Kang Jalal Bantah Dakwah Syiah Menghujat Sahabat

Rabu, 19 September 2012

Kang Jalal Tinggalkan Sesi Tanya Jawab Diskusi Lintas Mazhab di Muhammadiyah

Ustad Zaytun dari Wahdah Islamiyah dan MIUMI termasuk yang memprotes kepergian Jalaludin Rahma

Jalaludin Rahmat juga membantah bahwa Tajul Muluk membawa ajaran Syiah yang menghina Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Menurutnya, semua pemberitaan itu tidak benar. Jalaludin bahkan menambahkan bahwa konflik Syiah Sampang terjadi karena banyak faktor, bukan masalah agama semata.

“Ada faktor ekonomi, politik hingga keluarga sebagai penyebab konflik Sampang,” tambahnya.
Ia juga membela Tajul Muluk serta membantah temuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Madura dan Jawa Timur tentang adanya ranjau dan bom remote saat konflik terjadi. Selain itu, baginya semua isu yang dikembangkan bahwa ajaran Syiah menghina sahabat Nabi Saw dan Siti Aisyah Ra memiliki kepentingan politis dan tidak sesuai fakta ajaran Syiah.

Sebelumnya, kegiatan Dialog Antar Mazhab bertema “Konstruksi Sunni-Syi’ah di Indonesia” yang menghadirkan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rahmat dan Wakil Sekjen MIUMI, Fahmi Salim Lc serta beberapa pembicara sempat mendapat protes dari peserta.

Pasalnya Jalaludin Rahmat yang ditunggu-tunggu para peserta semua justru pamit saat sesi tanya jawab dimulai. Ia meminta izin untuk pulang lebih dulu dan sempat melahirkan protes para hadirin.

“Anda jangan pulang dulu, Anda harus mempertanggung jawabkan setiap omongan Anda,” teriak salah seorang peserta.

Namun lelaki yang biasa dipanggil Kang Jalal inipun tetap pulang. Beberapa peserta yang kecewapun akhirnya bisa memaklumi.

Kegiatan Dialog Antar Mazhab “Konstruksi Sunni-Syi’ah di Indonesia” yang menghadirkan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rahmat dan Wakil Sekjen MIUMI, Fahmi Salim Lc serta beberapa pembicara lainnya sempat mendapat protes dari peserta.

Menurut peserta acara yang diadakan pada hari Selasa (18/09/2012) di kantor PP Muhammadiyah Jakarta Pusat itu menjadi tidak menarik. Pasalnya Jalaludin Rahmat ketika sesi tanya jawab dimulai meminta izin untuk pulang lebih dulu. Sebagian peserta spontan mengajukan protes atas sikap Jalaludin Rahmat tersebut.

“Anda jangan pulang dulu, Anda harus mempertanggung jawabkan setiap omongan Anda,” teriak salah seorang peserta.

Jalal sendiri dalam konfirmasi mengaku harus meninggalkan kegiatan karena sudah masuk waktu shalat ashar. Ia mengaku telah memiliki agenda di tempat lain.

Walau setelah keluar ruangan ia masih menyempatkan diri menjawab pertanyaan beberapa media yang menghampirinya
Seharusnya sudah tidak perlu ada lagi Dialog, karena sdh 15 abad tidak akan ada titik temu. Kalau ada pun judulnya: Islam versus Syi’ah. Dengan adanya dialog atau seminar2, maka syiah sangat diuntungkan

.
Jangan memandang Kang Jalal seperti pria pengangguran yang kerjanya cuma berkhayal menjadi muslim kaffah berdasarkan Quran-Sunnah, beliau adalah orang besar yang selalu siap berdialog dgn ilmiah. Hormatilah orang seperti beliau yang senantiasa berbakti & berkorban untuk Islam dan kaum muslimin juga bangsa Indonesia dengan lisan dan tulisan juga harta bendanya. Yang merasa lebih hebat darinya, coba tolong buat satu saja buku untuk membantah secara argumentatif pendapat2 Kang Jalal, bisa?

Kang Jalal Tinggalkan Sesi Tanya Jawab karena muak dengan perilaku agen wahabi yang gemar mengancam bunuh orang

foto

Cendekiawan muslim dan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rakhmat berpose dengan sampul buku karyanya berjudul Life “After Death – The Ultimate Journey” yang diluncurkan 29 Agustus 2012

.

Bukan cuma pengikut Syiah di Sampang, Bondowoso, Pekalongan, atau Bangil saja yang diancam oleh warga non-Syiah. Cendikiawan Jalaluddin Rakhmat pernah mengalami hal yang sama: diancam mati.

Sebabnya cuma satu, Kang Jalal merupakan penganut Syiah. Tak cuma itu, ia juga Ketua Dewan Syuro Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia. Sebuah wadah Syiah berskala nasional.

Kang Jalal bercerita, ancaman itu datang waktu ia mengerjakan disertasi di Universitas Islam Negeri Makassar, pada 2011. Sejumlah ulama datang dan memprotes UIN Makassar. Mereka meminta Kang Jalal dieliminasi dari kandidat doktor. Tapi permintaan ditolak.

“Kampus UIN MAkassar memberikan gelar doktor berdasarkan pertimbangan ilmiah, bukan mahzab yang dianut orang itu,” kata Kang Jalal, Kamis, 29 Agustus 2012.

Karena permintaannya ditolak, mereka pun mengeluarkan ancaman ke Kang Jalal. Yakni, jika Jalaluddin tak diharamkan sebagai kandidiat dokter maka darahnya halal. “Tapi UIN Makassar tetap bilang tak masalah, mereka bakal memanggil polisi,” ujarnya.

Disertasi yang tengah diteliti Jalaluddin Rakhmat mengulas soal pergeseran ajaran dari sunnah Nabi ke sunnah sahabat. Menurut Kang Jalal, sunnah Nabi tak lagi dijalankan. Dan pendapatnya itu membuat marah sejumlah ulama di Makassar. “Saya sebetulnya bisa tuntut mereka balik karena sudah mengancam,” kata dia.

Bagi pengikut Syiah, mendapat ancaman bukan hal aneh. Beberapa dari mereka bahkan gagal berbisnis, menikah, bahkan terpaksa bercerai dari pasangannya karena menganut Syiah. “Beberapa anggota keluarga saya pernah mengalami hal serupa,” ujarnya.

 Tokoh Syiah Indonesia, Jalaludin Rakhmat.
Minggu, 2 September 2012 viva.co.id menurunkan wawancara dengan Jalaluddin Rakhmat tentang tragedi sampang, salah satu petikannya berisi bahwa beliau diancam bunuh oleh beberapa ulama di Makassar jika tetap melanjutkan program doktoralnya di UIN Alauddin Makassar, berikut ini petikan wawancaranya,
Apa Anda selama ini pernah mendapat ancaman teror sebagai tokoh intelektual Syiah?
Saya sekarang ini berambut gondrong bukan karena ingin tampak lebih muda, tapi karena saya sedang membuat disertasi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. UIN diprotes oleh serombongan orang karena saya orang Syiah. Mereka minta saya dipecat dari kandidat Doktor.Mereka menuntut, kalau pihak UIN tidak mengharamkan Jalaludin Rakhmat sebagai kandidat Doktor, maka mereka akan menghalalkan darah saya. Saya diancam, kalau nanti saya ujian akhir Doktor, mereka akan menumpahkan darah saya. Tapi UIN mempertahankan saya karena mereka menentukan kandidat Doktor berdasarkan pertimbangan ilmiah, bukan berdasarkan mazhab. UIN Makassar menyatakan tidak apa-apa jika nanti mereka dipanggil polisi.

Disertasi saya soal “Pergeseran dari Sunnah Nabi kepada Sunnah Sahabat Nabi.” Maksudnya, kita kan beragama Islam berdasarkan sunnah Nabi. Padahal sebetulnya menurut hipotesis saya, yang kita jalankan bukan Sunnah Nabi, tapi sunnah Sahabat. Sunnah Nabi malah ditinggalkan. Itulah yang menimbulkan kemarahan beberapa ulama di sana yang tergabung dalam kelompok Wahdah Islamiyah.

Oleh karena itu mereka menuntut saya untuk dihukum mati. Mereka juga pernah melaporkan saya ke polisi untuk ditangkap, tapi tidak digubris. Saya sebenarnya bisa menuntuk balik karena mereka mengancam nyawa saya. Saya pernah dianjurkan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM untuk berhubungan dengan Mabes Polri supaya saya dapat perlindungan keamanan, karena ancaman kepada saya sudah riil.

Kompas juga waktu itu pernah memberitakan, pernah datang rombongan teroris dari Mindanao ke sebuah pesantren di Flores. Dikatakan mereka akan menyerang santri-santri Syiah dan membunuh tokoh-tokoh Syiah di Indonesia. Menurut berita lain, disebutkan nama-nama tokoh itu, antara lain Jalaludin Rakhmat.

Kang Jalal Tinggalkan Sesi Tanya Jawab karena muak dengan MIUMI agen wahabi

Rabu, 19 September 2012

Kang Jalal Tinggalkan Sesi Tanya Jawab Diskusi Lintas Mazhab di Muhammadiyah

Ustad Zaytun dari Wahdah Islamiyah dan MIUMI termasuk yang memprotes kepergian Jalaludin Rahma

Jalaludin Rahmat juga membantah bahwa Tajul Muluk membawa ajaran Syiah yang menghina Sahabat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam. Menurutnya, semua pemberitaan itu tidak benar. Jalaludin bahkan menambahkan bahwa konflik Syiah Sampang terjadi karena banyak faktor, bukan masalah agama semata.

“Ada faktor ekonomi, politik hingga keluarga sebagai penyebab konflik Sampang,” tambahnya.
Ia juga membela Tajul Muluk serta membantah temuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Madura dan Jawa Timur tentang adanya ranjau dan bom remote saat konflik terjadi. Selain itu, baginya semua isu yang dikembangkan bahwa ajaran Syiah menghina sahabat Nabi Saw dan Siti Aisyah Ra memiliki kepentingan politis dan tidak sesuai fakta ajaran Syiah.

Sebelumnya, kegiatan Dialog Antar Mazhab bertema “Konstruksi Sunni-Syi’ah di Indonesia” yang menghadirkan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rahmat dan Wakil Sekjen MIUMI, Fahmi Salim Lc serta beberapa pembicara sempat mendapat protes dari peserta.

Pasalnya Jalaludin Rahmat yang ditunggu-tunggu para peserta semua justru pamit saat sesi tanya jawab dimulai. Ia meminta izin untuk pulang lebih dulu dan sempat melahirkan protes para hadirin.

“Anda jangan pulang dulu, Anda harus mempertanggung jawabkan setiap omongan Anda,” teriak salah seorang peserta.

Namun lelaki yang biasa dipanggil Kang Jalal inipun tetap pulang. Beberapa peserta yang kecewapun akhirnya bisa memaklumi.

Kegiatan Dialog Antar Mazhab “Konstruksi Sunni-Syi’ah di Indonesia” yang menghadirkan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rahmat dan Wakil Sekjen MIUMI, Fahmi Salim Lc serta beberapa pembicara lainnya sempat mendapat protes dari peserta.

Menurut peserta acara yang diadakan pada hari Selasa (18/09/2012) di kantor PP Muhammadiyah Jakarta Pusat itu menjadi tidak menarik. Pasalnya Jalaludin Rahmat ketika sesi tanya jawab dimulai meminta izin untuk pulang lebih dulu. Sebagian peserta spontan mengajukan protes atas sikap Jalaludin Rahmat tersebut.

“Anda jangan pulang dulu, Anda harus mempertanggung jawabkan setiap omongan Anda,” teriak salah seorang peserta.

Jalal sendiri dalam konfirmasi mengaku harus meninggalkan kegiatan karena sudah masuk waktu shalat ashar. Ia mengaku telah memiliki agenda di tempat lain.

Walau setelah keluar ruangan ia masih menyempatkan diri menjawab pertanyaan beberapa media yang menghampirinya
Seharusnya sudah tidak perlu ada lagi Dialog, karena sdh 15 abad tidak akan ada titik temu. Kalau ada pun judulnya: Islam versus Syi’ah. Dengan adanya dialog atau seminar2, maka syiah sangat diuntungkan

.
Jangan memandang Kang Jalal seperti pria pengangguran yang kerjanya cuma berkhayal menjadi muslim kaffah berdasarkan Quran-Sunnah, beliau adalah orang besar yang selalu siap berdialog dgn ilmiah. Hormatilah orang seperti beliau yang senantiasa berbakti & berkorban untuk Islam dan kaum muslimin juga bangsa Indonesia dengan lisan dan tulisan juga harta bendanya. Yang merasa lebih hebat darinya, coba tolong buat satu saja buku untuk membantah secara argumentatif pendapat2 Kang Jalal, bisa?

Kang Jalal Tinggalkan Sesi Tanya Jawab karena muak dengan perilaku agen wahabi yang gemar mengancam bunuh orang

foto

Cendekiawan muslim dan Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI), Jalaludin Rakhmat berpose dengan sampul buku karyanya berjudul Life “After Death – The Ultimate Journey” yang diluncurkan 29 Agustus 2012

.

Bukan cuma pengikut Syiah di Sampang, Bondowoso, Pekalongan, atau Bangil saja yang diancam oleh warga non-Syiah. Cendikiawan Jalaluddin Rakhmat pernah mengalami hal yang sama: diancam mati.

Sebabnya cuma satu, Kang Jalal merupakan penganut Syiah. Tak cuma itu, ia juga Ketua Dewan Syuro Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia. Sebuah wadah Syiah berskala nasional.

Kang Jalal bercerita, ancaman itu datang waktu ia mengerjakan disertasi di Universitas Islam Negeri Makassar, pada 2011. Sejumlah ulama datang dan memprotes UIN Makassar. Mereka meminta Kang Jalal dieliminasi dari kandidat doktor. Tapi permintaan ditolak.

“Kampus UIN MAkassar memberikan gelar doktor berdasarkan pertimbangan ilmiah, bukan mahzab yang dianut orang itu,” kata Kang Jalal, Kamis, 29 Agustus 2012.

Karena permintaannya ditolak, mereka pun mengeluarkan ancaman ke Kang Jalal. Yakni, jika Jalaluddin tak diharamkan sebagai kandidiat dokter maka darahnya halal. “Tapi UIN Makassar tetap bilang tak masalah, mereka bakal memanggil polisi,” ujarnya.

Disertasi yang tengah diteliti Jalaluddin Rakhmat mengulas soal pergeseran ajaran dari sunnah Nabi ke sunnah sahabat. Menurut Kang Jalal, sunnah Nabi tak lagi dijalankan. Dan pendapatnya itu membuat marah sejumlah ulama di Makassar. “Saya sebetulnya bisa tuntut mereka balik karena sudah mengancam,” kata dia.

Bagi pengikut Syiah, mendapat ancaman bukan hal aneh. Beberapa dari mereka bahkan gagal berbisnis, menikah, bahkan terpaksa bercerai dari pasangannya karena menganut Syiah. “Beberapa anggota keluarga saya pernah mengalami hal serupa,” ujarnya.

 Tokoh Syiah Indonesia, Jalaludin Rakhmat.
Minggu, 2 September 2012 viva.co.id menurunkan wawancara dengan Jalaluddin Rakhmat tentang tragedi sampang, salah satu petikannya berisi bahwa beliau diancam bunuh oleh beberapa ulama di Makassar jika tetap melanjutkan program doktoralnya di UIN Alauddin Makassar, berikut ini petikan wawancaranya,
Apa Anda selama ini pernah mendapat ancaman teror sebagai tokoh intelektual Syiah?
Saya sekarang ini berambut gondrong bukan karena ingin tampak lebih muda, tapi karena saya sedang membuat disertasi di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. UIN diprotes oleh serombongan orang karena saya orang Syiah. Mereka minta saya dipecat dari kandidat Doktor.Mereka menuntut, kalau pihak UIN tidak mengharamkan Jalaludin Rakhmat sebagai kandidat Doktor, maka mereka akan menghalalkan darah saya. Saya diancam, kalau nanti saya ujian akhir Doktor, mereka akan menumpahkan darah saya. Tapi UIN mempertahankan saya karena mereka menentukan kandidat Doktor berdasarkan pertimbangan ilmiah, bukan berdasarkan mazhab. UIN Makassar menyatakan tidak apa-apa jika nanti mereka dipanggil polisi.

Disertasi saya soal “Pergeseran dari Sunnah Nabi kepada Sunnah Sahabat Nabi.” Maksudnya, kita kan beragama Islam berdasarkan sunnah Nabi. Padahal sebetulnya menurut hipotesis saya, yang kita jalankan bukan Sunnah Nabi, tapi sunnah Sahabat. Sunnah Nabi malah ditinggalkan. Itulah yang menimbulkan kemarahan beberapa ulama di sana yang tergabung dalam kelompok Wahdah Islamiyah.

Oleh karena itu mereka menuntut saya untuk dihukum mati. Mereka juga pernah melaporkan saya ke polisi untuk ditangkap, tapi tidak digubris. Saya sebenarnya bisa menuntuk balik karena mereka mengancam nyawa saya. Saya pernah dianjurkan oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM untuk berhubungan dengan Mabes Polri supaya saya dapat perlindungan keamanan, karena ancaman kepada saya sudah riil.

Kompas juga waktu itu pernah memberitakan, pernah datang rombongan teroris dari Mindanao ke sebuah pesantren di Flores. Dikatakan mereka akan menyerang santri-santri Syiah dan membunuh tokoh-tokoh Syiah di Indonesia. Menurut berita lain, disebutkan nama-nama tokoh itu, antara lain Jalaludin Rakhmat.

Kang Jalal Dialog di Kemenag Bersama 50 Doktor Hadis dan Ahli Sejarah, Wahabi terdiam !

13 September 2012 | 15:11

Kang Jalal Dialog di Kemenag Bersama 50 Doktor Hadis dan Ahli Sejarah

13475240481802178134

Ustadz Jalaluddin Rakhmat, Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia

pada Kamis, 13 September 2012, telah berlangsung Dialog Sunni-Syiah di Kemenag (Kementerian Agama).

Dialog ini dihadiri 50 doktor ahli hadis dan sejarah dengan narasumber Ustdaz Jalaluddin Rakhmat dari IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia).

Ustadz Jalal atau yang biasa disapa Kang Jalal menjelaskan bagaimana ilmu Jarh wa Ta’dil dihadapan para ahli hadis dan ahli sejarah dari seluruh Indonesia yang hadir.

