Benarkah Hasan As Saqqaaf Seorang Rafidhah?

Benarkah Hasan As Saqqaaf Seorang Rafidhah?

Banyak sekelompok orang yang sok bergaya seperti ulama menuduh ulama lain [yang tidak satu manhaj dengannya atau yang ia benci] dengan tuduhan dusta. Salah satunya dapat dilihat dalam tulisan penulis “aneh” disini.

http://www.jarh-mufassar.net/2014/12/hasan-as-saqqaf-sunniy-atau-rafidhiy.html

Kami sudah pernah membantah sebagian tulisannya yang memuat celaan terhadap Syi’ah. Tentu bantahan-bantahan kami tersebut tidak bisa dikatakan mewakili mazhab Syi’ah [karena kami bukan penganut mazhab Syi’ah] tetapi sebagai bukti [bagi para pembaca] yang menunjukkan bahwa tidak setiap syubhat yang dituduhkan kepada mazhab Syi’ah itu benar. Dalam perkara ini sang penulis tersebut sangat jelas memiliki kebencian terhadap Syi’ah sehingga ia bermudah-mudahan dalam menuduh Syi’ah. Tulisan-tulisannya tentang Syi’ah [yang kami bantah] benar-benar tidak objektif dan tidak ilmiah.

Begitu pula tulisannya tentang Hasan As Saqqaf dimana ia menuduhnya sebagai Rafidhah, adalah ciri khas tulisan orang jahil. Jahil dalam ilmu logika sederhana sehingga penarikan kesimpulannya jatuh kedalam fallacy yang berujung pada kedustaan terhadap Hasan As Saqqaf.

.

.

.

Penulis tersebut mengutip perkataan Ibnu Katsir mengenai perselisihan antara Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam] dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Bidayah juz 10

Bidayah juz 10 hal 563

Hadis ini termasuk mu’jizat kenabian, karena benar-benar telah terjadi seperti yang dikabarkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wa sallam]. Dan di dalamnya juga disebutkan, kedua kelompok yang bertikai itu, yakni penduduk Syam dan penduduk Iraq, masih tergolong muslim. Tidak seperti anggapan kelompok Rafidhah, orang-orang jahil lagi zhalim, yang mengkafirkan penduduk Syam. Dalam hadits itu juga disebutkan bahwa kelompok Aliy adalah yang paling mendekati kebenaran, itulah madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Yakni Aliy berada di pihak yang benar, dan Mu’awiyah seorang mujtahid dalam perperangannya dan ia telah melakukan kesalahan, dan ia berhak mendapat satu pahala insya Allah. Sedangkan Aliy [radhiallahu ‘anhu] adalah seorang imam berada di pihak yang benar insya Allah, dan berhak mendapat dua pahala. Sebagaimana telah tsabit dalam Shahih Bukhariy hadis ‘Amru bin’Ash bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Jika seorang hakim berijtihad dan benar maka baginya dua pahala dan jika ia berijtihad dan keliru maka baginya satu pahala”. [Al Bidaayah Wa Nihaayah 10/563].

Kemudian setelah itu penulis tersebut mengutip pandangan Hasan As Saqqaaf dalam hal ini sebagaimana dalam kitab Daf’u Syubhah At Tasybih Ibnu Jauziy yang ditahqiq oleh Hasan As Saqqaaf.

Daf'u Syubha

Daf'u Syubha hal 240

قلت: فكيف يقول بعض النواصب الذين يظهرون الاعتدال: لعلي أجران ولمعاوية أجر لأنه مجتهد؟

Aku [Hasan As Saqqaaf] berkata “maka bagaimana bisa sebagian nawaashib mengatakan bagi Aliy dua pahala dan bagi Mu’awiyah satu pahala karena ia seorang mujtahid” [Daf’u Syubhah At Tasybih Ibnu Jauziy tahqiq Hasan As Saqqaaf hal 240]

Dengan nukilan di atas, sang penulis tersebut dengan lucunya berkata

Bukankah yang berpandangan seperti itu adalah Ahlus Sunnah? Dan siapa yang suka menggelari Ahlus Sunnah dengan Nawashib kalau bukan rafidhah?

Kalimat macam apa ini, terasa penuh dengan “kesesatan” berpikir. Apakah jika Ahlus Sunnah berpandangan demikian maka tidak boleh ada sebagian Nawaashib yang berpandangan demikian?. Bukankah mazhab Ahlus Sunnah meyakini tiada Tuhan selain Allah SWT maka apakah itu mencegah orang Khawarij, Nawaashib dan firqah lainnya untuk meyakini hal yang sama?. Bagaimana mungkin karena sekedar memiliki keyakinan [tertentu] yang sama maka Ahlus Sunnah dikatakan Khawarij dan dikatakan Nawaashib?.

Seandainya penulis itu paham ilmu logika sederhana, ia akan paham bahwa kesamaan predikat tidak harus memiliki konsekuensi subjeknya sama. Apel berwarna merah dan Tomat berwarna merah. Apakah itu berarti apel adalah tomat?. Ahlus Sunnah berpandangan demikian dan Nawaashib berpandangan demikian, lantas apakah dikatakan Ahlus Sunnah adalah Nawaashib?.

Yang disebutkan Hasan As Saqqaaf itu adalah “sebagian nawaashib”. Mungkin saja As Saqqaaf mengetahui bahwa sebagian ahlus sunnah juga berpandangan demikian atau mungkin juga ia tidak mengetahuinya. Apapun kemungkinannya, tidak ada petunjuk yang menguatkan kalau yang dimaksudkan nawaashib oleh As Saqqaaf tersebut adalah Ahlus Sunnah. Dalam hal pembelaan terhadap Mu’awiyah bin Abu Sufyaan merupakan fenomena yang wajar jika sebagian Ahlus Sunnah dan sebagian Nawaashib memiliki pandangan yang sama.

Jadi bisa disimpulkan bahwa dasar tuduhan Rafidhah terhadap Hasan As Saqqaaf dalam tulisan penulis “aneh” itu hanyalah “kesesatan” berpikir saja. Tidak ilmiah dan tidak objektif alias mengada-ada.

Kami tidak perlu membela semua perkataan Hasan As Saqqaaf dalam kitab-kitabnya. Bagi kami, As Saqqaaf sama seperti ulama lainnya bisa benar juga bisa salah, tinggal dilihat dalil atau hujjah perkataannya apakah sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah atau tidak.

.

.

.

Dalam pembacaan kami terhadap kitab-kitab Hasan As Saqqaaf, tidak ada kami melihat unsur Rafidhah dalam pemikirannya. Paling-paling tuduhan rafidhah itu hanya berdasarkan pemikiran dogmatis sebagian orang yang tidak berlandaskan pada Al Qur’an dan Hadis. Contoh paling baik dapat para pembaca lihat dari blog secondprince ini yang seringkali dituduh rafidhah. Hasan As Saqqaaf mencela sebagian sahabat Nabi seperti Mu’awiyah bin Abu Sufyaan dan menjatuhkan keadilannya, ia melakukannya dengan dalil dan hujjah. Sebagian hujjah tersebut lemah dan sebagiannya lagi shahih. As Saqqaaf mengutamakan Aliy [‘alaihis salaam] dibanding Abu Bakar dan Umar, hal inipun memiliki dalil dan hujjah. Para pembaca yang sudah sering membaca blog ini pasti sudah melihat contoh dalil dan hujjah yang dimaksud.

Lihat saja nukilan yang disebutkan penulis tersebut. Kalau para pembaca melihat dalil dan hujjah Hasan As Saqqaaf maka apa yang dikatakan As Saqqaaf itu sudah sesuai dengan hadis shahih. Ia berkata

Daf'u Syubha hal 241

فهل يصح الاجتهاد في قتل المسلمين الموحدين و…..؟

وهل هناك اجتهاد في مورد النص؟! وقد تواتر عنه صلى الله عليه وسلم أنه قال في سيدنا عمار الذي قاتل مع أمير المؤمنين سيدنا علي: ” تقتله الفئة الباغية ” كما ثبت في البخاري ومسلم؟!!

وهل يصح الاجتهاد مع ورود نصوص كثيرة متواترة وصحيحة منها قوله صلى الله عليه وسلم في حق سيدنا علي رضي الله عنه:

” من كنت مولاه فعلي مولاه اللهم وال من والاه وعاد من عاداه ” قال الحافظ الذهبي في ” سير أعلام النبلاء ” (8 / 335) عن هذا الحديث متواتر

Maka apakah dibenarkan ijtihad dalam memerangi kaum muslimin orang-orang yang bertauhid? Dan apakah ada ijtihad ketika sudah ada nash?. Dan sungguh telah mutawatir dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Beliau berkata tentang Sayyidina ‘Ammaar yang berperang bersama Amirul Mukminin Sayyidina ‘Aliy “ia akan dibunuh oleh kelompok pembangkang” sebagaimana telah tsabit dalam hadis Bukhariy dan Muslim. Dan apakah dibenarkah ijtihad bersamaan dengan adanya nash-nash yang banyak mutawatir dan shahih dari perkataan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang kebenaran Sayyidina Aliy [radiallahu ‘anhu] “barang siapa yang Aku adalah maulanya maka Aliy adalah maulanya, Ya Allah dukunglah orang yang mendukungnya dan musuhilah oranng yang memusuhinya” Al Hafizh Adz Dzahabiy berkata dalam Siyaar A’laam An Nubalaa’ 8/335 tentang hadis ini “mutawatir” [Daf’u Syubhah At Tasybih Ibnu Jauziy tahqiq Hasan As Saqqaaf hal 241]

Apa yang dikatakan Hasan As Saqqaaf tersebut benar. Banyak dalil-dalil yang menunjukkan kebenaran Aliy [‘alaihis salaam] dan kesesatan Mu’awiyah. Bisa ditambahkan juga disini dalil keharusan untuk mengikuti Aliy [‘alaihis salaam] adalah hadis Tsaqalain perintah berpegang teguh pada Al Qur’an dan Ahlul Bait. Jadi intinya tidak ada ruang ijtihad bagi Mu’awiyah dalam perkara ini karena nash-nash kebenaran Aliy [‘alaihis salaam] itu sudah jelas.

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ وَلِابْنِهِ عَلِيٍّ انْطَلِقَا إِلَى أَبِي سَعِيدٍ فَاسْمَعَا مِنْ حَدِيثِهِ فَانْطَلَقْنَا فَإِذَا هُوَ فِي حَائِطٍ يُصْلِحُهُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ فَاحْتَبَى ثُمَّ أَنْشَأَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى أَتَى ذِكْرُ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ فَقَالَ كُنَّا نَحْمِلُ لَبِنَةً لَبِنَةً وَعَمَّارٌ لَبِنَتَيْنِ لَبِنَتَيْنِ فَرَآهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَنْفُضُ التُّرَابَ عَنْهُ وَيَقُولُ وَيْحَ عَمَّارٍ تَقْتُلُهُ الْفِئَةُ الْبَاغِيَةُ يَدْعُوهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ وَيَدْعُونَهُ إِلَى النَّارِ قَالَ يَقُولُ عَمَّارٌ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الْفِتَنِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziiz bin Mukhtaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Khaalid Al Hadzdzaa’ dari ‘Ikrimah yang berkata Ibnu ‘Abbas berkata kepadaku dan kepada anaknya Aliy “pergilah kalian kepada Abu Sa’iid dan dengarkanlah hadis darinya”. Maka kami pergi menemuinya ketika ia sedang memperbaiki dindingnya, ia mengambil kain duduk ihtiba’ kemudian berbicara kepada kami sampai ia menyebutkan tentang pembangunan masjid maka ia berkata “kami membawa batu satu persatu dan ‘Ammaar membawa dua dua, maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] melihatnya, Beliau berkata sambil meniup tanah yang melekat padanya “kasihan ‘Ammaar ia akan dibunuh kelompok pembangkang, ia mengajak mereka ke surga dan mereka mengajaknya ke neraka. [perawi] berkata ‘Ammar berkata “aku berlindung kepada Allah dari fitnah” [Shahih Bukhariy 1/97 no 447].

Hadis di atas adalah bukti jelas bahwa kelompok Mu’awiyah yang membunuh ‘Ammaar [radiallahu ‘anhu] adalah kelompok pembangkang yang menyeru atau mengajak ke neraka. Dakwah atau ajakan kelompok Mu’awiyah adalah ke neraka maka bagaimana mungkin dikatakan bahwa Mu’awiyah adalah mujtahid yang mendapat satu pahala atas kesalahannya dalam hal ini. Jadi klaim bahwa Mu’awiyah mujtahid yang mendapat pahala atas kesalahannya disini telah bertentangan dengan kabar shahih. Dan kami tidak menemukan satupun dalil yang membuktikan bahwa Mu’awiyah berhak mendapat satu pahala atas kesalahannya.

Seorang yang objektif akan mendudukkan hadis apa adanya sesuai dengan lafaz riwayat. Ia tidak akan berhujjah melampaui lafaz yang ada dan tidak akan berhujjah dengan asumsi khayalnya dan mencampuradukkan asumsi khayal itu ke dalam hadis.

Bukti lain yang menunjukkan ketidaklayakkan Mu’awiyah disebut sebagai mujtahid [dalam perkara ini] adalah ketika telah jelas dalil atau nash dihadapannya ia bukannya menyadari kesalahannya tetapi malah mencela Aliy dengan menuduh bahwa Aliy yang harusnya disebut membunuh ‘Ammar dan disebut kelompok pembangkang

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق قال ثنا معمر عن طاوس عن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم عن أبيه قال لما قتل عمار بن ياسر دخل عمرو بن حزم على عمرو بن العاص فقال قتل عمار وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم تقتله الفئة الباغية فقام عمرو بن العاص فزعا يرجع حتى دخل على معاوية فقال له معاوية ما شانك قال قتل عمار فقال معاوية قد قتل عمار فماذا قال عمرو سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول تقتله الفئة الباغية فقال له معاوية دحضت في بولك أو نحن قتلناه إنما قتله علي وأصحابه جاؤوا به حتى القوه بين رماحنا أو قال بين سيوفنا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang menceritakan kepadaku ayahku yang menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari ayahnya yang berkata “ketika Ammar bin Yasar terbunuh maka masuklah ‘Amru bin Hazm kepada Amru bin ‘Ash dan berkata “Ammar terbunuh padahal sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Maka ‘Amru bin ‘Ash berdiri dengan terkejut dan mengucapkan kalimat [Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un] sampai ia mendatangi Muawiyah. Muawiyah berkata kepadanya “apa yang terjadi denganmu”. Ia berkata “Ammar terbunuh”. Muawiyah berkata “Ammar terbunuh, lalu kenapa?”. Amru berkata “aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Muawiyah berkata kepadanya “Apakah kita yang membunuhnya? Sesungguhnya yang membunuhnya adalah Aliy dan sahabatnya, mereka membawanya hingga melemparkannya diantara tombak-tombak kita atau ia berkata diantara pedang-pedang kita [Musnad Ahmad 4/199 no 17813, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih”]

Silakan saja jika ada orang [yang agak kurang waras] mengatakan kalau Mu’awiyah sedang berijtihad ketika mencela Aliy [‘alaihis salaam] bahwa Beliaulah yang membunuh ‘Ammaar karena membawanya berperang. Bukankah perkara itu sama seperti menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membunuh para sahabat Beliau ketika mereka gugur dalam memerangi orang kafir. Akhir kata pandangan Hasan As Saqqaaf dalam perkara ini adalah benar dan sesuai dengan dalil shahih di sisi Ahlus Sunnah. Adapun apa yang diklaim oleh sebagian orang [termasuk penulis tersebut] sebagai pandangan mazhab Ahlus Sunnah ternyata tidak memiliki landasan yang shahih.

Shahih Muawiyah Mencela Aliy : Bantahan Atas Kejahilan Toyib Mutaqin

Shahih Muawiyah Mencela Aliy : Bantahan Atas Kejahilan Toyib Mutaqin

Masih menanggapi tulisan dari orang jahil yang sama yaitu Toyib Mutaqin. Kali ini kami akan menanggapi tulisan yang ia buat dengan judul “Syubhat Syi’ah Secondprince Mu’awiyah Mencela Aliy”. Dari judulnya saja sudah terlihat tingkah buruknya yang memfitnah kami sebagai “Syi’ah”. Seolah ia ingin mengesankan kepada para pembaca bahwa hanya Syi’ah yang mengatakan Mu’awiyah Mencela Aliy.

Padahal para pembaca yang objektif akan melihat bahwa hadis-hadis dalam kitab Ahlus Sunnah telah menyatakan hal tersebut. Para pembaca dapat melihatnya dalam dua tulisan kami sebelumnya

  1. Riwayat Mu’awiyah Mencela Imam Aliy [‘alaihis salaam] Adalah Shahih
  2. Shahih Mu’awiyah Mencela Imam Aliy : Bantahan Bagi Nashibiy

Boleh-boleh saja kalau orang ini tidak setuju dengan tulisan kami tersebut tetapi ia tetap tidak punya dasar sedikitpun untuk menuduh kami Syi’ah. Jika ada diantara pembaca yang ingin melihat tulisannya maka dapat membacanya disini

http://muttaqi89.blogspot.com/2014/12/syubhat-syiah-muawiyah-mencela-ali.html

Berikut kami akan mengungkap kejahilan Toyib Mutaqin dan silakan bagi para pembaca untuk menelaahnya dengan objektif menimbang sesuai dengan kaidah ilmu. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca, adapun untuk orang jahil tersebut, tidak ada yang kami harapkan darinya bahkan bisa jadi setelah membaca tanggapan kami, ia malah akan bertambah kejahilannya [karena penolakannya terhadap kebenaran].

.

.

.

.

Syubhat Hadis Riwayat Muslim

Kami akan mulai dengan membahas terlebih dahulu hadis dalam Shahih Muslim. Orang jahil ini sok bergaya seperti ahli hadis ingin melemahkan atau paling tidak membuat keraguan riwayat dalam Shahih Muslim. Ia berkata

Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dari lima jalur, tidak ada yang menyebutkan lafadz: (أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا) “Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad mencaci Ali!?” kecuali riwayat Bukair bin Mismaar. Periwayatan haditsnya sedikit lemah dan menyalahi riwayat yang lebih kuat. Imam Bukhari mengatakan: Hadisnya ada sedikit kejangalan (fiihi nadzar). Adz-Dzahabiy mengatakan: Ada sesuatu (kelemahan dalam riwayatnya) Lihat: At-Taarikh Al-Kabiir karya Imam Bukhariy 2/115, Adh-Dhu’afaa’ Al-Kabiir karya Al-‘Uqailiy 1/150, Al-Kaamil karya Ibnu ‘Adiy 3/42, Al-Kaasyif karya Ad-Dzahabiy 1/276,

Kelima jalur yang dimaksudkan orang itu dapat dilihat dalam Shahih Muslim 4/1870 no 2404 [tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqiy]. Dan jika diamati kelima jalur sanad tersebut maka sanadnya terdiri dari

  1. Riwayat Sa’id bin Al Musayyab dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash dari Ayahnya secara marfu’ tentang hadis manzilah
  2. Riwayat Al Hakam dari Mush’ab bin Sa’d bin Abi Waqqash dari Ayahnya secara marfu’ tentang hadis manzilah
  3. Riwayat Sa’d bin Ibrahim dari Ibrahim bin Sa’d dari Sa’d secara marfu’ tentang hadis manzilah
  4. Riwayat Bukair bin Mismaar dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash dari Ayahnya yang menyebutkan kisah antara Mu’awiyah dan Sa’d, kemudian Sa’d menyebutkan tiga keutamaan Imam Aliy [salah satunya adalah hadis manzilah]

Riwayat-riwayat selain riwayat Bukair bin Mismaar hanya menyebutkan tentang hadis manzilah saja tanpa menyebutkan sebab atau kisah apapun, hanya lafaz marfu’ hadis manzilah. Sedangkan hadis Bukair bin Mismaar menyebutkan kisah antara Mu’awiyah dan Sa’d yang menyebabkan Sa’d menyebutkan hadis tiga keutamaan Imam Aliy diantaranya hadis manzilah.

Dengan kata lain tidak ada qarinah [petunjuk] bahwa riwayat-riwayat lain tersebut berasal dari kisah yang sama dengan riwayat Bukair bin Mismaar. Bisa saja Sa’d bin Abi Waqqash di saat yang lain [selain pertemuannya dengan Muawiyah] menceritakan hadis manzilah kepada anak-anaknya. Jadi tidak ada disini bukti atas tuduhan orang jahil tersebut bahwa Bukair bin Mismaar menyalahi riwayat yang lebih kuat.

Bukair bin Mismaar adalah perawi yang tsiqat. Berikut akan dibahas secara rinci pandangan ulama terhadapnya. At Tirmidziy berkata

حدثنا قتيبة حدثنا حاتم بن إسماعيل عن بكير بن مسمار هو مدني ثقة

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’iil dari Bukair bin Mismaar dan ia orang Madinah yang tsiqat…[Sunan Tirmidzi 5/225 no 2999]

Al Ijliy berkata “Bukair bin Mismaar orang Madinah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat 1/254 no 179]. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata

بكير بن مِسْمَار أَخُو مهَاجر بن مِسْمَار مولى سعد بن أَبى وَقاص من أهل الْمَدِينَة كنيته أَبُو مُحَمَّد يروي عَن عَامر بن سعد بْن أَبِي وَقاص روى عَنهُ حَاتِم بن إِسْمَاعِيل وَلَيْسَ هَذَا ببكير بن مِسْمَار الَّذِي يروي عَن الزُّهْرِيّ ذَاك ضَعِيف وَمَات بكير هَذَا سنة ثَلَاث وَخمسين وَمِائَة

Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir bin Mismaar maula Sa’d bin Abi Waqqash dari penduduk Madinah, kuniyah Abu Muhammad, ia meriwayatkan dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash dan meriwayatkan darinya Haatim bin Isma’iil, ia bukanlah Bukair bin Mismaar yang meriwayatkan dari Az Zuhriy, [Bukair] ini seorang yang dhaif, wafat Bukair pada tahun 153 H [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 6/105-106 no 6917]

Kemudian dalam Al Majruhin, Ibnu Hibban memasukkan nama Bukair bin Mismaar dan mengatakan bahwa ia Syaikh yang meriwayatkan dari Az Zuhriy dan meriwayatkan darinya Abu Bakr Al Hanafiy sebagai perawi dhaif, adapun Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir bin Mismaar adalah seorang yang tsiqat [Al Majruuhin Ibnu Hibban 1/222 no 145]

Daruquthniy berkata tentang Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir bin Mismaar bahwa ia tsiqat [Ta’liqaat Daaruquthniy ‘Ala Al Majruuhiin hal 61/62]

Orang itu mengutip Al Bukhariy yang katanya melemahkan Bukair bin Mismaar. Inilah yang disebutkan Bukhariy

بكير بن مسمار أخو مهاجر مولى سعد بن أبي وقاص القرشي المديني قال لي أحمد بن حجاج وإبراهيم بن حمزة حدثنا حاتم عن بكير عن عامر بن سعد عن سعد سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله أو يحبه الله ورسوله فتطاولنا فقال ادعوا عليا وسمع الزهري روى عنه أبو بكر الحنفي فيه بعض النظر أبو بكر

Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir maula Sa’d bin Abi Waqqash Al Qurasyiy Al Madiiniy. Telah berkata kepadaku Ahmad bin Hajjaaj dan Ibrahim bin Hamzah yang berkata telah menceritakan kepada kami Haatim dari Bukair dari ‘Aamir bin Sa’d dari Sa’d yang mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada hari Khaibar “Aku akan memberikan panji ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai Allah dan Rasul-Nya maka kami berharap untuk mendapatkannya”. kemudian Beliau berkata “Panggilkan Aliy”. [Bukair] mendengar dari Az Zuhriy dan meriwayatkan darinya Abu Bakr Al Hanafiy, dalam sebagian hadisnya perlu diteliti kembali [Tarikh Al Kabir 2/115 no 1881]

Apa yang dikatakan Al Bukhariy terhadap Bukair bin Mismaar adalah terbatas pada hadisnya dari Az Zuhriy yang diriwayatkan oleh Abu Bakr Al Hanafiy. Ibnu Adiy setelah mengutip jarh Bukhariy tersebut, ia mengatakan tidak menemukan adanya hadis mungkar dari Bukair bin Mismaar dan di sisinya Bukair bin Mismaar hadisnya lurus [Al Kamil Ibnu ‘Adiy 2/216 no 279].

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Ibnu Hibban telah membedakan Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir bin Mismaar dengan Bukair bin Mismaar yang mendengar dari Az Zuhriy dan meriwayatkan darinya Abu Bakr Al Hanafiy. Yang pertama tsiqat dan yang kedua dhaif. Sedangkan Al Bukhariy menganggap keduanya perawi yang sama. Ibnu Hajar berkata dalam biografi Bukair bin Mismaar setelah mengutip perkataan Ibnu Hibban

قلت وأما البخاري فجمع بينهما في التاريخ لكنه ما قال فيه نظر الا عند ما ذكر روايته عن الزهري ورواية أبي بكر الحنفي عنه

Aku [Ibnu Hajar] berkata “adapun Al Bukhariy telah menggabungkan keduanya dalam kitab Tarikh [Al Kabir], akan tetapi tidaklah ia mengatakan “fiihi nazhar” kecuali hanya pada riwayatnya [Bukair] dari Az Zuhriy dan riwayat Abu Bakr Al Hanafiy yang meriwayatkan darinya” [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/455-456 no 916]

Ibnu Hajar lebih merajihkan apa yang dikatakan Ibnu Hibban, oleh karena itu dalam Taqrib At Tahdziib ia telah membedakan keduanya, Ibnu Hajar berkata

بكير بن مسمار الزهري المدني أبو محمد أخو مهاجر صدوق من الرابعة مات سنة ثلاث وخمسين

Bukair bin Mismaar Az Zuhriy Al Madiiniy Abu Muhammad saudara Muhaajir seorang yang shaduq termasuk thabaqat keempat wafat pada tahun 153 H [Taqriib At Tahdzib 1/138]

بكير بن مسمار آخر يروي عن الزهري ضعيف من السابعة

Bukair bin Mismaar [yang lain] meriwayatkan dari Az Zuhriy, seorang yang dhaif termasuk thabaqat ketujuh [Taqriib At Tahdzib 1/138]

Adapun Adz Dzahabiy telah berkata tentang Bukair bin Mismaar “ada sesuatu tentangnya” [Al Kasyf 1/276 no 648]. Sebenarnya Adz Dzahabiy juga menta’dilkan Bukair bin Mismaar. Adz Dzahabiy berkata dalam Diiwaan Adh Dhu’afa “Bukair bin Mismaar seorang yang shaduq dan dilemahkan oleh Ibnu Hibban” [Diiwaan Adh Dhu’afa no 658]. Adz Dzahabiy juga mengatakan hal yang sama dalam kitabnya Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 57.

Telah ditunjukkan bahwa hal ini keliru, Ibnu Hibban justru menyatakan Bukair bin Mismaar tsiqat sedangkan perawi yang dilemahkan oleh Ibnu Hibban adalah Bukair bin Mismaar yang meriwayatkan dari Az Zuhriy. Anehnya dalam Mizan Al I’tidaal, Adz Dzahabiy malah menukil tautsiq dari Ibnu Hibbaan, setelah menukil jarh Bukhariy [Mizan Al I’tidaal Adz Dzahabiy 2/68 no 1312]. Maka hal paling mungkin yang dimaksudkan Adz Dzahabiy “tentang sesuatu” tersebut tidak lain adalah jarh Bukhariy.

Kesimpulannya adalah satu-satunya kelemahan yang dinisbatkan pada Bukair bin Mismaar adalah jarh Bukhariy pada sebagian hadisnya yaitu hadisnya dari Az Zuhriy dan yang diriwayatkan dari Abu Bakr Al Hanafiy. Jika memang ia adalah orang yang sama maka jarh ini tidak membahayakan hadis Muslim di atas karena hadis tersebut bukan riwayatnya dari Az Zuhriy.

Tetapi kami lebih merajihkan bahwa Bukair bin Mismaar yang meriwayatkan dari Az Zuhriy adalah perawi yang berbeda dengan Bukair bin Mismaar yang tsiqat sebagaimana dikatakan Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar. Apalagi Ibnu Adiy telah bersaksi bahwa ia tidak menemukan hadis Bukair bin Mismaar yang mungkar maka hal ini qarinah menguatkan bahwa Bukair yang dhaif dan hadisnya bermasalah adalah perawi yang berbeda dengan Bukair bin Mismaar yang tsiqat.

Dengan demikian lafadz tersebut lemah dan mungkar

Dan sepertinya lafadz tambahan tersebut adalah perkataan Bukair, sebab jika itu adalah perkataan Sa’ad maka lafadznya akan seperti ini: “Mu’awiyah memerintahkan aku”.

Buktinya pada riwayat Al-Hakim, Bukair bin Mismaar tidak menyebutkan lafadz tersebut. [Mustadrak Al-Hakim 3/117 no.4575]

Lafaz itu bukanlah perkataan Bukair. Orang ini hanya mengada-adakan sesuatu tanpa dasar bukti. Disini ia ingin mengesankan lafaz tersebut adalah idraaj [sisipan] dari Bukair bin Mismaar. Kami katakan padanya wahai jahil silakan belajar terlebih dahulu ilmu hadis kaidah yang digunakan untuk dapat membuktikan suatu lafaz sebagai idraaj.

Idraaj dalam hadis harus ditetapkan dengan bukti riwayat yang jelas bukan dengan sesuka hati. Jika tidak ada qarinah yang menunjukkan hal lain maka lafaz itu berdasarkan sanad Muslim dalam Shahih-nya adalah milik Sa’d bin Abi Waqqash [radiallahu ‘anhu]. Atau lafaz tersebut milik ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash sebagaimana tampak dalam riwayat Nasa’iy [dan dalam hal ini ‘Aamir bin Sa’d terkadang menisbatkan lafaz tersebut pada ayahnya sebagaimana nampak dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi]

أخبرنا قتيبة بن سعيد وهشام بن عمار قالا حدثنا حاتم عن بكير بن مسمار عن عامر بن سعد بن أبي وقاص قال أمر معاوية سعدا

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid dan Hisyaam bin ‘Ammaar, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Haatim dari Bukair bin Mismaar dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash yang berkata Mu’awiyah memerintahkan Sa’d…[Sunan Nasa’iy Al Kubra 7/410 no 8342]

Maka penjelasan yang masuk akal disini adalah ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash menyaksikan peristiwa tersebut yaitu kisah antara Mu’awiyah dan Sa’d. Oleh karena itu terkadang ia menisbatkan hadis itu kepada Ayahnya dan terkadang menceritakan seolah menyaksikannya sendiri.

Adapun riwayat Al Hakim yang disebutkan olehnya maka sanadnya dapat dilihat sebagai berikut

حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا محمد بن سنان القزاز ثنا عبيد الله بن عبد المجيد الحنفي
وأخبرني أحمد بن جعفر القطيعي ثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثني أبي ثنا أبو بكر الحنفي ثنا بكير بن مسمار قال : سمعت عامر بن سعد يقول قال معاوية لسعد بن أبي وقاص رضي الله عنهما ما يمنعك أن تسب ابن أبي طالب

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbaas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinaan Al Qazaaz yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin ‘Abdul Majiid Al Hanafiy dan telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Ja’far Al Qathii’iy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Al Hanafiy  yang berkata telah menceritakan kepada kami Bukair bin Mismaar yang berkata aku mendengar ‘Aamir bin Sa’d mengatakan Mu’awiyah berkata kepada Sa’d bin Abi Waqqaash “apa yang mencegahmu untuk mencaci Ibnu Abi Thalib”…[Al Mustadrak Al Hakim 3/117 no 4575]

Sanad pertama dhaif karena Muhammad bin Sinaan ia dikatakan Ibnu Hajar seorang yang dhaif [Taqriib At Tahdziib 2/83]. Sanad kedua yang berujung pada Abu Bakr Al Hanafiy dari Bukair dari ‘Aamir bin Sa’d adalah shahih dimana Abu Bakr Al Hanafiy yaitu ‘Abdul Kabiir bin ‘Abdul Majiid seorang yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/610].

Lafaz “Mu’awiyah memerintah Sa’d” ada dalam riwayat Haatim bin Ismaa’iil dari Bukair bin Mismaar sedangkan dalam riwayat Abu Bakr Al Hanafiy dari Bukair bin Mismaar lafaz tersebut tidak ada. Haatim bin Ismaa’iil seorang yang tsiqat. Ibnu Sa’d berkata tentangnya “tsiqat ma’mun banyak meriwayatkan hadis” [Thabaqat Ibnu Sa’d 7/603 no 2273]. Al Ijliy berkata “tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat 1/275 no 235]. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil 3/259 no 1154] dan Daruquthniy berkata “Haatim tsiqat dan ziyadahnya diterima” [Al Ilal Daruquthniy 2/168]. Jadi lafaz tersebut adalah bagian dari ziyadah tsiqat Haatim bin Isma’iil dan diterima kedudukannya.

kalaupun itu hadits hasan seperti dikatakan ibnu hajar maka lafadznya adalah bukan amaro tapi ammaro yg berarti menjadikannya amir bukan memerintahkan mencela.

