Apa Sih Penyebab Utama Perpecahan Umat Islam Ini??

persatuan merupakan salah satu pokok ajaran agama mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berpegang-teguhlah kalian dengan tali Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103)

 

Apa Sebab Perpecahan?

sebab utama perpecahan adalah sikap sektarian dan suka bergolong-golongan pada diri sebagian kaum muslimin terhadap suatu kelompok tertentu, jama’ah tertentu, atau sosok tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi bergolong-golongan. Maka engkau -wahai Muhammad- tidak ikut bertanggung jawab atas mereka sedikitpun.” (QS. al-An’am: 159).

“Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan untuk bersatu dan bersepakat, dan agama ini melarang tindak perpecah-belahan dan persengketaan bagi segenap pemeluk agama (Islam), dalam seluruh persoalan agama; yang pokok maupun yang cabang…”

Seorang muslim -apalagi penuntut ilmu dan da’i- semestinya memperhitungkan dampak dari pendapat atau ucapan yang dilontarkannya di hadapan manusia, apakah hal itu menimbulkan kekacauan di tengah-tengah mereka ataukah tidak.

Sebuah pelajaran berharga, bahwa perpecahan tidak akan teratasi dengan perpecahan pula. Perpecahan hanya bisa diatasi dengan persatuan yang sejati.

Barangsiapa mengira bahwa perpecahan bisa diatasi dengan sikap ta’ashub kepada sosok tertentu selain Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh dia telah keliru!

Islam yang asli pada zaman Umayyah Abbasiyah telah dirusak, Syi’ah yang memurnikan islam justru dituduh sesat

“Nabi Muhammad saw menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelahnya

Nabi Muhammad saw datang membawakan ajaran mulia, Islam.

Sepanjang dakwahnya ia selalu mengenalkan Ali bin Abi Thalib kepada umatnya, bahkan menyatakan bahwa ia adalah pemimipin setelahnya.

Rasulullah saw meninggal dunia. Namun semua orang sibuk di Saqifah membahas siapakah yang layak menjadi pengganti nabi.

Ali bin Abi Thalib dan keluarganya dikucilkan.

Imam demi Imam silih berganti, sampai imam terakhir, Al Mahdi ghaib.

Kini kita tidak bisa merasakan kehadiran pimpinan di tengah-tengah kita. Ikhtilaf, perpecahan, perbedaan pendapat, permusuhan antar umat Islam… semuanya berakar di sejarah yang terlupakan.

Satu-satunya masalah yang paling besar yang memecahkan umat Islam menjadi Syi’ah dan non Syi’ah adalah kekhilafahan. Syi’ah meyakini Ali bin Abi Thalib adalah khalifah pertama, lalu Hasan dan Husain putranya, lalu Ali Zainal Abidin, dan seterusnya.

Pokok terpecahnya Sunni dan Syi’ah

Pusat perdebatan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah berkisar pada masalah Imamah (yaitu Aimmatal Ma’shumin). Pentingnya Imamah adalah begitu besarnya sehingga Ulama Syi’ah menganggap orang-orang yang menolak Imamah dalam bahaya. Ulama Sunni menganggap orang-orang yang menerima doktrin Imamah Syi’ah akan menjadi zindiq

Sebagian besar polemik perdebatan antara Sunni dan Syi’ah berputar di sekitar isu-isu seperti Mut’ah, Matam, Saqifah, Ghadir Khum, Fadak, dan isu-isu selain itu. Namun, masalah mendasar yaitu perdebatan-Imamah-adalah seringkali diabaikan.

Setiap perselisihan lain Syiah dengan Sunni [selain Imamah] berakar pada desakan Syiah pada Imamah sebagai prinsip Islam, baik dalam keyakinan maupun praktek. Dari pandangan dan interpretasi berbeda mengenai sejarah, sistem yang sama sekali berbeda dari koleksi Hadis dan otentikasi, dan perilaku yang berbeda dari mempraktekan Islam, semua ketidaksamaan tersebut dapat ditelusuri kembali mengarah kepada Imamah sebagai doktrin dalam iman Syiah.

Oleh karena adalah sangat beralasan bahwa fokus dari setiap pencarian kebenaran yang serius akan dimulai dan diakhiri dengan prinsip Imamah dalam pikiran dari pencari kebenaran. Mencoba untuk meneliti tentang perbedaan antara Syiah dan Sunni tanpa mempertimbangkan dogma Imamah sebagai titik menempel utama akan menyebabkan argumen buntu dan sia-sia. Saya secara pribadi telah menyaksikan sejumlah diskusi Sunni-Syi’ah yang dengan cepat turun ke dalam kekacauan karena satu sisi atau keinginan lain untuk membahas suatu subjek yang kurang mendasar.

Aman untuk mengatakan bahwa jika Syi’ah tidak percaya pada konsep Imamah, maka mereka tidak akan dianggap sebagai sekte yang terpisah. Masalah-masalah lain pertentangan antara Sunni dan Syi’ah hanyalah konsekuensi dari Imamah. Oleh karena itu, Imamah dan keabsahannya dalam Al-Qur’an adalah isu utama pertentangan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan Syi’ah.

Imamah

Sebelum kita melanjutkan, penting untuk menyatakan apa sebenarnya yang dimaksud dengan doktrin Imamah Syi’ah tersebut.

Doktrin Imamah Syi’ah: Selain dari para nabi, ada sekelompok orang yang ditunjuk oleh Allah yang disebut imam. Mereka ini adalah orang yang memiliki Ismah (kemaksuman) dan memiliki akses ke suatu pengetahuan yang tidak dapat diakses oleh orang biasa. Dunia tidak boleh kosong dari seorang Imam, jika tidak maka akan dihancurkan. Dalam konteks Islam, orang-orang ini adalah dua belas orang di antara keturunan Nabi (صلى الله عليه وآله وسلم) yang tidak ditunjuk oleh seorang pun kecuali oleh Allah (عز و جل) sendiri untuk memimpin umat Islam. Siapapun yang memilih pemimpin selain dua belas imam ini adalah sesat dan tidak beriman sempurna. Imam ke dua belas (terakhir) dari para imam tersebut adalah al-Mahdi dan, meskipun ia telah di okultasi selama lebih dari seribu tahun, ia akan kembali ketika Allah (عز و جل) menghendaki dan kemudian keadilan akan menang.

Pentingnya Imamah dalam Ajaran Syi’ah

Doktrin Imamah di atas adalah keyakinan inti dari Syi’ah. Kaum Syi’ah mempertimbangkan lima hal keyakinan sebagai dasar agama. Yaitu:

1. Tauhid (Keesaan Allah)

2. Nubuwwah (kenabian)

3. Ma’ad (hari kiamat)

4. Adl (Keadilan Allah)

5. Imamah (doktrin di atas)

Imamah dianggap oleh Syi’ah sebagai salah satu dasar [Ushuluddin] agama.

Dalam Syi’ah, agama dibagi menjadi Ushuluddin dan Furu’uddin. Ushuluddin adalah prinsip-prinsip keyakinan agama, analog dengan Rukun Iman dalam Sunni. Furu’uddin berkaitan dengan praktek dalam agama, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya.

Untuk memperkenalkan pembaca dengan apa yang merupakan Ushuluddin dalam Syi’ah, saya akan mengutip saluran berikut dari buku Allamah Muhammad Husain al-Kashiful Gita “Aslul Syi’ah wa Ushuluha”:

“Hal-hal yang menyangkut pengetahuan atau hikmat, disebut Ushuluddin (dasar-dasar agama) dan itu adalah lima: Tauhid, Nabuwwah, Imamah, ADL, dan Ma’ad.” ["Aslul Syi’ah wa Ushuluha, Bagian II: Dasar-dasar Agama ", p.218]

Dengan pengertian yang sama, sarjana Syi’ah Muhammad Ridha Muzaffar menyatakan: “Kami percaya bahwa Imamah adalah salah satu dasar Islam (Ushuluddin), dan bahwa iman manusia tidak akan pernah lengkap tanpa adanya kepercayaan padanya.”

… Isu yang nyata dari pertentangan [antara Sunni dan Syi’ah] adalah sehubungan dengan [kepercayaan] Imamah. Sebagaimana [sarjana Syi’ah] Allamah Kashiful Gita menyebutkan: “Ini adalah pertanyaan tentang Imamah yang membedakan sekte Syi’ah dari semua sekte lain. Perbedaan lainnya tidak mendasar, itu adalah masalah furu’ (yaitu sekunder) “[ASL-ul-Syi’ah wa Ushuluha, hal.221]

Dengan demikian, pentingnya Imamah dalam Syi’ah lebih dari pentingnya Shalat (doa); Imamah dianggap Ushuluddin [yaitu Mendasar] sedangkan Sholat adalah Furu’uddin [dgn kata lain sekunder]. Akan akurat untuk mengatakan bahwa Furu’uddin adalah konsekuensi langsung dari Ushuluddin. Imamah dianggap sebagai pilar paling penting Islam. Dan Imamah yang kita bahas di sini adalah tidak berarti “kepemimpinan” karena Sunni-pun dan juga setiap kelompok dalam Islam -menganggap kepemimpinan menjadi isu penting. Ketika kita menyebut “Imamah” di sini, kita sedang mengacu kepada doktrin khusus Syi’ah yaitu para pemimpin maksum yang ditunjuk oleh Allah yang harus diikuti.

Paham Imamah ‘ala Syi’ah

Begitu pentingnya soal Imamah bagi para ulama Syi’ah dapat dilihat dari pandangan mereka tentang orang-orang yang menolak Imamah. Mari kita lihat apa yang situs Syi’ah populer, Al-Shia.com, telah mengatakan tentang ini:

Al-Shia.com berkata :

:“فيمن جحد إمامة أمير المؤمنين والائمة من بعده عليهم السلام بمنزلة ( 6 ) من جحد نبوة الانبياء عليهم السلام . واعتقادنا ”
“فيمن أقر بأمير المؤمنين وأنكر واحدا من بعده من الائمة عليهم السلام أنه بمنزلة من آمن بجميع الانبياء ثم أنكر بنبوة محمد صلى الله عليه وآله “

Imam Al-Saduk berkata, “keyakinan kita adalah bahwa orang yang menolak Imamah dari Amirul Mukminin (Ali) dan para Imam sesudah beliau, sama posisinya seperti orang yang menolak kenabian dari Sang Nabi.”

Lebih lanjut, beliau berkata: “dan keyakinan kita adalah orang yang menerima Amirul Mukminin (Ali) tetapi menolak salah seorang Imam sesudahnya, sama posisinya seperti orang yang percaya kepada semua Nabi tetapi menolak kenabian Muhammad (Saw).”

Syaikh Mufid menyatakan:

Imamiyyah bersepakat (Ijma’) bahwa orang yang menolak Imamah dari salah satu Imam dan menolak ketaatan terhadap mereka dimana Allah telah perintahkan adalah sesat.”

Oleh karena itu, kita melihat bahwa masalah Imamah adalah bukan perkara yang bisa dianggap enteng. Di satu sisi, para ulama syi’ah mengatakan bahwa mereka yang menolak Imamah adalah sesata. Di sisi yang lain, Ulama Sunni mengatakan bahwa mereka yang menerima doktrin Imamah ala Syi’ah adalah benar-benar dalam kesalahan total

Mau Tahu Perbedaan Sunni dan Syiah?

28 05 2011

JAKARTA –

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

“Sunni memiliki empat mazhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Apakah ajaran keempat mazhab itu sama? Tidak ada yang berbeda,” katanya dalam seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW). “Jadi bukan berarti ajaran Sunni itu salah, dan Syiah sebaliknya,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh, yang menyebut “Perbedaan Sunni dan Syiah di Iran lebih bermuatan politik.”

Sementara Pandu Iman Sudibyo, salah satu penganut Syiah dari Bengkulu, lalu mengajukan contoh praktik Syiah di daerahnya yang disebut tidak mendiskriminasi penganut Syiah di Bengkulu. “Kami hidup rukun dan kami lebih mengedepankan rasional,” kata ketua IJABI Bengkulu tersebut.

Di Bengkulu, katanya, setiap tahun malah ada perayaan Tabot untuk menghormati kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu nabi, yang bertepatan dengan hari Asyuro (10 Muharram). “Banyak turis asal Iran yang melihat perayaan Tabot di Bengkulu,” katanya.

Sunni-Syiah Indonesia Dideklarasikan

28 05 2011

Untuk pertamakalinya di dunia, aliran Islam Sunni dan Syiah tergabung dalam institusi resmi di Indonesia. Organisasi dengan nama Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia (Muhsin) akan dideklarasikan di Masjid Akbar Kemayoran, Jalan Benyamin Sueb, Jakarta Pusat.

“Ini pertama kalinya di dunia, organisasi gabungan antara Syiah dan Ahlussunah (Sunni),” kata penggagas Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia (Muhsin), Jalaluddin Rahmat dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Jumat 20 Mei 2011.

Menurut Jalaluddin, upaya untuk menyatukan dua organisasi besar ini tidak mudah. Ada banyak hambatan dan pertentangan dari banyak pihak. Buktinya, kata dia, sedianya acara ini digelar di Masjid Istiqlal pada bulan lalu. Tetapi, rencana itu ditolak.

“Sampai saat ini, semua undangan termasuk dari Kementerian Polhukam dipastikan hadir. Hanya dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menolak hadir,” kata Jalaluddin.

Organisasi Sunni-Syiah ini merupakan inisiatif dari Pengurus Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Pengurus Pusat Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi). Karena di seluruh dunia, dua aliran ini kerap bertentangan.

Sunni atau Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah atau Ahlus-Sunnah wal Jama’ah adalah mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat Nabi. Sekitar 90 persen umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10 persen menganut aliran Syiah. Pengikut Sunni sebagian besar berada di negara-negara Arab, seperti Arab Saudi, Bahran, dan Qatar.

Sedangkan Syiah ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad dan Ahlul Bait-nya (keluarga). Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Pengikut Syiah sebagian besar berada di negara Iran dan Irak.

“Seorang tokoh di Mesir pernah membentuk institusi gabungan antara Sunni dan Syiah. Dia adalah Hasan Albana. Tetapi, dia tewas dibunuh orang,” kata Jalaluddin. Meski demikian, inisitaif Hasan Albana itu baru dalam tataran inisiatif secara individu.

Rencananya, dalam deklarasi ini akan hadir Staf Ahli Bidang Ideologi dan Konstitusi Kemenko Polhukam, Laksma TNI Christina M Rantetana, dan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Nasaruddin Umar.

Sunni dan Syiah Bersatu di Indonesia

27 05 2011


Jakarta (ANTARA News) –

Untuk pertama kalinya terjadi di dunia, dua aliran besar dalam Islam, Sunni dan Syiah, menyatu dalam satu majelis, dan itu terjadi di Indonesia.

Kumpulan bernama majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) itu dideklarasikan sebelum salat Jumat di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, oleh Pengurus Pusat Dewan Mesjid Indonesia (DMI) yang mewakili Sunni dan Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) yang mewakili Syi’ah.

“Majelis ini adalah yang pertama di dunia,” kata Ketua IJABI Jalaluddin Rahmat dalam seminar bertema “Kerukunan Ummat Beragama Sebagai Modal Dasar Untuk Kelestarian dan Kebangkitan Bangsa” yang juga ajang deklarasi majelis itu di Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan, umat Islam harus bangga pada majelis ini karena ini sejarah baru bagi kedua mazhab yang sering diliputi perpecahan, untuk menjalin ikatan persaudaraan antarsesama muslim.

Jalaluddin menegaskan majelis itu tidak mencampurkan dua paham atau ajaran kedua mazhab itu, melainkan hanya sebagai tempat untuk berkumpul, berdialog, dan melakukan kegiatan sosial.

“Masalah ajaran itu masing-masing, Lakum Dinukum Waliyadin (Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku) dan menjalin ukhuwah Islamiyah adalah perintah Allah dalam Alquran,” katanya mengutip surat Al-Kafirun dalam Alquran.

Sementara anggota Pengurus Pusat DMI Daud Poliradja menyebut majelis itu didirikan atas latar belakang banyaknya perpecahan yang mengatasnamakan agama di Indonesia, padahal semua agama mengajarkan kebaikan dan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup rukun.

“Umat beragama saling menjelekkan agamanya, sedangkan kita hidup di Indonesia yang berasaskan Pancasila,” sambung Daud.
Selain dihadiri Jalaluddin Rahmat dan Daud Poliradja, deklarasi MUHSIN itu dihadiri pula Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh dan Pembantu Deputi Bidang Politik Nasional Sekretariat Jenderal Dewan Ketahanan Nasional, Brigjen (Pol) Manahan Daulay.

Sementara Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto dan beberapa perwakilan lembaga Islam dan organisasi masyarakat seperti MUI, FPI dan FBR, tidak tampak hadir, padahal mereka sudah diundang.

“Kami tidak tahu mengapa tidak hadir, tapi kami sudah mengirimkan undangannya,”kata Daud. Salah satu dari lima poin deklarasi MUHSIN menyebutklan, “memendam dalam-dalam warisan perpecahan dan permusuhan di antara kaum mukmin.” (*)

Mau Tahu Perbedaan Sunni dan Syiah?

28 05 2011

JAKARTA –

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah?. Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rahmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

“Sunni memiliki empat mazhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Apakah ajaran keempat mazhab itu sama? Tidak ada yang berbeda,” katanya dalam seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5).

Jalaluddin mengatakan perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW). “Jadi bukan berarti ajaran Sunni itu salah, dan Syiah sebaliknya,” ujarnya.

Hal senada diutarakan Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh, yang menyebut “Perbedaan Sunni dan Syiah di Iran lebih bermuatan politik.”

Sementara Pandu Iman Sudibyo, salah satu penganut Syiah dari Bengkulu, lalu mengajukan contoh praktik Syiah di daerahnya yang disebut tidak mendiskriminasi penganut Syiah di Bengkulu. “Kami hidup rukun dan kami lebih mengedepankan rasional,” kata ketua IJABI Bengkulu tersebut.

Di Bengkulu, katanya, setiap tahun malah ada perayaan Tabot untuk menghormati kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu nabi, yang bertepatan dengan hari Asyuro (10 Muharram). “Banyak turis asal Iran yang melihat perayaan Tabot di Bengkulu,” katanya.

Jumlah pengikut Syiah di Indonesia sudah mencapai angka 2,5 juta orang coba dihancurkan oleh WAHABi  yang sekarang juga tumbuh menjamur di beberapa kota

.

.

.

Bagaimana perkembangan Wahabi di Jazirah Arab?

Wahabi menguasai Mekah dan Madinah dengan berbagai cara, termasuk kekerasan melalui peperangan. Banyak ulama yang menjadi korban. Di Indonesia, sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk menyelamatkan Mekah dan Madinah dari penguasaan Wahabi yang ekstrem itu. Sampai-sampai NU mengutus Komite Hijaz ke Mekah untuk memrotes gerakan Wahabi yang hendak menghilangkan makam Nabi Muhammad SAW yang dianggap oleh Wahabi sebagai tempat syirik.

Jadi, sejak awal kemunculannya, gerakan Wahabi sudah radikal dan ekstrem?

Kalau dibaca dari buku-buku sejarah Arab modern, memang para pengikut Wahabi memakai cara-cara yang disebut dengan istilah ‘Badui-Wahabi’, yakni cara-cara barbar, kekerasan, dan agresif. Seperti di Indonesia juga ada penghancuran kuburan dan diratakan dengan tanah. Karena menurut keyakinan mereka, itu sesat, bid’ah, dan syrik.

Apakah hubungan wahabi dengan imperialisme? Semoga buku ini bisa memuaskan pembaca untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut

Gerakan Salafi Wahabi – Dana Arab Saudi Mengalir Deras

Gerakan Wahabi di Indonesia dicurigai membawa misi untuk menghancurkan dan menguasai, baik teritori maupun ekonomi.

Di Indonesia tak hanya tanahnya yang subur, berbagai ideologi juga tumbuh subur, termasuk ideologi Wahabi. Apalagi gerakan Wahabi masuk dengan pola yang terorganisir rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir sangat pesat dari Timur Tengah (Saudi).

“Mereka bekerjasama dengan percetakan, media, dan radio. Itu modal bagi paham apapun untuk bisa masuk dan tumbuh berkembang di sini,”

Kabarnya Wahabi dilahirkan oleh imprealis Inggris untuk memecah-belah kekuatan Islam?

Ya. Indikasinya memang kuat dugaan demikian itu. Seperti dimuat dalam Islam Online berbahasa Arab,   ada laporan sebuah pemyataan dari seorang da’i terkenal di Aljazair yang mengatakan bahwa gerakan Wahabi atau menurut penyebutan mereka Salafi-Wahabi merupakan buatan intelijen asing yang dibuat untuk menghancurkan madzab-madzab yang lain. Mereka menganggap orang yang berbeda dengan mereka sebagai kafir.

Mengapa mereka bisa begitu ekstrem dan radikal?

Mungkin karena Wahabi dilahirkan di tempat yang keras, maka kata-kata dan doktrin-doktrin yang digunakan juga keras. Banyak pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh ulama-ulama mereka itu sangat keras, model pemikiran yang keras, mudah menuduh bid’ah, bahkan mudah mengafirkan, tidak toleran, kaku, dan literalis. Tidak menutup kemungkinan itu dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan tertentu, termasuk asing, untuk memojokkan Islam.

Bila awal kemunculan Wahabi diwarnai aksi-aksi perebutan dan penguasaan di Semenanjung Saudi Arabia, berarti lahirnya Wahabi bermotif politis-kekuasaan?

Kalau dibilang sejak awal kemunculan Wahabi bermotif politis-kekuasaan, bisa saja. Namun, kita husnu-zhon (berbaik sangka) saja bahwa lahirnya aliran ini bermotif keagamaan. Hanya saja ada kepentingan-kepentingan yang memanfaatkan gerakan tersebut, termasuk kepentingan asing. Saya rasa, bukan hanya di Arab Saudi, di mana pun juga sama, baik pihak asing maupun dalam negeri pasti akan memanfaatkan setiap kesempatan.

Kabarnya, di balik kemunculan Wahabi juga ada motif adanya motif untuk menguasai minyak?

Dugaan itu tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak benar seratus persen. Artinya, dugaan itu memang ada benarnya. Bahwa kemudian kemunculan Wahabi itu membuat umat Islam terpecah itu dapat kita rasakan

Bagaimana pola aliran Wahabi yang berkembang di Indonesia?

Indonesia adalah negara yang wilayahnya subur. Ditanami apa saja tumbuh. Gerakan apa pun yang masuk ke Indonesia bisa cepat tumbuh, apalagi gerakan tersebut masuk dengan pola yang baik dan rapi. Dana mereka juga cukup banyak. Simpati dari para pemilik dana itu mengalir dari Timur Tengah (Saudi Arabia) dan mengalir sangat pesat, sehingga itu cukup memudahkan kerja keras mereka. Mereka bekerja sama dengan percetakan, media, dan radio. Itu modal bagi paham apapun untuk bisa masuk dan tumbuh berkembang di sini.

Bagaimana dengan HTI, JI, NII, Ikhwanul Muslimin, dan PKS yang disebut-sebut berideologi Wahabi?

Wahabi berbeda dengan Ikhwanul Muslimin. Bahkan keduanya berpolemik dalam banyak permasalahan. Demikian juga dengan Hizbut Tahrir. Bahkan, HTI dan Ikhwanul Muslimin dikafirkan oleh pengikut Wahabi.

Apakah masuknya gerakan Wahabi ke Indonesia membawa misi untuk penguasaan politik dan ekonomi, sama halnya di Afghanistan dan Arab Saudi?

Menurut Mohammed Arkoun (pemikir Islam kontemporer Maroko), dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia akan menjadi negara Islam terbesar dan terkuat dunia. Nah, tidak menutup kemungkinan, dikirimnya virus-virus paham ekstrem itu ke Indonesia bertujuan untuk menghancurkan negara ini hingga tinggal nama saja. Virus itu memang sengaja disebar dan disuntikkan untuk melumpuhkan kebesaran bangsa ini

.

IRAN SIAP DENGAN SENJATA “RAHASIA” ! IRAN SANGGUP “MEMBAJAK” SETIAP RUDAL AMERIKA !

IRAN SIAP DENGAN SENJATA “RAHASIA”


Iran menyatakan telah menyiapkan senjata rahasia yang akan digunakannya pada saat yang tepat, yaitu jika diserang. Senjata rahasia tersebut menurut Iran akan membuat musuh terkejut saat digunakan.

“Republik Islam Iran memiliki banyak kemampuan tersembunyi yang akan digunakan pada saat yang tepat. Kami belum menampakkan semua kemampuan kami,” kata menteri pertahanan Iran Jenderal Ahmad Vahidi kepada media Iran “FNA”, Selasa lalu (28/2).

Pernyataan tersebut dikeluarkan sebagai tanggapan atas peningkatan militer Amerika dan sekutu-sekutunya di sekitar Iran sebagai persiapan serangan terhadap Iran.

“Saat ini Amerika sangat takut bahwa sebuah insiden akan terjadi dan mereka ternyata tidak sanggup melawan Iran,” tambah Vahidi.

Iran telah berulangkali memberikan peringatan kepada Amerika dan Israel bahwa Iran telah siap menghadapi serangan dan akan membalas setiap aksi militer terhadapnya dengan balasan yang lebih keras.

“Iran bukan negara yang tetap tinggal diam dan hanya mengamati semua ancaman dari “kekuatan-kekuatan materialis rapuh yang digerogoti cacing di dalam tubuhnya”,” kata pemimpin tertinggi Iran Ayotollah Sayyed Khamenei di hadapan para taruna militer Iran November tahun lalu.

“Siapapun yang berfikir untuk menyerang Iran, atau bahkan sekedar terlintas pikiran untuk menyerang Iran, harus siap-siap mendapat balasan lebih keras dari tangan besi militer Iran, Tentara Pengawal Republik Iran, serta milisi Basij yang didukung oleh seluruh rakyat Iran,” tambah Khamenei saat itu.

Rudal S-300

Pernyataan menhan Iran di atas secara tidak langsung mengklarifikasi dugaan kepemilikan sistem pertahanan udara S-300 oleh Iran meski Rusia telah membatalkan penjualan sistem persenjataana tersebut tahun lalu karena larangan PBB.

Sumber-sumber inteligen internasional menyebutkan bahwa setelah Rusia membatalkan penjualan tersebut, Iran berhasil mendapatkan 4 set S-300, 2 dari Belarusia dan 2 lagi dari sumber yang masih belum diketahui. Meski Rusia dan Iran membantah laporan-laporan tersebut, sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan diplomat bahwa teknisi-teknisi Iran telah mendapatkan pelatihan penanganan sistem persenjataan canggih tersebut di Rusia.

Dugaan kepemilikan senjata yang ditakuti Amerika dan Israel tersebut semakin kuat dengan kedatangan dua kapal perang Iran ke Syria bulan lalu menyusul kedatangan flotilla kapal perang Rusia ke Syria akhir tahun lalu. Laporan-laporan inteligen menyebutkan Rusia diam-diam telah memasok S-300 kepada Syria dan Iran. Kedatangan kapal-kapal perang Iran tersebut untuk menjemput senjata-senjata tersebut.

S-300 sebenarnya bukan sistem pertahanan udara paling canggih yang dibuat Rusia karena Rusia telah mengembangkan sistem persenjataan yang lebih baru, yaitu S-400. Namun demikian sampai saat ini S-300 masih dianggap sebagai salah satu sistem pertahanan udara paling canggih yang bisa menetralisir keunggulan angkatan udara Amerika dan Israel atas Iran serta menggagalkan skenario serangan udara Amerika dan Israel atas sarana-sarana nuklir Iran. S-300 mampu mendeteksi secara simultan 100 target sekaligus dan menembak jatuh 12 rudal dan pesawat musuh sekaligus.

IRAN SANGGUP “MEMBAJAK” SETIAP RUDAL AMERIKA

Pejabat militer Iran, Jendral Farzad Esmaeli baru-baru ini mengklaim bahwa Iran memiliki kemampuan untuk “membajak” setiap rudal yang diarahkan ke Iran, membelokkan arah dan meledakkannya di udara. Jika klaim ini benar, maka Iran telah memiliki kemampuan yang sangat signifikan untuk menggagalkan setiap serangan militer terhadapnya sebagaimana rencana serangan Israel dan Amerika yang gencar diberitakan akhir-akhir ini.

“Setiap rudal yang diarahkan ke Iran akan dihancurkan atau dibelokkan arahnya dari sasaran dan mengarah ke sasaran yang kami tentukan,” kata Jendral Farzad kepada kantor berita Iran FARS, Senin (30/4). Pernyataan tersebut terkait dengan berita digelarnya senjata-senjata canggih Amerika di negara-negara Teluk, seperti pesawat tempur F-22 Raptor serta sistem pertahanan udara terbaru Amerika. Jendral Farzad menyindir penggelaran senjata-senjata Amerika tersebut menunjukkan kelemahan pertahanan negara-negara teluk tersebut.

Bulan Maret lalu menlu Amerika Hillary Clinton usai pertemuannya dengan pemimpin Saudi Arabia mengatakan bahwa Amerika akan menggelar sistem pertahanan udara di negara-negara Teluk Parsia untuk menghadapi ancaman Iran.

Meski sebagian ahli meragukan klaim Iran tersebut sebagaimana klaim Iran yang sanggup memproduksi massal pesawat tanpa awak Amerika, kemampuan Iran membajak pesawat tempur tanpa awak RQ-170 Sentinel membuat sebagian ahli percaya dengan klaim tersebut. Meski Amerika berusaha mengaburkan kabar tersebut dengan mengklaim pesawat tersebut ditembak jatuh, gambar pendaratan mulus pesawat tersebut di wilayah Iran menunjukkan kemampuan Iran membajak obyek-obyek udara Amerika.  

RUDAL IRAN SAINGI RUDAL RUSIA
Iran mengumumkan telah berhasil mengembangkan sistem rudal pertahanan udara yang lebih canggih dari rudal canggih Rusia, S-300. Rudal yang diduga dibuat Iran atas bantuan Rusia dan Cina ini diperkirakan akan bisa menggagalkan serangan Amerika-Israel atas Iran.

Brigjen Farzad Esmaeli beberapa waktu lalu mengklaim bahwa rudal buatan Iran yang diberi nama sandi “Bavar 373″ ini lebih canggih dari S-300 dan bakal menjadi saingan rudal-rudal pertahanan udara canggih Rusia seperti S-300 serta rudal S-400 yang masih disembunyikan Rusia, dalam pasar perdagangan senjata internasional di masa mendatang.

“Bavar 373″ merupakan sistem pertahanan udara yang dibuat Iran untuk menggantikan S-300 yang gagal dibeli Iran dari Rusia karena larangan PBB terkait program nuklir Iran. Diyakini sebagai kompensasi kegagalan penjualan tersebut, juga terkait dengan dibukanya akses terhadap pesawat tanpa awak Amerika canggih yang dijatuhkan Iran bagi para ahli Rusia, Rusia membantu pengembangan rudal “Bavar 373″ ini. Diduga kuat Cina serta Korea Utara juga terlibat dalam pengembangan “Bavar 373″. Sistem senjata canggih buatan domestik ini akan segera digelar di seluruh Iran terutama untuk melindungi obyek-obyek vital Iran seperti fasilitas nuklirnya.

Sumber-sumber militer Iran menyebutkan bahwa “Bavar 373″ adalah sistem senjata yang mobil, setiap peluncur memiliki 4 rudal terpasang, juga bisa dipasang pada peluncur rudal sejenis seperti sistem rudal Tor-M1 buatan barat. Sumber-sumber inteligen menyebutkan Iran sebelumnya juga telah memiliki 4 sistem pertahanan rudal S-300 selain beberapa sistem pertahanan rudal lainnya. Dengan keberadaan senjata-senjata tersebut Iran percaya setiap serangan udara Amerika-Israel bisa dapat dimentahkan.

