pesantren Al-Hadi memang mempunyai hubungan baik dengan ulama-ulama Iran, khususnya dalam hubungan pengiriman santri-santri ke Iran untuk menuntut ilmu di sana.

Jenjang pendidikan di pesantren ini dibagi ke dalam empat tingkatan. Dan semuanya terbagi dalam empat kelas. Di samping itu juga tersedia kelas khusus untuk persiapan bagi santri yang masih sangat awam. Kini Pesantren Al-Hadi memiliki sembilan orang pengajar, dan semuanya alumni Qum. Sedangkan santrinya kurang lebih 112 orang (putra-putri). Mayoritas santri-santri berasal dari luar Jawa, seperti Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan sebagainya. Usia mereka berkisar antara 10-20 tahun.

Selain menyelenggarakan pendidikan formal pesantren ini juga menyelenggarakan pengajian-pengajian untuk umum. Peminat pengajian ini cukup banyak, meskipun hanya terbatas pada masyarakat Pekalongan sendiri. [84]

Dan menurut Pangdam V Brawijaya, Imam Utomo, ada aliran Syi’ah diajarkan di Bangkalan, namun sejauh ini belum dirinci siapa tokohnya dan di mana lokasi aliran tersebut diajarkan. “Yang pada pokoknya telah kami temukan di Bangkalan,” kata Pangdam V Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Imam Utomo.

Kader-kader Syi’ah Kader-kader Syi’ah yang telah dikader di Iran konon mereka tidak dapat dilacak meskipun oleh KBRI, sebab mereka belajar bukan di Universitas melainkan di rumah atau pondok-pondok para mullah. Begitu juga keberangkatannya ke Iran tidak melalui suatu prosedur resmi sehingga Pemerintah pun tidak dapat melacak. Kata Jalaluddin Rakhmat: “Jadi sebenarnya tidak melalui prosedur resmi, seperti bea siswa dari Pemerintah Iran misalnya.”

Juga Jalaluddin mengatakan, “Kalau ada orang yang punya maksud ingin belajar di Iran itu gampang. Asal ia bisa bayar sendiri ongkos ke Iran, ia bisa berangkat ke sana. Secara teoritis begitulah, gampang. Tapi secara praktis tentu di sana harus ada hubungan orang-orang yang mengurusnya. Jadi secara teoritis sederhana saja.”

Yang paling menonjol dalam mengirim santri-santri ke Iran yaitu Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil dan Pesantren Al-Hadi Pekalongan.Sepulangnya di tanah air mereka membuka pengajian-pengajian Syi’ah di berbagai tempat dengan mission yang sangat tinggi, menggiring orang-orang Ahlus Sunnah ke fiqih Syi’ah

Jalaluddin Rakhmat menegaskan: “Gelombang ketiga ini ditandai dengan kehadiran alumnus-alumnus Qum yang belakangan (setelah ustadz Umar), orientasi mereka fiqih. Jadi ketika mereka datang ke Indonesia, mereka memenuhi kebutuhan akan fiqih ini. Mulailah mereka memberikan pengajian-pengajian Syi’ah di berbagai tempat. Syi’ah gelombang ketiga ini juga ditandai dengan semangat missionari yang sangat tinggi. Mereka pulang dengan romantisme lulusan muda. Sebagaimana biasa, romantisme lulusan muda merasa terpanggil untuk menyelamatkan dunia, yang salah satu caranya ialah membawa orang kepada fiqih Syi’ah. Mulailah mereka mengajarkan fiqih Syi’ah ini di berbagai pengajian.”

“Jenjang pendidikan di pesantren ini dibagi ke dalam empat tingkatan. Dan semuanya terbagi dalam empat kelas. Di samping itu juga tersedia kelas khusus untuk persiapan bagi santri yang masih sangat awam. Kini pesantren Al-Hadi memiliki sembilan orang pengajar, dan semuanya alumni Qum. Sedangkan santrinya yang sekolah di Iran itu malah mendapat santunan, dan tinggal di pondok-pondok tidak bayar,” tegas Jalaluddin juga

Bahkan kader-kader Syi’ah yang digembleng di Indonesia, semangat mereka sangat tinggi dan militan, mereka banyak ditugaskan ke daerah-daerah. Seperti santri-santri Ponpes YAPI Bangil: Banyak santri-santri Habib yang ditugaskan di daerah-daerah terpencil, Ambon, Manado, Gorontalo, Sorong, Irian Jaya. dan sebentar lagi Maluku, Kupang dan Flores

