dosa yang mempunyai salah satu dari kriteria di bawah ini termasuk ke dalam dosa besar

Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar

Pertanyaan: Seperti apakah Syiah memandang pelaku dosa besar?

Jawaban Global:

Berkenaan dengan masalah dosa besar, banyak sekali pemikiran dan pendapat ekstrim di antara sekte-sekte Islam, yang mana kebanyakan darinya terlahir dari faktor-faktor politik.

Murji’ah dan Khawarij adalah dua contoh yang menonjol dalam hal ini.

Murji’ah dalam usahanya untuk selalu menjaga citra pemimpin-pemimpin zalim mereka, menganggap iman yang nampak dan pengakuan sebagai Muslim dan segala yang bersifat dhahiri sebagai parameter utama yang tidak terpengaruh oleh segala dosa besar dan maksiat, meskipun sampai pada batas menumpahkan darah Ahlul Bait as juga. Di sisi lain, Khawarij dalam usahanya untuk membenarkan kekerasan yang mereka lakukan terhadap sekte-sekte Islam yang lain, terus menerus menyebarkan faham setiap pelaku dosa besar dihukumi murtad atau telah keluar dari Islam. Mu’tazilah memiliki pandangan yang moderat, namun tetap kurang jelas.

Adapun yang dapat difahami dari ajaran Syiah, yang menjadi asas adalah iman, namun jelas sekali iman yang nyata menuntut amal dan orang beriman tidak mungkin terus menerus melakukan dosa besar atau bahkan dosa kecil. Orang yang beriman jika terkadang tergelincir dan berdosa, dengan beberapa cara ia dapat bertaubat dan mengharapkan rahmat Allah untuk diampuni dan Ia pun akan mengampuninya. Kalau tidak, maka dapat disimpulkan bahwa ia tidak memiliki iman yang sebenarnya dan hanya mengaku sebagai orang baik dan beriman. Orang yang tidak memiliki iman dan amal saleh yang sebenarnya, jelas tidak akan melewati ujian Ilahi dan di akherat pintu nerakalah yang terbuka untuknya.

Jawaban Detil:

Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa pembagian dosa-dosa besar dan kecil berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an, seperti ayat 31 surah An-Nisa’, ayat 37 surah Asy-Syura dan ayat 32 surah An-Najm.

Karena Al-Qur’an tidak menjelaskan masalah-masalah seperti: Apa sajakah dosa-dosa besar itu? Bagaimana derajat orang yang melakukan dosa besar? Maka oleh karenanya banyak terjadi perdebatan sengit antara ulama dan pembesar sekte-sekte Islam.

Tentang masalah pertama, yakni tentang dosa apa sajakah yang disebut sebagai dosa besar, banyak sekali riwayat dalam kitab-kitab riwayat Syiah yang menjelaskannya.[1] Begitu juga sekte-sekte Islam lainnya, mereka telah mengkategorikan dosa-dosa tersebut dalam kitab-kitab teologi dan tafsir mereka.

Adapun tentang masalah yang kedua, sebelumnya kita harus menjelaskan hal-hal berikut ini:

1. Mengenai kedudukan pelaku dosa besar menurut sekte-sekte Islam, lebih sering disimpulkan tidak berdasarkan ajaran-ajaran Islami, namun terpengaruh dengan faktor-faktor politik. Silahkan anda perhatikan fakta-fakta berikut ini:

1.1. Murji’ah: Berpemikiran bahwa antara iman dan amal, iman-lah yang lebih asasi; yakni jika seseorang mengucapkan dua syahadat dan menjadi Muslim, maka dosa apapun yang ia perbuat tidak masalah dan takkan menghalanginya masuk surga di akhirat nanti. Pemikiran seperti ini mendapatkan dukungan keras oleh pemerintahan Umawi, karena mereka menganggap orang-orang pemerintahan meskipun pernah embunuh Ahlul Bait dan orang-orang tak berdosa, meminum minuman keras, dan lain sebagainya, sebagai orang yang bakal mendapatkan keselamatan dan masuk surga; karena mereka semua menunjukkan keimanan secara lahiriah dan melakukan berbagai syi’ar-syi’ar agama seperti shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Para pemihak pemikiran ini pun berusaha membelanya dengan membawakan ayat-ayat dan riwayat. Misalnya:

Allah swt berfirman: “…(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]:3-5)

Orang-orang Murji’ah berdalih bahwa di ayat itu tidak disebutkan bahwa syarat untuk masuk surga adalah “tidak berbuat dosa”. Mereka lupa bahwa kriteria-kriteria di atas adalah milik orang-orang yang bertakwa yang disebut dalam ayat kedua surah itu, dan ketakwaan tidak sejalan dengan dosa-dosa besar.[2] Pola pemikiran seperti inilah yang dimanfaatkan oleh penguasa-penguasa zalim yang hanya merasa cukup mengaku beragama Islam namun mereka melakukan segala kejahatan.

Imam Shadiq as dalam hal ini berkata: “Murji’ah berkeyakinan bahwa orang-orang Bani Umayah yang telah membunuh kami, Ahlul Bait, adalah orang yang beriman!”[3]

1.2. Berbeda dengan Murji’ah yang begitu mengunggulkan sisi lahiriah seseorang dalam keimanan secara berlebihan, ada sekte ekstrim lain yang berada di sebrang pemikirannya, yang menyebut setiap pelaku dosa besar sebagai orang kafir yang telah keluar dari Islam, harta benda dan darah mereka pun halal. Pemikiran ini pun muncul karena beberapa faktor politik di masa pemerintahan Imam Ali as seusai perang Shiffin. Sekelompok yang disebut Khawarij atau Mariqin muncul dengan mengandalkan beberapa ayat Al-Qur’an[4] menyebut hakamiah atau arbitrase sebagai dosa besar, dan berdasarkan hal itu mereka menyebut Imam Ali as sebagai orang kafir dan memeranginya.[5] Mereka berkeyakinan bahwa orang yang melakukan dosa besar adalah kafir dan akan dikekalkan di neraka![6] Alhasil mereka tidak menganggap iman sebagai masalah penting, bagi mereka yang sangat mendasar dan penting sekali adalah amal perbuatan lahiriah. Mereka menganggap iman sebagai bangunan yang mudah roboh yang dengan hancurnya satu batu bata maka seluruh susunan batu bata bangunan tersebut akan hancur. Sayang sekali banyak yang termakan tipuan mereka dan bergabung dengan sekte tersebut. Bertentangan dengan Murji’ah yang berusaha untuk membenarkan semua keburukan pemerintah-pemerintah, mereka berusaha menyemarakkan amal ibadah dan syi’ar-syi’ar agama secara lahiriah.

Oleh karena itu Imam Ali as menyebut pemikiran Bani Umayah lebih buruk dari pemikiran Khawarij.[7]

1.3. Selain itu ada pemikiran lainnya, yaitu pemikiran sekte Mu’tazilah, yang menyebut orang-orang Muslim yang berbuat dosa sebagai orang yang berada di “kedudukan antara dua kedudukan.”[8] Menurut mereka, umat Islam yang melakukan dosa besar bukan orang mukmin dan bukan orang kafir, namun berada di antara keduanya. Meskipun pemikiran mereka mirip dengan pemikiran Syiah, namun tidak dijelaskan secara rinci apa maksud kedudukan di antara dua kedudukan tersebut.

2. Permasalahan lain yang harus dijelaskan sebelum memaparkan pendapat Syiah tentang masalah dosa besar ini, adalah pengkategorian para pelaku dosa-dosa tersebut:

2.1. Orang-orang yang beriman: Iman dalam pemikiran Syiah terbagi menjadi dua bagian: umum dan khusus. Iman yang umum, adalah Islam, tanpa peduli dengan sekte apapun yang bersandang padanya. Sedangkan iman yang khusus adalah iman terhadap akidah-akidah dan keyakinan Islam, ditambah dengan keyakinan terhadap wilayah atau keimaman para Imam Ahlul Bait Rasulullah saw. Banyak sekali riwayat tentang pembagian tersebut. Misalnya, Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Islam adalah mengucapkan dua syahadat, mendirikan shalat, membayar zakat, menjalankan ibadah haji, dan puasa bulan ramadhan. Adapun iman, selain apa yang disebutkan di atas, juga harus menerima wilayah atau keimaman.”[9]

2.2. Orang-orang yang tidak beriman: Mereka adalah orang-orang kafir yang tidak memiliki iman dalam artian umum, dan juga orang Muslim yang tidak memiliki iman dalam artian khusus. Jelas sekali kita tidak bisa menyamaratakan orang-orang seperti ini dalam satu garis; misalnya mereka dapat dibagi menjadi dua kelompok:

A. Mustadh’af: Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang agama yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mengikuti agama yang benar tersebut. Orang-orang seperti itu, jika mereka berperilaku sesuai naluri manusiawi secara alami, tidak berbuat sewena-wena kepada selainnya, karena mereka tidak mendapatkan peluang untuk mengenal agama yang benar, meski terkadang mereka berbuat dosa besar, merka mungkin dapat dimaafkan.

B. Penentang: Orang-orang yang menentang dan memusuhi, adalah orang-orang yang tahu atas dasar bukti-bukti nyata bahwa agama yang ada di hadapan mereka adalah agama yang benar. Namun karena mereka memiliki kepentingan-kepentingan tertentu, mereka enggan menerima agama tersebut. Tidak berimannya mereka cukup untuk membuat mereka kekal di api neraka. Jika mereka melakukan dosa-dosa besar, adzab yang mereka rasakan akan bertambah. Kesimpulan ini dapat difahami dari ayat 88 surah An-Nahl.

Menurut ulama Syiah menyatakan bahwa pemikiran mereka tidak seperti pemikiran Murji’ah yang memberikan “surat izin” kebebasan dari neraka untuk para pelaku dosa besar, tidak juga seperti Khawarij yang menyatakan bahwa seseorang sekali melakukan dosa besar maka ia akan kekal di neraka, dan juga tidak seperti Mu’tazilah yang menempatkan pelaku dosa besar di suatu tempat di antara keimanan dan kekufuran. Menurut Syiah, para pelaku dosa besar dapat disebut sebagai orang mukmin yang fasik, yang mana mereka tetap dapat memperbaiki diri dengan bertaubat dan mengembalikan tingkat keimanannya sehingga mendapatkan jalan kembali untuk meraih surga. Kalau tidak bertaubat, jelas keimanannya semakin merosotdan bisa jadi tidak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri, lalu akhirnya menempati neraka kelak di akhirat. Iman dan amal perbuatan adalah dua hal yang saling berkaitan erat. Orang yang mengaku beriman namun semua amal perbuatannya bertentangan dengan ajaran agama, maka jika demikian ia bukanlah orang yang beriman, dan hal itulah yang akan menyeretnya ke neraka.

Oleh karena itu, rukun pemikiran Syiah dalam masalah ini dapat disimpulkan demikian:

1. Jika seseorang memiliki iman, ia mempunyai kesempatan untuk bertaubat sehingga dosa-dosanya dimaafkan. Dalam hal dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, diperlukan keridhaan orang yang bersangkutan.

2. Orang yang melakukan dosa besar, selama tidak bertaubat, ia akan tersingkir dari derajat “keadilan” yang merupakan salah satu dari derajat keimanan. Namun bukan berarti itu membuatnya terlempar keluar dari golongan orang-orang yang beriman.

3. Melakukan dosa-dosa besar secara terus menerus tanpa bertaubat berujung pada keluarnya pelaku tersebut dari golongan orang yang beriman.

4. Memiliki keimanan dan keyakinan akan wilayah atau keimaman, tidak dapat dijadikan alasan untuk diperbolehkannya melakukan segala macam dosa.

5. Orang mukmin yang hakiki, berhubungan dengan spiritualitasnya, selalu berada dalam keadaan antara “takut” dan “harapan”.

Akan diberikan penjelasan lebih lanjut tentang lima di atas:

1. Orang-orang yang berbuat dosa tidak keluar dari dua keadaan: Pertama, orang itu melakukan dosa karena tidak meyakini keyakinan-keyakinan agamanya, yang mana orang seperti itu selain disebut sebagai pendosa juga disebut orang yang tidak beriman; dalam hal ini tidak ada yang perlu dibahas. Adapun kedua, ada orang-orang yang tetap berpegang teguh pada keyakinan agama mereka, namun terkadang mereka terbujuk hawa nafsu dan bisikan setan sehingga mereka melakukan sebagian dosa-dosa; keadaan kedua inilah yang perlu dibahas.

Allamah Hilli dalam kitab Syarh Tajrid-nya dalam menentang pemikiran Khawarij yang berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar akan kekal di neraka, berdalil demikian: Jika kita berkeyakinan bahwa seorang mukmin yang melakukan dosa besar akan dihukum di neraka selamanya, maka orang yang seumur hidup beribadah namun di akhir hayatnya melakukan satu dosa besar tanpa ia kehilangan imannya adalah sama dengan orang yang melakukan dosa seumur hidup; padahal hal itu mustahil, tidak mungkjin kedua orang itu sama-sama dihukum selamanya di neraka. Tak satupun orang berakal menerima hal itu.[10]

Oleh karena itu, orang yang berbuat dosa besar tidak dapat disebut sebagai orang kafir. Banyak sekali ayat-ayat Allah yang menjelaskan tentang luasnya rahmat-Nya yang maha pengampun yang dapat memaafkan dosa hamba-hamba-Nya.[11] Jika rahmat Allah swt yang sedemikian luas itu tidak mencakup hamba-hamba itu, lalu siapakah yang akan mendapatkan rahmat-Nya?

Ya, yang tahu apakah pelaku dosa adalah orang yang tetap beriman ataukah tidak, hanyalah Tuhan semata. Sebagaimana Ia sendiri berfirman: “Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (QS. Al-Isra’:25) Tuhan maha pengampun, yang mana bahkan di sebagian ayat-ayat-Nya Ia tidak mensyaratkan taubat untuk memaafkan hamba-Nya.[12] Ia akan mengampuni dosa hamba-Nya yang menurut-Nya layak untuk diampuni, kecuali dosa itu adalah kesyirikan.[13] Banyak sekali riwayat yang menjelaskan bahwa kemurahan Tuhan ini juga mencakup orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.[14]

Di dalam Al-Qur’an juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan lebih dari itu, yakni dengan beriman maka Tuhan akan memaafkan dosa-dosa hamba yang telah lalu bahkan kesyirikan pun.[15]

Yang jelas dosa-dosa yang dimaksud adalah dosa yang hanya berkaitan antara Tuhan dan hamba-Nya saja. Adapun doa yang berkaitan dengan hak-hak orang lain, misalnya memakan uang anak yatim, pelaku dosa dalam bertaubat harus berusaha meminta keridhaan orang yang bersangkutan. Imam Ali as berkata bahwa di hari kiamat nanti dosa-dosa seperti ini akan dihitung dengan detil tanpa ada keringanan sedikitpun.[16]

Berdasarkan apa yang telah dijelaskan, orang yang beriman dan pendosa meskipun dosanya adalah sebuah bentuk dari kufur nikmat, namun pelakunya tidak bisa kita sebut sebagai orang murtad begitu saja. Beda dengan pemikiran Khawarij yang timbul dari faktor-faktor politik dan malah bertentangan dengan ayat-ayat serta riwayat.

2. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa Murji’ah menganggap perbuatan dosa sebesar apapun dan sesering apapun dilakukan, sama sekali tidak mempengaruhi keimanan pelakunya. Syiah tidak berkeyakinan seperti itu. Menurut Syiah, pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun,[17] tidak disebut “adil” sehingga tak sah untuk dijadikan imam jama’ah,[18] apa lagi untuk menjadi pemimpin umat.

Berdasarkan riwayat-riwayat, para pelaku dosa-dosa besar tidak memiliki derajat keimanan setinggi, serta tidak memiliki martabat keimanan seperti “keadilan”, yang mana orang-orang seperti itu tidak dapat diterima kesaksiannya di pengadilan Islami,[19] tidak boleh ditemani dan menikahkan mereka, dan seterusnya…[20]Mereka disebut orang yang mengkufuri nikmat, yang jika tidak bertaubat dan menyesali perbuatannya maka layak untuk disiksa di api neraka.[21] Kesimpulannya, iman secara lisan saja tidak bisa menjamin bahwa orang itu akan mendapatkan rahmat Tuhan dan pengampunan atas segala dosanya.

3. Perlu diketahui bahwa semakin banyak dosa yang dilakukan, kemungkinan untuk kembali ke derajat keimanan yang tinggi semakin kecil. Meskipun pintu-pintu taubat selalu terbuka lebar, mungkin saja pelaku dosa tidak berhasil atau mendapat taufik untuk benar-benar bertaubat. Perhatikan dua riwayat di bawah ini:

Saat imam Shadiq as ditanya tentang orang yang telah membunuh saudara seimannya dengan sengaja, tanpa menjelaskan bahwa taubatnya tidak akan diterima, imam menjawab bahwa orang itu tidak akan berhasil (mendapat taufik) untuk bertaubat.”[22]

Imam Ali as pernah menjelaskan bahwa orang yang beriman memiliki 40 perisai, dan selain itu para malaikat juga menjaganya dengan sayap-sayapnya, yang mana dengan melakukan sebuah dosa besar, satu dari perisai-perisai tersebut akan hancur. Jika ia terus menerus berbuat demikian, ia akan sampai pada suatu keadaan dimana ia tidak akan meninggalkan dosa tersebut atau bahkan membanggakannya. Lalu akhirnya akan menjadi musuh Ahlul Bait.[23]

Selain itu juga sering dijelaskan bahwa terus menerus melakukan dosa kecil akan merubahnya menjadi dosa besar.[24] Apa lagi terus menerus melakukan dosa besar?!

4. Banyak riwayat yang menjelaskan bahwa iman dan wilayah adalah asas paling penting, dan amal merupakan cabangnya. Meskipun itu benar, namun tak boleh disalahartikan. Misalnya perhatikan dua contoh berikut ini:

Pertama: Seseorang bernama Muhammad bin Madir meriwayatkan: Aku berkata kepada Imam Shadiq as: Aku pernah mendengarmu berkata: “Jika engkau punya iman, apapun yang ingin kau lakukan maka lakukanlah![25] Imam membenarkan perkataannya. Perawi heran dan bertanya: “Berarti orang yang beriman boleh berbuat zina, mencuri dan mabuk?” Imam berkata: “Innalillah… Apa yang kau fahami itu tidak benar sama sekali. Apakah kami orang-orang maksum tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan kami, sedangkan kalian pengikut kami bebas melakukan dosa apa saja? Makna perkataanku adalah: Jika engkau punya iman, perbuatan baik apapun yang ingin kau lakukan, entah kecil atau besar, maka lakukanlah; karena dengan iman itu Allah swt akan menerima amalmu.”[26]

Kedua: Ada riwayat lain yang berbunyi: “Mencintai Ali as adalah perbuatan baik, yang mana dengan itu dosa apapun tidak akan bermasalah bagi manusia.”[27]

Banyak juga yang menyalahartikan riwayat tersebut dan mengira bahwa seorang Syiah bebas melakukan dosa apapun! Sebagaimana ada seorang penyair berkata:

Jika penghitungan amal di hari kiamat di tangan Ali,

Aku menjamin, dosa apapun yang ingin kau lakukan, lakukanlah!

