Mengapa Tuhan tidak diliputi tempat dan tidak dapat dilihat ?

Mengapa dzat Tuhan tidak dapat diketahui?

Poin utama dalam masalah nir-batasnya Dzat Allah dan terbatasnya akal adalah ilmu dan pengetahuan kita sebagai manusia.

Dia adalah wujud mutlak dari segala dimensi. Dzat-Nya, seperti ilmu, kuasa dan seluruh sifat-sifat-Nya, adalah tak terbatas. Dari sisi lain, kita dan seluruh yang bertalian dengan keberadaan kita, seperti ilmu, kuasa, hidup, ruang dan waktu, semuanya serba terbatas.

Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, bagaimana mungkin kita dapat mengenal wujud dan sifat yang mutlak dan tak terbatas? Bagaimana mungkin ilmu kita yang terbatas dapat menyingkap wujud nir-batas?

Ya, dari satu sisi, kita dapat melihat dari jauh kosmos pikiran dan memberikan isyarat global ihwal Dzat dan sifat Allah swt. Akan tetapi, untuk mencapai hakikat Dzat dan sifat-Nya secara detail adalah mustahil bagi kita.

Dari sisi lain, wujud nir-batas dari segala dimensi ini tidak memiliki keserupaan dan kesamaan. Dan ketakterbatasan ini hanyalah Dia; Allah Swt. sebab, sekiranya Dia memiliki keserupaan dan persamaan, maka kedua-duanya menjadi terbatas.

Sekarang bagaimana kita dapat memahami wujud yang tak memiliki kesamaan dan keserupaan? Segala sesuatu yang kita lihat selain-Nya adalah wujud yang mungkin (mumkinul wujud)., sedangkan sifat- sifat wajib al-wujud berbeda dengan -sifat yang lainnya.[1]

Kita tidak berasumsi bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat wujud Allah, tentang ilmu, kuasa, kehendak dan hidup-Nya. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa kita memiliki pengetahuan global tentang hakikat wujud dan sifat-sifat­Nya. Dan kedalaman serta batin seluruh hal-hal ini tidak akan pernah kita ketahui. Dan kaki akal seluruh orang-orang bijak dunia, tanpa kecuali, dalam masalah ini tampak lumpuh:

Pada akal seorang hakim hingga kapan Anda menggapai?

 Tak ‘kan pernah terlintas dalam benakmu jalan ini.

Akal tak ‘kan memahami kedalaman Dzat-Nya,

bilamanakah sampai bongkahan kqyu ke dasar laut![2]

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s. dikatakan: “Diamlah bilamana pembahasan sampai pada Dzat Allah”.[3] Artinya, jangan membahas ihwal Dzat Allah. Dalam masalah ini, seluruh akal buntu dan tidak akan pernah mencapai tujuannya. Berpikir tentang Dzat Nir-batas melalui akal yang terbatas adalah mustahil. Karena segala yang dirangkum oleh akal bersifat terbatas; dan terbatas bagi Tuhan adalah mustahil.

Dengan ungkapan yang lebih jelas, tatkala kita menyaksikan jagad raya dan seluruh keajaiban makhluk-makhluk, dengan segenap kompleksitas dan keagungannya, atau bahkan melihat wujud diri kita sendiri, secara umum,kita memahami bahwa jagad raya ini memiliki pencipta dan Sumber Awal. Pengetahuan ini adalah pengetahuan global yang merupakan tahapan akhir bagi kekuatan pengenalan manusia tentang Tuhan. Namun, semakin kita mengetahui rahasia-rahasia keberadaan, semakin juga kita mengenal keagungan-Nya serta jalan pengetahuan global tentang-Nya semakin kuat.

Akan tetapi, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hakikat Dia? Dan bagaimanakah Dia? Ketika kita mengarahkan tangan ke arah realitas Dzat Allah, kita tidak akan mendapatkan sesuatu selain keheranan dan rasa takjub. Kita akan mengatakan bahwa jalan untuk menuju ke arah-Nya adalah terbuka, dan jalan untuk menyentuh hakikatnya adalah tertutup.

Dengan menyebutkan satu perumpamaan kita dapat menjelaskan masalah ini. Bahwa kita semua tahu bahwa ada kekuatan alam yang disebut sebagai kekuatan gravitasi. Segala sesuatu yang terlepas akan jatuh dan tertarik ke bawah. jika kekuatan gravitasi ini tidak ada, ketenangan dan ketentraman bagi seluruh makhluk di muka bumi tidak akan ada.

Ilmu tentang adanya gravitasi bumi bukanlah sesuatu yang hanya diketahui oleh para ilmuwan saja. Anak-anak yang berakal sehat pun dapat mencerap realitas gravitasi bumi ini dengan baik. Akan tetapi, hakikat gravitasi bumi itu apa, apakah ia adalah gelombang-gelombang frekuensi atau atom-atom atau kekuatan lain?

Dan anehnya adalah gravitasi bumi bertentangan dengan segala sesuatu yang kita kenal dari alam semesta ini. Secara lahiriah, untuk transformasi dari satu titik ke titik yang lain tidak memerlukan waktu yang cukup. Berbeda dengan cahaya yang memiliki gerakan tercepat dalam dunia materi ini. Akan tetapi, ketika mengalami transformasi dari satu titik ke titik yang lain, ia masih memerlukan waktu jutaan tahun lamanya. Namun, gravitasi bumi dapat berpindah dalam satu detik dari satu titik bumi ke titik bumi yang lain dalam waktu yang cukup pendek dan atau sekurang-kurangnya kecepatan yang dimilikinya lebih singkat dari yang kita dengar hingga kini.

Kekuatan macam apakah yang memiliki efek seperti ini? Bagaimanakah hakikat kekuatan ini? Tidak ada seorang pun yang memiliki jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Kita hanya memiliki pengetahuan global tentang kekuatan gravitasi ini sebagai salah satu makhluk. Kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya secara detail. Bagaimana kita dapat menguak ihwal Pencipta dunia materi dan hakikat metafisis yang merupakan wujud nir-batas dan dapat mengetahui kedalaman dzat-Nya?

Akan tetapi, dengan kondisi seperti ini pun kita dapat menyaksikan bahwa Dia selalu hadir, mengawasi setiap tempat dan bersama setiap wujud di alam semesta ini.

Seratus ribu jelmaan yang keluar dari-Mu,

Seratus ribu pandangan aku menyaksikan -Mu.[4]


[1] Makna “air-terbatas” ini tidak dapat kita ilustrasikan. Apabila dipertanyakan bahwa bagaimana kalimat “nir-terbatas” ini digunakan, sementara dengan kalimat ini kita sedang memberikan sebuah kabar dan membicarakan hukum-hukumnya? Memangnya tashdiq (penegasan) tanpa tasawwur (gagasan) dapat terwujud? Jawaban atas pertanyaan ini adalah, dalam menggunakan kalimat ini, kita mengambilnya dari dua singular (kalimat tunggal), na (‘adam) nir yang bermakna tidak, dan mutanahi yang bermakna terbatas. Maksudnya, kedua kalimat ini dapat kita konsepsikan secara terpisah nir dan terbatas. Setelah itu, kita sintesakan satu dengan yang lainnya dan mengisyaratkannya kepada wujud yang tidak tergagaskan dalam benak. Dari pengetahuan tentang wujud ini kita temukan pengetahuan global. (perhatikan baik-baik)

[2] Payam-e Qur’an, jilid 4, hal. 33.

[3] Tafsir Ali bin Ibrahim berdasarkan nukilan dari Nur ats-Tsaqalain, jilid 5, hal. 170.

[4] Payam-e Imam, Syarah Nahjul Balaghah, jilid 1, hal. 91.

Bagaimana Kita Beriman kepada Tuhan Yang Gaib?

Keberatan yang kerap dilontarkan oleh kaum materialis terhadap kaum mukmin adalah bagaimana mungkin manusia dapat menerima dan beriman kepada wujud yang tidak dapat diindra. Anda berkata bahwa Tuhan tidak memiliki jasad, tidak bertempat, tidak memiliki ruang, tidak bercorak dan …. Dengan perantara apa wujud seperti ini dapat diindra? Kami beriman kepada sesuatu yang dapat diindra. Wujud yang tidak dapat diindra adalah wujud yang sama sekali tidak wujud (ada).

Keberatan yang kerap dilontarkan oleh kaum materialis terhadap kaum mukmin adalah bagaimana mungkin manusia dapat menerima dan beriman kepada wujud yang tidak dapat diindra. Anda berkata bahwa Tuhan tidak memiliki jasad, tidak bertempat, tidak memiliki ruang, tidak bercorak dan …. Dengan perantara apa wujud seperti ini dapat diindra? Kami beriman kepada sesuatu yang dapat diindra. Wujud yang tidak dapat diindra adalah wujud yang sama sekali tidak wujud (ada).

Keberatan ini dari dapat dibahas dari beberapa sisi:

1. Sebab-sebab utama alasan penentangan kaum Materialis terhadap subjek ma’rifatullah tampak secara sempurna dalam masalah ini.

Salah satunya adalah kepongahan sains mereka dan menganggap ilmu-ilmu alam (baca: sains) sebagai superior atas seluruh realitas, seperti halnya mengkomparasikan segala sesuatu dengan ukuran ilmu-ilmu itu dan membatasi sarana pemahaman pada ebab-sebab natural dan material. Kita bertanya kepada mereka, apakah ranah aktifitas dan penetrasi seluruh ilmu alam memiliki batasan atau tidak?

Jelas bahwa jawaban atas soal semacam ini akan bernada afirmatif. Karena, wilayah ilmu-ilmu alam adalah seluruh wujud terbatas yang bersifat material, dan selesai. Oleh karena itu, bagaimana mungkin sesuatu yang tidak terbatas dapat diindra oleh instrumen-instrumen alam.

Pada dasarnya, Tuhan dan seluruh wujud metafisis berada di luar wilayah alam. Sesuatu yang telah keluar dari wilayah natural, sekali-kali tidak dapat diindra dan ditafsirkan oleh sebab-sebab natural. Wilayah metafisika bersifat tidak terbatas dengan dirinya sendiri dan tidak dapat dikomparasikan dan dibandingkan ukuran dengan ilmu-ilmu alam, seperti halnya cabang dan spesifikasi beragam ilmu-ilmu alam itu sendiri. Setiap jenis ilmu alam, masing-masing memiliki instrumen dan ukuran-ukuran tersendiri yang tidak relevan dengan ilmu alam yang lain. Ilmu astronomi, anatomi, dan mikro logi, berbeda instrumen-instrumen pengkajiannya.

Seorang ilmuwan materialis tidak akan pernah memberikan izin kepada seseorang untuk bertanya kepada seorang astronom, “Coba Anda buktikan salah satu mikroba dengan menggunakan instrumen-instrumen dan alat kalkulasi astronomi!” Demikian pula kita tidak layak berharap dari seorang spesialis mikroba untuk dapat menyingkap bintang-bintang senja dengan menggunakan instrumen-instrumen mikrologi. Karena, mereka masing-masing hanya dapat digunakan dalam wilayah spesialisasi ilmunya dan tidak dapat digunakan di luar wilayah spesialisasi dan aplikasinya. Mereka tidak dapat berkata positif (iya) atau negatif (tidak) dalam menyampaikan pendapat. Oleh karena itu, bagaimana kita mengetahui kebenaran ilmu-ilmu alam dalam membahas sesuatu yang berada di luar wilayah naturalnya, dengan pertimbangan bahwa wilayah penetrasinya terbatas pada alam, efek dan spesialisasinya saja.

Pada akhirnya, kebenaran yang dapat diyakini oleh seorang ilmuwan ilmu alam adalah sebatas ia dapat mengatakan bahwa, “Dalam masalah metafisika, aku memilih diam, karena masalah itu berada di luar batas pengkajian dan instrumen wilayah kerjaku. Bukan aku mengingkarinya.”

Auguste Comte, salah seorang founding fathers (pendiri) aliran Empirisme dalam bukunya Beberapa Kalimat Tentang Filsafat Empiris berkata, “Karena kita tidak memiliki informasi sejak awal tentang seluruh wujud, kita tidak dapat mengingkari adanya wujud sebelum atau sesudahnya, sebagaimana kita juga tidak dapat membuktikannya”

Pendeknya, Empirisme menghindar dari menyampaikan setiap bentuk pendapat karena ketidaktahuan mereka dalam masalah ini. Demikian juga, ilmu-ilmu cabang yang menjadi fondasi Empirisme harus menghindarkan diri dari bentuk penilaian atas awal dan akhir seluruh wujud. Maksudnya, kami tidak mengingkari ilmu dan hikmah Ilahi serta wujud-Nya, dan kami menjaga diri dalam netralitas; antara penafian dan pembuktian.

Maksud kami adalah, bahwa alam metafisika tidak dapat disaksikan melalui jendela ilmu-ilmu alam. Menurut perspektif Ilahiyah (orang-orang mukmin), secara mendasar bahwa Tuhan yang dapat dibuktikan melalui sebab dan instrumen natural adalah bukan Tuhan.

Karena, sesuatu yang dapat dibuktikan oleh sebab-sebab natural, berada di dalam jangkauan materi dan spesialisasi ilmu­ilmu alam. Dan bagaimana wujud materi dan natural dapat diyakini menjadi pencipta materi dan alam?

Dasar keyakinan orang-orang beriman adalah bahwa Tuhan bebas dari segala bentuk materi dan aksiden-aksiden materi. Dan sekali-kali Ia tidak dapat dicerap melalui instrumen­instrumen materi.

Oleh karena itu, jangan pernah kita menantikan bahwa Pencipta seluruh wujud semesta dapat dilihat pada kedalaman langit melalui alat mikroskop dan teleskop. Pengharapan dan penantian ini adalah tidak pada tempatnya.”

2. Tanda-tanda-Nya

Secara umum, instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengenal setiap wujud di jagad ini adalah melalui efek­efeknya. Kita hanya dapat mengenal setiap wujud dari efek-efek yang ditimbulkan dari setiap wujud tersebut, termasuk wujud­wujud yang dapat kita cerap melalui persepsi dan indra. Wujud­wujud ini juga kita kenal melalui efek-efeknya. Karena, tidak satu pun wujud yang tidak akan pernah masuk ke dalam pikiran kita, dan mustahil otak kita menjadi wadah seluruh wujud.

Sebagai contoh, sekiranya Anda hendak menentukan sebuah benda dengan mata dan mencerap wujud benda tersebut, pada mulanya, Anda letakkan mata Anda di hadapan benda yang telah Anda perkirakan letaknya, cahaya memendar di atasnya, dan dari bola mata, pendaran-pendaran cahaya itu akan terefleksi pada area khusus yang bernama retinoscopy. Kemudian, syaraf-syaraf indra penglihatan menangkap cahaya tersebut, dan sampai kepada otak dan lalu benda itu dapat dicerap oleh manusia.

Apabila hal itu dilakukan dengan jalan meraba, dengan syaraf di bawah kulit, benda tersebut memberikan informasi kepada otak lalu dicerap oleh manusia.

Kemudian pencerapan satu benda dari efeknya (warna dan suara) memberikan efek kepada indra peraba dan manusia tidak akan pernah meletakkan benda tersebut pada kapasitas otaknya. Dan sekiranya tidak ada warna, dan atau pencerapan tidak bekerja, ia tidak akan pernah mengenal benda tersebut.

Uraian ini harus kita sempurnakan. Satu efek telah memadai untuk dapat mengenal satu wujud,. Umpamanya, untuk dapat mengetahui apa yang pernah terjadi sepuluh ribu tahun silam pada suatu titik bumi, cukup kita menyingkap satu cerek keramik atau satu senjata yang telah berkarat dan mengadakan pengkajian mendalam atas efek-efek ini. Dari efek ini kita dapat memahami keadaan-keadaan dan desain kehidupan serta pemikiran masyarakat kala itu.

Dengan memperhatikan bahwa setiap wujud materi atau non-materi dapat dikenal melalui efek-efeknya, dan bahwa meneliti satu efeknya akan memadai untuk mengenal satu wujud, lalu apakah seluruh wujud -yang penuh dengan misteri dan rahasia yang menakjubkan di seluruh penjuru alam semesta yang membentang ini- tidak memadai bagi kita untuk dapat mengenal Tuhan?

Untuk dapat mengenal satu wujud, cukup bagi Anda meneliti satu efek darinya, dan itu sudah memadai. Dari satu cerek keramik, setidak-tidaknya bagian dari kondisi masyarakat ribuan tahun silam dapat diketahui. Sekarang kita memiliki efek yang tidak terbatas, wujud yang tidak terbatas, dan sistem yang tidak terbatas. Apakah segala efek yang ada ini tidak memadai bagi kita untuk dapat mengenal-Nya?! Anda saksikan pada setiap sudut jagad terdapat tanda-tanda kekuasaan dan ilmu-Nya. Masihkah Anda berkata, “Kami tidak melihatnya dengan mata, kami tidak mendengarnya dengan telinga, kami tidak menyaksikannya melalui pisau anatomi, dengan teleskop!” Memangnnya mata diperlukan untuk segala sesuatu?

3. Kasat mata dan non-kasat mata

Untungnya alat yang diberikan oleh ilmu-ilmu sains adalah alat terbaik untuk menafikan keyakinan kaum materialis.

Kalau dulu seorang ilmuwan dapat berkata, “Kami tidak dapat menerima sesuatu yang tidak dapat dicerap oleh panca indra. Namun, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang sedemikian berkembang telah terbuktikan, bahwa wujud yang bersemayam di alam semesta adalah tak terindra, Berdasarkan penelitian, derajat yang kini telah dapat dicerap semakin bertambah. Dalam relung alam semesta, karena banyaknya wujud yang tidak dapat dicerap indra, wujud-wujud yang telah dicerap – dibandingkan dengan wujud-wujud yang belum dapat dicerap­bernilai kosong.

Sebagai contoh, beberapa kasus di bawah ini kita renungkan bersama:

a. Dalam ilmu fisika, para ahli fisika berpendapat bahwa dasar warna tidak lebih dari tujuh warna. Warna yang pertama adalah merah dan yang terakhir adalah warna ungu. Akan tetapi, di balik itu semua terdapat seribu satu macam warna. Kita tidak dapat mencerap seribu satu macam warna ini. Dan mereka beranggapan bahwa beberapa hewan barangkali dapat melihat warna-warna tersebut.

Sebab perkara ini adalah jelas. Karena, warna dapat terlihat dari efek gelombang cahaya. Artinya, cahaya matahari dengan cahaya-cahaya yang lain tersusun dari warna-warni yang beraneka ragam. Aneka warna-warni inilah yang membentuk warna putih. Lantaran cahaya ini berpendar menyinari benda, benda yang tersinari tersebut mencerna bagian-bagian yang beragam dari warna-warni pada dirinya. Dan sebagian lainnya dipantulkan. Warna-warni yang dipantulkan ini adalah warna­warni yang kita saksikan. Oleh karena itu, benda-benda yang berada dalam kegelapan tidak memiliki warna.

Perubahan dan keragaman warna dihasilkan dari kuat dan lemahnya gelombang cahaya. Artinya, apabila gelombangnya kuat hingga mencapai 458 ribu miliar per detik, akan terbentuk warna merah. Dan pada gelombang 727 ribu miliar per detik, akan terbentuk warna ungu. Di antara warna ini, terdapat warna-warni yang beragam jumlahnya yang tidak dapat kita cerap dan cerna.

b. Gelombang suara yang dapat kita tangkap hanya pada 16 frekuaensi per detik hingga 20.000 frekuensi per detik. Lebih atau kurang dari hitungan ini, berapa pun jumlahnya, tidak tertangkap oleh pendengaran kita.

c. Gelombang cahaya yang dapat kita cerap dalam setiap detik adalah terhitung dari 458 ribu miliar hingga 727 ribu miliar. Lebih dan kurang dari hitungan ini, berapa pun jumlahnya, tidak dapat kita lihat.

d. Kita semua tahu bahwa bilangan makhluk yang dapat dilihat melalui kaca pembesar (virus dan bakteri) adalah lebih banyak dari jumlah manusia. Makhluk-makhluk tersebut tidak dapat dicerap oleh mata tanpa menggunakan mikroskop dan kaca pembesar. Alangkah banyaknya makhluk yang paling kecil yang hingga kini belum diketahui dan disingkap oleh sains.

e. Satu atom, dengan strukturnya yang tipikal, dan putaran elektron-elektron atas lingkaran proton-proton, dengan kekuatan raksasanya, tidak dapat dicerap dan dilihat oleh setiap indra. Dan setiap benda-benda alam natural terbentuk dari atom. Debu-debu yang kita lihat dengan susah-payah di udara terbentuk dari ribuan atom. Para ilmuwan yang berbicara ihwal atom, pendapat mereka tidak melampaui batas-batas teori dan asumsi, dan sementara itu, tidak seorang pun yang menafikan pendapat mereka itu.[1]

Oleh karena itu, pendapat yang menyatakan bahwa tak terindranya sesuatu adalah dalil atas ketiadaannya, sama sekali tidak dapat dijadikan alasan. Alangkah banyaknya bilangan benda­benda indrawi yang memenuhi jagad ini dan indra kita tidak mampu mencerapnya.

Sebagaimana bahwa sebelum penemuan atom atau wujud-wujud yang memerlukan lup atau kaca pembesar untuk melihatnya (seperti virus dan bakteri), setiap orang tidak berhak menafikan keberadaan wujud-wujud tersebut. Alangkah banyaknya bilangan wujud lain yang masih luput dari pandangan kita. Dan sains hingga kini masih belum dapat menguaknya untuk menyingkap rahasianya. Akal kita sekali-kali tidak memperkenankan kita -dalam kondisi seperti ini (keterbatasan sains dan impotensinya dalam mencerap wujud-wujud tersebut)­untuk berpendapat; menafikan atau menetapkannya.

Konklusinya adalah jangkauan indra dan instrumen­instrumen alam bersifat terbatas, dan kita tidak dapat membatasi semesta ini hanya pada indra dan instrument-instrurnen tersebut.[2]

Jangan sampai Anda berpikiran bahwa sebagaimana elektron dan proton-proton atau sebagian warna telah tersingkap dengan peralatan ilmiah dewasa ini, dan dengan kemajuan sains, kita akan dapat menyingkap segala ketidaktahuan, mungkin suatu saat alam metafisika dapat disingkap dengan instrumen-instrumen dan sebab-sebab natural!

Hal ini tidak mungkin dapat terwujud. Karena -sebagaimana telah kami jelaskan- dunia metafisika tidak dapat ditempuh melalui jalan-jalan natural dan material. Secara umum, jalan-jalan natural dan material ini keluar dari ranah aktifitas sebab­sebab materi.

Maksudnya, sebelum menyingkap dan mencerap wujud­wujud ini, tidak sah bagi kita untuk mengingkarinya dan kita tidak berhak untuk menghukuminya dengan alasan bahwa kita tidak dapat mencerapnya. Sebab-sebab natural tidak akan menunjukkan wujud-wujud ini kepada kita, sains tidak dapat membuktikannya kepada kita, dan… Kita mengetahui dengan niscaya ketidakmampuan sebab-sebab natural dan sains ini. Demikian juga dalam hubungannya dengan dunia metafisika, bahwa kita tidak dapat menafikannya.

Oleh karena itu, kita harus melepaskan metode-metode salah ini, sambil dengan teliti menelaah dalil-dalil rasional orang-­orang mukmin. Baru setelah itu kita menyampaikan keyakinan kita. Niscaya akan mendapatkan konklusi yang positif.[3]


[1] Di antaranya segala sesuatu yang bersifat non-indrawi. Tidak satu pun dari realitas benda-benda tersebut yang terkuak bagi para ilmuwan. Planet bumi memiliki gerakan-gerakan yang beraneka ragam. Misal, gerakan pasang-surut yang memasuki kortex planet bumi. Dan akibat pengaruh dari gerakan pasang-surut tersebut, sehari dua kali tingkatan permukaan (surfoce) bumi di bawah kaki kita akan naik seukuran 30 centimeter. Dan tidak satu pun tanda-tanda yang dapat menuntun kita untuk dapat mengetahui gerakan ini. Yang lainnya, udara yang berhembus di seputar kita, yang nota-bene memiliki beban dan berat yang sangat besar, dan badan manusia mampu memikul seukuran 16 ribu kilogram dari berat dan beban udara tersebut. Tentu saja, tekanan ini akan dinetralkan ketika berhadapan dengan tekanan internal badan yang bagi kita bukanlah sesuatu yang merisaukan. Disini pun, tidak seorang pun yang membayangkan bahwa udara memiliki berat dan beban. Sebelum masa Galileo dan Pascal, masalah ini masih misterius bagi seluruh manusia. Dan kini, meskipun sains memberikan kesaksian atas validitas perkara ini, akan tetapi indra kita tidak dapat merasakannya, Dan kebanyakan dari ilmuwan ilmu alam mengakui keberadaan wujud segala sesuatu yang bersifat nonindrawi. Contohnya, keberadaan ether -sesuai dengan keyakinan para ilmuwan ilmu alam- yang memenuhi segala tempat di alam tabiat ini dan sebagian orang beranggapan bahwa ether ini merupakan sumber seluruh maujud. Mereka menguraikan bahwa ether ini merupakan wujud yang tanpa beban, tanpa warna dan … yang memenuhi seluruh planet dan tempat serta merasuk (infiltrasi) ke dalam seluruh benda, dan tentu saja tidak terlihat oleh kita. (Ether, derivasi dari kata Yunani, aitbir yang berarti upper air [meta udara], di atas udara. Dalam chemistry [industri dan ilmu kimia], etber ini adalah sebuah cairan pelarut yang terbuat dari alkohol, tanpa warna dan tanpa beban. Biasanya digunakan untuk membius (anaestasia), dengan formula C2H5OC2H5. Biasa juga disebut sebagai diethyl ether).

[2] Untuk menegaskan perkara ini, tidak ada salahnya kita menukil ucapan Flamariun dalam bukunya “Rahasia-rahasia Kematian”. Ia berkata,. “Manusia hidup dalam ngarai kejahilan dan ketidaktahuan. Dan ia tidak mengetahui bahwa susunan badan manusia ini tidak dapat menuntunnya kepada hakikat-hakikat. Kelima indra manusia ini menipunya dalam segala hal. Dan satu-satunya yang dapat menuntun manusia kepada hakikat dan kebenaran adalah akal, pemikiran dan akurasi ilmiah.” Kemudian ia memulai menjelaskan satu persatu perkara yang tidak dapat dicerap oleh panca indra manusia dan membuktikan keterbatasan setiap indra. Ia berkata, “Oleh karena itu, kesimpulannya adalah bahwa akal dan pengetahuan kita hari ini memberikan hukum pasti kepada kita bahwa terdapat sebagian gerakan-gerakan atom, udara dan benda-benda, serta kekuatan-kekuatan yang tidak terlihat oleh indra pengelihatan kita, dan kita tidak dapat merasakan benda non-kasat mata ini melalui panca indra. Dengan demikian, boleh jadi di sekeliling kita terdapat wujud-wujud yang lain selain atom, udara dan sebagainya; wujud-wujud hidup dan memiliki kehidupan yang tidak dapat kita rasakan. Aku tidak berkata bahwa benda-benda tersebut ada, akan tetapi aku berkata barangkali ia ada. Lantaran kesimpulan dari penjelasan-penjelasan sebelumnya adalah bahwa kita tidak dapat berkata segala yang tidak kita lihat berarti tidak ada. Oleh karena itu, ketika dengan argumentasi-argumentasi ilmiah telah terbukti bagi kita bahwa indra lahir yang kita miliki tidak memiliki kelayakan untuk dapat menyingkap seluruh wujud-wujud yang ada dan acap kali indra ini mengelabui kita serta menunjukkan hal-hal yang bertentangan dengan realitas kepada kita, kita tidak boleh mengkonsepsikan bahwa seluruh hakikat wujud terbatas pada apa yang kita rasakan dan saksikan. Akan tetapi, kita harus percaya yang sebaliknya, bahwa barangkali terdapat wujud yang tidak dapat kita rasakan. Sebelum ditemukannya mikroba, seseorang tidak berkhayal bahwa terdapat jutaan mikroba di sekeliling setiap benda dan kehidupan setiap makhluk yang menjadi medan laga bagi mikroba-mikroba tersebut. Kesimpulannya, indra lahir ini tidak memiliki kelayakan untuk menyingkap realitas seluruh wujud. Dan satu-satunya yang dapat memperkenalkan realitas wujud secara paripurna adalah akal dan pikiran kita. Menukil dari Ala Itlan al-Madzhab Al-Maaddi, hal. 4.

[3] Afaridegar-e Jahan, kumpulan tulisan berharga Ayatullah Makarim Syirazi, hal. 248.

Apa sebenarnya faktor meyakini agama?

Sebagian sosiolog dan psikoanalis materialis Barat dan Timur bersikeras mengatakan bahwa sumber kemunculan agama dan ideologi terhadap ma’rifatullah berasal dari rasa takut dan kejahilan atau faktor-faktor lain yang termasuk dalam kategori ini. Pendapat seperti ini dapat disimpulkan dalam empat asumsi mendasar.

a. Asumsi Kejahilan

Salah seorang sosiolog ternama mengatakan, “Meskipun ilmu dan sains telah berhasil menyingkap pelbagai misterius, namun betapa yang telah tersingkap itu masih kabur di balik tirai ilmu, dan keperluan untuk memahami hal-hal misterius ini telah menyebabkan kemunculan agama.”[1]

Salah seorang filsuf materialis menambahkan bahwa tatkala manusia menatap kejadian-kejadian sejarah, dengan alasan yang sangat jelas mereka membayangkan bahwa ilmu (baca: sains) dan agama adalah dua musuh bebuyutan yang tidak dapat berdamai. Sebab, tatkala seseorang meyakini hukum kausalitas, pada detik yang sama ia tidak dapat memberikan peluang kepada akalnya untuk membayangkan bahwa barangkali terjadi dalam lintasan peristiwa-peristiwa yang menciptakan rintangan dan kendala atas terjadinya sebuah peristiwa.[2]

Sederhananya, mereka hendak mengklaim bahwa ketidaktahuan manusia terhadap sebab-sebab alami telah menyebabkannya berpikir akan adanya kekuatan di luar alam yang menciptakan dan mengatur semesta raya ini. Dengan demikian, tidak terungkapnya faktor dan sebab-sebab alami ini menjadi alasan baginya untuk meyakini keberadaan Tuhan dan agama.

Kesalahan mendasar para penggagas pendapat ini akan terlihat jelas melalui poin-poin berikut ini:

Pertama, mereka membayangkan bahwa beriman kepada keberadaan Tuhan berarti mengingkari hukum kausalitas. Dan kita berlaku sebagai seorang hakim; apakah kita harus menerima sebab-sebab alami tersebut atau menerima keberadaan Tuhan?

Padahal dalam filsafat Islam, meyakini hukum kausalitas dan menyingkap sebab-sebab alami merupakan salah satu jalan yang terbaik untuk dapat mengenal Tuhan.

Kita tidak pernah mengkaji Tuhan di antara ketakberaturan dan kejadian-kejadian yang tak jelas. Akan tetapi, kita menemukan-Nya di antara keteraturan-keteraturan alam semesta. Karena, adanya keteraturan ini merupakan penanda jelas atas wujud satu Sumber Awal bagi alam semesta dan wujud satu Kekuatan yang mengaturnya.

Kedua, mengapa mereka lalai bahwa sesungguhnya manusia semenjak dahulu hingga hari ini melihat adanya sistem yang khas yang berlaku atas jagad raya ini. Menafsirkan sistem ini dengan sebab-sebab irasional tidak mungkin dapat diterima. Dan mereka menganggap keutuhan sistem jagad raya ini sebagai pertanda wujud Tuhan. Akan tetapi, pada masa lalu, sistem ini tidak banyak dikenal orang. Dan semakin maju ilmu-pengetahuan manusia, semakin ia dapat menyingkap seluk-beluk sistem jagad raya ini. Dengan demikian, ilmu dan kemahakuasaan Sumber Awal bagi keberadaan semesta ini akan semakin gamblang .

Atas dasar ini, kita yakin bahwa iman kepada keberadaan Tuhan dan agama relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Dan setiap penemuan baru akan rahasia dan aturan­aturan jagad raya ini merupakan ‘langkah baru untuk pengenalan yang semakin cermat terhadap Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan hari ini dalam rangka mengenal Tuhan tentu tidak pernah dikenal oleh manusia jaman dahulu, lantaran mereka tidak menikmati kemajuan ilmu pengetahuan.

b. Asumsi Rasa Takut

Will Durant, seorang sejarawan ternama Barat, di dalam buku sejarahnya, ketika membahas “Sumber-sumber Agama”, menukil pendapat Luctrius, seorang filsuf Romawi, bahwa rasa takut adalah ibu para dewa! Dan bagian rasa takut yang paling penting ialah rasa takut dari kematian. Atas dasar ini, manusia pertama tidak dapat meyakini bahwa kematian adalah satu fenomena alam. Oleh karena itu, mereka senantiasa menganggap bahwa sebab metafisislah yang menjadi penyebab kematian itu.[3]

Senada dengan teori di atas, B. Russel berkata, “Aku berasumsi bahwa sumber agama -sebelum segala sesuatunya- ialah rasa takut. Rasa takut bersumber dari musibah-musibah alam, dari peperangan dan sebagainya. Rasa takut dari pekerjaan-pekerjaan salah yang dilakukan manusia ketika syahwat mendominasi.”[4]

Kekeliruan asumsi ini akan tampak jelas bila para pendukung asumsi ini sepakat bahwa akar keyakinan kepada Tuhan dan agama tidak memiliki dasar metafisis. Dan tentu saja, harus ditemukan sebuah faktor di alam semesta ini. Sebuah faktor yang akhirnya kembali kepada prasangka dan khayalan belaka. Oleh karena itu, mereka senantiasa melihatnya dalam kerangka cabang dan melupakan kerangka aslinya.