4. Majalah dan Bulletin

Majalah-majalah dan Bulletin Syi’ah yang beredar di Indonesia antaranya:

a. Majalah Yaum Al-Quds. Diterbitkan oleh seksi Pers dan Penerangan Kedutaan Iran di Jakarta. Dibagikan cuma-cuma.
b. Majalah Al-Mawaddah. Diterbitkan di Bandung oleh Forum Komunikasi Ahlul Bait Indonesia (FKABI).
c. Majalah Al-Hikmah. Diterbitkan oleh Yayasan Muthahhari Bandung. Banyak menterjemahkan pikiran-pikiran Syi’ah.
d. Majalah Al-Mushthafa, Jakarta. Majalah ini juga mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh Ahlus Sunnah yang condong ke Syi’ah dan memberi angin segar untuk perjuangannya.
e. Bulletin Al-Jawad. Diterbitkan rutin setiap bulan oleh Yayasan Al-Jawad, berisi doktrin aliran Syi’ah.
f. BBulletin Al-Ghadir, juga diterbitkan oleh Yayasan Al-Jawad.
g. Bulletin Al-Tanwir, diterbitkan oleh Yayasan Muthahhari.
h. Bulletin Ibnu Sabil, diterbitkan setiap bulan di Pekalongan

………………

Tidak sedikit dari kalangan muslimin yang tidak mengenal sosok keluarga suci Nabi saw. Sehingga karena ketidaktahuannya mereka enggan bahkan menolak untuk mengikuti tapak-tilasnya. Bukan hanya itu, bahkan yang sudah mengenalnya tak mampu mengikuti jejaknya.Sosok keluarga suci Nabi saw bukan sosok manusia biasa yang mudah diikuti jejaknya dari segi ibadah, ilmu dan kedermawanannya. Sebagian yang sudah mengenalnya berusaha menisbatkan dirinya sebagai pengikutnya, tapi itupun berat dan tak mampu mengikuti tapak-tilasnya karena saking banyaknya penghalang dalam diri kita.Secara ilmu kita sudah mengakui bahwa merekalah yang layak kita teladani. Tapi ternyata memang tidak mudah mengaplikasikan ilmu dan pengakuan ke dalam kehidupan keseharian kita. Sekiranya umat Rasulullah saw bersepakat dan mampu menteladani keluarga suci Nabi saw, niscaya persoalan-persoalan hidup manusia akan selesai dengan bantuan Allah swt. Inilah sejatinya inti dan subtansi persoalan Laylatul Qadar (malam Al-Qadar) yang didambakan oleh seluruh kaum mukminin dan muslimin. Berikut ini salah satu keteladanan dari keluarga suci Nabi saw:Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
“Dalam kegelapan malam Ali bin Husein (sa) sering keluar rumah, membawa kantongan kantongan yang berisi uang dinar dan dirham. Ia meletakkan kantongan itu di pundaknya. Kadang-kadang ia memikulnya karung yang berisi makanan atau kayu bakar. Ia mendatangi dan mengetok pintu orang-orang miskin dari pintu ke pintu. Ia memberi setiap orang yang keluar dari pintu itu. Ia menutupi wajahnya saat ia mendatangi rumah orang fakir-miskin agar ia tidak mengenalnya.

Ketika beliau wafat mereka merasa kehilangan hal itu. Setelah beliau wafat mereka baru tahu bahwa yang sering mengetok pintunya itu ternyata Ali bin Husein yang dikenal dengan sebutan Ali Zainal Abidin (sa). Ketika jenazahnya dimandikan nampak di pundaknya membekas hitam seperti pundak onta, karena saking seringnya memikul karung di pundaknya mendatangi rumah-rumah fakir-miskin.

Pada suatu hari beliau keluar rumah membawa selengdang sutera. Ketika datang seorang pengemis, beliau kalungkan selendang itu padanya lalu beliau pergi dan meninggalkannya. Beliau punya kebiasaan membeli kain sutera di musim dingin, jika datang musim panas beliau menjualnya dan mensedekahkan uangnya…

