Hidayatullah.com dan Majalahnya Perlu Diblokir

Hidayatullah.com menyajikan berita yg tendensius, subyektif, dan cenderung mengadu domba sesama Umat Islam khususnya yg menyangkut masalah Sunnah dan Syi’ah.

Hidayatullah itu adalah jamaah takfiri Wahhaby Salafy yang patut diwaspadai ..Betul sekali yang perlu di waspadai adalah yg selalu menyebarkan fitnah dan perpecahan di dalam tubuh Umat Islam….

Prasayarat Ukhuwah Sunni-Syiah.

1. Masalah madzhab sunni-syiah berpangkal pada masalah imamah yang sudah berlangsung berabad-abad, dalam kondisi status quo. Tidak akan ada penyelesaian jika ingin diperdebatkan mana yang benar, mana yang salah. Masalahnya kita kembalikan saja kepada Allah dan nantilah di akhirat kelak kita mengetahui yang sebenarnya.

2. Yang kita butuhkan sekarang ialah benar-benar ikhlas beragama menurut madzhab yang kita pahami. Memaksakan penyelesaian dengan tujuan agar ada satu madzhab saja yang diakui benar, sunni atau syiah, selain tidak mungkin, juga hanya akan menjadi sumber konflik. Sikap ingin memaksakan itu juga bisa jadi tanpa kita sadari adalah, atau hanyalah dorongan hawa nafsu, kesombongan dan kejahilan kita dalam beragama.

3. Yang perlu kita bangun sekarang adalah ukhuwwah diniyah Islamiyah dan imaniyah, dalam bentuk saling mengakui bahwa mahdzab sunni mau pun syiah adalah madzhab-madzhab dalam Islam.

4. Kita bersama-sama berkomitmen membangun kehidupan umat Islam yang saling mencintai dan berkasih sayang. Kita saling memaklumi ada perbedaan pendapat termasuk dalam masalah fundamental namun kita juga mempunyai lebih banyak persamaan.

Penganut madzhab sunni mau pun syiah sama-sama :

a. Bertuhankan Allah Yang Esa (tauhid),
b. Beriman akan adanya hari kemudian,
c. Mempunyai Nabi yang sama yakni Muhammad saw,
d. Memiliki kitab yang sama yakni Al-Quran,
d. Melaksanakan sholat fardhu lima waktu,
e. Berpuasa pada bulan Ramadhan,
f. Mengeluarkan zakat,
g. Naik haji ke baitullah bagi yang mampu,
h. Berkiblat ke baitullah.

Madzhab sunni dan syiah dapat saling menerima dan mengamalkan ajaran-ajaran antarmadzhab yang masing-masing dianggap sejalan dengan ajaran madzhabnya. (Inilah yang saya analogikan dengan meja prasmanan dengan hidangan menu dari kedua madzhab. Jika ada yang sesuai selera silakan dinikmati, jika tidak sesuai selera tidak usah dimakan tapi juga tidak usah dicela dan mau dibuang).

 

Majalah Hidayatullah & Kebohongan Jurnalisitik

Majalah Hidayatullah edisi cetak No.05/XXV/Sepetember 2012/Syawal 1433/ISSN 0863-2367 dengan judul Cover Majalah berjudul “Ikutilah Para Penuntun Kebenaran” telah melawan kebenaran itu sendiri dengan menulis berita yang tak sejalan dengan kode etik jurnalistik Islami dan berupaya menggiring opini agar kebathilan rapi terbungkus atas nama Agama dan Manhaj Salafi-Wahabi takfiri.

Pada Halaman 4 Redaksi menulis Daurah Jurnalistik Angkatan Kelima pada tanggal 28-29 Juli 2012, Pimpinan Daerah Hidayatullah dan Majalah Suara Hidayatullah bekerjasama menyelenggarakan Daurah Jurnalistik. Acara yang diselenggarakan di Gedung Dakwah dan Informasi Hidayatullah itu diikuti 25 peserta.

Kegiatan ini diisi dengan berbagai materi, peserta juga diberi kesempatan praktek menulis langsung. Pada sesi kelima peserta diberi materi “Fikih Jurnalistik” oleh Thoriq (Redaktur Hidayatullah.com) dan dilanjutkan “teknik menulis opini” oleh Syakanaiful Irwan. Ahmad Rizal, Ketua Panitia Pelaksana Daurah mengatakan, acara seperti ini akan terus diselenggarakan. “Diharapkan akan lahir mujahid-mujahid pena, sebagaimana para ulama-ulama salaf terdahulu yang dikenal rajin menulis dan banyak melahirkan karya-karya besar,”ujarnya.

Tapi sungguh sayang seribu kali sayang Daurah Jurnalistik berbuah adu-domba umat dan menulis berita dengan hawa nafsunya sendiri yang akan melahirkan kemudharatan yang lebih besar. Halaman 55 dengan judul “Menunggu Geliat Sang Saudara Tua” M.Nurkholis Ridwan melakukan kebohongan Jurnalistik yang fatal, simak tulisannya dalam sub judul IRAN YANG DIWASPADAI, :

“Apalagi hubungan Iran dan Mesir selama ini memang tidak mesra. Karena itu, terkait dengan undangan Iran untuk menghadiri KTT Gerakan Non Blok di Tehran, Mursi memberi isyarat untuk tidak memenuhi undangan ini.

Bukankah kita semua tahu dan semua media cetak dan elektronik memberitakannya Mesir hadir pada KTT Non Blok ke- 16 tanggal 30-31 Agustus 2012 di Tehran bahkan Mursi memberikan sambutannya. Majalah ini beredar awal September dan kami membacanya pada hari ini tanggal 9 September 2012. Apakah faktor opini pribadi hanya untuk memfitnah Iran dan Syi’ah sehingga Majalah Hidayatullah terjerumus kepada penyajian berita bathil kepada masyarakat pembacanya? Wallahu A’lam.

Dalam pengamatan kami selama ini Majalah Hidayatullah lebih condong kepada memecah-belah umat dengan berbagai fitnah dan kedustaan terutama apabila menyangkut Muslim Syi’ah.

Sangat disayangkan sebuah ormas yang besar terjerumus pada faham takfir karena fanatik terhadap faham mereka sendiri. Inilah yang akan menjadi malapetaka umat apabila orang yang mengerti Agama berbicara dengan hawa nafsunya yang dibungkus dengan kata-kata indah dan manis tetapi sejatinya beracun dan menanamkan kobaran api fitnah ke dalam persepsi umat.

Arrahmah.com wajib di blokir (4) : memvonis sesat dan menyimpang terhadap golongan selain wahabi

Arrahmah.com wajib di blokir (4) : memvonis sesat dan menyimpang terhadap golongan selain wahabi

“Kesalahan Wahabi dalam memahami Islam sangat berbahaya. Bukan hanya menciderai Islam itu sendiri namun juga justru memberi keuntungan kepada musuh-musuh Islam. Ulama-ulama Sunni maupun Syiah, harus tegas dalam menghadapi penyimpangan mereka.”

Ayatullah Nuri Hamadani pada kelas Dars Kharij Ushul yang diasuhnya di Masjid A’dzham kota Qom Iran menyatakan, “Wahabi disebabkan karena salah dalam memahami agama ini, hatta kepada pribadi suci Nabi Muhammad Saw tanpa mereka sadari telah melakukan pelecehan dan penghinaan.”

 

Dalam lanjutan pernyataannya, dengan merujuk dari kitab Nahjul Balaghah, beliau berkata, “Apa yang terdapat dalam kitab Nahjul Balaghah ini adalah samudera ilmu yang tak bertepi, yang bahkan dimasa kekinian tetap memberi pelajaran yang sangat banyak. Ulama Ahlus Sunnah seperti Ibnu Abi al Hadid menyadari akan fadhilah kitab ini, karenanya beliau mensyarahnya. Dalam kitab-kitab beliau yang lain, beliau telah mengungkapkan fadhilah dan keutamaan Imam Ali as yang sangat banyak. Kita harus memanfaatkan karya-karya emas beliau untuk lebih banyak meraup makrifat dunia dan akhirat.”

 

Menurut ulama marja taklid tersebut, disitulah letak kesalahan kelompok Wahabi, yang hanya mau menerima karya dan buah pemikiran ulama-ulama yang hanya dalam golongan mereka saja, sementara karya dan hasil ijtihad ulama dari mazhab lain bukan hanya mereka nafikan tapi juga telah mereka vonis sesat dan menyimpang dari Islam.

“Kesalahan mereka dalam memahami Islam inilah yang sangat berbahaya. Bukan hanya menciderai Islam itu sendiri namun juga justru memberi keuntungan kepada musuh-musuh Islam. Ulama-ulama Sunni maupun Syiah, harus tegas dalam menghadapi penyimpangan mereka.” Lanjut beliau.

Arrahmah.com wajib di blokir (3) : Nyatakan Tokoh Anti Syiah Malaysia dibunuh Syi’ah

Kalau pelakunya tidak dikenal, dari mana redaksi Arrahmah langsung menyimpulkan pelakunya dari kalangan Syiah?, sementara pihak kepolisian saja belum berani memberikan dugaan sebab memang belum ada bukti keterlibatan kelompok Syiah Malaysia dibalik insiden penembakan tersebut. Lantas apa bukti dari Arrahmah.com sampai menyebar fitnah pelakunya adalah Syiah?. Dan fitnah tersebut turut disebar oleh gensyiah.com dan media-media anti Syiah lainnya.

 

Ahmad Raffli bin Abdul Malik, Kepala Penegakan Syariat Jawatan Agama Islam Pahang [JAIP] Malasysia, ditembak oleh orang yang tak dikenali pada Jum’at [8/11] di depan rumahnya sendiri di Indera Mahkota 2, Pahang Kuantan Malaysia sekitar pukul 14.30 siang. Disebutkan oleh saksi mata, tiga pria yang tidak dikenali mengendarai sedan yang berhenti didepan rumah korban, salah satu dari pelaku turun dari mobil dan disambut oleh korban layaknya tamu namun tidak sangka melepaskan tiga tembakan yang kemudian menyebabkan kematian Ahmad Raffli. Para saksi menambahkan, setelah insiden penembakan terjadi, para pelaku segera melarikan diri.

Kepala Kepolisian Wilayah Pahang, Mohammad Zakaria Ahmad membenarkan insiden tersebut dan mengatakan pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan, sebagaimana dilansir dari Salam-Online dan beberapa media setempat lainnya.

Berita kematian aktivis Islam dan ulama yang dikenal vokal dalam mencegah penyebaran ajaran Syiah di Malaysia tersebut begitu cepat tersebar, dan disikapi reaktif oleh media-media anti Syiah baik di Malaysia maupun di Indonesia. Media-media tersebut tanpa data sedikitpun segera menuding dan menyebut pelakunya dari kalangan Syiah. Meskipun kepolisian Malaysia sendiri masih dalam tahap penyidikan, media-media anti Syiah segera menurunkan berita dengan memastikan pelakunya dari kelompok Syiah.

Menyikapi fenomena tersebut, Ketua Kepolisian Negara Malaysia, Tan Sri Khalid Abu Bakar meminta semua pihak untuk berdiam diri dan tidak membuat sembarang spekulasi mengenai identitas pelaku apalagi mengaitkannya dengan ajaran Syiah yang dapat mengacaukan konsentrasi pihak kepolisian dalam melakukan penyidikan. Sebagaimana dinukil dari Berita Harian Malaysia [11/11], Tan Sri Khalid Abu Bakar berkata, “Jangan membuat dugaan-dugaan tanpa bukti. Sebab sebab belum ada bukti jelas yang mengaitkan insiden ini dengan ajaran atau pengikut Syiah.”

Beliau meminta semua pihak untuk berhenti berspekulasi mengenai identitas pelaku, “Kami akan melakukan investigasi secara menyeluruh dari semua aspek termasuk mengendus motif pelaku sebelum melakukan penangkapan.” Tambahnya lagi.

Meskipun dikenal keras dan anti terhadap penyebaran ajaran Syiah, sebagai pejabat negara pada bidang penegakan syariat, Ahmad Raffli bin Abdul Malik, bukan hanya memusuhi Syiah. Setidaknya selama hidupnya beliau bergelut dalam menangani beberapa kasus yang dinilai merupakan kejahatan yang melanggar syariat, seperti dengan para pelaku bisnis klub malam maupun penyimpangan ajaran “Tuhan Harun” yang lagi marak di Malaysia.

Sehingga langsung menuding Syiah dibalik terbunuhnya Ahmad Raffli tersebut adalah tindakan gegabah terlebih lagi tidak didukung data dan fakta yang ada. Sebagaimana kembali dikatakan Ketua Kepolisian Negara Malaysia, Tan Sri Khalid Abu Bakar yang dilansir dari situs berita TV3.com, yang menyebutkan pihaknya lebih menitik beratkan penyidikan pada kelompok pengikut Tuhan Harun. ”

Indikasi pelakunya dari kelompok pengikut Tuhan Harun sangat besar. 3 orang dari 31 anggota kelompok tersebut telah menyerahkan diri. Itu sudah sangat membantu tugas kepolisian.”

Ditambahkannya pula, kepolisian telah mengeluarkan surat penangkapan kepada Harun Mat Saad, pimpinan kelompok Tuhan Harun yang masih sementara dalam keadaan buron.

Arrahmah.com mengenai insiden penembakan yang menimpa Ahmad Raffli, menurunkan berita pada senin [11/11] dengan tajuk, “Penggiat Anti Syiah Malaysia, Ahmad Rafi Ditembak Mati Orang Tak Dikenal”. Selain salah dalam menuliskan nama korban, Ahmad Rafi yang seharusnya Ahmad Raffli, media yang sering memanipulasi fakta tersebut juga menulis di akhir beritanya, “Demikianlah Syiah, tidak sungkan-sungkan akan melakukan pembunuhan ketika ada yang menyingkap hakikat kesesatan mereka.”

Pernyataan yang sangat kontradiksi dengan judul yang mereka pilih sendiri. Kalau pelakunya tidak dikenal, dari mana redaksi Arrahmah langsung menyimpulkan pelakunya dari kalangan Syiah?, sementara pihak kepolisian saja belum berani memberikan dugaan sebab memang belum ada bukti keterlibatan kelompok Syiah Malaysia dibalik insiden penembakan tersebut. Lantas apa bukti dari Arrahmah.com sampai menyebar fitnah pelakunya adalah Syiah?. Dan fitnah tersebut turut disebar oleh gensyiah.com dan media-media anti Syiah lainnya.

Arrahmah.com wajib di blokir (2) : Sebut Iran Kerjasama Bantai Muslim Rohingnya

Arrahmah menulis bahwa meskipun Iran mengaku sebagai negara Islam, akan tetapi ia bekerjasama dengan Budha yang telah membantai kaum muslimin di wilayah Arakan, tanpa memberikan keterangan yang lebih detail bentuk kerjasama apa yang dimaksud. Sementara delegasi Iran berkali-kali ke Myanmar untuk memberikan bantuan kemanusiaan langsung kepada warga Rohingnya.

 situs arrahmah.com senin (4/3) menurunkan berita, “Pembantaian Muslim Rohingnya Masih Berlangsung, Iran Gelontorkan 200 Juta Dollar untuk Budha Myanmar”. Berita yang disebut oleh redaksi arrahmah tersebut bersumber dari situs alarabalan.com (namun situs ini tidak dapat dikunjungi untuk diklarifikasi kebenarannya) menyebutkan Iran melakukan, investasi sebesar 200 juta dollar itu untuk pengembangan pertanian dan industri di negara Budha Burma yang memusuhi Islam.

