Hadis Kitabullah Dan Sunnah dibuat sunni sebagai tandingan untuk menutupi hadis Kitabullah dan Ahlulbait

Hadis Kitabullah Dan Sunnah dibuat sunni sebagai tandingan untuk menutupi hadis Kitabullah dan Ahlulbait


Salam wa rahmatollah. Bismillah.

Tajuk ini merupakan perbicaraan lama, yang pada mulanya, saya tidak mahu disentuh di dalam web ini. Ini kerana saya telah begitu menekankan hadis sebenar yang sahih lagi mutawattir adalah hadis Tsaqalain, yakni, Kitabullah dan itrati Ahlulbait. Bagaimanapun, kebelakangan ini, timbul kembali isu ini, tambahan pula ia ditimbukan oleh orang-orang yang suka-suka mendhaifkan sesuatu hadis, tanpa dalil yang mutlak, atau yang meyakinkan, demi mendhaifkan hadis Tsaqalain. Sia-sia. Ini adalah analisis hadis Kitabullah dan Sunnah, oleh saudara Secondprince. Selamat membaca.

Al Quranul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW adalah landasan dan sumber syariat Islam. Hal ini merupakan kebenaran yang sifatnya pasti dan diyakini oleh umat Islam. Banyak ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah .Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (QS ; Al Hasyr 7).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS ; Al Ahzab 21).

Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah .Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS ; An Nisa 80).

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS ; An Nur 51-52).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu Ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS ; Al Ahzab 36).

Jadi Sunnah Rasulullah SAW merupakan salah satu pedoman bagi umat islam di seluruh dunia. Berdasarkan ayat-ayat Al Quran di atas sudah cukup rasanya untuk membuktikan kebenaran hal ini. Tulisan ini akan membahas hadis “Kitabullah wa Sunnaty” yang sering dijadikan dasar bahwa kita harus berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yaitu

Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”.

Hadis “Kitabullah Wa Sunnaty” ini adalah hadis masyhur yang sering sekali didengar oleh umat Islam sehingga tidak jarang banyak yang beranggapan bahwa hadis ini adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya kita umat Islam harus berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang merupakan dua landasan utama dalam agama Islam. Banyak dalil dalil shahih yang menganjurkan kita agar berpegang kepada As Sunnah baik dari Al Quran (seperti yang sudah disebutkan) ataupun dari hadis-hadis yang shahih. Sayangnya hadis”Kitabullah Wa Sunnaty” yang seringkali dijadikan dasar dalam masalah ini adalah hadis yang tidak shahih atau dhaif. Berikut adalah analisis terhadap sanad hadis ini.

Analisis Sumber Hadis “Kitab Allah dan SunahKu”

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub As Sittah(Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Tirmidzi). Sumber dari Hadis ini adalah Al Muwatta Imam Malik,Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim, At Tamhid Syarh Al Muwatta Ibnu Abdil Barr,Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni, dan Jami’ As Saghir As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab karya Ulama seperti , Al Khatib dalam Al Faqih Al MutafaqqihShawaiq Al Muhriqah Ibnu HajarSirah Ibnu Hisyam, Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh, Al Ihkam Ibnu Hazm danTarikh At Thabari. Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4 jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya), mengenai hadis mursal ini sudah jelas kedhaifannya.

Hadis ini terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang mursal
  2. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang muttasil atau bersambung

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Secara Mursal

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat dalam kitab Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al Muhriqah, danTarikh At Thabari. Berikut adalah contoh hadisnya

Dalam Al Muwatta jilid I hal 899 no 3

Bahwa Rasulullah SAW bersabda” Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya”.

Dalam Al Muwatta hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Dalam Sunan Baihaqi terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini, diantaranya

Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada haji wada “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang kepadanya”.

Selain pada Sunan Baihaqi, hadis Urwah ini juga terdapat dalam Miftah Al Jannah hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata “Aku telah mendengar Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada waktu haji wada yang berbunyi ‘Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya”.

Hadis ini tidak berbeza dengan hadis Al Muwatta, karena Malik bin Anas tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada…..,Disini Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam Tarikh At Thabari jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin ada yang beranggapan karena Sirah Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq sudah menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis itu dalam Sirah Ibnu Hisyam sudah cukup menjadi bukti kebenarannya. Jawaban kami adalah benar bahwa Sirah Ibnu Hisyam menjadi pegangan oleh jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.

Sebuah Pembelaan dan Kritik

Hafiz Firdaus dalam bukunya Kaidah Memahami Hadis-hadis yang Bercanggah telah membahas hadis dalam Al Muwatta dan menanggapi pernyataan Syaikh Hasan As Saqqaf dalam karyanya Shahih Sifat shalat An Nabiy (dalam kitab ini As Saqqaf telah menyatakan hadis Kitab Allah dan SunahKu ini sebagai hadis yang dhaif ). Sebelumnya berikut akan dituliskan pendapat Hafiz Firdaus tersebut.

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”

Hadis ini sahih: Dikeluarkan oleh Malik bin Anas dalam al-Muwattha’ – no: 1619 (Kitab al-Jami’, Bab Larangan memastikan Takdir). Berkata Malik apabila mengemukakan riwayat ini: Balghni………bererti “disampaikan kepada aku” (atau dari sudut catatan anak murid beliau sendiri: Dari Malik, disampaikan kepadanya………). Perkataan seperti ini memang khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahawa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Lebih lanjut lihat Qadi ‘Iyadh Tartib al-Madarik, jld 1, ms 136; Ibn ‘Abd al-Barr al Tamhid, jld 1, ms 34; al-Zarqani Syarh al Muwattha’, jld 4, ms 307 dan Hassath binti ‘Abd al-’Aziz Sagheir Hadis Mursal baina Maqbul wa Mardud, jld 2, ms 456-470.

Hasan ‘Ali al-Saqqaf dalam bukunya Shalat Bersama Nabi SAW (edisi terj. dari Sahih Sifat Solat Nabi), ms 269-275 berkata bahwa hadis ini sebenarnya adalah maudhu’. Isnadnya memiliki perawi yang dituduh pendusta manakala maksudnya tidak disokongi oleh mana-mana dalil lain. Beliau menulis: Sebenarnya hadis yang tsabit dan sahih adalah hadis yang berakhir dengan “wa ahli baiti” (sepertimana Khutbah C – penulis). Sedangkan yang berakhir dengan kata-kata “wa sunnati” (sepertimana Khutbah B) adalah batil dari sisi matan dan sanadnya.

Nampaknya al-Saqqaf telah terburu-buru dalam penilaian ini kerana beliau hanya menyimak beberapa jalan periwayatan dan meninggalkan yang selainnya, terutamanya apa yang terkandung dalam kitab-kitab Musannaf, Mu’jam dan Tarikh (Sejarah). Yang lebih berat adalah beliau telah menepikan begitu sahaja riwayat yang dibawa oleh Malik di dalam kitab al-Muwattha’nya atas alasan ianya adalah tanpa sanad padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Kritik kami adalah sebagai berikut, tentang kata-kata hadis riwayat Al Muwatta adalah shahih karena pernyataan Balghni atau “disampaikan kepada aku” dalam hadis riwayat Imam Malik ini adalah khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahwa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Maka Kami katakan, Kaidah periwayatan hadis dengan pernyataan Balghni atau “disampaikan kepadaku” memang terdapat di zaman Imam Malik. Hal ini juga dapat dilihat dalam Kutub As Sunnah Dirasah Watsiqiyyah oleh Rif’at Fauzi Abdul Muthallib hal 20, terdapat kata kata Hasan Al Bashri

“Jika empat shahabat berkumpul untuk periwayatan sebuah hadis maka saya tidak menyebut lagi nama shahabat”.Ia juga pernah berkata”Jika aku berkata hadatsana maka hadis itu saya terima dari fulan seorang tetapi bila aku berkata qala Rasulullah SAW maka hadis itu saya dengar dari 70 orang shahabat atau lebih”.

Tetapi adalah tidak benar mendakwa suatu hadis sebagai shahih hanya dengan pernyataan “balghni”. Hal ini jelas bertentangan dengan kaidah jumhur ulama tentang persyaratan hadis shahih seperti yang tercantum dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis yaitu

Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.

Dengan kaidah Inilah as Saqqaf telah menepikan hadis al Muwatta tersebut karena memang hadis tersebut tidak ada sanadnya. Yang aneh justru pernyataan Hafiz yang menyalahkan As Saqqaf dengan kata-kata padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Pernyataan Hafiz di atas menunjukan bahwa Malik bin Anas dan tokoh hadis zamannya (sekitar 93H-179H) jika meriwayatkan hadis dengan pernyataan telah disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah SAW atau Qala Rasulullah SAW tanpa menyebutkan sanadnya maka hadis tersebut adalah shahih. Pernyataan ini jelas aneh dan bertentangan dengan kaidah jumhur ulama hadis. Sekali lagi hadis itu mursal atau terputus dan hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah karena kemungkinan dhaifnya. Karena bisa jadi perawi yang terputus itu adalah seorang tabiin yang bisa jadi dhaif atau tsiqat, jika tabiin itu tsiqatpun dia kemungkinan mendengar dari tabiin lain yang bisa jadi dhaif atau tsiqat dan seterusnya kemungkinan seperti itu tidak akan habis-habis. Sungguh sangat tidak mungkin mendakwa hadis mursal sebagai shahih “Hanya karena terdapat dalam Al Muwatta Imam Malik”.

Hal yang kami jelaskan itu juga terdapat dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 yang mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah, Ibnu Hajar berkata

”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat, tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain”.

Lihat baik-baik walaupun yang meriwayatkan hadis mursal itu adalah tabiin tetap saja dinyatakan dhaif apalagi Malik bin Anas yang seorang tabiit tabiin maka akan jauh lebih banyak kemungkinan dhaifnya. Pernyataan yang benar tentang hadis mursal Al Muwatta adalah hadis tersebut shahih jika terdapat hadis lain yang bersambung dan shahih sanadnya yang menguatkan hadis mursal tersebut di kitab-kitab lain. Jadi adalah kekeliruan menjadikan hadis mursal shahih hanya karena terdapat dalam Al Muwatta.

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang Bersambung.

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4 jalan sanad hadis “Kitab Allah dan SunahKu”. 4 jalan sanad itu adalah
1. Jalur Ibnu Abbas ra
2. Jalur Abu Hurairah ra
3. Jalur Amr bin Awf ra
4. Jalur Abu Said Al Khudri ra

Jalan Sanad Ibnu Abbas

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat ditemukan dalam Kitab Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93 dan Sunan Baihaqi juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari Al Mustadrak. Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.

1. Ibnu Abi Uwais

  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang yang mencelanya, diantaranya Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong. Menurut Abu Hatim Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran tetapi dia terbukti lengah. An Nasa’i menilai Ibnu Abi Uwais dhaif dan tidak tsiqah. Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy “An Nasa’i sangat jelek menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan hadisnya)”. Ahmad bin Ady berkata “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun.”
  • Dalam Muqaddimah Al Fath Al Bary halaman 391 terbitan Dar Al Ma’rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata ”Atas dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa’i dan lain-lain”.
  • Dalam Fath Al Mulk Al Aly halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin Shiddiq mengatakan “berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan “mungkin aku membuat hadis untuk penduduk madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara mereka”.

Jadi Ibnu Abi Uwais adalah perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat, pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis. Ada sebagian orang yang membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal atau perawi Shahih Bukhari oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah. Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis seperti Yahya bin Mu’in, An Nasa’i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh wat Ta’dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta’dil). Oleh karenanya hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba’ah atau pendukung dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih. Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Al Fath Al Bary Syarh Shahih Bukhari, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam As Shahih(Bukhari dan Muslim) tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini terdapat dalam Mustadrak dan Sunan Baihaqi.

2. Abu Uwais

  • Dalam kitab Al Jarh Wa At Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92, Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata mengenai Abu Uwais “Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia tidak kuat”.Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu’in yang berkata “Abu Uwais tidak tsiqah”.
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.

Dalam Al Mustadrak jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini. Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut, Beliau berkata”Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah ra”. Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis ”Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.

Jalan Sanad Abu Hurairah ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan DaruquthniIV hal 245, Jami’ As Saghir As Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94, At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.
Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi’dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh”.

Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

  • Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal ( XIII hal 96) berkata Yahya bin Muin bahwa riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa. Abu Hatim Ar Razy berkatahadis Shalih bin Musa dhaif. Imam Nasa’i berkata hadis Shalih bin Musa tidak perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).
  • Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib IV hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata bahwa Shalih bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis sering meriwayatkan hadis mungkar.
  • Dalam At Taqrib (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany menyatakan bahwa Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus ditinggalkan).
  • Al Dzahaby dalam Al Kasyif (2412) menyebutkan bahwa Shalih bin Musa itu wahin (lemah).
  • Dalam Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari berkata”Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar”.

Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan sanad dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh ternyata As Suyuthi dalam Jami’ As Saghir menyatakan hadis tersebut hasan, Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’ As Saghir. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm. Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.

Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya perbedaan pada“Kitab Allah dan SunahKu” menjadi “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu”. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi.Kalau dibandingkan antara hadis ini dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis Shahih Sunan Tirmidzi ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

Adz Dzahabi dalam Al Mizan Al I’tidal jilid II hal 302 berkata bahwa hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang dilakukannya. Selain itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy setelah beliau mengkritik Shalih bin Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan shahih.

Jalan Sanad Amr bin Awf ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Amr bin Awf terdapat dalam kitab At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari kakeknya

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .

  • Dalam Mizan Al Itidal (biografi Katsir bin Abdullah no 6943) karya Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya). Abu Hatim menilai Katsir bin Abdullah tidak kuat. An Nasa’i menilai Katsir bin Abdullah tidak tsiqah.
  • Dalam At Taqrib at Tahdzib, Ibnu Hajar menyatakan Katsir bin Abdullah dhaif.
  • Dalam Al Kasyf Adz Dzahaby menilai Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata tentang Katsir bin Abdullah “Hadisnya sangat mungkar” dan “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak pantas disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan”
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main berkata “Katsir lemah hadisnya”
  • DalamKitab Al Jarh Wat Ta’dil biografi no 858, Abu Zur’ah berkata “Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya”.
  • Dalam Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), Mutharrif bin Abdillah berkata tentang Katsir “Dia orang yang banyak permusuhannya dan tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Ibnu Adi berkata perihal Katsir “Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan pegangan”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu Khaitsamah berkata “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Wal Matrukin Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah “Katsir bin Abdullah Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan”

Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.

Jalur Abu Said Al Khudri ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri ra terdapat dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94 karya Al Khatib Baghdadi dan Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.

Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif bin Umar At Tamimi.

  • Dalam Mizan Al I’tidal no 3637 Yahya bin Mu’in berkata “Saif daif dan riwayatnya tidak kuat”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Al Matrukin no 256, An Nasa’i mengatakan kalau Saif bin Umar adalah dhaif.
  • Dalam Al Majruhin no 443 Ibnu Hibban mengatakan Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh zindiq dan seorang pemalsu hadis.
  • Dalam Ad Dhu’afa Abu Nu’aim no 95, Abu Nu’aim mengatakan kalau Saif bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan apa-apanya.
  • Dalam Tahzib At Tahzib juz 4 no 517 Abu Dawud berkata kalau Saif bukan apa-apa, Abu Hatim berkata “ia matruk”, Ad Daruquthni menyatakannya dhaif dan matruk. Al Hakim mengatakan kalau Saif tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh. Ibnu Adi mengatakan kalau hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.

Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.

Hadis Tersebut Dhaif

Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam Al Imamah wal Khilafah yang menyatakan shahihnya hadis “Kitab Allah Dan SunahKu”.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih walaupun dalam Al Muwatta hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta adalah shahih menurutnya dengan mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Tanggapan Terhadap Ali As Salus

Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam Al Muwatta adalah shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan  Ali As Salus selanjutnya bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.

Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan

  • Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan
  • Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya sendiri dan mengenai hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang mursal dalam Al Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam kitabnya At Tamhid dan beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata hadis dalam At Tamhid tersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada perawinya.

Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu adalah pendapat beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti yang beliau nyatakan dalam Jami’ As Saghir dan beliau menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis “Kitab Allah dan SunahKu” adalah hadis yang dhaif.

Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal Al Muwatta shahih adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silisilatul Al Hadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah hadis no 908

Nabi Isa pernah bersabda”Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah kalian itu hamba. Sesungguhnya setiap manusia itu diuji dan selamat maka kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah kepada Allah atas keselamatan kalian”.

Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam Al Muwatta jilid II hal 986 tanpa sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.

Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini

”Sekali lagi saya tegaskan memarfu’kan riwayat ini sampai kepada Nabi adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak syak lagi merupakan kedustaan yang nyata-nyata dinisbatkan kepada beliau padahal beliau terbebas darinya”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu’kan hadis ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW mengenai hadis ini.

Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah yang menyatakan bahwa hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”. Hal ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya jauh lebih kuat dari hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”.

Jadi kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah membandingkan kedua hadis tersebut dengan metod yang tidak berimbang. Untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” beliau mengkritik habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” beliau bertindak longgar(tasahul) dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam penshahihan hadis tersebut.

Nabi(s) Memerangi Orang Yang Memerangi Ahlulbait(as)


 

Kebenaran selalu bersama Ahlul Bait iaitu Imam Ali AS, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Rasulullah SAW telah berwasiat kepada umatnya agar berpegang teguh kepada Ahlul Bait supaya terhindar dari kesesatan. Tetapi kenyataannya sebahagian orang menyelisihi Ahlul Bait, menyimpang dari mereka bahkan sampai memerangi mereka. Padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa baginda akan memerangi siapapun yang memerangi Ahlul Bait dan berdamai dengan siapapun yang berdamai dengan Ahlul Bait.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah 1/52 no 145

حدثنا الحسن بن علي الخلال وعلي بن المنذر قالا حدثنا أبو غسان حدثنا أسباط بن نصر عن السدي عن صبيح مولى أم سلمة عن زيد بن أرقم قال- قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعلي وفاطمة والحسن والحسين أنا سلم لمن سالمتم وحرب لمن حاربتم

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al Khallal dan Ali bin Mundzir yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan yang berkata telah menceritakan kepada kami Asbath bin Nashr dari As Suddi dari Shubaih mawla Ummu Salamah dari Zaid bin Arqam yang berkata Rasulullah SAW berkata kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain “Aku akan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian dan Aku akan memerangi orang yang memerangi kalian”.

Hadis di atas juga diriwayatkan dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 6/378 no 32181, Shahih Ibnu Hibban 15/433 no 6977, Sunan Tirmidzi 5/699 no 3870, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3/40 no 2619, Mu’jam Al Kabir 5/184 no 5030,Mu’jam As Shaghir 2/53 no 767, dan Mu’jam Al Awsath 5/182 no 5015.

Kedudukan Hadis

Hadis Hasan. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis sedangkan Shubaih adalah seorang tabiin mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam.

  •  Hasan bin Ali Al Khallal, Perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dalam At Tahdzib juz 2 no 530 disebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, An Nasa’i, Al Khatib dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/207 menyatakan ia tsiqat.
  •  Ali bin Mundzir, Perawi Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 7 no 627 bahwa ia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair. Ibnu Hajar dalam At Taqrib1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4803 menyatakan Ali bin Mundzir tsiqat.
  • Malik bin Ismail, dengan kuniyah Abu Ghassan adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam At Tahdzib juz 10 no 2 ia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, Ibnu Hibban, Ibnu Ma’in, Al Ajli, An Nasa’i dan Ibnu Syahin. Ibnu Sa’ad dan Utsman bin Abi Syaibah menyatakan ia shaduq. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/151 menyatakan Abu Ghassan tsiqah.
  • Asbath bin Nashr adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Dawri no 1251 Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqah. Dalam At Tahdzib juz 1 no 396 disebutkan kalau ia dimasukkan Ibnu Hibban ke dalam Ats Tsiqat, Bukhari menyatakan ia shaduq (jujur) dan Musa bin Harun berkata “tidak ada masalah dengannya” . Ibnu Syahin juga memasukkan namanya dalam Tarikh Asma Ats Tsiqat no 101. Sebagian orang mencacatnya diantaranya An Nasa’i yang berkata “laisa bi qawy (tidak kuat), Abu Nu’aim dan As Saji tetapi mereka tidak menyebutkan alasan pencacatannya sehingga pernyataan ta’dil terhadap Asbath bin Nashr lebih layak untuk diterima. Adz Dzahabi memasukkan namanya dalam Man Takallamu Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 27.
  • Ismail As Suddi adalah Ismail bin Abdurrahman bin Abi Karimah adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam At Tahdzib juz 1 no 572 ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Al Ajli dan Ibnu Hibban. An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Ady menyatakan ia hadisnya lurus jujur dan tidak ada masalah dengannya. Ibnu Hajar dalam At Taqrib1/97 menyatakan ia jujur terkadang salah tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 463 bahwa sebenarnya As Suddi seorang yang shaduq hasanul hadis.
  • Shubaih mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat juz 4 no 3462. Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 3/405 no 4037 menyebutkan bahwa ia gurunya As Suddi dan ia seorang tabiin. Al Bukhari menyebutkannya dalam Tarikh Al Kabir juz 4 no 2972 tanpa menyebutkan jarh atau cacat padanya. Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 4/449 juga menuliskan keterangan tentangnya tanpa sedikitpun menyatakan cacatnya. At Tirmidzi dalam Sunannya mengatakan kalau Shubaih tidak dikenal, pernyataan ini tidak perlu diperhatikan karena telah disebutkan banyak ulama yang menulis keterangan tentangnya bahkan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 2371 juga memberikan predikat ta’dil padanya. Shubaih seorang tabiin dan tidak ada satupun ulama yang mencacatkan dirinya dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan mendapat predikat ta’dil dari Adz Dzahabi. Oleh karena itu hadisnya lebih tepat dinilai hasan.

Keterangan mengenai para perawinya menunjukkan kalau hadis ini adalah hadis yang hasan. Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami’ As Shaghir no 1462 menyatakan bahwa hadis ini hasan tetapi anehnya beliau malah mendhaifkan hadis tersebut dalam Dhaif Sunan Ibnu Majah dan Dhaif Sunan Tirmidzi. Dalam Silsilah Ahadist Ad Dhaifah no 6028 ternyata Syaikh Al Albani menyatakan bahwa ia rujuk dari pandangannya dalam Shahih Al Jami’. Menurut beliau hadis tersebut dhaif dan mesti dipindahkan ke Dhaif Jami’ As Shaghir. Mari kita ikuti telaah Syaikh Al Albani

Tinjauan Pencacatan Syaikh Al Albani

Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Adh Dhaifah no 6028 ketika membahas hadis ini telah membawakan 3 jalan hadis yaitu

  •        Hadis Shubaih mawla Ummu salamah
  •        Hadis Abu Hurairah
  •        Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih

Hadis Shubaih di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani kerana Shubaih mawla Ummu Salamah. Syaikh mengatakan bahawa Shubaih tidak dikenal nasabnya kemudian Syaikh mengutip Ibnu Ady (dalam Al Kamil 4/86) yang menuliskan keterangan tentang “Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”. Dalam kitab tersebut disebutkan kalau Shubaih seorang pendusta.

Tanggapan kami : Hujjah Syaikh Al Albani sungguh tidak bernilai dan ternyata dicari-cari. Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dalam Al Kamil 4/86 bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah tetapi Shubaih yang tidak dikenal nasab maupun hadis-hadisnya. Bukti bahawa Shubaih mawla Ummu Salamah bukanlah Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady adalah

  •        Shubaih mawla Ummu Salamah meriwayatkan hadis dari Zaid bin Arqam(berdasarkan keterangan dari kitab-kitab biografi perawi) sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah.
  •        Shubaih mawla Ummu Salamah dikenal hadisnya iaitu hadis keutamaan Ahlul Bait di atas sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dikatakan oleh Ibnu Ady sendiri bahwa ia tidak dikenal hadis-hadisnya.

 

Ibnu Ady dalam Al Kamil hanya mengutip Yahya dan Abu Khaitsamah yang menyatakan bahwa ada seseorang bernama Shubaih yang tidak dikenal nasabnya meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah dan dia seorang pendusta. Syaikh Al Albani dengan seenaknya menduga bahwa Shubaih mawla Ummu Salamah adalah Shubaih yang dimaksudkan. Bagaimana Yahya dan Abu Khaitsamah menyatakan Shubaih yang tidak dikenal nasabnya itu sebagai seorang pendusta? Jawabannya tidak lain dari hadis-hadis yang diriwayatkan Shubaih yang sampai kepada mereka iaitu hadis Shubaih dari Utsman dan Aisyah. Tetapi sayang sekali hadis-hadis Shubaih ini tidaklah tercatat dalam kitab-kitab hadis sehingga Ibnu Ady berkata “tidak dikenal hadis-hadisnya”. Oleh karena itu tidak bernilai sedikitpun menjadikan riwayat Ibnu Ady tersebut sebagai hujjah untuk melemahkan Shubaih mawla Ummu Salamah.Tidak ada bukti sedikitpun yang “Shubaih yang tidak dikenal nasabnya” adalah Shubaih mawla Ummu Salamah

Kalau memang mahu menuruti logika Syaikh Al Albani maka kita dapat menemukan Shubaih lain yang juga satu thabaqah dan lebih cocok untuk dinisbatkan dengan “Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”. Dalam kitab Tabshir Al Muntabah 3/882 Ibnu Hajar menyebutkan nama-nama Shubaih dan di antaranya ada Shubaih mawla Ummu Salamah kemudian Ibnu Hajar juga menyebutkan Shubaih lain

صبيح، عن عثمان، وعنه أبو عون الثقفي

Shubaih yang meriwayatkan dari Utsman dan meriwayatkan darinya Abu ‘Aun Ats Tsaqafi

Dalam Tahdzib Al Kamal no 5433 biografi Muhammad bin Ubaidillah bin Sa’id Abu ‘Aun Ats Tsaqafi, Al Mizzi menyebutkan bahwa Abu ‘Aun meriwayatkan dari Shubaih sahabat Utsman. Shubaih ini lebih cocok dinisbatkan dengan “Shubaih yang tidak dikenal nasabnya” dalam Al Kamil Ibnu Ady karena mereka sama-sama meriwayatkan hadis dari Utsman. Kesimpulannya Shubaih yang dikatakan pendusta dalam Al Kamil Ibnu Ady bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah.

Kedua hadis lainnya iaitu hadis Abu Hurairah dan hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih juga dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Albani. Hadis Abu Hurairah dinyatakan dhaif karena dalam sanadnya terdapat Talid bin Sulaiman yang dikenal dhaif sedangkan dalam hadis Muslim bin Shubaih di dalamnya terdapat Husain bin Hasan Al Urani yang tidak dikenal oleh Syaikh sehingga ia menduga bahwa orang tersebut adalah Husain bin Hasan Al Asyqar.

Tanggapan kami : Pernyataan dhaif terhadap Talid bin Sulaiman patut diberikan catatan karena ia adalah Syaikh atau gurunya Ahmad bin Hanbal dimana Ahmad bin Hanbal hanya meriwayatkan dari orang yang dikenal tsiqah menurutnya. Dalam Tahdzib juz 1 no 948 disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal, Al Ajli dan Muhammad bin Abdullah bin Ammar menyatakan tidak ada masalah dengannya. Memang banyak ulama yang mengecam Talid menuduhnya pendusta kerana beliau mencaci sahabat Nabi iaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. Lucunya jiaka ada perawi lain yang mencaci Ali bin Abi Thalib (seperti Hariz bin Utsman Al Himsh), hal itu malah tidak merosakkan kredibiliti perawi tersebut dan ia tetap dinyatakan tsiqah. Sungguh suatu inkonsistensi yang layak dibuat bahasan tersendiri, tapi itu cerita lain untuk saat ini. Kemudian Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih memang sanadnya dhaif tetapi perawi yang dimaksud bukanlah Husain bin Hasan Al Urani seperti yang dikatakan Syaikh Al Albani tetapi dia adalah Hasan bin Husain Al Urani seperti yang diriwayatkan dalam Amali Al Muhamili 2/36 no 515. Biografinya disebutkan dalam Al Mizan dan jelas sekali ia bukan Husain bin Hasan Al Asyqar.

Kesimpulan

Pada dasarnya kami tidak menjadikan Hadis Abu Hurairah dan Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih sebagai hujjah. Kami berhujjah dengan hadis Shubaih mawla Ummu Salamah di atas yang merupakan hadis hasan sedangkan pencacatan Syaikh terhadap Shubaih tidak bernilai dan hanyalah pencacatan yang dicari-cari untuk melemahkan hadis tersebut.

Pemerhatian Tambahan Admin SE.com

Telah dibuktikan hadis ini kuat untuk dibuat hujah, juga mutawattir di sisi riwayat Ahlulbait(as). Ini ditambah pula dengan hadis-hadis penguat lain yang mengatakan Ahlulbait sentiasa bersama kebenaran, sentiasa bersama Quran,dan disucikan dengan sesuci-suci pembersihan, maka sudah tentu Nabi(s) akan memerangi mereka yang memerangi Ahlulbait, kerana kedudukan tinggi mereka di sisi Allah swt.

Jelas sekali sejarah membuktikan wujud peperangan yang menentang Ahlulbait(as). Yang paling jelas adalah dua peperangan menentang Imam Ali(as), iaitu Jamal dan Siffin. Maka dari hadis ini, kelompok yang memerangi Imam Ali dalam perang itu jelas diperangi oleh Nabi(s). Wallahualam

 

 

 

Benarkah Semua Peserta Perang Tabuk Dijamin Surga?

doqma “keadilan seluruh sahabat ” pun harus dipaksakan untuk membenarkan segala tingkah laku sebagian sahabat yang melenceng jauh

Dan semua yang dikatakan nabi (termasuk segala cacian & laknatan) adalah wahyu yang berasal dari Allah dan memang sangat pantas ditujukan bagi orang2 yang dia laknat. Dan dia bukanlah orang lemah mental / gila yang ketika marah membuatnya mencaci / melaknat orang yang tidak patut dilaknat . Sesungguhnya tiap perkataannya adalah kebenaran dan tiap laknatnya adalah laknat dari Allah azza wa jalla.

“Dan, dia (Muhammad) tidak bertutur dengan hawa
nafsunya, melainkan dengan wahyu yang diwahyukan”. ( QS 53:3-4 )

benar2 anda memaksakan berbagai alasan tidak masuk akal utk membela para sahabat yang jelas2 membangkang perintah Rasul utk terus mempertahankan dongeng “seluruh sahabat adalah adil”….baca Firman Allah :
4:65
“Maka demi Tuhanmu , mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan , kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya . ”

Lihat Allah mengatakan bahwa mereka tidak beriman hingga mereka tidak menolak sama sekali dengan tanpa keberatan hati sama sekali terhadap perintah Sayyidina Muhammad….

Dongeng seluruh sahabat pasti adil….ha..ha…ha….Jelas2 Rasul pernah melaknat mereka….tapi anda malah mengambil fatwa sebagian saja dr Syekh2 anda yg mengatakan mereka pasti adil…. Anda mengambil dongeng dan membuang fakta….!!!

benar2 anda memaksakan berbagai alasan tidak masuk akal utk membela para sahabat yang jelas2 membangkang perintah Rasul utk terus mempertahankan dongeng “seluruh sahabat adalah adil”….baca Firman Allah :
4:65
“Maka demi Tuhanmu , mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan , kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya . ”

Lihat Allah mengatakan bahwa mereka tidak beriman hingga mereka tidak menolak sama sekali dengan tanpa keberatan hati sama sekali terhadap perintah Sayyidina Muhammad….

Dongeng seluruh sahabat pasti adil….ha..ha…ha….Jelas2 Rasul pernah melaknat mereka….tapi anda malah mengambil fatwa sebagian saja dr Syekh2 anda yg mengatakan mereka pasti adil…. Anda mengambil dongeng dan membuang fakta….!!!

dalam hal ini sunni  keliru  besar,

pertama seperti saya katakan diatas bahwa ucapan Rasulullah saw itu wajib ditaati sebagaimana disebutkan dalam firman2 Allah SWT yg saya kutip diatas, dan tidak ada haq bagi kita umat Islam termasuk sahabat untuk membantah, karena ucapan beliau adalah wahyu!

Kedua, yang perlu anda ketahui bahwa perkara sebagian sahabat tidak menta’ati perintah Rasulullah saw… hal ini bukanlah sesuatu yang asing karena kitab sejarah dan hadis banyak yang melaporkan hal ini….

dibawah saya kutipkan hadis Bukhori tentang hal ini BAHWA DALAM PERANG UHUD NABI SAW… DITINGGALKAN BANYAK SAHABATNYA YG LARI DARI PEPERANGAN UNTUK MENYELAMATKAN DIRI, PADAHAL RASUL SAW TELAH MENYERU MEREKA AGAR KEMBALI, AKAN TETAPI MEREKA TETAP LARI KETAKUTAN DAN HANYA TERSISA 12 SAHABAT YANG SETIA MENEMANI NABI SAW PADA WAKTU ITU..

حدثنا ‏ ‏عمرو بن خالد ‏ ‏حدثنا ‏ ‏زهير ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أبو إسحاق ‏ ‏قال سمعت ‏ ‏البراء بن عازب ‏ ‏رضي الله عنهما ‏ ‏قال ‏
‏جعل النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏على ‏ ‏الرجالة ‏ ‏يوم ‏ ‏أحد ‏ ‏عبد الله بن جبير ‏ ‏وأقبلوا منهزمين فذاك إذ يدعوهم الرسول في أخراهم ولم يبق مع النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏غير اثني عشر رجلا ‏

SAHIH BUKHARI, KITAB تفسير القرآن ,
BAB قوله والرسول يدعوكم في أخراكم ,
anda bisa cek hadis ini di situs kementerian agama dan wakaf, saudi arabia:

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=6584

Jadi ketika saya di sekolah madrasah dulu diceritakan oleh guru-guru bahwa para sahabat Nabi saw semuanya adalah orang-orang yang ta’at dan patuh kepada Nabi saw dan siap mengorbankan dirinya untuk membela Nabi saw, sebagiannya ADALAH DONGENG BELAKA!!

Nyatanya dalam perang Uhud yang dihadiri sahabat dalam jumlah yang sangat besar, ternyata MAYORITAS SAHABAT LARI TUNGGANG-LANGGANG MENYELAMATKAN DIRI DAN HANYA TERSISA 12 ORANG SAHABAT YANG SETIA MENYERTAI BELIAU saw, ITULAH SAHABAT YANG SEBENARNYA SEMENTARA SAHABAT YANG LARI TENTU KWALITASNYA RENDAH.. bahkan al-Qur’an mengancam dengan neraka bagi orang-orang yang lari dari pertempuran

Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (QS. Al Anfal [8]:15)

Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al Anfal [8]:16)

Tidak hanya di perang Uhud beliau saw ditinggalkan umatnya, di perang Hunain pun Rasul saw ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya bahkan menurut sejarawan hanya tinggal 9 sahabat yang setia menemani beliau saw..

Jadi ketika di akhir hayatnya beliau saw mengirim pasukan dibawah pimpinan Usamah mereka enggan berangkat, hal ini bukanlah hal yang aneh karena banyak diantara sahabat yang takut berperang dan juga banyak yang tidak menta’ati beliau saw. !!

Ma’af mas hadis palsu diatas dibikin untuk melindungi sahabat yang dilaknat Nabi saw dan perbuatan mereka memang layak untuk dilaknat…!

Sekali lagi sahabat adalah manusia biasa, sementara Nabi saw adalah manusia yang luar biasa..!

Nabi adalah “Uswatun Hasanah” -teladan yang terbaik- Nabi adalah manusia dengan akhlak yang sempurna, jadi mustahil beliau saw mencaci-maki seseorang seenaknya tanpa sebab.. apalagi seseorang yang tidak patut dilaknat/dicaci.. apa anda kira Nabi saw “orang jalanan” yang seenaknya mengeluarkan caci-maki ke segala orang?!

Demi konsep “keadilan sahabat” yang tidak jelas, Nabi dilecehkan, sementara kesalahan sahabat dicari-carikakan udzur.. dan dibela mati-matian… tapi kalo dibilang “GHULU” terhadap sahabat menolak..! Aneh

Benarkah Semua Peserta Perang Tabuk Dijamin Surga?


Sebenarnya masalah siapa yang masuk surga atau tidak, itu adalah kuasa dan kehendak Allah SWT. Kita hanya berbicara sesuai dengan dalil yang ada baik dari firman Allah SWT ataupun hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian nashibi menukil surat At Taubah dan berhujjah bahwa “tidak ada orang munafik yang ikut perang Tabuk dan semua yang ikut perang Tabuk dijamin masuk surga”. Dengan pernyataan ini, nashibi ingin mengatakan kalau Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyah dijamin masuk surga karena mereka semua masuk surga.

Analisis ala perang Tabuk ini bisa dibilang kekeliruan nashibi yang memang awam dengan hadis-hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ditambah lagi dengan ketidakmampuan nashibi memahami hadis yang ia baca. Kami merasa lucu melihat cara nashibi berdalih soal orang-orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat perang Tabuk. Sebelum melihat kelucuan argumen nashibi itu mari kita lihat ayat yang mereka jadikan hujjah

لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar [QS At Taubah : 88-89]

Dengan ayat ini nashibi menetapkan bahwa semua yang ikut perang Tabuk yaitu orang-orang beriman telah dijamin surga. Nashibi berkata “tidak ada orang munafik yang ikut perang Tabuk”.

Ayat di atas bersifat umum dan tidak menafikan bahwa ada diantara orang yang ikut perang Tabuk tidak layak untuk dijamin surga. Riwayat-riwayat shahih membuktikan bahwa diantara orang yang ikut perang Tabuk terdapat

  1. Orang-orang yang mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya sehingga dikatakan kafir sesudah beriman
  2. Orang-orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Aqabah
  3. Orang-orang yang dilaknat oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثني يونس قال أخبرنا ابن وهب قال حدثني هشام بن سعد عن زيد بن أسلم عن عبد الله بن عمر قال : قال رجل في غزوة تبوك في مجلس : ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء ، أرغبَ بطونًا ، ولا أكذبَ ألسنًا ، ولا أجبن عند اللقاء! فقال رجل في المجلس : كذبتَ ، ولكنك منافق ! لأخبرن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم ونزل القرآن. قال عبد الله بن عمر : فأنا رأيته متعلقًا بحَقَب ناقة رسول الله صلى الله عليه وسلم تَنْكُبه الحجارة ، وهو يقول : ” يا رسول الله ، إنما كنا نخوض ونلعب! ” ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزؤن لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم)

Telah menceritakan kepada kami Yunus yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah menceritakan kepadaku Hisyaam bin Sa’ad dari Zaid bin Aslam dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata “seorang laki-laki berkata dalam suatu majelis saat perang Tabuk “aku belum pernah melihat orang yang seperti para qari [pembaca Al Qur’an] kami, mereka suka makan suka berdusta dan pengecut saat bertemu musuh”. Salah seorang dalam majelis berkata “engkau berdusta akan tetapi engkau seorang munafik, sungguh aku akan memberitahukan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Maka hal itu sampai kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan turunlah Al Qur’an. ‘Abdullah bin Umar berkata “aku melihat orang itu bergantung pada sabuk unta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hingga tersandung batu dan berdarah, sedangkan ia berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Apakah terhadap Allah dan ayat-ayatNya serta kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kalian berolok-olok? Tidak usah meminta maaf, sungguh kalian telah kafir sesudah kalian beriman” [Tafsir Ath Thabari 14/333-334 no 16912 tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan ia menshahihkannya]

ذَكَرَهُ أَبِي، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ الْكُوفِيِّ، ثنا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْقَرِيُّ، ثنا خَلادٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ”وَأَمَرَ بِالْغَزْوِ إِلَى تَبُوكَ، قَالَ: وَنَزَلَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَانِبٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: وَاللَّهِ إِنَّ أَرْغَبَنَا بُطُونًا، وَأَجَبْنَا عِنْدَ اللِّقَاءِ وَأَضْعَفَنَا، لَقُرَّاؤُنَا، فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّارًا، فَقَالَ: اذْهَبْ إِلَى هَؤُلاءِ الرَّهْطِ فَقُلْ لَهُمْ: مَا قُلْتُمْ ؟” ” وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ “

Ayahku menyebutkan dari ‘Abdullah bin Umar bin Aban Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Muhammad Al ‘Anqaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid dari ‘Abdullah bin Isaa dari Abdul Hamid bin Ka’ab bin Malik dari ayahnya yang berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar pada panas yang terik menuju perang Tabuk. [Ka’ab] berkata “ikut dalam rombongan itu sekelompok sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain “demi Allah, para qari [pembaca Qur’an] kami orang yang sangat suka makan, lemah dan pengecut saat perang”. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil ‘Ammar dan berkata “pergilah kepada orang-orang itu dan katakan kepada mereka “apa yang kalian katakan? Dan jika kamu tanyakan kepada mereka tentu mereka akan menjawab sesungguhnya kami hanya bersendagurau dan bermain-main saja. Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayatnya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok [Tafsir Ibnu Abi Hatim 6/1829 no 10046 dengan sanad shahih]

Riwayat Ibnu Jarir para perawinya tsiqat kecuali Hisyam bin Sa’ad ia seorang yang diperbincangkan tetapi dikatakan kalau ia tsabit dalam riwayatnya dari Zaid bin Aslam. Riwayat Ibnu Jarir dikuatkan oleh riwayat Ibnu Abi Hatim dimana para perawinya tsiqat.

Hadis diatas membawakan asbabun nuzul At Taubah 65-66 yaitu saat perang Tabuk dimana ada sebagian sahabat Nabi yang mengolok-olok dengan menyebut nama Allah dan ayat-ayatnya. Maka turunlah At Taubah 65-66 menyatakan bahwa mereka kafir sesudah beriman. Tidak diragukan lagi bahwa dalam hadis di atas mereka adalah sahabat Nabi yang ikut dalam perang Tabuk. Apakah mereka dijamin masuk surga?. Silakan dijawab wahai nashibi

.

.

Saat pulang dari perang Tabuk, sebagian sahabat yang ikut serta dalam perang Tabuk berkomplot berniat untuk membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di bukit Aqabah. Nashibi yang tahu fakta ini, membuat “bidasan” bahwa tidak ada bukti bahwa mereka berasal dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa saja mereka sudah lama menunggu di bukit Aqabah bukan dari peserta yang ikut perang Tabuk. Nashibi tersebut memang tidak bisa membaca dengan benar hadis riwayat Ahmad berikut

حدثنا عبد لله حدثني أبي ثنا يزيد أنا الوليد يعنى بن عبد الله بن جميع عن أبي الطفيل قال لما أقبل رسول الله صلى الله عليه و سلم من غزوة تبوك أمر مناديا فنادى ان رسول الله صلى الله عليه و سلم أخذ العقبة فلا يأخذها أحد فبينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يقوده حذيفة ويسوق به عمار إذ أقبل رهط متلثمون على الرواحل غشوا عمارا وهو يسوق برسول الله صلى الله عليه و سلم وأقبل عمار يضرب وجوه الرواحل فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لحذيفة قد قد حتى هبط رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما هبط رسول الله صلى الله عليه و سلم نزل ورجع عمار فقال يا عمار هل عرفت القوم فقال قد عرفت عامة الرواحل والقوم متلثمون قال هل تدري ما أرادوا قال الله ورسوله أعلم قال أرادوا ان ينفروا برسول الله صلى الله عليه و سلم فيطرحوه قال فسأل عمار رجلا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال نشدتك بالله كم تعلم كان أصحاب العقبة فقال أربعة عشر فقال ان كنت فيهم فقد كانوا خمسة عشر فعدد رسول الله صلى الله عليه و سلم منهم ثلاثة قالوا والله ما سمعنا منادي رسول الله صلى الله عليه و سلم وما علمنا ما أراد القوم فقال عمار أشهد أن الاثنى عشر الباقين حرب لله ولرسوله في الحياة الدنيا ويوم يقوم الأشهاد

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid yakni bin ‘Abdullah bin Jumai’ dari Abu Thufail yang berkata “Ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kembali dari perang Tabuk, Beliau memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hendak mengambil jalan ke bukit Aqabah maka tidak seorangpun diperbolehkan ke sana. Ketika itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikawal oleh Hudzaifah [radiallahu ‘anhu] dan unta Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] ditarik oleh Ammar [radiallahu ‘anhu], tiba-tiba sekumpulan orang yang memakai topeng [penutup wajah] dengan hewan tunggangan mendatangi mereka. Kemudian mereka menghalangi Ammar yang sedang menarik unta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ammar melawan mereka dengan memukul unta-unta tunggangan mereka. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Hudzaifah “sudah sudah”. Sampai akhirnya mereka menelusuri jalan turun dan setelah itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] turun dari untanya dan menghampiri Ammar, Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “wahai Ammar “apakah engkau mengenal orang-orang tadi”. Ammar menjawab “sungguh aku mengenal unta-unta tunggangan mereka tadi sedangkan orang-orang itu semuanya memakai topeng”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “apakah engkau mengetahui apa yang mereka inginkan”. Ammar menjawab “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “mereka bermaksud menakuti hewan tunggangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga mereka dapat menjatuhkannya dari bukit”. [Abu Thufail] berkata Ammar bertanya kepada salah seorang sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, tahukah engkau berapa jumlah Ashabul ‘Aqabah [orang-orang yang berada di bukit tadi]?. Ia berkata “empat belas orang”. Ammar berkata “jika engkau termasuk salah satu dari mereka maka jumlahnya lima belas orang”. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menghitung tiga dari mereka yang mengatakan “Demi Allah kami tidak mendengar penyeru Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami tidak mengetahui apa yang diinginkan orang-orang yang mendaki bukit itu”. Ammar berkata “aku bersaksi bahwa dua belas orang lainnya musuh Allah dan Rasul-Nya di kehidupan dunia dan pada hari dibangkitkannya para saksi [akhirat]“ [Musnad Ahmad 5/453 no 23843, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat dengan syarat Muslim”]

Nashibi mengatakan bahwa orang-orang yang ada di bukit Aqabah itu bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi memang sudah lama menunggu di bukit Aqabah. Hal ini keliru dengan alasan

  1. Dalam riwayat Ahmad di atas disebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memutuskan mengambil jalan ke bukit Aqabah itu saat pulang dari perang Tabuk, jadi bukanlah perkara yang sudah direncanakan dari awal. Oleh karena itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan penyerunya untuk menyerukan bahwa Beliau akan mengambil jalan ke bukit Aqabah dan sahabat lain tidak diperkenankan mengikutinya. Kalau dikatakan orang-orang di Aqabah itu sudah lama menunggu disana maka patutlah kita bertanya pada nashibi, darimana mereka tahu bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiba-tiba mengambil jalan ke bukit Aqabah?. Satu-satunya alasan mereka tahu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil jalan ke bukit Aqabah karena mereka berada diantara tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan mendengar penyeru Beliau mengatakannya.
  2. Dalam riwayat Ahmad di atas disebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menanyakan kepada ‘Ammar apakah ia tahu siapa mereka. ‘Ammar mengatakan bahwa ia mengenal hewan-hewan tunggangan mereka tetapi mereka sendiri tertutup wajahnya. Kalau orang-orang di bukit Aqabah itu adalah komplotan yang sejak semula berada disana maka darimana ‘Ammar bisa mengenal hewan tunggangan mereka. ‘Ammar mengenal hewan tunggangan mereka karena mereka sebelumnya berada diantara tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].
  3. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa ‘Ammar bertanya kepada salah seorang sahabat Nabi apakah ia tahu berapa orang di bukit Aqabah. Sahabat Nabi itu berkata “empat belas”. Kemudian perhatikan jawaban ‘Ammar ““jika engkau termasuk salah satu dari mereka maka jumlahnya lima belas orang”. Jawaban ini mengisyaratkan bahwa menurut ‘Ammar orang-orang itu adalah sahabat Nabi yang ikut dalam perang Tabuk sehingga ‘Ammar mengatakan jika sahabat Nabi itu termasuk maka jumlahnya menjadi lima belas. Jika orang-orang di bukit Aqabah itu adalah komplotan yang sudah lama menunggu di Aqabah bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka tidak mungkin ‘Ammar mengatakan demikian kepada sahabat Rasulullah.
  4. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa dua belas orang itu adalah musuh Allah dan Rasul-Nya di dunia dan akhirat. Hal ini selaras dengan riwayat Muslim dimana ‘Ammar membawakan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan lafaz “diantara Sahabatku ada dua belas orang munafik” dimana mereka semua akan masuk neraka. Kedua belas orang ini tidak lain adalah orang-orang yang berada di bukit Aqabah.
  5. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa tiga dari orang-orang di bukit Aqabah beralasan bahwa mereka tidak mendengar penyeru Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ini bukti nyata bahwa orang-orang di bukit Aqabah berasal dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukannya komplotan majhul yang sudah menunggu di bukit Aqabah.

Jadi ucapan nashibi bahwa orang-orang di bukit Aqabah adalah komplotan yang sudah lama menunggu di bukit Aqabah dan bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ucapan tidak berdasar dan bertentangan dengan riwayat Ahmad diatas.

.

.

Dalam riwayat Ahmad di atas juga disebutkan ada sebagian sahabat yang dilaknat oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena telah melanggar perintah Beliau.

قال الوليد وذكر أبو الطفيل في تلك الغزوة ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال للناس وذكر له ان في الماء قلة فأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم مناديا فنادى ان لا يرد الماء أحد قبل رسول الله صلى الله عليه و سلم فورده رسول الله صلى الله عليه و سلم فوجد رهطا قد وردوه قبله فلعنهم رسول الله صلى الله عليه و سلم يومئذ

Walid berkata Abu Thufail menyebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada manusia bahwa perbekalan air tinggal sedikit kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan penyerunya mengatakan“tidak boleh ada yang menyentuhnya sebelum Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang” maka Rasulullah datang dan Beliau mendapati telah ada sebagian orang yang mendahului Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melaknat mereka saat itu juga [Musnad Ahmad 5/453 no 23843, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat dengan syarat Muslim”]

Sangat jelas bahwa dalam riwayat Ahmad diatas yang dilaknat oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah para sahabat yang ikut perang Tabuk dan melanggar perintah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk tidak mendekati air. Ini menjadi bukti bahwa tidak semua sahabat yang ikut perang Tabuk dijamin surga.

Dengan tulisan ini bukan berarti kami mengatakan Abu Bakar, Umar, Utsman adalah orang munafik dan tidak dijamin surga. Yang ingin kami kritik adalah cara pendalilan nashibi yang tidak sesuai dengan kaidah kelimuan atau terjebak dalam fallacy.

Salam Damai

keimanan terhadap agama tidak akan mungkin tanpa membentuk sebuah pemerintahan

Islam Tidak Akan Tegak Tanpa Pemerintahan

Hujjatul Islam Hossein Ebrahimi menyinggung  pemikiran pemisahan agama dari politik maka beliau menegaskan bahwa keimanan terhadap agama tidak akan mungkin tanpa membentuk sebuah pemerintahan serta menjelaskan tugas-tugas para ruhaniwan dalam hal ini.
.
Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Republik Islam Iran (Majlis), Hujjatul Islam Ebrahimi, menjawab pertanyaan soal keberadaan pemikiran pemisahaan agama dari politik di dalam lingkungan santri dan mengatakan, “Tidak bisa kita katakan bahwa pemikiran seperti itu tidak ada dalam lingkungan santri, akan tetapi pemikiran tersebut sudah mulai memudar. Karena mungkin jumlah para pencetus dan pendukung pemikiran tersebut sudah berkurang.”
.
“Tidak juga dapat dikatakan tidak ada lagi upaya-upaya untuk memisahkan agama dari politik, akan tetapi di sisi lain, berbagai fenomena yang muncul saat ini justru melawan perluasan pemikiran-pemikiran seperti itu,” katanya.
.
Anggota Majlis Iran itu menambahkan, “Pada prinsipnya, esensi pemerintahan, Islam, dan hukum-hukumnya, merupakan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan. Seluruh undang-undang atau hukum dalam agama Islam selalu sejalan dengan politik. Artinya jika tidak ada pemerintahan, lalu apakah hukum dan undang-undang tersebut dapat diberlakukan dan dilaksanakan? Sejatinya pondasi-pondasi agama kita sedemikian rupa sehingga menjaga agama tanpa pembentukan pemerintahan tidak akan pernah dapat ditegakkan. Dengan kata lain tanpa politik, tidak akan ada Islam, dan Islam tanpa politik juga bukan lagi Islam.”
.
Lebih lanjut dijelaskannya bahwa masalah ini perlu dijelaskan secara meluas di berbagai sektor, khususnya oleh para ruhaniwan
.

Risalah Huquq; Hak Pemimpin

Imam Sajjad as berkata,”Mengenai hak orang yang memimpin dan berkuasa atasmu maka ketahuilah bahwa engkau adalah cobaan baginya dan sedang diuji dengan perantaraan dirimu. Karena itu, berilah nasehat kepadanya secara tulus dan jangan masuk lewat pintu pembangkangan terhadapnya, sebab itu hanya akan membinasakanmu. Perlakukanlah ia dengan rendah hati dan lemah lembut supaya engkau merebut hatinya dan agamamu terhindari dari gangguannya. Untuk itu mintalah bantuan dari Allah…

Setelah menjelaskan hak-hak hukum agama dan ibadah, Imam Sajjad as menerangkan tentang hak-hak sosial dan politik. Hak pertama yang beliau singgung adalah hak pemimpin dan penguasa. Dalam sistem sosial dan politik, sejak zaman dahulu di setiap masyarakat selalu ada orang yang dijadikan pimpinan. Supaya masyarakat terkontrol dengan baik, kepemimpinan harus diemban oleh figur yang mumpuni. Tidak ada satupun negara bahkan masyarakat yang bisa tertata tanpa adanya sistem kepemimpinan. Sebab kepemimpinan itulah yang menjadi sentra sistem sosial yang tanpanya kekacauan dan ketidakberaturanlah yang bakal berkuasa.

