Kebenaran Syi’ah Imamiyah Sebagai Jalan Keselamatan

Akhlak (moral), dikatakan oleh Sayid Mujtaba Lari merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perkembangan masyarakat, apakah akan menuju kemajuan atau malah tersungkur kepada lembah kehancuran.[1] Untuk itu, sebuah kenyataan penting jika empat belas abad yang lalu, seorang manusia sempurna di utus dengan tujuan inti untuk menyempurnakan akhlak manusia, “sesungguhnya aku di utus untuk meneyempurnakan akhlak manusia”, begitu sabda agung kenabian Muhammad saww.

Sabda di atas mengindikasikan bahwa pembentukan akhlak merupakan dimensi puncak terpenting dari kesempurnaan manusia. Secara umum hal ini dapat kita benarkan. Sebab, lazimnya kita menilai manusia dari akhlaknya hingga ukuran-ukuran fisikal terpental jauh dari penilaian. Misalnya, jika ada orang yang tampan atau cantik, tetapi berperangai buruk, maka secara otomatis kita akan mencibirkannya. Begitu juga dengan orang yang berilmu pengetahuan, cerdas dan pintar, akan tetapi berakhlak rendah, kurang ajar dan tidak tahu sopan santun, maka kita akan cenderung membenci dan menghinanya. Namun sebaliknya, ada orang yang biasa-biasa saja dari fisiknya, tidak terlalu cerdas otaknya, tetapi berkhlak mulia, maka kita akan senang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jadi, sederhananya dapat disimpulkan nilai kemanusiaan terletak pada akhlaknya.

Karena itu, bagi penulis konsepsi pendidikan akhlak merupakan kunci sukses tarbiyah islamiyah (pendidikan Islam). Sebab, dimensi akidah, dimensi ibadah (syariah), dan dimensi akhlak adalah trikonsepsi struktur ajaran Islam. Akan tetapi akhlak menempati posisi inti sebagai puncak dari pembuktian akidah dan pelaksanaan ibadah. Insan kamil (manusia paripurna) yang merupakan orientasi tertinggi kemanusiaan dicirikan secara khas dengan karakter akhlak al-karimah (akhlak mulia).

Merujuk pada sejarah pemikiran, maka persoalan akhlak telah menjadi salah satu pembahasan serius para pemikir dunia, baik di Timur maupun di Barat, pra Islam maupun pasca Islam. Yunani, yang merupakan salah satu ikon peradaban dunia telah meninggalkan jejak-jejak pemikiran para ilmuannya mengenai akhlak seperti yang dapat kita temui pada ungkapan-ungkapan Socrates, Plato maupun Aristoteles. Socrates dan Plato menuangkan pemikirannya dalam kitab Republic-nya sedangkan Aristoteles secara konfrehensif membahas dalam buku Nichomachian Ethic yang sangat terkenal itu.

Dalam sejarah Islam Klasik kita mengenal sederet filosof besar yang mengukir sejarah seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Miskawaih, al-Ghazali hingga Mulla Sadra. Di abad kontemporer ini kita mengenal Allamah Thabathabai, Murtadha Muthahhari, Imam Khumaini, dan juga Sayid Mujtaba Musawi Lari. Sederetan tokoh mutakhir ini, dikatakan sebagai pelanjut tradisi ilmiah filsafat Islam, yang banyak menulis buku dan telah diterjemahkan dan disebarkan dalam berbagai bahasa seperti Persia, Arab, Inggris, Perancis, Urdu, Jerman, dan tentunya juga Indonesia.

Dengan antusiasme yang tinggi, para pemikir Islam menelaah sejarah perkembangan masyarakat dalam dinamika maju dan mundurnya. Beragam studi dilakukan, bahkan tak jarang hingga membandingkan antara peradaban Barat dan Islam. Diantara objek kajian yang dengan serius digeluti adalah persoalan pertumbuhan dan perkembangan akhlak serta spiritual manusia dengan ragam dialektisnya dalam kehidupan sosial, budaya, politik, ataupun pergumulan ekonomi kemasyarakatan. Kesungguhan dan ketekunan para ulama pewaris nabi yang luar biasa dalam mengembangkan pokok-pokok pikiran demi merekonstruksi konsepsi pendidikan akhlak dari abad ke abad, telah menorehkan tinta emas dalam tradisi pengetahuan teoritis dan pengamalan praktis dalam kontruksi peradaban Islam yang gemilang.

MAKNA AKHLAK

Secara etimologis, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu al-khuluq yang berarti al-sajiyyah (karakter), ath-tabhi (tabiat atau watak), al-adah (tradisi atau kebiasaan), al-din (agama), al-muruah (harga diri). Sedangkan menurut pandangan para ulama Islam, meskipun beragam dalam menyusun defenisinya namun setidaknya ada defenisi umum yang dirumuskan, yaitu akhlak merupakan karakter yang telah tertanam (malakah) dalam jiwa manusia sehingga mengarahkannya dengan mudah untuk melakukan tindakan-tindakan. Misalnya, Allamah Thabathabai mendefenisikan ilmu akhlak sebagai ilmu yang membahas pembawaan-pembawaan manusia yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan tumbuh-tumbuhan, kekuatan binatang, dan kekuatan kemanusiaan untuk membedakan keutamaan dari keburukan agar manusia berhias dan bersifat dengannya sehingga mendapatkan kesempurnaan kebahagiaan ilmiahnya.[2]

Adapun Imam al-Ghazali mendefenisikan akhlak sebagai bentuk jiwa (nafs) yang terpatri, yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Apabila suatu bentuk memunculkan beragam perbuatan indah dan terpuji berdasarkan akal dan syariat, maka ia dinamakan akhlak yang terpuji (akhlak mahmudah). Sebaliknya, jika darinya muncul beragam perbuatan buruk, ia dinamakan akhlak tercela (akhlak mazmumah).[3]

Selanjutnya, Imam al-Ghazali menjelaskan perbedaan akhlak dengan perbuatan (fi’il), kemampuan (qudrah), dan pengetahuan (ma’rifah). Menurutnya, khulq (akhlak) bukanlah perbuatan (fi’l). Karena, banyak orang yang khulq-nya dermawan tetapi tidak mendermakan harta, mungkin lantaran kehabisan harta atau halangan tertentu. Terkadang pula, khulq-nya bakhil (pelit) tetapi ia mendermakan harta, mungkin karena motif-motif tertentu atau riya. Khulq juga tidak sama dengan kemampuan (qudrah), sebab, kemampuan dinisbahkan pada menahan diri dan memberi. Tetapi, terhadap keduanya yang berlawanan ini keadaannya sama. Setiap orang diciptakan dengan fitrah dalam kondisi yang mampu memberi dan menahan. Itu tidak menyebabkan munculnya khulq kebakhilan dan khulq kedermawanan. Khulq juga bukanlah pengetahuan (ma’rifah), sebab, pengetahuan berkaitan dengan kebaikan dan keburukan sekaligus pada tingkatan yang sama. Akan tetapi khulq merupakan malakah yakni bentuk yang dengannya jiwa bersiap-siap untuk memunculkan sikap menahan diri atau memberi. Jadi, khulq adalah bentuk jiwa dan rupa batiniah.[4]

Dengan demikian akhlak merupakan sifat psikologis (ruhaniah) dan bukan suatu tindakan atau perbuatan, meskipun al-amal al-ikhtiari merupakan manifestasi luarnya. Akhlak juga bukanlah hasil dari sebuah kebetulan, karena ia berupa pembawaan yang melekat dalam jiwa (malakah). Maka, malakah harus memiliki fondasi sebagaimana bangunan memerlukan fondasi. Adapun fondasi-fondasi akhlak ialah naluri, keturunan, lingkungan, pendidikan, dan kebiasaan.[5]

SUMBER-SUMBER AKHLAK

Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa manusia memiliki pembawaan-pembawaan yang berhubungan dengan tiga domain kekuatan yang terhimpun dalam diri manusia, yaitu kekuatan tumbuh-tumbuhan, kekuatan kebinatangan, dan kekuatan kemanusiaan. Ketiga kekuatan ini yang mengarahkan manusia pada dimensi moralitas (akhlak terpuji) atau juga akhlak rendah yang tercela.[6] Sedangkan Imam Khumaini, menyebutkan tiga daya atau fakultas batin yang penting dan menjadi sumber bagi seluruh malakah (watak/karakter) baik maupun buruk dan dasar bagi seluruh bentuk-bentuk gaib yang tinggi. Ketiga daya itu adalah al-quwwah al-wahmiyyah (daya imajinasi atau pencitraan), al-quwwah al-ghadabiyyah (daya amarah), al-quwwah al-syahwiyyah (daya syahwat).[7] Ketiganya, lanjut Imam Khumaini, bisa menjadi pasukan Sang Maha Pengasih yang akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan bagi manusia jika semuanya mengikuti akal sehat dan ajaran para nabi Allah yang mulia, sebaliknya jika dibiarkan apa adanya, maka semua daya itu akan menjadi pasukan setan.[8]

Jiwa (nafs) adalah esensi surgawi yang menggunakan tubuh dan memanfaatkan berbagai organ lain untuk mencapai maksud dan tujuannya. Tetapi, perlu diketahui bahwa jiwa (nafs) bukanlah sesuatu yang kosong hampa tanpa memiliki potensi-potensi keruhanian, melainkan suatu wujud inti dari keberadaan manusia yang unik, luar biasa, dan penuh daya yang tak terbatas untuk senantiasa menyempurna dengan cara menyerap asma-asma ketuhanan, atau pula sebaliknya menjadi hina karena lebih mementingkan sisi kebinatangannya. Seperti disebutkan al-Quran bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan, namun dapat pula ia dilemparkan ke dalam jurang kecelakaan yang penuh kehinaan, “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Kemudian kami campakkan ia ketempat yang serendah-rendahnya” (Q.S. At-Tin: 4-5)

Penting diperhatikan, bahwa potensi diri kemanusiaan bermata ganda yaitu mengandung sisi negatif dan positif sekaligus. Hal itu dikarenankan, jiwa manusia memiliki kecakapan yang meliputi keduanya. An-Naraqi menyebutkan empat kecakapan utama yang dimiliki oleh jiwa, yaitu :

  1. Kecakapan akal (al-quwwah al-aqliyah)—bersifat malaikat.
  2. Kecakapan amarah (al-quwwah al-ghadabiyah)—bersifat buas.
  3. Kecakapan nafsu (al-quwwah ash-shahwiyah)—bersifat binatang.
  4. Kecakapan imajinasi (al-quwwah al-wahmiyyah)—bersifat kejam.[9]

Fungsi keempat kecakapan itu sangatlah berguna bagi kehidupan manusia. Sebab, apabila manusia tidak memiliki akal, tidak akan mungkin dapat membedakan yang baik dan yang buruk, benar dan salah. Apabila tidak memiliki kekuatan amarah, dia tidak dapat melindungi dirinya dari serangan, dan apabila kekuatan seksual tidak ada, keberadaan spesies manusia akan punah. Sedangkan, jika tidak memiliki kekuatan imajinasi, maka dia tidak dapat menggambarkan (visualize) hal-hal yang universal dan hal-hal yang partikular dan membuat kesimpulan dari gambaran tersebut.[10]

Dari keempat daya atau kecakapan di atas, diakui bahwa, kecakapan akal merupakan potensi termulia dan terbaik. Ia menjadi cahaya bagi jiwa untuk menjadi suci, sempurna dan bahagia. Jika, akal menjadi raja yang mengendalikan semua kecakapan lainnya, maka manusia akan mencapai perkembangan ruhani yang menjadikan dirinya dekat kepada Allah swt. Namun, jika akal menjadi tawanan dari ketiga daya di atas, maka saat itu akal akan bertindak menyalahi tabiat aslinya yang selalu benar. Misalnya, jika kekuatan akal mengabdi kepada kekuatan ghadab, syahwat, atau wahmiyyah, maka seseorang akan menjadi tiran di muka bumi, sehingga akan bertabiat sewenang-wenang, menebar kerusakan, menjadi teman setan, menghalalkan segala cara, dan mengingkari kebaikan serta mengerjakan kejahatan. Jadi, keempat daya ini menjadi sumber-sumber penting bagi perilaku manusia.

METODE PENDIDIKAN AKHLAK

Pendidikan akhlak merupakan pendidikan yang memiliki posisi inti dalam struktur ajaran Islam. Nilai penting tersebut dapat kita rujuk melalui dua pendekatan yaitu pendekatan naqliyah (normatif) dan pendekatan aqliyah (ilmiah).

Secara normatif, al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad  SAW memberikan penegasan gamblang akan keharusan manusia untuk berakhlak mulia yang dimunculkan dalam refleksi tindakan baik itu kata-kata, perbuatan, maupun sikap. Manusia yang dalam dirinya ada manifestasi ilahiah yang kemudian diaktualisasikan melalui kemanusiaan sempurna (insan kamil) dengan cerminan akhlak mulia akan mendapatkan pujian dari Allah SWT. Dalam al-Quran, Allah memuji hamba-Nya dengan begitu indahnya :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q.S. al-Qalam: 4)

“Sungguh pada diri Rasululah ada suri tauladan yang baik.” (Q.S.        )

“Demi jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. al-Syam: 7-10).

