MPU Aceh Vonis Sesat Aliran Salafi Wahabi Saudi

MPU Minta Pemerintah Larang Aliran Salafi

aqidah mereka mujassimah yang menyerupakan ALLAh SWT dgn makhluk, salafi aliran takfirin yang mengkafirkan umat islam karena meminta barakah bersama kuburan auliya, membidahkan kenduri maulid, tapi membiarkan yahudi mengusai tanah haram mekkah. dan paling aneh adalah mereka menganggap syirit shalat dikuburan, tapi mereka lupa kalau kubur nabi di dalam mesjid madinah, apakah nabi tak tau kalau diperintahkan dirinya untuk menguburkannya didalam mesjid, ya nabi tau karena akhir zaman ada kelompok salafi wahabi yang mengharamkan shalat atas kuburan atau samping kuburan karena fatwa syekh2 mereka yang sesat itu, seperti syekh usaimin, abdullah bin bas yg telah ditentang oleh anaknya sendiri. kalau mereka sudh haramkan maulid nabi berarti mereka telah meremehkan nabi…seharusnya kalianlah yang sesat bahkan syirik….

Harga minyak dunia anjlok, Ekonomi Wahabi Arab Saudi runtuh ! ISIS menyerang

Harga Minyak Anjlok, Pendapatan Arab Saudi Anjlok Rp 1,107 Triliun

Jumat, 7 Agustus 2015 | 22:47 WIB
Anjloknya harga minyak dunia dan runtuhnya ekonomi Arab Saudi
Arab Saudi menghadapi masalah anggaran, akibat anjloknya harga minyak dan tingginya lonjakan dalam anggaran militer. Kondisi ini menyebabkan pemerintah Arab Saudi menghitung ulang cadangan devisanya. Bahkan sejumlah analis menilai, Arab Saudi kemungkinan bisa meminjam dana dari investor asing.

Tahun ini, Arab Saudi sudah menggunakan sekitar 62 miliar dollar AS cadangan mata uang asingnya. Bahkan, pemerintah juga meminjam dana senilai 4 miliar dollar AS dari bank lokal pada Juli. Kebijakan ini merupakan penerbitan obligasi pertama sejak 2007.

Sementara itu, defisit anggaran Arab Saudi diramal akan mencapai 20 persen dari PDB pada 2015. Angka tersebut terbilang sangat tinggi bagi negara yang biasanya mencatatkan surplus.

Capital Economics mengestimasi, pada tahun 2015 ini, pendapatan pemerintah Arab Saudi akan melorot sebesar 82 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.107 triliun (kurs RP 13.500 per dollar AS). Nilai ini setara dengan 8 persen PDB negara petrodollar tersebut.  Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi, defisit anggaran Arab Saudi akan berlangsung hingga 2020.

Apa pemicu utama kondisi ini? Sejumlah analis menilai, pemicu utamanya adalah anjloknya harga minyak dari 107 dollar AS pada akhir Juni tahun lalu menjadi level 44 dollar AS per barrel saat ini. Pasalnya, separuh dari produksi ekonomi Arab Saudi dan 80 persen pendapatan pemerintah didapat dari industri minyak.

Kendati begitu, Arab Saudi sendiri menjadi pihak yang bertanggungjawab atas kondisi tersebut. Negara ini secara agresif mempertahankan pangsa pasarnya di pasar minyak global sehingga menyebabkan melimpahnya suplai minyak dunia.

Riyadh juga menolak memangkas tingkat produksi minyak mereka. Harapannya, produsen minyak yang lain seperti perusahaan minyak shale AS, terdesak dari bisnis minyak.

Pada saat yang bersamaan, Arab Saudi juga menggenjot anggaran. Arab Saudi melakukan intervensi pada perang di Yaman dan ikut berperan dalam serangan udara melawan ISIS di Suriah. Tak heran jika anggaran militer Arab Saudi melompat 17 persen pada tahun lalu menjadi 10 persen dari PDB (hitungan kasar).

Raja Salman juga membagikan bonus kepada pekerja sektor publik setelah meletakkan jabatannya pada Januari lalu. Aksi ini cukup populer, namum kian memberatkan neraca keuangan kerajaan.

“Kita akan melihat adanya kenaikan pinjaman dalam beberapa bulan ke depan,” jelas Fahad al-Mubaral. Gubernur bank sentral Arab.

Analis meramal, Arab Saudi akan menerbitkan oblgasi sekitar 5 miliar dollar SA menjelang akhir tahun mendatang.

Catatan saja, cadangan devisa asing Arab Saudi per Juni 2015 berada di level 660 miliar dollar AS.

Anjloknya harga minyak dunia dan runtuhnya ekonomi Arab Saudi

 Anjloknya harga minyak dunia dan runtuhnya ekonomi Arab Saudi

Kerajaan Arab Saudi kini sedang menghadapi masalah besar dalam perekonomian. Hal ini disebabkan merosotnya harga minyak dunia yang berdampak pada menurunnya pendapatan negara. Diwaktu bersamaan, pengeluaran militer malah mengalami peningkatan. Kondisi ini telah memaksa pemerintah untuk menambah utang melalui pinjaman asing.

Arab Saudi diperkirakan telah menggerus cadangan devisa sebesar USD 62 miliar untuk membiayai pengeluaran negara. Selain itu, negara kaya minyak ini juga telah meminjam uang USD 4 miliar dari bank lokal dengan menerbitkan obligasi pertama sejak 2007 silam.

Dilansir dari CNN, defisit anggaran Saudi diperkirakan akan mencapai 20 persen dari PDB di 2015. Angka ini luar biasa tinggi karena biasanya negara ini mengalami surplus. Capital Economics memperkirakan pendapatan pemerintah akan turun USD 82 miliar di tahun ini atau setara dengan 8 persen PDB. Bahkan IMF memprediksi defisit anggaran di Saudi akan terjadi hingga 2020 silam.

Penurunan harga minyak dari USD 107 per barel menjadi USD 44 per barel saat ini telah menghantam ekonomi Arab Saudi. Pasalnya, 80 persen pendapatan pemerintah dihasilkan dari industri minyak. Turunnya harga minyak terjadi karena Ini terjadi karena banyaknya pasokan global, sedangkan permintaan minyak dunia mengalami penurunan.

Saudi menolak untuk memangkas produksi karena mereka berharap produsen lain seperti perusahaan minyak di Amerika keluar dari bisnis OPEC di global.

Menghadapi masalah ini, Saudi telah mengeluarkan kebijakan yaitu membuka pasar saham untuk asing. Namun, ribetnya syarat dan ketentuan membuat investor asing ogah masuk pasar.

“Kami akan hitung peningkatan pinjaman dalam beberapa bulan mendatang,” ucap Gubernur Badan Moneter Arab saudi, Fahad al-Mubarak dilansir dari CNN di Jakarta, Jumat (7/8).

Banyak analis menyarankan agar Arab Saudi kembali mencari utang dengan mengeluarkan obligasi dengan nilai USD 5 miliar hingga akhir tahun ini. Banyak juga yang menyarankan agar Saudi mulai mencari investor asing.

Harga Minyak Anjlok, Arab Saudi Defisit Anggaran

Arab Saudi kini sedang mengalami persoalan keuangan. Negara produsen minyak dunia ini mengalami penurunan pendapatan dari sektor minyak.

Harga minyak dunia yang anjlok hingga menyentuh US$ 44 per barel memicu menurunnya pendapatan Arab Saudi. Padahal, 80% pendapatan Arab Saudi disumbang oleh sektor migas.

Di saat harga minyak dunia turun, justru anggaran belanja Arab Saudi meningkat drastis di sektor militer. Arab Saudi yang terlibat dalam misi pertempuran di Yaman hingga Suriah, memicu kenaikan anggaran militer dari 10% menjadi 17% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Belum lagi langkah Raja Salman pada awal tahun yang membagikan bonus besar-besaran kepada pekerja sektor publik. Meski populis di mata warga, namun hal ini dinilai berperan menaikkan defisit anggaran di tengah menurunnya pendapatan negara dari sektor migas.

“Diprediksi defisit anggaran Arab Saudi mencapai 20% dari PDB hingga akhir 2015. Kerajaan Arab dinilai harus bekerja keras membuat anggaran menjadi surplus. Pendapatan Arab juga diprediksi turun,” tulis CNN seperti dikutip detikFinance, Sabtu (8/8/2015).

Alhasil, Arab Saudi membuka pintu mencari pinjaman dari dalam dan luar negeri. Tercatat, Pemerintah Arab Saudi pada bulan Juli lalu telah mengeluarkan surat utang atau obligasi US$ 4 miliar atau setara Rp 52 triliun. Obligasi ini diserap oleh perbankan lokal Arab Saudi.

Arab Saudi juga akan mencari pinjaman luar negeri hingga penghujung tahun. Arab Saudi diprediksi akan menerbitkan surat utang senilai US$ 5 miliar yang membidik investor luar negeri.

“Kita berencana mencari pinjaman dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Gubernur Bank Sentral Arab Saudi, Fahad al-Mubarak.

Arab Saudi Di Serang ISIS

 Anjloknya harga minyak dunia dan runtuhnya ekonomi Arab Saudi

Arab Saudi kembali menjadi target serangan teror dan kelompok teroris Takfiri ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan ke sebuah masjid di wilayah selatan negara ini.

Masjid milik aparat keamanan Arab Saudi di kota Abha, Provinsi Asir di selatan negara ini pada hari Kamis (6/8) menjadi sasaran serangan ledakan bom para teroris dan sedikitnya 17 personil keamanan Arab Saudi tewas dan 25 lainnya terluka. Sebelumnya, Arab Saudi di beberapa bulan lalu juga menjadi ajang serangan teroris termasuk ledakan di dua masjid Syiah di wilayah timur negara ini.

Berbagai serangan teror di Arab Saudi terjadi di saat Departemen Dalam Negeri baru-baru ini mengabarkan penenangkapan lebih dari empat ratus orang di dalam negeri dengan dakwaan terlibat dalam kelompok teroris ISIS. Ledakan bom pada hari Kamis di selatan Arab Saudi yang menarget pasukan yang tengah gencar membersihkan anasir teroris mengindikasikan bahwa ISIS tidak memiliki batas teritorial dalam setiap aksinya.

Untuk memajukan kebijakan sadisme dan intimidasinya, ISIS tidak pernah meyakini adanya pengecualian, sipil maupun militer sarta menarget siapa pun dan dari mazhab apa pun. Serangan terhadap masjid polisi Arab Saudi di selatan negara ini dengan sendirinya menghapus dikte bahwa ISIS tengah memusuhi Syiah. Kebijakan ini tak lebih hanya sebuah trik untuk mengobarkan perpecahan di antara umat Muslim.

Para jagal yang bergabung dengan ISIS dari berbagai negara dunia, tidak pernah meyakini akan nilai-nilai Islam dan mereka pun menolak agama yang penuh rahmat ini. Pembentukan ISIS muncul dari pemanfaatan sarana terorisme dan ideologi radikalisme Wahabi Arab Saudi dalam kemunculan proyek politik-destruktif ini memainkan peran signifikan. Berbagai pergerakan dan ulah ISIS mengindikasikan gelombang terorisme ISIS tidak terbatas di Irak dan Suriah. Dan kelompok teroris Takfiri ini, di negara-negara yang mendukungnya pun mulai melancarkan aksi teror.

Payung dukungan Arab Saudi terhadap ISIS juga tidak mampu menyelamatkan Riyadh dari gigitan kelompok teroris Takfiri. Sebelum ini, Turki, sebagai salah satu pendukung ISIS, juga menjadi target anak asuhnya sendiri.

Keamanan berbagai negara tidak mungkin diraih di lingkungan yang tidak stabil dan dampak krisis Suriah serta Irak telah membuktikan bahwa keamanan permanen  tidak mungkin terealisasi dengan pengobaran instabilitas di negara lain. Di kondisi seperti ini, penetapan keamanan permanen di kawasan hanya mungkin terwujud melalui kerjasama kolektif.

Mengingat prinsip penting dan vital ini, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Mohammad Javad Zarif mengusulkan pembentukan “Forum Dialog Regional” demi menyelesaikan krisis, kepada negara-negara tetangga dan regional.

Pengalaman pahit ancaman teroris ISIS menjadikan dialog strategis untuk mencapai pemahaman bersama atas bahaya ini menjadi tidak terelakkan. Jika hal ini tidak dilakukan, aksi teror dan ledakan bom di selatan Arab Saudi bukan akhir dari aksi ISIS.

Prestasi Dokter Syiah di Seluruh Dunia Membanggakan Dunia Islam

Brigjen Naqdi: Sains dan Teknologi, Satu-satunya Cara Melawan Musuh

Kepala Organisasi Basij Mustadafin Republik Islam Iran menilai perlengkapan senjata Sains dan Teknologi sebagai satu-satunya cara untuk bertahan melawan musuh.Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi mengungkapkan hal itu dalam upacara penutupan Liga Ilmiah Internasional Periode ke-8 di Universitas Shahid Beheshti di Tehran, ibukota Iran, Kamis (30/7).

Brigjen Naqdi mengatakan, hari ini ilmu adalah sumber utama kekuatan.

Sebagai Menteri Kesehatan Republik Islam Iran, saya bangga dengan dokter Syiah di seluruh dunia dan prestasi-prestasi membanggakan yang mereka raih. Harapan kita kedepannya, kita memiliki universitas yang berskala internasional yang menampung mahasiswa-mahasiswa unggulan untuk kemudian memberikan perkhidmatan pada dunia Islam dalam bidang medis.”

.

Menteri Kesehatan Iran Dr. Qazi Hasheimzadeh dalam sambutannya dalam pembukaan Konferensi Internasional Paramedis Imamiah ke-8 yang berlangsung di Masyhad kamis [30/7] menyatakan rasa syukur dan bangganya Iran telah menjadi tuan rumah dan khususnya kota Masyhad, yang menurutnya itu akan memudahkan para tamu dan peserta untuk sekaligus berziarah ke makam suci Imam Ridha As.

Dalam lanjutan pernyataannya, menteri kesehatan Iran tersebut menyebutkan kemajuan Iran dalam hal medis meningkat dengan sangat pesat. Dia berkata, “Disaat revolusi Islam Iran mencapai kemenangannya saat itu, Iran hanya memiliki 5 universitas media, namun hari ini ada 91 universitas yang aktif. Kalau diawal kemenangan revolusi harapan hidup rata-rata masyarakat Iran adalah 55 tahun, sekarang harapan hidupnya menjadi sekitar 73 tahun.”

Menteri Kesehatan periode Presiden Hasan Rouhani tersebut lebih lanjut mengatakan, “Meskipun harapan hidup di Iran meningkat, namun kita diperhadapkan pada kenyataan bahwa lebih dari 50 persen dari kematian terjadi karena serangan jantung dan stroke otak.”

“Berbeda dengan puluhan tahun sebelumnya, yang sebagian besar penyebab kematian adalah karena penyakit menular, tetapi saat ini banyak dari penyebab kematian adalah karena kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan makan yang buruk.” tambahnya.

Pada bagian akhir penyampaiannya, Dr. Hashemi menambahkan, “Sebagai Menteri Kesehatan Republik Islam Iran, saya bangga dengan dokter Syiah di seluruh dunia dan prestasi-prestasi membanggakan yang mereka raih. Harapan kita kedepannya, kita memiliki universitas yang berskala internasional yang menampung mahasiswa-mahasiswa unggulan untuk kemudian memberikan perkhidmatan pada dunia Islam dalam bidang medis.”

Disebutkan Konferensi Internasional Tenaga Medis Imamiah ke-8  tersebut terselenggara atas kerja sama Majma Jahani Ahlul Bait As dengan sejumlah lembaga pendidikan, agama, kebudayaan dan kesehatan di Iran dari tanggal 30 Juli – 10 Agustus 2015 disejumlah kota besar di Iran seperti Masyhad, Qom,  Tehran, Esfahan dan Shiraz. Tercatat sekitar 300 peserta ahli medis muslim dari berbagai negara  akan mengikuti semua rangkaian agenda konferensi seperti seminar, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, studi tour disejumlah rumah sakit dan lembaga penelitian yang terkait dengan masalah medis dan kesehatan serta menemui sejumlah ulama besar dan pejabat penting Iran.

Terselenggaranya Konferensi ini didukung oleh Lembaga Internasional Ahli Medis Imamiah, Kementrian Kesehatan, Lembaga Pendidikan Kesehatan, pemerintah provinsi dan pemerintah kota Masyhad termasuk pemerintah kota Tehran, Esfahan, Qom dan Shiraz.

“Tujuan kita adalah untuk memulai sebuah klinik setiap sudut dunia yang dibutuhkan dan memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat.”

.

salah seorang Anggota Imamia Paramedis International Congress (IMI) menyatakan tujuan utama dari diadakannya Konferensi Internasional Paramedis Muslim Imamiah ke-8 di Iran adalah untuk mencoba cara yang berbeda untuk mencapai kesehatan dan mencoba untuk menghapus penderitaan orang di seluruh dunia.

Profesor Qayyum menyatakan, “Tujuan kita adalah untuk memulai sebuah klinik setiap sudut dunia yang dibutuhkan dan memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat.”

Dia menyatakan pula program dan agenda yang akan dikerjakan dalam waktu dekat dari organisasi para dokter Syiah sedunia itu. Ia berkata, “Kita juga akan menerbitkan majalah kesehatan, dan juga di bidang prestasi ilmiah dan pendidikan kita bisa mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman dari dokter Iran.”

“Asosiasi berpartisipasi dalam berbagai acara keagamaan seperti ibadah haji, Arbain Imam Husain dan memberikan layanan gratis kepada para peziarah.” lanjutnya.

Disebutkan Konferensi Internasional Tenaga Medis Imamiah ke-8  tersebut terselenggara atas kerja sama Majma Jahani Ahlul Bait As dengan sejumlah lembaga pendidikan, agama, kebudayaan dan kesehatan di Iran dari tanggal 30 Juli – 10 Agustus 2015 disejumlah kota besar di Iran seperti Masyhad, Qom,  Tehran, Esfahan dan Shiraz. Tercatat sekitar 300 peserta ahli medis muslim dari berbagai negara  akan mengikuti semua rangkaian agenda konferensi seperti seminar, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, studi tour disejumlah rumah sakit dan lembaga penelitian yang terkait dengan masalah medis dan kesehatan serta menemui sejumlah ulama besar dan pejabat penting Iran.

Terselenggaranya Konferensi ini didukung oleh Lembaga Internasional Ahli Medis Imamiah, Kementrian Kesehatan, Lembaga Pendidikan Kesehatan, pemerintah provinsi dan pemerintah kota Masyhad termasuk pemerintah kota Tehran, Esfahan, Qom dan Shiraz.

“Hari ini Iran telah berkembang cukup pesat dalam transplantasi organ dan tidak ada negara di wilayah ini yang dapat bersaing dengan Iran dalam isu-isu medis,”

.

Dr. Ali Akbar Velayati, penasihat Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dan anggota Dewan Tertinggi Majma Jahani Ahlul Bait As dalam acara  pembukaan Konferensi Internasional Paramedis Imamiah ke-8 di Masyhad Republik Islam Iran mengatakan: “Kami sangat senang bahwa kota suci Masyhad dipilih untuk pembukaan Konferensi tentu saja Kota Mashhad telah melakukan banyak upaya untuk mengatur jalannya Konferensi ini”

Dalam lanjutan penyampaiannya, Velayati mengatakan, “Di negara-negara Barat ada sikap negatif terhadap Republik Islam dan alasan utama mereka adalah bahwa Iran sebagai negara Islam yang berdiri untuk kemerdekaannya”

“Sebelum revolusi, Iran hanya memiliki 2 ribu artikel dalam jurnal ilmiah bergengsi di dunia, tetapi hari ini kita memiliki 300 ribu artikel dan dalam dua tahun terakhir Iran mencapai peringkat pertama di Asia Barat dengan memberi sumbangsih jurnal ilmiah 37 ribu artikel,” lanjutnya .

“Hari ini Iran telah berkembang cukup pesat dalam transplantasi organ dan tidak ada negara di wilayah ini  yang dapat bersaing dengan Iran dalam isu-isu medis,” tambahnya lagi.

Disebutkan Konferensi Internasional Tenaga Medis Imamiah ke-8  tersebut terselenggara atas kerja sama Majma Jahani Ahlul Bait As dengan sejumlah lembaga pendidikan, agama, kebudayaan dan kesehatan di Iran dari tanggal 30 Juli – 10 Agustus 2015 disejumlah kota besar di Iran seperti Masyhad, Qom,  Tehran, Esfahan dan Shiraz. Tercatat sekitar 300 peserta ahli medis dari berbagai negara  akan mengikuti semua rangkaian agenda konferensi seperti seminar, kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, studi tour disejumlah rumah sakit dan lembaga penelitian yang terkait dengan masalah medis dan kesehatan serta menemui sejumlah ulama besar dan pejabat penting Iran.

Terselenggaranya Konferensi ini didukung oleh Lembaga Internasional Ahli Medis Imamiah, Kementrian Kesehatan, Lembaga Pendidikan Kesehatan, pemerintah provinsi dan pemerintah kota Masyhad termasuk pemerintah kota Tehran, Esfahan, Qom dan Shiraz.

Adanya embargo dan pengucilan negara-negara asing terhadap Iran bukannya membawa malapetaka sebagaimana yang mereka kehendaki, bahkan menjadi diantara faktor penyebab percepatan semua keberhasilan dan kemajuan ini.

