Tauhid dan Syirik dalam Pandangan Syi’ah Imamiyah

Oleh : Ustad  Husain Ardilla

————————————-

Tulisan ini saya buat dengan resiko harus siap siap kehilangan nyawa, demi  Allah – Rasul  dan  Itrah Ahlulbait setapak pun aku tak ragu !! Allahu Akbar !!

Perlawanan Kaum Tertindas

Kupersembahkan bait2 Syai’r ini buat kaum syi’ah  yang masih istiqomah dijalan

Dakwah dan Jihad ini, kutuliskan kata2 penyemangat ini dengan tinta darah, agar kalian tetap sabar dan Istiqomah dalam mengemban Dakwah dan Jihad ini dengan penuh berani, tanpa takut kepada siapapaun kecuali kepada Allah Jalla Jalaluh…

Allahu Akbar, bismillah…

Aku

Apa gerangan yang dilakukan musuh pada diriku
Aku, sungguh surgaku ada di hatiku
Dan taman-taman yang indah ada di dadaku

Ia selalu terus ada tetap bersamaku
Dan selalu ikut kemana saja kepergianku
Tak seorangpun bisa merampasnya dariku

Aku, andai mereka sampai membunuhku
Maka itulah waktu khalwat bersama Tuhanku

Dan jika mereka berani membunuhku
Sungguh, itulah bentuk kesyahidan bagiku
Dan merekapun akan segera menyusul kepergianku

Dan jikalau mereka dari negeri ini mengugusurku
Maka ku anggap itulah bentuk wisataku

Aku adalah aku yang mengerti benar jalan hidupku
Aku takkan pernah peduli dengan orang yang mencelaku
Selagi Allah tetap ridha dan mencintaiku

Orang yang sesat adalah seseorang Islam yang mempunyai dua system.

Orang Islam tidak perlu sistem lain,tapi bukan berarti memerangi system lain,

karena Al-Quran harus digunakan secara keseluruhan adalah wajib bagi Islam.

Tauhid akan kujunjung di atas kepalaku
Dan itrah ahlulbait dihatiku

Hukum ilahiy ku angkat tinggi dengan tanganku
Dan undang-undang non islam kan ku tebas dengan pedangku

Enyahlah hai hamba thaghut, kalian adalah musuh abadiku
Dan aku adalah musuhmu sepanjang hidupku

Bila kalian ragu dengan ajaran tauhidku
Dan merasa benar dengan ajaran musuh Tuhanku

Hasbunallah wa ni’mal wakil…

Alfaqir ilal Allah..

Hakikat Pancasila

Firman Allah : ‘Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’ (Annisaa:65)….

Pancasila itu tidak berbentuk benda seperti patung atau berhala. Pancasila hanyalah lima dasar dari didirikannya negara Indonesia. Yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Lima dasar ini bukan hukum dan juga bukan syariah. Kelimanya hanya prinsip-prinsip yang disepakati oleh bangsa ini dalam kesepakatan mereka untuk mendirikan negara.

Sehingga wujud asli Pancasila itu hanya segitu saja, tidak kurang dan tidak lebih.

Yang salah adalah ketika penguasa pada kurun waktu tertentu menafsirkan lima dasar ini sesuai dengan keinginannya saja (baca: kepentingan politiknya). Bahkan menyatakan bahwa tafsiran versinya itu harus dijadikan satu-satunya asas dari semua ormas dan orsospol di negeri ini. Bahkan setiap tahun diperingati hari kesaktiannya.

Di situlah titik masalahnya, yaitu pada tafsiran satu versi yang kemudian dipaksakan demi kepentingan politis. Dan masalah ini sebenarnya lebih dekat dengan perbedaan paham politik atau bahkan masalah pasang surut suatu rezim.

Adapun berkaitan dengan Pancasila ada beberapa point yang  bisa menjerumuskan anda kedalam syirik dan kufur  :

1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menyandarkan Ketuhanan kepada agama mana saja  asal jumlah Tuhannya itu ESA.. Sedangkan syi’ah imamiyah menjadikan Allah SWT sebagai satu satunya ilah, dalil kami :  qs. al ikhlas ayat 1, qs. an nahl ayat 36, dan qs. az zumar ayat 17

Sebagai umat Islam, kenapa kita harus mempertahankan/kembali membicarakan Pancasila? Dari sejarahnya, Pancasila dibuat oleh tokoh-tokoh theosofi dengan tujuan untuk membunuh Islam. “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Sila pertama ini artinya, mengakui beragam (tidak hanya satu) Tuhan Yang Maha Esa. Mengakui banyak Tuhan adalah syirik.  Yang ada adalah ruh bangsa, lebih meninggikan/lebih mengutamakan kebangsaan daripada Islam. Sungguh aneh umat Islam Indonesia ini. Pancasial hanyalah slogan pepesan kosong…negara berdasarkan ketuhanan tapi menolak hukum tuhan untuk di berlakukan..

Pancasila  menyamakan antara orang muslim dengan orang kafir,  . Padahal Allah subhanahu wata’ala telah membedakan antara orang kafir dengan orang muslim dalam ayat-ayat yang sangat banyak
Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga”.(QS. Al Hasyr : 20).

Allah subhanahu wata’ala berfirman seraya mengingkari kepada orang yang menyamakan antara dua kelompok dan membaurkan hukum-hukum mereka :“Maka apakah Kami menjadikan orang-orang islam (sama) seperti orang-orang kafir, mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”.(QS. Al Qalam : 35-36).

Dia subhanahu wata’ala berfirman “Maka apakah orang mukmin (sama) seperti orang yang fasik?(tentu) tidaklah sama”.(QS. As Sajdah :18).

Allah subhanahu wata’ala menginginkan adanya garis pemisah yang syar’i antara para wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya dalam hukum dunia dan akhirat. Namun orang-orang yang mengikuti syahwat dari kalangan budak Undang-Undang negeri ini ingin menyamakan antara mereka.

Sistem Pancasila ini memadukan antara haq dan bathil, jahiliyah dan Islam, serta antara ilmu dan kebodohan.

Demokrasi Pancasila mencabik-cabik jati diri umat Islam dan menjatuhkan kewibawaan mereka melalui penghujatan atas syari’at dan tuduhan bahwa syari’at tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kondisi zaman, juga melalui pengebirian sejarah dan hukum Islam dan mengilustrasikan bahwa Islam itu diktator tidak seperti demokrasi.

Di samping itu demokrasi berarti meleburkan umat Islam secara membabi buta ke dalam satu wadah bersama orang-orang barat dari golongan Yahudi dan Nasrani yang memendam dendam kesumat kepada umat Islam.

Pancasila memberikan jaminan kemerdekaan penduduk untuk meyakini ajaran apa saja, sehingga pintu-pintu kekafiran, kemusyrikan, dan kemurtadan terbuka lebar dengan jaminan UUD. Orang murtad masuk ke agama lain adalah hak kemerdekaannya dan tidak ada sanksi hukum atasnya. Padahal dalam ajaran Allah subhanahu wata’ala, orang murtad punya dua pilihan, kembali ke Islam atau di hukum mati, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :“Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”.(HR. Bukhari dan Muslim).

KETUHANAN YANG  MAHA  ESA versi  Pancasila bukan Tauhidullah, namun Tauhid (Penyatuan) kaum musyrikin atau Tauhiduth Thawaaghit.

Rasulullah صلى الله عليه وسلمtelah mengabarkan bahwa :“Ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena اللّه dan benci karena اللّه
Namun kalau kamu iman kepada Pancasila, maka cintailah orang karena dasar ini dan bencilah dia karenanya. Kalau demikian berarti adalah orang beriman, tapi bukan kepada اللّه, namun beriman kepada Thaghut Pancasila. Inilah yang dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang Esa itu bukanlah اللّه dalam agama Pancasila ini, tapi itulah garuda Pancasila.
kalau anda menolak yang saya bicarakan mengenai qul huwallahu ahad,saya mau tanya mengapa anda mengatakan saya hanya mengatakan dari pikiran saya pribadi??saya bersumber dari quran, jadi jika anda ingin membantah tolong katakan ayat yang mengatakan bahwa boleh mengatkan ketuhanan yang maha esa???!!!

ketuhanan yang maha esa ??  kita yang mengaku orang islam, sila pertama kita bukan ketuhanan yang maha esa tapi qul huwallahu ahad, jika kita mengakui ketuhanan yang maha esa itu sama saja dengan kita mengakui adanya illah lain selain Allah SWT  asal  ESA

Dalam Pancasila termuat ketuhanan yang maha esa, namun pada prakteknya terdapat lebih dari satu agama yaitu mereka yang dalam keyakinannya menyekutukan Allah ta’ala. Hal ini jelas bertentangan dengan tauhid ahlulbait Nabi SAW

Orang yang berada di dalam sistem Pancasila ini dipaksa untuk bergabung dalam satu barisan bersama partai-partai murtad dan zindiq dalam mempertahankan prinsip-prinsip jahiliyah seperti deklarasi-deklarasi internasional, kebebasan pers, kebebasan berpikir, kebebasan etnis Arab,

Sekarang Mari berlogika lagi,bagaimana mungkin agama  Budha bisa dimasukan agama resmi jika pengertian Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang sangat Satu ??? hehe.

berikut ulasannya :

Lebih jauh, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Buddha kita dapatkan dari sabda-sabda Sang Buddha, seperti yang dituliskan dalam Kitab Udana : “Atthi bhikkhave ajatam abhutam akatam asankhatam,no ce tam bhikkhave abhavisam ajatam abhutam akatam asankhatam, nayidha jatassa bhutassa katassa sankhatassa nissaranam pannayatha. Yasma ca kho bhikkhave atthi ajatam abhutam akatam asankhatam, tasma jatassa bhutassa katassa sankhatassa nissaranam pannaya’ti”

yang artinya:

“Para bhikkhu, ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Para bhikkhu, bila tak ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka tak ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”. (Udana,VIII: 3)

Untuk memahami ‘yang mutlak’ ini, seseorang harus mengembangkan pengertiannya, dari pengertian duniawi (lokiya) sampai memperoleh pengertian yang mengatasi duniawi (lokuttara), yang hanya dapat dicapai oleh insan yang sadar, yang telah membebaskan diri dari cengkeraman kamma dan kelahiran kembali. Pengertian ini tidak dapat dimiliki oleh manusia yang batinnya masih dicengkeram oleh keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha).

Dengan demikian, jelaslah bahwa agama Buddha benar-benar mengajarkan keyakinan terhadap tuhan yang maha esa, yang mutlak. Hal ini penting sebagai penegasan kepada mereka yang mengira bahwa Sang Buddha tidak mengajarkan keyakinan terhadap tuhan yang maha esa dan dengan sendirinya agama Buddha dianggap tidak berlandaskan pada

ketuhanan yang maha esa.

SO,,MASIHKAH BERANGGAPAN BAHWA KETUHANAN YANG MAHA ESA ITU ADALAH TUHAN YANG MAHA SATU???

apabila orang Islam meletakkan agamanya setaraf agama lain di bawah satu ideologi.. sama seperti merendah2kan Islam itu sendiri.. justeru merendah2kan Allah di bawah ideologi pancasila..

Pancasila mengakui semua agama-agama yang ada, semua direstui dan diridhai oleh “tuhan” Pancasila (burung garuda), sedangkan Tuhan Yang Maha Tinggi Allah hanya merestui dan meridhai satu saja, yaitu Al Islam.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…”(QS. Al Maidah [5]: 19)

Kita heran, bukankah orang-orang Nashrani memiliki tuhan, orang-orang Budha juga memiliki banyak tuhan, orang-orang Hindu juga memiliki banyak Tuhan, sedang kaum muslim Tuhan mereka adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan agama serta kepercayaan lainnya yang memiliki banyak tuhan. Apakah satu Tuhan yang diibadati para pemeluk agama-agama dan kepercayaan di Indonesia ini atau banyak tuhan yang berbeda-beda ? maka jawabannya adalah banyak tuhan, akan tetapi kenapa sila kesatu dalam Pancasila dikatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, bagaimana hubungannya? mudah sekali jawabannya, semua agama diakui oleh Pancasila serta Tuhan-tuhan yang banyak itu dilindungi dan disatukan oleh “Tuhan Yang Maha Esa”(dalam Pancasila) yaitu Burung Garuda…!!!

Dalam Pancasila  tidak ada perbedaan diantara mereka dalam status itu semua dengan sebab dien (agama), sedangkan Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“katakanlah : tidak sama orang buruk dengan orang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menakjubkan kamu”(QS. Al Maidah : 100).

Dia Ta’ala juga berfirman :

“maka apakah orang yang mukmin (sama) seperti orang yang fasik?(tentu) tidaklah sama”.(QS. As Sajdah : 18).

