adakah perselihan di antara para sahabat semenjak wafatnya Nabi ? Tanyalah Pada Ahlinya

product arrow Tanyalah Pada Ahlinya

Bagi para peneliti perbandingan mazhab, barangkali nama Dr. Muhammad Tijani Al-Samawi sudah tidak asing lagi. Karya fenomenalnya Tsumma Ihtadaitu (Akhirnya Kutemukan Kebenaran) telah diterjemahkan oleh berbagai penerbit dan mengalami cetak ulang berkali-kali. Karya semiotobiografinya ini telah menginspirasi pemuda-pemudi muslim untuk menelaah ulang keyakinan mereka. Khususnya yang terkait dengan persoalan ketuhanan, kenabian dan kepemimpinan pasca Nabi.

Buku Tanyalah Pada Ahlinya: Menjawab 8 Masalah Kontroversial merupakan buku ketiga dari ulama penulis asal Tunisia ini. Melengkapi  karya sebelumnya, dalam karyanya ini Dr. Tijani menelisik dan mengupas delapan masalah kontroversial yang masih beredar di pikiran sebagain umat Islam seperti: apakah Tuhan itu menempati ruang dan waktu, apakah Rasul saw itu maksum dalam semua hal ataukah hanya ketika tablig, apa dan siapakah yang dimaksud dengan Ahlulbait Nabi itu, apa dan siapakah sahabat Nabi saw itu, adakah perselihan di antara para sahabat semenjak wafatnya Nabi dan sederet pertanyaan lainnya.

Disertai sejumlah referensi otoritatif yang memadai, karya ini tidak kurang daya pukaunya bagi pembaca yang tertarik pada pendalaman keyakinannya.

product arrow Bersama Orang-Orang Yang Benar

Rasulullah saw, bersabda:

” Bani Israel telah terpecah menjadi 71 golongan. Nasrani telah terpecah menjadi 72 golongan. Nasrani Telah terpecah menjadi 72 golongan, Sementara umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada di neraka, kecuali satu golongan saja.”

Pemahaman yang berbeda tentang akidah di kalangan umat islam menimbulkan perpecahan, perselisihan, munculnya berbagai mazhab, dan lain-lain. Fakta dan sejarah menunjukkan perselisihan itu memecah-belah umat Islam hingga ada yang mengafirkan serta menghalalkan darah sesama Muslim. Bagaimana kita menyikapi fenomena itu? Golongan mana yang benar dan harus kita ikuti?

Dr. Muhammad at Tijani as Samawi, seorang ulama terkemuka dari tunisia, dalam buku ini memaparkan berbagai macam persoalan akidah yang menjadi perselisihan di kalangan umat Islam. Dilengkapi dengan dalil yang tepat dan argumentasi yang objektif, kita akan diajak berpikir analitis dan rasional untuk memilih golongan mana yang benar.

Mengedepankan rasionalitas dan menjauhkan fanatisme golongan, pembahasan dalam buku ini menuntun kita untuk berfikir cerdas dan objektif. Semoga Allah memberikan kita taufik dan hidayah-Nya agar kita dikumpulkan bersama orang-orang yang benar pemahaman akidahnya, sehingga kita selamat dunia akhirat.

“Mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”

(Q.S.azZumar [39]:18)

Keadilan Ilahi: Asas Pandangan-Dunia Islam

Sinopsis
Keadilan, menurut Al-Quran, merupakan pendamping tauhid, rukun ma’ad (hari akhirat), tujuan disyariatkannya nubuwwah (kenabian) dan filsafat kepemimpinan, serta tolok ukur kesempurnaan seseorang dan standar kesejahteraan masyarakat. Masih merujuk pada penjelasan Al-Quran, Murtadha Muthahhari mengatakan bahwa keadilan merupakan sejenis “pandangan-dunia” (world view)

.

Dalam buku ini, Muthahhari melakukan eksplorasi atas tema penting dalam khazanah keilmuan-keislaman tersebut, sekaligus mendemonstrasikan wawasan luasnya untuk membuktikan pernyataanya itu. Dalam mengkaji keadilan ini, dia menggunakan baik pendekatan naqliah (pendekatan berdasarkan nash-nash wahyu dan hadis) maupun aqliah (pendekatan filosofis dan teologis berdasarkan rasio)

.

Sebelum menginjak pada inti kajiannya, pada bagian Pendahuluan Muthahhari menjelaskan secara panjang lebar perdebatan menarik berkaitan dengan soal ini—suatu perdebatan panjang yang akhirnya menghasilkan dua mazhab teologis terkenal dalam pemikiran Islam, yaitu Asy’ariah dan Mu’tazilah. Kemudian, dia juga menjelaskan munculnya soal prinsip keadilan dalam dunia fiqih yang dicerminkan dengan pertentangan antara ahli qiyas dan ahli hadis

.

Setelah menjelaskan beberapa kekhasan pemikiran mazhab Syi‘ah dalam membahas tema keadilan, Muthahhari pun menunjukkan betapa tema keadilan ini merupakan rahasia sumber sejati dalam mendinamisasi pemikiran di dunia Islam

Syi’ah Ditolak Syiah Dicari

Pada tahun 2010-2011 masih berkembang wacana dan tuduhan serta “pengadilan” Mazhab Syi’ah in absentia tanpa menghadirkan para intelektual dan cendikiawan dari kalangan Syi’ah. Masih terdengar penyerangan terhadap para pemuka Syi’ah di indonesia, masih terus massif diadakan kajian, diskusi dan seminar tentang syi’ah. Fenomena ini tentu menarik karena ada keprihatinan yang mungkin mereka rasakan terhadap perkembangan wacana syi’ah di indonesia, apalagi di era keterbukaan seperti saat ini, orang semakin sulit untuk dimanipulasi oleh sejumlah isu, provokasi maupun opini-opini yang cenderung sangat tidak berkembang, isu suni-syi’ah melalui cyberspace menjadi pertarungan tak terelakan
.
Para pembaca akan semakin diajak dewasa menyikapi perbedaan, karena sumbu-sumbu informasi pasti mereka perlakukan untuk mengklarifikasikan berbagai isu yang ada.Buku ini diharapkan menjadi sebuah bahan pembanding untuk memperpanjang sumbu perdebatan dan wacana untuk saling lebih memahami perbedaan dan toleransi kehidupan beragama, sehingga pihak-pihak yang dengan ketulusannya masing-masing akan berhadapan dengan kajian dan analisa yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah sesuai dengan standar referensi yang harusnya memang ditunjukkan secara rinci
.
Rincian teks peristiwa, pencatatan, analisa kronologi dan komprasi adalah kehandalan penulis ini yang dengan gairah intelektual dan pencairan kebenaran sejati tanpa tendensi mendikotomikan kaum muslimin pada sunni dan syi’ah.Apa yang dilakukan O. Hashem secara konsisten hingga akhir hayatnya memperjuangkan sebuah dialog yang terbuka. ilmiah serta motivasi untuk membangun persatuan kaum muslim untuk mengarahkan mereka bahwa perbedaan perlu diketahui secara jelas dan rinci untuk saling memahami, setelah itu beliau menempatkan arti berbuat untuk masyarakat dalam konteks kemiskinan, pemberdayaan dan kompotisi umat agar dapat beradaptasi dengan struktur ketidakadilan global.

 

Ushul Fiqh dan Fiqh

Klasifikasi baru adalah luar biasa dari sudut kesederhanaannya. Ia membagi seluruh hukum dan legislasi Islam ke dalam empat kelompok: “Ibadah dan Penyempurnaan Diri” yang melipui persoaln kebersihan,salat,puasa,serta haji; “Persoalan Ekonomi” yang meliputi khums, zakat, wakaf, kemitraan, dll. “Persoalan Keluarga” yang meliputi pernikahan, perceraian, surat wasiat, serta warisan; dan “Persoalan Politik” yang meliputi arbitrase, hukuman islam, jihad pertahanan,dll.

Jumlah ajaran Islam, seperti yang telah disebutkan, pada dasarnya terbagi menjadi tiga: pengetahuan tentang realitas gaib, pengetahuan tentang penyempurnaan diri batin seseorang, dan pengetahuan penyempurnaan amaliah eksternal seseorang yang paling tidak penting sangat dipentingkan di dalam berbagai mazhab lantaran kurang inheren daripada keyakinan dan kebijakan sehingga lebih menuntut kemampuan intelektual dan tergantungpada dua aspekyang lain.

Oleh karena itu, kedati ajara yurisprudensi adalah inti dari semua institusi agama, dua kajian urgen lainnya juga mempunyai perannya. Jika para pelajar yurisprudensi tidak mengembangkan ilmu pengetahuan mereka tentang realitas-realitas itu dan penyempurnaan diri, tidak akan pernah ada pelajar yurisprodensi; hukum syariat akan dilupakan dan banyak perkataan serta perintah Tuhan, Nabi, dan para Imam tidak akan lagi diikuti, sebab semua itu tidak lagi difahami.

Salurkan Khumus, Zakat, Infaq & Shadaqah anda agar syi’ah Indonesia berjaya

Nomor Rekening

Yth. Para Mukhammis dan Muzakki

Salurkan Khumus, Zakat, Infaq & Shadaqah Anda dan akan kami salurkan kepada yang berhak sesuai ketentuan Syar’i, melalui rekening Yayasan Dana Mustadhafin :

Khumus : BCA 375 302 3131

Mandiri 127 000 555 2227

DKI Syariah 701 700 2882

Zakat : BCA 375 302 5444

Mandiri127 000 555 3332

DKI Syariah 702 700 0280

.
Infaq & Sedekah :BCA 375 302 4111

.

Alamat Kantor :

Perkantoran Buncit Mas Blok AA 7
Jl. Kemang Utara IX No.35 Duren Tiga
Jakarta Selatan 12760
Telp: +6221-7998301, 7998302
Fax: +6221-7998303
Email : dana_mustadhafin@yahoo.com
Website : http://www.dmustadhafin.com

Anugerah Terbesar

Menurut anda, apakah anugerah terbesar yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia ?

Kehidupan ?

Bukankah manusia cenderung memandang remeh kehidupan ? Jika kehidupan adalah anugerah terbesar di mata manusia, mengapa mereka selalu menjalaninya dengan perusakan terhadap nilai-nilai kehidupan ? Bukankah manusia memperlakukan kehidupan manusia lain seperti kain yang melekat pada tubuh?

.

Sehingga dapat ditelanjangi dan dirampas dengan mudahnya ? Salahkah saya bila berkata bahwa sebagaian besar manusia yang memandang kehidupan sebagai anugerah terbesar sebenarnya mereka telah “mati”, sehingga, bagaimana mungkin manusia yang tidak “hidup” dapat menghargai kehidupan? Dapatkah saya katakan bahwa kehidupan di mata orang kaya adalah anugerah, sedangkan di mata orang miskin  penderitaan? Jika kehidupan adalah anugerah terbesar, lalu mengapakah manusia mengalami kejenuhan dalam menjalaninya dan sering mengeluhkannya? Anugerah terbesar yang kita cari adalah yang bersifat universal, tidak bersifat relatif untuk masing-masing individual, dan dapat “menghidupkan” manusia sepanjang zaman.Tidak, kehidupan bukanlah anugerah terbesar untuk manusia

Cinta ?

Cintakah anugerah terbesar bagi manusia? Cinta yang mana ? Cinta yang diwujudkan  antar manusia dengan penghambaannya atas kekasihnya, dibungkus oleh kemesraan semu yang sebenarnya adalah nafsu? Cinta yang diselimuti oleh kemanjaan, kecengengan, dan keberlebihan? Salahkah saya jika mengatakan manusia yang mengagungkan cinta sebenarnya merekalah yang menghancurkan kemurnian cinta itu sendiri? Ataukah cinta yang murni, cinta yang dipersembahkan kepada wujud kesempurnaan, cinta yang tidak berujung dan terus membumbung tinggi ? Cinta kepada wujud keabadian? Cinta yang semurni embun di pagi hari dan tidak terkotori ? Salahkah saya jika berkata manusia cenderung menjauh dari cinta abadi ini, bahkan menolaknya ?

.

Tahukah anda bahwa manusia tidak akan cukup dengan mencintai yang fana, dan manusia membutuhkan cinta yang abadi? Cinta atas kefanaan bukanlah anugerah,melainkan cinta atas keabadianlah yang merupakan anugerah. Lalu, mengapa manusia mencampakkan cinta yang murni serta abadi dan memilih cinta yang sesaat?  Dapatkah kita katakan bahwa cinta adalah anugerah terbesar? Tidak. Kita mencari anugerah yang terbesar, sesuatu yang tidak mengandung bias, dan juga tidak membiaskan serta yang tidak dapat dicemari dan dikotori oleh manusia. Tidak, cinta bukanlah anugerah terbesar untuk manusia

Akal ?

Jika akal merupakan anugerah terbesar di mata manusia, lalu mengapa manusia tidak menggunakannya ? Mengapa, manusia yang menyadari dan mengetahui bahwa ia telah diberi akal, yang membedakannya dengan mahluk lain, justru merendahkan dirinya ke tingkat hewan dengan melakukan penolakkan atas akal? Salahkah saya jika mengatakan bahwa manusia meyakini bahwa mereka telah menggunakan akalnya, padahal mereka telah meletakkan hawa nafsu diatas akalnya sedangkan mereka tidak menyadarinya? Bahkan ada segolongan manusia yang mencemooh akal dan menganggapnya sebagai belenggu. Memang, akallah yang dapat mengendalikan hawa nafsu, yang dapat membantu kita membedakan antara yang benar dengan yang salah, yang bahkan dikatakan tidurnya orang yang berakal lebih baik dari ibadah orang yang tidak berakal, namun apakah cukup untuk “memanusiakan” manusia ?

.

Akal mempunyai batasan yang universal yang berlaku untuk semua manusia dan batasan spesifik yang berlaku untuk tiap-tiap individual, yang batasannya tergantung tingkat pemahaman dan kebutuhan seseorang atas akal yang dimilikinya . Keterbatasan  tersebut menghalangi akal untuk menuntun manusia menuju kesempurnaan dan untuk  menjadi “manusia seutuhnya”.Akal adalah anugerah bagi manusia, namun bukanlah anugerah yang terbesar. Anugerah terbesar yang kita cari mengandung kesempurnaan, tidak memiliki batasan-batasan.

Agama ?

Bagaimana dengan kenyataan, dimana mayoritas penghuni dunia adalah manusia beragama, namun mengapa pertentangan antar manusia tidak kunjung usai ? Pentingkah bagi manusia keberadaan agama bagi keselamatannya ? Jika mereka menganggap agama sebagai anugerah dan penting bagi kehidupan mereka, namun mengapa mereka tidak henti-hentinya menodai agama? Dapat kita lihat manusia yang mengklaim dirinya sebagai pemeluk agama, baik Islam maupun non Islam, justru merekalah yang merusak agamanya itu sendiri. Sebagian besar manusia memperlakukan agama sebagai tameng, topeng,  dan kosmetik untuk menutupi kebusukan mereka.