Di Madinah ada ratusan keturunan Nabi saw yang fakir. Mereka semua ta’ajjub terhadap kepribadian Imam Ali Zainal Abidin (sa), karena beliau sering datang membawa makanannya sendiri untuk anak-anak yatim, orang-orang yang sengsara, orang-orang yang sakit yang merana, dan orang-orang miskin yang tak berdaya. Beliau memberikan kepada mereka dengan tangannya sendiri. Jika ada keluarga dari mereka, beliau sendiri yang membawakan makanan kepada keluarganya. Beliau tidak pernah makan sebelum beliau bersedekah seperti yang beliau makan.” (Al-Wasail 6: 276, hadis ke 8)

Sufyan bin ‘Ayniyah bercerita bahwa Az-Zuhri pernah melihat Imam Ali Zainal Abidin (sa) berjalan kaki di malam yang dingin dalam kondisi hujan, memikul karung yang tepung gandum dan kayu bakar. Az-Zuhri bertanya kepadanya: Duhai putera Rasulullah, apa ini? Beliau menjawab: “Aku ingin safar (melakukan perjalanan) yang telah dijanjikan yaitu mencari bekal untuk aku bawa ke kampung yang terjaga (Akhirat).

Az-Zuhri berkata: Ini pembantuku, biarlah dia yang menggantikanmu untuk membawanya, tapi beliau menolak tawaranku.
Az-Zuhri berkata: Aku saja yang akan menggantikanmu untuk membawanya, dengan rasa hormatku padamu biarlah aku yang membawanya.
Ali Zainal Abidin (sa) berkata: Aku tidak memikirkan kehormatanku untuk sesuatu yang menyelamatkan diriku dalam perjalananku (ke Akhirat), yang kuinginkan adalah bekal yang baik untuk perjalanan kepulanganku. Dengan hak aku mohonkan Anda, semoga Allah memperkenankan hajatmu, silahkan tinggalkan aku.

Kemudian Az-Zuhri meninggalkan beliau.
Beberapa hari berikutnya Az-Zuhri berkata kepada beliau: Wahai putera Rasulullah, aku belum bisa merasakan dampak perjalanan yang pernah engkau ceritakan padaku.
Beliau berkata: Baiklah wahai Zuhri, tidak lain yang aku maksudkan hanyalah kematian. Untuk itu aku persiapkan. Tidak lain mempersiapkan untuk kematian adalah menjauhi segala yang haram, mencurahkan segala kemampuan untuk kedermawanan dan kebajikan. (Al-Wasail 6: 279, hadis ke 5)

Inilah sebagian dari keteladanan kedermawanan Imam Ali Zainal Abidin (sa) keluarga suci Rasulullah saw. Beliau sendiri yang membawa sedekah ke rumah orang-orang fakir-miskin dan dengan tangannya sendiri beliau memberikan kepada mereka.

Beliau tidak mengundang fakir-miskin ke rumahnya untuk mengantri dan mendapatkan sedekah darinya. Beliau juga tidak memberikan sedekahnya kepada mereka di jalanan atau di pinggir jalan. Beliau mendatangi rumah fakir-miskin, mengetok dari pintu ke pintu orang-orang fakir-miskin.

Sekiranya kaum yang kaya dan punya kelebihan rizki menteladani akhlak beliau, tentu Pemerintah DKI tak perlu mengeluarkan PERDA, menangkap pengemis dan mendenda pemberinya. Lalu siapa yang salah?

Beberapa waktu lalu, seorang teman meminta saya untuk membaca sebuah posting dalam milis yang diikutinya. Meski agak ogah-ogahan, demi menyenangkannya, saya pun membacanya. Ternyata isinya mengundang selera saya. Rupanya pengirimnya mengomentari aksi anarkisme terhadap beberapa orang yang dianggap sebagai penyebar aliran sesat (baca: Syiah). Ia mencoba untuk mengangkat sebuah hipotesa yang cukup tajam sekaligus menggelikan.

Meski mengaku penentang anarkisme, ia mengingatkan bahwa aksi anarki yang terjadi di Bangil itu adalah akibat dan reaksi serta kulminasi dari gerah terhadap orang-orang Syiah, yang menurutnya, tidak semestinya melakukan misionari di tengah masyarakat sunni.

Ia nampaknya mengemukakan vandalisme itu sebagai aplogi dan justifikasi implisit. Menurutnya, Syiah sebagai pendatang baru semestinya tidak mencari penganut di tengah masyarakat yang menganut mazhab yang lebih dulu ada, yaitu Sunni. Ia bahkan mengakhiri postingnya dengan menghimbau kepada orang-orang Syiah untuk untuk mempertimbangkan hal itu agar terhindar dari brutalisme.