Benar bahwa iman kepada Tuhan memberikan kekuatan spiritual dan ketenangan kepada manusia. Benar bahwa manusia akan bersikap prawira dalam menghadapi kematian dan berbagai perrstrwa pelik yang dialaminya; terkadang berupa sikap pengorbanan. Akan tetapi, mengapa kita lupakan faktor-faktor yang kerap hadir secara telanjang di hadapan mata manusia, yakni sistem semesta yang berlaku atas bumi dan langit ini, kehidupan flora dan fauna, dan keberadaan manusia?

Dengan kata lain, meskipun manusia tidak memiliki ilmu anatomi dan fisiologi atau semisalnya, seketika mencermati struktur mata, telinga, hati, tangan dan kakinya, ia akan melihatnya sebagai sebuah bangunan yang menakjubkan dan kokoh. Bangunan kokoh dan menakjubkan ini niscaya tidak dapat dimengerti bila bersumber dari gejala-gejala aksidental dan faktor­faktor yang tidak masuk akal. Sekuntum bunga, seekor lebah, matahari dan bulan dan alurnya yang tertata apik serta fenomena­fenomena semesta lainnya merupakan contoh gamblang dari kenyataan itu.

kenyataan ini senantiasa hadir di hadapan manusia semenjak dulu hingga kini dan ia merupakan faktor utama adanya iman kepada Tuhan. Lantaran melalaikan realitas nyata ini, akhirnya mereka mencari-cari faktor iman kepada Tuhan dan agama, lalu menyimpulkan bahwa semua itu disebabkan oleh rasa takut dan kedunguan manusia. Atribut yang dapat kita lekatkan kepada mereka adalah “dungu” dalam menghadapi realitas telanjang ini dan “takut” terhadap kemajuan ideologi agama, sebab mereka melepaskan jalan utama dan terang ini, menapakkan kaki di jalan yang tak menentu, serta bersandarkan kepada asumsi­-asumsi yang tak berdasar.

c. Asumsi Faktor Ekonomi

Eksponen asumsi ini adalah mereka yang percaya bahwa kekuatan penggerak sejarah adalah alat-alat reproduksi. Mereka yakin bahwa seluruh fenomena sosial, seperti budaya, ilmu, filsafat, politik, bahkan agama muncul sebagai akibat dari perkara ini.

Untuk menghubungkan kemunculan agama dan masalah­masalah ekonomi, mereka mengajukan penafsiran yang aneh. Di antaranya, mereka berasumsi bahwa menurut kaum imperialis dalam lingkungan sosial, dalam rangka mengenyahkan resistensi dan gerakan massif kaum terjajah, kaum imperialis mencandu mereka dan menciptakan agama. kalimat yang terkenal dari Lenin yang tertuang dalam buku “Sosialisme wa Mazhab” (Sosialisme dan Agama) adalah, “Agama di tengah masyarakat merupakan candu.” Dalam kasus ini terdapat sederet ungkapan yang serupa; terulang-­ulang.

Untungnya, penyokong asumsi ini (kaum sosialis) telah memberikan jawaban sendiri yang ternyata kontradiktif. Ketika mereka berhadapan dengan Islam sebagai gerakan sebuah bangsa tertinggal yang dapat menjungkalkan kaum imperialis seperti kesultanan Sasani, kekaisaran Romawi, para Fir’aun Mesir dan kesultanan Yaman dari singgasana kekuasaan mereka, terpaksa mereka mengecualikan Islam pada batasan minimal kasus ini dari fakta sejarah.

Lebih dari itu, tatkala mereka menyaksikan gerakan dan aksi-aksi Islam menentang kaum imperialis, khususnya pada masa kini, dan berhadapan dengan kekuasaan Timur dan Barat, atau resistensi bangsa Palestina atas kekuasaan Zionisme, mereka tidak memiliki jalan lain kecuali meragukan analisa-analisa mereka sendiri. Biarkanlah mereka terjerat dalam pagar-pagar kesulitan, karena tidak mampu melihat terangnya sinar matahari.

Secara umum, dengan memperhatikan sejarah kemarin dan hari ini, khususnya sejarah Islam, akan tampak bahwa kemunculan agama tidak sesuai dengan asumsi mereka. Tidak hanya candu yang menjadi sebab munculnya gerakan-gerakan sosial yang paling perkasa, akan tetapi masalah-masalah ekonomi juga membentuk bagian dari kehidupan manusia. Dan mendefinisikan manusia pada dimensi ekonomi merupakan kesalahan besar dalam mengenal motivasi dan kecendrungan transendental manusia.

d. Asumsi Kebutuhan kepada Etika

Dalam tema agama dan sains, Einstein berujar, “Dengan sedikit hati-hati, akan menjadi maklum bahwa agitasi dan perasaan-perasaan insani menjadi penyebab munculnya agama yang beraneka dan beragam coraknya…” Setelah menyebutkan asumsi takut, ia menambahkan, tipologi manusia sebagai makhluk sosial juga merupakan salah satu faktor munculnya agama. Seseorang melihat orang tuanya. Kerabat, para pemimpin dan orang-orang besar meninggal dunia. Satu demi satu orang-orang di sekelilingnya berlalu. Setelah itu, harapan untuk terbimbing dengan petunjuk, menyukai, mencintai, bersandar dan bergantung adalah landasan yang membentuk keyakinannya kepada Tuhan.”[5] Dengan urutan seperti ini, Einstein beranggapan bahwa penyebab munculnya agama adalah motivasi moral dan motivasi sosial.

Mari kita kembali menelaah pendapat di atas. Orang­orang yang memberikan asumsi akhlak ini keliru dalam memahami efek dan motivasi. Kita mengetahui bahwa setiap efek tidak mengharuskan adanya motivasi. Boleh jadi tatkala menggali sebuah sumur yang dalam kita menemukan hartu karun. Ini adalah efek. Sedangkan penggerak dan motivasi utama kita untuk menggali sumur ialah untuk mendapatkan air, bukan untuk menemukan harta karun.

Oleh karena itu, adalah benar bahwa agama dapat menenangkan keluh dan derita spiritual manusia. Iman kepada Tuhan dapat melepaskan manusia dari kesendirian tatkala harus kehilangan orang-orang terkasih, sahabat tercinta dan orang-orang besar yang dibanggakan. Iman kepada Tuhan dapat memenuhi segala sesuatu yang lepas dari tangannya dan mengisi kekosongan akibat kehilangan yang dideritanya. Akan tetapi, semua ini adalah sebuah efek, bukan sebuah motivasi.

Motivasi utama agama yang tampak paling logis adalah sebagaimana yang disebutkan sebelumnya; semakin manusia mengamati sistem semesta, semakin ia mengenal kedalaman, kerumitan dan keagungan semesta ini. Ia sekali-kali tidak akan menerima begitu saja akan munculnya munculnya sekuntum bunga dengan segala elegansinya, keajaiban strukturnya, atau matahari dengan seluruh sistem sedemikian agung dan kompleksnya, yang lahir dari rahim semesta yang tak berakal dan pelbagai benturan. Dan berangkat dari sini, manusia bergerak kepada Sumber Awal sistem jagad ini.

Tentu saja kasus lain dengan maksud yang sama dapat membantu, sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya.

Dan anehnya, Einstein sendirilah yang telah mengusulkan asumsi ini. Di tempat lain ia mengubah pernyataannya. Ia mengekspresikan, dengan bahasa yang berbeda, keyakinannya yang teguh terhadap penyebab terjadinya fenomena semesta dan imannya kepada Sumber Awal Yang Agung tersebut. Dan hal ini menunjukkan bahwa ia mengingkari ideologi yang bergantung kepada khurafat-khurafat, bukan kepada sebuah tauhid yang tulus dan bersih dari segala bentuk khurafat.

Ia menuturkan, “Sebuah makna real dari keberadaan Tuhan di balik imaginasi-imaginasi yang secuil telah ditemukan oleh mereka.” Kemudian, Einstein dan para ilmuwan besar lainnya menamakan keyakinan mereka sebagai sebuah jenis keyakinan yang disebut “perasaan religius penciptaan” atau “perasaan religius keberadaan”. Dan di tempat lain, disebut sebagai “takjub yang mengairahkan dari sistem ajaib dan akurat jagad raya”.

Dan yang lebih menarik adalah penegasannya, “Iman religius adalah suluh bagi jalan pencarian hidup para cendikiawan. “[6]

Tentu saja, dalam masalah ini banyak pernyataan yang dapat dinukil. Sekiranya kita ingin melepaskan dari kendali pena, pembahasan kita akan keluar dari pembahasan tafsir tematik.

Oleh karena itu, kita kembalikan kepada persoalan utama.

Dan pembahasan ini kita akhiri sampai di sini. Kami ingatkan bahwa untuk mengetahui motivasi atau dorongan munculnya agama seyogyanya terlebih dahulu menelaah penciptaan semesta (alasan logis dan rasional), dan selepas itu mengkaji kekuatan magnetis dalam lubuk hati (motivasi fitri), kemudian mengalihkan perhatian kepada Sumber Awal Yang Agung, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya mengenai anugerah-anugerah-Nya yang nir-batas.[7]


[1] Jame’eh Shenashi (Sosiologi), Samuel Kanik, hal. 207.

[2] Dunyae keh Misyenasham, (Dunia Yang Kusaksikan) hal. 57. Begitu aneh apa yang diucapkan oleh August Compte, “Sains telah memisahkan Bapak Semesta dari pekerjaannya dan ia-lah yang menggantikan peran-Nya!” Artinya, dengan menyingkap sebab-sebab natural, tidak ada ruang yang tersisa untuk beriman kepada Tuhan. (Elal e Gerayesh be Maaddigari, hal. 76. Anda juga dapat merujuk buku Kritik Islam Terhadap Materialisme, Syahid Mutahhari, hal. 29-30, terbitan Alhuda Jakarta.)

[3] Tarikh-e Tamaddun, terjemahan edisi Persia dari History of Civilizations, Will Durant, jilid 1, haL 89.

[4] Dunyae keh Misyenasham, hal. 54.

[5] Dunyae keh Misyenasham, hal. 53.

[6] Dunyae keh Misyenasham, hal. 56 dan 61.

[7] Untuk keterangan yang lebih jelas dan luas, Silakan rujuk “Anggizeh-e Peidayesh-e Madzahib” dan Tafsir Payam-e Quran, jilid 2, hal. 44.

Mengapa kita perlu mengenal Allah?

Tidak akan ada gerak tanpa motivasi. Tentu saja upaya untuk mengetahui masalah asal-usul keberadaan semesta juga tidak dapat terlaksana tanpa motivasi dan dorongan. Para filsuf dan ilmuwan menyebutkan tiga faktor fundamental dalam rangka mengenal Tuhan. Faktor tersebut senada dengan apa disinggung secara jelas oleh al-Qur’an, antara lain:

A. Motivasi Akal

B. Motivasi Kasih

C. Motivasi Fitri

A. Motivasi Akal

Setiap manusia pecinta kesempurnaan. Kecintaan ini bersifat substansial dan merata. Hanya saja, setiap orang melihat kesempurnaannya pada suatu hal tertentu, lalu mengusahakannya. Ada sekelompok orang yang, alih-alih mengejar air, mengejar kepuasan dan kesempurnaan semu serta mengira bahwa itu adalah realitas.

Motivasi ini kerap disebut sebagai “naluri mencari keuntungan dan menghindari kerugian”. Lantaran naluri ini, manusia melihat dirinya memiliki tugas untuk menyikapi secara serius hubungannya dengan segala hal yang bertalian dengan nasibnya (dari perspektif untung dan rugi).

Akan tetapi, menyebut kecintaan ini sebagai naluri (gharizah) bukanlah suatu hal yang mudah, karena naluri biasanya digunakan pada hal-hal yang memiliki efek tanpa intervensi pemikiran dalam pelbagai perbuatan manusia atau segala makhluk lainya. Atas alasan ini, dalam urusan dunia fauna, istilah ini juga sering dipakai.

Oleh karena itu, lebih baik kita menggunakan istilah “kecendrungan-kecendrungan transendental” yang digunakan oleh sebagian orang dalam masalah ini.

Secara umum, cinta pada kesempurnaan dan cenderung kepada keuntungan spiritual dan material serta menghindar dari segala bentuk kerugian mengarahkan seseorang untuk meneliti kemungkinan diperoleh atau tidaknya. Yakni, semakin kemungkinan memperoleh keuntungan itu kuat, atau semakin terjadinya kerugian itu besar, penelitian atas masalah ini semakin penting.

Adalah mustahil bagi seseorang yang memberikan kemungkinan tentang suatu perkara yang akan menentukan nasibnya, namun ia tidak memandang dirinya bertanggung jawab untuk meneliti perkara tersebut.

Dalam kategori ini, iman kepada Allah dan pengkajian agama merupakan perkara yang niscaya. Sebab, teks-teks agama banyak memuat persoalan nasib dan persoalan baik-buruk perilaku manusia yang berhubungan erat dengan iman.

Dalam menjelaskan masalah ini, sebagian orang membawakan beberapa perumpamaan. Misalnya, Anggaplah kita melihat seseorang yang berada di persimpangan dua jalan. Kepada dirinya ia berkata, “Tinggal di tempat ini sangat berbahaya, dan memilih jalan ini juga berbahaya, sedangkan jalan yang lain adalah jalan keselamatan.” Kemudian, ia menguraikan indikasi-indikasi dan bukti-bukti untuk keduanya. Tentu, ia perlu meneliti dua jalan di hadapannya itu. Mengabaikan kedua-duanya adalah bertentangan dengan akal sehat!

Kaidah akal ”menghindari kerugian yang mungkin ada” yang popular ini merupakan turunan dari motivasi akal. Kepada Nabi saw., Al-Qur’an menegaskan, “Katakanlah, “Bagaimanakah pendapat Kamu seandainya Al-Qur’an ini berasal dari sisi Allah, kemudian Kamu mengingkarinya, siapakah yang lebih sesat dari orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?”.” (Qs. Fushshilat [41]: 52)

Tentu saja, ayat ini tidak ditujukan kepada mereka yang enggan menggunakan argumentasi logis. Sejatinya, bila ayat ini ditujukan kepada orang-orang keras kepala, pongah, dan fanatik, maka ia menyatakan bahwa sekiranya Anda menolak mutlak akan kebenaran Al-Qur’an, Tauhid dan adanya kehidupan setelah kematian (ma’ad), niscaya tidak ada argumentasi yang dapat menafikan semua kebenaran ini. Dengan demikian, kemungkinan yang tersisa adalah bahwa ajakan Al-Qur’an dan perkara hari kebangkitan sungguh sebuah kebenaran. Pada titik ini, pikirkanlah nasib buruk yang kelak akan Anda hadapi akibat kesesatan dan penentangan tak berdasar yang Anda lakukan terhadap ajakan Ilahi ini.

Pesan ayat ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh para Imam Maksum a.s. dalam menghadapi orang-orang yang keras kepala pada kesempatan terakhir, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dalam Al-Kafi. Marilah kita simak bersama!

Banyak informasi yang telah disampaikan kepada Imam Ash-Shadiq a.s. tentang Ibn Abi AI-Aujah; seorang materialis dan ateis. Sampai akhirnya mereka bertemu di musim haji. Sebagian dari sahabat Imam berkata, “Rupanya Ibn Abi al-Aujah kini telah memeluk Islam”.

Imam berkata, “Ia kini lebih gelap dan lebih buta hatinya. Ia tidak akan pernah menjadi Muslim”.

Tatkala melihat Imam, ia berkata, “Salam Sejahtera, wahai Tuanku!”

Imam menjawab dengan melontarkan pertanyaan kepadanya, “Untuk apa engkau datang kemari?”

Ia menjawab, “Di samping sudah menjadi kebiasaan kami, juga tradisi lingkungan menuntut demikian, aku hendak menyaksikan perbuatan orang-orang ini yang biasa dilakukan oleh para jin; menggundul kepala dan melempar jumrah.”

Imam berkata, “Engkau masih saja tetap sesat dan keras kepala, Wahai Abdul Karim.”[1]

Sebelum Ibn Abi al-Aujah menjawab, Imam segera menukas, “Di musim haji ini, bukanlah tempat untuk berdebat!”

Lalu beliau menepikan aba’ah-nya seraya berkata, “Jika benar seperti yang kau katakan bahwa Allah dan Hari Kiamat itu tidak ada -padahal tidaklah demikian- maka di samping kami adalah orang-orang selamat, engkau juga demikian. Namun, jika benar apa yang kami yakini -dan memang demikian kenyataannya- maka kami termasuk orang-orang selamat, sedangkan engkau pasti binasa.”

Ibn Abi al-Aujah menatap orang-orang yang menyertainya dan berkata, “Di lubuk hatiku yang paling dalam aku merasakan luka. Bawalah aku kembali!” Mereka membawanya pulang. Tidak lama setelah itu, ia meninggal.[2]

B. Motivasi Kasih

Sebuah pepatah mengatakan, “Al-Insan ‘abidul ihsan” (Manusia adalah hamba kebaikan).

Dengan kandungan yang sama, Imam Ali a.s. pernah berkata, “Al-Insan ‘abdul ihsan” (Manusia adalah hamba kebaikan).[3] Pada hadis lain, beliau juga menegaskan, “Bil Ihsan tumlakul qulub” (Dengan perbuatan baik, hati akan tertaklukkan).[4]

Juga sebuah hadis yang dinukil dari Imam Ali a.s. mengatakan: “Wa afdhil man syi’ta takun amirahu” (Lakukan kebaikan kepada siapa saja, niscaya engkau menjadi tuannya).”[5]

Akar dari semua pesan itu dapat dijumpai pada hadis Rasulullah saw., bahwa “Sesungguhnya Allah Swt. telah menjadikan hati takluk kepada siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan murka terhadap siapa saja yang berlaku buruk kepadanya.”[6]

Kesimpulan dari semua itu ialah; barangsiapa berbuat khidmat atau kebaikan kepada orang lain, niscaya ia (penerima kebaikan itu) memiliki kecenderungan untuk mengenal pelaku kebaikan itu dan berterima kasih kepadanya. Dan semakin tinggi nilai sebuah kebaikan, semakin takluk pula hati penerima dan semakin tinggi keinginannya untuk mengenal pemberi kebaikan itu.

Namun, harus diperhatikan bahwa konsep “bersyukur kepada pemberi kebaikan” terlebih dahulu diakui oleh rasa kasih, jauh sebelum dibenarkan oleh akal sehat.

Kami ingin mengakhiri bagian ini dengan sebuah syair dari pujangga Arab ternama sebagai sebuah isyarat kecil;

Berbuat baiklah kepada insan,

Niscaya hati mereka takluk kepada tuan,

Demikianlah insan adalah udak ihsan.

Dalam hadis Imam al-Baqir a.s. dikatakan, “Pada suatu malam, Rasulullah saw. berada di rumah ‘Aisyah. ‘Aisyah bertanya kepada beliau, ‘Mengapa Anda begitu bersusah-payah untuk beribadah padahal Allah Swt. telah mengampuni segala dosa Anda, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang?”[7]

Nabi saw. menjawab, ‘Apakah tidak pantas aku menjadi hamba yang bersyukur?”[8]

C. Motivasi Kasih

Maksud fitrah di sini ialah perasaan-perasaan dan pengetahuan jiwa yang tidak memerlukan penalaran rasional.

Ketika kita melihat sebuah pemandangan yang indah, atau sekuntum bunga yang semerbak mewangi dan warnanya yang mempesona, kita merasakan ketertarikan dan gairah di dalam diri kita. Ketertarikan ini disebut sebagai kecintaan kepada keindahan. Kita tidak memerlukan penalaran untuk mencntai keindahan ini. Ya, cinta keindahan adalah satu dari sekian kecendrungan transendental jiwa manusia.

Upaya mengarahkan diri kepada agama, khususnya mengenal Tuhan, tidak hanya merupakan salah satu perasaan esensial (dzatt) dalam relung jiwa manusia, tetapi juga sebagai salah satu dorongan yang paling kuat dalam fitrah dan jiwa seluruh manusia.

Berdasarkan dalil ini, tidak satu kaum atau bangsa pun, di masa lalu atau kini, yang tidak menjadikan pikiran dan ruh sebagai hakim atas jenis agama atau ideologi. Dan kenyataan ini menunjukkan kemendasaran perasaan mendalam ini.

Al-Qur’an, ketika menuturkan pengutusan nabi-nabi besar, seringkali menandaskan bahwa risalah utama mereka ialah memerangi syirik dan penyembahan berhala, bukan membuktikan keberadaan Tuhan, karena masalah terakhir ini memang telah tertanam di dalam lubuk hati setiap manusia. Dengan kata lain, manusia tidak menuntut masalah ini untuk menanamkannya pada setiap lubuk hati manusia. Akan tetapi, para nabi menuntut bagaimana menyirami pokok masalah itu dan membunuh hama dan belukar yang acapkali membuat kering dan layu pokok tersebut.

Ungkapan “alla ta’budu illallah” atau “alla ta’budu illa iyyaahu” (Jangan sembah selain Allah) diterangkan dalam bentuk penolakan terhadap berhala-berhala, bukan menetapkan keberadaan Tuhan. Pelbagai ucapan para nabi tentang realita ini telah diuraikan dengan jelas di dalam Al-Qur’an, di antaranya dakwah Nabi saw[9], Nabi Nuh[10], Nabi Yusuf[11], dan Nabi Hud[12].

Apakah mungkin seorang ilmuwan yang telah meluangkan waktu dan susah-payah selama puluhan tahun untuk mengenal kehidupan habitat semut, atau ilmuwan yang lainnya dengan cucuran keringat telah menghabiskan waktu selama puluhan tahun untuk meneliti habitat burung, pepohonan, atau ikan-ikan di laut, tanpa tersisa dorongan selain cinta terhadap pengetahuan yang terpatri dalam lubuk hatinya? Apakah mungkin para ilmuwan ini tidak ingin mengenal sumber sejati samudera tak-bertepi ini semenjak azal (primordial) hingga abad (etemal)? Ketertarikan kepada pengetahuan adalah motivasi yang mengajak kita kepada ma’rifatullah (mengenal Tuhan).

Alhasil, Akal kita menuntun kita kepada pengenalan kepada Tuhan ini, rasa kasih menarik kita kepada keinginan untuk itu, dan fitrah kitalah yang mendorong kita bergerak ke arahnya.


[1] Abdul Karim adalah nama asli Ibn Abi al-Aujah. Karena ia mengingkari keberadaan Tuhan, Imam ash-Shadiq as secara khusus memanggilnya dengan nama demikian supaya membuatnya malu.

[2] AI-Kafi, jilid 1, hal. 61, kitab at-Tauhid, bab Hndiits al-’Alam; Tafsir Nemuneh, jilid 20, hal. 325.

[3] Ghurar al-Hikam

[4] Idem.

[5] Biharul Anwar, jilid 77, hal. 421, cetakan Akhundi

[6] Tuhaf al-Uqul, hal. 37, bagian hadis-hadis Nabi saw.

[7] Indikasi kepada ayat pertama surat al-Fath yang dapat dijumpai dengan gamblang pada Tafsir Nemuneh, jilid 22, hal. 18.

[8] Ushul Kafi, jilid 2, bab Syukr, hadis ke-6

[9] QS. Hud[11]: 2.

[10] QS. Hud [11] : 26

[11] QS. Yusuf[12]: 40.

[12] QS. al-Ahqaf[46]: 21.

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

Mengapa mendahulukan selain yang terbaik?

Silahkan menyimak dialog singkat berikut ini:

Husaini Qumi berkata: “Adalah perkara yang masuk akal jika seseorang seperti nabi harus menunjuk pengganti yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya dan menjadi rujukan umat Islam setelahnya, yang mana pengganti itu harus paling pintar dari lainnya, paling tahu dan terbaik dari yang lain.”

Alim Suni: “Ya, aku juga setuju.”

HQ: “Katakan padaku, setelah nabi, siapakah orang yang terbaik di antara sahabat-sahabat nabi?”

AS: “Sebagian ulama Ahlu Sunah menganggap Abu Bakar lebih baik dari lainnya. Namun sebagian lainnya seperti aku berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib as adalah sahabat terbaik nabi.”

HQ: “Lalu mengapa engkau tidak mendahulukan “yang terbaik” dari yang lainnya? Apakah itu masuk akal?”

AS: “Ucapanmu memang benar. Namun apa boleh buat, Tuhan telah berkehendak agar “yang biasa-biasa saja” didahulukan atas “yang terbaik”. Sebagaimana salah satu ulama kita, Ibnu Abil Hadid, dalam mukadimah kitab terkenalnya Syarah Nahjul Balaghah berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mendahulukan “yang biasa” dari “yang terbaik”. (Yakni Abu Bakar atas Ali bin Abi Thalib)””

HQ: “Bagaimana mungkin Tuhan yang melakukannya! Bukankah justru banyak ayat dan riwayat yang menjelaskan kita tentang permasalahan penting ini?

Allah swt berfirman:

“Apakah orang yang memberikan petunjuk kepada kebenaran lebih berhak untuk diikuti ataukah orang yang diberi petunjuk?” (QS. Yunus: 35)

Rasulullah saw juga pernah bersabda: “Orang yang telah mendahulukan seseorang dari orang lain yang lebih baik dari dia berarti telah menghianati Tuhan, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”[1]

Saat anda membangun rumah, apakah anda lebih memilih arsitek yang biasa-biasa saja dari pada arsitek mahir? Atau jika anda ingin belajar, apakah anda memilih guru yang sedang-sedang saja dari pada guru yang benar-benar alim?

Jangan kalian mengaku Tuhan yang telah mendahulukan Abu Bakar atas Ali bin Abi Thalib. Karena Tuhan Maha Adil tidak mungkin mendahulukan selain yang terbaik untuk umat-Nya; hal itu pertentangan dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.”[2]


[1] Al Ghadir, jilid 7.

[2] Dialog Ilmiah, Sayid Ali Husaini Qumi, jilid 2, halaman 155.

Telah berkhianatnya kaum sunni

Abul Hudzail adalah seorang tokoh alim terkenal di Iraq. Ia berkata: “Dalam salah satu perjalananku, aku masuk ke kota Raqqah, salah satu kota di Suriah. Aku mendengar di situ ada seorang gila terkenal karena ucapannya yang menarik.[1]

Aku datang untuk menemuinya. Lalu berlangsunglah dialog antara kami:

Orang gila: “Orang manakah anda?”

Abul Hudzail: “Saya orang Iraq.”

Orang gila: “Wah, berarti anda bukanlah orang biasa. Di mananya Iraq anda tinggal?”

Abul Hudzail: “Bashrah.”

Orang Gila: “Anda benar-benar ahli ilmu dan pengalaman. Siapa nama anda?”

Abul Hudzail: “Namaku Abul Hudzail Allaf.”

Orang Gila: “Wah, anda ahli teologi itu?”

Abul Hudzail: “Ya, betul.”

Tiba-tiba orang gila itu berdiri lalu memintaku duduk di tempat yang lebih nyaman kemudia melanjutkan perbincangan kita.

OG: “Apa menurut anda tentang imamah (ke-Imam-an)?”

AH: “Imamah yang mana ini?”

OG: “Maksudku, menurutmu, siapakah orang yang anda anggap paling layak menjadi pengganti nabi?”

AH: “Orang yang selalu didahulukan nabi dan ditekankan oleh beliau.”

OG: “Siapakah dia?”

AH: “Abu Bakar.”

OG: “Mengapa anda menganggapnya begitu terdepan dari selainnya serta menjadikannya pemimpin anda?”

AH: “Karena Rasulullah saw pernah bersabda: “Jadikanlah orang-orang terbaik di antara kalian sebagai pemimpin.” Dan nyatanya semua orang senang dengan menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah dan pemimpin mereka.”

OG: “Wah, anda telah melakukan kesalahan di sini.

Karena Abu Bakar sendiri di atas mimbar pernah berkata: “Aku adalah pemimpin kalian, padahal sebenarnya aku bukan orang terbaik di antara kalian.”[2]

Kalau semua orang di jaman itu tahu bahwa Abu Bakar bukanlah yang terbaik namun mereka menjadikannya khalifah, maka mereka telah bertentangan dengan ucapan nabi yang kau sebutkan. Namun jika Abu Bakar berbohong tentang perkataannya bahwa ia bukan yang terbaik, maka tidak layak bagi seseorang untuk berbohong di atas mimbar.

Adapun anda berkata semua orang senang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah mereka, itu pun tidak benar juga. Karena saat itu kebanyakan orang-orang Madinah (kaum Anshar) selalu berkata, “Seharusnya satu orang dari kalangan kami (Anshar) dan satu orang dari kalian (Muhajirin) yang menjadi pemimpin.”

Bahkan di kalangan Muhajirin pun banyak yang tidak setuju dengan dipilihnya Abu Bakar sebagai khalifah. Zubair berkata: “Aku tidak membai’at selain Ali bin Abi Thalib.” Abu Sufyan juga berkata kepada Ali (meskipun sebenarnya adalah provokasi): “Aku siap mengumpulkan semua orang untuk membai’atmu.” Salman Al Farisi, Miqdad, Abu Dzar, mereka tidak setuju dengan dipilihnya Abu Bakar.

Wahai Abul Hudzail, jawab pertanyaan-pertanyaanku ini:

1. Katakan padaku, bukankah Abu Bakar pernah berkata di atas mimbar:

“Wahai orang-orang, sesungguhnya dalam diriku ada setan yang telah membuatku lalai dan menguasaiku. Kalau kalian tiba-tiba melihatku marah, maka jauhilah aku.”

2. Katakan padaku, apakah tidak bertentangan jika Rasulullah saw tidak menunjuk penggantinya padahal Abu bakar dan Umar menunjuk pengganti sepeninggal mereka?

3. katakan padaku, mengapa saat Umar menjadikan enam orang sebagai dewan musyawarah untuk menentukan penggantinya berkata bahwa enam orang itu semuanya penduduk surga. Namun ia sendiri berkata setelah itu “Jika ada dua orang dari mereka yang bertentangan dengan pendapat umum, maka keluarkan mereka! Jika tiga orang dari mereka bertentangan dengan tiga orang lainnya, bunuhlah tiga orang yang di dalamnya tidak ada Abdurrahman bin Auf.” Bukankah ucapannya bertentangan? Bagaimana mungkin ia memerintahkan agar penduduk surga dibunuh?

4. Jelaskan juga padaku tentang pertemuan Ibnu Abbas dengan Umar dan dialog mereka; yang mana saat itu Umar sakit karena terkena pukulan, lalu Abdullah bin Abbas mendatanginya dan bertanya: “Mengapa kamu merintih-rintih seperti ini?”

Umar menjawab: “Aku merintih dan kebingungan bukan karenaku, tapi karena aku tidak tahu siapa yang harus menggantikanku.”

Ibnu Abbas berkata: “Kenapa engkau tidak menjadikan Thalhah bin Ubaidillah sebagai pemimpin?”

Umar: “Ia orang yang keras, nabi mengenalnya seperti itu. Aku tidak mau menjadikan orang keras sebagai pemimpin.”

Ibnu Abbas: “Kalau begitu Zubair bin Awwam saja.”

Umar: “Ia orang yang pelit, aku pernah melihatnya cekcok dengan istrinya karena masalah upah.”

Ibnu Abbas: “Bagaimana kalau Sa’ad bin Abi Waqqash?”

Umar: “Ia selalu sibuk dengan kuda dan panah (selalu berkecimpung dengan peperangan). Aku tidak mau orang seperti itu menjadi pemimpin.”

Ibnu Abbas: “Kalau begitu Abdurrahman bin Auf.”

Umar: “Ia adalah orang yang lemah dalam mengatur rumah tangganya sendiri.”

Ibnu Abbas: “Kenapa tidak anakmu saja?”

Umar: “Tidak. Demi Tuhan, orang yang menceraikan istrinya saja tidak bisa bagaimana dapat kujadikan sebagai pemimpin?”

Ibnu Abbas: “Kalau begitu Utsman saja.”

Umar berkata tiga kali: “Demi Tuhan, ya, aku mau menjadikan Utsman sebagai pemimpin.”

