Iran berada di peringkat keenam belas dunia di bidang sains, diperkirakan enam tahun kedepan akan naik ke peringkat empat dunia

Tanggal: 2012/10/14 – 15:58 Sumber: http://www.leader.ir print
Ayatullah Sayyid Ali Khamanei:
Diprediksikan, Enam Tahun Mendatang Iran Capai Peringkat Empat Kemajuan Sains Dunia

Diprediksikan, Enam Tahun Mendatang Iran Capai Peringkat Empat Kemajuan Sains Dunia
 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Kamis (11/10) pagi dalam pertemuan dengan ribuan guru, dosen dan dewan keilmuan perguruan tinggi provinsi Khorasan Utara mengingatkan pentingnya membangun jatidiri insani sejak usia dini yang didasarkan pada kepribadian luhur. Beliau menandaskan, “Kebutuhan paling mendasar di negara ini adalah menumbuhkan jiwa optimisme akan masa depan, gairah, dan rasa percaya diri pada generasi muda.”

.
Di awal pembicaraan, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa digelarnya pertemuan dengan para guru dan dosen seperti ini dimaksudkan untuk menumbuhkan budaya penghormatan kepada kedudukan guru. Beliau menyinggung pembicaraan sejumlah guru dan dosen di awal pertemuan dan menyebutnya sebagai pembicaraan yang tepat, cermat dan ilmiah yang disampaikan oleh para guru dari provinsi Khorasan Utara. “Apa yang sudah disampaikan tadi sangat layak untuk dimanfaatkan dan orang senang mendengarnya. Ini menunjukkan potensi menonjol dan pemikiran maju dan cerah yang dimiliki Khorasan Utara,” kata beliau.

.
Berbicara mengenai filosofis pembentukan pemerintahan dalam Islam yang ditujukan untuk menciptakan perubahan mendasar dan menyeluruh pada individu dan masyarakat serta untuk menegakkan nilai-nilai suci yang menggeser sifat-sifat buruk, Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan, “Dalam perspektif ini, peran pendidikan dan bimbingan serta kedudukan lembaga pendidikan tinggi berikut guru dan dosen sangatlah penting dan menonjol.”

Seraya mengingatkan bahwa salah satu tugas utama pendidikan adalah membentuk kepribadian anak, beliau menjelaskan beberapa karakter penting yang dibutuhkan masyarakat dan harus dipupuk sejak dini.

.
Rahbar menyinggung pula masalah pendidikan budaya berlogika, dan mengatakan, “Sejak usia dini anak-anak harus dilatih dan dibiasakan untuk berlogika dan berpikir benar.”

.
Masalah lain yang juga mesti diperhatikan dalam pendidikan anak adalah menumbuhkan rasa percaya diri. Beliau mengungkapkan, “Salah satu budaya keliru di masa lalu dan sampai saat ini masih mengakar adalah budaya memandang Barat dengan kacamata membutuhkan, menganggap besar Barat dan memandang kerdil diri sendiri khususnya yang berhubungan dengan masalah keilmuan.”

.
Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, pandangan yang keliru ini harus diberantas hingga ke akar dengan cara menumbuhkan rasa percaya diri.
“Rasa percaya diri yang bertolak belakang dengan kepercayaan kepada Barat harus dikembangkan di tengah anak-anak dan generasi muda. Menumbuhkan rasa percaya diri adalah salah satu tugas penting lembaga pendidikan dan bimbingan dan lembaga pendidikan tinggi,” imbuh beliau.

Lebih lanjut Rahbar menyebut soal lapang dada dan kesabaran yang merupakan salah satu sifat mulia. Menurut beliau sifat mulia ini sangat diperlukan oleh masyarakat dan merupakan modal utama dalam menjalin hubungan sosial bahkan politik. “Jika faksi-faksi politik menjunjung tinggi asas toleransi dan lapang dada diantara mereka, maka akan tercipta kondisi yang lebih baik,” tandas beliau.

.
Hal lain yang disinggung dalam pembicaraan ini adalah membudayakan rasa keingintahuan, semangat kerja berkelompok dan kerjasama, menghindari kemalasan, serta budaya menelaah dan membaca di tengah anak-anak dan generasi muda. Membiasakan anak dengan cita-cita yang tinggi, menurut Pemimpin Besar Revolusi Islam adalah salah satu hal yang dibutuhkan negara.

.

“Salah satu tugas lembaga pendidikan dan bimbingan adalah menumbuhkan kepercayaan diri bahwa kita bisa,” kata beliau.

.
Seraya menjelaskan kemajuan yang dicapai Iran di bidang keilmuan dan besarnya tingkat penerimaan mahasiswa dan dewan keilmuan di perguruan tinggi negara ini dibanding kondisi di awal kemenangan revolusi Islam, Ayatollah al-Udzma Khamenei menegaskan, “Lembaga-lembaga sains terkemuka dunia mengumumkan bahwa Republik Islam Iran berada di peringkat keenam belas dunia di bidang sains. Mereka juga memprediksikan bahwa enam tahun kedepan Republik Islam Iran akan naik ke peringkat empat dunia.”

.
Iran, ungkap beliau, menyumbangkan dua persen produksi sains dan keilmuan dunia. “Semua prestasi ini dicapai dalam kondisi yang sulit, di tengah himpitan embargo dan intimidasi. Langkah kemajuan itu dimulai oleh sekelompok pemuda berbakat yang mengandalkan tekad dan semangat kuat meski tidak mendapat dukungan spiritual dan finansial yang terlembaga,” ujar beliau.
Rahbar menambahkan, “Prestasi-prestasi besar keilmuan dan akademi yang dicapai dalam kondisi seperti itu menumbuhkan optimisme sekaligus menunjukkan rasa percaya diri dan tekad untuk maju di tengah generasi muda.”

.
Beliau menekankan untuk selalu menyuntikkan rasa percaya diri di lingkungan sekolah dan perguruan tinggi sekaligus mengikis pesimisme.
Di bagian lain pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei mengimbau para guru dan dosen untuk melindungi generasi muda dari mistik palsu. Beliau mengatakan, “Parameter Islam dalam masalah ketinggian spiritual dan ruhani adalah ketaqwaan, menjauhi dosa dan memandang penting masalah shalat dan mengakrabkan diri dengan al-Qur’an.”

.
Lebih lanjut beliau menyampaikan kritikan atas puji-pujian yang disampaikan dalam banyak pertemuan. Menurut beliau, mengungkapkan cinta kepada abdi masyarakat adalah hal yang didukung oleh Islam. Tapi jangan sampai menggunakan kata-kata yang berlebihan

.

Ulama Dan Rohaniwan Adalah Prajurit Pemerintahan Islam

Rahbar:
Ulama Dan Rohaniwan Adalah Prajurit Pemerintahan Islam
“Rohaniwan dan hauzah ilmiah harus memberikan sumbangsihnya kepada pemerintahan Islam dan memperkuatnya dengan lebih giat bekerja di bidang keilmuan, membekali diri dengan pengetahuan agama secara mendalam, mengenal pemikiran-pemikiran baru dan menjalin hubungan dengan generasi muda khususnya kalangan mahasiswa.”
 

 

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei Rabu (10/10) malam dalam pertemuan dengan para ulama dan rohaniwan provinsi Khorasan Utara menyinggung kesatuan tak terpisahkan antara ulama dan pemerintahan Islam, seraya menjelaskan peluang yang diberikan oleh revolusi Islam kepada kalangan rohaniwan untuk menyebarkan ajaran Islam ke tengah masyarakat.

Beliau mengatakan, “Rohaniwan dan hauzah ilmiah harus memberikan sumbangsihnya kepada pemerintahan Islam dan memperkuatnya dengan lebih giat bekerja di bidang keilmuan, membekali diri dengan pengetahuan agama secara mendalam, mengenal pemikiran-pemikiran baru dan menjalin hubungan dengan generasi muda khususnya kalangan mahasiswa.”

 

Seraya menyatakan bahwa jutaan audien ulama dan rohaniawan berkat berdirinya pemerintahan Islam, Ayatollah al-Udzma Khamenei menandaskan, “Kalangan rohaniwan adalah prajurit bagi pemerintahan ini dan tak bisa berpikir untuk berpisah darinya.”

Menurut beliau, pemikiran apapun yang memisahkan rohaniwan dari pemerintahan Islam tergolong pemikiran sekular. “Hauzah ilmiah tak mungkin menjadi sekular dan tak peduli dengan pemerintahan Islam,” imbuh beliau.

Menyinggung fatwa para ulama dan marji yang mengharamkan upaya apapun yang merongrong dan melemahkan pemerintahan Islam, Pemimpin Besar Revolusi Islam menegaskan, “Ketika dinas-dinas keamanan asing yang memusuhi pemerintahan Islam termasuk Amerika, Inggris dan Rezim Zionis Israel terus mempropagandakan keterpisahan rohaniwan dari pemerintahan Islam, tak ada satupun rohaniwan yang merasa dirinya terpisah dari pemerintahan Islam ini.”

Menurut beliau, pemerintahan ini punya keterikatan kuat dengan ulama. Tanpa ulama dan rohaniwan, revolusi Islam tak akan meraih kemenangan. Sebab, kaum cendekia dan aktivis politik non Islam tidak memiliki pengaruh yang kuat di tengah masyarakat.

Mengenai tugas rohaniwan di masa ini, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyebut Rasulullah Saw sebagai sosok yang harus diteladani. “Sama seperti kondisi di masa perang Ahzab di masa Rasulullah Saw, saat inipun semua musuh bangsa Iran di tingkat global dan regional bahu membahu untuk meruntuhkan resistensi dan tekad kuat bangsa ini. Namun, sebagaimana dalam perang Ahzab kaum mukminin tidak membiarkan rasa takut dan keraguan merasuki jiwa mereka, bangsa Iran pun dengan kerja kerasnya untuk meningkatkan kemampuan dan kekuatannya akan selalu resisten menghadapi segala tekanan,” kata beliau.

Rahbar menambahkan, “Dalam perang Ahzab sekelompok munafik dan orang-orang yang lemah iman berkata kepada kaum mukminin, ‘mengapa kalian tidak melunak dan mengubah langkah?’ Saat itu para pembela Nabi yang setia menjawab, ‘kami tidak heran menyaksikan semua tekanan ini, tidak pula membiarkan rasa takut menggetarkan hati kami, dan kami akan terus melanjutkan langkah kami’.”

Beliau mengingatkan, “Tekanan ini akan selalu ada sampai kita menundukkan kepala tanda menyerah dan mengikuti kemauan lawan. Satu-satunya cara untuk membuat tekanan ini tidak berpengaruh adalah memperkuat diri di berbagai bidang.”

Terkait dengan kalangan hauzah dan rohaniwan, memperkuat diri adalah dengan memperdalam penguasaan ilmu agama. Beliau menasehati, “Seiring dengan belajar, rohaniwan harus selalu mengikat diri dengan kesalehan, akhlak, mengerjakan kewajiban dan ibadah sunnah, serta membaca al-Qur’an.”

Pemimpin Besar Revolusi Islam menyatakan bahwa salah satu tugas penting kalangan rohaniwan adalah menjalin hubungan yang akrab dengan para pemuda, menjawab pertanyaan mereka, dan memenuhi kebutuhan pemikiran mereka. Beliau juga menekankan untuk mengaktifkan masjid menjadi pusat kegiatan pengajaran ilmu-ilmu agama.

Di bagian lain pembicaraannya, Ayatollah al-Udzma Khamenei menyinggung potensi besar yang ada di provinsi Khorasan Utara dengan keberadaan banyak ulamanya yang menonjol. Menurut beliau, Khorasan Utara memiliki kapasitas yang cukup untuk membangun hauzah ilmiah yang lengkap dengan pendidikan jenjang tinggi. Beliau juga mengimbau ulama dan rohaniwan yang berasal dari berbagai penjuru negeri khususnya Khorasan Utara untuk hijrah dari kota Qom ke kota dan daerah lain. “Ini adalah solusi tunggal untuk meningkatkan kwalitas dan kuantitas pembelajaran hauzah ilmiah di seluruh penjuru negeri,” kata beliau.

Di awal pertemuan, Ayatollah Mehman Navaz, wakil warga Khorasan Utara di Dewan Ahli Kepemimpinan dalam kata sambutannya menyampaikan ucapan selamat datang kepada Pemimpin Besar Revolusi Islam.

Sambutan lain disampaikan oleh kepala pelaksana hauzah ilmiah Khorasan, Hojjatul Islam wal Muslimin Farjam yang melaporkan aktivitas keilmuan di hauzah-hauzah ilmiah Khorasan, termasuk provinsi Khorasan Utara.

Sementara itu, Imam Jum’at Bojnourd Hojjatul Islam wal Muslimin Ya’qubi dalam kata sambutannya mengusulkan pendirian hauzah ilmiah dengan jenjang pendidikan lengkap di kota Bojnourd.

Ghadir Kum masalah yang menjadi penyempurna agama ini, jika tidak disampaikan maka sama halnya Rasulullah Saw tidak pernah menyampaikan dakwah Islam sama sekali

Ayatullah Mahdavi Kani:
Problema Kaum Muslimin Bermula dari Kelalaian terhadap Peristiwa Ghadir
“Allah SWT dalam al-Qur’anul Karim berkenaan dengan hari Ghadir berfirman kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan satu hal penting yang jika tidak disampaikan maka sama halnya Rasulullah Saw tidak pernah menyampaikan dakwah Islam sama sekali.”
 

 Problema Kaum Muslimin Bermula dari Kelalaian terhadap Peristiwa Ghadir

Ayatullah Mohammad Reza Mahdavi Kani, ketua Majelis Khubregan (Dewan Ahli) Rahbari Sabtu (13/10) dalam penyampaiannya pada Konferensi Internasional SepuluH Hari Ghadir di Auditorium Universitas Imam Shadiq Teheran Republik Islam Iran menyatakan, “Allah SWT dalam al-Qur’anul Karim berkenaan dengan hari Ghadir berfirman kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan satu hal penting yang jika tidak disampaikan maka sama halnya Rasulullah Saw tidak pernah menyampaikan dakwah Islam sama sekali.”

Dalam lanjutan penyampaiannya Ayatullah Mahdavi Kani menekankan pentingnya memanfaatkan peringatan Sepuluh Hari Ghadir dan menyatakan, “Kita semua harus melangkah sesuai dengan masalah yang menjadi penyempurna agama ini.”

Sedemikian pentingnya peristiwa Ghadir dalam Islam Ayatullah Kani mengimbau semua pihak untuk memperhatikan pentingnya pembuktian peristiwa historis ini.

Rektor Universitas Imam Ja’far Sadiq ini menegaskan, “Dalam tabligh masalah ghadir, kita lebih terfokus pada masalah-masalah negatif. Padahal menjaga dan menyebarkan Ghadir melalui pembuktiannya juga lebih sulit.”

Menurut Ayatullah Kani, pelaksanaan konferensi internasional dalam peringatan Sepuluh Hari Ghadir merupakan kesempatan yang baik untuk menjelaskan posisi Ghadir dalam umat Islam.

Beliau menambahkan, “Kita harus memahami pentingnya pelaksanaan konferensi seperti ini, karena konferensi tersebut adalah dalam rangka menjaga dan melindungi identitas maknawi Islam yang akan melekat dalam sejarah umat Islam

.

Konsep Imamah Ahlulbait Bukanlah Konsep Jahiliyyah


Dipetik dari Buku: “Syiah; Imamah dan Wilayah” oleh: “Sayyid Muhammad Rizvi”

Apa yang saya telah nyatakan di atas bukanlah satu tafsiran baru, saya hanya meringkaskan hujah-hujah kepercayaan Syiah yang disokong oleh sumber dari Sunni yang telah wujud selama berabad-abad. Dan saya amat terkejut memperhatikan ulasan para ulamak mengenai konsep Ahlul Bait:

“Syiah mengambil kesempatan daripada hubungan akrab riwayat Ali dengan Muhammad dan konsep turun temurun bangsa Arab mengenai ahlul-Bayt (ahli keluarga) — ahli keluarga dari mana ketua dipilih —- dan sudah tentu menyokong pencalonan di kalangan keluarga Ali ‘… “1

Tidak sepatutnya seseorang dari latar belakang Syiah mengatakan bahawa Syiah mengambil kesempatan “konsep turun temurun Arab mengenail ahlul-Bayt”! Jika begitu, konsep Ahlul Bait menjadi satu konsep era pra-Islam / jahiliyah yang telah digunakan oleh Syiah untuk mengemukakan tuntutan mereka mengenai Imamah ‘Ali dan keturunannya!

Perkara ini memang menyedihkan bahawa seorang ulama, dari latar belakang Syiah, tidak boleh membincangkan konsep Ahlul Bayt dari perspektif al-Quran manakala seorang ilmuan yang bukan Islam, Wilfred Madelung, telah dapat berbincang dengan panjang lebar kepentingan yang diberikan kepada keturunan para nabi sebelum Islam dan penjelasan dengan ayat al-Quran yang khusus untuk ahlul-Bayt.(2) Walaupun kita tidak bersetuju dengan definisi yang meyeluruhnya berkenaan Ahlul Bayt, kita amat bersetuju dengan kesimpulannya bahawa, ” Al-Quran menyarankan penyelesaian beberapa perkara melalui perundingan, tetapi tidak pada pewarisan kenabian. Itu, menurut al-Quran, diselesaikan melalui pilihan Allah, dan Tuhan akan memilih pengganti mereka sama ada mereka itu menjadi nabi mahu pun tidak, dari kaum kerabat mereka sendiri. “(3)

Seolah-olah ulama Syiah tersohor ini meminjam pandangan Marshall Hodgson dan Fazlur Rahman iaitu keturunan Fatimah — digelar Ahlull-Bayt, “ahli keluarga ‘(di mana ketua2 akan dipilih) ….” (4)

Ketika mengulas mengenai tuntutan yang dibuat oleh Syiah dari Kufa (penterjemah-pusat pemerintahan Islam pada masa itu) bahawa khalifah akan dipilih dari keluarga “Ali, Fazlur Rahman menulis:” motif yang mendorong pada tuntutan hak ini oleh penduduk Arab Kufah tidak begitu jelas, kecuali …. hakikat bahawa Nabi memang berasal dari  Bani Hashim telah dieksploitasi. “(5) Fazlur Rahman membayangkan bahawa konsep Ahlul Bait (iaitu, ‘Ali dan Nabi adalah dari Bani Hashim) telah” dieksploitasi “oleh Syiah Kufah untuk mempromosikan tuntutan mereka untuk keimaman keturunan Ali.

 

Tetapi siapa yang mengambil kesempatan daripada tradisi pra-Islam dalam pertikaian pada khalifah? ‘Ali telah dinafikan khalifah yang sah oleh Quraisy atas alasan tradisi melantik orang yang lebih tua dan tidak pada yang lebih muda. ‘Ali, dalam perbandingan kepada Abu Bakr, masih muda dalam usia dan oleh itu, berdasarkan tradisi Arab lama, tidak sesuai untuk kepimpinan.(6) Jadi kaum Quraisy sebenarnya yang berpegang pada adat lama untuk merebut kedudukan khalifah dari ‘Ali bin Abi Talib.

Siapa yang “dieksploitasi” dan “mengambil kesempatan” hubungan mereka kepada Nabi? Ia adalah kumpulan Quraish di Saqifah yang mengeksploitasi hakikat bahawa Nabi adalah dari puak mereka, dan oleh itu, mereka lebih berhak kepada kedudukan khalifah daripada lawan mereka dari Ansar (penduduk Madinah) 0,7

Apabila Imam ‘Ali telah dimaklumkan mengenai perdebatan antara Quraish dan Ansar di Saqifah, dia bertanya, “Apa yang Quraish dakwakan?”

Orang berkata, “Mereka berhujah bahawa mereka tergolong dalam susur jalur Nabi.”

‘Ali mengulas dengan berkata, “Mereka berdalih dengan pokok (susr jalur) itu tetapi mereka memusnahkan buahnya.” (8) Pokok ini merujuk kepada “puak Quraish” dan buah-buahan merujuk kepada “keluarga Nabi”.

____________

1. Abdulaziz Sachedina, Messianism Islam, p.6.

2. Lihat Madelung, Pewarisan Muhammad, p.6-17.

 

3. Ibid, p.17.

 

4. Marshall GS Hodgson, Teroka Islam, jld.1 (Chicago: Universiti Chicago Press, 1974) p.260.

 

5. Fazlur Rahman, Islam, p.171.

6. Lihat contoh, Ibn Qutayba ad-Daynwari, al-Imamah wa ‘s-Siyasah, p.18; MA Shaban, Sejarah Islam AD 600-750, p.16. Sachedina sendiri berkata berikut mengenai wilayah: “Perkara baru tentang ini bahawa dalam budaya Arab, orang-orang Arab tidak biasa untuk melihat seorang anak muda memegang kepimpian Ini adalah mustahil bagi seorang lelaki muda berusia tiga puluh tahun menjadi pemimpin kerana orang-orang Arab percaya bahawa orang tua sahaja berhak untuk memimpin … ” Dari ucapan 6 Muharram (1419) 1998 di Toronto.