Adamasyarakat yang dipimpin oleh figur-figur ilahi sehingga menjadi masyarakat yang baik dan ada pula yang dipimpin oleh manusia zalim dan durjana yang hanya membawa kesengsaraan dan ketidakadilan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Di zaman kita, dua macam figur pemimpin ini dapat kita jumpai. Islam selalu menekankan bahwa kepemimpinan suatu masyarakat dan umat harus dipikul oleh manusia yang cakap, mumpuni, bijak dan salih. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk peduli terhadap nasib dan masa depan diri dan masyarakatnya. Islam mengajarkan agar kita memilih orang yang memandang kekuasaan sebagai sarana untuk mengikis ketidakadilan dan kesengsaraan, serta media untuk membangun dan memakmurkan masyarakat.

Pemimpin dengan kriteria yang salih punya kedudukan tinggi di sisi Allah dan Islam memerintahkan kaum muslimin untuk menghormati dn menghargai pemimpin yang seperti ini. Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadisnya bersabda, “Hormatilah para pemimpin sebab merekalah yang mendatangkan kemuliaan, kekuatan dan naungan lindungan Allah di muka bumi, ketika mereka bertindak adil.

Imam Musa al-Kadhim as dalam sebuah riwayat menyebut pemimpin yang adil sebagai ayah yang penyayang bagi masyarakat. Sebagaimana ayah yang baik akan mendidik anaknya sehingga menjadi salih, pemimpin yang adil juga berusaha sekuat tenaga untuk membuat masyarakat dan umat yang dipimpinnya menjadi masyarakat dan umat yang baik dan selalu bergerak ke arah kesempurnaan.

Menjelaskan hak-hak para pemimpin kenegaraan atau sosial politik, Imam Ali As-Sajjad memandang kondisi para pemimpin dengan pandangan yang obyektif dan menerangkan hak-hak mereka. Tentunya yang dimaksud pertama kali adalah pemimpin yang kepemimpinannya sah. Pemimpin yang sah adalah pemimpin yang diangkat oleh Allah sebagai pemimpin atau mendapat mandat yang sah dari masyarakat.

Dalam ungkapannya, Imam Sajjad as mengingatkan kita akan satu fakta penting, bahwa seorang mengemban sebuah amanat yang berat yaitu amanat kepemimpinan. Dia diuji oleh Allah dengan menjalankan amanat ini. Sungguhnya ketelodoran dan kebodohan besar jika orang berbangga dan angkuh dengan menyombongkan ujian yang sedang ia jalani. Memang, yang menjadi materi ujian adalah kedudukan duniawi yang memang menipu. Jika dia tidak mampu melalui ujian ini dengan baik, maka kesengsaraan dan kehancuranlah yang menantinya. Sebab, ia harus mempertanggungjawabkan setiap ketidakadilan dan atau penistaan hak yang terjadi di ruang kekuasaannya.

Imam Sajjad as juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadi sasaran kemarahan para penguasa. Beliau menjelaskan bahwa penguasa biasanya akan melakukan tindakan yang merugikan rakyat jika merasa ditentang. Hal itu tentu akan membuat rakyat sengsara dan memunculkan masalah sosial. Imbauan Imam Sajjad as adalah upaya pencegahan jangan sampai kesulitan dan kesengsaraan itu menimpa masyarakat yang tidak kuat menanggung derita. Akan tetapi menghindari kemarahan penguasa bukan berarti menutup mata dari kesalahan dan penyimpangan yang mungkin terjadi, atau lari dari tanggung jawab melawan ketidakadilan. Sebab, Islam tidak membolehkan siapapun juga untuk diam menyaksikan ketidakadilan.

Menurut Imam Sajjad as, jika pemerintahan berjalan di rel yang tidak benar dan menyimpang ke arah kebatilan, kaum ulama, tokoh masyarakat dan semua elemen umat wajib bangkit melawan. Namun jika pemerintahan berjalan dengan benar dan sah, tidak ada hak bagi umat untuk melawan dan menentangnya. Jika ada yang bangkit melawan berarti dia layak dicap sebagai pembangkang yang harus ditumpas. Sebab pembangkangan hanya akan membawa masyarakat kepada kehancuran dan merongrong kekuatan pemerintahan yang sah. Meski tunduk kepada pemerintahan, masyarakat tetap punya hak untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap salah.

Imam Sajjad as menambahkan dengan menyinggung kebiasaan para penguasa yang memberikan hadiah kepada orang untuk menarik hati dan dukungannya. Praktik seperti ini jelas tidak benar. Misalnya, seorang penguasa memberi hadiah kepada seseorang dengan imbalan orang itu harus melakukan hal-hal yang tidak benar, menistakan hak orang lain atau mengerjakan satu hal yang bertentangan dengan kepentingan umum. Hadiah yang diberikan oleh penguasa untuk hal-hal seperti itu haram diterima. Namun apabila hadiah itu diberikan tanpa ada imbalan melakukan yang tidak benar, maka kita harus menerima pemberian itu dengan rendah hati dan tidak lupa berterima kasih.

Dimanakah Allah ?? Apakah zat Allah SWT diatas arasy ?

Dimanakah Allah ?? Apakah zat Allah SWT diatas arasy ?

Di antara alumni-alumni lulusan akademi dan khalaqah adalah lulusan terbaiknya. Dengan potensi suci dan sempurna Ali as. mampu menangkap semua pelajaran sang guru, tidak ada satu hurufpun yang tidak difahami olehnya bahkan setiap satu huruf yang diajarkan oleh Rasul saww. terbuka baginya seribu pintu ilmu. Hal ini menjadikan Ali as. pemilik kesempurnaan akal dan iman.Di kalangan para arif, Ali as. adalah wujud tajalli tertinggi dari Haq yang maha tinggi. Karena ketinggian wujud suci alawi ini, hanya ka’bah yang mampu menerima tajalliwujudnya dan hanya mihrab yang sanggup menahan berat beban shahadah wujud suci ini. Hijab dunia dan tabir akherat dihadapan pandangan hakekat Ali as. tidak lagi memiliki warna. Pandangan Ali as. mampu menembus alam malakut serta tidak ada lagi yang tersembunyi dari pandangannya

.

Beliau berkata : “ Sesungguhnya aku telah melihat alam malakut dengan izin Tuhanku, tidak ada yang ghaib ( tersembunyi ) dariku apa-apa yang sebelumku dan apa-apa yang akan datang sesudahku.”[1] Ali as. adalah ayat kubra Haq yang maha tinggi, insan kamil yang memiliki ilmu kitab, seperti yang disabdakan oleh Rasulallah saww.: “ salah seorang misdaq dari ayat ( katakanalah! Cukuplah Allah swt. sebagai saksi antara aku dan kalian serta orang yang memiliki ilmu kitab )[2] adalah saudaraku Ali.”[3]

.
Para arif serta ahli bathin dengan bangga mengaku diri mereka sebagai murid dari sang murod agung ini, dan menjadikan Ali as. sebagai qutub dari silsilah mursyidnya. Imam Hadi as. berkata : Ali as. adalah kiblat kaum Arifiin[4] Dikalangan ahli hikmah, hikmah alawi merupakah hikmah tertinggi. Wujud, perbuatan serta kalam Ali as. sarat dengan hikmah yang memancar dari maqam imamahnya serta menjadi lentera bagi para pengikutnya. Dalam filsafat ketuhanan Ali as. adalah orang pertama dalam islam yang meletakkan batu pondasi burhan dan membukakan pintu argumtasi falsafi bagi para filusuf dan ahli hikmah sesudahnya. Selain dari itu Ali as. adalah orang pertama yang menggunakan istililah-istilah falsafi arab dalam menjelaskan masalah-masalah filsafat. Menurut pandangan Ali as. makriaf ketuhanan merupakan makrifat tertinggi dan merupakan paling sempurnanya makrifat. Seperti dalam ucapannya : “ Makrifat tentang Allah Ta’ala adalah paling tingginya makrifat[5] serta ucapannya : “ Barang siapa yang mengenal Allah swt. maka sempurnalah makrifatnya “.[6]

Ucapan-ucapan fasih Ali as. dalam Nahjul Balaghah sangat sarat dengan hikmah dan makrifat tertinggi. Ucapan seperti ini tidak mungkin keluar kecuali dari orang yang memiliki kedudukan khusus dan tinggi tentang pengetahuan dan makrifatnya terhadap Tuhan.

Tahapan Pengenalan Tuhan Dalam Ucapan Imam Ali as.

Ali as. dalam khutbah pertama dari Nahjul Balaghah menjelaskan urutan tahapan pengenalan terhadap Tuhan, mulai dari tahapan sederhana hingga berakhir kepada tahapan yang sangat dalam dan detail.

1. Mengenal Tuhan dan mengakui akan ketuhananNya. Sebuah pandangan dunia yang dimiliki semua keyakinan dan agama baik yang muwahid ataupun yang musyrik mulai dari agama primitive sampai kepada islam. Yang tertera dalam ucapannya : “awwal ( asas ) dari agama adalah mengenal Tuhan”.[7]Ali as. dalam beberapa khutbahnya berusaha mengajukan beberapa argument untuk pembuktian akan keberadaan sang pencipta dari alam semesta, seperti dalam ucapan singkatnya : “setiap sesuatu yang bersandar kepada selainnya maka ia adalah sebab”.[8] Ucapan singkat akan tetapi memiliki kandungan yang luas ini ingin menjelaskan hokum kausalitas dan menjelaskan bahwa semua yang ada di dunia ini sebab, karena wujud mereka bukanlah dzati ( mumkin ). Oleh karenanya harus ada sesuatu yang keberadaanya dzati (wajib alwujud).Dalam khutbah lain Ali as. berkata : “Celakalah orang yang mengingkari sang maha muqaddir dan tidak meyakini mudabbir[9] kelanjutan dari kutbah ini : “Apakah mungkin ada bangunan tanpa ada yang membangun dan apakah mungkin ada perbuatan tanpa adanya pelaku?[10] Dalam pandangan Ali as. keyakinan akan keberadaan Tuhan merupakan sesuatu yang fitri dan dengan sekedar melihat wujud makhluknya, manusia akan mempu mengungkap keberadaan sang pencipta, seperti dalam ucapannya : “Aku merasa heran dengan orang yang mengingkari Allah swt., sementara dia melihat ciptaanNya !”[11]

2. tashdiq

Tashdiq adalah satu konsep yang lebih khusus dibanding dengan makrifat, karena makrifat merupakan konsep mencakup pengetahuan yang bersifat dlanni serta pengetahuan yaqinni. Seperti halnya makrifat, tashdiq juga memiliki beberapa tingkatan :

Pertama : tasawwur ibtidai dari bagian-bagian ( maudlu dan mahmul ) proposisi dan keyakinan sederhana akan kebenaran hukum dari nisbah tiap bagian tadi. Keyakinan orang awam terhadap proposisi-proposisi seperti “Tuhan ada” atau “Tuhan maha melihat” tidak didasari oleh kemantapan pengetahuan setiap bagian dari proposisi atau hukum nisbah antara bagian-bagian tersebut. Artinya pengetahuan mereka tentang bagian dari proposisi serta hukum dari nisbah antara keduanya sangatlah ijmal. Oleh karenanya keykinan mereka sangatlah rapuh.

Kedua : Tashdiq yang muncul setelah pengetahuan yang nisbi terhadap bagian-bagian proposisi serta keyakinan yang muncul dari pengakuan akan kebenaran nisbah antara bagian-bagian tersebut. Akan tetapi keyakinan nisbi ini masih belum bisa menjadi faktor penggerak kehidupannya, artinya keyakinan ini masih tergantung kepada perhitungan untung rugi. Kalau proposisi tersebut membawa keuntungan bagi keberadaannya maka proposisi tersebut sempurna dan kalau tidak maka dia akan berpaling dari keyakinan ini.

Ketiga : Tashdiq yang muncul dari kejelasan terhadap bagian-bagian proposisi dan tidak ada sedikitpun keraguan terhadapnya serta keyakinan yang mantap terhadap hukum nisbah antara bagian-bagian proposisi tadi. Akan tetapi keyinanan tersebut belum malakah dan menjadi darah dagingnya, artinya walaupun dengan segala kejelasan akan bagian proposisi serta hukumnya akan tetapi keykinan ini tidak merasuk ke dalam kehidupan dan tujuan hidupnya.

Keempat : Tashdiq atau keyakinan yang dihasilkan dari pengetahuan sempurna terhadap bagian-bagian proposisi serta hukum nisbah antara bagain-bagian ini. Dan keyakinan ini sudah mendarah daging, malakah dan sudah menjadi faktor penggerak yang besar dalam kehidupannya. Ini merupakan keyakinan hakiki yang muncul dari kesempurnaan makrifar. Keyakinan seperti ini yang dianjurkan oleh Ali as. dalam salah satu khutbahnya : “jangan jadikan ilmu kalian kebodohan dan keyakinan kalian menjadi syak, jika kalian sudah mengetahui maka amalkanlah dan jika kalian sudah meyakininya maka praktekanlah[12] Atau dalam salah satu hadits Ali as. berkata : “Ilmu selalu bergandengan ( maqrun ) dengan amal ; barang siapa yang sudah mengetahui maka ia akan mengamalkan dan barang siapa yang mengamalkan berarti ia telah mengetahui. Ilmu selalu bergandengan dengan amal, ( jika ia mengamalkannya ) maka ilmu akan menjawabnya dan jika tidak maka ia pun akan meninggalkannya[13]

3. Tauhid.

Setelah manusia melewati ketiga tahapan tashdiq dan masuk kepada tingkatan keempat, maka kelazimannya dia akan mengakui keesaan Tuhan. Karena pada tingkatan keempat dari tashdiq, manusia sudah memiliki pengetahuan sempurna terhadap bagian-bagian proposisi, Argumentasi akan keberadaan wajib al-wujud merupakan argumentasi terhadap keesaannya. Pembuktian akan keberadaan wajib al-wujud ( dalam istilah falsafi ) yaitu Allah swt. ( dalam istilah agama ) adalah pembuktian akan keberadaan Dzat yang maha sempurna dan tidak terbatas. Dan kelaziman dari ketidak terbatasanNya adalah keesaanNya. Dalam salah satu hadistnya : “mengetahuinya berarti mengesakannya[14] ( seperti argumentasi yang dikemukakan oleh Mulla Sadra ). Dalam pandangan Ali as. yang dimaksud dengan esa dan satunya Tuhan bukanlah satu dalam bilangan sehingga Dia terpisah dari yang lain dengan batasan, akan tetapi artinya tidak ada sekutu bagiNya dan Tuhan adalah wujud yang bashit dan tidak tersusun dari bagian seperti dalam ucapannya : “Satu akan tetapi bukan dengan bilangan[15]

4. Ikhlas

Tahapan selanjutnya adalah Ikhlas tentang Tuhan ; “kesempurnaan tuahid adalah ikhlas terhadapNya[16] Ibnu Abi Hadid ( diyakini juga oleh Allamah Ja’fari ); maksud dari ikhlas dalam khutbah ini – dengan melihat kalimat-kalimat berikutnya dari khutbah ini- adalah mensucikan ( akhlasha/khalis danestan ) wujud Tuhan dari segala kekurangan dan sifat-sifat salbi.[17]

5. Penafian Sifat

Tuhan merupakan wujud yang mutlak serta maha tidak terbatas, oleh karenanya kekuatan akal dengan konsep-konsep dzihn-nya setiap kali hendak memberikan sifat ( dengan konsep-konsep ) tidak akan bisa mensifati Tuhan dengan sempurna dan mensifati Tuhan dengan apa yang seharusnya. Karena setiap konsep dari satu sifat berbeda dengan konsep dari sifat lain ( terlepas dari misdaq ), maka kelazimannya adalah keterbatasan. Artinya kalau kita memberikan sifat kepadaNya berarti kita telah membandingkan ( satu sifat dengan yang lain atau antara Dzat dengan sifat ). Ketika kita telah membandingkan berarti kita menduakannya, ketika kita menduakannya berarti kita men-tajziah, ketika kita men-tajziah berarti kita tidak mengenalNya dan seterusnya seperti yang uraikan dalam khutbahnya.[18]

Wujud Tuhan yang maha tidak terbatas tidak mungkin bisa diletakkan dalam satu wadah, baik wadah berupa suatu wujud atau dicakup dalam wadah berupa konsep kulli yang dihasilkan dari perbuatan akal. Oleh karenanya golongan yang meyakini adanya hulul pada dzat Tuhan, mereka telah membatasi Tuhan dalam satu wujud makhluk tertentu.

Seperti keyakinan bahwa Isa as. atau Ali as. adalah wadah bagi wujud Tuhan, sangat jelas bahwa pandangan seperti itu sudah menyimpang dari Tauhid dan bertentangan dengan akal serta teks-teks agama seperti ucapan Ali as. : “ barang siapa yang berkata bahwa Tuhan ada pada sesuatu maka ia telah menyatukanNya dengan sesutau itu, dan barang siapa yang menyatakan bahwa Tuhan diatas ( diluar ) dari sesutau berarti ia telah memisahkan Tuhan darinya “. Wujud yang maha tidak terbatas, tidak berakhir dan memiliki wahdat ithlaqi memiliki dua kekhususan; pertama ‘ainiah wujudi dan hadir secara wujud dengan semua makhluk sebagai tajalli isim-Nya akan tetapi tidak dalam artian hulul.

Kedua : fauqiah wujudi , karena wujudnya yang tidak terbatas tidak mungkin bisa dibatasi hanya pada makhluk yang terbatas ( hulul ). Artinya wujud mutlak ini selian hadir di dalam wujud makhluk juga berada di luar wujud makhluk, sebab kalau tidak maka wujudNya akan terbatas. Seperti yang diutarakan oleh Imam Husein bin Ali as. ketika menafsirkan ayat “ Allah al-shamad “ maknanya adalah “ laa jaufa lahu “ atau wujudNya tidak memiliki kekosongan artinya tidak ada bagianpun dari wujud ini yang kosong dariNya.

Hal ini juga dijelaskan dalam khutbah selanjutnya : “ bersama segala sesuatu akan tetapi tidak dengan muqaranah dan bukan segala sesuatu akan tetapi tidak jawal dan terpisah darinya.

Kesimpulannya bahwa filsafat yang bersenjatakan akal dengan segala kekuatannya tidak akan bisa memahami Tuhan dengan apa adaNya ( ihathah ). Begitu pula kekuatan amal manusia yang terbatas, lewat irfannya, tidak akan sampai pada shuhud dan hudzur pada kedalaman sifat dari wujud yang maha Agung ini. Pengetahuan manusia tentang Tuhan selalu diiringi dengan pengakuan ketidak mampuan dan kelemahan.

Pada kutbah lain Ali as. berkata : “kekuatan fikr manusia tidak sampai kepada sifatNya, dan hati tidak akan bisa meraih kedalamNya[19] penjelasan lain dari penafian sifat, adalah menafikan sifat sebagai sesuatu yang terpisah dari mausuf. Penafsiran ini dikuatkan oleh kalimat sesudahnya : “dengan kesaksian bahwa setiap sifat bukanlah mausuf dan setiap mausuf bukanlah sifat “ atau kalimat sebelumnya dari khutbah ini : : “Dzat yang sifatnya tidak memiliki batasan yang membatasinya”

.

Banyak  terjemahan  Al Quran  Sunni  menerjemahkan  Istawa’   sebagai  Bersemayam … Sehingga  terjemahan  Al Quran  Sunni  menyatakan  Allah  bersemayam  diatas  arsy

Ini   sangat  aneh, karena  mayoritas  kaum  tasawuf  asy’ariyyah  maturidiyyah  menyatakan  bahwa  Allah  tidak  bertempat…. Antara  terjemahan  Quran  dengan  akidah   sunni  kok  berbeda ?????????????

Banyak  web  sunni  yang  mengkufurkan  Akidah  Allah  bertempat  !!!

Tapi  anehnya Abu  Hasan  Al  Asy’ari   menyatakan  Allah  berada  diatas  arsy  dan arsy  lebih  besar  dari  Allah  serta  fungsi  arsy  sebagai  tempat  bersemayam !!! Abu Hasan  Al  Asy’ari  dan Hambaliyyah  menyatakan  Allah  dibatasi  oleh  bagian  tertinggi   arsy…

Antara  ajaran gembong  pendiri  mazhab  yaitu Abu  Hasan  Al  Asy’ari    dengan pengikutnya  berbeda.. Tapi  pengikut  asy’ari  hanya  berani  mengkufurkan  WAHABi  SALAfi  Wahabi  dan  tidak  berani  mengkufurkan Abu  Hasan  Al  Asy’ari… Kalau  ajaran   gembong  pendiri  mazhab yaitu Abu  Hasan  Al  Asy’ari    bisa  dibantah  pengikut nya  maka  SANG  PEDOMAN  bisa salah  bisa  benar …

Lalu  bagaimana  sikap   syi’ah  imamiyah  ??????????

JAWABAN :

SYi’AH   iMAMiYAH  menerjemahkan  Istawa’  sebagai  Sempurna  atau  Menyempurnakan.. Ini  sesuai  kaidah  tata bahasa Arab dan  bukan  ta’wil  akal- akalan

Jadi  tsumma  istawa  ‘alaa  al  arsy   itu  bermakna  Allah  menyempurnakan                         ( penciptaan  dari  bumi  dan  langit  langit  hingga  ke  arsy )

Allah  SWT  tidak perlu  naik  ke  arsy  atau  turun ke bumi  untuk menyempurnakan proses  penciptaan  langit  dan  bumi… Kalau  dikatakan Allah  naik  atau  turun  dari  langit  ke bumi dan  sebaliknya  berarti  Allah  lebih  kecil  dari  langit  dan  bumi…

Secara  inkonsisten  mazhab sunni  menerjemahkan istawa’  sebagai bersemayam, padahal  bersemayam  artinya  bertempat..

Ketika  berhadapan  dengan  ayat  Qs. Al Fath  ayat  29, Qs. Al Qashash ayat  14, dan  Qs. An Najm  ayat  6  maka  ulama  sunni  kebingungan !!!

Berikut  ini  kita telusuri  perkataan Istawa’  dalam  Al Quran  satu demi  satu

——————————————————————————————————————–

Fastwa  ‘alaa  suwqihii

Terjemahan Sunni :

Qs. Al Fath  ayat  29 : “seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya”

Terjemahan Sunni :

Qs. Al Fath  ayat  29 : “seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan sempurna di atas pokoknya”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Al Qashash  ayat  14 : “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Al Qashash  ayat  14 : “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan”

Catatan : Sempurna  dalam Qs. Al Qashash  ayat  14  Menurut  syi’ah adalah  mencapai  kedewasaan

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. An Najm  ayat  6 : “yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli”

Terjemahan  Syiah :

Qs. An Najm  ayat  6 : “yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang  sempurna”

————————————————————————————————

Tapi   anehnya  terjemahan  istiwa’ versi Al Quran terjemahan mazhab  sunni   pada  ayat  ayat  lain  menjadi  sangat  aneh  !!  Terjemahan Quran  Sunni  menterjemah  istiwa’  sebagai  bersemayam !!!

Simak  :

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Thaahaa ayat 5. : “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Thaahaa ayat 5. : ““(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang menyempurnakan ( penciptaan )  hingga  ke arsy”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Al Baqarah  ayat  29 : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.”

Terjemahan  Syi’ah  :

Qs. Al Baqarah  ayat  29 : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia  menyempurnakan nya  hingga ke langit, lalu sempurnalah menjadi   tujuh langit”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

QS. Al  A’raf  Ayat  54 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy”

Catatan :

Menurut  Terjemahan  Sunni  : Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya

Terjemahan  Syi’ah  :

QS. Al  A’raf  Ayat  54 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia  menyempurnakan nya hingga  keatas arsy

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Yunus ayat  3 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Yunus ayat  3 : “”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy untuk mengatur  segala  urusan””

Catatan : Menurut  syi’ah  makhluk  yang  berada  di arsy  adalah  malaikat  tertentu… Allah  SWT  tidak  bertempat  di arsy

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Ar Ra’d   ayat  2  : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Ar Ra’d   ayat  2  : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia  menyempurnakan nya hingga ke arsy”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Al Furqaan  ayat  59 : “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy”

Terjemahan  Syiah :

Al Furqaan  ayat  59 : “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. As Sajdah  ayat  4  : “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy”

Terjemahan  Syiah :

Qs. As Sajdah  ayat  4  : “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Fushshilat ayat  11 : “Kemudian Dia menuju ke langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Fushshilat ayat  11 : ““Kemudian Dia menyempurnakan ( penciptaan ) hingga  langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Al Hadiid  ayat  4 : “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Al Hadiid  ayat  4 : “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia menyempurnakan ( penciptaan ) hingga  arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Maryam  ayat  17  : “maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kamikepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Maryam  ayat  17  : “maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kamikepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna”

.

Abu  Hasan  Al  Asy’ari  menyatakan : “Allah  bersemayam di atas  singgasana Nya, Dia  mempunyai  sepasang  tangan  tetapi bukan  sebagai  pemilikan, Dia  mempunyai  mata tetapi  bukan  sebagai  cara, dan  Dia  mempunyai  wajah”( Kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin  karya  Abu  Hasan  Al  Asy’ari  ) ….

Memang, pemahaman  metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali  dan  abu  Hasan  Al   Asy’ari   cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah… Anehnya  pengikut   asy’ari   mengkafir kan  ajaran  Asy’ari  Sang  Gembong  Pendiri  Mazhab  !!!!!

Hambaliyyah  dan  Asy’ari   berpendapat  bahwa  derajat  keagungan  Allah  mempunyai  batas  yang  berdekatan  dengan  bagian  paling  tinggi  dari  singgasana  Nya….

Imam  Ali  bin  Abu  Thalib  menolak  pandangan  kejasmaniahan  Allah  dan  menempatkan  Allah  diatas  kualitas kualitas yang  dapat  disifatkan  pada  makhluk Nya :

“”Mereka  yang  mengklaim  dapat  disamakan  dengan  Mu  menzalimi  Mu  ketika  menyamakan  Mu  dengan  berhala berhala  mereka, secara  keliru  melekatkan  pada Mu  suatu  sifat  yang  mungkin  cocok  bagi  ciptaan Mu, dan  secara  tersirat  mengakui  bahwa  Engkau  tersusun  dari   bagian  bagian  seperti  hal  hal  material ( Kitab  Nahj  Al  Balaghah  halaman  144 )

Syi’ah  menolak  kejasmaniahan  Allah…

Salafi  mengambil   arti  lahiriah, sedangkan  syi’ah  mengambil  arti  majazi  (kiasan)…

Syi’ah  menolak  hal  hal  material  seperti  kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan  komposisi  pada  Allah  SWT

………………………………………………………..

Dimanakah  Allah?

Pertanyaan “Dimanakah Allah?” adalah pertanyaan salah yang tidak perlu terhadap jawaban, bahkan tidak memiliki jawaban sama sekali. Pertanyaan yang salah harus diluruskan terlebih dahulu, bukan dijawab. Karena memaksaan diri untuk memberi jawaban dari pertanyaan yang salah akan mengarah kepada jawaban yang salah pula. Ini pun merupakan salah satu bukti akan keotentikan hukum kausalitas.

Hukum kausalitas (sebab-akibat) merupakan hal yang aksiomatis di alam semesta ini. Dengan hukum ini pula alam semesta tercipta. Hukum ini terdiri dari dua hal; ‘sebab’ dan ‘akibat’. Dalam kajian filsafat disebutkan beberapa kekhususan yang dimiliki oleh hukum ini termasuk bahwa; ‘sebab’ harus ‘ada’ (eksis) terlebih dahulu dari ‘akibat’. Dan, segala kesempurnaan eksistensial ‘akibat’ harus dimiliki oleh ‘sebab’, bahkan ‘sebab’ harus memilikinya dengan bentuk yang lebih sempurna dari apa yang dimiliki oleh ‘akibat’.

Dalam kajian teologi falsafi telah disebutkan bahwa, mata rantai penciptaan alam harus berakhir pada satu titik dimana tiada lagi esensi lain yang menjadi pencipta titik tersebut. Jika tidak, niscaya akan berakhir pada terjadinya dua kemungkinan; ‘mata rantai penciptaan yang tiada berakhir’ (tasalsul) dan atau ‘perputaran mata rantai penciptaan’ (daur) dimana kedua hal tersebut –dengan berbagai argumen yang telah dijelaskan secara terperinci dalam berbagai buku teologi dan filsafat- dinyatakan sebagai hal yang mustahil terjadi. Titik akhir dari mata rantai penciptaan itulah yang dalam bahasa agama disebut dengan Tuhan, atau dalam agama Islam biasa disebut dengan Allah SWT.

Allah SWT adalah kausa prima, prima dalam arti yang sesungguhnya. Oleh karenanya, segala atribut kesempurnaan eksistensial makhluk di alam semesta yang merupakan obyek ciptaan-Nya harus pula dimiliki oleh esensi-Nya, bahkan dengan bentuk yang lebih sempurna. Karenanya, semua atribut kesempurnaan Allah SWT selalu didahului dengan kata ‘Maha’. Kata itu (Maha) meniscayakan ketiadaan segala bentuk ‘kekurangan’ pada esensi sejati-Nya. Sekecil apapun kekurangan yang akan disematkan pada Allah SWT maka akan meniscayakan ketidaklayakan-Nya untuk menyandang titel ‘Maha’. Salah satu bentuk kekurangan adalah memiliki ‘sifat-sifat kekurangan’ yang dimiliki oleh hasil ciptaan-Nya (makhluk), termasuk sifat ‘membutuhkan kepada selain-Nya’ dan atau ‘memiliki sifat kekurangan makhluk-Nya’.

Salah satu hasil ciptaan (makhluk) Allah SWT adalah tempat. Pertanyaan tentang tempat selalu dimulai dengan ‘dimana’. Jika ditanya tentang dimana Allah SWT maka hal itu sama dengan menyatakan bahwa Allah SWT membutuhkan tempat dan atau esensi diri-Nya memerlukan sesuatu yang lain yang bernama ‘tempat’. Padahal tempat adalah salah satu makhluk-Nya. Apakah mungkin Allah SWT Pemilik segala bentuk kesempurnaan dan Yang dijauhkan dari segala bentuk kekurangan lantas memerlukan terhadap selain-Nya, padahal segala sesuatu selain Allah SWT adalah makhluk dan hasil ciptaan-Nya? Dengan kata lain, apakah mungkin Allah SWT memerlukan terhadap makhluk-Nya? Tentu jawabannya adalah, mustahil Allah SWT memerlukan terhadap selain-Nya. Itu kemungkinan pertama.

Kemungkinan kedua adalah, Allah SWT memiliki sifat kekurangan, persis seperti makhluk-Nya (padahal dalam ayat al-Quran disebutkan bahwa, “Tiada satupun yang menyamai-Nya”). Bagaimana tidak? Sewaktu Allah ada di suatu tempat maka hal itu meniscayakan bahwa Ia seperti makhluk-Nya; perlu terhadap tempat, bisa di tunjuk dalam arti berada di suatu arah tertentu dan dalam waktu yang sama tidak ada di arah lain dimana hal itu memberikan konsekuensi bahwa Allah SWT tersusun dan memiliki anatomi tubuh (jisim), persis keyakinan anthromorpisme Yunani klasik.

Kemungkinan ketiga adalah, jika Allah SWT bertempat maka hal itu meniscayakan ketidak-aksiomatisan hukum kausalitas yang telah disinggung di atas. Karena bagaimana mungkin Allah SWT harus bertempat sedang tempat adalah hasil ciptaan-Nya yang pastinya ‘ada’ (eksis) pasca keberadaan Allah SWT? Lantas sebelum Allah SWT menciptakan tempat, dimanakah Allah bertempat?

Oleh karenanya, pertanyaan “Dimanakah Allah?” adalah pertanyaan salah yang tidak perlu terhadap jawaban, bahkan tidak memiliki jawaban sama sekali. Pertanyaan yang salah harus diluruskan terlebih dahulu, bukan dijawab. Karena memaksaan diri untuk memberi jawaban dari pertanyaan yang salah akan mengarah kepada jawaban yang salah pula. Ini pun merupakan salah satu bukti akan keotentikan hukum kausalitas.

Atas dasar itu, para Imam Ahlul Bayt menjelaskan bahwa ‘tempat’ adalah makhluk Allah SWT yang Allah tidak akan pernah membutuhkan selain-Nya (makhluk). Dalam menjawab pertanyaan “Dimanakah Allah?”, Imam Ahlul Bayt -seperti yang disinyalir dalam kitab tauhid as-Shoduq- mengatakan: “Allah adalah Dzat yang menjadikan dimana sebagai dimana. Lantas apakah mungkin Allah disifati (ditanya tentang) dengan kata dimana?”. Yang benar adalah, Allah tidak menempati sesuatu apapun dan Dia Maha meliputi atas segala sesuatu, sebagaimana yang dinatakan dalam al-Quran dengan ayat “Wa Kaanallahu bikulli Syai’in Muhiith” (Dan Allah melingkupi segala sesuatu /QS an-Nisaa:126). Adapaun ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT dalam mengatur alam semesta duduk di atas Arsy (singgasana), maka ayat-ayat itu harus ditakwil –spt: singgasana sebagai simbol kekuasaan- sehingga tidak bertentangan dengan ayat “Tiada apapun yang menyamai-Nya” (Laisa Kamistlihi Syai’) dan ayat yang telah disinggung di atas tadi. Jika ayat al-Quran harus ditakwil agar tidak bertentangan dengan ayat lainnya, apalagi hadis-hadis yang menjelaskan tentang hal itu, lebih utama untuk ditakwil. Jika tidak mampu untuk ditakwil maka kita singkirkan jauh-jauh hadis tersebut dari file kita, walaupun hadis tersebut terdapat dalam kitab standart dan pustaka agama kita, karena bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran

Merubah kabar dari Allah ataukah menjelaskan hakekat di balik teks kabar, dua hal yang berbeda lho!? Ketika kita menerima secara literal/tekstual maka justru akan menjerumus kan kita pada Anthropomorpisme (jismiyah/musyabbihah) yang bertentangan dengan kehendak Ilahi yg disampaikan-Nya dalam ayat al-Quran dan melalui hadis-hadis Rasul, sesuai dengan pemahaman para ulama Islam. Akal pun menguatkan apa yang telah dijelaskan oleh teks-teks agama tadi.

Memang, pemahaman dan metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali yang cenderung tekstual/literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah.

“Di Manakah Allah sWt”?

TernyaTa jawaban aNda teLah di jawab oLeH Allah sWt berabad-abad LamaNya YaiTu daLm ALQuran. Allah sWt berfirMan: “JIKA HAMBA HAMBAKU BERTANYA TENTANG AKU KEPADAMU (Muhamad) MAKA KATAKANLAH AKU INI DEKAT KEPADANYA” (Q.S al-BaQarah 186)

dalam ayaT Lain allah SWt berfirMan: ” DAN AKU LEBIH DEKAT KEPADAMU DARI PADA URAT LEHERMU” ( Q.S Qaf 16 )

dekat  di atas  bermakna  kiasan, misal : Saya  dekat  dengan  ayah  saya, walaupun  ayah  saya  di  Papua  dan  Saya  di  malaysia  maka  kami  tetap dekat

Padahal langit tidak mesti memiliki arti yang dipahami oleh awam, lawan dari bumi materi yang bulat ini. Padahal jika ditarik ke atas maka langit Amerika berbeda dengan langit Indonesia, karena bumi bulat. Lantas di langit sebelah manakah Allah? Dan jika Allah di langit maka di bumi ‘kosong’ dari Allah donk?

Dimana itu berarti menanyakan tempat.. Sedang Allah Maha kaya yang tidak memerlukan apapun, termasuk tempat. Jika tidak, maka Allah perlu terhadap tempat tersebut. Sewaktu perlu berarti Allah ‘miskin’ (baca: perlu) terhadap sesuatu yang lain, yang bernama tempat. Selain itu, jika Allah bertempat maka ia terbatas, karena hanya di tempat itu saja, dan tidak ada ditempat lain. Selain itu, jika Allah bertempat maka Allah bisa ditunjuk, ke arah tempat itu, dan ini meniscayakan keterbatasan Allah.

Oleh karenanya dalam banyak teks disebutkan, terkadang dinyatakan bahwa Allah dekat, terkadang Allah di atas, dan terkadang Allah meliputi segala sesuatu yang berarti dimana-mana. Allah dekat bukan berarti kedekatan jarak dan tidak berada di kejauhan. Allah di atas bukan berarti Allh di bawah, di kiri, kanan, depan, belakang tidak ada. Allah dimana-mana bukan berarti Allah banyak atau bergentayangan. Ini semua yang tidak mungkin terjawab hanya berbekal metodology tekstual sebagaimana pengikut mazhab Ahli Hadis. Hanya kajian dengan metology pengawinan antara teks dan akal saja yang bisa menjawabnya. Ini yang diajarkan dalam mazhab Ahlul Bait AS.

Umat Islam sekarang ini sangat membutuhkan penjelasan aqidah dikarenakan banyak nya sekte – sekte baru yang sesat dan berkedok Islam seperti kelompok Musyabbihah (yang  menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), Mujassimah (meyakini bahwa Allah merupakan benda), Mu’aththilah (menafikan keberadaan Allah),  Wahdatul Wujud (meyakini bahwa Allah inti dari alam sedangkan makhluk adalah bagian dari Allah), Hulul (meyakini bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya) dan lain-lain.

Sesuatu yang patut disayangkan adalah merebaknya paham paham yang berseberangan dengan aqidah Ahlussunnah dengan klaim sebagai Ahlussunnah. Seperti paham yang mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy atau Kursi (sebagian mereka menyatakan di langit)………

Tidak sepatutnya seseorang muslim yang mendengar kisah mi’raj mengenai naik dan turunnya Junjungan Nabi SAW ke langit menyangka bahawa antara hamba dan Tuhan Nya terdapat jarak yang tertentu yang dapat dijangkau, kerana sangkaan yang sedemikian adalah suatu kekufuran, yang mana kita berlindung dengan Allah daripada nya. Bahawasanya naik dan turun ini hanya dinisbahkan kepada hamba (yakni Junjungan Nabi SAW) dan bukannya kepada Tuhan.

Allah tidak diliputi tempat dan tidak diliputi arah…. Allah tidak diliputi tempat dan tidak diliputi arah karena tempat adalah makhluk, maka Allah tidak menempati makhluk..Kita mengangkat tangan ke langit ketika berdoa bukanlah kerana Allah berada dilangit akan tetapi kita mengangkat tangan ke langit kerana langit merupakan kiblat bagi doa, tempat terkumpulnya banyak rahmat dan berkat. Sepertimana kita menghadap ke arah ka’bah ketika shalat tidaklah bererti Allah itu berada di ka’bah akan tetapi kerana ka’bah itu kiblat bagi solat. Inilah yang telah dinyatakan oleh para ulama Islam. Kenapa shalat hadap kekiblat, katanya Allah diatas ? ingat Langit hanyalah kiblat Do’a, bukan tempat bersemayam Allah… Kalau Allah di langit, sebelum ada langit Allah di mana yah?

Terdapat satu hadits yang diguna oleh golongan wahhabi untuk mengatakan Allah berada di langit iaitu Hadits Al-Jariyah. Hadis Al-Jariyah sebuah hadis yang mengandungi peristiwa pertanyaan Rasulullah kepada seorang jariyah (hamba perempuan) yang telah diriwayatkan dalam pelbagai lafaz oleh beberapa ulama hadis seperti al-Imam Muslim dalam kitabnya Sahih Muslim, Bab Tahrim al-Kalam fi al-Salah, al-Imam Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abi Dawud, Bab Tashmit al-^Atish dan Bab fi al-Raqabati`l-Mu’minah, al-Imam Malik dalam kitabnya al-Muwatta’, Bab Ma Yajuz Mina`l-^Itq fi al-Riqab al-Wajibah, al-Imam al-Bayhaqi, al-Imam Ahmad, al-Imam Ibn Hibban dan lain-lain lagi.

Hadits Jariyah ini bukan Bermakna Zat Allah bertempat di atas langit.
Maknanya : Rasululullah bertanya “dimanakah ( pusat pemerintahan ) Allah ??”
Lalu si budak menjawab : “di langit”

Ainallah adalah suatu pertanyaan tentang dimanakah ( pusat pemerintahan ) Allah ???? jawaban nya: yaitu di arsy di langit..Ainallah bukannya bermaksud Zat Allah bertempat di langit

Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya salah seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah dengan membawa seorang hamba sahaya berkulit hitam, dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba sahaya yang mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini mukminah maka aku akan memerdekakannya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia (budak) menjawab: “Ya”, Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul (utusan) Allah? Ia menjawab: “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Apakah engkau beriman terhadap hari kebangkitan setelah kematian? ia menjawab : “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Merdekakanlah dia”.

Dalil dalam Alquran dan Alhadith daripada nas-nas menunjukkan Allah ‘azza wajalla di langit, maka ketahuilah bahawa maksunya ketinggian martabat, kemulian, kehebatan dan penguasaan kerana Allah tidak menyerupai makhlukNya, tidaklah sifatNya seperti sifat makhluk, tidaklah sifat Pencipta bersamaan dengan sifat makhluk yang berkaitan dengan kelemahan bahkan Allah itu bagiNya sifat sempurna daripada nama-nama yang muliaNya…Arasy adalah PUSAT PEMERiNTAHAN ALLAH yang dikendalikan oleh 8 malaikat.. Allah tidak naik keatas arsy

yang mana Dialah Tuhan yang apabila seseorang memohon kepadaNya maka dia menghadap ke langit sebagaimana apabila seseorang sembahyang dia menghadap kaabah, dan tidaklah perlakuan sedemikian ini (yakni menghadap ke langit ketika berdoa atau menghadap kaabah ketika bersholat) , perbuatan menghadap ke langit itu adalah kerana langit itu adalah kiblat orang yang berdoa sebagaimana kaabah itu kiblat bagi orang yang sholat.

Berbalik kepada hadits jariah tadi, maka selain penjelasan di atas, ada lagi penjelasan dan keterangan lain daripada para ulama kita dari berbagai aspek bahasannya. Dari semua penjelasan tersebut, maka mereka menyimpulkan bahawa apa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut bukanlah menetapkan tempat bagi Allah.

Dan tidaklah tepat baginya untuk menjadikan hadits jariah ini sebagai hujjah untuk mensabitkan bahawa Allah bertempat di langit. Apatah lagi hadits ini walaupun shohih tidaklah mencapai darjat mutawatir. Maka apa caranya dia hendak menjadikan hadits ini sebagai hujjahnya untuk menyesatkan orang yang tidak sependapat dengan i’tiqad hasywiyahnya itu. Perkara ini adalah antara kesimpulan yang telah ditekan dan diperjelaskan oleh mantan Mufti Tunisia, Syaikh Muhammad Mukhtar as-Salaami (hafizahUllah).

Bahkan, jika dilihat “Shahih Muslim”, kita dapati bahawa Imam Muslim rhm sendiri tidak meletakkan hadits ini dalam kitab al-iman atau bab-bab yang berhubung dengan keimanan dan pegangan aqidah tetapi beliau meletakkannya dalam bab fiqh berhubung hukum hakam sembahyang iaitu kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaah, bab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih (kitab mengenai masjid-masjid dan tempat-tempat sembahyang, bab haram berkata-kata dalam sembahyang serta menasakhkan riwayat yang mengharuskan berkata-kata dalamnya). Maka isyaratnya ialah hadits ini hanyalah untuk dijadikan hujjah dalam bab-bab fiqh semata-mata.

Antara dalil yang biasa dikemukakan oleh puak hasywiyah bagi menetapkan Allah bertempat di langit ialah Hadits Jariah. Maka dijajalah hadits ini ke sana ke mari untuk menegakkan pegangan mereka bahawa Allah itu mengambil tempat di langit, subhanAllah. Maka ramai, kalangan awam terpengaruh dengan kalam fahisy mereka ini, serta beri’tiqad bahawa Allah itu di langit

Tafsir Hadist mutasyabihat “Disayangi Penduduk langit”
Artinya : Sayangilah penduduk Bumi maka akan disayangi oleh Penduduk langit ( HR. Tirmidzi )

Tafsir  Ayat  Mutasyabihat   LAFADZ   “MAN   FiSSAMA-i   DALAM  AL   MULK   ayat 16 “

Lafadz “Man fissamaa-i ” bermakna Penduduk langit /malaikat.. Jadi maksud hadist ini adalah Jika kalian menyayangi penduduk bumi maka Malaikat yang dilangit akan menyayangi kalian.

Ayat tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit.. Perkataan ‘man’ yaitu ‘siapa’ dalam ayat tadi berarti malaikat bukan berarti Allah berada dan bertempat dilangit..  “Perkataan ‘siapa’ pada ayat tersebut berarti malaikat”… Kemudian, yang berada dilangit dan bertempat dilangit bukanlah Allah tetapi para malaikat

Ketahuilah bahawa tempat tinggal para malaikat yang mulia adalah di langit pada setiap langit penuh dengan para malaikat manakala bumi terkenal dengan tempat tinggal manusia dan jin. Maha suci Allah dari bertempat samaada di langit mahupun di bumi.

Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan man fissamawati (yang dilangit), penduduk langit dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) : “walillahi yasjudu man fissamawati wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”

Artinya : “Apa yang di langit dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau atau tidak mau, demikian juga bayang-bayang mereka diwaktu pagi dan petang (Qs. arra’du ayat 15)

“Apa yang di langit (man fisamawati) dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau” (adalah seperti orang beriman) “atau tidak mau” (sperti orang munafiq dan orang yang ditakut-takuti (untuk sujud) dengan pedang).

“Yang dimaksud (man fissama-i atau yang dilangit) dalam ayat tersebut adalah malaikat”. Ayat tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit.

Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan man fissamawati (yang dilangit), penduduk langit dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) : “walillahi yasjudu man fissamawati wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”

Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi : Dan maknanya : Bahawasanya Allah Taala tiada bersama ia dengan segala yang baharu, tiada pada zatNya, dan tiada pada sifatNya dan tiada pada af’alNya (perbuatanNya). Maka zat Allah tiada menyerupa akan dia segala zat yang baharu, dan sifatNya tiada menyerupa akan dia akan segala sifat-sifat yang baharu, dan perbuatanNya tiada meyerupa akan dia akan segala perbuatan yang baharu, dan setiap barang yang terlintas dengan hati seorang kita akan sesuatu maka bahawasanya Allah Taala itu bersalahan baginya kerana sekalian itu baharu

Dan tiada Allah Taala itu bertempat, dan tiada Ia di atas, dan tiada Ia di bawah, dan tiada ia di kanan, dan tiada di kiri, dan tiada pada hadapan, dan tiada di belakang, kerana adalah sekalian itu melazimkan jirim, dan Allah Yang Maha Suci tiada berjirim, dan tiada Aradh. Kerana adalah segala yang baharu itu terhingga atas dua perkara iaitu jirim dan aradh maka tempat dan berubah itu sifat jirim dan sifat aradh. Demikian lagi besar dan kecil itu sifat jirim yang banyak dan sedikit kerana jikalau banyak jirim dinamakan besar dan yang sedikit dinamakan kecil. Dan berubah itu sifat aradh seperti gerak dan diam maka kedua-duanya itu daripada kelakuan yang baharu dan Allah Yang Maha Suci itu Qadim tidak boleh disifatkan dengan segala sifat yang baharu. Dan barangsiapa menghinggakan zat Allah Taala pada tempat maka tiada syak ia pada kufurnya seperti katanya allah taala itu terhingga di atas langit atau pada bumi.

Barangsiapa yang meninggalkan empat perkara ini sempurna imannya, dan iaitu (kam ),dan (kaif), dan (mata), dan (aina), maka adapun (kam) maka dinyatakan dengan dia menuntut kenyataan bilangan maka jika dikata orang ; Kamillah ? Yakni “ berapa Allah?” maka jawab olehmu : iaitu wahid yakni Esa pada zatNya dan pada sifat-sifatNya dan pada perbuatanNya. Dan (kaif) iaitu ditanya dengan dia daripada kaifiat maka jika ditanya orang : kaifallah? Yakni “ betapa Allah (bagaimana rupa Allah?)” maka jawab olehmu ; tiada mengetahui seseorang akan hakikat zat Allah melainkan Ia jua. Dan (mata) itu tiada dengan dia daripada zaman (masa) maka jika dikata orang : Matallah? Artinya ; manakala didapati Allah? (bilakan Allah Taala wujud?) maka jawab oleh mu : Allah Taala itu awalnya tiada permulaan dan akhir tiada kesudahan. Dan (aina) dan tiada dengan dia daripada makan (tempat), maka jika dikata orang : Ainallah? (di mana Allah?) maka jawab oleh mu : Allah itu tiada bertempat dan tiada dilalu atasnya masa kerana zaman (masa) dan makan (tempat) baharu keduanya.

Bermula Allah taala itu Qadim dan yang Qadim tiada berdiri dengan yang baharu dan barangsiapa yang menyerupakan Allah , Tuhan yang bersifat dengan Rahman dengan suatu maka tiada syak pada kufurnya. Maka takut olehmu akan diri kamu dan pelihara akan dia daripada menyerupa ia akan Allah dengan suatu bahagi daripada bahagi yang baharu ini maka demikian itu kufur. Dan sungguhnya wajib bagi Allah itu mukhalafah (bersalahan) bagi segala yang baharu kerana bahawasanya jikalau menyama ia akan dia nescaya adalah baharu seumpamanya. Dan telah terdahulu pada burhan wajib qidamnya dan baqa’nya dan wajiblah ia bersifat Mukhalafatuhu Lil Hawwaditsi, dan apabila sabitlah baginya Mukhalafatuhu Lil Hawwaditsi nescaya nafilah daripadanya Mumatsilah Lil Hawaditsi ( bersamaan Allah pada segala yang baharu)

Salafi menyatakan Allah bersemayam di atas Arsy, benarkah ???

Jawab :

Istiwa’ bermakna : Menyempurnakan atau sempurna

Ada 12 tempat kata istiwa’ dalam Al Quran

Jadi istiwa’ bukan bermakna bersemayam atau mendiami seperti tuduhan Wahabi

Allah beristiwa’ diatas arsy, maksudnya ; Allah menyempurnakan (penciptaan) hingga ke arsy….

Allah menciptakan langit dan bumi  kemudian istiwa’ (menyempurnakan) hingga atas arsy…

Jadi bukan ZAT ALLAH bersemayam/bertempat diatas arsy.. Zat Allah bukan bertempat di langit..

Langit adalah materi/makhluk… Allah tidak bertempat pada makhluk..

Mutasyabihat artinya nash-nash al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupa kan Allah dengan makhluk-Nya), akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al Qur’an pada ayat-ayat yang Muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa Arab, yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya.

Ayat Istiwa’
Di antara ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak boleh diambil secara zhahirnya adalah firman Allah ta’ala (surat Thaha: 5):

Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bawa Allah duduk (jalasa) atau bersemayam atau berada di atas ‘Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda

Dengan ini diketahui bahwa tidak boleh berpegangan kepada “al Qur’an dan Terjemahnya” yang dicetak oleh Saudi Arabia karena di dalamnya banyak terdapat penafsiran dan terjemahan yang menyalahi aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti ketika mereka menerjemahkan istawa dengan bersemayam, padahal Allah maha suci dari duduk, bersemayam dan semua sifat makhluk. Mereka juga menafsirkan Kursi dalam surat al Baqarah:255 dengan tempat letak telapak kaki-Nya, padahal Allah maha suci dari anggota badan, kecil maupun besar, seperti ditegaskan oleh al Imam ath-Thahawi dalam al ‘Aqidah ath-Thahawiyyah.

Imam Ali  bin Abu Thalib  mengatakan: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

Imam Ali  bin Abu Thalib  turut menjelaskan:
” Akan kembali satu kaum dari umat ini ketika hampir hari kiamat kelak mereka menjadi kafir, lantas sesorang lelaki bertanya: ‘ Wahai amirul mu’minin! Kekufuran mereka itu disebabkan apa? kerana mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama atau mengingkari sesuatu dalam agama?’ Saidina Ali menjawab: Kekufuran mereka kerana mengingkari sesuatu dalam agama iaitu mereka mengingkari Pencipta mereka dengan menyifatkan Pencipta itu berjisim dan beranggota”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya berjudul Najmul Muhtady Wa Rajmul Mu’tady)

Inkonsistensi Orang yang Memahami Ayat Istiwa’ secara Zhahirnya Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang akan ia katakan tentang ayat 115 surat al Baqarah:

Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya: “ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscayaAllah ada di sana”. Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan.

Akan tetapi makna ayat di atas bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat sunnah di atas hewan tunggangan, ke arah manapun hewan tunggangan itu menghadap selama arah tersebut adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid (W. 102 H) murid Ibn Abbas. Takwil Mujahid ini diriwayatkan oleh Bayhaqi dalam al Asma’ Wa ash-Shifat.

ALLAH TiDAK BERTEMPAT

Wahabi menjisimkan Allah dengan cara menyandarkan tempat bagi Allah…

Kalangan Mujassim Musyabbih yang menjisimkan Allah dan menyamakan Allah dengan makhluk.

dan ulama ilmu Islam telah menyatakan : “ Allah telah wujud tanpa bertempat dan Dia tidak berubah sama sekali saat ini ”.Perlu kita fahami bahwa Allah SWT tidak bertempat, jadi Arsy bukanlah tempat atau Istana Allah SWT,.. Allah tidak bertempat, sebab mustahil Allah ditempatkan kepada suatu benda. Allah khaliq sedangkan tempat makhluk. Bagaimana mungkin menempatkan Allah ke dalam sebuah makhluk?

