Ayatullah Ali Khamenei: Soekarno Menginspirasi Revolusi Iran 1979

sumber foto : rangkumanmakalah.com

“Soekarno adalah orang besar dengan gagasan besar yang sangat terkenal di Iran” (Mohammad Zadeh, Menteri Pers dan Media Republik Islam Iran era Presiden Ahmadinejad).

Theda Skocpol, dalam Social Revolutions in the Modern World, mengkategorikan Revolusi Islam Iran sebagai salah satu revolusi sosial terbesar dunia di samping Revolusi Perancis, Rusia, dan Cina. Revolusi Islam Iran bukan hanya lahir dan terledakkan dari ketidakpuasan kelompok elit mullah (religious scholars) terhadap kebijakan Syah Pahlevi yang berusaha memangkas peran agama dalam fungsi sosial politik, namun juga merupakan akumulasi kekecewaan dan ketidakpuasan seluruh komponen bangsa Iran.

Sementara pemerhati Timur Tengah asal Prancis, Eric Rouleau mengatakan, Revolusi Iran merupakan satu-satunya revolusi religius yang bahkan kelompok minoritas pun mendukung dan ikut berperan dalam prosesnya. Karenanya, jika dilakukan pencermatan lebih jauh maka sesungguhnya ada dua ideologi besar yang menggerakkan jalannya Revolusi di Iran.

Para Pejuang Revolusioner Iran Akrab dengan Pemikiran Soekarno

Salah satu catatan Ayatullah Ali Khemenei yang bertajuk “Jasa Ahmad Soekarno”, menceritakan tentang pengalamannya ketika berada satu sel dengan Abolhasan Bani Sadr (Presiden Pertama Iran Pasca Revolsi 1979). Saat itu rezim Reza Phahlevi secara brutal membungkam anasir-anasir progresif di Iran.

Dalam Peristiwa yang berlangsung pada tahun 1974 tersebut, berdebatlah Ayatullah Ali Khemenei dengan Abolhasan Bani Sadr tentang corak negara Iran yang dicita-citakan. Dalam diskusi yang khidmat ini muncullah nama “Indonesia, Pancasila, dan Soekarno” sebagai rujukan yang mereka jadikan pedoman dalam mendirikan (kembali) negara Iran pasca Reza Phahlevi.

Pada awalnya Abolhasan Bani Sadr yang berlatar belakang Partai Ba’ats mempresentasikan Indonesia sebagai negara sosialis tanpa dasar agama sebagai pilar, tetapi juga tidak mengacu pada liberalisme ala Barat.

Mendengar paparan koleganya tersebut, Rahbar (sebutan pouler Ali Khemenei di Iran) menjawab, “Anda salah. Bahwa Soekarno memang betul bapak humanisme sosialis, tapi Soekarno bukanlah seorang komunis dan negara beliau tidak berdasarkan agama, tapi negara beliau berdasarkan ketuhanan dimana semua manusia wajib bertuhan sebagai dasar kebangsaan. Tanpa dasar ketuhanan itu manusia bagaikan robot yang tidak bisa hidup dengan merdeka.”

Setelah itu Ayatullah menyampaikan kepada Abolhasan Bani Sadr bahwa dirinya memiliki koleksi buku-buku tentang Pancasila dan akan dengan senang hati meminjamkannya kepada Abolhasan Bani Sadr setelah mereka keluar dari penjara.

Setelah rezim Reza Phahlevi berhasil digulingkan, Abolhasan Bani Sadr terpilih sebagai presiden pertama di Iran pasca revolusi, dia salah satu inisiator yang membentuk negara Iran sebagai negara yang bedasar humanisme agama.

Hari ini, 37 tahun pasca revolusi, belum pernah terjadi gesekan antar agama, baik agama Zoroaster, Yahudi, Nasrani, Baha’i maupun Islam Sunni dan Syi’ah.

Bahkan dalam konstitusi Iran, agama-agama minoritas tersebut memiliki perwakilan di parlemen Iran seperti utusan golongan pada era Pemerintahan Soekarno.

Semua agama, semua golongan diberikan kesempatan dan ruang untuk sama-sama membangun Negara Iran yang berbasis humanisme agama. Begitulah kisah Pancasila di tanah Persia.

.

Sumber : http://empatpilarmpr.com/ayatullah-ali-khamenei-soekarno-menginspirasi-revolusi-iran-1979/

STR Tenaga Kesehatan Yang Punya Dua Ijazah ?? Ditanggapi Ferizal (Aktivis HAM & SANG PELOPOR SASTRA NOVEL DOKTER GiGi INDONESiA)

Sumber berita : https://indonesianewstoday.wordpress.com/2016/03/12/str-tenaga-kesehatan-yang-punya-dua-ijazah-ditanggapi-ferizal-aktivis-ham-sang-pelopor-sastra-novel-dokter-gigi-indonesia/

.

Permasalahan : Bagaimana STR Untuk Tenaga Kesehatan Yang Punya Dua Ijazah (Double Kompetensi) ??