IRAN ANCAM HANCURKAN PANGKALAN MILITER RAHASIA AMERIKA DI ISRAEL

Iran kembali memberikan peringatan keras terkait rencana serangan militer Amerika dan Israel terhadap fasilitas nuklir miliknya. Iran akan menghancurkan pangkalan-pangkalan militer rahasia Amerika di wilayah Palestina yang diduduki Israel dengan rudal-rudal jarak jauhnya.

“Amerika memiliki beberapa pangkalan militer rahasia di beberapa tempat di Palestina yang menjadi tempat penyimpanan senjata, bom-bom pintar, rudal dan perlangkapan militer lainnya. Juga terdapat fasilitas rumah sakit yang bisa menampung 500 pasien. Jika Israel menyerang Iran, maka pangkalan-pangkalan itu akan menjadi target rudal-rudal Iran,” kata seorang diplomat senior Iran sebagaimana dikutip “Basij News“, media resmi satuan milisi Basij Iran.

Menurut diplomat yang tidak disebutkan namanya itu salah satu pangkalan militer rahasia Amerika itu terdapat di kota Herzliya, lainnya berada di dekat Ben Gurion Airport. Selain itu juga terdapat fasilitas yang yang sama di pangkalan udara Israel di Ovda dan Nevatim. Menurut diplomat bersangkutan, nilai dari persenjataan Amerika di pangkalan-pangkalan militer tersebut melebihi $1 miliar.
“Pangkalan militer Amerika di wilayah pendudukan dianggap sebagai fasilitas rahasia, sebagian besar darinya berada di bawah tanah. Pangkalan-pangkalan militer itu disebut dengan kode “Base 51″ untuk tempat penyimpanan senjata, “Base 53″ untuk pangkalan yang berada di pangkalan udara Israel, dan “Base 54″ untuk fasilitas rumah sakit yang berada dekat Tel Aviv. Sedangkan “Base 55″ dan “56” adalah untuk pangkalan yang berisi cadangan amunisi dan perlengkapan perang,” kata diplomat tersebut.

Diplomat tersebut juga menyebutkan sebuah pangkalan militer di Tepi Barat yang dibuat oleh perusahaan Jerman tempat penyimpanan senjata Amerika. Pangkalan tersebut diawasi oleh 150 tentara Amerika dan berada di bawah pengawalan ketat militer Israel.

Laporan “Basij News” mengindikasikan bahwa meski Amerika tidak terlibat aktif dalam penyerangan terhadap Iran, setiap serangan oleh Israel akan mengakibatkan pangkalan-pangkalan militer Amerika di Israel menjadi sasaran serangan balasan Iran.

Sementara itu penasihat militer pemimpin tertinggi Iran, Mayjend Rahim Safavi menggambarkan keberadaan orang-orang yahudi di Israel sebagai “sangat riskan”. Kepada kantor berita “Fars News Agency” baru-baru ini ia mengatakan, “Para zionis hidup dalam kondisi dimana jika mereka menyerang Iran, maka sekitar 1 juta orang yahudi di Isael akan meninggalkan Israel dalam 1 atau 2 minggu saja. Orang-orang yahudi sangat riskan berada di sana.”

Safavi yang merupakan mantan komandan Tentara Pengawal Revolusi minggu lalu mengatakan, “Semua tanda di kawasan Timur Tengah mengindikasikan kehancuran regim zionis dan hilangnya keberadaan mereka dari peta bumi.”

Safevi mengingatkan bahwa Amerika telah menghabiskan trilunan dolar dalam perang 9 tahunnya di Irak dan telah kehilangan lebih dari 5 ribu prajuritnya, namun tetap gagal menguasai Irak. Demikian juga petualangan Amerika di Afghanistan yang mengalami kegagalan total.

“Dukungan Amerika terhadap Israel akan meningkatkan kebencian di kalangan umat Islam dan akan membuat Amerika harus membayar mahal.

“Allah sudah menjanjikan kemenangan umat Islam atas orang-orang kafir zionis,” tambahnya.

AMERIKA AKHIRNYA AKUI KEHEBATAN MILITER IRAN

Latihan perang yang digelar Iran baru-baru ini, “Great Prophet 7″ mungkin telah membuat para analis militer Amerika terkesan. Dalam salah satu bagian latihan tersebut Iran berhasil meluncurkan rudal anti-kapal balistiknya, “Khalij Fars” yang sukses menghancurkan sasaran di tengah laut.

Padahal teknologi rudal balistik termasuk paling rumit dalam bidang teknologi rudal. Menembakkan rudal ke ketinggian tertentu dan sudut tertentu dan membiarkannya jatuh sendiri dengan gaya gravitasi menuju titik sasaran, membutuhkan teknologi navigasi yang sangat canggih, dan Iran telah menguasai teknologi itu. Namun tentu bukan karena kecanggihan “Khalij Fars” saja yang membuat para ahli militer Amerika mengakui kehebatan militer Iran hingga departemen pertahanan mereka membuat laporan ke lembaga legislatif (Congress) tentang kehebatan itu.

Dalam laporan yang dibuat tgl 29 Juni dan ditandatangani menhan Amerika Leon Panetta itu disebutkan: “Iran has boosted the lethality and effectiveness of existing systems by improving accuracy and developing new submunition payloads that extend the destructive power over a wider area than a solid warhead“. Artinya kira-kira adalah: Iran telah berhasil mengembangkan rudal berdaya hancur dan keakurasian tinggi, dan dengan daya jangkau yang lebih jauh dari rudal biasa. Selain itu laporan juga menyebutkan keberhasilan Iran membangun kapal-kapal dan kapal selam sendiri.

Dalam laporan yang dibagikan kepada 4 anggota komite pertahanan Congress minggu lalu itu disebutkan secara umum “kemampuan asimetrik Iran yang didisain untuk menghadapi kekuatan militer barat”. Laporan juga memberikan kesimpulan umum tentang apa yang pernah menjadi perguncingan para politisi dan analis militer tentang program nuklir Iran, hubungan Iran dengan Syria, Hizbollah dan Hamas serta kelompok-kelompok Shiah Irak.

Namun yang lebih menghebohkan adalah laporan itu juga menyebutkan bahwa Iran, dengan dukungan sekutu-sekutu asingnya, akan sanggup membuat rudal balistik antar-benua pada tahun 2015. Negara-negara maju seperti Inggris dan Perancis mungkin telah memiliki teknologi ini, namun hingga saat ini pun belum mengembangkan senjata ini. Selain membutuhkan sistem pemandu canggih, rudal ini membutuhkan material tertentu yang sulit didapat karena harus tahan terhadap suhu tinggi yang diakibatkan gesekan udara dengan permukaan rudal yang ditembakkan hingga ke lapisan tertinggi atmosfir.

PENINGKATAN KEAKURASIAN DAN KEKUATAN

“Ada bukti-bukti kuat bahwa Iran tengah meningkatkan keakurasian dan daya hancur rudal-rudal mereka. Laporan-laporan pemerintah selama ini telah meremehkan keakurasian dan efektifitas rudal-rudal Iran,” komentar analis dari Congressional Research Service Iran, Kenneth Katzman. Menurut Katzman laporan terbaru tersebut telah memberikan apresiasi terhadap kemampuan militer Iran.

“Iran akan menunjukkan kemampuan besarnya dalam mempertahankan wilayahnya. Kami telah memberikan penilaian dengan keyakinan tinggi bahwa selama 30 tahun Iran telah membangun jaringan “teroris yang didukungnya” yang mampu menyerang kepentingan-kepentingan Amerika dan Israel,” tulis laporan tersebut.

Laporan juga menyebutkan kemampuan Iran membuat rudal jarak jauh yang bisa menjangkau Israel dan Eropa Timur. Rudal itu termasuk rudal “Shahab 3″ yang berdaya jangkau hingga 2.000 km dan rudal balistik yang tidak disebutkan namanya. Selain itu laporan juga mengkonfirmasi Iran telah menempatkan rudal balistik jarak menengah berbahan bakar padat.

“Iran, seperti halnya Cina, tengah mengembangkan dan menempatkan rudal balistik jarak menengah dengan alat pencari yang mampu mengidentifikasi dan  dan menghancurkan sasaran-sasaran bergerak seperti kapal,” tulis laporan itu.

“Teknologi ini memungkinkan untuk melakukan serangan terhadap sasaran-sasaran darat,” tambahnya.

Kementrian pertahanan Amerika (Pentagon) menyoroti 3 latihan perang yang dilakukan Iran tahun ini yang disebutnya sebagai unjuk kemampuan pertahanan dan penyerangan Iran.

100 x LEBIH KUAT

Di sisi lain pemimpin tertinggi Iran, Imam Sayyed Ali Khamenei manyatakan bahwa saat ini Iran 100 kali lebih kuat dari kekuatan Iran 30 tahun lalu, meski harus menghadapi sanksi-sanksi barat sejak tahun 1979.

Pernyataan tersebut dikeluarkan Khamenei saat memberi sambutan dalam acara konperensi internasional wanita “Islamic awakening” yang digelar di Teheran baru-baru ini.

“Barat telah membual tentang dampak sanksi-sanksi mereka terhadap Iran, namun mereka tidak mengetahui bahwa mereka telah memicu semangat rakyat Iran dengan memberlakukan sanksi-sanksi selama 30 tahun terakhir,” kata Khamenei dalam sambutannya.

Kalau mau dibandingkan dengan orang-orang Syiah, Ahlu Sunah lebih parah.

Aisyah adalah tokoh utama sunni selain Abu Hurairah dan Ibnu Umar

Sibth bin Jauzai, salah seorang ulama besar Ahlu Sunah. Ia menulis banyak kitab terkenal. Ia selalu sibuk di masjid-masjid baghdad berceramah menyampaikan wejangan-wejangannya untuk memberi petunjuk kepada masyarakat sekitarnya. Ia wafat pada tahun 597 di Baghdad.[1]

Salah satu kriteria khas Imam Ali bin Abi Thalib as adalah, ia sering berkata kepada semua orang: “Tanyalah kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.”

Ucapan itu adalah ucapan khas Imam Ali as dan Imam-Imam setelahnya. Siapapun selain mereka yang berkata seperti itu pasti ujungnya malu sendiri.

Ada sebuah dialog antara Sibth bin Jauzi dengan seorang perempuan pemberani. Pada suatu hari, Sibth bin Jauzi mengaku sangat pintar dan berkata “Wahai orang-orang, tanyalah apapun kepadaku sebelum kalian kehilangan aku.” Padahal saat itu banyak sekali hadirin yang duduk di sekitar mimbarnya.

Lalu seorang perempuan dari bawah mimbar berkata, “Beritahu aku, apakah hadits ini benar atau tidak; hadits yang mengatakan bahwa sekelompok Muslimin telah membunuh Utsman bin Affan lalu jenazahnya dibiarkan begitu saja sampai tiga hari dan tak satupun ada yang bersedia mengangkatnya untuk dikubur?”

Sibth bin Jauzi menjawab, “Ya, memang benar.”

Perempuan: “Apakah hadits ini juga benar; ada hadits yang mengatakan bahwa ketika Salman Al Farisi berada di Madain dan meninggal di sana, Imam Ali as dari Kufah datang ke Madain lalu menshalati jenazah Salman, mengkafani dan menguburkn jenazahnya karena ia tidak mau jenazah Salman tergeletak begitu saja?”

Sibth bin Jauzi: “Ya, benar hadits itu.”

Perempuan: “Lalu mengapa Ali bin Abi Thalib yang saat itu juga berada di Madinah tidak mau datang mengurusi jenazah Utsman bin Affan untuk dimandikan, dikafani dan dikuburkan? Padahal keduanya sahabat nabi? Kalau begitu pasti salah satu di antara mereka ada yang salah: Kalau bukan Ali yang salah karena tidak mau menguburkan orang yang beriman, berarti Utsman bukanlah orang yang beriman sehingga Ali tidak bersedia mengurus jenazahnya?[2]

Sibth bin Jauzi diam sejenak. Karena jika ia menyebut salah satu dari keduanya salah, berarti ia telah menentang keyakinannya bahwa keduanya adalah kahlifah yang benar. Oleh karena itu ia berkata:

“Wahai perempuan, jika engkau datang ke sini tanpa izin suamimu lalu engkau banyak berbicara dengan orang yang bukan muhrim seperti aku, maka semoga Tuhan melaknatmu. Namun jika engkau datang dengan izin suamimu, maka semoga Allah melaknat suamimu.”

Perempuan itu heran dan berkata: “Apakah Aisyah pergi ke luar rumah untuk berperang melawan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal telah minta izin terlebih dahulu kepada nabi atau tidak?”

Sibth bin Jauzi juga tidak bisa menjawab pertanyaannya. Karena jika ia menjawab bahwa Aisyah tidak meminta izin untuk keluar rumah, berarti ia telah menyalahkan Aisyah. Namun jika ia menjawab bahwa nabi mengizinkannya ke luar rumah, berarti ia telah menyalahkan Ali bin Abi Thalib.

Ia tidak berkata apa-apa. Lalu tak lama kemudian turun dari mimbarnya dan pulang ke rumah.[3]


[1] Safinatul Bihar, jilid 1, halaman 193.

[2] Namun akhirnya tiga hari kemudian ada sebagian orang yang secara diam-diam menggotong jenazahnya dan dikuburkan di belakang Baqi’, kuburan orang-orang Yahudi. (Tarikh, Thabari, jilid 9, halaman 143.

[3] Biharul Anwar, jilid 29, halaman 647.

Riwayat tentang kecintaan terhadap Imam Ali as dan Imam Husain as

Almarhum Sultanul Wa’idzin Shirazi, dalam buku terkenalnya “Malam-Malam di Peshayawar” bercerita:

Salah seorang ulama Ahlu Sunah bertanya padaku:

“Akhund Mula Muhammad Baqir Majlisi Isfahani, ia adalah salah seorang ulama besar kalian. Ia banyak sekali menukil riwayat-riwayat yang tidak masuk akal dalam berjilid-jilid kitabnya (Biharul Anwar). Misalnya diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kecintaan terhadap Ali adalah kebaikan yang keburukan tidak apa-apa jika bersama kebaikan itu.” Yakni jika kita mencintai Ali, maka kita bisa berbuat dosa; karena dosa itu tidak akan merusak kebaikan tersebut. Diriwayatkan juga Rasulullah saw pernah bersabda: “Barang siapa menangisi Husain, maka surga diwajibkan atasnya (ia wajib masuk surga).” Dan banyak lagi hadits-hadits lain seperti ini yang memenuhi kitab-kitab Syiah.

Hadits-hadits itulah yang memproduksi kebejatan di tengah-tengah masyarakat dan umat Islam. Pantas orang-orang Syiah berani sekali melakukan dosan dan kejahatan apapun karena mempunyai harapan kelak Ali bin Abi Thalib akan menarik tangan mereka dan memasukkan mereka ke surga, atau hanya dengan setetes air mata menangisi Imam Husain mereka dapat menghapus dosa-dosa yang pernah dilakukan.

Apakah hadits-hadits sepert ini benar? Bukankah hadits-hadits itu hanya menyebar kemunkaran? Kita sendiri pun menyaksikan banyak orang-orang Syiah yang suka bergelimang dengan dosa, lalu saat Muharram tiba mereka sibuk berduka cita dan menangisi Imam Huisan. Saat itu saja mereka giat beribadah. Lalu mereka berkata, “Setelah sepuluh hari (1 sampai 10 Muharram) ini usai, kita akan bersih dari dosa bagaikan bayi yang baru saja dilahirkan ibunya.”

Almarhum Sultanul Wa’idzin menjawab:

“Bukannya umat Islam Ahlu Sunah sendiri juga banyak yang bergelimangan dosa? Kalau mau dibandingnkan dengan orang-orang Syiah, Ahlu Sunah lebih parah. Coba anda lihat kota-kota besar yang kebanyakan penduduknya adalah Ahlu Sunah, seperti Turki, Mesir, Iskandaria, Syam, Baitul Muqaddas, Bierut, Oman, Halb, Baghdad, Bashrah, banyak sekali pusat-pusat kemunkaran di sana yang jelas lebih banyak dari Syiah. Di antara mereka banyak sekali yang suka berjudi, mabuk, mendatangi rumah-rumah pelacuran, dan lain sebagainya.

Malah banyak sekali fatwa-fatwa aneh ulama Ahlu Sunah seperti menghukumi anjing sebagai suci, halal memakan daging anjing, sucinya sperma, miras, keringat orang yang junub, menghalalkan berhubungan intim dengan orang yang muhrim dengan menggunakan selimut, dan fatwa-fatwa aneh seterusnya.

Adapun riwayat-riwayat yang anda sebutkan tadi, aku bisa buktikan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Khatib Khwarazmi dalam Manaqibnya, Sulaiman Qunduzi Hanafi dalam Yanabi’ul Mawaddahnya, Muhammad bin Yusuf Ganji Syafi’i dalam Kifayatul Thalibnya, dan banyak lagi ulama kalian meriwayatkan dari Anas bin Malik dan Mu’adz bin Jabal bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kecintaan terhadap Ali adalah kebaikan yang tidak akan rusak karena keburukan. Kebencian terhadap Ali adalah keburukan yang tidak akan bisa diperbaiki dengan kebaikan.” Begitu pula Imam Ahmad bin Abdullah Thabari Syafi’i dalam Dzakhairul Uqbanya, Ibnu Hajar yang menukil dari Mula Sulaiman Balkhi Hanafi dalam Yanabi’ul Mawaddahnya, dan juga ulama lainnya menukil dari Nasai dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw bersabda: “Kecintaan terhadap Ali dapat memakan dosa-dosa (menghapus dosa-dosa) bagai api yang memakan kayu (membakar kayu sampai habis).” Tentang riwayat yang berkenaan dengan Imam Husain as, diriwayatkan dari Ummul Mu’minin Aisyah, Jabir, Anas dan selainnya bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menziarahi Husain di Karbala sedangkan ia mengetahui haknya, maka ia wajib masuk surga.” Beliau juga bersabda: “Barang siapa menangisi Husain sedang tahu akan haknya, maka ia wajib masuk surga.”

Dengan demikian tidak hanya kitab-kitab Syiah saja yang meriwayatkan hadits-hadits tersebut.[1]


[1] Malam-Malam di Peshawar, Sultanul Wa’idzin Syirazi.

Al Quran lebih dipedomani Syi’ah dibandingkan Sunni

Pertanyaan

Kandungan Al Qur’an hanya sesuai dengan ilmu pengetahuan manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu. Kenapa Al Quran gagal diterapkan KAUM SUNNi terutama di Indonesia ??

.

Pendahuluan

Tujuan Tuhan menurunkan Al Qur’an adalah mendidik umat manusia. Semakin manusia mengingkari Al Qur’an, keunggulan Al Qur’an semakin terus terlihat pula. Inilah kriteria hakikat. Oleh karena itu pembesar-pembesar kita sering berkata: “Kami tidak takut Al Qur’an dikritik. Kami hanya takut berbohong atas nama Al Qur’an.” Karena perbuatan itu tidak dibenarkan sama sekali.

Pertanyaan di atas dapat dijawab dengan dua cara:

1. Jawaban yang mempertanyakan kembali pertanyaan di atas;

2. Jawaban yang mejelaskan permasalahan yang sebenarnya.

Jawaban pertama:

Tidak benar jika kita katakan Al Qur’an sesuai dengan ilmu pengetahuan manusia seribu empat ratus tahun yang lalu. Banyak permasalahan-permasalahan ilmiah yang disinggung Al Qur’an yang ternyata terbukti di jaman-jaman setelahnya. Jika seandainya Al Qur’an menjelaskan masalah yang sudah jelas-jelas difahami oleh umat manusia di jaman itu, apa istimewanya Al Qur’an? Tidak ada hal yang spesial dalam hal itu. Karena semua orang pun bisa melakukan hal yang sama, yakni melakukan sesuatu yang biasa-biasa saja dan sudah lumrah bagi semua orang. Justru menurut kami sampai saat ini ilmu pengetahuan tidak dapat mencari titik kesalahan apa yang pernah dijelaskan Al Qur’an. Faktanya, hari demi hari kebenaran-kebenaran Al Qur’an semakin terbukti. Profesor Moris Boka berkata:

“Dari sejak awal aku meneliti, banyak sekali permasalahan-permasalahan rinci dan ilmiah dalam Al Qur’an yang terus menerus membuatku kagum, sampai aku tidak percaya banyak sekali penemuan-penemuan masa kini yang sudah pernah ada dalam tulisan kuno berumur seribu empat ratus tahun!”[1]

Jawaban kedua:

Salah satu sisi “kemukjizatan” Al Qur’an adalah keilmiahannya. Karena saat Al Qur’an diturunkan, ilmu pengetahuan manusia masih sederhana dan belum mencapai penemuan-penemuan tertentu, namun saat itu juga Al Qur’an telah menjelaskannya. Banyak sekali hal-hal ilmiah dalam Al Qur’an yang dapat kita temukan, yang di antaranya adalah seperti:

1. Berpasang-pasangannya tumbuhan: Al Qur’an menyinggung permasalahan ini dalam beberapa ayat sucinya. Dalam Tafisr Nemune, di bawah ayat yang berbunyi: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu pelbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]:7), disebutkan:

Dalam ayat di atas, perlu kita perhatikan mengapa digunakan kata zauj. Meskipun para ahli tafsir mengartikannya sebagai “jenis” dan azwaj diartikan dengan “jenis-jenis”, apa salahnya jika kita memaknai kata itu dengan makna aslinya sebagaimana saat kata itu terlintas di pikiran kita untuk pertama kalinya? Yakni dengan makna “pasangan” dengan maksud berpasang-pasangannya tumbuhan. Sejak jaman dahulu kala manusia sudah tahu bahwa tumbuhan juga memiliki jenis jantan dan betina, dan mereka terkadang mengawinkan pasangan-pasangan tumbuhan itu. Contoh yang paling jelas adalah pohon kurma. Pada permulaan abat ke-18, untuk pertama kalinya, Profesor Line, seorang ilmuan botani terkenal dari Swedia berhasil menemukan dan membuktikan bahwa permasalahan berpasangannya tumbuhan adalah kaidah umum dan tumbuh-tumbuhan sama seperti binatang yang berreproduksi dengan cara perkawinan, lalu terjadi pembuahan dan akhirnya muncullah buah sebagai hasilnya. Namun Al Qur’an telah menjelaskan masalah ilmiah ini berkali-kali dalam ayat sucinya jauh sebelum penemuan ilmuan Swedia itu (di ayat ke-4 surah Ar Ra’d, ayat ke-10 surah Luqman, ayat ke-7 surah Qaaf, dan ayat ini).[2]

Permasalahan ilmiah ini tidak pernah difahami oleh umat manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu secara jelas. Akhir-akhir ini saja ilmuan menyingkap fenomena alami yang menakjubkan itu. Bahkan selain keberpasangan tumbuhan, Al Qur’an juga menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta juga berpasang-pasang. Allah swt berfirman: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]:49)

Ini juga salah satu mukjizat Al Qur’an. Karena saat ini para ilmuan juga membuktikan bahwa segala sesuatu memiliki unsur negatif atau positif, atau apapun itu.

2. Gravitasi bumi: Salah satu permasalahan ilmiah yang juga dijelaskan Al Qur’an adalah gravitasi bumi. Allah swt berfirman: “Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang.” (QS. Luqman [31]:10)

Para mufasir di bawah ayat itu menjelaskan permasalahan gravitasi bumi. Mereka berkata: Di ayat itu dijelaskan beberapa dari mukjizat-mukjizat Al Qur’an, yakni menjelaskan sesuatu yang mana orang-orang di saat itu sama sekali belum pernah berfikir tentangnya, dan bahkan membayangkannya pun belum pernah. Salah satu permasalahan itu adalah tiang-tiang tak nampak yang berguna untuk menyangga benda-benda langit dalam tata surya kita. Yang maksudnya adalah daya tarik (gravitasi) dan daya tolak yang menjadi rahasia di balik orbit, rotasi dan evolusi tata surya.

Permasalaha yang lain adalah terjaganya bumi dari goncangan berkat gunung-gunung, dan juga masalah keberpasangan tumbuh-tumbuhan.[3] Al Qur’an menyebut gravitasi sebagai tiang; karena daya tarik yang ada antara bumi dan matahari bagaikan rantai, yang mana menurut penjelasan Al Qur’an bagai tiang yang kuat. Daya itulah yang mengatur jarak antara bumi dan matahari serta perputarannya; yang mana peran itu mirip dengan peran yang dimainkan oleh tiang dalam rumah kita. Fenomena yang telah disinggung Al Qur’an ini adalah salah satu contoh bukit kemukjizatannya yang mana umat manusia baru bisa membuktikan kebenaran masalah tersebut saat ini dengan menggunakan perangkat-perangkat ilmiah moderen.[4]

3. Sedikitnya kadar oksigen di ketinggian: Dalam surah Al An’am Allah swt berfirman: “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am [6]:125)

Sebagian ahli tafsir berkata: Makna yang lebih lembut lagi yang dapat dipahami dari ayat itu adalah: Kini telah terbukti bahwa udara yang biasa terjangkau oleh kita di muka bumi memiliki kadar oksigen yang tinggi sehingga kita dapat bernafas dengan lega. Namun semakin kita menaiki tempat yang lebih tinggi, maka semakin tinggi kita naik semakin sedikit pula kadar oksigen yang dapat kita hirup. Misalnya jika kita menaiki gunung yang tingginya berkilo-kilo meter dari permukaan laut, jika kita tidak menggunakan tabung oksigen untuk bernafas, kita akan semakin sulit untuk menghirup udara, sehingga dada kita terasa amat sesak. Atau bahkan kita bisa sampai pingsan karena itu. Di jaman diturunkannya Al Qur’an permasalahan ilmiah ini sama sekali belum pernah terbukti namun kitab suci itu telah menjelaskannya.[5]

Kesimpulan

Dengan apa yang telah dijelaskan di atas, banyak permasalahan ilmiah yang belum pernah difahami umat manusia pada seribu empat ratus tahun yang lalu. Ilmu pengetahuan saat ini baru membuktikan permasalahan-permasalahan itu dan semakin menjadi bukti kebenaran kitab suci kita. Dengan demikian, kita dapat ungkapkan bahwa semakin tinggi ilmu pengetahuan umat manusia, maka semakin kuat pula kecenderungan mereka kepada Al Qur’an karena kebenarannya. Sebagian orang berkata: “Kini agama dan ilmu semakin dekat jaraknya. Kelak agama dan ilmu akan semakin dekat lagi sehingga semua orang akan menyadari bahwa agama adalah hakikat dan hakikat adalah agama itu sendiri.”[6]

Apa yang dijelaskan di atas hanya sekelumit dari penjelasan yang dapat diberikan. Banyak sekali buku-buku yang lebih mengulas permasalahan di atas dengan lebih jelas dan panjang lebar. Masih banyak lagi hal-hal ilmiah yang dapat dibahas, seperti atmosfer yang diibaratkan Al Qur’an sebagai atap, atau masalah rumit tentang janin, atau akar-akar gunung yang disebut sebagai awtad atau paku-paku bumi. Semua itu membuktikan bahwa Al Qur’an mencakup permasalahan-permasalahan ilmiah yang baru ditemukan umat manusia akhir-akhir ini.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Moris Boka, Moqayese e Miyan e Towrat, Injil, Qor’an va Elm, hal. 215.

2. Sayid Sajjad Alawi dan Ali Syaikh Zade, Mo’jezat e Jadid Ya E’jaz e Elmi e Qor’an e Karim, hal. 30.

Hadits Penutup: Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan yang akan datang, maka hendaknya merenungi Al Qur’an.”[7]


[1] . Moris Boka, Moqayese i Miyan e Towrat, Injil, Qoran, va Elm,  hal. 215, menukil dari: Mu’jizat e Jadid ya E’jaz e Elmi e Qor’an.

[2] . Nashir Makarim Syirazi dan penulis lainnya, Tafsir e Nemune, jil. 15, hal 191.

[3] . Muhsin Qira’ati, Tafsir e Nur, jil. 9, hal. 236.

[4] . Sayid Sajjad Alawi dan Ali Syaikh Zade, Mo’jezat e Jadid ya E’jaz e Elmi e Qor’an, hal. 30.

[5] . Tafsir e Nemune, jil. 5, hal. 436.

[6] . Reza Pak Nejad, Ezdevaj e Maktab e Ensan Sazi, hal. 177.

[7] . Muttaqi Hindi, Kanzul Ummal, 2454.

Abubakar diagung agungkan sunni

Abu Bakar ketakutan saat menemani nabi dalam goa

Ma’mun, khalifah Bani Abbas, memerintahkan Yahya bin Aktsam, hakim saat itu, untuk mengumpulkan para tokoh dan ulama (yang kebanyakan dari kalangan Ahlu Sunah) di suatu hari dalam suatu majelis.

Tiba saatnya hari dimana majelis itu diadakan. Ma’mun duduk di majelis itu dan berkata kepada para hadirin: “Aku mengumpulkan kalian semua untuk membahas masalah keimaman dan kekhalifahan, sehingga dengan demikian bagi semua orang jelas permasalahannya.”

Di majelis itu setiap ulama membicarakan keutamaan Abu Bakar dan Umar sebagai khalifah nabi.

Salah satu dari mereka adalah tokoh yang bernama Ishaq bin Hammad bin Zaid. Ia membawakan ayat ini:

Allah swt berfirman tentang Abu Bakar:

“…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.”…” (At Taubah, ayat 40)

Yakni ayat itu menjelaskan bahwa saat nabi berhijrah dari Makkah menuju Madinah, ia bersama Abu Bakar bersembunyi di goa. Lalu di dalamnya nabi berkata kepada temannya, Abu Bakar: “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita.”

Dengan membawakan ayat ini ia berusaha membangga-banggakan Abu Bakar sebagai teman yang mendampingin nabi.

Namun Ma’mun lumayan pintar, ia menyangkal ucapannya dengan berkata: “Wah, bukannya orang kafir pun bisa disebut “teman yang mendampigi” jika kamu berpendapat seperti itu tentang Abu Bakar karena ayat tersebut? Karena Allah swt juga pernah berfirman:

“Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya – sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (Al Kahfi, ayat 37)

Dalam ayat itu orang yang beriman dan orang kafir saat bersandingan juga disebut teman yang mendampingi. Karena di kedua ayat ini, ayatku dan ayatmu, sama-sama menggunakan kata “shahib”.

Banyak juga syair-syair dan puisi Arab yang menyebut-nyebut manusia berteman dengan hewan. Maksudnya hewan yang dipiaranya adalah “teman yang mendampingin dan menemani” manusia. Lalu bagaimana bisa ayat yang kamu bawa itu dijadikan bukti keutamaan Abu Bakar hanya karena Abu Bakar disebut “shahib” atau teman-nya nabi?”

Ishaq berkata: “Dalam ayat itu nabi berkata kepadanya: “Janganlah bersedih.”.”

Ma’mun bertanya: “Jelaskan padaku, kesedihan Abu Bakar itu cela atau tidak? Kalau kesedihan itu bukan cela, misalnya suat bentuk ketaatan, apakah nabi mencegah seseorang dari ketaatan? Kalau kesedihan Abu Bakar itu adalah cela karena rasa takutnya, lalu apa yang dapat dibanggakan dari kesedihan Abu Bakar?”

Ishaq berkata: “Tuhan menurunkan ketenangan (sakinah) ke hati Abu Bakar saat itu. Oleh karenanya hal itu adalah keutamaan dan kebanggan bagi Abu Bakar. Sesungguhnya ketenangan itu diturunkan untuk Abu Bakar, karena dia bersedih; bukan buat nabi, karena nabi sendiri tidak membutuhkan ketenangan.”