Ibnu Abbas bercerita bahwa setelah itu ia diam dan tidak menyebut nama Ali bin Abi Thlaib kepada Umar karena ia tahu permusuhan antara mereka berdua. Sampai-sampai Umar sendiri berkata kepadanya, “Hai Ibnu Abbas, mengapa engkau tidak menyebut nama kawanmu?”

Saat itu Ibnu Abbas menjawab: “Aku setuju jika Ali kau jadikan pemimpin.”

Kemudian Umar berkata: “Demi Tuhan, jika aku menjadikan Ali sebagai pemimpin mereka, ia pasti menuntun umatnya di jalan kebahagiaan dan memasukkan seluruh pengikutnya ke surga.”

Aneh sekali. Umar sendiri mengakui keunggulan Ali bin Abi Thalib namun ia tidak pernah bersedia meyerahkan kepemimpinan kepadanya. Malah ia menyerahkan perkara pemilihan pengganti kepada enam orang.”

Abul Hudzail bercerita bahwa setelah pembicaraan itu usai, orang gila itu mulai terlihat aneh dan kegilaannya kambuh (bertingkah seperti orang gila). Ia menceritakan kisahnya itu kepada Ma’mun. Lalu akhirnya Ma’mun membawa orang gila itu ke istananya dan mengobatinya. Akhirnya Ma’mun sempat menjadi Syiah karena orang gila itu.[3]


[1] Mungkin sebenarnya orang gila itu adalah orang alim yang memang dengan sengaja berpura-pura gila.

[2] Al Uqadul Farid, jilid 2, halaman 347.

[3] Al Ihtijaj, Thabrasi, jilid 2, halaman 317.

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar? Kalau beliau membai’at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.

Pertanyaan ini memiliki dua sisi:

1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

2. Imam Ali as membai’at Abu Bakar.

Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:

1. Hadits Yaumul Indzar: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: “Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?”

Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.”[1]

2. Hadits Manzilah: Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[2] Di riwayat lain disebutkan: “Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.”[3]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.

3. Hadits Tsaqalain: Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.”[4] Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur’an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.

4. Hadits Ghadir: Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: “Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[5]

Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir

Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud “tuan” dalam hadits tersebut berarti “pemimpin”. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: “Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?” Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.

Alasan Imam Ali as membai’at Abu Bakar

Adapun Imam Ali as membai’at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai’at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.

Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.[6] Imam Ali as sendiri berkata: “Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai’at seseorang. Aku pun enggan untuk membai’atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.”[7]

Untuk mengkaji lebih jauh:

1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, Emam Shenashi, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.

2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, Rahbari e Emam Ali as Dar Qor’an va Sonnat, terjemahan Muhammad Ja’far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.”[8]


[1] Muhammad bin Jarir Thabari, Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, Tarikh Ibnu Khuldun, jil. 1, hal. 647; Al-Kamil, jil. 2, hal. 32.

[2] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, Usdul Ghabah Fi Ma’rifati Ash-Shahabah, jil. 3, hal. 601.

[3] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awidh, jil. 3, hal. 1097; Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.

[4] Usdul Ghabah, jil. 1, hal. 490.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida’ Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimashqi, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jil. 5, hal. 210.

[6] Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: “Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.” Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (Qezavat Haye Mohayerol Oqul, Sayid Hasan Muhsin Amin ‘Amili, hal. 37)

[7] Nahjul Balaghah, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.

[8] Amali Thusi, 602/1244.

Alasan Imam Ali as Menolak Dibai’at

Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.[1] Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.

Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.

Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai’atnya, beliau berkata: “Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.”[2]

Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku![3]

Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: “Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.” Lalu ia berkata: “Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai’atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai’at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: “Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.”

Setelah menyinggung masalah bai’at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: “Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: “Carilah orang selainku.”[4]

Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai’at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.

Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: “Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.”

Beliau juga pernah berkata: “Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai’atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.”[5]

Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai’at.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai’atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai’at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Nadzem Zade Qomi, Mazhar e Welayat.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 16.

3. Nashir Makarim Syirazi, Payam e Amirul Mu’minin as, jil. 3.

Hadits akhir:

Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.”[6]


[1] Ghiyats Al-Din, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 92.

[3] Muhammad Taqi Ja’fari, Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah, jil. 16, hal. 90 dan 91.

[4] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 8 dan 7.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 54.

[6] Muhammad Taqi Hindi, Kanzul Ummal, 36419.

Apakah kewajiban Amar Makruf gugur karena resiko bahaya?

Imam Husain as tidak mencelakai diri sendiri

Berangkatnya Imam Husain as ke Karbala, padahal beliau sendiri tahu bahwa ia, keluarga dan kerabatnya akan mati, apakah tidak bertentangan dengan ayat yang berbunyi: “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”[1]?

Penjelasan: berdasarkan ayat di atas, bunuh diri adalah perbuatan yang diharamkan. Perjuangan Imam Husain as adalah apa yang dilarang oleh ayat di atas. Dengan demikian, apakah perjuangan beliau bertentangan dengan ayat tersebut?

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini:

A. Jawaban yang satu ini akan menjadi jelas dengan beberapa pengantar di bawah ini:

1. Menjatuhkan diri ke dalam kehancuran tidak diharamkan secara total. Dalam keadaan-keadaan tertentu justru wajib hukumnya. Misalnya jika agama Islam berada dalam bahaya dan terancam hancur, dan tidak ada cara lain selain mengorbankan diri, maka pengorbanan itu wajib bagi kita. Namun jika tujuan pengorbanan itu bukanlah hal penting atau bahkan tidak syar’i dan masuk akal, jelas kita dilarang untuk menjatuhkan diri ke dalam kehancuran.

2. Menjatuhkan diri ke dalam kehancuran itu diharamkan jika tidak ada tujuan yang jauh lebih penting di baliknya. Namun jika pengorbanan diri dilakukan demi tujuan yang sangat penting, akal pun juga membenarkannya.

3. Kehancuran yang sebenarnya adalah kehancuran yang diakibatkan mengikuti langkah-langkah setan dan hawa nafsu. Namun seorang yang syahid dan gugur di jalan Allah bukanlah orang yang jatuh ke dalam kehancuran. Kesyahidan Imam Husain as dalam membela agama Islam dan menjaganya bukanlah kehancuran yang dimaksud ayat di atas.

Dengan demikian, maka:

Pertama: jika meskipun kita anggap Imam Husain as telah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran, namun dengan melihat kondisi di saat itu, perbuatan Imam Husain as adalah suatu kewajiban. Karena beliau memiliki tujuan yang lebih besar dan lebih penting dari nyawa, yaitu terjaganya agama dan hukum-hukum Allah swt. Perjuangan Imam Husain as bukan saja dibenarkan syari’at, namun akal pun juga mengakui kebenarannya.

Kedua: jihad Imam Husain as melawan Yazid bukanlah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran. Karena gugurnya Imam Husain as dalam melawan Yazid, yakni kesyahidannya, bukanlah kehancuran; kesyahidan dan kehancuran adalah dua perkara yang jauh bertentangan. Kehancuran adalah mati sia-sia. Adapun kesyahidan adalah mati di jalan Allah swt dan penggapaian kebahagiaan sejati.[2] Oleh karena itu sebagian ahli tafsir memaknai ayat tersebut begini: “Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam kehancuran karena menghindar dari kesyahidan yang merupakan hayat abadi.”[3] Yakni jika kalian melarikan diri dari jihad yang diwajibkan Allah swt, berarti kalian telah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran. Namun jika kalian menjalankan kewajiban tersebut, maka kalian telah memilih kehidupan abadi dan terselamatkan dari kehancuran. Jadi, orang yang memilih kesyahidan di jalan Allah swt telah menyelamatkan diri dari kehancuran dan mendapatkan kehidupan suci dan bahagia abadi.

Selama perjalanan Imam Husain as ke Karbala, beliau sering melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam khutbah-khutbahnya untuk menyampaikan pesannya. Suatu saat sekelompok jin menawarkan diri untuk membantu Imam Husain as memenangkan peperangan dengan cara menghancurkan musuh-musuh beliau sebelum perang dimulai. Namun Imam Husain as menolak dan berkata bahwa jika mau menggunakan kekuatan ghaib, beliau lebih kuat dari pada jin-jin.[4] Lalu beliau membaca ayat ini:

“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula).” (QS. Al-Anfaal [8]:42)

Dengan menyampaikan ayat tersebut Imam Husain as menjelaskan bahwa tragedi Asyura adalah tragedi kemenangan dan kehancuran yang harus berlangsung dengan sempurnanya hujjah.

Penjelasannya begini: Imam Husain as ingin orang-orang yang memusuhinya benar-benar menyadari apa yang sedang mereka lakukan, begitu pula sahabat-sahabat beliau. Yang mana dengan demikian mereka memilih kehancuran dan kemenangan dengan pilihannya sendiri lalu hancur dan hidup dengan usahanya sendiri. Di Asyura musuh-musuh Imam Husain as memilih kehancuran atas keinginanya sendiri dan sahabat-sahabat beliau memilih kehidupan abadi bersama pemimpinnya atas kehendaknya sendiri pula. Kebahagiaan di akherat bagi orang-orang yang gugur di jalan Allah swt adalah kebahagiaan abadi. Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah [2]:154)

Dalam peristiwa Karbala telah sempurna hujjah Allah bagi kedua kelompok. Oleh karena itu kebahagiaan abadi kelompok Imam Husain as dan kehancuran nyata musuh-musuh beliau telah dipilih berdasarkan hujjah yang sempurna dan jelas. Jadi, jangankan Imam Husain as, sahabat-sahabat dan kerabat beliau tidak ada yang jatuh ke dalam kehancuran.

B. Perjuangan yang dilakukan Imam Husain as adalah atas perintah Allah swt dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan Rasulullah saw. Fakta ini dapat difahami dengan menengok tujuan-tujuan yang beliau jelaskan sendiri dan juga riwayat-riwayat yang mejelaskan bahwa nabi dan Imam Husain as sendiri benar-benar tahu akan peristiwa Asyura:

1. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an[5] dan juga riwayat-riwayat[6] dijelaskan bahwa memerangi kebatilan adalah suatu kewajiban. Karena tegaknya agama menuntut ditumpaskannya kebatilan dan perjuangan di jalan Allah swt. Perjuangan Imam Husain as tidak lepas dari perkara penting ini.

2. Rasulullah saw sering kali mengkabarkan tentang peristiwa tragis yang akan menimpa cucunya, Imam Husain as. Riwayat-riwayat tentang hal ini tidak hanya disebutkan dalam buku-buku Syiah saja, namun juga dapat ditemukan dalam referensi-referensi hadits Suni. Bahkan tidak hanya jelas sekali makna riwayat itu, namun juga mutawatir.[7]

Rasulullah saw bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku dan mengkabarkan bahwa kelak cucuku Al-Husain as akan terbunuh di tanah tandus Karbala, lalu ia membawakan segenggam tanah itu untukku, lalu berkata bahwa di tanah itu ia akan dikuburkan.”[8]

Dalam riwayat lainnya Rasulullah saw berkata kepada Imam Husain as: “Sesungguhnya bagimu ada suatu tempat di surga yang tak akan tergapai kecuali dengan kesyahidan.”[9]

Diriwayatkan dari Anas bin Harits (orang yang menyertai Imam Husain as hingga meninggal) bahwa Rasulullah saw bersabda: “Cucuku Al-Husain as akan terbunuh di tanah Karbala. Barang siapa melihatnya, maka ia harus menolongnya.”[10]

Oleh karenanya, orang yang tidak menolong Imam Husain as, apa lagi orang yang memeranginya, adalah orang yang memerangi Allah swt dan nabinya.

3. Perkataan dan sikap Imam Husain as sejak awal membuktikan bahwa beliau memilih keputusannya dengan penuh kesadaran. Ia pun yakin perjuangannya adalah perintah Allah swt dan rasul-Nya. Misalnya, saat menjawab perkataan saudaranya Muhammad Hanafiah, beliau berkata: “Setelah engkau pergi aku bermimpi melihat Rasulullah saw berkata kepadaku: “Wahai Husain! Pergilah ke Iraq. Karena Allah swt berkehendak untuk melihatmu gugur di jalan-Nya.””[11]

Sanggahan untuk jawaban ini

Apakah jika Imam Husain as tahu bahwa perjuangannya adalah perintah Allah swt berarti ia dipaksa?

Jawaban

Tentang kehendak Tuhan dalam perkataan Rasulullah saw di mimpi Imam Husain as, kebanyakan ulama menyatakan bahwa kehendak tersebut adalah kehendak tasyri’i, bukan takwini.[12] Kehendak tasyri’i tidak bersifat paksaan dan tiadanya ikhtiar. Maksud dari kehendak tersebut adalah keridhaan Allah swt akan terbunuhnya Imam Husain as dan pengetahuan-Nya tentang bahwa peristiwa itu akan terjadi.[13] Oleh karena itu, kehendak Ilahi yang berarti pengetahuan pasti-Nya akan terjadinya sesuatu bukan berarti paksaan. Karena segala sesuatu yang terjadi pada hambanya dan yang telah Ia ketahui sebelumnya bergantung pada ikhtiar dan kehendak manusia sebagai pelaku itu sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia “atas kehendaknya masing-masing” telah diketahui Allah swt sebelum semua itu dilakukan, dan dengan demikian disebut dengan kehendak Ilahi.

Meskipun Imam Husain as telah diberitahu tentang apa yang akan terjadi padanya, namun beliau sendiri berusaha agar apa yang diberitahukan kepadanya itu terwujud dengan cara mengumpulkan pasukan dan segala persiapan perjalanannya. Oleh karena itu beliau berikhitiar dan berkehendak dalam keputusan dan perbuatannya.

Kesimpulan

Jika agama Islam terancam, maka kita wajib melakukan segalanya demi terjaganya Islam, termasuk mengorbankan jiwa sendiri. Seperti itu perjuangan Imam Husain as di Karbala.

Perjuangan beliau bertujuan untuk menyelamatkan Islam dari kehancuran, yang mana Tuhan dan Rasulullah saw juga menginginkannya. Imam pun berjuang atas kehendak nya sendiri dan beliau melakukannya dengan penuh kesadaran. Oleh karena itu beliau tidak termasuk orang yang menjatuhkan diri sendiri ke dalam kehancuran.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Ayatullah Shafi Gulpaygani, Partooee az Azamat e Hosain.

2. Ali Asghar Rezvani, Pasokh be Syobahat.

3. Daftar Tablighat e Eslami, Pasokh ha ye Bargozide.

Hadits akhir:

Barra’ bin ‘Azib berkata: “Aku melihat Rasulullah saw menggendong Husain as di atas pundaknya seraya berkata: “Ya Allah! Aku sangat mencintainya, maka cintailah ia pula.”[14]


[1] QS. Al-Baqarah: 195.

[2] Nashir Makarim Syirazi, Al-Amtsal fi Tafsir Kitab Allah Al-Munzal, jil. 2, hal. 38.

[3] Ruhul Bayan, jil. 1, hal. 310; Tabyin Al-Qur’an, hal. 42; Tafsir Jalalain, hal. 34.

[4] Biharul Anwar, jil. 44, hal. 331)

[5] QS. At-Taubah: 29.

[6] Mustadrak Al-Wasail, jil. 11, hal. 17; Al-Kafi, jil. 5, hal. 3.

[7] Luthfullah Shafi Gulpaygani, Partoee az Azamat e Hosain, hal. 50.

[8] Biharul Anwar, jil. 18, hal. 114; Ash Shawaiqul Muhriqah, hal. 190; Maqtal Khwarazmi, pasal 7, hal. 156.

[9] Maqtal Khwarazmi, pasal 8, hal. 170.

[10] Biharul Anwar, jil. 44, hal. 247.

[11] Sayid Ibnu Thawus, Al-Luhuf fi Qatl Ath-Thufuf, hal. 94; Biharul Anwar, jil. 44, hal. 364.

[12] Murtadha Muthahari, Homase e Husaini, jil. 3, hal. 86.

[13] Imam Husain wa Quran, hal. 128.

[14] Biharul Anwar, jil. 43, hal. 264.

Apakah kewajiban Amar Makruf gugur karena resiko bahaya?

Tujuan terpenting dari perjuangan Imam Husain as Amar Makruf Nahi Munkar. Berdasarkan kaidah “Laa Dharar” kewajiban itu gugur; lalu mengapa beliau tetap maju berjuang di Karbala?

 

Tidak diragukan bahwa Amar Makruf Nahi Munkar adalah salah satu perkara penting yang diwajibkan dalam Islam dan sering dijelaskan dalam Al-Qur’an[1] dan riwayat.[2] Kewajiban Amar Makruf Nahi Munkar ini menysaratkan empat hal,[3] yang mana keempat-empatnya syarat itu telah terpenuhi bagi Imam Husain as:

1. Memiliki pengetahuan tentang makruf dan munkar: Imam Husain as berbeda dengan orang-orang biasa, ia mengetahui seluruh makruf dan munkar melalui ilmu ladunni. Beliau tahu bahwa Yazid bertujuan untuk membinasakan Islam dan mengembalikan umat manusia ke jaman jahiliah. Jika beliau tidak berbuat apa-apa, Islam pasti binasa. Murtadha Muthahari berkata: “Imam Husain as saat itu melihat hal-hal tertentu yang tidak dilihat oleh orang biasa lainnya.”[4]

2. Kemungkinan usaha Amar Makruf dapat memberikan hasil: merupakan syarat diwajibkannya Amar Makruf Nahi Munkar yang mana memiliki dua macam:

A. Jika tidak ada kemungkinan usaha kita berpengaruh sama sakali, meskipun di masa yang akan datang pun, maka kewajiban ini gugur.

B. Jika untuk sementara usaha kita tidak berpengaruh, namun ada kemungkinannya kelak usaha kita ini dapat memberikan pengaruh, maka kewajiban itu tetap harus dilakukan.

Dalam perjuangan Imam Husain as, beliau yakin usahanya bakal berpengaruh dan akan membawa perubahan. Beliau sangat yakin dengan usahanya Islam akan terjaga. Menurut beliau dengan kematiannya dan juga sahabat-sahabatnya, borok busuk Bani Umayah akan tersingkap dan bakal menjadi senjata yang menghancurkan mereka sendiri.

3. Terus menerus dilakukannya dosa dan kemunkaran: Syarat ketiga ini juga telah terpenuhi bagi Imam Husain as. Karena saat itu Bani Umayah tidak hanya terus menerus melakukan kemunkaran, namun bahkan menyebarkannya.

4. Tidak membahayakn harta dan benda diri serta orang mukmin lainnya: Imam Husain as saat itu tahu bahwa jika ia menjalankan kewajiban itu maka ia dan keluarganya akan terkena bahaya. Namun meskipun begitu beliau tetap menjalankan tugas tersebut. Ada dua sebab yang dapat dijelaskan:

A. Para fakih dalam menjelaskan syarat yang satu ini berkata bahwa Amar Makruf Nahi Munkar memiliki dua jenis tujuan: Pertama, tujuan yang tidak terlalu penting, yang mana kerugian Amar Makruf Nahi Munkar lebih tinggi jika dibanding dengan manfaatnya; maka kewajiban melakukan tugas ini dapat digugurkan. Adapun yang kedua, yaitu tujuannya sangat penting sekali, misalnya berkaitan langsung dengan dasar-dasar agama, keyakinan, Al-Qur’an, dan semacamnya; maka meskipun tugas tersebut sangat berbahaya, namun karena jika ditinggalkan bahaya yang timbul bakal lebih besar lagi, maka tugas itu harus dilakukan, meski dengan cara mengorbankan harta dan jiwa.[5]

Imam Khumaini berkata: “Jika Amar Makruf Nahi Munkar berkaitan dengan suatu perkara yang sangat penting dalam Islam, maka meskipun harus dengan harta dan nyawa, kewajiban itu harus ditunaikan.”[6]

Imam Husain as berada dalam posisi ini. Saat itu ke-makruf-an adalah Islam dan Sunah nabi sendiri dan itu terancam hancur karena ulah Bani Umayah. Jika beliau tidak menjalankan kewajibannya, maka Islam akan lenyap sampai akar-akarnya dan jerih payah Rasulullah saw selama itu akan sia-sia. Oleh karenanya Imam Husain as bertekat untuk maju menjalankan kewajiban tersebut meski harus mengorbankan harta, jiwanya dan jiwa kerabatnya.

Sejak awal Imam Husain as telah menyadari bahaya yang akan menimpa agama Rasulullah saw. Oleh karena itu saat beliau diminta Marwan untuk membai’at Yazid, beliau berkata: “Inna lillah wa Inna Ilaihi Raji’un… Islam bakal tamat dengan adanya seseorang seperti Yazid.”[7] Beliau juga pernah berkata: “Apakah kalian tidak melihat? Kini kebenaran tidak lagi dilakukan dan kebatilan tidak dicegah sama sekali. Dalam keadaan seperti ini orang yang beriman harus merelakan nyawanya dan mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan.”[8]

Di depan bahaya besar inilah Imam Husain as harus bangkit dan membela agama kakeknya.

B. Jawaban kedua dapat dijelaskan begini: Bagi Syi’ah, salah satu dalil diperbolehkannya mengerjakan suatu pekerjaan secara syar’i adalah perbuatan dan perkataan nabi dan para imam maksum. Kita menjadikan sunah mereka sebagai hujjah dan bukti. Oleh karena itu dengan melihat perjuangan Imam Husain as kita dapat menyimpulkan bahwa “tidak selamanya” Amar Makruf Nahi Munkar yang berbahaya itu “tidak wajib”, buktinya adalah Imam Husain as sendiri yang melakukannya. Dengan demikian jelas sudah bahwa jika ada kemaslahatan yang lebih besar, maka Amar Makruf Nahi Munkar tidak boleh ditinggalkan, meskipun mengancam harta dan nyawa kita. Dengan demikian kadang kala Amar Makruf Nahi Munkar merupakan suatu kewajiban yang secara pasti harus dilakukan meski seperti apapun bahayanya.

Murtadha Muthahari berkata:

“Kewajiban Amar Makruf Nahi Munkar selama tidak menimbulkan bahaya sangat jelas sekali dan semua menerimanya. Namun ketika menimbulkan bahaya, mulailah banyak yang berhenti sampai situ saja dan dengan mudahnya mengatakan bahwa kewajiban tersebut gugur karena bakal menimbulkan bahaya jika dilakukan. Padahal dengan cara berfikir seperti ini mereka secara tidak langsung telah melunturkan nilai kewajiban mulia ini. Sebagian yang lain benar berkata bahwa kewajiban Amar Makruf Nahi Munkar tidak seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Ya, memang jika kewajiban itu berkaitan dengan masalah kecil namun beresiko bahaya besar maka kewajiban itu gugur. Namun jika Amar Makruf Nahi Munkar berkenaan dengan Al-Qur’an dan Islam, maka seperti apapun bahayanya kita tetap wajib menjalankannya…”[9]

Kesimpulannya

Tujuan utama Imam Husain as berjuang di Karbala adalah untuk melakukan Amar Makruf Nahi Munkar demi terjaganya inti agama dan sunah nabi, yang mana hal itu adalah perkara yang sangat penting dalam agama. Beliau bertekat melawan Yazid karena saat itu Islam berada di ambang kehancuran. Oleh karenanya tak ada jalan lain bagi beliau selain menjalankan tugas mulia Amar Makruf Nahi Munkar dan kaidah “Laa Dharar” tidak berlaku di situ.

Menurut para fakih pun juga jelas bahwa jika Amar Makruf Nahi Munkar berkenaan dengan hal yang sangat penting sekali dalam agama, maka kewajiban itu harus dijalankan meski harus dengan cara mengorbankan nyawa. Seperti itulah kenyataan tragedi Karbala.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Murtadha Muthahari, Majmo’e e Asar, jil. 17.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Imam Husain as Syahid e Pishro e Farhang e Ensoniyat.

3. Porsesh ha va Pasokh ha ye Daneshjooee, Lembaga Perwakilan Rahbar di Universitas, jil. 13.

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa melakukan Amar Makruf Nahi Munkar maka ia menjadi khalifah Allah swt dan nabi-Nya di muka bumi.”[10]


[1] “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran [3]:110)

[2] Imam Shadiq as berkata: “Sesungguhnya Amar Makruf Nahi Munkar adalah jalan para nabi, cara kaum saleh, kewajiban agung yang mana dengannya-lah kewajiban-kewajiban yang lain terlaksana.” (Wasailus Syi’ah, jil. 11, hal. 395)

[3] Tawdhih Al-Masail Maraji’, jil. 2, hal. 756.

[4] Murtadha Muthahari, Majmoe e Asar, jil. 17, hal. 241.

[5] Ibid, hal. 757.

[6] Tahrir Al-Wasilah, jil. 1, hal. 472.

[7] A’yan Asy-Syi’ah, jil. 2, hal. 2; Ibnu Nama Hilli, Matsir Al-Ahzan, hal. 25 dan 26.

[8] Biharul Anwar, jil. 2, hal. 192.

[9] Majmo’e e Asar, jil. 17, hal. 267.

[10] Mustadrak Al-Wasail, jil. 12, hal. 179, nomor 13817.

Peran para wanita dan anak-anak di Karbala

Padahal Imam Husain as tahu bahwa ia bakal terbunuh di Karbala. Lalu mengapa beliau membawa keluarganya? Kalau hanya untuk menyampaikan pesan Asyura kepada orang lain, beliau sudah membawa Imam Sajjad as dan ia telah melakukan tugas itu. Lalu untuk apa beliau masih membawa Ali Asghar yang masih bayi?

 

Pada dasarnya ada dua pertanyaan:

1. Apa tujuan Imam Husain as membawa wanita dan anak-anak ke Karbala?

2. Apa peran wanita dan anak-anak dalam peristiwa Asyura?

Jawaban pertanyaan pertama

Para ahli sejarah menjelaskan beberapa alasan:

A. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab untuk membawa anak istri mereka dalam perjalanan-perjalanan panjang dan peperangan, yang tujuannya adalah membuktikan tekat yang kuat. Berdasarkan kebiasan itu, dengan membawa keluarganya, Imam Husain as ingin mengajak sahabat-sahabatnya untuk berkorban demi Islam meski dengan harta dan jiwa baik diri maupun anak istri. Di sisi lain, orang-orang yang menolong Imam Husain as, jika mereka menolongnya di tengah-tengah keluarganya, hal itu lebih baik; sebagaimana membiarkan beliau di tengah-tengah keluarganya adalah tidak baik.[1]

B. Ada kemungkinannya jika beliau meninggalkan keluarganya di Madinah maka keluarga beliau lebih terancam bahaya.[2] Karena jika beiau tidak membawa keluarganya, bisa jadi Bani Umayah menawan keluarga beliau lalu memaksa Imam Husain as untuk membai’at Yazid demi dibebaskannya anak dan istrinya. Kalau begitu hanya ada dua pilihan bagi Imam Husain as: Menyerah demi membebaskan keluarganya, atau meneruskan perjalanannya dan membiarkan keluarganya terseiksa; dan kedua pilihan itu sangat merugikan bagi beliau dan perjuangannya akan berakhir sia-sia.

C. Sebagaimana yang dapat difahami dari beberapa riwayat, perjuangan Imam Husain as berdasarkan tugas Ilahi, dan membawa keluarga dalam perjuangan tersebut adalah penyempurnanya. Dengan cara itu beliau dapat menyingkap kedok kebusukan Bani Umayah dan mencegah mereka melunturkan nilai-nilai Islam. Hal itu dapat kita fahami dari ucapan beliau sendiri saat berkata kepada Muhammad Hanafiah: “Setelah engkau pergi, aku bermimpi melihat Rasulullah saw berkata kepadaku: “Wahai Husain! Pergilah ke Iraq. Karena Tuhan berkehendak untuk menyaksikanmu terbunuh di jalan-Nya.”” Lalu Muhammad Hanafiah membaca ayat “Inna lillah…” kemudian bertanya mengapa beliau harus membawa keluarganya? Imam as menjawab: “Tentang mereka pun aku juga diberi tahu bahwa Tuhan telah berkehendak melihat mereka ditawan.”[3]

Imam Husain as menyadari bahwa terbunuhnya dia dan ditawannya keluarganya adalah keridhaan Allah swt. Oleh karena itu beliau membawa keluarganya bersamanya ke Iraq dan dengan perjalanan itulah mereka mengukir sejarah. Alasan ini lebih ditekankan oleh ulama kita.[4]

Lalu timbullah pertanyaan berikutnya: Apa peran para wanita dan anak-anak di peristiwa Asyura?

Jawaban pertanyaan kedua

Salah satu alasan mengapa beliau membawa para wanita dan anak-anak adalah tugas yang mereka jalankan pasca Asyura. Jadi dapat dijelaskan bahwa perjuangan Imam Husain as memiliki dua fase: Fase pertama adalah perjuangan dan pengorbanan beliau dan sahabat-sahabatnya; fase kedua adalah penyampaian pesan Karbala yang dijalankan oleh para wanita dan anak-anak.

Oleh karena itu kita dapat menjelaskan peranan para wanita dan anak-anak di Karbala dengan penjelasan ini:

Menyampaikan pesan

Sejarah mencatat bahwa sering kali kaum wanita memiliki peranan penting di samping kaum lelaki. Kita sendiri telah menyaksikan peran Khadijah as bersama Rasulullah saw, Fathimah Azzahra as bersama Imam Ali as, dan Zainab as bersama Imam Husain as.

Tragedi Karbala hingga sore Asyura adalah fase pertama perjuangan Husaini; yang berisi dengan tertumpahnya darah Imam Husain as dan para sahabatnya. Setelah itu dimulailah fase kedua yang dilakoni oleh Imam Sajjad as dan Zainab as. Mereka dengan lantang meneriakkan pesan-pesan Husaini kepada penduduk Syam yang selama ini termakan propaganda Bani Umayah. Selama ditawan oleh Bani Umayah, Imam Sajjad as dan Zainab as terus berusaha menjelaskan kepada semua orang siapa sebenarnya Bani Umayyah dan menyingkap kedoknya.

Memerangi propaganda Bani Umayah dan mengenalkan Ahlul Bait as

Semenjak Syam dikuasai umat Islam, pemerintahan negeri itu berada di tangan orang-orang seperti Khalid bin Walid dan Mu’awiyah. Selama itu penduduk negeri itu tidak terlalu banyak tahu tentang Islam sebenarnya, tidak pernah mendengarkan perkataan nabi dan juga sahabat-sahabatnya sebagaimana penduduk Madinah.

Menurut sebagian sejarawan, ada sekitar 113 sahabat yang ikut memenangkan Syam lalu tinggal di sana. Namun mereka tidak terlalu mengenal Rasulullah saw dan hanya hidup sebentar dengan beliau. Hanya satu atau dua hadits yang mereka riwayatkan dari nabi.

Sampai masa kebangkitan Imam Husain as, hanya sebelas orang dari mereka yang masih hidup. Mereka sudah berusia lanjut, sekitar delapan puluh tahunan, itupun mereka hidup dengan cara mengasingkan diri. Oleh karenanya kebanyakan masyarakat Syam tidak tahu menahu tentang Islam yang sebenarnya.[5]

Mu’awiyah telah memerintah di Syam selama hampir empat puluh dua tahun dan selalu berusaha menjauhkan masyarakat dari Islam yang sebenarnya. Dengan caranya memerintah ia berhasil menundukkan semua orang hingga tak ada yang berani menentangnya.[6]

Dalam pemerintahan Bani Umayah masyarakat telah termakan propaganda pemerintah. Keluarga nabi (Ahlul Bait as) disebut-sebut sebagai musuh agar dibenci, dan mereka (Bani Umayah) menganggap dirinya sebagai keluarga dekat nabi yang setia. Sebenarnya hal itu terus berlangsung hingga berdirinya pemerintahan Abul Abbas Saffah (khalifah pertama Bani Abbas), sampai-sampai puluhan pejabat Syam bersumpah bahwa selama ini mereka tidak tahu bahwa Rasulullah saw memiliki keluarga selain Bani Umayah.[7]

Oleh karenanya tidak mengherankan saat rombongan tawanan keluarga Imam Husain as digiring seseorang berdiri di hadapan mereka dan berkata: “Puji Tuhan yang telah membunuh kalian dan menyelamatkan kami dari bahaya kalian.” Imam Sajjad as diam sejenak lalu membaca ayat: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]:33) Lalu beliau berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan kami.” Akhirnya lelaki itu terkejut dan sadar bahwa tawanan-tawanan tersebut bukanlah musuh, namun Ahlul Bait yang sebenarnya. Akhirnya pun ia bertaubat.[8]

Dengan usaha Imam Sajjad as dan Zainab as yang mendatangi penduduk Syam dari rumah ke rumah, akhirnya propaganda Bani Umayah telah luntur dan Ahlul Bait as yang sebenarnya telah dikenalkan.