Jika syair di atas tidak bermaksud berlebihan, maka maksudnya sama sekali tidak benar. Karena kecintaan kepada Ali as tidak sejalan dengan berbuat dosa dan sewena-wena. Maksud perkataan beliau adalah, jika kita mencintai Imam Ali as, maka kita pasti tidak akan begitu saja berbuat dosa seenaknya karena kita merasa malu di hadapan beliau. Jika kita lalai dan berbuat dosa, atas dasar kecintaan tersebut, kita pasti akan segera menyesali, bertaubat dan membenahi perilaku kita.[28] Jika ada orang yang mengaku Syiah lalu dengan seenaknya melakukan semua dosa dan larangan agama, jelas ia adalah pembohong.

5. Jika kita lihat banyak perbedaan di riwayat-riwayat yang mana sebagian riwayat memerintahkan kita untuk tidak berputus asa akan rahmat Tuhan, namun sebagian riwayat benar-benar mengancam kita akan siksaan-Nya, itu artinya kita sebagai orang beriman tidak dijamin untuk selalu berada dalam rahmat-Nya dan masuk surga, begitu pula orang yang berdosa tidak dijamin pasti masuk neraka dan terlepas dari rahmat Tuhan seluruhnya.

Seorang yang beriman, harus mengharap rahmat dan pengampunan Tuhan. Karena Ia selalu membuka pintu taubat, bahkan untuk orang yang tidak beriman sekalipun. Begitu pula dijelaskan bahwa dengan melakukan perbuatan baik, perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya akan terhapus.[29]

Di sisi lain, karena mungkin saja manusia mati kapan saja, atau dosanya sangat berat sehingga tidak bisa dibenahi hingga akhir umurnya, apa lagi jika kehilangan imannya, faktor-faktor tersebut akan membuatnya tak dapat diberi syafa’at oleh manusia-manusia suci as. Begitu pula sebagian dosa, atau lemahnya iman, akan menyebabkan sirnanya amal perbuatan baik yang pernah dilakukan.[30] Oleh karenanya orang beriman pun harus mengkhawatirkan bahaya tersebut. Jadi, dalam kehidupan spiritual, kita harus takut dan khawatir akan malapetaka tersebut, namun juga terus berharap atas rahmat Allah swt yang sangat luas. [islamquest]


[1] Dalam masalah ini, anda dapat merujuk riwayat-riwayat yang ada dalam kitab Wasail Asy-Syiah, jilid 15 bab 46, halaman 318. Terjemahan judul bab tersebut adalah: Bab Menentukan Dosa Besar Yang Harus Dihindari.

[2] Untuk merujuk lebih lanjut tentang dalih Murji’ah dengan menggunakan ayat ini: Thayib, Sayid Abdul Husain, Athyab Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an, jilid 1, halaman 259-258, cetakan Penerbitan islami Tehran, 1378 HS.

[3] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halamn 409, hadits 1, Darul Kutub Islamiah, Tehran, 1365 HS.

[4] QS. Al-An’am: 57; QS. Yusuf: 40 dan 67.

[5] Untuk mengkaji lebih lanjut tentang masalah ini, silahkan merujuk: Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemune, jilid 9, halaman 419-418, Darul Kutub Al-Islamiyah, Tehran 1374 HS.

[6] Banyak riwayat yang bertentangan dengan pemikiran kaum Khawarij ini, misalnya anda bisa membacar riwayat yang tertera di halaman 421 jilid 33 kitab Biharul Anwar, bab 25, Yayasan Al-Wafa’, Beirut, 1404 H.

[7] Nahjul Balaghah, halaman 94, khutbah 61, penerbit Darul Hijrah, Qom.

[8] Istilah serupa (yang bahasa Arabnya adalah Al-Manzilah bainal Manzilatain) juga digunakan dengan maksud “tidak jabr(keterpaksaan) dan tidak tafwidh (kebebasan total)” yang mana Syiah membenarkan hal itu. Namun Syiah tidak membenarkan istilah tersebut terkait dengan masalah dosa besar yang kita bahas sekarang.

[9] Kulaini, Muhuammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 24-25, hadits 4.

[10] Mughniyah, Muhammad Jawad, Tafsir Kasyif, jilid 1, halaman 139, Darul Kutub Al-Islamiah, Tehran, 1424 H, menukil dari Syarah Tajrid.

[11] QS. Al-Baqarah: 192-225; QS. Al-An’am: 147; QS. Al-A’raf: 156; QS. Al-Ghafir: 7; QS. Nuh: 10; dan masih banyak lagi. Di sebagian ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa dosa-dosa hamba yang tidak beriman pun juga dapat dimaafkan.

[12] Dalam sebuah riwayat dari Imam Shadiq as disebutkan bahwa: “Kami akan memberikan syafa’at kepada orang yang melakukan dosa besar, dan mereka yang bertaubat dengan taubat sejati adalah orang-orang yang berbuat baik dan mereka tidak membutuhkan syafa’at.” Silahkan merujuk: Hurr Amili, Muhammad bin Al-Hasan, Wasail Asy-Syi’ah, jilid 5, halaman 334, hadits 20669, Muasasah Alul Bait, Qom, 1409 H.

[13] QS. An-Nisa’: 48 dan 116.

[14] Al-Kafi, jilid 2, halaman 284, hadits 18.

[15] QS. Az-Zumar: 53, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

[16] Nahjul Balaghah, halaman 255, khutbah 176.

[17] Banyak hadits-hadits dari para imam tentang masalah menurunnya derajat keimanan, sebagaimaa yang disebutkan dalah hadits 21 halaman 284 jilid kedua kitab Ushul Al-Kafi. Semua itu menjelaskan bahwa pelaku dosa besar derajat keimanannya menurun, bukannya menjadi kafir.

[18] Silahkan merujuk riwayat-riwayat seperti yang disebutkan dalam Wasail Asy-Syi’ah, jilid 18, halaman 313-318, bab 11.

[19] Wasail Asy-Syiah, jilid 27, halaman 391, hadits 34932.

[20] Ibid, jilid 25, halaman 312, hadits 31987.

[21] Ibid, jilid 15, halaman 338, hadits 20683.

[22] Ibid, jilid 29, halaman 32, hadits 35077.

[23] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jilid 2, halaman 279, hadits 9.

[24] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 15, halaman 337, hadits 20681.

[25] Dengan melihat lanjutan riwayat, ternyata perawi mengira jika kita memiliki iman kita dapat melakukan dosa apapun.

[26] Wasail Asy-Syi’ah, jilid 1, halaman 114, hadits 287.

[27] Ihsa’i, Ibnu Abi Jumhur, ‘Awali Al-La’ali, jilid 4, halaman 86, hadits 103, penerbit Sayid Syuhada, Qom, 1405 H.

[28] Banyak sekali riwayat tentang kesedihan Rasulullah saw dan para Imam as akan dosa yang dilakukan oleh orang yang beriman. Silahkan merujuk: Wasail Asy-Syiah, jilid 16, halaman 107, hadits 21105, dan riwayat-riwayat serupa.

[29] QS. Al-Baqarah: 271; QS. Ali Imran: 195; QS. An-Nisa’: 31; QS. Al-Maidah: 12 dan 65; QS. Al-Anfal: 29; QS. Al-’Ankabut: 7; QS. Az-Zumar: 35; QS. Al-Fath: 5; QS. At-Taghabun: 9; QS. Ath-Thalaq: 5; QS. At-Tahrim: 8; dan seterusnya.

[30] QS. Al-Baqarah: 217; QS. Al-Maidah: 5 dan 53; QS. Al-An’am: 88; QS. Huud: 16; QS. Al-Ahzab: 19; QS. Az-Zumar 65; QS. Al-Hujurat: 2; dan seterusnya.

Kriteria dosa-dosa besar

Tentang masalah dosa-dosa besar yang telah disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, para mufassir dari satu sisi dan para ahli hadis dan fuqaha dari sisi lain sangat banyak membahas masalah ini.

Sebagian menganggap bahwa semua dosa merupakan dosa besar, dengan alasan bahwa di hadapan Allah swt. setiap dosa adalah besar. Sementara, sebagian yang lain mengatakan bahwa besar atau kecilnya sebuah dosa merupakan sebuah hal yang relatif. Setiap dosa apabila dibandingkan dengan dosa yang lebih besar menjadi dosa kecil, dan apabila dibandingkan dengan dosa yang lebih kecil,  akan menjadi dosa yang besar.

Sebagian lagi menetapkan parameter besar-kecilnya sebuah dosa dengan melihat janji Allah swt. dengan azab -Nya sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Qur’an.

Tak jarang pula dikatakan bahwa dosa besar adalah setiap dosa yang memiliki hadd syar’i (hukuman tertentu).

Akan tetapi, dengan memperhatikan adanya ungkapan “kabîrah” (besar) yang menunjukkan besarnya sebuah dosa, maka akan lebih baik apabila setiap dosa yang mempunyai salah satu dari kriteria di bawah ini termasuk ke dalam dosa besar:

a. Dosa-dosa yang Allah swt. menjanjikan azab atasnya.

b. Dosa-dosa yang menurut pandangan ahli syariat dan lisan riwayat merupakan dosa besar.

c. Dosa-dosa yang dalam sumber hukum syariat merupakan dosa yang lebih besar dari sebuah dosa yang termasuk dari bagian dosa besar.

d. Dosa-dosa yang di dalam riwayat mu’tabar ditegaskan sebagai dosa besar.

Di dalam riwayat Islam, jumlah dosa besar ini disebutkan secara berbeda. Pada beberapa pendapat dikatakan bahwa jumlah dosa besar adalah tujuh macam (menghilangkan nyawa orang lain, durhaka kepada orang tua, memakan riba, kembali menjadi kafir setelah hijrahnya, melakukan tuduhan zina terhadap seorang wanita suci, memakan makanan anak yatim, dan melarikan diri dari medan jihad).

Pada sebagian riwayat, jumlah dosa besar ini tetap dalam jumlah tujuh dengan perbedaan, bahwa sebagai ganti dari durhaka kepada orang tua, adalah apa-apa yang Allah swt. telah mewajibkan neraka karenanya.

Sedangkan pada sebagian riwayat yang lain disebutkan bahwa dosa besar terdiri dari sepuluh macam dosa. Sebagiannya lagi mengatakan, sembilan belas dan sebagian lainnya, lebih banyak dari jumlah tersebut.

Perbedaan jumlah dosa besar ini muncul lantaran adanya perbedaan derajat yang terdapat pada masing-masing dosa besar. Bahkan, sebagiannya lebih penting dari yang lain yang biasa disebut dengan akbar al-kabâ’ir. Oleh karena itu, tidak ada kontradiksi di antaranya.

 

Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka?

 

Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka

Pertanyaan: Ada sebuah riwayat dari Imam Ali as: “Umat Islam Syiah tidak akan masuk neraka.” Begitu juga aku membaca dalam sebuah buku bahwa tingkat pertama neraka Jahanam adalah khusus untuk umat Islam (umat nabi) yang pendosa! Mana yang benar?

Jawaban Global:

Tolak ukur perhitungan di hari kiamat untuk menentukan apakah sesorang layak memasuki surga atu neraka berdasar pada kaidah-kaidah yang telah dijelaskan oleh Allah swt dalam ayat-ayat suci-Nya. Tuhan tidak mempedulikan faktor perbedaan kelompok, keturunan, dan bangsa dalam hal ini. Tolak ukur utama adalah amal perbuatan manusia; yakni kenikmatan surga adalah balasan dari iman dan amal saleh, sedangkan neraka adalah balasan kekufuran dan dosa.

Jawaban Detil:

Sepanjang sejarah banyak yang membahas masalah umat yang bakal selamat di akhirat (firqah najiah). Pembahasan tersebut kurang lebih bertumpu pada sebuah hadits yang diaku dari nabi, yang dikenal dengan hadits iftiraq. Para penulis buku-buku sekte dan mazhab-mazhab berusaha mengkategorikan sekte-sekte yang ada sebisa mungkin agar susuai dengan hadits tersebut. Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa akan hanya ada satu kelompok yang selamat dan masuk surga. Akhirnya setiap sekte dan mazhab berusaha untuk menyebut dirinya sebagai kelompok yang benar itu dan layak memasuki surga. Al-Qur’an dalam menyinggung masalah kebahagiaan sejati akhirat sering kali menjelaskan adanya beberapa kelompok yang tak hanya menganggap diri mereka yang layak masuk surga, namun juga berkeyakinan bahwa selain mereka tidak berhak masuk ke dalam surga. Begitu juga dalam riwayat-riwayat Ahlu Sunah dan Syiah banyak sekali ditemukan hadits tentang pahala dan siksa akhirat, dan terkadang setiap salah satu dari mereka memberikan tolak ukur tertentu untuk permasalahan tersebut. Dengan memahami pendahuluan singkat tersebut, kini perlu dijelaskan dua hal:

Pertama: Apakah Tuhan telah menjelaskan toak ukur orang-orang yang berhak masuk surga dan neraka? Atau tidak?

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang sebagian kaum yang menyatakan diri merekalah yang paling berhak untuk masuk surga. Mereka mengira bahwa adzab neraka hanya akan mereka rasakan selama beberapa hari saja, lalu akhirnya mereka akan mendapatkan tempat di surga. Dalam menanggapi keyakinan seperti itu, Allah swt berfirman: “Katakanlah: “Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”” (QS. al-Baqarah [2]:80)

Setelah itu Allah swt menjelaskan kaidah umum untuk menentukan siapakah yang berhak masuk surga atau neraka. Ya, orang-orang yang melakukan dosa, lalu dampak dosa itu meliputi dirinya, maka orang seperti itu adalah penduduk neraka, dan mereka kekal di sana. Adapun mereka yang beriman dan melakukan amal perbuatan baik, mereka adalah penduduk surga dan untuk selamanya mereka di sana.[1]

Begitu pula sebagian berkeyakinan bahwa hanya Yahudi dan Nashrani saja yang akan masuk surga. Lalu Al-Qur’an menepis pengakuan mereka dan menyatakan bahwa perkataan mereka tidak memiliki bukti, menganggap semua itu hanyalah mimpi dan khayalan mereka saja. Lalu Al-Qur’an menjelaskan tolak ukur sebenarnya dengan berfirman: “…bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah [2]:112)

Ayat suci itu menyatakan bahwa sebab utama masuk surga adalah penyerahan diri kepada perintah Tuhan dan perbuatan baik. Yakni surga tidak akan diberikan kepada orang yang hanya mengaku-aku saja, namun diperlukan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, Al-Qur’an menjadikan amal perbuatan sebagai tolak ukur berhaknya seseorang untuk masuk surga atau neraka. Meski juga ada kelompok ketiga yang berada di antara mereka, yang mana Al-Qur’an menjelaskan mereka adalah orang-orang yang memiliki harapan terhadap Tuhannya; namun hanya Ia yang tahu entah mereka dimaafkan atau disiksa.[2]

Kedua: Siapakah yang dimaksud orang-orang Syiah yang dijanjikan masuk surga itu?

Di antara riwayat-riwayat Syiah, juga ada hadits-hadits dari nabi dan para imam maksum yang menjelaskan tentang bahwa umat Syiah akan masuk surga. Kata-kata “Syiah” dalam hadits tersebut membuat kita terdorong untuk mengkaji lebih matang siapakah yang dimaksud dengan “Syiah” dalam hadits-hadits itu? Baru setelah itu kita akan membahas masalah-maslaah lain yang berkaitan dengannya.

Makna Leksikal Syiah

Para ahli bahasa menyebutkan banyak makna untuk kata “Syiah”. Misalnya: kelompok, umat, para penyerta, para pengikut, para sahabat, para penolong, kelompok yang berkumpul pada satu perkara.[3]

Makna Istilah Syiah

Syiah dalam istilah adalah orang-orang yang meyakini bahwa hak kepenggantian nabi ada pada keluarga risalah, dan dalam menerima makrifat-makrifat Islami mereka mengikuti Ahlul Bait as, yakni para imam Syiah as.[4]

Kata Syiah sepanjang sejarah mengalami berbagai perubahan dalam maknanya. Misalnya terkadang diartikan sebagai kelompok politik, terkadang pecinta, atau juga pengikut aliran pemikiran yang berprilaku mengikuti para imam suci as.

Syiah Menurut Para Imam Maksum as

Dari beberapa riwayat yang dinukil dari kalangan Ahlul Bait as dapat difahami bahwa yang dimaksud dengan Syiah adalah orang-orang khusus yang tidak hanya mengaku sebagai pengikut saja. Namun para Imam suci menekankan adanya sifat-sifat khas yang dimiliki mereka, seperti mengikuti para Imam dalam amal dan perilaku. Oleh karena itu sering kali para Imam menegaskan kepada sebagian orang yang mengaku Syiah untuk berprilaku sebagaimana yang diakuinya. Untuk lebih jelasnya mari kita membaca beberapa riwayat yang akan kami sebutkan.

Ada banyak riwayat dari para Imam maksum as yang sampai ke tangan kita tentang siapa Syiah sejati yang sebenarnya. Tak hanya itu, bahkan ada celaan terhadap sebagian orang yang berkeyakinan bahwa diri mereka tidak akan masuk neraka karena Syiah, lalu mereka disebut sebagai Syiah paslu.