Sedangkan kaum   loyalis pancasila mengatakan :“mereka sama”.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“maka apakah Kami menjadikan orang-orang islam (sama) seperti orang-orang kafir. Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu memiliki sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa didalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu”.(QS. Al Qalam : 35-38)

Sedangkan loyalis  pancasila, mereka menyamakan antara orang-orang islam dengan orang-orang kafir. Dan saat ditanya, apakah kalian mempunyai buku yang kalian pelajari tentang itu?, mereka menjawab : ya, kami punya, yaitu PMP/PPKn dan buku lainnya

Pancasila memberikan kebebasan orang untuk memilih jalan hidupnya, dan tidak ada hukum yang melarangnya. Seandainya orang muslim murtad dan masuk nasrani, hindu, atau budha, maka itu adalah kebebasannya dan tidak akan ada hukuman baginya. Sehingga ini membuka pintu lebar-lebar bagi kemurtadan, sedangkan dalam ajaran Tauhid Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

“Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Pancasila mengajarkan pemeluknya untuk mencintai orang-orang Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu, para Demokrat, para Quburiyyun, para Thaghut dan orang-orang kafir lainnya. Sedangkan Allah subhanahu wata’ala mengatakan :“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih saying dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka”.(QS. Al Mujadilah : 22)

Kata pancasila :“harus saling mencintai meskipun dengan orang-orang non muslim”. Namun kata Allah, orang yang saling mencintai dengan mereka bukanlah orang islam.

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian jadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia yang kalian menjalin kasih sayang dengan mereka”.(QS. Al Mumtahanah :1)

Dia subhanahu wata’ala berfirman tentang siapa musuh kita itu :

“Sesungguhnya orang-orang kafir adalah musuh yang nyata bagi kalian”.(QS. An Nisa : 101)

Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang ajaran Tauhid yang diserukan para Rasul :

“Serta tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja”.(QS. Al Mumtahanah : 4).

Tapi dalam Thaghut Pancasila :“tidak ada permusuhan dan kebencian, tapi harus toleran dan tenggang rasa”.

Apakah ini Tauhid atau Syirik..???, ya, tauhid.., tapi bukan Tauhidullah, namun Tauhid (penyatuan) kaum musyrikin dan Tauhiduth Thawaaghit.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa :“ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah”. Namun kalau kamu iman kepada pancasila, maka cintailah orang karena dasar ini dan bencilah dia karenanya. Kalau demikian berarti adalah orang beriman, tapi bukan kepada Allah, namun beriman kepada Thaghut Pancasila. Inilah yang dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang esa itu bukanlah Allah dalam agama pancasila ini

2. Pancasila meletakkan Islam setara atau sama kedudukannya dengan agama lain lalu BERSAMA SAMA MEREKA berhukum dengan hukum jahiliyah.. Menurut  Syi’ah imamiyah bahwa Islam merupakan agama tertinggi sehingga agama lain harus patuh dan tunduk pada hukum Islam meskipun mereka tidak dipaksa masuk Islam. Orang Islam yang masuk kristen wajib dibunuh jika Negara Islam berdiri.. Dalil kami : q. al qalam ayat 35-41, qs. al hasyr ayat 20, qs al mujadilah ayat 20 – 22, qs ali imran ayat 71, qs an nisa ayat 100-101, qs al maidah ayat 100, Qs. As-Sajadah ayat  18

(Diberlakukannya sistem demokrasiPancasila) berarti menafikan peran ulama dan menghilangkan kedudukan mereka di mata masyarakat padahal merekalah yang memiliki ilmu dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, karena mereka sudah tidak lagi ditaati dan dijadikan sebagai pemimpin lantaran kebijaksanaan hukum berada di tangan mayoritas.

Kita tanyakan kepada para aktivis dakwah yang tertipu dengan sistem ini: Jika kalian sudah sampai pada tampuk kekuasaan apakah kalian akan menghapuskan demokrasi dan melarang eksisnya partai-partai sekuler? Padahal kalian telah sepakat dengan partai-partai lain sesuai dengan undang-undang kepartaian bahwa pemerintahan akan dilaksanakan secara demokrasi dengan memberi kesempatan kepada seluruh partai untuk berpartisipasi aktif. Jika kalian mengatakan bahwa sistem demokrasi ini akan dihapus dan partai-partai sekuler dilarang untuk eksis berarti kalian berkhianat dan mengingkari perjanjian kalian merkipun perjanjian tersebut (pada hakekatnya) adalah bathil.

Menurut sebagian aktivis dakwah, tujuan mereka masuk ke dalam sistem ini adalah untuk menegakkan hukum Allah. Padahal mereka tidak akan mewujudkannya kecuali dengan mengakui bahwa rakyat adalah sebagai penentu dan pembuat hukum, ini berarti ia telah menghancurkan tujuan (yang ingin dicapainya) dengan sarana yang dipergunakannya.

Dan yang sangat membahayakan, sistem demokrasi Pancasila dan pemilu dapat mengestablishkan (mengukuhkan posisi) orang-orang kafir dan munafiq untuk memegang kendali kekuasaan atas kaum muslimin –dengan cara yang syar’i– menurut perkiraan sebagian orang-orang yang jahil.

Sistem Pancasila ini akan mengarah pada tegaknya konfederasi semu dengan partai-partai sekuler, sebagai telah terjadi pada hari ini, apalagi biasanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul banyak menyelisihi mayoritas manusia yang menganut aqidah yang sesat dan menyimpang dan memiliki tradisi-tradisi jahiliyah.

Di bawah naungan sistem demokrasi Pancasila permasalahan wala’ dan bara’ menjadi tidak jelas dan samar, oleh karenanya ada sebagian orang yang berkecimpung dan menggeluti sistem ini menegaskan bahwa perselisihan mereka dengan partai sosialis, partai baath dan partai-partai sekuler lainnya hanya sebatas perselisihan di bidang program saja bukan perselisihan di bidang manhaj dan tak lain seperti perselisihan yang terjadi antara empat madzhab

Pancasila tidak membedakan antara orang yang alim dengan orang yang jahil, antara orang yang mukmin dengan orang kafir, dan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka semuanya memiliki hak suara yang sama, tanpa dilihat kelebihannya dari sisi syar’i.

Pancasila dan pemilu bertumpu kepada suara mayoritas tanpa tolak ukur yang syar’i.

Terjun ke dalam kancah demokrasi Pancasila akan dihadapkan pada perkara-perkara kufur dan menghujat syariat Allah, mengolok-oloknya dan mencemooh orang-orang yang berusaha untuk menegakkannya, karena setiap kali dijelaskan kepada mereka bahwa hukum yang mereka buat bertentangan dengan ajaran Islam, mereka akan mencemooh syariat Islam yang bertentangan dengan undang-undang mereka dan mencemooh orang-orang yang berusaha untuk memperjuangkannya. Maka menutup erat-erat pintu yang menuju ke sana dalam hal ini sangat diperlukan.

Demokrasi Pancasila akan membuat harakah Islamiyah dikendalikan oleh orang-orang yang tidak kufu’(yang tidak memiliki pengetahunan dan pemahaman tentang Dien yang cukup), karena yang menjadi pemimpin harus sesuai dengan hasil partai dalam sistem kerja maupun pelaksanaan programnya harus sesuai dengan asas pemilu.

Pancasila ini membuat kita lengah akan tabiat pergolakan antara jahiliyah dan Islam, antara haq dan batil, karena keberadaan salah satu di antara keduanya mengharuskan lenyapnya yang lain, selamanya tidak mungkin keduanya akan bersatu. Barangsiapa mengira bahwa dengan melalui pemilihan umum fraksi-fraksi jahiliyah akan menyerahkan semua institusi-institusi mereka kepada Islam, ini jelas bertentangan dengan rasio, nash dan sunah (keputusan Allah) yang telah berlaku atas umat-umat terdahulu.

Pancasila ini akan menyebabkan terkikisnya nilai-nilai aqidah yang benar yang diyakini dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan itrah ahlulbait  yang mulia, akan menyebabkan tersebarnya bid’ah, tidak dipelajari dan disebarkannya aqidah yang benar ini kepada manusia, karena ajaran-ajarannya menyebabkan terjadi perpecahan di kalangan anggota partai, bahkan dapat menyebabkan seseorang keluar dari partai tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah perolehan suara dan pemilihnya.

Orang-orang murtad dan munafiq dalam naungan sistem demokrasi Pancasila dikategorikan ke dalam warga negara yang potensial, baik dan mukhlis, padahal dalam tinjauan syar’i mereka tidak seperti itu.

Pancasila memvakumkan hukum-hukum syar’i seperti jihad, hisbah, amar ma’ruf nahi munkar, hukum terhadap orang yang murtad, pembayaran jizyah, perbudakan dan hukum-hukum lainnya.

Pancasila memisahkan antara dien dan kehidupan, yakni dengan mengesampingkan syari’at Allah dari berbagai lini kehidupan dan menyandarkan hukum kepada rakyat agar mereka dapat menyalurkan hak demokrasi mereka –seperti yang mereka katakan– melalui kotak-kotak pemilu atau melalui wakil-wakil mereka yang duduk di Majelis Perwakilan.

Pancasila membuka lebar-lebar pintu kemurtadan dan zindiq, karena di bawah naungan sistem thaghut ini memungkinkan bagi setiap pemeluk agama, madzhab atau aliran tertentu untuk membentuk sebuah partai dan menerbitkan mass media untuk menyebarkan ajaran mereka yang menyimpang dari dienullah dengan dalih toleransi dalam mengeluarkan pendapat.

Pancasila membuka pintu perpecahan dan perselisihan, mendukung program-program kolonialisme yang bertujuan memecah-belah dunia Islam ke dalam sukuisme, nasionalisme, negara-negara kecil, fanatisme golongan dan kepartaian.

Pancasila membuka pintu syahwat dan sikap permissivisme (menghalalkan segala cara) seperti minum arak, mabuk-mabukan, bermain musik, berbuat kefasikan, berzina, menjamurnya gedung bioskop dan hal-hal lainnya yang melanggar aturan Allah di bawah semboyan demokrasi yang populer,”Biarkan dia berbuat semaunya, biarkan dia lewat dari mana saja ia mau,” juga di bawah semboyan “menjaga kebebasan individu.”

Pancasila mengakui bahwa semua agama itu adalah setara kedudukannya! Inilah suatu kejahatan dan suatu kebiadaban yang amat tidak disadari oleh ummat Islam Indonesia. Padahal seorang muslim akan batal keislamannya jika ia tidak meyakini Islam sebagai  satu satunya agama yang benar..
firman Allah :  “Sesungguhnya dien (agama) di sisi Allah hanyalah Islam”  ( Ali-Imran : 19).

Firman Allah yang lainnya menyebutkan :
“Barangsiapa mencari dien (agama ) selain Islam, maka itu selamanya tidak akan diterima oleh Allah. Dan di akhirat nanti kelak ia akan menjadi orang-orang yang merugi ” ( Ali Imran : 85).

kepentingan Nasional harus lebih di dahulukan diatas kepentingan golongan (baca : agama). ApabilaTauhid atau ajaran Islam bertentangan dengan kepentingan syirik atau kufur negara, maka Tauhid harus mengalah.

Pancasila mengajarkan pemeluknya untuk mencintai orang-orang Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu, para Demokrat, para Quburriyyun, para Thaghutdan orang-orang kafir lainnya.

Pancasila memberikan kebebasan orang untuk memilih jalan hidupnya, dan tidak ada hukum yang melarangnya. Seandainya orang muslim masuk Nasrani, Hindu, atau Budha, maka itu adalah kebebasannya dan tidak akan ada hukuman baginya. Sehingga ini membuka pintu lebar-lebar bagi kemurtadan, sedangkan dalam ajaran Tauhid Rasulullah bersabda : ”Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Padahal اللّه subhanahu wata’ala telah membedakan antara orang kafir dengan orang muslim dalam ayat-ayat yang sangat banyak.
اللّه Ta’ala berfirman :
Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga”.(Qs. Al-Hasyr : 20)
اللّه subhanahu wata’ala berfirman seraya mengingkari kepada orang yang menyamakan antara dua kelompok dan membaurkan hukum-hukum mereka :
Maka apakah Kami menjadikan orang-orang islam (sama) seperti orang-orang kafir. Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”.(Qs. Al-Qalam : 35 – 36)
Dia subhanahu wata’ala berfirman  ”Maka apakah orang yang mukmin (sama) seperti orang yang fasik? (tentu) tidaklah sama”.(Qs. As-Sajadah : 18)
اللّه subanahu wata’ala menginginkan adanya garis pemisah yang syar’i antara para wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya dalam hukum-hukum dunia dan akhirat. Namun orang-orang yang mengikuti syahwat dari kalangan budak Undang-Undang negeri ini ingin menyamakan antara mereka.

apabila orang Islam meletakkan agamanya setaraf agama lain di bawah satu ideologi maka  sama seperti merendah2kan Islam itu sendiri.. justeru merendah rendahkan kan Allah di bawah ideologi pancasila.. Masalah yang nyata adalah Muslim indonesia sendiri ada yang menentang syariat Islam.. bukankah ajaran Islam itu merangkupi semuanya termasuk PERUNDANGAN ISLAM ?