7. Terdapat dua kumpulan bertanding di Saqifah: Quraisy yang berhijrah dari Mekah (dikenali sebagai Muhajirin) dan penduduk Madinah (dikenali sebagai Ansar). Untuk hujah-hujah yang digunakan oleh orang-orang Muhajirin di Saqifah sila rujuk tajuk Bahasa Inggeris seperti berikut:

SSA Rizvi,Imamate, pp.113-126; Murtaza al-Askari,Abdullah bin Saba and other myths (Tehran: WOFIS,1984) pp.69-95; Muhammad R. al-Muzaffar,Saqifa (Qum:Ansariyan,1998).

8. Sayyid Razi, Nahju ‘l-Balagha, khutbah 67. Untuk sumber Sunni, lihat at-Tabari, Ta’rikh, jld.6, p.263 dan Ibn ‘Abdi’ l-Barr, al-Isti’la ‘ab bawah biografi’ Auf bin Athathah.

Syi’ah Tak Sesat, Saksikan Video Ini!!

Syiah Sesatkah? Lihat Apakah Syiah Sesat dalam Video Syiah diatas

Syiah sesat dan menyesatkan, syiah sesat download, syiah sesat video, syiah sesat 2011-2012, video youtube. Video ini akan membuktikan kesesatan atau tidaknya syi’ah. Tuduhan-tuduhan miring terhadap syiah tersebut bisa kita ketahui pada kata-kata diatas tadi, sehingga orang awam akan mengiyakan tuduhan tersebut.

Video dibawah ini akan membuktikan tuduhan-tuduhan para musuh Syiah, sehingga jelaslah apakah SYIAH SESAT atau TIDAK. Kaum wahabi yang sering kali melemparkan tuduhan-tuduhan sesat bahkan mengkafirkan syiah. Padahal Syiah di dunia lebih dari 400juta muslim, yang setiap tahunya juga melaksanakan haji ke baitullah Makkah.

Kita lihat IRAN, negara yang mayoritas penduduknya bermazhab Islam syiah, hari ini membuktikan kepada dunia bahwa Islam bisa membuat nuklir, Islam kuat secara Ekonomi, Politik dan Maju dalam hal peradaban dunia. Apakah Syiah iran bukanlah muslim?, tentu syiah adalah bagian dari Ummat Islam dunia, hak-hak muslim syiah sejajar dengan muslim sunni. Karena pada kenyataanya sunni dan syiah adalah sama-sama mazhab dalam Islam.

Akhir kata, apakah muslim syiah sesat?
Apakah muslim syiah kafir?

Muslim Syiah mengikrarkan syahadat, mendirikan sholat 5 waktu, menunaikan zakat, menunaikan ibadah Haji bagi yang mampu.

Dimana letak kekafiran atau kesesatan syiah?.. tentu perbedaan dengan sunni ada pada beberapa hal, terutama bahwa syiah hanya mengambil hadits-hadits yang diriwayatkan melalui Para Imam Ahlulbait as atau Keluarga Rasulullah saaw.

Salahkah syiah yang menganut ajaran Keluarga Nabi saaw? Kafirkah? atau sesatkah? karena syiah mengikuti keluarga Nabi saaw?. Bukankah Rasulullah saaw yang menganjurkan muslimin untuk mengikuti Keluarga Rasulullah saaw (Ahlulbait as)?.

Jernihkan hati dan akal sehat duhai saudara-saudaraku, syiah adalah muslim, sama juga seperti sunni yang muslim dan bagian daripada Mazhab-mazhab Islam.

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’

4 APRIL 2012

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’ Syi’ah hanya mengakui keshahihan sebagian hadis sunni ! Syi’ah menyortir hadis sunni ! Hadis Shahih Sunni Benar Benar Shahih ??  Lucu sekali melihat ikut campurnya rezim Umayyah Abbasiyah merusak agama Muhammad

.

Telaah Terhadap 700 Pembuat Hadis Palsu; Maudhlu’, Berapa banyak jumlah hadis palsu ini dapat dibayangkan dengan contoh berikut. Dari 600.000 (enam ratus ribu) hadis yang dikumpulkan alBukhari, ia hanya memilih 2.761 (dua ribu tujuh ratus enam puluh satu) hadis. [1] Muslim, dari 300.000 (tiga ratus ribu) hanya memiiih 4.000 (empat ribu). [2] Abu Dawud, dari 500.000 (lima ratus ribu) hanya memilih 4.800 (empat ribu delapan ratus) hadis. [3], Ahmad bin Hanbal, dari sekitar 1.000.000 (sejuta) hadis hanya memilih 30.000 (tiga puluh ribu) hadis. [4].

Bukhari (194255 H/810869 M), Muslim (204261 H/819875M), Tirmidzi (209279 H/824892 M), Nasa’i (214303 H/829915 M), Abu Dawud (203275 H/818888 M) dan Ibnu Majah (209295 H/824908 M) misalnya telah menyeleksi untuk kita hadishadis yang menurut mereka adalah benar, shahih. Hadishadis ini telah terhimpun dalam enam buku shahih, ashshihah,assittah, dengan judul kitab masing-masing menurut nama mereka; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Shahih (Sunan) Ibnu Majah, Shahih (Sunan) Abu Dawud, Shahih (Jami’) Tirmidzi dan Shahih (Sunan) Nasa’i.[5]

Tetapi, bila kita baca penelitian para ahli yang terkenal dengan nama Ahlul Jarh wa’ Ta’dil, maka masih banyak hadis shahih ini akan gugur, kerana ternyata banyak di antara pelapor hadis, setelah diteliti lebih dalam adalah pembuat hadis palsu. AlAmini, misalnya, telah mengumpulkan tujuh ratus nama pembohong yang diseleksi oleh Ahlu’l Jarh wa Ta’dil Sunni yang selama ini dianggap adil atau jujur, dan hadis yang mereka sampaikan selama ini dianggap shahih dan tertera dalam buku shahih enam.

Ada di antara mereka yang menyampaikan, seorang diri, beriburibu hadis palsu. Dan terdapat pula para “pembohong zuhud” [6] , yang sembahyang, mengaji dan berdoa semalaman dan mulai pagi hari mengajar dan berbohong seharian. Para pembohong zuhud ini, bila ditanyakan kepada mereka, mengapa mereka membuat hadis palsu terhadap Rasul Allah saw yang diancam api neraka, mereka mengatakan bahwa mereka tidak membuat hadis terhadap (‘ala) Rasul Allah saw tetapi untuk (li) Rasul Allah saw. Maksudnya, mereka ingin membuat agama Islam lebih bagus. [7], Tidak mungkin mengutip semua. Sebagai contoh, kita ambil seorang perawi secara acak dari 700 orang perawi yang ditulis Amini. [8]

“Muqatil bin Sulaiman alBakhi, meninggal tahun 150 H/767 M. Ia adalah pembohong, dajjal dan pemalsu hadis. Nasa’i memasukkannya sebagai seorang pembohong; terkenal sebagai pemalsu hadis terhadap Rasul Allah sa Ia berkata terangterangan kepada khalifah Abu Ja’far alManshur: “Bila Anda suka akan saya buat hadis dari Rasul untukmu”. Ia lalu melakukannya. Dan ia berkata kepada khalifah alMahdi dari Banu Abbas: “Bila Anda suka akan aku buatkan hadis untuk (keagungan) Abbas’. AlMahdi menjawab: “Aku tidak menghendakinya!”[9].

Para pembohong ini bukanlah orang bodoh. Mereka mengetahui sifat-sifat dan cara berbicara para sahabat seperti Umar, Abu Bakar, Aisyah dan lainlain.

Mereka juga memakai nama para tabi’in seperti Ibnu Umar, ‘Urwah bin Zuba sebagai pelapor pertama, dan rantai sanad dipilih dari orang-orang yang dianggap dapat dipercaya. Hadishadis ini disusun dengan rapih, kadangkadang dengan rincian yang sangat menjebak. Tetapi kesalahan terjadi tentu saja kerana namanya tercantum di dalam rangkaian perawi. Dengan demikian para ahli tentang cacat tidaknya suatu hadis yang dapat menyusuri riwayat pribadi yang buruk itu, menolak Hadis-hadis tersebut. [10]

Demikian pula, misalnya hadishadis ang menggunakan kata-kata ‘mencerca sahabat’ tidak mungkin diucapkan Rasul, kerana katakata tersebut mulai diucapkan di zaman Mu’awiyah, lama sesudah Rasul wafat. Seperti kata-kata Rasul “Barang siapa mencerca sahabat-sahabatku maka ia telah mencercaku dan barang siapa mencercaku maka ia telah mencerca Allah dan mereka akan dilemparkan ke api neraka” yang banyak jumlahnya.[11].

Juga, hadishadis berupa perintah Rasul agar secara langsung atau tidak langsung meneladani atau mengikuti seluruh sahabat, seperti ‘Para sahabatku laksana bintang-bintang, siapa saja yang kamu ikuti, pasti akan mendopat petunjuk’ atau ‘Para sahabatku adalah penyelamat umatku’ tidaklah historis sifatnya.

Disamping perintah ini menjadi janggal, kerana pendengarnya sendiri adalah sahabat, sehingga menggambarkan perintah agar para sahabat meneladani diri mereka sendiri, sejarah menunjukkan bahwa selama pemerintahan Banu Umayyah, cerca dan pelaknatan terhadap Ali bin Abi Thalib serta keluarga dan pengikutnya, selama itu, tidak ada sahabat atau tabi’in yang menyampaikan hadis ini untuk menghentikan perbuatan tercela yang dilakukan di atas mimbar masjid di seluruh negeri tersebut. Lagi pula di samping fakta sejarah, alQur’an dan hadis telah menolak keadilan seluruh sahabat. [12]

Atau hadishadis bahwa para khalifah diciptakan atau berasal dan nur (sinar) yang banyak jumlahnya, sebab menurut AlQur’an manusia berasal dari Adam dan Adam diciptakan dari tanah dan tidak mungkin orang yang tidak menduduki jabatan dibuat dari tanah sedang yang ‘berhasil’menjadi khalifah dibikin dari nur.

Para ahli telah mengumpul para pembohong dan pemalsu dan jumlah hadis yang disampaikan.

Abu Sa’id Aban bin Ja’far, misalnya, membuat hadis palsu sebanyak 300.
Abu Ali Ahmad alJubari 10.000 Ahmad bin Muhammad alQays 3.000
Ahmad bin Muhammad Maruzi 10.000
Shalih bin Muhammad alQairathi 10.000 dan banyak sekali yang lain.

Jadi, bila Anda membaca sejarah, dan nama pembohong yang telah ditemukan para ahli hadis tercantum di dalam rangkaian isnad, Anda harus hatihati.

Ada pula pembohong yang menulis sejarah dan tulisannya dikutip oleh para penulis lain. Sebagai contoh Saif bin Umar yang akan dibicarakan di bagian lain secara sepintas lalu. Para ahli telah menganggapnya sebagai pembohong. Dia menulis tentang seorang tokoh yang bernama Abdullah bin Saba’ yang fiktif sebagai pencipta ajaran Syi’ah. Dan ia juga memasukkan 150 [13] sahabat yang tidak pernah ada yang semuanya memakai nama keluarganya. Dia menulis di zaman khalifah Harun alRasyid. Bukunya telah menimbulkan demikian banyak bencana yang menimpa kaum Syi’ah. Bila membaca, misalnya, kitab sejarah Thabari dan nama Saif bin Umar berada dalam rangkaian isnad, maka berita tersebut harus diperiksa dengan teliti.

Referensi:
[1] Tarikh Baghdad, jilid 2, hlm. 8; AlIrsyad asSari, jilid 1, hlm. 28; Shifatu’s Shafwah, jilid 4, hlm. 143.
[2] Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 101; alMuntazam, jilid 5, hlm. 3 2; Thabaqat al Huffazh, jilid 2, hlm. 151, 157; Wafayat alAyan, jilid 5, hlm. 194.
[3] Tarikh Baghdad jilid 9, hlm. 57; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 154; alMuntazani, jilid 5, hlm. 97; Wafayat alA’yan jilid 2, hlm. 404.
[4] Tarikh Baghdad, jilid 4, hlm. 419420; Thabaqat a1Huffazh, jilid 2, hlm. 17; Tahdzib atTahdzib, jilid 1, hlm. 74; Wafayat alA’yan, jilid 1, hlm. 64.
[5] Menurut metode pengelompokan, hadits-hadits dibagi dalam Musnad, Shahih, Jami’, Sunan, Mujam dan Zawa’id.
[6] Zuhud = orang yang menjauhi kesenangan duniawi dan memilih kehidupan akhirat.
[7] AIAmini, alGhadir, Beirut, 1976, jilid 5, hlm. 209375.
[8] AIAmini, alGhadir, jilid 5, hlm. 266.
[9] Abu Bakar alKhatib, Tarikh Baghdad, jilid 13, hlm. 168; ‘Ala’udin Muttaqi alHindi, Kanzul- Ummal, jilid 5, hlm. 16, Syamsuddin adzDzahabi, Mizan alI’tidal, jilid 3, hlm. 196; alHafizh lbnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib, jilid 10, hlm. 284; Jalaluddin asSuyuthi, alLaAli ul Mashmu’ah, jilid 1, hlm. 168 jilid 2, hlm. 60, 122..
[10] Contoh-contoh Ahlul Jarh wa Ta’dil: Ibnu Abi Hatim arRazi, Ahlul Jarh wa Ta’dil (Ahli Cacat dan Penelurusan); Syamsuddin AzDzahabi, Mizan alI’tidal (Timbanga Kejujuran); Ibnu Hajar al’ Asqalani, Tahdzib atTahdzib (Pembetulan bagi Pembetulan) dan Lisan alMizan (Katakata Timbangan); ‘Imaduddin ibnu Katsir alBidayah wa’nNihayah (Awal dan Akhir), Jalaluddin AsSuyuthi,alLa’ali’ul Mashnu’ah (Mutiara-mutiara buatan), Ibnu Khalikan, Wafayat alA’yan wa Anba Abna azZaman (Meninggalnya Para Tokoh dan Berita Anakanak Zaman). Dan masih banyak lagi

.
[11] Lihat AIMuhibb Thabari, Riyadh anNadhirah, jilid 1, hlm. 30.
[12] Lihat Bab 19: ‘Tiga dan Tiga’ sub bab Sahabat Rasul.
[13] Seratus lima puluh.

penulis-penulis Sunni atas sokongan Umayyah dan kemudian penguasa Abbasiyah (musuh besar Ahlulbait sepanjang sejarah) mengarang ngarang hadis dan cerita untuk merendahkan Syi’ah

Dialog Sunnah Syiah
A. Syafaruddin al-Musawi  , Mizan Pustaka

penulis-penulis ini meriwayatkan beberapa legenda yang jelas-jelas palsu dan tidak masuk akal tentang Abdullah bin Saba’. Riwayat-riwayat ini diberikan oleh orang-orang yang menulis buku tentang al-Milal wa an-Nihal (cerita tentang peradaban dan kebudayaan) atau buku al-Firaq (perpecahan/aliran-aliran).

Di antara kaum Sunni yang menyebutkan nama Abdullah bin Saba’ dalam cerita mereka tanpa memberikan sumber klaim mereka adalah: Ali bin Isma’il Asyari (330) dalam bukunya yang berjudul  Maqalat al-Islamiyyin (esai mengenai masyarakat Islam).

Abdul Qahir bin Thahir Baghdadi (429) dalam bukunya yang berjudul al-Farq Bain al-Firaq (perbedaan di antara aliran-aliran). Penulis ini meriwayatkan beberapa legenda yang jelas-jelas palsu dan tidak masuk akal tentang Abdullah bin Saba’

Muhammad bin Abdul Karim Syahrastani (548) dalam bukunya yang berjudul al-Milal wa an-Nihal (Negara dan Kebudayaan). Penulis ini meriwayatkan beberapa legenda yang jelas-jelas palsu dan tidak masuk akal tentang Abdullah bin Saba’

Penulis : M. Quraish Shihab
Penerbit : Lentera Hati

Descriptions

Judul: Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?
Penulis: M. Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Halaman: 303
Cetakan: I, Maret 2007

 

isi  Buku Prof. Dr. Quraish Shihab :

Abdullah  bin  Saba’  Tidak  Ada  Kaitannya  Dengan  Syiah

QS: ”Ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para anti-Syiah. Ia (Abdullah bin Saba’) adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain – ilmuwan kenamaan Mesir – adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.” (hal. 65)

Biodata

 Nama  : Abu Abdillah Saif bin Umar Usaidi Tamimi

Tokoh fiksi yang dia tulis  : Abdullah bin Saba’ (Yahudi dari Yaman)

Lahir      : Tahun 736 M  pada masa raja Hisyam bin Abdul-Malik (106- 126 H/724-743 M)

Mati      : 796 M/180 H ketika ia dituduh zindik dalam inkuisisi masa  Harun Al Rasyid (170-193/786-809) di Baghdad Irak

Asal  :  Kufah, Irak

Alamat   :  Baghdad

Berasal dari suku   : Tamim, yang hidup di Kufah

Judul Buku Karyanya   :

  1. Al-Futuh wa ar-Riddah”, yang merupakan sejarah periode sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW hingga khalifah ketiga, Usman,
  2. Al-Jamal wa Masiri Aisyah wa Ali”, yang merupakan sejarah dari pembunuhan Utsman hingga perang Jamal

Buku disponsori oleh   Beberapa raja Dinasti Bani Umayyah yang telah mewujud kan kisah  dongeng ini, dan kemudian penguasa Abbasiah

Dimana buku tersebut ?

Buku-buku tersebut sekarang sudah tidak ada namun sempat bertahan beberapa abad setelah masa hidupnya Saif. Orang terakhir yang menyatakan  bahwa ia memiliki buku Saif  adalah  Ibnu Hajar Al Asqalani (852  H)

Motif penulisan buku  karena Tokoh  Ibnu Saba’ merupakan cara untuk melawan Syi’ah`,  Abdullah bin Saba’ adalah kambing hitam yang tepat

Sebenarnya, banyak buku-buku sejarah awal ditulis oleh penulis-penulis Sunni atas sokongan Umayyah dan kemudian penguasa Abbasiyah. Saif bin Umar dibayar untuk menciptakan suatu peristiwa dan menghubungkannya kepada umat Islam. Sosok Abdullah bin Saba’ sebagai solusi jitu mengatasi rumitnya pertentangan dan perseteruan yang terjadi pada awal sejarah Islam, dimulai ketika Rasulullah wafat pada 11-40 H. Cerita Saif hanya terpusat pada periode ini dan tidak pada periode selanjutnya, dia melakukan hal ini untuk mencari alasan atas tuduhan palsu dan serangan kepada pengikut keluarga Nabi Muhamrnad SAW. Saif yang pendusta ingin menyenangkan penguasa masa  itu

Cerita-cerita bohong seputar tokoh Abdullah bin Saba merupakan hasil karya keji seseorang. la mengarang cerita ini berdasarkan beberapa fakta utama yang ia temukan dalam sejarah Islam yang ada saat itu. Saif menulis sebuah novel yang tidak berbeda dengan novel Satanic Verses karangan Salman Rushdi dengan motif yang serupa, tetapi dengan perbedaan bahwa peranan setan dalam bukunya diberikan kepada Abdullah bin Saba.

Saif bin Umar mengubah biografi beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW untuk menyenangkan pemerintah yang berkuasa saat itu, dan menyimpangkan sejarah Syi’ah serta mengolok-olok Islam. Saif adalah seorang pengikut setia Bani Umayah, salah satu musuh besar Ahlulbait di sepanjang sejarah, dan niat utamanya mengarang cerita-cerita seperti itu adalah untuk merendahkan Syi’ah.

Banyak daripada pengikut-pengikut Imam Ali bin Abi Talib AS berasal dari Yaman seperti Ammar ibn Yasir, Malik al-Ashtar, Kumayl ibn Ziyad, Hujr ibn Adi, Adi ibn Hatim, Qays ibn Sa’d ibn Ubadah, Khuzaymah ibn Thabit, Sahl ibn Hunayf, Utsman ibn Hunayf, Amr ibn Hamiq, Sulayman ibn Surad, Abdullah Badil, maka istilah saba’iyyah ditujukan kepada para penyokong Ali AS ini

Saif juga berusaha mengkait-kaitkan kisah Abdullah bin Saba dengan Syi’ah Ali Kemudian ia melengkapi kisahnya dengan menambahkan dua sahabat ke dalam daftar pengikut Ibnu Saba’. Saif menyatakan bahwa pionir-pionir Islam yang setia pada Ali seperti Abu Dzar  dan Ammar bin Yasir adalah murid dari Abdullah bin Saba ketika Utsman memerintah. Saif  mencaci dan mengutuk Ammar bin Yasir yang dia sebut Abdullah bin Saba’ atau Ibnu Sauda’. Demikianlah cacian dan kutukan terhadap Ammar bin Yasir yang mereka sebut Abdullah bin Saba’ atau Ibnu Sauda’  

Syi’ah memaparkan sejumlah bukti bahwa Abdullah bin Saba’ yang difitnahkan Saif adalah ‘Ammar bin Yasir.

