Syiah Dibelakang Pemblokiran Situs Islam? Indonesia sudah darurat Wahabi, bukan darurat Syi’ah

Pertemuan media Islam dengan BNPT

Pertemuan media Islam dengan BNPT

.

berikut dialog Al Irsyad dengan wakil BNPT:

Al irsyad : Jangan2 ini pesanan syiah…karena situs2 yang bapak blokir itu…semua menentang syiah…jangan2 itu alasannya…iya pak???

BNPT : Kami belum bisa menjawab…

Tidak Ada Syiah Tanpa Revolusi, Ustadz Athian Ali : Kelompok Ini yang Seharusnya Diawasi BNPT

Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat Ustadz Athian Ali M. Da’i, MA menyayangkan sikap BNPT menutup sejumlah situs media Islam yang dituduh sebagai situs radikal. Akan tetapi, BNPT melupakan Syiah. Sebuah kelompok dinilai Ustadz Athian berpotensi menggulingkan pemerintah.

“Kita menganggap kelompok Syiah ini adalah kelompok radikal yang berpotensi untuk melakukan revolusi, karena tidak ada Syiah tanpa revolusi,” tegasnya saat kepada Jurniscom, rabu (1/4/2015.

Alasannya, menurut Ustadz Athian, salah satu rukun iman Syiah adalah Imamah dan salah satu rukun Islam adalah wilayah. “Dan (revolusi-red) itu sudah mereka lakukan di Irak, di Libanon, di Suriah, yang terahir di Yaman,” katanya sembari menambahkan hal tersebut sangat mungkin terjadi di Indonesia.

“Jadi, mestinya kelompok ini yang seharusnya diawasi. Kelompok ini berpotensi melakukan revolusi, bukan terorisme lagi,” ungkapnya.

Makin masifnya gerakan anti-Syiah di Indonesia menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi peneliti terorisme di Asia Tenggara, Sidney Jones. Penasihat senior International Crisis Group (ICG) di Indonesia ini mengungkapkan bahwa jika hal ini terus dibiarkan, Muslim Syiah Indonesia bukan tak mungkin akan menjadi target baru terorisme.
.
Dalam wawancara dengan wartawan Media ABI, Sidney Jones menengarai konflik Suriah yang dipersepsi oleh kelompok teroris sebagai konflik Sunni-Syiah –meski sudah jelas Basshar sendiri bukan Syiah– bisa mengubah peta terorisme di Indonesia. “Saya khawatir konflik Suriah yang ditafsirkan di sini sebagai konflik Sunni-Syiah (oleh kelompok radikal). Bisa saja terjadi target Syiah akan naik dalam kalkulasi para teroris di Indonesia,” terang dia.
.
Hal lain yang juga dikhawatirkannya adalah upaya kelompok radikal mengirimkan warga Indonesia ke Suriah untuk membantu pemberontak di negara itu. “Ini artinya, akan ada generasi teroris yang akan kembali ke Indonesia. Mungkin seperti alumni Afghanistan dulu yang ternyata bisa mengubah pola terorisme di Indonesia.”
.
Lebih lanjut dia menambahkan, “Mereka akan bisa melakukan aksi yang jauh lebih dahsyat terhadap kelompok-kelompok ini (Syiah).”
.
“Pernah ada satu perencanaan aksi terorisme terhadap Syiah di Indonesia yang dipimpin oleh Abu Umar. Saat mereka ditangkap, mereka sudah membuat survei beberapa lembaga Syiah di Jakarta. Sejak saat itu muncul daftar 77 lembaga Syiah yang kemudian tersebar melalui facebook dan baru-baru ini dimuat di situs voaislam.com. Ini bisa mendorong kelompok-kelompok jihadi untuk menyerang Syiah,” tambahnya.
.
Saat ditanya mengapa tiba-tiba saja muncul fenomena propaganda masif kebencian terhadap Syiah ini, Sidney sendiri merasa heran. Ia mengaku sebelumnya tak pernah memikirkan bahwa Syiah akan menjadi target terorisme di Indonesia. “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira tidak dari rasa kebencian masyarakat Indonesia sendiri. Karena masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang sudah berabad-abad hidup rukun dan bertoleransi terhadap Syiah.”
.
Jika bukan asli dari masyarakat Indonesia yang memang selama berabad-abad tercatat hidup damai bersama Syiah, lalu dari manakah propaganda masif yang tiba-tiba saja muncul mengobarkan kebencian sektarian terhadap Syiah ini?

 Belakang ini opini-opini yang dihembuskan Wahabi seolah-olah Indonesia darurat Syi’ah, padahal Indonesia sudah darurat Wahabi. Wahabi membuat Indonesia seolah-olah dipenuhi Syi’ah, sebab Wahhabi lah yang paling getol gembar-gembor menyatakan Syi’ah kafir. Mereka juga pasang spanduk dimana-mana.

Syi’ah juga seolah-seolah jumlahnya banyak karena Aswaja / Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai umat Islam terbesar di Indonesia dituduh Syi’ah. Bila penganut Aswaja yang dituduh Syi’ah maka tentu saja terlihat banyak.

Wahabi secara mutlak mengkafirkan Syi’ah. Berbeda dengan Aswaja yang masih mengklasifikasi kelompok Syi’ah. Konsekuensi dari mengkafirkan yang mereka lakukan itu berarti Halal darahnya atau boleh dibunuh. Dalam hal ini, Wahabi sedang mencari legitimasi untuk melakukan pembunuhan terhadap Syi’ah.

Siapa yang akan jadi korban?. Korban utama dan terbanyak adalah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), sebab Aswaja sebagai kelompok umat Islam terbesar pun dituduh Syi’ah dan pembela Syi’ah oleh Wahabi, akhirnya darahnya dihalalkan pula oleh Wahabi.

Bila sudah dihalalkan maka akan ada aksi bunuh-membunuh. Akhirnya Indonesia kacau, terjadilah konflik sektrarian seperti di Libya, Suriah dan lain-lain yang tak ada ujung berakhirnya. Semoga Allah melindungi negeri kita dari orang-orang jahat.

Kita umat Islam saat ini sudah aman, shalat aman tidak diganggu, tidak ada bom meledak tiap hari, tidak ada bangunan hancur karena bom tiap hari, kita aman pergi ke pasar tanpa takut tembakan, kita aman bersekolah, kita aman mengaji, kita aman bertani, kita aman berdagang, kita aman naik kendaraan, tidak ada bom mobil, kita aman bekerja di kantor, kita tidak mengungsi akibat perang yang tidak berkesudahan.

Maka waspadailah pihak-pihak yang berusaha meng-import konflik sektarian Timur Tengah ke negeri Indonesia yang aman ini. Mengapa konflik sektarian di munculkan? Siapa yang memiliki kepentingan ?

Dr. Michael Brant, salah seorang mantan tangan kanan direktur CIA, Bob Woodwards yang mengawali adanya kepentingan Transnasional dalam menciptakan konflik Sunni-Syiah. Dalam sebuah buku berjudul “A Plan to Devide and Destroy the Theology”, Michael mengungkapkan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta USD untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah.

Hal ini kemudian diperkuat oleh publikasi laporan RAND Corporation di tahun 2004, dengan judul “US Strategy in The Muslim World After 9/11“. Laporan ini dengan jelas dan eksplisit menganjurkan untuk terus mengekploitasi perbedaan antara Ahlu Sunnah dan Syiah demi kepentingan AS di Timur Tengah. [[1]http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,47029-lang,id-c,kolom-t,Di+Balik+Merebaknya+Konflik+Sunni+Syiah+di+Jawa+Timur-.phpx]

Perlu diketahui, bahwa keberadaan kaum Syiah bukan barang baru di Indonesia. Namun, seperti layaknya secara umum, di Indonesia hampir tak pernah ditemui konflik sektarian yang melibatkan antara Sunni-Syiah.

Tetapi belakangan ini, mulai muncul konflik sektarian Sunni-Syiah di Indonesia. Bila kita tarik apa yang dinyatakan oleh Michael Brant tersebut ke ranah domestik, maka jelas ada kepentingan di luar SARA yang turut berperan -bahkan mengambil porsi lebih besar- dalam konflik Sunni-Syiah di Indonesia.

Jadi sebenarnya ada kepentingan transnasional Barat dibalik konflik sektarian. Kepentingan tranasional Barat ini bersimbiosis dengan kekuatan kelompok Islam transnasional yang kemudian banyak diidentikkan dengan gerakan Wahabisasi Global.

Jika bukan asli dari masyarakat Indonesia yang memang selama berabad-abad tercatat hidup damai bersama Syiah, lalu dari manakah propaganda masif yang tiba-tiba saja muncul mengobarkan kebencian sektarian terhadap Syiah ini?

Kesimpulan :

Yang sebenar sebenarnya adalah : “Radikalis wahabi melakukan gerakan anti syi’ah dengan mengatas namakan AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH  demi merebut kantong kantong Nahdlatul Ulama (NU)”

Apakah Syi’ah Mengkafirkan Sahabat Padahal Berpegang Pada Pusaka Tsaqalain dari Nabi SAW ??

Syiah mendiskreditkan sahabat-sahabat “besar” Nabi Saw seperti Abu Bakar dan Umar. Abu Bakar adalah sahabat Nabi Muhammad SAW dalam gua ketika peristiwa hijrah dan merupakan khalifah yang pertama. Begitu juga Umar al-Khattab adalah sahabat Nabi Saw dan khalifah kedua.
.
Sesiapa yang mencaci sahabat digolongkan sebagai kafir serta terkeluar dari Islam (Nabi Saw menyatakan sesiapa yang mencaci seorang muslim adalah fasiq dan membunuhnya adalah kafir[Sahih Bukhari, Jilid I Hadith 48]).
 .
[Nota: Syi’ah tidak mencaci sahabat-sahabat Nabi Saw tetapi menunjukkan perbuatan mereka yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah dan Hadith. Mereka menilai dan mengkritik perangai setengah sahabat dengan neraca al-Qur’an dan Hadith Nabi Saw.] Dan jangan lupa! Nabi Muhammad Saw juga pernah bersabda bahwa terdapat sahabat yang masuk neraka seperti dalam riwayat Sahih Muslim dan Sahih Bukhari [akan dijelaskan di bawah].
 .
Ibaratnya seperti orang tua yang mengkeritik anaknya, dan juga seperti orang yang mempunyai sahabat yang baik yang mana sahabat tersebut slalu mengkritik kesalahan agar ia berubah.
 .
Dan istilah sahabat telah digunakan dalam al-Qur’an untuk Abu Bakar dan ini menunjukkan beliau terjamin masuk syurga dan tidak melakukan kesalahan.
 .
Apakah kita lupa istilah sahabat juga digunakan dalam al-Qur’an untuk teman Nabi Yusuf yang bukan beriman kepada Allah SWT ketika dalam penjara? Sila baca Surah Yusuf untuk memuaskan hati kita (istilah sohibi al-Sijni digunakan=sahabatku dalam penjara[nota:beliau bukan Islam dan bersama Nabi Yusuf AS dalam penjara]). Memang Nabi Muhammad Saw mempunyai sahabat-sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari, Salman al-Farisi dan sebagainya tetapi di Madinah juga ada golongan munafiq yang dipanggil “sahabat” oleh Nabi Saw seperti Abdullah bin Ubay bin Salool.
 .
Dalam Sohih Bukhari juga diriwayatkan bahwa ada segolongan “sahabat” yang bakal masuk neraka ketika berjumpa Nabi Muhammad Saw di al-Haudh. Nabi Saw memanggil mereka dengan istilah ‘ashabi’ [sahabatku]. Sila rujuk Sahih Bukhari[Sahih Al-Bukhari, Jilid 4, hlm.94-96];Sahih Muslim, Jilid IV, hadith 2133,2440.] Sahabat yang baik memang kita hormati , sanjungi dan ikuti tetapi sahabat yang jahat seperti Muawiyah yang menentang Imam Ali AS dan mencaci Ali AS di atas mimbar patutkah kita berdiam diri?Bukankah pasukan Muawiyah terlibat membunuh Amar bin Yasir dalam Perang Siffin? Nabi Saw pernah menyatakan sebuah hadith dalam Sahih Bukhari menyifatkan orang yang terlibat dalam pembunuhan Amar adalah golongan pemberontak dan Rasulullah Saw bersabda [terjemahan]:…Kamu (Amar) mengajak kelompok itu menuju ke Jannah tetapi kelompok itu mengajak ke neraka.” [Sahih Bukhari, Jilid II,Hadith 462].
 .
Al-Qur’an memerintahkan kita taat kepada Ulil Amri – pada ketika itu ialah Imam Ali AS sebagai khalifah yang sah dan wajib ditaati. Adakah tindakan Muawiyah itu selaras dengan ajaran al-Qur’an dan tidak boleh dikritik?
 .
Kita ikuti sahabat yang baik dan kita tinggalkan contoh sahabat yang jauh dari ajaran al-Qur’an dan Hadith Nabi Saw.Sejarah menunjukan bahwa seorang sahabat bernama al-Walid bin Utbah dikaitkan dengan asbabul nuzul ayat 6 Surah al-Hujurat iaitu menyatakan beliau seorang fasiq. Qudamah bin Maz un seorang sahabat Badar dihukum had pada zaman khalifah Umar kerana minum arak seperti dalam riwayat Sahih Bukhari.
.
Jika ada orang yang masih teguh dengan pendirian bahwa semua sahabat adalah ‘adil maka apakah hukumnya Muawiyah mencari Ali di atas mimbar? Apakah ijtihad Muawiyah boleh sampai mencaci Ali? Sebaliknya orang yang mengkritik Muawiyah dikatakan mencaci sahabat Nabi Saw? Jika seseorang yang menolak kekhalifahan Abu Bakar dianggap kafir, apakah pula hukumnya orang yang menolak perlantikan Ali setelah ada Hadith al-Ghadir yang menetapkan Ali AS sebagai khalifah selepas Nabi Saw wafat? Bolehkah umat Islam memilih selain daripada yang telah ditetapkan oleh Rasulnya?
 .
Alllah SWT berfirman dalam Surah Hud:113,bermaksud:
Dan janganlah kamu cenderung kepada
orang-orang yang zalim yang
menyebabkan kamu disentuh oleh
api neraka…”
 .
Dan banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an yang menyuruh manusia berbuat adil, dan melarang mereka dari berbuat zalim [nota: standard “adil”atau sebaliknya adalah berpandukan Kitab Allah Azza Wa-Jalla dan tidak ada sesiapa pun dikecualikan hatta para “sahabat” sekalipun].Balasan Allah SWT di akhirat kelak berasaskan segala amalan manusia ketika hidup di dunia – yang baik ke syurga dan yang buruk ke neraka.
 .
Ini bermakna istilah “sahabatku”dalam Hadith Nabi Saw tidak bermakna merujuk kepada semua sahabat [sekiranya jumlah yang hadir pada Haji Wida’ iaitu seramai 140,000 atau 90,000 orang] adalah adil belaka. Sahabat yang adil memang ada seperti Abu Dzar al-Ghiffari yang dinyatakan sendiri oleh Nabi Muhammad Saw [terjemahan]:”
 .
Tidaklah langit menaungi seseorang dan tidak bumi membawa seseorang yang lebih jujur daripada Abu Dzar RA.”[Sunan al-Tirmidzi, Hadith 3889]. Begitu juga terdapat segolongan sahabat yang engkar mengikut perintah Nabi Saw terutamanya selepas Nabi Saw wafat dan menjadi seteru Ahlul Bayt AS [keluarga Nabi Saw] seperti yang tercatat dalam kitab-kitab sejarah. Nabi Saw bersabda seperti yang diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi, hadith 3878,[terjemahan]:
 .
“Cintailah Allah kerana nikmat-nikmatnya yang diberikan kepadamu dan cintailah aku kerana cinta kepada Allah dan cintailah keluargaku kerana cinta kepadaku.”
 .
Oleh itu sesiapa yang memusuhi Ahlul Bayt AS memang menjadi musuh Rasulullah Saw dan Allah SWT.
 .
Bukankah Allah SWT telah melaknat golongan yang zalim dalam al-Qur’an ?
“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) ke atas orang-orang yang zalim.”[Qur’an: 11: 18]

Satu hal yang disepakati oleh kaum muslimin bahwa jungjungan kita nabi besar Muhammad saaw sangat perhatian dan sayang pada umatnya serta sangat mengharap umatnya selalu berada dalam kebenaran. Sebagaimana yang disaksikan oleh Allah swt dalam al-Quran, “la’allaka baa khi’un nafsaka an la yakuunuu mukminuun” (Jangan kau binasakan dirimu wahai Muhammad hanya karena mereka tidak mau beriman)

 .
Maka dari itu tidak mungkin Rasulullah meninggalkan umat tanpa menjelaskan kepada mereka apa yang harus dijadikan rujukan oleh umat berkenaan dengan ajaran yang dibawa oleh beliau. Jika kita merujuk kepada kitab-kitab hadis, maka kita akan menemukan bahwa Rasulullah saaw telah berwasiat pada segenap umatnya untuk berpegang kepada dua hal yaitu Alquran dan Keluarga suci beliau.
 .
Riwayat ini dikenal dengan sebutan hadis Tsaqolain, yaitu hadis yang mengutip perkataan Rasul saaw: “ya ayyuhannaas inii taraktu fi kum ma in akhadlkum bihi lan tadlilluu kitaaballahi wa ‘itratii ahlu bayti” (wahai manusia sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian sesuatu yang mana jika kalian mengambil nya kalian tidak akan sesat selama lamanya yaitu kitab Allah dan keluargaku,ahlulbaytku)
 .
Dalam lafadz yang lain Rasulullah saaw bersabda:
 .
“yuusaku an yakti Rasulu rabbi faajibu wa inni taariku fiqumu tsaqolain awwaluhumaa kitaabullahi fiihil huda wannuur wa ahlul baytii adzkurkumullah fii ahlil bayti azdkurkumullah adzkurkumullah fi ahlal bayti adzkurkumullah fii ahlal bayti”,
(Sungguh telah dekat datangnya utusan dari Tuhanku dan Aku harus memenuhi panggilan-Nya dan Aku tinggalkan untuk kalian dua hal yang berharga yang pertama adalah Kitab Allah yang mana di dalamnya ada petunjuk dan cahaya yang kedua adalah Ahlul Baytku, aku peringatkan terhadap Allah dalam keluargaku yang di ulangi oleh Rasulullah saaw tiga kali)
 .
Menjadi jelaslah bahwa hadis ini sangat berarti bagi kita sebagai umat Muhammad saaw. Untuk itu sangatlah penting untuk di telaah karena mengandung wasiat yang sangat berharga dari baginda Rasul saaw untuk umatnya dalam meniti jalan yang lurus, tetap terjaga dari kesalahan dalam memahami ajaran yang di bawa oleh Raasul saww. Arti pentingya dari hadis ini karena menyangkut keselamatan kita di dunia dan akhirat. Hadis ini juga menjelaskan kepada kita tentang rujukan yang terjamin dari kesalahan, yang mana jika kita mengindahkan wasiat Nabi dalam hadis Tsaqolain, umat islamakan benar-benar mendapatkan ajaran yang murni yang di bawa oleh jungjungan kita Nabi besar Muhammad saaw .
 .
Dalam menelaah satu hadis atau riwayat terlebih dahulu harus di interogasi apakah hadis ini benar-benar bersumber dari Rasulullah saaw atau tidak? Yang mana untuk mengetahui hal ini mengharuskan kita merujuk kepada pakar-pakar hadis yang mengerti jalan dan sanad hadis.
 .
Imam Suyuthi menyatakan bahwa hadis ini adalah shahih dan benar sanadnya. Juga Imam at-Thabari menjelaskan bahwa hadis ini adalah hadis shahih. At-Thabari menyatakan bahwa perawi-perawi hadis ini adalah orang-orang yang bisa di percaya. Selain itu, bahwa yang meriwayatkan hadis ini sangatlah banyak, diantaranya Muslim, at-Thurmudzi, Ahmad bin Hambal, dan Hakim Annaisaburi. Dengan demikian sanad hadis ini menurut kesaksian para ahli hadis adalah shahih dan benar. Sehingga, sedemikian banyaknya yang meriwayatkan hadis ini tidak diragukan lagi bahwa hadis ini benar-benar bersumber dari Rasulullah saaw yang disaksikan oleh Allah bahwa beliau tidak pernah menyatakan sesuatu kecuali berdasarkan wahyu dari pada Allah.
 .
Kemudian setelah mengetahui bahwa hadis ini sanadnya shahih maka kita harus menelaah isi dan kandungan hadis ini dan pesan apakah yang di sampaikan oleh Rasul dalam sabdanya ini?
 .
Dalam hadis ini Rasulullah mengisyaratkan bahwa Nabi akan segera memenuhi panggilan Allah swt dan akan segera meninggalkan umat. Oleh karena itu Rasulullah menyampaikan wasiatnya agar umat sepeninggal beliau tidak tersesat dan jauh dari ajaran yang dibawa oleh Rasul. Rasul dengan pasti mengetahui bahwa umat sepeninggal beliau akan kebingungan berkenaan dengan siapa yang bisa dijadikan rujukan setelah Rasul saaw? Siapakah yang akan menggantikan posisi Rasul setelah beliau, dimana semua urusan yang berhubungan dengan ajaran ilahi harus merujuk kepadanya. Baik yang berhubungan dengan aqidah, hukum, akhlaq, problem social dan lainnya. Agar tidak kebingungan, Rasulullah saaw menjelaskan rujukan yang harus di pegang oleh umat sepeniggal beliau saaw yaitu kitab Allah dan keluarga suci Rasul.
 .
Disini kita bertanya. Kenapa tidak cukup al-Quran saja? Kenapa harus ada Ahlul Bayt di samping al-Quran? Jawabannya sangatlah jelas bahwa al-Quran adalah kitab yang sangat dalam artinya, tidak semua orang dapat memahami al-Quran secara sempurna. Al-Quran perlu penafsir yang terjamin dari kesalahan, penafsir yang benar-benar menguasai al-Quran, yang mana di zaman Rasululah saaw, beliau sendirilah yang berfungsi sebagai penafsir al-Quran. Setelah beliau adalah Ahlul Bayt yang di saksikan oleh Rasulullah sebagai mitra al-Quran. Karena Rasul mengetahui bahwa hanya Ahlul Baytnya lah yang benar-benar sukses dalam mempelajari dan mengamalkan ajaranya. Oleh karena itu Rasulullah saaw dalam M hadis Tsaqolain berwasiat kepada umat untuk mengambil al-Quran dan Ahlul Bayt sebagai pedoman dan landasan dalam memahai ajaran suci yang di bawa oleh beliau. Hanya dengan berpegang kepada keduanya lah umat Islam bisa terselamatkan dari ajaran yang tidak benar. Karena hal ini merupakan jaminan dari baginda Rasul saaw sebagi bukti kasih sayang Rasul pada pengikutnya.
 .
Begitu besar kasih saying Rasul pada umatnya sehingga beliau sering kali mewasiatlkan hal ini, bukan hanya satu kali Rasulullah menyabdakan hadis ini. Akan tetapi Rasul mengucapkannya dalam beberapa kesempatan sebagaimana yang di jelaskan oleh ulama-ulama Sunni. Seperti apa yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya bahwa Rasulullah saaw menyampaikan hadis Tsaqolain setelah beliau pergi dari Thaif mungkin pada kesempatan ini awwal kali Rasul menyampaikannya. Rasul juga menyampaikannya pada peristiwa Ghodir sebagaimana yang disampaikan oleh at-Thobroni dalm kitabnya , juga tertera dalam kitab Kanzul Ummal , dimana Rasulullah saaw pada peristiwa tersebut melantik Imam Ali sebagiai pengganti Beliau dan di baiat oleh sahabat yang hadir pada peristiwa tersebut yang mana hadis Ghodir merupakan hadis yang penting untuk dikaji dan ditelaah secara tersendiri.
 .
Rasulullah juga mengucapkannya pada hajji wada, haji terakhir yang di lakukan oleh baginda Rasul pada hari Arafah sebagaimana yang di sebutkan oleh at-Turmudzi dalam shahihnya. Demikian pula untuk terakhir kalinya Rasul mengucapkannya di waktu beliau sakit menjelang dipanggil oleh Allah. Dengan penjelasan ini kita mengetahui bahwa wasiat ini sangatlah penting karena menyangkut keselamatan umat sehingga Rasul mengulanginya dalam banyak kesempatan, namun demikian hadis yang penting dan mashur ini banyak dilupakan oleh umat Islam. Justru sebaliknya, bahkan yang banyak disampaikan oleh ulama ulama kita adalah hadis Taqolain yang berbunyi, ‘kitab Allah dan sunnahku’
.
Banyak ulama hadis yang menyatakan bahwa hadis Tsaqolain ‘Kitabullah dan Sunnati’ ini diriwayatkan secara mursal, yakni beberapa perawinya tidak disebutkan, artinya tidak jelas siapa perawi-perawinya tidak seperti hadis yang berbunyi kitab Allah dan Ahlul baytku sebagaimana yang saya sebutkan tadi, namun demikian sebenarnya kalau kita terima hadis sunnahku di atas hal itu tidak mengurangi arti dari hadis Ahlul Baytku karena apabila kita katakan bahwa Rasul meninggalkan dua hal kitab dan sunnah maka hadis taaqolain di atas adalah termasuk sunnah yang harus dipegang dan ditaati. Sehingga dapat ditarik garis bahwa ketaatan terhadap kepada Ahlul Bayt include didalamnya ketaan terhadap sunnah rasul. Sehingga dalam mempelajari ajaran Allah juga dalam memahami al-Quran, karena merekalah manusia yang di saksikan oleh Rasulullah dalam hadis staqolain sebagai mitra Qur an, maka harus diutamakan pendapatnya. Merekalah Ahlul Bayt sedikitpun tidak akan pernah berpisah darinya. Dengan demikian mereka adalah mausia yang terpelihara dari kebatilan dan dan kesesaatan sebagaiman yang dijelaskan oleh Nabi dalam saabdanya.
 .
Ketika Nabi menjadikan mereka sebagai rujukan yang terjamin dari kesesatan maka otomatis mereka adalah manusia yang terpelihara dari kesesatan, karena kalau tidak demikian maka tidak mungkin Nabi memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada mereka. Dengan penjelasan ini kita dapat menyimpulkan bahwa perselisihan yang ada di tubuh kaum Muslimin, sehingga banyak golongan dan mazhab itu disebabkan mereka tidak mengindahkan wasiat Nabi saaw, mereka meniggalkan Ahlul Bayt as, bahkan sebagian kaum muslimin tidak mengenal Ahlul Bayt as. Mungkin hal ini yang membuat Nabi mengulangi peringatannya kepada umat dalam hadis tsaqolain untuk benar benar memperhatikan Ahlul Baytnya dalam sabdanya sampai tiga kali, ‘adzkurkum fii ahli baiti’.
 .
Rasulullah khawatir umatnya tidak akan memperhatikan Ahlul BaytNya sepeninggal beliau, dan apa yang di khawatirkan oleh Baginda Rasul benar benar terjadi. Sepeninggal Rasulullah umatnya tidak mengindahkan wasiat Rasulullah saaw, bahkan sebagian besar dari mereka menzalimi Ahlul Bayt as. Imam Ali yang di saksikan oleh Nabi sebagai orang yang selalu berjalan di jalan yang benar dilaknat di mimbar-mimbar selama kurang lebih 70 tahun. Imam Husain as yang sangat di cintai oleh baginda Rasul diperangi dan dibantai di padang pasir Karbala beserta keluarga dan sahabatnya, wanita wanita Ahlul Bayt diikat sebagai tawanan, diarak dari Karbala menuju Syam (Syiria).
 .
Umat bukan hanya tidak menjadikan Ahlul Bayt as sebagai rujukan sebagaimana yang diwasiatkan oleh Nabi akan tetapi mereka memerangi Ahlul Bayt as kecuali sebagian kecil dari umat yang selalu memegang teguh wasiat Nabi dan menjadikan Ahlul Bayt sebagai Imam dan Rujukan dalam mengambil ajaran suci baginda Rasul saaw. Seandaianya umat Nabi mengindahkan wasiat Rasul niscaya Islam akan menjadi satu dan tidak kan terpecah pecah menjadi beberapa golongan, sebagaimana Allah menganjurkan kita untuk bersatu dan berpegang teguh pada tali Allah,’wa’tashimuu bihablillahi jami’au wa la tafarrakuu’ (Hendaklah kalian semua berpegang teguh pada tali Allah dan jangan bercerai-berai)
.
Yang dimaksud dengan tali Allah di sini adalah Ahlul Bayt as sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Syafii dalam syairnya:
لما رأ يت الناس قد ذهبت بهم مذاهبهم في ابحر الغي و الجهل ركبت علي إ سم الله في سفن النجاة وهم آل بيت المصطفي خاتم الرسل أمسكت حبل الله وهوولاءهم كما قد امرنا با التمسك بالحبل
 .
“Tatkala aku melihat manusia telah tengelam dalam mazhab kesesatan dan kebodohan aku menaiki bahtera penyelamat dengan menyebut nama Allah, mereka itu adalah Ahlul Bayt penutup para Nabi. Aku pegang erat erat tali Allah sebagimana yang diperintahkan oleh Allah sama seperti kita diperintahkan untuk memegang tali”
 .
Dari sini tulisan di atas, kita mengetahui bahwa musibah umat yang paling besar adalah ketika umat meninggalkan Ahlul Bayt, meninggalkan pusaka Nabi. Dan sebaliknya keselamatan umat adalah ketika kita berpegang teguh pada Ahlul Bayt as mengambil ajaran nabi dari mereka, karena merekalah sumber yang jernih ynag terjamin dari kesalahan.
 .
Mudah mudahan kita tidak termasuk dari orang orang yang meniggalkan Ahlul Bayt as, mudah-mudahan kita di jadikan oleh Allah swt sebagai ummat yang berpegang teguh pada ajaran suci Rasul lewat Keluarga suci beliau, amien