.

Saya tidak mengatakan bahwa keberadaan agamalah yang disalahkan, namun manusialah yang cenderung menyalahgunakan agama.Anugerah yang kita cari bukan sesuatu yang dapat dinodai dan disalahgunakan oleh manusia. Agama tidak cukup sempurna untuk menjadi anugerah terbesar.Mengapa saya katakan tidak cukup ? Dapat anda lihat para pemeluk agama yang sangat meyakini kebenaran agama yang mereka anut dan mereka bersedia mengorbankan kehidupannya bagi agamanya, namun mereka secara tidak sadar memilih jalan yang salah dalam menjalani agama yang mereka yakini tersebut, mereka merasakan kekosongan dalam menjalaninya, mereka merasakan kepemilikan mereka atas agama tidak memberikan nilai tambah bagi kehidupan mereka, mereka mengalami kejenuhan dalam  menjalaninya, dan mereka merasa agama telah membebani kehidupan mereka. Bagaimana ini dapat terjadi ?

.

Dimana letak kesalahan mereka? Tahukah anda agama membutuhkan sesuatu yang dapat menyempurnakan keberadaannya, sehingga manusia dapat menjalaninya dengan sempurna? Anugerah terbesar yang kita cari itulah satu-satunya hal yang dapat menyempurnakan agama. Tanpa keberadaan sesuatu tersebut, agama tidak akan cukup untuk menuntun manusia menuju keselamatan.

Lalu, apakah anugerah terbesar bagi manusia ?

Jawaban  :

Insan Kamil merupakan anugerah terbesar, yang diberikan Allah swt, dengan kasih sayang-Nya kepada manusia. Mengapa Insan Kamil  ? Sebelum pembahasan mengenai manusia sempurna, saya akan menarik mundur terlebih dahulu, kepada titik awal penyebab manusia membutuhkan manusia-manusia yang sempurna (Sengaja saya menggunakan kata manusia-manusia sempurna, bukannya manusia sempurna, yang akan saya jelaskan di tulisan saya ini)

.

Manusia merupakan mahluk yang paling istimewa diantara mahluk lainnya.Manusia dikaruniai, bukan saja naluri, layaknya hewan, namun juga akal, yang dengannya menjadi pembeda antaranya dgn mahluk lain.Dengan akal, manusia dapat membedakan antara yang baik dan benar, dan dengannya manusia mengembangkan pengetahuannya sehingga terangkat derajatnya sedemikian tinggi.”Mata adalah cerminan akal”, seperti yang dikatakan Imam Ali as. Pergunakanlah akalmu dalam menjalani kehidupanmu dan  tundukkanlah pandanganmu dari hal-hal yang menurut pertimbangan akalmu tidak patut.

.

Begitulah kira-kira penjabaran dari kata-kata Imam Ali as. Juga kata-kata Imam Shadiq as, “ Akal menarik manusia dari apa yang salah”. Ini dapat diartikan, selama manusia mempergunakan akalnya, tentunya ia dapat terhindar dari kehinaan maksiat. Manusia mutlak harus menggunakan akalnya. Namun, cukupkah manusia menjalani kehidupannya dengan bersandar sepenuhnya pada akal ? Sedemikiankah signifikankah keberadaaan akal bagi manusia? Signifikan , ya. Cukup ? Jelas tidak.

.

Mengapa tidak? Dengan segala pujian yang dilekatkan kepada akal ? Saya akan mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak akan sanggup dijawab oleh manusia. Sebelum Allah swt menciptakan dunia beserta isinya, darimana asal keberadaan-Nya ? Sejak kapan eksistensi-Nya ? Dapatkah kita menjawabnya ? Tidak. Mengapa ? Mengapa akal kita tidak dapat menjangkaunya ? Karena ia terbatas. Akal, walaupun dapat mengembangkan manusia sedemikian tinggi, tetap ia memiliki batasan-batasan yang tidak kan pernah dapat dihilangkan. Salah satunya adalah pengetahuan tentang dzat Allah swt. Bagaimana tentang pengetahuan yang dibutuhkan oleh manusia dalam menjalani kehidupannya ? Tidak cukupkah akal sebagai pembimbing manusia ? Mari kita lihat sebuah contoh.Kita tahu, berdasarkan akal kita, bahwa adalah menyakiti orang lain, baik fiskik maupun rohani, adalah perbuatan yang tidak baik. Akal kita menyatakan, “Jika saya disakiti seperti saya menyakiti orang lain , misalnya memukulnya, maka saya akan menderita akibat pukulan tersebut. Jika saya dapat merasakan sakitnya pukulan tersebut, maka saya yakin ia pun akan merasakan hal yang sama (terlepas dari kuatnya pukulan seseorang)

.

Jika saya tidak ingin merasa sakit, maka saya tidak boleh menyakiti orang lain.” Begitulah kira-kira pertimbangan akal kita. Namun, akal kita tidak bisa menentukan balasan atau hukuman yang pantas untuk diberikan kepada orang yang menyakiti  orang lain tersebut.(Mungkin lebih tepat jika contohnya berupa pembunuhan).Apakah seseorang tersebut pantas diberi hukuman atau tidak? Jika iya, seperti apa bentuk hukumannya? Disinilah letak keterbatasan akal. Akal dapat membantu manusia dalam menentukan nilai sebuah tindakan (cthnya, baik atau salah), namun akal tidak dapat menentukan balasan atas sebuah tindakan.

.

Sebenarnya manusia, dengan akal yang dimilikinya, dapat berusaha membentuk sebuah perangkat hukum yang menurutnya sesuai dengan masyarakatnya. Manusia dapat berkumpul dengan sejumlah manusia lainnya untuk membentuk aturan-aturan yang akan mengatur bagaimana cara menjalankan kehidupan mereka , baik secara individu, maupun yang berlaku dalam interaksi mereka di  masyarakat. Namun,dapatkah dihasilkan seperangkat aturan yang sempurna, tanpa cacat, sesuai dengan masyarakat serta menjunjung tinggi azas keadilan ? Alih-alih hukum yang adil, besar kemungkinan justru mereka akan menciptakan seperangkat aturan yang mencerminkan kepentingan golongan mereka, yang bertentangan dengan kepentingan publik.Bahkan tiap-tiap dari mereka kemungkinan besar memiliki kepentingan pribadi, yang akan mereka tuangkan dalam perumusan aturan-aturan tersebut. Dengan kata lain, akal tidak dapat menentukan hukum atas sesuatu,(secara lebih spesifik, hukum yang adil dan sempurna).

.

Manusia, dalam berinteraksi dengan manusia lainnya, baik individual, maupun dalam masyarakat, membutuhkan seperangkat aturan dan hukum yang menentukan kewajiban-kewajiban dan hak-haknya serta. Ini diperlukan agar interaksi tersebut  menumbuhkan kebersamaan antar manusia, bukannya pertentangan. Tanpa aturan dan hukum yang jelas, manusia akan mendefinisikan kewajiban dan haknya menurut tingkat pemahamannya dan kepentingannya, yang besar kemungkinannya akan bertentangan dengan manusia lain. Semua perangkat peraturan dan pelaksanaannya, yang dibutuhkan manusia dalam bermasyarakat (lebih jauh dari sekedar bentuk hukuman),  tercakup dalam agama yang dianutnya. (Ini menunjukkan bahwa manusia mutlak memerlukan suatu agama dalam menjalani hidupnya dan anda dapat bayangkan bagaimana kehidupan yang dijalani seseorang yang tidak memiliki agama). Akal tidak dapat dan tidak akan pernah dapat berdiri sendiri

.

Ia membutuhkan agama sebagai penunjang  dan pengarah serta dalam penilaiannya, bukan hanya dalam menilai, namun juga dalam mengimplementasikan nilai-nilai tersebut secara konkret, dalam berbagai macam kejadian dalam kehidupan.Agama juga menyediakan koridor yang jelas bagi tata cara dalam bertindak dan berinteraksi  dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai tambahan, akal manusia tidak menciptakan agama, justru akal dibina dan dibimbing dalam naungan agama. Singkatnya, akal membutuhkan agama.

.

Bagaimana dengan agama ?

Seorang filsuf barat pernah berkata bahwa jika bukan karena agama, maka niscaya manusia akan tidak ada bedanya dengan hewan liar yang tinggal di hutan, yang tidak berperasaan terhadap manusia lain. Ini berlaku bagi semua agama. Namun, yang ajarannya sempurna, yang  benar-benar memahami karakteristik manusia, yang memberikan pengetahuan yang menyeluruh dan komprehensif, serta yang paling dapat diterima oleh akal manusia , menurut saya adalah Islam.Saya tidak akan memperpanjang pembahasan mengenai keutamaan Islam dibanding agama lain. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa tidak ada agama yang menjelaskan dan memberikan kedudukan yang selayaknya kepada Tuhan dan manusia, kecuali Islam.

.

Masalah yang timbul sekarang adalah cukupkah manusia dengan memiliki agama? Dapatkah manusia menjalankan kehidupannya dengan penuh keteraturan dan memenuhi nilai-nilai agama yang ia anut ? Seharusnya, ya. Namun, mengapa dalam kenyataan kita melihat manusia-manusia yang beragama dengan mudahnya  meninggalkan nilai-nilai yang diajarkan agamanya ? Mengapa mereka mengakui  beragama Islam, namun mereka justru tidak sejalan dengan Islam ? Imam Ja’far Shodiq pernah berkata,”Kadang engkau merasa sedang memohon kepada Allah, padahal engkau sedang memohon kepada yang lain.”. Jika boleh saya perluas, “Kadang engkau merasa beragama Islam, padahal engkau  sebenarnya beragama yang lain.” Ada sesuatu yang salah disini.Agamakah yang salah ? Tentu tidak. Lalu, kenapa umat Islam seperti kehilangan arah ?

.

Kita mengetahui kata “depan” dan “belakang”. Kita juga mengetahui bahwa “belakang” selalu mengikuti “depan”. Mengapa ? Tidak bisakah “depan” mengikuti “belakang ?”. Tidak. “Depan” merupakan penunjuk jalan bagi “belakang”. “Depan” mengetahui situasi, kondisi, jebakan, dan rintangan yang “belakang” tidak mengetahui. “Depan” akan menjadi pegangan bagi “belakang”. “Belakang” membutuhkan keberadaan “depan”.  Jika “depan” menuju ke keselamatan, maka tentunya “belakang” pun akan menuju kearah yang sama. Begitu juga kebalikannya.

.

Fenomena diatas juga berlaku bagi manusia. Manusia membutuhkan manusia lain yang menjadi “depan” baginya. Dengan kata lain, manusia membutuhkan contoh dari manusia lain. Mengapa manusia membutuhkan contoh ? Bukankah dengan akalnya ia dapat berjalan sendiri ? Allah tidak menciptakan manusia langsung menjadi manusia yang dapat mengenal dirinya sendiri dan dapat mempergunakan akalnya saat ia lahir. Ia menghendaki manusia mengembangkan akalnya secara bertahap dan memperoleh ilmu pengetahuan dengan bertahap pula. Ini semuanya demi kebaikan manusia. Dengan adanya tahapan, manusia dapat menyerap pengetahuan dengan lebih baik, dan lebih terstruktur sehingga manusia dapat mengetahui serta mengamalkannya secara keseluruhan.

.

Anda bukanlah manusia pertama yang lahir ke dunia.Telah eksis berjuta-juta manusia selama berjuta-juta tahun lamanya.Tidakkah anda ingin mengetahui bagaimana manusia yang mendahului anda melalui tahapan-tahapan dalam pengembangan akal dan perolehan ilmu pengetahuan ? Tidakkah anda ingin mengetahui bagaimana mereka berinteraksi dengan alam dan antar mereka sendiri ? Anda tidak menginginkannya, namun anda membutuhkannya. Sejak kecil, anda dikelilingi oleh manusia-manusia yang menjadi contoh bagi anda dan mereka menjelaskan bagaimana  cara memulai pengucapan kata pertama anda, hingga bagaimana membina rumah tangga yang ideal

.

Dunia ini penuh dengan contoh, baik berupa manusia, maupun mahluk selain manusia.Ingatkah anda kisah pembunuhan Habil oleh Qabil ? Bukankah Qabil berada dalam kebingungan setelah membunuh saudaranya ? Ia bingung bagaimana harus memperlakukan jenazah adiknya.Ia tidak tahu apakah harus meninggalkannya begitu saja, atau harus membawanya. Allah lalu memberi contoh melalui burung Gagak. Sejak awal penciptaan, manusia membutuhkan penunjuk dalam menjalani kehidupannya, dan Allah dengan kasih sayang-Nya, selalu memberi petunjuk bagi manusia yang membutuhkannya.

.

Saya akan memberikan argumen tambahan mengapa manusia membutuhkan seorang contoh, model ,dan teladan bagi dirinya. Pada saat anda kecil, pernahkah anda menginginkan diri anda menjadi seorang yang anda sukai dan hormati ? Jika anda mengagumi seorang pemain musik, anda pasti akan berkata’ “Jika saya sudah besar, maka saya ingin menjadi seperti dia.” Selama berjuta tahun lamanya kehidupan berjalan, telah lahir manusia-manusia yang berhasil mencapai cita-cita mereka, yang mungkin memiliki kesamaan cita-cita dengan anda, sehingga anda ingin mengetahui bagaimana dia dapat mencapai cita-citanya ? Tahap-tahap apa yang dia lalui  ? Rintangan apa saja yang dia hadapi ? Butuh waktu lamakah ? Singkatnya, anda ingin menjadikannya sebagai contoh  dan anda ingin mencontohnya dengan mengikuti jejaknya. Dan ini berlaku bagi semua individu.

.

Saya ingin bertanya, adakah contoh yang lebih baik dari seorang manusia sempurna? Perlu saya definisikan manusia sempurna. Manusia sempurna adalah manusia yang telah berhasil mengembangkan dirinya menjadi manusia yang multidimensional, dan dalam masing-masing dimensi yang ia  telah kembangkan , mengandung kesempurnaan, dan antar dimensi-dimensinya mengandung keseimbangan.Manusia yang tidak sempurna  berhasil mengembangkan hanya satu atau dua dari dimensi yang ia miliki. Sebagai contoh, anda tidak akan menemukan seorang revolusioner yang juga seorang ahli doa. Anda tidak akan menemukan seorang sufi yang sekaligus penggerak umat. Seorang manusia sempurna memadukan semua dimensi yang manusia dapat kembangkan, dan menjaganya tetap dalam keseimbangan

.

Manusia sempurna, sesuai dengan namanya, sempurna dalam semua sisi seorang manusia. Jika anda mencontoh seorang yang bukan manusia sempurna, belum tentu anda dapat menemukan dimensi yang anda ingin kembangkan dalam diri manusia tersebut. Alih-alih mencontohnya, kemungkinan anda justru akan mengalami kekecewaan terhadap manusia yang anda ingin jadikan contoh tersebut. Namun, jika anda mencontoh seorang manusia sempurna, maka anda akan merasa puas dalam pencarian anda. Anda dapat mencontoh dimensi yang anda ingin kembangkan, dan contoh yang anda dapat berupa contoh yang sempurna. Contoh yang lengkap dan menyeluruh dalam semua dimensi manusia. Sebuah contoh abadi dan kebenaran yang hakiki. Manusia adalah mahluk yang sempurna dan ia membutuhkan contoh yang sempurna pula. Adakah manusia seperti itu ? Apakah ada, dalam sejarah Islam, manusia-manusia yang mencapai kesempurnaan sehingga kita  dapat mencontohnya ?