3. Presiden, DPR dan MPR  tidak berwenang membuat hukum karena pembuatan hukum adalah hak Allah SWT. Allah SWT merupakan penguasa yang mengatur kehidupan  dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya dll jadi tidak bisa disekutukan dengan Undang Undang Thaghut ! dalil kami : qs. Al An’am ayat 14, Qs. An Naas ayat 1-3, Qs. An nisa ayat 65  dan Qs. Al Ahzab ayat 36, qs al kahfi ayat 26, qs an nisa ayat 59 + 115 -116, qs al hujurat ayat 1-2, qs. al maidah ayat 44-50

Bahkan bila ada perselisihan kewenangan antar lembaga pemerintahan, maka putusan final dikembalikan kepada   “Mahkamah Konstitusi”,  Padahal dalam ajaran Tauhid, semuanya itu harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya :“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian”.(QS. An Nisa’:59).

kepentingan Nasional harus lebih didahulukan di atas kepentingan golongan (baca : agama). Apabila Tauhid atau ajaran islam bertentangan dengan kepentingan syirik atau kufur Negara, maka Tauhid harus mengalah. Sedangkan Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya”.(QS. Al Hujurat : 1).

“Menetapkan hukum itu adalah hak Allah.”(Surat Al-An’am: 57) Sedangkan demokrasi tidak seperti itu karena penentu hukum dan kebijaksanaan berada pada selain Allah (yakni di tangan suara mayoritas).

melalui dewan-dewan perwakilan dapat diketahui bahwa sesungguhnya sistem demokrasi berdiri di atas asas tidak mengakui adanya Al-Hakimiyah Lillah (hak pemilikian hukum bagi Allah), maka terjun ke dalam sistem demokrasi kalau bertujuan untuk menegakkan argumen-argumen dari Al-Quran dan itrah ahlulbait  maka hal ini tidak mungkin diterima oleh anggota dewan karena yang dijadikan hujjah oleh mereka adalah suara mayoritas dan andapun mau tidak mau harus mengakui suara mayoritas tersebut, maka bagaimana anda akan menegakkan hujjah dengan Al-Quran dan itrah ahlulbait  sedangkan mereka tidak mengakui keduanya. Meskipun anda menguatkan (argumen anda) dengan berbagai dalil-dalil syar’i maka dalam pandangan mereka hal itu tidak lebih dari sekedar pendapat anda saja, bagi mereka dalil-dalil tersebut tidak memiliki nilai sakral sedikitpun karena mereka menginginkan –seperti yang mereka katakan– untuk membebaskan diri dari hukum ghaib yang tidak bersumber dari suara mayoritas dan pertama kali yang mereka tentang adalah hukum Allah dan Rasul-Nya. Maka pengakuan anda terhadap prinsip thaghut ini –yakni kebijakan hukum di tangan suara mayoritas dan pengakuan anda akan hal itu demi memenuhi tuntutan massamu– berarti meruntuhkan prinsip “hak pemilikan dan penentuan hukum mutlaq bagi Allah semata.” Dan manakala anda menyepakati bahwa suara mayoritas merupakan hujjah yang dapat menyelesaikan perselisihan maka tidak ada gunanya lagi anda membaca Al-Quran dan hadits karena keduanya bukan hujjah yang disepakati di antara kalian

Sudah kita ketahui bahwa hak menentukan hukum / aturan / undang-undang adalah hak khusus اللّه subhanahu wata’ala. Dan bila itu dipalingkan kepada selain اللّه maka itu adalah syirik akbar. اللّه subhanahu wata’alaberfirman :

Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu bagi-Nya dalam menetapkan hukum”.(Qs. Al-Kahfi : 26)

اللّه subhanahu wata’ala berfirman :

Hak hukum (putusan) hanyalah milik اللّه. (Qs. Yusuf : 40)

dalam ajaran Tauhid, semua harus dikembalikan kepada اللّه dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya :

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada اللّه (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar benar beriman kepada اللّه dan hari kemudian”.(Qs. An Nisa’ : 59)

Tasyri’ (pembuatan hukum) adalah hak khusus اللّه subhanahu wata’ala, ini artinya MPR adalah arbab (Tuhan-Tuhan) selain اللّه, dan orang-orang yang duduk sebagai anggota MPR adalah orang-orang yang mengaku sebagai Rabb (Tuhan), sedangkan orang-orang yang memilihnya adalah orang-orang yang mengangkat ilah yang mereka ibadahi. Sehingga ucapan setiap anggota MPR : ”Saya adalah anggota MPR”, artinya adalah ”Saya adalah Tuhan selain اللّه.

4. Syi’ah imamiyah menganggap AL QURAN sebagai petunjuk pedoman hidup, bukan Pancasila ! dalil kami : qs. Al Baqarah ayat 2, qs. al an’am ayat 153, qs yusuf ayat 111

Pancasila mengajarkan bahwa kepentingan nasional harus didahulukan atas semua kepentingan termasuk agama, oleh sebab itu semua hukum yang berkaitan dengan agama tidak dipakai karena mengganggu “Kestabilan nasional”, hukum pidana Islam, jihad terhadap orang kafir, jizyah atas ahli kitab dan yang lainnya ditiadakan karena merusak hubungan Nasional. Nasionalisme adalah segalanya… padahal Allah mengatakan :
“Jika bapak-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya…”(QS. At Taubah [9]: 24)

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“itulah Al-Kitab (Al-Qur’an), tidak ada keraguan didalamnya, sebagai petunjuk (pedoman) bagi orang-orang yang bertaqwa”.(QS. Al-Baqarah : 2)

Tapi mereka mengatakan :“ini Pancasila adalah pedoman hidup bagi bangsa dan pemerintah Indonesia”.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia.”(QS. Al-An-am :153).

Tapi mereka menyatakan :“inilah pancasila yang sakti, hiasilah hidupmu dengan moral pancasila”.

Oleh karena itu, dalam rangka menjadikan generasi penerus bangsa ini sebagai orang yang pancasilais dengan  menjadikan PMP/PPKn sebagai pelajaran wajib di semua lembaga pendidikan mereka.

————————————————————————————————-

Bagaimana STATUS  SEORANG  MUSLiM  dibidang  TAHKiM  ???

Syi’ah  bukan jama’ah  takfir dan bukan khawarij yang memvonis kafir semaunya  !!!

Maka dengan demikian seorang yang telah bersyahadat, menyatakan dirinya Muslim, haram mengikuti dan mendukung Pancasila. Karena Pancasila jelas bertentangan dengan Islam. Muslim Indonesia wajib mengatakan Pancasila adalah sistem yang harus diganti dengan sistem Islam. Sistem yang jauh lebih baik dan sempurna dari sistem manapun didunia ini, dari dulu hingga sekarang dan sampai hari qiamat. Hanya Islam-lah yang akan menghantarkan bangsa Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan penuh kedamaian. Dan mereka yang bukan Islam, hanya Islamlah yang dapat menjaga kehormatan dan keamanan mereka. Karena Islam adalah rahmat untuk seluruh alam.

Pancasila adalah landasan ideologi, pandangan hidup dan kepribadian bangsa. Ini semua jelas arti lain dari aqidah dan way of life (syariah). Para du’at harus menerangkan bahwa aqidah dan syariah umat Islam adalah Al Qur’an dan itrah ahlulbait yang maksum, sehingga jelas pancasila sama sekali tidak bisa diterima sebagai landasan ideologi, pandangan hidup dan kepribadian bangsa.

Di masa nabi, ada pembedaan antara kafir musyrik dengan kafir bukan musyrik. Kafir musyrik itu misalnya orang-orang kafir quraisy yang menyembah berhala, atau orang Persia yang menyembah api. Sedangkan bangsa Romawi yang nasrani tidak disebut sebagai kafir musyrik, melainkan kafir ahli kitab. Padahal mereka terkenal dengan pembangkangannya atas kitab suci yang diturunkan Allah, bahkan tidak mau berhukum dengan hukum Allah. Namun nabi tidak menyebut mereka sebagai musyrik. Mereka hanya dikatakan sebagai kafir, fasik dan zdhalim, sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzhalim. (QS. Al-Maidah: 45)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq. (QS. Al-Maidah: 47)

Bahkan di dalam Al-Quran secara tegas disebutkan bahwa para ahli kitab bila tidak mau berhukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah dan menjadikan nabi Muhammad SAW sebagai hakim yang memutuskan perkara di antara mereka, maka mereka adalah bukan orang-orang yang beriman.

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
(QS. An-Nisa’: 65)

STATUS  SEORANG  MUSLiM  dibidang  TAHKiM :

1. Kafir Besar / Murtad Besar 

2. Kafir Kecil / Murtad  Kecil

3. Fasik 

4. Zalim

5. Jahil

ADAPUN  PERiNCiANNYA  ADALAH  SEBAGAi  BERiKUT iNi :

============================================

1. Kafir Besar / Murtad Besar 

Seorang muslim yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah SWT disertai :

a. Bila seseorang membuat hukum dari dirinya sendiri kemudian dia meyakini bahwa hukumnya tersebut adalah hukum Allah atau lebih baik dari hukum Allah SWT

b. Menghalalkan perbuatan dosa besar (istihlal)

c. Menolak Al Quran dan mengingkarinya

d. Tidak memakai hukum Allah SWT  dengan meyakini bahwa perbuatan tersebut  adalah sesuatu yang halal

Contoh :

a. Seorang muslim meyakini ada wujud Tuhan selain Allah SWT

b. Meyakini semua agama sama saja  (pluralisme)

c. Meyakini semua agama sederajat / setara lalu bersama sama bnerhukum dengan hukum jahiliyah

Dalil kami  : qs. An Nisa 116 dan qs. Al Maidah ayat 44, qs. An Nisa ayat 150 – 151 dan Qs. Al Baqarah ayat 85

Pelaku perbuatan tersebut terkena hukum riddah yang mengeluarkannya dari Islam karena telah MUSYRiK yaitu  mengadakan sekutu terhadap Allah SWT… Dasar nya apa ???

Syirik dalam Islam diartikan sebagai bentuk pemujaan kepada makhluk/ciptaan Allah SWT sehingga menduakan (menyekutukan) Allah YME dalam menyembah dan menyerahkan diri yg harusnya hanya kepada satu zat Tuhan.

Syirik  atau politeisme juga artinya percaya bahwa ada kekuatan lain selain Allah SWT  yang memiliki  peran dalam mengatur urusan dunia…

Hukum pengaturan masyarakat dan kehidupan jagad raya ini berada dibawah otoritas Nya..

Hukum TAGHUT dipandang  sebagai sekutu Allah SWT padahal Allah SWT tidak memiliki  sekutu…

Lawan dari syirik  adalah tauhid atau monoteisme yang berarti meyakini  bahwa tidak ada kekuatan lain selain Allah SWT yang memiliki peran dalam mengatur urusan dunia…

Menghalalkan Pancasila sama saja dengan mengingkari sebagian ayat ayat Al Quran yang diturunkan Allah.. Ini sudah termasuk wilayah aqidah yang menyebabkan keluar dari keimanan.. Orang yang meyakini tidak layaknya apa yang Allah turunkan secara penuh keyakinan (I’tiqadi) maka dia kafir !!

Kafir besar : Orang islam yang mengingkari perkara agama yang telah jelas, bukan pengingkaran terhadap  perkara ijtihadi, missal : mengingkari wajibnya shalat dengan didasari  i’tiqad..

Asbabun nuzul Qs. Almaidah ayat 44 : Sekelompok Yahudi yang coba mengingkari bahwa hokum pezina adalah dirajam !!

Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’, kufur adalah tidak beriman kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

Jenis Kufur

Kufur ada dua jenis: Kufur Besar dan Kufur Kecil

KUFUR BESAR

Kufur besar bisa mengeluarkan seorang dari agama Islam. Kufur besar ada lima macam:

1. Kufur karena mendustakan, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:”Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mendustakan kebenaran tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?” (Al-Ankabut: 68).

2. Kufur karena enggan dan sombong, padahal membenarkan, dalilnya firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Tunduklah kamu kepada Adam.’ Lalu mereka tunduk kecuali Iblis; ia enggan dan congkak dan adalah ia termasuk orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 34).

3. Kufur karena ragu, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:”Dan ia memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri; ia berkata, ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, niscaya akan kudapati tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.’ Temannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya, ‘Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun’.” (Al-Kahfi: 35-38).

4. Kufur karena berpaling, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:”Dan orang-orang kafir itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka.” (Al-Ahqaf: 3).

5. Kufur karena nifaq, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:”Yang demikian itu adalah karena mereka beriman (secara lahirnya, lalu kafir (secara batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (Al-Munafiqun: 3).