Cukuplah kami menunjukkan kepada para pembaca kitab-kitab hadis Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Sunan An Nasa’iy yang sudah ditahqiq [dimana semuanya menyebutkan lafaz amara] untuk membuktikan kejahilan orang ini.

Shahih Muslim tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqiy


Shahih Muslim tahqiq M Fuad Abdul Baqiy

Shahih Muslim no 2404

Sunan Tirmidzi Tahqiq Basyaar ‘Awwaad Ma’ruf


Sunan Tirmidzi tahqiq Basyaar

Sunan Tirmidzi 3724

Sunan Al Kubra An Nasa’iy Tahqiq Hasan bin ‘Abdul Mun’im Syalbiy


Sunan Nasa'iy Al Kubra

Sunan Nasa'iy no 8342

.

.

kalaupun shohih maka Lafadz tersebut tidak menunjukkan secara jelas bahwa Mu’awiyah memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Ali. Lafadz tersebut menunjukkan bahwa Mu’awiyah ingin tahu alasan Sa’ad tidak mencaci Ali, oleh sebab itu Mu’awiyah tidak marah ketika mendengar jawaban Sa’ad dan tidak menghukumnya. Dan sikap Mu’awiyah yang tidak menanggapi perkataan Sa’ad menunjukkan bahwa Mu’awiyah mengakui keutamaan Ali.

Orang ini hanya mengulang-ngulang takwil An Nawawiy terhadap hadis tersebut. Seebelumnya telah kami tunjukkan ulama seperti Al Hafizh As Sindiy dan Ibnu Taimiyyah yang memahami lafaz dalam hadis Muslim tersebut sebagai Muawiyah memerintahkan Sa’d mencaci Aliy. Dan pemahaman ini telah kami bahas dalam tulisan sebelumnya sangat sesuai dengan lafaz hadisnya tidak seperti takwil An Nawawiy yang jauh sekali dari lafaz hadisnya. Berikut tambahan ulama yang memahami lafaz tersebut sebagai “Mu’awiyah memerintahkan Sa’d untuk mencaci Aliy”.

Syaikh Muusa Syaahiin Laasyiin Dalam Fathul Mun’im Syarh Shahih Muslim 9/332


Fathul Mun'im Syarh Shahih Muslim

Fath Al Mun'im Syarh Shahih Muslim juz 9 hal 332

Syaikh Muhammad Amin bin ‘Abdullah Al ‘Alawiy Asy Syafi’iy Dalam Al Kaukab Al Wahhaaj Wa Ar Raudha Al Bahhaaj Fii Syarh Shahih Muslim 23/444


Al Kaukab Syarh Shahih Muslim

Al Kaukab Syarh Shahih Muslim juz 23 hal 444

Adapun respon Mu’awiyah setelah mendengar keutamaan Imam Aliy yang disebutkan Sa’d bin Abi Waqqash dapat dilihat dalam riwayat Al Hakim dimana terdapat lafaz

قال : فلا والله ما ذكره معاوية حتى خرج من المدينة

[‘Aamir bin Sa’d] berkata “maka demi Allah Mu’awiyah tidak lagi menyebutnya sampai ia keluar dari Madinah” [Al Mustadrak Al Hakim 3/117 no 4575]

Seandainya Mu’awiyah tidak pernah mencaci atau memerintahkan mencaci Aliy maka mengapa bisa ada lafaz di atas. Kalau Mu’awiyah sekedar ingin tahu alasan Sa’d maka apa yang mencegahnya untuk menyebutkan tentang Aliy. Justru lebih masuk akal dikatakan Mu’awiyah akan lebih sering menyebutkan tentang Aliy dan keutamaannya yang ia dengar dari Sa’d tersebut.

Lain ceritanya jika sebelumnya Mu’awiyah memang mencaci Aliy bin Abi Thalib atau memerintahkan Sa’d mencaci Aliy bin Abi Thalib maka setelah mendengar hujjah Sa’d tersebut ia tidak lagi menyebutkan tentang Aliy sampai ia keluar Madinah.

Kami objektif saja disini, lafaz tersebut memang menunjukkan Mu’awiyah mengakui keutamaan Imam Aliy. Kami sedikitpun tidak pernah menafikan hal ini. Apakah orang jahil tersebut berpikir kalau para sahabat yang mencaci Aliy bin Abi Thalib seperti Mughirah bin Syu’bah dan Mu’awiyah tidak mengetahui keutamaan Aliy bin Thalib?. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] seringkali menyebutkan keutamaan Imam Aliy bin Abi Thalib di depan orang banyak misalnya sebagaimana yang tampak dalam hadis Ghadir Khum. Mereka mengakui keutamaannya tetapi mungkin kebencian membuat mereka tetap mencaci Aliy bin Abi Thalib.

Apalagi terkait hadis yang sedang dibahas ini, menurut kami Mu’awiyah sudah mengetahui hadis yang disebutkan Sa’d bin Abi Waqqash tersebut karena diantara keutamaan yang disebutkan Sa’d adalah hadis manzilah yang diucapkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat perang Tabuk dan saat itu Mu’awiyah juga ikut bersama para sahabat lainnya dalam perang Tabuk.

.

.

adapun perkataan Abu Hasan Al Sindiy atau Al Hafizh Muhammad bin ‘Abdul Hadiy Al Sindiy,maka syiah telah curang memotong perkataan beliau,coba ditulis lebih lengkap akan tersingkap tipu daya mereka.mari kita lihat lanjutannya :

وَمَنْشَأ ذَلِكَ الْأُمُور الدُّنْيَوِيَّة الَّتِي كَانَتْ بَيْنهمَا وَلَا حَوْل وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاَللَّهِ وَاَللَّهُ يَغْفِرُ لَنَا وَيَتَجَاوَز عَنْ سَيِّئَاتنَا وَمُقْتَضَى حُسْن الظَّنّ أَنْ يُحْمَل السَّبّ عَلَى التَّخْطِئَة وَنَحْوهَا مِمَّا يَجُوز بِالنِّسْبَةِ إِلَى أَهْل الِاجْتِهَاد لَا اللَّعْن وَغَيْره

dan sebabnya itu karena perkara dunia yg terjadi antara keduanya,semoga alloh mengampuni kita dan kesalahan kita dan HUSNUDHON menuntut kita untuk membawa celaan itu kepada menganggap salah atau semisalnya yg dibolehkan ijtihad BUKAN MELAKNAT ATAU SEMISALNYA.

Inilah akibatnya kalau orang jahil sok ingin membantah orang lain. Wahai pendusta, tidak ada yang curang disini dan tidak ada yang sedang melakukan tipu daya. Silakan anda lihat kembali tulisan kami yang mengutip ucapan Al Hafizh Al Sindiy. Perkara yang sedang dibahas saat itu adalah lafaz Mu’awiyah memerintah Sa’d. Kami sebelumnya berkata

Abu Hasan Al Sindiy atau Al Hafizh Muhammad bin ‘Abdul Hadiy Al Sindiy termasuk ulama yang mengartikan riwayat Muslim sebagai Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Imam Ali.

Seandainya kami kutip lebih panjang [seperti yang anda lakukan] maka perkataan Al Hafizh As Sindiy tersebut tetap saja Beliau memang memahami lafaz Muslim sebagai Mu’awiyah memerintah Sa’d mencaci Aliy.

قوله : ( فنال منه ) أي نال معاوية من علي ووقع فيه وسبه بل أمر سعدا بالسب كما : قيل في مسلم والترمذي ومنشأ ذلك الأمور الدنيوية التي كانت بينهما – ولا حول ولا قوة إلا بالله – والله يغفر لنا ويتجاوز عن سيئاتنا ومقتضى حسن الظن أن يحمل السب على التخطئة ونحوها مما يجوز بالنسبة إلى أهل الاجتهاد لا اللعن وغيره

Perkataannya “Fanaala minhu” yaitu bermakna Mu’awiyah mencela Aliy, berkata buruk tentangnya dan mencacinya bahkan ia memerintahkan Sa’d untuk mencaci Aliy sebagaimana dikatakan dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi dan hal ini disebabkan urusan dunia antara keduanya –tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah- semoga Allah mengampuni kita dan menghapuskan kesalahan kita, dan berprasangka baik menuntut kita untuk membawa lafaz cacian tersebut kepada menyalahkan atau perkara semisalnya yang dibolehkan atas orang-orang yang berijtihad bukan melaknat atau yang lainnya [Haasyiyah As Sindiy ‘Ala Ibnu Majah hadis no 121]

Perhatikanlah apa yang kami cetak tebal di atas, itu adalah pemahaman Al Hafizh As Sindiy atas lafaz riwayat Muslim. Itulah yang kami katakan tidak ada yang curang atau menipu disini. Adapun perkara prasangka baik yang dikatakan Al Hafizh adalah asumsi pribadinya dan tidak memiliki nilai hujjah di sisi kami, oleh karena itu tidak kami kutip.

Kalau kita berpikir kritis maka prasangka baik yang dimaksud yaitu membawa lafaz mencaci dengan makna menyalahkan atas perkara tertentu karena ijtihad, hal itu malah bertentangan dengan lafaz hadisnya. Pertentangan dalam hal ijtihad atau saling menyalahkan adalah perkara yang lumrah di kalangan sahabat Nabi, maka jika Mu’awiyah ingin memerintahkan Sa’d menyalahkan Aliy maka reaksi yang wajar dari Sa’d adalah menilai perkara tersebut yang mana ijtihad yang benar antara Mu’awiyah dan Aliy, jika dalil bersama Mu’awiyah maka Sa’d tinggal menyalahkan Aliy dan jika dalil bersama Aliy maka Sa’d tinggal menyalahkan Mu’awiyah. Sa’d tidak perlu membawa-bawa hadis keutamaan Imam Aliy disini karena yang sedang dipermasalahkan adalah suatu perkara dimana dibolehkan dalam ijtihad untuk menyalahkan satu sama lain.

Faktanya justru Sa’d bin Abi Waqqash malah membawa hadis keutamaan Imam Aliy. Maka lafaz mencaci disini lebih cocok bermakna merendahkan atau menghina pribadi Aliy bin Abi Thalib oleh karena itu reaksi Sa’d bin Abi Waqqash menolak untuk mencaci Aliy dengan membawakan keutamaan Imam Aliy. Hal itu untuk menegaskan bahwa kedudukan Aliy itu sangat tinggi di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga tidak pantas untuk dicaci, dihina dan direndahkan.

Siapapun yang berakal lurus akan memahami perkara ini dengan baik dan tidak ada disini urusannya dengan orang Syi’ah. Orang jahil itu dan orang sejenis dirinya memang mengidap penyakit bahwa setiap apapun yang menyudutkan sahabat mesti dikatakan ulah Syi’ah. Sampah tetaplah sampah meskipun ia diletakkan di atas singgasana dan berlian akan tetap berlian meskipun ia tenggelam di dalam lumpur.

.

.

.

.

Syubhat Riwayat Ibnu Majah

Berikutnya kami akan membahas syubhat orang tersebut atas hadis Ibnu Majah. Ia mengatakan bahwa hadis tersebut dhaif dan memiliki banyak cacat, ia berkata

1) Adapun riwayat Ibnu Majah lemah karena Abu Mu’awiyah Adh-Dharir; ibnu hajar dalam taqribnya :Riwayatnya dari selain Al-A’masy terkadang terdapat kekeliruan. Al-Hakim mengatakan: Ia terkenal berlebihan dalam madzhab syi’ah.imam ahmad ibn hanbal : Riwayatnya dari selain Al-A’masy muththorib (guncang) dan tidak menghafalnya dg hafalan yg baik,

Ia menyalahi riwayat Abdussalam, sebagaimana dalam As-Sunan Al-Kubra kayra An-Nasa’iy 7/411 no.8343:

قال: أَخْبَرَنَا حَرَمِيُّ بْنُ يُونُسَ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ، عَنْ مُوسَى الصَّغِيرِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا فَتَنَقَصُّوا عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ …

Sa’ad berkata: Suatu hari aku duduk (dalam satu majlis) kemudian mereka merendahkan Ali bin Abi Thalib …

Dalam riwayat ini tidak disebutkan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.

Perkataannya soal Abu Mu’awiyah bahwa riwayatnya dari selain Al A’masyiy terdapat kekeliruan atau idhthirab itu benar, tetapi bukan berarti semua hadis Abu Mu’awiyah dari selain Al A’masyiy menjadi dhaif kedudukannya. Betapa banyak riwayat Abu Mu’awiyah dari selain Al A’masyiy dalam kitab Shahih seperti dari Isma’il bin Abi Khalid, Abu Burdah bin Abu Muusa, Dawud bin Abi Hind, Suhail bin Abi Shalih, ‘Aashim Al Ahwal, dan Hisyam bin ‘Urwah [Tahdzib Al Kamal 25/123 no 5173]. Abu Mu’awiyah seorang yang tsiqat tetapi sering keliru dan idhthirab dalam riwayat selain Al A’masyiy.

‘Abdus Salaam bin Harb juga seorang yang tsiqat tetapi ternukil sedikit kelemahan padanya. Ibnu Mubarak melemahkannya sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Al Uqailiy dalam kitabnya [Adh Dhu’afa Al Uqailiy no 1037]. Ibnu Sa’d berkata “ada kelemahan padanya”. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat dalam hadisnya layyin” [Mizan Al I’tidaal Adz Dzahabiy 4/347 no 5051]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat hafizh tetapi memiliki riwayat-riwayat mungkar” [Taqrib At Tahdziib 1/599].

Riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb dan riwayat Abu Mu’awiyah saling melengkapi, dalam riwayat Nasa’iy memang disebutkan dengan lafaz

كُنْتُ جَالِسًا فَتَنَقَصُّوا عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِب

Aku [Sa’d] duduk [dalam suatu majelis] kemudian mereka menghina Aliy bin Abi Thalib

Tidak ada disebutkan nama Mu’awiyah bin Abu Sufyaan sebagaimana dalam riwayat Abu Mu’awiyah tetapi dalam riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb yang disebutkan Ibnu Asakir [Tarikh Ibnu Asakir 42/115], lafaznya adalah

كنت جالسا عند فلان فذكروا عليا فتنقضوه

Aku [Sa’d] duduk di sisi fulan [dalam suatu majelis] kemudian mereka menyebut Aliy dan menghinanya

Justru lafaz “fulan” dalam riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb dijelaskan dalam riwayat Abu Mu’awiyah bahwa ia adalah Muawiyah bin Abu Sufyaan. Jadi tidak ada istilah riwayat Abu Muawiyah menyalahi riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb.

Dan Abu Mu’awiyah tidak menyendiri dalam penyebutan Mu’awiyah bin Abu Sufyaan. Ia memiliki mutaba’ah dari Jarir bin Haazim sebagaimana diriwayatkan Abu Hasan Aliy bin Hasan Al Khila’iy dalam kitab Fawaid Al Muntaqaah Al Hissaan Min Ash Shihaah Wal Gharaa’ib

Fawaid Al Muntaqa

Fawaid Al Muntaqa no 707

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ نَظِيفٍ الْفَرَّاءُ , قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الْفَوَارِسِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ الصَّابُونِيُّ , قَالَ : أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ , قَالَ :حَدَّثَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى , قَالَ :حَدَّثَنِي جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ , عَنْ مُوسَى الصَّغِيرِ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ , قَالَ : قَدِمَ مُعَاوِيَةُ , رَحِمَهُ اللَّهُ حَاجًّا , فَأَتَاهُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ , قَالَ : فَذَكَرُوا عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلامُ , فَعَابَهُ , فَقَالَ سَعْدٌ : تَقُولُ لِرَجُلٍ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” ثَلاثُ خِصَالٍ لَئِنْ يَكُونَ لِي خَصْلَةٌ مِنْهَا أَخْيَرُ إِلَيَّ أَنْ تَكُونَ لِي الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا َسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلا أَنَّهُ لا نَبِيَّ بَعْدِي

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin Fadhl bin Nazhiif Al Farraa’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Fawaaris Ahmad bin Muhammad bin Husain Ash Shaabuuniy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Rabii’ bin Sulaiman yang berkata telah menceritakan kepada kami Asad bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepadaku Jariir bin Haazim dari Muusa Ash Shaghiir dari ‘Abdurrahman bin Saabith yang berkata Mu’awiyah pergi Haji maka Sa’d bin Abi Waqqaash mendatanginya. Mereka menyebutkan tentang Aliy maka Ia mencelanya. Maka Sa’d berkata “kamu mengatakan ini pada seseorang dimana aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengatakan tiga hal dimana jika aku memiliki salah satunya maka itu lebih baik bagiku daripada memiliki dunia dan seisinya. Aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “Engkau bagi-Ku seperti kedudukan Haruun di sisi Muusa hanya saja tidak ada Nabi sepeninggal-Ku” [Al Fawaid Al Muntaqaah Al Hissaan Min Ash Shihaah Wal Gharaa’ib hal 280 no 707]

Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat shaduq, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Fadhl bin Nazhiif dikatakan Adz Dzahabiy adalah seorang Syaikh Al ‘Aalim Al Musnid Al Mu’ammar [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 17/476 no 314]. Hasan bin Nashr Asy Syaasyiy berkata “dia termasuk orang Mesir yang paling baik” [Al Muqaffaa Al Kabiir Al Maqriiziy 6/524 no 3028]
  2. Abul Fawaaris Ahmad bin Muhammad bin Husain Ash Shabuuniy disebutkan oleh Adz Dzahabi kalau ia seorang yang tsiqat [Al ‘Ibar Fi Khabar Min Ghabar 2/287]
  3. Rabi’ bin Sulaiman Al Muradiy seorang yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/294]
  4. Asad bin Muusa Abu Sa’iid seorang hafizh imam tsiqat [Siyaar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 10/162 no 26]
  5. Jariir bin Haazim Al Azdiy seorang yang tsiqat tetapi hadisnya dari Qatadah dhaif dan memiliki kesalahan ketika menceritakan hadis dari hafalannya [Taqriib At Tahdziib 1/158]
  6. Muusa bin Muslim As Shaghiir seorang yang tsiqat [Al Kasyf Adz Dzahabiy 2/308 no 5734]
  7. ‘Abdurrahman bin Saabith seorang yang tsiqat banyak melakukan irsal [Taqriib At Tahdziib Ibnu Hajar 1/570].

Jika kita melihat dengan baik riwayat di atas ‘Abdurrahman bin Saabith tidak menyebutkan sanadnya dari Sa’d bin Abi Waqqaash sebagaimana yang nampak dalam riwayat Abu Mu’awiyah dan ‘Abdus Salaam bin Harb sebelumnya.

Kasus ini mirip seperti kasus riwayat Bukair bin Mismaar sebelumnya dimana terkadang sanadnya berakhir pada ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqaash dan terkadang berakhir pada Sa’d [radiallahu ‘anhu]. Keduanya benar karena ‘Aamir bin Sa’d menyaksikan peristiwa tersebut.

Maka begitu pula riwayat Ibnu Saabith di atas, kuat dugaan bahwa Ibnu Saabith menyaksikan peristiwa tersebut oleh karena itu terkadang ia menisbatkan sanadnya pada Sa’d dan terkadang langsung menceritakan kisah tersebut.

Salah satu petunjuk yang menguatkan hal ini adalah Abu Mu’awiyah terkadang meriwayatkan dengan akhir sanad pada Sa’d [radiallahu ‘anhu] dan terkadang pada Ibnu Saabith. Silakan lihat riwayat Abu Mu’awiyah berikut

ثنا أَبُو بَكْرٍ ، وَأَبُو الرَّبِيعِ ، قَالا : ثنا أَبُو مُعَاوِيَةَ ، عَنِ الشَّيْبَانِيِّ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ ، قَالَ : قَدِمَ مُعَاوِيَةُ فِي بَعْضِ حَجَّاتِهِ ، فَأَتَاهُ سَعْدٌ ، فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ فِي عَلِيٍّ ثَلاثَ خِصَالٍ ، لأَنْ يَكُونُ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” مَنْ كُنْتُ مَوْلاهُ ” ، ” وَأَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى ” ، ” وَلأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dan Abu Rabi’ keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Asy Syaibaniy dari ‘Abdurrahman bin Saabith yang berkata Mu’awiyah pergi dalam salah satu hajinya maka Sa’d mendatanginya, Ia berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan tentang Aliy tiga hal yang seandainya aku memiliki salah satu darinya itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya. Aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “barang siapa yang aku maulanya”, “engkau bagiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa” dan “akan aku berikan bendera ini” [As Sunnah Ibnu Abi ‘Aashim 2/920 no 1421]

Jika dikatakan hal itu adalah idhthirab Abu Mu’awiyah maka tidak tepat karena riwayatnya dengan akhir sanad dari Sa’d telah dikuatkan oleh riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb dan riwayatnya dengan akhir sanad dari Ibnu Saabith telah dikuatkan oleh riwayat Jarir bin Haazim. Maka kesimpulan yang masuk akal adalah kedua sanadnya benar dan hal ini bisa dipahami dengan menganggap Ibnu Saabith menyaksikan kejadian tersebut.

Telah kami buktikan sebelumnya bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith sudah mendengar hadis dari Jabir ketika Imam Husain masih hidup yaitu sebelum tahun 61 H [wafatnya Imam Husain bin Aliy]. Dan ‘Abdurrahman bin Saabith adalah seorang tabiin Makkah maka sangat mungkin ia menyaksikan peristiwa tersebut ketika Mu’awiyah dan Sa’d bin Abi Waqqaash pergi haji ke Makkah.

Selain itu, Abdurrahman bin Sabith tidak pernah mendengar hadits dari Sa’ad bin Waqqash sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ma’in [ Lihat: Taarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad-Duuriy 3/87, Jaami’ At-Tahshiil karya Al-‘Alaaiy hal.222, Tuhfah At-Tahshiil karya Abu Zur’ah Al-‘Iraqiy hal.197.],

ibnu hajar : tidak shohih dia mendengar dari sahabat(ishobah 5/228)

dengan demikian sanadnya juga terputus.

Hal inipun sebenarnya sudah kami bahas sebelumnya. Tentu kami tidak keberatan untuk membahasnya kembali. Inilah yang dikatakan Yahya bin Ma’in

سمعت يحيى يقول قال بن جريج حدثني عبد الرحمن بن سابط قيل ليحيى سمع عبد الرحمن بن سابط من سعد قال من سعد بن إبراهيم قالوا لا من سعد بن أبى وقاص قال لا قيل ليحيى سمع من أبى أمامة قال لا قيل ليحيى سمع من جابر قال لا هو مرسل كان مذهب يحيى أن عبد الرحمن بن سابط يرسل عنهم ولم يسمع منهم

Aku mendengar Yahya mengatakan Ibnu Juraij berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Saabith, dikatakan kepada Yahya, apakah ‘Abdurrahman bin Saabith mendengar dari Sa’ad?. Yahya berkata “Sa’ad bin Ibrahim?”. Mereka menjawab “bukan”, dari Sa’ad bin Abi Waqaash. Yahya berkata “tidak”. Dikatakan kepada Yahya, apakah ia mendengar dari Abu Umamah. Yahya menjawab “tidak”. Dikatakan kepada Yahya apakah ia mendengar dari Jabir. Yahya menjawab “tidak, itu mursal”. Mazhab Yahya adalah ‘Abdurrahman bin Saabith mengirsalkan hadis dari mereka dan tidak mendengar dari mereka [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 366]

Dan inilah perkataan lengkap Ibnu Hajar dalam kitabnya Al Ishabah dimana ia juga mengutip perkataan Yahya bin Ma’in.

كثير الإرسال ويقلل لا يصح له سماع من صحابي أرسل عن النبي صلى الله عليه وسلم كثيرا وعن معاذ وعمر وعباس بن أبي ربيعة وسعد بن أبي وقاص والعباس بن عبد المطلب وأبي ثعلبة فيقال انه لم يدرك أحدا منهم قال الدوري سئل بن معين هل سمع من سعد فقال لا قيل من أبي امامة قال لا قيل من جابر قال لا قلت وقد أدرك هذين وله رواية أيضا عن بن عباس وعائشة وعن بعض التابعين

Banyak melakukan irsal, dan dikatakan tidak shahih ia mendengar dari sahabat, ia banyak melakukan irsal dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], dan dari Mu’adz, Umar, ‘Abbaas bin Abi Rabii’ah, Sa’d bin Abi Waqqaash, ‘Abbaas bin ‘Abdul Muthalib dan Abu Tsa’labah, makai dikatakan bahwa ia tidak menemui satupun dari mereka. Ad Duuriy berkata Ibnu Ma’in ditanya apakah ia mendengar dari Sa’d, ia menjawab “tidak” dikatakan “dari Abu Umamah” ia berkata “tidak” dikatakan “dari Jabir” ia berkata tidak. Aku [Ibnu Hajar] berkata “sungguh ia telah menemui keduanya [Abu Umamah dan Jabir] dan ia memiliki riwayat dari Ibnu ‘Abbaas, Aisyah dan dari sebagian tabiin [Al Ishabah Ibnu Hajar 5/228-229 no 6691].

Apa yang dinukil Ibnu Hajar bahwa dikatakan tidak shahih mendengar dari sahabat sudah terbukti keliru karena terdapat bukti shahih bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir [radiallahu ‘anhu].

Pertanyaannya adalah adakah ulama yang menyatakan hal yang bertentangan dengan apa yang dikatakan Yahya bin Ma’in dan dinukil oleh Ibnu Hajar. Jawabannya ada yaitu Al Hafizh Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy. Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy memasukkan hadis Ibnu Saabith di atas dalam kitabnya Al Ahaadits Al Mukhtarah no 1008 dalam bab “Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d [radiallahu ‘anhu]”.

Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy seorang ulama hadis yang lahir tahun 569 H artinya ia lebih dahulu dibanding Ibnu Hajar. Dan ia telah mensyaratkan dalam kitabnya Al ‘Ahadiits Al Mukhtarah bahwa hadis-hadis di dalamnya adalah shahih di sisinya. Maka dari itu di sisi Al Maqdisiy riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d [radiallahu ‘ahu] kedudukannya muttasil. Ibnu Najjaar telah berkata tentangnya

كتبت عنه ببغداد ونيسابور ودمشق ، وهو حافظ متقن ثبت صدوق نبيل حجة عالم بالحديث وأحوال الرجال

Aku menulis darinya di Bagdhad, Naisabur dan Dimasyiq, dan ia seorang hafizh mutqin tsabit shaduq mulia hujjah alim dalam ilmu hadis dan keadaan perawi [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 23/129-130 no 97]

Tentu secara umum kita katakan bahwa ulama mutaqaddimin seperti Yahya bin Ma’in lebih mu’tabar dibandingkan ulama muta’akhirin seperti Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy. Tetapi dalam kasus ini terdapat qarinah petunjuk yang menyatakan bahwa mazhab Yahya bin Ma’in [sebagaimana yang ditegaskan Ad Duuriy] adalah keliru yaitu telah tsabit bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir [radiallahu ‘anhu] sehingga membuat kami bertawaqquf atas pendapat Yahya bin Ma’in bahwa Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’d dan Abu Umamah.

adaupun tuduhan ibnu ma’in keliru,karena ibn sabith bertemu jabir,maka

Abdurrahamn bin tsabit itu kata banyak ulama, mursilul hadits, semua nama sahabat yang dia sebutkan itu adalah bentuk tadlisnya. ia memperoleh nama-nama sahabat itu dari para tabiin kibar meskipun tidak semua, ada beberapa yang ia temui langsung (terutama sahabat yang ada di mekah) dan ada juga melaui perantaraan sahabat yang dekat dengannya, hanya saja ibnu jabir ini suka tidak mau menyebutkan nama mereka, seolah kesannya ia bertemu langsung dengan mereka.

Sebaiknya orang ini belajar terlebih dahulu ilmu logika, bagaimana menarik kesimpulan dengan benar dan cara berhujjah dengan benar. Perkara seorang tabiin mengirsalkan hadis dari sahabat adalah perkara yang ma’ruf dalam ilmu hadis. Kaidah dalam ilmu hadis yang sudah disepakati adalah lafaz ‘an anah perawi tsiqat semasa dengan perawi lainnya dimana perawi tsiqat tersebut bukan mudallis maka dihukumi muttashil kecuali jika ternukil ulama mu’tabar yang menyatakan inqitha’ [terputus] atau mursal.

Perkataan ulama tentang irsal pun bukanlah perkara yang bersifat pasti benar jika terdapat bukti kuat bahwa kedua perawi tersebut bertemu maka perkataan ulama tersebut tertolak. Dalam kasus ini telah terbukti dengan sanad yang shahih bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith telah mendengar secara langsung dari Jabir [radiallahu ‘anhu] maka mazhab Yahya bin Ma’in pada sisi ini memang terbukti keliru.

Kalau orang itu ingin bertaklid pada Yahya bin Ma’in maka kami persilakan padanya tetapi kalau memang ingin membahas secara ilmiah maka silakan tampilkan hujjah dengan benar bukan sembarangan mencampuradukkan waham khayal ke dalam hujjah. Orang ini bahkan tidak mengerti perbedaan irsal dan tadlis. Secara sederhana irsal itu menafikan adanya pertemuan antara dua perawi sedangkan tadlis itu sudah jelas pernah terjadi pertemuan antara dua perawi. Tidak ada satupun ulama hadis mu’tabar yang menuduh ‘Abdurrahman bin Saabith dengan tadlis seperti yang dikatakan orang ini.

berikut bukti bahwa ibnu tsabit sebelum menyebut nama sahabat ia menyebut nama tabiin kibar (yang semasa dengannya) terlebih dahulu:

ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، ثنا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَابِطٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ الأَوْدِيِّ قَالَ: قدم عَلَيْنَا مُعَاذٌ الْيَمَنَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الشِّحْرِ، رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرِ، أَجَشَّ الصَّوْتِ، فَأُلْقِيَتْ عَلَيْهِ مَحَبَّتِي، فَمَا فَارَقْتُهُ حَتَّى حَثَوْتُ عَلَيْهِ التُّرَابَ، ثُمَّ نَظَرْتُ إِلَى أَفْقَهِ النَّاسِ بَعْدَهُ، فَأَتَيْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ،

(tarikh islam adz dzahabi. hal 457)

Amru bin Maimun Al Adawi adalah tabiin kibar.

Apa sebenarnya yang mau dibuktikan orang ini?. Dalam kitab-kitab Rijal seperti Tahdzib Al Kamal dan yang lainnya sudah disebutkan bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith tidak hanya meriwayatkan dari sahabat Nabi, ia juga meriwayatkan dari tabiin termasuk tabiin yang anda sebutkan. Jadi sebenarnya ia tidak sedang membuktikan apapun. Seorang tabiin yang meriwayatkan dari sahabat bisa saja meriwayatkan pula dari tabiin kibaar dari sahabat lain. Ini adalah perkara yang ma’ruf dalam kitab hadis.

sedikit logika saja, kalau memang abdurrahman bin tsabit itu memang mendengar dari jabir harusnya ia juga mendengar dari shahabat nabi lainnya, tapi faktanya tak ada satupun hadis yang menunjukan hal tersebut kucuali hanya berupa an’anah semata. moso’ sih dari sekian sahabat yang didengar/dijumpai langsung cuma abdullah bin jabir doang?!

Maaf, orang ini tidak sedang menggunakan logika tetapi ia sedang berkhayal. Perkara ‘Abdurrahman bin Saabith mendengar dari Jabir [radiallahu ‘anhu] itu sudah terbukti secara shahih dan ditegaskan oleh Abu Hatim dan Al Bukhariy. Perkataannya, kalau memang Ibnu Saabith mendengar dari Jabir maka ia harusnya juga mendengar dari sahabat lainnya [dan karena Ibnu Saabith hanya menggunakan lafaz ‘an anah maka itu berarti mursal dan mana mungkin Ibnu Saabith hanya mendengar dari Jabir saja]. Maaf ini bukan logika tetapi khayalannya saja.

Orang ini memang jahil dalam ilmu hadis, lafaz ‘an anah dalam hadis adalah lafaz periwayatan yang ma’ruf, jika kedua perawi tersebut berada dalam satu masa maka kaidah awal adalah lafaz tersebut dianggap muttasil jika perawi tersebut tsiqat dan bukan mudallis. Mursal atau tidaknya perawi itu tergantung apakah ternukil dari perkataan ulama mu’tabar atau tidak, bukan seperti asumsinya kalau Ibnu Saabith mendengar dari Jabir harusnya mendengar pula dari sahabat lainnya. Apa ia pikir ilmu hadis itu harus menuruti hawa nafsunya?. Tolonglah belajar dahulu dengan baik sebelum sok membantah orang lain.

dan bukti lain adalah terjadinya syadz matan antara waki dengan abdullah bin numeir

versi waki (Bidayah wan Nihayah, hal: 282):

وَكِيْعٌ: حَدَّثَنَا رَبِيْع بنُ سَعْدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بنِ سَابِطٍ، عَنْ جَابِرٍ:

أَنَّهُ قَالَ – وَقَدْ دَخَلَ الحُسَيْنُ المَسْجِدَ -: (مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى سَيِّدِ شَبَابِ

ngga ada tuh ada lafal yang mengatakan:

كنت مع جابر”

sebagaimana yang terdapat pada

حدثنا أبي، قال حدثنا ربيع بن سعد عن عبد الرحمن بن سابط قال: كنت مع جابر، فدخل حسين بن علي رضي الله عنهما، فقال جابر: من سره أن ينظر الى رجل من أهل الجنة فلينظر الى هذا، فأشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقوله .

(Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab 5/92)

‘Abdullah bin Numair Al Hamdaaniy seorang yang tsiqat, ahli hadis dari kalangan ahlus sunnah [Taqriib At Tahdziib 1/542]. Ia adalah seorang hafizh tsiqat imam [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 9/244 no 70]. Adz Dzahabiy juga mengatakan bahwa ia adalah hujjah [Al Kasyf 1/604 no 3024]. Ibnu Hibban berkata tentangnya

عبد الله بن نمير الهمداني أبو هشام من المتقنين مات سنة تسع وتسعين ومائة

‘Abdullah bin Numair Al Hamdaaniy Abu Hisyaam termasuk golongan orang mutqin, wafat tahun 199 H [Masyaahiir ‘Ulamaa’ Al Amshaar no 1377]

‘Abdullah bin Numair seorang hafizh tsiqat mutqin hujjah, maka sesuai dengan kaidah ilmu hadis, tambahan matan dari perawi seperti kedudukan dirinya dalam periwayatan hadis adalah ziyadah tsiqat yang maqbul [diterima] kedudukannya. Apalagi dalam hal ini lafaz yang ia sebutkan tidaklah menyelisihi atau bertentangan dengan matan hadis yang disebutkan Waki’. Oleh karena itu keduanya benar dan saling melengkapi.

Contoh lain hadis dimana Abdurrahman bin Saabith mendengar langsung dari Jabir [radiallahu ‘anhu] dapat dilihat dalam kitab Al Ba’ts Wan Nusyuur Ibnu Abi Dawuud hal 16 no 5.


Al Ba'ts Wan Nusyuur Ibnu Abi Dawud

Al Ba'ts Wan Nusyuur Ibnu Abi Dawud no 5

Para perawiyat hadis tersebut sanadnya shahih sampai ‘Abdurrahman bin Saabith, berikut keterangannya

  1. Ayuub bin Muhammad Al Wazzaan seorang perawi yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/118]
  2. Marwaan bin Mu’awiyah Al Fazaariy seorang yang tsiqat dan hafizh [Taqriib At Tahdziib 2/172].
  3. Rabii’ bin Sa’d Al Ju’fiy seorang perawi yang tsiqat [Tarikh Yahya bin Ma’in riwayat Ad Duuriy no 2216]

.

.

.

kalaupun benar ibn tsabit mendengar jabir maka itu tidak serta merta mendengar sa’ad karena hukum asalnya adalah mursal sampai ada tahdits darinya.

Hal itu benar kalau orang ini taklid pada perkataan Yahya bin Ma’in karena ia adalah satu-satunya ulama terdahulu yang menyatakan riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d bin Abi Waqqaash mursal. Kami telah menunjukkan ulama lain yang menyatakan riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d shahih maka sanadnya muttashil [bersambung] yaitu Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy.

Secara sederhana bisa dikatakan Yahya bin Ma’in lebih mu’tabar dibanding Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy tetapi dalam kasus ini terdapat qarinah [petunjuk] yang menguatkan kami untuk merajihkan Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy dibanding Yahya bin Ma’in.

Pertama, Yahya bin Ma’in telah terbukti keliru ketika mengatakan Ibnu Saabith tidak mendengar dari Jabir [radiallahu ‘anhu]. Kalau ada yang mengatakan maka bukan berarti perkataannya soal Sa’d bisa langsung dikatakan keliru. Ya itu benar, tetapi sangat wajar untuk bertawaqquf atas perkataan Yahya bin Ma’in karena mazhabnya dalam hal ini terbukti keliru [apalagi ia menyatakan hal itu dalam satu lafaz perkataan].

Analogi yang pas untuk kasus ini adalah Jika seorang teman yang anda percayai mengatakan kepada anda ada tiga orang yang datang ke rumah anda kemarin ketika anda tidak ada di rumah yaitu Ahmad, Ali dan Budi. Padahal anda pergi seharian bersama Ahmad kemarin maka anda bisa mengatakan bahwa apa yang dikatakan teman anda tersebut tidak benar. Anda bisa merasa pasti bahwa Ahmad tidak kerumah anda kemarin. Maka sangat wajar anda tidak mempercayai kalau Aliy dan Budi datang ke rumah anda kemarin sampai anda mendapatkan bukti atau konfirmasi kalau memang mereka berdua ke rumah anda kemarin.

Kedua, Kami telah membuktikan bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith semasa dengan Sa’d bin Abi Waqqash yaitu terbukti dalam riwayat shahih bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith telah melihat Husain bin Aliy yang wafat tahun 61 H, artinya ia melihat Husain bin Aliy dan bersama Jabir [radiallahu ‘anhu] sebelum tahun 61 H. Sedangkan Sa’d bin Abi Waqqash wafat tahun 55 H. Maka hal ini tidaklah jauh perbedaan waktunya sehingga memungkinkan bagi Ibnu Saabith untuk bertemu Sa’d bin Abi Waqqaash. Oleh karena itu lebih memungkinkan lagi bagi Ibnu Saabith untuk menyaksikan kisah antara Mu’awiyah dan Sa’d ketika mereka haji di Makkah karena Ibnu Saabith memang termasuk penduduk Makkah.

Selain itu Ibnu Saabith meriwayatkan hadis dari Aisyah [radiallahu ‘anha] dan tidak ada satupun ulama mu’tabar yang menyatakan riwayatnya dari Aisyah mursal bahkan sebagian hafizh telah menshahihkan riwayatnya dari Aisyah [radiallahu ‘anhu].

Hadis Ibnu Saabith dari Aisyah diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah no 1338 dimana Al Hafizh Al Buushiiriy berkata “hadis ini sanadnya shahih para perawinya tsiqat” [Mishbaah Az Zujaajah Fii Zawaa’id Ibnu Majah no 474] dan Al Hafizh Ibnu Katsiir berkata tentang hadis Ibnu Saabith dari Aisyah tersebut “hadis ini sanadnya jayyid” [Fadha’il Qur’an Ibnu Katsiir hal 192-193]. Perlu diketahui bahwa penghukuman suatu sanad hadis dengan lafaz “sanadnya shahih” atau “sanadnya jayyid” memiliki konsekuensi hukum sanadnya muttashil di sisi kedua hafizh tersebut

Aisyah [radiallahu ‘anha] wafat tahun 57 H berdekatan dengan tahun wafatnya Sa’d bin Abi Waqqaash [radiallahu ‘anhu]. Jika ‘Abdurrahman bin Saabith riwayatnya muttashil [bersambung] dari Aisyah [radiallahu ‘anha] maka hal itu berarti ‘Abdurrahman bin Saabith satu masa dengan Sa’d bin Abi Waqqash [radiallahu ‘anhu] dan memungkinkan untuk bertemu dengannya.

Dan soal syekh albani nampaknya syekh Albaniy rahimahullah men-sahih-kan hadits ini hanya lafadz yang marfuu’ (perkataan Rasulullah tentang keutamaan Ali) sebagaimana dalam dalam kitabnya silsilah hadits sahih 4/335 no.1750.

Memang benar orang satu ini hanya bisa menukil tanpa paham apa yang ia nukil. Sok ilmiah tetapi sebenarnya jahil. Kalau ia memang membaca kitab Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah 4/335 no 1730, maka inilah perkataan Syaikh Al Albani yang tertera dalam kitabnya

Silsilah Shahihah  juz 4 hal 335

Perhatikanlah Syaikh Al Albani menukil riwayat ‘Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d [radiallahu ‘anhu] yang disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah no 121, kemudian Syaikh berkata “sanadnya shahih”. Jadi yang dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy adalah sanadnya, artinya Syaikh menganggap sanad Ibnu Saabith dari Sa’d [radiallahu ‘anhu] itu muttashil. Orang yang baru belajar ilmu hadis pun akan tahu bahwa pernyataan “sanadnya shahih” mencakup sanadnya yang muttashil [bersambung].

Sebelum Syaikh Al Albani, Al Hafizh Ibnu Katsir telah lebih dulu menguatkan hadis Ibnu Saabith tersebut. Ia berkata “sanadnya hasan” [Al Bidayah Wan Nihayah 11/50]. Hal ini menunjukkan di sisi Ibnu Katsir sanad Ibnu Saabith dari Sa’d bin Abi Waqqaash [radiallahu ‘anhu] adalah muttashil.


Al Bidayah juz 11

Al Bidayah juz 11 hal 50

.

.

.

Penutup

Kesimpulannya di sisi kami berdasarkan pendapat yang rajih riwayat Ibnu Saabith tersebut shahih. Pembahasannya sudah kami sebutkan dalam tulisan yang lalu dan dilengkapi dengan tulisan di atas. Silakan saja kalau orang jahil tersebut bersikeras untuk mendhaifkan riwayat Ibnu Majah. Hal itu tidak sedikitpun meruntuhkan hujjah tulisan kami karena bahkan telah kami tulis dalam tulisan sebelumnya [dan tidak ada bantahan dari orang jahil tersebut] hadis lain yang menjadi bukti bahwa Mu’awiyah mencela Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam].

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق قال ثنا معمر عن طاوس عن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم عن أبيه قال لما قتل عمار بن ياسر دخل عمرو بن حزم على عمرو بن العاص فقال قتل عمار وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم تقتله الفئة الباغية فقام عمرو بن العاص فزعا يرجع حتى دخل على معاوية فقال له معاوية ما شانك قال قتل عمار فقال معاوية قد قتل عمار فماذا قال عمرو سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول تقتله الفئة الباغية فقال له معاوية دحضت في بولك أو نحن قتلناه إنما قتله علي وأصحابه جاؤوا به حتى القوه بين رماحنا أو قال بين سيوفنا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang menceritakan kepadaku ayahku yang menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari ayahnya yang berkata “ketika Ammar bin Yasar terbunuh maka masuklah ‘Amru bin Hazm kepada Amru bin ‘Ash dan berkata “Ammar terbunuh padahal sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Maka ‘Amru bin ‘Ash berdiri dengan terkejut dan mengucapkan kalimat [Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un] sampai ia mendatangi Muawiyah. Muawiyah berkata kepadanya “apa yang terjadi denganmu”. Ia berkata “Ammar terbunuh”. Muawiyah berkata “Ammar terbunuh, lalu kenapa?”. Amru berkata “aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Muawiyah berkata “Apakah kita yang membunuhnya? Sesungguhnya yang membunuhnya adalah Ali dan sahabatnya, mereka membawanya dan melemparkannya diantara tombak-tombak kita atau ia berkata diantara pedang-pedang kita [Musnad Ahmad 4/199 no 17813 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Perhatikan hadis di atas setelah mengetahui ‘Ammar bin Yasar radiallahu ‘anhu terbunuh dan terdapat hadis bahwa ‘Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang maka Muawiyah menolaknya bahkan melemparkan hal itu sebagai kesalahan Imam Ali. Menurut Muawiyah, Imam Ali dan para sahabatnya yang membunuh ‘Ammar karena membawanya ke medan perang dan menurut Muawiyah Imam Ali itu yang seharusnya dikatakan sebagai kelompok pembangkang. Sudah jelas ini adalah celaan yang hanya diucapkan oleh orang yang lemah akalnya.

Tentu saja itu sama halnya seperti Muawiyah menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membunuh para sahabat Badar dan Uhud yang syahid di medan perang karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membawa mereka ke medan perang. Bayangkan jika perkataan dengan “logika Muawiyah” ini diucapkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka kami yakin orang-orang akan menyatakan kafir orang yang mengatakannya.

Satu lagi yang perlu diberikan catatan kami tidak pernah dalam tulisan sebelumnya dan tulisan di atas menyatakan bahwa Mu’awiyah mencela Aliy itu adalah maksudnya melaknat Aliy. Kami tidak akan berhujjah melampaui teks riwayat yang ada, begitulah cara berhujjah dengan objektif, lafaz riwayat menyatakan “mencela” maka itu sudah cukup sebagai hujjah.

Kami tidak akan berlebihan menyatakan yang dimaksud mencela adalah melaknat [karena hal itu membutuhkan dalil] tetapi kami tidak akan membuat bermacam-macam takwil demi membela Mu’awiyah seperti yang dilakukan orang-orang jahil. Jadi kami sarankan kepada orang-orang jahil itu kalau ingin membantah kami maka jangan mencampuradukkan waham khayal kalian tentang Syi’ah kepada kami.

Salam Damai

Syubhat Qunut Shubuh Kejahilan Toyib Mutaqin?

Syubhat Qunut Shubuh Kejahilan Toyib Mutaqin?

Berdiskusi dengan orang jahil tidak ada gunanya, bagi Toyib Mutaqin yang jahil hal itu memang tidak ada gunanya tetapi bagi para pembaca yang objektif maka itu akan berguna. Para pembaca dapat melihat letak kejahilan orang-orang seperti Toyib Mutaqin, ia merasa setelah dengan mengutip satu dua hadis kemudian pendapat satu dua ulama maka ia sok berasa di atas Sunnah.

Perhatikanlah wahai pembaca modal utama dalam memahami hadis dan perkataan ulama adalah akal yang baik. Orang yang berakal baik dapat berhujjah dengan benar dapat menimbang perkataan ulama dengan benar. Bukan seperti orang jahil yang sok berpegang pada ulama seolah hanya dirinya saja yang berpegang pada ulama. Para ulama sudah banyak berselisih mengenai qunut shubuh jadi alangkah lucunya orang jahil itu kalau mengira hanya dirinya yang berpegang pada ulama.

Toyib Mutaqin dengan kejahilannya kembali membantah tulisan kami, bantahan jahilnya tersebut dapat pembaca lihat di situsnya disini

http://muttaqi89.blogspot.com/2014/12/syubhat-qunut-shubuh-secondprince-2.html.

Orang ini semakin banyak ia menulis maka semakin banyak ia menunjukkan kejahilannya. Aneh bin ajaib ia tidak sadar bahwa dirinyalah yang jahil bahkan menuduh kami yang dusta dan mengada-ada. Kami akan membahas bantahannya dan menunjukkan kejahilannya, bantahan darinya adalah yang kami quote

.

.

.

Jawab : Sebenarnya perkaranya mudah bagi yg akalnya sehat bukan bagi orang yg logikanya sakit macam orang syiah tu.

Lihat hadits diatas baik2 ! anas mengatakan KAMI yaitu sahabat nabi

روى محمد بن نصر عن أنس أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يقنت بعد الركعة وأبو بكر وعمر حتى كان عثمان فقنت قبل الركعة ليدرك الناس قال العراقي وإسناده جيد

Telah meriwayatkan Muhammad ibn nashr dari anas bahwa rosul qunut sesudah ruku’,dan abu bakar,umar.hingga saat masa utsman maka beliau qunut sebelum rukuk supaya manusia mendapatinya.al ‘iroqy berkata sanadnya jayyid

Di atas adalah contoh orang jahil berhujjah dengan hadis. Silakan lihat ia berhujjah tanpa menyebutkan referensi hujjahnya. Hadis di atas telah diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr Al Marwadziy dalam kitab Mukhtasar Qiyamul Lail Wa Ramadhan Wal Witir hal 317

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ بَعْدَ الرَّكْعَةِ ، وَأَبُو بَكْرٍ ، وَعُمَرُ ، حَتَّى كَانَ عُثْمَانُ قَنَتَ قَبْلَ الرَّكْعَةِ لِيُدْرِكَ النَّاسَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad dari Humaid dari Anas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan qunut setelah ruku’, dan begitu pula Abu Bakar dan Umar, sampai Utsman melakukan qunut sebelum ruku’ agar orang-orang bisa mendapatinya [Mukhtasar Qiyamul Lail Wa Ramadhan Wal Witir hal 317]

Sebelumnya orang jahil ini pernah berkata ketika mengomentari hujjah saya berdasarkan hadis Humaid dari Anas mengenai qunut shubuh sebelum ruku’ dan sesudah ruku’

Jawab : itulah pemahaman sakit ente..tunjukkan dalam lafadz hadits diatas yg mana yg menunjukkan nazilah atau tanpa nazilah kecuali dari akal2an ente doang.

Coba lihat cara anda sendiri berhujjah wahai jahil, apakah dalam riwayat Muhammad bin Nashr yang anda kutip itu ada lafaz qunut shubuh dengan nazilah?. Jangan sok bertanya soal lafaz kalau anda sendiri tidak paham.

Riwayat Muhammad bin Nashr Al Marwadziy di atas dimasukkannya dalam kitab Witir, maka terdapat kemungkinan kalau yang dimaksud itu adalah qunut witir. Tentu saja kami tidak akan memastikan bisa saja qunut yang dimaksud adalah qunut witir dan bisa saja qunut yang dimaksud adalah qunut shubuh. Memang kemungkinan yang lebih rajih adalah qunut shubuh berdasarkan riwayat Humaid dari Anas yang disebutkan Ibnu Majah dimana terdapat lafaz “qunut shubuh”.

Orang ini taklid pada pernyataan Al Iraqiy bahwa sanadnya jayyid. Hal ini perlu diperjelas, sanad riwayat Muhammad bin Nashr di atas para perawinya tsiqat hanya saja ‘Abdul Aziiz bin Muhammad Ad Darawardiy yang meriwayatkan dari Humaid termasuk perawi yang diperbincangkan hafalannya.

وقال أبو زرعة سيء الحفظ ربما حدث من حفظه الشيء فيخطيء

Abu Zur’ah berkata “buruk hafalannya, ia menceritakan sesuatu dari hafalannya maka ia keliru” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 680]

وقال الساجي كان من أهل الصدق والأمانة إلا أنه كثير الوهم

As Sajiy berkata “ia termasuk orang yang jujur dan amanah hanya saja ia banyak melakukan kesalahan” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 680]

قال أحمد بن حنبل: إذا حدث من حفظه يهم، ليس هو بشيء، واذا حدث من كتابه فنعم

Ahmad bin Hanbal berkata “jika menceritakan hadis dari hafalannya maka terkadang keliru, tidak ada apa-apanya dan jika menceritakan hadis dari kitabnya maka ia benar” [Mizan Al I’tidal juz 4 no 5130]

Kedudukan perawi seperti ini adalah riwayatnya hasan jika tidak ada penyelisihan tetapi jika ia menyelisihi perawi tsiqat maka riwayatnya tertolak. Jika qunut yang dimaksud dalam riwayat ini adalah qunut shubuh maka riwayat Abdul ‘Aziiz Ad Darawardiy ini telah menyelisihi riwayat tsiqat yang membuktikan bahwa Umar bin Khaththab juga melakukan qunut sebelum ruku’

حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع بن الجراح قال حدثنا سفيان عن مخارق عن طارق بن شهاب أنه صلى خلف عمر بن الخطاب الفجر فلما فرغ من القراءة كبر ثم قنت ثم كبر ثم ركع

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ bin Jarrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Mukhaariq dari Thaariq bin Syihaab bahwasanya ia shalat shubuh di belakang Umar bin Khaththab maka ketika Umar selesai membaca surat ia bertakbir kemudian membaca Qunut, kemudian takbir kemudian ruku’ [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/107 no 7033]

Riwayat ini sanadnya shahih hingga Umar bin Khaththab dan membuktikan kalau Umar juga melakukan qunut sebelum ruku’.

  1. Sufyaan Ats Tsawriy adalah seorang tsiqat faqih ahli ibadah imam hujjah [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/371].
  2. Mukhariq bin Khaliifah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 2/165].
  3. Thariq bin Syihaab Al Ahmasiy ia seorang yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi tidak mendengar hadis darinya [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/447].

Kesimpulannya adalah riwayat yang dijadikan hujjah orang jahil tersebut tidak bernilai sama sekali. Ia sok berhujjah tetapi tidak mengerti kaidah ilmiah. Ajaibnya di atas kejahilannya ia malah menuduh orang lain dusta dan mengada-ada.

.

.

.

Kemudian orang itu mengutip riwayat Al Baihaqiy mengenai doa qunut Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ العباس بن الوليد أخبرني أبي ثنا الأوزاعي حدثني عبدة بن أبي لبابة عن سعيد بن عبد الرحمن بن أبزي عن أبيه قال صليت خلف عمر بن الخطاب رضي الله عنه صلاة الصبح فسمعته يقول بعد القراءة قبل الركوع اللهم إياك نعبد ولك نصلى ونسجد وإليك نسعى ونحفد نرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك بالكافرين ملحق اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونثني عليك الخير ولا نكفرك ونؤمن بك ونخضع لك ونخلع من يكفرك

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Al Haafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub yang berkata telah memberitakan kepada kami Abbaas bin Waalid yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Awza’iy yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdah bin Abi Lubaabah dari Sa’id bin ‘Abdurrahman bin Abzaa dari Ayahnya yang berkata aku shalat di belakang Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] shalat shubuh maka aku mendengarnya setelah membaca ayat sebelum ruku’ “Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, kepada-Mu kami shalat dan sujud, kepada-Mu kami berusaha dan bersegera, kami mengharapkan rahmat-Mu dan kami takut akan siksaan-Mu, sesungguhnya siksaan-Mu akan menimpa orang-orang kafir. Ya Allah sesungguhnya kami meminta pertolongan kepada-Mu dan memohon ampun kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan kebaikan, kami tidak ingkar kepada-Mu, kami beriman kepada-Mu, kami tunduk kepada-Mu dan kami meninggalkan orang-orang yang ingkar kepada-Mu [Sunan Al Baihaqiy 2/211 no 2963]

Orang itu berhujjah dengan riwayat di atas bahwa qunut Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] yang dilakukan sebelum ruku’ adalah qunut nazilah. Dan dengan dustanya ia berkata

Dan semua ulama’ sepakat ini adalah doa dalam qunut nazilah

Kesimpulan : qunut nazilah sebelum ruku’ yg shohih adalah sunnah dari sahabat walaupun yg setelah ruku’ lebih sering dilakukan,dan nazilah sebelum ruku’ tidak pernah dilakukan nabi.

Dari mana ia bisa menyatakan semua ulama sepakat bahwa doa tersebut adalah qunut nazilah?. Zhahir riwayat menyatakan bahwa itu adalah doa qunut shubuh dan tidak ada dalam lafaz doa tersebut Umar mendoakan keburukan atau laknat bagi suatu kaum tertentu sebagaimana yang dilakukan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam qunut nazilah terhadap bani Sulaim Ri’l dan Dzakwan. Tidak ada pula bukti riwayat yang menyebutkan bahwa Umar mengucapkan doa qunut yang sama pada semua shalat wajib lain [selain shalat shubuh]. Jadi apa buktinya kalau itu adalah qunut nazilah.

Dan merekalah yg didustakan oleh anas yaitu orang2 yg menuduh rosul qunut sebelum ruku’ dalam sholat shubuh/fajr.

Imam bukhori meriwayatkan :

كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا

Dia telah berdusta,sesungguhnya rosul qunut setelah rukuk sebulan saja.

Perkataan orang jahil ini adalah dusta. Orang yang didustakan oleh Anas bukan orang yang menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut sebelum ruku’ dalam shalat shubuh. Inilah hadis Bukhariy yang dimaksud

سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ الْقُنُوتِ فَقَالَ قَدْ كَانَ الْقُنُوتُ قُلْتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَهُ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا أَخْبَرَنِي عَنْكَ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَقَالَ كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا

[‘Aashim] berkata aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang Qunut, maka ia berkata “sungguh Qunut itu memang ada”. Aku bertanya “sebelum ruku’ atau sesudah ruku’?”. Ia berkata sebelum ruku’. Aku berkata “sesungguhnya fulan mengabarkan kepadaku darimu bahwa engkau mengatakan setelah ruku’. Maka ia berkata “dusta, sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanyalah melakukan Qunut setelah ruku’ selama satu bulan… [Shahih Bukhariy 2/26 no 1002]

Perhatikan lafaz yang kami cetak tebal. Justru yang didustakan oleh Anas bin Malik adalah orang yang meriwayatkan darinya bahwa Qunut shubuh itu setelah ruku’. Menurut Anas bin Malik qunut shubuh itu dilakukan sebelum ruku’ kecuali jika qunut tersebut adalah qunut nazilah maka dilakukan setelah ruku’.

حدثنا إبراهيم بن سعيد الجوهري ، قال : حدثنا أبو معاوية الضرير ، عن عاصم الأحول ، قال : سألنا أنسا عن القنوت، قبل الركوع أو بعد الركوع ، فقال : لا ، بل قبل الركوع ، قلت : فإن أناسا يزعمون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت بعد الركوع ، قال : « كذبوا ، إنما قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعو على أناس قتلوا أناسا من أصحابه يقال لهم » القراء

Telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Sa’iid Al Jauhariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Adh Dhariir dari ‘Aashim Al Ahwal yang berkata kami bertanya kepada Anas tentang qunut sebelum ruku’ atau setelah ruku’. Beliau berkata “tidak, bahkan sebelum ruku’. Aku berkata “orang-orang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Beliau berkata “mereka dusta, sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya qunut [yaitu setelah ruku’] ketika mendoakan atas orang-orang yang membunuh para sahabatnya dari kalangan qurra’ [Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabariy no 529]

Silakan perhatikan lafaz yang dicetak tebal. Yang didustakan oleh Anas bin Malik adalah orang-orang yang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Kalau memang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya melakukan qunut nazilah setelah ruku’ maka mengapa dikatakan dusta orang-orang yang beranggapan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Kerancuan ini dapat dipahami bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga melakukan qunut sebelum ruku’ dan itu bukan qunut nazilah.

Seandainya qunut yang ditanyakan ‘Aashim kepada Anas adalah qunut nazilah maka hakikat peristiwa itu akan menjadi seperti ini. Anas bin Malik menjawab qunut nazilah itu sebelum ruku’. ‘Aashim kembali berkata bahwa Anas pernah mengatakan kalau qunut nazilah itu setelah ruku’. Anas menjawab itu dusta, karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’ selama satu bulan yaitu qunut nazilah. Lihatlah wahai pembaca, siapapun yang punya akal akan mengatakan peristiwa ini rancu sekali. Bagaimana mungkin Anas mengatakan dusta dan di saat yang sama justru ia mengatakan hal yang ia dustakan.

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ السَّامِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ السَّلُولِيِّ، قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ صَلَاةَ الْغَدَاةِ فَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah As Saamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Jurairiy dari Buraid bin Abi Maryam As Saluuliy yang berkata aku shalat bersama Anas bin Malik shalat shubuh maka ia membaca qunut sebelum ruku’ [Tahdzib Al Atsar Ath Thabariy no 624]

Anas bin Malik jauh lebih paham hadis yang ia riwayatkan, maka dari itu ia tetap melakukan qunut shubuh sebelum ruku’. Qunut ini adalah qunut tanpa nazilah karena jika memang qunut nazilah maka Anas akan melakukannya setelah ruku’ sebagaimana hadis yang ia riwayatkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan qunut nazilah setelah ruku’ selama satu bulan.

Orang ini memang dari kemarin-kemarin sudah gagal paham tapi ajaibnya ia berasa dirinya yang paling paham soal hadis Anas bin Malik.

Jawab : itulah akibat logika sakit muhtalith,mencampur adukkan nash,hadits bukhori diatas tidak menyinggung sedikitpun tentang qunut sebelum ruku’.

Kalau ente mengaitkan dg hadits ibnu majah maka salah besar karena disana tidak ada kata2 sedikitpun bahwa rosul qunut sebelum ruku’.bukan syiah kalau tidak berdusta.

Orang jahil memang mana mengerti logika, uups tidak perlu bicara soal logika, bahkan si jahil ini sudah tidak bisa berfikir karena mungkin dalam anggapannya sudah tertanam virus “aku berfikir maka aku kafir” seperti dalam gambar yang ia pasang dalam tulisannya tersebut.

Hadis Bukhariy adalah bukti bahwa qunut shubuh setelah ruku’ hanyalah qunut nazilah. Jadi kalau Anas bin Malik melakukan qunut sebelum ruku’ [sebagaimana riwayat Ibnu Majah] maka sudah jelas itu qunut tanpa nazilah. Ngapain Anas bin Malik menentang sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ia riwayatkan.

Hadis riwayat Ibnu Majah memang menyebutkan perkataan Anas bin Malik dengan lafaz kami melakukan qunut sebelum ruku’ dan sesudah ruku’. Lafaz ini bisa mengandung makna hanya perbuatan sahabat yang tidak bersifat marfu’ atau bisa pula bersifat marfu’ [disandarkan kepada Nabi]. Hal itu tergantung dengan qarinah yang ada. Berikut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim riwayat yang sama

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ حَفْصٍ ، ثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ ، ثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، قَالَ : قُلْتُ لأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : ” نَعَمْ ، قَنَتَ شَهْرًا ” ، فَقُلْتُ : قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ ؟ قَالَ قَبْلَ وَبَعْدَ حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَيَّانَ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ ، ثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُمَرَ ، ثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ ، ثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : ” كُلَّ ذَلِكَ قَدْ فَعَلَ ، قَبْلَ وَبَعْدَ ” ، يَعْنِي أَنَّهُ قَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muzhaffar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Husain bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin Wakii’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdiy dari Syu’bah dari Humaid yang berkata aku berkata kepada Anas bin Malik “apakah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut?”. Beliau berkata “benar, Beliau qunut satu bulan”. Maka aku berkata “sebelum ruku’ atau setelahnya”. Beliau berkata “sebelum dan sesudah”. Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sahl yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Umar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Humaid dari Anas yang berkata “semuanya telah dilakukan, sebelum dan setelah [ruku’], yaitu bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah melakukan qunut”.[Hilyatul Auliyaa’ Abu Nu’aim 9/33]

Sanad riwayat pertama lemah karena Sufyaan bin Wakii’ tetapi dikuatkan oleh riwayat kedua dengan sanad yang jayyid, berikut keterangan para perawinya

  1. Abu Muhammad bin Hayyaan dikenal sebagai Abu Syaikh ia seorang imam hafizh, Ibnu Mardawaih menyatakan ia tsiqat ma’mun. Al Khatib berkata Abu Syaikh hafizh tsabit mutqin [Siyaar A’lam An Nubalaa’ 16/276-278 no 196]
  2. Muhammad bin Sahl Abu Ja’far Al Ashbahaniy dia adalah salah satu guru Abu Syaikh dan Abu Syaikh telah memujinya. Disebutkan dalam Irsyaad Al Qaashiy bahwa ia seorang yang shaduq [Irsyaad Al Qaashiy Wad Daaniy Ila Tarajim Syuyukh Thabraniy no 909]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Umar bin Yaziid Al Ashbahaniy salah seorang guru Abu Hatim dan Abu Zur’ah. Abu Hatim berkata tentangnya “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/263 no 1245]
  4. ‘Abdurrahman bin Mahdiy seorang yang tsiqat tsabit hafizh, arif dalam ilmu rijal dan hadis [Taqrib At Tahdzib 1/592]
  5. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin, Ats Tsawriy mengatakan ia amirul mukminin dalam hadis [Taqrib At Tahdziib 1/418]
  6. Humaid bin Abi Humaid seorang yang tsiqat dan melakukan tadlis [Taqrib At Tahdziib 1/244]

Jika sanad tersebut dilemahkan karena Humaid seorang mudallis maka dijawab bahwa ‘An ‘anah Humaid dari Anas tidak memudharatkan sanad tersebut karena walaupun Humaid dikatakan melakukan tadlis, telah cukup dikenal bahwa tadlis Humaid dari Anas bin Malik adalah diterima karena melalui perantara Tsaabit seorang yang tsiqat.

Justru riwayat ibnu majah yg lain,nomer selanjutnya yaitu 1184 menyibak kedustaanmu

سألت أنس بن مالك عن القنوت فقال قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم بعد الركوع

Saya bertanya anas tentang qunut maka beliau menjawab rosul qunut setelah ruku

Wahai jahil bagian mana dalam hadis di atas yang menunjukkan kedustaan kami. Justru kami telah menjelaskan bahwa qunut dalam hadis tersebut adalah qunut nazilah yang menurut Anas bin Malik dilakukan setelah ruku’. Sok menuduh orang dusta padahal tidak paham arti dusta.

Dan juga riwayat ibnu majah yg lain,nomer sebelumnya yaitu 1182 menyingkap kelicikanmu

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يوتر فيقنت قبل الركوع

Sesungguhnya rosul sholat witir maka beliau qunut sebelum ruku

Bagian mana dari hadis di atas yang menunjukkan kelicikan kami, justru ketika anda membawakan hadis di atas hanya menunjukkan kesekian kalinya kejahilan anda yang luar biasa. Jelas-jelas hadis tersebut berbicara tentang qunut witir bukan qunut shubuh. Jaka sembung bawa golok ya gak nyambung plok.

.

.

.

Telah meriwayatkan ibnul mundzir dari humaid dari sahabat anas sendiri dg lafadz : sungguh sebagian sahabat nabi mereka qunut dalam sholat shubuh sebelum ruku’ dan sebagian yg lain setelah ruku’.adapun nabi maka tidak diketahui darinya qunut di sholat wajib kecuali qunut nazilah.dan tidaklah nabi qunut nazilah kecuali setelah ruku’

Jadi gak ada nabi qunut sebelum rukuk dalam sholat wajib.