.

Sebelum saya menjawabnya, saya ingin memulainya dengan mengutarakan bahwa manifestasi contoh dan teladan bagi manusia juga harus berupa manusia. Jika contoh dan teladan manusia bukanlah juga wujud manusia, maka Islam bukan untuk manusia. Karena, tidaklah mungkin Islam membimbing manusia menuju kesempurnaan, sedangkan kesempurnaan itu hanya dapat terwujud di mahluk selain manusia. Manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna, dan hanya manusialah yang dapat menuju kesempurnaan.

.

Dalam ajarannya, Islam mengajarkan kepada pemeluknya keutamaan orang yang beribadah, orang yang beramal, orang yang berilmu, orang yang bersedia berkorban, orang yang bersabar, dan merangkum semuanya, orang yang bertakwa.Selain keutamaan, Islam juga menjanjikan balasan yang setimpal atas perbuatan-perbuatan diatas.Disini timbul dua masalah. Pertama, dapatkah anda bayangkan apa yang akan terjadi jika tidak ada seorang pun yang pernah berhasil meraih keutamaan di sisi Allah ? Bayangkan jika tidak ada satu manusia pun yang mampu beribadah di malam hari, yang mampu bersabar jika ada cobaan berat yang menderanya, yang mampu menanggung kemiskinan demi kesejahteraan manusia lain, yang mampu menghempaskan ego demi kepentingan orang lain ? Singkatnya, bagaimana jika tidak ada yang pernah berhasil melaksanakan ajaran Islam dengan menyeluruh? Mereka akan berkata bahwa agama Islam bukanlah diperuntukkan untuk manusia. Islam terlalu “tinggi” untuk manusia. Islam hanyalah agama yang penuh dengan angan-angan dan khayalan yang tidak akan pernah terwujudkan.Islam hanyalah berisi ajaran-ajaran yang tidak dapat dilaksanakan oleh manusia.Lebih-lebih konsep insan kamil yang terdapat dalam ajaran Islam. Mereka akan berkata, “Bagaimana ada suatu konsep tentang insan kamil, sedangkan tidak ada yang pernah mencapainya? Tidak ada wujudnya?

.

Islam bukanlah agama yang penuh dengan kebohongan. Islam sangat memahami manusia. Islam mengajarkan pengetahuan yang manusia harus mengikutinya, namun bukan hanya itu, juga ajaran yang manusia mampu menjalankannya. Jika Islam memerintahkan untuk bangun di kegelapan malam dan beribadah, maka  Islam mengetahui bahwasanya manusia mampu melaksanakannya. Jika Islam mengatakan tentang keberadaan insan kamil dan fungsinya sebagai contoh dan teladan bagi manusia, maka keberadaannya itu  nyata.

.

Kita telah mengakui bahwasanya eksistensi insan kamil dan konsepnya dalam Islam bukanlah suatu khayalan.Namun, berupa kenyataan. Kita juga mempercayai bahwa insan kamil yang kita ketahui sejauh ini adalah pada Nabi. Seorang Nabi adalah wakil Allah di bumi, yang Ia bekali dengan pengetahuan yang dikehendaki-Nya, pengetahuan yang melebihi manusia-manusia biasa. Wajarlah para Nabi adalah wujud insan kamil karena mereka merupakan bukti Allah di bumi bagi manusia, dimana bukti Allah harus diwujudkan dalam kesempurnaan karena Ia sendiri adalah kesempurnaan yang mutlak. Disini timbul lagi masalah. Mereka akan mengatakan, “Wajar saja jika seorang Nabi dapat menjadi insan kamil karena ia dipilih oleh Allah dan diteteskan pengetahuan-Nya melebihi yang diperuntukkan untuk manusia biasa, selalu dinaungi oleh-Nya, dan tidak pernah ia terlepas dari petunjuk-Nya.

.

Namun, adakah manusia yang tidak menyandang gelar Kenabian yang juga dapat mencapai kedudukan insan kamil ? Adakah manusia yang bukan seorang Nabi menjadi insan kamil ? Apakah kedudukan insan kamil hanyalah hak para Nabi ? Jika iya, maka konsep insan kamil adalah konsep yang eksklusif. Ia hanya berlaku bagi seseorang yang diutus oleh-Nya sebagai pembawa peringatan, yaitu Nabi. Ia tidak berlaku bagi manusia yang tidak menyandang gelar Kenabian, sehingga mereka lagi-lagi dapat mengatakan bahwa kesempurnaan seorang manusia dalam Islam dimonopoli oleh para Nabi. Mereka akan berkata bahwa tidak mungkin anda manusia biasa dapat mencapai kedudukan insan kamil. Anda harus puas bahwa insan kamil selamanya akan menjadi contoh bagi anda. Konsep insan kamil hanyalah berlaku bagi para Nabi dan bukan untuk anda.Ia terlalu tinggi bagi anda.”  Kita bertanya, benarkah apa yang mereka katakan ?

.

Islam membuktikan bahwa ada manusia-manusia yang tidak menyandang gelar Kenabian, yang bukan merupakan utusan Allah, dan yang tidak pernah menerima wahyu, namun mereka dapat mencapai kedudukan insan kamil dan bahkan mereka telah melampaui kedudukan Nabi dalam kesempurnaan mereka (Namun, mereka tetap tidak melampaui kesempurnaan Nabi terakhir dalam Islam ). Siapa mereka, bagamana mereka mencapai kedudukan insan kamil dan berapa jumlahnya tidak akan saya bahas dalam tulisan ini. Namun Islam telah membuktikan bahwa Islam suci dari ajaran-ajaran yang mengandung eksklusifitas.

.

Kesimpulan

saya mengenai alasan mengapa insan kamil merupakan anugerah terbesar dari oleh Allah ialah sebagai berikut :

1. Insan Kamil menyediakan contoh dan keteladanan bagi seluruh umat manusia dan merupakan sumber kesempurnaan  yang tidak akan pernah habis untuk manusia dalam mencontohnya dan menjadikannya sebagai pegangan di dunia dan di akhirat.

2. Keberadaan Insan Kamil telah “membumikan” agama Islam

Salam sejahtera atas Nabi Muhammad dan keluarganya

Firasat Gus Dur jelang Tsunami Aceh dan Wasiat Gusdur Tentang Syi’ah

Kenapa syi’ah dituduh sesat ? tahu penyebabnya ??  karena sebagain besar umat Islam negeri ini saat belajar dari SD hingga kuliah hanya pelajaran fikih, tauhid dan aqidah minim, kedua sebagian besar umat islam negeri ini beragama krn keturunan jd hanya ikut ikutan tanpa tahu dasar dan dalil, bukan krn pilihan, dan juga malas belajar. kemudian yg jelek sebagian umat Islam negeri ini suka taklid/ta’ashub buta tanpa mau mencari kebenaran dari sumber aslinya. Akibat agama, ajaran hanya ikut ikut an akhirnya mudah dijerumuskan..

.
Firasat Gus Dur jelang Tsunami Aceh

GUS DUR 

 

“Nahdlatul Ulama (NU) itu Syiah minus Imamah. Syiah itu NU plus Imamah.” Demikian pernyataan populer almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur), cendekiawan NU. Terlalu banyak kesamaan antara NU dan Syiah. Bahkan peran dan posisi kiai dalam tradisi NU sangat mirip dengan peran dan posisi Imam dalam tradisi Syiah. Hanya, di NU konsep itu hadir dalam wujud budaya, sementara di Syiah dalam bentuk teologi. Ini substansi pernyataan Gus Dur di atas.

Tentu bukan tanpa alasan steatment di atas dilontarkan, karena NU dan Syiah secara budaya memiliki banyak kesamaan

Desember 2004 pagi yang cerah di Aceh tiba-tiba saja menjadi bencana mengerikan ketika gelombang besar dari laut atau tsunami meluluhlantakkan segala hal yang ada dibibir pantai. Ratusan ribu nyawa melayang dan nasib ratusan ribu rakyat lainnya mengenaskan akibat kehilangan harta benda dan keluarga yang menopang hidup.

Ditempat lain beberapa minggu sebelumnya, tepatnya di Masjid Agung Demak, H Sulaiman, asisten Gus Dur diperintahkan melalui telepon untuk membuka-buka Al Qur’an dan membaca ayat tepat di halaman yang dibuka tersebut.

Halaman yang terbuka waktu itu adalah surat Nuh, yang menceritakan tentang banjir besar yang melanda dan menghabiskan umat nabi Nuh yang ingkar terhadap Allah.

Sulaiman pun bertanya kepada Gus Dur tentang makna atas surat dalam Al Qur’an yang dibacanya tersebut. “Akan ada bencana besar yang menimpa Indonesia,” kata Gus Dur, tetapi tidak menyebutkan secara detail dimana dan kapan, serta bentuk bencananya seperti apa. Sulaiman pun terdiam mendengan penjelasan tersebut dan tidak banyak berkomentar.

Benar saja, tak berselang lama, tsunami yang diakibatkan oleh gempa berkekuatan 8.9 skala richter, yang berkolasi di Samudera Indonesia, 32 km di dekat Meulaboh Aceh menghebohkan dunia dan menimbulkan korban lebih dari 200 ribu jiwa.

Kesedihan pun melanda bangsa Indonesia, dan secara bersama-sama semuanya bahu-membahu memberikan bantuan yang diperlukan sesuai dengan kemampuannya masing-masing untuk mengurangi penderitaan para korban serta melakukan upaya pemulihan.

Setelah kejadian tersebut, Sulaiman kembali mendiskusikan masalah bacaan surat Nuh dan bencana tsunami Aceh dengan Gus Dur.

“Ini merupakan peringatan Allah bagi orang Aceh dan bangsa Indonesia,” katanya.

Wahabi Aceh MengeluhSekelumit Pengantar Redaksi:

Ternyata di Aceh juga ada Pengikut Wahabi, padahal di sana adalah pusatnya ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah.

MESKIPUN isu wahabi terkesan sudah usang namun kontroversi terhadap wahabi terus terjadi sampai hari ini.  Bagi kaum modernis wahabisme merupakan sebuah gerakan pembaharuan dan pemurnian ajaran Islam sedangkan bagi kaum tradisional/konservatif wahabisme dianggap sebagai ajaran baru yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Terlepas dari kontroversi tersebut dalam tulisan singkat ini penulis akan mencoba mengulas kembali isu – isu seputar wahabisme dan pengaruhnya terhadap pendidikan Islam di Indonesia.

di Indonesia bahkan ada beberapa tokoh Islam konservatif yang sudah menyamakan wahabi dengan “teroris”.Mereka menganggap dakwah yang dilakukan oleh Syeikh Muhammad Bin Abdul Wahab adalah faham sesat dan tidak sesuai dengan prinsip ahlussunnah wal jama’ah.

Inilah akibatnya bila Kaum Salafi MENYESATKAN orang lain…. Sekarang Giliran Muslimin Tradisional MENYESATKAN salafi….. Dari Awal memang Salafi Bikin Kacau dan Memecah Belah…. dan Cenderung Zahiriyah.

Kenapa banyak ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah benci Wahabi? Karena meski dalihnya memurnikan agama, ujung2nya Wahabi gampang membid’ahkan (bid’ah>sesat>neraka) ummat Islam lainnya. Misalnya mereka anggap: Maulid, Dzikir Jama’ah, Dzikir jahr seperti sholat Isya,  dsb sbg bid’ah. Terhadap sesama Wahabi pun terlontar kata kecoak, ular, dsb. Jadi memang caranya itu yg tidak benar.

“Barang siapa yang menentang rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisa’: 115).

Masalahnya Wahabi terlalu bolot dalam memahami hadits. Sebagai contoh mereka bid’ahkan zikir berjama’ah dan suara keras seperti sholat Isya. Jika Nabi zikir sendirian dan suara tidak terdengar, bagaimana mungkin kita bisa dapat banyak hadits tentang zikir yg biasa Nabi baca?

jangan menyalahkan masyarakat aja, coba renungi metoda yg digunakan dlm menyampaikan pesan kepada masyarakat, jgn-jgn metodanya yg salah yg membuat orang lari dari seruan dawah bukan mendekat

di Aceh, tuduhan sesat terhadap wahabi masih terus terjadi sampai saat ini. Bahkan ada sebagian tokoh – tokoh agama di Aceh hususnya yang berasal dari kalangan pesantren/dayah yang tidak segan – segan mengkafirkan orang – orang yang dianggap sebagai wahabi. Penyesatan ini tidak saja dilakukan ditempat – tempat pengajian tetapi juga di forum – forum terbuka seperti khutbah Jum’at.

Pernah pada suatu ketika, beberapa murid di sekolah tempat penulis mengajar menjadi malas kesekolah karena menganggap pendidikan di sekolah adalah pendidikan wahabi. Penulis sempat berfikir, tidak mungkin anak kecil seperti dia mengenal istilah wahabi jika tidak ada orang yang mengajarkan padanya. Setelah penulis teliti rupanya beberapa murid tersebut pada sore hari juga belajar disebuah pesantren yang tidak seberapa jauh dari sekolah.

Di kesempatan lain penulis juga sempat terjebak perdebatan kecil dengan seorang guru pesantren (di Aceh dikenal dengan sebutan Teungku). Sebelum terjadi perdebatan kami sempat shalat bersama di sebuah mesjid di Bireuen, Aceh. Kebetulan teungku tersebut yang menjadi imam shalat. Selepas shalat, teungku tersebut memulai zikir bersama dan dilanjutkan dengan berdoa. Rupanya sambil berdoa teungku tersebut melirik kearah sebagian jamaah yang tidak ikut berzikir dan tidak mengangkat tangan sewaktu teungku tersebut memimpin doa. Waktu itu penulis yang duduk pas disamping imam juga tidak mengangkat tangan. Selepas berdoa teungku tersebut berkata kepada penulis; “Wahabi itu kafir dan bukan ahlusunnah masa berdoa saja tidak mau.”

“Pokoknya wahabi itu kafir,” sambung teungku tersebut.

Pada suatu malam penulis sempat mengikuti pengajian di menasah (surau) di kampung penulis. Pada malam tersebut pengajian membahas tentang tata cara shalat. Sang teungku dengan semangatnya mengajarkan cara – cara shalat sampai pada bab meletak tangan sang teungku berkata; “Meletakkan tangan dalam shalat harus diatas pusar agak ke kiri, jangan letak diatas dada seperti orang kedinginan.”