Lulusan FKM peminatan “Gizi Masyarakat” tidak dikenal sebagai Sarjana Gizi (SGz), akan tetapi sebagai Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM), sehingga mereka nantinya memiliki 2 STR yaitu STR Ahli gizi (Ijazah D-III Gizi) dan STR Ahli Kesehatan Masayarakat (Ijazah SKM).

.

Pak Ferizal (Aktivis HAM, penentang gelombang intoleran, juga SANG PELOPOR  SASTRA NOVEL  DOKTER GiGi INDONESiA) telah mengeluarkan siaran pers (press release) ke media, antara lain sebagai berikut :

Permasalahan tersebut yang banyak ditanyakan oleh kawan-kawan kepada saya dan meminta saran bagaimana menyikapi persoalan tersebut. Sebelumnya saya mohon maaf kepada MTKI jika apa yang saya sampaikan ini keliru (tidak benar) .

Berikut beberapa pendapat pribadi saya (Ferizal) dalam menyikapi persoalan tersebut :

Setahu saya ada Skenario MTKI yakni  : “Dibenarkan memiliki dua STR pemutihan. Akan tetapi pada saat perpanjangan STR di wajibkan memilih salah satu profesi dengan mengumpulkan minimal 25 SKP sesuai dengan profesi yang dipilih.”

Misal : Andi berijazah Akzi dan SKM.. Lalu Andi memiliki STR Ahli Gizi  dan STR SKM.. Lalu STR Ahli Gizi Andi mati tahun 2017, STR SKM Andi mati tahun 2020. Maka :

Pada saat perpanjangan STR di tahun 2017, maka mereka yang memiliki dua  STR tetap akan memilih salah satu diantara keduanya. Mengapa?

Alasan 1 : kalau tetap memilih keduanya maka mereka harus mengikuti 2 macam uji kompetensi yaitu kompetensi Ahli Gizi dan Kompetensi Ahli Kesehatan Masyarakat, dan kalau ternyata persyaratan perpanjangan STR tidak membutuhkan uji kompetensi akan tetapi cukup menyusun fortofolio maka mereka akan menyiapkan 2 macam Fortofolio.

Alasan 2 : Jika saya melihat draft form usulan dan perpanjangan STR, di sana terdapat sebuah kolom isian berupa Nomor Induk Kependudukan (NIK) artinya, kalau NIK anda sudah terdaftar di 1 STR maka secara otomatis tidak bisa lagi memiliki STR di profesi lainnya.

Ini adalah skenario yang di rancang oleh MTKI, namun permasalahan nya :

Undang Undang Tenaga Kesehatan no. 36 Tahun 2014 pada  Pasal 93 :
Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 harus dibentuk paling lama 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang ini diundangkan.

Double Kompetensi

Faktanya memang ada orang orang seperti Andi yang memiliki STR Ahli Gizi dan STR SKM.. Ini adalah hal menggembirakan khusus untuk SKM, karena SKM bersifat manajemen kesehatan yang “umum”, yang menonjolkan unsur manajemen dan preventif..

Dalam sebuah Temu Ilmiah Internasional di Yogyakarta pada Bulan November 2014, salah seorang Tokoh Gizi Nasional menyatakan bahwa “…saya cuma memiliki 1 STR yaitu STR Ahli Gizi karena saya memiliki latar belakang Diploma III Gizi, meskipun saya memiliki Ijazah SKM (peminatan gizi) akan tetapi saya tidak memiliki minat sedikit pun untuk memiliki STR Kesehatan Masyarakat, cukup 1 saja…”.

Karena  UU nakes di undang undangkan pada tangga 17 Oktober 2014, maka pada tanggal 17 oktober 2016 di pastikan MTKI bubar, di gantikan oleh KTKI ???

Maka kedepan ini aturan – aturan bisa saja berubah, yang jelas cenderung lulusan SKM yang berasal dari D3 kesehatan paling di untungkan dalam perkara ini. Selamat untuk IAKMI

Kasus akan berbeda dengan lulusan Akper yang punya ijazah Akbid, atau lulusan Kedokteran yang punya ijazah Sarjana Keperawatan.

Undang Undang Tenaga Kesehatan no. 36 Tahun 2014 pada Pasal 62 :
(1) Tenaga Kesehatan dalam menjalankan praktik harus dilakukan sesuai dengan kewenangan yang  didasarkan pada Kompetensi yang dimilikinya.
(2) Jenis Tenaga Kesehatan tertentu yang memiliki lebih dari satu jenjang pendidikan memiliki kewenangan profesi sesuai dengan lingkup dan tingkat Kompetensi.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai kewenangan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.

Penjelasan :

Yang dimaksud dengan “kewenangan berdasarkan Kompetensi” adalah kewenangan untuk melakukan pelayanan kesehatan secara mandiri sesuai dengan lingkup dan tingkat kompetensinya, antara lain:
a. apoteker memiliki kewenangan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian;
b. perawat memiliki kewenangan untuk melakukan asuhan keperawatan secara mandiri dan
komprehensif serta tindakan kolaborasi keperawatan dengan Tenaga Kesehatan lain sesuai
dengan kualifikasinya; atau
c. bidan memiliki kewenangan untuk melakukan pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.