.

diantara yang memberikan sambutan pada acara pembukaan Konferensi Internasional Tenaga Medis ke-8 yang berlangsung di Masyhad adalah gubernur provinsi Khurasan Rezavi.

Gubernur provinsi Khurasan Rezavi Ali Reza Rasyidian dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada para tamu undangan dan peserta konferensi, ia menyebutkan dengan penyelenggaraan konferensi di dekat Haram Imam Ridha As memberikan keberkahan tersendiri dalam jalannya konferensi.

“Khurasan telah dikenal sejak dulu kala sebagai penghasil tokoh-tokoh terkenal yang bergelut dalam bidang kedokteran dan farmasi termasuk memberikan sumbangsih besar dalam ilmu kedokteran modern. Kita kenal Ibnu Sina, al Farabi dan Khayyam yang selain filosof juga ahli medis yang terkemuka. Sampai saat inipun Khurasan masih tetap melahirkan ilmuan-ilmuan baru dari berbagai bidang keilmuan.” ungkapnya.

Dalam penyampaiannya selanjutnya Rasyidian mengatakan diantara keberhasilan Khurasan di dunia internasional adalah kemajuan ilmu kedokteran yang diraih provinsi tersebut. Ia berkata, “Sampai sekarang negara-negara tetangga bahkan negara maju Eropa menjadikan lembaga-lembaga riset yang tersebar di Khurasan sebagai kunjungan mereka untuk melakukan perbandingan dan pengembangan keilmuan. Tidak sedikit pula, warga negara asing yang sengaja mengunjungi Khurasan khususnya Masyhad untuk menyembuhkan penyakit mereka sebab percaya tekhnologi kedokteran di Masyhad telah berkembang sedemikian pesat.”

“Kesemua kemajuan dan keberhasilan ini berkat keberkahan yang dipancarkan imam kedelapan Syiah, Imam Ridha As terhadap kota ini dan Iran secara keseluruhan. Adanya embargo dan pengucilan negara-negara asing terhadap Iran bukannya membawa malapetaka sebagaimana yang mereka kehendaki, bahkan menjadi diantara faktor penyebab percepatan semua keberhasilan dan kemajuan ini.” tambahnya.

Ali Reza Rasyidian dibagian akhir sambutannya menyatakan rasa optimismenya Konferensi Internasional yang mempertemukan sejumlah ahli medis dari berbagai negara tersebut akan berjalan lancar dan menuai hasil-hasil yang diharapkan. Menurutnya pertemuan tersebut akan memudahkan transfer ilmu dan informasi antara para ahli medis sehingga ilmu kedokteran dan medis bisa lebih berkembang lagi.

Konferensi ini terselenggara atas kerja sama Majma Jahani Ahlul Bait As dengan sejumlah lembaga pendidikan, agama, kebudayaan dan kesehatan di Iran dari tanggal 30 Juli – 10 Agustus 2015 disejumlah kota besar di Iran seperti Masyhad, Tehran, Esfahan dan Shiraz. Tercatat sekitar 300 peserta ahli medis dari berbagai negara dan akan mengikuti semua rangkaian agenda konferensi seperti seminar dan studi tour disejumlah rumah sakit dan lembaga penelitian yang terkait dengan masalah medis dan kesehatan.

Terselenggaranya Konferensi ini didukung oleh Lembaga Internasional Ahli Medis Imamiah, Kementrian Kesehatan, Lembaga Pendidikan Kesehata, pemerintah provinsi dan pemerintah kota Masyhad termasuk pemerintah kota Tehran, Esfahan, Qom dan Shiraz.

Catatan Atas Syubhat Abu Azifah : Hadis “Apa Yang Aku Dan SahabatKu Ada Di Atasnya”

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Catatan Atas Syubhat Abu Azifah : Hadis “Apa Yang Aku Dan SahabatKu Ada Di Atasnya”

Hadis yang dibahas dalam tulisan ini adalah hadis dhaif yang seringkali dibela mati-matian oleh segelintir orang naif [walaupun telah nampak kedhaifannya]. Yaitu hadis dengan lafaz dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] diriwayatkan berkata

وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة قالوا ومن هي يا رسول الله قال ما أنا عليه وأصحابي

Sesungguhnya bani Israil akan terpecah belah menjadi 72 golongan sedangkan umatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan. Mereka [para sahabat] bertanya “siapakah golongan itu wahai Rasulullah?”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “apa yang Aku dan para sahabat-Ku ada di atasnya”. [Sunan Tirmidzi 5/26 no 2641]

Jauh sebelum hari ini, kami telah membuat tulisan khusus tentang hadis ini beserta bantahan terhadap syubhat yang membela hadis ini. Silakan bagi yang berminat dapat melihat pembahasannya dalam tulisan

  1. Kedudukan Hadis “Apa yang Aku dan sahabat-Ku ada di atasnya”
  2. Bantahan Terhadap Orang Yang Mengatakan Hadis “Apa yang Aku dan sahabat-Ku ada di atasnya” Hasan lighairihi

Kemudian sekarang muncul pahlawan kesiangan [orang yang kemarin pernah terbukti berdusta] yang sebenarnya cuma mengulang bantahan basi dari Abul Jauzaa [idolanya mungkin]. Kami berminat membahasnya kembali karena setelah kami teliti kembali berulang-ulang, kami malah bertambah yakin kalau hadis ini memang dhaif dan bukan hasan lighairihi.

.

.

.

Jadi sembari menambahkan hujjah maka kami sekalian akan menanggapi bantahan basi dari Abu Fulan tersebut. Ia berkata

Abu Azifah Hadis Iftiraq

Perhatikan ucapannya melemahkan hadits “apa-apa yang ada di dalamnya sunnahku dan sunnah para sahabatku”. Orang ini mengada-adakan lafaz hadis sendiri karena lafaz hadis yang sebenarnya adalah Maa ana ‘alaihi wa ashabiy yaitu “apa yang Aku dan para sahabat-Ku ada di atasnya”. Tidak ada penyebutan soal Sunnah para sahabat yang ia maksud. Kebiasaan buruk orang ini dari awal kami berdiskusi dengannya adalah ia tidak mampu memahami kalimat yang ia baca dengan baik. Sehingga dalam ketidakmampuannya terkadang ia berdusta atas ulama dan mengada-adakan kaidah ilmu hadis sendiri.

.

.

.

Abu Azifah Hadis Iftiraq2

Orang ini seolah-olah ingin mengesankan bahwa kami tidak mengetahui ada beberapa ulama yang menta’dil Abdurrahman bin Ziyaad Al Ifriqiy. Orang ini juga ingin mengesankan bahwa kami hanya bertaklid buta pada jarh Ibnu Hibbaan.

Hal ini jelas tidak benar, kami mengetahui bahwa ada beberapa ulama yang menta’dilkan Abdurrahman bin Ziyaad Al Ifriqiy. Oleh karena itulah kami dalam tulisan sebelumnya menetapkan Ia sebagai perawi dhaif yang tidak bisa dijadikan hujjah tetapi dapat dijadikan i’tibar oleh perawi semisalnya atau yang lebih kuat darinya. Adanya sebagian ulama yang menta’dilkan hanya mengangkat derajatnya menjadi perawi dhaif yang bisa dijadikan i’tibar.

Dan tidaklah benar kalau kami melemahkan Abdurrahman bin Ziyaad Al Ifriqiy hanya berdasarkan jarh Ibnu Hibban. Diantara sebagian ulama yang menyatakan jarh terhadap Abdurrahman bin Ziyaad terdapat mereka yang memang menyatakan cacat pada ‘adalah-nya.

  1. Ahmad bin Hanbal mendhaifkannya dan terkadang mengatakan tentangnya “tidak ada apa-apanya” terkadang mengatakan “mungkar al hadiits” bahkan melarang untuk menulis hadis darinya [Mausu’ah Aqwaal Ahmad no 1529]. Larangan menulis hadis atau meriwayatkan darinya menunjukkan Ahmad bin Hanbal menyatakan cacat pada ‘adalah-nya
  2. Ibnu Khiraasy mengatakan “matruk” dan Nasa’iy mengatakan “dhaif” [Tahdzib At Tahdzib 4/44 no 4508]. Jarh dengan lafaz “dhaif” dan lafaz “matruk” adalah jarh dari segi ‘adalah

Jadi sungguh tidak benar dakwaan yang secara mutlak menyatakan Abdurrahman bin Ziyaad Al Ifriqiy lemah dalam hal hafalannya sedangkan ‘adalah-nya tidak bermasalah.

Jika dilihat lebih teliti ucapan para ulama mutaqaddimin tentangnya tidak ada keterangan sharih atau lafaz yang sharih [jelas] bahwa Abdurrahman bin Ziyaad adalah orang yang lemah hafalannya. Hal ini adalah ijtihad sebagian ulama muta’akhirin seperti Ibnu Hajar yang melihat sebagian qaul ulama yang menta’dil Abdurrahman bin Ziyaad tetapi melemahkan hadisnya.

Padahal sebenarnya ternukil jarh mufassar dari sebagian ulama yang menunjukkan bahwa kelemahan dalam hadis Abdurrahman bin Ziyaad adalah karena ia banyak meriwayatkan hadis mungkar. Diantaranya ada Shalih bin Muhammad yang berkata tentangnya “mungkar al hadiits tetapi ia seorang yang shalih”. Sufyaan Ats Tsawriy yang mengatakan Abdurrahman bin Ziyaad merafa’kan hadis-hadis kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dimana tidak seorangpun dari ahli ilmu yang merafa’kan hadis tersebut. Abu Hasan bin Qaththan yang mengatakan bahwa yang benar ia dhaif karena banyak meriwayatkan hal-hal mungkar [Tahdzib At Tahdzib 4/44-45 no 4508].

Jadi ketika Ibnu Hibban mengatakan “ia meriwayatkan hadis maudhu’ dari para perawi tsiqat dan mendatangkan dari para perawi tsabit apa yang bukan dari hadis mereka” [Al Majruuhin Ibnu Hibbaan 2/15 no 581] hal itu bukanlah perkara yang mengherankan karena sebagian ulama telah menetapkan bahwa Abdurrahman bin Ziyaad banyak meriwayatkan hadis mungkar dan diantaranya hadis-hadis yang ia sandarkan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] padahal tidak ada satupun ahli ilmu yang menyandarkannya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Satu hal lagi yang menambah kedhaifan Abdurrahman bin Ziyaad Al Ifriqiy adalah ia seorang mudallis. Ibnu Hajar memasukkan namanya dalam mudallis thabaqat kelima

عبد الرحمن بن زياد بن أنعم ذكر بن حبان في الضعفاء أنه كان مدلسا وكذا وصفه به الدارقطني

‘Abdurrahman bin Ziyaad bin An’um, Ibnu Hibban menyebutkan dalam Adh Dhu’afa bahwa ia seorang mudallis dan demikian juga disifatkan oleh Daruquthniy [Thabaqat Al Mudallisin Ibnu Hajar no 143]

Dan sudah maklum diketahui [sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar sendiri dalam kitabnya tersebut] bahwa mudallis thabaqat kelima adalah orang-orang yang memang dhaif karena hal lain selain tadlis maka hadis-hadis mereka ditolak walaupun mereka menyebutkan lafal sharih penyimakan hadisnya.

Ketika menyatakan Abdurrahman bin Ziyaad Al Ifriqiy seorang mudallis, Ibnu Hibban menyebutkan dengan lafaz “ia melakukan tadlis dari Muhammad bin Sa’iid bin Abi Qais Al Mashlub” [Al Majruuhin Ibnu Hibbaan 2/15 no 581]. Sedangkan Muhammad bin Sa’iid bin Abi Qais dikenal sebagai seorang yang zindiq dan pemalsu hadis. Ahmad bin Hanbal mengatakan ia pemalsu hadis. An Nasa’iy menggolongkannya kedalam pendusta dan dikenal pemalsu hadis. Ibnu Numair menyatakan ia pendusta pemalsu hadis. Daruquthniy berkata “matruk al hadiits”. Ibnu Hibban dan Abu Ahmad Al Hakim menyatakan ia pemalsu hadis [Tahdziib At Tahdziib 5/600-601 no 6982].

Hadis Abdurrahman bin Ziyaad Al Ifriqiy di atas diriwayatkan olehnya dengan lafaz ‘an anah maka hal ini tidaklah selamat dari cacat tadlis. Bahkan dengan cacat ini juga riwayat itu tidak bisa dijadikan i’tibar karena bisa jadi lafaz ‘an anah itu adalah tadlisnya dari perawi dhaif, pendusta atau pemalsu hadis.

.

.

.

Kemudian Abu Fulan itu membuat-buat syubhat untuk menguatkan kedudukan Abdullah bin Sufyaan. Ia berkata

Abu Azifah Hadis Iftiraq3

Ucapan ini sangat jelas mengada-ada. Jarh “tidak ada mutaba’ah atasnya” atau jarh “tidak ada mutaba’ah dalam hadisnya” tidak mesti hanya berlaku bagi orang yang tidak bermasalah ‘adalah-nya. Seorang yang majhul atau dhaif pun bisa saja dikatakan dengan jarh “tidak ada mutaba’ah atasnya” atau “tidak ada mutaba’ah atas hadisnya”. Sebaik-baik bukti disini adalah sebagaimana tertera dalam kitab Adh Dhu’afa Al Uqailiy

أسد بن عطاء مجهول روى عن عكرمة حديثا لا يتابع عليه

Asad bin ‘Atha’ seorang yang majhul, meriwayatkan dari Ikrimah hadis yang tidak memiliki mutaba’ah atasnya [Adh Dhu’afa Al Uqailiy no 6]

الحسن بن على الهمداني مجهول أيضا لا يتابع على حديثه ولا يعرف الا به

Hasan bin ‘Aliy Al Hamdaaniy majhuul juga tidak memiliki mutaba’ah atas hadisnya dan tidak dikenal kecuali dengannya [Adh Dhu’afa Al Uqailiy no 282]

Apakah lafaz “tidak ada mutaba’ah” di atas bermakna tidak masalah ‘adalah-nya hanya hafalannya yang bermasalah?. Bagaimana bisa dikatakan tidak bermasalah ‘adalah-nya kalau Al Uqailiy sendiri menyatakan “majhul”.

بشر بن إبراهيم الانصاري عن الاوزاعي بأحاديث موضوعة لا يتابع عليها

Bisyr bin Ibrahim Al Anshaariy meriwayatkan dari Al Auza’iy dengan hadis-hadis maudhu’, tidak memiliki mutaba’ah atas hadis-hadisnya tersebut [Adh Dhu’afa Al Uqailiy no 174]

Apakah lafaz “tidak ada mutaba’ah” di atas bermakna tidak masalah ‘adalah-nya hanya hafalannya yang bermasalah?. Bagaimana bisa dikatakan tidak bermasalah ‘adalah-nya kalau Al Uqailiy sendiri menyatakan ia meriwayatkan hadis-hadis maudhu’ [palsu]

.
Muththarih bin Yazid dhaif tidak ada mutaba'ah hadisnya

Apakah lafaz “tidak ada mutaba’ah” di atas bermakna tidak masalah ‘adalah-nya hanya hafalannya yang bermasalah?. Bagaimana bisa dikatakan tidak bermasalah ‘adalah-nya kalau Al Uqailiy sendiri menukil Yahya bin Ma’in yang menyatakan Muththarih bin Yaziid dhaif tidak tsiqat [Adh Dhu’afa Al Uqailiy no 1868]

.

Huuth perawi mungkar al hadis

Muusa bin Ibrahim At Taimiy mungkar al hadis

Apakah lafaz “tidak ada mutaba’ah” di atas bermakna tidak masalah ‘adalah-nya hanya hafalannya yang bermasalah?. Bagaimana bisa dikatakan tidak bermasalah ‘adalah-nya kalau disisi Al Bukhariy lafaz “mungkar al hadiits” berarti tidak halal meriwayatkan dari perawi tersebut

وقال البخاري منكر الحديث ونقل بن القطان ان البخاري قال كل من قلت فيه منكر الحديث فلا تحل الرواية عنه انتهى وهذا القول مروي بإسناد صحيح عن عبد السلام بن أحمد الخفاف عن البخاري

Dan Bukhariy berkata “munkar al hadiits” dan Ibnu Qaththan menukil bahwa Bukhariy berkata “semua yang aku katakan tentangnya munkar al hadiits maka tidak halal meriwayatkan darinya”. [Ibnu Hajar berkata] Perkataan ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari ‘Abdus Salaam bin Ahmad Al Khaffaaf dari Bukhariy [Lisan Al Mizan Ibnu Hajar 1/220 no 5]

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Abu Fulan ini mengenai lafaz jarh “tidak ada mutaba’ah” berarti tidak masalah ‘adalah-nya dan hanya hafalannya yang bermasalah merupakan perkataan dusta dan mengada-ada. Faktanya jarh tersebut bisa dimiliki perawi majhul dan perawi dhaif yang memang bermasalah ‘adalah-nya

.

.

.

Abu Azifah Hadis Iftiraq4

Sungguh perkataan Abu Fulan ini tidak ada nilainya. Siapapun yang membaca kitab Adh Dhu’afa Al Uqailiy pada biografi Abdullah bin Sufyaan maka tidak akan mungkin menjadikan riwayatnya sebagai penguat. Mengapa? Karena Al Uqailiy sendiri telah menegaskan bahwa riwayat Abdullah bin Sufyaan itu tidak ada asalnya.

Hadis Abdullah bin Sufyan dhaif ma ana 'alaihi wa ashabiy

عبد الله بن سفيان الخزاعي واسطي عن يحيى بن سعيد لا يتابع على حديثه حدثناسلم بن سهل الواسطي قال حدثني جدي وهب بن بقية الواسطي قال حدثنا عبد الله بسفيان عن يحيى بن سعيد الانصاري عن أنس بن مالك قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم تفترق هذه الامة على ثلاث وسبعين فرقة كلها في النار الا فرقة واحدة قيل يا رسول الله ما هذه الفرقة قال من كان على ما أنا عليه اليوم وأصحابي ليس له من حديث يحيى بن سعيد أصل وإنما يعرف هذا الحديث من حديث الافريقى

‘Abdullah bin Sufyaan Al Khuzaa’iy Al Waasithiy meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id, tidak memiliki mutaba’ah atas hadisnya. Telah menceritakan kepada kami Aslam bin Sahl Al Waasithiy yang berkata telah menceritakan kepadaku kakekku Wahb bin Baqiyah  Al Waasithiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sufyan dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari Anas bin Malik yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Umat ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Mereka semua ada di neraka kecuali satu golongan”. Dikatakan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “siapakah golongan itu”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Apa yang Aku dan para Sahabat-Ku ada di atasnya pada hari ini”. Hadis ini tidak ada asalnya dari Yahya bin Sa’iid, dan sesungguhnya hanya dikenal hadis ini dari hadis Al Ifriqiy [Adh Dhu’afa Al Uqailiy no 817].

Dengan kata lain Al Uqailiy selaku periwayat hadis ini dan yang menuliskan biografi Abdullah bin Sufyaan menolak hadis Abdullah bin Sufyaan tersebut sebagai penguat bagi hadis Al Ifriqiy. Bahkan Al Uqailiy menegaskan kalau hadis Abdullah bin Sufyaan tersebut tidak ada asalnya dari Yahya bin Sa’iid.

Kesimpulan : Hadis Al Ifriqiy dan hadis Abdullah bin Sufyaan di atas tidak bisa saling menguatkan maka kedudukannya adalah dhaif. Sungguh keliru orang yang mengatakan hadis tersebut saling menguatkan dan menjadi hasan lighairihi.

==================================================================

@SP
Jarh murni “laa yuttaba’u bihi” mutlak merupakan jarh ke-dhabit-an.
Tak berguna jarh ini bagi perawi bermasalah ‘adalahnya, ada atau tidak mutaba’ah sama saja. Contoh-contoh analogi anda ndak nyambung !

TANGGAPAN :

Berikut bantahan dari Abu Azifah yang menunjukkan kalau orang ini asal membantah tapi tidak mengerti apa yang sedang ia bantah. ia mengatakan

Lihat dia, jarh “mungkarul hadits”, “larangan menulis hadits darinya”, “matruk”, “dhaif”, tidak mutlak bermasalah dalam segi ‘adalahnya. Memang dapat berarti bermasalah dalam ‘adalahnya, akan tetapi dapat pula berkenaan dengan masalah dari segi ke-dhabitan-nya, tergantung qarinahnya.

Dan dia sendiri telah menulis qarinah pembantahnya, yaitu : perkataan Shalih bin Muhammad berkata tentangnya Mungkarul Hadits, tetapi ia seorang yang SHALEH.

Orang ini sangat kacau dalam berhujjah. Saya tidak pernah menafikan ada ulama yang menetapkan ‘adalah Al Ifriqiy tetapi melemahkan hadis-hadisnya tetapi saya menunjukkan kepadanya ada ulama yang melemahkan ‘adalah Al Ifriqiy.