Ma’mun berkata: “Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman…” (At Taubah, ayat 25 dan 26)

Wahai Ishaq, apakah kau tahu siapakah orang-orang yang beriman yang tidak lari dari perang Hunain itu?”

Ishaq berkata: “Aku tidak tahu.”

Ma’mun menjelaskan: “Di perang Hunain, di suatu tempat di antara Makkah dan Thaif, pada tahun kedelapan Hijriah, semua pasukan Islam terkalahkan dan berlarian dari medan perang. Hanya nabi dan TUJUH orang dari Bani Hasyim yang tetap bertahan. Ali bin Abi Thalib terus berperang dengan pedangnya. Abbas paman nabi tetap menggenggam kendali onta nabi. Dan ada lima orang lainnya.[1] Mereka semua menjaga nabi dan melindunginya di medan perang agar tidak dicelakai oleh orang-orang kafir. Akhirnya Allah pun memenangkan mereka, dengan cara menurunkan ketenangan ke hati nabi dan orang-orang yang beriman. Oleh karena itu nabi pun tetap membutuhkan ketenangan dari Tuhan. Wahai Ishaq, orang-orang beriman di ayat itu adalah mereka yang tetap bertahan di medan perang lalu Allah menurunkan ketenangan di hati mereka. Maka siapakah yang lebih mulia? Mereka yang bertahan dalam bahaya atau Abu Bakar yang padahal ia aman bersama nabi namun takut lalu akhirnya ketenangan diturunkan padanya? Wahai Ishaq, manakah yang lebih mulia: orang yang berlindung bersama nabi dan ditenangkan nabi atau orang yang menggantikan nabi tidur di tempat tidur beliau dengan ancaman terbunuh oleh pedang-pedang seluruh kafir Quraisy yang berencana membunuh nabi di tempat tidurnya waktu itu?

Ali bin Abi Thalib mematuhi perintah nabi untuk menggantikan beliau tidur di tempat tidurnya. Ia bertanya, “Wahai nabi, apakah jika aku melakukan itu maka nyawamu akan aman dan terselamatkan?” Nabi berkata, “Ya.” Lalu Ali dengan mantap berkata, “Baik kalau begitu aku siap.”

Lalu akhirnya Ali menempati tempat tidur nabi dan menutupi dirinya dengan selimut beliau. Orang-orang kafir memasuki rumah nabi tanpa ragu bahwa yang tidur itu adalah nabi. Jumlah mereka banyak, mereka adalah perwakilan dari setiap kabilah yang ada di sana; sehingga ketika mereka bersama-sama membunuh nabi, tak ada satu pun yang berani membalas dendam karena yang membunuhnya adalah seluruh kabilah.

Ali yang mendengar kasak kusuk orang-orang kafir tetap tenang berada di bawah selimut dan bersiap-siap melawan mereka. Tidak seperti Abu Bakar yang jauh dari bahaya dan bahkan bersama nabi di dalam goa namun ketakutan.

Akhirnya pun Allah menurunkan bantuannya melalui para malaikat dan Ali berhasil menyelamatkan nabi dengan apa yang ia kerjakan itu.”

Akhirnya Allah menurunkan ayat tentang Ali bin Abi Thalib yang berbunyi:

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (Al Baqarah, ayat 207)

Ayat itu menjelaskan keutamaan Ali bin Abi Thalib yang mengorbankan dirinya demi terselamatkannya jiwa nabi.


[1] Mereka adalah Abu Sufyan bin Harits, Naufal bin Harits, Rabi’ah bin Harits, Fadhl bin Abbas, Abdullah bin Zubair. Rujuk Al Kamil ibnu Atsir, jilid 2, halaman 239.

Kepalsuan hadits tentang Abu Bakar dan Umar

Saat itu majelis dihadiri oleh ulama Ahlu Sunah, dan Ma’mun (khalifah ketujuh Bani Abbas) duduk paling depan. Banyak dialog terjadi di majelis itu, yang salah satunya:

Salah seorang dari ulama Ahlu Sunah berkata, “Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda tentang Abu Bakar dan Umar:

“Abu Bakar dan Umar adalah pimpinan orang-orang tua di surga.”

Lalu Ma’mun berkata, “Hadits itu aneh, bukannya di surga tidak ada orang-orang tua? Karena pernah diriwayatkan bahwa saat seorang wanita tua menemui nabi, Rasulullah saw berkata:

“Wanita tua tidak akan berada di surga.”

Mendengar ucapan nabi wanita itu menangis. Kemudian Rasulullah saw berkata: “Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al Waqi’ah: 35-37)

Jika menurut kalian Abu Bakar dan Umar akan menjadi muda lalu masuk surga, maka bagi para pemuda sudah ada pemimpin yang dijelaskan nabi; beliau bersabda:

“Sesungguhnya Hasan dan Husain adalah pemimpin pemuda surga dari awal sampai akhir.”[1]


[1] Biharul Anwar, jilid 49, halaman 193.

Iblis lebih pintar dari para khalifah

Abul Hudzail Allaf adalah seorang alim Suni yang sangat terkenal di abad ke-3. Ia hidup di Bashrah, dan datang ke Baghdad pada tahun 230 H., lalu meninggal dunia di usia 100 tahun di Baghdad, tahun 235 H.

Pada suatu hari, Ali bin Maitsam bertanya kepada Abul Hudzail: “Bukankah Iblis selalu mendorong manusia untuk berbuat buruk dan melarangnya berbuat baik?”

Abul Hudzail menjawab, “Ya, memang demikian.”

Ali bin Maitsam: “Apa bisa Iblis mencegah manusia dari perbuatan baik yang tidak ia ketahui dan mendorongnya kepada perbuatan buruk yang juga tidak ia ketahui?”

Abul Hudzail: “Iblis pasti mengetahuinya.”

Ali bin Maitsam: “Jadi Iblis mengetahui segala kebaikan dan keburukan?”

Abul Hudzail: “Ya, Iblis tahu.”

Ali bin Maitsam: “Katakan padaku, siapa saja imammu setelah nabi? Apakah semuanya mengetahui segala kebaikan dan keburukan atau tidak?”

Abul Hudzail: “Mereka tidak mengetahui semuanya.”

Ali bin Maitsam: “Kalau begitu iblis lebih pintar dari imam-imammu.”

Akhirnya Abul Hudzail ditinggalkan begitu saja dan ia tidak berkata apa-apa.[1]


[1] Al Fushulul Mukhtar, Sayid Murtadha, jilid 1, halaman 6; Biharul Anwar, jilid 10, halaman 370.

Ali pengganti nabi

Pada suatu hari Dhirar bin Dhab, salah seorang ulama Ahlu Sunah, berkata kepada Yahya bin Khalid, wazir Harun Ar Rasyid: “Aku siap untuk berdebat. Siapapun yang berani mengajakku, silahkan.”

Yahya: “Apa kamu siap berdebat tentang ‘Rukun Syiah’?”

Dhirar: “Aku siap, dengan siapapun saja.”

Akhirnya Yahya pun menawarkannya untuk berdebat dengan Hisyam bin Hakam, seorang murid Imam Shadiq. Demikian perdebatan itu:

Hisyam: “Tentang imamah (ke-imam-an), apakah kelayakan seseorang untuk menjadi imam dan pemimpin ada di batin (yang tidak nampak) atau di lahir (yang nampak)?”

Dhirar: “Kita memahami dari lahir. Karena kita tidak bisa mengetahui batin seseorang kecuali nabi yang mendapatkan pengetahuan dari wahyu.”

Hisyam: “Benar yang kau katakan. Coba katakan padaku, jika dilihat dari segi lahiriah, antara Ali dan Abu Bakar, siapa yang sering membela nabi dengan pedang dan nyawanya? Menembus barisan musuh membasmi orang-orang yang memusuhi nabi? Siapa yang paling berperan dalam kemenangan-kemenangan umat Islam dalam peperangan mereka?”

Dhirar: “Ya, memang dari segi perang berperang, Ali memang unggul. Namun Abu Bakar punya kriteria maknawiah yang tidak dipunyai Ali, dan Abu Bakar lebih tinggi darinya.”

Hisyam: “Bukannya kriteria maknawi itu adalah perkara batin? Bukannya kau katakan tadi kamu tidak bisa menilai seseorang dari batinnya? Kamu dapat berkata begitu kalau nabi memang pernah menyatakan keunggulan Abu Bakar atas dasar wahyu yang beliau terima. Namun nyatanya nabi lebih sering mengungkap keutamaan-keutamaan Ali bin Abi Thalib. Misalnya beliau berkata, “Waha Ali, engkau di sisiku bagai Harun di sisi Musa.” Apakah nabi pernah mengatakan perkataan seperti itu tenang Abu Bakar? Lalu jawab juga pertanyaanku ini, apakah ketika nabi berkata seperti itu, perkataannya tidak sesuai dengan apa yang ada di batin Ali? Apakah perkataan nabi salah dan wahyu itu salah?”

Hisyam pun tidak menjawab pertanyaannya. Lalu Hisyam berkata, “Bukankah dari segi lahir dan batin Ali bin Abi Thalib lebih layak untuk menjadi khalifah dari pada Abu Bakar?”[1]


[1] Fushulul Mukhtarah, Sayid Murtadha, jilid 1, halaman 9; Qamus Ar Rijal, jilid 9, halaman 342.

Keutamaan Ali bin Abi Thalib as atas Abu Bakar dan Umar

Pada suatu hari, Abu Hanifah sedang mengajar murid-muridnya di masjid Kufah.  Salah satu murid Imam Ja’far Shadiq as yang bernama Fadhal bin Hasan ada di situ bersama beberapa orang dari kawan-kawannya. Fadhal berkata kepada kawannya, “Aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum aku ajak Abu Hanifah untuk mengikuti ajaran Imam Shadiq as.” Akhirnya mereka pun ikut duduk bersama murid-murid Abu Hanfah dan akhirnya terjadi dialog antara Abu Hanifah dengan murid-murid Imam Shadiq as itu:

Fadhal: “Hai Abu Hanifah, aku punya saudara yang lebih tua dariku, namun ia Syiah. Setiap kali aku membawakan bukti-bukti keutamaan Abu Bakar dan Umar atas Ali supaya ia mau menjadi Suni, ia selalu menolaknya. Sekarang aku ingin minta tolong kepadamu untuk kau sebutkan bukti-bukti keutamaan Abu Bakar dan Umar atas Ali lalu akan kusampaikan kepada saudaraku agar dia puas dengan dalil-dalilku.”

Abu Hanifah: “Tanyakan kepada saudaramu, bagaimana engkau mendahulukan Ali atas Abu Bakar dan Umar padahal: dalam peperangan-peperangan, Abu Bakar dan Umar selalu duduk di samping nabi, dan nabi selalu mengirim Ali untuk maju berperang. Ini adalah bukti bahwa nabi lebih mencintai nyawa Abu Bakar dan Umar.”

Fadhal: “Kebetulan aku telah menceritakan hal itu kepada saudaraku. Namun ia menjawab: Berdasarkan Al Qur’an, Ali lebih mulia dari selainnya karena selalu yang terdepan dalam medan perang. Allah swt berfirman:

“Allah memuliakan orang-orang yang berperang daripada orang-orang yang duduk dan melebihkan pahala yang banyak untuk mereka.” (An Nisa’: 97)

Abu Hanifah: “Tanyakan pada saudaramu bagaimana ia mendahulukan Ali padahal Abu Bakar dan Umar dikuburkan di samping kuburan nabi. Adapun kuburan Ali, ia dikuburkan sangat jauh dari nabi.”

Fadhal: “Aku juga pernah bilang begitu, namun ia berkata: Allah swt berfirman dalam kitab suci-Nya:

“Janganlah kalian memasuki rumah nabi kecuali kalian diberi ijin masuk.” (Al Ahzab: 53)

Nabi Muhammad saw dikuburkan di rumah miliknya sendiri. Jelas beliau sudah meninggal dan tidak pernah memberikan ijin Abu Bakar dan Umar untuk masuk ke rumahnya apa lagi dikuburkan di dalam rumahnya. Anak-anak dan keturunan/ahli waris beliau pun tidak mengijinkan mereka masuk.

Demikian kata saudaraku.”

Abu Hanifah: “Katakan kepada saudaramu bahwa saat Aisyah dan Hafshah meminta mahar dari nabi, sebagai gantinya mereka mendapatkan tanah dari beliau lalu mereka memberikannya kepada orang tua mereka (Abu Bakar dan Umar).”

Fadhal: “Itu pun pernah aku katakan, namun ia menjawab: Bukankah kamu pernah membaca ayat yang berbunyi:

“Wahai nabi, sesungguhnya kami menghalalkan istri-istrimu atasmu yang mana telah kau berikan maharnya kepada mereka.” (QS Al Ahzab: 49)

Artinya nabi sudah memberikan mahar kepada mereka saat beliau masih hidup.

Demikian katanya.”

Abu Hanifah: “Katakan pada saudaramu, Aisyah dan Hafshah adalah istri nabi, dan mereka mewarisi tanah dari nabi. Lalu mereka memberikan jatah tanah itu kepada ayah mereka agar dikuburkan di tanah itu.”

Fadhal: “Aku juga sudah mengatakan itu dan ia berkata:

Bukannya kalian, orang-orang Ahlu Sunah, berkeyakinan bahwa nabi tidak mewarisi apapun? Dan atas dasar keyakinan itu kalian merampas tanah Fadak yang diwariskan nabi kepada Fathimah Azzahra? Lalu kenapa kalian berkata Aisyah dan Hafshah mewarisi tanah dari nabi?

Anggap saja memang benar nabi meninggalkan warisan. Nabi pernah punya sembilan istri.[1] Jadi mereka semua berhak mendapatkan warisan, yang berupa seperdelapan dari tanah tersebut. Lalu jika seperdelapan tanah itu dibagi untuk sembilan orang, setiap orang mendapat satu jengkal tanah saja, bukan selebar tanah yang digunakan untuk kuburan Abu Bakar dan Umar!

Begitu jawab saudaraku.”

Abu Hanifah Hanifah akhirnya faham kalau penanya itu Syiah. Lalu ia berkata, “Keluarkan mereka karena mereka adalah rafidhi dan tidak ada saudara bagi mereka!”[2]


[1] Aisyah, Hafshah, Ummu Salamah, Ummu Habibah, Zainab, Maimunah, Shafiyah, Juwairiyah, Saudah.

[2] Khazain Naraqi, halaman 109; Ihtijaj Thabrasi, jilid 2, halaman 317.

Mengapa Tuhan tidak diliputi tempat dan tidak dapat dilihat ?

Mengapa dzat Tuhan tidak dapat diketahui?

Poin utama dalam masalah nir-batasnya Dzat Allah dan terbatasnya akal adalah ilmu dan pengetahuan kita sebagai manusia.

Dia adalah wujud mutlak dari segala dimensi. Dzat-Nya, seperti ilmu, kuasa dan seluruh sifat-sifat-Nya, adalah tak terbatas. Dari sisi lain, kita dan seluruh yang bertalian dengan keberadaan kita, seperti ilmu, kuasa, hidup, ruang dan waktu, semuanya serba terbatas.

Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, bagaimana mungkin kita dapat mengenal wujud dan sifat yang mutlak dan tak terbatas? Bagaimana mungkin ilmu kita yang terbatas dapat menyingkap wujud nir-batas?

Ya, dari satu sisi, kita dapat melihat dari jauh kosmos pikiran dan memberikan isyarat global ihwal Dzat dan sifat Allah swt. Akan tetapi, untuk mencapai hakikat Dzat dan sifat-Nya secara detail adalah mustahil bagi kita.

Dari sisi lain, wujud nir-batas dari segala dimensi ini tidak memiliki keserupaan dan kesamaan. Dan ketakterbatasan ini hanyalah Dia; Allah Swt. sebab, sekiranya Dia memiliki keserupaan dan persamaan, maka kedua-duanya menjadi terbatas.

Sekarang bagaimana kita dapat memahami wujud yang tak memiliki kesamaan dan keserupaan? Segala sesuatu yang kita lihat selain-Nya adalah wujud yang mungkin (mumkinul wujud)., sedangkan sifat- sifat wajib al-wujud berbeda dengan -sifat yang lainnya.[1]

Kita tidak berasumsi bahwa kita tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat wujud Allah, tentang ilmu, kuasa, kehendak dan hidup-Nya. Akan tetapi, kita berasumsi bahwa kita memiliki pengetahuan global tentang hakikat wujud dan sifat-sifat­Nya. Dan kedalaman serta batin seluruh hal-hal ini tidak akan pernah kita ketahui. Dan kaki akal seluruh orang-orang bijak dunia, tanpa kecuali, dalam masalah ini tampak lumpuh:

Pada akal seorang hakim hingga kapan Anda menggapai?

 Tak ‘kan pernah terlintas dalam benakmu jalan ini.

Akal tak ‘kan memahami kedalaman Dzat-Nya,

bilamanakah sampai bongkahan kqyu ke dasar laut![2]

Dalam hadis yang diriwayatkan dari Imam Ash-Shadiq a.s. dikatakan: “Diamlah bilamana pembahasan sampai pada Dzat Allah”.[3] Artinya, jangan membahas ihwal Dzat Allah. Dalam masalah ini, seluruh akal buntu dan tidak akan pernah mencapai tujuannya. Berpikir tentang Dzat Nir-batas melalui akal yang terbatas adalah mustahil. Karena segala yang dirangkum oleh akal bersifat terbatas; dan terbatas bagi Tuhan adalah mustahil.

Dengan ungkapan yang lebih jelas, tatkala kita menyaksikan jagad raya dan seluruh keajaiban makhluk-makhluk, dengan segenap kompleksitas dan keagungannya, atau bahkan melihat wujud diri kita sendiri, secara umum,kita memahami bahwa jagad raya ini memiliki pencipta dan Sumber Awal. Pengetahuan ini adalah pengetahuan global yang merupakan tahapan akhir bagi kekuatan pengenalan manusia tentang Tuhan. Namun, semakin kita mengetahui rahasia-rahasia keberadaan, semakin juga kita mengenal keagungan-Nya serta jalan pengetahuan global tentang-Nya semakin kuat.

Akan tetapi, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri apakah hakikat Dia? Dan bagaimanakah Dia? Ketika kita mengarahkan tangan ke arah realitas Dzat Allah, kita tidak akan mendapatkan sesuatu selain keheranan dan rasa takjub. Kita akan mengatakan bahwa jalan untuk menuju ke arah-Nya adalah terbuka, dan jalan untuk menyentuh hakikatnya adalah tertutup.

Dengan menyebutkan satu perumpamaan kita dapat menjelaskan masalah ini. Bahwa kita semua tahu bahwa ada kekuatan alam yang disebut sebagai kekuatan gravitasi. Segala sesuatu yang terlepas akan jatuh dan tertarik ke bawah. jika kekuatan gravitasi ini tidak ada, ketenangan dan ketentraman bagi seluruh makhluk di muka bumi tidak akan ada.

Ilmu tentang adanya gravitasi bumi bukanlah sesuatu yang hanya diketahui oleh para ilmuwan saja. Anak-anak yang berakal sehat pun dapat mencerap realitas gravitasi bumi ini dengan baik. Akan tetapi, hakikat gravitasi bumi itu apa, apakah ia adalah gelombang-gelombang frekuensi atau atom-atom atau kekuatan lain?

Dan anehnya adalah gravitasi bumi bertentangan dengan segala sesuatu yang kita kenal dari alam semesta ini. Secara lahiriah, untuk transformasi dari satu titik ke titik yang lain tidak memerlukan waktu yang cukup. Berbeda dengan cahaya yang memiliki gerakan tercepat dalam dunia materi ini. Akan tetapi, ketika mengalami transformasi dari satu titik ke titik yang lain, ia masih memerlukan waktu jutaan tahun lamanya. Namun, gravitasi bumi dapat berpindah dalam satu detik dari satu titik bumi ke titik bumi yang lain dalam waktu yang cukup pendek dan atau sekurang-kurangnya kecepatan yang dimilikinya lebih singkat dari yang kita dengar hingga kini.

Kekuatan macam apakah yang memiliki efek seperti ini? Bagaimanakah hakikat kekuatan ini? Tidak ada seorang pun yang memiliki jawaban yang jelas atas pertanyaan-pertanyaan ini.

Kita hanya memiliki pengetahuan global tentang kekuatan gravitasi ini sebagai salah satu makhluk. Kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya secara detail. Bagaimana kita dapat menguak ihwal Pencipta dunia materi dan hakikat metafisis yang merupakan wujud nir-batas dan dapat mengetahui kedalaman dzat-Nya?

Akan tetapi, dengan kondisi seperti ini pun kita dapat menyaksikan bahwa Dia selalu hadir, mengawasi setiap tempat dan bersama setiap wujud di alam semesta ini.

Seratus ribu jelmaan yang keluar dari-Mu,

Seratus ribu pandangan aku menyaksikan -Mu.[4]


[1] Makna “air-terbatas” ini tidak dapat kita ilustrasikan. Apabila dipertanyakan bahwa bagaimana kalimat “nir-terbatas” ini digunakan, sementara dengan kalimat ini kita sedang memberikan sebuah kabar dan membicarakan hukum-hukumnya? Memangnya tashdiq (penegasan) tanpa tasawwur (gagasan) dapat terwujud? Jawaban atas pertanyaan ini adalah, dalam menggunakan kalimat ini, kita mengambilnya dari dua singular (kalimat tunggal), na (‘adam) nir yang bermakna tidak, dan mutanahi yang bermakna terbatas. Maksudnya, kedua kalimat ini dapat kita konsepsikan secara terpisah nir dan terbatas. Setelah itu, kita sintesakan satu dengan yang lainnya dan mengisyaratkannya kepada wujud yang tidak tergagaskan dalam benak. Dari pengetahuan tentang wujud ini kita temukan pengetahuan global. (perhatikan baik-baik)

[2] Payam-e Qur’an, jilid 4, hal. 33.

[3] Tafsir Ali bin Ibrahim berdasarkan nukilan dari Nur ats-Tsaqalain, jilid 5, hal. 170.

[4] Payam-e Imam, Syarah Nahjul Balaghah, jilid 1, hal. 91.

Bagaimana Kita Beriman kepada Tuhan Yang Gaib?

Keberatan yang kerap dilontarkan oleh kaum materialis terhadap kaum mukmin adalah bagaimana mungkin manusia dapat menerima dan beriman kepada wujud yang tidak dapat diindra. Anda berkata bahwa Tuhan tidak memiliki jasad, tidak bertempat, tidak memiliki ruang, tidak bercorak dan …. Dengan perantara apa wujud seperti ini dapat diindra? Kami beriman kepada sesuatu yang dapat diindra. Wujud yang tidak dapat diindra adalah wujud yang sama sekali tidak wujud (ada).

Keberatan yang kerap dilontarkan oleh kaum materialis terhadap kaum mukmin adalah bagaimana mungkin manusia dapat menerima dan beriman kepada wujud yang tidak dapat diindra. Anda berkata bahwa Tuhan tidak memiliki jasad, tidak bertempat, tidak memiliki ruang, tidak bercorak dan …. Dengan perantara apa wujud seperti ini dapat diindra? Kami beriman kepada sesuatu yang dapat diindra. Wujud yang tidak dapat diindra adalah wujud yang sama sekali tidak wujud (ada).

Keberatan ini dari dapat dibahas dari beberapa sisi:

1. Sebab-sebab utama alasan penentangan kaum Materialis terhadap subjek ma’rifatullah tampak secara sempurna dalam masalah ini.

Salah satunya adalah kepongahan sains mereka dan menganggap ilmu-ilmu alam (baca: sains) sebagai superior atas seluruh realitas, seperti halnya mengkomparasikan segala sesuatu dengan ukuran ilmu-ilmu itu dan membatasi sarana pemahaman pada ebab-sebab natural dan material. Kita bertanya kepada mereka, apakah ranah aktifitas dan penetrasi seluruh ilmu alam memiliki batasan atau tidak?

Jelas bahwa jawaban atas soal semacam ini akan bernada afirmatif. Karena, wilayah ilmu-ilmu alam adalah seluruh wujud terbatas yang bersifat material, dan selesai. Oleh karena itu, bagaimana mungkin sesuatu yang tidak terbatas dapat diindra oleh instrumen-instrumen alam.

Pada dasarnya, Tuhan dan seluruh wujud metafisis berada di luar wilayah alam. Sesuatu yang telah keluar dari wilayah natural, sekali-kali tidak dapat diindra dan ditafsirkan oleh sebab-sebab natural. Wilayah metafisika bersifat tidak terbatas dengan dirinya sendiri dan tidak dapat dikomparasikan dan dibandingkan ukuran dengan ilmu-ilmu alam, seperti halnya cabang dan spesifikasi beragam ilmu-ilmu alam itu sendiri. Setiap jenis ilmu alam, masing-masing memiliki instrumen dan ukuran-ukuran tersendiri yang tidak relevan dengan ilmu alam yang lain. Ilmu astronomi, anatomi, dan mikro logi, berbeda instrumen-instrumen pengkajiannya.

Seorang ilmuwan materialis tidak akan pernah memberikan izin kepada seseorang untuk bertanya kepada seorang astronom, “Coba Anda buktikan salah satu mikroba dengan menggunakan instrumen-instrumen dan alat kalkulasi astronomi!” Demikian pula kita tidak layak berharap dari seorang spesialis mikroba untuk dapat menyingkap bintang-bintang senja dengan menggunakan instrumen-instrumen mikrologi. Karena, mereka masing-masing hanya dapat digunakan dalam wilayah spesialisasi ilmunya dan tidak dapat digunakan di luar wilayah spesialisasi dan aplikasinya. Mereka tidak dapat berkata positif (iya) atau negatif (tidak) dalam menyampaikan pendapat. Oleh karena itu, bagaimana kita mengetahui kebenaran ilmu-ilmu alam dalam membahas sesuatu yang berada di luar wilayah naturalnya, dengan pertimbangan bahwa wilayah penetrasinya terbatas pada alam, efek dan spesialisasinya saja.

Pada akhirnya, kebenaran yang dapat diyakini oleh seorang ilmuwan ilmu alam adalah sebatas ia dapat mengatakan bahwa, “Dalam masalah metafisika, aku memilih diam, karena masalah itu berada di luar batas pengkajian dan instrumen wilayah kerjaku. Bukan aku mengingkarinya.”

Auguste Comte, salah seorang founding fathers (pendiri) aliran Empirisme dalam bukunya Beberapa Kalimat Tentang Filsafat Empiris berkata, “Karena kita tidak memiliki informasi sejak awal tentang seluruh wujud, kita tidak dapat mengingkari adanya wujud sebelum atau sesudahnya, sebagaimana kita juga tidak dapat membuktikannya”

Pendeknya, Empirisme menghindar dari menyampaikan setiap bentuk pendapat karena ketidaktahuan mereka dalam masalah ini. Demikian juga, ilmu-ilmu cabang yang menjadi fondasi Empirisme harus menghindarkan diri dari bentuk penilaian atas awal dan akhir seluruh wujud. Maksudnya, kami tidak mengingkari ilmu dan hikmah Ilahi serta wujud-Nya, dan kami menjaga diri dalam netralitas; antara penafian dan pembuktian.

Maksud kami adalah, bahwa alam metafisika tidak dapat disaksikan melalui jendela ilmu-ilmu alam. Menurut perspektif Ilahiyah (orang-orang mukmin), secara mendasar bahwa Tuhan yang dapat dibuktikan melalui sebab dan instrumen natural adalah bukan Tuhan.

Karena, sesuatu yang dapat dibuktikan oleh sebab-sebab natural, berada di dalam jangkauan materi dan spesialisasi ilmu­ilmu alam. Dan bagaimana wujud materi dan natural dapat diyakini menjadi pencipta materi dan alam?

Dasar keyakinan orang-orang beriman adalah bahwa Tuhan bebas dari segala bentuk materi dan aksiden-aksiden materi. Dan sekali-kali Ia tidak dapat dicerap melalui instrumen­instrumen materi.

Oleh karena itu, jangan pernah kita menantikan bahwa Pencipta seluruh wujud semesta dapat dilihat pada kedalaman langit melalui alat mikroskop dan teleskop. Pengharapan dan penantian ini adalah tidak pada tempatnya.”

2. Tanda-tanda-Nya

Secara umum, instrumen-instrumen yang digunakan untuk mengenal setiap wujud di jagad ini adalah melalui efek­efeknya. Kita hanya dapat mengenal setiap wujud dari efek-efek yang ditimbulkan dari setiap wujud tersebut, termasuk wujud­wujud yang dapat kita cerap melalui persepsi dan indra. Wujud­wujud ini juga kita kenal melalui efek-efeknya. Karena, tidak satu pun wujud yang tidak akan pernah masuk ke dalam pikiran kita, dan mustahil otak kita menjadi wadah seluruh wujud.

Sebagai contoh, sekiranya Anda hendak menentukan sebuah benda dengan mata dan mencerap wujud benda tersebut, pada mulanya, Anda letakkan mata Anda di hadapan benda yang telah Anda perkirakan letaknya, cahaya memendar di atasnya, dan dari bola mata, pendaran-pendaran cahaya itu akan terefleksi pada area khusus yang bernama retinoscopy. Kemudian, syaraf-syaraf indra penglihatan menangkap cahaya tersebut, dan sampai kepada otak dan lalu benda itu dapat dicerap oleh manusia.

Apabila hal itu dilakukan dengan jalan meraba, dengan syaraf di bawah kulit, benda tersebut memberikan informasi kepada otak lalu dicerap oleh manusia.

Kemudian pencerapan satu benda dari efeknya (warna dan suara) memberikan efek kepada indra peraba dan manusia tidak akan pernah meletakkan benda tersebut pada kapasitas otaknya. Dan sekiranya tidak ada warna, dan atau pencerapan tidak bekerja, ia tidak akan pernah mengenal benda tersebut.

Uraian ini harus kita sempurnakan. Satu efek telah memadai untuk dapat mengenal satu wujud,. Umpamanya, untuk dapat mengetahui apa yang pernah terjadi sepuluh ribu tahun silam pada suatu titik bumi, cukup kita menyingkap satu cerek keramik atau satu senjata yang telah berkarat dan mengadakan pengkajian mendalam atas efek-efek ini. Dari efek ini kita dapat memahami keadaan-keadaan dan desain kehidupan serta pemikiran masyarakat kala itu.

Dengan memperhatikan bahwa setiap wujud materi atau non-materi dapat dikenal melalui efek-efeknya, dan bahwa meneliti satu efeknya akan memadai untuk mengenal satu wujud, lalu apakah seluruh wujud -yang penuh dengan misteri dan rahasia yang menakjubkan di seluruh penjuru alam semesta yang membentang ini- tidak memadai bagi kita untuk dapat mengenal Tuhan?

Untuk dapat mengenal satu wujud, cukup bagi Anda meneliti satu efek darinya, dan itu sudah memadai. Dari satu cerek keramik, setidak-tidaknya bagian dari kondisi masyarakat ribuan tahun silam dapat diketahui. Sekarang kita memiliki efek yang tidak terbatas, wujud yang tidak terbatas, dan sistem yang tidak terbatas. Apakah segala efek yang ada ini tidak memadai bagi kita untuk dapat mengenal-Nya?! Anda saksikan pada setiap sudut jagad terdapat tanda-tanda kekuasaan dan ilmu-Nya. Masihkah Anda berkata, “Kami tidak melihatnya dengan mata, kami tidak mendengarnya dengan telinga, kami tidak menyaksikannya melalui pisau anatomi, dengan teleskop!” Memangnnya mata diperlukan untuk segala sesuatu?

3. Kasat mata dan non-kasat mata

Untungnya alat yang diberikan oleh ilmu-ilmu sains adalah alat terbaik untuk menafikan keyakinan kaum materialis.