Mencegah melencengnya pesan-pesan Asyura

Sebagaimana Bani Umayah menipu masyarakat dengan mengenalkan Ahlul Bait as sebagai musuh Islam, mereka juga menganggap perjuangan Imam Husain as di Karbala adalah usaha pemberontakan terhadap pemerintah serta menyebut beliau sebagai orang murtad. Oleh karenanya, atas keyakinan itulah kebanyakan tentara Bani Umayah memerangi Imam Husain. Namun saat Imam Sajjad as dan Zainab as ditawan, mereka memiliki kesempatan yang cukup untuk menjelaskan kenyataan yang sebenarnya. Jika kita menyaksikan khutbah-khutbah Imam Sajjad as dan Zainab as, kita akan fahami bahwa kandungannya kurang lebih adalah menyalahkan Bani Umayah, penduduk Kufah, mengenalkan Imam Husain as dan menjaga agar pesan-pesan Asyura tidak dilencengkan. Syahid Dastegheib berkata: “Jika tidak ada Zainab as dan anak-anak kecil di Karbala, Bani Umayah pasti sudah melunturkan nilai-nilai perjuangan Imam Husain as di Karbala. Fakta dan kebenaran akan terus menerus tersembunyi. Apa lagi saat itu susah sekali untuk menyampaikan pesan kebenaran dan musuh terus berusaha memutar balikkan fakta.”[9]

Menyingkap kedok kaum zalim

Keadaan dizalimi adalah salah satu faktor yang efektif dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Karena secara alamiah manusia sangat membenci kezaliman dan kejahatan. Buktinya hingga sampai saat ini gelora api perjuangan Imam Husain as terus membara di hati orang-orang yang beriman.

Peran para tahanan, yang tidak memiliki senjata dan pertahanan, dengan cara kejam dang bengis dipukul dan dilukai, dihina, apa lagi anak-anak kecil yang terbunuh, semuanya sangat meluluhkan hati. Terbunuhnya anak berusia beberapa tahun di samping jasad Imam Husain as, terpotongnya leher Ali Ashghar dalam keadaan kehausan di pelukan ayahnya, dibakarnya kemah-kemah anak istri cucu nabi, semuanya menyampaikan pesan kebenaran kepada kita dan menjelaskan betapa busuknya pemerintahan Bani Umayah.

Jika hanya kaum lelaki saja yang ada dalam tragedi pengorbanan itu, semua pasti berbicara bahwa itu adalah hal biasa. Karena lelaki memang terbiasa berperang. Namun ketika para wanita dan anak-anak juga menjadi korban, tidak ada yang bisa bertahan mendengar kisah tragedi itu. Dengan demikian tragedi Asyura menjadi lebih berdampak di hati setiap pendengarnya.

Jadi, alasan Imam Husain as membawa wanita dan anak-anak adalah:

1. Para wanita dan anak-anak dapat menyampaikan pesan.

2. Kurang lebih musuh tidak dapat menyerang mereka. Karena jika mereka sampai terluka, maka mereka akan dikecam sepanjang sejarah.

3. Dari segi irfani, Imam Husain as telah mempersembahkan segala miliknya tanpa kurang sedikitpun di jalan Tuhan dengan penuh keikhlasan. Buah keikhlasan itu adalah kekalnya tragedi Asyura di sepanjang jaman dan efeknya bagi umat Islam dan selainnya.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Sayid Ja’far Syahidi, Qiyam e Emam Husain.

2. Muhammad Ibrahim Ayati, Barresi e Tarikh e Asyura.

3. Syahid Murtadha Muthahari, Homase e Husaini.

4. Muhammad Shadiq Najmi, Sokhanan e Emam Husain bin Ali Az Madine ta Karbala.

Hadits akhir:

Imam Husain as di hari Asyura berkata: “Demi Tuhan! Aku tidak akan berlutut hina di depan kalian dan aku takkan lari bagai budak-budak dari kalian!”[10]


[1] Abbas Mahmud ‘Iqad, Abu Syuhada Al-Imam Husain, hal. 136.

[2] Syaikh Abdul Wahhab Kasyi, Ma’satul Husain Baina As-Sa’il wal Mujib, hal. 78 dan 79.

[3] Sayid Ibnu Thawus, Al-Luhuf fi Qatl Ath-Thufuf, hal. 94; Biharul Anwar, jil. 44, hal. 364.

[4] Murtadha Muthahari, Homase e Husaini, jil. 1, hal. 272; Sayid Abdul Husain Dastegheib, Sayidus Syuhada, hal. 177.

[5] Syahid Ja’far Shahidi, Qiyam e Emam Husain, hal. 185.

[6] Muhammad Ibrahim Ayati, Barresi e Tarikh e Asyura, hal. 47.

[7] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 7, hal. 159.

[8] Khwarazmi, Maqtal Al-Husain, jil. 2, hal. 61; Luhuf, hal. 237-239.

[9] Abdul Husain Dastegheib, Sayid Asy Syuhada, hal. 177.

[10] Al-Irsyad, hal. 235.

keadilan Tuhan versi syi’ah

Keadilan Tuhan dan perbedaan-perbedaan dalam ciptaan-Nya

Pada ayat 32, surat An-Nisa’ [4] kita membaca, “Janganlah Kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih baik dari sebagian yang lain.”

Dengan memperhatikan ayat suci ini, banyak di antara kita bertanya, mengapa sebagian orang memiliki bakat lebih dan bakat sebagian lainnya kurang, sebagaian rupawan dan sebagian lagi tidak demikian. Ada sebagian orang yang kuat tubuhnya,ada pula yang tubuhnya biasa-biasa saja. Apakah perbedaan natural ini sejalan dengan prinsip keadilan?

Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan dua poin di bawah ini.

1. Bagian pertama dari perbedaan antara raga dan ruh manusia merupakan akibat dari perbedaan strata dan kezaliman kehidupan sosial, atau sikap menganggap remeh setiap orang, dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia penciptaan. Umpamanya, kebanyakan putra-putri kaum hartawan dibandingkan dengan putra-putri kaum miskin, baik dari sudut pandang jasmani, lebih indah dan lebih kuat, juga dari sisi potensi dan talenta lebih besar. Semua ini dikarenakan mereka mendapatkan makanan dan kesehatan yang memadai, sementara putra-putri orang miskin berada dalam keserbakurangan. Atau sebagian orang karena sikap malas dan acuh tak acuhnya, kekuatan jasmani dan ruhnya sirna begitu saja. Perbedaan-perbedaan ini harus diyakini sebagai “perbedaan-perbedaan rekaan (diciptakan) dan tanpa dalil”. Dengan hilangnya sistem strata yang korup, pengadaan keadilan sosial juga akan sirna, dan Islam dan AI-Qur’an tidak menyetujui perbedaan-perbedaan semacam ini.

2. Bagian lain dari perbedaan itu bersifat natural dan suatu kelaziman penciptaan manusia. Maksudnya, sekiranya sebuah masyarakat bersinggungan dengan keadilan sosial secara sempurna, setiap anggotanya ibarat sebuah pabrik; produknya tidak akan berbentuk dan bercorak sama. Tentu saja masing-masing akan memiliki kperbedaan dan keunikan yang khas. Namun, harus diketahui bahwa galibnya, anugerah-anugerah Ilahi, potensi jasmani dan ruhani manusia sedemikian sudah dibagikan kepada mereka sehingga masing-masing memiliki bagian-bagian tertentu dari potensi ruh dan jasmani tersebut. Maksudnya, sangat jarang dijumpai anugerah-anugerah Ilahi ini terdapat pada satu tempat atau satu orang. Sebagian memiliki kekuatan badan yang kuat, sebagian memiliki potensi dan talenta matematika yang baik, sebagian memiliki bakat bersyair, dan sebagian lainnya menyukai bidang perniagaan, sebagian peduli pada bidang agrikultur. Alhasil, setiap orang memiliki potensi dan talenta yang khas. Yang penting adalah masyarakat atau individu harus menemukan potensi dan talentanya tersebut serta membinanya dalam lingkungan yang sehat, sehingga setiap orang dapat menunjukkan dan mengeksplorasi kekuatannya.

Subjek ini juga harus diingat bahwa sebuah masyarakat ibarat sebuah raga manusia yang memerlukan tekstur-tekstur, urat dan sel-sel yang beraneka ragam. Maksudnya, sekiranya satu badan, seluruh sel-sel subtil dibuat seperti sel-sel mata dan otak, maka keberadaannya tidak akan berlangsung lama. Atau apabila seluruh sel-sel itu keras dan tidak fleksibel sebagaimana sel-sel tulang, dia tidak dapat melakukan pekerjaan yang memikul tanggungjawab yang beragam. Akan tetapi, seluruh sel-sel yang ada pada diri manusia harus dibentuk dari sel-sel yang beragam. Setiap sel memiliki tugas khusus; ada yang memiliki tugas berpikir, yang lainnya memiliki tugas melihat, tugas mendengarkan, tugas berkata-kata.

Demikian juga untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang sempurna diperlukan potensi-potensi, talenta-talenta dan struktur raga dan pikiran yang beragam. Namun, hal ini tidak berarti bahwa sebagian anggota masyarakat harus menjalani hidupnya di bawah garis kemiskinan, atau pelayanan mereka tidak dianggap khidmat yang besar atau malah dihina. Sebagaimana sel-sel yang ada pada tubuh dengan perbedaan-perbedaan yang dimilikinya, semuanya mendapatkan manfaat dari makanan dan udara serta kebutuhan-kebutuhan lainnya sesuai dengan kapasitasnya.

Dengan kata lain, perbedaan struktur ruh dan jasmani pada bagian-bagian yang bersifat natural (bukan karena kekuatan paksa) menuntut kemahabijaksanaan (hikmah) Sang Pencipta, dan keadilan Ilahi tidak dapat dipisahkan dari kemahabijaksanaan Ilahi tersebut. Seperti contoh, sekiranya seluruh sel-sel badan manusia diciptakan dalam satu bentuk, hal itu tidak sesuai dengan kemahablJaksanaan Ilahi, begitu pula keadilan -yang bermakna menempatkan segala sesuatu pada tempat yang selayaknya- tidak akan pernah terwujud. Demikian juga apabila suatu hari, seluruh masyararakat berpikiran yang sama dan memiliki potensi yang sama, pada hari itu Juga kondisi mereka akan mengalami kekacauan.[1]


[1] Tafsir Nemuneh,  jilid 3, hal. 365.

Keadilan di balik hukuman abadi di neraka

Di dalam surat Hud [11], ayat 106 kita membaca, “Adapun orang-orangyang celaka, maka [tempatnya] di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih]. Mereka kekal di dalamnya…. “

Dengan menyimak ayat suci di atas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita dapat menerima manusia yang selama hidupnya -maksimal usianya seratus tahun, misalnya-melakukan pekerjaan buruk, dan lenyap dalam kekufuran dan dosa namun usia seratus tahun ini harus dibayar dengan siksa, seribu tahun?

Mereka yang mengajukan pertanyaan ini lalai akan satu poin penting, yaitu perbedaan antara hukuman konvensional dan hukuman penciptaan yang merupakan hasil dari rangkaian realitas perbuatan dan kehidupan.

Penjelasan

Terkadang pembuat hukum merumuskan sebuah hukum sehingga setiap orang yang melanggarnya harus membayar tebusan uang dalam jumlah tertentu, atau harus berdiam di dalam penjara selama beberapa waktu. Tentu, dalam asumsi seperti itu kesesuaian antara pelanggaran dan hukuman harus diperhatikan. Hanya lantaran pelanggaran kecil, ia tidak akan dieksekusi atau mendapatkan hukuman abadi. Dan sebaliknya, karena perbuatan seperti membunuh, lalu ia dikenakan hukuman sehari penjara saja, hukuman seperti ini tidaklah memiliki arti baginya. Hikmah dan keadilan menjawab bahwa kedua hukuman ini harus setimpal.

Akan tetapi, hukuman yang pada hakikatnya adalah efek natural sebuah perbuatan dan termasuk tipologi penciptaan, atau hasil langsung perbuatan tersebut di hadapan manusia, ia tidak menerima asumsi tersebut di atas baik dalam kaitannya dengan efek-efek perbuatan di alam dunia ini ataupun di alam yang lain.

Contoh, seseorang melanggar aturan lalu-lintas; melaju melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan, berlomba tanpa sebab, dan melintas zona terlarang. Barangkali karena beberapa kali melanggar aturan ia mengalami tabrakan dan patah tangan serta kakinya, atau akan menderita kelumpuhan seusia hidupnya. Resiko buruk akibat sebuah kesalahan kecil ini jelas tidak mencerminnkan keadilan (jika ditinjau dari sisi hukuman konvensional). Tapi hal ini tidak berasal dari hukuman-hukuman konvensional lalu-lintas jalan raya yang di dalamnya keseimbangan antara pelanggaran dan hukuman harus mendapatkan perhatian. Kondisi ini merupakan dampak alami dari perbuatan yang secara sadar dilakukan oleh manusia. Dan ia sendirilah yang membuat dirinya terpuruk ke dalam kondisi tersebut.

Demikian juga ketika dianjurkan kepada Anda agar jangan mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol atau bahan-bahan psikotropika lainnya. Lantaran dalam waktu yang singkat, semua jenis minuman itu akan mengoyak hati, perut, otak dan syaraf Anda. Kini sekiranya Anda mengkonsumsinya, niscaya Anda akan menderita syaraf lemah, penyakit-penyakit hati, perut luka dan kerusakan pembuluh darah. Hanya beberapa hari menuruti hawa nafsu, Anda terpaksa menjalani sisa hidup Anda di dalam siksa yang pedih. Di sini tak seorang pun akan keberatan dengan ketidak seimbangan pelanggaran dan hukuman tersebut.

Tentang banyaknya azab dan hukuman kehidupan ukhrawi adalah masalah yang melebihi masalah duniawi. Dampak-dampak riel sebuah perbuatan dan hasil-hasil pembawa mautnya barangkali senantiasa bersandar kepada manusia. Perbuatan-perbuatan itu sendirilah nanti yang akan menjelma di hadapan manusia (tajassum al-a’mal). Dan lantaran kehidupan alam sana adalah kehidupan abadi, perbuatan baik dan buruk juga abadi .

Sebelumnya telah kami singgung bahwa hukuman dan siksa pada Hari Kiamat memiliki dampak riel yang lebih kuat. Al-Qur’an berfirman, “Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh [azab] yang mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. al-Jatsiyah [45]: 33)

Al-Qur’an juga berfirman, “…dan kamu tidak dibalas kecualii dengan apa yang telah Kamu kerjakan.” (QS. Yasin [36]: 54)

Muatan ayat ini, kendati terdapat sedikit perbedaan, juga terkandung dalam ayat-ayat yang lain.

Dengan demikian, ruang untuk pertanyaan ini tidak tersisa lagi, bahwa mengapa kesetimbangan antara hukuman dan pelanggaran tidak diperhatikan?

Manusia harus terbang dengan dua sayap iman dan amal saleh demi mendapatkan kenikmatan surgawi dan kebahagiaan berada di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kini, dengan menuruti hawa nafsu barang sedetik atau seratus tahun lamanya, ia telah mematahkan kedua sayapnya sendiri dan untuk selamanya ia harus menderita dalam kehinaan. Di sini, aspek ruang dan waktu, serta ukuran pelanggaran tidak menjadi pokok persoalan. Yang menjadi tolok ukur adalah sebab dan akibat serta dampak lama dan singkatnya. Sebuah korek kecil boleh jadi dapat membakar seisi kota. Dan dengan menanam satu gram duri, barangkali setelah beberapa waktu, sahara yang luas penuh dengan duri dan dapat menggangu manusia selamanya. Demikian juga dengan menanam satu gram bunga, barangkali dengan berlalunya sang waktu, akan tercipta sahara yang dihiasi bunga-bunga yang begitu indah mewangi sehingga semerbak baunya menggairahkan jiwa dan memuaskan hati.

Kini sekiranya seseorang bertanya apa keseimbangan antara sebatang korek dengan terbakarnya sebuah kota, dan antara beberapa tanaman kecil dengan sebuah sahara duri. Maka, perbuatan-perbuatan baik dan buruk juga demikian adanya. Dan barangkali dampak keabadian yang teramat panjang menjadi kenangan dan memori baginya. (perhatikan baik-baik)

Masalah yang penting di sini adalah, para nabi besar dan washi Ilahi telah memberikan peringatan kepada kita bahwa dampak maksiat dan dosa ini adalah azab yang abadi, dan dampak ketaatan dan kebajikan adalah kenikmatan abadi. Persis seperti para penjaga taman yang telah menjelaskan kepada kita dampak keluasan tanaman berduri dan bunga tersebut. Dan kita sendiri dengan sadar yang memilih jalan ini.

Di sini kepada siapa kita harus ajukan keberatan dan kesalahan slapa yang harus kita cari, serta hukum mana yang kita harus protes, selain pada diri kita sendiri?[1]


[1] Tafsir-e Payam-e Qur’an, jilid 6, hal. 501.

Tuhan menyesatkan dan memberi petunjuk?

Hidayah secara leksikal berarti petunjuk disertai dengan perhatian.[1] Hidayah ini terbagi kepada dua; menunjukkan jalan dan menyampaikan sesuatu ke tujuannya secara langsung, atau dengan ungkapan lain; hidayah tasyri’i dan hidayah takwini.[2]

Penjelasan

Tatkala seseorang menunjukkan jalan kepada orang yang sedang mencari sebuah alamat, terkadang ia menunjukkan alamat tersebut dengan lengkap; disertai dengan seluruh kriterianya. Akan tetapi, untuk menempuh jalan dan menuju ke tempat tujuannya ia serahkan kepada si pencari alamat tersebut. Namun, terkadang ia mengambil tangannya, dan sambil menunjukkan jalan, ia juga mengantarkannya hingga mencapai tempat tujuannya.

Dengan kata lain, pada cara pertama, yang dijelaskan hanya aturan (qanun), syarat-syarat untuk menempuh jalan dan mencapai tujuan. Namun, pada cara kedua, selain hal tersebut segala sarana perjalanan juga dipersiapkan; menyingkirkan segala rintangan, mencari solusi atas masalah-masalah yang ada, dan membantu serta menjaga para pencari hingga mencapai tujuan.

Tentu saja, lawan dari hidayah adalah kesesatan (dhalalah).

Secara global, permasalahan ini akan menjadi jelas dengan menilik ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah perbuatan Tuhan. Dan keduanya dinisbahkan kepada Tuhan. Dan sekiranya kita ingin membahas seluruh ayat yang menyinggung perkara ini, tentu memerlukan waktu yang panjang. Kami kira sudah memadai jika kita renungkan dua ayat berikut ini:

“Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki.” (QS. Al-Baqarah [2]: 213).

“… tetapi, Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki.” (QS. An-Nahl [16]: 93)

Kita juga akan menjumpai ayat-ayat yang mengisyaratkan petunjuk (hidayah) dan kesesatan (dhalalah) yang serupa dengan redaksi kedua ayat di atas.[3]

Dan selain itu, sebagian ayat Al-Qur’an dengan gamblang menafikan hidayah dari sisi Nabi saw. dan menisbahkannya hanya kepada Allah Swt. semata.

“Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, melainkan Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki.” (QS. Al-Qashash [28]: 56)

“… Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk. Akan tetapi, Allahlah yang memberikan petunjuk [memberi taufik] kepada siapa yang dikehendaki …. (QS. AI¬Baqarah [2]: 272)

Menelaah hanya pada permukaan ayat-ayat ini dan tidak menyentuh makna ayat tersebut telah menyebabkan sekelompok orang -dalam menafsirkan ayat-ayat ini- terjerembab ke dalam kesesatan, dan menyimpang dari jalan petunjuk serta terperosok dalam Determinisme (jabr). Bahkan, sebagian mufassir terkenal tidak lepas dari petaka ini dan terjatuh ke dalam kesalahan yang fatal. Ia meyakini bahwa urusan petunjuk dan kesesatan dengan segenap tingkatannya merupakan bentuk Determinisme.

Anehnya, lantaran kontradiksi pekercayaan ini dengan prinsip Keadilan dan Hikmah Ilahi, mereka memberikan preferensi yang mengingkari keadilan secara terang-terangan.

Pada prinsipnya bahwa seandainya kita terima Determinisme, maka makna taklif, tanggung-Jawab, pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab samawi tidak lagi berarti.

Akan tetapi, pendukung paham kebebasan penuh (ikhtiyar) percaya bahwa tidak satu pun akal sehat yang dapat menerima asumsi bahwa Allah Swt. memaksa mereka untuk mengambil jalan kesesatan, dan setelah itu -karena keterpaksaan ini- mereka harus menerima hukuman. Atau ada sekelompok manusia yang telah diberi petunjuk dan setelah itu, tanpa alasan mereka diganjar pahala, padahal keistimewaan yang mereka dapatkan ini bukan karena amalan yang mereka lakukan.

Atas dasar paham inilah memilih cara-cara lain dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.

Penafsiran yang akurat dan relevan dengan seluruh ayat-ayat ihwal petunjuk dan kesesatan adalah penafsiran yang tidak sedikit pun berselisih dengan makna lahiriah ayat-ayat berikut ini:

Hidayah tasyri’i bermakna menunjukkan jalan secara umum tanpa adanya syarat dan ikatan. Sebagaimana ayat yang berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pulayang kafir.” (QS. Ad-Dahr: 3) “… dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [42]: 52) Sangat jelas bahwa ajakan nabi ini adalah kepanjangan ajakan Tuhan, karena apa saja yang dimiliki oleh Nabi berasal dari-Nya.

Tentang kaum musyrikin dan sekelompok orang yang tersesat, Allah Swt. berfirman, “… dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm [53]: 23)

Adapun hidayah takwini bermakna menyampaikan (ishal) ke tujuan dan menuntun tangan para hamba sehingga mereka dapat menempuh jalan yang berliku, serta menjaga dan menolong mereka hingga sampai di ambang keselamatan.

Hidayah takwint ini menjadi topik pembahasan dalam banyak ayat yang lain tanpa adanya kait dan syarat. Hidayah ini khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Dan kesesatan yang berarti sebagai lawan dari hidayah, khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka juga telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Kendati sebagian ayat-ayat ini bersifat mutlak, namun banyak pula ayat-ayat yang menjelaskan kait dan syaratnya secara teliti. Dan ketika ayat-ayat yang berkait (muqayyad) dan mutlak ini bersanding satu dengan yang lainnya, permasalahannya akan menjadi sangat jelas dan tidak tersisa lagi sedikit pun keraguan dan ambiguitas. Ayat-ayat ini tidak hanya tidak bertentangan dengan masalah kebebasan manusia, akan tetapi justru menekankannya.

Kini perhatikan baik-baik penjelasan di bawah ini!

Allah Swt berfirman: “… dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu [pula] banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada orang yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik. “(QS. Al-Baqarah [2]: 26)

Ayat ini menyitir sumber kesesatan, kefasikan dan keluarnya mereka dari ketaatan dan perintah Allah Swt.

Pada kesempatan yang lain, Allah Swt. berfirman, “…dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS. AI¬Baqarah [2]: 258)

Ayat ini menerangkan masalah kezaliman (tirani dan despotisme) yang kemudian menjadi lahan tumbuhnya kesesatan.

Pada kesempatan ketiga, kita membaca, “…dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orangyang kafir.” (QS. al¬Baqarah [2]: 264)

Di dalam ayat ini dijelaskan ihwal kekufuran yang menjadi ladang berseminya kesesatan.

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman: “…sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. az-Zumar [39]: 3)

Di dalam ayat ini juga berdusta dan kekafiran disebutkan sebagai awal kesesatan.

Dan di tempat lain disebutkan, “…sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berlebih-lebihan lagi pendusta.” (QS. al-Ghafir [40]: 28) Maksudnya adalah bahwa perbuatan berlebih-lebihan dan berkata dusta menjadi penyebab kesesatan.

Tentu saja, apa yang telah kami sebutkan di sini hanyalah sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang bersangkutan dengan dengan pembahasan ini. Sebagian lainnya dengan redaksi yang sama banyak disebutkan secara berulang-ulang di dalam AI-Qur’an.

Konklusinya, penegasan Al-Qur’an bahwa kesesatan hanya berasal dari Allah Swt. semata, hanya khusus bagi orang-orang yang memiliki kriteria kufur, tirani, fasik, dusta, berlebih-lebihan, dan enggan berterima kasih.

Apakah orang-orang yang memiliki kriteria-kriteria seperti ini tidak pantas mendapatkan kesesatan?

Dengan ungkapan lain, apakah terjeratnya seseorang di dalam kriteria-kriteria ini tidak akan menjadi hijab dan kegelapan di dalam hatinya?

Lebih jelas lagi, perbuatan dan kriteria yang dimiliki orang itu mau atau tidak mau akan menjadi tirai yang menutupi mata, telinga dan akalnya sehingga ia akan masuk ke dalam jurang kesesatan. Mengingat bahwa seluruh benda dan efek seluruh sebab-sebab terjadi atas perintah Allah Swt., kesesatan dalam seluruh perkara ini dapat dinisbahkan kepada Allah Swt. Namun, penisbahan ini bersemayam pada ikhtiyar dan kebebasan berkehendak manusia.

Uraian di atas ini berkenaan dengan masalah kesesatan (dhalalah). Adapun mengenai masalah petunjuk (hidayah), AI-Qur’an juga menyebutkan sifat dan syarat-syaratnya. Hal ini menunjukkan bahwa petunjuk juga bukan tanpa sebab, tidak pula bertentangan dengan hikmah Ilahi.

Sebagian dari karakteristik yang menjadikan seseorang berhak mendapatkan petunjuk dan merengkuh kasih sayang Ilahi telah disebutkan pada ayat-ayat di bawah ini:

“Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan [dengan kitab itu pula] Allah mengeluarkan orang-orang dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalanyang lurus.” (QS.AI-Maidah [5]: 16) Pada ayat ini, mengikuti perintah Allah Swt. dan merengkuh keridaan-Nya merupakan ladang berseminya petunjuk Ilahi.

“…sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya.” (QS. ar-Ra’d [13]: 27)

Di sini ditegaskan bahwa taubat dan inabah (kembali) merupakan penyebab datangnya petunjuk.

“Dan orangyang berjihad [untuk mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” (QS. al-Ankabut [29]: 69)

Di sini dijelaskan bahwa jihad (kesungguhan); jihad yang tulus di jalan Allah swt adalah syarat utama petunjuk.

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambahkan petunjuk dan menganugrahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS.Muhammad [47]: 17)

Di dalam ayat ini disebutkan, melintasi beberapa jalan petunjuk sebagai syarat keberlanjutan jalan ini menuju kemurahan (luthf) Allah Swt.

Konklusi dari ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah, bahwa apabila taubat tidak datang dari para hamba, tidak mengikuti perintah-Nya, tidak berjihad dan berusaha, dan tidak melangkahkan kaki di jalan hak, maka kemurahan Ilahi tidak akan mendatangi kehidupan mereka, tidak akan menuntun tangan mereka, dan tidak akan mengantarkan mereka mencapai tujuan.

Apakah mengkhususkan petunjuk untuk orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini merupakan hal yang tak berdasar atau termasuk determinisme?

Anda perhatikan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dalam pembahasan ini sangat jelas dan gamblang. Orang-orang yang tidak mampu atau tidak ingin mengklasifikasikan hal-hal yang benar dari ayat-ayat petunjuk dan kesesatan telah terjebak dalam kesalahan fatal. Karena tidak melihat hakikat, terpaksa memilih Jalan fiktif. Harus diakui bahwa lahan kesesatan ini telah dipersiapkan oleh dirinya sendiri.

Bagaimanapun, kehendak (masyiyah) Ilahi pada ayat-ayat hidayah dan kesesatan bersandar kepada kehendak (kebebasan) tersebut. Kehendak Ilahi itu sama sekali tidak akan berlaku tanpa dasar dan tanpa hikmah. Tetapi pada setiap perkara, kehendak Ilahi itu memiliki syarat-syarat khusus yang selaras dengan sifat kemahabijaksanaan Ilahi.


[1] Mufradat kalimat hada.

[2] Perhatikan baik-baik! Hidayah takwini di sini bermakna luas. Termasuk setiap bentuk petunjuk selain jalan penjelasan undang-undang dan penunjukan Jalan secara langsung.

[3] Misalnya Fathir: 8, az-Zumar: 23, al-Muddatstsir: 31. al-Baqarah: 272, al-An’am: 88, Yunus: 25, ar-Ra’d: 27, dan Ibrahim: 4.

Takdir dan usaha mencari rizki

Dalam surat Ar-Ra‘d [13], ayat 26 disebutkan, “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Ia kehendaki ….”

Dengan memperhatikan ayat ini, akan muncul sebuah pertanyaan, bagaimana korelasi antara pembagian rezeki yang dilakukan oleh Allah swt. dengan usaha manusia untuk menjalani kehidupannya?

Bukan hanya ayat ini saja yang menyebutkan bahwa banyak sedikitnya rezeki para makhluk berada di tangan Allah. Akan tetapi, banyak ayat lain di dalam Al-Qur’an yang mempunyai makna seperti ini. Dari sini bisa diketahui dengan baik bahwa Allah swt. akan meluaskan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki, dan akan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki pula. Akan tetapi, makna ini tidak berarti sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian orang jahil yang mengatakan bahwa kita harus berhenti melakukan usaha dan cukup duduk manis di pojok ruangan untuk menunggu apa yang akan dibagikan oleh-Nya.

Orang-orang yang memiliki pemikiran semacam ini dan menganggap bahwa agama merupakan sebuah hal yang membahayakan, pada hakikatnya mereka lalai terhadap dua hal prinsip berikut ini:

Pertama, kehendak Allah swt. sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, bukanlah sebuah masalah kesewenangan dan tanpa perhitungan. Akan tetapi, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, kehendak Allah tidak akan pernah lepas dari hikmah-Nya, dan senantiasa diletakkan di atas prinsip kelayakan.

Kedua, masalah pembagian rezeki dari Allah ini tidak menafikan sebab-akibat. Karena sebab-akibat yang terdapat di alam materi ini juga merupakan kehendak Allah dan kehendakTakwînî-Nya. Dan kehendak Takwînî sama sekali tidak akan pernah terpisah dari kehendak Tasyrî’î-Nya.

Dengan kata lain, kehendak Allah swt. dalam hal perluasan dan penyempitan rezeki senantiasa bergantung dan bersyarat pada syarat-syarat yang menguasai kehidupan manusia, yaitu usaha, upaya, keikhlasan, dan kesetiaan. Sebaliknya, kemalasan, kelemahan, kepelitan, dan ketidakikhlasan mempunyai peran penentu pula di dalamnya. Berangkat dari dasar ini, Al-Qur’an berulang-ulang mengajak manusia untuk melakukan usaha, upaya dan aktifitas-aktifitasnya, karena Allah akan meletakkan keuntungan dalam kehidupan mereka sesuai dengan tolok ukur usaha dan jerih payah yang mereka lakukan.

Oleh karena itu, dalam kitab Wasâ’il Asy-Syi’ah dan hadis-hadis lain yang sangat banyak, ketika membahas masalah perdagangan, usaha dan pekerjaan. Disebutkan bahwa usaha dan kerja keras merupakan sebuah cara untuk menghasilkan rezeki.

Sebaliknya, hadis-hadis lain juga menyebutkan celaan terhadap pengangguran, orang-orang yang banyak tidur, dan pemalas. Salah satunya adalah hadis Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. yang berkata, “Ketika pada permulaan semua makhluk melakukan pernikahan, kemalasan mengikatkan tali pernikahannya dengan ketidakmampuan yang dari pertalian ini terlahir keturunan bernama kemiskinan.”

Dan dalam hadis lain, dari Imam Ash-Shadiq a.s. dinukil; beliau berkata, “Janganlah kamu bermalas-malasan dalam mencari rezeki dan memenuhi kebutuhan hidupmu, karena orang tua dan pendahulu-pendahulu kami melakukan hal ini dan mereka mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.”

Dan dalam hadis lain yang berasal dari Imam Al-Baqir a.s. dinukil; beliau bersabda, “Aku benci terhadap pria yang malas bekerja untuk dunianya. Seseorang yang malas dalam bekerja untuk dunianya (padahal hasilnya akan begitu cepat ia nikmati), maka ia akan semakin malas dalam pekerjaan akhiratnya.”

Dan demikian juga Imam Musa bin Ja’far a.s. dalam sebuah hadis berkata, “Allah membenci hambaNya yang banyak tidur dan Allah menganggap orang-orang yang menganggur sebagai musuhNya.”

Jaminan rizki vs. kelaparan

Di dalam surat Hud [11], ayat 6 disebutkan, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezeki kepadanya ….”

Dengan memperhatikan ayat di atas, timbul sebuah pertanyaan mengapa di dunia saat ini dan juga di sepanjang sejarah masih juga terdapat sekelompok manusia yang meningal karena kelaparan? Apakah ini berarti bahwa rezeki mereka belum terjamin?

Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan poin-poin berikut ini:

Pertama, jaminan terhadap rezeki bukan berarti bahwa rezeki tersebut telah diantarkan di depan pintu-pintu rumah atau dihaluskan lalu disuapkan ke dalam mulut manusia yang berakal dan mempunyai kecerdasan. Akan tetapi, yang dimaksud dengan rezeki adalah tersedianya lahan di mana usaha manusia menjadi syarat bagi terwujudnya rezeki dan lahan itu terbuka. Bahkan ketika Siti Maryam a.s. hendak melahirkan si mungil Isa a.s. di tengah gurun yang gersang, terik membakar dalam keadaan yang begitu susah, Allah swt. memanifestasikan rezekinya dalam bentuk setangkai kurma muda yang masih bergantung di pohonnya, tetap memerintahkan kepadanya dengan firman-Nya, “Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu ….” (QS. Maryam [19]: 25)

Kedua, apabila manusia pada masa lalu maupun sekarang senantiasa merampas hak-hak orang lain dan mengambil apa yang telah menjadi rezeki orang lain secara kejam dan sewenang-wenang, hal ini bukanlah statemen terhadap ketiadaan jaminan rezeki dari Allah swt. Dengan ibarat lain, selain persoalan usaha dan upaya, wujudnya keadilan dalam komunitas masyarakat pun menjadi syarat bagi terwujudnya pembagian rezeki secara adil. Apabila mereka menanyakan, “Mengapa Allah tidak menghalangi kezaliman para pembuat kerusakan ini?”, sebagai jawaban, kami akan menegaskan bahwa prinsip kehidupan manusia terletak pada kebebasan berkehendak sehingga ia mendapatkan ujian, bukannya pemaksaan. Karena apabila tidak demikian, maka tidak akan pernah terwujud apa yang dinamakan sebagai kesempurnaan. (Perhatikan hal ini dengan cermat!).

Ketiga, terdapat begitu banyak sumber pangan untuk manusia di bumi ini yang bisa ditemukan dan dimanfaatkan dengan menggunakan otak dan ketelatenan. Apabila manusia menyepelekan persoalan ini, maka ini karena kesalahan manusia sendiri.

Tidak seharusnya kita melupakan bahwa dataran-dataran yang ada di bumi Afrika yang kebanyakan penduduknya mati karena kelaparan, pada kenyataannya, sebagian dari negara-negara tersebut merupakan daerah yang paling kaya di seluruh dunia. Akan tetapi, faktor-faktor perusak sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, telah membuat kehidupan mereka menjadi kelam sebagaimana yang terlihat saat ini.

Asas perbedaan penciptaan dalam ciptaan

Pertanyaan: Apa asas perbedaan penciptaan sehingga ada yang tercipta sebagai manusia, ada yang menjadi hewan dan ada yang menjadi tumbuhan? Dan apa maksud segala sesuatu tercipta berdasarkan kelayakannya?

Jawaban Global:

Alam semesta adalah sistem sempurna yang diciptakan oleh Allah swt dengan sebaik-baiknya. Setiap sesuatu di alam ciptaan ini, memiliki kedudukan dan derajatnya masing-masing. Sistem ini berdiri di atas aturan-aturan yang tak mungkin dirubah.

Kelaziman dari sistem alam semesta yang sempurna adalah adanya tingkatan-tingkatan dan derajat yang berbeda-beda pada semua makhluk. Perbedaan-perbedaan itu tidaklah diciptakan, namun merupakan kelaziman esensial makhluk-makhluk dan Tuhan menciptakan semuanya berdasarkan kelayakan-kelayakan tersebut; karena di setiap derajat dan kedudukan, hanya derajat itu saja yang dapat diterimanya.

Jawaban Detil:

Jawaban ini terdiri dari empat bagian.

Pertama: Tak diragukan bahwa alam semesta ini memiliki aturan dan aturan itu bersifat esensial. Di antara bagian-bagiannya terdapat hubungan yang hakiki; seperti urutan angka-angka. Dalam angka-angka, kita melihat bahwa angka 1 berada sebelum angka 2, dan angka 2 berada sebelum angka 3, dan angka tiga sebelu angka 4. Begitu pula setiap angka selain 1 berada di antara sebelum dan sesudah angka yang lain. Setiap angka memiliki kriteria dan derajatnya masing-masing, dan keseluruhan angka-angka yang tak terbatas ini adalah alam semesta. Sistem ini dan sistem-sistem yang ada di tingkatan angka-angka adalah miliknya secara esensial. Sistem esensial ini dimiliki oleh seluruh ciptaan di alam semesta. Yakni Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu namun tidak memiliki hubungan yang berkaitan dengan ciptaan-ciptaan lainnya, atau didahului dan mendahului ciptaan lainnya.

Kedua: Sistem dan keteraturan di alam semesta adalah keteraturan yang paling baik. Yakni segala apa yang ada di alam semesta ini berada pada puncak kondisi dan keadaan terbaik, yang mana keadaan yang lebih baik dari itu tak dapat terbayangkan. Al-Qur’an tentang hal ini menjelaskan: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya…” (QS. As-Sajdah [32]:7).

Ketiga: Ada semacam aturan-aturan global yang mengikat alam semesta ini dan Tuhan mengatur alam semesta berdasarkan aturan-aturan tersebut, dan tidak ada yang bisa keluar dari aturan itu dan aturan tersebut takkan pernah berubah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an: “…dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah. ” (QS. Al-Ahzab [33]:62).

Keempat: Salah satu aturan itu adalah hukum sebab akibat. Berdasarkan hukum tersebut, segala sesuatu di alam ini memiliki posisi kausalitas yang jelas. Tidak adanya hukum sebab akibat berarti segala sesuatu bisa menempati posisi yang lainnya, misalnya panas api korek sama seperti atau lebih panas dari mata hari; yang padahal tidak demikian.

Hukum sebab akibat itu bersifat permanen, yakni setiap sebab memiliki akibat-akibat khas yang disebabkannya dan setiap akibat juga memiliki sebab-sebab khusus yang menyebabkannya. Hal itu kurang lebih berbeda dengan fenomena sosial, seperti tak ada bedanya siapa yang menjadi pimpinan atau yang dipimpin. Oleh karenanya, manusia tidak bisa menjadi hewan, atau menjadi tumbuhan. Dengan demikian tak ada artinya jika kita bertanya mengapa sesuatu menjadi manusia, kemudian ada yang menjadi hewan, dan ada yang menjadi tumbuhan? Karena segala sesuatu dengan perbedaan-perbedaannya sesuai dengan hukum sebab akibat alam semesta.[1]

Berdasarkan yang telah dijelaskan, setiap ciptaan tercipta sesuai kelayakannya masing-masing, yakni Tuhan menciptakan segalanya sesuai potensi esensial mereka. Segala ciptaan memiliki potensi masing-masing, misalnya ada yang hanya berpotensi untuk menjadi tumbuhan, ada yang berpotensi menjadi binatang, dan ada yang berpotensi untuk menjadi manusia. Berbeda dengan kedudukan-kedudukan sosial yang dapat berubah-ubah. Kriteria tersebut tak jauh beda dengan kriteria-kriteria di ilmu geometri. Misalnya kriteria segi tiga berbeda dengan kriteria segi empat. Setiap salah satunya memiliki kriterianya masing-masing dan kita tidak bisa bertanya “mengapa yang ini kasihan sekali karena berbentuk segi tiga? mengapa yang itu tidak dan berbentuk segi empat?”.

Semua ciptaan di alam semesta juga begitu. Masing-masing memiliki kriteria dan potensi khusus. Misalnya benda mati tidak dapat tumbuh dan memahami, tumbuhan hanya bisa tumbuh tak bisa memahami, hewan dapat tumbuh dan juga memiliki insting, dan seterusnya. Jadi salah jika kita berfikir mulanya Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam kondisi yang sama lalu membagi-bagi mereka, ada yang diciptakan menjadi manusia, ada yang menjadi hewan, tumbuhan, dan benda mati. Yang benar adalah kita katakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini hanya dapat menjadi “sesuatu” yang memang selayaknya ia menjadi begitu, itu saja, dan Tuhan memberikan penciptaan seperti itu untuknya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Sina: “Tuhan tidak menjadikan aprikot menjadi aprikot, melainkan Ia ‘mewujudkannya’ menjadi aprikot.”

Agar permasalahan dapat menjadi lebih jelas, perhatikan contoh berikut ini: Mobil tersusun dari bagian-bagian yang bermacam-macam. Pembuat mobil tidaklah dari awalnya membuat semua bagian itu dalam satu bentuk ciptaan lalu kemudian yang satu dijadikan roda, yang lain dijadikan knalpot, dan seterusnya… namun sejak awal pembuat mobil sudah menciptakan segala bagian tersebut sesuai bentuk dan karakteristiknya masing-masing secara terpisah, lalu dirakit hingga menjadi sebuah mobil yang dapat dipakai berjalan. [islamquest]


[1] Muthahari, Murtadha, Adl e Elahi, halaman 102 – 107, Shadra, cetakan 30, 1378 HS.

Allah Swt. tidak memiliki ruang dan tempat, lalu mengapa ketika memanjatkan doa sambil mengarahkan mata ke langit dan menengadahkan tangan ke atas sana? Memangnya -na’udzu billah- Tuhan bersemayam di langit?

Menengadahkan tangan ke langit saat berdoa?

[1]

berdasarkan riwayat ini, umumnya rezeki seluruh manusia berasal dari langit; hujan yang memberikan kehidupan bumi yang mati tercurahkan dari langit, cahaya mentari yang menjadi sumber kehidupan bersinar dari langit, dan udara yang menjadi penyebab kehidupan berada di langit. Langit dikenal sebagai sumber berkah dan rezeki Ilahi. Dan ketika berdoa, memohon kepada Sang Pencipta dan Pemilik rezeki, perhatian kita hendaknya tertuju ke langit supaya masalah yang sedang kita hadapi terpecahkan.

Dalam sebagaian riwayat disebutkan filsafat lain di balik berdoa ke arah langit, yaitu untuk menunjukkan kerendahan dan kehinaan di haribaan Tuhan, dimana manusia ketika hendak menunjukkan kerendahan atau penyerahan diri di hadapan seseorang atau sesuatu, mereka mengangkat tangannya ke atas.[2]


[1] Bihar al-Anwar, jilid 90, hal. 308, hadis ke-7. Hadis yang dinukil di atas terdapat juga pada Nur ats-Tsaqalain, jilid 5, hal. 124 dan 125.

[2] Tafsir Payam-e Quran, jilid 4, hal. 270.

Berjumpa dengan Allah, mungkinkah?

.

Dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, terdapat redaksi liqa’ Allah (perjumpaan dengan Tuhan) atau liqa’ ar-Rabb (perjumpaan dengan Rabb). Redaksi ayat ini sarat makna dan memiliki kedalaman arti, betapa pun sebagian mufassir telah menafsirkan ayat-ayat ini secara sambil lalu.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa maksud dari liqa’ Allah adalah pertemuan para malaikat Allah swt pada Hari Kiamat. Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa maksudnya adalah perjumpaan setiap makhluk dengan perhitungan (hisab), ganjaran (jaza), dan pahala (tsawab). Dan kelompok ketiga berpendapat bahwa maknanya adalah perjumpaan hukum dan perintah-Nya.

Semua pendapat tersebut mengambil arti redaksi AI-Qur’an tersebut secara implisit. Sementara kita mengetahui bahwa apabila penafsiran implisit bertentangan dengan dzahir sebuah ungkapan (eksplisit), sepanjang tidak ada dalil atasnya, harus kita tinggalkan.

Tak syak lagi bahwa maksud dari redaksi perjumpaan (liqa) bukanlah melihat Tuhan. Lantaran perjumpaan indrawi hanya berlaku pada benda-benda material yang terbatas di dalam ruang dan waktu, berwarna, dan kualitas-kualitas lain sehingga ia mampu untuk dilihat dengan mata kepala.

Dengan demikian, maksud dari perjumpaan di sini adalah syuhud batini, perjumpaan dan pertemuan maknawi dan ruhani dengan Allah swt. Karena pada Hari Kiamat, seluruh hijab akan tersingkap dan tanda-tanda kekuasaan-Nya sedemikian nampak pada hari Mahsyar dan seluruh tempat persinggahan Kiamat, bahkan orang-orang kafir akan berjumpa dengan Allah Swt melalui mata batin mereka (meskipun perjumpaan ini pasti berbeda).

Allamah Thabathabai dalam Tafsir AI-Mizan berkata:

“Hamba-hamba Allah swt berada dalam keadaan tanpa hijab antara mereka dengan-Nya. Lantaran ciri khas Hari Kiamat adalah penampakan seluruh hakikat. Demikian pada surat An-Nur (24), ayat 25, Allah Swt berfirman, “Pada hari itu mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah-lah Hak Yang Nyata.”

Menariknya, dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang datang kepada Amirul Mukminin Ali as dan berkata: “Aku terjatuh dalam kesangsian terhadap Al-Qur’an.”

Beliau kembali bertanya: “Mengapa?”

Orang itu berkata: “Kita melihat banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan perjumpaan dengan Allah Swt pada Hari Kiamat, dan di sisi lain Dia berfirman, “Mata-mata tidak mampu menjangkau-Nya, dan Ia menjangkau seluruh mata.” Bagaimana ayat ini bisa dipertemukan dengan yang lainnya?”

Beliau menjawab: “Perjumpaan di sini bukan penyaksian dengan mata, akan tetapi perjumpaan pada Hari Kiamat dan bangkitnya orang-orang dari kuburan. Oleh karena itu, pahamilah bahwa seluruh liqa’ (perjumpaan) yang disebutkan dalam AI-Qur’an berarti kebangkitan.”[1]

Sebenarnya, Imam Ali as, memberikan tafsir ihwal perjumpaan dengan Allah swt bahwa penyaksian (Syuhud Allah swt merupakan inherensi-inherensi dari syuhud tersebut. Benar bahwa Hari Kiamat merupakan hari tersingkapnya pelbagai hijab dan tirai, tampaknya tanda-tanda Yang Maha Hak, dan tajalli Allah kepada seluruh hati. Dan setiap orang -sesuai dengan tingkat pikirnya- dapat memahami ucapan beliau ini. Dan seperti yang telah kita katakan, bahwa syuhud batini para kekasih Allah Swt pada Hari Kiamat berbeda dengan perjumpaan orang-orang biasa.[2]

Dalam masalah ini, Fakhrurrazi dalam At-Tafsir AI-Kabir-nya memberikan penjelasan yang menarik. Ia menulis, “Manusia di dunia ini, lantaran hanyut dalam urusan-urusan duniawi dan berupaya untuk mengejar kehidupan dunia, kerap melalaikan Allah. Akan tetapi pada Hari Kiamat, seluruh perhatian duniawi ini akan hilang. Manusia dengan seluruh wujudnya akan tercurah kepada Tuhan semesta alam. Dan inilah arti dari perjumpaan dengan Allah swt”[3]

Hal ini boleh jadi berdasarkan pengaruh takwa, ibadah, dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dalam kehidupan dunia ini yang dapat dijumpai pada sekelompok umat manusia. Sebagaimana dalam Nahjul Balaghah ditegaskan, bahwa salah seorang sahabat alim Imam Ali as, Dza’lab al-Yamani, bertanya kepada beliau, “Apakah Anda melihat Tuhan Anda?”

Imam as, menjawab, “Apakah mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak kulihat?”

Dan ketika ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, beliau menambahkan, “Seluruh mata kepala sekali-kali tidak akan pernah menyaksikan-Nya, namun mata hatilah -dengan cahaya iman- dapat menyaksikan-Nya.”[4]

Namun, syuhud batini ini pada Hari Kiamat berlaku untuk semua orang. Karena, tanda keagungan dan kekuasaan Allah swt pada hari itu sedemikian jelasnya sehingga setiap hati yang buta juga akan beriman penuh.[5]


[1] Ringkasan Tauhid Shaduq, hal 267

[2] Tafsir Payam-e Qur’an, jilid 5, hal. 44.

[3] At-Tafsir al-Kabir, Fakhrurrazi, ayat yang bersangkutan; Tafsir Nemuneh, jilid 17, hal. 359.

[4] Nahjul Balaghah, ceramah ke-179.

[5] Tafsir Nemuneh, jilid 1, hal. 217

Jika ada yang tahu penyebab Fatimah as wafat, maka akan faham mengapa pengikut Syiah memilih Syiah sebagai madzhabnya

Misteri Kepergian Fathimah Azzahra dan Tawasul

Misteri Kepergian Fathimah Azzahra dan Tawasul

Banyak yang tidak tahu bahwa sebenarnya kepergian Fathimah Azzahra menyimpan misteri besar. Misteri yang jika dipahami sebenarnya bukanlah misteri; disebut misteri karena tidak ada yang mau tahu menahu tentangnya. Jika ada yang tahu, betapa terkejut orang yang mengetahuinya dan faham mengapa pengikut Syiah memilih Syiah sebagai madzhabnya.

Mari kita simak sebuah dialog berkaitan dengan wafat Sayidah Fathimah Azzahra:

Syiah: “Maaf, apa anda tahu mengapa Fathimah Azzahra berwasiat agar ia dimakamkan di tengah malam?”

Suni: “Karena ia tidak ingin ada orang yang melihatnya dikubur?”

Syiah: “Sebenarnya, memang apa masalahnya kalau ada orang lain melihat seorang wanita dikuburkan? Apa itu dosa? Padahal banyak sekali lelaki yang melakukan tasyi’ jenazah wanita.”

Suni: “Tidak, sebenarnya tak ada masalah.”

Syiah: “Kalau tidak masalah, mengapa Fathimah Azzahra, putri nabi, berwasiat sedemikian rupa? Yang jelas ada orang-orang tertentu yang boleh ikut menguburkan beliau, seperti Salman Alfarisi, Abu Dzar Al Ghifari, Miqdad dan Fadhl bin Abbas. Bukankah demikian?”

Suni: “Ya, memang benar.”

Syiah: “Aku tidak lebih alim darimu. Tapi aku pernah membaca sebuah riwayat dari Bukhari dalam Shahih-nya, bahwa Fathimah Azzahra tidak mau berbicara dengan Abu Bakar sedikitpun hingga akhir hayatnya.[1]

Apa maksudnya? Bukankah kalau ada seseorang yang jengkel dengan saudaranya dan tidak mau berteman lagi sampai lebih dari tiga hari maka ia akan masuk neraka? Kalau begitu apa menurut anda Fathimah Azzahra tidak masuk neraka karena tidak mau lagi berbicara dengan Abu Bakarh hingga akhir hayatnya? Lalu mengapa beliau jengkel dengan Abu Bakar dan Umar serta tidak mengizinkan mereka melakukan tasyi’ jenazahnya? Pernakah anda mendengar Abu Bakar dan Umar berperan dalam tasyi’ jenazah Fathimah Azzahra sebagaimana mereka juga tidak berperan dalam tasyi’ jenazah Rasulullah saw?”

Orang Suni itu tidak menjawab pertanyaannya, malah mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Namun orang Syiah tersebut tetap menanyakan permasalahan yang berkaitan dengan madzhabnya.

Syiah: “Apakah bertawasul itu syirik?”

Suni: “Ya, syirik; karena Tuhan meminta kita untuk memohon kepada-Nya lalu ia akan mengabulkan permintaan kita.”

Syiah: “Lalu mengapa aku pernah membaca bahwa saat kalian sakit gigi, kalian bisa menulis di atas kertas: “Abu Bakkar As Shiddiq termasuk orang-orang yang jujur, baik dan besar.”, lalu dengan demikian sakit giginya akan sembuh?[2] Bukankah itu termasuk tawasul kepada Abu Bakar?”

Akhirnya pertanyaan itu pun tidak dijawab dan mereka berpisah.


[1] Fathimah Azzahra kesal dengan Abu Bakar, lalu tidak mau berbicara dengannya sedikitpun hingga akhir hayatnya, yakni enam bulan sepeninggal nabi. (Shahih Bukhari, kitab Al Maghazi, nomor 4241, jilid 2, halaman 842).

[2] Syifa’ul Asqam wal Ahzan, Mauwlawi Muhammad Umar Sarbazi, halaman 33.

Diperbolehkannya bertawasul dan bertabaruk

Doktor Muhammad Tijani Samawi adalah orang Qafshah, salah satu kota di Tunisia. Sebagaimana masyarakat yang tinggal di sana, beliau dulu bermadzhab Maliki. Dalam rangka mencari kebenaran, beliau menimba ilmu di berbagai tempat baik jauh maupun dekat; hingga akhirnya beliau berguru kepada Ayatullah Khui dan Ayatullah Baqir Shadr, dan mengikuti madzhab Syi’ah.

Beliau menceritakan kisah perjalanan spiritualnya dalam bukunya “Akhirnya kutemukan kebenaran”. Selain itu ada juga buku beliau yang berjudul “Agar aku bersama orang-orang yang jujur”. Dalam buku-buku itu ia menceritakan dialog-dialognya dengan berbagai tokoh tentang kebenaran madzhab Syiah.

Ia banyak belajar tentang Syiah di Najaf Asyraf, Iraq. Dengan gurunya, Ayatullah Baqir Shadr, ia sudah bagaikan teman akrab. Beliau banyak berdiskusi dan membahas kebenaran Syiah dengannya.

Salah satu diskusi dan dialognya dengan Ayatullah Baqir Shadr berkaitan dengan tawasul. Dialog itu cukup menarik. Berikut dialognya:

Doktor Tijani: “Ulama Saudi mengatkan bahwa menyentuh kuburan orang-orang shaleh dan bertawasul atau mencari berkah adlah syirik. Bagaimana menurut anda?”

Ayatullah Baqir Shadr: “Jika mereka melakukan itu (berziarah dan bertawasul) dengan pemahaman bahwa wali-wali Allah dapat merubah nasib mereka dan bisa berbuat “sesuatu” tanpa seizin Tuhan, maka, ya benar itu memang syirik. Namun umat Islam tidak berkeyakinan seperti itu. Mereka faham bahwa para wali Allah adalah perantara yang menyampaikan doa mereka (umat Islam) kepada Tuhan dan Allah pun berkat bantuan para wali besar kemungkinannya bersedia mengabulkan doa mereka. Oleh karena itu niat sedemikian dalam berziarah bukanlah syirik.

Semua umat Islam baik Suni maupun Syiah, dari jaman nabi Muhammad saw hingga kini, semuanya bersepakat tentang hal ini. Kecuali Wahabi, sekte yang muncul baru-baru ini. Wahabi bertentangan dengan ijma’ umat Islam dan Wahabi adalah satu-satunya aliran yang menghalalkan darah umat Islam. Mereka menciptakan fitnah-fitnah yang merusak agama ini. Salah satunya menyebut tawasul sebagai syirik.

Allamah Syarafuddin (salah satu ulama besar yang pernah menulis buku yang berjudul Al Muraja’at atau Dialog Sunah Syiah) hidup di masa pemerintahan Abdul Aziz Sa’udi di Saudi Arabia. Saat itu ia datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ia diundang ke istana raja saat Idul Qurban.

Saat menemui raja, seraya mengucapkan selamat hari raya, ia memberinya sebuah hadiah Al Qur’an yang berjilidkan kulit. Sebagai rasa hormat, sang raja mencium Al Qur’an itu, lalu meletakkan di atas kepalanya.

Lalu Allamah Syarafuddin tiba-tiba berkata: “Wahai raja, mengapa engkau mencium jilid Al Qur’an yang terbuat dari kulit ini? Padahal itu hanyalah sampul yang terbuat dari kulit kambing.”

Raja menjawab: “Aku tidak bermaksud mencium kulit, tapi yang kucium adalah Al Qur’an yang berada di tanganku ini.”

Allamah Syarafuddin berkata: “Bagus kalau begitu wahai raja. Kami orang-orang Syiah ketika mencium dinding dan pagar makam nabi, kita tahu bahwa itu hanyalah tanah dan besi. Namun niat kami adalah mencium nabi yang bersemayam di situ. Sebagaimana anda mencium sampul kulit dengan niat mencium Al Qur’an karena kemuliaannya.”

Para hadirin pun mengucapkan takbir. Akhirnya raja Abdul Aziz memperbolehkan para peziarah untuk mencium dan “bertabaruk” di makam Rasulullah saw. Namun raja yang datang setelahnya sebagai pengganti melarangnya kembali.

Jadi tidak ada kesyirikan sama sekali dalam masalah ini. Orang-orang Wahabi saja yang sengaja menebar fitnah dan mengejar misi-misi busuknya dengan cara asal mengecap “syirik”. Dengan mudahnya mereka menghalalkan darah umat Islam agar pemerintahan mereka tetap terjaga dan sampai selamanya mereka menguasai umat Islam. Sejarah adalah saksi kenyataan ini.”[1]


[1] Akhirnya kutemukan kebenaran, Doktor Tijani Samawi, halaman 92.

Mencium pagar makam nabi

Ayatullah Sayid Abdullah Syirazi dalam kitab Al Ihtijaj bercerita:

Pada suatu hari di Madinah, aku melihat seorang pelajar dari Qom mendekati makam nabi lalu mencium pagarnya. Sepertinya ia lalau kalau ada polisi amar makruf di situ. Akhirnya polisi amar makruf mendatangi dan memarahinya karena telah mencium pagar makam nabi.

Polisi itu melihatku lalu berkata, “Kenapa kamu tidak mencegah teman-temanmu agar tidak mencium pagar ini? Ini hanya besi yang didatangkan dari Istambul. Tidak boleh dicium karena itu syirik!”

Aku berkata, “Apakah kalian tidak mencium Hajar Aswad di samping Ka’bah?”

Polisi menjawab, “Aku menciumnya.”

Aku: “Di makam nabi juga ada batu, jika aku menciumnya apa itu syirik?”

Polisi: “Hajar Aswad itu nabi yang menyuruh kita untuk menciumnya.”

Aku: “Kalau kita mencium sesuatu dengan niat mencari berkah, tidak ada bedanya dari nabi atau bukan.”

Polisi: “Nabi mencium Hajar Aswad karena batu itu diturunkan dari surga.”

Aku: “Ya, Hajar Aswad memang batu dari surga. Batu itu sedemikian mulia karena dari surga. Nabi menciumnya serta menyuruh kita menyiumnya, karena batu itu dari surga.”

Polisi: “Ya, memang demikian.”

Aku: “Bukankah kehormatan surga dan isinya dikarenakan adanya nabi?”

Polisi: “Ya, benar.”

Aku: “Kalau surga itu mulia karena nabi, maka mencium pagar ini juga mulia karena nabi, meskipun didatangkan dari Istanbul. Karena pagar ini berdekatan dengan nabi. Jadi kita boleh menciumnya. Sampul Al Qur’an yang terbuat dari kulit, sebelum menjadi sampul Al Qur’an, hanya sepotong kulit hewan pemakan rumput, yang jika terkena najis kita tidak berkewajiban mensucikannya. Namun ketika kulit itu dijadikan sampul Al Qur’an, lalu jika terkena najis, kita wajib mensucikannya demi kehormatan Al Qur’an. Semua orang pun mencium sampul Al Qur’an karena mencari berkah dari Qur’an. Seorang bapak mencium anaknya juga karena kecintaan, dan tidak disebut syirik. Jadi mencium dinding dan pagar makam nabi tidak ada kaitannya dengan syirik sama sekali.”[1]


[1] Seratus Satu Dialog, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 180.

Hadits Ghadir adalah bukti wilayah Imam Ali as ! Ali as pengganti Nabi SAW


Hadits Ghadir adalah bukti wilayah Imam Ali as

Alim Suni: “Orang-orang Syiah sering kali menjadikan hadits Ghadir sebagai dalil wilayah dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Padahal meskipun memang hadits itu shahih, belum tentu yang dimaksud hadits tersebut adalah diangkatnya Ali bin Abi Thalib sebagai imam.”

Penulis Syiah: “Apakah anda siap kita berdebat tentang masalah ini?”

Alim Suni: “Ya, aku siap. Silahkan anda jelaskan hadits Ghadir yang akan kita bahas ini.”

Penulis Syiah: “Hadits Ghadir adalah hadits mutawatir yang ditukil oleh 110 sahabat, 84 tabi’in, dan juga ulama serta ahli hadits di abad-abad setelahnya hingga saat ini.

Secara singkat, hadits itu begini: Rasulullah saw memberi izin umat Islam untuk melaksanakan haji pada tahun ke-10 Hijriah, dan paling tidak 90 ribu orang menunaikan ibadah itu bersamanya. Seusai ibadah tersebut, saat mereka kembali dari Makkah menuju Madinah, tibalah rombongan di suatu lembah yang bernama Ghadir Khum. Hari itu kamis, tanggal 8 Dzul Hijjah. Malaikat Jibril turun dari sisi Tuhan kepada nabi dan menyampaikan ayat suci:

“Wahai utusan Allah, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu oleh Tuhanmu.” (QS. Al Ma’idah: 67)

Dengan segera Rasulullah saw memerintahkan para rombongan yang berjalan di depan beliau untuk kembali dan menanti para rombongan yang di belakang agar berkumpul. Tak lama kemudian beliau memimpin shalat dhuhur berjama’ah.

Setelah itu beliau berdiri untuk berkhutbah, di atas mimbar yang dibuat dari tumpukan pelana-pelana onta. Seusai membaca pujian kepada Tuhan, beliau mengingatkan kembali para hadirin akan tauhid, kenabian, hari kiamat, lalu berwasiat tentang “Tsaqalain” (dua peninggalan berharga, Al Qur’an dan Ahlul Bait), menjelaskan bahwa Rasulullah saw lebih utama dari pada diri orang-orang yang beriman, lalu beliau mengangkat tangan Imam Ali as hingga diriwayatkan sampai ketiak mereka berdua terlihat. Lalu beliau berkata: “Barang siapa menjadikanku wali, maka Ali-lah walinya.” Beliau mengulang perkataan itu sebanyak tiga kali. Kemudian beliau mendoakan para pecintanya (pecinta Ali bin Abi Thalib) dan melaknat para pembencinya. Lalu beliau meminta agar yang hadir menyampaikan kabar ini kepada yang tidak hadir. Setelah itu Jibril turun kembali dan membawakan ayat suci:

“Hari ini Aku telah menyempurnakan agama kalian bagi kalian dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha akan Islam sebagai agama.” (QS. Al Ma’idah: 3)

Seusai membacakan ayat tersebut Rasulullah saw bersabda: “Allahu Akbar (maha besar Allah) atas disempurnakannya agama, disempurnakannya nikmat, dan ridhanya Allah atas risalahku dan wilayah Ali bin Abi Thalib setelahku.”

Lalu semua orang saling mengucapkan selamat kepada Imam Ali as yang di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Mereka menjabat tangan Imam Ali as sambil berkata: “Selamat bagimu wahai Ali bin Abi Thalib. Engkau telah menjadi maula (pemimpin) bagiku dan bagi semua orang yang beriman.”

Demikianlah hadits Ghadir.”

Alim Suni tersenyum sambil berkata: “Bagus sekali. Namun ini hanya permulaian dan kita belum membahas apapun.”

Penulis Syiah: “Silahkan utarakan kritikan anda lalu kita bahas bersama.”

Alim Suni: “Bagaimanakah kalian mengartikan kata “maula” dalam hadits Ghadir itu?”

Penulis Syiah: “Artinya adalah orang yang memiliki wewenang dalam perkara umat, penganyom dan orang yang menghakimi.”

Alim Suni: “Kalau begitu jelas kamu tidak tahu arti kata-kata dalam bahasa Arab. Lebih baik kamu merujuk kepada kitab-kitab bahasa agar kamu tahu apa arti kata “maula” itu. Setelah itu baru kita lanjutkan pembahasan ini.”

Penulis Syiah: “Kalau begitu kamu saja yang jelaskan arti kata “maula” agar aku bisa belajar darimu.”

Alim Suni: “Bagus. Sekarang kamu telah datang ke jalan yang benar.

Ketahuilah, bahwa “maula” memiliki banyak arti, seperti: Tuhan, paman, anak, anak saudari, orang yang membebaskan budak, hamba, raja, orang yang diberi nikmat, kawan, pengganti, sahabat yang menyertai, tetangga, tamu, orang dekat, penolong, pecinta dan masih banyak lagi.”

Penulis Syiah: “Jika kita melihat kondisi dan suasana yang ada saat nabi mengucapkan hadits itu, kita pasti bisa menyimpulkan sendiri bahwa maksud nabi berkata “maula” bukanlah “maula” yang memiliki arti bermacam-macam dan tidak jelas seperti yang anda katakan.

Misalnya, tidak mungkin yang dimaksud “maula” adalah arti “Tuhan”, karena itu pasti syirik, dan tidak mungkin nabi menyebut Ali bin Abi Thalib as sebagai Tuhan. Kata “maula” juga tidak mungkin berarti paman, anak, anak saudari, orang yang membebaskan budak, budak, raja, yang diberi nikmat, kawan, dan seterusnya, karena jelas Ali bin Abi Thalib bukan itu. Yakni Ali bukan paman nabi, bukan anak nabi, bukan anak saudari nabi, dan seterusnya.

