upaya “pengambilalihan” masjid/mushalla Muhammadiyah yang dijadikan lahan untuk mengembangkan paham salafi.

Masjid Muhammadiyah  diduduki wahabi salafi

Duit dari Arab Saudi banyak, ustad ustad wahabi kenyang dengan dana gerakan trans nasional.. Bila perlu mereka minta duit dari CIA buat memalsukan kitab kitab syi’ah … Congok dah wahabi ! Pingin duit ganda…

Bertempat di Aula PWM Kalsel Lt. 1, Majelis Tarjih dan Tajdid PW. Muhammadiyah Kalimantan Selatan pada Sabtu (16/6) bersama-sama seluruh pakar tarjih se Kalimantan Selatan secara intens mengkaji persoalan keumatan.

Salah satunya adalah maraknya gerakan salafi di masjid Muhammadiyah yang makin meresahkan warga Muhammadiyah. Berdasarkan laporan PD. Muhammadiyah persoalan tersebut semakin menggejala hampir di seluruh masjid Muhammadiyah se Kalimantan Selatan.

“Perseteruan” antara Muhammadiyah dengan salafi tersebut, pada awalnya hanya persoalan berbeda pendapat saja, tapi belakangan hal tersebut merembet sampai menyalahkan dan menganggap pendapat yang dipahami Muhammadiyah adalah salah.

Lebih dari pada itu, persoalan yang cukup krusial, adanya upaya “pengambilalihan” masjid/mushalla Muhammadiyah yang dijadikan lahan untuk mengembangkan paham salafi.

Menanggapi hal tersebut, peserta pengajian merekomendasikan agar pimpinan wilayah secara tegas membuat surat edaran kepada seluruh pengelola masjid/mushalla Muhammadiyah untuk selektif dalam memilih khatib/penceramah dalam pengajiannya.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa penceramah di luar Muhammadiyah ketika berceramah di lingkungan Muhammadiyah justru mematahkan atau bahkan mengobok-obok paham yang diyakini Muhammadiyah. Masih menurut peserta pengajian, ketegasan pimpinan sangat diperlukan demi menjaga kestabilan umat di akar rumput, sehingga tidak mengalami kebimbangan atau keraguan dalam beribadah.

Pengajian perdana yang digagas majelis tarjih dan tajdid tersebut juga membicarakan berbagai hal dalam ibadah yang selama ini diperselisihkan antara Muhammadiyah dan salafi. Para peserta pengajian mengharapkan agar pimpinan wilayah bisa membuat pedoman yang dapat dijadikan sandaran dalam beribadah bagi warga persyarikatan di tingkat bawah

.

Di Masjid, Imam Sholat Dikeroyok wahabi Berjenggot

          Kebebasan beribadah di Semarang terancam. Insiden kekerasan belum lama ini terjadi di dalam masjid Nurul Hikmah di Jalan Kedungmundu Raya di Kampung Karanggawang Baru No. 1 RT 4 RW 6 Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Usai memimpin sholat magrib berjamaah pada Minggu (12/2) lalu, imam masjid tersebut, Ahmad Chumaidi, dikeroyok dua pria berjenggot. Masih dalam posisi duduk usai salam di akhir sholat, saat dia berdoa membaca kalimat tahlil (La Ilaha Illallah) Chumaidi dipukul bertubi-tubi oleh Supriyono, dan anaknya, Koko, sambil diumpat dengan kata-kata kasar. Keduanya warga Karanggawang Baru RT 7 RW 6 Keluarahan Tandang Kecamatan Tembalang Kota Semarang yang berpenampilan celana congkrang dan berjenggot panjang.

Selain dua orang tersebut, empat orang pria berjenggot lainnya mencaci maki Chumaidi dan jamaah masjid lain yang mencoba melerai pengeroyokan itu. orang-oprang yang sedang berdzikir maupun yang sholat sunnah ba’diyah langsung bubar.

Menurut penututan Chumaidi, Supriyono dan Koko mengeluarkan kata-kata tantangan usai menjotosi dia di mihrab (tempat imam). Dengan sesumbar dua orang berbaju panjang dengan celana cingkrang itu menantang Chumaidi jika tidak terima. Namun imam masjid asal Kecamatan Wedung Kabupaten Demak itu diam saja tidak meladeni.

“Saya tetap duduk di tempat imam. Saya diam saja kala mereka mengatai-ngatai saya dan menantang. Saya tak mau ada perkelahian di dalam masjid,” tutur penjahit yang telah puluhan tahun di Semarang ini.

Kata dia, suasana di masjid malam itu mencekam. Ia lantas dievakuasi keluar masjid oleh jamaah. Lantas diantar ke Ruman Sakit Umum (RSU) Ketileng Semarang untuk mendapat perawatan dan visum dokter. Usai mendapat penanganan di unit Pelayanan Gawat Darura, Chumaidi lantas melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Semarang.

Di sentra pelayanan kepolisian dia menyampaikan kerugian fisik berupa pipi memar, tangan kiri sakit, telinga kiri sakit, kepala pusing. Pukulan keras di kepalanya membuat pendengarannya sempat terganggu sementara waktu.

Laporan diterima Kanit III Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu AKP Lilik Widagdo dengan nomor surat LP/279/II/2012/Jateng/Restabes. Namun meski telah sembilan hari berlalu, polisi belum menindaklanjuti laporan itu.

Kemarin, Selasa, (21/2) Chumaidi baru mendapat Surat bernomor Res 1.6/521/II/2012/Reskrim dari Polisi Penyidik, Kanit Idik I Satreskrim AKP Kuwat Slamet SH. Isinya, Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan berupa rencana mengundang para saksi mata kejadian untuk diminta klarifikasi (keterangan). Juga berisi permintaan agar Chumaidi menghubungi penyidik apabila sudah punya informasi untuk melengkapi pemeriksaan perkara.

Ketika wartawan menanyakan  soal belum adanya tindakan kepolisian, Kasubag Humas Polrestabes Kompol Willer Napitupulu memberi penjelasan singkat. Dia berjanji akan menindaklanjuti laporan itu dan akan melakukan penegakan hukum secara tegas.

“Akan kita tindak lanjuti, terima kasih masukannya, kami sangat terbantu.  Dalam penegakan hukum kita tegas. Bapak Kapolrestabes Elan Subilan sudah  sering menjelaskan, kalau penegakan hukum telah dilaksanakan dgn baik,” tuturnya.

Pihaknya juga akan mengecek sejauh mana penyidikan kasus itu dilakukan, serta memastikan akan menindaklanjutinya. Jika ada yang kurang puas atas kinerja polisi dia ajak untuk membicarakan agar menjadi sinergis.

“Kami akan cek sejauh mana penyelidikannya. Kami akan tindaklanjuti. Mari kita bicarakan hal-hal yang belum memuaskan. Kami sangat terbantu,” lanjutnya.

 

Pengurus Takmir Diintimidasi

            Pelaporan Ketua Takmir Masjid Nurul Hikmah, Ahmad Chumaidi ke kepolisian, membuat kelompok pria berjenggot semakin kalap. Mereka mengintimidasi para pengurus takmir masjid dan menebar fitnah di kalangan jamaah.

Praktis para pengurus takmir tidak tenang, ketakutan dan jamaah masjid dilanda ketegangan. Bahkan mulai ada upaya pemecahan sikap para pengurus takmir. Beberapa orang yang melihat langsung kejadian itu didatangi rumahnya dan ditakut-takuti agar tidak bersedia menjadi saksi jika diminta polisi. Sebagian sudah ada yang dipengaruhi agar berdamai saja, tidak melanjutkan di ranah hukum.

Dua orang pengurus takmir, Munawar dan Sunarto, kemarin telah menerima surat undangan dari Polrestabes Semarang untuk memberikan kesaksian pada 28 Faberuari mendatang. Namun Munawar yang biasa menjadi muadzin dan imam sholat Dhuhur dan Asar ini masih dalam posisi tertekan. Dia meminta saran dan pendampingan agar bisa lancar memberi keterangan di kantor polisi nanti.

Ketika reporter NU Online  kemarin ikut sholat berjamaah sholat Asar di masjid tersebut, Munawar dikelilingi enam pria bejenggot yang berdiri di belakangnya di shof pertama. Diantara mereka adalah yang pernah memaki-maki Chumaidi saat terjadi pengeroyokan. Sementara jamaah lainnya cenderung memilih tidak bersebelahan dengan kelompok celana cingkrang teresbut. Menurut Munawar, pelaku pengeroyok Chumaidi masih sering sholat berjamaah di masjidnya itu dan mereka merasa menang sebab tiada perlawanan.

“Mereka tetap berjamaah di sini, Mas. Sebab mereka tinggal di sekitar sini. Tadi Anda lihat sendiri, jamaah kami merasa terintimidasi. Saya juga perlu bimbingan untuk menjadi saksi di kantor polisi 28 Februari nanti,” ujarnya.

Atas situasi itu, sesuai saran berbagai pihak, Ketua Takmir Ahmad Chumaidi berencana akan segera menggelar rapat. Rapat direncakanan diadakan jauh dari masjid untuk menenangkan pikiran serta menguatkan hati para pengurus takmir. Agar mereka tidak ketakutan dan tidak goyah jika “diajak damai” di luar koridor hukum.

Karena ancaman dan teror itu terus datang, Chumaidi mengadu ke beberapa kyai Nahdlatul Ulama. Juga kepada anggota Ansor yang dia kenal, yang langsung diteruskan kepada Ketua GP Ansor Kota Semarang Syaichu Amrin.

Sebenarnya GP Ansor telah mengerahkan Banser di masjid tersebut saat ada peringatan Maulid Nabi Muhammad pada 14 Februari yang dihadiri Wakil Rais Am Syuriyah PBNU, KH Mustofa Bisri. Namun Kepala Satkorcab Banser Kota Semarang Margono tidak bisa berbincang soal kasus tersebut karena kesibukan penyelenggaraan acara Maulid.

Selain itu, kaum berjenggot yang biasa disebut jamaah daulah dengan ciri khas senang khuruj (keluar) berkeliling menginap di masjid-masjid, tidak menghadiri pengajian Maulid tersebut karena menganggap kegiatan itu haram.

“Saat ada Gus Mus saya tidak bisa berbincang dengan Banser karena sibuk menerima tamu. Waktu itu kelompok daulah juga tidak menampakkan diri. Mereka tidak pernah menghadiri acara hari besar Islam termasuk Maulid karena menurut mereka haram. Bid’ah dholalah,” terangnya. (ichwan)

Note: berita ini akan berlanjut besok. Karena saya sudah wawancara mengungkap kronologo peristiwa dan latar belakang terjadinya kasus tersebut.

Koalisi N.U – Syi’ah melalui web http://abusalafy.wordpress.com ?? Alumni Salafy Yamani siap hancurkan N.U

Koalisi N.U – Syi’ah melalui web http://abusalafy.wordpress.com ?? Alumni Salafy Yamani siap hancurkan N.U

Para pembaca ..

Gerakan radikal Salafi Yamani melalui alumni alumni mereka dari Yaman sedang menyusun strategi menghancurkan N.U

Mereka melaknat N.U, dibilangnya NU ahlul bid’ah sesat ! Salafi sableng

Syi’ah melindungi N.U dari radikalisasi  alumni salafi yamani

Siapakah Wahabi ?

Jagalah hati dari Salafi WahabiBismillahirrahmanirrahim, Tulisan ini tidak bermaksud memecah-belah ummat atau menebarkan fitnah terhadap seorang yang dianggap Ulama atau dianggap berjasa terhadap Islam, tapi justru meluruskan siapa sebenarnya yang menjadi pemecah-belah ummat, dan menghancurkan Islam dari dalam atas nama Islam, dan agar jelas bagi siapa yang masih berada dalam ketidak-jelasan dan penuh dengan kesamaran, dan mengetuk pintu hati mereka yang selama ini hatinya tertutup dan menutupi dari kebenaran, hanya Allah yang maha tahu setiap isi hati, dan Allah pula-lah yang akan membalas setiap keburukan. innalillah wainna ilaihi raji’un.
kami awali tulisan ini dengan mengutip satu Sabda Rasulullah SAW berikut ini :

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

“Ya Allah berilah keberkatan kepada kami, pada Syam kami dan pada Yaman kami”. Para sahabat berkata “dan juga Najd kami?”. Beliau bersabda “disana muncul kegoncangan dan fitnah, dan disanalah akan muncul tanduk setan”[Shahih Bukhari 2/33 no 1037]

Siapakah Wahabi ….?
Inilah yang banyak dipertanyakan, bahkan Wahabi pun ikut-ikutan bertanya siapakah Wahabi, agar tidak ketahuan belangnya, apakah Wahabi hanya nama fiktif …? apakah itu hanya tuduhan kuffar …? apakah itu fitnah musuh-musuh Tauhid …? pelecehan atau penghinaan …? atau ternyata itu benar adanya.

Sekte Wahabi [Wahabiyah] ini dinisbahkan kepada ajaran Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab an- Najdi. Lahir tahun 1115 H/1703 M dan wafat tahun 1206 H.

.
Syaikh Sulaiman ibnu Abdil Wahhab an-Najdi yakni saudara kandung Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab an- Najdi, tentu lebih tau tentang saudaranya tersebut dan menulis dua kitab tentangnya yaitu “As-Shawa’iqul Ilahiyah fi Raddi ‘ala Wahhabiyah” dan “Fashlul Khithab fi Raddi ‘ala Muhammad bin Abdil Wahhab”

.
Syaikh Sulaiman ini termasuk Ulama di masa itu, beliau mengatakan : “Sekarang, orang-orang telah ditimpa bala’ (bencana) dengan seorang yang mengaitkan dirinya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, mempelajari ilmu tanpa menghiraukan siapapun yang menyelisihinya. Siapa yang menyelisihinya adalah kafir menurutnya, sementara ia tidak memiliki satu syarat pun dari syarat-syarat Ijtihad bahkan sepersepuluh syaratnya pun tidak ia miliki, tapi ajarannya diterima oleh orang bodoh”.

.
Lebih lanjut Syakh Sulaiman ibnu Abdil Wahhab membeberkan semua kebodohan saudara nya yang sangat ia khawatirkan itu, beliau berkata :
bahwa saudara nya itu cuma belajar sedikit ilmu agama dari beberapa gurunya termasuk ayahnya sendiri, dia gemar membaca kisah para pengaku kenabian, seperti Musailamah al-Kazzab, Sujah, Aswad al-’Ansi dan Thulaihah al-Asdi. Sejak ia belajar telah tampak gelagat penyimpangan besar, sehingga ayahnya dan para gurunya mengingatkan masyarakat akan bahaya penyimpangan Ibnu Abdil Wahhab. Mereka bertutur, “Anak ini akan tersesat dan akan menyesatkan banyak orang yang Allah sengsarakan dan jauhkan dari rahmat-Nya”.

.
Pada tahun 1143-H, Muhammad ibnu Abdil Wahhab menampakkan ajarannya kepada aliran baru, akan tetapi ayahnya bersama para masyaikh, guru-guru besar di sana [Huraimala’] berdiri tegak menghalau kesesatannya itu, Mereka menbongkar kebatilan ajaran Muhammad ibnu Abdil Wahhab, Ajarannya tidak diterima, sehingga ketika ayahnya wafat pada tahun 1153 H, ia mulai leluasa mendakwahi ajarannya. Ia mulai menyuarakan kembali ajarannya di kalangan para awam yang lugu dan tak tau banyak tentang agama, maka sekelompok orang awam menerima ajakannya dan mendukungnya, tapi karena kelahiran sekte sempalan ini, masyarakat di sana bangkit dan hampir saja membunuhnya [Ibnu Abdil Wahhab].

.

Ia kembali ke kota ‘Uyainah [kota lahir nya]. Di sana ia mendekatkan diri kepada raja kota tersebut, ia menikah dengan saudara perempuan sang raja tersebut. Di sana ia memulai kembali menyeru kepada bid’ah yang ia cetuskan itu, tetapi tidak lama kemudian, masyarakat ‘Uyainah keberatan dengan ajarannya, mereka mengusirnya dari kota tersebut, Ia pergi meninggalkan ‘Uyainah menuju Dir’iyyah (sebelah timur kota Najd), sebuah daerah yang dahulu ditinggali oleh Musailamah al kazzab yang mengaku-ngaku sebagai nabi itu,Di kota tersebut, ia mendapat dukungan dari rajanya yaitu Muhammad ibn Sa’ud, dan masyarakat di sana menyambut ajarannya dengan hangat, demikian penuturan dari saudara kandung nya sendiri.

.

Wahabi sungguh benar sebuah nama bagi ajaran Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab, bukan sebuah nama fiktif atau sebutan penghinaan, berikut bukti pengakuan dari Syaikh Wahabi yakni Ibnu Baz dalam kitab Fatawa Nur ‘ala al-darb pada soal yang ke 6 sebagai berikut :
س 6 – يقول السائل: فضيلة الشيخ، يسمي بعض الناس عندنا العلماء في المملكة العربية السعودية بالوهابية فهل ترضون بهذه التسمية؟ وما هو الرد على من يسميكم بهذا الاسم؟
“Soal ke 6 – Seseorang bertanya kepada Syaikh : Sebagian manusia menamakan Ulama-Ulama di Arab Saudi dengan nama Wahabi [Wahabiyyah], adakah antum ridho dengan nama tersebut ? dan apa jawaban untuk mereka yang menamakan antum dengan nama tersebut ?”

.
Syaikh Ibnu Baz menjawab sebagai berikut :
الجواب: هذا لقب مشهور لعلماء التوحيد علماء نجد ينسبونهم إلى الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب رحمة الله عليه
“Jawab : Penamaan tersebut masyhur untuk Ulama Tauhid yakni Ulama Nejed [Najd], mereka menisbahkan para Ulama tersebut kepada Syaikh Muhammad ibnu Abdil Wahhab.
dan bahkan Ibnu Baz memuji nama tersebut, ia berkata :
فهو لقب شريف عظيم
“Dianya (Wahhabiyah) adalah panggilan yang sangat mulia dan sangat agung”.

.
Tetapi fakta sekarang justru Wahabi merasa tersinggung bila di sebut Wahabi, mereka anggap nama itu nama yang sangat jelek, mungkin karena sejarah berdarah mereka, sejarah kelam mereka, atau mungkin karena menghindar dari  ulama sejagat menggugat Wahabi, akhirnya ganti nama dengan Salafi, padahal sangat bertentangan dengan pemahaman para ulama salaful ummah, Allah-lah yang tahu apa sebenarnya alasan mereka tidak lagi menerima nama Wahabi ini.

.

Sekilas Ciri-Ciri Sekte Wahabi

-Diantara sekte mereka yang sering mereka gunakan untuk memperdaya ummat, sebagai berikut :
1. Membagikan Tauhid kepada 3 Kategori yakni Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma’ was-Sifat.
2. Sering bertanya di mana Tuhan.
3. Meyakini Tuhan punya Tangan (anggota badan).
4. Meyakini Tuhan punya Muka (wajah asli).
5. Meyakini Tuhan punya arah dan tempat dan berada (bersemayam) di atas ‘Arasy.
6. Meyakini Tuhan punya lambung/rusuk.
7. Meyakini Tuhan turun dari ‘Arasy ke langit di malam hari.
8. Meyakini Tuhan punya betis.
9. Meyakini Tuhan punya jari-jemari.
10. Mendakwa dirinya ber-Manhaj Salaf dalam aqidah (tapi sangat bertentangan dengan aqidah ahlulbait
11. Memahami Nash-Nash Mutasyabihat menurut terjemahan bebas, tanpa merujuk ke kitab Ulama syi’ah
12. Mengkafirkan pengikut Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi (dua Imam Ahlus Sunnah Waljama’ah).
13. Mengkafirkan Sufi, dan menganggap Tasawwuf bukan ajaran Islam.
14. Sangat anti dengan ahlulbait
15. 16. Menolak Ta’wil dalam bab Mutasyabihat.
17. Menuduh Ayah dan Ibu Rasulullah kafir dan tidak akan selamat dari Neraka.
18. Menuduh syirik Tawassul, Tabarruk dan Istighatsah dengan para Anbiya, Aulia dan Shalihin.
19. Sering mengajak kembali ke Al-Quran dan Sunnah dengan meninggalkan ilmu yang telah di wariskan oleh Ulama.
20. Sangat anti dengan pendapat Imam Madzhab dan pengikut Madzhab.
21. Mudah membid’ah-sesatkan amalan yang tidak sharih dan shahih menurut mereka.
22. Menuduh Maulid itu Tasyabbuh dan Sesat.
23. Menuduh Tahlilan, Yasinan itu Tasyabbuh dan Sesat.
24. Menyamakan orang baca Al-Quran di kuburan dengan penyembah kubur.
25. Menamakan diri dengan Salafi dan tidak mengakui nama Wahabi, seolah-olah Wahabi itu hanya fiktif.

Dan masih sangat banyak lagi ajaran-ajaran yang di susupi oleh mereka ke dalam Islam, dan ingat bahwa setiap sekte itu pasti berdalil dengan Al-Quran dan Hadits, tapi semua nya sangat jauh dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah

Kehebatan Muhaddits Abad Milenium

Tidak di pungkiri, Kehebatan Syaih Nashiruddin Al Albani dalam bidang Ilmu Hadsit telah menggemparkan Dunia. Penelitian Beliau atas Shohihain dn Kitab2 Hadist yg lain, membuahkan Kesimpulan yg sangat memukau, Sungguh adalah Keberanian yg sangat spektakuler ketika Beliau menuangkan Ijtihadnya dalam Fatwa2 berikut :

1) Menetapkan bhw Allah di liputi oleh lingkaran segala arah dalam Kitabnya “Shahih Al Targhib wa Al Tarhib 1/116” dn dalam Kitabnya yg lain “ Al ‘Aqidah Al Thohawiyyah Syarah wa Ta’liq Al Albani 27” Beliau tuliskan

من قال إن الله يرى لا في جهة فليراجع عقله

“Barang siapa yg mengatakan Allah bisa di lihat tidak dalam Arah, maka harap periksa Akalnya”.

2) Mengkafirkan dn mensyirikkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para nabi dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya “at-Tawassul” hal 70, 73, 25.

3) Menyerukan untuk menghancurkan Kubah hijau di atas makam Nabi SAW (Qubbah al Khadlra’) dan menyuruh memindahkan makam Nabi SAW ke luar masjid sebagaimana ditulis dalam kitabnya “Tahdzir as-Sajid” hal. 68-69,

4) Mengharamkan penggunaan tasbih dalam berdzikir sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Salsalatul Ahadits Al-Dlo’ifah” hadits no: 83.

5) Mengharamkan ucapan salam kepada Rasulullah ketika shalat dg kalimat (Melarang Assalamu ‘alayka ayyuhan-Nabiyy). Dia berkata: Katakan “Assalamu alan Nabiyy” alasannya karena Nabi telah meninggal, sebagaimana ia sebutkan dalam kitabnya yang berjudul “Sifat shalat an-Nabi”.

6) Memaksa umat Islam di Palestina untuk menyerahkan Palestina kepada orang Yahudi sebagaimana dalam kitabnya “Fatawa al Albani”.

7) Dalam kitab yang sama dia juga mengharamkan Umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.

8) Mengharamkan bagi seorang perempuan untuk memakai kalung,giwang,anting, gelang emas sebagaimana dia tulis dalam kitabnya “Adaab az-Zafaaf “ hal 132.

9) Mengharamkan umat Islam melaksanakan solat tarawih dua puluh raka’at di bulan Ramadan sebagaimana ia katakan dalam kitabnya “Qiyam Ramadhan” hal.22.

10) Mengharamkan umat Islam melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebagaimana disebutkan dalam kitabnya yang berjudul “al Ajwibah an-Nafiah”.

11) dll

Namun demikian, sepandai-pandai Tupai meloncat pasti akan jatuh juga, banyak para Ahli yg berhasil membongkar kecacatan hasil Ilmiyyah Beliau dengan Ilmiyyah pula, antara lain :

1. Muhaddits besar India, Habibur Rahman al-’Adhzmi dg Kitabnya “Albani Syudzudzuhu wa Akhtha-uhu” (Albani, penyimpangan dan kesalahannya) dalam 4 jilid;

2. Dahhan Abu Salman dg Kitabnya “al-Wahmu wath-Thakhlith ‘indal-Albani fil Bai’ bit Taqshit” (Keraguan dan kekeliruan Albani dalam jual beli secara angsuran);

3. Muhaddits besar Maghribi, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari dg Kitabnya “Irgham al-Mubtadi` ‘al ghabi bi jawazit tawassul bin Nabi fil radd ‘ala al-Albani al-Wabi”; “al-Qawl al-Muqni` fil radd ‘ala al-Albani al-Mubtadi`”; “Itqaan as-Sun`a fi Tahqiq ma’na al-bid`a”;

4. Muhaddits Maghribi, Al Hafidz Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin as-Siddiq al-Ghumari dg Kitabnya “Bayan Nakth an-Nakith al-Mu’tadi”;

5.Ulama Yaman, ‘Ali bin Muhammad bin Yahya al-’Alawi dg Kitabnya “Hidayatul-Mutakhabbitin Naqd Muhammad Nasir al-Din”; (Petunjuk yg serampangan Kritikan Muhammad Nashiruddin)

6. Muhaddits besar Syria, Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah dg Kitabnya “Radd ‘ala Abatil wal iftira’at Nasir al-Albani wa shahibihi sabiqan Zuhayr al-Syawish wa mu’azirihima” (Penolakan terhadap kebatilan dan pemalsuan Nasir al-Albani dan sahabatnya Zuhayr al-Syawish serta pendukung keduanya);

7. Muhaddits Syria, Syaikh Muhammad ‘Awwama dg Kitabnya “Adab al-Ikhtilaf” (Adab perbedaan) dan “Atsar al-hadits asy-syarif fi ikhtilaf al-a-immat al-fuqaha”; (Atsar Hadist yg mulia dalam perbedaan para Imam-imam fiqih).

8. Muhaddits Mesir, Syaikh Mahmud Sa`id Mamduh dg Kitabnya “Tanbih al-Muslim ila Ta`addi al-Albani ‘ala Shahih Muslim” (Peringatan kepada Muslimin terkait serangan al-Albani ke atas Shahih Muslim) dan “at-Ta’rif bil awham man farraqa as-Sunan ila shohih wad-dho`if” (Penjelasan terhadap kekeliruan orang yang memisahkan kitab-kitab sunan kepada shohih dan dho`if);

9. Muhaddits Arab Saudi, Syaikh Muhammad bin Ismail al-Ansari (Komisi peneliti Tetap Fatwa Saudi Arabia) dg Kitabnya “Ta`aqqubaat ‘ala silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a lil-Albani” (Kritikan atas buku al-Albani“Silsilat al-ahadits adh-dha`ifa wal maudhu`a”); “Tashih Sholat at-Tarawih ‘Isyriina rak`ataan war radd ‘ala al-Albani fi tadh`ifih” (Kesahihan tarawih 20 rakaat dan penolakan terhadap al-Albani yang mendhaifkannya); “Naqd ta’liqat al-Albani ‘ala Syarh at-Tahawi” (Sanggahan terhadap al-Albani atas ta’liqatnya pada Syarah at-Tahawi”;

10. Ulama Syria, Syaikh Badruddin Hasan Diaab dg Kitabnya “Anwar al-Masabih ‘ala dhzulumatil Albani fi shalatit Tarawih” (Nur yg terang ataskegelapan Albani dalam Sholat Terawih).

Dan Bahkan seorang peneliti Ahli (Syaikh Hasan bin Ali Al Saqof) dalam Kitabnya menemukan kecacatan fatal Al Albani mencapai 7000 kesalahan.

Albani sebenarnya secara tidak langsung pernah mengakui kesembronoannya dalam menilai hadits. Ini dapat terlihat dg gamblang dalam kitab “taraji’ul al’allamah al-albani fima nashsha ‘alaiyh tashhihan wa tadl’fan” (ralat albani atas penjelasannya mengenai penilaian sahih dan dha’if). Dalam kitab ini, albani megaku terus terang kesalahannya dalam menilai shaih dan dloifnya hadits yang pernah ia tulis. Dalam kitab ini albani meralat penilaiannya atas 621 hadits yang sebenarnya shohih tetapi ia nilai dlo’if dan sebaliknya. Jumlah kesalahan 621 bukan sedikit jika dikaitkan dg gelar “almuhaddits” yang disandangkan oleh para pengikut-pengikutnya. Masihkah layak disebut muhaddits? pantaskah disandingkan dg nama besar Imam Suyuthi dan para hafidz hadits yang lain?

Pengakuan ini dalam satu sisi memang mengagumkan, karena dia secara terus terang mengaku salah/keliru sebagai bentuk tanggung jawab, tetapi dari sisi lain juga menunjukkan atas kapasitas albani yang sebenarnya dalam menilai hadits ternyata tidak seperti yang di banggakan para pengikutnya.

Ataukah Harisma yang Beliau peroleh semata karena keberuntungan Nasib ? hanya karena Beliau telah di Orbitkan oleh Kerajaan Saudi??? Entahlah…..

Yang jelas memilih yang lebih salaf adalah sebuah pilihan salafy!!!

N.U dan Syi’ah sepakat bahwa wahabi salafi adalah TANDUK SETAN DARi NEJED

N.U dan Syi’ah sepakat bahwa wahabi salafi adalah TANDUK SETAN DARi NEJED

Tanduk setan dari Nejed ! itulah wahabi, pengajian syi’ah dan pengajian N.U kompak bilang gitu…

Akhirnya, Wahabi Ngaku Juga

Anggota tetap komisi kajian ilmiyyah dan fatwa kerajaan Saudi Arabiyyah mengakui bahwa Masyriq adalah Najd.

Sebenarnya para ulama wahhabi-salafi yang bergabung dalam komisi tetap kajian ilmiyyah dan fatwa telah mengakui bahwa yang disebut masyriq dalam hadits shahih tentang Qornus syaitan adalah NAJD. Namun mereka enggan dan syok (terkejut) mengakuinya, sehingga mereka menutup-nutupinya dari para pengikutnya.

Berikut petikan hujjah-hujjah mereka dalam kitab Fatawa Al-Lajnah ad-Daimah jilid 3 fatwa nomer 6667 :

س؛ ما هي الفتنة التي يقول عليه الصلاة والسلام في هذا الحديث : ألا إن الفتنة ها هنا….من حيث يطلع قرن الشيطان الحديث…؟؟؟

جـ ؛ ….. وقيل: يعني نجد مسكن ربيعة ومضر وهي مشرق لقوله في حديث ابن عمر حين قال صلى الله عليه وسلم: {اللهم بارك لنا في شامنا وفي يـمننا، قالوا: وفي نجدنا؟؟ قال رسول الله: هنالك الزلازل والطاعون وبها يطلع قرن الشيطان…}

وأهل المشرق يومئذ من مضر….والظاهر أن الحديث يعم جميع المشرق الأدنى والأقصى والأوسط ومن ذلك فتنة مسيلمة الكذاب، وفتنة المرتدين من ربيعة ومضر وغيرهما في الجزيرة

Soal : Apakah fitnah yang dimaksud dalam Hadits Nabi Saw tentang tanduk syaitan ?

Jawab : dikatakan adalah yg dimaksud Najd tempat pemukiman bani Rabi’ah dan Mudhar, yaitu di daerah Timur. karena ada Hadits Ibnu Umar ketika Rasul Saw bersabda : ” Ya Allah berkahilah syam kami dan yaman kami, mereka berkata ” Dan juga Najd kami wahai Rasul..Maka Nabi menjawab ” Di sanalah muncul kegoncangan dan Tho’un dan juga di sanalah muncul tanduk syaitan “.

Penduduk timur saat itu dari kalangan Mudhar. Yang jelas adalah bahwasanya hadits tersebut mencangkup semua Timur, baik dataran rendah, tinggi maupun tengah. Di antara fitnahnya adalah Fitnah Musailamah Al-Kdzdzab dan fitnah murtadnya bani Rabi’ah dan Mudhar dan selain kedua kelompok tersebut di JAZIRAH ARAB “.

Catatan :

Bukti-bukti kuat baik peta, ilmu bahasa, sejarah dan hadits-haditsnya telah menunjukkan bahwa masyriq yang dimaksud Nabi Saw dalam hadits tanduk syaitan adalah NAJD, sehingga bahkan ulama komisi tetap mereka pun mengakui kebenaran masyriq adalah NAJD bukan IRAQ.

Lantas kenapa mereka enggan mengakuinya ?? Sadarlah wahai para pengaku-ngaku bermanhaj salaf, bahwa kalian telah ditipu dan dibodoh-bodohi oleh wahhabi-salafi si tanduk syaitan…!!

Anda pasti tahu bahwa para wahhabi dalam mempertahankan Iraq adalah yang dimaksud Nejd dalam arti dataran tinggi tempat munculnya Tanduk Setan oleh Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Tanduk Setan Dari Najd Menurut hadits Paling Sahih

Bahkan ketika hujjah Irak bukanlah Nejd tempat munculnya tanduk setan dengan menghadirkan peta pun mereka tetap saja tidak mau menerimanya, entah rasa malu seperti apa ketika hujjah hujjah ahlussunnah telah begitu terang, bahwa nejd adalah tempat munculnya tanduk setan.

Agaknya usaha untuk mempertahankan dan membela Pendiri Kaum Wahhabi yang bukan sebagai tanduk setan, berkaitan bukti Musailimah Al Kaddzab dan Muhammad Bin Abdul Wahhab begitu sangat mencoreng muka mereka.

Hadist yang paling shohih berkaitan tentang munculnya tanduk setan terdapat dalam sahihain adalah sebagai berikut:

 حدثنا محمد بن المثنى قال حدثنا حسين بن الحسن قال حدثنا ابن عون عن نافع عن ابن عمر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

… اللهم بارك لنا في شامنا وفي يمننا ، قال ، قالوا وفي نجدنا ؟ قال قال اللهم بارك لنا في شامنا وفي يمننا ، قال قالوا وفي نجدنا ؟ قال قال هناك الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان

Dalam shohih muslim

 حدثنا علي بن عبد الله حدثنا أزهر بن سعد عن ابن عون عن نافع عن ابن عمر قال ذكر النبي صلى الله عليه وسلم اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يمننا ، قالوا يارسول الله وفي نجدنا ؟ قال اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يمننا ، قالوا يارسول الله وفي نجدنا ؟ فأظنه قال في الثالثة: هناك الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان

Adapun riwayat yang memakai kalimat Iraq/Irak dalam beberapa Hadist yang lain adalah termasuk مخالفة الثقة لمن هو أوثق منه (Menyelisihi yang lebih tsiqot diantara hadit hadits yang Tsiqoh), dan agaknya hadits hadits inilah yang menjadi pegangan kaum wahhabi untuk mengelak dari kenyataan bahwa Najd adalah tempat munculnya tanduk setan.

Untuk lebih jelasnya silahkan anda simak uraian hadits hadits yang menggunakan kalimat Irak/Iraq dari sisi sanad atau rijalnya.

Terdapat Redaksi Hadits yang mrnggunakan kalimat Irak/Iraq yaitu dalam Hilyatul Awliya dan Mu’jam al Awsath sebagai berikut:

: [حدثنا عبدالله بن جعفر حدثنا إسماعيل بن عبدالله حدثنا الحسن بن رافع الرملي حدثنا ضمرة عن ابن شوذب عن توبة العنبري عن سالم بن عبدالله عن أبيه أن عمر قال إن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (اللهم بارك لنا في صاعنا وفي مدنا، ... إلخ)، فرددها ثلاث مرات، فقال الرجل: (يا رسول الله ولعراقنا)، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (بها الزلازل والفتن ومنها يطلع قرن الشيطان)].

Redaksi hadits diatas yang menggunakan kalimat Iraq/Itak terdapat nama عبيد الله بن عبد الله بن عون (‘Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun) ini bukan termasuk pemuka Hadits yang masyhur, hal itu dapat dibuktikan bahwa Kutubus Sittah tidak satupun mengeluarkan hadits dari Beliau (‘Ubaidillah bin Abdullah bin ‘Aun), dengan demikian dalam Hadits diatas ada satu rowi yang majhul.

Juga terdapat Nama sanad Ibnu Syaudzab yang menurut Imam Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya Tarikh Dimsyaq juz 1 hal 130 adalah seorang Mudallis (Pemalsu Hadits).

Hadits kedua dalam Kitab yang sama dan menggunakan kalimat Iraq/Irak adalah:

[حدثنا علي بن سعيد قال: حدثنا حماد بن إسماعيل بن علية قال: حدثنا ابي قال: حدثنا زياد بن بيان قال: حدثنا سالم بن عبد الله بن عمر عن ابيه قال: صلى النبي، صلى الله عليه وسلم، صلاة الفجر ثم انفتل فأقبل على القوم فقال اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل (والعراق) يا رسول الله فسكت ثم قال: اللهم بارك لنا في مدينتنا وبارك لنا في مدنا وصاعنا اللهم بارك لنا في حرمنا وبارك لنا في شامنا ويمننا فقال رجل (والعراق) يا رسول الله قال: (من ثم يطلع قرن الشيطان وتهيج الفتن

Disini terdapat nama sanad زياد بن بيان (Ziyad bin Bayyan) walaupun menurut Al Hafidl adalah sorang yang jujur, tetapi Beliau bukan termasuk Orang yang masyhur meriwayatkan hadits kecuali hadits tersebut dan satu hadits tentang Imam Mahdi yang di inkari Oleh Imam Bukhori.