Ustadz Jalal menyampaikan hadis-hadis Ghadir Khum dan memberikan informasi link-link website untuk para peneliti yang akan mempelajarinya. Acara berjalan dengan baik. Tidak ada bantahan yang bersifat keras. Malah mereka meminta link dan e-book referensi hadis-hadis tentang Islam Syiah.

Sebuah informasi yang bagus. Memang yang harus didahulukan adalah dialog dan beradu argumenatsi bukan serangan fisik atau hujatan. Inilah yang saya kira termasuk dalam program kesepakatan bersama dengan pemerintah: MUI, Kemenag, Kemdagri, dan ormas IJABI, ABI, dan PBNU.

Salah satu poin dari kesepakatan yang ditandatangani pada Senin, 10 September 2012 di Kemdagri Jakarta Pusat itu adalah bahwa “Semua pihak sepakat melakukan dialog-dialog secara terus-menerus menciptakan hubungan harmonis internal umat Islam.

Dan… Kemenag membuktikannya dengan menggelar dialog perdana bersama Ustadz Jalal. Saya berharap nanti bakal muncul dialog-dialog yang mencerahkan yang difasilitasi pemerintah yang mengedepankan ilmiah dan ukhuwah. Bravo…. dan tegaklah Ukhuwah Islamiyyah di Indonesia.

kehebatan wahabi selama ini adalah keberhasilannya dalam menipu kaum Muslim, mengarang ngarang di web anti syi’ah dan mengada ada tentang NU

Mengenal Wahabi:
Arab Saudi dan Pengkhianatan Keluarga Sa’ud
.

kehebatan wahabi selama ini adalah keberhasilannya dalam menipu kaum Muslim, mengarang ngarang di web anti syi’ah dan mengada ada tentang NU

.

Salah satu kehebatan wahabi selama ini adalah keberhasilannya dalam menipu kaum Muslim, seakan-akan negaranya merupakan cerminan dari negara Islam yang menerapkan al-Quran dan Sunnah. Keluarga Kerajaan juga menampilkan diri mereka sebagai pelayan umat hanya karena di negeri mereka ada Makkah dan Madinah yang banyak dikunjungi oleh kaum Muslim seluruh dunia
.
Saudi juga terkesan banyak memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok Islam maupun negeri-negeri Islam untuk mencitrakan mereka sebagai ‘pelayan umat’ dan penjaga dua masjid suci (Khadim al-Haramain). Akan tetapi, citra seperti itu semakin pudar mengingat sepak terjang keluarga Kerajaan selama ini, terutama persahabatannya dengan AS yang mengorbankan kaum Muslim. 

 Arab Saudi dan Pengkhianatan Keluarga SaArab Saudi merupakan salah satu negara di Dunia Islam yang cukup strategis, terutama karena di negara tersebut terdapat Baitullah di Makkah yang menjadi pusat ibadah haji kaum Muslim seluruh dunia. Apalagi perjalanan Islam tidak bisa dilepaskan dari wilayah Arab Saudi. Sebab, di sanalah Rasulullah saw. lahir dan Islam bermula hingga menjadi peradaban besar dunia. Arab Saudi juga sering menjadi rujukan dalam dunia pendidikan Islam karena di negara tersebut terdapat beberapa universitas seperti King Abdul Aziz di Jeddah dan Ummul Qura di Makkah yang menjadi tempat belajar banyak pelajar Islam dari seluruh dunia. Dari negara ini, muncul Gerakan Wahabi yang banyak membawa pengaruh di Dunia Islam. Lebih jauh, Saudi sering dianggap merupakan representasi negara Islam yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah.

Namun demikian, di sisi lain, Saudi juga merupakan negara yang paling banyak dikritik di Dunia Islam. Sejak awal pembentukannya, negara ini dianggap memberontak terhadap Khilafah Utsmaniyah. Sejarahnya juga penuh dengan pertumpahan darah lawan-lawan politiknya. Banyak pihak juga menyoroti tindakan keras yang dilakukan oleh rezim ini terhadap pihak-pihak yang menentang kekuasaan Keluarga Saud. Tidak hanya itu, Saudi juga dikecam karena menyediakan daerahnya untuk menjadi pangkalan militer AS. Kehidupan keluarga kerajaan yang penuh kemewahan juga banyak menjadi sorotan. Secara ekonomi, Saudi juga menjadi incaran negara-negara besar di dunia karena faktor kekayaan minyaknya.

MEMBERONTAK KEPADA NEGARA ISLAM, BERSEKUTU DENGAN INGGRIS

Secara resmi, negara ini memperingati kemerdekaannya pada tanggal 23 September. Pada saat itulah, tahun 1932, Abdul Aziz—dikenal juga dengan sebutan Ibnu Sa‘ud—memproklamirkan berdirinya Kerajaan Saudi Arabia (al-Mamlakah al-‘Arabiyah as-Su‘udiyah). Abdul Aziz pada saat itu berhasil menyatukan dinastinya; menguasai Riyad, Nejed, Ha-a, Asir, dan Hijaz. Abdul Aziz juga berhasil mempolitisasi pemahaman Wahabi untuk mendukung kekuatan politiknya. Sejak awal, Dinasti Sa‘ud secara terbuka telah mengumumkan dukungannya dan mengadopsi penuh ide Wahabi yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang kemudian dikenal dengan Gerakan Wahabi. Dukungan ini kemudian menjadi kekuatan baru bagi Dinasti Sa‘ud untuk melakukan perlawanan terhadap Khilafah Islamiyah.

Hanya saja, keberhasilan Dinasti Sa‘ud ini tidak lepas dari bantuan Inggris. Mereka bekerjasama untuk memerangi pemerintahan Khilafah Islamiyah. Sekitar tahun 1792-1810, dengan bantuan Inggris mereka berhasil menguasai beberapa wilayah di Damaskus. Hal ini membuat Khilafah Islamiyah harus mengirim pasukannya untuk memadamkan pemberontakan ini. Fase pertama, pemberontakan Dinasti Saud berhasil diredam setelah pasukan Khilafah Islamiyah berhasil merebut kota ad-Diriyah.

Namun kemudian, beberapa tahun kemudian, Dinasti Sa‘ud, di bawah pimpinan Abdul Aziz bin Abdurrahman, berupaya membangun kembali kekuataannya. Apalagi pada saat itu, Daulah Khilafah Islamiyah semakin melemah. Pada tahun 1902, Abdul Aziz menyerang dan merebut kota Riyadh dengan membunuh walinya (Gubernur Khilafah ar-Rasyid). Pasukan Aziz terus melakukan penaklukan dan membunuh pendukung Khilafah Utsmaniyah dengan bantuan Inggris.

Salah satu sahabat dekat Abdul Aziz Abdurrahman adalah Harry St. John Pilby, yang merupakan agen Inggris. Philby menjuluki Abdul Aziz bin Abdurrahman sebagai “Seorang Arab yang Beruntung”, sementara Abdul Aziz menjulukinya dengan “Bintang Baru dalam Cakrawala Arab”. Philby adalah orang Inggris yang ahli Arab yang telah lama menjalin hubungan baik dengan Keluarga Sa‘ud sejak misi pertamanya ke Nejed pada tahun 1917. Pada tahun 1926, Philby tinggal di Jeddah. Dikabarkan kemudian, Philby masuk Islam dan menjadi anggota dewan penasihat pribadi Raja pada tahun 1930. (Lihat: Goerge Lenczowsky, Timur Tengah di Tengah Kencah Dunia, hlm. 351).

Kerjasama Dinasti Sa‘ud dengan Inggris tampak dalam perjanjian umum Inggris-Arab Saudi yang ditandatangani di Jeddah (20 Mei 1927). Perjanjian itu, yang dirundingkan oleh Clayton, mempertegas pengakuan Inggris atas ‘kemerdekaan lengkap dan mutlak’ Ibnu Sa‘ud, hubungan non-agresi dan bersahabat, pengakuan Ibnu Sa‘ud atas kedudukan Inggris di Bahrain dan di keemiran Teluk, serta kerjasama dalam menghentikan perdagangan budak (ibidem, hlm. 351). Dengan perlindungan Inggris ini, Abdul Aziz (yang dikenal dengan Ibnu Sa‘ud) merasa aman dari berbagai rongrongan.

Pada tahun 1916, Abdul Aziz menerima 1300 senjata dan 20.000 keping emas dari Inggris. Mereka juga berunding untuk menentukan perbatasan negerinya, yang ditentukan oleh Percy Cox, utusan Inggris. Percy Cox mengambil pinsl dan kertas kemudian menentukan (baca: memecah-belah) perbatasan negeri tersebut. Tidak hanya itu, Inggris juga membantu Ibnu Sa‘ud saat terjadi perlawanan dari Duwaish (salah satu suku Nejed). Suku ini menyalahkan Ibnu Saud yang dianggap terlalu menerima inovasi Barat. Sekitar tahun 1927-1928, Angkatan Udara Inggris dan Pasukan Ibnu Sa‘ud mengebom suku tersebut. Mengingat kerjasama mereka yang sangat erat, Inggris memberi gelar kebangsawanan ‘sir’ untuk Abdul Aziz bin Abdurrahman.

PERSAHABATAN DENGAN AS

Persahabatan Saudi dengan AS diawali dengan ditemukannya ladang minyak di negara itu. Pada 29 Mei 1933, Standart Oil Company dari California memperoleh konsesi selama 60 tahun. Perusahaan ini kemudian berubah nama menjadi Arabian Oil Company pada tahun 1934. Pada mulanya, pemerintah AS tidak begitu peduli dengan Saudi. Namun, setelah melihat potensi besar minyak negara tersebut, AS dengan agresif berusaha merangkul Saudi. Pada tahun 1944, Deplu AS menggambarkan daerah tersebut sebagai, “sumber yang menakjubkan dari kekuatan strategi dan hadiah material yang terbesar dalam sejarah dunia (a stupendous source of strategic power and the greatest material prize in the world’s history).”

Untuk kepentingan minyak, secara khusus wakil perusahaan Aramco, James A. Moffet, menjumpai Presiden Roosevelt (April 1941) untuk mendorong pemerintah AS memberikan pinjaman utang kepada Saudi. Utang inilah yang kemudian semakin menjerat negara tersebut menjadi ‘budak’ AS. Pada tahun 1946, Bank Ekspor-Impor AS memberikan pinjaman kepada Saudi sebesar $10 juta dolar. Tidak hanya itu, AS juga terlibat langsung dalam ‘membangun’ Saudi menjadi negara modern, antara lain dengan memberikan pinjaman sebesar $100 juta dolar untuk pembangunan jalan kereta api yang menghubungkan ibukota dengan pantai timur dan barat. Tentu saja, utang ini kemudian semakin menjerat Saudi.

Konsesi lain dari persahabatan Saudi-AS ini adalah penggunaan pangkalan udara selama tiga tahun oleh AS pada tahun 1943 yang hingga saat ini terus dilanjutkan. Pangkalan Udara Dhahran menjadi pangkalan militer AS yang paling besar dan lengkap di Timur Tengah. Hingga saat ini, pangkalan ini menjadi basis strategis AS, terutama saat menyerang negeri Muslim Irak dalam Perang Teluk II. Penguasa keluarga Kerajaan Saudi dengan ‘sukarela’ membiarkan wilayahnya dijadikan basis AS untuk membunuhi sesama saudara Muslim. AS pun kemudian sangat senang dengan kondisi ini.

Pada tahun 1947, saat Putra Mahkota Emir Saud berkunjung ke AS, dia menerima penghargaan Legion of Merit atas jasanya kepada sekutu selama perang. Hingga saat ini, persahabatan AS dan Saudi terus berlanjut walaupun harus menyerahkan loyalitasnya kepada AS dan membunuh sesama Muslim.

NEGARA ISLAM SEMU

Salah satu kehebatan negara Saudi selama ini adalah keberhasilannya dalam menipu kaum Muslim, seakan-akan negaranya merupakan cerminan dari negara Islam yang menerapkan al-Quran dan Sunnah. Keluarga Kerajaan juga menampilkan diri mereka sebagai pelayan umat hanya karena di negeri mereka ada Makkah dan Madinah yang banyak dikunjungi oleh kaum Muslim seluruh dunia. Saudi juga terkesan banyak memberikan bantuan kepada kelompok-kelompok Islam maupun negeri-negeri Islam untuk mencitrakan mereka sebagai ‘pelayan umat’ dan penjaga dua masjid suci (Khadim al-Haramain).

Akan tetapi, citra seperti itu semakin pudar mengingat sepak terjang keluarga Kerajaan selama ini, terutama persahabatannya dengan AS yang mengorbankan kaum Muslim. Arab Saudi menjadi pendukung penuh AS baik secara politis maupun ekonomi dalam Perang Teluk II. Saudi juga mendukung serangan AS ke Afganistan dan berada di sisi Amerika untuk memerangi teroris. Untuk membuktikan kesetiaannya itu, Saudi, pada 17 Juni 2002 mengumumkan bahwa aparat keamanannya telah menahan enam orang warga negaranya dan seorang warga Sudan yang didakwa menjadi anggota Al-Qaeda. Tujuh orang itu didakwa berencana untuk menyerang pangkalan militer Amerika dengan rudal SAM 7. Masih dalam rangka kampanye AS ini, Saudi menghabiskan jutaan dolar untuk membuat opini umum—antara lain lewat iklan—bahwa Saudi adalah mitra AS dalam “perang antiterorisme.” (K.Com, Newsweek, 03/5/2002).

Penguasa Saudi juga dikenal kejam terhadap kelompok-kelompok Islam yang mengkritisi kekuasaannya. Banyak ulama berani dan salih yang dipenjarakan hanya kerena mengkritik keluarga Kerajaan dan pengurusannya terhadap umat. Tidak hanya itu, tingkah polah keluarga Kerajaan dengan gaya hidup kapitalisme sangat menyakitkan hati umat. Mereka hidup bermewah-mewah, sementara pada saat yang sama mereka membiarkan rakyat Irak dan Palestina hidup menderita akibat tindakan AS yang terus-menerus dijadikan Saudi sebagai mitra dekat.

Benarkah Saudi merupakan negara Islam? Jawabannya, “Tidak sama sekali!” Apa yang dilakukan oleh negara ini justru banyak yang menyimpang dari syariat Islam. Beberapa bukti antara lain:

Berkaitan dengan sistem pemerintahan, dalam pasal 5a Konstitusi Saudi ditulis: Pemerintah yang berkuasa di Kerajaan Saudi adalah Kerajaan. Dalam Sistem Kerajaan berarti kedaulatan mutlak ada di tangan raja. Rajalah yang berhak membuat hukum. Meskipun Saudi menyatakan bahwa negaranya berdasarkan pada al-Quran dan Sunnah, dalam praktiknya, dekrit rajalah yang paling berkuasa dalam hukum. Sementara itu, dalam Islam, bentuk negara adalah Khilafah Islamiyah, dengan kedaulatan ada di tangan Allah SWT.

Dalam sistem kerajaan, rajalah yang juga menentukan siapa penggantinya; biasanya adalah anaknya atau dari keluarga dekat, sebagaimana tercantum dalam pasal 5c: Raja memilih penggantinya dan diberhentikan lewat dekrit kerajaan. Siapa pun mengetahui, siapa yang menjadi raja di Saudi haruslah orang yang sejalan dengan kebijakan AS. Sementara itu, dalam Islam, Khalifah dipilih oleh rakyat secara sukarela dan penuh keridhaan.

Dalam bidang ekonomi, dalam praktiknya, Arab Saudi menerapkan sistem ekonomi kapitalis. Ini tampak nyata dari dibolehkannya riba (bunga) dalam transaksi nasional maupun internasional di negara itu. Hal ini tampak dari beroperasinya banyak bank ‘ribawi’ di Saudi seperti The British-Saudi Bank, American-Saudi Bank, dan Arab-National Bank. Hal ini dibenarkan berdasarkan bagian b pasal 1 undang-undang Saudi yang dikeluarkan oleh Raja (no M/5 1386 H).

Saudi juga menjadi penyumbang ‘saham’ IMF, organisasi internasional bentuk AS yang menjadi ‘lintah darat’ yang menjerat Dunia Islam dengan riba. Saudi adalah penanam saham no. 6 yang terbesar dalam organisasi itu. Ada bukti lain yang menunjukkan bahwa ekonomi Saudi adalah ekonomi kapitalis, yakni bahwa Saudi menjadikan tambang minyak sebagai milik individu (keluarga Kerajaan dan perusahaan asing), padahal minyak adalah milik umum (milkiyah ‘amah) yang tidak boleh diberikan kepada individu.

Kerajaan Saudi juga dibangun atas dasar rasialisme dan nasionalisme. Hal ini tampak dari pasal 1 Konstitusi Saudi yang tertulis: Kerajaan Saudi adalah Negara Islam Arab yang berdaulat (a sovereign Arab Islamic State). Sementara itu, dalam Islam, Khilafah adalah negara Islam bagi seluruh kaum Muslim di dunia, tidak hanya khusus orang Arab. Tidak mengherankan kalau di Saudi seorang Muslim yang bukan Saudi baru bisa memiliki bisnis atau tanah di Saudi kalau memiliki partner warga Saudi. Atas dasar kepentingan nasional, Raja Fahd pada 1997 mengusir ratusan ribu Muslim di luar Saudi (sebagian besar dari India, Pakistan, Mesir, dan Indonesia) dari Arab Saudi karena mereka dicap sebagai pekerja ilegal. Bahkan, untuk beribadah haji saja mereka harus memiliki paspor dan visa. Sementara itu, dalam Islam, setiap Muslim boleh bekerja dan berpergian di wilayah manapun dari Daulah Khilafah Islamiyah dengan bebas. Pada saat yang sama, Saudi mengundang ratusan non-Muslim dari Eropa dan tentara Amerika untuk bekerja di Saudi dan menempati pangkalan militer di negara itu. Tidak hanya itu, demi alasan keamanan keluarga Kerajaan, berdasarkan data statistik kementerian pertahanan AS, negara-negara Teluk (termasuk Saudi) sejak tahun 1990-November 1995 telah menghabiskan lebih dari 72 miliar dolar dalam kontrak kerjasama militer dengan AS. Saat ini, lebih dari 5000 personel militer AS tinggal di Saudi.