Di balik itu lanjutnya, investasi tersebut bertujuan untuk membiayai kegiatan revolusi Iran di Asia, di mana Iran sedang menggalang kekuatan-kekuatan di luar negeri untuk mendirikan negara Syi’ah yang berkiblat ke Iran. Dengan pernyataan ini arrahmah hendak menyampaikan bahwa Myanmar adalah Negara target Iran untuk dijadikan Negara Syiah. Apakah logis hanya dengan investasi 200 juta dollar, Myanmar hendak mengubah haluan politik negaranya dan begitu saja patuh sepenuhnya pada Iran?.

Arrahmah kemudian menulis bahwa meskipun Iran mengaku sebagai negara Islam, akan tetapi ia bekerjasama dengan Budha yang telah membantai kaum muslimin di wilayah Arakan, tanpa memberikan keterangan yang lebih detail bentuk kerjasama apa yang dimaksud.

Sementara delegasi Iran berkali-kali ke Myanmar untuk memberikan bantuan kemanusiaan langsung kepada warga Rohingnya. Sebagaimana pernah diberitakan dimedia ini dengan tajuk, “Iran Beri Bantuan 30 Ton Bahan Makanan untuk Muslim Myanmar”. Dan berita-berita serupa juga diberitakan oleh banyak media nasional.

Arrahmah menambahkan, “Dan yang perlu menjadi perhatian, bahwa kaum muslimin Arakan adalah Ahlusunnah, sedangkan Iran pengikut Syi’ah.”. Disini kembali arrahmah menunjukkan belangnya sebagai media yang memang sengaja dibuat untuk memecah belah kaum muslimin dengan isu perbedaan mazhab. Pemerintah Iran yang Syiah tanpa memperhatikan mazhab yang dianut muslim Rohingnya telah memberikan langsung bantuan kemanusiaannya, sebagaimana yang telah dilakukan Iran untuk penduduk Gaza dan Palestina secara umum, sehingga petinggi HAMAS menyatakan terimakasih secara terbuka untuk Iran.

Dibagian akhir, arrahmah.com menulis, “Ironisnya, Para pengamat menjelaskan bahwa pemerintah Iran tidak pernah mengutuk aksi pembantaian terhadap kaum muslimin di Burma, padahal dia mengaku sebagai negara Islam. Justru yang mengeluarkan kecaman dan kutukan adalah negara-negara Barat yang notabenenya negara kafir.”

Tanpa menjelaskan siapa saja pengamat yang dimaksud arrahmah telah terang-terangan menyebarkan fitnah tanpa rasa malu. Media-media nasional banyak menurunkan berita mengenai pengecaman pemerintah dan rakyat Iran atas tragedi kemanusiaan muslim Rohingnya di Myanmar.

Mulai dari Rahbar, Presiden, Parlemen, Ulama, Kelompok-kelompok solidaritas mahasiswa dan rakyat  Iran secara umum mengutuk keras aksi biadab tersebut dan turut pula mengecam, bungkamnya organisasi-organisasi internasional termasuk raja-raja Arab yang menunjukkan sikap pasif mengenai peristiwa tersebut.

Kecaman Majma Jahani Ahlul Bait as atas tragedi kemanusiaan di Myanmar terhadap muslim Rohingnya bisa dilihat di link berikut:

http://abna.ir/data.asp?lang=12&Id=331870

Arrahmah.com wajib di blokir (1) : memfitnah Rahbar nikah mut’ah dan pencabulan

Membantah Arrahmah:

Tidak Malu, Arrahmah.com Ketahuan Bohong Lagi

Dalam kunjungannya, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei bercengkrama dengan Aramita, putri Dr. Rezai Nejad, termasuk menciuminya berkali-kali. Pemberitaan Arrahmah.com dengan menyebut bahwa itu adalah nikah mut’ah dan pencabulan, adalah berita bohong dan fitnah yang tendensius.

Menurut Kantor Berita ABNA, hanya dengan modal video yang telah dipenggal dengan durasi 15 detik, redaksi Arrahmah.com merilis berita, “Mut’ah Dini, Kedok Khomaeni Mencabuli Balita” yang diposting selasa [12/5]. Video tersebut diupload sehari sebelumnya oleh Muhammad Abdurrahman Al Amiry [11/5] yang diberi title, “Khaminai  Pendeta Syiah Mencabuli Anak Kecil – Biarkan Video yang Berbicara”.

Ada kesimpangsiuran nama, diberita Arrahmah, ditulis Khomaeni sementara video di youtube ditulis Khaminai. Jika yang dimaksud redaksi Arrahmah dengan Khomaeni itu adalah Imam Khomaeni pendiri Republik Islam Iran yang wafat 3 Juni 1989, maka jelas salah besar. Sebab yang ditampilkan dalam video tersebut adalah Ayatullah Sayyid Ali Khamanei, atau biasa disingkat Imam Ali Khamanei. Muhammad Abdurrahman Al Amiry, mungkin hanya salah ketik saja ketika menulisnya dengan nama Khaminai.

Versi dengan durasi lebih panjang dari video penggalan tersebut, telah diposting oleh Muhammad Jahangir, dengan durasi 11 menit 47 detik pada tanggal 27 Februari 2012 dengan judul berbahasa Persia, “Didar_e Rahbar_e Inqilab ba Khanevadeh Syahid Rezai Nejad” yang artinya, “Pertemuan Pemimpin Besar Revolusi dengan Keluarga Syahid Rezai Nejad.”

Syahid Rezai Nejad atau lengkapnya DR. Dariush Rezai Nejad adalah ilmuan nuklir Iran yang terbunuh oleh aksi teror pada 23 Juli 2011, dalam usia 35 tahun. Laporan dari media pers Iran menyebutkan bahwa Rezai Nejad ditembak lima kali oleh pengendara motor yang tidak dikenal ketika ia bersama istrinya sedang menunggu anak mereka didepan sebuah taman kanak-kanak di Teheran. Dalam serangan tersebut istrinya juga mengalami luka tembak namun nyawanya sempat tertolong. Putrinya Aramita Rezai Nejad [5 tahun], melihat didepan matanya, kedua orangtuanya bersimbah darah. Nyawa pakar nuklir dari Universitas Industri Nasharuddin Thusi Tehran tersebut tidak dapat diselamatkan. Peluru yang ditembakkan teroris menembus leher, tangan dan dadanya.

Iran sendiri menuding dinas rahasia Israel “Mossad” berada dibalik pembunuhan tersebut. Yang menurut pemerintah Iran, AS dan Israel sengaja hendak membunuh para ilmuan Iran yang dicurigai bekerja dalam program pembuatan senjata nuklir. Sementara media Israel menyebutkan, intelijen Israel meyakini Rezai Nejad bertugas membuat mesin pemicu senjata nuklir menyusul kerjasama lembaga riset Rezai Nejad dengan Kementerian Pertahanan Iran.

19 Desember 2011. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, mengunjungi rumah keluarga almarhum Dr. Dariush Rezai Nejad dan mengucapkan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban. Dalam penyampaiannya, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei berkata, “Hari ini kemajuan ilmu dan tekhnologi Iran menjadi kebanggan bagi dunia Islam sekaligus menjadi ancaman dan kekhawatiran bagi musuh-musuh Islam.”

Dalam kunjungan tersebut, Ayatullah Sayyid Ali Khamanei juga bercengkrama dengan Aramita, putri Dr. Rezai Nejad, termasuk menciuminya berkali-kali. Pemberitaan Arrahmah.com dengan menyebut bahwa itu adalah nikah mut’ah dan pencabulan, adalah berita bohong dan fitnah yang tendensius.

Berita lengkap mengenai kunjungan Rahbar tersebut dalam bahasa Persia bisa dibaca di link berikut:

http://farsi.khamenei.ir/news-content?id=18692

Sementara versi video dengan durasi lebih panjang bisa dilihat disini:

https://www.youtube.com/watch?v=Cz53_V4TwtU

Berikut foto-foto kunjungan Rahbar ke rumah keluarga Syahid Rezai Nejad:

Keanehan Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah Ketika Membela Mu’awiyah bin Abu Sufyaan

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Keanehan Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah Ketika Membela Mu’awiyah bin Abu Sufyaan

Ada kitab yang cukup “menyenangkan” untuk dipelajari yaitu kitab Istidlaal Asy Syii’ah Bi Sunnah Nabawiyyah Fii Miizaan An Naqd Li ‘Ilmiy yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad Sa’iid Dimasyiqiyyah. Ada begitu banyak isu Sunni Syi’ah yang dibahas dalam kitab yang tebalnya lebih dari seribu halaman ini. Tentu saja dalam tulisan ini kami tidak akan membahas keseluruhan kitab tersebut. Kami hanya akan menampilkan sedikit keanehan Syaikh tersebut dalam membela Mu’awiyah bin Abu Sufyaan.

Isu yang dibahas ini terkait dengan hadis shahih [hasan menurut sebagian ulama] tentang Mu’awiyah bin Abu Sufyaan yang meminum minuman yang diharamkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Secara khusus kami sudah membuat tulisan tersendiri mengenai isu tersebut yang dapat dilihat disini

  1. Hadis Mu’awiyah Meminum Minuman Yang Haram
  2. Hadis Mu’awiyah Meminum Minuman Yang Diharamkan : Membantah Syubhat Salafiy

Dalam tulisan ini kami lebih memfokuskan pada keanehan Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah ketika membahas hadis tersebut.

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا زيد بن الحباب حدثني حسين ثنا عبد الله بن بريدة قال دخلت أنا وأبي على معاوية فأجلسنا على الفرش ثم أتينا بالطعام فأكلنا ثم أتينا بالشراب فشرب معاوية ثم ناول أبي ثم قال ما شربته منذ حرمه رسول الله صلى الله عليه و سلم ثم قال معاوية كنت أجمل شباب قريش وأجوده ثغرا وما شيء كنت أجد له لذة كما كنت أجده وأنا شاب غير اللبن أو إنسان حسن الحديث يحدثني

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab yang berkata telah menceritakan kepadaku Husain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Buraidah yang berkata “Aku dan Ayahku datang  ke tempat Muawiyah, ia mempersilakan kami duduk di atas tikar. Ia menyajikan makanan kepada kami maka kami memakannya kemudian ia menyajikan kepada kami minuman, ia meminumnya dan menawarkan kepada ayahku. [Ayahku] berkata “Aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Kemudian Mu’awiyah berkata “aku dahulu adalah pemuda Quraisy yang paling rupawan dan paling bagus giginya, tidak ada kenikmatan yang kumiliki seperti yang kudapatkan ketika muda selain susu dan orang yang baik perkataannya berbicara kepadaku” [Musnad Ahmad 5/347 no 22991, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat”]

.

.

.

Keanehan pertama adalah Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah seolah tidak mengenal perawi yang bernama Zaid bin Hubaab. Ia menukil pendapat Syaikh Al Albani yang terkesan aneh, Syaikh berkata

Kitab Istidlal Syi'ah

Kitab Istidlal Syi'ah hal 977

فإن في السند زيد بن الحباب وهو كما قال الشيخ الألباني « ضعيف. لم يوثقه غير ابن حبان» معجم أسامي الرواة2/75 نقلا عن ضعيف الأدب المفرد77

Sesungguhnya di dalam sanadnya ada Zaid bin Hubaab dan ia sebagaimana dikatakan Syaikh Al Albaaniy dhaif, tidak ada yang menyatakan tsiqat kecuali Ibnu Hibban (Mu’jam Asaamiy Ar Ruwaah 2/75 yang menukil dari Dhaif Adabul Mufraad hal 77) [kitab Istidlaal Asy Syii’ah Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah hal 977]

Perkataan “dhaif” tersebut adalah dusta atas Syaikh Al Albaaniy. Kalau kita melihat apa yang tertulis dalam kitab Mu’jam Asaamiy Ar Ruwaah 2/75 maka tidak ada disebutkan disana lafaz “dhaif”.

Mu'jam Asamiy Ruwah jilid 2

Mu'jam Asamiy Ruwah hal 75

Zaid bin Hubaab [Dhaiif Al Adab hal 77] “tidak ditsiqatkan selain Ibnu Hibban” [7/179] [6/314]

Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah dan penulis kitab Mu’jam Asaamiy Ar Ruwaah telah keliru dalam memahami perkataan Syaikh Al Albaaniy. Inilah yang dikatakan Syaikh Al Albaaniy dalam Dhaif Adabul Mufraad hal 77.

Dhaif Adabul Mufrad

Dhaif Adabul Mufrad hal 77

‘Umar bin ‘Utsman yang ada dalam sanad hadis ini “fiihi jahalah” [tidak dikenal] karena tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Zaid bin Hubaab dan ia yang meriwayatkan disini, dan tidak ditsiqatkan selain Ibnu Hibbaan [7/179]

Mereka mengira lafaz “tidak ditsiqatkan selain Ibnu Hibbaan” itu tertuju pada Zaid bin Hubaab padahal sebenarnya itu tertuju pada ‘Umar bin ‘Utsman. Syaikh Al Albaaniy dengan jelas menyebutkan sumber penukilan Ibnu Hibbaan yaitu Ats Tsiqat 7/179.

Ats Tsiqat juz 7 hal 179

عمر بن عُثْمَان بْن عَبْد الرَّحْمَن بْن سعيد بن يَرْبُوع الصرم المَخْزُومِي الْقرشِي من أهل الْمَدِينَة يَرْوِي عَن جده عَن أَبِيه وَله صُحْبَة رَوَى عَنْهُ زيد بْن الْحباب وَهُوَ أَخُو مُحَمَّد بْن عُثْمَان

‘Umar bin ‘Utsman bin ‘Abdurrahman bin Sa’iid bin Yarbuu’ Ash Sharam Al Makhzuumiy Al Qurasyiy termasuk penduduk Madinah, meriwayatkan dari kakeknya dari ayahnya yang merupakan sahabat Nabi, telah meriwayatkan darinya Zaid bin Hubaab, dan ia adalah saudara Muhammad bin ‘Utsman [Ats Tsiqat Ibnu Hibbaan 7/179]

Kami merasa begitu aneh dengan adanya kesalahan seperti ini. Menurut kami, orang-orang yang akrab dengan kitab Rijal dan kitab Hadis tidak akan mudah terjatuh dalam kesalahan seperti ini. Zaid bin Hubaab adalah perawi yang dikenal tsiqat atau shaduq, jadi kalau ada ulama yang mengatakan ia dhaif dan tidak ditsiqatkan selain Ibnu Hibbaan maka pikiran mereka pasti akan terusik untuk meneliti kebenarannya dan tidak mencukupkan diri dengan nukilan yang terasa asing.

.

.

.

.

Keanehan lain yaitu ketika Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah menyatakan lafaz “aku tidak meminumnya sejak diharamkan Rasulullah” sebagai perkataan Mu’awiyah. Syaikh berhujjah ini adalah perkataan Mu’awiyah dengan dasar bahwa hadis ini dimasukkan oleh para hafizh seperti Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Katsiir dalam Musnad Mu’awiyah bin Abu Sufyaan

Kitab Istidlal Syi'ah hal 978

قوله (ما شربته منذ..) هذا من كلام معاوية وليس من كلام عبد الله بن بريدة وهكذا جعله جميع الحفاظ في مسند معاوية مثل ابن كثير في جامع المسانيد والإمام أحمد في المسند في مسند معاوية

Perkataan [aku tidak meminumnya sejak…] ini adalah perkataan Mu’awiyah bukan perkataan ‘Abdullah bin Buraidah dan karena itulah sekumpulan hafizh memasukkannya dalam Musnad Mu’awiyah seperti Ibnu Katsiir dalam Jaami’ Al Masaanid dan Imam Ahmad dalam kitab Musnad dalam Musnad Mu’awiyah [kitab Istidlaal Asy Syii’ah Syaikh ‘Abdurrahman Dimasyiqiyyah hal 978]

Sungguh perkataan ini luar biasa anehnya jika tidak mau dikatakan dusta. Justru para hafizh seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Katsiir dan Ibnu Hajar memasukkan hadis tersebut dalam Musnad atau hadis Buraidah Al Aslamiy [radiallahu ‘anhu].