Ahmad bin Hanbal menyatakan Al Ifriqiy “mungkar al hadits” dan ini adalah jarh untuk melemahkan ‘adalah-nya dengan qarinah perkataan Ahmad bin Hanbal yaitu “jangan menulis hadis darinya”. Kalau perawi ini cuma bermasalah dhabit-nya maka tidak ada alasan larangan menulis hadisnya. Toh ulama sekaliber Ahmad bin Hanbal sudah pasti tahu bahwa perawi yang dhaif hafalannya bisa ditulis hadisnya untuk dijadikan i’tibar. Jadi larangan menulis hadisnya menunjukkan jatuhnya ‘adalah perawi tersebut di sisi Ahmad bin Hanbal.

Kekacauan orang ini adalah menjadikan perkataan Shalih bin Muhammad sebagai qarinah perkataan Ahmad bin Hanbal. Ya gak nyambung. Itu ucapan dua orang yang berbeda.

Abu Fulan ini tidak mengerti lafaz-lafaz jarh dan ta’dil disisi para ulama tetapi bergaya sok tahu. Terkadang seorang ulama memiliki makna sendiri lafaz jarh “mungkar al hadits” disisinya seperti Al Bukhariy ketika menyatakan jarh “mungkar al hadits” maka itu menunjukkan sangat dhaif di sisinya sehingga tidak halal meriwayatkan darinya.

Maaf ya kalau referensi ilmu hadis cuma asal comot dari kitab terjemahan Ittihafun Nabil Abu Hasan gak perlu sok bergaya membantah sana sini.

Begitu pula lafaz “matruk” dari Ibnu Khirasy itu adalah jarh dari segi ‘adalah. Orang yang mengatakan lafaz matruk adalah jarh dari segi dhabit adalah orang yang tidak pernah belajar dasar-dasar Ulumul Hadis. Silakan ia buka kitab Ulumul hadis mana saja maka ia akan tahu kalau jarh matruk itu adalah jarh dari segi ‘adalah perawi.

Alhamdulillah ternyata saya masih berdiri diatas kaedah ilmu, sehingga seorang ulama hadits-pun telah sesuai dengan pendapat saya.

Sungguh saya ingn tertawa melihat gaya orang ini. Ia kan hanya taklid buta kepada ocehan Abul Jauzaa dimana Abul Jauzaa juga taklid kepada Ibnu Hajar. Please deh jangan sok bergaya anda mengerti apa itu kaidah ilmu. kalau memang anda mampu silakan bawakan satu saja ulama mutaqaddimin yang mengatakan dengan lafaz sharih [jelas] kalau Al Ifriqiy itu buruk hafalannya. Kalau memang ia masyhur buruk hafalannya masa’ tidak ada satupun ulama hadis yang mengatakan dengan jelas.

Lagipula kalau ia ingin taklid kepada Ibnu Hajar maka perhatikan juga apa yang ditulis Ibnu Hajar dalam kitabnya Thabaqat Al Mudallisin. Ibnu Hajar menggolongkan Al Ifriqiy ke dalam perawi mudallis thabaqat kelima yang dikatakan Ibnu Hajar hadisnya mardud [ditolak] walaupun ia menjelaskan penyimakannya. Jadi di sisi Ibnu Hajar ya hadis Al Ifriqiy itu mardud [ditolak] apalagi disini Al Ifriqiy tidak menyebutkan penyimakannya

Alhamdulillah, ternyata tidak hanya Imam Ibnu Hajar saja yang berpendapat seperti saya, ternyata Shalih bin Muhammad, Sufyan Ats Tsauri, dan Abu Hasan bin Qaththan, berpendapat bahwa kelemahan Al Ifriqi hanyalah karena meriwayatkan riwayat yang mungkar, dan ini maklum merupakan jarh dari segi ke-dhabitan.

Orang ini tidak menangkap inti permasalahan. Justru ulama-ulama tadi menentang dirinya tetapi ia yang tidak paham. Ucapan Shalih bin Muhammad “mungkar al hadits tetapi ia shalih” menunjukkan bahwa perawi tersebut dhaif di sisi Shalih bin Muhammad tetapi pada dasarnya perawi tersebut seorang yang shalih dalam hal dirinya yaitu ia seorang ahli ibadah yang zuhud dan wara’. Jadi orang seperti ini di sisi Shalih bin Muhammad walaupun shalih ya hadisnya dhaif dan ditolak.

Perkataan Sufyan Ats Tsawriy adalah jarh mufassar yaitu sering menisbatkan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hadis-hadis yang tidak ada satupun yang menisbatkannya kepada Nabi. Pada dasarnya ini adalah jarh berat karena hakikatnya orang ini menyandarkan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sesuatu yang bukan hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ada dua macam tipe perawi seperti ini yaitu perawi yang dengan sengaja berdusta maka jatuh keadilannya dan perawi yang tidak sengaja berdusta mungkin karena ia ikhtilath sehingga lupa atau kacau dengan apa yang ia riwayatkan. Apapun itu intinya perawi seperti ini hadisnya ditolak. Tidak ada guna penta’dilan terhadapnya karena jarh ini adalah jarh mufassar. Kaidah ilmu mengatakan jarh mufassar lebih didahulukan daripada ta’dil. Maka kesimpulannya dengan jarh Sufyan Ats Tsawriy ini Al Ifriqiy dhaif dan ditolak hadisnya. Bisa saja hadis dengan lafaz “ma ana ‘alaihi wa ashabiy” itu adalah bukan hadis Nabi tetapi ia menyambungkannya kepada Nabi. Buktinya adalah dalam riwayat shahih lain hadis Iftiraq Al Ummah tidak ada disebutkan lafaz tersebut.

Adapun perkataan Ibnu Qaththan, si Abu Fulan ini mungkin buta matanya, karena jelas-jelas saya nukil perkataan Ibnu Qaththan bahwa “yang benar adalah Ifriqiy seorang yang dhaif”. Artinya Ibnu Qaththan merajihkan kalau ia dhaif dan alasannya adalah karena banyak meriwayatkan hadis mungkar. Dan hadis “ma ana ‘alaihi wa ashabiy” adalah bagian dari hadis mungkarnya karena dalam hadis-hadis shahih Iftiraq Al Ummah tidak ada lafaz tersebut.

Hal ini pernah kita bahas dalam periwayatan Bakr bin Bakaar, bahwa berbeda antara jarh fulan perawi mungkar dengan fulan mungkarul hadits.

Orang yang tidak paham tetapi berasa-rasa paham. Orang ini sebenarnya dari awal saja sudah sesat pemahamannya terhadap ilmu hadis. Itu karena ia tidak pernah belajar dasar-dasar Ulumul Hadis. Tapi kok gak sadar-sadar juga ya, kasihan kasihan.

TANGGAPAN SAYA :

Hal ini dapat terjadi akibat buruknya hafalan Al Ifriqi.

Lha bisa juga kemungkinannya karena Al Ifriqiy memang jatuh ‘adalah-nya seperti yang dikatakan Ahmad bin Hanbal, Ibnu Khirasy dan Nasa’iy. Kalau orang ini memang ingin memastikan bahwa hadis-hadis mungkar dan maudhu’ yang diriwayatkan Al Ifriqiy itu berasal dari buruk hafalannya maka silakan tunjukkan ulama mutaqaddimin yang mengatakan dengan jelas bahwa Al Ifriqiy buruk hafalannya.

Fakta yang ada berdasarkan qaul ulama mutaqaddimin adalah Al Ifriqiy banyak meriwayatkan hadis-hadis mungkar dan juga meriwayatkan hadis-hadis palsu. Kemungkinannya disini bisa saja Al Ifriqiy perawi yang bermasalah ‘adalah-nya, atau mungkin bisa saja hadis-hadis mungkar dan maudhu’ itu akibat dari tadlisnya dimana ia melakukan tadlis dari perawi zindiq dan pemalsu hadis, atau mungkin bisa saja ia lemah dalam dhabit-nya sehingga saking lemah dhabitnya ia begitu banyak meriwayatkan hadis mungkar dan maudhu’. Apapun kemungkinannya ya hadis perawi seperti ini selayaknya ditolak. Abu Fulan ini tidak bisa membedakan mana hujjah yang masih kemungkinan dan mana hujjah yang menjadi fakta.

Dan satu lagi tidak setiap perawi yang lemah dalam dhabit-nya itu berarti adil. Seorang yang bermasalah dalam ‘adalah-nya juga bisa lemah dalam dhabit-nya. Maka tidak menutup kemungkinan disini kalau Al Ifriqiy selain buruk hafalannya tetapi juga lemah ‘adalah-nya.

Saya sih tidak berminat mendiskusikan soal kemungkinan disini. Saya lebih berfokus pada fakta qaul ulama mutaqaddimin yang menyatakan Al Ifriqiy banyak meriwayatkan hadis mungkar dan juga meriwayatkan hadis maudhu’. Hal ini cukup untuk menjatuhkan derajat hadisnya menjadi dhaif. Dan dalam perkara hadis “ma ana alaihi wa ashabiy” maka hadis ini dhaif tidak bisa dijadikan i’tibar karena mungkar bertentangan dengan hadis-hadis shahih lain yang tidak menyebutkan lafaz tersebut.

TANGGAPAN SAYA :

Sejak kapan riwayat mudalis tidak bisa dijadikan i’tibar ?

Sejak diketahui bahwa ia melakukan tadlis dari perawi zindiq, pendusta dan pemalsu hadis. Baca baik-baik dong wahai Abu Fulan. Perawi yang melakukan tadlis dari perawi zindiq, pendusta dan pemalsu hadis mana bisa hadisnya dijadikan i’tibar karena bisa saja itu sebenarnya adalah hadis palsu dan dusta karena tadlis tersebut.

TANGGAPAN SAYA :

Kacau betul bantahan orang ini, jelas harus dibedakan antara jarh “majhul, tidak ada mutaba’ahnya” dengan jarh “tidak ada mutaba’ahnya”.

Jarh “majhul tidak ada mutaba’ahnya”, lafal “majhul” menunjukkan identitas perawi, dan lafal “tidak ada mutaba’ahnya” menunjukkan status haditsnya.

Sedangkan jarh “tidak ada mutaba’ahnya”, menunjukkan diketahuinya identitas perawi tersebut sebagai perawi yang lemah hafalannya sehingga haditsnya membutuhkan mutaba’ah.

Justru orang ini yang kacau. Jarh “tidak ada mutaba’ah” itu bisa berlaku pada perawi majhul dan dhaif. Maka kalau ada seorang perawi dikatakan “tidak ada mutaba’ah” ya tidak bisa langsung dikatakan kalau dia lemah hafalannya dan ‘adalahnya tidak bermasalah. Justru bisa saja orang tersebut sebenarnya majhul atau dhaif.

Orang ini memutlakkan jarh “tidak ada mutaba’ah” sebagai tanda bahwa ‘adalah-nya tidak bermasalah ya Itu namanya mengada-ada bung. Bicara itu ya pakai bukti bukan pakai dengkul. Tidak ada satupun ulama hadis yang mengatakan demikian karena faktanya perawi majhul dan dhaif pun juga pernah dikatakan Al Uqailiy dengan lafaz “tidak ada mutaba’ah”.

TANGGAPAN SAYA :

Sungguh mengherankan apabila bila jarh “tidak ada mutaba’ahnya” disandarkan kepada perawi yang bermasalah tentang ‘adalahnya. Apa gunanya ? Ada mutaba’ah atau tidak tetap saja perawi tersebut tidak dapat diangkat dan mengangkat riwayat yang lain.

Lho memangnya anda pikir Al Uqailiy itu sedang mentakhrij hadis atau sedang menguatkan hadis dalam kitabnya Adh Dhu’afa. Al Uqailiy itu sedang membuat biografi perawi yang dhaif menurutnya bung. Makanya ia sebut kitabnya Adh Dhu’afa. Tolong akalnya dipakai sedikitlah.

Masalah jarh seperti apa yang dipakai Al Uqailiy itu adalah haknya. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Intinya saya sudah menunjukkan bahwa di sisi Al Uqailiy jarh “tidak ada mutaba’ah” itu bisa berlaku pada perawi majhul dan dhaif. Oleh karena itu jika anda memutlakkan jarah “tidak ada mutaba’ah” sebagai tidak masalah dalam ‘adalah-nya dan hanya menunjukkan lemah hafalannya maka itu berarti anda membuat kedustaan atas nama Al Uqailiy atau mengada-adakan istilah sendiri yang tidak dikenal Al Uqailiy.

Meriwayatkan hadits-hadits palsu berbeda dengan membuat hadits palsu.

Yang pertama bisa karena dia pendusta atau bisa juga karena dia seorang yang buruk hafalannya sehingga menyampaikan sanadnya keliru.

Sedangkan yang kedua tidak syak lagi kalau perawi tersebut adalah pendusta.

Jika ulama jarh dan ta’dil menyatakan terhadap seorang perawi “ia meriwayatkan hadis palsu” maka tidak diragukan kalau ini jarh yang berat dan menjatuhkan keadilannya. Apapun kemungkinannya perawi tersebut sengaja berdusta atau perawi tersebut buruk hafalannya sehingga melahirkan hadis-hadis palsu dari hafalannya ya itu tidak menjadi masalah. Orang yang buruk hafalannya dan saking buruknya hafalan orang tersebut sampai melahirkan hadis palsu adalah orang yang sudah selayaknya ditolak hadis-hadisnya.

Dalam kasus diatas bisa jadi Al Uqailiy tidak menjarh ‘adalah Bisyr, hanya menjarh hadits-hadits Bisyr adalah lemah bila tidak ada mutaba’ahnya, dan bisa jadi menjadi kuat bila ada mutaba’ahnya. Dan setelah beliau teliti ternyata hadits-hadits tersebut tidak ada mutaba’ahnya.

Silakan bangun dulu dari waham khayalnya. Sangat jelas kalau Al Uqailiy menjarh Bisyr makanya ia memasukkannya dalam kitab Adh Dhu’afa. Bagaimana mungkin orang yang Al Uqailiy jarh dengan kata-kata “meriwayatkan hadis palsu, tidak ada mutaba’ah atasnya” anda katakan hadisnya bisa menjadi kuat bila ada mutaba’ah. Memangnya ilmu hadis itu anda yang bikin. Kalau mau mengada-ada ilmu hadis sendiri ya buat saja sendiri.

Lama-lama perawi yang pendusta dan pemalsu hadis akan anda bilang itu karena ia buruk hafalannya. Saya masih belum lupa bagaimana anda mengatakan perawi yang dikatakan “pencuri hadis” anda seenaknya bilang itu karena buruk hafalannya. Maka mungkin nanti dengan ilmu hadis versi anda bisa dibilang semua hadis perawi dhaif, pencuri hadis, pendusta, pemalsu hadis bisa anda kuatkan seenak hawa nafasunya

TANGGAPAN SAYA :

Sekali lagi sungguh mengherankan apabila bila jarh “tidak ada mutaba’ahnya” disandarkan kepada perawi yang bermasalah tentang ‘adalahnya. Apa gunanya ? Ada mutaba’ah atau tidak tetap saja perawi tersebut tidak dapat diangkat dan mengangkat riwayat yang lain.

Dan lagi sejak kapan “dhaif tidak tsiqat” merupakan mutlak jarh atas ‘adalah ?

Pertanyaan gak penting karena memangnya apa ketika ulama menjarh “tidak ada mutaba’ah” mereka sedang mengangkat derajat perawi atau hadisnya. Ya nggaklah bung, ulama itu sedang menunjukkan kalau perawi yang dimaksud menyendiri dalam meriwayatkan hadis-hadis yang bermasalah yang membuat perawi tersebut jatuh ke derajat dhaif di sisi ulama tersebut. Oleh karena itu jarh “tidak ada mutaba’ah” di sisi Al Uqailiy adalah jarh melemahkan karena Al Uqailiy sendiri memasukkan namanya dalam kitab yang memuat nama perawi dhaif di sisinya.

Anda boleh saja tidak setuju dengan hujjah Al Uqailiy kalau begitu ya silakan bawakan bantahan terhadap Al Uqailiy. Jangan malah menjadikan jarh Al Uqailiy sebagai bukti kalau Abdullah bin Sufyan tidak bermasalah ‘adalah-nya. Itu namanya dusta bin mengada-ada.

Lafaz “dhaif” dan “laisa bi tsiqat” di sisi Yahya bin Ma’in itu adalah lafaz jarh terhadap ‘adalah perawi. Ini adalah pelajaran dasar Ulumul Hadis. Seorang yang baru belajar ilmu hadis pun akan mengetahuinya. Beda hal-nya dengan orang yang tidak pernah belajar Ulumul Hadis tetapi asal comot sana sini kemudian dicampur dengan waham khayalnya maka jadilah seperti Abu Fulan ini yang tidak jelas ilmunya. Masa’ hal lumrah seperti ini saja ditanya.

Sekali lagi jarh “mungkarul hadits tidak ada mutaba’ahnya” berbeda dengan jarh “tidak ada mutaba’ahnya”

Tolong dibaca contoh yang saya bawakan dengan baik. Tolong matanya dipakai. Lihat perawi dengan nama Muusa bin Muhammad bin Ibrahim yang dikatakan Al Uqailiy “tidak ada mutaba’ah hadisnya”. Dengan perkataan Al Uqailiy ini apa anda mau mengatakan bahwa Al Uqailiy ingin menyatakan ia tidak bermasalah ‘adalah-nya tetapi hanya hafalannya yang bermasalah. Tentu saja tidak, karena pada kalimat setelahnya Al Uqailiy menukil Al Bukhariy yang mengatakan “mungkar al hadits” dan Yahya yang mengatakan “dhaif”. Artinya Al Uqailiy sedang mendhaifkan perawi tersebut dari segi ‘adalah-nya. Mengerti anda bung.

Telah berlalu perkataan Imam Dzahabi bahwa Abdullah bin Sufyan adalah dhaif, bila dirangkai dengan jarh ‘tidak ada mutaba’ahnya” menjadi jarh “dhaif tidak ada mutaba’ahnya”, sehingga diketahuti bahwa perawi ini hanya bermasalah dari segi hafalannya saja.

Lho memangnya kalau Adz Dzahabiy mengatakan “dhaif tidak ada mutaba’ahnya” bisa anda katakan bahwa perawi ini hanya bermasalah dari segi hafalannya saja. Kaidah dari mana itu, dari waham khayal anda, ya tolong jangan dibawa-bawa disini. Jika seorang perawi dikatakan dhaif tidak ada mutaba’ah-nya maka kedudukan asalnya memang dhaif. Kalau ingin menguatkan perawi tersebut dengan mengatakan ‘adalah-nya tidak bermasalah hanya hafalannya yang bermasalah ya silakan bawakan buktinya. Mana bisa lafaz “dhaif tidak ada mutaba’ah” langsung diartikan “hanya hafalannya yang bermasalah”. Lafaz itu bermakna perawi yang dibicarakan tersebut dhaif dan ia meriwayatkan hadis-hadis yang ia menyendiri atasnya dimana hadis-hadis ini menjadi bukti akan kedhaifannya.

Jadi kesimpulannya :

Al Ifriqi adalah perawi lemah yang bisa dijadikan i’tibar, demikian pula Abdullah bin Sufyan adalah perawi lemah yang bisa dijadikan i’tibar, sehingga saling menguatkan, menaikkan statusnya menjadi HASAN LIGHAIRIHI.

Al Ifriqiy itu perawi dhaif dan hadisnya mungkar serta melakukan tadlis dari pemalsu hadis. Maka hadisnya disini tidak bisa dijadikan i’tibar karena tidak selamat dari tadlisnya sehingga bisa saja itu berasal dari pemalsu hadis dan ia melakukan tadlis darinya. Ditambah lagi hadisnya disini mungkar karena hadis Iftiraq Al Ummah dengan sanad yang shahih tidak memuat lafaz “ma ana ‘alaihi wa ashabiy”. Hadis mungkar tidak bisa dijadikan i’tibar.

Terakhir, tolong dibaca baik-baik kedudukan Abdullah bin Sufyaan di sisi Al Uqailiy dengan jarh “tidak ada mutaba’ah” itu bermakna dhaif karena Al Uqailiy sendiri menyatakan hadis Abdullah bin Sufyaan di atas tidak ada asalnya. Maka bagaimana bisa anda menjadikan hadis Abdullah bin Sufyan sebagai i’tibar kalau Al Uqailiy sendiri menyatakan hadis tersebut tidak ada asalnya.

  • @abu azifah

    Jarh murni “laa yuttaba’u bihi” mutlak merupakan jarh ke-dhabit-an.
    Tak berguna jarh ini bagi perawi bermasalah ‘adalahnya, ada atau tidak mutaba’ah sama saja. Contoh-contoh analogi anda ndak nyambung !

    Pikiran anda yang tidak nyambung. Jarh “tidak ada mutaba’ah” yang kita bicarakan disini adalah jarh Al Uqailiy dalam kitabnya Adh Dhu’afa. Al Uqailiy tidak pernah memaknai jarh itu khusus mutlak merupakan jarh terhadap dhabit. Buktinya saya sudah menunjukkan dalam kitab Al Uqailiy tersebut misalnya perawi dengan nama Muusa bin Muhammad bin Ibrahim At Taimiy yang disebutkan jarh “tidak ada mutaba’ah atas hadisnya” ternyata perawi yang dibicarakan Al Uqailiy dengan jarh tersebut adalah perawi yang jatuh ‘adalah-nya karena Al Uqailiy sendiri menukil Al Bukhariy yang mengatakan “mungkar al hadiits” dan Yahya yang mengatakan ‘dhaif”.