Maka silahkan terus memantau perkembangan kebijakan pemerintah (Peraturan Menteri). Semoga kita bisa menemukan solusi yang baik dan tidak ada yang dikorbankan.

.

Baca juga : Syarat 25 SKP Perpanjangan STR ATLM, pada link ini : https://indonesianewstoday.wordpress.com/2016/03/10/syarat-25-skp-perpanjangan-str-atlm-di-tanggapi-ferizal-aktivis-ham-sang-pelopor-sastra-novel-dokter-gigi-indonesia/

.

Sumber Berita :

http://www.facebook.com/ferizal.dokternovel

 

P.Ramlee dan Ferizal ; Memori Aceh Yang Berjaya

Artikel ini dikutip dari : https://indonesianewstoday.wordpress.com/2016/03/11/p-ramlee-dan-ferizal-memori-aceh-yang-berjaya/

LAGU DiMANA KUCARi GANTi oleh P.Ramlee

Hendak ku senyum
Tiada siapa nak teman
Kalaulah nasib
Sudah tersurat
Begini hebat
Apa nak buat

Di mana kan ku cari ganti
Serupa dengan mu
Tak sanggup ku berpisah
Dan berhati patah, hidup gelisah

Alangkah pedih rasa hati
Selama kau pergi
Tinggalkan sendirian
Tiada berteman dalam kesepian

Dunia terang menjadi gelita
Cahaya indah tiada bergema
Keluhan hatiku membawa derita
Kini kau jua tak kunjung tiba

Di mana kan ku cari ganti
Mungkinkah di syurga
Untuk kawan berduka
Menangis bersama, selama-lamanya

pramlee1Mengenal Kisah P Ramlee, Legenda Malaysia Keturunan Aceh

P.Ramlee atau nama sebenarnya Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh (lahir di Pulau Pinang, 22 Maret 1929 – meninggal 29 Mei 1973 pada umur 44 tahun) adalah seorang aktor Malaysia pada tahun 1950-an. Dilahirkan pada pagi Hari Raya Idul Fitri, Penang, Malaysia (22 Maret 1929)

Seniman Agung Malaysia Tan Sri P. Ramlee adalah keturunan Aceh. P Ramlee dilahirkan di Pulau Pinang pada 22 Maret 1929, ayahnya Teuku Nyak Puteh dari Paloh Pineung, Lhokseumawe, Aceh.

Di Cunda (Kota Lhokseumawe) memang ada kampong Paloh Pineung, namun itu bukanlah tempat kelahiran P.Ramlee. Hanya ayahnya saja yang lahir di Cunda Lhokseumawe, yang kemudian bermukim di Pulau Penang, Malaysia.

P. Ramlee alias Teuku Zakaria Teuku Nyak Puteh yang merupakan seorang penyanyi, musisi, aktor kawakan, dan sutradara film Malaysia adalah seorang bangsawan yang di dalam dirinya mengalir ‘darah biru’ seorang pelaut kawakan Aceh, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim.

Ayah P. Ramlee, Teuku Nyak Puteh Teuku Karim yang berasal dari Lhokseumawe ini merupakan seorang pelaut kawakan Aceh yang merantau ke Malaysia dan menetap di Pulau Penang. Hingga pada tahun 1925, di Kubang Buaya, Butterwort, Malaysia, pelaut Aceh yang gagah perkasa itu menikahi Che Mah Hussein, dara jelita yang bermukim di Kubang Buaya, Butterwort (tempat penyeberangan ferry ke Pulau Penang dari Kedah Darulaman, Malaysia-red)

13991400061788564272

Foto di ruang tamu rumah masa kecil Ramlee di Pulau Pinang

Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh atau lebih populer P. Ramlee (seniman) dilahirkan pada hari Rabu 22 Maret 1929 (lahir waktu pagi hari lebaran-red) di Pulau Pinang, Malaysia. Bapaknya, Teuku Nyak Puteh adalah seorang ahli pelayaran yang berasal dari Lhokseumawe. Ibunya bernama Che Mah Hussin berasal dari Kubang Buaya, Butterworth, Malaysia.

Kendati zaman sekarang telah berubah, P Ramlee tetap hidup sebagai ikon budaya di Malaysia yang merantai dalam cakrawala etnik Aceh.

FERIZAL PENULIS “NOVEL  TETRALOGI INDONESIA-MALAYSIA”, DEMI  PERPADUAN DUA NEGARA

...

Ferizal  “Sang Pelopor Sastra Novel Dokter Gigi Indonesia” merupakan putera asli kelahiran Kota Juang Bireuen.. Beliau menulis 4 novel tetralogi Indonesia – Malaysia yakni :

a. Novel Pertarungan Maut Di Malaysia

b. Novel  Ninja Malaysia Bidadari Indonesia

c. Novel Superhero Malaysia Indonesia

d. Novel Garuda Cinta Harimau Malaya

Semangat perpaduan yang unggul antara dua bangsa ikut tercermin dalam karya nya, mampu merangsang semangat cinta  tanah air serta bekerja keras. Ferizal merupakan pelaku, pengamat dan pemerhati sosial yang sensitif dengan apa yang berlaku dalam masyarakat nya.