Inilah Perbedaan Arab Saudi dengan Republik Islam Iran…Rezim Arab Saudi Bekerja untuk Kepentingan AS dan Zionis

Jika di Saudi, kedudukan ulama dibawah raja dan tidak memiliki kedudukan politik dan hanya mengurusi masalah fiqh, fatwa-fatwanya pun mendapat intervensi dari kerajaan, sementara di Iran posisi ulama diatas Presiden dan memiliki kewenangan dan kekuasaan yang lebih besar dari Presiden. Fatwa dan intruksi ulama yang menjadi wali faqih, wajib dikerjakan presiden.
.
Situs Gema Islam mempublish artikel yang melansir 9 perbedaan antara Kerajaan Arab Saudi dengan Republik Islam Iran yang disebut bersumber dari sebuah tulisan yang dishare dari group WA Madrasah Salafiyah.
.
Berikut, 9 perbedaan lainnya, ditinjau dari sisi syariat Islam:
.
Pertama, Kerajaan Arab Saudi bersifat kerajaan yang mengadopsi sistem pemerintahan jahiliyah yang kalau sekiranya itu baik, tentu Rasulullah Saw dan keempat khulafaur rasyidin akan melakukannya. Konstitusi negara Saudi mengacu pada Al-Qur’an dan Assunnah berdasarkan pemahaman Salafush Saleh yang telah disesuaikan dengan kehendak kerajaan, yang tidak sesuai dengan kepentingan raja akan direvisi, dihapus atau mengalami adaptasi/pemakluman yang penting rajanya masih shalat. Keseluruhan pejabat pentingnya termasuk kepala negara/raja secara mutlak ditetapkan hanya untuk keluarga Su’ud, dan kabilah lain diharamkan untuk bisa menjadi pejabat apalagi kepala negara.
.
Republik Islam Iran dalam memilih pemimpin tertinggi [Rahbar/Wali Faqih] mengadopsi sistem syura yang terdiri dari ulama-ulama besar yang ahli dan menguasai ilmu keislaman sehingga pemimpin tertinggi diatas presiden terpilih dari orang-orang yang memang selain ahli Islam juga ahli ilmu ketatanegaraan [ini pernah dilakukan oleh khalifah Umar bin Khattab untuk menetapkan khalifah penggantinya], sementara pemilihan Presiden diserahkan kepada rakyat dengan mengadopsi  sistem demokrasi yang telah disesuaikan dengan nilai-nilai syariat Islam. Jika Su’ud mendirikan nama negara dengan nama kabilahnya dan memperuntukkan kedudukan raja dan posisi penting hanya untuk keturunannya tidak peduli layak atau tidak, Imam Khomeini mendirikan negara dengan nama Jumhuriyyah Islamiyah Iran [Republik Islam Iran] dan mewariskan sistem Wilayatul Faqih yang hanya membolehkan orang-orang yang layak dan kafabel untuk menjabat kedudukan penting dipemerintahan, darimanapun asalnya.
.
Jika di Saudi, kedudukan ulama dibawah raja dan tidak memiliki kedudukan politik dan hanya mengurusi masalah fiqh, fatwa-fatwanya pun mendapat intervensi dari kerajaan, sementara di Iran posisi ulama diatas Presiden  dan memiliki kewenangan dan kekuasaan yang lebih besar dari Presiden. Fatwa dan intruksi ulama yang menjadi wali faqih, wajib dikerjakan presiden.
.
Kedua, Kerajaan Arab Saudi ketika mendapat ancaman agresi dari Irak dibawah rezim Saddam Husain, mengemis bantuan keamanan dari Amerika Serikat, sehingga sampai saat ini ada 5 pangkalan militer AS di wilayah Arab Saudi yang mendapat legitimasi fatwa mufti Arab Saudi, hubungan diplomatik antara kedua negara ini juga sangat akrab, dilihat pejabat penting kedua negara saling mengunjungi.  Persenjataan dan semua kebutuhan militer Arab Saudi disediakan dan dibuat oleh AS, sehingga tidak satu kalipun kita mendengar Arab Saudi memiliki ilmuan yang ahli membuat senjata sendiri ataupun  menemukan senjata model mutakhir .
.
Sedangkan Iran pasca terjadi revolusi Islam, AS justru diusir dari Iran, perusahaan-perusahaannya dinasionalisasi, aset-asetnya dibekukan, dan sampai saat ini jangankan pangkalan militer, kedubes AS saja tidak ada di Iran. Sejak 1979 tidak ada satupun presiden  AS yang mengunjungi Iran, hubungan diplomatik antar kedua negara ini sangat tegang, bahkan saling menebar ancaman. Berbeda dengan Saudi yang menggantungkan kebutuhan militernya pada AS, Iran memproduksi sendiri.
.
Bahkan ilmuan-ilmuan Iran berhasil menguasai tekhnologi nuklir yang membuat AS khawatir, sehingga merasa perlu mengajak negara-negara lain untuk mengembargo Iran agar menghentikan pengembangan tekhnologi nuklirnya. Iran tidak hanya produktif menemukan senjata mutakhir, juga berhasil membuat satelit secara mandiri tanpa bantuan dari satu negara manapun. Nama satelitnya Amid, yang artinya harapan.
.
Ketiga, Kerajaan Arab Saudi mengharamkan orang-orang kafir menjabat dalam pemerintahannya namun tidak mengharamkan membantu orang-orang kafir untuk memerangi umat Islam khususnya menjaga eksistensi Israel dan menjaga kepentingan-kepentingan AS di Timur Tengah. Raja dan pejabat-pejabat penting Saudi akrab dan menjalin hubungan yang erat dengan tokoh-tokoh penting dari kalangan orang-orang kafir. Bahkan dalam operasi penyerangan ke Yaman, Arab Saudi melakukan konsultasi dan meminta pertimbangan dari sekutunya yang merupakan negara-negara non muslim. Di Arab Saudi, AS dan Israel dilarang keras untuk dikecam ditempat-tempat umum, termasuk membakar bendera dan simbol-simbol kedua negara yang menjadi musuh umat Islam tersebut.
.
Republik Islam Iran sebagai negara republik yang mengadopsi sistem demokrasi, maka perwakilan-perwakilan kelompok minoritas mendapat hak diparlemen, bahkan termasuk Yahudi namun dengan syarat perwakilan-perwakilan tersebut anti Zionisme, anti AS dan pro revolusi Islam. Komunitas Yahudi Iran ketika diminta rezim Israel untuk bergabung dengan Israel, dengan tegas mereka menolak, bahwa pendirian negara Israel adalah bid’ah dalam agama Yahudi. Di Iran, AS dan Israel sebagai musuh umat Islam sering dikecam dan dilaknat di mimbar-mimbar dan tempat-tempat terbuka oleh para khatib dan orator. Setiap aksi demonstrasi  rakyat Iran menentang kebijakan luar negeri AS dan Israel, selalu ada aksi pembakaran bendera dan simbol penting kedua negara tersebut.
.
Keempat, Arab Saudi melarang pembangunan ibadah orang-orang kafir, namun memberi izin seluas-luasnya untuk orang-orang kafir menanam investasi dan mengembangkan bisnisnya di wilayah Arab Saudi. Karenanya jangan heran, jika mall-mall mewah dan gedung-gedung pencakar langit di kota-kota besar Arab Saudi dipenuhi oleh produk-produk AS dan Barat, yang tidak jarang keuntungannya justru untuk menjajah dan memperbudak negara-negara muslim.
.
Republik Islam Iran sebagai negara yang toleran pada pengikut agama-agama dunia, tempat-tempat ibadah jelas saja diperbolehkan untuk didirikan, termasuk masjid yang khusus dikelola umat muslim Sunni, di Tehran ibu kota Iran terdapat  7 masjid Ahlus Sunnah ditempat-tempat strategis. Meskipun hampir 100% warga kota Tehran adalah muslim Syiah.  Kedutaan besar negara-negara sahabat yang Sunni, tetap mendapat izin untuk mendirikan masjid di areal kedutaan mereka.
.
Kelima, Arab Saudi membolehkan shalat Jum’at diselenggarakan disetiap masjid, meskipun masjid tersebut saling berdekatan. Sedangkan Republik Islam Iran tidak membolehkan shalat Jum’at diselenggarakan di satu kota kecuali di satu tempat. Sehingga shalat Jum’at di kota-kota besar Iran  dihadiri sampai jutaan jama’ah  yang meluber sampai kejalan-jalan. Tentu hal ini membuat hari Jum’at menjadi semakin semarak, dan implementasinya sebagai hari raya umat Islam bisa benar-benar dirasakan, terlebih lagi, jamaah jum’at juga diikuti oleh kaum muslimah Iran.
.
Keenam, Arab Saudi mengharamkan nikah mut’ah namun sesuai fatwa mufti kerajaan Syaikh bin Baz nikah misyar diperbolehkan. Nikah misyar adalah nikah dengan niat cerai yang memang pernikahan tersebut diniatkan tidak akan berlangsung dalam tempo yang lama. Dengan kebolehan ini, turis-turis Arab ketika berwisata ke Indonesia tidak jarang dari mereka sembari menikah dengan warga setempat, dengan niat jika masa liburan telah habis, maka akan menceraikan istri yang dinikahinya di Indonesia.
.
Era Muslim pernah menulis, Indonesia dimata turis Arab adalah obyek wisata seks. Sementara Iran membolehkan nikah mut’ah dengan ketentuan-ketentuan yang ketat dan diatur UU karena itu yang mempraktikkannya secara resmi sangat jarang, sementara nikah misyar diharamkan di Iran karena memang tidak ada tuntunannya dalam syariat.  Di Saudi praktik poligami sangat membudaya dan familiar, terutama dari kalangan keluarga kerajaan dan ulama-ulama, sementara di Iran poligami sangat sedikit dipraktikkan. Perempuan-perempuan di Iran mendapatkan hak politik, bahkan menduduki jabatan penting pemerintahan, seperti menteri, wapres dan juru bicara kepresidenan. Sementara di Saudi, jangankan menjabat kedudukan politik, perempuan tidak memiliki hak suara politik sama sekali, bahkan sekedar menyetir mobil pun aturan kerajaan menyebutkan, haram bagi perempuan untuk melakukannya.
.
Ketujuh, Arab Saudi menghancurkan patung-patung dan tempat-tempat yang dikeramatkan termasuk  peninggalan-peninggalan situs Islam yang berharga: pemakaman baqi yang diratakan dengan tanah, rumah istri Nabi Sayyidah Khadijah dihancurkan kemudian diatasnya dibangun WC umum, sementara gedung-gedung pencakar langit, hotel-hotel dan tempat perbelanjaan yang super mewah dibiarkan menjamur, bahkan disisi Ka’bah dibangun menara jam super tinggi dengan simbol tanduk syaitan dipuncaknya.  Sementara di Iran kuburan-kuburan dijaga dan dilestarikan.
.
Kuburan ulama-ulama dan pahlawan-pahlawan nasional serta tokoh-tokoh Iran tempo dulu dibangun  megah dan asri sehingga menjadi tempat wisata dan ziarah bagi orang-orang Iran. Tujuannya, selain untuk mengingatkan akan kematian, meski dalam keadaan sedang bersantai dan berlibur, juga untuk merawat ingatan akan masa lalu, bahwa kebesaran dan kemenangan hari ini, berkat perjuangan dan pengorbanan orang-orang terdaulu.
.
Kedelapan, Ketika rezim Israel memborbardir Gaza dan Palestina, ulama-ulama dan pejabat penting Iran sontak mengecam dan mengutuk agresi tersebut, bahkan sampai saat ini, tema-tema khutbah dan ceramah ulama-ulama besar Iran melulu seputar dukungan moralitas rakyat Iran akan perjuangan rakyat Palestina untuk mencapai kemerdekaannya. Iran membantu persenjataan Hizbullah dan HAMAS dalam kontak senjata dengan militer Israel. Sementara ulama-ulama Arab Saudi bungkam saja dengan agresi militer Zionis yang membantai umat Islam di Gaza, bahkan sebaliknya ketika Hizbullah yang berperang dengan Zionis mereka gelari Hizbusysyaitan dan mengharamkan untuk membantu dan mendukung Hizbullah, karena Hizbullah bermazhab Syiah. Jika Iran mendukung HAMAS yang menuntut kemerdekaan Palestina dan menolak keberadaan Israel, Saudi mendukung PLO yang menerima kedaulatan Israel.
.
Kesembilan, Ketika Syiah Houthi berhasil menduduki Yaman, dan mengusir presiden Mansour Hadi yang didukung Arab Saudi melalui gerakan rakyat yang didukung semua elemen rakyat Yaman, Arab Saudi mengerahkan  150 jet tempur untuk menyerang Yaman yang dibantu oleh 10 negara bahkan termasuk AS dan jet tempur Israel. Sementara Iran hanya membantu Syiah Houthi dalam bentuk dukungan moral, karena yakin, tanpa perlu turut campur langsung dalam konflik, rakyat Yaman adalah pejuang tangguh yang mampu  mengatasi kesulitannya sendiri, sebagaimana rakyat Iran diawal revolusinya yang diserang Irak yang didukung negara-negara Arab, Barat, AS dan Israel, tanpa perlu mengemis bantuan dari negara lain, kecuali bergantung kepada Allah Swt.  Saudi?. Diancam akan diserang oleh Saddam Husain dan khawatir akan perkembangan Iran, buru-buru bersembunyi dibalik ketiak AS, meskipun harus menjadi tidak ubahnya negara boneka yang bekerja untuk kepentingan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Ayatullah al Uzhma Nuri Hamadani salah seorang ulama marja taklid umat muslim Syiah dalam pernyataan tertulisnya menyikapi agresi Arab
.

Saudi dan koalisinya atas Yaman menyatakan kecaman dan penolakannya. Sebab menurutnya korban yang berjatuhan akan didominasi dari warga sipil yang tidak berdosa.

.

Berikut pernyataan sikap Ayatullah al Uzhma Nuri Hamadani:
Bismillahirrahamanirrahim
Disaat umat Islam dinegara-negara mayoritas umat Islam memikirkan langkah-langkah untuk melakukan revolusi untuk mendapatkan kemerdekaan dan kemuliaannya serta berlepas dari dari penjajahan dan intervensi asing, dan melakukan penentangan keras terhadap Zionis dan Amerika Serikat yang merupakan otak dibalik kebangkrutan dan kemiskinan Negara-negara Islam, justru kelompok takfiri, ISIS, Bokou Haram, dan kelompok-kelompok militant salafi lainnya  (yang disponsori Arab Saudi) menghalangi-halangi revolusi tersebut dengan menumpahkan darah sesama umat Islam. Kekayaan alam umat Islam mereka rampas, mereka ciptakan konflik seperti di Suriah, Lebanon, Irak dan Bahrain, melakukan pengrusakan dan aksi pembunuhan massal, tidak peduli perempuan maupun anak-anak.
.
Sampai saat ini rezim Arab Saudi memperkenalkan dirinya sebagai pelayan dua tanah Haram (Mekah dan Madinah) dan tiap tahun mencetak dan menyebarkan jutaan mushaf Al-Qur’an ke Negara-negara dunia dan menyebut mereka adalah pendukung Islam. Namun hari ini, Negara yang mengklaim diri membela Islam ini justru melakukan agresi militer ke Negara Yaman yang merupakan Negara berpenduduk muslim yang sedang memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatannya. Yang sayangnya agresi irasional ini justru didukung oleh mayoritas Negara Arab dan juga terlibat langsung dalam agresi militer tersebut
.
Jika mereka berdalih melakukan agresi karena peduli dengan nasib rakyat Yaman, lantas dalam menyikapi agresi atas Suriah, Lebanon dan Irak mengapa mereka hanya bungkam saja, demikian pula dengan konflik di Bahrain, mereka hanya diam saja. Demikian pula agresi Israel yang berkali-kali menghancurkan Gaza dan Palestina mereka pun tidak memberikan reaksi apa-apa. Patut diketahui dan tidak diragukan lagi Arab Saudi dan koalisinya hakikatnya adalah kaki tangan dan bawahan AS dan Israel. Mereka bukan laskar Islam, mereka adalah laskar dan pasukan Zionis yang hendak menjajah Negara-negara Islam
.
Pada akhirnya, rakyat telah sadar dan mengetahui AS ada dibalik dari semua konspirasi ini. Mereka sadar AS dan koalisinya tidak akan memberi pengaruh apa-apa, dan kaum mustadhafien siap untuk menghadapi mereka. Pernyataan kami ini terisinpirasi dari pernyataan Islam dan al-Qur’an. Dan kami secara tegas menentang keras agresi Arab Saudi dan koalisinya atas Yaman. Dan kami yakin, ditengah semua tekanan dan intervensi yang mereka dapatkan, rakyat akan menentukan takdir akan masa depannya sendiri dan insya Allah, mereka akan mencapai kemenangan.

Syiah Senang Atas Pemblokiran Situs Islam Yang Anti Syiah (2)

Tidak Ada Syiah Tanpa Revolusi, Ustadz Athian Ali : Kelompok Ini yang Seharusnya Diawasi BNPT

PERMINTAAN BNPT kepada Kementerian Kominfo agar menutup dan memblokir via DNS sejumlah website Media Islam Online semakin menunjukkan adanya situs situs yang memfitnah “Syiah berpotensi menggulingkan pemerintah”

Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat si Athian Ali M. Da’i, MA merupakan provokator yang kerap memfitnah Syi’ah hendak melakukan revolusi.. Bagaimana akal sehat membenarkan segelintir Syi’ah menggulingkan mayoritas sunni di Indonesia… Paranoid adalah wujud radikalisme.. Ada sekitar 7 web yang diblokir tersebut adalah web anti syiah.

Yang sebenar sebenarnya adalah : “Radikalis wahabi melakukan gerakan anti syi’ah dengan mengatas namakan AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH  demi merebut kantong kantong Nahdlatul Ulama (NU)”

Makin masifnya gerakan anti-Syiah di Indonesia menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi peneliti terorisme di Asia Tenggara, Sidney Jones. Penasihat senior International Crisis Group (ICG) di Indonesia ini mengungkapkan bahwa jika hal ini terus dibiarkan, Muslim Syiah Indonesia bukan tak mungkin akan menjadi target baru terorisme.
.
Dalam wawancara dengan wartawan Media ABI, Sidney Jones menengarai konflik Suriah yang dipersepsi oleh kelompok teroris sebagai konflik Sunni-Syiah –meski sudah jelas Basshar sendiri bukan Syiah– bisa mengubah peta terorisme di Indonesia. “Saya khawatir konflik Suriah yang ditafsirkan di sini sebagai konflik Sunni-Syiah (oleh kelompok radikal). Bisa saja terjadi target Syiah akan naik dalam kalkulasi para teroris di Indonesia,” terang dia.
.
Hal lain yang juga dikhawatirkannya adalah upaya kelompok radikal mengirimkan warga Indonesia ke Suriah untuk membantu pemberontak di negara itu. “Ini artinya, akan ada generasi teroris yang akan kembali ke Indonesia. Mungkin seperti alumni Afghanistan dulu yang ternyata bisa mengubah pola terorisme di Indonesia.”
.
Lebih lanjut dia menambahkan, “Mereka akan bisa melakukan aksi yang jauh lebih dahsyat terhadap kelompok-kelompok ini (Syiah).”
.
“Pernah ada satu perencanaan aksi terorisme terhadap Syiah di Indonesia yang dipimpin oleh Abu Umar. Saat mereka ditangkap, mereka sudah membuat survei beberapa lembaga Syiah di Jakarta. Sejak saat itu muncul daftar 77 lembaga Syiah yang kemudian tersebar melalui facebook dan baru-baru ini dimuat di situs voaislam.com. Ini bisa mendorong kelompok-kelompok jihadi untuk menyerang Syiah,” tambahnya.
.
Saat ditanya mengapa tiba-tiba saja muncul fenomena propaganda masif kebencian terhadap Syiah ini, Sidney sendiri merasa heran. Ia mengaku sebelumnya tak pernah memikirkan bahwa Syiah akan menjadi target terorisme di Indonesia. “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira tidak dari rasa kebencian masyarakat Indonesia sendiri. Karena masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang sudah berabad-abad hidup rukun dan bertoleransi terhadap Syiah.”
.
Jika bukan asli dari masyarakat Indonesia yang memang selama berabad-abad tercatat hidup damai bersama Syiah, lalu dari manakah propaganda masif yang tiba-tiba saja muncul mengobarkan kebencian sektarian terhadap Syiah ini?

 Belakang ini opini-opini yang dihembuskan Wahabi seolah-olah Indonesia darurat Syi’ah, padahal Indonesia sudah darurat Wahabi. Wahabi membuat Indonesia seolah-olah dipenuhi Syi’ah, sebab Wahhabi lah yang paling getol gembar-gembor menyatakan Syi’ah kafir. Mereka juga pasang spanduk dimana-mana.

Syi’ah juga seolah-seolah jumlahnya banyak karena Aswaja / Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai umat Islam terbesar di Indonesia dituduh Syi’ah. Bila penganut Aswaja yang dituduh Syi’ah maka tentu saja terlihat banyak.

Wahabi secara mutlak mengkafirkan Syi’ah. Berbeda dengan Aswaja yang masih mengklasifikasi kelompok Syi’ah. Konsekuensi dari mengkafirkan yang mereka lakukan itu berarti Halal darahnya atau boleh dibunuh. Dalam hal ini, Wahabi sedang mencari legitimasi untuk melakukan pembunuhan terhadap Syi’ah.

Siapa yang akan jadi korban?. Korban utama dan terbanyak adalah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), sebab Aswaja sebagai kelompok umat Islam terbesar pun dituduh Syi’ah dan pembela Syi’ah oleh Wahabi, akhirnya darahnya dihalalkan pula oleh Wahabi.

Bila sudah dihalalkan maka akan ada aksi bunuh-membunuh. Akhirnya Indonesia kacau, terjadilah konflik sektrarian seperti di Libya, Suriah dan lain-lain yang tak ada ujung berakhirnya. Semoga Allah melindungi negeri kita dari orang-orang jahat.

Kita umat Islam saat ini sudah aman, shalat aman tidak diganggu, tidak ada bom meledak tiap hari, tidak ada bangunan hancur karena bom tiap hari, kita aman pergi ke pasar tanpa takut tembakan, kita aman bersekolah, kita aman mengaji, kita aman bertani, kita aman berdagang, kita aman naik kendaraan, tidak ada bom mobil, kita aman bekerja di kantor, kita tidak mengungsi akibat perang yang tidak berkesudahan.

Maka waspadailah pihak-pihak yang berusaha meng-import konflik sektarian Timur Tengah ke negeri Indonesia yang aman ini. Mengapa konflik sektarian di munculkan? Siapa yang memiliki kepentingan ?

Dr. Michael Brant, salah seorang mantan tangan kanan direktur CIA, Bob Woodwards yang mengawali adanya kepentingan Transnasional dalam menciptakan konflik Sunni-Syiah. Dalam sebuah buku berjudul “A Plan to Devide and Destroy the Theology”, Michael mengungkapkan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta USD untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah.