    Al Uqailiy pemilik jarh tersebut lebih layak menjadi hujjah dibanding ocehan dan bualan anda yang hanya berasal dari waham khayal anda saja

    inkonsisten anda, sejak kapan perawi dapat dijadikan i’tibar bermasalah dalam ke-‘adalah-annya ?

    Memangnya kapan saya pernah bilang perawi bermasalah ‘adalah-nya bisa dijadikan i’tibar. Kalau gak paham hujjah orang lain ya jangan mengada-ada atas nama orang lain.

  • @sp
    Al ifriqi bermasalah dalam ‘adalahnya apa ndak mas ?

  • @SP

    Jarh-jarh contoh anda ada qarinah lain, itu yang dipakai.
    Sedang jarh Abdullah bin Sufyan tidak ada qarinah lain (murni laa yuttabau bihi), apa gunanya laa yuttabau bihi terhadap perawi yang bermasalah ‘adalahnya ?

  • @abu azifah

    Al ifriqi bermasalah dalam ‘adalahnya apa ndak mas ?

    Di sisi saya setelah saya teliti kembali berdasarkan pendapat yang rajih ia perawi yang dhaif. Dalam tulisan sebelumnya saya mengatakan ia bisa dijadikan i’tibar dengan dasar sebagian ulama yang menta’dilkannya. Tetapi sekarang saya menjadi yakin kalau kedudukannya dhaif sehingga tidak bisa dijadikan i’tibar. Saya lebih berpegang pada pendapat ulama yang melemahkan ‘adalah-nya semisal Ahmad bin Hanbal, Ibnu Khirasy dan Nasa’iy dan didukung bukti dengan jarh mufassar bahwa ia banyak meriwayatkan hadis mungkar dan meriwayatkan hadis palsu serta melakukan tadlis dari pemalsu hadis.

    Jarh-jarh contoh anda ada qarinah lain, itu yang dipakai.
    Sedang jarh Abdullah bin Sufyan tidak ada qarinah lain (murni laa yuttabau bihi), apa gunanya laa yuttabau bihi terhadap perawi yang bermasalah ‘adalahnya ?

    Pertanyaan anda itu yang tidak ada gunanya. Jarh “tidak ada mutaba’ah atasnya” sudah terbukti bisa tertuju pada perawi yang bermasalah ‘adalah-nya. Lihat contoh yang saya nukil Muusa bin Muhammad bin Ibrahim dimana Al Uqailiy murni mengatakan “tidak memiliki mutaba’ah atas hadisnya” tetapi ternyata perawi yang dimaksud dhaif dari segi ‘adalah-nya. Jadi apa gunanya anda menanyakan sesuatu yang sudah terbukti ada. Coba saya tanya, mungkin tidak seorang perawi dhaif ‘adalah-nya meriwayatkan hadis-hadis yang tidak memiliki mutaba’ah atasnya?. Jawabannya sangat mungkin bahkan bisa jadi dengan hadis-hadis itu menjadi bukti akan kedhaifan ‘adalah-nya.

    Jarh “tidak ada mutaba’ah atasnya” itu tertuju pada perawi yang bermasalah ‘adalah-nya dalam arti ia adalah perawi dhaif yang meriwayatkan hadis-hadis yang ia tidak memiliki mutaba’ah dimana hadis-hadis ini menjadi bukti akan kedhaifannya. Dalam perkara Abdullah bin Sufyaan itu qarinah-nya jelas dimana Al Uqailiy membawakan hadis Abdullah bin Sufyan yaitu hadis di atas kemudian Al Uqailiy mengatakan hadis Abdullah bin Sufyan itu tidak ada asalnya. Maka kedudukan Abdullah bin Sufyan dhaif dari segi ‘adalah-nya

    .

    Harusnya anda yang membuktikan kalau jarh “tidak ada mutaba’ah atasnya” di sisi Al Uqailiy tertuju pada perawi yang tidak bermasalah ‘adalah-nya hanya hafalannya yang bermasalah. Coba tunjukkan satu saja contohnya dalam kitab Al Uqailiy. Saya tunggu buktinya ya?. Itu kalau memang anda mampu berdiskusi secara ilmiah. Jangan hanya bisa memaksakan waham khayal anda kedalam ilmu hadis

  • TANGGAPAN SAYA :

    Pada intinya jarh murni “tidak ada mutaba’ahnya” merupakan jarh dari segi ke-dhabit-an, bisa karena buruk hafalannya, bisa karena majhul, bisa karena dhaif, bisa karena ikhtilath, bisa karena terputus, dll.

    Orang ini aneh, semakin banyak bicara semakin melantur. Sejak kapan majhul, dhaif, ikhtilath dan terputus masuk dalam kategori jarh dalam hal dhabit. Kacau sekali ilmu hadis orang ini

    Intinya jarh “tidak ada mutaba’ah atasnya” harus dikembalikan pada pemilik jarh tersebut. Caranya adalah dengan melihat berbagai kasus yang diterapkan olehnya terhadap para perawi dalam kitabnya. Sangat jelas telah kami buktikan bahwa jarh “tidak ada mutaba’ah atasnya” juga berlaku untuk perawi yang lemah ‘adalah-nya. Tidak ada gunanya ia mengoceh sana sini berulang-ulang toh kami sudah membuktikan. Kalau ia tidak menerima ya silakan saja.

    Oleh karena itu kami balik bertanya silakan buktikan bahwa di sisi Al Uqailiy jarh “tidak ada mutaba’ah atasnya” hanya bermakna jarh terhadap dhabit sedangkan ‘adalah-nya tidak bermasalah. Tentu saja ia tidak akan bisa membuktikannya karena memang tidak ada hal semacam itu. Orang ini tidak bisa membedakan waham khayal-nya dengan kaidah ilmiah.

    Sedangkan inti jarh Imam Al Uqailiy adalah “hadits ini tidak ada asalnya dari Yahya bin Said” akibat kesendirian Abdullah bin Sufyan.

    Hal ini tidak berarti bahwa Al Uqailiy berpendapat bahwa riwayat Abdullah bin Sufyan tidak dapat dijadikan penguat riwayat Al Ifriqi, beliau hanya berpendapat tidak tsabit riwayat Abdullah bin Sufyan dari Yahya bin Said akibat kesendirian Abdullah bin Sufyan dan yang tsabit adalah riwayat Al Ifriqi akan tetapi lemah.

    Hal ini perlu dicermati, bahkan riwayat Abdullah bin Sufyan mempunyai mutaba’ah (syahid), yaitu riwayat Al Ifriqi.

    Ini adalah bukti kesekian kalinya kalau orang ini tidak memahami apa yang ia baca atau sebenarnya ia tidak bisa membaca. Inilah perkataan Al Uqailiy

    ليس له من حديث يحيى بن سعيد أصل وإنما يعرف هذا الحديث من حديث الافريقى

    Hadis ini tidak ada asalnya dari Yahya bin Sa’iid, sesungguhnya hanyalah dikenal hadis ini dari hadis Al Ifriqiy

    Ini adalah ucapan khas ulama yang menyatakan hadis tertentu sebagai mungkar, tertolak atau bahkan maudhu’. Ucapan “hadis itu tidak ada asalnya” adalah ucapan yang membatalkan hadis itu sebagai i’tibar. Kalau memang Al Uqailiy menjadikan hadis itu sebagai i’tibar bersama dengan hadis Al Ifriqiy maka tidak mungkin ia akan mengatakan hadis itu tidak ada asalnya.

    Intinya Al Uqailiy menyalahkan riwayat Abdullah bin Sufyaan dan sebenarnya hadis itu hanyalah riwayat Al Ifriqiy, lafaz “innama” itu jelas hanya menunjukkan bahwa riwayat yang dimaksud hanya riwayat Al Ifriqiy karena lafaz “innama” itu bermakna hashr [pembatasan], tidak untuk selain yang disebutkan. Susah memang bicara sama orang yang tidak paham bahasa arab tetapi bergaya sekali berhujjah seolah paling mengerti terhadap qaul ulama. Please deh tolong sadar diri sedikitlah, bicaralah sebatas ilmu yang ada jangan bicara ketinggian melampaui ilmu yang dimiliki

    TANGGAPAN SAYA :

    Telah berlalu kesepakatan kita, bahwa Al Ifriqi dapat dijadikan i’tibar.

    Sejak kapan kita sepakat. Lucu, anda itu punya mata tetapi tidak dipakai untuk melihat dengan baik. Sudah saya tuliskan bahwa hadis Al Ifriqiy tidak bisa dijadikan i’tibar apalagi disini hadis tersebut terbukti mungkar karena bertentangan dengan hadis-hadis shahih yang tidak menyebutkan lafaz “ma ana alaihi wa ashabiy”. Dan bagaimana bisa dijadikan i’tibar kalau tidak selamat dari cacat tadlis Al Ifriqiy yang sering melakukan tadlis dari pemalsu hadis. Masa’ yang begini bisa dijadikan i’tibar

    Telah berlalu pembahasan jarh murni “tidak ada mutaba’ahnya” merupakan mutlak merupakan jarh dari segi ke-dhabit-an atau ke-ittisal-an sanad bukan jarh tentang ‘adalah seorang perawi.

    Kapan anda membuat pembahasan?. Dalam mimpi?. Anda cuma asal bicara itu mutlak jarh dari segi dhabit tanpa membawakan satupun bukti. Tidak ada qaul ulama yang anda kutip. Tidak ada contoh kasus yang anda kutip. Jangan-jangan anda tidak mengerti apa itu namanya “pembahasan”.

    Sehingga kalau SP hendak melemahkan Abdullah bin Sufyan, hendaklah ia mendatang jarh tentang ‘adalah beliau, jangan berasumsi dengan analogi-analogi yang tidak pas.

    Apanya yang asumsi?. anda tidak paham kali makna “asumsi”. Al Uqailiy memasukkannya Abdullah bin Sufyan dalam kitabnya Adh Dhu’afa. Al Uqailiy menjarahnya dengan “tidak ada mutaba’ah hadisnya” kemudian Al Uqailiy menyatakan hadisnya tidak ada asalnya. Sangat jelas bahwa Abdullah bin Sufyaan dhaif di sisi Al Uqailiy.

    Justru kalau anda ingin menguatkan Abdullah bin Sufyan. Ingin menetapkan ‘adalah-nya maka silakan bawakan ulama yang menta’dil Abdullah bin Sufyan. Bagaimana mungkin menetapkan ‘adalah dengan jarh Al Uqailiy dalam kitab Adh Dhu’afa. Itu sungguh tidak masuk akal.

    Oleh karena itu Abdullah bin Sufyan adalah perawi yang lemah dari sisi ke-dhabit-an, menjadi sah bila ada mutaba’ahnya (syahidnya), dan Alhamdulillah riwayat Al Ifriqi dapat dijadikan syahid atas riwayat Abdullah bin Sufyan.

    Ya dalam mimpi anda kali. Toh Al Uqailiy sendiri menolak dan menyalahkan riwayat Abdullah bin Sufyaan. Bagaimana bisa anda sok yakin menjadikannya syahiid. Siapa anda gitu loh

Talbis Syaikh Khalid Al Wushabiy : Riwayat Menyusui Orang Dewasa Dalam Mazhab Syi’ah

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Talbis Syaikh Khalid Al Wushabiy : Riwayat Menyusui Orang Dewasa Dalam Mazhab Syi’ah

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya. Setelah membawakan riwayat Abu Thalib menyusui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang telah kami buktikan kedhaifannya maka kali ini Syaikh Khalid membawakan syubhat baru yaitu riwayat menyusui orang dewasa dalam kitab Syi’ah. Silakan perhatikan video berikut [sumber disini]

Dalam video di atas, Syaikh membawakan riwayat dalam kitab Wasa’il Syi’ah yang menurut Syaikh, menunjukkan dibolehkan menyusui orang dewasa dalam mazhab Syi’ah. Mari dilihat dulu riwayat yang dimaksud

.

Wasail Syiah

محمد بن الحسن بإسناده ، عن محمد بن الحسن الصفار ، عن أحمد بن الحسن بن علي بن فضال ، عن ابن أبي عمير ، عن جميل بن دراج ، عن أبي عبدالله ( عليه السلام ) قال : إذا رضع الرجل من لبن امرأة حرم عليه كل شيء من ولدها ، وإن كان من غير الرجل الذي كانت أرضعته بلبنه ، وإذا رضع من لبن رجل حرم عليه كل شيء من ولده ، وإن كان من غير المرأة التي أرضعته

Muhammad bin Hasan dengan sanadnya dari Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar dari Ahmad bin Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl dari Ibnu Abi ‘Umair dari Jamiil bin Daraaj dari Abi Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “Jika seorang laki-laki menyusu dengan susu wanita maka haram atasnya semua anak dari wanita tersebut walaupun [anak-anak wanita itu] bukan dari suami yang sekarang bersama wanita yang menyusui tersebut. Dan jika ia menyusu dengan susu laki-laki [laban rajul] maka haram atasnya semua anak dari laki-laki itu walaupun [anak dari laki-laki itu] bukan dari wanita yang menyusuinya [Wasa’il Syii’ah  20/403-404 no 25941]

Syaikh Khalid membawakan dua syubhat atas mazhab Syi’ah mengenai riwayat di atas yaitu

  1. Syaikh Khalid menyatakan bahwa riwayat tersebut menunjukkan kebolehan menyusui orang dewasa karena lafaz yang digunakan adalah “idzaa radha’a ar rajul”. Menurut Syaikh lafaz Ar Rajul bermakna orang dewasa.
  2. Syaikh Khalid menegaskan kembali dalam mazhab Syi’ah adanya orang yang menyusu kepada laki-laki [seperti riwayat Abu Thalib menyusui Nabi] berdasarkan lafaz “laban rajul”

Berikut akan dibahas secara singkat talbis [penipuan] Syaikh Khalid dengan riwayat dalam kitab Wasa’il Syi’ah di atas.

.

.

.

Pembahasan Syubhat Pertama

Riwayat yang disebutkan Syaikh Khalid dari kitab Wasa’il Syi’ah tersebut sebenarnya bersumber dari riwayat Syaikh Ath Thuusiy dalam kitabnya Al Istibshaar 3/280 no 728 dan Tahdziib Al Ahkaam 7/331-332 no 33. Al Majlisiy dalam Malaadz Al Ahyaar 12/164-165 hadis no 33 berkata “muwatstsaq”.

Memang benar bahwa lafaz “Ar Rajul” bisa bermakna orang dewasa tetapi lafaz “Ar Rajul” bisa bermakna umum yaitu laki-laki terlepas berapapun umurnya bahkan bisa juga dikatakan untuk anak laki-laki yang baru lahir. Hal ini telah dikenal dikalangan ahli lughah [ahli bahasa arab]. Diantaranya adalah Ibnu Manzhuur dalam Lisan Al Arab

Lisan Al Arab cover

Lisan Al Arab

الرَّجُل معروف الذكرُ من نوع الإِنسان خلاف المرأَة وقيل إِنما يكون رَجلاً فوق الغلام وذلك إِذا احتلم وشَبَّ وقيل هو رَجُل ساعة تَلِدُه أُمُّه إِلى ما بعد ذلك

Ar Rajuul dikenal sebagai laki-laki dari jenis manusia lawan dari wanita, dan dikatakan sesungguhnya itu hanyalah laki-laki di atas usia anak-anak jika sudah mengalami ihtilam [mimpi basah], dan dikatakan pula itu adalah laki-laki yang baru saja dilahirkan ibunya hingga setelahnya [Lisan Al Arab 11/265]

Fairuzabaadiy dalam kitabnya Al Qaamuus Al Muhiith berkata tentang makna kata Ar Rajul

Qamus Al Muhiith cover

Qamus Al Muhiith

وإنما هو إذا احتلم وشب ، أو هو رجل ساعة يولد

Dan sesungguhnya ia adalah anak muda yang sudah mengalami ihtilam [mimpi basah] atau ia adalah anak laki-laki yang baru saja lahir [Al Qaamuus Al Muhiith hal 1003]

Untuk mengetahui lebih tepat makna Ar Rajul dalam riwayat yang dikutip Syaikh Khalid di atas maka perhatikan dengan baik riwayat Syi’ah berikut

Al Kafiy riwayat susuan

علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن ابن أبي عمير، عن حماد، عن الحلبي، عن أبي عبد الله (عليه السلام) قال: لا رضاع بعد فطام

Aliy bin Ibrahim dari Ayahnya dari Ibnu Abi ‘Umair dari Hammaad dari Al Halabiy dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] yang berkata “tidak ada penyusuan setelah masuk masa penyapihan” [Al Kaafiy Al Kulainiy 5/267 no 1]

Riwayat Al Kaafiy diatas sanadnya shahih sesuai dengan standar ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah. Berikut keterangan para perawinya

  1. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  2. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  3. Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]
  4. Hammaad bin Utsman seorang yang tsiqat jaliil qadr [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 115]
  5. Ubaidillah bin Aliy Al Halabiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 230-231 no 612]

Dengan kata lain dalam mazhab Syi’ah telah shahih bahwa penyusuan hanya mengakibatkan mahram jika dilakukan pada usia dua tahun pertama sebelum penyapihan. Syaikh Ath Thuusiy berkata

الرضاع إنما ينشر الحرمة إذا كان المولود صغيرا، فأما إن كان كبيرا فلو ارتضع المدة الطويلة لم ينشر الحرمة. وبه قال عمر بن الخطاب، وابن عمر، وابن عباس، وابن مسعود، وهو قول جميع الفقهاء أبو حنيفة وأصحابه، والشافعي، ومالك وغيرهم وقالت عائشة: رضاع الكبير يحرم كما يحرم رضاع الصغير، وبه قال أهل الظاهر دليلنا: إجماع الفرقة وأخبارهم

Menyusui hanya menyebabkan keharaman untuk dinikahi jika dilakukan pada bayi yang masih kecil, adapun jika sudah besar maka walaupun menyusui dalam waktu yang lama tetap tidak menyebabkan keharaman untuk dinikahi. Umar bin Khaththab, Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbaas, Ibnu Mas’ud juga berpendapat seperti ini. Dan ini juga pendapat banyak fuqaha yaitu Abu Hanifah dan sahabatnya, Syaafi’iy, Malik dan selain mereka. Aisyah mengatakan kalau menyusui orang yang sudah besar menyebabkan keharaman sama seperti menyusui anak kecil, dan hal ini juga dikatakan oleh ahli dzahir. Dalil kita [mazhab Syi’ah] dalam masalah ini adalah ijma’ firqah [mazhab Syi’ah] dan riwayat-riwayatnya [Kitab Al Khilaaf Syaikh Ath Thuusiy 5/98]

Maka makna Ar Rajul yang lebih tepat dalam riwayat yang dikutip Syaikh Khalid adalah anak laki-laki yang baru lahir bukan orang dewasa. Tentu lain ceritanya jika dalam riwayat tersebut terdapat qarinah yang menguatkan lafaz Ar Rajul bermakna orang dewasa seperti lafaz kabiir atau yang lainnya. Kenyataannya tidak ada keterangan yang menguatkan klaim Syaikh Khalid bahwa Ar Rajul dalam riwayat itu yang menunjukkan makna orang dewasa. Hal ini hanyalah talbis Syaikh Khalid terhadap riwayat tersebut.

.

.

.

Pembahasan Syubhat Kedua

Dalam riwayat yang dikutip Syaikh Khalid tersebut terdapat lafaz “idzaa radha’a min laban rajul” yang artinya “jika ia menyusu dari susu laki-laki”. Dengan lafaz ini Syaikh Khalid mengaitkannya dengan riwayat Abu Thalib menyusui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] seolah ingin menegaskan bahwa laki-laki menyusu dari laki-laki adalah hal yang ma’ruf dalam mazhab Syi’ah.

Seandainya yang membaca riwayat ini adalah orang awam yang tidak pernah belajar secara mendalam mengenai ilmu fiqih dan istilah-istilah yang berkaitan dengannya maka wajar jika mereka keliru memahami lafaz “laban rajul”. Tetapi yang aneh disini adalah seorang ulama seperti Syaikh Khalid menampakkan diri seperti orang awam.

Lafaz laban rajul itu bukanlah bermakna zhahir laki-laki menyusu dari laki-laki. Hakikatnya ia tetap menyusu dari seorang wanita hanya saja lafaz ini dinisbatkan pada suami wanita tersebut sebagai laki-laki yang menyebabkan wanita tersebut hamil dan akhirnya menghasilkan air susu. Seolah-olah laki-laki tersebut [suami] menjadi sebab bagi adanya air susu wanita [istri]. Istilah laban rajul ini lebih dikenal dengan sebutan laban fahl. Syaikh Ath Thuusiy dalam kitabnya Al Istibshaar memasukkan riwayat tersebut dalam bab tentang laban fahl [Al Istibshaar Syaikh Ath Thuusiy 3/278 bab no 126].