Dr. Aly Al Wardy dalam kitabnya Wu’adzus Salatin dan Dr, Kamil Mustafa As Syaibidalam kitabnya As Shilah Baina Tashawuf wa al Tasyyu’ mengalamatkan inisial Ibnu Saba’ pada Amar bin Yasir dengan beberapa faktor :

  1. Ibu Amar bin Yasir, Sumayah adalah seorang budak hingga ia pun dijuluki Ibnu Sauda
  2. Amar bin Yasir berasal dari kabilah Ansy pecahan dari klan Saba’
  3. Fanatisme  Ammar terhadap Ali, diriwayatkan bahwa ia memandang Ali lebih berhak  menjadi Khalifah dibanding Utsman. Ammar menyerukan pengangkatan Ali sebagai khalifah
  4. Amar bin Yasir mengkampanyekan pemikirannya di Madinah dan Mesir·

Golongan Sabaiyah yang ditengarai bentukan milisi ekstrim Ibnu Saba tidak lain adalah kelompok muslimin yang berasal dari klan Saba yang memang setia mendukung Aly, dan seringkali bertindak oposisi di masa pemerintahan Utsman, kelompok ini diwakili Amar bin Yasir dan Abu Dzar Al Ghifari  yang memang berasal dari klan Saba.

kebencian Saif bin Umar Tamimi, yang hidup pada abad kedua setelah Rasulullah wafat, dan kebencian para pengikutnya kepada Syi’ah, mendorong mereka menyebarkan propaganda seperti itu. Dalam kisah Abdullah ibn Saba’ , yang dikatakan berasal dari San’a Yaman, tidak dinyatakan kabilahnya. Ibn Saba’ dan golongan Sabai’yyah adalah satu cerita khayalan dari Sayf ibn Umar yang ternyata turut menulis cerita-cerita khayalan lain dalam bukunya.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng, banyak sejarahwan Sunni juga menolak keberadaan Abdullah bin Saba dan/atau cerita-cerita bohongnya. Di antara mereka adalah  Dr. Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami,Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabidlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

Dr. Taha Husain, salah seorang tokoh Sunni yang terkenal secara langsung mengatakan musuh-musuh Syiah yang mencipta ‘Abdullah bin Saba untuk mempertikaikan kebudayaan Syiah: Mereka ingin memerangi Syiah dengan memasukkan elemen Yahudi ke dalam usul mazhab ini. – al-Fitnatul Kubra –  karyaDr. Taha Husain, jilid 2 halaman 98.

Dr. Thaha Husain, yang telah menganalisis kisah ini dan menolaknya. la menulis dalam al-Fitnah al-Kubra bahwa: Menurut saya, orang-orang yang berusaha membenarkan cerita Abdullah bin Saba telah melakukan kejahatan dalam sejarah dan merugikan diri mereka sendiri. Hal pertama yang diteliti adalah bahwa dalam koleksi hadis Sunni, nama Ibnu Saba tidak muncul ketika mereka membahas tentang pemberontakan terhadap Utsman. Ibnu Sa’d tidak menyebutkan nama Abdullah bin Saba ketika ia membicarakan tentang Khalifah Utsman dan pemberontakan terhadapnya. Juga, kitab Baladzuri, berjudul Ansab al-Asyraf, yang menurut saya merupakan buku paling penting dan paling lengkap membahas pemberontakan terhadap Utsman, nama Abdullah bin Saba tidak pernah disebutkan. Nampaknya, Thabari adalah orang pertama yang meriwayatkan cerita lbnu Saba dari Saif, lalu sejarahwan lain mengutip darinya.

Dalam buku lainnya berjudul Ali wa Banuh maka Dr. Taha Husain juga menyebutkan : Cerita tentang Abbdullah bin Saba tidak lain adalah dongeng semata dan merupakan ciptaan beberapa sejarahwan karena cerita ini bertentangan dengan catatan sejarah lain. Kenyataanvya adalah bahwa pergesekan antara Syi’ah dan Sunni memiliki banyak bentuk, dan masing-masing kelompok saling mengagungkan diri sendiri dan mencela dengan cara apapun yang mungkin dilakukan. Hal ini menjadikan seorang sejarahwan harus ekstra hati-hati ketika menganalisis riwayat kontroversial yang berkaitan dengan fitnah dan pemberontakan.

Dr. Ali Nasysyar, salah seorang pemikit Islam dan professor falsafah berkata di dalam kitab Nasyatul Fikr Fi al-Islam, jilid 2 halaman 39 sebagai: ‘Abdullah bin Saba di dalam teks sejarah adalah hasil rekaan. Sejarah menyebut nama beliau untuk menuduhnya sebagai pencetus fitnah pembunuhan Uhtman dan peperangan Jamal. ‘Ammar bin Yasir lah yang dianggap Abdullah bin Saba.

Dr. Hamid Dawud Hanafi, iaitu salah seorang tokoh Mesir yang mendapat gelaran Doktor di Universiti Sastera Kaherah mengakui pembikinan kisah ini di dalam mukadimah kitab ‘Allamah ‘Askari, jilid 1 halaman 17.

Muhammad Kamil Husain, seorang doktor, ulama dan ahli falsafah Mesir menyebut kisah ‘Abdullah bin Saba sebagai khayalan di dalam kitab Adab Misr al-Fatimiyyah,halaman 7.

Pensyarah universiti Malik Sa’ud di Riyadh, Dr. Abdul Aziz al-Halabi berkata: kesimpulannya Abdullah bin Saba ialah: Personaliti khayalan, tidak mungkin ia wujud. (Dirasah lil-Riwayah al-Tarikhiyyah ‘An Dawrihi fil Fitnah, halaman 73).

Peneliti buku al-Muntazam Ibnu Jawzi, Dr. Sahil menyebut tentang pembikinan Abdullah bin Saba dalam kitab tersebut.

Mereka ini adalah tokoh tersohor Ahlusunnah yang percaya bahwa pembikinan kisah dongeng Abdullah bin Saba. Akibatnya, Bukhari tidak meriwayatkan bahkan satu hadis pun tentang Abdullah bin Saba dalam sembilan jilid kitab hadis sahihnya.

Ulama-ulama gadungan ikut ikutan  menggunakan istilah Saba’iyah untuk merendahkan ketaatan pengikut keluarga Nabi. Riwayat tersebut berdasarkanpada rumor yang di propaganda kan oleh rezim Umayyah dan Abbasiyah dengan meniru karya Saif yang sampai pada mereka, menghancurkan lawan politik  yang didasarkan pada kreativitas pengarang cerita fiksi. Telah terbukti bahwa ulama  ulama gadungan yang menyebutkan bahwa pendiri Syi’ah adalah Abdullah bin Saba merupakan  pengikut sunnah keluarga Abu Sufyan dan Marwan

.

Saif bin Umar sebagai satu-satunya sumber yang meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba adalah sesorang yang pembohong dan oleh sebagian dianggap zindik, juga riwayat-riwayatnya dianggap lemah. Dengan demikian, jelaslah bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif dalam sejarah Islam. Hal ini didasarkan bukan hanya karena adanya Saif bin Umar dalam jalur sanadnya, tetapi juga karena Saif bin Umar adalah seseorang yag terkenal zindiq dan fasik.
.
Web ini bukan berniat untuk menyebar Syiah, tetapi lebih kepada menjawab fitnah yang dilemparkan terhadap mazhab ini dan penganutnya. Fitnah wajib dijawab dan saya tidak akan biarkan ia berterusan. Jika tidak suka saya membongkar fitnah ini, mulakanlah dengan berhenti menebar fitnah. Kepada yang bukan Syiah, anda dilarang melawat laman ini, jika anda berkeras, maka saya tidak akan bertanggungjawab atas pencerobohan akidah anda
.
Pada pertengahan abad kedua Hijrah muncul dua buah buku berjudul al-Futuh al-Kabir wa ar-Riddah dan al-Jamal wa Masiri ’Ali wa Aisyah, yang ditulis Saif bin ’Umar Tamimi (w. 170 H.). Para penulis sejarah Islam, terutama Thabari (w. 310 H.), Ibn ’Asakir (w. 571 H.), Ibn Abi Bakr (w. 741 H.) dan Dzahabi (w. 748 H.) mengutip riwayat dari Saif Tamimi (tanpa menya­takan penilaian tentang kesahihannya). Orang-orang lain mengutip dari Thabari dan lain-lain itu, hingga semua seperti ’telah sepakat” menerimanya tanpa pertanyaan atau memeriksa keabsahannya.

Seorang ulama ahli sejarah, Murtadha al-’Askari, meneliti riwayat tentang tokoh ’Abdullah bin Saba’ ini dan setelah menelusuri nama­nya, ia berkesimpulan bahwa tak ada seorang ulama jarh dan ta’dil yang turut menyebarkan cerita Saif bin Umar Tamimi khususnya tentang ’Abdullah bin Saba’.

la juga mendapatkan bahwa setidaknya ada 13 ulama ahli jarh dan ta’dil yang jadi anutan mazhab Sunni yang memberi penilaian tentang berita yang diriwayatkan oleh Saif bin Umar Tamimi, dengan menyatakan sebagai berikut:

1. Yahya bin Mu’in (w. 233 H.): “Riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi lemah dan tidak berguna.”

2. Nasa’i (w. 303 H.) di dalam kitab Shahih-nya, “Riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi lemah, riwayat-riwayat itu harus diabaikan karena ia orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak patut di percaya.”

3. Abu Daud (w. 316 H.) mengatakan, “Tidak ada harganya, Saif bin Umar Tamimi seorang pembohong (Al-Khadzdzab).”

4. Ibn Abi Hatim (w. 327 H.) mengatakan bahwa, “Mereka telah meninggalkan riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi.”

5. Ibn AI-Sakan (w. 353 H.), “Lemah.” (dhaif).

6. Ibn ’Adi (w. 365 H.), “Lemah, sebagian dari riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi terkenal namun bagian terbesar dari riwayat-riwayatnya mungkar dan tidak diikuti.”

7. Ibn Hibban (w. 354 H.), “Saif bin Umar Tamimi terdakwa sebagai zindiq dan memalsukan riwayat-riwayat.”

8. AI-Hakim (w. 405 H.), “Riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi telah ditinggalkan, ia dituduh zindiq.”

9. Khatib al-Baghdadi (w. 406 H.) tidak memercayainya.

10. Ibn ’Abdil Barr (w. 463 H.) meriwayatkan dari Abi Hayyam bahwa “riwayat-riwayat Saif bin Umar Tamimi telah ditinggalkan; kami menyebutnya bahwa sekadar untuk diketahui saja.”

11. Safiuddin (w. 923 H.): “Dianggap lemah (dhaif).

12. Fihruzabadi (w. 817 H.) di dalam Tawalif menyebutkan Saif bin Umar Tamimi dan lain-lain mengatakan bahwa mereka itu lemah (dha’if).

13. Ibnu Hajar (w. 852 H.) setelah menyebutkan salah satu dari riwayat-riwayatnya menyebutkan bahwa riwayat itu disampaikan oleh musnad-musnad yang lemah, yang paling lemah di antaranya (assyadduhum) ialah Saif bin Umar Tamimi.

Ulama-ulama di atas ini adalah para peneliti perawi (orang yang meriwayatkan) dan menilai sampai di mana ia dapat dipercaya. Mereka menyusun kitab semacam ensiklopedia atau biografi lengkap tentang para perawi yang disebut Kitab Rijal seraya memberikan penilaian tentang dapat dipercayai atau tidaknya seorang perawi, dan sebagainya.

“Perawi” yang namanya tidak terdapat dalam berbagai Kitab Rijal itu berarti tidak ada. Fiktif atau majhul.

Mereka mengingatkan umat Islam bahwa Saif bin Umar Tamimi tak dapat dipercayai. Riwayat-riwayatnya dhaif, lemah (1, 5, 6, 11, 12, 13), tidak diikuti (6), telah ditinggalkan (4, 6, 8, 10), tak berguna (1), tak ada harganya (3) tak dapat diandalkan (2), tak dapat dipercaya (9, 2), hares diabaikan (2), mungkar (6), pemalsu (7), kadzdzab (3), yakni pendusta, penipu. la terdakwa zindiq, (7, (*) yakni berpura-pura Muslim.

Allamah Murtadha al-’Askari menelusuri riwayat-riwayat dari Saif bin Umar Tamimi dan melihat jelas perbedaan riwayat dari Saif dengan riwayat orang lain.

Beliau menemukan bahwa Saif dengan sengaja mengada-adakan cerita untuk mengadu domba kaum Muslimin dan menodai kemurnian Islam.

Beliau juga menemukan bahwa Saif telah mengada-adakan perawi yang menjadi sumber beritanya. Sejarawan ini pun menemukan dalam buku-buku Saif 150 Sahabat Rasul yang direkayasa oleh Saif bin Umar Tamimi, yang pada hakikatnya tidak pernah ada di dalam sejarah.

Sebagai hasil penelitiannya, Murtadha al-‘Askari menulis 2 buah kitab: ’Abdullah bin Saba’ wa Asathir Ukhra (’Abdullah bin Saba’ dan Mitos lainnya) dan Khamsun wa Miatu Shahabi Mukhtalaq (150 Shahabat Fiktif).

Kitab-kitab itu (masing-masingnya 2 jilid) diterbitkan di Najaf (Iraq) tahun 1955, kemudian diterbitkan lagi di Beirut dan Mesir.

Hasil penelitian Murtadha al-’Askari ini telah menimbulkan berbagai reaksi, antara lain:

- Kaum cendekiawan menyambutnya dengan hangat karena sejak lama merasakan keganjilan kisah mengenai ’Abdullah bin Saba’ sebagai tambalan yang tak sesuai dan merupakan interpolasi sejarah.

- Kalangan Syi’ah yang selama ini dituduh sebagai penganut aliran ’Abdullah bin Saba’, dan cerita ini sangat sering digunakan sebagai alat pemukul terhadap Syi’ah.

- Kalangan yang menghendaki pendekatan Sunnah-Syi’ah dan Persatuan Umat dan Ukhuwwah Islamiyyah.

Sebaliknya, hasil riset Murtadha al-Askari ini telah menimbulkan reaksi hebat dari kalangan-kalangan lain. Yang paling mencolok adalah reaksi para pembenci Syi’ah, terutama kaum Wahabi-Salafi.

Ketika seorang muslim yang bukan Syi’ah membaca buku-buku anti-Syi’ah yang mengatakan bahwa mazhab Syi’ah itu berasal rekayasa ’Abdullah bin Saba’ menjadi takjub bahwa :

- Betapa hebatnya Abdullah bin Saba yang merupakan tokoh setani yang sedemikian kejinya dan sedemikian hebatnya bisa mengadu domba Umat Islam selama lebih 1.000 tahun ini, dan konon bahkan bisa mempermainkan para Sahabat besar Nabi saw seperti Thalhah, Zubair, Ammar bin Yassir, bahkan ‘Aisyah istri nabi pun bisa dikibulinya.

Yang lebih ajaib lagi, lelaki yang muncul dari negeri antah barantah ini bisa mendirikan sebuah mazhab yang dianut jutaan manusia dan sanggup bertahan hidup selama belasan abad, melintasi pengalaman-pengalaman sejarah yang jarang ditemukan pada penganut mazhab atau agama lainnya.

Dan, bahkan mazhab ini memiliki para ulama, ahli pikir dan ilmuwan yang diakui di mana-mana, seperti Thabathaba’i, Muthahhari, Baqir Sadr, Syari’ati dan sederetan panjang lainnya.

Kita juga akan tak habis pikir bagaimana seorang Ahmadinejad, Presiden Iran yang terkenal berani menantang hegemoni AS dan Zionis Yahudi ini ternyata juga salah seorang penganut mazhab Abdullah bin Saba? Aneh bin ajaib!

Buku-buku anti Syiah selalu disebarkan oleh Kerajaan Saudi Arabia melalui lembaga-lembaga (seperti LIPIA, misalnya) yang tersebar di seluruh dunia dengan sekte mereka Wahabi-Salafinya memfitnah bahwa Syiah :

- berasal dari Abdullah bin Saba

- memiliki Al-Quran yang berbeda dengan saudara mereka Ahlus Sunnah.

- dan masih banyak lagi fitnah-fitnah keji mereka yang tiada henti.

Namun kita senantiasa bersyukur bahwa Allah SWT tidak akan tinggal diam bersama para pejuang kebenaran, baik dari kalangan Muslim Sunni maupun Syiah untuk terus melawan kejahatan mereka, para antek AS dan Zionis Yahudi!

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Walillahi ilhamd!

Allahumma sholli ‘ala Muhammadin wa aali Muhammad!
.
Abdullah bin Saba adalah nama seorang tokoh yang tidak asing lagi di telinga kita, terutama di kalangan para intelektual, cendekiawan Islam dan orang-orang yang memiliki minat untuk menggeluti persoalan madzhab dan firqah dalam Islam

Abdullah bin Saba didaulat sebagai tokoh pendiri madzhab syi’ah yang menurut sebagian buku seperti Tarikh Milal wa Nihal madzhab syiah didirikan olehnya pada masa khalifah Utsman bin Affan.[1] Namun demikian, klaim ini tentunya bisa kita pertanyakan dan tinjau kembali sejauh mana kebenarannya. Karena sebagaimana yang akan dibahas nanti bahwa sumber primer yang dijadikan rujukan dalam menukil tokoh ini berasal dari satu sumber. Dan sumber inipun oleh beberapa sejarawan serta muhaditsin tidak diterima keabsahannya.

Berdasarkan hal tersebut, pertanyaan mendasar yang mesti diajukan, apakah Abdullah bin Saba merupakah tokoh nyata dalam sejarah islam ataukah sekedar tokoh fiktif yang sengaja dibuat untuk kepentingan tertentu.

Tulisan singkat ini dimaksudkan untuk mencoba meninjau kembali kebenaran tokoh Abdullah bin Saba tersebut.

Sekilas Tentang Abdullah bin Saba dan Pemikirannya

Lebih dari seribu tahun lamanya para sejarawan (lama maupun kontemporer) dalam kitabnya telah mencatat riwayat-riwayat mencengangkan mengenai Abdullah bin Saba dan Sabaiyun (pengikut Abdullah bin Saba). Lantas siapakah sebenarnya Abdullah bin Saba? Bagaimanakah pemikirannya serta apa yang telah dilakukannya?

Dibawah ini beberapa riwayat ringkas dari para sejarawan mengenai Abdullah bin Saba:

Seorang Yahudi dari Shan’a di Yaman yang pada zaman khalifah ketiga pura-pura masuk Islam dan secara sembunyi-sembunyi membuat sebuah gerakan untuk memecah belah ummat Islam. Ia melakukan berbagai perjalanan ke kota-kota besar islam seperti Kufah, Basrah, Damsyik, dan Mesir sambil menyebarkan suatu kepercayaan akan kebangkitan Nabi Muhammad SAW sebagaimana akan kembalinya Nabi Isa As. Dan sebagaimana para nabi sebelumnya memiliki washi (pengganti), Ali adalah washi dari Nabi Muhammad SAW. Dia penutup para washi sebagaimana Muhammad SAW sebagai penutup para nabi, dan menuduh Utsman dengan zalim telah merampas hak washi ini darinya, serta mengajak masyarakat untuk bangkit mengembalikan kedudukan washi tersebut pada yang berhak.2

Sejarahwan menyebut tokoh utama dari cerita tersebut di atas adalah Abdullah bin Saba dengan laqab “Ibn Ummat Sauda” –Anaknya budak hitam- mereka mengatakan Abdullah bin Saba mengirimkan para muballighnya ke berbagai kota dan dengan dalih amar ma’ruf nahi munkar memerintahkan pada mereka untuk melumpuhkan para pemimpin di kota-kota tersebut. Kaum muslimin pun banyak yang mengikutinya dan membantu mensukseskan rencananya.

Mereka mengatakan Sabaiyun (sebutan untuk para pengikut Abdullah bin Saba) dimana saja berada dalam rangka memuluskan rencananya, mereka memprovokasi serta menghasut masyarakat untuk melawan pemerintah dan menulis surat kritikan terhadap pemerintah, tidak hanya itu, surat inipun dikirimkan ke berbagai daerah lain. Propaganda dan agitasi yang dilakukan oleh kelompok sabaiyun ini akhirnya membuahkan hasil yaitu dengan berdatangannya sebagian dari kaum muslimin ke madinah untuk memblokade serta mengepung rumah khalifah ketiga (Ustman bin Affan) dan berakhir pada terbunuhnya khalifah di tangan mereka. Yang kesemuanya ini berada dibawah kepemimpinan kelompok sabaiyun.