Rasulullah bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari dan al Bayhaqi).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Dimanakah Allah sebelum diciptakannya semua makhluq (Tempat, arah, arsy dsb) ? setelah Allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimana Allah? Apakah sifat Zat Allah berubah? Sebelum Allah ciptakan semua makhluq (zaman azali) semua makhluq tidak ada (langit,arsy,tempat, ruang,arah,cahaya, atas,bawahpada saat itu dimana Allah?

yang maknanya : “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).

Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

Imam  Ali  Bin  Abu  Thalib  berkata : “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72).

Ingat : Sifat Allah tetap tidak berubah..sifat Allah tdk sama dengan makhluq. Maka orang yang mengatakan tuhan bertempat dan berarah menyalahi sifat wajib salbiyah Allah.

Allah telah sedia ada pada azal lagi, tidak ada siapapun bersama Allah, air belum ada, udara belum ada, bumi belum wujud, langit belum wujud, kursi belum ada, arasy belum ada, manusia belum wujud, jin belum wujud, malaikat belum ada, masa belum ada , tempat belum wujud dan arah juga belum wujud.

Dari segi akal, sebagaimana diterima akan kewujudan Allah ta’ala itu tanpa tempat dan tanpa arah sebelum adanya tempat dan arah maka benarlah kewujudan Allah itu setelah mencipta tempat Dia tidak bertempat dan tidak memerlukan arah.

Al Imam As-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan ukuran)”, beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh” yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. (Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah).

Maksud dari mi’raj bukanlah Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rasulullah dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al Isra ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekatkepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di saat mi’raj adalah Jibril ‘alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridlainya-,

maka wajib dijauhi kitab Mi’raj Ibnu ‘Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu ‘Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya.

Maka diisra` dan dimi`rajkan Junjungan Nabi SAW dengan menggunakan makhluk seperti buraq dan mi’raj adalah untuk menzahirkan kemuliaan dan ketinggian baginda di antara sekalian makhluk. Inilah hakikat sebenar mi’raj Junjungan SAW ke langit, agar dipersaksikan kepada segala penghuni langit akan darjat ketinggiannya penghulu sekalian makhluk. Tidaklah ia menunjukkan Allah berada di sesuatu tempat di langit

Imam Ja’far As-Shadiq : “ Barangsiapa menganggap Allah itu dalam sesuatu atau daripada sesuatu atau atas sesuatu benda maka dia telah syirik (kafir) kerana sekiranya Allah di dalam sesuatu maka Dia mempunyai ukuran, sekiranya dikatakan Allah atas sesuatu benda maka Dia dipikul dan sekiranya Dia daripada sesuatu maka Dia makhluk”

Sekiranya Allah bertempat maka sudah pasti bagiNya persamaan dan berukuran tinggi lebar, dalam, dan sesuatu yang sedimikian pastinya adalah makhluk yang diketahui ukuran panjangnya, lebarnya, dalamnya.

firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam).. Antara sifat makhluk adalah bergerak,duduk diam, turun, naik, bersemayam, duduk, berukuran, bercantum,berpisah,berubah, berada di tempat,berarah dan lain-lain.

Mukhalafatu lil hawaditsi/berbeda dgn makhluq (Allah beda dgn makhkuq, sedangkan yang bertempat dan berarah adalah benda kasar/makhluq), menyamakan Allah dengan makhluk pada zaman ini iaitu ajaran Wahhabiyah

Allah Maha suci dari Hadd……..
Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga ‘Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.

Imam Ali bin Abu thalib  (40 H) berkata:“ Adalah (Allah azali) tanpa bertempat, dan Dia sekarang seperti mana keadaanNya yang lalu ( wujudnya azali tanpa bertempat)”. ( Lihat Abu Mansur al-Baghdady, Al-Farqu Bainal al-Firaq, ( Kaherah, Percetakan Darul Al-Turats), m/s :356. )

Imam Ali bin  abu  thalib  berkata lagi : “Akan kembali suatu kaum daripada umat ini ketika dekat berlaku hari kiamat menjadi kafir mereka itu, lalu berkata seorang lelaki bertanya : wahai Amir al-Mukminin kekafiran mereka dengan apa, dengan sebab mereka melakukan perkara bida’ah ke dengan sebab keingkaran mereka? Maka berkata (Imam Ali) : Bahkan dengan keingkaran. Mereka mengingkari percipta mereka dan mensifatkanNya dengan jisim dan anggota.” (Rujuk Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi, Kitab Najmul Muhtady, m/s 588)

Tiada permulaan bagi kewujudan-Nya… Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda.Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda.. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”.

Kalau istiwa’ diartikan ‘bertempat berarti memiliki batasan, dan bila memiliki batasan maka dia kekurangan, dan bila kekuranggan maka dia butuh akan sesuatu’ tentu ini penafsiran yang salah. memang Allah itu tidak bertempat, karena bila Allah bertempat berarti memiliki batasan, dan bila memiliki batasan, maka dia berkekurangan, dan bila kekurangan maka dia butuh akan sesuatu.

Arsy adalah salah satu kekuasaan Allah, bukan berarti Allah bertempat di Arsy

Secara zahir, bahwa syetan itu mencuri berita dari langit memang disebutkan dalam Al-Quran Al-Kariem sendiri. Silahkan Anda buka surat Al-Hijr ayat 16-18.

Dari Aisyah ra bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Para malaikat ketika turun ke awan membacakan urusan-urusan yang telah ditetapkan di langit, datanglah setan mencuri dengar dan disampaikan kepada para dukun dengan membohonginya dengan 100 kebohongan dari diri mereka sendiri. (HR. Bukhari)

Allah bukanlah semacam jisim (rupa) yang dapat digambarkan. Dia tiada menyamai apa pun yang maujud (ada), begitu pula yang maujud itu tiada boleh menyerupaiNya.

Memikul arasy sebagaimana firman-Nya, “Malaikat-malaikat yang memikul arasy dan yang ada berada di sekitarnya sama memahasucikan dengan memuji kepada Tuhan mereka dan mereka pun beriman pada-Nya.” (Q.S. Ghafir:7)

Memikul Arsy juga bermakna mengendalikan, mengatur karena arsy merupakan pusat pemerintahan alam semesta

Pula firman-Nya, “Dan delapan malaikat pada hari itu memikul singgasana Tuhanmu di atas mereka.” (Q.S. Al-Haqqah:17)

Sementara untuk “lebih dekat dari urat leher” itu artinya “kedekatan”. Ayat-ayat semacam ini menurutku tidak merujuk pada entitas fisik,

Al Imam Sayyidina Ali yang: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72)…

Imam  Ali  bin  abu  thalib  berkata lagi: “Sesiapa yang beranggapan bahawa, Tuhan kita mahdud (ada ruang lingkup tertentu atau ada had-had tertentu), berarti dia jahil tentang Tuhan Maha Pencipta lagi Tuhan yang disembah” (hilyatul Auliya’: 1/73)

Imam Ja’far As-Shadiq r.a. berkata: “Sesiapa yang mengatakan bahawa Allah s.w.t. berada pada mana-mana tempat, atau berada atas sesuatu, atau berasal daripada sesuatu, maka dia telahpun syirik…” (risalah Al-Qusyairiyah: 6)

Sekali lagi, lihatlah apa yang dikatakan oleh Imam  Ali bin Abu  Thalib  yang  berkata: “Sesungguhnya Allah s.w.t. menciptakan Arasy, sebagai tanda kekuasaanNya, bukan sebagai tempat untuk Dia duduki” (Al-firaq bainal firaq: 333)

Kalau wahabi memahami istiwa’ itu dengan makna zahirnya, dan Arasy sebagai tempat bersemayam Allah s.w.t., maka secara tidak langsung, telah menetapkan had (limit), ukuran dan batas bagi zat Allah s.w.t., padahal dengan menisbahkan batasan tersebut kepada Allah s.w.t., secara tidak langsung telah menyamakan Allah s.w.t. degan makhluk, kerana hanya makhluk sahaja wujud dengan saiz dan ukuran batas tertentu,

seperti firmanNya: “Setiap sesuatu (dari kalangan makhlukNya) di sisiNya ada kadar ukurannya” (Ar-Ra’d: 8). Maka, ukuran, kadar, saiz, dan bentuk merupakan sifat makhluk, bukan sifat Allah s.w.t. yang Maha Pencipta.

Saudaraku…..
Pusat Pemerintahan Allah di Langit ….

Tuhan yang pusat pemerintahan-Nya di langit

‘Ala dan Fauq itu sendiri maknanya dari sudut bahasa Arab bukanlah semata-mata atas kepada tempat.Orang arab bercakap tentang Ketinggian kedudukan dan status juga dengan menggunakan perkataan “‘ala” dan “fauq”.

Allah fis samaa’ itu bukan bererti Allah di langit secara bertempat, tetapi Allah s.w.t. Maha Tinggi kedudukanNya.

“Telah tetap di sisi ulama’ bahwa Allah tidak diliputi (tidak menempati) langit mahupun bumi. Tidak juga dirangkumi oleh pelusuk tempat. Sesungguhnya, difahami isyarat perempuan  jariyah  tersebut tentang keagungan Allah s.w.t. di sisinya.”

wajib kita beriman bahawa zat Allah s.w.t. itu, tempat tidak meliputiNya.

syi’ah  menafikan tempat bagi Allah s.w.t.. Maknanya, mereka tidak memahami “fis sama’” dan ala al-arasy dengan makna zahirnya

Dalam bahasa Arab, ada bab kalimah.

Setiap kalimah, ada makna.
Kalau satu kalimah tu ada banyak makna, maknanya lafaz musytarak, macam ain, dalam bahasa Arab byk maksud. Mata, mata air, spy dll.

Kalimah itu sendiri dinamakan sebagai lafaz.Dari sudut kefahaman tentang kalimah, ada dua jenis kefahaman.

Pertama, makna hakiki..Iaitu, makna zahir sesuatu perkataan/lafaz menurut bahasanya.Ia digunakan dalam ayat yang biasa.

Kedua, makna majazi…
Iaitu, makna kiasan daripada sesuatu perkataan.Ia digunakan dalam ayat sastera yang dikenali sebagai kaedah kiasan.Makna majazi atau kiasan ini namanya ta’wil.Ini kaedah asas bahasa Arab.

Oleh itu, kita tunjuk contoh bagi kaedah tersebut.

Pertama: Makna hakiki-
Harimau dalam hutan.Lafaz harimau itu boleh membawa kepada makna hakiki kerana tiada sebab yang menyebabkan perlu memalingkannya kepada makna majazi.

Kedua: Makna Majazi:
Harimau memandu kereta.
dalam  hal ini, ia boleh difahami dengan makna lain iaitu kiasan kerana ada sebab yang memalingkannya iaitu logik akal.

Makna kiasannya: Seorang yang garang memandu kereta.Dari sudut ilmu bahasa, makna majazi itu lebih tepat kepada realiti sesuai dengan logik akal. Tapi, kita tak ingkar penggunaan perkataan harimau tersebut. Cuma kita kata, ia hanya kiasan.

Siapa yang kata Allah s.w.t. bertempat dengan ZatNya, maka dia telah menetapkan kejisiman dan tempat bagi Allah s.w.t., sedangkan kita perlu untuk berpegang dengan asas aqidah (iaitu Allah tidak bertempat).

Saya juga nak tanya sebelum Allah mencipta Arsy, Allah ada bagi tau Dia di mana? Ada dalil tak?

Bacalah sahih Al-Bukhari bagi habis. Nabi s.a.w. bersabda:”Sesungguhnya Allah s.w.t. itu wujud, dan tiada yang wujud bersama-sama denganNya..” (Sahih Al-Bukhari)

Al-Imam Saidina Ali  bin  abu  thalib  pernah berkata: “Sesungguhnya Allah s.w.t. itu tidak bertempat. Dia sekarang dalam keadaan seperti mana Dia sebelum ini (iaitu tetap qadim dan abadi tanpa bertempat)”. (Al-firaq bainal Firaq karangan Abu Mansur: 333)
Saidina Ali k.r.w.j. berkata lagi: “Sesungguhnya Allah s.w.t. menciptakan Arasy, sebagai tanda kekuasaanNya, bukan sebagai tempat untuk Dia duduki” (Al-firaq bainal firaq: 333)

Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Husein r.a. (94 H) berkata: “Sesungguhnya, Engkaulah Allah, yang tidak bertempat… Engkaulah Allah yang tidak mempunyai sebarang had” (Ittihaf Saadah Al-Muttaqin: 4/380)

Imam Ja’far As-Shadiq r.a. (148 H) berkata: “Sesiapa yang mengatakan bahawa Allah s.w.t. berada pada mana-mana tempat, atau berada atas sesuatu, atau berasal daripada sesuatu, maka dia telahpun syirik…” (risalah Al-Qusyairiyah: 6)

Allah s.w.t. wujud tidak bertempat. Dia menciptakan tempat, sedangkan Dia tetap dengan sifat-sifat keabadianNya, sepertimana sebelum Dia menciptakan makhluk. Tidak layak Allah s.w.t. berubah sifatNya atau zatNya

Imam Al-Bukhari r.a. (256 H) dalam Sahih Al-Bukhari itu sendiri menurut mereka yang mensyarahkannya, bahawasanya beliau menyucikan Allah s.w.t. daripada tempat dan sudut.


[1] Aamaal Syekh Thusi : hal 205.

[2] Al-Ra’d : 43

[3] Nur Al-Staqalain : jilid 2 hal. 523.

[4] Misbah Al-Zaair : 477.

[5] Gurar wa Durar : Hadist no. 1674

[6] Ibid : Hadist no. 7999.

[7] Nahjul Balaghah : 1

[8] Nahjul Balaghah : 186

[9] Nahjul Balaghah : 185

[10] Ibid

[11] Nahjul Balaghah : 126

[12] Nahjul Balaghah : 523, hikmah : 274.

[14] Al-Ihtijaj : 1/201 dan Bihar Al-Anwar : 4/253.

[15] Nahjul Balaghah : 279 khutbah no. 185.

[16] Nahjul balaghah :1

[17] Syarh Nahjul Balaghah : 2/57 ( Muhammad Taqi Ja’fari )

[18] Nahjul Balaghah : 1

[19] Nahjul Balaghah : 85.

Alquran merupakan Kitab Tsiqal Akbar (pusaka besar) yang terjamin keasliannya

Menjawab Syubhat Tahrif al-Quran:
Kedudukan Al-Quran dalam Mazhab Islam Syiah
.
Tahrif quran sudah menjadi isu yang sengaja dilemparkan oleh sebagian golongan kepada mazhab ahlulbait as, isu yang masih hangat di masyarakat dan tanpa disadari menjadi sebuah doktrin bagi sebagian golongan untuk menyudutkan mazhab lainnya tanpa didasari dalil-dalil yang jelas. 

 Kedudukan Al-Quran dalam Mazhab Islam SyiahAyatullah Sayyid Milani Mengatakan bahwa Alquran adalah penjelas segala sesuatu dan juga penjelas bagi dirinya (quran).

.

Ayatullah Ja’far Subhani mengatakan Alquran adalah asas bagi syariat Islam, dan sunnah nabawiah yang menjadi qarinah baginya, Alquran adalah cahaya yang jelas untuk dirinya dan menerangi selainnya dan Alquran seperti Matahari yang menyinari sekelilingnya. Allah SWT berfirman didalam surat  Al-Isra 9 :

إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدي لِلَّتي‏ هِيَ أَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنينَ الَّذينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبيراً

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka memiliki pahala yang besar.

Allah berfirman didalam surat Annahl ayat 89:

وَ نَزَّلْنا عَلَيْكَ الْكِتابَ تِبْياناً لِكُلِّ شَيْ‏ءٍ وَ هُدىً وَ رَحْمَةً وَ بُشْرى‏ لِلْمُسْلِمينَ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur’an) ini untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Dan juga secara jelas Allah menjadikan Quran sebagai pembeda antara Haq dan Bathil surat Al-Furqan ayat pertama:

تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الْفُرْقانَ عَلى‏ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعالَمينَ نَذيراً

Maha Agung nan Abadi Dzat yang telah menurunkan al-Furqân (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

Tahrif quran sudah menjadi isu yang sengaja dilemparkan oleh sebagian golongan kepada mazhab ahlulbait as, isu yang masih hangat di masyarakat dan tanpa disadari menjadi sebuah doktrin bagi sebagian golongan untuk menyudutkan mazhab lainnya tanpa didasari dalil-dalil yang jelas, berikut ini penjelasan dan pengenalan mengenai apa itu tahrif dan penjelasan ulama syiah dalam menolak keberadaan tahrif didalam Alquran.

A. MAKNA TAHRIF DAN PEMBAGIANNYA

Tahrif secara lughawi : Tafsirulkalam ‘alagheiri wajhin /harrafa assyai ‘an wajhi (menyelewengkan sesuatu pada arah tertentu)
Seperti dalam al-Qur’an ayat Annisa : 46

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَواضِعِهِ

Mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya

Attabarsi mengatakan : Yufassiruunaha ‘ala gheiri ma unzilat ( menafsirkan sesuatu selain apa yang diturunkan)

Secara Istilah ada beberapa bentuk dalam memahami tahrif :

Tahrif maknawi : tahrif madlul kalam atau yufassiru ‘ala wajhin yuwafiqu ra’yu almufassir sawaun awafiqu alwaqi’ am la ( menafsirkan pada bentuk tertentu yang sesuai dengan Ra’yu mufassir baik itu sesuai dengan yang sebenarnya atau tidak) .

Bentuk tahrif ini banyak dilakukan oleh sebagian mufassir sehingga jauh dari makna yang sebenarnya. Mazhab Syiah meyakini bahwa Allah SWT menurunkan ayat tidak sendiri atau tidak telanjang tanpa penjelasan, akan tetapi berikut takwil dan tafsir ayat tersebut secara terperinci, seperti didalam hadits dan qaul para ulama Syiah. Sehingga seperti yang dikatakan Syeikh Mufid bahwa tangan-tangan orang dzalim inilah yang hendak menghapus dan menyembunyikan keterangan yang jelas berupa tafsir dan takwil alquran tersebut, bukan menghilangkan ayat Alquran, tetapi penjelasannya.

b. Tahrif Qiraah :

Perubahan Harakat , huruf dengan masih terjaga keutuhan Quran , seperti membaca Yathhuran atau yathhuranna , yang satu menggunakan nun khafifah yang lain menggunakan tsaqilah.

Perubahan Lahjah/dialek , seperti lahjah Hijaz berbeda dengan lahjah iraq dan iran bahkan dengan libanon dan di daerah sekitarnya, semisal : Qaf , sebagian mengucapkan dengan Gaf.

c. Tahrif Perubahan Kata:

Seperti kata “asra’u” dengan “Amdhu” , dan “Alhakim” dengan “Al’adil”
Tahrif seperti ini tidak terjadi di dalam Alquran. Walaupun sebagian hadits didalam mazhab Suni menceritakan perubahan itu.

d. Tahrif Penambahan , pengurangan kalimat dan ayat:

Tahrif sejenis inipun tidak terjadi didalam Alquran, walaupun ada keterangan hadits dhaif baik itu dalam literatur mazhab Suni ataupun Syiah.
tahrif perubahan kata dan penambahan serta pengurangan kalimat atau ayat inilah yang akan dibahas pada pembahasan kita kali ini.

B. DALIL KETIADAAN TAHRIF AL-QURAN

a) Dalil dari ayat Alquran

1. Ayat Al-Hifdz

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr ayat-9)

“Adzikr” yang dimaksud disini adalah Alquran.

Dan dilam ayat ini terdapat makna janji Allah SWT sendirilah yang menjaga keaslian Alquran itu sendiri.

2. Ayat Nafi Al-bathil

إِنَّ الَّذينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جاءَهُمْ وَ إِنَّهُ لَكِتابٌ عَزيزٌ لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka juga tidak tersembunyi dari Kami), dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

(Alfushilat : 41-42)

Makna Addzikr disini adalah Alquran, dan “Adzikr” dikatakan “Al-kitab al’aziz”, jadi makna Addzikr disini adalah Quran.
Al-bâthil berlawanan dengan Al-haq (kebenaran), dan Alquran Adalah kebenaran dalam lafadz dan maknanya atau makna-maknanya, serta hukumnya yang abadi, pengetahuannya bahkan dasar-dasarnya sesuai dengan fitrah manusia. Seperti yang dikatakan Syeikh Thabarsi dalam Majma Al-bayan mengenai ayat ini ,dikatakan : Alquran tidak ada hal yang tanaqudh (kontradiktif) dalam lafadznya tidak ada kebohongan dalam khabarnya, tidak ada yang ta’arudh (berlawanan), tidak ada penambahan dan pengurangan. Sehingga pantaslah kalau ayat Alquran ini saling menjelaskan yang satu dengan yang lainnya.

3.Ayat Jam’ul Quran dan Qiraatnya

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَهُ

فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa ingin (membaca) Al-Qur’an.

Karena mengumpulkan dan membacanya adalah tanggungan Kami.

Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian, penjelasannya adalah (juga) tanggungan Kami.”

(Al-Qiyamah : 17-19)

Allah SWT lah yang menjaga , mengumpulkan, membacanya, dan menjelaskannya juga.

Disinilah yang diyakini mazhab Syiah Bahwa Wahyu itu bukan hanya Ayat alquran yang ada di tangan kita tetapi meliputi juga wahyu penjelasan, takwil, dan keterangan-keterangan lainnya kepada nabi saww yang bukan termasuk ayat seperti Alquran yang ada pada tangan kita, sehingga dalam hal ini Imam Ali as menuliskannya secara lengkap dalam Qurannnya yang makruf dikenal sebagai Quran Ali yang diperintahkan oleh Rasulullah saww. Sehingga banyak yang keliru memahami Quran Ali disini. Quran Ali memang memiliki banyak ayat tetapi bukan ayat seperti yang ada didepan kita, tetapi ayat-ayat penjelasan secara terperinci, meliputi asbab annuzul, tafsir, takwil, dan keterangan penjelasan lainnya yang dinamakan didalam sebagai riwayat sebagai ayat sehingga berjumlah 17000 ayat. Tetapi bukanlah ayat Alquran secara asas, hanya ayat penjelasan, tafsir, takwilnya.

b). Dalil riwayat dari orang-orang Maksum as

1. Hadits Ghadir

Semisal dalam kitab Alihtijaj 1/60 Syeikh Attabarsi:

(معاشر الناس) تدبروا القرآن وافهموا آياته وانظروا إلى محكماته ولا تتبعوا متشابهه، فوالله لن يبين لكم زواجره ولا يوضح لكم تفسيره إلا الذي أنا آخذ بيده ومصعده إلى – وشائل بعضده – ومعلمكم إن من كنت مولاه فهذا علي مولاه، وهو علي بن أبي طالب عليه السلام أخي ووصيي،

Di dalam peristiwa Ghadir Khum yang makruf pada tanggal 18 Julhijjah

Nabi saww bersabda : Wahai kaum manusia sekalian, pelajarilah Alquran, dan fahamilah ayat-ayatnya, dan lihatlah pada ayat Muhkamah janganlah mengikuti yang mutasyabihah, dan Allah tidak akan menjelaskankan makna bathinnya dan menerangkan tafsirnya kecuali aku yang mengangkat tangannya dan yang mengangkat lengannya, dan yang menunjukkan kamu sesungguhnya barangsiapa yang Aku Maulanya maka ali Maulanya juga dan dia Ali ibn Abi thalib as saudaraku dan washiku.

Hadits Ghadir merupakah hadits fauqu mutawatir di kalangan umat Islam. Dan saya sengaja mengambil sebuah contoh hadits ghadir dari mazhab syiah yang menunjukkan keterjagaan Quran dari tahrif . Dikatakan disana bahwa perintah mentadabbur quran dan memahaminya dan melihat yang muhkamah bukan mutasyabihah melazimkan bahwa Alquran pada saat itu telah terkumpul tersusun, tidak ada perubahan.

2.Hadits Tsaqalain

Hadits Ini juga merupakan hadits mutawatir di kalangan umat Islam :

إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و عترتي أهل البيتي، ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبداً…

Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian semua dua pusaka yang berat yang pertama Kitabullah dan kedua itrati Ahlulbaiti , yang berpegangteguh padanya maka tidak akan tersesatkan selama-lamanya setelahku…

Keterangan :

- Perintah Tamassuk (berpegang teguh) adalah far’u (bagian) dari wujud Alquran di tangan almutamassikin (orang yang berpegang teguh), jadi sesuatu yang mustahil perintah berpegang teguh kepada Quran yang tidak wujud atau tidak diyakini keutuhannya dari kurang atau lebihnya ayat atau surat dalam Alquran.

3.Hadits yang menjelaskan bahwa Quran kuat rukunnya

Imam Ali as berkata :

و كتاب الله بين اظهاركم ناطق لا يعيا لسانه، و بيت لا تهدم أركانه، و عزّ لا تهزم أعوانه

Dan kitabullah yang hadir padamu yang Nathiq tidak lelah lidahnya, dan rumah yang tidak roboh rukun (tiangnya), dan mulia tidak terputus pertolongannya. ( khutbah 133 nahjul balaghah)

4. Hadits mengenai perintah untuk merujuk pada Quran

Perintah untuk merujuk pada quran ,dan hadits yang sesuai dengannya telah dipakai dan yang tidak sesuai dengan quran harus ditinggalkan, merupakan bukti yang sangat jelas tentang ketiadaan tahrif dalam alquran. Hal ini melazimkan Alquran sebagai pokok asas untuk merujuk, dan asas melazimkan keaslian dan keutuhannya, Karena bagaimana mungkin memerintahkan untuk merujuk kepada Quran sedangkan yang menjadi sumber nya diragukan keasliaannya, hal ini mustahil.

محمد بن يعقوب: عن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن النوفلي، عن السكوني، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: «قال رسول الله (صلى الله عليه و آله): إن على كل حق حقيقة، و على كل صواب نورا، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فدعوه».

( الكافي 1: 55/ 1)

“Muhammad Ibn Ya’qûb berkata : dari Ali Ibn Ibrâhîm dari ayahnya dari An-Naufali dari As-Saukani, dari Abu Abdillah bersabda : Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya dari segala hal yang benar adalah sebuah hakikah kebenaran, dan dari segala pahala adalah cahaya, dan apa-apa yang sesuai dengan kitabullah maka ambillah dan yang bertolak belakang dengan kitabullah tinggalkanlah”.

قول الإمام الصادق عليه السّلام: «إذا ورد عليكم حديثان مختلفان فأعرضوهما على كتاب اللّه، فما وافق كتاب اللّه فخذوه، و ما خالف كتاب اللّه فردّوه …» (وسائل الشيعة : 18:84)

“Perkataan Imam As-Sâdiq as : Jikalau datang kepadamu dua hadits yang berbeda maka rujuklah kepada kitabullah , mana yang sesuai dengan Quran maka ambillah dan yang tidak sesuai tolaklah”.

Isi dari hadits tersebut tidak lain dari perintah merujuk kepada Alquran maka hadits yang tidak sesuai dengan Quran maka tinggalkanlah dan yang sesuai ambillah, bahkan ditegaskan bahwa yang sesuai dengan Quran itu dariku (Maksumin as) dan yang tidak sesuai itu bukan dariku.

Hadits semodel ini banyak di dalam literatur Syiah, saya menuliskan sebagian hanya sebagai sebuah gambaran saja.

5. Anjuran Imam Maksum as untuk membaca dan mengkhatam Quran

من ختم القرآن بمكة من جمعة إلى جمعة و أقل من ذلك ، و خنمه في يوم الجمعة، كتب الله له الأجر و الحسنات من أوّل جمعة كانت إلى آخر جمعة تكون فيها، و إن ختم في سائر الأيام فكذلك.

Imam Baqir as berkata : Barangsiapa yang mengkhatam Alquran di Mekkah dari hari Jumat ke hari Jumat lagi atau lebih sedikit dari itu, dan mengkhatamnya di hari Jumat, Allah SWT menuliskannya pahala (yang banyak) dan kebaikan ( yang berlimpah) dari awal jum’at sampai akhir Jum’at. Dan yang mengkhatam di hari lainnyapun seperti demikian (pahalanya) juga.

Khatam Quran menunjukkan Alquran telah ada dan terkumpul seperti yang ada sekarang. Karena Khatam melazimkan membaca dari awalnya sampai akhirnya, karena kalau adanya tahrif berupa kurang ayat maka tidak bisa dikatakan “khatam” kalau dikatakan adanya penambahan ayat, maka tidak ada wujudnya dan yang wujud di tangan syiah dari zaman Imam Ali as ataupun di zaman Imam Baqir as sekalipun sama dengan muslimin lainnya, lalu bagaimana bisa dikatakan adanya tahrif kurang dan tambah di dalam mazhab Syiah?

6. Dalil kitab yang ada ditangan muslimin kitab yang lengkap

كتاب ربكم فيكم، مبيناً حلالح و حرامه و فرائضه و فضائله و ناسخه و منسوخه….

Kitab yang ada di tanganmu (kaum Muslim), penjelas halal dan haramnya , fardhu dan fadhailnya, nasikh dan mansukhnya…

Menjelaskan kesempurnaan alquran yang ada di tangan muslimin

(Nahjulbalaghah , khutbah 1:23)

7. Imam Ridha as menulis sifat Quran yang jami’ terkumpul di tangan Al-Makmun (khalifah Abbasiah)

Perlu kita ketahui bahwa Imam Ridha as adalah Imam ke delapan di zaman kekhalifahan zalim Abbasiah Al-makmun yang bukan syiahnya.

وأن جميع ما جاء به محمد بن الله هو الحق المبين والتصديق به وبجميع من مضى قبله من رسل الله وأنبيائه وحججه والتصديق بكتابه الصادق العزيز الذي (لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل حكيم حميد) وأنه المهيمن على الكتب كلها، وأنه حق من فاتحته إلى خاتمته نؤمن بمحكمه ومتشابهه وخاصه وعامه ووعده ووعيده وناسخه ومنسوخه وقصصه وأخباره لا يقدر أحد من المخلوقين، أن يأتي بمثله وأن الدليل بعده والحجة على المؤمنين

Imam Ridha as berkata : Sesungguhnya Jami’ (seluruh) apa yang diturunkan Muhammad ibn abdillah adalah Haqqul mubin, dan membenarkan dengannya seluruh (kitab ) sebelumnya dari utusan Allah SWT dan para nabi-Nya, dan yang menjadi hujjah (keasliannya) dan membenarkannya adalah Kitabullah Assadiq alaziz ayat— Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Hujjah ayat tersebut menjaga seluruh kitab ( quran) seluruhnya (kandungannya), dan Alquran benar dari mulai Fatihahnya sampai akhirnya , kami mengimani Almuhkamah dan mutasyabihah, alkhashah dan ‘amah , janji dan ancamannya, nasikh dan mansukhnya, kisah dan akhbarnya, tidak ada seorangpun dari makhluk yang mampu membuat sepertinya, dan dalil setelahnya serta Hujjah bagi orang Mukmin.

–sangat jelas pernyataan Imam Ridha as membenarkan Quran yang ada di tangan Makmun yang bukan syiahnya.

8. Perintah pengumpulan Alquran di Zaman Nabi saw

Perlu diketahui para Ulama syiah dengan analisa yang terperinci dan detail berkesimpulan bahwa Quran telah tersusun di jaman Nabi saww seperti sekarang ini, karena banyak dalil yang menunjukkan hal itu, baik itu di dalam kitab-kitab mazhab Syiah ataupun Suni. Dan yang setelahnya adalah ikhtilaf dalam masalah qiraah, seperti yang dilakukan penyatuan qiraah di zaman Utsman bin Affan – jadi Khalifah Utsman bukanlah menyusun al-quran tetapi menyatukan qiraahnya dan kesepakatan tulisan dalam huruf seperti titik dan harakat, sebagian berpendapat urutan suratnya-,walaupun setelahnya masih terjadi perbedaan yang mencapai qiraah tujuh sebagian mengatakan sampai sepuluh.

علي بن الحسين، عن أحمد بن أبي عبد الله، عن علي بن الحكم عن سيف، عن

أبي بكر الحضرمي، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إن رسول الله صلى الله عليه

وآله قال لعلي: يا علي القرآن خلف فراشي في المصحف والحرير والقراطيس فخذوه واجمعوه ولا تضيعوه كما ضيعت اليهود التوراة، فانطلق علي فجمعه في ثوب أصفر، ثم ختم عليه في بيته
….dari Abi Abdillah as, Rasul saww bersabda kepada Ali as : Wahai Ali Alquran yang ada dibalik tilam/kasur, didalam mushhaf dan kain serta kertas, ambillah dan kumpulkanlah janganlah kau telantarkannya /menghilangkannya seperti orang-orang Yahudi menelantarkan/menghilangkan tauratnya, maka bersegeralah Ali untuk mengumpulkannya dan menyusunnya di dalam kain yang kuat (dijilid) yang kuning, kemudian menyelesaikannya di rumahnya. (Alamah majlisi -Biharulanwar 89/48)

Penyusunan dan pengumpulan Quran di zaman rasulullah saww banyak tertulis di dalam kitab rujukan umat Islam, sebagian dari hadits Suni seperti yang dinukil Al-khawarizmi di dalam kitab Al-manaqib dari Ali ibn Ribah sesungguhnya Ali ibn Abi thalib as dan ibn Ka’ab mengumpulkan dan menyusun Alquran Alkarim di zaman rasulullah saww.

c). Pernyataan para ulama Syiah
Syeikh Shaduq (wafat-318 H)

Kitab Ali’tiqad 59-60

اعتقادنا أن القرآن الذي أنزله الله على نبيه محمد صلى الله عليه و آله هو ما بين الدفتين و هو ما في أيدي الناس ليس بأكثر من ذلك ، ومبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشرة سورة ، وعندنا أن الضحى وألم نشرح سورة واحدة ولإيلاف وألم تر كيف سورة واحدة ، ومن نسب إلينا أنا نقول أكثر من ذلك فهو كاذب ”

Keyakinan Kami bahwa Quran yang diturunkan Allah kepada nabinya Muhammad saww dan quran itu diantara dua sisi, dan dia yang ada di tangan manusia (sekarang) yang tidak ada lebih dari hal itu yaitu yang berjumlah 114 surat, dan di kita(syiah) , surat dhuha dan alam nasyrah dianggap satu surah, dan alilaf dengan alam tara kaifa dianggap satu surah, dan yang menuduh kita lebih dari demikian maka hal itu bohong.

Syeikh Mufid ( wafat 413 H)

Kitab Awailul Almaqalat , hal 54 – 56

وقد قال جماعة من اهل الامامة : انه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ..) الخ .. لتعلم مدى كذبه ودجله

Dan berkata ulama Jamaah dari Ahli Imamah (Syiah) : bahwa sesungghunya Quran tidak ada kurang dari kalimat dan tidak pula dari ayat dan tidak pula dari surah ….sampai kamu tahu siapa yang membohonginya dan menipunya. (orang yang mengatakan adanya tahrif)

Syeikh Murtadha ( wafat 436 H)

Risalah aljwabiah alula

لأن القرآن معجزة النبوة ومأخذ العلوم الشرعية والاحكام الدينية’ وعلماء المسلمين قد بلغوا في حفظه وحمايته الغاية حتى عرفوا كل شئ اختلف فيه اعرابه وقراءته.. فكيف يجوز ان يكون مغيراً أو

منقوصاً مع العناية الصادقة والضبط الشديد ! وقال : ان القران كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً على ما هو عليه

الآن ..)


Sesungguhnya Quran sebuah mukjizah , yang meliputi ilmu-ilmu Syar’iyyah dan Ahkam diniyyah, dan Ulama Muslimin telah banyak menghapalnya dan menjaganya sampai dimana mereka mengetahui segala kekeliruan ( kalau terjadi) didalamnya pada i’rabnya dan bacaannya, dan bagaimana bisa Quran itu terdapat perubahan atau kekurangan sedangkan banyak yang menjaganya dan menghapalnya dengan sangat banyaknya , maka dia berkata : sesungguhnya Quran di zaman rasulullah saww telah terkumpul , ditulis seperti sekarang ini.

Syeikh Thaifah –Syeikh Thusi ( 460 H)—syeikh thaifah adalah ulama ijma’ yang penting didalam mazhab Syiah.

Albayan fi tafsir Quran juz 1 hal 3

أما الكلام في زيادته ونقصانه فمّما لايليق به ‘لأن الزيادة فيه

مجمع على بطلانها’

Dan pernyataan dalam ziadah ( lebih ) dan kurang dari quran tidak layak karena kelebihan (ziadah) adalah secara sepakat merupakan sebuah kebathilan.

Syeikh Tabarsi (548 H)

(اما الزيادة فمجمع على بطلانها’ واما القول بالنقيصة فالصحيح من مذهب أصحابنا الامامية خلافه .

Ziadah (kelebihan) dan kekurangan ayat (didalam Alquran) secara ijma adalah bathil maka yang betul dalam mazhab Imamiah (syiah) adalah tidak sependapat dengannya (dengan kekurangan dan kelebihan)

( Majma Al-bayan juz 1 hal 15)
Sayyid Ali ibn Thawus Alhilli ( 663 H)

إنَ رأي الإمامة هو عدم التحريف

Sesungguhnya pandangan Syiah Imamiah adalah ketiadaan tahrif Quran ( Sa’du AsSu’ud 144)
Alamah Hilli (728 H)

جعل القول بالتحريف متنافياً مع ضرورة تواتر القرآن بين المسلمين

Anggapan Tahrif berlawanan dengan dharuriyat tawatur Alquran diantara muslimin

( Ajwibah Al-Masail Al-Muhawiah 121)
Almaula Muhaqiq Ahmad Ardabili (993 H)

جعل العلم بنفي التحريف ضرورياً من المذهب .

Telah sampai tinggkatan al-‘ilm (qath’i) terhadap penafian tahrif adalah kedaruriatan Mazhab (syiah)

(Majma Alfaidah jilid 2 hal 218)
Sayyid Nurullah Tastari Al-Mustasyhid (1029 H)

ما نسب الى الشيعة الامامية من القول بوقوع التغيير في القرآن ليس مما قال به جمهور الامامية’ انما قال به شرذمة قليلة منهم لااعتداد بهم فيما بينهم

Barangsiapa yang menisbatkan kepada syiah mengenai pendapat adanya perubahan dalam Quran bukanlah pendapat Jumhur Imamiah (syiah) ,mereka yang mengatakan perubahan hanyalah segolongan kecil dari mereka dikarenakan keyakinan mereka dengan apa yang ada diantara mereka ( Akhbariun)

(Kitab Mashaib An-Nashaib atau Al-Ala’ Arrahman 1/25)
Al-Maula Muhaddits Muhammad ibn Hasan Feidz Al-kasyani (1090 H)

: (على هذا لم يبق لنا اعتماد بالنص الموجود’ وقد قال تعالى :{ وَاِنهُ لكتاب عَزيز لا يَأتيهِ الباطل من بين يديه ولا من خَلفه} وقال :{ وإنا نَحنُ نَزلنَا الذِكرَ وإنا لهُ لَحافِظون}. وأيضاً يتنافى مع روايات العرض على القرآن . فما دل على وقوع التحريف مخالف لكتاب الله وتكذيب له فيجب رده والحكم بفساده أو تأويله .

Setelah meriwayatkan sebuah hadits mengenai tahrif…. terhadap hal itu tidak ada bagi kita keyakinan (taharif) dikarenakan adanya nash Quran, Allah berfirman :

sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia, Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya

dan firman allah Ta’ala :

Sesungguhnya kami yang menurunkan Alquran dan kamilah yang menjaganya.

Dan juga berlawanan dengan riwayat-riwayat mengenai Quran , oleh sebab hadits apa saja saja yang menunjukkan tahrif quran berlawanan dengan Kitabullah dan merupakan suatu kedustaan dan maka wajib bagi kita untuk menolaknya dan menghukuminya dengan kefasidan, atau dengan menak’wilnya.

(tafsir Shâfi jilid 1 hal 33)

Syeikh Muhammad Ibn Hasan Hurr Al-Amili (1104 H)

: إن من تتبع الاخبار وتفحص التواريخ والآثار علم -علماً قطعياً- بأن القرآن قد بلغ أعلى درجات التواتر’ وأن آلآلف الصحابة كانوا يحفظونه ويتلونه’ وأنه كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً

Sesungguhnya barangsiapa yang menelusuri akhbar (rwiayat) dan meneliti Tarikh , dan atsar , telah diketahui — dengan ilmu Qath’i—sesungguhnya Quran telah mencapai yang paling tinggi derajatnya pada tingkatan mutawatir dan ribuan dari shahabat menghapal quran dan membacanya dan hal itu pada zaman rasulullah saww telah terkumpul dan tertulis quran tersebut ( Al-fushul Al-Muhimmah fi ta’lif Al-Ummah hal 166)
Syeikh Ja’far kabir Kasyiful Ghitha (1228 H)

كذلك جعله من ضرورة المذهب بل الدين واجماع المسلمن واخبار النبي والأئمة الطاهرين .

…oleh sebab itu menjadikannya (penolakan tahrif) dari daruriat Mazhab (syiah) bahkan agama (Islam umumnya) dan Ijma Muslimin serta Akhbar dari Nabi saww dan Imam suci as.

( Kasyifulghtha , kitabulquran min Ashalat hal 298)

Syeikh Muhammad ibn Husein Kasyiful ghitha ( 1373 H)

جعل رفض احتمال التحريف أصلاً من اصول المذهب .اصل الشيعة واصولها

Penolakan terhadap kemungkinan Tahrif adalah bagian dari Ushul Mazhab , hal itu merupakan keaslian Syiah dan ushulnya.

Dan masih banyak lagi pernyataan ulama mutaqaddimin (terdahulu) ….

Ulama Mutaakkhirin sudah jelas dengan ijma’ nya menolak tahrif quran diantaranya :

Sayyid Khui

إنَ من يدَعي التحريف يخالف بداهة العقل

(sesungguhnya yang beranggapan adanya tahrif maka berlawanan dengan kebadihiahan aqal ) (Al-Bayan fi tafsir Al-quran : 220)

Imam Khumaeni

…والآن وبعد أن أصبحت صورته الكتبية في متناولنا بعد أن نزلت بلسان الوحي على مراحل ومراتب من دون زيادة أو نقصان وحتى لو حرف واحد.

Dan sekarang setelah menjadi bentuk secara kitabiah dan kita menerimanya setelah turun dengan lisan wahyu para tahapan dan susunan tanpa adanya lebih dan kurang walalupun satu huruf pun. Alquran annaql akbar 1/66 dan puluhan para maraji mutaakhirin dalam kitabnya dan fatwanya masing-masing.

Kesimpulan :
Alquran merupakan Kitab Tsiql Akbar (pusaka besar) yang terjamin keasliannya
Dengan dalil yang mutawatir dan kuat Alquran yang sekarang sama dengan di zaman nabi saww, bahkan ditegaskan bahwa Alquran telah tersusun dan terkumpul sejak zaman Nabi saw.
Hadits-hadits yang mengandung tahrif adalah hadits dhaif (lemah) dan sangat jarang.
Hadits-hadits lemah tersebut terdapat didalam litelatur Suni dan Syiah dan para ulama telah sepakat dalam penolakan hadits tersebut

.
Hadits-hadits yang mengandung tahrif bertolak belakang dengan dhahir kitab Alquran
Quran Ali bukanlah quran yang berbeda dengan Quran yang ada ditangan muslimin sekarang, akan tetapi perbedaan terletak pada adanya keterangan penjelasan, takwil dan tafsir didalam Quran Ali

.
Alquran syiah sama dengan alquran muslimin umumnya.

Mengapa Kita Harus Mencintai Ahlul Bait Nabi?

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Qs. Al-Ahzab : 33)

“Jika dengan mencintai keluarga Nabi Saw aku disebut Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah sesungguhnya aku seorang Rafidhi (Syiah) dan cukuplah shalatku menjadi tidak sah dengan tidak menyertakan shalawat kepada mereka.” (Imam Syafi’i ra)

Sebagaimana pernyataan Imam Syafi’i ra di atas, akan timbul berbagai pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang mau berpikir tentang kebenaran sebuah keyakinan, siapakah yang dimaksud keluarga Nabi (Ahlul bait) yang hendak disucikan oleh Allah swt? adakah kewajiban untuk mencintai mereka sebagaimana kewajiban mencintai Nabi? mengapa dalam redaksi shalawat kepada Nabi kita harus menyertakan pula shalawat kepada keluarganya? Keistimewaan seperti apa yang dimiliki keluarga Nabi sampai dalam setiap shalat kita harus menyertakan shalawat kepada mereka? Kalau mereka memiliki kedudukan yang agung dan mulia dalam agama ini, namun mengapa kajian tentang keluarga nabi tidak banyak kita dapatkan dalam kehidupan religius kita sehari-hari?

Tidaklah berlebihan, dalam ruang yang sempit ini saya mencoba menyelipkan sedikit tulisan mengenai mereka. Semoga dengan itu kita mau mengenal, mengikuti dan mencintai keluarga nabi atau yang sering kita dengar dengan ungkapan: Ahlul Bait.

Keistimewaan Keluarga Para Nabi
Telah menjadi sunatullah, Nabi-nabi memiliki keluarga yang dimuliakan, diagungkan dan anak keturunan mereka dipilih oleh Allah sebagai washi, pelanjut risalah kenabian. Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an menjelaskan masalah ini :

“Dan Kami menganugerahkan kepada Ishak dan Yaqub. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik; dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh; dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth, masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya); dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Inilah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Al-An’am : 84).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan al-kitab, maka diantara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak diantara mereka yang fasiq”  (Qs. Al-Hadid : 26).

“Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yaqub dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab kepada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasan di dunia; dan sesungguhnya di akhirat mereka benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh” ( Qs. Al-Ankabut : 27)
Dan beberapa ayat lainnya yang tersebar dalam Al-Qur’an satu-satunya kitab Samawi yang tetap steril dari berbagai upaya penyelewengan dan perubahan.

Ayat-ayat di atas berbicara tentang sunatullah di muka bumi, dalam hal pemilihan washi para Nabi yang berasal dari keturunan mereka yang saleh dan suci, bukan yang fasiq dan bahwa pewarisan ilmu al-Kitab, hukum dan kenabian di antara putra-putra mereka yang suci telah ditetapkan sejak diturunkannya Adam as ke muka bumi. Silsilah yang suci ini memberikan gambaran yang jelas bahwa risalah Ilahiah ini tidak pernah keluar dari lingkaran keluarga-keluarga Nabi yang disucikan, dan tidak diwarisi oleh hati yang pernah dikotori oleh kesyirikan, kekejian dan kezaliman.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qs. Al-Baqarah: 124)

Jika ajaran Nabi terdahulu saja yang hanya berlaku untuk masa dan kaum tertentu memerlukan silsilah yang suci dan jiwa yang bersih, maka bagaimana mungkin ajaran Islam tidak memerlukan silsilah yang suci yang akan saling mewarisi ajaran Muhammad Saw yang luhur dan kekal hingga hari kiamat?. Jika Nabi terdahulu saja memerlukan orang yang menggantikannya di dalam urusan tabligh dari kalangan keluarga dan keturunannya yang saleh, maka bagaimana mungkin Rasulullah Saw tidak membutuhkan orang-orang yang meneruskan ajaran ini dari keluarga dan keturunannya yang suci?

Jika ayat-ayat tentang nabi dan keturunannya menekankan bahwa pemilihan washi para nabi telah berlaku bagi keluarga nabi yang saleh dengan tujuan untuk menjaga kesucian risalah, maka bagaimana mungkin ajaran Muhammad Saw yang kekal tidak membutuhkan pribadi-pribadi suci dari keturunannya yang akan menjaga nilai-nilai ajaran Ilahi dari usaha penyimpangan?

Melalui pengkajian ayat-ayat Al-Qur’an, tampak jelas bahwa masalah pemilihan atau seleksi pelanjut kepemimpinan Ilahiah adalah semata-mata wewenang Dzat yang Maha Mengetahui, tanpa adanya campur tangan siapapun.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (Qs. Fathir : 32).

Dalam ayat lain, dikisahkan tentang Nabi Musa as, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui (keadaan) kami.” Allah berfirman : “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.” (Qs. Thaha : 29-36).

Kita menyaksikan dalam ayat ini betapa Nabi Musa memohon kepada Allah SWT dengan penuh pengharapan dan kerendahan hati untuk memilih saudaranya, Harun, sebagai pembantunya dalam urusan Tabligh. Jika nabi Musa as saja, dengan segala ketinggian kedudukan dan kedekatannya kepada Allah SWT tidak memperkenankan dirinya untuk memilih langsung orang yang akan menggantikan dia sepeninggalnya dan yang membantunya dalam tugas-tugasnya, maka bagaimana mungkin umat Islam berhak memilih orang-orang yang menggantikan Rasulullah Saw sebagai khalifah sepeninggalnya? sebuah keberanian ‘ijtihad’ yang telah menimbulkan perselisihan, perpecahan bahkan sampai pertumpahan darah dikalangan sahabat.

Imamah dan Ahlul Bait
Sekarang, seberapa banyakkah yang kita tahu tentang ayat muhkamah di dalam Al-Qur’an yang turun berkaitan dengan keagungan keluarga Rasulullah yang mulia? Atau seberapa banyakkah kisah yang kita ketahui tentang Rasulullah yang selalu mengingatkan ummatnya akan pengutamaan Allah atas keluarganya.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, (juz 4 hal 123, cetakan Beirut Lebanon), Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Saw berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak antara Makah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah Saw berkata, “Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka akupun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barang siapa yang meninggalnya maka ia berada di atas kesesatan.”

Kemudian Rasulullah Saw melanjutkan sabdanya, Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.” Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadraknya dari Zaid bin Arqam bahwa nabi bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain, Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku. Oleh karena itu perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.” Setelah menyebutkan hadits ini Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat (yang ditetapkan Bukhari-Muslim).”

Sebagaimana diketahui bahwa kaum muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, maka saya mencukupkan dengan hanya mengutip kedua hadits ini sebab dalam banyak kitab hadits ini pun dinukil. Di antaranya juga terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, Shahih Turmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan beberapa kitab lainnya. Ibnu Hajar dalam kitabnya ash-Shawai’iq telah menyampaikan silsilah hadits ini hingga kepada dua puluh lebih sahabat, lalu beliau (rahimahullah) menyatakan dengan tegas, ” Ketahuilah, sesunggguhnya hadits berpegang teguh kepada Kitab Allah dan ahlul bait mempunyai jalur yang banyak, dan diriwayatkan lebih dari 20 orang sahabat.”

Dalam riwayat tersebut, Rasul menyebut keduanya (Al-Qur’an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya sebagaimana hadits Rasulullah tidak akan pernah terpisah dan saling melengkapi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan Umar bin Khattab pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur’an sudah cukup bagi kita (baca tragedi ini dalam Al-Bukhari pada bab “Al-Ilmu” (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355). Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.

Tentu saja sabda Rasul tentang Ahlul Baitnya yang tidak akan terpisah dengan Al-Qur’an bukan berdasarkan hawa nafsu pribadinya, sebab Allah SWT telah menjamin dalam Al-Quran bahwa apapun yang disampaikan Rasul adalah semata-mata wahyu dari-Nya.  Pertanyaanya, mengapa Al-Quran saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah?.

Di antara jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Dan para Rasul diutus untuk menjelaskan kitab yang diwahyukan yang menjadi bukti kerasulannya, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. ” (Qs. Ibrahim: 4).

Apakah semasa hidupnya Rasulullah telah menjelaskan kepada ummat Islam seluruh aturan-aturan dalam Al-Qur’an secara mendetail? Niscaya kita akan menjawab tidak seluruhnya, sebab selama sepuluh tahun Rasulullah Saw memerintah di Madinah, telah terjadi sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan tiga puluh lima hingga sembilan puluh sariyah. Ghazwah adalah sebuah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw, sedangkan sariyah adalah sebuah peperangan yang tidak langsung dipimpin olehnya. Akan tetapi, ia mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh salah seorang sahabat yang telah ditunjuk olehnya. Tentu saja dengan berbagai kesibukan mengatur pertahanan dan peperangan menghadapi kaum kafir pada awal-awal revolusi Islam membuat Rasululllah tidak sempat untuk menjelaskan semua maksud ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci.

Sementara Allah SWT berfirman, ” Alif  Lam Ra. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1). Dan di ayat lain, “Tidaklah Kami lalaikan sesuatu pun dalam Kitab ini.” (Qs. Al-An’am : 38).

Berkembangnya paham-paham yang saling bertolak belakang misalnya antara paham Jabariyah dan Qadariyah yang masing-masing menjadikan Al-Qur’an menjadikan landasan pemikirannya, menjadi bukti bahwa kaum muslimin di awal perkembangan Islam mengalami kehilangan pegangan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Bahwa sesungguhnya Rasul belum menjelaskan seluruhnya, walaupun agama ini telah sempurna, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (Qs. Al-Maidah : 3 ). Sebab, “Kewajiban Rasul tidak lain hanya menyampaikan (risalah Allah).” (Qs. Al-Maidah : 99). Bukan berarti Rasulullah sama sekali tidak menjelaskan, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64), masalah ini berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur’an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al-Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf : 52). Dan menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur’an.

Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, “Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu”.

Tentang Imam Ali as Rasulullah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya” Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati’i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, “Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasululah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya” Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur’an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah SWT terdapat dalam ayat, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut : 49).  Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.

Dan dengan firman Allah SWT, “Aku hendak jadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah : 30), berarti di muka bumi akan senantiasa ada yang menjadi pemimpin otoritatif yang diangkat Allah SWT untuk menjadi khalifahnya. Akan tetap ada di muka bumi orang-orang yang menerima pengetahuan dari sumber Ilahiah. Imam Ali as berkata, “Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran.” Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Mereka pun memiliki ‘Roh Tuhan’ yang menghubungkan mereka dengan dunia gaib.