Hadits lain yang menggunakan kalimat Irak/Iraq terdapat juga dalam kitab Mu’jam Al Kabir, sebagai berikut:

[حدثنا محمد بن علي المروزي حدثنا أبو الدرداء عبد العزيز بن المنيب حدثنا إسحاق بن عبد الله بن كيسان عن أبيه عن سعيد بن جبير عن بن عباس قال: دعا نبي الله، صلى الله عليه وسلم، فقال: (اللهم بارك لنا في صاعنا ومدنا وبارك لنا في مكتنا ومدينتنا وبارك لنا في شامنا ويمننا!)، فقال رجل من القوم: (يا نبي الله، وعراقنا؟!) فقال: (إن بها قرن الشيطان، وتهيج الفتن. وإن الجفاء بالمشرق!)]، وقد أخرجه الإمام ابن عساكر في (تاريخ دمشق، ج: 1 ص: 138) من طريق الطبراني هذه,

Dalam hadits diatas terdapat satu nama  عبد الله بن كيسان(Abdullah bin Kaysan) beliau ini adalah   أبو مجاهد عبد الله بن كيس

ان المروزي (Abu Mujahid ‘Abdullah bin Kaysan Al Marwazy), seperti yang dikatakan Imam Bukhori, beliau ini adalah orang yang banyak kesalahannya sehingga tidak bisa dibuat hujjah.

Adapun إسحاق بن عبد الله (Ishaq bin Abdullah; anaknya pent) ini lebih Dho,if, seperti yang dikatakan Imam Bukhori juga bahwa beliau adalah Munkarul Hadits, apalagi Beliau mendapatkan hriwayat hadits tersebut dari Bapaknya, jadi dobel Dho,if.

JADI keputusan nya adalah tanduk setan itu muncul dari NAJD,sesuai beberapa hadist shohih diatas, kiranya pembahasan kali ini lebih dari cukup sebagai bukti bahwa tanduk setan itu adalah muncul dari najd, walaupun sebenarnya masih ada beberapa redaksi hadits yang menggunakan kalimat Iraq/Irak dan sebagian yang lain juga ada yang menggunakan kalimat Masyriq, namun kebanyakan hadits hadits tersebut tidak sesahih yang terdapat dalam Kitab Bukhori dan Muslim.

Perang Sesat Kembali Terjadi Antar Salafi

Perang sesat kembali terjadi sesama salafiSalafy/Wahhabi kembali bertengkar satu sama lain, jika pertengkaran itu terjadi antara pengikut sih masih bisa dimaklumi, namun sangat aneh pertengkaran salafy itu kali ini dalam level intern para tokohnya, tentu saja kita jadi semakin yakin bahwa inilah yang dimaksud

 ولا يزالون مختلفين إلا من رحم ربك

“Mereka tiada hentinya saling berselisih, kecuali orang yang mendapat Rahmat Tuhanmu” (Q.S: Yunus/99).

Kali ini adalah antara Tokoh Syaikh Ali Hasan Al Halabi dan Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi. Beliau Al Maqdisi ini membuat Kitab khusus berjudul asli Tabshir Al ‘Uqala Bittalbisat Ahlut Tajahhum Wal Irja dan dialihbahasakan Indonesia oleh Ustadz Aman Abdurrahman dengan judul baru “Salafi Penghianat Salafus Salih”

Dalam kitab tersebut intinya menyatakan kesesatan Syaikh Ali Hasan Al Halabi yang menurutnya beraqidah jahmiyyah dan murjiah, padahal Al Halabi ini telah begitu banyak mendapat pujian dikalangan Tokoh Salafy sendiri, diantaranya:

  1. Syaikh Al Albani dalam kitabnya at-Ta’lîqât ar-Radhiyyah ‘Alâ ar-Raudhah an-Nadhiyyah, Âdâb az-Zifâf cetakan al-Maktabah al-Islâmiyyah, dan kitab an-Nashîhah.
  2. Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i  dalam kitabnya Tuhfah al-Mujîb ‘alâ As`ilah al-Hâdhir wa al-Gharîb, hlm 160, Beliau ditanya: Siapakah para ulama yang anda nasehatkan kami untuk merujuk kepada mereka dan membaca buku-buku karya mereka serta mendengarkan kaset-kaset mereka?

Syaikh menjawab: Sesungguhnya kami telah membahas hal yang satu ini berulang kali, akan tetapi tak apa kita mengulanginya sekali lagi. Diantara mereka adalah Syaikh Nashiruddin al-Albani v, dan murid-murid Beliau yang mulia, semisal saudara Ali bin Hasan bin Abdulhamid, saudara Salim al-Hilali, saudara Masyhur bin Hasan.

Beliau juga bertutur: Dan setelah itu saya melihat sebuah artikel begitu berharga yang berjudul Fihq al-Wâqi’ baina an-Nazhariyyah wa ath-Thathbîq, buah karya saudara kami seakidah Ali bin Hasan bin Abdulhamid حفظه الله, kami nasehatkan kepada kalian untuk dapat memiliki dan membacanya, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Dan Beliau telah menyebutkan artikel tersebut dalam sebuah kasetnya yang berjudul Ghârah al-Asyrithah ‘alâ Ahli al-Jahl wa as-Safsathah, Beliau berkata seraya mensifati artikel tersebut: Aku tidak mengetahui ada yang menandinginya sama sekali.

  1. Syaikh Abdulmuhsin al-’Abbad al-Badr حفظه الله. Beliau berkata dalam kitabnya yang begitu bermanfaat dan bagus, Rifqan Ahla as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah, hlm 8-9, cetakan 1426 H: Dan saya petuahkan juga, hendaknya para penuntut ilmu di setiap negeri menyibukkan diri dengan menuntut ilmu dari ulama ahlus sunnah yang ada pada negeri yang bersangkutan, semisal murid-murid Syaikh al-Albani v di Yordania, yang mana sepeninggal Syaikh al-Albani mereka mendirikan markaz dengan nama Beliau (markaz Syaikh al-Albani v).

Namun pada kenyataannya sanjungan Tokoh tersebut tidak membuat Syikah Ali Hasan yang telah begitu banyak melahirkan karya ilmiyah antara lain: – Ilmu Ushûl al-Bida’,- Dirâsât Ilmiyyah fî Shahîh Muslim,- Ru’yah Wâqi’iyyah fî al-Manhaj ad-Da’awiyyah,- An-Nukat ‘alâ Nuz-hah an-Nazhor,- Ahkâm asy-Syitâ` fî as-Sunnah al-Muthahharoh,- Ahkâm al-’Iedain fî as-Sunnah al-Muthahharoh,- At-Ta’lîqât al-Atsariyyah ‘alâ al-Manzhûmah al-Baiqûniyyah,- Ad-Da’wah ila Allah baina at-Tajammu’ al-Hizbi wa at-Ta’âwun asy-Syar’i,- At-Tabshir bi Qawâ’id at-Takfîr, dll, lolos dari aksi penyesatan dari kelompok salafy sendiri, penyesatan kepada Al Halaby ini terlebih dahulu telah terbit sebuah keputusan Lajjinah Al Daimah Saudi Arabia sebuah Instansi pemerintah resmi semacam MUI, namun konon keputusan Lajjinah Al Daimah tersebut juga kontroversi, diantara yang menentang keputusan itu adalah Syikh Al ‘Utsaimin dan Mufti Kerajaan Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh.

Pada hari Ahad (30/7/2012) Bedah buku berjudul “Salafi Pengkhianat Salafus Shalih,” telah digelar di Masjid Muhammad Ramadhan, Taman Galaksi, Kota Bekasi, di situ semakin menampakkan betapa salafy memang ahli dalam perang sesat walaupun dengan sesama salafy sendiri.

Imam Ahmad Ahli Tahrif Kata Wahhabi

Imam Ahmad secara tidak langsung atau langsung telah dituduh oleh wahhabi sebagai ahli Tahrif (mengubah maksud ayat).

Imam Ahmad yang dituduh wahhabi sebagai ahli tahrif menurut pengakuan kebanyakan wahhabi adalah bermadzhab Hanbali, yaitu mengikuti metode Imam Ahmad bin Hanbal dalam fiqih, namun bagaimana bisa Imam yang diikuti itu ternyata sebagai ahli tahrif menurut ‘Ulama pentolan wahhabi sendiri?

Tuduhan Imam Ahmad sebagai ahli tahrif menurut pentolan ‘Ulama wahhabi berlatar belakang  dari Imam Ahmad yang dalam menafsirkan salah satu ayat dalam Al Quran tidak menurut dhohirnya, sebagai berikut:

قال تعالى {وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفّاً صَفّاً} (الفجر:22)

Sabda Allah: “Dan datanglah Robbmu sementara para Malaikat bershaf shaf”

تفسير الإمام أحمد رحمه الله: روى البيهقي في مناقب الإمام أحمد عن الحاكم، عن أبي عمرو بن السماك عن حنبل أن أحمد بن حنبل تأول قول الله تعالى قال تعالى {وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفّاً صَفّاً} (الفجر:22) أنه جاء ثوابه. ثم قال البيهقي وهذا إسناد لا غبار عليه. نقل هذا ابن كثير في البداية والنهاية المجلد 10 ص 327.

“Dalam tafsir Imam Ahmad: Imam Bayhaqi meriwayatkan dalam manaqib Imam Ahmad dari Al Hakim, dari Abi ‘Amru bin samak, dari hanbal sesungguhnya Ahmad bin Hanbal mentakwil Sabda Allah (datanglah Robbmu sementara para Malaikat bershaf shaf) sesungguhnya datang pahalaNya, Imam Bayhaqi menjelaskan bahwa sanad ini tidak bernoda sama sekali, ImamIbnu Katsir menuqilnya dalam kitabnya Al Bidayah Wa Al Nihayah jild 10 hal 327”

Adapun Syailh ‘utsaimin dalam masalah ayat tersebut didalam kitabnya yang berjudul  “MAJMU’ FATAWA WA AL ROSAIL “ atau anda bisa melihatnya dalam situs http://www.resaltalislam.com/yang saya ambil screen shootnya seperti di bawah ini:

Imam Ahmad Ahli Tahrif Kata Wahhabi

mengatakannya sebagai berikut:

[فأهل السنة و الجماعة يقولون : نحن نؤمن بهذه الآيات، والأحاديث و لا نحرفها، لأن تحريفها قول على الله بغير علم من وجهين، يتبين ذلك في قوله تعالى {وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفّاً صَفّاً} (الفجر:22) قال أهل السنة والجماعة : جاء ربك أي هو نفسه يجيء، لكنه مجيء يليق بجلاله و عظمته لا يشبه مجيء المخلوقين، ولا يمكن أن نكيفه، و علينا أن نضيف الفعل إلى الله كما أضافه الله إلى نفسه. فنقول: إن الله تعالى يجيء يوم القيامة مجيئاً حقيقياً يجيء هو نفسه، و قال أهل التحريف معناه : و جاء أمر ربك ....]

Adapun Ahlussunnah wal Jama’ah mereka mengatakan: Kita mengimani ayat ini juga beberapa hadits (yang membicarakan masalah Shifat) dan Kami tidak mentahrifnya, karena mentahrif ayat dan hadits hadits tersebut adalah ucapan mengatasnamakan Allah tanpa Ilmu dari dua segi, hal itu akan jelas dalam Firman Allah  {وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفّاً صَفّاً} (الفجر:22), Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan : Datang Tuhanmu yang dimaksud Tuhan datang dengan diiNya, tetapi kedatanganNya yang patut dengan keagungan dan kemulyaanNya, tidak sama seperti kedatangan para Mahluq, dan kita tidak mungkin menteorikan kedatangaNya itu, dan wajib bagi kita untukmenyandarkan perbuatan kepada Allah sebagaimana Allah sendiri menyandarkan perbuatan itu kepada DiriNya sendiri. Maka kami menmgatakan: Allah datamng dihari Qiyamat dengan datang yang sebenarnya, Allah datang dengan Dirinya Sendiri. Dan Orang orang Ahli tahrif mengatakan artinya (Dan datang Robbmu) itu dengan “Dan datang Perintah Robbmu”

Demikianlah Imam Ahmad adalah Ahli Tahrif menurut pandangan ‘Ulama wahhabi Syaikh Al ‘utsaimain, sebab Imam Ahmad telah mentakwil ayat tersebut dengan yang tidak seperti mereka katakan atau tidak mengartikan sesuai apa adanya.

NU dan Syi’ah melawan Vonis Wahhabi Terhadap Kedua Orang Tua Nabi Masuk Neraka

NU dan Syi’ah melawan Vonis Wahhabi Terhadap Kedua Orang Tua Nabi Masuk Neraka

N.U dan syi’ah kompak ni yee ?? Yach, NU dan syi’ah menggugat wahabi sbb : “Mungkinkah Allah Swt memilihkan untuk Nabi Saw, sulbi-sulbi dari orang-orang yang kotor, najis atau kafir ??”

Di zaman yang penuh kemungkaran ini, di tengah-tengah manusia yang penuh lumuran dosa dan maksyiat, masih saja ada sekelompok orang yang berani berkata dengan kedangkalan ilmunya bahwa kedua orang tua Rasul Saw masuk neraka. Seolah dia bersih dari dosa, seolah dia telah dijamin masuk surga, seolah dia telah duduk tenang dalam surga.

Bahkan dengan semangat yang menggebu mereka membuat lembaran-lembarannya dan menyebarkannya ke khalayak umum melalui masjid-masjid atau perkumpulan-perkumpulan. Dengan busung dada merasa telah membela kebenaran dengan bersih kukuh menyatakan kedua orangtua Rasul Saw di neraka. Seolah dengan berbuat demikian mereka membahagiakan hati sang Nabi Saw, seolah hanya dengan berbuat itulah mereka akan masuk surga.

Sekelompok minoritas yang tidak mau memahami ajaran agama ini melalui para ulama madzhab, mereka hanya mau berusaha memahami ajaran agama dengan mengandalkan cara berpikir mereka sendiri, mengaku berlandaskan al-Quran dan Hadits, seolah mereka lebih hebat pemahamannya daripada ulama madzhab. Sungguh jauh, sungguh jauh dari kelayakan berfatwa terlebih menandingi ulama madzhab dalam ijtihad dan istinbathnya. Mengaku pengikut salaf, padahal sungguh jauh manhaj mereka dengan manhaj salaf.

Wahai saudaraku, jika ada orang mengatakan padamu bahwa kedua orangtuamu masuk neraka, bagaimana perasaan hatimu ?? sudah tentu sakit, pedih dan marah. Demikian juga orang lain, akan marah dan sakit hatinya jika dikatakan orangtuanya masuk neraka.

Lalu, orang tua siapakah yang kau katakan masuk neraka? bahkan kau putuskan / vonis masuk neraka seolah kau telah duduk tenang di dalam surga dan menoleh kanan kiri sehingga mengetahui siapa-siapa yang masuk surga dan neraka ??

Ya, kedua orang tua Rasulullah Saw yang kau vonis masuk neraka,kedua orangtua kekasih Allah Swt, makhluk termulia, seolah kaulah pemilik neraka, seolah kaulah sang pemukul palu hakim atas masuknya seseorang ke dalam neraka. Padahal Rasul Saw sendiri pun tak mengatakannya secara shorih / jelas. Tapi kau sudah berani mendahului beliau Saw bahkan mendahului Allah Swt. Sungguh hal ini benar-benar menyakiti hati Rasul Saw…

Berikut ini aku akan jelaskan padamu secara ilmiyyah dengan sejelas-jelasnya tentang permasalahan ini, dan hadits yang kau gunakan hujjah untuk memvonis kedua orang tua Nabi Saw masuk neraka. Serta ucapan mayoritas ulama Ahlus sunnah akan selamatnya kedua orang tua Nabi Saw dari neraka.

Pertama : Kau mengatakan kedua orang tua Rasul Saw di neraka dengan berhujjah hadits Muslim berikut :

عن أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا قال يا رَسُولَ اللَّهِ أَيْنَ أبي قال في النَّارِ فلما قفي دَعَاهُ فقال إِنَّ أبي وَأَبَاكَ في النَّارِ

Dari Anas bahwasanya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah “Ya, Rasulullah, dimanakah ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ Dia di neraka” . Ketika orang tersebut hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya seraya berkata “ sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka “.(HR Muslim)

Jawaban : Memahami hadits atau kitab tanpa merujuk pada pendapat ulama dan mencukupkan dengan pendapat sendiri, maka akan menjerumuskanmu pada kehancuran dan pertentangan mayoritas ulama.

Hadits tersebut walaupun disebutkan dalam shohih Muslim, bukan berarti boleh dibuat hujjah terlebih dalam hal I’tiqad / aqidah. Kita harus meneliti terlebih dahulu hadits-hadits lain yang terkait dengannya demikian pula ayat Qurannya.
Banyak sekali hadits-hadits riwayat imam Muslim, namun ditolak dan tidak dijadikan hujjah oleh imam-imam madzhab, karena mereka melihat ada ‘illat di sana yang menyebabkan tidak shahih di samping banyak pula hadits-hadits beliau yang digunakan imam-imam madzhab sebgai hujjah.

Para ulama Ahlus sunnah mengatakan bahwa hadits Muslim tersebut merupakan hadits Aahad yang matruk ad-Dhahir. Hadits Aahad jika bertentangan dengan nash Al-Quran, atau hadits mutawatir, atau kaidah-kaidah syare’at yang telah disepakati atau ijma’ yang kuat, maka dhahir hadits tersebut ditinggalkan dan tidak boleh dibuat hujjah dalam hal aqidah.

Pertentangan-pertentangan hadits tersebut :

- Bertentangan dengan Al-Quran.

Hadits Aahad riwayat imam Muslim tersebut bertentangan dengan ayat :

..وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”(Q.S Al Isra`: 15)

Dan ayat :

وما ارسلنا اليهم قبلك من نذير

“ Kami tidak mengutus seorang pembawa peringatan sebelummu pada mereka “

Keterangan :

Orang tua Nabi wafat sebelum Beliau diutusnya sebagai rasul, berarti mereka termasuk ahli fatrah yang selamat dari adzab.

Hal sperti ini banyak sekali contoh kasusnya, di antaranya kasus status kematian anak-anak kaum kafir yang belum baligh. Dalam banyak hadits disebutkan kepastian anak-anak orang kafir yang meninggal dunia statusnya di akherat akan masuk neraka. Namun ada juga beberapa hadits yang menyebutkan bahwa mereka masuk surga.

– Bertentangan dengan hadits.

Hadits Muslim tersebut bertentangan dengan hadits berikut :

Dari Abi Sa’id Al-Khudri Ra beliau berkata “ Rasulullah Saw bersabda :

الهالك في الفترة يقول : ربي لم يأتني كتاب ولا رسول. ثم قرأ هذه الاية ” ربنا لولا ارسلت الينا رسولا فنتبع اياتك ونكون من المؤمنين

“ Yang celaka dari ahli fatrah berkata “ Wahai Tuhanku, sesungguhnya belum sampai padaku kitab dan seorang utusanmu “ kemudian beliau Saw membaca ayat “ Wahai Tuhan kami, tidak kah Engkau mengutus pada kami seorang Rasul sehingga kami mengikutinya dan menjadi orang yang beriman ?”. (Isnadnya jayyid)

Hadits ini dikuatkan dengan ayat-ayat al-Quran yang telah berlalu keterangannya.

Juga hadits berikut :

لم ازل انقل من اصلاب الطاهرين الى ارحام الطاهرات

“Aku selalu berpindah dari sulbi-sulbi laki-laki yang suci menuju rahim-rahim perempuan yang suci pula”

Keterangan :

Dalam hadits ini Rasulullah  menyatakan bahwa kakek dan nenek moyang Beliau adalah orang-orang yang suci, ini menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang-orang musyrik karena jelas orang-orag musyrik telah dinyatakan najis dalam firman Allah Swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis”(At-Taubah : 28)

Maka wajib bagi kita untuk mngimani bahwa tak ada seorang pun dari nenek moyang Rasul Saw yang musyrik. Bahkan ayat :

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“ Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud “. (Q.S. As-Syu’ara’ : 218-219)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan تَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِين (perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud ) adalah perpindahan cahaya Nabi  dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud lainnya, sampai dilahirkan sebagai seorang nabi.

Imam Alusi dalam tafsir Ruhul Ma`ani ketika berbicara mengenai ayat tersebut berkata :

واستدل بالآية على إيمان أبويه صلى الله تعالى عليه وسلم كما ذهب اليه كثير من أجلة أهل السنة وأنا أخشى الكفر على من يقول فيهما رضي الله تعالى عنهما

“ Aku menjadikan ayat ini sebagai dalil atas keimanan kedua orang tua Nabi  sebagaimana yang dinyatakan oleh banyak daripada tokoh-tokoh ahlus sunnah. Dan aku khawatir kufurnya orang yang mengatakan kekafiran keduanya, semoga Allah meridhai kedua orang tua Nabi…” (Ruh Al-Ma’ani : 19/138)

Renungkan pula hadits berikut :

Imam Ath-Thobari menyebutkan hadits berikut yang telah ditakhrij oleh Abu Ali bin Syadzan dan juga terdapat dalam Musnad Al-Bazzar dari Ibu Abbas Ra, beliau berkata :

دخل ناس من قريش على صفية بنت عبد المطلب فجعلوا يتفاخرون ويذكرون الجاهلية فقالت صفية منا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا تنبت النخلة أو الشجرة في الأرض الكبا فذكرت ذلك صفية لرسول الله صلى الله عليه وسلم فغضب وأمر بلالا فنادى في الناس فقام على المنبر فقال أيها الناس من أنا قالوا أنت رسول الله قال أنسبوني قالوا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب قال فما بال أقوام ينزلون أصلي فو الله إني لأفضلهم أصلا وخيرهم موضعا.

“ Beberapa orang dari Quraisy datang kepada Shofiyyah binti Abdil Muththalib, lalu merekasaling membangga-banggakan diri dan menyebutkan perihal jahiliyyah. Maka Shofiyyah berkata “ Dari kalangan kami lahir Rasulullah Saw “, lalu mereka menjawab “ Kurma atau pohon tumbuh di tempat kotor “. Kemudian Shofiyyah mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw, maka Rasulullah Saw marah dan memerintahkan Bilal berseru pada orang-orang untuk berkumpul, lalu Rasulullah Saw berdiri di atas mimbar dan bersabda “ Wahai manusia, siapakah aku ? mereka menjawab “ Engkau adalah utusan Allah. Kemudian Rasulullah bersabda lagi “ Sebutkanlah nasabku ! Mereka menjawab “ Muhammad bin Abdullah bin Abdil Muththalib “, maka Rasulullah Saw bersabda “ Ada apa satu kaum merendahkan nenek moyangku, maka demi Allah sesungguhnya nenek moyangku seutama-utamanya nenenk moyang dan sebaik-baik tempat (kelahiran) “.

Keterangan :

Perhatikanlah wahai saudaraku hadits tsb, sungguh beliau marah saat ada orang merendahkan ayah dan datuk-datuk beliau. Hingga beliau mengumpulkan orang-orang dan menegaskan mereka sampai bersumpah atas nama Allah bahwa datuk-datuk beliau adalah sebaik-baik datuk dan sebaik-baik tempat dilahirkan

.
Lalu bagaimana jika beliau mendengar dari umatnya yang mengatakan bahkan memvonis bahwa kedua orangtua Rasulullah Saw masuk neraka ??

Dan masih banyak hadits-hadits semisal yang tidak saya sebutkan di sini, cukup hadits-hadits di atas menunjukkan kemuliaan dan keselamatan kedua orang tua Rasul Saw dari neraka.

Bahkan sebagian mufassirin berkata dalam ayat :

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا آلِهَةً إِنِّي أَرَاكَ وَقَوْمَكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim Berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S Al An`am : 74)

Bahwa yang dmaksud abihi (ayahnya) Nabi Ibrahim yang bernama Aazar adalah pamannya bukan ayahnya.

Mari kita buktikan kebenarannya :

- Imam Mujahid berkata : ليس آزر أبا إبراهيم

“ Azar bukanlah ayah Nabi Ibrahim As “, atsar ini telah ditakhrij oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Al-Mundzir dan Ibnu Abi Hathim dengan sebagian jalan yang shahih.

- Ibnu Al-Mundzir telah mentakhrij dengan sanad yang shahih dari Ibnu Juraij tentang firman Allah Swt :

(وإذ قال إبراهيم لأبيه آزر)

Maka beliau berkomentar :

ليس آزر بابيه إنما هو إبراهيم بن تيرح أو تارح بن شاروخ بن ناحور بن فالخ

“ Azar bukanlah ayah Nabi Ibrahim, sesungguhnya dia adalah Ibrahim bin Tirah atau Tarih bin Syarukh bin Nakhur bin Falikh “.

- Ibnu Abi Hatim mentakhrij dengan sanad yang shahih dari As-Sadi bahwa beliau ditanya “ Ayah Nabi Ibrahim itu Azar, maka beliau menjawab “ bukan tapi Tarih “.

- Dari Muhammad bin Ka’ab Al-Quradzhi bahwasanya beliau berkata “ Terkadang paman dari jalur ayah atau jalur ibu disebut ayah “.

- Fakhru Ar-Razi berkata :

إن آزر لم يكن والد إبراهيم بل كان عمه واحتجوا عليه بوجوه: منها أن آباء الأنبياء ما كانوا كفارا ويدل عليه وجوه: منها قوله تعالى ( الذي يراك حين تقوم وتقلبك في الساجدين قيل معناه أنه كان ينقل نوره من ساجد إلى ساجد وبهذا التقدير فالآية دالة على أن جميع آباء محمد صلى الله عليه وسلم كانوا مسلمين وحينئذ يجب القطع بأن والد إبراهيم ما كان من الكافرين إنما ذاك عمه

“ Sesungguhnya Aazar bukanlah ayah nabi Ibrahim As akan tetapi pamannya. Para ulama berhujjah atas hal ini dengan beberapa arahan, di antaranya; Bahwa datuk-datuk para Nabi bukanlah orang kafir, dengan dalil di antaranta ayat ;( الذي يراك حين تقوم وتقلبك في الساجدين ), dikatakan maknanya adalah bahwasanya cahaya Nabi  berpindah-pindah dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud lainnya. Dengan makna ini, maka ayat tersebut menunjukkan bahwasanya semua datuk nabi Muhammad Saw adalah orang-orang muslim. Maka ketika itu wajib memastikan bahwa ayah nabi Ibrahim bukanlah dari orang kafir melainkan itu adalah pamannya “.

- Nabi Ibrahim As dilarang oleh Allah beristighfar (memintakan ampun) untuk ayahnya. Namun kenapa dalam ayat yang lain justru nabi Ibrahim memintakan ampun untuk kedua orangtuanya setelah wafatnya Aazar ? padahal Allah sudah melarangnya ?

- Ibnu Abi Hatim mentakhrij hadits dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas Ra beliau berkata :

قال ما زال إبراهيم يستغفر لأبيه حتى مات فلما مات تبين له أنه عدو لله فلم يستغفر له

“ Nabi Ibrahim senantiasa beristighfar, memohon ampun untuk ayahnya hingga wafat, maka ketika ayahnya wafat, nyatalah baginya bahwa ayahnya adalah musuh Allah, sejak itu nabi Ibrahim tidak beristighfar untuknya lagi “.

Ibnu Al-Mundzir dalam kitab tafsirnya membawakan sebuah hadits dengan sanad yang shahih bahwa “ Ketika orang-orang kafir mengumpulkan kayu bakar dan melemparkan nabi Ibrahim ke dalamnya dengan api yang membara, maka berucaplah nabi Ibrahim “ Cukuplah Allah sebagai penolongku. Dan Allah berfirman “ Wahai api jadilah sejuk dan keselamatan bagi Ibrahim “. Maka berkatalah paman nabi Ibrahim “ Karenaku Ibrahim tidak terbakar “. Maka ketika itu Allah mengirim secercik api yang jatuh ke telapak kakinya dan membakarnya hingga tewas “.

Keterangan : 

Nabi Ibrahim dilarang Allah mengistighfari ayahnya. Kemudian beliau diuji Allah dengan peristiwa pembakarannya. Dan saat itu pula pamannya ikut terbakar.

Setelah itu nabi Ibrahim berhijrah ke beberapa daerah hingga beliau meninggalkan istri dan anaknya di Makkah. Namun saat itu beliau berdoa sebagaimana diabadikan dalam al-Quran :

ربنا أني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع

“ Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku menempatkan keturunanku ini di lembah yang tidak ada tanaman “. Sampai ayat :

ربنا اغفر لي ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب

“ Wahai Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orangtuaku dan bagi orang-orang mukmin di hari berdirinya hisap “.

Di atas cukup jelas, bahwa beliau selalu mengistighfari ayahnya hingga beliau tahu ayahnya tersebut adalah musuh Allah dengan terbakarnya di hari ujian Nabi Ibrahim tersebut dengan pembakaran. Dan beliau pun berhenti mengistighfarinya lagi.

Namun setelah itu kenapa beliau masih tetap mengistighfarinya lagi sebagaimana ayat di atas ?

.
Jawabannya tidak ada lain bahwa yang dimaksud ayah dalam hadits di atas adalah paman nabi Ibrahim As dan telah dikuatkan dengan hadits shahih yang telah dibawakan imam Ibnu Al-Mundziri dalam tafsirnya di atas.

Dan terbukti beliau masih mengistighfari ayah kandungnya Tarih setelah kejadian pembakaran tersebut.
Apakah kau akan mengatakan al-Qurannya yang salah ?

.
Maka dengan qarinah-qarinah ini semakin jelas bahwa yang dimaksud ayaku dalam hadits Muslim tersebut adalah ayah asuh Nabi Muhammad Saw yaitu paman beliau Saw Abu Thalib bukan ayah kandunganya Abdullah.

Hadits Syadz

- Hadits riwayat imam Muslim tersebut statusnya syadz, sebab perawi hadits tersebut yang bernama Hammad diragukan hafalannya oleh para ulama ahli hadits. Dalam hadits-hadits riwayatnya banyak kemungkaran, bahkan diketahui bahwa rabibnya telah membuat kerancuan dalam kitab-kitabnya dan Hammad tidak menghafal hadits-haditsnya sehingga membuat kesamaran dalam haditsnya. Oleh karenanya imam Bukhari tidak mentakhrij hadits darinya. Dan masih banyak hadits riwayat lainnya yang lebih kuat, seperti riwayat Ma’mar dari Anas, al-Baihaqi dari Sa’ad bin Abi Waqqosh :

“اِنَّ اَعْرَابِيًّا قَالَ لِرَسُوْلِ الله اَيْنَ اَبِي قَالَ فِي النَّارِ قَالَ فَأَيْنَ اَبُوْكَ قَالَ حَيْثُمَا مَرَرْتَ بِقَبْرِ كَافِرٍ فَبَشِّرْهُ بِالنَّارِ”

“ Sesungguhnya A’robi berkata kepada Rasulullah “ dimana ayahku ?, Rasulullah menjawab : “ dia di neraka”, si A’robi pun bertanya kembali “ dimana AyahMu ?, Rasulullah pun menawab “ sekiranya kamu melewati kuburan orang kafir, maka berilah kabar gembira dengan neraka “

Riwayat di atas datang tanpa menyebutkan ayah Nabi di neraka.

Dan hadits syadz jika dari orang yang ghairu tsiqah (tidak terpercaya), maka hadits itu matruk dan tidak diterima. Sedangkan jika dariorang yang terpercaya, maka hukumnya tawaqquf (no coment/diam) dan tidak boleh dibuat hujjah terlebih jika bertentangan dengan al-Quran dan hadits lainnya.

Kedua : Kau memvonis orangtua Nabi Saw di neraka dengan berhujjah hadits berikut :

عن أبي هُرَيْرَةَ قال زَارَ النبي صلى الله عليه وسلم قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى من حَوْلَهُ فقال اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي في أَنْ أَسْتَغْفِرَ لها فلم يُؤْذَنْ لي وَاسْتَأْذَنْتُهُ في أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Dari Abi Hurairah, berkata : Nabi  berziarah ke kubur ibunda Beliau, kemudian Beliau menangis, dan membuat mereka yang ada di sekelilingnya menangis, maka Nabi bersabda “ Aku meminta izin pada tuhanku untuk memohonkan ampun bagi Ibuku akan tetapi tidak dikabulkan, dan aku meminta idzin untuk menziarahinya kemudian aku diidzinkan, maka berziarahlah kalian karena dapat mengingatkan kalian akan kematian” (HR Muslim)


Jawaban :

Hadits tersebut bukan menunjukkan ibunda Nabi Saw ahli neraka sama sekali. Karena hadits tersebut juga bertentangan dengan ayat-ayat fatrah di atas.

Dan tangisan beliau bukan menunjukkan ibundanya ahli neraka atau sebab Allah tidak mengidzinkannya untuk mengistighfarinya. Tapi beliau menangis sebab ibunda beliau termasuk ahli fatrah yang tidak dibebankan kewajiban iman. Sedangkan orang yang tidak dibebankan kewajiban iman tidaklah berdosa sehingga tidak berhak diistighfari. Sama halnya kita tidak mengistighfari benda-benda mati, binatang atau malaikat, sebab semuanya bukanlah mukallaf. Dan istighfar bukan pada tempat yang disyare’atkan adalah ‘abatsun (maen-maen), sedangkan maen-maen dalam hal ibadah dilarang.

Bukti bahwa ibunda nabi Saw bukanlah orang musyrik dan ahli neraka adalah Allah mengidzinkan Nabi Saw untuk menziarahinya. Sedangkan kita tahu bahwa Allah melarang kita berdiri di sisi kuburan orang-orang kafir. Allah Swt berfirman :

ولاتصل على احد منهم مات ابدا ولا تقم على قبره انهم كفروا بالله ورسوله وماتوا وهم فاسقون

“ Dan janganlah kamu mensholati seorang dari mereka yang wafat selama-lamanya, dan janganlah kamu berdiri di sisi kuburnya. Sesungguhnya mereka mengkufuri Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam kedaan fasiq “.

Jika kau bertanya : Lalu bagaimana dengan hadits-hadits berikut ini :

ليت شعري ما فعل أبواي فنزلت (ولا تسال عن أصحاب الجحيم)

“ Aduhai, apa yang dilakukan kedua orangtuaku ? lalu turunlah ayat “ Dan janganlah kamu menanyakan perihal dari penduduk neraka “.

Jawaban : Hadits itu dha’if bahkan tidak disebutkan sama sekali dalam kitab-kitab yang mu’tamad.
Hadits tersebut hanya disebutkan dalam sebagian ktab tafsir dengan sanad yang terputus yang tidak bisa dibuat hujjah. Jika seandainya hadits-hadits wahiyah semisal itu boleh dibuat hujjah, maka aku akan tampilkan hadits semisal itu juga yang menentangnya :

هبط جبريل علي فقال إن الله يقرئك السلام ويقول إني حرمت النار على صلب أنزلك وبطن حملك وحجر كفلك

“ Sesungguhnya Jibril turun kepadaku dan berkata “ Sesungguhnya Allah mengirim salam untukmu dan berfirman “ Aku mengharamkan neraka atas orang yang menurunkanmu dari sulbinya, orang yang mengandungmu dan pangkuan orang yang merawatmu “.

Hadits itu berkenaan dengan kaum kafir bani Israil bukan dengan kedua orang tua Rassul Saw.

Jika kau bertanya : Lalu bagaimana dengan hadits :

أنه استغفر لأمه فضرب جبريل في صدره وقال لا تستغفر لمن مات مشركا، وحديث أنه نزل فيها (ما كان للنبي والذين آمنواأن يستغفروا للمشركين)

“ Bahwasanya Rasul Saw beristighfar untuk ibundanya, lalu jibril memukul dadanya dan berkata “ Janganlah kamu beristighfar untuk orang yang mati musyrik dan turun ayat : “ Tidaklah Nabi dan orang-orang yang beriman untuk mengistighfari orang-orang musyrik “.

Jawaban : Hadits tersebut juga dhai’if. Tidak bisa dibuat hujjah. Bahkan hadits yang shahihnya adalah ayat itu turun berkenaan Abu Thalib dan berkenaan hadits :

لاستغفرن لك مالم أنه عنك

“ Aku akan beristighfar untukmu (wahai Abu Thalib) Selama aku tidak dilarang “.