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa kemuliaan manusia terletak pada kemuliaan akhlak, sehingga layak mendapatkan pujian Allah SWT. Bukankah, kemualiaan itu terletak pada ketakwaan? Benar, karena ketakwaan adalah pokok akhlak. Menariknya ayat tersebut yang diidentifikasi untuk memuji Rasulullah SAW, menggunakan kata pujian dengan salah satu sifat Allah SWT, yaitu al-azhim (Maha Agung). Ayatullah Hasan Zaseh Amuli mengatakan :

“Berakhlak adalah merealisasikan dan menyifati diri dengan hakikat akhlak tersebut, bukan pengetahuan tentang makna atau konsep seperti yang diperoleh dengan merujuk pada kamus; bahwa rahim (kasih sayang) adalah begini dan athuf adalah begini. Dengan demikian, jelaslah makna hadits Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama. Barangsiapa yang memahami dan mengamalkannya, maka ia akan masuk surga”. Maksudnya, berakhlak dengan hakikat nama-nama tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya dari Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 akhlak. Barangsiapa berakhlak dengannya, maka ia masuk surga.” Sebab, hadis-hadis saling menjelaskan satu sama lain, sebagaimana sebagian al-Quran membicarakan sebagian yang lainnya.”[11]

Kemuliaan akhlak juga merupakan tujuan pengutusan para nabi. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah menegaskan bahwa sebenarnya ia diutus Allah dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” Ini berarti, dengan berakhlak mulia manusia sedang menyerap sifat-sifat Tuhan dan kemudian ia manifestasikan (pancarkan) dalam kehidupannya sehari-hari dikomunitasnya. Menurut Majid Rasyid Pur, sabda Rasulullah SAW tersebut bermakna umum sekaligus spesifik. Hal ini karena kata buitstu yang berarti ‘aku diutus’ menunjukkan pemaknaan umum akan kenabian dan kerasulan yang berarti utusan Tuhan, namun di sisi lain, nabi juga menegaskan bahwa dirinya tabah dan sabar menghadapi berbagai kesulitan, caci maki, hinaan masyarakat Arab musyrik, dan lain-lain. Semua itu beliau tempuh demi menyempurnakan akhlak mulia. Adapun kalimat “untuk menyempurnakan” dapat dipahami bahwa seluruh agama dan ajaran ilahi bertujuan untuk membenahi akhlak manusia.[12]

Dengan demikian, dimensi spiritual kenabian bukanlah diperoleh secara kebetulan dan untung-untungan, melainkan dengan kerja keras dengan mengerahkan seluruh potensinya sehingga menggapai maqam kedekatan dengan Allah swt hingga dinyatakan layak untuk mengemban misi kenabian. Perjuangan nabi Muhammad saw yang begitu kukuh untuk tetap mempertahankan dirinya pada jalur kesucian ditengah badai kehancuran masyarakat Arab Mekah, menjadikan nabi sebagai sosok yang terlatih secara sadar untuk senantiasa berbicara, bersikap dan bertindak dengan cara-cara yang beradab, penuh wibawa, dan akhlak mulia. Kebiasaan nabi untuk senantiasa melakukan aktivitas berguna dan baik, menjadikan dirinya sebagai eksistensi kemanusiaan tersempurna diseluruh jagat raya.

Muhammad Mahdi bin Abi Dzar An-Naraqi dalam kitabnya yang terkenal Jami’ al-Saadat menyebutkan bahwa akhlak yang dihasilkan dari malakah (kecakapan, pembawaan) jiwa yang dengan latihan dan praktek berulang-ulang sehingga dapat dengan mudah dimunculkan dapat beragam aktivitas akan terinternalisasi secara kuat di dalam diri manusia sehingga tidak mudah untuk dirusak. Menurut An-Naraqi, suatu watak tertentu (malakah) mungkin muncul dalam diri manusia karena salah satu alasan berikut ini :

  1. Dandanan (make-up) alami dan buatan; hal ini menampilkan bahwa beberapa orang memiliki sifat sabar sementara lainnya mudah tersinggung dan tidak percaya diri.
  2. Kebiasaan; terbentuk karena kegiatan dan tindakan khusus yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan guna membentuk watak tertentu. Latihan dan usaha yang dilakukan secara sadar; yang jika dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang cukup lama akan memungkinkan untuk membentuk watak tertentu.[13]

Jadi, jika ingin memperoleh akhlak mulia, maka seseorang dianjurkan untuk mengulang-ulang perbuatan baik dan amal saleh secara berkesinambungan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan yang tertanam di dalam jiwa dan sulit untuk dihilangkan.[14]

Allamah Thabathabai memaparkan tiga metode pendidikan untuk meraih kesempurnaan dan perbaikan akhlak, yaitu :

  1. Mendidik akhlak dengan tujuan-tujuan keduniawian yang baik. Hal ini berarti berhubungan dengan pujian dan celaan di hadapan manusia
  2. Mendidik akhlak melalui tujuan-tujuan ukhrawi yang mengindikasikan pada pahala dan dosa, ganjaran dan siksaaan di yaumil akhir kelak.
  3. Mendidik manusia secara deskriptif dan ilmiah dengan menggunakan ilmu pengetahuan (ma’arif) yang tidak menyisakan subjek ketercelaan.[15]

Ketiga cara ini handaknya digunakan sesuai dengan kondisi dan situasi yang tepat sesuai jenjang dan kemampuan individu.  

PENUTUP

Akhlak merupakan puncak dari kemanusiaan, inti pengutusan kenabian, serta cerminan bagi ketuhanan. Karenanya, siapa yang berhasil mencapai kesempurnaan akhlak maka ia memasuki tahap manifestasi asma dan sifat Tuhan, dimana seluruh organ tubuhnya menjadi alat bagi Tuhan untuk menebarkan rahmat pada semesta ciptaan. Sebab itu, pendidikan akhlak mesti dikukuhkan sebagai pendidikan puncak dari manusia. Wallahu a’lamu bi al-shawab.


[1] Sayid Mujtaba Musawi Lari. Ethic and Spiritual Growth. (Qum: Foundation of Islamic C.P.W, 2005), h. 11.

[2] Sayid Muhammad Husain Thabathabai. al-Mizan fi Tafsir al-Quran Jilid I, (Beirut: Muassasah al-a’lami li al-Mathbuat, 1991 M), h. 370.

[3] Sayyid Kamal Haydari. Manajemen Ruh. (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 29.

[4] Sayyid Kamal Haydari. Manajemen Ruh. h. 30.

[5] Muhammad Amin Zainuddin. Membangun Surga di Hati Dengan Kemuliaan Akhlak. (Bogor: Cahaya, 2004), h. 25-26.

[6] Sayid Muhammad Husain Thabathabai. al-Mizan, h. 370-371.

[7] Imam Khumaini. 40 Hadis. (Bandung: Mizan, 2004), hlm.16.

[8] Imam Khumaini. 40 Hadis, h.19.

[9] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi. Penghimpun Kebahagiaan: Jami’ as-Saadat. (Jakarta: Lentera, 2004), h.19-20.

[10] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi. Penghimpun, h. 20

[11] Sayid Kamal Haydari. Manajemen, h. 28.

[12] Lihat Majid Rasyid Pur. Tazkiyah al-Nafs: Penyucian Jiwa (Bogor: Cahaya, 2003), h. 37-38.

[13] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi, Penghimpun, h.12.

[14] Thabathabai, al-Mizan, h.  351.

[15] Thabathabai, al-Mizan, h.  351-355.

Ciri-ciri penyakit jiwa yang telah menghantui masyarakat modern adalah penyakit yang dideritanya adalah bukanlah penyakit sejati, secara tradisional disebut penyakit mental, dan sekarang orang menyebutnya psikosomatis. Ia bukanlah penyakit dalam pengertian bahwa penderita harus menganggap dirinya mengidap sakit, akan tetapi penyakit yang dialami sipenderita adalah sebagai akibat tekanan dari alam sekitar mereka atau bisa juga ‘sesama manusia saling bermusuhan hanya karena persoalan yang tidak begitu penting dalam kaca mata agama, yakni kebutuhan akan materi dan kebutuhan-kebutuhan yang lain untuk sementara waktu.

Konskuensi dari cara pandang masyarakat yang materialistik ini  sangat erat kaitannya dengan perkembangan pengamalan ajaran agama sebagai pembimbing keselamatan hidup. Peraturan agama bukan dianggap hal sakral dan penting untuk menyelami makna batinnya sehingga mampu membimbing manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, jangan sampai ajaran agama hanya sebatas kulit luar belaka selebihnya tidak ada, agama hanya dikenal  pada hari-hari perayaan besar belaka, sementara dalam kehidupan kesehariannya tetap saja melanggar ajaran mulia yang terdapat agama.

Jika penyakit ini telah menghinggapi masyarakat modern, maka tugas para ahli agamalah untuk menyadarkan masyarakat kembali agar pandangan yang dulunya materialistik berubah kepada cara pandangan ilahiah atau ketuhanan. Disaat para dokter kesehatan tubuh tidak mampu maka saat itu para dokter spritual yang tercerahkan turun tangan ambil bagian untuk menyelamatkan masyarakat yang sedang sekarat ini.

Sekedar untuk mengingatkan bahwa masyarakat kita mulai berperilaku yang tidak diinginkan agama mulia kita. Sebahagian perilaku masyarakat sekarang tidak lebih baik sebagaimana manusia primitif berperilaku. Sigmund Freud mengingatkan kita “Manusia primitif memenuhi kebutuhan hasratnya lebih baik daripada manusia yang telah berperadaban” hidup mereka bebas dari penyakit kecemasan yang tidak realistik, mereka tidak menderita penyakit kejiwaan sebagaimana yang telah banyak memakan korban. Akan tetapi sejak munculnya dunia peradaban yang di agung-agungkan oleh para pendukungnya, kehidupan manusia yang dulunya sederhana tapi bersahaja berubah menjadi kehidupan yang canggih akan tetapi penuh dengan persoalan mutakhir. Menurut para ahli bahwa tidak semua persoalan manusia modern kali ini mampu dipecahkan menurut cara pandang ilmu yang empirik, para ahli itu rupanya telah sadar yang selama ini sedikit mengabaikan agama atau malah menjauhkan agama dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Salah satu faktor terpenting yang menyebabkan manusia di zaman medern ini mengalami gangguan kejiwaan adalah rasa kecemasan dan keinginan yang telah mendominasi akal pikirannya untuk mengumpulkan materi dan menaklukkannya alam sebisa mungkin, falsafahnya‘ cara pandangnya’ seperti ini ‘hidup harus mengikuti keinginan nafsu sepuas-puasnya, bukan hidup sesuai dengan kebutuhan, sebab jika kita hidup berdasarkan atas kebutuhan maka kemungkinan besar akan berakhir pada kecukupan dan kesederhanaan, sebab dalam pandangan para arif semakin mencintai alam materi maka semakin jauh pula diri kita dari alam immaterial yang lebih mulia dari segala-galanya.

Ketahuilah, sesungguhnya cinta dunia adalah  pokok segala kesalahan (Imam Ali kw). Buah dari kecintaan kepada dunia yang berlebih akan berakibat pelanggaran terhadap sendi-sendi agama, bukan hanya itu saja, kecintaan terhadap dunia telah banyak menguasai manusia dan menderitanya lagi mampu membutakan dan menjadikan  tuli pendengaran manusia dari mendengar pesan-pesan mulia keselamatan bagi dirinya.

Pahamilah. Bahwa penyakit kejiwaan atau psikosomatis bukanlah diakibatkan oleh bakteri semacam virus atau pertumbuhan jaringan tubuh yang tidak sempurna, melainkan sesuatu yang diakibatkan  oleh kondisi kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat kita tidak mampu mendapatkan kebahagiaan ples ketenteraman persi para monitor yang memberikan impian menggiurkan lewat corongnya yakni media massa televisi dan lainnya, maka semakin tertekanlah batin dan semakin buruk pula pandangan mereka terhadap ajaran agama, sebab bisa jadi mereka berpaling dari Tuhan, karena Tuhan persi mereka  tidak mampu melakukan dan memenuhi kebutuhan bagi kehidupan masyarakat modern.

Masyarakat modern perlu terapi khusus dari para arif yang mulia sebab mereka satu-satunya yang mampu membimbing masyarakat agar tidak membenci agama atau lari dari agama dan membuat ajaran baru yang lebih berbahaya lagi. Para pencinta keabadian selalu mengirimpan pesannya ”Biasakan dirimu untuk berpikir dan merenung, sebab hal itu akan mampu menyelamatkanmu dari kesesatan  dan memperbaiki sifat dan perilakumu kebnatangannmu, kembangkan potensi malaikatmu agar engkau sampai pada keabadian.

Agama yang mulia ini selalu mengingatkan kita akan kedudukan manusia yang lebih mulia disi Allah swt dari alam meteri ini. Alasan rasionalnya adalah bahwa di dalam setiap diri manusia ada sesuatu yang tersimpan dan jika sesuatu itu dapat dihidupkan dan dibangkitkan dengan cara latihan keagamaan, maka terangkatlah dirimu yang semula segumpal daging belaka menjadi lebih berharga dari seluruh ini alam ini. Bukankah kita telah tahu bahwa Allah swt telah menciptakan manusia yang paling mendekati diri-Nya, di dalam diri manusia ada tempat bagi Allah jika tempat itu tidak tercemari oleh materi-materi yang kerap menyelimuti pandangan kita kepada cahaya kebenaran.

Kecintaan kita kepada alam materi dan seisinya yang lebih rendah posisinya dari diri kita membuat kita menjadi orang yang kikir bahkan menbuat diri kita lupa akan kematian yang setiap pergesesan waktu telah mendekati kepada kita. Abu Turab telah berpesan kepada manusia “Wahai makluk Allah! Aku sarankan kalian untuk menjaga jarak dengan dunia yang segera akan meninggalkan kalian semuanya sekalipun kalian tidak mau meninggalkannya. Maka dari itu, jangan bernafsu mendapatkan kehormatan duniawi dan kebanggaannya, dan jangan merasa senang dengan keindahan dan kekayaannya, juga jangan meratapi berbagai kejadian yang tidak menyenangkan di dunia ini, karena kemulian dan kekayaan di dunia ini cepat atau lambat akan binasa. Di dunia ini setiap waktu ada akhirnya, dan setiap kehidupan di dalamnya akan ada matinya, dan anda juga akan mati, mari menyimpan kebajikan di bank-Nya Allah dengan cara melaksanakan kebajikan dan perintah-perintah lainnya.