Kalau dulu seorang ilmuwan dapat berkata, “Kami tidak dapat menerima sesuatu yang tidak dapat dicerap oleh panca indra. Namun, berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah yang sedemikian berkembang telah terbuktikan, bahwa wujud yang bersemayam di alam semesta adalah tak terindra, Berdasarkan penelitian, derajat yang kini telah dapat dicerap semakin bertambah. Dalam relung alam semesta, karena banyaknya wujud yang tidak dapat dicerap indra, wujud-wujud yang telah dicerap – dibandingkan dengan wujud-wujud yang belum dapat dicerap­bernilai kosong.

Sebagai contoh, beberapa kasus di bawah ini kita renungkan bersama:

a. Dalam ilmu fisika, para ahli fisika berpendapat bahwa dasar warna tidak lebih dari tujuh warna. Warna yang pertama adalah merah dan yang terakhir adalah warna ungu. Akan tetapi, di balik itu semua terdapat seribu satu macam warna. Kita tidak dapat mencerap seribu satu macam warna ini. Dan mereka beranggapan bahwa beberapa hewan barangkali dapat melihat warna-warna tersebut.

Sebab perkara ini adalah jelas. Karena, warna dapat terlihat dari efek gelombang cahaya. Artinya, cahaya matahari dengan cahaya-cahaya yang lain tersusun dari warna-warni yang beraneka ragam. Aneka warna-warni inilah yang membentuk warna putih. Lantaran cahaya ini berpendar menyinari benda, benda yang tersinari tersebut mencerna bagian-bagian yang beragam dari warna-warni pada dirinya. Dan sebagian lainnya dipantulkan. Warna-warni yang dipantulkan ini adalah warna­warni yang kita saksikan. Oleh karena itu, benda-benda yang berada dalam kegelapan tidak memiliki warna.

Perubahan dan keragaman warna dihasilkan dari kuat dan lemahnya gelombang cahaya. Artinya, apabila gelombangnya kuat hingga mencapai 458 ribu miliar per detik, akan terbentuk warna merah. Dan pada gelombang 727 ribu miliar per detik, akan terbentuk warna ungu. Di antara warna ini, terdapat warna-warni yang beragam jumlahnya yang tidak dapat kita cerap dan cerna.

b. Gelombang suara yang dapat kita tangkap hanya pada 16 frekuaensi per detik hingga 20.000 frekuensi per detik. Lebih atau kurang dari hitungan ini, berapa pun jumlahnya, tidak tertangkap oleh pendengaran kita.

c. Gelombang cahaya yang dapat kita cerap dalam setiap detik adalah terhitung dari 458 ribu miliar hingga 727 ribu miliar. Lebih dan kurang dari hitungan ini, berapa pun jumlahnya, tidak dapat kita lihat.

d. Kita semua tahu bahwa bilangan makhluk yang dapat dilihat melalui kaca pembesar (virus dan bakteri) adalah lebih banyak dari jumlah manusia. Makhluk-makhluk tersebut tidak dapat dicerap oleh mata tanpa menggunakan mikroskop dan kaca pembesar. Alangkah banyaknya makhluk yang paling kecil yang hingga kini belum diketahui dan disingkap oleh sains.

e. Satu atom, dengan strukturnya yang tipikal, dan putaran elektron-elektron atas lingkaran proton-proton, dengan kekuatan raksasanya, tidak dapat dicerap dan dilihat oleh setiap indra. Dan setiap benda-benda alam natural terbentuk dari atom. Debu-debu yang kita lihat dengan susah-payah di udara terbentuk dari ribuan atom. Para ilmuwan yang berbicara ihwal atom, pendapat mereka tidak melampaui batas-batas teori dan asumsi, dan sementara itu, tidak seorang pun yang menafikan pendapat mereka itu.[1]

Oleh karena itu, pendapat yang menyatakan bahwa tak terindranya sesuatu adalah dalil atas ketiadaannya, sama sekali tidak dapat dijadikan alasan. Alangkah banyaknya bilangan benda­benda indrawi yang memenuhi jagad ini dan indra kita tidak mampu mencerapnya.

Sebagaimana bahwa sebelum penemuan atom atau wujud-wujud yang memerlukan lup atau kaca pembesar untuk melihatnya (seperti virus dan bakteri), setiap orang tidak berhak menafikan keberadaan wujud-wujud tersebut. Alangkah banyaknya bilangan wujud lain yang masih luput dari pandangan kita. Dan sains hingga kini masih belum dapat menguaknya untuk menyingkap rahasianya. Akal kita sekali-kali tidak memperkenankan kita -dalam kondisi seperti ini (keterbatasan sains dan impotensinya dalam mencerap wujud-wujud tersebut)­untuk berpendapat; menafikan atau menetapkannya.

Konklusinya adalah jangkauan indra dan instrumen­instrumen alam bersifat terbatas, dan kita tidak dapat membatasi semesta ini hanya pada indra dan instrument-instrurnen tersebut.[2]

Jangan sampai Anda berpikiran bahwa sebagaimana elektron dan proton-proton atau sebagian warna telah tersingkap dengan peralatan ilmiah dewasa ini, dan dengan kemajuan sains, kita akan dapat menyingkap segala ketidaktahuan, mungkin suatu saat alam metafisika dapat disingkap dengan instrumen-instrumen dan sebab-sebab natural!

Hal ini tidak mungkin dapat terwujud. Karena -sebagaimana telah kami jelaskan- dunia metafisika tidak dapat ditempuh melalui jalan-jalan natural dan material. Secara umum, jalan-jalan natural dan material ini keluar dari ranah aktifitas sebab­sebab materi.

Maksudnya, sebelum menyingkap dan mencerap wujud­wujud ini, tidak sah bagi kita untuk mengingkarinya dan kita tidak berhak untuk menghukuminya dengan alasan bahwa kita tidak dapat mencerapnya. Sebab-sebab natural tidak akan menunjukkan wujud-wujud ini kepada kita, sains tidak dapat membuktikannya kepada kita, dan… Kita mengetahui dengan niscaya ketidakmampuan sebab-sebab natural dan sains ini. Demikian juga dalam hubungannya dengan dunia metafisika, bahwa kita tidak dapat menafikannya.

Oleh karena itu, kita harus melepaskan metode-metode salah ini, sambil dengan teliti menelaah dalil-dalil rasional orang-­orang mukmin. Baru setelah itu kita menyampaikan keyakinan kita. Niscaya akan mendapatkan konklusi yang positif.[3]


[1] Di antaranya segala sesuatu yang bersifat non-indrawi. Tidak satu pun dari realitas benda-benda tersebut yang terkuak bagi para ilmuwan. Planet bumi memiliki gerakan-gerakan yang beraneka ragam. Misal, gerakan pasang-surut yang memasuki kortex planet bumi. Dan akibat pengaruh dari gerakan pasang-surut tersebut, sehari dua kali tingkatan permukaan (surfoce) bumi di bawah kaki kita akan naik seukuran 30 centimeter. Dan tidak satu pun tanda-tanda yang dapat menuntun kita untuk dapat mengetahui gerakan ini. Yang lainnya, udara yang berhembus di seputar kita, yang nota-bene memiliki beban dan berat yang sangat besar, dan badan manusia mampu memikul seukuran 16 ribu kilogram dari berat dan beban udara tersebut. Tentu saja, tekanan ini akan dinetralkan ketika berhadapan dengan tekanan internal badan yang bagi kita bukanlah sesuatu yang merisaukan. Disini pun, tidak seorang pun yang membayangkan bahwa udara memiliki berat dan beban. Sebelum masa Galileo dan Pascal, masalah ini masih misterius bagi seluruh manusia. Dan kini, meskipun sains memberikan kesaksian atas validitas perkara ini, akan tetapi indra kita tidak dapat merasakannya, Dan kebanyakan dari ilmuwan ilmu alam mengakui keberadaan wujud segala sesuatu yang bersifat nonindrawi. Contohnya, keberadaan ether -sesuai dengan keyakinan para ilmuwan ilmu alam- yang memenuhi segala tempat di alam tabiat ini dan sebagian orang beranggapan bahwa ether ini merupakan sumber seluruh maujud. Mereka menguraikan bahwa ether ini merupakan wujud yang tanpa beban, tanpa warna dan … yang memenuhi seluruh planet dan tempat serta merasuk (infiltrasi) ke dalam seluruh benda, dan tentu saja tidak terlihat oleh kita. (Ether, derivasi dari kata Yunani, aitbir yang berarti upper air [meta udara], di atas udara. Dalam chemistry [industri dan ilmu kimia], etber ini adalah sebuah cairan pelarut yang terbuat dari alkohol, tanpa warna dan tanpa beban. Biasanya digunakan untuk membius (anaestasia), dengan formula C2H5OC2H5. Biasa juga disebut sebagai diethyl ether).

[2] Untuk menegaskan perkara ini, tidak ada salahnya kita menukil ucapan Flamariun dalam bukunya “Rahasia-rahasia Kematian”. Ia berkata,. “Manusia hidup dalam ngarai kejahilan dan ketidaktahuan. Dan ia tidak mengetahui bahwa susunan badan manusia ini tidak dapat menuntunnya kepada hakikat-hakikat. Kelima indra manusia ini menipunya dalam segala hal. Dan satu-satunya yang dapat menuntun manusia kepada hakikat dan kebenaran adalah akal, pemikiran dan akurasi ilmiah.” Kemudian ia memulai menjelaskan satu persatu perkara yang tidak dapat dicerap oleh panca indra manusia dan membuktikan keterbatasan setiap indra. Ia berkata, “Oleh karena itu, kesimpulannya adalah bahwa akal dan pengetahuan kita hari ini memberikan hukum pasti kepada kita bahwa terdapat sebagian gerakan-gerakan atom, udara dan benda-benda, serta kekuatan-kekuatan yang tidak terlihat oleh indra pengelihatan kita, dan kita tidak dapat merasakan benda non-kasat mata ini melalui panca indra. Dengan demikian, boleh jadi di sekeliling kita terdapat wujud-wujud yang lain selain atom, udara dan sebagainya; wujud-wujud hidup dan memiliki kehidupan yang tidak dapat kita rasakan. Aku tidak berkata bahwa benda-benda tersebut ada, akan tetapi aku berkata barangkali ia ada. Lantaran kesimpulan dari penjelasan-penjelasan sebelumnya adalah bahwa kita tidak dapat berkata segala yang tidak kita lihat berarti tidak ada. Oleh karena itu, ketika dengan argumentasi-argumentasi ilmiah telah terbukti bagi kita bahwa indra lahir yang kita miliki tidak memiliki kelayakan untuk dapat menyingkap seluruh wujud-wujud yang ada dan acap kali indra ini mengelabui kita serta menunjukkan hal-hal yang bertentangan dengan realitas kepada kita, kita tidak boleh mengkonsepsikan bahwa seluruh hakikat wujud terbatas pada apa yang kita rasakan dan saksikan. Akan tetapi, kita harus percaya yang sebaliknya, bahwa barangkali terdapat wujud yang tidak dapat kita rasakan. Sebelum ditemukannya mikroba, seseorang tidak berkhayal bahwa terdapat jutaan mikroba di sekeliling setiap benda dan kehidupan setiap makhluk yang menjadi medan laga bagi mikroba-mikroba tersebut. Kesimpulannya, indra lahir ini tidak memiliki kelayakan untuk menyingkap realitas seluruh wujud. Dan satu-satunya yang dapat memperkenalkan realitas wujud secara paripurna adalah akal dan pikiran kita. Menukil dari Ala Itlan al-Madzhab Al-Maaddi, hal. 4.

[3] Afaridegar-e Jahan, kumpulan tulisan berharga Ayatullah Makarim Syirazi, hal. 248.

Apa sebenarnya faktor meyakini agama?

Sebagian sosiolog dan psikoanalis materialis Barat dan Timur bersikeras mengatakan bahwa sumber kemunculan agama dan ideologi terhadap ma’rifatullah berasal dari rasa takut dan kejahilan atau faktor-faktor lain yang termasuk dalam kategori ini. Pendapat seperti ini dapat disimpulkan dalam empat asumsi mendasar.

a. Asumsi Kejahilan

Salah seorang sosiolog ternama mengatakan, “Meskipun ilmu dan sains telah berhasil menyingkap pelbagai misterius, namun betapa yang telah tersingkap itu masih kabur di balik tirai ilmu, dan keperluan untuk memahami hal-hal misterius ini telah menyebabkan kemunculan agama.”[1]

Salah seorang filsuf materialis menambahkan bahwa tatkala manusia menatap kejadian-kejadian sejarah, dengan alasan yang sangat jelas mereka membayangkan bahwa ilmu (baca: sains) dan agama adalah dua musuh bebuyutan yang tidak dapat berdamai. Sebab, tatkala seseorang meyakini hukum kausalitas, pada detik yang sama ia tidak dapat memberikan peluang kepada akalnya untuk membayangkan bahwa barangkali terjadi dalam lintasan peristiwa-peristiwa yang menciptakan rintangan dan kendala atas terjadinya sebuah peristiwa.[2]

Sederhananya, mereka hendak mengklaim bahwa ketidaktahuan manusia terhadap sebab-sebab alami telah menyebabkannya berpikir akan adanya kekuatan di luar alam yang menciptakan dan mengatur semesta raya ini. Dengan demikian, tidak terungkapnya faktor dan sebab-sebab alami ini menjadi alasan baginya untuk meyakini keberadaan Tuhan dan agama.

Kesalahan mendasar para penggagas pendapat ini akan terlihat jelas melalui poin-poin berikut ini:

Pertama, mereka membayangkan bahwa beriman kepada keberadaan Tuhan berarti mengingkari hukum kausalitas. Dan kita berlaku sebagai seorang hakim; apakah kita harus menerima sebab-sebab alami tersebut atau menerima keberadaan Tuhan?

Padahal dalam filsafat Islam, meyakini hukum kausalitas dan menyingkap sebab-sebab alami merupakan salah satu jalan yang terbaik untuk dapat mengenal Tuhan.

Kita tidak pernah mengkaji Tuhan di antara ketakberaturan dan kejadian-kejadian yang tak jelas. Akan tetapi, kita menemukan-Nya di antara keteraturan-keteraturan alam semesta. Karena, adanya keteraturan ini merupakan penanda jelas atas wujud satu Sumber Awal bagi alam semesta dan wujud satu Kekuatan yang mengaturnya.

Kedua, mengapa mereka lalai bahwa sesungguhnya manusia semenjak dahulu hingga hari ini melihat adanya sistem yang khas yang berlaku atas jagad raya ini. Menafsirkan sistem ini dengan sebab-sebab irasional tidak mungkin dapat diterima. Dan mereka menganggap keutuhan sistem jagad raya ini sebagai pertanda wujud Tuhan. Akan tetapi, pada masa lalu, sistem ini tidak banyak dikenal orang. Dan semakin maju ilmu-pengetahuan manusia, semakin ia dapat menyingkap seluk-beluk sistem jagad raya ini. Dengan demikian, ilmu dan kemahakuasaan Sumber Awal bagi keberadaan semesta ini akan semakin gamblang .

Atas dasar ini, kita yakin bahwa iman kepada keberadaan Tuhan dan agama relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Dan setiap penemuan baru akan rahasia dan aturan­aturan jagad raya ini merupakan ‘langkah baru untuk pengenalan yang semakin cermat terhadap Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan hari ini dalam rangka mengenal Tuhan tentu tidak pernah dikenal oleh manusia jaman dahulu, lantaran mereka tidak menikmati kemajuan ilmu pengetahuan.

b. Asumsi Rasa Takut

Will Durant, seorang sejarawan ternama Barat, di dalam buku sejarahnya, ketika membahas “Sumber-sumber Agama”, menukil pendapat Luctrius, seorang filsuf Romawi, bahwa rasa takut adalah ibu para dewa! Dan bagian rasa takut yang paling penting ialah rasa takut dari kematian. Atas dasar ini, manusia pertama tidak dapat meyakini bahwa kematian adalah satu fenomena alam. Oleh karena itu, mereka senantiasa menganggap bahwa sebab metafisislah yang menjadi penyebab kematian itu.[3]

Senada dengan teori di atas, B. Russel berkata, “Aku berasumsi bahwa sumber agama -sebelum segala sesuatunya- ialah rasa takut. Rasa takut bersumber dari musibah-musibah alam, dari peperangan dan sebagainya. Rasa takut dari pekerjaan-pekerjaan salah yang dilakukan manusia ketika syahwat mendominasi.”[4]

Kekeliruan asumsi ini akan tampak jelas bila para pendukung asumsi ini sepakat bahwa akar keyakinan kepada Tuhan dan agama tidak memiliki dasar metafisis. Dan tentu saja, harus ditemukan sebuah faktor di alam semesta ini. Sebuah faktor yang akhirnya kembali kepada prasangka dan khayalan belaka. Oleh karena itu, mereka senantiasa melihatnya dalam kerangka cabang dan melupakan kerangka aslinya.

Benar bahwa iman kepada Tuhan memberikan kekuatan spiritual dan ketenangan kepada manusia. Benar bahwa manusia akan bersikap prawira dalam menghadapi kematian dan berbagai perrstrwa pelik yang dialaminya; terkadang berupa sikap pengorbanan. Akan tetapi, mengapa kita lupakan faktor-faktor yang kerap hadir secara telanjang di hadapan mata manusia, yakni sistem semesta yang berlaku atas bumi dan langit ini, kehidupan flora dan fauna, dan keberadaan manusia?

Dengan kata lain, meskipun manusia tidak memiliki ilmu anatomi dan fisiologi atau semisalnya, seketika mencermati struktur mata, telinga, hati, tangan dan kakinya, ia akan melihatnya sebagai sebuah bangunan yang menakjubkan dan kokoh. Bangunan kokoh dan menakjubkan ini niscaya tidak dapat dimengerti bila bersumber dari gejala-gejala aksidental dan faktor­faktor yang tidak masuk akal. Sekuntum bunga, seekor lebah, matahari dan bulan dan alurnya yang tertata apik serta fenomena­fenomena semesta lainnya merupakan contoh gamblang dari kenyataan itu.

kenyataan ini senantiasa hadir di hadapan manusia semenjak dulu hingga kini dan ia merupakan faktor utama adanya iman kepada Tuhan. Lantaran melalaikan realitas nyata ini, akhirnya mereka mencari-cari faktor iman kepada Tuhan dan agama, lalu menyimpulkan bahwa semua itu disebabkan oleh rasa takut dan kedunguan manusia. Atribut yang dapat kita lekatkan kepada mereka adalah “dungu” dalam menghadapi realitas telanjang ini dan “takut” terhadap kemajuan ideologi agama, sebab mereka melepaskan jalan utama dan terang ini, menapakkan kaki di jalan yang tak menentu, serta bersandarkan kepada asumsi­-asumsi yang tak berdasar.

c. Asumsi Faktor Ekonomi

Eksponen asumsi ini adalah mereka yang percaya bahwa kekuatan penggerak sejarah adalah alat-alat reproduksi. Mereka yakin bahwa seluruh fenomena sosial, seperti budaya, ilmu, filsafat, politik, bahkan agama muncul sebagai akibat dari perkara ini.

Untuk menghubungkan kemunculan agama dan masalah­masalah ekonomi, mereka mengajukan penafsiran yang aneh. Di antaranya, mereka berasumsi bahwa menurut kaum imperialis dalam lingkungan sosial, dalam rangka mengenyahkan resistensi dan gerakan massif kaum terjajah, kaum imperialis mencandu mereka dan menciptakan agama. kalimat yang terkenal dari Lenin yang tertuang dalam buku “Sosialisme wa Mazhab” (Sosialisme dan Agama) adalah, “Agama di tengah masyarakat merupakan candu.” Dalam kasus ini terdapat sederet ungkapan yang serupa; terulang-­ulang.

Untungnya, penyokong asumsi ini (kaum sosialis) telah memberikan jawaban sendiri yang ternyata kontradiktif. Ketika mereka berhadapan dengan Islam sebagai gerakan sebuah bangsa tertinggal yang dapat menjungkalkan kaum imperialis seperti kesultanan Sasani, kekaisaran Romawi, para Fir’aun Mesir dan kesultanan Yaman dari singgasana kekuasaan mereka, terpaksa mereka mengecualikan Islam pada batasan minimal kasus ini dari fakta sejarah.

Lebih dari itu, tatkala mereka menyaksikan gerakan dan aksi-aksi Islam menentang kaum imperialis, khususnya pada masa kini, dan berhadapan dengan kekuasaan Timur dan Barat, atau resistensi bangsa Palestina atas kekuasaan Zionisme, mereka tidak memiliki jalan lain kecuali meragukan analisa-analisa mereka sendiri. Biarkanlah mereka terjerat dalam pagar-pagar kesulitan, karena tidak mampu melihat terangnya sinar matahari.

Secara umum, dengan memperhatikan sejarah kemarin dan hari ini, khususnya sejarah Islam, akan tampak bahwa kemunculan agama tidak sesuai dengan asumsi mereka. Tidak hanya candu yang menjadi sebab munculnya gerakan-gerakan sosial yang paling perkasa, akan tetapi masalah-masalah ekonomi juga membentuk bagian dari kehidupan manusia. Dan mendefinisikan manusia pada dimensi ekonomi merupakan kesalahan besar dalam mengenal motivasi dan kecendrungan transendental manusia.

d. Asumsi Kebutuhan kepada Etika

Dalam tema agama dan sains, Einstein berujar, “Dengan sedikit hati-hati, akan menjadi maklum bahwa agitasi dan perasaan-perasaan insani menjadi penyebab munculnya agama yang beraneka dan beragam coraknya…” Setelah menyebutkan asumsi takut, ia menambahkan, tipologi manusia sebagai makhluk sosial juga merupakan salah satu faktor munculnya agama. Seseorang melihat orang tuanya. Kerabat, para pemimpin dan orang-orang besar meninggal dunia. Satu demi satu orang-orang di sekelilingnya berlalu. Setelah itu, harapan untuk terbimbing dengan petunjuk, menyukai, mencintai, bersandar dan bergantung adalah landasan yang membentuk keyakinannya kepada Tuhan.”[5] Dengan urutan seperti ini, Einstein beranggapan bahwa penyebab munculnya agama adalah motivasi moral dan motivasi sosial.

Mari kita kembali menelaah pendapat di atas. Orang­orang yang memberikan asumsi akhlak ini keliru dalam memahami efek dan motivasi. Kita mengetahui bahwa setiap efek tidak mengharuskan adanya motivasi. Boleh jadi tatkala menggali sebuah sumur yang dalam kita menemukan hartu karun. Ini adalah efek. Sedangkan penggerak dan motivasi utama kita untuk menggali sumur ialah untuk mendapatkan air, bukan untuk menemukan harta karun.

Oleh karena itu, adalah benar bahwa agama dapat menenangkan keluh dan derita spiritual manusia. Iman kepada Tuhan dapat melepaskan manusia dari kesendirian tatkala harus kehilangan orang-orang terkasih, sahabat tercinta dan orang-orang besar yang dibanggakan. Iman kepada Tuhan dapat memenuhi segala sesuatu yang lepas dari tangannya dan mengisi kekosongan akibat kehilangan yang dideritanya. Akan tetapi, semua ini adalah sebuah efek, bukan sebuah motivasi.

Motivasi utama agama yang tampak paling logis adalah sebagaimana yang disebutkan sebelumnya; semakin manusia mengamati sistem semesta, semakin ia mengenal kedalaman, kerumitan dan keagungan semesta ini. Ia sekali-kali tidak akan menerima begitu saja akan munculnya munculnya sekuntum bunga dengan segala elegansinya, keajaiban strukturnya, atau matahari dengan seluruh sistem sedemikian agung dan kompleksnya, yang lahir dari rahim semesta yang tak berakal dan pelbagai benturan. Dan berangkat dari sini, manusia bergerak kepada Sumber Awal sistem jagad ini.

Tentu saja kasus lain dengan maksud yang sama dapat membantu, sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya.

Dan anehnya, Einstein sendirilah yang telah mengusulkan asumsi ini. Di tempat lain ia mengubah pernyataannya. Ia mengekspresikan, dengan bahasa yang berbeda, keyakinannya yang teguh terhadap penyebab terjadinya fenomena semesta dan imannya kepada Sumber Awal Yang Agung tersebut. Dan hal ini menunjukkan bahwa ia mengingkari ideologi yang bergantung kepada khurafat-khurafat, bukan kepada sebuah tauhid yang tulus dan bersih dari segala bentuk khurafat.

Ia menuturkan, “Sebuah makna real dari keberadaan Tuhan di balik imaginasi-imaginasi yang secuil telah ditemukan oleh mereka.” Kemudian, Einstein dan para ilmuwan besar lainnya menamakan keyakinan mereka sebagai sebuah jenis keyakinan yang disebut “perasaan religius penciptaan” atau “perasaan religius keberadaan”. Dan di tempat lain, disebut sebagai “takjub yang mengairahkan dari sistem ajaib dan akurat jagad raya”.

Dan yang lebih menarik adalah penegasannya, “Iman religius adalah suluh bagi jalan pencarian hidup para cendikiawan. “[6]

Tentu saja, dalam masalah ini banyak pernyataan yang dapat dinukil. Sekiranya kita ingin melepaskan dari kendali pena, pembahasan kita akan keluar dari pembahasan tafsir tematik.

Oleh karena itu, kita kembalikan kepada persoalan utama.

Dan pembahasan ini kita akhiri sampai di sini. Kami ingatkan bahwa untuk mengetahui motivasi atau dorongan munculnya agama seyogyanya terlebih dahulu menelaah penciptaan semesta (alasan logis dan rasional), dan selepas itu mengkaji kekuatan magnetis dalam lubuk hati (motivasi fitri), kemudian mengalihkan perhatian kepada Sumber Awal Yang Agung, sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya mengenai anugerah-anugerah-Nya yang nir-batas.[7]


[1] Jame’eh Shenashi (Sosiologi), Samuel Kanik, hal. 207.

[2] Dunyae keh Misyenasham, (Dunia Yang Kusaksikan) hal. 57. Begitu aneh apa yang diucapkan oleh August Compte, “Sains telah memisahkan Bapak Semesta dari pekerjaannya dan ia-lah yang menggantikan peran-Nya!” Artinya, dengan menyingkap sebab-sebab natural, tidak ada ruang yang tersisa untuk beriman kepada Tuhan. (Elal e Gerayesh be Maaddigari, hal. 76. Anda juga dapat merujuk buku Kritik Islam Terhadap Materialisme, Syahid Mutahhari, hal. 29-30, terbitan Alhuda Jakarta.)

[3] Tarikh-e Tamaddun, terjemahan edisi Persia dari History of Civilizations, Will Durant, jilid 1, haL 89.

[4] Dunyae keh Misyenasham, hal. 54.

[5] Dunyae keh Misyenasham, hal. 53.

[6] Dunyae keh Misyenasham, hal. 56 dan 61.

[7] Untuk keterangan yang lebih jelas dan luas, Silakan rujuk “Anggizeh-e Peidayesh-e Madzahib” dan Tafsir Payam-e Quran, jilid 2, hal. 44.

Mengapa kita perlu mengenal Allah?

Tidak akan ada gerak tanpa motivasi. Tentu saja upaya untuk mengetahui masalah asal-usul keberadaan semesta juga tidak dapat terlaksana tanpa motivasi dan dorongan. Para filsuf dan ilmuwan menyebutkan tiga faktor fundamental dalam rangka mengenal Tuhan. Faktor tersebut senada dengan apa disinggung secara jelas oleh al-Qur’an, antara lain:

A. Motivasi Akal

B. Motivasi Kasih

C. Motivasi Fitri

A. Motivasi Akal

Setiap manusia pecinta kesempurnaan. Kecintaan ini bersifat substansial dan merata. Hanya saja, setiap orang melihat kesempurnaannya pada suatu hal tertentu, lalu mengusahakannya. Ada sekelompok orang yang, alih-alih mengejar air, mengejar kepuasan dan kesempurnaan semu serta mengira bahwa itu adalah realitas.

Motivasi ini kerap disebut sebagai “naluri mencari keuntungan dan menghindari kerugian”. Lantaran naluri ini, manusia melihat dirinya memiliki tugas untuk menyikapi secara serius hubungannya dengan segala hal yang bertalian dengan nasibnya (dari perspektif untung dan rugi).

Akan tetapi, menyebut kecintaan ini sebagai naluri (gharizah) bukanlah suatu hal yang mudah, karena naluri biasanya digunakan pada hal-hal yang memiliki efek tanpa intervensi pemikiran dalam pelbagai perbuatan manusia atau segala makhluk lainya. Atas alasan ini, dalam urusan dunia fauna, istilah ini juga sering dipakai.

Oleh karena itu, lebih baik kita menggunakan istilah “kecendrungan-kecendrungan transendental” yang digunakan oleh sebagian orang dalam masalah ini.

Secara umum, cinta pada kesempurnaan dan cenderung kepada keuntungan spiritual dan material serta menghindar dari segala bentuk kerugian mengarahkan seseorang untuk meneliti kemungkinan diperoleh atau tidaknya. Yakni, semakin kemungkinan memperoleh keuntungan itu kuat, atau semakin terjadinya kerugian itu besar, penelitian atas masalah ini semakin penting.

Adalah mustahil bagi seseorang yang memberikan kemungkinan tentang suatu perkara yang akan menentukan nasibnya, namun ia tidak memandang dirinya bertanggung jawab untuk meneliti perkara tersebut.

Dalam kategori ini, iman kepada Allah dan pengkajian agama merupakan perkara yang niscaya. Sebab, teks-teks agama banyak memuat persoalan nasib dan persoalan baik-buruk perilaku manusia yang berhubungan erat dengan iman.

Dalam menjelaskan masalah ini, sebagian orang membawakan beberapa perumpamaan. Misalnya, Anggaplah kita melihat seseorang yang berada di persimpangan dua jalan. Kepada dirinya ia berkata, “Tinggal di tempat ini sangat berbahaya, dan memilih jalan ini juga berbahaya, sedangkan jalan yang lain adalah jalan keselamatan.” Kemudian, ia menguraikan indikasi-indikasi dan bukti-bukti untuk keduanya. Tentu, ia perlu meneliti dua jalan di hadapannya itu. Mengabaikan kedua-duanya adalah bertentangan dengan akal sehat!

Kaidah akal ”menghindari kerugian yang mungkin ada” yang popular ini merupakan turunan dari motivasi akal. Kepada Nabi saw., Al-Qur’an menegaskan, “Katakanlah, “Bagaimanakah pendapat Kamu seandainya Al-Qur’an ini berasal dari sisi Allah, kemudian Kamu mengingkarinya, siapakah yang lebih sesat dari orang yang selalu berada dalam penyimpangan yang jauh?”.” (Qs. Fushshilat [41]: 52)

Tentu saja, ayat ini tidak ditujukan kepada mereka yang enggan menggunakan argumentasi logis. Sejatinya, bila ayat ini ditujukan kepada orang-orang keras kepala, pongah, dan fanatik, maka ia menyatakan bahwa sekiranya Anda menolak mutlak akan kebenaran Al-Qur’an, Tauhid dan adanya kehidupan setelah kematian (ma’ad), niscaya tidak ada argumentasi yang dapat menafikan semua kebenaran ini. Dengan demikian, kemungkinan yang tersisa adalah bahwa ajakan Al-Qur’an dan perkara hari kebangkitan sungguh sebuah kebenaran. Pada titik ini, pikirkanlah nasib buruk yang kelak akan Anda hadapi akibat kesesatan dan penentangan tak berdasar yang Anda lakukan terhadap ajakan Ilahi ini.

Pesan ayat ini serupa dengan apa yang disampaikan oleh para Imam Maksum a.s. dalam menghadapi orang-orang yang keras kepala pada kesempatan terakhir, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dalam Al-Kafi. Marilah kita simak bersama!

Banyak informasi yang telah disampaikan kepada Imam Ash-Shadiq a.s. tentang Ibn Abi AI-Aujah; seorang materialis dan ateis. Sampai akhirnya mereka bertemu di musim haji. Sebagian dari sahabat Imam berkata, “Rupanya Ibn Abi al-Aujah kini telah memeluk Islam”.