Hal ini kemudian diperkuat oleh publikasi laporan RAND Corporation di tahun 2004, dengan judul “US Strategy in The Muslim World After 9/11“. Laporan ini dengan jelas dan eksplisit menganjurkan untuk terus mengekploitasi perbedaan antara Ahlu Sunnah dan Syiah demi kepentingan AS di Timur Tengah. [[1]http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,47029-lang,id-c,kolom-t,Di+Balik+Merebaknya+Konflik+Sunni+Syiah+di+Jawa+Timur-.phpx]

Perlu diketahui, bahwa keberadaan kaum Syiah bukan barang baru di Indonesia. Namun, seperti layaknya secara umum, di Indonesia hampir tak pernah ditemui konflik sektarian yang melibatkan antara Sunni-Syiah.

Tetapi belakangan ini, mulai muncul konflik sektarian Sunni-Syiah di Indonesia. Bila kita tarik apa yang dinyatakan oleh Michael Brant tersebut ke ranah domestik, maka jelas ada kepentingan di luar SARA yang turut berperan -bahkan mengambil porsi lebih besar- dalam konflik Sunni-Syiah di Indonesia.

Jadi sebenarnya ada kepentingan transnasional Barat dibalik konflik sektarian. Kepentingan tranasional Barat ini bersimbiosis dengan kekuatan kelompok Islam transnasional yang kemudian banyak diidentikkan dengan gerakan Wahabisasi Global.

Jika bukan asli dari masyarakat Indonesia yang memang selama berabad-abad tercatat hidup damai bersama Syiah, lalu dari manakah propaganda masif yang tiba-tiba saja muncul mengobarkan kebencian sektarian terhadap Syiah ini?

Pemimpin Syiah di Sampang, Madura, Iklil Almilal, mendukung pemblokiran situs-situs yang diduga menyiarkan paham radikal seperti ISIS. Sebab sebagian dari situs yang ditutup itu sering mengadu domba umat Islam.

“Saya dukung itu. Sebagian dari situs yang diblokir itu sering menjelek-jelekkan paham lain. Mereka sebagian mengatasnamakan Sunni dan menjelekkan Syiah. Padahal Syiah itu menganggap Sunni saudara,” ujarnya, Rabu (1/4/2015).

Ia mencontohkan, salah satu situs yang sering mengadu domba umat Islam adalah arrahman.com. Situs ini dinilai sering memuat materi yang memicu konflik. Situs ini pernah mengkafirkan Islam yang tidak sepaham dengan suni.

“Makanya untuk mencegah konflik blokir saja. Saya tidak mengerti tujuan mereka memuat materi-materi radikal. Saya yakin penulisnya bukan suni, tapi mengatasnakan suni,” ujar tutur Iklil.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Ismail Cawidu menyatakan, Kemkominfo telah memblokir 22 situs/website radikal.

Ada 22 situs internet radikal yang diadukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), kata Ismail, di Jakarta, Senin (30/3).

Menurutnya, awalnya pihaknya telah memblokir 3 (tiga) situs, namun BNPT melaporkan kembali untuk memblokir 19 situs berdasarkan surat bernomor No 149/K.BNPT/3/2015 tentang Situs/Website Radikal ke dalam sistem filtering Kemkominfo.

Untuk itu, Kemkominfo meminta penyelenggara internet service provider (ISP) untuk memblokir ke-19 situs sesuai yang disampaikan pihak BNPB bahwa situs/website tersebut merupakan situs/wensite penggerak paham radikalisme dan/atau simpatisan radikalisme, ujarnya.

Adapun ke-22 situs yang telah diblokir yakni:

1.         arrahmah.com

2.         voa-islam.com

3.         ghur4ba.blogspot.com

4.         panjimas.com

5.         thoriquna.com

6.         dakwatuna.com

7.         kafilahmujahid.com

8.         an-najah.net

9.         muslimdaily.net

10.    hidayatullah.com

11.    salam-online.com

12.    aqlislamiccenter.com

13.    kiblat.net

14.    dakwahmedia.com

15.    muqawamah.com

16.    lasdipo.com

17.    gemaislam.com

18.    eramuslim.com

19.    daulahislam.com

20.    shoutussalam.com

21.    azzammedia.com dan

22.    indonesiasupportislamicatate.blogspot.com

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman menegaskan akan terus berusaha meng-counter‎ propaganda yang dilakukan ISIS dengan mengajak WNI menjadi pendukungnya.

Kita terus counter. Kita kerjasama dengan Kementerian Kominfo untuk segera menutup itu, kata Marciano di Jakarta, Senin (30/3).

Menurut Marciano, pemerintah, terus proaktif untuk tidak memberi mereka ruang terlalu bebas untuk memprovokasi masyarakat. “Kita terus mengharapkan situs-situs seperti itu harus diberi perhatian khusus,” ujarnya.

Ditegaskannya, selain menutup situs-situs terkait ISIS, pemerintah juga mengajak komunitas-komunitas terkait untuk memberikan informasi yang seimbang kepada masyarakat.

Informasi yang disampaikan bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat luas. Sehingga masyarakat tidak melihat satu sisi saja‎, tapi ada sisi lain yang memberi pencerahan bahwa itu tidak benar. Kita hati-hati mengelola itu. Jangan terjebak suatu hari nanti ISIS itu dikaitkan dengan Islam, itu tidak benar, pungkas Marciano.

Kelompok radikal bergerak cepat… Ini kelakuan kaum radikalis ::
.
Sejumlah kelompok masyarakat sipil di Jogja meminta aparat membersihkan spanduk-spanduk tentang Syiah yang dianggap provokatif. Spanduk yang bertebaran di berbagai sudut di DIY itu dianggap menebar kebencian.
.
Peneliti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Institute for Research and Empowerment (IRE) sekaligus dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jogja Abdur Rozaki menyatakan spanduk-spanduk yang mengkafirkan kalangan Syiah itu melanggar undang-undang. Sebab menurut dia, spanduk itu mengandung muatan yang menebar kebencian. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), menebar kebencian merupakan tindak pidana.
 .
“Ini praktek beragama yang menebar kebencian hanya karena berbeda aliran,” tegas Abdur Rozaki dalam Konferensi Masyarakat Sipil dan Penguatan Demokrasi Inklusif yang digelar di Hotel Ros In, Bantul Rabu (25/2/2015).
.
Ia juga meminta aparat berwenang mencabut spanduk-spanduk itu. Polisi perlu menelusuri siapa yang memasang serta motif dari tindakan tersebut. Di sisi lain kalangan masyarakat sipil didorong untuk aktif memperkarakan tindakan menebar kebencian itu ke polisi.
.
“Kalau polisi dapat menangkap pelaku hebat, langsung kirim saja ke Syuriah tanpa paspor. Jangan cuma ngurus kasus KTP Abraham Samad [Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi non aktif], tapi mengurusi masalah seperti ini tidak berani,” kritiknya.
.
Seruan mengkafirkan Syiah tersebut menurutnya tidak cocok dilakukan di negara yang multi kultur seperti Indonesia. Tindakan itu dianggap mengancam Pancasila dan NKRI.
.
Sementara itu, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bantul Hermawan Setiaji menyatakan lembaganya telah berkoordinasi dengan Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) ihwal pencopotan spanduk tersebut.
.
“Kami sudah sampaikan ke Kesbangpol masalah ini, bagi kami akan lebih baik kalau mereka [pemasang spanduk] sendiri yang menurunkan dari pada diturunkan petugas,” terang Hermawan Setiaji.
.
Selain itu, lembaganya kata dia akan memeriksa apakah keberadaan spanduk-spanduk itu berizin atau tidak. Sesuai aturan, pemasangan spanduk di sejumlah lokasi strategis di Bantul harus mengantongi izin.
Spanduk yang mendiskreditkan kalangan penganut Syiah itu diantaranya tersebar di gapura masuk sentra kerajinan gerabah di Kasongan, di pertigaan Cepit, Sewon Bantul, di kawasan Ring Road di Banguntapan dan Jalan di Imogiri. Sejumlah warga mengaku terganggu dengan keberadaan spanduk itu lantaran dianggap menebar kebencian.

Syiah Senang Atas Pemblokiran Situs Islam Yang Anti Syiah (1)

Pemimpin Syiah di Sampang, Madura, Iklil Almilal, mendukung pemblokiran situs-situs yang diduga menyiarkan paham radikal seperti ISIS. Sebab sebagian dari situs yang ditutup itu sering mengadu domba umat Islam.

“Saya dukung itu. Sebagian dari situs yang diblokir itu sering menjelek-jelekkan paham lain. Mereka sebagian mengatasnamakan Sunni dan menjelekkan Syiah. Padahal Syiah itu menganggap Sunni saudara,” ujarnya kepada Okezone, Rabu (1/4/2015).

Ia mencontohkan, salah satu situs yang sering mengadu domba umat Islam adalah arrahman.com. Situs ini dinilai sering memuat materi yang memicu konflik. Situs ini pernah mengkafirkan Islam yang tidak sepaham dengan suni.

“Makanya untuk mencegah konflik blokir saja. Saya tidak mengerti tujuan mereka memuat materi-materi radikal. Saya yakin penulisnya bukan suni, tapi mengatasnakan suni,” ujar tutur Iklil.

AJI: Situs Islam yang Diblokir Bukan Karya Jurnalistik

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menilai situs-situs Islam yang diblokir Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkiminfo) tidak memuat karya jurnalistik. Sebab materi yang dimuat tidak memenuhi kaidah jurnalistik.

“Itu kan saya lihat mereka mengutip Alquran misalnya. Tapi tidak ada cover both side. Itu tidak memenuhi unsur-unsur jurnalistik,” ujar Kepala Bidang Hubungan Eksternal AJI, Eko Maryadi kepada Okezone, Rabu (1/4/2015).

PERMINTAAN BNPT kepada Kementerian Kominfo agar menutup dan memblokir via DNS sejumlah website Media Islam Online semakin menunjukkan adanya situs situs yang memfitnah “Syiah berpotensi menggulingkan pemerintah”

Ketua Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) Pusat si Athian Ali M. Da’i, MA merupakan provokator yang kerap memfitnah Syi’ah hendak melakukan revolusi.. Bagaimana akal sehat membenarkan segelintir Syi’ah menggulingkan mayoritas sunni di Indonesia… Paranoid adalah wujud radikalisme.. Ada sekitar 7 web yang diblokir tersebut adalah web anti syiah.

Yang sebenar sebenarnya adalah : “Radikalis wahabi melakukan gerakan anti syi’ah dengan mengatas namakan AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH  demi merebut kantong kantong Nahdlatul Ulama (NU)”

GenSyiah – Makin masifnya gerakan anti-Syiah di Indonesia menciptakan kekhawatiran tersendiri bagi peneliti terorisme di Asia Tenggara, Sidney Jones. Penasihat senior International Crisis Group (ICG) di Indonesia ini mengungkapkan bahwa jika hal ini terus dibiarkan, Muslim Syiah Indonesia bukan tak mungkin akan menjadi target baru terorisme.

Dalam wawancara dengan wartawan Media ABI, Sidney Jones menengarai konflik Suriah yang dipersepsi oleh kelompok teroris sebagai konflik Sunni-Syiah –meski sudah jelas Basshar sendiri bukan Syiah– bisa mengubah peta terorisme di Indonesia. “Saya khawatir konflik Suriah yang ditafsirkan di sini sebagai konflik Sunni-Syiah (oleh kelompok radikal). Bisa saja terjadi target Syiah akan naik dalam kalkulasi para teroris di Indonesia,” terang dia.

Hal lain yang juga dikhawatirkannya adalah upaya kelompok radikal mengirimkan warga Indonesia ke Suriah untuk membantu pemberontak di negara itu. “Ini artinya, akan ada generasi teroris yang akan kembali ke Indonesia. Mungkin seperti alumni Afghanistan dulu yang ternyata bisa mengubah pola terorisme di Indonesia.”

Lebih lanjut dia menambahkan, “Mereka akan bisa melakukan aksi yang jauh lebih dahsyat terhadap kelompok-kelompok ini (Syiah).”

“Pernah ada satu perencanaan aksi terorisme terhadap Syiah di Indonesia yang dipimpin oleh Abu Umar. Saat mereka ditangkap, mereka sudah membuat survei beberapa lembaga Syiah di Jakarta. Sejak saat itu muncul daftar 77 lembaga Syiah yang kemudian tersebar melalui facebook dan baru-baru ini dimuat di situs voaislam.com. Ini bisa mendorong kelompok-kelompok jihadi untuk menyerang Syiah,” tambahnya.

Saat ditanya mengapa tiba-tiba saja muncul fenomena propaganda masif kebencian terhadap Syiah ini, Sidney sendiri merasa heran. Ia mengaku sebelumnya tak pernah memikirkan bahwa Syiah akan menjadi target terorisme di Indonesia. “Saya tidak tahu. Tetapi saya kira tidak dari rasa kebencian masyarakat Indonesia sendiri. Karena masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang sudah berabad-abad hidup rukun dan bertoleransi terhadap Syiah.”

 Belakang ini opini-opini yang dihembuskan Wahabi seolah-olah Indonesia darurat Syi’ah, padahal Indonesia sudah darurat Wahabi. Wahabi membuat Indonesia seolah-olah dipenuhi Syi’ah, sebab Wahhabi lah yang paling getol gembar-gembor menyatakan Syi’ah kafir. Mereka juga pasang spanduk dimana-mana
.

Syi’ah juga seolah-seolah jumlahnya banyak karena Aswaja / Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai umat Islam terbesar di Indonesia dituduh Syi’ah. Bila penganut Aswaja yang dituduh Syi’ah maka tentu saja terlihat banyak.

Wahabi secara mutlak mengkafirkan Syi’ah. Berbeda dengan Aswaja yang masih mengklasifikasi kelompok Syi’ah. Konsekuensi dari mengkafirkan yang mereka lakukan itu berarti Halal darahnya atau boleh dibunuh. Dalam hal ini, Wahabi sedang mencari legitimasi untuk melakukan pembunuhan terhadap Syi’ah.

Siapa yang akan jadi korban?. Korban utama dan terbanyak adalah Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), sebab Aswaja sebagai kelompok umat Islam terbesar pun dituduh Syi’ah dan pembela Syi’ah oleh Wahabi, akhirnya darahnya dihalalkan pula oleh Wahabi.

Bila sudah dihalalkan maka akan ada aksi bunuh-membunuh. Akhirnya Indonesia kacau, terjadilah konflik sektrarian seperti di Libya, Suriah dan lain-lain yang tak ada ujung berakhirnya. Semoga Allah melindungi negeri kita dari orang-orang jahat.

Kita umat Islam saat ini sudah aman, shalat aman tidak diganggu, tidak ada bom meledak tiap hari, tidak ada bangunan hancur karena bom tiap hari, kita aman pergi ke pasar tanpa takut tembakan, kita aman bersekolah, kita aman mengaji, kita aman bertani, kita aman berdagang, kita aman naik kendaraan, tidak ada bom mobil, kita aman bekerja di kantor, kita tidak mengungsi akibat perang yang tidak berkesudahan.

Maka waspadailah pihak-pihak yang berusaha meng-import konflik sektarian Timur Tengah ke negeri Indonesia yang aman ini. Mengapa konflik sektarian di munculkan? Siapa yang memiliki kepentingan ?

Dr. Michael Brant, salah seorang mantan tangan kanan direktur CIA, Bob Woodwards yang mengawali adanya kepentingan Transnasional dalam menciptakan konflik Sunni-Syiah. Dalam sebuah buku berjudul “A Plan to Devide and Destroy the Theology”, Michael mengungkapkan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta USD untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah.

Hal ini kemudian diperkuat oleh publikasi laporan RAND Corporation di tahun 2004, dengan judul “US Strategy in The Muslim World After 9/11“. Laporan ini dengan jelas dan eksplisit menganjurkan untuk terus mengekploitasi perbedaan antara Ahlu Sunnah dan Syiah demi kepentingan AS di Timur Tengah. [[1]http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,47029-lang,id-c,kolom-t,Di+Balik+Merebaknya+Konflik+Sunni+Syiah+di+Jawa+Timur-.phpx]

Perlu diketahui, bahwa keberadaan kaum Syiah bukan barang baru di Indonesia. Namun, seperti layaknya secara umum, di Indonesia hampir tak pernah ditemui konflik sektarian yang melibatkan antara Sunni-Syiah.

Tetapi belakangan ini, mulai muncul konflik sektarian Sunni-Syiah di Indonesia. Bila kita tarik apa yang dinyatakan oleh Michael Brant tersebut ke ranah domestik, maka jelas ada kepentingan di luar SARA yang turut berperan -bahkan mengambil porsi lebih besar- dalam konflik Sunni-Syiah di Indonesia.

Jadi sebenarnya ada kepentingan transnasional Barat dibalik konflik sektarian. Kepentingan tranasional Barat ini bersimbiosis dengan kekuatan kelompok Islam transnasional yang kemudian banyak diidentikkan dengan gerakan Wahabisasi Global.

Jika bukan asli dari masyarakat Indonesia yang memang selama berabad-abad tercatat hidup damai bersama Syiah, lalu dari manakah propaganda masif yang tiba-tiba saja muncul mengobarkan kebencian sektarian terhadap Syiah ini?

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Ismail Cawidu menyatakan, Kemkominfo telah memblokir 22 situs/website radikal.

Ada 22 situs internet radikal yang diadukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), kata Ismail, di Jakarta, Senin (30/3).

Menurutnya, awalnya pihaknya telah memblokir 3 (tiga) situs, namun BNPT melaporkan kembali untuk memblokir 19 situs berdasarkan surat bernomor No 149/K.BNPT/3/2015 tentang Situs/Website Radikal ke dalam sistem filtering Kemkominfo.

Untuk itu, Kemkominfo meminta penyelenggara internet service provider (ISP) untuk memblokir ke-19 situs sesuai yang disampaikan pihak BNPB bahwa situs/website tersebut merupakan situs/wensite penggerak paham radikalisme dan/atau simpatisan radikalisme, ujarnya.

Adapun ke-22 situs yang telah diblokir yakni:

1.         arrahmah.com

2.         voa-islam.com

3.         ghur4ba.blogspot.com

4.         panjimas.com

5.         thoriquna.com

6.         dakwatuna.com

7.         kafilahmujahid.com

8.         an-najah.net

9.         muslimdaily.net

10.    hidayatullah.com

11.    salam-online.com

12.    aqlislamiccenter.com

13.    kiblat.net

14.    dakwahmedia.com

15.    muqawamah.com

16.    lasdipo.com

17.    gemaislam.com

18.    eramuslim.com

19.    daulahislam.com

20.    shoutussalam.com

21.    azzammedia.com dan

22.    indonesiasupportislamicatate.blogspot.com

Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Marciano Norman menegaskan akan terus berusaha meng-counter‎ propaganda yang dilakukan ISIS dengan mengajak WNI menjadi pendukungnya.

Kita terus counter. Kita kerjasama dengan Kementerian Kominfo untuk segera menutup itu, kata Marciano di Jakarta, Senin (30/3).

Menurut Marciano, pemerintah, terus proaktif untuk tidak memberi mereka ruang terlalu bebas untuk memprovokasi masyarakat. “Kita terus mengharapkan situs-situs seperti itu harus diberi perhatian khusus,” ujarnya.

Ditegaskannya, selain menutup situs-situs terkait ISIS, pemerintah juga mengajak komunitas-komunitas terkait untuk memberikan informasi yang seimbang kepada masyarakat.

Informasi yang disampaikan bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat luas. Sehingga masyarakat tidak melihat satu sisi saja‎, tapi ada sisi lain yang memberi pencerahan bahwa itu tidak benar. Kita hati-hati mengelola itu. Jangan terjebak suatu hari nanti ISIS itu dikaitkan dengan Islam, itu tidak benar, pungkas Marciano.

Bukti Kedustaan Tuduhan Rafidhah Atas Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

Bukti Kedustaan Tuduhan Rafidhah Atas Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf

Tulisan singkat ini hanya ingin menunjukkan kepada para pembaca, bukti kedustaan orang-orang jahil yang menuduh salah seorang ulama ahlus sunnah yaitu Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf dengan tuduhan Rafidhah.

Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf pernah menulis kitab yang menjelaskan tentang aqidah shahih mazhab ahlus sunnah di sisinya. Kitab itu berjudul Shahih Syarh Al ‘Aqiidah Ath Thahaawiyah Aw Al Manhaj Ash Shahiih Fii Fahm ‘Aqiidah Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah Ma’a Al Tanqiih. Kitab ini adalah bukti nyata bahwa Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf berdasarkan pengakuannya adalah seorang yang bermazhab Ahlus Sunnah.

Shahih Syarh Aqidah Thahawiyah As Saqqaaf

Dalam kitab tersebut Hasan bin Aliy As Saqqaaf menegaskan kekhalifahan Abu Bakar [radiallahu ‘anhu], Umar [radiallahu ‘anhu], Utsman [radiallahu ‘anhu] dan Aliy [‘alaihis salaam]. Hal ini menunjukkan bahwa ia bukan seorang Rafidhah karena tidak ada Rafidhah yang mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Umar. Hasan As Saqqaaf berkata

Shahih Syarh Aqidah Thahawiyah As Saqqaaf hal 654

ونثبت الخلافة بعد رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم أولا لأبي بكر الصديق رضي الله عنه، ثم لسيدنا عمر، ثم لسيدنا عثمان، ثم لسيدنا علي رضي الله عنهم أجمعين

Dan kami menetapkan para khalifah setelah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang pertama adalah Abu Bakar Ash Shiddiiq [radiallahu ‘anhu] kemudian Sayyidina ‘Umar, kemudian Sayyidina ‘Utsman kemudian Sayyidina ‘Aliy, radi’allahu ‘anhum ajma’iin [Shahih Syarh Aqiidah Ath Thahaawiyah hal 654]

Hasan bin ‘Aliy As Saqqaaf ketika menuliskan nama Abu Bakar dan Umar, Beliau menyebutkan keduanya dengan lafaz taradhiy dan “Sayyidina”. Begitu pula ketika menyebutkan Aisyah [radiallahu ‘anha], Beliau menyebutnya dengan lafaz taradhiy dan sebutan Sayyidah.

Shahih Syarh Aqidah Thahawiyah As Saqqaaf hal 128

Shahih Syarh Aqidah Thahawiyah As Saqqaaf hal 129

Silakan para pembaca pikirkan, rafidhah manakah yang menetapkan kekhalifahan Abu Bakar dan Umar bahkan memuliakan mereka dengan sebutan Sayyidina serta [radiallahu ‘anhu]. Syi’ah yang moderat mungkin tidak akan mencela Abu Bakar dan Umar tetapi mereka tetap tidak akan menetapkan kekhalifahan keduanya atau menyebut keduanya dengan gelar kemuliaan yaitu Sayyidina. Kesimpulannya orang yang menuduh Hasan As Saqqaaf sebagai rafidhah maka tidak lain dia adalah pendusta.

Doa Nabi Pada Pernikahan Aliy Dengan Fathimah = Made In Syi’ah? : Kedustaan Pencela Syi’ah

Shahih Muawiyah Mencela Aliy : Bantahan Atas Kejahilan Toyib Mutaqin

Shahih Muawiyah Mencela Aliy : Bantahan Atas Kejahilan Toyib Mutaqin

Masih menanggapi tulisan dari orang jahil yang sama yaitu Toyib Mutaqin. Kali ini kami akan menanggapi tulisan yang ia buat dengan judul “Syubhat Syi’ah Secondprince Mu’awiyah Mencela Aliy”. Dari judulnya saja sudah terlihat tingkah buruknya yang memfitnah kami sebagai “Syi’ah”. Seolah ia ingin mengesankan kepada para pembaca bahwa hanya Syi’ah yang mengatakan Mu’awiyah Mencela Aliy.

Padahal para pembaca yang objektif akan melihat bahwa hadis-hadis dalam kitab Ahlus Sunnah telah menyatakan hal tersebut. Para pembaca dapat melihatnya dalam dua tulisan kami sebelumnya

  1. Riwayat Mu’awiyah Mencela Imam Aliy [‘alaihis salaam] Adalah Shahih
  2. Shahih Mu’awiyah Mencela Imam Aliy : Bantahan Bagi Nashibiy

Boleh-boleh saja kalau orang ini tidak setuju dengan tulisan kami tersebut tetapi ia tetap tidak punya dasar sedikitpun untuk menuduh kami Syi’ah. Jika ada diantara pembaca yang ingin melihat tulisannya maka dapat membacanya disini

http://muttaqi89.blogspot.com/2014/12/syubhat-syiah-muawiyah-mencela-ali.html

Berikut kami akan mengungkap kejahilan Toyib Mutaqin dan silakan bagi para pembaca untuk menelaahnya dengan objektif menimbang sesuai dengan kaidah ilmu. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pembaca, adapun untuk orang jahil tersebut, tidak ada yang kami harapkan darinya bahkan bisa jadi setelah membaca tanggapan kami, ia malah akan bertambah kejahilannya [karena penolakannya terhadap kebenaran].

.

.

.

.

Syubhat Hadis Riwayat Muslim

Kami akan mulai dengan membahas terlebih dahulu hadis dalam Shahih Muslim. Orang jahil ini sok bergaya seperti ahli hadis ingin melemahkan atau paling tidak membuat keraguan riwayat dalam Shahih Muslim. Ia berkata

Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dari lima jalur, tidak ada yang menyebutkan lafadz: (أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا) “Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad mencaci Ali!?” kecuali riwayat Bukair bin Mismaar. Periwayatan haditsnya sedikit lemah dan menyalahi riwayat yang lebih kuat. Imam Bukhari mengatakan: Hadisnya ada sedikit kejangalan (fiihi nadzar). Adz-Dzahabiy mengatakan: Ada sesuatu (kelemahan dalam riwayatnya) Lihat: At-Taarikh Al-Kabiir karya Imam Bukhariy 2/115, Adh-Dhu’afaa’ Al-Kabiir karya Al-‘Uqailiy 1/150, Al-Kaamil karya Ibnu ‘Adiy 3/42, Al-Kaasyif karya Ad-Dzahabiy 1/276,

Kelima jalur yang dimaksudkan orang itu dapat dilihat dalam Shahih Muslim 4/1870 no 2404 [tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqiy]. Dan jika diamati kelima jalur sanad tersebut maka sanadnya terdiri dari

  1. Riwayat Sa’id bin Al Musayyab dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash dari Ayahnya secara marfu’ tentang hadis manzilah
  2. Riwayat Al Hakam dari Mush’ab bin Sa’d bin Abi Waqqash dari Ayahnya secara marfu’ tentang hadis manzilah
  3. Riwayat Sa’d bin Ibrahim dari Ibrahim bin Sa’d dari Sa’d secara marfu’ tentang hadis manzilah
  4. Riwayat Bukair bin Mismaar dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash dari Ayahnya yang menyebutkan kisah antara Mu’awiyah dan Sa’d, kemudian Sa’d menyebutkan tiga keutamaan Imam Aliy [salah satunya adalah hadis manzilah]

Riwayat-riwayat selain riwayat Bukair bin Mismaar hanya menyebutkan tentang hadis manzilah saja tanpa menyebutkan sebab atau kisah apapun, hanya lafaz marfu’ hadis manzilah. Sedangkan hadis Bukair bin Mismaar menyebutkan kisah antara Mu’awiyah dan Sa’d yang menyebabkan Sa’d menyebutkan hadis tiga keutamaan Imam Aliy diantaranya hadis manzilah.