Waspadalah! Saat-saat kita berbuat dosa kepada Allah dan kepada sesama kita. Pandanglah isi dunia ini sebagaimana pandangan orang zuhud, dan palingkan wajah kita dari keindahannya, sebab umur dunia ini pada hakikatnya telah tua renta yang sebentar lagi sampai azalnya. Dunia akan segera mematikan semua isinya dan menggantikannya dengan isi yang lain lagi. Semoga Allah swt mencurahkan rahmat-Nya  kepada kita dan kepada orang-orang yang selalu merenung tentang eksistensi ‘wujud’ dirinya dan alam semesta. Kita seharusnya mengingat dan jangan sampai melupakannya yakni kelak akan ada suatu masa ketika hanya seorang beriman yang dapat hidup bahagia sebagaimana kehidupan yang ada di dunia ini. Semoga saja kita yang mulai tercerahkan ini tidak terdaftar sebagai manusia yang sakit jiwa hanya karena mengumpulkan dan menguasai dunia padahal kita tidak mampu menguasainya, sebab kita tahu sebagaimana kata para para pendahulu ‘semakin kencang lari anda untuk berlari mengumpulkan materi, maka semakin kencang pula larinya, hanya ada satu cara yang harus dipirkan yakni biarkan dunia mengejar kita, sementara kita sedang berkontemplasi ‘merenung’ dan mendapatkan cucuran dari hidayah yang Mahasempurna yakni Allah swt. 

Ketaatan kepada Allah swt akan melahirkan implikasi positif bagi perkembangan peribadi manusia dan selanjutnya akan melahirkan keinginan yang kuat untuk tidak melakukan apa yang terlarang menurut kesimpulan akal dan terlarang pula dalam kacamata agama atau syarak. Sedangkan kebalikannya adalah gagalnya manusia untuk menghargai perintah agama atau diidentikkan dengan penginkaran atau penolakan padahal ia tahu bahwa apa yang diingkari itu merupakan fakta keberaran yang tidak terbantahkan. Perilaku tercela ini dalam agama diistilahkan dengan kecaman ‘pengkafiran’ terhadap ajaran Allah swt dan biasanya orang seperti ini meletakkan akal sehatnya dibelakang punggungnya. Ciri-ciri pengkafiran atau ‘penghingkaran’ lain misalnya telah diketahui menghalalkan segala cara demi mempertahankan ‘mengumpulkan’ materi sebanyak mungkin, membangun istananya di dunia, ciri lain adalah pengamalan agama sebatas simbol belaka dan jiwanya tidak menyakini akan kebenaran yang tersimpan di dalamnya. Contoh “kekafiran” yang lain adalah pemeliharaan jiwanya diserahkan sepenuhnya kepada logika hawa nafsunya yang kontras dengan logika akal. Akhirnya jika perilaku buruk dan menyesatkan kehidupan manusia ini telah bersemi maka seluruh aktifitasnya biasanya menunjukkan kecintaan yang luar biasa kepada keindahan isi dunia hingga kematian pun menghampirinya. Sekedar menginatkan pesan Imam Ali bin Abi Thalib kw, bahwa akar segala kejahatan adalah cinta kepada dunia. Ambillah isi dunia secukupnya dan selebihnya titipkan kepada Allah swt agar terpelihara dengan baik.

Ingatlah pesan dari wali Allah yang telah tercerahkan, ‘sesungguhnya takut (takwa) kepada Allah swt dalah kunci untuk mendapatkan hidayah, bekal untuk akhirat, kemerdekaan dari setiap bentuk perbudakan, dan keselamatan dari segala kehancuran. Dengan bantuan pertolonga takwa, si pencari kebenaran akan meraih kemenangan, sementara orang yang bersegera menuju keselamatan maka ia akan selamat dan mendapatkan apa yang telah diinginkan-Nya. (Imam Ali as)

Kedekatan dengan Allah swt dimaknai bukan hanya dekat secara fisik sebab Allah swt tidak memiliki fisik sebagaimana dengan mahkluk ciptaan-Nya. Yang dimaksud dengan dekat disini menurut para ahli adalah kedekatan posisi penghambaan dan penyerahan diri secara utuh dan keikhlasan dalam beramal semata-mata dilakukan hanya demi keridhaan Allah swt. Jadi beribadah disini bukan mengharapkan sanjungan atau penilaian dari manusia bahwa dirinya adalah termasuk orang yang soleh melainkan penilaian yang lebih berharga dan lebih tinggi yakni kesempurnaan penghambaan sebagaimana yang diinginkan Allah swt.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah swt bukan persoalah mudah. Kita butuh kepada pengorbanan, butuh akan tenaga, melatih keihklasan dalam beramal dan yang paling penting dari semua itu adalah perlunya ilmu dan kesabaran. Berkorban saja tanpa perhitungan menjadi sia-sia. Memiliki tenaga tapi tidak tahu mau kemana dialokasikan tidak ada gunanya. Ikhlas tapi tidak memiliki ilmu adalah mustahil untuk mampu sampai kepada hamba yang ma’rifatnya ‘pengenalan’ kepada Allah swt mendekati kesempurnaan.

Untuk langkah awal bila ingin mencapai ma’rifat ‘mengenal’ yang sesungguhnya maka tidak ada jalan lain kecuali melaksanakan seluruh perintah Allah swt secara syariat dan diikuti dengan berbagai lahitan pembersihan diri dari perilaku-perilaku tercela.

Allah swt berfirman dalam hadis Qudsi “Tidak ada cara lain yang akan dilakukan oleh hambaku yang ingin bertakararub (mendekat) kepada-Ku yang lebih Aku sukai dibandingkan dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku menyanyanginya. Jika Aku mencintainnya maka Aku akan menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi mata yang dengannya ia melihat , menjadi mulut yang denganya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia memegang. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku niscaya akan mengabulkannya.

Penjelasan singkat dari hadis ini adalah sebagai berikut. Apabila kita secara pelan-pelan meneladani dan mengikuti pesan-pesan yang terkandung pada sunnah yang contoh hidupnya adalah perilaku keseharian Rasulullah swt dan orang-orang yang suci lagi setia mengikuti ajarannya. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing pendengaran si hamba untuk tidak mendengar sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Pendengaran orang yang telah mencapai tarap kesempurnaan kedekataannya kepada Allah swt tidak sama dengan sebagaimana pendengaran orang awam atau dengan pendengar orang-orang yang biasa melakukan maksiat kepada Allah. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing seorang hamba untuk mampu melihat keajaiban dan kesempurnanan penciptaan Allah baik di dalam dirinya maupun dialam yang luas. Kemampuan melihat dengan menggunakan penglihatan Allah bukan dimaknai sebagaimana kita atau makhluk melihat, yang dimaksud melihat dengan penglihatan Allah adalah penglihatan mata batin yang telah bersrih dari kekurangan dan kekaburan dalam memandang kempurnaan Allah sebagai pencipta diri dan kebaikan atas ciptaan-Nya. Ketakwaan kepada Allah akan mampu merayu Allah yang Mahapemurah untuk mengabulkan apa yang diharapkan si hamba, tentunya ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai terkabulkannya doa-doa sipeminta. Syarat pertama permintaan hamba tidak akan dikabulkan jika yang dimohon dapat membuat dirinya menjadi jauh atau lalai kepada Allah. Allah akan menangguhkan semua permohonan sihamba sebab ada doa yang menurut pandangan akal kita seharusnya dikabulkan sementara dalam pandangan Allah harus ditunda akan tetapi bukan untuk tidak dikabulkan. Semua permohoan hamba-hamba-Nya akan dikabulkan Allah swt selama tidak bertentangan dengan syarak, sebab Allah sendiri telah menjaminya dengan firman-Nya ‘mintalah kepada-Ku pasti akan kukabulkan.’

Tanpa ketakwaan tidak ada kebahagian yang abadi. Kebahagiaan karena menguasai alam semesta memang mempesona, namun sisi dalamnya dapat membawa kehancuran. Kebahagian di dunia saja tidaklah cukup, sebab bahagia sementara waktu tidak akan mampu mengungguli kebahagiaan yang abadi. Takutlah kita kepada Allah swt yang implementasinya melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah semua kemungkaran dan kejelekan.

Sibukkan diri kita untuk mengumpulkan kebaikan dan cegah serta kuasailah diri Anda agar terbebas dari perangkat dan rayuan dunia yang menjauhkan diri dari Allah swt. Mari kita menyucikan hati, menyiapkan bekal untuk hari yang tidak ada lagi waktu mencari bekal. Semoga pesan sprital dari Imam Ali bin Abi Thalib ini menyadarkan diri kita semua, “Wahai makluk Allah! Takutlah kepada Allah. Camkan selalu alasan kenapa Dia menciptakan kalian, dan takutlah kepadan-Nya dengan mengikuti pentunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kalian. Siapkan diri kalian sedemikian rupa sehingga layak mendapatkan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada kalian, dengan menyakini kebenaran-Nya dan atas janji-janji-Nya dan dengan rasa takut akan hari putusan-Nya. Tidak ada bekal yang paling penting selain bekal ketakwaan ‘takut’ kepada-Nya, dan tidak ada kesengsaraan yang paling abadi dan mengerikan kecuali kesengsaraan akibat tidak mendapatkan hidayah dari Allah swt, semoga kebahagiaan menyertai kita semua sampai Allah memanggil kita dalam keadaan tetap takut kepada-Nya.

Narkoba mengancam generasi muda kita. “pil setan” dan “bubuk iblis” ini telah beredar sedemikian mudahnya hingga tidak hanya ditemui di gang-gang tempat mangkalnya para bandit, melainkan juga telah memasuki lorong-lorong kelas tempat calon pemimpin bangsa ini dididik. Pelajar yang seharusnya menyandang tas dan buku dengan berpakaian rapi, mendadak kabur di jalanan dengan menyandang pedang dan kelewang. Apa yang terjadi? Sudah pasti mereka lagi tawuran.

Dijurusan lain kita melihat, eksploitasi seksual telah membudaya di tengah-tengah kita sehingga tidak ada lagi rasa malu dan harga diri. Bentuk klasik yang namanya prostitusi mewabah tidak hanya digedung-gedung mewah tampatnya para kaum elite, tetapi juga di trotoar jalan tempat singgahnya kaum pailit. Sensualitas yang ditampilkan, tidak lagi di ruang tertutup yang menyeleksi para undangannya, melainkan telah dijajakan di pasar publik melalui beragam kemasan bisnis yang disebut iklan, model, dunia hiburan, serta lainnya yang diperdebatkan atas nama seni dan kebebasan ekspresi. Tak urung, pemimpin redaksi majalah dewasa play boy saja mendapat angin segar dengan vonis bebas yang dibacakan Bapak Hakim dalam sidang yang terhormat. Padahal di persidangan lain, tak jarang kita mendengar seorang kakek memperkosa cucunya, seorang ayah “meniduri” anaknya, dukun melakukan tindakan cabul, sodomi, atau pesta seks dikalangan pelajar, mahasiswa, bahkan pejabat, yang tergiur hanya karena pandangan menantang dalam kemasan pornografi dan pornoaksi.

Kita arahkan pandangan ke sudut lain, maka terlihat ada pembunuhan sadis dan perampokan tragis. Kehidupan di bawah garis kemiskinan dengan ekonomi sulit yang melilit, menyembunyikan nurani suci dan belas kasih demi sejengkal perut untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi tempat yang aman, karena pencopet, pencuri, penggarong, perampok, atau apapun namanya bertebaran dipinggir jalan, terminal, bus kota, hingga rumah-rumah kita. Anehnya, hal ini juga merebak dikalangan elite yang hidup di atas garis kekayaaan, dengan nama yang lebih keren yakni korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kemudian seorang ibu tega menjual anaknya, perdagangan bayi telah menjadi lahan untuk mengais rezeki. “Perbudakan” modern atas nama tenaga kerja, babu atau pembantu meninggalkan jejak-jejak luka di fisik dan di hati karena hidup mereka di bawah cengkeraman kejam sang majikan.
Itulah sekilas daftar masalah yang kita jumpai dalam tiap sudut kehidupan ini. Banyak lagi yang bisa kita daftarkan sebagai anggota tumpukan kejahatan.

Bagi para analis dan pemerhati, sudah seharusnya pemerintah dan kita semua berusaha meningkatkan kehidupan sosial ekonomi rakyat, atau agar para aparat lebih bersikap tegas kepada para penjahat dengan meningkatkan sistem keamanan, atau mungkin sudah saatnya tertib politik disadari oleh para pejabat yang menggunakan kekuasaan sewenang-wenang. Namun jika kita cermati dengan lebih jeli dan dalam, maka negeri ini telah luluh lantak di hantam badai krisis yang lebih dahsyat dari moneter, yaitu krisis akhlak (moralitas), krisis malu, ataupun krisis adab. Saya takut, kita mendapat cap yg berubah dari bangsa beradab menjadi bangsa biadab….mau kemana bangsaku..???? wallahu a’lam

Bedah buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH” Karya Husain al-Musawi..yg diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar

Bismihi Ta’ala

Allahumma shalli ‘ala muhammad wa aali muhammad

PENDAHULUAN

Perbedaan adalah rahmat Allah swt dan dinamika yang berkembang di dalam tradisi intelektual Islam dari zaman klasik hingga abad modern saat ini. Tapi terkadang perbedaan menjadi bencana di tangan manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Padahal islam mengajarkan untuk menebarkan kedamaian baik dengan lisan maupun tulisan, dan tentu saja dengan tindakan. Bahkan Tuhan berpesan, “Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil”…dan juga “janganlah kamu menghina suatu kaum karena boleh jadi mereka lebih baik dari kamu”.