Banyak poin lemah yang bisa ditemukan dalam posting ‘asal nulis’ itu, misalnya tidak adanya bukti nyata bahwa orang-orang Syiah mengajak orang-orang sunni untuk menganut mazhab Syiah. Apalagi tuduhan-tuduhan yang biasa dilontarkan adalah konsep taqiyah yang digunakan oleh orang-orang Syiah di Bangil.

Semestinya tuduhan demikian bisa dijadikan bukti penolakan karena bila orang-orang Syiah meyakini konsep taqiyah, maka itu membuktikan bahwa mazhab Syiah tidak berwatak misionaris. Nah, kalau untuk mengaku Syiah saja masih berhati-hati dan bersembunyi, maka tuduhan misionari menjadi kelihalangan subjek.

Poin lain yang juga perlu diperhatikan adalah fakta nyata tidak adanya lagi ’sunni sejati’ sebagaimana plaform Sunni tradisional ala Abul-Hasan Asy’ari dengan teologinya. NU sendiri yang diyakini sebagai representasi dari teologi Sunni sekarang sedang mengalami transforamsi dan reformasi pemikiran. Munculnya fenomena Gus Dur lalu Ulil Absar Abdillah kemudian guntur Romli yang tumbuh dari lumbung-lumbung Sunni tradisional, yang kini mendominasi generasi muda NU, adalah bukti nyata akan trend ini. Sedangkan Muhammdiyah, Persis dan Al-Irsyad sejak semula telah menunjukkan kehendak untuk tidak serta merta menduplikasi pandangan orisinil Sunni.

Poin ketiga yang tak patut diabaikan adalah perlunya memperjelas hot isue. Apakah ‘Sunni’ itu nama barang ataukah merek dagang? Bila ditilik substansinya (makna), maka siapapun yang merasa mengikuti Sunnah Nabi saw, berhak menyandang predikat (nama barang) ’sunni’, teramsuk Syiah dan lainnya. Bila ’sunni’ diperlakukan sebagai merek dagang, maka ia sebuah simbol yang menjadi hak paten sebuah institusi atau perusahaan. Hingga kini NU dan kelompok-kelompok Islam lain di indonesia sedang memperebutkan hak paten ini. Yang menggelikan kelompok ‘wahabi hardcore’ seperti Jakfar Talib dan kelompoknya sempat mengkalim sebagai sebagai ‘Lazkar Ahlussunnah’. Selain itu, kata ’salaf’ juga masih menjadi sengketa di antara mereka.

Tapi poin yang paling menarik adalah anggapan Syiah sebagai pendatang baru di Indonesia. Benarkah Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini hasil perjuangan para pendakwah dari satu mazhab saja?

Proses sinkretisasi antara Islam dengan kebudayaan setempat di Indonesia sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara. Teori Gujarat menyatakan bahwa pembawa Islam yang pertama kali masuk ke Nusantara adalah pedagang-pedagang yang datang dari Gujarat yang sangat kental dengan budaya Persia.

Itu berarti, yang pertama kali masuk ke nusantara adalah Islam versi Persia-Gujarat (Syiah). Ajaran pantheisme (kesatuan wujud, union mistik, Manunggal ing Kawula Gusti), di Jawa dan Sumatera merupakan pandangan teologi dan mistisisme (tasawuf falsafi) yang tidak harmonis dengan akidah Asy’ariah, apalagi Islam wahabi yang literal. Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan Sumatera dan Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo adalah situs teologi Syiah yang datang dari Gujarat-Persia.

Kedatangan para pendakwah Islam dari Saudi Arabia (yang sebelumnya dikenal dengan jazirah atau Hijaz) telah membuka sebuah babak baru benturan antara Islam Gujarat-Persia-Syiah dan Islam Arab-wahabi. Agaknya inilah yang bisa dianggap sebagai embrio konflik antara literalisme dan rasionalisme di Indonesia.

Pada masa-masa berikutnya, terhentinya arus kedatangan pedagang dan pendakwah dari Persia telah membuka kesempatan bagi kedatangan para pendakwah Islam dari Arab. Inilah yang menandai berakhirnya pengaruh mazhab Syiah di Indonesia. Kini yang tersisa hanyalah situs-situs budaya dan peninggalan sejarahnya.