Seseorang berkata: “Aku berkata kepada Imam Shadiq as: “Sebagian dari pengikutmu melakukan dosa-dosa dan berkata: “Kami memiliki harapan.” Lalu Imam as berkata: “Mereka berbohong. Mereka bukanlah kawan kami. Mereka adalah orang-orang yang membawa harapannya kesana kemari, yang mana ketika mereka mengharap sesuatu, mereka mengejarnya, lalu jika mereka takut akan sesuatu, mereka lari.”.”[5]

Imam Shadiq as pernah berkata: “Bukanlah Syiah (pengikut) kami orang yang mengaku dengan lisannya namun berperilaku bertentangan dengan kami. Syiah adalah orang yang hati dan lidahnya sejalan dengan kami, begitu pula perilaku dan amal perbuatannya mengikuti kami; merekalah Syiah kami.”[6]

Para Imam as sering kali menyebutkan kriteria-kriteria Syiah sejati. Misalnya anda dapat membaca dua riwayat di bawah ini:

Imam Baqir as berkata: “Wahai Jabir, apakah cukup bagi pengkut kami untuk hanya mengaku sebagai Syiah? Demi Tuhan, Syiah kami adalah orang-orang  yang bertakwa dan takut akan Tuhannya, menjalankan perintah-perintah-Nya. Mereka (Syiah) tidak dikenal kecuali sebagai orang yang rendah hati, khusyu’, banyak mengingat Tuhan, berpuasa, shalat, beramah-tamah dengan tetangga yang miskin, orang yang butuh, para pemilik hutang, anak-anak yatim, serta berkata jujur, sering membaca Al-Qur’an, menjaga lidahnya terhadap sesamanya, dan juga orang yang dipercaya oleh keluarganya.”[7]

Imam Ja’far Shadiq as berkata: “Syiah kami adalah orang yang bertakwa, setia, zuhud, ahli ibadah, dan orang yang di malam hari shalat sebanyak lima puluh satu rakaat, dan berpuasa di siang hari, menunaikan zakat hartanya, menjalankan ibadah haji, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan haram.”[8]

Jika tidak dijelaskan apa maksud Syiah sejati yang sebenarnya, maka artinya perbuatan buruk diperbolehkan untuk dilakukan oleh sekelompok orang. Di sepanjang sejarah kita pun menyaksikan sebagian kelompok yang mengaku Syiah namun tidak menjalankan perintah-perintah agama, lalu berdalih dengan riwayat-riwayat tersebut seraya menekankan bahwa “agama adalah mengenal Imam”[9], dan mereka pun terus-terusan sembarangan melakukan dosa dan kemunkaran. Akhirnya fenomena tersebut sangat merugikan ke-Syiahan yang sebenarnya yang mana tak dapat terbayar dengan mudah.

Sebagaimana sebelumnya telah dijelaskan bahwa kadar pahala dan siksa seseorang bergantung pada sikapnya terhadap agama. Fakta ini tidak berbeda antara satu kalangan dengan kalangan lainnya. Kelompok, aliran atau apapun tidak akan mendekatkan diri seseorang kepada Tuhan dan tak dapat dijadikan alat untuk lari dari siksaan neraka. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat [49]:13)

Imam Ridha as berkata kepada saudaranya yang dikenal dengan sebutan Zaida al-Nar: “Wahai Zaid, apakah perkataan para pedagang pasar: “Fathimah telah menjaga dirinya dan Allah mengharamkan api neraka terhadapnya dan juga anak-anaknya.” telah membuatmu sombong? Demi Tuhan bahwa hal itu hanya berlaku untuk Hasan dan Husain serta anak yang lahir dari rahimnya. Apakah bisa Imam Musa bin Ja’far as mentaati Tuhan, berpuasa di siang hari, bertahajud di malam hari dan shalat malam, lalu engkau dengan seenaknya bermaksiat kemudian di akhiran tanti engkau berada di derajat yang sama dengannya? Atau lebih mulia darinya?!”[10]

Salah satu misi agama adalah mengantarkan manusia baik secara individu maupun bersama kepada kesempurnaan. Tujuan itu tidak akan mungkin tercapai tanpa ketaatan akan perintah-perintah Tuhan. Atas dasar itu, agama ini tidak mungkin memberikan jalan bagi suatu kelompok untuk berjalan di luar jalur yang telah ditunjukkan lalu menempatkan mereka di tempat yang sama atau lebih tinggi dari selainnya di akhirat nanti. Hal ini bertentangan dengan tujuan penciptaan yang sebenarnya. Jika yang dimaksud denga Syiah adalah apa yang telah dijelaskan oleh para Imam, maka tidak heran jika orang-orang dengan kriteria seperti itu bakal mendapatkan tempat di surga. Adapun orang-orang yang hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, jelas mereka tidak akan mendapatkan apa yang dijanjikan kepada Syiah sejati.

Adapun tentang riwayat yang menjelaskan bahwa tingkat pertama neraka jahanam adalah khusus untuk umat Islam yang pendosa, perlu dikatakan bahwa tolak ukur surga dan neraka menurut Al-Qur’an adalah amal manusia. Hanya sebutan Muslim saja tidak cukup, karena antara Islam dan Iman sangat jauh perbedaannya. Tuhan semesta alam dalam hal ini berfirman kepada orang-orang yang mengaku beriman: “Jangan katakan kami telah beriman, katakan kami telah Muslim.” (QS. Al-Hujurat [49]:14). Ketika seseorang mengucapkan dua syahadat, maka orang itu telah menjadi Muslim; dan hal ini hanya berkaitan dengan kehidupan duniawi dan status sosial saja. Adapun surga dan balasan di dalamnya, adalah untuk orang-orang yang lebih dari sekedar menjadi Muslim saja; yakni sebagaimana yang telah dijelaskan, untuk memasuki surga, seseorang harus menjadi Muslim (menyerahkan diri) dan juga memiliki keimanan di hati, serta melakukan amal saleh dengan raga. Oleh karena itu tolak ukur kelayakan masuk surga atau neraka sangat jelas sekali dalam Al-Qur’an, dan hanya sekedar mengaku sebagai Syiah, atau Islam, tidak akan menghindarkan seorangpun dari siksa api neraka atau memasukkanya ke surga.

Kesimpulannya, amal perbuatan adalah tolak ukur utama, bukan pengakuan sebagai Muslim, Syiah, atau selainnya. Berdasarkan penjelasan Al-Qur’an dan riwayat-riwayat, orang Islam dan Syiah yang tidak menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya pasti tidak akan mendapatkan rahmat Tuhan dan layak untuk disiksa di neraka. Adapun apakah adzab di neraka itu kekal abadi ataukah tidak, lain lagi permasalahannya. Selain itu juga ada masalah Syafa’at yang masih perlu dibahas terkait dengan hal itu di kesempatan lainnya.

Untuk kami ingatkan, maksud kami bukan berarti ke-Syiah-an seseorang sama sekali tak ada gunanya. Namun tak dapat diingkari bahwa pemikiran (atau iman) dan amal perbuatan adalah dua sayap bagi manusia untuk terbang menuju kesempurnaan. Untuk mengkaji lebih jauh, seilahkan merujuk: Turkhan, Qasim,Negaresh i Erfani, Falsafai wa Kalami be Syakhsiyat va Qiyam e Emam Husain as, hal. 440-447. [islamquest]


[1] QS. Al-Baqarah [2]:81-82.

[2] QS. At-Taubah [9]:106.

[3] Ibnu Mandzur, Jamaluddin, Lisan Al-Arab, jil. 8, hal. 188, Dar Shadir, Birut, cetakan pertama, 1410 H.

[4] Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Syi’e dar Esalam, hal. 25-26, Ketabkhane e Bozorg e Eslami, Tehran, 1354 HS.

[5] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kafi, jil. 2, hal. 68, Darul Kutub Islamiah, Tehran, cetakan keempat, 1365 HS.

[6] Majlisi, Muhammad Baqir, Biharl Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[7] Shaduq, Muhammad bin Ali, Al-Amali, terjemahan Kamrei, hal. 626, Islamiah, Tehran, cetakan keenam, 1376 HS.

[8] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 65, hal. 164, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

[9] Man La Yahdhuruhul Faqih, jil. 4, hal. 545, Muasasah Nasyr Islami, Qom, cetakan ketiga, 1413 H.

[10] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 43, hal. 230, Muasasah Al-Wafa’, Beirut, Lebanon, cetakan keempat, 1404 H.

Isa telah mati, namun bisa jadi setelah beliau mati ia dihidupkan kembali ke bumi

Apakah nabi Isa telah mati

Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan “mematikanmu” dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat.”(QS. Ali-Imran [3]:55)

Berdasarkan ayat tersebut, nabi Isa as telah mati. Apakah dengan dicabutnya nyawa, ada arti lain selain kematian? Apa alasan anda mengatakan Nabi Isa as tidak mati namun ia diangkat ke sisi Tuhannya?

Jawaban global:

Sebab timbulnya pertanyaan seperti ini adalah kesalahan sebagian pihak dalam menerjamahkan ayat Al-Qur’an. Oleh karena itu, jika ayat di atas diterjemahkan dengan benar, tidak akan ada pertanyaan seperti ini. Dengan mengkaji Al-Qur’an secara seksama, kita bakal menyadari bahwa kata “tawaffa” dalam Al-Qur’an tidak selalu berarti wafat atau mati, namun juga memiliki arti lainnya. Oleh karena itu kita tidak bisa menjadikan salah pengartian itu sebagai dalil telah meninggalnya nabi Isa as, bahkan banyak sekali riwayat-riwayat yang membuktikan bahwa ia tidak mati. Arti ayat yang benar adalah: “Dan ingatlah ketika Allah swt berkata kepada nabi Isa as: “Aku akan mengambilmu dan mengangkatmu ke sisi-Ku.”.”

Jawaban detil:

Sebab munculnya pertanyaan seperti ini adalah kesalahan sebagian penerjemah dalam menerjamahkan ayat Al-Qur’an. Mereka menerjemahkan kata“mutawaffiika” dengan arti “mematikanmu”. Meskipun banyak juga yang menerjemahkan ayat di atas dengan terjemahan yang tidak bertentangan dengan tetap hidupnya Nabi Isa as. Misalnya ayat itu diterjemahkan: “Dan ingatlah ketika Allah swt berkata kepada nabi Isa as: “Aku akan mengambilmu (dari dunia dan dari antara orang-orang yang ada di sekitarmu) dan mengangkatmu ke sisi-Ku.”.”

Harus difahami bahwa kata “tawaffa” berasal dari kata “wafa” yang memiliki berbagai arti, yang di antaranya adalah: “mati”, “mengambil”, “menyempurnakan”, dan lain sebagainya.[1] Menepati janji juga adalah salah satu arti kata “wafa”, karena orang itu menyempurnakan apa yang dijanjikannya. Begitu juga ketika seseorang telah mengambil seluruh uang dari seseorang yang telah berhutang kepadanya, dalam bahasa Arab dikatakan: “tawaffa dainahu” atau “ia telah mengambil uang yang dihutangkannya.”

Majma’ul Bahrain, salah satu kitab bahasa, dalam menjelaskan ayat di atas menyebutkan: “Yakni maksud ayat itu adalah: “Aku akan mengamankanmu dari gangguan orang-orang kafir dan mencegahmu disalib oleh mereka, dan mengakhirkan ajalmu yang telah Kutetapkan.”[2]

Oleh karenanya, meskipun memang kata “tawaffa” juga berarti kematian sebagaimana dalam beberapa ayat,[3] namun bukan berarti kata itu selalu berarti demikian. Misalnya Allah swt befirman: “Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. Al-An’am [6]:60)

Dengan pasti dapat kami katakan bahwa maksud dari “yatawaffakum” di ayat itu bukan berarti “mematikan kalian”, namun berarti “menidurkan kalian” di malam hari yang mana hal itu terus berulang tiap hari.

Oleh karenanya, ayat di atas tidak bisa disalah artikan dengan kematian nabi Isa as. Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada beliau? Pembahasan ini cukup menarik. Silahkan perhatikan beberapa penjelasan berikut ini:

1. Orang-orang Kristen berkeyakinan bahwa beliau disalib dan dibunuh oleh musuh-musuhnya. Namun Al-Qur’an menentang keyakinan itu dengan tegas. Allah swt berfirman: “padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.” (QS. An-Nisa’ [4]:157)

2. Al-Qur’an meskipun dengan tegas mengingkari kematian nabi Isa as, namun tak satupun ayat Al-Qur’an menjelaskan bahwa nabi Isa as tidak “mati” dengan “cara” lain dan hidup hingga saat ini.

3. Ayat-ayat seperti ayat 55 surah Ali-Imran dan juga ayat 117 surah Al-Ma’idah, yang meskipun ayat-ayat itu tidak menunjukkan secara pasti bahwa nabi Isa as telah wafat, namun secara tersirat juga menjelaskan bahwa bentuk interaksi beliau dengan dunia kini jauh berbeda dengan saat beliau benar-benar hidup waktu itu.

4. Banyak sekali riwayat dalam kitab-kitab Ahlu Sunah dan Syiah yang menjelaskan bahwa nabi Isa as masih hidup. Jadi meskipun tidak ada ayat Qur’an yang menegaskan secara jelas bahwa beliau hidup, namun banyak sekali riwayat yang menjelaskan hal itu. Misalnya, simak beberapa riwayat di bawah ini:

4.1. Rasulullah saw berkata kepada orang-orang Yahudi: “Sesungguhya Nabi Isa as tidak mati, tapi ia bakal kembali lagi kepada kalian di hari kiamat nanti.”[4]

4.2. Rasulullah saw bersabda: “…dan Mahdi dari keturunanku. Saat ia datang nanti, nabi Isa as akan hadir bersamanya dan shalat di belakangnya.”[5]

5. Jika seandainya pun kita tidak meyakini adanya makna lain selain “kematian” bagi kata “tawaffa” di ayat itu, yang mana jika demikian kita meyakini bahwa nabi Isa as telah mati, namun bukan berarti tidak ada kemungkinan ia kini tidak hidup. Karena bisa jadi setelah beliau mati ia dihidupkan kembali hingga hari kiamat nanti. Karena berdasarkan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dapat difahami bahwa ada sebagian orang yang hidup setelah mati selama seratus tahun.[6] Oleh karenanya, bisa jadi kejadian itu terjadi pula pada nabi Isa as

sumber :


[1] Ibnu Mandhur, Lisanul Arab, jil. 15, hal. 398, cet. pertama, penerbit Adab, Hauzah, Qom, 1405 H.

[2] Majma’ul Bahrain, jil. 1, hal. 444, kata “wafa”, Ketabforushi Morteza, Tehran, 1375, H.S.

[3] QS. An-Nisa’ [4] : 97; QS. Muhammad [47] : 27; QS. Yunus [10] : 46; QS. Sajdah [32] : 11.

[4] Ibnu Abi Hatim, Tafsirul Qur’anil ‘Adhim, jil. 4, hal. 1110, hadits 6232,  Maktabah Nizarul Musthafal Bariz, Saudi Arabia, 1419 H.

[5] Syaikh Shaduq, Al-Amali, jil. 1, hal. 218, penerbit Ketabkhane e Eslami, Tehran, 1362 H.S.

[6] “Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali.” (QS. Al-Baqarah [2]:259)

 

Kedudukan Sayidah Maryam as

 

Kedudukan Sayidah Maryam as

Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali-Imran [3]:42)

Apa yang menjadi sebab tingginya kedudukan Sayidah Maryam as? Apakah ia telah berkhidmat kepada umat manusia ataukah hanya sekedar banyak beribadah lebih dari perempuan-perempuan lainnya? Cerita tentang Nabi Isa as juga menunjukkan bahwa para nabi telah ditentukan sejak dahulu kala. Mereka tidak melakukan usaha apapun untuk mencapai tingginya keluhuran sifat-sifat nabi. Kalau tidak, bagaimana mungkin dari bayi ia sudah mengaku sebagai nabi?

Jawaban global:

Dalam Al-Qur’an dan hadits disebutkan bahwa Sayidah Maryam as putra Imran as lahir dari keluarga miskin yang tak mampu mengeleloa hidup sehari-hari karena kondisi ekonominya (karena ayahnya meninggal dunia sebelum ia lahir). Oleh karena itu ia dibesarkan oleh Nabi Zakaria as, istri dari bibi Sayidah Maryam as.

Kehidupan wanita mulia itu penuh dengan kesusahan, kesengsaraan, dan cobaan. Karena sejak sebelum lahir ibunya telah berjanji agar ia dijadikan sebagai pembantu kuil Baitul Muqaddas. Namun meski sedemikian susahnya, Sayidah Maryam as telah menjalankan tugasnya sebagai pembantu kuil dengan tabah tanpa mengadu sedikitpun. Ia pun selalu bersabar atas celaan-celaan yang dilontarkan mulut-mulut di sekitarnya. Karena kesabarannya dalam melewati hari-hari penuh ujian itulah Allah swt memberikan kedudukan dan derajat yang tinggi kepadanya.

Mukjizat dapat berbicaranya nabi Isa as saat ia masih bayi, memang merupakan bukti keagungannya. Namun selain itu, Tuhan mengaruniai kemampuan tersebut untuk membela sang ibu (Sayidah Maryam as) dari tuduhan orang-orang sekitarnya saat itu.

Dan juga, karena Tuhan swt maha tahu akan kelayakan Nabi Isa as, Ia telah memberikan banyak karunia sebagai “balasan sebelum amal” kepadanya dan menyampaikannya kepada kedudukan setinggi itu.

Jawaban detil:

Supaya permasalahan ini dapat menjadi lebih jelas, sebelumnya mari kita menelaah kisah hidup Sayidah Maryam as:

Dari sumber-sumber sejarah yang ada, dapat difahami bahwa Hanah dan Asya’ adalah dua bersaudari, yang pertama dinikahi oleh Nabi Imran as, dan yang kedua dinikahi oleh Nabi Zakaria as.

Tahun demi tahun berlalu, namun istri Nabi Imran as tidak memiliki seorang anak pun. Pada suatu hari, Hanah duduk di bawah pohon melihat burung yang sedang memberi makan anak-anaknya. Fenomena itu begitu menyentuh hatinya, yang mengobarkan rasa cintanya kepada anak yang sementara itu masih belum dikaruniai Tuhan swt. Akhirnya dari lubuk hati ia memohon kepada Allah swt untuk dikaruniai seorang anak. Lalu doa itu dikabulkan, dan akhirnya ia mengandung.

Dari sebagian riwayat juga dapat difahami bahwa Allah swt pernah mewahyukan kepada nabi Imran as bahwa kelak Ia akan mengaruniai seorang anak yang penuh berkah, yang dapat mengobati orang-orang yang sakit dan bahkan menghidupkan orang yang sudah mati, dan ia adalah seorang nabi yang bakal diutus untuk Bani Israil.

Nabi Imran as menceritakan hal itu kepada istrinya. Istrinya pun gembira. Saat ia hamil, ia mengira bahwa anak yang dijanjikan itu adalah yang dikandungnya. Padahal mereka tidak tahu kalau yang dikandung adalah Sayidah Maryam. Atas dasar sangkaan tersebut, sang ibu berjanji bahwa anak yang akan ia lahirkan nanti bakal berkhidmat di kuil Baitul Muqaddas sebagai pembantu. Namun saat bayi itu lahir, dan ternyata bayi itu adalah perempuan, sang ibu kebingungan harus berbuat apa. Karena pembantu di Baitul Muqaddas adalah lelaki, sama sekali tak pernah ada perempuan yang menjadi pembantu di kuil suci itu.