Namun, Falsafah Islam yang berkeadilan dan falsafah Indonesia yang menghargai kebhinekaan telah tercemari dengan berbagai tindakan atas nama agama. Gerakan islam yang mengandung kekerasan, Konflik keagamaan yang berujung peperangan, terorisme, dan saling menyesatkan telah menjadi konsumsi publik yang membahayakan. Setiap insan berinovatif bukan untuk membangun hal-hal yang positif, tetapi cenderung negatif dan destruktif.

Teman saya yang memiliki semangat keislaman yang tidak diragukan lagi berteriak, “Tugas kita adalah menegakkan izzah Islam, agar semua orang tunduk kepada Tuhan, dan orang2 yang menyimpang harus diluruskan”. Tapi teman saya yang satu lagi dengan lemah berkomentar, “mengapa agama yang diturunkan untuk menebar kasih sayang, tetapi malah menyebar kebencian? Saya berkata pula menimpali, “pendapat kamu berdua disatukan dengan terbitnya buku ini, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” kok bisa begitu?, tanya mereka. Dengan singkat saya menjawab, karena si penulis ingin meluruskan orang2 sesat seperti keinginanmu (teman pertama), tetapi sekaligus menebar kebencian seperti pendapatmu (kpd teman yg kedua).

Kehadiran buku ini memberikan beberapa hal penting. Pertama, Pada tahap tertentu buku ini menjelaskan pemikiran-pemikiran mazhab syiah, hanya saja —daripada membahas secara ilmiah—, buku ini secara sengaja mengumpulkan sisi-sisi negatif mazhab syiah.

Kedua, Buku ini pada tahap tertentu telah menciptakan sentimen kemazhaban dari kedua belah pihak (sunni dan syiah) yang dapat merusak persatuan kaum muslimin dalam bingkai berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Ketiga, terkait dengan hal yang kedua, buku ini meningkatkan ketegangan hubungan antar umat seagama yang seharusnya dipupuk terlebih disaat Islam dipojokkan dengan beragam isu konflik yang berdampak internasional seperti isu terorisme.

Meskipun begitu, pertama, buku ini juga telah menjadi iklan gratis bagi mazhab syiah, sehingga bagi pengkaji yang objektif terpancing untuk memahami mazhab syiah dari sumber-sumber yang kredibel. selain itu, kedua, buku ini mengingatkan orang syiah –dan pada tahap tertentu juga orang-orang sunni— untuk lebih waspada karena masih ada sisa-sisa penghalang bagi pendekatan antar mazhab dan persatuan kekuatan kaum muslimin. dan ketiga, Buku ini menjadi contoh bahwa terkadang penerbit buku tidak mengindahkan keilmiahan dan dampak sosial religius dalam penerbitan buku, tetapi lebih pada keuntungan.

Tetapi sebagai sebuah sikap ilmiah saya berusaha untuk sabar dalam membaca dan tentunya menganalisis setiap katanya, utuk mendapatkan misi dan visi pengarangnya. Untuk itu, saya akan tuliskan beberapa hal penting untuk kita dapat mengenal isi buku dan pengarangnya. (Catt. Karena takut tulisannya kepanjangan, maka akan dibuat secara bersambung)

SEKILAS SOSOK BUKU DAN PENGARANG

Buku ini berjudul asli “Lillahi Tsumma Littarikh”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang cukup propokatif, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka al-Kaustsar edisi pertama tahun 2002 dan kini telah dicetak edisi kelimanya tahun 2008.

Buku ini ditulis oleh seorang yang mengaku bernama Sayid Husain al-Musawi. Dari namanya, ia mengaku keturunan Nabi saaw dan telah menjadi mujtahid dengan menyelesaikan pendidikannya di haujah Najaf Irak dibawah asuhan Sayid (?) Muhamamd Husain Ali Kasyf al-Ghita (lihat hal.4). Ia mengaku lahir di Karbala dari keluarga syiah yang taat beragama, serta mengawali pendidikannya hingga remaja di kota tempat Imam Husain as syahid tersebut (lihat hal. 2).

Buku ini terdiri dari 153 halaman yang dimulai dengan kata pengantar oleh Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi yang mengaku pakar aliran syiah. Dengan pengantar tersebut, buku ini semakin kelihatan “prestisiusnya”. Membahas banyak persoalan yang selain pendahuluan dan penutup, buku ini dibagi dalam tujuh pembahasan, sbb :
1. Tentang Abdullah bin Saba’
2. Hakikat Penisbatan Syiah Kepada Ahlul Bait
3. Nikah Mut’ah dan Hal-Hal yang Berhubungan Dengannya
4. Khumus
5. Kitab-kitab Samawi
6. Pandangan Syiah terhadap Ahlussunnah
7. Pengaruh Kekuatan Asing Dalam Pembentukan Ajaran Syiah.

Pada halaman terakhir dilampirkan fatwa yang dikeluarkan oleh Husain Bahrul Ulum, tentang kesesatan buku tersebut.

KEJANGGALAN SOSOK PENGARANG (HUSAIN AL-MUSAWI)

Ada pepatah yang terkenal “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh juga” dan “sepandai-pandai menyembunyikan bangkai akhirnya akan tercium juga”. Pepatah ini kelihatannya sesuai untuk penulis buku ini, bahkan bukan hanya sekali-kali saja dia jatuh tetapi seringkali dia jatuh pada berbagai kesalahan dalam tulisannya. Kita akan lihat bahwa buku ini tidak lebih merupakan dongeng imajiner seorang penulis untuk menciptakan propokasi kepada umat Islam. Tapi al-hamdulillah, Allah masih menjaga kaum muslimin dari berbagai perpecahan dan tipu daya setan baik setan yang berbentuk jin maupun setan manusia.

Buku ini tidak menuliskan secara jelas siapa sebenarnya Sayid Husain al-Musawi. Tidak diketahui kapan lahir dan silsilah keluarganya, pendidikan dan guru-gurunya baik di Karbala’ maupun di Najaf (Irak). Juga tidak diketahui karya-karya yang ditulisnya selain buku ini. Dari sini kita meragukan keadaan dan kualitas keilmuannya yang mengaku mujtahid syiah.

Terlebih setelah kita mendapatkan beberapa kejanggalan yang sangat mencolok dari buku yang ditulisnya ini. Kejanggalan sosok pengarang terlihat saat kita melanjutkan bacaan menelusuri buku ini kata-kata demi kata, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman. Diantara kejanggalannya adalah sbb:

(Catt : Untuk memepermudah, tulisan asli Husain al-Musawi saya beri tanda >; sedangkan tanggapan saya menggunakan tanda #)

1. Husain al-Musawi menulis pada halaman 128 :

> “Disaat sedang memandikan saya menemukan bahwa sang mayit tidak di khitan. Saya tiak bisa menyebutkan siapa nama mayat tersebut, karena anak-anaknya mengetahui siapa yang memandikan bapaknya. Jika saya menyebutkan, pasti mereka akan mengetahui siapa saya, selanjutnya akan mengetahui penulis buku ini, sehingga terbukalah segala urusan saya dan akan terjadi suatu tindakan yang tidak terpuji.”

# Perhatikanlah, bahwa dia mengakui dirinya tidak ingin dikenali. Dia tidak menyebutkan siapa nama mayit yang memandikannya, karena takut dikenali dan dampaknya….. Tetapi dia berani menyebutkan Nama Ayatullah Sayid Khui, Syeikh Kasyf al-Ghita, bahkan Ayatullah Khumaini dengan hinaan dan cercaan yang lebih buruk lagi padahal mereka menurut pengakuannya adalah guru dan marja’nya.

2. Husain musawi menulis pada halaman 94 :

> “Diakhir pembahasan tentang khumus ini saya tidak melewatkan perkataan temanku yang mulia, seorang penyair jempolan dan brilian, Ahmad Ash-Shafi an-Najafi Rahimahullah. Saya mengenalnya setelah saya meraih gelar mujtahid. Kami menjadi teman yang sangat kental walaupun terdapat perbedaan umur yang sangat mencolok, dimana dia tiga puluh lima tahun lebih tua dari umurku.” (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, 2008, hal. 94)

# Perlu diketahui bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi dilahirkan pada tahun 1895 M/ 1313-14 H dan wafat pada tahun 1397 H. Jika kita bandingkan dengan umur yang disebutkan oleh Husain al-Musawi bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi itu lebih tua 35 tahun dari dirinya, maka kita menemukan tahun kelahirAn Husain al-Musawi adalah tahun 1930 M atau 1349 H, dengan perhitungan sbb :
– 1895 M + 35 = 1930 M
– 1314 H + 35 = 1349 H

Kemudian, bandingkan dengan halaman 68 Husain Musawi menyebutkan bahwa ia bertemu dengan Sayid Syarafudin al-Musawi (Pengarang Kitab al-Muraja’at atau Dialog Sunnah Syiah) di Najaf, Irak.

Husain Musawi menulis pada halaman 68 :

> “Suatu hari di kota Najaf datang berita kepada saya bahwa yang mulia Sayid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi sampai ke Baghdad, dan sampai ke Hauzah (kota ilmu) untuk bertemu dengan yang mulia Imam Ali Kasyif al-Ghita. Sayid Syarafuddin adalah orang yang sangat dihormati dikalangan orang-orang syiah, baik dari kalangan awam maupun orang-orang khusus. Terutama setelah terbitnya kitab-kitab yang dia karang yaitu kitab Muraja’at dan kitab Nash wal Ijtihad.” (lihat hal. 68)

# Perlu diketahui bahwa Sayid Syarafuddin al-Musawi datang ke Najaf pada tahun 1355 H (buku al-Muraja’at diterbitkan pertama kali juga tahun 1355 H). Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan kedatangan Sayid syarafuddin al-Musawi maka usianya pada saat itu masih 6 tahun (1349 H – 1355 H = 6 tahun)….sementara pada Bab PENDAHULUAN (halaman 2), Husain al-Musawi menyebutkan bahwa ia datang ke Najaf pada usia remaja setelah menyelesaikan pendidikannya di Karbala….bagaimana mungkin ia ada di Najaf pada saat itu dan menjadi pelajar tingkat tinggi (kelas bahtsul kharij) pada usia 6 tahun…???? Sungguh kebohongan yang nyata.

Kemudian pada halaman 4 dia menulis :

> “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan meendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu Sayid (?) Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita.”

# Dengan jelas ia menyebutkan bahwa dia mendapat ijazah mujtahid dari “Sayid” Kasyf al-Ghita’ tapi tidak disebutkan tahun berapa ijazahnya dikeluarkan. Perlu diketahui bahwa Kasyif Ghita’ bukanlah Sayid (bukan keturunan ahlul bait), tetapi Syeikh. Syeikh Kasyif al-Ghita meninggal pada tahun 1373 H. Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan tahun wafatnya Syeikh Kasyf al-Ghita, maka kita menemukan usia Husain al-Musawi tamat dari belajar dan menjadi mujtahid maksimal adalah 24 tahun (1349 – 1373 H = 24 tahun). Jika kita kurangi bahwa ia mendapat gelar 5 tahun sebelum meninggalnya Syeikh Ali Kasyf al-Ghita, yakni tahun 1368 H, maka berarti usianya menjadi mujtahid adalah 19 tahun (1349 – 1368 H = 19 tahun). Suatu prestasi yang membanggakan dan luar biasa. Tetapi anehnya, selain tidak ada datanya, tidak ada pula satupun ulama dan pelajar serta masyarakat mengetahui ada seorang yang mencapai gelar mujtahid pada usia tersebut dan berasal dari Karbala yang bernama Husain al-Musawi.

Dan lebih mengherankan lagi, sehingga kedok si penulis semakin terbuka, adalah bahwa Husain al-Musawi menulis pada halaman 131-132, sbb :
> “Ketika saya berkunjung ke India saya bertemu dengan Sayid Daldar Ali. Dia memperlihatkan kepada saya kitabnya yang berjudul Asas al-ushul.

# Ini adalah kebohongan nyata yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Husain al-Musawi. Ketahuilah bahwa Sayid Daldar Ali adalah ulama abad ke 19 yang wafat pada tahun 1820 M/ 1235 H (lihat kitab ‘Adz-Dzari’ah Ila Tasanif al-Syiah’). Ini berarti, sayid Daldar Ali telah meninggal selama 110-114 tahun sebelum lahirnya Husain al-Musawi yang lahir pada tahun 1930 M (1820 M – 1930 M = 110 tahun) atau (1235 – 1349 H = 114 tahun). Bagaimana mungkin Husain al-Musawi bertemu dengan sayid Daldar Ali padahal ia sendiri belum lahir bahkan ayah dan kakeknya pun mungkin belum lahir…????

Jika dia memang bertemu dengan Sayid Daldar Ali, berarti setidaknya Husain al-Musawi lahir pada tahun 1800 M. Jika dia lahir tahun 1800 M, bagaimana mungkin usianya lebih muda dari Ahmad Ash-Shafi an-Najafi yang lahir pada tahun 1895 M..??? dan bagaimana mungkin dia belajar kepada Syeikh Kasyf Ghita yang lahir pada tahun 1877 M..?? bagaimana dia bertemu dengan Sayid Khui di tahun 1992 (berarti usianya 192 tahun)? bagaimana mungkin dia mengikuti Revolusi Iran pada tahun 1979 (berarti usianya 179 tahun) ..??? dan banyak lagi kisah aneh yang diimajinasikan oleh si penulis buku ini.