Dengan kata lain tidak ada qarinah [petunjuk] bahwa riwayat-riwayat lain tersebut berasal dari kisah yang sama dengan riwayat Bukair bin Mismaar. Bisa saja Sa’d bin Abi Waqqash di saat yang lain [selain pertemuannya dengan Muawiyah] menceritakan hadis manzilah kepada anak-anaknya. Jadi tidak ada disini bukti atas tuduhan orang jahil tersebut bahwa Bukair bin Mismaar menyalahi riwayat yang lebih kuat.

Bukair bin Mismaar adalah perawi yang tsiqat. Berikut akan dibahas secara rinci pandangan ulama terhadapnya. At Tirmidziy berkata

حدثنا قتيبة حدثنا حاتم بن إسماعيل عن بكير بن مسمار هو مدني ثقة

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma’iil dari Bukair bin Mismaar dan ia orang Madinah yang tsiqat…[Sunan Tirmidzi 5/225 no 2999]

Al Ijliy berkata “Bukair bin Mismaar orang Madinah yang tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat 1/254 no 179]. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats Tsiqat dan berkata

بكير بن مِسْمَار أَخُو مهَاجر بن مِسْمَار مولى سعد بن أَبى وَقاص من أهل الْمَدِينَة كنيته أَبُو مُحَمَّد يروي عَن عَامر بن سعد بْن أَبِي وَقاص روى عَنهُ حَاتِم بن إِسْمَاعِيل وَلَيْسَ هَذَا ببكير بن مِسْمَار الَّذِي يروي عَن الزُّهْرِيّ ذَاك ضَعِيف وَمَات بكير هَذَا سنة ثَلَاث وَخمسين وَمِائَة

Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir bin Mismaar maula Sa’d bin Abi Waqqash dari penduduk Madinah, kuniyah Abu Muhammad, ia meriwayatkan dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash dan meriwayatkan darinya Haatim bin Isma’iil, ia bukanlah Bukair bin Mismaar yang meriwayatkan dari Az Zuhriy, [Bukair] ini seorang yang dhaif, wafat Bukair pada tahun 153 H [Ats Tsiqat Ibnu Hibban 6/105-106 no 6917]

Kemudian dalam Al Majruhin, Ibnu Hibban memasukkan nama Bukair bin Mismaar dan mengatakan bahwa ia Syaikh yang meriwayatkan dari Az Zuhriy dan meriwayatkan darinya Abu Bakr Al Hanafiy sebagai perawi dhaif, adapun Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir bin Mismaar adalah seorang yang tsiqat [Al Majruuhin Ibnu Hibban 1/222 no 145]

Daruquthniy berkata tentang Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir bin Mismaar bahwa ia tsiqat [Ta’liqaat Daaruquthniy ‘Ala Al Majruuhiin hal 61/62]

Orang itu mengutip Al Bukhariy yang katanya melemahkan Bukair bin Mismaar. Inilah yang disebutkan Bukhariy

بكير بن مسمار أخو مهاجر مولى سعد بن أبي وقاص القرشي المديني قال لي أحمد بن حجاج وإبراهيم بن حمزة حدثنا حاتم عن بكير عن عامر بن سعد عن سعد سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يوم خيبر لأعطين الراية رجلا يحب الله ورسوله أو يحبه الله ورسوله فتطاولنا فقال ادعوا عليا وسمع الزهري روى عنه أبو بكر الحنفي فيه بعض النظر أبو بكر

Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir maula Sa’d bin Abi Waqqash Al Qurasyiy Al Madiiniy. Telah berkata kepadaku Ahmad bin Hajjaaj dan Ibrahim bin Hamzah yang berkata telah menceritakan kepada kami Haatim dari Bukair dari ‘Aamir bin Sa’d dari Sa’d yang mendengar Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pada hari Khaibar “Aku akan memberikan panji ini kepada orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai Allah dan Rasul-Nya maka kami berharap untuk mendapatkannya”. kemudian Beliau berkata “Panggilkan Aliy”. [Bukair] mendengar dari Az Zuhriy dan meriwayatkan darinya Abu Bakr Al Hanafiy, dalam sebagian hadisnya perlu diteliti kembali [Tarikh Al Kabir 2/115 no 1881]

Apa yang dikatakan Al Bukhariy terhadap Bukair bin Mismaar adalah terbatas pada hadisnya dari Az Zuhriy yang diriwayatkan oleh Abu Bakr Al Hanafiy. Ibnu Adiy setelah mengutip jarh Bukhariy tersebut, ia mengatakan tidak menemukan adanya hadis mungkar dari Bukair bin Mismaar dan di sisinya Bukair bin Mismaar hadisnya lurus [Al Kamil Ibnu ‘Adiy 2/216 no 279].

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Ibnu Hibban telah membedakan Bukair bin Mismaar saudara Muhaajir bin Mismaar dengan Bukair bin Mismaar yang mendengar dari Az Zuhriy dan meriwayatkan darinya Abu Bakr Al Hanafiy. Yang pertama tsiqat dan yang kedua dhaif. Sedangkan Al Bukhariy menganggap keduanya perawi yang sama. Ibnu Hajar berkata dalam biografi Bukair bin Mismaar setelah mengutip perkataan Ibnu Hibban

قلت وأما البخاري فجمع بينهما في التاريخ لكنه ما قال فيه نظر الا عند ما ذكر روايته عن الزهري ورواية أبي بكر الحنفي عنه

Aku [Ibnu Hajar] berkata “adapun Al Bukhariy telah menggabungkan keduanya dalam kitab Tarikh [Al Kabir], akan tetapi tidaklah ia mengatakan “fiihi nazhar” kecuali hanya pada riwayatnya [Bukair] dari Az Zuhriy dan riwayat Abu Bakr Al Hanafiy yang meriwayatkan darinya” [Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/455-456 no 916]

Ibnu Hajar lebih merajihkan apa yang dikatakan Ibnu Hibban, oleh karena itu dalam Taqrib At Tahdziib ia telah membedakan keduanya, Ibnu Hajar berkata

بكير بن مسمار الزهري المدني أبو محمد أخو مهاجر صدوق من الرابعة مات سنة ثلاث وخمسين

Bukair bin Mismaar Az Zuhriy Al Madiiniy Abu Muhammad saudara Muhaajir seorang yang shaduq termasuk thabaqat keempat wafat pada tahun 153 H [Taqriib At Tahdzib 1/138]

بكير بن مسمار آخر يروي عن الزهري ضعيف من السابعة

Bukair bin Mismaar [yang lain] meriwayatkan dari Az Zuhriy, seorang yang dhaif termasuk thabaqat ketujuh [Taqriib At Tahdzib 1/138]

Adapun Adz Dzahabiy telah berkata tentang Bukair bin Mismaar “ada sesuatu tentangnya” [Al Kasyf 1/276 no 648]. Sebenarnya Adz Dzahabiy juga menta’dilkan Bukair bin Mismaar. Adz Dzahabiy berkata dalam Diiwaan Adh Dhu’afa “Bukair bin Mismaar seorang yang shaduq dan dilemahkan oleh Ibnu Hibban” [Diiwaan Adh Dhu’afa no 658]. Adz Dzahabiy juga mengatakan hal yang sama dalam kitabnya Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 57.

Telah ditunjukkan bahwa hal ini keliru, Ibnu Hibban justru menyatakan Bukair bin Mismaar tsiqat sedangkan perawi yang dilemahkan oleh Ibnu Hibban adalah Bukair bin Mismaar yang meriwayatkan dari Az Zuhriy. Anehnya dalam Mizan Al I’tidaal, Adz Dzahabiy malah menukil tautsiq dari Ibnu Hibbaan, setelah menukil jarh Bukhariy [Mizan Al I’tidaal Adz Dzahabiy 2/68 no 1312]. Maka hal paling mungkin yang dimaksudkan Adz Dzahabiy “tentang sesuatu” tersebut tidak lain adalah jarh Bukhariy.

Kesimpulannya adalah satu-satunya kelemahan yang dinisbatkan pada Bukair bin Mismaar adalah jarh Bukhariy pada sebagian hadisnya yaitu hadisnya dari Az Zuhriy dan yang diriwayatkan dari Abu Bakr Al Hanafiy. Jika memang ia adalah orang yang sama maka jarh ini tidak membahayakan hadis Muslim di atas karena hadis tersebut bukan riwayatnya dari Az Zuhriy.

Tetapi kami lebih merajihkan bahwa Bukair bin Mismaar yang meriwayatkan dari Az Zuhriy adalah perawi yang berbeda dengan Bukair bin Mismaar yang tsiqat sebagaimana dikatakan Ibnu Hibban dan Ibnu Hajar. Apalagi Ibnu Adiy telah bersaksi bahwa ia tidak menemukan hadis Bukair bin Mismaar yang mungkar maka hal ini qarinah menguatkan bahwa Bukair yang dhaif dan hadisnya bermasalah adalah perawi yang berbeda dengan Bukair bin Mismaar yang tsiqat.

Dengan demikian lafadz tersebut lemah dan mungkar

Dan sepertinya lafadz tambahan tersebut adalah perkataan Bukair, sebab jika itu adalah perkataan Sa’ad maka lafadznya akan seperti ini: “Mu’awiyah memerintahkan aku”.

Buktinya pada riwayat Al-Hakim, Bukair bin Mismaar tidak menyebutkan lafadz tersebut. [Mustadrak Al-Hakim 3/117 no.4575]

Lafaz itu bukanlah perkataan Bukair. Orang ini hanya mengada-adakan sesuatu tanpa dasar bukti. Disini ia ingin mengesankan lafaz tersebut adalah idraaj [sisipan] dari Bukair bin Mismaar. Kami katakan padanya wahai jahil silakan belajar terlebih dahulu ilmu hadis kaidah yang digunakan untuk dapat membuktikan suatu lafaz sebagai idraaj.

Idraaj dalam hadis harus ditetapkan dengan bukti riwayat yang jelas bukan dengan sesuka hati. Jika tidak ada qarinah yang menunjukkan hal lain maka lafaz itu berdasarkan sanad Muslim dalam Shahih-nya adalah milik Sa’d bin Abi Waqqash [radiallahu ‘anhu]. Atau lafaz tersebut milik ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash sebagaimana tampak dalam riwayat Nasa’iy [dan dalam hal ini ‘Aamir bin Sa’d terkadang menisbatkan lafaz tersebut pada ayahnya sebagaimana nampak dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi]

أخبرنا قتيبة بن سعيد وهشام بن عمار قالا حدثنا حاتم عن بكير بن مسمار عن عامر بن سعد بن أبي وقاص قال أمر معاوية سعدا

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid dan Hisyaam bin ‘Ammaar, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Haatim dari Bukair bin Mismaar dari ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqash yang berkata Mu’awiyah memerintahkan Sa’d…[Sunan Nasa’iy Al Kubra 7/410 no 8342]

Maka penjelasan yang masuk akal disini adalah ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash menyaksikan peristiwa tersebut yaitu kisah antara Mu’awiyah dan Sa’d. Oleh karena itu terkadang ia menisbatkan hadis itu kepada Ayahnya dan terkadang menceritakan seolah menyaksikannya sendiri.

Adapun riwayat Al Hakim yang disebutkan olehnya maka sanadnya dapat dilihat sebagai berikut

حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا محمد بن سنان القزاز ثنا عبيد الله بن عبد المجيد الحنفي
وأخبرني أحمد بن جعفر القطيعي ثنا عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثني أبي ثنا أبو بكر الحنفي ثنا بكير بن مسمار قال : سمعت عامر بن سعد يقول قال معاوية لسعد بن أبي وقاص رضي الله عنهما ما يمنعك أن تسب ابن أبي طالب

Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbaas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinaan Al Qazaaz yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin ‘Abdul Majiid Al Hanafiy dan telah mengabarkan kepadaku Ahmad bin Ja’far Al Qathii’iy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Al Hanafiy  yang berkata telah menceritakan kepada kami Bukair bin Mismaar yang berkata aku mendengar ‘Aamir bin Sa’d mengatakan Mu’awiyah berkata kepada Sa’d bin Abi Waqqaash “apa yang mencegahmu untuk mencaci Ibnu Abi Thalib”…[Al Mustadrak Al Hakim 3/117 no 4575]

Sanad pertama dhaif karena Muhammad bin Sinaan ia dikatakan Ibnu Hajar seorang yang dhaif [Taqriib At Tahdziib 2/83]. Sanad kedua yang berujung pada Abu Bakr Al Hanafiy dari Bukair dari ‘Aamir bin Sa’d adalah shahih dimana Abu Bakr Al Hanafiy yaitu ‘Abdul Kabiir bin ‘Abdul Majiid seorang yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/610].

Lafaz “Mu’awiyah memerintah Sa’d” ada dalam riwayat Haatim bin Ismaa’iil dari Bukair bin Mismaar sedangkan dalam riwayat Abu Bakr Al Hanafiy dari Bukair bin Mismaar lafaz tersebut tidak ada. Haatim bin Ismaa’iil seorang yang tsiqat. Ibnu Sa’d berkata tentangnya “tsiqat ma’mun banyak meriwayatkan hadis” [Thabaqat Ibnu Sa’d 7/603 no 2273]. Al Ijliy berkata “tsiqat” [Ma’rifat Ats Tsiqat 1/275 no 235]. Yahya bin Ma’in berkata “tsiqat” [Al Jarh Wat Ta’dil 3/259 no 1154] dan Daruquthniy berkata “Haatim tsiqat dan ziyadahnya diterima” [Al Ilal Daruquthniy 2/168]. Jadi lafaz tersebut adalah bagian dari ziyadah tsiqat Haatim bin Isma’iil dan diterima kedudukannya.

kalaupun itu hadits hasan seperti dikatakan ibnu hajar maka lafadznya adalah bukan amaro tapi ammaro yg berarti menjadikannya amir bukan memerintahkan mencela.

Cukuplah kami menunjukkan kepada para pembaca kitab-kitab hadis Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Sunan An Nasa’iy yang sudah ditahqiq [dimana semuanya menyebutkan lafaz amara] untuk membuktikan kejahilan orang ini.

Shahih Muslim tahqiq Muhammad Fu’ad Abdul Baqiy


Shahih Muslim tahqiq M Fuad Abdul Baqiy

Shahih Muslim no 2404

Sunan Tirmidzi Tahqiq Basyaar ‘Awwaad Ma’ruf


Sunan Tirmidzi tahqiq Basyaar

Sunan Tirmidzi 3724

Sunan Al Kubra An Nasa’iy Tahqiq Hasan bin ‘Abdul Mun’im Syalbiy


Sunan Nasa'iy Al Kubra

Sunan Nasa'iy no 8342

.

.

kalaupun shohih maka Lafadz tersebut tidak menunjukkan secara jelas bahwa Mu’awiyah memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Ali. Lafadz tersebut menunjukkan bahwa Mu’awiyah ingin tahu alasan Sa’ad tidak mencaci Ali, oleh sebab itu Mu’awiyah tidak marah ketika mendengar jawaban Sa’ad dan tidak menghukumnya. Dan sikap Mu’awiyah yang tidak menanggapi perkataan Sa’ad menunjukkan bahwa Mu’awiyah mengakui keutamaan Ali.

Orang ini hanya mengulang-ngulang takwil An Nawawiy terhadap hadis tersebut. Seebelumnya telah kami tunjukkan ulama seperti Al Hafizh As Sindiy dan Ibnu Taimiyyah yang memahami lafaz dalam hadis Muslim tersebut sebagai Muawiyah memerintahkan Sa’d mencaci Aliy. Dan pemahaman ini telah kami bahas dalam tulisan sebelumnya sangat sesuai dengan lafaz hadisnya tidak seperti takwil An Nawawiy yang jauh sekali dari lafaz hadisnya. Berikut tambahan ulama yang memahami lafaz tersebut sebagai “Mu’awiyah memerintahkan Sa’d untuk mencaci Aliy”.

Syaikh Muusa Syaahiin Laasyiin Dalam Fathul Mun’im Syarh Shahih Muslim 9/332


Fathul Mun'im Syarh Shahih Muslim

Fath Al Mun'im Syarh Shahih Muslim juz 9 hal 332

Syaikh Muhammad Amin bin ‘Abdullah Al ‘Alawiy Asy Syafi’iy Dalam Al Kaukab Al Wahhaaj Wa Ar Raudha Al Bahhaaj Fii Syarh Shahih Muslim 23/444


Al Kaukab Syarh Shahih Muslim

Al Kaukab Syarh Shahih Muslim juz 23 hal 444

Adapun respon Mu’awiyah setelah mendengar keutamaan Imam Aliy yang disebutkan Sa’d bin Abi Waqqash dapat dilihat dalam riwayat Al Hakim dimana terdapat lafaz

قال : فلا والله ما ذكره معاوية حتى خرج من المدينة

[‘Aamir bin Sa’d] berkata “maka demi Allah Mu’awiyah tidak lagi menyebutnya sampai ia keluar dari Madinah” [Al Mustadrak Al Hakim 3/117 no 4575]

Seandainya Mu’awiyah tidak pernah mencaci atau memerintahkan mencaci Aliy maka mengapa bisa ada lafaz di atas. Kalau Mu’awiyah sekedar ingin tahu alasan Sa’d maka apa yang mencegahnya untuk menyebutkan tentang Aliy. Justru lebih masuk akal dikatakan Mu’awiyah akan lebih sering menyebutkan tentang Aliy dan keutamaannya yang ia dengar dari Sa’d tersebut.

Lain ceritanya jika sebelumnya Mu’awiyah memang mencaci Aliy bin Abi Thalib atau memerintahkan Sa’d mencaci Aliy bin Abi Thalib maka setelah mendengar hujjah Sa’d tersebut ia tidak lagi menyebutkan tentang Aliy sampai ia keluar Madinah.

Kami objektif saja disini, lafaz tersebut memang menunjukkan Mu’awiyah mengakui keutamaan Imam Aliy. Kami sedikitpun tidak pernah menafikan hal ini. Apakah orang jahil tersebut berpikir kalau para sahabat yang mencaci Aliy bin Abi Thalib seperti Mughirah bin Syu’bah dan Mu’awiyah tidak mengetahui keutamaan Aliy bin Thalib?. Bagaimana mungkin mereka tidak tahu karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] seringkali menyebutkan keutamaan Imam Aliy bin Abi Thalib di depan orang banyak misalnya sebagaimana yang tampak dalam hadis Ghadir Khum. Mereka mengakui keutamaannya tetapi mungkin kebencian membuat mereka tetap mencaci Aliy bin Abi Thalib.

Apalagi terkait hadis yang sedang dibahas ini, menurut kami Mu’awiyah sudah mengetahui hadis yang disebutkan Sa’d bin Abi Waqqash tersebut karena diantara keutamaan yang disebutkan Sa’d adalah hadis manzilah yang diucapkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat perang Tabuk dan saat itu Mu’awiyah juga ikut bersama para sahabat lainnya dalam perang Tabuk.

.

.

adapun perkataan Abu Hasan Al Sindiy atau Al Hafizh Muhammad bin ‘Abdul Hadiy Al Sindiy,maka syiah telah curang memotong perkataan beliau,coba ditulis lebih lengkap akan tersingkap tipu daya mereka.mari kita lihat lanjutannya :

وَمَنْشَأ ذَلِكَ الْأُمُور الدُّنْيَوِيَّة الَّتِي كَانَتْ بَيْنهمَا وَلَا حَوْل وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاَللَّهِ وَاَللَّهُ يَغْفِرُ لَنَا وَيَتَجَاوَز عَنْ سَيِّئَاتنَا وَمُقْتَضَى حُسْن الظَّنّ أَنْ يُحْمَل السَّبّ عَلَى التَّخْطِئَة وَنَحْوهَا مِمَّا يَجُوز بِالنِّسْبَةِ إِلَى أَهْل الِاجْتِهَاد لَا اللَّعْن وَغَيْره

dan sebabnya itu karena perkara dunia yg terjadi antara keduanya,semoga alloh mengampuni kita dan kesalahan kita dan HUSNUDHON menuntut kita untuk membawa celaan itu kepada menganggap salah atau semisalnya yg dibolehkan ijtihad BUKAN MELAKNAT ATAU SEMISALNYA.

Inilah akibatnya kalau orang jahil sok ingin membantah orang lain. Wahai pendusta, tidak ada yang curang disini dan tidak ada yang sedang melakukan tipu daya. Silakan anda lihat kembali tulisan kami yang mengutip ucapan Al Hafizh Al Sindiy. Perkara yang sedang dibahas saat itu adalah lafaz Mu’awiyah memerintah Sa’d. Kami sebelumnya berkata

Abu Hasan Al Sindiy atau Al Hafizh Muhammad bin ‘Abdul Hadiy Al Sindiy termasuk ulama yang mengartikan riwayat Muslim sebagai Muawiyah memerintah Sa’ad untuk mencaci Imam Ali.

Seandainya kami kutip lebih panjang [seperti yang anda lakukan] maka perkataan Al Hafizh As Sindiy tersebut tetap saja Beliau memang memahami lafaz Muslim sebagai Mu’awiyah memerintah Sa’d mencaci Aliy.

قوله : ( فنال منه ) أي نال معاوية من علي ووقع فيه وسبه بل أمر سعدا بالسب كما : قيل في مسلم والترمذي ومنشأ ذلك الأمور الدنيوية التي كانت بينهما – ولا حول ولا قوة إلا بالله – والله يغفر لنا ويتجاوز عن سيئاتنا ومقتضى حسن الظن أن يحمل السب على التخطئة ونحوها مما يجوز بالنسبة إلى أهل الاجتهاد لا اللعن وغيره

Perkataannya “Fanaala minhu” yaitu bermakna Mu’awiyah mencela Aliy, berkata buruk tentangnya dan mencacinya bahkan ia memerintahkan Sa’d untuk mencaci Aliy sebagaimana dikatakan dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi dan hal ini disebabkan urusan dunia antara keduanya –tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah- semoga Allah mengampuni kita dan menghapuskan kesalahan kita, dan berprasangka baik menuntut kita untuk membawa lafaz cacian tersebut kepada menyalahkan atau perkara semisalnya yang dibolehkan atas orang-orang yang berijtihad bukan melaknat atau yang lainnya [Haasyiyah As Sindiy ‘Ala Ibnu Majah hadis no 121]

Perhatikanlah apa yang kami cetak tebal di atas, itu adalah pemahaman Al Hafizh As Sindiy atas lafaz riwayat Muslim. Itulah yang kami katakan tidak ada yang curang atau menipu disini. Adapun perkara prasangka baik yang dikatakan Al Hafizh adalah asumsi pribadinya dan tidak memiliki nilai hujjah di sisi kami, oleh karena itu tidak kami kutip.

Kalau kita berpikir kritis maka prasangka baik yang dimaksud yaitu membawa lafaz mencaci dengan makna menyalahkan atas perkara tertentu karena ijtihad, hal itu malah bertentangan dengan lafaz hadisnya. Pertentangan dalam hal ijtihad atau saling menyalahkan adalah perkara yang lumrah di kalangan sahabat Nabi, maka jika Mu’awiyah ingin memerintahkan Sa’d menyalahkan Aliy maka reaksi yang wajar dari Sa’d adalah menilai perkara tersebut yang mana ijtihad yang benar antara Mu’awiyah dan Aliy, jika dalil bersama Mu’awiyah maka Sa’d tinggal menyalahkan Aliy dan jika dalil bersama Aliy maka Sa’d tinggal menyalahkan Mu’awiyah. Sa’d tidak perlu membawa-bawa hadis keutamaan Imam Aliy disini karena yang sedang dipermasalahkan adalah suatu perkara dimana dibolehkan dalam ijtihad untuk menyalahkan satu sama lain.

Faktanya justru Sa’d bin Abi Waqqash malah membawa hadis keutamaan Imam Aliy. Maka lafaz mencaci disini lebih cocok bermakna merendahkan atau menghina pribadi Aliy bin Abi Thalib oleh karena itu reaksi Sa’d bin Abi Waqqash menolak untuk mencaci Aliy dengan membawakan keutamaan Imam Aliy. Hal itu untuk menegaskan bahwa kedudukan Aliy itu sangat tinggi di sisi Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga tidak pantas untuk dicaci, dihina dan direndahkan.

Siapapun yang berakal lurus akan memahami perkara ini dengan baik dan tidak ada disini urusannya dengan orang Syi’ah. Orang jahil itu dan orang sejenis dirinya memang mengidap penyakit bahwa setiap apapun yang menyudutkan sahabat mesti dikatakan ulah Syi’ah. Sampah tetaplah sampah meskipun ia diletakkan di atas singgasana dan berlian akan tetap berlian meskipun ia tenggelam di dalam lumpur.

.

.

.

.

Syubhat Riwayat Ibnu Majah

Berikutnya kami akan membahas syubhat orang tersebut atas hadis Ibnu Majah. Ia mengatakan bahwa hadis tersebut dhaif dan memiliki banyak cacat, ia berkata

1) Adapun riwayat Ibnu Majah lemah karena Abu Mu’awiyah Adh-Dharir; ibnu hajar dalam taqribnya :Riwayatnya dari selain Al-A’masy terkadang terdapat kekeliruan. Al-Hakim mengatakan: Ia terkenal berlebihan dalam madzhab syi’ah.imam ahmad ibn hanbal : Riwayatnya dari selain Al-A’masy muththorib (guncang) dan tidak menghafalnya dg hafalan yg baik,

Ia menyalahi riwayat Abdussalam, sebagaimana dalam As-Sunan Al-Kubra kayra An-Nasa’iy 7/411 no.8343:

قال: أَخْبَرَنَا حَرَمِيُّ بْنُ يُونُسَ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ، عَنْ مُوسَى الصَّغِيرِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا فَتَنَقَصُّوا عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ …

Sa’ad berkata: Suatu hari aku duduk (dalam satu majlis) kemudian mereka merendahkan Ali bin Abi Thalib …

Dalam riwayat ini tidak disebutkan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.