Dan sebenarnya dalam riwayat tersebut terdapat qarinah yang menguatkan makna laban rajul itu adalah laban fahl

وإذا رضع من لبن رجل حرم عليه كل شيء من ولده ، وإن كان من غير المرأة التي أرضعته

Dan jika ia menyusu dengan susu laki-laki [laban rajul] maka haram atasnya semua anak-anak dari laki-laki itu walaupun [anak dari laki-laki itu] bukan dari wanita yang menyusuinya

Perhatikan lafaz terakhir “almar’atillati ardha’athu” yang artinya wanita yang menyusuinya. Lafaz ini menunjukkan bahwa maksud menyusu dari laban rajul itu hakikatnya tetap disusui oleh seorang wanita. Bagaimana mungkin Syaikh Khalid bisa luput dari apa yang tertulis dalam kitab Wasa’il Syi’ah dimana riwayat tersebut terdapat dalam bab

Wasail Syiah2

باب انه لا يحل للمرتضع اولاد المرضعة نسبا ولا رضاعا مع اتحاد الفحل ولا أولاد الفحل مطلقا

Bab bahwasanya tidak halal bagi orang yang disusui anak keturunan yang lahir dari wanita yang menyusuinya, tidak pula anak susuannya dan fahl [suami wanita menyusui] dan tidak pula anak keturunan dari fahl [suami wanita menyusui] secara mutlak [Wasa’il Syii’ah 20/403 bab 15]

Jadi tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud dalam riwayat Wasa’il Syii’ah yang dikutip Syaikh Khalid adalah laban rajul tersebut atau laban fahl hakikatnya tetap menyusu kepada wanita bukan kepada laki-laki.

Perkara ini tidak hanya ada dalam kitab mazhab Syi’ah bahkan hal ini dikenal dalam kitab-kitab mazhab Ahlus Sunnah. Ibnu Qudamah pernah menyebutkan dalam kitabnya Al Mughniy mengenai wanita yang diharamkan untuk dinikahi, ia berkata

Al Mughniy cover

Al Mughniy

كل امرأة أرضعتك أمها أو أرضعتها أمك أو أرضعتك وإياها امرأة واحدة أو ارتضعت أنت وهي من لبن رجل واحد‏,‏ كرجل له امرأتان لهما لبن أرضعتك إحداهما وأرضعتها الأخرى

Semua wanita dimana ibunya menyusuimu atau ibumu menyusuinya atau wanita itu menyusuimu atau engkau dan dia menyusu dari susu laki-laki [laban rajul] yang sama, misalnya seorang laki-laki mempunyai dua istri yang sedang menyusui, salah satu menyusuimu sedangkan yang lain menyusuinya [Al Mughniy Ibnu Qudamah 9/515]

Silakan perhatikan, Ibnu Qudamah menjelaskan dengan contoh bahwa yang dimaksud laban rajul tetaplah hakikatnya menyusu pada wanita tetapi laban [susu] tersebut dinisbatkan kepada sang suami. Contoh lebih jelas ada dalam riwayat Shahih Bukhariy berikut

Shahih Bukhariy no 2644

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ عَنْ عِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ اسْتَأْذَنَ عَلَيَّ أَفْلَحُ فَلَمْ آذَنْ لَهُ فَقَالَ أَتَحْتَجِبِينَ مِنِّي وَأَنَا عَمُّكِ فَقُلْتُ وَكَيْفَ ذَلِكَ قَالَ أَرْضَعَتْكِ امْرَأَةُ أَخِي بِلَبَنِ أَخِي فَقَالَتْ سَأَلْتُ عَنْ ذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ صَدَقَ أَفْلَحُ ائْذَنِي لَهُ

Telah menceritakan kepada kami Adam yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Hakam dari ‘Iraak bin Maalik dari ‘Urwah bin Zubair dari ‘Aaisyah [radiallahu ‘anha] yang berkata “Aflah meminta izin kepadaku tetapi aku tidak mengizinkannya, maka ia berkata “apakah engkau menghindariku padahal aku adalah pamanmu?”.  Maka aku berkata “bagaimana bisa begitu?”. Ia berkata “istri saudaraku telah menyusuimu dengan susu saudaraku”. Maka aku berkata “aku menanyakan hal itu kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Beliau berkata “Aflah benar maka izinkanlah ia” [Shahih Bukhariy no 2644]

Lafaz “istri saudaraku menyusuimu dengan susu saudaraku” yang dibenarkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah dalil akan adanya laban rajul atau laban fahl dan hakikatnya itu tetap menyusu kepada wanita walaupun susu tersebut dinisbatkan pada laki-laki [suami wanita tersebut]. Biasanya istilah ini dipakai ketika membahas mahram terkait dengan keluarga dari pihak suami wanita yang menyusui.

Kesimpulannya disini adalah ketika Syaikh Khalid mengaitkan “laban rajul” dengan riwayat Abu Thalib menyusui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka ia telah melakukan talbis untuk mengelabui orang awam yang tidak paham dengan hakikat riwayat tersebut.

.

.

.

Catatan Tidak Penting

Betapa menyedihkan ketika melihat ulama melakukan talbis demi membela mazhabnya dan merendahkan mazhab yang dibencinya. Apa yang diharapkan dari pengikutnya jika ulama panutannya saja seperti itu?. Maka wajarlah banyak orang awam yang memfitnah mazhab Syi’ah begini dan begitu karena ulama panutan merekapun ternyata melakukan talbis.

Sudah menjadi sifat dasar sebagian orang-orang awam untuk mempercayai perkataan dan hujjah para ulama. Mereka tidak punya banyak waktu dan kesadaran mempertanyakan ulama tersebut. Jangankan sekedar ragu, bahkan setelah ditunjukkan talbis ulama tersebut mereka malah menuduh itu sebagai fitnah. Seperti biasa orang-orang awam tipe begini paling ahli dalam mendustakan kebenaran dan membenarkan kedustaan. Inilah penyakit yang menjadi sumber perpecahan diantara kaum muslimin.

Jangan dikira masalah seperti ini hanya terjadi di kalangan awam ahlus sunnah, cukup sering ditemukan hal yang sama di kalangan awam Syi’ah. Ambil contoh saja terkait dengan tema “menyusui orang dewasa” di atas. Ada orang-orang awam Syi’ah yang menjadikan riwayat shahih dari Aisyah [radiallahu ‘anha] sebagai bahan celaan karena Beliau meyakini menyusui orang dewasa menyebabkan mahram. Kami menangkap adanya unsur fitnah disini ketika ada orang awam syi’ah yang punya lisan buruk merendahkan Aisyah [radiallahu ‘anha] seolah-olah mengizinkan orang dewasa menyusu langsung kepada wanita.

Bagaimana mungkin bisa dipahami seperti itu?. Memang dalam riwayat shahih tersebut tidak ada keterangan bagaimana cara menyusui orang dewasa, jadi prinsip prasangka baik dan syariat umum dipakai dalam masalah ini. Sangat mudah untuk memahami bahwa penyusuan itu terjadi secara tidak langsung dimana air susu ditempatkan dalam wadah tertentu kemudian diberikan kepada orang yang dimaksud. Dan memang itulah yang dijelaskan oleh sebagian ulama ahlus sunnah. Begitulah nasib orang awam ketika ia membahas mazhab lain yang ia benci maka nafsunya yang berbicara. Apalagi kalau memang tabiatnya buruk atau mulutnya lebih besar dari kepalanya maka dengan mudah unsur fitnah tersebut menyesatkan dirinya.

Lihatlah wahai orang-orang yang ingin menggunakan akalnya, sumber masalah disini adalah penyakit awamisme dengan racikan kebodohan dan “mudah percaya” serta dibumbui dengan kebencian yang disajikan atas dasar “membela agama”. Sebagian orang awam itu sangat bersemangat membela agama tetapi semangat tersebut kalau hanya bercampur dengan awamisme akan menimbulkan kerusakan dan perpecahan. Celakanya lagi penyakit ini mudah menular apalagi jika orang-orang awam sekarang semakin aktif eksis di dunia maya.

Kami tidak punya urusan dengan orang-orang yang sudah mengidap penyakit awamisme ini, tidak ada yang bisa dilakukan untuk mereka. Kami hanya bisa membantu orang-orang awam yang belum terjangkit agar tidak menderita penyakit ini. Siapapun anda dan mazhab anda jika anda ingin berbicara mengenai mazhab lain yang tidak anda kenal maka perhatikanlah panduan pasal berikut

  1. Kalau anda adalah orang awam maka bersikaplah seperti orang awam yaitu suka “tidak tahu” atau “tidak mau tahu”. Nah anda tidak perlu “sok tahu” bicara atas nama agama atau membela agama untuk merendahkan mazhab lain. Jaga lisan anda lebih baik diam daripada salah bicara. Cukuplah sudah ada orang yang lebih ahli yang berkecimpung ke dunia permazhaban ini. Jika orang-orang ahli ini tersesat maka mereka sendiri yang menderita, anda tidak perlu ikut-ikutan. Dan tidak perlu percaya siapapun yang mengoceh tentang mazhab lain yang tidak anda kenal. Anda cukup tahun “islam saja” dan sibuklah dengan keseharian anda.
  2. Kalau anda orang awam dan berminat untuk tahu maka pertama yang harus anda tekankan adalah “tidak mudah percaya” siapapun baik teman baik, orang yang anda anggap berilmu, ustadz, atau bahkan ulama panutan anda. Mengapa?. Karena sentimen mazhab itu bisa menjangkiti siapa saja bahkan ulama sekalipun. Tulisan diatas dan tulisan-tulisan lain sebelumnya adalah contoh nyata ada ulama yang bisa menjadi begitu anehnya ketika berbicara tentang mazhab lain.
  3. Selanjutnya buktikan sendiri apa yang anda dapat dari ustadz atau ulama panutan anda tentang mazhab lain. Jika mereka berbicara atas dasar “katanya katanya” maka tinggalkan. Menghukum mazhab lain atas dasar “katanya katanya” adalah suatu bentuk kezaliman. Jika mereka berbicara dengan hujjah maka periksalah hujjah mereka. Dunia maya ini selain menyebalkan juga memudahkan bagi para penuntut ilmu. Ada ribuan kitab gratis dari berbagai mazhab yang ada di dunia maya ini. Bisa langsung anda download dan anda baca kitab mazhab yang anda inginkan.
  4. Jika anda punya masalah dengan “bahasa” sehingga merasa tidak mampu membaca kitab untuk memeriksa hujjah ustadz atau ulama panutan anda maka kembalilah ke pasal satu. Atau ya hilangkan dulu masalah “bahasa” yang anda derita baru kembali ke pasal tiga.
  5. Setelah anda memiliki kitab mazhab yang ingin anda teliti maka pelajarilah dengan objektif. Ingat suatu mazhab itu memiliki dasar-dasar dimana mazhab itu berdiri. Mazhab adalah bangunan yang memiliki dasar, dinding, tiang penyangga dan atap tempat bernaung. Camkanlah anda tidak bisa begitu saja langsung comot halaman ini halaman itu tanpa memiliki dasar ilmu mazhab tersebut. Dengan ilmu ini anda bisa tahu apa yang shahih dan yang tidak dari mazhab tersebut serta mencegah dari salah memahami apa yang anda baca.
  6. Secara beriringan selagi anda mempelajari dasar-dasar ilmu mazhab tersebut, anda bisa memeriksa hujjah ustadz atau ulama panutan anda yang mencela mazhab tersebut.
  7. Jika mereka berhujjah dengan riwayat maka periksalah apakah riwayat itu shahih atau mu’tabar di sisi mazhab tersebut. Jika shahih maka periksalah apakah ada riwayat-riwayat shahih lain yang bertentangan dengan riwayat tersebut. Dan jangan lupa periksalah bagaimana para ulama mazhab tersebut menafsirkan atau memberikan penjelasan tentang riwayat yang sedang anda periksa. Kemudian timbanglah perkataan para ulama atas riwayat tersebut dengan akal sehat.
  8. Jika mereka berhujjah dengan qaul ulama mazhab tersebut maka periksalah kebenaran penukilan mereka. Jika benar penukilan mereka selanjutnya camkanlah ini, tidak ada ulama yang pasti benar maka periksalah qaul ulama tersebut berdiri atas dasar apa. Jika anda memiliki dasar-dasar ilmu mazhab tersebut anda bisa menilai sejauh mana kekuatan hujjah qaul ulama tersebut. Selain itu periksalah apakah ada ulama lain dalam mazhab tersebut yang memiliki pendapat yang berbeda. Ingatlah qaul seorang atau beberapa ulama tidak bisa dinisbatkan secara langsung atas mazhab tersebut.
  9. Jika anda telah membuktikan kebenaran riwayat atau qaul ulama yang dijadikan hujjah ustadz atau ulama panutan anda dalam mencela mazhab tersebut maka jangan terburu-buru carilah padanan riwayat dan qaul ulama yang sama atau hampir sama dalam mazhab yang anda anut. Sungguh memalukan bukan jika anda mencela apa yang sebenarnya juga ada pada mazhab anda.
  10. Masing-masing mazhab itu memiliki perbedaan dan setelah anda melewati pasal sembilan ternyata anda menemukan adanya pandangan yang berbeda pada mazhab tersebut [dengan apa yang anda anut] maka periksalah perbedaan itu. Apakah perbedaan yang anda temukan itu mengeluarkan mazhab tersebut dari islam atau tidak?. Ingatlah menyatakan suatu hal yang berbeda sebagai keluar dari islam tidak bisa hanya bersandar pada qaul ulama, anda harus bersandar pada dalil yang jelas di sisi mazhab anda. Perkataan ulama mazhab tertentu yang mencela bahkan mengkafirkan mazhab lain itu sangat rentan biasnya.
  11. Dalil yang dimaksud di sisi mazhab anda adalah dalil shahih sesuai dengan dasar-dasar ilmu dimana mazhab anda berdiri. Jika anda belum mengetahuinya maka pelajarilah. Sungguh aneh sekali jika anda mengetahui dasar-dasar ilmu mazhab lain tetapi tidak paham dasar-dasar ilmu mazhab yang anda anut.
  12. Jika anda tidak menemukan dalil di sisi mazhab anda yang mengeluarkan perbedaan itu dari islam maka terimalah perbedaan itu sebagai hal yang khusus bagi mazhab tersebut.
  13. Jika anda menemukan dalil di sisi mazhab anda yang mengeluarkan perbedaan itu dari islam maka simpanlah itu untuk diri anda, yakinkan diri anda bahwa mazhab itu sesat tetapi ingatlah jalan-jalan yang anda lalui hingga mencapai kesimpulan tersebut. Anda berdiri pada mazhab yang anda anut sama seperti mereka para penganut mazhab tersebut berdiri pada mazhab yang mereka anut. Jika anda dilahirkan di mazhab yang anda anut maka ingatlah ada pula orang-orang yang dilahirkan di mazhab tersebut. Berikan uzur pada mereka dan doakanlah agar mereka diberikan petunjuk kebenaran oleh Allah SWT.
  14. Terakhir, perlukah anda membuat deklarasi mencela dan mengkafirkan mazhab tersebut?. Jawabannya tidak perlu karena hal itu hanya akan memancing perpecahan dan kerusakan. Jika anda ingin berbagi hasil kesimpulan pembelajaran anda maka itu sangat diperbolehkan maka silakan buat tulisan dan kami yakin pada tahap ini tulisan anda akan sangat bernilai tidak seperti tulisan para pencela yang hanya bisa asal comot penggal sana sini dan mengandung banyak syubhat dan talbis atas mazhab tersebut.

Kalau ada yang menganggap jalan ini terlalu rumit maka tidak ada yang memaksa siapapun untuk melalui jalan ini. Ingatlah selalu pasal pertama, jadilah orang awam yang baik yaitu orang awam yang selalu “tidak tahu” atau “tidak mau tahu” dan “tidak mudah percaya”, yang selalu sibuk dengan hal-hal keseharian, yang beragama cukup untuk dirinya agar bisa beribadah dengan baik. Jangan pernah memasuki daerah mazhab lain dimana anda bisa tersesat baik karena tersesat dengan mudahnya mengikuti mazhab lain atau tersesat dengan mudahnya mencela dan mengkafirkan mazhab lain.

Satu hal lagi tidak ada masalah berteman dengan penganut mazhab lain bahkan orang kafir sekalipun. Selagi anda menjadi “orang awam baik” yang kami katakan maka jangan khawatir tersesat. Lha kalau anda selalu “tidak mau tahu” dan “tidak mudah percaya” maka bagaimana anda bisa tersesat. Dan jika anda mulai merasa ingin percaya atau ingin tahu maka laluilah jalan yang kami jelaskan tadi yaitu pindah dari pasal pertama lanjut ke pasal dua. Kalau memang malas ya tidak usah repot-repot silakan bernyaman-nyamanlah di zona pasal pertama.

Orang di zona pasal pertama ini bisa dibilang “terselamatkan”. Mereka adalah orang islam yang “tanpa mereka sadari” menjaga lisannya dari mencela dan mengkafirkan mazhab lain. Yah paling tidak begitulah kesan yang kami tangkap maklumlah kami tidak tinggal lama di zona ini karena zona nyaman ini agak terasa kurang nyaman di sisi kami dan gak pas di hati, apalagi dengan tingkat keresahan dan kegalauan kami yang begitu tinggi *halah sombongnya*. Akhir kata sebelum kami menyombongkan kerendahan hati kami [kontradiktif] kami cukupkan saja tulisan ini. Semoga kurang bermanfaat dan bisa dijadikan lebih bermanfaat.

Kedustaan Al Amiry : Jima’ Melalui Dubur Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Kedustaan Al Amiry : Jima’ Melalui Dubur Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah

Untuk kesekian kali-nya orang yang menyebut dirinya Al Amiry ini membuat kedustaan atas mazhab Syi’ah. Kali ini ia menyatakan kalau dalam mazhab Syi’ah jima’ melalui dubur itu tidak membatalkan puasa. Kami akan menunjukkan kepada para pembaca bahwa Al Amiry ini telah berdusta atas mazhab Syi’ah.

Tetapi sebelum masuk ke pembahasan ada baiknya kami menyatakan dengan tegas mengenai i’tiqad [keyakinan] kami mengenai hukum “mendatangi istri pada duburnya”. Di sisi kami berdasarkan pendapat yang rajih hukumnya haram. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam hadis dengan sanad yang shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Kami menekankan hal ini agar para pembaca tidak salah paham setelah membaca tulisan ini. Kami membela mazhab Syi’ah atas kedustaan dari orang-orang seperti Al Amiry maka bukan berarti kami menyepakati pendapat mazhab Syi’ah dalam hal ini.

.

.

.

Pembahasan

Al Amiry membawakan dua riwayat dalam kitab Tahdzib Al Ahkam Syaikh Ath Thuusiy. Al Amiry berkata

dusta amiry1

Kedua riwayat ini sanadnya dhaif, cukup banyak para ulama Syi’ah yang mendhaifkannya dan mereka tidak berhujjah dengannya. Dan memang berdasarkan kaidah ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah riwayat tersebut memang dhaif.

Al Amiry tidak menukil sanad lengkap kedua riwayat tersebut karena jika ia menukil sanad riwayat tersebut maka sangat jelas kedhaifannya bahkan di mata orang awam Syi’ah sekalipun. Berikut sanad lengkap kedua riwayat tersebut

.

.

Riwayat Pertama

Al Majlisi1

عنه عن بعض الكوفيين يرفعه إلى أبي عبد الله عليه السلام قال: في الرجل يأتي المرأة في دبرها وهي صائمة قال: لا ينقض صومها وليس عليها غسل

Darinya dari sebagian orang-orang Kufah yang merafa’kannya kepada Abu Abdillah [‘alaihis salaam] yang berkata “tentang seorang laki-laki yang mendatangi istrinya pada duburnya ketika berpuasa”. Ia berkata “tidak membatalkan puasanya dan tidak wajib mandi” [Tahdzib Al Ahkam 4/319 no 43]

Riwayat di atas sanadnya dhaif karena perawi yang mubham tidak diketahui siapa orang-orang kufah tersebut dan riwayat tersebut mursal karena lafaz “merafa’kan” itu bermakna menyambungkan kepada Abu Abdullah dan secara zhahir lafaz ini digunakan pada riwayat yang terputus sanadnya. Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 7/151 no 43 menyatakan riwayat tersebut mursal

Mukhtalaf Syi'ah Al Hilliy cover

Mukhtalaf Syi'ah Al Hilliy

Allamah Al Hilliy berkata tentang riwayat ini “riwayat ini mursal, tidak dapat diandalkan dengannya” [Mukhtalaf Asy Syi’ah Fii Ahkaam Asy Syarii’ah 3/390-391]

.

.

Riwayat Kedua

Al Majlisi2

أحمد بن محمد عن علي بن الحكم عن رجل عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إذا اتى الرجل المرأة في الدبر وهي صائمة لم ينقض صومها وليس عليها غسل

Ahmad bin Muhammad dari Aliy bin Al Hakam dari seorang laki-laki dari Abi ‘Abdillah [‘alaihis salaam] yang berkata “jika seorang laki-laki mendatangi istrinya pada duburnya ketika ia berpuasa maka itu tidak membatalkan puasanya dan tidak wajib mandi” [Tahdzib Al Ahkam 4/319-320 no 45]

Riwayat kedua sanadnya juga dhaif karena perawi mubham tidak diketahui siapa orang yang meriwayatkan dari Abu Abdullah tersebut. Syaikh Ath Thuusiy sendiri melemahkan riwayat di atas. Setelah membawakan riwayat di atas, ia berkata

هذا لخبر غير معمول عليه وهو مقطوع الاسناد لا يعول عليه

Kabar ini tidak diamalkan dengannya, sanadnya terputus, tidak dapat diandalkan dengannya [Tahdzib Al Ahkam 4/320]

Dan sebagaimana dapat dilihat di atas dalam Malaadz Al Akhyaar 7/152 no 45 Al Majlisiy juga menyatakan riwayat kedua tersebut mursal.