Namun yang perlu diperhatikan, ada dua jenis pendakwah Arab yang tidak bisa dianggap sama, yaitu pendakwah dari Yaman (Hadhramaut) yang membawa Islam mazhab Syafii dan pendakwah dari Saudi Arabia yang menyebarkan Islam wahabi atau Salafi. Islam Sunni yang direpresentasi oleh NU di Indonesia adalah himpunan mazhab kalam Abul-Hasan Asy’ari dan empat mazhab fikih serta tasawuf Ghazali, sebagaimana ditegaskan dalam Qanun Asasinya.

Sedangkan Islam wahabi didirikan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb (1111 H/1700 M- 1206 H/1792 M). Ia sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama besar bermazhab Hanbali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke 4 M. Untuk menimba ilmu, ia juga mengembara dan belajar di Makkah, Madinah, Baghdad dan Bashra [Irak], Damaskus {Siria], Iran, termasuk kota Qum, Afghanistan dan India. Di Baghdad ia mengawini seorang wanita kaya. Ia mengajar di Bashra selama 4 tahun. Tatkala pulang ke kampung halamannya ia menulis bukunya yang kemudian menjadi rujukan kaum pengikutnya, Kitâbut’Tauhîd. Para pengikutnya menamakan diri kaum Al-Muwahhidûn. Ia kemudian pindah ke ‘Uyaynah.

Dalam khotbah-khotbah Jumat di ‘Uyaynah, ia terang-terangan mengafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali menjalankan agama seperti di zaman Nabi. Di kota ini ia mulai menggagas dan meletakkan teologi ultra-puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi. Mula-mula ia menyerang mazhab Syiah, lalu kaum sufi, kemudian ia mulai menyerang kaum Sunni Segala yang dianggapnya tidak dilakukan Nabi, dianggap bid’ah. Tapi ia sendiri tidak melakukan penelitian yang cermat terhadap biografi Nabi. Itu sebabnya, tatkala pemerintah Saudi ‘terpaksa’ menggunakan telepon, TV, radio dan lain-lain, kaum Wahhabi ini melakukan perlawanan keras. Tetapi hadis-hadis yang mewajibkan Muslim taat pada pemerintah yang baik maupun yang fasik yang banyak sekali jumlahnya, digunakan pemerintah untuk menahan dan menganggap mereka sebagai pembangkang bahkan teroris.

Kemenangan suku badui dari klan Saud sangat bergantung pada dukungan Kolonialisme Inggris. Berkat gucuran dana, suplay senjata dan pendidikan keterampilan, kekuasaan Ibnu Su’ûd menyebar ke seluruh Jazirah Arab yang masa itu berada dalam kekhalifahan ‘Utsmaniyah dengan tujuan melemahkan khilafah itu. Tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai dan keamiran berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia. Sejak itu Hijaz menjadi harta mutlak hanya satu keluarga bernama Al-Saud, dan menjadi nama negaranya.

Karena dianggap sebagai tempat kelahiran Nabi, banyak orang Indonesia yang tanpa sadar mengirimkan anaknya ke Hijaz, yang saat itu sudah berubah menjadi Saudi Arabia, untuk mempelajari agama Islam di sana dengan harapan menjadi penguat Islam di Tanah Air dan kampung halamannya. Namun, karena paham Wahabi menjadi mazhab resmi di Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk sejak keruntuhan kerajaan Turki Ottoman (yang diratapi oleh sebuah ormas Islam di Indonesi), para pelajar itu pulang ke Indonesia dengan membawa paham wahabi. Sejak saat itulah wahabi masuk ke Indonesia.

Kaum Wahabi melakukan sejumlah aksi misionari dengan mengusung jargon ‘pemurnian Islam’ dan ‘pembasmian TBC’ (takhayul, bidah dan khurafat), seperti tahlil, maulid dan semacamnya, seraya menganggapnya sebagai pengaruh paham Syiah yang dianggap sesat bahkan kafir. Konflik pun tak terhindarkan.

Konflik terjadi pertama kali di di Indonesia pada abad 19 di Minang Kabau. Kemunculan kelompok ini menimbulkan perang terbuka dengan kalangan muslim lain, yang mayoritas beraliran Sunni (Syafii) dan Syiah yang dikenal dengan perang Paderi. Konflik ini menjadi amunisi bagi pemerintah kolonial Belanda untuk menguatkan cengkramannya. Paham ini dalam versinya yang lebih moderat dianut oleh ormas keagamaan seperti Persatuan Islam (Persis) yang mempunyai basis di Bangil dan Bandung. Metode dakwahnya yang kasar dengan membidahkan tahlil dan tradisi-tradisi lainnya, melaui majalah Al-Muslimun, cukup mengundang kecaman dan penentangan dari para kyai NU, terutama pada masa hidup Hasan Bandung dan putranya, Abdulkadir ز