Realita hari ini banyak orang yang beribadah kepada selain ALLOH akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa yang ia lakukan itu adalah bentuk ibadah yang harus dikhususkan kepada ALLOH saja atau menjadi hak khusus ALLOH,salah satu contoh adalah taat terhadap hukum,yang apabila ketaatan itu di berikan kepada ALLOH,yaitu dengan berhukum dengan hukum yang telah ALLOH turunkan,maka itulah yang disebut beribadah kepada ALLOH,akan tetapi apabila ketaatan itu di berikan kepada selain ALLOH (makhluk),maka itulah yang disebut beribadah kepada selain ALLOH,dalam hal ini disebut beribadah kepada manusia yang telah melanggar hak khusus ALLOH sebagai pembuat hukum,yaitu manusia telah lancang dengan membuat hukum yang menyelisihi hukum ALLOH dan menggantinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.Maka manusia yang seperti ini disebut ARBAB (tuhan-tuhan selain ALLOH),sedangkan orang-orang yang mengikuti hukumnya atau berhukum dengan hukum buatannya mereka pada hakekatnya telah melakukan SYIRIK AKBAR

Dijadikannya Pancasila sebagai Azas Tunggal, hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dalam Aqidah Islam, dalam Islam semua aktifitas seorang Muslim adalah semata-mata berdasarkan Allah (keridhoan-Nya, Dia telah mengatur, memberikan Syari’ah, peraturan-peraturan dalam kehidupan ini). Allah berfirman:

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.”(Al An’am: 162)“Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(Al An’am: 163)

Kalau ada orang Muslim, mengerjakan sesuatu bukan karena Allah semata, maka ia telah syirik, menyekutukan Allah. Karena ketika ia shalat selalu mengucapkan seluruh aspek kehidupannya hanya untuk Allah, namun dilain waktu, ia berbuat bukan semata-mata karena Allah. Demikian juga halnya, jika seorang Muslim melakukan suatu pekerjaan semata-mata berdasarkan Pancasila bukan karena Allah, maka ia dikatagorikan telah musyrik kepada Allah.

Pancasila adalah kecil dan tak ada artinya jika dibandingkan dengan Islam sebagai Dien, karena Islam telah mengatur segala aspek kehidupan manusia, sedangkan Pancasila tidak !!! Cendikiawan terkemuka didunia ini tidak pernah mengatakan Pancasila adalah falsafah apalagi pandangan hidup (way of live), karena ketidakjelasan ajaran yang dibawakannya, bermakna kosong, mereka hanya mengakui Islam, marxisme, Materialisme, Komunisme, liberalisme beserta aliran-alirannya. Sebagai ideologi, falsafah, maupun pandangan hidup.

Seorang Muslim di Indonesia, sudah seharusnyalah tidak mengakui Pancasila yang kerdil dan bermakna kosong itu sebagai falsafah, ideologi maupun pandangan hidup baginya, tapi harus meyakini, Islamlah satu-satunya yang benar. Islam telah membuktikan hal ini, hampir 15 abad diturunkan namun ia tetap sesuai dengan zaman dan tempat maupun didunia ini, tidak pernah mengalami perubahan sejak diturunkannya hingga kini, tidak seperti lainnya, selalu mengalami perubahan-perubahan. Itulah ketinggian Islam yang fitri.

Pengikut dan pendukung Pancasila, apalagi menerimanya sebagai ideologi, falsafah, way of life, maka ia telah ingkar dengan ajaran Islam.

sesungguhnya kalian tidak berstatus muslim apabila tidak kufur terhadap thaghut, yaitu meninggalkan ibadah terhadap thaghut, sedangkan thaghut terbesar di negeri ini adalah dustur (Undang Undang Dasar) dan qawanin (undang-undang). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.(QS. An Nisa [4]: 60)

Thaghut di sini adalah undang-undang buatan (UUD dan UU), orang yang membuatnya dan memutuskan dengannya. Sedangkan beribadah kepada UUD atau UU adalah dengan cara mengikutinya, berhakim kepadanya, menerima dan pasrah pada aturan-aturannya serta ridha dengannya.

KENAPA?
Pancasila dihadirkan sebagai TUHAN oleh manusia yang  telah khianat dari amanah.
Ia lahir sebagai ‘SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM’
yang berlaku di Indonesia�. Kini memang terjadilah bencana itu.

banyak manusia Indonesia yang tidak memahami bahwa Pancasila adalah sebuah KESYIRIKAN (SYIRIK).

Perlu sedikit uraian bagi mereka yang sama sekali tidak  menyadari bahwa PANCASILA itu adalah SYIRIK.

Yang pertama, bahwa Pancasila diperlakukan sebagai SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM di Indonesia. Statement ini jelas bertentangan dengan ayat Allah : ” (Ketahuilah) bahwasanya tidaklah HUKUM itu melainkan milik Allah “

Tidak dinamakan Muslim jika seseorang tidak yakin bahwa agama yang benar dan / atau baik itu hanyalah Islam, sedangkan selain itu adalah batil belaka.

Meyakini bahwa Islam itu benar dan Pancasila juga benar apalagi dengan meyakini bahwa Pancasila adalah merupakan INTISARI ISLAM adalah suatu keyakinan yang bathil. Inilah yang disebut KESYIRIKAN.

Bagaimana tidak? Islam dibuat dan dijadikan WAY OF LIFE bagi Ummat manusia. Sementara Pancasila dihadirkan oleh manusia kerdil yang coba menyaingi HUKUM-HUKUM ALLAH demi menjadi SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM yang berlaku di Indonesia.

Kesyirikan seperti ini mesti segera disadari. Bukankah Allah berfrirman : “…Jika menyekutukan Allah (syirik) pastilah semua amalan kamu akan digugurkan oleh Allah dan pastilah kamu akan menjadi orang yang merugi ” ( Az-Zumar : 35)

Seorang muslim sejati tidak akan pernah menjadi Pancasilais dan seorang Pancasilaisis sejati tidak mungkin menjadi seorang MUSLIM selama-lamanya. Maka bertaubatlah wahai Insan Muslim (khususnya Indonesia) yang meyakini bahwa PANCASILA adalah sebagai SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM.

Berhentilah dari kemusyrikan berhentilah beramal karena Pancasila , dan yakinilah bahwa tiada ajaran, way of life, idelogi dan sebagainya yang lebih tinggi dari Islam. Lupakanlah Pancasila, sesali dan tangisilah kehadirannya di bumi Indonesia.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu bagi-Nya dalam menetapkan hukum”(QS.Al Kahfi : 26).

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“Hak hukum (putusan) hanyalah milik Allah”.(QS. Yusuf :40).

Tasyri’(pembuatan hukum) adalah hak khusus Allah subhanahu wata’ala, ini artinya MPR adalah arbab (tuhan-tuhan) selain Allah, dan orang-orang yang duduk sebagai anggota MPR adalah orang-orang yang mengaku sebagai Rabb (Tuhan), sedangkan orang-orang yang memilihnya adalah orang-orang yang mengangkat ilah (tuhan) yang mereka ibadahi, sehingga ucapan setiap anggota MPR :“saya adalah anggota MPR”, artinya adalah:“saya adalah Tuhan selain Allah”.

Permasalahan syirik bukanlah perkara yang remeh, sebab kelurusan seseorang dalam bertauhid dan beraqidah menjadi jaminan bagi keselamatannya di dunia dan akhirat. Apabila tauhid seseorang melenceng dari standar Al-Qur’an dan As-sunnah, maka pasti dia terjerumus pada kesyirikan.

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu”. Merekamenjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian ituagardi hari Kiamat kamu tidak mengatakan,”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yanglengah terhadap hal ini (keesaan Rabb)”. Atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah menyekutukan Ilah sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunanyang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang yang sesat dahulu”. (QS. 7:172-173)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kebanyakan orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan disebabkanoleh dua hal dan secara otomatis dia telah melanggar perjanjian, ikrar dan persaksiannya sendiri terhadap keesaan Allah, dua hal tersebut adalah:

  • Jahil dan lalai terhadap tauhid dan syirik
  • Taqlid buta pada adat istiadat dan kebiasaan nenek moyang.

Permasalahan syirik bukanlah perkara yang remeh, sebab kelurusan seseorang dalam bertauhid dan beraqidah menjadi jaminan bagi keselamatannya di dunia dan akhirat. Apabila tauhid seseorang melenceng dari standar Al-Qur’an dan As-sunnah, maka pasti dia terjerumus pada kesyirikan.

Karena itu kita harus mengerti dan paham apa sebenarnya syirik itu, agar kita bisa terhindar dari bahaya dan malapetakanya di dunia dan di akhirat. Para ulama mengatakan, “Aku mengenali kejelekanbukan untuk melakukannya, tetapi agar terhindar darinya. Barangsiapa yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dengan kejelekan pasti terjerumus pada kejelekan itu.” Untuk itu, marilah kitamengenali apa syirik itu sebenarnya.

Syirik adalah menyejajarkan/menyamakan makhluk dengan Al-Khaliq (Allah swtdalam perkara-perkara yang merupakan hak khusus (istimewa) Allah swt.
Hak istimewa Allah Subhannahu wa Ta’ala banyak sekali, seperti: Disembah, mencipta, mengatur, memberikan manfaat dan mendatangkan madharat, menentukan baik dan buruk, membuat hukum dan undang-undang (syari’at) dan lain-lainnya.

Syirik akbar;

  • Syirik akbar menghancurleburkan seluruh amal ibadah pelakunya.
  • Apabila dia meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik akbar maka tidak mendapat ampunan Allah Subhannahu wa Ta’ala.
  • Pelakunya tergolong murtad dari Islam.
  • Di akhirat kelak pelakunya akan kekal dalam neraka selama-lamanya.

Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.

Tema yang kami pilih  tauhid dan syirik. Tema ini termasuk masalah penting yang banyak disinggung dan dibicarakan oleh ayat-ayat al-Qur’an di dalam berbagai suratnya. Diantara ayat yang menjelaskan tema tersebut adalah ayat 31 dalam surat al-Haj. Ayat yang mulia itu berbunyi: “Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.

Tema perumpaman di atas, yaitu tauhid dan syirik merupakan persoalan yang mendapat perhatian semua agama. Keduanya itu diserupakan dengan langit dan jatuh darinya. Perhatikanlah penjelasan yang akan kami sajikan berikut ini.

Penjelasan

Allah Swt berfirman: “Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit”. Di dalam ayat ini tauhid diserupakan dengan langit dan syirik diserupakan dengan jatuh dari langit yang memiliki matahari, bulan dan bintang yang merupakan sumber cahaya, sinar dan keberkahan. Di samping itu bahwa langit itu sendiri memiliki keindahan dan keagungan tertentu.

Tauhid merupakan sumber cahaya dan keagungan Tuhan dan mendatangkan keberkahan dan sinar penerang bagi monoteisme. Adappun syirik sebagaimana jatuh dari langit tauhid.

Dengan memperhatikan mukaddimah ini, ayat di atas berkata: “Mereka yang menolak untuk bertauhid kepada Allah Swt dan menjadikan syarik (teman) bagi-Nya dan keluar dari barisan monoteisme, sama dengan orang yang jatuh dari langit”. Sudah pasti orang yang jatuh dari langit ke bumi itu tidak mungkin hidup lagi.

Allah Swt berfirman : “Lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.Seorang musyrik yang jatuh dari langit ke bumi tidak akan selamat, karena -ketika tergantung di udara- hanya ada satu di antara dua jalan yang pada akhirnya mati atau hancur. Dua jalan tersebut ialah:

Pertama: Dia menjadi mangsa burung-burung buas pemakan daging dan bangkai yang terbang di udara. Masing-masing burung itu akan memakan sebagian daging yang ada di tubuhnya, sehingga ia tidak sampai ke bumi kecuali tinggal tulangnya saja.

Kedua: Dia akan ditiup angin kencang yang akan melemparkannya ke tempat yang jauh yang tidak ada manusia untuk menyelamatkannya.

Kesimpulannya bahwa seorang musyrik itu di dalam ayat ini diserupakan dengan seseorang yang jatuh dari langit ke bumi dan di tengah perjalanannya itu ia disergap burung-burung pemangsa daging dan bangkai atau ia akan ditiup oleh angin kencang ke tempat yang jauh yang tidak mungkin dijangkau oleh mansuia.

Pesan-pesan ayat

1. Apakah yang dimaksud dengan burung-burung ?

Tidak menutup kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan burung-burung itu adalah hawa nafsu.[1]

Seseorang yang musyrik itu menjadi mangsa hawa nafsunya. Sebagian dari hawa nafsu itu mempermalukan seseorang, sebagian lainnya menghilangkan kemanusiaannya, dan sebagian lagi menghilangkan keberanian, kehormatannya dan lain sebagainya. Pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa dari seorang musyrik. Karena burung-burung hawa nafsu telah melahap apa yang terdapat pada dirinya, baik kepribadiannya maupun kemanusiaannya.

2. Apakah yang dimaksud dengan angin?

Bisa jadi yang dimaksudkan dengan angin yang disinggung di dalam ayat tersebut dan yang melemparkan seorang musyrik ke tempat yang jauh yang sulit dijangkau oleh manusia adalah setan-setan pengkhianat.[2] Maka seorang musyrik itu, apabila ia dapat lolos dari burung-burung hawa nafsu, dia akan ditawan oleh angin setan pendurhaka. Dia akan dibawa ke suatu tempat yang tidak ada lagi penolong baginya sehingga ia akan hidup dalam kesesatan dan akhirnya celaka.