Beberapa kasus yang pernah penulis temui tersebut setidaknya menjadi bukti kecil bahwa klaim – klaim sesat terhadap tokoh – tokoh pendidikan Islam yang terkena imbas tuduhan wahabi. Kita semua juga yakin bahwa kejadian – kejadian serupa juga terjadi didaerah lain. Pada majelis –majelis tertentu materi pendidikan Islam cuma terbatas pada pemikiran dan pendapat – pendapat tokoh pendidikan dari kalangan tradisional.

Seyyed Hossein Nasr : “Sunni dan Syiah Hanya berbeda pada dua prinsip dasar yakni Imamah dan Keadilan”

Sabtu, 01 September 2012 | 08:11 WIB

foto

Jenazah mendiang Ayatullah Muhammad Hussein Fadlallah, ulama besar Syiah di Libanon.

Persamaan dan Perbedaan Sunni-Syiah

Seyyed Hossein Nasr, 79, profesor studi Islam di Universitas George Washington, Amerika Serikat, memberikan pernyataan yang menarik soal pertentangan Sunni dan Syiah di dunia ini.

Apa kata profesor yang lahir di Iran, beragama Islam, dan menguasai enam bahasa ini?

Menurut dia, meski polemik antara Sunni-Syiah telah berlangsung lebih dari 13 abad, terutama sejak persaingan antara Usmaniah dengan Safawiah sejak abad ke-10 Hijriah sampai dengan ke 16 Masehi makin menjadi, tapi baik Sunni maupun Syiah tidak pernah menolak Islam.

Nasr menambahkan, untuk memahami Islam seutuhnya harus selalu diingat bahwa Islam, seperti juga agama-agama lainnya, sejak semula memiliki kemungkinan adanya corak-corak penafsiran yang berbeda-beda.

“Dan walau bagaimanapun, Syiah bukanlah suatu gerakan yang menghancurkan kesatuan Islam, tapi Syiah itu justru menambah kekayaan sejarah dan penyebaran Al-Quran,” kata Nasr.

Pernyataan-pernyataan Nasr ini menjadi pengantar dalam buku Islam Syiah, Asal Usul dan Perkembangannya, yang ditulis oleh Allamah M.H. Thabathaba’i. Buku ini terbitan PT Pustaka Utama Grafiti Jakarta pada 1989 yang mengambil judul asli Syiah Dar Islam (Syiah dalam Islam), buku tentang Islam sebagaimana dilihat dan ditafsirkan oleh Syiah dari penulis yang sama.

Allamah M.H. Thabathaba’i mewakili golongan utama dan intelektual dari ulama Syiah yang berpengaruh besar dan orang yang dianggap mewakili penafsiran Syiah yang lebih universal. Nasr dan Allamah M.H.
Thabathaba’i saling bekerja sama selama enam tahun, di mana Nasr menerjemahkan buku ini kedalam bahasa Inggris.

Nasr menjelaskan, ada lima prinsip agama atau usuluddin sebagaimana dinyatakan oleh Islam Syiah mencakup:

1.Tauhid, yakni kepercayaan kepada keesaan Ilahi
2.Nubuwat, yakni kenabian
3.Ma’ad, yakni kehidupan akhirat
4.Imamah atau keimanan, yakni kepercayaan adanya imam-imam sebagai pengganti nabi
5.Adil atau Keadilan Ilahi.

Menurut Nasr, dalam tiga prinsip dasar, yakni Tauhid, Nubuwat, dan Ma’ad, Sunni dan Syiah bersepakat.

“Hanya dua prinsip dasar yang lain, yakni Imamah dan Keadilan, mereka berbeda,” ujar dia.

Dalam pengantar buku Islam Syiah, Asal Usul dan Perkembangannya yang ditulis oleh Allamah M.H. Thabathaba’i, profesor studi Islam di Universitas George Washington Amerika Serikat, Seyyed Hossein Nasr, 79, mengatakan ada lima prinsip agama atau ushuluddin Islam Syiah, yaitu:
1.Tauhid, yakni kepercayaan kepada keesaan Ilahi
2.Nubuwat, yakni kenabian
3.Ma’ad, yakni kehidupan akhirat
4.Imamah atau keimanan, yakni kepercayaan adanya imam-imam sebagai pengganti nabi
5.Adil atau Keadilan Ilahi.

Menurut Nasr, dalam tiga prinsip dasar, yakni Tauhid, Nubuwat, dan Ma’ad, Sunni dan Syiah bersepakat.

“Hanya dua prinsip dasar yang lain, yakni Imamah dan Keadilan, mereka berbeda,” ujar dia.

Bagi Sunni, menurut profesor studi Islam yang lahir di Iran dan beragama Islam ini, sebagaimana dibawa oleh Nabi ke dunia ini, mencapai masyarakat Sunni lewat para sahabatnya.Yang terkenal antara lain Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.

Juga beberapa yang lainnya seperti Anas, Salman, dan selama generasi-generasi berikutnya melalui para ulama dan sufi.

Namun, bagi masyarakat Syiah, barokah Al-Quran itu sampai kepada mereka, terutama melalui Ali dan Ahlul Bait (diterjemahkan dalam buku ini sebagai anggota keluarga/rumah tangga Nabi).

“Kecintaan yang dalam terhadap Ali dan keturunannya, melalui Fatimah, inilah yang membuat terjadinya kekurangan perhatian terhadap, bahkan pengabaian sahabat-sahabat yang lain, dalam Islam Syiah,” ujar Nasr.

Bagi kebanyakan umat Islam yang mendukung khalifah rasyidun, Nasr menambahkan, para Nabi mencerminkan warisan Nabi dan merupakan penyampaian risalahnya kepada generasi-generasi berikut.

“Pada masyarakat Muslim awal, para sahabat menempati kedudukan yang terhormat dan di antara mereka, empat khalifah pertama berdiri tegak sebagai kelompok yang menonjol,” ujar dia. “Melalui sahabat-sahabatlah, hadits (ucapan-ucapan) dan sunnah (cara hidup) Nabi sampai ke generasi kedua kaum Muslimin.”

Namun bagi Syiah yang memusatkan pada masalah walayat dan menekankan kandungan batiniah risalah kenabian, menurut Nasr, melihat pada diri Ali dan Ahlul Bait Nabi sebagai satu-satunya saluran penyampaian risalah Islam yang asli.

“Walaupun secara paradoks, mayoritas keturunan Nabi menganut Islam Sunni dan terus berlaku seperti itu hingga sekarang,” kata Nasr.

Karena itu, menurut professor studi Islam yang lahir di Iran dan menguasasi enam bahasa ini, walaupun kebanyakan kepustakaan hadis dalam Syiah dan Sunni sama, tapi mata rantai penyampaian dalam berbagai tahap tidaklah sama

Syiah Istna Asyariah
Kelompok ini dikenal juga dengan nama Imamiyah atau Ja”fariyah yang percaya 12 imam dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra, putri Rasulullah SAW.

Syiah Istna Asyariah merupakan mayoritas penduduk Iran, Irak, dan ditemukan juga di beberapa daerah di Suriah, Kuwait, Bahrain, India, Saudi Arabia, dan beberapa daerah bekas Uni Sovyet. Ini adalah kelompok Syiah mayoritas.

Menteri Agama Indonesia ke-15, Muhammad Quraish Shihab, membedah dua kelompok ini dalam buku yang berjudul Sunnah-Syiah, Bergandengan Tangan, Mungkinkah?

Pria 68 tahun ini mengawali kisah dua kelompok besar ini dengan menjelaskan apa itu perbedaan dalam Islam. Ia kemudian membedah perbedaan umum antara Sunnah dan Syiah. Menurut lelaki kelahiran Sulawesi selatan ini, secara umum ada dua kelompok umat Islam dengan jumlah pengikut yang besar yaitu kelompok Ahlussunnah wa al-Jamaah dan kelompok Syiah.

Kelompok pertama secara harfiah dari kata Ahl as-sunnah adalah orang-orang yang konsisten mengikuti tradisi Nabi Muhammad. Baik dalam tuntunan lisan maupun amalan serta sahabat mulia beliau. Golongan ini percaya perbuatan manusia diciptakan Allah dan baik buruknya karena qadha dan qadar-Nya. Kelompok Ahlussunah juga memperurutkan keutamaan Khulafa”ar-Rasyidin sesuai dengan urutan dan masa kekuasaan mereka.

Shihab mengaku kesulitan untuk menjelaskan siapa saja yang dinamai Ahlussunah dalam pengertian terminologi. Secara umum, melalui berbagai pendapat, golongan ini adalah umat yang mengikuti aliran Asy”ari dalam urusan akidah dan keempat imam Mahzab (Malik, Syafi”i, Ahmad bin Hanbal, dan Hanafi).

“Sebelum memulai dengan siapa Syiah, perlu digarisbawahi, kelompok Syiah pun menamai diri Ahlussunah,” ujar dia. Tapi definisinya tentu berbeda. Syiah memang mengikuti tuntunan sunah Nabi, tapi ada sejumlah perbedaan bentuk dukungan dan tuntunan itu.

Muhammad Jawad Maghniyah, ulama beraliran Syiah, mendefinisikan tentang kelompoknya. Syiah yang secara kebahasaan berarti pengikut, pendukung, pembela, dan pecinta ini adalah kelompok yang meyakini bahwa Nabi Muhammad telah menetapkan dengan nash (pernyataan yang pasti) tentang khalifah beliau dengan menunjuk Imam Ali.

“Definisi ini hanya mencerminkan sebagian dari golongan Syiah, tapi untuk sementara dapat diterima,” kata Shihab.

Perbedaan antara Syiah dan Ahlusunnah yang menonjol adalah masalah imamah atau jabatan Ilahi. Khususnya ada tiga hal pokok yang diyakini Syiah dan ditentang Ahlussunnah. Ketiganya adalah pandangan tentang Nabi belum menyampaikan seluruh ajaran/hukum agama kepada umat, imam-imam berwenang mengecualikan apa yang telah disampaikan Nabi Muhammad SAW, dan imam-imam mempunyai kedudukan yang sama dengan Nabi dalam segi kemaksuman (keterpeliharaan dari perbuatan dosa, bahkan tidak mungkin keliru dan lupa)

Keberatan itu, tulis Shihab, tertuang dalam buku karangan Syaikh Abu Zahrah berjudul Tarikh al-Maadzahib al-Islamiyah. Bagi kaum Syiah, imam yang mereka percayai ada dua belas orang jumlahnya. Mulai dari Imam Ali hingga Imam Mahdi. Mereka adalah manusia pilihan Tuhan yang kekuasaannya bersumber dari Allah.
Allamah M.H. Thabathaba’i dalam buku yang ditulisnya, Syiah Dar Islam (Syiah dalam Islam), yang kemudian diterjemahkan menjadi Islam Syiah, Asal Usul dan Perkembangannya, menyebutkan mayoritas orang Syiah adalah penganut aliran Imam Dua Belas atau Imamiyah.

Dalam Syiah Dua Belas Imam ini, Imam ada 12 dan nama-nama mereka adalah:

1.Ali ibn Abi Talib
2.Hasan ibn Ali
3.Husain ibn Ali
4.Ali ibn Husain
5.Muhammad ibn Ali
6.Ja’far ibn Muhammad
7.Musa ibn Ja’far
8.Ali ibn Musa
9.Muhammad ibn Ali
10.Ali ibn Muhammad
11.Hasan ibn Ali
12.Mahdi

Menurut Allamah M.H. Thabathaba’i, dalam bukunya, ketika Nabi wafat, Ali –yang menjadi Imam pertama– telah berusia 30 tahun. Ali juga hadir dalam semua peperangan yang diikuti Rasulullah, kecuali pertempuran di Tabuk ketika dia diperintahkan tinggal di Madinah menggantikan Nabi. Dia juga tidak pernah membangkang.

Itu mengapa kawan-kawan dan pengikut Ali percaya bahwa setelah Nabi wafat, kekhalifahan dan kekuasaan agama berada di tangan Ali, salah satu sahabat Nabi. Para pengikut Ali melihat kepada diri Ali dan Ahlul Bait Nabi sebagai satu-satunya saluran penyampaian risalah Islam yang asli.

Untuk Imam kedua belas, menurut Syiah, masa depan akan menyaksikan suatu hari ketika umat manusia dipenuhi dengan keadilan, ketika semua ingin hidup dalam kedamaian dan ketenteraman dan ketika manusia sepenuhnya memiliki kebajikan dan kesempurnaan. Keadaan seperti itu akan terwujud melalui tangan manusia namun dengan pertolongan Tuhan.

“Dan pemimpin umat yang seperti itu, yang menjadi juru selamat umat manusia, disebut dalam bahasa hadis: Mahdi,” tulis Allamah M.H. Thabathaba’i dalam bukunya.

Imam Jawad syahid akibat racun yang disuguhkan oleh isterinya, Ummu Al-Fadhl atas perintah khalifah Bani Abbas

Imam Jawad, Mahkota Ilmu Ahlul BaitMengenang Imam Ahlul Bait as:
Imam Jawad, Mahkota Ilmu Ahlul Bait
Mengenai pentingnya Ilmu pengetahuan, Imam Jawad berkata, “Beruntunglah orang yang menuntut ilmu. Sebab mempelajarinya diwajibkan bagimu. Membahas dan mengkajinya merupakan perbuatan baik dan terpuji. Ilmu mendekatkan saudara seiman, hadiah terbaik dalam setiap pertemuan, mengiringi manusia dalam setiap perjalanan, dan menemani manusia dalam keterasingan dan kesendirian.” 

Muhammad al-Jawad (Arab: محمد الجواد) dikenal juga dengan gelar at-Taqi, dan dijuluki Abu Ja’far adalah Imam ke-9 dalam tradisi Syi’ah Dua Belas Imam. Ia lahir di Madinah, pada 10 Rajab 195 H. (8 April 811 M), dan wafat pada hari Selasa, Akhir Dzul-Hijjah 220 H. (Desember 835), pada usia 25 tahun, dan dimakamkan di Kazimain, Baghdad, Iraq.. Salah satu hal menarik dalam kehidupannya, beliau menjadi imam pada usia delapan tahun.

Allah mengangkat Imam al-Jawad a.s. bertanggung jawab pada posisi Imamah. Pada umur yang masih sangat muda, 8 tahun, tidaklah terlihat bahwa Imam yang masih muda tersebut memiliki ketinggian ilmu dan pengetahuan. Tetapi setelah beberapa hari berlalu beliau a.s. tidak hanya sering menang berdebat dengan ulama-ulama tentang fiqih, hadis, tafsir, dsb, tetapi juga meraih respect dan penghargaan mereka dalam kemampuannya. Sejak saat itulah dunia menyadari bahwa Imam a.s. memiliki ilmu pengetahuan yang sangat luas dan ilmu tersebut bukanlah dipelajari dan didapat, tetapi merupakan pemberian dari Allah SWT.

 Umur dari Imam Muhammad al-Jawad a.s. lebih pendek dari umur ayah-ayahnya, maupun putra-putranya.