Adapun jika kamu menganggap “maula” berarti kawan, tetangga, orang dekat, atau tamu, itu juga tidak benar; karena tidak mungkin nabi dengan begitu heboh dan seriusnya mengumpulkan sekian banyak jamaah haji di gurun tandus yang panas hanya untuk menjelaskan kepada mereka bahwa Ali bin Abi Thalib adalah sahabat beliau, itu saja; jelas tidak mungkin. Atau hanya karena beliau ingin menjelaskan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah tetangganya; jelas mustahil dan tidak masuk akal. Mana mungkin dalam keadaan seperti itu beliau hanya menjelaskan sesuatu yang tidak penting dan tak berarti?

Dengan melihat kondisi dan suasana saat beliau menyampaikan hadits tersebut tidak mungkin kata “maula” diartikan selain sebagai “orang yang berhak dan berwewenang dalam memimpin umat Islam”.

Dengan melihat urutan kata-kata nabi dalam pembicaraannya juga masalah ini dapat menjadi jelas. Sebelumnya nabi mengatakan “Apakah aku lebih utama dari pada diri kalian?”, yang mana kata utama itu beliau jelaskan dengan kata “auwla” yang masih satu akar dengan “maula”. Dengan demikian ketika nabi berkata “Ali adalah maula” yang dapat kita artikan adalah “Ali lebih mulia dari diri kalian bagaikan aku (nabi) lebih mulia dari kalian semua”. Yakni nabi ingin meninggikan kedudukan nabi di hadapan umat Islam setinggi kedudukan beliau, yang artinya tak lain adalah Ali bin Abi Thalib as merupakan orang yang berkedudukan sama seperti nabi sepeninggal beliau (pengganti bagi beliau).

Jibril menurunkan ayat tersempurnakannya agama setelah nabi mengumumkan pengumuman itu. Apakah masuk akal kesempurnaan agama tersebut hanya dikarenakan nabi mengumumkan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah tetangga atau sahabat biasa bagi beliau? Jelas tidak. Kesempurnaan agama, suatu hal yang sangat penting, pasti dikarenakan hal yang sangat penting pula, yaitu wilayah Ali bin Abi Thalib as sebagai seorang Imam dan pengganti nabi.”

Alim Suni: “Aku tetap masih punya pertanyaan yang terus membuatku tidak tenang.”

Penulis Syiah: “Maka tanyakanlah.”

Alim Suni: “Jika memang hadits tersebut adalah hadits yang sangat penting dan dasar kekhalifahan setelah nabi, lalu mengapa para sahabat dan sekian banyak umat nabi sepeninggal beliau tidak menjalankan hadits itu?”

Penulis Syiah: “Bukan hal yang anek, silahkan anda merujuk sejarah para sahabat, anda akan banyak menemukan betapa sering para sahabat berbuat bertentangan dengan perintah-perintah nabi, dan kebanyakan masalah-masalah politik. Mengabaikan hadits Ghadir adalah salah satu contohnya. Selain itu ada fakta sejarah lainnya yang serupa seperti para sahabat tak mau bergabung dengan pasukan Usamah, pertentangan sebagian sahabat terhadap nabi mengenai perdamaian Hudaibiah, dan lain sebagainya. Allamah Syarfuddin Musawi dalam kitabnya An Nash wal Ijtihad telah menyebutkan lebih dari 70 pertentangan para sahabat terhadap nabi.

Justru yang kami tidak habis pikir adalah mengapa kalian, orang-orang Ahlu Sunah begitu menganggap para sahabat suci dari kesalahan? Seakan mereka sama sekali tidak pernah sedikit pun bertentangan dengan Al Qur’an dan sunah nabi.”[1]


[1] Dialog Ilmiah, Sayid Ali Husaini Qumi, jilid 2, halaman 156.

Ali pengganti nabi

Ali pengganti nabi

Pada suatu hari Dhirar bin Dhab, salah seorang ulama Ahlu Sunah, berkata kepada Yahya bin Khalid, wazir Harun Ar Rasyid: “Aku siap untuk berdebat. Siapapun yang berani mengajakku, silahkan.”

Yahya: “Apa kamu siap berdebat tentang ‘Rukun Syiah’?”

Dhirar: “Aku siap, dengan siapapun saja.”

Akhirnya Yahya pun menawarkannya untuk berdebat dengan Hisyam bin Hakam, seorang murid Imam Shadiq. Demikian perdebatan itu:

Hisyam: “Tentang imamah (ke-imam-an), apakah kelayakan seseorang untuk menjadi imam dan pemimpin ada di batin (yang tidak nampak) atau di lahir (yang nampak)?”

Dhirar: “Kita memahami dari lahir. Karena kita tidak bisa mengetahui batin seseorang kecuali nabi yang mendapatkan pengetahuan dari wahyu.”

Hisyam: “Benar yang kau katakan. Coba katakan padaku, jika dilihat dari segi lahiriah, antara Ali dan Abu Bakar, siapa yang sering membela nabi dengan pedang dan nyawanya? Menembus barisan musuh membasmi orang-orang yang memusuhi nabi? Siapa yang paling berperan dalam kemenangan-kemenangan umat Islam dalam peperangan mereka?”

Dhirar: “Ya, memang dari segi perang berperang, Ali memang unggul. Namun Abu Bakar punya kriteria maknawiah yang tidak dipunyai Ali, dan Abu Bakar lebih tinggi darinya.”

Hisyam: “Bukannya kriteria maknawi itu adalah perkara batin? Bukannya kau katakan tadi kamu tidak bisa menilai seseorang dari batinnya? Kamu dapat berkata begitu kalau nabi memang pernah menyatakan keunggulan Abu Bakar atas dasar wahyu yang beliau terima. Namun nyatanya nabi lebih sering mengungkap keutamaan-keutamaan Ali bin Abi Thalib. Misalnya beliau berkata, “Waha Ali, engkau di sisiku bagai Harun di sisi Musa.” Apakah nabi pernah mengatakan perkataan seperti itu tenang Abu Bakar? Lalu jawab juga pertanyaanku ini, apakah ketika nabi berkata seperti itu, perkataannya tidak sesuai dengan apa yang ada di batin Ali? Apakah perkataan nabi salah dan wahyu itu salah?”

Hisyam pun tidak menjawab pertanyaannya. Lalu Hisyam berkata, “Bukankah dari segi lahir dan batin Ali bin Abi Thalib lebih layak untuk menjadi khalifah dari pada Abu Bakar?”[1]


[1] Fushulul Mukhtarah, Sayid Murtadha, jilid 1, halaman 9; Qamus Ar Rijal, jilid 9, halaman 342.

Ali bin Abi Thalib as terbunuh karena keadilannya

Sebuah dialog antara dua orang yang bernama Mahmud dan Hamid:

Hamid: “Ketika kita menyimak sejarah kehidupan Imam Ali as, rasanya hidup beliau selalu dipenuhi dengan perang dan perjuangan. Di jaman nabi, perang-perang yang ia ada di situ jelas atas perintah nabi, jelas juga ia memerangi orang-orang yang musyrik. Tidak ada syubhat tentangnya. Adapun peperangan yang memenuhi hari-hari kekhalifahannya, yakni selama empat tahun dan sembilan bulan (dari tahun 36 sampai 40 hijriah), seperti perang Jamal, Shiffin, Nahrawan, dan yang lainnya, beliau memerangi orang-orang Islam sendiri. Bukannya lebih baik beliau menyelesaikan permasalahan melalui jalan damai, bukan berperang dan menumpahkan darah?”

Mahmud: “Kami mengenal Imam Ali as sebagai seorang manusia sempurna, penyembah kebenaran, ikhlas dan tegas. Di jaman nabi beliau memerangi orang-orang musyrik yang menghalangi jalan tersebarnya Islam. Adapun di jaman kekhalifahannya, beliau memerangi orang-orang yang mengaku Muslim namun membuang jauh-jauh pemikiran-pemikiran Islami, artinya mereka adalah orang-orang munafik yang hidup di jaman itu. Jika kita merenungi masalah ini, jelas bahwa kaum munafik lebih berbahaya dari pada orang-orang musyrik yang memerangi Islam secara terang-terangan.”

Hamid: “Bukankah Imam Ali as bisa berunding dengan orang-orangNakitsin (para pembelot yang mengobarkan api peperangan Jamal), Qasithin (orang-orang yang menyeleweng dan penentang Islam, seperti Muawiyah dan antek-anteknya) dan juga kaumMariqin (orang-orang Khawarij), menawarkan keuntungan-keuntungan tertentu dari Baitul Mal, dan meminta mereka secara baik-baik untuk mengikuti jalur dan garis pemerintahannya?”

Mahmud: “Perlu kamu bedakan Imam Ali as dengan pemimpin-pemimpin biasa yang ada di sekitar kita, yang karena kepentingannya mau melakukan segala cara. Sedangkan Imam Ali as adalah pemimpin yang tidak bersedia mendahulukan apapun atas aturan Tuhan (perintah dan larangan-Nya).

Coba kita lihat apa saja faktor-faktor tiga peperangan terkenal itu.

Akar perang Jamal dan Shiffin, adalah diskriminasi yang ada di antara umat Islam saat itu. Ada sebagian kelompok yang masih membawa kebiasaan jahiliah, yang menginginkan posisi dan keuntungan tertentu karena jasa-jasanya secara pamrih. Seperti Thalhah dan Zubair, dan juga selainnya… mereka meminta Imam Ali as untuk memberi mereka kedudukan spesial dan keuntungan lebih. Mereka dengan jelas berkata: “Berilah kedudukan ini dan itu kepadaku (seperti jabatan sebagai gubernur Kufah dan Bashrah). Serahkan sebagian harta Baitul Mal kepadaku.” Arti permintaan-permintaan seperti itu adalah diskriminasi dan permohonan yang bertentangan dengan keadilan. Itupun atas nama Islam. Pertanyaannya, apakah orang seperti Imam Ali as bersedia menyerahkan pemerintahan ke tangan orang yang tergila-gila dengan hawa nafsu? Jelas tidak mungkin. Imam Ali as tidak akan pernah bersedia mendahulukan keinginan-keinginan dan nafsu dari aturan Tuhan. Mu’awiyah adalah sebaik-baiknya contoh orang yang menginginkan kekuasaan dan harta sebanyak-banyaknya ketimbang Islam. Satu-satunya keinginannya adalah memiliki wewenang atas kekuasaan yang mana dengan itu ia dapat mengenyangkan perutnya dan perut para keluarga dekatnya. Ya, mereka menuntut diskriminasi dan ketidak adilan. Apakah orang seperti Imam Ali as bersedia memenuhi keinginan mereka?

Ada orang-orang seperti Mughirah bin Syu’bah yang memakai kedok “penasehat para pemimpin Muslimin” dan mendekati Imam Ali as untuk membisikkan bisikan-bisikan setan, namun beliau dengan tegas menyatakan: “Aku bukan orang yang bersedia menjadikan orang-orang sesat sebagai otot dan kaki tanganku.”[1]

Bahkan ada sebagian sahabat yang baik seperti Ammar bin Yasir dan Abul Haitsam Tihan mndatangi Imam Ali as dan berkata, “Untuk beberapa saat tolong tunjukkan kemurah hatianmu, berilah pemimpin-pemimpin kaum kedudukan dan derajat yang lebih, sehingga mereka bersedia mencegah pemberontakan terhadapmu. Biarkan untuk sementara orang-orang yang kau anggap tidak layak dapat berperan dalam pemerintahanmu…”

Lalu Imam Ali as dengan jelas menjawab: “Apakah kalian memintaku untuk berbuat zalim kepada orang-orang yang bekerja di bawah pemerintahanku demi mendapatkan kawan-kawan seperti itu? Demi Tuhan selama dunia masih ada aku tidak bersedia melakukannya.”[2]

Beliau selalu menunjukkan ketegasan sikapnya di hadapan diskriminasi dan ketidak adilan. Begitu terkenal keadilan Imam Ali bin abi Thalib as sampai-sampai sepeninggal beliau akibat peukulan pedang Abdurrahman bin Muljam banyak yang berkata, “Ali bin Abi Thalib terbunuh karena keadilannya.” Beliau pun bangga mati di jalan itu dan berkata, “Demi Tuhan Ka’bah, aku telah beruntung dan menang.”

Sungguh Imam Ali as seorang manusia sempurna yang tak ada duanya.”[3]


[1] Waq’atus Shiffin, halaman 58.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 126.

[3] Seratus Satu Dialog, Muhammad Muhammad Isytihardi.

Keutamaan Ali bin Abi Thalib as dalam Al Qur’an

Keutamaan Ali bin Abi Thalib as dalam Al Qur'an

Ketika Mu’awiyah menjadi khalifah umat Islam di Madinah, ia memerintahkan Ibnu Abbas, anak paman Ali bin Abi Thalib, untuk datang menghadapnya.

Saat Ibnu Abbas datang, dengan rasa jengkel ia berkata kepada Ibnu Abbas: “Aku dengar sampai saat ini pun kamu terus menerus membicarakan keutamaan Ali bin Abi Thalib! Bukankah kamu tahu aku telah melarang siapapun untuk menyebut keutamaan Ali? Apa kamu tidak takut padaku yang dapat menghukummu seperti apapun kumau?”

Ibnu Abbas berkata: “Seluruh penduduk Madinah menjadi saksi bahwa aku tidak mengerjakan apapun selain menafsirkan Al Qur’an? Dan apa yang kutafsirkan memang benar-benar tafsir yang sebenarnya dan aku tidak mengada-ada, karena aku dengar bahwa nabi berkata, “Orang yang menafsirkan Al Qur’an menurut pendapatnya sendiri, maka bersiap-siaplah ia masuk neraka.”

Mu’awiyah berkata: “Silahkan menjelaskan tafsir Al Qur’an. Tapi jangan sampai kamu menyebut-nyebut keutamaan Ali bin Abi Thalib!”

Ibnu Abbas menjawab: “Tak ada cara lain. Misalnya saat aku membaca ayat “Dan mereka memberi makan atas cinta kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan”[1], orang-orang suka bertanya padaku siapakah yang dipuji-puji Allah swt dalam ayat itu? Aku terpaksa harus katakan bahwa mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Kalau aku tidak katakan itu, berarti aku berbohong dan itu dilarang nabi.”

Muawiyah kesal dan berkata: “Kalau begitu tafsirkan saja ayat-ayat selain itu… Memangnya ayat Qur’an hanya itu saja?”

Ibnu Abbas melanjutkan: “Saat aku membaca ayat yang berbunyi:“Wahai nabi, sampaikanlah apa yang telah diturunkan Tuhan kepadamu, jika engkau tak sampaikan maka artinya engkau belumn menunaikan risalahmu. Dan Allah menjagamu dari bahaya siapapun.”[2], mereka bertanya kepadaku tentang hal apakah yang diperintahkan Allah untuk disampaikan itu yang sebegitu pentingnya, yang jika tidak disampaikan maka artinya risalah kenabian sia-sia? Aku pun terpaksa menjawab bahwa saat itu nabi sedang berada di Ghadir Khum, diperintahkan Tuhannya untuk menyampaikan bahwa Ali bin Abi Thalib as adalah khalifah pengganti nabi tanpa sela. Jika aku tidak berkata begitu artinya aku menyelewengkan tafsir Al Qur’an dan itu dilarang nabi.”

Mu’awiyah lebih jengkel lagi dan berkata sama: “Tafsirkan saja ayat-ayat selain itu!”

Ibnu Abbas terus berkata: “Dengarlah ayat ini. Allah swt berfirman:“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian berbincang-bincang dengan Rasulullah saw maka sebelum itu hendaknya kalian bersedekah.”[3]. Mereka bertanya, apakah ada orang yang mengamalkan ayat itu? Aku pun terpaksa menjawab, ya, hanya Ali bin Abi Thalib yang mengamalkan ayat itu. Padahal ia tidak punya lebih dari satu Dinar, namun satu dinar itupun ia sedekahkan agar bisa berbincang dengan nabi. Dengan demikian aku menafsirkan ayat itu secara benar. Aku sama sekali tidak berani berbohong dalam menafsirkan Al Qur’an.”

Mu’awiyah tetap berkata sama: “Baca ayat-ayat selain itu.”

Ibnu Abbas terus menyebutkan ayat lainnya: “Allah swt juga pernah berfirman: “Di antara orang-orang itu ada yang menjual dirinya demi mencari keridhaan Tuhan. Allah maha pengasih pada para hambanya.”[4] Orang-orang bertanya tentang ayat itu bahwa siapakah yang dimaksud ayat tersebut? Aku jawab dengan jujur bahwa Ali bin Abi Thalib lah yang dimaksud. Saat itu Ali menidurkan dirinya di tempat tidaur nabi supaya nabi dapat pergi berhijrah dan orang-orang kafir Quraisy tertipu mengira yang tidur itu adalah nabi. Dengan demikian Ali berani mengorbankan dirinya demi keridhaan Tuhannya. Aku pun tidak bisa berbohong dalam menafsirkan ayat tersebut.”

Mu’awiyah lagi-lagi berkata: “Baca ayat yang lain.”

Ibnu Abbas berkata, “Allah swt berfirman: “Katakanlah wahai Muhammad: Aku tidak meminta apapun dari kalian sebagai balasan selain kecintaan terhadap keluarga(ku).”[5] Mereka berkata siapakah keluarga itu? Aku pun menjawab mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Begitulah aku menafsirkan ayat itu dengan benar.

Mu’awiyah berkata lagi: “Baca ayat yang lain.”

Ibnu Abbas  membaca ayat yang lain: “Allah swt juga pernah berfirman: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan noda dari kalian waha Ahlul Bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.”[6]Aku ditanya siapa mereka? Aku jawab mereka adalah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Demikian kutafsirkan ayat itu dengan jujur dan benar.”

Mu’awiyah terus mengulangi perkataannya: “Baca ayat lainnya.”

Ibnu Abbas berkata: “Saat Rasulullah saw ditantang sebagian orang untuk adu sumpah dan saling melaknat untuk membuktikan kebenaran kenabian nabi Muhammad saw, Allah swt berfirman:“Maka katakan wahai Muhammad: Mari kita memanggil anak-anak kita, wanita kita, diri kita, lalu kita bermubahalah supaya Allah melaknat orang yang terbukti pembohong.”[7] Banyak orang bertanya padaku tentang siapakah anak, wanita dan jiwa nabi itu? Aku pun dengan jujur menjelaskan bahwa Rasulullah saw membawa Hasan dan Husain sebagai anaknya, Fathimah Azzahra sebagai wanitanya, dan Ali bin Abi Thalib sebagai jiwanya. Saat itu tidak ada lelaki (dewasa) selain Ali bin Abi Thalib yang dibawa nabi untuk bermubahalah.”

Mu’awiyah berkata terus: “Baca ayat lainnya.”

Ibnu Abbas berkata: “Jika aku membaca ayat yang berbunyi:“Sesungguhnya wali kalian adalah Allah, Rasul-Nya, dan orang beriman yang mendirikan shalat dan memberikan zakat dalam keadaan ruku’.”[8] Lalu aku ditanya siapakah orang yang beriman dan memberikan sedekah dalam keadaan ruku’ itu? Aku menjawab ia adalah Ali bin Abi Thlaib yang menyedekahkan cincinnya saat sedang rukuk’ dalam shalatnya.”

Mu’awiyah tetap berkata sama: “Baca ayat-ayat selain itu.”

Ibnu Abbas melanjutkan: “Allah swt pernah berfirman:“Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan; dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.”[9] Lalu aku ditanya siapakah orang yang memberi petunjuk itu? Aku jelaskan bahwa ia adalah Ali bin Abi Thalib. Karena semua perawi hadits pernah meriwayatkan bahwa nabi sendiri yang pernah berkata demikian. Dengan demikian aku menafsirkan Al Qur’an dengan benar.”

Mu’awiyah lagi-lagi berkata: “Baca ayat yang lain.”

Ibnu Abbas berkata: “Allah swt juga pernah berfirman: “Katakanlah bahwa cukup Allah sebagai saksi antara aku dan kalian, begitu juga orang yang memiliki ilmu kitab (sebagai saksi).”[10] Lalu aku ditanya siapakah yang dimaksud orang yang memiliki ilmu kitab (pengetahuan yang dalam terhadap Al Qur’an) itu? Aku dengan jujur menjawab ia adalah Ali bin Abi Thalib. Rasulullah saw sendiri pernah berkata bahwa beliau adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya.”

Mu’awiyah berkata: “Baca saja ayat-ayat yang lannya.”

Ibnu Abbas berkata: “Ada juga ayat yang berbunyi: “Dan berpegang teguhlah kalian terhadap tali Allah bersama-sama dan jangan berpecah belah.”[11] Lalu aku ditanya siapakah tali Allah itu yang jika kita berpegang teguh padanya dan mengikutinya maka kita akan bersatu? Maka kukatakan tali Allah itu adalah Ahlul Bait nabi, yang dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib. Sungguh banyak sekali perawi yang meriwayatkan hadits yang berbunyi: “Wahai umat manusia, aku meninggalkan dua tali untuk kalian. Jika kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selamanya. Yang satu lebih besar dari satunya. Tali-tali itu adalah Al Qur’an yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang satu adalah Ahlul Baitku. Mereka tidak akan terpisah hingga keduanya masuk ke dalam surga.”

Lalu Ibnu Abbas dengan tegas berkata kepada Mu’awiyah, “Wahai Mu’awiyah, jika engkau ingin aku berkata yang lain selain itu dalam menafsirkan Al Qur’an, artinya engkau menyuruhku untuk berbohong dalam menafisrkan kitab Allah, dan aku tidak akan pernah melakukannya.”


[1] Al Insan ayat 8.

[2] Al Maidah ayat 67.

[3] Al Mujadalah, ayat 12.

[4] Asy Syura, ayat 23.

[5] Al Baqarah, ayat 207.

[6] Al Ahzab, ayat 33.

[7] Ali Imran, ayat 61.

[8] Al Ma’idah, ayat 55.

[9] Ar Ra’d, ayat 7.

[10] Ar Ra’d, ayat 43.

[11] Ali Imran, ayat 103.

dosa yang mempunyai salah satu dari kriteria di bawah ini termasuk ke dalam dosa besar

Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar

Pertanyaan: Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

Jawaban Global:

Berkenaan dengan masalah dosa besar, banyak sekali pemikiran dan pendapat ekstrim di antara sekte-sekte Islam, yang mana kebanyakan darinya terlahir dari faktor-faktor politik.

Murji’ah dan Khawarij adalah dua contoh yang menonjol dalam hal ini.

Murji’ah dalam usahanya untuk selalu menjaga citra pemimpin-pemimpin zalim mereka, menganggap iman yang nampak dan pengakuan sebagai Muslim dan segala yang bersifat dhahiri sebagai parameter utama yang tidak terpengaruh oleh segala dosa besar dan maksiat, meskipun sampai pada batas menumpahkan darah Ahlul Bait as juga. Di sisi lain, Khawarij dalam usahanya untuk membenarkan kekerasan yang mereka lakukan terhadap sekte-sekte Islam yang lain, terus menerus menyebarkan faham setiap pelaku dosa besar dihukumi murtad atau telah keluar dari Islam. Mu’tazilah memiliki pandangan yang moderat, namun tetap kurang jelas.

Adapun yang dapat difahami dari ajaran Syiah, yang menjadi asas adalah iman, namun jelas sekali iman yang nyata menuntut amal dan orang beriman tidak mungkin terus menerus melakukan dosa besar atau bahkan dosa kecil. Orang yang beriman jika terkadang tergelincir dan berdosa, dengan beberapa cara ia dapat bertaubat dan mengharapkan rahmat Allah untuk diampuni dan Ia pun akan mengampuninya. Kalau tidak, maka dapat disimpulkan bahwa ia tidak memiliki iman yang sebenarnya dan hanya mengaku sebagai orang baik dan beriman. Orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh yang sebenarnya, jelas tidak akan melewati ujian Ilahi dan di akherat pintu nerakalah yang terbuka untuknya.

Jawaban Detil:

Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa pembagian dosa-dosa besar dan kecil berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, seperti ayat 31 surah An-Nisa’, ayat 37 surah Asy-Syura dan ayat 32 surah An-Najm.

Karena Al-Qur’an tidak menjelaskan masalah-masalah seperti: Apa sajakah dosa-dosa besar itu? Bagaimana derajat orang yang melakukan dosa besar? Maka oleh karenanya banyak terjadi perdebatan sengit antara ulama dan pembesar sekte-sekte Islam.

Tentang masalah pertama, yakni tentang dosa apa sajakah yang disebut sebagai dosa besar, banyak sekali riwayat dalam kitab-kitab riwayat Syiah yang menjelaskannya.[1] Begitu juga sekte-sekte Islam lainnya, mereka telah mengkategorikan dosa-dosa tersebut dalam kitab-kitab teologi dan tafsir mereka.

Adapun tentang masalah yang kedua, sebelumnya kita harus menjelaskan hal-hal berikut ini:

1. Mengenai kedudukan pelaku dosa besar menurut sekte-sekte Islam, lebih sering disimpulkan tidak berdasarkan ajaran-ajaran Islami, namun terpengaruh dengan faktor-faktor politik. Silahkan anda perhatikan fakta-fakta berikut ini:

1.1. Murji’ah: Berpemikiran bahwa antara iman dan amal, iman-lah yang lebih asasi; yakni jika seseorang mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka dosa apapun yang ia perbuat tidak masalah dan takkan menghalanginya masuk surga di akhirat nanti. Pemikiran seperti ini mendapatkan dukungan keras oleh pemerintahan Umawi, karena mereka menganggap orang-orang pemerintahan meskipun pernah embunuh Ahlul Bait dan orang-orang tak berdosa, meminum minuman keras, dan lain sebagainya, sebagai orang yang bakal mendapatkan keselamatan dan masuk surga; karena mereka semua menunjukkan keimanan secara lahiriah dan melakukan berbagai syi’ar-syi’ar agama seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Para pemihak pemikiran ini pun berusaha membelanya dengan membawakan ayat-ayat dan riwayat. Misalnya:

Allah swt berfirman: “…(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]:3-5)

Orang-orang Murji’ah berdalih bahwa di ayat itu tidak disebutkan bahwa syarat untuk masuk surga adalah “tidak berbuat dosa”. Mereka lupa bahwa kriteria-kriteria di atas adalah milik orang-orang yang bertakwa yang disebut dalam ayat kedua surah itu, dan ketakwaan tidak sejalan dengan dosa-dosa besar.[2] Pola pemikiran seperti inilah yang dimanfaatkan oleh penguasa-penguasa zalim yang hanya merasa cukup mengaku beragama Islam namun mereka melakukan segala kejahatan.

Imam Shadiq as dalam hal ini berkata: “Murji’ah berkeyakinan bahwa orang-orang Bani Umayah yang telah membunuh kami, Ahlul Bait, adalah orang yang beriman!”[3]

1.2. Berbeda dengan Murji’ah yang begitu mengunggulkan sisi lahiriah seseorang dalam keimanan secara berlebihan, ada sekte ekstrim lain yang berada di sebrang pemikirannya, yang menyebut setiap pelaku dosa besar sebagai orang kafir yang telah keluar dari Islam, harta benda dan darah mereka pun halal. Pemikiran ini pun muncul karena beberapa faktor politik di masa pemerintahan Imam Ali as seusai perang Shiffin. Sekelompok yang disebut Khawarij atau Mariqin muncul dengan mengandalkan beberapa ayat Al-Qur’an[4] menyebut hakamiah atau arbitrase sebagai dosa besar, dan berdasarkan hal itu mereka menyebut Imam Ali as sebagai orang kafir dan memeranginya.[5] Mereka berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan akan dikekalkan di neraka![6] Alhasil mereka tidak menganggap iman sebagai masalah penting, bagi mereka yang sangat mendasar dan penting sekali adalah amal perbuatan lahiriah. Mereka menganggap iman sebagai bangunan yang mudah roboh yang dengan hancurnya satu batu bata maka seluruh susunan batu bata bangunan tersebut akan hancur. Sayang sekali banyak yang termakan tipuan mereka dan bergabung dengan sekte tersebut. Bertentangan dengan Murji’ah yang berusaha untuk membenarkan semua keburukan pemerintah-pemerintah, mereka berusaha menyemarakkan amal ibadah dan syi’ar-syi’ar agama secara lahiriah.

Oleh karena itu Imam Ali as menyebut pemikiran Bani Umayah lebih buruk dari pemikiran Khawarij.[7]

1.3. Selain itu ada pemikiran lainnya, yaitu pemikiran sekte Mu’tazilah, yang menyebut orang-orang Muslim yang berbuat dosa sebagai orang yang berada di “kedudukan antara dua kedudukan.”[8] Menurut mereka, umat Islam yang melakukan dosa besar bukan orang mukmin dan bukan orang kafir, namun berada di antara keduanya. Meskipun pemikiran mereka mirip dengan pemikiran Syiah, namun tidak dijelaskan secara rinci apa maksud kedudukan di antara dua kedudukan tersebut.

2. Permasalahan lain yang harus dijelaskan sebelum memaparkan pendapat Syiah tentang masalah dosa besar ini, adalah pengkategorian para pelaku dosa-dosa tersebut:

2.1. Orang-orang yang beriman: Iman dalam pemikiran Syiah terbagi menjadi dua bagian: umum dan khusus. Iman yang umum, adalah Islam, tanpa peduli dengan sekte apapun yang bersandang padanya. Sedangkan iman yang khusus adalah iman terhadap akidah-akidah dan keyakinan Islam, ditambah dengan keyakinan terhadap wilayah atau keimaman para Imam Ahlul Bait Rasulullah saw. Banyak sekali riwayat tentang pembagian tersebut. Misalnya, Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Islam adalah mengucapkan dua syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, menjalankan ibadah haji, dan puasa bulan ramadhan. Adapun iman, selain apa yang disebutkan di atas, juga harus menerima wilayah atau keimaman.”[9]

2.2. Orang-orang yang tidak beriman: Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak memiliki iman dalam artian umum, dan juga orang Muslim yang tidak memiliki iman dalam artian khusus. Jelas sekali kita tidak bisa menyamaratakan orang-orang seperti ini dalam satu garis; misalnya mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok:

A. Mustadh’af: Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengikuti agama yang benar tersebut. Orang-orang seperti itu, jika mereka berperilaku sesuai naluri manusiawi secara alami, tidak berbuat sewena-wena kepada selainnya, karena mereka tidak mendapatkan peluang untuk mengenal agama yang benar, meski terkadang mereka berbuat dosa besar, merka mungkin dapat dimaafkan.

B. Penentang: Orang-orang yang menentang dan memusuhi, adalah orang-orang yang tahu atas dasar bukti-bukti nyata bahwa agama yang ada di hadapan mereka adalah agama yang benar. Namun karena mereka memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, mereka enggan menerima agama tersebut. Tidak berimannya mereka cukup untuk membuat mereka kekal di api neraka. Jika mereka melakukan dosa-dosa besar, adzab yang mereka rasakan akan bertambah. Kesimpulan ini dapat difahami dari ayat 88 surah An-Nahl.

Menurut ulama Syiah menyatakan bahwa pemikiran mereka tidak seperti pemikiran Murji’ah yang memberikan “surat izin” kebebasan dari neraka untuk para pelaku dosa besar, tidak juga seperti Khawarij yang menyatakan bahwa seseorang sekali melakukan dosa besar maka ia akan kekal di neraka, dan juga tidak seperti Mu’tazilah yang menempatkan pelaku dosa besar di suatu tempat di antara keimanan dan kekufuran. Menurut Syiah, para pelaku dosa besar dapat disebut sebagai orang mukmin yang fasik, yang mana mereka tetap dapat memperbaiki diri dengan bertaubat dan mengembalikan tingkat keimanannya sehingga mendapatkan jalan kembali untuk meraih surga. Kalau tidak bertaubat, jelas keimanannya semakin merosotdan bisa jadi tidak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, lalu akhirnya menempati neraka kelak di akhirat. Iman dan amal perbuatan adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Orang yang mengaku beriman namun semua amal perbuatannya bertentangan dengan ajaran agama, maka jika demikian ia bukanlah orang yang beriman, dan hal itulah yang akan menyeretnya ke neraka.

Oleh karena itu, rukun pemikiran Syiah dalam masalah ini dapat disimpulkan demikian:

1. Jika seseorang memiliki iman, ia mempunyai kesempatan untuk bertaubat sehingga dosa-dosanya dimaafkan. Dalam hal dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, diperlukan keridhaan orang yang bersangkutan.

2. Orang yang melakukan dosa besar, selama tidak bertaubat, ia akan tersingkir dari derajat “keadilan” yang merupakan salah satu dari derajat keimanan. Namun bukan berarti itu membuatnya terlempar keluar dari golongan orang-orang yang beriman.

3. Melakukan dosa-dosa besar secara terus menerus tanpa bertaubat berujung pada keluarnya pelaku tersebut dari golongan orang yang beriman.

4. Memiliki keimanan dan keyakinan akan wilayah atau keimaman, tidak dapat dijadikan alasan untuk diperbolehkannya melakukan segala macam dosa.

5. Orang mukmin yang hakiki, berhubungan dengan spiritualitasnya, selalu berada dalam keadaan antara “takut” dan “harapan”.