Sebagian ahli berkata: “Ndzar dan janji istri Nabi Imran as menunjukkan bahwa saat itu suaminya telah meninggal dunia. Karena tidak mungkin ia sendiri memutuskan untuk berjanji dengan janji tersebut.”[1]

Dari ayat-ayat di atas, dan sebagaimana yang dapat kita fahami dari hadits-hadits, jelas bahwa Maryam putri Imran terlahir dari keluarga miskin yang tak mampu, yang tak dapat menjalani hari-harinya dengan mudah karena tekanan ekonomi. Oleh karena itu, Nabi Zakaria as datang untuk mengambil dan membesarkan Sayidah Maryam as.[2]

Berdsarakan yang telah dijelaskan di atas, kita dapat fahami bahwa hidup Sayidah Maryam as penuh dengan kesusahan dan cobaan. Karena sebagaimana yang dijanjikan oleh ibunya, ia harus berkhidmat di kuil Baitul Muqaddas dengan mengemban segala kesusahannya. Namun meski sedemikian susahnya, ia tetap menjalani tugas-tugas itu dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Ia juga tabah mendengar celaan-celaan orang di sekitarnya yang menyakitkan. Karena ketabahannya itulah Allah swt memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepadanya, sehingga ia berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).” (QS. Ali-Imran [3]:42)

Ya, berdasarkan ketabahan seperti ini Tuhan swt memberikan kedudukan yang sangat tinggi kepada seorang wanita di antara wanita-wanita lainnya. Allah swt berfirman: “Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. “ (QS. Al-Baqarah: [2]:158)

Adapun khidmat untuk umat manusia, ya, beliau telah melakukan jasa besar untuk umat manusia. Ia adalah seorang ibu bagi nabi besar yang termasuk ulul-azmi, ia sendiri juga merupakan suri tauladan bagi para ibu dalam mendidik anaknya di setiap masa; itu adalah khidmat besar Sayidah Maryam as untuk umat manusia. Khidmat terbesar bagi umat manusia adalah mendidik manusia dengan pendidikan yang benar; dan itu telah dilakukan oleh Sayidah Maryam as.

Orang yang berhasil mendidik seorang manusia menjadi orang yang baik dan benar lalu mempersembahkannya kepada masyarakat, adalah orang yang telah memberikan layanan dan khidmat terbesar bagi umat manusia. Apalagi Sayidah Maryam as, yang telah membesarkan seorang nabi yang jelas-jelas telah memberikan hidayah kepada seluruh umat manusia di jamannya. Apakah ada khidmat yang lebih besar dari itu?

Ketakwaan dan ibadah serta ketabahan Sayidah Maryam as dalam menjalani hari-harinya berkhidmat di Baitul Muqaddas adalah hal yang tak bisa disepelekan. Atas dasar khidmat dan ketakwaan itulah Sayidah Maryam as mencapai kedudukan tertinggi di antara wanita-wanita lainnya. Perlu difahami bahwa Allah swt pasti membalas kebaikan seorang hamba meski sekecil apapun. Bagi-Nya, kualitas adalah yang terpenting, buan kuantitas ibadah yang dilakukan.

Adapun nabi Isa as dapat berbicara sejak bayi mengaku sebagai nabi, meskipun memang benar itu adalah mukjizat beliau, namun Tuhan memberikan karunia tersebut untuk membela sang ibu (Sayidah Maryam as) dari tuduhan orang-orang di sekitarnya. Karena orang-orang di saat itu menuduhnya sebagai pelacur yang harus dihukum mati. Orang-orang munafik saat itu memanfaatkan kesempatan hamilnya Sayidah Maryam as untuk mencoreng kepribadian beliau. Jika Sayidah Maryam as tidak dibela Tuhan swt dengan cara itu, mereka pasti mempertanyakan kesuciannya, dan akhirnya kebenaran nabi Isa as pun juga dipertanyakan pula. Satu-satunya yang dapat membuktikan kebenaran mereka berdua adalah mukjizat tersebut, yakni berbicaranya nabi Isa as sejak bayi yang membuktikan kepada semua orang bahwa ia adalah nabi Allah swt.

Nabi Isa as berjuang gigih menghidayahi umatnya dan mendidik mereka menjadi hamba Allah swt yang sejati. Tuhan telah mengetahui amal perbuatan beliau sejak semua itu masih belum dilakukan. Oleh karena itu, Ia berhak memberikan banyak karunia sebagai “balasan sebelum amal” kepadanya. [islamquest]

 


[1] Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 2, hal. 523, penerbit Darul Kutub Islamiah, Tehran, 1376 H.S.

[2] “(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah.” Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali-Imran [3]:35-37)

Dzul Qarnain adalah Khurush

 

Dalam surat Al-Kahfi [18], ayat 83, Allah berfirman, “Mereka akan bertanya kepadamu [Muhammad] tentang Dzul Qarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepada Kamu cerita tentangnya.’”

Di sini akan muncul sebuah pertanyaan, siapakah Dzul Qarnain itu?

Tentang siapakah sesungguhnya sosok Dzul Qarnain yang diceritakan dalam kisah Al-Qur’an dan sezaman dengan sejarah penting manakah kemunculannya, begitu banyak diskusi yang terjadi di kalangan para mufassir yang mengutarakan berbagai pendapat dalam masalah ini. Pendapat-pendapat mereka yang paling krusial adalah tiga pendapat di bawah ini:

Pertama, sebagian meyakini bahwa ia tidak lain adalah Iskandar Al-Maqduni (Alexander Agung). Oleh karena itu, sebagian mereka memberinya nama Iskandar Dzul Qarnain. Menurut pendapat mereka, setelah kematian ayahanda tercintanya, Iskandar Dzul Qarnain mampu menguasai negara-negara Roma, Maghrib, dan Mesir. Ia juga telah membangun sebuah kota yang bernama Iskandariyah, menguasai Baitul Maqdis dan Syam, kemudian melanjutkan ekspansinya ke Armenia, menaklukkan Irak dan Iran, lalu ke India dan China. Dari sana, ia kembali ke Khurasan dan membangun berbagai kota di Khurasan. Lalu, ia kembali ke Iraq lagi. Setelah itu, ia jatuh sakit dan meninggal dunia di kota Zuur. Menurut pendapat sebagian mufassirin, usia Dzul Qarnain tidak lebih dari 36 tahun. Jasadnya dibawa ke Iskandariyah dan dikebumikan di tempat tersebut.

Kedua, sebagian dari ahli sejarah sepakat bahwa Dzul Qarnain adalah salah seorang raja Yaman (Raja-raja Yaman dijuluki gelar “Tubba’”. Bentuk pluralnya adalah “Tabâbi’ah”).

Mereka yang mempertahankan pendapat ini adalah Al-Ashma’i dalam Târîkh al-‘Arab Qabl al-Islam (Sejarah Arab Sebelum Islam), Ibn Hisyam dalam buku sejarah terkenalnya yang bernama As-Sîrah, dan Abu Raihan Al-Biruni dalam kitabnya yang berjudul Al-Âtâr Al-Bâqiyah.

Bahkan dalam syair-syair kaum Himyari (dari bangsa Yaman) dan sebagian penyair-penyair Jahiliyah ditemukan bahwa mereka merasa bangga dengan sosok Dzul Qarnain di dalam syair-syair mereka.

Menurut pendapat ini, tanggul yang dibuat oleh Dzul Qarnain adalah tanggul terkenal yang bernama tanggul Ma’rib.

Ketiga, pendapat ketiga sebagai pendapat paling baru adalah pendapat yang dilontarkan oleh ilmuwan masyhur Islam Abul Kalam Azad, Menteri Kebudayaan India pada waktu itu, dalam buku hasil penelitiannya dalam masalah ini. Menurut pendapat ini, sosok Dzul Qarnain tak lain adalah Khurush Yang Agung, seorang raja dari dinasti Hakhamaneshi.

Dari pemaparan di atas, pendapat pertama dan kedua bisa dikatakan tidak mempunyai bukti yang relevan dengan sejarah. Selain itu, Iskandar Al-Maqduni pun tidak mempunyai kriteria yang dimiliki oleh Dzul Qarnain sebagaimana yang tertera di dalam Al-Qur’an, dan ia juga bukan salah satu dari raja-raja Yaman.

Lebih dari itu, ia tidak pernah menciptakan tanggul yang terkenal itu. Tanggul Ma’rib yang terletak di Yaman yang dikatakan sebagai buatan Iskandar Maqduni sama sekali tidak sesuai dengan sifat-sifat tanggul milik Dzul Qarnain yang diceritakan dalam Al-Qur’an, karena tanggul Dzul Qarnain terbuat dari besi dan tembaga yang dibangun untuk menghalangi serangan kaum barbar, sementara tanggul Ma’rib adalah sebuah tanggul dengan konstruksi biasa yang dibangun untuk mengumpulkan air dan menghalangi terjadinya banjir, yang penjelasannya terdapat dalam surat Saba’.

Berangkat dari dalil inilah, kami akan lebih mengkonsentrasikan diri pada pendapat ketiga dengan memperhatikan beberapa hal di bawah ini secara cermat:

1. Pokok bahasan pertama yang menarik perhatian di sini adalah mengapa dia dinamakan Dzul Qarnain (Pemilik Dua Abad/Tanduk)?

Sebagian berpendapat bahwa pemberian nama ini dikarenakan kekuasaannya yang telah sampai ke barat dan timur dunia. Orang-orang Arab menamakan kedua arah tersebut dengan qarnai asy-syams (dua tanduk matahari).

Sebagian lagi berpendapat bahwa nama ini telah diberikan kepadanya karena ia hidup atau memegang tampuk pemerintahan selama dua kurun. Tentang jumlah satu kurun setara dengan berapa tahun itu, para pemilik pendapat ini masing-masing mempunyai pandangan yang berlainan.

Kelompok lain mengatakan, karena di kedua sisi kepalanya terdapat dua benjolan khas, ia dikenal dengan nama Dzul Qarnain.

Dan akhirnya, sebagian lagi meyakini bahwa karena mahkota istimewanya mempunyai dua tanduk kecil.

Dan masih banyak pendapat lain yang untuk menukilnya membutuhkan waktu yang panjang. Dan sebagaimana yang akan kita lihat nanti, penggagas pendapat ketiga, yaitu Abul Kalam Azaad, banyak memanfaatkan penamaannya dengan Dzul Qarnain untuk membuktikan pendapatnya sendiri.

2. Dari Al-Qur’an bisa dipahami dengan baik bahwa Dzul Qarnain mempunyai sifat-sifat yang istimewa, antara lain:

a. Allah meletakkan sarana dan faktor-faktor kemenangan di dalam kewenangannya.

b. Ia mempunyai tiga ekspedisi penting: pertama, ke belahan barat, setelah itu ke belahan timur, dan akhirnya ke daerah-daerah yang terdapat barisan pegunungan. Dan ia senantiasa berhadapan dengan berbagai kaum pada setiap ekspedisi ini.

c. Ia seorang pria mukmin yang bertauhid, penyayang, dan tidak menyimpang dari jalan keadilan. Dengan alasan ini, ia mendapatkan perhatian yang khusus dari Allah swt. Sosoknya adalah sahabat bagi para budiman dan pembuat kebajikan, akan tetapi musuh bagi para perusak dan pembuat kejahatan. Dan ia pun tidak menyukai kekayaan dan harta dunia.

d. Dia mempunyai iman yang kuat kepada Allah dan meyakini adanya Hari Kebangkitan.

e. Ia adalah pembangun salah satu tanggul yang paling penting dan paling kuat, sebuah tanggul yang terbuat dari besi dan tembaga sebagai pengganti konstruksi batu dan batu bata (dan apabila terdapat bahan bangunan lain di dalam bangunan tersebut, maka semua berada di bawah konstruksi kedua bahan bangunan utama ini). Tujuannya membangun tanggul ini adalah untuk membantu kelompok-kelompok lemah dalam menghadapi kekejaman dan kejahatan kaum penentang dan pemberontak.

f. Ia adalah seseorang tokoh yang namanya telah terkenal di kalangan sebagian kaum sebelum turunnya Al-Qur’an. Oleh karena itu, kaum Quraisy atau Yahudi pernah menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. Al-Qur’an berfirman,“Mereka akan menanyakan kepadamu tentang Dzul Qarnain.”

Akan tetapi, tidak ditemukan satu pun ayat Al-Qur’an yang mengatakan secara tegas tentang kenabiannya, meskipun terdapat ungkapan-ungkapan di dalamnya yang mengisyaratkan hal itu sebagaimana telah diutarakan pada penafsiran ayat-ayat sebelumnya.

Dari sebagian riwayat Islam yang telah dinukil dari Rasulullah saw. dan para imam Ahlul Bait a.s., kita dapat membaca, “Dia bukanlah seorang nabi, akan tetapi seorang hamba yang saleh.”

3. Prinsip dari pendapat ketiga (yaitu bahwa Dzul Qarnain adalah Khurush Yang Agung) dengan penjelasan yang sangat ringkas, didasarkan pada dua hal berikut:

Pertama, berdasarkan sebuah riwayat yang sesuai dengan asbabun nuzul ayat-ayat tersebut, para penanya yang mengutarakan pertanyaan tentang masalah ini kepada Rasululaah saw. adalah kaum Yahudi atau kaum Quraisy dengan provokasi dari kaum Yahudi. Dengan demikian, akar persoalan ini harus dicari di dalam kitab-kitab Yahudi.

Kita akan mencoba membuka Kitab Daniel (sebuah kitab dari kitab-kitab terkenal milik Yahudi) pasal ke delapan, dan di dalamnya termaktub, “Pada tahun pemerintahan Bal Shassar, telah terjadi sebuah mimpi atasku, Daniel, yang  sebelumnya terjadi pula mimpi yang pertama atasku. Di dalam mimpiku, aku melihat diriku berada di dalam istana Shushan yang terletak di negara Ilam. Aku sedang berdiri di dekat sungai Uuloy dan menatap ke sekeliling ketika kemudian tatapan mataku tertumbuk pada sebuah biri-biri jantan yang sedang berdiri di seberang sungai. Biri-biri jantan itu mempunyai dua tanduk yang panjang … Ia mengarahkannya ke timur, barat, dan utara. Tidak ada seekor binatang pun yang mampu menghadapinya. Karena tidak ada seorang pun yang bisa melepaskan diri dari cengkeramannya, maka mereka menyepakati untuk menjalankan apa yang diperintahkannya dan hal ini menjadikannya bertambah besar.”

Di dalam Kitab Daniel ini juga termaktub, “Jibril telah menampakkan diri di hadapannya dan ia menta’birkan mimpi Daniel sebagai berikut, “Biri-biri jantan pemilik dua tanduk yang kamu lihat itu adalah raja Mada’in dan Persia (atau raja Mad dan Persia).”

Kaum Yahudi dengan melihat tanda-tanda mimpi Daniel tersebut menyimpulkan bahwa masa penjajahan mereka akan berakhir, dan mereka pun akan terlepas dari cengkeraman kaum Babylon dengan bangkitnya salah seorang raja Maad dan Persia dengan kemenangan yang diperolehnya atas raja-raja Babylon.

Tidak berapa lama kemudian, Khurush memegang kekuasaan di Iran dan ia menyatukan bangsa Maad dan Persia sehingga terbentuklah sebuah kesultanan besar. Dan sebagaimana mimpi Daniel yang mengatakan bahwa biri-biri jantan tersebut mengarahkan tanduknya ke barat, timur dan utara, Khurush pun telah melakukan ekspansi besar-besaran pada ketiga arah mata angin tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh biri-biri jantan itu.

Dan Khurush pun membebaskan kaum Yahudi serta memberikan izin kepada mereka untuk kembali ke tanah Palestina.

Yang menarik lagi, di dalam kitab Ash’iya pasal 44, ayat 28 kita membaca, “Kemudian secara khusus mengenai Khurush, Ia berfirman, ‘Ia adalah malam-malam-Ku dan ia telah menyelesaikan semua keinginan-Ku. Ia akan mengatakan kepada Yarussalem bahwa engkau pasti akan dibangun.”

Hal ini juga perlu pula mendapatkan perhatian bahwa dalam sebagian dari ungkapan-ungkapan yang terdapat di dalam kitab Taurat, Khurush juga diberi julukan “Elang Timur” dan “Pria Bijaksana yang datang dari tempat jauh.”

Kedua, pada abad ke-19 Masehi, telah ditemukan sebuah patung Khurush di dekat kolam renang yang terletak di samping sungai Murghab. Patung ini mempunyai tinggi seukuran tinggi manusia dan sosok Khurush di sini dijelmakan dengan bentuk manusia yang mempunyai dua buah sayap yang terletak di kedua sisinya sebagaimana sayap elang dan di atas kepalanya terletak sebuah mahkota yang mempunyai dua buah tanduk sebagaimana tanduk-tanduk yang dimiliki oleh biri-biri jantan itu.

Patung ini merupakan sebuah contoh yang sangat berharga dari hasil karya para pemahat kuno yang telah menjadikannya sebagai sebuah obyek yang sangat menarik perhatian para ilmuwan, sehingga sebagian ilmuwan Jerman melakukan perjalanannya ke Iran hanya untuk melihat patung ini.

Adanya relevansi antara kandungan yang terdapat di dalam kitab Taurat dengan spesifikasi yang dimiliki oleh patung Khurush ini menyebabkan asumsi para ilmuwan tentang statemen penamaan Khurush sebagai Dzul Qarnain (Pemilik Dua Tanduk) menjadi betul-betul kuat. Demikian pula pertanyaan tentang mengapa patung batu Khurush mempunyai dua sayap sebagaimana sayap yang dimiliki oleh elang telah terjawab. Dengan demikian, sebagian ilmuwan menjadi yakin bahwa dengan metode dan cara ini tokoh sejarah Dzul Qarnain betul-betul telah menjadi jelas.

Yang lebih mempertegas kebenaran pendapat ini adalah sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh Khuresh sebagaimana yang telah tertulis di dalam sejarah.

Herodus, seorang sejarawan Yunani menulis, “Khurush memerintahkan supaya tentaranya tidak mengarahkan pedangnya kecuali kepada prajurit perang. Demikian juga untuk tidak membunuh prajurit dari pihak musuh yang telah menundukkan pedangnya. Dan lasykar Khurush pun menaati apa yang diperintahkan olehnya sehingga lapisan masyarakat tidak merasakan musibah dari peperangan.”

Demikian juga, tentang sosok Khurush, Herodus menulis di dalam bukunya, “Khurush adalah seorang raja yang mulia, periang, dan sangat lembut serta penyayang. Ia tidak menyukai ketamakan sebagaimana raja-raja yang lain. Ia sangat tertarik dengan sifat-sifat mulia dan murah hati. Ia menciptakan keadilan untuk orang-orang yang tertindas dan ia semakin menyukai suatu perbuatan yang di dalamnya menjanjikan kebaikan yang lebih.”

Seorang sejarawan lainnya, Dey Nufen menulis “Khurush adalah seorang raja yang arif dan penyayang. Sifat kebesaran para raja dan keutamaan para arif berkumpul di dalam dirinya. Ia mempunyai sifat keperdulian yang dimiliki oleh para petinggi, penampilannya wajar, syair-syair yang dimilikinya menunjukkan rasa kemanusiaan, dan wujudnya adalah lambang keadilan dan kerendahan hati. Sifat dermawan yang berada di dalam dirinya telah menggantikan kesombongan dan rasa bangganya.”