Perkataannya soal Abu Mu’awiyah bahwa riwayatnya dari selain Al A’masyiy terdapat kekeliruan atau idhthirab itu benar, tetapi bukan berarti semua hadis Abu Mu’awiyah dari selain Al A’masyiy menjadi dhaif kedudukannya. Betapa banyak riwayat Abu Mu’awiyah dari selain Al A’masyiy dalam kitab Shahih seperti dari Isma’il bin Abi Khalid, Abu Burdah bin Abu Muusa, Dawud bin Abi Hind, Suhail bin Abi Shalih, ‘Aashim Al Ahwal, dan Hisyam bin ‘Urwah [Tahdzib Al Kamal 25/123 no 5173]. Abu Mu’awiyah seorang yang tsiqat tetapi sering keliru dan idhthirab dalam riwayat selain Al A’masyiy.

‘Abdus Salaam bin Harb juga seorang yang tsiqat tetapi ternukil sedikit kelemahan padanya. Ibnu Mubarak melemahkannya sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari Al Uqailiy dalam kitabnya [Adh Dhu’afa Al Uqailiy no 1037]. Ibnu Sa’d berkata “ada kelemahan padanya”. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat dalam hadisnya layyin” [Mizan Al I’tidaal Adz Dzahabiy 4/347 no 5051]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat hafizh tetapi memiliki riwayat-riwayat mungkar” [Taqrib At Tahdziib 1/599].

Riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb dan riwayat Abu Mu’awiyah saling melengkapi, dalam riwayat Nasa’iy memang disebutkan dengan lafaz

كُنْتُ جَالِسًا فَتَنَقَصُّوا عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِب

Aku [Sa’d] duduk [dalam suatu majelis] kemudian mereka menghina Aliy bin Abi Thalib

Tidak ada disebutkan nama Mu’awiyah bin Abu Sufyaan sebagaimana dalam riwayat Abu Mu’awiyah tetapi dalam riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb yang disebutkan Ibnu Asakir [Tarikh Ibnu Asakir 42/115], lafaznya adalah

كنت جالسا عند فلان فذكروا عليا فتنقضوه

Aku [Sa’d] duduk di sisi fulan [dalam suatu majelis] kemudian mereka menyebut Aliy dan menghinanya

Justru lafaz “fulan” dalam riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb dijelaskan dalam riwayat Abu Mu’awiyah bahwa ia adalah Muawiyah bin Abu Sufyaan. Jadi tidak ada istilah riwayat Abu Muawiyah menyalahi riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb.

Dan Abu Mu’awiyah tidak menyendiri dalam penyebutan Mu’awiyah bin Abu Sufyaan. Ia memiliki mutaba’ah dari Jarir bin Haazim sebagaimana diriwayatkan Abu Hasan Aliy bin Hasan Al Khila’iy dalam kitab Fawaid Al Muntaqaah Al Hissaan Min Ash Shihaah Wal Gharaa’ib

Fawaid Al Muntaqa

Fawaid Al Muntaqa no 707

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ نَظِيفٍ الْفَرَّاءُ , قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الْفَوَارِسِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ الصَّابُونِيُّ , قَالَ : أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ , قَالَ :حَدَّثَنَا أَسَدُ بْنُ مُوسَى , قَالَ :حَدَّثَنِي جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ , عَنْ مُوسَى الصَّغِيرِ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ , قَالَ : قَدِمَ مُعَاوِيَةُ , رَحِمَهُ اللَّهُ حَاجًّا , فَأَتَاهُ سَعْدَ بْنَ أَبِي وَقَّاصٍ , قَالَ : فَذَكَرُوا عَلِيًّا عَلَيْهِ السَّلامُ , فَعَابَهُ , فَقَالَ سَعْدٌ : تَقُولُ لِرَجُلٍ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” ثَلاثُ خِصَالٍ لَئِنْ يَكُونَ لِي خَصْلَةٌ مِنْهَا أَخْيَرُ إِلَيَّ أَنْ تَكُونَ لِي الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا َسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلا أَنَّهُ لا نَبِيَّ بَعْدِي

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin Fadhl bin Nazhiif Al Farraa’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Fawaaris Ahmad bin Muhammad bin Husain Ash Shaabuuniy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Rabii’ bin Sulaiman yang berkata telah menceritakan kepada kami Asad bin Muusa yang berkata telah menceritakan kepadaku Jariir bin Haazim dari Muusa Ash Shaghiir dari ‘Abdurrahman bin Saabith yang berkata Mu’awiyah pergi Haji maka Sa’d bin Abi Waqqaash mendatanginya. Mereka menyebutkan tentang Aliy maka Ia mencelanya. Maka Sa’d berkata “kamu mengatakan ini pada seseorang dimana aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah mengatakan tiga hal dimana jika aku memiliki salah satunya maka itu lebih baik bagiku daripada memiliki dunia dan seisinya. Aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “Engkau bagi-Ku seperti kedudukan Haruun di sisi Muusa hanya saja tidak ada Nabi sepeninggal-Ku” [Al Fawaid Al Muntaqaah Al Hissaan Min Ash Shihaah Wal Gharaa’ib hal 280 no 707]

Riwayat ini diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat shaduq, berikut keterangan mengenai para perawinya

  1. Muhammad bin Fadhl bin Nazhiif dikatakan Adz Dzahabiy adalah seorang Syaikh Al ‘Aalim Al Musnid Al Mu’ammar [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 17/476 no 314]. Hasan bin Nashr Asy Syaasyiy berkata “dia termasuk orang Mesir yang paling baik” [Al Muqaffaa Al Kabiir Al Maqriiziy 6/524 no 3028]
  2. Abul Fawaaris Ahmad bin Muhammad bin Husain Ash Shabuuniy disebutkan oleh Adz Dzahabi kalau ia seorang yang tsiqat [Al ‘Ibar Fi Khabar Min Ghabar 2/287]
  3. Rabi’ bin Sulaiman Al Muradiy seorang yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/294]
  4. Asad bin Muusa Abu Sa’iid seorang hafizh imam tsiqat [Siyaar A’laam An Nubalaa’ Adz Dzahabiy 10/162 no 26]
  5. Jariir bin Haazim Al Azdiy seorang yang tsiqat tetapi hadisnya dari Qatadah dhaif dan memiliki kesalahan ketika menceritakan hadis dari hafalannya [Taqriib At Tahdziib 1/158]
  6. Muusa bin Muslim As Shaghiir seorang yang tsiqat [Al Kasyf Adz Dzahabiy 2/308 no 5734]
  7. ‘Abdurrahman bin Saabith seorang yang tsiqat banyak melakukan irsal [Taqriib At Tahdziib Ibnu Hajar 1/570].

Jika kita melihat dengan baik riwayat di atas ‘Abdurrahman bin Saabith tidak menyebutkan sanadnya dari Sa’d bin Abi Waqqaash sebagaimana yang nampak dalam riwayat Abu Mu’awiyah dan ‘Abdus Salaam bin Harb sebelumnya.

Kasus ini mirip seperti kasus riwayat Bukair bin Mismaar sebelumnya dimana terkadang sanadnya berakhir pada ‘Aamir bin Sa’d bin Abi Waqqaash dan terkadang berakhir pada Sa’d [radiallahu ‘anhu]. Keduanya benar karena ‘Aamir bin Sa’d menyaksikan peristiwa tersebut.

Maka begitu pula riwayat Ibnu Saabith di atas, kuat dugaan bahwa Ibnu Saabith menyaksikan peristiwa tersebut oleh karena itu terkadang ia menisbatkan sanadnya pada Sa’d dan terkadang langsung menceritakan kisah tersebut.

Salah satu petunjuk yang menguatkan hal ini adalah Abu Mu’awiyah terkadang meriwayatkan dengan akhir sanad pada Sa’d [radiallahu ‘anhu] dan terkadang pada Ibnu Saabith. Silakan lihat riwayat Abu Mu’awiyah berikut

ثنا أَبُو بَكْرٍ ، وَأَبُو الرَّبِيعِ ، قَالا : ثنا أَبُو مُعَاوِيَةَ ، عَنِ الشَّيْبَانِيِّ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ ، قَالَ : قَدِمَ مُعَاوِيَةُ فِي بَعْضِ حَجَّاتِهِ ، فَأَتَاهُ سَعْدٌ ، فَقَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ فِي عَلِيٍّ ثَلاثَ خِصَالٍ ، لأَنْ يَكُونُ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , يَقُولُ : ” مَنْ كُنْتُ مَوْلاهُ ” ، ” وَأَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى ” ، ” وَلأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr dan Abu Rabi’ keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari Asy Syaibaniy dari ‘Abdurrahman bin Saabith yang berkata Mu’awiyah pergi dalam salah satu hajinya maka Sa’d mendatanginya, Ia berkata aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan tentang Aliy tiga hal yang seandainya aku memiliki salah satu darinya itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya. Aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan “barang siapa yang aku maulanya”, “engkau bagiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa” dan “akan aku berikan bendera ini” [As Sunnah Ibnu Abi ‘Aashim 2/920 no 1421]

Jika dikatakan hal itu adalah idhthirab Abu Mu’awiyah maka tidak tepat karena riwayatnya dengan akhir sanad dari Sa’d telah dikuatkan oleh riwayat ‘Abdus Salaam bin Harb dan riwayatnya dengan akhir sanad dari Ibnu Saabith telah dikuatkan oleh riwayat Jarir bin Haazim. Maka kesimpulan yang masuk akal adalah kedua sanadnya benar dan hal ini bisa dipahami dengan menganggap Ibnu Saabith menyaksikan kejadian tersebut.

Telah kami buktikan sebelumnya bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith sudah mendengar hadis dari Jabir ketika Imam Husain masih hidup yaitu sebelum tahun 61 H [wafatnya Imam Husain bin Aliy]. Dan ‘Abdurrahman bin Saabith adalah seorang tabiin Makkah maka sangat mungkin ia menyaksikan peristiwa tersebut ketika Mu’awiyah dan Sa’d bin Abi Waqqaash pergi haji ke Makkah.

Selain itu, Abdurrahman bin Sabith tidak pernah mendengar hadits dari Sa’ad bin Waqqash sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ma’in [ Lihat: Taarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad-Duuriy 3/87, Jaami’ At-Tahshiil karya Al-‘Alaaiy hal.222, Tuhfah At-Tahshiil karya Abu Zur’ah Al-‘Iraqiy hal.197.],

ibnu hajar : tidak shohih dia mendengar dari sahabat(ishobah 5/228)

dengan demikian sanadnya juga terputus.

Hal inipun sebenarnya sudah kami bahas sebelumnya. Tentu kami tidak keberatan untuk membahasnya kembali. Inilah yang dikatakan Yahya bin Ma’in

سمعت يحيى يقول قال بن جريج حدثني عبد الرحمن بن سابط قيل ليحيى سمع عبد الرحمن بن سابط من سعد قال من سعد بن إبراهيم قالوا لا من سعد بن أبى وقاص قال لا قيل ليحيى سمع من أبى أمامة قال لا قيل ليحيى سمع من جابر قال لا هو مرسل كان مذهب يحيى أن عبد الرحمن بن سابط يرسل عنهم ولم يسمع منهم

Aku mendengar Yahya mengatakan Ibnu Juraij berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdurrahman bin Saabith, dikatakan kepada Yahya, apakah ‘Abdurrahman bin Saabith mendengar dari Sa’ad?. Yahya berkata “Sa’ad bin Ibrahim?”. Mereka menjawab “bukan”, dari Sa’ad bin Abi Waqaash. Yahya berkata “tidak”. Dikatakan kepada Yahya, apakah ia mendengar dari Abu Umamah. Yahya menjawab “tidak”. Dikatakan kepada Yahya apakah ia mendengar dari Jabir. Yahya menjawab “tidak, itu mursal”. Mazhab Yahya adalah ‘Abdurrahman bin Saabith mengirsalkan hadis dari mereka dan tidak mendengar dari mereka [Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Duuriy no 366]

Dan inilah perkataan lengkap Ibnu Hajar dalam kitabnya Al Ishabah dimana ia juga mengutip perkataan Yahya bin Ma’in.

كثير الإرسال ويقلل لا يصح له سماع من صحابي أرسل عن النبي صلى الله عليه وسلم كثيرا وعن معاذ وعمر وعباس بن أبي ربيعة وسعد بن أبي وقاص والعباس بن عبد المطلب وأبي ثعلبة فيقال انه لم يدرك أحدا منهم قال الدوري سئل بن معين هل سمع من سعد فقال لا قيل من أبي امامة قال لا قيل من جابر قال لا قلت وقد أدرك هذين وله رواية أيضا عن بن عباس وعائشة وعن بعض التابعين

Banyak melakukan irsal, dan dikatakan tidak shahih ia mendengar dari sahabat, ia banyak melakukan irsal dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], dan dari Mu’adz, Umar, ‘Abbaas bin Abi Rabii’ah, Sa’d bin Abi Waqqaash, ‘Abbaas bin ‘Abdul Muthalib dan Abu Tsa’labah, makai dikatakan bahwa ia tidak menemui satupun dari mereka. Ad Duuriy berkata Ibnu Ma’in ditanya apakah ia mendengar dari Sa’d, ia menjawab “tidak” dikatakan “dari Abu Umamah” ia berkata “tidak” dikatakan “dari Jabir” ia berkata tidak. Aku [Ibnu Hajar] berkata “sungguh ia telah menemui keduanya [Abu Umamah dan Jabir] dan ia memiliki riwayat dari Ibnu ‘Abbaas, Aisyah dan dari sebagian tabiin [Al Ishabah Ibnu Hajar 5/228-229 no 6691].

Apa yang dinukil Ibnu Hajar bahwa dikatakan tidak shahih mendengar dari sahabat sudah terbukti keliru karena terdapat bukti shahih bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir [radiallahu ‘anhu].

Pertanyaannya adalah adakah ulama yang menyatakan hal yang bertentangan dengan apa yang dikatakan Yahya bin Ma’in dan dinukil oleh Ibnu Hajar. Jawabannya ada yaitu Al Hafizh Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy. Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy memasukkan hadis Ibnu Saabith di atas dalam kitabnya Al Ahaadits Al Mukhtarah no 1008 dalam bab “Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d [radiallahu ‘anhu]”.

Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy seorang ulama hadis yang lahir tahun 569 H artinya ia lebih dahulu dibanding Ibnu Hajar. Dan ia telah mensyaratkan dalam kitabnya Al ‘Ahadiits Al Mukhtarah bahwa hadis-hadis di dalamnya adalah shahih di sisinya. Maka dari itu di sisi Al Maqdisiy riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d [radiallahu ‘ahu] kedudukannya muttasil. Ibnu Najjaar telah berkata tentangnya

كتبت عنه ببغداد ونيسابور ودمشق ، وهو حافظ متقن ثبت صدوق نبيل حجة عالم بالحديث وأحوال الرجال

Aku menulis darinya di Bagdhad, Naisabur dan Dimasyiq, dan ia seorang hafizh mutqin tsabit shaduq mulia hujjah alim dalam ilmu hadis dan keadaan perawi [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 23/129-130 no 97]

Tentu secara umum kita katakan bahwa ulama mutaqaddimin seperti Yahya bin Ma’in lebih mu’tabar dibandingkan ulama muta’akhirin seperti Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy. Tetapi dalam kasus ini terdapat qarinah petunjuk yang menyatakan bahwa mazhab Yahya bin Ma’in [sebagaimana yang ditegaskan Ad Duuriy] adalah keliru yaitu telah tsabit bahwa Ibnu Saabith mendengar dari Jabir [radiallahu ‘anhu] sehingga membuat kami bertawaqquf atas pendapat Yahya bin Ma’in bahwa Ibnu Saabith tidak mendengar dari Sa’d dan Abu Umamah.

adaupun tuduhan ibnu ma’in keliru,karena ibn sabith bertemu jabir,maka

Abdurrahamn bin tsabit itu kata banyak ulama, mursilul hadits, semua nama sahabat yang dia sebutkan itu adalah bentuk tadlisnya. ia memperoleh nama-nama sahabat itu dari para tabiin kibar meskipun tidak semua, ada beberapa yang ia temui langsung (terutama sahabat yang ada di mekah) dan ada juga melaui perantaraan sahabat yang dekat dengannya, hanya saja ibnu jabir ini suka tidak mau menyebutkan nama mereka, seolah kesannya ia bertemu langsung dengan mereka.

Sebaiknya orang ini belajar terlebih dahulu ilmu logika, bagaimana menarik kesimpulan dengan benar dan cara berhujjah dengan benar. Perkara seorang tabiin mengirsalkan hadis dari sahabat adalah perkara yang ma’ruf dalam ilmu hadis. Kaidah dalam ilmu hadis yang sudah disepakati adalah lafaz ‘an anah perawi tsiqat semasa dengan perawi lainnya dimana perawi tsiqat tersebut bukan mudallis maka dihukumi muttashil kecuali jika ternukil ulama mu’tabar yang menyatakan inqitha’ [terputus] atau mursal.

Perkataan ulama tentang irsal pun bukanlah perkara yang bersifat pasti benar jika terdapat bukti kuat bahwa kedua perawi tersebut bertemu maka perkataan ulama tersebut tertolak. Dalam kasus ini telah terbukti dengan sanad yang shahih bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith telah mendengar secara langsung dari Jabir [radiallahu ‘anhu] maka mazhab Yahya bin Ma’in pada sisi ini memang terbukti keliru.

Kalau orang itu ingin bertaklid pada Yahya bin Ma’in maka kami persilakan padanya tetapi kalau memang ingin membahas secara ilmiah maka silakan tampilkan hujjah dengan benar bukan sembarangan mencampuradukkan waham khayal ke dalam hujjah. Orang ini bahkan tidak mengerti perbedaan irsal dan tadlis. Secara sederhana irsal itu menafikan adanya pertemuan antara dua perawi sedangkan tadlis itu sudah jelas pernah terjadi pertemuan antara dua perawi. Tidak ada satupun ulama hadis mu’tabar yang menuduh ‘Abdurrahman bin Saabith dengan tadlis seperti yang dikatakan orang ini.

berikut bukti bahwa ibnu tsabit sebelum menyebut nama sahabat ia menyebut nama tabiin kibar (yang semasa dengannya) terlebih dahulu:

ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، ثنا الأَوْزَاعِيُّ، عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَابِطٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ الأَوْدِيِّ قَالَ: قدم عَلَيْنَا مُعَاذٌ الْيَمَنَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الشِّحْرِ، رَافِعًا صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيرِ، أَجَشَّ الصَّوْتِ، فَأُلْقِيَتْ عَلَيْهِ مَحَبَّتِي، فَمَا فَارَقْتُهُ حَتَّى حَثَوْتُ عَلَيْهِ التُّرَابَ، ثُمَّ نَظَرْتُ إِلَى أَفْقَهِ النَّاسِ بَعْدَهُ، فَأَتَيْتُ ابْنَ مَسْعُودٍ،

(tarikh islam adz dzahabi. hal 457)

Amru bin Maimun Al Adawi adalah tabiin kibar.

Apa sebenarnya yang mau dibuktikan orang ini?. Dalam kitab-kitab Rijal seperti Tahdzib Al Kamal dan yang lainnya sudah disebutkan bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith tidak hanya meriwayatkan dari sahabat Nabi, ia juga meriwayatkan dari tabiin termasuk tabiin yang anda sebutkan. Jadi sebenarnya ia tidak sedang membuktikan apapun. Seorang tabiin yang meriwayatkan dari sahabat bisa saja meriwayatkan pula dari tabiin kibaar dari sahabat lain. Ini adalah perkara yang ma’ruf dalam kitab hadis.

sedikit logika saja, kalau memang abdurrahman bin tsabit itu memang mendengar dari jabir harusnya ia juga mendengar dari shahabat nabi lainnya, tapi faktanya tak ada satupun hadis yang menunjukan hal tersebut kucuali hanya berupa an’anah semata. moso’ sih dari sekian sahabat yang didengar/dijumpai langsung cuma abdullah bin jabir doang?!

Maaf, orang ini tidak sedang menggunakan logika tetapi ia sedang berkhayal. Perkara ‘Abdurrahman bin Saabith mendengar dari Jabir [radiallahu ‘anhu] itu sudah terbukti secara shahih dan ditegaskan oleh Abu Hatim dan Al Bukhariy. Perkataannya, kalau memang Ibnu Saabith mendengar dari Jabir maka ia harusnya juga mendengar dari sahabat lainnya [dan karena Ibnu Saabith hanya menggunakan lafaz ‘an anah maka itu berarti mursal dan mana mungkin Ibnu Saabith hanya mendengar dari Jabir saja]. Maaf ini bukan logika tetapi khayalannya saja.

Orang ini memang jahil dalam ilmu hadis, lafaz ‘an anah dalam hadis adalah lafaz periwayatan yang ma’ruf, jika kedua perawi tersebut berada dalam satu masa maka kaidah awal adalah lafaz tersebut dianggap muttasil jika perawi tersebut tsiqat dan bukan mudallis. Mursal atau tidaknya perawi itu tergantung apakah ternukil dari perkataan ulama mu’tabar atau tidak, bukan seperti asumsinya kalau Ibnu Saabith mendengar dari Jabir harusnya mendengar pula dari sahabat lainnya. Apa ia pikir ilmu hadis itu harus menuruti hawa nafsunya?. Tolonglah belajar dahulu dengan baik sebelum sok membantah orang lain.

dan bukti lain adalah terjadinya syadz matan antara waki dengan abdullah bin numeir

versi waki (Bidayah wan Nihayah, hal: 282):

وَكِيْعٌ: حَدَّثَنَا رَبِيْع بنُ سَعْدٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بنِ سَابِطٍ، عَنْ جَابِرٍ:

أَنَّهُ قَالَ – وَقَدْ دَخَلَ الحُسَيْنُ المَسْجِدَ -: (مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى سَيِّدِ شَبَابِ

ngga ada tuh ada lafal yang mengatakan:

كنت مع جابر”

sebagaimana yang terdapat pada

حدثنا أبي، قال حدثنا ربيع بن سعد عن عبد الرحمن بن سابط قال: كنت مع جابر، فدخل حسين بن علي رضي الله عنهما، فقال جابر: من سره أن ينظر الى رجل من أهل الجنة فلينظر الى هذا، فأشهد لسمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقوله .

(Bughyat Ath Thalab Fi Tarikh Al Halab 5/92)

‘Abdullah bin Numair Al Hamdaaniy seorang yang tsiqat, ahli hadis dari kalangan ahlus sunnah [Taqriib At Tahdziib 1/542]. Ia adalah seorang hafizh tsiqat imam [Siyaar A’laam An Nubalaa’ 9/244 no 70]. Adz Dzahabiy juga mengatakan bahwa ia adalah hujjah [Al Kasyf 1/604 no 3024]. Ibnu Hibban berkata tentangnya

عبد الله بن نمير الهمداني أبو هشام من المتقنين مات سنة تسع وتسعين ومائة

‘Abdullah bin Numair Al Hamdaaniy Abu Hisyaam termasuk golongan orang mutqin, wafat tahun 199 H [Masyaahiir ‘Ulamaa’ Al Amshaar no 1377]

‘Abdullah bin Numair seorang hafizh tsiqat mutqin hujjah, maka sesuai dengan kaidah ilmu hadis, tambahan matan dari perawi seperti kedudukan dirinya dalam periwayatan hadis adalah ziyadah tsiqat yang maqbul [diterima] kedudukannya. Apalagi dalam hal ini lafaz yang ia sebutkan tidaklah menyelisihi atau bertentangan dengan matan hadis yang disebutkan Waki’. Oleh karena itu keduanya benar dan saling melengkapi.

Contoh lain hadis dimana Abdurrahman bin Saabith mendengar langsung dari Jabir [radiallahu ‘anhu] dapat dilihat dalam kitab Al Ba’ts Wan Nusyuur Ibnu Abi Dawuud hal 16 no 5.


Al Ba'ts Wan Nusyuur Ibnu Abi Dawud

Al Ba'ts Wan Nusyuur Ibnu Abi Dawud no 5

Para perawiyat hadis tersebut sanadnya shahih sampai ‘Abdurrahman bin Saabith, berikut keterangannya

  1. Ayuub bin Muhammad Al Wazzaan seorang perawi yang tsiqat [Taqriib At Tahdziib 1/118]
  2. Marwaan bin Mu’awiyah Al Fazaariy seorang yang tsiqat dan hafizh [Taqriib At Tahdziib 2/172].
  3. Rabii’ bin Sa’d Al Ju’fiy seorang perawi yang tsiqat [Tarikh Yahya bin Ma’in riwayat Ad Duuriy no 2216]

.

.

.

kalaupun benar ibn tsabit mendengar jabir maka itu tidak serta merta mendengar sa’ad karena hukum asalnya adalah mursal sampai ada tahdits darinya.

Hal itu benar kalau orang ini taklid pada perkataan Yahya bin Ma’in karena ia adalah satu-satunya ulama terdahulu yang menyatakan riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d bin Abi Waqqaash mursal. Kami telah menunjukkan ulama lain yang menyatakan riwayat Ibnu Saabith dari Sa’d shahih maka sanadnya muttashil [bersambung] yaitu Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy.

Secara sederhana bisa dikatakan Yahya bin Ma’in lebih mu’tabar dibanding Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy tetapi dalam kasus ini terdapat qarinah [petunjuk] yang menguatkan kami untuk merajihkan Adh Dhiyaa’ Al Maqdisiy dibanding Yahya bin Ma’in.

Pertama, Yahya bin Ma’in telah terbukti keliru ketika mengatakan Ibnu Saabith tidak mendengar dari Jabir [radiallahu ‘anhu]. Kalau ada yang mengatakan maka bukan berarti perkataannya soal Sa’d bisa langsung dikatakan keliru. Ya itu benar, tetapi sangat wajar untuk bertawaqquf atas perkataan Yahya bin Ma’in karena mazhabnya dalam hal ini terbukti keliru [apalagi ia menyatakan hal itu dalam satu lafaz perkataan].

Analogi yang pas untuk kasus ini adalah Jika seorang teman yang anda percayai mengatakan kepada anda ada tiga orang yang datang ke rumah anda kemarin ketika anda tidak ada di rumah yaitu Ahmad, Ali dan Budi. Padahal anda pergi seharian bersama Ahmad kemarin maka anda bisa mengatakan bahwa apa yang dikatakan teman anda tersebut tidak benar. Anda bisa merasa pasti bahwa Ahmad tidak kerumah anda kemarin. Maka sangat wajar anda tidak mempercayai kalau Aliy dan Budi datang ke rumah anda kemarin sampai anda mendapatkan bukti atau konfirmasi kalau memang mereka berdua ke rumah anda kemarin.