Akan diberikan penjelasan lebih lanjut tentang lima di atas:

1. Orang-orang yang berbuat dosa tidak keluar dari dua keadaan: Pertama, orang itu melakukan dosa karena tidak meyakini keyakinan-keyakinan agamanya, yang mana orang seperti itu selain disebut sebagai pendosa juga disebut orang yang tidak beriman; dalam hal ini tidak ada yang perlu dibahas. Adapun kedua, ada orang-orang yang tetap berpegang teguh pada keyakinan agama mereka, namun terkadang mereka terbujuk hawa nafsu dan bisikan setan sehingga mereka melakukan sebagian dosa-dosa; keadaan kedua inilah yang perlu dibahas.

Allamah Hilli dalam kitab Syarh Tajrid-nya dalam menentang pemikiran Khawarij yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di neraka, berdalil demikian: Jika kita berkeyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar akan dihukum di neraka selamanya, maka orang yang seumur hidup beribadah namun di akhir hayatnya melakukan satu dosa besar tanpa ia kehilangan imannya adalah sama dengan orang yang melakukan dosa seumur hidup; padahal hal itu mustahil, tidak mungkjin kedua orang itu sama-sama dihukum selamanya di neraka. Tak satupun orang berakal menerima hal itu.[10]

Oleh karena itu, orang yang berbuat dosa besar tidak dapat disebut sebagai orang kafir. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang luasnya rahmat-Nya yang maha pengampun yang dapat memaafkan dosa hamba-hamba-Nya.[11] Jika rahmat Allah swt yang sedemikian luas itu tidak mencakup hamba-hamba itu, lalu siapakah yang akan mendapatkan rahmat-Nya?

Ya, yang tahu apakah pelaku dosa adalah orang yang tetap beriman ataukah tidak, hanyalah Tuhan semata. Sebagaimana Ia sendiri berfirman: “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Isra’:25) Tuhan maha pengampun, yang mana bahkan di sebagian ayat-ayat-Nya Ia tidak mensyaratkan taubat untuk memaafkan hamba-Nya.[12] Ia akan mengampuni dosa hamba-Nya yang menurut-Nya layak untuk diampuni, kecuali dosa itu adalah kesyirikan.[13] Banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa kemurahan Tuhan ini juga mencakup orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.[14]

Di dalam Al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan lebih dari itu, yakni dengan beriman maka Tuhan akan memaafkan dosa-dosa hamba yang telah lalu bahkan kesyirikan pun.[15]

Yang jelas dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa yang hanya berkaitan antara Tuhan dan hamba-Nya saja. Adapun doa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, misalnya memakan uang anak yatim, pelaku dosa dalam bertaubat harus berusaha meminta keridhaan orang yang bersangkutan. Imam Ali as berkata bahwa di hari kiamat nanti dosa-dosa seperti ini akan dihitung dengan detil tanpa ada keringanan sedikitpun.[16]

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, orang yang beriman dan pendosa meskipun dosanya adalah sebuah bentuk dari kufur nikmat, namun pelakunya tidak bisa kita sebut sebagai orang murtad begitu saja. Beda dengan pemikiran Khawarij yang timbul dari faktor-faktor politik dan malah bertentangan dengan ayat-ayat serta riwayat.

2. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Murji’ah menganggap perbuatan dosa sebesar apapun dan sesering apapun dilakukan, sama sekali tidak mempengaruhi keimanan pelakunya. Syiah tidak berkeyakinan seperti itu. Menurut Syiah, pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun,[17] tidak disebut “adil” sehingga tak sah untuk dijadikan imam jama’ah,[18] apa lagi untuk menjadi pemimpin umat.

Berdasarkan riwayat-riwayat, para pelaku dosa-dosa besar tidak memiliki derajat keimanan setinggi, serta tidak memiliki martabat keimanan seperti “keadilan”, yang mana orang-orang seperti itu tidak dapat diterima kesaksiannya di pengadilan Islami,[19] tidak boleh ditemani dan menikahkan mereka, dan seterusnya…[20]Mereka disebut orang yang mengkufuri nikmat, yang jika tidak bertaubat dan menyesali perbuatannya maka layak untuk disiksa di api neraka.[21] Kesimpulannya, iman secara lisan saja tidak bisa menjamin bahwa orang itu akan mendapatkan rahmat Tuhan dan pengampunan atas segala dosanya.

3. Perlu diketahui bahwa semakin banyak dosa yang dilakukan, kemungkinan untuk kembali ke derajat keimanan yang tinggi semakin kecil. Meskipun pintu-pintu taubat selalu terbuka lebar, mungkin saja pelaku dosa tidak berhasil atau mendapat taufik untuk benar-benar bertaubat. Perhatikan dua riwayat di bawah ini:

Saat imam Shadiq as ditanya tentang orang yang telah membunuh saudara seimannya dengan sengaja, tanpa menjelaskan bahwa taubatnya tidak akan diterima, imam menjawab bahwa orang itu tidak akan berhasil (mendapat taufik) untuk bertaubat.”[22]

Imam Ali as pernah menjelaskan bahwa orang yang beriman memiliki 40 perisai, dan selain itu para malaikat juga menjaganya dengan sayap-sayapnya, yang mana dengan melakukan sebuah dosa besar, satu dari perisai-perisai tersebut akan hancur. Jika ia terus menerus berbuat demikian, ia akan sampai pada suatu keadaan dimana ia tidak akan meninggalkan dosa tersebut atau bahkan membanggakannya. Lalu akhirnya akan menjadi musuh Ahlul Bait.[23]

Selain itu juga sering dijelaskan bahwa terus menerus melakukan dosa kecil akan merubahnya menjadi dosa besar.[24] Apa lagi terus menerus melakukan dosa besar?!

4. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa iman dan wilayah adalah asas paling penting, dan amal merupakan cabangnya. Meskipun itu benar, namun tak boleh disalahartikan. Misalnya perhatikan dua contoh berikut ini:

Pertama: Seseorang bernama Muhammad bin Madir meriwayatkan: Aku berkata kepada Imam Shadiq as: Aku pernah mendengarmu berkata: “Jika engkau punya iman, apapun yang ingin kau lakukan maka lakukanlah![25] Imam membenarkan perkataannya. Perawi heran dan bertanya: “Berarti orang yang beriman boleh berbuat zina, mencuri dan mabuk?” Imam berkata: “Innalillah… Apa yang kau fahami itu tidak benar sama sekali. Apakah kami orang-orang maksum tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan kami, sedangkan kalian pengikut kami bebas melakukan dosa apa saja? Makna perkataanku adalah: Jika engkau punya iman, perbuatan baik apapun yang ingin kau lakukan, entah kecil atau besar, maka lakukanlah; karena dengan iman itu Allah swt akan menerima amalmu.”[26]

Kedua: Ada riwayat lain yang berbunyi: “Mencintai Ali as adalah perbuatan baik, yang mana dengan itu dosa apapun tidak akan bermasalah bagi manusia.”[27]

Banyak juga yang menyalahartikan riwayat tersebut dan mengira bahwa seorang Syiah bebas melakukan dosa apapun! Sebagaimana ada seorang penyair berkata:

Jika penghitungan amal di hari kiamat di tangan Ali,

Aku menjamin, dosa apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah!

Jika syair di atas tidak bermaksud berlebihan, maka maksudnya sama sekali tidak benar. Karena kecintaan kepada Ali as tidak sejalan dengan berbuat dosa dan sewena-wena. Maksud perkataan beliau adalah, jika kita mencintai Imam Ali as, maka kita pasti tidak akan begitu saja berbuat dosa seenaknya karena kita merasa malu di hadapan beliau. Jika kita lalai dan berbuat dosa, atas dasar kecintaan tersebut, kita pasti akan segera menyesali, bertaubat dan membenahi perilaku kita.[28] Jika ada orang yang mengaku Syiah lalu dengan seenaknya melakukan semua dosa dan larangan agama, jelas ia adalah pembohong.

5. Jika kita lihat banyak perbedaan di riwayat-riwayat yang mana sebagian riwayat memerintahkan kita untuk tidak berputus asa akan rahmat Tuhan, namun sebagian riwayat benar-benar mengancam kita akan siksaan-Nya, itu artinya kita sebagai orang beriman tidak dijamin untuk selalu berada dalam rahmat-Nya dan masuk surga, begitu pula orang yang berdosa tidak dijamin pasti masuk neraka dan terlepas dari rahmat Tuhan seluruhnya.

Seorang yang beriman, harus mengharap rahmat dan pengampunan Tuhan. Karena Ia selalu membuka pintu taubat, bahkan untuk orang yang tidak beriman sekalipun. Begitu pula dijelaskan bahwa dengan melakukan perbuatan baik, perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya akan terhapus.[29]

Di sisi lain, karena mungkin saja manusia mati kapan saja, atau dosanya sangat berat sehingga tidak bisa dibenahi hingga akhir umurnya, apa lagi jika kehilangan imannya, faktor-faktor tersebut akan membuatnya tak dapat diberi syafa’at oleh manusia-manusia suci as. Begitu pula sebagian dosa, atau lemahnya iman, akan menyebabkan sirnanya amal perbuatan baik yang pernah dilakukan.[30] Oleh karenanya orang beriman pun harus mengkhawatirkan bahaya tersebut. Jadi, dalam kehidupan spiritual, kita harus takut dan khawatir akan malapetaka tersebut, namun juga terus berharap atas rahmat Allah swt yang sangat luas. [islamquest]


[1] Dalam masalah ini, anda dapat merujuk riwayat-riwayat yang ada dalam kitab Wasail Asy-Syiah, jilid 15 bab 46, halaman 318. Terjemahan judul bab tersebut adalah: Bab Menentukan Dosa Besar Yang Harus Dihindari.

[2] Untuk merujuk lebih lanjut tentang dalih Murji’ah dengan menggunakan ayat ini: Thayib, Sayid Abdul Husain, Athyab Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, jilid 1, halaman 259-258, cetakan Penerbitan islami Tehran, 1378 HS.

[3] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halamn 409, hadits 1, Darul Kutub Islamiah, Tehran, 1365 HS.

[4] QS. Al-An’am: 57; QS. Yusuf: 40 dan 67.

[5] Untuk mengkaji lebih lanjut tentang masalah ini, silahkan merujuk: Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemune, jilid 9, halaman 419-418, Darul Kutub Al-Islamiyah, Tehran 1374 HS.

[6] Banyak riwayat yang bertentangan dengan pemikiran kaum Khawarij ini, misalnya anda bisa membacar riwayat yang tertera di halaman 421 jilid 33 kitab Biharul Anwar, bab 25, Yayasan Al-Wafa’, Beirut, 1404 H.

[7] Nahjul Balaghah, halaman 94, khutbah 61, penerbit Darul Hijrah, Qom.

[8] Istilah serupa (yang bahasa Arabnya adalah Al-Manzilah bainal Manzilatain) juga digunakan dengan maksud “tidak jabr(keterpaksaan) dan tidak tafwidh (kebebasan total)” yang mana Syiah membenarkan hal itu. Namun Syiah tidak membenarkan istilah tersebut terkait dengan masalah dosa besar yang kita bahas sekarang.

[9] Kulaini, Muhuammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 24-25, hadits 4.

[10] Mughniyah, Muhammad Jawad, Tafsir Kasyif, jilid 1, halaman 139, Darul Kutub Al-Islamiah, Tehran, 1424 H, menukil dari Syarah Tajrid.

[11] QS. Al-Baqarah: 192-225; QS. Al-An’am: 147; QS. Al-A’raf: 156; QS. Al-Ghafir: 7; QS. Nuh: 10; dan masih banyak lagi. Di sebagian ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa dosa-dosa hamba yang tidak beriman pun juga dapat dimaafkan.

[12] Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa: “Kami akan memberikan syafa’at kepada orang yang melakukan dosa besar, dan mereka yang bertaubat dengan taubat sejati adalah orang-orang yang berbuat baik dan mereka tidak membutuhkan syafa’at.” Silahkan merujuk: Hurr Amili, Muhammad bin Al-Hasan, Wasail Asy-Syi’ah, jilid 5, halaman 334, hadits 20669, Muasasah Alul Bait, Qom, 1409 H.

[13] QS. An-Nisa’: 48 dan 116.

[14] Al-Kafi, jilid 2, halaman 284, hadits 18.

[15] QS. Az-Zumar: 53, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

[16] Nahjul Balaghah, halaman 255, khutbah 176.

[17] Banyak hadits-hadits dari para imam tentang masalah menurunnya derajat keimanan, sebagaimaa yang disebutkan dalah hadits 21 halaman 284 jilid kedua kitab Ushul Al-Kafi. Semua itu menjelaskan bahwa pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun, bukannya menjadi kafir.

[18] Silahkan merujuk riwayat-riwayat seperti yang disebutkan dalam Wasail Asy-Syi’ah, jilid 18, halaman 313-318, bab 11.

[19] Wasail Asy-Syiah, jilid 27, halaman 391, hadits 34932.

[20] Ibid, jilid 25, halaman 312, hadits 31987.

[21] Ibid, jilid 15, halaman 338, hadits 20683.

[22] Ibid, jilid 29, halaman 32, hadits 35077.

[23] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 279, hadits 9.

[24] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 15, halaman 337, hadits 20681.

[25] Dengan melihat lanjutan riwayat, ternyata perawi mengira jika kita memiliki iman kita dapat melakukan dosa apapun.

[26] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 1, halaman 114, hadits 287.

[27] Ihsa’i, Ibnu Abi Jumhur, ‘Awali Al-La’ali, jilid 4, halaman 86, hadits 103, penerbit Sayid Syuhada, Qom, 1405 H.

[28] Banyak sekali riwayat tentang kesedihan Rasulullah saw dan para Imam as akan dosa yang dilakukan oleh orang yang beriman. Silahkan merujuk: Wasail Asy-Syiah, jilid 16, halaman 107, hadits 21105, dan riwayat-riwayat serupa.

[29] QS. Al-Baqarah: 271; QS. Ali Imran: 195; QS. An-Nisa’: 31; QS. Al-Maidah: 12 dan 65; QS. Al-Anfal: 29; QS. Al-’Ankabut: 7; QS. Az-Zumar: 35; QS. Al-Fath: 5; QS. At-Taghabun: 9; QS. Ath-Thalaq: 5; QS. At-Tahrim: 8; dan seterusnya.

[30] QS. Al-Baqarah: 217; QS. Al-Maidah: 5 dan 53; QS. Al-An’am: 88; QS. Huud: 16; QS. Al-Ahzab: 19; QS. Az-Zumar 65; QS. Al-Hujurat: 2; dan seterusnya.

Kriteria dosa-dosa besar

Tentang masalah dosa-dosa besar yang telah disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, para mufassir dari satu sisi dan para ahli hadis dan fuqaha dari sisi lain sangat banyak membahas masalah ini.

Sebagian menganggap bahwa semua dosa merupakan dosa besar, dengan alasan bahwa di hadapan Allah swt. setiap dosa adalah besar. Sementara, sebagian yang lain mengatakan bahwa besar atau kecilnya sebuah dosa merupakan sebuah hal yang relatif. Setiap dosa apabila dibandingkan dengan dosa yang lebih besar menjadi dosa kecil, dan apabila dibandingkan dengan dosa yang lebih kecil,  akan menjadi dosa yang besar.

Sebagian lagi menetapkan parameter besar-kecilnya sebuah dosa dengan melihat janji Allah swt. dengan azab -Nya sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Qur’an.

Tak jarang pula dikatakan bahwa dosa besar adalah setiap dosa yang memiliki hadd syar’i (hukuman tertentu).

Akan tetapi, dengan memperhatikan adanya ungkapan “kabîrah” (besar) yang menunjukkan besarnya sebuah dosa, maka akan lebih baik apabila setiap dosa yang mempunyai salah satu dari kriteria di bawah ini termasuk ke dalam dosa besar:

a. Dosa-dosa yang Allah swt. menjanjikan azab atasnya.

b. Dosa-dosa yang menurut pandangan ahli syariat dan lisan riwayat merupakan dosa besar.

c. Dosa-dosa yang dalam sumber hukum syariat merupakan dosa yang lebih besar dari sebuah dosa yang termasuk dari bagian dosa besar.

d. Dosa-dosa yang di dalam riwayat mu’tabar ditegaskan sebagai dosa besar.

Di dalam riwayat Islam, jumlah dosa besar ini disebutkan secara berbeda. Pada beberapa pendapat dikatakan bahwa jumlah dosa besar adalah tujuh macam (menghilangkan nyawa orang lain, durhaka kepada orang tua, memakan riba, kembali menjadi kafir setelah hijrahnya, melakukan tuduhan zina terhadap seorang wanita suci, memakan makanan anak yatim, dan melarikan diri dari medan jihad).

Pada sebagian riwayat, jumlah dosa besar ini tetap dalam jumlah tujuh dengan perbedaan, bahwa sebagai ganti dari durhaka kepada orang tua, adalah apa-apa yang Allah swt. telah mewajibkan neraka karenanya.

Sedangkan pada sebagian riwayat yang lain disebutkan bahwa dosa besar terdiri dari sepuluh macam dosa. Sebagiannya lagi mengatakan, sembilan belas dan sebagian lainnya, lebih banyak dari jumlah tersebut.

Perbedaan jumlah dosa besar ini muncul lantaran adanya perbedaan derajat yang terdapat pada masing-masing dosa besar. Bahkan, sebagiannya lebih penting dari yang lain yang biasa disebut dengan akbar al-kabâ’ir. Oleh karena itu, tidak ada kontradiksi di antaranya.

 

Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka?

 

Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka

Pertanyaan: Ada sebuah riwayat dari Imam Ali as: “Umat Islam Syiah tidak akan masuk neraka.” Begitu juga aku membaca dalam sebuah buku bahwa tingkat pertama neraka Jahanam adalah khusus untuk umat Islam (umat nabi) yang pendosa! Mana yang benar?

Jawaban Global:

Tolak ukur perhitungan di hari kiamat untuk menentukan apakah sesorang layak memasuki surga atu neraka berdasar pada kaidah-kaidah yang telah dijelaskan oleh Allah swt dalam ayat-ayat suci-Nya. Tuhan tidak mempedulikan faktor perbedaan kelompok, keturunan, dan bangsa dalam hal ini. Tolak ukur utama adalah amal perbuatan manusia; yakni kenikmatan surga adalah balasan dari iman dan amal saleh, sedangkan neraka adalah balasan kekufuran dan dosa.

Jawaban Detil:

Sepanjang sejarah banyak yang membahas masalah umat yang bakal selamat di akhirat (firqah najiah). Pembahasan tersebut kurang lebih bertumpu pada sebuah hadits yang diaku dari nabi, yang dikenal dengan hadits iftiraq. Para penulis buku-buku sekte dan mazhab-mazhab berusaha mengkategorikan sekte-sekte yang ada sebisa mungkin agar susuai dengan hadits tersebut. Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa akan hanya ada satu kelompok yang selamat dan masuk surga. Akhirnya setiap sekte dan mazhab berusaha untuk menyebut dirinya sebagai kelompok yang benar itu dan layak memasuki surga. Al-Qur’an dalam menyinggung masalah kebahagiaan sejati akhirat sering kali menjelaskan adanya beberapa kelompok yang tak hanya menganggap diri mereka yang layak masuk surga, namun juga berkeyakinan bahwa selain mereka tidak berhak masuk ke dalam surga. Begitu juga dalam riwayat-riwayat Ahlu Sunah dan Syiah banyak sekali ditemukan hadits tentang pahala dan siksa akhirat, dan terkadang setiap salah satu dari mereka memberikan tolak ukur tertentu untuk permasalahan tersebut. Dengan memahami pendahuluan singkat tersebut, kini perlu dijelaskan dua hal:

Pertama: Apakah Tuhan telah menjelaskan toak ukur orang-orang yang berhak masuk surga dan neraka? Atau tidak?

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang sebagian kaum yang menyatakan diri merekalah yang paling berhak untuk masuk surga. Mereka mengira bahwa adzab neraka hanya akan mereka rasakan selama beberapa hari saja, lalu akhirnya mereka akan mendapatkan tempat di surga. Dalam menanggapi keyakinan seperti itu, Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”” (QS. al-Baqarah [2]:80)

Setelah itu Allah swt menjelaskan kaidah umum untuk menentukan siapakah yang berhak masuk surga atau neraka. Ya, orang-orang yang melakukan dosa, lalu dampak dosa itu meliputi dirinya, maka orang seperti itu adalah penduduk neraka, dan mereka kekal di sana. Adapun mereka yang beriman dan melakukan amal perbuatan baik, mereka adalah penduduk surga dan untuk selamanya mereka di sana.[1]

Begitu pula sebagian berkeyakinan bahwa hanya Yahudi dan Nashrani saja yang akan masuk surga. Lalu Al-Qur’an menepis pengakuan mereka dan menyatakan bahwa perkataan mereka tidak memiliki bukti, menganggap semua itu hanyalah mimpi dan khayalan mereka saja. Lalu Al-Qur’an menjelaskan tolak ukur sebenarnya dengan berfirman: “…bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:112)

Ayat suci itu menyatakan bahwa sebab utama masuk surga adalah penyerahan diri kepada perintah Tuhan dan perbuatan baik. Yakni surga tidak akan diberikan kepada orang yang hanya mengaku-aku saja, namun diperlukan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, Al-Qur’an menjadikan amal perbuatan sebagai tolak ukur berhaknya seseorang untuk masuk surga atau neraka. Meski juga ada kelompok ketiga yang berada di antara mereka, yang mana Al-Qur’an menjelaskan mereka adalah orang-orang yang memiliki harapan terhadap Tuhannya; namun hanya Ia yang tahu entah mereka dimaafkan atau disiksa.[2]

Kedua: Siapakah yang dimaksud orang-orang Syiah yang dijanjikan masuk surga itu?

Di antara riwayat-riwayat Syiah, juga ada hadits-hadits dari nabi dan para imam maksum yang menjelaskan tentang bahwa umat Syiah akan masuk surga. Kata-kata “Syiah” dalam hadits tersebut membuat kita terdorong untuk mengkaji lebih matang siapakah yang dimaksud dengan “Syiah” dalam hadits-hadits itu? Baru setelah itu kita akan membahas masalah-maslaah lain yang berkaitan dengannya.

Makna Leksikal Syiah

Para ahli bahasa menyebutkan banyak makna untuk kata “Syiah”. Misalnya: kelompok, umat, para penyerta, para pengikut, para sahabat, para penolong, kelompok yang berkumpul pada satu perkara.[3]

Makna Istilah Syiah

Syiah dalam istilah adalah orang-orang yang meyakini bahwa hak kepenggantian nabi ada pada keluarga risalah, dan dalam menerima makrifat-makrifat Islami mereka mengikuti Ahlul Bait as, yakni para imam Syiah as.[4]

Kata Syiah sepanjang sejarah mengalami berbagai perubahan dalam maknanya. Misalnya terkadang diartikan sebagai kelompok politik, terkadang pecinta, atau juga pengikut aliran pemikiran yang berprilaku mengikuti para imam suci as.

Syiah Menurut Para Imam Maksum as

Dari beberapa riwayat yang dinukil dari kalangan Ahlul Bait as dapat difahami bahwa yang dimaksud dengan Syiah adalah orang-orang khusus yang tidak hanya mengaku sebagai pengikut saja. Namun para Imam suci menekankan adanya sifat-sifat khas yang dimiliki mereka, seperti mengikuti para Imam dalam amal dan perilaku. Oleh karena itu sering kali para Imam menegaskan kepada sebagian orang yang mengaku Syiah untuk berprilaku sebagaimana yang diakuinya. Untuk lebih jelasnya mari kita membaca beberapa riwayat yang akan kami sebutkan.

Ada banyak riwayat dari para Imam maksum as yang sampai ke tangan kita tentang siapa Syiah sejati yang sebenarnya. Tak hanya itu, bahkan ada celaan terhadap sebagian orang yang berkeyakinan bahwa diri mereka tidak akan masuk neraka karena Syiah, lalu mereka disebut sebagai Syiah paslu.

Seseorang berkata: “Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Sebagian dari pengikutmu melakukan dosa-dosa dan berkata: “Kami memiliki harapan.” Lalu Imam as berkata: “Mereka berbohong. Mereka bukanlah kawan kami. Mereka adalah orang-orang yang membawa harapannya kesana kemari, yang mana ketika mereka mengharap sesuatu, mereka mengejarnya, lalu jika mereka takut akan sesuatu, mereka lari.”.”[5]

Imam Shadiq as pernah berkata: “Bukanlah Syiah (pengikut) kami orang yang mengaku dengan lisannya namun berperilaku bertentangan dengan kami. Syiah adalah orang yang hati dan lidahnya sejalan dengan kami, begitu pula perilaku dan amal perbuatannya mengikuti kami; merekalah Syiah kami.”[6]

Para Imam as sering kali menyebutkan kriteria-kriteria Syiah sejati. Misalnya anda dapat membaca dua riwayat di bawah ini:

Imam Baqir as berkata: “Wahai Jabir, apakah cukup bagi pengkut kami untuk hanya mengaku sebagai Syiah? Demi Tuhan, Syiah kami adalah orang-orang  yang bertakwa dan takut akan Tuhannya, menjalankan perintah-perintah-Nya. Mereka (Syiah) tidak dikenal kecuali sebagai orang yang rendah hati, khusyu’, banyak mengingat Tuhan, berpuasa, shalat, beramah-tamah dengan tetangga yang miskin, orang yang butuh, para pemilik hutang, anak-anak yatim, serta berkata jujur, sering membaca Al-Qur’an, menjaga lidahnya terhadap sesamanya, dan juga orang yang dipercaya oleh keluarganya.”[7]

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Syiah kami adalah orang yang bertakwa, setia, zuhud, ahli ibadah, dan orang yang di malam hari shalat sebanyak lima puluh satu rakaat, dan berpuasa di siang hari, menunaikan zakat hartanya, menjalankan ibadah haji, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram.”[8]

Jika tidak dijelaskan apa maksud Syiah sejati yang sebenarnya, maka artinya perbuatan buruk diperbolehkan untuk dilakukan oleh sekelompok orang. Di sepanjang sejarah kita pun menyaksikan sebagian kelompok yang mengaku Syiah namun tidak menjalankan perintah-perintah agama, lalu berdalih dengan riwayat-riwayat tersebut seraya menekankan bahwa “agama adalah mengenal Imam”[9], dan mereka pun terus-terusan sembarangan melakukan dosa dan kemunkaran. Akhirnya fenomena tersebut sangat merugikan ke-Syiahan yang sebenarnya yang mana tak dapat terbayar dengan mudah.

Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa kadar pahala dan siksa seseorang bergantung pada sikapnya terhadap agama. Fakta ini tidak berbeda antara satu kalangan dengan kalangan lainnya. Kelompok, aliran atau apapun tidak akan mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan dan tak dapat dijadikan alat untuk lari dari siksaan neraka. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)

Imam Ridha as berkata kepada saudaranya yang dikenal dengan sebutan Zaida al-Nar: “Wahai Zaid, apakah perkataan para pedagang pasar: “Fathimah telah menjaga dirinya dan Allah mengharamkan api neraka terhadapnya dan juga anak-anaknya.” telah membuatmu sombong? Demi Tuhan bahwa hal itu hanya berlaku untuk Hasan dan Husain serta anak yang lahir dari rahimnya. Apakah bisa Imam Musa bin Ja’far as mentaati Tuhan, berpuasa di siang hari, bertahajud di malam hari dan shalat malam, lalu engkau dengan seenaknya bermaksiat kemudian di akhiran tanti engkau berada di derajat yang sama dengannya? Atau lebih mulia darinya?!”[10]

Salah satu misi agama adalah mengantarkan manusia baik secara individu maupun bersama kepada kesempurnaan. Tujuan itu tidak akan mungkin tercapai tanpa ketaatan akan perintah-perintah Tuhan. Atas dasar itu, agama ini tidak mungkin memberikan jalan bagi suatu kelompok untuk berjalan di luar jalur yang telah ditunjukkan lalu menempatkan mereka di tempat yang sama atau lebih tinggi dari selainnya di akhirat nanti. Hal ini bertentangan dengan tujuan penciptaan yang sebenarnya. Jika yang dimaksud denga Syiah adalah apa yang telah dijelaskan oleh para Imam, maka tidak heran jika orang-orang dengan kriteria seperti itu bakal mendapatkan tempat di surga. Adapun orang-orang yang hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, jelas mereka tidak akan mendapatkan apa yang dijanjikan kepada Syiah sejati.

Adapun tentang riwayat yang menjelaskan bahwa tingkat pertama neraka jahanam adalah khusus untuk umat Islam yang pendosa, perlu dikatakan bahwa tolak ukur surga dan neraka menurut Al-Qur’an adalah amal manusia. Hanya sebutan Muslim saja tidak cukup, karena antara Islam dan Iman sangat jauh perbedaannya. Tuhan semesta alam dalam hal ini berfirman kepada orang-orang yang mengaku beriman: “Jangan katakan kami telah beriman, katakan kami telah Muslim.” (QS. Al-Hujurat [49]:14). Ketika seseorang mengucapkan dua syahadat, maka orang itu telah menjadi Muslim; dan hal ini hanya berkaitan dengan kehidupan duniawi dan status sosial saja. Adapun surga dan balasan di dalamnya, adalah untuk orang-orang yang lebih dari sekedar menjadi Muslim saja; yakni sebagaimana yang telah dijelaskan, untuk memasuki surga, seseorang harus menjadi Muslim (menyerahkan diri) dan juga memiliki keimanan di hati, serta melakukan amal saleh dengan raga. Oleh karena itu tolak ukur kelayakan masuk surga atau neraka sangat jelas sekali dalam Al-Qur’an, dan hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, atau Islam, tidak akan menghindarkan seorangpun dari siksa api neraka atau memasukkanya ke surga.

Kesimpulannya, amal perbuatan adalah tolak ukur utama, bukan pengakuan sebagai Muslim, Syiah, atau selainnya. Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, orang Islam dan Syiah yang tidak menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya pasti tidak akan mendapatkan rahmat Tuhan dan layak untuk disiksa di neraka. Adapun apakah adzab di neraka itu kekal abadi ataukah tidak, lain lagi permasalahannya. Selain itu juga ada masalah Syafa’at yang masih perlu dibahas terkait dengan hal itu di kesempatan lainnya.

Untuk kami ingatkan, maksud kami bukan berarti ke-Syiah-an seseorang sama sekali tak ada gunanya. Namun tak dapat diingkari bahwa pemikiran (atau iman) dan amal perbuatan adalah dua sayap bagi manusia untuk terbang menuju kesempurnaan. Untuk mengkaji lebih jauh, seilahkan merujuk: Turkhan, Qasim,Negaresh i Erfani, Falsafai wa Kalami be Syakhsiyat va Qiyam e Emam Husain as, hal. 440-447. [islamquest]


[1] QS. Al-Baqarah [2]:81-82.

[2] QS. At-Taubah [9]:106.

[3] Ibnu Mandzur, Jamaluddin, Lisan Al-Arab, jil. 8, hal. 188, Dar Shadir, Birut, cetakan pertama, 1410 H.

[4] Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Syi’e dar Esalam, hal. 25-26, Ketabkhane e Bozorg e Eslami, Tehran, 1354 HS.

[5] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jil. 2, hal. 68, Darul Kutub Islamiah, Tehran, cetakan keempat, 1365 HS.

[6] Majlisi, Muhammad Baqir, Biharl Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[7] Shaduq, Muhammad bin Ali, Al-Amali, terjemahan Kamrei, hal. 626, Islamiah, Tehran, cetakan keenam, 1376 HS.

[8] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[9] Man La Yahdhuruhul Faqih, jil. 4, hal. 545, Muasasah Nasyr Islami, Qom, cetakan ketiga, 1413 H.

[10] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 43, hal. 230, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

Isa telah mati, namun bisa jadi setelah beliau mati ia dihidupkan kembali ke bumi

Apakah nabi Isa telah mati

Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan “mematikanmu” dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.”(QS. Ali-Imran [3]:55)

Berdasarkan ayat tersebut, nabi Isa as telah mati. Apakah dengan dicabutnya nyawa, ada arti lain selain kematian? Apa alasan anda mengatakan Nabi Isa as tidak mati namun ia diangkat ke sisi Tuhannya?

Jawaban global:

Sebab timbulnya pertanyaan seperti ini adalah kesalahan sebagian pihak dalam menerjamahkan ayat Al-Qur’an. Oleh karena itu, jika ayat di atas diterjemahkan dengan benar, tidak akan ada pertanyaan seperti ini. Dengan mengkaji Al-Qur’an secara seksama, kita bakal menyadari bahwa kata “tawaffa” dalam Al-Qur’an tidak selalu berarti wafat atau mati, namun juga memiliki arti lainnya. Oleh karena itu kita tidak bisa menjadikan salah pengartian itu sebagai dalil telah meninggalnya nabi Isa as, bahkan banyak sekali riwayat-riwayat yang membuktikan bahwa ia tidak mati. Arti ayat yang benar adalah: “Dan ingatlah ketika Allah swt berkata kepada nabi Isa as: “Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu ke sisi-Ku.”.”