Sangat menarik, para sejarawan yang memperkenalkan sosok Khurush dengan sifat-sifat seperti ini, semua adalah para penulis sejarah asing, bukan kaum Khurush sendiri atau orang-orang yang sebangsa dengannya. Mereka adalah orang-orang Yunani. Kita sendiri mengetahui bahwa para warga Yunani tidak pernah memandang Khurush secara bersahabat. Sejak jatuhnya negara Liudya ke dalam kekuasaan Khurush, itu menyebabkan bangsa Yunani telah mengalami kekalahan yang besar dan sangat telak.

Para pendukung pendapat ini mengatakan bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Dzul Qarnain sebagaimana yang telah tersebut dalam Al-Qur’an mempunyai relevansi dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Khurush.

Lebih dari itu, sebagaimana yang telah tertulis di dalam buku biografinya, Khurush juga telah melakukan perjalanannya ke arah barat, timur dan utara, yang hal ini mempunyai kesesuaian dengan tiga perjalanan yang dilakukan oleh Dzul Qarnain, sebagaimana yang tertera di dalam Al-Qur’an.

Ekspsansi pertama yang dilakukan oleh Khurush menuju ke negara Liudya yang terletak di bagian selatan Asia Kecil. Dan apabila negara ini dilihat dari pusat pemerintahan Khurush, terletak di bagian barat kawasan kekuasaannya.

Apabila peta pantai barat Asia Kecil kita letakkan di hadapan kita, maka kita akan mengetahui bahwa sebagian besar pantai akan tenggelam di dalam teluk-teluk kecil, khususnya yang berada di dekat Azmir di mana teluk di daerah ini muncul dalam bentuk sumber mata air.

Al-Qur’an mengatakan bahwa Dzul Qarnain dalam perjalanannya ke barat merasakan bahwa matahari akan tenggelam ke dalam sebuah sumber mata air yang berlumpur.

Gambaran ini merupakan kejadian yang dialami oleh Khurush ketika ia melihat tenggelamnya bola matahari (menurut pendapat pemirsa) ke dalam teluk-teluk pantai.

Ekspansi kedua Khurush mengarah ke timur. Herodus menulis, “Serangan Khurush ke timur ini terjadi setelah penaklukan Liudya. Hal ini khususnya lantaran para pemberontak sebagian dari kabilah-kabilah liar telah memaksa Khurush untuk melakukan serangan ini.

Al-Qur’an menggambarkan, “Hingga apabila ia telah sampai ke tempat terbit matahari [sebelah timur], ia mendapati bahwa matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari [cahaya] matahari itu.(QS. al-Kahfi [18]: 90). Ini merupakan isyarat bahwa perjalanan Khurush yang dilakukannya hingga ke perbatasan bagian timur, di mana di sana ia menyaksikan bahwa matahari telah menyinari sebuah kaum yang tidak mempunyai pelindung ketika berhadapan dengan sinarnya, menunjukkan bahwa kaum tersebut adalah kaum pengembara yang biasa berada di padang sahara.

Khurush juga mempunyai ekspansi ketiga yang bergerak ke arah utara mengarah menuju ke pegunungan Qafqaf (Vladkavkaz) hingga sampai di daerah lembah antara dua gunung. Untuk menghindari serangan para kaum liar, ia membangun tanggul yang tangguh berhadapan dengan daerah lembah tersebut sesuai dengan keinginan penduduk setempat.

Lembah pegunungan ini pada era sekarang dinamakan sebagai lembah pegunungan Darial, yang di peta ditunjukkan berada di antara Vladkyukez dan Taflis. Hingga sekarang, pada tempat tersebut masih terlihat adanya dinding besi, dan dinding besi ini adalah tanggul yang dibangun oleh Khurush, karena sifat-sifat yang dipaparkan Al-Qur’an tentang tanggul Dzul Qarnain ini sangat mirip dengan tanggul tersebut.

Inilah penjelasan ringkas untuk menjelaskan dan menguatkan pendapat ketiga. Benar apabila dikatakan bahwa di dalam pendapat ketiga ini pun masih terdapat hal-hal yang tidak jelas dan kabur. Akan tetapi, untuk saat ini, bisa dikatakan bahwa pendapat ketiga ini merupakan pendapat yang paling kuat tentang relevansi antara sosok Dzul Qarnain dengan seorang tokoh terkenal dalam sejarah, yaitu Khurush.

Mendudukkan Nikah Mut’ah Agar Umat Tidak Salah paham

 

Dampak menjalankan ibadah

Islam adalah sebuah sistem yang utuh, yang jika dijalankan semua peraturannya, pemeluknya bakal merasakan banyak manfaat, yang paling tingginya adalah kesempurnaan diri dalam kehidupan ini, kehidupan dunia dan alam baka nanti.

Ajaran Islam terdiri dari sekumpulan taklif dan kewajiban. Pemeluk agama ini berkonsekwensi untuk mengemban semua kewajiban tersebut tanpa memilah-milahnya

.
Oleh karenanya konyol sekali orang yang hanya mau menjalankan sebagian ibadah saja lalu meninggalkan lainnya.

Hal-hal seperti poligami dan mut’ah, yang merupakan suatu kriteria khas yang ada dalam Islam, dan Syiah, seringkali dianggap sebagai suatu keuntungan dalam memeluk ajaran ini. Sebagian besar orang yang tolol memeluk ajaran ini hanya untuk bisa menikmati keuntungan tersebut, dengan meninggalkan dan tanpa mempertimbangkan apa lagi menjalankan kewajiban dan taklif yang telah dicatatkan di balik keduanya.

Orang-orang tolol itulah, yang hanya menikmati poligami dan mut’ah tanpa menjalankan kewajiban di baliknya, istilahnya “di ambil enaknya saja”, yang kemudian mencemari nama Islam sehingga poligami dan mut’ah menyandang arti negatif yang mengundang sejuta protes dari berbagai kalangan yang “sok”.

Padahal poligami dan mut’ah yang telah mengalami perubahan citra itu jarang pernah dikaji falsafahnya yang sebenarnya. Jika kita tahu falsafah keduanya, dan jika kita berusaha mencegah orang-orang tolol di atas untuk menyalah gunakannya, pasti citra Islam dapat terjaga.

 

Dampak menjalankan ibadah

Pertanyaan: Mengapa menjalankan ritual ibadah seperti shalat, puasa, haji…tidak memiliki dampak yang terasa?

Jawaban Global:

Semua ibadah, seperti shalat, puasa, haji, memiliki dampak-dampak individu dan sosial yang cukup banyak. Salah satu dampak positif shalat yang paling tinggi adalah kedekatan kepada Allah dan tercegahnya perbuatan buruk. Puasa juga memiliki dampak-dampak yang banyak. Misalnya: kesehatan badan, menumbuhkan tenggang rasa, dan mewujudkan ketakwaan. Haji pun juga demikian, sebagai safar ruhani dan maknawi, jika dijalankan dengan memperhatikan aturan-aturannya dengan benar, dan selain hanya menjalankan ritual fisiknya juga menghayati makna batiniahnya, pasti akan memberikan banyak dampak positif pada kedalaman jiwa manusia yang penuh berkah, yang bahkan sampai akhir hayatpun dampak tersebut akan dapat dirasakan. Berhias dengan perhiasan dan sifat-sifat penghambaan, mewujudkan dimensi penyerahan diri dan peribadatan di hadapan Tuhan, melangkah bersama dengan para nabi dan wali-wali Allah di Makkah dan Madinah serta tempat-tempat suci lainnya seperti ‘Arafat, Masy’ar dan Mina, mengenakan pakaian ihram putih yang mengingatkan kematian, semua itu dapat memberikan dampak dan efek spesial bagi diri manusia. Namun jika kita merasa amal-amal itu tidak memiliki dampak yang terasa, maka perlu dipertanyakan bagaimana kita telah menjalankannya? Supaya kita dapat membenahi kesalahan dalam menjalankan ritual-ritual ibadah tersebut.

Jawaban Detil:

Dampak dan efek amal ibadah bagi akhlak dan perilaku manusia, sangat tergantung secara langsung pada spiritualitas pelaku dan dikerjakannya ibadah tersebut dengan memperhatikan adab-adab serta syarat-syaratnya. Jika amal ibadah tidak berdampak pada akhlak dan perilaku kita, maka kesalahannya ada pada amal dan niat yang kita punya, dan kita harus membenahinya. Alhasil amal ibadah memiliki efek dan danpak positif yang bermacam-macam dalam kehidupan manusia baik secara individu maupun sosial.

Dampak-dampak Shalat

Shalat yang sempurna memiliki dampak yang menakjubkan pada jiwa dan pribadi manusia. Jika kita menjauh dari shalat maka dampaknya akan berkurang. Kini saya bertanya kepada anda: Jika seorang pendosa yang tidak memiliki niat tulus meninggalkan shalat dan tidak melakukannya, apakah ia akan mendapatkan keadaan yang lebih baik? Apakah hatinya akan menjadi terang dan nyaman? Tanpa ragu shalat bagi orang itu memiliki dampak khusus pada kadarnya sendiri, yang mana jika orang itu meninggalka shalat maka noda dan dosanya akan bertambah; yakni dampak shalat yang berupa “tercegahnya perbuatan buruk dan munkar”[1] tetap nampak meskipun tak seberapa pada orang itu yang akhirnya menambah keburukan dan dosanya. Lalu bagaimana mungkin kita mengingkari dampak-dampak yang jelas ini?

Dalam riwayat disebutkan: “Seorang pemuda dari Anshar shalat bersama nabi, namun ia juga tetap melakukan dosa dan perbuatan-perbuatan yang diharamkan. Hal itu diceritakan kepada Rasulullah saw. Beliau berkata: “Pasti suatu hari nanti shalat akan mencegahnya dari perbuatan buruk dan dosa.” Lalu tak lama kemudia mereka melihat pemuda tersebut bertaubat dan tidak lagi melakukan perbuatan buruk.”[2]

Saya bertanya lagi kepada anda: apakah jika orang itu memilki niat yang tulus dan bersih, jika dia rajin melakukan shalat, beribadah, berdoa, bertawasul dan bermunajat dengan Tuhan, apakah hatinya tidak akan menjadi lebih bersih? apakah tidak akan lebih bersinar dan cemerlang?

Dampak shalat bagi siapa saja sesuai dengan kadar makrifat, pengetahuan, niat yang tulus, kekhusyukan, dan hal-hal lainnya seperti adab-adab yang perlu diperhatikan. Karena perkara-perkara itu berbeda dalam setiap orang, maka dampak-dampak shalat bagi tiap orang pun berbeda-beda. Namun yang pasti shalat memiliki banyak dampak yang terasa meski kadarnya berbeda-beda bagi tiap pelakunya.

Dampak-dampak Puasa

Banyak sekali dampak dan efek yang dihasilkan oleh ibadah puasa yang telah disebutkan baik bagi fisik maupun jiwa manusia.[3] Beberapa darinya adalah:

1. Puasa dapat melembutkan jiwa manusia dan menguatkan kekuatan kehendaknnya serta menyeimbangkan nalurinya.[4]

2. Puasa untuk menyama ratakan antara orang yang miskin dengan yang kaya. Dengan mewujudkan tenggang rasa dan mencicipi rasa lapar, kita ingat dengan keadaan kaum fakir miskin lalu terdorong untuk menunaikan hak-hak mereka.

3. Puasa memiliki efek kesehatan dan penyembuhan yang luar biasa.[5]Seoorang ilmuan asal Rusia, menyatakan bahwa orang yang berpuasa dapat menyembuhkan beberapa penyakit, misalnya kurang dara, lemah usus, reumatik, encok, penyakit mata, gula darah, dan penyakit-penyakit ginjal.[6]

4. Berdasarkan statistik resmi, pada bulan Ramadhan tingkat kriminal dan kejahatan lebih berkurang daripada hari-hari biasa.

Dampak-dampak Haji

Perjalanan spiritual haji, jika dilaksanakan sesuai dengan adab-adab dan syarat-syaratnya, serta memperhatikan sisi-sisi maknawiyahnya juga selain hanya menjalankan ritual fisikalnya saja, pasti akan meninggalkan dampak yang dalam dan penuh berkah pada jiwa manusia dan tetap terasa hingga akhir hayatnya. Berhias dengan perhiasan dan sifat-sifat penghambaan, mewujudkan dimensi penyerahan diri dan peribadatan di hadapan Tuhan, melangkah bersama dengan para nabi dan wali-wali Allah di Makkah dan Madinah serta tempat-tempat suci lainnya seperti ‘Arafat, Masy’ar dan Mina, mengenakan pakaian ihram putih yang mengingatkan kematian, berjalan dan bertawaf mengelilingi rumah Tuhan, simbol tauhid, kebersamaan dan persatuan, semuanya dapat menjadi sarana perubahan yang luar biasa bagi diri seseorang. Dampak sosial ibadah haji juga banyak sekali. Berkumpulnya jutaan umat Islam di satu waktu dan tempat seperti Makkah adalah simbol persatuan kekuatan dunia Islam.

Dengan disebutkannya dampak-dampak ibadah dalam kitab-kitab riwayat, jika ternyata dampak tersebut tidak dirasakan oleh seseorang, yang perlu ditanyakan adalah amal perbuatan serta niatnya yang mungkin saja tidak sempurna, kemudian harus dibenahi kembali dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu, jika misalnya kita melihat seseorang yang rajin shalat namun ia tetap melakukan perbuatan-perbuatan buruk, atau ia tidak mejadi lebih dekat kepada Tuhan, perlu diketahui bahwa shalatnya tidak dijalankan dengan sebagaimana harusnya, dan hanya sekedar gerakan fisik yang tak berarti. Oleh karenanya ibadah yang dilakukannya tidak berdampak apapun bagi pelakunya. Tidak hanya shalat, ibadah-ibadah lainnya pun juga demikian. [islamquest]


[1] QS. al-Ankabut (29): 49.

[2] Reyshahri, Muhammad, Mizan Al-Hikmah, jil. 5, hal. 371, hadits 10254, cetakan Daftar e Tablighat e Eslami, 1362 HS.

[3] Silahkan merujuk: Kulaini, Ushul Kafi, jil. 4, hal. 62, bab Keutamaan Puasa dan Orang yang Berpuasa, Darul Kutub Islamiah, Qom, 1365 HS.

[4] Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]:183 )

[5] Majlisi, Muhammad Baqir, Bihar Al-Anwar, jil. 59, hal. 267, Muasasah Al-Wafa, Beirut, 1404 H.

[6] Dari software Porseman.

maksud dari tujuh langit (samâwât sab’)

Di dalam tujuh ayat Al-Qur’an terdapat pembahasan tentang tujuh langit ini. Di antara keseluruhan interpretasi beragam yang membahas tujuh langit, berikut ini adalah interpretasi yang paling tepat. Yaitu, maksud dari tujuh langit (samâwât sab’) adalah makna hakiki dari tujuh langit yang ada. Yaitu, yang dimaksud dengan langit di sini bukanlah planet, melainkan kumpulan dari bintang-bintang dan kosmos angkasa. Dan maksud dari angka tujuh merupakan angka jumlah yang telah kita kenal, bukan angka yang mengindikasikan arti banyak.

Hanya saja, di dalam ayat-ayat lain Al-Qur’an ditemukan bahwa seluruh apa yang kita lihat dari bintang-bintang, planet, galaksi, dan meteor-meteor berkaitan dengan rangkaian langit pertama. Oleh karena itu, di balik kosmos agung ini, terdapat enam kosmos lain (enam langit) yang satunya lebih baik dari yang lainnya. Dan keenam kosmos ini —paling tidak hingga hari ini— berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan manusia.

Dalam surat Ash-Shaffat [37], ayat 6 difirmankan, “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan bintang-bintang.”

Dan dalam surat Fushshilat [41], ayat 12 difirmankan, “… dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang ….”

Dan terdapat pula makna yang sama dengan sedikit perbedaan dalam surat Al-Mulk [67], ayat 5 difirmankan, “Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, ….”

Yang menarik untuk dikaji dalam topik bahasan ini adalah klaim Alamah Al-Majlisi dalam Bihâr Al-Anwâr-nya yang mencantumkan kemungkinan ini pula sebagai salah satu dari tafsir-tafsir ayat tersebut. Ia menulis, “Kemungkinan ketiga yang muncul di dalam pikiranku adalah, bahwa seluruh galaksi yang telah dibuktikan sebagai bintang-bintang, semuanya dinamakan dengan langit bawah.”

Benar apabila dikatakan bahwa sains kita saat ini belum bisa membuka tabir kekaburan dari keenam kosmos yang lainnya. Akan tetapi, hal ini sama sekali bukan merupakan dalil penafian keberadaan tatanan kosmos tersebut dari pandangan ilmiah. Dan bisa jadi di masa yang akan datang, rahasia dari teka-teki ini akan bisa terungkap.

Bahkan, penelitian ilmiah sebagian astrolog membuktikan bahwa saat ini, indikasi dari keberadaan alam lain telah bisa terlihat dari jauh. Salah satunya adalah apa yang sebelumnya dikatakan oleh Pusat Penelitian Astrologi “Polumor” yang terkenal tentang keagungan dunia sebagaimana yang sebelumnya pernah kami nukilkan. Dan klaim yang menjadi saksi atas pendapat kami, akan kami ulangi di sini, “Dengan menggunkan teropong milik Pusat Penelitian Astrologi Polumor telah ditemukan berjuta-juta galaksi baru, yang sebagiannya mempunyai jarak dari kita sejauh beribu juta tahun cahaya. Akan tetapi, di seberang jarak ribuan juta tahun cahaya ini terdapat ruang udara yang luar biasa luas dan gelap gulita di mana tidak ada sesuatu pun terlihat di sana.

Tanpa ragu lagi, di dalam ruang udara yang luar biasa luas dan gulita tersebut terdapat ratusan juta galaksi di mana tatanan kosmos yang berada di samping kita terjaga keseimbangannya dengan gravitasi yang dimiliki oleh galaksi tersebut. Keseluruhan dunia yang terlihat sangat agung dan mempunyai ratusan juta galaksi ini hanyalah butiran kecil yang tak bisa diperhitungkan dibandingkan dengan dunia yang lebih besar, dan kita masih saja tidak mempunyai keyakinan bahwa dalam keluasan dunia kedua tersebut tidak ada lagi dunia yang lain.”

Di tempat lain, salah seorang ilmuwan dalam artikel  panjang menulis tentang keberadaan mikrokosmos yang agung ini, setelah sebelumnya menyebutkan keajaiban galaksi-galaksi yang ada dalam pasal-pasalnya yang luar biasa mendalam dan memaparkan tentang fariasinya yang mengagumkan yang semua itu didasarkan pada hitungan tahun cahaya. Ia mengatakan, “Hingga di sini para ahli perbintangan sepakat bahwa mereka baru menjalani separuh perjalanan dalam mengenali fenomena-fenomena yang bisa terlihat dari dunia dengan keagungannya, dan masih ada lagi ruang hampa lain yang belum bisa ditemukan di mana persoalan ini harus dicari jawabannya.”