Imam berkata, “Ia kini lebih gelap dan lebih buta hatinya. Ia tidak akan pernah menjadi Muslim”.

Tatkala melihat Imam, ia berkata, “Salam Sejahtera, wahai Tuanku!”

Imam menjawab dengan melontarkan pertanyaan kepadanya, “Untuk apa engkau datang kemari?”

Ia menjawab, “Di samping sudah menjadi kebiasaan kami, juga tradisi lingkungan menuntut demikian, aku hendak menyaksikan perbuatan orang-orang ini yang biasa dilakukan oleh para jin; menggundul kepala dan melempar jumrah.”

Imam berkata, “Engkau masih saja tetap sesat dan keras kepala, Wahai Abdul Karim.”[1]

Sebelum Ibn Abi al-Aujah menjawab, Imam segera menukas, “Di musim haji ini, bukanlah tempat untuk berdebat!”

Lalu beliau menepikan aba’ah-nya seraya berkata, “Jika benar seperti yang kau katakan bahwa Allah dan Hari Kiamat itu tidak ada -padahal tidaklah demikian- maka di samping kami adalah orang-orang selamat, engkau juga demikian. Namun, jika benar apa yang kami yakini -dan memang demikian kenyataannya- maka kami termasuk orang-orang selamat, sedangkan engkau pasti binasa.”

Ibn Abi al-Aujah menatap orang-orang yang menyertainya dan berkata, “Di lubuk hatiku yang paling dalam aku merasakan luka. Bawalah aku kembali!” Mereka membawanya pulang. Tidak lama setelah itu, ia meninggal.[2]

B. Motivasi Kasih

Sebuah pepatah mengatakan, “Al-Insan ‘abidul ihsan” (Manusia adalah hamba kebaikan).

Dengan kandungan yang sama, Imam Ali a.s. pernah berkata, “Al-Insan ‘abdul ihsan” (Manusia adalah hamba kebaikan).[3] Pada hadis lain, beliau juga menegaskan, “Bil Ihsan tumlakul qulub” (Dengan perbuatan baik, hati akan tertaklukkan).[4]

Juga sebuah hadis yang dinukil dari Imam Ali a.s. mengatakan: “Wa afdhil man syi’ta takun amirahu” (Lakukan kebaikan kepada siapa saja, niscaya engkau menjadi tuannya).”[5]

Akar dari semua pesan itu dapat dijumpai pada hadis Rasulullah saw., bahwa “Sesungguhnya Allah Swt. telah menjadikan hati takluk kepada siapa saja yang berbuat baik kepadanya dan murka terhadap siapa saja yang berlaku buruk kepadanya.”[6]

Kesimpulan dari semua itu ialah; barangsiapa berbuat khidmat atau kebaikan kepada orang lain, niscaya ia (penerima kebaikan itu) memiliki kecenderungan untuk mengenal pelaku kebaikan itu dan berterima kasih kepadanya. Dan semakin tinggi nilai sebuah kebaikan, semakin takluk pula hati penerima dan semakin tinggi keinginannya untuk mengenal pemberi kebaikan itu.

Namun, harus diperhatikan bahwa konsep “bersyukur kepada pemberi kebaikan” terlebih dahulu diakui oleh rasa kasih, jauh sebelum dibenarkan oleh akal sehat.

Kami ingin mengakhiri bagian ini dengan sebuah syair dari pujangga Arab ternama sebagai sebuah isyarat kecil;

Berbuat baiklah kepada insan,

Niscaya hati mereka takluk kepada tuan,

Demikianlah insan adalah udak ihsan.

Dalam hadis Imam al-Baqir a.s. dikatakan, “Pada suatu malam, Rasulullah saw. berada di rumah ‘Aisyah. ‘Aisyah bertanya kepada beliau, ‘Mengapa Anda begitu bersusah-payah untuk beribadah padahal Allah Swt. telah mengampuni segala dosa Anda, baik yang telah terjadi maupun yang akan datang?”[7]

Nabi saw. menjawab, ‘Apakah tidak pantas aku menjadi hamba yang bersyukur?”[8]

C. Motivasi Kasih

Maksud fitrah di sini ialah perasaan-perasaan dan pengetahuan jiwa yang tidak memerlukan penalaran rasional.

Ketika kita melihat sebuah pemandangan yang indah, atau sekuntum bunga yang semerbak mewangi dan warnanya yang mempesona, kita merasakan ketertarikan dan gairah di dalam diri kita. Ketertarikan ini disebut sebagai kecintaan kepada keindahan. Kita tidak memerlukan penalaran untuk mencntai keindahan ini. Ya, cinta keindahan adalah satu dari sekian kecendrungan transendental jiwa manusia.

Upaya mengarahkan diri kepada agama, khususnya mengenal Tuhan, tidak hanya merupakan salah satu perasaan esensial (dzatt) dalam relung jiwa manusia, tetapi juga sebagai salah satu dorongan yang paling kuat dalam fitrah dan jiwa seluruh manusia.

Berdasarkan dalil ini, tidak satu kaum atau bangsa pun, di masa lalu atau kini, yang tidak menjadikan pikiran dan ruh sebagai hakim atas jenis agama atau ideologi. Dan kenyataan ini menunjukkan kemendasaran perasaan mendalam ini.

Al-Qur’an, ketika menuturkan pengutusan nabi-nabi besar, seringkali menandaskan bahwa risalah utama mereka ialah memerangi syirik dan penyembahan berhala, bukan membuktikan keberadaan Tuhan, karena masalah terakhir ini memang telah tertanam di dalam lubuk hati setiap manusia. Dengan kata lain, manusia tidak menuntut masalah ini untuk menanamkannya pada setiap lubuk hati manusia. Akan tetapi, para nabi menuntut bagaimana menyirami pokok masalah itu dan membunuh hama dan belukar yang acapkali membuat kering dan layu pokok tersebut.

Ungkapan “alla ta’budu illallah” atau “alla ta’budu illa iyyaahu” (Jangan sembah selain Allah) diterangkan dalam bentuk penolakan terhadap berhala-berhala, bukan menetapkan keberadaan Tuhan. Pelbagai ucapan para nabi tentang realita ini telah diuraikan dengan jelas di dalam Al-Qur’an, di antaranya dakwah Nabi saw[9], Nabi Nuh[10], Nabi Yusuf[11], dan Nabi Hud[12].

Apakah mungkin seorang ilmuwan yang telah meluangkan waktu dan susah-payah selama puluhan tahun untuk mengenal kehidupan habitat semut, atau ilmuwan yang lainnya dengan cucuran keringat telah menghabiskan waktu selama puluhan tahun untuk meneliti habitat burung, pepohonan, atau ikan-ikan di laut, tanpa tersisa dorongan selain cinta terhadap pengetahuan yang terpatri dalam lubuk hatinya? Apakah mungkin para ilmuwan ini tidak ingin mengenal sumber sejati samudera tak-bertepi ini semenjak azal (primordial) hingga abad (etemal)? Ketertarikan kepada pengetahuan adalah motivasi yang mengajak kita kepada ma’rifatullah (mengenal Tuhan).

Alhasil, Akal kita menuntun kita kepada pengenalan kepada Tuhan ini, rasa kasih menarik kita kepada keinginan untuk itu, dan fitrah kitalah yang mendorong kita bergerak ke arahnya.


[1] Abdul Karim adalah nama asli Ibn Abi al-Aujah. Karena ia mengingkari keberadaan Tuhan, Imam ash-Shadiq as secara khusus memanggilnya dengan nama demikian supaya membuatnya malu.

[2] AI-Kafi, jilid 1, hal. 61, kitab at-Tauhid, bab Hndiits al-’Alam; Tafsir Nemuneh, jilid 20, hal. 325.

[3] Ghurar al-Hikam

[4] Idem.

[5] Biharul Anwar, jilid 77, hal. 421, cetakan Akhundi

[6] Tuhaf al-Uqul, hal. 37, bagian hadis-hadis Nabi saw.

[7] Indikasi kepada ayat pertama surat al-Fath yang dapat dijumpai dengan gamblang pada Tafsir Nemuneh, jilid 22, hal. 18.

[8] Ushul Kafi, jilid 2, bab Syukr, hadis ke-6

[9] QS. Hud[11]: 2.

[10] QS. Hud [11] : 26

[11] QS. Yusuf[12]: 40.

[12] QS. al-Ahqaf[46]: 21.

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

Mengapa mendahulukan selain yang terbaik?

Silahkan menyimak dialog singkat berikut ini:

Husaini Qumi berkata: “Adalah perkara yang masuk akal jika seseorang seperti nabi harus menunjuk pengganti yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaannya dan menjadi rujukan umat Islam setelahnya, yang mana pengganti itu harus paling pintar dari lainnya, paling tahu dan terbaik dari yang lain.”

Alim Suni: “Ya, aku juga setuju.”

HQ: “Katakan padaku, setelah nabi, siapakah orang yang terbaik di antara sahabat-sahabat nabi?”

AS: “Sebagian ulama Ahlu Sunah menganggap Abu Bakar lebih baik dari lainnya. Namun sebagian lainnya seperti aku berkeyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib as adalah sahabat terbaik nabi.”

HQ: “Lalu mengapa engkau tidak mendahulukan “yang terbaik” dari yang lainnya? Apakah itu masuk akal?”

AS: “Ucapanmu memang benar. Namun apa boleh buat, Tuhan telah berkehendak agar “yang biasa-biasa saja” didahulukan atas “yang terbaik”. Sebagaimana salah satu ulama kita, Ibnu Abil Hadid, dalam mukadimah kitab terkenalnya Syarah Nahjul Balaghah berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah mendahulukan “yang biasa” dari “yang terbaik”. (Yakni Abu Bakar atas Ali bin Abi Thalib)””

HQ: “Bagaimana mungkin Tuhan yang melakukannya! Bukankah justru banyak ayat dan riwayat yang menjelaskan kita tentang permasalahan penting ini?

Allah swt berfirman:

“Apakah orang yang memberikan petunjuk kepada kebenaran lebih berhak untuk diikuti ataukah orang yang diberi petunjuk?” (QS. Yunus: 35)

Rasulullah saw juga pernah bersabda: “Orang yang telah mendahulukan seseorang dari orang lain yang lebih baik dari dia berarti telah menghianati Tuhan, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”[1]

Saat anda membangun rumah, apakah anda lebih memilih arsitek yang biasa-biasa saja dari pada arsitek mahir? Atau jika anda ingin belajar, apakah anda memilih guru yang sedang-sedang saja dari pada guru yang benar-benar alim?

Jangan kalian mengaku Tuhan yang telah mendahulukan Abu Bakar atas Ali bin Abi Thalib. Karena Tuhan Maha Adil tidak mungkin mendahulukan selain yang terbaik untuk umat-Nya; hal itu pertentangan dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.”[2]


[1] Al Ghadir, jilid 7.

[2] Dialog Ilmiah, Sayid Ali Husaini Qumi, jilid 2, halaman 155.

Telah berkhianatnya kaum sunni

Abul Hudzail adalah seorang tokoh alim terkenal di Iraq. Ia berkata: “Dalam salah satu perjalananku, aku masuk ke kota Raqqah, salah satu kota di Suriah. Aku mendengar di situ ada seorang gila terkenal karena ucapannya yang menarik.[1]

Aku datang untuk menemuinya. Lalu berlangsunglah dialog antara kami:

Orang gila: “Orang manakah anda?”

Abul Hudzail: “Saya orang Iraq.”

Orang gila: “Wah, berarti anda bukanlah orang biasa. Di mananya Iraq anda tinggal?”

Abul Hudzail: “Bashrah.”

Orang Gila: “Anda benar-benar ahli ilmu dan pengalaman. Siapa nama anda?”

Abul Hudzail: “Namaku Abul Hudzail Allaf.”

Orang Gila: “Wah, anda ahli teologi itu?”

Abul Hudzail: “Ya, betul.”

Tiba-tiba orang gila itu berdiri lalu memintaku duduk di tempat yang lebih nyaman kemudia melanjutkan perbincangan kita.

OG: “Apa menurut anda tentang imamah (ke-Imam-an)?”

AH: “Imamah yang mana ini?”

OG: “Maksudku, menurutmu, siapakah orang yang anda anggap paling layak menjadi pengganti nabi?”

AH: “Orang yang selalu didahulukan nabi dan ditekankan oleh beliau.”

OG: “Siapakah dia?”

AH: “Abu Bakar.”

OG: “Mengapa anda menganggapnya begitu terdepan dari selainnya serta menjadikannya pemimpin anda?”

AH: “Karena Rasulullah saw pernah bersabda: “Jadikanlah orang-orang terbaik di antara kalian sebagai pemimpin.” Dan nyatanya semua orang senang dengan menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah dan pemimpin mereka.”

OG: “Wah, anda telah melakukan kesalahan di sini.

Karena Abu Bakar sendiri di atas mimbar pernah berkata: “Aku adalah pemimpin kalian, padahal sebenarnya aku bukan orang terbaik di antara kalian.”[2]

Kalau semua orang di jaman itu tahu bahwa Abu Bakar bukanlah yang terbaik namun mereka menjadikannya khalifah, maka mereka telah bertentangan dengan ucapan nabi yang kau sebutkan. Namun jika Abu Bakar berbohong tentang perkataannya bahwa ia bukan yang terbaik, maka tidak layak bagi seseorang untuk berbohong di atas mimbar.

Adapun anda berkata semua orang senang menjadikan Abu Bakar sebagai khalifah mereka, itu pun tidak benar juga. Karena saat itu kebanyakan orang-orang Madinah (kaum Anshar) selalu berkata, “Seharusnya satu orang dari kalangan kami (Anshar) dan satu orang dari kalian (Muhajirin) yang menjadi pemimpin.”

Bahkan di kalangan Muhajirin pun banyak yang tidak setuju dengan dipilihnya Abu Bakar sebagai khalifah. Zubair berkata: “Aku tidak membai’at selain Ali bin Abi Thalib.” Abu Sufyan juga berkata kepada Ali (meskipun sebenarnya adalah provokasi): “Aku siap mengumpulkan semua orang untuk membai’atmu.” Salman Al Farisi, Miqdad, Abu Dzar, mereka tidak setuju dengan dipilihnya Abu Bakar.

Wahai Abul Hudzail, jawab pertanyaan-pertanyaanku ini:

1. Katakan padaku, bukankah Abu Bakar pernah berkata di atas mimbar:

“Wahai orang-orang, sesungguhnya dalam diriku ada setan yang telah membuatku lalai dan menguasaiku. Kalau kalian tiba-tiba melihatku marah, maka jauhilah aku.”

2. Katakan padaku, apakah tidak bertentangan jika Rasulullah saw tidak menunjuk penggantinya padahal Abu bakar dan Umar menunjuk pengganti sepeninggal mereka?

3. katakan padaku, mengapa saat Umar menjadikan enam orang sebagai dewan musyawarah untuk menentukan penggantinya berkata bahwa enam orang itu semuanya penduduk surga. Namun ia sendiri berkata setelah itu “Jika ada dua orang dari mereka yang bertentangan dengan pendapat umum, maka keluarkan mereka! Jika tiga orang dari mereka bertentangan dengan tiga orang lainnya, bunuhlah tiga orang yang di dalamnya tidak ada Abdurrahman bin Auf.” Bukankah ucapannya bertentangan? Bagaimana mungkin ia memerintahkan agar penduduk surga dibunuh?

4. Jelaskan juga padaku tentang pertemuan Ibnu Abbas dengan Umar dan dialog mereka; yang mana saat itu Umar sakit karena terkena pukulan, lalu Abdullah bin Abbas mendatanginya dan bertanya: “Mengapa kamu merintih-rintih seperti ini?”

Umar menjawab: “Aku merintih dan kebingungan bukan karenaku, tapi karena aku tidak tahu siapa yang harus menggantikanku.”

Ibnu Abbas berkata: “Kenapa engkau tidak menjadikan Thalhah bin Ubaidillah sebagai pemimpin?”

Umar: “Ia orang yang keras, nabi mengenalnya seperti itu. Aku tidak mau menjadikan orang keras sebagai pemimpin.”

Ibnu Abbas: “Kalau begitu Zubair bin Awwam saja.”

Umar: “Ia orang yang pelit, aku pernah melihatnya cekcok dengan istrinya karena masalah upah.”

Ibnu Abbas: “Bagaimana kalau Sa’ad bin Abi Waqqash?”

Umar: “Ia selalu sibuk dengan kuda dan panah (selalu berkecimpung dengan peperangan). Aku tidak mau orang seperti itu menjadi pemimpin.”

Ibnu Abbas: “Kalau begitu Abdurrahman bin Auf.”

Umar: “Ia adalah orang yang lemah dalam mengatur rumah tangganya sendiri.”

Ibnu Abbas: “Kenapa tidak anakmu saja?”

Umar: “Tidak. Demi Tuhan, orang yang menceraikan istrinya saja tidak bisa bagaimana dapat kujadikan sebagai pemimpin?”

Ibnu Abbas: “Kalau begitu Utsman saja.”

Umar berkata tiga kali: “Demi Tuhan, ya, aku mau menjadikan Utsman sebagai pemimpin.”

Ibnu Abbas bercerita bahwa setelah itu ia diam dan tidak menyebut nama Ali bin Abi Thlaib kepada Umar karena ia tahu permusuhan antara mereka berdua. Sampai-sampai Umar sendiri berkata kepadanya, “Hai Ibnu Abbas, mengapa engkau tidak menyebut nama kawanmu?”

Saat itu Ibnu Abbas menjawab: “Aku setuju jika Ali kau jadikan pemimpin.”

Kemudian Umar berkata: “Demi Tuhan, jika aku menjadikan Ali sebagai pemimpin mereka, ia pasti menuntun umatnya di jalan kebahagiaan dan memasukkan seluruh pengikutnya ke surga.”

Aneh sekali. Umar sendiri mengakui keunggulan Ali bin Abi Thalib namun ia tidak pernah bersedia meyerahkan kepemimpinan kepadanya. Malah ia menyerahkan perkara pemilihan pengganti kepada enam orang.”

Abul Hudzail bercerita bahwa setelah pembicaraan itu usai, orang gila itu mulai terlihat aneh dan kegilaannya kambuh (bertingkah seperti orang gila). Ia menceritakan kisahnya itu kepada Ma’mun. Lalu akhirnya Ma’mun membawa orang gila itu ke istananya dan mengobatinya. Akhirnya Ma’mun sempat menjadi Syiah karena orang gila itu.[3]


[1] Mungkin sebenarnya orang gila itu adalah orang alim yang memang dengan sengaja berpura-pura gila.

[2] Al Uqadul Farid, jilid 2, halaman 347.

[3] Al Ihtijaj, Thabrasi, jilid 2, halaman 317.

Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as

Jika Imam Ali as memang telah ditunjuk oleh Rasulullah saw untuk menjadi khalifah, lalu mengapa beliau bersedia membai’at Abu Bakar? Kalau beliau membai’at Abu Bakar, berarti beliau memang tidak ditentukan nabi sebagai khalifah, atau paling tidak berarti beliau telah menyerahkan haknya kepada orang lain.

Pertanyaan ini memiliki dua sisi:

1. Telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi.

2. Imam Ali as membai’at Abu Bakar.

Tentang telah ditentukannya kekhalifahan Imam Ali as oleh nabi, dalil-dalilnya sangat banyak dan jelas sekali. Dalil-dalil tersebut tentunya sangat lebih dari cukup bagi orang yang berniat mencari kebenaran tanpa fanatisme. Dalil-dalil tersebut diantaranya adalah:

1. Hadits Yaumul Indzar: Rasulullah saw sejak hari pertama beliau mengumumkan kenabiannya kepada keluarga besarnya telah menjelaskan kekhalifahan Imam Ali as. Di hari yang dikenal dengan Yaumul Indzar atau Yaumud Daar, dalam ucapan-ucapannya kepada Bani Hasyim beliau berkata: “Aku diutus oleh Allah swt untuk mengajakmu kepada kebaikan dunia dan akherat. Siapakah di antara kalian yang bersedia untuk membantuku dalam hal ini?”

Beliau menanyakan hal yang sama sebanyak tiga kali namun tak ada yang menjawab beliau selain Ali bin Abi Thalib as. Dua kali Rasulullah saw memintanya untuk diam, namun kali ketiga beliau menerimanya. Lalu beliau bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan khalifah setelahku di antara kalian. Maka dengarkanlah perkataannya dan taati ia.”[1]

2. Hadits Manzilah: Selain itu sering sekali beliau menjelaskan kepada semua orang tentang kedudukan Imam Ali as baginya. Ungkapan-ungkapan yang beliau gunakan dalam ucapannya menunjukkan bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau. Saat Imam Ali as kesal mendengar ucapan-ucapan orang munafik, beliau mengadukannya kepada Rasulullah saw. Kemudian nabi berkata kepadanya: “Wahai Ali, tidakkah engkau ridha di sisiku berkedudukan bagai Harun as di sisi Musa as? Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”[2] Di riwayat lain disebutkan: “Bagiku engkau seperti Harun as di sisi Musa as, hanya saja tak ada nabi setelahku.”[3]

Dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa kedudukan Imam Ali as di sisi nabi bagaikan kedudukan Harun as di sisi Musa as. Jelas jika seandainya dulu nabi Harun as masih hidup, ia pasti menjadi pengganti nabi Musa as.

3. Hadits Tsaqalain: Beberapa kali Rasulullah saw mengucapkan hadits ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan dua hal berharga bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, dan salah satunya lebih agung dari lainnya: Kitab Allah swt, tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan yang kedua Ahlul Baitku; keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya masuk ke dalam telaga surga. Maka lihatlah bagaimana diri kalian kelak akan bersikap.”[4] Dalam hadits tersebut beliau menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah pegangan utama umat Islam dan Ahlul-Bait adalah penafsir Al-Qur’an yang harus dijadikan rujukan. Karena Imam Ali as adalah Ahlul-Bait nabi, hendaknya umat Islam menjadikannya rujukan sepeninggal nabi.

4. Hadits Ghadir: Begitu juga saat Rasulullah saw berada di Ghadir Khum, setelah beliau meminta kesaksian dari seluruh umat Islam bahwa dirinya lebih dahulu daripada harta dan jiwa mereka, beliau bersabda: “Barang siapa menjadikanku tuannya, maka hendaknya menjadikan Ali sebagai tuannya pula. Ya Tuhan, tolonglah orang yang menolongnya, dan hinakanlah orang yang menghinanya.”[5]

Ahlu Sunah Meragukan Hadits Ghadir

Meskipun Ahlu Sunah dikenal meragukan hadits Ghadir sebagai bukti kekhalifahan Imam Ali as, namun dengan melihat indikasi-indikasi sebelum dan sesudah beliau mengucapkan hadits itu, kenyataannya akan jelas bahwa yang dimaksud “tuan” dalam hadits tersebut berarti “pemimpin”. Sebelum mengucapkan hadits itu Rasulullah saw meminta kesaksian umatnya: “Bukankah aku paling berhak atas kalian? Atas jiwa dan harta kalian?” Setelah semua orang mengiyakan, beliau menyatakan bahwa demikian juga Ali bin Abi Thalib memilki wewenang yang sama sepertinya. Lalu setelah itu nabi berdoa agar melaknat orang yang memusuhi Ali bin Abi Thalib as dan menolong orang yang menolongnya. Nabi juga menjelaskan bahwa mencintai Ali as berarti mencintai Allah swt dan nabi-Nya, memusuhi Ali as juga berarti memusuhi Allah swt dan nabi-Nya. Hal-hal sedemikian rupa membuktikan bahwa maksud Rasulullah dalam hadits Ghadir adalah menyatakan kepada semua orang bahwa Imam Ali as adalah pengganti sepeninggal beliau.

Alasan Imam Ali as membai’at Abu Bakar

Adapun Imam Ali as membai’at Abu Bakar, jika itu memang benar, hal itu tidak bertentangan dengan telah ditentukannya kekhalifahan Imam as oleh nabi. Karena tugas beliau adalah memimpin umat; entah beliau diangkat oleh umatnya ataupun tidak, beliau tetap dapat menjalankan tugasnya semaksimal mungkin yang beliau bisa. Imam Ali as membai’at Abu Bakar karena tidak ingin menimbulkan kericuhan di dalam umat Islam. Karena jika tidak maka kekacauan dan perpecahan tersebut akan digunakan oleh musuh-musuh Islam dari Luar, seperti Roma dan Persia saat itu, untuk menyerang dan menghancurkan Islam. Dengan kebijakan tersebut Imam Ali as dapat menghindari keributan di dalam demi memfokuskan fikiran umat Islam bersama untuk menghadapi bahaya musuh-musuh di luar.

Dalam segala keadaan Imam Ali as rela mengorbankan apapun demi Islam. Bagaikan seorang ibu sejati yang rela mengorbankan nyawanya pun demi anaknya.[6] Imam Ali as sendiri berkata: “Demi Allah, aku sama sekali tidak berfikir bahwa Arab akan merampas kekhalifahan dari tangan Ahlul Bait dan menjauhkannya dariku. Aku melihat mereka berbondong-bondong membai’at seseorang. Aku pun enggan untuk membai’atnya. Namun aku melihat ada sekelompok orang yang hendak menghancurkan agama Muhammad saw. Maka aku takut jika aku tidak berbuat apa-apa untuk Islam dan Muslimin maka akan timbul perpecahan di dada Islam, yang mana musibah itu bagiku lebih besar daripada kehilangan kedudukan yang menurut kalian sangat diidamkan.”[7]

Untuk mengkaji lebih jauh:

1. Allamah Sayid Muhammad Husain Husaini Thabthabai, Emam Shenashi, penerbit Hekmat, 1421, jil. 4-7.

2. Sayid Syarafuddin Al-Musawi, Rahbari e Emam Ali as Dar Qor’an va Sonnat, terjemahan Muhammad Ja’far Emami, Moawenat e Farhanggi Sazman e Tablighat, 1370.

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bani Hasyim! Sesungguhnya saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di antara keluargaku adalah Ali bin Abi Thalib as. Ia yang akan menunaikan hutang-hutangku dan menjalankan tugas-tugasku.”[8]


[1] Muhammad bin Jarir Thabari, Tarikh Thabari, jil. 2, hal. 321, Tahkik: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim; Abdul Rahman bin Muhammad bin Khuldun, Tarikh Ibnu Khuldun, jil. 1, hal. 647; Al-Kamil, jil. 2, hal. 32.

[2] Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Atsir, Usdul Ghabah Fi Ma’rifati Ash-Shahabah, jil. 3, hal. 601.

[3] Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani, Al-Ishabah fi Tamyiiz Ash-Shahabah, Tahkik: Adil Ahmad Abdul Maujud dan Ali Muhammad Mu’awidh, jil. 3, hal. 1097; Ahmad bin Yahya bin Jabir Baladzari, Ansab Al Asyraf, Tahkik: Muhammad Hamidullah, jil. 2, hal. 94.

[4] Usdul Ghabah, jil. 1, hal. 490.

[5] Ibid, jil. 1, hal. 439; Abul Fida’ Ismail bin ‘Amr bin Katsir Al-Dimashqi, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jil. 5, hal. 210.

[6] Di jaman Umar ada dua orang wanita berselisih mengaku seorang bayi sebagai anaknya. Supaya dapat membuktikan siapa ibu anak itu yang sebenarnya, Imam Ali as berencana untuk memotong anak menjadi dua lalu dibagikan tiap potongnya kepada setiap wanita itu. Salah seorang wanita itu bersedia, namun satunya lagi tidak bersedia dan berkata: “Jangan, lebih baik berikan saja jatahku untuk wanita itu.” Lalu akhirnya Imam Ali menyatakan bahwa ibu yang tidak bersedia anaknya dipotong itu adalah ibu yang sebenarnya. (Qezavat Haye Mohayerol Oqul, Sayid Hasan Muhsin Amin ‘Amili, hal. 37)

[7] Nahjul Balaghah, Faidz Al-Kashani, surat ke 62.

[8] Amali Thusi, 602/1244.

Alasan Imam Ali as Menolak Dibai’at

Mengapa Imam Ali as tidak segera menerima tawaran untuk menjadi khalifah? Bukankah jika beliau menolak berarti ia tidak berhak atas kekhalifahan?

Sepeninggal Rasulullah saw, umat Islam mengalami ikhtilaf dan perpecahan. Sebagian kelompok tidak menghiraukan ucapan-ucapan dan wasiat nabi; mereka memilih pengganti nabi sesuai keinginan mereka sendiri. Padahal Rasulullah saw telah menjelaskan kriteria-kriteria seorang khalifah dan siapa khalifah setelahnya. Namun orang-orang yang haus kekuasaan bertindak sesuai keuntungan yang mereka inginkan. Mereka memilih seseorang yang mereka kehendaki tanpa memperdulikan nasib umat Islam secara keseluruhan. Pelencengan umat Islam dimulai dari seseorang seperti Walid yang memimpin shalat shubuh empat rakaat dalam keadaan mabuk.[1] Belum lagi harta kekayaan Baitul Mal dihisap sebanyak-banyaknya oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.

Sepeninggal Utsman, umat Islam heboh mendatangi Ali bin Abi Thalib as untuk menjadikannya khalifah. Namun karena kondisi saat itu (akibat ulah khalifah-khalifah sebelumnya) tidak memungkinkan bagi beliau untuk menjadi khalifah yang dapat menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka, maka beliau menolak. Imam Ali as sendiri tahu bahwa orang-orang yang telah hidup selama 25 tahun di bawah kepemimpinan yang tidak adil tidak akan mungkin terbiasa dengan pola dan cara Imam Ali as memimpin.

Berikut ini adalah penggalan dari perkataan-perkataan Imam Ali as yang dapat menjelaskan seperti apa kondisi umat Islam saat itu.

Dalam khutbahnya Imam Ali as bercerita bahwa ketika orang-orang berdatangan ke rumahnya untuk membai’atnya, beliau berkata: “Tinggalkanlah aku. Carilah orang lain. Karena kejadian-kejadian yang bermacam-macam dan tak jelas akan mendatangi kita. Kondisi sangat membingungkan dan rumit. Hati-hati tidak tetap dalam masalah ini dan akal-akal tidak tegas. Awan-awan kebejatan beterbangan di langit-langit dunia Islam dan membuatnya gelap. Jalan yang benar telah tertutupi dan menjadi samar. Jika aku menerima tawaran kalian ini, aku akan bertindak sesuai apa yang kuanggap benar dan aku tidak akan mendengar kata-kata siapa saja yang mencaci dan mencemoohku.”[2]

Maksud Imam Ali as adalah: Aku akan selalu bertindak sesuai yang dipesan oleh Rasulullah saw untuk membagikan kekayaan Baitul Mal secara merata kepada siapapun, baik Arab maupun Ajam, baik kulit putih maupun kulit hitam. Namun bagaimana hal itu akan kulakukan? Sedang kalian sudah terbiasa dengan perilaku khalifah-khalifah sebelumnya; terbiasa dengan suap dan uang haram. Maka pergilah dan carilah orang selainku![3]

Ibnu Abil Hadid, yang merupakan pensyarah Nahjul Balaghah, di permulaan khutbah ini mengisyarahkan bahwa jika Imam Ali as memang khalifah yang ditunjuk nabi untuk menggantikannya, maka ia tidak layak untuk berkata: “Tinggalkanlah aku dan carilah selainku.” Lalu ia berkata: “Ucapan Ali bin Abi Thalib as itu (khutbah terkait) memiliki kedalaman yang sangat dan merupakan kabar ghaib yang mana semua orang saat itu tidak tahu. Kabar itu berkaitan dengan perang-perang umat Islam dan timbulnya fitnah-fitnah besar (di kekhalifahan beliau).

Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Utsman mereka berkumpul di Masjid dan menceritakan keutamaan-keutamaan imam Ali as untuk memprovokasi pembai’atan Imam Ali as. Akhirnya Imam Ali as pun dibai’at. Setelah itu beliau memuji Tuhan di atas mimbarnya lalu berkata: “Wahai umat! Kalian tahu posisiku sama dengan posisi nabi. Aku tidak akan melenceng dari jalurnya. Nabi berkata bahwa penggantinya yang akan membimbing umat melewati jalan yang lurus akan ditolong dengan malaikat. Namun jika ada yang merebut kepemimpinan dan menggiring umat manusia menuju kebatilan maka akhir nasib mereka adalah api neraka.”

Setelah menyinggung masalah bai’at tersebut, Ibnu Abil Hadid menceritakan masalah pembagian harta Baitul Mal. Ia berkata: “Sejak awalnya sudah ada orang-orang yang mencemooh Ali bin Abi Thalib as karena ia tidak membeda-bedakan antara budak, pemilik budak dan orang berkedudukan dalam pembagian harta. Mulailah mereka membawa-bawa nama para khalifah-khalifah sebelumnya. Di sinilah hikmah perkataan Imam Ali as dulu mulai menjadi nyata; dulu saat beliau berkata: “Carilah orang selainku.”[4]

Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Abil Hadid dalam kitabnya itu, bahwa Imam Ali as sama sekali tidak memiliki keraguan akan kekhalifahan adalah haknya. Namun ia meragukan kesiapan umat yang telah terbiasa dengan pemerintahan yang tak adil; karena begitu Imam Ali as menerima bai’at maka ia akan bertekat untuk mendirikan keadilan setegak-tegaknya meskipun semua orang menentangnya.

Dalam bagian khutbahnya yang lain ia berkata: “Aku sebenarnya tidak mau menerima kekhalifahan itu. Namun semua orang mengerumuniku dan saling ribut sendiri, sampai-sampai aku mengira mereka saling membunuh satu sama lain. Akhirnya aku pun merombak kekhalifahan dan merubah arahnya; sampai rasa kantuk tak pernah menghampiriku.”

Beliau juga pernah berkata: “Sumpah demi Tuhan yang telah memecah biji-bijian dan menciptakan manusia! Semua orang mendatangiku dan ingim membai’atku. Telah sempurna Hujjah Tuhan atasku. Jika bukan karena Allah swt meminta orang yang berakal untuk tidak tinggal diam melihat kerusakan, maka aku sudah meninggalkan kekhalifahan dari sejak lama. Dan kalian tahu dengan baik bahwa dunia kalian bagiku lebih tak berharga dari ingus kambing.”[5]

Dari apa yang dikatakan oleh beliau dapat kita simpulkan bahwa umat Islam saat itu tidak memiliki kapabilitas untuk menjalankan kehidupan dengan pemerintahan yang adil dan beliau sama sekali tidak menunjukkan keridhaan terhadap pemerintahan yang telah ada. Namun karena tak ada cara lain yang lebih baik untuk umatnya, akhirnya beliau menerima dibai’at.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa pemerintahan beliau membuktikan betapa tajam pandangan beliau sejak sebelumnya tentang keadaan umat Islam saat itu. Akhirnya banyak yang melanggar bai’atnya sendiri dan terus memusuhi Imam Ali as sampai beliau wafat. Segala kekacauan yang telah beliau perkirakan itu yang membuatnya enggan dibai’at. Padahal jika bicara tentang hak, jelas kekhalifahan adalah hak beliau. Beliau tidak pernah mundur membela hak-haknya; seperti halnya dalam peristiwa 6 calon penganti Umar dan sebelum terbunuhnya Utsman, beliau menekankan bahwa kekhalifahan adalah hak beliau.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Nadzem Zade Qomi, Mazhar e Welayat.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 16.

3. Nashir Makarim Syirazi, Payam e Amirul Mu’minin as, jil. 3.

Hadits akhir:

Rasulullah saw menunjuk Ali bin Abi Thalib as dengan jarinya seraya bersabda: “Ia adalah saudaraku, pewarisku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Dengarkanlah perintahnya dan taatilah ia.”[6]


[1] Ghiyats Al-Din, Habib As-Saiyr, jil. 1, hal. 498.

[2] Nahjul Balaghah, khutbah 92.

[3] Muhammad Taqi Ja’fari, Tarjome va Syarh e Nahjul Balaghah, jil. 16, hal. 90 dan 91.

[4] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 8 dan 7.

[5] Nahjul Balaghah, khutbah 54.

[6] Muhammad Taqi Hindi, Kanzul Ummal, 36419.

Apakah kewajiban Amar Makruf gugur karena resiko bahaya?

Imam Husain as tidak mencelakai diri sendiri

Berangkatnya Imam Husain as ke Karbala, padahal beliau sendiri tahu bahwa ia, keluarga dan kerabatnya akan mati, apakah tidak bertentangan dengan ayat yang berbunyi: “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”[1]?

Penjelasan: berdasarkan ayat di atas, bunuh diri adalah perbuatan yang diharamkan. Perjuangan Imam Husain as adalah apa yang dilarang oleh ayat di atas. Dengan demikian, apakah perjuangan beliau bertentangan dengan ayat tersebut?

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini:

A. Jawaban yang satu ini akan menjadi jelas dengan beberapa pengantar di bawah ini:

1. Menjatuhkan diri ke dalam kehancuran tidak diharamkan secara total. Dalam keadaan-keadaan tertentu justru wajib hukumnya. Misalnya jika agama Islam berada dalam bahaya dan terancam hancur, dan tidak ada cara lain selain mengorbankan diri, maka pengorbanan itu wajib bagi kita. Namun jika tujuan pengorbanan itu bukanlah hal penting atau bahkan tidak syar’i dan masuk akal, jelas kita dilarang untuk menjatuhkan diri ke dalam kehancuran.

2. Menjatuhkan diri ke dalam kehancuran itu diharamkan jika tidak ada tujuan yang jauh lebih penting di baliknya. Namun jika pengorbanan diri dilakukan demi tujuan yang sangat penting, akal pun juga membenarkannya.

3. Kehancuran yang sebenarnya adalah kehancuran yang diakibatkan mengikuti langkah-langkah setan dan hawa nafsu. Namun seorang yang syahid dan gugur di jalan Allah bukanlah orang yang jatuh ke dalam kehancuran. Kesyahidan Imam Husain as dalam membela agama Islam dan menjaganya bukanlah kehancuran yang dimaksud ayat di atas.

Dengan demikian, maka:

Pertama: jika meskipun kita anggap Imam Husain as telah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran, namun dengan melihat kondisi di saat itu, perbuatan Imam Husain as adalah suatu kewajiban. Karena beliau memiliki tujuan yang lebih besar dan lebih penting dari nyawa, yaitu terjaganya agama dan hukum-hukum Allah swt. Perjuangan Imam Husain as bukan saja dibenarkan syari’at, namun akal pun juga mengakui kebenarannya.

Kedua: jihad Imam Husain as melawan Yazid bukanlah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran. Karena gugurnya Imam Husain as dalam melawan Yazid, yakni kesyahidannya, bukanlah kehancuran; kesyahidan dan kehancuran adalah dua perkara yang jauh bertentangan. Kehancuran adalah mati sia-sia. Adapun kesyahidan adalah mati di jalan Allah swt dan penggapaian kebahagiaan sejati.[2] Oleh karena itu sebagian ahli tafsir memaknai ayat tersebut begini: “Janganlah kalian menjatuhkan diri kalian dengan tangan kalian sendiri ke dalam kehancuran karena menghindar dari kesyahidan yang merupakan hayat abadi.”[3] Yakni jika kalian melarikan diri dari jihad yang diwajibkan Allah swt, berarti kalian telah menjatuhkan diri ke dalam kehancuran. Namun jika kalian menjalankan kewajiban tersebut, maka kalian telah memilih kehidupan abadi dan terselamatkan dari kehancuran. Jadi, orang yang memilih kesyahidan di jalan Allah swt telah menyelamatkan diri dari kehancuran dan mendapatkan kehidupan suci dan bahagia abadi.

Selama perjalanan Imam Husain as ke Karbala, beliau sering melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an dalam khutbah-khutbahnya untuk menyampaikan pesannya. Suatu saat sekelompok jin menawarkan diri untuk membantu Imam Husain as memenangkan peperangan dengan cara menghancurkan musuh-musuh beliau sebelum perang dimulai. Namun Imam Husain as menolak dan berkata bahwa jika mau menggunakan kekuatan ghaib, beliau lebih kuat dari pada jin-jin.[4] Lalu beliau membaca ayat ini:

“…agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula).” (QS. Al-Anfaal [8]:42)

Dengan menyampaikan ayat tersebut Imam Husain as menjelaskan bahwa tragedi Asyura adalah tragedi kemenangan dan kehancuran yang harus berlangsung dengan sempurnanya hujjah.

Penjelasannya begini: Imam Husain as ingin orang-orang yang memusuhinya benar-benar menyadari apa yang sedang mereka lakukan, begitu pula sahabat-sahabat beliau. Yang mana dengan demikian mereka memilih kehancuran dan kemenangan dengan pilihannya sendiri lalu hancur dan hidup dengan usahanya sendiri. Di Asyura musuh-musuh Imam Husain as memilih kehancuran atas keinginanya sendiri dan sahabat-sahabat beliau memilih kehidupan abadi bersama pemimpinnya atas kehendaknya sendiri pula. Kebahagiaan di akherat bagi orang-orang yang gugur di jalan Allah swt adalah kebahagiaan abadi. Allah swt berfirman: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al-Baqarah [2]:154)

Dalam peristiwa Karbala telah sempurna hujjah Allah bagi kedua kelompok. Oleh karena itu kebahagiaan abadi kelompok Imam Husain as dan kehancuran nyata musuh-musuh beliau telah dipilih berdasarkan hujjah yang sempurna dan jelas. Jadi, jangankan Imam Husain as, sahabat-sahabat dan kerabat beliau tidak ada yang jatuh ke dalam kehancuran.

B. Perjuangan yang dilakukan Imam Husain as adalah atas perintah Allah swt dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan Rasulullah saw. Fakta ini dapat difahami dengan menengok tujuan-tujuan yang beliau jelaskan sendiri dan juga riwayat-riwayat yang mejelaskan bahwa nabi dan Imam Husain as sendiri benar-benar tahu akan peristiwa Asyura:

1. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an[5] dan juga riwayat-riwayat[6] dijelaskan bahwa memerangi kebatilan adalah suatu kewajiban. Karena tegaknya agama menuntut ditumpaskannya kebatilan dan perjuangan di jalan Allah swt. Perjuangan Imam Husain as tidak lepas dari perkara penting ini.

2. Rasulullah saw sering kali mengkabarkan tentang peristiwa tragis yang akan menimpa cucunya, Imam Husain as. Riwayat-riwayat tentang hal ini tidak hanya disebutkan dalam buku-buku Syiah saja, namun juga dapat ditemukan dalam referensi-referensi hadits Suni. Bahkan tidak hanya jelas sekali makna riwayat itu, namun juga mutawatir.[7]

Rasulullah saw bersabda: “Malaikat Jibril datang kepadaku dan mengkabarkan bahwa kelak cucuku Al-Husain as akan terbunuh di tanah tandus Karbala, lalu ia membawakan segenggam tanah itu untukku, lalu berkata bahwa di tanah itu ia akan dikuburkan.”[8]

Dalam riwayat lainnya Rasulullah saw berkata kepada Imam Husain as: “Sesungguhnya bagimu ada suatu tempat di surga yang tak akan tergapai kecuali dengan kesyahidan.”[9]

Diriwayatkan dari Anas bin Harits (orang yang menyertai Imam Husain as hingga meninggal) bahwa Rasulullah saw bersabda: “Cucuku Al-Husain as akan terbunuh di tanah Karbala. Barang siapa melihatnya, maka ia harus menolongnya.”[10]

Oleh karenanya, orang yang tidak menolong Imam Husain as, apa lagi orang yang memeranginya, adalah orang yang memerangi Allah swt dan nabinya.

3. Perkataan dan sikap Imam Husain as sejak awal membuktikan bahwa beliau memilih keputusannya dengan penuh kesadaran. Ia pun yakin perjuangannya adalah perintah Allah swt dan rasul-Nya. Misalnya, saat menjawab perkataan saudaranya Muhammad Hanafiah, beliau berkata: “Setelah engkau pergi aku bermimpi melihat Rasulullah saw berkata kepadaku: “Wahai Husain! Pergilah ke Iraq. Karena Allah swt berkehendak untuk melihatmu gugur di jalan-Nya.””[11]

Sanggahan untuk jawaban ini

Apakah jika Imam Husain as tahu bahwa perjuangannya adalah perintah Allah swt berarti ia dipaksa?

Jawaban

Tentang kehendak Tuhan dalam perkataan Rasulullah saw di mimpi Imam Husain as, kebanyakan ulama menyatakan bahwa kehendak tersebut adalah kehendak tasyri’i, bukan takwini.[12] Kehendak tasyri’i tidak bersifat paksaan dan tiadanya ikhtiar. Maksud dari kehendak tersebut adalah keridhaan Allah swt akan terbunuhnya Imam Husain as dan pengetahuan-Nya tentang bahwa peristiwa itu akan terjadi.[13] Oleh karena itu, kehendak Ilahi yang berarti pengetahuan pasti-Nya akan terjadinya sesuatu bukan berarti paksaan. Karena segala sesuatu yang terjadi pada hambanya dan yang telah Ia ketahui sebelumnya bergantung pada ikhtiar dan kehendak manusia sebagai pelaku itu sendiri. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa segala perbuatan yang dilakukan oleh manusia “atas kehendaknya masing-masing” telah diketahui Allah swt sebelum semua itu dilakukan, dan dengan demikian disebut dengan kehendak Ilahi.

Meskipun Imam Husain as telah diberitahu tentang apa yang akan terjadi padanya, namun beliau sendiri berusaha agar apa yang diberitahukan kepadanya itu terwujud dengan cara mengumpulkan pasukan dan segala persiapan perjalanannya. Oleh karena itu beliau berikhitiar dan berkehendak dalam keputusan dan perbuatannya.

Kesimpulan

Jika agama Islam terancam, maka kita wajib melakukan segalanya demi terjaganya Islam, termasuk mengorbankan jiwa sendiri. Seperti itu perjuangan Imam Husain as di Karbala.

Perjuangan beliau bertujuan untuk menyelamatkan Islam dari kehancuran, yang mana Tuhan dan Rasulullah saw juga menginginkannya. Imam pun berjuang atas kehendak nya sendiri dan beliau melakukannya dengan penuh kesadaran. Oleh karena itu beliau tidak termasuk orang yang menjatuhkan diri sendiri ke dalam kehancuran.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Ayatullah Shafi Gulpaygani, Partooee az Azamat e Hosain.

2. Ali Asghar Rezvani, Pasokh be Syobahat.

3. Daftar Tablighat e Eslami, Pasokh ha ye Bargozide.

Hadits akhir:

Barra’ bin ‘Azib berkata: “Aku melihat Rasulullah saw menggendong Husain as di atas pundaknya seraya berkata: “Ya Allah! Aku sangat mencintainya, maka cintailah ia pula.”[14]


[1] QS. Al-Baqarah: 195.

[2] Nashir Makarim Syirazi, Al-Amtsal fi Tafsir Kitab Allah Al-Munzal, jil. 2, hal. 38.

[3] Ruhul Bayan, jil. 1, hal. 310; Tabyin Al-Qur’an, hal. 42; Tafsir Jalalain, hal. 34.

[4] Biharul Anwar, jil. 44, hal. 331)

[5] QS. At-Taubah: 29.

[6] Mustadrak Al-Wasail, jil. 11, hal. 17; Al-Kafi, jil. 5, hal. 3.

[7] Luthfullah Shafi Gulpaygani, Partoee az Azamat e Hosain, hal. 50.

[8] Biharul Anwar, jil. 18, hal. 114; Ash Shawaiqul Muhriqah, hal. 190; Maqtal Khwarazmi, pasal 7, hal. 156.

[9] Maqtal Khwarazmi, pasal 8, hal. 170.

[10] Biharul Anwar, jil. 44, hal. 247.

[11] Sayid Ibnu Thawus, Al-Luhuf fi Qatl Ath-Thufuf, hal. 94; Biharul Anwar, jil. 44, hal. 364.

[12] Murtadha Muthahari, Homase e Husaini, jil. 3, hal. 86.

[13] Imam Husain wa Quran, hal. 128.

[14] Biharul Anwar, jil. 43, hal. 264.

Apakah kewajiban Amar Makruf gugur karena resiko bahaya?

Tujuan terpenting dari perjuangan Imam Husain as Amar Makruf Nahi Munkar. Berdasarkan kaidah “Laa Dharar” kewajiban itu gugur; lalu mengapa beliau tetap maju berjuang di Karbala?

 

Tidak diragukan bahwa Amar Makruf Nahi Munkar adalah salah satu perkara penting yang diwajibkan dalam Islam dan sering dijelaskan dalam Al-Qur’an[1] dan riwayat.[2] Kewajiban Amar Makruf Nahi Munkar ini menysaratkan empat hal,[3] yang mana keempat-empatnya syarat itu telah terpenuhi bagi Imam Husain as:

1. Memiliki pengetahuan tentang makruf dan munkar: Imam Husain as berbeda dengan orang-orang biasa, ia mengetahui seluruh makruf dan munkar melalui ilmu ladunni. Beliau tahu bahwa Yazid bertujuan untuk membinasakan Islam dan mengembalikan umat manusia ke jaman jahiliah. Jika beliau tidak berbuat apa-apa, Islam pasti binasa. Murtadha Muthahari berkata: “Imam Husain as saat itu melihat hal-hal tertentu yang tidak dilihat oleh orang biasa lainnya.”[4]

2. Kemungkinan usaha Amar Makruf dapat memberikan hasil: merupakan syarat diwajibkannya Amar Makruf Nahi Munkar yang mana memiliki dua macam:

A. Jika tidak ada kemungkinan usaha kita berpengaruh sama sakali, meskipun di masa yang akan datang pun, maka kewajiban ini gugur.

B. Jika untuk sementara usaha kita tidak berpengaruh, namun ada kemungkinannya kelak usaha kita ini dapat memberikan pengaruh, maka kewajiban itu tetap harus dilakukan.

Dalam perjuangan Imam Husain as, beliau yakin usahanya bakal berpengaruh dan akan membawa perubahan. Beliau sangat yakin dengan usahanya Islam akan terjaga. Menurut beliau dengan kematiannya dan juga sahabat-sahabatnya, borok busuk Bani Umayah akan tersingkap dan bakal menjadi senjata yang menghancurkan mereka sendiri.

3. Terus menerus dilakukannya dosa dan kemunkaran: Syarat ketiga ini juga telah terpenuhi bagi Imam Husain as. Karena saat itu Bani Umayah tidak hanya terus menerus melakukan kemunkaran, namun bahkan menyebarkannya.

4. Tidak membahayakn harta dan benda diri serta orang mukmin lainnya: Imam Husain as saat itu tahu bahwa jika ia menjalankan kewajiban itu maka ia dan keluarganya akan terkena bahaya. Namun meskipun begitu beliau tetap menjalankan tugas tersebut. Ada dua sebab yang dapat dijelaskan:

A. Para fakih dalam menjelaskan syarat yang satu ini berkata bahwa Amar Makruf Nahi Munkar memiliki dua jenis tujuan: Pertama, tujuan yang tidak terlalu penting, yang mana kerugian Amar Makruf Nahi Munkar lebih tinggi jika dibanding dengan manfaatnya; maka kewajiban melakukan tugas ini dapat digugurkan. Adapun yang kedua, yaitu tujuannya sangat penting sekali, misalnya berkaitan langsung dengan dasar-dasar agama, keyakinan, Al-Qur’an, dan semacamnya; maka meskipun tugas tersebut sangat berbahaya, namun karena jika ditinggalkan bahaya yang timbul bakal lebih besar lagi, maka tugas itu harus dilakukan, meski dengan cara mengorbankan harta dan jiwa.[5]

Imam Khumaini berkata: “Jika Amar Makruf Nahi Munkar berkaitan dengan suatu perkara yang sangat penting dalam Islam, maka meskipun harus dengan harta dan nyawa, kewajiban itu harus ditunaikan.”[6]

Imam Husain as berada dalam posisi ini. Saat itu ke-makruf-an adalah Islam dan Sunah nabi sendiri dan itu terancam hancur karena ulah Bani Umayah. Jika beliau tidak menjalankan kewajibannya, maka Islam akan lenyap sampai akar-akarnya dan jerih payah Rasulullah saw selama itu akan sia-sia. Oleh karenanya Imam Husain as bertekat untuk maju menjalankan kewajiban tersebut meski harus mengorbankan harta, jiwanya dan jiwa kerabatnya.

Sejak awal Imam Husain as telah menyadari bahaya yang akan menimpa agama Rasulullah saw. Oleh karena itu saat beliau diminta Marwan untuk membai’at Yazid, beliau berkata: “Inna lillah wa Inna Ilaihi Raji’un… Islam bakal tamat dengan adanya seseorang seperti Yazid.”[7] Beliau juga pernah berkata: “Apakah kalian tidak melihat? Kini kebenaran tidak lagi dilakukan dan kebatilan tidak dicegah sama sekali. Dalam keadaan seperti ini orang yang beriman harus merelakan nyawanya dan mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan.”[8]

Di depan bahaya besar inilah Imam Husain as harus bangkit dan membela agama kakeknya.

B. Jawaban kedua dapat dijelaskan begini: Bagi Syi’ah, salah satu dalil diperbolehkannya mengerjakan suatu pekerjaan secara syar’i adalah perbuatan dan perkataan nabi dan para imam maksum. Kita menjadikan sunah mereka sebagai hujjah dan bukti. Oleh karena itu dengan melihat perjuangan Imam Husain as kita dapat menyimpulkan bahwa “tidak selamanya” Amar Makruf Nahi Munkar yang berbahaya itu “tidak wajib”, buktinya adalah Imam Husain as sendiri yang melakukannya. Dengan demikian jelas sudah bahwa jika ada kemaslahatan yang lebih besar, maka Amar Makruf Nahi Munkar tidak boleh ditinggalkan, meskipun mengancam harta dan nyawa kita. Dengan demikian kadang kala Amar Makruf Nahi Munkar merupakan suatu kewajiban yang secara pasti harus dilakukan meski seperti apapun bahayanya.

Murtadha Muthahari berkata:

“Kewajiban Amar Makruf Nahi Munkar selama tidak menimbulkan bahaya sangat jelas sekali dan semua menerimanya. Namun ketika menimbulkan bahaya, mulailah banyak yang berhenti sampai situ saja dan dengan mudahnya mengatakan bahwa kewajiban tersebut gugur karena bakal menimbulkan bahaya jika dilakukan. Padahal dengan cara berfikir seperti ini mereka secara tidak langsung telah melunturkan nilai kewajiban mulia ini. Sebagian yang lain benar berkata bahwa kewajiban Amar Makruf Nahi Munkar tidak seperti yang dibayangkan oleh kebanyakan orang. Ya, memang jika kewajiban itu berkaitan dengan masalah kecil namun beresiko bahaya besar maka kewajiban itu gugur. Namun jika Amar Makruf Nahi Munkar berkenaan dengan Al-Qur’an dan Islam, maka seperti apapun bahayanya kita tetap wajib menjalankannya…”[9]

Kesimpulannya

Tujuan utama Imam Husain as berjuang di Karbala adalah untuk melakukan Amar Makruf Nahi Munkar demi terjaganya inti agama dan sunah nabi, yang mana hal itu adalah perkara yang sangat penting dalam agama. Beliau bertekat melawan Yazid karena saat itu Islam berada di ambang kehancuran. Oleh karenanya tak ada jalan lain bagi beliau selain menjalankan tugas mulia Amar Makruf Nahi Munkar dan kaidah “Laa Dharar” tidak berlaku di situ.

Menurut para fakih pun juga jelas bahwa jika Amar Makruf Nahi Munkar berkenaan dengan hal yang sangat penting sekali dalam agama, maka kewajiban itu harus dijalankan meski harus dengan cara mengorbankan nyawa. Seperti itulah kenyataan tragedi Karbala.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Murtadha Muthahari, Majmo’e e Asar, jil. 17.

2. Muhammad Taqi Ja’fari, Imam Husain as Syahid e Pishro e Farhang e Ensoniyat.

3. Porsesh ha va Pasokh ha ye Daneshjooee, Lembaga Perwakilan Rahbar di Universitas, jil. 13.

Hadits akhir:

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa melakukan Amar Makruf Nahi Munkar maka ia menjadi khalifah Allah swt dan nabi-Nya di muka bumi.”[10]


[1] “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali-Imran [3]:110)

[2] Imam Shadiq as berkata: “Sesungguhnya Amar Makruf Nahi Munkar adalah jalan para nabi, cara kaum saleh, kewajiban agung yang mana dengannya-lah kewajiban-kewajiban yang lain terlaksana.” (Wasailus Syi’ah, jil. 11, hal. 395)

[3] Tawdhih Al-Masail Maraji’, jil. 2, hal. 756.

[4] Murtadha Muthahari, Majmoe e Asar, jil. 17, hal. 241.

[5] Ibid, hal. 757.

[6] Tahrir Al-Wasilah, jil. 1, hal. 472.

[7] A’yan Asy-Syi’ah, jil. 2, hal. 2; Ibnu Nama Hilli, Matsir Al-Ahzan, hal. 25 dan 26.

[8] Biharul Anwar, jil. 2, hal. 192.

[9] Majmo’e e Asar, jil. 17, hal. 267.

[10] Mustadrak Al-Wasail, jil. 12, hal. 179, nomor 13817.

Peran para wanita dan anak-anak di Karbala

Padahal Imam Husain as tahu bahwa ia bakal terbunuh di Karbala. Lalu mengapa beliau membawa keluarganya? Kalau hanya untuk menyampaikan pesan Asyura kepada orang lain, beliau sudah membawa Imam Sajjad as dan ia telah melakukan tugas itu. Lalu untuk apa beliau masih membawa Ali Asghar yang masih bayi?

 

Pada dasarnya ada dua pertanyaan:

1. Apa tujuan Imam Husain as membawa wanita dan anak-anak ke Karbala?

2. Apa peran wanita dan anak-anak dalam peristiwa Asyura?

Jawaban pertanyaan pertama

Para ahli sejarah menjelaskan beberapa alasan:

A. Sudah menjadi kebiasaan orang-orang Arab untuk membawa anak istri mereka dalam perjalanan-perjalanan panjang dan peperangan, yang tujuannya adalah membuktikan tekat yang kuat. Berdasarkan kebiasan itu, dengan membawa keluarganya, Imam Husain as ingin mengajak sahabat-sahabatnya untuk berkorban demi Islam meski dengan harta dan jiwa baik diri maupun anak istri. Di sisi lain, orang-orang yang menolong Imam Husain as, jika mereka menolongnya di tengah-tengah keluarganya, hal itu lebih baik; sebagaimana membiarkan beliau di tengah-tengah keluarganya adalah tidak baik.[1]

B. Ada kemungkinannya jika beliau meninggalkan keluarganya di Madinah maka keluarga beliau lebih terancam bahaya.[2] Karena jika beiau tidak membawa keluarganya, bisa jadi Bani Umayah menawan keluarga beliau lalu memaksa Imam Husain as untuk membai’at Yazid demi dibebaskannya anak dan istrinya. Kalau begitu hanya ada dua pilihan bagi Imam Husain as: Menyerah demi membebaskan keluarganya, atau meneruskan perjalanannya dan membiarkan keluarganya terseiksa; dan kedua pilihan itu sangat merugikan bagi beliau dan perjuangannya akan berakhir sia-sia.

C. Sebagaimana yang dapat difahami dari beberapa riwayat, perjuangan Imam Husain as berdasarkan tugas Ilahi, dan membawa keluarga dalam perjuangan tersebut adalah penyempurnanya. Dengan cara itu beliau dapat menyingkap kedok kebusukan Bani Umayah dan mencegah mereka melunturkan nilai-nilai Islam. Hal itu dapat kita fahami dari ucapan beliau sendiri saat berkata kepada Muhammad Hanafiah: “Setelah engkau pergi, aku bermimpi melihat Rasulullah saw berkata kepadaku: “Wahai Husain! Pergilah ke Iraq. Karena Tuhan berkehendak untuk menyaksikanmu terbunuh di jalan-Nya.”” Lalu Muhammad Hanafiah membaca ayat “Inna lillah…” kemudian bertanya mengapa beliau harus membawa keluarganya? Imam as menjawab: “Tentang mereka pun aku juga diberi tahu bahwa Tuhan telah berkehendak melihat mereka ditawan.”[3]

Imam Husain as menyadari bahwa terbunuhnya dia dan ditawannya keluarganya adalah keridhaan Allah swt. Oleh karena itu beliau membawa keluarganya bersamanya ke Iraq dan dengan perjalanan itulah mereka mengukir sejarah. Alasan ini lebih ditekankan oleh ulama kita.[4]

Lalu timbullah pertanyaan berikutnya: Apa peran para wanita dan anak-anak di peristiwa Asyura?

Jawaban pertanyaan kedua

Salah satu alasan mengapa beliau membawa para wanita dan anak-anak adalah tugas yang mereka jalankan pasca Asyura. Jadi dapat dijelaskan bahwa perjuangan Imam Husain as memiliki dua fase: Fase pertama adalah perjuangan dan pengorbanan beliau dan sahabat-sahabatnya; fase kedua adalah penyampaian pesan Karbala yang dijalankan oleh para wanita dan anak-anak.

Oleh karena itu kita dapat menjelaskan peranan para wanita dan anak-anak di Karbala dengan penjelasan ini:

Menyampaikan pesan

Sejarah mencatat bahwa sering kali kaum wanita memiliki peranan penting di samping kaum lelaki. Kita sendiri telah menyaksikan peran Khadijah as bersama Rasulullah saw, Fathimah Azzahra as bersama Imam Ali as, dan Zainab as bersama Imam Husain as.

Tragedi Karbala hingga sore Asyura adalah fase pertama perjuangan Husaini; yang berisi dengan tertumpahnya darah Imam Husain as dan para sahabatnya. Setelah itu dimulailah fase kedua yang dilakoni oleh Imam Sajjad as dan Zainab as. Mereka dengan lantang meneriakkan pesan-pesan Husaini kepada penduduk Syam yang selama ini termakan propaganda Bani Umayah. Selama ditawan oleh Bani Umayah, Imam Sajjad as dan Zainab as terus berusaha menjelaskan kepada semua orang siapa sebenarnya Bani Umayyah dan menyingkap kedoknya.

Memerangi propaganda Bani Umayah dan mengenalkan Ahlul Bait as

Semenjak Syam dikuasai umat Islam, pemerintahan negeri itu berada di tangan orang-orang seperti Khalid bin Walid dan Mu’awiyah. Selama itu penduduk negeri itu tidak terlalu banyak tahu tentang Islam sebenarnya, tidak pernah mendengarkan perkataan nabi dan juga sahabat-sahabatnya sebagaimana penduduk Madinah.

Menurut sebagian sejarawan, ada sekitar 113 sahabat yang ikut memenangkan Syam lalu tinggal di sana. Namun mereka tidak terlalu mengenal Rasulullah saw dan hanya hidup sebentar dengan beliau. Hanya satu atau dua hadits yang mereka riwayatkan dari nabi.