Musnad Ahmad bin Hanbal tahqiq Ahmad Ma’bad ‘Abdul Kariim juz 10 hal 5435-5436

Musnad Ahmad tahqiq Ahmad Ma'bad

Hadis Buraidah Musnad Ahmad1 Hadis Buraidah Musnad Ahmad2

Sengaja kami ambil dari kitab Musnad Ahmad tahqiq Ahmad Ma’bad Abdul Kariim bukan tahqiq Ahmad Syaakir atau tahqiq Syu’aib Al Arnauth untuk memudahkan para pembaca melihat bahwa hadis tersebut dimasukkan Imam Ahmad bin Hanbal dalam bab “Hadis Buraidah Al Aslamiy”

Jaami’ Al Masaaniid Ibnu Katsiir juz 1 hal 471 hadis no 937

Jami Masanid Ibnu Katsir juz 1

Jami Masanid Ibnu Katsir juz 1 hal 471

Bisa dilihat di sudut kiri atas bahwa hadis tersebut masuk dalam musnad Buraidah Al Aslamiy [radiallahu ‘anhu] atau bisa diperhatikan daftar isi berikut dimana hal 471 itu masuk dalam Musnad Buraidah yaitu bab riwayat ‘Abdullah bin Buraidah dari Buraidah Al Aslamiy

Jami Masanid Ibnu Katsir juz 1 hal 679

Ithaaful Maharah Ibnu Hajar juz 2 hal 597 hadis no 2354

Ittihaful Ibnu Hajar juz 2

Ithaaful Ibnu Hajar juz 2 hal 597

Silakan perhatikan sudut kiri atas, itu adalah bukti bahwa Ibnu Hajar memasukkan hadis tersebut dalam Musnad Buraidah yaitu riwayat ‘Abdullah bin Buraidah darinya. Kesimpulannya perkataan tersebut adalah perkataan Buraidah [radiallahu ‘anhu] maka oleh karena itulah para hafizh memasukkan hadis tersebut dalam Musnad atau Hadis Buraidah.

Fenomena keanehan para ulama ketika membela Mu’awiyah bin Abu Sufyan bukanlah hal yang baru bagi kami. Dan wajar kalau keanehan ini diikuti oleh para pengikut mereka. Hanya orang-orang objektif saja yang bisa melihat keanehan ini dan meninggalkannya. Semoga Allah SWT senantiasa menunjukkan kepada kami jalan yang lurus.

 

Doktrin Raj’ah Itu Tidak Benar?

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Doktrin Raj’ah Itu Tidak Benar?

Raj’ah adalah perkara masyhur dalam mazhab Syi’ah dan tidak dikenal di sisi mazhab Ahlus Sunnah [walaupun hakikatnya memang ada]. Seperti perkara-perkara lain yang sering dituduhkan kepada mazhab Syi’ah maka konsep Raj’ah ini juga telah disalahartikan dan dijadikan bahan celaan atas mazhab Syi’ah.

Mazhab Syi’ah bukan mazhab yang muncul kemarin sore. Mazhab Syi’ah sudah berkembang begitu lama bahkan hampir sama tuanya dengan mazhab Ahlus Sunnah. Jadi lucu sekali kalau ada sekelompok pencela mengesankan seolah mazhab Syi’ah tidak memiliki dalil shahih tentang Raj’ah di sisi mereka. Tulisan ini berusaha meluruskan ulah salah satu pencela Syi’ah yang cukup dikenal di kalangan pengikutnya yaitu Abul-Jauzaa’. Tulisan Abul Jauzaa’ tersebut dapat para pembaca lihat disitusnya dengan judul Doktrin Raj’ah Itu Tidak benar.

Inti dari tulisan Abul-Jauzaa’ adalah menunjukkan bahwa doktrin Raj’ah itu tidak benar. Ia berhujjah dengan dua poin berikut

  1. Riwayat Syi’ah yang menurut Abul Jauzaa’ menafikan keyakinan Raj’ah
  2. Al Qur’anul Kariim yang menurut Abul Jauzaa’ bertentangan dengan Raj’ah

Insya Allah kami akan membuktikan betapa lemahnya hujjah Abul Jauzaa’ tersebut dalam membantah doktrin Raj’ah dalam mazhab Syi’ah. Sebelumnya kami katakan bahwa kami meluruskan syubhat Abul Jauzaa’ bukan berarti kami membenarkan paham Raj’ah dalam mazhab Syi’ah tetapi kami tidak suka kepada orang yang membuat kedustaan atas mazhab Syi’ah.

.

.

.

Dalil Shahih Tentang Raj’ah Dalam Mazhab Syi’ah

Raj’ah secara lughah bermakna kembali ke kehidupan dunia setelah kematian. Hal ini diantaranya disebutkan oleh Muhammad bin Abu Bakar Ar Raaziy

وفلان يؤمن ( بالرجعة ) أي بالرجوع إلى الدنيا بعد الموت

Dan Fulaan percaya Raj’ah yaitu kembali ke kehidupan dunia setelah kematian [Mukhtaar Ash Shihaah Ar Raaziy hal 99]

Dan di sisi Syi’ah makna Raj’ah seperti halnya makna lughah di atas hanya saja itu berlaku khusus untuk orang-orang tertentu. Raj’ah sudah menjadi kesepakatan diantara sebagian besar ulama Syi’ah walaupun memang ada juga ulama Syi’ah yang menolak keyakinan Raj’ah. Diantara para ulama yang meyakini Raj’ah sebagian besar memahami maknanya secara zhahir sebagai kebangkitan fisik setelah kematian sedangkan sebagian kecil menakwilkannya sebagai kembalinya daulah atau kekuasaan Imam Ahlul Bait dengan kemunculan Imam Mahdiy.

Kami tidak akan menjelaskan secara rinci perbedaan-perbedaan tersebut. Kami lebih memfokuskan pada pendapat manakah yang benar dan sesuai dengan dalil shahih di sisi mazhab Syi’ah. Raj’ah dalam mazhab Syi’ah termasuk keyakinan yang ditetapkan melalui riwayat-riwayat Ahlul Bait. Cukup banyak riwayat Imam Ahlul Bait yang menyebutkan tentang Raj’ah dan sebagian besar riwayat tersebut dhaif sedangkan salah satu riwayat yang shahih adalah sebagai berikut

Kamil Ziyaraat

Kamil Ziyaraat hal 138 Kamil Ziyaraat hal 139

حدثني محمد بن جعفر الرزاز، عن محمد بن الحسين بن ابي الخطاب واحمد بن الحسن بن علي بن فضال، عن ابيه، عن مروان بن مسلم، عن بريد بن معاوية العجلي، قال: قلت لابي عبد الله (عليه السلام): يابن رسول الله أخبرني عن اسماعيل الذي ذكره الله في كتابه حيث يقول: (واذكر في الكتاب اسماعيل انه كان صادق الوعد وكان رسولا نبيا)، أكان اسماعيل بن ابراهيم (عليه السلام)، فان الناس يزعمون انه اسماعيل بن ابراهيم، فقال (عليه السلام): ان اسماعيل مات قبل ابراهيم، وان ابراهيم كان حجة لله كلها قائما صاحب شريعة، فالي من ارسل اسماعيل اذن، فقلت: جعلت فداك فمن كان. قال (عليه السلام): ذاك اسماعيل بن حزقيل النبي (عليه السلام)، بعثه الله الى قومه فكذبوه فقتلوه وسلخوا وجهه، فغضب الله له عليهم فوجه إليه اسطاطائيل ملك العذاب، فقال له: يا اسماعيل انا اسطاطائيل ملك العذاب وجهني اليك رب العزة لاعذب قومك بانواع العذاب ان شئت، فقال له اسماعيل: لا حاجة لي في ذلك. فأوحى الله إليه فما حاجتك يا اسماعيل، فقال: يا رب انك أخذت الميثاق لنفسك بالربوبية ولمحمد بالنبوة ولاوصيائه بالولاية وأخبرت خير خلقك بما تفعل امته بالحسين بن علي (عليهما السلام) من بعد نبيها، وانك وعدت الحسين (عليه السلام) ان تكر الى الدنيا حتى ينتقم بنفسه ممن فعل ذلك به، فحاجتي اليك يا رب ان تكرني الى الدنيا حتى انتقم ممن فعل ذلك بي كما تكر الحسين (عليه السلام)، فوعد الله اسماعيل بن حزقيل ذلك، فهو يكر مع الحسين (عليه السلام

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Ja’far Ar Razzaaz dari Muhammad bin Husain Abil Khaththaab dan Ahmad bin Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl dari Ayahnya dari Marwaan bin Muslim dari Buraid bin Mu’awiyah Al Ijliy yang berkata aku berkata kepada Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] “wahai putra Rasulullah kabarkan kepadaku tentang Isma’iil yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya dimana Dia berfirman “ceritakanlah kisah Isma’iil di dalam Al Qur’an, sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi”. Apakah ia adalah Isma’iil bin Ibrahiim [‘alaihis salaam]? orang-orang menganggap bahwa ia adalah Isma’iil bin Ibrahim. Beliau [‘alaihis salaam] berkata “Isma’iil wafat sebelum Ibrahiim dan sesungguhnya Ibrahim adalah hujjah Allah yang berdiri membawa syari’at maka kepada siapa Isma’iil diutus. Aku berkata “aku menjadi tebusanmu maka siapakah ia?”. Beliau berkata “ Isma’iil bin Hizqiil seorang Nabi [‘alaihis salaam] yang diutus Allah kepada kaumnya maka mereka mendustakannya dan membunuhnya dan mereka menguliti wajahnya maka Allah murka dan mengirimkan malaikat adzab bernama Isthathail. [Malaikat] itu berkata kepadanya “wahai Isma’il aku adalah malaikat adzab, Allah mengutusku kepadamu agar mengadzab kaummu dengan berbagai adzab jika engaku mau”. Isma’iil berkata kepadanya “aku tidak menginginkan hal itu” maka Allah mengirimkan wahyu kepadanya “apa yang engkau inginkan wahai Isma’iil”. Ia berkata “wahai Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah berjanji dengan Dirimu dengan Rububiyah-Mu dan Kenabian Muhammad dan Wilayah para washiy. Dan Engkau telah mengabarkan kepada makhluk terbaik-Mu apa yang akan dilakukan umatnya kepada Husain bin ‘Aliy sepeninggal Nabi mereka. Dan sesungguhnya Engkau berjanji bahwa Husain akan kembali ke dunia hingga membalas apa yang telah mereka lakukan terhadapnya. Maka aku menginginkannya wahai Tuhanku agar mengembalikanku ke dunia untuk membalas apa yang mereka lakukan terhadapku sebagaimana Engkau mengembalikan Husain [‘alaihis salaam]. Maka Allah menjanjikan kepada Isma’iil bin Hizqiil bahwa ia akan kembali bersama Husain [‘alaihis salaam] [Kaamil Az Ziyaaraat Ibnu Quuluwaih hal 138-139 hadis no 163]

Riwayat di atas sanadnya shahih berdasarkan standar ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah, berikut keterangan para perawinya

  1. Muhammad bin Ja’far Ar Razzaaz ia adalah syaikh [guru] Ja’far bin Muhammad bin Quuluwaih dalam Kaamil Az Ziyaaraat maka ia seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 509]
  2. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang tsiqat yang tinggi kedudukannya, banyak memiliki riwayat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]. Ahmad bin Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl adalah seorang yang tsiqat dalam hadis hanya saja ia Fathahiy [Rijal An Najasyiy hal 80 no 194]
  3. Hasan bin ‘Aliy bin Fadhl seorang yang tinggi kedudukannya, zuhud, wara’ dan tsiqat dalam hadis, awalnya ia seorang Fathahiy kemudian ruju’ [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 47-48]
  4. Marwan bin Muslim adalah seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 419 no 1120]
  5. Buraid bin Mu’awiyah termasuk sahabat Imam Baqir dan Imam Shadiq, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 82]

Riwayat tersebut menyatakan dengan jelas kembalinya Husain bin ‘Aliy [‘alaihis salaam] ke kehidupan dunia. Maka sesuai dengan dalil shahih pendapat yang benar tentang Raj’ah di sisi mazhab Syi’ah adalah pendapat sebagian besar ulama Syi’ah mengenai kebangkitan fisik orang-orang tertentu ke kehidupan dunia sedangkan pendapat yang menakwilkan Raj’ah dan pendapat yang menolak adanya Raj’ah terbukti keliru.

Adapun mengenai siapa orang-orang yang akan mengalami Raj’ah tersebut maka hal itu tergantung dengan apakah ada riwayat shahih yang menyebutkannya. Seperti riwayat shahih di atas yang menyebutkan bahwa Husain bin ‘Aliy dan mereka yang menzhaliminya akan mengalami Raj’ah. Jika tidak ada riwayat shahih yang menyebutkannya maka tidak bisa ditetapkan apalagi jika riwayat tersebut dhaif di sisi mazhab Syi’ah seperti riwayat-riwayat yang menyebutkan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar [radiallahu ‘anhu] dan Aisyah [radiallahu ‘anha] akan mengalami Raj’ah dan menerima hukuman dari Imam Mahdiy. Anehnya justru riwayat-riwayat dhaif ini yang dijadikan hujjah oleh para pencela untuk merendahkan mazhab Syi’ah. Kami juga tidak menutup mata terhadap sebagian pengikut Syi’ah yang seenaknya berhujjah dengan riwayat dhaif tetapi kesalahan sebagian orang ini tidaklah pantas dijadikan tolak ukur untuk menghukum mazhab Syi’ah.

.

.

.

Syubhat Abul Jauzaa’

Syubhat pertama Abul Jauzaa’ adalah menggunakan riwayat hadis Syi’ah yang menurutnya menafikan keyakinan Raj’ah di sisi mazhab Syi’ah.