Dengan demikian, kosmos-kosmos yang hingga sekarang telah ditemukan oleh manusia dengan segala keluarbiasaan yang dimilikinya hanyalah merupakan sisi kecil dari mikrokosmos yang besar dan luas ini dan bisa direlevansikan dengan persoalan tujuh langit.

bangunnya kembali Ashabul Kahfi setelah sekian lama tidur adalah mirip dengan hidup kembali setelah mati

Kisah Ashabul Kahfi dan sains

Dalam masalah tidur panjang para pemuda kota Afsus (Ashabul Kahfi) yang berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, mungkin saja akan menimbulkan keraguan pada beberapa orang dan mereka menganggap hal ini tidak relevan dengan parameter-parameter ilmiah. Oleh karena itu, mereka menempatkan peristiwa ini sederet dengan khayalan dan dongeng belaka, karena:

Pertama, usia panjang yang mencapai ratusan tahun untuk orang-orang yang bangun saja merupakan sebuah hal yang tidak rasional. Apa lagi untuk orang-orang yang tidur!

Kedua, apabila kita menerima bahwa usia sekian ratus tahun ini adalah suatu hal yang mungkin dan bisa terjadi dalam kondisi bangun, maka dalam keadaan tidur, hal ini mustahil bisa terjadi. Karena pasti akan muncul problem makan dan minum. Bagaimana mungkin orang bisa bertahan hidup selama beratus-ratus tahun tanpa membutuhkan makan dan minum? Dan seandainya untuk setiap hari hidup kita membutuhkan satu kilo makanan dan satu liter air saja, maka untuk seusia Ashabul Kahfi ini, kita harus menggudangkan lebih dari seratus ton makanan dan seratus ribu liter air, yang tentu saja ukuran sebanyak ini belum mempunyai arti.

Ketiga, apabila semua itu tidak dianggap, maka kita akan tetap dihadapkan dengan persoalan, yaitu, menetapnya tubuh dalam kondisi monoton dan itu pun untuk waktu yang sangat panjang pasti akan menyebabkan kerusakan pada organisme tubuh dan menimbulkan begitu banyak kerusakan padanya.

Pada mulanya, mungkin kritikan-kritikan semacam ini bisa mengantarkan kita kepada sebuah jalan buntu yang tidak mungkin kita tembus. Padahal, tidak demikian adanya, karena:

Pertama, persoalan usia panjang bukan merupakan persoalan yang tidak ilmiah, meskipun kita mengetahui bahwa panjangnya usia setiap makhluk hidup secara ilmiah tidak mempunyai parameter yang pasti dan paten, karena dengan kedatangan maut, sudah pasti ia akan mati.

Dengan ibarat lain, benar bahwa ketahanan tubuh manusia, bagaimanapun kuatnya, pada akhirnya mempunyai keterbatasan dan sampai pada akhir perjalanannya. Akan tetapi, klaim ini bukan berarti bahwa kondisi tubuh seorang manusia atau makhluk hidup lain tidak mempunyai kemampuan untuk bertahan hidup lebih lama dari usia yang sewajarnya, seperti yang terlihat di alam natural bahwa apabila air telah mencapai suhu seratus derajat celsius, konsekuensinya adalah air akan mendidih dan pada suhu nol derajat celsius, air akan menjadi es.

Demikian pula halnya dengan manusia. Ketika ia telah mencapai usia seratus atau seratus lima puluh tahun, maka jantungnya akan berhenti melakukan aktifitasnya sehingga dengan demikian, kematian akan menghampirinya. Tidaklah demikian adanya. Parameter panjang-pendeknya usia makhluk hidup bergantung banyak pada kondisi kehidupan mereka. Karena, dengan adanya perubahan kondisi kehidupan, maka panjang-pendeknya usia makhluk hidup benar-benar bisa mengalami perubahan juga.

Terbukti bahwa dari satu sisi, tidak ada satu pun ilmuwan di dunia ini yang mampu menentukan parameter yang pasti untuk usia manusia, dan dari sisi lain, penelitian yang mereka lakukan di lapangan dan laboratorium menunjukkan bahwa terkadang mereka mampu mengupayakan usia sebagian makhluk hidup lebih panjang beberapa kali lipat dari usia yang semestinya. Terkadang hal itu bisa sampai dua belas kali lipat lebih lama dari usia yang semestinya. Dan bahkan, pada saat ini, mereka memberikan harapan kepada manusia bahwa di masa yang akan datang, dengan ditemukannya metode ilmiah terbaru, usia manusia bisa diupayakan hingga mencapai beberapa kali lipat dari usia yang ada sekarang. Ini sehubungan dengan panjang-pendeknya usia.

Kedua, tentang problem air dan pangan dalam keadaan tidur panjang ini, bisa dikatakan bahwa apabila tidur yang dilakukan adalah tidur biasa sebagaimana yang sering terjadi pada diri kita, maka kebenaran ada pada para pengkritik. Yaitu, hal ini tidak relevan dengan prinsip ilmiah, karena pembakaran dan pembentukan badan dalam keadaan tidur biasanya akan lebih sedikit daripada ketika dalam keadaan terjaga. Akan tetapi, apabila hal yang sama dilakukan secara kontinyu untuk tahun-tahun berkepanjangan, maka hal itu akan menjadi sangat banyak. Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan bahwa di dunia natural kita ini terdapat pula jenis-jenis tidur yang dilakukan pada musim dingin di mana penggunaan makanan dalam tubuh dalam kondisi seperti ini sangatlah sedikit.

Penyakit Tidur Musim Dingin

Terdapat banyak jenis binatang yang pada keseluruhan musim dingin senantiasa berada dalam keadaan tidur panjangnya di mana dalam istilah ilmiahnya dinamakan dengan penyakit tidur musim dingin.

Aktifitas kehidupan pada jenis tidur semacam ini bisa dikatakan terhenti sama sekali dan hanya terdapat nyala yang amat kecil di dalamnya dan jantung seakan berhenti berdenyut. Mungkin ungkapan yang lebih tepat adalah, bahwa detakan jantung sedemikian lemahnya sehingga bisa dikatakan sama sekali tidak bisa dirasakan.

Dalam keadaan semacam ini, tubuh makhluk hidup bisa diibaratkan sebagai sebuah tanur besar yang telah padam, di mana dalam kepadamannya ini masih terdapat nyala lilin kecil yang tetap berada dalam aktifitasnya. Sangat jelas bahwa bahan makanan yang dimasak di dalam tanur yang biasanya dalam satu hari membutuhkan sekian bahan bakar untuk menghasilkan nyala api yang besar akan bisa menjadi makanan untuk puluhan atau ratusan tahun apabila dimasak dengan menggunakan nyala lilin yang amat kecil. (Tentu saja hal ini bergantung pada besar kecilnya nyala tanur dalam keadaan menyala dan dalam keadaan lilin kecil itu menyala).

Para ilmuwan dalam menanggapi masalah penyakit tidur musim dingin sebagian binatang ini berkata, “Apabila kita keluarkan seekor katak yang sedang berada dalam keadaan tidur musim dinginnya dari tempatnya, maka ia seakan-akan tampak mati, tidak ada udara dari paru-parunya, dan detakan jantungnya sedemikian lemah sehingga tidak bisa ditemukan.

Di antara binatang-binatang berdarah dingin yang mempunyai kebiasaan tidur musim dingin ini adalah sebagian kupu-kupu dan serangga. Demikian juga jenis-jenis siput tanah, binatang-binatang melata dan sebagian dari binatang menyusui (berdarah panas) pun mempunyai kebiasaan tidur musim dingin ini. Ketika mereka sedang melakukan tidur musim dingin, maka aktifitas-aktifitas kehidupan sangatlah sedikit, dan lemak-lemak yang tersimpan di dalam badan akan dimanfaatkan secara bertahap.”

Maksudnya adalah, bahwa kita mempunyai jenis tidur yang dalam kondisi tidur ini kebutuhan akan makan dan minum menjadi luar biasa sedikit dan aktifitas kehidupan hampir mendekati nol. Dan kebetulan, hal inilah yang membantu guna menghindarkan anggota badan dari kerusakan dan keletihan, serta akan mempengaruhi panjangnya usia binatang-binatang jenis ini. Pada prinsipnya, tidur musim dingin ini merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi sebagian binatang yang mungkin tidak mampu untuk mencari makanan pada musim dingin.

Penguburan Para Petapa

Berkenaan dengan masalah para petapa sering kita saksikan bahwa sebagian dari mereka diletakkan di dalam sebuah peti dengan disaksikan oleh mata-mata yang keheranan dan sulit menerimanya dan kadang-kadang mereka dikuburkan selama seminggu di dalam tanah. Setelah waktu itu habis, mereka dikeluarkan kembali dari dalam tanah, lalu dipijat dan diberikan bantuan pernafasan sehingga mereka kembali ke dalam kondisi awalnya setahap demi setahap.

Dalam hal ini, problem kebutuhan pada makanan bisa jadi tidak merupakan suatu hal yang amat krusial. Akan tetapi, kebutuhan pada oksigen untuk pernafasan merupakan problem yang lain. Karena kita mengetahui betapa pekanya sel-sel otak ini menghadapi kekurangan oksigen dan ketergantungan sel-sel otak ini terhadap zat kehidupan “oksigen” yang sedemikian eratnya sehingga apabila beberapa detik saja ia tidak mendapatkannya, hal itu akan menyebabkan kerusakan pada sel-sel tersebut secepat mungkin. Sekarang, bagaimana para petapa ini bisa menahan kekurangan oksigen dalam waktu —misalnya— satu minggu tersebut?

Jawaban dari pertanyaan ini, dengan memperhatikan penjelasan yang telah kami berikan sebelumnya, tidaklah terlalu sulit. Karena selama masa ini, aktifitas kehidupan pada tubuh para petapa ini kira-kira telah berada dalam kondisi terhenti. Hal ini menyebabkan kebutuhan sel-sel otak terhadap oksigen dan pengunaannya berada dalam level yang luar biasa sedikit sehingga selama masa ini, udara di dalam lingkup peti saja telah mencukupi kebutuhan oksigennya selama satu minggu.

Pembekuan Tubuh Manusia yang Masih Hidup

Saat ini terdapat begitu banyak teori mengenai persoalan pembekuan tubuh binatang dan bahkan, tubuh manusia (untuk memperpanjang usia mereka) yang sebagiannya telah terealisasi. Sesuai dengan teori-teori yang ada, mungkin saja dengan meletakkan tubuh seorang manusia atau seekor hewan dalam suhu udara di bawah nol derajat sesuai dengan metode yang khusus akan bisa menghentikan kehidupannya tanpa menyebabkan kematian yang sesungguhnya, dan setelah beberapa saat lamanya, ia harus diletakkan di dalam suhu udara hangat yang sesuai sehingga ia akan kembali pada kondisinya semula.

Untuk perjalanan luar angkasa ke planet yang jauh, di mana terdapat kemungkinan akan menghabiskan waktu ratusan atau bahkan ribuan tahun lamanya, terdapat beberapa metode dan teori yang disarankan. Salah satunya adalah meletakkan astronot di dalam ruangan khusus untuk mengawetkannya di sana. Lalu, setelah beberapa tahun berlalu dan telah mendekati letak planet yang dimaksud suhu udara di ruangan tersebut -dengan menggunakan sebuah sistem otomatik- akan berubah menjadi suhu udara biasa sehingga mereka kembali pada kondisi semula tanpa kehilangan usia mereka.

Dalam salah satu berita di sebuah majalah ilmiah disebutkan bahwa di tahun-tahun terakhir ini telah diterbitkan sebuah buku tentang pembekuan tubuh manusia untuk memperpanjang usianya. Buku itu ditulis oleh Robert Nelson. Dalam dunia sains dan pengetahuan, hal ini mempunyai refleksi yang luas dan beruntun.

Dalam sebuah artikel di majalah tersebut yang secara teratur membahas tentang masalah ini, ditegaskan bahwa belakangan ini muncul sebuah fakultas ilmiah dengan program khusus yang membahas persoalan seperti ini. Dalam artikel tersebut tertulis “Kehidupan abadi dalam sepanjang perjalanan sejarah senantiasa berbarengan dengan mimpi-mimpi emas yang telah mengakar di dalam diri manusia. Akan tetapi, sekarang mimpi ini telah menjadi sebuah realitas. Hal ini dikarenakan perkembangan tekhnologi yang menakjubkan dari persepsi sains terbaru yang dinamakan sebagai crionik. (Sebuah sains yang membawa manusia ke alam pembekuan dan menjaganya sebagaimana sebuah badan yang telah diawetkan dengan harapan suatu hari akan bisa dihidupkan kembali oleh para ilmuwan).”

Apakah logika semacam ini bisa dipercaya? Begitu banyak para ilmuwan terkenal memikirkan masalah ini dari perspektif yang lain dan majalah-majalah semacam “Life” dan “Skuwair”, demikian juga surat kabar seluruh dunia secara gencar membahas persoalan krusial ini. Dan yang lebih penting dari semua itu, terdapat program (mengenai masalah ini) yang sekarang sedang berada dalam tahap pelaksanaan.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah pers telah mengumumkan adanya seekor ikan dari spesis yang hidup beribu-ribu tahun yang ditemukan membeku di antara bebatuan es di daerah kutub. Anehnya, setelah meletakkannya ke dalam air hangat, ikan ini mulai menampakkan tanda-tanda kehidupannya. Kemudian, ikan ini mulai menggerak-gerakkan siripnya di hadapan orang-orang yang menyaksikannya dengan keheranan.

Di sini jelas terlihat, bahkan dalam kondisi membeku sekalipun, sistem-sistem kehidupan tubuh —seperti juga ketika sudah mati— tidak berhenti secara sempurna. Karena jika tidak demikian, kembali kepada kehidupan adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi, bahkan akan terjadi dalam kondisi yang sangat lamban.

Dari pembahasan tersebut, kita bisa mengambil konklusi bahwa memberhentikan dan mengubah kebiasaan kehidupan merupakan suatu hal yang bisa diterima dan memungkinkan, dan pengkajian dalam berbagai sains menegaskan kemungkinan terjadinya hal tersebut dilihat dari berbagai aspek.

Dalam kondisi ini, penggunaan makanan dalam tubuh kira-kira telah mencapai titik nol dan timbunan yang tidak seberapa di dalam tubuh mampu mencukupi kehidupan yang dijalaninya dalam waktu yang cukup panjang.

Jangan sampai salah paham! Kami sama sekali tidak ingin mengingkari adanya keajaiban tidurnya Ashabul Kahfi dengan pembicaraan kami di atas. Akan tetapi, yang sedang kami lakukan adalah mencoba mendekatkan peristiwa ini dari visi ilmiah.

Karena jelas, tidurnya Ashabul Kahfi bukanlah sebuah tidur biasa dan wajar sebagaimana tidur yang kita lakukan setiap hari. Melainkan sebuah tidur yang mempunyai keunikan dan pengecualian. Oleh karena itu, bukan pada tempatnya untuk takjub bahwa mereka (dengan kehendak Allah swt.) telah tidur dalam waktu yang amat panjang dan tidak mengalami kesulitan dalam masalah kekurangan makanan dan tidak juga terdapat organisme yang merusak tubuh mereka.

Menariknya, dalam ayat-ayat yang terdapat dalam surat Al-Kahfi yang menceritakan kondisi tidur mereka difirmankan bahwa cara tidur mereka sangat berbeda jauh dari cara tidur normal.

Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur …  Dan jika kamu menyaksikan mereka, tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan [diri] dan tentulah [hati]mu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. (QS. al-Kahfi [18]: 18)

Ayat ini membuktikan bahwa mereka tidak tidur dalam keadaan sewajarnya. Akan tetapi, meraka tidur —sebagaimana seorang jenazah— dengan mata terbuka.

Selain itu, Al-Qur’an mengatakan bahwa cahaya matahari tidak menyinari bagian dalam gua. Ia berfirman, “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan ketika terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri ….” (QS. Al-Kahfi [18]: 17)

Dengan memperhatikan bahwa gua mereka kemungkinan berada di salah satu dari dataran tinggi di Asia Kecil yang mempunyai suhu udara dingin, maka hal ini akan semakin menjelaskan keadaan tidur mereka yang istimewa. Dari sisi lain, Al-Qur’an berfirman, “… Dan Kami membalik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri ….” (QS. Al-Kahfi [18]: 18)

Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak berada dalam kondisi monoton. Terdapat faktor-faktor rahasia yang hingga sekarang belum kita kenali. (Mungkin dalam setahun sekali) Allah membalik-balikkan mereka ke kiri dan ke kanan sehingga tidak akan merusak organisme badan.

Sekarang, ketika pembahasan ilmiah masalah ini sudah jelas dengan porsi yang cukup, kesimpulan dari masalah ini dalam pembahasan Ma’âd (Hari Kebangkitan) tidak akan begitu sulit. Karena bangunnya kembali Ashabul Kahfi setelah sekian lama tidur adalah mirip dengan hidup kembali setelah mati, dan dengan peristiwa ini, kejadian Ma’âd akan menjadi lebih dekat dalam persepsi kita.

Hari kiamat dan sains

Dalam surat At-Takwir [81], ayat 1 yang berkaitan dengan masalah hari kebangkitan difirmankan, “Apabila matahari digulung dan apabila bintang-bintang berjatuhan.”

Dengan memperhatikan ayat di atas, timbul pertanyaan, apakah padamnya tata surya matahari mempunyai relevansi dengan sains modern pada saat ini?

Sebelum memasuki pembahasan, terlebih dahulu kita harus mengetahui matahari sebagai sentral dan sumber kehidupan bagi tata surya kita, meskipun apabila dikomparasikan dengan bintang-bintang yang ada di langit, matahari merupakan sebuah bintang yang biasa. Akan tetapi, dalam batasan substansinya, matahari merupakan sebuah bintang yang luar biasa besarnya apabila dibandingkan dengan planet bumi.

Sesuai dengan penelitian para ilmuwan astrologi, matahari mempunyai ukuran satu juta tiga ratus ribu kali lipat lebih besar ukuran bumi tercinta kita ini. Hanya saja, karena jaraknya yang sedemikian jauh dari kita, yaitu sekitar seratus lima puluh juta kilometer, maka ia hanya bisa terlihat dengan ukuran yang kita lihat sekarang ini.

Untuk merefleksikan keagungan dan keluasan matahari, cukuplah bagi kita dengan membayangkan apabila planet bulan dan bumi dengan jarak yang ada di antara mereka sekarang ini kita masukkan ke dalam matahari, maka bulan dengan sangat mudah akan mengitari bumi tanpa keluar dari lingkaran dan permukaan matahari.