Apa yang terjadi di Saudi saat ini hanyalah salah satu contoh di antara sekian banyak contoh para penguasa Muslim yang melakukan pengkhianatan kepada umat. Tidak jarang, para penguasa pengkhianat umat ini menamakan rezim mereka dengan sebutan negara Islam atau negara yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah; meskipun pada praktiknya jauh dari Islam. Karenanya, umat Islam wajib menyadari kewajiban menegakkan Daulah Khilafah Islamiyah yang sahih, bukan semu. Daulah Khilafah Islamiyah inilah yang akan menerapkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh, yang pada giliran akan menyelesaikan berbagai persoalan umat ini. Tentu saja, hal ini harus dibarengi dengan melengserkan para penguasa pengkhianat di tengah kaum Muslim. Inilah kewajiban kita semua saat ini.

Abu Thalib dikafirkan Abu Hurairah Sang Pembuat Hadis Palsu atas perintah Mu’awiyah

Benarkah Abu Thalib Kafir ?Abu Thalib dikafirkan Abu Hurairah Sang Pembuat Hadis Palsu atas perintah Mu’awiyah

Abu Hurairah adalah mantan Yahudi yang masuk islam, lalu pada masa Mu’awiyah berkuasa dia menjadi mufti Mu’awiyah

Abū Thālib bin ‘Abdul-Muththalib (Bahasa Arab: أبو طالب بن عبد المطلب‎) (549/550619) adalah ayah dari Ali bin Abi Thalib serta paman dari Nabi Muhammad. Nama aslinya adalah Imran (Arab: عمران), tetapi ia lebih dikenal dengan julukan Abu Thalib, yang artinya bapaknya Thalib.

Sebagai pemimpin Bani Hasyim setelah kematian ayahnya, Abdul-Muththalib, ia menjadi pengasuh Nabi Muhammad dan kemudian pendukung utama dalam berdakwah. Ia menikah dengan Fatimah binti Asad dan memiliki 6 orang anak.

Abu Thalib bin Abdul Muthalib memiliki empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan, yaitu

  1. Thalib bin Abu Thalib
  2. Ja’far bin Abu Thalib
  3. Ali bin Abu Thalib
  4. Aqil bin Abu Thalib
  5. Fakhtihah binti Abu Thalib
  6. Jumanah binti Abu Thalib (Ummi Hani)

Ia adalah anak dari Abdul Muthalib dan Fatimah bin Amr dan memiliki sembilan saudara yang salah satunya adalah Abdullah bin Abdul Muthalib yang merupakan ayah dari Nabi Muhammad. Ia merupakan pengasuh dari Nabi Muhammad setelah meninggalnya Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab hingga Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid.

Setelah Muhammad diangkat sebagai rasul dan nabi, ia merupakan pelindung utama dari keluarga Bani Hasyim dari serangan masyarakat Mekkah dan sekitarnya. Ia meninggal pada tahun yang sama dengan meninggalnya Khadijah binti Khuwailid, yaitu pada tahun 619 M.

Abu Thalib adalah paman Nabi Muhammad saw. Ia adalah pemimpin bani Hasyim dan orang yang sangat terpandang di kalangan bangsa Arab.

Pada masa awal dakwahnya, Nabi Muhammad sering mendapat gangguan dan ancaman dari orang-orang kafir. Namun Nabi selalu dilindungi oleh pamannya itu. Abu Thalib selalu menjaga dan membela Nabi Muhammad.

Abu Thalib adalah seorang pahlawan pemberani pembela Nabi. Ia tak kenal takut dalam menghadapi musuh-musuh Nabi Muhammad dan Islam. Selama ada Abu Thalib, orang-orang kafir tidak berani mengusik Nabi Muhammad. Pedang Abu Thalib selalu siap mencegah setiap niat jahat orang-orang kafir itu.

Ikutilah kisah seru perjuangan Abu Thalib dalam melindungi Nabi Muhammad dan Islam dalam komik ini. Selamat membaca!

Abu Thalib Ibn Abdul Muthalib (Wafat 3 SH, nama sebenarnya adalah Abdu Manaf bin Abdul Muthalib bin Hasyim, sedang “Abu Thalib” adalah nama Panggilan yang berasal dari putra pertamanya yaitu Thalib. Abu Thalib adalah paman dan ayah asuh dari Nabi Muhammad Saww. Ia juga adalah ayah dari Ali Ibn Abi Thalib.

Abu Thalib telah menerima amanat dari ayahnya Abdul Mutthalib untuk mengasuh Nabi dan telah dilaksanakan amanat tersebut. Nabi adalah sebaik-baik asuhan dan Abu Thalib adalah sebaik-baik pengasuh. Abu Thalib membela Nabi dengan jiwa raganya dalam berdakwah. Ketika Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan pengikutnya di hadang di sebuah lembah. Lalu datanglah Abu Thalib dengan tegar berkata: “Kalian tidak akan dapat menyentuh Muhammad sebelum kalian menguburkanku”. Abu Thalib selalu setia mendampingi Nabi. Beliau adalah orang yang banyak membantu perjuangan dakwah Islam. Abu Thalib ketika mau meninggal dunia berwasiat kepada keluarganya untuk selalu berada di belakang Nabi dan membelanya untuk menenangkan dakwahnya.

Dengan reputasinya yang demikian membela dan menyayangi Nabi Saww, tak pelak membuat sebagian kalangan yang merasa heran bahwa pada akhirnya Abu Thalib wafat dalam keadaan belum menerima Islam alias kafir. Di kemudian hari keheranan sebagian kalangan ini menimbulkan gugatan2 terhadap hadist2 yang menyatakan kekafiran Abu Thalib dengan kembali melakukan kritik terhadap hadist2 tyang menyatakan kekafiran Abu Thalib. Kritik2 tersebut bertambah kencang takkala mendapati kenyataan bahwa Abu Sufyan yang terkenal sebagai dedengkot kafir Quraisy justru berada di pihak Islam dengan mengucapkan kalimah syahadat ketika peristiwa futuh Makkah.

Artikel ini bertujuan untuk mendudukan kembali perihal hadist2 tentang kekafiran Abu Thalib dan disertai dengan kritik2 yang menyertai hadist2 tersebut. Adapun percaya atau tidaknya, saya mengembalikan kepada Allah Swt semata dan penilaian objektif dari para pembaca. Berikut di bawah ini hadist2 yang menyatakan kekafiran Abu Thalib beserta kritikan terhadapnya.

1. Hadist riwayat Bukhari dan Muslim bahwa Abi Thalib menjelang wafatnya disuruh oleh Nabi Saww untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun Abu Jahal dan Abdullah Ibn Umayyah memperingatkan Abi Thalib untuk tetap berpegang teguh pada agama Abdul Muthalib. Hingga hembusan nafas terakhir, Abi Thalib tidak mengucapkan kalimat syahadat. Dan Ia wafat sebagai orang yang kafir.

Nabi sangat sediah akan kenyataan tersebut, karenanya Nabi Saww ingin memohon ampunan bagi Abu Thalib, tetapi turunlah QS: At-Taubah 113 yang melarang Nabi untuk memohonkan ampunan bagi orang2 musyrik. Nabi ingin sekali Abu Thalib mendapat petunjuk Allah, tetapi -lagi2- Allah Swt menegurnya melalui QS: Al-Qashash: 56, bahwa “Sesungguhnya Engkau tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang Engkau cintai…….”.

Jawaban:

a. Hadist riwayat Muslim pada sanad pertamanya ialah sahabat Abu Hurairah Ra. Dari sejarah kita dapat mengetahui bahwa Abu Hurairah masul Islam pada perang Khaibar dan ini disepakati oleh para ahli tarikh (sejarah Islam), yaitu pada tahun ke-7 Hijriyyah. Sedangkan peristiwa Abu Thalib wafat adalah satu atau dua tahun sebelum Rassul Saww hijrah ke Madinah (sebagai awal dari tahun hijriyyah). Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana Abu Hurairah dapat meriwayatkan hadist tentang wafatnya Abu Thalib sementara ia tak hadir di sana?, bahkan jika kita meniilik dari bahasa hadist, seakan Ia -Abu Hurairah- turut hadir dan menyaksikan peristiwa wafatnya Abu Thalib. Bukankah ia belum masuk Islam pada waktu itu?. Dan ini kejanggalan pertama.

Dalam riwayat Muslim, Abu Hurairah berkata, “Rasulullah bersabda kepada pamannya tatkala hendak meninggal, ‘Ucapkanlah Laa ilaaha illallah. ‘ aku akan bersaksi untukmu dengan kalimat itu hari kiamat. Akan tetapi Abu Thalib enggan mengucapkannya, maka Allah pun menurunkan ayat: (Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi…) (HR. Muslim)

b. Mengenai QS: At-Taubah 113. Para ahli tafsir mengatakan bahwa ayat tersebut termasuk ayat terakhir yang turun di Madinah. Sementara QS: Al-Qashash turun pada waktu perang Uhud. Dari sini kita telah mendapatkan kejanggalan, yaitu jarak bertahun2 yang menjadi selisih antara turunnya kedua ayat tersebut. Jadi ayat tersebut tidak turun pada satu kesempatan untuk menjelaskan peristiwa yang sama, yaitu wafatnya Abu Thalibb.

Kejanggalan ini belum ditambah dengan fakta bahwa QS; At-Taubah: 113, ialah ayat yang turun di Madinah, sementara Abu Thalib wafat di Makkah (sebelum hijrah). Bukankah suatu kejanggalan bahwa ayat yang turun di Madinah menjadi penjelasan terhadap peristiwa yang turun di Makkah?.

2. Hadist Ad-Dhahdah dalam riwayat Bukhari dan Muslim:

Bersumber dari Abdullah bin Al Harits, beliau berkata, “Aku mendengar Al Abbas berkata, Aku bertanya kepada Rasullulah saw., ‘Ya Rasulullah! Abu Thalib dulu merawatmu dan menolongmu. Lalu apakah itu ada manfaatnya baginya?” Rasullulah saw. Bersabda: “Ya! Aku menemukannya berada diluapan neraka, lalu aku mengeluarkannya ke kedangkalan.” Bersumber dari Ibnu Abbas, bahwa Rasullulah saw. Bersabda: “Ahli neraka yang paling ringan adalah Abu Thalib. Dia memakai sepasang terompah yang menyebabkan otaknya mendidih.”

Jawaban:

Kata “dhahdah diterjemahkan sebagai “kedangkalan”. Dalam kamus bahasa Arab Dhahdhah diartikan sebagai “bagian yang tergenang air di permukaan bumi yang genangannya mencapai mata kaki.”. Kemudian genangan air yang dangkal ini digunakan untuk menggambarkan permukaan neraka. Coba kita telaah hadis-hadis tadi, secara kritis.

- Jika kita perhatikan orang-orang yang meriwayatkan hadis (rijal), hamper semuanya termasuk rangkaian para pendusta dan mudallis, atau tidak dikenal. Muslim menerima hadis ini dari Ibnu Abi ‘Umar yang dinilai para ahli sebagai majhul. Ibnu Abi ‘Umar menerimanya dari Sufyan al-Tsauri. Syufan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizan al-I’tidal sebagai “innahu yudallis wa yaktubu mi al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Syufan menerimanya dari Abdul Malik bin ‘Umayr, yang panjang usianya dan buruk hafalannya. Kata Abu Hatim: Tidak bisa dipercaya hafalannya. Dengan demikian hadis ini wajib kita pertanyakan kembali kevaliditasannya.

Dengan mempertimbangkan berbagai kejanggalan2 hadist di seputar wafatnya Abu Thalib dalam keadaan kafir, seyogyanya kita bersikap menahan diri terhadap pengkafiran diri Abu Thalib. Terlebih menimbang pada kenyataan bahwa Abi Thalib adalah termasuk dari sebagian gelintir orang yang membela dakwah Nabi Muhammad Saww pada awal perkembangan Islam di Makkah. Niscaya tanpa perlindungan dari Abu Thalib, Islam tidak akan menyebar hingga kita-pun dapat merasakan nikmatnya hidup di bawah panji2 Islam. Alangkah baiknya bila kita menahan lidah untuk mengkafirkan orang2 yang disayangi oleh Rassulallah Saww. Saya pribadi sebagai muslim Sunni bersikap untuk menahan diri dan menyerahkan vonis mengenai Abu Thalib kepada Allah Swt semata, dan seluruhnya kembali kepada Allah Swt.

Salam Gitu Aja koq repot

Selamat menikmati hidangan.

NB: Tadlis: istilah dalam ilmu hadist, yaitu perawi meriwayatkan suatu hadits yang hadits tersebut tidak pernah
didengarnya, tanpa menyebutkan bahwa perawi pernah mendengar hadits tersebut darinya.

Fathimah as dengan hati yang duka dan terluka bersimpuh di pusara ayahandanya untuk melaporkan padanya tentang penyimpangan penyimpangan dan keadaan yang telah berubah secara drastis sepeninggal ayahnya.

Sungguh Allah Ta’ala dengan iradah azaliyah-Nya telah menghadirkan seorang wanita, yang langit dan bumi belum pernah dan tidak akan pernah menyaksikan, sebelum dan sesudahnya, wanita seperti dia. Ia dilahirkan dari dua manusia suci. Yang satu Muhammad bin Abdullah, ayahandanya yang sangat menyayanginya, yang sekaligus merupakan seorang Nabi yang paling mulia di antara Nabi yang diutus, dan makhluk Tuhan yang paling dicintai-Nya. Yang satunya lagi adalah ibunda tercintanya, Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita yang mengorbankan segala yang dimilikinya demi kebenaran.

Tidak heran kalau sang bayi mungil, yang terlahir dari dua orang suci tersebut, mewarisi segala kemuliaan dan kebesaran kedua orang tuanya, dan kelak bumi dan langit serta segala isinya akan menjadi saksi tentang ketegaran dan keagungan bayi tersebut.

Kehadirannya di tengah-tengah bangsa yang biadab, keras kepala dan yang mengubur wanita hidup-hidup, menjadikannya lebih cemerlang dan bersinar. Semua itu terjadi bukan secara kebetulan dan tanpa perhitungan, akan tetapi akibat dari sebuah rekayasa Tuhan yang amat cermat dan tepat.

Dia lahir lima tahun setelah ayahanda tercintanya diberi tugas yang amat berat dan sangat suci, yaitu untuk menyelamatkan seluruh umat manusia dari kehancuran menuju kedamaian. Sang bayi mungil, sebagaimana bayi-bayi lainnya, mendapatkan belaian kasih sayang dari kedua tangan ibundanya dan curahan kecintaan dari kedua mata ayahandanya.

Dia mulai menyadari, bahwa kehadirannya benar-benar merupakan anugerah Tuhan untuk kedua orang tuanya. Hari demi hari silih berganti, dilewatkannya dengan penuh keindahan dan kesenangan. Namun kesenangan dan keceriaan si kecil tadi hanyalah merupakan satu episode khusus dari serangkaian episode skenario Tuhan yang penuh keharuan, kesedihan, deraian air mata dan tekanan batin. Seakan-akan sang Sutradara Agung yang Maha bijak hendak menampilkannya sebagai sosok yang menjadi tumbal keserakahan umat manusia.

Disaat Fathimah kecil beranjak usia lima tahun, ibunda tercintanya pergi untuk selamanya. Dan segera setelahnya, paman ayahanda beliau yang kharismatik, Abu Thalib, juga menyusul ke alam baqa. Belaian kasih sayang kedua tangan ibundanya tidak akan pernah dialaminya lagi.

Sejak kepergian Abu Thalib dan khadijah, Fathimah kecil harus bersiap-siap menghadapi kegetiran dan kepahitan hidup. Serigala-serigala padang pasir yang lapar dan sadis, sudah mulai meneteskan air liurnya dan meraung-raung yang menandakan pesta jahiliyah segera dimulai.

Mereka tidak sabar lagi untuk merobek-robek relung hati si kecil yang suci, Fathimah, yang baru saja kehilangan ibundanya. Maka babak baru kehidupan Fathimah kecil yang sangat berbeda dengan sebelumnya, segera dimulai.

Ketegaran yang diwarisi Fathimah kecil dari ibunda dan ayahandanya, tidak menjadikannya sebagai seorang anak kecil yang mudah merengek. Dia tampil seakan-akan seorang wanita dewasa yang matang dan penuh pengertian.

Jika dia menangis, hal itu bukan karena dan untuk dirinya sendiri, tetapi disebabkan dan untuk ayahandanya dan para sahabatnya yang senantiasa diganggu dan disiksa kaum musyrikin.

Para ahli sejarah menceritakan, bahwa pernah suatu waktu ketika Rasulullah saaw sedang menunaikan shalat di mesjid al-Haram, beliau tunduk bersujud di hadapan Sang Pencipta. Tiba-tiba datanglah sejumlah pembesar Quraisy menghampirinya dan melempari kepala dan punggung beliau dengan kotoran binatang. Beliau diam dan tetap meneruskan sujudnya.

Fathimah kecil menyaksikan sendiri perbuatan amoral yang menimpa ayahandanya itu di hadapan kedua matanya yang bening. Lalu dia segera mendekatinya dan membersihkan kotoran binatang tersebut dari kepala dan punggung ayahandanya dengan kedua tangannya yang lembut. Kedua matanya berderai air mata.

Sekali-sekali terdengar isak tangis dari rongga dadanya yang dalam, keluar tidak tertahan lagi. Rasulullah saaw segera menatap muka Fathimah yang sedih, kemudian memeluknya sambil bersabda, “Putriku, janganlah engkau bersedih. Hal ini tidak akan berlangsung lama, sambil menghiburnya.”

Betapa besar perjuangan dan pembelaan Fathimah terhadap ayahandanya, sehingga posisi Fathimah seakan-akan tidak lagi sebagai putri Rasulullah. Tetapi sebaliknya, Fathimah yang begitu dewasa dan matang pribadinya dan selalu berada di samping ayahandanya, seakan-akan menjadi ibu bagi ayahandanya sendiri. “Fathimah Ummu Abihaa,” demikianlah Rasulullah saaw menggelarinya.

Sebagai seorang putri Rasulullah saaw, Fathimah hidup penuh kesederhanaan. Dalam kitab-kitab hadis diriwayatkan, bahwa Salman al-Farisi kelaparan, lalu dia berkeliling ke rumah istri-istri Nabi yang sembilan, tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa. Ketika hendak kembali, dia melihat rumah Fathimah. Kepada dirinya dia bergumam, “Mudah-mudahan ada rezeki di rumah Fathimah putri Muhammad saaw.”

Kemudian dia mengetuk pintu rumah Fathimah. Dari balik pintu terdengar suara, “Siapa di balik pintu ?”  “Aku, Salman al-Farisi,” sahut Salman.  “Wahai Salman, apa yang anda inginkan ? tanya Fathimah. Lalu Salman menceritakan maksudnya.