Kedua, Kami telah membuktikan bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith semasa dengan Sa’d bin Abi Waqqash yaitu terbukti dalam riwayat shahih bahwa ‘Abdurrahman bin Saabith telah melihat Husain bin Aliy yang wafat tahun 61 H, artinya ia melihat Husain bin Aliy dan bersama Jabir [radiallahu ‘anhu] sebelum tahun 61 H. Sedangkan Sa’d bin Abi Waqqash wafat tahun 55 H. Maka hal ini tidaklah jauh perbedaan waktunya sehingga memungkinkan bagi Ibnu Saabith untuk bertemu Sa’d bin Abi Waqqaash. Oleh karena itu lebih memungkinkan lagi bagi Ibnu Saabith untuk menyaksikan kisah antara Mu’awiyah dan Sa’d ketika mereka haji di Makkah karena Ibnu Saabith memang termasuk penduduk Makkah.

Selain itu Ibnu Saabith meriwayatkan hadis dari Aisyah [radiallahu ‘anha] dan tidak ada satupun ulama mu’tabar yang menyatakan riwayatnya dari Aisyah mursal bahkan sebagian hafizh telah menshahihkan riwayatnya dari Aisyah [radiallahu ‘anhu].

Hadis Ibnu Saabith dari Aisyah diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah no 1338 dimana Al Hafizh Al Buushiiriy berkata “hadis ini sanadnya shahih para perawinya tsiqat” [Mishbaah Az Zujaajah Fii Zawaa’id Ibnu Majah no 474] dan Al Hafizh Ibnu Katsiir berkata tentang hadis Ibnu Saabith dari Aisyah tersebut “hadis ini sanadnya jayyid” [Fadha’il Qur’an Ibnu Katsiir hal 192-193]. Perlu diketahui bahwa penghukuman suatu sanad hadis dengan lafaz “sanadnya shahih” atau “sanadnya jayyid” memiliki konsekuensi hukum sanadnya muttashil di sisi kedua hafizh tersebut

Aisyah [radiallahu ‘anha] wafat tahun 57 H berdekatan dengan tahun wafatnya Sa’d bin Abi Waqqaash [radiallahu ‘anhu]. Jika ‘Abdurrahman bin Saabith riwayatnya muttashil [bersambung] dari Aisyah [radiallahu ‘anha] maka hal itu berarti ‘Abdurrahman bin Saabith satu masa dengan Sa’d bin Abi Waqqash [radiallahu ‘anhu] dan memungkinkan untuk bertemu dengannya.

Dan soal syekh albani nampaknya syekh Albaniy rahimahullah men-sahih-kan hadits ini hanya lafadz yang marfuu’ (perkataan Rasulullah tentang keutamaan Ali) sebagaimana dalam dalam kitabnya silsilah hadits sahih 4/335 no.1750.

Memang benar orang satu ini hanya bisa menukil tanpa paham apa yang ia nukil. Sok ilmiah tetapi sebenarnya jahil. Kalau ia memang membaca kitab Silsilah Al Ahaadiits Ash Shahiihah 4/335 no 1730, maka inilah perkataan Syaikh Al Albani yang tertera dalam kitabnya

Silsilah Shahihah  juz 4 hal 335

Perhatikanlah Syaikh Al Albani menukil riwayat ‘Abdurrahman bin Saabith dari Sa’d [radiallahu ‘anhu] yang disebutkan dalam Sunan Ibnu Majah no 121, kemudian Syaikh berkata “sanadnya shahih”. Jadi yang dishahihkan oleh Syaikh Al Albaniy adalah sanadnya, artinya Syaikh menganggap sanad Ibnu Saabith dari Sa’d [radiallahu ‘anhu] itu muttashil. Orang yang baru belajar ilmu hadis pun akan tahu bahwa pernyataan “sanadnya shahih” mencakup sanadnya yang muttashil [bersambung].

Sebelum Syaikh Al Albani, Al Hafizh Ibnu Katsir telah lebih dulu menguatkan hadis Ibnu Saabith tersebut. Ia berkata “sanadnya hasan” [Al Bidayah Wan Nihayah 11/50]. Hal ini menunjukkan di sisi Ibnu Katsir sanad Ibnu Saabith dari Sa’d bin Abi Waqqaash [radiallahu ‘anhu] adalah muttashil.


Al Bidayah juz 11

Al Bidayah juz 11 hal 50

.

.

.

Penutup

Kesimpulannya di sisi kami berdasarkan pendapat yang rajih riwayat Ibnu Saabith tersebut shahih. Pembahasannya sudah kami sebutkan dalam tulisan yang lalu dan dilengkapi dengan tulisan di atas. Silakan saja kalau orang jahil tersebut bersikeras untuk mendhaifkan riwayat Ibnu Majah. Hal itu tidak sedikitpun meruntuhkan hujjah tulisan kami karena bahkan telah kami tulis dalam tulisan sebelumnya [dan tidak ada bantahan dari orang jahil tersebut] hadis lain yang menjadi bukti bahwa Mu’awiyah mencela Aliy bin Abi Thalib [‘alaihis salaam].

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا عبد الرزاق قال ثنا معمر عن طاوس عن أبي بكر بن محمد بن عمرو بن حزم عن أبيه قال لما قتل عمار بن ياسر دخل عمرو بن حزم على عمرو بن العاص فقال قتل عمار وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم تقتله الفئة الباغية فقام عمرو بن العاص فزعا يرجع حتى دخل على معاوية فقال له معاوية ما شانك قال قتل عمار فقال معاوية قد قتل عمار فماذا قال عمرو سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول تقتله الفئة الباغية فقال له معاوية دحضت في بولك أو نحن قتلناه إنما قتله علي وأصحابه جاؤوا به حتى القوه بين رماحنا أو قال بين سيوفنا

Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang menceritakan kepadaku ayahku yang menceritakan kepada kami ‘Abdurrazaq yang berkata menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amru bin Hazm dari ayahnya yang berkata “ketika Ammar bin Yasar terbunuh maka masuklah ‘Amru bin Hazm kepada Amru bin ‘Ash dan berkata “Ammar terbunuh padahal sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Maka ‘Amru bin ‘Ash berdiri dengan terkejut dan mengucapkan kalimat [Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un] sampai ia mendatangi Muawiyah. Muawiyah berkata kepadanya “apa yang terjadi denganmu”. Ia berkata “Ammar terbunuh”. Muawiyah berkata “Ammar terbunuh, lalu kenapa?”. Amru berkata “aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Ia dibunuh oleh kelompok pembangkang”. Muawiyah berkata “Apakah kita yang membunuhnya? Sesungguhnya yang membunuhnya adalah Ali dan sahabatnya, mereka membawanya dan melemparkannya diantara tombak-tombak kita atau ia berkata diantara pedang-pedang kita [Musnad Ahmad 4/199 no 17813 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Perhatikan hadis di atas setelah mengetahui ‘Ammar bin Yasar radiallahu ‘anhu terbunuh dan terdapat hadis bahwa ‘Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang maka Muawiyah menolaknya bahkan melemparkan hal itu sebagai kesalahan Imam Ali. Menurut Muawiyah, Imam Ali dan para sahabatnya yang membunuh ‘Ammar karena membawanya ke medan perang dan menurut Muawiyah Imam Ali itu yang seharusnya dikatakan sebagai kelompok pembangkang. Sudah jelas ini adalah celaan yang hanya diucapkan oleh orang yang lemah akalnya.

Tentu saja itu sama halnya seperti Muawiyah menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membunuh para sahabat Badar dan Uhud yang syahid di medan perang karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang membawa mereka ke medan perang. Bayangkan jika perkataan dengan “logika Muawiyah” ini diucapkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka kami yakin orang-orang akan menyatakan kafir orang yang mengatakannya.

Satu lagi yang perlu diberikan catatan kami tidak pernah dalam tulisan sebelumnya dan tulisan di atas menyatakan bahwa Mu’awiyah mencela Aliy itu adalah maksudnya melaknat Aliy. Kami tidak akan berhujjah melampaui teks riwayat yang ada, begitulah cara berhujjah dengan objektif, lafaz riwayat menyatakan “mencela” maka itu sudah cukup sebagai hujjah.

Kami tidak akan berlebihan menyatakan yang dimaksud mencela adalah melaknat [karena hal itu membutuhkan dalil] tetapi kami tidak akan membuat bermacam-macam takwil demi membela Mu’awiyah seperti yang dilakukan orang-orang jahil. Jadi kami sarankan kepada orang-orang jahil itu kalau ingin membantah kami maka jangan mencampuradukkan waham khayal kalian tentang Syi’ah kepada kami.

Salam Damai

Syubhat Qunut Shubuh Kejahilan Toyib Mutaqin?

Syubhat Qunut Shubuh Kejahilan Toyib Mutaqin?

Berdiskusi dengan orang jahil tidak ada gunanya, bagi Toyib Mutaqin yang jahil hal itu memang tidak ada gunanya tetapi bagi para pembaca yang objektif maka itu akan berguna. Para pembaca dapat melihat letak kejahilan orang-orang seperti Toyib Mutaqin, ia merasa setelah dengan mengutip satu dua hadis kemudian pendapat satu dua ulama maka ia sok berasa di atas Sunnah.

Perhatikanlah wahai pembaca modal utama dalam memahami hadis dan perkataan ulama adalah akal yang baik. Orang yang berakal baik dapat berhujjah dengan benar dapat menimbang perkataan ulama dengan benar. Bukan seperti orang jahil yang sok berpegang pada ulama seolah hanya dirinya saja yang berpegang pada ulama. Para ulama sudah banyak berselisih mengenai qunut shubuh jadi alangkah lucunya orang jahil itu kalau mengira hanya dirinya yang berpegang pada ulama.

Toyib Mutaqin dengan kejahilannya kembali membantah tulisan kami, bantahan jahilnya tersebut dapat pembaca lihat di situsnya disini

http://muttaqi89.blogspot.com/2014/12/syubhat-qunut-shubuh-secondprince-2.html.

Orang ini semakin banyak ia menulis maka semakin banyak ia menunjukkan kejahilannya. Aneh bin ajaib ia tidak sadar bahwa dirinyalah yang jahil bahkan menuduh kami yang dusta dan mengada-ada. Kami akan membahas bantahannya dan menunjukkan kejahilannya, bantahan darinya adalah yang kami quote

.

.

.

Jawab : Sebenarnya perkaranya mudah bagi yg akalnya sehat bukan bagi orang yg logikanya sakit macam orang syiah tu.

Lihat hadits diatas baik2 ! anas mengatakan KAMI yaitu sahabat nabi

روى محمد بن نصر عن أنس أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يقنت بعد الركعة وأبو بكر وعمر حتى كان عثمان فقنت قبل الركعة ليدرك الناس قال العراقي وإسناده جيد

Telah meriwayatkan Muhammad ibn nashr dari anas bahwa rosul qunut sesudah ruku’,dan abu bakar,umar.hingga saat masa utsman maka beliau qunut sebelum rukuk supaya manusia mendapatinya.al ‘iroqy berkata sanadnya jayyid

Di atas adalah contoh orang jahil berhujjah dengan hadis. Silakan lihat ia berhujjah tanpa menyebutkan referensi hujjahnya. Hadis di atas telah diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr Al Marwadziy dalam kitab Mukhtasar Qiyamul Lail Wa Ramadhan Wal Witir hal 317

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ حَمْزَةَ ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْنُتُ بَعْدَ الرَّكْعَةِ ، وَأَبُو بَكْرٍ ، وَعُمَرُ ، حَتَّى كَانَ عُثْمَانُ قَنَتَ قَبْلَ الرَّكْعَةِ لِيُدْرِكَ النَّاسَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Hamzah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad dari Humaid dari Anas yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan qunut setelah ruku’, dan begitu pula Abu Bakar dan Umar, sampai Utsman melakukan qunut sebelum ruku’ agar orang-orang bisa mendapatinya [Mukhtasar Qiyamul Lail Wa Ramadhan Wal Witir hal 317]

Sebelumnya orang jahil ini pernah berkata ketika mengomentari hujjah saya berdasarkan hadis Humaid dari Anas mengenai qunut shubuh sebelum ruku’ dan sesudah ruku’

Jawab : itulah pemahaman sakit ente..tunjukkan dalam lafadz hadits diatas yg mana yg menunjukkan nazilah atau tanpa nazilah kecuali dari akal2an ente doang.

Coba lihat cara anda sendiri berhujjah wahai jahil, apakah dalam riwayat Muhammad bin Nashr yang anda kutip itu ada lafaz qunut shubuh dengan nazilah?. Jangan sok bertanya soal lafaz kalau anda sendiri tidak paham.

Riwayat Muhammad bin Nashr Al Marwadziy di atas dimasukkannya dalam kitab Witir, maka terdapat kemungkinan kalau yang dimaksud itu adalah qunut witir. Tentu saja kami tidak akan memastikan bisa saja qunut yang dimaksud adalah qunut witir dan bisa saja qunut yang dimaksud adalah qunut shubuh. Memang kemungkinan yang lebih rajih adalah qunut shubuh berdasarkan riwayat Humaid dari Anas yang disebutkan Ibnu Majah dimana terdapat lafaz “qunut shubuh”.

Orang ini taklid pada pernyataan Al Iraqiy bahwa sanadnya jayyid. Hal ini perlu diperjelas, sanad riwayat Muhammad bin Nashr di atas para perawinya tsiqat hanya saja ‘Abdul Aziiz bin Muhammad Ad Darawardiy yang meriwayatkan dari Humaid termasuk perawi yang diperbincangkan hafalannya.

وقال أبو زرعة سيء الحفظ ربما حدث من حفظه الشيء فيخطيء

Abu Zur’ah berkata “buruk hafalannya, ia menceritakan sesuatu dari hafalannya maka ia keliru” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 680]

وقال الساجي كان من أهل الصدق والأمانة إلا أنه كثير الوهم

As Sajiy berkata “ia termasuk orang yang jujur dan amanah hanya saja ia banyak melakukan kesalahan” [Tahdzib At Tahdzib juz 6 no 680]

قال أحمد بن حنبل: إذا حدث من حفظه يهم، ليس هو بشيء، واذا حدث من كتابه فنعم

Ahmad bin Hanbal berkata “jika menceritakan hadis dari hafalannya maka terkadang keliru, tidak ada apa-apanya dan jika menceritakan hadis dari kitabnya maka ia benar” [Mizan Al I’tidal juz 4 no 5130]

Kedudukan perawi seperti ini adalah riwayatnya hasan jika tidak ada penyelisihan tetapi jika ia menyelisihi perawi tsiqat maka riwayatnya tertolak. Jika qunut yang dimaksud dalam riwayat ini adalah qunut shubuh maka riwayat Abdul ‘Aziiz Ad Darawardiy ini telah menyelisihi riwayat tsiqat yang membuktikan bahwa Umar bin Khaththab juga melakukan qunut sebelum ruku’

حدثنا أبو بكر قال حدثنا وكيع بن الجراح قال حدثنا سفيان عن مخارق عن طارق بن شهاب أنه صلى خلف عمر بن الخطاب الفجر فلما فرغ من القراءة كبر ثم قنت ثم كبر ثم ركع

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar yang berkata telah menceritakan kepada kami Waki’ bin Jarrah yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan dari Mukhaariq dari Thaariq bin Syihaab bahwasanya ia shalat shubuh di belakang Umar bin Khaththab maka ketika Umar selesai membaca surat ia bertakbir kemudian membaca Qunut, kemudian takbir kemudian ruku’ [Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 2/107 no 7033]

Riwayat ini sanadnya shahih hingga Umar bin Khaththab dan membuktikan kalau Umar juga melakukan qunut sebelum ruku’.

  1. Sufyaan Ats Tsawriy adalah seorang tsiqat faqih ahli ibadah imam hujjah [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/371].
  2. Mukhariq bin Khaliifah seorang yang tsiqat [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 2/165].
  3. Thariq bin Syihaab Al Ahmasiy ia seorang yang pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi tidak mendengar hadis darinya [Taqrib At Tahdzib Ibnu Hajar 1/447].

Kesimpulannya adalah riwayat yang dijadikan hujjah orang jahil tersebut tidak bernilai sama sekali. Ia sok berhujjah tetapi tidak mengerti kaidah ilmiah. Ajaibnya di atas kejahilannya ia malah menuduh orang lain dusta dan mengada-ada.

.

.

.

Kemudian orang itu mengutip riwayat Al Baihaqiy mengenai doa qunut Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu].

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب أنبأ العباس بن الوليد أخبرني أبي ثنا الأوزاعي حدثني عبدة بن أبي لبابة عن سعيد بن عبد الرحمن بن أبزي عن أبيه قال صليت خلف عمر بن الخطاب رضي الله عنه صلاة الصبح فسمعته يقول بعد القراءة قبل الركوع اللهم إياك نعبد ولك نصلى ونسجد وإليك نسعى ونحفد نرجو رحمتك ونخشى عذابك إن عذابك بالكافرين ملحق اللهم إنا نستعينك ونستغفرك ونثني عليك الخير ولا نكفرك ونؤمن بك ونخضع لك ونخلع من يكفرك

Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Al Haafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub yang berkata telah memberitakan kepada kami Abbaas bin Waalid yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Awza’iy yang berkata telah menceritakan kepadaku ‘Abdah bin Abi Lubaabah dari Sa’id bin ‘Abdurrahman bin Abzaa dari Ayahnya yang berkata aku shalat di belakang Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] shalat shubuh maka aku mendengarnya setelah membaca ayat sebelum ruku’ “Ya Allah, hanya kepada-Mu kami menyembah, kepada-Mu kami shalat dan sujud, kepada-Mu kami berusaha dan bersegera, kami mengharapkan rahmat-Mu dan kami takut akan siksaan-Mu, sesungguhnya siksaan-Mu akan menimpa orang-orang kafir. Ya Allah sesungguhnya kami meminta pertolongan kepada-Mu dan memohon ampun kepada-Mu, kami memuji-Mu dengan kebaikan, kami tidak ingkar kepada-Mu, kami beriman kepada-Mu, kami tunduk kepada-Mu dan kami meninggalkan orang-orang yang ingkar kepada-Mu [Sunan Al Baihaqiy 2/211 no 2963]

Orang itu berhujjah dengan riwayat di atas bahwa qunut Umar bin Khaththab [radiallahu ‘anhu] yang dilakukan sebelum ruku’ adalah qunut nazilah. Dan dengan dustanya ia berkata

Dan semua ulama’ sepakat ini adalah doa dalam qunut nazilah

Kesimpulan : qunut nazilah sebelum ruku’ yg shohih adalah sunnah dari sahabat walaupun yg setelah ruku’ lebih sering dilakukan,dan nazilah sebelum ruku’ tidak pernah dilakukan nabi.

Dari mana ia bisa menyatakan semua ulama sepakat bahwa doa tersebut adalah qunut nazilah?. Zhahir riwayat menyatakan bahwa itu adalah doa qunut shubuh dan tidak ada dalam lafaz doa tersebut Umar mendoakan keburukan atau laknat bagi suatu kaum tertentu sebagaimana yang dilakukan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dalam qunut nazilah terhadap bani Sulaim Ri’l dan Dzakwan. Tidak ada pula bukti riwayat yang menyebutkan bahwa Umar mengucapkan doa qunut yang sama pada semua shalat wajib lain [selain shalat shubuh]. Jadi apa buktinya kalau itu adalah qunut nazilah.

Dan merekalah yg didustakan oleh anas yaitu orang2 yg menuduh rosul qunut sebelum ruku’ dalam sholat shubuh/fajr.

Imam bukhori meriwayatkan :

كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا

Dia telah berdusta,sesungguhnya rosul qunut setelah rukuk sebulan saja.

Perkataan orang jahil ini adalah dusta. Orang yang didustakan oleh Anas bukan orang yang menuduh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut sebelum ruku’ dalam shalat shubuh. Inilah hadis Bukhariy yang dimaksud

سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ الْقُنُوتِ فَقَالَ قَدْ كَانَ الْقُنُوتُ قُلْتُ قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ قَالَ قَبْلَهُ قَالَ فَإِنَّ فُلَانًا أَخْبَرَنِي عَنْكَ أَنَّكَ قُلْتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَقَالَ كَذَبَ إِنَّمَا قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ الرُّكُوعِ شَهْرًا

[‘Aashim] berkata aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang Qunut, maka ia berkata “sungguh Qunut itu memang ada”. Aku bertanya “sebelum ruku’ atau sesudah ruku’?”. Ia berkata sebelum ruku’. Aku berkata “sesungguhnya fulan mengabarkan kepadaku darimu bahwa engkau mengatakan setelah ruku’. Maka ia berkata “dusta, sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanyalah melakukan Qunut setelah ruku’ selama satu bulan… [Shahih Bukhariy 2/26 no 1002]

Perhatikan lafaz yang kami cetak tebal. Justru yang didustakan oleh Anas bin Malik adalah orang yang meriwayatkan darinya bahwa Qunut shubuh itu setelah ruku’. Menurut Anas bin Malik qunut shubuh itu dilakukan sebelum ruku’ kecuali jika qunut tersebut adalah qunut nazilah maka dilakukan setelah ruku’.

حدثنا إبراهيم بن سعيد الجوهري ، قال : حدثنا أبو معاوية الضرير ، عن عاصم الأحول ، قال : سألنا أنسا عن القنوت، قبل الركوع أو بعد الركوع ، فقال : لا ، بل قبل الركوع ، قلت : فإن أناسا يزعمون أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قنت بعد الركوع ، قال : « كذبوا ، إنما قنت رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعو على أناس قتلوا أناسا من أصحابه يقال لهم » القراء

Telah menceritakan kepada kami Ibrahiim bin Sa’iid Al Jauhariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah Adh Dhariir dari ‘Aashim Al Ahwal yang berkata kami bertanya kepada Anas tentang qunut sebelum ruku’ atau setelah ruku’. Beliau berkata “tidak, bahkan sebelum ruku’. Aku berkata “orang-orang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Beliau berkata “mereka dusta, sesungguhnya Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya qunut [yaitu setelah ruku’] ketika mendoakan atas orang-orang yang membunuh para sahabatnya dari kalangan qurra’ [Tahdzib Al Atsar Ibnu Jarir Ath Thabariy no 529]

Silakan perhatikan lafaz yang dicetak tebal. Yang didustakan oleh Anas bin Malik adalah orang-orang yang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Kalau memang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hanya melakukan qunut nazilah setelah ruku’ maka mengapa dikatakan dusta orang-orang yang beranggapan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’. Kerancuan ini dapat dipahami bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga melakukan qunut sebelum ruku’ dan itu bukan qunut nazilah.

Seandainya qunut yang ditanyakan ‘Aashim kepada Anas adalah qunut nazilah maka hakikat peristiwa itu akan menjadi seperti ini. Anas bin Malik menjawab qunut nazilah itu sebelum ruku’. ‘Aashim kembali berkata bahwa Anas pernah mengatakan kalau qunut nazilah itu setelah ruku’. Anas menjawab itu dusta, karena Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’ selama satu bulan yaitu qunut nazilah. Lihatlah wahai pembaca, siapapun yang punya akal akan mengatakan peristiwa ini rancu sekali. Bagaimana mungkin Anas mengatakan dusta dan di saat yang sama justru ia mengatakan hal yang ia dustakan.

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ السَّامِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْجُرَيْرِيُّ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ السَّلُولِيِّ، قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ صَلَاةَ الْغَدَاةِ فَقَنَتَ قَبْلَ الرُّكُوعِ

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah As Saamiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Mufadhdhal yang berkata telah menceritakan kepada kami Al Jurairiy dari Buraid bin Abi Maryam As Saluuliy yang berkata aku shalat bersama Anas bin Malik shalat shubuh maka ia membaca qunut sebelum ruku’ [Tahdzib Al Atsar Ath Thabariy no 624]

Anas bin Malik jauh lebih paham hadis yang ia riwayatkan, maka dari itu ia tetap melakukan qunut shubuh sebelum ruku’. Qunut ini adalah qunut tanpa nazilah karena jika memang qunut nazilah maka Anas akan melakukannya setelah ruku’ sebagaimana hadis yang ia riwayatkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melakukan qunut nazilah setelah ruku’ selama satu bulan.

Orang ini memang dari kemarin-kemarin sudah gagal paham tapi ajaibnya ia berasa dirinya yang paling paham soal hadis Anas bin Malik.

Jawab : itulah akibat logika sakit muhtalith,mencampur adukkan nash,hadits bukhori diatas tidak menyinggung sedikitpun tentang qunut sebelum ruku’.

Kalau ente mengaitkan dg hadits ibnu majah maka salah besar karena disana tidak ada kata2 sedikitpun bahwa rosul qunut sebelum ruku’.bukan syiah kalau tidak berdusta.

Orang jahil memang mana mengerti logika, uups tidak perlu bicara soal logika, bahkan si jahil ini sudah tidak bisa berfikir karena mungkin dalam anggapannya sudah tertanam virus “aku berfikir maka aku kafir” seperti dalam gambar yang ia pasang dalam tulisannya tersebut.

Hadis Bukhariy adalah bukti bahwa qunut shubuh setelah ruku’ hanyalah qunut nazilah. Jadi kalau Anas bin Malik melakukan qunut sebelum ruku’ [sebagaimana riwayat Ibnu Majah] maka sudah jelas itu qunut tanpa nazilah. Ngapain Anas bin Malik menentang sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang ia riwayatkan.