3. Orang-orang musyrik tidak pernah mendapatkan ketentraman

 Sesungguhnya grafitasi bumi itu merupakan nikmat Allah Swt. Karena dengan grafitasi itu menjadikan segala sesuatu menjadi seimbang. Tanpa grafitasi maka segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tidak akan eksis dan seimbang. Kita lihat bahwa rumah-rumah, Sawah-Sawah, pabrik-pabrik, sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit menjadi eksis pada tempatnya masing-masing berkat adanya grafitasi yang membuatnya seimbang. Grafitrasi ini berpusat di bumi, dan semakin kita jauh dari bumi, maka grafitasi semakin berkurang. Segala sesuatu itu akan kehilangan keseimbangannya apabila berada di luar grafitasi bumi. Oleh karena itu para astronot mengikuti training dan latihan di tempat-tempat yang hampa udara dan tidak terdapat grafitasi sebelum mereka berangkat ke laur angkasa untuk beberapa waktu lamanya.

Eksperimen yang dilakukan untuk hampa dari grafitasi adalah jatuh secara bebas dari tempat-tempat yang memiliki ketinggian tertentu. Ketika itu seseorang dapat merasakan suatu kehidupan yang belum pernah ia alamai sebelumnya. Karena itu, para dokter berpendapat bahwa kebanyakan dari ortang-orang yang jatuh dari tempat yang tinggi, akan mengalami terhentinya detak jantung sebelum sampai ke permukaan bumi.

Seorang musyrik -ketika jatuh dari langit- merasakan kehilangan keseimbangan. Pada saat itu kegoncangan jiwa menyelimuti seluruh wujud dirinya. Demikianlah, seseorang yang jatuh dari tauhid dan menuju kepada kemusyrikan, tidak akan merasakan ketenangan dan ketentraman dalam dirinya. Dia akan merasakan adanya goncangan dan kegelisahan. Ketenangan dan ketentraman hanya di peroleh di bawah naungan tauhid, jauh dari kemusyrikan dan penyembahan berhala. Allah Swt berfirman : “Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram”.[3]

4. Orang musyrik tidak memiliki kehendak

Seseorang -sebelum jatuh- memiliki kehendak. Tetapi ketika telah jatuh dan tergantung di udara, kehendaknya itu sirna dan tidak dapat lagi mengambil suatu keputusan. Dan demikian pula, seseorang yang musyrik ketika jatuh dari langit tauhid, ia akan kehilangan kehendak dan kemampuan untuk mengambil keputusan.

Pentingnya tuhid

Tauhid merupakan pembahasan yang paling penting di dalam al-Qur’an al-Karim dan seluruh kitab-kitab samawi. Para nabi dan para washi telah mengajak umat manusia kepada ketauhidan dan memberi peringatan kepada mereka dari bahaya syirik dan menyembah berhala.

Di dalam ajaran agama, tidak ada persoalan yang lebih penting selain tauhid. Buktinya adalah terdapat sebuah ayat al-Qur’an yang diulang-ulang pada dua tempat, yaitu pada surat an-Nisa ayat 48 dan 116. Ayat itu berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang musyrik kepada-Nya, tetapi mengampuni dosa-dosa selainnya bagi orang yang dikehendaki-Nya”.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa maksud dari ampunan adalah ampunan yang tanpa bertaubat. Adapun dengan bertaubat, maka Allah pun akan mengampuninya. Kebanyakan sahabat -kecuali sebagian kecil saja seperti Imam Ali As- sebelumnya adalah sebagai orang-orang musyrik. Dan ketika mereka masuk Islam dan bertaubat, maka Allah mengampuni dosa-dosa syirik mereka.

Apabila seorang pendurhaka mati sebelum bertaubat, maka dosa-dosanya tidak akan diampuni Allah apabila ia seorang musyrik. Bahkan tidak ada harapan untuk dapat diampuni. Tetapi apabila maksiat dan dosa-dosanya itu selain kemusyrikan, maka ada kemungkinan akan diampuni oleh Allah Swt dan para wali-Nya pun akan memberikan syafaat kepadanya. Adapun orang musyrik tidak akan diampuni dosanya dan juga tidak akan mendapatkan syafaat. Dengan demikian bahwa syirik itu tidak akan mendapatkan tempat ampunan dan syafaat. Dari sini dapat diketahui betapa penting, berharga dan agungnya masalah tauhid di dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sesungguhnya tauhid merupakan sumber kebahagiaan. Sedangkan syirik sumber kesengsraan dan menghancurkan seluruh kebaikan.

Pertanyaan yang terkadang tersirat di hati kita adalah: Apa sebab masalah tauhid dianggap begitu penting? Dan apa sebab syirik itu mendapat kecaman sedemikian rupa?

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah: Filsafat mengenai pentingnya masalah tauhid dan dikecamnya kemusyrikan adalah beberapa perkara. Kami akan jelaskan berikut ini sebagian darinya:

Pertama: Manfaat dan keberkahan yang paling utama dari tauhid adalah bersatunya masyarakat dan umat manusia. Sesungguhnya umat manusia berbeda-beda satu sama lainnya dalam bahasa, adat istiadat, akidah, pemikiran, budaya, dan lain sebagainya. Misalnya di satu negara seperti Indonesia yang merupakan bagian kecil dari dunia, terdapat berbagai macam bahasa, budaya dan suku. Bandingkanlah dengan negara-negara lainnya diseluruh belahan dunia. Terdapat ribuan bahasa, suku, dan budaya. Tetapi gerangan apakah mata rantai penghubung di antara masyarakat dunia itu? Apakah titik-titik persamaan di anatara mereka? Apabila berbagai bangsa dan pemerintahan itu diputuskan hidup di bawah sebuah pemerintahan yang bersifat mendunia, apakah titik persamaan di anatara mereka?

Tidak diragukan lagi bahwa tauhid yang mengakar di dalam keyakinan mereka merupakan faktor terpenting yang menjadikan mereka bersatu. Tauhid merupakan poros yang paling baik untuk mempersatukan mereka dan sebagai tambang yang sangat kokoh sehingga mereka semua dapat berpegang dengannya.

Allah Swt telah menjelaskan masalah ini di dalam ayat 64 pada surat al-Imran: “Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”.

Persatuan tersebut nampak sekali ketika musim haji di dataran Hijaz. Kita saksikan jutaan muslimin dari berbagai negara dengan warna kulit, bahasa, budaya, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Mereka seluruhnya serempak menyembah Allah Swt dengan menghadap Ka’bah. Mereka bagaikan berbagai sungai yang jernih yang sedang mengalir menuju satu lautan yang tak bertepi yang bersumber dari bukit-bukit kemanusiaan yang luhur dan berkumpul di sekitar Ka’bah. Di sana mereka mengumandangkan kekhudu’an dan kepasrahan mereka kepada Al-Haq Swt.

Dalam acara shalat jum’at yang dilakukan di Makkah al-Mukarramah -sebelum pergi ke Arafah, biasanya- dihadiri lebih dari satu juta muslimin. Shalat tersebut merupakan shalat jum’at terbesar bagi kaum muslimin dalam setahun. Mereka berdiri tegap di dalam satu barisan penghambaan dan mengangkat kedua tangan mereka secara serempak di dalam takbir sambil berdoa dan mengagungkan-Nya. Mereka melakukan ruku’ dan sujud secara serempak bersama-sama. Sungguh betapa hal itu melambangkan keindahan persatuan dan persaudaraan sesama muslim.[4]

Betapa indah dan menariknya apabila persatuan umat Islam dunia yang berbagai macam budaya ini, berpegang teguh kepada “tali Allah”.

Dengan demikian, persatuan merupakan efek dan manfaat yang sangat penting bagi tauhid. Sebaliknya dengan syirik yang mengakibatkan kepada perpecahan dan ikhtilaf. Orang-orang Arab jahiliyah mempunyai patung sebanyak 360 buah. Hal ini berarti ikhtilaf dan perpecahan mereka mencapai 360 kelompok kecil dan masyarakat mereka terbagi kepada 360 bagian walaupun mereka masyarakat kecil. Sudah tentu bahwa mayarakat semacam itu tidak lepas dari pertikaian, pertentangan, pembunuhan, kemungkaran dan tidak memperoleh ketenangan dan kebahagiaan. Tetapi masyarakat yang bernaung di bawah bendera tauhid dan petunjuk Islam dan Rasulullah, pasti lebih unggul di bandingkan masyarakat mana pun.

Kedua: Efek dan manfaat tauhid yang lainnya adalah memberikan semangat dan kekuatan kepada orang-orang yang bertauhid. Sementara kemusyrikan itu akan mencabut semangat dan kekuatan orang-orang musyrik.

Ketika kaum muslimin berada di kota Makkah dan jumlah mereka masih sangat sedikit, kaum musyrikin melakukan makar dan kezaliman terhadap Rasulullah Saw dan kaum muslimin. Setiap hari kaum musyrikin berusha menciptakan kezaliman yang baru untuk memadamkan cahaya Islam dan mengikis akar-akarnya.

Pada suatu hari para pemuka Quraisy datang menjumpai Abu Thalib untuk melakukan perdamaian kepada Rasulullah Saw. Setelah perdebatan yang agak alot di antara dua pihak, Rasulullah Saw berkata kepada Abu Jahal: “Ajaklah mereka untuk menerima satu kalimat yang akan membuat mereka kuat dan menguasai orang-orang Arab dan orang-orang Ajam pun akan mengikuti ajaran mereka”. Abu Jahal berkata: “Satu kalimat saja mudah, aku siap menerimamu dengan sepuluh kalimat”. Rasulullah Saw bersabda: “Ucapkanlah ‘La Ilaaha Illallah’, (tiada Tuhan kecuali Allah) dan tinggalkanlah ssekutu yang selain Allah”.[5]

Ungkapan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw hingga kini masih merupakan solusi bagi umat manusia yang telah jenuh dengan berbagai peperangan, ikhtilaf dan pertikaian. Hal itu karena bernaung di bawah pohon tauhid yang baik adalah merupakan solusi satu-satunya untuk memecahkan problema ini sekaligus memperoleh kekuasaan dan kemuliaan dengan keamanan, ketenangan, ketentraman dan keadilan yang sejati.

Marilah coba kita pikirkan, bagaimana Islam telah merubah Arab jahiliyah di kota Makkah dan Madinah, dimana mereka tenggelam dalam ikhtilaf dan pertikaian berdarah, menjadi bangsa yang kuat dan mulia dan mampu -di bawah bendera ukhuwwah dan persatuan- membuka belahan barat dan timur dunia kurang dari setengah abad? Bukankah kemuliaan itu merupakan buah dari tauhid dan berpegang kepada tali Allah?

Ketiga: Tauhid menyebabkan ketenangan dan ketentraman masyarakat. Sebab utama terjadinya berbagai kejahatan dan maksiat di dunia ini adalah kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Dan syirik itu tidak terbatas hanya pada menyembah kayu dan batu saja. Bahkan syirik itu mencakupi setiap ibadah dan ketundukan kepada selain Allah baik yang berupa kedudukan, hawa nafsu dan lain sebagainya. Ini semua merupakan bagian dari kemusyrikan. Seseorang ketika menyembah hal-hal tersebut, ia lalai dari mengingat Allah sehingga ia berani melakukan berbagai perbuatan dosa, maksiat dan berbagai kejahatan.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam riwayat bahwa setan mengecup uang dirham dan dinar yang dicetak pertama kali di dunia. Kemudian ia memandangnya dan meletakkannya di hadapan kedua matanya, lalu menempelkannya ke bagian dadanya dan berkata: “Engkau adalah permata dan buah hatiku. Aku tidak peduli lagi kepada anak Adam apabila mereka tidak lagi menyembah patung karena telah mencintaimu. Cukuplah bagiku bahwa mereka itu betul-betul mencintaimu”.[6]

Kemusyrikan masih saja terdapat di mana-mana pada zaman kita sekarang ini, sekalipun logika dan pemikiran telah menggeser kebodohan. Berapa banyak tindak kejahatan yang dilakukan akibat menumpuk uang dan harta kekayaan?! Tidak lagi ada keamanan dan ketentraman pada masyarakat zaman sekarang ini. Bahkan pertikaian dan kegelisahan telah menguasai mereka. Sekiranya manusia itu bertauhid, pasti mereka akan memperoleh keamanan, ketenangan, dan ketentraman.

catatan kaki :

[1] . Lihat Al-Amtsal 10 : 306.

[2] . Lihat tafsir al-Amtsal 10 : 306 – 307..

[3] . Surat Ar-Ra’d : 28

[4] . Sangat disayangkan bahwa shalat dan pertemuan besar ini, tidak digunakan untuk menyelesaikan berbagai problem umat Islam pada saat sekarang ini. Tetapi yang terjadi hanyalah imam jum’at mengulang-ulang masalah yang terjadi atas kaum muslimin sejak ratusan tahun.

[5] . Lihat Furughu Abadiyat 1: 222, Al-Muntazhim 2: 369 dan Majma’ul Bayan 8: 343.

[6] . Mizanul Hikmah, bab3750, hadits ke 19026.