Setelah kaum muslimin menyatakan bai’atnya pada Ali , Aisyah (ummul mukminin) beserta Talhah dan Zubair untuk menuntut terbunuhnya Utsman bergerak menuju Bashrah. Di luar kota Bashrah antara Ali dengan Talhah dan Zubair sebagai pemimpin pasukan Aisyah dalam perang Jamal melakukan perundingan. Hal ini diketahui oleh kelompok Sabaiyun bagi mereka jika perundingan dan kesepahaman ini sampai terjadi penyebab asli dari terbunuhnya khalifah ketiga yang tiada lain adalah mereka sendiri akan berdampak negatif terhadap mereka. Oleh karena itu, malam hari mereka memutuskan untuk menggunakan cara apapun yang bisa dilakukan agar perang tetap terjadi. Akhirnya mereka menyusup masuk pada kedua kelompok yang berbeda. Pada malam hari ditengah kedua pasukan dalam kondisi tertidur dan penuh harap agar perang tidak terjadi, kelompok sabaiyun yang berada di pasukan Ali melakukan penyerangan dengan memanah pasukan Talhah dan Zubair, dan sebaliknya akhirnya perangpun antara kedua belah pihak tidak bisa terhindarkan lagi.3

Sumber Riwayat Abdullah bin Saba

Untuk lebih mengetahui siapakah sebenarnya Abdullah bin Saba, alangkah baiknya jika kita melihat sebagian pendapat para sejarawan dalam menceritakan sosok Abdullah bin Saba dan sumber yang digunakannya, yang pada akhirnya kita akan bermuara pada sumber asli penukilan dari cerita Abdullah bin Saba tersebut.

1. Sayyid Rasyid Ridha

Sayyid Rasyid Ridho dalam bukunya (Syi’ah wa Sunni, hal. 4-6) mengatakan bahwa pengikut syiah memulai perpecahan antara dien dan politik di tengah ummat Muhammad Saw, dan orang yang pertama kali menyusun dasar-dasar syiah adalah seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba yang berpura-pura masuk Islam, dia mengajak masyarakat untuk membesar-besarkan Ali, sehingga terciptalah perpecahan dikalangan ummat, dan telah merusak dien dan dunia mereka.

Cerita ini pun terus berlanjut sampai halaman enam kemudian dia mengatakan apabila seseorang ingin mengetahui peristiwa perang Jamal, lihatlah kitab Tarikh Ibnu Atsir, Jilid 3, hal.95-103, maka akan ditemukan sejauhmana peran Sabaiyun dalam memecah belah ummat, dan secara mahir memainkan perannya serta tidak mengizinkan terjadinya perdamaian diantara keduanya (kelompok Ali dan Aisyah).

Dengan demikian dapat diketahui bahwa Sayyid Rasyid Ridlo mengutip cerita ini dari kitab Tarikh Ibnu Atsir.

2. Ibnu Atsir (w. 732 H)

Ibnu Atsir (w. 630 H.Q) menuliskan secara sempurna tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi sekitar tahun 30-36 H tanpa menyebutkan sumber-suber yang dijadikan rujukannya, namun dalam prakata bukunya Tarikh al-Kamil ia mengatakan “Saya telah mendapatkan riwayat-riwayat ini dari kitab Tarikhul Umam wa Al-Muluk yang ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad Thabari.

3. Ibnu Katsir (w. 747 H)

Ibnu Katsir (w.774 H.Q) dalam bukunya yang berjudul Al-Bidayah wa Al-Nihayah meriwayatkan cerita Abdullah bin Saba dengan menukil dari Thabari dan pada halaman 167 dia mengatakan:

“Saif bin Umar mengatakan: sebab dari penyerangan terhadap Utsman adalah karena seorang yahudi yang bernama Abdullah bin Saba yang mengaku islam dan dia pergi menuju Mesir kemudian membentuk para muballig dan …” Kemudian cerita Abdullah bin Saba dengan seluruh karakteristiknya terus berlanjut sampai halaman 246 kemudian dia mengatakan :

“Demikianlah ringkasan yang dinukil oleh Abu Ja’far Thabari”

4. Ibnu Khaldun

Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun dalam bukunya yang berjudul Al-Mubtada’ wa Al-Khabar sebagaimana Ibnu Atsir dan Ibnu katsir dalam menceritikan Abdullah bin saba telah mengutip dari Thabari. Dia setelah menukil peristiwa perang jamal (jilid 2, hal 425) mengatakan:

“Demikianlah peristiwa perang jamal yang diambil secara ringkas dari kitabnya Abu Ja’far Thabari…”

5. Thabari (w. 310 H)

Tarikh Thabari adalah kitab sejarah yang paling lama yang menjelaskan cerita Abdulah bin Saba disertai dengan para perawi dari cerita tersebut. Semua kitab sejarah yang ada setelahnya dalam menjelaskan cerita Abdulah bin Saba menukil dari Tarikh Thabari. Oleh karenanya kita harus melihat dari manakah dia menukil cerita tersebut serta bagaimanakah sanadnya?

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Thabari Amuli (w. 310 H) cerita sabaiyun dalam kitabnya Tarikh Al-Imam wa Al-Muluk hanya menukil dari Saif bin Umar Tamimi Kufi. Ia merujuk hanya sebagian dari peristiwa-peristiwa itu, sebagai berikut :

Pada tahun yang sama (yakni 30 H) peristiwa mengenai Abu Dzar dan Muawiyah, dan pengiriman Abu Dzar oleh muawiyah dari Syam ke Madinah. Banyak hal yang dikatakan tentang peristiwa itu, tetapi saya tidak mau menuliskannya, sebagaimana Sari bin Yahya telah menuliskannya buat saya demikian:

“Syu’aib bin Ibrahim telah meriwayatkan dari Saif bin Umar:”…Karena Ibnu Sauda sampai ke Syam (Damsyik) dia bertemu dengan Abu Dzar dan berkata: Wahai Abu Dzar! Apakah kamu melihat apa yang sedang dilakukan oleh Muawiyah?.. Kemudian Thabari cerita Ibnu Saba hanya menukilnya dari Saif dan dia mengakhiri penjelasannya mengenai keadaan Abu Dzar dengan mengatakan :”Orang-orang lain telah berbicara banyak riwayat pembuangan Abu Dzar, tetapi saya segan menceritakannya kembali”

Mengenai peristiwa-peristiwa dalam tahun-tahun 30-36 H, Thabari mencatat riwayat bin Saba dan kaum sabaiyah, pembunuhan Utsman serta peperangan jamal dari Saif. Dan Saif adalah satu-satunya orang yang dapat dikutipnya.

Thabari meriwayatkan kisahnya dari Saif melalui dua orang:

1. ‘Ubaidillah bin Sa’id Zuhri dari pamannya Ya’qub bin Ibrahim dari Saif.

Dari jalur-jalur ini riwayat-riwayat tersebut dia mendengar dari ‘Ubaidillah dan menggunakan lafadz “Haddatsani atau Haddatsana” yaitu diceritakan kepada saya atau diceritakan kepada kami.

2. Sari bin Yahya dari Syu’aib bin Ibrahim dari Saif.

Thabari dalam jalur sanad ini hadits-hadits Saif diambil dari dua bukunya yang berjudul Al-Futuh dan Al-Jamal, dengan dimulai oleh kata Kataba ilayya (ia menulis kepada saya), Haddatsani (ia meriwayatkan kepada saya) dan Fi Kitabihi Ilayya (dalam suratnya kepada saya)4

Dengan demikian dari beberapa sumber di atas sebagai sumber rujukan dalam menceritakan Abdullah bin Saba semuanya pada akhirnya merujuk pada apa yang diriwayatkan oleh Thabari dalam buku masyhurnya Tarikh Thabari. Namun demikian, ada juga beberapa sejarahwan lain yang meriwayatkan Abdullah bin Saba dan kaum Sabaiyun tidak mengutip dari Thabari, tetapi langsung mengutipnya dari Saif, mereka adalah :

1. Ibnu ‘Asakir (w. 571 H)

Ibnu ‘Asakir mencatat dari sumber lain. Dalam bukunya Tarikh Madinah Damsyik , ketika ia menulis tentang biografi Thalhah dan Abdulah bin Saba, dia telah mengutip bagian-bagaian dari cerita-cerita tentang kaum Sabaiyah melalui Abul Qasim Samarqandi dan Abul Husain Naqqur dari Abu Thaher Mukhallas dari Abu Bakar bin Saif dari Sari dari Syu’aib bin Ibrahim dari Saif.

Jadi sumbernya adalah Sari, salah satu dari dua jalur yang telah dikutif Thabari.

2. Ibnu Abi Bakr (w. 741 H)

Bukunya At-Tamhid telah dijadikan sumber dan dinukil oleh beberapa penulis. Buku itu meriwayatkan pembunuhan terhadap Khalifah Utsman. Dalam bukunya itu disebutkan buku Al-Futuh karangan Saif.5

3. Dzahabi

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman Dzahabi (w. 748 H) dalam kitabnya yang berjudul Tarikh Al-Islam meriwayatkan sebagaian riwayat mengenai Abdullah bin Saba. Ia memulai dengan menukil dua riwayat dari Saif yang sebelumnya oleh Thabari tidak dinukil. Dia mengatakan:

“Berkata Saif bin Umar bahwa Athiyyah mengatakan, bahwa Yazid Al-Faq’asi mengatakan ketika Abdullah bin Saba pergi ke Mesir…”6

Dari beberapa sumber riwayat di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa sebagian besar sejarahwan pasca Thabari dalam meriwayatkan sejarah mengenai Abdullah bin Saba semuanya bersumber dari buku Tarikh Thabari. Sementara hanya sebagian kecil saja dari sejarahwan yang langsung menukil riwayat mengenai Abdulah bin Saba dan Kaum Sabaiyah ini dari Saif yaitu, Thabari, Ibnu Asakir, Ibnu Abi Bakr dan Dzahabi. Dengan kata lain seluruh riwayat mengenai Abdullah bin Saba ini pada akhirnya bermuara pada Saif bin Umar yang kemudian dari dialah Thabari, Ibnu Asakir, Ibnu Abu Bakr dan Dzahabi mengutip.

Lantas siapakah sebenarnya Saif bin Umar, kemudian bagaimanakah dia dan riwayat-riwayat yang dikeluarkan olehnya di mata para muhaditsin. Dengan mengetahui jawaban ini kita bisa mengukur sejauh mana validitas riwayat-riwayat yang dikeluarkannya termasuk dalam hal ini riwayat mengenai Abdullah bin Saba.

Siapakah Saif bin Umar?

Menurut Thabari, namanya yang lengkap adalah Saif bin umar Tamimi Al-Usaidi. Menurut Al-Lubab Jamharat Al-Ansab dan Al-Isytiqaq, namanya Amr bin Tamimi. Karena ia keturunan Amr maka ia telah mengkontribusikan lebih banyak lagi tentang perbuatan-perbuatan heroik Bani Amr ketimbang yang lain-lainnya.

Namanya disebut sebagai usady, sebagai ganti Osayyad, dalam Al-Fihrist oleh Ibn Nadim. Dalam Tahdzib Al-Tahdzib, ia juga disebut Burjumi, Sa’adi atau Dhabi. Disebutkan pula bahwa Saif berasal dari Kufah dan tinggal di Baghdad, meninggal pada tahun 170 H pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid ( 170-193 H).

Saif bin Umar Tamimi menulis dua buah buku yang berjudul:

1. Al-Futuh Al-Kabir wa Al-Riddah, isinya menjelaskan tentang sejarah dari sebelum wafatnya Nabi Muhammad Saw hingga pada masa Utsman menjadi khalifah.

2. Al-Jamal wa Al-Masiri ‘Aisyah wa Ali, mengenai sejarah sejak terbunuhnya Utsman sampai peristiwa peperangan jamal.

Kedua buku ini lebih banyak menceritakan tentang fiksi ketimbang kebenaran. Sebagian dari cerita-ceritanya adalah cerita palsu yang dibuat olehnya. Kemudian kedua buku ini pun menjadi sumber rujukan para sejarawan seperti Ibnu Abdil Bar, Ibnu Atsir, Dzahabi dan Ibnu Hajar ketika mereka hendak menulis dan menjelaskan perihal para sahabat Nabi Saw.

Allamah Askari menjelaskan dalam bukunya bahwa setelah diadakan penelitian terhadap buku-buku yang dikarang oleh keempat sejarahwan di atas ditemukan bahwa ada sekitar 150 sahabat nabi buatan yang dibuat oleh Saif bin Umar.7

Ahli Geografi seperti Al-Hamawi dalam bukunya Mu’jam Al-Buldan dan Al-Himyari dalam Al-Raudh yang menulis kota-kota islam juga menggunakan riwayat dari Saif dan menyebutkan nama-nama tempat yang diada-adakan oleh Saif8 Dengan demikian Saif tidak hanya membuat tokoh fiktif Abdullah bin Saba tetapi juga dia telah membuat ratusan tokoh fiktif lainnya dan juga tempat-tempat fiktif yang dalam realitasnya tidak ada. Berikut ini adalah pandangan dan penilaian para penulis biografi tentang nilai-nilai tulisan Saif :

1. Yahya bin Mu’in (w. 233 H); “Riwayat-riwayatnya lemah dan tidak berguna”.

2. Nasa’i (w. 303 H) dalam kitab Shahih-nya mengatakan : “Riwayat-riwayatnya lemah, riwayat-riwayat itu harus diabaikan karena ia adalah orang yang tidak dapat diandalkan dan tidak patut dipercaya.”

3. Abu Daud (w. 275H) mengatakan: “Tidak ada harganya, ia seorang pembohong (Al-Kadzdzab).”

4. Ibnu Abi Hatim (w. 327 H) mengatakan bahwa : “Dia telah merusak hadist-hadits shahih, oleh karena itu janganlah percaya terhadap riwayat-riwayatnya dan tinggalkanlah hadists-hadistnya.”

5. Ibnu Sakan (w. 353 H)_mengatakan : “Riwayatnya lemah.”

6. Ibnu Hiban (w. 354 H) dia mengatakan bahwa :” Hadists-hadits yang dibuat olehnya kemudian disandarkan pada orang yang terpercaya” juga dia berkata “Saif dicurigai sebagai Zindiq; dan dikatakan dia telah membuat hadits-hadits yang kemudia hadis tersebut dia sandarkan pada orang yang terpercaya.”

7. Daruqutni (w. 385 H) berkata :” Riwayatnya lemah. Tinggalkanlah hadits-haditsnya.”

8. Hakim (w. 405 H) mengatakan : “Tinggalkanlah hadits-haditsnya, dia dicurigai sebagai seorang zindiq.”

9. Ibnu ‘Adi (w. 365 H) mengatakan : “Lemah, sebagian dari riwayat-riwayatnya terkenal namun sebagian besar dari riwayat-riwayatnya mungkar dan tidak diikuti.”

10. Firuz Abadi (w. 817 H) penulis kamus mengatakan:” Riwayatnya lemah.”

11. Muhammad bin Ahmad Dzahabi (w. 748 H) mengenainya dia mengatakan :”Para ilmuwan dan ulama semuanya sepakat bahwa riwayatnya lemah dan ditinggalkan.”

12. Ibnu Hajar (w. 852 H) mengatakan :”hadisnya lemah” dan dalam buku lain mengatakan :Walaupun banyak riwayat yang dinukil olehnya mengenai sejarah dan penting, tapi karena dia lemah, hadits-haditsnya ditinggalkan.”

13. Sayuti (w. 911 H) mengatakan :”Sangat lemah.”

14. Shafiuddin (w. 923 H) mengatakan :”Menganggapnya lemah.”

Dari beberapa pendapat di atas (baik dari kalangan syi’ah maupun ahlu sunnah) menunjukan bahwa Saif bin Umar sebagai satu-satunya sumber yang meriwayatkan tentang Abdullah bin Saba adalah sesorang yang pembohong dan oleh sebagian dianggap zindik, juga riwayat-riwayatnya dianggap lemah. Dengan demikian, jelaslah bahwa Abdullah bin Saba adalah tokoh fiktif dalam sejarah Islam. Hal ini didasarkan bukan hanya karena adanya Saif bin Umar dalam jalur sanadnya, tetapi juga karena Saif bin Umar adalah seseorang yag terkenal zindiq dan fasik.

Wallahu ‘alam bishshawwab. []

*Penulis adalah salah seorang Mahasiswa Progam S1, Fikih dan Ma’arif Islami,Al-Musthafa University, Qom, IRAN

1. Ali Rabbani Gulpaygani, Faraq wa Madzahibe Kalome, Qom, Entesharote Markaze Jahone Ulume Eslome, 1383, hal. 39

2 M. Hashem, Abdullah bin Saba Benih Fitnah, Bandar lampung, YAPI, 1987, hal.15

3 Allamah Murtadha Askari, Abdullah bin Saba Degar Afshanehoye Tarehe, 1375, hal.42

4 Keseluruh sumber riwayat ini dikutip dari Allamah Murtadha Askari, Abdullah bin Saba Degar Afshanehoye Tarehe, 1375, hal.42

5 M. Hashem, Abdullah bin Saba Benih Fitnah, Bandar lampung, YAPI, 1987, hal.76

6 Allamah Murtadha Askari, Abdullah bin Saba Degar Afshanehoye Tarehe, 1375, hal.66

7 Allamah Murtadha Askari, Abdullah bin Saba Degar Afshanehoye Tarehe, 1375, hal.70

8 Ibid

Dokumen Wahabi Salafi Menghancurkan N.U bocor…

MAHRUS ALI PEMBOHONG & PEMECAH BELAH UMMAT ISLAM

Telah terbit kembali buku karangan Wahhabi, H. Mahrus Ali.

Awas jangan sampai terprovokasi atau terpengaruh dengan keberadaan buku ini !!.

Buku ini dan buku2 lainnya karangan H. Mahrus Ali penuh dengan kebohongan dan hasil rekayasa dari Wahhabi di atasnya saja.

Dengan kata lain, buku2 itu hanyalah sebagai penyambung lidah Wahhabi (termasuk penerbit buku “LAA TASYUK” Jln Pengirian No 82 Surabaya dan oknum2 yang berada di belakangnya) saja yang bertujuan untuk mengadu domba antara NU, Muhammadiyah, Persis dan ormas2 lainnya dan memperdaya ummat Islam di Indonesia khususnya para warga Nahdhiyyin. Itulah gaya politik Wahhabi yang murahan dan rendahan (cheap and low political style of Wahhabi) yang selalu ditampilkan dalam da’wahnya.

Cirinya: Wahhabi itu sangat licik sekali dan suka memecah belah ummat Islam saja. Cara berpikirnya pun sangat dangkal sekali dan sangat egoistis alias ingin menang sendiri saja serta suka usilan terhadap urusan ibadah orang lain yang tidak sepaham dengannya dengan mengecam sesat, musyrik dan murtad. Dalam hal ini Wahhabi bukannya memajukan ummat Islam di bidang sains & tehnologi, justru sebaliknya hanya membuat ummat Islam semakin terperangkap saja dalam jurang kebodohan, sehingga sikapnya itu bisa menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak bermartabat dan bermoral baik di forum nasional maupun internasional. Pengarang buku ini sebenarnya bukan mantan kiai NU, apalagi pernah menjadi anggota atau menjabat di NU. Dia itu orang kampung biasa yang keadaan hidupnya sangat sederhana sekali dan tidak punya power sedikitpun di masyarakatnya.

Olehkarena itu, penerbit “Laa Tasyuk” memanfa’atkan dia untuk dijadikan sebagai tumbal politik ekonominya. Kalau melihat tampang muka dan tata cara shalatnya beserta jama’ahnya, pasti semua orang menilai bahwa aliran yang dianutnya sangat menyesatkan ummat Islam. Coba saja lihat di sini foto-foto profil aslinya beserta jama’ahnya !!. Ini benar-benar merupakan foto-foto asli dan bukan hasil rekayasa:http://www.facebook.com/album.php?aid=28676&id=140014749377806&saved

Dengan demikian, dia dan penerbt “Laa Tasyuk” ini merupakan manusia-manusia pembohong besar. Pernah dia diundang debat terbuka di UIN Sunan Ampel di Surabaya Jawa Timur untuk mempertanggung-jawabkan buku karangannya yang menghina NU dan tidak ilmiah itu, tapi dianya tidak hadir dengan bermacam-macam alasan.

Dengan ketidakhadirannya itu, takut ketahuan belangnya kali ya konspirasi politik Wahhabi ini?. Awas dan hati2 dengan fitnah dan kebohongan “The Phantom of Opera” ini !!!. Sekarang H. Mahrus Ali sedang dilanda ketakutan karena merasa bersalah. Dia juga suka nongkrong di warung kopi di depan balai desa di dekat rumahnya di desa Tambak Sumur RT 01 / RW 01 Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Itupun beraninya kalau keadaannya sedang sepi. Hidupnya pun semakin susah saja bahkan sudah terasing dari masyarakatnya.