Dengan beberapa bukti di atas (dan masih banyak lagi lainnya) kita dapat menyimpulkan bahwa pengarang buku ini bukanlah seorang mujtahid syiah, bahkan mungkin bukan pula penganut mazhab syiah. Namanya juga diragukan apakah benar Sayid Husain al-Musawi atau sekedar mencatut nama agar lebih meyakinkan. Bagi saya, penulis buku ini adalah sosok imajiner yang membuat kisah imajinasi dengan berusaha menjadi tokoh utama dalam sandiwara fiktif ini. Buku ini bisa kita anggap sebagai novel dongeng untuk mendiskriditkan Islam seperti The Satanic Verses yang ditulis oleh Salman Rusydi…..mungkin saja, Husain al-Musawi ingin menjadi pelanjut Salman Rusydi. Wallahu a’lam

HUSAIN AL-MUSAWI TIDAK MENGENAL ULAMA-ULAMA DAN IMAM-IMAM SYIAH

“Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, ternyata tidak mengenal tokoh-tokoh dan ulama-ulama syiah, bahkan ia tidak mengenal imam syiah.”

Sebagai buku yang ditulis untuk propokatif, karya Husain al-Musawi, “Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?” memang sudah sewajarnya tidak memiliki bobot akademis dan ilmiah. Selain kerancuan dan kejanggalan sosok Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah, dia juga tidak mengenal tokoh-tokoh syiah bahkan gurunya sendiri. Selain itu bahkan dia tidak mengetahui tradisi keilmuan syiah dalam ushul maupun furu’.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Husain al-Musawi adalah sosok fiktif yang mengarang buku dengan khayalan dan imajinasinya. Dia ingin membuat sandiwara dan berusaha menjadi pemain utamanya dan menjadikan yang lain sebagai “bandit-banditnya”. Tapi sayang, ternyata pemeran utama ini tidak tahu naskah skenarionya, dan tidak mengenal dengan baik lawan bermainnya. Pada edisi ketiga ini, kita akan mengungkap lanjutan kepalsuannya dan kebodohannya tentang ulama-ulama dan imam
-imam syiah. Untuk tidak berpanjang mari kita cermati beberapa isi buku tersebut.

1). Pada halaman 4 (dan berlanjut dihalaman2 berikutnya), ia menulis :

> “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan mendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu SAYID MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYIF AL-GHITA”….

# Perhatikanlah, Husain Musawi menyebut “Sayid Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita, padahal Allamah Kasyif al-Ghita bukanlah “SAYID”, karena beliau bukanlah keturunan dari Rasulullah saaw dan Ahlul bait nabi saaw. Sehingga Allamah Kasyf al-Ghita tidak pernah dipanggil dengan Sayid melainkan dengan “SYEIKH”. Kita bisa baca semua buku-buku ulama syiah yang besar maupun yang kecil, semua menyebut dengan “SYEIKH KASYF AL-GHITA”. Bahkan kita bisa lihat sendiri di dalam karya-karyanya misalnya “Ashl Syiah wa Ushuluha” disana disebutkan nama SYEIKH MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYF AL-GHITA.

Bagaimana mungkin Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid dan menjadi murid Syeikh Kasyif al-Ghita, tidak tahu tentang silsilah gurunya ini…??? Padahal orang awam syiah sekalipun tahu perbedaan antara Sayid dengan Syeikh.

2). Pada halman 12, ia menulis :

> “…sebagaimana SAYID MUHAMMAD JAWAD pun mengingkari keberadaannya ketika memberi pengantar buku tersebut”,

# Perhatikanlah, dia menyebut Sayid Muhammad Jawad, padahal yang benar adalah “SYEIKH MUHAMMAD JAWAD (MUGHNIYAH)” karena beliau juga bukan keturunan ahlul bait as.

# Masih banyak lagi kesalahannya seperti menyebut Sayid Ali Gharwi (lihat halaman 26), padahal seharausnya Mirza Ali Ghuruwi. Begitu juga pada halaman 111 dia menulis “SAYID MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADUQ”..??? Siapa orang ini….??? Apakah maksudnya Syeikh Shaduq yang bernama asli Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qummi (gelarnya Syeikh Shaduq)…???? Atau apakah maksudnya adalah Allamah Sayid Muhammad Baqir Ash-Shadr, salah seorang marja’ syiah di Najaf…?? … ini mungkin hanya salah tulis

3. Tidak hanya disitu ia juga tidak bisa membedakan antara ulama sunni dan syiah. Bahkan keliru menyebut buku syiah. Misalnya : Pada halaman 28 dan 29 dia mengutip dari buku “Maqatil ath-Thalibin” padahal buku tersebut bukan buku syiah. “Maqatil ath-Thalibin” adalah buku karya Ulama ahlus sunnah Abul Faraj al-Isfahani.

Itu diantara kekeliruan2 nya menyebut ulama-ulama syiah. Tapi hal itu masih lumayan. Sebab, tidak hanya sampai disitu, bahkan Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, tidak bisa membedakan imam2 syiah. Dia kesulitan membedakan Imam-imam syiah karena terkadang memiliki panggilan yang sama. Perhatikan pernyataanya berikut ini :

4. Pada halaman 18, ia menulis :
> Amirul mukminin as berkata, “Kalaulah aku bisa membedakan pengikutku, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang yang memisahkan diri. Kalaulah akau menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang murtad. Kalaulah aku menyeleksi mereka, maka tidak ada yang akan lolos seorang pun dari seribu orang.” (Al-Kafi/Ar-Raudhah, 8/338)

# Ternyata Husain al-Musawi tidak mengenal Imam-imam Syiah. Diatas ia menulis “AMIRUL MUKMININ as berkata”. Perlu diketahui, gelar AMIRUL MUKMININ itu diperuntukkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama syiah). Setelah kita periksa ke kitab ar-Raudhah al-Kafi, ternyata tidak terdapat kata “Amirul Mukminin”, tetapi yang ada adalah “ABUL HASAN”. Di bawah ini saya tuliskan riwayatnya sbb :

وَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصُّوفِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ قَالَ قَالَ لِي أَبُو الْحَسَنِ ( عليه السلام ) لَوْ مَيَّزْتُ شِيعَتِي لَمْ أَجِدْهُمْ إِلَّا وَاصِفَةً وَ لَوِ امْتَحَنْتُهُمْ لَمَا وَجَدْتُهُمْ إِلَّا مُرْتَدِّينَ وَ لَوْ تَمَحَّصْتُهُمْ لَمَا خَلَصَ مِنَ الْأَلْفِ وَاحِدٌ وَ لَوْ غَرْبَلْتُهُمْ غَرْبَلَةً لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا مَا كَانَ لِي إِنَّهُمْ طَالَ مَا اتَّكَوْا عَلَى الْأَرَائِكِ فَقَالُوا نَحْنُ شِيعَةُ عَلِيٍّ إِنَّمَا شِيعَةُ عَلِيٍّ مَنْ صَدَّقَ قَوْلَهُ فِعْلُهُ .

“Dengan sanad-sanad ini, dari Muhammad bin Sulaiman, dari Ibrahim bin Abdillah al-Sufi berkata: meyampaikan kepadaku Musa bin Bakr al-Wasiti berkata : “Abu al-Hasan a.s berkata kepadaku (Qala li Abul Hasan) : ‘Jika aku menilai syi‘ahku, aku tidak mendapati mereka melainkan pada namanya/sifatnya saja. Jika aku menguji mereka, nescaya aku tidak mendapati mereka kecuali orang-orang yang murtad (murtaddiin). Jika aku periksa mereka dengan cermat, maka tidak seorangpun yang lulus dari seribu orang. Jika aku seleksi mereka, maka tidak ada seorangpun yang tersisisa dari mereka selain dari apa yang ada padaku, sesungguhnya mereka masih duduk di atas bangku-bangku, mereka berkata : Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya. (ar-Raudhat al-Kafi hadis no 290)

# Perhatikan, hadits di atas menyebutkan ABUL HASAN as, bukan Amirul Mukminin. Ketahuilah Abul Hasan as adalah panggilan utk beberapa imam syiah diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama), Imam Ali Zainal Abidin as (imam keempat), Imam Musa al-Kadzhim (imam ketujuh), Imam Ali ar-Ridha (imam kedelapan), dan Imam Ali al-Hadi (imam kesepuluh).

Sekarang siapakah Abul Hasan yang dimaksud oleh hadits di atas..???

Jawabnya adalah bahwa hadits diatas berasal dari Imam Musa al-Kadzhim bukan dari Amirul mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as. Sebab, hadits tersebut diriwayatkan oleh Musa bin Bakr al-Wasithi, dan beliau adalah sahabat Imam Musa al-Kadzhim as (imam ketujuh syiah).

Bagaimana mungkin, Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid ini, tidak mengenal imamnya sendiri..???? Ini mujtahid yag salah kaprah….

# Selain itu, perhatikan bagaimana ia memotong bagian akhir dari riwayat tersebut yang menegaskan, “Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya”.

Jika kita perhatikan akhir dari riwayat tersebut, maka jelaslah bagaimana Imam Musa al-Kadzim menyipati orang2 syiah yg sejati…..
Dimanakah posisi Husain al-Musawi…??? mungkin termasuk yag bagian pertama dari hadits di atas….yaitu ngaku syiah dan murtaddin yang tidak lolos seleksi para imam….Wallahu a’lam.

SYIAH DAN PENAMAAN RAFIDHAHSeperti kita lihat dalam bukunya yg saya bedah di froum diskusi ini, salah satu kebiasaan Husain al-Musawi adalah menciptakan riwayat palsu atau riwayat lemah dan juga memotong2 riwayat hadits2 syiah sesuka hatinya utk menciptakan citra buruk syiah. Tapi propagandanya memang sudah bisa ditebak bagi org2 yg mau menggunakan sedikit tenaga dan pikirannya. 

Diantara yg dipotongnya adalah riwayat ttg penamaan Rafidhah kepada syiah….

- Pada halaman 22 poin 4, Husain al-Musawi menuliskan sbb :

> Sesunguhnya Ahlu Bait menyebut dan menyifati para pengikut mereka sebagai thagut umat ini, kelompok sempalan dan pelempar kitab. Kemudian mereka menambahkan atas hal itu dengan ucapannya, ‘Ingat sesungguhnya laknat Allah atas orang2 yg zahalim’. Oleh karena itu mereka datang kepada Abu Abdillah as, lalu berkata kepadanya : ‘Sesungguhnya kami telah dicela dengan celaan yang sangat berat di atas punggung-punggung kami, matilah terhadapnya hati-hati kami, para pemimpin menghalalkan darah-darah kami dalam hadits yang diriwayatkan oleh para ahli fikih mereka. Maka Abu Abdullah berkata, “Rafidhah”? Mereka menjawab “Ya”. Maka dia berkata, “tidak! demi Allah bukanlah mereka yang menamai kamu sekalian dengan nama tersebut, tetapi Allah lah yg menamai kamu sekalian dengan nama tersebut.” (Al-Kafi, 3/34)

Husain al-Musawi kemudian mengomentari riwayat tersebut dgn mengatakan, “Abu Abdullah menjelaskan bahwa yg menamai mereka dengan sebutan rafidhah adalah Allah dan bukan ahlus sunnah.
——————-

# Perhatikanlah bagaimana ia memgutip sebagian riwayat dan menyembunyikan riwayat lanjutannya. Setelah saya periksa teks aslinya ternyata sangat panjang (sampai dua halaman) dan Husain al-Musawi memotong teksnya sesuka hatinya untuk menunjukkan sisi negatifnya saja. Padahal hadits ini merupakan pujian bagi orang-orang syiah. Hadits tersebut terdapat dalam Kitab Raudhat al-Kafi bab Khutbah Thalutiyah yg merupakan pujian2 dan kelebihan2 org2 syiah.