Suhu permukaan matahari mencapai enam ribu derajat celsius dan suhu di dalamnya mencapai beberapa juta derajat.

Apabila kita ingin mengetahui berat matahari dengan menggunakan ukuran ton, maka kita harus menuliskan angka dua dan meletakkan dua puluh tujuh angka nol di sampingnya.

Dari permukaan matahari terdapat nyala api yang menjilat-jilat yang terkadang mencapai ketinggian seratus enam puluh ribu kilo meter, dan planet bumi bisa dengan mudah menghilang di tengah-tengah jilatan api ini, karena diameter bumi tidak lebih dari dua belas ribu kilometer.

Berbeda dengan apa yang dipersepsikan oleh sebagian kelompok, sumber energi panas dan cahaya matahari bukanlah muncul dari adanya proses pembakaran di dalamnya. Karena, sebagaimana yang dikatakan oleh George Gomvef dalam salah satu karyanya yang berjudul “Fenomena Kemunculan dan Kematian Matahari”, apabila bahan bakar matahari berasal dari arang batu murni dan telah dinyalakan pada zaman Fir’aun Mesir yang pertama, maka seharusnya saat ini semua arang tersebut telah terbakar dan tidak ada satu pun yang tersisa lagi kecuali abunya. Dan apabila kita misalkan jenis bahan bakar lain sebagai pengganti dari arang batu ini, maka kita tetap akan menemui persoalan yang sama di dalamnya.

Pada hakikatnya, arti proses pembakaran untuk matahari ini tidaklah benar. Yang dibenarkan adalah bahwa energi yang ada dihasilkan dari segregasi atau pemisahan atom-atom yang ada di dalam matahari, dan kita mengetahui bahwa energi ini luar biasa besarnya. Oleh karena itu, atom-atom matahari senantiasa berada dalam keadaan terpisah dan mengalami radiasi yang kemudian diubah menjadi sebuah energi. Berdasarkan perhitungan para ilmuwan, dalam keadaan ini matahari pada setiap detiknya akan kehilangan sebanyak empat juta ton energi. Akan tetapi, volume dan kapasitas matahari sedemikian besarnya sehingga setelah sekian ribu tahun tidak sedikit pun kelihatan mengerutkan alisnya. Demikian juga, tidak ada sedikit pun perubahan eksternal yang bisa terlihat.

Akan tetapi, harus diketahui bahwa hal inilah yang pada akhirnya dalam sekian waktu akan membantu terjadinya kefanaan dan kehancuran matahari. Pada akhirnya, kapasitas dan volume agung ini akan menjadi semakin mengalami desimasi dan pengurusan yang pada akhirnya akan memunculkannya tanpa cahaya. Hal ini terjadi pula pada keseluruhan bintang-bintang yang lainnya.

Oleh karena itu, apa yang difirmankan dalam ayat-ayat Al-Qur’an di atas tentang kegelapan dan kehancuran bintang-bintang adalah merupakan suatu hal yang nyata, di mana persoalan ini sangat relevan dengan sains dan perkembangan ilmu  pada saat ini. Dan Al-Qur’an telah menjelaskan realitas ini, bukan saja untuk lingkungan jazirah Arab yang berada dalam lingkup dunia; di mana ilmu pengetahuan yang ada saat itu belum menyingkap persoalan ini.

Taqiyah ketika kondisi Syi’ah Ali a.s. ketika berada di bawah pemerintahan Bani Umayah yang tidak syah

Taqiyah, Perisai Pertahanan

Benar bahwa terkadang manusia siap mengorbankan nyawanya demi meraih tujuan-tujuan yang lebih tinggi; mempertahankan kehormatan, dan amar makruf nahi munkar. Akan tetapi, apakah akal kita akan memperbolehkan seseorang untuk mengorbankan nyawanya demi sesuatu yang kosong dari tujuan yang penting?

Ketika menghadapi persoalan-persoalan di mana nyawa, kekayaan dan perkara-perkara prinsipil lainnya berada dalam ancaman bahaya, dan ketika menampakkan sesuatu yang hak, sama sekali ia tidak akan menghasilkan solusi yang memuaskan, Islam secara tegas memberikan izin supaya manusia menghindarkan diri dari penampakkan perkara-perkara tersebut secara temporer dan mengamalkan kewajibannya dengan cara rahasia. Dalam surat Ali ‘Imran [3], ayat 28 difirmankan, “… kecuali karena [siasat] memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka ….”

Dan dalam surat An-Nahl [16], ayat 106 dengan ungkapan lain difirmankan, “… kecuali orang yang dipaksa untuk menjadi kafir padahal hatinya tetap tenang dan beriman [maka ia tidak berdosa] ….”

Sejarah dan sumber-sumber hadis Islam pun tidak melupakan kisah Ammar dan kedua orang tuanya yang berada dalam cengkeraman kaum penyembah berhala yang menyiksa mereka supaya Ammar dan keluarganya menjauhi Islam. Kedua orang tua Ammar menolak untuk mengikuti kemauan musyrikin sehingga mereka meninggal di tangan para penyembah berhala ini. Akan tetapi, Ammar menuruti apa yang mereka inginkan dan mengucapkannya dengan lisan.

Setelah itu, ia menangis terisak-isak karena takut terhadap kemurkaan Allah swt. Lalu ia pun bergegas menemui Rasul saw. Kepada Ammar beliau bersabda, “Selagi kamu berada dalam keadaan keterpaksaanmu, dan mereka kembali menginginkan itu darimu, maka katakanlah apa yang mereka inginkan.”

Dengan sabda ini, ketegangan, ketakutan, dan tangisan Ammar berhenti dan ia menemukan ketenangannya kembali.

Satu hal yang harus benar-benar diperhatikan bahwa taqiyah dalam seluruh tempat dan kondisi tidak mempunyai satu hukum yang sama, melainkan terkadang menjadi wajib hukumnya, ada kalanya menjadi haram, dan tak jarang pula menjadi mubah.

Taqiyah menjadi wajib ketika nyawa manusia bisa terbuang sia-sia tanpa ada manfaat yang terlalu penting. Akan tetapi, apabila melakukan taqiyah malah akan menyebabkan semakin meraja lelanya kebatilan, menimbulkan kesesatan bagi masyarakat, dan semakin menguatkan kezaliman dan kriminalitas di dalamnya, maka taqiyah menjadi haram dan tidak diperbolehkan.

Berdasarkan prinsip tersebut, seluruh kritik dan hujatan yang berkaitan dengan persoalan ini akan terjawab. Pada hakikatnya, apabila para penghujat mau melakukan pengkajian secara serius terhadap masalah ini, mereka akan sepakat bahwa Syi’ah dalam keyakinan ini tidak berdiri sendirian, karena persoalan taqiyah pada tempatnya sendiri merupakan sebuah hukum rasio mutlak dan sangat relevan dengan fitrah manusia.

Karena, orang-orang yang berakal ketika mereka melihat dirinya berada pada posisi diametral; apakah mereka harus menutupi keyakinan hatinya atau jiwa, harta, dan harga dirinya akan terjerumus ke dalam jurang bahaya jika menampakkan keyakinan itu, maka mereka akan melakukan verifikasi; jika mengekspresikan sebuah keyakinan yang memang layak dikorbankan nyawa, harta, dan harga diri untuknya, maka mereka akan menganggap pengorbanan di jalan ini adalah sesuatu yang benar. Akan tetapi, apabila mereka tidak menemukan efek yang layak untuk mendapat perhatian dari pengorbanan itu, maka mereka akan menutupi keyakinannya.

Taqiyah atau Mengubah Siasat Perlawanan

Dalam sejarah perlawanan agama, sosial dan politik pada masa-masa yang lalu bisa ditemukan bahwa para pembela hakikat ketika mereka ingin menampakkan perlawanannya secara riel, mereka akan menyerahkan dirinya sekaligus ajarannya kepada kehancuran atau paling tidak, meletakkan dirinya pada posisi yang berbahaya, seperti kondisi Syi’ah Ali a.s. ketika berada di bawah pemerintahan Bani Umayah yang tidak syah.

Dalam keadaan semacam ini, metode yang dianggap paling benar dan logis adalah tidak menyia-nyiakan kekuatan yang dimilikinya, dan untuk menghasilkan tujuan-tujuan sucinya, mereka harus melakukan perlawanannya secara tidak langsung atau secara sembunyi-sembunyi.

Pada hakikatnya, taqiyah untuk ajaran semacam ini dan para pengikutnya dalam kondisi ini bisa dikatakan sebagai perubahan siasat perlawanan supaya mereka mampu menyelamatkan diri dari kehancuran, dan untuk selanjutnnya, memenangkan perjuangan mereka. Orang-orang yang secara langsung menganggap taqiyah sebagai sebuah cara yang batil, maka tidak jelas bagi mereka metode dan siasat apakah yang mereka jalankan ketika menghadapi kondisi semacam ini? Kehancurankah yang lebih baik ataukah melanjutkan perlawanan dengan siasat yang sah dan rasional? Dan siasat kedua ini adalah taqiyah, sedangkan siasat pertama yang akan menjerumuskan pada kehancuran, merupakan sebuah perkara yang tidak seorang pun dapat memperbolehkannya.

Muslimin hakiki hasil didikan Rasulullah saw. mempunyai jiwa pertahanan yang luar biasa dalam menghadapi para musuh. Sebagian dari mereka, seperti ayah Ammar, bahkan tidak bersedia untuk mengucapkan satu kalimat pun untuk mengikuti kemauan musuh, meskipun sebenarnya hatinya senantiasa dipenuhi dengan iman kepada Allah dan dipenuhi oleh rasa kecintaan terhadap Rasul-Nya saw., dan dengan cara ini pula ia telah mempersembahkan nyawanya.

Dan sebagiannya lagi, seperti Ammar sendiri, bersedia mengucapkan apa yang dikehendaki oleh musuh. Akan tetapi, ia tetap merasakan adanya ketakutan yang melingkupi seluruh wujudnya, dan ia telah menyalahkan dan menindihkan seluruh tanggungjawab dari perbuatannya ini di atas pundaknya sendiri. Selama Rasulullah saw. tidak memberikan keyakinan dan ketenangan padanya bahwa apa yang telah dilakukannya tersebut merupakan sebuah siasat untuk mempertahankan nyawanya sendiri secara syar’i, selama itu pula ia tidak akan pernah merasa mendapat ketenangan.

Kondisi Bilal yang kita baca ketika ia masuk Islam dan secara gagah berani mempertahankan logika Islam dan bangkit untuk rasa keperduliannya terhadap Rasul saw., hal ini menyebabkan musuh meletakkannya pada posisi yang sangat terdesak, sehingga sampai pada keadaan di mana ia dijemur di bawah terik matahari yang membakar dengan batu besar di atas perutnya. Lalu, dalam kondisi seperti ini, musyrikin mengatakan kepadanya, “kamu harus mempersekutukan Allah.”

Akan tetapi, ia menghindari permintaan tersebut dan tidak mau melakukannya. Dalam kondisi di mana nafasnya telah mulai terengah-engah, ia tetap saja bertahan dengan senantiasa mengucapkan AhadAhad (Dialah Allah Yang Satu, Dialah Allah Yang Satu). Bahkan ia masih sempat melanjutkan ucapannya, “Seandainya aku mengetahui sebuah kalimat yang akan membuatmu semakin marah, maka aku tentu akan mengucapkannya di hadapanmu.”

Hal yang serupa menimpa pula Habib bin Zaid Al-Anshari ketika Musailamah Al-Kadzdzab menangkapnya dan menanyakan kepadanya, “Apakah kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” Ia mengatakan, “Iya! Aku bersaksi atasnya.” Kemudian, ia bertanya lagi, “Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah?” Habib dengan nada mengejek menjawab, “Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan.” Mendengar jawaban ini, Musailamah dan para pengikutnya memotong-motong tubuhnya satu demi satu dengan kemarahan yang memuncak. Akan tetapi, Habib tetap berdiri tegak sepeti gunung.

Dan peristiwa-peristiwa lain yang menggetarkan hati semacam ini begitu banyak ditemukan dalam sejarah Islam, khususnya pada masa-masa muslimin permulaan dan sahabat-sahabat para imam a.s.

Dengan statemen inilah, para pengkaji mengatakan bahwa dalam kondisi semacam ini, menghancurkan tanggul taqiyah dan tidak menyerah di hadapan musuh adalah diperbolehkan meskipun perbuatan ini harus dibayar dengan harga sebuah nyawa manusia. Hal ini adalah untuk menegakkan Tauhid dan mengumandangkan kalimat Islam. Khususnya pada masa permulaan dakwah Rasulullah saw., hal ini sangat mendapatkan perhatian.

Dengan demikian, tidak ragu lagi bahwa taqiyah dalam kondisi demikian pun diperbolehkan. Demikian juga pada level yang lebih rendah dari wajib. Bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang yang miskin informasi, taqiyah (tentu saja dalam masalah-masalah tertentu, bukan pada semua kondisi) bukanlah merupakan sebuah indikasi kelemahan, bukan pula indikasi dari sebuah ketakutan akan banyaknya musuh, dan bukan juga menyerah dalam menghadapi tekanan. Taqiyah merupakan sebuah taktik dan strategi yang telah diperhitungkan untuk mempertahankan sumber-sumber daya manusia dan tidak menyia-nyiakan individu-individu mukmin pada perkara-perkara yang kecil.

Di seluruh penjuru dunia telah biasa ditemukan adanya minoritas pejuang dan perlawanan yang menggunakan strategi bawah tanah untuk meruntuhkan mayoritas pemerintahan arogan dan ofensif. Mereka membentuk gerakan bawah tanah, mempunyai program-program rahasia dan banyak di antara mereka yang menyamar diri dengan baju-baju orang lain. Dan bahkan, ketika telah berada dalam tawanan musuh, mereka sedemikian kuat berusaha supaya kegiatan mereka tetap berada pada tempatnya sehingga kekuatan kelompoknya tidak akan hancur dengan sia-sia, dan menyimpannya untuk melanjutkan perjuangan.

Tidak ada sebuah logika pun yang mengizinkan dalam keadaan semacam ini, para pejuang yang berada dalam posisi minoritas supaya menampakkan diri mereka untuk memperkenalkan keberadaannya secara terang-terangan sehingga secara mudah akan dikenali oleh pihak musuh dan dihancurkan oleh mereka.

Berangkat dari dalil ini, taqiyah sebelum menjadi sebuah program dalam Islam, telah merupakan sebuah siasat yang rasional dan logis untuk seluruh umat manusia pada saat melakukan perlawanan dengan para musuh yang berkekuatan lebih besar.

Pada literatur-literatur Islam, kita banyak membaca bahwa taqiyah diibaratkan sebagai sebuah perisai pertahanan.

Imam Ash-Shadiq a.s. dalam sebuah hadis berkata, “Taqiyah merupakan perisai mukminin dan sarana untuk mempertahankan posisinya.”

(Harus Anda perhatikan bahwa taqiyah di sini telah diibaratkan dengan perisai di mana perisai merupakan sarana dan alat yang hanya bisa digunakan di dalam medan perang dan dalam perlawanan menghadapi serangan musuh untuk mempertahankan kekuatan revolusi).

Apabila kita melihat dalam hadis-hadis Islam bahwa taqiyah merupakan simbol agama dan iman dan bukan merupakan sembilan bagian dari rangkaian sepuluh bagian agama, semuanya dikarenakan oleh hal ini.

Tentu saja, diskusi dalam masalah taqiyah ini begitu luas. Di sini bukanlah tempatnya untuk memperpanjang-lebar pembahasannya. Tujuan pembahasan kami dalam topik ini hanyalah supaya kita mengetahui bahwa apa yang dikatakan oleh sebagian penyanggah dan pencela taqiyah adalah bukti atas minimnya informasi dan pengetahuan yang memadai terhadap syarat-syarat taqiyah dan filsafatnya.

Tak syak lagi, terdapat beberapa kondisi yang di dalamnya taqiyah diharamkan dan tidak boleh dilakukan. Yaitu, ketika taqiyah yang semestinya merupakan sarana untuk mempertahankan kekuatan, justru menjadi faktor yang dapat menghancurkan dan membahayakan mazhab atau menimbulkan kerusakan yang sangat besar. Dalam kondisi semacam ini, benteng taqiyah harus dihancurkan dan fenomena-enomena yang dihasilkan darinya -apapun adanya- harus diterima.[]

Diakhirat, Mata hati melihat Tuhan Dengan Mukasyafah bukan dengan Mata Zahir

Mata hati melihat Tuhan

Salah satu sumber makrifat adalah mukasyafah dan pencerahan jiwa.

Sebelum segala sesuatu, perlu kiranya kami mendefinisikan mukasyafah ini terlebih dahulu untuk mereka yang belum mengenalnya sehingga mereka bisa membedakan antara masalah ini dengan masalah-masalah yang lain, seperti wahyu, ilham, fitrah, dan pencerapan akal dan orang yang tidak mengetahui tidak pula menganggapnya sebagai sebuah imajinasi belaka.

Dari sisi lain, hal ini kami lakukan untuk menutup jalan bagi mereka yang hanya ingin menyalahgunakannya sebagaimana yang sering terjadi sehingga menyebabkan sebagian memandang persoalan ini dengan penuh keraguan, cemoohan, dan kecurigaan.

Pada prinsipnya, makhluk yang ada di dunia ini terbagi ke dalam dua kelompok:

a. Makhluk material. Yaitu, makhluk yang bisa disentuh yang disebut juga dengan alam fisis, yaitu alam materi.

b. Makhluk nonmaterial. Yaitu, makhluk yang tersembunyi dari sentuhan indra kita yang biasa disebut juga dengan alam gaib.

Akan tetapi, terkadang manusia bisa menemukan persepsi dan pandangan baru yang membuatnya menemukan jalan untuk memasuki alam gaib dan menyaksikan alam gaib tersebut dengan pandangannya (sesuai dengan kemampuannya masing-masing). Dengan kata lain, tirai yang berada di hadapannya telah tersibak dan ia menemukan sebagian realitas yang terdapat di alam gaib dengan jelas, sebagaimana jelasnya manusia menyaksikan alam materi ini dengan mata kepalanya. Bahkan, hal itu lebih jelas dan lebih meyakinkan beberapa kali lipat. Kondisi inilah yang disebut dengan mukasyafah atau pencerapan kalbu.

Ini adalah sebuah topik pembahasan yang telah direfleksikan dalam surat At-Takatsur [102], ayat 5 dan 6 yang menegaskan, “Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat Jahannam.”

Tentang pelaku kriminal dan mukminin, telah ditegaskan dalam literatur Islam yang beragam bahwa ketika seseorang sedang menghadapi kematian, mereka akan mengalami penyingkapan batin dan menyaksikan para malaikat atau ruh-ruh suci para wali Allah yang datang menghampirinya, sementara orang-orang yang berada di sekitar mereka tidak mempuyai kemampuan untuk mempersepsikan persoalan ini.