حدثنا محمد بن الحسن قال: حدثنا محمد بن الحسن الصفار. قال: حدثنا أحمد بن محمد، عن عثمان بن عيسى عن صالح بن ميثم، عن عباية الأسدي، قال: سمعت أمير المؤمنين عليه السلام وهو مسجل وأنا قائم عليه: لآتين بمصر مبيرا ولأنقضن دمشق حجرا حجرا، ولأخرجن اليهود والنصارى من [كل] كور العرب، ولأسوقن العرب بعصاي هذه قال: قلت له: يا أمير المؤمنين كأنك تخبرنا أنك تحيي بعد ما تموت! فقال: هيهات يا عباية ذهبت في غير مذهب يعقله رجل مني

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan Ash Shaffaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad dari ‘Utsman bin ‘Iisa dari Shaalih bin Maitsam dari ‘Abaayah Al Asadiy yang berkata aku mendengar Amirul Mukminin [‘alaihis salaam] yang waktu itu ia sedang duduk bersandar dan aku berdiri [Beliau berkata] “Aku akan membuat sebuah mimbar di Mesir, dan aku akan merobohkan Damaskus, batu demi batu. Aku juga akan mengeluarkan orang-orang Yahudi dan Nashrani dari seluruh wilayah ‘Arab. Aku akan memimpin ‘Arab dengan tongkatku ini”. Aku berkata kepadanya “Wahai Amiirul Mukminiin, seolah-olah engkau mengabarkan kepada kami bahwa engkau akan hidup kembali setelah wafat?”. [Beliau] berkata “Jauh sekali wahai ‘Abaayah. Hal itu akan dilakukan oleh seseorang dariku” [Ma’aaniy Al Akhbaar Syaikh Ash Shaduuq hal 406-407]

Setelah membawakan riwayat Syaikh Ash Shaaduq ini, Abul Jauzaa’ berkata

Mari kita cermati bersama riwayat di atas. Ketika ditanya apakah ia akan hidup kembali setelah kematiannya, maka ‘Aliy bin Abi Thaalib membantahnya. Artinya, tidak ada raj’ah baginya (‘Aliy). Jika ia tidak akan hidup kembali – padahal ia adalah penghulunya imam Ahlul-Bait – tentu orang-orang selainnya terlebih lagi

Perkataan Abul Jauzaa’ tersebut bisa dikatakan sia-sia karena riwayat yang ia jadikan hujjah tidak shahih sanadnya sesuai dengan standar ilmu hadis mazhab Syi’ah. Berikut pembahasan kedudukan riwayat tersebut sesuai standar ilmu Rijal Syi’ah.

Dalam sanad riwayat Syaikh Ash Shaaduq terdapat perawi yang tidak dikenal dan tidak tsabit tautsiq terhadapnya salah satunya yaitu ‘Abaayah Al Asadiy. Berikut pembahasan tentangnya.

Sayyid Al Khu’iy dalam kitabnya Mu’jam Rijal Al Hadiits menyebutkan biografi ‘Abaayah bin Rib’iy Al Asadiy dan tidak menyebutkan adanya jarh dan ta’dil terhadapnya, hanya saja terdapat nukilan bahwa Al Barqiy memasukkannya dalam golongan sahabat khusus Imam Aliy [Mu’jam Rijal Al Hadiits 10/274-275 no 6228]

Sumber penukilan Sayyid Al Khu’iy adalah kitab Rijal Al Barqiy dimana penulisnya menyebutkan golongan sahabat khusus Imam Aliy dan salah satunya terdapat nama ‘Abaayah bin Rib’iy Al Asadiy [Rijal Al Barqiy hal 4-5]

Lafaz “sahabat khusus Imam Aliy” sebenarnya bernilai mamduh [pujian] tetapi yang menjadi masalah disini adalah kitab Rijal Al Barqiy tidak jelas siapa penulisnya. Sebagian ulama Syi’ah mengira ia adalah Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy tetapi berdasarkan pendapat yang rajih hal ini keliru dengan qarinah berikut

  1. Penulis kitab Rijal Al Barqiy malah memasukkan nama Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy dalam golongan sahabat Imam Abu Ja’far Ats Tsaniy [Rijal Al Barqiy hal 56-57]. Termasuk hal yang aneh jika penulis kitab Rijal menyebut nama sendiri dalam kitabnya.
  2. Penulis kitab Rijal Al Barqiy juga memasukkan nama murid Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy yaitu ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy dimana penulis kitab tersebut berkata “Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy dimana aku telah mendengar darinya” [Rijal Al Barqiy hal 60-61]. Maka jelas disini bahwa penulis kitab Rijal Al Barqiy adalah murid dari ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy.
  3. Penulis kitab Rijal Al Barqiy juga memasukkan nama Muhammad bin Khalid Al Barqiy dalam kitabnya ke dalam golongan sahabat Imam Abu Hasan Al Awwaal dan Imam Abu Hasan Ar Ridhaa [Rijal Al Barqiy hal 55]. Abu ‘Abdullah Muhammad bin Khalid Al Barqiy adalah ayah dari Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy tetapi penulis kitab tersebut tidak menyebutkan bahwa Muhammad bin Khalid adalah ayahnya. Kalau untuk perawi seperti ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyaariy ia menyebutkan dengan jelas telah mendengar darinya maka mengapa Ayahnya sendiri yang jauh lebih dekat dengannya tidak disebutkan dengan jelas bahwa itu ayahnya dan ia telah mendengar darinya.

Maka berdasarkan pendapat yang rajih dapat disimpulkan bahwa penulis kitab Rijal Al Barqiy bukanlah Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy seorang perawi yang tsiqat dan masyhur dalam mazhab Syi’ah.

Ulama Syi’ah Syaikh Ja’far As Subhaaniy menyebutkan bahwa kemungkinan penulis kitab Rijal tersebut adalah ‘Abdullah bin Ahmad Al Barqiy gurunya Al Kulainiy atau Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad Al Barqiy gurunya Syaikh Ash Shaduuq, dimana Syaikh merajihkan Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad Al Barqiy [Kulliyyaat Fii Ilm Ar Rijal Syaikh Ja’far As Subhaaniy hal 72].

Jika memang penulis kitab Rijal Al Barqiy adalah Ahmad bin ‘Abdullah bin Ahmad Al Barqiy yaitu cucu dari Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy maka ia seorang yang majhul [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 31].

Penjelasan terperinci tentang siapa penulis kitab Rijal Al Barqiy ini sebenarnya membutuhkan pembahasan tersendiri jadi kami tinggalkan isu ini agar bisa didiskusikan disini oleh para penuntut ilmu dari kalangan orang-orang Syi’ah. Sejauh ini kesimpulan yang kami dapatkan kitab tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.

Maka lafaz “sahabat khusus Imam Aliy” untuk ‘Abaayah Al Asadiy tersebut tidak tsabit sebagai predikat mamduh [pujian] untuknya. Oleh karena tidak ada tautsiq serta mamduh [pujian] lain untuknya maka kedudukannya adalah majhul. Syaikh Muhammad Haadiy Al Maazandaraaniy pernah berkata

وفي بعض النسخ عباية الأسدي، وهو عباية بن ربعى الأسدي، وهو مجهول الحال

Dan dalam sebagian naskah tertulis ‘Abaayah Al Asadiy dan ia adalah ‘Abaayah bin Rib’iy Al Asadiy seorang yang majhul hal [Kitab Syarh Furuu’ Al Kaafiy Syaikh Muhammad Haadiy Al Maazandaraaniy 2/322]

.

.

Syaikh Ash Shaaduq setelah membawakan riwayat di atas, ia mengatakan bahwa Imam Aliy sedang taqiyah terhadap ‘Abaayah dalam hadis ini

قال مصنف هذا الكتاب – رضي الله عنه -: إن أمير المؤمنين عليه السلام اتقى عباية الأسدي في هذا الحديث وأتقي ابن الكواء في الحديث السابق لأنهما كانا غير محتملين لأسرار آل محمد عليهم السلام

Berkata penulis kitab ini [radiallahu ‘anhu] “Sesungguhnya Amiirul Mukminiin [‘alaihis salaam] taqiyyah terhadap ‘Abaayah Al Asadiy dalam hadis ini dan taqiyyah terhadap Ibnu Kawaa’ dalam hadis sebelumnya karena keduanya bukan pembawa rahasia keluarga Muhammad [‘alaihimus salaam]. [Ma’aaniy Al Akhbaar Syaikh Ash Shaduuq hal 407].

Pernyataan ini walaupun menurut kami bukan hujjah yang kuat tetapi bisa dimaklumi karena mungkin di sisi Syaikh Ash Shaduuq telah shahih berbagai riwayat tentang Raj’ah. Biasanya para pencela suka merendahkan argumen salah seorang ulama Syi’ah yang menyatakan suatu hadis sebagai taqiyyah. Para pencela mengatakan kalau dengan mudah dikatakan taqiyyah seenaknya maka bagaimana membedakan riwayat yang bukan taqiyyah dengan riwayat taqiyyah.

Orang jahil yang penuh kesombongan maka ia akan selamanya jahil, jika mereka para pencela itu mau meneliti dengan objektif maka sangat mudah untuk memahami kapan para ulama Syi’ah menyatakan suatu hadis sebagai taqiyyah. Prinsipnya adalah jika suatu hadis secara zhahir bertentangan dengan ushul mazhab Syi’ah dimana ushul mazhab tersebut berdiri atas riwayat shahih yang lebih kuat dan lebih banyak maka saat itulah hadis yang bertentangan tersebut dikatakan taqiyyah. Ini adalah ciri khas metode self defense suatu mazhab yang menopang dirinya sendiri.

Metode seperti ini yang bercorak self defense juga dikenal di dalam ilmu hadis mazhab Ahlus Sunnah. Para pembaca mungkin pernah mendengar kaidah perawi tsiqat dengan mazhab menyimpang atau penganut bid’ah di sisi Ahlus Sunnah seperti Syi’ah, Khawarij, Nashibiy, Qadariy, Jahmiy dan yang lainnya jika hadisnya menguatkan mazhab atau bid’ah yang mereka anut maka hadisnya tertolak. Metode ini jelas menopang diri mazhab itu sendiri karena walaupun perawi tersebut tsiqat dan hadisnya shahih tetapi jika hadisnya menguatkan bid’ahnya maka hadisnya tidak diterima. Dengan kata lain mazhab yang dikatakan bid’ah atau menyimpang oleh Ahlus Sunnah itu akan tetap dianggap sesat walaupun para perawi tersebut tsiqat dan memiliki bukti hadis shahih yang mereka punya atas keyakinan mereka.

.

.

Syubhat berikutnya yang dijadikan hujjah oleh Abul Jauzaa’ adalah menggunakan ayat Al Qur’an yang dalam pikiran waham khayal-nya menafikan Raj’ah. Abul Jauzaa’ berkata

Perkataan yang disandarkan kepada ‘Aliy dalam riwayat di atas sesuai dengan firman Allah ta’ala – sedangkan firman Allah sebenarnya tidak butuh pada riwayat Syi’ah tersebut – :

حَتّىَ إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبّ ارْجِعُونِ * لَعَلّيَ أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلاّ إِنّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىَ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampal hari mereka dibangkitkan” [QS. Al-Mukminuun : 99-100].

وَقَالَ الّذِينَ أُوتُواْ الْعِلْمَ وَالإِيمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللّهِ إِلَىَ يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَـَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَـَكِنّكُمْ كُنتمْ لاَ تَعْلَمُونَ

“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan (kepada orang-orang yang kafir): ‘Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit; maka inilah hari berbangkit itu akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya)” [QS. Ar-Ruum : 56].

Dua ayat ini menjadi dalil yang jelas bahwa seseorang yang telah meninggal berada di alam kuburnya (barzakh) tidaklah dibangkitkan kecuali nanti di hari dibangkitkan setelah ditiup sangkakala.

Sesungguhnya Al Qur’an tidaklah butuh dengan perkataan Abul Jauzaa di atas. Kedua ayat tersebut memang menyatakan orang-orang yang sudah meninggal akan dibangkitkan nanti pada hari kiamat akan tetapi jika hal ini dijadikan alasan bertentangan dengan konsep Raj’ah maka itu keliru. Karena Al Qur’an sendiri telah menjelaskan bahwa atas izin Allah orang-orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali, contohnya sebagai berikut

وَإِذْ قُلْتُمْ يَامُوسَى لَنْ نُؤْمِنَ لَكَ حَتَّى نَرَى اللهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ ثُمَّ بَعَثْنَاكُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan [ingatlah], ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang”, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur [QS Al Baqarah : 55-56]

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا كَذَلِكَ يُحْيِ اللَّهُ الْمَوْتَى وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dan [Ingatlah], ketika kalian membunuh seorang manusia lalu kalian saling tuduh menuduh tentang itu, dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kalian sembunyikan. Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kalian berpikir.” [QS Al Baqarah: 72-73]

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَهُمْ أُلُوفٌ حَذَرَ الْمَوْتِ فَقَالَ لَهُمُ اللَّهُ مُوتُوا ثُمَّ أَحْيَاهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka sebanyak ribuan orang karena takut mati, lalu Allah berfirman kepada mereka “Matilah kalian” kemudian Allah menghidupkan mereka kembali. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur [QS Al Baqarah : 243]

أَوْ كَالَّذِي مَرَّ عَلَى قَرْيَةٍ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّى يُحْيِي هَذِهِ اللَّهُ بَعْدَ مَوْتِهَا فَأَمَاتَهُ اللَّهُ مِائَةَ عَامٍ ثُمَّ بَعَثَهُ قَالَ كَمْ لَبِثْتَ قَالَ لَبِثْتُ يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالَ بَلْ لَبِثْتَ مِائَةَ عَامٍ فَانْظُرْ إِلَى طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمْ يَتَسَنَّهْ وَانْظُرْ إِلَى حِمَارِكَ وَلِنَجْعَلَكَ آيَةً لِلنَّاسِ وَانْظُرْ إِلَى الْعِظَامِ كَيْفَ نُنْشِزُهَا ثُمَّ نَكْسُوهَا لَحْمًا فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُ قَالَ أَعْلَمُ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Atau apakah [kamu tidak memperhatikan] orang yang melalui suatu negeri yang [temboknya] telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah ia hancur?” Maka Allah mematikan orang itu selama seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Dia menjawab “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini selama seratus tahun lamanya. Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah, dan lihatlah kepada keledaimu [yang telah menjadi tulang belulang] Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya [bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati] diapun berkata “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS Al Baqarah : 259]

.

.

Contoh lain adalah diriwayatkan dari Imam ‘Aliy bin Abi Thalib dengan sanad yang jayyid bahwa Beliau pernah berkata tentang Dzulqarnain

حدثنا وكيع عن بسام عن أبي الطفيل عن علي قال كان رجلا صالحا ناصح الله فنصحه  فضرب على قرنه الأيمن فمات فأحياه الله ثم ضرب على قرنه الأيسر فمات فأحياه الله وفيكم مثله

Telah menceritakan kepada kami Wakii’ dari Bassaam dari Abi Thufail dari ‘Aliy yang berkata “Ia adalah hamba yang shalih, memberikan petunjuk [orang-orang] kepada Allah maka Allah memberikan petunjuk kepadanya. Maka [kaumnya] memukul kepalanya sebelah kanan maka ia mati. Allah menghidupkannya kembali kemudian [kaumnya] memukul kepalanya sebelah kiri maka ia mati kemudian Allah menghidupkannya kembali. Dan diantara kalian ada orang yang sepertinya [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 10/443-444 no 32511]

Sanad Atsar di atas jayyid para perawinya tsiqat dan shaduq. Wakii’ bin Jarraah seorang tsiqat hafizh ahli ibadah [Taqriib At Tahdziib 2/283-284]. Bassaam bin ‘Abdullah Ash Shairafiy seorang yang shaduq [Taqriib At Tahdziib 1/124]. Abu Thufail yaitu ‘Aamir bin Watsilah seorang sahabat Nabi yang paling akhir wafat [Taqriib At Tahdziib 1/464]

Atsar di atas juga disebutkan Ibnu Abi Aashim dalam As Sunnah no 1353 dan Al Ahaadu Wal Matsaaniy 1/141 no 168, Ath Thahawiy dalam Syarh Musykil Al Atsar 5/121 dengan jalan sanad Bassaam Ash Shairafiy dari Abu Thufail dari ‘Aliy. Bassaam dalam periwayatan dari Abu Thufail memiliki mutaba’ah dari

  1. Habiib bin Abi Tsabit sebagaimana disebutkan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 10/444 no 32512 dan Ath Thabariy dalam Tafsir Ath Thabariy 17/370, tanpa tambahan lafaz “dan diantara kalian ada orang sepertinya”
  2. Qaasim bin Abi Bazzah sebagaimana disebutkan Ath Thabariy dalam Tafsir Ath Thabariy 17/370 dengan tambahan lafaz “dan diantara kalian pada hari ini ada orang yang sepertinya”
  3. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abi Husain sebagaimana diriwayatkan Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy dalam Al Ahaadiits Al Mukhtaarah no 555 tanpa tambahan lafaz “dan diantara kalian ada orang sepertinya”.