Betapa pentingnya keberadaan Imam dan seorang Khalifah di muka bumi, “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. ” (Qs. Al-Baqarah : 251). Sebagian manusia yang menjadi pelindung atas manusia yang lainnya adalah Ahlul Bait sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Perumpamaan Ahlul Baitku seperti bahtera  Nuh, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.”

Seluruh ulama Islam sepakat akan keshahihan hadits ini yang dikenal sebagai hadits Safinah, diantaranya Al-Hakim, Ibnu Hajar dan Ath-Thabrani. Dan kitapun tahu dari informasi Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul juru penyelamat yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai kedzaliman dan menyebarkan keadilan di muka bumi, dialah yang dinanti-nantikan, Imam Mahdi as. Rasulullah Saw bersabda, “Kiamat tidak akan tiba kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Kemudian keluar setelah itu seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.” Hadits-hadits Rasulullah Saw tentang Imam Mahdi sangat banyak jumlahnya.
Hanya saja, sejauh mana kita mencoba mengenali siapa yang termasuk Ahlul Bait nabi, siapakah mereka Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, dan siapakah Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman?. Sebagai muslim adalah kewajiban untuk mengetahui dan taat kepada mereka, sebagaimana wajibnya kaum muslimin taat kepada titah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” Dan dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), pada hari ketika Kami panggil setiap umat dengan imamnya.” (Qs. Al-Isra’: 71).

Jadi kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi Saw bukan sekedar cinta biasa, bukan sekedar efek dari kecintaan kepada Nabi Saw bukan pula sekedar upah terhadap dakwah Rasulullah Saw, bukan pilihan, melainkan kewajiban yang telah menjadi bagian dari syariat agama karena Ahlul Bait dan Itrah Nabilah yang menjadi pelanjut tugas kenabian untuk menjaga kemurnian risalah Ilahi. Kecintaan kita kepada Ahlul Bait adalah juga kecintaan kepada Rasulullah Saw, kecintaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Islam dan agama ini. Imam Syafii pernah mengatakan, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak menyertakan dalam shalatnya, shalawat kepada Nabi dan Ahlul Baitnya.” Wallahu ‘alam bishshawwab.

Abdullah Bin Ubai Di Bai’atul Ridhwan, tidak semua yang terlibat di dalam Baiʻatul Ridhwan tergolong dalam ayat keredaan Allah

baca juga : Tidak ada satupun AYAT AL QURAN yang menyatakan “semua sahabat Nabi yang berjumlah 100 ribu orang lebih tersebut dijamin surga karena adil”


بسم الله الرحمن الرحيم
Ahlusunnah mempunyai akidah bahawa barangsiapa yang hadir di dalam Baiʻatul Rhidwan dan pernah memberikan Baiʻat kepada Rasulullah, maka dia termasuklah daripada kalangan orang yang mendapat keredaan Ilahi yang kekal abadi. Perkara ini juga menyabitkan bahawa semua orang yang memberi Baiʻat di bawah pohon adalah adil.
.
Mereka juga mempunyai akidah bahawa: Mereka ini sudah diampunkan. Dosa-dosa silam dan akan datang tidak akan dihitung lagi. Kerana itu api neraka tidak akan membakar mereka yang berada di dalam pembaiʻatan Ridhwan.
.
Namun benarkah salah seorang munafik terkenal seperti Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam peristiwa ini bersama Rasulullah dan sempat memberikan baiʻat kepada Rasulullah?
.
Apakah Rasulullah (s.a.w) meredainya serta mengampuni dosa silam dan akan datangnya?
.
Jawapan:
.
Sebelum kita membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai, seorang munafik terkenal di zaman Rasulullah turut hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan, hendaklah kita selidiki terlebih dahulu apakah Allah (s.w.t) meredai semua orang dalam peristiwa tersebut selama-lamanya atau tidak? Apakah ada ulama Ahlusunnah yang mendakwa demikian atau tidak?
.
Keredaan abadi ke atas pemberi baiʻat di bawah pohon.
.
Menurut Ahlusunnah Wal Jamaah, semua orang yang telah hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan merupakan penghuni syurga dan tidak seorang pun daripada mereka yang akan memasuki neraka.
.
Muslim Nisyaburi di dalam kitab Sahihnya menulis:
حدثني هَارُونُ بن عبد اللَّهِ حدثنا حَجَّاجُ بن مُحَمَّدٍ قال قال بن جُرَيْجٍ أخبرني أبو الزُّبَيْرِ انه سمع جَابِرَ بن عبد اللَّهِ يقول أَخْبَرَتْنِي أُمُّ مُبَشِّرٍ انها سَمِعَتْ النبي صلى الله عليه وسلم يقول عِنْدَ حَفْصَةَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ ان شَاءَ الله من أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا … .
النيسابوري القشيري ، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج4، ص 1942، ح2496، 37 ، كِتَاب فَضَائِلِ الصَّحَابَةِ ، بَاب من فَضَائِلِ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَهْلِ بَيْعَةِ الرُّضْوَانِ رضي الله عَنْهُمْ، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Diriwayatkan daripada Harun bin Abdullah, daripada Hajjaj bin Muhammad, daripada Ibnu Juraij, Abu Al-Zubair memberitakan kepadaku sesungguhnya beliau mendengar daripada Jabir bin Abdullah berkata, Abu Mubassyir memberitahuku bahawa beliau mendengar Nabi (s.a.w) bersabda kepada Hafsah:
.
InsyaAllah, tidak akan masuk neraka seorang pun daripada Ashhab Syajarah, mereka yang memberi baiʻat di bawahnya….
.
- Al-Nisyaburi Al-Qushayri, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj (wafat tahun 261 hijrah), Sahih Muslim, jilid 1 halaman 1942, Hadis 2496
قوله صلى الله عليه وسلم  ( لا يدخل النار إن شاء الله من أصحاب الشجرة أحد من الذين بايعوا تحتها) قال العلماء معناه لا يدخلها أحد منهم قطعا كما صرح به في الحديث الذي قبله حديث حاطب وانما قال إن شاء الله للتبرك لا للشك.
النووي الشافعي، محيي الدين أبو زكريا يحيى بن شرف بن مر بن جمعة بن حزام (متوفاى676 هـ)، شرح النووي علي صحيح مسلم، ج16، ص 58، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت، الطبعة الثانية، 1392 هـ.
.
Sabda Nabi (s.a.w): “InsyaAllah, tidak akan masuk neraka seorang pun daripada kalangan Ashhabu As-Syajarah, mereka yang memberi baiʻat di bawahnya”. Ulama berkata maknanya ialah tetaplah bahawa seorang pun daripada mereka tidak akan masuk ke dalam neraka seperti mana yang dijelaskan di dalam hadis tersebut yang sebelumnya berkaitan dengan hadis Hatib. Kata-kata Insyallah disebut di dalam riwayat sebagai Tabarruk.
.
- Al-Nawawi Al-Syafiʻi, Muhiyuddin Abu Zakaria bin Syarf bin Murri bin Jumʻah bin Hizam (wafat tahun 676 Hijrah), Syarh Nawawi Ala Syarah Muslim, jilid 16 halaman 58.
.
Sebenarnya ada lagi riwayat yang jelas mengenai perkara ini, namun cukuplah satu sahaja dikemukakan di sini.
.
Kehadiran Abdullah bin Ubai di bawah pohon
.
Sampai di sini kita dapati bahawa semua orang yang hadir di dalam Baiʻatul Ridhwan dan memberi baiʻah kepada Rasulullah (s.a.w) adalah ahli syurga. Sekarang persoalannya apakah Abdullah bin Ubai turut serta bersama mereka?
.
Beberapa teks telah ditemui dari kitab-kitab Ahlusunnah yang membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai, ketua kaum munafik Madinah turut serta di dalam perjalanan Rasulullah. Badruddin Al-Aini di dalam kitab Umdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari memuatkan riwayat:
.
    ان ابن أبي قال يوم الحديبية كلمة حسنة ، وهي : أن الكفار قالوا : لو طفت أنت بالبيت ؟ فقال : لا ، لي في رسول الله إسوة حسنة ، فلم يطف .
العيني الغيتابي الحنفي، بدر الدين ابومحمد محمود بن أحمد (متوفاى 855هـ)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري، ج8، ص 54، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Pada hari Hudaibiyah, Abdullah bin Ubai berkata dengan kata-kata yang baik, iaitu orang kafir berkata kepadanya: Mahukah engkau bertawaf?: Maka ibnu Ubai menjawab: Tidak, Rasulullah bagiku adalah contoh tauladan yang baik. Maka Abdullah bin Ubai pun tidak pergi tawaf. – Al-ʻAini Al-Ghitabi Al-Hanafi, Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad (wafat tahun 855 Hijrah), ‘Umdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 8 halaman 54.
.
Ini membuktikan bahawa Abdullah bin Ubai telah hadir di dalam Hudaibiyah kerana tidak menerima usulan daripada kaum Quraysh di samping membuat keputusan enggan mengerjakan tawaf sebagaimana Rasulullah dan kaum muslimin yang lain.
.
Ibnu Hazm Al-Andalusi juga turut menjelaskan bahawa kaum Quraysh mengusulkan tawaf namun Abdullah bin Ubai tidak menerimanya:
.
¬¬¬¬¬¬¬¬¬وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ (ص) لم يَخْدَعْ إنْسَانًا قَطُّ غير أَنَّهُ قال يوم الْحُدَيْبِيَةِ كَلِمَةً حَسَنَةً قال الْحَكَمُ فَسَأَلْت عِكْرِمَةَ ما هذه الْكَلِمَةُ قال قالت قُرَيْشٌ يا أَبَا حَبَّابٍ إنَّا قد مَنَعْنَا مُحَمَّدًا طَوَافَ هذا الْبَيْتِ وَلَكِنَّا نَأْذَنُ لَك فقال لاَ لي في رسول اللَّهِ (ص) أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
إبن حزم الأندلسي الظاهري، ابومحمد علي بن أحمد بن سعيد (متوفاى456هـ)، المحلى، ج11، ص 209 ، تحقيق: لجنة إحياء التراث العربي، ناشر: دار الآفاق الجديدة – بيروت.
Sesungguhnya Rasulullah (s.a.w) tidak pernah menipu manusia sedikitpun, melainkan Abdullah bin Ubai berkata dengan kata-kata yang baik di hari Hudaibiyah. Hakam berkata: Aku bertanya kepada ʻIkrimah: Apakah kata-kata tersebut? Dia menjawab: Quraysh berkata: Wahai Aba Habbab (nama panggilan Abdullah bin Ubai), kami melarang Muhammad mengerjakan tawaf di rumah ini, namun kami izinkan kamu. Maka Abdullah bin Ubai menjawab: Tidak!, bagiku pada diri Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik. – Ibnu Hazm Al-Andalusi Al-Zahiri, Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Saʻid (wafat tahun 456 Hijrah), Al-Muhalla, jilid 11 halaman 209.
.
Badruddin ʻAyni dan Jalaluddin Suyuthi turut menukilkan riwayat ini:
غير أن ابن أبي قال يوم الحديبية كلمة حسنة وهي أن الكفار قالوا لو طفت أنت بالبيت فقال لا لي في رسول الله إسوة حسنة فلم يطف
العيني الغيتابي الحنفي، بدر الدين ابومحمد محمود بن أحمد (متوفاى 855هـ)، عمدة القاري شرح صحيح البخاري، ج8، ص 54، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
… melainkan Abdullah bin Ubai yang berkata di hari Hudaibiyah dengan kata-kata yang baik, iaitu sesungguhnya orang kafir berkata kepadanya: Mahukah engkau mengerjakan tawaf di rumah itu?: Maka Abdullah bin Ubai pun menjawab: Tidak, bagiku Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik. Maka dia pun tidak mengerjakan tawaf. – Al-ʻAyni Al-Ghitabi Al-Hanafi, Badruddin Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad (wafat tahun 855 Hijrah), ʻUmdatul Qari Syarh Sahih Al-Bukhari, jilid 8 halaman 54.
.
قالت له قريش : يا أبا حباب إنا قد منعنا محمداً طواف هذا البيت ، ولكنا نأذن لك ، فقال : لا لي في رسول الله أسوة حسنة .
السيوطي، جلال الدين أبو الفضل عبد الرحمن بن أبي بكر (متوفاى911هـ)، الدر المنثور، ج8، ص 177، ناشر: دار الفكر – بيروت – 1993.
.
Kaum Quraysh berkata kepada Abdullah bin Ubai: Wahabi Aba Habbab, sesungguhnya kami mencegah Muhammad dari melakukan tawaf di rumah ini, namun kami izinkan engkau, maka Abdullah bin Ubai pun menjawab: Tidak, bagiku pada diri Rasulullah adalah contoh tauladan. – Al-Suyuthi, Jalaludin Abu Al-Fadhl Abdul Rahman bin Abi Bakr (wafat tahun 911 Hijrah), Al-Dur Manthur, jilid 8 halaman 177.
.
Berdasarkan riwayat ini, Ali bin Burhan Al-Halabi memberikan penjelasan bawaha Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam perjanjian Hidaibiyah, termasuklah dalam perang Badar.
.
    وقال له المشركون يوم الحديبية انا لانأذن لمحمد ولكن نأذن لك فقال لا ان لى فى رسول الله أسوة حسنة فشكر رسول الله صلى الله عليه وسلم له ذلك واكراما لابنه وفى هذا تصريح بأن ابن أبى كان مع المسلمين فى بدر وفى الحديبية فلما بلغ وفي لفظ قال إن لي في رسول الله أسوة حسنة رسول صلى الله عليه وسلم امتناعه رضي الله عنه أثنى عليه بذلك.
الحلبي، علي بن برهان الدين (متوفاى1044هـ)، السيرة الحلبية في سيرة الأمين المأمون، ج2، ص 23، ناشر: دار المعرفة – بيروت – 1400.
.
Di hari perjanjian Hudaibiyyah, kaum musyrikin berkata kepadanya: sesungguhnya kami tidak izinkan Muhammad, tetapi kami izinkan untuk kamu. Maka Abdullah bin Ubai menjawab: Tidak, sesungguhnya Rasulullah bagiku adalah contoh tauladan yang baik. Maka Rasulullah (s.a.w) pun berterima kasih kepadanya kerana itu dan penghormatan anaknya. (Penulis berkata) Peristiwa ini menjelaskan sesungguhnya Abdullah bin Ubai telah bersama kaum muslimin di dalam perang Badar dan Hudaibiyah.Maka tatkala sampai lafaz Abdullah bin Ubai radhiallahuanhu: “Bagiku pada Rasulullah adalah contoh tauladan yang baik” dan keengganannya menerima pelawaan Qurasyh, maka Rasulullah pun memujinya. – Al-Halabi, Ali bin Burhanuddin (wafat tahun 1044 Hijrah), Al-Sirah Al-Halabiyyah, jilid 2 halaman 23.
.
Pembaiʻatan Abdullah bin Ubai di bawah pohon.
.
Sampai di sini terbuktilah bahawa Abdullah bin Ubai turut hadir di dalam peristiwa Hudaibiyah. Namun benarkah ia turut memberi Baiʻat kepada Rasulullah (s.a.w)? Ini disebabkan jikalau ia tidak memberi Baiʻat maka ia tidak termasuk di dalam keredaan Allah. Namun jikalau terbukti ia juga terut serta memberikan Baiʻat, maka dengan sendirinya seluruh argumentasi Ahlusunnah terbatal.
.
Menurut riwayat yang dicatat oleh Muslim Nisyaburi di dalam kitab Sahihnya, semua orang yang hadir di dalam peristiwa Baiʻatul Ridhwan telah memberikan baiʻat mereka kepada Rasulullah (s.a.w) kecuali seorang yang bernama Jaddi bin Qais yang bersembunyi di bawah perut untanya.
.
وحدثنا محمد بن حَاتِمٍ حدثنا حَجَّاجٌ عن بن جُرَيْجٍ أخبرني أبو الزُّبَيْرِ سمع جَابِرًا يَسْأَلُ كَمْ كَانُوا يوم الْحُدَيْبِيَةِ قال كنا أَرْبَعَ عَشْرَةَ مِائَةً فَبَايَعْنَاهُ وَعُمَرُ آخِذٌ بيده تَحْتَ الشَّجَرَةِ وَهِيَ سَمُرَةٌ فَبَايَعْنَاهُ غير جَدِّ بن قَيْسٍ الْأَنْصَارِيِّ اخْتَبَأَ تَحْتَ بَطْنِ بَعِيرِهِ.
النيسابوري القشيري ، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج3، ص 1483 ، ح1856، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.
Jabir ditanya berapakah orang yang berada di hari Hudaibiyah: Kami seramai seribu empat ratus orang membaiʻat baginda. sedangkan Umar memegangi tangannya di bawah pohon Samurah. Maka kami pun memberikan Baiʻat kepada baginda kecuali Jaddi bin Qais Al-Anshari yang bersembunyi di bawah perut untanya. – Al-Nisyaburi Al-Qushayri, Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj (wafat tahun 261 hijrah), Sahih Muslim, jilid 1 halaman 1483, Hadis 1856.
.
Sebelum ini kita telah berjaya membuktikan kehadiran Abdullah bin Ubai di dalam Hudaibiyah, sementara itu riwayat dari Sahih Muslim ini secara langsung mengatakan semua yang hadir telah memberikan Baiʻat kepada Rasulullah (s.a.w) kecuali Jaddi bin Qais. Oleh itu terbuktilah Abdullah bin Ubai juga turut memberikan Baiʻat kepada Rasulullah, jikalau tidak sudah tentu ia juga akan dikecualikan seperti Jaddi bin Qais.
.
Persoalannya sekarang ialah, apakah keredaan abadi Allah (s.w.t) turut meliputi Abdullah bin Ubai juga?
.
Apakah Abdullah bin Ubai juga adalah seorang penghuni Syurga dan tidak akan masuk neraka?
.

Jikalau ia tidak akan masuk syurga, maka terbuktilah bahawa tidak semua yang terlibat di dalam Baiʻatul Ridhwan tergolong dalam ayat keredaan Allah. Selain itu mereka yang mendapat keredaan Allah itu hanyalah terhad kepada sahabat yang tetap konsisten beriman sehingga ke akhir hayatnya

.

Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji

.

Al-Fath 18
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

Ayat ini tidak menunjukkan ridha Allah kepada semua sahabat pada semua waktu. “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon” Menurut kamus-kamus bahasa Arab (Lth, T, S, M, L, Mughni, K), kata إِذْ menunjukkan satu waktu di masa lalu, seperti dalam firman Allah “wadzkurû idz kuntum qalîlan” (Al-Quran 7:84); atau “wa idz qâla Rabbuka lil malâikat” (Al-Quran 2:); atau “wadzkurû ni’matallahi ‘alaykum idz kuntum a’dâ-an” (Al-Quran 3:98)

.

Karena idz itu selalu menunjukkan waktu tertentu, kalau sesudah kata idz ini ada kata waktu, orang Arab menyambungkan kedua kata itu seperti dalam kata yawmaidzin, hinaidzin, laylataidzin, ghadâtaidzin, waqtaidzin, sa’ataidzin,dan sebagainya. Dalam struktur kalimat kata idz ini bisa bersambung dengan kata benda atau kata ganti, fi’l madhi dan fi’l mudhari’, walaupun tetap menunjukkan satu waktu di masa lalu

.

Al-Quran dengan indah menggambarkan ketiga struktur idz ini dalam firmanNya Al-Quran 9:40:

إِلا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَى وَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Walhasil, ayat ini tidak bisa dijadikan dalil tentang keadilan semua sahabat; tapi hanya kepada sebagian sahabat dan hanya pada waktu mereka berjanji setia. Ridha Allah tentu tidak meliputi sahabat-sahabat yang melanggar janji seperti disebutkan dalam Al-Fath 10: “Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka. Maka barangsiapa melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”

.
Semua ahli tafsir sepakat bahwa al-Fath 10 dan al-Fath 18 berkaitan dengan perjanjian Hudaybiyah. Ibnu Katsir malah membuat catatan panjang tentang Perjanjian Hudaybiyah pada rangkaian ayat-ayat ini (Ibn Katsir, 4:185-200). Ada beberapa peristiwa yang penting kita catat tentang perjanjian Hudaybiyah dalam hubungannya dengan adalat al-shahabah

.
Sebab terjadinya bay’at.
Diriwayatkan oleh ‘Urwah. Ia berkata: Ketika Nabi saw sampai di Hudaybiyah, orang Quraisy terkejut dengan kedatangan Nabi. Rasulullh saw ingin mengutus salah seorang di antara sahabatnya. Ia memanggil Umar bin Khathab untuk diutus menemui mereka. Tapi Umar berkata: Ya Rasulallah, saya tidak aman (Dalam riwayat Ibn Katsir, “saya takut akan perlakuan orang Quraisy terhadap diriku”)

.

Di Makkah tidak seorang pun di antara Bani Ka’ab yang akan membelaku jika aku disakiti. Utuslah Utsman, karena ia punya banyak keluarga di kalangan mereka. Ia akan bisa menyampaikan apa yang engkau kehendaki. Kemudian Rasulullah saw memanggil Utsman dan mengutusnyamenemui orang Quraisy

.

Beliau bersabda: Beritahukan kepada mereka bahwa kami tidak datang untuk berperang. Kami datang untuk umrah dan ajaklah mereka kepada Islam. Beliau juga memerintahkan Utsman untuk menemui laki-laki dan perempuan di Makkah yang mukmin, memasuki rumah mereka dan meberikan kabar gembira tentang Kemenangan. Ia juga harus memberitakan bahwa sebentar lagi Allah akan memunculkan agamanya di Makkah. Mereka tidak perlu lagi menyembunyikan imannya

.
Berangkatlah Utsman menemui orang Quraisy dan mengabari mereka. Orang musyrik menahan Utsman. Rasulullah saw memanggil mereka untuk bai’at. Penyeru Rasulullah saw berseru: Ketahuilah, Ruh Qudus telah turun kepada Nabi saw dan memerintahkannya untuk mengambil bai’at. Keluarlah kalian semua, atas nama Allah, berbaiatlah. Kaum muslimin beramai-ramai berbaiat kepada Rasulullah saw di bawah pohon. Orang Quraysy ketakutan. Mereka melepaskan tahanan kaum muslimin dan meminta untuk berdamai.” (Al-Durr al-Mantsur 7:522-523)

.

Perjanjian damai ini dikenal sebagai Shulh al-Hudaybiyyah, terjadi pada tahun keenam Hijriah. Pembaiatannya dikenal sebagai Bay’at al-Ridhwan.
‘Umar meragukan kenabiyan Rasulullah saw

.
Perjanjian damai itu –seperti kita ketahui- terasa oleh para sahabat sebagai perjanjian yang tidak adil dan merugikan kaum muslim. Al-Durr al-Mantsur 7:527-532 meriwayatkan hadis yang panjang tentang protes para sahabat terhadap perjanjian ini. Di antara yang protes dengan penuh kemarahan adalah Umar bin Khathab. Kita dengarkan ia bertutur: “Demi Allah, belum pernah aku meragukan (kenabiyan Rasulullah saw) sejak aku Islam kecuali hari itu. Aku mendatangi Nabi saw. Aku berkata: Bukankah engkau Nabi Allah? (Dalam Al-Bukhari 2:81, Kitab al-Syuruth, Umar bertanya: Bukankah engkau Nabi yang sebenarnya?)

.

Ia berkata: Benar! Aku berkata: Aku berkata: Bukankah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan? Ia berkata: Benar! Aku berkata: Kenapa kita harus menghinakan diri dalam agama kita? Ia berkata: Sungguh, aku Rasulullah saw. Aku tidak akan membantahNya. Allah akan menolongku. Aku berkata: Bukankah engkau pernah mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan bertawaf di sana? Ia berkata: Benar. Tapi apakah aku memberitahukan kepada kamu bahwa kamu akan datang ke Baitullah tahun ini? Aku menjawab: Tidak Ia berkata: Sungguh kamu akan datang ke Baitullah dan kamu akan bertawaf di situ. (Dalam Shahih Muslim, 2, Bab “Shulh al-Hudaybiyah” disebutkan “Umar meninggalkan Nabi saw dalam keadaan yang tidak bisa mengendalikan amarahnya –fa lam yashbir mutaghayyidhan- dan berkata: ) Ya Aba Bakr, Betulkah Nabi ini Nabi yang sebenarnya?

.

Ia berkata: Benar. Betulkah kita dalam kebenaran dan musuh kita dalam kebatilan? Ia berkata: Benar. Kalau begitu, mengapa kita harus menghinakan diri dalam agama kita? Abu Bakar berkata: Ayyuhar Rajul, ia sungguh Rasulullah saw. Ia tidak akan menentang Tuhannya dan Dia akan menolongnya. Berpegang teguhlah kepada keputusannya, engkau akan menang sampai engkau mati.”

.
Dalam riwayat lain disebutkan: Tidak henti-hentinya Umar membantah ucapan Nabi saw; sehingga Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah berkata: Apakah tidak kaudengar, wahai putra Al-Kahthab, Rasulullah saw mengatakan apa yang ia katakan. Kami berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk (Sirah al-Halabiyah 2:706). Rasulullh saw berkata kepada Umar: Radhitu wa ta’ba. Aku ridha dan engkau membangkang (Ibn Katsir, Al-Sirah al-Nabawiyah 3:320)

.

Para sahabat membantah perintah Rasulullah saw.

Kita lanjutkan laporan Umar bin Khathab: “Setelah Rasulullah saw menyelesaikan penulisan surat perjanjian itu, beliau berkata kepada para sahabatnya:”bangunlah, sembelihlah qurban dan bercukurlah. Demi Allah tidak seorang pun di antara para sahabat yang bangun sampai ia mengatakannya tiga kali. Ketika tidak seorang pun berdiri, beliau masuk ke tempat Ummu Salamah. Ia mengadu kepadanya tentang apa yang ia hadapi dari orang banyak. Ummu Salamah berkata:’Ya Nabiyallah, apakah engkau ingin mereka melakukannya? Beliau berkata;”benar.” Ummu Salamah berkata:”Keluarlah dan jangan berbicara dengan seorang pun di antara mereka sampai engkau menyembelih hewanmu dan memanggil tukang cukurmu untuk memotong rambutmu.”

.

Lalu Nabi saw berdiri keluar dan tidak berbicara pada seorang pun sepatah kata pun sampai ia melakukan penyembelihan dan memotong rambut. Ketika mereka melihat Nabi berbuat seperti itu, mulailah mereka bangun dan menyembelih serta satu sama lain saling mencukur rambut sehingga hampir-hampir mereka saling membunuh” (Al-Durr al-Mantsur &;53; Ibn Katsir 4:199)

.

Allah ridha kepada mereka ??

Dalil berikutnya yang dijadikan dalil tentang ‘Adalat al-Shahabah adalah potongan ayat
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ . Potongan ayat ini disebut empat kali dalam al-Quran. Tiga kali disebut untuk menunjukkan karakteristik umum orang-orang yang diridhai Allah swt; tidak khusus berkaitan dengan sahabat: Al-Maidah 5:119; Al-Mujadilah 58:22; Al-Bayyinah 98:7-8.

.
Al-Bayyinah 7-8
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Para mufasir tidak pernah menisbahkan “Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepadaNya khusus untuk sahabat. “Mereka” dinisbahkan kepada semua orang yang beriman dan beramal saleh; kepada khayrul bariyyah

.

Ibn Katsir menulis, “Telah berdalil dengan ayat ini Abu Hurairah dan sebagian ulama tentang keutamaan kaum mukmin di atas para malaikat, berdasarkan firman Allah –ulaika hum khayrul bariyyah” (Ibn Katsir 4:538). Ibn Katsir kemudian menurunkan hadis-hadis yang menjelaskan sifat-sifat mukmin yang termasuk khayrul bariyyah. Misalnya, “Khayrul bariyyah adalah orang yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Tetap tegak di atasnya apa pun yang terjadi”

.

Jalaluddin al-Suyuthi, setelah mengutip hadis Abu Hurairah tentang mukmin yang beramal saleh –yang diridhai Allah- lebih mulia dari malaikat, ia meriwayatkan hadis dari Aisyah ketika Rasulullah menjawab pertanyaan tentang manusia yang paling mulia: “Ya Aisyah, tidakkah kamu membaca ayat:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

Setelah itu, Al-Suyuthi menurunkan hadis-hadis berikut: Ibn Asakir mengeluarkan dari Jabir bin Abdillah. Ia berkata: Kami sedang bersama Nabi saw, lalu datanglah Ali. Nabi saw berkata: Demi yang diriku ada di tangannya. Sesungguhnya ini dan Syi’ahnya sungguh orang-orang yang berbahagia pada hari kiamat. Dan turunlah ayat
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ

.

Setelah itu, para sahabat Nabi saw, bila Ali datang, mereka berkata: Telah datang khayrul bariyyah

.
Ibn Adi dan Ibn Asakir mengeluarkan dari Ibn Abbas. Ia berkata: Ketika turun ayat
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ
Rasulullah saw bersabda kepada Ali, “Dia itu adalah kamu dan Syi’ahmu, pada hari kiamat, ridha kepada Allah dan diridhai Allah”

.

Ibn Mardawayh mengeluarkan dari Ali. Ia berkata: Rasulullh saw berkata kepadaku: Tidakkah kamu dengar firman Allah
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّة
Itulah engkau dan Syi’ahmu. Tempat perjanjianku dan perjanjian kalian adalah al-Hawdh, ketika umat-umat datang untuk dihisab, kalian dipanggil ghurran muhjalin (Al-Durr al-Mantsur 8:589).

.

Keadilan semua sahabat dalam Qs.Al Fath ayat 10 dan Qs. Al Fath ayat 18 ?? Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai !

.

Peserta bai’at dibawah pohon yang berjumlah 1500 orang akan diridhai   dan tidak  masuk  neraka  jika menepati janjinya ! Jika kelak mereka melanggar janji maka tidak diridhai ! Faktanya ada diantara mereka yang  melanggar janji !

Allah berfirman
لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ
Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (Qs Al Hadid:10)
.
Yang dimaksud dengan Penaklukan adalah penaklukan Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah membai’at shahabat-shahbatnya dibawah sebuah pohon, ketika yang berbaiat dengan Beliau sejumlah 1500 orang, merekalah yang telah menaklukkan khaibar
.

 SHAHIH BUKHARI NO. 3852
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ إِشْكَابٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ
طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِي…َّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ
Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Isykab] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Al 'Ala` bin Al Musayyab] dari [Bapaknya] ia berkata; Aku bertemu [Al Bara' bin 'Azib radliallahu 'anhuma] seraya berkata; “Beruntunglah kamu karena mendampingi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berbai’at kepadanya di bawah pohon pada bai’atur ridlwan.” Al Bara’ berkata; “Wahai anak saudaraku, kamu tidak tahu apa yang kami perbuat setelah itu.”
.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bahwa beliau SAWW pernahbersabda kepada kaum Anshar: “Suatu hari kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat  sepeninggalku. Karena itu bersabarlah sehingga kalian menemuiAllah dan Rasul-Nya di telaga haudh.” Anas berkata, “Kami tidak sabar.”(1)
.
Ala’ bin Musayyab dari ayahnya pernah berkata: “Aku berjumpa dengan Barra’ bin A’zib ra. Kukatakan padanya, “berbahagialah Anda karena dapat bersahabat dengan Nabi SAWW dan membai’atnya di bawah pohon(bai’ah tahta syajarah). Barra’ menjawab, “wahai putera saudaraku,
engkau tidak tahu apa yang telah kami lakukan sepeninggalnya.”(2)

Jika sahabat utama yang tergolong di antara as-Sabiqin al-Awwalin dan pernah membai’at Nabi di bawah pohon, serta Allah rela kepada mereka dan Maha Tahu apa yang ada dalam hati mereka sehingga diberinya ganjaran yang besar; apakah mereka yang menghianati Bai’ah itu tetap diridhoi Allah ? apalagi sahabat-sahabat

ini kemudian bersaksi bahwa dirinya dan para sahabat yang lain telah melakukan “sesuatu yang berbeda (baca bid’ah)” sepeninggal Nabi, pengakuan mereka ini adalah bukti kebenaran yang disabdakan oleh Nabi SAW bahwa sebagian dari sahabatnya akan berpaling darinya sepeninggal nya.

Rasululah SAW juga telah bersabda: “Siapa yang mencaci Ali maka dia telah mencaciku; dan siapa yang mencaciku maka dia telah mencaci Allah; dan siapa yang mencaci Allah maka Allah akan menjatuhkannya ke dalam api neraka.”(3)

.

Sangat jelas hukuman bagi orang yang mencaci Imam Ali AS. Lalu apa hukuman bagi mereka yang melaknatnya dan memeranginya., sementara sejarah mengabarkan bahwa Muawiyah melaknati Imam Ali AS selama 70 tahun lebih , dan juga beliau AS telah diperangi oleh 3 kelompok dalam 3 Perang Besar.

Rujukan :

1. Shahih Bukhari jil. 2 hal. 135

2. Shahih Bukhari jil.3 hal. 32.

3. Mustadrak al-Hakim jil. 3 hal. 121; Khasais an-Nasai hal. 24;

Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 6 hal. 33; Manaqib al-Khawarizmi

.

Al-Bukhari meriwayatkan bahawa al-Musayyab berkata: Aku berjumpa al-Barra’ bin ‘Azib (r.a), lalu aku berkata: Alangkah beruntungnya anda kerana anda telah bersahabat (Sahabta) dengan Nabi (saw.) dan membaiahnya di bawah pokok. Lantas dia menjawab: Wahai anak saudaraku! Sebenarnya anda tidak mengetahui apa yang kami lakukan (Ahdathna-hu) selepasnya (al-Bukhari, Sahih, v, hlm. 343 (Hadis no.488 )

.

Kesemua hadis-hadis tersebut adalah menepati ayat al-Inqilab firman-Nya di dalam Surah Ali Imran (3): 144: “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang (murtad), maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikitpun dan Allah akan memberi balasan kepada mereka yang bersyukur.”

.

Dan bilangan yang sedikit sahaja yang “terselamat” adalah menepati firman-Nya di dalam Surah Saba’ (34): 13: “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaku yang berterima kasih.”

.

Pengakuan Sahabat Nabi SAW bernama Al-Barra’ bin ‘Azib (r.a) membuktikan bahwa Ayat bai’at ridwan  tidaklah meliputi seluruh sahabat,  hanya untuk sahabat istiqamah  yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.

Salam dan Solawat. Baru-bari ini ada seorang saudara dari Sunni membangkitkan satu persoalan menarik. Di zaman perjanjian Hudaibiyah, sekumpulan orang Islam telah membai’at Nabi di bawah pohon. Pembai’atan ini masyhur dengan Bai’atul Ridwan yang membawa kepada turunnya ayat berikut:

Mereka yang membai’at dikau hakikatnya mereka membai’at Allah, sesungguhnya Allah ridha dengan Mukminin jikalau mereka membai’at engkau di bawah pohon.”

Ahlusunnah tidak dapat menerima bahawa apabila seseorang itu yang telah diredhai tuhannya boleh atau mampu untuk menyimpang dari jalan kebenaran. Antara yang terlibat dalam pembai’atan ini ialah para sahabat besar seperti Umar, Abu Bakar, Uthman, Khalid dan beberapa orang lagi telah hadir.

Jawapan kami ialah pertamanya ayat itu sendiri menggunakan kalimah ‘iz zarfiah muqayyad‘. Iaitu ayat itu menyatakan pada ketika itu Allah meridhai engkau yang memberi Bai’at. Dengan ini tuhan meridhai mereka sebelum dan selepas pembai’atan tertakluk dengan syarat selagi individu itu mampu tetap menjaga kemakmuran ini.

Kami membacakannya mereka kisah orang yang telah kami berikannya ayat maka dia menuruti Syaitan dan termasuk di kalangan mereka yang sesat”
al-A’raf 175

Kesimpulannya dengan pengajaran peristiwa ini, jikalau Tuhan meridhai seseorang, maka Dia akan menyatakan keridhaanNya dengan bentuk yang sangat berharga selama seseorang itu menjaga keistiqamahan prinsip itu. Jika tidak, begitu banyak orang yang memiliki makam yang sangat tinggi namun setelah itu mereka tersesat.

Sebagai contoh Abdullah bin Abi Sara sahabat Rasulullah (s) penulis wahyu pertama, akan tetapi selepas beberapa ketika ia murtad dan menghina Rasulullah (s). Hingga sampai ke satu tahap, Rasulullah berkata pada waktu Fath Makkah, beberapa orang daripada mereka, walaupun mereka bergantung pada kain Kaabah, penggallah kepala mereka, salah seorang daripada mereka ialah Abdullah bin Abi Sara’.

Allah (swt) berfirman kepada Rasulullah (s):
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) sebelummu ‘jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” Surah az-Zummar ayat 65.

Kita menerima bahwasanya ayat-ayat ini diturunkan tentang sahabat. Akan tetapi berapa ramai antara sahabat-sahabat yang mampu menjaga makam tersebut, Perlulah adanya pembahasan dan penelitian.

Begitu juga dalam Sahih Muslim terdapat hadis yang bernama Hadis Haudh, yang mana tidak ada jalan lagi untuk Ahlussunnah mengelak dari hal tersebut. Di hari kiamat sebilangan para sahabat akan dibawa ke api neraka. Rasulullah bertanya ke mana dibawa sahabat-sahabat baginda. Lantas dijawab ke neraka. Ditanya kenapa, lantas dijawab lagi, kerana mereka murtad dan kembali ke masa jahiliyah sepeninggalan baginda. Yang lebih menarik, Bukhari mengatakan hanya sedikit daripada mereka yang selamat.
Sahih Bukhari: 7/208; Shawahid Tanzil: 284/1

Ummul Mukminin Aisyah telah berkata:
Sekalian orang Arab telah murtad setelah wafatnya Rasulullah
Al-Bidayah wa al-Nihayah: 6/336; Tarikh Madinah Dimasyq: 30/316

Menjawab : Ayat Bai’ah Ridwan

Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.

Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .
صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus dua puluh ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .
تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.
-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371
- Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224
- Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340
- Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14
- Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60
- Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77
- At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ » tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

… والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .
كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. – Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: http://www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ‏ نَفْسِهِ وَ مَنْ أَوْفىَ‏ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman ” فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ “? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى … .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh… – Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1) Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .
صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2) Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .
الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و … .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3) ʽAisyah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة… إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها
سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و …

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .
المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:

والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .
تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .

Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).

Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .
فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .

Makna kata-kata « ولا يرضي » ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350

.

Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. Mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. Karena itu Nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau. Merekapun mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah

.

Orang yang berjanji setia biasanya berjabatan tangan. Caranya berjanji setia dengan Rasul ialah meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang yang berjanji itu. Jadi maksud tangan Allah di atas mereka ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah sama dengan berjanji dengan Allah. Jadi seakan-akan Allah di atas tangan orang-orang yang berjanji itu. Hendaklah diperhatikan bahwa Allah Maha Suci dari segala sifat-sifat yang menyerupai makhluknya.

Qs. 48. Qs.Al Fath  ayat  10. : “”Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar

.

Qs. 48. Qs.Al Fath  ayat  18 : “”Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)

.

Al Quran  Memuji  Sahabat ??? Bagaimana  Syi’ah  iMamiyah  Menyikapi  Ayat  ayat  Pujian Kepada  Sahabat ???

Dalam Bahasa Arab, guna  fi’il   madhi  sama  dengan PAST  TENSE  dalam bahasa  Inggris  yaitu  untuk  menyatkan  sesuatu yang  telah  terjadi

Contoh :

Nike  gadis   yang  baik  pada saat  AYAHNYA  hidup…

Setelah  AYAHNYA  MATi  maka   Nike  belum tentu tetap  baik…

Ayat  yang  memuji / memberi  ampunan kepada sahabat semuanya fi’il  madhi  artinya  ayat  tersebut  Cuma  rekaman misi  religius ( semacam fakta sejarah )

Coba  anda perhatikan  dengan teliti  ayat ayat  yang menyatakan memuji / memberi ampunan   kepada  SAHABAT  semuanya  ada  konteks yang melatar belakangi nya  yaitu hanya berlaku  terhadap kesalahan  yang  telah  mereka  lakukan, kesalahan yang telah  mereka lakukan diampuni

Jaminan surga berlaku  kepada semua orang  Islam jika taat pada Allah, jika ingkar  maka tidak  ada  jaminan  SURGA

Dalam Bahasa Arab, guna  fi’il   mudhari’   sama  dengan PRESENT  TENSE  + PRESENT   CONTiNOUS untuk  menyatakan sesuatu  yang  sedang  terjadi dan akan  terjadi  ( secara  berkesinambungan )..

Contoh  : Nabi  SAW, Imam Ali, Fatimah, Hasan dan Husain  disucikan dalam  ayat  tathir ( fi’il  mudhari’ ) maka mereka tetap suci  sampai  kapanpun…

———————————————————————————

Pertanyaan :

Apakah  ada ayat  Al Quran yang  memakai  fi’il   mudhari’   yang  menjamin  ampunan  / pujian / jaminan  SURGA  kepada SAHABAT  atau  MUHAJiRin  ANSHAR  atau  peserta  PERANG  yang  melanggar  imamah  Ali  ????

Jawab :

Sepengetahuan  saya tidak ada !!! Semua  ayat yang  menyatakan  SAHABAT di maafkan  atau  diampuni   menggunakan  fi’il   madhi  yang  artinya  ampunan  itu hanya berlaku  pada  apa yang telah  mereka langgar, bukan berlaku  untuk selama lamanya


.

Salah satu ayat yang sering digunakan golongan Ahlusunnah untuk membuktikan keadilan para sahabat ialah ayat surah Al-Fath ayat 18. Mereka mendakwa seluruh sahabat yang hadir di dalam peristiwa tersebut mendapat keredhaan Ilahi. Allah (s.w.t) berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا . الفتح / 18 .

Demi sesungguhnya! Allah redha akan orang-orang yang beriman, ketika mereka memberikan pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad) di bawah naungan pohon (yang termaklum di Hudaibiyah); maka (dengan itu) ternyata apa yang sedia diketahuiNya tentang (kebenaran iman dan taat setia) yang ada dalam hati mereka, lalu Ia menurunkan semangat tenang tenteram kepada mereka, dan membalas mereka dengan kemenangan yang dekat masa datangnya- Surah Al-Fatḥ ayat 18.

Jawapan pertama: Ayat ini tidak meliputi seluruh sahabat, namun paling kurang hanyalah terkena pada mereka yang hadir dalam peristiwa Baiʽatul Riḍwān dan bilangan mereka yang dinukilkan oleh ulama Ahlusunnah adalah sekitar 1300 hingga 1400 orang. Muḥammad bin Ismāʽīl Al-Bukhārī menulis:

4463 ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا يَوْمَ الْحُدَيْبِيَةِ أَلْفًا وَأَرْبَعَ مِائَةٍ .

صحيح البخاري ، ج6 ، ص45 .

Daripada Jābir yang berkata: Kami seramai seribu empat ratus orang telah berada di hari Al-Ḥudaybiyah – Saḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 45.

Jumlah ini tidaklah meliputi lebih seratus  ribu orang sahabat Rasul di zaman kewafatan baginda. Oleh itu ayat ini tidaklah menunjukkan keadilan seluruh sahabat mahu pun keredhaan Allah kerana terdapat pengkhususan dalam ayat tersebut.

Jawapan ke-dua: Keredhaan Allah juga tidak meliputi semua orang yang memberi Baiʽat pada hari tersebut, bahkan keredhaan itu hanyalah untuk mereka yang memberikan Baiʽat dengan iman di dalam hati. Ini disebabkan Allah meletakkan syarat keimanan di dalam hati untuk keredhaan-Nya « رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ » . Dengan tidak memenuhi syarat tersebut, maka seseorang itu akan dinafikan dari keredhaan tersebut.

Ini bermaksud sekurang-kurangnya Allah (s.w.t) meredhai seluruh orang yang beriman. Walau bagaimana pun tidak ada bukti bahawa seluruh orang yang memberi Baiʽat dalam peristiwa tersebut mukmin hakiki. Oleh sebab itu Allah (s.w.t) mengikat dengan kata-kata: « عَنِ الْمُؤْمِنِينَ ». Oleh itu kaum munafiqin seperti Abdullah bin Ubai dan orang yang mempunyai syak dalam iman tidak boleh dikatakan memberi Baiʽat yang hakiki. Di samping tidak dikategotikan sebagai Baiʽat hakiki, mereka ini juga tidak mendapat keredhaan tersebut sebagaimana orang beriman yang tidak hadir di dalam peristiwa itu.

Dengan ini, ayat ini tidak termasuk orang yang mengesyaki kenabian Muhammad (s.a.w) seperti Umar bin Al-Khattab pada kejadian itu dan setelah peristiwa itu, bahkan juga ia tidak memberikan Baiʽat dengan keimanan. Detik-detik keraguan Umar terhadap kenabian Rasulullah banyak tercatat secara terperinci di dalam kitab-kitab Ahlusunnah di mana ringkasannya adalah seperti berikut:

Pada suatu ketika Rasulullah (s.a.w) melihat di dalam mimpinya bahawa baginda memasuki Makkah bersama para sabahat mengerjakan Ṭawaf di BaituLlah. Pagi keesokan harinya baginda memaklumkannya kepada para sahabat. Mereka bertanya kepada Rasul tentang mimpi tersebut. Lantas baginda menjawab “Insyallah kita akan memasuki kota Makkah dan mengerjakan Umrah”, namun baginda tidak menentukan bilakah perkara ini akan terjadi.

Semua orang sudah bersiap sedia untuk bergerak dan ketika mereka sampai di Hidaibiyah, musyrikin Quraysh sudah mengetahui kedatangan Rasulullah (s.a.w) dan para sahabat baginda. Maka Musyrikin Quraysh pun bersiap-siap menghalang kedatangan rombongan ini ke Kota Makkah dengan senjata. Oleh kerana matlamat Rasulullah (s.a.w) ke Makkah hanyalah dengan niat menziarahi BaituLlah dan bukan untuk berperang, baginda membuat perjanjian dengan Musyrikin Quraysh bahawa rombongannya tidak akan memasuki Kota Makkah pada tahun ini. Namun pada tahun hadapan mereka tidak dihalang mengerjakan ‘Umrah. Perkara ini menyebabkan Umar bin Al-Khattab dan orang yang sama pemikiran dengannya merasa bimbang dan mengesyaki kenabian Rasulullah (s.a.w) dan (Na’uzubillah) beliau turut menyangka Rasulullah (s.a.w) seorang penipu. Oleh sebab itu beliau memprotes dengan nada yang agak keras. Dhahabī di dalam Tārikh Al-Islām menukilkan kisah ini sebagai:

… فقال عمر : والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ ، فأتيت النبي صلى الله عليه وسلم فقلت : يا رسول الله ، ألست نبي الله قال : بلى قلت : ألسنا على الحق وعدونا على الباطل قال : بلى قلت : فلم نعطي الدنية في ديننا إذا قال : إني رسول الله ولست أعصيه وهو ناصري . قلت : أولست كنت تحدثنا أنا سنأتي البيت فنطوف حقا قال : بلى ، أفأخبرتك أنك تأتيه العام قلت : لا . قال : فإنك آتيه ومطوف به … .

تاريخ الإسلام ، الذهبي ، ج 2 ، ص 371 – 372 و صحيح ابن حبان ، ابن حبان ، ج 11 ، ص 224 و المصنف ، عبد الرزاق الصنعاني ، ج 5 ، ص 339 – 340 و المعجم الكبير ، الطبراني ، ج 20 ، ص 14 و تفسير الثعلبي ، الثعلبي ، ج 9 ، ص 60 و الدر المنثور ، جلال الدين السيوطي ، ج 6 ، ص 77 و تاريخ مدينة دمشق ، ابن عساكر ، ج 57 ، ص 229 و … .

Maka ‘Umar berkata: Demi Allah, aku tidak syak sejak keIslamanku kecuali pada hari ini, maka aku datang kepada Rasulullah (s.a.w) dan bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah engkau Nabi Allah? Jawab baginda: Bahkan iya. Aku bertanya: Tidakkah kita di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Baginda menjawab: Bahkan iya. Umar berkata: Mengapakah kita menunjukkan kelemahan terhadap agama kita? Baginda menjawab: Sesungguhnya aku utusan Allah dan tidak menderhakai-Nya dan Dialah pembantuku. Umar bertanya: Tidakkah engkau berkata kita akan memasuki Makkah dan berṭawaf? Nabi bersabda: Apakah aku memberitahumu kita akan mengerjakannya pada tahun ini? Umar berkata: Tidak. Rasulullah bersabda: Engkau akan memasuki Makkah dan berṭawaf.

-Tārikh Al-Islām Ad-Dhahabī, jilid 2 halaman 372-371

- Sahīh Ibnu Ḥabbān, jilid 11 halaman 224

- Al-Muṣannaf, ʽAbdul Razzāq Al-Ṣunʽānī, jilid 5 halaman 339-340

- Mu’jam Al-Kabīr, Al-Ṭabrānī, jilid 20 halaman 14

- Tafsīr Al-Thaʽlabī, Al-Thaʽlabī, jilid 9 halaman 60

- Al-Durrul Manthur, Jalāluddīn Al-Suyūṭī, jilid 6 halaman 77

- At-Tārikh Madīnah Dimashqi, Ibnu ʽAsākir, jilid 57 halaman 229 dan banyak lagi…

Menarik perhatian di sini ʽUmar tidak yakin dengan kat-kata Rasulullah dan untuk ketenangan, beliau pergi kepada temannya Abu Bakar dan bertanya hal yang sama. Lebih menarik di sini Abu Bakar mengulangi jawapan Rasulullah (s.a.w).

Riwayat ini telah dinukilkan oleh Bukhārī dan Muslim, namun demi melindungi maruah ʽUmar, kata-kata « والله ما شككت منذ أسلمت إلا يومئذ »  tidak dimasukkan dalam kisah perilaku khalifah ke-dua tersebut. Silakan anda merujuk Ṣaḥīḥ Al-Bukārī jilid 4 halaman 70, jilid 6 halaman 45 dan Ṣaḥīḥ Muslim jilid 5 halaman 175.

Sejarawan terkenal Ahlusunnah, Muhammad bun Umar al-Wāqidī menulis:

. . . فكان ابن عباس رضي اللّه عنه يقول : قال لي في خلافته ]يعني عمر[ وذكر القضية : إرتبت ارتياباً لم أرتبه منذ أسلمت إلا يومئذ ، ولو وجدت ذاك اليوم شيعة تخرج عنهم رغبة عن القضية لخرجت .

Ibnu ‘Abbas berkata: ʽUmar bin Al-Khattab di zaman kekhalifahannya terkenang peristiwa perjanjian Hudaibiyah dan berkata: Pada hari itu aku telah syak (kenabian Rasulullah), belum pernah aku syak demikian semenjak memasuki Islam. Andainya pada hari itu ada ditemui orang yang membuat keputusan untuk keluar dari perjanjian tersebut, maka aku pun turut akan keluar.

Wāqidī menambah dengan menukilkan riwayat daripada Abū Saʽid Al-Khudrī yang berkata kepada ʽUmar:

… والله لقد دخلني يومئذٍ من الشك حتى قلت في نفسي : لو كنا مائة رجلٍ على مثل رأيي ما دخلنا فيه أبداً ! .

كتاب المغازي ، الواقدي ، ج 1 ، ص 144 ، باب غزوة الحديبية ، المكتبة الشاملة ، الإصدار الثاني

Demi Allah, sesungguhnya betapa syak pada hari itu sehingga aku berkata kepada diriku: Andainya kita mempunyai seratus lelaki yang berpandangan sepertiku, kita tidak akan sekali-kali menyertai perjanjian tersebut. – Kitab Al-Maghāzī, Al-Wāqidī, jilid 1 halaman 144, software maktabah Al-Shamilah. Kitab ini dapat dirujuk dalam laman web: www.alwarraq.com

Apakah boleh dikatakan keredhaan Allah selama-lamanya untuk orang seperti ini? Bolehkah sesorang yang tidak beriman terhadap kenabian Rasulullah (s.a.w) dan mengesyaki kerasulan baginda dapat berada di dalam keredhaan Allah?.

Jawapan ke-tiga: Keredhaan ini tidak boleh dikatakan selama-lamanya atau abadi. Begitu juga tidak dijamin kebaikan seluruh orang yang hadir di dalam peristiwa ini kerana ayat tersebut hanya menyabitkan keredhaan Ilahi untuk orang yang memberi Baiʽat hanya pada ketika itu semata-mata, termasuk sebab dan keikhlasan mereka yang menyertai perjanjian dalam peristiwa itu.

Dengan kata yang lain, keredhaan ini akan kekal sehingga waktu tertentu sahaja sebagaimana pembaiʽatan dan perjanjian juga akan kekal sehingga ada terjadi perubahan di dalamnya. Ini disebabkan kewujudan Maʽlul tanpa ʽlal adalah mustahil.

Keredhaan Allah (s.w.t) kepada manusia hanyalah kerana amalan yang dilaksanakan semata-mata. Individu yang tidak beramal tidak akan diredhai oleh Tuhan iaitu selama ia mengerjakan amalan, ia akan diredhai. Tetapi ketika seseorang individu melakukan dosa, maka keredhaan ke atasnya juga akan turut luput.

Dalil paling baik untuk perkara ini ialah ayat tentang perjanjian tersebut:

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ  فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلىَ نَفْسِهِ  وَ مَنْ أَوْفىَ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا . الفتح / 10 .