Muhadzdzab Bariy cover

Muhadzdzab Bariy Ibnu Fahd Al Hilliy1

Ibnu Fahd Al Hilliy dalam kitabnya juga menyatakan riwayat diatas mursal [Al Muhadzdzab Al Bari’ Fii Syarh Mukhtashar An Naafi’ 2/26]

.

.

.

Dalam mazhab Syi’ah justru jima’ melalui dubur termasuk hal yang membatalkan puasa. Hal ini telah dinyatakan oleh sebagian ulama Syi’ah diantaranya

Madarik Ahkam cover

Madarik Ahkam

وأما الوطء في الدبر، فإن كان مع الإنزال فلا خلاف بين العلماء كافة في أنه مفسد للصوم، وإن كان بدون الإنزال فالمعروف من مذهب الأصحاب أنه كذلك

Adapun berhubungan melalui dubur, maka jika disertai dengan keluarnya air mani maka tidak ada perselisihan diantara para ulama seluruhnya bahwasanya hal itu membatalkan puasa dan jika tanpa mengeluarkan air mani maka yang dikenal dalam mazhab al ashab [ulama-ulama terdahulu] bahwasanya ia juga demikian [membatalkan puasa] [Madaarik Al Ahkam Sayyid Muhammad Al ‘Amiliy 6/44]

وقد أجمع العلماء كافة على إفساد الصوم بالجماع الموجب للغسل في قبل المرأة، للآية سواء أنزل أو لم ينزل ولو وطأ في الدبر فأنزل، فسد صومه إجماعا، ولو لم ينزل، فالمعتمد عليه الإفساد

Dan sungguh telah bersepakat para ulama seluruhnya bahwa batal puasa dan wajib mandi dengan adanya jima’ [bersetubuh] pada kemaluan istri berdasarkan ayat Al Qur’an [Al Baqarah 187] baik itu mengeluarkan air mani atau tidak, dan seandainya ia berhubungan melalui dubur dan mengeluarkan air mani maka batal puasanya menurut ijma’, dan jika tidak mengeluarkan air mani maka pendapat yang dijadikan pegangan puasanya batal [Tadzkirah Al Fuqahaa’ Allamah Al Hilliy 6/23-24]

.

.

.

Kemudian Al Amiry menukil fatwa ulama Syi’ah Muhsin Alu Ushfur yang ia sebut sebagai “fatwa gila” dan fatwa ulama Syi’ah As Sistaniy mengenai bolehnya berhubungan dengan istri melalui dubur jika istrinya ridha terhadapnya.

dusta amiry2

Dalam fatwa kedua ulama Syi’ah diatas tidak ada keterangan bahwa berhubungan dengan istri melalui dubur tidak membatalkan puasa. Fatwa keduanya itu berkenaan dengan hukum “berhubungan dengan istri melalui dubur” apakah boleh atau tidak?.

Dalam mazhab Syi’ah ada dua pendapat berkenaan dengan hal ini. Pertama : pendapat yang mengatakan hukum “berhubungan dengan istri melalui dubur” adalah haram. Diantara yang berpendapat demikian adalah sebagaimana dinukil Sayyid Muhammad Shaadiq Ar Ruuhaniy dalam kitab Fiqih Ash Shaadiq

Fiqh Shadiq cover

Fiqh Shadiq

وعن القميين وابن حمزة والشيخ الرازي والراوندي في اللباب والسيد أبي المكارم صاحب بلابل القلاقل القول بالحرمة

Dan dari para ulama qum, Ibnu Hamzah, Syaikh Ar Raziy, Ar Rawandiy dalam Al Lubab, Sayyid Abi Makarim penulis kitab Balaabil Al Qalaaqil, mengatakan haram. [Fiqih Ash Shadiq Sayyid Ar Ruuhaniy 31/118]

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah juga berpendapat tidak boleh berhubungan dengan istri melalui duburnya [Fiqh Asy Syarii’ah Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah 3/517 no 749]. Syaikh Muhammad Ishaaq Al Fayaadh juga mengharamkan mendatangi istri pada duburnya baik saat suci maupun haidh [Minhaaj Ash Shaalihiin Syaikh Muhammad Ishaaq Al Fayaadh 1/107 no 228].

Diantara dalil yang menguatkan pendapat ini dan dengan lafaz sharih [jelas] menyatakan haram adalah riwayat yang dibawakan Syaikh Ath Thuusiy dalam Tahdzib Al Ahkam

فاما ما رواه أحمد بن محمد بن عيسى عن العباس بن موسى عن يونس أو غيره عن هاشم بن المثنى عن سدير قال: سمعت أبا جعفر عليه السلام يقول: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: محاش النساء على أمتي حرام

Diriwayatkan Ahmad bin Muhammad bin Iisa dari ‘Abbaas bin Muusa dari Yuunus atau selainnya dari Haasyim bin Al Mutsanna dari Sadiir yang berkata aku mendengar Abu Ja’far [‘alaihis salaam] mengatakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “dubur wanita atas umatku haram” [Tahdzib Al Ahkam 7/416 no 36].

Al Majlisiy4

Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 12/360 no 36 menyatakan riwayat di atas mursal begitu pula Allamah Al Hilliy dalam Tadzkirah Al Fuqahaa’ 2/577 menyatakan riwayat tersebut mursal. Sebenarnya kami belum menemukan dimana letak kelemahan mursal yang dimaksudkan keduanya tetapi riwayat tersebut para perawinya tsiqat kecuali Sadiir Ash Shairafiy. Ia tidak dikenal tautsiq-nya dari kalangan ulama mutaqaddimin Syi’ah tetapi sebagian ulama muta’akhirin menguatkannya.

Allamah Al Hilliy telah menyebutkan Sadiir dalam bagian pertama kitabnya yang memuat perawi yang terpuji dan diterima di sisi-nya. Dalam kitabnya tersebut Al Hilliy juga menukil Sayyid Aliy bin Ahmad Al Aqiiqiy yang berkata tentang Sadiir bahwa ia seorang yang mukhalith [kacau atau tercampur] [Khulashah Al Aqwaal hal 165 no 3]. Pentahqiq kitab Khulashah Al Aqwal berkata bahwa lafaz mukhalith tersebut bermakna riwayatnya ma’ruf dan mungkar. Maka berdasarkan pendapat yang rajih Sadiir tidak bisa dijadikan hujjah jika tafarrud [menyendiri dalam periwayatan] dan tidak diterima hadisnya jika bertentangan dengan riwayat perawi tsiqat. Dalam perkara ini ternukil riwayat shahih yang bertentangan dengan riwayat Sadiir.

Sebagian ulama yang menerima riwayat Sadiir diatas memalingkan makna haram tersebut kepada makna makruh dengan dasar adanya riwayat-riwayat shahih yang menetapkan kebolehan mendatangi istri pada duburnya. Maka dari sinilah muncul pendapat yang kedua

Kedua : pendapat yang mengatakan hukum “berhubungan dengan istri melalui dubur” boleh jika disertai ridhanya istri dan hal ini makruh. Pendapat kedua inilah yang masyhur dan rajih dalam mazhab Syi’ah karena memiliki hujjah dari riwayat Ahlul Bait yang shahih dalam mazhab Syi’ah. Diantaranya sebagai berikut

وعنه عن علي بن الحكم قال سمعت صفوان يقول قلت للرضا عليه السلام ان رجلا من مواليك أمرني ان أسألك عن مسأله فهابك واستحى منك أن يسألك قال ما هي قال قلت الرجل يأتي امرأته في دبرها؟ قال نعم ذلك له قلت فأنت تفعل ذلك؟ قال لا انا لا نفعل ذلك

Dan darinya dari ‘Aliy bin Al Hakam ia berkata aku mendengar Shafwaan berkata aku pernah bertanya kepada Ar Ridlaa [‘alaihis-salaam] “Sesungguhnya ada laki-laki dari mawaali-mu telah memintaku untuk menanyakan kepadamu satu permasalahan, tetapi aku malu kepadamu untuk menanyakannya”. Ia berkata “hal apakah itu?”. Aku berkata “ada seorang laki-laki yang mendatangi istrinya pada duburnya”. Ia menjawab “Ya, hal itu diperbolehkan baginya”. Aku berkata “apakah engkau melakukannya?”. Ia menjawab “Tidak, kami tidak melakukannya” [Tahdzib Al Ahkam 7/415-416 no 35].

Al Majlisi3

Al Majlisiy dalam Malaadz Al Akhyaar 12/360 no 35 menyatakan riwayat tersebut shahih.

Jadi duduk persoalan disini adalah para ulama Syi’ah berpegang pada dalil shahih yang ada dalam mazhab mereka. Kalau ada diantara pengikut Ahlus Sunnah yang menjadikan hal ini sebagai bahan celaan ya dipersilakan toh celaan itu tidak ada nilainya disisi mazhab Syi’ah. Hal ini sama seperti jika ada pengikut Syi’ah mencela Ahlus Sunnah yang berpegang pada dalil shahih di sisi mazhab mereka. Celaan itu jelas tidak ada nilainya di sisi mazhab Ahlus Sunnah.

.

.

.

Anehnya Al Amiry sok ingin merendahkan mazhab Syi’ah dengan menyebut ulama mereka bodoh dan gila ketika membolehkan “mendatangi istri pada dubur” padahal sebagian ulama mazhab Ahlus Sunnah membolehkan bahkan ada yang mengamalkannya. Ibnu Arabiy pernah berkata

Ahkam Qur'an Ibnu Arabiy cover

Ahkam Qur'an Ibnu Arabiy

اختلف العلماء في جواز نكاح المرأة في دبرها ; فجوزه طائفة كثيرة ، وقد جمع ذلك ابن شعبان في كتاب جماع النسوان وأحكام القرآن ” وأسند جوازه إلى زمرة كريمة من الصحابة والتابعين وإلى مالك من روايات كثيرة

Telah berselisih para ulama mengenai kebolehan berhubungan dengan istri melalui duburnya. Telah membolehkannya sekelompok orang yang banyak. Dan sungguh Ibnu Sya’baan telah mengumpulkan hal itu dalam kitab Jimaa’ An Niswaan Wa Ahkamul Qur’aan dan menisbatkan kebolehannya kepada sekelompok orang mulia dari sahabat dan tabiin dan kepada Malik dari riwayat yang banyak [Ahkamul Qur’aan Ibnu Arabiy 1/238]

Siapakah dari kalangan ahlus sunnah yang membolehkan “mendatangi istri pada duburnya”?. Diantaranya ada Ibnu Umar [radiallahu ‘anhu], Ibnu Abi Mulaikah, Muhammad bin Ajlan, Malik bin Anas, dan Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy.

.

.

Abdullah bin Umar [radiallahu ‘anhu]

Ma'ani atsar Thahawiy

حَدَّثَنَا أَبُو قُرَّةَ مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ هِشَامٍ الرُّعَيْنِيُّ قَالَ ثنا أَصْبَغُ بْنُ الْفَرَجِ  وَأَبُو زَيْدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ ابْنَ أَبِي الْغَمْرِ قَالَا  قَالَ ابْنَ الْقَاسِمِ وَحَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ قَالَ حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ بْنُ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي الْحُبَابِ سَعِيدُ بْنُ يَسَارٍ أَنَّهُ سَأَلَ ابْنَ عُمَرَ عَنْهُ يَعْنِي عَنْ وَطْءِ النِّسَاءِ فِي أَدْبَارِهِنَّ فَقَالَ لَا بَأْسَ بِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu Qurrah Muhammad bin Humaid bin Hisyaam Ar Ru’ainiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashbagh bin Faraj dan Abu Zaid ‘Abdurrahman Ibnu Abi Ghamr, keduanya berkata Ibnu Qaasim berkata telah menceritakan kepadaku Maalik bin Anas yang berkata telah menceritakan kepadaku Rabi’ah bin Abi ‘Abdurrahman dari Abil Hubaab Sa’iid bin Yasaar bahwa ia bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang mendatangi istri pada dubur mereka, [Ibnu ‘Umar] berkata “tidak ada masalah padanya” [Syarh Ma’aaniy Al Atsaar Ath Thahawiy 3/41 no 4394]

Riwayat yang dikeluarkan Ath Thahawiy di atas memiliki sanad yang shahih. Para perawinya tsiqat, berikut keterangannya

  1. Abu Qurrah Muhammad bin Humaid bin Hisyaam Ar Ru’ainiy, dikatakan Ibnu Yunus bahwa ia seorang yang tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Quthlubugha 8/261 no 9679]
  2. Ashbagh bin Faraj Al Mishriy seorang yang tsiqat, termasuk perawi thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/107]
  3. Abu Za’id ‘Abdurrahman Ibnu Abi Ghamr, dikatakan Ibnu Yunus bahwa ia seorang yang faqih dari sahabat Ibnu Qaasim dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Ats Tsiqat Ibnu Quthlubugha 6/287-288 no 6693]
  4. ‘Abdurrahman bin Qaasim seorang yang faqih sahabat Malik, tsiqat termasuk perawi thabaqat kesepuluh [Taqriib At Tahdziib 1/586]
  5. Malik bin Anas seorang yang faqiih imam, pemimpin dari ulama-ulama besar, mutqin dan tsabit, termasuk perawi thabaqat ketujuh [Taqriib At Tahdziib 2/151]
  6. Rabii’ah bin Abi ‘Abdurrahman At Taimiy seorang yang tsiqat faqiih masyhur, termasuk perawi thabaqat kelima [Taqriib At Tahdziib 1/297]
  7. Sa’iid bin Yasaar Abul Hubaab seorang yang tsiqat mutqin, termasuk perawi thabaqat ketiga [Taqriib At Tahdziib 1/368]

Riwayat perkataan Ibnu Umar [radiallahu ‘anhu] tidak hanya ini, ada lagi beberapa riwayat lainnya bahkan ada pula riwayat yang kesannya seolah bertentangan tetapi Insya Allah dengan pembahasan yang ilmiah akan nampak bahwa yang rajih adalah Ibnu Umar membolehkannya. Pembahasan detail tentang hal ini memerlukan tempat yang tersendiri.

.

.

Ibnu Abi Mulaikah

Tafsir Thabari

حَدَّثَنِي أَبُو مُسْلِمٍ قَالَ ثَنَا أَبُو عُمَرَ الضَّرِيرُ قَالَ ثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ قَالَ ثَنَا رَوْحُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سُئِلَ أَبُو الدَّرْدَاءِ عَنْ إِتْيَانِ النِّسَاءِ فِي أَدْبَارِهِنَّ فَقَالَ هَلْ يَفْعَلُ ذَلِكَ إِلا كَافِرٌ  قَالَ رَوْحٌ  فَشَهِدْتُ ابْنَ أَبِي مُلَيْكَةَ يَسْأَلُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ قَدْ أَرَدْتُهُ مِنْ جَارِيَةٍ لِي الْبَارِحَةَ فَاعْتَاصَ عَلَيَّ  فَاسْتَعَنْتُ بِدُهْنٍ أَوْ بِشَحْمٍ قَالَ فَقُلْتُ لَهُ سُبْحَانَ اللَّهِ  أَخْبَرَنَا قَتَادَةُ أَنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ ، قَالَ هَلْ يَفْعَلُ ذَلِكَ إِلا كَافِرٌ ، فَقَالَ لَعَنَكَ اللَّهُ وَلَعَنَ قَتَادَةَ ، فَقُلْتُ لا أُحَدَّثُ عَنْكَ شَيْئًا أَبَدًا ثُمَّ نَدِمْتُ بَعْدَ ذَلِكَ

Telah menceritakan kepadaku Abu Muslim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Umar Adh Dhariir yang berkata telah menceritakan kepada kami Yaziid bin Zurai’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Rauh bin Qaasim dari Qatadah yang berkata Abu Dardaa’ pernah ditanya tentang “mendatangi istri pada dubur mereka”. Maka ia berkata “tidaklah melakukan itu kecuali kafir”. Rauh berkata maka aku menyaksikan Ibnu Abi Mulaikah ketika ditanya tentang hal itu, ia berkata “Sungguh aku ingin melakukannya dengan budakku tadi malam, kemudian aku mengalami kesulitan maka aku menggunakan minyak atau lemak”. Maka aku [Rauh] berkata kepadanya “Maha suci Allah, telah mengabarkan kepada kami Qatadah bahwa Abu Dardaa’ mengatakan “tidaklah melakukan hal itu kecuali kafir”. Maka ia berkata “semoga Allah melaknatmu dan melaknat Qatadah”. Aku [Rauh] berkata “aku tidak akan meriwayatkan sedikitpun darimu selamanya” kemudian setelah itu aku menyesalinya [Tafsir Ath Thabariy 3/753 tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin At Turkiy]

Riwayat perkataan Ibnu Abi Mulaikah di atas sanadnya jayyid. Berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Abu Muslim yaitu Ibrahim bin ‘Abdullah bin Muslim Al Bashriy seorang yang shaduq tsiqat [Mausu’ah Aqwaal Daruquthniy no 80]
  2. Abu ‘Umar Adh Dhariir yaitu Hafsh bin Umar Al Bashriy seorang yang shaduq alim [Taqriib At Tahdziib 1/228]
  3. Yazid bin Zurai’ Al Bashriy seorang yang tsiqat tsabit [Taqriib At Tahdziib 2/324]
  4. Rauh bin Qaasim Al Anbariy Al Bashriy seorang yang tsiqat hafizh [Taqriib At Tahdziib 1/305]

Ibnu Abi Mulaikah sendiri termasuk perawi Bukhariy dan Muslim, ia seorang yang tsiqat faqiih [Taqriib At Tahdziib 1/511].

.

.

Muhammad bin Ajlaan

Muhammad bin ‘Ajlaan Al Qurasyiy Al Madaniy termasuk perawi Muslim yang dikenal tsiqat. Ia telah ditsiqatkan oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Yaqub bin Syaibah, Abu Hatim dan Nasa’iy [Tahdzib Al Kamal 26/101-108 no 5462]

Tahdzib Al Kamal

وَقَال أَبُو سَعِيد بْن يونس: قدم مصر وصار إلى الإسكندرية فتزوج بها امرأة من أهلها فأتاها في دبرها فشكته إلى أهلها فشاع ذلك، فصاح بِهِ أهل الإسكندرية، فخرج منها

Dan berkata Abu Sa’iid bin Yuunus “ia datang ke Mesir dan datang ke Iskandariyah kemudian menikah dengan istrinya, maka ia mendatangi istrinya pada duburnya. Istrinya mengeluhkan hal itu kepada keluarganya dan tersebarlah kabar tentang hal itu. Maka penduduk Iskandariyah meneriakinya sehingga ia pergi dari sana [Tahdzib Al Kamal 26/107]

.

.

Malik bin Anas

Ikhtilaf Fuqaha cover

Ikhtilaf Fuqaha

فقال مالك لا بأس بأن يأتي الرجل امرأته في دبرها كما يأتيها في قبلها حدثنا بذلك يونس عن ابن وهب عنه

Maka berkata Malik “tidak ada masalah seorang laki-laki mendatangi istrinya pada duburnya sebagaimana ia mendatanginya pada kemaluannya”. Telah menceritakan kepada kami hal itu Yunus dari Ibnu Wahb darinya [Malik] [Ikhtilaaf Al Fuqahaa’ Ibnu Jarir Ath Thabariy hal 304]

Riwayat di atas sanadnya shahih sampai Malik bin Anas. Yunus gurunya Ath Thabariy adalah Yunus bin ‘Abdul A’laa Ash Shadafiy seorang yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 2/349]. Abdullah bin Wahb bin Muslim Al Qurasyiy seorang yang faqiih tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqriib At Tahdziib 1/545]

.

.

Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy

Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy adalah seorang imam alim syaikh mazhab Malikiy. Daruquthniy berkata “aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya”

As Siyar Ashiiliy

قال القاضي عياض قال الدارقطني حدثني أبو محمد الأصيلي ، ولم أر مثله

قال عياض كان من حفاظ مذهب مالك ومن العاملين بالحديث وعلله ورجاله  يرى أن النهي عن إتيان أدبار النساء على الكراهة

Qaadhiy ‘Iyaadh berkata Daruquthniy berkata telah menceritakan kepadaku Abu Muhammad Al Ashiiliy, aku tidak pernah melihat orang yang sepertinya. Iyaadh berkata “ia termasuk hafizh mazhab Malik dan termasuk orang yang alim dalam ilmu hadis, ilmu ilal-nya dan Rijal-nya. Ia berpandangan bahwa larangan mendatangi istri pada dubur adalah makruh [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 16/560 no 412]

Ibnu Hajar juga menukil perkataan Qadhi Iyadh tentang Al Ashiiliy yang membolehkan “mendatangi istri pada duburnya”.

Talkhiis Habiir

قال القاضي عياض كان القاضي أبو محمد عبد الله بن إبراهيم الأصيلي يجيزه ويذهب فيه إلى أنه غير محرم

Qaadhiy ‘Iyaadh berkata “Qadhiy Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ibrahim Al Ashiiliy membolehkannya dan menganggap bahwasanya itu tidak haram” [Talkhiis Al Habiir Ibnu Hajar 3/379]

Apakah sebagian salaf termasuk sahabat Ibnu Umar [radiallahu ‘anhu] itu akan dikatakan oleh Al Amiry sebagai bodoh dan gila?. Tentu ia tidak akan berani mengatakannya. Paling-paling ia akan mengatakan pendapat mereka ditinggalkan karena telah shahih dalil dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan keharamannya.