Pada awal 90 an gerakan Salafi memisahkan diri dari gerakan Tarbiyah dan mendirikan gerakan tersendiri yang lebih radikal. Tidak seperti kelompok Tarbiyah yang berbasis di daerah Jawa Barat, kelompok ini mengambil basis di beberapa kota besar di Jawa Tengah, seperti Jogjakarta dan Solo. Kini kelompok salafi radikal dikenal dengan ‘mazhab Saudi’, sedangkan yang lebih moderat diseknal dengan ‘mazhab Kuwait’. Dua negara kaya minyak ini, secara institusional mapun individual, memang dikenal sebagai donaturnya.

Kelompok Salafi juga aktif menyebarkan pandangan-pandangannya melalui buku, buletin dan majalah murah meriah, bahkan sebagian dibagikan secara gratis. Majalah-majalah hot jenis kedua juga menjadi corong misionarinya. Kelompok ini juga menggunakan media rekaman kaset ceramah/pidato tokoh-tokohnya yang disebarkan secara internal dari tangan ke tangan (dalam lingkungan gerakan) sebagai metode dakwah dengan materi dakwah yang sangat-sangat radikal, seperti menyebarkan kebencian terhadap para penganut agama selain Islam, bahkan selain Wahabi.

Semula yang melakukan penentangan terhadap Wahabisme adalah para kyai dari kalangan santri (Nahdliyyin) yang merupakan representasi dari Islam Sunni. Pesantren-pesantren dijadikan sebagai basis pendidikan untuk melawan arus misionri wahhabi yang tidak pernah kehabisan dana. Pendirian sejumlah ormas yang menjadi ‘wahabi rakitan lokal (tentu tidak menggunakan nama Wahabi), lalu pendirian LPBA yang kemudian diganti dengan LIPIA juga pengiriman guru-guru ‘build-up’ dari Saudi ke Indonesia menandai keberhasilan Wahabisme di Indonesia. Ia yang semula ditentang secara besar-besaran karena anti tahlil dan wirid, kini diterima sebagai bagian dari umat Islam. Ormas-ormas non NU pun akhirnya diterima.

Namun Wahabisme tidak selalu bernasib baik. Dalam perkembangannya radikalisme yang berkembang di lingkungan kelompok ini akhirnya memancing keretakan dan konflik horizontal diantara mereka sendiri. Fenomena radikalisme Juhaiman yang menguasai Masjidil Haram beberapa tahun silam, Ben Laden dengan Al-Qaedah serta Talibanisme melahirkan perpecahan dalam simpul-simpul Wahabisme.

Di Arab Saudi, tempat kelahirannya, wahabisme radikal mulai mendapatkan tekanan dari aparat Kerajaan. Islam Sunni yang semula dianaktirikan, mulai mendapatkan kelonggaran. Muslim Syiah, yang menjadi mayoritas di wilayah Timur, mulai diperlakukan dengan baik. Karena itu, wahabisme tidak bisa dipandang dan dinilai secara general rata, dan mungkin mesti dibagi dua; yang moderat bahkan sekuler seperti keluarga Saud yang sudah tidak lagi mengangkat celana di atas mata kaki (malah pakai jubah yang menyapu tanah dan kadang pakai dasi dan minum wine).

Yang mengharukan, sebagian orang tidak cukup cerdas untuk membedakan antara Sunni asli Indonesia (Syafii) dan wahabi (Sunni anti Asy’ari), yang belakangan mulai memakai nama Ahlussunnah sebagai strategi cerdiknya. Bahkan sebagian menganggap radikalisme sebagai pertanda relejiusitas dan keteguhan beragama.