Sesungguhnya orang-orang yang memberi pengakuan taat setia kepadamu (wahai Muhammad), mereka hanyasanya memberikan pengakuan taat setia kepada Allah; Allah mengawasi keadaan mereka memberikan taat setia itu (untuk membalasnya). Oleh itu, sesiapa yang tidak menyempurnakan janji setianya maka bahaya tidak menyempurnakan itu hanya menimpa dirinya; dan sesiapa yang menyempurnakan apa yang telah dijanjikannya kepada Allah, maka Allah akan memberi kepadanya pahala yang besar. – Surah Al-Fatḥ ayat 10.

Dalam ayat tersebut, Allah (s.w.t) secara jelas berfirman jikalau sesiapa yang mengingkari perjanjian dengan Allah (s.w.t), maka bahayanya adalah untuk diri sendiri. Allah akan memberikan ganjaran untuk orang yang tetap setia dengan perjanjian tersebut selama ia tidak berubah.

Oleh itu jelaslah ayat itu meliputi orang yang memberikan Baiʽat di hari tersebut sehingga ke akhir hayat selagi ia tetap berteguh dengan janji setianya. Katakanlah keredhaan ini adalah buat selama-lamanya, maka untuk apa Allah berfirman ” فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ “? Apakah firman ini sia-sia belaka?

Perkara ini juga banyak terdapat di dalam riyawat-riyawa seperti yang dinukilkan oleh Malik bin Anas di dalam Al-Muwaṭṭa’:

عَنْ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِشُهَدَاءِ أُحُدٍ هَؤُلَاءِ أَشْهَدُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ أَلَسْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ بِإِخْوَانِهِمْ أَسْلَمْنَا كَمَا أَسْلَمُوا وَجَاهَدْنَا كَمَا جَاهَدُوا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَلَى وَلَكِنْ لَا أَدْرِي مَا تُحْدِثُونَ بَعْدِي فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ بَكَى … .

Daripada Abi Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahawa Rasulullah (s.a.w) bersabda mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As-Ṣiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah (s.a.w) berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis bersungguh-sungguh… – Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987

Hadis tersebut secara jelas menunjukkan akibat terhadap individu seperti Abu Bakar jikalau tidak taat dan beramal dengan syarat-syarat di dalam Bai’atnya di waktu akan datang, maka kemurkaan Allah akan menggantikan keredhaan-Nya.

Jawapan ke-empat: Sebahagian daripada sahabat yang menghadiri bai’at telah mengakui melanggar pembaiʽatan mereka seperti Barā’ bin ʽĀzib, Abū Saʽid Al-Khudrī dan ʽAisyah:

1)    Barā’ bin ʽĀzib: Bukhārī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَقِيتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَقُلْتُ طُوبَى لَكَ صَحِبْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبَايَعْتَهُ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَقَالَ يَا ابْنَ أَخِي إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثْنَا بَعْدَهُ .

صحيح البخارى ، ج 5 ، ج65 ، ح 4170 كتاب المغازي باب غزوة الحديبية .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Musayyab, daripada ayahnya yang berkata: Aku bertemu dengan Al-Barā’ bin ʽĀzib RaḍiyaLlah ʽAnhumā dan berkata kepadanya:Bergembiralah engkau kerana bersama-sama Nabi dan memberi Baiʽat kepada baginda di bawah pohon. Maka beliau menjawab: Wahai anak saudaraku, sesungguhnya engkau tidak tahu bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.- Ṣaḥīḥ Al-Bukharī, jilid 5 halaman 65, hadis 4170

Barā’ bin ʽĀzib adalah salah seorang sahabat besar dan orang yang turut memberi Baiʽat di bawah pohon telah memberikan pengakuan bahawa beliau dan yang lainnya telah melakukan banyak bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w). Ini juga merupakan bukti yang jelas bahawa keredhaan Allah terhadap orang yang memberi Baiʽat di Hudaibiyah tidaklah kekal abadi selama-lamanya.

2)    Pengakuan Abī Saʽid Al-Khudrī: Ibnu Ḥajar Al-ʽAsqalānī di dalam Al-Iṣābah menulis:

عن العلاء بن المسيب عن أبيه عن أبي سعيد قلنا له هنيئا لك برؤية رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحبته قال إنك لا تدري ما أحدثنا بعده .

الإصابة ، ابن حجر ، ج 3 ، ص 67 و الكامل ، عبد الله بن عدي ، ج 3 ، ص 63 و … .

Daripada Al-ʽAlā’ bin Al-Muasayyab, daripada ayahnya, daripada Abī Saʽīd menukilkan bahawa: Kami berkata kepada Abū Saʽīd: Alangkah baiknya engkau, kerana melihat Rasulullah dan berbicara bersama baginda. Abū Saʽīd berkata: Sesungguhnya engkau tidak tahu Bid’ah apa yang telah kami lakukan setelah kewafatan baginda.

3)    ʽAisyah:

Dhahabī di dalam Siyar Aʽlam Al-Nubalā’ menulis:

عن قيس ، قال : قالت عائشة… إني أحدثت بعد رسول الله صلى الله عليه وسلم حدثا ، ادفنوني مع أزواجه . فدفنت بالبقيع رضي الله عنها

سير أعلام النبلاء ، الذهبي ، ج 2 ، ص 193 و الطبقات الكبري ، محمد بن سعد ، ج 8 ، ص74 ، ترجمة عائشة ، والمصنّف ، ابن أبي شيبة الكوفي ، ج 8 ، ص708 و …

Daripada Qays yang berkata: ʽAisyah berkata… Sesungguhnya aku telah lakukan bid’ah setelah kewafatan Rasulullah (s.a.w) sebenar-benar bidʽah, pusarakan aku bersama isteri-isteri baginda. Maka beliau dimakamkan di Baqī’ RaḍiyaLlahu ʽAnha – Siyar Aʽlam Al-Nubalā’, Al-Dhahabī, jilid 2 halaman 193.

Ḥakim Nisyaburī juga menukilkan riwayat seperti ini dan berkata:

هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه .

المستدرك على الصحيحين ، الحاكم ، ج 4 ، ص6 .

Hadis ini sahih atas syarat dua Shaykh (Bukhārī dan Muslim), mereka berdua tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥiḥayn jilid 4 halaman 6.

Dhahabī juga di dalam Talkhis Al-Mustadrak menegaskan pandangannya. Apakah dengan pengiktirafan para sahabat besar yang melakukan bid’ah setelah kewafatan baginda dapat dikatakan mendapat keredhaan Allah selama-lamanya?

Jawapan ke-lima: Sifat Allah teridir daripada Dhātī dan Fiʽlī. Sifat Dhātī adalah sifat Azālī dan Abadī, namun sifat Fiʽlī tidak seperti ini, bahkan tertakluk pada suatu zaman seperti yang dikatakan oleh Fakhrul Rāzī:

والفرق بين هذين النوعين من الصفات وجوه . أحدها : أن صفات الذات أزلية ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثانيها : أن صفات الذات لا يمكن أن تصدق نقائضها في شيء من الأوقات ، وصفات الفعل ليست كذلك . وثالثها : أن صفات الفعل أمور نسبية يعتبر في تحققها صدور الآثار عن الفاعل ، وصفات الذات ليست كذلك .

تفسير الرازي ، الرازي ، ج 4 ، ص 75 .

Dan beza di antara kedua sifat Allah (Dhāt dan Fiʽl) ialah beberapa perkara: 1. Sifat Dhāt Azalī dan abadi, dan sifat Al-Fiʽl tidak seperti itu. 2. Sesungguhnya sifat Al-Dhāt tidak mungkin menepati pertentangannya terhadap sesuatu dalam waktu-waktu (contohnya jahil bertentnagan dengan ‘ālim); dan sifat Fiʽl tidak seperti itu. 3. Sesungguhnya sifat Fiʽl adalah perkara yang berhubung dengan kadangkala terjadi dengan kemunculan dalam suatu kesan daripada Fiʽl, namun sifat Dhāt tidak seperti ini (iaitu kekal abadi).

Oleh itu ketika Allah menyatakan keredhaan atau kemurkaan-Nya, ini bermakna pengurniaan pahala dan balasan. Oleh itu keredhaan dan kemurkaan Allah adalah sifat Fiʽl, bukan sifat Dhatī. Jikalau ianya dari sifat Fiʽl maka ia tidak akan berkekalan. Mengenai perkara ini Ibnu Ḥajar Al-‘Asqalānī berkata:

ومعنى قوله ولا يرضى أي لا يشكره لهم ولا يثيبهم عليه فعلى هذا فهي صفة فعل .

فتح الباري ، ابن حجر ، ج 11 ، ص 350 .

Makna kata-kata « ولا يرضي »  ialah tidak menghargai perbuatan yang dilakukan sekarang dan tidak diberi ganjaran. Inilah dia sifat Fiʽl – Fathul Bārī, ibnu Ḥajar, jilid 11 halaman 350

Kesimpulan:

Ayat ini tidaklah meliputi seluruh sahabat, bahkan ia hanya untuk orang beriman yang hadir dan setia pada perjanjian hingga ke akhir usianya.

Kitab Hadis Apa Yang Dipedomani Sunni Sebelum Bukhari ?? Tersingkaplah rahasia

baca juga : pemalsuan hadis mahadahsyat !!! Kejahatan Penguasa Sunni Merusak Islam

 .
Hasil kodifikasi Hadis yang dilakukan oleh Muhammad ibn Syihab al Zuhri (51 – 125 H) dan Abu Bakar Muhammad ibn ‘Amr ibn Hazm dianggap sebagai kitab Hadis yang pertama ada dalam sejarah pembukuan Hadis. Namun karya kedua ulama tersebut tidak dapat dijumpai lagi saat sekarang ini. Setelah kedua tokoh tersebut maka bermuncullah sejumlah ulama Hadis yang menghimpun dan mengkodifikasi Hadis, sehingga lahirlah kitab-kitab hadis yang bervariasi jenis dan macamnya dilihat dari sistimatika penyusunannya.
 .
Di antara kitab-kitab Hadis yang merupakan hasil kodifikasi para ulama tersebut yang masih dapat kita jumpai saat ini di antaranya adalah : kitab al Muwaththa’ yang disusun oleh Imam Malik ibn Anas . Kitab Al-Muwaththa’ ;Kitab ini adalah karya termashur Imam Malik di antara sejumlah karyanya yang ada. Disusunnya kitab ini adalah atas anjuran khalifah Abu Ja’far al Mansyur dari Dinasti Abbasiyah yang bertujuan untuk disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat Muslim dan selanjutnya dijadikan sebagai pedoman hukum negara di seluruh dunia Islam dan juga akan digunakan sebagai acuan bagi para hakim untuk mengadili perkara-perkara yang diajukan kepada mereka serta menjadi pedoman bagi para pejabat pemerintah. Namun Imam Malik menolak tujuan yang diinginkan oleh khalifah tersebut, bahwa agar Al Muwaththa’ digunakan satu rujukan atau satu sumber saja dalam bidang hukum
.

Menurut ibn al Hibah, Hadis yang diriwayatkan Imam Malik berjumlah seratus ribu Hadis, kemudia Hadis-hadis tersebut beliau seleksi dengan merujuk kesesuaian dengan alquran dan sunnah sehingga tinggal sepuluh ribu Hadis.Dari jumlah itu beliau lakukan seleksi kembali sehingga akhirnya yang dianggap mu’tamad berjumlah lima ratus Hadis.Beberapa kali dilakkukan revisi oleh Imam Malik atas Hadis yang dikumpulkan mengakibatkan kitab ini memiliki lebih dari delapan puluh naskah (versi), lima belas diantaranya yang terkenal adalah :
  • Naskah Yahya ibn Yahya al Laytsi al Andalusi, yang mendengar al Muwaththa’ pertama kali dari Abd al Rahman dan selanjutnya Yahya pergi menemui Imam Malik secara langsung sebanyak dua kali tanpa perantara.
  • Naskah Abi Mus’ab Ahmad ibn Abi Bakr al Qasim, seorang hakim di Madinah.
  • Naskah Muhammad ibn al Hasan al Syaibani, seorang murid Abu Hanifah dan murid Imam Malik.
.

Hadits-hadits palsu pada masa bani Umayyah, tidak akan “laku dijual” kalau masyarakat saat itu mau tetap menomorsatukan Al-Qur’an, di atas hadits-hadits.Oleh karena itu, untuk bisa melegitimasi kekuasaan bani Umayyah pada saat itu, harus dilakukan dua cara:
1. Buat hadits palsu sebanyak mungkin.
2. Palingkan perhatian kaum muslimin dari Al-Qur’an ke hadits-hadits. (agar bisa menelan hadits-hadits palsu tsb)

.

Kebencian keluarga Umayyah  kepada Bani Hasyim sangat terkenal, misalnya Cucu Abu Sofyan membantai Imam Husain di Karballa.Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis Dan Sejarah demi membenarkan tindakan Zalim Tiran Bani Umayyah

Mu’awiyah adalah orang pertama yang tertarik ingin menulis sejarah dan membuat buat hadis hadis atau sunnah palsu. Ia mendapatkan sebuah sejarah  masa lalu yang ditulis oleh seorang bernama Ubaid yang ia panggil dari Yaman.Ahmad Amin dalam bukunya Fajrul Islam, dan Abu Rayyah dalam bukunya Adhwa’ Ala Sunnah Al Muhammadiyah telah menggugat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, beliau mengatakan, bahwa dia (Abu Hurairah) sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, padahal dia tidak pernah menulis. Ia hanya menceritakan hadits dari ingatannya.

Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis Dan Sejarah demi membenarkan tindakan Zalim Tiran Bani Umayyah

Zuhri adalah sejarawan pertama yang menulis sejarah Islam atas perintah dan pembiayaan langsung dari penguasa. Ia juga menulis kumpulan hadis. Karya Zuhri adalah salah satu sumber utama hadis hadis Bukhari. Zuhri sangat dekat dengan keluarga bangsawan, dan guru bagi putera putera nya

Dua orang murid Zuhri yang bernama Musa bin Uqbah dan Muhammad bin Ishaq menjadi sejarahwan terkenal. Musa dulunya adalah seorang budak dirumah Zubair. Karyanya merupakan karya yang terkenal untuk waktu yang lama. Anda akan menemukan referensi referensi nya di banyak buku buku sejarah

Murid kedua, Muhammad bin ishaq  adalah sejarahwan terkemuka bagi kaum sunni. Biografi Nabi karyanya  berjudul “Sirah Rasulullah” masih menjadi sumber sejarah yang diakui dalam bentuk yang diberikan oleh Ibnu Hisyam, dan dikenal sebagai sirah Ibnu Hiysam

Zuhri adalah orang pertama yang menyusun hadis seluruh sejarah  dan kitab sunni setelah nya oleh orang orang yang berpengaruh dalam karya karya ini (Sumber : As Sirah An Nabawiyah, Syilbi, Sejarahwan Sunni Terkemuka, bagian 1 halaman 13-17)

Penjelasan diatas memberikan bukti dan fakta fakta berikut :

  1. Kitab sejarah kaum sunni pertama kali disusun atas perintah langsung dari Dinasti Umayyah
  2. Penulis pertama adalah Zuhri, lalu dilanjutkan oleh kedua musridnya, Musa bin Uqbah dan Muhammad bin Ishaq
  3. Para penulis ini sangat dekat dengan keluarga Dinasti Umayyah

Penjahat penjahat inilah yang pertama kali menuliskan kitab kitab sejarah dan hadis. Mereka memalsukan hadis untuk membenarkan tindakan mereka dan menyatakan bahwa Nabi SAW telah memerintahkan untuk menaati mereka walaupun zalim.  Sebuah hadis berlabel shahih yang menggelikan !!!!

Mayoritas Umat Merupakan Jama’ah pengikut  Syi’ah Mu’awiyah (sunni sekarang) yang MERAMPAS  kekuasaan , menindas dan melakukan diskriminasi terhadap Syi’ah Ali.. Mustahil Nabi SAW menyuruh anda mengikuti kaum mayoritas !!!

Banyak Hadis Hadis dan Kitab Sejarah Mazhab Sunni Telah Dipalsukan Oleh Penulis dari Dinasti Umayyah !!!  Sehingga Syi’ah Hanya Menerima Sebagian Hadis dan Sirah Sunni Dan Mengingkari Keotentikan Sebagian Lagi

Bukhari Menjadikan Salah Satu Sumber Utama Hadisnya dari ZUHRi Sang Pemalsu Hadis Dan Sejarah demi membenarkan tindakan Zalim Tiran Bani Umayyah

Padahal Allah SWT berfirman : “Tidak seorang pun menyentuh (kedalaman makna Al Quran) kecuali hamba hamba yang disucikan” (Qs. Al Waqi’ah ayat 79)

al-zuhri telah membuat hadits palsu. Hal ini dilakukannya karena ada “order special” dari khalifah bani umayyah di damaskus

Kendati hadits tersebut termaktub dalam kitab sahih al-bukhari (kitab yang otentisitasnya tidak diragukan lagi oleh kaum muslim), sebagian diantaranya  bikinan imam al-zuhri. Bukanlah sabda Nabi saw. Saya meragukan  kredibilitas imam al-zuhri dan imam al-Bukhari, para pejabat itu telah memaksanya untuk menuliskan Hadits-hadits nabawi yang pada saat itu sudah ada tetapi belum terhimpun dalam suatu buku.

ummat islam diharapkan tidak percaya sepenuhnya kepada imam al-Bukhari, sebagian  omongan al-zuhri telah dianggap sebagai hadits Nabi SAW. DAN ITU kecerobohan mendasar imam al-bukhari.  ???

terdapat dalam kitab Ibn Sa’ad dan Ibn ‘Asakir  : al Zuhri mengatakan, “Inna haulai al umara akrahuna ‘ala kitabah alhadits” (sesungguhnya para pejabat itu telah memaksa kami untuk menulis Hadits). Artinya para pejabat itu telah memaksanya untuk menuliskan Hadits-hadits nabawi yang pada saat itu sudah ada tetapi belum terhimpun dalam suatu buku. JAdi Zuhri  ada  hubungan dengan Bani Umayyah dan pemanfaatan dirinya dalam pemalsuan hadits demi mengikuti hawa nafsu mereka

Ajaran SEMUA SAHABAT ADiL dan PAHAM JAMAAH adalah buah karya rekayasa Mu’awiyah dan para raja raja zalim dengan target antara lain :
- Sebagai pembenaran bagi Mu’awiyah dan para pengikutnya
- Sebagai pembenaran bagi 3 khalifah yang merampas hak Ali
- Sebagai tameng untuk melawan hardikan , kritikan dan hinaan kepada Mu’awiyah, Amru bin Ash, Marwan bin Hakam dll loyalis diktator
.
Agama Muhammad bin abdullah telah dikotorkan sehingga umat sunni sesat
  • Para gadis ukhti, syi’ah bukan pencela sahabat
  • Mayoritas sahabat yang wafat secara alamiah dan mati syahid semasa hidup Nabi SAW dipuji Syi’ah dan dipuji Al Quran
  • *

Mu’awiyah Adalah Pencetus Islam Umawy

ciri yang sangat menonjol dari islam Umawy di samping kekakuan sikap dan kesembronoannya dalam menvonis kafir setiap yang berbeda dengan mereka dan tentunya yang paling special dari mereka adalah sikap kebencian yang mendalam kepada Ahlulbait as. dan kurangnya penghormatan kepada Nabi Muhammad Saw.

Tidak diragukan lagi bahwa Mu’awiyah adalah ‘Putra Harapan Kaum Kafir Quraisy’ yang diharap mampu menjayakan proyek para pembesar kafir Quriasy yang bertekuk lutut di hadapan kejayaan Islam, puncaknya dengan ditaklukkannya kota Mekkah

.

Abu Sufyan berusaha meraih kembali kejayaan palsu kemusyrikan kaum Musyrik Quraisy melalui putra kebanggaannya, Mu’awiyah. Setelah berhasil merebut kekhalifahan, Mu’awiyah segera menjalankan agenda besarnya; memerangi Islam yang dibawa dan diperjuangkan Nabi bersama para sahabat mulianya

.

Namun kali ini, ia tidak menggunakan cara-cara klasik para moyangnya. Ia menjalankan peperangan ini dengan cerdas, halus, berlahan namun pasti dan tidak lupa, ia perangi Islam Rasulullah Saw. dengan menggunakan nama Islam itu sendiri sebagai senjata, tentunya setelah membodohi banyak kalangan dengan tipu muslihat dan makar jahatnya!

Mu’awiyah Menghancurkan Wibawa Nabi Saw. dan Kenabian!

Tidaklah akan ada gunanya rasanya apabila kekuasaan yang telah ia rebut dengan makar dantipu muslihat, dan ia pertahankan tangan besi dari umat Islam itu tidak ia jadikan senjata ampuh untuk menghancurkan Islam yang sejak dahulu ia perangi ‘mati-matian’ bersama ayah-ibunya, paman-pamannya dan kakek-kakeknya dan yang untuknya keluarga besanya telah kehilangan banyak anggota keluarga dan kerabat kesayangan mereka, selain tentunya harta yang tidak sedikit!

.

Karenanya, agenda besar islam Umawy adalah bagaimana Islam sejati yang dibawa Rasulullah Muhammad Saw dapat dimusnahkan dan diganti dengan islam versi Umayyah. Untuk itu semua, pertama-tama yang harus dilakukan adalah bagaimana kewibawaan Nabi Saw. dan kenabian harus segera diruntuhkan. Muhammad –dalam pandangan Mu’awiyah dan Bani Umayyah- jangan terlalu dijadikan nabi… ia harus jadi Muhammad biasa… Muhammad putra Abu Kabsyah! Bukan Muhammad yangWamâ yanthiqu ‘Anil hawâ in huwa illâ wahyun yûhâ/Tiada tiada ia berucap dari hawa nafsunya melainkan seluruh ucapannya dari wahyu dan berdasar bimbingan wahyu! Demikian pula, segala panji yang akan mengingatkan kita kepada Nabi Muhammad harus segera dimusnahkan… semua yang mewakili wajah cemerlang Nabi Saw. harus dicoreng dan dihinakan serta dikubur! Dan umat harus dibutakan terhadapnya…

.

Mesti harus dibina generasi yang hanya mengenal wajah islam Umawy yang mewakili satu-satunya Islam edisi resmi yang otentik… . Hindun sebagai wanita sucinya yang harus dikuduskan… Abu Sufyan sebagai Kekek kaum Muslimin dan Mu’awiyah, selain sebagai Khalifah resmi Rasulullah Saw. ia juga ‘Paman Kaum Muslimin/Khâlul Mu’minin’. Dan tentunya tidak ketinggalan bahwa Yazid adalah pewaris sejati tahta kenabian dan duta Tuhan di muka bumi-Nya!

Tidak sulit medapatkan bukti-bukti yang mendukung apa yang saya katakan di atas. Namun karena terbatasnya waktu dan ruang saya hanya akan cukupkan dengan menghadirkan beberapa bukti saja.

Bukti Pertama:

Zubair bin Bakkâr (dan yang perlu dicatat di sini bahwa ia tidak perlu diragukan keberpihakannya kepada islam Umawy, sehingga Anda tidak perlu meragukan penulikannya) dalam kitab al Muwaffaqiyyât-nya meriwayatkan, “Mathraf bin Mughîrah bin Syu’bah berkata, ‘Aku bersama ayahku masuk menjumpai Mu’awiyah. Dan ayahku biasa mendatangi Mu’awiyah dan berbincang-bincang lalu sepulangnya ia menceritakan kepada kami kehebatan akal dan ide-ide Mu’awiyah. Lalu pada suatu malam ayahku pulang dan ia menahan diri dari menyantap makan malamnya, aku menyaksikannya sedih. Aku menantinya. Aku mengira kesedihannya karena kami. Lalu aku berkata, ‘Wahai ayah! Mengapakah aku menyaksikanmu bersedih sepanjang malam? Maka ia menjawab, ‘Hai anakku! Aku baru saja datang dariseorang yang palibg kafir dan paling busuk’! Aku bertanya, ‘Apa itu?’ ia berkata, ‘Aku berkata kepada Mu’awiyah di saat aku berduaan dengannya, ‘Wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya engkau telah mencapai usia lanjut, andai engkau tanpakkan keadilan dan kamu berikan kebaikan. Andai engkau memerhatikan kondisi kerabatmu dari Bani Hasyim, engkau sambung tali rahim mereka. Demi Allah, tidak ada lagi pada mereka sesuatu yang perlu engkau takutkan. Hal itu akan membuat nama harum Anda menjadi langgeng dan pahala tetap untuk Anda. Maka ia berkata, ‘TIDAK! TIDAK! Sebutan apa yang aku harap dapat langgeng! Saudara dari suku Taim (Abu Bakar maksudnya) berkuasa lalu ia berbuat baik, lalu apa? Ia mati dan sebutannya pun juga mati bersamanya! Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, ‘Abu Bakar! Abu Bakar! Saudara suku Adi (Umar maksudnya) berkuasa, lalu ia bersungguh-sungguh dalam berbuat baik, kemudian ia mati, maka mati pula sebutannya. Paling-paling orang-orang hanya menyebut-nyebut, Umar! Umar! SEMENTARA ITU ANAK PAK ABU KABSYAH NAMANYA DIPEKIKKAN SETIAP HARI LIMA KALI; “AKU BERSAKSI BAHWA MUHAMMAD ADALAH RASUL ALLAH”Amal dan sebutan apa yang akan langgeng! Celakalah engkau! Tidak! sehingga nama orang itu (Nabi Muhammad Saw maksudnya) dikubur dalam-dalam/ dafnan-dafnan![1]

.

Dalam kata-katanya yang penuh dengan luapan kekafiran itu ia menyebut Nabi Mulia saw. dengn sebutan putra Abu Kabsyah tentu dengan tujuan menghina, sebab kaum kafir Quraisy dahulu demikian memanggil Nabi Muhammad Saw. dengan maksud menghina. Abu Kabsyah adalah nama bapak asuh Nabi saw. saat kanak-kanak! Kata-kata itu sendiri dapat menjadi bukti betapa Mu’awiyah tidak kuasa menyembunyikan kekafirannya dan sekaligus kedengkiannya kepada Nabi Islam Muhammad Saw.

Bukti Kedua:

Ketika Mu’awiyah mendengar seorang muadzdzin mengumandangkan suara adzan, dan ia sampai pada pasal: Asyhadu anna Muhammad Rasulullah. Mu’awiyah berkata, ‘Untukmu ayahmu hai anak Abdullah! Engkau benar-benar berambisi besar.Engkau tidak puas sehingga engkau gandengkan namamu dengan nama Rabbul ‘Âlâmîn.[2]

Penyebutan nama Nabi Saw. dalam syahadatain baik dalam pasal adzan maupun selainnya adalah sepenuhnya berdasarkan wahyu. Kita kaum Muslimin meyakini bahwa beliau saw. adalah Nabi dan Utusan Allah, tiada berkata dan bertindak melainkan atas dasar bimbingan wahyu… akan tetapi mereka yang tidak mempercayai beliau sebagai Nabi dan Rasul Allah pasti akan memaknai apa yang dibawa Nabi Saw. sebagai buatan dan kepalsuan yang dibuat-buat oleh Muhammad Saw. Kenyataan ini telah ditegaskan dalam Al Qur’an. Kecuali apabila Mu’awiyah juga berani menuduh ayat tentangnya sebagai kepalsuan buatan Nabi Muhammad Saw.

Allah berfirman:

َ لَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ (*) وَ وَضَعْنا عَنْكَ وِزْرَكَ (*) الَّذي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ (*) وَ رَفَعْنا لَكَ ذِكْرَكَ (*) فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (*) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْراً (*) فَإِذا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (*) وَ إِلى‏ رَبِّكَ فَارْغَبْ (*)

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu.* Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu,* Yang  memberatkan punggungmu.* Dan Kami tinggikan bagimu sebutan ( nama ) mu.* Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,* sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.* Maka apabila kamu telah selesai ( dari sesuatu urusan ), kerjakanlah dengan sungguh- sungguh ( urusan ) yang lain,* Dan  hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”(QS asy Syarh [94];1-8(

Imam asy Syafi’i meriwayatkan  tafsir ayat kelima di atas dari Mujahid, ia berkata: “Tiada Aku (Allah) disebut melainkan engkau juga disebut bersamaku, “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.

Bukti Ketiga:

Dalam kitab al Mu’ammarîn karya Abu Hâtim as Sijistâni, “Pada suatu hari Mu’awiyah bertanya kepada Amad bin Abad al Hadhrami (seorang yang berusia panjang), ‘Apakah engkau pernah menyaksikan Hasyim (kekek ayah Nabi saw.)? ia menjawab, ‘Ya. Pernah. Ia seorang yang tinggi gagah dan tanpan …’ Mu’awiyah melanjutkan, ‘Apakah engkau pernah melihat Muhammad?’ Amad bertanya balik, ‘Muhammad siapa?’ Mu’awiyah menjawab, ‘Rasul Allah.’ Amad menjawab, ‘Mengapakah engkau tidak mengagungkannya sebagaimana Allah mengagungkannya, mengapakah kamu tidak menggelarinya dengan Rasulullah?![3]

Bukti Keempat:

Mu’awiyah Bangga Dipanggil Sebagai Rasulullah!

Imam ath Thabari dalam kitab Târîkh-nya meriwayatkan bahwa ketika ‘Amr bin Âsh mendelegasikan serombongan penduduk Mesir untuk menemui Mu’awiyah di istananya, ia berpesan agar mereka tidak memanggil Mu’awiyah dengan gelar Amirul Mukminin, ‘Amr bin Âsh berkata, ‘Perhatikan! Jika kalian masuk menemui putra Hindun maka hendaknya kalian tidak mengucapkan salam dengan mengatakan ‘Assalamu alaikum wahai Khalifah. Karena yang demikian membuat kalian lebih dihargai oleh Mu’awiyah. Dan hinakan dia sebisa kalian. Mu’awiyah sepertinya telah merasakan adanya makar jahat ‘Amr bin Âsh. Ia berkata kepada penjaga istana, ‘Sepertinya aku telah mengetahui bahwa putra Nâbighah (nama ibu ‘Amr bin Âsh yang juga dikenal selabagi pelacur murahan_pen) hendak menghinakan kedudukanku di hadapan mereka. Kerenanya, perhatikan jika delegasi itu datang, tahan mereka di luar dengan cara hina sehingga setiap dari mereka hanya akan memikirkan keselamat dirinya sendiri. Setelah mereka dipersilahkan masuk, orang yang pertama kali masuk adalah seorang dari penduduk Mesir bernama Ibnu Khayyâth, ia ketakutan sampai-sampai ia terputus-putus bicaranya, lalu ia berkata, “SALAM ATASMU WAHAI RASULULLAH. Kemudian yang lainnya pun mengikuti dengan menggelari Mu’awiyah dengan gelar Rasulullah! Dan Mu’awiyah pun tidak menghardik atau menyalahkan mereka karena hal itu![4]

Mu’awiyah Mengolok-olok Syariat Rasulullah Saw.

Adapun sikap pelecehan dan menghina terhadap syari’at Nabi Muhammad Saw. yang ditanpakkan terang-terangan oleh Mu’awiyah maka bukanlah hal samar…. Mengakui Ziyâd yang lahir dari pasangan suami istri yang sah sebagai anak Abu Sufyan sebab ibu Ziyad yang bernama Sumayyah telah melacur dengan Abu Sufyan (yang memang sangat dikenal suka berzina)… maka Mu’awiyah mengakuinya sebagai Ziyad bin Abu Sufyan setelah sebelumnya disebut Ziyad bin Abihi (Ziyad putra ayahnya) adalah satu dari puluhan jika bukan ratusan contoh kasus pelecehan terhadap Syari’at dan bukan hanya sekedar pelanggaran hukum semata! Sehingga rasanya, untuk sementara waktu tidak perlu saya berlama-lama menyita waktu pembaca terhormat dengan menyebutnya satu persatu. Mungkin dalam kesempatan lain kami akan menyajikannya untuk para pembaca.

Mu’awiyah Sukses Membangun Jaringan Fron Pembela Bani Umayyah.

Dan sebagai bukti keberhasilan Mu’awiyah dalam kejahatannya merusak kesadaran kaum Muslimin, ia mampu menciptakan di setiap zaman kelompok yang getol membela bani Umayyah dan mengecam siapapun yang berani membongkar kejahatan Mu’awiyah dan Bani Umayyah dengan menuduhnya sebagai Syi’ah! Pembenci Salaf Shaleh! Zindiq dll. Kenyataan ini akan Anda ketahui buktinya segera setelah artikel ini diterbitkan… Anda akan menyaksikan bagaimana mereka akan menvonis kami sebagai Syi’ah Rafidhah yang Zindiq! Sebab dalam kamus islam Umawy, wajib hukumnya bahkan mungkin termasuk rukun iman terselubung mengagungkan Mu’awiyah. Maka barang siapa yang membongkar kejahatan Mu’awiyah dan Bani Umayyah maka ia zindiq/bukan Muslim!

 


[1] Al Akhbâr al Muwaffaqiyyât:576-577, Murûj adz Dzahab; al Ms’ûdi,4/41 dan an Nashâih al Kâfiyah; Sayyid Habib Muhammad bin Aqil bin Abdullah bin Umar bin Yahya Al Alawi al Hadhrami asy Syafi’i:93. Setelahnya al Habib Muhammad bin Aqil menyebutkan bahwa Zubair bin Bakkâr adalah Qadhi kota suci Mekkah, seorang yang sangat masyhur di kalangan para Muhadditsin dan parawi hadis shahih. Dan ia tidak tertuduh menjelek-jelekkan keutamaan dan keadilan Mu’awiyah sebab ia tergolong dari pembela Mu’wiyah. Dan seperti Anda ketahui bahwa di antara keluarga Zubairiyyin banyak yang menyimpang dari Ali (karramallahu wajhahu).

[2] Syarah Ibn Abil Hadîd al Mu’tazili,10/101. Para tokoh Islam Umawy selalu menuduh siapapun yang tidak berpihak kepada Mu’wiyah sebagai Syi’ah Rafidhah tidak terkecuali Imam Ibnu Abil Hadîd, Imam al Hâkim, Imam ath Thabari, Imam Syafi’i dll. Seperti dapat dibuktikan!

[3] An Nashâih al Kâfiyah:95.

[4] Kisah lebih lanjut dapat Anda baca langsung dalam Târîkh ath Thabari. Baca juga an Nashâih al Kâfiyah:94.

Dr. MM. AZAMi  Gagal Total Karena Tidak Mengaitkan kekejaman penguasa terhadap pembukuan matan hadis sunni..

Pembukuan hadis sunni tidak lepas dari tangan tangan jahat penguasa yang mengutak atik agama

.

Di antara permasalahan-permasalahan yang menghilangkan kredibiltas (tsiqâh)   Shahîh Bukhari adalah pemotongan beberapa hadis dan menghilangkan beberapa bagian darinya
.
Bisa saja  tindakan kriminal ini muncul karena tekanan politik yang dialami oleh Bukhari dan kungkungan rasa fanatisme (yang nampak) ketika melakukan pembredelan terhadap tanda-tanda kebenaran, juga saat pemikiran-pemikiran dan pengetahuannya tidaklah lagi berpengaruh
.
Kita bisa melihat saat ia mengemukakan hadis berkaitan dengan keutamaan ‘Alî -semoga Allah mensucikan wajahnya- atau berkaitan dengan keilmuan salah seolang khalifah ia pasti melakukan pengguntingan terhadap hadis tersebut atau juga dengan membuang bagian tengah dan akhirnya. Terkadang ia juga merahasiakan sebuah keutamaan dengan menggugurkan sebuah hadis secara total atau melakukan distorsi. Itulah yang dalam ilmu hadis disebut dengan penipuan (tadlîs) yang berarti pengkhianatan terhadap kebenaran sebuah hadis.
Hal ini diperkuat dengan bahwa Bukhari dalam melakukan penulisan kitab Shahihnya tidak memakai setandar yang biasa dipakai oleh orang yang berstatus sebagai penafsir, sejarahwan dah ahli hadis, bahkan ia melakukannya dengan sekehendak kecendrungan dan pikiran-pikirannya, dan membuang bagian hadis yang tidak sesuai dengan keinginannya
.
Upaya yang bisa disebut penipuan ini dianggap sebagai kez’alîman terbesar pata ahli hadis (muhadits) terhadap kebenaran sebuah hadis karena ia dianggap sebagai pemutar balîkkan fakta-fakta dan penyelewengan terhadap realîtas sebenarnya serta penyesatan terhadap pandangan umum. Apa yang dilakukan Bukhari ini menunjukkan re’Alîtas yang sebenarnya bahwa ada sebagian besar hadis-hadis shahih yang ia menghindari menuliskan dalam kitabnya. Dengan metode seperti ini, maka menjadi kaburlah sebagian besar kebenaran
.
Berikut ini beberapa contoh praktik pemotongan dan pembuangan hadis :
1.   Hukum mandi besar (janabah)
“Dari Syu`bah ia berkata, “Hakam berkata kepadaku dari Dzar dari Sa`id bin Abdurrahman bin Abzi dari ayahnya, ‘Seseorang telah datang kepada ‘Umar dan berkata, ‘Saya telah berjunub dan tidak mendapatkan air,’
.
Umar berkata, ‘Anda jangan salat.’
Ammar berkata, ‘Apakah anda ingat wahai Amir al-Mukminin ketika saya dan anda dalam sebuah peperangan (sariyyah) kita berjunub dan tidak mendapatkan air, anda tidak salat sementara saya berguling dalam pasir lalu aku salat, maka Nabi saw bersabda, ‘Sebenarnya cukup bagi Anda dengan menepukkan tanah oleh kedua tanganmu, lalu tiup dan usapkan kepada wajah dan kedua telapak tangan anda?’
‘Umar berkata, ‘Bertaqwalah kepada Allah wahai Ammar.’
.
Ammar berkata, ‘Kalau anda menghendaki saya tidak akan katakan itu.”[1]
Tidak diragukan lagi bahwa keputusan khalifah yang menyatakan bahwa tidak ada salat ini bertentangan dengan nash al-Qur`an dan ajaran-ajaran Nabi dan menunjukkan tidak adanya keramah tamahan dan pengertian khalifah atau ia tidak mengetahui hukum seperti ini yang mengharuskan untuk mengusap
.
Sekarang kita  lihat apa yang dilakukan Bukhari terhadap hadis ini:
“Adam berkata kepada kami, berkata kepada kami Hakam dari Dzar dari Sa`id bin Abdurrahman bin Abzi dari ayahnya, ‘Seseorang telah datang kepada ‘Umar bin Khattab dan berkata, ‘Sesungguhnya saya berjanabah dan saya tidak menemukan air.’
Maka Ammar bin bin Yasar berkata kepada ‘Umar bin Khattab, ‘Tidakkah kau ingat dalam sebuah perjalanan saya dan anda berjanabah. Adapun anda tidaklah salat sedangkan saya berguling-guling lalu salat. Kemudian saya ceritakan kepada Nabi saw dan beliau bersabda, ‘Sesungguhnya cukuplah bagi anda (seperti) ini: Nabi menepukkan kedua tangannaya kepada tanah, beliau meniup keduanya dan kemudian mengusapkan keduanya kepada wajah dan kedua telapak tangannya.’”[2]
Dapat dilihat kedua hadis ini tidaklah berbeda dari sisi sanad dan matannya selain tidak adanya kata ‘Anda jangan salat’ (lâ tushalli) dalam riwayat Bukhari dan terdapat kata tersebut dalam riwayat Muslim
.
2. Hadis rajam terhadap Wanita Gila Pezina
Abu Daud dalam sunannya meriwayatkan hadis berikut ini, “Dari Ibn Abbas ia berkata, ‘‘Umar didatangi seorang wanita gila yang telah berzina, maka ‘Umar meminta pendapat tentangnya pada orang-orang dan kemudian memerintahkan untuk merajamnya. Tiba-tiba lewatlah ‘‘Alî bin Abî Thâlib ra dan beliau berkata, ‘Apa masalahnya?’
.
Mereka menjawab, ‘Seorang perempuan gila dari Bani pulan telah berzina dan ‘Umar memerintahkan agar merajamnya
.
Beliau berkata, ‘Kembalikan dia,’ Lalu beliau mendatanginya (‘Umar) dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, tidakkah kau tahu bahwa qalam akan diangkat dari tiga hal; seorang gila sampai ia sadar, seorang yang tidur sampai ia terjaga, dan seorang anak kecil sampai ia berakal?
.
Ia menjawab, ‘Ya.’
Beliau bertanya (lagi), ‘Kenapa gerangan wanita ini dirajam? Bebaskanlah ia.’
Ia menjawab’ ‘Aku bebaskan ia,’ kemudian ia pun bertakbir”[3]
.
Kita lihat apa yang  Bukhari kutip dari  hadis ini ia tidak bisa menguasai kecendrungan rasa fanatisnya kepada khalifah dengan berusaha menunjukkan tidak adanya kesan kelalaian khalifah dalam hukum ini dan tidak ada bersedia menampakkan keutamaan kepada ‘Alî saat memberikan hukum yang berbeda dengan para shahabat, berdasarkan hukum syar`i Tuhan dalam kejadian ini. Anda melihat pada permulaan hadis juga sanadnya ia sengaja membuangnya dan hanya cukup dengan menyebutkan bagian akhirnya saja
.
Mari kita lihat;
Dan ‘Alî berkata kepada ‘Umar, “Tidakkah anda tahu bahwa qalam telah diangkat dari seorang gila sampai ia sadar, dari seorang anak kecil sampai ia mengerti, dan dari seorang yang tidur sampai ia terjaga?”[4]
.
Hadis Batasan Minum Khamr
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Dari Ibn Malik, Nabi saw telah didatangi seseorang yang telah minum khamr, maka beliau memecutnya dengan dua pelepah kurma sekitar 40 kali.’  Ia berkata, ‘Dan Abu bakar melakukannya, ketika ‘Umar, ia meminta pendapat orang-orang dan Abdurrahman bin Auf berkata, ‘Ringankan batasannya menjadi 80 kali, maka ‘Umar memerintahkan dengan –jumlah- itu.’”[5][6]
.
Dan inilah riwayat versi Al-Bukhari :
“Dari Anas bin Malik bahwa Nabi saw memukul seorang peminum khamr dengan pelapah kurma dan sandal dan Abu Bakar menjilid empat puluh kali”[7]
 Di sini kita menjadi bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang yang yang memangku jabatan sebagai seorang khalifah dan bersandar kepada Rasulullah masih berkompromi dengan sahabatnya dalam sebuah hukum yang telah berlaku lama? Bagaimana mungkin seseorang yang menganggap dirinya sebagai khalifah kaum muslimin masih membutuhkan pengetahuan hukum tertentu, merujuk kembali kepada salah seorang sahabat? Bagaimana ia bisa lalai dan lupa dengan hukum semacam ini? Apakah transaksi di pasar-pasar telah melalaikannya dari itu?!
.
Ala kulli hal, hadis ini -sebagaimana hadis sebelumnya- Bukhari sendiri tidaklah tertarik dan bertentangan dengan perasaan halus dan kecendrungannya untuk tidak menyentuh posisi khilafah dengan sesuatu apapun. Ia cepat-cepat membidik bagian awal hadis tersebut yang menunjukkan pada sebuah putusan hukum Rasulullah sebagai penguat, yang diikuti Abu bakar dan lalu menlestarikannya. Ia langsung menuju pada bagian akhir yang menunjukkan ijtihad dan musyawarahnya ‘Umar dengan para sahabatnya, kemudian ia pun membuangnya
.
4. Hadis Pertanyaan Tentang Rumput(Al-Abb)    
Bukhari mengutip dalam shahihnya hadis berikut ini, “Dari Tsabit dari Anas, ia berkata, ‘Kami sedang bersama ‘Umar dan ia berkata, ‘Kami melarang dari memaksakan diri (takalluf)”[8]
.
Bukhari meriwayatkan dengan bentuk seperti ini, ia adalah saksi hidup dan dalil yang jelas atas terjadinya takhrif dan pemotongan di dalamnya, karena rendahnya perhatian dan penelitian terhadap nash hadis tersebut mengesankan bahwa kalimat-kalimat ini tidak konsisten maknanya dan ia membutuhkan kalimat-kalimat lain yang tidak disebutkan. Ringkasnya, hilangnya beberapa kalimat dari sebuah hadis menunjukkan seseorang yang memiliki intuisi sastra dan balaghah yang rendah
.
Sebenarnya terdapat pula para ulama dan ahli hadis yang tidak fanatis ekstrem sebagaimana terjadi pada Bukhari dan mereka menyampaikan hadis secara sempurna.Ibn Hajar pernah mengatakan dalam kitab Syarah Shahîh al-Bukhârî-nya seperti ini, “Sesungguhnya seseorang bertanya kepada ‘Umar tentang firman-Nya, Wa Fâqihataw Wa abba, apakah al-Abb itu?’
.
‘Umar menjawab, ‘Kami melarang dari sikap menyusahkan diri dan kepura-puraan’” (maksudnya ia tidak megetahui maksudnya, pent.)
Ibn Hajar berkata, “Hadis itu juga ada dalam jalur riwayat lain dari Tsabit, dari Anas bahwa ‘Umar membaca Fâqihataw wa Abba.’
Ia pun berkata, ‘Apakah al-Abb itu?’
.
 Kemudian ia berkata lagi, ‘Kami tidak memaksa (Mâ kallafnâ).’
Dalam redaksi lain, ‘Kami tidak memerintahkan ini’ (Mâ amarna bihadzâ).’”
Redaksi hadis ini lebih baik dan sempurna dibanding hadis yang dikeluarkan oleh Bukhari. Hadis ini menurut Ibn Hajar telah diriwayatkan melalui banyak jalur.[9]
.
Telah dijelaskan kepada Anda lewat komentar Ibn Hajar, juga lewat perbandingan antara hadis Bukhari dengan hadis Fath al-Bârî bahwa hadis ini sebagaimana puluhan hadis lainnya yang sebenarnya tidak sejalan dengan keyakinan-keyakinan Bukhari, yaitu pandangan sucinya terhadap posisi khilafah. Ia melihat bahwa cara terbaik adalah dengan membuang bagian awal hadis dan menghilangkan kalimat-kalimat penting dan pokok di dalamnya agar dianggap sebagai sebuah pengkhidmatan besar terhadap mazhabnya
.
Oleh karenanya, apabila seseorang membaca kalimat-kalimat hadis tersebut secara sempurna dan tanpa tendensi apapun, maka akan terlintaslah dibenaknya pertanyaan berikut ini: Apabila pertanyaan tentang makna katak-kata dalam al-Quran dianggap sebagai pemaksaan diri (takalluf) maka pada topik manakah dalam al-Quran yang boleh ditanyakan? Di manakah keutamaan-keutamaan berkaitan dengan ilmu dan belajar mencari ilmu?
.
Kemudian coba kita pikir, bagaimana mungkin sosok manusia seperti ini, yang tidak mengerti walau satu makna kata dalam al-Quran, padahal telah dijelaskan sendiri oleh al-Quran diakhir ayat tersebut,[10] kok bisa menjadi penguasa dan duduk di kursi khilafah?
.
Bagaimanakah perasaan seorang penanya ini setelah mendengarkan jawaban ‘Umar mengingat ia sebagai khalifah kaum muslimin dan penguasa tertinggi daulah Islamiyah?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang memaksa Bukhari menempuh cara itu dengan hadis- hadis yang telah ia buat dan mengutipnya dengan bentuk yang didistrosi dan berubah
Hadis ini, dengan segala macam perbedaan dalam redaksinya, telah dikutip oleh para mufassir terkenal; Suyûthi, Ibn Katsîr, Zamakhsyarî, Khâzin, Baghawî, dan Hâkim dalam Mustadrak-nya tentang tafsir surat `Abbasa. Dan juga pada syarah-syarah kitab Bukhari dan Muslim; `Ainî,[11] Qasthalanî.[12] Dan para ahli bahasa; Ibn Katsîr dalam An-Nihayah-nya [13]. Kita akan membahas lagi hadis-hadis ini secara lebih mendalam, terperinci, dan lebih tajam lagi pada bab khilafah nanti
.
Antara Usamah dan ‘Utsmân.
 Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya,”Dari Syaqiq bin Usamah bin Zaid, ia berkata, ‘Tidakkah kau menemui ‘Utsmân dan berbicara denganya?’
Ia menjawab, ‘Tidakkah kau melihat aku berkata kepadanya; tidakkah aku memperdengarkan kepada kalian. Demi Allah aku telah berkata tentang problem di antara aku dan dia, tanpa aku membuka permasalahan yang aku tidak suka menjadi orang pertama yang membuka permasalahan tersebut dan aku tidak berkata kepada siapapun bahwa ‘Alî sebagai Amir (pemimpin), karena ia merupakan orang terbaik setelah aku mendengar Rasulullah saw bersabda,Seseorang akan didatangkan pada hari kiamat, ia dilemparkan ke neraka dan keluarlah seluruh isi perutnya, ia berputar-putar isi perutnya bagaikan keledai. Maka berkumpullah penghuni neraka dan mereka bertanya, ‘Wahai fulan, kenapa gerangan anda, tidakkah anda tidak melaksanakan amar ma`ruf dan mencegar yang munkar?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku telah menyuruh pada yang ma`ruf tanpa aku sendiri melakukannya, dan mencegah kemunkaran tapi aku juga melakukannya.’” [14]
           Hadis ini menjelaskan sebuah kritik pedas yang dialamatkan oleh ‘‘Usamah bin Zaid kepada ‘Utsmân. ‘Usamah adalah sosok Muslim shalih yang pernah diserahi bendera perang oleh Rasulullah untuk memimpin tentara Islam dan dijadikan sebagai panglima umum. Beliau SAWW saw dalam sabda terkenalnya, “Allah pasti melaknat orang yang berpaling dari tentara ‘Usamah.”
.
Dengan bersandar pada hadis Nabi ini ‘Usamah mengarahkannya kepada ‘Utsmân dan ia melihat bahwa dia adalah obyek dari hadis Rasulullah saw, “Maka keluarlah seluruh isi perutnya dan berputar-putar dengannya (isi perutnya) bagaikan berputarnya keledai.”
.
Muslim telah meriwayatkan hadis ini melalui dua jalur dan dua sanad dan dalam keduanya terdapat nama ‘Utsmân sebagai obyeknya.
Adapun Bukhari ketika mengeluarkan hadis ini, ia menyebutkan dua obyek berbeda dengan sedikit tambahan dalam kata-katanya. Agar hadis tersebut memberikan sesuatu lain yang bukan sasaran sebenarnya sebagai dalam rangka pengkultusan sembarangan terhadap jabatan khilafah, juga untuk menghindarkan kritik dan celaan yang dialamatkan kepada khalifah. Kita dapat melihat dalam dua redaksi tersebut, dengan menggunakan metode-metode cerdas dan provokatif, ia mengganti nama ‘Utsmân, dalam salah satu hadis tersebut, dengan kata ganti (isim isyârah). Ia berkata, “Dikatakan kepada ‘Usamah tidakkah kau berkata ini… ,“ dan dalam redaksi lain menggunakan kata ‘Fulan’ sebagai pengganti kata ‘Utsmân. Ia berkata, ‘Dikatakan kepada ‘Usamah kalau kamu telah mendatangi fulan dan berkata kepadanya….”[15]
.
Dan yang jelas, pengkhianatan-pengkhiananan Bukhari ini, juga kontribusi buruknya melalui hadis asli tapi palsu (aspal) dalam usahanya menjaga dan membela jabatan khalifah dengan menangkis setiap serangan apapun yang akan menyentuhnya, sehingga anda bisa melihatnya bersimpatik dan ngotot dalam hal ini sebagai pembelaan terhadap  kemaslahatan para khalifah!
.
Antara ‘Umar dan Samrah bin Jandab 
Muslim telah meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dan juga Ahmad bin Hambal dalam Musnadnya sebagai berikut: Dari Amr bin Dinar ia berkata, ‘Thawus telah mengabariku bahwa ia mendengar Ibn Abbas berkata, ‘Disampaikan kepada ‘Umar bahwa Samrah (Salah seorang gubernur ‘Umar di Bashrah) telah menjual khamr, maka ia berkata, ‘Allah telah mengutuk Samrah, tidakkah dia tahu bahwa Rasulullah saw telah bersabda, Allah melaknat Yahudi. Lemak-lemak telah diharamkan kepada mereka, tetapi mereka membawa dan menjualnya.”[16]
.
Adapun Bukhari menggambarkan Samrah –termasuk nama yang bersih yang terdapat dua kali dalam periwayatan Muslim -dengan ungkapan kata ‘Fulan’. Lihatlah: “….’Umar telah mengatakan bahwa si Fulan menjual khamr, maka ia berkata, ‘Allah melaknat si Fulan. Tidakkah Ia tahu…”[17]
.
Banyak sekali kitab-kitab syarah Shahîh al-Bukhârî yang menjelaskannya termasuk Nawawi dalam syarah-syarah mereka terhadap hadis ini tentang pengkhianatan Bukhari ini, dan poin penting ini tidak banyak diketahui.
.
Sumber :
[1] Shahìh Muslim, juz.1, Bab Tayammum
[2] Shahîh Bukhârî, juz.1, Kitab at-Tayammum
[3] Sunan Abî Dâwud, juz.2, hal., 402; Sunan Ibn Mâjah, juz.2, hal., 227
[4] Shahîh al-Bukhârî, juz.8, kitab al-Maharibain, Bab Tidak Dirajamnya Seorang Wanita Atau Laki-Laki Gila Berzina (Layarjumul majnun wal majnunah)
[5]  Dalam masalah ini kami bersandar pada pandangan Ahli Sunah sendiri dengan merujuk pada sumber-sumber mereka, dan ia tidak mencerminkan pandangan Syi`ah dalam topik ini.
[6] Shahîh Muslim, juz.5, kitab al-Hudûd, bab Hukum Bagi Peminum Khamr
[7] Shahîh al-Bukhârî, juz.8, kitab al-Hudûd, Bab Apa Yang Terjad Pada Pemuklulan Peminum Khamar
[8] Shahîh al-Bukhârî, juz 9, kitab al-I`tishâm, Bab Yang Dibenci Dari Banyak Bertanya dan Berpura-Pura Atas Sesuatu Yang Tak Diketahui (Mâ Yukrahu Min Kastratis Su`al wa Takalluf Mâ laa Ya`nîh)
[9] Fath al-Bârî, juz 18, hal., 31.
[10] Terdapat pula dalam kitab Buhus Fî al-Quran al-Karîm sebagai berikut: Telah datang seseorang kepada sahabatku, ia bertanya tentang makna kata al Abb yang terdapat dalam ayat mulia Wa fâqihataw wa abba, yang ia tidak mengetahuinya. Tiba-tiba datanglah ‘Alî as dan berkata, ‘Sesungguhnya makna kata itu terdapat dalam ayat itu sendiri karena Allah Swt berfirman, wa fâqihataw wa abba Matâ`an lakum waiî’an`âmikum, maka al-âaqihah adalah untuk kalian (lakum) dan al-abb untuk ternak k’alian  (an`âmikum).   Buhûts Fî al-Qur`an al-Karîm, karya `Allamah Sayyed Taqi al-Madrisi, hal. 40; al-abb adalah rumput yang dimakan oleh binatang ternak. -Edisi Arab-
[11] `Umdat al-Qârî, juz.25, hal., 35.
[12] Irsyâd as-Sârî, juz 10, hal., 311.
[13] Kata: abb
[14] Shahîh Muslim, juz 8, kitab Zuhd Wa ar-Raqâiq, Bab Hukuman Bagi Orang Yang Memerintahkan Yang Ma’ruf Tapi (ia sendiri) Tidak Melaksanakannya dan Melarang Kemunkaran, Tapi Ia Melakukannya
[15] Shahîh al-Bukhârî, juz 4, kitab Bidu al-Khalq, bab Shifat an-Nar dan juz 9, kitab al-Fitan, Bab Fitnah Yang Bergelora Sperti Gelombang Di Lautan
[16] Shahîh Muslim, juz.5, kitab Penjualan, Bab Pengharaman Khamr Dan Penjualan KHamr serta Bangkai. Juga Musnad Ahmad bin Hambal, Bab Masânid ‘Umar bin Khattab, juz1, hal., 25
[17] Silahkan lihat Shahîh al-Bukhârî, juz.3, kitab Penjualan, Bab Tidak Diperbolehkan Memperoleh Saham Mayit dan Menjualnya (Lâ Yûdzâbu Syahm