Perhatikan teks lengkap berikut ini dari“Kitab Raudhat al-Kafi Bab Khutbah Thalutiyyah hdits no 6 sbb :

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) إِذْ دَخَلَ عَلَيْهِ أَبُو بَصِيرٍ وَ قَدْ خَفَرَهُ النَّفَسُ فَلَمَّا أَخَذَ مَجْلِسَهُ قَالَ لَهُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا هَذَا النَّفَسُ الْعَالِي فَقَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ كَبِرَ سِنِّي وَ دَقَّ عَظْمِي وَ اقْتَرَبَ أَجَلِي مَعَ أَنَّنِي لَسْتُ أَدْرِي مَا أَرِدُ عَلَيْهِ مِنْ أَمْرِ آخِرَتِي فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَ إِنَّكَ لَتَقُولُ هَذَا قَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ وَ كَيْفَ لَا أَقُولُ هَذَا فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَ مَا عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكْرِمُ الشَّبَابَ مِنْكُمْ
وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَكَيْفَ يُكْرِمُ الشَّبَابَ وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ فَقَالَ يُكْرِمُ اللَّهُ الشَّبَابَ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ أَنْ يُحَاسِبَهُمْ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ هَذَا لَنَا خَاصَّةً أَمْ لِأَهْلِ التَّوْحِيدِ قَالَ فَقَالَ لَا وَ اللَّهِ إِلَّا لَكُمْ خَاصَّةً دُونَ الْعَالَمِ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَإِنَّا قَدْ نُبِزْنَا نَبْزاً انْكَسَرَتْ لَهُ ظُهُورُنَا وَ مَاتَتْ لَهُ أَفْئِدَتُنَا وَ اسْتَحَلَّتْ لَهُ الْوُلَاةُ دِمَاءَنَا فِي حَدِيثٍ رَوَاهُ لَهُمْ فُقَهَاؤُهُمْ قَالَ فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) الرَّافِضَةُ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ لَا وَ اللَّهِ مَا هُمْ سَمَّوْكُمْ وَ لَكِنَّ اللَّهَ سَمَّاكُمْ بِهِ أَ مَا عَلِمْتَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَنَّ سَبْعِينَ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رَفَضُوا فِرْعَوْنَ وَ قَوْمَهُ لَمَّا اسْتَبَانَ لَهُمْ ضَلَالُهُمْ فَلَحِقُوا بِمُوسَى ( عليه السلام ) لَمَّا اسْتَبَانَ لَهُمْ هُدَاهُ فَسُمُّوا فِي عَسْكَرِ مُوسَى الرَّافِضَةَ لِأَنَّهُمْ رَفَضُوا فِرْعَوْنَ وَ كَانُوا أَشَدَّ أَهْلِ ذَلِكَ الْعَسْكَرِ عِبَادَةً وَ أَشَدَّهُمْ حُبّاً لِمُوسَى وَ هَارُونَ وَ ذُرِّيَّتِهِمَا ( عليهما السلام ) فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَى مُوسَى ( عليه السلام ) أَنْ أَثْبِتْ لَهُمْ هَذَا الِاسْمَ فِي التَّوْرَاةِ فَإِنِّي قَدْ سَمَّيْتُهُمْ بِهِ وَ نَحَلْتُهُمْ إِيَّاهُ فَأَثْبَتَ مُوسَى ( عليه السلام ) الِاسْمَ لَهُمْ ثُمَّ ذَخَرَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ لَكُمْ هَذَا الِاسْمَ حَتَّى نَحَلَكُمُوهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ رَفَضُوا الْخَيْرَ وَ رَفَضْتُمُ الشَّرَّ افْتَرَقَ النَّاسُ كُلَّ فِرْقَةٍ وَ تَشَعَّبُوا كُلَّ شُعْبَةٍ فَانْشَعَبْتُمْ مَعَ أَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّكُمْ ( صلى الله عليه وآله ) وَ ذَهَبْتُمْ حَيْثُ ذَهَبُوا وَ اخْتَرْتُمْ مَنِ اخْتَارَ اللَّهُ لَكُمْ وَ أَرَدْتُمْ مَنْ أَرَادَ اللَّهُ فَأَبْشِرُوا ثُمَّ أَبْشِرُوا فَأَنْتُمْ وَ اللَّهِ الْمَرْحُومُونَ الْمُتَقَبَّلُ مِنْ مُحْسِنِكُمْ وَ الْمُتَجَاوَزُ عَنْ مُسِيئِكُمْ مَنْ لَمْ يَأْتِ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ حَسَنَةٌ وَ لَمْ يُتَجَاوَزْ لَهُ عَنْ سَيِّئَةٍ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ مَلَائِكَةً يُسْقِطُونَ الذُّنُوبَ عَنْ ظُهُورِ شِيعَتِنَا كَمَا يُسْقِطُ الرِّيحُ الْوَرَقَ فِي أَوَانِ سُقُوطِهِ وَ ذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَ جَلَّ الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَ مَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَ يَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا اسْتِغْفَارُهُمْ وَ اللَّهِ لَكُمْ دُونَ هَذَا الْخَلْقِ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجالٌ صَدَقُوا ما عاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضى نَحْبَهُ وَ مِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَ ما بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
إِنَّكُمْ وَفَيْتُمْ بِمَا أَخَذَ اللَّهُ عَلَيْهِ مِيثَاقَكُمْ مِنْ وَلَايَتِنَا وَ إِنَّكُمْ لَمْ تُبَدِّلُوا بِنَا غَيْرَنَا وَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَعَيَّرَكُمُ اللَّهُ كَمَا عَيَّرَهُمْ حَيْثُ يَقُولُ جَلَّ ذِكْرُهُ وَ ما وَجَدْنا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَ إِنْ وَجَدْنا أَكْثَرَهُمْ لَفاسِقِينَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ إِخْواناً عَلى سُرُرٍ مُتَقابِلِينَ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَنَا اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ وَ شِيعَتَنَا وَ عَدُوَّنَا فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ فَقَالَ عَزَّ وَ جَلَّ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّما يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبابِ فَنَحْنُ الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ عَدُوُّنَا الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ وَ شِيعَتُنَا هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَ اللَّهِ مَا اسْتَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِأَحَدٍ مِنْ أَوْصِيَاءِ الْأَنْبِيَاءِ وَ لَا أَتْبَاعِهِمْ مَا خَلَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ( عليه السلام ) وَ شِيعَتَهُ فَقَالَ فِي كِتَابِهِ وَ قَوْلُهُ الْحَقُّ يَوْمَ لا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئاً وَ لا هُمْ يُنْصَرُونَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ يَعْنِي بِذَلِكَ عَلِيّاً ( عليه السلام ) وَ شِيعَتَهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ إِذْ يَقُولُ يا عِبادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ إِنَّ عِبادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطانٌ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا إِلَّا الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) وَ شِيعَتَهُمْ فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَ الصِّدِّيقِينَ وَ الشُّهَداءِ وَ الصَّالِحِينَ وَ حَسُنَ
أُولئِكَ رَفِيقاً فَرَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فِي الْآيَةِ النَّبِيُّونَ وَ نَحْنُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ الصِّدِّيقُونَ وَ الشُّهَدَاءُ وَ أَنْتُمُ الصَّالِحُونَ فَتَسَمَّوْا بِالصَّلَاحِ كَمَا سَمَّاكُمُ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ إِذْ حَكَى عَنْ عَدُوِّكُمْ فِي النَّارِ بِقَوْلِهِ وَ قالُوا ما لَنا لا نَرى رِجالًا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الْأَشْرارِ أَتَّخَذْناهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصارُ وَ اللَّهِ مَا عَنَى وَ لَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ صِرْتُمْ عِنْدَ أَهْلِ هَذَا الْعَالَمِ شِرَارَ النَّاسِ وَ أَنْتُمْ وَ اللَّهِ فِي الْجَنَّةِ تُحْبَرُونَ وَ فِي النَّارِ تُطْلَبُونَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا مِنْ آيَةٍ نَزَلَتْ تَقُودُ إِلَى الْجَنَّةِ وَ لَا تَذْكُرُ أَهْلَهَا بِخَيْرٍ إِلَّا وَ هِيَ فِينَا وَ فِي شِيعَتِنَا وَ مَا مِنْ آيَةٍ نَزَلَتْ تَذْكُرُ أَهْلَهَا بِشَرٍّ وَ لَا تَسُوقُ إِلَى النَّارِ إِلَّا وَ هِيَ فِي عَدُوِّنَا وَ مَنْ خَالَفَنَا فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَيْسَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا نَحْنُ وَ شِيعَتُنَا وَ سَائِرُ النَّاسِ مِنْ ذَلِكَ بُرَآءُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ وَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى فَقَالَ حَسْبِي .

“Sejumlah sahabat kami, dari Sahal bin Ziad, dari Muhammad bin Sulaiman, dari ayahnya berkata: Aku berada di sisi Abu Abdillah as, mendadak Abu Basir datang. Beliau kelihatan gelisah dengan nafasnya yg sesak. Setelah dia duduk, maka Abu Abdillah as berkata kepadanya: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau resah seperti ini? Maka dia menjawab : Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, wahai putra Rasulullah, umurku telah tua, tulangku lemah dan ajalku semkain dekat, tetapi aku belum tahu bagaimana keadaanku di akhirat kelak.?

Abu Abdillah as berkata: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau berkata seperti itu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, mengapa aku tidak boleh berkata demikian? Maka Imam as berkata: Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah memuliakan para pemuda dan malu kepada golongan tua diantara kamu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sebagai tebusan utkmu, bagaimana Dia memuliakan para pemuda di kalangan kita dan malu kepada yang tua?

Abu Abdilah as. berkata: “Dia memuliakan para pemuda diantara kamu supaya Dia tidak menyiksa mereka dan Dia malu kepada kelompok tua diantara kamu supaya Dia tidak menghisab mereka. Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusanmu, adakah hal ini hanya khusus untuk kita atau untuk semua ahli tauhid? Abu Abdillah as berkata: “Tidak, demi Allah hal ini khusus untuk kamu dan tidak untuk yg lain. Abu Basir berkata: “Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, kami telah buruk, punggung kami patah, hati kami mati, penguasa menghalalkan darah kami dengan hadis2 yang diriwayatkan oleh para fukaha mereka.

Abu Abdillah as. berkata : Rafidhah? Abu Basir berkata: Ya!. Beliau as. berkata : “Bukan mereka yang menamai kamu demikain, tetapi Allah swt yang telah menamai kamu dengan nama tersebut. TIDAKKAH ENGKAU TAHU WAHAI ABU MUHAMMAD, BAHWA ADA 70 LAKI-LAKI BANI ISRAEL BERSAMA FIRA’UN YANG MENGIKUTINYA. KETIKA MEREKA MELIHAT KESESATAN FIR’AUN DAN PETUNJUK DARI MUSA AS, MAKA MEREKA MENOLAK (RAFADHU) FIR’AUN.

KEMUDIAN MEREKA MENGIKUTI MUSA DAN BERADA DALAM NAUNGAN MUSA AS, DAN MEEKA DIKENAL SEBAGAI ORG2 YANG RAJIN BERIBADAH. MEREKA MENOLAK FIRA’UN. MAKA ALLAH MEWAHYUKAN KEPADA MUSA AS AGAR MENJADIKAN NAMA ITU UNTUK MEREKA DI DALAM TAURAT.

SESUNGGUHNYA AKU MENJADIKAN NAMA MEREKA, KEMUDIAN ALLAH MENYIMPAN NAMA TERSEBUT SEHINGGA MEMBERIKAN NAMA TERSEBUT KEPADA KAMU SEKALIAN. WAHAI ABU MUHAMMAD, MEREKA TELAH MENOLAK KEBAIKAN SEDANGKAN KAMU SEDANG MENOLAK KEJAHATAN. MANUSIA TERPECAH MENJADI BEBERAPA GOLONGAN DAN SYIAH, TETAPI KAMU TELAH MENJADI SYIAH AHLUL BAIT NABIMU. KARENA ITU, KAMU TELAH BERPEGANG DENGAN APA YANG TELAH DIPERINTAHKAN ALLAH DAN KAMU TELAH MEMILIH APA2 YANG TELAH DIPILIH ALLAH. MAKA BERGEMBIRALAH KAMU DAN BERITAKAN KABAR GEMBIRA INI KEPADA MEREKA.

Kemudian, selanjutnya Abu Abdilah as memberikan kabar gembira dan keutamaan serta kelebihan2 syiah mereka……silahkan anda baca riwayat di atas…maaf sy gak terjemahkan seluruhnya… takut kepanjangan..

# Perhatikanlah…bahwa dengan membaca keseluruhan hadits ini, maka akan dengan jelas terlihat bahwa Husain al-Musawi berusaha membalikkan fakta yg sebenarnya dengan memotong2 riwayat sesuka hatinya…

Apakah Husain al-Musawi ingin mengatakan bahwa org2 yg menolak (rafadhu) Firuan adalah org2 sesat dan yg mengikuti Fira’aun adalah org2 soleh yg selamat….???

Begitulah org2 syiah menolak pemerintahan2 zalim yg meniru pemerintahan Fira’un. Jika Fir’aun dahulu kala memeriksa semua rumah utk mencari dan membunuh anak lelaki yg akan meruntuhkan kekuasaanya… maka penguasa2 masa itu…membunuh para ahlul bait Rasul saaw. Mereka meracun Hasan as dan membunuh Husain as dan keluarganya serta sahabat2nya di Karbala…Tidak hanya sampai disitu, mereka mengawasi setiap Keturunan Rasulullah saaw berikutnya dan mengawasi para pengiktunya. Mencaci maki ahlul bait dan pengikutnya…membunuh org2 yg tidak mau mencaci keluarga Nabi saaw.

Sampai2..seperti Firaun di zaman Musa as, mereka juga mengawasi rumah Imam Hasan al-Askari (Imam kesebelas syiah) utk mencari tahu kelahiran bayinya al-Imam Muhammad al-Mahdi afs dan membunuhnya, karena mereka tahu Imam Mahdi dan para pengikutnya akan meruntuhkan kekuasaan mereka…..org2 syiah inilah yg disebut hadits tersebut sbg yg menolak (rafadhu) penguasa zalim….apakah org yg menolak pemimpin2 zalim seperti Firaun itu sesat..??? silahkan anda jawab sendiri….karena sy rasa tidak perlu diajari lagi.

KESALAHAN KESIMPULAN TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

Salah satu sebab terjadinya kesalahan berpikir adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan saat belum memahami sebuah persoalan secara utuh. Banyak orang bisa membaca berita, tetapi sedikit yang bisa menafsirkan dan menganalisis berita.

Pembahasan tentang Abdullah bin saba’ bisa dinilai dari dua hal yaitu keberadaan Abdullah bin Saba’ dan pendapat para ulama syiah tentang sosok Abdullah bin Saba’.

1. Keberadaan Abdullah bin Saba’

Para ulama dan ilmuwan muslim baik dari sunni maupun syiah berbeda pendapat tentang keberadaan sosok Abdullah bin Saba’. Sebagian menganggapnya ada dan sebagian lagi menganggapnya sosok dongeng dan fiktif.