Bagaimana karya-karya Ferizal telah berjaya mengangkat isu perpaduan, budaya, sejarah tanah air, sastra dan Kedokteran Gigi. Juga mengetengahkan nilai kecintaan dan kemanusiaan yang universal di tengah dunia moderen.

Sebagai aktivis HAM, PNS, sastrawan, penentang gelombang intoleran dan aktif dibidang HIV AIDS maka Ferizal membela kaum minoritas dengan bijak seperti Nadine Gordimer

Sumber berita :

http://acehdalamsejarah.blogspot.co.id/2011/07/pramlee-permata-aceh-di-negeri-jiran.html

https://id.wikipedia.org/wiki/P._Ramlee

http://www.facebook.com/ferizal.dokternovel

http://www.noveldoktergigi.wordpress.com

 

Syarat 25 SKP Perpanjangan STR ATLM di tanggapi Ferizal (Aktivis HAM & SANG PELOPOR SASTRA NOVEL DOKTER GiGi INDONESiA)

Sumber kutipan berita : https://indonesianewstoday.wordpress.com/2016/03/10/syarat-25-skp-perpanjangan-str-atlm-di-tanggapi-ferizal-aktivis-ham-sang-pelopor-sastra-novel-dokter-gigi-indonesia/

.

Terkait aturan 25 SKP Perpanjangan STR ATLM, maka Pak Ferizal (Aktivis HAM, juga SANG PELOPOR  SASTRA NOVEL  DOKTER GiGi INDONESiA) telah mengeluarkan siaran pers (press release) ke media, antara lain sebagai berikut :

Di daerah masih banyak tenaga kesehatan ATLM  dengan upah rp. 500 ribu sebulan, yang tidak akan cukup untuk biaya hidup satu minggu.. Lalu bagaimana mereka mau ikut seminar ke kota kota ? Memang kita akui bahwa semua tenaga kesehatan yang ingin bekerja atau menjalankan praktik sesuai bidang profesi masing-masing juga wajib memiliki STR dan SIP.

Salah satu opsi mungkin anda bisa melanjutkan kuliah. Jika anda sudah penyesuaian ijazah ke SKM, maka tidak wajib memiliki STR ATLM,  karena pekerjaan anada tidak membutuhkan keahlian ATLM, itu jika anda tidak berminat lagi “memegang” pasien” di Laboratorium.

.

PATELKI telah merumuskan beberapa ketentuan untuk pemenuhan syarat SKP untuk perpanjangan STR bagi Analis Kesehatan alias ATLM :
.
A. KEGiATAN PROFESi
     SKP Dalam 5 tahun : tanpa minimal

 Contoh : jika dalam 1 tahun mengerjakan > 500 sampel bisa dapat SKP 0.5.

.

B.KEGIATAN PENDIDIKAN BERKELANJUTAN ( MINIMAL 12 SKP )

B1 KOGNITIF : Seminar, Workshop, Simposium terkait Teknologi Lab. Medik
 SKP Dalam 5 tahun :minimal  5 SKP
.
B2 PELATIHAN UP DATE TLM KOMPETENSI I ; Pelatihan Hematologi, Mikrobiologi, Kimia Klinik, Immunologi, Molekuler Diagnostok, Sito-Histologi, urinalisa.
 SKP Dalam 5 tahun : minimal 4 SKP
.
B3 PELATIHAN TLM KOMPETENSI II Phlebotomy, validasi metode, Basic QC, Advance QC
 SKP Dalam 5 tahun : minimal 3 SKP
.
PELATIHAN NON KLINIS : Kepemimpinan/manajerial dll
 SKP Dalam 5 tahun :tanpa minimal
.

C.KEGIATAN PENGABDIAN MASYARAKAT / PROFESI

SKP Dalam 5 tahun : tanpa minimal
Maksimal  : 4 SKP
.
D.KEGIATAN PENGEMBANGAN PROFESI

SKP Dalam 5 tahun : tanpa minimal

.
E.PUBLIKASI ILMIAH

SKP Dalam 5 tahun : tanpa minimal

Dari aturan DPP Patelki tadi maka jelaslah bahwa untuk mendapatkan 25 SKP ATLM tidaklah cukup dengan duduk -diam- dengar saja di seminar seminar.. Ada syarat-syarat yang cukup berat
SKP yang dikumpulkan untuk re-registrasi atau perpanjangan STR terhitung sejak memiliki STR, artinya jika STR anda mulai tanggal 1 April 2016 maka SKP seminar sebelumnya akan hangus.
Pada dasarnya, kebijakan Pemerintah merupakan  SELEKSi  ALAM.
Ingat ! ATLM  berhubungan dengan pelayanan kesehatan yang menyangkut dengan nyawa pasien, maka ATLM yang hendak melakukan pelayanan kesehatan wajib terdaftar dan mendapatkan izin dari Pemerintah (STR dan SIP)
Bila tidak terpenuhi 25 SKP yang dipersyaratkan setelah 6 bulan mati STR, maka ATLM akan di hukum dengan  mengikuti uji kompetensi (UKOM). 
Ini kunci nya.
Kesimpulan :
Jika anda tidak punya uang atau kekurangan biaya untuk ikut-ikut seminar, maka silahkan anda ikut saja “ujian kompetensi ulang” (UKOM) di kampus..
Ini merupakan win-win solution untuk Pasien, ATLM dan Pemerintah..
Maka Hak asasi manusia (HAM) semua pihak terlindungi !
.