Tak seorangpun masyarakat di kampungnya mau bergabung dan ikut serta denga ajarannya. Dia itu ibarat cacing tanah kepanasan yang menjadi cemoohan masyarakat sampai ke anak-anak kecil. Itulah adzab Allah swt yang selalu menimpa dia dikarenakan atas perbuatannya sendiri. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran bagi kita !!. Mudah-mudahan pula penerbit buku ini tidak akan berkah hidupnya untuk selama-lamanya !!. Oh ya salam dari Jaringan Ulama Banten untuk kawan-kawan semuanya, yang selalu siap membela NU dan mempertahankan NKRI yang tercinta ini atas rongrongan orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak bertanggung-jawab !.

N.B. : Karya2 H. Mahrus Ali yang telah direkayasa oleh penerbit buku “LAA TASYUK” d/a Jln Pengirian No. 82 (dekat masjid Ampel) Surabaya:1. Amaliah Sesat Di Bulan Ramadhan (lihat buku di atas).2. Mantan Kiai NU Meluruskan Ritual-Ritual Kiai Ahli Bid’ah Yang Dianggap

Buku-buku tersebut di atas sudah direkayasa oleh penerbitnya terutama di bagian judulnya, sehingga hal itu merupakan hasil konspirasi (persekongkolan) Wahhabi untuk menjatuhkan nama baik NU, baik di forum nasional maupun internasional.

Telah terbit kembali buku karangan Wahhabi, H. Mahrus Ali. Awas jangan sampai terprovokasi atau terpengaruh dengan keberadaan buku ini !!. Buku ini dan buku2 lainnya karangan dia hanya sebagai penyambung lidah Wahhabi (termasuk penerbit buku ini dan oknum2… yang berada di belakangnya) saja untuk memperdaya ummat Islam di Indonesia khususnya para warga Nahdhiyyin. Itu gaya politik Wahhabi yang murahan dan rendahan (cheap and low political style of Wahhabi). Cirinya: Wahhabi itu sangat licik sekali dan hobbinya suka memecah belah ummat Islam saja.

Cara berpikirnya pun sangat dangkal sekali dan sangat egoistis alias ingin menang sendiri saja. Bukannya memajukan ummat Islam di bidang sains & tehnologi, justru sebaliknya hanya membuat ummat Islam semakin terperangkap saja dalam kebodohan dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang tidak bermartabat baik di forum nasional maupun internasional. Pengarang buku ini sebenarnya bukan mantan kiai NU, apalagi pernah menjadi anggota atau menjabat di NU. Dia itu orang kampung biasa yang keadaan hidupnya sangat susah sekali dan tidak punya power sedikitpun di masyarakatnya. Kalau melihat tampang mukanya, pasti semua orang pada …..

Coba saja lihat di sini foto2 aslinya dan ini bukan rekayasa: http://www.facebook.com/album.php?aid=28676&id=140014749377806&saved

Berarti dia dan penerbt buku ini manusia2 pembohong besar.

ya permainan politik Wahhabi ini?. Awas dan hati2 dengan fitnah dan kebohongan “The Phantom of Opera” ini !!!. Sekarang dia sedang dilanda ketakutan karena merasa bersalah. Dia juga suka nongkrong di warung kopi di depan balai desa di dekat rumahnya di desa Tambak Sumur RT 01 / RW 01 Kecamatan Waru Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Itupun beraninya kalau keadaannya sedang sepi.

Hidupnya pun semakin susah saja bahkan sudah terasing dari masyarakatnya. Dia itu ibarat cacing tanah kepanasan yang menjadi cemoohan masyarakat sampai ke anak-anak kecil. Itulah adzab Allah swt yang selalu menimpa dia dikarenakan atas perbuatannya sendiri. Mudah2an ini menjadi pelajaran bagi kita !!. Mudah2an pula penerbit buku ini tidak akan berkah untuk selama-lamanya !!.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai aliran Islam Syiah secara umum bukan merupakan aliran sesat. “Tidak sesat, hanya berbeda dengan kita,” kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, di kantor kepresidenan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.

Menurut dia, Syiah merupakan salah satu sekte Islam yang sudah ada sejak 14 abad lalu. Sekte ini pun ada di berbagai belahan bumi, termasuk Indonesia. “Pusatnya memang di Iran,” ujar Said.

Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan dilihat  dari beberapa tradisi dan praktek.

“Islam Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah. Baru setelah itu terjadi Syiah dalam jenis lain dan itu di representasikan oleh NU dan membentuk kultur NU,” jelasnya saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar Syiah “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (18/09/2012).

Ia juga mengungkapkan bahwa NU adalah proses upaya untuk menggabungkan Sunni-Syi’ah.

“NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni-Syafi’i. NU adalah proses untuk upaya menggabungkan keduanya (Sunni-Syiah). Oleh karena itu, tidak heran pada waktu itu Gus Dur mengatakan bahwa NU itu Syi’ah minus Imamah,” ungkapnya.

Lebih jauh, lulusan Qom Iran itu juga mengingatkan agar kalangan NU mewaspadai penumpang-penumpang gelap seperti Yayasan Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus.

“NU Gusdurian adalah NU yang toleran dan menyejukkan. Jangan sampai penumpang-penumpang gelap seperti Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus,” katanya mengingatkan.

Selain mencurigai AL Bayyinat, ia juga menduga bahwa ada upaya untuk melemahkan organisasi seperti NU dan menggunting otoritas NU yang dilakukan kaum Salafi.

Menurut Dr. Dinar Dewi Kania, salah satu peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS), esoteris merupakan aspek batin yang tidak ada hubungannya dengan ibadah atau ritual agama. Sedangkan eksoterik merupakan aspek lahir yang berhubungan dengan ritual atau agama.

“Dalam ajaran pluralisme, orang boleh berbeda dalam level eksoterik (ritual atau ibadah) tapi sebenarnya saat di level esoteris, ia sama-sama menuju satu Tuhan yang sama,” ujarnya

Habib Zein : “HABIB YANG SYIAH ADALAH KAFIR DAN DILUAR ISLAM”

JAKARTA

Astaghfirullahaladzim…. Beginilah Kelompok Takfir al-Bayyinat dengan penuh semangat terus mengkafirkan Muslim Syi’ah khususnya dari kalangan Alawiyyin, berhati-hatilah dengan mereka

 Kaum Muslimin yang mengkritik ajaran syiah adalah pemecah belah umat, agen Zionis, dan kesusupan Wahabi.

KEGIATAN DAN PROVAKASI KELOMPOK TAKFIR AL-BAYYINAT SUDAH DALAM TAHAP TAK BISA DI TOLERANSI LAGI, APA HARUS MENUNGGU DARAH TERTUMPAH RABITHAH BARU BERSIKAP????? SIKAP DIAM BISA DIARTIKAN MENYETUJUI TINDAK KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA/MAZHAB KHUSUSNYA KEPADA MINORITAS MUSLIM SYI’AH..MAKA BERSIKAPLAH !!!!

Pimpinan Yayasan Al Bayyinat Jawa Timur, Habib Ahmad Zein Al Kaff justru menampakkan kewahabian nya dengan membela musuh abadi NU yakni wahabi ! Serigala berbulu domba saja lah yang membela wahabi dengan menyalahkan NU

“Wahabi sama-sama Ahlussunnah, kalau mereka (Syiah) bukan. Kalau wahabi kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama, sedangkan Syiah berbeda, kita hanya berbeda dalam masalah furu’iyah (cabang) dengan Wahabi” tegas Habib Zein dalam konferensi pers setelah acara tabligh akbar bertajuk “Mengokohkan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia”, yang digelar Ahad kemarin (16/9) di masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Jakarta

Habib Zein : Habib yang masuk syiah, jadi mantan Habib

 Pimpinan Al Bayyinat Habib Ahmad Zein Al Kaff menegaskan bahwasanya jika ada seorang mengaku dari kalangan Habaib, namun mengaku pula sebagai seorang syiah. Maka, orang tersebut bukanlah Habib lagi.

“Saya katakan tidak ada Habib yang masuk Syiah, Habib yang masuk Syiah bukan Habib lagi, tapi (statusnya) sudah mantan Habib. (Dia) bukan habib lagi,” jelas Habib Zein yan juga pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Timur.

komentar :

perkembangan wahabi  di Indonesia memang lebih besar dibandingkan perkembangan Syiah di Malaysia, hal ini  karena ulama di Malaysia sangat sulit menggadaikan aqidahnya.

Di Malaysia Ulamanya tidak mudah dibeli dengan uang. Wahabi  di Indonesia menyebarkan uang bermilyar-milyar dollar untuk menyebarkan ajaran mereka, siang malam orang-orang wahabi  mendekati para tokoh seperti MIUMI

Sehingga  banyak tokoh ulama dan Habaib yang mereka adalah Ahlussunnah, tetapi membela wahabi, karena sudah diberangus oleh kebaikan orang-orang wahabi

Yang diberikan itu bisa tokoh atau organisasinya, hampir semua organisasi di Indonesia dibantu dana oleh wahabi

Menyikapi tokoh-tokoh NU yang membela wahabi maka  mereka telah menyelisihi  Gusdur dan Said Aqil Siraj

Orang NU yang membela wahabi  itu telah berkhianat terhadap Kiyai Hasyim Asyari sudah jauh-jauh hari telah mewanti-wanti untuk menjauhi wahabi dalam Qanun azazi NU

Kyai yang pertama kali mengaku sebagai penganut Syiah di Jawa adalah Habib Abdul Kadir Bafaqih. Ia merupakan pemimpin Pondok Pesantren Al Qairat Bangsri di Jepara, Jawa Tengah

Minggu, 02 September 2012 | 14:34 WIB

Bandung, Kantong Syiah Terbesar di Indonesia

foto

Sekretaris Jendral Ahlul Bait Indonesia Ahmad Hidayat (Kedua Kiri) didampingi dua orang anak yang orang tuanya menjadi korban dalam penyerangan Muslim Syiah di Sampang, Muhammad Zaini (Kanan), Muhaimin Hamama (Kedua Kanan) saat memberikan keterangan dalam jumpa pers di gedung Dewan Pers, Jakarta, Jumat (31/08).

Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat mengungkapkan, Bandung adalah kantong Syiah terbesar di Indonesia.

“Kantong terbesar ada di Bandung. Kemudian disusul Makassar, dan ketiga Jakarta,” kata Kang Jalal, sapaan Jalaluddin Rakhmat, waktu bertemu Tempo di kediamannya, Rabu, 29 Agustus 2012. Beberapa lokasi yang menjadi kantong umat Syiah adalah Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera.

jumlah pengikut aliran Syiah di Indonesia ; “Ada perkiraan tertinggi, 5 juta orang. Tapi, menurut saya, sekitar 2,5 jiwa,” kata Kang Jalal.

Menurut dia, keberadaan penganut Syiah tidak banyak diketahui karena menganut taqiyah, yaitu menyembunyikan jati diri dan bersikap layaknya pemeluk Islam pada umumnya.

Berdasarkan penelusuran, orang yang pertama kali mengaku sebagai penganut Syiah di Jawa adalah Habib Abdul Kadir Bafaqih. Ia merupakan pemimpin Pondok Pesantren Al Qairat Bangsri di Jepara, Jawa Tengah. Setelah itu, bermunculan wadah bagi penganut Syiah. Misalnya, Yayasan Nuruts Tsaqolain dengan pusat kegiatan di Masjid Husainiyyah Nuruts Tsaqolain, Semarang. Yayasan ini berdiri sejak 1984. Hingga kini, jemaah Syiah di Kota Semarang terus bertambah.

Kemudian ada komunitas Al Hajat, di Panggung Lor, Semarang; Al Murtadho, Ngemplak, Semarang; Yayasan Almustafa dan Yayasan Alhadi, Pekalongan; Forum Wasiat di Tegal; dan Pondok Pesantren Darut Taqrib di Tegal.

Di samping wadah tingkat daerah, ada pula yang berskala nasional, IJABI. Ikatan ini diketuai Furqon Buchari, dengan Ketua Dewan Syura Jalaluddin Rakhmat. “Keberadaan kami terdaftar di Kementerian Dalam Negeri. Jadi negara mengakui IJABI,” kata Kang Jalal.

Bermula dari sebuah revolusi Islam Iran 1979. Ketika itu, seorang ulama Iran yang berdomisili di Prancis, Ayatullah Rohullah Khomeini, dan para pengikutnya berhasil menumbangkan pemerintahan otokrasi di Iran yang dipimpin oleh Mohammad Reza Shah Pahlavi, atau dikenal dengan Shah Iran.

Menurut Jalaluddin Rakhmat, penasihat IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia), kemenangan kaum revolusioner Iran tersebut luar biasa karena dilakukan tanpa perlawanan senjata atau pertumpahan darah, melainkan dengan moral. “Pemerintahan otokrasi Iran dikalahkan oleh revolusi dengan xeroxisasi,” kata Jalaluddin kepada Tempo ketika ditemui di Sekretariat IJABI, Kamis, 30 Agustus 2012.

Xeroxisasi ini maksudnya adalah perlawanan Ayatullah Khomeini terhadap penguasa tirani Iran dari pengasingan di Prancis melalui pidato, ceramah, atau khotbah, yang selanjutnya diperbanyak dengan mesin fotokopi merek Xerox dan simpatisannya disebarluaskan ke seantero negeri Iran.

Sejak itu, gaung revolusi Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini dengan ideologi Syiah-nya meretas jarak antarnegara, termasuk ke Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, dan negara-negara Timur Tengah. Sebaliknya, Kerajaan Arab Saudi yang dikenal dengan penganut kuat paham wahabi mencurigai Iran bakal mengekspor ideologi Syiah ke negara penguasa Masjidil Haram ini. “Hal ini sangat membahayakan,” kata Jalaluddin.

Kendati ditentang oleh sebagian negara di Timur Tengah, semangat revolusi Iran melalui ideologi dan pemikiran Syiah disambut hangat oleh kalangan kampus dan intelektual Indonesia pada 1980-an. Buku-buku maupun tulisan lepas karya pemikir Iran, Ali Syari’ati, antara lain berjudul Haji; Misi Seorang Pemikir Bebas; Manusia Bebas dan Kebebasan Manusia; serta Mati Syahid, laku keras sekaligus menjadi bahan diskusi kalangan terbatas (usrah).

Pemikir Iran lainnya yang mendapatkan perhatian intelektual Indonesia adalah Murtadha Muthahari, seorang pemikir dan salah seorang arsitek revolusi Iran. Beberapa bukunya yang menjadi rujukan diskusi di kalangan kampus adalah Mengapa Kita Diciptakan; Manusia Sempurna; serta Islam dan Tantangan Zaman.

Buku-buku dari Iran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu dibaca di kampus-kampus karena isinya penuh semangat revolusioner. Waktu itu, Jalaluddin memaparkan, pemerintah Indonesia sedang kuat-kuatnya menjalankan kebijaksanaan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) dengan cara memberangus segala kegiatan yang berbau politik melalui organisasi di lingkungan perguruan tinggi, termasuk melarang keberadaan Dewan Mahasiswa.

“Akibat tekanan yang kuat terhadap kehidupan mahasiswa, maka mereka berhimpum ke masjid, disusul masuknya buku-buku dari Negeri Mullah,” ujarnya.

Pria yang mengaku sebagai penganut Syiah ini mengatakan gelora revolusi Islam Iran marak di hampir seluruh kampus di Pulau Jawa, terutama di Jawa Barat (Bandung), Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan sebagainya. “Saya tertarik dengan ideologi dan pemikiran Syiah pada 1982,” katanya.

Pendapat Jalaluddin mengenai perkembangan Syiah di kalangan kampus dibantah oleh Mutamimmul Ula, anggota Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera (MPP-PKS). Menurut mantan anggota DPR 1999-2009 dari PKS ini, pengaruh revolusi Iran di kalangan kampus pada 1980-an memang ada, namun mereka tak serta-merta mengikuti ideologi Syiah. “Meskipun sebagian para aktivis itu pada akhirnya menganut Syiah, tak semuanya. Mereka hanya terpengaruh oleh semangat revolusi Iran, namun tetap sebagai seorang Sunni,” kata Mutamimmul Ula kepada Tempo melalui telepon, Jumat, 31 Agustus 2012.

Pengaruh semangat revolusi Islam Iran, menurut bekas Ketua Umum PB PII (Pelajar Islam Indonesia) ini, mulai memudar pada awal 1990-an. Aktivis kampus justru memilih gerakan Tarbiyah atau Usroh. “Ideologi Syiah berpengaruh pada awal revolusi Islam Iran pada 1980-an di sini, namun pengaruh itu memudar awal 1990-an. Para aktivis lebih memilih gerakan Tarbiyah atau Usroh,” katanya.

Kami Tidak Mensyiahkan Orang ! Justru Wahabi berupaya mewahabikan N.U

 Rabu, 12 September 2012 12:15

Umar Syahab, Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia :

“Kami meyakini ada grand design bahwa Syiah harus dilarang di Indonesia. Segala upaya dilakukan.

Pertama lewat buku dan tulisan yang sifatnya provokatif.

Kedua, melalui pengajian dan seminar di kampus.

Ketiga, mencari pijakan yang kuat dari Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, dan Kejaksaan.”

demikian kata Umar Syahab, Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia

Tak diragukan lagi bahwa setiap manusia dianugerahi hati yang dipenuhi oleh cinta kasih; ia akan iba melihat penderitaan orang lain, ia akan meneteskan air mata melihat korban bencana, ia akan berempati pada yang ditindas (madhlum) dan tentunya murka kepada yang menindas (dholim). Itu sifat dasar setiap manusia yang merupakan salah satu anugerah terbesar Tuhan.Namun, tak semua manusia punya keberanian. Bahkan, mungkin sangat sedikit yang berani. Sehingga, anugerah berupa perasaan yang lembut dan penuh cinta kasih itu sering kali hanya ada di hati dan tak teraktualisasi menjadi tindakan. Kita berempati pada yang ditindasdan murka kepada yang menindas, tapi kita diam melihat fenomena itu sering terjadi di negeri ini. Sehingga, kondisi ‘pun tak berubah.

Nah, keberanian itulah yang dimiliki oleh seorang almarhum Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Itulah yang diungkapkan oleh Jaya Suprana dalam diskusi bertajuk “Gus Dur & Kebudayaan” yang diselenggarakan di Wahid Institute pada Jum’at, 3 Agustus 2012.

Jaya Suprana memang salah satu tokoh yang paling dekat dengan Gus Dur. Bahkan, dalam diskusi itu, dengan nada bercanda, ia mengungkapkan bahwa jika dirinya lahir setelah Gus Dur wafat, pastilah dirinya diduga reinkarnasinya Gus Dur. Sebuah guyonan yang kemudian disambut tawa dari hadirin yang memenuhi ruang diskusi di Wahid Institute.

Acara diskusi dilanjutkan buka bersama.

Selain Jaya Suprana, Mohamad Sobary yang akrab disapa Kang Sobary merupakan tokoh lain yang juga punya kedekatan dengan Gus Dur. Ia menulis sebuah buku khusus tentang Gus Dur, judulnya “Jejak Guru Bangsa”. Nah, dalam diskusi itu, ia juga dihadirkan sebagai pembicara. Ia mengungkapkan bahwa salah satu cirri khas dari Gus Dur yang paling diingatnya yakni bagaimana komitmen kuatnya untuk menjaga tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Salah satu misalnya, kata Kang Sobary, ia yang walau telah jadi Presiden Indonesia saat itu masih aktif mendatangi kiai-kiai NU. Dan, ia tak memilih-milih kiai yang hendak didatanginya. Ia berupaya mendatangi semuanya, dari yang kiai-kiai senior sampai kiai-kiai kampung.

Karenanya, Gus Dur sangat mengerti segala sesuatu tentang tradisi dan kiai NU. Misalnya, seperti diungkapkan Sobary, Gus Dur pernah bercerita tentang mengapa para kiai dan wali cenderung tak mau jika dimintai doa oleh seseorang. Sebab, kiai dan para wali itu tak mau melecehkan ‘kecerdasan’ Allah. Mereka tau, sadar dan benar-benar yakin bahwa Allah itu Maha Tahu dan Maha Memberi walau tak kita minta. Karenanya, mereka selalu menyarankan agar siapa saja yang meminta doa itu agar konsisten saja di jalan Allah dan sepenuhnya berserah pada-Nya. Pasti Allah akan memberi apa yang diinginkannya.

Akhirnya, Gus Dur telah wafat. Namun, nama dan pemikirannya terus hidup di tengah-tengah kita. Melalui dokumentasi tentangnya, lembaganya, karya-karyanya dan tentunya diskusi-diskusi tentangnya seperti yang diselenggarakan oleh Wahid Institute ini. Dan kita terus mendapat pelajaran akan kearifannya

JAKARTA 

 Kaum Muslimin yang mengkritik ajaran syiah adalah pemecah belah umat, agen Zionis, dan kesusupan Wahabi.