Hadis riwayat Ibnu Majah memang menyebutkan perkataan Anas bin Malik dengan lafaz kami melakukan qunut sebelum ruku’ dan sesudah ruku’. Lafaz ini bisa mengandung makna hanya perbuatan sahabat yang tidak bersifat marfu’ atau bisa pula bersifat marfu’ [disandarkan kepada Nabi]. Hal itu tergantung dengan qarinah yang ada. Berikut diriwayatkan oleh Abu Nu’aim riwayat yang sama

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ حَفْصٍ ، ثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ ، ثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، قَالَ : قُلْتُ لأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَقَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : ” نَعَمْ ، قَنَتَ شَهْرًا ” ، فَقُلْتُ : قَبْلَ الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ ؟ قَالَ قَبْلَ وَبَعْدَ حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ حَيَّانَ ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلٍ ، ثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُمَرَ ، ثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ ، ثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ : ” كُلَّ ذَلِكَ قَدْ فَعَلَ ، قَبْلَ وَبَعْدَ ” ، يَعْنِي أَنَّهُ قَنَتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muzhaffar yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Husain bin Hafsh yang berkata telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin Wakii’ yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdiy dari Syu’bah dari Humaid yang berkata aku berkata kepada Anas bin Malik “apakah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut?”. Beliau berkata “benar, Beliau qunut satu bulan”. Maka aku berkata “sebelum ruku’ atau setelahnya”. Beliau berkata “sebelum dan sesudah”. Telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad bin Hayyaan yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sahl yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Umar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Humaid dari Anas yang berkata “semuanya telah dilakukan, sebelum dan setelah [ruku’], yaitu bahwasanya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah melakukan qunut”.[Hilyatul Auliyaa’ Abu Nu’aim 9/33]

Sanad riwayat pertama lemah karena Sufyaan bin Wakii’ tetapi dikuatkan oleh riwayat kedua dengan sanad yang jayyid, berikut keterangan para perawinya

  1. Abu Muhammad bin Hayyaan dikenal sebagai Abu Syaikh ia seorang imam hafizh, Ibnu Mardawaih menyatakan ia tsiqat ma’mun. Al Khatib berkata Abu Syaikh hafizh tsabit mutqin [Siyaar A’lam An Nubalaa’ 16/276-278 no 196]
  2. Muhammad bin Sahl Abu Ja’far Al Ashbahaniy dia adalah salah satu guru Abu Syaikh dan Abu Syaikh telah memujinya. Disebutkan dalam Irsyaad Al Qaashiy bahwa ia seorang yang shaduq [Irsyaad Al Qaashiy Wad Daaniy Ila Tarajim Syuyukh Thabraniy no 909]
  3. ‘Abdurrahman bin ‘Umar bin Yaziid Al Ashbahaniy salah seorang guru Abu Hatim dan Abu Zur’ah. Abu Hatim berkata tentangnya “shaduq” [Al Jarh Wat Ta’dil 5/263 no 1245]
  4. ‘Abdurrahman bin Mahdiy seorang yang tsiqat tsabit hafizh, arif dalam ilmu rijal dan hadis [Taqrib At Tahdzib 1/592]
  5. Syu’bah seorang yang tsiqat hafizh mutqin, Ats Tsawriy mengatakan ia amirul mukminin dalam hadis [Taqrib At Tahdziib 1/418]
  6. Humaid bin Abi Humaid seorang yang tsiqat dan melakukan tadlis [Taqrib At Tahdziib 1/244]

Jika sanad tersebut dilemahkan karena Humaid seorang mudallis maka dijawab bahwa ‘An ‘anah Humaid dari Anas tidak memudharatkan sanad tersebut karena walaupun Humaid dikatakan melakukan tadlis, telah cukup dikenal bahwa tadlis Humaid dari Anas bin Malik adalah diterima karena melalui perantara Tsaabit seorang yang tsiqat.

Justru riwayat ibnu majah yg lain,nomer selanjutnya yaitu 1184 menyibak kedustaanmu

سألت أنس بن مالك عن القنوت فقال قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم بعد الركوع

Saya bertanya anas tentang qunut maka beliau menjawab rosul qunut setelah ruku

Wahai jahil bagian mana dalam hadis di atas yang menunjukkan kedustaan kami. Justru kami telah menjelaskan bahwa qunut dalam hadis tersebut adalah qunut nazilah yang menurut Anas bin Malik dilakukan setelah ruku’. Sok menuduh orang dusta padahal tidak paham arti dusta.

Dan juga riwayat ibnu majah yg lain,nomer sebelumnya yaitu 1182 menyingkap kelicikanmu

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يوتر فيقنت قبل الركوع

Sesungguhnya rosul sholat witir maka beliau qunut sebelum ruku

Bagian mana dari hadis di atas yang menunjukkan kelicikan kami, justru ketika anda membawakan hadis di atas hanya menunjukkan kesekian kalinya kejahilan anda yang luar biasa. Jelas-jelas hadis tersebut berbicara tentang qunut witir bukan qunut shubuh. Jaka sembung bawa golok ya gak nyambung plok.

.

.

.

Telah meriwayatkan ibnul mundzir dari humaid dari sahabat anas sendiri dg lafadz : sungguh sebagian sahabat nabi mereka qunut dalam sholat shubuh sebelum ruku’ dan sebagian yg lain setelah ruku’.adapun nabi maka tidak diketahui darinya qunut di sholat wajib kecuali qunut nazilah.dan tidaklah nabi qunut nazilah kecuali setelah ruku’

Jadi gak ada nabi qunut sebelum rukuk dalam sholat wajib.

Kalau cuma menukil perkataan ulama maaf kami juga bisa. Apa menurut anda tidak ada ulama yang menyatakan bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] pernah qunut sebelum ruku’?. Silakan baca ini

ثبت أنّ النبيّ صلى الله عليه و سلم قنت في صلاة الفجر ، و ثبت أنه قنت قبل الركوع و بعد الركوع ، و ثبت أنه قنت لأمر نزل بالمسلمين من خوف عدوّ و حدوث حادث .

Telah tsabit bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut dalam shalat shubuh dan telah tsabit bahwa Beliau qunut sebelum ruku’ dan sesudah ruku’ dan telah tsabit bahwa Beliau qunut nazilah dalam hal yang menimpa kaum muslimin dari ketakutan atas serangan musuh dan musibah yang baru terjadi [‘Aaridhat Al Ahwadziy Syarh Shahih Tirmidziy, Ibnu Arabiy Al Malikiy 2/192]

Soal imam malik,tunjukkan nukilannya bahwa beliau menyatakan qunut tanpa nazilah dalam sholat wajib.ditunggu,kalau memang ente sanggup.

Berkata Imam Ibnu Wahab seorang murid Imam Malik yang alim dalam ilmu Hadits:

الحديث مضلة إلا للعلماء

Artinya : al-Hadits dapat menyesatkan seseorang (yang membacanya) kecuali bagi para ulama

حدثنا يونس قال أنا بن وهب قال : سمعت مالكا يقول الذي أخذته في خاصة نفسي القنوت في الفجر قبل الركوع

Telah menceritakan kepada kami Yuunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata aku mendengar Malik mengatakan perkara yang aku ambil khususnya bagi diriku qunut dalam shalat shubuh adalah sebelum ruku’ [Syarh Ma’aniy Al Atsaar Ath Thahawiy 2/245 no 1464]

Dan Ath Thahawiy menambahkan bahwa diantara hujjah bagi kelompok yang menyatakan qunut shubuh sebelum ruku’ adalah hadis riwayat ‘Aashim dari Anas bin Malik.

Disebutkan juga Imam Malik pernah berkata bahwa barang siapa yang lupa membaca qunut dalam shalat shubuh maka tidak perlu sujud sahwi [Al Mudawwanat Al Kubra 1/192]

Siapapun yang berakal akan paham bahwa qunut yang dimaksud oleh Imam Malik tersebut bukan qunut nazilah karena tidak ada istilah lupa bagi qunut nazilah. Qunut nazilah itu terikat pada situasi tertentu di waktu tertentu sedangkan sifat lupa itu tertuju pada hal yang sudah menjadi kebiasaan untuk dilakukan. Qunut yang biasa dilakukan pada shalat shubuh bukan qunut nazilah.

Jawab : inilah akibat mengangkangi para ulama’.justru ulama itu berpendapat setelah tahu dalil bukan kayak ente dalil ditafsiri pake akal rusak ente sendiri.

Coba anda pikirkan dengan baik mengapa para ulama bisa berselisih satu sama lain dalam perkara tertentu. Tidak lain karena mereka memiliki pengetahuan dan pemahaman yang berbeda terhadap suatu dalil. Ada yang lebih tahu dan paham kemudian ada yang tidak tahu dan kurang paham atau salah paham terhadap suatu dalil. Hal ini perkara yang sering ditemukan oleh orang yang sering membaca kitab Fiqih. Maka dari itu kami selalu menekankan untuk menimbang setiap perkataan ulama dengan dalil.

Kalau menuruti logika anda yang jahil maka ulama mazhab Syafi’iy dan ulama mazhab Malikiy dimana mereka menetapkan adanya qunut shubuh [bukan qunut nazilah] jelas lebih tahu dan lebih paham dalil dari anda. Maka tidak perlu anda sok membantah dengan dalil dan akal anda yang sudah lama rusak. Yah begitulah logika anda dapat menyerang diri anda sendiri.

Jawab : allohu akbar,sungguh lancang membenturkan perkataan ibnu rojab dg hadits.

Seperti dikatakan ibnu qoyyim : itu hanyalah dari fahmun saqim(pemahaman yg sakit)

Berkata Imam Sufyan Bin Uyainah (seorang ulama besar yang ahli dalam fiqih dan hadits guru Imam Syafi`i) :

الحديث مَضِلّة إلا للفقهاء

Artinya : al-Hadits itu dapat menyesatkan seseorang kecuali bagi ulama yang faqih. ( al-Jami` li Ibni Abi Zaid al-Qairuwani : 118 )

خذوا العلم من أفواه العلماء

Artinya : Ambillah ilmu itu dari mulutnya para ulama.

Siapa ulama sebelummu yg berani berkata semacam itu ???

Apa masalahnya wahai jahil?. Apa anda pikir Ibnu Rajab itu orang yang ma’shum?. Setiap perkataan ulama mesti ditimbang dengan dalil bukannya setiap dalil hadis harus ditundukkan dengan perkataan ulama. Wajar saja kalau saya katakan perkataan Ibnu Rajab bertentangan dengan hadis shahih. Pembahasannya pun sudah kami sebutkan. Maaf miskin sekali bantahan anda wahai jahil. Adapun pencacatan terhadap hadis sebagai syadz harus dilihat apakah sesuai dengan kaidah ilmu hadis atau tidak. Pembahasannyapun sudah kami sebutkan, anehnya anda bukannya membahas hujjah malah sibuk bertaklid dan mengoceh tidak karuan. Kalau mau berhujjah fokus pada dalil bukan pada waham anda sendiri.

Bukankah anda sendiri menolak para ulama yang menyatakan shahih hadis Abu Ja’far Ar Raziy yang menyebutkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut terus menerus sampai Beliau wafat. Apa pernah kami menyatakan anda sok lebih pintar dari ulama?. Kami tidak ada keberatan soal itu bahkan kami setuju kalau ulama tersebut keliru karena memang sesuai dengan kaidah ilmu hadis, hadis tersebut lemah.

Kalau memang anda menginginkan ulama sebelum kami yang menyatakan hal yang sama dengan apa yang kami katakan maka silakan lihat, kami akan mengutip ulama yang memahami hadis-hadis Anas [tentang qunut shubuh] sama seperti yang kami pahami. Ibnu Hajar pernah berkata dalam Fath Al Bariy

ومجموع ما جاء عن أنس من ذلك؛ أنّ القنوت للحاجة بعد الركوع لا خلاف عنه في ذلك، وأمّا لغير الحاجة فالصحيح عنه أنه قبل الركوع. وقد اختلف عمل الصحابة في ذلك، والظاهر أنه من الاختلاف المباح

Dan kumpulan hadis-hadis dari Anas tentang demikian [qunut shubuh] adalah qunut karena keperluan dilakukan setelah ruku’ tidak ada perselisihan mengenai hal itu. Adapun qunut bukan karena keperluan tertentu maka yang shahih adalah dilakukan sebelum ruku’. Dan sungguh telah berselisih amalan para sahabat tentang hal ini, yang zhahir bahwasanya ini termasuk perselisihan yang dibolehkan [Fath Al Bariy Ibnu Hajar 2/491]

Perkataan qunut karena suatu keperluan yang dimaksud Ibnu Hajar tidak lain adalah qunut nazilah sedangkan qunut bukan karena keperluan adalah qunut tanpa nazilah. Kami tidak asal taklid pada perkataan Ibnu Hajar tetapi kami berpegang pada dalil dan hasilnya memang bersesuaian dengan apa yang dikatakan Ibnu Hajar.

Jawab : inilah letak ketidak ilmiahan syiah suka menafsirkan dg tafsiran logikanya yg berpijak pada pertentangan dalil,kemudian seolah2 menjamak dalil seakan pahlawan kesorean.sungguh picik.

Kesalahan fatal ente menisbatkan sesuatu kepada seseorang sedangkan dalam lafadznya tidak ada penisbatan.ini lah sumber kebingungan ente,sehingga semua harus ente puter2 supaya menurut keinginan ente.

Tidak usah bawa-bawa Syi’ah wahai jahil. Syi’ah tidak ada urusannya disini. Apa anda pikir dengan tuduhan anda tersebut maka anda merasa bahwa diri anda benar dan orang yang anda tuduh Syi’ah sudah pasti dusta dan mengada-ada. Picik sekali anda, kalau anda memang mampu silakan bantah hujjah dengan hujjah bukannya membantah dengan ocehan tidak karuan dan tuduhan dusta. Atau jangan-jangan akal anda sudah begitu rusak sehingga tidak mampu lagi berpikir untuk memahami hujjah kami. Ooh kalau begitu kami ucapkan selamat tinggal dan kasihan betapa malangnya diri anda.

Jawab : gak ada sahabat menyelisihi sunnah kecuali hanyalah bualan syiah doang.justru ini menunjukkan kecermatan sahabat anas dan ibnu rojab bahwa fatwa haruslah dg menimbang sikon dan objek fatwa.tidak menafsirkan serampangan kayak ente

Ini komentar anda yang paling jahil menunjukkan anda tidak memahami dengan baik hanya asal bicara sok membela sahabat padahal hakikatnya mencela sahabat. Kami sebelumnya menekankan bahwa Anas bin Malik telah meriwayatkan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa qunut nazilah itu dilakukan setelah ruku’. Kalau begitu mengapa dalam sebagian hadis, Anas bin Malik menyatakan bahwa qunut shubuh itu sebelum ruku’ [bahkan ia sendiri melakukannya]. Jawaban anda dengan taklid pada Ibnu Rajab bahwa itu hanyalah fatwa Anas saja kemudian ia tambahkan bahwa itu kecermatan Anas dengan fatwanya yang sesuai sikon dan objek fatwa.

Ini jawaban omong kosong, apa anda lupa dengan kaidah bahwa tidak ada ijtihad untuk perkara yang sudah ada nash-nya apalagi dalam masalah ibadah. Nash untuk qunut nazilah itu jelas dilakukan setelah ruku’ bahkan Anas bin Malik meriwayatkannya. Jadi mustahil Anas bin Malik akan memfatwakan hal lain yaitu sebelum ruku’. Apalagi sok bilang cermat dengan menimbang situasi dan kondisi. Lha memangnya aturan ibadah itu bisa berubah sesuai dengan situasi dan kondisi, kaidah dari mana itu.

Hakikatnya anda mengatakan Anas memfatwakan qunut nazilah sebelum ruku’ padahal ia tahu sunah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut nazilah dilakukan setelah ruku’. Lha ini kan sama saja dengan sengaja menentang sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau dengan sengaja berbuat bid’ah padahal sudah tahu perkara sunnahnya. Justru anda yang sedang mencela sahabat Anas bin Malik dengan akal rusak anda.

Maka dari itu satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah qunut yang dikatakan Anas bin Malik sebelum ruku’ adalah qunut shubuh tanpa nazilah. Adapun qunut dengan nazilah maka itu dilakukan setelah ruku’

.

.

.

Jawab: kesimpulan ente menunjukkan kedunguan ente terlalu akut,apalagi menyalahkan imam al bazzar, ente seperti dalam syair : kambing congek pengen menanduk gunung,alih2 gunung hancur,justru tanduknya yg patah.

Imam al bazzar dan para ulama lain menyatakan syadz itu adalah riwayat yg ada dalam kitabnya al bazzar,adapun yg dalam shohih muslim maka tidak ada pertentangan karena yg dimaksud qunut disitu bukan qunutnya rosul.

Begitulah kalau orang tidak tahu kejahilannya. Jika kejahilan disertai dengan keangkuhan maka semua orang akan ia anggap dungu kecuali dirinya. Hadis riwayat Al Bazzar dan riwayat Muslim itu sanadnya sama mulai dari Abu Kuraib sampai Anas. Maka dari itu pada dasarnya itu adalah satu hadis yang sama bedanya adalah hadis Al Bazzar lebih ringkas dari hadis Muslim.

Dalam hadis Muslim tidak disebutkan secara jelas kalau perkataan Anas bin Malik bahwa qunut itu sebelum ruku’ berasal dari pendapat pribadi Anas ataukah ia bersandar pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tetapi qarinah-nya dapat dilihat dari lafaz setelahnya

فقال قبل الركوع قال قلت فإن ناسا يزعمون أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قنت بعد الركوع

Maka [Anas bin Malik] berkata “sebelum ruku”. Aku berkata bahwa orang-orang menganggap bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut setelah ruku’.

Perkataan ‘Aashim selanjutnya mengisyaratkan bahwa apa yang dikatakan Anas bin Malik qunut itu sebelum ruku’ adalah disandarkan pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Maka dari itu hasil ringkasan riwayat Al Bazzar perkataan itu marfu’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] qunut sebelum ruku’.

Si Jahil ini sok membela Al Bazzar padahal hakikatnya ia sendiri menyalahkan Al Bazzar [kami yakin ia tidak menyadarinya]. Yaitu ia pada hakikatnya menganggap Al Bazzar salah dalam meriwayatkan hadis. Ia mengatakan bahwa yang ada dalam Shahih Muslim qunut sebelum ruku’ itu bukan qunut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Anehnya Al Bazzar meriwayatkan qunut sebelum ruku’ itu qunut Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] padahal guru Al Bazzar dan Imam Muslim itu sama yaitu Abu Kuraib. Nah itu berarti Al Bazzaar yang keliru dalam meriwayatkan hadis.

Kami menyalahkan pendapat Al Bazzaar yang mengkritik hadis tersebut sedangkan si jahil itu justru menyalahkan periwayatan hadis Al Bazzaar. Jadi dalam pandangan si jahil itu adalah Al Bazzaar salah meriwayatkan kemudian Al Bazzaar sendiri mengkritik riwayat yang salah tersebut.

Sedangkan dalam pandangan kami adalah Abu Kuraib guru Al Bazzaar menyampaikan hadis lengkapnya kepada Imam Muslim tetapi menyampaikan hadis versi ringkasnya kepada Al Bazzaar. Al Bazzaar yang tidak mengetahui versi lengkap hadis tersebut salah paham, ia mengira hadis ‘Aashim dari Anas bertentangan dengan para perawi lain yang menetapkan qunut nazilah itu setelah ruku’ padahal dalam hadis versi lengkapnya [dalam riwayat Imam Muslim] hadis ‘Aashim dari Anas juga menyatakan bahwa qunut nazilah itu setelah ruku’ hanya saja terdapat tambahan [ziyadah] bahwa qunut tanpa nazilah itu sebelum ruku’. Kesimpulannya adalah hadis ‘Aashim tidak bertentangan dengan hadis-hadis perawi lain. Jadi sudah jelas orang yang taklid kepada Al Bazzaar setelah ia melihat riwayat Muslim hanya menunjukkan kejahilan pemahamannya terhadap hadis.

.

.

.

Jawab : justru keplinplanan ente berujung pada tuduhan kepada rosul apa yg tidak beliau lakukan,rosul saja difitnah apalagi ulama seperti ibnu rojab dg gampangnya menvonis ini keliru,itu salah hanya karena bertaqlid logika dangkal penuh hawa nafsu semata.

Tidak usah sok berbicara dengan bahasa yang ketinggian. Maaf perkataan seperti itu tidak pantas diucapkan oleh orang yang penuh dengan kejahilan seperti anda. Kami yakin kalau anda sendiri akan dengan gampangnya menyalahkan para ulama yang menyatakan sunnah qunut shubuh tanpa nazilah. Dan dalam pandangan pengikut fanatik ulama-ulama tersebut, anda adalah orang yang mendustakan sunnah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], orang yang gampang menyalahkan ulama, orang yang bertaklid dengan logika dangkal penuh hawa nafsu.

Maaf ya, orang-orang dengan kualitas seperti anda ini pasti ada saja dalam kelompok mazhab tertentu. Sok menuduh mazhab lain tanpa dasar ilmu, ujung-ujungnya cuma taklid pada ulama versi anda sendiri. Apa anda lupa bahwa orang-orang yang bertentangan dengan anda itu juga taklid pada ulama mereka?. Kami sangat berbeda dengan orang seperti anda, kami tidak taklid pada ulama tertentu, kami melihat dalil dan menimbang dalil dengan kaidah ilmiah kemudian mengambil pendapat yang paling rajih sesuai dalil tersebut.

Jawab : penjelasan ente tidak lebih dari pembenaran yg dipaksakan,gak ada nilai ilmiahnya justru mencederai keilmiahan itu sendiri.

Apalagi ucapan ini, tong kosong nyaring bunyinya. Orang yang paham apa itu ilmiah, ketika menukil perkataan ulama atau riwayat ia akan menyebutkan referensi lengkapnya. Anehnya banyak sekali nukilan anda yang tanpa mencantumkan referensi lengkapnya. Itukah yang dinamakan ilmiah. Kalau menulis ilmiah saja anda tidak mampu apalagi membahas dan menganalisis secara ilmiah, jauh sekali. Akhir kata, kami kasihan sekali dengan orang-orang jahil yang sok membela agama tetapi tidak ada isinya.

Syaikh Khalid Al Wushabiy Dan Imam Mahdi Dalam Mazhab Syi’ah

Dikutip dari http://www.secondprince.wordpress.com

 

 

 

Syaikh Khalid Al Wushabiy Dan Imam Mahdi Dalam Mazhab Syi’ah

Ada video menarik mengenai diskusi antara Syaikh Khalid Al Wushabiy [Sunni] dan Syauqiy Ahmad [Syi’ah] mengenai Imam Mahdiy. Para pembaca yang berminat dapat melihat penggalan video tersebut disini.

http://antimajos.com/2014/11/06/saksi-mata-kelahiran-mahdi-adalah-sosok-fiktif/

Hal menarik yang ingin dibahas disini adalah ketika Syaikh Khalid Al Wushabiy mempermasalahkan riwayat kelahiran Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah. Syaikh Khalid Al Wushabiy menunjukkan bahwa semua riwayat [dalam mazhab Syi’ah] yang menerangkan lahirnya Imam Mahdiy berasal dari kesaksian Hakiimah binti Muhammad Al Jawaad. Dan menurut penelitian Syaikh Khalid ternyata Hakiimah ini fiktif atau mitos belaka dan seandainya pun Hakiimah benar ada maka ia majhul bukan orang yang bisa dipercaya.

Sampai disini perkara tersebut tidak menjadi masalah tetapi Syaikh Khalid kemudian menyatakan bahwa keyakinan Imam Mahdi dalam mazhab Syi’ah ternyata bersumber dari tokoh fiktif atau majhul. Ini merupakan lompatan kesimpulan yang mengagumkan. Maksudnya mungkin akan membuat kagum orang-orang awam [tertama dari kalangan pengikut Syaikh Khalid] tetapi bagi para pencari kebenaran hal ini nampak sebagai usaha menyesatkan orang-orang awam untuk merendahkan mazhab Syi’ah.

Secara kritis kalau kita ingin berbicara mengenai keyakinan Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah maka cara yang benar adalah mengumpulkan semua riwayat dalam kitab Syi’ah yang berbicara tentang Imam Mahdiy. Kemudian dianalisis riwayat-riwayat tersebut baru ditarik kesimpulan. Kelahiran Imam Mahdiy hanya salah satu bagian dari kumpulan riwayat Imam Mahdiy dalam kitab Syi’ah. Seandainya pun tidak ada riwayat shahih mengenai kelahiran Al Mahdiy maka bukan berarti Al Mahdiy tersebut tidak pernah lahir sehingga runtuhlah keyakinan Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah.

Kelahiran Imam Mahdiy adalah bagian parsial dari eksistensi Imam Mahdiy. Seseorang bisa saja tidak diketahui kapan lahirnya tetapi orang tersebut ya memang ada bukan fiktif. Hanya logika sesat yang menyatakan bahwa jika tidak ada bukti shahih kelahiran Imam Mahdiy maka runtuhlah eksistensi Imam Mahdiy [dalam mazhab Syi’ah]. Misalkan jika dalam mazhab Ahlus Sunnah tidak ditemukan riwayat-riwayat shahih mengenai kelahiran Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], para Nabi dan para sahabat. Apakah hal itu menjadi dasar untuk menyatakan runtuhnya keyakinan tentang mereka?. Tentu saja tidak bahkan logika sesat seperti ini terkesan menggelikan.

.

.

.

Eksistensi Imam Mahdiy Dalam Mazhab Syi’ah

Jika kita memang berniat mencari kebenaran meneliti hakikat Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah maka terdapat riwayat-riwayat shahih dalam kitab Syi’ah yang membuktikan eksistensinya.

.

محمد بن يحيى، عن أحمد بن إسحاق، عن أبي هاشم الجعفري قال: قلت لأبي محمد عليه السلام: جلالتك تمنعني من مسألتك، فتأذن لي أن أسألك؟ فقال: سل، قلت يا سيدي هل لك ولد؟ فقال: نعم، فقلت: فإن بك حدث فأين أسأل عنه؟ فقال بالمدينة

Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Ishaaq dari Abi Haasyim Al Ja’fariy yang berkata aku berkata kepada Abu Muhammad [‘alaihis salaam] “kemuliaanmu membuatku segan untuk bertanya kepadamu, maka izinkanlah aku untuk bertanya kepadamu?”. Beliau berkata “tanyakanlah”. Aku berkata “wahai tuanku apakah engkau memiliki anak?”. Beliau berkata “benar” aku berkata “maka jika terjadi sesuatu padamu kemana aku akan bertanya kepadanya”. Beliau berkata “di Madinah” [Al Kafiy Al Kulainiy 1/328]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  2. Ahmad bin Ishaaq bin Sa’d Al Asy’ariy seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 397]
  3. Abu Haasyim Al Ja’fariy adalah Dawud bin Qaasim seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 399]

Abu Muhammad [‘alaihis salaam] yang dimaksud adalah Imam Hasan Al Askariy [‘alaihis salaam] karena Abi Haasyim Al Ja’fariy termasuk sahabat Imam Hasan Al Askariy dan Beliau dikenal dengan kuniyah Abu Muhammad. Ath Thuusiy menyebutkan dalam kitabnya judul bab “para sahabat Abu Muhammad Hasan bin Aliy bin Muhammad bin Aliy Ar Ridha [‘alaihimus salaam]” [Rijal Ath Thuusiy hal 395]

Riwayat shahih di atas membuktikan bahwa Imam Hasan Al Askariy memang memiliki seorang anak. Anak Imam Hasan Al Askariy inilah yang dikenal sebagai imam kedua belas atau imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah.

.