Ulil Klaim Tradisi Intelektual Syiah Iran Lebih Kaya dari Wahabi Saudi

========================================================
Selasa, 05 Januari 2016, 11:35 WIB

Ulil Klaim Tradisi Intelektual Syiah Iran Lebih Kaya dari Wahabi Saudi

Pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla.

Tokoh Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla mengomentari kisruh antara Arab Saudi dan Iran.  Menurut Ulil, kedua negara itu memiliki masalah dalam kebebasan individu dan berpolitik.

Kendati begitu, ia menilai tradisi intelektual Syiah Iran lebih kaya dibandingkan Suni Wahabi Saudi. Iran memproduksi lebih banyak intelektual dan cendekiawan dibanding Saudi atau negara Suni secara menyeluruh.

“Sampai saat ini, kita tidak melihat ulama atau cendekiawan Suni yang setara, seperti Allama Tabatabi atau Baqir Sadr,” ujar Ulil dalam kicauannya di Twitter.

Ia melanjutkan, Wahabi tidak hanya menghapuskan pemujaan terhadap makam, tapi sejarah masa lampau secara umum. Larangan terhadap pemujaan makam berubah menjadi sensor terhadap tradisi intelektual Islam.

Menurut Ulil, ia mengomentari itu tidak dalam kondisi memihak. “Saya bukan pendukung Saudi atau Iran,” katanya menegaskan.

Mayoritas Syi’ah di Indonesia adalah Syi’ah Intelektual. Dikotomi Sunni-Syi’ah Tidak relevan zaman ini

Syi’ah itu adalah orang-orang yang terpengaruh oleh pemikiran Syi’ah, baik dalam bidang akidah, filsafat, atau tasawuf, dan menggunakan buku-buku Syi’ah sebagai rujukan.

Atau juga, mereka yang dikenal membela ajaran-ajaran Syi’ah disebut sebagai Syi’ah.

Kehadiran Islam Syiah di Indonesia sebagai sebuah wacana intelektualisme menemukan momentumnya, karena banyak intelektual yang pemikirannya dipengaruhi Syi’ah.

Syi’ah sebagai gerakan intelektual bahkan tak membahas fikih.

Penyebaran syiah semakin pesat diberbagai lingkungan, termasuk perkembangan syiah terbesar ialah lingkungan kampus. Kampus merupakan tempat berkumpulnya para intelektual, tempat kumpulnya mahasiswa yang mencari jati diri, tempatnya para dosen mencari penghidupan.

Penyebaran syiah kampus juga di pengaruhi oleh terdapatnya Iranian Corner yang tersebar dibeberapa kampus dan dibangun besar-besaran. Iranian corner langsung terhubung dengan kedutaan besar iran.

Salah satu strategi Iran untuk memperluas jaringan Syiah adalah melalui jalur pemberian beasiswa pendidikan. Dari data penelitian yang sudah ada, populasi Syiah berkisar 500 ribu di seluruh Indonesia. Itu perkiraan terendah
.

Jika perkiraan tertinggi sekitar 5 juta. Tapi menurut saya, perkiraan moderat ada sekitar 2,5 juta.Kantong penganut Syiah berdasarkan rangking: nomor satu di Bandung atau Jawa Barat, nomor dua di Makassar, nomor tiga di Jakarta.

Picture
Syi’ah Indonesia Lahirkan Ulama dan Ilmuwan yang Intelektual
Sebetulnya, banyak orang yang terpengaruh Syi’ah hanya karena peristiwa RII. Belakangan, kadang-kadang orang mendefinisikan Syi’ah sebagai siapa saja yang bersimpati terhadap RII, walaupun mereka tidak menyebarkan Syi’ah
Definisi atau identifikasi tentang Syi’ah di Indonesia itu masih kabur. Memang sulit kita mengidentifikasikan Syi’ah di Indonesia ini. Dr. Farid Alatas (keponakan Prof. Dr. Naquib Alatas) pernah melakukan penelitian tentang Syi’ah di Indonesia. Ia mengalami kesulitan untuk mendefinisikan Syi’ah itu. 
.
Fakta ini menunjukkan kenyataan terjadinya proses sinkretisasi antara Syiah dengan kebudayaan setempat di Indonesia yang sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke nusantara.. Di zaman moderen, Quraish Shihab pun terpengaruh Syi’ah, meskipun beliau menolak dikatakan sebagai Syi’ah.

Islam Memerlukan Kultur Intelektual

Ketika bangsa Barat mulai menancapkan kekuasaannya di Dunia Islam, tradisi intelektual di Dunia Islam tetap terus dilestarikan oleh Syi’ah moderen di Indonesia, misalnya Dalam konteks perkembangan filsafat

.

Orang-orang yang simpatik terhadap Syiah ini kebanyakan berasal dari perguruan tinggi. Kebanyakan diantara mereka, lanjutnya, juga tertarik dengan Syiah sebagai alternatif terhadap pemikiran-pemikiran Islam yang ada. Mereka lebih tertarik kepada pemikiran Syiah ketimbang pada ritus-ritus atau fiqihnya.