Maka tidak diragukan lagi bahwa perkataan tersebut shahih dari Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam]. Sedikit catatan tentang lafaz “dan diantara kalian ada orang sepertinya”. Sebagian ulama mengisyaratkan bahwa lafaz ini merujuk pada diri ‘Aliy bin Abi Thalib sendiri. Atsar ini sering dijadikan hujjah oleh pengikut Syi’ah sebagai bukti bahwa Imam Aliy sendiri akan mengalami raj’ah sebagaimana Dzulqarnain di atas yang mati kemudian dibangkitkan kembali.

Sayangnya hujjah Syi’ah tersebut tidaklah kuat karena lafaz tersebut tidaklah sharih [tegas] dalam hal apa penyerupaan yang dimaksud tersebut. Apakah dalam keseluruhan sifat yang disebutkan atau hanya mencakup sebagian sifat saja?. Sebagian ulama seperti Ath Thahawiy menafsirkan makna lafaz tersebut serupa dalam hal kedudukan ‘Aliy bagi umat ini seperti kedudukan Dzulqarnain bagi umatnya bukan dalam hal dibangkitkan setelah mati [Syarh Musykil Al Atsar Ath Thahawiy 5/123]. Tidak ada qarinah yang menguatkan mana penafsiran yang paling benar oleh karena itu kami tidak berhujjah dengan lafaz tersebut.

Hujjah kami disini adalah pada fakta riwayat Dzulqarnain itu dihidupkan kembali setelah mati dan itu terjadi bukan pada hari kiamat. Apakah Abul Jauzaa’ tersebut akan mendustakan hal ini dengan ayat Al Qur’an sebelumnya yang ia kutip bahwa seseorang yang sudah mati tidak akan dibangkitkan kecuali pada hari kebangkitan. Hal ini membuktikan kesalahan Abul Jauzaa’ dalam berhujjah dengan ayat Al Qur’an tersebut. Ayat Al Qur’an yang ia jadikan hujjah tidaklah menafikan adanya kebangkitan hidup setelah mati bagi sebagian orang yang terjadi atas kehendak Allah SWT sebelum hari kiamat.

.

.

.

Pandangan Kami Tentang Raj’ah

Jika Raj’ah yang dimaksud bermakna adanya orang-orang yang hidup kembali setelah kematiannya maka ayat Al Qur’an dan atsar Imam Aliy bin Abi Thalib telah menetapkannya sebagaimana kami kutip di atas maka tidak diragukan lagi kami meyakini kebenarannya.

Tetapi jika Raj’ah yang dimaksud bersifat khusus yaitu sebagaimana yang dikatakan mazhab Syi’ah yaitu kebangkitan imam Ahlul Bait dan sebagian musuh-musuhnya yang zalim sebelum hari kiamat nanti maka kami tidak menemukan adanya riwayat-riwayat shahih di sisi kami yang dapat dijadikan hujjah maka kami tidak meyakini kebenarannya.

Yang ingin kami tekankan dalam tulisan ini adalah hujjah sebagian orang jahil bahwa Al Qur’an menentang konsep Raj’ah yaitu “adanya orang yang hidup kembali setelah mati” padahal justru Al Qur’an sendiri menetapkannya. Memang Al Qur’an tidak pernah menetapkan kalau imam ahlul bait dan musuh-musuhnya akan mengalami Raj’ah dan orang-orang Syi’ah sendiri berhujjah dalam masalah ini dengan riwayat-riwayat Ahlul Bait di sisi mereka.

Perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah dalam hal Raj’ah ini bukan terletak pada perbedaan hakikat Raj’ah yang bermakna hidup atau bangkit kembali setelah mati tetapi terletak pada individu-individu yang mengalami Raj’ah dan tujuan dari Raj’ah tersebut. Ahlus Sunnah menetapkan siapa saja yang pernah mengalami hidup kembali setelah mati itu berdasarkan dalil yang shahih di sisi mereka sebagaimana Syi’ah menetapkan siapa yang akan hidup kembali setelah mati berdasarkan dalil shahih di sisi mereka. Adapun orang-orang jahil sok mengatakan itu bertentangan dengan Al Qur’an padahal hakikatnya merekalah yang jahil dan dusta.

Kejahilan Bantahan Abu Azif Tentang Riwayat Abdullah bin Saabu’

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Baru-baru ini muncul blog yang sepertinya dibuat dengan tujuan “Membantah Secondprince”. Awalnya kami pikir ini sesuatu yang menarik tetapi setelah membaca tulisannya ternyata orang ini adalah orang yang memang sudah pernah diskusi dengan kami sok membantah sana sini padahal hakikatnya jahil dalam ilmu. Bahkan setelah ditunjukkan kaidah ilmu yang benar ia tetap bersikeras dengan kejahilannya.

Orang ini sok ingin membela Abul-Jauzaa padahal ia tidak memahami kesalahan Abul-Jauzaa dalam tulisannya tersebut. Bersikeras membela sesuatu yang salah hanya menunjukkan kesombongan dan kejahilan. Berikut akan kami tunjukkan betapa rusaknya bantahan tersebut. Seperti biasa bantahan dari orang tersebut akan kami blockquote. Bagi para pembaca yang ingin mengetahui tulisan kami yang dibantah blog tersebut maka silakan lihat tulisan kami Takhrij Atsar Aliy bin Abi Thalib : Rasulullah Tidak Pernah Berwasiat Tentang Kepemimpinan Kepada Dirinya

.

.

.

Mengenai riwayat Ali ra sebagai wali bagi kaum muslimin memang ditetapkan dari riwayat yang shahih, akan tetapi pengertian wali diartikan dengan kepemimpinan merupakan kesalahan, apalagi sampai mempunyai anggapan bahwa Abu Bakar cs merampas hak kepemimpinan Ali, kalau sudah beranggapan seperti itu maka tidak syak lagi status dia sebagai syiah rafidhah.

Hal ini dibuktikan dengan ke-shahih-an riwayat yang sedang kita bahas.

Lebih baik kami tidak usah sibuk dengan tuduhan atau prasangka dustanya. Kami langsung saja menunjukkan hujjah yang ilmiah dan objektif dan mari kita lihat nanti bagaimana ia akan bersikeras untuk menolak. Riwayat tentang Imam Aliy sebagai Waliy kaum muslimin adalah sebagai berikut

حدثنا يونس قال حدثنا أبو داود قال حدثنا أبو عوانة عن أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن بن عباس ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لعلي أنت ولي كل مؤمن بعدي

Telah menceritakan kepada kami Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Dawud yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Abu Balj dari ‘Amru bin Maimun dari Ibnu ‘Abbaas bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Aliy “engkau adalah Waliy bagi setiap mukmin sepeninggalku” [Musnad Abu Dawud Ath Thayalisiy no 2875]

ثنا محمد بن المثنى حدثنا يحيى بن حماد عن أبي عوانة عن يحيى ابن سليم أبي بلج عن عمرو بن ميمون عن ابن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لعلي أنت مني بمنزلة هارون من موسى إلا أنك لست نبيا إنه لا ينبغي أن أذهب إلا وأنت خليفتي في كل مؤمن من بعدي

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamad dari Abi ‘Awanah dari Yahya bin Sulaim Abi Balj dari ‘Amr bin Maimun dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda kepada Aliy “KedudukanMu di sisiKu sama seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja Engkau bukan seorang Nabi. Sesungguhnya tidak sepatutnya Aku pergi kecuali Engkau sebagai KhalifahKu untuk setiap mukmin sepeninggalku. [As Sunnah Ibnu Abi Ashim no 1222]

Jadi apa yang perlu ditafsirkan, lha hadisnya memang menyebutkan kalau Waliy yang dimaksud adalah Khalifah. Makna Waliy sebagai Khalifah itu sudah dikenal di kalangan orang Arab bahkan dikalangan para sahabat. Buktinya adalah sahabat Nabi yaitu Abu Bakar [radiallahu ‘anhu] sendiri menggunakan kata Waliy untuk menyatakan kepemimpinannya


Al Bidayah juz 9

Al Bidayah juz 9 hal 414

وقال محمد بن إسحاق بن يسار : حدثني الزهري ، حدثني أنس بن مالك قال : لما بويع أبو بكر في السقيفة وكان الغد ، جلس أبو بكر على المنبر ، فقام عمر فتكلم قبل أبي بكر ، فحمد الله وأثنى عليه بما هو أهله ، ثم قال : أيها الناس ، إني قد قلت لكم بالأمس مقالة ما كانت مما وجدتها في كتاب الله ، ولا كانت عهدا عهده إلي رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولكني قد كنت أرى أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سيدبر أمرنا – يقول : يكون آخرنا – وإن الله قد أبقى فيكم كتابه الذي به هدى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فإن اعتصمتم به هداكم الله لما كان هداه له ، وإن الله قد جمع أمركم على خيركم ; صاحب رسول الله صلى الله عليه وسلم وثاني اثنين إذ هما في الغار ، فقوموا فبايعوه . فبايع الناس أبا بكر بيعة العامة بعد بيعة السقيفة ، ثم تكلم أبو بكر فحمد الله وأثنى عليه بالذي هو أهله ، ثم قال : أما بعد ، أيها الناس ، فإني قد وليت عليكم ولست بخيركم ، فإن أحسنت فأعينوني ، وإن أسأت فقوموني ، الصدق أمانة ، والكذب خيانة ، والضعيف فيكم قوي عندي حتى أريح عليه حقه ، إن شاء الله ، والقوي فيكم ضعيف حتى آخذ الحق منه ، إن شاء الله ، لا يدع قوم الجهاد في سبيل الله إلا ضربهم الله بالذل ، ولا تشيع الفاحشة في قوم إلا عمهم الله بالبلاء ، أطيعوني ما أطعت الله ورسوله ، فإذا عصيت الله ورسوله ، فلا طاعة لي عليكم ، قوموا إلى صلاتكم يرحمكم الله . وهذا إسناد صحيح

Dan Muhammad bin Ishaq berkata telah menceritakan kepada kami Az Zuhri yang berkata telah menceritakan kepada kami Anas bin Malik yang berkata ketika Abu Bakar dibaiat di Saqifah, esok harinya ia duduk diatas mimbar dan Umar berdiri di sampingnya memulai pembicaraan sebelum Abu Bakar. Umar mulai memuji Allah sebagai pemilik segala pujian, kemudian berkata “wahai manusia aku telah katakan kepada kalian kemarin perkataan yang tidak terdapat dalam kitabullah dan tidak pula pernah diberikan Rasulullah SAW kepadaku. Aku berpandangan bahwa Rasulullah SAW akan hidup terus dan mengatur urusan kita maksudnya Rasulullah akan wafat setelah kita. Dan sesungguhnya Allah SWT telah meninggalkan kitab-Nya yang membimbing Rasulullah SAW maka jika kalian berpegang teguh dengannya Allah SWT akan membimbing kalian sebagaimana Allah SWT membimbing Nabi-Nya. Sesungguhnya Allah SWT telah mengumpulkan urusan kalian pada orang yang terbaik diantara kalian yaitu Sahabat Rasulullah dan orang yang kedua ketika ia dan Rasulullah SAW bersembunyi di dalam gua. Maka berdirilah kalian dan berilah baiat kalian kepadanya. Maka orang-orang membaiat Abu Bakar secara umum setelah baiat di saqifah. Kemudian Abu Bakar berkata setelah memuji Allah SWT pemilik segala pujian. Ia berkata “Amma ba’du, wahai manusia sekalian sesungguhnya aku telah dipilih sebagai [Waliy] pimpinan atas kalian dan bukanlah aku orang yang terbaik diantara kalian maka jika berbuat kebaikan bantulah aku. Jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku, kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah khianat. Orang yang lemah diantara kalian ia kuanggap kuat hingga aku mengembalikan haknya kepadanya jika Allah menghendaki. Sebaliknya yang kuat diantara kalian aku anggap lemah hingga aku mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya jika Allah mengehendaki. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah timpakan kehinaan dan tidaklah kekejian tersebar di suatu kaum kecuali adzab Allah ditimpakan kepada kaum tersebut. Taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan RasulNya. Tetapi jika aku tidak mentaati Allah dan RasulNya maka tiada kewajiban untuk taat kepadaku. Sekarang berdirilah untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian. Riwayat ini sanadnya shahih. [Al Bidayah Wan Nihayah Ibnu Katsir 9/414-415]

.

.

Apa yang mas SP tulis secara panjang lebar tersebut hanyalah berupa teori-teori kemungkinan saja, faktanya Abu Bakar bin Ayyasy menjayyid-kan sanad tersebut.

Dan kalau bermain teori kemungkinan, maka dapat juga dikemukakan teori lawan : bahwa Abu Bakar bin Ayyasy setelah tahu sanad Salamah dan Salim, maka beliau merajihkan sanad Salim.

Masyhur Ishaq bin Ibrahim merupakan murid Abu Bakar bin Ayyasy dan sima’ nya dengan lafaz sami’tu, dua hal tersebut menjadi qarinah bahwa kemungkinan besar riwayat ini terjadi ketika Abu Bakar tidak ikhtilath.

Seperti biasa ini hanya jawaban akal-akalan orang yang tidak paham kaidah ilmu hadis atau sebenarnya ia paham tetapi pura-pura bodoh. Jika seorang perawi dikatakan ikhtilath maka yang harus diperhatikan adalah apakah perawi yang meriwayatkan darinya adalah perawi yang meriwayatkan sebelum ikhtilath atau sesudah ikhtilath. Maka perinciannya adalah sebagai berikut

  1. Jika perawi yang meriwayatkan darinya adalah perawi yang mendengar sebelum ikhtilath maka hadisnya diterima
  2. Jika perawi yang meriwayatkan darinya adalah perawi yang mendengar setelah ikhtilath maka hadisnya ditolak
  3. Jika perawi yang meriwayatkan darinya tidak diketahui mendengar sebelum atau sesudah ikhtilath maka hukumnya tawaqquf sampai ada qarinah yang menguatkan kalau perawi tersebut mendengar darinya sebelum ikhtilath. Salah satu qarinah yang sering dipakai para ulama adalah periwayatan Bukhariy dan Muslim. Jika riwayat perawi tersebut dari gurunya yang ikhtilath dipakai Bukhariy dan Muslim maka ini termasuk qarinah yang menguatkan kalau perawi tersebut mendengar dari gurunya sebelum ikhtilath.

Aneh bin ajaib dalam bantahan terhadap riwayat ‘Amru bin Sufyaan, orang ini berlagak sok paham dan mengucapkan kalimat yang menentang dirinya sendiri

Ikhtilath Abu Azif

JAWAB :

Benar Qutaibah dari Jarir telah disebutkan dalam shahih Bukhari dan Muslim, akan tetapi ketika disebutkan dalam riwayat selain mereka berdua harus dilihat, bila mendengar sebelum ikhtilath diterima, bila mendengarnya sesudah ikhtilath atau tidak diketahui sebelum atau sesudah ikhtilath, maka riwayatnya ditolak.

Ishaaq bin Ibrahim tidak diketahui mendengar dari Abu Bakar bin ‘Ayasy sebelum atau sesudah ikhtilath maka sesuai dengan perkataannya sendiri di atas seharusnya riwayat Ishaaq dari Abu Bakar itu ditolak. Jadi ngapain dia sok membela atau berhujjah dengan riwayat Abu Bakar bin ‘Ayasy tersebut.