Hal inilah yang disaksikan oleh Rasulullah saw. dalam perang Khandaq, saat beliau berada di antara percikan api yang muncul dari sabetan beliung di atas pecahan batu. Beliau bersabda, “Aku melihat istana-istana Kisra Persia, kaisar Romawi, dan istana raja-raja Yaman.”

Dan ini pula yang telah dinukil dalam sebuah hadis terkenal tentang Aminah, ibunda mulia Rasulullah saw. pada masa kehamilan beliau yang mengatakan, “Aku menyaksikan sebuah cahaya keluar dari dalam diriku dan aku melihat istana negeri Basra di Syam dengannya.” Ini bukan sebuah wahyu dan bukan pula ilham kalbu, akan tetapi sebuah penyaksian, penglihatan, dan penyingkapan mata batin yang berada dalam tingkatan yang lebih tinggi dari penyaksian alam material.

Ini pulalah yang dikatakan oleh Sanaj yang menegaskan, “Jika dibukakan bagimu mata untuk menyaksikan kegaiban, maka butiran-butiran alam ini akan berbagi rasa denganmu. Pada waktu itulah kamu akan mendengar percakapan air dan bunga, dan dengan mendengar nyanyian tasbih para makhluk alam, keraguan seluruh takwil akan menjadi sirna. Sungguh telinga manusia asing tidak akan mendengarkan realitas ini. Akan tetapi, seorang insan yang akrab dengan kerahasiaan mempunyai kelayakan untuk mendengarkan nyanyian dan rahasia ini.”

Oleh karena itu, mukâsyafah dan penyaksian mata batin dalam ibarat yang pendek bisa didefinisikan sebagai berikut:

Mukâsyafah dan penyingkapan batin adalah menemukan jalan menuju alam nonmaterial dan penyaksian realita alam itu dengan mata batin, persis seperti penyaksian alam material. Bahkan, intensitasnya lebih kuat. Atau mendengar bisikan-bisikan tersebut dengan menggunakan telinga jiwa.

Tentu saja tidak harus semua orang yang mengklaim dirinya mempunyai kemampuan semacam ini bisa segera diterima dan tidak pula cerita setiap pengklaim harus didengar. Akan tetapi, pembahasan kita hanya berkisar pada adanya sumber makrifat semacam ini. Kemudian masih terdapat pula pembahasan tentang bagaimana hal ini bisa diperoleh, dan bagaimana metode memeriksa klaim yang benar dan yang bohong

Melihat Tuhan, adzab setan dan ikhtiar manusia

Buhlul bin ‘Amr Kufi adalah orang pintar di jaman Imam Musa Kadzim as dan termasuk murid Imam Shadiq as. Ia berpura-pura gila di saat itu. Panjang ceritanya. Misalnya, supaya ia tidak diangkat sebagai hakim oleh Harun Ar Rasyid, ia berpura-pura gila seperti itu. Ia suka sekali berdebat, pandai berbicara, serta jenaka.

Pada suatu hari, ia mendengar bahwa Abu Hanifah (pemimpin madzhab Hanafi) pernah berkata, bahwa Imam Ja’far As Shadiq as menjelaskan tiga hal yang sama sekali tidak diterimanya. Tiga hal itu adalah:

1. Setan kelak disiksa di api neraka. Bagi Abu Hanifah hal itu tidak mungkin, karena setan tercipta dari api, bagaimana ia disiksa dengan api pula?

2. Tuhan tidak bisa dilihat. Menurut Abu Hanifah, segala hal yang ada harus bisa dilihat.

3. Manusia berbuat sesuai ikhtiar dan keinginanya masing-masing. Abu Hanifah tidak menerima itu, karena menurutnya banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan manusia itu telah ditakdirkan oleh Allah, dan Ia yang telah menentukan serta mengaturnya.

Saat Buhlul melihat Abu Hanifah dalam suatu majelis, ia melemparnya dengan gumpalan tanah yang telah mebatu. Abu Hanifah kesakitan dan memarahi Buhlul. Namun Buhlul merasa tak bersalah dan berkata:

“Apa buktinya kamu sakit karena kulempar? Coba tunjukkan padaku? Aku tidak melihatnya! Berarti kamu berbohong dan sebenarnya kamu tidak sakit! Kamu bilang setan tercipta dari api dan tidak bisa disiksa dengan api; kamu tercipta dari tanah kenapa saat kulempar dengan tanah kamu kesakitan? Kamu bilang manusia tidak punya ikhtiar dan kehendak dalam segala perbuatannya; kalau begitu yang melempar kamu bukanlah aku, tapi Tuhan. Marahi saja Tuhanmu!”

Abu Hanifah diam dan malu. Ia berdiri dari majelis dan sadar bahwa maksud Buhlul adalah mengkritik pemikirannya yang bertentangan dengan Imam Ja’far Shadiq as.[1]


[1] Majalisul Mu’minin, jilid 2, halaman 419; Bahjatul Aamaal, jilid 2, halaman 436.

Apakah Tuhan memang bisa dilihat?

Apakah Tuhan memang bisa dilihat

Dalam sebuah majelis yang dihadiri oleh sekumpulan Muslimin, terjadi sebuah dialog antara seorang pelajar dengan alim. Simak dialog itu demikian:

Pelajar: “Dalam Al Qur’an, misalnya dalam surah Al A’raf, kita mebaca firman Allah swt:

“Ya Tuhan, tunjukkanlah diri-Mu padaku agar aku bisa melihat-Mu!” Namun Tuhan menjawab: “Engkau tidak akan pernah bisa melihat-Ku.” (QS. Al A’raf: 143)

Pertanyaanku, kita saja tahu bahwa Tuhan tidak memiliki fisik, tidak bertempat, lalu mengapa nabi besar dan termasuk Ulul Azmi seperti nabi Musa as menyatakan permintaan yang tidak masuk akal? Suatu permintaan yang meski bagi orang biasa pun tidak layak.”

Alim: “Kemungkinan apa yang diminta oleh nabi Musa as adalah melihat Tuhan dengan mata hati, bukan mata kepala. Dengan permintaan itu, nabi Musa as ingin mencapai suatu rasa kesadaran penuh dalam memahami Tuhannya dalam akal pemikiran. Ibaratnya nabi Musa as meminta “Ya Tuhan, buatlah aku benar-benar yakin secara sempurna sehingga aku bagai melihatmu dengan mata kepala.”[1] Lagi pula kata “melihat” tidak selamanya bermaksud pengelihatan dengan mata fisik. Misalnya saat kita berkata, “Aku melihat adanya potensi dalam diriku…” Potensi jelas tidak bisa dilihat oleh mata kepala, namun mata batin.”

Pelajar: “Penafsiran seperti itu sangat bertentangan dengan apa yang kita fahami sekilas dari ayat Al Qur’an. Karena ucapan nabi Musa as: “Tunjukkan diri-Mu padaku”, berkaitan dengan pengelihatan fisik. Apa lagi dengan melihat jawaban Tuhan: “Engkau tidak akan pernah melihat-Ku”, kita fahami bahwa nabi Musa as tidak akan pernah bisa melihat Tuhan dengan mata kepalanya. Adapun jika yang nabi Musa as maksud adalah melihat Tuhan dengan mata batin, Tuhan tidak akan menjawab seperti itu dalam firman-Nya. Ia pasti akan mengiyakan permintaan beliau jika yang dimaksud adalah pengelihatan dengan mata hati.”

Alim: “Anggap saja memang nabi Musa as meminta agar ia bisa melihat Tuhan dengan mata kepalanya. Namun jika kita merujuk kepada sejarah, kita akan fahami bahwa permohonan nabi Musa as hanyalah penyampaian permintaan kaumnya. Yakni permintaan kaum yang disampaikan beliau kepada Tuhan. Begitu kaumnya keras kepala ingin melihat Tuhan, ia meminta Tuhan untuk menunjukkan diri kepada mereka.

Penjelasannya, setelah peristiwa tenggelamnya Fir’aun dan diselamatkannya Bani Israel, mereka sering meminta nabi Musa as untuk melakukan “yang tidak-tidak”. Salah satu permintaan yang mereka ajukan secara paksa kepada nabi Musa as adalah melihat Tuhan dengan mata kepala, yang selama mereka tidak bisa melihat Tuhan maka mereka tidak mau beriman. Akhirnya nabi Musa as membawa tujuh puluh orang dari antara Bani Israel lalu membawa mereka ke tempat peribadahannya (bukit Tur) lalu beliau memohon kepada Tuhan dengan permohonan seperti itu. Akhirnya ia mendapat jawaban: “Engkau tidak akan pernah bisa melihatku.” Jawaban itu pun akhirnya didengar oleh Bani Israel sendiri agar mereka sadar.

Sedangkan nabi Musa as sendiri menyadari bahwa Tuhan memang tidak bisa dilihat. Yang bisa dilihat hanyalah tanda-tanda kebesaran-Nya saja.” [2]


[1] Sebagaimana nabi Ibrahim as juga meminta seperti itu agar ia yakin dengan sempurna akan hari kebangkitan.

[2] Seratus Satu Perdebatan, Muhammadi Isytihardi, halaman 383.

Rencana Busuk Raja Mutawakkil terhadap makam imam Husain

Rencana Busuk Mutawakkil

Umat Islam memiliki kecintaan dan penghormatan tersendiri kepada Imam Husein as. Untuk mewujudkan kecintaan dan penghormatannya mereka datang menziarahi makam Imam Husein as. Melihat fenomena ini, Mutawakkil Abbasi penguasa zalim Bani Abbas berencana busuk dan mengirimkan salah satu utusannya untuk merusak makam Imam Husein as.

Kepada utusannya Mutawakkil berkata, “Bongkarlah kuburan Husein dan pindahkan jasadnya ke tempat lain tanpa sepengetahuan masyarakat sehinga tidak seorangpun tahu di mana jasadnya dikebumikan! Dengan demikian tidak lagi ada orang yang menziarahi kuburannya.”

Setelah menerima perintah dari Mutawakkil, Ibrahim bin Dizaj bersama beberapa budak Mutawakkil pergi menuju makam Imam Husein as. Setelah ia membongkar makam Imam Husein, bau harum keluar dari dalam makam Imam. Jasad Imam Husein as yang dibungkus dengan tikar sampai saat itu masih baru dan berbau harum.

Ibrahim tidak berani menyentuh jasad Imam Husein as. Oleh karena itu ia mengambil keputusan lain. Ia memerintahkan para budak untuk menimbun kembali makam Imam dengan tanah dan menyiramnya dengan air, kemudian membajaknya dengan menggunakan sapi bajak. Ini dilakukannya supaya tidak terlihat sebagai makam. Begitu sampai di makam, sapi-sapi itu tidak mau bergerak.

Usaha mereka gagal dan Ibrahin bersama para budak Mutawakkil kembali lagi ke kota.

Siapakah yang Mau Menolongku?

Rombongan Imam Husein as hampir sampi di Kufah. Di salah satu tempat peristirahatan di pertengahan jalan, Imam Husein as melihat Amr bin Qeis dan sepupunya.

Kepada keduanya Imam Husein as berkata, “Hai hamba-hamba Allah! Apakah kalian datang untuk membantuku?

Mereka berkata, “Wahai Husein! Kami memiliki anak dan istri yang menunggu kami. Banyak amanat masyarakat yang ada di tangan kami. Dan kami juga tidak tahu apa yang akan menimpa kamu dan sahabat-sahabatmu. Kami tidak ingin menyia-nyiakan amanat masyarakat atau anak-anak dan istri kami tidak lagi punya pengasuh dan tulang punggung keluarga…”

Imam berkata, “Kalau begitu bergegaslah pergi dan jangan sampai kau mendengar panggilanku “Hal Min Naashirin Yanshurunii… Siapakah yang mau menolongku?” dan jangan sampai kau melihat kami! Karena bila seseorang mendengar panggilan kami atau melihat kami memerlukan pertolongan, sedangkan ia tidak mau menjawab panggilan itu, maka Allah akan menyungkurkan wajahnya ke dalam api neraka…”

Kalian Bisa Pergi

Imam Husein as tahu kalau nantinya akan terbunuh di tangan musuh Islam. Beliau tahu kalau mereka tidak akan mengasihani siapapun. Bahkan para wanita dan anak-anakpun akan mereka tawan. Beliau telah menyaksikan ketidaksetiaan penduduk Kufah dan merasakan makian-makian mereka.

Yang ada adalah rombongan kecil Imam Husein as dan gerombolan pasukan Yazid yang tidak terhitung banyaknya.

Dalam situasi seperti ini Imam Husein as mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya untuk menyempurnakan argumentasinya.

Di tengah-tengah para sabahatnya beliau berkata, “Hai sahabat-sahabatku! Siapa saja yang tetap tinggal bersamaku dan berperang melawan musuh, maka ia akan terbunuh… Kalian bebas untuk mengambil keputusan. Kalian bisa pergi dan tidak ada seorang pun yang menahan kalian…”

Mereka serentak berkata, “Kami tidak akan membiarkan anda sendirian. Apakah benar kami tetap hidup sedangkan anda harus terbunuh? Sepeninggal anda kehidupan haram bagi kami…”

Imam Husein as menghadap kepada anak-anak Aqil (saudara Imam Ali as) dan berkata, “Saya anjurkan kalian untuk keluar dari Karbala. Hutang budi kalian sudah terbayar dengan syahadah saudara kalian Muslim (Muslim bin Aqil adalah orang yang pertama kali syahid dalam peristiwa Karbala. Imam Husein as telah mengirim Muslim untuk mengenali kondisi Kufah, namun ia dibunuh oleh musuh. Dua putra Aqil juga telah mencapai syahadah di Karbala)

Anak-anak Aqil berkata, “Subhaanallah! Kalau demikian, apa yang harus kami jawab nanti di Hari Kiamat? Bisakah kami di hadapan Allah berkata bahwa kami telah menyerahkan Imam dan keponakan-keponakan kami ke tangan musuh dan tidak berperang bersama mereka… Kami tidak melemparkan anak panah ke arah musuh dan juga tidak melemparkan tombak, tidak juga menebaskan pedang ke badan musuh dan juga tidak tahu apa yang dilakukan musuh terhadap keluarga kami?!

Tidak! Kami tidak akan berbuat demikian. Kami akan mengorbankan jiwa-jiwa kami di jalan anda. Kami akan memberikan harta-harta kami di jalan anda. Kami akan korbankan anak-anak dan istri-istri kami dan berperang di jalan anda.

Wahai Husein! Kami tidak akan membiarkanmu sekejap matapun. Iya, kehidupan pasca engkau akan buruk dan tidak baik…”

Ciri Ciri Aliran Sesat ! WAHABI MENGUBAH ISI KITAB KARENA BENCI TASAWWUF N.U

NU Jateng Ajak Waspadai Pemalsuan Kitab oleh Wahabi

 Tanggal: 2012/02/02 Sumber: http://www.nu.or.id
Indonesia:
NU Jateng Ajak Waspadai Pemalsuan Kitab oleh Wahabi
“Mari mewaspadai pemalsuan kitab oleh sekte Wahabi. Gerakan mereka semakin meresahkan. Kitab-kitab untuk kalangan pesantren pun telah dipalsukan. Dengan ditambahi atau dikurangi isinya agar sesuai dengan ideologi Wahabi.” 

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH A’wani mengajak segenap ulama dan warga NU untuk mewaspadai pemalsuan kitab yang dilakukan oleh sekte Wahabi. Baik versi cetak kertas maupun versi digital.

Menurutnya, sudah banyak ditemukan pemalsuan kitab karangan ulama sunni oleh penerbit buku di Libanon maupun Arab Saudi. Bahkan indikasi kuat aksi jahat itu disponsori pemerintah suatu negara.

Kepada NU Online di Semarang, pengasuh pesantren Al-Musthofa Lodan Wetan Sarang Rembang, ini menjelaskan, pemalsuan kitab itu juga dilakukan dengan membuat nama penerbit yang mirip. Seperti Darul Kutub Al-Ilmiyah untuk mengecoh masyarakat muslim atas nama penerbit asli Darul Fikr Libanon.

“Mari mewaspadai pemalsuan kitab oleh sekte Wahabi. Gerakan mereka semakin meresahkan. Kitab-kitab untuk kalangan pesantren pun telah dipalsukan. Dengan ditambahi atau dikurangi isinya agar sesuai dengan ideologi Wahabi.” jelasnya.

Pihaknya bersama para kiai NU pernah meneliti kitab-kitab yang beredar di Arab Saudi maupun di Jakarta. Ternyata, sebagian kitab yang populer di kalangan pesantren telah diubah isinya. Dipalsukan pula pengarangnya.

“Kita tentu masih ingat pemalsuan kitab Sirojut Tholibin karangan Kiai Ihsan Jampes Kediri. Kitabnya dipalsukan, nama beliau dihapus, diganti Syekh Ahmad Zaini Dahlan. Lalu kitab hadis Al-Adzkar dihapus isinya tentang tawashul (doa dengan perantara) dibuang agar sesuai dengan ideologi wahabi.” terangnya.

Kiai A’wani meminta jam’iyyah NU serius menyikapi ini. Jika perlu membuat semacam petisi seperti pada peristiwa latar belakang pendirian NU. Yaitu komite Hijaz yang dibentuk KH Hasyim Asy’ari dengan misi menentang penghancuran makam-makam keluarga Nabi dan para sahabat kala Ibnu Saud hendak mendirikan Kerajaan Arab Saudi lewat pemberontakan terhadap Khalifah Turki Usmani.

 

WAHABI MENGUBAH ISI KITAB KARENA BENCI TASAWWUF

REPARASI KITAB ALA WAHABI

Kitab Nihayah al-Qoul Al-Mufid fi ‘Ilm al-Tajwiid karya Syeikh Muhammad Makki Nashr Al-Juraisi yg menulis bahwa dirinya bermadzhab Syafi’i dan bertashawwuf dengan mengikuti Thariqah Al-Syaadziliy.  Namun ada yang alergi dengan tashawwuf, akhirnya kitab ulama pun direparasi.

“Tuduhkan sesat pada tashawwuf! Ehmm.., kitabnya bagus, ambil aja, reparasi dikit”
(rawaahu : al-khawaarij fi zamaanina)

keterangan gambar :
1. Tulisan lingkar biru : scan Kitab Nihayah al-Qoul Al-Mufid fi ‘Ilm al-Tajwiid karya Syeikh Muhammad Makki Nashr Al-Juraisi, cetakan pertama, terbitan al-Amiriyah al-Qaahirah (Kairo-Mesir), Tahun 1308 H / 1890 M. Halaman 3.

2.Tulisan lingkar hitam : scan Kitab Nihayah al-Qoul Al-Mufid fi ‘Ilm al-Tajwiid karya Syeikh Muhammad Makki Nashr Al-Juraisi, cetakan pertama, terbitan Maktabah al-Shafa, Tahun 1420 H / 1999 M. Halaman 11.