Lalu, muncul pertanyaan mungkinkah di usia semuda itu menjadi pemimpin umat sebagai Imam kaum muslimin? Memang, akal dan fisik manusia harus menempuh tahapan-tahapan tertentu untuk mencapai kesempurnaan. Tapi, jika Allah swt berkehendak maka fase yang sangat panjang itu bisa dilalui dalam waktu yang sangat singkat oleh orang-orang tertentu.

Dalam kenabian dan imamah, faktor umur bukan suatu persyaratan. Allah Yang Maha Kuasa mampu memberikan ilmu dan kemaksuman serta segala sesuatu yang menjadi kekhususan bagi seorang nabi dan imam kepada seorang anak kecil atau bayi yang baru dilahirkan. Demikian pula dengan Imam Jawad as, dalam keadaan masih anak-anak telah menjadi imam setelah kesyahidan ayah beliau yang mulia.

Al-Quran menjelaskan orang-orang tertentu yang dipilih Tuhan menjadi pemimpin umat di usia sangat muda bahkan bayi. Nabi Yahya misalnya, menjadi pemimpin umat di usia kanak-kanak. Dalam surat Maryam ayat 12, Allah swt berfirman, “Wahai Yahya, ambillah alKitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.”

Di ayat lain, al-Quran menjelaskan bahwa Nabi Isa dapat berbicara dalam keadaan masih bayi dan memberitahukan kenabiannya kepada masyarakat. Surat Maryam ayat 30 menceritakan, “Berkata Isa: Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada. Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. Berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.”

Imam Jawad sebagaimana ayahnya Imam Ridha memainkan peran penting dalam menjaga dan menyebarkan nilai-nilai agama Islam di tengah masyarakat. Beliau menyebarkan ilmu al-Quran, akidah, fiqh, hadis, dan ilmu keislaman lainnya. Salah satunya mengenai tafsir al-Quran. Imam Jawab menjawab pertanyaan mengenai makna dan tafsir sejumlah ayat al-Quran.

Seorang sahabat Imam bernama Abu Hashim Jafari bertanya, “Apa makna kalimat ‘Ahad‘ dalam ayat ‘Qul Huwallahu Ahad‘.” Imam menjawab, “Ahad adalah keyakinan terhadap keesaan Allah yang Maha Besar. Apakah kamu tidak mendengar ayat yang artinya berbunyi, “Jika ditanya kepada orang kafir siapa yang menciptakan langit dan bumi ini ? Mereka pasti menjawab, ‘Allah’. Meskipun orang-orang kafir itu sesuai fitrah dan akalnya mengakui Tuhan, tapi mereka menyekutukannya.”

Keutamaan ilmu dan kemuliaan akhlak Imam Jawad begitu harum semerbak di tengah masyarakat, hingga penguasa yang merasa terancam dengan popularitas sang Imam merancang sebuah konspirasi untuk menjatuhkan citra beliau. Pada hari yang telah ditentukan, penguasa Abbasiyah bersama Yahya bin Aktsam memasuki majelis besar yang dihadiri oleh orang-orang terhormat, bangsawan, dan para pejabat pemerintahan. Kemudian, datanglah Imam Jawad as ke majelis itu. Orang-orang yang hadir di dalam majelis itu berdiri menyambut kedatangan beliau.

Makmun berkata kepada Imam Jawad, “Yahya bin Aktsam ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu.” “Silahkan bertanya apa pun yang ia ingin ditanyakan”, jawab Imam as. Yahya mulai melontarkan pertanyaannya kepada Imam, “Apa pendapatmu tentang orang yang mengenakan pakaian Ihram dan berziarah ke Ka’bah, pada saat yang sama ia juga pergi berburu dan membunuh seekor binatang di sana?”

Imam Al-Jawad berkata, “Wahai Yahya, kau telah menanyakan sebuah masalah yang masih sangat umum. Mana yang sebenarnya ingin kau tanyakan; apakah orang itu berada di dalam Tanah Haram atau di luar? Apakah ia tahu dan mengerti tentang larangan perbuatan itu atau tidak? Apakah dia membunuh binatang itu dengan sengaja atau tidak? Apakah dia itu seorang budak atau seorang merdeka? Apakah pelaku perbuatan itu menyesali perbuatannya atau tidak? Apakah kejadian ini terjadi pada malam atau siang hari? Apakah perbuatannya itu untuk yang pertama kali atau kedua kalinya atau ketiga kalinya? Apakah binatang buruan itu sejenis burung atau bukan? Apakah binatang buruan itu besar atau kecil?”

Mendengar jawaban dari  Imam  Jawad yang saat ini berusia sangat muda, Yahya bin Aktsam, takjub dan dari raut mukanya terlihat ketidakberdayaannya. Ia pun mengakui keilmuan Imam Jawad.

Imam Jawad juga memiliki sahabat dan murid-murid yang berjasa dalam penyebaran keilmuan Islam. Di antaranya adalah Muhammad Bin Khalid Barqi yang menulis sejumlah karya di bidang tafsir al-Quran, sejarah, sastra, ilmu hadis dan lainnya.

Mengenai pentingnya Ilmu pengetahuan, Imam Jawad berkata, “Beruntunglah orang yang menuntut ilmu. Sebab mempelajarinya diwajibkan bagimu. Membahas dan mengkajinya merupakan perbuatan baik dan terpuji. Ilmu mendekatkan saudara seiman, hadiah terbaik dalam setiap pertemuan, mengiringi manusia dalam setiap perjalanan, dan  menemani  manusia dalam keterasingan dan kesendirian.”

Imam Jawad senantiasa menyerukan untuk menuntut ilmu dan menyebutnya sebagai penolong terbaik. Beliau menasehati sahabatnya supaya menghadiri majelis ilmu dan menghormati orang-orang yang berilmu. Tentang pembagian ilmu, Imam Jawad berkata, “Ilmu terbagi dua, yaitu ilmu yang berakar dari dalam diri manusia, dan ilmu yang diraih dari orang lain. Jika ilmu yang diraih tidak seirama dengan ilmu fitri, maka tidak ada gunanya sama sekali. Barang siapa yang tidak mengetahui kenikmatan hikmah dan tidak merasakan manisnya, maka ia tidak akan mempelajarinya. Keindahan sejati terdapat dalam lisan dan laku baik. Sedangkan kesempurnaan yang benar berada dalam akal.”

Imam Jawad menyebut ilmu sebagai faktor pembawa kemenangan dan sarana mencapai kesempurnaan. Beliau menyarankan kepada para pencari hakikat dan orang-orang yang mencari kesempurnaan dalam kehidupannya untuk menuntut ilmu. Sebab ilmu akan membantu mencapai tujuan tinggi baik dunia maupun akhirat.

Pada hari terakhir bulan Dzulqaidah 220 H, Imam Jawad syahid akibat racun yang disuguhkan oleh isterinya, Ummu Al-Fadhl  atas perintah khalifah Bani Abbas. Makam suci beliau di samping kuburan suci kakeknya yang mulia, Imam Musa Ibn Ja`far as, di kota Kadzimain yang menjadi tempat ziarah para pecinta Ahlul Bait as.

Salam bagimu wahai Muhammad bin Ali yang mulia, takwa dan setia !

Salam bagimu wahai tanda besar Tuhan !

Salam bagimu wahai hujah Allah bagi makhluk !

Warisan kehidupannya antara lain kejujuran, keramahan, kesantunan, ketegasan, pemaaf dan toleransi. Diri beliau yang sangat bersinar adalah karakternya yang selalu menunjukkan keramahan kepada siapapun tanpa kecuali, membantu yang membutuhkan; menjaga keadilan dalam situasi apapun, hidup sederhana, menolong yatim piatu, fakir miskin dan tunawisma; mengajarkan kepada yang tertarik untuk belajar dan membimbing rakyat ke jalan yang benar.

    Al-Ma’mun, raja Abbasiyah, menyadari bahwa untuk kelangsungan kerajaannya dia harus memenangkan simpati rakyat Iran yang selalu bersahabat terhadap Ahlul-Bayt Rasulullah S.A.W. Akibatnya al-Ma’mun terpaksa, dari segi politik, untuk berhubungan dengan anggota dari Bani Fatimah dengan mengorbankan ikatan keluarganya dengan Bani Abbas untuk meraih simpati kaum Shiah. Dia mengumumkan bahwa Imam Ali ar-Ridha a.s. sebagai pewarisnya, walaupun tanpa persetujuan Imam a.s., dan mengawinkan saudaranya Ummu Habihah. Al-Ma’mun berharap bahwa Imam ar-Ridha a.s. akan memberikan bantuan dalam urusan-urusan politik. Tetapi ketika dia menyadari bahwa Imam a.s. tidak terlalu tertarik pada urusan politik dan rakyat kebanyakan semakin dekat kepada Imam a.s. karena ketinggiannya, dia meracuni Imam a.s.

Kemudian dia berniat untuk mengawinkan puterinya Ummu’l Fadl dengan Imam al-Jawad a.s. dan memanggil Imam dari Madinah ke Iraq. Bani Abbas sangat marah ketika tahu bahwa al-Ma’mun merancaga untuk mengawinkan anaknya dengan Imam al-Jawad a.s. Mereka berusaha untuk memaksa al-Ma’mun agar mengurungkan niatnya. Tetapi al-Ma’mun tetap terpersona pada ilmu dan ketinggian ilmu dari Imam a.s. Dia kerap berkata bahwa walaupun Imam al-Jawad a.s. masih sangatlah muda, tapi beliau mewarisi segala sifat-sifat ayahnya dan seluruh ulama-ulama Islam di dunia tidak ada yang menyaingi beliau a.s. Ketika Bani Abbas menyadari bahwa al-Ma’mun semakin dekat kepada Imam a.s. mereka menyuruh Yahya bin Aktham, ulama paling utama di Baghdad, untuk berdebat dengan Imam a.s.

Al-Ma’mun mempersiapkan acara ini dan mengumumkannya secara besar-besaran. Selain untuk kalangan kerajaan dan pejabat, telah disediakan sekitar 900 kerusi untuk para ulama. Dunia terpana ketika seorang anak kecil dihadapkan untuk berdebat dengan para ulama-ulama veteran di Iraq. Imam al-Jawad a.s. duduk di sebelah al-Ma’mun hadap-berhadapan dengan Yahya bin Aktham, yang kemudian bertanya,”Apakah kau izinkan aku untuk bertanya?” “Tanyalah apa saja yang engkau mau,” jawam Imam a.s.

Kemudian sesi ini dilanjutkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Imam a.s. yang dijawab dengan sangat baik oleh Imam a.s. Ketika pada akhirnya Imam a.s. bertanya balik kepada Yahya bin Aktham, dia tidak bisa menjawab. Kemudian al-Ma’mun berkata,”Tidakkah aku sudah mengatakan bahwa Imam datang dari keluarga yang telah dipilih oleh Allah sebagai tempat penyimpanan ilmu pengetahuan? Apakah ada satu orang pun di dunia ini yang bahkan mampu untuk menyaingi seorang anak kecil dari keluarga ini?”

Lalu semuanya menyahut,”Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada yang menyamai Muhammad bin Ali al-Jawad.” Dan kemudian al-Ma’mun menikahkan anaknya Ummu’l Fadl dengan Imam a.s. Satu tahun setelah pernikahannya Imam a.s. memutuskan untuk kembali ke Madinah dengan istri beliau.

    Sepeninggal al-Ma’mun, al-Mu’tasim menaikit tahta, dia menggunakan kesempatan ini untuk menjelek-jelekkan Imam a.s., menyakitinya dan menyebarkan berita bohong terhadapnya. Dia memanggil Imam a.s. ke Baghdad. Setibanya Imam a.s. di Baghdad pada tanggal 9 Muharram 220H al-Mu’tasim meracuni diri beliau. Imam a.s. meninggal pada tanggal 28 Zulqaidah 220H dan dikuburkan disisi kakek beliau, Imam Musa al-Kazhim a.s., Imam ketujuh dalam Shiah Imamiyah di pinggiran kota Baghdad.

Nama : Muhammad

Gelar : Al-Jawad, Al-Taqi

Julukan : Abu Ja’far

Ayah : Ali Ar-Ridha

Ibu : Sabikah yang dijuluki Raibanah

Tempat/Tgl Lahir : Madinah, 10 Rajab 195 H.

Hari/Tgl Wafat : Selasa, Akhir Dzul-Hijjah 220 H.

Umur : 25 Tahun

Sebab kematian : diracun istrinya

Makam : Al-Kadzimiah

Jumlah Anak : 4 Orang; 2 laki-laki dan 2 perempuan

Anak Laki-laki : Ali, Musa

Anak Perempuan : Fatimah, Umamah

 

Riwayat Hidup

 

    Ahlul Bait Nabi s.a.w yang akan kita bicarakan kAliini adalah Muhammad al Jawad. Beliau adalah putra dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. yang dikenal sebagai orang yang zuhud, alim serta ahli ibadah. lbunya Sabikah, berasal dari kota Naubiyah. Di masa kanak-kanaknya beliau dibesarkan, diasuh dan dididik oleh ayahandanya sendiri selama 4 tahun. Kemudian ayahandanya diharuskan pindah dari Madinah ke Khurasan. ltulah pertermuan terakhir antara beliau dengan ayahnya, sebab ayahnya kemudian mati diracun. Sejak tanggal 17 Safar 203 Hijriah, Imam Muhammad aL-Jawad memegang tanggung jawab keimaman atas pernyataan ayahandanya sendiri serta titah dari Ilahi.

    Beliau hidup di zaman peralihan antara al-Amin dan al-Makmun. Pada masa kecilnya beliau merasakan adanya kekacauan di negerinya.     Beliau juga mendengar pengangkatan ayahnya sehagai putra mahkota yang mana kemudian terdengar khabar tentang kematian ayahnya.     Sejak kecil, beliau telah menunjukkan sifal-sifat yang mulia serta tingkat kecerdasan yang tinggi. Dikisahkan bahwa ketika ayahnya dipanggil ke Baghdad, beliau ikut mengantarkannya sampai ke Makkah. Kemudian ayahnya tawaf dan berpamitan kepada Baitullah. Melihat ayahnya yang berpamitan kepada Baitullah, beliau akhirnya duduk dan tidak mau berjalan. Setelah ditanya, beliau menjawab: “Bagaimana mungkin saya bisa meninggalkan tempat ini kalau ayah sudah berpamitan dengan Bait ini untuk tidak kembali kemari”. Dengan kecerdasannya yang tinggi beliau yang masih berusia empat tahun lebih boleh merasakan akan dekatnya perpisahan dengan ayahnya.

    Dalam bidang keilmuan, beliau telah dikenal karena seringkali berbincang dengan para ulama di zamannya. Beliau mengungguli mereka semua, baik dalam bidang fiqih, hadis, tafsir dan lain-lainnya. Melihat kepandaiannya, al-Makmun sebagai raja saat itu, berniat mengawinkan Imam Muhammad al-Jawad dengan putrinya, Ummu Fadhl.