Jika kau bertanya : Dan bagaimana dengan hadits :

أنه قال لابني مليكة أمكما في النار فشق عليهما فدعاهما فقال إن أمي مع أمكما

“ Bahwasanya Rasul Saw berkata kepada kedua anak Malikah “ Ibu kalian berdua ada di dalam neraka. Lalu kedua anak itu merasa berat hatinya, maka Rasul Saw mendoakan keduanya kemudian bersabda “ Sesungguhnya ibuku bersam ibu kalian “.

Jawaban : Hadits tersebut juga dha’if karena diriwayatkan Utsman bin Umair dan tidak bisa dibuat hujjah. Imam Adz-Dzhabi berkata dalam kitab Mukhtashar Al-Mustadraknya :

قلت لا والله فعثمان بن عمير ضعفه الدار قطني

“ Aku katakan ; “ Demi Allah, imam Daru Quthni mendhaifkan Utsman bin Umair “

Imam Adz-Dzahabi sampai bersumpah mengatakan hadits tersebut dha’if.

Jika sudah jelas hadits-hadits tersebut dha’if, maka runtuhlah hujjah-hujjah mereka menggunakan hadits-hadits tersebut.


Dalil-dalil Isyarah

Pertama : Allah Swt berfirman :

وإذ قال إبراهيم لأبيه وقومه إنني براء مما تعبدون إلا الذي فطرني فإنه سيهدين وجعلها كلمة باقية في عقبه

“ Dan ketika Ibrahim berkata kepada ayah dan kaumnya “ Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah, kecuali pada Dzat yang menciptakanku sesungguhnya Dia akan member petunjuk padaku “, dan Allah menjadikan kalimat itu terus ada pada aqibnya “.

Tafsirnya :

Abd bin Humaid mentakhrij hadits dengan sanad yang shahih dari Ibnu Abbas tentang tafsir :

وجعلها كلمة باقية في عقبه

قال لا إله إلا الله باقية في عقب إبراهيم

Ibnu Abbas berkata “ Kalimat Laa Ilaaha Illallah terus berlanjut pada keturunan nabi Ibrahim “.

Abd bin Humaid, Ibnu Jarir dan Ibnu Al-Mundzir juga mentakhrij hadits dari Mujahid tentang tafsir “ Kalimatan Baqiyatan “, bahwa beliau mengatakan “ Yang dimaksud adalah kalimat Laa ilaaha illallah “.

Abd bin Humaid juga berkata :

حدثنا يونس عن شيبان عن قتادة في قوله وجعلها كلمة باقية في عقبه قال شهادة أن لا اله إلا الله والتوحيد لا يزال في ذريته من يقولها من بعده.

“ Telah mneceritakan pada kami Yunus dari Syaiban dari Qotadah tentang firman Allah ; waja’alaha kalimatan baqiyan fi a’qibihi, bahwa beliau mengatakan “ Yaitu kesaksian Laa ilaaha illallah, dan tauhid akan selalu ada orang yang mengucapkannya setelah wafatnya nabi Ibrahim pada semua keturunannya “.

Abdur Razzaq juga meriwayatkan hadits yang sama tentang penafsiran ayat tersebut dari Mu’ammar dari Qotadah. Demikian pula Ibnu Juraij menafsirkan hal yang sama.

Dari penjelasan di atas, mengisyaratkan bahwasanya semua keturunan Nabi Ibrahim As orang-orang yang mentauhidkan Allah Swt dan bukan orang musyrik termasuk kedua orangtua Rasul Saw. Karena nabi Muhammad berasal dari keturunan Nabi Ismail As.

Kedua :

Ketika imam Sufyan bin Uyainah (salah seorang imam Mujtahid dan termasuk guru imam Syafi’i) ditanya “ Apakah ada seorang pun dari keturunan nabi Ismail yang menyembah berhala ? Maka beliau menjawab:

لا ألم تسمع قوله (واجنبني وبني أن نعبد الأصنام)

“ Tidak ada. Apakah kamu tidak mendengar firman Allah Swt “ Dan jauhkanlah aku dan keturunanku dari menyembah berhala “.

Ketiga :Allah Swt berfirman mengkisahkan doa nabi Ibrahim As:

رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي

“ Ya Allah, jadikanlah aku dan dari keturunanku orang yang mendirikan sholat “.

Ibnu Juraij menafsirkan :

فلن يزال من ذرية إبراهيم ناس على الفطرة يعبدون الله

“ Maka akan selalu ada dari keturunan nabi Ibrahim As, manusia pada masa fatrah yang menyembah Allah Swt “.

Keempat :Pada saat perang Hunain, Nabi Saw pernah berseru dengan bangga kepada kaum kafir :

أنا النبي لا كذب * أنا ابن عبد المطلب

“ Aku seorang nabi yang tidak pernah berdusta # Akulah keturunan Ibnu Abdil Muththallib “.

Lihat, bagaimana beliau berbangga dengan nasab pada kakeknya Abdil Muththalib. Seandainya Abdul Muththalib kafir, maka Rasululullah Saw tidak akan berbangga seperti itu, apalagi intisab (mengakui nasab dengan bangga) pada orang kafir itu dilarang dan diancam neraka oleh Allah Swt.

Kelima : Imam At-Thabrani mentakhrij hadits dari Ummi Salamah bahwasanya Nabi Saw bersabda :

وقد وجدت عمي أبا طالب في طمطم من النار فأخرجه الله لمكانه مني وإحسانه إليّ فجعله في ضحضاح من النار

“ Sunngguh aku mendapatkan pamanku Abu Thalib di bagian dasar api neraka, lalu Allah mengeluarkannya sebab kedudukan dan kebaikannya di sisiku, maka Allah memindahkannya di bagian dangkal api neraka “.

Hadits ini mengisyaratkan bahwa kedua orangtua Nabi Saw tidak di neraka, sebab jika kedua orangtua beliau di neraka, maka niscaya keduanya paling ringan siksaannya daripada Abu Thalib, sebab kedua orantua Rasul Saw lah yang paling dekat kedudukannya di sisi Rasul Saw dan paling besar udzurnya di sisi Allah Swt.

Keenam : Imam Al-Baghawi, Asy-Syarbini dan para ulama hanafiyyah juga malikiyyah dan yang lainnya dari para ulama Ahlus sunnah berpendapat bahwa kelebihan dari perut Nabi Saw hukumnya suci.

Diriwayatkan oleh imam Daru Quthni dan beliau menshahihkannya, bahwasanya Ummu Aiman pernah meminum air seni Rasulullah Saw kemudian beliau bersabda :

لَنْ يَلِجَ النَّارَ بَطْنُكِ

“ Perutmu tidak akan disentuh api neraka “.

Imam Tirmidzi berkata :”Darah Nabi Saw hukumnya suci karena Abu Taibah pernah meminum darah nabi Saw, demikian juga Ibnu Zubair saat itu masih kecil ketika Nabi Saw memberikan darah bekas cantuk untuk dibuangnya, tapi Ibnu Zubair malah meminumnya. Maka nabi Saw berabda :

من خالط دمه دمي لم تمسسه النار

“ Barangsiapa yang darahnya bercampur dengan darahku, maka ia tidak akan disentuh api neraka “.

Keterangan :

Nabi Saw tidak memerintahkan mereka untuk mensucikan mulut mereka dengan air, yang berarti hukumnya suci.

Dari hadits-hadits itu menunjukkan bahwasanya kelebihan dari perut nabi seperti air seni atau darah beliau Saw bisa menyelamatkan orang dari neraka. Lantas bagiaman dengan kdeua orangtua Rasul Saw yang darah daging beliau Saw berasal darinya ??

Oleh sebab itulah imam Al-Allamah Al-Khuffaji berkata dalam sebuah nadzamnya :

لوالدي طه مقام على # في جنة الخلد ودار الثواب
وقطرة من فضلات له # في الجوف تنجي من اليم العقاب
فكيف ارحام قد غدت # حاملة تصلى بنار العذاب

Kedua orangtua Rasul Saw memiliki kedudukan yang tinggi #
Di surga khuld yang abadi dan penuh limpahan anugerah.
Setetes dari kelebihan perut Nabi #
Yang masuk ke dalam perut seseorang dapat menyelamatkannya dari pedihnya siksa.
Maka bagaimana akan masuk neraka # rahim yang telah mengandung jasadnya ??

Catatan :

Tampaklah dari semua penjelasan di atas bahwa kedua orangtua Nabi Muhammad Saw termasuk ahli fatrah dan tidak masuk neraka.

Dan tampaklah semua dalil yang kau buat hujjah untuk memvonis kedua orangtua Nabi Saw di neraka sangatlah lemah dan bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran dan Hadits-hadits yang lebih kuat.

Tak sepantasnya kau bersih keras mengatakan kedua orang tua Rasul Saw di neraka apalagi memvonisnya. Para ulama ada yang tawaqquf dalam masalah ini, mereka tak berani mengatakan kedua orangtua Rasul Saw di neraka. Inilah sikap yang ahsan wa awra’ (baik dan lebih hati-hati). Bukankah kita dilarang mebicarakan kejelekan orang yang sudah wafat? Bukankah kita diperintahkan untuk mencegah lisan kita dari membicarakan perihal yang terjadi di antara sahabat-sahabat nabi Saw ?

.
Demikian pula kedua orangtua Nabi Saw lebih berhak lisan kita untuk tidak membicaraannya. Ini lebih baik dan lebih selamat untukmu.


Jawaban atas syubhat-syubhat yang memvonis kedua orang tua Nabi Saw di neraka.

Akhir-akhir ini kasus kedua orangtua Rasul Saw masuk neraka mulai mencuat kembali ke permukaan umum, dan mulai diramaikan kembali oleh segelintir orang yang mengaku pengikut manhaj salaf.Mereka dengan semangat dan bahkan merasa lezat dengan membicarakan kedua orangtua Nabi Saw masuk neraka di mimbar-mimbar mereka, majlis ta’lim, masjid, perkumpulan dan bahkan menyebarkannya melalui lembaran-lembaran atau bulletin dan internet ke khalayak umum tanpa mau melihat perbedaan ulama tentang persoalan ini dan bahkan tanpa memperhatikan adab dengan baginda Nabi Saw.

Persoalan ini sebenarnya hanyalah persoalan ijtihadiyyah bukan persoalan I’tiqadiyyah yang menyebabkan kafirnya atau bid’ahnya orang yang bertentangan. Dan tidak akan menjadi salah satu pertanyaan yang harus di jawab dalam kuburan.

Sejak mulai ulama pertama hingga terakhir, memang telah terjadi perbedaan pendapat di antara mereka. Ada yang berpendapat kedua orangtua Nabi masuk neraka, ada yang berpendapat sebaliknya yaitu kedua orangtua Nabi Saw masuk surga dan ada juga yang memilih diam tidak mau berkomentar atas perosalan ‘Khathar’ ini. Namun di anatara merekahanyalah sekedar berijtihad dan berpendapat tanpa adanya saling membid’ahkan dan mengkafirkan di anatara mereka yang bertentangan. Setelah itu mereka lepas dan tak ada yang berani membicarakannya lagi.

Namun kita lihat sekarang, begitu beraninya segilintir manusia yang mengaku pengikut manhaj salaf, mempersoalkan kasus ini lagi, meramaikan kasus ini lagi dan menetapkan bahwa pendapat merekalah yang paling benar tanpa memandang hujjah-hujjah ulama yang berbeda pendapat.

Sebenarnya saya tidak berani mengupas masalah ini, karena saya khawatir terjerumus termasuk orang yang memperpanjang masalah ini sehingga menyebabkan sakit hatinya Nabi Saw. Namun saya hanya mengabulkan permintaan beberapa ikhwan yang menginginkan saya menjelaskan persoalan ini.

Terlalu terburu-buru memvonis kedua orangtua Nabi Saw kafir dan layak masuk neraka. Adakah nash qoth’i dari al-Quran atau al-Hadits yang menjelaskan langsung bahwamereka berdua melakukan kesyirikan selama hidupnya ?? dalil-dalil yang mereka gunakan untuk memvonis kedua orangtua Nabi Saw bukanlah dalil qoth’i karena masih mengandung sangkaan dan ihtimal-ihtimal sehingga masih dikatakan dalil dzhanni.

Untuk menetapkan hokum seseorang itu kafir terlebih masuk neraka, maka haruslah dengan DALIL yang QOTH’I yang tidak terdapat KHILAF (Perbedaan pendapat di antara ulama) atau IHTIMAL (indikasi makna lain). Dalil yang kuat dan pasti serta tidak mungkin lagi mengindikasikan makna lainnya.

Tak ada satupun dalil qoth’i yang menjelaskan kedua orangtua Nabi Saw berbuat kesyirikan dan layak masuk neraka. Justru sebaliknya yang ada malah dalil-dalil yang lebih kuat dan mencapai derajat mutawatir yang menunjukkan kedua orangtua Nabi Saw bukan orang musyrik dan ahli neraka.

Juga ayat :

وَمَا أَهْلَكْنَا مِن قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنذِرُونَ

“ Kami tidak akan memusnahkan suatu daerah kecuali telah ada orang-orang yang telah memperingatkannya “ (Asy-Syu’ara : 208)

Bukankah Allah Swt sendiri telah berfirman :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang datuk-datuk mereka belum mendapat peringatan dan mereka dalam keadaan lalai “. (Yasin : 6)

Allah juga berfirman :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُون

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang tidak ada seorang pemberi peringatan pun pada mereka sebelum kamu, supaya mereka mendapat petunjuk “ (As-Sajdah : 3)

Dan ayat :

لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أَتَاهُم مِّن نَّذِيرٍ مِّن قَبْلِكَ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“ Agar kamu memperingatkan suatu kaum yang tidak ada seorang pemberi peringatan pun pada mereka sebelum kamu, supaya mereka sadar “ (Al-Qashash: 46)

Keterangan :

Ayat-ayat di atas sangat jelas menerangkan bahwa belum ada seorang utusan dari Allah yang memperingatkan umat Nabi Saw sebelum nabi diutus menjadi Rasul. Tak terkecuali kedua orangtua Nabi Saw. Maka dengan ayat-ayat ini jelas bahwa kedua orangtua Nabi Saw adalah AHLI FATRAH yang BELUM SAMPAI DAKWAH dari nabi sebelum nabi Muhammad Saw.

Jika mereka masih ngotot dan mengatakan ; “ Kedua orang tua Nabi Saw termasuk golongan ahli fatrah yang tidak sampai kepadanya dakwah namun ia merubah ajaran dan berbuat syirik. Golongan ini tidaklah disebut sebagai ahlul-islam/ahlul iman “.

Kita jawab : Dari mana anda tahu bahwa kedua orangtua Nabi Saw telah merubah ajaran dan berbuat syirik ?? adakah satu nash qoth’i saja yang menjelaskan hal itu secara jelas dan nyata ?? sehingga anda berani memukul palu dan menetapkan hokum bahwa kedua orangtua Nabi Saw layak masuk neraka ??

Justru sebaliknya, banyak ayat al-Quran dan Hadits yang menjelaskan bahwa mereka di atas agama datuknya Nabi Ibrahim As.

Allah Swt berfirman

الَّذِي يَرَاكَ حِينَ تَقُومُ * وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ

“ Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud “. (Q.S. As-Syu’ara’ : 218-219)

Sebagian ahli tafsir termasuk sahabat Ibnu Abbas (master ahli tafsir) mengatakan bahwa yang dimaksud dengan تَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِين (perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud ) adalah perpindahan cahaya Nabi  dari sulbi seorang ahli sujud (muslim) ke ahli sujud lainnya, sampai dilahirkan sebagai seorang nabi.

Nabi Saw berabda : 

وأخرج مسلم والترمذي وصححه عن واثلة بن الأسقع قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أن الله اصطفى من ولد إبراهيم إسماعيل واصطفى من ولد إسماعيل بني كنانة واصطفى من بني كنانة قريشا واصطفى من قريش بني هاشم واصطفاني من بني هاشم

“ Sesungguhnya Allah Swt memilih Ismail dari keturunan Ibrahim. Dan memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail. Dan memilih Quraisy dari Bani Kinanah. Dan memilih Bani Hasyim dari Bani Quraisy dan memilih aku dari Bani Hasyim “ (HR. Muslim)

.
Mungkinkah Allah Swt memilihkan untuk Nabi Saw, sulbi-sulbi dari orang-orang yang kotor, najis atau kafir ??

Imam Ath-Thobari menyebutkan hadits berikut yang telah ditakhrij oleh Abu Ali bin Syadzan dan juga terdapat dalam Musnad Al-Bazzar dari Ibu Abbas Ra, beliau berkata :

دخل ناس من قريش على صفية بنت عبد المطلب فجعلوا يتفاخرون ويذكرون الجاهلية فقالت صفية منا رسول الله صلى الله عليه وسلم فقالوا تنبت النخلة أو الشجرة في الأرض الكبا فذكرت ذلك صفية لرسول الله صلى الله عليه وسلم فغضب وأمر بلالا فنادى في الناس فقام على المنبر فقال أيها الناس من أنا قالوا أنت رسول الله قال أنسبوني قالوا محمد بن عبد الله بن عبد المطلب قال فما بال أقوام ينزلون أصلي فو الله إني لأفضلهم أصلا وخيرهم موضعا.

“ Beberapa orang dari Quraisy datang kepada Shofiyyah binti Abdil Muththalib, lalu merekasaling membangga-banggakan diri dan menyebutkan perihal jahiliyyah. Maka Shofiyyah berkata “ Dari kalangan kami lahir Rasulullah Saw “, lalu mereka menjawab “ Kurma atau pohon tumbuh di tempat kotor “. Kemudian Shofiyyah mengadukan hal itu kepada Rasulullah Saw, maka Rasulullah Saw marah dan memerintahkan Bilal berseru pada orang-orang untuk berkumpul, lalu Rasulullah Saw berdiri di atas mimbar dan bersabda “ Wahai manusia, siapakah aku ? mereka menjawab “ Engkau adalah utusan Allah.

Kemudian Rasulullah bersabda lagi “ Sebutkanlah nasabku ! Mereka menjawab “ Muhammad bin Abdullah bin Abdil Muththalib “, maka Rasulullah Saw bersabda “ Ada apa satu kaum merendahkan nenek moyangku, maka demi Allah sesungguhnya nenek moyangku seutama-utamanya nenenk moyang dan sebaik-baik tempat (kelahiran) “.

Lihat bagaimana Nabi Saw marah saat ada orang yang merendahkan derajat datuknya. Mungkinkah Rasul Saw marah jika datuknya bukan orang mukmin tapi orang kafir ??

.
Hadits ini menunjukkan, bahwa Rasul Saw sakit hati jika ada orang yang merendahkan derajat datuk-datuknya. Maka tentunya akan lebih sakit hati lagi jika ada orang gembar-gembor di khalayak umum bahwa kedua orangtua Nabi Saw layak masuk neraka.

Naudzu billah min dzaalik..

akidah N.U tentang tauhid lebih dekat dengan syi’ah daripada dengan wahabi

baca juga : Dimanakah Allah ?? Apakah zat Allah SWT diatas arasy ?

Siapa bilang sesama sunni lebih dekat satu sama lain dibandingkan dengan syi’ah ?? akidah N.U tentang tauhid lebih dekat dengan syi’ah daripada dengan wahabi.. Wahabi duhai wahabi mengapa tega engkau melaknat laknat N.U

Tokoh-tokoh kerajaan Saudi menyimpan uang rejeki minyaknya ke bank-bank Yahudi di Amerika, Swiss, dll. Tentu saja keuntungan dari perputaran uang ini tidak akan dipakai Yahudi untuk memajukan Islam bukan? Tentu tidak! Malah keuntungannya dipakai untuk menghancurkan Islam

.

Perusahaan-perusahaan minyak di Saudi sebagian besar adalah perusahaan Amerika yang nota bene milik orang Yahudi. Aramco dan lain-lain itu milik Yahudi semuanya.

.

Kerajaan Saudi dan ulama-ulama wahabi di sana hingga saat ini tidak pernah diketahui jelas memusuhi Israel dan Amerika. Malahan, raja-rajanya berteman akrab dengan pemimpin-pemimpin Amerika.

Saudi mengizinkan tanah haram dipakai sebagai pengkalan perang tentara kafir (Sekutu) untuk menghancurkan Iraq yang beragama Islam.
Dari sedikit fakta ini mestinya kita curiga. Adakah gerakan wahabi ini murni dari Islam? Ataukah memang ia dibentuk/disuburkan oleh Yahudi untuk menggerogoti Islam dari dalam?
.
Berdasarkan fakta sejarah tersebut, Wahabi merupakan bentukan Imperialis Inggris untuk -tunjuan jangka pendeknya- merampas tanah Hijaz dari kekhalifahan Turki Utsmani yang saat itu menjadi musuh utama Inggris di Timur Tengah. Adapun tujuan jangka panjangnya untuk menghancurkan Islam dari dalam.
.
Wahabi bukan satu-satunyua kelompok bentukan Inggris, ada Ahmadiyah di India

MUFTI WAHABI SYEIKH BINBAZ
NAMA : Abdul Aziz Bin Baz.
TAHUN LAHIR: 1912M.
TEMPAT LAHIR: Najd ( Riyadh ).
MENINGGAL DUNIA: 1999M
.
KESILAPAN DALAM AQIDAH:
– Kafirkan Umat Islam.
– Mengkafirkan Umat Islam Di Mesir dan Bumi Syam.
– Tolak Akidah Yang Benar iaitu ‘ Allah Bukan Jisim ’.
– Berakidah Allah Berpenjuru, Berarah dan Bertempat.
– Mengkafirkan Umat Islam Al-Asya’irah.
– Menghina Nabi Muhammad.
– Menghina Nabi Muhammad Sebagai AUTHAN yaitu Patung Berhala.
– Mengharuskan Pakai Lambang Salib Kristian.
– Mengkafikran Umat Islam Yang Tinggal Di Hijaz Dan Yaman.
– Berakidah Allah Duduk Atas Kerusi.
– Berakidah Zat Allah Di Atas Arasy.
– Berakidah Allah Mempunya Dua Belah Kaki Seperti Makhluk.
– Berakidah Allah Bercakap Macam Manusia Dengan Huruf Dan Suara.
– Banyak lagi

PENYELEWENGAN DALAM FEQAH:
– Menganggap Amalan Sunat Sebagai Bid’ah.
– Haramkan Sebutan “ Sodaqallahu ‘Azhim ” Dan Menghukumnya Sebagai Sesat.
– Mengharamkan Pengunaan Tasbih Secara Mutlak.
– Mengharamkan Perkataan Wahhidullah.
– Mengharamkan Tawassul Secara Mutlak.
– Samakan Sambutan Maulid Nabi Dengan Yahudi & Kristian.
– Mengharamkan Potong Janggut Walaupun Untuk Kekemasan Diri.
– Mengharamkan Selawat Tertentu ke Atas Nabi.
– Tolak Hadith Nabi (Fadhilat Ziarah).
– Haramkan Wanita Bawa Kereta Secara Mutlak.
– Banyak lagi…
.

Ulama Wahabi Buta Mata Buta Hati

Saudi-Zionis-USA

Ketika orang-orang Wahhabi memasuki Hijaz dan membantai kaum Muslimin dengan alasan bahwa mereka telah syirik, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi saw dalam sabdanya, “Orang-orang Khawarij akan membunuh orang-orang yang beriman, dan membiarkan para penyembah berhala.” Mereka juga membunuh seorang ulama terkemuka. Mereka menyembelih Syaikh Abdullah al-Zawawi, guru para ulama madzhab al-Syafi’i, sebagaimana layaknya menyembih kambing. Padahal usia beliau sudah di atas 90 tahun. Mertua Syaikh al-Zawawi yang juga sudah memasuki usia senja, juga mereka sembelih.
.
Kemudian mereka memanggil sisa-sisa ulama yang belum dibunuh untuk diajak berdebat tentang tauhid, Asma Allah dan sifat-sifat-Nya. Ulama yang setuju dengan pendapat mereka, akan dibebaskan. Sedangkan ulama yang membantah pendapat mereka akan dibunuh atau dideportasi dari Hijaz.
.
Di antara ulama yang diajak berdebat oleh mereka adalah Syaikh Abdullah al-Syanqithi, salah seorang ulama kharismatik yang dikenal hapal Sirah Nabi saw. Sedangkan dari pihak Wahhabi yang mendebatnya, di antaranya seorang ulama mereka yang tuna netra dan buta hati. Kebetulan perdebatan berkisar tentang teks-teks al-Qur’an dan hadits yang berkenaan dengan sifat-sifat Allah. Mereka bersikeras bahwa teks-teks tersebut harus diartikan secara literal dan tekstual, dan tidak boleh diartikan secara kontekstual dan majazi
.
.
Si tuna netra itu juga mengingkari adanya majaz dalam al-Qur’an. Bahkan lebih jauh lagi, ia menafikan majaz dalam bahasa Arab, karena taklid buta pada pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim
.
Lalu Syaikh Abdullah al-Syanqithi berkata kepada si tuna netra itu:
“Apabila Anda berpendapat bahwa majaz itu tidak ada dalam al-Qur’an, maka sesungguhnya Allah SWT telah berfirman dalam al-Qur’an:
“Dan Barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (QS. al-Isra’ : 72).
Berdasarkan ayat di atas, apakah Anda berpendapat bahwa setiap orang yang tuna netra di dunia, maka di akhirat nanti akan menjadi lebih buta dan lebih tersesat, sesuai dengan pendapat Anda bahwa dalam al-Qur’an tidak ada majaz?”
.
Mendengar sanggahan Syaikh al-Syanqithi, ulama Wahhabi yang tuna netra itu pun menjerit dan memerintahkan agar Syaikh al-Syanqithi dikeluarkan dari majlis perdebatan. Kemudian si tuna netra itu meminta kepada Ibn Saud agar mendeportasi al-Syanqithi dari Hijaz. Akhirnya ia pun dideportasi ke Mesir. Kisah ini dituturkan oleh al-Hafizh Ahmad al-Ghumari dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar
.
Kisah keberanian kaum Wahhabi untuk berdebat dengan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah ini hanya terjadi pada awal-awal berdirinya Kerajaan Arab Saudi. Kini para ulama Wahhabi tidak pernah lagi berani untuk berdebat dengan para ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah, baik di Timur Tengah maupun di Tanah Air, setelah mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah menang berdebat dengan para ulama.

Zionis-Israel meminta agar Amerika menyerang Iran, Saudi Arabia meminta agar Amerika menyerang Iran ... konklusinya: Zionis Israel=Saudi Arabia= Amerika Serikat :D

 :D
Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah
.
Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah
.
Takhrij Hadis Ibnu Abbas
ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء
Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”
.
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272)
.
Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat
.
* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
* Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah
.
Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.
.
Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.
.
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah
.
Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad
.
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290
.
Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.
.
Rasulullah saw bersabda kepada kami, Dajjal akan keluar dari bumi ini dibahagian timur bernama Khurasan (Jamiu at Tirmidzi)
.
Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Nabi saw. bersabda:”Hari Kiamat tidak akan datang hingga 30 Dajal (pendusta) muncul, mereka semua berdusta tentang Allah dan Rasul-Nya.”
.
“Dajjal adalah seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah dan berambut keriting…” (HR.Bukhari dan Muslim)
.
“Di awal kemunculannya, Dajjal berkata, Aku adalah nabi, padahal tidak ada nabi setelahku. Kemudian ia memuji dirinya sambil berkata, Aku adalah Rabb kalian, padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati (HR.Ibnu Majah)
.
Ibnu Taimiyyah dan wahabi Menshahihkan Hadis mungkar(“Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”) dan mengunakannya untuk masalah aqidah..Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”
.
Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.Takhrij Hadis Ibnu Abbas ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراءTelah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”
.
Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15
.
Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat* Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238
.
Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar. * Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas
.
Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.Ibnu Taimiyyah dan Syaikh wahabi ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ibnu taymiyah dan wahabi dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.Bayaan Talbiis Al JahmiyyahDan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amradBayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290
.
Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya dan menggunakannya dalam masalah aqidah.Inilah tuhan kaum hindu (dajjal kriting dari india ‘sami baba’) sama dengan tuhan yang dinanti nantikan oleh kaum mujasimmah wahabi :Rasulullah saw bersabda kepada kami, Dajjal akan keluar dari bumi ini dibahagian timur bernama Khurasan (Jamiu at Tirmidzi)Abu Hurairah meriwayatkan bahawa Nabi saw. bersabda:”Hari Kiamat tidak akan datang hingga 30 Dajal (pendusta) muncul, mereka semua berdusta tentang Allah dan Rasul-Nya.”“Dajjal adalah seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah dan berambut keriting…” (HR.Bukhari dan Muslim) “Di awal kemunculannya, Dajjal berkata, Aku adalah nabi, padahal tidak ada nabi setelahku. Kemudian ia memuji dirinya sambil berkata, Aku adalah Rabb kalian, padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati (HR.Ibnu Majah)
.
Saya merasakan relevansi pernyataan seperti itu ketika kini berhadapan dengan sekelompok orang yang selalu mengklaim “mengikuti manhaj Salafus Shalih”.
Banyak manusia tertipu dengan seruan-seruan mereka.
Dikiranya, orang-orang itu mengajarkan manhaj Salafus Shalih, padahal sejatinya: mereka menghidupkan paham Khawarij, seburuk-buruk makhluk di kolong langit.
Artinya, Ummat ini selalu dicoba dengan hal-hal yang berat
.
Jalan kesesatan bukan monopoli para pendosa, orang-orang pengajian pun akhirnya banyak yang tersesat juga.
Na’udzubillah min dzalik.
 .
Lucu memang.
Orang-orang itu menyemprot orang lain dengan tuduhan Khawarij, mereka menyumpahi manusia dengan istilah “kilabun naar” (anjing-anjing neraka), mereka mengecam orang lain tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Sungguh menakjubkan, jari telunjuk mereka mengarah ke orang lain, sisa jari lainnya mengarah ke dirinya sendiri.
Menuduh Khawarij, padahal dirinya sendiri justru Khawarij ‘ala haqiqah (Khawarij sejati).
 .
CIRI-CIRI KHAWARIJ BERBAJU SALAFI:
1. Mereka hidup secara ekskusif, menyingkir dari kehidupan masyarakat. Mereka tidak mau tahu kondisi masyarakat, misalnya ekonomi, sosial, politik, pergaulan, pendidikan, komunikasi, dst.
Kalau kita ajak bicara tentang masalah-masalah umum, mereka anggap semua itu “bukan masalah din”, jadi tidak perlu dipikirkan.
Padahal sumber kemusyrikan, kekafiran, maksiyat, kesesatan, dll.
Sangat banyak dari masalah-masalah keduniaan.
Dalam pergaulan, mereka sangat eksklusif, memisahkan diri dari masyarakat.
Hal ini sama dengan perilaku Khawarij ketika mereka memisahkan diri dari Ummat Islam dan membuat markas di Nahrawan.
 .
2. Mereka menghidupkan manhaj kebencian.
Mereka sangat memusuhi orang-orang di luar kelompoknya. Mereka mudah menuduh orang lain “ahli bid’ah”, “bukan Salafiyah”, “hizbi”, “Sururi”, “Ikhwani”, dst.
Itu tuduhan standar mereka.
Tidak ada yang selamat dari kebencian mereka, selain dirinya sendiri.
Khawarij dulu juga seperti itu, mereka membenci bahkan mengkafirkan orang-orang yang berada di luar kelompoknya.
 .
3. Mereka menggunakan kalimat “Mengikuti pemahaman Salafus Shalih” untuk menyesatkan manusia. Istilah Salaf, manhaj Salafiyah, atau Dakwah Salaf, bukan dimanfaatkan untuk menyebarkan kebajikan sebanyak-banyaknya, tetapi dipakai untuk menyesatkan orang-orang lugu agar terjerumus bersama kesesatan mereka.
Persis seperti dulu ketika Ali bin Abi Thalib (Ra) mengkomentari kelakuan para Khawarij yang memakai ayat Al Qur’an untuk tujuan kesesatan, “Kalimatul haqq yuridu bihil bathil” (perkataan yang benar tetapi ditujukan untuk kebathilan).
.
4. Mereka berani menghalalkan hak-hak Ummat Islam yang telah dilindungi oleh Syariat.
Saat ini yang sangat kelihatan adalah: menghalalkan kehormatan Ummat Islam, khususnya para dai dan lembaga-lembaga Islam.
Sampai-sampai lembaga netral seperti DDII tidak selamat dari serangan najis mereka.
Padahal Nabi (Saw.) sudah mengatakan, “Setiap Muslim atas Muslim yang lain, diharamkan darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim).
Tapi kita tidak usah berdalil dengan Sunnah di hadapan mereka.
Hati mereka sudah terlalu angkuh untuk menerima nasehat Al Qur’an dan Sunnah.
Khawarij dulu juga seperti itu, mereka menghalalkan darah Ummat Islam.
 .
5. Mereka sangat ghuluw (melampaui batas) dalam beramal.
Mereka sangat-sangat peka dalam perkara fotografi makhluk bernyawa (foto manusia), celana di bawah mata kaki, nasyid Islami, melinting lengan baju, memakai cadar, memakai celana dalam Shalat, dan lain-lain perkara yang masih menjadi perdebatan.
Tetapi ketika menuduh “ahli bid’ah”, mengkafirkan Ahlul Islam (seperti Luqman Ba’abduh), membongkar aib para dai, memecah belah Ummat, menyebarkan kebencian, bahkan mengintimidasi Muslim, justru atas semua itu mereka sangat menikmati. Laa ilaha illallah.
Dulu Khawarij bertanya ke Ibnu Abbas (Ra.) tentang hukum membunuh nyamuk, tetapi mereka tidak bertanya tentang hukum membunuh cucu Rasulullah (Saw), yaitu Hushain bin Ali (Ra.), yang mereka lakukan.
Maksudnya, atas hasutan Khawarij itu pula akhirnya Hushain terbunuh di Karbala, lalu kepalanya dipancung.
Innalillah wa inna ilaihi ra’jiun
.
6. Mereka mengkafirkan sesama Muslim.
Mereka bermudah-mudah mengeluarkan manusia dari Manhaj Salafiyah, padahal Salafiyah adalah Islam itu sendiri.
Mereka menghalalkan penghinaan, celaan, membuka aib-aib, tahdzir, dan hajr kepada ahli bid’ah.
Jangankan bermuamalah dengan “ahli bid’ah”, sekedar berjabatan tangan secara tak sengaja saja, kita bisa dituduh ikut “ahli bid’ah”.
Luqman Ba’abduh sendiri dalam buku MAT mengkafirkan kaum Muslimin, khususnya Daulah Utsmaniyyah dan kaum Muslimin Mesir.
Ya, Khawarij dulu juga seperti itu.
Bahkan lebih terang-terangan.
 .
7. Mereka sangat keras kepala. Jika ada manusia yang ngeyel, inilah orangnya.
Mereka sangat-sangat ngeyel, tidak mau rujuk kepada kebenaran.
Meskipun kita memberikan nasehat sehebat apapun, kalau kita bukan dari golongan mereka, nasehat itu akan dibuang ke tempat sampah.
Tidak kurang apa saya telah menyampaikan nasehat lewat DSDB, tetapi kesesatan mereka tidak berkurang.
Mereka meyakini, “Hanya Syaikh Rabi’ dan Syaikh Muqbil saja yang memiliki kebenaran.
Selain mereka (atau yang semisal mereka), bathil.” Sikap seperti ini sebenarnya dianggap telah keluar dari Al Jama’ah (komitmen kepada kebenaran, dari arah manapun datangnya).
Khawarij dulu juga begitu.
Mereka sudah dinasehati Ibnu Abbas (Ra.), tetapi tetap keras kepala.
 .
8. Mereka menyebarkan permusuhan di kalangan Ummat Islam.
Ini sangat jelas, tidak diragukan lagi.Lihatlah salafy.or.id, merekaadalahteroris.com, buku Mereka Adalah Teroris (MAT) dan MDMTK, blog ‘Fakta’, blog ‘Tuk Pencari Al Haq’, majalah Asy Syariah, dll.
Itu adalah bukti yang tak bisa dibantah lagi.
Mau membantah bagaimana, bukti sudah menyebar ke seantero dunia? Khawarij dulu juga seperti itu.
Mereka menyebarkan permusuhan, mengobarkan peperangan, bahkan mereka membunuh Khalifah Utsman (Ra) dan Khalifah ‘Ali (Ra).
 .
9. Ibadah mereka menakjubkan. Harus diingat, dulu Khawarij sangat hebat dalam Shalat, puasa, maupun membaca Al Qur’an. Kata Ibnu Abbas (Ra), tubuh mereka kurus-kurus karena sangat sering puasa, mata mereka celong karena banyak bangun di malam hari, pakaian mereka kumal karena zuhud.
Khawarij gaya baru juga seperti itu, meskipun ibadahnya tidak sehebat Khawarij masa lalu.
Kita kalau bersanding bersama Khawarij modern itu, kita akan merasa ‘kecil hati’ melihat ibadah kita.
Tetapi Nabi (Saw.) menegaskan, “Mereka keluar dari agama ini seperti melesatnya anak panah dari busurnya.”
 .
10. Mereka mengklaim diri sebagai kelompok paling benar.
Ini ciri Khawarij yang tidak boleh diabaikan.
Mereka bukan hanya berbeda pendapat dengan Shahabat (Ra), bahkan mengkafirkan para Shahabat dan menghalalkan darahnya.
Mengapa itu terjadi? Sebab mereka mengklaim diri sebagai kelompok paling benar.
Itu pula yang terjadi di jaman ini.
Tidak ada yang selamat dari serangan orang-orang dungu itu, selain diri mereka sendiri.
 .
11. Mereka menuduh orang lain sesat, padahal kesesatan di pihak mereka.
Ya, kita semua sudah tahu bagaimana kelakuan orang-orang Khawarij yang mengatasnamakan Salafi ini.
Mereka menuduh orang lain “ahli bid’ah”, padahal mereka itulah ahli bid’ah; mereka menuduh orang lain “hizbi”, padahal diri mereka sendiri a’zhamul hizbi minal ahzab (sebesar-besarnya hizbi sejati); mereka menuduh orang lain Khawarij, padahal tuduhan itu sejatinya lebih pantas mereka sandang sendiri.
Dulu Khawarij menuduh Khalifah Ali (Ra) dan para Shahabat telah kafir, padahal kekafiran di pihak mereka sendiri.
 .
12. Mereka memerangi Ahlul Islam dan membiarkan ahlul autsan (penyembah berhala).
Ini perkara lain lagi yang sangat nyata dalam diri kaum Khawarij ini.
Kerjaan mereka tidak pernah lepas dari memusuhi gerakan-gerakan Islam, memusuhi lembaga-lembaga Islam, memusuhi para dai dan individu-individu Muslim.
Kerjaan mereka tidak lepas dari itu.
Itulah “jihad akbar” mereka.
Sekiranya mereka memegang kekuasaan, sangat yakin mereka akan memerangi saya, Anda, dan kita semua.
Hanya soal waktu saja.
Sama saja dengan Ba’abduh, dia serang semua organisasi Islam di Indonesia yang tidak sesuai syahwatnya, adapun dia tidak tampak kontribusinya dalam mendakwahi orang-orang Hindu di Bali.
Jember tempat Si Luqman Al Fasid ini kan sangat dekat dengan Bali.
 .
13. Mereka sangat lancang di hadapan hujjah kebenaran.
Jangankan pendapat saya, Anda, dan para dai di Indonesia, Al Qur’an dan Sunnah shahihah pun siap mereka belakangi, jika tidak sesuai hawa nafsunya.
Banyak fatwa-fatwa ulama besar Saudi yang telah memperingatkan mereka, termasuk fatwa almarhum Syaikh Bin Baz (rah).
Tetapi semua itu dilempar ke tong sampah.
Namun kita jangan merasa heran dengan semua ini, sebab pendahulu mereka juga seperti itu.
Dulu Dzul Khuwaisirah pernah menghardik Rasulullah (Saw): “Berbuat adil-lah kamu, Muhammad!” Dalam buku DSDB II, hal. 292-294 Ustadz Abduh menukil sebuah kejadian di kalangan Syaikh Rabi’ Cs.
Disitu saja Rabi’ berani melecehkan Syaikh Bin Baz rahimahullah.
Ya, begini ini modelnya kaum Khawarij.
 .
14. Mereka bersikap sangat pecundang.
Nah, ini salah satu ciri lain bahwa iman mereka telah rusak, yaitu sikap pecundang (pengecut).
Mereka sangat berbisa mulut dan tulisan-tulisannya.
Mereka perlakukan orang lain seperti boneka-boneka tak bernyawa.
Ketika ditantang debat terbuka, tak mau; diajak dialog, tak mau; bahkan ditantang mubahalah, juga tak mau.
Sangat sangat sangat pecundang.
Khawarij dulu juga begitu, mereka pecundang, suka dengan cara-cara yang sifatnya tidak ksatria.
Mereka membunuh Khalifah Ali (Ra) dan hendak membunuh Amr bin Ash (Ra) dan Muawiyah (Ra).
 .
15. Bagaimanapun, orang-orang ini sangat bodoh.
Ini juga ciri lain dari Khawarij.Kalau Anda membaca buku (MAT) Mereka Adalah Teroris karya Si Dhalal Luqman Ba’abduh, Anda akan ketawa melihat cara dia menulis buku.Satu bagian membantah bagian yang lain.Dia mencela orang-orang yang menentang Dinasti Saud dengan celaan yang sangat sangat hebat, katanya memberontak kepada Ulil Amri.Tetapi saat yang sama dia menuduh Daulah Utsmani di Turki dengan perkataan “besi rongsokan yang jelek”.Padahal Daulah Utsmaniyyah adalah Ulil Amri kaum Muslimin, sebelum berdirinya Kerajaan Saudi
.
Si Fasid bin Dhalal, Luqman Ba’abduh itu, juga mencela habis-habisan Safar Hawali yang mengambil berita-berita dari orang kafir.
Sementara Luqman sendiri dalam buku MAT juga mengambil berita dari CNN dan lainnya
.
Darimana dia tahu istilah “Attack” dari peristiwa WTC 11 September 2001 kalau tidak dari CNN? Banyak contoh lain.
Ya begitulah Khawarij sejati, seperti para pendahulunya
.
Mereka tak mau makan korma yang ditemukan di jalan, takut syubhat; tetapi mereka berani membunuh putra Khabab bin ‘Arat (Ra) dan membunuh isterinya yang sedang hamil.
 .
Saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa orang-orang ini adalah KBS, Khawarij Berbaju Salafi.
Mereka sama bahayanya dengan para penganut agama Liberal.
Kalau Liberaliyun menyerang Islam dari luar, kaum KBS ini menyerang dari dalam.
 .