.

Sasaran kritik misalnya, di dunia Muslim Sunni, karena otoritas politik dan agama diserahkan pada masyarakat kebanyakan, maka akan terbuka konflik yang lebih luas, karena masing-masing mengklaim lebih baik dari lainnya… Tidak ada mekanisme atau cara-cara untuk memilih kepemimpinan yang bisa diterima. Ini tidak ada pada Islam Syiah.  Syiah sangat solid karena konsep Imamah, karena kepemimpinan diserahkan pada satu orang.

Ada toleransi dari pemerintah  Indonesia terhadap orang-orang Syi’ah. Sebab mereka melihat bahwa Syi’ah di Indonesia ini hanyalah Syi’ah intelektual. Jadi, mereka tidak merasa harus khawatir terhadap Syi’ah sebagai sebuah gerakan revolusioner.
.
Bahkan di masa depan, Syi’ah intelektual akan menjadi atribut berkelas , karena identik dengan peradaban Islam yang dibangun diatas filsafat, tasawuf, teks dan lain sebagainya.

30 Persen LGBT di Lhokseumawe Idap HIV/AIDS.. Ferizal serukan perlindungan HAM

Berita ini kami kutip dari : https://indonesianewstoday.wordpress.com/2016/03/03/30-persen-lgbt-di-lhokseumawe-idap-hiv-aids/

Ada Pejabat, Karyawan Perusahaan Besar dan PNS

Ada Pejabat, Karyawan Bank dan PNS LGBT di Lhokseumawe

Yayasan Permata Atjeh Peduli (YPAP) menyebutkan dari 300 kaum LGBT, beberapa diantaranya adalah pejabat publik, karyawan bank dan  banyak juga dari pelajar dan mahasiswa. Parahnya lagi 30 persen diantara mereka pengidap HIV-AIDS.

Pemerintah Aceh dan unsur terkait didesak melakukan penanganan bijak untuk memutus mata rantai agar perilaku LGBT tidak semakin bertambah dan merasuki generasi muda. Sekaligus melakukan hal-hal agar para LGBT bisa kembali ke kehidupan yang normal.

“Ada 300 lebih pelaku LGBT di Lhokseumawe, itu data tahun 2012. Ada beberapa diantara mereka pejabat publik, karyawan bank, karyawan perusahaan besar dan ada juga PNS. Andai pemerintah serius, mereka bisa dipulihkan, dan kami bisa buktikan itu,” terang Chaidir, Direktur YPAP, Selasa (1/3/2016).

Menurut Chaidir, LGBT harus diberi ruang khusus agar bisa dipulihkan,  seperti pendekatan secara kekeluargaan, diberi penyuluhan tentang bahaya seks bebas dan perilaku seks menyimpang, diberikan pendidikan agama secara mendalam.

“YPAP sudah melakukan itu sejak 2012, dan hasilnya banyak dari mereka yang sudah kembali ke lingkungan keluarga yang lebih sehat,” pungkas aktivis kaum disabilitas tersebut.

Gawat! Pelajar Gay Banda Aceh Peringkat Satu, Lhokseumawe Kedua

 Kelompok gay di Provinsi Aceh mengalami peningkatan setiap tahun. Berdasarkan penelitian Yayasan Permata Aceh Peduli (YPAP), Lhokseumawe merupakan peringkat kedua terbanyak kaum gay di Aceh, setelah Banda Aceh.

 

Direktur YPAP, Khaidir, mengatakan kelompok tersebut mulai marak sejak tahun 2005. Kalangan gay bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa, bahkan pihaknya pernah menemukan dari kalangan pelajar SLTP dan SLTA.

“Penelitian kami menemukan sebanyak 15 persen pelajar SMP dan 25 persen dari pelajar SMA suka terhadap sesama lelaki. Di Lhokseumawe ini, lebih banyak gay daripada wanita pekerja seks komersial,” ujarnya Khaidir, Sabtu 27 Februari 2016.

Penelitian dilakukan dengan metode survei 14 sekolah SMA dengan menyebar kuesioner melalui pertanyaan yang menjerat tentang kecenderungan perilaku gay. Sedangkan di SMP penelitian dilakukan melalui guru-guru Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang dilatih, yang kemudian memantau perilaku di murid-murid di 10 sekolah.

Untuk masyarakat umum, sejak tiga tahun lalu penelitian menemukan sebanyak 1000 gay di Banda Aceh, dan 300 orang di Lhokseumawe.

“Di Banda Aceh, penelitian ini masuk melalui kasus penularan penyakit seksual yaitu saat mendampingi para penderita sebagai pintu masuk melakukan pendataan. Selain itu, juga ada testimoni dari kalangan gay yang mengaku sampai pukul 04:00 masih melakukan hubungan intim,” kata Khaidir.

Penelitian di Lhokseumawe dilakukan melalui staf mereka dari kalangan gay sebagai pintu masuk untuk penelitian. Maraknya kelompok gay di Lhokseumawe dipengaruhi kurangnya perhatian orang tua, kondisi keluarga yangbroken home.