Jangan biarkan judul ini menakutkan kamu,
wahai pembaca, karena kamu, dengan rahmat Allah, sedang berjalan diatas jalan yang lurus supaya kamu akhirnya akan sampai kepada apa yang di ridhai Allah [awj]. Jangan biarkan setan membisikkan, ataupun kesombongan kamu, atau apapun kefanatikan tercela menguasai kamu atau mengalihkan kamu dari sampai kepada tujuan yang di idamkan, hak kamu yang hilang, didalam ‘Taman yang tiada kesudahan.’
.
Sebagaimana yang telah kami nyatakan, mereka yang mengelarkan diri mereka ‘ahl al-sunna wal-jamaah’ adalah mereka yang percaya didalam sahnya Khalifah rashidin yang empat, umumnya Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali as. Ini telah diketahui oleh semua orang dizaman kita ini. Tetapi fakta yang menyedihkan adalah bahwa Ali bin Abu Thalib as.  awalnya tidak terdaftar oleh ahl al-sunna Wal-jamaah diantara khalifah rashidin,  bahkan mereka tidak mengakui sahnya posisi beliau sebagai khalifah; dan  namanya baru  ditambahkan ke daftar setelah sebegitu lama terlewat didalam sejarah: didalam tahun 230 H bersamaan 844 M, semasa  hidupnya Imam Ahmad bin Hanbal
.
Dan bagi para sahabat yang bukan Shi’ah, begitu juga para Khalifah, raja-raja, dan putra-putra merka yang memerintah kaum Muslim sejak dari masa Abu Bakr dan hingga pemerintahan Khalifah Abbasiah Muhammad ibn al-Rasheed al-Mu’tasim, mereka tidak mengakui Ali bin Abu Thalib sebagai Khalifah langsung. Lebih-lebih lagi, sebagian dari mereka mengutuk, dan menganggap dia sebagai bukan Muslim; jika tidak bagaimana mereka membantu mengutuknya dari mimbar mereka?!
.
Kita telah ketahui bagaimana Abu Bakr dan Umar melayani dia dengan mengabaikan dan mengasingnya dari pemerintah mereka, kemudian Utsman datang sesudah mereka untuk bertindak lebih jauh lagi didalam menunjukkan kebencian [Utsman] terhadap Ali, melebihi dari kedua sahabatnya yang terdahulu, merendahkannya sehingga suatu ketika dia mengancam untuk mengusir beliau sebagaimana Utsman mengusir Abu Dharr al-Ghifari
.
Ketika Muawiyah menjadi pemerintah, dia telah melampaui batas didalam mengutuk beliau dan memerintah manusia untuk melakukannya juga
.
.
Pemerintah Umayah, semuanya bekerja dengan serius disetiap kota dan kampong dalam melaksanakannya [mengutuk Imam Ali] pada jangka waktu yang lama yaitu delapan puluh tahun [1] Sebenarnya, kutukan, tuduhan dan penyisihan dari beliau dan pengikutnya, tidak terhenti sampai disitu, malah lebih lagi. Khalifah Abbasiah al-Mutawakkil, misalnya,oleh karena sangat bencinya terhadap Ali, telah menajiskan, dan merusakkan pusara beliau dan juga pusara anak beliau Imam Husayn ibn Ali pada tahun 240 H / 854 M
.
Al-Waleed bin Abdul-Malik adalah Khalifah  saat itu, memberi khutbah Jumat yang mana dia berkata: ‘Bahwa hadits yang mengatakan bahwa rasul Allah pernah berkata kepada Ali sebagai:’ Kedudukan kamu kamu adalah seumpama Harun kepada Musa ‘telah diubah ke: ‘Kedudukanmu   kepada saya adalah se umpama Qarun kepada Musa’ karena itu para pendengar telah menjadi keliru. ‘[2]
.
Begitulah dendam pemerintah terhadap khalifah Allah.     Selama pemerintahan al-Mu’tasim, saat ada banyaknya peningkatan didalam jumlah mereka yang menjadi atheis, murtad dan pemalsu hadits, yang mendudukki ke posisi Khalifah ‘yang adil’, dan ketika manusia telah dialihkan pandangan mereka saat al-Mu’tasim oleh masalah sampingan , dan sebagai tambahan kepada dilemma [permasalahan] yang disebabkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan Qur’an itu kudus didalam keadaan sebelum kejadian …, manusia secara membuta tuli oleh kepercayaan raja mereka, percaya bahwa Qur’an itu ‘dijadikan’
.
Tetapi ketika Imam Ahmad menarik kembali teorinya mengenai Quran, karena khawatir kepada al-Mu’tasim, dia telah menjadi sesudah itu diantara ulama ‘hadits yang terkenal [3] ulung, seperti bintang yang bercahaya. Pada saat itulah diputuskan untuk menambah nama Ali bin Abu Thalib ke daftar Khalifah yang adil
.
Besar kemungkinan bahwa Imam Ahmad telah kagum dengan hadits-hadits yang sahih yang telah meninggikan kemuliaan Ali dan telah timbul pertentangan dengan kehendak pemerintah ketika itu, terutama sekali karena dialah orangnya yang telah berkata: ‘Tidak ada siapa diantara semua orang yang menerima hadits yang sebegitu banyak yang menyanjunginya sebagaimana Ali bin Abu Thalib. ‘Dikala itulah maka jumlah’ Khalifah yang adil ditambahkan menjadi empat, dan posisi Ali sebagai Khalifah dianggap sebagai sah setelah ditolak sebagai tidak sah
.
Buktinya:
Didalam Tabaqat, yang dianggap oleh ulama ‘Hambali sebagai rujukan utama mereka, Ibn Abu Ya’li menyatakan Wadeezah al-Himsi sebagai berkata:
‘Saya menziarahi Imam Ahmad, setelah ditambahkan nama Ali [as] [4] kedalam daftar nama Khalifah yang tiga [Khalifah yang adil]. Saya berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdullah! Apa yang telah kamu lakukan adalah memperburuk kedua Thalhah dan al-Zubair! ‘Dia berkata:’ Janganlah membuat kenyataan yang jahil! Apa yang ada kena mengena dengan kita mengenai perang mereka, dan kenapa kamu menyebutnya sekarang? ‘Saya berkata:‘ Semoga Allah memimpin kepada kebenaran, kami menyatakannya setelah kamu menambahkan nama Ali dan memberi mandat kepadanya [dengan sanjungan] sebagai Khalifah sebagaimana yang telah dimandatkan kepada Imam-imam sebelumnya! ‘Dia berkata:’ Dan apa yang akan menahan saya mengerjakannya? “Saya berkata: ‘Satu hadits yang disampaikan oleh ibn Umar.’ Dia berkata kepada saya: ‘Umar ibn al-Khattab adalah lebih baik dari anaknya, karena dia menerima  Ali sebagai Khalifah atas Muslim dan mencantumkan beliau diantara mereka-mereka anggota syura, dan Ali merujuk dirinya sebagai Amirul Mukminin; apakah saya yang akan mengatakan bahwa mereka yang beriman tidak Pemimpin?! ‘Maka saya pun pergi. [5]
.
Insiden ini menerangkan kepada kami fakta bahwa Ibn Abu Ya’li  tersebut adalah Pemimpin ‘ahl al-sunna wal-jamaah’ dan juga juru bicara mereka, dan bahwa mereka menolak khalifahnya Ali karena apa yang Abdullah bin Umar, anggota faqih sunni, katakan yang al-Bukhari telah catat didalam sahihnya. Oleh karena mereka mengatakan bahwa sahih Bukhari adalah buku yang paling benar sesudah kitab Allah, adalah perlu bagi mereka untuk menolak khalifahnya Ali dan tidak menganggapnya
.
Kita telah membicarakan hadits tersebut didalam buku kami ‘Tanya Mereka Yang Mengerti’, dan tidak ada apa salahnya didalam menggulangi disini supaya semua dapat manfaatnya
.
Didalam sahihnya, al-Bukhari menyatakan dari Abdullah bin Umar berkata: ‘Selama hidup rasul Allah, kami menganggap Abu Bakr paling utama, kemudian Umar ibn al-Khattab, kemudian Utsman bin Affan, semoga Allah merasa senang dengan mereka”. [6]
.
Al-Bukhari menyatakan satu hadits lain yang disampaikan oleh ibn Umar yang lebih terang dari yang sebelumnya. Didalamnya Abdullah bin Umar berkata:
‘Sewaktu hidup rasul Allah, kami tidak menganggap orang yang melebihi dari Abu Bakr, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami tinggalkan selebihnya dari para sahabat rasul tanpa memberikan prioritas diantara mereka. [7]
.
Untuk menyatakan dasar dari ‘hadits’ ini, yang mana rasul Allah tidak pernah memberi mandat atau mengesahkannya, tetapi tidak lain adalah satu dari buah pikiran Abdullah bin Umar dan dari pandangannya yang berpihak disebabkan kebencian dan dendamnya terhadap Ali yang telah diketahui umum, dengan inilah ahl al-sunna wal jamaah ‘telah mendirikan [mendasarkan] mazhab mereka untuk mengizinkan [memungkinkan] tindakkan mereka tidak mengakui khalifahnya Ali
.
Adalah melalui ‘hadits’ yang seperti ini, Bani Umayah telah memungkinkan mengutuk, menghina, mencela dan memperkecilkan Ali. Pemerintahan mereka semenjak dari Muawiya dan sampai ke Marwan bin Muhammad bin Marwan didalam tahun 132 AH memerintahkan untuk mengutuk Ali dari atas mimbar. Semua pendukung beliau [Imam Ali] atau yang tidak melaksanakan keji akan di bunuh. [8]
.
Kemudian pemerintah Abbasiah dimulai didalam tahun 132 AH / 750 AD dengan pemerintahan Abul-Abbas al-Saffah [yang mengalirkan darah], maka dari sinilah pemisahan didalam berbagai cara dengan Ali dan dari mereka Yeng terus mendukungnya berkelanjutan, dan cara-cara untuk memisahkan mereka berubah -ubah tergantung pada kondisi kebutuhan dan juga situasinya karena dinasti Abbasiah telah didirikan diatas kehancuran ahl al-bayt dan mereka yang mengikuti talinya
.
Beberapa pemerintah Abbasiah, jika kepentingan pemerintah mereka memerlukannya, tidak secara terang-terangan mengutuk Ali tetapi dengan secara rahasia telah melakukan lebih dari apa yang Umayah kerjakan. Mereka belajar dari pengalaman sejarah yang telah mengungkapkan penindasan yang telah dilakukan terhadap ahl al-bayt dan pengikut mereka: Penindasan yang semacam itu telah membuat manusia simpati terhadap mereka; makanya pemerintah Abbasiah dengan bijaknya coba untuk memalingkan keadaan agar memihak kepada mereka. Mereka coba mendampingi para Imam dari ahl al-bayt bukanlah karena cinta kepada mereka, atau mangakui telah merampas hak mereka, tetapi hanya untuk membendung manusia dari memberontak yang mana telah dimulai didaerah perbatasan dan telah mengancam pemerintah mereka. Inilah yang telah dilakukan oleh Al-Ma’mun anak Haroun al-Rasheed kepada Imam Ali Ibn Musa al-Rida
.
Tetapi ketika pemerintah mereka telah menguasai semuanya, dan kekacuan  internal dapat dibendung, mereka telah melampaui batas didalam mengutuk Imam-imam ini dan pengikut mereka sebagaimana Khalifah Abbasiah al-Mutawakkil kerjakan. Dia telah menjadi mashur dengan kebencian terhadap Ali dan kutukannya dan bahkan menajis dan merusakkan pusara beliau dan putranya al-Husayn
.
Disebabkan oleh fakta inilah maka kami katakan bahwa ‘ahl al-Sunnah wal-Jamaah’ enggan untuk mengakui sahnya posisi Ali sebagai Khalifah sehingga bertahun-tahun sesudah Imam Ahmad
.
Adalah benar bahwa Imam Ahmad adalah satu-satu orang yang mengutarakan hal ini, namun dia tidak dapat meyakinkan para-para ulama hadits, sebagaimana yang telah kami tunjukkan dengan menggunakan pandangan terhadap mereka yang mengikuti jejak langkah Abdullah bin Umar. Masa yang panjang diperlukan untuk menyakinkan manusia kepadanya dan untuk mereka menerima pandangan Imam Ahmad, suatu pandangan yang mungkin membawa orang-orang Hanbali ke mencari keadilan dan mendampingi ahl al-bayt. Ini membedakan mereka dari mazhab Sunni yang lain seperti Maliki, Hanafi dan Shafii yang berbeda-beda untuk mendapatkan dukungan. Mereka makanya tidak memiliki pilihan kecuali untuk menerima  pendapat itu
.
Dengan berlalunya waktu ahl al-Sunnah wal-Jamaah menjadi sebulat suara melaksanakan pandangan Imam Ahmad dan mereka setuju untuk menjadikan Ali Khalifah rashidin yang keempat, diperlukan bagi mereka yang beriman untuk menghormati beliau sebagaimana mereka menghormati yang bertiga itu
.
Tidakkah ini bukti yang besar bahwa ahl al-sunnah wal-Jamaah adalah Nasibi yang membenci Ali dan coba daya upaya untuk memperkecilkan dan tidak menghormatinya?
Kita harus menanyakan pertanyaan ini: ‘Apakah ini benar, sedangkan kita sekarang ini melihat ahl al-sunna wal-jamaah mencintai Imam Ali dan memohon kepada Allah untuk meridhai beliau?’     Kami katakan: ‘Ya, sesudah berlalunya waktu, dan wafatnya Imam-imam dari ahl al-bayt, pemerintah sudah bebas khawatir lagi, atau pun berhadapan dengan ancaman terhadap pemerintahan mereka, dan ketika lenyapnya kemuliaan Kerajaan Islam dan Mamlukes, Moguls dan Tartar mengambil kuasa atasnya, dan .
.
ketika keimanan makin berkurang dan banyak Muslim telah dialihkan ke seni, nyanyian, hiburan, pelanggaran, arak dan gundek ….
dan ketika satu generasi diganti dengan yang lain yang telah hilang shalatnya, mengikuti kehendak mereka yang rendah ….
Ketika yang benar menjadi salah dan yang salah menjadi benar, ketika kerusakan merajalela didarat dan dilautan ….
.
Maka barulah dikala itu, hanya dikala itu saja Muslim memuji turunan mereka, menyanyikan pujian sanjungan mereka.
.
Maka dikala itu mereka menginginkan warisan sejarah yang silam, memanggilnya ‘zaman keemasan’.
Zaman yang terbaik dari sudut pandang mereka, zaman para sahabat yang mana telah menaklukkan tanah jajahan yang luas, mengembangkan kerajaan Islam di Timur dan Barat, mengalahkan Kaiser dan ceaser
.
Maka dikala itulah mereka mulai berdoa kepada Allah agar meridhai seluruhnya, termasuk Ali bin Abu Thalib, menjadi Khalifah yang diterima
.
Karena ahl al-sunna wal-jamaah percaya didalam keadilan mereka-mereka yang terdahulu, semua mereka, maka mereka tidak dapat mengabaikan Ali didalam daftar untuk para sahabat”.     Jika mereka telah mengabaikan beliau, komplot mereka akan menjadi bukti kepada semua orang yang bijak dan yang menyelidiki, lalu mereka mengalihkan publik kepada mempercayai bahwa Khalifah keempat adalah pintu ke kota ilmu Ali bin Abu Thalib [as]
.
Kami bertanya kepada mereka: ‘Kenapa kamu kemudian menolak untuk mengikuti beliau dengan segala yang ada kaitan dengan agama dan juga hal-hal sekuler, jika kamu benar-benar percaya bahwa ia adalah pintu Ilmu? , Kenapa kamu dengan sengaja meninggalkan pintu itu dan mengikuti Abu Hanifa, Malik, al-Shafii dan ibn Hanbal, begitu juga dengan ibn Taimiyah, mereka-mereka ini yang tidak sejenis, yang amat jauh dari kemuliaan yang ada pada Ali, kebaktian dan keturunan yang suci , yang mana perbedaannya adalah umpama bumi dengan langit atau Bagaimana seseorang dapat membandingkan pedang dengan sabit atau cara seseorang membandingkan Muawiya dengan Ali jika kamu mengikuti akal pikiran?
.
Semua ini dapat dikatakan jika kita ketepikan semua hadits yang menceritakan tentang rasul mewajibkan atas Muslim untuk mengikuti Imam Ali sesudah rasul dan mencontohinya. Seorang diantara ahl al-sunnah berkata: ‘kemuliaan Ali, dialah orang yang pertama untuk memeluki Islam, jihadnya adalah Islam, pengetahuannya sangat mendalam, kehormatannya besar dan zuhudnya telah diketahui oleh semua; bahkan ahl al-sunna mengetahui dan mencintai Ali lebih dari mereka yang Shi’ah. ‘Begitulah yang diperkatakan oleh kebanyakan mereka dewasa ini’. Kepadanya kami katakan: ‘Dimanakah kamu [9], dan dimanakah turunan dan ulama kamu ketika Ali dikutuk atas mimbar untuk ratusan tahun? Kami tidak pernah dengar, atau ada dicatat didalam sejarah apapun fakta, bahwa ada seorang diantara mereka yang membencinya atau menghalangnya atau yang terbunuh karena ketaatan dan cintanya kepada Ali. Tidak! Kami tidak akan menemukan suatu walaupun satu nama diantara semua ulama ‘ahl al-sunna yang ada melakukannya. Melainkan seluruhnya ulama mereka hampir ke posisi pemerintah, raja dan juga gubernur karena sumpah kesetiaan yang telah mereka berikan kepadanya, dan karena merasa senang dengannya dan karena mereka mengeluarkan hukum yang memungkinkan pembunuhan terhadap orang-orang yang ‘menolak’ yaitu mereka yang setia kepada Ali dan keturunannya, dan manusia serupa ini masih ada terdapat dizaman kita
.    
Kristen untuk selama beberapa abad telah memendam kebencian terhadap Yahudi yang mereka anggap sebagai penjahat. Mereka menuduhnya sebagai yang bertanggung jawab atas pembunuhan Isa anak Maryam. Tetapai Kristen ini telah menjadi lemah dan dasar kepercayaan mereka telah lenyap, dan kebanyakan mereka menjadi kafir. Gereja telah diarahkan pergi ke tempat sampah disebabkan oleh pendirian yang menentang sains dan para ilmuwan
.
Sebaliknya, Yahudi bertambah kuat, dan kekuasaan yang sedemikian mendapat lajakkan [lebih cepat] ketika mereka menawan Arab dan tanah-tanah Islam dengan paksaan. Pengaruh mereka tersebar ke Timur dan Barat dan mereka telah mendirikan sebuah negara Israel …. Barulah kemudian Pope John Paul II bertemu Kepala [rabbis] Yahudi membersihkan dari kejahatan pembunuhan Isa, karena itu adalah bagian manusia, dan ini adalah zaman kita
.
______________________
1. Mereka semua melakukannya dengan pengecualian Umar ibn Abd al-Aziz
2. Tanggal Baghdad, jilid 8, ms 266
3. Adalah dikatakan, ulama ‘begitu terjumlah ke ahl al-sunna wal-Jamaah
4. Lihatlah bagaimana orang yang berbicara menyatakan: ‘semoga Allah merasa senang dengannya,’ bahkan kemudian dia menolak untuk menerima nama beliau untuk ditambahkan dalam daftar ‘Khalifah rashidin’, dan membantah ke Imam Ahmad karena telah melakukannya. Lihatlah juga bagaimana dia berkata: ‘Kami telah menyatakannya, dst …,’ menunjukkan bahwa dia berkata bagi pihak ahl al-sunna yang telah mengirimkannya untuk bertemu Imam Ahmad untuk menyatakan keberatan mereka.
5. Tabaqat al-Hanabila, jilid 1 ms 292
6. Al-Bukhari, sahih jilid 4 ms 191, jilid 4 didalam buku di mulai kejadian didalam bab mengenai kemuliaan Abu Bakr yang hampir sama dengan kemuliaan para rasul
7. Al-Bukhari sahih jilid 4 ms 203, didalam bab mengenai kemuliaan Utsman bin Affan didalam buku pada awal kejadian
8. Pengecualiannya hanya pada beberapa tahun saat pemerintahan Umar ibn Abd al-Aziz. Dia menghentikan kebiasaan di hina dan mengutuk, tetapi sesudah kematiannya Mereka memulai kembali, malah lebih dari itu dengan menajiskan dan merusakkan kuburannya. Mereka telah sampai sehingga mencegah untuk merubah seseorang dengan namanya …
9. Saya dengan sengaja mengatakan: ‘Dimanakah kamu?’ Untuk mengatakan kepada Muslim yang ada dizaman sekarang dari ahl al-sunna wal-jamaah karena mereka telah membaca didalam Sahih Muslin bahwa Muawiya mengutuk Ali dan mengarah para sahabat untuk melakukan yang sama, dan mereka ahl al-sunna temukan ini tidak perlu dibangkang. Bahkan mereka memohon kepada Allah semoga merasa senang dengan Pemimpin mereka Muawiya yang mana mereka gelar sebagai ‘penulis wahyu’. Ini membuktikan bahwa kecintaan mereka terhadap Ali tidak ikhlas sama sekali dan tidak memiliki nilai yang harus dipertimbangkan
.

PELUNCURAN 6 SURAT MUAWIYAH UNTUK KEBIJAKAN RESMI REZIMNYA AGAR DIJADIKAN KURIKULUM NEGARA DALAM MENYIKAPI AGAMA RASULULLAH SAW

Sejarah mencatat peran aktif para penguasa, khususnya Mu’awiyah dalam merusak kemurnian sunah suci Nabi saw.. Para sejarahwan Islam membocorkan kepada kita beberapa data penting tentang hal itu. Abu Al Hasan Al Madaini –sebagaimana dikutip Ibnu Abi Al Hadid Al Mu’tazili Asy Syafi’i’- melaporkan bahwa Mu’awiyah meluncurkan enam surat kebijakan resmi rezimnya agar dijadikan kurikulum Negara dalam menyikapi agama Rasulullah saw. Di bawah ini akan saya sebutkan:

Surat Pertama:

Mu’awiyah menulis surat keputusan yang dikirimkan kepada para gubenur dan kepala daerah segera setelah ia berkuasa: أن برِئَت الذمة مِمن روى شيئا فِي فَضْلِ أبِي تُراب و أهْلِ بَيْتِهِ .

“Lepas kekebalan bagi yang meriwayatkan sesuatu apapun tentang keutamaan Abu Thurab (Imam Ali as. maksudnya-pen) dan Ahlulbaitnya.” [1]

Maka setelah itu para penceramah di setiap desa dan di atas setiap mimbar berlomba-lomba melaknati Ali dan berlepas tangan darinya serta mencaci makinya dan juga Ahlulbaitnya. Masyarakat paling sengsara saat itu adalah penduduk kota Kufah sebab banyak dari mereka adalah Syi’ah Ali as. Dan untuk lebih menekan mereka, Mu’awiyah mengangkat Ziyad ibn Sumayyah sebagai gubeneur kota tersebut dengan menggabungkan propinsi Basrah dan Kufah. Ziyad menyisir kaum Syiah –dan ia sangat mengenali mereka, sebab dahulu ia pernah bergabung dengan mereka di masa Khilafah Ali as.. Ziyad membantai mereka di manapun mereka ditemukan, mengintimidasi mereka, memotong tangan-tangan dan kaki-kaki mereka, menusuk mata-mata mereka dengan besi mengangah dan menyalib mereka di atas batang-batang pohon kurma. Mereka juga diusir dari Irak, sehingga tidak ada lagi dari mereka yang tekenal. [2]

Surat Kedua:

Kemudian Mu’awiyah menulis surat keputusan kedua yang ia kirimkan kepada para pejabat daerahnya: ألاَّ يُجِيْزُوْا ِلأَحَدٍ مِنْ شِيْعَةِ عَلِيٍّ وَ أهْلِ بيْتِه شَهَادَةً .

“Jangan bolehkan siapapun dari Syiah Ali dan Ahlulbaitnya untuk memberikan kesaksian apapun!” [3]

Surat Ketiga:

Ia juga menulis: أنْظُرُوا مَنْ قِبَلكُمْ مِن شِيْعَة عُثْمان وَ مُحِبِّيْهِ وَ أهْلِ وِلاَيَتِهِ وَ الَّذِيْنَ يَرْوُوْنَ فَضائِلَهُ وَ مَناقِبَهُ فَأَدْنُوا مَجالِسَهُم وَ قَرِّبُوْهُم وَ أكْرِمُوْهُم، وَ اكْتُبُوا لِيْ بِكُلِ مَا يَرْوِيْ كُلُّ رَجُلٍ مِْنهُم اسْمَهُ و اسْمَ أبِيْهِ وَ عَشِيْرَتِهِ.

“Perhatikan siapa saja dari syi’ah Utsman, yang mencintainya dan berwilayah dengannya serta yang meriwayatkan keutamaannya maka dekatkan majlis mereka, hormati mereka dan tuliskan untukku apa saja yang mereka riwayatkan berikut nama-nama mereka dan nama-nama ayah-ayah mereka.”

Setelah itu, kata Al Madaini, mereka berlomba-lomba memperbanyak keutamaan dan manaqib Utsman, karena iming-iming insentif menggiurkan yang diberikan Mu’awiyah berupa uang, baju dan tanah lahan, serta pemberian yang ia obral untuk orang-orang Arab maupun non Arab. Sehingga dalam waktu singkat di setiap daerah banjir hadis keutamaan Utsman, masing-masing berlomba-lomba mendapatkan kedudukan dunia. Tidak seorang pun yang datang menemui aparat Mu’awiyah dengan meriwayatkan keutamaan Utsman kecuali namanya dicatat, ia dimuliakan dan diberi kemudahan pelayanan negara.Yang demikian berlangsung beberapa waktu sebelum kemudian Mu’awiyah menyusulnya dengan surat kebijakan ketiga.

Surat Keempat:

Mu’awiyah menulis surat ketiga kepada para gubenur dan kepala daerah: إن الحديث في عثمان قد كثر و فشا في كل مصر و في كل وجهٍ و ناحية، فإذا جاءكم كتابي هذا فادعوا الناس إلى الرواية في فضائل الصحابة مفتعلة ، فإن هذا أحب إلَيَّ و أقر لعيني و أدحض لحجة أبي تراب و شيعته و أشد عليهم من مناقب عثمان و فضله.

“Sesungguhnya hadis tentang Utsman telah banyak dan tersebar di seluruh penjuru negeri. Maka apabila datang suratku ini kepadamu ajaklah orang-orang untuk meriwayatkan tentang keutamaan sahabat dan para khalifah terdahulu. Dan jangan biarkan sebuah hadis pun yang diriwayatkan kaum Muslim tentang keutamaan Abu Thurab melainkan datangkan kepadaku tandingannya untuk sahabat lain. [4] Yang demikian itu lebih aku sukai dan lebih mendinginkan mataku serta dapat mematahkan hujjah Abu Thurab dan Syi’ahnya, dan lebih menyakitkan mereka dari pada keutamaan Utsman!”

Setelah dibacakan surat tersebut di hadapan masyarakat, mereka berlomba-lomba meriwayatkan hadis-hadis palsu tentang keutamaan sahabat yang tidak ada hakikatnya. Orang-orang pun bersungguh-sungguh dalam meriwayatkannya sampai-sampai mimbar-mimbar menjadi ajang penyampaiannya. Para guru di sekolah-sekolah dibekali dengannya, dan mereka menyampaikan-nya kepada anak-anak didik mereka banyak dari hadis produk tersebut, sampai-sampai mereka meriwayatkannya dan mempelajarinya seperti mereka mempelajari Alquran. Mereka juga mengajarkannya kepada anak-ana perempuan dan istri-istri mereka di rumah-rumah, bahkan kepada para budak dan pembantu rumah tangga mereka. Kondisi ini terlangsung cukup lama.

Surat Kelima:

Mu’awiyah melengkapi kebijakannya dengan melayangkan surat ketetapan: انْظُرُوْا إِلَى مَن قَامَتْ عليهِ الْبَيِّنَةُ أنَّهُ يُحِبُّ عَلِيًّا وَ أهْلَ بَيْتِهِ فَامْحُوْهُ مِنَ الدِّيوَانِ وَ أسْقِطُوا عَطَاءَهُ وَ رِزْقَهُ.

“Perhatikan siapa yang terbukti mencintai Ali dan Ahlulbaitnya maka hapuslah namanya dari catatan sipil negara, gugurkan uang pemberian untuknya!”

Surat Keenam:

Surat kelima itu, ia susul dengan surat susulan: مَنْ اتَّهَمْتُمُوْهُ بِمُوَالاَةِ هَؤُلاَءِ القَوْمِ فَنَكِّلُوْا بِهِ وَ اهْدِمُوْا دَارَهُ.

“Barang siapa yang kamu curigai mencintai Ali dari mereka maka jatuhkan sangsi berat atasnya! Hancurkan rumahnya!”

Maka tidak ada yang menderita lebih dari penduduk Irak, khususnya kota Kufah, sampai-sampai seorang dari Syi’ah didatangi temannya yang ia percayai lalu masuk ke rumahnya dan ia menyampaikan beberapa rahasia, ia takut dari pembantu dan budaknya. Dan ia tidak menyampaikannya sebelum ia meminta sumpah dengan sumpah yang berat untuk tidak menyebarkannya.

Mu’awiyah Membentuk Lembaga Pemalsuan Hadis (LPH)

Tidak puas hanya dengan memerintah masyarakat Muslim melaknati Imam Ali dan Ahlulbait Nabi saw. dalam berbagai kesempatan, tidak terkecuali ketika salat Jum’at, Mu’awiyah membentuk sebuah lembaga pemalsuan hadis untuk memutarbalikkan agama dan untuk mencoreng nama harum Ali dan Ahlulbait Nabi as. Ibnu Abi Al Hadid juga melaporkan bahwa “Sesungguhnya Mu’awiyah telah membentuk sebuah lembaga yang beranggotakan beberapa sahabat dan tabi’in yang bertugas memproduksi hadis-hadis palsu yang menjelek-jelekkan Ali as, agar orang mengecam dan mencelanya. Ia (Mu’awiyah) mengupah mereka dengan upah yang sangat besar, dan mereka pun memproduksi hadis-hadis sesuai dengan kehendak Mu’awiyah. Di antara mereka adalah Abu Hurairah, Amr bin Al ‘Ash, dan Mughirah bin Syu’bah. Sedangkan dari kalangan tabi’in adalah Urwah bin Zubair.

CATATAN KAKI

[1] Ada kekhawatiran dari sebagian pemerhati bahwa sikap sebagian muhaddis kita terilhami oleh kebijakan Mu’awiyah di atas.

[2] Syarah Nahj al Balâghah, jilid III/juz 11/14-17.

[3] Bandingkan dengan sikap para muhaddis kita dalam menyikapi syi’ah Ali as. Ada kekhwatiran bahwa sikap itu adalah menifestasi dari politik Mu’awiyah!

[4] Contoh masalah ini banyak sekali, dapat Anda temukan pada hampir setiap hadis keutamaan Imam Ali as. ada hadis tandingan, seperti hadis Manzilah dll. Tetapi anehnya, meskipun ia dirangsang dengan rangsangang menggiurkan tetap saja ia tidak diriwayatkan kecuali melalui jalur-jalur lemah. “Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, tetapi Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya walaupn kaum Kâfir tidak menyukainya!”

Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan)


Pemerintahan para penjahat melancarkan propaganda hingga ajaran itrah ahlul bait menjadi asing ditengah tengah umat

.
Pendapat yang pernah dikemukakan oleh Mahmud Abu Rayyah dalam “Adhwa’ ‘Ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah” (Telaah Atas Sunnah Muhammad) patut dipertimbangkan di sini. Dia mengatakan dalam buku itu yang membuat saya terkesima saat membacanya pertama kali dan selalu saya ingat hingga sekarang: menurut informasi dari Imam Bukhari sendiri, dia menyeleksi dari sekitar 300 ribu hadis untuk menyusun kitab koleksi hadisnya yang dianggap sebagai paling otoritatif oleh umat Islam itu. Sebagaimana kita tahu, Sahih Bukhari hanya memuat sekitar 2600an hadis
.
Kata Abu Rayyah: bayangkan, Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadis. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception“.
.
MENiNGGAL KAN iTRAH AHLUL BAiT = MENiNGGALKAN ALQURAN.. Itrah ahlul bait dan Al Quran adalah satu dan tak terpisahkan
.
Hadis hadis TENTANG  SEMUA  SAHABAT  ADiL, hadis hadis jaminan surga kepada 3 khalifah, hadis hadis pujian kepada  Mu’awiyah  dan sejenisnya hanyalah  hadis hadis  politik REKAYASA  PENGUASA  dan ulama penjilatnya
.
Yang menarik, hadis-hadis politik itu muncul dan beredar di masyarakat jauh setelah khalifah empat (al-khulafa’ al-rashidun) berlalu. Hadis-hadis ini muncul setelah sarjana Islam mulai menulis literatur yang sering disebut sebagai “fiqh al-Siyasah” atau fikih politik
.
masalah hadis-hadis politik, tinggal bagaimana kearifan kita dalam memahaminya. iya to!  alias tak seluruhnya dari turats klasik kita itu BAIK. jangan hanya “taken for granted”
.
Selamanya kaum munafik tidak akan pernah mencintai Imam Ali as…. semua upaya mereka hanya akan tercurah pada bagaimana mereka dapat melampiaskan kedengkian dan kebencian mereka kepada Imam Ali as. dengan berbagai cara:
.
(1) Melaknati dan memerintah kaum Muslim untuk mentradisikan pelaknatan Imam Ali as., seperti apa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk!
(2) Mengejar-ngejar dan membantai para pecinta Imam Ali as. seperti apa yang ditradisikan oleh Mu’awiyah dan para raja bani Umayyah tekutuk serta sebagian raja bani Abbas!
(3) Mengintimidasi dan menghukum siapa saja yang dituduh mencintai Imam Ali dan Ahlulbait as.
(4) Menuduh siapa saja yang mencintai Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai tuduhan kejam, seperti Syi’ah atau Rafidhah!
(5) Mencacat siapa saja yang meriwayatkan hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait dengan berbagai pencacatan tidak berdasar dan palsudan sekaligus menuduhnya sebagai Syi’ah atau Rafidhah!
(6) Memusnahkan atau merahasiakan sebisa mungkin hadis-hadis Nabi saw. tentang keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait as. agar tidak menyebar dan mengguga kesadaran umat Islam akan kemuliaan keistimewaan Ahlulbait as.
(7) Menyebarkan hadis-hadis palsu keutamaan musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. sebagai usaha menandingi keistimewaan Imam Ali dan Ahlulbait as.
.
Situasi politik dan keamanan pada saat pengumpulan hadis hadis sunni tidak kondusif  bagi suasana ilmiah yang netral, buktinya antara lain :
- Imam Al Nasa’i, pengarang sunan Al Nasa’i dipukul dan dianiaya hingga sekarat didalam Masjid karena menyatakan : “saya tidak mengetahui keutamaan apapun dari Mu’awiyah kecuali Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”
- Pemakaman Ibnu Jarir Al Thabary dipekuburan Islam dihalangi dan dicegah karena beliau menshahihkan hadis hadis Ghadir Kum dan menghimpun riwayat riwayat nya hingga mencapai tingkat mutawatir.. Beliau akhirnya dikubur dipekuburan Kristen dan hartanya dirampas
- Al ‘Amary yang meriwayatkan hadis burung panggang (yang menunjukkan keutamaan Imam Ali) di usir dari tempat duduk nya dicuci karena dianggap najis
- Imam Syafi’i dianiya karena mengucapkan syair syair yang memuji ahlulbait, bahkan beliau nyaris dihukum mati.
.
Sebagian hadis hadis sunni  berlabel shahih ternyata PALSU  dan PENUH  REKAYASA POLiTiK, fakta sejarah :
1. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) selalu menghina dan mengutuk Ali dan keturunannya.. Bahkan Yazid  membantai  Imam Husain  beserta pendukungnya… Tetapi  mereka memuliakan Abubakar, Umar, Usman dan sahabat sahabat lainnya melalui pembuatan hadis hadis politik jaminan surga dan lain-lainnya
2. Pihak kerajaan Umayyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz) sangat membenci Imam Ali dan menuduh nya sebagai pendukung pembunuh USMAN
3. Imam Ahmad bin Hambal pada masa kerajaan Abbasiyah yang pertama kali mengusulkan Ali sebagai bagian dari Khulafaurrasyidin
4.Imam Ahmad bin Hambal mendha’ifkan hadis hadis shahih karena perawinya yang pro ahlulbait mengkritik Abubakar Umar USman dan loyalisnya, mereka diberi label “rafidhah”… Ulama ulama hadis  sunni yang lain jauh lebih radikal dari Ahmad bin Hambal
5. Sepeninggal Nabi SAW pihak penguasa bersikap keras dan kejam kepada Imam Ahlulbait dan para pengikutnya, misalnya : Al Mutawakkil yang digelari “Khalifah Pembela Sunnah Nabi” melakukan :
- Membongkar kuburan imam Husain
- Melarang ziarah kubur ke makam Imam Ali dan Husain
- Memberikan hadiah kepada setiap orang yang mencaci maki Imam Ali
- Membunuh setiap bayi yang diberi nama Ali
- Berupaya membela kelompok Nawasib
.
Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah, politikus penipu yang ulung itu, telah memerintahkan untuk mengumpul ‘para Sahabat’, agar menyampaikan hadis hadis yang mengutamakan para Sahabat Abu Bakar, Umar dan Utsman untuk mengimbangi keutamaan Abu Turab (Ali bin Abi Thalib). Untuk itu, Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedudukan kepada mereka
.
Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Abi Saif alMada’ini, dalam bukunya, alAhdats, Mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kepada bawahannya: ‘Segera setelah menerima surat ini, kamu harus memanggil orang orang, agar menyediakan hadis hadis tentang para Sahabat dan khalifah; perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamu pun harus menyediakan hadis yang sama tentang Sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya, dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Turab dan Syi’ahnya’.
.
Ia juga memerintahkan untuk mengkhotbahkannya di semua desa dan mimbar (fi kulli kuratin wa’ala kulli minbarin). Keutamaan para Sahabat ini menjadi topik terpenting di kalangan para Sahabat, beberapa jam setelah Rasul wafat, sebelum lagi beliau dimakamkan. Keutamaan ini juga menjadi alat untuk menuntut kekuasaan dan setelah peristiwa Saqifah topik ini masih terus berkelanjutan. Para penguasa dan para pendukungnya membawa hadis hadis  tentang keutamaan sahabat untuk ‘membungkam’ kaum oposisi, dan demikian pula sebaliknya.
.
Dalam menulis buku sejarah, seperti tentang peristiwa Saqifah, yang hanya berlangsung beberapa jam setelah wafatnya Rasul Allah saw, harus pula diadakan penelitian terhadap para pelapor, prasangka prasangkanya, keterlibatannya dalam kemelut politik, derajat intelektualitas, latar belakang kebudayaannya, sifat sifat pribadinya, dengan melihat bahan bahan sejarah tradisional yang telah dicatat para penulis Muslim sebelum dan setelah peristiwa itu terjadi. Tulisan sejarah menjadi tidak bermutu apabila penulisnya terseret pada satu pihak, dan memilih laporan laporan tertentu untuk membenarkan keyakinannya.
.
Imam Bukhari takut pada tekanan, sehingga sedikit bergaul dengan alawiyyin pada masa Abbasiyah…Bergaul dengan alawiyyin akan membahayakan keselamatannya, masa itu mengaku sebagai orang kafir jauh lebih selamat nyawa daripada mengaku sebagai syi’ah…
.
Penguasa Bani Umayyah ( kecuali Umar bin Abdul Aziz ) dan Separuh Penguasa Bani Abbasiyah KEKEJAMAN NYA melebihi Firaun, mereka dengan mudah membunuh orang orang yang tidak bersalah hanya karena ia syi’ah…Inilah yang membuat Bukhari menjauhi syi’ah…
.
Jumlah hadis-hadis yang bersumber dari Imam Kelima dan Keenam lebih banyak dibandingkan dengan hadis-hadis yang bersumber dari Nabi Saw dan para Imam yang lain. Akan tetapi, pada akhir hayatnya, Imam Ja’far Shadiq ( Imam Keenam) dikenai pencekalan secara ketat oleh Khalifah Abbasiyah, Mansur, yang memerintahkan seperti penyiksaan dan pembunuhan berdarah dingin terhadap keturunan Nabi Saw yang merupakan kekejaman terhadap penganut Syiah sehingga perbuatannya melebihi kekejaman dan kebiadaban Bani Umayyah.
.
Atas perintah Mansur, mereka ditangkap secara berkelompok, beberapa dilemparkan ke penjara gelap dan pengap kemudian disiksa hingga mati, sementara yang lainnya dipancung atau dikubur hidup-hidup di bawah tanah atau di antara dinding-dinding bangunan, dan dinding dibangun di atas mereka.  Hisyam, Khalifah Umayyah, memerintahkan agar Ja’far Shadiq Imam Keenam ditangkap dan dibawa ke Damaskus. Kemudian, Imam Ja’far Shadiq ditangkap oleh Saffah, Khalifah Abbasiyah, dan dibawa ke Irak. Akhirnya, Mansur menangkap Imam Ja’far Shadiq dan membawanya ke Samarra di mana Imam disekap, diperlakukan secara kasar dan beberapa kali berusaha untuk membunuh Imam.
.
Kemudian, Imam Ja’far Shadiq diperbolehkan untuk kembali ke Madinah di mana Imam Ja’far Shadiq menghabiskan sisa-sisa umurnya dalam persembunyian, hingga ia diracun dan syahid melalui intrik licik Mansur.
.
Bisakah anda menulis sesuatu dengan sempurna jika nyawa anda taruhannya ? Kodifikasi hadis seperti kitab Bukhari Muslim dan lain-lain terjadi pada masa Abbasiyah bukan ? Wajarlah ilmu itrah ahlul bait dalam kitab hadis Aswaja Sangat sedikit …Menangislah … menangislah…
.
Para pembaca…
Pada masa khalifah Mutawakkil sedang memuncak periwayatan hadis, tetapi sangat sulit dikenali mana yang asli dan mana yang palsu…
.
Pada masa khalifah Mutawakkil negara berakidah ahlul hadis. Paham ini didukung negara sehingga hadis hadis sunni menjadi mudah di intervensi dengan penambahan penambahan yang di lakukan ULAMA ULAMA BUDAK kerajaan
Ahlul hadis sunni hanya memakai hadis tanpa rasio, padahal hadis hadis yang ada tidak ada jaminan 100% akurat  dari Nabi SAW
.
Karena fanatisme mazhab, orang orang pada masa tersebut mengarang ngarang hadis agar mazhab nya tetap tegak. Dulu kita tidak tahu, tetapi kini di era informasi semakin mudah didapat bukti bukti
Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Beliau hanya melakukan koleksi, maka beliau tentunya tidak melakukan penelitian baik sanad ataupun matan dari hadits tersebut.
.
Kalau ente menemukan Imam Ja’far bersabda….begini dan begitu.. artinya dia hanya mengutip apa yang disabdakan oleh nabi saw melalui jalur moyangnya seperti Ali bin Abi Talib, Hasan, Husein, Ali bin Husein dan Muhammad bin Ali. Maka ucapan para Imam = ucapan Nabi saw. Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW
.
Hadis Nabi SAW, Imam Ali disampaikan oleh Imam Ja’far secara bersambung seperti :[..dari Abu Abdillah (ja’far) dari Ayahnya ( Al Baqir ) dari kakeknya ( zainal ) dari Husain atau dari Hasan dari Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) yang mendengar Nabi SAW bersabda …] ada lebih dari 5.000 hadis
.
Adanya pertentangan dan kontradiksi diinternal hadis sunni  MEMBUKTiKAN  bahwa  sebagian hadis  sunni yang  ditolak  (syi’ah imamiyah)  adalah hadis  BUATAN  rezim penjahat… 
.
Menghujat sahabat adalah kafir  rafidhah ?  bagaimana dengan muawiyah yang memerintahkan  untuk  menghujat  Imam Ali Di mimbar masjid yang diikuti mayoritas  khalifah  bani umayyah ? Apa muawiah kafir? 
.
Syi’ah Imamiyah Menerima Hadis Hadis Mazhab Sunni Jika : “Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama syi’ah dan Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan syi’ah”
.
Lalu bagaimana sikap mereka terhadap riwayat yang berasal dari Ahl al-Sunnah ? Ulama Syiah membolehkan hal ini dengan beberapa ketentuan:
  1. Hadits itu diriwayatkan dari para imam yang ma’shum.
  2. Tidak menyelisihi riwayat yang dituliskan oleh para ulama Syiah.
  3. Tidak menyelisihi amalan yang selama ini ada di kalangan mereka.

.