wahabi adalah khawarij pro AS



Seorang tokoh ulamak terkenal mazhab al-Hanafi. Iaitu Imam Allamah Ibn Abidin di dalam hasyiahnya menegaskan bahawasanya Muhammad Ben Abdul Wahhab dan para pengikutnya sebagai khawarij pada zaman ini. Buktinya :
كما وقع في زماننا في أتباع عبد الوهاب الذين خرجوا من نجد وتغلبوا على الحرمين, وكانوا ينتحلون مذهب الحنابلة, لكنهم اعتقدوا أنهم المسلمون وأن من خالفهم مشركون, ” واستباحوا بذلك قتل أهل السنة وقتل علمائهم حتى كسر الله شوكتهم وخرب بلادهم وظفر بهم ” عساكر المسلمين ” عام ثلاث وثلاثين ومائتين وألف. إ.هـ.
.
Maksudnya: Bab: Berkenaan Pengikut-pengikut [Muhammad] Abdul Wahhab, Golongan Khawarij Di Zaman Kita.
“…sepertimana yang berlaku pada masa kita ini pada pengikut Abdul Wahhab yang keluar dari Najd dan menakluki al-Haramayn (Mekah dan Madinah) dan mereka menisbahkan diri mereka kepada mazhab al-Hanbali tetapi mereka ber’iktikad bahawa hanya mereka sahajalah orang Islam dan orang-orang yang bertentangan akidah dengan mereka adalah kaum Musyrik. Dengan ini mereka pun menghalalkan pembunuhan Ahli Sunnah dan pembunuhan ulama’-ulama’ mereka sehingga Allah SWT mematahkan kekuatan mereka dan memusnahkan negeri mereka (Najd) dan askar Muslimin berjaya menawan mereka pada tahun 1233 H…”
.
Kesimpulan :
1) Fahaman Wahhabiyyah difatwakan sebagai fahaman khawarij oleh al-Imam Ibn ‘Abidin disebabkan mereka khuruj (keluar) dari mentaati pemerintahan Islam (Turki Uthmaniyyah) dan melancarkan peperangan terhadap khilafah.
.
2) Mereka digelar Khawarij kerana mereka menganggap diri mereka Islam yang sebenar. Manakala umat Islam lain dianggap sebagai ahli dhalal, ahli bid’ah @ musyrik. Na’uzubillah.
.
3) al-Wahhabiyyah sealiran dengan Khawarij apabila selalu gemar mengkafir @ menyesatkan umat Islam hanya semata-mata khilaf dalam perkara furuk. Nau’zubillah.
.
4) Golongan al-Wahhabiyyah bertanggungjawab sepenuhnya dalam membunuh ulamak dan umat Islam. Menyokong mereka beerti menyokong pemberontakan terhadap daulah Khilafah Uthmaniyyah, menyokong pembunuhan ulamak dan umat Islam.
.
5) Kenyataan ini adalah jelas. Ia tidak boleh dibeli, ditukar atau diubah dengan royalti minyak atau wang ringgit saudi.
.
Semoga kita semua diselamatkan Allah dari fitnah Najd dan kejahatan yang terbit dari tanduk syaitan. Aamiin.
 .
Ini adalah bagian dari jihad di jalan Allah Ar Rahiim, insya Allah.
Maka aku tidak akan ragu untuk memasukinya.
Akhirul kalam, tawakkaltu ‘alallah laa haula wa laa quwwata illa billah. Hasbunallah wa nikmal Wakil nikmal Maula wa nikman Nashir.

Hadis Kitabullah Dan Sunnah dibuat sunni sebagai tandingan untuk menutupi hadis Kitabullah dan Ahlulbait

Hadis Kitabullah Dan Sunnah dibuat sunni sebagai tandingan untuk menutupi hadis Kitabullah dan Ahlulbait


Salam wa rahmatollah. Bismillah.

Tajuk ini merupakan perbicaraan lama, yang pada mulanya, saya tidak mahu disentuh di dalam web ini. Ini kerana saya telah begitu menekankan hadis sebenar yang sahih lagi mutawattir adalah hadis Tsaqalain, yakni, Kitabullah dan itrati Ahlulbait. Bagaimanapun, kebelakangan ini, timbul kembali isu ini, tambahan pula ia ditimbukan oleh orang-orang yang suka-suka mendhaifkan sesuatu hadis, tanpa dalil yang mutlak, atau yang meyakinkan, demi mendhaifkan hadis Tsaqalain. Sia-sia. Ini adalah analisis hadis Kitabullah dan Sunnah, oleh saudara Secondprince. Selamat membaca.

Al Quranul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW adalah landasan dan sumber syariat Islam. Hal ini merupakan kebenaran yang sifatnya pasti dan diyakini oleh umat Islam. Banyak ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah .Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (QS ; Al Hasyr 7).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS ; Al Ahzab 21).

Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah .Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS ; An Nisa 80).

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS ; An Nur 51-52).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu Ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS ; Al Ahzab 36).

Jadi Sunnah Rasulullah SAW merupakan salah satu pedoman bagi umat islam di seluruh dunia. Berdasarkan ayat-ayat Al Quran di atas sudah cukup rasanya untuk membuktikan kebenaran hal ini. Tulisan ini akan membahas hadis “Kitabullah wa Sunnaty” yang sering dijadikan dasar bahwa kita harus berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yaitu

Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”.

Hadis “Kitabullah Wa Sunnaty” ini adalah hadis masyhur yang sering sekali didengar oleh umat Islam sehingga tidak jarang banyak yang beranggapan bahwa hadis ini adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya kita umat Islam harus berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang merupakan dua landasan utama dalam agama Islam. Banyak dalil dalil shahih yang menganjurkan kita agar berpegang kepada As Sunnah baik dari Al Quran (seperti yang sudah disebutkan) ataupun dari hadis-hadis yang shahih. Sayangnya hadis”Kitabullah Wa Sunnaty” yang seringkali dijadikan dasar dalam masalah ini adalah hadis yang tidak shahih atau dhaif. Berikut adalah analisis terhadap sanad hadis ini.

Analisis Sumber Hadis “Kitab Allah dan SunahKu”

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub As Sittah(Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Tirmidzi). Sumber dari Hadis ini adalah Al Muwatta Imam Malik,Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim, At Tamhid Syarh Al Muwatta Ibnu Abdil Barr,Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni, dan Jami’ As Saghir As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab karya Ulama seperti , Al Khatib dalam Al Faqih Al MutafaqqihShawaiq Al Muhriqah Ibnu HajarSirah Ibnu Hisyam, Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh, Al Ihkam Ibnu Hazm danTarikh At Thabari. Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4 jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya), mengenai hadis mursal ini sudah jelas kedhaifannya.

Hadis ini terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang mursal
  2. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang muttasil atau bersambung

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Secara Mursal

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat dalam kitab Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al Muhriqah, danTarikh At Thabari. Berikut adalah contoh hadisnya

Dalam Al Muwatta jilid I hal 899 no 3

Bahwa Rasulullah SAW bersabda” Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya”.

Dalam Al Muwatta hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Dalam Sunan Baihaqi terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini, diantaranya

Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada haji wada “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang kepadanya”.

Selain pada Sunan Baihaqi, hadis Urwah ini juga terdapat dalam Miftah Al Jannah hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata “Aku telah mendengar Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada waktu haji wada yang berbunyi ‘Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah NabiNya”.

Hadis ini tidak berbeza dengan hadis Al Muwatta, karena Malik bin Anas tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada…..,Disini Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam Tarikh At Thabari jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin ada yang beranggapan karena Sirah Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq sudah menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis itu dalam Sirah Ibnu Hisyam sudah cukup menjadi bukti kebenarannya. Jawaban kami adalah benar bahwa Sirah Ibnu Hisyam menjadi pegangan oleh jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak dapat dijadikan hujjah.

Sebuah Pembelaan dan Kritik

Hafiz Firdaus dalam bukunya Kaidah Memahami Hadis-hadis yang Bercanggah telah membahas hadis dalam Al Muwatta dan menanggapi pernyataan Syaikh Hasan As Saqqaf dalam karyanya Shahih Sifat shalat An Nabiy (dalam kitab ini As Saqqaf telah menyatakan hadis Kitab Allah dan SunahKu ini sebagai hadis yang dhaif ). Sebelumnya berikut akan dituliskan pendapat Hafiz Firdaus tersebut.

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”

Hadis ini sahih: Dikeluarkan oleh Malik bin Anas dalam al-Muwattha’ – no: 1619 (Kitab al-Jami’, Bab Larangan memastikan Takdir). Berkata Malik apabila mengemukakan riwayat ini: Balghni………bererti “disampaikan kepada aku” (atau dari sudut catatan anak murid beliau sendiri: Dari Malik, disampaikan kepadanya………). Perkataan seperti ini memang khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahawa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Lebih lanjut lihat Qadi ‘Iyadh Tartib al-Madarik, jld 1, ms 136; Ibn ‘Abd al-Barr al Tamhid, jld 1, ms 34; al-Zarqani Syarh al Muwattha’, jld 4, ms 307 dan Hassath binti ‘Abd al-’Aziz Sagheir Hadis Mursal baina Maqbul wa Mardud, jld 2, ms 456-470.

Hasan ‘Ali al-Saqqaf dalam bukunya Shalat Bersama Nabi SAW (edisi terj. dari Sahih Sifat Solat Nabi), ms 269-275 berkata bahwa hadis ini sebenarnya adalah maudhu’. Isnadnya memiliki perawi yang dituduh pendusta manakala maksudnya tidak disokongi oleh mana-mana dalil lain. Beliau menulis: Sebenarnya hadis yang tsabit dan sahih adalah hadis yang berakhir dengan “wa ahli baiti” (sepertimana Khutbah C – penulis). Sedangkan yang berakhir dengan kata-kata “wa sunnati” (sepertimana Khutbah B) adalah batil dari sisi matan dan sanadnya.

Nampaknya al-Saqqaf telah terburu-buru dalam penilaian ini kerana beliau hanya menyimak beberapa jalan periwayatan dan meninggalkan yang selainnya, terutamanya apa yang terkandung dalam kitab-kitab Musannaf, Mu’jam dan Tarikh (Sejarah). Yang lebih berat adalah beliau telah menepikan begitu sahaja riwayat yang dibawa oleh Malik di dalam kitab al-Muwattha’nya atas alasan ianya adalah tanpa sanad padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Kritik kami adalah sebagai berikut, tentang kata-kata hadis riwayat Al Muwatta adalah shahih karena pernyataan Balghni atau “disampaikan kepada aku” dalam hadis riwayat Imam Malik ini adalah khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahwa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Maka Kami katakan, Kaidah periwayatan hadis dengan pernyataan Balghni atau “disampaikan kepadaku” memang terdapat di zaman Imam Malik. Hal ini juga dapat dilihat dalam Kutub As Sunnah Dirasah Watsiqiyyah oleh Rif’at Fauzi Abdul Muthallib hal 20, terdapat kata kata Hasan Al Bashri

“Jika empat shahabat berkumpul untuk periwayatan sebuah hadis maka saya tidak menyebut lagi nama shahabat”.Ia juga pernah berkata”Jika aku berkata hadatsana maka hadis itu saya terima dari fulan seorang tetapi bila aku berkata qala Rasulullah SAW maka hadis itu saya dengar dari 70 orang shahabat atau lebih”.

Tetapi adalah tidak benar mendakwa suatu hadis sebagai shahih hanya dengan pernyataan “balghni”. Hal ini jelas bertentangan dengan kaidah jumhur ulama tentang persyaratan hadis shahih seperti yang tercantum dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis yaitu

Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.

Dengan kaidah Inilah as Saqqaf telah menepikan hadis al Muwatta tersebut karena memang hadis tersebut tidak ada sanadnya. Yang aneh justru pernyataan Hafiz yang menyalahkan As Saqqaf dengan kata-kata padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Pernyataan Hafiz di atas menunjukan bahwa Malik bin Anas dan tokoh hadis zamannya (sekitar 93H-179H) jika meriwayatkan hadis dengan pernyataan telah disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah SAW atau Qala Rasulullah SAW tanpa menyebutkan sanadnya maka hadis tersebut adalah shahih. Pernyataan ini jelas aneh dan bertentangan dengan kaidah jumhur ulama hadis. Sekali lagi hadis itu mursal atau terputus dan hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah karena kemungkinan dhaifnya. Karena bisa jadi perawi yang terputus itu adalah seorang tabiin yang bisa jadi dhaif atau tsiqat, jika tabiin itu tsiqatpun dia kemungkinan mendengar dari tabiin lain yang bisa jadi dhaif atau tsiqat dan seterusnya kemungkinan seperti itu tidak akan habis-habis. Sungguh sangat tidak mungkin mendakwa hadis mursal sebagai shahih “Hanya karena terdapat dalam Al Muwatta Imam Malik”.

Hal yang kami jelaskan itu juga terdapat dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 yang mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah, Ibnu Hajar berkata

”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat, tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain”.

Lihat baik-baik walaupun yang meriwayatkan hadis mursal itu adalah tabiin tetap saja dinyatakan dhaif apalagi Malik bin Anas yang seorang tabiit tabiin maka akan jauh lebih banyak kemungkinan dhaifnya. Pernyataan yang benar tentang hadis mursal Al Muwatta adalah hadis tersebut shahih jika terdapat hadis lain yang bersambung dan shahih sanadnya yang menguatkan hadis mursal tersebut di kitab-kitab lain. Jadi adalah kekeliruan menjadikan hadis mursal shahih hanya karena terdapat dalam Al Muwatta.

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang Bersambung.

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4 jalan sanad hadis “Kitab Allah dan SunahKu”. 4 jalan sanad itu adalah
1. Jalur Ibnu Abbas ra
2. Jalur Abu Hurairah ra
3. Jalur Amr bin Awf ra
4. Jalur Abu Said Al Khudri ra

Jalan Sanad Ibnu Abbas

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat ditemukan dalam Kitab Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93 dan Sunan Baihaqi juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari Al Mustadrak. Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.

1. Ibnu Abi Uwais

  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang yang mencelanya, diantaranya Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong. Menurut Abu Hatim Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran tetapi dia terbukti lengah. An Nasa’i menilai Ibnu Abi Uwais dhaif dan tidak tsiqah. Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy “An Nasa’i sangat jelek menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan hadisnya)”. Ahmad bin Ady berkata “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun.”
  • Dalam Muqaddimah Al Fath Al Bary halaman 391 terbitan Dar Al Ma’rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata ”Atas dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa’i dan lain-lain”.
  • Dalam Fath Al Mulk Al Aly halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin Shiddiq mengatakan “berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan “mungkin aku membuat hadis untuk penduduk madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara mereka”.

Jadi Ibnu Abi Uwais adalah perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat, pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis. Ada sebagian orang yang membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal atau perawi Shahih Bukhari oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah. Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis seperti Yahya bin Mu’in, An Nasa’i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh wat Ta’dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta’dil). Oleh karenanya hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba’ah atau pendukung dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih. Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Al Fath Al Bary Syarh Shahih Bukhari, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam As Shahih(Bukhari dan Muslim) tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini terdapat dalam Mustadrak dan Sunan Baihaqi.

2. Abu Uwais

  • Dalam kitab Al Jarh Wa At Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92, Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata mengenai Abu Uwais “Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia tidak kuat”.Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu’in yang berkata “Abu Uwais tidak tsiqah”.
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.

Dalam Al Mustadrak jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini. Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut, Beliau berkata”Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah ra”. Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis ”Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.

Jalan Sanad Abu Hurairah ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan DaruquthniIV hal 245, Jami’ As Saghir As Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94, At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.
Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi’dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh”.

Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

  • Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal ( XIII hal 96) berkata Yahya bin Muin bahwa riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa. Abu Hatim Ar Razy berkatahadis Shalih bin Musa dhaif. Imam Nasa’i berkata hadis Shalih bin Musa tidak perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).
  • Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib IV hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata bahwa Shalih bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis sering meriwayatkan hadis mungkar.
  • Dalam At Taqrib (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany menyatakan bahwa Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus ditinggalkan).
  • Al Dzahaby dalam Al Kasyif (2412) menyebutkan bahwa Shalih bin Musa itu wahin (lemah).
  • Dalam Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari berkata”Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar”.

Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan sanad dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh ternyata As Suyuthi dalam Jami’ As Saghir menyatakan hadis tersebut hasan, Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’ As Saghir. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm. Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.

Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya perbedaan pada“Kitab Allah dan SunahKu” menjadi “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu”. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi.Kalau dibandingkan antara hadis ini dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis Shahih Sunan Tirmidzi ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

Adz Dzahabi dalam Al Mizan Al I’tidal jilid II hal 302 berkata bahwa hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang dilakukannya. Selain itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy setelah beliau mengkritik Shalih bin Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan shahih.

Jalan Sanad Amr bin Awf ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Amr bin Awf terdapat dalam kitab At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari kakeknya

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .

  • Dalam Mizan Al Itidal (biografi Katsir bin Abdullah no 6943) karya Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya). Abu Hatim menilai Katsir bin Abdullah tidak kuat. An Nasa’i menilai Katsir bin Abdullah tidak tsiqah.
  • Dalam At Taqrib at Tahdzib, Ibnu Hajar menyatakan Katsir bin Abdullah dhaif.
  • Dalam Al Kasyf Adz Dzahaby menilai Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata tentang Katsir bin Abdullah “Hadisnya sangat mungkar” dan “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak pantas disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan”
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main berkata “Katsir lemah hadisnya”
  • DalamKitab Al Jarh Wat Ta’dil biografi no 858, Abu Zur’ah berkata “Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya”.
  • Dalam Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), Mutharrif bin Abdillah berkata tentang Katsir “Dia orang yang banyak permusuhannya dan tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Ibnu Adi berkata perihal Katsir “Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan pegangan”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu Khaitsamah berkata “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Wal Matrukin Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah “Katsir bin Abdullah Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan”

Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.

Jalur Abu Said Al Khudri ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri ra terdapat dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94 karya Al Khatib Baghdadi dan Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.

Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif bin Umar At Tamimi.

  • Dalam Mizan Al I’tidal no 3637 Yahya bin Mu’in berkata “Saif daif dan riwayatnya tidak kuat”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Al Matrukin no 256, An Nasa’i mengatakan kalau Saif bin Umar adalah dhaif.
  • Dalam Al Majruhin no 443 Ibnu Hibban mengatakan Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh zindiq dan seorang pemalsu hadis.
  • Dalam Ad Dhu’afa Abu Nu’aim no 95, Abu Nu’aim mengatakan kalau Saif bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan apa-apanya.
  • Dalam Tahzib At Tahzib juz 4 no 517 Abu Dawud berkata kalau Saif bukan apa-apa, Abu Hatim berkata “ia matruk”, Ad Daruquthni menyatakannya dhaif dan matruk. Al Hakim mengatakan kalau Saif tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh. Ibnu Adi mengatakan kalau hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.

Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.

Hadis Tersebut Dhaif

Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam Al Imamah wal Khilafah yang menyatakan shahihnya hadis “Kitab Allah Dan SunahKu”.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih walaupun dalam Al Muwatta hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta adalah shahih menurutnya dengan mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Tanggapan Terhadap Ali As Salus

Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam Al Muwatta adalah shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan  Ali As Salus selanjutnya bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.

Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan

  • Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan
  • Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya sendiri dan mengenai hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang mursal dalam Al Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam kitabnya At Tamhid dan beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata hadis dalam At Tamhid tersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada perawinya.

Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu adalah pendapat beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti yang beliau nyatakan dalam Jami’ As Saghir dan beliau menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis “Kitab Allah dan SunahKu” adalah hadis yang dhaif.

Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal Al Muwatta shahih adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silisilatul Al Hadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah hadis no 908

Nabi Isa pernah bersabda”Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah kalian itu hamba. Sesungguhnya setiap manusia itu diuji dan selamat maka kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah kepada Allah atas keselamatan kalian”.

Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam Al Muwatta jilid II hal 986 tanpa sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.

Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini

”Sekali lagi saya tegaskan memarfu’kan riwayat ini sampai kepada Nabi adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak syak lagi merupakan kedustaan yang nyata-nyata dinisbatkan kepada beliau padahal beliau terbebas darinya”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu’kan hadis ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW mengenai hadis ini.

Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah yang menyatakan bahwa hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”. Hal ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya jauh lebih kuat dari hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”.

Jadi kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah membandingkan kedua hadis tersebut dengan metod yang tidak berimbang. Untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” beliau mengkritik habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” beliau bertindak longgar(tasahul) dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam penshahihan hadis tersebut.

Nabi(s) Memerangi Orang Yang Memerangi Ahlulbait(as)


 

Kebenaran selalu bersama Ahlul Bait iaitu Imam Ali AS, Sayyidah Fatimah AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS. Rasulullah SAW telah berwasiat kepada umatnya agar berpegang teguh kepada Ahlul Bait supaya terhindar dari kesesatan. Tetapi kenyataannya sebahagian orang menyelisihi Ahlul Bait, menyimpang dari mereka bahkan sampai memerangi mereka. Padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa baginda akan memerangi siapapun yang memerangi Ahlul Bait dan berdamai dengan siapapun yang berdamai dengan Ahlul Bait.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah 1/52 no 145

حدثنا الحسن بن علي الخلال وعلي بن المنذر قالا حدثنا أبو غسان حدثنا أسباط بن نصر عن السدي عن صبيح مولى أم سلمة عن زيد بن أرقم قال- قال رسول الله صلى الله عليه و سلم لعلي وفاطمة والحسن والحسين أنا سلم لمن سالمتم وحرب لمن حاربتم

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ali Al Khallal dan Ali bin Mundzir yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan yang berkata telah menceritakan kepada kami Asbath bin Nashr dari As Suddi dari Shubaih mawla Ummu Salamah dari Zaid bin Arqam yang berkata Rasulullah SAW berkata kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain “Aku akan berdamai dengan orang yang berdamai dengan kalian dan Aku akan memerangi orang yang memerangi kalian”.

Hadis di atas juga diriwayatkan dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 6/378 no 32181, Shahih Ibnu Hibban 15/433 no 6977, Sunan Tirmidzi 5/699 no 3870, Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 3/40 no 2619, Mu’jam Al Kabir 5/184 no 5030,Mu’jam As Shaghir 2/53 no 767, dan Mu’jam Al Awsath 5/182 no 5015.

Kedudukan Hadis

Hadis Hasan. Hadis ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq hasanul hadis sedangkan Shubaih adalah seorang tabiin mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam.

  •  Hasan bin Ali Al Khallal, Perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah. Dalam At Tahdzib juz 2 no 530 disebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, An Nasa’i, Al Khatib dan Ibnu Hibban. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/207 menyatakan ia tsiqat.
  •  Ali bin Mundzir, Perawi Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah disebutkan Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 7 no 627 bahwa ia dinyatakan tsiqat oleh Abu Hatim, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan Ibnu Numair. Ibnu Hajar dalam At Taqrib1/703 memberikan predikat shaduq padahal ia sebenarnya orang yang tsiqah. Oleh karena itu Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Bashar Awad Ma’ruf dalam Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4803 menyatakan Ali bin Mundzir tsiqat.
  • Malik bin Ismail, dengan kuniyah Abu Ghassan adalah perawi Bukhari Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam At Tahdzib juz 10 no 2 ia dinyatakan tsiqat oleh Yaqub bin Syaibah, Ibnu Hibban, Ibnu Ma’in, Al Ajli, An Nasa’i dan Ibnu Syahin. Ibnu Sa’ad dan Utsman bin Abi Syaibah menyatakan ia shaduq. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/151 menyatakan Abu Ghassan tsiqah.
  • Asbath bin Nashr adalah perawi Bukhari dalam At Ta’liq, Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad Dawri no 1251 Ibnu Ma’in menyatakan ia tsiqah. Dalam At Tahdzib juz 1 no 396 disebutkan kalau ia dimasukkan Ibnu Hibban ke dalam Ats Tsiqat, Bukhari menyatakan ia shaduq (jujur) dan Musa bin Harun berkata “tidak ada masalah dengannya” . Ibnu Syahin juga memasukkan namanya dalam Tarikh Asma Ats Tsiqat no 101. Sebagian orang mencacatnya diantaranya An Nasa’i yang berkata “laisa bi qawy (tidak kuat), Abu Nu’aim dan As Saji tetapi mereka tidak menyebutkan alasan pencacatannya sehingga pernyataan ta’dil terhadap Asbath bin Nashr lebih layak untuk diterima. Adz Dzahabi memasukkan namanya dalam Man Takallamu Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 27.
  • Ismail As Suddi adalah Ismail bin Abdurrahman bin Abi Karimah adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan. Dalam At Tahdzib juz 1 no 572 ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Al Ajli dan Ibnu Hibban. An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. Ibnu Ady menyatakan ia hadisnya lurus jujur dan tidak ada masalah dengannya. Ibnu Hajar dalam At Taqrib1/97 menyatakan ia jujur terkadang salah tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 463 bahwa sebenarnya As Suddi seorang yang shaduq hasanul hadis.
  • Shubaih mawla Ummu Salamah dan mawla Zaid bin Arqam. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat juz 4 no 3462. Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 3/405 no 4037 menyebutkan bahwa ia gurunya As Suddi dan ia seorang tabiin. Al Bukhari menyebutkannya dalam Tarikh Al Kabir juz 4 no 2972 tanpa menyebutkan jarh atau cacat padanya. Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 4/449 juga menuliskan keterangan tentangnya tanpa sedikitpun menyatakan cacatnya. At Tirmidzi dalam Sunannya mengatakan kalau Shubaih tidak dikenal, pernyataan ini tidak perlu diperhatikan karena telah disebutkan banyak ulama yang menulis keterangan tentangnya bahkan Adz Dzahabi dalam Al Kasyf no 2371 juga memberikan predikat ta’dil padanya. Shubaih seorang tabiin dan tidak ada satupun ulama yang mencacatkan dirinya dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dan mendapat predikat ta’dil dari Adz Dzahabi. Oleh karena itu hadisnya lebih tepat dinilai hasan.

Keterangan mengenai para perawinya menunjukkan kalau hadis ini adalah hadis yang hasan. Syaikh Al Albani dalam Shahih Jami’ As Shaghir no 1462 menyatakan bahwa hadis ini hasan tetapi anehnya beliau malah mendhaifkan hadis tersebut dalam Dhaif Sunan Ibnu Majah dan Dhaif Sunan Tirmidzi. Dalam Silsilah Ahadist Ad Dhaifah no 6028 ternyata Syaikh Al Albani menyatakan bahwa ia rujuk dari pandangannya dalam Shahih Al Jami’. Menurut beliau hadis tersebut dhaif dan mesti dipindahkan ke Dhaif Jami’ As Shaghir. Mari kita ikuti telaah Syaikh Al Albani

Tinjauan Pencacatan Syaikh Al Albani

Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Adh Dhaifah no 6028 ketika membahas hadis ini telah membawakan 3 jalan hadis yaitu

  •        Hadis Shubaih mawla Ummu salamah
  •        Hadis Abu Hurairah
  •        Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih

Hadis Shubaih di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani kerana Shubaih mawla Ummu Salamah. Syaikh mengatakan bahawa Shubaih tidak dikenal nasabnya kemudian Syaikh mengutip Ibnu Ady (dalam Al Kamil 4/86) yang menuliskan keterangan tentang “Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”. Dalam kitab tersebut disebutkan kalau Shubaih seorang pendusta.

Tanggapan kami : Hujjah Syaikh Al Albani sungguh tidak bernilai dan ternyata dicari-cari. Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dalam Al Kamil 4/86 bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah tetapi Shubaih yang tidak dikenal nasab maupun hadis-hadisnya. Bukti bahawa Shubaih mawla Ummu Salamah bukanlah Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady adalah

  •        Shubaih mawla Ummu Salamah meriwayatkan hadis dari Zaid bin Arqam(berdasarkan keterangan dari kitab-kitab biografi perawi) sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah.
  •        Shubaih mawla Ummu Salamah dikenal hadisnya iaitu hadis keutamaan Ahlul Bait di atas sedangkan Shubaih yang dimaksud Ibnu Ady dikatakan oleh Ibnu Ady sendiri bahwa ia tidak dikenal hadis-hadisnya.

 

Ibnu Ady dalam Al Kamil hanya mengutip Yahya dan Abu Khaitsamah yang menyatakan bahwa ada seseorang bernama Shubaih yang tidak dikenal nasabnya meriwayatkan hadis dari Utsman dan Aisyah dan dia seorang pendusta. Syaikh Al Albani dengan seenaknya menduga bahwa Shubaih mawla Ummu Salamah adalah Shubaih yang dimaksudkan. Bagaimana Yahya dan Abu Khaitsamah menyatakan Shubaih yang tidak dikenal nasabnya itu sebagai seorang pendusta? Jawabannya tidak lain dari hadis-hadis yang diriwayatkan Shubaih yang sampai kepada mereka iaitu hadis Shubaih dari Utsman dan Aisyah. Tetapi sayang sekali hadis-hadis Shubaih ini tidaklah tercatat dalam kitab-kitab hadis sehingga Ibnu Ady berkata “tidak dikenal hadis-hadisnya”. Oleh karena itu tidak bernilai sedikitpun menjadikan riwayat Ibnu Ady tersebut sebagai hujjah untuk melemahkan Shubaih mawla Ummu Salamah.Tidak ada bukti sedikitpun yang “Shubaih yang tidak dikenal nasabnya” adalah Shubaih mawla Ummu Salamah

Kalau memang mahu menuruti logika Syaikh Al Albani maka kita dapat menemukan Shubaih lain yang juga satu thabaqah dan lebih cocok untuk dinisbatkan dengan “Shubaih yang tidak dikenal nasabnya”. Dalam kitab Tabshir Al Muntabah 3/882 Ibnu Hajar menyebutkan nama-nama Shubaih dan di antaranya ada Shubaih mawla Ummu Salamah kemudian Ibnu Hajar juga menyebutkan Shubaih lain

صبيح، عن عثمان، وعنه أبو عون الثقفي

Shubaih yang meriwayatkan dari Utsman dan meriwayatkan darinya Abu ‘Aun Ats Tsaqafi

Dalam Tahdzib Al Kamal no 5433 biografi Muhammad bin Ubaidillah bin Sa’id Abu ‘Aun Ats Tsaqafi, Al Mizzi menyebutkan bahwa Abu ‘Aun meriwayatkan dari Shubaih sahabat Utsman. Shubaih ini lebih cocok dinisbatkan dengan “Shubaih yang tidak dikenal nasabnya” dalam Al Kamil Ibnu Ady karena mereka sama-sama meriwayatkan hadis dari Utsman. Kesimpulannya Shubaih yang dikatakan pendusta dalam Al Kamil Ibnu Ady bukanlah Shubaih mawla Ummu Salamah.

Kedua hadis lainnya iaitu hadis Abu Hurairah dan hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih juga dinyatakan dhaif oleh Syaikh Al Albani. Hadis Abu Hurairah dinyatakan dhaif karena dalam sanadnya terdapat Talid bin Sulaiman yang dikenal dhaif sedangkan dalam hadis Muslim bin Shubaih di dalamnya terdapat Husain bin Hasan Al Urani yang tidak dikenal oleh Syaikh sehingga ia menduga bahwa orang tersebut adalah Husain bin Hasan Al Asyqar.