Sampai masa kebangkitan Imam Husain as, hanya sebelas orang dari mereka yang masih hidup. Mereka sudah berusia lanjut, sekitar delapan puluh tahunan, itupun mereka hidup dengan cara mengasingkan diri. Oleh karenanya kebanyakan masyarakat Syam tidak tahu menahu tentang Islam yang sebenarnya.[5]

Mu’awiyah telah memerintah di Syam selama hampir empat puluh dua tahun dan selalu berusaha menjauhkan masyarakat dari Islam yang sebenarnya. Dengan caranya memerintah ia berhasil menundukkan semua orang hingga tak ada yang berani menentangnya.[6]

Dalam pemerintahan Bani Umayah masyarakat telah termakan propaganda pemerintah. Keluarga nabi (Ahlul Bait as) disebut-sebut sebagai musuh agar dibenci, dan mereka (Bani Umayah) menganggap dirinya sebagai keluarga dekat nabi yang setia. Sebenarnya hal itu terus berlangsung hingga berdirinya pemerintahan Abul Abbas Saffah (khalifah pertama Bani Abbas), sampai-sampai puluhan pejabat Syam bersumpah bahwa selama ini mereka tidak tahu bahwa Rasulullah saw memiliki keluarga selain Bani Umayah.[7]

Oleh karenanya tidak mengherankan saat rombongan tawanan keluarga Imam Husain as digiring seseorang berdiri di hadapan mereka dan berkata: “Puji Tuhan yang telah membunuh kalian dan menyelamatkan kami dari bahaya kalian.” Imam Sajjad as diam sejenak lalu membaca ayat: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab [33]:33) Lalu beliau berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan kami.” Akhirnya lelaki itu terkejut dan sadar bahwa tawanan-tawanan tersebut bukanlah musuh, namun Ahlul Bait yang sebenarnya. Akhirnya pun ia bertaubat.[8]

Dengan usaha Imam Sajjad as dan Zainab as yang mendatangi penduduk Syam dari rumah ke rumah, akhirnya propaganda Bani Umayah telah luntur dan Ahlul Bait as yang sebenarnya telah dikenalkan.

Mencegah melencengnya pesan-pesan Asyura

Sebagaimana Bani Umayah menipu masyarakat dengan mengenalkan Ahlul Bait as sebagai musuh Islam, mereka juga menganggap perjuangan Imam Husain as di Karbala adalah usaha pemberontakan terhadap pemerintah serta menyebut beliau sebagai orang murtad. Oleh karenanya, atas keyakinan itulah kebanyakan tentara Bani Umayah memerangi Imam Husain. Namun saat Imam Sajjad as dan Zainab as ditawan, mereka memiliki kesempatan yang cukup untuk menjelaskan kenyataan yang sebenarnya. Jika kita menyaksikan khutbah-khutbah Imam Sajjad as dan Zainab as, kita akan fahami bahwa kandungannya kurang lebih adalah menyalahkan Bani Umayah, penduduk Kufah, mengenalkan Imam Husain as dan menjaga agar pesan-pesan Asyura tidak dilencengkan. Syahid Dastegheib berkata: “Jika tidak ada Zainab as dan anak-anak kecil di Karbala, Bani Umayah pasti sudah melunturkan nilai-nilai perjuangan Imam Husain as di Karbala. Fakta dan kebenaran akan terus menerus tersembunyi. Apa lagi saat itu susah sekali untuk menyampaikan pesan kebenaran dan musuh terus berusaha memutar balikkan fakta.”[9]

Menyingkap kedok kaum zalim

Keadaan dizalimi adalah salah satu faktor yang efektif dalam menyampaikan pesan kepada orang lain. Karena secara alamiah manusia sangat membenci kezaliman dan kejahatan. Buktinya hingga sampai saat ini gelora api perjuangan Imam Husain as terus membara di hati orang-orang yang beriman.

Peran para tahanan, yang tidak memiliki senjata dan pertahanan, dengan cara kejam dang bengis dipukul dan dilukai, dihina, apa lagi anak-anak kecil yang terbunuh, semuanya sangat meluluhkan hati. Terbunuhnya anak berusia beberapa tahun di samping jasad Imam Husain as, terpotongnya leher Ali Ashghar dalam keadaan kehausan di pelukan ayahnya, dibakarnya kemah-kemah anak istri cucu nabi, semuanya menyampaikan pesan kebenaran kepada kita dan menjelaskan betapa busuknya pemerintahan Bani Umayah.

Jika hanya kaum lelaki saja yang ada dalam tragedi pengorbanan itu, semua pasti berbicara bahwa itu adalah hal biasa. Karena lelaki memang terbiasa berperang. Namun ketika para wanita dan anak-anak juga menjadi korban, tidak ada yang bisa bertahan mendengar kisah tragedi itu. Dengan demikian tragedi Asyura menjadi lebih berdampak di hati setiap pendengarnya.

Jadi, alasan Imam Husain as membawa wanita dan anak-anak adalah:

1. Para wanita dan anak-anak dapat menyampaikan pesan.

2. Kurang lebih musuh tidak dapat menyerang mereka. Karena jika mereka sampai terluka, maka mereka akan dikecam sepanjang sejarah.

3. Dari segi irfani, Imam Husain as telah mempersembahkan segala miliknya tanpa kurang sedikitpun di jalan Tuhan dengan penuh keikhlasan. Buah keikhlasan itu adalah kekalnya tragedi Asyura di sepanjang jaman dan efeknya bagi umat Islam dan selainnya.

Referensi untuk mengkaji lebih jauh:

1. Sayid Ja’far Syahidi, Qiyam e Emam Husain.

2. Muhammad Ibrahim Ayati, Barresi e Tarikh e Asyura.

3. Syahid Murtadha Muthahari, Homase e Husaini.

4. Muhammad Shadiq Najmi, Sokhanan e Emam Husain bin Ali Az Madine ta Karbala.

Hadits akhir:

Imam Husain as di hari Asyura berkata: “Demi Tuhan! Aku tidak akan berlutut hina di depan kalian dan aku takkan lari bagai budak-budak dari kalian!”[10]


[1] Abbas Mahmud ‘Iqad, Abu Syuhada Al-Imam Husain, hal. 136.

[2] Syaikh Abdul Wahhab Kasyi, Ma’satul Husain Baina As-Sa’il wal Mujib, hal. 78 dan 79.

[3] Sayid Ibnu Thawus, Al-Luhuf fi Qatl Ath-Thufuf, hal. 94; Biharul Anwar, jil. 44, hal. 364.

[4] Murtadha Muthahari, Homase e Husaini, jil. 1, hal. 272; Sayid Abdul Husain Dastegheib, Sayidus Syuhada, hal. 177.

[5] Syahid Ja’far Shahidi, Qiyam e Emam Husain, hal. 185.

[6] Muhammad Ibrahim Ayati, Barresi e Tarikh e Asyura, hal. 47.

[7] Ibnu Abil Hadid, Syarah Nahjul Balaghah, jil. 7, hal. 159.

[8] Khwarazmi, Maqtal Al-Husain, jil. 2, hal. 61; Luhuf, hal. 237-239.

[9] Abdul Husain Dastegheib, Sayid Asy Syuhada, hal. 177.

[10] Al-Irsyad, hal. 235.

keadilan Tuhan versi syi’ah

Keadilan Tuhan dan perbedaan-perbedaan dalam ciptaan-Nya

Pada ayat 32, surat An-Nisa’ [4] kita membaca, “Janganlah Kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih baik dari sebagian yang lain.”

Dengan memperhatikan ayat suci ini, banyak di antara kita bertanya, mengapa sebagian orang memiliki bakat lebih dan bakat sebagian lainnya kurang, sebagaian rupawan dan sebagian lagi tidak demikian. Ada sebagian orang yang kuat tubuhnya,ada pula yang tubuhnya biasa-biasa saja. Apakah perbedaan natural ini sejalan dengan prinsip keadilan?

Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan dua poin di bawah ini.

1. Bagian pertama dari perbedaan antara raga dan ruh manusia merupakan akibat dari perbedaan strata dan kezaliman kehidupan sosial, atau sikap menganggap remeh setiap orang, dan sama sekali tidak berhubungan dengan dunia penciptaan. Umpamanya, kebanyakan putra-putri kaum hartawan dibandingkan dengan putra-putri kaum miskin, baik dari sudut pandang jasmani, lebih indah dan lebih kuat, juga dari sisi potensi dan talenta lebih besar. Semua ini dikarenakan mereka mendapatkan makanan dan kesehatan yang memadai, sementara putra-putri orang miskin berada dalam keserbakurangan. Atau sebagian orang karena sikap malas dan acuh tak acuhnya, kekuatan jasmani dan ruhnya sirna begitu saja. Perbedaan-perbedaan ini harus diyakini sebagai “perbedaan-perbedaan rekaan (diciptakan) dan tanpa dalil”. Dengan hilangnya sistem strata yang korup, pengadaan keadilan sosial juga akan sirna, dan Islam dan AI-Qur’an tidak menyetujui perbedaan-perbedaan semacam ini.

2. Bagian lain dari perbedaan itu bersifat natural dan suatu kelaziman penciptaan manusia. Maksudnya, sekiranya sebuah masyarakat bersinggungan dengan keadilan sosial secara sempurna, setiap anggotanya ibarat sebuah pabrik; produknya tidak akan berbentuk dan bercorak sama. Tentu saja masing-masing akan memiliki kperbedaan dan keunikan yang khas. Namun, harus diketahui bahwa galibnya, anugerah-anugerah Ilahi, potensi jasmani dan ruhani manusia sedemikian sudah dibagikan kepada mereka sehingga masing-masing memiliki bagian-bagian tertentu dari potensi ruh dan jasmani tersebut. Maksudnya, sangat jarang dijumpai anugerah-anugerah Ilahi ini terdapat pada satu tempat atau satu orang. Sebagian memiliki kekuatan badan yang kuat, sebagian memiliki potensi dan talenta matematika yang baik, sebagian memiliki bakat bersyair, dan sebagian lainnya menyukai bidang perniagaan, sebagian peduli pada bidang agrikultur. Alhasil, setiap orang memiliki potensi dan talenta yang khas. Yang penting adalah masyarakat atau individu harus menemukan potensi dan talentanya tersebut serta membinanya dalam lingkungan yang sehat, sehingga setiap orang dapat menunjukkan dan mengeksplorasi kekuatannya.

Subjek ini juga harus diingat bahwa sebuah masyarakat ibarat sebuah raga manusia yang memerlukan tekstur-tekstur, urat dan sel-sel yang beraneka ragam. Maksudnya, sekiranya satu badan, seluruh sel-sel subtil dibuat seperti sel-sel mata dan otak, maka keberadaannya tidak akan berlangsung lama. Atau apabila seluruh sel-sel itu keras dan tidak fleksibel sebagaimana sel-sel tulang, dia tidak dapat melakukan pekerjaan yang memikul tanggungjawab yang beragam. Akan tetapi, seluruh sel-sel yang ada pada diri manusia harus dibentuk dari sel-sel yang beragam. Setiap sel memiliki tugas khusus; ada yang memiliki tugas berpikir, yang lainnya memiliki tugas melihat, tugas mendengarkan, tugas berkata-kata.

Demikian juga untuk mewujudkan sebuah masyarakat yang sempurna diperlukan potensi-potensi, talenta-talenta dan struktur raga dan pikiran yang beragam. Namun, hal ini tidak berarti bahwa sebagian anggota masyarakat harus menjalani hidupnya di bawah garis kemiskinan, atau pelayanan mereka tidak dianggap khidmat yang besar atau malah dihina. Sebagaimana sel-sel yang ada pada tubuh dengan perbedaan-perbedaan yang dimilikinya, semuanya mendapatkan manfaat dari makanan dan udara serta kebutuhan-kebutuhan lainnya sesuai dengan kapasitasnya.

Dengan kata lain, perbedaan struktur ruh dan jasmani pada bagian-bagian yang bersifat natural (bukan karena kekuatan paksa) menuntut kemahabijaksanaan (hikmah) Sang Pencipta, dan keadilan Ilahi tidak dapat dipisahkan dari kemahabijaksanaan Ilahi tersebut. Seperti contoh, sekiranya seluruh sel-sel badan manusia diciptakan dalam satu bentuk, hal itu tidak sesuai dengan kemahablJaksanaan Ilahi, begitu pula keadilan -yang bermakna menempatkan segala sesuatu pada tempat yang selayaknya- tidak akan pernah terwujud. Demikian juga apabila suatu hari, seluruh masyararakat berpikiran yang sama dan memiliki potensi yang sama, pada hari itu Juga kondisi mereka akan mengalami kekacauan.[1]


[1] Tafsir Nemuneh,  jilid 3, hal. 365.

Keadilan di balik hukuman abadi di neraka

Di dalam surat Hud [11], ayat 106 kita membaca, “Adapun orang-orangyang celaka, maka [tempatnya] di dalam neraka. Di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas [dengan merintih]. Mereka kekal di dalamnya…. “

Dengan menyimak ayat suci di atas, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana kita dapat menerima manusia yang selama hidupnya -maksimal usianya seratus tahun, misalnya-melakukan pekerjaan buruk, dan lenyap dalam kekufuran dan dosa namun usia seratus tahun ini harus dibayar dengan siksa, seribu tahun?

Mereka yang mengajukan pertanyaan ini lalai akan satu poin penting, yaitu perbedaan antara hukuman konvensional dan hukuman penciptaan yang merupakan hasil dari rangkaian realitas perbuatan dan kehidupan.

Penjelasan

Terkadang pembuat hukum merumuskan sebuah hukum sehingga setiap orang yang melanggarnya harus membayar tebusan uang dalam jumlah tertentu, atau harus berdiam di dalam penjara selama beberapa waktu. Tentu, dalam asumsi seperti itu kesesuaian antara pelanggaran dan hukuman harus diperhatikan. Hanya lantaran pelanggaran kecil, ia tidak akan dieksekusi atau mendapatkan hukuman abadi. Dan sebaliknya, karena perbuatan seperti membunuh, lalu ia dikenakan hukuman sehari penjara saja, hukuman seperti ini tidaklah memiliki arti baginya. Hikmah dan keadilan menjawab bahwa kedua hukuman ini harus setimpal.

Akan tetapi, hukuman yang pada hakikatnya adalah efek natural sebuah perbuatan dan termasuk tipologi penciptaan, atau hasil langsung perbuatan tersebut di hadapan manusia, ia tidak menerima asumsi tersebut di atas baik dalam kaitannya dengan efek-efek perbuatan di alam dunia ini ataupun di alam yang lain.

Contoh, seseorang melanggar aturan lalu-lintas; melaju melebihi batas kecepatan yang telah ditentukan, berlomba tanpa sebab, dan melintas zona terlarang. Barangkali karena beberapa kali melanggar aturan ia mengalami tabrakan dan patah tangan serta kakinya, atau akan menderita kelumpuhan seusia hidupnya. Resiko buruk akibat sebuah kesalahan kecil ini jelas tidak mencerminnkan keadilan (jika ditinjau dari sisi hukuman konvensional). Tapi hal ini tidak berasal dari hukuman-hukuman konvensional lalu-lintas jalan raya yang di dalamnya keseimbangan antara pelanggaran dan hukuman harus mendapatkan perhatian. Kondisi ini merupakan dampak alami dari perbuatan yang secara sadar dilakukan oleh manusia. Dan ia sendirilah yang membuat dirinya terpuruk ke dalam kondisi tersebut.

Demikian juga ketika dianjurkan kepada Anda agar jangan mengkonsumsi minuman-minuman beralkohol atau bahan-bahan psikotropika lainnya. Lantaran dalam waktu yang singkat, semua jenis minuman itu akan mengoyak hati, perut, otak dan syaraf Anda. Kini sekiranya Anda mengkonsumsinya, niscaya Anda akan menderita syaraf lemah, penyakit-penyakit hati, perut luka dan kerusakan pembuluh darah. Hanya beberapa hari menuruti hawa nafsu, Anda terpaksa menjalani sisa hidup Anda di dalam siksa yang pedih. Di sini tak seorang pun akan keberatan dengan ketidak seimbangan pelanggaran dan hukuman tersebut.

Tentang banyaknya azab dan hukuman kehidupan ukhrawi adalah masalah yang melebihi masalah duniawi. Dampak-dampak riel sebuah perbuatan dan hasil-hasil pembawa mautnya barangkali senantiasa bersandar kepada manusia. Perbuatan-perbuatan itu sendirilah nanti yang akan menjelma di hadapan manusia (tajassum al-a’mal). Dan lantaran kehidupan alam sana adalah kehidupan abadi, perbuatan baik dan buruk juga abadi .

Sebelumnya telah kami singgung bahwa hukuman dan siksa pada Hari Kiamat memiliki dampak riel yang lebih kuat. Al-Qur’an berfirman, “Dan nyatalah bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka diliputi oleh [azab] yang mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS. al-Jatsiyah [45]: 33)

Al-Qur’an juga berfirman, “…dan kamu tidak dibalas kecualii dengan apa yang telah Kamu kerjakan.” (QS. Yasin [36]: 54)

Muatan ayat ini, kendati terdapat sedikit perbedaan, juga terkandung dalam ayat-ayat yang lain.

Dengan demikian, ruang untuk pertanyaan ini tidak tersisa lagi, bahwa mengapa kesetimbangan antara hukuman dan pelanggaran tidak diperhatikan?

Manusia harus terbang dengan dua sayap iman dan amal saleh demi mendapatkan kenikmatan surgawi dan kebahagiaan berada di hadirat Tuhan Yang Mahakuasa. Kini, dengan menuruti hawa nafsu barang sedetik atau seratus tahun lamanya, ia telah mematahkan kedua sayapnya sendiri dan untuk selamanya ia harus menderita dalam kehinaan. Di sini, aspek ruang dan waktu, serta ukuran pelanggaran tidak menjadi pokok persoalan. Yang menjadi tolok ukur adalah sebab dan akibat serta dampak lama dan singkatnya. Sebuah korek kecil boleh jadi dapat membakar seisi kota. Dan dengan menanam satu gram duri, barangkali setelah beberapa waktu, sahara yang luas penuh dengan duri dan dapat menggangu manusia selamanya. Demikian juga dengan menanam satu gram bunga, barangkali dengan berlalunya sang waktu, akan tercipta sahara yang dihiasi bunga-bunga yang begitu indah mewangi sehingga semerbak baunya menggairahkan jiwa dan memuaskan hati.

Kini sekiranya seseorang bertanya apa keseimbangan antara sebatang korek dengan terbakarnya sebuah kota, dan antara beberapa tanaman kecil dengan sebuah sahara duri. Maka, perbuatan-perbuatan baik dan buruk juga demikian adanya. Dan barangkali dampak keabadian yang teramat panjang menjadi kenangan dan memori baginya. (perhatikan baik-baik)

Masalah yang penting di sini adalah, para nabi besar dan washi Ilahi telah memberikan peringatan kepada kita bahwa dampak maksiat dan dosa ini adalah azab yang abadi, dan dampak ketaatan dan kebajikan adalah kenikmatan abadi. Persis seperti para penjaga taman yang telah menjelaskan kepada kita dampak keluasan tanaman berduri dan bunga tersebut. Dan kita sendiri dengan sadar yang memilih jalan ini.

Di sini kepada siapa kita harus ajukan keberatan dan kesalahan slapa yang harus kita cari, serta hukum mana yang kita harus protes, selain pada diri kita sendiri?[1]


[1] Tafsir-e Payam-e Qur’an, jilid 6, hal. 501.

Tuhan menyesatkan dan memberi petunjuk?

Hidayah secara leksikal berarti petunjuk disertai dengan perhatian.[1] Hidayah ini terbagi kepada dua; menunjukkan jalan dan menyampaikan sesuatu ke tujuannya secara langsung, atau dengan ungkapan lain; hidayah tasyri’i dan hidayah takwini.[2]

Penjelasan

Tatkala seseorang menunjukkan jalan kepada orang yang sedang mencari sebuah alamat, terkadang ia menunjukkan alamat tersebut dengan lengkap; disertai dengan seluruh kriterianya. Akan tetapi, untuk menempuh jalan dan menuju ke tempat tujuannya ia serahkan kepada si pencari alamat tersebut. Namun, terkadang ia mengambil tangannya, dan sambil menunjukkan jalan, ia juga mengantarkannya hingga mencapai tempat tujuannya.

Dengan kata lain, pada cara pertama, yang dijelaskan hanya aturan (qanun), syarat-syarat untuk menempuh jalan dan mencapai tujuan. Namun, pada cara kedua, selain hal tersebut segala sarana perjalanan juga dipersiapkan; menyingkirkan segala rintangan, mencari solusi atas masalah-masalah yang ada, dan membantu serta menjaga para pencari hingga mencapai tujuan.

Tentu saja, lawan dari hidayah adalah kesesatan (dhalalah).

Secara global, permasalahan ini akan menjadi jelas dengan menilik ayat-ayat Al-Qur’an. Al-Qur’an menyatakan bahwa petunjuk dan kesesatan adalah perbuatan Tuhan. Dan keduanya dinisbahkan kepada Tuhan. Dan sekiranya kita ingin membahas seluruh ayat yang menyinggung perkara ini, tentu memerlukan waktu yang panjang. Kami kira sudah memadai jika kita renungkan dua ayat berikut ini:

“Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki.” (QS. Al-Baqarah [2]: 213).

“… tetapi, Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki.” (QS. An-Nahl [16]: 93)

Kita juga akan menjumpai ayat-ayat yang mengisyaratkan petunjuk (hidayah) dan kesesatan (dhalalah) yang serupa dengan redaksi kedua ayat di atas.[3]

Dan selain itu, sebagian ayat Al-Qur’an dengan gamblang menafikan hidayah dari sisi Nabi saw. dan menisbahkannya hanya kepada Allah Swt. semata.

“Sesungguhnya engkau sekali-kali tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang engkau cintai, melainkan Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki.” (QS. Al-Qashash [28]: 56)

“… Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk. Akan tetapi, Allahlah yang memberikan petunjuk [memberi taufik] kepada siapa yang dikehendaki …. (QS. AI¬Baqarah [2]: 272)

Menelaah hanya pada permukaan ayat-ayat ini dan tidak menyentuh makna ayat tersebut telah menyebabkan sekelompok orang -dalam menafsirkan ayat-ayat ini- terjerembab ke dalam kesesatan, dan menyimpang dari jalan petunjuk serta terperosok dalam Determinisme (jabr). Bahkan, sebagian mufassir terkenal tidak lepas dari petaka ini dan terjatuh ke dalam kesalahan yang fatal. Ia meyakini bahwa urusan petunjuk dan kesesatan dengan segenap tingkatannya merupakan bentuk Determinisme.

Anehnya, lantaran kontradiksi pekercayaan ini dengan prinsip Keadilan dan Hikmah Ilahi, mereka memberikan preferensi yang mengingkari keadilan secara terang-terangan.

Pada prinsipnya bahwa seandainya kita terima Determinisme, maka makna taklif, tanggung-Jawab, pengutusan para rasul dan penurunan kitab-kitab samawi tidak lagi berarti.

Akan tetapi, pendukung paham kebebasan penuh (ikhtiyar) percaya bahwa tidak satu pun akal sehat yang dapat menerima asumsi bahwa Allah Swt. memaksa mereka untuk mengambil jalan kesesatan, dan setelah itu -karena keterpaksaan ini- mereka harus menerima hukuman. Atau ada sekelompok manusia yang telah diberi petunjuk dan setelah itu, tanpa alasan mereka diganjar pahala, padahal keistimewaan yang mereka dapatkan ini bukan karena amalan yang mereka lakukan.

Atas dasar paham inilah memilih cara-cara lain dalam menafsirkan ayat-ayat tersebut.

Penafsiran yang akurat dan relevan dengan seluruh ayat-ayat ihwal petunjuk dan kesesatan adalah penafsiran yang tidak sedikit pun berselisih dengan makna lahiriah ayat-ayat berikut ini:

Hidayah tasyri’i bermakna menunjukkan jalan secara umum tanpa adanya syarat dan ikatan. Sebagaimana ayat yang berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepada mereka jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pulayang kafir.” (QS. Ad-Dahr: 3) “… dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura [42]: 52) Sangat jelas bahwa ajakan nabi ini adalah kepanjangan ajakan Tuhan, karena apa saja yang dimiliki oleh Nabi berasal dari-Nya.

Tentang kaum musyrikin dan sekelompok orang yang tersesat, Allah Swt. berfirman, “… dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm [53]: 23)

Adapun hidayah takwini bermakna menyampaikan (ishal) ke tujuan dan menuntun tangan para hamba sehingga mereka dapat menempuh jalan yang berliku, serta menjaga dan menolong mereka hingga sampai di ambang keselamatan.

Hidayah takwint ini menjadi topik pembahasan dalam banyak ayat yang lain tanpa adanya kait dan syarat. Hidayah ini khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Dan kesesatan yang berarti sebagai lawan dari hidayah, khusus bagi orang-orang yang ciri-ciri khas mereka juga telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an.

Kendati sebagian ayat-ayat ini bersifat mutlak, namun banyak pula ayat-ayat yang menjelaskan kait dan syaratnya secara teliti. Dan ketika ayat-ayat yang berkait (muqayyad) dan mutlak ini bersanding satu dengan yang lainnya, permasalahannya akan menjadi sangat jelas dan tidak tersisa lagi sedikit pun keraguan dan ambiguitas. Ayat-ayat ini tidak hanya tidak bertentangan dengan masalah kebebasan manusia, akan tetapi justru menekankannya.

Kini perhatikan baik-baik penjelasan di bawah ini!

Allah Swt berfirman: “… dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu [pula] banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada orang yang disesatkan Allah kecuali orang-orang fasik. “(QS. Al-Baqarah [2]: 26)

Ayat ini menyitir sumber kesesatan, kefasikan dan keluarnya mereka dari ketaatan dan perintah Allah Swt.

Pada kesempatan yang lain, Allah Swt. berfirman, “…dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.” (QS. AI¬Baqarah [2]: 258)

Ayat ini menerangkan masalah kezaliman (tirani dan despotisme) yang kemudian menjadi lahan tumbuhnya kesesatan.

Pada kesempatan ketiga, kita membaca, “…dan Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orangyang kafir.” (QS. al¬Baqarah [2]: 264)

Di dalam ayat ini dijelaskan ihwal kekufuran yang menjadi ladang berseminya kesesatan.

Di dalam ayat yang lain Allah berfirman: “…sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. az-Zumar [39]: 3)

Di dalam ayat ini juga berdusta dan kekafiran disebutkan sebagai awal kesesatan.

Dan di tempat lain disebutkan, “…sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang berlebih-lebihan lagi pendusta.” (QS. al-Ghafir [40]: 28) Maksudnya adalah bahwa perbuatan berlebih-lebihan dan berkata dusta menjadi penyebab kesesatan.

Tentu saja, apa yang telah kami sebutkan di sini hanyalah sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an yang bersangkutan dengan dengan pembahasan ini. Sebagian lainnya dengan redaksi yang sama banyak disebutkan secara berulang-ulang di dalam AI-Qur’an.

Konklusinya, penegasan Al-Qur’an bahwa kesesatan hanya berasal dari Allah Swt. semata, hanya khusus bagi orang-orang yang memiliki kriteria kufur, tirani, fasik, dusta, berlebih-lebihan, dan enggan berterima kasih.

Apakah orang-orang yang memiliki kriteria-kriteria seperti ini tidak pantas mendapatkan kesesatan?

Dengan ungkapan lain, apakah terjeratnya seseorang di dalam kriteria-kriteria ini tidak akan menjadi hijab dan kegelapan di dalam hatinya?

Lebih jelas lagi, perbuatan dan kriteria yang dimiliki orang itu mau atau tidak mau akan menjadi tirai yang menutupi mata, telinga dan akalnya sehingga ia akan masuk ke dalam jurang kesesatan. Mengingat bahwa seluruh benda dan efek seluruh sebab-sebab terjadi atas perintah Allah Swt., kesesatan dalam seluruh perkara ini dapat dinisbahkan kepada Allah Swt. Namun, penisbahan ini bersemayam pada ikhtiyar dan kebebasan berkehendak manusia.

Uraian di atas ini berkenaan dengan masalah kesesatan (dhalalah). Adapun mengenai masalah petunjuk (hidayah), AI-Qur’an juga menyebutkan sifat dan syarat-syaratnya. Hal ini menunjukkan bahwa petunjuk juga bukan tanpa sebab, tidak pula bertentangan dengan hikmah Ilahi.

Sebagian dari karakteristik yang menjadikan seseorang berhak mendapatkan petunjuk dan merengkuh kasih sayang Ilahi telah disebutkan pada ayat-ayat di bawah ini:

“Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan [dengan kitab itu pula] Allah mengeluarkan orang-orang dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalanyang lurus.” (QS.AI-Maidah [5]: 16) Pada ayat ini, mengikuti perintah Allah Swt. dan merengkuh keridaan-Nya merupakan ladang berseminya petunjuk Ilahi.

“…sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya.” (QS. ar-Ra’d [13]: 27)

Di sini ditegaskan bahwa taubat dan inabah (kembali) merupakan penyebab datangnya petunjuk.

“Dan orangyang berjihad [untuk mencari keridhaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…” (QS. al-Ankabut [29]: 69)

Di sini dijelaskan bahwa jihad (kesungguhan); jihad yang tulus di jalan Allah swt adalah syarat utama petunjuk.

“Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambahkan petunjuk dan menganugrahkan ketakwaan kepada mereka.” (QS.Muhammad [47]: 17)

Di dalam ayat ini disebutkan, melintasi beberapa jalan petunjuk sebagai syarat keberlanjutan jalan ini menuju kemurahan (luthf) Allah Swt.

Konklusi dari ayat-ayat yang disebutkan di atas adalah, bahwa apabila taubat tidak datang dari para hamba, tidak mengikuti perintah-Nya, tidak berjihad dan berusaha, dan tidak melangkahkan kaki di jalan hak, maka kemurahan Ilahi tidak akan mendatangi kehidupan mereka, tidak akan menuntun tangan mereka, dan tidak akan mengantarkan mereka mencapai tujuan.

Apakah mengkhususkan petunjuk untuk orang-orang yang memiliki sifat-sifat ini merupakan hal yang tak berdasar atau termasuk determinisme?

Anda perhatikan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an dalam pembahasan ini sangat jelas dan gamblang. Orang-orang yang tidak mampu atau tidak ingin mengklasifikasikan hal-hal yang benar dari ayat-ayat petunjuk dan kesesatan telah terjebak dalam kesalahan fatal. Karena tidak melihat hakikat, terpaksa memilih Jalan fiktif. Harus diakui bahwa lahan kesesatan ini telah dipersiapkan oleh dirinya sendiri.

Bagaimanapun, kehendak (masyiyah) Ilahi pada ayat-ayat hidayah dan kesesatan bersandar kepada kehendak (kebebasan) tersebut. Kehendak Ilahi itu sama sekali tidak akan berlaku tanpa dasar dan tanpa hikmah. Tetapi pada setiap perkara, kehendak Ilahi itu memiliki syarat-syarat khusus yang selaras dengan sifat kemahabijaksanaan Ilahi.


[1] Mufradat kalimat hada.

[2] Perhatikan baik-baik! Hidayah takwini di sini bermakna luas. Termasuk setiap bentuk petunjuk selain jalan penjelasan undang-undang dan penunjukan Jalan secara langsung.

[3] Misalnya Fathir: 8, az-Zumar: 23, al-Muddatstsir: 31. al-Baqarah: 272, al-An’am: 88, Yunus: 25, ar-Ra’d: 27, dan Ibrahim: 4.

Takdir dan usaha mencari rizki

Dalam surat Ar-Ra‘d [13], ayat 26 disebutkan, “Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Ia kehendaki ….”

Dengan memperhatikan ayat ini, akan muncul sebuah pertanyaan, bagaimana korelasi antara pembagian rezeki yang dilakukan oleh Allah swt. dengan usaha manusia untuk menjalani kehidupannya?