“Karena sudah tidak ada perhatian orang tua, mereka mendapatkan jati diri yang salah dan belajar ilmu seks atas kehendak pribadi, seperti melihat dari internet, majalah, sehingga tersesat dan usia 13 tahun sangat rentan perubahan,” tutur Khaidir.

....

Kami menerima siaran pers (press release) dari SANG PELOPOR SASTRA NOVEL DOKTER GiGi INDONESiA  yakni Pak Ferizal, beliau juga bergerak di bidang HIV / AIDS

Ferizal (aktivis HAM) dari Aceh Human Rights Observers (AHRO) menilai bahwa :”Keberadaan kaum Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang mengidap HIV / AIDS  dapat merembet kan virus kemana-mana jika hak asasi manusia (HAM) mereka tidak di lindungi..Secara kemanusiaan wajib kita melindungi pasien..

Harus ada anti diskriminasi  terhadap LGBT pengidap HIV-AIDS.  Siapa yang akan merawat dan menjaga para pelaku LGBT yang positif  HIV-AIDS di Rumah Sakit jika dijauhi dan di beri stigma negatif  ? Bukankah perlu pengarahan spiritual yang memotivasi agar semangat hidup mereka meningkat ?

ODHA tidak perlu dikucilkan, distigma atau didiskriminasi. Seharusnya diberi dukungan untuk berperilaku hidup sehat dan memiliki motivasi menjalani sisa hidup.”

Fahira Idris Tegur Komnas HAM yang Terlalu Membela LGBT

Komisioner Komnas HAM Natalius Pigay   mengatakan bahwa kaum minoritas LGBT rentan mengalami kekerasan sehingga Pemerintah harus melindungi.

Namun Ferizal ( Aktivis HAM) menilai bahwa :  HAM PBB tidak memiliki tanggung jawab ukhrawi, sehingga menjadi tidak terkendali. Hak Asasi Manusia (HAM) versi Islam menentang kezaliman dan penindasan.

Beliau mengutip Imam ‘Ali bin Abi Thalib yang pernah berkata kepada anak-anak dan generasinya : “Jadilah kamu musuh orang zalim dan sahabat orang tertindas.”

.

Sumber berita :

30 Persen LGBT di Lhokseumawe Idap HIV-AIDS

http://layarberita.com/headline/2016/03/01/ada-pejabat-karyawan-bank-dan-pns-lgbt-di-lhokseumawe/

http://www.lintasnasional.com/2016/02/28/gawat-pelajar-gay-banda-aceh-peringkat-satu-lhokseumawe-kedua/

 

 

Pernyataan Menkes: “Dokter Gigi tak mau ke daerah” dibantah Ferizal (aktivis HAM)

Berita ini kami kutip dari : https://indonesianewstoday.wordpress.com/2016/02/26/pernyataan-menkes-dokter-gigi-tak-mau-ke-daerah-dibantah-ferizal-aktivis-ham/

Menanggapi pernyataan Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek bahwa “Dokter gigi tak mau ke daerah” (Ahad malam, 21 Februari 2016)

Maka kami dari INDONESIA NEWS TODAY telah menerima press release (siaran pers) dari Pak Ferizal.. Berikut ini kutipan nya :

Dokter Gigi Bukan Dokter Kelas Dua

DOKTER GIGI  TAK  MAU  KE DAERAH ?

Oleh : Ferizal

  • Aktivis HAM dari Aceh Human Rights Observers (AHRO)
  • Sastrawan nasional, “Sang Pelopor Sastra Novel Dokter Gigi Indonesia”

Yth. Ibu Menteri Kesehatan RI

Perkenalkan nama saya Ferizal. Saya hanyalah seorang warga masyarakat biasa. Saya hanya ingin menanggapi persoalan penyebaran Dokter Gigi di Indonesia yang tidak merata.

  1. Persoalan gender ikut mempengaruhi tidak meratanya penyebaran Dokter Gigi di Indonesia. Fakultas Kedokteran Gigi di Indonesia lebih banyak melahirkan Dokter Gigi perempuan. Jika mereka nantinya menikah, lalu suaminya melarang bekerja di daerah terpencil  atau mereka harus ikut suami nya, apakah itu kesalahan Dokter Gigi ?? Ataupun Dokter Gigi wanita yang masih gadis apakah keluarga nya akan mau begitu saja melepas anak gadis nya tanpa pemikiran matang matang ?
  2. Peralatan di daerah kurang memadai, tidak semua puskesmas dilengkapi dengan fasilitas pelayanan kesehatan gigi. Lalu bagaimana caranya menangani penduduk yang memiliki permasalahan pada kesehatan gigi dan mulut ???  Bagaimana Dokter Gigi bekerja jika tanpa dental chair ( tempat pasien diperiksa ), keterbatasan listrik dan obat ?