Kalau cuma menukil perkataan ulama maaf kami juga bisa. Apa menurut anda tidak ada ulama yang menyatakan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah qunut sebelum ruku’?. Silakan baca ini

ثبت أنّ النبيّ صلى الله عليه و سلم قنت في صلاة الفجر ، و ثبت أنه قنت قبل الركوع و بعد الركوع ، و ثبت أنه قنت لأمر نزل بالمسلمين من خوف عدوّ و حدوث حادث .

Telah tsabit bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut dalam shalat shubuh dan telah tsabit bahwa Beliau qunut sebelum ruku’ dan sesudah ruku’ dan telah tsabit bahwa Beliau qunut nazilah dalam hal yang menimpa kaum muslimin dari ketakutan atas serangan musuh dan musibah yang baru terjadi [‘Aaridhat Al Ahwadziy Syarh Shahih Tirmidziy, Ibnu Arabiy Al Malikiy 2/192]

Soal imam malik,tunjukkan nukilannya bahwa beliau menyatakan qunut tanpa nazilah dalam sholat wajib.ditunggu,kalau memang ente sanggup.

Berkata Imam Ibnu Wahab seorang murid Imam Malik yang alim dalam ilmu Hadits:

الحديث مضلة إلا للعلماء

Artinya : al-Hadits dapat menyesatkan seseorang (yang membacanya) kecuali bagi para ulama

حدثنا يونس قال أنا بن وهب قال : سمعت مالكا يقول الذي أخذته في خاصة نفسي القنوت في الفجر قبل الركوع

Telah menceritakan kepada kami Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata aku mendengar Malik mengatakan perkara yang aku ambil khususnya bagi diriku qunut dalam shalat shubuh adalah sebelum ruku’ [Syarh Ma’aniy Al Atsaar Ath Thahawiy 2/245 no 1464]

Dan Ath Thahawiy menambahkan bahwa diantara hujjah bagi kelompok yang menyatakan qunut shubuh sebelum ruku’ adalah hadis riwayat ‘Aashim dari Anas bin Malik.

Disebutkan juga Imam Malik pernah berkata bahwa barang siapa yang lupa membaca qunut dalam shalat shubuh maka tidak perlu sujud sahwi [Al Mudawwanat Al Kubra 1/192]

Siapapun yang berakal akan paham bahwa qunut yang dimaksud oleh Imam Malik tersebut bukan qunut nazilah karena tidak ada istilah lupa bagi qunut nazilah. Qunut nazilah itu terikat pada situasi tertentu di waktu tertentu sedangkan sifat lupa itu tertuju pada hal yang sudah menjadi kebiasaan untuk dilakukan. Qunut yang biasa dilakukan pada shalat shubuh bukan qunut nazilah.

Jawab : inilah akibat mengangkangi para ulama’.justru ulama itu berpendapat setelah tahu dalil bukan kayak ente dalil ditafsiri pake akal rusak ente sendiri.

Coba anda pikirkan dengan baik mengapa para ulama bisa berselisih satu sama lain dalam perkara tertentu. Tidak lain karena mereka memiliki pengetahuan dan pemahaman yang berbeda terhadap suatu dalil. Ada yang lebih tahu dan paham kemudian ada yang tidak tahu dan kurang paham atau salah paham terhadap suatu dalil. Hal ini perkara yang sering ditemukan oleh orang yang sering membaca kitab Fiqih. Maka dari itu kami selalu menekankan untuk menimbang setiap perkataan ulama dengan dalil.

Kalau menuruti logika anda yang jahil maka ulama mazhab Syafi’iy dan ulama mazhab Malikiy dimana mereka menetapkan adanya qunut shubuh [bukan qunut nazilah] jelas lebih tahu dan lebih paham dalil dari anda. Maka tidak perlu anda sok membantah dengan dalil dan akal anda yang sudah lama rusak. Yah begitulah logika anda dapat menyerang diri anda sendiri.

Jawab : allohu akbar,sungguh lancang membenturkan perkataan ibnu rojab dg hadits.

Seperti dikatakan ibnu qoyyim : itu hanyalah dari fahmun saqim(pemahaman yg sakit)

Berkata Imam Sufyan Bin Uyainah (seorang ulama besar yang ahli dalam fiqih dan hadits guru Imam Syafi`i) :

الحديث مَضِلّة إلا للفقهاء

Artinya : al-Hadits itu dapat menyesatkan seseorang kecuali bagi ulama yang faqih. ( al-Jami` li Ibni Abi Zaid al-Qairuwani : 118 )

خذوا العلم من أفواه العلماء

Artinya : Ambillah ilmu itu dari mulutnya para ulama.

Siapa ulama sebelummu yg berani berkata semacam itu ???

Apa masalahnya wahai jahil?. Apa anda pikir Ibnu Rajab itu orang yang ma’shum?. Setiap perkataan ulama mesti ditimbang dengan dalil bukannya setiap dalil hadis harus ditundukkan dengan perkataan ulama. Wajar saja kalau saya katakan perkataan Ibnu Rajab bertentangan dengan hadis shahih. Pembahasannya pun sudah kami sebutkan. Maaf miskin sekali bantahan anda wahai jahil. Adapun pencacatan terhadap hadis sebagai syadz harus dilihat apakah sesuai dengan kaidah ilmu hadis atau tidak. Pembahasannyapun sudah kami sebutkan, anehnya anda bukannya membahas hujjah malah sibuk bertaklid dan mengoceh tidak karuan. Kalau mau berhujjah fokus pada dalil bukan pada waham anda sendiri.

Bukankah anda sendiri menolak para ulama yang menyatakan shahih hadis Abu Ja’far Ar Raziy yang menyebutkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut terus menerus sampai Beliau wafat. Apa pernah kami menyatakan anda sok lebih pintar dari ulama?. Kami tidak ada keberatan soal itu bahkan kami setuju kalau ulama tersebut keliru karena memang sesuai dengan kaidah ilmu hadis, hadis tersebut lemah.

Kalau memang anda menginginkan ulama sebelum kami yang menyatakan hal yang sama dengan apa yang kami katakan maka silakan lihat, kami akan mengutip ulama yang memahami hadis-hadis Anas [tentang qunut shubuh] sama seperti yang kami pahami. Ibnu Hajar pernah berkata dalam Fath Al Bariy

ومجموع ما جاء عن أنس من ذلك؛ أنّ القنوت للحاجة بعد الركوع لا خلاف عنه في ذلك، وأمّا لغير الحاجة فالصحيح عنه أنه قبل الركوع. وقد اختلف عمل الصحابة في ذلك، والظاهر أنه من الاختلاف المباح

Dan kumpulan hadis-hadis dari Anas tentang demikian [qunut shubuh] adalah qunut karena keperluan dilakukan setelah ruku’ tidak ada perselisihan mengenai hal itu. Adapun qunut bukan karena keperluan tertentu maka yang shahih adalah dilakukan sebelum ruku’. Dan sungguh telah berselisih amalan para sahabat tentang hal ini, yang zhahir bahwasanya ini termasuk perselisihan yang dibolehkan [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 2/491]

Perkataan qunut karena suatu keperluan yang dimaksud Ibnu Hajar tidak lain adalah qunut nazilah sedangkan qunut bukan karena keperluan adalah qunut tanpa nazilah. Kami tidak asal taklid pada perkataan Ibnu Hajar tetapi kami berpegang pada dalil dan hasilnya memang bersesuaian dengan apa yang dikatakan Ibnu Hajar.

Jawab : inilah letak ketidak ilmiahan syiah suka menafsirkan dg tafsiran logikanya yg berpijak pada pertentangan dalil,kemudian seolah2 menjamak dalil seakan pahlawan kesorean.sungguh picik.

Kesalahan fatal ente menisbatkan sesuatu kepada seseorang sedangkan dalam lafadznya tidak ada penisbatan.ini lah sumber kebingungan ente,sehingga semua harus ente puter2 supaya menurut keinginan ente.

Tidak usah bawa-bawa Syi’ah wahai jahil. Syi’ah tidak ada urusannya disini. Apa anda pikir dengan tuduhan anda tersebut maka anda merasa bahwa diri anda benar dan orang yang anda tuduh Syi’ah sudah pasti dusta dan mengada-ada. Picik sekali anda, kalau anda memang mampu silakan bantah hujjah dengan hujjah bukannya membantah dengan ocehan tidak karuan dan tuduhan dusta. Atau jangan-jangan akal anda sudah begitu rusak sehingga tidak mampu lagi berpikir untuk memahami hujjah kami. Ooh kalau begitu kami ucapkan selamat tinggal dan kasihan betapa malangnya diri anda.

Jawab : gak ada sahabat menyelisihi sunnah kecuali hanyalah bualan syiah doang.justru ini menunjukkan kecermatan sahabat anas dan ibnu rojab bahwa fatwa haruslah dg menimbang sikon dan objek fatwa.tidak menafsirkan serampangan kayak ente

Ini komentar anda yang paling jahil menunjukkan anda tidak memahami dengan baik hanya asal bicara sok membela sahabat padahal hakikatnya mencela sahabat. Kami sebelumnya menekankan bahwa Anas bin Malik telah meriwayatkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa qunut nazilah itu dilakukan setelah ruku’. Kalau begitu mengapa dalam sebagian hadis, Anas bin Malik menyatakan bahwa qunut shubuh itu sebelum ruku’ [bahkan ia sendiri melakukannya]. Jawaban anda dengan taklid pada Ibnu Rajab bahwa itu hanyalah fatwa Anas saja kemudian ia tambahkan bahwa itu kecermatan Anas dengan fatwanya yang sesuai sikon dan objek fatwa.

Ini jawaban omong kosong, apa anda lupa dengan kaidah bahwa tidak ada ijtihad untuk perkara yang sudah ada nash-nya apalagi dalam masalah ibadah. Nash untuk qunut nazilah itu jelas dilakukan setelah ruku’ bahkan Anas bin Malik meriwayatkannya. Jadi mustahil Anas bin Malik akan memfatwakan hal lain yaitu sebelum ruku’. Apalagi sok bilang cermat dengan menimbang situasi dan kondisi. Lha memangnya aturan ibadah itu bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi, kaidah dari mana itu.

Hakikatnya anda mengatakan Anas memfatwakan qunut nazilah sebelum ruku’ padahal ia tahu sunah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut nazilah dilakukan setelah ruku’. Lha ini kan sama saja dengan sengaja menentang sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau dengan sengaja berbuat bid’ah padahal sudah tahu perkara sunnahnya. Justru anda yang sedang mencela sahabat Anas bin Malik dengan akal rusak anda.

Maka dari itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah qunut yang dikatakan Anas bin Malik sebelum ruku’ adalah qunut shubuh tanpa nazilah. Adapun qunut dengan nazilah maka itu dilakukan setelah ruku’

.

.

.

Jawab: kesimpulan ente menunjukkan kedunguan ente terlalu akut,apalagi menyalahkan imam al bazzar, ente seperti dalam syair : kambing congek pengen menanduk gunung,alih2 gunung hancur,justru tanduknya yg patah.

Imam al bazzar dan para ulama lain menyatakan syadz itu adalah riwayat yg ada dalam kitabnya al bazzar,adapun yg dalam shohih muslim maka tidak ada pertentangan karena yg dimaksud qunut disitu bukan qunutnya rosul.

Begitulah kalau orang tidak tahu kejahilannya. Jika kejahilan disertai dengan keangkuhan maka semua orang akan ia anggap dungu kecuali dirinya. Hadis riwayat Al Bazzar dan riwayat Muslim itu sanadnya sama mulai dari Abu Kuraib sampai Anas. Maka dari itu pada dasarnya itu adalah satu hadis yang sama bedanya adalah hadis Al Bazzar lebih ringkas dari hadis Muslim.

Dalam hadis Muslim tidak disebutkan secara jelas kalau perkataan Anas bin Malik bahwa qunut itu sebelum ruku’ berasal dari pendapat pribadi Anas ataukah ia bersandar pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tetapi qarinah-nya dapat dilihat dari lafaz setelahnya

فقال قبل الركوع قال قلت فإن ناسا يزعمون أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قنت بعد الركوع

Maka [Anas bin Malik] berkata “sebelum ruku”. Aku berkata bahwa orang-orang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’.

Perkataan ‘Aashim selanjutnya mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakan Anas bin Malik qunut itu sebelum ruku’ adalah disandarkan pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Maka dari itu hasil ringkasan riwayat Al Bazzar perkataan itu marfu’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut sebelum ruku’.

Si Jahil ini sok membela Al Bazzar padahal hakikatnya ia sendiri menyalahkan Al Bazzar [kami yakin ia tidak menyadarinya]. Yaitu ia pada hakikatnya menganggap Al Bazzar salah dalam meriwayatkan hadis. Ia mengatakan bahwa yang ada dalam Shahih Muslim qunut sebelum ruku’ itu bukan qunut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Anehnya Al Bazzar meriwayatkan qunut sebelum ruku’ itu qunut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] padahal guru Al Bazzar dan Imam Muslim itu sama yaitu Abu Kuraib. Nah itu berarti Al Bazzaar yang keliru dalam meriwayatkan hadis.

Kami menyalahkan pendapat Al Bazzaar yang mengkritik hadis tersebut sedangkan si jahil itu justru menyalahkan periwayatan hadis Al Bazzaar. Jadi dalam pandangan si jahil itu adalah Al Bazzaar salah meriwayatkan kemudian Al Bazzaar sendiri mengkritik riwayat yang salah tersebut.

Sedangkan dalam pandangan kami adalah Abu Kuraib guru Al Bazzaar menyampaikan hadis lengkapnya kepada Imam Muslim tetapi menyampaikan hadis versi ringkasnya kepada Al Bazzaar. Al Bazzaar yang tidak mengetahui versi lengkap hadis tersebut salah paham, ia mengira hadis ‘Aashim dari Anas bertentangan dengan para perawi lain yang menetapkan qunut nazilah itu setelah ruku’ padahal dalam hadis versi lengkapnya [dalam riwayat Imam Muslim] hadis ‘Aashim dari Anas juga menyatakan bahwa qunut nazilah itu setelah ruku’ hanya saja terdapat tambahan [ziyadah] bahwa qunut tanpa nazilah itu sebelum ruku’. Kesimpulannya adalah hadis ‘Aashim tidak bertentangan dengan hadis-hadis perawi lain. Jadi sudah jelas orang yang taklid kepada Al Bazzaar setelah ia melihat riwayat Muslim hanya menunjukkan kejahilan pemahamannya terhadap hadis.

.

.

.

Jawab : justru keplinplanan ente berujung pada tuduhan kepada rosul apa yg tidak beliau lakukan,rosul saja difitnah apalagi ulama seperti ibnu rojab dg gampangnya menvonis ini keliru,itu salah hanya karena bertaqlid logika dangkal penuh hawa nafsu semata.

Tidak usah sok berbicara dengan bahasa yang ketinggian. Maaf perkataan seperti itu tidak pantas diucapkan oleh orang yang penuh dengan kejahilan seperti anda. Kami yakin kalau anda sendiri akan dengan gampangnya menyalahkan para ulama yang menyatakan sunnah qunut shubuh tanpa nazilah. Dan dalam pandangan pengikut fanatik ulama-ulama tersebut, anda adalah orang yang mendustakan sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], orang yang gampang menyalahkan ulama, orang yang bertaklid dengan logika dangkal penuh hawa nafsu.

Maaf ya, orang-orang dengan kualitas seperti anda ini pasti ada saja dalam kelompok mazhab tertentu. Sok menuduh mazhab lain tanpa dasar ilmu, ujung-ujungnya cuma taklid pada ulama versi anda sendiri. Apa anda lupa bahwa orang-orang yang bertentangan dengan anda itu juga taklid pada ulama mereka?. Kami sangat berbeda dengan orang seperti anda, kami tidak taklid pada ulama tertentu, kami melihat dalil dan menimbang dalil dengan kaidah ilmiah kemudian mengambil pendapat yang paling rajih sesuai dalil tersebut.

Jawab : penjelasan ente tidak lebih dari pembenaran yg dipaksakan,gak ada nilai ilmiahnya justru mencederai keilmiahan itu sendiri.

Apalagi ucapan ini, tong kosong nyaring bunyinya. Orang yang paham apa itu ilmiah, ketika menukil perkataan ulama atau riwayat ia akan menyebutkan referensi lengkapnya. Anehnya banyak sekali nukilan anda yang tanpa mencantumkan referensi lengkapnya. Itukah yang dinamakan ilmiah. Kalau menulis ilmiah saja anda tidak mampu apalagi membahas dan menganalisis secara ilmiah, jauh sekali. Akhir kata, kami kasihan sekali dengan orang-orang jahil yang sok membela agama tetapi tidak ada isinya.

Syaikh Khalid Al Wushabiy Dan Imam Mahdi Dalam Mazhab Syi’ah

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

Syaikh Khalid Al Wushabiy Dan Imam Mahdi Dalam Mazhab Syi’ah

Ada video menarik mengenai diskusi antara Syaikh Khalid Al Wushabiy [Sunni] dan Syauqiy Ahmad [Syi’ah] mengenai Imam Mahdiy. Para pembaca yang berminat dapat melihat penggalan video tersebut disini.

http://antimajos.com/2014/11/06/saksi-mata-kelahiran-mahdi-adalah-sosok-fiktif/

Hal menarik yang ingin dibahas disini adalah ketika Syaikh Khalid Al Wushabiy mempermasalahkan riwayat kelahiran Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah. Syaikh Khalid Al Wushabiy menunjukkan bahwa semua riwayat [dalam mazhab Syi’ah] yang menerangkan lahirnya Imam Mahdiy berasal dari kesaksian Hakiimah binti Muhammad Al Jawaad. Dan menurut penelitian Syaikh Khalid ternyata Hakiimah ini fiktif atau mitos belaka dan seandainya pun Hakiimah benar ada maka ia majhul bukan orang yang bisa dipercaya.

Sampai disini perkara tersebut tidak menjadi masalah tetapi Syaikh Khalid kemudian menyatakan bahwa keyakinan Imam Mahdi dalam mazhab Syi’ah ternyata bersumber dari tokoh fiktif atau majhul. Ini merupakan lompatan kesimpulan yang mengagumkan. Maksudnya mungkin akan membuat kagum orang-orang awam [tertama dari kalangan pengikut Syaikh Khalid] tetapi bagi para pencari kebenaran hal ini nampak sebagai usaha menyesatkan orang-orang awam untuk merendahkan mazhab Syi’ah.

Secara kritis kalau kita ingin berbicara mengenai keyakinan Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah maka cara yang benar adalah mengumpulkan semua riwayat dalam kitab Syi’ah yang berbicara tentang Imam Mahdiy. Kemudian dianalisis riwayat-riwayat tersebut baru ditarik kesimpulan. Kelahiran Imam Mahdiy hanya salah satu bagian dari kumpulan riwayat Imam Mahdiy dalam kitab Syi’ah. Seandainya pun tidak ada riwayat shahih mengenai kelahiran Al Mahdiy maka bukan berarti Al Mahdiy tersebut tidak pernah lahir sehingga runtuhlah keyakinan Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah.

Kelahiran Imam Mahdiy adalah bagian parsial dari eksistensi Imam Mahdiy. Seseorang bisa saja tidak diketahui kapan lahirnya tetapi orang tersebut ya memang ada bukan fiktif. Hanya logika sesat yang menyatakan bahwa jika tidak ada bukti shahih kelahiran Imam Mahdiy maka runtuhlah eksistensi Imam Mahdiy [dalam mazhab Syi’ah]. Misalkan jika dalam mazhab Ahlus Sunnah tidak ditemukan riwayat-riwayat shahih mengenai kelahiran Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], para Nabi dan para sahabat. Apakah hal itu menjadi dasar untuk menyatakan runtuhnya keyakinan tentang mereka?. Tentu saja tidak bahkan logika sesat seperti ini terkesan menggelikan.

.

.

.

Eksistensi Imam Mahdiy Dalam Mazhab Syi’ah

Jika kita memang berniat mencari kebenaran meneliti hakikat Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah maka terdapat riwayat-riwayat shahih dalam kitab Syi’ah yang membuktikan eksistensinya.

.

محمد بن يحيى، عن أحمد بن إسحاق، عن أبي هاشم الجعفري قال: قلت لأبي محمد عليه السلام: جلالتك تمنعني من مسألتك، فتأذن لي أن أسألك؟ فقال: سل، قلت يا سيدي هل لك ولد؟ فقال: نعم، فقلت: فإن بك حدث فأين أسأل عنه؟ فقال بالمدينة

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Ishaaq dari Abi Haasyim Al Ja’fariy yang berkata aku berkata kepada Abu Muhammad [‘alaihis salaam] “kemuliaanmu membuatku segan untuk bertanya kepadamu, maka izinkanlah aku untuk bertanya kepadamu?”. Beliau berkata “tanyakanlah”. Aku berkata “wahai tuanku apakah engkau memiliki anak?”. Beliau berkata “benar” aku berkata “maka jika terjadi sesuatu padamu kemana aku akan bertanya kepadanya”. Beliau berkata “di Madinah” [Al Kafiy Al Kulainiy 1/328]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  2. Ahmad bin Ishaaq bin Sa’d Al Asy’ariy seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 397]
  3. Abu Haasyim Al Ja’fariy adalah Dawud bin Qaasim seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 399]

Abu Muhammad [‘alaihis salaam] yang dimaksud adalah Imam Hasan Al Askariy [‘alaihis salaam] karena Abi Haasyim Al Ja’fariy termasuk sahabat Imam Hasan Al Askariy dan Beliau dikenal dengan kuniyah Abu Muhammad. Ath Thuusiy menyebutkan dalam kitabnya judul bab “para sahabat Abu Muhammad Hasan bin Aliy bin Muhammad bin Aliy Ar Ridha [‘alaihimus salaam]” [Rijal Ath Thuusiy hal 395]

Riwayat shahih di atas membuktikan bahwa Imam Hasan Al Askariy memang memiliki seorang anak. Anak Imam Hasan Al Askariy inilah yang dikenal sebagai imam kedua belas atau imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah.

.

محمد بن يعقوب الكليني عن محمد بن جعفر الأسدي قال حدثنا أحمد بن إبراهيم قال دخلت على خديحة بنت محمد بن علي عليهما السلام سنة اثنين وستين ومائتين ، فكلمتها من وراء حجاب ، وسألتها عن دينها ، فسمت لي من تأتمَّ بهم ، ثم قالت فلان بن الحسن وسمته ، فقلت لها جعلت فداك معاينة أو خبراً ؟ قالت خبراً عن أبي محمد (عليه السلام) كتب إلى إمه

Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy dari Muhammad bin Ja’far Al Asadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim yang berkata aku menemui Khadiijah binti Muhammad bin ‘Aliy [‘alaihimas salaam] pada tahun 262 H, maka aku berbicara dengannya dari balik tabir, aku bertanya kepadanya tentang agamanya, maka ia menyebutkan kepadaku orang yang ia ikuti kemudian berkata Fulan putra Hasan dan ia menyebutkannya, maka aku berkata kepadanya “aku menjadi tebusanmu, apakah engkau melihatnya sendiri atau mendapatkan kabar?”. Beliau berkata “kabar dari Abu Muhammad [‘alaihis salaam] yaitu surat kepada ibunya…” [Al Ghaibah Syaikh Ath Thuusiy hal 143]

Riwayat di atas memiliki sanad yang hasan berdasarkan keterangan para perawinya dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy dia adalah orang yang paling tsiqat dalam hadis dan paling tsabit diantara mereka [Rijal An Najasyiy hal 377 no 1026]
  2. Muhammad bin Ja’far Al Asadiy adalah Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin ‘Aun seorang yang tsiqat shahih al hadiits, hanya saja ia meriwayatkan dari para perawi dhaif [Rijal An Najasyiy hal 373 no 1020]
  3. Ahmad bin Ibrahiim Abu Haamid Al Maraaghiy seorang yang mamduh, agung kedudukannya [Rijal Ibnu Dawud hal 23 no 55]. Al Majlisiy juga menyatakan ia mamduh [Al Wajiizah no 62]
  4. Khadiijah binti Muhammad bin Aliy Ar Ridhaa saudara perempuan imam Aliy Al Hadiy, ia seorang yang arif jalil dan alim dalam khabar [A’yaan Asy Syi’ah Sayyid Muhsin Amin 6/313]

Sanad riwayat di atas dikatakan hasan karena terdapat dua perawi yang berpredikat mamduh [terpuji] yaitu Ahmad bin Ibrahim Al Maraaghiy dan Khadiijah binti Muhammad bin ‘Aliy Ar Ridhaa.

Matan riwayat menyebutkan kalau Khadiijah binti Muhammad bin Aliy Ar Ridhaa mengakui keberadaan putra Imam Hasan Al Askariy berdasarkan kabar dari surat Imam Hasan Al Askariy [Abu Muhammad] kepada ibunya.

.

محمد بن عبد الله ومحمد بن يحيى جميعا، عن عبد الله بن جعفر الحميري قال اجتمعت أنا والشيخ أبو عمرو رحمه الله عند أحمد بن إسحاق فغمزني أحمد بن إسحاق أن أسأله عن الخلف فقلت له: يا أبا عمرو إني أريد أن أسألك عن شئ وما أنا بشاك فيما أريد أن أسألك عنه، فإن اعتقادي وديني أن الأرض لا تخلو من حجة إلا إذا كان قبل يوم القيامة بأربعين يوما، فإذا كان ذلك رفعت الحجة وأغلق باب التوبة فلم يك ينفع نفسا إيمانها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيرا، فأولئك أشرار من خلق الله عز و جل وهم الذين تقوم عليهم القيامة ولكني أحببت أن أزداد يقينا وإن إبراهيم عليه السلام سأل ربه عز وجل أن يريه كيف يحيي الموتى، قال: أو لم تؤمن قال: بلى ولكن ليطمئن قلبي، وقد أخبرني أبو علي أحمد بن إسحاق، عن أبي الحسن عليه السلام قال سألته وقلت من أعامل أو عمن آخذ، وقول من أقبل؟ فقال له: العمري ثقتي فما أدى إليك عني فعني يؤدي وما قال لك عني فعني يقول، فاسمع له وأطع، فإنه الثقة المأمون، وأخبرني أبو علي أنه سأل أبا محمد عليه السلام عن مثل ذلك، فقال له: العمري وابنه ثقتان، فما أديا إليك عني فعني يؤديان وما قالا لك فعني يقولان، فاسمع لهما وأطعمها فإنهما الثقتان المأمونان، فهذا قول إمامين قد مضيا فيك قال: فخر أبو عمرو ساجدا وبكى ثم قال: سل حاجتك فقلت له: أنت رأيت الخلف من بعد أبي محمد عليه السلام؟ فقال: إي والله ورقبته مثل ذا – وأومأ بيده – فقلت له: فبقيت واحدة فقال لي: هات، قلت: فالاسم؟ قال: محرم عليكم أن تسألوا عن ذلك، ولا أقول هذا من عندي، فليس لي أن أحلل ولا أحرم، ولكن عنه عليه السلام، فإن الامر عند السلطان، أن أبا محمد مضى ولم يخلف ولدا وقسم ميراثه وأخذه من لا حق له فيه وهوذا، عياله يجولون ليس أحد يجسر أن يتعرف إليهم أو ينيلهم شيئا، وإذا وقع الاسم وقع الطلب، فاتقوا الله وأمسكوا عن ذلك

Muhammad bin ‘Abdullah dan Muhammad bin Yahya [keduanya] dari ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy yang berkata telah berkumpul aku dan Syaikh Abu ‘Amru [rahimahullaah] di sisi Ahmad bin Ishaaq, maka Ahmad bin Ishaaq memberi isyarat kepadaku untuk bertanya kepadanya [Abu ‘Amru] mengenai pengganti [imam]. Maka aku berkata kepadanya “wahai Abu ‘Amru aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu dan tidaklah aku meragukan mengenai hal yang ingin aku tanyakan, karena dalam keyakinanku dan agamaku sesungguhnya bumi tidak akan kosong dari hujjah kecuali 40 hari sebelum hari kiamat dan pada masa itu hujjah diangkat dan pintu taubat ditutup, tidaklah bermanfaat iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau ia [belum] mengusahakan kebaikan dalam masa imannya, maka mereka orang-orang saat itu adalah makhluk Allah ‘azza wajalla yang paling buruk dan merekalah yang akan mengalami hari kiamat. Akan tetapi aku ingin menambah keyakinanku sebagaimana Ibrahim [‘alaihis salaam] bertanya kepada Rabb-nya ‘azza wajalla agar diperlihatkan kepadanya bagaimana menghidupkan orang-orang mati maka [Allah berfirman] Belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap”. Dan sungguh telah mengabarkan kepadaku Abu ‘Aliy Ahmad bin Ishaaq dari Abu Hasan [‘alaihis salaam], aku bertanya kepadanya, aku berkata “siapakah yang akan kuikuti atau dari siapa aku mengambil dan perkataan siapa yang harus aku terima”. Maka Beliau [Abu Hasan] menjawab “Al ‘Amiriy ia adalah kepercayaanku, maka apa yang ia berikan kepadamu dariku maka itu adalah pemberianku dan apa yang ia katakan kepadamu dariku maka itu adalah perkataanku, dengarlah dan taatlah sesuangguhnya ia seorang yang tsiqat ma’mun. Dan telah mengabarkan kepadaku Abu ‘Aliy bahwa ia bertanya kepada Abu Muhammad [‘alaihis salaam] perkara yang sama, maka Beliau [Abu Muhammad] berkata “Al ‘Amiriy dan anaknya keduanya tsiqat, apa yang keduanya berikan kepadamu dariku maka itu adalah pemberianku dan apa yang keduanya katakan kepadamu dariku maka itu adalah perkataanku, dengarkanlah dan taatlah pada mereka berdua sesungguhnya keduanya tsiqat ma’mun. Inilah perkataan kedua Imam tentang dirimu. [Abdullah bin Ja’far Al Himyariy] berkata maka Abu ‘Amru bersujud dan menangis, kemudian berkata “tanyakanlah keperluanmu”. Maka aku berkata kepadanya “apakah engkau pernah melihat pengganti [imam] setelah Abu Muhammad [‘alaihis salaam]?”. Ia menjawab “ya, demi Allah dan lehernya seperti ini [ia mengisyaratkan dengan tangannya]”. Aku berkata kepadanya “tinggal satu pertanyaan lagi”. Ia berkata “tanyakanlah”. Aku berkata “siapakah namanya”. Ia menjawab “haram atas kalian menanyakan hal itu, dan tidaklah perkataan ini berasal dariku, bukan diriku yang menyatakan halal atau haram, tetapi hal itu berasal darinya [‘alaihis salaam]. Karena perkara ini di sisi sultan adalah Abu Muhammad wafat dan tidak meninggalkan anak, warisannya dibagi dan diambil oleh orang-orang yang tidak memiliki hak terhadapnya, sedangkan ahli warisnya bertebaran dan tidak seorangpun berani untuk mengungkapkan diri kepada mereka atau mengambil kembali dari mereka, jika nama [tersebut] dimunculkan maka akan dilakukan pencarian, maka takutlah kepada Allah dan diamlah terhadap perkara ini [Al Kafiy Al Kulainiy 1/329-330]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  2. ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 400]
  3. Ahmad bin Ishaaq bin Sa’d Al Asy’ariy yaitu Abu ‘Aliy Al Qummiy seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 397]
  4. Abu ‘Amru yang dimaksud di atas adalah Utsman bin Sa’iid Al ‘Amiriy termasuk salah satu wakil Imam, seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 401] dan disebutkan dalam atsar di atas bahwa Abu ‘Amru telah dinyatakan tsiqat oleh Imam Abu Hasan Aliy Al Hadiy [‘alaihis salaam] dan Imam Abu Muhammad Hasan Al Askariy [‘alaihis salaam]

Matan riwayat di atas menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Ja’far berkumpul dengan Abu ‘Amru Utsman bin Sa’iid Al ‘Amiriy di sisi Abu ‘Aliy Ahmad bin Ishaaq, dan Abdullah bin Ja’far menyebutkan dari Abu ‘Aliy dari kedua imam yaitu Abu Hasan [‘alaihis salaam] dan Abu Muhammad [‘alaihis salaam] bahwa Abu ‘Amru Utsman bin Sa’iid Al ‘Amiriy seorang yang tsiqat ma’mun. Kemudian Abdullah bin Ja’far bertanya kepada Abu ‘Amru apakah ia pernah melihat pengganti Imam Hasan Al Askariy yaitu Imam Mahdiy maka Abu ‘Amru Al ‘Amiriy menyatakan bahwa ia sudah pernah melihatnya. Riwayat shahih ini dengan jelas membuktikan eksistensi Imam Mahdiy di sisi mazhab Syi’ah.

.