Tanggapan kami : Pernyataan dhaif terhadap Talid bin Sulaiman patut diberikan catatan karena ia adalah Syaikh atau gurunya Ahmad bin Hanbal dimana Ahmad bin Hanbal hanya meriwayatkan dari orang yang dikenal tsiqah menurutnya. Dalam Tahdzib juz 1 no 948 disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal, Al Ajli dan Muhammad bin Abdullah bin Ammar menyatakan tidak ada masalah dengannya. Memang banyak ulama yang mengecam Talid menuduhnya pendusta kerana beliau mencaci sahabat Nabi iaitu Abu Bakar, Umar dan Utsman. Lucunya jiaka ada perawi lain yang mencaci Ali bin Abi Thalib (seperti Hariz bin Utsman Al Himsh), hal itu malah tidak merosakkan kredibiliti perawi tersebut dan ia tetap dinyatakan tsiqah. Sungguh suatu inkonsistensi yang layak dibuat bahasan tersendiri, tapi itu cerita lain untuk saat ini. Kemudian Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih memang sanadnya dhaif tetapi perawi yang dimaksud bukanlah Husain bin Hasan Al Urani seperti yang dikatakan Syaikh Al Albani tetapi dia adalah Hasan bin Husain Al Urani seperti yang diriwayatkan dalam Amali Al Muhamili 2/36 no 515. Biografinya disebutkan dalam Al Mizan dan jelas sekali ia bukan Husain bin Hasan Al Asyqar.

Kesimpulan

Pada dasarnya kami tidak menjadikan Hadis Abu Hurairah dan Hadis Zaid bin Arqam dari Muslim bin Shubaih sebagai hujjah. Kami berhujjah dengan hadis Shubaih mawla Ummu Salamah di atas yang merupakan hadis hasan sedangkan pencacatan Syaikh terhadap Shubaih tidak bernilai dan hanyalah pencacatan yang dicari-cari untuk melemahkan hadis tersebut.

Pemerhatian Tambahan Admin SE.com

Telah dibuktikan hadis ini kuat untuk dibuat hujah, juga mutawattir di sisi riwayat Ahlulbait(as). Ini ditambah pula dengan hadis-hadis penguat lain yang mengatakan Ahlulbait sentiasa bersama kebenaran, sentiasa bersama Quran,dan disucikan dengan sesuci-suci pembersihan, maka sudah tentu Nabi(s) akan memerangi mereka yang memerangi Ahlulbait, kerana kedudukan tinggi mereka di sisi Allah swt.

Jelas sekali sejarah membuktikan wujud peperangan yang menentang Ahlulbait(as). Yang paling jelas adalah dua peperangan menentang Imam Ali(as), iaitu Jamal dan Siffin. Maka dari hadis ini, kelompok yang memerangi Imam Ali dalam perang itu jelas diperangi oleh Nabi(s). Wallahualam

 

 

 

Benarkah Semua Peserta Perang Tabuk Dijamin Surga?

doqma “keadilan seluruh sahabat ” pun harus dipaksakan untuk membenarkan segala tingkah laku sebagian sahabat yang melenceng jauh

Dan semua yang dikatakan nabi (termasuk segala cacian & laknatan) adalah wahyu yang berasal dari Allah dan memang sangat pantas ditujukan bagi orang2 yang dia laknat. Dan dia bukanlah orang lemah mental / gila yang ketika marah membuatnya mencaci / melaknat orang yang tidak patut dilaknat . Sesungguhnya tiap perkataannya adalah kebenaran dan tiap laknatnya adalah laknat dari Allah azza wa jalla.

“Dan, dia (Muhammad) tidak bertutur dengan hawa
nafsunya, melainkan dengan wahyu yang diwahyukan”. ( QS 53:3-4 )

benar2 anda memaksakan berbagai alasan tidak masuk akal utk membela para sahabat yang jelas2 membangkang perintah Rasul utk terus mempertahankan dongeng “seluruh sahabat adalah adil”….baca Firman Allah :
4:65
“Maka demi Tuhanmu , mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan , kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya . ”

Lihat Allah mengatakan bahwa mereka tidak beriman hingga mereka tidak menolak sama sekali dengan tanpa keberatan hati sama sekali terhadap perintah Sayyidina Muhammad….

Dongeng seluruh sahabat pasti adil….ha..ha…ha….Jelas2 Rasul pernah melaknat mereka….tapi anda malah mengambil fatwa sebagian saja dr Syekh2 anda yg mengatakan mereka pasti adil…. Anda mengambil dongeng dan membuang fakta….!!!

benar2 anda memaksakan berbagai alasan tidak masuk akal utk membela para sahabat yang jelas2 membangkang perintah Rasul utk terus mempertahankan dongeng “seluruh sahabat adalah adil”….baca Firman Allah :
4:65
“Maka demi Tuhanmu , mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan , kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan , dan mereka menerima dengan sepenuhnya . ”

Lihat Allah mengatakan bahwa mereka tidak beriman hingga mereka tidak menolak sama sekali dengan tanpa keberatan hati sama sekali terhadap perintah Sayyidina Muhammad….

Dongeng seluruh sahabat pasti adil….ha..ha…ha….Jelas2 Rasul pernah melaknat mereka….tapi anda malah mengambil fatwa sebagian saja dr Syekh2 anda yg mengatakan mereka pasti adil…. Anda mengambil dongeng dan membuang fakta….!!!

dalam hal ini sunni  keliru  besar,

pertama seperti saya katakan diatas bahwa ucapan Rasulullah saw itu wajib ditaati sebagaimana disebutkan dalam firman2 Allah SWT yg saya kutip diatas, dan tidak ada haq bagi kita umat Islam termasuk sahabat untuk membantah, karena ucapan beliau adalah wahyu!

Kedua, yang perlu anda ketahui bahwa perkara sebagian sahabat tidak menta’ati perintah Rasulullah saw… hal ini bukanlah sesuatu yang asing karena kitab sejarah dan hadis banyak yang melaporkan hal ini….

dibawah saya kutipkan hadis Bukhori tentang hal ini BAHWA DALAM PERANG UHUD NABI SAW… DITINGGALKAN BANYAK SAHABATNYA YG LARI DARI PEPERANGAN UNTUK MENYELAMATKAN DIRI, PADAHAL RASUL SAW TELAH MENYERU MEREKA AGAR KEMBALI, AKAN TETAPI MEREKA TETAP LARI KETAKUTAN DAN HANYA TERSISA 12 SAHABAT YANG SETIA MENEMANI NABI SAW PADA WAKTU ITU..

حدثنا ‏ ‏عمرو بن خالد ‏ ‏حدثنا ‏ ‏زهير ‏ ‏حدثنا ‏ ‏أبو إسحاق ‏ ‏قال سمعت ‏ ‏البراء بن عازب ‏ ‏رضي الله عنهما ‏ ‏قال ‏
‏جعل النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏على ‏ ‏الرجالة ‏ ‏يوم ‏ ‏أحد ‏ ‏عبد الله بن جبير ‏ ‏وأقبلوا منهزمين فذاك إذ يدعوهم الرسول في أخراهم ولم يبق مع النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏غير اثني عشر رجلا ‏

SAHIH BUKHARI, KITAB تفسير القرآن ,
BAB قوله والرسول يدعوكم في أخراكم ,
anda bisa cek hadis ini di situs kementerian agama dan wakaf, saudi arabia:

http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=6584

Jadi ketika saya di sekolah madrasah dulu diceritakan oleh guru-guru bahwa para sahabat Nabi saw semuanya adalah orang-orang yang ta’at dan patuh kepada Nabi saw dan siap mengorbankan dirinya untuk membela Nabi saw, sebagiannya ADALAH DONGENG BELAKA!!

Nyatanya dalam perang Uhud yang dihadiri sahabat dalam jumlah yang sangat besar, ternyata MAYORITAS SAHABAT LARI TUNGGANG-LANGGANG MENYELAMATKAN DIRI DAN HANYA TERSISA 12 ORANG SAHABAT YANG SETIA MENYERTAI BELIAU saw, ITULAH SAHABAT YANG SEBENARNYA SEMENTARA SAHABAT YANG LARI TENTU KWALITASNYA RENDAH.. bahkan al-Qur’an mengancam dengan neraka bagi orang-orang yang lari dari pertempuran

Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). (QS. Al Anfal [8]:15)

Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya. (QS. Al Anfal [8]:16)

Tidak hanya di perang Uhud beliau saw ditinggalkan umatnya, di perang Hunain pun Rasul saw ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya bahkan menurut sejarawan hanya tinggal 9 sahabat yang setia menemani beliau saw..

Jadi ketika di akhir hayatnya beliau saw mengirim pasukan dibawah pimpinan Usamah mereka enggan berangkat, hal ini bukanlah hal yang aneh karena banyak diantara sahabat yang takut berperang dan juga banyak yang tidak menta’ati beliau saw. !!

Ma’af mas hadis palsu diatas dibikin untuk melindungi sahabat yang dilaknat Nabi saw dan perbuatan mereka memang layak untuk dilaknat…!

Sekali lagi sahabat adalah manusia biasa, sementara Nabi saw adalah manusia yang luar biasa..!

Nabi adalah “Uswatun Hasanah” -teladan yang terbaik- Nabi adalah manusia dengan akhlak yang sempurna, jadi mustahil beliau saw mencaci-maki seseorang seenaknya tanpa sebab.. apalagi seseorang yang tidak patut dilaknat/dicaci.. apa anda kira Nabi saw “orang jalanan” yang seenaknya mengeluarkan caci-maki ke segala orang?!

Demi konsep “keadilan sahabat” yang tidak jelas, Nabi dilecehkan, sementara kesalahan sahabat dicari-carikakan udzur.. dan dibela mati-matian… tapi kalo dibilang “GHULU” terhadap sahabat menolak..! Aneh

Benarkah Semua Peserta Perang Tabuk Dijamin Surga?


Sebenarnya masalah siapa yang masuk surga atau tidak, itu adalah kuasa dan kehendak Allah SWT. Kita hanya berbicara sesuai dengan dalil yang ada baik dari firman Allah SWT ataupun hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian nashibi menukil surat At Taubah dan berhujjah bahwa “tidak ada orang munafik yang ikut perang Tabuk dan semua yang ikut perang Tabuk dijamin masuk surga”. Dengan pernyataan ini, nashibi ingin mengatakan kalau Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyah dijamin masuk surga karena mereka semua masuk surga.

Analisis ala perang Tabuk ini bisa dibilang kekeliruan nashibi yang memang awam dengan hadis-hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ditambah lagi dengan ketidakmampuan nashibi memahami hadis yang ia baca. Kami merasa lucu melihat cara nashibi berdalih soal orang-orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] saat perang Tabuk. Sebelum melihat kelucuan argumen nashibi itu mari kita lihat ayat yang mereka jadikan hujjah

لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, itulah kemenangan yang besar [QS At Taubah : 88-89]

Dengan ayat ini nashibi menetapkan bahwa semua yang ikut perang Tabuk yaitu orang-orang beriman telah dijamin surga. Nashibi berkata “tidak ada orang munafik yang ikut perang Tabuk”.

Ayat di atas bersifat umum dan tidak menafikan bahwa ada diantara orang yang ikut perang Tabuk tidak layak untuk dijamin surga. Riwayat-riwayat shahih membuktikan bahwa diantara orang yang ikut perang Tabuk terdapat

  1. Orang-orang yang mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya sehingga dikatakan kafir sesudah beriman
  2. Orang-orang yang berniat membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Aqabah
  3. Orang-orang yang dilaknat oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثني يونس قال أخبرنا ابن وهب قال حدثني هشام بن سعد عن زيد بن أسلم عن عبد الله بن عمر قال : قال رجل في غزوة تبوك في مجلس : ما رأينا مثل قرائنا هؤلاء ، أرغبَ بطونًا ، ولا أكذبَ ألسنًا ، ولا أجبن عند اللقاء! فقال رجل في المجلس : كذبتَ ، ولكنك منافق ! لأخبرن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فبلغ ذلك النبي صلى الله عليه وسلم ونزل القرآن. قال عبد الله بن عمر : فأنا رأيته متعلقًا بحَقَب ناقة رسول الله صلى الله عليه وسلم تَنْكُبه الحجارة ، وهو يقول : ” يا رسول الله ، إنما كنا نخوض ونلعب! ” ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : (أبالله وآياته ورسوله كنتم تستهزؤن لا تعتذروا قد كفرتم بعد إيمانكم)

Telah menceritakan kepada kami Yunus yang berkata telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb yang berkata telah menceritakan kepadaku Hisyaam bin Sa’ad dari Zaid bin Aslam dari ‘Abdullah bin Umar yang berkata “seorang laki-laki berkata dalam suatu majelis saat perang Tabuk “aku belum pernah melihat orang yang seperti para qari [pembaca Al Qur’an] kami, mereka suka makan suka berdusta dan pengecut saat bertemu musuh”. Salah seorang dalam majelis berkata “engkau berdusta akan tetapi engkau seorang munafik, sungguh aku akan memberitahukan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]”. Maka hal itu sampai kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan turunlah Al Qur’an. ‘Abdullah bin Umar berkata “aku melihat orang itu bergantung pada sabuk unta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hingga tersandung batu dan berdarah, sedangkan ia berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja”. Dan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam berkata “Apakah terhadap Allah dan ayat-ayatNya serta kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kalian berolok-olok? Tidak usah meminta maaf, sungguh kalian telah kafir sesudah kalian beriman” [Tafsir Ath Thabari 14/333-334 no 16912 tahqiq Syaikh Ahmad Syakir dan ia menshahihkannya]

ذَكَرَهُ أَبِي، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ الْكُوفِيِّ، ثنا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْقَرِيُّ، ثنا خَلادٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عِيسَى، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَرٍّ شَدِيدٍ”وَأَمَرَ بِالْغَزْوِ إِلَى تَبُوكَ، قَالَ: وَنَزَلَ نَفَرٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَانِبٍ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: وَاللَّهِ إِنَّ أَرْغَبَنَا بُطُونًا، وَأَجَبْنَا عِنْدَ اللِّقَاءِ وَأَضْعَفَنَا، لَقُرَّاؤُنَا، فَدَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّارًا، فَقَالَ: اذْهَبْ إِلَى هَؤُلاءِ الرَّهْطِ فَقُلْ لَهُمْ: مَا قُلْتُمْ ؟” ” وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ “

Ayahku menyebutkan dari ‘Abdullah bin Umar bin Aban Al Kufiy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin Muhammad Al ‘Anqaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Khalid dari ‘Abdullah bin Isaa dari Abdul Hamid bin Ka’ab bin Malik dari ayahnya yang berkata “Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] keluar pada panas yang terik menuju perang Tabuk. [Ka’ab] berkata “ikut dalam rombongan itu sekelompok sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain “demi Allah, para qari [pembaca Qur’an] kami orang yang sangat suka makan, lemah dan pengecut saat perang”. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil ‘Ammar dan berkata “pergilah kepada orang-orang itu dan katakan kepada mereka “apa yang kalian katakan? Dan jika kamu tanyakan kepada mereka tentu mereka akan menjawab sesungguhnya kami hanya bersendagurau dan bermain-main saja. Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayatnya dan Rasul-Nya kamu berolok-olok [Tafsir Ibnu Abi Hatim 6/1829 no 10046 dengan sanad shahih]

Riwayat Ibnu Jarir para perawinya tsiqat kecuali Hisyam bin Sa’ad ia seorang yang diperbincangkan tetapi dikatakan kalau ia tsabit dalam riwayatnya dari Zaid bin Aslam. Riwayat Ibnu Jarir dikuatkan oleh riwayat Ibnu Abi Hatim dimana para perawinya tsiqat.

Hadis diatas membawakan asbabun nuzul At Taubah 65-66 yaitu saat perang Tabuk dimana ada sebagian sahabat Nabi yang mengolok-olok dengan menyebut nama Allah dan ayat-ayatnya. Maka turunlah At Taubah 65-66 menyatakan bahwa mereka kafir sesudah beriman. Tidak diragukan lagi bahwa dalam hadis di atas mereka adalah sahabat Nabi yang ikut dalam perang Tabuk. Apakah mereka dijamin masuk surga?. Silakan dijawab wahai nashibi

.

.

Saat pulang dari perang Tabuk, sebagian sahabat yang ikut serta dalam perang Tabuk berkomplot berniat untuk membunuh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di bukit Aqabah. Nashibi yang tahu fakta ini, membuat “bidasan” bahwa tidak ada bukti bahwa mereka berasal dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa saja mereka sudah lama menunggu di bukit Aqabah bukan dari peserta yang ikut perang Tabuk. Nashibi tersebut memang tidak bisa membaca dengan benar hadis riwayat Ahmad berikut

حدثنا عبد لله حدثني أبي ثنا يزيد أنا الوليد يعنى بن عبد الله بن جميع عن أبي الطفيل قال لما أقبل رسول الله صلى الله عليه و سلم من غزوة تبوك أمر مناديا فنادى ان رسول الله صلى الله عليه و سلم أخذ العقبة فلا يأخذها أحد فبينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يقوده حذيفة ويسوق به عمار إذ أقبل رهط متلثمون على الرواحل غشوا عمارا وهو يسوق برسول الله صلى الله عليه و سلم وأقبل عمار يضرب وجوه الرواحل فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لحذيفة قد قد حتى هبط رسول الله صلى الله عليه و سلم فلما هبط رسول الله صلى الله عليه و سلم نزل ورجع عمار فقال يا عمار هل عرفت القوم فقال قد عرفت عامة الرواحل والقوم متلثمون قال هل تدري ما أرادوا قال الله ورسوله أعلم قال أرادوا ان ينفروا برسول الله صلى الله عليه و سلم فيطرحوه قال فسأل عمار رجلا من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال نشدتك بالله كم تعلم كان أصحاب العقبة فقال أربعة عشر فقال ان كنت فيهم فقد كانوا خمسة عشر فعدد رسول الله صلى الله عليه و سلم منهم ثلاثة قالوا والله ما سمعنا منادي رسول الله صلى الله عليه و سلم وما علمنا ما أراد القوم فقال عمار أشهد أن الاثنى عشر الباقين حرب لله ولرسوله في الحياة الدنيا ويوم يقوم الأشهاد

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid yakni bin ‘Abdullah bin Jumai’ dari Abu Thufail yang berkata “Ketika Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kembali dari perang Tabuk, Beliau memerintahkan seorang penyeru untuk menyerukan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] hendak mengambil jalan ke bukit Aqabah maka tidak seorangpun diperbolehkan ke sana. Ketika itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dikawal oleh Hudzaifah [radiallahu ‘anhu] dan unta Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] ditarik oleh Ammar [radiallahu ‘anhu], tiba-tiba sekumpulan orang yang memakai topeng [penutup wajah] dengan hewan tunggangan mendatangi mereka. Kemudian mereka menghalangi Ammar yang sedang menarik unta Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ammar melawan mereka dengan memukul unta-unta tunggangan mereka. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada Hudzaifah “sudah sudah”. Sampai akhirnya mereka menelusuri jalan turun dan setelah itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] turun dari untanya dan menghampiri Ammar, Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “wahai Ammar “apakah engkau mengenal orang-orang tadi”. Ammar menjawab “sungguh aku mengenal unta-unta tunggangan mereka tadi sedangkan orang-orang itu semuanya memakai topeng”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “apakah engkau mengetahui apa yang mereka inginkan”. Ammar menjawab “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “mereka bermaksud menakuti hewan tunggangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga mereka dapat menjatuhkannya dari bukit”. [Abu Thufail] berkata Ammar bertanya kepada salah seorang sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, tahukah engkau berapa jumlah Ashabul ‘Aqabah [orang-orang yang berada di bukit tadi]?. Ia berkata “empat belas orang”. Ammar berkata “jika engkau termasuk salah satu dari mereka maka jumlahnya lima belas orang”. Maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menghitung tiga dari mereka yang mengatakan “Demi Allah kami tidak mendengar penyeru Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan kami tidak mengetahui apa yang diinginkan orang-orang yang mendaki bukit itu”. Ammar berkata “aku bersaksi bahwa dua belas orang lainnya musuh Allah dan Rasul-Nya di kehidupan dunia dan pada hari dibangkitkannya para saksi [akhirat]“ [Musnad Ahmad 5/453 no 23843, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat dengan syarat Muslim”]

Nashibi mengatakan bahwa orang-orang yang ada di bukit Aqabah itu bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetapi memang sudah lama menunggu di bukit Aqabah. Hal ini keliru dengan alasan

  1. Dalam riwayat Ahmad di atas disebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memutuskan mengambil jalan ke bukit Aqabah itu saat pulang dari perang Tabuk, jadi bukanlah perkara yang sudah direncanakan dari awal. Oleh karena itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan penyerunya untuk menyerukan bahwa Beliau akan mengambil jalan ke bukit Aqabah dan sahabat lain tidak diperkenankan mengikutinya. Kalau dikatakan orang-orang di Aqabah itu sudah lama menunggu disana maka patutlah kita bertanya pada nashibi, darimana mereka tahu bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tiba-tiba mengambil jalan ke bukit Aqabah?. Satu-satunya alasan mereka tahu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil jalan ke bukit Aqabah karena mereka berada diantara tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan mendengar penyeru Beliau mengatakannya.
  2. Dalam riwayat Ahmad di atas disebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menanyakan kepada ‘Ammar apakah ia tahu siapa mereka. ‘Ammar mengatakan bahwa ia mengenal hewan-hewan tunggangan mereka tetapi mereka sendiri tertutup wajahnya. Kalau orang-orang di bukit Aqabah itu adalah komplotan yang sejak semula berada disana maka darimana ‘Ammar bisa mengenal hewan tunggangan mereka. ‘Ammar mengenal hewan tunggangan mereka karena mereka sebelumnya berada diantara tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].
  3. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa ‘Ammar bertanya kepada salah seorang sahabat Nabi apakah ia tahu berapa orang di bukit Aqabah. Sahabat Nabi itu berkata “empat belas”. Kemudian perhatikan jawaban ‘Ammar ““jika engkau termasuk salah satu dari mereka maka jumlahnya lima belas orang”. Jawaban ini mengisyaratkan bahwa menurut ‘Ammar orang-orang itu adalah sahabat Nabi yang ikut dalam perang Tabuk sehingga ‘Ammar mengatakan jika sahabat Nabi itu termasuk maka jumlahnya menjadi lima belas. Jika orang-orang di bukit Aqabah itu adalah komplotan yang sudah lama menunggu di Aqabah bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka tidak mungkin ‘Ammar mengatakan demikian kepada sahabat Rasulullah.
  4. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa dua belas orang itu adalah musuh Allah dan Rasul-Nya di dunia dan akhirat. Hal ini selaras dengan riwayat Muslim dimana ‘Ammar membawakan hadis Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan lafaz “diantara Sahabatku ada dua belas orang munafik” dimana mereka semua akan masuk neraka. Kedua belas orang ini tidak lain adalah orang-orang yang berada di bukit Aqabah.
  5. Dalam riwayat Ahmad diatas disebutkan bahwa tiga dari orang-orang di bukit Aqabah beralasan bahwa mereka tidak mendengar penyeru Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ini bukti nyata bahwa orang-orang di bukit Aqabah berasal dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukannya komplotan majhul yang sudah menunggu di bukit Aqabah.

Jadi ucapan nashibi bahwa orang-orang di bukit Aqabah adalah komplotan yang sudah lama menunggu di bukit Aqabah dan bukan dari tentara Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ucapan tidak berdasar dan bertentangan dengan riwayat Ahmad diatas.

.

.

Dalam riwayat Ahmad di atas juga disebutkan ada sebagian sahabat yang dilaknat oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena telah melanggar perintah Beliau.

قال الوليد وذكر أبو الطفيل في تلك الغزوة ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال للناس وذكر له ان في الماء قلة فأمر رسول الله صلى الله عليه و سلم مناديا فنادى ان لا يرد الماء أحد قبل رسول الله صلى الله عليه و سلم فورده رسول الله صلى الله عليه و سلم فوجد رهطا قد وردوه قبله فلعنهم رسول الله صلى الله عليه و سلم يومئذ

Walid berkata Abu Thufail menyebutkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata kepada manusia bahwa perbekalan air tinggal sedikit kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memerintahkan penyerunya mengatakan“tidak boleh ada yang menyentuhnya sebelum Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] datang” maka Rasulullah datang dan Beliau mendapati telah ada sebagian orang yang mendahului Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] melaknat mereka saat itu juga [Musnad Ahmad 5/453 no 23843, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya kuat dengan syarat Muslim”]

Sangat jelas bahwa dalam riwayat Ahmad diatas yang dilaknat oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah para sahabat yang ikut perang Tabuk dan melanggar perintah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk tidak mendekati air. Ini menjadi bukti bahwa tidak semua sahabat yang ikut perang Tabuk dijamin surga.

Dengan tulisan ini bukan berarti kami mengatakan Abu Bakar, Umar, Utsman adalah orang munafik dan tidak dijamin surga. Yang ingin kami kritik adalah cara pendalilan nashibi yang tidak sesuai dengan kaidah kelimuan atau terjebak dalam fallacy.

Salam Damai

keimanan terhadap agama tidak akan mungkin tanpa membentuk sebuah pemerintahan

Islam Tidak Akan Tegak Tanpa Pemerintahan

Hujjatul Islam Hossein Ebrahimi menyinggung  pemikiran pemisahan agama dari politik maka beliau menegaskan bahwa keimanan terhadap agama tidak akan mungkin tanpa membentuk sebuah pemerintahan serta menjelaskan tugas-tugas para ruhaniwan dalam hal ini.
.
Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Politik Luar Negeri Parlemen Republik Islam Iran (Majlis), Hujjatul Islam Ebrahimi, menjawab pertanyaan soal keberadaan pemikiran pemisahaan agama dari politik di dalam lingkungan santri dan mengatakan, “Tidak bisa kita katakan bahwa pemikiran seperti itu tidak ada dalam lingkungan santri, akan tetapi pemikiran tersebut sudah mulai memudar. Karena mungkin jumlah para pencetus dan pendukung pemikiran tersebut sudah berkurang.”
.
“Tidak juga dapat dikatakan tidak ada lagi upaya-upaya untuk memisahkan agama dari politik, akan tetapi di sisi lain, berbagai fenomena yang muncul saat ini justru melawan perluasan pemikiran-pemikiran seperti itu,” katanya.
.
Anggota Majlis Iran itu menambahkan, “Pada prinsipnya, esensi pemerintahan, Islam, dan hukum-hukumnya, merupakan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan. Seluruh undang-undang atau hukum dalam agama Islam selalu sejalan dengan politik. Artinya jika tidak ada pemerintahan, lalu apakah hukum dan undang-undang tersebut dapat diberlakukan dan dilaksanakan? Sejatinya pondasi-pondasi agama kita sedemikian rupa sehingga menjaga agama tanpa pembentukan pemerintahan tidak akan pernah dapat ditegakkan. Dengan kata lain tanpa politik, tidak akan ada Islam, dan Islam tanpa politik juga bukan lagi Islam.”
.
Lebih lanjut dijelaskannya bahwa masalah ini perlu dijelaskan secara meluas di berbagai sektor, khususnya oleh para ruhaniwan
.

Risalah Huquq; Hak Pemimpin

Imam Sajjad as berkata,”Mengenai hak orang yang memimpin dan berkuasa atasmu maka ketahuilah bahwa engkau adalah cobaan baginya dan sedang diuji dengan perantaraan dirimu. Karena itu, berilah nasehat kepadanya secara tulus dan jangan masuk lewat pintu pembangkangan terhadapnya, sebab itu hanya akan membinasakanmu. Perlakukanlah ia dengan rendah hati dan lemah lembut supaya engkau merebut hatinya dan agamamu terhindari dari gangguannya. Untuk itu mintalah bantuan dari Allah…

Setelah menjelaskan hak-hak hukum agama dan ibadah, Imam Sajjad as menerangkan tentang hak-hak sosial dan politik. Hak pertama yang beliau singgung adalah hak pemimpin dan penguasa. Dalam sistem sosial dan politik, sejak zaman dahulu di setiap masyarakat selalu ada orang yang dijadikan pimpinan. Supaya masyarakat terkontrol dengan baik, kepemimpinan harus diemban oleh figur yang mumpuni. Tidak ada satupun negara bahkan masyarakat yang bisa tertata tanpa adanya sistem kepemimpinan. Sebab kepemimpinan itulah yang menjadi sentra sistem sosial yang tanpanya kekacauan dan ketidakberaturanlah yang bakal berkuasa.

Adamasyarakat yang dipimpin oleh figur-figur ilahi sehingga menjadi masyarakat yang baik dan ada pula yang dipimpin oleh manusia zalim dan durjana yang hanya membawa kesengsaraan dan ketidakadilan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Di zaman kita, dua macam figur pemimpin ini dapat kita jumpai. Islam selalu menekankan bahwa kepemimpinan suatu masyarakat dan umat harus dipikul oleh manusia yang cakap, mumpuni, bijak dan salih. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk peduli terhadap nasib dan masa depan diri dan masyarakatnya. Islam mengajarkan agar kita memilih orang yang memandang kekuasaan sebagai sarana untuk mengikis ketidakadilan dan kesengsaraan, serta media untuk membangun dan memakmurkan masyarakat.

Pemimpin dengan kriteria yang salih punya kedudukan tinggi di sisi Allah dan Islam memerintahkan kaum muslimin untuk menghormati dn menghargai pemimpin yang seperti ini. Nabi Muhammad Saw dalam sebuah hadisnya bersabda, “Hormatilah para pemimpin sebab merekalah yang mendatangkan kemuliaan, kekuatan dan naungan lindungan Allah di muka bumi, ketika mereka bertindak adil.

Imam Musa al-Kadhim as dalam sebuah riwayat menyebut pemimpin yang adil sebagai ayah yang penyayang bagi masyarakat. Sebagaimana ayah yang baik akan mendidik anaknya sehingga menjadi salih, pemimpin yang adil juga berusaha sekuat tenaga untuk membuat masyarakat dan umat yang dipimpinnya menjadi masyarakat dan umat yang baik dan selalu bergerak ke arah kesempurnaan.

Menjelaskan hak-hak para pemimpin kenegaraan atau sosial politik, Imam Ali As-Sajjad memandang kondisi para pemimpin dengan pandangan yang obyektif dan menerangkan hak-hak mereka. Tentunya yang dimaksud pertama kali adalah pemimpin yang kepemimpinannya sah. Pemimpin yang sah adalah pemimpin yang diangkat oleh Allah sebagai pemimpin atau mendapat mandat yang sah dari masyarakat.

Dalam ungkapannya, Imam Sajjad as mengingatkan kita akan satu fakta penting, bahwa seorang mengemban sebuah amanat yang berat yaitu amanat kepemimpinan. Dia diuji oleh Allah dengan menjalankan amanat ini. Sungguhnya ketelodoran dan kebodohan besar jika orang berbangga dan angkuh dengan menyombongkan ujian yang sedang ia jalani. Memang, yang menjadi materi ujian adalah kedudukan duniawi yang memang menipu. Jika dia tidak mampu melalui ujian ini dengan baik, maka kesengsaraan dan kehancuranlah yang menantinya. Sebab, ia harus mempertanggungjawabkan setiap ketidakadilan dan atau penistaan hak yang terjadi di ruang kekuasaannya.

Imam Sajjad as juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadi sasaran kemarahan para penguasa. Beliau menjelaskan bahwa penguasa biasanya akan melakukan tindakan yang merugikan rakyat jika merasa ditentang. Hal itu tentu akan membuat rakyat sengsara dan memunculkan masalah sosial. Imbauan Imam Sajjad as adalah upaya pencegahan jangan sampai kesulitan dan kesengsaraan itu menimpa masyarakat yang tidak kuat menanggung derita. Akan tetapi menghindari kemarahan penguasa bukan berarti menutup mata dari kesalahan dan penyimpangan yang mungkin terjadi, atau lari dari tanggung jawab melawan ketidakadilan. Sebab, Islam tidak membolehkan siapapun juga untuk diam menyaksikan ketidakadilan.

Menurut Imam Sajjad as, jika pemerintahan berjalan di rel yang tidak benar dan menyimpang ke arah kebatilan, kaum ulama, tokoh masyarakat dan semua elemen umat wajib bangkit melawan. Namun jika pemerintahan berjalan dengan benar dan sah, tidak ada hak bagi umat untuk melawan dan menentangnya. Jika ada yang bangkit melawan berarti dia layak dicap sebagai pembangkang yang harus ditumpas. Sebab pembangkangan hanya akan membawa masyarakat kepada kehancuran dan merongrong kekuatan pemerintahan yang sah. Meski tunduk kepada pemerintahan, masyarakat tetap punya hak untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap salah.

Imam Sajjad as menambahkan dengan menyinggung kebiasaan para penguasa yang memberikan hadiah kepada orang untuk menarik hati dan dukungannya. Praktik seperti ini jelas tidak benar. Misalnya, seorang penguasa memberi hadiah kepada seseorang dengan imbalan orang itu harus melakukan hal-hal yang tidak benar, menistakan hak orang lain atau mengerjakan satu hal yang bertentangan dengan kepentingan umum. Hadiah yang diberikan oleh penguasa untuk hal-hal seperti itu haram diterima. Namun apabila hadiah itu diberikan tanpa ada imbalan melakukan yang tidak benar, maka kita harus menerima pemberian itu dengan rendah hati dan tidak lupa berterima kasih.

Dimanakah Allah ?? Apakah zat Allah SWT diatas arasy ?

Dimanakah Allah ?? Apakah zat Allah SWT diatas arasy ?

Di antara alumni-alumni lulusan akademi dan khalaqah adalah lulusan terbaiknya. Dengan potensi suci dan sempurna Ali as. mampu menangkap semua pelajaran sang guru, tidak ada satu hurufpun yang tidak difahami olehnya bahkan setiap satu huruf yang diajarkan oleh Rasul saww. terbuka baginya seribu pintu ilmu. Hal ini menjadikan Ali as. pemilik kesempurnaan akal dan iman.Di kalangan para arif, Ali as. adalah wujud tajalli tertinggi dari Haq yang maha tinggi. Karena ketinggian wujud suci alawi ini, hanya ka’bah yang mampu menerima tajalliwujudnya dan hanya mihrab yang sanggup menahan berat beban shahadah wujud suci ini. Hijab dunia dan tabir akherat dihadapan pandangan hakekat Ali as. tidak lagi memiliki warna. Pandangan Ali as. mampu menembus alam malakut serta tidak ada lagi yang tersembunyi dari pandangannya

.

Beliau berkata : “ Sesungguhnya aku telah melihat alam malakut dengan izin Tuhanku, tidak ada yang ghaib ( tersembunyi ) dariku apa-apa yang sebelumku dan apa-apa yang akan datang sesudahku.”[1] Ali as. adalah ayat kubra Haq yang maha tinggi, insan kamil yang memiliki ilmu kitab, seperti yang disabdakan oleh Rasulallah saww.: “ salah seorang misdaq dari ayat ( katakanalah! Cukuplah Allah swt. sebagai saksi antara aku dan kalian serta orang yang memiliki ilmu kitab )[2] adalah saudaraku Ali.”[3]

.
Para arif serta ahli bathin dengan bangga mengaku diri mereka sebagai murid dari sang murod agung ini, dan menjadikan Ali as. sebagai qutub dari silsilah mursyidnya. Imam Hadi as. berkata : Ali as. adalah kiblat kaum Arifiin[4] Dikalangan ahli hikmah, hikmah alawi merupakah hikmah tertinggi. Wujud, perbuatan serta kalam Ali as. sarat dengan hikmah yang memancar dari maqam imamahnya serta menjadi lentera bagi para pengikutnya. Dalam filsafat ketuhanan Ali as. adalah orang pertama dalam islam yang meletakkan batu pondasi burhan dan membukakan pintu argumtasi falsafi bagi para filusuf dan ahli hikmah sesudahnya. Selain dari itu Ali as. adalah orang pertama yang menggunakan istililah-istilah falsafi arab dalam menjelaskan masalah-masalah filsafat. Menurut pandangan Ali as. makriaf ketuhanan merupakan makrifat tertinggi dan merupakan paling sempurnanya makrifat. Seperti dalam ucapannya : “ Makrifat tentang Allah Ta’ala adalah paling tingginya makrifat[5] serta ucapannya : “ Barang siapa yang mengenal Allah swt. maka sempurnalah makrifatnya “.[6]

Ucapan-ucapan fasih Ali as. dalam Nahjul Balaghah sangat sarat dengan hikmah dan makrifat tertinggi. Ucapan seperti ini tidak mungkin keluar kecuali dari orang yang memiliki kedudukan khusus dan tinggi tentang pengetahuan dan makrifatnya terhadap Tuhan.

Tahapan Pengenalan Tuhan Dalam Ucapan Imam Ali as.