محمد بن يعقوب الكليني عن محمد بن جعفر الأسدي قال حدثنا أحمد بن إبراهيم قال دخلت على خديحة بنت محمد بن علي عليهما السلام سنة اثنين وستين ومائتين ، فكلمتها من وراء حجاب ، وسألتها عن دينها ، فسمت لي من تأتمَّ بهم ، ثم قالت فلان بن الحسن وسمته ، فقلت لها جعلت فداك معاينة أو خبراً ؟ قالت خبراً عن أبي محمد (عليه السلام) كتب إلى إمه

Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy dari Muhammad bin Ja’far Al Asadiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim yang berkata aku menemui Khadiijah binti Muhammad bin ‘Aliy [‘alaihimas salaam] pada tahun 262 H, maka aku berbicara dengannya dari balik tabir, aku bertanya kepadanya tentang agamanya, maka ia menyebutkan kepadaku orang yang ia ikuti kemudian berkata Fulan putra Hasan dan ia menyebutkannya, maka aku berkata kepadanya “aku menjadi tebusanmu, apakah engkau melihatnya sendiri atau mendapatkan kabar?”. Beliau berkata “kabar dari Abu Muhammad [‘alaihis salaam] yaitu surat kepada ibunya…” [Al Ghaibah Syaikh Ath Thuusiy hal 143]

Riwayat di atas memiliki sanad yang hasan berdasarkan keterangan para perawinya dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Ya’qub Al Kulainiy dia adalah orang yang paling tsiqat dalam hadis dan paling tsabit diantara mereka [Rijal An Najasyiy hal 377 no 1026]
  2. Muhammad bin Ja’far Al Asadiy adalah Muhammad bin Ja’far bin Muhammad bin ‘Aun seorang yang tsiqat shahih al hadiits, hanya saja ia meriwayatkan dari para perawi dhaif [Rijal An Najasyiy hal 373 no 1020]
  3. Ahmad bin Ibrahiim Abu Haamid Al Maraaghiy seorang yang mamduh, agung kedudukannya [Rijal Ibnu Dawud hal 23 no 55]. Al Majlisiy juga menyatakan ia mamduh [Al Wajiizah no 62]
  4. Khadiijah binti Muhammad bin Aliy Ar Ridhaa saudara perempuan imam Aliy Al Hadiy, ia seorang yang arif jalil dan alim dalam khabar [A’yaan Asy Syi’ah Sayyid Muhsin Amin 6/313]

Sanad riwayat di atas dikatakan hasan karena terdapat dua perawi yang berpredikat mamduh [terpuji] yaitu Ahmad bin Ibrahim Al Maraaghiy dan Khadiijah binti Muhammad bin ‘Aliy Ar Ridhaa.

Matan riwayat menyebutkan kalau Khadiijah binti Muhammad bin Aliy Ar Ridhaa mengakui keberadaan putra Imam Hasan Al Askariy berdasarkan kabar dari surat Imam Hasan Al Askariy [Abu Muhammad] kepada ibunya.

.

محمد بن عبد الله ومحمد بن يحيى جميعا، عن عبد الله بن جعفر الحميري قال اجتمعت أنا والشيخ أبو عمرو رحمه الله عند أحمد بن إسحاق فغمزني أحمد بن إسحاق أن أسأله عن الخلف فقلت له: يا أبا عمرو إني أريد أن أسألك عن شئ وما أنا بشاك فيما أريد أن أسألك عنه، فإن اعتقادي وديني أن الأرض لا تخلو من حجة إلا إذا كان قبل يوم القيامة بأربعين يوما، فإذا كان ذلك رفعت الحجة وأغلق باب التوبة فلم يك ينفع نفسا إيمانها لم تكن آمنت من قبل أو كسبت في إيمانها خيرا، فأولئك أشرار من خلق الله عز و جل وهم الذين تقوم عليهم القيامة ولكني أحببت أن أزداد يقينا وإن إبراهيم عليه السلام سأل ربه عز وجل أن يريه كيف يحيي الموتى، قال: أو لم تؤمن قال: بلى ولكن ليطمئن قلبي، وقد أخبرني أبو علي أحمد بن إسحاق، عن أبي الحسن عليه السلام قال سألته وقلت من أعامل أو عمن آخذ، وقول من أقبل؟ فقال له: العمري ثقتي فما أدى إليك عني فعني يؤدي وما قال لك عني فعني يقول، فاسمع له وأطع، فإنه الثقة المأمون، وأخبرني أبو علي أنه سأل أبا محمد عليه السلام عن مثل ذلك، فقال له: العمري وابنه ثقتان، فما أديا إليك عني فعني يؤديان وما قالا لك فعني يقولان، فاسمع لهما وأطعمها فإنهما الثقتان المأمونان، فهذا قول إمامين قد مضيا فيك قال: فخر أبو عمرو ساجدا وبكى ثم قال: سل حاجتك فقلت له: أنت رأيت الخلف من بعد أبي محمد عليه السلام؟ فقال: إي والله ورقبته مثل ذا – وأومأ بيده – فقلت له: فبقيت واحدة فقال لي: هات، قلت: فالاسم؟ قال: محرم عليكم أن تسألوا عن ذلك، ولا أقول هذا من عندي، فليس لي أن أحلل ولا أحرم، ولكن عنه عليه السلام، فإن الامر عند السلطان، أن أبا محمد مضى ولم يخلف ولدا وقسم ميراثه وأخذه من لا حق له فيه وهوذا، عياله يجولون ليس أحد يجسر أن يتعرف إليهم أو ينيلهم شيئا، وإذا وقع الاسم وقع الطلب، فاتقوا الله وأمسكوا عن ذلك

Muhammad bin ‘Abdullah dan Muhammad bin Yahya [keduanya] dari ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy yang berkata telah berkumpul aku dan Syaikh Abu ‘Amru [rahimahullaah] di sisi Ahmad bin Ishaaq, maka Ahmad bin Ishaaq memberi isyarat kepadaku untuk bertanya kepadanya [Abu ‘Amru] mengenai pengganti [imam]. Maka aku berkata kepadanya “wahai Abu ‘Amru aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu dan tidaklah aku meragukan mengenai hal yang ingin aku tanyakan, karena dalam keyakinanku dan agamaku sesungguhnya bumi tidak akan kosong dari hujjah kecuali 40 hari sebelum hari kiamat dan pada masa itu hujjah diangkat dan pintu taubat ditutup, tidaklah bermanfaat iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau ia [belum] mengusahakan kebaikan dalam masa imannya, maka mereka orang-orang saat itu adalah makhluk Allah ‘azza wajalla yang paling buruk dan merekalah yang akan mengalami hari kiamat. Akan tetapi aku ingin menambah keyakinanku sebagaimana Ibrahim [‘alaihis salaam] bertanya kepada Rabb-nya ‘azza wajalla agar diperlihatkan kepadanya bagaimana menghidupkan orang-orang mati maka [Allah berfirman] Belum yakinkah kamu? Ibrahim menjawab “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap”. Dan sungguh telah mengabarkan kepadaku Abu ‘Aliy Ahmad bin Ishaaq dari Abu Hasan [‘alaihis salaam], aku bertanya kepadanya, aku berkata “siapakah yang akan kuikuti atau dari siapa aku mengambil dan perkataan siapa yang harus aku terima”. Maka Beliau [Abu Hasan] menjawab “Al ‘Amiriy ia adalah kepercayaanku, maka apa yang ia berikan kepadamu dariku maka itu adalah pemberianku dan apa yang ia katakan kepadamu dariku maka itu adalah perkataanku, dengarlah dan taatlah sesuangguhnya ia seorang yang tsiqat ma’mun. Dan telah mengabarkan kepadaku Abu ‘Aliy bahwa ia bertanya kepada Abu Muhammad [‘alaihis salaam] perkara yang sama, maka Beliau [Abu Muhammad] berkata “Al ‘Amiriy dan anaknya keduanya tsiqat, apa yang keduanya berikan kepadamu dariku maka itu adalah pemberianku dan apa yang keduanya katakan kepadamu dariku maka itu adalah perkataanku, dengarkanlah dan taatlah pada mereka berdua sesungguhnya keduanya tsiqat ma’mun. Inilah perkataan kedua Imam tentang dirimu. [Abdullah bin Ja’far Al Himyariy] berkata maka Abu ‘Amru bersujud dan menangis, kemudian berkata “tanyakanlah keperluanmu”. Maka aku berkata kepadanya “apakah engkau pernah melihat pengganti [imam] setelah Abu Muhammad [‘alaihis salaam]?”. Ia menjawab “ya, demi Allah dan lehernya seperti ini [ia mengisyaratkan dengan tangannya]”. Aku berkata kepadanya “tinggal satu pertanyaan lagi”. Ia berkata “tanyakanlah”. Aku berkata “siapakah namanya”. Ia menjawab “haram atas kalian menanyakan hal itu, dan tidaklah perkataan ini berasal dariku, bukan diriku yang menyatakan halal atau haram, tetapi hal itu berasal darinya [‘alaihis salaam]. Karena perkara ini di sisi sultan adalah Abu Muhammad wafat dan tidak meninggalkan anak, warisannya dibagi dan diambil oleh orang-orang yang tidak memiliki hak terhadapnya, sedangkan ahli warisnya bertebaran dan tidak seorangpun berani untuk mengungkapkan diri kepada mereka atau mengambil kembali dari mereka, jika nama [tersebut] dimunculkan maka akan dilakukan pencarian, maka takutlah kepada Allah dan diamlah terhadap perkara ini [Al Kafiy Al Kulainiy 1/329-330]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  2. ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 400]
  3. Ahmad bin Ishaaq bin Sa’d Al Asy’ariy yaitu Abu ‘Aliy Al Qummiy seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 397]
  4. Abu ‘Amru yang dimaksud di atas adalah Utsman bin Sa’iid Al ‘Amiriy termasuk salah satu wakil Imam, seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 401] dan disebutkan dalam atsar di atas bahwa Abu ‘Amru telah dinyatakan tsiqat oleh Imam Abu Hasan Aliy Al Hadiy [‘alaihis salaam] dan Imam Abu Muhammad Hasan Al Askariy [‘alaihis salaam]

Matan riwayat di atas menyebutkan bahwa ‘Abdullah bin Ja’far berkumpul dengan Abu ‘Amru Utsman bin Sa’iid Al ‘Amiriy di sisi Abu ‘Aliy Ahmad bin Ishaaq, dan Abdullah bin Ja’far menyebutkan dari Abu ‘Aliy dari kedua imam yaitu Abu Hasan [‘alaihis salaam] dan Abu Muhammad [‘alaihis salaam] bahwa Abu ‘Amru Utsman bin Sa’iid Al ‘Amiriy seorang yang tsiqat ma’mun. Kemudian Abdullah bin Ja’far bertanya kepada Abu ‘Amru apakah ia pernah melihat pengganti Imam Hasan Al Askariy yaitu Imam Mahdiy maka Abu ‘Amru Al ‘Amiriy menyatakan bahwa ia sudah pernah melihatnya. Riwayat shahih ini dengan jelas membuktikan eksistensi Imam Mahdiy di sisi mazhab Syi’ah.

.

حدثنا محمد بن موسى بن المتوكل رضي الله عنه قال حدثنا عبد الله بن جعفر الحميري قال سألت محمد بن عثمان العمري رضي الله عنه فقلت له أرأيت صاحب هذا الامر؟ فقال نعم وآخر عهدي به عند بيت الله الحرام وهو يقول  اللهم أنجز لي ما وعدتني

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muusa bin Al Mutawakil [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy yang berkata aku bertanya kepada Muhammad bin ‘Utsman Al ‘Amiriy radiallahu ‘anhu, maka aku berkata kepadanya “apakah engkau pernah melihat pemilik urusan ini [Al Mahdiy]?”. Beliau berkata “benar, dan terakhir aku melihatnya di sisi Baitullah dan ia berkata “Ya Allah penuhilah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku” [Kamal Ad Diin Wa Tamaam An Ni’mah Syaikh Ash Shaduuq hal 440]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Musa bin Al Mutawakil adalah salah satu dari guru Ash Shaduq, ia seorang yang tsiqat [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 251 no 59]
  2. ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 400]
  3. Muhammad bin ‘Utsman bin Sa’iid Al ‘Amiriy adalah salah satu dari wakil Imam, seorang yang tsiqat [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiist no 549]

Matan riwayat shahih di atas menyebutkan bahwa Muhammad bin ‘Utsman bin Sa’iid Al Amiriy seorang yang tsiqat ma’mun [sebagaimana dikatakan oleh Imam Hasan Al Askariy] telah melihat Al Mahdiy di Baitullah. Riwayat shahih ini telah membuktikan eksistensi Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah.

.

.

.

Keghaiban Imam Mahdiy Dalam Mazhab Syi’ah

Dalam mazhab Syi’ah terdapat keyakinan bahwa Imam Mahdiy akan ghaib hingga waktu yang telah Allah ‘azza wajalla tetapkan baru kemudian muncul kembali. Tidak benar anggapan bahwa keyakinan ini dalam mazhab Syi’ah hanya bersumber dari kesaksian orang yang tidak dikenal. Justru keyakinan ini telah tsabit dalam berbagai riwayat shahih dalam mazhab Syi’ah.

.

حدثنا محمد بن الحسن رضي الله عنه قال حدثنا سعد بن عبد الله قال حدثنا أبو جعفر محمد بن أحمد العلوي عن أبي هاشم داود بن القاسم الجعفري قال سمعت أبا الحسن صاحب العسكر عليه السلام يقول الخلف من بعدي ابني الحسن فكيف لكم بالخلف من بعد الخلف فقلت ولم جعلني الله فداك فقال لأنكم لا ترون شخصه ولا يحل لكم ذكره باسمه قلت فكيف نذكره قال قولوا الحجة من آل محمد صلى الله عليه وآله وسلم

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hasan [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad Al ‘Alawiy dari Abi Haasyim Dawud bin Qaasim Al Ja’fariy yang berkata aku mendengar Abul Hasan shahib Al Askar [‘alaihis salaam] mengatakan “pengganti setelahku adalah anakku Hasan maka bagaimana kalian terhadap pengganti dari penggantiku?”. Aku berkata “aku menjadi tebusanmu, mengapa?”. Beliau berkata “karena kalian tidak akan melihat dirinya secara fisik dan tidak dibolehkan bagi kalian menyebutnya dengan namanya”. Aku berkata “maka bagaimana menyebutnya?”. Beliau berkata “kalian katakanlah hujjah dari keluarga Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam]” [Kamal Ad Diin Wa Tamaam An Ni’mah Syaikh Ash Shaduuq hal 381]

Riwayat di atas sanadnya hasan, para perawinya tsiqat dan hasan berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135].
  3. Abu Ja’far Muhammad bin Ahmad Al ‘Alawiy tidak tsabit tautsiq terhadapnya hanya saja ia hasan [Al Mufiid Min Mu’jam Rijal Al Hadiits hal 497].
  4. Abu Haasyim Al Ja’fariy adalah Dawud bin Qaasim seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 399]

Imam Aliy Al Hadiy menyebutkan bahwa pengganti dari anaknya Abu Muhammad Imam Hasan Al Askariy tidak dapat dilihat oleh sebagian pengikutnya dan tidak diperbolehkan menyebutkan namanya. Hal ini adalah isyarat akan adanya keghaiban pengganti Imam Hasan Al Askariy yaitu Imam Mahdiy.

.

حدثنا أحمد بن زياد بن جعفر الهمداني رضي الله عنه قال: حدثنا علي ابن إبراهيم بن هاشم، عن أبيه، عن أبي أحمد محمد بن زياد الأزدي قال: سألت سيدي موسى بن جعفر عليهما السلام عن قول الله عز وجل: ” وأسبغ عليكم نعمه ظاهرة وباطنة ”  فقال عليه السلام: النعمة الظاهرة الامام الظاهر، والباطنة الامام الغائب، فقلت له: و يكون في الأئمة من يغيب؟ قال: نعم يغيب عن أبصار الناس شخصه، ولا يغيب عن قلوب المؤمنين ذكره، وهو الثاني عشر منا، يسهل الله له كل عسير، ويذلل له كل صعب، ويظهر له كنوز الأرض، ويقرب له كل بعيد، ويبير به كل جبار عنيد ويهلك على يده كل شيطان مريد، ذلك ابن سيدة الإماء الذي تخفى على الناس ولادته، ولا يحل لهم تسميته حتى يظهره الله عز وجل فيملأ الأرض قسطا وعدلا كما ملئت جورا وظلما

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy [radiallahu ‘anhu] yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Aliy bin Ibrahim bin Haasyim dari Ayahnya dari Abi Ahmad Muhammad bin Ziyaad Al Azdiy yang berkata aku bertanya kepada tuanku Muusa bin Ja’far [‘alaihimas salaam] tentang firman Allah ta’ala “menyempurnakan atas kalian nikmat-Nya lahir dan bathin”. Maka Beliau [‘alaihis salaam] berkata “nikmat lahir adalah imam yang nampak dan [nikmat] bathin adalah imam yang ghaib”. Maka aku berkata kepada Beliau “apakah diantara imam-imam ada yang ghaib?”. Beliau berkata “benar, dirinya [fisiknya] akan ghaib dari penglihatan orang-orang tetapi sebutannya tidak ghaib di hati orang-orang mukmin. Dia adalah yang keduabelas dari kami. Allah memudahkan baginya semua kesulitan, membantunya mengatasi semua kemalangan, menampakkan baginya harta-harta di bumi, mendekatkan baginya semua yang jauh, menghancurkan dengannya semua orang yang bertindak sewenang-wenang lagi keras kepala dan menghancurkan dengan tangannya semua pengikut setan. Dia adalah anak dari sayyidah budak wanita, ia disembunyikan kelahirannya dari orang-orang dan tidak dibolehkan bagi mereka menyebutkan namanya sampai Allah ‘azza wajalla memunculkannya dan memenuhi bumi dengan  keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan penindasan dan kezaliman [Kamal Ad Diin Wa Tamaam An Ni’mah Syaikh Ash Shaduuq hal 328-329]

Riwayat di atas sanadnya shahih, para perawinya tsiqat berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Ahmad bin Ziyaad bin Ja’far Al Hamdaaniy, ia seorang yang tsiqat fadhl sebagaimana yang dinyatakan Syaikh Shaduq [Kamal Ad Diin Syaikh Shaduq hal 329]
  2. Aliy bin Ibrahim bin Haasyim, tsiqat dalam hadis, tsabit, mu’tamad, shahih mazhabnya [Rijal An Najasyiy hal 260 no 680]
  3. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]
  4. Abu Ahmad Muhammad bin Ziyaad Al Azdiy adalah Muhammad bin Abi Umair, ia termasuk orang yang paling terpercaya baik di kalangan khusus [Syi’ah] maupun kalangan umum [Al Fahrasat Ath Thuusiy hal 218]

Matan riwayat sangat jelas menyebutkan bahwa Imam kedua belas dari kalangan ahlul bait yaitu Imam Mahdiy akan mengalami keghaiban.

.

حدثنا أبي، ومحمد بن الحسن، ومحمد بن موسى المتوكل رضي الله عنهم قالوا حدثنا سعد بن عبد الله، وعبد الله بن جعفر الحميري، ومحمد بن يحيى العطار جميعا قالوا: حدثنا أحمد بن محمد بن عيسى، وإبراهيم بن هاشم، وأحمد بن أبي عبد الله البرقي، ومحمد بن الحسين بن أبي الخطاب جميعا: قالوا: حدثنا أبو علي الحسن ابن محبوب السراد، عن داود بن الحصين، عن أبي بصير، عن الصادق جعفر بن محمد عن آبائه عليهم السلام قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله: المهدي من ولدي، اسمه اسمي، وكنيته كنيتي، أشبه الناس بي خلقا وخلقا، تكون له غيبة وحيرة حتى تضل الخلق عن أديانهم، فعند ذلك يقبل كالشهاب الثاقب فيملأها قسطا وعدلا كما ملئت ظلما وجورا

Telah menceritakan kepada kami Ayahku, Muhammad bin Hasan dan Muhammad bin Muusa Al Mutawakil [radiallahu ‘anhum], mereka berkata telah menceritakan kepada kami Sa’d bin ‘Abdullah, ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy, Muhammad bin Yahya Al ‘Aththaar, mereka berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ahmad bin Muhammad bin Iisa, Ibrahim bin Haasyim, Ahmad bin Abi ‘Abdullah Al Barqiy dan Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab, mereka berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Aliy Hasan Ibnu Mahbuub As Saraad dari Dawud bin Hushain dari Abi Bashiir dari Ash Shaadiq Ja’far bin Muhammad dari Ayah-ayahnya [‘alaihis salaam] yang berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Al Mahdiy dari keturunanku, namanya sama dengan namaku, kuniyah-nya sama dengan kuniyahku, dia adalah orang yang paling menyerupaiku dalam fisik dan akhlak, dia akan mengalami keghaiban dan terjadi kebingungan hingga orang-orang tersesat dari agama mereka, maka pada masa itu ia akan datang seperti bintang yang menyala, dia akan memenuhinya [bumi] dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi oleh kezaliman dan penindasan [Kamal Ad Diin Wa Tamaam An Ni’mah Syaikh Ash Shaduuq hal 287]

Para perawi hadis di atas adalah para perawi tsiqat berdasarkan keterangan dalam kitab Rijal Syi’ah

  1. Aliy bin Husain bin Musa bin Babawaih Al Qummiy Ayah Syaikh Ash Shaaduq adalah Syaikh di Qum terdahulu faqih dan tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 261 no 684]. Muhammad bin Hasan bin Ahmad bin Walid adalah Syaikh Qum, faqih mereka, yang terdahulu dan terkemuka, seorang yang tsiqat tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 383 no 1042]. Muhammad bin Musa bin Mutawakil adalah salah satu dari guru Ash Shaduq, ia seorang yang tsiqat [Khulashah Al Aqwaal Allamah Al Hilliy hal 251 no 59]
  2. Sa’d bin ‘Abdullah Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Al Fahrasat Syaikh Ath Thuusiy hal 135]. ‘Abdullah bin Ja’far Al Himyariy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 400]. Muhammad bin Yahya Al Aththaar seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 353 no 946].
  3. Ahmad bin Muhammad bin Iisa Al Qummiy adalah seorang yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 351]. Ibrahim bin Haasyim Al Qummiy seorang yang tsiqat jaliil. Ibnu Thawus pernah menyatakan hadis yang dalam sanadnya ada Ibrahim bin Haasyim bahwa para perawinya disepakati tsiqat [Al Mustadrakat Ilm Rijal Al Hadis, Asy Syahruudiy 1/222]. Ahmad bin Abu ‘Abdullah Al Barqiy atau Ahmad bin Muhammad bin Khalid Al Barqiy seorang yang pada dasarnya tsiqat, meriwayatkan dari para perawi dhaif dan berpegang dengan riwayat mursal [Rijal An Najasyiy hal 76 no 182]. Muhammad bin Husain bin Abil Khaththaab seorang yang mulia, agung kedudukannya, banyak memiliki riwayat, tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 334 no 897]
  4. Abu ‘Aliy Hasan bin Mahbuub As Saraad seorang penduduk kufah yang tsiqat [Rijal Ath Thuusiy hal 354]
  5. Dawud bin Hushain meriwayatkan dari Abu ‘Abdullah [‘alaihis salaam] dan Abu Hasan [‘alaihis salaam], seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 159 no 421].
  6. Abu Bashiir adalah Abu Bashiir Al Asdiy Yahya bin Qasim seorang yang tsiqat [Rijal An Najasyiy hal 441 no 1187]

Sebagian ulama Syi’ah menetapkan hadis ini sebagai hadis shahih tetapi penilaian ini perlu ditinjau kembali karena Dawud bin Hushain memang seorang yang tsiqat tetapi dikatakan kalau ia bermazhab waqifiy.

Allamah Al Hilliy menukil dari Ath Thuusiy dan Ibnu Uqdah bahwa Dawud bin Hushain bermazhab waqifiy, dan Allamah Al Hilliy berkata “yang kuat di sisiku adalah bertawaqquf terhadap riwayatnya” [Khulashah Al Aqwaal 345 no 1366]

Berdasarkan kaidah ilmu hadis mazhab Syi’ah perawi tsiqat dengan bermazhab menyimpang seperti waqifiy tidak dinyatakan sebagai shahih hadisnya tetapi turun derajatnya menjadi muwatstsaq. Dan kedudukan hadis muwatstsaq bisa dijadikan hujjah jika tidak bertentangan dengan hadis shahih lainnya dalam mazhab Syi’ah. Hadis di atas sangat bersesuaian dengan  kedua hadis sebelumnya maka bisa dijadikan hujjah.

.

.

.

Kesimpulan

Kami membuat tulisan ini bukan sebagai pembelaan terhadap lawan diskusi Syaikh Khalid Al Wushabiy tetapi sebagai suatu usaha untuk meluruskan distorsi atau kedustaan terhadap mazhab Syi’ah. Ada dua hal dari Syaikh Khalid Al Wushabiy yang menurut kami benar

  1. Perkara kredibilitas Hakiimah binti Muhammad bin Aliy itu adalah benar, kami belum menemukan riwayat shahih yang menyebutkan tentangnya.
  2. Perkara hadis kelahiran Al Mahdiy yang tidak tsabit hal itu juga benar karena kami [sejauh ini] juga belum menemukan riwayat shahih yang menyebutkan kisah kelahirannya

Tetapi jika dengan kedua poin ini dinyatakan kalau keyakinan Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah menjadi runtuh karena hanya berdasarkan kesaksian orang yang tidak dikenal maka itu tidak lain adalah distorsi atas kebenaran atau merupakan kedustaan terhadap Syi’ah. Banyak hadis-hadis shahih dalam mazhab Syi’ah yang membuktikan keberadaan Imam Mahdiy mazhab Syi’ah dan banyak pula hadis-hadis shahih dalam kitab Syi’ah tentang keyakinan keghaiban Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah.

Tentu saja bagi Ahlus Sunnah [dan juga bagi kami] riwayat-riwayat Syi’ah di atas tidak menjadi hujjah tetapi bukan itu inti masalahnya. Inti masalahnya adalah adanya ulama Ahlus Sunnah yang mengklaim bahwa fondasi keyakinan Imam Mahdiy dalam mazhab Syi’ah itu sangat lemah dalam kitab-kitab Syi’ah. Nah inilah yang dibahas dalam tulisan di atas. Kita boleh saja berbeda keyakinan dengan Syi’ah tetapi jika ingin berbicara tentang Syi’ah maka berbicaralah dengan kejujuran dan kebenaran bukan dengan kedustaan yang dibuat seolah-olah ilmiah.

Dengan kata lain siapapun orangnya entah ia ulama atau orang awam perkataannya harus selalu ditimbang dengan standar kebenaran.