حدثنا محمد بن موسى بن المتوكل رضي الله عنه قال حدثنا عبد الله بن جعفر الحميري قال سألت محمد بن عثمان العمري رضي الله عنه فقلت له أرأيت صاحب هذا الامر؟ فقال نعم وآخر عهدي به عند بيت الله الحرام وهو يقول  اللهم أنجز لي ما وعدتني

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muusa bin Al Mutawakil [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy yang berkata aku bertanya kepada Muhammad bin ‘Utsman Al ‘Amiriy radiallahu ‘anhu, maka aku berkata kepadanya “apakah engkau pernah melihat pemilik urusan ini [Al Mahdiy]?”. Beliau berkata “benar, dan terakhir aku melihatnya di sisi Baitullah dan ia berkata “Ya Allah penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku” [Kamal Ad Diin Wa Tamaam An Ni’mah Syaikh Ash Shaduuq hal 440]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Musa bin Al Mutawakil adalah salah satu dari guru Ash Shaduq, ia seorang yang tsiqat [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 251 no 59]
  2. ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 400]
  3. Muhammad bin ‘Utsman bin Sa’iid Al ‘Amiriy adalah salah satu dari wakil Imam, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiist no 549]

Matan riwayat shahih di atas menyebutkan bahwa Muhammad bin ‘Utsman bin Sa’iid Al Amiriy seorang yang tsiqat ma’mun [sebagaimana dikatakan oleh Imam Hasan Al Askariy] telah melihat Al Mahdiy di Baitullah. Riwayat shahih ini telah membuktikan eksistensi Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah.

.

.

.

Keghaiban Imam Mahdiy Dalam Mazhab Syi’ah

Dalam mazhab Syi’ah terdapat keyakinan bahwa Imam Mahdiy akan ghaib hingga waktu yang telah Allah ‘azza wajalla tetapkan baru kemudian muncul kembali. Tidak benar anggapan bahwa keyakinan ini dalam mazhab Syi’ah hanya bersumber dari kesaksian orang yang tidak dikenal. Justru keyakinan ini telah tsabit dalam berbagai riwayat shahih dalam mazhab Syi’ah.

.

حدثنا محمد بن الحسن رضي الله عنه قال حدثنا سعد بن عبد الله قال حدثنا أبو جعفر محمد بن أحمد العلوي عن أبي هاشم داود بن القاسم الجعفري قال سمعت أبا الحسن صاحب العسكر عليه السلام يقول الخلف من بعدي ابني الحسن فكيف لكم بالخلف من بعد الخلف فقلت ولم جعلني الله فداك فقال لأنكم لا ترون شخصه ولا يحل لكم ذكره باسمه قلت فكيف نذكره قال قولوا الحجة من آل محمد صلى الله عليه وآله وسلم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad Al ‘Alawiy dari Abi Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy yang berkata aku mendengar Abul Hasan shahib Al Askar [‘alaihis salaam] mengatakan “pengganti setelahku adalah anakku Hasan maka bagaimana kalian terhadap pengganti dari penggantiku?”. Aku berkata “aku menjadi tebusanmu, mengapa?”. Beliau berkata “karena kalian tidak akan melihat dirinya secara fisik dan tidak dibolehkan bagi kalian menyebutnya dengan namanya”. Aku berkata “maka bagaimana menyebutnya?”. Beliau berkata “kalian katakanlah hujjah dari keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]” [Kamal Ad Diin Wa Tamaam An Ni’mah Syaikh Ash Shaduuq hal 381]

Riwayat di atas sanadnya hasan, para perawinya tsiqat dan hasan berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135].
  3. Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad Al ‘Alawiy tidak tsabit tautsiq terhadapnya hanya saja ia hasan [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 497].
  4. Abu Haasyim Al Ja’fariy adalah Dawud bin Qaasim seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 399]

Imam Aliy Al Hadiy menyebutkan bahwa pengganti dari anaknya Abu Muhammad Imam Hasan Al Askariy tidak dapat dilihat oleh sebagian pengikutnya dan tidak diperbolehkan menyebutkan namanya. Hal ini adalah isyarat akan adanya keghaiban pengganti Imam Hasan Al Askariy yaitu Imam Mahdiy.

.

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن أبي أحمد محمد بن زياد الأزدي قال: سألت سيدي موسى بن جعفر عليهما السلام عن قول الله عز وجل: ” وأسبغ عليكم نعمه ظاهرة وباطنة ”  فقال عليه السلام: النعمة الظاهرة الامام الظاهر، والباطنة الامام الغائب، فقلت له: و يكون في الأئمة من يغيب؟ قال: نعم يغيب عن أبصار الناس شخصه، ولا يغيب عن قلوب المؤمنين ذكره، وهو الثاني عشر منا، يسهل الله له كل عسير، ويذلل له كل صعب، ويظهر له كنوز الأرض، ويقرب له كل بعيد، ويبير به كل جبار عنيد ويهلك على يده كل شيطان مريد، ذلك ابن سيدة الإماء الذي تخفى على الناس ولادته، ولا يحل لهم تسميته حتى يظهره الله عز وجل فيملأ الأرض قسطا وعدلا كما ملئت جورا وظلما

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibrahim bin Haasyim dari Ayahnya dari Abi Ahmad Muhammad bin Ziyaad Al Azdiy yang berkata aku bertanya kepada tuanku Muusa bin Ja’far [‘alaihimas salaam] tentang firman Allah ta’ala “menyempurnakan atas kalian nikmat-Nya lahir dan bathin”. Maka Beliau [‘alaihis salaam] berkata “nikmat lahir adalah imam yang nampak dan [nikmat] bathin adalah imam yang ghaib”. Maka aku berkata kepada Beliau “apakah diantara imam-imam ada yang ghaib?”. Beliau berkata “benar, dirinya [fisiknya] akan ghaib dari penglihatan orang-orang tetapi sebutannya tidak ghaib di hati orang-orang mukmin. Dia adalah yang keduabelas dari kami. Allah memudahkan baginya semua kesulitan, membantunya mengatasi semua kemalangan, menampakkan baginya harta-harta di bumi, mendekatkan baginya semua yang jauh, menghancurkan dengannya semua orang yang bertindak sewenang-wenang lagi keras kepala dan menghancurkan dengan tangannya semua pengikut setan. Dia adalah anak dari sayyidah budak wanita, ia disembunyikan kelahirannya dari orang-orang dan tidak dibolehkan bagi mereka menyebutkan namanya sampai Allah ‘azza wajalla memunculkannya dan memenuhi bumi dengan  keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan penindasan dan kezaliman [Kamal Ad Diin Wa Tamaam An Ni’mah Syaikh Ash Shaduuq hal 328-329]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 329]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  4. Abu Ahmad Muhammad bin Ziyaad Al Azdiy adalah Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]

Matan riwayat sangat jelas menyebutkan bahwa Imam kedua belas dari kalangan ahlul bait yaitu Imam Mahdiy akan mengalami keghaiban.

.

حدثنا أبي، ومحمد بن الحسن، ومحمد بن موسى المتوكل رضي الله عنهم قالوا حدثنا سعد بن عبد الله، وعبد الله بن جعفر الحميري، ومحمد بن يحيى العطار جميعا قالوا: حدثنا أحمد بن محمد بن عيسى، وإبراهيم بن هاشم، وأحمد بن أبي عبد الله البرقي، ومحمد بن الحسين بن أبي الخطاب جميعا: قالوا: حدثنا أبو علي الحسن ابن محبوب السراد، عن داود بن الحصين، عن أبي بصير، عن الصادق جعفر بن محمد عن آبائه عليهم السلام قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: المهدي من ولدي، اسمه اسمي، وكنيته كنيتي، أشبه الناس بي خلقا وخلقا، تكون له غيبة وحيرة حتى تضل الخلق عن أديانهم، فعند ذلك يقبل كالشهاب الثاقب فيملأها قسطا وعدلا كما ملئت ظلما وجورا

Telah menceritakan kepada kami Ayahku, Muhammad bin Hasan dan Muhammad bin Muusa Al Mutawakil [radiallahu ‘anhum], mereka berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah, ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy, Muhammad bin Yahya Al ‘Aththaar, mereka berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ahmad bin Muhammad bin Iisa, Ibrahim bin Haasyim, Ahmad bin Abi ‘Abdullah Al Barqiy dan Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy Hasan Ibnu Mahbuub As Saraad dari Dawud bin Hushain dari Abi Bashiir dari Ash Shaadiq Ja’far bin Muhammad dari Ayah-ayahnya [‘alaihis salaam] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Al Mahdiy dari keturunanku, namanya sama dengan namaku, kuniyah-nya sama dengan kuniyahku, dia adalah orang yang paling menyerupaiku dalam fisik dan akhlak, dia akan mengalami keghaiban dan terjadi kebingungan hingga orang-orang tersesat dari agama mereka, maka pada masa itu ia akan datang seperti bintang yang menyala, dia akan memenuhinya [bumi] dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kezaliman dan penindasan [Kamal Ad Diin Wa Tamaam An Ni’mah Syaikh Ash Shaduuq hal 287]

Para perawi hadis di atas adalah para perawi tsiqat berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Aliy bin Husain bin Musa bin Babawaih Al Qummiy Ayah Syaikh Ash Shaaduq adalah Syaikh di Qum terdahulu faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]. Muhammad bin Musa bin Mutawakil adalah salah satu dari guru Ash Shaduq, ia seorang yang tsiqat [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 251 no 59]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]. ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 400]. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]. Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy atau Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy seorang yang pada dasarnya tsiqat, meriwayatkan dari para perawi dhaif dan berpegang dengan riwayat mursal [Rijal An Najasyiy hal 76 no 182]. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang yang mulia, agung kedudukannya, banyak memiliki riwayat, tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Abu ‘Aliy Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  5. Dawud bin Hushain meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] dan Abu Hasan [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 159 no 421].
  6. Abu Bashiir adalah Abu Bashiir Al Asdiy Yahya bin Qasim seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 441 no 1187]

Sebagian ulama Syi’ah menetapkan hadis ini sebagai hadis shahih tetapi penilaian ini perlu ditinjau kembali karena Dawud bin Hushain memang seorang yang tsiqat tetapi dikatakan kalau ia bermazhab waqifiy.

Allamah Al Hilliy menukil dari Ath Thuusiy dan Ibnu Uqdah bahwa Dawud bin Hushain bermazhab waqifiy, dan Allamah Al Hilliy berkata “yang kuat di sisiku adalah bertawaqquf terhadap riwayatnya” [Khulashah Al Aqwaal 345 no 1366]

Berdasarkan kaidah ilmu hadis mazhab Syi’ah perawi tsiqat dengan bermazhab menyimpang seperti waqifiy tidak dinyatakan sebagai shahih hadisnya tetapi turun derajatnya menjadi muwatstsaq. Dan kedudukan hadis muwatstsaq bisa dijadikan hujjah jika tidak bertentangan dengan hadis shahih lainnya dalam mazhab Syi’ah. Hadis di atas sangat bersesuaian dengan  kedua hadis sebelumnya maka bisa dijadikan hujjah.

.

.

.

Kesimpulan

Kami membuat tulisan ini bukan sebagai pembelaan terhadap lawan diskusi Syaikh Khalid Al Wushabiy tetapi sebagai suatu usaha untuk meluruskan distorsi atau kedustaan terhadap mazhab Syi’ah. Ada dua hal dari Syaikh Khalid Al Wushabiy yang menurut kami benar

  1. Perkara kredibilitas Hakiimah binti Muhammad bin Aliy itu adalah benar, kami belum menemukan riwayat shahih yang menyebutkan tentangnya.
  2. Perkara hadis kelahiran Al Mahdiy yang tidak tsabit hal itu juga benar karena kami [sejauh ini] juga belum menemukan riwayat shahih yang menyebutkan kisah kelahirannya

Tetapi jika dengan kedua poin ini dinyatakan kalau keyakinan Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah menjadi runtuh karena hanya berdasarkan kesaksian orang yang tidak dikenal maka itu tidak lain adalah distorsi atas kebenaran atau merupakan kedustaan terhadap Syi’ah. Banyak hadis-hadis shahih dalam mazhab Syi’ah yang membuktikan keberadaan Imam Mahdiy mazhab Syi’ah dan banyak pula hadis-hadis shahih dalam kitab Syi’ah tentang keyakinan keghaiban Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah.

Tentu saja bagi Ahlus Sunnah [dan juga bagi kami] riwayat-riwayat Syi’ah di atas tidak menjadi hujjah tetapi bukan itu inti masalahnya. Inti masalahnya adalah adanya ulama Ahlus Sunnah yang mengklaim bahwa fondasi keyakinan Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah itu sangat lemah dalam kitab-kitab Syi’ah. Nah inilah yang dibahas dalam tulisan di atas. Kita boleh saja berbeda keyakinan dengan Syi’ah tetapi jika ingin berbicara tentang Syi’ah maka berbicaralah dengan kejujuran dan kebenaran bukan dengan kedustaan yang dibuat seolah-olah ilmiah.

Dengan kata lain siapapun orangnya entah ia ulama atau orang awam perkataannya harus selalu ditimbang dengan standar kebenaran.

Bukti Kedustaan Tuduhan Rafidhah Atas Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

Bukti Kedustaan Tuduhan Rafidhah Atas Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf

Tulisan singkat ini hanya ingin menunjukkan kepada para pembaca, bukti kedustaan orang-orang jahil yang menuduh salah seorang ulama ahlus sunnah yaitu Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf dengan tuduhan Rafidhah.

Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf pernah menulis kitab yang menjelaskan tentang aqidah shahih mazhab ahlus sunnah di sisinya. Kitab itu berjudul Shahih Syarh Al ‘Aqiidah Ath Thahaawiyah Aw Al Manhaj Ash Shahiih Fii Fahm ‘Aqiidah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah Ma’a Al Tanqiih. Kitab ini adalah bukti nyata bahwa Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf berdasarkan pengakuannya adalah seorang yang bermazhab Ahlus Sunnah.

Shahih Syarh Aqidah Thahawiyah As Saqqaaf

Dalam kitab tersebut Hasan bin Aliy As Saqqaaf menegaskan kekhalifahan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar [radiallahu ‘anhu], Utsman [radiallahu ‘anhu] dan Aliy [‘alaihis salaam]. Hal ini menunjukkan bahwa ia bukan seorang Rafidhah karena tidak ada Rafidhah yang mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Hasan As Saqqaaf berkata

Shahih Syarh Aqidah Thahawiyah As Saqqaaf hal 654

ونثبت الخلافة بعد رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أولا لأبي بكر الصديق رضي الله عنه، ثم لسيدنا عمر، ثم لسيدنا عثمان، ثم لسيدنا علي رضي الله عنهم أجمعين

Dan kami menetapkan para khalifah setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang pertama adalah Abu Bakar Ash Shiddiiq [radiallahu ‘anhu] kemudian Sayyidina ‘Umar, kemudian Sayyidina ‘Utsman kemudian Sayyidina ‘Aliy, radi’allahu ‘anhum ajma’iin [Shahih Syarh Aqiidah Ath Thahaawiyah hal 654]

Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf ketika menuliskan nama Abu Bakar dan Umar, Beliau menyebutkan keduanya dengan lafaz taradhiy dan “Sayyidina”. Begitu pula ketika menyebutkan Aisyah [radiallahu ‘anha], Beliau menyebutnya dengan lafaz taradhiy dan sebutan Sayyidah.

Shahih Syarh Aqidah Thahawiyah As Saqqaaf hal 128

Shahih Syarh Aqidah Thahawiyah As Saqqaaf hal 129

Silakan para pembaca pikirkan, rafidhah manakah yang menetapkan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bahkan memuliakan mereka dengan sebutan Sayyidina serta [radiallahu ‘anhu]. Syi’ah yang moderat mungkin tidak akan mencela Abu Bakar dan Umar tetapi mereka tetap tidak akan menetapkan kekhalifahan keduanya atau menyebut keduanya dengan gelar kemuliaan yaitu Sayyidina. Kesimpulannya orang yang menuduh Hasan As Saqqaaf sebagai rafidhah maka tidak lain dia adalah pendusta.

 

Penyifatan Tuhan dalam Syi’ah

Penyifatan Tuhan dalam Syi’ah

Di sini kita akan melakukan pengamatan sepintas terhadap perspektif al-Quran dalam penyifatan Tuhan dan metode manusia mengenali sifat-sifat-Nya, sedangkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat khusus akan dibahas pada tema-tema yang berkaitan dengannya.

Sebagaimana yang telah kami katakan, mustahil bagi manusia untuk mengenal hakikat dzat Tuhan. Pengenalan rasionalitas atas-Nya hanya bersifat universal atau pengenalan melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Atas dasar ini, salah satu tujuan utama al-Quran yang dalam berbagai ayatnya berbincang tentang sifat-sifat Tuhan adalah melakukan rekonstruksi, memperdalam, dan memperluas pengenalan manusia terhadap Tuhan. Ratusan ayat al-Quran kadangkala secara langsung membahas tentang sifat-sifat Tuhan dan menyebutkan tentang asma Tuhan. Dari sebagian ayat bisa pula ditemukan adanya prinsip-prinsip universal dalam penyifatan Tuhan.

Meskipun demikian, perlu diingat bahwa mengenali Tuhan melalui sifat-sifat-Nya merupakan cara yang sangat rumit karena membutuhkan ketelitian dan kecermatan yang tinggi, karena sedikit saja kita salah menganalisanya bisa mengarahkan kita kepada pen-tasybih-an atau “penyerupaan” yang berujung pada kehilangan sebagian makrifat kita dari al-Quran.

Salah satu hal yang mendasar untuk dilakukan adalah berpegang pada ayat-ayat yang muhkam (ayat-ayat yang memiliki makna yang jelas) tentang sifat-sifat Ilahi untuk dijadikan pijakan dalam menafsirkan ayat-ayat yang mutasyabiyah (ayat-ayat yang tidak memiliki makna yang jelas), seperti menafsirkan ayat-ayat yang secara lahiriah menyifati Tuhan dengan sifat-sifat makhluk-Nya.

Di sini kita akan melakukan pengamatan sepintas terhadap perspektif al-Quran dalam penyifatan Tuhan dan metode manusia mengenali sifat-sifat-Nya, sedangkan ayat-ayat yang berhubungan dengan sifat-sifat khusus akan dibahas pada tema-tema yang berkaitan dengannya.

 

Bukan tasybih dan ta’thil

Al-Quran pada satu sisi menegaskan bahwa pengenalan terhadap hakikat dzat Tuhan merupakan hal yang mustahil bagi manusia, Tuhan bersabda, “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”[1] (Qs. Thahaa: 110)

Dari sisi lain, dalam berbagai ayat telah dijelaskan bahwa Tuhan tidak memiliki sedikitpun kemiripan dengan maujud lain dan tidak ada sesuatupun yang bisa digambarkan setara dengan dzat suci-Nya. Ayat ini pada dasarnya merupakan ayat muhkamyang menegaskan kesalahan berpikir aliran Tasybih dan segala konsep yang memandang ada kemiripan antara Tuhan dengan makhluk-Nya. Dia bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (Qs. As-Syura:11)

Pada pembahasan Tauhid dipahami bahwa ayat-ayat tersebut berkaitan dengan tauhid dzat, akan tetapi sepertinya ayat-ayat tersebut selain menafikan kemiripan maujud lain dengan dzat Tuhan, juga menafikan kemiripan antara sifat-sifat Tuhan dengan sifat-sifat selain-Nya. Sebenarnya ayat itu menceritakan bahwa baik dari sisi dzat mutlak Tuhan maupun dari sifat-sifat-Nya tak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya dan tidak ada pula sesuatu yang bisa digambarkan mempunyai kemiripan dan kesamaan dengan-Nya. Makna ayat ini bisa ditemukan pula dalam sebagian ayat seperti pada ayat terakhir surah at-Tauhid.[2]

Ayat al-Quran di atas dalam posisinya menjelaskan kesalahan maktab Tasybih, selain itu juga menafikan segala bentuk kemiripan dan kesetaraan Tuhan dengan eksistensi lain dalam dzat dan sifat. Pada ayat-ayat yang lain juga mengetengahkan tentang sifat-sifat salbi Tuhan seperti penafian kebinasaan dan keterikatan dengan ruang dan waktu dimana akan dibahas kemudian dalam tema “sifat-sifat negasi dan salbi Tuhan”.

Demikian juga, al-Quran meninggikan dzat Tuhan dari segala bentuk penyerupaan dan pen-tasybih-an. Pada banyak ayat setelah menukilkan pemikiran-pemikiran keliru dari para musyrikin tentang Tuhan, al-Quran menegaskan poin bahwa penyifatan mereka atas Tuhan adalah tidak layak untuk maqam suci ketuhanan (uluhiyat), Dia bersabda, “Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, Padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan.”[3](Qs. al- An’am: 100). “Mereka tidak Mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha Perkasa.”[4] (Qs. al-Hajj: 84)

Ketika berhadapan dengan kelompok ayat seperti di atas, bisa jadi kita menyangka bahwa al-Quran hanya memiliki makrifat Tuhan secara terbatas dan tidak memberikan makrifat atas-Nya kepada manusia lewat penjabaran akal serta pemahaman rasional. Akan tetapi kesimpulan seperti ini merupakan sebuah kesimpulan yang tergesa-gesa dan tidak benar, dengan melakukan kontemplasi terhadap ayat-ayat yang lain akan menjadi jelas bahwa al-Quran selain menegaskan pensucian Tuhan secara mutlak dari sifat-sifat makhluk, juga menekankan tentang adanya kemungkinan untuk mengenali-Nya.

Ayat-ayat yang bisa menjadi saksi paling baik untuk klaim ini sangat banyak dimana di dalamnya menyebutkan tentang asma dan sifat-sifat Tuhan. Dengan memperhatikan bahwa al-Quran mengajak manusia untuk berfikir dan berkontemplasi tentang ayat-ayat-Nya maka tidak bisa diterima bahwa penyebutan asma Tuhan secara berulang pada ayat-ayat yang berlainan murni hanya sekedar sebuah bacaan tanpa memberikan makna.[5]

Oleh karena itu, al-Quran dalam masalah penyifatan Tuhan menolak mutlak metode tasybih maupun metode ta’thil lalu mengambil jalan tengah antara keduanya, dari satu sisi metode ini meletakkan sifat-sifat jamal dan jalal-Nya pada jangkauan pemahaman manusia, dan di sisi lain menegaskan ketakserupaan Dia dalam dzat dan sifat dengan makhluk serta mengingatkan bahwa sifat-sifat Tuhan jangan dipahami sedemikian sehingga menyebabkan pen-tasybih-an dengan selain-Nya, tapi seharusnya makna-makna dari sifat-sifat Ilahi ini dilepaskan dari warna kemakhlukan dan keterbatasan serta diletakkan sebagaimana selayaknya untuk dzat suci Tuhan.

Tentunya jumlah ayat-ayat yang secara tegas menafikan pandangan tasybih lebih banyak dari ayat-ayat yang menolak pandangan ta’thil, hal ini muncul mungkin karena para penganut teisme lebih sering terkontaminasi dengan pandangan tasybihdibandingkan dengan pandangan ta’thil.

Sifat Tuhan dalam Hadis

Dengan merujuk pada literatur-luteratur hadis, menjadi jelas bahwa pembahasan sifat Tuhan dalam hadis juga mengikuti langkah al-Quran. Dalam sebuah hadis dari Amirul Mukminin Ali as dikatakan bahwa dalam tafsir ayat 110 surah Thaha, beliau bersabda, “Semua makhluk mustahil meliputi Tuhan dengan ilmu, karena Dia meletakkan tirai di atas mata hati, tak satupun pikiran yang mampu menjangkau dzat-Nya dan tak ada satu hatipun yang bisa menggambarkan batasan-Nya, oleh karena itu, jangan kalian menyifati-Nya kecuali dengan sifat-sifat yang diperkenalkan oleh-Nya, sebagaimana Dia berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.”[6]

Imam Ali as pada awal perkataannya menjelaskan bahwa tak ada satupun makhluk yang meliputi dzat Tuhan. Secara lahiriah, maksud dari “meletakkan tirai pada mata hati” adalah keterbatasan pengenalan makhluk yang menyebabkan ketidakmampuannya meliputi dzat tak terbatas Tuhan. Imam Ali as dalam kelanjutan tema ini menegaskan  bahwa dalam menyifati Tuhan kita harus mencukupkan diri dengan menggunakan sifat-sifat yang telah Dia perkenalkan kepada kita.

Tentang hal ini terdapat beberapa riwayat, sebagai contoh kita bisa melihat dalam “Khutbah Asybâh“, beliau bersabda, “Sesungguhnya berbohonglah mereka yang meletakkan sesuatu setara bagi-Mu, mereka menyerupakan-Mu dengan patung-patung sembahan dan memakaikan pakaian makhluk kepada-Mu dengan khayalannya dan menganggap-Mu sebagaimana benda jasmani yang memiliki organ dan mereka menisbahkan indera-indera makhluk kepada-Mu sesuai dengan pikirannya”[7]

Dengan demikian, metode pensucian al-Quran yang bukan tasybih dan ta’thil telah jelas dalam sebagian hadis itu. Mungkin salah satu dalil yang paling tegas untuk klaim ini adalah perkataan Imam Ali as yang bersabda, “Akal-akal tidak dapat menjangkau semua sifat-Nya dan tidak pula terhalang memahami sebagian dari sifat-Nya untuk memakrifat-Nya.”[8]

Selain itu, sebuah hadis yang dinukilkan dari Rasulullah saw dan ahluibaitnya dalam masalah makrifat Tuhan, dalam hadis itu dijelaskan mengenai makrifat berharga atas sifat-sifat Tuhan dan jelas bahwa makrifat ini bersandar pada realitas bahwa manusia pada batas tertentu mampu mengenali Tuhan melalui pengenalan sifat-sifat-Nya.

[1]. Tentunya, penyimpulan ayat bersandar pada bahwa dhamir pada “bihi” kembali kepada Tuhan, akan tetapi terdapat pula kemungkinan bahwa dhamir di atas kembali pada perbuatan orang-orang yang bersalah.

[2]. “… Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”, Qs. at-Tauhid: 5

[3].  Juga rujuk: surah Anbiya: 22, Mukminun: 91 dan Az-Zuhruf: 82.

[4].  Ayat seperti ini terdapat pula pada surah al-An’am: 91, Az-Zumar: 67.

[5].  Qs. An-Nisa: 82, Muhammad: 24, as-Shad: 29.

[6]. Al-Hawizi, Tafsir Nur ats-Tsaqalain, jilid 3, hal. 394, hadis 117. Riwayat ini melegitamasi bahwa dhamir “bihi” pada ayat “La yuhithuna bihi ‘ilman” kembali kepada Tuhan.

[7]. Nahjul Balaghah, khutbah 91.

[8] . Nahjul Balaghah, khutbah 49.

Penguasa Abbasiyah menempuh berbagai cara untuk membatasi gerakan Imam Askari as

Imam Hasan Askari as dilahirkan di Madinah tahun 232 Hijriah, dan syahid di Samarra, Irak tanggal 8 Rabiul Awal tahun 260 H. Imam kesebelas Syiah ini menjadi pemimpin umat di usia 22 tahun, dan syahid di usia 28 tahun setelah delapan hari sakit akibat racun antek-antek dinasti Abbasiyah. Para sahabatnya memanggil beliau dengan sebutan Abu Muhammad. Julukan beliau yang paling masyhur adalah Askari, karena beliau tinggal di sebuah tempat yang disebut Al-‘Askar.

Meskipun Imam Hasan Askari hidup tidak lebih dari 28 tahun, tapi di usia yang singkat ini telah menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah Islam. Manusia mulia ini mewariskan karya besar dan penting di bidang tafsir al-Quran, fiqih dan ilmu pengetahuan bagi umat Islam. Di tengah ketatnya pembatasan dan tingginya tekanan dinasti Abbasiyah terhadap Ahlul Bait Rasulullah Saw, Imam Askari masih tetap menyampaikan ajaran Islam kepada umat Islam secara terorganisir untuk menyiapkan kondisi keghaiban Imam Mahdi setelah beliau.

Penguasa Abbasiyah menempuh berbagai cara untuk membatasi gerakan Imam Askari as, akan tetapi Allah swt berkehendak lain dan juru selamat akan lahir ke dunia di tengah keluarga Sang Imam. Setelah kelahiran Imam Mahdi as, ayah beliau mulai mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi kondisi sulit di masa-masa mendatang. Imam Askari as di berbagai kesempatan berbicara tentang keadaan di masa keghaiban juru selamat, dan peran berpengaruh Imam Mahdi as dalam memimpin masa depan dunia. Beliau menekankan bahwa putranya akan menciptakan keadilan dan kemakmuran di seluruh penjuru dunia.

Di era kegelapan pemikiran dan penyimpangan akidah, Imam Askari as bangkit menyampaikan hakikat agama secara jernih kepada masyarakat. Beliau mengobati dahaga para pencari ilmu dan makrifat dengan pancaran mata air kebenaran. Argumentasi yang disampaikan Imam Askari as dalam berbagai forum ilmiah diakui oleh para pemikir di zamannya, bahkan menjadi panduan bagi mereka.Bahkan salah satu menteri dinasti Abbasiyah bernama Ahmad bin Khaqan, mengakui keutamaan akhlak dan keluruhan ilmu Imam Hasan Askari . Dia berkata, “Di Samarra, aku tidak melihat sosok seperti Hasan bin Ali. Dalam hal martabat, kesucian, dan kebesaran jiwa, aku tidak menemukan tandingannya. Meski ia seorang pemuda, Bani Hasyim lebih mengutamakannya dari kelompok tua di tengah mereka. Ia memiliki kedudukan yang sangat tinggi, yang dipuji oleh sahabat dan disegani musuhnya.”

Semua kehormatan dan kemuliaan itu karena ketaatan Imam Askari as kepada Allah Swt dan kebersamaan beliau dengan kebenaran. Beliau berkata, “Tidak ada orang mulia yang menjauhi kebenaran kecuali dia akan terhina, dan tidak ada orang hina yang menerima kebenaran kecuali dia akan mulia dan terhormat.”

Kedekatan dengan Tuhan dan sifat tawakkal merupakan keutamaan Ahlul Bait Nabi as dalam memikul beban penderitaan dan membuat mereka berkomitmen dalam memperjuangkan kebenaran. Manusia-manusia yang bertakwa dan taat, telah terbebas dari ikatan dan belenggu-belenggu hawa nafsu dan godaan duniawi. Mereka telah mencapai puncak kemuliaan akhlak.Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya adalah pribadi-pribadi sempurna yang menduduki puncak keluhuran akhlak. Mereka dengan ketaatan penuh di hadapan kekuasaan Tuhan, mencapai derajat spiritual yang tinggi konsisten dalam melawan kemusyrikan dan kekufuran serta membimbing masyarakat menuju jalan kebenaran. Dalam sirah Imam Askari as disebutkan bahwa beliau saat berada di penjara, menghabiskan seluruh waktunya dengan ibadah dan munajat kepada Tuhan. Pemandangan ini bahkan telah menyihir para sipir yang ditugaskan untuk mengawasi dan menyiksa beliau.

Beberapa pejabat dinasti Abbasiyah memerintahkan Saleh bin Wasif, kepala penjara untuk bersikap keras terhadap Imam Askari as. Mereka berkata kepada Wasif, “Tekan Abu Muhammad semampumu dan jangan biarkan ia menikmati kelonggaran!” Saleh bin Wasif menjawab, “Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah menempatkan dua orang terkejam dari bawahanku untuk mengawasinya, keduanya sekarang tidak hanya menganggap Abu Muhammad sebagai seorang tahanan, tapi mereka juga mencapai kedudukan yang tinggi dalam ibadah, shalat, dan puasa.”

Para pejabat tersebut kemudian memerintahkan Wasif untuk menghadirkan kedua algojonya itu. Mereka berkata kepada para algojo tersebut, “Celaka kalian! Apa yang telah membuat kalian lunak terhadap tahanan itu?” Mereka menjawab, “Apa yang harus kami katakan tentang seseorang yang hari-harinya dilewati dengan puasa dan seluruh malamnya dihabiskan dengan ibadah? Ia tidak melakukan pekerjaan lain kecuali beribadah dan bermunajat dengan Tuhannya. Setiap kali ia menatap kami, wibawa dan kebesarannya menguasai seluruh wujud kami.”

Imam Askari as dalam sebuah riwayat menyinggung kedudukan orang-orang yang shalat, dan berkata, “Ketika seorang hamba beranjak ke tempat ibadah untuk menunaikan shalat, Allah berfirman kepada para malaikatnya, ?Apakah kalian tidak menyaksikan hamba-Ku bagaimana ia berpaling dari semua makhluk dan datang menghadap-Ku, sementara ia mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Ku? Aku jadikan kalian sebagai saksi bahwa Aku khususkan rahmat dan kemuliaan-Ku kepadanya.” Imam Askari as senantiasa mewasiatkan kepada para pengikutnya untuk memperpanjang sujud, dan berkata, “Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa dalam agama kalian, dan berusaha karena Allah serta memperpanjang sujud.”

Pengaruh pemikiran dan spiritualitas Imam Askari as membuat para penguasa Abbasiyah ketakutan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membunuhnya. Penguasa dinasti Abbasiyah akhirnya menyusun sebuah skenario untuk membunuh Imam Askari as. Beliau syahid setelah beberapa hari menahan rasa sakit akibat diracun musuhnya. Seorang pembantu Imam Askari as berkata, “Ketika beliau terbaring sakit dan sedang melewati detik-detik terakhir dari kehidupannya, beliau teringat bahwa waktu shalat subuh telah tiba. Beliau berkata, ?Aku ingin shalat.’ Mendengar itu, aku langsung menggelar sajadah di tempat tidurnya. Abu Muhammad kemudian mengambil wudhu dan shalat subuh terakhir dilakukan dalam keadaan sakit dan selang beberapa saat, ruh beliau menyambut panggilan Tuhan.” Inna lillahi wa inna ilahi rajiun.