Ali as. dalam khutbah pertama dari Nahjul Balaghah menjelaskan urutan tahapan pengenalan terhadap Tuhan, mulai dari tahapan sederhana hingga berakhir kepada tahapan yang sangat dalam dan detail.

1. Mengenal Tuhan dan mengakui akan ketuhananNya. Sebuah pandangan dunia yang dimiliki semua keyakinan dan agama baik yang muwahid ataupun yang musyrik mulai dari agama primitive sampai kepada islam. Yang tertera dalam ucapannya : “awwal ( asas ) dari agama adalah mengenal Tuhan”.[7]Ali as. dalam beberapa khutbahnya berusaha mengajukan beberapa argument untuk pembuktian akan keberadaan sang pencipta dari alam semesta, seperti dalam ucapan singkatnya : “setiap sesuatu yang bersandar kepada selainnya maka ia adalah sebab”.[8] Ucapan singkat akan tetapi memiliki kandungan yang luas ini ingin menjelaskan hokum kausalitas dan menjelaskan bahwa semua yang ada di dunia ini sebab, karena wujud mereka bukanlah dzati ( mumkin ). Oleh karenanya harus ada sesuatu yang keberadaanya dzati (wajib alwujud).Dalam khutbah lain Ali as. berkata : “Celakalah orang yang mengingkari sang maha muqaddir dan tidak meyakini mudabbir[9] kelanjutan dari kutbah ini : “Apakah mungkin ada bangunan tanpa ada yang membangun dan apakah mungkin ada perbuatan tanpa adanya pelaku?[10] Dalam pandangan Ali as. keyakinan akan keberadaan Tuhan merupakan sesuatu yang fitri dan dengan sekedar melihat wujud makhluknya, manusia akan mempu mengungkap keberadaan sang pencipta, seperti dalam ucapannya : “Aku merasa heran dengan orang yang mengingkari Allah swt., sementara dia melihat ciptaanNya !”[11]

2. tashdiq

Tashdiq adalah satu konsep yang lebih khusus dibanding dengan makrifat, karena makrifat merupakan konsep mencakup pengetahuan yang bersifat dlanni serta pengetahuan yaqinni. Seperti halnya makrifat, tashdiq juga memiliki beberapa tingkatan :

Pertama : tasawwur ibtidai dari bagian-bagian ( maudlu dan mahmul ) proposisi dan keyakinan sederhana akan kebenaran hukum dari nisbah tiap bagian tadi. Keyakinan orang awam terhadap proposisi-proposisi seperti “Tuhan ada” atau “Tuhan maha melihat” tidak didasari oleh kemantapan pengetahuan setiap bagian dari proposisi atau hukum nisbah antara bagian-bagian tersebut. Artinya pengetahuan mereka tentang bagian dari proposisi serta hukum dari nisbah antara keduanya sangatlah ijmal. Oleh karenanya keykinan mereka sangatlah rapuh.

Kedua : Tashdiq yang muncul setelah pengetahuan yang nisbi terhadap bagian-bagian proposisi serta keyakinan yang muncul dari pengakuan akan kebenaran nisbah antara bagian-bagian tersebut. Akan tetapi keyakinan nisbi ini masih belum bisa menjadi faktor penggerak kehidupannya, artinya keyakinan ini masih tergantung kepada perhitungan untung rugi. Kalau proposisi tersebut membawa keuntungan bagi keberadaannya maka proposisi tersebut sempurna dan kalau tidak maka dia akan berpaling dari keyakinan ini.

Ketiga : Tashdiq yang muncul dari kejelasan terhadap bagian-bagian proposisi dan tidak ada sedikitpun keraguan terhadapnya serta keyakinan yang mantap terhadap hukum nisbah antara bagian-bagian proposisi tadi. Akan tetapi keyinanan tersebut belum malakah dan menjadi darah dagingnya, artinya walaupun dengan segala kejelasan akan bagian proposisi serta hukumnya akan tetapi keykinan ini tidak merasuk ke dalam kehidupan dan tujuan hidupnya.

Keempat : Tashdiq atau keyakinan yang dihasilkan dari pengetahuan sempurna terhadap bagian-bagian proposisi serta hukum nisbah antara bagain-bagian ini. Dan keyakinan ini sudah mendarah daging, malakah dan sudah menjadi faktor penggerak yang besar dalam kehidupannya. Ini merupakan keyakinan hakiki yang muncul dari kesempurnaan makrifar. Keyakinan seperti ini yang dianjurkan oleh Ali as. dalam salah satu khutbahnya : “jangan jadikan ilmu kalian kebodohan dan keyakinan kalian menjadi syak, jika kalian sudah mengetahui maka amalkanlah dan jika kalian sudah meyakininya maka praktekanlah[12] Atau dalam salah satu hadits Ali as. berkata : “Ilmu selalu bergandengan ( maqrun ) dengan amal ; barang siapa yang sudah mengetahui maka ia akan mengamalkan dan barang siapa yang mengamalkan berarti ia telah mengetahui. Ilmu selalu bergandengan dengan amal, ( jika ia mengamalkannya ) maka ilmu akan menjawabnya dan jika tidak maka ia pun akan meninggalkannya[13]

3. Tauhid.

Setelah manusia melewati ketiga tahapan tashdiq dan masuk kepada tingkatan keempat, maka kelazimannya dia akan mengakui keesaan Tuhan. Karena pada tingkatan keempat dari tashdiq, manusia sudah memiliki pengetahuan sempurna terhadap bagian-bagian proposisi, Argumentasi akan keberadaan wajib al-wujud merupakan argumentasi terhadap keesaannya. Pembuktian akan keberadaan wajib al-wujud ( dalam istilah falsafi ) yaitu Allah swt. ( dalam istilah agama ) adalah pembuktian akan keberadaan Dzat yang maha sempurna dan tidak terbatas. Dan kelaziman dari ketidak terbatasanNya adalah keesaanNya. Dalam salah satu hadistnya : “mengetahuinya berarti mengesakannya[14] ( seperti argumentasi yang dikemukakan oleh Mulla Sadra ). Dalam pandangan Ali as. yang dimaksud dengan esa dan satunya Tuhan bukanlah satu dalam bilangan sehingga Dia terpisah dari yang lain dengan batasan, akan tetapi artinya tidak ada sekutu bagiNya dan Tuhan adalah wujud yang bashit dan tidak tersusun dari bagian seperti dalam ucapannya : “Satu akan tetapi bukan dengan bilangan[15]

4. Ikhlas

Tahapan selanjutnya adalah Ikhlas tentang Tuhan ; “kesempurnaan tuahid adalah ikhlas terhadapNya[16] Ibnu Abi Hadid ( diyakini juga oleh Allamah Ja’fari ); maksud dari ikhlas dalam khutbah ini – dengan melihat kalimat-kalimat berikutnya dari khutbah ini- adalah mensucikan ( akhlasha/khalis danestan ) wujud Tuhan dari segala kekurangan dan sifat-sifat salbi.[17]

5. Penafian Sifat

Tuhan merupakan wujud yang mutlak serta maha tidak terbatas, oleh karenanya kekuatan akal dengan konsep-konsep dzihn-nya setiap kali hendak memberikan sifat ( dengan konsep-konsep ) tidak akan bisa mensifati Tuhan dengan sempurna dan mensifati Tuhan dengan apa yang seharusnya. Karena setiap konsep dari satu sifat berbeda dengan konsep dari sifat lain ( terlepas dari misdaq ), maka kelazimannya adalah keterbatasan. Artinya kalau kita memberikan sifat kepadaNya berarti kita telah membandingkan ( satu sifat dengan yang lain atau antara Dzat dengan sifat ). Ketika kita telah membandingkan berarti kita menduakannya, ketika kita menduakannya berarti kita men-tajziah, ketika kita men-tajziah berarti kita tidak mengenalNya dan seterusnya seperti yang uraikan dalam khutbahnya.[18]

Wujud Tuhan yang maha tidak terbatas tidak mungkin bisa diletakkan dalam satu wadah, baik wadah berupa suatu wujud atau dicakup dalam wadah berupa konsep kulli yang dihasilkan dari perbuatan akal. Oleh karenanya golongan yang meyakini adanya hulul pada dzat Tuhan, mereka telah membatasi Tuhan dalam satu wujud makhluk tertentu.

Seperti keyakinan bahwa Isa as. atau Ali as. adalah wadah bagi wujud Tuhan, sangat jelas bahwa pandangan seperti itu sudah menyimpang dari Tauhid dan bertentangan dengan akal serta teks-teks agama seperti ucapan Ali as. : “ barang siapa yang berkata bahwa Tuhan ada pada sesuatu maka ia telah menyatukanNya dengan sesutau itu, dan barang siapa yang menyatakan bahwa Tuhan diatas ( diluar ) dari sesutau berarti ia telah memisahkan Tuhan darinya “. Wujud yang maha tidak terbatas, tidak berakhir dan memiliki wahdat ithlaqi memiliki dua kekhususan; pertama ‘ainiah wujudi dan hadir secara wujud dengan semua makhluk sebagai tajalli isim-Nya akan tetapi tidak dalam artian hulul.

Kedua : fauqiah wujudi , karena wujudnya yang tidak terbatas tidak mungkin bisa dibatasi hanya pada makhluk yang terbatas ( hulul ). Artinya wujud mutlak ini selian hadir di dalam wujud makhluk juga berada di luar wujud makhluk, sebab kalau tidak maka wujudNya akan terbatas. Seperti yang diutarakan oleh Imam Husein bin Ali as. ketika menafsirkan ayat “ Allah al-shamad “ maknanya adalah “ laa jaufa lahu “ atau wujudNya tidak memiliki kekosongan artinya tidak ada bagianpun dari wujud ini yang kosong dariNya.

Hal ini juga dijelaskan dalam khutbah selanjutnya : “ bersama segala sesuatu akan tetapi tidak dengan muqaranah dan bukan segala sesuatu akan tetapi tidak jawal dan terpisah darinya.

Kesimpulannya bahwa filsafat yang bersenjatakan akal dengan segala kekuatannya tidak akan bisa memahami Tuhan dengan apa adaNya ( ihathah ). Begitu pula kekuatan amal manusia yang terbatas, lewat irfannya, tidak akan sampai pada shuhud dan hudzur pada kedalaman sifat dari wujud yang maha Agung ini. Pengetahuan manusia tentang Tuhan selalu diiringi dengan pengakuan ketidak mampuan dan kelemahan.

Pada kutbah lain Ali as. berkata : “kekuatan fikr manusia tidak sampai kepada sifatNya, dan hati tidak akan bisa meraih kedalamNya[19] penjelasan lain dari penafian sifat, adalah menafikan sifat sebagai sesuatu yang terpisah dari mausuf. Penafsiran ini dikuatkan oleh kalimat sesudahnya : “dengan kesaksian bahwa setiap sifat bukanlah mausuf dan setiap mausuf bukanlah sifat “ atau kalimat sebelumnya dari khutbah ini : : “Dzat yang sifatnya tidak memiliki batasan yang membatasinya”

.

Banyak  terjemahan  Al Quran  Sunni  menerjemahkan  Istawa’   sebagai  Bersemayam … Sehingga  terjemahan  Al Quran  Sunni  menyatakan  Allah  bersemayam  diatas  arsy

Ini   sangat  aneh, karena  mayoritas  kaum  tasawuf  asy’ariyyah  maturidiyyah  menyatakan  bahwa  Allah  tidak  bertempat…. Antara  terjemahan  Quran  dengan  akidah   sunni  kok  berbeda ?????????????

Banyak  web  sunni  yang  mengkufurkan  Akidah  Allah  bertempat  !!!

Tapi  anehnya Abu  Hasan  Al  Asy’ari   menyatakan  Allah  berada  diatas  arsy  dan arsy  lebih  besar  dari  Allah  serta  fungsi  arsy  sebagai  tempat  bersemayam !!! Abu Hasan  Al  Asy’ari  dan Hambaliyyah  menyatakan  Allah  dibatasi  oleh  bagian  tertinggi   arsy…

Antara  ajaran gembong  pendiri  mazhab  yaitu Abu  Hasan  Al  Asy’ari    dengan pengikutnya  berbeda.. Tapi  pengikut  asy’ari  hanya  berani  mengkufurkan  WAHABi  SALAfi  Wahabi  dan  tidak  berani  mengkufurkan Abu  Hasan  Al  Asy’ari… Kalau  ajaran   gembong  pendiri  mazhab yaitu Abu  Hasan  Al  Asy’ari    bisa  dibantah  pengikut nya  maka  SANG  PEDOMAN  bisa salah  bisa  benar …

Lalu  bagaimana  sikap   syi’ah  imamiyah  ??????????

JAWABAN :

SYi’AH   iMAMiYAH  menerjemahkan  Istawa’  sebagai  Sempurna  atau  Menyempurnakan.. Ini  sesuai  kaidah  tata bahasa Arab dan  bukan  ta’wil  akal- akalan

Jadi  tsumma  istawa  ‘alaa  al  arsy   itu  bermakna  Allah  menyempurnakan                         ( penciptaan  dari  bumi  dan  langit  langit  hingga  ke  arsy )

Allah  SWT  tidak perlu  naik  ke  arsy  atau  turun ke bumi  untuk menyempurnakan proses  penciptaan  langit  dan  bumi… Kalau  dikatakan Allah  naik  atau  turun  dari  langit  ke bumi dan  sebaliknya  berarti  Allah  lebih  kecil  dari  langit  dan  bumi…

Secara  inkonsisten  mazhab sunni  menerjemahkan istawa’  sebagai bersemayam, padahal  bersemayam  artinya  bertempat..

Ketika  berhadapan  dengan  ayat  Qs. Al Fath  ayat  29, Qs. Al Qashash ayat  14, dan  Qs. An Najm  ayat  6  maka  ulama  sunni  kebingungan !!!

Berikut  ini  kita telusuri  perkataan Istawa’  dalam  Al Quran  satu demi  satu

——————————————————————————————————————–

Fastwa  ‘alaa  suwqihii

Terjemahan Sunni :

Qs. Al Fath  ayat  29 : “seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya”

Terjemahan Sunni :

Qs. Al Fath  ayat  29 : “seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan sempurna di atas pokoknya”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Al Qashash  ayat  14 : “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Al Qashash  ayat  14 : “Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan ke- padanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan”

Catatan : Sempurna  dalam Qs. Al Qashash  ayat  14  Menurut  syi’ah adalah  mencapai  kedewasaan

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. An Najm  ayat  6 : “yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli”

Terjemahan  Syiah :

Qs. An Najm  ayat  6 : “yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang  sempurna”

————————————————————————————————

Tapi   anehnya  terjemahan  istiwa’ versi Al Quran terjemahan mazhab  sunni   pada  ayat  ayat  lain  menjadi  sangat  aneh  !!  Terjemahan Quran  Sunni  menterjemah  istiwa’  sebagai  bersemayam !!!

Simak  :

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Thaahaa ayat 5. : “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Thaahaa ayat 5. : ““(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang menyempurnakan ( penciptaan )  hingga  ke arsy”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Al Baqarah  ayat  29 : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit.”

Terjemahan  Syi’ah  :

Qs. Al Baqarah  ayat  29 : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia  menyempurnakan nya  hingga ke langit, lalu sempurnalah menjadi   tujuh langit”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

QS. Al  A’raf  Ayat  54 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy”

Catatan :

Menurut  Terjemahan  Sunni  : Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya

Terjemahan  Syi’ah  :

QS. Al  A’raf  Ayat  54 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia  menyempurnakan nya hingga  keatas arsy

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Yunus ayat  3 : “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Yunus ayat  3 : “”Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy untuk mengatur  segala  urusan””

Catatan : Menurut  syi’ah  makhluk  yang  berada  di arsy  adalah  malaikat  tertentu… Allah  SWT  tidak  bertempat  di arsy

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Ar Ra’d   ayat  2  : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Ar Ra’d   ayat  2  : “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia  menyempurnakan nya hingga ke arsy”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Al Furqaan  ayat  59 : “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy”

Terjemahan  Syiah :

Al Furqaan  ayat  59 : “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. As Sajdah  ayat  4  : “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy”

Terjemahan  Syiah :

Qs. As Sajdah  ayat  4  : “Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia menyempurnakan nya hingga ke arsy”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Fushshilat ayat  11 : “Kemudian Dia menuju ke langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Fushshilat ayat  11 : ““Kemudian Dia menyempurnakan ( penciptaan ) hingga  langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Al Hadiid  ayat  4 : “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Al Hadiid  ayat  4 : “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia menyempurnakan ( penciptaan ) hingga  arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya . Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”

——————————————————————————————————————–

Terjemahan  Sunni :

Qs. Maryam  ayat  17  : “maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kamikepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna”

Terjemahan  Syiah :

Qs. Maryam  ayat  17  : “maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kamikepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna”

.

Abu  Hasan  Al  Asy’ari  menyatakan : “Allah  bersemayam di atas  singgasana Nya, Dia  mempunyai  sepasang  tangan  tetapi bukan  sebagai  pemilikan, Dia  mempunyai  mata tetapi  bukan  sebagai  cara, dan  Dia  mempunyai  wajah”( Kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin  karya  Abu  Hasan  Al  Asy’ari  ) ….

Memang, pemahaman  metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali  dan  abu  Hasan  Al   Asy’ari   cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah… Anehnya  pengikut   asy’ari   mengkafir kan  ajaran  Asy’ari  Sang  Gembong  Pendiri  Mazhab  !!!!!

Hambaliyyah  dan  Asy’ari   berpendapat  bahwa  derajat  keagungan  Allah  mempunyai  batas  yang  berdekatan  dengan  bagian  paling  tinggi  dari  singgasana  Nya….

Imam  Ali  bin  Abu  Thalib  menolak  pandangan  kejasmaniahan  Allah  dan  menempatkan  Allah  diatas  kualitas kualitas yang  dapat  disifatkan  pada  makhluk Nya :

“”Mereka  yang  mengklaim  dapat  disamakan  dengan  Mu  menzalimi  Mu  ketika  menyamakan  Mu  dengan  berhala berhala  mereka, secara  keliru  melekatkan  pada Mu  suatu  sifat  yang  mungkin  cocok  bagi  ciptaan Mu, dan  secara  tersirat  mengakui  bahwa  Engkau  tersusun  dari   bagian  bagian  seperti  hal  hal  material ( Kitab  Nahj  Al  Balaghah  halaman  144 )

Syi’ah  menolak  kejasmaniahan  Allah…

Salafi  mengambil   arti  lahiriah, sedangkan  syi’ah  mengambil  arti  majazi  (kiasan)…

Syi’ah  menolak  hal  hal  material  seperti  kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan  komposisi  pada  Allah  SWT

………………………………………………………..

Dimanakah  Allah?

Pertanyaan “Dimanakah Allah?” adalah pertanyaan salah yang tidak perlu terhadap jawaban, bahkan tidak memiliki jawaban sama sekali. Pertanyaan yang salah harus diluruskan terlebih dahulu, bukan dijawab. Karena memaksaan diri untuk memberi jawaban dari pertanyaan yang salah akan mengarah kepada jawaban yang salah pula. Ini pun merupakan salah satu bukti akan keotentikan hukum kausalitas.

Hukum kausalitas (sebab-akibat) merupakan hal yang aksiomatis di alam semesta ini. Dengan hukum ini pula alam semesta tercipta. Hukum ini terdiri dari dua hal; ‘sebab’ dan ‘akibat’. Dalam kajian filsafat disebutkan beberapa kekhususan yang dimiliki oleh hukum ini termasuk bahwa; ‘sebab’ harus ‘ada’ (eksis) terlebih dahulu dari ‘akibat’. Dan, segala kesempurnaan eksistensial ‘akibat’ harus dimiliki oleh ‘sebab’, bahkan ‘sebab’ harus memilikinya dengan bentuk yang lebih sempurna dari apa yang dimiliki oleh ‘akibat’.

Dalam kajian teologi falsafi telah disebutkan bahwa, mata rantai penciptaan alam harus berakhir pada satu titik dimana tiada lagi esensi lain yang menjadi pencipta titik tersebut. Jika tidak, niscaya akan berakhir pada terjadinya dua kemungkinan; ‘mata rantai penciptaan yang tiada berakhir’ (tasalsul) dan atau ‘perputaran mata rantai penciptaan’ (daur) dimana kedua hal tersebut –dengan berbagai argumen yang telah dijelaskan secara terperinci dalam berbagai buku teologi dan filsafat- dinyatakan sebagai hal yang mustahil terjadi. Titik akhir dari mata rantai penciptaan itulah yang dalam bahasa agama disebut dengan Tuhan, atau dalam agama Islam biasa disebut dengan Allah SWT.

Allah SWT adalah kausa prima, prima dalam arti yang sesungguhnya. Oleh karenanya, segala atribut kesempurnaan eksistensial makhluk di alam semesta yang merupakan obyek ciptaan-Nya harus pula dimiliki oleh esensi-Nya, bahkan dengan bentuk yang lebih sempurna. Karenanya, semua atribut kesempurnaan Allah SWT selalu didahului dengan kata ‘Maha’. Kata itu (Maha) meniscayakan ketiadaan segala bentuk ‘kekurangan’ pada esensi sejati-Nya. Sekecil apapun kekurangan yang akan disematkan pada Allah SWT maka akan meniscayakan ketidaklayakan-Nya untuk menyandang titel ‘Maha’. Salah satu bentuk kekurangan adalah memiliki ‘sifat-sifat kekurangan’ yang dimiliki oleh hasil ciptaan-Nya (makhluk), termasuk sifat ‘membutuhkan kepada selain-Nya’ dan atau ‘memiliki sifat kekurangan makhluk-Nya’.

Salah satu hasil ciptaan (makhluk) Allah SWT adalah tempat. Pertanyaan tentang tempat selalu dimulai dengan ‘dimana’. Jika ditanya tentang dimana Allah SWT maka hal itu sama dengan menyatakan bahwa Allah SWT membutuhkan tempat dan atau esensi diri-Nya memerlukan sesuatu yang lain yang bernama ‘tempat’. Padahal tempat adalah salah satu makhluk-Nya. Apakah mungkin Allah SWT Pemilik segala bentuk kesempurnaan dan Yang dijauhkan dari segala bentuk kekurangan lantas memerlukan terhadap selain-Nya, padahal segala sesuatu selain Allah SWT adalah makhluk dan hasil ciptaan-Nya? Dengan kata lain, apakah mungkin Allah SWT memerlukan terhadap makhluk-Nya? Tentu jawabannya adalah, mustahil Allah SWT memerlukan terhadap selain-Nya. Itu kemungkinan pertama.

Kemungkinan kedua adalah, Allah SWT memiliki sifat kekurangan, persis seperti makhluk-Nya (padahal dalam ayat al-Quran disebutkan bahwa, “Tiada satupun yang menyamai-Nya”). Bagaimana tidak? Sewaktu Allah ada di suatu tempat maka hal itu meniscayakan bahwa Ia seperti makhluk-Nya; perlu terhadap tempat, bisa di tunjuk dalam arti berada di suatu arah tertentu dan dalam waktu yang sama tidak ada di arah lain dimana hal itu memberikan konsekuensi bahwa Allah SWT tersusun dan memiliki anatomi tubuh (jisim), persis keyakinan anthromorpisme Yunani klasik.

Kemungkinan ketiga adalah, jika Allah SWT bertempat maka hal itu meniscayakan ketidak-aksiomatisan hukum kausalitas yang telah disinggung di atas. Karena bagaimana mungkin Allah SWT harus bertempat sedang tempat adalah hasil ciptaan-Nya yang pastinya ‘ada’ (eksis) pasca keberadaan Allah SWT? Lantas sebelum Allah SWT menciptakan tempat, dimanakah Allah bertempat?

Oleh karenanya, pertanyaan “Dimanakah Allah?” adalah pertanyaan salah yang tidak perlu terhadap jawaban, bahkan tidak memiliki jawaban sama sekali. Pertanyaan yang salah harus diluruskan terlebih dahulu, bukan dijawab. Karena memaksaan diri untuk memberi jawaban dari pertanyaan yang salah akan mengarah kepada jawaban yang salah pula. Ini pun merupakan salah satu bukti akan keotentikan hukum kausalitas.

Atas dasar itu, para Imam Ahlul Bayt menjelaskan bahwa ‘tempat’ adalah makhluk Allah SWT yang Allah tidak akan pernah membutuhkan selain-Nya (makhluk). Dalam menjawab pertanyaan “Dimanakah Allah?”, Imam Ahlul Bayt -seperti yang disinyalir dalam kitab tauhid as-Shoduq- mengatakan: “Allah adalah Dzat yang menjadikan dimana sebagai dimana. Lantas apakah mungkin Allah disifati (ditanya tentang) dengan kata dimana?”. Yang benar adalah, Allah tidak menempati sesuatu apapun dan Dia Maha meliputi atas segala sesuatu, sebagaimana yang dinatakan dalam al-Quran dengan ayat “Wa Kaanallahu bikulli Syai’in Muhiith” (Dan Allah melingkupi segala sesuatu /QS an-Nisaa:126). Adapaun ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Allah SWT dalam mengatur alam semesta duduk di atas Arsy (singgasana), maka ayat-ayat itu harus ditakwil –spt: singgasana sebagai simbol kekuasaan- sehingga tidak bertentangan dengan ayat “Tiada apapun yang menyamai-Nya” (Laisa Kamistlihi Syai’) dan ayat yang telah disinggung di atas tadi. Jika ayat al-Quran harus ditakwil agar tidak bertentangan dengan ayat lainnya, apalagi hadis-hadis yang menjelaskan tentang hal itu, lebih utama untuk ditakwil. Jika tidak mampu untuk ditakwil maka kita singkirkan jauh-jauh hadis tersebut dari file kita, walaupun hadis tersebut terdapat dalam kitab standart dan pustaka agama kita, karena bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran

Merubah kabar dari Allah ataukah menjelaskan hakekat di balik teks kabar, dua hal yang berbeda lho!? Ketika kita menerima secara literal/tekstual maka justru akan menjerumus kan kita pada Anthropomorpisme (jismiyah/musyabbihah) yang bertentangan dengan kehendak Ilahi yg disampaikan-Nya dalam ayat al-Quran dan melalui hadis-hadis Rasul, sesuai dengan pemahaman para ulama Islam. Akal pun menguatkan apa yang telah dijelaskan oleh teks-teks agama tadi.

Memang, pemahaman dan metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali yang cenderung tekstual/literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah.

“Di Manakah Allah sWt”?

TernyaTa jawaban aNda teLah di jawab oLeH Allah sWt berabad-abad LamaNya YaiTu daLm ALQuran. Allah sWt berfirMan: “JIKA HAMBA HAMBAKU BERTANYA TENTANG AKU KEPADAMU (Muhamad) MAKA KATAKANLAH AKU INI DEKAT KEPADANYA” (Q.S al-BaQarah 186)

dalam ayaT Lain allah SWt berfirMan: ” DAN AKU LEBIH DEKAT KEPADAMU DARI PADA URAT LEHERMU” ( Q.S Qaf 16 )

dekat  di atas  bermakna  kiasan, misal : Saya  dekat  dengan  ayah  saya, walaupun  ayah  saya  di  Papua  dan  Saya  di  malaysia  maka  kami  tetap dekat

Padahal langit tidak mesti memiliki arti yang dipahami oleh awam, lawan dari bumi materi yang bulat ini. Padahal jika ditarik ke atas maka langit Amerika berbeda dengan langit Indonesia, karena bumi bulat. Lantas di langit sebelah manakah Allah? Dan jika Allah di langit maka di bumi ‘kosong’ dari Allah donk?

Dimana itu berarti menanyakan tempat.. Sedang Allah Maha kaya yang tidak memerlukan apapun, termasuk tempat. Jika tidak, maka Allah perlu terhadap tempat tersebut. Sewaktu perlu berarti Allah ‘miskin’ (baca: perlu) terhadap sesuatu yang lain, yang bernama tempat. Selain itu, jika Allah bertempat maka ia terbatas, karena hanya di tempat itu saja, dan tidak ada ditempat lain. Selain itu, jika Allah bertempat maka Allah bisa ditunjuk, ke arah tempat itu, dan ini meniscayakan keterbatasan Allah.

Oleh karenanya dalam banyak teks disebutkan, terkadang dinyatakan bahwa Allah dekat, terkadang Allah di atas, dan terkadang Allah meliputi segala sesuatu yang berarti dimana-mana. Allah dekat bukan berarti kedekatan jarak dan tidak berada di kejauhan. Allah di atas bukan berarti Allh di bawah, di kiri, kanan, depan, belakang tidak ada. Allah dimana-mana bukan berarti Allah banyak atau bergentayangan. Ini semua yang tidak mungkin terjawab hanya berbekal metodology tekstual sebagaimana pengikut mazhab Ahli Hadis. Hanya kajian dengan metology pengawinan antara teks dan akal saja yang bisa menjawabnya. Ini yang diajarkan dalam mazhab Ahlul Bait AS.

Umat Islam sekarang ini sangat membutuhkan penjelasan aqidah dikarenakan banyak nya sekte – sekte baru yang sesat dan berkedok Islam seperti kelompok Musyabbihah (yang  menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), Mujassimah (meyakini bahwa Allah merupakan benda), Mu’aththilah (menafikan keberadaan Allah),  Wahdatul Wujud (meyakini bahwa Allah inti dari alam sedangkan makhluk adalah bagian dari Allah), Hulul (meyakini bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya) dan lain-lain.

Sesuatu yang patut disayangkan adalah merebaknya paham paham yang berseberangan dengan aqidah Ahlussunnah dengan klaim sebagai Ahlussunnah. Seperti paham yang mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas ‘Arsy atau Kursi (sebagian mereka menyatakan di langit)………

Tidak sepatutnya seseorang muslim yang mendengar kisah mi’raj mengenai naik dan turunnya Junjungan Nabi SAW ke langit menyangka bahawa antara hamba dan Tuhan Nya terdapat jarak yang tertentu yang dapat dijangkau, kerana sangkaan yang sedemikian adalah suatu kekufuran, yang mana kita berlindung dengan Allah daripada nya. Bahawasanya naik dan turun ini hanya dinisbahkan kepada hamba (yakni Junjungan Nabi SAW) dan bukannya kepada Tuhan.

Allah tidak diliputi tempat dan tidak diliputi arah…. Allah tidak diliputi tempat dan tidak diliputi arah karena tempat adalah makhluk, maka Allah tidak menempati makhluk..Kita mengangkat tangan ke langit ketika berdoa bukanlah kerana Allah berada dilangit akan tetapi kita mengangkat tangan ke langit kerana langit merupakan kiblat bagi doa, tempat terkumpulnya banyak rahmat dan berkat. Sepertimana kita menghadap ke arah ka’bah ketika shalat tidaklah bererti Allah itu berada di ka’bah akan tetapi kerana ka’bah itu kiblat bagi solat. Inilah yang telah dinyatakan oleh para ulama Islam. Kenapa shalat hadap kekiblat, katanya Allah diatas ? ingat Langit hanyalah kiblat Do’a, bukan tempat bersemayam Allah… Kalau Allah di langit, sebelum ada langit Allah di mana yah?

Terdapat satu hadits yang diguna oleh golongan wahhabi untuk mengatakan Allah berada di langit iaitu Hadits Al-Jariyah. Hadis Al-Jariyah sebuah hadis yang mengandungi peristiwa pertanyaan Rasulullah kepada seorang jariyah (hamba perempuan) yang telah diriwayatkan dalam pelbagai lafaz oleh beberapa ulama hadis seperti al-Imam Muslim dalam kitabnya Sahih Muslim, Bab Tahrim al-Kalam fi al-Salah, al-Imam Abu Dawud dalam kitabnya Sunan Abi Dawud, Bab Tashmit al-^Atish dan Bab fi al-Raqabati`l-Mu’minah, al-Imam Malik dalam kitabnya al-Muwatta’, Bab Ma Yajuz Mina`l-^Itq fi al-Riqab al-Wajibah, al-Imam al-Bayhaqi, al-Imam Ahmad, al-Imam Ibn Hibban dan lain-lain lagi.

Hadits Jariyah ini bukan Bermakna Zat Allah bertempat di atas langit.
Maknanya : Rasululullah bertanya “dimanakah ( pusat pemerintahan ) Allah ??”
Lalu si budak menjawab : “di langit”

Ainallah adalah suatu pertanyaan tentang dimanakah ( pusat pemerintahan ) Allah ???? jawaban nya: yaitu di arsy di langit..Ainallah bukannya bermaksud Zat Allah bertempat di langit

Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya salah seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah dengan membawa seorang hamba sahaya berkulit hitam, dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba sahaya yang mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini mukminah maka aku akan memerdekakannya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia (budak) menjawab: “Ya”, Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul (utusan) Allah? Ia menjawab: “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Apakah engkau beriman terhadap hari kebangkitan setelah kematian? ia menjawab : “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Merdekakanlah dia”.

Dalil dalam Alquran dan Alhadith daripada nas-nas menunjukkan Allah ‘azza wajalla di langit, maka ketahuilah bahawa maksunya ketinggian martabat, kemulian, kehebatan dan penguasaan kerana Allah tidak menyerupai makhlukNya, tidaklah sifatNya seperti sifat makhluk, tidaklah sifat Pencipta bersamaan dengan sifat makhluk yang berkaitan dengan kelemahan bahkan Allah itu bagiNya sifat sempurna daripada nama-nama yang muliaNya…Arasy adalah PUSAT PEMERiNTAHAN ALLAH yang dikendalikan oleh 8 malaikat.. Allah tidak naik keatas arsy

yang mana Dialah Tuhan yang apabila seseorang memohon kepadaNya maka dia menghadap ke langit sebagaimana apabila seseorang sembahyang dia menghadap kaabah, dan tidaklah perlakuan sedemikian ini (yakni menghadap ke langit ketika berdoa atau menghadap kaabah ketika bersholat) , perbuatan menghadap ke langit itu adalah kerana langit itu adalah kiblat orang yang berdoa sebagaimana kaabah itu kiblat bagi orang yang sholat.

Berbalik kepada hadits jariah tadi, maka selain penjelasan di atas, ada lagi penjelasan dan keterangan lain daripada para ulama kita dari berbagai aspek bahasannya. Dari semua penjelasan tersebut, maka mereka menyimpulkan bahawa apa yang dimaksudkan oleh hadits tersebut bukanlah menetapkan tempat bagi Allah.

Dan tidaklah tepat baginya untuk menjadikan hadits jariah ini sebagai hujjah untuk mensabitkan bahawa Allah bertempat di langit. Apatah lagi hadits ini walaupun shohih tidaklah mencapai darjat mutawatir. Maka apa caranya dia hendak menjadikan hadits ini sebagai hujjahnya untuk menyesatkan orang yang tidak sependapat dengan i’tiqad hasywiyahnya itu. Perkara ini adalah antara kesimpulan yang telah ditekan dan diperjelaskan oleh mantan Mufti Tunisia, Syaikh Muhammad Mukhtar as-Salaami (hafizahUllah).

Bahkan, jika dilihat “Shahih Muslim”, kita dapati bahawa Imam Muslim rhm sendiri tidak meletakkan hadits ini dalam kitab al-iman atau bab-bab yang berhubung dengan keimanan dan pegangan aqidah tetapi beliau meletakkannya dalam bab fiqh berhubung hukum hakam sembahyang iaitu kitab al-masaajid wa mawaadhi` ash-sholaah, bab tahriim al-kalaam fi ash-sholaah wa nasakha maa kaana min ibaahatih (kitab mengenai masjid-masjid dan tempat-tempat sembahyang, bab haram berkata-kata dalam sembahyang serta menasakhkan riwayat yang mengharuskan berkata-kata dalamnya). Maka isyaratnya ialah hadits ini hanyalah untuk dijadikan hujjah dalam bab-bab fiqh semata-mata.

Antara dalil yang biasa dikemukakan oleh puak hasywiyah bagi menetapkan Allah bertempat di langit ialah Hadits Jariah. Maka dijajalah hadits ini ke sana ke mari untuk menegakkan pegangan mereka bahawa Allah itu mengambil tempat di langit, subhanAllah. Maka ramai, kalangan awam terpengaruh dengan kalam fahisy mereka ini, serta beri’tiqad bahawa Allah itu di langit

Tafsir Hadist mutasyabihat “Disayangi Penduduk langit”
Artinya : Sayangilah penduduk Bumi maka akan disayangi oleh Penduduk langit ( HR. Tirmidzi )

Tafsir  Ayat  Mutasyabihat   LAFADZ   “MAN   FiSSAMA-i   DALAM  AL   MULK   ayat 16 “

Lafadz “Man fissamaa-i ” bermakna Penduduk langit /malaikat.. Jadi maksud hadist ini adalah Jika kalian menyayangi penduduk bumi maka Malaikat yang dilangit akan menyayangi kalian.