Setelah itu Fathimah berkata, “Wahai Salman, demi Yang mengutus Muhammad saaw dengan kebenaran sebagai Nabi. Sungguh, aku sudah tidak makan selama tiga hari. Demikian pula al-Hasan dan al-Husain, gemetar sekujur tubuhnya karena lapar yang sangat. Lalu keduanya tertidur bagaikan dua ekor anak burung yang tidak berbulu. Tapi aku tidak menolak kebaikan, jika datang di pintuku,” jelas Fathimah.

Kemudian Fathimah melanjutkan perkataannya, “Wahai Salman, ambilah baju perang ini, lalu pergilah kepada Syam’un Yahudi dan katakan kepadanya, bahwa Fathimah putri Muhammad berkata kepadamu, “Berilah aku hutang seikat kurma dan gandum, dengan jaminan baju besi ini. Nanti Insya Allah aku akan membayarnya kepadamu.”

Lalu Salman mengambil baju besi itu dan membawanya kepada Syam’un Yahudi. “Wahai Syam’un, ini adalah baju besi Fathimah putri Muhammad saaw. Dia berkata kepadamu, Berilah aku hutang seikat kurma dan gandum, dengan jaminan baju besi ini, nanti Insya Allah aku akan membayarnya kepadamu.”

Kemudian Syam’un mengambil baju besi tersebut, dan membolak-balikkannya dengan telapak tangannya, sementara kedua matanya berderai air mata sambil berkata, “Wahai Salman, inilah kezuhudan dalam dunia. Inilah yang diberitakan oleh Musa bin Imran kepada kami di dalam Taurat. Kini aku bersaksi, bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Si Yahudi tersebut akhirnya masuk Islam.

Selain hidupnya yang amat sederhana dan kepedulian sosialnya yang sangat tinggi, siti Fathimah as. juga dikenal sebagai seorang yang abidah (ahli ibadah).

Al-Hasan bin Ali as. berkata, “Aku melihat ibuku, Fathimah berdiri di mihrabnya pada malam jum’at. Beliau senantiasa ruku dan sujud hingga cahaya fajar menyingsing. Aku mendengar dia mendoakan orang-orang mukmin dan mukminat, bahkan menyebutkan nama-nama mereka satu demi satu. Dia banyak mendoakan mereka, tetapi tidak pernah mendoakan dirinya.

Lalu aku bertanya kepadanya, “Wahai ibu, mengapa engkau tidak mendoakan dirimu sendiri, sebagaimana ibu mendoakan yang lainnya ? Beliau menjawab, “Wahai anakku, tetangga lebih didahulukan, baru rumah sendiri.”

Fathimah juga adalah seorang muslimah yang sangat afifah. Pernah suatu waktu Nabi bertanya kepadanya, “Apa yang terbaik bagi wanita ?  Yaitu wanita yang tidak melihat laki-laki dan tidak dilihat laki-laki,” jawabnya dengan yakin. Lalu Nabi memeluknya sambil membacakan ayat berikut, “Satu keturunan yang sebagiannya dari yang lain.” (QS. Ali-Imran : 34).

Fathimah as. yang sejak usia dini sudah menderita, maka penderitaan baginya menjadi suatu yang biasa. Penderitaan, tekanan dan kehidupan yang demikian pas-pasan telah menghiasi kehidupan Fathimah. Ironisnya, penderitaan dan kepedihan tersebut makin menguat sepeninggal ayahandanya tercinta.

Jika Fathimah ketika kecil dan dewasa menyaksikan dengan sedih gangguan dan rongrongan kaum musyrikin terhadap ayahandanya, maka sepeninggal ayahandanya hingga akhir hayatnya, Fathimah menyaksikan penghianatan dan ekploitasi umat ayahandanya terhadap suaminya Ali dan dirinya sendiri.

Sudah tentu yang terakhir lebih melukai dan menyakitkan hatinya. Simaklah kisah berikut, ketika Fathimah as. bersimpuh di pusara ayahandanya, untuk melaporkan padanya tentang keadaan yang telah berubah secara drastis sepeninggal ayahnya. Dengan suara parau dan mengharukan dia berkata, “Wahai ayahku, sepeninggalmu sungguh betapa banyak berita duka dan tekanan terhadapku. Sekiranya engkau masih berada di tengah-tengah kami, maka keserakahan-keserakahan itu tidak akan banyak.”

Walaupun Fathimah masih berduka dengan kematian ayahandanya tercinta, dia tetap tampil tegar ketika melihat adanya penyimpangan-penyimpangan di tengah masyarakat Islam.

Sejarah telah merekamkan untuk kita, bahwa setelah meninggal ayahandanya, lalu kaum muslimin mengangkat Abu bakar sebagai khalifah, maka Siti Fathimah naik mimbar dan berkhutbah di hadapan kaum Anshar dan Muhajirin. Dalam khutbahnya, Siti Fathimah menjelaskan tentang Tauhid, Kenabian dan Kepemimpinan serta memperingatkan penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan sejumlah kaum muslimin.

Banyak dari kalangan sahabat Nabi yang menangis mendengarkan khutbah dan peringatan Fathimah tersebut.

Akhirnya Fathimah berpulang ke haribaan Tuhan, enam bulan setelah kepergian ayahandanya. Fathimah pergi dengan hati yang duka dan terluka. Fathimah diciptakan seakan-akan hanya untuk mendampingi ayahandanya. Sejak dia berusia lima tahun, dia sudah menjadi seorang ibu bagi ayahandanya. Kemudian setelah sang ayah pergi, diapun segera pergi menyusulnya. []

Besar nian jasamu wahai Fathimah,

dalam membela ayahmu.

Sungguh panjang dan dalam deritamu,

sejak ayahmu menjadi bulan-

bulanan kaum musyrikin.

Betapa sakit dan pedih hatimu

dikala engkau menyaksikan

pengkhianatan dan penyimpangan

sebagian umat ayahmu.

Salam sejahtera atasmu,

wahai Fathimah,

di hari lahirmu,

di hari penderitaanmu dan

di hari wafatmu.

“YA RASULULLAH, sungguh engkau lebih kucintai daripada diriku dan anakku,” kata seorang sahabat suatu hari kepada Rasulullah Muhammad saw. “Apabila aku berada di rumah, lalu kemudian teringat kepadamu, maka aku tak akan tahan meredam rasa rinduku sampai aku datang dan memandang wajahmu. Tapi apabila aku teringat pada mati, aku merasa sangat sedih, karena aku tahu bahwa engkau pasti akan masuk ke dalam surga dan berkumpul bersama nabi-nabi yang lain. Sementara aku apabila ditakdirkan masuk ke dalam surga, aku khawatir tak akan bisa lagi melihat wajahmu, karena derajatku jauh lebih rendah dari derajatmu.”

Mendengar kata-kata sahabat yang demikian mengharukan hati itu, Nabi tidak memberi sembarang jawaban sampai malaikat Jibril turun dan membawa firman Allah berikut:

Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah; yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, syuhada dan orang-orang yang saleh. Dan mereka itulah teman yang se-baik-baiknya (QS. 4:69).

Cinta kepada Nabi seperti yang dapat kita simpulkan dari riwayat di atas memiliki implikasi yang sangat luas, baik secara teologis, psikologis dan sosio-logis bahkan secara eskatologis sekalipun. Dalam sebu-ah hadis Nabi pernah bersabda bahwa keimanan sese-orang harus diukur dengan barometer cintanya kepada Nabinya. La yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilaihi min nafsihi …, “Tidak beriman seseorang sehingga aku (Nabi) lebih ia cintai ketimbang dirinya sendiri…”

Mencintai Rasulullah menjadi sebuah keharu-san dalam iman. Ia menjadi prinsip, bukan opsi atau pilihan yang notabenenya adalah mau atau tidak. Se-orang Muslim harus menyimpan rasa cinta kepada Na-binya, seberapapun kecilnya. Idealnya ia mencintainya lebih dari segala sesuatu yang ia miliki, bahkan dirinya. Dan itulah pada hakikatnya iman yang paling sempurna.

Cinta memang duduk sebagai sebuah landasan untuk mengetahui siapa Muhammad saw. Karena itu cinta akan menjadi sebagai pengantar yang membawa kita bisa mengenalnya lalu kemudian mencerminkan diri padanya. Untuk mengenal Muhammad memang kita harus memulai dengan membaca riwayat hidupnya. Data-data historis tentang Muhammad pasti menyim-pan pelajaran-pelajaran yang sangat berharga. Namun yang harus kita ingat bersama adalah jangan mengukur kesalehan Muhammad hanya lewat deskripsi historis semata-mata. Sebab data-data historis tersebut tidak lebih dari sebuah deskripsi lahiriah yang kurang sarat dengan substansi “keilahian” Muhammad saw. Semen-tara keagungannya justru ada pada maqam keilahiannya yang sangat tinggi seperti yang sering kita dengar da-lam sebuah doa tentangnya, “wa ib’atshu maqâmam mahmudalladzi wa’adtahu…”

Ketinggian maqam Muhammad tentu bukan hal yang mudah untuk diketahui. Bahkan hampir-hampir mustahil. Namun dengan melihat hadis berikut mung-kin saja bisa mengantar kita untuk sedikit mengetahui siapa itu Muhammad lewat lisannya sendiri.

Nabi saw bersabda “Aku adalah Ahmad tanpa mim (m)”. Ahmad tanpa mim (m) akan berarti ahad (Esa), yang merupakan sifat Allah yang sangat unik.  Mim yang merupakan simbol personafikasi dan manifestasi Allah dalam diri Muhammad pada hakekatnya adalah bayangan Ahad yang ada di alam semesta. Mim adalah wasilah antara makhluk dengan Khaliqnya. Mim ada-lah jembatan yang menghubungkan para kekasih Allah dengan Sang Kekasihnya yang mutlak. Dengan kata lain Muhammad adalah mediator antara makhluk dengan Allah Swt. Dialah mazhar al-Haq atau tempat kebenaran dan realitas Allah menampak di dunia ini. Dialah “Zahir”nya Allah di tengah makhluk-makhluk-Nya. Dialah aktivitas Allah yang dapat dilihat manusia dengan matanya, karena Allah Swt sendiri tak dapat dilihat. Iqbal berkata,

Duhai Rasul Allah
Dengan Allah aku berbicara melalui tabirmu
Denganmu tidak
Dialah Batinku
Dikaulah Zahirku

Menurut Iqbal, Muhammad benar-benar berfungsi “mim” yang “membumikan” Allah dalam kehidupan manu-sia. Dialah “Zahir”nya Allah; dialah Syâfi’ (yang memberikan syafaat, per-tolongan dan rekomen-dasi) antara makhluk dengan Tuhannya. Keti-ka Anda ingin merasakan kehadiran Allah dalam diri Anda, hadirkan Mu-hammad. Ketika Anda ingin disapa oleh Allah, sapalah Muhammad. Ketika Anda ingin dicintai Allah, cintailah Muhammad. Qul inkuntum tuhib-bûnallâh fat tabi’ûnâ yuh-bibkumullâh, “apabila kali-an cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Muhammad) kelak Allah akan cinta kepada kalian.”

Kepada orang seperti inilah kita diwajibkan cin-ta, berkorban dan bermohon untuk selalu bersamanya, di dunia dan akhirat. Sebab seperti kata Nabi, “Setiap orang akan senantiasa bersama orang yang dicintai-nya.”

Bukankah setiap kali kita mencintai sesuatu ma-ka kita akan mencari tahu segala hal yang berkaitan dengannya. Bahkan mungkin kita ingin menghadir-kannya selalu dalam liku-liku hidup kita. Bila Anda mencintai Imam Khomeini, misalnya, maka untuk cin-ta itu Anda akan melakukan banyak hal seperti me-nyimpan posternya, buku-bukunya, artikel-artikel yang ditulis tentangnya bahkan mungkin namanya. Cinta memang laksana air mengalir yang memindahkan se-luruh sifat dan karakter si kekasih kepada kita yang mencintainya.

Manfaat Cinta kepada Nabi Muhammad

Ketika Allah mewajibkan umat manusia untuk mencintai Nabi Muhammad saw, maka instruksi tersebut jelas bukan sebuah perintah tanpa tujuan. Ka-rena mustahil Allah akan memerintahkan sesuatu yang sia-sia. Tetapi tujuan tersebut juga bukan sesua-tu yang kepentingannya akan kembali kepada Allah atau Rasul-Nya, karena Allah Swt Mahakaya dari butuh pada sesuatu; dan Rasul-Nya juga tidak butuh pada interest tertentu. Dengan demikian mencintai Rasulullah adalah sebuah perintah yang manfaatnya semata-mata untuk kepentingan manu-sia itu sendiri. Lalu, apa manfaat dari mencintai Rasulullah?

Ada manfaat yang instant dan ada juga yang jangka panjang. Di antara manfaat yang sege-ra akan kita rasakan ada-lah terpautnya hati ini pa-da pribadi Muhammad saw. Apabila kita jujur da-lam mencintai Muhammad, maka hati kita akan merindukan Muhammad; sama persis seperti tokoh kita di atas merindukan Rasulullah. Bedanya adalah dia bisa mengobati rindunya dengan mendatangi Muhammad secara langsung. Sementara kita mengobati rindu dengan hanya menyebut-nyebut namanya. “Barang siapa mencintai sesuatu maka dia akan menyebut-nyebutnya,” kata Imam ‘Ali bin Abi Thalib kw.

Apabila kita jujur dalam mencintai Muham-mad, maka jiwa kita akan terbentuk dan tercermin pada jiwa Muhammad saw. “Bukti cinta adalah mendahulu-kan sang kekasih di atas selainnya,” begitu kata Imam Ja’far al-Shadiq as.

Apabila kita jujur mencintai Muhammad, ma-ka kita akan berupaya mencari tahu segala sesuatu ten-tang dirinya; kehidupan pribadinya, kehidupannya da-lam keluarga, dengan sesama saudara, dengan ling-kungannya, dan lain sebagainya. Apabila kita ingin mengetahui sejarah Muhammad dan segala sesuatu yang berkaitan dengan pribadi manusia yang agung ini, hendaklah diawali dengan rasa cinta terlebih dahu-lu. Apabila sudah tertanam rasa cinta, maka akan timbul sikap sungguh-sungguh untuk mengetahuinya secara akurat dan mendalam. Pengetahuan yang tidak dilan-dasi pada dasar cinta akan berakibat rancu, setengah-setengah dan kurang sempurna. Dari situ kita akan mengetahui mengapa Allah Swt mewajibkan kita un-tuk mencintai Muhammad saw, bahkan sebelum kita mengetahuinya sekalipun.

Di antara manfaat jangka panjang dari rasa cinta kita pada Muhammad saw adalah seperti yang difirmankan oleh Allah Swt dalam surat yang kita kutip di atas; bahwa dia kelak akan bersama para nabi, shid-diqin, syuhada dan orang-orang saleh. Bahkan dalam sebuah hadis Nabi saw bersabda:

Cinta padaku dan cinta pada Ahli Baitku akan membawa manfaat di tujuh tempat yang sangat mengerikan: di saat wafat, di dalam kubur, ketika dibangkitkan, ketika pembagian buku-buku catatan amal, di saat hisab, di saat penimbangan amal-amal dan di saat penitian shirat al-mustaqim.

Cinta Murni dan Cinta Semu

Ada dua jenis kategori cinta. Pertama, cinta yang berakhir dengan kebosanan. Untuk ini kita sebut saja dengan cinta semu. Kita cinta pada dunia, harta, anak-istri dan sebagainya. Cinta kita pada mereka ti-dak selamanya meluap-luap bak api membara. Ada saatnya cinta kita redup, bahkan kadang-kadang mati sama sekali. Kita mencintai anak kandung kita. Tapi apabila tiba-tiba dia durhaka pada orangtua, maka cin-ta bisa berbalik murka. Kita cinta pada dunia kita, yang halal tentunya. Tapi kadang-kadang timbul kebo-sanan sedemikian rupa sehingga kita meninggalkan-nya secara total. Cinta seperti itu adalah cinta semu, sebuah cinta yang berakhir pada kebosanan.

Kedua, cinta murni. Jenis cinta ini adalah cinta yang senantiasa hangat dan membara. Dengan cinta itu dia mengejar kekasihnya, melakukan sesuatu karena kekasihnya, bahkan mau mati semata-mata kare-na kekasihnya. Cinta seperti ini adalah cinta yang tidak pernah bosan dan berakhir. Cinta murni adalah sebu-ah cinta yang terbit untuk Allah Swt. Imam ‘Ali berka-ta: “Cinta pada Allah adalah api yang membakar segala sesuatu yang dilewatinya.” Karena cinta pada Allah, maka orang-orang mukmin mau mati di jalan-Nya. Cinta pada Allah memang bisa  membakar setiap usaha yang menghalanginya.

Imam al-Shadiq berdoa: Ya Sayyidi, aku lapar dan tidak pernah kenyang dari mencintai-Mu; aku haus dan tidak pernah puas dari mencintai-Mu. Oh… betapa rindunya pada Dia. Yang melihatku tapi aku tidak melihat-Nya

Tentu cinta pada Allah adalah sejenis cinta murni. Tidak terselubung di dalamnya rasa benci, eng-gan dan murka. Cinta pada Allah adalah cinta pada kemutlakan; cinta yang tidak bertepi dan tidak ber-ujung. Tapi bagaimana dengan cinta pada Muhammad saw? Apakah cinta kepada Muhammad yang diwajib-kan Allah kepada kita adalah sejenis cinta semu atau cinta murni. Nabi saw bersabda: Cintailah Allah karena nikmat yang telah dianugerahkan-Nya pada kalian, cintailah aku karena cinta Allah (padaku) dan cintai-lah Ahli Baitku karena cintaku pada mereka.
Dalam hadis yang lain beliau bersabda: Tidak beriman seorang hamba sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya sendiri dan itrah (keluarga)-ku lebih ia cintai ke-timbang keluarganya…

Melihat hadis ini dan hadis-hadis sejenis yang lain terasa bahwa tuntutan untuk mencintai Muham-mad dan keluarganya bukan sejenis cinta semu yang kapan pun boleh hilang atau dihilangkan. Secara ver-tikal, ketika kita mencintai mereka sebenarnya kita juga mencintai Allah dan ketika kita membenci mereka kita pun membenci Allah.