Kini para pencinta Ahlul Bait Rasulullah Saw hingga kini terus menziarahi makam Imam Hasan Askari, dan membaca doa di kompleks pemakaman suci, meskipun situasi Samarra rentan terhadap ancaman musuh. Semoga Allah Swt menjadikan kita semua termasuk para peziarah dan pembela haram suci Ahlul Bait Rasulullah Saw. “Ya Allah, shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Baitnya. Teriring salam bagi Imam Hasan bin Ali (Askari) yang telah menunjukkan jalan menuju agama-Mu, pembawa bendera hidayah, mata air ketakwaan, dan tambang akal, muara hikmah dan rahmah bagi umat. Wahai Imam yang terjaga dari dosa, wahai yang mewarisi ilmu kitab suci (al-Quran) yang dengannya menjadi pembeda antara hak dan batil. Salam bagimu, ya Imam Hasan Askari.”

Perdamaian Imam Hasan dengan Muawiyah bukti tidak semua sahabat Nabi SAW adil

Hasan bin Ali bin Abi Thalib (Bahasa Arabالحسن بن علي بن أبي طالب )adalah Imam kedua Syiah putra dari Imam Ali Asdan Fatimah binti Muhammad Sa, dan dikenal sebagai sosok manusia suci yang ke empat yang di usianya yang ke 37 tahun telah mencapai derajat Imamah dan khilafah bagi kaum Muslimin. Pada tahun 41 H beliau melakukan perdamaian dengan Muawiyah. Masa kekhilafahan beliau sekitar 6 bulan 3 hari. Setelah melakukan perdamaian beliau hijrah ke Madinah dan menetap di kota kelahirannya tersebut selama kurang lebih 10 tahun hingga akhirnya beliau mencapai kesyahidannya [1] dan dimakamkan di Pemakaman Baqi di kota Madinah.

Dua tugas berat yang diemban Imam Hasan As yaitu Imamah dan Khalifah menunjukkan peran penting beliau dalam menjaga keutuhan dan persatuan dalam tubuh kaum muslimin dan mencegah dari perselisihan dan perpecahan, kemudian beliau mengeluarkan keputusan untuk melakukan perdamaian dengan Muawiyah. Hal tersebut memberikan gambaran seutuhnya mengenai kepribadian beliau yang memiliki karakter tegar dan lebih mengutamakan toleransi dan persaudaraan kaum muslimin. Perdamaian yang dilakukannya dengan Muawiyah di masa kekhalifahannya, menjadi keputusan paling penting dalam hidupnya bahkan dikenang sebagai kebijakan yang paling berpengaruh dalam sejarahIslam dan kaum muslimin, khususnya dalam terwujudnya persatuan dan tersebarnya pelajaran agama dan akhlak yang memberikan keteladanan utama bagi umat Syiah, tentang bagaimana bertindak dan mengambil keputusan ketika terjadi perbedaan pendapat, juga hal-hal berkenaan dengan perdamaian dan peperangan. [2]

Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Imam kedua umat Islam Syiah dan putra pertama Imam Ali As, dikenal dengan sebutan Imam Hasan As. Ibu beliau adalah Sayidah Fatimah al-Zahra As putri kesayangan Nabi Muhammad Saw[3]Panggilan beliau adalah Abu Muhammad. Dengan lakab gelar yang paling masyhur dari beliau adalah al-Taqi. Selain itu beliau juga memiliki lakab yang lain, seperti al-Tayyib, al-Zaki, al-Sayid dan al-Sibth. Sedang Nabi Muhammad Saw sendiri menlakabi beliau dengan al-Sayid. [4]

Kelahiran dan Kehidupannya

Imam Hasan As lahir di kota Madinah pada malam atau siang dari pertengahan bulan Ramadhan tahun ketiga Hijriah [5]. Sementara Syaikh Kulaini dalam kitabnya al Kafi menukilkan riwayat bahwa Imam Hasan as lahir pada tahun kedua Hijriah [6] Ia wafat pada usia 48 tahun pada tahun ke 50 H [7]Tabarsi menukilkan wafatnya pada tanggal 28 Safar. [8]

Yang Memberikan Nama

Mengenai nama Imam Hasan As, diceritakan dimasa kelahirannya, Allah Swt berfirman kepada malaikat Jibril As untuk memerintahkan Nabi Muhammad Saw menemui puteranya yang baru lahir dan menyampaikan salam kepadanya dan mengucapkan selamat dan menyampaikan kepadanya, “Sesungguhnya posisi Ali di sisimu seperti Harun di sisi Musa, karenanya berilah nama putera Ali sebagaimana nama putera Harun.” Malaikat Jibrilpun menyampaikan apa yang telah diperintahkan Allah Swt untuk disampaikan kepada nabi Muhammad Saw. Setelah mengucapkan salam dan selamat sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT, malaikat Jibril berkata, “Allah SWT menghendaki kamu memberikan nama putera Ali sebagaimana nama putera Harun.” Nabi Muhammad Saw bertanya, “Nama putera Harun siapa?” Malaikat Jibril As menjawab, “Sabbar”. Nabi Muhammad Saw kembali bertanya, “Dalam bahasa Arabnya apa?” Malaikat Jibril as berkata, “Berikan namanya Hasan.” Dengan perintah itu, Nabi Muhammad Saw memberikan nama cucunya al-Hasan. [9]

Istri-Istri dan Keturunannya

Imam Hasan As: Puncak dari kecerdasan akal adalah akhlak yang baik kepada sesama manusia. Dan dengan akal dunia dan akhirat dapat diraih. Barang siapa yang tidak memanfaatkan akalnya, maka dunia dan akhiratpun tidak bermanfaat baginya. [Nahjul Sa’adah fi Mustarak Nahjul Balaghah, jilid 7 hal. 366]

Anak-anak kandung Imam Hasan As berjumlah 15 orang. 8 laki-laki dan 7 lainnya perempuan.

  • Zaid dan dua saudara perempuannya Ummul Hasan dan Ummul Husain dari istri beliau yang bernama Ummi Bashir putri *Ibnu Mas’ud ‘Aqabah bin Amru.
  • Hasan bin Hasan dari istri beliau yang bernama Khaulah binti Mandhur Fazari.
  • Amru dan dua saudara laki-lakinya Qasim dan Abdullah. Ibunya adalah seorang budak.
  • Abdurrahman. Ibunya juga dari seorang budak.
  • Husain dan saudara laki-lakinya Talhah dan saudara perempuannya Fatimah. Ibu mereka bernama Ummu Ishak binti *Talhah bin ‘Ubaidillah Taimi.
  • Putri-putri beliau, Ummu Abdullah, Fatimah, Ummu Salamah dan Ruqayyah dari istri-istri yang berbeda. [10]

Dari berbagai sumber-sumber yang ada, pernikahan ataupun perceraian yang dilakukan Imam Hasan As, baik dari sisi jumlah sekalipun, terdapat perbedaan pendapat. Hal tersebut bersumber dari adanya periwayatan yang berbeda-beda, yang kesemua itu tidak mungkin untuk dilakukan penerimaan begitu saja, dan juga tidak memungkinkan untuk ditolak dan pada dasarnya juga tidak menambah ataupun mengurangi nilai sejarah. Pada dasarnya kesemua perbedaan periwayatan tersebut bersumber dari berbagai aspek khususnya disebabkan oleh isu-isu sektarian dan politik. Para peneliti dan ulama dalam penjelasan mereka mengenai riwayat-riwayat yang beraneka ragam tersebut hanya sekedar menunjukkan sebagian dari kesalahan pada sanad ataupun mengenai muatan riwayat. [11]Khususnya harus dapat diterima, apa yang telah disampaikan oleh riwayat-riwayat yang ada sangat kabur dan tanpa catatan mengenai kesemua nama-nama istri Imam Hasan As.

Dari kesemua itu hanya nama Ja’dah binti Asy’at bin Qais yang sesuai dengan riwayat yang ada, yang disebutkan sebagai pelaku dari keracunan yang dialami Imam Hasan as yang kemudian merenggut nyawanya yang riwayatnya dapat diterima dan diakui. Meskipun terdapat kesimpang siuran dari riwayat-riwayat yang berkenaan dengan nama-nama istri Imam Hasan as namun mengenai keturunan Imam Hasan as terdapat kesepakatan bersama yang kemudian dengan dasar tersebut nama dari ibu-ibu mereka pun dapat dikenali, misalnya Khaulah binti Mandzhur bin Zabban Farazi. Ummu Bashir binti ‘Uqabah bin Amru Khazaraji, Ummu Ishak binti Talhah bin ‘Ubaidillah at Tamimi, Hafsah cucu Abu Bakar dan Hindun bin Sahil bin Amru. [12]

Kehidupannya di Sisi Rasulullah Saw

Baraa menukilkan, “Saya melihat Nabi Muhammad Saw bersama dengan Hasan bin Ali yang berada diatas pangkuannya dan dalam keadaan demikian beliau berkata, Ya Allah aku mencintainya, maka berikan juga kecintaanMu terhadapnya.”[13] Dalam hadits yang lain dinukilkan bahwa Nabi Muhammad dalam keadaan bersama dengan Hasan dan Husain yang duduk diatas pangkuannya dan berkata, “Ini adalah kedua putraku dan putra dari putriku. Ya Allah, aku mencintai keduanya, maka berikan juga kecintaanMu kepada keduanya dan cintai pula siapa saja yang mencintai keduanya.” [14]

Nabi Muhammad Saw dalam hadits yang lain mengenai Imam Hasan As dan Imam Husain As bersabda, “Hasan dan Husain adalah penghulu pemuda di surga.” [15]“Kedua puteraku ini adalah dua bunga wangiku di dunia.” [16]“Hasan dan Husain (atau kedua puteraku ini [17]adalah Imam, yang memimpin revolusi atau yang menciptakan perdamaian.” [18] “Jika akal seorang laki-laki terwujud sebagai manusia, maka dia adalah al Hasan.” [19]

Kehidupannya di Masa Kekhalifahan

Suatu hari Imam Hasan di masa kecilnya menemui Abu Bakar yang saat itu sedang berkhutbah di atas mimbar. Beliau mengajukan protes kepada Abu Bakar sembari berkata, “Turunlah dari atas mimbar ayahku.” Abu Bakarpun menanggapi pernyataan tersebut dengnan mengatakan, “Demi Allah, benarlah apa yang kamu katakan itu. Ini adalah mimbar ayahmu, bukan mimbarku.” [20] Imam Hasan dan Imam Husain pada saat perang menginvasi kerajaan Persia, keduanya tidak bergabung dalam laskar militer kaum muslimin.[21]Meskipun sebagian dari riwayat menyebutkan kehadiran Imam Hasan as di sejumlah peperangan. [22]

Disaat masa transisi dari pemerintahan Khalifah Umar kepada pemerintahan khalifah selanjutnya dan terbentuknya Dewan Syura yang kemudian menghasilkan keputusan yang menetapkan Utsman sebagai Khalifah selanjutnya, atas permintaan Umar bin Khattab, Imam Hasan as termasuk diantara enam orang yang dijadikan saksi dalam Dewan Syura yang terbentuk tersebut. Hal tersebut menunjukkan bukti betapa penting peran dan luasnya pengaruh beliau, sekaligus mengisyaratkan bahwa beliau bukan hanya diakui sebagai salah satu anggota dari Ahlul Bait Nabi Saw namun juga diakui sebagai tokoh berpengaruh yang memiliki peran sosial penting ditengah-tengah kaum Anshar dan Muhajirin[23]

Sewaktu Utsman mengasingkan Abu Dzar al Ghiffari ke Rabadzhah dan menetapkan pelarangan untuk tidak seorang pun menemani dan berbicara dengannya, dan meminta kepada Marwan bin Hakam mengeluarkannya dari kota Madinah. Sewaktu Abu Dzar akhirnya dalam keadaan terusir keluar dari kota Madinah, tidak seorangpun yang berani untuk berbicara dan menemuinya, kecuali oleh Imam Ali as beserta saudaranya Aqil dan kedua putranya Hasan dan Husain serta Amar bin Yasir yang bahkan sampai mengawal kepergian Abu Dzar meninggalkan kota Madinah. [24]

Disaat terjadi kerusuhan, dengan adanya aksi pengepungan sejumlah pemberontak yang hendak membunuh khalifah Utsman bin Affan, sebagian catatan sejarah menyebutkan tindakan Imam Ali as untuk menjaga Islam adalah menjaga keselamatan khalifah. Beliau mengutus kedua puteranya Hasan dan Husain menuju rumah Utsman untuk menjamin keselamatannya. Sayang, situasi saat itu sangat sulit, dan pembunuhan terhadap khalifah Utsman tidak bisa dicegah. Disebutkan terjadi banyak perbedaan periwayatan dari berbagai sumber mengenai hal detail dari peristiwa pembunuhan tersebut. [25]

Imam Di Masa KeImamahan Imam Ali As

Imam Hasan As dan Imam Husain As bergabung dalam peperangan yang dipimpin oleh ayahnya, yaitu dalam perang Jamal, Shiffin dan perang Nahrawan. 26. [26]

Di Perang Jamal

Sewaktu Abu Musa al Asy’ari panglima perang Kufah yang diutus oleh Imam Ali As untuk menghadapi kaum pemberontak melakukan pembangkangan, Imam Ali as mengutus puteranya sendiri Imam Hasan bersama dengan Ammar bin Yasir dan sebuah surat ke Kufah. Dengan pidato yang disampaikannya di Masjid Kufah, beliau mampu mengumpulkan 10000 pasukan yang ikut serta bersamanya ke medan perang. [27]

Imam Hasan menyampaikan pidatonya sebelum terjadi perang [28]dan Amirul Mukminin mengutus beliau dalam perang tersebut untuk bersiaga di Maimanah [bagian kanan] dari pasukan perang. [29] Sebagian sejarahwan menyebutkan dalam perang tersebut, Imam Ali as berkata kepada Hanafiah, “Ambillah tombak ini, dan bunuhlah unta itu [yang dimaksud adalah unta yang dikendarai Aisyah yang dalam menghadapinya telah banyak menelan korban]”. Muhammadpun pergi namun kembali dalam keadaan luka parah akibat terjangan panah disekujur tubuhnya. Setelah itu, Hasan mengambil tombak itu dan selanjutnya berhasil membunuh unta Aisyah. [30]

Imam Pada Perang Shiffin

Pada perang Shiffin, di tengah kecamuk menghadapi musuh-musuhnya, Imam Ali As tidak melepaskan perhatian dari kedua putranya yang turut berperang. Dalam menjaga keselamatan nyawa Hasan dan saudaranya Husain, Imam Ali As meminta keduanya untuk berada dibelakangnya. Imam Ali As berkata, “Ditengah kecamuk perang saya mengkhawatirkan keselamatan kedua puteraku, karena saya tidak mengingkankan keturunan Rasulullah Saw terputus.” [31] Dalam perang, sewaktu Muawiyah melihat Imam Hasan As, ia memerintahkan kepada Ubaidillah bin Umar –putera bungsu khalifah kedua- memasuki medan perang dan menemui Imam Hasan As. Ubaidillahpun mendekati Imam Hasan yang sedang sibuk menghadapi musuh-musuhnya, dan berkata kepadanya, “Saya ada urusan denganmu.” Imam Hasanpun mendekatinya. Ubaidillahpun menyampaikan pesan Muawiyah yang mengajaknya bergabung. Imam Hasan As dengan suara meninggi berkata, “Aku akan melihat, kau akan terbunuh hari ini atau besok. Namun syaitan telah menipumu dan memperindah perbuatan ini di matamu sampai akhirnya perempuan-perempuan Syam akan mengambil jenazahmu. Allah SWT akan mempercepat kematianmu dan kau akan berkalang tanah.” Mendengar jawaban tegas tersebut, Ubaidillah kembali keperkemahan dan ketika Muawiyah melihat keadaannya, ia langsung menanggapinya dengan berkata, “Anak laki-laki itu adalah juga ayahnya.” [32]

Imam Ali As untuk mencegah terjadinya fitnah dan perpecahan pasca pemerintahannya, ia secara terang-terangan mengingatkan masyarakat akan bahayanya, melalui pidato-pidato yang disampaikannya secara terbuka dengan penjelasan dalil dan argumentasi yang jelas. Hal demikian juga dilakukan oleh Imam Hasan As.[33] Surat ke-31 Imam Ali As yang terdokumentasikan dalam kitab Nahjul Balaghah berisikan surat wasiat yang penuh dengan pesan-pesan akhlak Imam Ali As kepada puteranya, Imam Hasan As. Surat tersebut disampaikan sewaktu Imam Hasan As dalam perjalanan pulang dari Shiffin disebuah tempat yang disebutHadhirin.

“Ketakwaan adalah puncak dari keridhaan Ilahi, awal dari semua pertobatan, puncak dari segala hikmah dan kemuliaan dari setiap perbuatan.” Imam Hasan Al-Mujtaba As

Tuhaf al-‘Uqul, hlm. 232.

Dalil-dalil KeImamahan

Hadits yang berbunyi, “Kedua puteraku ini, Hasan dan Husain adalah imam, baik dalam keadaan bangkit maupun tidak.” [34], dari Rasulullah ini adalah hujjah yang jelas dan terang mengenai keimamahan Imam Hasan dan Imam Husain. Imam Ali As mewasiatkan kepada puteranya Imam Hasan As. “Wahai puteraku, Rasul Akram Saw memerintahkan kepadaku, agar aku menjadikan engkau sebagai washiku dan memberikan kepadamu kitab dan persenjataanku, sebagaimana Rasulullah Saw menjadikan aku washinya dan menyerahkan keduanya kepadaku serta memerintahkan kepadaku untuk melakukan hal yang sama terhadapmu. Dan sewaktu engkau menyadari akan mendekatnya tanda-tanda kematianmu, maka amanah ini serahkan kepada saudaramu, al-Husain.” [35]

Masa ke Imamahannya

Imam Hasan al-Mujtaba As pada malam Jum’at 21 Ramadhan tahun ke 40 H bersamaan dengan kesyahidan ayahnya Imam Ali As ditangan Ibnu Muljam, urusan kepemimpinan dan kewilayahan atas ummat beralih ke atas pundaknya, dan penduduk Kufah secara berkelompok-kelompok berdatangan untuk memberikan baiat mereka. Ia kemudian mengangkat sejumlah pejabat dan pembantunya dalam pemerintahan serta menunjuk Abdullah bin Abbas sebagai gubernur di Basrah. [36]

Perang dengan Muawiyah

Sewaktu Muawiyah mendapat kabar akan kesyahidan Imam Ali As dan paham akan pembaiatan yang telah dilakukan umat Islam atas Imam Hasan As, diapun kemudian mengirimkan dua orang untuk menjadi mata-mata dan memprovokasi masyarakat untuk melawan Imam Hasan as ke kota Basrah dan Kufah. Imam Hasan As ketika mengetahui hal tersebut segera memerintahkan untuk melakukan penangkapan atas keduanya dan menjatuhkan hukuman yang setimpal.

Surat menyurat yang terjadi antara Imam Hasan As dengan Muawiyah, menunjukkan kelayakan Imam Hasan As sebagai khalifah atas kaum muslimin. [37]Muawiyah sesuai perintahnya melalui surat, mampu memobilisasi pasukannya untuk bergerak ke Irak bersamanya dan dia sendiri yang bertindak langsung sebagai komandan pasukan, dan memerintahkan Zahaak bin Qais Fahri sebagai wakilnya di ibu kota. Disebutkan sekitar 60000 pasukan bersama Muawiyah, dan riwayat lain menyebutkan lebih dari jumlah tersebut. [38]

Imam Hasan As: “Memikirkan pikiran, jiwa, hati dan visi adalah kunci pintu kebijaksanaan.” [Musnad al Imam al Mujtaba, hal. 718]

Imam Hasan As mengutus Hujr bin Adi ke medan perang untuk mengambil alih komando dan mengajak kepada ummat untuk berjihad. Awalnya mereka mengalami kekalahan, namun akhirnya meraih kemenangan. [39]Imam As kemudian mengutus Qais bin Sa’ad bin ‘Ubadah menuju Syam dan ia sendiri menuju Madain. Setiap hari ia mendapat kabar baru disetiap perjalanannya. Suatu hari ia mendapatkan kabar akan gugurnya Qais. Berita tersebut dengan cepat menyebar dan menimbulkan kegoncangan dikalangan pasukan. Tanpa adanya komando, pasukan yang tersisa kemudian menyerbu tenda-tenda dan menjarah apapun yang ada. [40]Imam Hasan as dengan melihat adanya kejadian indisipliner tersebut dari pasukannya sendiri, kemudian berkesimpulan tetap melakukan perlawanan akan tidak ada manfaatnya. Tetap bertahan dengan kondisi pasukan seperti itu hanya akan membawa kerugian dan mudharat yang lebih besar. Karenanya Imam Hasan as kemudian memilih untuk sepakat untuk melakukan perdamaian dengan Muawiyah. [41]

Perdamaian dengan Muawiyah

Imam Hasan As: “Demi Allah kembalinya kami dari medan perang melawan orang-orang Syam bukan karena kami ragu atau karena kami diliputi rasa sesal melainkan karena sebelumnya kami menghadapi orang-orang Syam dengan dengan kejernihan pikiran dan konsistensi namun karena permusuhan semua itu jadi berubah. Dan kalian [orang-orang Kufah] pada awal pekerjaan kalian di Shiffin kalian lebih mengutamakan agama kalian daripada kepentingan dunia kalian, namun hari ini kalian lebih mengutamakan kepentingan dunia kalian dari agama kalian.” [Tuhuf al ‘Uqul, hak. 234]

Baladzari [بلاذری ] menulis: “Muawiyah mengirim kertas kosong yang di bagian bawahnya diberi cap stempel kepada Imam Hasan dan meminta apapun yang dikehendaki oleh Imam Hasan dalam perjanjian tersebut untuk menuliskannya. Berikut surat rekonsiliasi/perdamaian antara Hasan bin Ali dan Muawiyah bin Abi Sofyan yang kepemimpinan kaum muslim beralih ke tangan Muawiyah dengan persyaratan sebagai berikut:

  • Akan bertindak sesuai dengan kitab Allah, Sunnah Nabi dan sirah para khalifah yang saleh.
  • Tidak mengangkat putra mahkota dan mengembalikan amanah kepada permusyawaratan kaum muslimin.
  • Rakyat dimanapun berada, nyawa, harta dan keturunannya harus dijamin keamanannya.
  • Muawiyah tidak boleh baik secara terang-terangan maupun tersembunyi mengusik Imam Hasan as dan mengancam dan serta menakut-nakutinya pengikutnya.

Abdullah Haarat dan Amruh bin Salamah menjadi saksi dari penandatanganan deklarasi perdamaian tersebut. [42]Dengan persyaratan yang telah dibuat melalui Imam Hasan as, perjanjian tersebut ditandatangani di awal tahun 41 H. [43]Akan tetapi Muawiyah meskipun menyepakati perjanjian tersebut namun berlaku tidak layak. Disaat Imam Hasan as menawarkan perdamaian, Muawiyah justru tidak memberikan penghormatan yang semestinya, malah mengatakan hal yang tidak layak mengenai Imam Ali as. Imam Husain as awalnya hendak membalas pelecehan tersebut namun dicegah oleh Imam Hasan as yang kemudian menyampaikan pidatonya mengenai pentingnya perdamaian dan kemudian membandingkan nasab beliau dengan Muawiyah sebagai balasan dari sikap tidak hormat Muawiyah terhadap ayahnya, Imam Ali as. [44] Hal tersebut menjadikan Muawiyah terdiam malu. [45]

Setelah Perdamaian hingga Wafatnya

Imam Hasan setelah melakukan perdamaian dengan Muawiyah, ia berhijrah ke Madinah. Dan di kota tersebut ia menjadi sumber rujukan ilmu, agama, masalah sosial dan politik. Ia berkali-kali melakukan perdebatan dengan Muawiyah dan para pengikutnya di kota Madinah dan Damaskus, yang riwayat-riwayat mengenai hal tersebut diantaranya ditulis oleh Tabarsi dalam kitabnya Ihtijaj[46]

Kesyahidan

Muawiyah sangat berambisi untuk menghabisi nyawa imam Hasan As. Telah berkali-kali ia mengupayakan cara untuk meracuninya namun tidak pernah berhasil.[47]Sampai akhirnya Muawiyah secara licik berusaha merayu istri Imam Hasan As, Ja’dah binti Asy’at bin Qais dan menjanjikannya untuk dinikahkan dengan Yazid putranya dan akan diberikan seratus ribu dirham dengan syarat mampu membunuh imam Hasan. Diapun kemudian berhasil melakukan keinginan Muawiyah tersebut dengan cara meracuni Imam Hasan As dengan racun yang mematikan. Diapun mendapat uang seratus ribu dirham yang telah dijanjikan Muawiyah namun janji untuk menikahkannya dengan Yazid tidak dipenuhi Muawiyah. [48] Sewaktu Imam Husain menghantarkan jenazah saudaranya untuk dimakamkan disisi makam kakeknya Nabi Muhammad Saw, AisyahMarwan dan sejumlah pembesar dari Bani Umayyah mencegat dan mencegah proses pemakaman tersebut. Untuk mencegah perselisihan dan pertikaian yang bisa saja lebih meluas antara Bani Hasyim dengan Bani UmayyahIbnu Abbas kemudian membawa jenazah Imam Hasan kepemakaman Baqi dan dimakamkan di sisi neneknya, Fatimah binti Asad[49]

Kepribadian dan Keutamaannya

Imam Hasan as adalah yang paling mirip dengan Rasulullah Saw baik secara fisik, penampilan, perangai maupun akhlaknya. [50] Diriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda kepadanya, “Wahai Hasan, kamu dari penciptaan bentuk dan akhlak sangat mirip denganku.” [51]Imam Hasan as adalah salah satu dari Ashabul Kisa[52]] dan disaat mubahalah dengan rohaniawan Kristiani, Nabi Muhammad Saw membawa serta Imam Hasan, Imam Husain, Imam Ali dan Sayyidah Fatimah sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT. [53]Turunnya Ayat Tathir juga menunjukkan mengenai keutamaan beliau yang sangat besar, demikian juga dengan Ahlul Bait yang lain. [54]

Imam Hasan sebanyak 25 kali menunaikan ibadah Haji dan tiga kali mensedekahkan semua hartanya di jalan Allah, sampai sepatunyapun diserahkannya dan hanya menyisakan sandal untuknya. [55]

Catatan Kaki

  1. Arbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 489. .
  2. Haj Manuchahri, Faramarz, Dāirah al-Ma’ārif Buzurg Islami, jld. 20, Madkhal Imam Husain, hlm. 532. .
  3. Al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 3. .
  4. Arbili, Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlmn 296. .
  5. Al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 3. .
  6. Kulaini, Ushul Kāfi, jld. 2, hlm. 499. .
  7. Kulaini, Kāfi, jld. 2, hlm. 501. .
  8. Thābarsi, I’lām al-Wara, jld. 1, hlm. 403. .
  9. Shaduq, al-Amāli, hlm. 134. .
  10. Al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 16. .
  11. Untuk contoh bisa merujuk ke ‘Aqiqi, jld. 4, hlm. 523; Qarsyi, 1413 H, jld. 2, hlm. 443 dst; Madelung, 380-387 yang dinukil oleh Haj Manucahri, Faramarz, Dāirah al-Ma’ārif Buzurg Islami, jld. 20, Madkhal Imam Husain, hlm. 545. .
  12. Rujuk ke kitab Ya’qubi, jld. 2, hlm. 228; al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 20; Ibnu Shaufi, hlm. 19; Bukhari, Sahal, 5; Ibn Syahr Asyub, Manāqib, jld. 3, hlm. 192; Ibnu ‘Unabah, 68 yang dinukil Haj Manucahri, Faramarz, Dāirah al-Ma’ārif Buzurg Islami, jld. 20, Madkhal Imam Husain, hlm. 545. .
  13. Bukhari, Shahih Bukhari, jld. 2, hlm. 432; Suyuti, Jalal al-Din, Tārikh al-Khulafa, Tahqiq Lajnah Min al-Adbā, Tauzih Dār al-Ta’āwun Abbas Ahmad al-Bāz, Makah al-Mukaramah, hlm. 206. .
  14. Suyuti, Jalal al-Din, Tārikh al-Khulafa, Tahqiq Lajnah Min al-Adbā, Tauzih Dār al-Ta’āwun Abbas Ahmad al-Bāz, Makah al-Mukaramah, hlm. 207. .
  15. Shaduq, Amāli, hlm. 333; Suyuti, Jalal al-Din, Tārikh al-Khulafa, Tahqiq Lajnah Min al-Adbā, Tauzih Dār al-Ta’āwun Abbas Ahmad al-Bāz, Mekah al-Mukaramah, hlm. 207. .
  16. Majlisi, Bihār al-Anwar, jld. 37, hlm. 73; Suyuti, Jalal al-Din, Tārikh al-Khulafa, Tahqiq Lajnah Min al-Adbā, Tauzih Dār al-Ta’āwun Abbas Ahmad al-Bāz, Makah al-Mukaramah, hlm. 207. .
  17.  Shaduq, ‘Ilal al-Syarā’i, jld. 1, hlm. 211. .
  18. Al-Mufid, al-Arsyād, jld. 2, hlm. 27. .
  19. Juwaini, Farāidh al-Simthain, jld. 2, hlm. 68. .
  20. Suyuti, Tārikh al-Khulafā, hlm. 80. .
  21.  ‘Amali, Tahlili az Zendegi Imam Hasan Mujtaba, hlm. 170. .
  22. Daneshnāmeh Buzurgh Islami, jld. 20, Madkhal Hasan As, Imam, hlm. 534. .
  23. Ibnu Qutaibah, al-Imāmah wa al-Siyāsah, Kairom Muasassah al-Halbi, jld. 1, hlm. 30; Ibnu abd al-Bar, Yusuf, al-Isti’āb, Beirut, jld. 1, hlm. 391, 1412 H; Jauhari Ahmad, al-Saqifah wa Fadak, Riset oleh Muhammad Hadi Amini, Tehran, 1401 H; Sarasar Kitab, Danesh Nameh Buzurg Islami, jld. 20, Madkhal Hasan As, Imam, hlm. 534. .
  24. Mas’udi, Murūj al-Dzahab, jld. 1, hlm. 698. .
  25. Jump up↑ Ibnu Qutaibah, al-Imāmah wa al-Siyāsah, Kairom Muasassah al-Halbi, jld. 1, hlm. 40; Baladzuri, Ahmad, Ansāb al-Asyrāf, Riset oleh Muhammad Baqir Mahmudi, Beirut, jld. 2, hlm. 216-217, 1394 H; Maliki, Muhammad, al-Tamhid wa al-Bayān, Qatar, hlm. 119, 194, 1405 H; Muqaddasi, Mathar al-Bada wa al-Tārikh, Kairo, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyah, jld. 5, hlm. 206; ‘Amuli, Ja’far Murtadha, al-Hayat al-Siyāsah al-Imam al-Hasan, Qom, hlm. 140 dst, Daneshname Buzurg Islami, jld. 20, Madkhal Hasan As, Imam, hlm. 534, 1363 H. .
  26. Al-Amin, al-Sayyid Muhsin, A’yān al-Syiah, jld. 2, Haqaqah wa Akhrajah al-Sayyid Muhsin al-Amin, Beirut, Dār al-Ta’ārif lil Mathbu’āt, hlm. 370, 1418 H..
  27. Ja’fariyan, Hayāt Fikri wa Siyāsi Imāmān Syiah, hlm. 124. .
  28. Al-Mufid, al-Jamal, hlm. 327. .
  29.  Al-Mufid, al-Jamal, hlm. 348. .
  30. Al-Qarsyi, Mausu’ah Sirah Ahl al-Bait, jld. 10, Riset oleh Mahdi Baqir al Qarasyi, Qom, Dār al-Ma’ruf, hlm. 403, 1430 H. .
  31. Qarsyi, Hayāt al-Hasan, hlm. 219. .
  32. Qarsyi, Hayāt al-Hasan, hlm. 218. .
  33. Qarsyi, Hayāt al-Hasan, hlm. 245. .
  34. Al-Mufid, al-Irsyād, Qom: Sa’id bin Jabir, hlm. 290, 1428 H. .
  35. Kulaini, Ushul al-Kafi, jld. 1, hlm. 297. .
  36. Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 350. .
  37. Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 350. .
  38. Qarsyi, Zendegi Imam Hasan As, Penerjemah: Fakhr al-Din Hijazi, hlm. 334-335. .
  39.  Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 351. .
  40. Syahidi, Tārikh Tahlil Islam, hlm. 159. .
  41. Syahidi, Tārikh Tahlil Islam, hlm. 160. .
  42. Baladzuri, Ahmad, Ansāb al-Asyrāf, Dār al-Ta’ārif, jld. 3, hlm. 41-42, 1397 H; Syahidi, Tārikh Tahlil Islam, hlm. 162. .
  43. Khalifah bin Khiyat, Tārikh, Riset oleh Akram Dhaya ‘Umri, Beirut, 1397 H. .
  44. Thabari, jld. 4, hlm. 124-125, 128-129; Abu al-Faraj, 45 dst, Ibnu Syu’bah, hlm. 232 dst, Risalah al-Imam Hasan, Riset oleh Zainab Hasan Abdul Kadir, hlm. 29, Kairo, hlm. 1411 H. .
  45. Haj Manuchahri, Faramarz, Dāirah al-Ma’ārif Buzurg Islami, jld. 20, Madkhal Imam Husain, hlm. 538. .
  46. Thabarsi, al-Ihtijāj, jld. 2, hlm. 45-65. .
  47. Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 357. .
  48. Al-Mufid, al-Irsyād, jld. 2, hlm. 13. .
  49. Al-Mufid, al-Irsyād, hlm. 280-281, 1428 H. .
  50. Arbali, Kasyf al-Ghummah, jld. 2, hlm. 290. .
  51.  Majlisi, Bihār al-Anwār, jld. 43, hlm. 294. .
  52.  Shaduq, al-Khishal, jld. 2, hlm. 550; Shaduq, ‘Uyun Akhbar al-Ridha, Agha Najafi, jld. 1, hlm. 55. .
  53. Ali bin Ibrahim Qumi, Tafsir Qumi, jld. 1, hlm. 104; al-Zamakhsyari, al-Kassyāf, jld. 1, hlm. 368. .
  54.  Ali bin Ibrahim Qumi, Tafsir Qumi, jld. 2, hlm. 193. .
  55. Al-Sunan al-Kubra lil Baihaqi, jld. 4, hlm. 331, Tarjamah al-Imam Ali As min Tārikh Dimasyq, hlm. 142, dinukil dari Muntakhab Fadhāil al-Nabi wa Ahli Baitihi ‘alaihim al-Salam min al-Shihāh al-Sittah wa Gairihuma min al-Kutub al-Mu’tabar ‘inda Ahl al-Sunnah,hlm. 279. .