Pimpinan Yayasan Al Bayyinat Jawa Timur, Habib Ahmad Zein Al Kaff justru menampakkan kewahabian nya dengan membela musuh abadi NU yakni wahabi ! Serigala berbulu domba saja lah yang membela wahabi dengan menyalahkan NU

“Wahabi sama-sama Ahlussunnah, kalau mereka (Syiah) bukan. Kalau wahabi kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama, sedangkan Syiah berbeda, kita hanya berbeda dalam masalah furu’iyah (cabang) dengan Wahabi” tegas Habib Zein dalam konferensi pers setelah acara tabligh akbar bertajuk “Mengokohkan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia”, yang digelar Ahad kemarin (16/9) di masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Jakarta

Habib Zein : Habib yang masuk syiah, jadi mantan Habib

 Pimpinan Al Bayyinat Habib Ahmad Zein Al Kaff menegaskan bahwasanya jika ada seorang mengaku dari kalangan Habaib, namun mengaku pula sebagai seorang syiah. Maka, orang tersebut bukanlah Habib lagi.

“Saya katakan tidak ada Habib yang masuk Syiah, Habib yang masuk Syiah bukan Habib lagi, tapi (statusnya) sudah mantan Habib. (Dia) bukan habib lagi,” jelas Habib Zein yan juga pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Timur.

komentar :

perkembangan wahabi  di Indonesia memang lebih besar dibandingkan perkembangan Syiah di Malaysia, hal ini  karena ulama di Malaysia sangat sulit menggadaikan aqidahnya.

Di Malaysia Ulamanya tidak mudah dibeli dengan uang. Wahabi  di Indonesia menyebarkan uang bermilyar-milyar dollar untuk menyebarkan ajaran mereka, siang malam orang-orang wahabi  mendekati para tokoh seperti MIUMI

Sehingga  banyak tokoh ulama dan Habaib yang mereka adalah Ahlussunnah, tetapi membela wahabi, karena sudah diberangus oleh kebaikan orang-orang wahabi

Yang diberikan itu bisa tokoh atau organisasinya, hampir semua organisasi di Indonesia dibantu dana oleh wahabi

Menyikapi tokoh-tokoh NU yang membela wahabi maka  mereka telah menyelisihi  Gusdur dan Said Aqil Siraj

Orang NU yang membela wahabi  itu telah berkhianat terhadap Kiyai Hasyim Asyari sudah jauh-jauh hari telah mewanti-wanti untuk menjauhi wahabi dalam Qanun azazi NU

Habib Zein : Wahabi itu Ahlus Sunnah, kalau Syiah bukan

Mengaku Ada Kemiripan dengan NU, Syiah Ajak Waspadai Al Bayyinat

“Menghubungkan NU Dengan Wahabi Seperti Othak-Athik Gathuk”(dikait-kaitkan, red).

Kamis, 20 September 2012

Benar klaim bahwa Islam Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah, juga bahwa NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni. Juga dikatakan NU adalah proses untuk menggabungkan keduanya

Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan dilihat  dari beberapa tradisi dan praktek.

“Islam Syafi’i adalah mazhab yang paling dekat dengan esoterisme dan Syiah. Baru setelah itu terjadi Syiah dalam jenis lain dan itu di representasikan oleh NU dan membentuk kultur NU,” jelasnya saat menjadi salah satu narasumber dalam seminar Syiah “Menuju Kesepahaman dan Kerukunan Umat Islam” di Gedung Sucofindo, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (18/09/2012).

Ia juga mengungkapkan bahwa NU adalah proses upaya untuk menggabungkan Sunni-Syi’ah.

“NU esoterismenya berwajah Syiah dan eksoteriknya berwajah Sunni-Syafi’i. NU adalah proses untuk upaya menggabungkan keduanya (Sunni-Syiah). Oleh karena itu, tidak heran pada waktu itu Gus Dur mengatakan bahwa NU itu Syi’ah minus Imamah,” ungkapnya.

Lebih jauh, lulusan Qom Iran itu juga mengingatkan agar kalangan NU mewaspadai penumpang-penumpang gelap seperti Yayasan Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus.

“NU Gusdurian adalah NU yang toleran dan menyejukkan. Jangan sampai penumpang-penumpang gelap seperti Al-Bayyinat masuk ke tubuh NU menjadi pengurus,” katanya mengingatkan.

Selain mencurigai AL Bayyinat, ia juga menduga bahwa ada upaya untuk melemahkan organisasi seperti NU dan menggunting otoritas NU yang dilakukan kaum Salafi.

Anggota Dewan Syura Ahlulbait Indonesia (ABI), Dr Muhsin Labib mengatakan, antara Nahdhatul Ulama (NU) dan Syiah ada kemiripan.

NU: Syiah Tidak Sesat, Hanya Berbeda

NU: Syiah Tidak Sesat, Hanya Berbeda

Said Aqil Siroj

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai aliran Islam Syiah secara umum bukan merupakan aliran sesat. “Tidak sesat, hanya berbeda dengan kita,” kata Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj, di kantor kepresidenan, Jakarta, Selasa 28 Agustus 2012.

Menurut dia, Syiah merupakan salah satu sekte Islam yang sudah ada sejak 14 abad lalu. Sekte ini pun ada di berbagai belahan bumi, termasuk Indonesia. “Pusatnya memang di Iran,” ujar Said.

Tarekat dapat Cegah Konflik Sunni-Syiah
Selasa, 28/08/2012 17:14

Konflik antara Sunni dengan Syiah bisa dicegah dengan mengembangkan nilai-nilai tarekat. Ini pas, karena Sunni di Indonesia suka tarekat, yang juga deket dengan Syiah.

Demikian dinyatakan Wakil Rais Syuriyah PCI NU Mesir Ahmad Syaifuddin pada NU Online, melalui yahoo massenger, Selasa sore (28/8/2012).

“Syiah dan Sunni yang sufi itu sama-sama mencintai ahli bait, khususnya Sayidina Ali bin Abi Thalib. Semua sanad tarekat bermuara ke Imam Ali, kecuali Naqsyabandiyah yang juga punya sanad ke Abu Bakar. Bedanya kalau sufi itu ta’dhim (penghormatan), kalau syiah itu taqdis (pengkultusan). Nah, di situ kesamaan kita dengan Syiah,” jelasnya.

Dia mencontohkan bahwa Sunni yang sufi dan Syiah bisa saja mengadakan haul Imam Ali, Hasan Husein bersama-sama, dengan catatan pihak Syiah tidak menampakkanghuluw atau melampaui batas.

“Keduanya sama-sama tanazul. Yang beda dari mereka jangan diperlihatkan, yang beda dari kita jangan diperlihatkan,” ujar mahasiswa program doktor di Universitas Al-Azhar tersebut.

Dia melanjutkan, konflik Sunni-Syiah tidak bisa diselesaikan dengan debat, bahsul masail, atau munazharah. “Ndak mungkin berhasil itu diskusi,” tegasnya.

Syaifuddin berpesan, Syiah di Indonesia jangan seperti Syiah Iran. “Teman-teman Syiah di Indonesia harus melakukan pribumisasi. Kalau di Jawa ya harus njawani, pakai blangkon, pakai bubur abang bubur putih. Kalau di Sumatera yang harus menyesuaikan dengan Sumetera.”

Habib Zein : Wahabi itu Ahlus Sunnah, kalau Syiah bukan

Selasa, 18 September 2012 12:27:09

JAKARTA 

 Kaum Muslimin yang mengkritik ajaran syiah adalah pemecah belah umat, agen Zionis, dan kesusupan Wahabi.

Pimpinan Yayasan Al Bayyinat Jawa Timur, Habib Ahmad Zein Al Kaff justru menampakkan kewahabian nya dengan membela musuh abadi NU yakni wahabi ! Serigala berbulu domba saja lah yang membela wahabi dengan menyalahkan NU

“Wahabi sama-sama Ahlussunnah, kalau mereka (Syiah) bukan. Kalau wahabi kitab rujukannya sama, rukun Iman, rukun Islamnya juga sama, sedangkan Syiah berbeda, kita hanya berbeda dalam masalah furu’iyah (cabang) dengan Wahabi” tegas Habib Zein dalam konferensi pers setelah acara tabligh akbar bertajuk “Mengokohkan Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia”, yang digelar Ahad kemarin (16/9) di masjid Al-Furqan Dewan Dakwah Jakarta

Habib Zein : Habib yang masuk syiah, jadi mantan Habib

 Pimpinan Al Bayyinat Habib Ahmad Zein Al Kaff menegaskan bahwasanya jika ada seorang mengaku dari kalangan Habaib, namun mengaku pula sebagai seorang syiah. Maka, orang tersebut bukanlah Habib lagi.

“Saya katakan tidak ada Habib yang masuk Syiah, Habib yang masuk Syiah bukan Habib lagi, tapi (statusnya) sudah mantan Habib. (Dia) bukan habib lagi,” jelas Habib Zein yan juga pengurus Nahdlatul Ulama Jawa Timur.

komentar :

perkembangan wahabi  di Indonesia memang lebih besar dibandingkan perkembangan Syiah di Malaysia, hal ini  karena ulama di Malaysia sangat sulit menggadaikan aqidahnya.

Di Malaysia Ulamanya tidak mudah dibeli dengan uang. Wahabi  di Indonesia menyebarkan uang bermilyar-milyar dollar untuk menyebarkan ajaran mereka, siang malam orang-orang wahabi  mendekati para tokoh seperti MIUMI

Sehingga  banyak tokoh ulama dan Habaib yang mereka adalah Ahlussunnah, tetapi membela wahabi, karena sudah diberangus oleh kebaikan orang-orang wahabi

Yang diberikan itu bisa tokoh atau organisasinya, hampir semua organisasi di Indonesia dibantu dana oleh wahabi

Menyikapi tokoh-tokoh NU yang membela wahabi maka  mereka telah menyelisihi  Gusdur dan Said Aqil Siraj

Orang NU yang membela wahabi  itu telah berkhianat terhadap Kiyai Hasyim Asyari sudah jauh-jauh hari telah mewanti-wanti untuk menjauhi wahabi dalam Qanun azazi NU

 Rabu, 12 September 2012 12:15

Umar Syahab, Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia :

“Kami meyakini ada grand design bahwa Syiah harus dilarang di Indonesia. Segala upaya dilakukan.

Pertama lewat buku dan tulisan yang sifatnya provokatif.

Kedua, melalui pengajian dan seminar di kampus.

Ketiga, mencari pijakan yang kuat dari Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, dan Kejaksaan.”

demikian kata Umar Syahab, Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia

Tak diragukan lagi bahwa setiap manusia dianugerahi hati yang dipenuhi oleh cinta kasih; ia akan iba melihat penderitaan orang lain, ia akan meneteskan air mata melihat korban bencana, ia akan berempati pada yang ditindas (madhlum) dan tentunya murka kepada yang menindas (dholim). Itu sifat dasar setiap manusia yang merupakan salah satu anugerah terbesar Tuhan.Namun, tak semua manusia punya keberanian. Bahkan, mungkin sangat sedikit yang berani. Sehingga, anugerah berupa perasaan yang lembut dan penuh cinta kasih itu sering kali hanya ada di hati dan tak teraktualisasi menjadi tindakan. Kita berempati pada yang ditindasdan murka kepada yang menindas, tapi kita diam melihat fenomena itu sering terjadi di negeri ini. Sehingga, kondisi ‘pun tak berubah.

Nah, keberanian itulah yang dimiliki oleh seorang almarhum Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur. Itulah yang diungkapkan oleh Jaya Suprana dalam diskusi bertajuk “Gus Dur & Kebudayaan” yang diselenggarakan di Wahid Institute pada Jum’at, 3 Agustus 2012.

Jaya Suprana memang salah satu tokoh yang paling dekat dengan Gus Dur. Bahkan, dalam diskusi itu, dengan nada bercanda, ia mengungkapkan bahwa jika dirinya lahir setelah Gus Dur wafat, pastilah dirinya diduga reinkarnasinya Gus Dur. Sebuah guyonan yang kemudian disambut tawa dari hadirin yang memenuhi ruang diskusi di Wahid Institute.

Acara diskusi dilanjutkan buka bersama.

Selain Jaya Suprana, Mohamad Sobary yang akrab disapa Kang Sobary merupakan tokoh lain yang juga punya kedekatan dengan Gus Dur. Ia menulis sebuah buku khusus tentang Gus Dur, judulnya “Jejak Guru Bangsa”Nah, dalam diskusi itu, ia juga dihadirkan sebagai pembicara. Ia mengungkapkan bahwa salah satu cirri khas dari Gus Dur yang paling diingatnya yakni bagaimana komitmen kuatnya untuk menjaga tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Salah satu misalnya, kata Kang Sobary, ia yang walau telah jadi Presiden Indonesia saat itu masih aktif mendatangi kiai-kiai NU. Dan, ia tak memilih-milih kiai yang hendak didatanginya. Ia berupaya mendatangi semuanya, dari yang kiai-kiai senior sampai kiai-kiai kampung.

Karenanya, Gus Dur sangat mengerti segala sesuatu tentang tradisi dan kiai NU. Misalnya, seperti diungkapkan Sobary, Gus Dur pernah bercerita tentang mengapa para kiai dan wali cenderung tak mau jika dimintai doa oleh seseorang. Sebab, kiai dan para wali itu tak mau melecehkan ‘kecerdasan’ Allah. Mereka tau, sadar dan benar-benar yakin bahwa Allah itu Maha Tahu dan Maha Memberi walau tak kita minta. Karenanya, mereka selalu menyarankan agar siapa saja yang meminta doa itu agar konsisten saja di jalan Allah dan sepenuhnya berserah pada-Nya. Pasti Allah akan memberi apa yang diinginkannya.

Akhirnya, Gus Dur telah wafat. Namun, nama dan pemikirannya terus hidup di tengah-tengah kita. Melalui dokumentasi tentangnya, lembaganya, karya-karyanya dan tentunya diskusi-diskusi tentangnya seperti yang diselenggarakan oleh Wahid Institute ini. Dan kita terus mendapat pelajaran akan kearifannya

Al-Kafi di Mata Ulama Syiah ! Membantah syiahindonesia.com

baca juga : Ketika Tokoh Wahabi Mengungkapkan Rahasianya

baca juga : Syiah tidak mengamalkan hadis-hadis yang bertentangan dengan teks al-Quran WALAUPUN HADiS TSB TERDAPAT DALAM KiTAB KiTAB SYi’AH !!

Kamis, 04 Oktober 2012 13:41 Redaksi

Oleh: Ustad Husain Ardilla*

Syi’ah tidak menganggap al-Kafi dll kitab hadis sebagai kitab suci yang tidak mungkin salah ! Jadi kutipan sunni dari kitab kitab syi’ah bukan bermakna itu semua i’tiqad syi’ah

kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih.

Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

cendekiawan Syiah menolak menyamakan kitab hadits al-Kafi dengan Shahih Bukhari. Mereka tidak setuju jika ada orang menilai kedudukan Al Kafi di sisi Syiah sama dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Bahkan mereka menuduh orang yang melakukan hal itu bertujuan untuk mengelabui orang  awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi.

Mereka mengakui bahwa Al Kafi, karya al-Kulaini memang menjadi rujukan Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Karena itu, dalam mengambil hadits sebagai rujukan, ulama Syiah akan menilai kedudukan haditsnya, baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama Sunni bahwa kitab tersebut paling shahih setelah Al Quran.

Mereka mengatakan bahwa Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Ia hanyalah mengumpulkan hadis-hadis dari Ahlul Bait. Menurut mereka tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudahnya telah menseleksi hadits dalam kitab tersebut dan menentukan kedudukan setiap haditsnya. Allamah Al Hilli misalkan, yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis muwatstsaq (hadis yang diriwayatkan perawi bukan Syiah tetapi dipercayai oleh Syiah), 302 hadis Qawiy (kuat) dan 9.480 hadis dhaif.

Al-Sayyid Muhammad al-Mujahid al-Tabataba’i (1242H) juga mengemukakan hujah bahwa tidak semua riwayat al-Kafi sahih. Hal ini diungkapkan oleh Hasyim Ma’ruf Husyein dalam kitabnya,  Dirasat Hadits. (hal.135-136)

Hal yang sama juga dikatakan oleh Ayatullah Husayn `Ali al-Muntazari mengenai ketidaksahihan riwayat dalam al-Kafi dalam kitabnya Dirasah  fi Makasib al Muharomah, juz III, hal. 123. Ia mengatakan: “Kepercayaan al-Kulaini akan kesahihan riwayat (di dalam kitabnya) tidak termasuk dalam hujah syar’iah karena dia bukanlah ma’sum di sisi kami.”

Sudah jelas siapapun orangnya apakah Sunni atau Syiah, berhujjah dengan hadis dhaif adalah keliru. Kalau ia menganggap metode dirinya benar maka Syiahpun juga benar. Jika Syiah berdusta maka apa ia akan ikut berdusta pula. Bagaimana mungkin dikatakan dibolehkan berdusta asalkan digunakan untuk membantah kedustaan Syiah?

.

Kami tekankan bahwa kami tidak ada masalah dengan siapapun yang mau membela Ahlus Sunnah dan membantah Syiah ataupun sebaliknya tetapi harus diingat bahwa jangan sampai kebablasan dalam membantah sehingga memakai akhlak yang buruk dan lisan yang kotor. Apalagi jika lisan kotor tersebut diimbaskan juga pada orang lain yang bukan Syiah.  Dan yang paling menjijikkan adalah menjustifikasi lisan kotor-nya dengan mengatasnamakan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Semoga Allah SWT melindungi kita dari keburukan yang seperti ini

.

Ketika Sunni dan Syiah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?
.
Tentu jika membahas masalah Al Kafi membuat sebagian kalangan marah karena banyak riwayat-riwayat yang terdapat di dalamnya yang bertentangan dengan pemikiran Ahlusunnah. Namun saya sdikit memberikan gambaran tentang Al Kafi agar tidak terjadi perselisihan di tengah masyarakat Muslim yang di inginkan oleh musuh Islam
.
Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui
.
Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih.  Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni
.
Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran
.
Kedudukan Al Kafi
Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya
.
Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30)
.
Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy (kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah (yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari
.
Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut
.
Catatan
Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al-Kafi maka sepatutnya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al-Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah
.
Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali
.
Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah (Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut
.
Politik Adu Domba Zionis
Sebenarnya perbedaan pemahaman dalam masalah hadis diatas merupakan hal yang sepele yang tidak menimbulkan perpecahan umat, namun selalu dalam hal ini oleh musuh-musuh islam di gunakan sebagai politik adu domba di tengah masyarakat Islam. Menurut Prof Dr Musthafa ar-Rifa’i lewat kitab bertajuk Islamuna fi at-Taufiq Baina as-Sunni wa asy-Syi’ah, perbedaan antara Sunni-Syiah yang selama ini kerap muncul di permukaan, hakikatnya bukan perbedaan yang prinsipil
.
Perbedaan hanya terletak pada persoalan non-prinsipil furuiyyah yang dapat ditoleransi.  Dalam konteks masa kini, ar-Rafa’i meyakini, faktor lain yang amat kuat memengaruhi dan memanaskan konflik antara Sunni dan Syiah adalah kekuatan eksternal yang datang dari imperalis Barat.
Terutama politik dan konspirasi devide et impera (politik memecah belah) yang diterapkan oleh protokol kaum Zionis yang hendak memecah belah umat. Perpecahan faksi dan sekte yang tumbuh berkembang di internal Muslim, digunakan sebagai momen membenturkan dan mengadu domba berbagai kelompok itu.

Sunni menuduh hadis syi’ah penuh kebohongan, lalu Mengapa perawi hadis sunni (seperti Bukhari dll) tidak merujuk kepada Imam Ahlulbait As ?

Kenapa Bukhari tidak mengumpulkan hadis dari jalur Imam Ja’far Shadiq ??

Jika wahabi menuduh bahwa YANG SESAT BUKAN 12 iMAM, tetapi PENGiKUT nya, maka tanyakan kepada wahabi : “Mengapa perawi hadis sunni (seperti Bukhari dll) tidak merujuk kepada Imam Ahlulbait As ?”

Sebelum terlalu jauh, mari kita ingat beberapa fakta ini:

1. Syiah adalah mazhab Islam terbesar kedua setelah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

2. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh jumlah sangat signifikan penduduk negara-negara Timur Tengah (untuk tidak mengatakan mayoritas penduduk Teluk), tempat asal Islam.

3. Syiah adalah mazhab yang dianut oleh mayoritas dua bangsa pemilik tradisi keilmuan paling kuat dan paling kaya di dunia Islam: Iran (90%) dan Irak (68%).

Kedua bangsa yang kemudian menjadi Muslim Syiah ini bisa dibilang adalah pemilik dua khazanah kultural pra Islam (Persia dan Akkadia, Asyuria & Babilonia di wilayah Mesopotamia) yang berkontribusi paling besar terhadap kemajuan umat manusia. Intinya, Persia + Babilonia memiliki “tradisi ilmiah” di atas kebanyakan penduduk Muslim lain–tanpa mengurangi rasa hormat kepada bangsa lain, karena saya sendiri bukan tergolong dari kedua bangsa tersebut.