    Rencana ini mendapat tantangan keras dari kaum kerabatnya, karena mereka takut Ahlul Bait Rasulullah s.a.w akan mengambil alih kekuasaan. Mereka kemudian mensyaratkan agar Imam dipertemukan dengan seorang ahli agama Abbasiyah yang bernama Yahya bin Aktsam. Pertemuan pun diatur, sementara Qodhi Yahya bin Aktsam sudah berhadapan dengan Imam. Tanya jawab pun terjadi, ternyata pertanyaan Qodi Yahya bin Aktsam dapat dijawab oleh Imam dengan benar dan fasih. namun pcrtanyaan Imam tak mampu dijawabnya. Gemparlah semua hadirin yang ikut hadir saat itu. Demikian pula halnya dengan al-Makmun, juga mersa kagum sembari herkata: “Anda hebat sekali, wahai Abu Ja’far”. Imam pun akhirnya dinikahkan dengan anaknya Ummu al-Hadlil, dan sebagai tanda suka cita, al-Makmun kemudian membagi-bagikan hadiah secara royal kepada rakyatnya. Setahun setelah pernikahannya Imam kembali ke     Madinah hersama istrinya dan kembali mengajarkan agama Allah.

Meskipun di zaman al-Makmun, Ahlul Bait merasa lebih aman dari zaman sebelumnya, namun beberapa pemberontakan masih juga terjadi. Itu semua dikarenakan adanya perlakuan-perlakuan yang semena-mena dan para bawahan al-Makmun dan juga akibat politik yang tidak lurus kepada umat.

    Setelah Al-Makmun mati, pemerintahan dipimpin oleh Muktasim. Muktasim menunjukkan sifat kebencian kepada Ahlul Bait, seperti juga para pendahulunya. Penyiksaan, penganiayaan dan pembunuhan terjadi lagi, hingga pemberontakan terjadi dimana-mana dan semua mempergunakan atas nama “Ahlul Bait Rasulullah s.a.w”. Melihat pengaruh Imam Muhammad yang sangat besar ditengah masyarakat, serta kemuliaan dan peranannya dalam bidang politik, ilmiah serta kemasyarakatan, maka al-Muktasim tidak berbeda dengan para pendahulunya dalam hal takutnya terhadap keimamahan Ahlul Bait Rasulullah s.a.w.

Pada tahun 219 H karena kekhawatirannya al-Muktasim meminta Imam pindah dari Madinah ke Baghdad sehingga Imam berada dekat dengan pusat kekuasaan dan pengawasan. Kepergiannya dielu-elukan oleh rakyat di sepanjang jalan.

    Tidak lama kemudian, tepatnya pada tahun 220 H, Imam wafat melalui rencana pembunuhan yang diatur oleh Muktasim yaitu dengabn cara meracuninya. Menurut riwayat beliau diracun oleh istrinya sendiri, Ummu Fadl, putri al-Makmun atas hasutan al-Muktasim. Imam Muhamad wafat dalam usia relatiisf muda yaitu 25 tahun dan dimakamkan disamping datuknya, Imam Musa Kazim, di Kazimiah, perkuburan Qurays di daerah pinggiran kota Bagdad. Meskipun beliau syahid dalam umur yang relatif muda, namun jasa-jasanya dalam memperjuangkan dan mendidik umal sangatlah besar sekali.

Wahabi memalsukan kitab-kitab Syiah sebagai satu usaha mendiskreditkan Syiah. Antaranya kitab Tahrir al Wasilah, karangan Imam Khomeini. Namun adakah kitab Ahlul Sunnah terselamat dari cubaan jahat mereka?

Salam alaikum wa rahmatollah. Bismihi Taala

Telah banyak sekali keburukan Wahabi yang telah terbongkar apabila mereka bertindak memalsukan kitab-kitab Syiah sebagai satu usaha mendiskreditkan Syiah. Antaranya kitab Tahrir al Wasilah, karangan Imam Khomeini. Namun adakah kitab Ahlul Sunnah terselamat dari cubaan jahat mereka? Saksikan video diatas !

Hadis Menurut Syiah


Prinsip bahawa hadis memiliki kesahihan, seperti yang diperakui al-Quran, tidak dipertikaikan langsung di kalangan syiah mahupun di kalangan semua umat Islam. Tetapi kerana kegagalan beberapa pemerintah awal Islam dalam memelihara dan menjaga hadis, dan sikap tidak berhati-hati beberapa sahabat Nabi dalam penyebaran penulisan hadis, pengumpulan hadis menghadapi beberapa cabaran. Di satu segi ada khalifah masa itu menghalang penulisan dan rakaman hadis seraya mengarahkan mana-mana tulisan hadis dibakar. Seringkali juga sebarang kegiatan penyebaran dan kajian hadis dilarang.[1]

Lantaran itu sebilangan hadis telah dilupakan atau hilang dan beberapa yang sempat dirawikan berubah dan menyelewing maksudnya.

.

Dalam pada itu  kecenderungan lain juga wujud di kalangan sekumpulan lain sahabat nabi yang telah diberi penghormatan hidup sezaman dengan beliau dan mendengar sendiri sabda-sabda beliau. Kumpulan yang dihormati oleh beberapa khalifah dan kaum muslimin, memulakan satu usaha yang gigih untuk menyebarkan hadis. Ia menjadi sedemikian rupa sehinggakan kadang-kadang hadis boleh menolak Al-Quran dan ketetapan ayat al-Quran dimansukhkan oleh hadis mereka.[2]

.

Selalunya perawi hadis akan menjelajah beribu batu dan menanggung semua kesukaran bermusafir hanya untuk mendengar sepotong hadis. Ada juga orang asing yang menyamar sebagai orang Islam dan juga musuh dari kalangan Islam sendiri mula mengubah dan memutar-belitkan beberapa hadis sehingga kebenaran dan kesahihan hadis itu boleh dipertikaikan oleh saksi-saksi hadis itu sendiri. [3]

.

Di atas sebab itu para ulama Islam mula berfikirkan satu penyelesaian. Mereka mencipta beberapa kaedah memeriksa biografi perawi hadis dan kekuatan perawian untuk kita dapat membezakan antara hadis yang benar dan palsu. [4]Kaedah Syiah dalam mengesahkan sesuatu hadis, di samping berusaha untuk mengesahkan rantaian perawi hadis yang sah tidak putus , disemak hubung-kait teks hadis dengan al-Quran adalah menjadi sebagai syarat yang perlu dalam menentukan kesahihan

.

Dari sumber-sumber Syiah walaupun terdapat banyak hadis Nabi dan Imam dengan rantaian perawian yang sah tetapi apabila ia bercanggah dengan al-Quran; ia tidak bernilai apa-apa. Hanya hadis yang menepati semua kriteria di atas boleh dianggap sah.[5] Lantaran itu, Syiah tidak mengamalkan hadis-hadis yang bercanggahan dengan teks al-Quran. Maka pada hadis yang tidak memenuhi kriteria di atas dan pengesahan mahupun bantahan oleh para Imam belum diperolehi, hadis itu hanya merupakan setakat riwayat atau khabar berita. [6]

.

Tidak dinafikan juga dalam Syiah sendiri, sama seperti sekumpulan Sunni yang menerima kesemua hadis dari pelbagai sumber. Kaedah Syiah dalam kesahihan hadis. Sebuah hadis yang dinyatakan terus dari mulut Nabi mahupun salah seorang daripada Imam akan diterima sebagaimana al-Quran. Manakala hadis yang disampaikan oleh perawi akan diterima rata-rata syiah jika rantaian rawinya tidak terputus kesahihannya atau jika wujud bukti yang jelas tentang kebenaran hadis itu dan  jika mereka peka akan prinsip doktrin yang memerlukan pengetahuan dan kepastian, sesuai dengan teks al-Quran.

.

Selain daripada dua jenis hadis itu, tiada hadis yang lain mempunyai sebarang kesahihan melalui prinsip pengkhabaran yang sah/mutawatir, maka hadis ini digelar hadis bersumber tunggal. Walau bagaimanapun, dalam menzahirkan syariah dengan kriteria di atas, Syiah menerima juga hadis yang diterima dan dipercayai. Oleh itu, ia boleh dikatakan bahawa untuk Syiah akan menerima hadis mutawatir dan akur dengannya, manakala hadis yang kurang sahih tetapi pada umumnya boleh dipercayai akan digunakan hanya dalam penjelasan pengamatan syariah.

.

Nota:
1. Bihar al-Anwaar, jilid.1,m/s.117
.
2. Persoalan pemansuhan atau penggantian sebahagian ayat-ayat Al-Quran adalah satu cabaran sukar sains  perundangan Islam dan setengah ulama Sunni seolah-olah menerima konsep pemansuhan. Perisitwa Fadak merungkaikan pelbagai  tanggapan akan tafsir ayat-ayat Al-Quran melalui penggunaan hadis
.
3. Kesan tragis persoalan ini apabila terdapat sebilangan besar karya-karya yang ditulis oleh ulama hadith tersohor dari hadis yang direka. Begitu juga tatkala biografi perawi hadis disemak, mereka samada dibuktikan sebagai tidak jujur ataupun perawi lemah
.
4. Nota penyunting: Namun penelitian kesusasteraan hadis dan penciptaan kriteria untuk membezakan antara hadis yang benar mahupun palsu tidak boleh disamakan dengan kritikan orientalis Eropah terhadap pengumpulan keseluruhan hadis Islam. Dari pandangan Islam, komentar orientalis itu adalah salah satu dakyah yang paling kejam dibuat terhadap struktur keseluruhan Islam
.
5. Bihar al-Anwaar, jilid.1.m/s.139
.
6. Bihar al-anwar, jilid.l.m/s.117.-Sumber: petikan dari buku Syiah dikarang oleh Allamah Sayyid Muhammad Husayn Tabatabaei.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memimpin militer Iran. Di Indonesia MUI cuma penasehat pemerintah

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran:
Iran Tidak Akan Tinggal Diam Hadapi Agresi
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan rakyat Iran dengan mengikuti ajaran agama adalah bukan bangsa agresor dan pengobar perang, namun tidak akan tinggal diam terhadap serangan pihak lain.
 
 Iran Tidak Akan Tinggal Diam Hadapi Agresi Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan rakyat Iran dengan mengikuti ajaran agama adalah bukan bangsa agresor dan pengobar perang, namun tidak akan tinggal diam terhadap serangan pihak lain
.
Ayatullah Khamenei pada Jumat pagi (12/10) dalam apel gelar pasukan di Provinsi Khorasan Utara, menyebut Angkatan Bersenjata Republik Islam sebagai faktor keamanan dan pengayom bangsa Iran dari ancaman-ancaman asing.Beliau menambahkan, motivasi agresor untuk mengobarkan perang adalah menjual senjata dan memakmurkan industri militer milik kaum kapitalis.”Satu-satunya faktor yang akan memperlemah atau memusnahkan motivasi Barat adalah kesiapan bangsa secara keseluruhan dan juga persiapan Angkatan Bersenjata Republik Islam,” tegas Rahbar.

Seraya menyatakan bangsa Iran, terutama kaum muda dan angkatan bersenjata kini lebih siap untuk membela negara, Rahbar menandaskan kesiapan dan semangat baja bangsa dan angkatan bersenjata Iran tidak akan mengizinkan musuh untuk berpikir menyerang Republik Islam.

Acara tersebut ditutup dengan parade militer dari berbagai kesatuan yang melintasi podium tempat Rahbar berpidato

.

Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memimpin militer Iran. Di Indonesia MUI cuma penasehat pemerintah

 

Share

Iran berada di peringkat keenam belas dunia di bidang sains, diperkirakan enam tahun kedepan akan naik ke peringkat empat dunia

Tanggal: 2012/10/14 – 15:58 Sumber: http://www.leader.ir print
Ayatullah Sayyid Ali Khamanei:
Diprediksikan, Enam Tahun Mendatang Iran Capai Peringkat Empat Kemajuan Sains Dunia

Diprediksikan, Enam Tahun Mendatang Iran Capai Peringkat Empat Kemajuan Sains Dunia
 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Kamis (11/10) pagi dalam pertemuan dengan ribuan guru, dosen dan dewan keilmuan perguruan tinggi provinsi Khorasan Utara mengingatkan pentingnya membangun jatidiri insani sejak usia dini yang didasarkan pada kepribadian luhur. Beliau menandaskan, “Kebutuhan paling mendasar di negara ini adalah menumbuhkan jiwa optimisme akan masa depan, gairah, dan rasa percaya diri pada generasi muda.”

.
Di awal pembicaraan, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa digelarnya pertemuan dengan para guru dan dosen seperti ini dimaksudkan untuk menumbuhkan budaya penghormatan kepada kedudukan guru. Beliau menyinggung pembicaraan sejumlah guru dan dosen di awal pertemuan dan menyebutnya sebagai pembicaraan yang tepat, cermat dan ilmiah yang disampaikan oleh para guru dari provinsi Khorasan Utara. “Apa yang sudah disampaikan tadi sangat layak untuk dimanfaatkan dan orang senang mendengarnya. Ini menunjukkan potensi menonjol dan pemikiran maju dan cerah yang dimiliki Khorasan Utara,” kata beliau.

.
Berbicara mengenai filosofis pembentukan pemerintahan dalam Islam yang ditujukan untuk menciptakan perubahan mendasar dan menyeluruh pada individu dan masyarakat serta untuk menegakkan nilai-nilai suci yang menggeser sifat-sifat buruk, Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan, “Dalam perspektif ini, peran pendidikan dan bimbingan serta kedudukan lembaga pendidikan tinggi berikut guru dan dosen sangatlah penting dan menonjol.”

Seraya mengingatkan bahwa salah satu tugas utama pendidikan adalah membentuk kepribadian anak, beliau menjelaskan beberapa karakter penting yang dibutuhkan masyarakat dan harus dipupuk sejak dini.

.
Rahbar menyinggung pula masalah pendidikan budaya berlogika, dan mengatakan, “Sejak usia dini anak-anak harus dilatih dan dibiasakan untuk berlogika dan berpikir benar.”

.
Masalah lain yang juga mesti diperhatikan dalam pendidikan anak adalah menumbuhkan rasa percaya diri. Beliau mengungkapkan, “Salah satu budaya keliru di masa lalu dan sampai saat ini masih mengakar adalah budaya memandang Barat dengan kacamata membutuhkan, menganggap besar Barat dan memandang kerdil diri sendiri khususnya yang berhubungan dengan masalah keilmuan.”

.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, pandangan yang keliru ini harus diberantas hingga ke akar dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri.
“Rasa percaya diri yang bertolak belakang dengan kepercayaan kepada Barat harus dikembangkan di tengah anak-anak dan generasi muda. Menumbuhkan rasa percaya diri adalah salah satu tugas penting lembaga pendidikan dan bimbingan dan lembaga pendidikan tinggi,” imbuh beliau.

Lebih lanjut Rahbar menyebut soal lapang dada dan kesabaran yang merupakan salah satu sifat mulia. Menurut beliau sifat mulia ini sangat diperlukan oleh masyarakat dan merupakan modal utama dalam menjalin hubungan sosial bahkan politik. “Jika faksi-faksi politik menjunjung tinggi asas toleransi dan lapang dada diantara mereka, maka akan tercipta kondisi yang lebih baik,” tandas beliau.