Bukan hanya ayat ini saja yang menyebutkan bahwa banyak sedikitnya rezeki para makhluk berada di tangan Allah. Akan tetapi, banyak ayat lain di dalam Al-Qur’an yang mempunyai makna seperti ini. Dari sini bisa diketahui dengan baik bahwa Allah swt. akan meluaskan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki, dan akan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki pula. Akan tetapi, makna ini tidak berarti sebagaimana yang dilontarkan oleh sebagian orang jahil yang mengatakan bahwa kita harus berhenti melakukan usaha dan cukup duduk manis di pojok ruangan untuk menunggu apa yang akan dibagikan oleh-Nya.

Orang-orang yang memiliki pemikiran semacam ini dan menganggap bahwa agama merupakan sebuah hal yang membahayakan, pada hakikatnya mereka lalai terhadap dua hal prinsip berikut ini:

Pertama, kehendak Allah swt. sebagaimana yang telah diisyaratkan dalam ayat-ayat Al-Qur’an, bukanlah sebuah masalah kesewenangan dan tanpa perhitungan. Akan tetapi, sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya, kehendak Allah tidak akan pernah lepas dari hikmah-Nya, dan senantiasa diletakkan di atas prinsip kelayakan.

Kedua, masalah pembagian rezeki dari Allah ini tidak menafikan sebab-akibat. Karena sebab-akibat yang terdapat di alam materi ini juga merupakan kehendak Allah dan kehendakTakwînî-Nya. Dan kehendak Takwînî sama sekali tidak akan pernah terpisah dari kehendak Tasyrî’î-Nya.

Dengan kata lain, kehendak Allah swt. dalam hal perluasan dan penyempitan rezeki senantiasa bergantung dan bersyarat pada syarat-syarat yang menguasai kehidupan manusia, yaitu usaha, upaya, keikhlasan, dan kesetiaan. Sebaliknya, kemalasan, kelemahan, kepelitan, dan ketidakikhlasan mempunyai peran penentu pula di dalamnya. Berangkat dari dasar ini, Al-Qur’an berulang-ulang mengajak manusia untuk melakukan usaha, upaya dan aktifitas-aktifitasnya, karena Allah akan meletakkan keuntungan dalam kehidupan mereka sesuai dengan tolok ukur usaha dan jerih payah yang mereka lakukan.

Oleh karena itu, dalam kitab Wasâ’il Asy-Syi’ah dan hadis-hadis lain yang sangat banyak, ketika membahas masalah perdagangan, usaha dan pekerjaan. Disebutkan bahwa usaha dan kerja keras merupakan sebuah cara untuk menghasilkan rezeki.

Sebaliknya, hadis-hadis lain juga menyebutkan celaan terhadap pengangguran, orang-orang yang banyak tidur, dan pemalas. Salah satunya adalah hadis Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. yang berkata, “Ketika pada permulaan semua makhluk melakukan pernikahan, kemalasan mengikatkan tali pernikahannya dengan ketidakmampuan yang dari pertalian ini terlahir keturunan bernama kemiskinan.”

Dan dalam hadis lain, dari Imam Ash-Shadiq a.s. dinukil; beliau berkata, “Janganlah kamu bermalas-malasan dalam mencari rezeki dan memenuhi kebutuhan hidupmu, karena orang tua dan pendahulu-pendahulu kami melakukan hal ini dan mereka mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.”

Dan dalam hadis lain yang berasal dari Imam Al-Baqir a.s. dinukil; beliau bersabda, “Aku benci terhadap pria yang malas bekerja untuk dunianya. Seseorang yang malas dalam bekerja untuk dunianya (padahal hasilnya akan begitu cepat ia nikmati), maka ia akan semakin malas dalam pekerjaan akhiratnya.”

Dan demikian juga Imam Musa bin Ja’far a.s. dalam sebuah hadis berkata, “Allah membenci hambaNya yang banyak tidur dan Allah menganggap orang-orang yang menganggur sebagai musuhNya.”

Jaminan rizki vs. kelaparan

Di dalam surat Hud [11], ayat 6 disebutkan, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezeki kepadanya ….”

Dengan memperhatikan ayat di atas, timbul sebuah pertanyaan mengapa di dunia saat ini dan juga di sepanjang sejarah masih juga terdapat sekelompok manusia yang meningal karena kelaparan? Apakah ini berarti bahwa rezeki mereka belum terjamin?

Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan poin-poin berikut ini:

Pertama, jaminan terhadap rezeki bukan berarti bahwa rezeki tersebut telah diantarkan di depan pintu-pintu rumah atau dihaluskan lalu disuapkan ke dalam mulut manusia yang berakal dan mempunyai kecerdasan. Akan tetapi, yang dimaksud dengan rezeki adalah tersedianya lahan di mana usaha manusia menjadi syarat bagi terwujudnya rezeki dan lahan itu terbuka. Bahkan ketika Siti Maryam a.s. hendak melahirkan si mungil Isa a.s. di tengah gurun yang gersang, terik membakar dalam keadaan yang begitu susah, Allah swt. memanifestasikan rezekinya dalam bentuk setangkai kurma muda yang masih bergantung di pohonnya, tetap memerintahkan kepadanya dengan firman-Nya, “Dan goyangkanlah pangkal pohon kurma itu ke arahmu ….” (QS. Maryam [19]: 25)

Kedua, apabila manusia pada masa lalu maupun sekarang senantiasa merampas hak-hak orang lain dan mengambil apa yang telah menjadi rezeki orang lain secara kejam dan sewenang-wenang, hal ini bukanlah statemen terhadap ketiadaan jaminan rezeki dari Allah swt. Dengan ibarat lain, selain persoalan usaha dan upaya, wujudnya keadilan dalam komunitas masyarakat pun menjadi syarat bagi terwujudnya pembagian rezeki secara adil. Apabila mereka menanyakan, “Mengapa Allah tidak menghalangi kezaliman para pembuat kerusakan ini?”, sebagai jawaban, kami akan menegaskan bahwa prinsip kehidupan manusia terletak pada kebebasan berkehendak sehingga ia mendapatkan ujian, bukannya pemaksaan. Karena apabila tidak demikian, maka tidak akan pernah terwujud apa yang dinamakan sebagai kesempurnaan. (Perhatikan hal ini dengan cermat!).

Ketiga, terdapat begitu banyak sumber pangan untuk manusia di bumi ini yang bisa ditemukan dan dimanfaatkan dengan menggunakan otak dan ketelatenan. Apabila manusia menyepelekan persoalan ini, maka ini karena kesalahan manusia sendiri.

Tidak seharusnya kita melupakan bahwa dataran-dataran yang ada di bumi Afrika yang kebanyakan penduduknya mati karena kelaparan, pada kenyataannya, sebagian dari negara-negara tersebut merupakan daerah yang paling kaya di seluruh dunia. Akan tetapi, faktor-faktor perusak sebagaimana yang telah kami sebutkan di atas, telah membuat kehidupan mereka menjadi kelam sebagaimana yang terlihat saat ini.

Asas perbedaan penciptaan dalam ciptaan

Pertanyaan: Apa asas perbedaan penciptaan sehingga ada yang tercipta sebagai manusia, ada yang menjadi hewan dan ada yang menjadi tumbuhan? Dan apa maksud segala sesuatu tercipta berdasarkan kelayakannya?

Jawaban Global:

Alam semesta adalah sistem sempurna yang diciptakan oleh Allah swt dengan sebaik-baiknya. Setiap sesuatu di alam ciptaan ini, memiliki kedudukan dan derajatnya masing-masing. Sistem ini berdiri di atas aturan-aturan yang tak mungkin dirubah.

Kelaziman dari sistem alam semesta yang sempurna adalah adanya tingkatan-tingkatan dan derajat yang berbeda-beda pada semua makhluk. Perbedaan-perbedaan itu tidaklah diciptakan, namun merupakan kelaziman esensial makhluk-makhluk dan Tuhan menciptakan semuanya berdasarkan kelayakan-kelayakan tersebut; karena di setiap derajat dan kedudukan, hanya derajat itu saja yang dapat diterimanya.

Jawaban Detil:

Jawaban ini terdiri dari empat bagian.

Pertama: Tak diragukan bahwa alam semesta ini memiliki aturan dan aturan itu bersifat esensial. Di antara bagian-bagiannya terdapat hubungan yang hakiki; seperti urutan angka-angka. Dalam angka-angka, kita melihat bahwa angka 1 berada sebelum angka 2, dan angka 2 berada sebelum angka 3, dan angka tiga sebelu angka 4. Begitu pula setiap angka selain 1 berada di antara sebelum dan sesudah angka yang lain. Setiap angka memiliki kriteria dan derajatnya masing-masing, dan keseluruhan angka-angka yang tak terbatas ini adalah alam semesta. Sistem ini dan sistem-sistem yang ada di tingkatan angka-angka adalah miliknya secara esensial. Sistem esensial ini dimiliki oleh seluruh ciptaan di alam semesta. Yakni Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu namun tidak memiliki hubungan yang berkaitan dengan ciptaan-ciptaan lainnya, atau didahului dan mendahului ciptaan lainnya.

Kedua: Sistem dan keteraturan di alam semesta adalah keteraturan yang paling baik. Yakni segala apa yang ada di alam semesta ini berada pada puncak kondisi dan keadaan terbaik, yang mana keadaan yang lebih baik dari itu tak dapat terbayangkan. Al-Qur’an tentang hal ini menjelaskan: “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya…” (QS. As-Sajdah [32]:7).

Ketiga: Ada semacam aturan-aturan global yang mengikat alam semesta ini dan Tuhan mengatur alam semesta berdasarkan aturan-aturan tersebut, dan tidak ada yang bisa keluar dari aturan itu dan aturan tersebut takkan pernah berubah. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an: “…dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah. ” (QS. Al-Ahzab [33]:62).

Keempat: Salah satu aturan itu adalah hukum sebab akibat. Berdasarkan hukum tersebut, segala sesuatu di alam ini memiliki posisi kausalitas yang jelas. Tidak adanya hukum sebab akibat berarti segala sesuatu bisa menempati posisi yang lainnya, misalnya panas api korek sama seperti atau lebih panas dari mata hari; yang padahal tidak demikian.

Hukum sebab akibat itu bersifat permanen, yakni setiap sebab memiliki akibat-akibat khas yang disebabkannya dan setiap akibat juga memiliki sebab-sebab khusus yang menyebabkannya. Hal itu kurang lebih berbeda dengan fenomena sosial, seperti tak ada bedanya siapa yang menjadi pimpinan atau yang dipimpin. Oleh karenanya, manusia tidak bisa menjadi hewan, atau menjadi tumbuhan. Dengan demikian tak ada artinya jika kita bertanya mengapa sesuatu menjadi manusia, kemudian ada yang menjadi hewan, dan ada yang menjadi tumbuhan? Karena segala sesuatu dengan perbedaan-perbedaannya sesuai dengan hukum sebab akibat alam semesta.[1]

Berdasarkan yang telah dijelaskan, setiap ciptaan tercipta sesuai kelayakannya masing-masing, yakni Tuhan menciptakan segalanya sesuai potensi esensial mereka. Segala ciptaan memiliki potensi masing-masing, misalnya ada yang hanya berpotensi untuk menjadi tumbuhan, ada yang berpotensi menjadi binatang, dan ada yang berpotensi untuk menjadi manusia. Berbeda dengan kedudukan-kedudukan sosial yang dapat berubah-ubah. Kriteria tersebut tak jauh beda dengan kriteria-kriteria di ilmu geometri. Misalnya kriteria segi tiga berbeda dengan kriteria segi empat. Setiap salah satunya memiliki kriterianya masing-masing dan kita tidak bisa bertanya “mengapa yang ini kasihan sekali karena berbentuk segi tiga? mengapa yang itu tidak dan berbentuk segi empat?”.

Semua ciptaan di alam semesta juga begitu. Masing-masing memiliki kriteria dan potensi khusus. Misalnya benda mati tidak dapat tumbuh dan memahami, tumbuhan hanya bisa tumbuh tak bisa memahami, hewan dapat tumbuh dan juga memiliki insting, dan seterusnya. Jadi salah jika kita berfikir mulanya Tuhan menciptakan segala sesuatu dalam kondisi yang sama lalu membagi-bagi mereka, ada yang diciptakan menjadi manusia, ada yang menjadi hewan, tumbuhan, dan benda mati. Yang benar adalah kita katakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini hanya dapat menjadi “sesuatu” yang memang selayaknya ia menjadi begitu, itu saja, dan Tuhan memberikan penciptaan seperti itu untuknya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Sina: “Tuhan tidak menjadikan aprikot menjadi aprikot, melainkan Ia ‘mewujudkannya’ menjadi aprikot.”

Agar permasalahan dapat menjadi lebih jelas, perhatikan contoh berikut ini: Mobil tersusun dari bagian-bagian yang bermacam-macam. Pembuat mobil tidaklah dari awalnya membuat semua bagian itu dalam satu bentuk ciptaan lalu kemudian yang satu dijadikan roda, yang lain dijadikan knalpot, dan seterusnya… namun sejak awal pembuat mobil sudah menciptakan segala bagian tersebut sesuai bentuk dan karakteristiknya masing-masing secara terpisah, lalu dirakit hingga menjadi sebuah mobil yang dapat dipakai berjalan. [islamquest]


[1] Muthahari, Murtadha, Adl e Elahi, halaman 102 – 107, Shadra, cetakan 30, 1378 HS.

Allah Swt. tidak memiliki ruang dan tempat, lalu mengapa ketika memanjatkan doa sambil mengarahkan mata ke langit dan menengadahkan tangan ke atas sana? Memangnya -na’udzu billah- Tuhan bersemayam di langit?

Menengadahkan tangan ke langit saat berdoa?

[1]

berdasarkan riwayat ini, umumnya rezeki seluruh manusia berasal dari langit; hujan yang memberikan kehidupan bumi yang mati tercurahkan dari langit, cahaya mentari yang menjadi sumber kehidupan bersinar dari langit, dan udara yang menjadi penyebab kehidupan berada di langit. Langit dikenal sebagai sumber berkah dan rezeki Ilahi. Dan ketika berdoa, memohon kepada Sang Pencipta dan Pemilik rezeki, perhatian kita hendaknya tertuju ke langit supaya masalah yang sedang kita hadapi terpecahkan.

Dalam sebagaian riwayat disebutkan filsafat lain di balik berdoa ke arah langit, yaitu untuk menunjukkan kerendahan dan kehinaan di haribaan Tuhan, dimana manusia ketika hendak menunjukkan kerendahan atau penyerahan diri di hadapan seseorang atau sesuatu, mereka mengangkat tangannya ke atas.[2]


[1] Bihar al-Anwar, jilid 90, hal. 308, hadis ke-7. Hadis yang dinukil di atas terdapat juga pada Nur ats-Tsaqalain, jilid 5, hal. 124 dan 125.

[2] Tafsir Payam-e Quran, jilid 4, hal. 270.

Berjumpa dengan Allah, mungkinkah?

.

Dalam beberapa ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, terdapat redaksi liqa’ Allah (perjumpaan dengan Tuhan) atau liqa’ ar-Rabb (perjumpaan dengan Rabb). Redaksi ayat ini sarat makna dan memiliki kedalaman arti, betapa pun sebagian mufassir telah menafsirkan ayat-ayat ini secara sambil lalu.

Sebagian dari mereka berpendapat bahwa maksud dari liqa’ Allah adalah pertemuan para malaikat Allah swt pada Hari Kiamat. Sebagian yang lain berkeyakinan bahwa maksudnya adalah perjumpaan setiap makhluk dengan perhitungan (hisab), ganjaran (jaza), dan pahala (tsawab). Dan kelompok ketiga berpendapat bahwa maknanya adalah perjumpaan hukum dan perintah-Nya.

Semua pendapat tersebut mengambil arti redaksi AI-Qur’an tersebut secara implisit. Sementara kita mengetahui bahwa apabila penafsiran implisit bertentangan dengan dzahir sebuah ungkapan (eksplisit), sepanjang tidak ada dalil atasnya, harus kita tinggalkan.

Tak syak lagi bahwa maksud dari redaksi perjumpaan (liqa) bukanlah melihat Tuhan. Lantaran perjumpaan indrawi hanya berlaku pada benda-benda material yang terbatas di dalam ruang dan waktu, berwarna, dan kualitas-kualitas lain sehingga ia mampu untuk dilihat dengan mata kepala.

Dengan demikian, maksud dari perjumpaan di sini adalah syuhud batini, perjumpaan dan pertemuan maknawi dan ruhani dengan Allah swt. Karena pada Hari Kiamat, seluruh hijab akan tersingkap dan tanda-tanda kekuasaan-Nya sedemikian nampak pada hari Mahsyar dan seluruh tempat persinggahan Kiamat, bahkan orang-orang kafir akan berjumpa dengan Allah Swt melalui mata batin mereka (meskipun perjumpaan ini pasti berbeda).

Allamah Thabathabai dalam Tafsir AI-Mizan berkata:

“Hamba-hamba Allah swt berada dalam keadaan tanpa hijab antara mereka dengan-Nya. Lantaran ciri khas Hari Kiamat adalah penampakan seluruh hakikat. Demikian pada surat An-Nur (24), ayat 25, Allah Swt berfirman, “Pada hari itu mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Allah-lah Hak Yang Nyata.”

Menariknya, dalam hadis sahih disebutkan bahwa seorang datang kepada Amirul Mukminin Ali as dan berkata: “Aku terjatuh dalam kesangsian terhadap Al-Qur’an.”

Beliau kembali bertanya: “Mengapa?”

Orang itu berkata: “Kita melihat banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan perjumpaan dengan Allah Swt pada Hari Kiamat, dan di sisi lain Dia berfirman, “Mata-mata tidak mampu menjangkau-Nya, dan Ia menjangkau seluruh mata.” Bagaimana ayat ini bisa dipertemukan dengan yang lainnya?”

Beliau menjawab: “Perjumpaan di sini bukan penyaksian dengan mata, akan tetapi perjumpaan pada Hari Kiamat dan bangkitnya orang-orang dari kuburan. Oleh karena itu, pahamilah bahwa seluruh liqa’ (perjumpaan) yang disebutkan dalam AI-Qur’an berarti kebangkitan.”[1]

Sebenarnya, Imam Ali as, memberikan tafsir ihwal perjumpaan dengan Allah swt bahwa penyaksian (Syuhud Allah swt merupakan inherensi-inherensi dari syuhud tersebut. Benar bahwa Hari Kiamat merupakan hari tersingkapnya pelbagai hijab dan tirai, tampaknya tanda-tanda Yang Maha Hak, dan tajalli Allah kepada seluruh hati. Dan setiap orang -sesuai dengan tingkat pikirnya- dapat memahami ucapan beliau ini. Dan seperti yang telah kita katakan, bahwa syuhud batini para kekasih Allah Swt pada Hari Kiamat berbeda dengan perjumpaan orang-orang biasa.[2]

Dalam masalah ini, Fakhrurrazi dalam At-Tafsir AI-Kabir-nya memberikan penjelasan yang menarik. Ia menulis, “Manusia di dunia ini, lantaran hanyut dalam urusan-urusan duniawi dan berupaya untuk mengejar kehidupan dunia, kerap melalaikan Allah. Akan tetapi pada Hari Kiamat, seluruh perhatian duniawi ini akan hilang. Manusia dengan seluruh wujudnya akan tercurah kepada Tuhan semesta alam. Dan inilah arti dari perjumpaan dengan Allah swt”[3]

Hal ini boleh jadi berdasarkan pengaruh takwa, ibadah, dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dalam kehidupan dunia ini yang dapat dijumpai pada sekelompok umat manusia. Sebagaimana dalam Nahjul Balaghah ditegaskan, bahwa salah seorang sahabat alim Imam Ali as, Dza’lab al-Yamani, bertanya kepada beliau, “Apakah Anda melihat Tuhan Anda?”

Imam as, menjawab, “Apakah mungkin aku menyembah Tuhan yang tidak kulihat?”

Dan ketika ingin memberikan penjelasan lebih lanjut, beliau menambahkan, “Seluruh mata kepala sekali-kali tidak akan pernah menyaksikan-Nya, namun mata hatilah -dengan cahaya iman- dapat menyaksikan-Nya.”[4]

Namun, syuhud batini ini pada Hari Kiamat berlaku untuk semua orang. Karena, tanda keagungan dan kekuasaan Allah swt pada hari itu sedemikian jelasnya sehingga setiap hati yang buta juga akan beriman penuh.[5]


[1] Ringkasan Tauhid Shaduq, hal 267

[2] Tafsir Payam-e Qur’an, jilid 5, hal. 44.

[3] At-Tafsir al-Kabir, Fakhrurrazi, ayat yang bersangkutan; Tafsir Nemuneh, jilid 17, hal. 359.

[4] Nahjul Balaghah, ceramah ke-179.

[5] Tafsir Nemuneh, jilid 1, hal. 217

Jika ada yang tahu penyebab Fatimah as wafat, maka akan faham mengapa pengikut Syiah memilih Syiah sebagai madzhabnya

Misteri Kepergian Fathimah Azzahra dan Tawasul

Misteri Kepergian Fathimah Azzahra dan Tawasul

Banyak yang tidak tahu bahwa sebenarnya kepergian Fathimah Azzahra menyimpan misteri besar. Misteri yang jika dipahami sebenarnya bukanlah misteri; disebut misteri karena tidak ada yang mau tahu menahu tentangnya. Jika ada yang tahu, betapa terkejut orang yang mengetahuinya dan faham mengapa pengikut Syiah memilih Syiah sebagai madzhabnya.

Mari kita simak sebuah dialog berkaitan dengan wafat Sayidah Fathimah Azzahra:

Syiah: “Maaf, apa anda tahu mengapa Fathimah Azzahra berwasiat agar ia dimakamkan di tengah malam?”

Suni: “Karena ia tidak ingin ada orang yang melihatnya dikubur?”

Syiah: “Sebenarnya, memang apa masalahnya kalau ada orang lain melihat seorang wanita dikuburkan? Apa itu dosa? Padahal banyak sekali lelaki yang melakukan tasyi’ jenazah wanita.”

Suni: “Tidak, sebenarnya tak ada masalah.”

Syiah: “Kalau tidak masalah, mengapa Fathimah Azzahra, putri nabi, berwasiat sedemikian rupa? Yang jelas ada orang-orang tertentu yang boleh ikut menguburkan beliau, seperti Salman Alfarisi, Abu Dzar Al Ghifari, Miqdad dan Fadhl bin Abbas. Bukankah demikian?”

Suni: “Ya, memang benar.”

Syiah: “Aku tidak lebih alim darimu. Tapi aku pernah membaca sebuah riwayat dari Bukhari dalam Shahih-nya, bahwa Fathimah Azzahra tidak mau berbicara dengan Abu Bakar sedikitpun hingga akhir hayatnya.[1]

Apa maksudnya? Bukankah kalau ada seseorang yang jengkel dengan saudaranya dan tidak mau berteman lagi sampai lebih dari tiga hari maka ia akan masuk neraka? Kalau begitu apa menurut anda Fathimah Azzahra tidak masuk neraka karena tidak mau lagi berbicara dengan Abu Bakarh hingga akhir hayatnya? Lalu mengapa beliau jengkel dengan Abu Bakar dan Umar serta tidak mengizinkan mereka melakukan tasyi’ jenazahnya? Pernakah anda mendengar Abu Bakar dan Umar berperan dalam tasyi’ jenazah Fathimah Azzahra sebagaimana mereka juga tidak berperan dalam tasyi’ jenazah Rasulullah saw?”

Orang Suni itu tidak menjawab pertanyaannya, malah mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Namun orang Syiah tersebut tetap menanyakan permasalahan yang berkaitan dengan madzhabnya.

Syiah: “Apakah bertawasul itu syirik?”

Suni: “Ya, syirik; karena Tuhan meminta kita untuk memohon kepada-Nya lalu ia akan mengabulkan permintaan kita.”

Syiah: “Lalu mengapa aku pernah membaca bahwa saat kalian sakit gigi, kalian bisa menulis di atas kertas: “Abu Bakkar As Shiddiq termasuk orang-orang yang jujur, baik dan besar.”, lalu dengan demikian sakit giginya akan sembuh?[2] Bukankah itu termasuk tawasul kepada Abu Bakar?”

Akhirnya pertanyaan itu pun tidak dijawab dan mereka berpisah.


[1] Fathimah Azzahra kesal dengan Abu Bakar, lalu tidak mau berbicara dengannya sedikitpun hingga akhir hayatnya, yakni enam bulan sepeninggal nabi. (Shahih Bukhari, kitab Al Maghazi, nomor 4241, jilid 2, halaman 842).

[2] Syifa’ul Asqam wal Ahzan, Mauwlawi Muhammad Umar Sarbazi, halaman 33.

Diperbolehkannya bertawasul dan bertabaruk

Doktor Muhammad Tijani Samawi adalah orang Qafshah, salah satu kota di Tunisia. Sebagaimana masyarakat yang tinggal di sana, beliau dulu bermadzhab Maliki. Dalam rangka mencari kebenaran, beliau menimba ilmu di berbagai tempat baik jauh maupun dekat; hingga akhirnya beliau berguru kepada Ayatullah Khui dan Ayatullah Baqir Shadr, dan mengikuti madzhab Syi’ah.

Beliau menceritakan kisah perjalanan spiritualnya dalam bukunya “Akhirnya kutemukan kebenaran”. Selain itu ada juga buku beliau yang berjudul “Agar aku bersama orang-orang yang jujur”. Dalam buku-buku itu ia menceritakan dialog-dialognya dengan berbagai tokoh tentang kebenaran madzhab Syiah.

Ia banyak belajar tentang Syiah di Najaf Asyraf, Iraq. Dengan gurunya, Ayatullah Baqir Shadr, ia sudah bagaikan teman akrab. Beliau banyak berdiskusi dan membahas kebenaran Syiah dengannya.

Salah satu diskusi dan dialognya dengan Ayatullah Baqir Shadr berkaitan dengan tawasul. Dialog itu cukup menarik. Berikut dialognya:

Doktor Tijani: “Ulama Saudi mengatkan bahwa menyentuh kuburan orang-orang shaleh dan bertawasul atau mencari berkah adlah syirik. Bagaimana menurut anda?”

Ayatullah Baqir Shadr: “Jika mereka melakukan itu (berziarah dan bertawasul) dengan pemahaman bahwa wali-wali Allah dapat merubah nasib mereka dan bisa berbuat “sesuatu” tanpa seizin Tuhan, maka, ya benar itu memang syirik. Namun umat Islam tidak berkeyakinan seperti itu. Mereka faham bahwa para wali Allah adalah perantara yang menyampaikan doa mereka (umat Islam) kepada Tuhan dan Allah pun berkat bantuan para wali besar kemungkinannya bersedia mengabulkan doa mereka. Oleh karena itu niat sedemikian dalam berziarah bukanlah syirik.

Semua umat Islam baik Suni maupun Syiah, dari jaman nabi Muhammad saw hingga kini, semuanya bersepakat tentang hal ini. Kecuali Wahabi, sekte yang muncul baru-baru ini. Wahabi bertentangan dengan ijma’ umat Islam dan Wahabi adalah satu-satunya aliran yang menghalalkan darah umat Islam. Mereka menciptakan fitnah-fitnah yang merusak agama ini. Salah satunya menyebut tawasul sebagai syirik.

Allamah Syarafuddin (salah satu ulama besar yang pernah menulis buku yang berjudul Al Muraja’at atau Dialog Sunah Syiah) hidup di masa pemerintahan Abdul Aziz Sa’udi di Saudi Arabia. Saat itu ia datang ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Ia diundang ke istana raja saat Idul Qurban.

Saat menemui raja, seraya mengucapkan selamat hari raya, ia memberinya sebuah hadiah Al Qur’an yang berjilidkan kulit. Sebagai rasa hormat, sang raja mencium Al Qur’an itu, lalu meletakkan di atas kepalanya.

Lalu Allamah Syarafuddin tiba-tiba berkata: “Wahai raja, mengapa engkau mencium jilid Al Qur’an yang terbuat dari kulit ini? Padahal itu hanyalah sampul yang terbuat dari kulit kambing.”

Raja menjawab: “Aku tidak bermaksud mencium kulit, tapi yang kucium adalah Al Qur’an yang berada di tanganku ini.”

Allamah Syarafuddin berkata: “Bagus kalau begitu wahai raja. Kami orang-orang Syiah ketika mencium dinding dan pagar makam nabi, kita tahu bahwa itu hanyalah tanah dan besi. Namun niat kami adalah mencium nabi yang bersemayam di situ. Sebagaimana anda mencium sampul kulit dengan niat mencium Al Qur’an karena kemuliaannya.”

Para hadirin pun mengucapkan takbir. Akhirnya raja Abdul Aziz memperbolehkan para peziarah untuk mencium dan “bertabaruk” di makam Rasulullah saw. Namun raja yang datang setelahnya sebagai pengganti melarangnya kembali.

Jadi tidak ada kesyirikan sama sekali dalam masalah ini. Orang-orang Wahabi saja yang sengaja menebar fitnah dan mengejar misi-misi busuknya dengan cara asal mengecap “syirik”. Dengan mudahnya mereka menghalalkan darah umat Islam agar pemerintahan mereka tetap terjaga dan sampai selamanya mereka menguasai umat Islam. Sejarah adalah saksi kenyataan ini.”[1]


[1] Akhirnya kutemukan kebenaran, Doktor Tijani Samawi, halaman 92.

Mencium pagar makam nabi

Ayatullah Sayid Abdullah Syirazi dalam kitab Al Ihtijaj bercerita:

Pada suatu hari di Madinah, aku melihat seorang pelajar dari Qom mendekati makam nabi lalu mencium pagarnya. Sepertinya ia lalau kalau ada polisi amar makruf di situ. Akhirnya polisi amar makruf mendatangi dan memarahinya karena telah mencium pagar makam nabi.

Polisi itu melihatku lalu berkata, “Kenapa kamu tidak mencegah teman-temanmu agar tidak mencium pagar ini? Ini hanya besi yang didatangkan dari Istambul. Tidak boleh dicium karena itu syirik!”

Aku berkata, “Apakah kalian tidak mencium Hajar Aswad di samping Ka’bah?”

Polisi menjawab, “Aku menciumnya.”

Aku: “Di makam nabi juga ada batu, jika aku menciumnya apa itu syirik?”

Polisi: “Hajar Aswad itu nabi yang menyuruh kita untuk menciumnya.”

Aku: “Kalau kita mencium sesuatu dengan niat mencari berkah, tidak ada bedanya dari nabi atau bukan.”

Polisi: “Nabi mencium Hajar Aswad karena batu itu diturunkan dari surga.”

Aku: “Ya, Hajar Aswad memang batu dari surga. Batu itu sedemikian mulia karena dari surga. Nabi menciumnya serta menyuruh kita menyiumnya, karena batu itu dari surga.”

Polisi: “Ya, memang demikian.”

Aku: “Bukankah kehormatan surga dan isinya dikarenakan adanya nabi?”

Polisi: “Ya, benar.”

Aku: “Kalau surga itu mulia karena nabi, maka mencium pagar ini juga mulia karena nabi, meskipun didatangkan dari Istanbul. Karena pagar ini berdekatan dengan nabi. Jadi kita boleh menciumnya. Sampul Al Qur’an yang terbuat dari kulit, sebelum menjadi sampul Al Qur’an, hanya sepotong kulit hewan pemakan rumput, yang jika terkena najis kita tidak berkewajiban mensucikannya. Namun ketika kulit itu dijadikan sampul Al Qur’an, lalu jika terkena najis, kita wajib mensucikannya demi kehormatan Al Qur’an. Semua orang pun mencium sampul Al Qur’an karena mencari berkah dari Qur’an. Seorang bapak mencium anaknya juga karena kecintaan, dan tidak disebut syirik. Jadi mencium dinding dan pagar makam nabi tidak ada kaitannya dengan syirik sama sekali.”[1]


[1] Seratus Satu Dialog, Muhammad Muhammadi Isytihardi, halaman 180.