Pada tanggal 2 April akan diselenggarakan Siaturahmi Nasional ke 4 lembaga-lembaga AB di Pondok Gede, Jakarta. Silatnas ini akan dihadiri, menurut panitia, oleh lebih dari 180 yayasan dan lembaga non formal AB yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Banyak harapan yang dialamatkan ke perhelatan ini. Semoga dapat terwujud, amin.
Dalam suasana itu, saya ingin mempublish ulang note saya yang pernah mendapatkan respon sangat besar dari friends. Semoga ini dapat merefresh dan menjadi bahan renungan serta evaluasi untuk kita semua.
Revolusi Islam Iran yang diletuskan oleh Imam Khomeini telah menjadi momentum historis bagi tersebarnya ajaran Ahlul-bait ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Keberhasilan Imam Khomeini menumbangkan monarki Pahlevi yang menjadi anak emas Amerika di Timut Tengah telah membuat bangsa Indonesia terbelalak.
Para pemuda dan mahasiswa dengan antusiasme tinggi mempelajari buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan revolusioner Iran, seperti Murtadha Muthahhari dan Ali Syariati. Sejak saat itulah terjadilah gelombang besar masyarakat Indonesia memasuki mazhab Ahlulbait. Maraknya antusiasme kepada mazhab Ahlulbait Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara, tentu berpengaruh terhadap berkembangnya ajaran Ahlulbait di Malaysia dan kawasan Asia Tengggara.
Sejumlah peristiwa politik di era perang dingin dan represi rezim Orba terhadap gerakan-geraklan Islam di Inonesia serta kebijakan politik luar negeri Iran pada masa-masa awal terbentuknya Republik Islam sedikit banyak mempengaruhi grafik naik turun pertumbuhan ajaran Ahlulbait di Indonesia yang lebih banyak didominasi oleh pengaruh politik dan pemikiran ketimbang aspek-aspek lainnya.
Dalam perajalanan daur waktu, tak mengherankan, romantisme dan eufuria aksdental yang tidak berdiri di atas pandangan dunia kesyiahan itu pun secara determinan pun berkurang. Seiring dengan itu, ikon sekaliber Ali Syariati dan Murtadha Muthahhri pun redup karena relevansi dann kontekstualitas wacana menjadi tuntutan yang niscaya. Pada gilirannya, terjadi proses seleksi yang secara kuantitatif mungkin kurang optimistik. Ternyata beberapa tahun berikutnya, kelesuan juga masih terlihat dan stagnasi menjadi sebuah realitas yang teak terelakkan. Tentu, tak ada gading yang tak retak karena hanya gading buatan yang bertahan. Akibatnya, terjadi polarisasi yang kadang berujung pada konflik konyol dan mubazir yang sering kali diubah dengan kata ‘mis-komunikasi’. Diperlukan sebuah penelitian dan verikasi yang serius untuk memastikannya.
Kini mazhab Ahlulbait di Indonesia dan Asia tenggara telah menginjak usia dewasa. Tantangan-tantangannya makin kompleks, karena apapun yang terjadi di setiap titik di dunia, terutama di Timur Tengah, akan berdampak terhadap eksistensi dan masa depan serta proyeksi pengembangan ajaran ini di Indonesia.
Peristiwa 11 September, invasi Amerika ke Irak, naiknya Ahmadinejad sebagai Presiden Republik Islam dan kememangan Hezbollah atas Israel agresor adalah sebagian dari fenomena-fenomena besar yang mempengaruhi posisi dan grafik pertumbuhan ajaran Ahlulbait di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya.
Selain menghadapi tantangan-tantangan eksternal dan global diatas, komunitas-komunitas penganut Ahlulbait di Indonesia menghadapi setumpuk tantangan regional dan sejumlah problema internal, terutama dalam komunikasi dengan komunitas-komunitas yang menganut mazhab Ahlussunnah, Pemerintah dan bahkan antar sesama komunitas dan individu Syiah lainnya.
Beban dan tantangan itu terasa makin berat dan pada bagian-bagian tertentu menjadi kendala yang serius. Problema-problema utama yang menjadi tantangan dan hambatan dakwah mazhab Ahlubait antara lain sebagai berikut:
1. Rekayasa global yang dirancang oleh kekuatan-kekuatan imperalisme dan Zionisme demi menyudutkan Iran dan mazhab Ahlulbait dengan menyebarluaskan isu-isu negatif melalui buku, media massa dan internet dan merusak keutuhan dengan melakukan infiltrasi dan pembusukan secara sporadis dan konstan dalam aneka modus dan pola.