Salah satu yang melandasi pandangan ini adalah apa yang diriwayatkan Ja’far al-Shadiq bahwa ia mengatakan, “Jika kalian mengalami suatu perkara yang tidak kalian temukan hukumnya dalam apa yang diriwayatkan dari kami, maka lihatlah dalam apa yang mereka (sunni) riwayatkan dari Ali a.s, lalu amalkanlah ia.”
.
Oleh sebab itu, sebagian kelompok Syiah juga mengamalkan apa yang diriwayatkan oleh beberapa perawi Ahl al-Sunnah,-seperti Hafsh ibn Ghiyats, Ghiyats ibn Kallub dan Nuh ibn Darraj- dari para imam madzhab Imamiyah sesuai dengan syarat tersebut di atas.
.
Bisakah rawi rawi sunni diterima riwayatnya ? ya bisa asal riwayatnya benar dan orangnya jujur ( hanya saja riwayatnya paling tinggi statusnya HASAN )
.
Di dalam  Mazhab   Syi’ah   Imamiyah   Itsna   Asyariah ( mazhab   resmi    Iran ), ada  4  kitab   hadis :
a. Kitab  hadis Al – Kafi,  dikumpulkan   oleh    Syaikh   Kulaini, terdapat sekitar 16000 hadis.. Dengan  perincian sbb :5.072 hadis shahih,   144   hasan,   1128    hadis  Muwatstsaq  ( hadis yang di riwayatkan  perawi   bukan  syi’ah   tetapi   dipercayai  oleh  syiah), 302  hadis  Qawiy ( kuat ) dan 9.480  hadis  dhaif.
 .
Sangat-sangat   banyak hadis  dhaif dalam Kitab  Al Kafi  ( lebih  separuh  kitab  ini  hadisnya  dha’if ).. Ulama Syiah lain, Syekh Muhammad Baqir al-Majlisy (w. 1111H) telah mendha’ifkan sebagian besar hadits-hadits yang ada dalam kitab al-Kafy dalam kitabnya, Mir’at al-‘Uqul.
Menurut pengakuan Fakhruddin At Tharihi ada 9845 hadits yang dhaif dalam kitab Al Kafi, dari jumlah 16119 hadits Al Kafi
.
Kitab ini disusun dalam jangka waktu yang cukup panjang, selama 20 tahun yang tidak ada bandingannya. Al-Kulaini meriwayatkan hadis yang sangat banyak jumlahnya dari berbagai ulama ahl al-bait. Hadis-hadis yang termuat dalam al-Kafi berjumlah 16.199 buah hadis, yang mencapai tingkat sahih, berjumlah 5.702 buah hadis, tingkat hasan 144 buah hadis, tingkat muwassaq 1.128 buah hadis, tingkat qawiy 302 buah hadis, dan tingkat dha’if 9.485 buah hadis.[sumber :Ayatullah Ja’far Subhani, “Menimbang Hadis-hadis Mazhab Syi’ah; Studi atas Kitab al-Kafi” dalam al-Huda: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam, diterbitkan oleh Islamic Center, Jakarta, vol II, no. 5. 2001, hlm. 36.]
.
Hadis-hadis dalam al-Kafi al-Kulaini, khususnya al-Furu’ memang memuat beragam kualitas, dari sahih, hasan, muwassaq, qawiy, bahkan dha’if. Jadi isi keseluruhan al-Furu’ al-Kafi berjumlah 10.474 hadis, dengan perincian jilid III berisi 2049 hadis, jilid IV berisi 2424 hadis, jilid V berisi 2200 hadis, jilid VI berisi 2727 hadis, dan jilid VII berisi 1074 hadis
.
Dalam kitab Masadir Al Hadits Inda As Syi’ah Al Imamiyah yang ditulis oleh Allamah Muhaqqiq Sayid Muhammad Husain Jalali.. Beliau mengklasifikasikan hadis dalam kitab Al Kafi Kulaini dengan perincian sebagai berikut :
Jumlah hadis secara keseluruhan : 16.121 ( termasuk riwayat dan cerita )
Hadis lemah / dha’if : 9485
Hadis yang benar / hasan : 114
Hadis yang dapat dipercaya / mawtsuq : 118 Hadis yang kuat / Qawi : 302
Hadis shahih : 5702
.
Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.
 .
al-Kulaini hidup di zaman sufara’ al-arba’ah (empat wakil Imam al Mahdi). Selain itu tahun wafatnya adalah 328 H / 329 H (939/940). Beliau dikebumikan di pintu masuk Kufah
 
b. Kitab  hadis   Man la   yahdarul   fiqh  Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah..Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah…
c. Kitab  hadis   Tazhibul  Ahkam Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.
d. Kitab  hadis  Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi..Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah..Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.
.
Di bawah derajat ke empat kitab ini, terdapat beberapa kitab Jami’ yang besar. Antara lain:
Kitab Bihârul Anwâr. Disusun oleh Baqir al Majlisi. Terdiri dalam 26 jilid.Kitab al Wafie fi ‘Ilmi al Hadis. Disusun oleh Muhsin al Kasyani. Terdiri dalam 14 juz. Ia merupakan kumpulan dari empat kitab hadis.
Kitab Tafshil Wasail Syi’ah Ila Tahsil Ahadis Syari’ah. Disusun oleh al Hus asy-Syâmi’ al ‘Amili. Disusun berdasarkan urutan tertib kitab-kitab fiqh dan kitab Jami’ Kabir yang dinamakan Asy-Syifa’ fi Ahadis al Mushthafa. Susunan Muhammad Ridla at-Tabrizi.
.
Kitab Jami’ al Ahkam. Disusun oleh Muhammad ar-Ridla ats-Tsairi al Kâdzimi (w.1242 H). Terdiri dalam 25 jilid. Dan terdapat pula kitab-kitab lainnya yang mempunyai derajat di bawah kitab-kitab yang disebutkan di atas. Kitab-kitab tersebut antara lain: Kitab at-Tauhid, kitab ‘Uyun Akhbâr Ridla dan kitab al ‘Amali.
.
Kaum Syi’ah, juga mengarang kitab-kitab tentang rijal periwayat hadis. Di antara kitab-kitab tersebut, yang telah dicetak antara lain: Kitab ar-Rijal, karya Ahmad bin ‘Ali an-Najasyi (w.450 H.), Kitab Rijal karya Syaikh al Thusi, kita Ma’alim ‘Ulama karya Muhammad bin ‘Ali bin Syahr Asyub (w.588 H.), kitab Minhâj al Maqâl karya Mirza Muhammad al Astrabady (w.1.020 H.), kitab Itqan al Maqal karya Syaikh Muhammad Thaha Najaf (w.1.323 H.), kitab Rijal al Kabir karya Syaikh Abdullah al Mumaqmiqani, seorang ulama abad ini, dan kitab lainnya.
.
Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis. Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak
.
Satu yang perlu dicatat: Mayoritas hadis Syi’ah merupakan kumpulan periwayatan dari Abi Abdillah Ja’far ash-Shadiq. Diriwayatkan bahwa sebanyak 4.000 orang, baik orang biasa ataupun kalangan khawas, telah meriwayatkan hadis dari beliau. Oleh karena itu, Imamiah dinamakan pula sebagai Ja’ fariyyah. Mereka berkata bahwa apa yang diriwayatkan dari masa ‘Ali k.w. hingga masa Abi Muhammad al Hasan al ‘Askari mencapai 6.000 kitab, 600 dari kitab-kitab tersebut adalah dalam hadis.
.
Para imam memandang bahwa hadis-hadis Rasulullah saw itu didengar dari beliau baik tanpa perantara maupun dengan perantaraan leluhur mereka. Oleh karena itu, dalam banyak pe- riwayatan tampak bahwa Imam ash-shadiq as berkata, “Menyampaikan kepadaku bapakku dari Zain Al-’Abidin dari bapaknya Al- Husain bin’ Ali dari ‘ Ali Amirul Mukminin dari Rasulullah saw. Periwayatan semacam ini banyak terdapat dalam hadis-hadis mereka
.
Diriwayatkan dari Imam ash-Shidiq bahwa ia berkata, “Hadisku adalah hadis bapakku. Hadis bapakku adalah hadis kakekku.” Melalui cara ini mereka menerima banyak hadis dari Nabi saw dan menyampaikannya tanpa bersandar kepada para rahib dan pendeta, orang-orang bodoh, atau pribadi-pribadi yang menyembunyikan kemunafikan.
.
Sebagian hadis lain mereka ambil dari kitab Imam Amirul Mukminin yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as. Para penulis kitab-kitab Shahih dan Musnad telah menunjukkan beberapa kitab ini
.
‘Ali as memiliki buku khusus untuk mencatat apa yang didiktekan oleh Rasulullah saw. Para anggota Keluarga Suci telah menghapalnya, merujuk padanya tentang banyak topik, dan me- nukil teks-teksnya tentang ber.bagai pennasAlahan. Al-Hurr Al-’Amili dalam kitabnya Al-Mawsu’ah Al-Haditsiyyah telah menyebarluaskan hadis-hadis dari kitab tersebut menurut urutan kitab-kitab fiqih dari bab bersuci (thaharah) hingga bab diyat (denda). Barang- siapa yang mau menelaahnya, silakan merujuk pada kitab Al- Mawsu’ah Al-Haditsiyyah
.
Imam ash-Shidiq as, ketika ditanya tentang buku catatan itu, berkata, “Di dalamnya terdapat seluruh apa yang dibutuhkan manusia. Tidak ada satu permasAlahan pun melainkan tertulis di dalamnya hingga diyat cakaran.”
.
Kitab ‘ Ali as merupakan sumber bagi hadis-hadis Keluarga Suci itu yang mereka warisi satu persatu, mereka kutip, dan mereka jadikan dAlil kepada para penanya.Abu Ja’far Al-Baqir as berkata kepada sAlah seorang sahabatnya-yakni Hamrin bin A’yan-sambil menunjuk pada sebuah rumah besar, “Hai Hamran, di rumah itu terdapat lembaran (shahifah) yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi catatan ‘Ali as dan segAla hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw. KAlau orang-orang mengangkat kami sebagai pemimpin, niscaya kami menetapkan hukum berdasarkan apa yang Allah turunkan. Kami tidak akan berpAling dari apa yang terdapat dalam lembaran ini.”
.
Imam ash-Shadiq as memperkenalkan kitab ‘ Ali as itu dengan mengatakan, “la adalah kitab yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan’ Ali bin Abi ThAlib mencatat dengan tangannya sendiri. Demi Allah, di dalamnya terdapat semua hAl yang diperlukan manusia hingga hari kiamat, bahkan diyat cakaran, cambukan, dan setengah cambukan.”
Sulaiman bin KhAlid berkata: Saya pernah mendengar Ibn ‘Abdillah berkata, “Kami memiliki sebuah lembaran yang panjangnya tujuh puluh hasta berisi hAl-hAl yang didiktekan oleh Rasulullah saw dan dicatat oleh ‘Ali as dengan tangannya sendiri. Tidak ada yang halal dan haram melainkan termuat di dalamnya hingga diyat cakaran.”
.
Abu Ja.far Al-Baqir as berkata kepada seorang sahabatnya, “Hai Jabir, kAlau kami berbicara kepada kalian menurut pendapat dan hawa nafsu kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka. Melainkan kami berbicara kepada kalian dengan hadis- hadis yang kami warisi dari Rasulullah saw.”
.
Imam al-Shadiq dan Imam al-Ridha –dua diantara imam mereka- seringkali mengatakan, “Sesungguhnya kami tidak pernah berfatwa kepada manusia berdasarkan pendapat kami sendiri. Sesungguhnya jika kami berfatwa kepada manusia dengan pendapat kami sendiri, niscaya kami akan termasuk orang yang binasa. Namun (kami memberi fatwa kepada mereka) berdasarkan atsar-atsar dari Rasulullah saw, yang kami wariskan dari generasi ke generasi. Kami menyimpannya seperti manusia menyimpan emas dan perak mereka.” (Miqyas al-Hidayah fi ‘Ilm al-Dirayah: ‘Abdullah al-Mamqany (1351 H). Tahqiq:  Muhammad Ridha al-Mamqany. Mu’assasah Alu al-Bait, Beirut. Cetakan pertama 1991 M.)
.
Bersambung dan Terputusnya Sanad Menurut Syiah Imamiyah
Syiah Imamiyah juga menekankan tentang keharusan adanya persambungan sanad kepada imam yang ma’shum. Meski sanad itu kemudian tidak bersambung kepada Nabi saw, sebab perkataan imam itu sendiri adalah hujjah dan sunnah sehingga tidak perlu dipertanyakan dari mana ia mengambilnya.
.
hadis hadis syi’ah biasanya dengan redaksi misalnya : Dalam Al KAfi ada hadis : Zurarah mendengar Abu Abdillah ( Ja’far Ash Shadiq ) bersabda : Amirul Mu’minin ( Imam Ali ) bersabda “hiburlah hatimu agar ia tidak menjadi keras”
.
Hadis seperti tadi banyak dalam kitab syi’ah… Yang diteliti adalah sanad dan matannya dari Zurarah sampai dengan Kulayni, sementara dari Imam Ja’far sampai dengan Imam Ali tidak diperiksa lagi karena dari Ja’far sampai dengan Imam Ali sanad nya pasti bersambung oleh tali kekeluargaan dan tidak mungkin Imam Ja’far mendustai ayahnya, kakek, buyut hingga Imam Ali
Syiah Imamiyah juga meyakini bahwa sanad-sanad hadits mereka semuanya bersambung kepada para imam melalui perantara kitab-kitab al-Ushul yang ada pada mereka.
.
Dr. Muhammad At-Tîjâni as-Samâwie –seorang Sunni yang kemudian membelot ke Syi’ah, ketika melakukan kajian komparatif antara Sunnah dan Syi’ah, memberikan judul bukunya tersebut: Asy-Syî’ah Hum Ahlu Sunnah.
.
Peringatan 
Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut
.
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as
.
Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya
.
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.
.
Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali
.
Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut.
.
Jika ada hadis yang bertentangan dengan Al Quran maka kami menilainya tidak shahih maka masalahnya selesai ! Kalau ada hadis hadis aneh dalam kitab kitab mu’tabar syi’ah maka setelah meneliti sanad dan matannya maka ulama syi’ah langsung memvonisnya dha’if dan hadis tersebut tidak dipakai !
.
Yang dimaksud dengan berpedoman pada tsaqalain adalah mengikuti petunjuk Al Quran dan orang orang terpilih dari ahlul bait…SEMENTARA EMPAT KiTAB HADiS TERSEBUT ADALAH CATATAN CATATAN REKAMAN UCAPAN, PERBUATAN, DAN AKHLAK AHLUL BAiT.. YANG NAMANYA CATATAN MEREKA TENTU ADA YANG AKURAT DAN ADA YANG TiDAK AKURAT… YANG AKURAT DiNiLAi SHAHiH DAN YANG TiDAK AKURAT DiNiLAi DHA’iF
.
Jika seseorang membawa sebuah hadis yang lemah dari USHUL AL KAFi dan kemudian mengarti kan hadis tersebut secara salah sebagai alat propaganda kesesatan syi’ah, maka hal itu tidak menggambarkan keyakinan syi’ah!
Kenapa banyak sekali hadis dha’if ? Apa kulaini lemah dalam keilmuan ?Jawab: Syi’ah imamiyah itsna asyariah sangat ketat dalam ilmu hadis, sehingga ribuan hadis berani kami dha’if kan .. Tindakan pendha’ifan ribuan hadis ini menunjukkan bahwa kami SANGAT SANGAT SERiUS DALAM menilai keshahihan sesuatu yang dinisbatkan pada agama….Tidak ada kompromi dalam hal seleksi hadis… Pertanyaannya adalah Sunnah mana yang asli dan mana yang bukan….. Adapun hadis hadis dha’if dalam kitab syi’ah bukanlah hadis Nabi SAW tapi ucapan ucapan yang dinisbatkan pada Imam imam… Dalam kitab syi’ah tidak ada hadis Nabi SAW yang dha’if apalagi pemalsuan atas nama Nabi SAW
.
Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi … ….
.
Saya lebih suka menganalogikan Al Kafi itu dengan kitab Musnad Ahmad atau bisa juga dengan Ashabus Sunan yaitu Sunan Tirmidzi, Nasai Abu dawud dan Ibnu Majah. Tidak ada mereka secara eksplisit menyatakan semua isinya shahih, tetapi kitab mereka menjadi rujukan
.
Apa yang dimaksud dengan hadis lemah/dha’if ? Jawab : Jika salah satu seorang dari rantai penulis hadis itu tidak ada, maka hadis itu lemah dalam isnad tanpa melihat isinya… Ada hadis dalam Al Kafi yang salah satu atau beberapa unsur dari rangkaian periwayatnya tidak ada, oleh sebab itu hadis hadis demikian isnad nya dianggap lemah
.
Dalam Rasa’il fi Dirayat Al Hadits jilid 1 hal 395 disebutkan mengenai syarat hadis dinyatakan shahih di sisi Syiah yaitu apa saja yang diriwayatkan secara bersambung oleh para perawi yang adil dan dhabit dari kalangan Imamiyah dari awal sanad sampai para Imam maksum dan riwayat tersebut tidak memiliki syadz dan illat atau cacat!
.
Memang bukan kitab shahih tetapi bukan berarti seluruhnya dhaif. Jumlah hadis yang menurut Syaikh Ali Al Milani shahih dalam Al Kafi jumlahnya hampir sama dengan jumlah seluruh hadis dalam shahih Bukhari. Dengan cara berpikir anda hal yang sama bisa juga dikatakan pada kitab hadis sunni semisal Musnad Ahmad, Sunan Daruquthni, Musnad Al Bazzar, Mu’jam Thabrani Shaghir dan Kabir, Al Awsath Thabrani dan lain-lain yang banyak berisi hadis dhaif. Anehnya kutub as sittah sendiri terdapat hadis-hadis dhaif dan palsu seperti yang ada pada Ashabus Sunan
.
Kulaini tidak mensyaratkan membuat kitab yang 100% shahih ia hanya mengumpulkan hadis. Di sisi Syiah tidak ada kitab hadis 100% shahih. Jadi masalah akurat dan tidak akurat harus melihat dulu apa maksudnya Al Kulaini menulis kitab hadis
.
Ulama-ulama syiah telah banyak membuat kitab penjelasan Al Kafi dan sanad-sanadnya seperti Al Majlisi dalam Miratul Uqul Syarh Al Kafi, dalam kitab ini Majlisi menyebutkan mana yang shahih dan mana yang tidak
.
Saya rasa itulah tugas para ulama setelahnya, mereka memberi penjelasan atas kitab Al Kafi, baik menjelaskan sanad hadis Al Kafi . Artinya bagi saya adalah bahwa secara implisit mereka sudah mengklaim bhw hadits2 mereka tulis bukan sekedar koleksi tapi melewati filtrasi dg menggunakan metode yang mereka yakini.
Jadi 50 % hadis lemah itu bukanlah masalah bagi Syiah, karena mereka memiliki para ulama yang menyaring hadis-hadis tersebut. 
.
Perkembangan zaman selalu menuntut adanya perkembangan pemikiran sehingga Syiah selalu memiliki marja’ disetiap zaman untuk memutuskan suatu hal yang boleh jadi berbeda di setiap zaman, dan kitab rujukan utama Syiah adalah Alquran, Yang penting esensi ajarannya, seperti para Imam Ahlul Bayt yang konsisten mengawasi dan meluruskan terhadap penyimpangan para penguasa yang zalim.

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’

Pembukuan berbeda dengan penulisan. Seseorang yang menulis sebuah shahifah (lembaran) atau lebih disebut dengan penulisan. Sedangkan pembukuan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran yang sudah tertulis dan yang dihafal, lalu menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku
.
Pada masa Rasulullah SAW masih hidup belum ada Hadist-hadist  sunni yang terkumpul apalagi dibukukan. Pada masa Khulafaur Rasyidin yaitu setelah Rasullullah wafat, para sahabat mulai menyampaikan pesan-pesan Hadist Nabi SAW. Namun Hadist-hadist sunni  tersebut masih belum terhimpun. Hadist-hadist tersebut berada pada hafalan atau ingatan para Sahabat
 .
Saudaraku, ada dua cara meriwayatkan Hadist pada masa Sahabat
 .
1.  Riwayat sesuai  dengan lafadz asli sebagaimana dari Rasullulah SAW. (riwayat secara lafadz). Cara ini ada yang di sebabkan para Sahabat mendengar langsung apa yang diucapkan Nabi SAW atau yang diperbuatnya. Ada juga yang sudah melalui perantara Sahabat Nabi, Karena tidak mendengar atau menyaksikan langsung .Jika dibolehkan perawi pertama menukar lafadz yang didengarnya dengan lafadznya sendiri, maka perawi yang kedua tentu boleh melakukan hal yang sama, dan seterusnya perawi-perawi selanjutnya juga boleh melakukan periwayatan bi al-Makna. Apabila hal ini dibolehkan maka kemungkinan hilangnya lafal asli dari nabi menjadi lebih besar, atau setidak-tidaknya akan terjadi kesenjangan dan perbedaan yang mencolok antara ucapan yang diriwayatkan terakhir dengan apa yang dikatakan Nabi saw
 .
2.  Riwayat Hadist secara maknawi. Maksudnya, isi Hadist sesuai dengan apa yang diucapkan atau dilakukan Nabi. Sedangkan lafadz atau bahasanya tidak sama. Hal ini terjadi karena daya ingat para Sahabat tidak sama. Selain itu jarak waktu saat meriwayatkan Hadist dengan apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi sudah cukup lama. Dengan demikian bisa dimaklumi kalau terdapat beragam Hadist yang maksudnya sama tetapi lafadz dan bahasanya berbeda. Sebagian besar sahabat Nabi tidak pandai tulis baca, mereka hanya mengandalkan ingatan, sedang hadis baru ditulis secara resmi jauh setelah Rasul Allah wafat. Dalam kondisi yang demikian sangat mungkin ada lafadz-lafadz hadis mereka meriwayatkan tidak persis seperti yang diucapkan Nabi, karena lamanya hadis tersebut tersimpan dalam ingatan mereka. Karena itu mereka menyampaikan kandungan maknanya dengan lafal dari mereka sendiri
 .
Sunni mengklaim  periwayatan Hadist oleh para Sahabat. Hadist tersebut dihafalkan dari Sahabat, dari orang tua kepada anak, dari guru kepada murid. Setelah para Sahabat terdekat meninggal dunia, barulah diadakan pengumpulan dan pembukuan Hadist
.
Kodifikasi hadits baru dimulai pada abad kedua Hijriyah, sehingga sebelum periode itu, antara hadits shahih dan hadits palsu tidak dapat dibedakan di sebabkan karena :
 .
1. usaha pembukuan yang terlambat.  Masa pembukuannya pun terlambat sampai pada abad ke-2 H dan mengalami kejayaan pada abad ke-3 H. Sehingga  pencatatan Hadis sunni secara tekstual literatur Hadis tidak mudah dipercaya sebab pencatatan terhadap Hadis dilakukan setelah dua ratus tahun. Pembukuan dalam skala besar dilakukan di abad ketiga Hujriyah melalui para penulis Kutubus Sittah. Dalam konteks histories, periwayatan hadis tidak seberuntung al-Qur’an yang memang sejak awal telah dilakukan kodifikasi dan pembukuan. Sementara kodifikasi al-hadis dilakukan lebih belakangan jauh setelah wafatnya Nabi SAW. Dengan demikian periwayatan hadis menjadi problematic dan banyak mengundang kritik dari para orientalis yang cukup tajam dan bahkan memandang apriori terhadap otentisitasnya
 .
2. Bukhari menyaring 3.000 hadits dari 600.000 hadits yang telah ia kumpulkan.
Dalam sebagian literatur hadits sunni , nama Nabi Muhammad SAW sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan dan keganjilan (“…the name of Mahomet was abused to support all possible lies and absurdities”), dari 4000 hadits yang dianggap shahih oleh Imam Bukhārī, paling tidak separuhnya harus ditolak: “…without hesitation, to reject at least one-half.” Itu dari sudut sumber isnādnya, sedangkan dari sudut isi matannya, maka hadits “must stand or fall upon its own merit”. Hanya sebagian hadis sunni yang memang betul-betul hadits shahih dari Nabi [SAW]. Penguasa telah  memalsukan sebagian  hadits; bahwa sebagian hadis-hadits yang diriwayatkan  sebenarnya bukan berasal dari Nabi SAW, akan tetapi adalah perkataan si pemalsu  sendiri atau perkataan orang lain yang disandarkan kepada Nabi SAW.
 .
3. Tidak ada ijma’ kaum syi’ah  tentang keshahihan hadits-hadits  Semua hadis sunni. Hadis sunni yang kami sepakati tentang kehujahannya berarti sahih
Bahwa perjalanan hadis sunni hingga era kodifikasi dalam korpus resmi telah melewati beberapa fase yang tidak selalu mulus dan murni, bukan saja dari rangkaian sanad-nya tetapi juga materi hadis itu sendiri. Hadis-hadis Nabi tersebut, sampai masa pembukuanya secara resmi  masih bercampur dengan kata-kata dan fatwa sahabat. Hal ini menyebabkan jumlah materi hadis menjadi menggelembung, tetapi setelah diseleksi menjadi sedikit lagi. Sebagian hadith sunni merupakan refleksi interaksi dan konflik pelbagai aliran dan kecenderungan yang muncul kemudian di kalangan masyarakat Muslim pada periode kematangannya, ketimbang sebagai dokumen sejarah awal perkembangan Islam. Sebagian hadith sunni adalah produk bikinan penguasa sunni  beberapa abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, bukan berasal dan tidak asli dari beliau. Sangat sulit untuk mempercayai literatur hadits secara keseluruhannya sebagai rekaman otentik dari semua perkataan dan perbuatan Nabi SAW (“It is difficult to regard the hadīth literature as a whole as an accurate and trustworthy record of the sayings and doings of Muhammad”). Keberagaman data periwayatan Sunni – Syiah merupakan hasil pemalsuan yang terencana dari Sunni
 .
4. Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H) melakukan penulisan Hadis karena tekanan dari Bani Umayyah. Munculnya pemalsuan hadits akibat perselisihan politik dan madzhab setelah terjadinya fitnah, dan terpecahnya kaum muslimin menjadi pengikut Ali dan pengikut Mu’awiyah, serta Khawarij yang keluar dari keduanya
 .
Bukhari misalnya berkata:Bahwa Hadist ini diucapkan kepada saya oleh seseorang bernama A dan A berkata:diucapkan kepada saya oleh B dan B berkata: diucapkan kepada saya dari C dan C berkata: diucapkan kepada saya dari D dan D berkata: diucapkan kepada saya dari E dan E berkata: diucapkan kepada saya dari F dan F berkata: diucapkan kepada saya dari Nabi SAW
 .
Menurut contoh ini antara Nabi SAW dan Bukhari ada 6 orang dan 6 (enam) orang ini tidak mesti, melainkan bisa jadi kurang atau lebih.Tiap-tiap orang dari A sampai F yang disebutkan tersebut diatas adalah Yang meriwayatkan atau Rawi (perawi). dan sejumlah Rawi pada suatu Hadist dinamakan dengan Sanad yang terkadang disebut Isnad
 .
Pada masa Abdul Malik (sekitar 70-8.0 H), yakni enam puluh tahun lebih setelah meninggalnya nabi, penggunaan sanad dalam periwayatan hadits juga belum dikenal. Dari sini saya  berkesimpulan bahwa pemakaian sanad baru dimulai pada antara Urwah dan Ibn Ishaq (w. 151 H). Oleh karena itu, sebagian sanad-sanad yang terdapat dalam kitab-kitab hadits adalah bikinan ahli-ahli hadits abad ke dua, bahkan abad ketiga. Tulisan-tulisan Urwah yang dikirimkan kepada Abdul Malik tidak menggunakan sanad. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa Urwah pernah menggunakan sanad adalah pendapat orang-orang belakangan
 .
Bahkan sebagian hadits-hadits  sunni yang terdapat dalam al-kutub as-sittah sekalipun tidak dapat dijamin keasliannya: “even the classical corpus contains a great many traditions which cannot possibly be authentic.” Sebagian sistem periwayatan berantai alias isnād merupakan alat justifikasi dan otorisasi yang baru mulai dipraktekkan pada abad kedua Hijriah: “there is no reason to suppose that the regular practice of using isnāds is older than the beginning of the second century.”
 .
Sedangkan yang di maksud dengan yang mengeluarkan Hadist adalah Orang   yang mencatat Hadist Rasulullah SAW,yaitu para  Ahli Hadist seperti Imam Malik, Bukhari,Muslim, Abu Daud, At-Tarmidzi serta lain-lainnya.
 .
Syi’ah menemukan beberapa Hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Hadis-hadis tersebut terkesan mengucapkan kata-kata ganjil dan kasar, membuatnya heran sebagai sabda-sabda yang konon berasal dari Nabi saw tidak memiliki retorika penuh bunga yang sering dijumpainya dalam berbagai tulisan-tulisan
 .
Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia lahir 21 tahun sebelum Hijriah, sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdu al-Syams (hamba matahari), ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing, ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, kemudian setelah masuk Islam baru dinikahinya. Tatkala menjadi muslim, ia bersama Thufail bin Amr berangkat ke Makkah, Nabi Muhammad Saw mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Ia menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.
 .
Kami menggugat integritas Abu Hurairah  sebagai perawi dengan berbagai tuduhan, diantaranya adalah ia terlalu banyak meriwayatkan (lebih dari lima ribu Hadis) apa yang sebenarnya tidak pasti diucapkan oleh Nabi saw dalam waktu yang singkat. Ia hanya bersama Nabi sekitar tiga tahun, sebagian besar Hadisnya ia tidak mendengar dari Nabi secara langsung akan tetapi ia mendengar dari sahabat dan tabi’in. Apabila setiap sahabat dinyatakan adil sebagaimana jumhur ulama Hadis maka para tabi’in juga sama demikian adanya.
 .
Kami  mengingatkan bahwa Abu Hurairah masuk Islam ketika ia bergabung bersama Nabi saw dalam peristiwa Khaibar pada tahun 7 H/ 629 M, ini dapat ditemukan dalam berbagai sumber. Abu Hurairah juga dituduh sebagai seorang pemalas yang tidak memiliki pekerjaan tetap selain mengikuti Nabi saw. kemanapun beliau pergi, juga merupakan orang yang rakus terutama setelah beliau mendapatkan posisi penting sebagai gubernur pada masa dinasti Bani Umaiyah
 .
Sahifah sahifah pro penguasa misalnya : shahifah Samurah bin Jundub
Ash-shohifah Ash-shohihah, catatan salah seorang Tabi’in Hammam bin Munabbih (w. 130 H). hadits-haditsnya banyak diriwayatkan dari sahabt besar Abu Hurairah, berisikan kurang lebih 138 buah hadits. Haditsnya sampai kepada kita yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya dan oleh Al-Bukhori dalam berbagai bab
 .
Shahifah sahihah yaitu kumpulan hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Kumpulan hadis tersebut disampaikan oleh Abu hurairah kepada Hammam Ibn Munabbih (40 – 131 H) dari generasi Tabiin. Ini memuat 138 hadis. Kemudian Hammam menyampaikan kepada sejumlah muridnya, antara lain Ma’mar Ibn Rasyid (w.154 H/ 770 M) yang memelihara dan membacakan kepada salah seorang muridnya, Abdur ar-Razaq as-Sam’ani (w.211 H/826 M). selain sebagai ulama terkemuka seperti gurunya, Abd ar-Razaq juga memelihara shahifah tersebut dalam bentuknya yang utuh dan menyampaikannya kepada generasi-generasi sesudahnya. Naskah ini telah ditemukan oleh DR. M. Hamudullah dalam bentuk manuskrip aslinya di Damaskus dan Berlin. Muhammad Ujjaj al-Khatib, As-Sunnah qabla at-Tadwin, (bairut: Dar al-Fikr, 1981), h. 355 – 357. Subhias-Shalih, Ulum al-hadis Wa Musthalahuh, (Bairut: Dar ‘Ilm Li al-Malayin, 1988), h. 32
 .
Kitab –Kitab Hadist.
a. Abad ke 2 H
1)   Al Muwaththa oleh Malik bin Anas
2)   Al Musnad oleh Ahmad bin Hambal (150 – 204 H / 767 – 820 M)
3)   Mukhtaliful Hadits oleh As Syafi’i
4)   Al Jami’ oleh Abdurrazzaq Ash Shan’ani
5)   Mushannaf Syu’bah oleh Syu’bah bin Hajjaj (82 – 160 H / 701 – 776 M)
6)   Mushannaf Sufyan oleh Sufyan bin Uyainah (107 – 190 H / 725 – 814M)
7)   Mushannaf Al Laist oleh Al Laist bin Sa’ad (94 – 175 / 713 – 792 M)
8)   As Sunan Al Auza’i oleh Al Auza’i (88 – 157 / 707 – 773 M)
9)   As Sunan Al Humaidi (219 H / 834 M)
 .
b. Abad ke 3 H
1)       Al Jami’ush Shahih Bukhari oleh Bukhari (194-256 H / 810-870 M)
2)       Al Jami’ush Shahih Muslim oleh Muslim (204-261 H / 820-875 M)
3)       As Sunan Ibnu Majah oleh Ibnu Majah (207-273 H / 824-887 M)
4)       As Sunan Abu Dawud oleh Abu Dawud (202-275 H / 817-889 M)
5)       As Sunan At Tirmidzi oleh At Tirmidzi (209-279 H / 825-892 M)
6)       As Sunan Nasai oleh An Nasai (225-303 H / 839-915 M)
7)       As Sunan Darimi oleh Darimi (181-255 H / 797-869 M)
 .
c. Abad ke 4 H
1)        Al Mu’jamul Kabir oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
2)        Al Mu’jamul Ausath oleh Ath Thabarani (260-340 H / 873-952 M)
3)        Al Mu’jamush Shaghir oleh Ath Thabarani (260-340 H/873-952 M)
4)        Al Mustadrak oleh Al Hakim (321-405 H / 933-1014 M)
5)        Ash Shahih oleh Ibnu Khuzaimah (233-311 H / 838-924 M)
6)        At Taqasim wal Anwa’ oleh Abu Awwanah (wafat 316 H / 928 M)
7)        As Shahih oleh Abu Hatim bin Hibban (wafat 354 H/ 965 M)
8)        Al Muntaqa oleh Ibnu Sakan (wafat 353 H / 964 M)
9)        As Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M)
10)    Al Mushannaf oleh Ath Thahawi (239-321 H / 853-933 M)
11)    Al Musnad oleh Ibnu Nashar Ar Razi (wafat 301 H / 913 M)
 .
d. Abad ke 5 H dan selanjutnya
Hasil penghimpunan.
Bersumber dari kutubus sittah saja: Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir Al Jazari (556-630 H / 1160-1233 M), Tashiful Wushul oleh Al Fairuz Zabadi (1084 M).
Bersumber dari kkutubus sittah dan kitab lainnya, yaitu Jami’ul Masanid oleh Ibnu Katsir (706-774 H / 1302-1373 M).
Bersumber dari selain kutubus sittah, yaitu Jami’ush Shaghir oleh As Sayuthi (849-911 H / 1445-1505 M).
 .
Kitab Al Hadits Hukum, diantaranya :
1)   Sunan oleh Ad Daruquthni (306-385 H / 919-995 M).
2)   As Sunannul Kubra oleh Al Baihaqi (384-458 H / 994-1066 M).
3)   Al Imam oleh Ibnul Daqiqil ‘Id (625-702 H / 1228-1302 M).
4)   Muntaqal Akhbar oleh Majduddin Al Hirani (1254 M).
5)   Bulughul Maram oleh Ibnu Hajar Al Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M).
6)   Umdatul Ahkam oleh ‘Abdul Ghani Al Maqdisi (541-600 H / 1146-1203 M).
7)   Al Muharrar oleh Ibnu Qadamah Al Maqdisi (675-744 H / 1276-1343 M).
 .
Kitab Al Hadits Akhlaq.
1)   At Targhib wat Tarhib oleh Al Mundziri (581-656 H / 1185-1258 M)
2)   Riyadhus Shalihin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M)
3)   Syarah (semacam tafsir untuk Al Hadits).
4)   Untuk Shahih Bukhari terdapat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Asqalani (773-852 H / 1371-1448 M).
5)   Untuk Shahih Muslim terdapat Minhajul Muhadditsin oleh Imam Nawawi (631-676 H / 1233-1277 M).
6)   Untuk Shahih Muslim terdapat Al Mu’allim oleh Al Maziri (wafat 536 H / 1142 M).
7)   Untuk Muntaqal Akhbar terdapat Nailul Authar oleh As Syaukani (wafat 1250 H / 1834 M).
8)   Untuk Bulughul Maram terdapat Subulussalam oleh Ash Shan’ani (wafat 1099 H / 1687 M).
 .
Para pembaca,
Salah satu kritik yang disampaikan oleh beberapa pihak terkait dengan otentisitas hadits adalah adanya praktik pemalsuan hadits. Kesimpulan yang sering dibuat bahwa banyaknya pemalsuan hadits menyebabkan susah mencari hadits yang otentik sehingga bisa disimpulkan tidak ada hadits yang otentik. Dalam hal ini Ulil dengan mengutip pendapat Abu Rayyah menuliskan:
Imam Bukhari menyuling 2600an hadis yang dianggap valid dari 300 ribuan hadits. Apa yang bisa disimpulkan dari fakta ini? Kata Abu Rayyah: dengan rasio 300.000:2600an, kita bisa mengatakan bahwa hadis pada umumnya adalah palsu atau lemah. Yang valid hanyalah perkecualian saja. Tentu, kita berbicara mengenai era Imam Bukhari. Dengan kata lain, pada zaman itu, betapa pervasif dan luas sekali persebaran hadis-hadis palsu atau minimal lemah. Begitu luasnya persebaran hadis palsu sehingga Abu Rayyah membuat semacam hukum: hadis yang palsu adalah “norm“, sementara hadis yang shahih adalah “exception” (http://ulil.net/).
 .
Tak bisa dipungkiri bahwa dalam perjalanan sejarah memang telah terjadi banyak praktik pemalsuan hadits yang terjadi antara lain karena ulah pendusta. Bahkan praktik dusta itu telah terjadi sejak Rasulullah Saw masih hidup. Hadits Rasulullah Saw yang mengecam para pendusta atas nama Rasulullah menjadi salah satu bukti hal ini. Redaksi haditsnya sebagai berikut:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
“Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah menyiapkan tempat duduknya di neraka”
Hadits tersebut merupakan hadits mutawatir, artinya diriwayatkan oleh banyak orang dari tiap-tiap generasinya. Hadits tersebut telah diriwayatkan oleh tujuh puluh orang lebih sahabat dengan redaksi yang sama (Nurddin Itr, 1988,; h. 405)
 .
Motif pemalsuan hadis oleh penguasa :
1. Syi’ah menolak kekhalifahan Umayyah Abbasiyah  ataupun tidak ikut membai’atnya
2.Upaya penyingkiran kekhalifahan yang sah yakni “ Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW”
3.Bani Umayyah juga dan Bani Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan-keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat, karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN. Ulama-ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung  bid’ah-bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.
Akibatnya ?  hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan
.
Apakah Bukhari sudah terbebas dari kesalahan ? Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow maraknya hadis palsu !
 .
4. Mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongannya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya, pengikut-pengikut Ali (Syi’ah Ali) dicap sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang-orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, 
Antara Musuh-musuh Allah dan Ahlulbait, siapa sebagai AHLUSUNNAH?
Harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.
5.Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”
.
Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Al Muawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil
 .
Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal-hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis. Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu
Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang
.
Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan) serta mengisolasi mereka dari pentas kehidupan saat itu. Dengan kata lain kemunculan kelompok Sunni merupakan reaksi terhadap syi’ah yang memihak dan membela kepentingan ahlulbait
 .
Pendukung-pendukung Ali AS adalah orang orang ANSHAR dan MUHAJiRiN yang telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran serta Allah utamakan mereka atas sahabat sahabat lainnya. Mereka bersedia mengorbankan darahnya demi untuk membela kebenaran yang menyertai Ali. Sedangkan pendukung Mu’awiyah kebanyakan dari orang orang munafik dan musuh musuh Rasul SAW.
 .
Syi’ah atau Sunni YANG SESAT ?
.
Syi’ah mengikuti sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait SAW, sedangkan Sunni meninggalkan fikih ahlulbait lalu memilih mengikuti mazhab yang tidak pernah Allah SWT syari’atkan seperti Asy’ari dan Syafi’i  yang selalu penuh dengan kontradiksi
.
Walaupun ahlulbait sebagai keturunan Nabi SAW lebih paham tentang perilaku Nabi SAW dan tidak ada seorang pun yang dapat melebihi mereka dalam ilmu dan amal karena selama lebih dari tiga abad mereka saling waris mewarisi ilmu dan amal melalui para imam 12, namun pihak sunni tetap saja beribadah menurut mazhab empat yang baru muncul pada abad ke II H yang selalu penuh dengan kontradiksi kontradiksi didalamnya disamping selalu mengembangkan sikap permusuhan dan peperangan pada setiap orang yang mengikuti ahli bait Nabi SAW
 .
Kami (syi’ah) tidak pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinannya sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT
.
Jumlah hadis yang disandarkan pada Nabi SAW pada masa thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah bertambah banyak, sehingga keadaannya bertambah sulit membedakan mana hadis yang orisginil dan mana hadis yang dibuat-buat. Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow maraknya hadis palsu !!!
Setiap hadis yang dihimpun BUKHARI tidak semuanya bersifat AL MUTAWATiRAT. Banyak pula diantaranya yang bersifat Al AHAAD  yakni cuma diterima BUKHARi dari satu orang saja, dan pihak yang menyampaikan hadis itu  kepada Bukhari menyebut nama tokoh-tokoh utama sebagai jalur (sanad) hadis tersebut dan berakhir pada sahabat Nabi SAW
.
Imam Bukhari yang wafat pada tahun 257 H (870 M) tidak pernah berjumpa dengan tokoh tokoh utama tersebut  karena satu persatunya sudah meninggal dunia menjelang masa Imam Bukhari. Sehingga perlu peninjauan dan penilaian kembali atas sesuatu hadis yang dinyatakan shahih oleh BUKHARi, apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ?
 .
Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda-sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ?
Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW
.
Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ?
Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetakalah yang terjadi kini.
Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah
 .
Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.
Contoh :
.
Nikah mut’ah yang secara jelas telah dihalalkan  oleh Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pihak Sunni  demi membela ijtihad UMAR yang mengharamkannya menyusun berbagai hadis palsu yang disandarkan pada Nabi SAW dan Imam Ali. Padahal kitab kitab hadis sunni mencatat bahwa PARA SAHABAT mengerjakannya pada zaman Rasul SAW, Abubakar dan Umar hingga Umar mengharamkannya
.
Hadis hadis sunni yang menghalalkan dan mengharamkan  Nikah MUT’AH sama sama kuat dan sama sama shahih dari segi kekuatan sanad dan matannya, sehingga tidak bisa menjatuhkan satu sama lain. Riwayat riwayat yang di utarakan sunni bertentangan satu sama lain sehingga tidak dapat disatukan. Kenapa hadis hadis yang mengandung kontradiksi  ini terjadi ?
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah :  Sesungguhnya Ali berkata pada Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai pada hari khaibar”
 .
Hadis hadis sunni yang menerangkan penghapusan NiKAH MUT’AH (apalagi yang mencatut nama Imam Ali seperti diatas )  tidak  dapat dijadikan HUJJAH  karena hadis hadisnya diriwayatkan oleh perorangan (ahad baik dari kalangan sahabat atau tabi’in) seperti ; Salamah bin Akwa’, Sabrah bin Ma’bad, Abu Hurairah dan lain-lain yang jumlahnya tidak lebih dari 6 orang
Bagaimana pun juga seluruh ulama sepakat bahwa riwayat perorangan tidak dapat dijadikan sebagai penghapus hukum atau hadis yang mutawatir
.
Selain itu kita harus meneliti sanadnya, sebab dalam riwayat itu ada perawi yang pelupa yang selalu mengubah atau mengganti apa yang ia riwayatkan.
.
Jika hadis diatas shahih maka tidak mungkin Umar tidak mengetahuinya, buktinya adalah Umar mengatakan bahwa nikah itu pernah ada pada zaman Rasul dan sekarang saya mengharamkannya dan akan mendera orang yang melakukannya
Fakta sejarah membuktikan bahwa ketika menjadi khalifah pasca Usman, Imam Ali AS pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di Kota Kufah
.
Firman Allah SWT : “Maka hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Qs. An Nuur ayat 63)
.
Firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nya” (Qs. Al Ahzab ayat 36)
.
Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatannya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu
 .
Dan harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.
Kepentingan politik saat itu tidak memihak ahlulbait Rasul SAW. Mulai dari kekhalifahan  Abubakar hingga puncaknya pada masa Mu’awiyah dan Bani Umayyah. Tidak heran kalau saat itu sesuatu yang salah menjadi benar dan sebaliknya yang benar menjadi salah. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH
.
Kalau terhadap Imam Ali saja mereka ( Mu’awiyah cs ) berani mengutuk dan mencaci maki, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan yang akan diterima oleh pengikut pengikut Imam Ali yang kebanyakan menemui kematian.
 .
Sosok Mu’awiyah adalah sosok politikus ulung yang licik, kejam dan munafik yang tidak jarang menangis tersedu sedu untuk menarik simpati umat serta menumbuhkan citra bahwa dirinya adalah seorang khalifah yang zuhud dan baik hati.
Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)
 .
Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW
.
Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkarnya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal : 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah
.
Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobarkan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS
Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH
.
Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam
Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.
.
Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN
.
Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah
.
Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW
 .
Kenapa  jutaan  hadis  sunni  PALSU  ?
Ada  apa  ini ?  Imam Ahmad bin Hanbal yang hafal 1.000.000 hadits (1 juta hadits), anehnya Cuma 20.000 hadits saja yang ditulis, selainnya palsu ! Bukhari mengumpulkan 600.000 hadis   tetapi Cuma 7000 yang dia anggap orisinil pasca seleksi.. Nah dari 7000 itulah syi’ah menseleksi dan meninjau ulang mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat  antek antek  raja zalim !
 .
Sejarah dan hadis tentang Nabi Muhammad saw yang sampai kepada umat Islam Sunni sekarang ada yang  sudah tidak shahih karena ditulis sesuai dengan kepentingan penguasa.
 .
Setelah Rasulullah saw wafat dan sejak berkuasanya Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, banyak hadits yang dibuat-buat oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab untuk memuliakan dan mengagungkan penguasa serta mengunggulkan mazhabnya. Karena itu, untuk memperoleh sejarah Nabi saw yang benar (shahih) harus memisahkan fakta dari fiksi dan memilah kebenaran dari berbagai dusta yang dinisbatkan kepada Muhammad saw.
 .
Metode Studi Kritis
Dalam upaya menguji kebenaran sejarah Nabi Muhammad saw, saya  menggunakan tiga tahap (yang saya sebut metode studi kritis  ).
 .
Pertama, mengujinya dengan doktrin al-Quran bahwa Muhammad saw adalah teladan yang baik dan berakhlak mulia. Karena itu, saya menolak hadits atau fakta sejarah yang menggambarkan Nabi Muhammad saw pernah keliru dan tidak mengetahui bahwa dirinya seorang Nabi.
 .
Begitu pun tentang peristiwa mendapatkan wahyu yang sampai membuat Muhammad saw ketakutan dan lari kemudian berlindung kepada istrinya (Khadijah) atau bertelanjang dada, bermesraan di depan umum, hendak bunuh diri dan lainnya,   ditolak kebenarannya karena telah merendahkan derajat Nabi Muhammad saw. Sangat tidak mungkin manusia yang disebut berakhlak al-quran melakuk perilaku tidak terpuji dan seperti orang bodoh.
 .
Kedua, mempertemukan riwayat Nabi Muhammad saw dengan pesan Allah dalam al-Quran. Jika hadits atau sunah itu sesuai dengan al-Quran maka bisa diterima. Apabila tidak, wajib ditolak.
 .
Ketiga, mengujinya dengan kritik sanad (orang yang mengabarkan) dan matan hadits (isi/materi) dengan tambahan analisa aliran politik dari periwayat hadits.
 .
Tahapan studi kritis yang mantap
 .
Sebagian materi hadits  mempunyai persamaan di kalangan Sunni  dan Syi’ah  Imamiyyah; Seandainya syi’ah sesat tentunya, tidak ada satupun hadis yang secara bersamaan terdapat dalam kitab kelompok-kelompok Islam tersebut. Namun, kenyataan justru menunjukkan; sebagian materi hadis yang memiliki persamaan dan keterkaitan
 .
Jangan belajar syiah dari ulama salafy.
Sebagusnya meneliti syiah kalau memang mau ya dari orang syiah sendiri
Kenapa syi’ah imamiyah hanya mau menerima sebagian hadis hadis sunni ? Tidak ada jaminan hadis hadis sunni tidak mengalami perubahan dan pemalsuan.
Jawab :
1. Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah  ? terletak pada  dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar itu. Perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits.  Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW)
Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan Bukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis.   Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu).   Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis.   Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis
.
Bagaimana kita bisa memahami Al Quran dan ISlam jika hadis hadis yang dirawi dalam kitab hadis Aswaja sangat sedikit yang bersumber dari itrah ahlul bait dan para imam keturunan Nabi SAW ???? hadis sunni disampaikan dengan jalur antara mata rantai satu dengan berikutnya dan seterusnya jarang yang ada ikatan keluarga (itrah) tapi diduga hanya saling bertemu …
.
Yang meriwayatkan hadis syi’ah imamiyah bisa keturunan Nabi SAW yaitu ahlul bait, bisa pengikut atau pendukung ahlul bait dan bisa murid murid ahlul bait…. justru hadis syi’ah lebih terjaga karena disampaikan dari jalur { Nabi SAW- Ali- Hasan- Husain- Zainal- Baqir- Ja’far } mereka adalah keluarga jadi tidak mungkin menipu !
 .
Jika sanad itu bersambung kepada Nabi saw tanpa perantaraan seorang imam, maka hadits semacam ini tidak mudah diterima syiah. Ini disebabkan oleh Keyakinan syiah Imamiyah  bahwa pengetahuan akan keshahihan sebuah hadits sepenuhnya hanya diketahui melalui jalur para imam.
 .
2. Hadis sunni terkadang satu sama lain saling bertentangan padahal masih dalam satu kitab hadis yang sama. Dalam metode sanad sunni, perawi hanya mengungkapkan apa yang ia dengar/lihat  sehingga like-dislike
.
Bagaimanapun, penilaian seseorang sudah tentu mengandung unsur-unsur subyektif. Dan ingatan manusia, seberapa pun sempurnanya, tentu mengandung kemungkinan meleset
.
Letakkan sebuah kursi di tengah ruangan. Panggil 10 orang duduk mengitari kursi itu. Suruh mereka menulis tentang kursi satu itu. Maka akan muncul 10 cerita yang berbeda. Tidak seorangpun boleh mengatakan ceritanya yang paling benar dan yang lain salah. Orang lain yang akan memilih, cerita mana yang paling masuk akal. Kita tidak perlu saling memaki karena semua orang punya hak untuk berpendapat dan untuk memilih
.
Hadits dibukukan jauh setelah sumber aslinya wafat. jelas saja menyisakan ruang untuk berbagai kemungkinan dan kepentingan. disinilah kemudian terletak sumber kontroversi yang juga dipicu penggolongan derajat hadits dan munculnya kelompok-kelompok dengan pendekatan berbeda terhadap kekyatan hukum sebuah hadits.
Sunnah adalah apapun yang berupa perkataan, perbuatan dan sikap yang dinisbatkan kepada Nabi SAW
.
Siapa itu para pencatat? Manusia yang tidak maksum. Nah ada kemungkinan usil yang lain. Bukankah mereka para pencatat adalah orang-orang yang tidak selalu benar dan mereka punya potensi melakukan kesalahan. jadi bisa saja para pencatat itu melakukan kekeliruan. Ini sebuah kemungkinan yang masih harus dibuktikan tetapi tidak bisa sepenuhnya ditolak
minimal syi’ah beragama dengan Iman dan Akal yang Sehat
.
Justru menurut saya metode sanad itu lebih memiliki banyak kelemahan. bukannya untuk menentukan jujur atau tidak seseorang akan sangat sulit, subyektifitas pasti bermain di sini. misal, perawi A dianggap jujur sama Z, tapi belum tentu dia dianggap jujur ama X. Nah kalo gitu, bukannya yang muncul malah ilmu mencari-cari kesalahan orang lain, asal menemukan sedikit kecacatan, maka dianggap riwayatya lemah. Saya kira menilai dari sisi matan, dan membandingkannya degan nilai-nilai universal dari Al-quran akan lebih bagus untuk menilai sebuah hadits. At least lebih obyektif
.
Sebab, kalau kita telaah proses verifikasi sanad, akan kelihatan sekali bahwa fondasinya cenderung subyektif, hal yang sangat wajar jika kita rajin menelaah hadist-hadist sunni bahkan yang muktabar sekalipun, dimana akan banyak kontradiksi di dalam masalah penghukumannnya (ta’dil wa jarh ). Sebab, dasar pokok dari metode sanad adalah penilaian seseorang atas “kualitas” orang lain yang menjadi rawi.
contoh saja: salah seorang perawi sahih Buhori, Haritz bin Uthman jelas dia adalah pendukung bani Umayyah, ia melaknat Imam Ali 70x di pagi hari dan 70x di sorenya secara rutin…namun apa juga yang dikatakan Ahmad bin Hambal:”haritz bin uthman adalah Tsiqot!”.
.
Kemudian dalam soheh Muslim pun diceritakan bahwa Muawiyah La. memerintahkan Sa’ad bin Abi waqos untuk menghina dan mencerca Imam Ali a
.
Hadis  Aswaja sunni  kacau balau  karena menempatkan para perawi atas dasar memihak atau tidaknya kepada ‘Ali ibn Abi Thalib dalam pertikaiannya dengan Mu’awiyah.. Untuk itu, ulama aswaja sunni menyebut seseorang itu Syi’ah manakala ia berpihak kepada ‘Ali…Yang  pro  Ali  mayoritas  hadis nya ditolak  sedangkan  yang  MENCELA  ALi  hadisnya  dianggap tsiqat/shahih… standar  ganda
 .
Anda berhak bertanya akan keseriusan para ulama Sunni dalam menyikapi para pembenci dan pencaci maki sahabat, yang dalam rancangan konsep mereka siapa pun yang membenci dan apalagi juga dilengkapi dengan mencaci maki sahabat Nabi saw. mereka kecam sebagai zindiq, fasik, pembohong yang tidak halal didengar hadisnya!  Lalu bagaimana dengan perawi yang membenci dan mencai-maki Imam Ali as.? Apakah mereka akan berkonsekuen dalam mengetrapkannya? Atau mereka akan melakukan praktik “Tebang Pilih”!
.
Jika seoraang perawi mencaci maki Mu’awiyah, ‘Amr ibn al ‘Âsh, Abu Hurairah, Utsman ibn ‘Affân, Umar ibn al Khathtab, atau Abu Bakar misalnya, hukuman itu ditegakkan!
.
Jika yang dicaci dan dibenci saudara Rasulullah saw. dan menantu tercintanya; Ali ibn Abi Thalib as. maka seakan tidak terjadi apa-apa! Seakan yang sedang dicaci-maki hanya seorang Muslim biasa atau bisa jadi lebih rendah dari itu.
Pujian dan sanjungan tetap dilayangkan…
kepercayaan terhadapnya tetap terpelihara… keimanannya tetap utuh… bahkan jangan-jangan bertambah karena mendapat pahala besar di sisi Allah kerenanya, sebab semua itu dilakukan di bawah bendera ijtihad dan keteguhan dalam berpegang dengan as Sunnah!!
.
Mengapa kegarangan sikap dan ketegasan vonis itu hanya mereka tampakkan dan jatuhkan ketika yang dicaci-maki dan dibenci adalah sahabat selain Imam Ali as., betapapun ia seorang fasik berdasarkan nash Al Qur’an, seperti al Walîd ibn ‘Uqbah! Sementara jika Ali as. atau sahabat dekatnya seperti Ammar ibn Yasir, Salman al FarisiAbu Darr ra. dkk. yang dicaci-maki dan dibenci serta dilecehkan semua seakan tuli dan bisu..
.
Cuma asumsi sayakah ini? Ooh tidak ini bisa dibuktikan. Pernahkah anda membaca riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW menikahi Maimunah RA disaat ihram. Padahal ada riwayat lain mengatakan bahwa Nabi SAW melarang menikah di waktu ihram. Nabi SAW melanggar perkataan Beliau sendiri, enggak mungkin bangetkan dan puncaknya ada riwayat lain bahwa Pernikahan Nabi SAW dengan Maimunah RA tidak terjadi waktu ihram. Semua riwayat tersebut Shahih. (sesuai dengan Metode penyaringan). Tidak mungkin dua hal yang kontradiktif bisa benar
.
Keanekaragaman Inkonsistensi
Penilaian ulama yang berbeda soal hadis akan membuat perbedaan pula terhadap apa itu yang namanya Sunnah. Ulama A berkata hadis ini shahih sehingga dengan dasar ini maka hadis itu adalah Sunnah tetapi Ulama B berkata hadis tersebut dhaif atau bisa saja maudhu’ sehingga dengan dasar ini hadis itu tidak layak disebut Sunnah. Pernah dengar hadis2 yang kontradiktif misalnya nih hadis yang melarang menangisi mayat dan hadis yang membolehkan menangisi mayat. Atau hadis-hadis musykil yang begitu anehnya
  • Nabi Musa telanjang mengejar pakaiannya yang dibawa lari sebongkah batu
  • Nabi Musa menampar malaikat maut sehingga bola mata malaikat itu keluar dan akhirnya Allah SWT mengembalikan bola matanya
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW berhubungan dengan 9 istrinya dalam satu malam
  • Hadis yang menjelaskan Nabi SAW menikahi anak berumur 9 tahun
.
Dan masih ada yang lain, semuanya itu hadis-hadis yang Shahih. Belum lagi Sunnah yang diyakini dalam mahzab-mahzab tertentu. Bagi penganut mahzab Syafii, Qunut itu sunnah tetapi bagi mahzab Hanbali dan Salafy Qunnut itu bid’ah yang berarti bukan Sunnah. Jadi apa itu berarti penganut Syafii sudah merekayasa Sunnah?(dengan asumsi mahzab hanbali dan Salafy benar). Dalam mahzab Syiah berpegang pada Ahlul Bait dan menjadikan mereka Syariat adalah Sunnah tetapi bagi mahzab Sunni tidak. Yang anehnya Rekayasa Sunnah ini bahkan sudah terjadi di kalangan sahabat sendiri dimana ada sebagian sahabat yang melarang apa yang sudah ditetapkan dan dibolehkan oleh Nabi SAW salah satunya yaitu Haji tamattu’ (dan bagi Syiah termasuk Nikah Mut’ah).
 .
3. Para imam mazhab sunni dan Bukhari serta perawi lain hadir jauh setelah kehadiran Rasulullah saw  sehingga cara menilai tsiqat tidaknya  HANYA DUGA DUGA !
.
KALAU MODEL HADiS ASWAJA iNi DALAM METODE Syi’AH DiANGGAP DHAiF ATAU MUWATSTSAQ SAJA KARENA MATA RANTAi SANADNYA HANYA DUGA DUGA !
.
Coba saja hitung hadis yang diriwayatkan oleh Ali misalnya dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Sahih Bukhori, pasti lebih banyak Abu Hurairah. Tidak kurang dari 446 hadis yang berasal dari Abu Hurairah yang terdapat dalam Sahih Bukhori. Sementara hadis Ali cuma 50 yang dianggap sahih atau 1.12 % dari jumlah hadis Abu Hurairah. Padahal Aisyah menuduh Abu Hurairah sebagai pembohong dan Umar mengancamnya dengan mencambuk kalau masih meriwayatkan hadis-hadist. Apanya yang dirujuk ? Wong Sunni lebih banyak mengambil hadis dari Abu Hurairah dan orang-orang Khawarij atau dari Muqatil bin Sulaiman al-Bakhi? Kalo ngomong jangan asbun.
.
setiap pilihan ada resikonya, cara Bukhari bisa dipandang bermasalah ketika diketahui banyak hadist yang menurut orang tertentu tidak layak disandarkan kepada Nabi tetapi dishahihkan Bukhari, kesannya memaksa orang awam untuk percaya “la kan shahih”. Belum lagi beberapa orang yang mengakui perawi-perawi Bukhari yang bermasalah, jadi masalah selalu ada.
Sebut saja misalnya sang Perawi A, ia dinyatakan tsiqat oleh karena itu hadistnya diterima sedangkan Perawi B tertuduh pendusta sehingga hadistnya ditolak. Nah bagaimana bisa anda memastikan kalau si A benar-benar bisa dipercaya dan si B benar-benar tertuduh pendusta.
.
Verifikasi yang pasti adalah dengan menilai sendiri watak kedua perawi itu alias ketemu langsung dan untuk itu, anda harus melakukan lompatan ruang dan waktu. Gak mungkin bisa kayaknya, jadi standar mesti diturunkan dengan Metode yang memungkinkan yaitu percaya dengan para Sesepuh sebelumnya yang sempat mengenal perawi tersebut atau dari ulama yang pernah belajar sama sesepuh itu atau ulama yang pernah belajar sama ulama yang belajar dari sesepuh.
 .
Singkatnya Taklid gitu loh dan bisa dimaklumi kalau orang-orang tertentu tidak berkenan dengan metode ini dan menilainya tidak ilmiah
  • Imam Syafii dinyatakan dhaif oleh Ibnu Main dan tsiqah oleh banyak ulama lain (bisa bayangkan kalau Imam Syafii dhaif, waduh bisa hancur itu mahzab Syafii)
  • Imam Tirmidzi dinyatakan majhul oleh Ibnu Hazm tetapi sangat terpercaya oleh ulama lain(apalagi ini nih masa’ Sunan Tirmidzi kitab majhul/tidak dikenal)
  • Ibnu Ishaq dinyatakan dajjal oleh Imam Malik tetapi beliau juga dipercaya oleh Imam Syafii dan Ali bin Madini serta yang lainnya. Dan sampai sekarang kitab Sirah Ibnu ishaq tetap menjadi referensi umat islam.
  • Katsir Al Muzanni adalah perawi yang sangat dhaif dan ini dinyatakan oleh banyak ulama sampai-sampai Imam Syafii menyebutnya “Tiang Kebohongan”(ini celaan paling jelek dalam Jarh wat Ta’dil). Anehnya Imam Tirmidzi berhujjah dengan hadis Katsir.
  • Imam Ahmad ibn Hanbal menggugurkan keadilan Ubaidullah ibn Musa al Absi hanya karena ia mendengarnya menyebut-nyebut kejelakan Mu’awiyah ibn Abu Sufyân. Tidak cukup itu, ia (Ahmad) memaksa Yahya ibn Ma’in agar menggugurkan keadilannya dan menghentikan meriwayatkan hadis darinya.
Pembukuan berbeda dengan penulisan. Seseorang yang menulis sebuah shahifah (lembaran) atau lebih disebut dengan penulisan. Sedangkan pembukuan adalah mengumpulkan lembaran-lembaran yang sudah tertulis dan yang dihafal, lalu menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku
.
Pada masa Rasulullah SAW masih hidup belum ada Hadist-hadist  sunni yang terkumpul apalagi dibukukan. Pada masa Khulafaur Rasyidin yaitu setelah Rasullullah wafat, para sahabat mulai menyampaikan pesan-pesan Hadist Nabi SAW. Namun Hadist-hadist sunni  tersebut masih belum terhimpun. Hadist-hadist tersebut berada pada hafalan atau ingatan para Sahabat
 .
Saudaraku, ada dua cara meriwayatkan Hadist pada masa Sahabat
 .
1.  Riwayat sesuai  dengan lafadz asli sebagaimana dari Rasullulah SAW. (riwayat secara lafadz). Cara ini ada yang di sebabkan para Sahabat mendengar langsung apa yang diucapkan Nabi SAW atau yang diperbuatnya. Ada juga yang sudah melalui perantara Sahabat Nabi, Karena tidak mendengar atau menyaksikan langsung .Jika dibolehkan perawi pertama menukar lafadz yang didengarnya dengan lafadznya sendiri, maka perawi yang kedua tentu boleh melakukan hal yang sama, dan seterusnya perawi-perawi selanjutnya juga boleh melakukan periwayatan bi al-Makna. Apabila hal ini dibolehkan maka kemungkinan hilangnya lafal asli dari nabi menjadi lebih besar, atau setidak-tidaknya akan terjadi kesenjangan dan perbedaan yang mencolok antara ucapan yang diriwayatkan terakhir dengan apa yang dikatakan Nabi saw
 .
2.  Riwayat Hadist secara maknawi. Maksudnya, isi Hadist sesuai dengan apa yang diucapkan atau dilakukan Nabi. Sedangkan lafadz atau bahasanya tidak sama. Hal ini terjadi karena daya ingat para Sahabat tidak sama. Selain itu jarak waktu saat meriwayatkan Hadist dengan apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi sudah cukup lama. Dengan demikian bisa dimaklumi kalau terdapat beragam Hadist yang maksudnya sama tetapi lafadz dan bahasanya berbeda. Sebagian besar sahabat Nabi tidak pandai tulis baca, mereka hanya mengandalkan ingatan, sedang hadis baru ditulis secara resmi jauh setelah Rasul Allah wafat. Dalam kondisi yang demikian sangat mungkin ada lafadz-lafadz hadis mereka meriwayatkan tidak persis seperti yang diucapkan Nabi, karena lamanya hadis tersebut tersimpan dalam ingatan mereka. Karena itu mereka menyampaikan kandungan maknanya dengan lafal dari mereka sendiri
.
Pihak Sunni menerima hadis hadis yang diriwayatkan oleh Khawarij dan golongan Nawasib . Mereka tidak segan segan untuk menshahihkan hadis hadis palsu yang disusun secara sengaja  untuk memuliakan dan menguatamakan Abubakar, Umar, Usman dan loayalisnya. Padahal PERAWi  TERSEBUT dikenal  sebagai nawasib
.
contoh : Ibnu Hajar menyatakan Abdullah bin Azdy sebagai “pembela sunnah Rasul”
Ibnu Hajar juga menyatakan Abdullah bin Aun Al Bisry sebagai “Ahli ibadah pembela sunnah dan penentang bid’ah”
Padahal faktanya mereka berdua membenci Imam Ali dan para pendukungnya

Benarkah banyak hadist sunni yang palsu ?