Daftar Pustaka

  • Al-‘Athardi, Azizallah, Musnad al-Imam al-Mujtaba, Qum, ‘Athardi, 1373 H.
  • Al-Harrani, Ibnu Syu’bah, Tuhuf al-‘Uqūl ‘an Ali al-Rasūl Saw, Riset: Ali Akbar al-Ghaffari, Qum, Muassasah al-Nasyr al-Islami, 1404 H.
  • Al-Mahmudi, Nahj al-Sa’ādah fi Mustadrak Nahj al-Balāghah, jld. 7, Najaf, 1385 H/1965 M.
  • Sotfware Nur al-Sirah 2, Markaz Tahqiqat Komputeri Ulūm Islami Nur.
  • Al-‘Amali, Ja’far Murtadha, al-Hayat al-Siyāsiah lil Imam al-Hasan, Qum, 1363 H.
  • ‘Amuli, Tahlili az Zendegi Imam Hasan Mujtaba, Penerjemah: Saihari, Intisyarat Daftar Tablighat, 1376 S.
  • Ibnu Sufi, Ali, al-Majdi, Riset: Ahmad Mahdawi Damaghani, Qum, 1409 H.
  • Ibnu ‘Unabah, Ahmad, ‘Umdah al-Thālib, Riset: Muhamammad Hasan Ali Thaliqani, Najaf, 1380 H/1960 M.
  • Al-Bukhari, Sahal, Sirr al-Silsilah al-‘Alawiyah, Riset: Muhammad Shadiq Bahr al-Ulum, Najaf, 1381 H/1962 M.
  • Ja’fariyan, Hayāt Fikri wa Siyāsi Imāmān Syiah, Intisyarat Anshariyan, 1381 H.
  • Qarasyi, Baqir Syarif, Hayāt al-Imām al-Hasan bin Ali As, Dirasah wa Tahlil, Beirut, 1413 H.
  • Muntakhab Fadhāil al-Nabi wa Ahli Baitihi ‘alaihim al-Salam min al-Shihāh al-Sittah wa Gairihuma min al-Kutub al-Mu’tabar ‘inda Ahl al-Sunnah, Disusun oleh: Muhammad Bayaumi Mihran, Beirut, al-Ghadir, 1423 H.
  • Al-Mufid, al-Jamal, Nasyir Maktab al-‘Alām al-Islami, 1371 S.
  • Al-Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh Thabari, Muassasah al-‘Alami lil Mathbu’āt, Beirut, tanpa tahun.
  • Radhi Yasin, Sulh al-Hasan, Penerjemah: Sayid Ali Khamanei, Intisyarat Ghulsyan cet. 13, 1378 S.
  • Ya’qubi, Tārikh Ya’qubi, Penerjemah: Muhammad Ibrahim Ayati, Intisyarat ‘Ilmi wa Farhanggi, 1362 S.
  • Thabarsi, al-Ihtijāj, Intisyarat Uswah, 1413 H.
  • Syaikh Shaduq, Amāli, Intisyarat Kitab Khaneh Islami 1362 S.
  • Arbali, Kasyf al-Ghumah, Nāsyir Majma Jahani Ahl Bait, 1426 H.
  • ‘Aqiqi Bakhsyayasyi, Abd al-Rahim, Chahardah Nur_e Pak, Tehran, 1381 S.
  • Al-Mufid, al-Irsyad, Penerjemah: Khurasani, Intisyarat ‘Ilmiah Islamiyah 1380 S.
  • Qarsyi, Baqir Syarig, al-Hayāt al-Hasan, Penerjemah: Fakhr al-Din Hijazi, Intisyarat Bitsat, 1376 S.
  • Suyuti, Tārikh al-Khulafa, tanpa tahun.
  • Shaduq, Amāli, Penerjemah: Kumrehi, 1363 S.
  • Shaduq, ‘Uyun Akhbar al-Ridha, Penerjemah: Ali Akbar Ghafari, Akhtar Syumal, 1373 S.
  • Software Islami Jami al-Hadits, Markaz Tahqiqat Komputeri ‘Ulum Islami Nur.
  • Kulaini, Ushul Kāfi, Dār al-Hadits.
  • Thabarsi, I’lām al-Wara, Muassasah ali Al-Bait Liahya al-Turat.
  • Bukhari, Shahih Bukhari, Nasyir Dār al-Fikr.
  • Ibnu Syahr Asyub, Manāqib Alu Abi Thālib, Nasyir Dzu al-Qurba.
  • Majlisi, Bihār al-Anwār, Beirut.
  • Jawini, Faraid al-Simthain, Muassasah al-Mahmudi, Beirut, 1980 M.
  • Syaikh Shaduq, Khishal.
  • Tafsir Qumi, Nasyir Maktabah al-Hadi, Najaf.
  • Al-Zamakhsyari, Mahmud, al-Kassyāf ‘an Haqāiq Ghawāmidh al-Tanzil, jld. 1, Qum, Nasyr al-Balagāh, al-Thaba’ah al-Tsaniah, 1415 H.
  • Syahidi, Sayid Ja’far, Tārikh Tahlili Islāmi, Tehran, Markaz Nasyr Danesgahi, 1390 S.
  • Madelung, W., The Succession to Muhammad, Cambridge, 1977.

Ayat Tathir, Dalil Kesucian Ahlulbayt As

Ayat Tathir merupakan salah satu ayat-ayat yang berkaitan dengan wilayah / kepemimpinan Imam Ali a.s. dan para Imam yang lain. Ayat yang setiap katanya lazim ditelaah ini, secara gamblang juga menginsyaratkan tentang kemaksuman para pribadi agung tersebut.

إِنَّما يُريدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَ يُطَهِّرَكُمْ تَطْهيراً

 

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, (hai) Ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih- bersihnya.

 

Poros Pembahasan

 

Ayat Tathir merupakan salah satu ayat-ayat yang berkaitan dengan wilayah / kepemimpinan Imam Ali a.s. dan para Imam yang lain. Ayat yang setiap katanya lazim ditelaah ini, secara gamblang juga menginsyaratkan tentang kemaksuman para pribadi agung tersebut.

 

Mukadimah

 

Khitab ayat kedua puluh delapan hingga tiga puluh empat surah Al-Ahzab, ditujukan kepada para isteri nabi Saw, hanya saja di antara ketujuh ayat tersebut turun sebuah ayat yang dikenal dengan ayat Tathir dengan kandungan dan nada yang berbeda. Salah satu perbedaan itu adalah dhamir (kata ganti); dalam ayat-ayat sebelumnya sekitar 25 dhamiratau fi’il (kata kerja)berbentuk muannats (perempuan) dan setelah ayat ini juga terdapat dua dhamir dan kata kerja muannats pula.

 

Sedangkan dhamir dan kata kerja yang berada dalam ayat Tathir seluruhnya berbentuk mudazkkarataudhamir yang mencakup kedua jenis atau dhamir yang tidak khusus mengarah kepada kaum perempuan, padahal ayat ini diapit oleh 27 dhamir muannats (khusus kaum hawa) sebelum dan sesudahnya.

 

Apakah ini sebuah kebetulan semata ataukah hal ini menyimpan sebuah filsafat tertentu?

 

Tanpa diragukan lagi, ini bukan sebuah kebetulan, melainkan terkandung sebuah rahasia dan sebab yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.

 

Jika kandungan ayat Tathir juga mencakup isteri-isteri Rasulullah Saw, lalu mengapadhamir dan khitab dalam ayat tersebut berubah dan tidak memakai dhamir muannatsseperti yang digunakan sebelum dan sesudahnya?

Hal ini secara yakin dapat dipahami bahwa kandungan ayat dan perubahan dhamir dan kata kerja yang terjadi mengindikasikan bahwa isteri-isteri nabi bukan yang dimaksud oleh ayat Tathir ini.

 

Penjelasan dan Tafsir

 

Ayat Tathir, Burhan Yang Jelas Atas Kemaksuman

 

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, setiap kata dari ayat mulia ini perlu dikaji dan direnungkan. Oleh karena itu setiap kata dari ayat ini akan kami bahas satu persatu berikut ini:

 

  1. انما berarti hanya, yang menunjukkan hashr. Dari kata ini dapat dipahami bahwa dalam ayat ini terdapat hal yang tidak dimiliki oleh seluruh kaum muslimin, karena jika pada awalnya memang umum untuk mereka, tidak perlu kata ini disebut di dalamnya.

 

Dalam ayat ini, kotoran tidak dileyapkan dari semua kaum muslimin, akan tetapi khusus person-person yang telah disebut di sana. Di samping itu, kotoran yang dimaksud juga khusus bukan sembarang kotoran.

 

Hal ini disebabkanketakwaan yang biasa mencakup semua muslimin dan menghindar dari segala dosa merupakan kewajiban semua orang; sedangkan apa yang dimaksud oleh ayat ini tentu hal yang lebih tinggi dari sekedar ketakwaan biasa.

 

  1. یرید الله Allah menghendaki. Apakah maksud dari kehendak Allah dalam ayat ini? Apakah kehendak itu Tasyri’iyahatau Takwiniyah?

 

Jawab: untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dijelaskan secara ringkas arti dari dua iradah ini:

 

Iradah  Tasyri’iyah adalah perintah Allah Swt, dengan kata lain iradah ini adalah kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan-Nya. Ayat seratus delapan puluh lima dari surah Al-Baqarah merupakan salah satu ayat yang menunjukkan iradah ini. Dalam ayat ini, setelah menjelaskan kewajiban puasa di bulan suci Ramadhan dan pengecualian kewajiban ini dari para musafir dan orang-orang yang sakit, Allah Swt berfirman:

يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَ لاَ يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan kalian bukan kesulitan.

 

Maksud kehendak Allah dalam ayat ini adalah iradah tasyri’iyah; artinya hukum Allah Swt tentang puasa di bulan Ramadhan adalah hukum yang mudah dan tidak berat; bahkan seluruh hukum Islam bukanlah hukum yang sulit. Oleh karena itu Rasulullah Saw bersabda:

 

بعثت اليکم بالحنفية السمحة السهلة

” Aku diutus kepada kalian dengan syariat yang mudah.”[1]

 

Iradah takwiniyahberarti penciptaan; artinya kehendak Allah Swt untuk menciptakan sesuatu atau seseorang.

 

Contoh iradah ini dapat dijumpai pada ayat delapan puluh dua surah Yasin, di mana Allah berfirman:

إِنَّما أَمْرُهُ إِذا أَرادَ شَيْئاً أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

” Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:” Jadilah!” maka terjadilah ia.

 

Maksud kehendak Allah dalam ayat ini adalah kehendak takwiniyah (penciptaan). Allah Swt Mahakuasa, jika Dia berkehendak untuk menciptakan dunia yang unik dan megah yang sedang kita tinggali ini untuk kedua kalinya, maka itu hanya dengan sekedar memberikan sebuah perintah saja. Bagaimana tidak, Dia Dzat Yang Mahakuasa, dan menurut para ilmuwan, matahari dunia itu besarnya satu juta dua ratus ribu kali lipat besar bumi dan di tata surya terdapat sekitar seratus milyard bintang di mana ukuran sedangnya saja sama dengan ukuran matahari.

 

Dengan demikian, sedikit banyak kita sudah mengenal dua kehendak Allah Swt di atas. Pertanyaannya sekarang ayat Tathir berkaitan dengan kehendak Allah yang manakah? Artinya apakah Allah menghendaki Ahlul bait a.s. suci dari segala kotoran dan ingin mereka menjauhinya? Atau apakah Allah sendiri yang menjauhkan mereka dari kotoran itu?

 

Jawab: tanpa diragukan lagi maksud dari kehendak Allah di sini adalah iradah takwiniyah; karena perintah takwa dan menjauhi segala dosa bukan khusus Ahlul bait a.s. akan tetapi semua umat Islam terkena kewajiban ini, dan pada pembahasan sebelumnya telah dipahami bahwa kata انما mengisyaratkan bahwa ini adalah hal yang istimewa yang tidak dimiliki seluruh umat Islam.

Dengan demikian, Allah dengan kehendak takwiniyah-Nya menganugerahkan sebuah kekuatan kemaksuman yang dapat menjaga mereka dari berbagai kesalahan dan dosa serta senantiasa menjaga mereka tetap suci darinya.

 

Soal: apakah kekuatan ishmah para maksum ini bukan sebuah keterpaksaan? Dengan kata lain, apakah mereka tidak memiliki pilihan untuk melakukan dosa dan tanpa ikhtiar pula mereka melaksanakan segala perintah Allah Swt?

 

Dengan ungkapan ketiga, apakah jika mereka menginginkan untuk berbuat kesalahan atau dosa, mereka tidak kuasa melakukannya? Jika demikian, makam ishmah bukan hal yang dapat dibanggakan.

 

Jawab: sesuatu yang mustahil dapat dibagi kepada dua bentuk; mustahil secara logis dan mustahil dari sisi kebiasaan sehari-hari.

 

Mustahil secara logis adalah sesuatu secara akal sehat tidak mungkin terjadi, seperti pada satu waktu, kita katakan siang hari dan pada waktu itu pula kita katakan malam hari, secara logis ini tidak mungkin terjadi dan mustahil. Atau contoh lain, buku yang sedang kita telaah memiliki 400 halaman tapi kita juga mengatakan buku itu setebal 500 halaman, ini mustahil terjadi, karena secara akal sehat tidak mungkin dua hal yang saling bertentangan dapat bersatu.

 

Akan tetapi, terkadang sebuah hal secara akal sehat dapat terjadi namun biasanya kebiasaan manusia tidak melakukannya; seperti tidak ada orang yang berakal sehat mau berjalan dengan tanpa busana di gang-gang atau di jalanan. Hal ini secara akal dapat terwujud tapi hal ini tidak biasa terjadi. Oleh karena itu seluruh manusia terjaga dari pekerjaan semacam ini; karena akal sehat dan tidak pernah membolehkan manusia untuk melakukan hal yang buruk semacam itu.

 

Lebih dari itu, kita akan menemukan sebagian manusia maksum dari hal-hal lain, sebagai contoh musthail seorang ulama tersohor meminum minuman keras pada hari kedua puluh satu bulan suci Ramadhan di dalam mihrab masjid, di atas sajadahnya serta di depan para khalayak.

 

Pekerjaan ini secara logis dapat terjadi dan dibayangkan, namun secara adat dan kebiasaan itu sulit terjadi; karena posisi dan kepribadian seseorang mencegah hal itu terjadi.

Para maksum terjaga dari semua dosa dan kesalahan, artinya kendati secara logis mungkin saja mereka melakukan penyimpangan, akan tetapi pekerjaan itu mustahil muncul dari mereka; karena ketakwaan dan ilmu mereka terhadap semua dosa begitu gamblang seperti ilmu orang biasa terhadap buruknya bertelanjang keluar dari rumah, manusia biasa terhindar dari pekerjaan semacam ini maka para maksum juga demikian mereka terhindar dari dosa dan nista.

 

Dengan demikian, ishmah bukan sebuah keterpaksaan dan juga tidak bisa dikatakan bahwa ishmah telah membelenggu ikhtiar mereka untuk melakukan sesuatu.

Konglusinya, kehendak Allah dalam ayat ini adalah iradah takwiniyah dan ishmah tidak melenyapkan ikhtiar dan keinginan para imam sehingga memaksa mereka untuk menjauhi dosa, akan tetapi mereka secara utuh dan sadar memiliki ikhtiar juga.

 

  1. الرجس ?

 

Kata ini berarti kotoran; ia terkadang digunakan untuk kotoran materi terkadang untuk kotoran non materi dan terkadang pula digunakan untuk kedua-duanya. Hal ini sesuai dengan apa yang ungkapkan oleh Ragib dalam kitab Mufradatnya.

 

Untuk ketiganya, kami akan membawakan bukti dari ayat-ayat al-Quran:

  1. At-Taubah, disebutkan:

وَ أَمَّا الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزادَتْهُمْ رِجْساً إِلَى رِجْسِهِمْ وَ ماتُوا وَ هُمْ كافِرُونَ

” Dan sedangkan mereka yang terdapat penyakit dalam hati mereka, maka kotoran akan bertambah atas kotoran mereka; dan mereka mati dalam keadaan ingkar dan kafir.”

 

Ungkapan “في‏ قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ (dalam hati mereka terdapat kotoran)biasanya digunakan untuk kaum munafik dan tanpa diragukan lagi kemunafikan merupakan sebuah penyakit jiwa.

 

  1. Kotoran materi dan dhahir: dalam ayat seratus empat puluh lima surah Al-An’am kita membaca:

 

قُلْ لا أَجِدُ في‏ ما أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلى‏ طاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ …

” Katakanlah (wahai Rasulullah) aku tidak mendapatkan di dalam wahyu yang aku terima (makanan)  yang haram selain bangkai atau darah (hewan yang tumpah keluar dari badannya) atau daging babi, karena sesungguhnya semua benda (di atas) itu rijs dan kotoran…”.

 

Sangat gamblang sekali jika rijs dalam ayat ini adalah kotoran dhahir.

 

  1. maknawi dan dhahiri: rijs yang terdapat dalam ayat sembilan puluh surah Al-Ma’idah digunakan untuk kedua makna; dalam ayat itu disebutkan:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَ الْمَيْسِرُ وَ الْأَنْصابُ وَ الْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

” Wahai orang-orang yang beriman sesungguhnya khamr, judidan mengundi nasib, itu kotoran dari perbuatan setan, maka jauhilah supaya kalian beruntung.”

 

Rijs dalam ayat mulia ini, berarti kotoran dhahir juga bermakna kotoran batin; karena minuman keras termasuk hal dhahir sedang perjudian dan mengundi nasib adalah kotoran batin.

 

Dengan demikian, rijs dalam ayat-ayat Al-Quran memiliki arti umum dan mencakup kotoran dhahir, batin, moral, teologi, ruhani, ragawi  dan yang lain. Oleh karena itu, Allah Swt dalam ayat Tathir dengan kehendak takwiniyah-Nya menginginkan untuk menyucikan Ahlul bait a.s. dari segala kotoran dan nista dengan seluruh pengertiannya.

 

Dalil kami bahwa kotoran itu universal mencakup hal materi maupun non materi adalah kemutlakan kata ini, artinya karena kata ini tidak dibatasi oleh hal-hal lain atau tidak disyaratkan dengan syarat lain.

 

ويطهركم تطهيرا kalimat ini pada dasarnya penjelas dari kalimat sebelumnya  ليذهب عنكم الرجس اهل البيت .

 

Sesuai ayat ini, Ahlul bait a.s. tersucikan dari segala noda dan nista dan dengan kehendak takwiniyah Allah Swt mereka suci dan maksum.

 

Siapakah Ahlul bait itu?

 

Dari ayat Tathir yang mulia telah kita pahami bahwa Ahlul bait memiliki keistimewaan lebih dari para muslim lain yaitu kesucian dan kemaksuman yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Akan tetapi pertanyaan selanjutnya yang harus dijawab adalah sipakah mereka itu? Siapakah gerangan sosok-sosok yang disucikan tersebut?

Begitu banyak pendapat yang mengemuka sehubungan dengan jawaban soal ini, berikut ini empat pendapat darinya:

 

  1. Sebagian ahli tafsir dari kalangan Ahli sunah menafsirkan bahwa Ahlul bait adalah isteri-isteri Nabi Saw.[2] Sesuai penafsiran ini, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain tidak termasuk Ahlul bait. Dengan ungkapan lain Ahlul bait adalah kerabat nabi dari sisisabab (yang disebabkan oleh perkawinan) dan tidak ada famili beliau dari sisi nasabyang tergolong di dalamnya.

 

Dalil mereka adalah ayat Tathir terletak di antara ayat-ayat yang turun berkenaan dengan isteri-isteri Nabi Saw, ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Jadi konteks ayat menuntut ayat mulia ini juga berkaitan dengan mereka.

 

Akan tetapi pendapat ini tidak dapat dibenarkan, dengan tiga dalil:

 

Pertama, sebagaimana telah disebutkan dalam lima ayat sebelumnya dan pada awal ayat ketiga puluh tiga surah Al-Ahzab seluruh dhamir dan fi’ilnya disebut dengan bentukmuannats. Begitu juga dalam ayat setelahnya terdapat dua  fiil dan dhamir yang sama. Sedangkan semua dhamir ayat ini berbentuk mudzakkar atau dhamir dan fiilnya tidak khusus untuk para wanta.

 

Oleh karena itu, dengan memperhatikan bahwa Al-Quran adalah firman Allah Swt yangfasih maka pastilah perubahan dhamir dan fiil memiliki maksud khusus dan jelas maksud dari Ahlul bait adalah sosok selain isteri nabi di mana Allah membedakan konteks ayat ini dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

 

Dengan demikian, sesuai penjelasan ini tidak mungkin para isteri nabi yang dimaksud dengan Ahlul bait, dan harus sosok lain yang penetapannya butuh pada pembuktian dan dalil.

 

Dalil kedua yang membantah kebenaran pendapat ini adalah dengan memperhatikan penjelasan dan tafsir ayat mulia ini, Ahlul bait memiliki kriteria khusus yaitu kemaksuman yang mutlak. Pertanyaannya sekarang, adakah ulama syi’ah maupun Ahli sunah yang mengatakan bahwa para isteri nabi itu maksum? Kendati mayoritas isteri-isteri nabi merupakan orang-orang yang baik, namun tidak mungkin diklaim mereka orang-orang yang maksum, malah sebaliknya dengan berbagai bukti yang gamblang dapat dikatakan sebagian dari mereka telah melakukan sebuah kesalahan fatal. Berikut ini satu contoh dari kesalahan tersebut:

Ali bin Abi Thalib a.s. merupakan satu-satunya khalifah yang selain dilantik oleh Allah secara langsung juga seorang Imam yang mendapat kepercayaan dan pilihan dari masyarakat.  Pemilihan itu juga jauh berbeda dengan ketiga khalifah sebelumnya; karena khalifah pertama terpilih melalui beberapa orangdi Tsaqifah Bany Sa’idah di mana kemudian masyarakat terpaksa membai’atnya. Khalifah kedua menaiki singgasana dengan mandat dari khalifah pertama. Khalifah ketiga juga terpilih sebagai pemimpin hanya melalui tiga suara dari enam suara yang telah ditunjuk. Akan tetapi Ali bn Abi Thalib a.s. mencapai haknya dengan dorongan dari masyarakat yang berbondong-bondong membai’at beliau. Bai’at umat manusia kepada beliau saat itu begitu dahsyatnya di mana beliau sendiri menuturkan:” Aku takut Hasan dan Husain terinjak-injak oleh kaki-kakimereka.[3]

 

Akan tetapi, (sungguh sayang sekali) salah satu isteri Nabi Saw,telah memberontak dan bangkit melawan pemimpin dan khalifah Rasulullah yang hak. Dia keluar dari kota Madinah dengan menunggangi onta menuju kota Bashrah dan melanggar perintah Rasul yang ditujukan kepada semua isterinya untuk tidak keluar dari rumah setelah kematian beliau. Saat tiba di kawasan Hau’ab dan mendengar gongongan anjing dia (Aisyah) teringat sabda Rasulullah yang bersabda:” Salah satu dari kalian akan menunggangi onta keluar dari Madinah dan akan tiba di kawasan Hau’ab dan di sana dia akan mendengarlolongan anjing, dia (pada dasarnya) telah keluar dari jalan Allah Swt.

 

Isteri nabi itu setelah mendengar bahwa kawasan yang sedang diinjak adalah Hau’abakhirnya berniat untuk kembali; akan tetapi para provokator yang merancang peperanganJamal memperdaya dan membujuknya untuk tetap melanjutkan perjalanan.[4]

 

Apakah seorang perempuan semacam ini yang melanggar perintah Rasulullah, menentang imam zamannya dan berperang melawan khalifah serta penyebab tumpahnya darah tujuh belas ribu muslim,dianggap sebagai seorang yang maksum dan jauh dari noda dan nista?

 

Yang lebih menarik lagi, dia sendiri mengakui kesalahannya dan menjustifikasinya (kendati alasannya itu tidak dapat diterima). Sebagian ulama fanatik Ahli sunah menganggap tindakan itu sebagai ijtihad dan tidak bisa ulahnyaitu dipersoalkan.

 

Apakah perkataan ini dapat dibenarkan? Apakah ijtihad di hadapan khalifah Rasul yang hak, di mana sang Khalifah menurut Aisyah sendiri adalah              “manusia terbaik” dianggap ijtihad yang sahih? Jika hal ini kita terima, maka tidak ada lagi orang yang berdosa, karena setiap kesalahan selalu dijustifikasi dengan busana ijtihad, istinbath dan semacamnya.

 

Hasilnya, perang jamal tidak dapat dijustifikasi secara logis dan tanpa keraguanlagi perancang perang ini adalah orang-orang yang bersalah dan tidak mungkin mereka dianggap bersih dari noda dan nista.

 

Pendapat kedua mengatakan maksud dari Ahlul bait adalah Rasulullah Saw, Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan isteri-isteri beliau.[5]

 

Sesuai pendapat ini maka isyakalan pertama yang mengarah kepada pendapat pertama dapat dihilangkan; karena sekelompok laki-laki dan perempuan dapat diseru dengandhamir mudzakkar. Akan tetapi dua isykalan lainnya masih belum terselesaikan yang berkaitan dengan para isteri nabi. Dengan demikian pendapat ini juga tidak dapat dibenarkan.

 

Sebagian dari para mufasir menyatakan bahwa Ahlul bait dalam ayat mulia ini adalah para penduduk kota Mekkah dan mengatakan: maksud dari al-Bait yang ada pada kata Ahlul bait adalah rumah Allah, Ka’bah, oleh karena itu mereka yang tinggal di kota Mekkah berarti Ahlul bait.

Kesalahan pendapat ini begitu gamblang sekali, di mana dua isykalan pendapat pertama juga masuk di sana, selain itu keutamaan apakah yang membuat penduduk kota Mekkah lebih unggul dari penduduk kota Madinah sehingga mereka dijauhkan dari dosa dan kesalahan?

 

Pendapat keempat adalah pendapat seluruh ulama Syi’ah yang tidak memiliki isykalan-isykalan di atas. Pendapat itu adalah Ahlul bait yang dimaksud oleh ayat mulia itu adalah sosok-sosok tertentu keluarga nabi yang tak lain adalah: Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan ketuanya sendiri, Rasulullah Saw.

 

Bukti kebenaran pendapat ini adalah pendapat ini jauh dari tiga isykalan di atas. Di samping itu, terdapat banyak riwayat yang menguatkan pendapat keempat ini. Allamah Thaba’thai dalam Al-Mizan menaksir riwayat tersebut sebanyak tujuh puluhan.[6]

 

Dan yang menarik adalah mayoritas riwayat itu disebut di dalam kitab-kitab hadis standar Ahli sunah, di antaranya:

Shahih Muslim.[7] 2. Shahih Tirmizi.[8] 3. Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain.[9] 4. As-Sunanul Kubra.[10] 5. Ad-Durul mantsur.[11] 6. Syawahid Tanzil.[12] 7. Musnad Ahmad.[13]

 

Oleh karena itu, riwayat-riwayat yang menafsirkan bahwa Ahlul bait adalah lima sosok Ali ‘Aba’ dari sisi kuantitas begitu banyak selain itu juga riwayat-riwayat tersebut tercatat dalam kitab-kitab standar Ahli sunah.

 

Fakhrur razi berkenaan dengan kuantitas riwayat ini dan kwalitasnya mengungkapkan sebuah penyataan menarik yang dibawakannya saat menafsirkan ayat Mubahalah (ayat 161 surah Ali Imran):” Dan ketahuilah, sesungguhnya riwayat ini merupakan riwayat yang disepakati kesahihannya oleh ahli tafsir dan hadis.[14]

 

Hasilnya, riwayat-riwayat yang menafsirkan Ahlul bait ini dari sisi kuantitasdan kualitasnya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Dari sekian banyak riwayat itu kami akan membawakan satu riwayat saja yaitu hadis Kisa’.

 

Hadis Kisa’ telah dinukil dengan dua bentuk; terperinci dan ringkas.

 

Hadis Kisa’ yang terperinci yang biasanya dibaca untuk menyembuhkan penyakit dan menyelesaikan berbagai masalah dan problem, bukan hadis yang mutawatir. Akan tetapi hadis singkatnya merupakan hadis mutawatir di mana kandungannya berbunyi demikian:”Pada satu hari, Nabi Saw diberi sebuah kain, Rasul meminta Ali, Fatimah, Hasan dan husain. Saat mereka datang beliau membeberkain itu dan menaruhnya di atas kepala mereka, kemudian beliau berdoa:” Ya Allah, sesungguhnya mereka adalah Ahlul baitku, singkirkanlah kotoran dari mereka. Kemudian Jibril datang dan membawa ayat Tathir tersebut.”

 

Dalam kitab-kitab Ahli sunah terdapat ungkapan berikut ini, di mana Ummi Salamah (salah seorang isteri nabi yang lain) mendekat dan meminta Rasul untuk menutupinya dengan kain itu jugaikut serta bergabung dengan mereka. Rasulullah Saw bersabda: “Kamu orang yang baik, akan tetapi tempatmu bukan di sini.”[15]

Dalam hadis lain ungkapan ini dinukil dari Aisyah.[16]

 

Dengan demikian, sesuai riwayat ini maksud dari Ahlul bait adalah lima orang Ahli kisa’.

Soal: Apa filsafat dari hal ini semua? Kenapa Rasulullah Saw menutup mereka dengan kain seperti itu dan mengucapkan hal itu kepada kelurga beliau sendiri?  Kenapa Ummi Salamah atau Aisyah dilarang oleh beliau untuk bergabung?

Jawab: tujuan Rasulullah Saw melakukan prosesi detail semacam ini adalah sebuah upaya pemisahan. Beliau igin menperkenalkan Ahlul bait tanpa pertanyaan susulan dan isykalan serta berupaya membuang kesamaran dan kemujmalan sehingga masyarakt di masa itu dan selanjutnya tahu atau tidak, tidak lagi memasuk-masukkan orang-orang lain ke dalam definisi Ahlul bait.

 

Atas dasar ini, beliau juga tidak mencukupkan diri dengan prosesi itu, akan tetapi beliau melakukan hal yang sangat menarik lagi, yang disebut dalam banyak sumber,di antaranya di dalam kitab Syawahid Tanzil (sesuai penuturanAnas bin Malik, pembantu khusus Rasul), Rasulullah Saw setelah peristiwa itu, setiap hari setelah azan Subuh dan sebelum didirikannya shalat jama’ah selalu berdiri di depan rumah Ali dan Fatimah dan mengulang-ulang kalimat berikut ini:” Shalat, wahai Ahlul bait.Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, (hai) Ahlul bait dan membersihkan kalian sebersih- bersihnya.

 

Pekerjaan ini dilakukan oleh Rasulullah Saw selama enam bulan berturut-turut.[17]

Riwayat ini juga dinukil dari sahabat Abu said Al-Khudri, di mana dia bertutur:” Rasulullah melakukan hal ini setiap subuh selama delapan bulan.”[18]

 

Bisa jadi, Rasulullah melanjutkan tindakan ini, hanya saja Anas bin Malik tidak melihat lebih dari enam bulan sedang Abu Said tidak lebih dari delapan bulan.[19]

 

Oleh karena itu, tujuan Rasulullah Saw dari tindakannya ini adalah memisahkan Ahlul bait dari orang lain dan menentukan mereka secara sempurna dan gamblang. Hal ini telah terlaksana secara baik, karena kita tidak akan mendapatkan hal lain yang diulang-ulang oleh beliau selain masalah ini. Dengan demikian, dengan berbagai penekanan dan penjelasan itu apakah adil jika kita menafsirkan Ahlul bait dengan selain lima sosok agung di atas?

 

Sebuah soal, dalam masalah yang sangat gamblang seperti ini, di mana kejelasannya laksana siang hari, mengapa masih ada segelintir orang yang tersesat dan berupaya menyesatkan orang lain?