==========================================

2. Kafir Kecil / Murtad  Kecil

Seorang muslim yang melakukan dosa besar selama dia tidak menghalalkannya maka dia tetap dihukumi sebagai orang islam..

Seorang muslim yang berbuat dosa atau tidak memakai hukum Allah SWT dengan tetap meyakini bahwa hal tersebut suatu dosa besar yang HARAM dikerjakan maka dia cuma dianggap muslim fasik..

misal : kufur nikmat, malas shalat, membunuh dan memerangi orang islam tanpa dasar syar’i

Banyak hadis hadis yang berkaitan dengan kufur kecil ini….

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…

Jadi syi’ah bukan mengkafirkan sahabat dalam arti sahabat keluar dari Islam…

Kafir / murtad versi syi’ah adalah banyak sahabat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat Nabi SAW !

Allah berfirman, “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat,” (Al-Hujarat: 9-10).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata,  Rasulullah saw. bersabda, “Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah perbuatan kufur,” (HR Bukhori [48] dan Muslim [64]).
Diriwayatkan dari Jarir r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah kalian kembali menjadi kafir setelahku nanti sehingga kalian saling bunuh membunuh’,” (HR Bukhori [121] dan Muslim [65]).Diriwayatkan dari Abu Bakrah r.a, bahwasanya Nabi saw. pernah bersabda, “Apabila dua kelompok kaum muslimin saling berhadapan dan saing mengacungkan pedang maka pembunuh dan yang dibunuh tempatnya di Neraka.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah kalau si pembunuh tempatnya di neraka, tetapi mengap orang yang dibunuh juga?” Beliau menjawab, “Karena ia juga berusaha membunuh lawannya,” (HR Bukhori [31] dan Muslim [2888]).Kandungan Bab:
  1. Haram memerangi kaum muslimin karena ia merupakan tindakan orang-orang kafir.
  2. Seorang yang telah melakukan dosa ini bukan berarti ia telah melakukan perbuatan kafir yang mengeluarkan darinya dari Islam, tetapi dengan perincian yang tercantum dalam muqaddimah yang aku tulis dalam kitab Tahdziru Ahli Imaan halaman 19-21.
  3. Memerangi kaum muslimin dapat mengakibatkan kaum muslimin itu lemah dan hina serta merupakan penyebab Allah marah kepada mereka.
  4. Berperang adalah perkara  yang dilarang jika untuk mendapatkan materi duniawi baik karena jahil, berbuat aniaya, dan zhalim atau karena mengikuti  hawa nafsu. Jadi tidak termasuk berperang untuk membela kebenaran, atau memerangi kelompok pembangkang hingga mereka kembali ke jalan Allah.
  5. Masuk neraka tidak mesti kekal di dalamnya. Oleh karena itu hadits ini bukanlah dalil yang menguatkan keyakinan orang-orang Khawarij, Mu’tazilah, dan generasi penerusnya.

Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman; Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqaan : 63)

Sejarah Islam mencatat bahwa suku-suku yang berada di Jazirah Arab di masa Jahiliyah adalah dalam keadaan bercerai berai, mereka suka berkelahi, saling berperang setiap tahunnya, saling bermusuhan antara satu kabilah (suku) dengan kabilah lainnya. Namun keadaan ini berubah sesudah Risalah Islam turun dan disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah untuk semua umat manusia di akhir zaman.

Berperang yang merupakan tradisi orang kafir di zaman Jahiliyah yang merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah waktu itu, yang merupakan kebanggaan para lelaki masa itu, maka dengan turunnya wahyu (Al Qur’an) menjadi dilarang terutama bila yang berperang itu adalah sesama orang Muslim.

Ajaran Islam menyatakan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara dan haram menumpahkan darahnya, merampas hartanya dan menodai kehormatannya. Jadi kalau ada orang Muslim yang membunuh orang Muslim lainnya, maka sama artinya orang yang membunuh itu kembali menjadi kafir, sesuai sabda Nabi SAW : “Janganlah kalian kembali – sesudah kutinggalkan — menjadi orang-orang kafir, dimana sebagian kalian membunuh sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangankan membunuh, yang lebih ringan dari itupun bahkan dilarang di dalam Islam, sesuai sabda Nabi SAW : “Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya dengan tidak menzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya dan tidak merendahkannya. Letak taqwa ada di sini (Nabi SAW menunjuk ke dada beliau sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan saudaranya yang Muslim. Seorang Muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan Muslim lainnya.” (HR. Muslim)

Nabi SAW mengkafirkan orang yang

meninggalkan shalat !

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…

Jadi syi’ah bukan mengkafirkan sahabat dalam arti sahabat keluar dari Islam…

Kafir / murtad versi syi’ah adalah banyak sahabat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat Nabi SAW !

Dari buraidah r.a, “Rasulullah saw bersabda, – Perbedaan paling mendasar antara kami dan mereka adalah SHALAT. Oleh sebab itu, barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah kafir -.” (HR. Ahmad dan Ash-habus Sunan)

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian di antara kita dan meraka adalah shalat, barangsiapa meninggalkan shalat berarti ia telah kafir.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi (no. 2623) kitab Al-Iman, An-Nasa’i (no. 463) kitab Ash-Shalah, Ahmad dalam Al-Musnad 5/546, Hakim dalam Al-Mustadrak 1/7, dia berkata, “Sanadnya shahih” dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, At-Tirmidzi berkata, “Hasan shahih gharib.“)

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Pemisah antara seseorang dan antara kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim (no. 134) kitab Al-Iman)

Allah Ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60)

Ibnu Mas’ud r.a mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31)

Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.

Berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat

[Kasus Pertama] Kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, “Sholat oleh, ora sholat oleh.” [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.

[Kasus Kedua] Kasus kali ini adalah meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in.

[Kasus Ketiga] Kasus ini yang sering dilakukan kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan nifak sekaligus. …Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang tidak.” (Majmu’ Al Fatawa, 7/617)

[Kasus Keempat] Kasus ini adalah bagi orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.

[Kasus Kelima] Kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman,

وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107]: 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, 189-190)

Apakah Orang yang Meninggalkan Shalat Itu Kafir alias Bukan Muslim?

Seri kedua dari tiga tulisan: Mengaku Islam di KTP Namun Meninggalkan Shalat 5 Waktu

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369).

Maka dari perkataan Asy Syaukani di atas kita dapat simpulkan bahwa hukum meninggalkan shalat ada dua macam :
1) Meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Kasus pertama ini tidak ada perselisihan pendapat di kalangan para ulama, artinya mereka sepakat tentang kafirnya.
2) Meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib. Untuk kasus kedua ini, ada perselisihan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama mengatakan kafir dan sebagian lagi mengatakan tidak kafir.

Mayoritas ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan), di antaranya Imam Malik dan Imam Syafi’i, berpendapat bahwa meninggalkan shalat dengan malas-malasan tidaklah kafir, namun fasik. Jika tidak bertaubat, dia akan dibunuh sebagaimana hukuman had pada pezina (bukan hukuman murtad, pen), namun hadnya adalah tebasan pedang.

Sekelompok ulama salaf (terdahulu) berpendapat bahwa dia kafir. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib, juga terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal. Pendapat ini juga dikatakan oleh Abdullah bin Al Mubarok, Ishaq bin Rohuwyah, dan juga merupakan pendapat sebagian Syafi’iyyah.

Sedangkan Abu Hanifah, sekelompok ulama Kufah, dan Al Muzaniy (sahabat Imam Syafi’i) berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan tidak kafir dan tidak dibunuh, namun diperingatkan dan dipenjarakan hingga dia mau shalat. (Nailul Author, 2/257)

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa mayoritas pakar fiqih berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat kafirnya orang seperti ini.

Sekarang marilah kita melihat pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Al Qur’an, hadits, perkataan sahabat dan perkataan ulama tabi’in. Mayoritas pembahasan yang ada kami ambil dari kitab Ibnul Qoyyim ‘Ash Sholah wa Hukmu Taarikiha’.

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Al Qur’an

Dalil pertama,

Firman Allah Ta’ala,

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35)
“Maka apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ?” (Q.S. Al Qalam [68] : 35)

hingga ayat,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (Q.S. Al Qalam [68] : 43)

Dari ayat di atas, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak menjadikan orang muslim seperti orang mujrim (orang yang berbuat dosa). Tidaklah pantas menyamakan orang muslim dan orang mujrim dilihat dari hikmah Allah dan hukum-Nya.

Kemudian Allah menyebutkan keadaan orang-orang mujrim yang merupakan lawan dari orang muslim. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Pada hari betis disingkapkan”. Yaitu mereka (orang-orang mujrim) diajak untuk bersujud kepada Rabb mereka, namun antara mereka dan Allah terdapat penghalang. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana orang-orang muslim sebagai hukuman karena mereka tidak mau bersujud kepada-Nya bersama orang-orang yang shalat di dunia.
Maka hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang meninggalkan shalat akan bersama dengan orang kafir dan munafik. Seandainya mereka adalah muslim, tentu mereka akan diizinkan untuk sujud sebagaimana kaum muslimin diizinkan untuk sujud.

Dalil kedua,

Firman Allah Ta’ala,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. An Nur [24] : 56)

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mengaitkan adanya rahmat bagi mereka dengan mengerjakan perkara-perkara pada ayat tersebut. Seandainya orang yang meninggalkan shalat tidak dikatakan kafir dan tidak kekal dalam neraka, tentu mereka akan mendapatkan rahmat tanpa mengerjakan shalat. Namun, dalam ayat ini Allah menjadikan mereka bisa mendapatkan rahmat jika mereka mengerjakan shalat.

Dalil ketiga,

Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam.

Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu bagian neraka yang paling dasar- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.
Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan, ”kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh”. Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mu’min, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman.
Dan masih banyak dalil lainnya yang membicarakan hukum orang yang meninggalkan shalat.

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Hadits

Hadits Pertama,

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Hadits Kedua,

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ
“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566)

Hadits Ketiga,

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
”Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.

Hadits Keempat,

Dalam dua kitab shohih, berbagai kitab sunan dan musnad, dari Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma. Beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
”Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (Lafadz ini adalah lafadz Muslim no. 122)

Cara pendalilan dari hadits ini adalah :
1) Dikatakan dalam hadits ini bahwa islam adalah seperti kemah yang dibangun atas lima tiang. Apabila tiang kemah yang terbesar tersebut masih ada, maka tegaklah kemah Islam.
2) Dalam hadits ini juga disebutkan bahwa rukun-rukun Islam dijadikan sebagai tiang-tiang suatu kemah. Dua kalimat syahadat adalah tiang, shalat juga tiang, zakat juga tiang. Lalu bagaimana mungkin kemah Islam tetap berdiri jika salah satu dari tiang kemah sudah tidak ada, walaupun rukun yang lain masih ada?!

Hadits Kelima,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا ، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا ، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا ، فَهُوَ المُسْلِمُ لَهُ مَا لَنَا وَعَلَيْهِ مَا عَلَيْنَا
“Barangsiapa mengerjakan shalat kami, menghadap kiblat kami, dan memakan sembelihan kami; maka dia adalah muslim. Dia memiliki hak sebagaimana hak umumnya kaum muslimin. Demikian juga memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban kaum muslimin.” (Lihat Syarhul ‘Aqidah Ath Thohawiyyah Al Albani, 351. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Cara pendalilan dari hadits ini adalah :
1) Seseorang dikatakan muslim jika memenuhi tiga syarat seperti yang disebutkan dalam hadits di atas. Maka tidak disebut muslim jika tidak memenuhi syarat tersebut.
2) Jika seseorang shalat menghadap ke arah timur, tidak disebut muslim hingga dia shalat dengan menghadap kiblat muslimin. Maka bagaimana jika seseorang yang tidak pernah menghadap kiblat karena meninggalkan shalat secara total?!

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Perkataan Sahabat

Ibnu Zanjawaih mengatakan, ” ’Amr bin Ar Robi’ telah menceritakan pada kami, (dia berkata) Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) dari Yusuf, (dia berkata) dari Ibnu Syihab, beliau berkata,” ’Ubaid bin Abdillah bin ‘Utbah (berkata) bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkannya,”Dia mendatangi Umar bin Al Khoththob ketika beliau ditikam (dibunuh) di masjid. Lalu Ibnu Abbas berkata,”Aku dan beberapa orang di masjid membawanya (Umar) ke rumahnya.”
Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Lalu Abdurrahman bin ‘Auf diperintahkan untuk mengimami orang-orang.”
Kemudian beliau berkata lagi, ”Tatkala kami menemui Umar di rumahnya, maut hampir menghapirinya. Beliau tetap dalam keadaan tidak sadar hingga semakin parah. Lalu (tiba-tiba) beliau sadar dan mengatakan,”Apakah orang-orang sudah melaksanakan shalat?”
Ibnu Abbas berkata, ”Kami mengatakan,’Ya’.
Lalu Umar mengatakan,

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ
”Tidaklah disebut Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”

Dari jalan yang lain, Umar berkata,

ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu Umar meminta air wudhu, kemudian beliau berwudhu dan shalat.

(Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209)

Juga dikatakan yang demikian itu oleh semua sahabat yang hadir. Mereka semua tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Umar.

Perkataan semacam ini juga dapat dilihat dari perkataan Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan tidak diketahui sahabat yang menyelisihinya.

Al Hafidz Abdul Haq Al Isybiliy rahimahullah dalam kitabnya mengenai shalat, beliau mengatakan,

”Sejumlah sahabat dan orang-orang setelahnya berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja itu kafir karena sebab meninggalkan shalat tersebut hingga keluar waktunya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Umar bin Al Khaththab, Mu’adz bin Jabbal, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Abud Darda’, begitu juga diriwayatkan dari Ali dan beberapa sahabat.”

Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ
“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.”
Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Perkataan Tabi’in dan Ulama Sesudahnya

Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama.

Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.”

Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata, ”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.”

Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’.

Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.”

.

KUFUR KECIL

Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur ‘amali. Kufur ‘amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti kufur nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya,

Artinya:”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.”(An-Nahl: 83).

Termasuk juga membunuh orang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِِتَالُهُ كُفْرٌ.

Artinya:”Mencaci orang Islam adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam,

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُم رِقَابَ بَعْضٍ.ٍ

Artinya: “Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Termasuk juga bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala . Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللّٰهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

Artinya:”Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.” (At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).
Yang demikian itu karena Allah Subhanahu waTa’ala tetap menjadikan para pelaku dosa sebagai orang-orang mukmin. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (Al-Baqarah: 178).
Allah Subhanahu waTa’ala tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan menjadikannya sebagai saudara bagi wali yang (berhak melakukan) qishash(1).
AllahSubhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:”Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).” (Al-Baqarah: 178).
Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat di atas -tanpa diragukan lagi- adalah saudara seagama, berdasarkan firman AllahSubhanahu waTa’ala,

Artinya:”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 9-10).(1)

 Hadis riwayat Abu Zar ra.:

Bahwa Ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Setiap orang yang mengaku keturunan dari selain ayahnya sendiri, padahal ia mengetahuinya, pastilah ia kafir (artinya mengingkari nikmat dan kebaikan, tidak memenuhi hak Allah dan hak ayahnya). Barang siapa yang mengakui sesuatu bukan miliknya, maka ia tidak termasuk golongan kami dan hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau mengatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya [HR Muslim]

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…  Rasulullah  mengkafirkan orang yang mencela keturunan dan meratapi orang mati, Rasulullah  mengkafirkan orang yang  budak yang lari  dari  tuan, Rasulullah  mengkafirkan orang yang  membenci bapaknya, Rasulullah  mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain nama Allah, Rasulullah  mengkafirkan orang yangmengingkari nasab

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…  Rasulullah  bersabda : “Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau mengatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya”

“Rasulullah saw. bersabda, ‘Ada dua perkara apabila manusia melakukannya mereka menjadi kufur; mencela keturunan dan meratapi orang mati’.”(HR Muslim [67]). Diriwayatkan dari asy-Sya’bi, dari Jarir, bahwa ia mendengar Jarir berkata, “Budak mana saja yang melarikan diri dari tuannya, maka ia telah kufur sehingga kembali kepada tuannya.” (HR Muslim [68]).

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu membenci bapakmu sendiri, barang siapa membenci bapaknya maka ia telah kufur.” (HR Bukhari [6868] dan Muslim [62]).

“Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.” (At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An-Nahl: 83).

Hadis riwayat Abu Zar ra.:
Bahwa Ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Setiap orang yang mengaku keturunan dari selain ayahnya sendiri, padahal ia mengetahuinya, pastilah ia kafir (artinya mengingkari nikmat dan kebaikan, tidak memenuhi hak Allah dan hak ayahnya). Barang siapa yang mengakui sesuatu bukan miliknya, maka ia tidak termasuk golongan kami dan hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau mengatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya [HR Muslim]

Jadi, dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’’ (kesepakatan) mereka serta perkataan beberapa ulama tabi’in dan sesudahnya menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam).
Ibnul Qayyim dalam Ash Sholah, hal. 56, mengatakan,

”Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, yang artinya, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah seorang pezina itu berzina sedang ia dalam keadaan Mukmin. Tidaklah seorang peminum khamr itu meminum khamr sedang ia dalam keadaan Mukmin. Tidaklah seorang pencuri itu mencuri sedang ia dalam keadaan Mukmin. Dan tidaklah seorang perampok itu merampok dengan disaksikan oleh manusia sedang ia dalam keadaan Mukmin’.” (HR Bukhari [2475] dan Muslim [57]). Dalam riwayat lain ditambahkan, “Tinggalkanlah perbuatan itu, tinggalkanlah perbuatan itu!” (HR Muslim [57] dan [103]). Dalam riwayat lain disebutkan, “Pintu taubat masih terbuka untuknya setelah itu!” (HR Muslim [57] dan [104]) Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Memaki orang Muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR Bukhari [48] dan Muslim [64]).

Diriwayatkan dari Jarir r.a., ia berkata, “Tatkala mengerjakan haji wada’, Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Suruhlah orang-orang diam!’ Kemudian beliau berkata, ‘Janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku dan saling menumpahkan darah di antara kalian’.” (HR Bukhari [121] dan Muslim [65]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Ada dua perkara apabila manusia melakukannya mereka menjadi kufur; mencela keturunan dan meratapi orang mati’.” (HR Muslim [67]). Diriwayatkan dari asy-Sya’bi, dari Jarir, bahwa ia mendengar Jarir berkata, “Budak mana saja yang melarikan diri dari tuannya, maka ia telah kufur sehingga kembali kepada tuannya.” (HR Muslim [68]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu membenci bapakmu sendiri, barang siapa membenci bapaknya maka ia telah kufur.” (HR Bukhari [6868] dan Muslim [62]).

Syirik Asghar (kecil);

  • Dosa syirik kecil tidak merusak seluruh amal ibadah.
  • Pelakunya diampuni apabila Allah Subhannahu wa Ta’ala menghendakinya.
  • Pelakunya tidak tergolong murtad dari Islam.
  • Di akhirat kelak pelakunya tidak akan kekal dalam neraka selama-lamanya.


======================================================

3.FASiK

Fasik adalah seorang muslim yang melanggar ketentuan ketentuan agama dengan melakukan perbuatan yang diharamkan berupa  salah satu dari kabair adz dzunub (dosa dosa besar) seperti zina, minum khamar, berjudi, makan riba dan sejenisnya.

Fasik dapat juga diartikan seorang muslim yang meninggalkan kewajiban kewajibannya  dan tidak taat pada Allah SWT

Motif perbuatannya itu karena dorongan hawa nafsu dan syahwat tanpa menghalalkan  perbuatan yang diharamkan Allah SWT atau tanpa menghalalkan ketidaktaatannya tersebut…

Dampak  Fasik : Iman anda berkurang !

Dalil kami : qs. Al Baqarah ayat 27 dan Qs. Al Maidah ayat 47

Orang yang mengakui hukum Allah namun tidak berhukum dengan nya karena malas, maka dia Cuma zalim atau fasik

Zalim dan fasik melanggar syari’at, tetapi bukan atas dasar keyakinan (i’tiqad)…

========================================

4. ZALiM

Zalim adalah seorang muslim yang menuruti hawa nafsu dan merugikan orang lain, misal :

- Merampok

- Memperkosa

- Tidak memberlakukan hukum qishash  pada pembunuh berupa nyawa dibalas nyawa padahal ahli waris korban tidak memaafkan si pelaku

- Pengikut dan pendukung Pancasila, Kalau secara sadar, ia mengetahui itu bertentangan dengan ajaran Islam namun mengikuti dan mendukungnya (Pancasila) maka ia adalah DZOLIM,

dalil kami : qs. Al Maidah ayat 45

Orang yang mengakui hukum Allah namun tidak berhukum dengan nya karena malas, maka dia Cuma zalim atau fasik

Zalim artinya pelanggaran terhadap hak hak manusia, tetapi bukan atas dasar keyakinan (I’tiqad)..

Zalim dan fasik melanggar syari’at, tetapi bukan atas dasar keyakinan (i’tiqad)…

==========================================

5.  JAHiL

Pengikut dan pendukung Pancasila, kalau secara tidak sadar, karena ketidak tahuannya, ia adalah JAHIL

“Pancasila Bertentangan dengan Tauhid” menurut KH. Abdul Malik Ahmad: Ulama Muhammadiyyah

 

Orangnya tegas, jujur, dan pemberani. Tidak kenal kompromi untuk persoalan akidah menjadi kalimat pas yang melekat dalam pribadinya. Berbeda dengan orang-orang yang mengemis jabatan agar dekat dengan pemerintah, ia justru sebaliknya. Kursi empuk dalam struktur tertinggi Muhammadiyyah pernah ditolaknya semata-mata tidak mau menjadi penjilat untuk Soeharto

.
“… karena saya pribadi hubungannya kurang harmonis dengan pemerintah (Soeharto), maka sebaiknya saya jangan ditempatkan jadi orang nomor satu,” ungkapnya mengagetkan koleganya
.
Ia adalah KH. Abdul Malik Ahmad atau akrab disapa Buya Malik. Tokoh Ideologis Muhammadiyyah yang sempat heboh di ketika menolak asas tunggal Pancasila di tubuh organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu periode 1980-an. Bagi Buya Malik, posisi Tauhid tidak boleh bergeser setapal pun meski itu demi alasan pragmatis. Iya kata yang justru menjadi kunci ormas-ormas muslim saat ini agar bisa “memuluskan” jalan dakwahnya.
Kisah ini bermula ketika Soeharto memaksakan tiap Ormas untuk menerima Asas Tunggal Pancasila lewat RUU Organisasi Kemasyarakatan. Muhammadiyyah pun terbelah. Tak mudah memang, sebab melalui lobi yang panjang. Bahkan, Muhammadiyah sampai menunda muktamar ke-41, yang mestinya diselenggarakan Februari 1984, dan akhirnya baru dilaksanakan 7-11 Desember 1985
.
Tanda-tanda menerima asas tunggal Pancasila, secara terbuka, mulai tampak pada hari kedua muktamar, pada tanggal 8 Desember. Di pendopo Mangkunegaran, Solo, Haji A.R. Fakhruddin, Ketua PP Muhammadiyah, menyebutkan bahwa asas Pancasila itu diterima, “dengan ikhtiar”
.
Dengan ikhtiar, kata Fakhruddin, “Supaya yang dimaksudkan pemerintah itu berhasil, tapi tidak melanggar agama. Kami, para pimpinan, tetap bertekad menegakkan kalimah Allah di Indonesia ini. Tidak merusakkan peraturan-peraturan di Indonesia, tapi tidak menjual iman, tidak menjual agama.”
Presiden Soeharto akhirnya membuka muktamar ke-41 ini. Menyebut diri sebagai orang yang pernah mengecap pendidikan Muhammadiyah, dalam pidatonya Presiden kembali menegaskan bahwa: Pancasila bukanlah tandingan agama. Pancasila bukan pengganti agama. Penegasan ini pernah diusulkan oleh PP Muhammadiyah, supaya dicantumkan dalam batang tubuh UU Organisasi Kemasyarakatan itu
.
Namun ternyata pandangan petinggi Muhammadiyyah dan lebih-lebih Soeharto, bertolak belakang dengan pemahaman Buya Malik. Beliau yang kala itu menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah, mempersolakan Pancasila yang dijadikan lebih tinggi dari tauhid. “Itu yang saya tolak,” katanya. Maka itu konsekuensi menerima asas tunggal bagi Buya Malik adalah kemusyrikan. Sebuah kata yang dapat menjerumuskan kepada kekafiran
.
Kalau kita telaah, alasan Buya Malik memang sangat masuk akal. Logika sederhananya, kalau Orde Baru mengatakan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi sebuah ideologi, hal itu sama saja mengakui bahwa Pancasila lebih tinggi dari kitab suci. Dan tokoh Orde Baru lebih tinggi daripada Nabi. Padahal Rasululullah SAW diutus untuk mengapus Syariat-syariat Nabi sebelumnya. Maka bagaimana mungkin Soeharto menghapus Syariat Nabi Muhammad SAW. padahal dia sendiri bukan Nabi
.
Ironisnya lagi, Asas Tunggal, seperti kata KH. Firdaus AN, adalah hasil bikinan tiga tokoh militer yang diragukan komitmennya kepada agama. Mereka adalah Soeharto, Amir Machmud, dan Soedomo
.
Rupanya, kekuatan Tauhid Buya Malik memang bukan isapan jempol semata. Ketua Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia, Ahmad Soemargono sempat memiliki pengalaman tersendiri saat berguru kepada Buya Malik.
“Dari sekian guru yang paling berkesan itu adalah Buya Malik Ahmad. Kalau mendengarkan ceramahnya saya tersentuh.” Ungkapnya saat diwawancara Republika
.
Gogon- sapaan akrab Ahmad Soemargono- juga terkesan dengan karya tafsir Buya Malik yang bernama Tafsir Sinar. Menurutnya, kajian-kajian yang terkandung dalam tulisan beliau memiliki nilai Tauhid yang mendalam
.
Segala ujian dan cobaan dalam menegakkan akidah menurut Buya Malik adalah keniscayaan bagi orang beriman. Ini adalah konsekuensi logis tentanga arti menyuarakan kebenaran dan menyingkirkan kebathilan. Dalam tulisannya yang berjudul “Orientalisme” di tahun 1978, Buya menulis,
“Orang-orang beriman dalam menegakkan aqidah dan ajaran Ilahi menuju keredhaan Allah; selalu mendapat rintangan, halangan dan kesulitan; baik yang nyata maupun tersembunyi; yang halus maupun yang kasar; menghadapi rayuan atau tekanan/paksaan yang datang dari orang-orang yang pandai membohong, menipu dan membingungkan; dengan menggunakan bermacam kekuatan, fasilitas dan mass media, yang berakibat langsung ataupun tidak langsung terhadap ummat Islam; sehingga banyak di antara ummat Islam yang terlalai, terlupa dan terpengaruh. Akibatnya kaum Muslimin tidak menyadari bahaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam; bahkan sebagian kita merasakan seolah-olah faham dan sikap yang demikian sebagai ajaran Islam yang murni.”
.
Kini Buya sudah tiada. Ulama Kharismatik itu menyimpan torehan manis tentang arti perjuangan menegakkan pemurnian tauhid kepada Allahuta’ala. Dengan menolak pencampuran ideologi Pancasila yang jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah. Kapankah kembali muncul generasi Muhammadiyyah seperti Buya?
.
Seberapa besar pengaruh pola pemikiran Zionis atau Freemasonry terhadap penerapan Pancasila di Indonesia, buku ini akan memaparkannya secara jelas dan lengkap. Namun sebelum itu, akan sangat bermanfaat apabila dalam pengantar ini, kita ilustrasikan
bagaimana penerapan ideologi Pancasila selama dua periode pemerintahan di Indonesia. Di zaman Orla, atas nama Pancasila, Ir. Soekarno diangkat menjadi presiden seumur hidup.