Jawaban detil:

Sebab munculnya pertanyaan seperti ini adalah kesalahan sebagian penerjemah dalam menerjamahkan ayat Al-Qur’an. Mereka menerjemahkan kata“mutawaffiika” dengan arti “mematikanmu”. Meskipun banyak juga yang menerjemahkan ayat di atas dengan terjemahan yang tidak bertentangan dengan tetap hidupnya Nabi Isa as. Misalnya ayat itu diterjemahkan: “Dan ingatlah ketika Allah swt berkata kepada nabi Isa as: “Aku akan mengambilmu (dari dunia dan dari antara orang-orang yang ada di sekitarmu) dan mengangkatmu ke sisi-Ku.”.”

Harus difahami bahwa kata “tawaffa” berasal dari kata “wafa” yang memiliki berbagai arti, yang di antaranya adalah: “mati”, “mengambil”, “menyempurnakan”, dan lain sebagainya.[1] Menepati janji juga adalah salah satu arti kata “wafa”, karena orang itu menyempurnakan apa yang dijanjikannya. Begitu juga ketika seseorang telah mengambil seluruh uang dari seseorang yang telah berhutang kepadanya, dalam bahasa Arab dikatakan: “tawaffa dainahu” atau “ia telah mengambil uang yang dihutangkannya.”

Majma’ul Bahrain, salah satu kitab bahasa, dalam menjelaskan ayat di atas menyebutkan: “Yakni maksud ayat itu adalah: “Aku akan mengamankanmu dari gangguan orang-orang kafir dan mencegahmu disalib oleh mereka, dan mengakhirkan ajalmu yang telah Kutetapkan.”[2]

Oleh karenanya, meskipun memang kata “tawaffa” juga berarti kematian sebagaimana dalam beberapa ayat,[3] namun bukan berarti kata itu selalu berarti demikian. Misalnya Allah swt befirman: “Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]:60)

Dengan pasti dapat kami katakan bahwa maksud dari “yatawaffakum” di ayat itu bukan berarti “mematikan kalian”, namun berarti “menidurkan kalian” di malam hari yang mana hal itu terus berulang tiap hari.

Oleh karenanya, ayat di atas tidak bisa disalah artikan dengan kematian nabi Isa as. Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada beliau? Pembahasan ini cukup menarik. Silahkan perhatikan beberapa penjelasan berikut ini:

1. Orang-orang Kristen berkeyakinan bahwa beliau disalib dan dibunuh oleh musuh-musuhnya. Namun Al-Qur’an menentang keyakinan itu dengan tegas. Allah swt berfirman: “padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]:157)

2. Al-Qur’an meskipun dengan tegas mengingkari kematian nabi Isa as, namun tak satupun ayat Al-Qur’an menjelaskan bahwa nabi Isa as tidak “mati” dengan “cara” lain dan hidup hingga saat ini.

3. Ayat-ayat seperti ayat 55 surah Ali-Imran dan juga ayat 117 surah Al-Ma’idah, yang meskipun ayat-ayat itu tidak menunjukkan secara pasti bahwa nabi Isa as telah wafat, namun secara tersirat juga menjelaskan bahwa bentuk interaksi beliau dengan dunia kini jauh berbeda dengan saat beliau benar-benar hidup waktu itu.

4. Banyak sekali riwayat dalam kitab-kitab Ahlu Sunah dan Syiah yang menjelaskan bahwa nabi Isa as masih hidup. Jadi meskipun tidak ada ayat Qur’an yang menegaskan secara jelas bahwa beliau hidup, namun banyak sekali riwayat yang menjelaskan hal itu. Misalnya, simak beberapa riwayat di bawah ini:

4.1. Rasulullah saw berkata kepada orang-orang Yahudi: “Sesungguhya Nabi Isa as tidak mati, tapi ia bakal kembali lagi kepada kalian di hari kiamat nanti.”[4]

4.2. Rasulullah saw bersabda: “…dan Mahdi dari keturunanku. Saat ia datang nanti, nabi Isa as akan hadir bersamanya dan shalat di belakangnya.”[5]

5. Jika seandainya pun kita tidak meyakini adanya makna lain selain “kematian” bagi kata “tawaffa” di ayat itu, yang mana jika demikian kita meyakini bahwa nabi Isa as telah mati, namun bukan berarti tidak ada kemungkinan ia kini tidak hidup. Karena bisa jadi setelah beliau mati ia dihidupkan kembali hingga hari kiamat nanti. Karena berdasarkan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dapat difahami bahwa ada sebagian orang yang hidup setelah mati selama seratus tahun.[6] Oleh karenanya, bisa jadi kejadian itu terjadi pula pada nabi Isa as

sumber :


[1] Ibnu Mandhur, Lisanul Arab, jil. 15, hal. 398, cet. pertama, penerbit Adab, Hauzah, Qom, 1405 H.

[2] Majma’ul Bahrain, jil. 1, hal. 444, kata “wafa”, Ketabforushi Morteza, Tehran, 1375, H.S.

[3] QS. An-Nisa’ [4] : 97; QS. Muhammad [47] : 27; QS. Yunus [10] : 46; QS. Sajdah [32] : 11.

[4] Ibnu Abi Hatim, Tafsirul Qur’anil ‘Adhim, jil. 4, hal. 1110, hadits 6232,  Maktabah Nizarul Musthafal Bariz, Saudi Arabia, 1419 H.

[5] Syaikh Shaduq, Al-Amali, jil. 1, hal. 218, penerbit Ketabkhane e Eslami, Tehran, 1362 H.S.

[6] “Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]:259)

 

Kedudukan Sayidah Maryam as

 

Kedudukan Sayidah Maryam as

Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali-Imran [3]:42)

Apa yang menjadi sebab tingginya kedudukan Sayidah Maryam as? Apakah ia telah berkhidmat kepada umat manusia ataukah hanya sekedar banyak beribadah lebih dari perempuan-perempuan lainnya? Cerita tentang Nabi Isa as juga menunjukkan bahwa para nabi telah ditentukan sejak dahulu kala. Mereka tidak melakukan usaha apapun untuk mencapai tingginya keluhuran sifat-sifat nabi. Kalau tidak, bagaimana mungkin dari bayi ia sudah mengaku sebagai nabi?

Jawaban global:

Dalam Al-Qur’an dan hadits disebutkan bahwa Sayidah Maryam as putra Imran as lahir dari keluarga miskin yang tak mampu mengeleloa hidup sehari-hari karena kondisi ekonominya (karena ayahnya meninggal dunia sebelum ia lahir). Oleh karena itu ia dibesarkan oleh Nabi Zakaria as, istri dari bibi Sayidah Maryam as.

Kehidupan wanita mulia itu penuh dengan kesusahan, kesengsaraan, dan cobaan. Karena sejak sebelum lahir ibunya telah berjanji agar ia dijadikan sebagai pembantu kuil Baitul Muqaddas. Namun meski sedemikian susahnya, Sayidah Maryam as telah menjalankan tugasnya sebagai pembantu kuil dengan tabah tanpa mengadu sedikitpun. Ia pun selalu bersabar atas celaan-celaan yang dilontarkan mulut-mulut di sekitarnya. Karena kesabarannya dalam melewati hari-hari penuh ujian itulah Allah swt memberikan kedudukan dan derajat yang tinggi kepadanya.

Mukjizat dapat berbicaranya nabi Isa as saat ia masih bayi, memang merupakan bukti keagungannya. Namun selain itu, Tuhan mengaruniai kemampuan tersebut untuk membela sang ibu (Sayidah Maryam as) dari tuduhan orang-orang sekitarnya saat itu.

Dan juga, karena Tuhan swt maha tahu akan kelayakan Nabi Isa as, Ia telah memberikan banyak karunia sebagai “balasan sebelum amal” kepadanya dan menyampaikannya kepada kedudukan setinggi itu.

Jawaban detil:

Supaya permasalahan ini dapat menjadi lebih jelas, sebelumnya mari kita menelaah kisah hidup Sayidah Maryam as:

Dari sumber-sumber sejarah yang ada, dapat difahami bahwa Hanah dan Asya’ adalah dua bersaudari, yang pertama dinikahi oleh Nabi Imran as, dan yang kedua dinikahi oleh Nabi Zakaria as.

Tahun demi tahun berlalu, namun istri Nabi Imran as tidak memiliki seorang anak pun. Pada suatu hari, Hanah duduk di bawah pohon melihat burung yang sedang memberi makan anak-anaknya. Fenomena itu begitu menyentuh hatinya, yang mengobarkan rasa cintanya kepada anak yang sementara itu masih belum dikaruniai Tuhan swt. Akhirnya dari lubuk hati ia memohon kepada Allah swt untuk dikaruniai seorang anak. Lalu doa itu dikabulkan, dan akhirnya ia mengandung.

Dari sebagian riwayat juga dapat difahami bahwa Allah swt pernah mewahyukan kepada nabi Imran as bahwa kelak Ia akan mengaruniai seorang anak yang penuh berkah, yang dapat mengobati orang-orang yang sakit dan bahkan menghidupkan orang yang sudah mati, dan ia adalah seorang nabi yang bakal diutus untuk Bani Israil.

Nabi Imran as menceritakan hal itu kepada istrinya. Istrinya pun gembira. Saat ia hamil, ia mengira bahwa anak yang dijanjikan itu adalah yang dikandungnya. Padahal mereka tidak tahu kalau yang dikandung adalah Sayidah Maryam. Atas dasar sangkaan tersebut, sang ibu berjanji bahwa anak yang akan ia lahirkan nanti bakal berkhidmat di kuil Baitul Muqaddas sebagai pembantu. Namun saat bayi itu lahir, dan ternyata bayi itu adalah perempuan, sang ibu kebingungan harus berbuat apa. Karena pembantu di Baitul Muqaddas adalah lelaki, sama sekali tak pernah ada perempuan yang menjadi pembantu di kuil suci itu.

Sebagian ahli berkata: “Ndzar dan janji istri Nabi Imran as menunjukkan bahwa saat itu suaminya telah meninggal dunia. Karena tidak mungkin ia sendiri memutuskan untuk berjanji dengan janji tersebut.”[1]

Dari ayat-ayat di atas, dan sebagaimana yang dapat kita fahami dari hadits-hadits, jelas bahwa Maryam putri Imran terlahir dari keluarga miskin yang tak mampu, yang tak dapat menjalani hari-harinya dengan mudah karena tekanan ekonomi. Oleh karena itu, Nabi Zakaria as datang untuk mengambil dan membesarkan Sayidah Maryam as.[2]

Berdsarakan yang telah dijelaskan di atas, kita dapat fahami bahwa hidup Sayidah Maryam as penuh dengan kesusahan dan cobaan. Karena sebagaimana yang dijanjikan oleh ibunya, ia harus berkhidmat di kuil Baitul Muqaddas dengan mengemban segala kesusahannya. Namun meski sedemikian susahnya, ia tetap menjalani tugas-tugas itu dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Ia juga tabah mendengar celaan-celaan orang di sekitarnya yang menyakitkan. Karena ketabahannya itulah Allah swt memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepadanya, sehingga ia berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali-Imran [3]:42)

Ya, berdasarkan ketabahan seperti ini Tuhan swt memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada seorang wanita di antara wanita-wanita lainnya. Allah swt berfirman: “Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Al-Baqarah: [2]:158)

Adapun khidmat untuk umat manusia, ya, beliau telah melakukan jasa besar untuk umat manusia. Ia adalah seorang ibu bagi nabi besar yang termasuk ulul-azmi, ia sendiri juga merupakan suri tauladan bagi para ibu dalam mendidik anaknya di setiap masa; itu adalah khidmat besar Sayidah Maryam as untuk umat manusia. Khidmat terbesar bagi umat manusia adalah mendidik manusia dengan pendidikan yang benar; dan itu telah dilakukan oleh Sayidah Maryam as.

Orang yang berhasil mendidik seorang manusia menjadi orang yang baik dan benar lalu mempersembahkannya kepada masyarakat, adalah orang yang telah memberikan layanan dan khidmat terbesar bagi umat manusia. Apalagi Sayidah Maryam as, yang telah membesarkan seorang nabi yang jelas-jelas telah memberikan hidayah kepada seluruh umat manusia di jamannya. Apakah ada khidmat yang lebih besar dari itu?

Ketakwaan dan ibadah serta ketabahan Sayidah Maryam as dalam menjalani hari-harinya berkhidmat di Baitul Muqaddas adalah hal yang tak bisa disepelekan. Atas dasar khidmat dan ketakwaan itulah Sayidah Maryam as mencapai kedudukan tertinggi di antara wanita-wanita lainnya. Perlu difahami bahwa Allah swt pasti membalas kebaikan seorang hamba meski sekecil apapun. Bagi-Nya, kualitas adalah yang terpenting, buan kuantitas ibadah yang dilakukan.

Adapun nabi Isa as dapat berbicara sejak bayi mengaku sebagai nabi, meskipun memang benar itu adalah mukjizat beliau, namun Tuhan memberikan karunia tersebut untuk membela sang ibu (Sayidah Maryam as) dari tuduhan orang-orang di sekitarnya. Karena orang-orang di saat itu menuduhnya sebagai pelacur yang harus dihukum mati. Orang-orang munafik saat itu memanfaatkan kesempatan hamilnya Sayidah Maryam as untuk mencoreng kepribadian beliau. Jika Sayidah Maryam as tidak dibela Tuhan swt dengan cara itu, mereka pasti mempertanyakan kesuciannya, dan akhirnya kebenaran nabi Isa as pun juga dipertanyakan pula. Satu-satunya yang dapat membuktikan kebenaran mereka berdua adalah mukjizat tersebut, yakni berbicaranya nabi Isa as sejak bayi yang membuktikan kepada semua orang bahwa ia adalah nabi Allah swt.

Nabi Isa as berjuang gigih menghidayahi umatnya dan mendidik mereka menjadi hamba Allah swt yang sejati. Tuhan telah mengetahui amal perbuatan beliau sejak semua itu masih belum dilakukan. Oleh karena itu, Ia berhak memberikan banyak karunia sebagai “balasan sebelum amal” kepadanya. [islamquest]

 


[1] Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 2, hal. 523, penerbit Darul Kutub Islamiah, Tehran, 1376 H.S.

[2] “(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali-Imran [3]:35-37)

Dzul Qarnain adalah Khurush

 

Dalam surat Al-Kahfi [18], ayat 83, Allah berfirman, “Mereka akan bertanya kepadamu [Muhammad] tentang Dzul Qarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepada Kamu cerita tentangnya.’”

Di sini akan muncul sebuah pertanyaan, siapakah Dzul Qarnain itu?

Tentang siapakah sesungguhnya sosok Dzul Qarnain yang diceritakan dalam kisah Al-Qur’an dan sezaman dengan sejarah penting manakah kemunculannya, begitu banyak diskusi yang terjadi di kalangan para mufassir yang mengutarakan berbagai pendapat dalam masalah ini. Pendapat-pendapat mereka yang paling krusial adalah tiga pendapat di bawah ini:

Pertama, sebagian meyakini bahwa ia tidak lain adalah Iskandar Al-Maqduni (Alexander Agung). Oleh karena itu, sebagian mereka memberinya nama Iskandar Dzul Qarnain. Menurut pendapat mereka, setelah kematian ayahanda tercintanya, Iskandar Dzul Qarnain mampu menguasai negara-negara Roma, Maghrib, dan Mesir. Ia juga telah membangun sebuah kota yang bernama Iskandariyah, menguasai Baitul Maqdis dan Syam, kemudian melanjutkan ekspansinya ke Armenia, menaklukkan Irak dan Iran, lalu ke India dan China. Dari sana, ia kembali ke Khurasan dan membangun berbagai kota di Khurasan. Lalu, ia kembali ke Iraq lagi. Setelah itu, ia jatuh sakit dan meninggal dunia di kota Zuur. Menurut pendapat sebagian mufassirin, usia Dzul Qarnain tidak lebih dari 36 tahun. Jasadnya dibawa ke Iskandariyah dan dikebumikan di tempat tersebut.

Kedua, sebagian dari ahli sejarah sepakat bahwa Dzul Qarnain adalah salah seorang raja Yaman (Raja-raja Yaman dijuluki gelar “Tubba’”. Bentuk pluralnya adalah “Tabâbi’ah”).

Mereka yang mempertahankan pendapat ini adalah Al-Ashma’i dalam Târîkh al-‘Arab Qabl al-Islam (Sejarah Arab Sebelum Islam), Ibn Hisyam dalam buku sejarah terkenalnya yang bernama As-Sîrah, dan Abu Raihan Al-Biruni dalam kitabnya yang berjudul Al-Âtâr Al-Bâqiyah.

Bahkan dalam syair-syair kaum Himyari (dari bangsa Yaman) dan sebagian penyair-penyair Jahiliyah ditemukan bahwa mereka merasa bangga dengan sosok Dzul Qarnain di dalam syair-syair mereka.

Menurut pendapat ini, tanggul yang dibuat oleh Dzul Qarnain adalah tanggul terkenal yang bernama tanggul Ma’rib.

Ketiga, pendapat ketiga sebagai pendapat paling baru adalah pendapat yang dilontarkan oleh ilmuwan masyhur Islam Abul Kalam Azad, Menteri Kebudayaan India pada waktu itu, dalam buku hasil penelitiannya dalam masalah ini. Menurut pendapat ini, sosok Dzul Qarnain tak lain adalah Khurush Yang Agung, seorang raja dari dinasti Hakhamaneshi.

Dari pemaparan di atas, pendapat pertama dan kedua bisa dikatakan tidak mempunyai bukti yang relevan dengan sejarah. Selain itu, Iskandar Al-Maqduni pun tidak mempunyai kriteria yang dimiliki oleh Dzul Qarnain sebagaimana yang tertera di dalam Al-Qur’an, dan ia juga bukan salah satu dari raja-raja Yaman.

Lebih dari itu, ia tidak pernah menciptakan tanggul yang terkenal itu. Tanggul Ma’rib yang terletak di Yaman yang dikatakan sebagai buatan Iskandar Maqduni sama sekali tidak sesuai dengan sifat-sifat tanggul milik Dzul Qarnain yang diceritakan dalam Al-Qur’an, karena tanggul Dzul Qarnain terbuat dari besi dan tembaga yang dibangun untuk menghalangi serangan kaum barbar, sementara tanggul Ma’rib adalah sebuah tanggul dengan konstruksi biasa yang dibangun untuk mengumpulkan air dan menghalangi terjadinya banjir, yang penjelasannya terdapat dalam surat Saba’.

Berangkat dari dalil inilah, kami akan lebih mengkonsentrasikan diri pada pendapat ketiga dengan memperhatikan beberapa hal di bawah ini secara cermat:

1. Pokok bahasan pertama yang menarik perhatian di sini adalah mengapa dia dinamakan Dzul Qarnain (Pemilik Dua Abad/Tanduk)?

Sebagian berpendapat bahwa pemberian nama ini dikarenakan kekuasaannya yang telah sampai ke barat dan timur dunia. Orang-orang Arab menamakan kedua arah tersebut dengan qarnai asy-syams (dua tanduk matahari).

Sebagian lagi berpendapat bahwa nama ini telah diberikan kepadanya karena ia hidup atau memegang tampuk pemerintahan selama dua kurun. Tentang jumlah satu kurun setara dengan berapa tahun itu, para pemilik pendapat ini masing-masing mempunyai pandangan yang berlainan.

Kelompok lain mengatakan, karena di kedua sisi kepalanya terdapat dua benjolan khas, ia dikenal dengan nama Dzul Qarnain.

Dan akhirnya, sebagian lagi meyakini bahwa karena mahkota istimewanya mempunyai dua tanduk kecil.

Dan masih banyak pendapat lain yang untuk menukilnya membutuhkan waktu yang panjang. Dan sebagaimana yang akan kita lihat nanti, penggagas pendapat ketiga, yaitu Abul Kalam Azaad, banyak memanfaatkan penamaannya dengan Dzul Qarnain untuk membuktikan pendapatnya sendiri.

2. Dari Al-Qur’an bisa dipahami dengan baik bahwa Dzul Qarnain mempunyai sifat-sifat yang istimewa, antara lain:

a. Allah meletakkan sarana dan faktor-faktor kemenangan di dalam kewenangannya.

b. Ia mempunyai tiga ekspedisi penting: pertama, ke belahan barat, setelah itu ke belahan timur, dan akhirnya ke daerah-daerah yang terdapat barisan pegunungan. Dan ia senantiasa berhadapan dengan berbagai kaum pada setiap ekspedisi ini.

c. Ia seorang pria mukmin yang bertauhid, penyayang, dan tidak menyimpang dari jalan keadilan. Dengan alasan ini, ia mendapatkan perhatian yang khusus dari Allah swt. Sosoknya adalah sahabat bagi para budiman dan pembuat kebajikan, akan tetapi musuh bagi para perusak dan pembuat kejahatan. Dan ia pun tidak menyukai kekayaan dan harta dunia.

d. Dia mempunyai iman yang kuat kepada Allah dan meyakini adanya Hari Kebangkitan.

e. Ia adalah pembangun salah satu tanggul yang paling penting dan paling kuat, sebuah tanggul yang terbuat dari besi dan tembaga sebagai pengganti konstruksi batu dan batu bata (dan apabila terdapat bahan bangunan lain di dalam bangunan tersebut, maka semua berada di bawah konstruksi kedua bahan bangunan utama ini). Tujuannya membangun tanggul ini adalah untuk membantu kelompok-kelompok lemah dalam menghadapi kekejaman dan kejahatan kaum penentang dan pemberontak.

f. Ia adalah seseorang tokoh yang namanya telah terkenal di kalangan sebagian kaum sebelum turunnya Al-Qur’an. Oleh karena itu, kaum Quraisy atau Yahudi pernah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Al-Qur’an berfirman,“Mereka akan menanyakan kepadamu tentang Dzul Qarnain.”

Akan tetapi, tidak ditemukan satu pun ayat Al-Qur’an yang mengatakan secara tegas tentang kenabiannya, meskipun terdapat ungkapan-ungkapan di dalamnya yang mengisyaratkan hal itu sebagaimana telah diutarakan pada penafsiran ayat-ayat sebelumnya.

Dari sebagian riwayat Islam yang telah dinukil dari Rasulullah saw. dan para imam Ahlul Bait a.s., kita dapat membaca, “Dia bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang hamba yang saleh.”

3. Prinsip dari pendapat ketiga (yaitu bahwa Dzul Qarnain adalah Khurush Yang Agung) dengan penjelasan yang sangat ringkas, didasarkan pada dua hal berikut:

Pertama, berdasarkan sebuah riwayat yang sesuai dengan asbabun nuzul ayat-ayat tersebut, para penanya yang mengutarakan pertanyaan tentang masalah ini kepada Rasululaah saw. adalah kaum Yahudi atau kaum Quraisy dengan provokasi dari kaum Yahudi. Dengan demikian, akar persoalan ini harus dicari di dalam kitab-kitab Yahudi.

Kita akan mencoba membuka Kitab Daniel (sebuah kitab dari kitab-kitab terkenal milik Yahudi) pasal ke delapan, dan di dalamnya termaktub, “Pada tahun pemerintahan Bal Shassar, telah terjadi sebuah mimpi atasku, Daniel, yang  sebelumnya terjadi pula mimpi yang pertama atasku. Di dalam mimpiku, aku melihat diriku berada di dalam istana Shushan yang terletak di negara Ilam. Aku sedang berdiri di dekat sungai Uuloy dan menatap ke sekeliling ketika kemudian tatapan mataku tertumbuk pada sebuah biri-biri jantan yang sedang berdiri di seberang sungai. Biri-biri jantan itu mempunyai dua tanduk yang panjang … Ia mengarahkannya ke timur, barat, dan utara. Tidak ada seekor binatang pun yang mampu menghadapinya. Karena tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan diri dari cengkeramannya, maka mereka menyepakati untuk menjalankan apa yang diperintahkannya dan hal ini menjadikannya bertambah besar.”

Di dalam Kitab Daniel ini juga termaktub, “Jibril telah menampakkan diri di hadapannya dan ia menta’birkan mimpi Daniel sebagai berikut, “Biri-biri jantan pemilik dua tanduk yang kamu lihat itu adalah raja Mada’in dan Persia (atau raja Mad dan Persia).”

Kaum Yahudi dengan melihat tanda-tanda mimpi Daniel tersebut menyimpulkan bahwa masa penjajahan mereka akan berakhir, dan mereka pun akan terlepas dari cengkeraman kaum Babylon dengan bangkitnya salah seorang raja Maad dan Persia dengan kemenangan yang diperolehnya atas raja-raja Babylon.

Tidak berapa lama kemudian, Khurush memegang kekuasaan di Iran dan ia menyatukan bangsa Maad dan Persia sehingga terbentuklah sebuah kesultanan besar. Dan sebagaimana mimpi Daniel yang mengatakan bahwa biri-biri jantan tersebut mengarahkan tanduknya ke barat, timur dan utara, Khurush pun telah melakukan ekspansi besar-besaran pada ketiga arah mata angin tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh biri-biri jantan itu.

Dan Khurush pun membebaskan kaum Yahudi serta memberikan izin kepada mereka untuk kembali ke tanah Palestina.

Yang menarik lagi, di dalam kitab Ash’iya pasal 44, ayat 28 kita membaca, “Kemudian secara khusus mengenai Khurush, Ia berfirman, ‘Ia adalah malam-malam-Ku dan ia telah menyelesaikan semua keinginan-Ku. Ia akan mengatakan kepada Yarussalem bahwa engkau pasti akan dibangun.”

Hal ini juga perlu pula mendapatkan perhatian bahwa dalam sebagian dari ungkapan-ungkapan yang terdapat di dalam kitab Taurat, Khurush juga diberi julukan “Elang Timur” dan “Pria Bijaksana yang datang dari tempat jauh.”

Kedua, pada abad ke-19 Masehi, telah ditemukan sebuah patung Khurush di dekat kolam renang yang terletak di samping sungai Murghab. Patung ini mempunyai tinggi seukuran tinggi manusia dan sosok Khurush di sini dijelmakan dengan bentuk manusia yang mempunyai dua buah sayap yang terletak di kedua sisinya sebagaimana sayap elang dan di atas kepalanya terletak sebuah mahkota yang mempunyai dua buah tanduk sebagaimana tanduk-tanduk yang dimiliki oleh biri-biri jantan itu.

Patung ini merupakan sebuah contoh yang sangat berharga dari hasil karya para pemahat kuno yang telah menjadikannya sebagai sebuah obyek yang sangat menarik perhatian para ilmuwan, sehingga sebagian ilmuwan Jerman melakukan perjalanannya ke Iran hanya untuk melihat patung ini.

Adanya relevansi antara kandungan yang terdapat di dalam kitab Taurat dengan spesifikasi yang dimiliki oleh patung Khurush ini menyebabkan asumsi para ilmuwan tentang statemen penamaan Khurush sebagai Dzul Qarnain (Pemilik Dua Tanduk) menjadi betul-betul kuat. Demikian pula pertanyaan tentang mengapa patung batu Khurush mempunyai dua sayap sebagaimana sayap yang dimiliki oleh elang telah terjawab. Dengan demikian, sebagian ilmuwan menjadi yakin bahwa dengan metode dan cara ini tokoh sejarah Dzul Qarnain betul-betul telah menjadi jelas.

Yang lebih mempertegas kebenaran pendapat ini adalah sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Khuresh sebagaimana yang telah tertulis di dalam sejarah.

Herodus, seorang sejarawan Yunani menulis, “Khurush memerintahkan supaya tentaranya tidak mengarahkan pedangnya kecuali kepada prajurit perang. Demikian juga untuk tidak membunuh prajurit dari pihak musuh yang telah menundukkan pedangnya. Dan lasykar Khurush pun menaati apa yang diperintahkan olehnya sehingga lapisan masyarakat tidak merasakan musibah dari peperangan.”

Demikian juga, tentang sosok Khurush, Herodus menulis di dalam bukunya, “Khurush adalah seorang raja yang mulia, periang, dan sangat lembut serta penyayang. Ia tidak menyukai ketamakan sebagaimana raja-raja yang lain. Ia sangat tertarik dengan sifat-sifat mulia dan murah hati. Ia menciptakan keadilan untuk orang-orang yang tertindas dan ia semakin menyukai suatu perbuatan yang di dalamnya menjanjikan kebaikan yang lebih.”

Seorang sejarawan lainnya, Dey Nufen menulis “Khurush adalah seorang raja yang arif dan penyayang. Sifat kebesaran para raja dan keutamaan para arif berkumpul di dalam dirinya. Ia mempunyai sifat keperdulian yang dimiliki oleh para petinggi, penampilannya wajar, syair-syair yang dimilikinya menunjukkan rasa kemanusiaan, dan wujudnya adalah lambang keadilan dan kerendahan hati. Sifat dermawan yang berada di dalam dirinya telah menggantikan kesombongan dan rasa bangganya.”

Sangat menarik, para sejarawan yang memperkenalkan sosok Khurush dengan sifat-sifat seperti ini, semua adalah para penulis sejarah asing, bukan kaum Khurush sendiri atau orang-orang yang sebangsa dengannya. Mereka adalah orang-orang Yunani. Kita sendiri mengetahui bahwa para warga Yunani tidak pernah memandang Khurush secara bersahabat. Sejak jatuhnya negara Liudya ke dalam kekuasaan Khurush, itu menyebabkan bangsa Yunani telah mengalami kekalahan yang besar dan sangat telak.

Para pendukung pendapat ini mengatakan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Dzul Qarnain sebagaimana yang telah tersebut dalam Al-Qur’an mempunyai relevansi dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Khurush.

Lebih dari itu, sebagaimana yang telah tertulis di dalam buku biografinya, Khurush juga telah melakukan perjalanannya ke arah barat, timur dan utara, yang hal ini mempunyai kesesuaian dengan tiga perjalanan yang dilakukan oleh Dzul Qarnain, sebagaimana yang tertera di dalam Al-Qur’an.

Ekspsansi pertama yang dilakukan oleh Khurush menuju ke negara Liudya yang terletak di bagian selatan Asia Kecil. Dan apabila negara ini dilihat dari pusat pemerintahan Khurush, terletak di bagian barat kawasan kekuasaannya.

Apabila peta pantai barat Asia Kecil kita letakkan di hadapan kita, maka kita akan mengetahui bahwa sebagian besar pantai akan tenggelam di dalam teluk-teluk kecil, khususnya yang berada di dekat Azmir di mana teluk di daerah ini muncul dalam bentuk sumber mata air.

Al-Qur’an mengatakan bahwa Dzul Qarnain dalam perjalanannya ke barat merasakan bahwa matahari akan tenggelam ke dalam sebuah sumber mata air yang berlumpur.

Gambaran ini merupakan kejadian yang dialami oleh Khurush ketika ia melihat tenggelamnya bola matahari (menurut pendapat pemirsa) ke dalam teluk-teluk pantai.

Ekspansi kedua Khurush mengarah ke timur. Herodus menulis, “Serangan Khurush ke timur ini terjadi setelah penaklukan Liudya. Hal ini khususnya lantaran para pemberontak sebagian dari kabilah-kabilah liar telah memaksa Khurush untuk melakukan serangan ini.

Al-Qur’an menggambarkan, “Hingga apabila ia telah sampai ke tempat terbit matahari [sebelah timur], ia mendapati bahwa matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari [cahaya] matahari itu.(QS. al-Kahfi [18]: 90). Ini merupakan isyarat bahwa perjalanan Khurush yang dilakukannya hingga ke perbatasan bagian timur, di mana di sana ia menyaksikan bahwa matahari telah menyinari sebuah kaum yang tidak mempunyai pelindung ketika berhadapan dengan sinarnya, menunjukkan bahwa kaum tersebut adalah kaum pengembara yang biasa berada di padang sahara.

Khurush juga mempunyai ekspansi ketiga yang bergerak ke arah utara mengarah menuju ke pegunungan Qafqaf (Vladkavkaz) hingga sampai di daerah lembah antara dua gunung. Untuk menghindari serangan para kaum liar, ia membangun tanggul yang tangguh berhadapan dengan daerah lembah tersebut sesuai dengan keinginan penduduk setempat.

Lembah pegunungan ini pada era sekarang dinamakan sebagai lembah pegunungan Darial, yang di peta ditunjukkan berada di antara Vladkyukez dan Taflis. Hingga sekarang, pada tempat tersebut masih terlihat adanya dinding besi, dan dinding besi ini adalah tanggul yang dibangun oleh Khurush, karena sifat-sifat yang dipaparkan Al-Qur’an tentang tanggul Dzul Qarnain ini sangat mirip dengan tanggul tersebut.

Inilah penjelasan ringkas untuk menjelaskan dan menguatkan pendapat ketiga. Benar apabila dikatakan bahwa di dalam pendapat ketiga ini pun masih terdapat hal-hal yang tidak jelas dan kabur. Akan tetapi, untuk saat ini, bisa dikatakan bahwa pendapat ketiga ini merupakan pendapat yang paling kuat tentang relevansi antara sosok Dzul Qarnain dengan seorang tokoh terkenal dalam sejarah, yaitu Khurush.