2. Krisis koordinasi antar tokoh, institusi dan komunitas pengikut Ahlubait sebagai akibat dari minimnya perencanaan dan proyeksi dakwah dan minimnya sejumlah syarat pendukung, seperti krisis SDM dalam berbagai bidang terutama politik, ekonomi dan pendidikan, krisis dana, krisis metode dakwah yang tidak baku dan komprhensif, menjangkitnya eksklusivisme yang menciptkan jarak menganga antara super minoritas Syiah dan mayoritas warga Indonesia dan individualisme yang menghambat terbentuknya sebuah struktur masyarakat Ahlulbait yang diakui secara informal dan formal.
3. Ketidakjelasan dan dis-koordinasi sentra-sentra internasional yang bergerak dalam dakwah mazhab Ahlulbait yang masing-masing menjalankan program yang kadang kala saling berbenturan, tidak relevan dan kontekstual, dan tidak berbasis pada budaya dan jatidiri lokal Indonesia.
4. Pola perekrutan juru dakwah yang tidak konsisten dan sistematis telah berdampak terhadap tidak meratanya kualitas juru dakwah yang semestinya mampu mereasisiakan tujuan dakwah dalam tiga tahap; (1) Menepis kecurigaan masyarakat Sunni di Indonesia terhadap ajaran Ahlulbait sebagai mazhab yang menyimpang atau mazhab yang bermuatan politis yang bercitat-cita membangun sebuah imperium Syiah di dunia, sebagaimana secara konsisten disebarkan oleh musuh-musuh Islam; (2) Menghadirkan ajaran Ahlulbait dalam kemasan subtansi tanpa simbol sebagai khazanah pemikiran altrenatif di pusat-pusat pendidikan ternama dan media massa; (3) menghadirkan mazhab Syiah sebagai jalan yang lurus karena berbasasis pada al-Quran dan ajaran-ajaran Nabi yang disampaikan melalui Ahlulbait; (4) membentuk unit-unit berkualitas dalam komunitas Syiah di Indonesia yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dan berskala luas dalam berbagai bidang, terutama pengentasan kemiskinan dan pendidikan serta peningkatan moral bagi bangsa Indonesia.
Itulah contoh-contoh dari problema yang bila tidak diselesaikan dalam waktu yang cepat akan menghambat dakwah Ahlulbait, bahkan membuatnya stagnan dan berakhir dengan kegagalan.
Untungnya, berdasarkan pengamatan kami, problema-problema tersebut dapat dengan mudah dan segera diatasi bila hal-hal sebagai berikut kita lakukan:
1. Membentuk tim khusus yang terdiri dari sejumlah orang yang mumpuni dalam berbagai bidang, a) bidang penataan organisasi dan perencanaan serta evaluasi; b) bidang pendanaan dan auditing; c) bidang perekrutan SDM dan pemetaan sasaran dakwah yang meliputi latar belakang penidikan, profesi dan letak geografis serta strata ekonomi bahkan kesegaran intelejensi dan attitud dan aptitude; d) bidang pengkaderan dan kajian strategis pembuatan modul dakwah yang komprhensif dan bebas dari aspek-aspek sensitif secara teologis, strategis dan metodologis; f) bidang koordinasi dan rekonsiliasi yang akan bertugas mengevaluasi dan meminimalkan konflik-konflik internal yang telah berlangsung cukup lama dan kontraproduktif dengan langkah-langkah terencana dan objektif.
2. Mengubah oritentasi dakwah dari pendekatan personal emosional dan historikal menjadi pendekatan sistemik dan intelektual agar pola hubungan masyarakat dengan pusat-pusat kegiatan dan tokohnya tidak lagi bersifat hirarkis dan paternalistik yang mengancam kreativitas, kristisisme dan inovasi.
3. Membangun sentra-sentra pendidikan, riset dan sosial di berbagai kota besar agar dapat di dijadikan sebagai bukti nyata manfaat dari eksistensi komunitas super-minoritas Syiah di Indonesia, dengan merekrut SDM lokal yang berkualifikasi dan berdedikasi sebagai pengelolanya.
4. Memanfaatkan era informasi dan tekonologi informasi melalui sentra media baik cetak maupun elektronik yang dikelola oleh SDM yang berkualitas dan berdedikasi.
5. Membentuk tim khusus untuk menjalin dan membina hubungan inter-personal dengan tokoh-tokoh agama dan politik baik di tingkat internasional maupun nasional demi membentangkan jalan dan mengurangi tekanan politik dari dalam maupun global.
Tentu, solusi-solusi diatas masih sangat mungkin untuk disempurnakan daqn bahkan direvisi bergantung pada tingkat urgensi dan prioritasnya.
Sambil menghitung hari, bila solusi-solusi itu tak kunjung muncul, maka kegamangan akan terus menjadi endemi dan epidemi yang meranggas setiap dada pengikut AB di Indonesia. Mungkinkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s