Para sahabat dan pembela Imam Husein as

Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh para sahabat dan pembela Imam Husein as adalah makrifat dan spiritualitas yang menyatu dalam jihad mereka. Terkadang keperkasaan di medan laga membuat orang congkak dan melupakan Allah. Karena itu, saat bertarung sebagian orang siap melakukan apa saja untuk mengalahkan lawannya, termasuk dengan cara-cara yang licik. Tetapi dalam kisah Karbala, kita dikenalkan dengan nilai-nilai luhur ksatria sejati yang sangat menawan, insani dan ilahi.

Para sahabat dan pembela Imam Husein as menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan kemanusiaan, fenomena yang jarang ada padanannya dalam sejarah manusia. Kecintaan mereka kepada Allah sedemikian dalam dan tulus, sehingga saat ajal syadahah kian mendekat, mereka semakin nampak merindu untuk segera berjumpa dengan Sang Khaliq. Mengingat Allah selain melipatgandakan kekuatan juga menambah ketabahan dalam menghadapi berbagai kesulitan. Dalam kondisi yang paling genting, Imam Husein as menenangkan diri dengan berzikir dan beliau mengajak orang-orang dekatnya untuk mencari ketenangan dengan mengingat Allah. Munajat dan doa-doa beliau terlebih di saat-saat menjelang syahadah menunjukkan ketinggian derajat spiritualnya.

Para sahabat Imam Husein as meneladani panutan dan junjungan mereka untuk senantiasa menyinari kalbu dengan zikir. Karena itu, mereka tak sedikitpun merasa goyah atau gentar dan tidak pula terjebak dalam buaian hawa nafsu. Karbala, benar-benar menjadi arena bagi para abid dan hamba-hamba yang saleh dalam mementaskan ibadah di malam hari dengan kekhusyukan yang tak tersifati dengan kata-kata. Saat pertempuran berlangsung, kerinduan dan cinta Ilahi juga menyertai setiap langkah mereka. Jika tak ada doa-doa dan munajat di malam hari, peristiwa Asyura tak akan pernah terjadi dalam bentuknya yang terindah.

Zuhair bin al-Qain al-Bajali, adalah sahabat Imam Husein yang ikut mementaskan kisah heroik di padang Karbala. Ia adalah orator ulung dan ksatria medan laga. Zuhair masih ingat betul masa kanak-kanaknya ketika ia bermain dengan Husein bin Ali di lorong-lorong kota Madinah. Saat Imam Husein meninggalkan Madinah, ia tak berpikir untuk menyertainya dan tidak pula tertarik ikut dalam karavan cucu Nabi itu. Tapi di dalam hatinya ada sesuatu yang sangat mengganggu.

Ia terus memikirkan apa yang bakal dialami Husein bin Ali setelah meninggalkan Madinah. Kegelisahan seakan tak mau melepaskan dirinya. Untuk itulah ia memilih untuk membawa serta keluarga dan rombongannya meninggalkan Madinah. Setiap kali karavan Imam berhenti di satu tempat, ia juga menghentikan langkah dan mendirikan kemah agak jauh dari posisi Imam Husein. Ketika Imam dan rombongannya bergerak melanjutkan perjalanan, Zuhairpun melangkah mengikuti dari kejauhan.

Mentari sudah sampai di ketinggian. Rombongan Imam berhenti. Zuhair sudah tiba terlebih dahulu di tempat itu. Kemah pun sudah ia dirikan. Imam bertanya kepada sahabat-sahabatnya, kemah siapakah itu? Mereka menjawab, kemah itu milik Zuhair bin al-Qain.

Imam lalu berkata, “Siapakah diantara kalian yang siap menyampaikan pesanku untuknya?”

Salah seorang sahabat Imam Husein menyatakan kesiapannya untuk melaksanakan tugas.

Kepadanya Imam berkata, “Semoga Allah mengganjarmu dengan kebaikan. Sampaikan salamku kepada Zuhair dan katakan kepadanya, putra Fatimah memintanya untuk bergabung.”

Menerima pesan itu, hati Zuhair terguncang. Ia harus segera mengakhiri keragu-raguan yang selama ini menghantuinya. Hanya ada dua pilihan, tetap hidup atau mengikuti Imam Husein. Zuhair tenggelam dalam pikiran. Mendadak, ia dikejutkan oleh suara istrinya yang menyuruhnya untuk memenuhi panggilan putra Fatimah. “Zuhair! Pergi dan temuilah Husein. Dengarkanlah apa yang hendak ia katakan. Jika kau tak puas dengan kata-katanya kembalilah,” kata sang istri.

Kata-kata itu bagai petir yang menyambar hati Zuhair. Ia bangkit dan segera meninggalkan kemahnya untuk menemui Imam Husein as. Zuhair belum tiba di kemah cucu Nabi itu, ketika Husein sudah menantinya di luar. Saat keduanya bertemu, Imam Husein memeluknya dengan erat seakan bertemu lagi dengan kawan dekat yang sekian lama tak dijumpainya. Tatap mata Husein menghangatkan wujud dan jiwa Zuhair. Kini ia telah memutuskan dan yakin dengan keputusannya untuk menyertai Husein putra Fatimah.

Zuhair kembali ke kemah dan menemui istrinya. Dia berkata, “Aku akan menyertai Husein. Aku merasakan cinta yang menyelimuti seluruh wujudku. Kau adalah istri yang selama ini selalu setia kepadaku. Aku memuji kesabaranmu. Tapi kini aku harus pergi dalam sebuah perjalanan yang penuh bahaya. Kupersilahkan kau untuk meninggalkanku.”

Sang istri terkejut mendengar penuturan suaminya dan menjwab, “Akulah yang menyuruhmu untuk menemui Husein dan mengikutinya. Sekarang, ketika kau memutuskan untuk memenuhi panggilan putra Fatimah, aku pun akan menyertaimu.”

Akhirnya Zuhair dan istrinya bergabung dengan rombongan Imam Husein as.

Mentari hari sembilan Muharram 61 Hijriyah sudah tenggelam di ufuk barat. Beberapa prajurit lasykar Umar bin Saad dengan komando Syimr bin Dzil Jausyan menyerang perkemahan Imam Husein as. Zuhair bersama Abbas bin Ali dan 17 orang lainnya bergerak menyambut kedatangan pasukan musuh dan menghalau mereka jika terjadi serangan. Abbas bin Ali menanyakan maksud kedatangan mereka di malam hari itu.

Mereka menjawab, “Ada surat dari Gubernur Kufah, Ubaidillah bin Ziyad yang isinya meminta kalian untuk menyerah atau harus berperang melawan kami.”

Setelah menerima surat itu, Abbas membawa dan menyerahkannya ke tangan Imam Husein as. Kesempatan itu dimanfaatkan Zuhair untuk berbicara dengan pasukan musuh.

“Takutlah kalian kepada Allah,” kata Zuhair mengawali pembicaraannya. “Aku menginginkan kebaikan untuk kalian. Jangan sampai kalian menjadi orang-orang yang membantu kaum zalim membunuh orang-orang yang saleh,” tambah Zuhair.

Kata-kata Zuhair malah disambut dengan cemoohan. Mereka berkata, “Zuhair! Bukankah kau tidak bersama keluarga ini sebelumnya?”

Zuhair menjawab, “Sekarang dengarkan supaya kalian tahu dimanakah posisiku saat ini. Aku pengikut Husein. Demi Allah, aku tidak seperti kalian yang menulis surat undangan kepada Husein ke Kufah lalu melanggar janji setia. Aku tak pernah menulis surat seperti itu dan tidak pernah memberikan janji baiat. Tapi di tengah jalan, aku mendapatkan petunjuk kebenaran dan kini aku memperoleh kehormatan untuk menyertai Husein.”

Abbas bin Ali datang membawa pesan bahwa Imam Husein meminta waktu untuk menangguhkan pertempuran malam ini.

Di malam kesepuluh Muharram itu, Imam Husein mengumpulkan semua anggota karavan dan memberi mereka pilihan untuk pergi atau tetap tinggal bersama beliau. Air mata nampak membasahi wajah-wajah penuh kerinduan itu. Mereka bertanya, dengan alasan apa mereka meninggalkan Husein bin Ali dalam kondisi seperti ini? Satu persatu menyampaikan pendapatnya sampai tiba giliran Zuhair.

Di tengah perkumpulan kecil itu, kepada Imam Husein, putra al-Qain berkata, “Demi Allah, aku lebih suka terbunuh lalu dihidupkan kembali dan dibunuh lagi sampai seribu kali demi menjauhkan derita dan kesulitan dari dirimu. Aku mendambakan hidup bersamamu dan mati di jalan cita-citamu.”

Hari Asyura, tanggal 10 Muharram 61 Hijriyah, pertempuran tak seimbang antara pasukan besar pimpinan Umar bin Saad melawan Imam Husein dan para sahabatnya yang berjumlah 72 orang sudah dimulai. Terik mentari panas padang Karbala semakin membakar medan perang. Zuhair meminta izin untuk berbicara kepada pasukan musuh. Mungkin ada dari mereka yang mau mendengar kata-katanya dan bersedia membuka pintu hati. Dengan suara lantang, Zuhair berkata, “Hai, pasukan Kufah! Husein adalah putra Nabi. Ia adalah pelita hidayah. Berlindunglah kalian dengan cahaya pelitanya untuk menerangi diri. Apa yang bakal kalian katakan kelak saat bertemu dengan Nabi? Sungguh tidak etis, menjamu tamu undangan dengan pedang.”

Dari pasukan musuh, Syimr menyeringai, “Tutup mulutmu, hai Zuhair! Ajal sudah siap menerkammu.”

Zuhair menjawab, “Kau takut-takuti aku dengan kematian? Demi Allah, mati demi Husein seribu kali lebih baik dari hidup hina bersama kalian.”

Mendadak dari tiga arah musuh datang menyerang. Dengan gagah berani dan ketangkasan luar biasa, Zuhair bertempur dan menari-narikan pedang dengan lincah. Tiba waktu azan Dhuhur. Zuhair kembali ke kemah. Imam Husein dan para sahabatnya melaksanakan shalat berjamaah. Zuhair dan Said bin Abdullah menjadi perisai hidup yang melindungi mereka dari serangan musuh. Zuhair terluka, namun dia tetap meminta izin untuk kembali bertempur.

Maju ke medan laga Zuhair bersenandung, “Akulah Zuhair, putra al-Qain. Dengan pedangku, kubela Husein. Tak gentar kuberikan jiwa di jalan Rasul. Semoga tubuhku tercabik-cabik untuk menyongsong kesyahidan.”

Pertarungan yang dipertontonkan Zuhair sangat memukau. Beberapa kali pasukan musuh dibuatnya kocar-kacir. Tenaga sang ksatira semakin terkuras dan gerak lincahnya kian melemah. Mendadak sejumlah anak panah melesat ke arahnya dan bersarang di tubuhnya. Zuhair roboh bersimbah darah. Imam Husein segera memacu kuda ke arah Zuhair. Di detik-detik itulah, Imam merangkulnya. Sambil membelaikan tangan di dahi Zuhair beliau berkata, “Semoga Allah merahmatimu dan melaknat pembunuhmu.”

Hurr adalah nama salah seorang panglima tinggi tentara ‘Umar bin Sa’ad yang menghadapi cucu Nabi Saww, Husain bin ‘Alî, atas perintah dari Yazid bin Muawiyah untuk melaksanakan salah satu dari dua perintahnya, yaitu mendapatkan baiat (sumpah setia) Husain bagi kekhalifahannya yang korup, atau membunuh Husain dan semua sahabatnya. Adalah Hurr dan tentaranya yang mula-mula menghadapi Imam Husain, dan kemudian mengepungnya, serta menghalangi beliau dan para sahabatnya untuk mendapatkan air minum.

Pada hari ‘Asyura, Hurr membuat sebuah keputusan yang besar. Persis sebelum pertempuran dimulai, dia meninggalkan posisi dan pasukan yang sedang dipimpinnya, dan bergabung dengan Imam Husain. Dan menjadi syahid pertama yang terbunuh di jalan Allah oleh tentara yang beberapa jam sebelumnya masih berada di bawah komandonya. Nama Hurr berarti “merdeka, lahir sebagai orang merdeka, mulia, orang bebas.”

Takdir terkadang melakukan sebuah permainan. Pabrik penciptaan terus-menerus memproduksi makhluk-makhluk yang tak terhitung jumlahnya: batu-batu, pohon-pohon, sungai-sungai, serangga-serangga, manusia, dan terkadang memperlihatkan sebuah adegan humor, menciptakan sebuah inovasi atau kekecualian: ia menulis puisi, menggambar sebuah lukisan, atau melakukan sesuatu yang unik. Dalam satu kata, dapat dikatakan bahwa benda-benda ciptaan tersebut mempunyai “karakter”. Dari antara rumah-rumah, ada Ka’bah, dari antara semua tembok, ada Tembok Besar Cina; dari antara planet-planet yang mengelilingi matahari, ada bumi, dan… dari semua syuhada, ada Hurr.

Tangan artistik takdir telah menyusun adegan ini dengan tingkat ketepatan dan ketelitian yang paling tinggi. Dan seolah-olah hendak menekankan pentingnya ceritera yang sedang terjadi, ia memilih semua pemain lakonnya dari pemain-pemain yang berkarakter absolut, alias mutlak, dengan tujuan untuk menjadikan ceritanya lebih efektif.

Cerita yang sedang kita bicarakan ini adalah tentang sebuah “pilihan”, sebuah manifestasi terpenting dari arti menjadi seorang manusia. Tetapi, pilihan macam apa? Kita semua dihadapkan pada beberapa pilihan dalam kehidupan kita sehari-hari: karir, teman, isteri, rumah, bidang studi. Tetapi dalam cerita ini, pilihannya jauh lebih sulit: antara baik dan buruk. Dan di samping itu, pilihan tersebut juga bukan dari sudut pandang filosofis, ilmiah, ataupun teologis. Sungguh, pilihan yang sedang kita bicarakan di sini adalah pilihan antara agama yang benar dan agama yang lancung, antara politik yang adil dan politik yang zalim, dengan nyawa sebagai harga yang harus dibayar untuk pilihan yang diambil.

Untuk menekankan lebih jauh sensitifnya situasi, pencipta lakon cerita ini tidak menempatkan sang pahlawan di tengah-tengah antara yang benar dan yang bathil. Alih-alih, si pahlawan adalah pemimpin dari pasukan tentara yang berdiri di pihak yang jahat. Di lain pihak, sutradara lakon ini harus mencari lambang-lambang bagi ceritanya untuk membuatnya efektif. Akankah dia menempatkan Prometheus di satu pihak dan beberapa setan di pihak yang lain? Tapi pemilihan tokoh-tokoh seperti ini akan menjadikan ceritanya terlalu berbau mitos. Bagaimana dengan Spartacus dan Crasius? Tidak, nama-nama ini akan membuat ceritanya bercorak nasionalistis dan memberikan kepadanya sifat bergantung pada kelas sosial. Bagaimana dengan Ibrahim dan Namrud? Mûsâ dan Fir’aun? Yesus dan Judas? Tidak juga. Sebab bagi kebanyakan orang nama-nama ini adalah tokoh-tokoh yang bersifat metafisik dan terlalu “tinggi”, jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Memasang mereka sebagai pemain utama akan mengurangi efek cerita, dan menjadikan orang mengagumi mereka, tapi tidak akan berpikir untuk mengikuti contuh teladan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, tujuan utama cerita ini adalah untuk mengajar, menunjukkan kemampuan manusia untuk berubah, untuk menunjukkan bahwa adalah mungkin bagi seorang awam, bahkan seorang yang berdosa, untuk memutuskan semua ikatan sosial, kekeluargaan dan kelasnya, dan memperlihatkan perubahan yang suci.

Sejarah Islam penuh dengan fenomena kontradiksi. Kedua garis pertentangan yang berawal dari Habil dan Qabil dan yang terus ada di sepanjang sejarah, secara berhadapan dalam berbagai wajah, juga terus berlanjut di dalam Islam. Nah, dalam cerita ini kedua aliran ini sama-sama mengenakan baju Islam, tapi dengan arah menghadap yang berlawanan. Ironisnya, pahlawan kita diharuskan memilih antara ujung-ujung yang paling ekstrim pada masing-masing pihak, yaitu: Yazid vs. Husain.

Sungguh, seandainya cerita ini dikarang oleh seorang pengarang, niscaya dia akan segera bisa dikenali dan diakui karena keaslian dan kualitas seninya…

Siapa nama pahlawan ini? Bagi seorang tokoh sejarah, apa yang penting adalah peran yang dimainkannya, bukan namanya. Sebab namanya adalah sesuatu yang dipilihkan untuknya oleh keluarganya, sesuai dengan selera orangtuanya. Di lain pihak, jika cerita ini diciptakan oleh seorang pengarang yang memiliki orisinalitas, niscaya dia akan memilih sebuah nama yang relevan dengan peran yang dimainkan oleh pahlawannya. Tetapi dalam cerita ini pahlawan kita telah diberi nama Hurr oleh ibunya, seolah-olah ibunya telah melihat peran sangat peka yang akan dimainkan oleh anaknya nanti. Maka, ketika sang Pemimpin kemerdekaan memandangi tubuhnya yang berlumuran darah sesaat sebelum dia menghembuskan nafas yang terakhir, beliau mengatakan kepadanya: “Wahai Hurr, semoga Allah merahmatimu! Engkau adalah seorang yang merdeka di dunia ini dan juga di akhirat nanti, persis sebagaimana arti nama yang diberikan ibumu kepadamu!”

Meskipun Hurr telah memainkan peran yang unik dalam sejarah, namun esensi perannya tidaklah terbatas hanya pada dirinya saja. Makna tindakannya, dalam kenyataannya, mencakup semua manusia, malahan dapat dikatakan mendefinisikan “kemanusiaan”. Tindakannya itulah yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya, yang menggaris-bawahi tanggung jawab manusia dan terhadap Tuhan, terhadap sesama manusianya dan terhadap dirinya sendiri. Dan Hurr telah memainkan perannya tidak dengan kata-kata dan konsep-konsep, tetapi dengan cinta dan darah. Jika kita menangkap kedalaman kata-kata Imam Shâdiq as. bahwa “Setiap hari adalah hari ‘Asyura dan setiap tempat adalah Karbala, dan setiap bulan adalah bulan Muharram”, maka kita akan segera mengerti perluasan kata-kata ini, yaitu: “dan setiap orang adalah Hurr!”