Keberadaan Abdullah bin Saba’ disebutkan baik oleh buku2 syiah maupun buku2 sunni. Jika ditelusuri sumber buku2 syiah ttg Abdulah bin Saba’ terdapat pada karya An-Naubakhti, Firaq al-Syiah dan al-Asyari al-Qumi, al-Maqqalat wal Firaq. Dan setelah kita periksa maka ternyata karya an-Naubakhti dan al-Qummi ini tidak menyebutkan sanadnya dan sumber pengambilannya…shg dianggap bahwa mereka hanya menuliskan cerita populer tersebut yg beredar dikalangan sunni.

Adapun yg pertama melakukan studi ilmiah dan istematis ttg Abdullah bin Saba’ adalah Sayid Murtadha al-Askari. Dan dari hasil penelususrannya tersebut, ia menganggap bahwa cerita ttg Abdullah bin Saba’ adalah fiktif. Sehingga, ia menolak keberadaan Abdullah bin saba’.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng adalah Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami, Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabi dlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

2. Pendapat para ulama Syiah tentang Abdullah bin Saba’

Para ulama syiah dari dulu hingga sekarang tidak menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali dan Imam-imam lainnya. Bahkan seluruh ulama syiah mengecam dan melaknat serta berlepas diri (tabarri) dari pendapat dan diri Abdullah bin Saba’. Bahkan buku-buku dan pendapat-pendapat yang dikutip oleh Husain al-Musawi dalam bukunya ini sudah cukup memnunjukkan sikap para Imam syiah dan ulama syiah tentang Abdullah bin saba’.

Dengan dua catatan di atas, maka jelaslah persoalan Ibnu Saba’ yang tidak kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah org ditolak keberadaanya atau yang dihina dan dikafirkan oleh seluruh imam2 syiah dan ulama-ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah..??? sungguh kesimpulan yang gegabah dan tentu saja salah kaprah. …

Pada halaman 12, Husain al-Musawi menulis :
> “Abdullah bin Saba’adalah salah satu sebab, bahkan sebab yang paling utama kebencian sebagian besar orang syiah kepada ahlus sunnah.

# Darimana sumber kesimpulan Husain al-Musawi ini muncul..??? Sumber satu2nya adalah imajinasinya yang tak pernah kering. Coba perhatikan, Husain al-Musawi berusaha mempropokasi pembacanya. Pertanyaan kita apa hubungan antara Abdullah bin Saba’ dan kebencian kepada ahlu sunnah. Padahal kalau kita perhatikan seluruh buku2 syiah dan juga buku2 sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi sunni dan syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Seharusnya kesimpulan yang rasional dari hal itu adalah bahwa ahlussunnah dan syiah sama2 membenci Abdullah bin Saba’. Coba perhatikan enam kutipan kitab syiah yang ditulisnya dari mulai halaman 12 sampai halaman 15, bukankah semua isinya menghujat Abdullah bin Saba’..???

Seharusnya, jika dia menyatakan bahwa syiah adalah pengikut Ibnu Saba’, maka dia harus menyebutkan hadits2 syiah yg memuji Ibnu Saba’..??? tapi sayang dia takkan menemukannya….wallahu a’lam

datanglah seorang kafir ke hadapan Imam Ali ar-Ridha as dan kemudian berkata : “Buktikanlah kepadaku keberadaan Tuhan itu”!

Suatu hari berkatalah orang-orang kafir, ‘Bagaimana Tuhan Yang Satu itu bisa mendengar sekian banyak manusia, maka sebagai jawabannya Allah menurunkan ayat :

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang…Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Q.S. al-Baqarah : 163-164)

Ayat di atas memberikan bukti kepada kita akan keberadaan dan keesaan Allah swt, dengan memperhatikan enam fenomena di jagad raya :
1. Penciptaan langit dan bumi.
2. Silih bergantinya malam dan siang.
3. Bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia
4. Air yang diturunkan dari langit yang dapat menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan tersebarnya di bumi itu segala jenis hewan.
5. Pengisaran angin.
6. Awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

Keenam fenomena ini merupakan bukti nyata keberadaan dan keesaan Allah. Tetapi sebagaimana ditegaskan oleh ayat tersebut, semua itu hanya bermakna bagi orang-orang yang mau memikirkan. Benarlah Rasulullah saaw yang bersabda, “Agama adalah akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal”.

Hari ini…sebagian orang mungkin bertanya, bagaimana kita membuktikan keberadaan Allah padahal Ia tidak pernah kita lihat? Pertanyaan seperti ini terkadang membuat kita bingung dan gelisah, bahkan jika dibiarkan akan membuat kita menjadi ragu-ragu dalam beragama. Tapi, sering kali untuk menutupi kegelisahan itu kita hanya berkata..”Keberadaan Tuhan cukup kita yakini saja”.

Namun..statement tersebut ternyata tidak juga mengikis kegelisahan kita..sebab kita punya akal yg senantiasa bertanya utk mencari tahu. Karenanya, kita memerlukan argumen untuk membuktikan keberadaan Allah swt, meskipun tidak pernah kita dengar atau kita melihat diri-Nya secara langsung.

Suatu hari datanglah seorang kafir ke hadapan Imam Ali ar-Ridha as dan kemudian berkata : “Buktikanlah kepadaku keberadaan Tuhan itu”! Imam Ali ar-Ridha menjawab : “Saat aku memikirkan tentang tubuhku, aku sadar bahwa aku tidak bisa menambahkan sesuatu pada panjang dan lebarnya, atau mengurangi sesuatu daripadanya. Demikian pula, aku tak bisa memilih untuk bahagia atau tidak bahagia (sebagai contoh, bisa saja aku telah berusaha keras untuk sembuh dari sakit, tetapi tetap saja gagal). Dari bukti ini dan juga dari memperhatikan pengaturan matahari, bintang-bintang, planet-planet dan bumi serta keteraturan seluruh alam semesta, aku paham bahwa tubuhku dan alam ini ada pencipta dan pengaturnya Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa.”

Cobalah kamu lempar sebuah batu ke atas, kemudian tunggulah beberapa saat batu pasti akan kembali jatuh ke bawah menuju tanah. Kenapa hal itu terjadi? Kita akan menjawab bahwa batu itu ditarik oleh kekuatan bumi yang kita sebut dengan gravitasi. Kenapa kita yakin bahwa gravitasi itu ada, padahal kita tidak pernah mendengarnya, tidak pernah melihat bentuknya, dan tidak pernah mencium baunya? Jawabnya, kita mengetahui melalui efek yang yang ditimbulkannya, dimana kita mengamati, bahwa setiap benda-benda yang terlepas akan jatuh ke tanah.

Jadi, jika ditelusuri apa yang ada di alam dunia ini pun, akan ditemukan hal-hal yang tidak mampu indera kita menangkapnya. Ini menjadi lebih jelas dengan mengamati tingkatan makhluk yang sering kita pelajari di sekolah, sebagai berikut :
1. Benda mati. Benda mati ini, sepenuhnya dapat diindera oleh manusia seperti batu, tanah, dan lain-lain.
2. Tumbuh-tumbuhan. Pada tingkat tumbuh-tumbuhan sudah terdapat hal-hal yang dapat kita indera seperti batang pohon, daunya, akarnya, buahnya, dan lain-lain. Namun, ada juga hal-hal yang tidak dapat kita indera seperti kehidupan yang ada pada tumbuhan, karena tumbuhan termasuk makhluk hidup.
3. Dunia hewan. Pada hewan juga terdapat hal-hal yang bisa diindera seperti bentuk tubuhnya atau bulunya. Tetapi ada juga yang tidak bisa kita indera seperti kehidupan, naluri, dan cinta kasih pada binatang.
4. Dunia manusia. Perhatikan dirimu, apa yang engkau lihat. Kamu akan melihat tubuhmu, tanganmu, kepalamu, kakimu, hidungmu, bibirmu, model rambutmu, dan lainnya. Tetapi apakah engkau pernah melihat bentuk atau kekuatan hidup pada dirimu, kesadaran, akal pikiran, takut, atau cinta kasih? Kamu tidak pernah melihatnya, tetapi kamu yakin semua itu ada pada dirimu.

Dengan demikian, ternyata di alam ini banyak sekali hal-hal yang tidak dapat kita indera, tidak pernah kita lihat, dengar atau rasakan, tetapi kita meyakini keberadaannya dari efek yang ditimbulkannya. Itulah mengapa Allah berfirman di dalam al-Quran, “Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak kamu lihat” (Q.S. al-Haqqah : 38-39). Sedangkan menurut pandangan ilmuwan Muslim ada lima hierarki realitas wujud yang disebut dengan al-Hadharat al-Ilahiyah al-Khamis (Lima Kehadiran Ilahi), yaitu alam nasut (alam materi), alam malakut (alam kejiwaan), alam jabarut (alam ruh), alam lahut (sifat-sifat uluhiyah), dan alam hahut (wujud zat ilahi). Hanya alam yang pertama saja (alam materi) yang mampu dijangkau oleh manusia dengan inderanya, sedangkan empat lainnya termasuk alam gaib yang tidak dapat di indera.

Sekarang, coba kamu perhatikan komputer kita masing2. Ia memiliki bagian-bagian hardware dan sofware yang kemudian di susun sehingga jadilah satu unit komputer. Mungkinkah, komputer itu tersusun dan jadi dengan sendirinya tanpa ada yang meyusun atau merakitnya? Jika, satu unit komputer saja harus ada yang membuatnya yang memiliki kecerdasan tinggi, lalu mungkinkah alam yang luas dan rumit ini datang dengan sendirinya tanpa diciptakan oleh suatu kekuatan yang Tinggi? Tentu saja kita jawab : Tidak!, alam ini pasti ada yang menciptakannya.” Itulah yang kita sebut Allah swt. Inilah bukti keberadaan Allah swt.

‘Ya allah, karuniailah kami kecerahan hati dan ketajaman akal, untuk senantiasa memperhatikan segala jejak-jejak yang Engkau tinggalkan di alam ciptaan.”
wallahu a’lam

Kebenaran Syi’ah Imamiyah Ditengah SPRITUALITAS DAN GLOBALISASI

Pendahuluan

Tema spiritualitas dan globalisasi sangat urgen untuk dibincangkan. Selain karena tugas mata kuliah spiritualitas dan kemodrenan, diskursus ini juga terkait dengan sebuah “era”, di mana kita hidup di dalamnya, dan kita termasuk makhluk yang menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual.

Apa hakekat globalisasi? Bagaimana sejarahnya? Apa yang dimaksud dengan spiritualitas? Bagaimana spiritualitas di era global? Deretan pertanyaan tersebut akan coba dijelaskan dalam makalah ini.

Globalisasi

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias.[1]

Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.[2]

Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.[3]

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.[4]

Keterpesonaan akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai konsekwensi modernitas di era global ini, berakhir pada peniscayaan terhadap ratio yang membuat manusia memandang dan menghadirkan dunia dengan segala persoalannya sebagai realitas yang sederhana. Oleh Yasraf Amir Pilliang dunia seperti itu diistilahkan dengan dunia yang telah dilipat (2004).[5] Hal ini disebabkan oleh kenyataan betapa kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat aktivitas hidup manusia semakin efektif dan efisien.

Dunia yang telah dilipat muncul sebagai konsekwensi dari kehadiran berbagai penemuan teknologi mutakhir terutama transportasi, telekomunikasi dan informasi,  jarak-ruang semakin kecil dan semakin sedikit waktu yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya, inilah pelipatan ruang-waktu. Adalagi pelipatan waktu-tindakan, yakni pemadatan tindakan ke dalam satuan waktu tertentu dalam rangka memperpendek jarak dan durasi tindakan, dengan tujuan mencapai efisiensi waktu. Dahulu manusia melakukan satu hal dalam satu waktu tertentu, seperti memasak, menyetir, membaca, menelepon dan lain-lain. Kini, manusia dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu bersamaan, menyetir mobil sambil menelepon, mendengar musik, makan dan sambil bicara.

Pada bagian lain ada pula miniaturisasi ruang-waktu, dimana sesuatu dikerdilkan dalam berbagai dimensi, aspek, sifat dan bentuk lainnya. Realitas ditampilkan melalui media gambar, fotografi, televisi, film, video, dan internet. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paul Virilio yang dikutip sebagaimana dikutip oleh Nurhamzah,[6] bahwa ruang saat ini tidak lagi meluas, tetapi mengerut di dalam sebuah layar elektronik. Jika ingin mengetahui sesuatu yang riil, manusia dapat mencari dan menyaksikan melalui video, film, dan televisi. Ingin tahu mendetail tentang sang bintang idola, maka orang tinggal mengklik satu situs dalam internet, kemudian tampillah sang bintang dengan ragam tentang dirinya, dan seterusnya. Demikianlah di antara beberapa gambaran tentang pelipatan dunia oleh perkembangan teknologi mutakhir di bidang transportasi, komunikasi dan informasi.

Sejarah globalisasi

Banyak sejarawan menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera maupun jalan laut untuk berdagang.[7]

Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia.[8]

Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia.[9]

Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indonesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.[10]

Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur.[11]

Spiritualitas

Spiritualitas dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai kejiwaan, rohani, batin, mental; dan moral.[12] Term ini disejajarkan dengan istilah rúhaniyah. Muhammad Husain Abdullah dalam Mafahim Islamiyah mendefinisikan “rúhaniyah” sebagai idrak shillah billahi (kesadaran hubungannya dengan Allah SWT).[13] Sementara al-Farra` dan Abu Haitsam menyebutnya dengan istilah “ruh”, yaitu substansi kehidupan manusia dan tidak diketahui secara pasti eksestensinya.[14] Ruh juga digunakan untuk wahyu, seperti pada surat al-Mukmin ayat 15. Wahyu ibarat nyawa bagi seorang Muslim, sebagaimana ruh menjadi nyawa bagi manusia.