Ada baiknya kita bertanya: Mungkinkah kedua bangsa pemilik tradisi ilmiah hebat dan kaya itu telah sampai pada tafsir agama yang lebih baik dari kita?

4. Mari kita lihat kembali data populasi Syiah berikut ini: Iran (90%), Iraq (65%–menurut sensus rezim Saddam yang berat sebelah dan tak menunjukkan fakta sebenarnya), Azerbaijan (85%), Lebanon (35-40%), Kuwait (35%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah), Turkey (25%), Saudi Arabia (10-15%–menurut sensus rezim Wahabi yang mengkafirkan Syiah), Yaman (40%), Uni Emirat Arab (15-20 % –menurut sensus rezim tribal Al-Nahiyan yang anti Iran) dan Bahrain (80%–menurut sensus rezim Wahabi yang menyesatkan Syiah).

Nah, setelah melihat beberapa fakta di atas, marilah kita kembali ke topik hadis Syiah. Berikut saya berikan beberapa tanggapan umum—tanpa merujuk pada poin-poin yang ditulis sebelumnya karena saya takkan terlibat perdebatan:

1. Apa yang disebut Sunnah atau Hadis oleh Syiah bukan hanya berupa ucapan, perilaku, sikap, kebiasaan Nabi, tapi juga seluruh ma’shum yang berjumlah 14. Dengan demikian, era wurud Sunnah tidak berhenti dengan wafatnya Nabi Besar Muhammad–seperti kepercayaan Ahlus Sunnah–melainkan berlanjut terus hingga masa kegaiban besar Imam Muhammad bin Hasan Al-Askari pada 941 M atau 329 H. Karena faktor itulah kita-kitab hadis Syiah ditulis dan dikodifikasikan dalam beberapa periode yang berbeda. Tapi itu tidak berarti bahwa kitab hadis Syiah baru ada di abad ke7 seperti diklaim sebagian orang. Jumlah hadis Syiah juga lebih banyak daripada hadis Sunni. Saya tak pernah hitung berapa persis jumlah surplusnya, tapi yg jelas ada defisit  hadis dalam mazhab Sunni :-)

Dilema justru muncul di kalangan mazhab Ahlus Sunnah yang mengakhiri periode Sunnah pada masa Nabi Muhammad tapi penulisannya terjadi jauh setelah beliau wafat. Ada periode kevakuman yang panjang. Banyak peneliti yg mencurigai bahwa dalam periode ini telah terjadi produksi hadis palsu besar-besaran. Kecurigaan ini didukung berbagai fakta. Tapi saya lagi2 tak tertarik untuk lari2an ke topik lain.

Kekayaan Sunnah dalam mazhab Syiah ini beberapa ratus tahun lalu memunculkan dampak negatif berupa fenomena pola pikir Akhbari. Kaum Akhbari percaya bahwa sunnah 14 Ma’shum sudah mencakupi semua sisi kehidupan manusia, sehingga tak perlu ada ijtihad dan sebagainya. Tapi itu juga isu lain lagi.

2.  Setiap mujtahid dalam Syiah tidak menyandarkan keabsahan hadis pada si pengumpul hadis, namun mereka harus melakukan verifikasi, investigasi dan riset hadis sendiri untuk menilai kredibilitas perawi dan kebasahan matan hadis yang diriwayatkannya. Untuk itulah, mujtahid dalam mazhab Syiah harus menguasai metode verifikasi hadis dengan handal. Bahkan, banyak di antara mujtahid yang juga sekaligus adalah muhaddits. Misalnya, Ayatullah Khoei yang beberapa saat sebelum meninggal dunia sempat mengarang buku rijal sebanyak 24 jilid besar. Kalo ada yang mau lihat buku itu, bisa download di sini: http://www.shiatc.com/Lib_List/t5.xml

3. Karena poin 2 di atas, kalangan Syiah tak mengenal adanya kitab shahih. Pengumpul hadis tak pernah mengklaim hadisnya shahih. Dia hanya mengumpulkan dan menyerahkan penilaian pada masing-masing pakar, terutama yang ingin berijtihad. Allamah Majlisi sampai berhasil menuliskan hadis Syiah dalam 120 jilid.

Di bawah, saya copas satu bab penuh dari karya Allamah Hasan Shadr berkenaan dengan kepeloporan Syiah dalam bidang Hadis.

Bab Kedua

Kepeloporan Syi’ah dalam Ilmu-ilmu Hadis

Sebelum memasuki serangkaian pasal dari bab ini, kami akan mengajak pembaca untuk mengenal alasan kepeloporan kaum Syi’ah dalam ilmu-ilmu hadis. Di sini, saya hendak menyatakan bahwa di antara para sahabat dan para tabi’in terdapat perselisihan besar tentang penulisan ilmu. Banyak dari mereka enggan melakukan penulisan dan penyusunan ilmu, meski ada sebagian dari mereka yang melakukannya, di antaranya ialah Ali ibn Abi Thalib a.s. dan putra beliau yang pertama; Hasan Al-Mujtaba a.s .

Sebagaimana yang dikatakan oleh As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi, bahwa Nabi saw. telah mendiktekan kepada Ali bin Abi Thalib seluruh yang terkumpul di dalam sebuah kitab besar, dan Al-Hakam ibn ‘Uyainah telah melihat kitab tersebut berada di tangan Imam Muhammad Al-Baqir, yaitu ketika di antara mereka berdua terjadi perselisihan pen-dapat tentang suatu masalah, lalu Imam Al-Baqir a.s. mengeluarkan kitab itu dan menjelaskannya lalu menga-takan kepada Al-Hakam: “Ini adalah tulisan tangan Ali ibn Abi Thalib yang didiktekan oleh Rasulullah, dan inilah kitab pertama yang menghimpun ilmu-ilmu pada masa hidup Rasulullah saw.” Maka, kaum Syi’ah mengetahui bagai-mana penyusunan ilmu itu sebegitu rapihnya. Lalu, mereka segera menapaki langkah imam pertama mereka.

Sementara itu, terdapat sekelompok dari selain Syi’ah yang justru melarang penyusunan ilmu ke dalam sebuah kitab, sehingga mereka tertinggal. Al-Jahidz As-Suyuthi di dalam Tadribur Rawi mengatakan: “Karya-karya yang mun-cul pada jaman sahabat dan kaum tabi’in belum tersusun secara rapih, mengingat hafalan mereka yang kuat, selain juga sebelum itu mereka melarang upaya penulisan ilmu-ilmu, sebagaimana yang disinyalir di dalam Shahih Muslim, lantaran kekuatiran mereka terhadap pencampuradukan hadis dengan ayat-ayat Al-Quran. Di samping itu juga karena sebagian besar dari mereka tidak mampu menulis.”

Saya katakan bahwa hal ini terjadi pada selain sahabat dan tabi’in besar Syi’ah. Adapun sahabat dan tabi’in dari Syi’ah, mereka sudah merumuskan ilmu dan menyusunnya, sebagaimana usaha ini telah dimulai oleh Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Pasal Pertama

Tentang Orang Pertama yang Mengumpulkan Hadis dan Menyusunnya ke dalam Bab-bab

Di antara orang Syi’ah yang pertama kali melakukan proses pengumpulan dan penyusunan itu ialah Abu Rafi’e; budak Rasulullah saw. An-Najasyi di dalam Asma’ Mushannifisy Syi’ah, mengatakan: “Dan Abu Rafi’e budak Rasulullah saw. mempunyai kitab As-Sunan wal Ahkam wal-Qodhoya”. Lalu ia  menyebutkan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab secara bab per bab;  mulai dari bab shalat, puasa, haji, zakat dan tema-tema muamalah. Kemudian dia menyatakan bahwa Abu Rafi’e telah menjadi Muslim secara lebih dahulu di Mekkah lalu hijrah ke Madinah dan ikut serta bersama Nabi saw. dalam banyak peperangan, dan setelah wafat beliau, ia menjadi pengikut setia Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s.

Abu Rafi’e tergolong sebagai orang Syi’ah yang saleh, dan turut terjun di dalam peperangan bersama Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga dipercayai sebagai pemegang kunci Baitul Mal di masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib di Kufah.

Abu Rafi’e meninggal pada tahun 35 H., sesuai dengan kesaksian Ibnu Hajar di dalam At-Taqrib, di mana ia telah membenarkan tahun wafatnya di awal kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib a.s. Atas dasar ini, menurut ijma’ para ulama, tidak ada orang yang lebih dahulu dari Abu Rafi’e dalam upaya mengumpulkan hadis dan menyusunnya secara bab perbab. Karena, nama-nama yang disebutkan mengenai penghimpun hadis, semuanya muncul di pertengahan abad kedua.

Sebagaimana yang dicatat di dalam At-Tadrib oleh As-Suyuthi dan dinukil oleh Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari, bahwa orang pertama yang mengumpulkan dan menyusun hadis-hadis berdasarkan perintah Umar ibn Abdul Aziz adalah Ibnu Syahab Az-Zuhri. Segera Ibnu Syahab memulai tugasnya di awal abad kedua Hijriyah, lantaran Umar ibn Abdul Aziz menjadi khalifah pada tahun 98 H. atau 99 H., dan meninggal pada tahun 101 H. Di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, kami secara khusus memberikan catatan-catatan kritis terhadap apa yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Asqolani.

Pasal Kedua

Tentang Orang Pertama dari Kaum Sahabat yang Syi’ah yang Mengumpulkan Hadis dalam Satu Bab dan Satu Judul

Mereka adalah Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Ghifari. Rasyiduddin ibn Syarhasub di dalam kitab Ma’alim Ulamau Syi’ah, telah memberikan kesaksiannya atas hal ini. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, guru besar Syi’ah, dan Syeikh Abu Abbas An-Najasyi di dalam kitab-kitab mereka, yaitu Asma Mushannifis Syi’ah, ketika mengulas ihwal Abu Abdillah Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al-Gifari. Mereka melacak dan mampu menemukan sanad-sanadnya sampai periwayatan kitab Salman dan kitab Abu Dzar. Kitab Salman adalah kitab hadis Al-Jatsliq dan kitab Abu Dzar adalah sebuah surat khotbah yang di dalamnya menjelaskan pelbagai perkara dan peristiwa yang terjadi setelah wafat Rasulullah saw.

Sayyid Al-Khunsari di dalam kitab Ar-Raudhah fi Ahwalil ‘Ulama’ wa As-Sadat, menerangkan sebuah kitab yang dinukil dari kitab Az-Zinah karya Abu Hatim di juz ketiga; bahwa kata ‘syi’ah’ pada masa Rasulullah saw. adalah nama untuk empat sahabat, yaitu Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad Ibnul Aswad Al-Kindi dan Ammar ibn Yasir. Demikian ini telah disebutkan juga di dalam kitab Kasyful Dzunun dan kitab Az-Zinah karya Abu Hatim Sahal ibn Muhammad As-Sajastani yang wafat pada tahun 205 H.

Pasal Ketiga

Tentang Orang Pertama yang Menyusun Kata-kata Hikmah dari Para Tokoh Tabi’in Syi’ah

Para tokoh tabi’in Syi’ah itu melakukan penyusunan di satu masa, hanya saja saya tidak tahu mana di antara mereka yang melakukan hal ini lebih dahulu. Di antara mereka ialah Ali ibn Abi Rafi’e; sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s sekaligus sebagai sekretaris dan pemegang kunci Baitul Mal.

An-Najasyi di dalam Asma Mushannifisy Syi’ah, pada bab nama-nama generasi pertama Syi’ah yang mengarang  kitab, mengatakan: “Ali ibn Abu Rafi’e adalah seorang tabi’in dari Syi’ah yang soleh yang bersahabat dekat dengan Amiril Mukminin  Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia juga sekretaris beliau dan menghafal banyak hal dan menyusun sebuah kitab yang menghimpun pelbagai bab Fiqih, seperti Wudhu, Shalat, dan bab-bab hukum lainnya. Lalu ia menyambungkan sanadnya sampai ke Ali ibn Abi Thalib a.s.

Dan saudara Ali ibn Abu Rafi’e bernama Ubaidillah ibn Abu Radfi’e adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib a.s. Ia mengarang kitab Kitabul Qodho Amiril Mu’minin dan kitab Tasmiyatu Man Syahida ma’a Amiril Mu’minin Al-Jamala wash Shiffin wan Nahrawan minal Shohabah (kitab yang mencatat nama-nama para sahabat yang ikut bertempur bersama Imam Ali a.s. di perang Jamal, Shiffin dan Nahrawan, pent.). Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Fehrest Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi dan di At-Taqrib karya Ibnu Hajar, bahwa Ubaidillah adalah sekretaris Ali ibn Abi Thalib dan perawi yang terpercaya.

Selain dua bersaudara di atas, adalah Ashbagh ibn Nubatah Al-Majasyi’ie. Ia sahabat khusus Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan berumur panjang hingga masih hidup setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib. Ashbagh telah meriwayatkan surat Ali ibn Abi Thalib tentang pelantikan Malik Al-Asytar sebagai gubernur Mesir. An-Najasyi berkata: “Surat itu adalah surat yang amat masyhur, juga sebagai wasiat Imam Ali ibn Abi Thalib kepada putranya yang bernama Muhammad ibn Hanafiyah.” Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menambahkan dalam Al-Fehrest, bahwa Ashbagh ibn Nubatah juga mempunyai kitab Maqtalul Husein ibn Ali, yang darinya Ad-Dauri telah meriwayatkan.

Lalu di antara mereka ialah Sulaim ibn Qois Al-Hilali Abu Shadiq, sahabat dekat Ali ibn Abi Thalib. Ia menulis kitab yang sangat bagus. Di dalamnya ia meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali ibn Abi Thalib, Salman Al-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Miqdad, Ammar ibn Yasir, dan sekelompok dari sahabat besar Nabi saw.

Syeikh Imam Abu Abdillah An-Nu’mani, yang perihal dirinya telah diulas pada pasal tokoh-tokoh tafsir terdahulu, di dalam kitab Al-Ghaibah, tepatnya setelah menukil sebuah hadis dari kitab Sulaim ibn Qois, mengatakan: “Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dan perawi kaum Syi’ah tentang bahwa kitab Sulaim ibn Qois adalah salah satu kitab induk yang banyak dinukil hadis dan riwayatnya oleh para ulama dan perawi hadis Ahlul Bait. Dan kitab itu merupakan kitab rujukan kaum Syi’ah.” Sulaim ibn Qois wafat di awal pemerintahan Hajjaj ibn Yusuf di kota Kufah.

Lalu di antara mereka ialah Maitsam ibn Yahya Abu Soleh At-Tammar. Ia adalah salah satu sahabat dekat Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. dan pemegang rahasia-rahasia beliau. Maitsam menulis kitab yang bagus mengenai hadis. Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi, Syeikh Abu Amr Al-Kisyi dan Ath-Thabari di dalam Bisyarotul Musthafa, banyak menukil hadis dari kitab Maitsam ini. Maitsam wafat di Kufah karena dibunuh oleh Ubaidillah ibn Ziyad lantaran kesyi’ahannya.

Lalu di antara mereka ialah Muhammad ibn Qois Al-Bajali. Ia mengarang sebuah kitab yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Para tokoh tabi’in Syi’ah telah menyebutkan kitab tersebut. Mereka juga banyak meriwayatkan hadis-hadis darinya. Adapun Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest dari Ubaid ibn Muhammad ibn Qois mengatakan: “Saya mengajukan kitab ini kepada Abu Ja’far Imam Muhammad Al-Baqir a.s., lalu beliau berkata: ‘Kitab ini adalah perkataan Ali ibn Abi Thalib a.s.’. Dan di awal-awal kitab itu, diriwayatkan bahwa jika seseorang hendak melakukan shalat, katakanlah di awal shalatnya… Begitu selanjutnya hingga akhir kitab.”

Ya’la ibn Murroh mempunyai satu naskah kitab itu yang diriwayat-kannya dari Ali ibn Abi Thalib a.s. An-Najasyi di dalam Al-Fehrest telah membawakan sanad kesaksian atas keberadaan naskah tersebut dari Ya’la.

Lalu di antara mereka ialah Ibnul Hurr Al-Ja’fi. Ia seorang tabi’in Kufah dan penyair Persia. Ia memiliki sebuah naskah hadis yang diriwayatkan dari Amiril Mukminin Ali ibn Abi Thalib a.s. Al-Ja’fi wafat di masa kekuasaan Al-Mukhtar. An-Najasyi telah menempatkannya dalam jajaran  pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah.

Lalu di antara mereka ialah Tabi’ah ibn Sami’ie. Ia menulis sebuah kitab tentang bab zakat. An-Najasyi menyebutkan nama ini di generasi pertama dari tokoh-tokoh pengarang Syi’ah. Ia termasuk dari kaum tabi’in.

Lalu Harts ibn Abdillah Al-A’war, dari kota Hamadan. Ia termasuk sahabat Ali ibn Abi Thalib a.s. Harts meri-wayatkan pelbagai permasalahan yang disampaikan oleh Imam Ali a.s. kepada seorang Yahudi, kemudian Ammar ibn Abil Miqdad meriwayatkannya dari Abi Ishaq As-Sami’ie yang ia sendiri meriwayatkannya dari Harts Al-A’war, dan yang terakhir ini meriwayatkan dari Ali ibn Abi Thalib a.s., sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Fehrest karya Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi. Harts wafat pada masa kekuasaan Ibnu Zubeir.

Namun, Syeikh Rasyiduddin Ibn Syahrasyub di awal kitabnya, Ma’alimul ‘Ulama’, membawakan sebuah daftar kitab mengenai jawaban yang disampaikan oleh Al-Ghazzali, bahwa kitab pertama yang dikarang di dalam Islam ialah kitab Ibnu Juraij tentang hadis dan tafsir huruf-huruf dari Mujahid dan ‘Atha’ di Mekkah, lalu kitab Mu’ammar ibn Rafi’e Ash-Shan’ani di Yaman, lalu kitab Al-Muwaththa’ karya Malik ibn Anas, lalu kitab Al-Jami’e karya Sufyan Ats-Tsauri.

Kemudian Ibnu Syahrasyub mengatakan: “Namun yang benar ialah bahwa orang pertama yang mengarang kitab di bidang ini dalam Islam ialah Amiril Mukiminin Ali ibn Abi Thalib lalu Salman Al-Farisi, lalu Abu Dzar Al-Ghifari, lalu Ashbagh ibn Nubatah, lalu Ubaidillah ibn Abu Ra’fi’e, lalu Shohifah Kamilah Sajjadiyyah dari Imam Ali Zainal Abidin a.s.”

Syeikh An-Najasyi menyatakan bahwa generasi pertama adalah para pengarang, sebagaimana telah disebutkan, tanpa menerangkan siapa yang lebih dahulu, juga tidak menjelaskan urutan-urutan mereka. Begitu pula Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan nama-nama mereka tanpa menerangkan urutan yang tegas. Mungkin Ibnu Syahrasyub telah menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan.

Sebuah catatan di akhir pasal ini ialah bahwa Al-Jahidz Adz-Dzahabi tatkala menyinggung riwayat hidup Aban ibn Taghlab, memberikan kesaksian bahwa mazhab Syi’ah di kalangan tabi’in dan generasi setelah tabi’in amat berkembang dan dikenal dengan ketaatan, warak dan kejujuran. Lalu mengatakan: “Jika ucapan-ucapan mereka itu ditolak, maka akan banyak hadis-hadis Nabi saw. yang tercampakkan. Ini sebuah konsekuensi yang jelas keliru dan merugikan.”

Saya katakan, renungkanlah kesaksian Al-Jahidz ini, dan ketahuilah kemuliaan pada kepeloporan nama-nama mereka yang telah kami bawakan di sini dan nama-nama yang akan kami sebutkan setelah ini, yaitu dari kaum tabi’in Syi’ah dan generasi Syi’ah setelah mereka.

Pasal Keempat

Tentang Orang Pertama Penghimpun Hadis di Pertengahan Abad Kedua

Dari kaum Syi’ah yang menyusun kitab-kitab, pokok-pokok akidah dan perincian hukum-hukum yang diriwayatkan dari jalur Ahlul Bait adalah mereka yang hidup di masa-masa orang yang disebutkan berkenaan dengan orang pertama yang mengumpulkan riwayat dari kalangan Ahli Sunnah. Mereka meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan dari putranya; Imam Muhammad Al-Baqir a.s. Di antara mereka adalah Aban bin Taghlab. Ia telah meriwayatkan tiga puluh ribu hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s.

Ada pula Jabir ibn Yazid Al-Ja’fi yang meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s., dari ayah-ayah beliau hingga Nabi saw. Jabir mengatakan: “Aku memiliki lima puluh ribu hadis yang belum aku sampaikan. Semuanya dari Nabi saw. dari jalur Ahlul Bait a.s.”