Kekuasaan negara diselenggarakan dengan menganut sistem Demokrasi Terpimpin, yang kemudian ternyata melahirkan prinsip-prinsip yang mereduksi Islam, dan pada saat yang sama mendukung komunisme. Dari sinilah lahirnya Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) sebagai aplikasi idiologi Pancasila
.
Selama 20 tahun rezim Soekarno berkuasa, Indonesia menjadi lahan yang subur bagi golongan-golongan anti Islam; seperti Zionisme, Freemasonry, Salibisme, Komunisme, paganisme, sekularisme serta kelompok “Yes Man”
.
Sebaliknya, bagi orang-orang yang bersikap kritis, taat beragama, dan bercita-cita membangun masyarakat berdasarkan agama, Indonesia ketika itu bagaikan neraka. Mereka yang dipandang tidak loyal pada pemerintah, dituduh kontra revolusi dan menjadi
mangsa penjara. Sebagai akibatnya, kezaliman politik, keruntuhan akhlak, kebencian antar warga masyarakat, serta kebiadaban kelompok yang kuat dalam menindas yang lemah menjadi trade merk pemerintah Orde Lama
.
Dan akibat selanjutnya, sepanjang kurun waktu orde lama, tidak pernah sepi dari perlawanan rakyat kepada pemerintah, dan pemberontakan daerah terhadap penguasa pusat . Penerapan ideologi Pancasila dari masa ke masa, dan pada setiap periode pemerintahan yang berbeda-beda, selalu menimbulkan korban yang tidak kecil. Pembunuhan demokrasi, pemerkosaan hak asasi manusia, adalah di antara ekses-ekses negatif penerapan Pancasila oleh penguasa
.
Di negara Pancasila, seseorang bisa dipenjara bertahun-tahun lamanya tanpa proses pengadilan dengan tuduhan menentang Pancasila atau merongrong wibawa pemerintah yang sah. Dan bila penguasa menghendaki, atas nama Pancasila, seseorang bisa dijebloskan ke dalam penjara, tanpa dasar yang jelas
.
Perbenturan ideologi, pertikaian para penganut agama dan kaum anti agama menjelang Gestapo (G 30 S PKI), dan hiruk pikuk Lekra/PKI dan kawan-kawannya. Kemudian keberpihakan penguasa kepada kaum penyembah Lenin itu, serta kezalimannya terhadap kaum muslimin.
Semua ini dapat dibaca dalam buku: “Prahara Budaya”, Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk. Tulisan D.S. Moeljanto dan Taufiq Ismail, diterbitkan oleh penerbit MIZAN Bandung, Maret 1995. 4 Baca buku: Dosa-Dosa Yang Tak Boleh Berulang Lagi, kumpulan tulisan K.H. Firdaus A.N., CV. Pedoman Inti Jaya, 1993.
.
Kehilangan hak-hak sipil maupun politiknya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Dalam hal ini, termasuk dosa politik rezim Soekarno terhadap rakyat Indonesia adalah dicoret-nya tujuh kata dalam Piagam Jakarta (Jakarta Charter), yaitu Kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, lalu menggantinya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa
.
Tujuh kalimat yang dicoret secara sepihak itu, pada mulanya dinilai sebagai perjanjian moral antara umat Islam dan non-Islam. Selain pencoretan itu, pengkhianatan pemimpin-pemimpin republik terhadap janjinya, telah menyulut api pemberontakan dan menyebabkan kepercayaan rakyat mulai luntur terhadap kredibilitas pemimpin pusat
.
Di antara bentuk pengkhianatan rezim Orla terhadap janji yang diucapkan atas nama pemerintah Pancasila, dan hingga kini membawa akibat buruk bagi bangsa Indonesia, adalah kasus pemberontakan Darul Islam pimpinan Tengku Muhammad Daud Beureueh, tokoh ulama seluruh Aceh (PUSA) berserta para pengikutnya
.
Pengkhianatan pemerintah Orde Lama itu, dengan jelas terlihat dalam dialog antara Tengku Daud Beureueh dan Presiden Soekarno.
Bagian terakhir dari dialog tersebut, selengkapnya adalah sebagai berikut
:
Presiden“Saya minta bantuan kakak, agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan”
.
Daud Beureueh :” Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan presiden, asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah, sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid” .
Presiden”Kakak! Memang yang saya maksud-kan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Tengku Tjhik di Tiro dan lain-lain yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang ber-semboyan “merdeka atau syahid” .
Daud Beureueh : ”Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan syari’at Islam di dalam daerahnya”
.
Presiden: ”Mengenai hal itu kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam” .
Daud Beureueh: ”Maafkan saya Sudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan, bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami meng-inginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden”
Presiden : ”Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan kakak itu”
.
Daud Beureueh : ”Alhamdulillah, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon, (sambil menyodorkan secarik kertas kepada Soekarno) sudi kiranya Sdr. Presiden menulis sedikit di atas kertas ini”.
Mendengar ucapan Tengku Muhammad Daud Beureueh itu langsung Presiden Soekarno menangis terisak-isak. Air matanya yang mengalir di pipinya telah membasahi bajunya. Dalam keadaan terisak-isak Presiden Soekarno berkata: ”Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi Presiden. Apa gunanya menjadi Presiden kalau tidak dipercaya”
.
Langsung saja Tengku Daud Beureueh menjawab:”Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan pada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang”
 .
Lantas Presiden Soekarno, sambil menyeka air matanya, berkata:”Wallahi, Billahi, kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syari’at Islam. Dan Wallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syari’at Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah kakak masih ragu-ragu juga?”
Dijawab oleh Tengku Muhammad Daud Beureueh:”Saya tidak ragu lagi Saudara Presiden. Sekali lagi atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan hati Saudara Presiden” .
Menurut keterangan Tengku Muhammad Daud Beureueh, oleh karena iba hatinya melihat Presiden menangis terisak-isak, beliau tidak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno itu
.
Karakteristik orang-orang munafik suka berjanji tapi kemudian mengingkarinya, dan menjadikan sumpah sebagai helah. Allah berfirman: Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. Sungguh amat buruklah apa yang mereka lakukan
.
Allah berfirman :
“Yang demikian itu karena mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (kembali), lalu hati mereka dikunci (tertutup dari menerima kebenaran). Maka mereka tidak memahami. Dan apabila engkau melihat mereka, engkau akan kagum karena tubuh-tubuh mereka (yang tegap dan tampan). Dan apabila mereka berbicara, engkau akan terpaku mendengarkannya. Mereka bagaikan kayu yang tersandar (tidak mempunyai fikiran). Mereka menduka setiap suara keras (panggilan) ditujukan kepada mereka. Merekalah musuh (sejati), maka jauhilah mereka, (waspadalah terhadap mereka). Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dibutakan mata hatinya dari kebenaran)?. (Q.S. Al Munafiqun: 2-4)
.
Dari dialog di atas, kita bisa maklum bahwa, secara historis, dari sejak awal masyarakat Aceh ketika bergabung dengan Indonesia, menginginkan otonomi dengan penerapan hukum Islam. Orang Aceh siap membantu pemerintah Indonesia me-lawan Belanda, dengan suatu syarat, supaya syari’at Islam berlaku sepenuhnya di Aceh. Atau dengan kata lain, masyarakat ingin di Aceh berlaku syari’at Islam dalam bingkai negara Kesatuan RI.
Akan tetapi, meski Soekarno telah berjanji dengan berurai air mata, ternyata ia ingkar dan tidak konsekuen terhadap ucapannya sendiri. Melihat kenyataan ini, suatu hari, dengan suara masygul, Daud Beureueh pernah berkata:”Sudah ratusan tahun syari’at Islam berlaku di Aceh. Tetapi hanya beberapa tahun bergabung dengan RI, sirna hukum Islam di Aceh. Oleh karena itu, saya akan pertaruhkan segalanya demi tegaknya syari’at Islam di Aceh. Maka sejak itu lahirlah gerakan Darul Islam di Aceh
.
Soekarno termasuk pengagum Kemal Attaturk, presiden Turki keturunan Yahudi, yang paling lantang menolak keterlibatan agama dalam urusan politik dan pemerintahan. Demikian ekstrim pendiriannya dalam urusan ini, sehingga ia menghapus sistem kekhalifahan Islam di Turki, mengganti lafadz adzan yang berbahasa Arab menjadi bahasa nasional Turki. Dia berkata: ”Agama hanyalah hubungan pribadi dengan Tuhan, sedang negara adalah milik
bersama”.
.
Sekarang angin beracun ini masih berhembus kencang. Maka sebagaimana Kemal Attaturk, dalam suatu pidatonya di Amuntai Kalimantan Selatan pada tahun 1954, Soekarno juga pernah menyatakan tidak menyukai lahirnya Negara Islam dari Republik
Indonesia
.
Mengapa Soekarno ingkar janji terhadap rakyat Aceh, dan menolak berlakunya syari’at Islam? Menurut pengakuannya sendiri, Soekarno pernah dikader oleh seorang Belanda keturunan Yahudi, bernama A. Baars. ”Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia” , katanya
.
Pengakuan ini diungkapkan di hadapan sidang BPUPKI. Selanjutnya, dalam pidatonya itu, Soekarno juga menyatakan: ”Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, yaitu Dr. Sun Yat Sen. Di dalam tulisannya San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmo-politisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Di dalam hati saya, sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh buku tersebut”
.
Berdasarkan tela’ah dari berbagai karya tulis, pidato serta riwayat hidup Bung Karno, kita menjadi paham, bahwa prinsip ideologi yang dikem-bangkannya merupakan kombinasi dari paham kebangsaan dan mulhid, yaitu Nasionalisme dan Komunisme. Kombinasi dari keduanya, kemudian melahirkan ajaran Bungkarno, yang terkenal dengan Marhaenisme, akronim dari Marxisme, Hegel dan Nasionalisme. Semua ini sangat berpengaruh
terhadap aplikasi ideologi Pancasila selama masa kekuasaannya.Setelah berkuasa lebih dari 20 tahun lamanya, kekuasaan Soekarno akhirnya runtuh, dan riwayat hidupnya berakhir nista, terpuruk dari singgasana, dan mati dalam status dipenjara oleh rezim baru Soeharto
.
Pancasila yang selama ini dipandang begitu sakral justru terkadang digunakan oleh sekelompok orang untuk menghantam pihak yang nyata-nyata ingin mewujudkan perubahan. Ideologi Islam-lah yang selama ini menjadi bulan-bulanan oleh pihak yang anti terhadap Ideologi Islam.
Padahal sebagai sebuah filosofi, rumusan pancasila memang seperti karet yang bisa diulur kesana kemari
.
Gagasan demokrasi terpimpin yang dipandegani oleh pemerintahan orde lama tentu bukan pilihan yang Indah. Ideologi Sosialisme yang banyak di jadikan rujukan pada masa ini hanya mampu menghantarkan Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan, alias belumlah masuk ke dalam kemerdekaan. Artinya Indonesia masih dijajah dalam bentuk penjajahan non fisik
.
.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s