Sejarah kita, yang berawal dari Habil dan Qabil, adalah manifestasi dari pertentangan abadi antara kubu Tuhan dan kubu Setan, meskipun dalam masing-masing zaman kedua kubu ini diselubungi samaran yang berbeda. Karena itu, dalam setiap masa, setiap orang mendapati dirinya berada pada posisi yang sama dengan Hurr: sendirian, di tengah-tengah, ragu-ragu, di antara dua pasukan tentara yang sama. Di satu pihak, komandan tentara kejahatan berseru kepada pasukannya: “Wahai tentara Allah! Serbu!” dan di pihak lain, seorang Imam, dengan suara yang bergema sepanjang sejarah, bertanya — bukan memerintah —“Adakah orang yang mau membela aku?” Dan Anda, orang itu, mesti memilih.

Dengan pilihan inilah Anda menjadi manusia. Sebelum menjatuhkan pilihan, Anda bukan apa-apa. Anda hanya suatu eksistensi tanpa esensi, Anda berdiri di tengah-tengah. Jadi, orang yang mendapatkan eksistensi melalui kelahiran, menemukan “esensi” melalui pilihan. Dengan pilihan inilah penciptaan manusia menjadi sempurna, dan inilah tepatnya saat ketika manusia merasakan beban berat di pundaknya dan mendapati dirinya sendirian, karena Tuhan dan alam telah membiarkannya berdiri sendiri dalam membuat keputusan yang penuh bahaya ini.

Sekarang kita bisa menilai pahlawan kita, kita bisa merasakan perjalanan panjang apa yang telah ditempuhnya dalam waktu singkat itu, perjalanan untuk mengubah dirinya dari seorang Hurr yang berdiri di pihak Yazid menjadi Hurr yang membela Husain. Jika dia tetap berada bersama tentara Yazid, maka dunianya akan terjamin. Dan jika dia bergabung dengan pasukan Husain yang jumlahnya kecil, maka kematiannya dapat dipastikan. Saat itu adalah pagi di hari ‘Asyura, dan meskipun pertempuran belum dimulai di lapangan, Hurr menyadari bahwa kesempatan baginya tidak akan lama. Waktu berjalan cepat, dan menit-menit yang berlalu sangat berarti. Badai telah mulai bergolak di dalam dirinya.

Sejak mula, Hurr telah berharap bahwa insiden-insiden yang telah terjadi tidak akan membawa kepada peperangan. Tapi sekarang perang tampaknya tak bisa dihindarkan lagi. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas untuk mentolerir rasa malu dan kehinaan, kecuali mereka yang memang jenius dalam dalam hal ini dan bisa mentoleransi kehinaan hingga pada tingkat yang tak terbatas. Tak pernah terlintas dalam benak Hurr bahwa menjadi “pegawai” dalam pemerintahan Yazid akan berarti harus berkomplot dalam tindakan-tindakan kriminalnya. Baginya, pekerjaannya hanyalah sumber penghidupan yang tak ada sangkut pautnya dengan politik ataupun agamanya.

Sekarang dia menyadari bahwa menyatukan kedudukannya dengan agamanya adalah hal yang mustahil. Maka, dengan putus asa dan sebagai langkah terakhir, dia lalu berbicara kepada komandan pasukannya (Umar bin Sa’ad) yang — sebagaimana dirinya — juga enggan terlibat dalam peperangan dan hanya mau menerima tugas yang diberikan kepadanya karena dijanjikan akan diberi jabatan sebagai gubernur propinsi Ray dan Jurjan. Hurr berpikir, apa yang lebih baik dari pada mencapai sebuah solusi tanpa terlibat dalam penumpahan darah cucu Nabi dan keluarganya.

Baik Hurr maupun Umar bin Sa’ad ketika menempuh perjalanan dari istana Yazid ke Karbala bersama-sama, dan keduanya mempunyai status dan kedudukan sosial yang sama. Hurr bertanya kepada Umar: “Bisakah kamu mencari jalan keluar dari situasi ini?”

Umar menjawab: “Engkau tahu bahwa seandainya wewenang berada di tanganku, pasti akan aku akan melakukan apa yang kau usulkan itu. Tapi atasanmu ‘Ubaidullah bin Ziyad tidak mau menerima penyelesaian damai!”

“Jadi, apakah engkau akan berperang dengan orang ini (Husain)?”

“Ya. Demi Tuhan, aku akan terjun ke dalam peperangan yang akibatnya yang paling ringan adalah terpenggalnya kepala-kepala dan terpotongnya tangan-tangan.”

Sekarang, nyata sudah bagi Hurr bahwa dia tidak bisa lagi bermain-main dengan agamanya. Maka kedua rekan itu pun lalu bersimpang jalan.

Bagi Hurr, tentara Yazid yang berjumlah puluhan ribu itu sekarang bukan apa-apa lagi, tak lebih dari sekumpulan wajah yang tak punya arti. Segerombolan besar manusia tanpa pribadi, sekelompok individu tanpa hati. Orang-orang yang berteriak-teriak penuh semangat, tanpa tahu mengapa mereka berteriak-teriak. Serdadu-serdadu yang bertempur tanpa tahu untuk siapa mereka berperang. Sekarang Yesus-nya cinta dan kesadaran menyembuhkan orang yang buta dan menghidupkan kembali orang yang mati, menciptakan seorang syahid dari seorang pembunuh. Dalam sebuah perjalanan, tidaklah cukup menanyakan tujuan saja. Kita juga mesti bertanya tentang darimana berangkatnya. Dengan demikian, panjangnya perjalanan Husain menjadi jelas manakala kita menyadari darimana dia mulai dan di mana dia berhenti, yang semuanya terjadi dalam waktu setengah hari.

Dalam hijrahnya dari Setan menuju ke Allah, Hurr tidak mempelajari filsafat ataupun teologi, tidak pula menghadiri kuliah atau pergi ke sekolah. Dalam kenyataannya “arah” inilah yang memberi arti kepada segala sesuatu: seni, ilmu pengetahuan, kesusasteraan, agama, doa-doa, ibadah haji, Muhammad, ‘Alî…

Setelah memulai perjalanannya, maka sambil mengendarai kudanya, maka dengan perlahan-lahan Hurr meninggalkan pasukan tentaranya menuju ke kelompok Husain. Muhajir bin Aus, yang melihat tingkah laku Hurr, yang tampak gelisah hebat dan cemas, bertanya kepadanya:

“Apa yang terjadi dengan dirimu, Hurr? Aku bingung melihat tingkahmu. Demi Allah, jika aku ditanya siapa orang yang paling pemberani di kalangan pasukan kita, niscaya akan kusebutkan namamu tanpa ragu-ragu lagi. Tapi, mengapa engkau begitu gelisah dan cemas?”

“Aku mendapati diriku berada di antara Neraka dan Surga, dan aku harus memilih di antara keduanya. Demi Allah, aku tidak akan memilih selain Surga, meskipun tubuhku akan dipotong-potong atau dibakar menjadi abu.”

Penciptaan Hurr-pun disempurnakan dan api keraguan telah membawanya kepada kebenaran yang pasti. Dengan perlahan-lahan dia menghampiri kubu Husain. Dan setelah dekat dia lalu menggantungkan kedua sepatunya di lehernya dan merendahkan perisainya (sebagai tanda penyesalan).

“Akulah orang yang telah menutup jalanmu, wahai Husain,” katanya. Dan dia  menolak ajakan Husain untuk beristirahat sejenak. Dia sudah tak sabar lagi.

“Apakah ada taubat bagiku?” tanyanya. Dan dia tidak dapat menunggu jawaban atas pertanyaannya itu. Dia langsung maju ke depan dan menyerang pasukan Umar dengan kata-kata yang paling pahit dan pedas, untuk menunjukkan kepada bekas tentara dan komandannya bahwa dia bukan lagi seorang budak, melainkan seorang merdeka, seorang “Hurr”.

Umar bin Sa’ad, bekas komandannya, menanggapinya dan menembakkan sebatang anak panah, seraya berseru:

“Saksikanlah dan biarkanlah Amirul Mukminin tahu bahwa akulah orang pertama yang menembakkan panah kepada tentara Husain!”

Dan demikianlah pertempuran Karbala dimulai…..

Rukun Iman dan Rukun Islam; Produk Interpretasi Sektarian atau Dogma Final?

Rukun Iman dan Rukun Islam; Produk Interpretasi Sektarian atau Dogma Final?

Artikel di bawah ini menyoroti dua pasang istilah yang karena disalahpahami telah menjadi salah satu penyebab tertumpahnya darah sesama Muslim, sesama warganegara dan sesama manusia, yaitu Rukun Iman dan Rukun Islam

Rukun Iman

Banyak orang menjadikan enam rukun iman sebagai salah satu kriteria pembeda antara mukmin dan sesat. Sebagian masyarakat awam menganggap rukun iman dan rukun Islam sebagai paket yang “turun dari langit” yang dipandang final dan tak layak didiskusikan, bukan sebuah produk interpretasi tentang agama dan akidah yang tentu saja spekluatif dan subjektif. Sehingga karena mindset inilah tidak sedikit tuduhan “sesat” dengan mudah dilemparkan terhadap orang atau aliran yang berbeda dalam merumuskan prinsip akidah.

Benarkah itu sudah final? Bila tidak alergi terhadap kristisisme, mari mengamati substansi dan sistematika enam rukun tersebut.

Pertama

Enam rukun iman mazhab ini didasarkan pada al-Qur’an. Yang perlu diketahui ialah perbedaan antara ‘percaya kepada’ dan ‘kepada bahwa’. Sejauh pengetahuan saya, semua item dalam rukun iman itu lebih difaokuskan pada ‘kepercayaan kepada’, bukan ‘kepercayaan tentang’. Padahal kepercayaan kepada Allah, malaikat dan lainnya adalah buah dari kepada tentang wujud Allah, malaikat dan lainnya. Inilah paradoks yang terlewat oleh banyak orang.

Kedua

Dasar pembentukan rukun iman dalam mazhab Asy’ariah adalah teks suci. Padahal menjadikan teks sebagai dasar kepercayaan yang merupakan produk spekulasi rasional kurang bisa dipertanggugjawabkan. Tapi apabila al-Qur’an dijadikan sebagai dasar keimanan kepada Allah, yang merupakan sila pertama dalam rukun iman, maka konsekuensi logisnya, kepercayaan kepada al-Quran mendahului kepercayaan kepada Allah. Bukankah al-Qur’an diyakini sebagai wahyu Allah setelah meyakini keberadaan Allah dan setelah mengimani orang yang menerimanya (nabi)? Kepercayaan akan keberadaan Allah mesti diperoleh dengan akal fitri sebelum mempercayai al-Quran. Al-Quran adalah petunjuk bagi yang telah beriman, sebagaimana ditegaskan dalam ayat-ayat suci di dalamnya. Al-Quran adalah pedoman bagi yang mengimani Allah dan nabinya. Artinya, al-Quran dijadikan sebagai dasar setelah memastikan wujud Allah dan kemestian kenabian Muhammad.

Ketiga

Dalam teologi Asy’ariyah rukun Iman mendahului rukun Islam. Padahal dalam sebuah  ayat suci melukiskan bagaimana orang-orang Arab Badui mengakui telah  beriman  tapi Nabi s.a.w. diperintahkan untuk mengatakan kepada mereka bahwa mereka belumlah beriman melainkan baru ber-Islam,  sebab  iman  belum masuk  ke  dalam  hati  mereka  (lihat, QS al-Hujurât, 49: 14): “Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Keempat

Rukun pertama adalah keimanan kepada Allah. Apa maksud dari kalimat ini? Apakah meyakini keberadanNya saja ataukah keesaannya? Sekadar ‘kata kepada Allah’ masih menyimbang banyak pertanyaan.2) Apakah iman ini berhubungan dengan ‘iman kepada’ ataukah ‘iman tentang ketuhanan’? persoalan teologi tidak sesederhana yang dibayangkan oleh sebagian orang. Pernahkah kita mendengar ayat yang terjemahannya (kurang lebih), “Dan apabila kau (Muhammad) tanya mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka berkata, Allah”. Bukankah ini sudah memenuhi standar keimanan kepada Allah?

Kelima

Rukun kedua adalah iman kepada malaikat. Mestinya bukan iman kepada para malaikat, tapi iman tentang malaikat. ‘Iman kepada’ mestinya muncul setelah ‘iman tentang’. Selain itu, iman kepada malaikat semestinya tidak muncul setelah iman kepada Allah (iman akan wujud Allah). Bagaimana mungkin bisa meyakini wujud para malaikat lengkap dengan departemen-departemannya sebelum mempercayai al-Quran yang mewartakannya? Kemudian, alasan yang mungkin dikemukakan oleh pendukung ialah bahwa iman kepada para malaikat itu tercantum sebagai salah satu sifat mukmin dalam al-Quran. Memang benar. Tapi, bila kepercayaan kepada atau tentang wujud para malaikat dianggap sebagai rukun (keyakinan fundamental) karena tertera dalam al-Quran, maka bukankah seluruh yang diberitakan dalam al-Quran juga mesti dijadikan rukun pula. Bayangkan berapa banyak yang mesti dicantumkan dalam list rukun itu! Bukankah semua yang ada dalam al-Quran mesti diimani (dipastikan adanya)? Kalaupun keimanan kepada (tentang) para malaikat memang sebuah keharusan, tapi mestikah dijadikan rukun? Apa alasan rasional dan implikasi teologis dari keimanan kepada malaikat sehingga layak menempati urutan kedua dalam rukun iman, apalagi rukun yang mendahului iman kepada kenabian?

Keenam

Rukun ketiga adalah iman kepada (tentang) kitab-kitab suci.1) Apa yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab suci? Apakah kita mesti beriman kepada Injil, Taurat dan zabur sebagai kitab Allah? Ataukah kita mesti meyakini bahwa Injil, Taurat dan Zabur pernah menjadi kitab-kitab suci? Apakah al-Quran juga termasuk di dalamnya? Bila al-Quran juga termasuk di dalamnya? Mana mungkin kita mengimani al-Quran dari teks al-Quran? Logiskah meyakini al-Quran sebagai wahyu karena al-Quran menetapkannya demikian di dalamnya? Selain itu, mestinya keimanan tentang Injil, Taurat dan Zabur sebagai kitab suci bersumber dari al-Quran, tapi meyakini al-Quran sebagai wahyu Allah bersumber dari kenabian Muhammad saw. Padahal keimanan kepada para nabi muncul setelah keimanan kepada kitab-kitab suci. Ini benar-benar membingungkan. Lagi pula, apa urgensi keimanan kepada (tentang) kitab-kitab itu sebagai rukun? Mengimaninya memang keharusan, tapi mengapa dijadikan sebagai rukun? Lagi-lagi, bila alasannya dicantumkan dalam list rukun iman karena tertera dalam al-Quran, maka mestinya banyak hal lain dalam al-Quran yang bisa dimasukkan dalam rukun-rukun iman.

Ketujuh

Rukun keempat adalah iman kepada (tentang) para rasul. Apakah yang dimaksud dengan ‘para rasul’ itu semua utusan minus Nabi Muhammad? Bila ya, mestinya hal itu diyakini setelah meyakini kenabian Muhammad saw. Padahal keyakinan akan kenabian Muhammad mesti tidak didasarkan pada al-Quran, karena keyakinan akan kebenaran al-Quran bersumber dari keyakinan akan kebenaran klaim Muhammad saw sebagai nabi. Keimanan kepada kebenaran al-Quran sebagai wahyu adalah konsekuensi dari keyakinan akan kebenaran Muhammad sebagai nabi. Bila tidak, artinya keimanan kepada para rasul plus Muhammad, maka hal itu menimbulkan kontradiksi. Bagaimana mungkin meyakini nabi Muhammad dan para nabi yang tercantum dalam al-Quran, padahal keyakinan akan al-Quran sebagai kitab wahyu muncul setelah keyakinan akan kebenaran klaim kenabian Muhammad saw sebagai nabi.

Kedelapan

Rukun kelima adalah iman tentang ketentuan Allah, baik dan buruk. Ini salah satu paradoks teologi yang paling membingungkan. Poin kelima ini telah dikritik oleh para teolog Sunni kontemporer karena dianggap sebagai sumber fatalisme.

Kesembilan

Rukun keenam adalah iman kepada (tentang) hari akhir. Inilah poin keimanan yang letaknya paling sistematis. Ia memang pantas berada di urutan terakhir. Hanya saja, perlu diperjelas, apakah hari akhir itu hari kiamat (di dunia) atau hari setelah kebangkitan (pasca dunia).

Kesepuluh

Yang mengejutkan ialah, bahwa manusia yang mengimani enam rukun diatas, meski tidak mengucapkan dua kalimat syahadat, bisa dianggap mukmin. Mengapa?

Rukun Islam

Pertama

Rukun Iman Asy’ariyah tidak memuat dua kalimat syahadat. Ini cukup menimbulkan kebingungan. Padahal, kadar minimal dari iman yang mesti dipenuhi adalah iman kepada Allah Yang Esa, Kerasulan dan Kebangkitan. Inilah yang menuntut penerapannya secara lahir melalui shalat, puasa dan lainnya.

Sedangkan batas terbawah dari kekufuran adalah pengingkaran secara terang-terangan terhadap suatu perkara setelah menyadari kebenarannya, dan bertekad untuk menentangnya. Syirik (mengingkari tauhid) salah satu pemuncak kekufuran.

Kedua

Rukun Islam dalam teologi Asy’ariyah dimulai dengan kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhamamad adalah utusan Allah. Konsekuensinya yang pertama, bila rukun iman mendahului rukun Islam, maka seseorang bisa dianggap mukmin sebelum mengucapkan dua kalimat syahadat.

Konsekuensi kedua, bila dua kesaksian tersebut berdiri sejajar dengan shalat, puasa dan ibadah lainnya, maka penyebutan dua kata tersebut hanyalah bersifat fiqhiah, normatif, ta’abbudi, bukan aqidah dan produk inteleksi. Konsekuensi ini muncul sebagai akibat dari diturunkannya penyaksian ini pada rukun Islam.

Konsekuensi ketiga, kesaksian akan Allah dan kerasulan hanyalah sebuah ibadah yang masuk dalam regulasi fikih dengan hukum wajib, sebagaimana shalat dan puasa.

Konsekuensi-konsekuensi demikian sungguh membingungkan. Betapa tidak, dua kalimat syahadat itu adalah intisari dari totalitas dan iman dan Islam.