Dan lucunya orang ini mengatakan bahwa Ishaaq sebagai murid Abu Bakar dan menggunakan lafal sami’tu adalah qarinah Ishaaq mendengar Abu Bakar sebelum ikhtilath. Alangkah mengherankannya orang ini, bagaimana bisa hal seperti itu jadi qarinah perawi mendengar sebelum ikhtilath. Ilmu hadis dari mana itu?. Orang ini memang ajib selalu punya kaidah ilmu hadis yang mencengangkan dan tidak tahu datang dari mana.

.

.

Seandainya toh, riwayat tautsiq ini lemah, tidak mempengaruhi terangkatnya ke-majhulan Abdullah bin Sabu’. (Salim, Tsa’labah, Ibnu Hibban, dan Ibnu Hajar mengenal Abdullah bin Sabu’)

Ucapan ini tidak ada nilai hujjahnya. Abdullah bin Sabu’ berdasarkan pendapat yang rajih adalah perawi majhul ‘ain. Berikut kita bahas perkataan orang ini. Ia mengatakan

Salim mengenal Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini tidaklah mengangkat jahalah Abdullah bin Sabu’. Memang dalam kitab Rijal disebutkan bahwa tidak ada yang meriwayatkan dari Abdullah bin Saabu’ kecuali Salim bin Abi Ja’d [Mizan Al I’tidal Adz Dzahabiy 4/105 no 4348]. Hukum perawi yang dikenal hanya satu orang yang meriwayatkan darinya adalah majhul ‘ain.

Tetapi kalau diteliti kembali maka periwayatan Salim bin Abil Ja’d dari Abdullah bin Sabu’ tidak tsabit dengan dua alasan

  1. Riwayat tersebut mudhtharib sebagaimana telah kami bahas sebelumnya dan sumber idhthirabnya berasal dari A’masy
  2. Jika alasan mudhtharib ini tidak diterima oleh orang itu maka tetap saja riwayat tersebut tidak tsabit sampai Salim bin Abil Ja’d karena tadlis A’masy dan ia disini meriwayatkan dengan ‘an anah.

Jadi kesimpulannya hal ini tidaklah mengangkat predikat majhul ‘ain dari ‘Abdullah bin Sabu’.

Tsa’labah mengenal Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini tidaklah benar. Riwayat Tsa’labah bin Yazid yang dimaksud tidak tsabit sanadnya hingga Tsa’labah karena ‘an anah A’masy dan Habiib bin Abi Tsabit padahal keduanya mudallis. Maka bagaimana bisa dikatakan Tsa’labah mengenal ‘Abdullah bin Sabu’ kalau riwayat Tsa’labah tersebut dhaif. Kalau memang riwayat tersebut shahih sanadnya sampai Tsa’labah bin Yaziid maka baru bisa dikatakan Tsa’labah mengenal ‘Abdullah bin Sabu’.

Ibnu Hibban mengenal ‘Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini tidaklah mengangkat predikat majhul ‘ain Abdullah bin Sabu’. Hal ini disebabkan Ibnu Hibban sering memasukkan perawi majhul dalam kitabnya Ats Tsiqat [termasuk perawi majhul ‘ain]. Siapapun yang meneliti kitab Ibnu Hibban maka ia akan menemukan kalau disisi Ibnu Hibban, predikat majhul atau jahalah perawi bukanlah cacat. Oleh karena itu wajar jika Ibnu Hibban memasukkan para perawi majhul [baik majhul ‘ain atau majhul hal] yang tidak dikenal jarh-nya [cacatnya] dalam kitabnya Ats Tsiqat. Kalau Ibnu Hibban sering memasukkan perawi majhul ‘ain dalam Ats Tsiqat maka bagaimana bisa dikatakan hal itu menghilangkan predikat majhul ‘ain perawi tersebut.

Ibnu Hajar mengenal ‘Abdullah bin Sabu’. Perkataan ini juga patut diberikan catatan. Mungkin orang ini hanya melihat apa yang disebutkan Ibnu Hajar dalam kitab Taqrib At Tahdzib bahwa ia menyatakan Abdullah bin Sabu’ maqbul. Hal ini tidaklah benar dan menyalahi metode Ibnu Hajar sendiri karena Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib tidak menukil satupun tautsiq terhadap Abdullah bin Sabu’ dan menyebutkan hanya satu orang perawi yang meriwayatkan darinya yaitu Salim bin Abil Ja’d.

Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Basyaar Awad Ma’ruf mengkoreksi perkataan maqbul Ibnu Hajar dan yang benar adalah majhul. Keduanya berkata

Tahrir Taqrib At Tahdziib no 3340

Majhul, tafarrud [menyendiri] dalam meriwayatkan darinya Salim bin Abil Ja’d, tidak ada yang mentsiqatkan selain Ibnu Hibban dan demikianlah disebutkan Adz Dzahabiy dalam Al Miizan, hanya memiliki satu hadis yang dikeluarkan An Nasa’iy dalam Musnad ‘Aliy, terdapat perselisihan [sanad-sanadnya] atas Al A’masy, [hadis tersebut] tidak shahih [Tahrir Taqriib At Tahdziib no 3340]

.

.

Mas SP, karena salah sangka maka terlontarlah ucapan makian kepada Ust. Abul Jauza, padahal perkataan Ust. Abul Jauza begini :

Bakr bin ‘Ayyaasy dalam sanad riwayat ini mempunyai mutaba’ah dari : Jarir dan Abdullah bin Dawud. (yaitu dalam sanad Salamah)

Mudah-mudahan ini bukan akhlaq asli mas SP.

Ada baiknya jika orang ini sebelum berbicara meneliti dahulu permasalahan yang dibicarakan dengan baik. Abul Jauzaa itu sudah jelas keliru, ini buktinya saya tunjukkan langsung dari situsnya

Kesalahan Abul Jauzaa

Perhatikan poin no 2 tersebut yaitu sanad riwayat dengan jalan dari Al A’masy dari Salamah bin Kuhail dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Ini adalah salah satu riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Al A’masy. Kemudian Abul Jauzaa mengatakan

Abu Bakar bin ‘Ayyasy dalam sanad riwayat ini mempunyai mutaba’ah dari Jarir bin ‘Abdul Hamiid dan ‘Abdullah bin Dawud

Bukankah itu sudah sangat jelas “sanad riwayat ini” yang dituliskan Abul Jauzaa adalah

Al A’masy—Salamah bin Kuhail—-Abdullah bin Sabu’—‘Aliy

Sekarang silakan orang itu lihat riwayat Jarir bin ‘Abdul Hamiid dan riwayat ‘Abdullah bin Dawud yang disebutkan Abul Jauzaa. Silakan lihat salah satu riwayat Jarir bin ‘Abdul Hamiid yang disebutkan Abul Jauzaa, misalnya dari Abu Ya’la dalam catatan kaki no 14

Kesalahan Abul Jauzaa1

حَدَّثَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبُعٍ، قَالَ: خَطَبَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ

Kemudian silakan lihat salah satu riwayat ‘Abdullah bin Dawud yang disebutkan Abul Jauzaa, misalnya dari Aajurriy dalam catatan kaki no 18

Kesalahan Abul Jauzaa2

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْحَمِيدِ الْوَاسِطِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ، قَالَ: سَمِعْتُ الأَعْمَشَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَبْعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ

Bagaimanakah sanad riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawuud tersebut?. Orang yang punya mata akan melihat sanad tersebut adalah

Al A’masy—Salamah bin Kuhail—Salim bin Abil Ja’d—Abdullah bin Sabu’—‘Aliy

Silakan bandingkan dengan apa yang ditulis Abul Jauzaa “sanad riwayat ini” yaitu riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy

Al A’masy—Salamah bin Kuhail—-Abdullah bin Sabu’—‘Aliy

Sudah jelas berbeda, riwayat Jarir dan Abdullah bin Dawud menyebutkan Salim bin Abil Ja’d dalam sanadnya sedangkan riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy tidak menyebutkannya. Dalam pembahasan sanad-sanad yang idhthirab jelas sangat penting membedakan sanad-sanadnya untuk mengetahui sumber idhthirab atau dimana letak idhthirabnya. Orang ini sok ingin membela Abul Jauzaa padahal sudah jelas-jelas Abul Jauzaa itu keliru dalam masalah ini.

.

.

Mas SP, sekali lagi salah sangka, riwayat Abu Bakar bin Ayyasy dari Salim adalah shahih karena ada Waki’, sedangkan riwayat Yahya bin Yaman menurut Ust. Abul Jauza lemah karena (mungkin) tidak ada mutaba’ahnya. Dalam tautsiq Abu Bakar yang dibicarakan jalur sanad, sedang dalam riwayat Yahya yang dibicarakan adalah status perawi yang menyebabkan kelemahan riwayat. Harap dibedakan ini !.

Maaf justru orang ini yang salah sangka karena tidak meneliti dengan baik apa yang ditulis Abul Jauzaa’. Abul Jauzaa’ itu telah berhujjah dengan hadis Abu Bakar bin ‘Ayyasy dalam masalah tautsiq terhadap Abdullah bin Sabu’ yaitu riwayat Abu Bakar bin ‘Ayyasy yang berkata “menurutku, hadis ini sanadnya jayyid”. Kalau memang Abul Jauzaa’ melemahkan Yahya bin Yaman maka orang semisalnya yaitu Abu Bakar bin ‘Ayyasy harusnya lemah juga oleh karena itu tautsiq terhadap ‘Abdullah bin Sabu’ itu hakikatnya lemah tidak bisa dijadikan hujjah.

.

.

Riwayat Bakr sudah sah dijadikan qarinah tarjih, karena kelemahannya hanya berkisar dalam masalah hafalan dan munkarul hadits bahkan ada yang menta’dilnya. Dan tentunya yang ditarjih pertama kali adalah riwayat tanpa Abdullah bin Sabu’, akan tetapi ternyata ada qarinah lain pula bahwa sanad yang lain pun dapat terangkat pula.

Riwayat Bakr itu kedudukannya dhaif bahkan lebih dhaif dari riwayat Al A’masy. Kelemahannya ada pada Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair. Pendapat yang rajih Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair keduanya adalah perawi yang dhaif tetapi dapat dijadikan i’tibar. Hadis yang didalamnya terdapat seorang perawi yang dhaif dapat dijadikan i’tibar maka hadisnya bisa dikuatkan oleh hadis lain yang memiliki kelemahan yang sama atau lebih kuat sanadnya. Adapun jika dalam satu sanad hadis terdapat dua orang perawi yang dhaif dapat dijadikan i’tibar maka kedudukannya menjadi lebih berat dan jatuh ke derajat hadis dhaif.

Sebenarnya cukup dengan apa yang dinukil oleh Abul Jauzaa’ mengenai kelemahan Bakr bin Bakkaar dan Hakim bin Jubair

Kesalahan Abul Jauzaa3

Silakan para pembaca pikirkan jika dalam sanad suatu hadis terdapat dua cacat yaitu perawi yang dilemahkan jumhur ulama dan perawi yang dhaif maka apakah hadisnya bisa dipakai sebagai hujjah? Bukankah seharusnya riwayat tersebut ditolak dan tidak bisa dipakai.

.

.

SP memotong pengertian perkataan Ibnu Asaakir, lanjutan perkataan Ibnu Asaakir adalah : Salim HANYALAH  meriwayatkan melalui perantaraan Abdullah bin Sabu’, pernyataan ini umum terhadap seluruh periwayatan Salim dari Ali ra. Termasuk riwayat Bakr ini-pun menjadi bersambung kepada Ali, termasuk riwayat riwayat mursal Salim dari Ali, dan termasuk pula riwayat mausul Salim dari Abdullah bin Sabu dari Ali ra.

Orang ini berdusta, kami tidak pernah memotong pengertian perkataan Ibnu Asakir. Inilah yang kami katakan

Secondprince

Silakan perhatikan kami justru menuliskan lafaz hanyalah meriwayatkan melalui perantara Abdullah bin Sabu’.

Adapun ucapannya bahwa pernyataan itu umum terhadap seluruh periwayatan Salim dari Aliy adalah ucapan ngawur yang muncul dari kejahilan. Yang dimaksud Ibnu Asakir itu adalah khusus dalam hadis yang sedang dibahas ini. Perkataan Ibnu Asakir tersebut justru berlandaskan pada riwayat Al A’masy.

Silakan cek berikut yang tertulis dalam kitab Ibnu Asakir setelah ia menyebutkan riwayat Bakr bin Bakkaar


Tarikh Ibnu Asakir juz42

Tarikh Ibnu Asakir juz42 hal 538

سالم لم يسمعه من علي وإنما يرويه عن عبد الله بن سبع

أخبرناه أبو علي الحسن بن المظفر أنا أبو محمد ح وأخبرنا أبو القاسم بن الحصين أنا أبو علي قالا أنا أحمد بن جعفر نا عبد الله حدثني أبي نا وكيع نا الأعمش عن سالم بن أبي الجعد عن عبد الله بن سبع قال سمعت عليا

Saalim tidak mendengarnya [hadis itu] dari ‘Aliy, sesungguhnya ia hanyalah meriwayatkannya [hadis itu] dari ‘Abdullah bin Sabu’.

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Aliy Hasan bin Muzhaffar yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad. Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Qaasim bin Hushain yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy. Keduanya [Abu Muhammad dan Abu ‘Aliy] berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ja’far yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Wakii’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Salim bin Abil Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’ yang berkata aku mendengar Aliy…[Tarikh Ibnu Asakir 42/538]

Jadi sebenarnya Ibnu Asakir menjadikan riwayat A’masy sebagai hujjah untuk menutup cacat riwayat Bakr bin Bakkaar. Padahal sebenarnya riwayat A’masy itu sendiri mudhtharib.

Sedangkan Abul Jauzaa’ justru menjadikan riwayat Bakr bin Bakkaar sebagai qarinah tarjih riwayat Al A’masy yang idhthirab. Kemudian Abul Jauzaa’ mengakali riwayat Bakr bahwa Salim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sabu’ padahal zhahir sanad riwayat Bakr tidak menyebutkan Abdullah bin Sabu’. Ucapan Ibnu Asakir itu tidak bisa dijadikan hujjah oleh Abul Jauzaa’ karena Ibnu Asakir justru sedang berhujjah dengan riwayat A’masy yang sedang ingin ditarjih oleh Abul Jauzaa’.

.

.

Bisa saja ada qarinah tarjih untuk menghilangkan idhthirabnya, yaitu riwayat Bakr, atau sanad asli (yang lengkap dan urut sesuai dengan riwayat yang tidak lengkap).

Atau kedua-duanya dipakai, alias riwayat tersebut tidak idhthirab.

Melihat beberapa jalan riwayat di atas nampak bahwasannya jalan riwayat ‘Abdullah bin Sabu’ ini yang raajih adalah dari jalan Saalim bin Abi Ja’d dari ‘Abdullah bin Sabu’ – wallaahu a’lam –. Atau bisa jadi jalan riwayat Salamah bin Kuhail, dari ‘Abdullah bin Sabu’ juga mahfudh; atau dengan kata lain : ‘Abdullah bin Sabu’ mempunyai dua jalan, yaitu dari Saalim bin Abi Ja’d dan Salamah bin Kuhail. Dalam hal ini, Al-A’masy meriwayatkan dari dua jalan tersebut.