Ayat tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit.. Perkataan ‘man’ yaitu ‘siapa’ dalam ayat tadi berarti malaikat bukan berarti Allah berada dan bertempat dilangit..  “Perkataan ‘siapa’ pada ayat tersebut berarti malaikat”… Kemudian, yang berada dilangit dan bertempat dilangit bukanlah Allah tetapi para malaikat

Ketahuilah bahawa tempat tinggal para malaikat yang mulia adalah di langit pada setiap langit penuh dengan para malaikat manakala bumi terkenal dengan tempat tinggal manusia dan jin. Maha suci Allah dari bertempat samaada di langit mahupun di bumi.

Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan man fissamawati (yang dilangit), penduduk langit dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) : “walillahi yasjudu man fissamawati wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”

Artinya : “Apa yang di langit dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau atau tidak mau, demikian juga bayang-bayang mereka diwaktu pagi dan petang (Qs. arra’du ayat 15)

“Apa yang di langit (man fisamawati) dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau” (adalah seperti orang beriman) “atau tidak mau” (sperti orang munafiq dan orang yang ditakut-takuti (untuk sujud) dengan pedang).

“Yang dimaksud (man fissama-i atau yang dilangit) dalam ayat tersebut adalah malaikat”. Ayat tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit.

Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan man fissamawati (yang dilangit), penduduk langit dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) : “walillahi yasjudu man fissamawati wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”

Mukhalafatuhu Lil Hawaditsi : Dan maknanya : Bahawasanya Allah Taala tiada bersama ia dengan segala yang baharu, tiada pada zatNya, dan tiada pada sifatNya dan tiada pada af’alNya (perbuatanNya). Maka zat Allah tiada menyerupa akan dia segala zat yang baharu, dan sifatNya tiada menyerupa akan dia akan segala sifat-sifat yang baharu, dan perbuatanNya tiada meyerupa akan dia akan segala perbuatan yang baharu, dan setiap barang yang terlintas dengan hati seorang kita akan sesuatu maka bahawasanya Allah Taala itu bersalahan baginya kerana sekalian itu baharu

Dan tiada Allah Taala itu bertempat, dan tiada Ia di atas, dan tiada Ia di bawah, dan tiada ia di kanan, dan tiada di kiri, dan tiada pada hadapan, dan tiada di belakang, kerana adalah sekalian itu melazimkan jirim, dan Allah Yang Maha Suci tiada berjirim, dan tiada Aradh. Kerana adalah segala yang baharu itu terhingga atas dua perkara iaitu jirim dan aradh maka tempat dan berubah itu sifat jirim dan sifat aradh. Demikian lagi besar dan kecil itu sifat jirim yang banyak dan sedikit kerana jikalau banyak jirim dinamakan besar dan yang sedikit dinamakan kecil. Dan berubah itu sifat aradh seperti gerak dan diam maka kedua-duanya itu daripada kelakuan yang baharu dan Allah Yang Maha Suci itu Qadim tidak boleh disifatkan dengan segala sifat yang baharu. Dan barangsiapa menghinggakan zat Allah Taala pada tempat maka tiada syak ia pada kufurnya seperti katanya allah taala itu terhingga di atas langit atau pada bumi.

Barangsiapa yang meninggalkan empat perkara ini sempurna imannya, dan iaitu (kam ),dan (kaif), dan (mata), dan (aina), maka adapun (kam) maka dinyatakan dengan dia menuntut kenyataan bilangan maka jika dikata orang ; Kamillah ? Yakni “ berapa Allah?” maka jawab olehmu : iaitu wahid yakni Esa pada zatNya dan pada sifat-sifatNya dan pada perbuatanNya. Dan (kaif) iaitu ditanya dengan dia daripada kaifiat maka jika ditanya orang : kaifallah? Yakni “ betapa Allah (bagaimana rupa Allah?)” maka jawab olehmu ; tiada mengetahui seseorang akan hakikat zat Allah melainkan Ia jua. Dan (mata) itu tiada dengan dia daripada zaman (masa) maka jika dikata orang : Matallah? Artinya ; manakala didapati Allah? (bilakan Allah Taala wujud?) maka jawab oleh mu : Allah Taala itu awalnya tiada permulaan dan akhir tiada kesudahan. Dan (aina) dan tiada dengan dia daripada makan (tempat), maka jika dikata orang : Ainallah? (di mana Allah?) maka jawab oleh mu : Allah itu tiada bertempat dan tiada dilalu atasnya masa kerana zaman (masa) dan makan (tempat) baharu keduanya.

Bermula Allah taala itu Qadim dan yang Qadim tiada berdiri dengan yang baharu dan barangsiapa yang menyerupakan Allah , Tuhan yang bersifat dengan Rahman dengan suatu maka tiada syak pada kufurnya. Maka takut olehmu akan diri kamu dan pelihara akan dia daripada menyerupa ia akan Allah dengan suatu bahagi daripada bahagi yang baharu ini maka demikian itu kufur. Dan sungguhnya wajib bagi Allah itu mukhalafah (bersalahan) bagi segala yang baharu kerana bahawasanya jikalau menyama ia akan dia nescaya adalah baharu seumpamanya. Dan telah terdahulu pada burhan wajib qidamnya dan baqa’nya dan wajiblah ia bersifat Mukhalafatuhu Lil Hawwaditsi, dan apabila sabitlah baginya Mukhalafatuhu Lil Hawwaditsi nescaya nafilah daripadanya Mumatsilah Lil Hawaditsi ( bersamaan Allah pada segala yang baharu)

Salafi menyatakan Allah bersemayam di atas Arsy, benarkah ???

Jawab :

Istiwa’ bermakna : Menyempurnakan atau sempurna

Ada 12 tempat kata istiwa’ dalam Al Quran

Jadi istiwa’ bukan bermakna bersemayam atau mendiami seperti tuduhan Wahabi

Allah beristiwa’ diatas arsy, maksudnya ; Allah menyempurnakan (penciptaan) hingga ke arsy….

Allah menciptakan langit dan bumi  kemudian istiwa’ (menyempurnakan) hingga atas arsy…

Jadi bukan ZAT ALLAH bersemayam/bertempat diatas arsy.. Zat Allah bukan bertempat di langit..

Langit adalah materi/makhluk… Allah tidak bertempat pada makhluk..

Mutasyabihat artinya nash-nash al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang dalam bahasa arab mempunyai lebih dari satu arti dan tidak boleh diambil secara zhahirnya, karena hal tersebut mengantarkan kepada tasybih (menyerupa kan Allah dengan makhluk-Nya), akan tetapi wajib dikembalikan maknanya sebagaimana perintah Allah dalam al Qur’an pada ayat-ayat yang Muhkamat, yakni ayat-ayat yang mempunyai satu makna dalam bahasa Arab, yaitu makna bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu dari makhluk-Nya.

Ayat Istiwa’
Di antara ayat-ayat Mutasyabihat yang tidak boleh diambil secara zhahirnya adalah firman Allah ta’ala (surat Thaha: 5):

Ayat ini tidak boleh ditafsirkan bawa Allah duduk (jalasa) atau bersemayam atau berada di atas ‘Arsy dengan jarak atau bersentuhan dengannya. Juga tidak boleh dikatakan bahwa Allah duduk tidak seperti duduk kita atau bersemayam tidak seperti bersemayamnya kita, karena duduk dan bersemayam termasuk sifat khusus benda

Dengan ini diketahui bahwa tidak boleh berpegangan kepada “al Qur’an dan Terjemahnya” yang dicetak oleh Saudi Arabia karena di dalamnya banyak terdapat penafsiran dan terjemahan yang menyalahi aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti ketika mereka menerjemahkan istawa dengan bersemayam, padahal Allah maha suci dari duduk, bersemayam dan semua sifat makhluk. Mereka juga menafsirkan Kursi dalam surat al Baqarah:255 dengan tempat letak telapak kaki-Nya, padahal Allah maha suci dari anggota badan, kecil maupun besar, seperti ditegaskan oleh al Imam ath-Thahawi dalam al ‘Aqidah ath-Thahawiyyah.

Imam Ali  bin Abu Thalib  mengatakan: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

Imam Ali  bin Abu Thalib  turut menjelaskan:
” Akan kembali satu kaum dari umat ini ketika hampir hari kiamat kelak mereka menjadi kafir, lantas sesorang lelaki bertanya: ‘ Wahai amirul mu’minin! Kekufuran mereka itu disebabkan apa? kerana mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama atau mengingkari sesuatu dalam agama?’ Saidina Ali menjawab: Kekufuran mereka kerana mengingkari sesuatu dalam agama iaitu mereka mengingkari Pencipta mereka dengan menyifatkan Pencipta itu berjisim dan beranggota”. (Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mu’allim Al-Qurasyi dalam kitabnya berjudul Najmul Muhtady Wa Rajmul Mu’tady)

Inkonsistensi Orang yang Memahami Ayat Istiwa’ secara Zhahirnya Dan orang yang mengambil ayat mutasyabihat ini secara zhahirnya, apakah yang akan ia katakan tentang ayat 115 surat al Baqarah:

Jika orang itu mengambil zhahir ayat ini berarti maknanya: “ke arah manapun kalian menghadap, di belahan bumi manapun, niscayaAllah ada di sana”. Dengan ini berarti keyakinannya saling bertentangan.

Akan tetapi makna ayat di atas bahwa seorang musafir yang sedang melakukan shalat sunnah di atas hewan tunggangan, ke arah manapun hewan tunggangan itu menghadap selama arah tersebut adalah arah tujuannya maka di sanalah kiblat Allah sebagaimana yang dikatakan oleh Mujahid (W. 102 H) murid Ibn Abbas. Takwil Mujahid ini diriwayatkan oleh Bayhaqi dalam al Asma’ Wa ash-Shifat.

ALLAH TiDAK BERTEMPAT

Wahabi menjisimkan Allah dengan cara menyandarkan tempat bagi Allah…

Kalangan Mujassim Musyabbih yang menjisimkan Allah dan menyamakan Allah dengan makhluk.

dan ulama ilmu Islam telah menyatakan : “ Allah telah wujud tanpa bertempat dan Dia tidak berubah sama sekali saat ini ”.Perlu kita fahami bahwa Allah SWT tidak bertempat, jadi Arsy bukanlah tempat atau Istana Allah SWT,.. Allah tidak bertempat, sebab mustahil Allah ditempatkan kepada suatu benda. Allah khaliq sedangkan tempat makhluk. Bagaimana mungkin menempatkan Allah ke dalam sebuah makhluk?

Rasulullah bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari dan al Bayhaqi).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

Dimanakah Allah sebelum diciptakannya semua makhluq (Tempat, arah, arsy dsb) ? setelah Allah ciptakan semua makhluq (langit,arsy,arah,tempat dsb), dimana Allah? Apakah sifat Zat Allah berubah? Sebelum Allah ciptakan semua makhluq (zaman azali) semua makhluq tidak ada (langit,arsy,tempat, ruang,arah,cahaya, atas,bawahpada saat itu dimana Allah?

yang maknanya : “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).

Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

Imam  Ali  Bin  Abu  Thalib  berkata : “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72).

Ingat : Sifat Allah tetap tidak berubah..sifat Allah tdk sama dengan makhluq. Maka orang yang mengatakan tuhan bertempat dan berarah menyalahi sifat wajib salbiyah Allah.

Allah telah sedia ada pada azal lagi, tidak ada siapapun bersama Allah, air belum ada, udara belum ada, bumi belum wujud, langit belum wujud, kursi belum ada, arasy belum ada, manusia belum wujud, jin belum wujud, malaikat belum ada, masa belum ada , tempat belum wujud dan arah juga belum wujud.

Dari segi akal, sebagaimana diterima akan kewujudan Allah ta’ala itu tanpa tempat dan tanpa arah sebelum adanya tempat dan arah maka benarlah kewujudan Allah itu setelah mencipta tempat Dia tidak bertempat dan tidak memerlukan arah.

Al Imam As-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan ukuran)”, beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh” yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. (Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah).

Maksud dari mi’raj bukanlah Allah berada di arah atas lalu Nabi Muhammad naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rasulullah dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al Isra ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekatkepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di saat mi’raj adalah Jibril ‘alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridlainya-,

maka wajib dijauhi kitab Mi’raj Ibnu ‘Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu ‘Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya.

Maka diisra` dan dimi`rajkan Junjungan Nabi SAW dengan menggunakan makhluk seperti buraq dan mi’raj adalah untuk menzahirkan kemuliaan dan ketinggian baginda di antara sekalian makhluk. Inilah hakikat sebenar mi’raj Junjungan SAW ke langit, agar dipersaksikan kepada segala penghuni langit akan darjat ketinggiannya penghulu sekalian makhluk. Tidaklah ia menunjukkan Allah berada di sesuatu tempat di langit

Imam Ja’far As-Shadiq : “ Barangsiapa menganggap Allah itu dalam sesuatu atau daripada sesuatu atau atas sesuatu benda maka dia telah syirik (kafir) kerana sekiranya Allah di dalam sesuatu maka Dia mempunyai ukuran, sekiranya dikatakan Allah atas sesuatu benda maka Dia dipikul dan sekiranya Dia daripada sesuatu maka Dia makhluk”

Sekiranya Allah bertempat maka sudah pasti bagiNya persamaan dan berukuran tinggi lebar, dalam, dan sesuatu yang sedimikian pastinya adalah makhluk yang diketahui ukuran panjangnya, lebarnya, dalamnya.

firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam).. Antara sifat makhluk adalah bergerak,duduk diam, turun, naik, bersemayam, duduk, berukuran, bercantum,berpisah,berubah, berada di tempat,berarah dan lain-lain.

Mukhalafatu lil hawaditsi/berbeda dgn makhluq (Allah beda dgn makhkuq, sedangkan yang bertempat dan berarah adalah benda kasar/makhluq), menyamakan Allah dengan makhluk pada zaman ini iaitu ajaran Wahhabiyah

Allah Maha suci dari Hadd……..
Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga ‘Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.

Imam Ali bin Abu thalib  (40 H) berkata:“ Adalah (Allah azali) tanpa bertempat, dan Dia sekarang seperti mana keadaanNya yang lalu ( wujudnya azali tanpa bertempat)”. ( Lihat Abu Mansur al-Baghdady, Al-Farqu Bainal al-Firaq, ( Kaherah, Percetakan Darul Al-Turats), m/s :356. )

Imam Ali bin  abu  thalib  berkata lagi : “Akan kembali suatu kaum daripada umat ini ketika dekat berlaku hari kiamat menjadi kafir mereka itu, lalu berkata seorang lelaki bertanya : wahai Amir al-Mukminin kekafiran mereka dengan apa, dengan sebab mereka melakukan perkara bida’ah ke dengan sebab keingkaran mereka? Maka berkata (Imam Ali) : Bahkan dengan keingkaran. Mereka mengingkari percipta mereka dan mensifatkanNya dengan jisim dan anggota.” (Rujuk Ibn Al-Mu’allim Al-Qurasyi, Kitab Najmul Muhtady, m/s 588)

Tiada permulaan bagi kewujudan-Nya… Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda.Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda.. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”.

Kalau istiwa’ diartikan ‘bertempat berarti memiliki batasan, dan bila memiliki batasan maka dia kekurangan, dan bila kekuranggan maka dia butuh akan sesuatu’ tentu ini penafsiran yang salah. memang Allah itu tidak bertempat, karena bila Allah bertempat berarti memiliki batasan, dan bila memiliki batasan, maka dia berkekurangan, dan bila kekurangan maka dia butuh akan sesuatu.

Arsy adalah salah satu kekuasaan Allah, bukan berarti Allah bertempat di Arsy

Secara zahir, bahwa syetan itu mencuri berita dari langit memang disebutkan dalam Al-Quran Al-Kariem sendiri. Silahkan Anda buka surat Al-Hijr ayat 16-18.

Dari Aisyah ra bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Para malaikat ketika turun ke awan membacakan urusan-urusan yang telah ditetapkan di langit, datanglah setan mencuri dengar dan disampaikan kepada para dukun dengan membohonginya dengan 100 kebohongan dari diri mereka sendiri. (HR. Bukhari)

Allah bukanlah semacam jisim (rupa) yang dapat digambarkan. Dia tiada menyamai apa pun yang maujud (ada), begitu pula yang maujud itu tiada boleh menyerupaiNya.

Memikul arasy sebagaimana firman-Nya, “Malaikat-malaikat yang memikul arasy dan yang ada berada di sekitarnya sama memahasucikan dengan memuji kepada Tuhan mereka dan mereka pun beriman pada-Nya.” (Q.S. Ghafir:7)

Memikul Arsy juga bermakna mengendalikan, mengatur karena arsy merupakan pusat pemerintahan alam semesta

Pula firman-Nya, “Dan delapan malaikat pada hari itu memikul singgasana Tuhanmu di atas mereka.” (Q.S. Al-Haqqah:17)

Sementara untuk “lebih dekat dari urat leher” itu artinya “kedekatan”. Ayat-ayat semacam ini menurutku tidak merujuk pada entitas fisik,

Al Imam Sayyidina Ali yang: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72)…

Imam  Ali  bin  abu  thalib  berkata lagi: “Sesiapa yang beranggapan bahawa, Tuhan kita mahdud (ada ruang lingkup tertentu atau ada had-had tertentu), berarti dia jahil tentang Tuhan Maha Pencipta lagi Tuhan yang disembah” (hilyatul Auliya’: 1/73)

Imam Ja’far As-Shadiq r.a. berkata: “Sesiapa yang mengatakan bahawa Allah s.w.t. berada pada mana-mana tempat, atau berada atas sesuatu, atau berasal daripada sesuatu, maka dia telahpun syirik…” (risalah Al-Qusyairiyah: 6)

Sekali lagi, lihatlah apa yang dikatakan oleh Imam  Ali bin Abu  Thalib  yang  berkata: “Sesungguhnya Allah s.w.t. menciptakan Arasy, sebagai tanda kekuasaanNya, bukan sebagai tempat untuk Dia duduki” (Al-firaq bainal firaq: 333)

Kalau wahabi memahami istiwa’ itu dengan makna zahirnya, dan Arasy sebagai tempat bersemayam Allah s.w.t., maka secara tidak langsung, telah menetapkan had (limit), ukuran dan batas bagi zat Allah s.w.t., padahal dengan menisbahkan batasan tersebut kepada Allah s.w.t., secara tidak langsung telah menyamakan Allah s.w.t. degan makhluk, kerana hanya makhluk sahaja wujud dengan saiz dan ukuran batas tertentu,

seperti firmanNya: “Setiap sesuatu (dari kalangan makhlukNya) di sisiNya ada kadar ukurannya” (Ar-Ra’d: 8). Maka, ukuran, kadar, saiz, dan bentuk merupakan sifat makhluk, bukan sifat Allah s.w.t. yang Maha Pencipta.

Saudaraku…..
Pusat Pemerintahan Allah di Langit ….

Tuhan yang pusat pemerintahan-Nya di langit

‘Ala dan Fauq itu sendiri maknanya dari sudut bahasa Arab bukanlah semata-mata atas kepada tempat.Orang arab bercakap tentang Ketinggian kedudukan dan status juga dengan menggunakan perkataan “‘ala” dan “fauq”.

Allah fis samaa’ itu bukan bererti Allah di langit secara bertempat, tetapi Allah s.w.t. Maha Tinggi kedudukanNya.

“Telah tetap di sisi ulama’ bahwa Allah tidak diliputi (tidak menempati) langit mahupun bumi. Tidak juga dirangkumi oleh pelusuk tempat. Sesungguhnya, difahami isyarat perempuan  jariyah  tersebut tentang keagungan Allah s.w.t. di sisinya.”

wajib kita beriman bahawa zat Allah s.w.t. itu, tempat tidak meliputiNya.

syi’ah  menafikan tempat bagi Allah s.w.t.. Maknanya, mereka tidak memahami “fis sama’” dan ala al-arasy dengan makna zahirnya

Dalam bahasa Arab, ada bab kalimah.

Setiap kalimah, ada makna.
Kalau satu kalimah tu ada banyak makna, maknanya lafaz musytarak, macam ain, dalam bahasa Arab byk maksud. Mata, mata air, spy dll.

Kalimah itu sendiri dinamakan sebagai lafaz.Dari sudut kefahaman tentang kalimah, ada dua jenis kefahaman.

Pertama, makna hakiki..Iaitu, makna zahir sesuatu perkataan/lafaz menurut bahasanya.Ia digunakan dalam ayat yang biasa.

Kedua, makna majazi…
Iaitu, makna kiasan daripada sesuatu perkataan.Ia digunakan dalam ayat sastera yang dikenali sebagai kaedah kiasan.Makna majazi atau kiasan ini namanya ta’wil.Ini kaedah asas bahasa Arab.

Oleh itu, kita tunjuk contoh bagi kaedah tersebut.

Pertama: Makna hakiki-
Harimau dalam hutan.Lafaz harimau itu boleh membawa kepada makna hakiki kerana tiada sebab yang menyebabkan perlu memalingkannya kepada makna majazi.

Kedua: Makna Majazi:
Harimau memandu kereta.
dalam  hal ini, ia boleh difahami dengan makna lain iaitu kiasan kerana ada sebab yang memalingkannya iaitu logik akal.

Makna kiasannya: Seorang yang garang memandu kereta.Dari sudut ilmu bahasa, makna majazi itu lebih tepat kepada realiti sesuai dengan logik akal. Tapi, kita tak ingkar penggunaan perkataan harimau tersebut. Cuma kita kata, ia hanya kiasan.

Siapa yang kata Allah s.w.t. bertempat dengan ZatNya, maka dia telah menetapkan kejisiman dan tempat bagi Allah s.w.t., sedangkan kita perlu untuk berpegang dengan asas aqidah (iaitu Allah tidak bertempat).

Saya juga nak tanya sebelum Allah mencipta Arsy, Allah ada bagi tau Dia di mana? Ada dalil tak?

Bacalah sahih Al-Bukhari bagi habis. Nabi s.a.w. bersabda:”Sesungguhnya Allah s.w.t. itu wujud, dan tiada yang wujud bersama-sama denganNya..” (Sahih Al-Bukhari)

Al-Imam Saidina Ali  bin  abu  thalib  pernah berkata: “Sesungguhnya Allah s.w.t. itu tidak bertempat. Dia sekarang dalam keadaan seperti mana Dia sebelum ini (iaitu tetap qadim dan abadi tanpa bertempat)”. (Al-firaq bainal Firaq karangan Abu Mansur: 333)
Saidina Ali k.r.w.j. berkata lagi: “Sesungguhnya Allah s.w.t. menciptakan Arasy, sebagai tanda kekuasaanNya, bukan sebagai tempat untuk Dia duduki” (Al-firaq bainal firaq: 333)

Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Husein r.a. (94 H) berkata: “Sesungguhnya, Engkaulah Allah, yang tidak bertempat… Engkaulah Allah yang tidak mempunyai sebarang had” (Ittihaf Saadah Al-Muttaqin: 4/380)

Imam Ja’far As-Shadiq r.a. (148 H) berkata: “Sesiapa yang mengatakan bahawa Allah s.w.t. berada pada mana-mana tempat, atau berada atas sesuatu, atau berasal daripada sesuatu, maka dia telahpun syirik…” (risalah Al-Qusyairiyah: 6)

Allah s.w.t. wujud tidak bertempat. Dia menciptakan tempat, sedangkan Dia tetap dengan sifat-sifat keabadianNya, sepertimana sebelum Dia menciptakan makhluk. Tidak layak Allah s.w.t. berubah sifatNya atau zatNya

Imam Al-Bukhari r.a. (256 H) dalam Sahih Al-Bukhari itu sendiri menurut mereka yang mensyarahkannya, bahawasanya beliau menyucikan Allah s.w.t. daripada tempat dan sudut.


[1] Aamaal Syekh Thusi : hal 205.

[2] Al-Ra’d : 43

[3] Nur Al-Staqalain : jilid 2 hal. 523.

[4] Misbah Al-Zaair : 477.

[5] Gurar wa Durar : Hadist no. 1674

[6] Ibid : Hadist no. 7999.

[7] Nahjul Balaghah : 1

[8] Nahjul Balaghah : 186

[9] Nahjul Balaghah : 185

[10] Ibid

[11] Nahjul Balaghah : 126

[12] Nahjul Balaghah : 523, hikmah : 274.

[14] Al-Ihtijaj : 1/201 dan Bihar Al-Anwar : 4/253.

[15] Nahjul Balaghah : 279 khutbah no. 185.

[16] Nahjul balaghah :1

[17] Syarh Nahjul Balaghah : 2/57 ( Muhammad Taqi Ja’fari )

[18] Nahjul Balaghah : 1

[19] Nahjul Balaghah : 85.

Alquran merupakan Kitab Tsiqal Akbar (pusaka besar) yang terjamin keasliannya

Menjawab Syubhat Tahrif al-Quran:
Kedudukan Al-Quran dalam Mazhab Islam Syiah
.
Tahrif quran sudah menjadi isu yang sengaja dilemparkan oleh sebagian golongan kepada mazhab ahlulbait as, isu yang masih hangat di masyarakat dan tanpa disadari menjadi sebuah doktrin bagi sebagian golongan untuk menyudutkan mazhab lainnya tanpa didasari dalil-dalil yang jelas. 

 Kedudukan Al-Quran dalam Mazhab Islam SyiahAyatullah Sayyid Milani Mengatakan bahwa Alquran adalah penjelas segala sesuatu dan juga penjelas bagi dirinya (quran).

.

Ayatullah Ja’far Subhani mengatakan Alquran adalah asas bagi syariat Islam, dan sunnah nabawiah yang menjadi qarinah baginya, Alquran adalah cahaya yang jelas untuk dirinya dan menerangi selainnya dan Alquran seperti Matahari yang menyinari sekelilingnya. Allah SWT berfirman didalam surat  Al-Isra 9 :

إِنَّ هذَا الْقُرْآنَ يَهْدي لِلَّتي‏ هِيَ أَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنينَ الَّذينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبيراً

Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka memiliki pahala yang besar.

Allah berfirman didalam surat Annahl ayat 89:

وَ نَزَّلْنا عَلَيْكَ الْكِتابَ تِبْياناً لِكُلِّ شَيْ‏ءٍ وَ هُدىً وَ رَحْمَةً وَ بُشْرى‏ لِلْمُسْلِمينَ

Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (Al-Qur’an) ini untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

Dan juga secara jelas Allah menjadikan Quran sebagai pembeda antara Haq dan Bathil surat Al-Furqan ayat pertama:

تَبارَكَ الَّذي نَزَّلَ الْفُرْقانَ عَلى‏ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعالَمينَ نَذيراً

Maha Agung nan Abadi Dzat yang telah menurunkan al-Furqân (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.

Tahrif quran sudah menjadi isu yang sengaja dilemparkan oleh sebagian golongan kepada mazhab ahlulbait as, isu yang masih hangat di masyarakat dan tanpa disadari menjadi sebuah doktrin bagi sebagian golongan untuk menyudutkan mazhab lainnya tanpa didasari dalil-dalil yang jelas, berikut ini penjelasan dan pengenalan mengenai apa itu tahrif dan penjelasan ulama syiah dalam menolak keberadaan tahrif didalam Alquran.

A. MAKNA TAHRIF DAN PEMBAGIANNYA

Tahrif secara lughawi : Tafsirulkalam ‘alagheiri wajhin /harrafa assyai ‘an wajhi (menyelewengkan sesuatu pada arah tertentu)
Seperti dalam al-Qur’an ayat Annisa : 46

يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَواضِعِهِ

Mereka merubah perkataan dari tempat-tempatnya

Attabarsi mengatakan : Yufassiruunaha ‘ala gheiri ma unzilat ( menafsirkan sesuatu selain apa yang diturunkan)

Secara Istilah ada beberapa bentuk dalam memahami tahrif :

Tahrif maknawi : tahrif madlul kalam atau yufassiru ‘ala wajhin yuwafiqu ra’yu almufassir sawaun awafiqu alwaqi’ am la ( menafsirkan pada bentuk tertentu yang sesuai dengan Ra’yu mufassir baik itu sesuai dengan yang sebenarnya atau tidak) .

Bentuk tahrif ini banyak dilakukan oleh sebagian mufassir sehingga jauh dari makna yang sebenarnya. Mazhab Syiah meyakini bahwa Allah SWT menurunkan ayat tidak sendiri atau tidak telanjang tanpa penjelasan, akan tetapi berikut takwil dan tafsir ayat tersebut secara terperinci, seperti didalam hadits dan qaul para ulama Syiah. Sehingga seperti yang dikatakan Syeikh Mufid bahwa tangan-tangan orang dzalim inilah yang hendak menghapus dan menyembunyikan keterangan yang jelas berupa tafsir dan takwil alquran tersebut, bukan menghilangkan ayat Alquran, tetapi penjelasannya.

b. Tahrif Qiraah :

Perubahan Harakat , huruf dengan masih terjaga keutuhan Quran , seperti membaca Yathhuran atau yathhuranna , yang satu menggunakan nun khafifah yang lain menggunakan tsaqilah.

Perubahan Lahjah/dialek , seperti lahjah Hijaz berbeda dengan lahjah iraq dan iran bahkan dengan libanon dan di daerah sekitarnya, semisal : Qaf , sebagian mengucapkan dengan Gaf.

c. Tahrif Perubahan Kata:

Seperti kata “asra’u” dengan “Amdhu” , dan “Alhakim” dengan “Al’adil”
Tahrif seperti ini tidak terjadi di dalam Alquran. Walaupun sebagian hadits didalam mazhab Suni menceritakan perubahan itu.

d. Tahrif Penambahan , pengurangan kalimat dan ayat:

Tahrif sejenis inipun tidak terjadi didalam Alquran, walaupun ada keterangan hadits dhaif baik itu dalam literatur mazhab Suni ataupun Syiah.
tahrif perubahan kata dan penambahan serta pengurangan kalimat atau ayat inilah yang akan dibahas pada pembahasan kita kali ini.

B. DALIL KETIADAAN TAHRIF AL-QURAN

a) Dalil dari ayat Alquran

1. Ayat Al-Hifdz

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحافِظُونَ

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr ayat-9)

“Adzikr” yang dimaksud disini adalah Alquran.

Dan dilam ayat ini terdapat makna janji Allah SWT sendirilah yang menjaga keaslian Alquran itu sendiri.

2. Ayat Nafi Al-bathil

إِنَّ الَّذينَ كَفَرُوا بِالذِّكْرِ لَمَّا جاءَهُمْ وَ إِنَّهُ لَكِتابٌ عَزيزٌ لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Qur’an ketika Al-Qur’an itu datang kepada mereka, (mereka juga tidak tersembunyi dari Kami), dan sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia.

Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.

(Alfushilat : 41-42)

Makna Addzikr disini adalah Alquran, dan “Adzikr” dikatakan “Al-kitab al’aziz”, jadi makna Addzikr disini adalah Quran.
Al-bâthil berlawanan dengan Al-haq (kebenaran), dan Alquran Adalah kebenaran dalam lafadz dan maknanya atau makna-maknanya, serta hukumnya yang abadi, pengetahuannya bahkan dasar-dasarnya sesuai dengan fitrah manusia. Seperti yang dikatakan Syeikh Thabarsi dalam Majma Al-bayan mengenai ayat ini ,dikatakan : Alquran tidak ada hal yang tanaqudh (kontradiktif) dalam lafadznya tidak ada kebohongan dalam khabarnya, tidak ada yang ta’arudh (berlawanan), tidak ada penambahan dan pengurangan. Sehingga pantaslah kalau ayat Alquran ini saling menjelaskan yang satu dengan yang lainnya.

3.Ayat Jam’ul Quran dan Qiraatnya

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَهُ

فَإِذا قَرَأْناهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ

ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنا بَيانَهُ

“Janganlah kamu gerakkan lidahmu karena tergesa-gesa ingin (membaca) Al-Qur’an.

Karena mengumpulkan dan membacanya adalah tanggungan Kami.

Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.

Kemudian, penjelasannya adalah (juga) tanggungan Kami.”

(Al-Qiyamah : 17-19)

Allah SWT lah yang menjaga , mengumpulkan, membacanya, dan menjelaskannya juga.

Disinilah yang diyakini mazhab Syiah Bahwa Wahyu itu bukan hanya Ayat alquran yang ada di tangan kita tetapi meliputi juga wahyu penjelasan, takwil, dan keterangan-keterangan lainnya kepada nabi saww yang bukan termasuk ayat seperti Alquran yang ada pada tangan kita, sehingga dalam hal ini Imam Ali as menuliskannya secara lengkap dalam Qurannnya yang makruf dikenal sebagai Quran Ali yang diperintahkan oleh Rasulullah saww. Sehingga banyak yang keliru memahami Quran Ali disini. Quran Ali memang memiliki banyak ayat tetapi bukan ayat seperti yang ada didepan kita, tetapi ayat-ayat penjelasan secara terperinci, meliputi asbab annuzul, tafsir, takwil, dan keterangan penjelasan lainnya yang dinamakan didalam sebagai riwayat sebagai ayat sehingga berjumlah 17000 ayat. Tetapi bukanlah ayat Alquran secara asas, hanya ayat penjelasan, tafsir, takwilnya.

b). Dalil riwayat dari orang-orang Maksum as

1. Hadits Ghadir

Semisal dalam kitab Alihtijaj 1/60 Syeikh Attabarsi:

(معاشر الناس) تدبروا القرآن وافهموا آياته وانظروا إلى محكماته ولا تتبعوا متشابهه، فوالله لن يبين لكم زواجره ولا يوضح لكم تفسيره إلا الذي أنا آخذ بيده ومصعده إلى – وشائل بعضده – ومعلمكم إن من كنت مولاه فهذا علي مولاه، وهو علي بن أبي طالب عليه السلام أخي ووصيي،

Di dalam peristiwa Ghadir Khum yang makruf pada tanggal 18 Julhijjah

Nabi saww bersabda : Wahai kaum manusia sekalian, pelajarilah Alquran, dan fahamilah ayat-ayatnya, dan lihatlah pada ayat Muhkamah janganlah mengikuti yang mutasyabihah, dan Allah tidak akan menjelaskankan makna bathinnya dan menerangkan tafsirnya kecuali aku yang mengangkat tangannya dan yang mengangkat lengannya, dan yang menunjukkan kamu sesungguhnya barangsiapa yang Aku Maulanya maka ali Maulanya juga dan dia Ali ibn Abi thalib as saudaraku dan washiku.

Hadits Ghadir merupakah hadits fauqu mutawatir di kalangan umat Islam. Dan saya sengaja mengambil sebuah contoh hadits ghadir dari mazhab syiah yang menunjukkan keterjagaan Quran dari tahrif . Dikatakan disana bahwa perintah mentadabbur quran dan memahaminya dan melihat yang muhkamah bukan mutasyabihah melazimkan bahwa Alquran pada saat itu telah terkumpul tersusun, tidak ada perubahan.

2.Hadits Tsaqalain

Hadits Ini juga merupakan hadits mutawatir di kalangan umat Islam :

إني تارك فيكم الثقلين كتاب الله و عترتي أهل البيتي، ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي أبداً…

Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian semua dua pusaka yang berat yang pertama Kitabullah dan kedua itrati Ahlulbaiti , yang berpegangteguh padanya maka tidak akan tersesatkan selama-lamanya setelahku…

Keterangan :

- Perintah Tamassuk (berpegang teguh) adalah far’u (bagian) dari wujud Alquran di tangan almutamassikin (orang yang berpegang teguh), jadi sesuatu yang mustahil perintah berpegang teguh kepada Quran yang tidak wujud atau tidak diyakini keutuhannya dari kurang atau lebihnya ayat atau surat dalam Alquran.

3.Hadits yang menjelaskan bahwa Quran kuat rukunnya

Imam Ali as berkata :

و كتاب الله بين اظهاركم ناطق لا يعيا لسانه، و بيت لا تهدم أركانه، و عزّ لا تهزم أعوانه

Dan kitabullah yang hadir padamu yang Nathiq tidak lelah lidahnya, dan rumah yang tidak roboh rukun (tiangnya), dan mulia tidak terputus pertolongannya. ( khutbah 133 nahjul balaghah)

4. Hadits mengenai perintah untuk merujuk pada Quran

Perintah untuk merujuk pada quran ,dan hadits yang sesuai dengannya telah dipakai dan yang tidak sesuai dengan quran harus ditinggalkan, merupakan bukti yang sangat jelas tentang ketiadaan tahrif dalam alquran. Hal ini melazimkan Alquran sebagai pokok asas untuk merujuk, dan asas melazimkan keaslian dan keutuhannya, Karena bagaimana mungkin memerintahkan untuk merujuk kepada Quran sedangkan yang menjadi sumber nya diragukan keasliaannya, hal ini mustahil.

محمد بن يعقوب: عن علي بن إبراهيم، عن أبيه، عن النوفلي، عن السكوني، عن أبي عبدالله (عليه السلام) قال: «قال رسول الله (صلى الله عليه و آله): إن على كل حق حقيقة، و على كل صواب نورا، فما وافق كتاب الله فخذوه، و ما خالف كتاب الله فدعوه».