Ketiga:

Dalam rumusan rukun Islam. shalat menempati urutan kedua setelah syahadat. Padahal secara sistematis, syahadat tidak berdiri sejajar dengan shalat, karena shalat memerlukan syahadat, sedangkan syahadat tidak memerlukan shalat. Mestinya shalat tidak berada dalam posisi berurutan dengan syahadat, atau syahadat semestinya tidak berada dalam satu kavling dengan shalat. Shalat bahkan tidak sah tanpa syahadat. Itu artinya, syahadat menjadi syarat bagi keabsahan shalat. Relasi antara keduanya tidak bersifat mutual. Bila diposisikan sejajar, maka ia menjadi semacam poin optional sebagai puasa dan zakat. Seseorang tetap disebut Muslim bila bersyahadat meski tidak shalat, puasa dan zakat. Sebailnya, tanpa syahadat, shalat dan puasa tak sah. Dengan kata lain, akan lebih aman secara sistematis, bila syahadat tidak menjadi salah satu bagian dalam rukun Islam.

Keempat

Menempatkan puasa sebagai bagian dari rukun Islam setelah shalat memang tepat, karena ia dan shalat sama-sama bersifat ritual dan praktis. Ini sama sekali berbeda dengan syahadat yang lebih ditekankan aspek pemikiran dan teoritikalnya. Zakat dan haji pun demikian, sudah tepat berada dalam urutan berikutnya. Hanya saja,shalat, puasa, zakat dan haji terasa lebih bersifat ritual. Akan lebih sempurna, bila ibadah sosial juga masuk di dalamnya seperti Amar makruf dan Nahi Mungkar yang bias ditafsirkan sebagai kewajiban menegakkan keadilan sosial dan memberantas kezaliman termasuk korupsi.

Interpretasi Sektarian

Rumusan Rukun Iman dan Rukun Islam adalah konsensus atau konvensi, sementara sesungguhnya banyak dasar yang menunjukkan bahwa Rukun Islam dan Rukun Iman bisa didefinisikan dan ditetapkan sebagai memiliki jumlah dan kandungan yang berbeda.

Pertama:

Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh masyarakat di Indonesia hanyalah interpretasi spekulatif (pemikiran) yang tidak mewakili pandangan teologi Sunni secara menyeluruh, karena Asyariyah adalah satu satu mazhab dalam himpunan mazhab Ahlussunnah.

Mazhab teologi Almaturidiyah dan Mu’tazilah, yang notabene lebih “sunni” dari Syiah mempunyai rumusan sendiri tentang substansi rukun Iman dan rukun Islam yang berbeda dengan rumusan Asya’riyah.

Ahlulhadits dan Teologi Salafi yang mengaku menganut teologi Ahmad bin Hanbal juga memberikan rumusan detail tentang akidah yang berbeda dengan Asy’ariyah. Sejarah membuktikan adanya ketegangan berdarah antara penganut Asy’ariyah dan Ahlul-Hadits, yang sama-sama Sunni, dalam sengketa seputar Kalam Allah.

Kedua:

Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh masyarakat Muslim Indonesia sebenarnya adalah salah satu penafsiran teologis yang dirumuskan dari sebagian riwayat-riwayat dalam khazah hadis dan Sunnah.

Dalam literatur hadis Ahlussunnah sendiri terdapat banyak riwayat yang menyebutkan versi berbeda dengan Rukun Iman dan Rukun Islam yang dibakukan dalam teologi Asy’ariah.

Di bawah ini sebagian buktinya, sesuai dengan hadis-hadis sahih di kalangan Ahlus-sunnah:

Hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Sahih-nya,1/30 Bab al Imân Ma Huwa wa Bayâni Khishalihi:

Riwayat dari Bukhari:

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi saw. muncul di hadapan orang-orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya dan Anda percaya kepada yang ghaib.’”

Riwayat dari Muslim:

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi saw. muncul di hadapan orang-orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya dan Anda percaya kepada yang ghaib.’”

Hadis di atas menyebutkan bahwa Rukun Iman itu hanya:

(1) Beriman kepada Allah,

(2) Kepada para malaikat,

(3) Kepada kitab-Nya,

(4) Perjumpaan dengan-Nya,

(5) Kepada para rasul.

Tidak ada sebutan apapun tentang kewajiban percaya kepada Qadha’ dan Qadar

Hadis sahih dalam  riwayat Imam Muslim dalam kitab Sahih-nya,1/35 Bab al Amru Bil Imân Billah wa rasûluhi, seperti di bawah  ini:

قال امرهم بالايمان بالله وحده، وقال هل تدرون مالايمان بالله ؟ قالوا الله ورسوله اعلم، قال شهادة ان لااله الا الله وأن محمدا رسول الله واقام الصلاة وايتاء الزكاة وصوم رمضان وان تؤدوا خمسا من المغنم

“Aku perintahkan kamu agar mengesakan keimanan hanya kepada Allah! Tahukan kamu apa iman kepada Allah itu?” Mereka menjawab, ”Tidak.” Beliau bersabda, ”Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan membayar khumus (seperlima dari keuntungan/perolehan).”

Hadis di atas menegaskan bahwa inti keimanan itu sebagai berikut:

1.    Bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah,

2.    Dan bersaksi Muhammad adalah rasul Allah,

3.    Menegakkan shalat,

4.    Membayar zakat,

5.    Berpuasa di bulan Ramadhan

6.    Membayar khumus.

Dengan demikian, ketiadaan unsur-unsur tertentu dalam rumusan Rukun Islam dan Rukun Iman tak boleh dipahami bahwa unsur-unsur tersebut adalah prinsip yang niscaya dalam keislaman dan keimanan seseorang.

Ketiga :

Kata “rukun iman” dan “rukun Islam” adalah rumusan yang dibuat berdasarkan interpretasi kelompok dan aliran Asy’ariyah, bukan dogma final yang “wajib” diterima tanpa bias didiskusikan oleh siapapun, sehingga tidak akan pernah absah menjadi parameter menilai sesat dan tidak sesat. Dengan kata lain, tidak mengikuti rumusan teologi Asy’ariyah yang lazim disebut “Rukun Iman” dan “Rukun Islam” tidak bisa serta merta ditafsirkan sebagai menolak prinsip-prinsip dasar akidah Islam. Menilai apalagi mensesatkan keyakinan orang yang tidak sekeyakinan dengan dasar keyakinan sendiri tidaklah bijak dan menghalangi harapan kerukunan antar Muslim

Akhirnya, tujuan penulisan artikel ini tidak mempersoalkan atau menyalahkan rumusan akidah Asy’ariyah, namun sekedar klarifikasi bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam yang dikenal luas oleh msyarakat Muslim di Tanah Air bukanlah doktrin yang diterima oleh semua mazhab islam, termasuk mazhab Sunni non Asy’ariyah. Karenanya, bila ada yang meyakini rumusan akidah tidak sama dengan rumusan akidah Asy’ariyah, maka hal itu semata-mata karena berbeda landasan argumentatif dan metode perumusannya. Bila demikian, rumusan tersebut (Rukun Iman dan Rukun islam versi Asy’ariyah) tidak bisa dijadikan sebagai parameter menilai apalagi mensesatkan selainnya. Semoga umat Islam Indonesia makin dewasa dan sadar bahwa Islam itu satu selamanya, namun cara pandang dan penafsirannya tidak selalu satu.

Hadits-hadits yang memberitakan akan datangnya Faham Wahabi !! Syi’ah dan NU himbau agar umat berhenti membaca web web SETAN DARi NEJED

Hadits Tentang Munculnya Wahabi

Syi’ah dan NU himbau agar umat berhenti  membaca web web SETAN DARi NEJED

Hadits-hadits yang memberitakan akan datangnya Faham Wahabi.

Sungguh Nabi s a w telah memberitakan tentang golongan Khawarij ini dalam beberapa hadits beliau, maka hadits-hadits seperti itu adalah merupakan tanda kenabian beliau s a w, karena termasuk memberitakan sesuatu yang masih ghaib (belum terjadi). Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan sebagian yang lain terdapat dalam selain kedua kitab tsb. Hadits-hadits itu antara lain :

1. Fitnah itu datangnya dari sini, fitnah itu datangnya dari arah sini, sambil memberikan ke arah timur (Najed-pen ).

2. Akan muncul segolongan manusia dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak bisa membersihkannya, mereka keluar dari agamanya seperti anak panah yang keluar dari busurnya dan mereka tidak akan kembali ke agama hingga anak panah itu bisa kembali ketempatnya (busurnya), tanda-tanda mereke bercukur kepala (GUNDUL – pen).

3. Akan ada dalam ummatku perselisihan dan perpecahan kaum yang indah perkataannya namun jelek perbuatannya. Mereka membaca Al Qur’an, tetapi keimanan mereka tidak sampai mengobatinya, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya, yang tidak akan kembali seperti tidak kembalinya anak panah ketempatnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka berbahagialah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka menyeruh kepada kitab Allah, tetapi sedikitpun ajaran Allah tidak terdapat pada diri mereka. Orang yang membunuh mereka adalah lebih utama menurut Allah. Tanda-tanda mereka adalah bercukur (GUNDUL – pen).

4. Di Akhir zaman nanti akan keluar segolongan kaum yang pandai bicara tetapi bodoh tingkah lakunya, mereka berbicara dengan sabda Rasulullah dan membaca Al Qur’an namun tidak sampai pada kerongkongan mereka, meraka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, maka apabila kamu bertemu dengan mereka bunuhlah, karena membunuh mereka adalah mendapat pahala disisi Allah pada hari kiamat.

5. Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai mengobati mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (GUNDUL – pen).

6. Kepala kafir itu seperti (orang yang datang dari) arah timur, sedang kemegahan dan kesombongan (nya) adalah (seperti kemegahan dan kesombongan orang-orang yang) ahli dalam (menunggang) kuda dan onta.

7. Dari arah sini inilah databgnya fitnah, sambil mengisyaratkan ke arah timur (Najed – pen).

8. Hati menjadi kasar, air bah akan muncul disebelah timur dan keimanan di lingkungan penduduk Hijaz (pada saat itu penduduk Hijaz terutama kaum muslimin Makkah dan Madinah adalah orang-orang yang paling gigih melawan profokator Wahabi dari sebelah timur / Najed – pen).

9. (Nabi s a w berdo’a) Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, para sahabat berkata : Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau s a w bersabda : Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta disana pula akan muncul tanduk syaitan.

10. Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai membersihkan meraka. Ketika putus dalam satu kurun, maka muncul lagi dalam kurun yang lain, hingga adalah mereka yang terakhir bersama-sama dengan dajjal.

Dalam hadits-hadits tsb dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul-pacul – pen). Dan ini adalah merupakan nash atau perkataan yang jelas ditujukan kepada kaum khawarijin yang datang dari arah timur, yakni para penganut Ibnu Abdil Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya bercukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikut kepadanya tidaklah dibolehkan berpaling dari majelisnya sebelum melakukan perintah tsb (bercukur – gundul pacul). Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya dari aliran-aliran SESAT lainnya.

Oleh sebab itu, hadits-hadits tsb jelas ditujukan kepada mereka, sebagaimana apa yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal, seorang mufti di Zubaid. Beliau r a berkata : “Tidak usah seseorang menulis suatu buku untuk menolak Ibnu Abdil Wahhab, akan tetapi sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah s a w itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidaklah pernah berbuat demikian selain mereka.

Muhammad bin Abdul Wahhab (pendiri Wahabiisme – pen) sungguh pernah juga memerintah kaum wanitanya untuk bercukur (gundul – pen). Pada suatu saat ada seorang wanita masuk agamanya dan memperbarui Islamnya sesuai dengan infiltrasi yang dia masukkan, lalu dia memerintahkan wanita itu bercukur kepala (gundul pacul – pen). Kemudian wanita itu menjawab :”anda memerintahkan kaum lelaki bercukur kepala, seandainya anda memerintahkan mereka bercukur jenggot mereka maka boleh anda memerintahkan kaum wanita mencukur rambut kepalanya, karena rambut kaum wanita adalah kedudukannya sama dengan jenggot kaum lelaki.

Maka dia kebingungan dan tidak bisa berkata apa-apa terhadap wanita itu. Lalu kenapa dia melakukan hal itu, tiada lain adalah untuk membenarkan sabda Nabi s a w atas dirinya dan para pengikutnya, yang dijelaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Jadi apa yang dia lalukan itu semata-mata membuktikan kalau Nabi s a w itu benar dalam segala apa yang disabdakan.

Adapun mengenai sabda Nabi s a w yang mengisyaratkan bahwa akan ada dari arah timur (Najed – pen) keguncangan dan dua tanduk syaithon, maka sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk syaithon itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahhab.

Sebagian ahli sejarah menyebutkan peperangan BANY HANIFAH, mengatakan : Di akhir zaman nanti akan keluar di negeri Musailamah seorang lelaki yang menyerukan agama selain agama Islam. Ada beberapa hadits yang didalamnya menyebutkan akan timbulnya fitnah, diantaranya adalah :

1. Darinya (negeri Musailamah dan Muhammad bin Abdul Wahhab) fitnah yang besar yang ada dalam ummatku, tidak satupun dari rumah orang Arab yang tertinggal kecuali dimasukinya, peperangan bagaikan dalam api hingga sampai keseluruh Arab, sedang memeranginya dengan lisan adalah lebih sangat (bermanfaat – pen) daripada menjatuhkan pedang.

2. Akan ada fitnah yang menulikan, membisukan dan membutakan, yakni membutakan penglihatan manusia didalamnya sehingga mereka tidak melihat jalan keluar, dan menulikan dari pendengaran perkara hak, barang siapa meminta dimuliakan kepadanya maka akan dimuliakan.

3. Akan lahir syaithon dari Najed, Jazirah Arab akan goncang lantaran fitnahnya.

Al-Allamah Sayyid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub As-Sayyid Abdullah Al-Haddad Ba’Alawi didalam kitabnya :”Jalaa’uzh zhalaam fir rarrdil Ladzii adhallal ‘awaam” sebuah kitab yang agung didalam menolak faham wahabi, beliau r a menyebutkan didalam kitabnya sejumlah hadits, diantaranya ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin abdul Muthalib r a sbb :

“Akan keluar di abad kedua belas nanti dilembah BANY HANIFAH seorang lelaki, tingkahnya seperti pemberontak, senantiasa menjilat (kepada penguasa Sa’ud – pen) dan menjatuhkan dalam kesusahan, pada zaman dia hidup banyak kacau balau, menghalalkan harta manusia, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah manusia, dibunuhnya manusia untuk kesombongan, dan ini adalah fitnah, didalamnya orang-orang yang hina dan rendah menjadi mulia (yaitu para petualang & penyamun digurun pasir – pen), hawa nafsu mereka saling berlomba tak ubahnya seperti berlombanya anjing dengan pemiliknya”.

Kemudian didalam kitab tersebut Sayyid Alwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahhab dari Tamim. Oleh sebab itu hadits tersebut mengandung suatu pengertian bahwa Ibnu Abdul Wahhab adalah orang yang datang dari ujung Tamim, dialah yang diterangkan hadits Nabi s a w yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Sa’id Al-Khudri r a bahwa Nabi s a w bersabda :

“Sesungguhnya diujung negeri ini ada kelompok kaum yang membaca Al Qur’an, namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka membunuh pemeluk Islam dan mengundang berhala-berhala (Amerika, Inggeris dan kaum Zionis baik untuk penggalian berhala purbakala atau untuk kepentingan yang lain – pen), seandainya aku menjumpai mereka tentulah aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum ‘Ad.

Dan ternyata kaum Khawarij ini telah membunuh kaum muslimin dan mengundang ahli berhala (Zionis dan konco-konconya – pen). Ketika Ali bin Abi Thalib dipenggal oleh kaum khawarij, ada seorang lelaki berkata : “Segala Puji bagi Allah yang telah melahirkan mereka dan menghindarkan kita dari mereka”. Kemudian Imam Ali berkata : “Jangan begitu, demi Tuhan yang diriku berada didalam Kekuasaan-Nya, sungguh diantara mereka ada seorang yang dalam tulang rusuknya para lelaki yang tidak dikandung oleh perempuan, dan yang terakhir diantara mereka adalah bersama dajjal.

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Abubakar didalamnya disebutkan BANY HANIFAH, kaum Musailamah Al-Kadzdzab, Beliau s a w berkata : “Sesungguhnya lembah pegunungan mereka senantiasa menjadi lembah fitnah hingga akhir masa dan senantiasa terdapat fitnah dari para pembohong mereka sampai hari kiamat”.

Dalam riwayat lain disebutkan :

“Celaka-lah Yamamah, celaka karena tidak ada pemisah baginya” Di dalam kitab Misykatul Mashabih terdapat suatu hadits berbunyi sbb : “Di akhir zaman nanti akan ada suatu kaum yang akan membicarakan kamu tentang apa-apa yang belum pernah kamu mendengarnya, begitu juga (belum pernah) bapak-bapakmu (mendengarnya), maka berhati-hatilah jangan sampai menyesatkan dan memfitnahmu”.

Allah SWT telah menurunkan ayat Al Qur’an berkaitan dengan BANY TAMIM sbb :

“Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu) kebanyakan mereka tidak mengerti”. (QS. 49 Al-Hujurat : 4).

Juga Allah SWT menurunkan ayat yang khitabnya ditujukan kepada mereka sbb : “Jangan kamu semua mengangkat suaramu diatas suara Nabi”. (QS. 49 Al-Hujurat 2)

Sayyid Alwi Al-Haddad mengatakan : “Sebenarnya ayat yang diturunkan dala kasus BANY HANIFAH dan mencela BANY TAMIM dan WA”IL itu banyak sekali, akan tetapi cukuplah sebagai bukti buat anda bahwa kebanyakan orang-orang Khawarij itu dari mereka, demikian pula Muhammad bin Abdul Wahhab dan tokoh pemecah belah ummat, Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud adalah dari mereka”.

Diriwayatkan bahwa Nabi s a w bersabda : “Pada permulaan kerasulanku aku senantiasa menampakkan diriku dihadapan kabilah-kabilah pada setiap musim dan tidak seorangpun yang menjawab dengan jawaban yang lebih buruk dan lebih jelek daripada penolakan BANY HANIFAH”.