Orang ini sok mengatakan sebelumnya bahwa penjelasan kami hanya berupa teori-teori kemungkinan saja tetapi kenyataannya justru ia sekarang yang bersemangat berandai-andai teori kemungkinan. Toh gampang saja ditolak perkataannya bahwa itu cuma kemungkinan tidak ada nilai hujjah.

Dalam ilmu hadis sudah jelas status riwayat seperti Al A’masy ini adalah mudhtahrib. Untuk menghilangkan idhthirab ya silakan dinilai dan ditarjih mana riwayat A’masy tersebut yang mahfuzh. Tetapi tentu saja mentarjih itu harus dengan dasar ilmiah bukan ala teori kemungkinan orang ini. Bahkan hakikatnya tidak ada satupun riwayat Al A’masy yang mahfuzh sampai Saalim bin Abil Ja’d dan Salamah bin Kuhail karena ‘an anah A’masy dan ia seorang mudallis yang juga sering melakukan tadlis dari para perawi dhaif.

.

.

Ini adalah kesalahan utama mas SP, yaitu menghukumi idhthirab riwayat A’masy.

Perhatikan riwayat no. 3, jalur ini adalah jalur asli dari ke-4 riwayat A’masy.

Dimana jalaur 1,2 dan 4 urut-urutannya tidak menyalahi jalur ke-3 ini.

Jalur 1,2 dan 4 adalah sesuai dengan ungkapan kalau A’masy rajin menyambung sanad kalau malas beliau memutus sanad, dikarenakan situasi yang berbeda-beda ketika menyampaikan hadits.

Maaf rasanya lebih masuk akal untuk dikatakan idhthirab ketimbang ocehan orang ini yang tidak karuan. Orang ini mengatakan jalur asli adalah yang no 3, nah itu dasarnya dari mana?. Seenak perutnya bilang itu yang asli, terus jalur yang lain [no 1, 2 dan 4] itu tidak asli?. Dengan logika orang ini maka bisa dipastikan yang namanya hadis mudhtharib akan lenyap dari muka bumi. Mengapa? Karena setiap ada hadis yang mudhtharib bisa ditarjih seenaknya yang ini asli dan yang lain tidak asli.

Memang ada kasus dimana seorang perawi tsiqat karena banyak melakukan rihlah dalam menuntut ilmu maka ia memiliki banyak guru, sehingga seolah-olah dalam suatu hadis sanadnya berselisih padahal sebenarnya itu berasal dari guru-gurunya yang berbeda. Tetapi dalam kasus riwayat Al A’masy di atas hal ini tidak bisa diterapkan dengan alasan berikut

  1. Al A’masy telah dikenal sering melakukan tadlis dari para perawi dhaif oleh karena itu ‘an anah A’masy dari perawi yang tidak dikenal sebagai Syaikh [gurunya] yang ia banyak meriwayatkan darinya [seperti Abu Wail, Ibrahim, dan Abu Shalih] tidak bisa dianggap muttashil. Maka disini ‘an anah A’masy dari Salamah bin Kuhail dan Salim bin Abil Ja’d tidak bisa dianggap bahwa A’masy memang mendengar dari keduanya. Bahkan bisa saja dalam riwayat ini dikatakan A’masy melakukan tadlis dari para perawi dhaif tertentu dan para perawi dhaif inilah yang terkadang menambah atau mengurangi sanadnya. Kemungkinan ini bisa saja terjadi mengingat semua riwayat disampaikan A’masy dengan lafaz ‘an anah.
  2. Perselisihan sanad ini tidak hanya pada thabaqat guru Al A’masy tetapi juga pada thabaqat di atasnya. Misalnya Salim bin Abil Ja’d terdapat perselisihan apakah ia meriwayatkan dari Aliy atau dari Abdullah bin Sabu’ dari Aliy. Kemudian Salamah bin Kuhail juga terdapat perselisihan apakah ia meriwayatkan dari Salim bin Abil Ja’d atau dari Abdullah bin Sabu’.

.

.

Sehingga cacat riwayat ini hanyalah tadlis dari A’masy saja.

Mengenai Abdullah bin Sabu’ tidak benar ia majhul ‘ain.

Beliau diriwayatkan oleh Salim dan dikenal oleh Tsa’labah dari riwayat A’masy yang tidak idhthirab.

Selain itu beliau ditsiqatkan oleh Ibnu Hibban, dimana pentsiqatan Ibnu Hibban seorang dapat dijadikan sebagai penguat, menurut Syaikh Muqbil.

Selain itu syarat perawi maqbul dari Ibnu Hajar telah terpenuhi dengan adanya mutaba’ah dari Tsa’labah.

Tadlis A’masy memang menjadi cacat [illat] atas riwayat tersebut tetapi idhthirab pada sanad A’masy juga menjadi cacat [illat] bagi riwayat tersebut. Pembahasannya sudah kami jelaskan secara detail. Adapun bantahan orang ini tidak memiliki nilai hujjah karena hanya bersumber dari waham khayal-nya saja. Idhthirab bisa diangkat jika salah satu riwayat bisa ditarjih dengan metode tarjih yang ilmiah bukan dengan waham khayal atau riwayat dhaif.

Adapun status majhul ‘ain Abdullah bin Sabu’ sudah dibahas di atas. Orang ini sok berhujjah dengan perkataan Syaikh Muqbil tentang tautsiq Ibnu Hibban padahal ia tidak bisa menunjukkan sumber yang valid perkataan Syaikh Muqbil tersebut. Silakan para pembaca tanyakan pada orang ini, di kitab mana Syaikh Muqbil pernah mengatakan secara mutlak pentsiqatan Ibnu Hibban dapat dijadikan penguat.

Hakikatnya perawi yang ada dalam Ats Tsiqat Ibnu Hibban itu ada beberapa macam yaitu ada perawi yang majhul ‘ain, ada yang majhul hal, ada yang shaduq, ada yang tsiqat dan ada yang sebenarnya berdasarkan pendapat yang rajih ia dhaif. Jadi jelas tidak bisa dipukul rata bahwa setiap yang dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat maka bisa dijadikan penguat. Perawi yang majhul ‘ain itu berdasarkan kesepakatan para ulama hadis, hadisnya tidak bisa dijadikan penguat. Abdullah bin Sabu’ ini adalah perawi yang majhul ‘ain maka hadisnya tidak bisa dijadikan penguat walaupun Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat.

Riwayat Tsa’labah bin Yazid tidak tsabit sebagai mutaba’ah bagi Abdullah bin Sabu’ karena riwayat tersebut sanadnya lemah karena ‘an anah A’masy dan Habib bin Abi Tsabit. Apalagi baik riwayat Tsa’labah dan riwayat Abdullah bin Sabu’ memiliki kelemahan yang sama yaitu bersumber dari ‘an anah Al A’masy. Daruquthniy berkata

ورواه عمار بن رزيق عن الأعمش عن حبيب بن أبي ثابت عن ثعلبة بن يزيد عن علي ولم يضبط إسناده

Dan diriwayatkan ‘Ammaar bin Ruzaiq dari Al A’masy dari Habib bin Abi Tsabit dari Tsa’labah bin Yaziid dari ‘Aliy, tidak dhabit sanadnya [Al Ilal Daruquthniy 3/266 no 396]

.

.

Dalam riwayat Tsa’labah, disebutkan : Tsa’labah berkata : …… lalu Abdullah bin Sabu berkata …..

Perhatikan ini ….

  1. Perkataan Abdullah bin Sabu ada 2 kali, dan beliau tidak termasuk dalam jalur sanad, akan tetapi masih dalam kalimat matan riwayat.
  2. Kalimat “LALU” menunjukkan peristiwa yang berurutan, yaitu setelah Ali berkata, lalu Abdullah bin sabu berkata.
  3. Yang menyampaikan perkataan Abdullah bin Sabu adalah Tsa’labah, bukan A’masy.

Dari 3 alasan tersebut dapat dipastikan kalau perkataan Abdullah bin Sabu adalah asli matan dari riwayat bukan merupakan penggabungan riwayat akibat idhthirabnya A’masy.

Tidak mengapa kalau orang ini tidak sepakat dengan kemungkinan yang kami katakan bahwa A’masy mencampuradukkan matan riwayat Abdullah bin Sabu’ dan matan riwayat Tsa’labah. Hujjah kami disini sebenarnya adalah riwayat Tsa’labah tersebut tidak tsabit sebagai mutaba’ah karena ‘an anah A’masy dan ‘an anah Habib bin Abi Tsabit dimana keduanya adalah mudallis ditambah lagi Daruquthniy mengatakan “tidak dhabit sanadnya”. Kesimpulannya riwayat ini tidak bisa menjadi hujjah sebagai penguat riwayat Abdullah bin Sabu’.

Barakah Kubur Husain bin ‘Aliy dan ‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Barakah Kubur Husain bin ‘Aliy dan ‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa

Biasanya para pencela Syi’ah suka mencela orang-orang Syi’ah yang bertabarruk dengan kubur Imam Husain bin ‘Aliy [‘alaihis salaam]. Maka apa jadinya jika ada ulama tsiqat di kalangan Ahlus Sunnah yang mengakui barakah kubur Ahlul Bait yaitu Imam Husain bin ‘Aliy [‘alaihis salaam] dan ‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa. Apakah mereka akan mencela dan merendahkan ulama tsiqat tersebut?.

.

Barakah Kubur Husain bin ‘Aliy

Ath Thuyuuriyyaat

Ath Thuyuuriyyaat hal 912

Abu Thaahir As Salafiy dalam kitabnya Ath Thuyuuriyyaat dimana ia menukil kitab tersebut dari ushul kitab Syaikh-nya [gurunya] yaitu Ibnu Thuyuuriy yang berkata

سمعت أحمد يقول : سمعت أبا بكر يقول : سمعت الخلدي يقول : كان في جرب عظيم كثير ، قال: فتمسحت بتراب قبر الحسين ، قال : فغفوت فانتبهت ، وليس علي منه شيء

Aku mendengar Ahmad mengatakan aku mendengar Abu Bakar mengatakan aku mendengar Al Khuldiy mengatakan “aku menderita penyakit kulit yang parah” kemudian ia berkata “maka aku mengusapnya dengan tanah dari kubur Husain” ia berkata “Aku tertidur kemudian terbangun maka sudah tidak ada lagi sedikitpun penyakit itu padaku” [Ath Thuyuuriyyat Abu Thahir As Salaafiy hal 912 no 847]

Atsar di atas sanadnya shahih sampai Al Khuldiy. Abu Thahir As Salaafiy adalah imam allamah muhaddis hafizh muftiy syaikh islam [Siyaar A’laam An Nubaala’ 21/5 no 1]. Gurunya yaitu Abul Husain Mubaarak bin ‘Abdul Jabbaar Ath Thuyuuriy atau dikenal dengan Ibnu Thuyuuriy adalah sorang syaikh Imam muhaddis ‘alim dimana Ibnu Naashir telah berkata tentangnya “tsiqat tsabit shaduq” [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 19/213-215 no 132]. Kemudian para perawi atsar di atas adalah sebagai berikut

  1. Ahmad dalam sanad di atas adalah Abul Hasan Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Manshuur Al Baghdadiy Al ‘Atiiqiy seorang imam muhaddis tsiqat [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 17/602 no 403]
  2. Abu Bakar dalam sanad di atas adalah Muhammad bin Hasan bin ‘Abdaan Abu Bakar Ash Shairafiy. Al Khatib menukil dari Ubaidillah bin Ahmad Ash Shairafiy bahwa ia lebih dari tsiqat [Tarikh Baghdad Al Khatib 2/619-620 no 598]
  3. Al Khuldiy adalah Abu Muhammad Ja’far bin Muhammad Al Khuldiy seorang syaikh imam qudwah muhaddis dan Al Khatib berkata tentangnya “tsiqat” [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 15/558-559 no 333]

Al Khuldiy juga disebutkan oleh Ibnu Jauziy bahwa ia seorang yang banyak mendengar hadis dan meriwayatkan dari banyak ulama, telah meriwayatkan darinya Daruquthniy dan Ibnu Syaahiin, ia seorang tsiqat shaduq taat beragama [Al Muntazham Fii Tarikh Ibnu Jauziy 14/119 no 2588].

Para pencela biasanya suka merendahkan orang-orang Syi’ah ketika mengetahui bahwa sebagian pengikut Syi’ah mencari kesembuhan melalui tabarruk dengan tanah kubur Husain. Anehnya ternyata ulama tsiqat ahlus sunnah di atas justru melakukannya dan bersaksi akan kesembuhan penyakitnya setelah tabarruk dengan tanah kubur Husain.

.

.

.

Barakah Kubur ‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa

Adapun mengenai barakah kubur ‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa maka telah bersaksi atasnya ulama hadis dan rijal yang masyhur yaitu Ibnu Hibbaan. Sebagaimana ia menyebutkan biografi ‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa dalam kitabnya Ats Tsiqaat

Ats Tsiqat Ibnu Hibbaan juz 8 Ali Ridha

عَليّ بن مُوسَى الرِّضَا وَهُوَ عَليّ بن مُوسَى بن جَعْفَر بن مُحَمَّد بن عَليّ بن الْحُسَيْن بن عَليّ بن أبي طَالب أَبُو الْحسن من سَادَات أهل الْبَيْت وعقلائهم وَجلة الهاشميين ونبلائهم يجب أَن يعْتَبر حَدِيثه إِذا روى عَنهُ غير أَوْلَاده وشيعته وأبى الصَّلْت خَاصَّة فَإِن الْأَخْبَار الَّتِي رويت عَنهُ وَتبين بَوَاطِيلُ إِنَّمَا الذَّنب فِيهَا لأبى الصَّلْت ولأولاده وشيعته لِأَنَّهُ فِي نَفسه كَانَ أجل من أَن يكذب وَمَات عَليّ بن مُوسَى الرِّضَا بطوس من شربة سقَاهُ إِيَّاهَا الْمَأْمُون فَمَاتَ من سَاعَته وَذَلِكَ فِي يَوْم السبت آخر يَوْم سنة ثَلَاث وَمِائَتَيْنِ وقبره بسنا باذ خَارج النوقان مَشْهُور يزار بِجنب قبر الرشيد قد زرته مرَارًا كَثِيرَة وَمَا حلت بِي شدَّة فِي وَقت مقَامي بطوس فزرت قبر عَليّ بن مُوسَى الرِّضَا صلوَات الله على جده وَعَلِيهِ ودعوت الله إِزَالَتهَا عَنى إِلَّا أستجيب لي وزالت عَنى تِلْكَ الشدَّة وَهَذَا شَيْء جربته مرَارًا فَوَجَدته كَذَلِك أماتنا الله على محبَّة المصطفي وَأهل بَيته صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الله عَلَيْهِ وَعَلَيْهِم أَجْمَعِينَ

‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa adalah ‘Aliy bin Muusa bin Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy bin Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaliib Abul Hasan termasuk penghulu ahlul bait yang paling bijaksana diantara mereka, Hasyimiyyin yang tinggi kedudukannya dan paling mulia diantara mereka. Wajib dijadikan i’tibar hadisnya jika telah meriwayatkan darinya selain dari anak-anaknya, Syi’ahnya dan Abu Shult karena telah datang kabar-kabar darinya yang mengandung perkara-perkara bathil. Sesungguhnya ini hanyalah kesalahan dari Abu Shulth, anak-anaknya dan Syi’ahnya karena ia sendiri seorang yang jauh dari berdusta. Dan telah wafat ‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa di Thuus karena racun yang dicampurkan dalam minumannya oleh Al Ma’muun maka ia langsung wafat saat itu, yaitu pada hari Sabtu di akhir hari tahun 203 H. Dan kuburnya yang berada di Sanaa Badz di luar Nuuqaan sangat masyhur diziarahi di samping kubur Ar Rasyiid. Sungguh aku telah berziarah ke kuburnya berulang kali, dan tidaklah aku mengalami kesulitan selama aku tinggal di Thuus maka aku berziarah ke kubur ‘Aliy bin Muusa Ar Ridhaa shalawat Allah atas kakeknya dan dirinya kemudian aku berdoa kepada Allah untuk menghilangkannya [kesulitan] kecuali dikabulkan doaku dan hilanglah kesulitan yang kualami. Perkara ini sudah kulakukan berulang kali dan aku selalu mengalami hal yang sama. Semoga Allah mewafatkan kami di atas kecintaan kepada Al Musthafa dan Ahlul Baitnya, shalawat dan salam Allah atasnya dan atas mereka seluruhnya [Ats Tsiqaat Ibnu Hibbaan 8/456-457 no 14411]

Ibnu Hibbaan adalah penulis kitab hadis Shahih Ibnu Hibbaan dan kitab Rijal Ats Tsiqaat. Apabila para pencela menuduh keyakinan akan barakah kubur Ahlul Bait sebagai perkara yang bid’ah atau syirik maka secara tidak langsung mereka sedang mencela Ibnu Hibban yaitu ulama yang sering mereka jadikan rujukan dalam ilmu Rijal dan Hadis.