( الكافي 1: 55/ 1)

“Muhammad Ibn Ya’qûb berkata : dari Ali Ibn Ibrâhîm dari ayahnya dari An-Naufali dari As-Saukani, dari Abu Abdillah bersabda : Rasulullah saww bersabda : Sesungguhnya dari segala hal yang benar adalah sebuah hakikah kebenaran, dan dari segala pahala adalah cahaya, dan apa-apa yang sesuai dengan kitabullah maka ambillah dan yang bertolak belakang dengan kitabullah tinggalkanlah”.

قول الإمام الصادق عليه السّلام: «إذا ورد عليكم حديثان مختلفان فأعرضوهما على كتاب اللّه، فما وافق كتاب اللّه فخذوه، و ما خالف كتاب اللّه فردّوه …» (وسائل الشيعة : 18:84)

“Perkataan Imam As-Sâdiq as : Jikalau datang kepadamu dua hadits yang berbeda maka rujuklah kepada kitabullah , mana yang sesuai dengan Quran maka ambillah dan yang tidak sesuai tolaklah”.

Isi dari hadits tersebut tidak lain dari perintah merujuk kepada Alquran maka hadits yang tidak sesuai dengan Quran maka tinggalkanlah dan yang sesuai ambillah, bahkan ditegaskan bahwa yang sesuai dengan Quran itu dariku (Maksumin as) dan yang tidak sesuai itu bukan dariku.

Hadits semodel ini banyak di dalam literatur Syiah, saya menuliskan sebagian hanya sebagai sebuah gambaran saja.

5. Anjuran Imam Maksum as untuk membaca dan mengkhatam Quran

من ختم القرآن بمكة من جمعة إلى جمعة و أقل من ذلك ، و خنمه في يوم الجمعة، كتب الله له الأجر و الحسنات من أوّل جمعة كانت إلى آخر جمعة تكون فيها، و إن ختم في سائر الأيام فكذلك.

Imam Baqir as berkata : Barangsiapa yang mengkhatam Alquran di Mekkah dari hari Jumat ke hari Jumat lagi atau lebih sedikit dari itu, dan mengkhatamnya di hari Jumat, Allah SWT menuliskannya pahala (yang banyak) dan kebaikan ( yang berlimpah) dari awal jum’at sampai akhir Jum’at. Dan yang mengkhatam di hari lainnyapun seperti demikian (pahalanya) juga.

Khatam Quran menunjukkan Alquran telah ada dan terkumpul seperti yang ada sekarang. Karena Khatam melazimkan membaca dari awalnya sampai akhirnya, karena kalau adanya tahrif berupa kurang ayat maka tidak bisa dikatakan “khatam” kalau dikatakan adanya penambahan ayat, maka tidak ada wujudnya dan yang wujud di tangan syiah dari zaman Imam Ali as ataupun di zaman Imam Baqir as sekalipun sama dengan muslimin lainnya, lalu bagaimana bisa dikatakan adanya tahrif kurang dan tambah di dalam mazhab Syiah?

6. Dalil kitab yang ada ditangan muslimin kitab yang lengkap

كتاب ربكم فيكم، مبيناً حلالح و حرامه و فرائضه و فضائله و ناسخه و منسوخه….

Kitab yang ada di tanganmu (kaum Muslim), penjelas halal dan haramnya , fardhu dan fadhailnya, nasikh dan mansukhnya…

Menjelaskan kesempurnaan alquran yang ada di tangan muslimin

(Nahjulbalaghah , khutbah 1:23)

7. Imam Ridha as menulis sifat Quran yang jami’ terkumpul di tangan Al-Makmun (khalifah Abbasiah)

Perlu kita ketahui bahwa Imam Ridha as adalah Imam ke delapan di zaman kekhalifahan zalim Abbasiah Al-makmun yang bukan syiahnya.

وأن جميع ما جاء به محمد بن الله هو الحق المبين والتصديق به وبجميع من مضى قبله من رسل الله وأنبيائه وحججه والتصديق بكتابه الصادق العزيز الذي (لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه تنزيل حكيم حميد) وأنه المهيمن على الكتب كلها، وأنه حق من فاتحته إلى خاتمته نؤمن بمحكمه ومتشابهه وخاصه وعامه ووعده ووعيده وناسخه ومنسوخه وقصصه وأخباره لا يقدر أحد من المخلوقين، أن يأتي بمثله وأن الدليل بعده والحجة على المؤمنين

Imam Ridha as berkata : Sesungguhnya Jami’ (seluruh) apa yang diturunkan Muhammad ibn abdillah adalah Haqqul mubin, dan membenarkan dengannya seluruh (kitab ) sebelumnya dari utusan Allah SWT dan para nabi-Nya, dan yang menjadi hujjah (keasliannya) dan membenarkannya adalah Kitabullah Assadiq alaziz ayat— Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Hujjah ayat tersebut menjaga seluruh kitab ( quran) seluruhnya (kandungannya), dan Alquran benar dari mulai Fatihahnya sampai akhirnya , kami mengimani Almuhkamah dan mutasyabihah, alkhashah dan ‘amah , janji dan ancamannya, nasikh dan mansukhnya, kisah dan akhbarnya, tidak ada seorangpun dari makhluk yang mampu membuat sepertinya, dan dalil setelahnya serta Hujjah bagi orang Mukmin.

–sangat jelas pernyataan Imam Ridha as membenarkan Quran yang ada di tangan Makmun yang bukan syiahnya.

8. Perintah pengumpulan Alquran di Zaman Nabi saw

Perlu diketahui para Ulama syiah dengan analisa yang terperinci dan detail berkesimpulan bahwa Quran telah tersusun di jaman Nabi saww seperti sekarang ini, karena banyak dalil yang menunjukkan hal itu, baik itu di dalam kitab-kitab mazhab Syiah ataupun Suni. Dan yang setelahnya adalah ikhtilaf dalam masalah qiraah, seperti yang dilakukan penyatuan qiraah di zaman Utsman bin Affan – jadi Khalifah Utsman bukanlah menyusun al-quran tetapi menyatukan qiraahnya dan kesepakatan tulisan dalam huruf seperti titik dan harakat, sebagian berpendapat urutan suratnya-,walaupun setelahnya masih terjadi perbedaan yang mencapai qiraah tujuh sebagian mengatakan sampai sepuluh.

علي بن الحسين، عن أحمد بن أبي عبد الله، عن علي بن الحكم عن سيف، عن

أبي بكر الحضرمي، عن أبي عبد الله عليه السلام قال: إن رسول الله صلى الله عليه

وآله قال لعلي: يا علي القرآن خلف فراشي في المصحف والحرير والقراطيس فخذوه واجمعوه ولا تضيعوه كما ضيعت اليهود التوراة، فانطلق علي فجمعه في ثوب أصفر، ثم ختم عليه في بيته
….dari Abi Abdillah as, Rasul saww bersabda kepada Ali as : Wahai Ali Alquran yang ada dibalik tilam/kasur, didalam mushhaf dan kain serta kertas, ambillah dan kumpulkanlah janganlah kau telantarkannya /menghilangkannya seperti orang-orang Yahudi menelantarkan/menghilangkan tauratnya, maka bersegeralah Ali untuk mengumpulkannya dan menyusunnya di dalam kain yang kuat (dijilid) yang kuning, kemudian menyelesaikannya di rumahnya. (Alamah majlisi -Biharulanwar 89/48)

Penyusunan dan pengumpulan Quran di zaman rasulullah saww banyak tertulis di dalam kitab rujukan umat Islam, sebagian dari hadits Suni seperti yang dinukil Al-khawarizmi di dalam kitab Al-manaqib dari Ali ibn Ribah sesungguhnya Ali ibn Abi thalib as dan ibn Ka’ab mengumpulkan dan menyusun Alquran Alkarim di zaman rasulullah saww.

c). Pernyataan para ulama Syiah
Syeikh Shaduq (wafat-318 H)

Kitab Ali’tiqad 59-60

اعتقادنا أن القرآن الذي أنزله الله على نبيه محمد صلى الله عليه و آله هو ما بين الدفتين و هو ما في أيدي الناس ليس بأكثر من ذلك ، ومبلغ سوره عند الناس مائة و أربع عشرة سورة ، وعندنا أن الضحى وألم نشرح سورة واحدة ولإيلاف وألم تر كيف سورة واحدة ، ومن نسب إلينا أنا نقول أكثر من ذلك فهو كاذب ”

Keyakinan Kami bahwa Quran yang diturunkan Allah kepada nabinya Muhammad saww dan quran itu diantara dua sisi, dan dia yang ada di tangan manusia (sekarang) yang tidak ada lebih dari hal itu yaitu yang berjumlah 114 surat, dan di kita(syiah) , surat dhuha dan alam nasyrah dianggap satu surah, dan alilaf dengan alam tara kaifa dianggap satu surah, dan yang menuduh kita lebih dari demikian maka hal itu bohong.

Syeikh Mufid ( wafat 413 H)

Kitab Awailul Almaqalat , hal 54 – 56

وقد قال جماعة من اهل الامامة : انه لم ينقص من كلمة ولا من آية ولا من سورة ..) الخ .. لتعلم مدى كذبه ودجله

Dan berkata ulama Jamaah dari Ahli Imamah (Syiah) : bahwa sesungghunya Quran tidak ada kurang dari kalimat dan tidak pula dari ayat dan tidak pula dari surah ….sampai kamu tahu siapa yang membohonginya dan menipunya. (orang yang mengatakan adanya tahrif)

Syeikh Murtadha ( wafat 436 H)

Risalah aljwabiah alula

لأن القرآن معجزة النبوة ومأخذ العلوم الشرعية والاحكام الدينية’ وعلماء المسلمين قد بلغوا في حفظه وحمايته الغاية حتى عرفوا كل شئ اختلف فيه اعرابه وقراءته.. فكيف يجوز ان يكون مغيراً أو

منقوصاً مع العناية الصادقة والضبط الشديد ! وقال : ان القران كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً على ما هو عليه

الآن ..)


Sesungguhnya Quran sebuah mukjizah , yang meliputi ilmu-ilmu Syar’iyyah dan Ahkam diniyyah, dan Ulama Muslimin telah banyak menghapalnya dan menjaganya sampai dimana mereka mengetahui segala kekeliruan ( kalau terjadi) didalamnya pada i’rabnya dan bacaannya, dan bagaimana bisa Quran itu terdapat perubahan atau kekurangan sedangkan banyak yang menjaganya dan menghapalnya dengan sangat banyaknya , maka dia berkata : sesungguhnya Quran di zaman rasulullah saww telah terkumpul , ditulis seperti sekarang ini.

Syeikh Thaifah –Syeikh Thusi ( 460 H)—syeikh thaifah adalah ulama ijma’ yang penting didalam mazhab Syiah.

Albayan fi tafsir Quran juz 1 hal 3

أما الكلام في زيادته ونقصانه فمّما لايليق به ‘لأن الزيادة فيه

مجمع على بطلانها’

Dan pernyataan dalam ziadah ( lebih ) dan kurang dari quran tidak layak karena kelebihan (ziadah) adalah secara sepakat merupakan sebuah kebathilan.

Syeikh Tabarsi (548 H)

(اما الزيادة فمجمع على بطلانها’ واما القول بالنقيصة فالصحيح من مذهب أصحابنا الامامية خلافه .

Ziadah (kelebihan) dan kekurangan ayat (didalam Alquran) secara ijma adalah bathil maka yang betul dalam mazhab Imamiah (syiah) adalah tidak sependapat dengannya (dengan kekurangan dan kelebihan)

( Majma Al-bayan juz 1 hal 15)
Sayyid Ali ibn Thawus Alhilli ( 663 H)

إنَ رأي الإمامة هو عدم التحريف

Sesungguhnya pandangan Syiah Imamiah adalah ketiadaan tahrif Quran ( Sa’du AsSu’ud 144)
Alamah Hilli (728 H)

جعل القول بالتحريف متنافياً مع ضرورة تواتر القرآن بين المسلمين

Anggapan Tahrif berlawanan dengan dharuriyat tawatur Alquran diantara muslimin

( Ajwibah Al-Masail Al-Muhawiah 121)
Almaula Muhaqiq Ahmad Ardabili (993 H)

جعل العلم بنفي التحريف ضرورياً من المذهب .

Telah sampai tinggkatan al-‘ilm (qath’i) terhadap penafian tahrif adalah kedaruriatan Mazhab (syiah)

(Majma Alfaidah jilid 2 hal 218)
Sayyid Nurullah Tastari Al-Mustasyhid (1029 H)

ما نسب الى الشيعة الامامية من القول بوقوع التغيير في القرآن ليس مما قال به جمهور الامامية’ انما قال به شرذمة قليلة منهم لااعتداد بهم فيما بينهم

Barangsiapa yang menisbatkan kepada syiah mengenai pendapat adanya perubahan dalam Quran bukanlah pendapat Jumhur Imamiah (syiah) ,mereka yang mengatakan perubahan hanyalah segolongan kecil dari mereka dikarenakan keyakinan mereka dengan apa yang ada diantara mereka ( Akhbariun)

(Kitab Mashaib An-Nashaib atau Al-Ala’ Arrahman 1/25)
Al-Maula Muhaddits Muhammad ibn Hasan Feidz Al-kasyani (1090 H)

: (على هذا لم يبق لنا اعتماد بالنص الموجود’ وقد قال تعالى :{ وَاِنهُ لكتاب عَزيز لا يَأتيهِ الباطل من بين يديه ولا من خَلفه} وقال :{ وإنا نَحنُ نَزلنَا الذِكرَ وإنا لهُ لَحافِظون}. وأيضاً يتنافى مع روايات العرض على القرآن . فما دل على وقوع التحريف مخالف لكتاب الله وتكذيب له فيجب رده والحكم بفساده أو تأويله .

Setelah meriwayatkan sebuah hadits mengenai tahrif…. terhadap hal itu tidak ada bagi kita keyakinan (taharif) dikarenakan adanya nash Quran, Allah berfirman :

sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kitab yang mulia, Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya

dan firman allah Ta’ala :

Sesungguhnya kami yang menurunkan Alquran dan kamilah yang menjaganya.

Dan juga berlawanan dengan riwayat-riwayat mengenai Quran , oleh sebab hadits apa saja saja yang menunjukkan tahrif quran berlawanan dengan Kitabullah dan merupakan suatu kedustaan dan maka wajib bagi kita untuk menolaknya dan menghukuminya dengan kefasidan, atau dengan menak’wilnya.

(tafsir Shâfi jilid 1 hal 33)

Syeikh Muhammad Ibn Hasan Hurr Al-Amili (1104 H)

: إن من تتبع الاخبار وتفحص التواريخ والآثار علم -علماً قطعياً- بأن القرآن قد بلغ أعلى درجات التواتر’ وأن آلآلف الصحابة كانوا يحفظونه ويتلونه’ وأنه كان على عهد رسول الله (ص) مجموعاً مؤلفاً

Sesungguhnya barangsiapa yang menelusuri akhbar (rwiayat) dan meneliti Tarikh , dan atsar , telah diketahui — dengan ilmu Qath’i—sesungguhnya Quran telah mencapai yang paling tinggi derajatnya pada tingkatan mutawatir dan ribuan dari shahabat menghapal quran dan membacanya dan hal itu pada zaman rasulullah saww telah terkumpul dan tertulis quran tersebut ( Al-fushul Al-Muhimmah fi ta’lif Al-Ummah hal 166)
Syeikh Ja’far kabir Kasyiful Ghitha (1228 H)

كذلك جعله من ضرورة المذهب بل الدين واجماع المسلمن واخبار النبي والأئمة الطاهرين .

…oleh sebab itu menjadikannya (penolakan tahrif) dari daruriat Mazhab (syiah) bahkan agama (Islam umumnya) dan Ijma Muslimin serta Akhbar dari Nabi saww dan Imam suci as.

( Kasyifulghtha , kitabulquran min Ashalat hal 298)

Syeikh Muhammad ibn Husein Kasyiful ghitha ( 1373 H)

جعل رفض احتمال التحريف أصلاً من اصول المذهب .اصل الشيعة واصولها

Penolakan terhadap kemungkinan Tahrif adalah bagian dari Ushul Mazhab , hal itu merupakan keaslian Syiah dan ushulnya.

Dan masih banyak lagi pernyataan ulama mutaqaddimin (terdahulu) ….

Ulama Mutaakkhirin sudah jelas dengan ijma’ nya menolak tahrif quran diantaranya :

Sayyid Khui

إنَ من يدَعي التحريف يخالف بداهة العقل

(sesungguhnya yang beranggapan adanya tahrif maka berlawanan dengan kebadihiahan aqal ) (Al-Bayan fi tafsir Al-quran : 220)

Imam Khumaeni

…والآن وبعد أن أصبحت صورته الكتبية في متناولنا بعد أن نزلت بلسان الوحي على مراحل ومراتب من دون زيادة أو نقصان وحتى لو حرف واحد.

Dan sekarang setelah menjadi bentuk secara kitabiah dan kita menerimanya setelah turun dengan lisan wahyu para tahapan dan susunan tanpa adanya lebih dan kurang walalupun satu huruf pun. Alquran annaql akbar 1/66 dan puluhan para maraji mutaakhirin dalam kitabnya dan fatwanya masing-masing.

Kesimpulan :
Alquran merupakan Kitab Tsiql Akbar (pusaka besar) yang terjamin keasliannya
Dengan dalil yang mutawatir dan kuat Alquran yang sekarang sama dengan di zaman nabi saww, bahkan ditegaskan bahwa Alquran telah tersusun dan terkumpul sejak zaman Nabi saw.
Hadits-hadits yang mengandung tahrif adalah hadits dhaif (lemah) dan sangat jarang.
Hadits-hadits lemah tersebut terdapat didalam litelatur Suni dan Syiah dan para ulama telah sepakat dalam penolakan hadits tersebut

.
Hadits-hadits yang mengandung tahrif bertolak belakang dengan dhahir kitab Alquran
Quran Ali bukanlah quran yang berbeda dengan Quran yang ada ditangan muslimin sekarang, akan tetapi perbedaan terletak pada adanya keterangan penjelasan, takwil dan tafsir didalam Quran Ali

.
Alquran syiah sama dengan alquran muslimin umumnya.

Mengapa Kita Harus Mencintai Ahlul Bait Nabi?

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.” (Qs. Al-Ahzab : 33)

“Jika dengan mencintai keluarga Nabi Saw aku disebut Rafidhi (Syiah), maka saksikanlah sesungguhnya aku seorang Rafidhi (Syiah) dan cukuplah shalatku menjadi tidak sah dengan tidak menyertakan shalawat kepada mereka.” (Imam Syafi’i ra)

Sebagaimana pernyataan Imam Syafi’i ra di atas, akan timbul berbagai pertanyaan dalam benak kaum muslimin yang mau berpikir tentang kebenaran sebuah keyakinan, siapakah yang dimaksud keluarga Nabi (Ahlul bait) yang hendak disucikan oleh Allah swt? adakah kewajiban untuk mencintai mereka sebagaimana kewajiban mencintai Nabi? mengapa dalam redaksi shalawat kepada Nabi kita harus menyertakan pula shalawat kepada keluarganya? Keistimewaan seperti apa yang dimiliki keluarga Nabi sampai dalam setiap shalat kita harus menyertakan shalawat kepada mereka? Kalau mereka memiliki kedudukan yang agung dan mulia dalam agama ini, namun mengapa kajian tentang keluarga nabi tidak banyak kita dapatkan dalam kehidupan religius kita sehari-hari?

Tidaklah berlebihan, dalam ruang yang sempit ini saya mencoba menyelipkan sedikit tulisan mengenai mereka. Semoga dengan itu kita mau mengenal, mengikuti dan mencintai keluarga nabi atau yang sering kita dengar dengan ungkapan: Ahlul Bait.

Keistimewaan Keluarga Para Nabi
Telah menjadi sunatullah, Nabi-nabi memiliki keluarga yang dimuliakan, diagungkan dan anak keturunan mereka dipilih oleh Allah sebagai washi, pelanjut risalah kenabian. Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an menjelaskan masalah ini :

“Dan Kami menganugerahkan kepada Ishak dan Yaqub. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebagian keturunannya (Nuh) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberikan balasan kepada orang-orang yang berbuat baik; dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas, semuanya termasuk orang-orang yang saleh; dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth, masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya); dan Kami lebihkan (pula) derajat sebagian dari bapak-bapak mereka, keturunan mereka dan saudara-saudara mereka. Dan Kami telah memilih mereka (untuk menjadi nabi-nabi dan rasul-rasul) dan Kami menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Inilah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Qs. Al-An’am : 84).

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan al-kitab, maka diantara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak diantara mereka yang fasiq”  (Qs. Al-Hadid : 26).

“Dan Kami anugerahkan kepada Ibrahim, Ishak dan Yaqub dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab kepada keturunannya, dan Kami berikan kepadanya balasan di dunia; dan sesungguhnya di akhirat mereka benar-benar termasuk orang-orang yang shaleh” ( Qs. Al-Ankabut : 27)
Dan beberapa ayat lainnya yang tersebar dalam Al-Qur’an satu-satunya kitab Samawi yang tetap steril dari berbagai upaya penyelewengan dan perubahan.

Ayat-ayat di atas berbicara tentang sunatullah di muka bumi, dalam hal pemilihan washi para Nabi yang berasal dari keturunan mereka yang saleh dan suci, bukan yang fasiq dan bahwa pewarisan ilmu al-Kitab, hukum dan kenabian di antara putra-putra mereka yang suci telah ditetapkan sejak diturunkannya Adam as ke muka bumi. Silsilah yang suci ini memberikan gambaran yang jelas bahwa risalah Ilahiah ini tidak pernah keluar dari lingkaran keluarga-keluarga Nabi yang disucikan, dan tidak diwarisi oleh hati yang pernah dikotori oleh kesyirikan, kekejian dan kezaliman.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qs. Al-Baqarah: 124)

Jika ajaran Nabi terdahulu saja yang hanya berlaku untuk masa dan kaum tertentu memerlukan silsilah yang suci dan jiwa yang bersih, maka bagaimana mungkin ajaran Islam tidak memerlukan silsilah yang suci yang akan saling mewarisi ajaran Muhammad Saw yang luhur dan kekal hingga hari kiamat?. Jika Nabi terdahulu saja memerlukan orang yang menggantikannya di dalam urusan tabligh dari kalangan keluarga dan keturunannya yang saleh, maka bagaimana mungkin Rasulullah Saw tidak membutuhkan orang-orang yang meneruskan ajaran ini dari keluarga dan keturunannya yang suci?

Jika ayat-ayat tentang nabi dan keturunannya menekankan bahwa pemilihan washi para nabi telah berlaku bagi keluarga nabi yang saleh dengan tujuan untuk menjaga kesucian risalah, maka bagaimana mungkin ajaran Muhammad Saw yang kekal tidak membutuhkan pribadi-pribadi suci dari keturunannya yang akan menjaga nilai-nilai ajaran Ilahi dari usaha penyimpangan?

Melalui pengkajian ayat-ayat Al-Qur’an, tampak jelas bahwa masalah pemilihan atau seleksi pelanjut kepemimpinan Ilahiah adalah semata-mata wewenang Dzat yang Maha Mengetahui, tanpa adanya campur tangan siapapun.

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (Qs. Fathir : 32).

Dalam ayat lain, dikisahkan tentang Nabi Musa as, “Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Mengetahui (keadaan) kami.” Allah berfirman : “Sesungguhnya telah diperkenankan permintaanmu, hai Musa.” (Qs. Thaha : 29-36).

Kita menyaksikan dalam ayat ini betapa Nabi Musa memohon kepada Allah SWT dengan penuh pengharapan dan kerendahan hati untuk memilih saudaranya, Harun, sebagai pembantunya dalam urusan Tabligh. Jika nabi Musa as saja, dengan segala ketinggian kedudukan dan kedekatannya kepada Allah SWT tidak memperkenankan dirinya untuk memilih langsung orang yang akan menggantikan dia sepeninggalnya dan yang membantunya dalam tugas-tugasnya, maka bagaimana mungkin umat Islam berhak memilih orang-orang yang menggantikan Rasulullah Saw sebagai khalifah sepeninggalnya? sebuah keberanian ‘ijtihad’ yang telah menimbulkan perselisihan, perpecahan bahkan sampai pertumpahan darah dikalangan sahabat.

Imamah dan Ahlul Bait
Sekarang, seberapa banyakkah yang kita tahu tentang ayat muhkamah di dalam Al-Qur’an yang turun berkaitan dengan keagungan keluarga Rasulullah yang mulia? Atau seberapa banyakkah kisah yang kita ketahui tentang Rasulullah yang selalu mengingatkan ummatnya akan pengutamaan Allah atas keluarganya.

Imam Muslim meriwayatkan di dalam kitab Shahihnya, (juz 4 hal 123, cetakan Beirut Lebanon), Zaid bin Arqam berkata, “Pada suatu hari Rasulullah Saw berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan khutbah di telaga yang bernama “Khum”, yang terletak antara Makah dan Madinah. Setelah mengucapkan hamdalah dan puji-pujian kepada-Nya serta memberi nasihat dan peringatan Rasulullah Saw berkata, “Adapun selanjutnya, wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka akupun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barang siapa yang meninggalnya maka ia berada di atas kesesatan.”

Kemudian Rasulullah Saw melanjutkan sabdanya, Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.” Al-Hakim juga meriwayatkannya dalam al-Mustadraknya dari Zaid bin Arqam bahwa nabi bersabda pada Haji Wada’, “Sesungguhnya aku telah tinggalkan kepada kalian tsaqalain (dua peninggalan yang sangat berharga) yang salah satu dari keduanya lebih besar daripada yang lain, Kitabullah (Al-Qur’an) dan keturunanku. Oleh karena itu perhatikanlah kalian dalam memperlakukan keduanya sepeninggalku. Sebab sesungguhnya keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga berjumpa denganku di Haudh.” Setelah menyebutkan hadits ini Al-Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat (yang ditetapkan Bukhari-Muslim).”

Sebagaimana diketahui bahwa kaum muslimin sepakat untuk mensahihkan seluruh hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, maka saya mencukupkan dengan hanya mengutip kedua hadits ini sebab dalam banyak kitab hadits ini pun dinukil. Di antaranya juga terdapat dalam Sunan Ad-Darimi, Shahih Turmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad dan beberapa kitab lainnya. Ibnu Hajar dalam kitabnya ash-Shawai’iq telah menyampaikan silsilah hadits ini hingga kepada dua puluh lebih sahabat, lalu beliau (rahimahullah) menyatakan dengan tegas, ” Ketahuilah, sesunggguhnya hadits berpegang teguh kepada Kitab Allah dan ahlul bait mempunyai jalur yang banyak, dan diriwayatkan lebih dari 20 orang sahabat.”

Dalam riwayat tersebut, Rasul menyebut keduanya (Al-Qur’an dan Ahlul Baitnya) sebagai Tsaqalain yakni sesuatu yang sangat berharga. Keduanya sebagaimana hadits Rasulullah tidak akan pernah terpisah dan saling melengkapi. Keduanya tidak dapat dipisahkan, apalagi oleh sekedar perkataan Umar bin Khattab pada saat Rasulullah mengalami masa-masa akhir dalam kehidupannya, bahwa Al-Qur’an sudah cukup bagi kita (baca tragedi ini dalam Al-Bukhari pada bab “Al-Ilmu” (Jilid I, hal 22). Muslim meriwayatkannya dalam Shahihnya pada akhir bab al-Washiyah dan juga tertulis dalam Musnad Ahmad jilid I hal. 355). Rasulullah menjamin bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh dan berpegang pada kedua tsaqal ini, maka tidak akan pernah mengalami kesesatan. Kemunduran dan penyimpangan kaum muslimin terjadi ketika mencoba memisahkan kedua tsaqal ini.

Tentu saja sabda Rasul tentang Ahlul Baitnya yang tidak akan terpisah dengan Al-Qur’an bukan berdasarkan hawa nafsu pribadinya, sebab Allah SWT telah menjamin dalam Al-Quran bahwa apapun yang disampaikan Rasul adalah semata-mata wahyu dari-Nya.  Pertanyaanya, mengapa Al-Quran saja tidak cukup menjadi petunjuk bagi kaum muslimin sepeninggal Rasulullah?.

Di antara jawabannya, semua kitab suci adalah kitab-kitab petunjuk yang mengandung prinsip-prinsip dasar petunjuk dan tidak menjelaskan prinsip-prinsip tersebut secara mendetail dan terperinci. Dan para Rasul diutus untuk menjelaskan kitab yang diwahyukan yang menjadi bukti kerasulannya, “Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka. ” (Qs. Ibrahim: 4).

Apakah semasa hidupnya Rasulullah telah menjelaskan kepada ummat Islam seluruh aturan-aturan dalam Al-Qur’an secara mendetail? Niscaya kita akan menjawab tidak seluruhnya, sebab selama sepuluh tahun Rasulullah Saw memerintah di Madinah, telah terjadi sekitar dua puluh tujuh atau dua puluh delapan peperangan (ghazwah) dan tiga puluh lima hingga sembilan puluh sariyah. Ghazwah adalah sebuah peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw, sedangkan sariyah adalah sebuah peperangan yang tidak langsung dipimpin olehnya. Akan tetapi, ia mengutus sebuah pasukan yang dipimpin oleh salah seorang sahabat yang telah ditunjuk olehnya. Tentu saja dengan berbagai kesibukan mengatur pertahanan dan peperangan menghadapi kaum kafir pada awal-awal revolusi Islam membuat Rasululllah tidak sempat untuk menjelaskan semua maksud ayat-ayat Al-Qur’an secara terperinci.

Sementara Allah SWT berfirman, ” Alif  Lam Ra. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci , (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana dan Maha Teliti”. (Qs. Hud : 1). Dan di ayat lain, “Tidaklah Kami lalaikan sesuatu pun dalam Kitab ini.” (Qs. Al-An’am : 38).

Berkembangnya paham-paham yang saling bertolak belakang misalnya antara paham Jabariyah dan Qadariyah yang masing-masing menjadikan Al-Qur’an menjadikan landasan pemikirannya, menjadi bukti bahwa kaum muslimin di awal perkembangan Islam mengalami kehilangan pegangan dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Bahwa sesungguhnya Rasul belum menjelaskan seluruhnya, walaupun agama ini telah sempurna, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu.” (Qs. Al-Maidah : 3 ). Sebab, “Kewajiban Rasul tidak lain hanya menyampaikan (risalah Allah).” (Qs. Al-Maidah : 99). Bukan berarti Rasulullah sama sekali tidak menjelaskan, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu al-Kitab ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ” (Qs. An-Nahl : 64), masalah ini berkaitan dengan Al-Qur’an sebagai mukjizat, berkaitan dengan kedalaman dan ketinggian Al-Qur’an, sehingga hukumnya membutuhkan penafsir dan pengulas.

Al-Qur’an adalah petunjuk untuk seluruh ummat manusia sampai akhir zaman karenanya akan selalu berlaku dan akan selalu ada yang akan menjelaskannya sesuai dengan pengetahuan Ilahi. “Sungguh, Kami telah mendatangkan kitab (Al-Qur’an) kepada mereka, yang Kami jelaskan atas dasar pengetahuan, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-A’raf : 52). Dan menurut hadits Rasulullah Ahlul Baitlah yang meneruskan tugas Rasulullah untuk menjelaskan secara terperinci ayat-ayat Al-Qur’an.

Penerus nabi adalah orang-orang tahu interpretasi ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan makna sejatinya, sesuai dengan karakter esensial Islam, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Imam Ali as dalam salah satu khutbahnya yang dihimpun dalam Nahj Balaqah, khutbah ke-4, “Melalui kami kalian akan dibimbing dalam kegelapan dan akan mampu menapakkan kaki di jalan yang benar. Dengan bantuan kami kalian dapat melihat cahaya fajar setelah sebelumnya berada dalam kegelapan malam. Tulilah telinga yang tidak mendengarkan seruan (nasihat) sang pemandu”.

Tentang Imam Ali as Rasulullah bersabda, “Aku adalah kota ilmu, sedangkan Ali adalah pintunya. Barang siapa yang menghendaki ilmu, hendaklah ia mendatangi pintunya” Hadits ini disepakati keshahihannya oleh kaum muslimin sebab banyak terdapat dalam kitab-kitab hadits, diantaranya At-Thabari, Hakim, Ibnu Hajar, Ibnu Katsir dan lainnya. Umar bin Khattab pun mengakui keilmuan Imam Ali as sebagaimana yang diriwayatkan Ath-Thabari, Al-Kanji Asy-Syati’i dan As-Shuyuti dalam kitabnya masing-masing, “Dari sanad Abu Hurairah, Umar bin Khattab berkata, “Ali adalah orang yang paling mengetahui di antara kami tentang masalah hukum. Aku mengetahui hal itu dari Rasululah maka sekali-kali aku tidak akan pernah meninggalkannya” Dalil yang menyatakan bahwa tidak hanya Rasulullah yang mengetahui makna Ilahiah Al-Qur’an, maksud sebagaimana yang diinginkan Allah SWT terdapat dalam ayat, “Sebenarnya (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas dalam dada orang-orang berilmu.” (Qs. Al-Ankabut : 49).  Dan Ahlul Baitlah yang dimaksud dengan orang-orang berilmu tersebut.

Dan dengan firman Allah SWT, “Aku hendak jadikan seorang khalifah (wakil) di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah : 30), berarti di muka bumi akan senantiasa ada yang menjadi pemimpin otoritatif yang diangkat Allah SWT untuk menjadi khalifahnya. Akan tetap ada di muka bumi orang-orang yang menerima pengetahuan dari sumber Ilahiah. Imam Ali as berkata, “Pengetahuan masuk ke mereka, sehingga mereka mempunyai pengetahuan mendalam tentang kebenaran.” Mereka memiliki pengetahuan bukan hasil belajar dan terlepas dari kekeliruan. Mereka pun memiliki ‘Roh Tuhan’ yang menghubungkan mereka dengan dunia gaib.

Betapa pentingnya keberadaan Imam dan seorang Khalifah di muka bumi, “Dan kalau Allah tidak melindungi sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. ” (Qs. Al-Baqarah : 251). Sebagian manusia yang menjadi pelindung atas manusia yang lainnya adalah Ahlul Bait sebagaimana hadits Rasulullah Saw, “Perumpamaan Ahlul Baitku seperti bahtera  Nuh, barangsiapa yang menaikinya niscaya ia akan selamat; dan barangsiapa tertinggal darinya, niscaya ia akan tenggelam dan binasa.”

Seluruh ulama Islam sepakat akan keshahihan hadits ini yang dikenal sebagai hadits Safinah, diantaranya Al-Hakim, Ibnu Hajar dan Ath-Thabrani. Dan kitapun tahu dari informasi Rasulullah bahwa di akhir zaman akan muncul juru penyelamat yang akan menyelamatkan manusia dari berbagai kedzaliman dan menyebarkan keadilan di muka bumi, dialah yang dinanti-nantikan, Imam Mahdi as. Rasulullah Saw bersabda, “Kiamat tidak akan tiba kecuali kalau dunia ini sudah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan. Kemudian keluar setelah itu seorang laki-laki dari Ahlul Baitku memenuhi dunia dengan keadilan sebagaimana telah dipenuhi dengan kezaliman dan permusuhan.” Hadits-hadits Rasulullah Saw tentang Imam Mahdi sangat banyak jumlahnya.
Hanya saja, sejauh mana kita mencoba mengenali siapa yang termasuk Ahlul Bait nabi, siapakah mereka Imam 12 yang disebut Rasul berasal dari Bani Qurays, dan siapakah Imam Mahdi yang akan muncul di akhir zaman?. Sebagai muslim adalah kewajiban untuk mengetahui dan taat kepada mereka, sebagaimana wajibnya kaum muslimin taat kepada titah Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an. Dalam Shahih Muslim, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dan tidak mengetahui imam zamannya, maka ia meninggal dalam keadaan jahiliyah.” Dan dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), pada hari ketika Kami panggil setiap umat dengan imamnya.” (Qs. Al-Isra’: 71).

Jadi kecintaan kepada Ahlul Bait Nabi Saw bukan sekedar cinta biasa, bukan sekedar efek dari kecintaan kepada Nabi Saw bukan pula sekedar upah terhadap dakwah Rasulullah Saw, bukan pilihan, melainkan kewajiban yang telah menjadi bagian dari syariat agama karena Ahlul Bait dan Itrah Nabilah yang menjadi pelanjut tugas kenabian untuk menjaga kemurnian risalah Ilahi. Kecintaan kita kepada Ahlul Bait adalah juga kecintaan kepada Rasulullah Saw, kecintaan kepada Allah SWT, kecintaan kepada Islam dan agama ini. Imam Syafii pernah mengatakan, “Tidak sah shalat seseorang yang tidak menyertakan dalam shalatnya, shalawat kepada Nabi dan Ahlul Baitnya.” Wallahu ‘alam bishshawwab.