Sayyid Alwi Al-Haddad mengatakan : “Ketika aku sampai di Tha’if untuk ziarah ke Abdullah Ibnu Abbas r a, aku ketemu dengan Al-Allamah Syeikh Thahir Asy-Syafi’i, dia memberi tahukan kepadaku bahwa dia telah menulis kitab guna menolak faham wahabi ini dengan judul : “AL-INTISHARU LIL AULIYA’IL ABRAR”. Dia berkata kepadaku : “Mudah-mudahan lantaran kitab ini Allah memberi mafa’at terhadap orang-orang yang hatinya belum kemasukan bid’ah yang datang dari Najed (faham Wahabi), adapun orang yang hatinya sudah kemasukan maka tak dapat diharap lagi kebahagiannnya, karena ada sebuah hadits riwayat Bukhari : ‘Mereka keluar dari agama dan tak akan kemabali’. Sedang yang dinukil sebagian ulama yang isinya mengatakan bahwa dia (Muhammad bin Abdul Wahhab) adalah semata-mata meluruskan perbuatan orang-orang Najed, berupa anjuran terhadap orang-orang Baduy untuk menunaikan sholat jama’ah, meninggalkan perkara-perkara keji dan merampok ditengah jalan, serta menyeru kemurnian tauhid, itu semua adalah tidak benar.

Memang nampaknya dari luar dia telah meluruskan perbuatan manusia, namun kalau ditengok kekejian-kekejiannya dan kemungkaran-kemungkaran yang dilakukannya berupa :

1. Mengkafirkan ummat sebelumnya selama 600 tahun lebih (yakni 600 sebelum masa Ibnu Taimiyah dan sampai masa Wahabi, jadi sepanjang 12 abad lebih- pen).

2. Membakar kitab-kitab yang relatif amat banyak (termasuk Ihya’ karya Al-Ghazali)

3. Membunuh para ulama, orang-orang tertentu & masyarakat umum.

4. Menghalalkan darah dan harta mereka (karena dianggap kafir – pen)

5. Melahirkan jisim bagi Dzat Allah SWT.

6. Mengurangi keagungan Nabi Muhammad s a w, para Nabi & Rasul a s serta para Wali r a

7. Membongkar makam mereka dan menjadikan sebagai tempat membuang kotoran (toilet).

8. Melarang orang membaca kitab “DALAA’ILUL KHAIRAT”, kitab Ratib dan dzikir-dzikir, kitab-kitab maulid Dziba’.

9. Melarang membaca Shalawat Nabi s a w diatas menara-menara setelah melakukan adzan, bahkan telah membunuh siapa yang telah melakukannya.

10. Menyuap orang-orang bodoh dengan doktrin pengakuan dirinya sebagai nabi dan memberi pengertian kepada mereka tentang kenabian dirinya dengan tutur kata yang manis.

11. Melarang orang-orang berdo’a setelah selesai menunaikan sholat.

12. Membagi zakat menurut kemauan hawa nafsunya sendiri.

13. Dia mempunyai i’tikad bahwa Islam itu sempit.

14. Semua makhluk adalah syirik.

15. Dalam setiap khutbah dia berkara bahwa bertawasul dengan para Nabi, Malaikat dan para Wali adalah kufur.

16. Dia mengkafirkan orang yang mengucapkan lafadz : “maulana atau sayyidina” terhadap seseorang tanpa memperhatikan firman Allah yang berbunyi : “Wasayyidan” dan sabda Nabi s a w kepada kaum anshar : “Quumuu li sayyidikum”, kata sayyid didalam hadits ini adalah shahabat Sa’ad bin Mu’adz.

17. Dia juga melarang orang ziarah ke makam Nabi s a w dan menganggap Nabi s a w itu seperti orang mati lainnya.

18. Mengingkari ilmu Nahwu, lughat dan fiqih, bahkan melarang orang untuk mempelajarinya karena ilmu-ilmu tsb dianggap bid’ah.

Dari ucapan dan perbuatan-perbuatanya itu jelas bagi kita untuk menyakini bahwa dia telah keluar dari kaidah-kaidah Islamiyah, karena dia telah menghalkan harta kaum muslimin yang sudah menjadi ijma’ para ulama salafushsholeh tentang keharamannya atas dasar apa yang telah diketahui dari agama, mengurangi keagungan para Nabi dan Rasul, para wali dan orang-orang sholeh, dimana menurut ijma’ ulama’ keempat mazhab Ahlissunnah wal jama’ah / mazhab Salafushsholeh bahwa mengurangi keagungan seperti itu dengan sengaja adalah kufur, demikian kata sayyid Alwi Al-Haddad”.

Dia berusia 95 tahun ketika mati dengan mempunyai beberapa orang anak yaitu Abdullah, Hasan, Husain dan Ali mereka disebut dengan AULADUSY SYEIKH atau PUTRA-PUTRA MAHA GURU AGUNG (menurut terminologi yang mereka punyai ini adalah bentuk pengkultus-individuan, mengurangi kemuliaan para Nabi dan Rasul tapi memuliakan dirinya sendiri – dimana kekonsistensiannya ? – pen). Mereka ini mempunyai anak cucu yang banyak dan kesemuanya itu dinamakan AULADUSY SYEIKH sampai sekarang. Hanya kepada Allah jualah kita pintakan semoga mereka diberikan petunjuk menuju jalan kebenaran (inilah pengikut Salaf yang sejati tidak pernah mendo’akan kejelekan kepada siapa saja yang telah mengucapkan kalimat Syahadat. mendo’a untuk kejelekan enggak pernah apalagi mengkafirkan atau memusyrikkan sesama muslim – pen)

- TAMAT -

Dari kitab : Durarus Saniyah fir Raddi alal Wahabiyah. Karya : Syeikhul Islam As-Sayyid Al-Allamah Al-Arif Billah Ahmad bin Zaini Dahlan Asy-Syafi’i.

Catatan : Kalau melihat 18 point doktrin Wahabi diatas maka jelaslah bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang preman dan petualang akidah serta sama sekali tidak dapat digolongkan bermazhab Ahlissunnah Wal Jama’ah atau mazhab Salafush-Sholeh. Ada lagi doktrin yang tidak disebutkan oleh penulis diatas yaitu :

1. Melarang penggunaan alat pengeras untuk adzan atau dakwa atau apapun.

2. Melarang penggunaan telpon.

3. Melarang mendengarkan radio dan TV

4. Melarang melagukan adzan.

5. Melarang melagukan / membaca qasidah

6. Melarang melagukan Al Qur’an seperti para qori’ dan qari’ah yakni yang seperti dilagukan oleh para fuqoha

7. Melarang pembacaan Burdah karya imam Busiri rahimahullah

8. Melarang mengaji “sifat 20″ sebagai yang tertulis dalam kitab Kifatayul Awam, Matan Jauharatut Tauhid, Sanusi dan kitab-kitab Tauhid Asy’ari / kitab-kitab Ahlissunnah Wal Jama’ah, karena tauhid kaum Wahabi berkisar Tauhid “Rububiyah & Iluhiyah” saja.

9. Imam Masjidil Haram hanya seorang yang ditunjuk oleh institusi kaum Wahabi saja, sedang sebelum Wahabi datang imam masjidil Haram ada 4 yaitu terdiri dari ke 4 madzhab Ahlussunnah yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Inilah apakah benar kaum Wahabi sebagai madzhab Ahlissunnah yang melarang madzhab Ahlissunnah, tepatnya Wahabi adalah : “MADZHAB YANG MENGHARAMKAN MADZHAB”.

10. Melarang perayaan Maulid Nabi pada setiap bulan Rabiul Awal.

11. Melarang perayaan Isra’ Mi’raj yang biasa dilaksanakan setiap malam 27 Rajab, jadi peraktis tidak ada hari-hari besar Islam, jadi agama apa ini kok kering banget ?

12. Semua tarekat sufi dilarang tanpa kecuali.

13. Membaca dzikir “La Ilaaha Illallah” bersama-sama setelah shalat dilarang

14. Imam dilarang membaca Bismillah pada permulaan Fatihah dan melarang pembacaan Qunut pada shalat subuh.

Jika demikian apa bedanya dengan kaum PRIMITIF ?. Dasar Baduy jahil, tahu agama sedikit sudah dimodifikasinya.

Doktrin-doktrin Wahabi ini tidak lain berasal dari guru Muhammad bin Abdul Wahhab yang adalah seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah guna mengadu domba kaum muslimin Imprealisme / Kolonialisme Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru ditengah ummat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha’i, jadi Wahabiisme ini sebenarnya bagian dari program kerja kaum kolonial.

Mungkin pembaca menjadi tercenggang kalau melihat nama-nama putra-putra Muhammad bin Abdul Wahhab yaitu Abdullah, Hasan, Husain dan Ali dimana adalah nama-nama yang tekait dekat dengan nama tokoh-tokoh ahlibait, hal ini tidak lain putra-putranya itu lahir sewaktu dia belum menjadi rusak karena fahamnya itu dan boleh jadi nama-nama itu diberi oleh ayah dari Muhammad bin Abdul Wahhab yang adalah seorang sunny yang baik dan sangat menetang putranya setelah putranya rusak fahamnya demikian pula saudara kandungnya yang bernama Sulaiman bin Abdul Wahhab sangat menentangnya dan menulis buku tentangan kepadanya yang berjudul :”ASH-SHAWA’IQUL ILAHIYAH FIRRADDI ALA WAHABIYAH”. Nama-nama itu diberikan oleh ayahnya tidak lain untuk tabarukan kepada para tokoh suci dari para ahlilbait Nabi s a w. Kemudian nama-nama itu tidak muncul lagi dalam nama-nama orang yang sekarang disebut-sebut atau digelari Auladusy Syaikh tsb.

Diantara kekejaman dan kejahilan kaum Wahabi adalah meruntuhkan kubah-kubah diatas makam sahabat-sahabat Nabi s a w yang berada di Mu’ala (Makkah), di Baqi’ & Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah diatas tanah dimana Nabi s aw dilahirkan, yaitu di Suq al Leil di ratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, saat ini karena gencarnya desakan kaum muslimin international maka kabarnya dibangun perpustakaan. Benar-benar kaum Wahabi itu golongan paling jahil diatas muka bumi ini. Tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam

Semula Alkubbatul Khadra atau kubah hijau dimana Nabi Muhammad s a w dimakamkan juga akan didinamit dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman international maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Semula seluruh yang menjadi manasik haji itu akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentang termasuk Sayyid Almutawalli Syakrawi dari Mesir maka diurungkanya.

Setelah saya memposting 2 kali tentang Wahabi ini seorang ikhwan mengirim email ke saya melalui Japri dan mengatakan pada saya bahwa pengkatagorian Wahabi sebagai kelompok Khawarij itu kurang tepat, karena Wahabi tidak anti Bany Umaiyah bahkan terhadap Yazid bin Muawiyahpun membelanya. Dia memberi difinisi kepada saya bahwa Wahabi adalah gabungan sekte-sekte yang telah menyesatkan ummat Islam, terdiri dari gabungan khawarij, Bany Umaiyah, Murji’ah, Mujassimah, Musyabbihah dan Hasyawiyah. Teman itu melanjutkan jika anda bertanya kepada kaum Wahabi mana yang lebih kamu cintai kekhalifahan Bany Umaiyah atau Abbasiyah, mereka pasti akan mengatakan lebih mencintai Bany Umaiyah dengan berbagai macam alasan yang dibuat-buat yang pada intinya meskipun Bany Abbas tidak suka juga pada kaum alawi tapi masih ada ikatan yang lebih dekat dibanding Bany Umaiyah dan bany Umaiyah lebih dahsad kebenciannya kepada kaum alawi, itulah alasannya.

***

Wahai saudaraku yang budiman, waspadalah terhadap gerakan Wahabiyah ini mereka akan melenyapkan semua mazhab baik Sunny (Ahlussunnah Wal Jama’ah) maupun Syi’ah, meraka akan senantiasa mengadu domba kedua mazhab besar. Sekali lagi waspadalah dan waspadalah gerakan ini benar-benar berbahaya dan jika kalian lengah, kalian akan terjenggang dan terkejut kelak. Gerakan ini dimotori oleh juru dakwa-juru dakwa yang radikal dan ekstrim, yang menebarkan kebencian dan permusuhan dimana-mana yang didukung oleh keuangan yang cukup besar.

Kesukaan mereka menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahlil bid’ah, itulah ucapan yang didengung-dengungkan disetiap mimbar dan setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebincian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng Islam kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu jasanya telah meng Islam kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng Islam kan yang 10 % sisanya ? mempertahankan yang 90 % dari terkapan orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwa ke negeri kita ini tentu orang-orang yang asal bunyi dan menjadi corong bicara kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir lainnya (Naudzu Billah min Dzalik).

Claim Wahabi bahwa mereka penganut As-Salaf, As-Salafushsholeh dan Ahlussunnah wal Jama’ah serta sangat setia pada keteladanan sahabat dan tabi’in adalah omong kosong dan suatu bentuk penyerobotan HAK PATEN SUATU MAZHAB. Mereka bertanggung jawab terhadap hancurnya peninggalan-pininggalan Islam sejak masa Rasul suci Muhammad s a w, masa para sahabatnya r a dan masa-masa setelah itu. Meraka menghancurkan semua nilai-nilai peninggalan luhur Islam dan mendatangkan arkiolog-arkiolog (ahli-ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan pra Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata dsb. Mereka dengan bangga setelah itu menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, maka jelaslah penghancuran nilai-nilai luhur peninggalan Islam tidak dapat diragukan lagi merupakan peleyapan bukti sejarah hingga timbul suatu keraguan dikemudian hari.

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-ngaku sebagai faham yang hanya berpegang pada Al Qur’an adan As-Sunnah serta keteladanan Salafushsholeh apalagi mengaku sebagai GOLONGAN YANG SELAMAT DSB, itu semua omong kosong dan kedok untuk menjual barang dagangan berupa akidah palsu yang disembunyikan. Sejarah hitam mereka dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang di namakan Saudi, suatu nama bid’ah karena nama negeri Rasulullah s a w diganti dengan nama satu keluarga kerajaan yaitu As-Sa’ud). Yang terbantai itu terdiri dari para ulama-ulama yang sholeh dan alim, anak-anak yang masih balita bahkan dibantai dihadapan ibunya.

sunni telah gagal memberikan respons yang bernas (berisi) dan mendasar terhadap modernitas. Meskipun Sunni tidak kekurangan para apologis (pembela agama) atau teoretikus agama

Dahulu Orang berkata, “Islam adalah agama terbaik dengan penganut terburuk.” Sesudah Salman Rushdie, banyak yang berkata, “Islam adalah agama yang terburuk dengan para penganut terburuk pula.” Tentu saja, kita tidak dapat mungkin menemukan bukti yang lebih baik tentang kelumpuhan intelektual para pengikut Muhammad sekarang ini selain kegagalan mereka dalam memberikan respons yang memadai terhadap tantangan-tantangan modernitas sekuler.

Umat Muslim modern, sebagai sekelompok masyarakat, secara memalukan tidak merenungkan tantangan-tantangan modernitas sekuler tersebut, seakan-akan mereka berpikir bahwa Allah telah memikirkan segala-galanya untuk hamba-hamba-Nya.

Meskipun Sunni  tidak kekurangan para apologis (pembela agama) atau teoretikus agama, secara bersama-sama sunni  telah gagal memberikan respons yang bernas (berisi) dan mendasar terhadap modernitas

.
Pada kenyataanya, tidak ada sesuatupun yang dapat melebihi kebenaran. Dalam rangka mendaptkan kembali warisan Muhammad saw demi kepentingan zamanmodern ini, kaum Muslim harus mengakui dan menjawab tantangan-tantangan sekularitas dan pluralisme idiologi. Permulaan abad ke-15 Hijriah menjadi tanda berakhirnya zaman kepolosan (age of innocent) mereka. Lalu, dapatkah umat Muslim melalui Kritikus-kritikus modernnya memperlihatkan bahwa islam memenuhi pengabdiannya sebagi sebuah agamauntuk semua Zaman?

Dalam buku ini, penulis menganjurkan umat Muslim untuk merenungkan, jujur secara intelektual dalam menghadapi tribunal alam pemikiran sekuler secara terbuka dan sadar, dan menghadapinya sesuai dengan parameter-parameter keimanan.

Politik dan moral. Bagi kebanyakan kita, mungkin dua kata itu terkesan kontradiktif, saling bertentangan. Politik, pada satu sisi, merupakan sesuatu yang rendah, kotor, penuh intrik, dan menghalalkan segala cara. Sedangkan moral, di sisi lain, merupakan sesuatu yang agung dan luhur.

Namun kalau kita melihat kehidupan Imam Ali bin Abi Thalib, khususnya pada masa lima tahun pemerintahannya, niscaya pandangan kita tentang politik dan moral akan berubah. Di tangan Imam Ali, politik dan moral menjadi saudara kembar, tak terpisahkan satu sama lain. Kepentingannya adalah politik, sedangkan dirinya adalah moral. Politiknya adalah produk dari moralnya. Bagi Imam Ali, sukses politik yang diraih dengan mengorbankan prinsip dan cita-cita mulia merupakan sesuatu yang sangat mustahil.

Dalam buku ini, kita akan melihat bagaimana manusia mulia ini berpolitik dengan moralnya, dengan kesempurnaan akhlaknya. Kita dapat mengambil pelajaran dari beliau tentang bagaimana politik Islam itu seharusnya.

Aturan yang dirumuskan Ali mengenai hak asasi manusia tampak lebih baik dan lebih berguna bila dibandingkan dengan deklarasi PBB berkenaan dengan pokok yang sama.
George Jordac
(The Voice of Human Justice)

Dalam seluruh aspek dari kehidupan Ali bin Abi Thalib, sejarah dan riwayat hidupnya, kecenderungan dan kebiasaannya, watak dan akhlaknya, kata-kata dan ucapannya, terdapat pendidikan, teladan untuk diikuti, pengajaran, dan kepemimpinan.

Hak dan kewajiban, dua kata itu tak terpisahkan satu sama lain. Pemenuhan hak meniscayakan kewajiban, sedangkan pelaksanaan kewajiban mengindikasikan adanya hak. Hak kita adalah kewajiban orang lain, begitu pula sebaliknya. Masing-masing kita memiliki tanggung jawab nyata untuk melihat apa tugas kita dan kemudian melaksanakannya

.

Agama Islam merupakan program abadi dan universal bagi kehidupan manusia di dunia dan di akhirat. Mengingat agama adalah program bagi kehidupan, ia harus memberikan tugas/kewajiban bagi manusia untuk dilaksanakan dalam kehidupan

.

Buku ini berisi warisan Islam yang paling berharga berkaitan dengan masalah hak dan kewajiban asasi yang diwariskan oleh Imam Ali Zainal Abidin as Sajjad. Bila dalam suatu masyarakat, para anggotanya menjalankan warisan Imam Sajjad ini, niscaya masyarakat itu akan menjadi suatu masyarakat yang ideal.