Terdapat nama-mana lain yang melakukan penghimpunan dan periwayatan hadis sebanyak di atas tadi, seperti Abu Hamzah, Zurarah ibn A’yan, Muhammad ibn Muslim Ath-Thaifi, Abu Bashir Yahya ibn Al-Qosim Al-Asadi, Abdul Mu’min ibn Al-Qosim ibn Qois ibn Muhammad Al-Anshari, Bassam ibn Abdullah Ash-Shairafi, Abu Ubaidah Al-Hidzaie Ziyad ibn Isa Abu Raja’ Al-Kufi, Zakaria ibn Abdullah Al-Fayyad Abu Yahya, Jahdar ibn Al-Mughirah Ath-Thaie, Hajar ibn Zaidah Al-Hadhrami Abu Abdillah, Muawiyah ibn Ammar ibn Abi Muawiyah, Khabbab ibn Abdillah, Al-Mutthalib Az-Zuhri Al-Qurasyi Al-Madani, dan Ab-dullah ibn Maimun ibn Al-Aswad Al-Qoddah. Saya telah singgung kitab dan riwayat hidup mereka masing-masing di dalam Ta’sisusy Sy’ah li Fununil Islam.

Sementara itu, Tsaur ibn Abu Fakhitah Abu Jaham telah meriwayatkan hadis-hadis dari sekelompok sahabat Nabi saw. Dan ia memiliki sebuah kitab yang masih utuh dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s.

Pasal Kelima

Tentang Orang Pertama dari Kaum Syi’ah yang Menyusun Kitab Hadis Setelah Pertengahan Abad Kedua

Terdapat sekelompok sahabat Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. yang meriwayatkan hadis dari beliau dan menghimpunnya ke dalam empat ratus kitab dengan judul Al-Ushul. Syeikh Imam Abu Ali Al-Fadhl ibn Al-Hasan Ath-Thabarsi dalam kitabnya, A’lamul Wara’, mengatakan: “Dinukil secara hampir mutawatir oleh banyak kalangan, bahwa orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. adalah mereka yang tergolong dari tokoh-tokoh besar yang jumlah mereka mencapai empat ribu. Lalu, mereka menyusun hadis-hadis tersebut ke dalam empat ratus kitab yang dikenal di tengah kaum Syi’ah dengan nama Al-Ushul. Kemudian, kitab ini diriwayatkan oleh sabahat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. dan oleh para sahabat putra beliau; Imam Al-Kadzim a.s.”

Abul Abbas Ahmad ibn ‘Uqdah telah menulis sebuah buku terpisah dengan judul Kitabu Rijali Man Rowa ‘an Abi Abdillah Ash-Shadiq. Kitab ini secara khusus menghimpun nama-nama mereka yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s. Bahkan, Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi menyebutkan dan menghitung karangan-karangan mereka masing-masing dalam bab ‘Ashabu Abi Abdillah Ash-Shadiq’ dari kitabnya;  Ar-Rijal, yaitu kitab yang disusun menurut nama-nama sahabat setiap dua belas imam a.s.

Pasal Keenam

Tentang Jumlah Kitab yang Dikarang oleh Orang Syi’ah tentang Hadis dari Jalur  Ahlul Bait,

Sejak Masa Imam Ali bin Abi Thalib Sampai Masa Imam Hasan Al-Askari a.s.

Ketahuilah bahwa jumlah kitab-kitab itu melampaui angka 6600, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Al-Jahidz Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr, penulis Al-Wasail, dan ia menyatakan jumlah tersebut secara tegas pada bab keempat dari kitabnya yang besar tentang hadis, yaitu Wasailusy Syi’ah ila Ahkamisy Syari’ah. Tentang semua ini, saya juga telah membawakan data-data yang menguatkan jumlah di atas tadi dalam kitab saya yang berjudul Nihayatud Dirayah fi Ushuli Ilmil Hadis.

Pasal Ketujuh

Tentang Generasi Berikut yang Menjadi Tokoh Ilmu Hadis dan Penyusun Kitab-kitab Induk yang Hingga Kini Merupakan Rujukan Hukum-hukum Syar’ie Kaum Syi’ah

Ketahuilah bahwa tiga Muhammad pertama adalah tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang   pertama ialah Muhammad ibn Ya’qub Al-Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Ia wafat pada 328 H. Di dalam kitab tersebut, Al-Kulaini telah mencatat sebanyak 16099 hadis beserta sanad-sanadnya.

Kedua ialah Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babaweih Al-Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan nasab Abu Ja’far Ash-Shaduq. Ia telah menyusun 1400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Ash-Shaduq adalah kitab  Man La Yahdhuruhul Faqih yang memuat 9044 hadis menge-nai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah.

Ketiga adalah Muhammad ibn Al-Hasan Ath-Thusi yang terkenal dengan gelar Syeikh Ath-Thoifah. Ia telah menulis kitab Tahdzibul Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13590. Kitab Ath-Thusi lainnya adalah Al-Istibshor yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama kaum Syi’ah.

Kemudian tibalah peran tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama ialah Imam Muhammad Al-Baqir ibn Muhammad At-Taqie. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Biharul Anwar; fil Ahaditsil Marwiyyah ‘anin Nabi wal Aimmah min Alihil Ath-har. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahwa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syi’ah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar. Sehingga Tsiqotul Islam Allamah An-Nurie menulis sebuah kitab yang berjudul Al-Faidhul Qudsi fi Ahwalil Al-Majelisi dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.

Kedua ialah Muhammad ibn Murtadha ibn Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama di dua bidang ilmu aqli dan naqli. Ia lebih dikenal dengan nama Muhsin Al-Kasyani dan julukan ‘Al-Faydh’. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi Ilmil Hadis, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupa-kan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang tercatat di dalam empat kitab induk terdahulu berke-naan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Al-Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam usainya yang panjang itu, ia telah mengarang kurang lebih dua ratus kitab dari pelbagai bidang ilmu.

Ketiga ialah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr Asy-Syami Al-‘Amili Al-Masyghari, seorang ulama hadis yang mayshur di kalangan ahli hadis dengan gelar Syeikhusy Syuyukh (guru para guru). Ia menulis kitab Tafshil Wasailsy Syi’ah ila Tahshil Ahadits Asy-Syari’ah, dan penyusunannya mengacu pada kitab-kitab Fiqih.

Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-‘Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling  banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Bisa dikatakan bahwa kaum Syi’ah sekarang lebih berkutat pada kitab ini. Muhammad Al-‘Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 dan wafat pada tahun 1204 H. di Thus-Khurasan (sebuah propinsi di bagian barat Iran)

Dan Syeikh Allamah Tsiqotul Islam Al-Husein ibn Allamah An-Nurie telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasailusy Syi’ah, dan menyu-sunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab Wasailusy Syi’ah, dan meletakkan judul Mustadrokul Wasail wa Mustanbatul Masail padanya. Secara umum, kitab ini bentuk lain dari kitab Wasailusy Syi’ah. Dan dapat dikatakan bahwa kitab Syeikh An-Nurie ini meru-pakan kitab hadis Syi’ah yang paling besar, di mana Syeikh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Ia wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.

Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulam-ulama besar hadis Syi’ah. Di antaranya ialah kitab Al-‘Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syeikh Abdullah ibn Nurullah Al-Bahrani. Ia hidup semasa dengan Allamah Al-Majlisi, pengarang kitab Biharul Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.

Selain Al-‘Awalim adalah kitab Syarhul Istabshor fi Ahaditsul Aimmatil Athhar yang disusun Syeikh Qosim ibn Muham-mad ibn Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Biharul Anwar. Syeikh Qosim dikenal dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan Faqih Al-Kadzimi. Ia hidup semasa dengan Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasailusy Syi’ah sebagaimana telah dising-gung. Syeikh Qosim adalah salah seorang murid utama  datuk saya, Allamah Sayyid Nuruddin; saudara Sayyid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Akhbar fi Idhohil Istibshor. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syeikh Allamah Abdullatif ibn Ali ibn Ahmad ibn Abu Jami’ Al-Haritsi Al-Hamadani Asy-Syami Al-‘Amili. Ia menimba ilmu dari Syeikh Al-Hasan ibn Abu Mansur ibn Asy-Syahid Syeikh Zainuddin Al-‘Amili, penulis kitab Al-Ma’alim dan Al-Muntaqo, dan salah seorang ulama abad keepuluh Hijriyah.

Selain itu adalah kitab induk besar yang berjudul Asy-Syifa fi Hadis Alil Mushtafa. Kitab ini mencakup beberapa jilid tebal, disusun oleh seorang ulama peneliti hadis yang ulung, yaitu Syeikh Muhammad Ar-Ridha, putra seorang ahli fiqih; Syeikh Abdullatif At-Tabrizi. Ia telah menuntaskan penulisan kitab tersebut pada tahun 1158 H.

Selain itu adalah kitab Jami’ul Ahkam yang tercetak hingga mencapai 25 jilid besar, disusun oleh Allamah Abdullah ibn Sayyid Muhammad Ar-Ridha Asy-Syubbari Al-Kadzimi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai guru besar kaum Syi’ah dan penulis unggul. Dapat dikatakan bahwa setelah era Allamah Al-Majlisi, tidak ada ulama yang mengarang kitab lebih banyak daripada karya-karyanya. Sayyid Muhammad Ar-Ridha wafat di Kadzimain pada tahun 1242 H.

Pasal Kedelapan

Kepeloporan Kaum Syi’ah dalam Menggagas Ilmu Dirayah dan Membaginya ke Beberapa Cabang Utama

Orang pertama yang memulai perintisan dan penggagasan ilmu ini ialah Abu Abdillah Al-Hakim yang lahir di Naysabur (Khurasan-Iran). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdullah. Ia wafat pada 405 H. Semasa hidupnya, Al-Hakim telah mengarang sebuah kitab yang berjudul Ma’rifatu Ulumil Hadis setebal lima jilid, lalu membagi ilmu-ilmu hadis ke lima puluh cabang.

Kitab Kasyful Dzunun telah menyatakan kesaksiannya atas kepeloporannya dalam penggagasan ilmu Dirayah, dan mengatakan: “Orang pertama yang memulai penggagasan dan pembagian ilmu Hadis ialah Muhammad ibn Abdullah dari Naysabur, kemudian diikuti oleh Ibnu Ash-Shalah.”

Sementara itu, Al-Jahidz As-Suyuthi menyebutkan dalam kitab Al-Wasail fil Awail, bahwa orang pertama yang menyu-sun macam-macam ilmu Hadis dan membaginya menjadi beberapa cabang yang masih dikenal sampai sekarang ialah Ibnu Ash-Shalah. Ia wafat pada tahun 643 H.

Data ini tidaklah bertentangan dengan apa yang baru saja kami bawakan. Sebab, Al-Jahidz hendak menyebutkan orang pertama yang mengerjakan hal itu dari kaum Ahli Sunnah, sedangkan Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang Syi’ah berdasarkan kesepakatan para ulama Ahli Sunnah dan Syi’ah. Syeikh As-Sam’ani di dalam Al-Ansab, Syeikh Ahmad ibn Taimiyah dan Al-Jahidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkirotul Huffadz telah menyatakan secara tegas kesyi’ahan Al-Hakim.

Bahkan dalam Tadzkirotul Huffadz, misalnya, Adz-Dzahabi menuturkan kesaksian Ibnu Thahir yang mengatakan: “Aku bertanya kepada Abu Ismail Al-Anshari perihal Al-Hakim. Ia berkata: ‘Ia adalah perawi yang terpercaya di bidang hadis dan seorang Syi’ah yang penyimpang’”. Lalu Adz-Dzahabi mengatakan: “Lalu Ibnu Thahir berkata: ‘Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang syi’ah yang fanatik dalam taqiyah-nya, namun ia menampakkan kesunniannya dalam permasalahan khilafah dan khalifah pertama setelah Nabi saw. Ia berseberangan dengan Muawiyah dan sanak keluarganya seraya menampakkan pengakuannya pada mereka; suatu hal yang tidak bisa diterima pendiriannya ini.’”

Pada hemat saya, ulama-ulama kami, Syi’ah, juga telah menyatakan kesaksian mereka atas kesyi’ahan Abu Abdillah Al-Hakim, seperti Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr di akhir-akhir kitab Wasailusy Syi’ah. Di dalam Ma’alimul Ulama di bab ‘Al-Kuna’, ia menukil dari Ibnu Syarasyub yang menilai Al-Hakim sebagai salah seorang pengarang Syi’ah, dan ia memiliki kitab tentang keutamaan-keutamaan Ahlul Bait serta sebuah kitab khusus tentang keutamaan-keutamaan Imam Ar-Ridha a.s. Mereka juga menyebutkan sebuah kitabnya khusus berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Fatimah Az-Zahra a.s.

Bahkan, Abdullah Afandi telah menerangkan riwayat hidup Al-Hakim secara rinci dalam kitabnya; Riyadul ‘Ulama, di bagian pertama yang secara khusus membahas Syi’ah Imamiyah. Begitu juga, Afandi menyebutkan nama-nya dan memberikan kesaksian atas kesyi’ahannya di bab ‘Al-Alqob’ dan di bab ‘Al-Kuna’. Di dalam kitab itu, ia menyebutkan dua kitab Al-Hakim yang berjudul Ushul Ilmil Hadis dan Al-Makhal ila Ilmish Shohih. Afandi mengatakan: “Dan Al-Hakim telah mencatat hadis-hadis tentang Ahlul Bait yang tidak termaktub di dalam Shahih Al-Bukhari, seperti hadis ‘Ath-Thoirul Masywi’ dan hadis ‘Man Kuntu Maulahu.’”

Setelah Abu Abillah Al-Hakim, terdapat sekelompok tokoh ilmu Hadis dari kaum Syi’ah yang mengarang di bidang Dirayah. Di antara mereka ialah Sayyid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus Abul Fadhail. Dialah peletak istilah-istilah hadis Syi’ah Imamiyah berkenaan dengan pembagian hadis kepada empat macam; shahih, hasan, muwatssaq dan dzaif. Ibnu Tawus wafat pada tahun 673 H.

Dan di antara mereka ialah Sayyid Allamah Ali ibn Abdul Hamid Al-Hasani. Ia mengarang kitab Syarh Ushul Dirayatul Hadis. Ia juga melaporkan dari Syeikh Allamah Al-Hilli ibn Al-Muthahhar dan Syeikh Zainuddin yang masyhur dengan gelar Syahid Tsani (sang syahid kedua), sebuah kitab bernama Ad-Dirayah fi Ilmid Dirayah dan syarahnya yang berjudul Ad-Dirayah.

Dan di antara mereka ialah Syeikh Al-Husein ibn Abdul Shomad Al-Haritsi Al-Hamadani; pengarang kitab Wushulul Akhyar ila Ushulil Akhbar, Syeikh Abu Mansur Al-Hasan ibn Zainudin Al-‘Amili; pengarang kitab Muqod-dimatul Muntaqo dan Ushul Ilmil Hadis, dan Syeikh Bahauddin Al-‘Amili pengarang kitab Al-Wajizah fi Ilmi Diroyahtul Hadis. Saya telah menyarahi kitab terakhir ini dalam sebuah kitab yang saya namai dengan judul Syarah Nihayatud Dirayah, dan dicetak di India sampai menjadi kurikulum di sekolah-sekolah pen-didikan agama.

Pasal Kesembilan

Tentang Orang Pertama yang Menyusun Ilmu Rijal dan Riwayat Hidup Para Perawi

Ketahuilah bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi Al-Qummi adalah seorang sahabat Imam Musa ibn Ja’far Al-Kadzim a.s., sebagaimana Syeikh Abu Ja’far Ath-Thusi mencatat hal ini di dalam kitab Ar-Rijal. Dan Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest, di awal bagian kelima pasal keenam mengenai riwayat tokoh-tokoh fiqih Syi’ah menyebutkan karya Al-Barqi di bidang ilmu Rijal. Di sana ia mengatakan: “Dan di antara karya-karya Al-Barqi adalah Al-‘Awidh, At-Tabshiroh dan Ar-Rijal. Di dalam kitab terakhir ini, ia menyebutkan nama-nama yang meriwayatkan hadis-hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.”

Setelah Al-Barqi ialah Abu Muhammad Abdullah ibn Jablah ibn Hayyan ibn Abhar Al-Kinani. Ia mengarang kitab Ar-Rijal. Abdullah Al-Kinani berusia panjang dan wafat pada tahun 219 H.

As-Suyuthi dalam Al-Awail mengatakan: “Orang pertama yang membahas ilmu Rijal ialah Syu’bah.” Jelas, bahwa Syu’bah datang setelah Abdullah ibn Jablah, karena yang pertama wafat pada tahun 260 H. Bahkan setelah Abdullah ibn Jablah dan sebelum Syu’bah, terdapat sahabat Imam Al-Jawad a.s. yang bernama Abu Ja’far Al-Yaqthini. Ia menulis Kitabur Rijal, sebagaimana yang dicatat oleh An-Najasyi di dalam Al-Fehrest dan Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest.

Saya bubuhkan di sini, bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi juga seorang sahabat imam Ahlul Bait, yaitu Imam Musa Al-Kadzim a.s. dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. Bahkan, ia juga sempat menjumpai Imam Muhammad Al-Jawad a.s. Kitab Al-Barqi masih terjaga utuh dan tersedia sampai sekarang. Di dalamnya disebutkan nama perawi-perawi yang meriwayatkan hadis dari Ali bin Abi Thalib a.s. dan perawi-perawi setelah mereka. Kitab itu juga memuat tema penting Rijal mengenai Al-Jarah wat Ta’dil (penilaian kritis atas ihwal kehidupan para perawi), sebagaimana yang juga dibahas oleh semua kitab Rijal.

Lalu, Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi yang mengarang kitab Ar-Rijal dan kitab Ath-Thabaqot. Abu Ja’far wafat pada tahun 274 H.

Lalu, Syeikh Abul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Dawud ibn Ali Al-Qummi yang dikenal juga dengan Ibnu Dawud; seorang ulama terkemuka Syi’ah. Ia mengarang kitab Al-Mamduhin wal Madzmumin minar Ruwat, dan wafat pada tahun 368 H.

Lalu, Syeikh Abu Ja’far Muhammad ibn Babaweih Ash-Shoduq yang mengarang kitab Ma’rifatur Rijal dan Kitabur Rijalil Mukhtarin min Ashabin Nabi saw. Ia wafat pada tahun 381 H.

Lalu, Syeikh Abu Bakar Al-Ji’ani yang dinyatakan oleh Ibnu Nadim bahwa ia merupakan salah seorang ulama besar Syi’ah. Al-Ji’ani mengarang kitab Asy-Syi’ah min Ashabil Hadits wa Thabaqotuhum. Tentang kitab ini, An-Najasyi mengatakan bahwa kitab itu dikarang dalam ukuran besar.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Baththah yang mengarang kitab Asma’ Mushannifisy Syi’ah, dan wafat pada tahun 274 H.

Lalu, Syeikh Nashr ibn Ash-Shabah Abul Qosim Al-Balkhi; guru Syeikh Abu Amr Al-Kasyi. Ia mengarang kitab Ma’ri-fatun Naqilin min Ahlil Miah Tsalitsah. Ia wafat pada tahun pada abad ketiga Hijriyah.

Lalu, Ali ibn Al-Hasan ibn Fidhal; pengarang kitab Ar-Rijal. Ia berada di generasi sebelum Syeikh Nashr Al-Balkhi.

Lalu, Sayyid Abu Ya’la Hamzah ibn Al-Qosim ibn Ali ibn Hamzah ibn Al-Hasan ibn Ubaidilah ibn Al-Abbas ibn Ali ibn Abu Thalib a.s., yang mengarang kitab Man Rowa ‘an Ja’far ibn Muhammad minar Rijal. An-Najasyi mengatakan: “Kitab ini bagus, dan At-Tal’akbari meriwayatkan sertifikat pengakuan dan pengesahan darinya”. Hamzah ibn Qosim adalah ulama Syi’ah abad ketiga Hijriyah.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali Abu Abdillah Al-Maharibi yang menyusun kitab bagus yang berjudul Ar-Rijal min Ulama Tsalitsah.

Lalu, Al-Musta’thof Isa ibn Mehran; pengarang Kitabul Muhadditsin. Isa termasuk ulama terdahulu Syi’ah, demikian dicatat oleh Syeikh Ath-Thusi di dalam Al-Fehrest.

Berikutnya, di dalam kitab Ta’sisusy Syi’ah li Fununil Islam, saya telah mengulas karangan-karangan Syeikh Ath-Thusi, An-Najasyi, Al-Kasyi, Allamah ibn Al-Muthahhar Al-Hilli, Ibnu Dawud dan generasi-generasi yang mengarang kitab tentang ilmu Rijal. Dan hingga kini, semua karya mereka masih menjadi rujukan dalam upaya menilai kualitas pribadi para perawi (Al-jarah wa Ta’dil).

Perlu dibubuhkan di sini, bahwa Abul Faraj Al-Qannani Al-Kufi; guru An-Najasyi, mempunyai karangan di bidang ini, berjudul Kitab Mu’jam Rijalil Mufadhal, dan menyusunnya sesuai dengan urutan huruf Hijaiyah.

*Peneliti Pemikiran dan Peradaban Islam