.
Hal lain yang disinggung dalam pembicaraan ini adalah membudayakan rasa keingintahuan, semangat kerja berkelompok dan kerjasama, menghindari kemalasan, serta budaya menelaah dan membaca di tengah anak-anak dan generasi muda. Membiasakan anak dengan cita-cita yang tinggi, menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam adalah salah satu hal yang dibutuhkan negara.

.

“Salah satu tugas lembaga pendidikan dan bimbingan adalah menumbuhkan kepercayaan diri bahwa kita bisa,” kata beliau.

.
Seraya menjelaskan kemajuan yang dicapai Iran di bidang keilmuan dan besarnya tingkat penerimaan mahasiswa dan dewan keilmuan di perguruan tinggi negara ini dibanding kondisi di awal kemenangan revolusi Islam, Ayatollah al-Udzma Khamenei menegaskan, “Lembaga-lembaga sains terkemuka dunia mengumumkan bahwa Republik Islam Iran berada di peringkat keenam belas dunia di bidang sains. Mereka juga memprediksikan bahwa enam tahun kedepan Republik Islam Iran akan naik ke peringkat empat dunia.”

.
Iran, ungkap beliau, menyumbangkan dua persen produksi sains dan keilmuan dunia. “Semua prestasi ini dicapai dalam kondisi yang sulit, di tengah himpitan embargo dan intimidasi. Langkah kemajuan itu dimulai oleh sekelompok pemuda berbakat yang mengandalkan tekad dan semangat kuat meski tidak mendapat dukungan spiritual dan finansial yang terlembaga,” ujar beliau.
Rahbar menambahkan, “Prestasi-prestasi besar keilmuan dan akademi yang dicapai dalam kondisi seperti itu menumbuhkan optimisme sekaligus menunjukkan rasa percaya diri dan tekad untuk maju di tengah generasi muda.”

.
Beliau menekankan untuk selalu menyuntikkan rasa percaya diri di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi sekaligus mengikis pesimisme.
Di bagian lain pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei mengimbau para guru dan dosen untuk melindungi generasi muda dari mistik palsu. Beliau mengatakan, “Parameter Islam dalam masalah ketinggian spiritual dan ruhani adalah ketaqwaan, menjauhi dosa dan memandang penting masalah shalat dan mengakrabkan diri dengan al-Qur’an.”

.
Lebih lanjut beliau menyampaikan kritikan atas puji-pujian yang disampaikan dalam banyak pertemuan. Menurut beliau, mengungkapkan cinta kepada abdi masyarakat adalah hal yang didukung oleh Islam. Tapi jangan sampai menggunakan kata-kata yang berlebihan

.

Ulama Dan Rohaniwan Adalah Prajurit Pemerintahan Islam

Rahbar:
Ulama Dan Rohaniwan Adalah Prajurit Pemerintahan Islam
“Rohaniwan dan hauzah ilmiah harus memberikan sumbangsihnya kepada pemerintahan Islam dan memperkuatnya dengan lebih giat bekerja di bidang keilmuan, membekali diri dengan pengetahuan agama secara mendalam, mengenal pemikiran-pemikiran baru dan menjalin hubungan dengan generasi muda khususnya kalangan mahasiswa.”
 

 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Rabu (10/10) malam dalam pertemuan dengan para ulama dan rohaniwan provinsi Khorasan Utara menyinggung kesatuan tak terpisahkan antara ulama dan pemerintahan Islam, seraya menjelaskan peluang yang diberikan oleh revolusi Islam kepada kalangan rohaniwan untuk menyebarkan ajaran Islam ke tengah masyarakat.

Beliau mengatakan, “Rohaniwan dan hauzah ilmiah harus memberikan sumbangsihnya kepada pemerintahan Islam dan memperkuatnya dengan lebih giat bekerja di bidang keilmuan, membekali diri dengan pengetahuan agama secara mendalam, mengenal pemikiran-pemikiran baru dan menjalin hubungan dengan generasi muda khususnya kalangan mahasiswa.”

 

Seraya menyatakan bahwa jutaan audien ulama dan rohaniawan berkat berdirinya pemerintahan Islam, Ayatollah al-Udzma Khamenei menandaskan, “Kalangan rohaniwan adalah prajurit bagi pemerintahan ini dan tak bisa berpikir untuk berpisah darinya.”

Menurut beliau, pemikiran apapun yang memisahkan rohaniwan dari pemerintahan Islam tergolong pemikiran sekular. “Hauzah ilmiah tak mungkin menjadi sekular dan tak peduli dengan pemerintahan Islam,” imbuh beliau.

Menyinggung fatwa para ulama dan marji yang mengharamkan upaya apapun yang merongrong dan melemahkan pemerintahan Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, “Ketika dinas-dinas keamanan asing yang memusuhi pemerintahan Islam termasuk Amerika, Inggris dan Rezim Zionis Israel terus mempropagandakan keterpisahan rohaniwan dari pemerintahan Islam, tak ada satupun rohaniwan yang merasa dirinya terpisah dari pemerintahan Islam ini.”

Menurut beliau, pemerintahan ini punya keterikatan kuat dengan ulama. Tanpa ulama dan rohaniwan, revolusi Islam tak akan meraih kemenangan. Sebab, kaum cendekia dan aktivis politik non Islam tidak memiliki pengaruh yang kuat di tengah masyarakat.

Mengenai tugas rohaniwan di masa ini, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut Rasulullah Saw sebagai sosok yang harus diteladani. “Sama seperti kondisi di masa perang Ahzab di masa Rasulullah Saw, saat inipun semua musuh bangsa Iran di tingkat global dan regional bahu membahu untuk meruntuhkan resistensi dan tekad kuat bangsa ini. Namun, sebagaimana dalam perang Ahzab kaum mukminin tidak membiarkan rasa takut dan keraguan merasuki jiwa mereka, bangsa Iran pun dengan kerja kerasnya untuk meningkatkan kemampuan dan kekuatannya akan selalu resisten menghadapi segala tekanan,” kata beliau.

Rahbar menambahkan, “Dalam perang Ahzab sekelompok munafik dan orang-orang yang lemah iman berkata kepada kaum mukminin, ‘mengapa kalian tidak melunak dan mengubah langkah?’ Saat itu para pembela Nabi yang setia menjawab, ‘kami tidak heran menyaksikan semua tekanan ini, tidak pula membiarkan rasa takut menggetarkan hati kami, dan kami akan terus melanjutkan langkah kami’.”

Beliau mengingatkan, “Tekanan ini akan selalu ada sampai kita menundukkan kepala tanda menyerah dan mengikuti kemauan lawan. Satu-satunya cara untuk membuat tekanan ini tidak berpengaruh adalah memperkuat diri di berbagai bidang.”

Terkait dengan kalangan hauzah dan rohaniwan, memperkuat diri adalah dengan memperdalam penguasaan ilmu agama. Beliau menasehati, “Seiring dengan belajar, rohaniwan harus selalu mengikat diri dengan kesalehan, akhlak, mengerjakan kewajiban dan ibadah sunnah, serta membaca al-Qur’an.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa salah satu tugas penting kalangan rohaniwan adalah menjalin hubungan yang akrab dengan para pemuda, menjawab pertanyaan mereka, dan memenuhi kebutuhan pemikiran mereka. Beliau juga menekankan untuk mengaktifkan masjid menjadi pusat kegiatan pengajaran ilmu-ilmu agama.

Di bagian lain pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyinggung potensi besar yang ada di provinsi Khorasan Utara dengan keberadaan banyak ulamanya yang menonjol. Menurut beliau, Khorasan Utara memiliki kapasitas yang cukup untuk membangun hauzah ilmiah yang lengkap dengan pendidikan jenjang tinggi. Beliau juga mengimbau ulama dan rohaniwan yang berasal dari berbagai penjuru negeri khususnya Khorasan Utara untuk hijrah dari kota Qom ke kota dan daerah lain. “Ini adalah solusi tunggal untuk meningkatkan kwalitas dan kuantitas pembelajaran hauzah ilmiah di seluruh penjuru negeri,” kata beliau.

Di awal pertemuan, Ayatollah Mehman Navaz, wakil warga Khorasan Utara di Dewan Ahli Kepemimpinan dalam kata sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam.

Sambutan lain disampaikan oleh kepala pelaksana hauzah ilmiah Khorasan, Hojjatul Islam wal Muslimin Farjam yang melaporkan aktivitas keilmuan di hauzah-hauzah ilmiah Khorasan, termasuk provinsi Khorasan Utara.

Sementara itu, Imam Jum’at Bojnourd Hojjatul Islam wal Muslimin Ya’qubi dalam kata sambutannya mengusulkan pendirian hauzah ilmiah dengan jenjang pendidikan lengkap di kota Bojnourd.

Ghadir Kum masalah yang menjadi penyempurna agama ini, jika tidak disampaikan maka sama halnya Rasulullah Saw tidak pernah menyampaikan dakwah Islam sama sekali

Ayatullah Mahdavi Kani:
Problema Kaum Muslimin Bermula dari Kelalaian terhadap Peristiwa Ghadir
“Allah SWT dalam al-Qur’anul Karim berkenaan dengan hari Ghadir berfirman kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan satu hal penting yang jika tidak disampaikan maka sama halnya Rasulullah Saw tidak pernah menyampaikan dakwah Islam sama sekali.”
 

 Problema Kaum Muslimin Bermula dari Kelalaian terhadap Peristiwa Ghadir

Ayatullah Mohammad Reza Mahdavi Kani, ketua Majelis Khubregan (Dewan Ahli) Rahbari Sabtu (13/10) dalam penyampaiannya pada Konferensi Internasional SepuluH Hari Ghadir di Auditorium Universitas Imam Shadiq Teheran Republik Islam Iran menyatakan, “Allah SWT dalam al-Qur’anul Karim berkenaan dengan hari Ghadir berfirman kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan satu hal penting yang jika tidak disampaikan maka sama halnya Rasulullah Saw tidak pernah menyampaikan dakwah Islam sama sekali.”

Dalam lanjutan penyampaiannya Ayatullah Mahdavi Kani menekankan pentingnya memanfaatkan peringatan Sepuluh Hari Ghadir dan menyatakan, “Kita semua harus melangkah sesuai dengan masalah yang menjadi penyempurna agama ini.”

Sedemikian pentingnya peristiwa Ghadir dalam Islam Ayatullah Kani mengimbau semua pihak untuk memperhatikan pentingnya pembuktian peristiwa historis ini.

Rektor Universitas Imam Ja’far Sadiq ini menegaskan, “Dalam tabligh masalah ghadir, kita lebih terfokus pada masalah-masalah negatif. Padahal menjaga dan menyebarkan Ghadir melalui pembuktiannya juga lebih sulit.”

Menurut Ayatullah Kani, pelaksanaan konferensi internasional dalam peringatan Sepuluh Hari Ghadir merupakan kesempatan yang baik untuk menjelaskan posisi Ghadir dalam umat Islam.

Beliau menambahkan, “Kita harus memahami pentingnya pelaksanaan konferensi seperti ini, karena konferensi tersebut adalah dalam rangka menjaga dan melindungi identitas maknawi Islam yang akan melekat dalam sejarah umat Islam

.

Konsep Imamah Ahlulbait Bukanlah Konsep Jahiliyyah


Dipetik dari Buku: “Syiah; Imamah dan Wilayah” oleh: “Sayyid Muhammad Rizvi”

Apa yang saya telah nyatakan di atas bukanlah satu tafsiran baru, saya hanya meringkaskan hujah-hujah kepercayaan Syiah yang disokong oleh sumber dari Sunni yang telah wujud selama berabad-abad. Dan saya amat terkejut memperhatikan ulasan para ulamak mengenai konsep Ahlul Bait:

“Syiah mengambil kesempatan daripada hubungan akrab riwayat Ali dengan Muhammad dan konsep turun temurun bangsa Arab mengenai ahlul-Bayt (ahli keluarga) — ahli keluarga dari mana ketua dipilih —- dan sudah tentu menyokong pencalonan di kalangan keluarga Ali ‘… “1

Tidak sepatutnya seseorang dari latar belakang Syiah mengatakan bahawa Syiah mengambil kesempatan “konsep turun temurun Arab mengenail ahlul-Bayt”! Jika begitu, konsep Ahlul Bait menjadi satu konsep era pra-Islam / jahiliyah yang telah digunakan oleh Syiah untuk mengemukakan tuntutan mereka mengenai Imamah ‘Ali dan keturunannya!

Perkara ini memang menyedihkan bahawa seorang ulama, dari latar belakang Syiah, tidak boleh membincangkan konsep Ahlul Bayt dari perspektif al-Quran manakala seorang ilmuan yang bukan Islam, Wilfred Madelung, telah dapat berbincang dengan panjang lebar kepentingan yang diberikan kepada keturunan para nabi sebelum Islam dan penjelasan dengan ayat al-Quran yang khusus untuk ahlul-Bayt.(2) Walaupun kita tidak bersetuju dengan definisi yang meyeluruhnya berkenaan Ahlul Bayt, kita amat bersetuju dengan kesimpulannya bahawa, ” Al-Quran menyarankan penyelesaian beberapa perkara melalui perundingan, tetapi tidak pada pewarisan kenabian. Itu, menurut al-Quran, diselesaikan melalui pilihan Allah, dan Tuhan akan memilih pengganti mereka sama ada mereka itu menjadi nabi mahu pun tidak, dari kaum kerabat mereka sendiri. “(3)

Seolah-olah ulama Syiah tersohor ini meminjam pandangan Marshall Hodgson dan Fazlur Rahman iaitu keturunan Fatimah — digelar Ahlull-Bayt, “ahli keluarga ‘(di mana ketua2 akan dipilih) ….” (4)

Ketika mengulas mengenai tuntutan yang dibuat oleh Syiah dari Kufa (penterjemah-pusat pemerintahan Islam pada masa itu) bahawa khalifah akan dipilih dari keluarga “Ali, Fazlur Rahman menulis:” motif yang mendorong pada tuntutan hak ini oleh penduduk Arab Kufah tidak begitu jelas, kecuali …. hakikat bahawa Nabi memang berasal dari  Bani Hashim telah dieksploitasi. “(5) Fazlur Rahman membayangkan bahawa konsep Ahlul Bait (iaitu, ‘Ali dan Nabi adalah dari Bani Hashim) telah” dieksploitasi “oleh Syiah Kufah untuk mempromosikan tuntutan mereka untuk keimaman keturunan Ali.

 

Tetapi siapa yang mengambil kesempatan daripada tradisi pra-Islam dalam pertikaian pada khalifah? ‘Ali telah dinafikan khalifah yang sah oleh Quraisy atas alasan tradisi melantik orang yang lebih tua dan tidak pada yang lebih muda. ‘Ali, dalam perbandingan kepada Abu Bakr, masih muda dalam usia dan oleh itu, berdasarkan tradisi Arab lama, tidak sesuai untuk kepimpinan.(6) Jadi kaum Quraisy sebenarnya yang berpegang pada adat lama untuk merebut kedudukan khalifah dari ‘Ali bin Abi Talib.