Kami menukil sebagian salaf yang membolehkan “mendatangi istri pada duburnya” hanya sebagai bukti bahwa perkara ini yang diyakini dalam mazhab Syi’ah juga diyakini oleh sebagian salaf mazhab Ahlus Sunnah [walaupun memang berdasarkan dalil yang shahih sebagian salaf ini terbukti keliru dalam perkara ini]. Kalau sebagian salaf tersebut tidak pantas dicela dan dikafirkan karena membolehkannya maka mengapa hal itu menjadi celaan ketika ada dalam mazhab Syi’ah.

.

.

.

Kesimpulan

Ada dua hal yang bisa disimpulkan dari pembahasan diatas yang menunjukkan kejahilan pencela seperti Al Amiriy

  1. Al Amiry berdusta ketika mengatakan dalam mazhab Syi’ah jima’ melalui dubur tidak membatalkan puasa. Faktanya riwayat yang dituduhkan adalah dhaif dan para ulama Syi’ah justru menyatakan batal puasanya karena jima’ melalui dubur
  2. Al Amiry mencela dan merendahkan mazhab Syi’ah yang membolehkan jima’ melalui dubur dengan keridhaan istri dan hukumnya makruh padahal sebagian salaf mazhab Ahlus Sunnah ada juga yang membolehkannya.

Akhir kata tidak henti-hentinya kami mengingatkan pembaca agar berhati-hati dalam membaca tulisan para pencela tentang mazhab Syi’ah. Mereka sudah terbiasa berdusta demi mencela mazhab yang mereka benci. Tentu kami tidak melarang siapapun untuk membaca tulisan mereka tetapi hendaknya diiringi dengan sikap “tidak mudah percaya” sebelum membuktikan sendiri. Sangat menyedihkan jika orang-orang awam ikut-ikutan mencela bahkan terlihat lebih bersemangat merendahkan Syi’ah padahal hakikatnya mereka tertipu oleh para pendusta.

Orang awam bersikaplah secara awam tidak perlu berlagak ahli padahal hanya sekedar taklid kepada para pendusta. Silakan saja bagi orang awam untuk menjauhkan diri dari mazhab Syi’ah atau beranggapan mazhab Syi’ah sesat. Tetapi simpanlah hal itu di dalam nurani masing-masing tidak perlu berlagak sok tahu bicara begini begitu padahal hanya membaca tulisan-tulisan singkat dusta Al Amiry dan yang lainnya. Ingat dan camkan hal ini baik-baik bahwa setiap orang akan mempertanggungjawabkan perkataan dan perbuatannya masing-masing. Salam Damai

Meluruskan Al Amiry : Benarkah Minum Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah?

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Meluruskan Al Amiry : Benarkah Minum Tidak Membatalkan Puasa Dalam Mazhab Syi’ah?

Salah satu kelicikan pembenci Syi’ah seperti Al Amiry adalah ia berusaha merendahkan Syi’ah dengan mencatut fatwa salah seorang ulama Syi’ah dan menjadikan fatwa itu sebagai hal yang bisa dinisbatkan kepada Mazhab Syi’ah. Padahal sebenarnya ada banyak ulama Syi’ah lain yang memiliki fatwa yang bertentangan dengan ulama Syi’ah tersebut.

Sudah maklum diketahui di sisi para penuntut ilmu bahwa dalam suatu mazhab terkadang para ulama berselisih pendapat sehingga tidak serta merta satu pendapat ulama tertentu menjadi hal yang layak untuk dinisbatkan kepada mazhab tersebut. Ambil contoh misalnya Imam Malik bin Anas yang dalam mazhab Ahlus Sunnah membolehkan berhubungan dengan istri melalui dubur. Apakah lantas bisa dikatakan bahwa Mazhab Ahlus Sunnah membolehkan jima’ melalui dubur?. Jawabannya tidak karena ada banyak ulama lain yang memiliki pendapat yang bertentangan dengan pendapat Imam Malik tersebut.

Fatwa-fatwa ulama tertentu yang aneh dan menyimpang itu dapat ditemukan baik dalam mazhab Syi’ah maupun mazhab Ahlus Sunnah. Orang yang jujur dalam mencari kebenaran tidak akan menjadikan fatwa-fatwa tersebut sebagai hujjah untuk merendahkan suatu mazhab. Tetapi orang-orang jahil, licik dan pendusta akan dengan senang hati menjadikan fatwa tersebut sebagai dasar untuk merendahkan mazhab yang ia benci.

.

.

.

Al Amiry dalam tulisannya mengutip fatwa salah seorang ulama Syi’ah yaitu Ayatullah Bayaat Zanjaaniy tentang kebolehan minum sedikit air untuk menghilangkan rasa haus bagi orang yang berpuasa tetapi tidak bisa menahan rasa haus dan puasanya tidak batal karenanya. Berikut nukilan dari Al Amiry

Al Amiriy syiah puasa minum tidak batal

Kami pribadi tidak memiliki data yang cukup untuk memastikan validitas fatwa yang dinukil Al Amiry tersebut oleh karena itu kami tidak bisa berbicara banyak soal fatwa ulama Syi’ah tersebut. Fatwa ini memang aneh dan kontroversial bahkan dikalangan pengikut Syi’ah.

Sedikit catatan mengenai penukilan Al Amiry di atas, ia menyebutkan lafaz “diriwayatkan dengan sanad yang tsiqat” padahal maksud sebenarnya adalah “diriwayatkan dengan sanad muwatstsaq”. Muwatstsaq adalah terminologi khusus kedudukan suatu hadis yang ada dalam mazhab Syi’ah selain “shahih” dan “hasan”. Muwatstsaq menunjukkan bahwa diantara para perawi sanad tersebut terdapat perawi yang bukan bermazhab Syi’ah atau bermazhab menyimpang [di sisi Syi’ah] walaupun orang tersebut terpercaya. Hal ini menunjukkan kalau Al Amiry ini asing dengan istilah ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah.

Riwayat dalam kitab Wasail Syi’ah yang dijadikan hujjah dalam fatwa tersebut adalah riwayat yang bersumber dari kitab Al Kafiy yaitu riwayat Mufadhdhal dan riwayat ‘Ammaar

علي بن إبراهيم، عن إسماعيل بن مرار، عن يونس، عن المفضل ابن عمر قال: قلت لأبي عبد الله عليه السلام: إن لنا فتيات وشبانا لا يقدرون على الصيام من شدة ما يصيبهم من العطش، قال: فليشربوا بقدر ما تروى به نفوسهم وما يحذرون

‘Aliy bin Ibrahiim dari Ismail bin Maraar dari Yunus dari Mufadhdhal bin ‘Umar yang berkata aku berkata kepada Abi ‘Abdullah [‘alaihis sallam] “sesungguhnya di sisi kami ada wanita muda dan pemuda yang tidak sanggup berpuasa karena mereka mengalami kehausan yang sangat berat”. Maka Beliau berkata “minumlah mereka sejumlah yang mencukupkan jiwa mereka dan apa yang dapat menjaga diri mereka” [Al Kafiy Al Kulainiy 4/117 hadis no 7]

Al Majlisiy puasa haus

Al Majlisiy dalam Mir’aatul ‘Uquul 16/305 hadis no 7 menyatakan riwayat Mufadhdhal di atas dhaif. Maka riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah dalam perkara ini. Adapun riwayat ‘Ammar adalah sebagai berikut

أحمد بن إدريس، وغيره، عن محمد بن أحمد، عن محمد بن الحسين، عن عمرو بن سعيد، عن مصدق بن صدقة، عن عمار، عن أبي عبد الله عليه السلام في الرجل يصيبه العطاش حتى يخاف على نفسه، قال: يشرب بقدر ما يمسك به رمقه ولا يشرب حتى يروى

Ahmad bin Idriis dan selainnya dari Muhammad bin Ahmad dari Muhammad bin Husain dari ‘Amru bin Sa’iid dari Mushadiq bin Shadaqah dari ‘Ammaar dari Abi ‘Abdullah [‘alaihis salaam] tentang laki-laki yang mengalami kehausan sehingga ia khawatir atas dirinya. Beliau berkata “maka ia boleh minum sekedarnya apa yang dapat meredakan hausnya dan ia tidak boleh minum sampai kenyang”. [Al Kafiy Al Kulainiy 4/117 hadis no 6]

Al Kafiy puasa rasa haus berat

Al Majlisiy dalam Mir’atul ‘Uquul 16/304 hadis no 6 menyatakan riwayat di atas muwatstsaq. Dalam riwayat tersebut memang disebutkan kebolehan meminum sedikit air ketika berpuasa jika rasa haus itu dikhawatirkan membahayakan tetapi tidak ada disebutkan dalam riwayat tersebut apakah hal itu membatalkan puasanya atau tidak. Para ulama Syi’ah yang lain menyatakan bahwa puasanya batal

.

.

Syaikh Muhammad Amiin Zainuddiin dalam kitab Kalimatul Taqwaa 2/41 no 105 telah berkata

اذا غلب العطش على الصائم حتى خشي منه الضرر ، أو لزم من الصبّر عليه الحرج الشديد ، جاز له أن يشرب من الماء مقدار ما يندفع به الضرر ويرتفع به الحرج ، ولا إثم عليه في ذلك ، ويبطل به صومه ، فيجب عليه قضاء صوم ذلك اليوم ، واذا كان في شهر رمضان وجب عليه أن يمسك عن المفطرات في بقية نهاره

Jika ketika puasa mengalami rasa haus yang berat sehingga khawatir akan kecelakaan [atas dirinya] atau menyebabkan bagi yang bersabar atasnya akan mengalami kesulitan yang parah, maka dibolehkan baginya minum sedikit air sejumlah yang diperlukan untuk mencegah kecelakaan [atas dirinya] atau menghilangkan kesulitan tersebut, tidak ada dosa atasnya karena hal itu. Dan hal itu akan membatalkan puasanya maka wajib baginya mengganti [qadha’] puasanya pada hari itu. Dan jika itu terjadi di bulan Ramadhan maka wajib atasnya untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa pada sisa harinya.

.

Al Urwatul Wutsqa cover

Al Urwatul Wutsqa

Sayyid Muhammad Kaazim Yazdiy dalam kitabnya Al ‘Urwatul Wutsqaa 2/434-435 berkata

إذا غلب على الصائم على العطش بحيث خاف من الهلاك يجوز له أن يشرب الماء مقتصرا على مقدار الضرورة ولكن يفسد صومه بذلك ويجب عليه الامساك بقية النهار إذا كان في شهر رمضان

Jika ketika puasa mengalami rasa haus yang berat sehingga khawatir akan menjadi celaka [atas dirinya] maka dibolehkan baginya meminum sedikit air sejumlah yang diperlukan tetapi hal itu membatalkan puasanya dan wajib atasnya menahan diri pada sisa harinya jika itu di bulan Ramadhan

.

.

Minhaj Shalihin Ali Sistani cover

Minhaj Shalihin Ali Sistani

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Sayyid Aliy Al Sistaaniy dalam kitab Minhaaj Ash Shaalihiin 1/326 no 1006

إذا غلب على الصائم العطش و خاف الضرر من الصبر عليه ، أو كان حرجاً جاز أن يشرب بمقدار الضرورة و لا يزيد عليه على الأحوط ، و يفسد بذلك صومه ، و يجب عليه الإمساك في بقية النهار إذا كان في شهر رمضان على الأحوط

Jika ketika puasa mengalami rasa haus yang berat dan ia khawatir akan membahayakan diri jika bersabar atasnya atau terasa sangat menyulitkannya maka dibolehkan baginya meminum sedikit air sejumlah yang diperlukan dan tidak boleh melebihinya atas dasar kehati-hatian. Dan hal itu akan membatalkan puasanya serta wajib atasnya menahan diri pada sisa harinya jika itu di bulan Ramadhan atas dasar kehati-hatian.

Pendapat inilah yang kami dapati dalam kitab-kitab Syi’ah dan dan masyhur diantara para ulama mereka. Pendapat ini nampaknya lebih rajih karena banyak hadis shahih [dalam mazhab Syi’ah] yang menunjukkan batalnya puasa dengan makan dan minum. Jadi bagaimana mungkin hanya karena pendapat satu ulama seperti yang dinukil Al Amiry tersebut bisa seenaknya dinisbatkan atas mazhab Syi’ah.

.

.

.

Dan jangan dikira perkara yang mirip seperti ini tidak ada dalam mazhab Ahlus Sunnah. Ada baiknya orang yang menyebut dirinya Al Amiry itu banyak-banyak membaca kitab hadis agar luas wawasannya dan bisa bersikap bijak. Pendapat yang aneh dan menyimpang pernah dikemukakan oleh salah seorang sahabat Nabi yang sudah jelas kedudukannya jauh lebih mulia dibanding para ulama yaitu Abu Thalhah Al Anshariy [radiallahu ‘anhu]

Musnad Ahmad no 13971

حدثنا عبيد الله بن معاذ حدثنا أبي ثنا شعبة عن قتادة وحميد عن أنس قال مطرنا بردا وأبو طلحة صائم فجعل يأكل منه قيل له أتأكل وأنت صائم فقال إنما هذا بركة

Telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Mu’aadz yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Qatadah dan Humaid dari Anas yang berkata turun kepada kami hujan salju dan Abu Thalhah berpuasa, maka ia memakan butiran salju tersebut, dikatakan kepadanya “engkau makan padahal engkau berpuasa” maka ia berkata “sesungguhnya ini hanyalah berkah” [Musnad Ahmad 3/279 no 13971, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih para perawinya tsiqat perawi Bukhariy dan Muslim”]

Syaikh Al Albaniy dalam kitabnya Silsilah Al Ahaadits Adh Dhaaifah hadis no 63 pernah membawakan hadis mauquf di atas dan ia berkata

Adh Dhaifah Albaniy no 63

قلت وهذا الحديث الموقوف من الأدلة على بطلان الحديث المتقدم ” أصحابي كالنجوم بأيهم اقتديتم اهتديتم ” إذ لوصح هذا لكان الذي يأكل البرد في رمضان لا يفطر اقتداء بأبي طلحة رضي الله عنه، وهذا مما لا يقوله مسلم اليوم فيما أعتقد

Aku [syaikh Al Albaniy] berkata “hadis mauquf ini menjadi dalil akan bathilnya hadis sebelumnya yaitu sahabatku seperti bintang-bintang, siapapun yang kalian ikuti pasti akan mendapat petunjuk” karena jika ini shahih maka barang siapa yang memakan butiran salju di bulan Ramadhan tidak batal puasanya dengan berpegang pada pendapat Abu Thalhah [radiallahu ‘anhu] dan hal ini saya yakin tidak pernah dikatakan seorang muslim pun saat ini”

Apakah dengan adanya pendapat Abu Thalhah [radiallahu ‘anhu] di atas maka bisa dikatakan mazhab Ahlus Sunnah menyatakan tidak batal puasa jika memakan butiran salju?. Tentu saja tidak. Orang yang mengatakan demikian hanyalah orang jahil atau pendusta. Maka silakan para pembaca pikirkan orang seperti apa Al Amiry ini. Ia berbicara begini begitu hanya bermodal secuil fatwa kemudian berlagak alim merendahkan mazhab lain.

Tulisan-tulisan seperti ini kami buat sebagai bingkisan kepada para pembaca agar bisa diambil manfaatnya. Juga sebagai pembelaan kepada mazhab Syi’ah atas kedustaan dan kejahilan para pencela. Kami walaupun bukan penganut Syi’ah tetapi tetap bisa mempelajari mazhab Syi’ah dengan objektif tidak seperti para pencela yang berlagak alim padahal hakikatnya jahil. Tidak ada sedikitpun harapan kami untuk para pencela seperti Al Amiry. Biarlah ia dan orang-orang sepertinya hidup dalam waham grandiosa yang mereka derita.

Syaikh Khalid Al Wushabiy Membela Mu’awiyah Dan Mencela Syaikh Hasan Al Malikiy

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Syaikh Khalid Al Wushabiy Membela Mu’awiyah Dan Mencela Syaikh Hasan Al Malikiy

Demi membela Mu’awiyah bin Abu Sufyaan sebagian ulama telah menunjukkan keanehan yang nyata. Mereka mendadak ngawur, nyeleneh dan berhujjah dengan perkataan orang yang tidak berilmu. Sebelumnya kami sudah pernah memberikan contohnya yaitu Syaikh Abdurrahaman Dimasyiqqiyyah. Kali ini kami persilakan para pembaca melihat video berikut [dalam bahasa arab dan sumbernya dari sini]

Dalam video singkat di atas Syaikh Khalid Al Wushabiy membahas tentang hadis Muawiyah yang mati tidak dalam agama Islam dimana hadis ini telah dishahihkan oleh Syaikh Hasan bin Farhan Al Malikiy. Syaikh Khalid Al Wushabiy menyatakan hadis tersebut dhaif dan menuduh Syaikh Hasan bin Farhan Al Malikiy melakukan talbis.

.

.

.

Kami sudah pernah membahas secara khusus tentang hadis Muawiyah mati tidak dalam agama islam. Hadis tersebut shahih dan telah kami bahas secara detail syubhat-syubhat yang melemahkan hadis tersebut. Silakan bagi yang berminat dapat membaca tulisan kami

  1. Shahih : Hadis Muawiyah Mati Tidak Dalam Agama Islam
  2. Hadis Muawiyah Mati Tidak Dalam Agama Islam : Bantahan Syubhat Salafiy

Kali ini kami akan menunjukkan bahwa sebenarnya Syaikh Khalid Al Wushabiy yang melakukan talbis dan Syaikh Hasan bin Farhan Al Malikiy telah benar dalam pernyataan shahih-nya terhadap hadis ini. Hadis yang dimaksud diriwayatkan oleh Al Baladzuriy dalam kitabnya Ansab Al Asyraaf


Ansab Al Asyraf

Al Baladzuri1

وحدثني إسحاق وبكر بن الهيثم قالا حدثنا عبد الرزاق بن همام انبأنا معمر عن ابن طاوس عن أبيه عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال: كنت عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال يطلع عليكم من هذا الفج رجل يموت على غير ملتي، قال وكنت تركت أبي قد وضع له وضوء، فكنت كحابس البول مخافة أن يجيء، قال: فطلع معاوية فقال النبي صلى الله عليه وسلم هو هذا

Dan telah menceritakan kepadaku Ishaaq dan Bakr bin Al Haitsam keduanya berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaaq bin Hammaam yang berkata telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari Ayahnya dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash yang berkata “aku berada di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau berkata “akan datang kepada kalian dari jalan ini seorang laki-laki yang mati tidak diatas agamaku”. [‘Abdullah bin ‘Amru] berkata “dan ketika itu aku meninggalkan ayahku yang sedang disiapkan untuknya air wudhu’ maka aku seperti orang yang sedang menahan buang air kecil karena khawatir ia yang akan datang. [‘Abdullah bin ‘Amru] berkata “maka Mu’awiyah datang”. Kemudian Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “dialah orangnya” [Ansaab Al Asyraaf Al Balaadzuriy 5/134]

.

.

Syaikh Hasan bin Farhan Al Malikiy menyatakan hadis riwayat Al Balaadzuriy di atas shahih sebagaimana dapat dilihat berikut

Ma'a Syaikh Abdullah Sa'd

Hasan bin Farhan

رواه البلاذري عن شيخيه بكر بن الهيثم وإسحاق بن أبي إسرائيل (وهذا ثقة أما أبا بكر فلم أجد له ترجمة لكنه توبع من إسحاق) كلاهما روياه عن عبد الرزاق الصنعاني (وهو ثقة إمام) عن معمر بن راشد (وهو ثقة إمام) عن عبد الله بن طاووس (وهو ثقة إمام) عن طاووس بن كيسان والده (وهو ثقة إمام) عن عبد الله بن عمرو بن العاص وهو صحابي –على تعريف المحدثين

Al Balaadzuriy meriwayatkan dari gurunya Bakr bin Al Haitsam dan Ishaaq bin Abi Isra’iil [dan dia ini tsiqat adapun Bakr maka tidak ditemukan biografinya tetapi ia memiliki mutaba’ah dari Ishaaq], keduanya meriwayatkan dari ‘Abdurrazzaaq Ash Shan’aaniy [dan ia tsiqat imam] dari Ma’mar bin Raasyid [ dan ia tsiqat imam] dari ‘Abdullah bin Thaawus [dan ia tsiqat imam] dari Thaawus bin Kaisaan ayahnya [dan ia tsiqat imam] dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Aash dan ia sahabat Nabi sebagaimana dikenal para ahli hadis [Ma’a Syaikh Abdullah As Sa’d hal 166]

.

.

.

Syaikh Khaalid Al Wushaabiy dalam video diatas menuduh Syaikh Hasan bin Farhan melakukan talbis. Lafaz “bin abi Isra’iil” dikatakan Syaikh Khaalid berasal dari kantong Syaikh Hasan bin Farhan saja karena sebenarnya Ishaaq disana adalah Ishaaq bin Ibrahiim Ad Dabariy yang dikenal meriwayatkan hadis mungkar dari Abdurrazzaaq. Maka hadis ini termasuk riwayat mungkar tersebut dan dhaif.