 

Jawaban soal ini juga gamblang sekali dan itu adalah dikarenakan tafsir bi ray dan praduga,telah menutupi pandangan mereka. Gelapnya penutup ini begitu tebal sehingga mereka tidak melihat terangnya siang hari atau sebagain dari mereka tidak mau menerima sama sekali kenyataan seperti ini.

 

Jawaban terhadap Beberapa Pertanyaan

Telah muncul beberapa pertanyan seputar ayat Tathir, berikut ini beberapa contoh darinya beserta beberapa jawaban singkatnya:

 

Soal pertama, akhir kesimpulan yang dapat ditarik dari ayat Tathir adalah kemaksuman Ahlul bait, artinya Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan Rasulullah sendiri adalah pribadi-pribadi yang terjaga dari dosa dan kesalahan, akan tetapi apa kaitan dan hubungan ayat ini dengan masalah wilayah dan imamah?

Dengan kata lain pembahasan kita berkaitan dengan ayat-ayat yang menunujukkan wilayah dan imamah Amirul mukminin Ali a.s. dan ayat di atas tidak ada hubungannya dengan hal wilayah, hanya kemaksuman beliau saja yang dapat dibuktikan dengannya. Lalu mengapa kita berdalil dengan ayat ini untuk masalah wilayah beliau?

 

Jawab: jika masalah Ishmah untuk Ahlul biat telah dibuktikan, maka secara tidak langsung masalah imamah mereka juga telah dibuktikan, karena sebagimana telah dijelaskan imam adalah sosok yang ditaati tanpa syarat dan kaid, dan seseorang yang semacam ini adalah seorang yang maksum. Dari sisi lain, jika imam harus dilantik atau dipilih, maka selagiada orang yang maksum tidak perlu kita pergi kepada orang yang tidak maksum.

 

Allah Swt dalam ayat 124 surah Al-Baqarah saat mendengar doa Ibrahim a.s. yang sudah dilantik sebagai seorang yang berdoa agar anak cucunya juga mendapat gelar agung ini, berfirman:

لا ینال عهدی الظالمین

 makam (imamah-)Ku ini tidak akan sampai kepada orang-orang yang zalim.

Dengan demikian ishmah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari imamah dan barangsipa yang sebelum menerima makam ini berlumuran dengan dosa dan kesalahan tidak pantas untuk menjadi seorang imam dan pemimpin.

 

Pertanyaan kedua, kita menerima bahwa seorang imam harus maksum; akan tetapi apakah setiap orang yang maksum  harus menjadi imam? Bukankah sayyidah Zahra’ s.a. adalah sosok maksum, lalu mengapa beliau tidak menjadi seorang Imam?

Jawab: ishmah di kalangan wanita tidak melazimkan imamah, berbeda dengan kalangan laki-laki.

Pertanyaan ketiga: dalam pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa perbedaandhamir dalam ayat tathir dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya membuat khitab ayat ini bukan para isteri nabi, padahal perbedaan semacam ini juga terjadi padatempat lain di dalam al-Quran, seperti yang terdapat dalam ayat 73 surah Hud, yang menceritakan nabi Ibrahim menjadi sorang ayah di waktu masa tua. Allah berfirman:

قالُوا أَ تَعْجَبينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَتُ اللَّهِ وَ بَرَكاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَميدٌ مَجيدٌ

“Para malaikat itu berkata:” Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah?            ( Itu adalah ) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.”

Dalam ayat ini isteri nabi Ibrahim menjadi Mukhatab, hanya saja di sini digunakan dhamir mudzakkar, عَلَيْكُمْ?

 

Jawab: tujuan dari fiil (kata kerja) تَعْجَبينَ adalah isteri nabi Ibrahim saja, sedang عَلَيْكُمْmengarah kepada seluruh anggota keluarga beliau, laki maupun perempuan, sedang ayattathir sebagaimana telah dijelaskan tidak termasuk mukhatabnya ayat ini baik secara independen maupun di samping lima Ali aba.

 

Pertanyaan keempat: jika mukhatab ayat tathir hanya lima orang saja, lalu mengapa ayat ini diletakkan diantara ayat-ayat yang berkaitan dengan isteri-isteri nabi Saw?

Jawab: sebagaimana dijelaskan oleh Allamah Thaba’thabai dan ulama lain, seluruh ayat al-Quran tidak turun secara bersamaan, bahkan satu ayat sekalipun terkadang tidak turun sekaligus. Akan tetapi ayat-ayat itu turun sesuai keperluan dan peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu, bisa jadi pada satu waktu kisah para isteri nabi terjadi sehingga turun ayat-ayat yang berkaitan dengan mereka dan setelah beberapa waktu, kisah Ashhab kisa’dan permintaan nabi untuk penyucian mereka terjadi maka turunlahayat tathir. Dengan demikian, tidak pasti seluruh ayat al-Quran mempunyai ikatan khusus satu sama lain.

 

Kongklusinya, ayat tathir ini dapat digunakan untuk menetapkan kemaksuman lima orangAli aba juga dapat digunakan untuk menetapkan kepemimpinan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.

[1] Biharul anwar, jilid 65, halaman 346. [2] Qurthubi, dalam tafsir Al-Furqan, jilid 6, halaman 5264. Pendapat ini dinukil dari Zujaj.[3] Nahjul balaghah, khutbah ketiga (Khutbah Syiqsyiqiyah). [4] Syarah Nahjul balaghah, Ibnu Abil Hadid, jlid 6, halaman 225. (Sesuai penukilan Tarjamah wa Syarh Nahjil balaghah, jilid 1, halaman 403). [5]At-Tafsirul Kabir, jilid 25, halaman 209. [6] Al-Mizan, penerjemah, jilid 23 halaman 178. [7]Shahih Muslim, jilid 4, halaman 1883, hadi ke-2424. (Sesuai penukilan kitab Feyam Quran; pesan Quran, jilid 9, halaman 143). [8]Ihqaqul hak, jilid 2, halaman 503. [9]Al-Mustadrak ‘ala Shahihain, jilid 2, halaman 416. (Sesuai penukilan kitab Ihqaqul hak, jilid 2, halaman 504). [10]As-Sunanul Kubra, jilid 2 halaman 149. [11]Ad-Durul Mantsur, jilid 5, halaman 198. [12]Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 10-92. [13] Musnad Ahmad, jilid 1, halaman 330;  jilid 4, halaman 107 dan jilid 6, halaman 292. (Sesuai penukilan kitab Feyam Quran; pesan Quran, jilid 9, halaman 144). [14] Tafsir Fakhr Razi, jilid 8, halaman 80. [15] Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 24 dan 31. [16]Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman37 dan 38.[17]Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 11-15. [18] Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 28. [19]Selama sembilan bulan juga dinukil dari Abu Said. Lihat Syawahid Tanzil, jilid 2, halaman 29.

Wahabi dan kelompok takfiri hakikatnya adalah musuh Ahlul Bait karena berusaha menghentikan laju dakwah Syiah

Wahabi dan kelompok takfiri hakikatnya adalah musuh Ahlul Bait. Mereka menggunakan semua kemampuan yang mereka punya, baik secara materi maupun fisik untuk menghentikan laju dakwah Syiah yang semakin tidak bisa terbendung belakangan ini.

Wasiat Imam Ali bagi Umat Islam

“Putraku Hasan! Engkau dan seluruh anakku serta seluruh yatim dan orang yang menerima pesan ini, aku memberikan wasiat kepada kalian: Bertakwalah kepada Allah Swt dan jangan melupakannya. Berusahalah mempertahankannya hingga kematian menjemputmu. Kalian seluruhnya bersama-sama bersandar pada tali Allah. Bersatulah dalam keimanan dan jangan bercerai-berai. RasulullahSaw bersabda, ‘Mendamaikan sesama manusia lebih utama dari shalat dan puasa tanpa henti. Dan sesuatu yang dikecam dan ditolak dalam agama adalah kerusakan dan perpecahan,”.

Penulis terkemuka Lebanon, Khalil Gibran berkata, “Ali bin Abi Thalib syahid dengan keagungannya.Ia meninggal ketika menunaikan shalat dan hatinya dipenuhi kecintaan kepada Tuhan.” Bahkan di akhir hayatnya pun Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib masih menyebarkan kebenaran ajaran Islam. Dalam wasiat yang disampaikan kepada putranya Imam Hasan, Imam Ali berkata,“Putraku Hasan! Engkau dan seluruh anakku serta seluruh yatim dan orang yang menerima pesan ini, aku memberikan wasiat kepada kalian: Bertakwalah kepada Allah Swt dan jangan melupakannya. Berusahalah mempertahankannya hingga kematian menjemputmu. Kalian seluruhnya bersama-sama bersandar pada tali Allah. Bersatulah dalam keimanan dan jangan bercerai-berai. RasulullahSaw bersabda, ‘Mendamaikan sesama manusia lebih utama dari shalat dan puasa tanpa henti. Dan sesuatu yang dikecam dan ditolak dalam agama adalah kerusakan dan perpecahan,”.

Terkait penafsiran dari wasiat Imam Ali ini, Ayatullah Makarim Shirazi menulis, “Sejak awal wasiat ini, Imam Ali menegaskan keutamaan bertakwa kepada Allah yang merupakan jalan keselamatan selamanya bagi manusia dalam perjalanan menuju akhirat, dan ukuran bagi keutamaan manusia di sisi Allah Swt. Kemudian, Imam Ali dalam wasiatnya menyinggung seluruh sistem keamanan sosial, ekonomi, politik dan ibadah serta urusan yang berkaitan dengan keluarga serta pendidikan dan pengajaran. Keabadiaan alam semesta ini ditentukan oleh sistem yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Setiap masyarakat yang tidak memilikinya, maka akan hancur dan setiap manusia yang memilih jalan di luar yang ditetapkan maka tidak akan sampai kepada tujuannya, meskipun memiliki potensi yang tinggi dan fasilitas yang besar.”

Berkaitan dengan wasiat Imam Ali bahwa mendamaikan sesama manusia lebih tinggi dari shalat dan puasa, hal ini menunjukkan perhatian besar Islam terhadap masalah kemanusiaan dan perdamaian. Islam sangat mengutamakan persatuan dan  membenci permusuhan. Terkait hal ini Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada seorang pun, setelah menjalankan kewajibannya, yang melakukan perbuatan lebih utama dari pada mendamaikan sesama manusia, “.

Kelanjutan pesan Imam Ali ini mengenai masalah penting seperti masalah sosial, ubudiyah serta akhlak, dan sebagiannya dimulai dengan penegasan kalimat “Allah, Allah” yang menunjukkan betapa pentingnya masalah tersebut. Imam Ali juga menegaskan perhatian terhadap yatim. Beliau bersabda, “Allah, Allah! Kalian harus memperhatikan hak yatim, jangan sampai mereka kelaparan dan terhina di hadapanmu.”

Agama Islam sangat menekankan perhatian terhadap hak yatim dan orang-orang yang tertindas dan membutuhkan pertolongan.Dalam kitab al-Kafi disebutkan, “Suatu hari seseorang memberikan hadiah madu dan buah tin kepada Imam Ali. Kemudian Amirul Mukminin memerintahkan anak-anak yatim hadir. Lalu beliau menyuapkan madu itu dengan jarinya kepada anak yatim itu satu persatu. Seseorang bertanya kepada Imam Ali, ‘Mengapa bukan mereka sendiri yang melakukannya?’. Imam Ali menjawab, “Ali adalah ayah anak-anak yatim. Aku menyuapkan madu ini kepada mereka seperti halnya para ayah menyuapi anak-anaknya.”

Mengenai dengan hak tetangga, Imam Ali dalam wasiatnya berkata, “Allah, Allah! Kalian harus berbuat baik kepada para tetangga.Sebab Rasulullah memerintahkan kita untuk bersikap baik terhadap mereka. Saking pentinya berbuat baik kepada tetangga, bahkan Rasulullah bersabda [seolah] kita saling mewarisi dengan para tetangga,”. Tetangga memiliki penghormatan tinggi dalam Islam, sebab agama Islam memiliki perhatian terhadap masalah sosial. Keluarga, kerabat, tetangga dan masyarakat, masing-masing memiliki kedudukan khusus dalam agama samawi ini.

Di bagian lain wasiatnya, Imam Ali berkata, “Allah, Allah. Kalian jangan melupakan hukum al-Quran, dan jangan sampai orang lain lebih dahulu menjalankannya dari pada kalian.” Terkait wasiat ini, Ayatullah Makarim Shirazi menulis, “Perkataan ini menegaskan bahwa kita jangan sampai hanya cukup dengan membaca al-Quran disertai tajwidnya saja dan melupakan isinya, sedangkan non-Muslim justru mengamalkan isinya. Misalnya mengenai jual beli di pasar, al-Quran memerintahkan untuk jujur dan amanah, tapi kalian melanggarnya. Mereka menuntut berbagai ilmu pengetahuan dan terorganisir mengikuti sistem yang berlaku, tapi kalian tidak memperdulikannya dan akan tertinggal,”. Amat disayangkan berbagai masalah tersebut justru menimpa umat Islam dewasa ini.

Mengenai shalat, Imam Ali dalam wasiatnya berkata, “Allah, Allah. Dirikanlah shalat, karena shalat merupakan tiang agama.”Shalat menjadikan manusia terhubungan dengan Allah dan mengingat-Nya. Shalat juga menghidupkan spirit takwa. Oleh karena itu, shalat menjauhkan manusia dari kerusakan dan kemunkaran. Untuk sebabnya shalat disebut sebagai tiang agama. Sebaliknya meninggalkan shalat  akan “melupakan Tuhan”, dan orang yang melupakan Tuhan cenderung mudah untuk melakukan dosa dan kemaksiatan.

Di bagian lain wasiatnya, Imam Ali juga menyinggung mengenai haji. Beliau berkata, “Allah, Allah!. Mengenai Kabah, baitullah, jangan sampai kalian meninggalkanya dan kesempatan tidak akan diberikan lagi, dan orang lain akan menggantikanmu.” Masalah ini bukan hanya memiliki dimensi ubudiyah semata tapi lebih luas dalam aspek sosial dan politik. Salah seorang perdana menteri Inggris di akhir abad 19 bernama William Gladstone berkata, “Kaum Muslim membaca al-Quran dan bertawaf di Baitullah. Nama Muhammad dikumandangkan setiap pagi dan sore oleh muadzin, maka Kristen menghadapi ancaman besar. Untuk itu kalian harus membakar al-Quran dan merusak Kabah serta menghapus nama Muhammad dari azan, “.Ucapan orang-orang yang memusuhi Islam seperti William Gladstone ini menunjukkan pentingnya al-Quran, shalat dan haji serta nama Nabi Muhammad Saw yang harus dijaga oleh umat Islam.

Imam Ali dalam wasiat lainnya berkata, “Allah, Allah! Kalian jangan mengabaikan jihad dengan harta, jiwa dan lisanmu di jalan Allah”. Maksud jihad dengan jiwa adalah maju ke medan perang demi membela Islam dan negara-negara Islam dari serangan musuh. Sedangkan jihad dengan harta adalah memberikan bantuan finansial untuk membantu pasukan Muslim, dan dalam konteks kekinian adalah penggunaan media massa. Tapi perlu diperhatikan bahwa penyalahgunaan kata jihad untuk menciptakan perpecahan di tengah umat Islam dan pembantaian terhadap Muslim maupun menunjukkan wajah buruk Islam seperti kejahatan anti-kemanusiaan yang dilakukan kelompok-kelompok takfiri seperti ISIS berbeda dengan makna Jihad sebenarnya dalam Islam.

Masalah ikatan persahabatan dan kasih sayang juga memiliki kedudukan khusus dalam Islam. Menurut Imam shadiq, ketika dua orang Muslim bermusuhan, maka setan bersuka cita, tapi ketika mereka berdamai, setan tidak berdaya. Di bagian lain wasiatnya, Imam Ali memberikan nasehat supaya umat Islam jangan  sampai meninggalkan Amr Maruf dan Nahi Munkar. Beliau berkata, “Amr maruf dan nahi Munkar jangan sampai ditinggalkan, sebab kejahatan akan menguasai kalian dan ketika berdoa tidak akan terkabul,”. Sejumlah riwayat menjelaskan bahwa salah satu penyebab doa tidak terkabul disebabkan mengabaikan Amr Maruf dan Nahi Munkar.

Di akhir kata, wasiat mulia Imam Ali bagi umat Islam ini menunjukkan hakikat keagungan beliau sebagai Amirul Mukminin. Harus diakui, jika wasiat Imam Ali ini dijalankan dengan baik oleh kaum Muslimin saat ini, maka umat Islam akan hidup mulia di dunia dan akhirat. Tapi amat disayangkan, wasiat yang diucapkan Imam Ali menjelang kesyahidannya itu tidak diperdulikan oleh umat Islam.Inna lillahi wa inna ilahi rajiun.

Ayatullah al-Uzhma Nuri Hamadani dalam pertemuannya dengan anggota Komite Penyiaran program siaran keagamaan dan dakwah stasiun TV Ahlul Bait As sabru pagi [3/1] di kantor pribadinya mengatakan, “Pekerjaan kalian betapa sangat mulia, penting dan insya Allah sangat bermanfaat bagi umat.”

Ulama marja taklid tersebut selanjutnya menambahkan, “Pemimpin keagamaan kita, yaitu para Maksumin As adalah pribadi-pribadi yang maksum, yang dengan itu setiap perkataan dan perbuatannya adalah hujjah bagi para pengikutnya. Yang itu mencakup dua dimensi, material dan spiritual. Dua dimensi ini dibagi lagi dalam 10 unsur yaitu: aqidah, ibadah, akhlak, masalah ekonomi, kebudayaan, kewarganegaraan, politik, masalah hukum, peradilan, dan masalah jihad atau pertahanan.”

“Pekerjaan kalian sangat luas cakupannya, ketika tema yang kalian bahas mengenai kehidupan Nabi Saw dan para Aimmah As, karena kehidupan para Maksumin As tersebut mencakup kesemua sisi yang dibutuhkan manusia dalam menjalani kehidupannya.” tambahnya lagi.

“Diantara tema penting yang harus lebih banyak mendapat perhatian dan program yang lebih dikedepankan adalah membangun semangat persatuan Islam. Sebab mempersatukan umat adalah diantara pekerjaan Nabi yang paling penting. Beliau menyatukan kaum Arab yang sebelumnya terjadi perang dan saling bantai antar kabilah. Demikian pula setiap langkah dari Ahlul Bait adalah dalam rangka mewujudkan umat yang penuh kedamaian. Imam Shadiq As diriwayatkan senantiasa memberikan bantuan kepada kaum fakir, meskipun ia bukan syiah dan pengikut Ahlul Bait As.” lanjut ulama besar Iran ini.

Ayatullah al-Uzhma Nuri Hamadni kembai melanjutkan, “Tema yang berkenaan dengan Ahlul Bait tidak ada habis-habisnya, bisa digali dari Al-Qur’an, Nahjul Balaghah dan Sahifah Sajjadiyah. Meskipun ini memiliki tema yang sangat luas dan beragam, bukan berarti mudah untuk dilakukan. Kalian harus tetap mampu menampilkan tayangan yang sebaik mungkin, dan menggunakan riwayat-riwayat dan penukilan yang paling valid dan diterima secara masyhur dikalangan ulama dan sejarahwan.”

“Pasca Revolusi Islam Iran, pihak musuh senantiasa berupaya keras untuk memadamkan semangat kebangkitan itu. Termasuk mencegahnya agar tidak menular dan mempengaruhi Negara-negara lain. Saya mendapat kabar, 30 warga Syiah Mesir, ditangkap oleh pemerintah dengan alasan, pergi ke Karbala pada saat Arbain tahun ini secara illegal.” lanjutnya.

“Inilah diantara upaya mereka, yang menunjukkan betapa mereka khawatir dengan ajaran Ahlul Bait. Wahabi dan kelompok takfiri hakikatnya adalah musuh Ahlul Bait. Mereka menggunakan semua kemampuan yang mereka punya, baik secara materi maupun fisik untuk menghentikan laju dakwah Syiah yang semakin tidak bisa terbendung belakangan ini. Mereka tidak hanya melakukan agresi secara militer namun juga perang pemikiran, dan tugas kalianlah diantaranya memberikan pemahaman dan pengenalan yang sesungguhnya kepada masyarakat luas akan konspirasi ini. Semoga yang kalian lakukan, selalu meningkat dalam keadaan yang lebih baik.” pesannya.

 

“Takfiri merupakan sebuah musibah dan penyakit yang muncul dalam masyarakat Islam. Jadi sebagaimana penyakit pada umumnya, maka takfiri juga membutuhkan penyembuhan termasuk pencegahan.”

Ayatullah Ja’far Subhani dalam mejelis penutupan Kongres Gerakan Ekstremisme dan Takfiri Dalam Pandangan Ulama Islam berkata, “Sebagian karya ditulis untuk mendukung kemunculan Takfiri. Kita juga mendengar ucapan mereka yang semua ini cenderung ke arah Takfiri, yang mana para hadirin yang terhormati melalui forum ini telah menyampaikan pengecaman dan mengutuknya. Masing-masing percaya bahwa Allah Swt tidak ridha dengan apa yang mereka lakukan. Para ulama fikih Islam juga mempunyai bukti tentang adanya konspiarsi ini. Mereka meyakini, bahwa melalui pengadilan syariat saja seseorang dapat diklasifikasikan dan divonis kafir.”

Setelah itu beliau menyampaikan sambutan dalam bahasa Arab dengan menyatakan masalah Takfiri merupakan sebuah urusan yang dikecam sepenuhnya dalam Islam dan tidak mendapatkan tempat dan hujjah oleh nash-nash syariat, “Takfiri merupakan sebuah musibah dan penyakit yang muncul dalam masyarakat Islam. Jadi sebagaimana penyakit pada umumnya, maka takfiri juga membutuhkan penyembuhan termasuk pencegahan.”

Ayatullah Subhani kemudian menceritakan beberapa perkara penting sebagai jalan penyelesaian krisis Takfiri yaitu tidak cukup dengan hanya menulis artikel dan mengeluarkan fatwa, “Kita perlu menyediakan langkah-langkah strategis untuk mencabut akar persoalan ini; oleh karena itu, diusulkan untuk membuat membuat rencana-rencana alternatif untuk menghadapi gerakan takfiri.”

Beliau juga menganggap tindakan menyadarkan masyarakat di negara-negara Islam melalui media dan minbar-minbar masjid tentang bahaya gerakan dan pemahaman Takfiri merupakan langkah strategis yang cukup mampan demi menghadapi masalah Takfiri, “Sekiranya terdapat kemungkaran dalam masyarakat, maka kita perlu berdiri menghadapinya. Hari ini pengkafiran atas ahli kiblat yang juga menunaikan ibadah shalat dan haji terkategori sebagai kemungkaran yang paling besar. Bahkan lebih dari itu, dengan dalih kafir, mereka berlaku kejam atas saudara seagama. Mereka membantai dan bertindak dengan tidak berprikemanusiaan. Ini disebabkan kesalah pahaman atas nash-nash agama, yang justru memberi keuntungan kepada pihak musuh.”

Ulama besar yang juga marja taklid terkenal di kota Qom ini kembali berkata, memperkenalkan ajaran Islam yang sebenarnya adalah langkah strategis kedua, yaitu Islam yang ramah dan pemberi rahmat sesuai dengan tuntunan Nabi Saw. “Ajaran Islam yang sesungguhnya adalah menyeru kepada ajakan yang memanusiakan manusia, untuk lebih mengutamakan persaudaraan dan keharmonisan antara kalangan masyarakat Islam.Anjuran untuk saling memuliakan bukan hanya untuk sesama muslim, namun juga untuk penganut agama lain. Berdasarkan ajaran Islam ini, maka secara tegas dikatakan, darah umat Islam haram hukumnya untuk ditumpahkan. Namun takfiri dan gerakannya telah menodai ajaran Islam ini, dengan menggunakan simbol-simbol Islam mereka memperkenalkan kemasyarakat dunia bahwa Islam adalah ajaran teror dan penuh kekerasan.”

Ayatullah Subhani turut menerangkan beberapa langkah efektif lain dalam menangani kemelut yang diciptakan kelompok takfiri, “Demi merealisasikan misi tersebut, pertemuan-pertemuan seperti ini perlu diteruskan dan digalakkan. Pertemuan yang dilakukan hendaklah lahir dari keinginan dan tekad kuat bersama untuk menyelesaikan persoalan ini. Sehingga yang hadir di pertemuan seperti ini, ketika kembali ketengah-tengah masyarakatnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Umat Islam tidak boleh dibiarkan lalai dari persoalan, mereka tidak boleh dibiarkan buta dengan kondisi dunia Islam hari ini. Ulama-ulama Islamlah yang paling bertanggungjawab untuk mengakhiri episode tragis umat Islam.”

Mengenai langkah strategis keempat, Ayatullah Subhani berkata, “”Tidak diragukan lagi, di kalangan umat Islam ada perbedaan pandangan dalam bidang fikih termasuk sejumah entri dari bahasan akidah, dan masing-masing pandangan memiliki hujjah yang kuat. Namun sekiranya kita ingin mengenali sebuah mazhab, hendaklah kita melihat sumber-sumber asli yang dipegang mazhab tersebut yaitu berdasarkan apa yang dijelaskan oleh ulamanya. Salah satu argumen yang menjadi jurang pemisah adalah kita tidak melihat sumber asli mazhab tersebut dan bagaimana ulama yang paling berwenang dalam hal tersebut menjelaskannya.”

“Langkah selanjutnya, adalah membersihkan silabus materi pelajaran Islam disekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan yang mengandung unsur-unsur pemahaman takfiri, seperti pandangan yang menyebutkan bertawassul kepada para Nabi hukumnya syirik, berziarah kubur haram hukumnya dan sebagainya. Tidak dapat dipungkiri, materi Islam yang diajarkan sekolah memberikan pengaruh besar terhadap generasi muda Islam. Kita tidak bisa pungkiri, adanya peran agen-agen Barat dalam penyusunan materi-materi kurikulum pelajaran Islam di sekolah-sekolah. Dan ini harus mendapatkan langkah antisipasi yang sifatnya segera dan mendesak.” tambahnya lagi.

Ayatullah Subhani menambahkan, “Akar dari pemahaman takfiri adalah kesalahan dalam memaknai kufir, tauhid, syirik dan bid’ah. Ini yang harus diluruskan.”

Di ujung penyampaiannya, Ayatullah Ja’far Subhani berkata, “Hal yang sangat mengherankan adalah sikap Barat yang bermuka dua. Disatu sisi mereka mengecam aksi terorisme dan menyebutnya sebagai aksi yang menciderai Islam, namun disaat yang sama mereka memberikan dukungan bahkan membiayai gerakan-gerakan terorisme di Negara-negara lain.”

“Kepada Allah Swt jualah akhirnya kita memohon agar para hadirin dalam konferensi ini senantiasa mendapatkan kesehatan dan keselamatan sehingga dapat menjalankan amanah-amanah dari pertemuan ini.” tutupnya.

Konferensi Internasional Gerakan Ekstremisme Dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam telah terselenggara selama dua hari di kota Qom pada 23 dan 24 November lalu yang diprakarsai Ayatullah Makarim Syirazi dan Ayatullah Ja’far Subhani dengan kerjasama  Majma’ Jahani Ahlul Bait, Jamiatul Mustafa al-Alamiyah dan lembaga-lembaga Islam lainnya dengan tujuan membincangkan akar krisis Takfiri serta mencari jalan penyelesaiannya. Konferensi ini setidaknya dihadiri kurang lebih 350 ulama Sunni dan Syiah yang mewakili 80 negara.

Imam Mahdi dimana ? sampai kiamat nanti dunia tidak pernah kosong dari hujjah Allah baik itu tampak maupun ghaib

Diantara kewajiban penting umat Syiah di masa keghaiban Imam Zaman afs adalah mensyukuri nikmat terbesar akan keberadaan Hujjah Allah dengan menciptakan kehidupan masyarakat yang penuh dengan keberkahan. Senantiasa menghidupkan siang dan malam dengan ibadah, do’a, kesungguhan mempelajari ilmu agama, melaksanakan perintah-perintah Imam Zaman afs, memusahabah jiwa, dan yang lebih utama senantiasa memanjatkan do’a mengharapkan disegerakannya kemunculan Imam Zaman afs.

Ayatullah al Uzhma Shafi Ghulpaghani dalam pesan tertulisnya menyambut peringatan 9 Rabiul Awal yang masyhur dikenal di dunia Islam Syiah sebagai hari bermulanya keimamahan Imam Mahdi afs menyebutkan, “Anugerah terbesar Allah SWT di setiap masa adalah kehadiran Hujjah Allah bagi semua manusia. Kewajiban kita hari ini adalah memperkenalkan karakteristik dan keistimewaan masyarakat Mahdawi dan daulah Ilahi yang penuh keberkahan ke seluruh dunia.”

Berikut teks lengkap pesan ulama marja taklid tersebut:

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang

Allah SWT berfirman, “Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.” (Qs. Ibrahim: 5).

Diantara hari-hari Allah adalah 9 Rabiul Awal, peringatan hari bermulanya masa keimamahan dan kewilayahan Waliyullah al ‘Ahdzam Imam pemberi petunjuk dan hujjah Allah di muka bumi, pewaris para Anbiyah, imam kedua belas al Hujjah Ibn al Hasan al Mahdi afs.

Hari ini adalah hari yang penuh dengan kemuliaan dan keberkahan. Saya ucapkan selamat akan datangnya hari terangkatnya pemimpin yang akan membebaskan dunia dari kezaliman, ketidak adilan dan keserakahan.

Rakyat mulia Iran dan seluruh umat Syiah di dunia meyakini bahwa hari ini adalah hari besar yang patut untuk dirayakan dan dimuliakan.

Anugerah terbesar Ilahi disetiap masa dan periode adalah kehadiran Hujjah Allah yang sejak Amirul Mukminin as sampai kiamat nanti dunia tidak pernah kosong dari hujjah Allah baik itu tampak maupun ghaib. Para Hujjah Allah itulah yang menjaga ayat dan risalah Ilahi dari penyimpangan dan penyelewengan.

Diantara kewajiban penting umat Syiah di masa keghaiban Imam Zaman afs adalah mensyukuri nikmat terbesar akan keberadaan Hujjah Allah dengan menciptakan kehidupan masyarakat yang penuh dengan keberkahan.  Senantiasa menghidupkan siang dan malam dengan ibadah, do’a, kesungguhan mempelajari ilmu agama, melaksanakan perintah-perintah Imam Zaman afs, memusahabah jiwa, dan yang lebih utama senantiasa memanjatkan do’a mengharapkan disegerakannya kemunculan Imam Zaman afs.

Hari ini kita memiliki kewajiban untuk memperkenalkan karakteristik dan keistimewaan masyarakat Mahdawi dan Daulat Ilahi yang penuh kemuliaan kepada masyarakat seluruh dunia sehingga dunia yang saat ini haus akan keadilan dan bosan dengan kezaliman dan penindasan, pembunuhan dan kekerasan satu sama lain mengetahui akan datangnya suatu waktu dimana janji Allah akan terpenuhi, keadilan akan tegak dibawah satu panji kepemimpinan Imam Mahdi afs.

 Ayatullah Luthfullah Shafi Ghulpaigani dalam rangka menyambut pertengahan Bulan Syaban yang agung menulis sebuah syair dalam bentuk Musammit dengan judul Hari Pembebasan. Syair yang ditulis oleh Marja Taqlid ini adalah sebagai berikut:

Limpahan syukur atas inayah sang Tuhan Telah muncul kembali pertengahan sya’ban Dunia berbangga atas telaga ridhwan Dari langkah sang pemimpin dunia imkan Dialah Mahdi wali atas semesta dunia Hujjat ibn Askari imam yang mulia Teraturlah alam semesta karenanya Pelopor dan pemimpin besar nan setia Argumen terciptanya insan dan dunia Bayangan hakikat sinar Tuhan yang maha esa Dia mentari wilayat yang cahayanya bersemi Dalam kegembiraanya akan cita yang tertinggi Yang tertumpah dari semesta akan dalamnya arti Dalam puja-puja Tuhan yang satu dan maha suci Mahdi yang mulia makhluk Tuhan yang terpercaya Penolong mustadhafin sempurnanya penciptaan Makmur dunia dibuatnya atas keadilan Mengurai segala kezhaliman dan kebodohan Menghempas segala budaya batil kekafiran Kekuatan cahaya esa di setiap masa Kelahiran sang imam pembaharu dalam agama Akar sebuah masa dari peradaban yang nyata Suka cita langit dan bumi atas kelahirannya Surga yang agung sebagai tempat berbahagianya Semua berbahagia padahari rayanya Kedatangannya adalah hari terbesarnya Ilahi Sempurnanya akal kan hidup dan kejahilan pun mati Keseimbangan serta keadilan pastikan kembali Hari yang menang, selamat dan bebas yang slalu dinanti Hari yang damai dan bangkitnya izzah manusia ****** *Musammit adalah sebuah puisi yang: 1. Memiliki rima yang sama di setiap barisnya. 2. Baris terakhir dari setiap bait memiliki rima yang berbeda dengan baris-baris sebelumnya. 3. Baris terakhir setiap bait memiliki rima yang sama.