Berikut ini curhat empat orang Dokter Gigi perempuan :

a. Bgm jg drg mau ke daerah say klo sarana+alat+bahan ga ada…

b. sya di daerah loh, di PKM pertama tdk ada DU dan alat, jd dinkes memindahkan dri PKM sbelah, pindah ke PKM yg baru sma sja, ada DU tp tdk ada listrik dan Air, skrg sdh ada listrik Airnya yg blm ngalir jd pasienku kumur dgn air galon, (keren kan) DU ku blm ada saluran pembuangan jd klo kerja pasien, pasiennya cari wastafel dan sya bawa pulang alat cuci dirumah,,, so sya harus hilang apa ibu kemenkes??? Malah kt dokter gigi dilepas tanpa Peluru, di PKM ku yg baru tdk ada Tang gigi Rahang bawah. hmmmm byk skali sbenarnya keluhan tp yah sudahlah,,,

c. Bawa Alat dan Bahan dari rumah…itu sudah jadi tradisi…

d. Sy jg pnh di daerah pelosok 2 thn tanpa alat sm skl jgnkan DU, alat diagnostik pun tdk ada.. Ruangan poli gigi pun tak ada.. Akses ksana sulit jaringan seluler pun pakai antena waktu itu..

4. Peralatan untuk kesehatan gigi  tidaklah murah. Pemerintah harus menyediakan dulu peralatan praktik gigi berjalan atau portable yang bisa digunakan secara bergilir di daerah-daerah kecil.  Agar Dokter Gigi tidak kembali ke daerah perkotaan.

5. Mereka tidak ikut program Nusantara sehat karena sudah ikut PTT.

6. Berhubung mahalnya biaya pendidikan, maka Dokter Gigi  ingin kondisi yang  nyaman di bidang “keuangan”. Bukankah Dokter Gigi perlu aktif mencari dan meningkatkan kemampuan melalui seminar seminar yang juga menguras biaya ?? Agar tidak ketinggalan zaman dengan teknologi kedokteran gigi saat ini.

Demikianlah surat terbuka saya. Dengan harapan semoga Ibu Menkes kelak akan sempat membaca karya saya yang berjudul : “SASTRA NOVEL DOKTER GiGi WARiSAN BUDAYA INDONESiA MODEREN” (Kisah “Sastra Novel Dokter Gigi” Membuktikan Profesi Dokter Gigi Tidak Sebatas Gigi Dan Mulut Saja )

Dokter Gigi PDGI Nomor Satu Demi Kehormatan Profesi Dokter Gigi

Menkes: Indonesia Kekurangan Ribuan Dokter Gigi

Menkes: Indonesia Kekurangan Ribuan Dokter Gigi

Senin, 22 Februari 2016 | 08:40 WIB
.
Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek mengeluhkan masih banyaknya dokter yang enggan ke daerah terpencil, termasuk dokter gigi.

“Cari dokter susah di daerah,” ujarnya saat diskusi setelah membuka pertemuan Koordinasi Kesehatan Tingkat Sumatera Barat di Kota Padang, Sumatera Barat, Ahad malam, 21 Februari 2016.

Nila menjelaskan, Kementerian Kesehatan melakukan penguatan akses pelayanan kesehatan di daerah melalui Nusantara Sehat. Penguatan itu terutama di daerah terpencil melalui program penempatan tenaga kesehatan yang berbasis tim.

Kegiatan ini melibatkan lima-sembilan tenaga kesehatan, seperti dokter umum, dokter gigi, perawat, bidang, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan, ahli laboratorium medis, tenaga gizi, dan tenaga kefarmasian. Mereka bakal ditempatkan di pelosok Nusantara untuk meningkatkan pelayanan kesehatan melalui preventif, promotif, dan kuratif.

Namun, ucap Nila, dari belasan ribu pendaftar Nusantara Sehat, hanya tiga-sebelas dokter yang ikut serta. Itu pun tidak ada dokter gigi. “Dokter gigi tak mau ke daerah,” ujarnya.

Nila mengaku sudah meminta ke Wakil Presiden Jusuf Kalla memperhatikan tenaga media, apalagi yang bertugas di daerah terpencil dan harus bekerja 24 jam. Malah, tutur dia, lebih baik menggunakan sistem inpres yang pernah diterapkan.

Dengan inpres tersebut, para dokter berkewajiban mengabdi di daerah-daerah terpencil.

“Tapi saat ini kami tak bisa memaksa, apalagi di era reformasi ini,” katanya. Namun Kementerian Kesehatan terus berupaya mendorong dokter-dokter melayani masyarakat di daerah-daerah terpencil dengan menambah honor mereka.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Anung Sugiantono menyatakan ada tiga bentuk pengisian tenaga kesehatan di daerah-daerah. Pertama, melalui Nusantara Sehat. Kedua, dokter pegawai tidak tetap (PTT). Pada 2015, ada 649 dokter PTT yang dikirim ke daerah terpencil. Ketiga, dokter PTT daerah.

Beberapa provinsi sudah mampu mengangkat dokter PTT daerah sesuai dengan kepentingan daerah mereka. “Tiga ini yang selalu kami sinergikan,” ujarnya. Hingga kini, yang sulit dicari adalah dokter gigi. Saat ini ada sekitar 4.000 puskesmas di Indonesia yang belum memilik dokter gigi. “Sebanyak 55 persen dari 9.764 puskesmas di Indonesia belum memiliki dokter gigi.”

.
Sumber berita :