Syaikh Abul A’la Maududi menyatakan bahwa : “Tidak seorangpun bisa mendakwakan bahwa seluruh hadis Bukhari adalah shahih”

Pihak sunni tidak banyak memperhatikan faktor faktor politik yang mendorong terjadinya pemalsuan hadis. Akibatnya mereka tidak merasa ragu sedikitpun terhadap beberapa hadis, meskipun isinya jelas memberikan dukungan politik terhadap Daulat Amawiyah dan Daulat Abasiyah. Pihak Sunni tidak mampu membedakan mana hadis yang orisinil dengan hadis yang batil

Pihak sunni tidak banyak melakukan kajian mendalam terhadap kondisi sosial yang melingkupi para periwayat atau keadaan pribadinya ataupun hal hal yang mendorongnya melakukan pemalsuan hadis. Seandainya pihak sunni banyak melakukan studi kritik matan dan tidak semata terpaku pada kritik sanad maka pasti Sunni akan menemukan banyak hadis yang sebenarnya palsu

Sunni tidak melakukan studi komprehensif terhadap situasi sosial politik masa itu. Hadis hadis sunni yang saling bertolak belakang membuktikan adanya pemalsuan terorganisir dengan menisbatkan kepada Nabi SAW apa apa yang sebenarnya tidak layak dan tidak sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu atau realitas sejarah yang terkadang bertolak belakang

Sunni merupakan kelompok oposisi penentang ahlulbait semenjak pertemuan Bani Tsaqifah yang berupaya menyingkirkan Ahlulbait dari kursi pemerintahan (kekhalifahan) serta mengisolasi mereka dari pentas kehidupan saat itu. Dengan kata lain kemunculan kelompok Sunni merupakan reaksi terhadap syi’ah yang memihak dan membela kepentingan ahlulbait

Pendukung pendukung Ali AS adalah orang orang ANSHAR dan MUHAJiRiN yang telah Allah SWT sebutkan dalam Al Quran serta Allah utamakan mereka atas sahabat sahabat lainnya. Mereka bersedia mengorbankan darahnya demi untuk membela kebenaran yang menyertai Ali. Sedangkan pendukung Mu’awiyah kebanyakan dari orang orang munafik dan musuh musuh Rasul SAW.

Syi’ah atau Sunni YANG SESAT ??? Syi’ah mengikuti sunnah Nabi SAW yang diwariskan melalui para imam ahlulbait SAW, sedangkan Sunni meninggalkan fikih ahlulbait lalu memilih mengikuti mazhab yang tidak pernah Allah SWT syari’atkan seperti Asy’ari dan Syafi’i  yang selalu penuh dengan kontradiksi

Walaupun ahlulbait sebagai keturunan Nabi SAW lebih paham tentang perilaku Nabi SAW dan tidak ada seorang pun yang dapat melebihi mereka dalam ilmu dan amal karena selama lebih dari tiga abad mereka saling waris mewarisi ilmu dan amal melalui para imam 12, namun pihak sunni tetap saja beribadah menurut mazhab empat yang baru muncul pada abad ke II H yang selalu penuh dengan kontradiksi kontradiksi didalamnya disamping selalu mengembangkan sikap permusuhan dan peperangan pada setiap orang yang mengikuti ahli bait Nabi SAW

Kami (syi’ah) tidak pernah memaksa pihak Sunni untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk merubah pandangannya, mereka bebas untuk memilih keyakinannya sebab mereka sendiri nanti yang akan mempertanggung-jawabkan semuanya dihadapan Allah SWT

Jumlah hadis yang disandarkan pada Nabi SAW pada masa thaghut Umayyah dan thaghut Abbasiyah bertambah banyak, sehingga keadaan nya bertambah sulit membedakan mana hadis yang orisinil dan mana hadis yang dibuat buat. Diriwayatkan bahwa Imam Bukhari mengumpulkan 600 ribu hadis, tetapi setelah mengadakan seleksi maka yang dianggapnya hadis orisinil hanya 6000 an (dengan pengulangan) yaitu hanya 1%. Wow !!!

Setiap hadis yang dihimpun BUKHARI tidak semuanya bersifat AL MUTAWATiRAT. Banyak pula diantaranya yang bersifat Al AHAAD  yakni cuma diterima BUKHARi dari satu orang saja, dan pihak yang menyampaikan hadis itu  kepada Bukhari menyebut nama tokoh tokoh utama sebagai jalur (sanad) hadis tersebut dan berakhir pada sahabat Nabi SAW

Imam Bukhari yang wafat pada tahun 257 H (870 M) tidak pernah berjumpa dengan tokoh tokoh utama tersebut  karena satu persatunya sudah meninggal dunia menjelang masa Imam Bukhari. Sehingga perlu peninjauan dan penilaian kembali atas sesuatu hadis yang dinyatakan shahih oleh BUKHARi, apakah Bukhari sudah terbebas dar kesalahan ???

Isi satu persatu hadis sunni terdapat diantaranya PERTENTANGAN. Padahal tidak masuk akal bahwa Nabi SAW akan mengucapkan  sabda sabda yang saling berlawanan. Kenapa ada hadis hadis sunni yang keorisinilan nya tidak disepakati syi’ah ???

Para peneliti hadis pasti akan menemukan banyak hadis hadis yang disandarkan pada Nabi tetapi pada hakekatnya tidak lain adalah bid’ah yang dibuat oleh sebagian sahabat setelah meninggalnya Rasul disertai upaya pemaksaan pada umat untuk melaksanakannya sehingga ulama sunni kemudian meyakini bahwa itu semua dilakukan oleh Nabi SAW

Tidak heran kalau kemudian hadis hadis bid’ah tersebut bertentangan dengan AL QURAN, apakah Sunnah PALSU dapat menghapus Al Quran ??.. Terlebih lagi Abubakar dan Umar secara terang terangan mengingkari hadis Rasul dengan membakar semua catatan hadis yang ada, akibatnya malapetaka lah yang terjadi kini….

Ketika perbedaan perbedaan itu terjadi dalam empat mazhab fikih sunni maka mereka malah diam saja dan menganggapnya sebagai rahmat karena BEDA PADA FURU’ dan  bukan pada USHUL. Sebaliknya pihak Sunni mencaci maki syi’ah jika mereka berbeda pendapat dalam suatu permasalahan sehingga perbedaan menjadi laknat untuk syi’ah

Lucunya mereka pun hanya mengakui pendapat pendapat Imam mereka saja, walaupun Imam Imam tersebut tidak akan pernah menyamai Imam imam yang suci dalam ilmu, amal dan keutamaan. Tidak heran kalau pihak Sunni kemudian juga menolak hadis hadis yang diriwayatkan para imam Ahlulbait walaupun hadis hadis tersebut shahih… Sekarang renungkanlah pembaca, sikap fanatik buta dari pihak Sunni yang menuduh para perawi hadis dari Imam Imam Ahlulbait sebagai orang orang zindiq.

Contoh :

Nikah mut’ah yang secara jelas telah dihalalkan  oleh Al Quran dan Sunnah Nabi SAW. Akan tetapi pihak Sunni  demi membela ijtihad UMAR yang mengharamkannya menyusun berbagai hadis palsu yang disandarkan pada Nabi SAW dan Imam Ali. Padahal kitab kitab hadis sunni mencatat bahwa PARA SAHABAT mengerjakannya pada zaman Rasul SAW, Abubakar dan Umar hingga Umar mengharamkannya

Hadis hadis sunni yang menghalalkan dan mengharamkan  Nikah MUT’AH sama sama kuat dan sama sama shahih dar segi kekuatan sanad dan matannya, sehingga tidak bisa menjatuhkan satu sama lain. Riwayat riwayat yang di utarakan sunni bertentangan satu sama lain sehingga tidak dapat disatukan. Kenapa hadis hadis yang mengandung kontradiksi  ini terjadi ??

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Muhammad bin Al Hanafiyah :  Sesungguhnya Ali berkata pada Ibnu Abbas : ”Sesungguhnya Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai pada hari khaibar”

Hadis hadis sunni yang menerangkan penghapusan NiKAH MUT’AH (apalagi yang mencatut nama Imam Ali seperti diatas )  tidak  dapat dijadikan HUJJAH  karena hadis hadisnya diriwayatkan oleh perorangan (ahad baik dari kalangan sahabat atau tabi’in) seperti ; Salamah bin Akwa’, Sabrah bin Ma’bad, Abu Hurairah dll yang jumlahnya tidak lebih dari 6 orang

Bagaimana pun juga seluruh ulama sepakat bahwa riwayat perorangan tidak dapat dijadikan sebagai penghapus hukum atau hadis yang mutawatir

Selain itu kita harus meneliti sanadnya, sebab dalam riwayat itu ada perawi yang pelupa yang selalu mengubah atau mengganti apa yang ia riwayatkan.

Jika hadis diatas shahih maka tidak mungkin Umar tidak mengetahuinya, buktinya adalah Umar mengatakan bahwa nikah itu pernah ada pada zaman Rasul dan sekarang saya mengharamkannya dan akan mendera orang yang melakukannya

Fakta sejarah membuktikan bahwa ketika menjadi khalifah pasca Usman, Imam Ali AS pernah melakukan nikah mut’ah dengan seorang wanita dari Bani Nasyhal di Kota Kufah.

Firman Allah SWT : “Maka hendaklah orang orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” (Qs. An Nuur ayat 63)

Firman Allah SWT : “Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul Nya, maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nya” (Qs. Al Ahzab ayat 36)

Firman Allah SWT : “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatannya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu

Dan harus diakui Mu’awiyah berhasil mencapai keberhasilan yang luar biasa dalam menyesatkan umat hingga mereka meyakini bahwa golongannya adalah “AHLUSUNNAH” sementara pengikut pengikut Ali adalah golongan sesat yang telah keluar dari Islam.

Kepentingan politik saat itu tidak memihak ahlulbait Rasul SAW. Mulai dari kekhalifahan  Abubakar hingga puncaknya pada masa Mu’awiyah dan Bani Umayyah. Tidak heran kalau saat itu sesuatu yang salah menjadi benar dan sebaliknya yang benar menjadi salah. Jadilah pengikut Imam Ali sebagai orang orang zindik yang halal darah dan kehormatannya, sementara musuh musuh Allah dan ahlulbait sebagai AHLUSUNNAH

Kalau terhadap Imam Ali saja mereka ( Mu’awiyah cs ) berani mengutuk dan mencaci maki, maka dapat kita bayangkan bagaimana perlakuan yang akan diterima oleh pengikut pengikut Imam Ali yang kebanyakan menemui kematian.

Sosok Mu’awiyah adalah sosok politikus ulung yang licik, kejam dan munafik yang tidak jarang menangis tersedu sedu untuk menarik simpati umat serta menumbuhkan citra bahwa dirinya adalah seorang khalifah yang zuhud dan baik hati.

Abu Zahrah menyatakan : “Pemerintah Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam” (Sumber : Abu Zahrah, Al Imam Al Shadiq, halaman 161)

Mazhab Sunni meyakini bahwa PERKATAAN DAN PERBUATAN SAHABAT merupakan sunnah yang dapat diamalkan dan tidak mungkin bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW walaupun adakalanya perbuatan mereka tersebut tidak lain hanyalah  hasil ijtihad yang disandarkan pada Rasul SAW

Tampaknya pihak sunni tidak mencocokkan hadis hadis para Sahabat dengan AL QURAN, mereka khawatir terbongkar nya pemalsuan pemalsuan hadis yang selama ini mereka lakukan. Mereka sadar bahwa kalau hadis hadis tersebut jika dicocokkan dengan Al Quran  maka banyak yang akan bertentangan, sementara yang sesuai dengan AL QURAN tafsirkan berdasarkan pemahaman mereka sendiri, misal : 12 khalifah Quraisy yang Nabi SAW maksudkan adalah para imam ahlulbait yang suci setelah Nabi SAW wafat, bukan orang orang zalim seperti Mu’awiyah

Imam Ali AS  merupakan satu satunya sahabat yang ketika menjadi khalifah berusaha dengan segenap kemampuannya untuk mengembalikan manusia pada sunnah Nabi SAW. Sayangnya usaha tersebut menemui kegagalan karena MUSUH selalu mengobar kan peperangan untuk mencegah usaha tersebut mulai dari PERANG JAMAL, ShiFFiN, NAHRAWAN hingga pembunuhan terhadap Imam Ali AS

Tidak heran kalau para pengikut Ali yang berada dalam kebenaran menjadi pihak yang salah dan sesat, sementara pihak yang sesat malah menjadi pihak yang dihormati dan dimuliakan. Jadilah pengikut pengikut Ali (Syi’ah Ali) sebagai ahli bid’ah sementara pengikut Mu’awiyah sebagai AHLUSUNNAH WAL JAMA’AH

Pemerintahan Bani Umayyah banyak menyembunyikan fatwa fatwa hukum dari Ali AS. Tidak mungkin mereka yang mengutuk dan mencaci Ali mau meriwayatkan fatwa fatwa hukumnya terutama yang berkaitan dengan dasar dasar hukum Islam

Setelah terbunuhnya Imam Ali  maka Mu’awiyah kemudian memegang tampuk pemerintahan. Dan satu satunya tekad yang ia canangkan sejak dulu adalah memadamkan cahaya agama Islam orisinil dengan segala cara dan upaya serta menghapus SUNNAH NABi yang telah dihidupkan kembali oleh Imam Ali AS dan mengembalikan manusia kepada bid’ah bid’ah sebelumnya yang dirintis oleh Abubakar, Umar dan Usman.

Dan jika kita meneliti buku-buku sejarah secara seksama, kita akan menemukan bahwa PENGUASA Bani Umayyah juga Abbasiyah menggunakan segenap daya untuk mensucikan Abubakar, Umar dan Usman serta menciptakan keutamaan keutamaan dan bukti sahnya kekhalifahan mereka yang dapat menarik simpati umat karena mereka faham bahwa sahnya pemerintahan mereka tidak lepas dari sahnya pemerintahan ABUBAKAR, UMAR dan  USMAN

Dari sinilah kemudian muncul upaya upaya untuk mensucikan khalifah sebelumnya dengan mempropagandakan bahwa semuanya adalah orang orang suci dan adil yang tidak boleh dikritik sedikitpun. Itulah mengapa mereka memilih nama AHLU SUNNAH WAL JAMAAH untuk golongan nya sendiri sementara untuk golongan lain mereka namakan sebagai RAFiDHAH ZiNDiQ hanya karena menolak kekhalifahannya ataupun tidak ikut membai’atnya serta malah mendukung Ali dan ahli bait sebagai sebagai khalifah yang sah

Ulama ulama yang dekat dengan penguasa Bani Umayyah selalu berupaya merubah SUNNAH NABi yang sebenarnya dengan mendukung upaya penyingkiran terhadap Imam Ali dan ahli bait Rasul SAW.

PERPECAHAN SUNNI VS SYI’AH SALAH SATUNYA KARENA HADIS HADiS SUNNI ASWAJA SALING KONTRADIKSI.. DENGAN KATA LAIN BAHWA HADIS HADIS SUNNI TELAH DIUTAK ATIK DAN DIJAMAH OLEH TANGAN TANGAN JAHIL LALU DI CAMPUR ADUK ANTARA YANG BENAR DENGAN YANG BATHIL SEHINGGA PENGANUT SUNNI TIDAK MAMPU LAGi MEMBEDAKAN MANA YANG ASLI DAN MANA YANG PALSU

Sebuah pertanyaan penting yang timbul, bagaimana kita menyikapi hadist-hadist yang simpang siur, yang setiap golongan mempertahankan pendapatnya masing-masing dengan menggunakan dalil-dalil hadistnya.

Jawaban pertanyaan ini pernah saya paparkan kepada seorang teman saya yang telah menjadi mu’alaf. Dia seorang mu’alaf yang tekun mempelajari agama dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tapi saking tekunnya dia malah menjadi bingung sendiri, karena fatwa yang dia dapat berbeda-beda pada setiap pesantren

Inti pertanyaannya adalah bagaimana menyikapi hadist-hadist yg saling kontradiksi dan apakah mengakui hadist itu wajib atau tidak.

Saya menjawab bahwa dialah yang harus memutuskan sendiri jawabannya. Saya hanya bercerita sedikit tentang sejarah hadist. Selanjutnya saya minta agar dia mempergunakan PIKIRAN nya, karena Allah selalu dan selalu menyuruh umatnya untuk BERPIKIR.

Dalam sejarahnya, pembukuan hadist itu secara resmi muncul lebih 200 tahun setelah meninggalnya Rasulullah. Pertama-tama oleh Imam Bukhari (meninggal 256H/870), lalu Muslim (meninggal 261H/875), Abu Daud (meninggal 275H/888), Tirmidzi (meninggal 270H/883), Ibn Maja (meninggal 273H/886), dan al-Nasa’i (meninggal 303H/915).
Semenjak itulah baru Umat Islam menganggap Hadist sebagai sumber hukum Islam setelah alqur’an. Dan bagi umat islam yg tidak mau mengakui hadist akan dianggap menyeleweng, sesat, bahkan kafir.

Dalam pernyataan pembukaannya, Bukhari (yang dianggap sebagai sumber nomor satu dari Hadits shahih) menyatakan bahwa dari hampir 600 ribu Hadits yang ia ketahui pada zamannya, dia hanya dapat memastikan sebanyak 7397 sebagai hadits shahih dari nabi Muhammad. Ini adalah suatu pengakuan dari para pendukung Hadits bahwa sedikitnya 98,76% dari apa yang orang diharuskan untuk percaya sebagai sumber kedua selain Al-Qur’an, dan sebagai salah satu sumber utama hukum Islam, adalah semata-mata suatu kebohongan belaka!

Seharusnyalah PIKIRAN dan LOGIKA kita bertanya :
Apakah yg dipakai oleh umat Islam pada masa sebelum 200 tahun itu?
Apakah hadist2 yg kita pakai sekarang ini.? Tentu saja TIDAK.
Kalaupun ada hadist pada masa itu, tidaklah mungkin dipakai sebagai dasar hukum, karena ada jutaan hadist yang tersebar simpang siur, dan tidak ada yang dapat dipercaya sebagai suatu pegangan. Dan memang pada kenyataannya umat Islam pada masa itu tidak mengangap hadist apapun sebagai pegangan. Mereka hanya berpegang kepada satu2nya hukum, yaitu alqur’an yang suci dan mulia. Yang diturunkan dari sisi Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Lalu apa artinya ini…?
Apakah kita mengangap bahwa kita adalah umat yg lebih baik dari umat2 yg terdahulu.?
Apakah kita lebih baik dari pada umat-umat pada masa sahabat Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan para tabi’in…..?
Apakah umat islam pada masa ini lebih baik dari pada umat2 di masa2 dimana Islam begitu perkasa dan berjaya dan menjadi penguasa lebih dari separo belahan dunia.

Bukankah kenyataanya bahwa umat Islam pada masa itulah yang telah mengeluarkan Eropa dari kegelapan. Bahwa pemerintahan-pemerintahan besar pada masa itu adalah pemerintahan Islam, dan kebanyakan ilmu pengetahuan modern itu berasal dari Islam.
Bahwa akal pikiran yang terbesar dan termaju di segala zaman pada masa itu seluruhnya memandang dengan penuh hormat kepada kebudayaan Islam yang mutiara-mutiaranya tetap tersimpan dan Barat tidak pernah menemukannya.

Bukankah kenyataannya umat-umat Islam pada masa itu, walaupun jumlahnya tidak sebanyak pada masa ini tetapi mereka adalah singa-singa yg perkasa yang menguasai belantara dunia…..?

Dan adalah kenyataannya bahwa umat-umat Islam pada masa ini, walaupun jumlahnya begitu banyak, bahkan di Indonesia saja jumlahnya 200 juta lebih, namun hanyalah kawanan-kawanan kambing yang gampang digiring oleh serigala-serigala kelaparan.

Sangat Ironis bukan….?

Dan kenapa kita tidak juga mau BERPIKIR apakah yang menjadi penyebab semua itu.?

PERPECAHAN UMAT…!

Itulah biang keladinya. Terpecahnya umat ini yang memisahkan dirinya dalam golongan-golongan, mazhab-mazhab, sekte-sekte.

Lalu apa yang menjadi penyebab perpecahan umat ini.?
Tidak lain dari pada munculnya hadist-hadist…!
Masing-masing golongan menganggap hanya hadistnyalah yang benar dan shahih, dan tidak akan mau mengakui hadist-hadist di luar golongannya.

Lalu golongan manakah yang benar sebenar-benarnya.?
Sunni..?
Syi’ah..?
Mazhab Maliki..?
Mazhab Hanafi..?
Mazhab Hambali..?
Mazhab Syafi’i..?
Siapakah yang dapat menjadi hakim untuk menilai kebenaran golongan-golongan itu.?

Lalu hadist golongan manakah yang benar sebenar-benarnya.?
Siapakah yang dapat menjadi hakim untuk menilai kebenaran hadist-hadist itu.?
Kita kah…?
Ulama-ulama kita kah…?

Subhanallah….

Penulis Sejarah menyadari adanya prasangka dari saksi-saksi pelapor suatu peristiwa atau keadaan dan para penyalur yang membentuk rangkaian Isnad. Ia juga harus menyadari kemungkinan adanya kesalahan dan kekeliruan mereka karena kelemahan-kelamahan manusiawai, seperti lupa, salah tanggap, salah tafsir, pengaruh penguasa terhadap dirinya, serta latar belakang keyakinan pribadinya. Suatu rangkaian Isnad yang lengkap , dengan penyalur-penyalur yang identitas orangnya dapat dipercaya, belum bisa menjadi kebenaran suatu berita.

Murthada al-Askari misalnya, telah berhasil menemukan nama 150 orasng sahabat nabi yang fiktif, yang telah dimasukan oleh para penulis sejarah lama sebagai saksi-saksi pelapor. Penulis sejarah semacam ini telah memasukan nama berbagai kota dan sungai yang kenyataannnya tidak pernah ada. Al’ Amin berhasil mengumpulkan nama 700 nama pembohong yang pernah mengada-adakan berita tentang Nabi Muhammad, bahkan ada yang menyampaikan seorang diri beribu-ribu hadis palsu. Diantar mereka terdapat para pembohong Zuhud, yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman tetapi pada pagi hari mulai duduk mengajar dan berbohong seharian.

Sebenarnya para ulama jaman dahulu telah mengetahui cerita fiktif, dan telah mengenal para penulis buku tersebut sebagai pembohong , tetapi karena berbagai sebab, keritik-keritik mereka terhenti ditengah jalan. Kedudukan Ulama makin beralih ke “tugas dakwah” dan “mengabaikan penelitian”. Penelitian dijaman para sahabatpun dilupakan. Ditutupnya pintu ijtihad, telah menambah parahnya perkembangan penelitian sejarah jaman para sahabat dan tabiin, generasi kedua. Sedangkan para ulama terus bertaklid pada ijtihad para imam yang hidup pada masa-masa kemudian.
.

Itulah sebabnya buku-buku yang mengandung hasil studi yang kritis tidak lagi mendapatkan pasaran. Karena “pikiran-pikiran baru” ini akan membuat dirinya terasing dalam kalangannya sendiri dan dari masyarakat yang telah “mantap” dalam keyakinan.

.

Pada abad kedua puluh ini telah muncul para peneliti yang sangat tekun antar lain Syekh Muhammad Ridha al-Muzhaffar dalam bukunya SHAQIFAH dan Abdul Farah Abdul Maqshud dalam buku AS-SHAQIFAH WAL KHILAFAH. Dan buku ini bertujuan untuk melanjutkan penelitian yang telah dilakukan peneliti2 muslim

.

RIWAYAT HIDUP DAN HADIS-HADIS ABU HURAIRAH :
========================================

Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi (bahasa Arab: عبدالرحمن بن صخر الأذدي) (lahir 598 – wafat 678), yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah (bahasa Arab: أبو هريرة), adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits yang paling banyak disebutkan dalam isnad-nya oleh kaum Islam Sunni.

Masa muda

Abu Hurairah berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Ia diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, dan sejak kecil sudah menjadi yatim. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya.

Menjadi muslim

Thufail bin Amr, seorang pemimpin Bani Daus, kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan menjadi muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat itu menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amr ke Makkah, Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk Islam, yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.

Peran politik

Umar bin Khattab pernah mengangkat Abu Hurairah menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu. Saat Umar bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, ia menolak.
Ketika perselisihan terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, ia tidak berpihak kepada salah satu diantara mereka.

Periwayat hadits

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374 hadits. Diantara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain. Imam Bukhari pernah berkata: “Tercatat lebih dari 800 orang perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi’in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah”.
Marwan bin Hakam pernah menguji tingkat hafalan Abu Hurairah terhadap hadits Nabi. Marwan memintanya untuk menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua hadits yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf.
Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa’ Abi Hurairah.

Keturunan

Abu Hurairah termasuk salah satu di antara kaum fakir muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid Nabawi. Abu Hurairah mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi’in terkemuka.

Wafat

Pada tahun 678 atau tahun 59 H, Abu Hurairah jatuh sakit, meninggal di Madinah, dan dimakamkan di Baqi’.
Ada beberapa riwayat yang disampaikan Abu Hurairah sebagai saksi pelapor dalam peristiwa Saqifah. Abu Hurairah pun telah menyampaikan keutamaan2 Abu Bakar dan Umar yang melebihi keutamaan para dsahabat lainnya. Tetapi sehubungan dengan peristiwa saqifah , riwayat sejarah dan hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah harus dipandang dengan kritis karena profil kontroversil tokoh ini.

“Kepribadian Abu Hurairah lemah. Tatkala ia kembali dari Bahrain, Umar bin Khatab memukulnya sampai berdarah, karena Umar menuduhnya menggelapkan uang Baitul Mal . Umar menuduhnya sebagai pencuri, dan menamakannya “musuh Allah dan musuh kaum muslimin. Abu Hurairah ketika itu menjadi gubernur ketiga di Bahrain sesudah Al’ Ala bin Hadhrami, yang kemudian diganti oleh Qudamah bin Madh’un. Umar tidak mempercayai sebuah hadis pun dari Abu Hurairah dan melarang (dia) menyampaikan hadis.”

Kesimpulan :
1. Keputusan Umar Bin Khatab ra ini berdasarkan emosi dan pertimbangan kehawatiran akan akhlak Abu Hurairah yang buruk.( wajar seorang Khalifah memberi instruksi spt ini saat kekuasaannya).
2. Tetapi ini hanya keputusan seorang Umar bin Khatab sebagai Khalifah ….yang TIDAK BOLEH DIJADIKAN PANUTAN UMAT Islam setelah kekhalifahan beliau,…..karena umat hanya boleh mengikuti ucapan risalah hadis Nabi SAW saja, dan sejarah adalah bagian dari kisah pembelajaran UNTUK DIAMBIL HIKMAHNYA.
3. Terbukti ADA BANYAK HADIS Abu Hurairah yang bisa dibilang SAHIH karena sinkron dengan Al Quran (sebagaimana nasihat Nabi SAW).
4. Tetapi TERBUKTI ADA BANYAK PULA HADIS Abu Huarirah yang JELAS PALSU (Madzu/ Dhaif) karena bertentangan dengan Al Quran dan akidah aqal sehat.

5. YANG JADI PERMASALAHAN , …..Siapa dan Bagaimana Cerita KONVERSI KEIMANAN sang Syek Doyan Makan ini…?…….monggo di duga2……mudah cekalii…

BUKTI :
=====
1. CONTOH HADIS YANG SAHIH DARI ABU HURAIRAH KARENA SINKRON DGN AL QURAN DAN AKIDAH ISLAM , SBB :

” Abu Hurairah bertanya kepada Nabi :” Siapa yang paling bahagia dgn syafaatmu ya Rasulallah ?, Nabi menjawab : ” Orang yang mengatakan Tiada Tuhan Selain Allah dan Bersih Hatinya (ikhlas)”.

2. CONTOH HADIS PALSU DARI ABU HURAIRAH YANG BERTENTANGAN DENGAN AYAT AL QURAN DAN JELAS BERSIFAT ” ISRAILIYAT” SBB :

“HR dari Abu Hurairah :” Nabi bersabda ” Kalau Allah memutuskan sesuatu dilangit , maka para malaikat semua “mengepakan sayapnya” dgn merendah diri karena mendengar firman Allah….bla…bla…”

MAKA BUNYI HADIS INI JELAS BERTENTANGAN DENGAN AYAT AL QURAN SBB :

Az’Zukhruf 19 : “ Dan mereka (= Nasrani ) menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan . Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu ? .”

….KITA TAK BISA INGKARI BAHWA KAUM NASRANI KETIKA ITU MENGGAMBARKAN MALAIKAT SEBAGI “TERLIHAT SBG WANITA”( atau tak berjenis kelamin), “BERSAYAP”, atau “BAYI BERSAYAP”….

Setelah Utsman meninggal , Abu Hurairah mem-bai’at Mu’awiyah

Kepribadiannya yang piknikus itu dapat dilukiskan dengan kata-katanya sendiri (yg pernah diucapkan Abu Hurairah) :” Sungguh semarak makan di meja Mu’awiyah, dan sungguh sempurna solat dibelakang Ali bin Abi Thalib. Dan iapun memilih makan dimeja Mu’awiyah . Ia mem bai’at Mu’awiyah sebagai khalifahnya . Lalu hadis-hadisnya pun mulai bermunculan . Yang pertama berbunyi :”Aku mendengar rasul Allah bersabda :” Sesungguhnya Allah mengamanatkan wahyunya kepada ketiga oknum, yaitu saya , Jibril serta Mu’awiyah. Karena doyannya kepada makanan itulah maka orang menamakannya Syekh al’Mudhfrah, ….”Syekh Doyan Makan” . Seluruh hadisnya disampaikan di jaman Mu’awiyah.

Hadis-hadis yang disampaikan Abu Hurairah berjumlah 5.373 buah…dibandingkan dengan seluruh hadis yang disampaikan oleh keempat Khalifah ur Rassyidin, jumlah ini sangat banyak. Abu Bakar misalnya menyampaikan hanya 142 hadis, Umar hanya 537 hadis, Utsman hanya 146 hadis dan Ali hanya 586 hadis, Jumlah semuanya hanya 1.411 hadis , dan itu berarti Cuma 21% dari jumlah hadis yang disampaikan Abu Hurairah seorang diri. Dan jumlah ini hamper sama dengan jumlah ayat-ayat Al Quran. Umar mengancam akan memukulnya, apabila ia membawakan hadis. Ia (Abu Hurairah) sendiri mengaku tidak berani mengucapkan sebuah hadispun di jaman Umar. Ummul mukminin Aisyah mengatakan bahwa ia tak pernah mendengar rasul bercerita seperti apa yang disampaikan oleh Abu Hurairah. Ali menamakannya “Pembohong Ummah”. Demikian juga tokoh-tokoh kemudian, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha mengatakan bahwa sekiranya Abu Huarirah meninggal sebelum Umar, maka Umat Islam tidak akan mewarisi hadis-hadis yang penuh khurafat, isykalat dan israiliyat. (pengaruh Injil).

Abu Hurairah sering menjadi saksi pelapor dari suatu kejadian (sejarah dll)..padahal dia tidak hadir ditempat tersebut. Ia hanya tinggal selama satu tahun sembilan bulan di Suffah Mesjid Nabi di Madinah , yairu antara bulan safar tahun tujuh hijriah, sampai bulan zulkhaidah tahun delapan. Setelah itu ia berada jauh di Bahrain. Tetapi ia telah memberikan laporan –laporan sebagai saksi mata tentang hal-hal yang terjadi pada masa-masa sebelum dan sesudahnya. Misalnya ia menceriytakan bahwa Rasul Allah menyuruh Abu Thalib membaca syahadat tatkala ayah Ali itu sedang menghadapi maut, tetapi Abu Thalib menolak, dan karena itu Abu Thalib meninggal dalam keadaan kafir. Katanya, pada wqaktu itulah turun ayat Al Quran :” Kamu tidak dapat memberi hidayah (kepada) siapa saja yang kamu cintai, tetapi Allah-lah pemberi hidayah (kepada) siapa yang Ia kehendaki. Dan Ia telah mengetahui siapa yang menerima petunjuk.(QS 28:56). Anehnya Abu Thalib meninggal tiga tahun sebelum hijriah, sedangkan Abu Hurairah baru muncul dalam masyarakat Islam tujuh tahun setelah Hijriah, yakni 10 tahun setelah Abu Thalib wafat. Dan ia menyampaikan hadis itu sebagai saksi mata . Maka dapatlah dimaklumi apabila Mu’awiyah memberikannya sejumlah uang kepadanya untuk hadis tsb. Banyak sangat hadis Abu Hurairah seperti itu.

TERHILAFKAN/ TERKONTAMINASI KEDALAM KARYA2 BUKHARI DAN MUSLIM

A. Hadis-hadis Israiliyat banyak disampaikan Abu Hurairah. yang berakibat kehilafan manusiawi pengumpul hadis sekian abad kemudian seperti Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya antara lain meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Allah menciptakan Adam seperti bentuk (shurah) Allah, dengan panjang badan 60 hasta (27 m)” Dan tambahan via jalur Sa’id bin Musib :” Lebar badan Adam 7 hasta (dzira), yaitu 2,15 m”. Melalui jalur lain dengan lafal yang lain :” Bila dua orang berkelahi, maka hindarilah memeukul wajahnya, karena Allah membentuk Adam menurtu bentuk-Nya”. Melalui jalur lain lagi , ada yang berbunyi :” Bila memukuil orang , hindarilah menampar wajahnya, dan janganlah berkata :” Mudah-mudahan Allah memburukan wajahmu”, sebab wajah Allah adalah SAMA dengan wajahmu, sebab sesungguhnya Allah membebntuk Adam menurut wajah-Nya.

B. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam sahihnya, dari Abu Hurairah :” Rasul bersabda :” Malaikat maut datsang kepad Musa dan bersabda :” Penuhilah kehendak Tuhanmu !”, maka Nabi Musa pun menampar mata malaekat Maut, sehingga biji mata Malaekat Maut keluar dari rongganya. Maka Malaekat Maut kembali kepada Allah dan berkata :” Sesungguhnya Engkau mengutus kepada hamba-Mu yang tiada menghendaki kematian dan ia mencopot mataku”. Maka Allah mengembalikan biji mata Malaekat Maut kedalam tempatnya semula. Dan berkata :” Kembalilah kepadanya dan katakan agar ia meletakan tangannnya diatas punggung seekor sapi , maka umurnya akan bertambah satu tahun untuk setiap bulu sapi yang melekat ditangannya”. Nabi Musa kemudian bertanya kepada Allah :” Sesudah itu bagaimana ?”. Allah menjawab :” Sesudah itu mati”. Maka Musa bekata :” Jika demikian, maka lebih baik aku mati sekarang saja”. Ia lalu memohon kepada Allah agar ia didekatkan ke tanah suci, sejauh lemparan batu”.

C. Bukhari dan Muslim menulis dalam sahihnya berasal dari Abu Hurairah :” Rasul bersabda :” Bani Israil suatu ketika serdang mandi telanjang dan saling melihat aurat mereka. Dan Nabi Musa tidak akan mandi bersama mereka, karena (beliau malu) kemaluannnya besar, ia menderita hernia (burut).”. Suatu ketika Nabi Musa pergi mandi dan meletakan bajunya diatas batu , maka batu itupun berlari membawa bajunya . Dan setelah Musa menjamah bekas tempat batu itu , dia baru sadar dan melihat batu yang lari . Ia pun keluar dari tempat pemandiannnya dengan telanjang bulat dan mengejar batu itu, sambil berteriak :” Wahai batu , bajuku !! Wahai batu, bajuku !!”. Makam orang Israil pun melihat kearah kemaluan nabi Musa (pen : aneh, tak ada cerita insting menutupi dengan tangannya) dan berkata :” Demi Allah, Musa tidak menderita penyakit”. Maka batu itupun muncul kembali dari persembunyiannya, sehingga terlihat oleh Musa dan Musa lalu mengambil pakainnya . Ia kemudian menampar batu itu sehingga meninggalkan bekas pada enam atau tujuh tempat”.

D. Muslim meriwayatkan dalam sahihnya dari Abu Huarirah :” Allah menciptakan bumi pada hari Sabtu dan menciptakan Gunung pada hari Minggu, menciptakan pohon pada hari Senin, menciptakan yang jelak-jelek pada hari Selasa , menciptakan cahaya pada hari Rabu, menyebarkan hewan-hewan pada hari Kamis, dan menciptakan Adam a.s pada hari Jumat, sesudah waktu Asar , sebagi ciptaan terakhir dan pada hari yang terakhir , serta saat yang terakhir, yaitu (waktu) diantara waktu Asar dan Malam”.

———————————————————-
NAH…INI DIA BUKTI YANG PENULIS CARI2, YANG MENYEMBUHKAN KEPALA YANG PUSING, MEMPERTANYAKAN KEGANJILAN BUNYI SUATU HADIS DALAM “SAHIH” BUKHARI DAN “SAHIH” MUSLIM. TERNYATA LABEL “SAHIH” TERSEBUT BUKANLAH ATAS KESEPAKATAN UMAT DAN ULAMA. TETAPI HANYA KEHENDAK ATAU KHILAF PRIBADI ATAU KEJAHILAN SEMENTARA ORANG…OK,
Semoga Allah SWT tetap melimpahkan rachmat dan hidayahnya kepada Imam Bukhari dan Imam Muslim atas jerih payahnya selama ini dan semoga beliau di akhirat dapat menyaksikan generasi penerusnya “MEMBERSIHKAN” nama baik mereka…amin.
———————————————————-
HAL KEUTAMAAN PARA SAHABAT

A. Abdulah Faraj ibn Jauzi meriwayatkan dari Abu Huraihar : “ Rasul Allah menceritakan kepada saya , Surga dan Neraka saling membanggakan diri . Neraka berkata kepada Surga :” kedudukanku lebih agung dari pada kedudukanmu, ditempatku berdiam Fir’aun, raja-raja dan para penguasa yang jahat, serta kelaurga mereka, Lalu Allah mewahyukan kepada Surga agar ia berkata kapada Neraka :” Tetapi keagungan itu ada padaku, karena Allah telah menghiasi aku dengan Abu Bakar”.

B. Abdul Abbas al- Walid bin Ahmad al-Jauzini menyampaikan dari Abu Hurairah :” Saya mendengar Rasul Allah bersabda bahwa Abu Bakar mempunyai sebuah kubah dari permata putih, berpintu empat. Melalui pintu-pintu itu hemnbusan angin rakhmat . Diluar kubah terdapat pengampunan Allah dan didalam kubah terdapat keridhaan Allah. Setiap kali Abu Bakar merindukan Allah , maka pintun akan terbuka dan dia dapat melihat Allah.”.

C. Ibn Habban meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Aku mendengar Rasul Allah bersabda :” tatkala aku bermikraj ke langit , aku tiada menemukan sesuatu dilangit, kecuali aku bertemu dengan tulisan “ Muhammad Rasul Allah, Abu Bakar Shiddiq “.

D. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah :” Setelah salat subuh Rasul Allah menemui orang banyak , maka berkatalah seorang gembala sapi, bahwa tatkala ia mengembala sapi maka ia telah memukul sapinya, dan tiba-tiba sapi itu berkata :” Kami tidak diciptakan untuk diperlakukan seperti itu, kami diciptakan untuk membajak”. Maka orang itu berkata :” Subhanallah sapi bicara”. Maka Rasul Allah bersabda :” Sesungguhnya Aku percaya akan apa yang dikatakannnya, aku, Abu Bakar dan Umar. Padahal Abu Bakar dan Umar tidak hadir diantara kami. Dan seorang diantara kami berkata, bahwa tatkala seseorang sedang mengembala kambing, ia bertemu dengan seekor Srigala yang sedang membawa seekor Kambing. Tatkala ia menuntut kambing itu dari Srigala , maka tiba-tiba Srigala itu berkata :” Rebutlah dariku kalau engkau sanggup, Bukankah hari ini Hari Binatang Buas, hari yang tiada seorang boleh mengembala, kecuali diriku ?”. Maka orang itupun berkata :” Maha suci Allah, Srigala berbicara”. Maka Rasul bersabda :” Sesungguhnya Aku percaya akan apa yang dikatakannnya, aku, Abu Bakar dan Umar. Padahal mereka berdua ,Abu Bakar dan Umar tidak hadir diantara kami”.

Para penulis muslim dijaman dahulu telah melihat kelemahan2 hadis Abu Hurairah. Para peneliti sudah tahu Abu Hurairah mendapatkan kisah-kisah Injil Perjajnjian Lama dari Ka’ah al-Ahbar selama hampir tiga puluh tahun persahabatan diantara keduanya, sebelum dia menyampaikan hadis2nya dijaman Mu’awiyah.

Para peneliti juga mengetahui bahwa Mu’awiyah politikus yang ulung itu telah memerintahkan mengumpulkan “para sahabat” , agar menyampaikan hadis2 yang mengutamakan para sahabat Abu Bakar, Umar, Utman untuk mengimbangi keutamaan Abu Thurab (Ali bi Abu Thalib). Untuk itu Mu’awiyah memberikan imbalan berupa uang dan kedududkan kepada mereka .

Abul Hasan ‘ Ali bin Muhammad bin Abi Saif al-Mada’ini, dalam bukunya Al- Ahdats, mengutip sepucuk surat Mu’awiyah kapada bawahannya sbb:

“ Segera setelah menerima surat ini , kamu harus memanggil orang-orang . agar menyediakan hadis-hadis tentang para sahabat dan Khalifah. Perhatikanlah, apabila seseorang Muslim menyampaikan hadis tentang Abu Turab (Ali), maka kamupun harus menyediakan hadis yang sama tentang sahabat lain untuk mengimbanginya. Hal ini sangat menyenangkan saya dan mendinginkan hati saya dan akan melemahkan kedudukan Abu Thurab dan syi’ah-nya”. Ia juga memerintahkan untuk menghotbahkannnya di semua desa dan mimbar.

Dalam hubungannya dengan peristiwa saqifah dan sejarah lainnya, maka kita akan melihat kesamaan berita tersebut meskipun ada perbedaan dalam detilnya. Kecuali berita yang dibuat oleh penulis bernama Sa’if bin Umar ‘Usayyid Tamimi. Ternyata Sa’if bin Umar merupakan satu satunya orang yang menceritakan adanya seorang tokoh yang bernama “Abdullah bin Saba” yang tidak dicatat oleh penulis lainya manapun. Abdullah bin Saba menurut Sa’if adalah seorang Yahudi dari Shan’a , Yaman yang memeluk agama Islam pada jaman Utsman. Ia bergabung dengan kaum Muslim dan mengembara dari kota ke kota.

abu artinya bapak—hurairah artinya kucing jadi abu hurairah artinya bapaknya kucing…kumpul dengan nabi 1 thn 3 bln meriwayatkan hampir 6000 hadis cukup fantastis karena Ali..abu bakar..umar dan usman gabungan dari hadis2 beliau ini jumblahnya kurang dari 1500 hadis ketika ditang aisyah darimana sumbernya abu hurairah menjawab dari kantongnya abu hurairah…di panggail abu hurirah atau bapaknya kucing karena malas bekerja dan kerjanya mengompulkan kucing tiap sore hari mengetuk ruah sahabat untuk minta makanan dgn dalih kucingnya…kare seringnya membawa2 kucing maka dia di panggil bapaknya kucing atau abu hurairah…ini jaman modern teliti aja hadis2nya dan jangan membunuh karakter saudara kita dgn cap syiah dan lain sebagainya beri argumen yang baik kalau kita membelanya..

pada jaman ali terjadi perang antara Ali sebagai Khalifah yang di kenal sebagai Ahlus Sunnah dan Muawiyah yang memberontak tdk mau mengakui ali sebagai Khalifah dan menamakan kelompoknya sebagai Jamaah..berebut pengaruh pada orang-orang madinah untuk segera memutuskan dia berada di pihak yang mana?Ali yang Ahlus Sunnah atau Muawiyah yg menamakan kelompoknya jamaah..?orang-orang madinah pada saat itu mengambil suatu keputusan,bahwa mrk bukan Ahlus Sunnah dan juga bukan Jamaah akan tetapi mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah..inilah sejarah Ahlus Sunnah wal jamaah yang didak mempunyai keberanian mengambil sikap..mana yang benar Ali atau si pemberontak Muawiyah?jawaban mereka benaaaaaaaar semua…yg kemudian kt warisi hingga saat ini….

Quraish Shihab menggugat Bukhari Yang Tidak Berpegang Pada Ahlulbait

Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati

Descriptions

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007

Imam Bukhari  tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq

QS: “Ulama-ulama Syiah juga berkecil hati karena pakar hadits Ahlusunnah tidak meriwayatkan dari imam-imam mereka.. Imam Bukhari, misalnya, tidak meriwayatkan satu hadits pun dari Ja’far ash-Shadiq, Imam ke-6 Syiah Imamiyah, padahal hadis – hadisnya cukup banyak diriwayatkan oleh kelompok Syiah.” (hal. 150)

Ilmu pengetahuan Islam banyak dirugikan, karena pandangan pandangan Syi’ah ditindas.Akibat tuduhan terkait Abdullah bin Saba’ ini,kerugian yang diderita ilmu pengetahuan Sunni  lebih besar daripada yang diderita oleh Syi’ah sendiri, karena sumber fiqih syi’ah  sangat kaya dan berlimpah, cenderung diabaikan, mengakibatkan terbatasnya ilmu pengetahuan. Selain itu, di masa lalu para cendekiawan syi’ah dicurigai. Sunni tidak mendapat  manfaat dari pandangan-pandangan Syi’ah

Bukankah pemimpin Syi’ah, Imam Jafar Shadiq (148 H), adalah guru dua orang Imam besar Sunni? Mereka adalah Abu Hanifah Nu’man (150 H), dan Malik bin Anas (179 H) ?  Imam Abu Hanifah berkata, “Selain dua tahun, Nu’man akan kelaparan.”

Artinya selama dua tahun ia mendapat keuntungan dari ilmu Imam Jafar Shadiq. Imam Malik juga mengakui secara terus terang bahwa ia belum pernah mendapati orang yang lebih terpelajar dalam fiqih Islam selain Imam Jafar Shadiq.

.
Penyimpangan 
Rasul menyebut keduanya (Al Quran dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Penerus nabi adalah orang-orang yang tahu interpretasi ayat-ayat Al Quran sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT

.
Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum Muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini

.
Islam adalah keduanya (Al Quran dan Ahlul Bait) yang tidak akan terpisah hingga akhir zaman, hingga kehadiran Ahlul Bait Rasulullah yang terakhir, Imam Mahdi afs yang dinanti-natikan. Ahlul Bait adalah madrasah yang paling komplit yang mengandung berbagai khazanah ke- Islaman. Madrasah ini telah terbukti menghasilkan kader-kader yang mumpuni dan telah mempersembahkan karya-karya cemerlang bagi kehidupan umat manusia

.
Imam Ja’far Shadiq (fiqh), Jalaluddin Rumi (tasawuf), Ibnu Sina (kedokteran), Mullah Sadra (Filsafat), Allamah Taba’tabai (tafsir) dan Imam Khomeini (politik), sebagian kecil orang-orang besar yang terlahir dari madrasah ini.

***