Siapa yang “dieksploitasi” dan “mengambil kesempatan” hubungan mereka kepada Nabi? Ia adalah kumpulan Quraish di Saqifah yang mengeksploitasi hakikat bahawa Nabi adalah dari puak mereka, dan oleh itu, mereka lebih berhak kepada kedudukan khalifah daripada lawan mereka dari Ansar (penduduk Madinah) 0,7

Apabila Imam ‘Ali telah dimaklumkan mengenai perdebatan antara Quraish dan Ansar di Saqifah, dia bertanya, “Apa yang Quraish dakwakan?”

Orang berkata, “Mereka berhujah bahawa mereka tergolong dalam susur jalur Nabi.”

‘Ali mengulas dengan berkata, “Mereka berdalih dengan pokok (susr jalur) itu tetapi mereka memusnahkan buahnya.” (8) Pokok ini merujuk kepada “puak Quraish” dan buah-buahan merujuk kepada “keluarga Nabi”.

____________

1. Abdulaziz Sachedina, Messianism Islam, p.6.

2. Lihat Madelung, Pewarisan Muhammad, p.6-17.

 

3. Ibid, p.17.

 

4. Marshall GS Hodgson, Teroka Islam, jld.1 (Chicago: Universiti Chicago Press, 1974) p.260.

 

5. Fazlur Rahman, Islam, p.171.

6. Lihat contoh, Ibn Qutayba ad-Daynwari, al-Imamah wa ‘s-Siyasah, p.18; MA Shaban, Sejarah Islam AD 600-750, p.16. Sachedina sendiri berkata berikut mengenai wilayah: “Perkara baru tentang ini bahawa dalam budaya Arab, orang-orang Arab tidak biasa untuk melihat seorang anak muda memegang kepimpian Ini adalah mustahil bagi seorang lelaki muda berusia tiga puluh tahun menjadi pemimpin kerana orang-orang Arab percaya bahawa orang tua sahaja berhak untuk memimpin … ” Dari ucapan 6 Muharram (1419) 1998 di Toronto.

7. Terdapat dua kumpulan bertanding di Saqifah: Quraisy yang berhijrah dari Mekah (dikenali sebagai Muhajirin) dan penduduk Madinah (dikenali sebagai Ansar). Untuk hujah-hujah yang digunakan oleh orang-orang Muhajirin di Saqifah sila rujuk tajuk Bahasa Inggeris seperti berikut:

SSA Rizvi,Imamate, pp.113-126; Murtaza al-Askari,Abdullah bin Saba and other myths (Tehran: WOFIS,1984) pp.69-95; Muhammad R. al-Muzaffar,Saqifa (Qum:Ansariyan,1998).

8. Sayyid Razi, Nahju ‘l-Balagha, khutbah 67. Untuk sumber Sunni, lihat at-Tabari, Ta’rikh, jld.6, p.263 dan Ibn ‘Abdi’ l-Barr, al-Isti’la ‘ab bawah biografi’ Auf bin Athathah.

Syi’ah Tak Sesat, Saksikan Video Ini!!

Syiah Sesatkah? Lihat Apakah Syiah Sesat dalam Video Syiah diatas

Syiah sesat dan menyesatkan, syiah sesat download, syiah sesat video, syiah sesat 2011-2012, video youtube. Video ini akan membuktikan kesesatan atau tidaknya syi’ah. Tuduhan-tuduhan miring terhadap syiah tersebut bisa kita ketahui pada kata-kata diatas tadi, sehingga orang awam akan mengiyakan tuduhan tersebut.

Video dibawah ini akan membuktikan tuduhan-tuduhan para musuh Syiah, sehingga jelaslah apakah SYIAH SESAT atau TIDAK. Kaum wahabi yang sering kali melemparkan tuduhan-tuduhan sesat bahkan mengkafirkan syiah. Padahal Syiah di dunia lebih dari 400juta muslim, yang setiap tahunya juga melaksanakan haji ke baitullah Makkah.

Kita lihat IRAN, negara yang mayoritas penduduknya bermazhab Islam syiah, hari ini membuktikan kepada dunia bahwa Islam bisa membuat nuklir, Islam kuat secara Ekonomi, Politik dan Maju dalam hal peradaban dunia. Apakah Syiah iran bukanlah muslim?, tentu syiah adalah bagian dari Ummat Islam dunia, hak-hak muslim syiah sejajar dengan muslim sunni. Karena pada kenyataanya sunni dan syiah adalah sama-sama mazhab dalam Islam.

Akhir kata, apakah muslim syiah sesat?
Apakah muslim syiah kafir?

Muslim Syiah mengikrarkan syahadat, mendirikan sholat 5 waktu, menunaikan zakat, menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu.

Dimana letak kekafiran atau kesesatan syiah?.. tentu perbedaan dengan sunni ada pada beberapa hal, terutama bahwa syiah hanya mengambil hadits-hadits yang diriwayatkan melalui Para Imam Ahlulbait as atau Keluarga Rasulullah saaw.

Salahkah syiah yang menganut ajaran Keluarga Nabi saaw? Kafirkah? atau sesatkah? karena syiah mengikuti keluarga Nabi saaw?. Bukankah Rasulullah saaw yang menganjurkan muslimin untuk mengikuti Keluarga Rasulullah saaw (Ahlulbait as)?.

Jernihkan hati dan akal sehat duhai saudara-saudaraku, syiah adalah muslim, sama juga seperti sunni yang muslim dan bagian daripada Mazhab-mazhab Islam.

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’

4 APRIL 2012

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’ Syi’ah hanya mengakui keshahihan sebagian hadis sunni ! Syi’ah menyortir hadis sunni ! Hadis Shahih Sunni Benar Benar Shahih ??  Lucu sekali melihat ikut campurnya rezim Umayyah Abbasiyah merusak agama Muhammad

.

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’, Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan alBukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis. [1] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). [2] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis. [3], Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis. [4].

Bukhari (194255 H/810869 M), Muslim (204261 H/819875M), Tirmidzi (209279 H/824892 M), Nasa’i (214303 H/829915 M), Abu Dawud (203275 H/818888 M) dan Ibnu Majah (209295 H/824908 M) misalnya telah menyeleksi untuk kita hadishadis yang menurut mereka adalah benar, shahih. Hadishadis ini telah terhimpun dalam enam buku shahih, ashshihah,assittah, dengan judul kitab masing-masing menurut nama mereka; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih (Sunan) Ibnu Majah, Shahih (Sunan) Abu Dawud, Shahih (Jami’) Tirmidzi dan Shahih (Sunan) Nasa’i.[5]

Tetapi, bila kita baca penelitian para ahli yang terkenal dengan nama Ahlul Jarh wa’ Ta’dil, maka masih banyak hadis shahih ini akan gugur, kerana ternyata banyak di antara pelapor hadis, setelah diteliti lebih dalam adalah pembuat hadis palsu. AlAmini, misalnya, telah mengumpulkan tujuh ratus nama pembohong yang diseleksi oleh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil Sunni yang selama ini dianggap adil atau jujur, dan hadis yang mereka sampaikan selama ini dianggap shahih dan tertera dalam buku shahih enam.

Ada di antara mereka yang menyampaikan, seorang diri, beriburibu hadis palsu. Dan terdapat pula para “pembohong zuhud” [6] , yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman dan mulai pagi hari mengajar dan berbohong seharian. Para pembohong zuhud ini, bila ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka membuat hadis palsu terhadap Rasul Allah saw yang diancam api neraka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak membuat hadis terhadap (‘ala) Rasul Allah saw tetapi untuk (li) Rasul Allah saw. Maksudnya, mereka ingin membuat agama Islam lebih bagus. [7], Tidak mungkin mengutip semua. Sebagai contoh, kita ambil seorang perawi secara acak dari 700 orang perawi yang ditulis Amini. [8]

“Muqatil bin Sulaiman alBakhi, meninggal tahun 150 H/767 M. Ia adalah pembohong, dajjal dan pemalsu hadis. Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong; terkenal sebagai pemalsu hadis terhadap Rasul Allah sa Ia berkata terangterangan kepada khalifah Abu Ja’far alManshur: “Bila Anda suka akan saya buat hadis dari Rasul untukmu”. Ia lalu melakukannya. Dan ia berkata kepada khalifah alMahdi dari Banu Abbas: “Bila Anda suka akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas’. AlMahdi menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”[9].

Para pembohong ini bukanlah orang bodoh. Mereka mengetahui sifat-sifat dan cara berbicara para sahabat seperti Umar, Abu Bakar, Aisyah dan lainlain.

Mereka juga memakai nama para tabi’in seperti Ibnu Umar, ‘Urwah bin Zuba sebagai pelapor pertama, dan rantai sanad dipilih dari orang-orang yang dianggap dapat dipercaya. Hadishadis ini disusun dengan rapih, kadangkadang dengan rincian yang sangat menjebak. Tetapi kesalahan terjadi tentu saja kerana namanya tercantum di dalam rangkaian perawi. Dengan demikian para ahli tentang cacat tidaknya suatu hadis yang dapat menyusuri riwayat pribadi yang buruk itu, menolak Hadis-hadis tersebut. [10]

Demikian pula, misalnya hadishadis ang menggunakan kata-kata ‘mencerca sahabat’ tidak mungkin diucapkan Rasul, kerana katakata tersebut mulai diucapkan di zaman Mu’awiyah, lama sesudah Rasul wafat. Seperti kata-kata Rasul “Barang siapa mencerca sahabat-sahabatku maka ia telah mencercaku dan barang siapa mencercaku maka ia telah mencerca Allah dan mereka akan dilemparkan ke api neraka” yang banyak jumlahnya.[11].

Juga, hadishadis berupa perintah Rasul agar secara langsung atau tidak langsung meneladani atau mengikuti seluruh sahabat, seperti ‘Para sahabatku laksana bintang-bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendopat petunjuk’ atau ‘Para sahabatku adalah penyelamat umatku’ tidaklah historis sifatnya.

Disamping perintah ini menjadi janggal, kerana pendengarnya sendiri adalah sahabat, sehingga menggambarkan perintah agar para sahabat meneladani diri mereka sendiri, sejarah menunjukkan bahwa selama pemerintahan Banu Umayyah, cerca dan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib serta keluarga dan pengikutnya, selama itu, tidak ada sahabat atau tabi’in yang menyampaikan hadis ini untuk menghentikan perbuatan tercela yang dilakukan di atas mimbar masjid di seluruh negeri tersebut. Lagi pula di samping fakta sejarah, alQur’an dan hadis telah menolak keadilan seluruh sahabat. [12]

Atau hadishadis bahwa para khalifah diciptakan atau berasal dan nur (sinar) yang banyak jumlahnya, sebab menurut AlQur’an manusia berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah dan tidak mungkin orang yang tidak menduduki jabatan dibuat dari tanah sedang yang ‘berhasil’menjadi khalifah dibikin dari nur.

Para ahli telah mengumpul para pembohong dan pemalsu dan jumlah hadis yang disampaikan.

Abu Sa’id Aban bin Ja’far, misalnya, membuat hadis palsu sebanyak 300.
Abu Ali Ahmad alJubari 10.000 Ahmad bin Muhammad alQays 3.000
Ahmad bin Muhammad Maruzi 10.000
Shalih bin Muhammad alQairathi 10.000 dan banyak sekali yang lain.

Jadi, bila Anda membaca sejarah, dan nama pembohong yang telah ditemukan para ahli hadis tercantum di dalam rangkaian isnad, Anda harus hatihati.

Ada pula pembohong yang menulis sejarah dan tulisannya dikutip oleh para penulis lain. Sebagai contoh Saif bin Umar yang akan dibicarakan di bagian lain secara sepintas lalu. Para ahli telah menganggapnya sebagai pembohong. Dia menulis tentang seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ yang fiktif sebagai pencipta ajaran Syi’ah. Dan ia juga memasukkan 150 [13] sahabat yang tidak pernah ada yang semuanya memakai nama keluarganya. Dia menulis di zaman khalifah Harun alRasyid. Bukunya telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum Syi’ah. Bila membaca, misalnya, kitab sejarah Thabari dan nama Saif bin Umar berada dalam rangkaian isnad, maka berita tersebut harus diperiksa dengan teliti.

Referensi:
[1] Tarikh Baghdad, jilid 2, hlm. 8; AlIrsyad asSari, jilid 1, hlm. 28; Shifatu’s Shafwah, jilid 4, hlm. 143.
[2] Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 101; alMuntazam, jilid 5, hlm. 3 2; Thabaqat al Huffazh, jilid 2, hlm. 151, 157; Wafayat alAyan, jilid 5, hlm. 194.
[3] Tarikh Baghdad jilid 9, hlm. 57; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 154; alMuntazani, jilid 5, hlm. 97; Wafayat alA’yan jilid 2, hlm. 404.
[4] Tarikh Baghdad, jilid 4, hlm. 419420; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 17; Tahdzib atTahdzib, jilid 1, hlm. 74; Wafayat alA’yan, jilid 1, hlm. 64.
[5] Menurut metode pengelompokan, hadits-hadits dibagi dalam Musnad, Shahih, Jami’, Sunan, Mujam dan Zawa’id.
[6] Zuhud = orang yang menjauhi kesenangan duniawi dan memilih kehidupan akhirat.
[7] AIAmini, alGhadir, Beirut, 1976, jilid 5, hlm. 209375.
[8] AIAmini, alGhadir, jilid 5, hlm. 266.
[9] Abu Bakar alKhatib, Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 168; ‘Ala’udin Muttaqi alHindi, Kanzul- Ummal, jilid 5, hlm. 16, Syamsuddin adzDzahabi, Mizan alI’tidal, jilid 3, hlm. 196; alHafizh lbnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib, jilid 10, hlm. 284; Jalaluddin asSuyuthi, alLaAli ul Mashmu’ah, jilid 1, hlm. 168 jilid 2, hlm. 60, 122..
[10] Contoh-contoh Ahlul Jarh wa Ta’dil: Ibnu Abi Hatim arRazi, Ahlul Jarh wa Ta’dil (Ahli Cacat dan Penelurusan); Syamsuddin AzDzahabi, Mizan alI’tidal (Timbanga Kejujuran); Ibnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib (Pembetulan bagi Pembetulan) dan Lisan alMizan (Katakata Timbangan); ‘Imaduddin ibnu Katsir alBidayah wa’nNihayah (Awal dan Akhir), Jalaluddin AsSuyuthi,alLa’ali’ul Mashnu’ah (Mutiara-mutiara buatan), Ibnu Khalikan, Wafayat alA’yan wa Anba Abna azZaman (Meninggalnya Para Tokoh dan Berita Anakanak Zaman). Dan masih banyak lagi

.
[11] Lihat AIMuhibb Thabari, Riyadh anNadhirah, jilid 1, hlm. 30.
[12] Lihat Bab 19: ‘Tiga dan Tiga’ sub bab Sahabat Rasul.
[13] Seratus lima puluh.