.

.

Penutup

Jika para pencela berkata “itu hanya perkataan ulama tidak menjadi hujjah karena tidak ada dalil shahih dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]” maka cukup kami katakan “ya tidak nyambung”. Kami tidak pernah menganjurkan tabarruk atau tawasul dalam tulisan di atas. Yang menjadi inti dari tulisan di atas adalah ketika para pencela menyatakan Syi’ah sesat atau bahkan kafir musyrik karena pengikut Syi’ah yang bertabarruk dan bertawasul dengan kubur Imam mereka maka harusnya mereka juga menyatakan hal yang sama kepada sebagian ulama ahlus sunnah yang juga melakukannya.

Dendam Syi’ah Kepada Ummul Mukminin ‘Aaisyah Radiallahu ‘anha?

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

 

.

Dendam Syi’ah Kepada Ummul Mukminin ‘Aaisyah Radiallahu ‘anha?

Ada salah satu riwayat Syi’ah yang dijadikan hujjah oleh beberapa orang untuk mencela mazhab Syi’ah yaitu riwayat dimana Imam Mahdi pada saat muncul nanti akan menghukum Ummul Mukminin ‘Aaisyah [radiallahu ‘anha]. Para pembaca dapat melihat nya disini

  1. Jaser Leonheart dalam tulisannya Imam Mahdiy Versi Syi’ah dan Ummul Mukminin ‘Aaisyah Radiallahu ‘anha
  2. Abul Jauzaa’dalam tulisannya Dendam Syi’ah kepada ‘Aaisyah Radiallahu ‘anha

Riwayat tersebut sesuai dengan standar ilmu hadis dalam mazhab Syi’ah kedudukannya dhaif. Silakan perhatikan terlebih dahulu riwayat tersebut

Ilal Asy Syaraai'

Ilal Asy Syaraai' juz 2 hal 566

حدثنا محمد بن علي ماجيلويه عن عمه محمد بن أبي القاسم عن أحمد بن أبي عبد الله عن أبيه عن محمد بن سليمان عن داود بن النعمان عن عبد الرحيم القصير قال: قال لي أبو جعفر عليه السلام: أما لو قام قائمنا لقد ردت إليه الحميراء حتى يجلدها الحد وحتى ينتقم لابنة محمد فاطمة عليها السلام منها، قلت: جعلت فداك ولم يجلدها الحد؟ قال: لفريتها على ام ابراهيم، قلت: فكيف اخره الله للقائم؟ فقال: لان الله تبارك وتعالى بعث محمدا صلى الله عليه وآله رحمة وبعث القائم عليه السلام نقمة

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Aliy Majiilwaih dari pamannya Muhammad bin Abil Qaasim dari Ahmad bin Abi ‘Abdullah dari Ayahnya dari Muhammad bin Sulaiman dari Daawud bin Nu’maan dari ‘Abdurrahiim Al Qashiir yang berkata Abu Ja’far [‘alaihis salaam] berkata kepadaku Seandainya Al Qaim muncul sungguh akan dihadapkan kepadanya Al Humairaa’ [Ummul Mukminin ‘Aaisyah radiallahu ‘anha] sampai akhirnya ia memberikan hukuman cambuk kepadanya dan membalaskan dendam putrinya Muhammad [shallallahu ‘alahi wasallam] yaitu Fathimah [‘alaihis salaam]. Aku berkata “diriku sebagai tebusanmu, mengapa ia mencambuknya?”. [Abu Ja’far] berkata “karena tuduhannya terhadap Ummu Ibrahim”. Aku berkata “maka mengapa Allah megakhirkannya [hukuman tersebut] bagi Al Qaaim”. [Abu Ja’far] berkata “karena Allah tabaaraka wata’aala mengutus Muhammad [shallallahu ‘alaihi wa aalihi] sebagai rahmat dan mengutus Al Qaa’im [‘alaihis salaam] untuk membalas dendam [‘Ilal Asy Syaraai’ Syaikh Ash Shaaduuq 2/565-566 hadis no 10]

Riwayat di atas juga disebutkan oleh Ibnu Jariir bin Rustam Ath Thabariy dalam kitabnya Dalail Al Imaamah hal 256 dengan jalan sanad yang sama dengan riwayat Syaikh Ash Shaduuq di atas.

Sanad riwayat tersebut dhaif, salah satu penyebab kedhaifannya adalah Muhammad bin Sulaiman. Ahmad bin ‘Abu ‘Abdullah dalam sanad di atas adalah Ahmad bin Muhammad bin Khaalid Al Barqiy maka Ayahnya yang meriwayatkan dari Muhammad bin Sulaiman adalah Muhammad bin Khaalid Al Barqiy.

Muhammad bin Sulaiman yang telah meriwayatkan darinya Muhammad bin Khaalid adalah Muhammad bin Sulaiman Ad Dailamiy dan ia seorang yang dhaif jiddan pendusta.



Rijal An Najasyiy

Rijal An Najasyiy no 987

An Najasiy dalam kitab Rijal-nya menyebutkan bahwa Muhammad bin Sulaiman Ad Dailamiy seorang yang dhaif jiddan [Rijal An Najasyiy hal 365 no 987].

Rijal An Najasyiy no 482

Kemudian dalam biografi Ayahnya Muhammad bin Sulaiman yaitu Sulaiman bin ‘Abdullah Ad Dailamiy disebutkan

وقيل: كان غاليا كذابا. وكذلك ابنه محمد لا يعمل بما انفردا به من الرواية

Dikatakan ia seorang yang ghuluw pendusta, dan demikian juga anaknya yaitu Muhammad, tidak beramal dengan apa yang ia menyendiri dalam riwayat [Rijal An Najasiy hal 182 no 482]

.

.

.

Mungkin saja ada di antara orang-orang Syi’ah atau mungkin ulama Syi’ah yang berhujjah dengan riwayat di atas tetapi hal itu tidak bisa dijadikan dasar untuk mencela mazhab Syi’ah. Kebenarannya adalah dalam mazhab Syi’ah maupun Ahlus sunnah berhujjah dengan riwayat dhaif adalah hal yang keliru dan kekeliruan sebagian ulama Syi’ah dan pengikutnya tidaklah menjadi dasar untuk merendahkan mazhab Syi’ah.

Secara objektif perkara seperti ini juga terjadi dalam mazhab Ahlus Sunnah. Bukankah ada saja sebagian ulama Ahlus Sunnah dan pengikutnya yang berhujjah dengan riwayat dhaif. Tidak diragukan bahwa mereka telah melakukan kekeliruan tetapi menjadikan kekeliruan tersebut sebagai pencelaan terhadap mazhab Ahlus Sunnah adalah hal yang benar-benar keliru.

Hendaknya mazhab Syi’ah dan Ahlus Sunnah ditimbang dengan adil sesuai dengan kaidah ilmiah yang berlaku di dalam mazhab tersebut. Jangan jadikan orang-orang seperti Jaser Leonheart, Abul Jauzaa’ dan yang lainnya sebagai contoh, mereka hanyalah para pencela yang gemar mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil [ketika berbicara tentang mazhab Syi’ah]. Tidak dipungkiri bahwa dalam mazhab Syi’ah pun juga terdapat orang-orang dengan mental seperti Jaser dan Abul Jauzaa’ yaitu mereka yang sembarangan menukil riwayat Ahlus sunnah kemudian menjadikannya hujjah untuk mencela Ahlus Sunnah. Mari para pembaca [apapun mazhab anda baik Syi’ah ataupun Ahlus Sunnah] junjunglah kebenaran, selalu bersikap adil dan objektif agar kita diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk mendapatkan kebenaran.

.

.

.

Penutup Penting Yang Tidak Penting

Bagi para pengikut Syi’ah, saya akan berbagi sedikit ilmu yang saya dapat dalam mempelajari mazhab Syi’ah sebagai nasehat yang mungkin bisa diambil manfaatnya. Boleh-boleh saja kalian wahai pengikut Syi’ah untuk taklid kepada ulama marja’ kalian tetapi hal itu jangan sampai mencegah kalian mempelajari dasar-dasar ilmu alat yang ada dalam mazhab kalian. Saya sudah pernah melihat kualitas pengikut Syi’ah yang berpegang pada ilmu dan kaidah ilmiah. Mereka adalah orang-orang yang menjunjung tinggi kebenaran, jauh dari perkara ghuluw dan bid’ah. Untuk orang-orang seperti mereka inilah saya membela mazhab Syi’ah dan rela mengorbankan diri dituduh Syi’ah. Mengapa?, karena orang-orang Syi’ah seperti mereka tidak pantas untuk dituduhkan hal-hal menjijikkan yang biasa dituduhkan oleh para pencela seperti Jaser dan Abul Jauzaa’.

Memang menyedihkan ketika melihat sebagian pengikut Syi’ah yang lain malah terjatuh dalam perkara ghuluw karena kejahilan, bahkan ada yang menjadikan itu sebagai kebanggaan dengan mengatasnamakan Ahlul Bait. Seandainya mereka mau belajar mengenal apa yang shahih dalam mazhab mereka atau apa yang shahih dari Ahlul Bait [di sisi mazhab mereka] maka saya yakin mereka akan terhindar dari perkara-perkara ghuluw.

.

.

Bagi para pengikut Ahlus Sunnah, boleh boleh saja kalian menyatakan mazhab Syi’ah sesat atau menyimpang tetapi berhati-hatilah jika kalian ingin mengkafirkan mazhab Syi’ah. Sebagian dari kalian hanya orang awam yang mengenal mazhab Syiah dari para pencela. Jangan sampai kalian mengkafirkan mazhab Syi’ah dengan hujjah yang sebenarnya juga ada dalam mazhab Ahlus Sunnah. Takfir itu adalah perkara berat dimana ketika itu diucapkan maka ia akan tetap bagi salah satu diantara dua, tertuduh atau si penuduh. Jika tertuduh ternyata tidak kafir maka hal itu akan kembali pada si penuduh. Jangan jadi orang lata yang ikut-ikutan padahal hanya taklid kepada para pencela seperti Jaser dan Abul Jauzaa’.

Jika kalian memang ingin tahu bagaimana mazhab Syi’ah sebenarnya maka pelajarilah dasar-dasar ilmu mazhab Syi’ah dengan objektif. Jalani langkah demi langkah sebagaimana kalian mempelajari mazhab kalian. Dan kalau kalian pikir itu menyita waktu dan sia-sia [untuk apa susah susah belajar mazhab sesat] maka bersikap diamlah jangan terlalu banyak bicara.

.

.

Manhaj saya dalam mempelajari mazhab Syi’ah tidak sama dengan manhaj para pencela seperti Jaser dan Abul Jauzaa’. Mereka hanya orang bergaya sok prajurit pembela Ahlus Sunnah dimana mereka pikir mencela mazhab Syi’ah adalah bagian dari pembelaan terhadap Ahlus Sunnah. Mereka adalah orang yang sering mencela para pengikut Syi’ah [ketika orang-orang Syi’ah berhujjah dengan riwayat Ahlus Sunnah] dengan perkataan tidak jujur dalam menukil, berdusta, berhujjah dengan riwayat dhaif dan hal-hal lain yang memang secara ilmiah tidak pantas dilakukan. Tetapi anehnya ketika mereka berbicara atas mazhab Syi’ah maka jadilah mereka sama rendahnya dengan orang-orang Syi’ah yang mereka tuduh. Mereka sendiri sering tidak jujur dalam menukil, berdusta, berhujjah dengan riwayat dhaif dalam mazhab Syi’ah. Sebagian tulisan-tulisan kami yang membantah mereka adalah sebaik-baik bukti akan hal ini.

Manhaj saya dalam mempelajari mazhab Syi’ah sama seperti manhaj saya dalam mempelajari mazhab Ahlus Sunnah. Yaitu langkah demi langkah mengedepankan objektifitas dan kaidah ilmiah yang berlaku dalam masing-masing mazhab. Mempelajari dahulu dasar ilmu mazhab dan ilmu alat yang diperlukan dalam mencapai apa yang shahih sebagai hujjah di sisi mazhab tersebut. Perbedaannya hanya pada bahwa saya tidak meyakini dan mengamalkan apa yang saya dapat dalam mempelajari mazhab Syi’ah. Mengapa? Karena saya sudah meyakini hal-hal yang menjadi pegangan saya dimana saya mengambilnya dari mazhab Ahlus Sunnah. Saya adalah seorang Ahlus Sunnah sebelum saya mempelajari mazhab Syi’ah sebagaimana Orang lain [seperti saya] di belahan bumi lain adalah seorang Syi’ah ketika ia mempelajari mazhab Ahlus Sunnah.

Orang seperti saya biasanya menjadi bahan celaan dari sebagian pengikut Ahlus Sunnah dengan tuduhan Syi’ah atau terpengaruh Syi’ah. Sebagaimana Orang yang satunya menjadi bahan celaan dari sebagian pengikut Syi’ah dengan tuduhan sudah terpengaruh Ahlus Sunnah. Para pencela itu adalah orang yang menyia-nyiakan diri mereka. Selagi mereka sibuk mencela, saya dan orang itu terus belajar dan saling berbagi melangkah lebih jauh meniti jalan masing-masing yang diyakini sebagai jalan yang benar. Kebenaran itu ternyata sederhana yaitu apapun mazhabnya yang penting belajar dengan benar menggunakan metode yang benar [serta senantiasa berdoa ditunjukkan jalan yang benar].

.

.

.

Note Tidak Penting Tetapi Penting Bagi Yang Merasa

  1. Untuk Orang-orang Syi’ah yang mengenal saya dan saya pun mengenal mereka, tolong jangan diambil hati tentang ucapan saya soal “kualitas”, percayalah kalian tidak sekeren yang kalian bayangkan
  2. Untuk “orang itu” yang merasa tersindir dan merasa dipuji dengan kata-kata saya di atas, lebih baik situ mikir kapan mau berumah tangga, kami tidak rela selagi kami para cecunguk sudah hidup bahagia ternyata sang guru besar menderita kesepian di dunia antah berantah.
  3. Mohon maaf bagi para pembaca jika tulisan ilmiah ini ujung-ujungnya jadi curhat tidak jelas. Jika memang ada yang merasa terganggu maka silakan dibaca ulang dan tidak usah dibaca bagian penutup yang ada curhatnya hehehe.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 265 pengikut lainnya.