Anehnya Syaikh Khaalid tidak membawakan hujjah atas perkataannya, ia hanya mengklaim Ishaaq tersebut adalah Ishaaq bin Ibrahiim Ad Dabariy karena ia termasuk murid ‘Abdurrazzaaq. Ketika ditanyakan kepada Syaikh Khaalid darimana Syaikh Hasan bin Farhan mengatakan perawi itu Ishaaq bin Abi Israa’iil maka jawaban Syaikh Khalid adalah “Ishaaq bin Abi Israa’il termasuk diantara guru Al Balaadzuriy tetapi Ishaaq bin Abi Isra’iil tidak meriwayatkan dari ‘Abdurrazzaaq Ash Shan’aniy”.

Sungguh menggelikan, Syaikh Khaalid menuduh Syaikh Hasan bin Farhan Al Malikiy melakukan talbis padahal hakikatnya ia sendiri yang melakukan talbis. Kami heran apakah Syaikh Khalid sudah membuka kitab-kitab Rijal dan kitab-kitab Hadis. Ishaaq bin Abi Isra’iil itu sudah dikenal termasuk murid Abdurrazzaaq Ash Shan’aniy jadi dari mana Syaikh Khalid mengatakan Ishaaq bin Abi Isra’iil tidak meriwayatkan dari ‘Abdurrazzaaq.

Silakan lihat kitab Tahdzib Al Kamal biografi Abdurrazzaq Ash Shan’aniy [Tahdziib Al Kamal 18/54 no 3415] akan ditemukan bahwa salah satu muridnya adalah Ishaaq bin Abi Isra’iil.

Tahdzib Al Kamal Abdurrazzaq

Kemudian lihat kitab Tahdzib Al Kamal biografi Ishaaq bin Abi Isra’iil [Tahdziib Al Kamal 2/399 no 338] maka akan ditemukan bahwa salah satu gurunya adalah Abdurrazzaaq Ash Shan’aniy

Tahdzib Al Kamal Ishaq bin Abi Isra'il

Dan cukup banyak para ulama yang meriwayatkan bahwa Ishaaq bin Abi Isra’iil mendengar langsung hadis dari ‘Abdurrazzaaq Ash Shan’aniy seperti Al Bukhariy, Ibnu Sa’ad, Abu Ya’la, Ath Thahawiy, dan Al Balaadzuriy. Berikut bukti-buktinya

.

.

Al Bukhariy Dalam Tarikh Al Kabir 2/75

Tarikh Al Kabir Bukhariy

Ishaaq bin Abi Isra’iil adalah salah satu guru Al Bukhariy dimana Al Bukhariy meriwayatkan darinya dalam kitab Adab Al Mufrad. Al Mizziy juga menyebutkan Al Bukhariy termasuk murid Ishaaq bin Abi Isra’iil [Tahdziib Al Kamal 2/400 no 338]

.

Ibnu Sa’d Dalam Thabaqat Ibnu Sa’d 7/178

Thabaqat Ibnu Sa'd

.

Abu Ya’la Dalam Musnad Abu Ya’la 3/113 no 1544

Musnad Abu Ya'la

.

Ath Thahaawiy Dalam Musykil Al Atsar 7/7 no 2583

Musykil Al Atsar

Muhammad bin Ja’far bin A’yan yaitu guru Ath Thahawiy di atas adalah seorang yang tsiqat sebagaimana dikatakan Ibnu Yuunus [Tarikh Baghdad Al Khatib 2/496-497 no 471].

.

Al Balaadzuriy Dalam Ansaab Al Asyraaf 2/353

Al Baladzuri2

.

.

Jadi siapakah yang melakukan talbis disini wahai Syaikh Khaalid. Apa yang dikatakan Syaikh Hasan bin Farhan Al Malikiy itu sudah benar. Ishaaq dalam riwayat Al Balaadzuriy adalah Ishaaq bin Abi Isra’iil karena ia termasuk gurunya Al Balaadzuriy dan Ishaaq bin Abi Isra’iil sudah dikenal sebagai salah satu murid Abdurrazzaaq Ash Shan’aniy. Adapun Ishaaq bin Ibrahiim Ad Dabariy walaupun ia termasuk murid Abdurrazzaaq tetapi ia tidak dikenal sebagai guru Al Balaadzuriy. Jadi Syaikh Khalid ini menyalahkan perkataan Syaikh Hasan bin Farhan yang sudah benar sesuai dengan kaidah ilmu hadis dengan hujjah perkataan yang berasal dari kantong Syaikh Khalid sendiri.

.

.

.

Seharusnya sebelum berbicara di depan umum ada baiknya Syaikh Khaalid meneliti dengan benar membuka kitab Rijal dan kitab Hadis. Kesalahan seperti ini sebenarnya termasuk kesalahan yang tidak perlu terjadi bagi mereka yang sudah akrab dengan berbagai kitab Rijal dan kitab Hadis. Bagaimana bisa Syaikh Khalid mencela Syaikh Hasan bin Farhan melakukan talbis padahal Syaikh Khaalid belum meneliti dengan benar perkara ini. Menggebu-gebu membela Muawiyah bin Abu Sufyaan terkadang membuat sebagian ulama terlihat konyol.

Oh iya inilah Syaikh Khalid Al Wushabiy yang sering dibangga-banggakan oleh Muhammad ‘Abdurrahman Al ‘Amiry. Jika yang melakukan kesalahan seperti ini adalah ulama Syi’ah maka Al ‘Amiry akan bersemangat mengatakan ulama Syi’ah tersebut bodoh hina gila dan umpatan yang lainnya. Tetapi bagaimana kalau yang melakukan kesalahan tersebut adalah Syaikh Khalid Al Wushaabiy ulama pujaannya.

Kami tidak punya masalah dengan Syaikh Khaalid Al Wushaabiy sebagaimana kami juga tidak menganggap Syaikh Hasan bin Farhan Al Malikiy sebagai ulama pujaan. Bagi kami semua ulama itu kedudukannya sama yaitu setiap pendapatnya harus ditimbang dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah. Mana diantara perkataan mereka yang sesuai dengan dalil  maka itu yang diambil dan mana diantara perkataan mereka yang tidak sesuai dengan dalil maka itu ditinggalkan.

Meluruskan Syaikh Khalid Al Wushabiy : Riwayat Syi’ah Tentang Abu Thalib Menyusui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Meluruskan Syaikh Khalid Al Wushabiy : Riwayat Syi’ah Tentang Abu Thalib Menyusui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

Masih bersama Syaikh Khalid Al Wushabiy dan keanehannya. Biasanya memang sebagian ulama yang hobi membantah Syi’ah [sedikit atau banyak] sering terjatuh pada tadlis, talbis, khata’ dan mungkar. Diantaranya ada Syaikh Abdurrahman Dimasyiqqiyyah, Syaikh Adnan ‘Aruur, Syaikh Utsman Khamiis dan termasuklah Syaikh Khalid Al Wushabiy. Inilah contoh keanehan Syaikh Khalid Al Wushabiy [sumber dari sini]

Mohon maaf jika kami katakan dalam video di atas, Syaikh Khalid Al Wushabiy terlalu banyak bicara hal-hal yang tidak perlu. Dan memang hal ini bukan semata-mata kesalahan Syaikh Khalid, hal itu dipicu oleh komentar aneh lawan debat Syaikh dari pihak Syi’ah.

Penggalan video diatas membicarakan tentang riwayat Syi’ah dimana Abu Thalib menyusui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Riwayat yang benar-benar aneh dan menjadi santapan lezat bagi para pencela Syi’ah [baik dari kalangan ulama maupun pengikutnya]. Diskusi ilmiah tentang riwayat ini sebenarnya bisa berlangsung singkat saja tidak perlu banyak basa basi seperti dalam video di atas.

.

.

.

Pembahasan

Bicara soal riwayat maka pertama kali yang harus dibahas adalah validitas riwayat tersebut. Anehnya tidak ada satupun dari keduanya yang membahas validitas riwayat Syi’ah dimana Abu Thalib menyusui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Orang Syi’ah di atas malah sibuk melakukan pembelaan ala mukjizat dan macam-macam lah yang dengan mudah digoreng sampai garing oleh Syaikh Khalid.

Riwayat tersebut kedudukannya dhaif berdasarkan ilmu hadis mazhab Syi’ah. Tentu lain ceritanya jika kedua orang ini beranggapan bahwa riwayat yang ada dalam kitab Al Kafiy semuanya shahih. Tidak peduli sebanyak apapun ulama Syi’ah yang menganggap Al Kafiy semuanya shahih tetap saja faktanya banyak riwayat dhaif dalam kitab Al Kafiy. Menyatakan sebuah riwayat sebagai valid atau shahih itu ada standarnya, kalau cuma sekedar percaya katanya katanya ya apalah guna ada ilmu hadis.

Al Kafiy cover

Al Kafiy

محمد بن يحيى، عن سعد بن عبدالله، عن إبراهيم بن محمد الثقفي، عن علي بن المعلى، عن أخيه محمد، عن درست بن أبي منصور، عن علي بن أبي حمزة عن أبي بصير، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: لما ولد النبي (صلى الله عليه وآله) مكث أياما ليس له لبن، فألقاه أبوطالب على ثدي نفسه، فأنزل الله فيه لبنا فرضع منه أياما حتى وقع أبوطالب على حليمة السعدية فدفعه إليها

Muhammad bin Yahya dari Sa’d bin ‘Abdullah dari Ibrahiim bin Muhammad Ats Tsaqafiy dari ‘Aliy bin Mu’alla dari saudaranya Muhammad dari Durusta bin Abi Manshuur dari ‘Aliy bin Abi Hamzah dari Abi Bashiir dari Abi ‘Abdillah [‘alaihis salaam] yang berkata ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wa ‘aalihi] lahir selama beberapa hari tidak ada yang menyusuinya maka Abu Thalib meletakkan Nabi pada dadanya dan Allah menjadikan susu didalamnya maka Nabi menyusu darinya selama beberapa hari sampai Abu Thalib menemui Halimatul Sa’diyah dan menyerahkan Nabi kepadanya [untuk disusui] [Ushul Al Kafiy Al Kulainiy 1/284 no 27]


Al Majlisi Mirat Uqul juz 5

Al Majlisi Mirat Uqul juz 5 hal 252

Al Majlisiy dalam kitab Mir’atul ‘Uquul 5/252 no 27 berkata tentang hadis ini “dhaif”. Dan pernyataan ini benar sesuai dengan kaidah ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah

Setidaknya ada tiga perawi yang bermasalah dalam riwayat di atas yaitu

  1. ‘Aliy bin Mu’alla ia adalah perawi majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 414]
  2. Muhammad bin Mu’alla saudaranya juga perawi majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 579]
  3. ‘Aliy bin Abi Hamzah Al Bathaa’iniy adalah seorang pendusta [Rijal Al Kasyiy hal 338 no 235]

Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 414

Al Mufid Aliy bin Mu'alla

Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 579

Al Mufid Muhammad bin Mu'alla

Rijal Al Kasyiy hal 338 no 235

Rijal Al Kasyiy Aliy bin Abi Hamzah

Riwayat Al Kasyiy di atas shahih, Muhammad bin Mas’ud termasuk guru Al Kasyiy dan ia seorang yang tsiqat shaduq [Rijal An Najasyiy hal 350 no 944]. Aliy bin Hasan bin Fadhl gurunya juga seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 156].

.

.

Jadi apa perlunya sibuk berkomentar begini begitu, kedudukan riwayat tersebut dhaif. Tidak ada gunanya menjadikan riwayat ini sebagai bahan celaan atas mazhab Syi’ah. Karena jika hal yang sama dilakukan terhadap mazhab ahlus sunnah [yaitu menjadikan riwayat dhaif sebagai celaan atas ahlus sunnah] maka ulama-ulama ahlus sunnah tersebut akan meradang dan menuduh orang syi’ah melakukan talbis dan dusta.

Sekali lagi inilah Syaikh Khalid Al Wushabiy kebanggaan si pencela Syi’ah Muhammad Abdurrahman Al ‘Amiriy. Masih banyak keanehan-keanehan dari Syaikh ini yang insya Allah jika kami diberikan kemudahan akan dibahas di lain kesempatan.

Seperti biasa jika ada diantara pembaca yang biasanya malas berpikir tetapi mudah naik emosinya maka kami katakan tidak ada disini kami membela orang Syi’ah yang berdebat dengan Syaikh Khalid di atas. Menurut kami orang Syi’ah tersebut juga sama anehnya tetapi sayangnya tidak ada bahasan ilmiah yang bisa dibahas dari keanehannya. Bahkan ia sendiri bukan ulama Syi’ah yang dikenal keilmuannya. Berbeda dengan Syaikh Khalid Al Wushabiy yang bergaya ilmiah membawa kitab-kitab berbicara atas mazhab Syi’ah begini begitu maka banyak pembahasan yang bisa ditampilkan dari keanehannya.

.

.

.

Catatan Tidak Penting

Yah kita dapat memaklumi mengapa di dunia maya banyak bermunculan orang-orang bermental pembuat talbis dan dusta [atas mazhab Syi’ah] seperti Al Amiriy, Jaser Leonheart dan Abul Jauzaa’. Lha ulama-ulamanya saja menampakkan banyak keanehan dalam membahas mazhab Syi’ah apalagi para cecunguk dan recehannya. Prinsipnya adalah jangan mudah percaya kepada ulama atau pengikut suatu mazhab yang merendahkan mazhab lain. Buktikan sendiri dengan dalil dan hujjah maka akan nampak mana kebenaran dan mana kedustaan.

Sebagian orang awam ahlus sunnah di dunia maya ini kalau berbicara tentang Syi’ah cuma sekedar lata ikut-ikutan, ilmu tidak seberapa tetapi emosi setinggi langit. Sedikit-sedikit bilang “kafir” atau “halal darahnya” dan tidak jarang mulut mereka seperti kebun binatang. Begitu pula sebagian orang awam syi’ah di dunia maya kalau berbicara tentang ahlus sunnah juga sekedar lata kopipaste berbagai referensi yang tidak pernah ia baca sendiri sehingga tidak jarang jatuh dalam kedustaan karena kejahilannya. Dan ada juga diantara orang awam Syi’ah tersebut yang suka mengeluarkan berbagai nama binatang dari lisannya.

Orang-orang seperti mereka justru suka dengan tulisan-tulisan kotor yang berisi fitnah dan takfir seperti lalat yang berkerumun ditempat-tempat kotor. Sebaliknya mereka malah benci dengan tulisan yang mengajak kepada hujjah dan kebenaran bahkan mereka menuduhnya fitnah dan dusta. Lihatlah fitnah dan dusta mereka anggap kebenaran sedangkan kebenaran malah mereka anggap fitnah dan dusta. Penyakit mereka ini susah disembuhkan hanya petunjuk Allah SWT yang bisa menghilangkannya.

Awal mula penyakit orang-orang seperti mereka ini adalah kebodohan dan mudah percaya. Sungguh menyedihkan, mau jadi apa mereka, memalukan sekali mereka mengaku-ngaku islam tetapi hakikatnya jiwa mereka jauh dari islam. Islam itu menjunjung tinggi kebenaran dan berakhlak mulia bukan seperti troll yang berakal kerdil dan berlisan kotor. Mereka ini tidak sadar bahwa orang-orang seperti mereka inilah yang menjadi pemicu konflik dan perpecahan yang bisa berakibat fatal.

Kami paling anti dengan orang-orang seperti ini dan berbagai tulisan kami disini adalah sedikit usaha untuk mengajak siapapun agar tidak menjadi seperti mereka dan kalau ingin berbicara tentang mazhab lain mari berbicara dengan dasar ilmu dan menjunjung tinggi kebenaran. Jadilah orang awam yang berpegang pada islam yaitu dengan berpegang pada kebenaran dan berakhlak mulia. Jangan jadikan ini sekedar slogan, ingat peganglah kebenaran dengan membuktikannya sendiri dan tunjukkanlah akhlak mulia secara nyata bukan sekedar membicarakannya sebagai wacana.

Imam Ali bertindak demi demi kepentingan dan kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin, meski tidak ridha dengan apa yang dikerjakan oleh 3 khalifah

           Imam Ali bin Abi Thalib menjaga kemaslahatan masyarakat Islam. Jika menghunus pedang, resikonya akan dimanfaatkan oleh musuh Islam untuk melenyapkan Islam hingga ke akar-akarnya. Imam Ali menjaga kemaslahatan agama Tuhan dan hasil kerja keras Rasulullah Saw.   Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan mengapa dirinya tidak angkat senjata.

Hal itu disebabkan karena beliau sendiri,  sebagaimana yang beliau jelaskan; “Saya melihat dan mendapatkan bahwa tidak ada pendukung bagi aku kecuali keluarga saya; maka aku hindarkan mereka dari terjerumus ke dalam kematian. Aku terus menutup mata saya walaupun kelilipan. Aku minum walaupun kerongkongan terteguk. Aku bersabar walaupun susah bernapas dan walaupun harus menelan jadam sebagai makanan.” ( Nahj al-Balâgha, Khutbah 36, hal. 73).

Pada kesempatan lain, Imam Ali bin Abi Thalib menjelaskan alasannya mengapa tidak angkat senjata, “Apabila aku katakan maka mereka akan menyebut aku serakah akan kekuasaan, tetapi apabila aku berdiam diri mereka akan mengatakan bahwa aku takut mati. Sungguh sayang, setelah segala pasang surut (yang saya alami)! Demi Allah, putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan dada ibunya.“ (Nahj al-Balâgha, Khutbah 5, hal. 51).

Al-Qur’an menandaskan perkataan Nabi Harun AS sebagai jawaban dari protes keras Nabi Musa AS atas sikapnya yang berdiam diri tidak mencegah penyembahan sapi Bani Israil, “Harun menjawab, “Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), “Kamu telah memecah antara Bani Isra’il dan kamu tidak memelihara amanahku.” (Qs. Thaha [20]:94) .

Tidak semua masalah dapat diselesaikan dengan pedang dan perang, kekerasan mengangkat senjata belum tentu mampu mendatangkan kemaslahatan dan keselamatan pemerintahan di hadapan non Islam. Syi’ah meyakini Rasulullah saw telah mewasiatkan Imamah kepada Ali bin Abi Thalib, tetapi Sunni tidak percaya dengan adanya wasiat.

Imam Ali Zainal Abidin (putera tercinta Imam Husain) tidak melakukan peperangan melawan Dinasti Umayyah karena faktor-faktor yang mendukung kemenangan untuk menjalankan operasi militer tidak terpenuhi. Tidak melaksanakan perjuangan bersenjata dan konfrontasi militer bukan pertanda kelemahan. Jika sudah terkumpul orang-orang mukmin dengan karakteristik tertentu, maka tidak ada sesuatupun yang lebih beliau utamakan selain jihad.

Suatu kali ketika Imam Ali Zainal Abidin tengah dalam perjalanan menuju Mekkah, beliau di tegur oleh “ubbad al-Basri, “Mengapa Anda tidak melakukan jihad dengan segala kesulitannya dan justru melaksanakan haji dengan segala kemudahan nya.

Bukankah Allah SWT telah berfirman : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.” (Qs.At Taubah ayat 111).

Maka Imam Ali Zainal Abidin menjawab dengan mengemukakan problem sosial yang di hadapi umat pada zaman itu : “Bacalah ayat yang setelahnya.”

” Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu. (Qs.At Taubah ayat 112)

Kemudian Imam Ali Zainal Abidin melanjutkan perkataan nya, “Jika telah muncul orang-orang tersebut, yaitu orang-orang yang mukmin dengan karakteristik yang di nyatakan dengan ayat tadi, maka tidak ada sesuatu pun yang lebih kami utamakan dari jihad”

Imam Ali, meski tidak ridha dengan apa yang dikerjakan oleh 3 khalifah sunni, namun demi kepentingan dan kemaslahatan Islam dan kaum Muslimin, tidak pernah menolak ketika dimintai pendapat dan bimbingan oleh para khalifah.  Tentu saja hal ini tidak bermakna adanya keridhaan dari Imam Ali terhadap kinerja dan tindak-tanduk pemerintahan 3 khalifah sunni.

Misalnya, pada sebagian peperangan, sebagai contoh pada perang melawan Iran dan Roma, Amirul Mukminin Ali As dimintai musyawarah oleh khalifah dan beliau mengemukakan beberapa usulan supaya kaum Muslimin mencapai kemenangan meski beliau tidak turut serta dalam peperangan.

Syi’ah modern mempertegas secara rinci dan mendalam tentang hubungan entitas individu dan masyarakat dalam memunculkan kebutuhan serta menghadirkan sistem sosial yang berbasis pada fungsi pembimbingan dan kepemimpinan dalam pola yang sistematis.

Nabi Ibrahim As dalah imam, akan tetapi bukan khalifah

dimana setelah melewati cobaan dan ujian-ujian yang berat, beliau sampai pada maqam imâmah, namun ia bukan sebagai khalifah dan penerus nabi dengan makna khusus.

Jika maqam imâmah merupakan sebuah maqam penunjukan, maka pelaksanaan hukum-hukum ini harus diserahkan kepada orang-orang yang telah ditunjuk oleh Allah untuk memegang tanggungjawab kepemimpinan umat, merekalah yang dianggap legal dan sah.

imâmah merupakan sebuah maqam penunjukan –bukan pemilihan- dan pemegang maqam ini ditentukan oleh Allah Swt.

Fatimah az-Zahra Salamullah ‘alaiha juga maksum, kendati beliau tidak memiliki kedudukan imâmah.