Terlepas dari perbedaan istilah spritualitas dalam bahasa Arab, pendapat Nurcholis Madjid berikut kelihatannya mewakili arti diskursus ini, yaitu sesuatu yang hanya bisa dipahami dan dialami sendiri, bersifat individual dan berasal dari fitrah kemanusiaan.[15]

Sebagai fitrah kemanusiaan, spiritualitas, menurut Yasraf, adalah sesuatu yang mempunyai kekuatan otonom dan mampu menghidupi atau menggerakkan sesuatu yang lain di luar dirinya, baik yang bersifat ketuhanan maupun yang bukan. Dia mengidentikkan spiritualitas sebagai Sesuatu yang Tidak Diketahui dan Yang Tak Berhingga.[16]

Dimensi spiritual manusia tersebut dan kecenderungan-kecenderungan dasarnya adalah sebuah bukti yang gamblang  atas kefitrahan kepercayaan (spritualitas), dan termasuk salah satu dari empat perasaan yang populer dan mendasar yang akhir-akhir ini diintroduksi oleh sebagian psikolog dan psikoanalis sebagai dimensi spiritual manusia, yaitu perasaan kognitif atau kuriositas, perasaan estetik, perasaan etik dan perasaan religius (spritualitas).[17]

Di antara empat dimensi spritual manusia yang terkadang juga disebut sebagai kecenderungan kepada kesempurnaan mutlak, kecendrungan terakhir itu mengajak manusia kepada kesadaran akan keberadaan Tuhan, dan  keyakianan akan adanya Sumber Awal Yang Maha Agung.

Kebutuhan Spritualitas di Era Global

Era global adalah zaman ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Manusia dipandang sebagai makhluk yang hebat, yang independen dari Tuhan dan alam. Manusia di era global dan sebagai konsekwensi modernisasi, melepaskan diri dari keterikatannya dengan Tuhan (theomosphisme), untuk selanjutnya membangun tatanan manusia yang semata-mata berpusat pada manusia (antropomorphisme). Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri, yang mengakibatkan terputusnya dari nilai-nilai spiritual. Akibatnya, manusia modern “Barat” pada akhirnya tidak mampu menjawab persoalan-persoalan hidup sendiri.

Modernisme akhirnya dirasakan membawa kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup. Timbul berbagai kritik dan usaha pencarian baru. Manusia membutuhkan pola pemikiran baru yang diharapkan membawa kesadaran dan pola kehidupan baru. Dalam hal kesadaran manusia, secara praktis, timbul gejala pencarian makna hidup dan upaya penemuan diri pada kepercayaan-kepercayaan yang sarat dengan spiritualitas. “Organized Religion” (agama yang terorganisasi) tidak selamanya dapat memenuhi harapan. Oleh sebab itu, bermunculan kecenderungan untuk kembali kepada orisinalitas (fundamentalis), kharisma yang dapat menentukan (cults) dan fenomena-fenomena yang luar biasa (magic). Sebagaimana diungkapkan oleh Komaruddin Hiayat:

Dimensi spiritualitas dari faham dan penghayatan keberagamaan,  pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan ke dalam diri manusia sendiri. Bisa jadi masyarakat modern di era global yang memiliki fasilitas transportasi canggih merasa telah melanglang buana, bahkan telah melakukan perjalanan ke planet lain, namun amat mungkin masih miskin dalam pengembaraannya dalam upaya mengenal dimensi batinnya, bahwa ia adalah makhluk spiritual. Pencapaian sains dan teknologi memang membuat manusia lupa bahwa dirinya adalah makhluk spiritual, sehingga ia menjadi terasing dari dirinya sendiri dan dari Tuhannya. Inilah yang disebut situasi kehampaan spiritual. Dan itu terjadi akibat gaya hidup serba kebendaan di zaman modern (era glogal) yang menyebabkan manusia sulit menemukan dirinya dan makna hidupnya yang terdalam.[18]

Namun, seperti senantiasa terjadi dalam sejarah kehidupan spiritual manusia, gagasan tentang spiritualitas yang murni selalu mengalami distorsi dan materialisasi yang bersifat fetis. Tak heran, spiritualitas dalam realitas kebudayaan kontemporer pun mengalami distorsi.[19]

Saat ini, spiritualitas telah mengalami titik balik, yaitu dari nilai spiritual ke terapi. Dahulu, apabila seseorang gelisah, maka mereka biasanya mencari penentram jiwanya dalam agama, sedang saat ini manusia lebih banyak lari ke terapi-terapi yang sifatnya adalah “pengobatan” sementara. Manusia konsumer, menurut Yasraf, tidak tertarik akan “keselamatan diri” lewat perenungan atau ibadat, melainkan tertarik terhadap ilusi-ilusi yang bersifat sementara, seperti kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keamanan psikis lewat terapi; hanyut dalam berbagai bentuk terapi, seperti, yoga, latihan spiritual kilat, konser musik rock, astrologi populer, joging, pusat kebugaran, karaoke. Kondisi ini melahirkan suatu fenomena yang disebut Yasraf sebagai pospiritualitas, yaitu kondisi spiritualitas ketika yang suci bercampur aduk dengan yang profan, yang sakral bersimbiosis dengan yang permukaan, sehingga batas-batas di antara semuanya menjadi kabur.

Permasalahan yang agak pelik dan cukup licin tentang spiritualitas, apalagi dalam realitas kebudayaan kontemporer, adalah “makna” pengalaman spiritual itu sendiri. dalam masyarakat kontemporer, suatu pengalaman yang sifatnya sangat profan dan sekuler pun bisa dimaknai sebagai pengalaman “spiritual”. Inilah bentuk pos spiritualitas dalam masyarakat kontemporer. Yasraf, misalnya, mengutip sebuah pernyataan Madonna dari karya Akbar S. Ahmed, yang bisa merepresentasikan fenomena pospiritualitas tersebut:

“Saya religius“, “Saya spiritual”, katanya. Namun ketika ditanya tentang doa tersebut, ia berkata “Ya saya religius…, saya tidak mencoba membangun jembatan antara seks dan agama. Hanya gereja Katolik yang bersi¬keras memisahkan dan itu nonsens.”[20]

Pembicaraan tentang permasalahan spiritualitas dan apa yang disebut sebagai “pengalaman” spiritual memang sangat problematis. Selain sulit untuk diverifikasi—dan juga permasalahan “otoritas”—adalah masalah keserupaan dan tafsirannya. Misalnya, seseorang yang memakan obat-obatan psikotropika bisa saja menafsirkan bahwa dia pun “merasakan” pengalaman spiritual, entah berupa penglihatan, penampakan, atau bahkan bisikan-bisikan. Bahkan, pada tingkatan filosofis pun, hal tersebut tetap menjadi permasalahan yang tak terdamaikan, seperti yang diungkapkan oleh Dodi Salman:

Sufisme diharapkan dapat menjadi mesin “pencerahan” di tengah deru mesin hasrat kapitalisme dan masyarakat postmodern (era global) yang berputar tanpa henti. Akan tetapi, derasnya perputaran mesin hasrat tersebut—yang mewujud di dalam bentuk-bentuk komoditi, citra, gaya hidup, tontonan—telah menimbulkan kekhawatiran, jangan-jangan sufisme itu sendiri dapat terperangkap di dalam arus hasrat postmodern sehingga yang tercipta adalah semacam “sufi materialistik”, yaitu para sufi yang terperangkap di dalam pengaruh jagat materi dan gaya hidup masyarakat postmodern. Inilah misalnya, seorang wanita “sufi”, yang berkunjung ke sebuah mall mewah, mengendarai sendiri mobil build-up-nya yang terbaru, mengenakan setelan fesyen mutakhir rancangan Versace, memakai kacamata sunglass yang gelap; membawa handpone mutakhirnya yang trendi, sambil menenteng ke mana-mana “sertifikat sufi”, sebagai “citra” dan “legitimasi” diri di tengah belantara citra budaya postmodern yang bersifat paradoks.[21]

Perkembangan Spritualitas di Era Global

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, baik bersifat negatif maupun positif, termasuk di antaranya aspek budaya[22] dan spiritualitas.

Era ini, dan merupakan prestasi mutakhir modernisme, telah mengantarkan manusia pada supremasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme dan dogmatisme agama. Kenyataan ini dapat dipahami, karena abad modern dibangun atas dasar pemisahan antara ilmu pengetahuan dan filsafat dari pengaruh agama (sekularisme). Perpaduan antara rasionalisme dan empirisme dalam satu paket epistemologi melahirkan apa yang oleh Huxley disebut dengan metode ilmiah (scientific method).[23]

Kesimpulan

Spritualitas merupakan potensi kemanusian yang tidak mungkin hilang dalam kondisi dan situasi apa pun. Gaung spiritualitas akan tetap menggema kendatipun manusia telah bertahta di puncak rasionalitas, dan berada di sebuah “era”, disebut globalisai. Tuntutan spiritualitas manusia tidak terikat dengan ruang waktu, ia akan tetap eksis dan menggema dalam setiap situasi.


REFERENSI

Ahmed, Akbar S. and Hastings Donnan (ed.), Islam Globalization and Post Modernity, London and New York, Routledge, 1994

______________, Posmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam, Bandung: Mizan, 1992

Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan,.  Bandung: Mizan, 2003

Giddens, A., The Consequences of Modernity, Cambridge: Polity Press, 1990

Hidayat, Komaruddin, Kualifikasi Seorang Kiyai, http://tokohindonesia.com/ ensiklopedi/ k/ komaruddin-hidayat/biografi/02.shtml,, 2009

“Kesunyian dan Kegilaan: Sufisme dan Postmodernisme” dalam Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-tuhan” Digital, Jakarta: Grasindo, 2004

Maksum, Ali, Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam dalam Kancah Kebangkitan Agama, http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-1.html, 2008

Mandhur, Ibn, Lisan al-Arab, Jilid 3, Kairo: Dar al-Hadits 2003

Mustafa, Mr., Pengertian dan Ciri-ciri Globalisasi, http://mustofasmp2. wordpress. Com / 2008

Nurhamzah, Absurditas Manusia Modern : Sebuah Rekonstruksi Spiritual Manusia Modern, E-mail : Hamzah_tuhankecil@yahoo.com, 2009

Pals, Daniel L. Seven Trories of Religion, Yogyakarta: Qalam, 2001

Pirages, Dennis, The New Context for International Relations: Global Ecopolitics, North Scituate, Massachusetts, tt.

Spiritualitas tak Bisa Diperoleh Lewat “Cyberspace, Jakarta, Kompas, Senin, 27 Maret 2000

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka cetakan 1990

Yakub, Husein, Muhammad, Mafahim Islamiyah, Kairo: Maktabah Syafa, 2000

Yasraf Amir Pilliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yogyakarta: Jalasutra, 2004

_________________, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yogyakarta: Jalasutra, 2004


[1].  Mr. Mustafa, Pengertian dan Ciri-ciri Globalisasi,(http://mustofasmp2. wordpress. Com / 2008/12/31/), h. 1

[2]. Dennis, Pirages, The New Context for International Relations: Global Ecopolitics, (North Scituate, Massachusetts, tt.), h. 4-6

[3]. Akbar S. Ahmed and Hastings Donnan (ed.), Islam Globalization and Post Modernity, (London and New York, Routledge, 1994), h. 1-3. Lihat: A. Giddens, The Consequences of Modernity, (Cambridge: Polity Press, 1990), h. 64

[4]. Ibid.

[5]. Yasraf Amir Pilliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, (Yogyakarta: Jalasutra, 2004), h. 23

[6]. Nurhamzah, Absurditas Manusia Modern : Sebuah Rekonstruksi Spiritual Manusia Modern, (E-mail : Hamzah_tuhankecil@yahoo.com, 2009), h. 3

[7] . Mr. Mustafa, h. 2

[8]. Ibid.

[9]. Ibid.

[10]. Ibid.

[11]. Ibid.

[12]. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka cetakan 1990), h. 857

[13]. Muhammad Husein Yakub, Mafahim Islamiyah, (Kairo: Maktabah Syafa, 2000), h. 17

[14]. Ibn Mandhur, Lisan al-Arab, Jilid 3, (Kairo: Dar al-Hadits 2003), h. 290

[15] . Spiritualitas tak Bisa Diperoleh Lewat “Cyberspace, (Jakarta, Kompas, Senin, 27 Maret 2000), h.1

[16]. Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, (Yogyakarta: Jalasutra, 2004), h. 503-504

[17]. Karen Armstrong, Sejarah Tuhan,.  (Bandung: Mizan, 2003), h. VII

[18]. Komaruddin Hidayat, Kualifikasi Seorang Kiyai, (http://tokohindonesia.com/ ensiklopedi/ k/ komaruddin-hidayat/biografi/02.shtml,, 2009), h. 3

[19]. Dikutip dari prolog Dunia yang Dilipat, Edisi 1, tidak dimuat lagi dalam Edisi II

[20]. Akbar S. Ahmed, Posmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam, (Bandung: Mizan, 1992), h. 224.

[21]. “Kesunyian dan Kegilaan: Sufisme dan Postmodernisme” dalam Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-tuhan” Digital, (Jakarta: Grasindo, 2004), h. 204

[22]. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Daniel L. Pals, Seven Trories of Religion, (Yogyakarta: Qalam, 2001), h. 149

[23]. Ali Maksum, Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam dalam Kancah Kebangkitan Agama,

Tiga Serangkai : Nabi SAW, Imam Ali dan Fatimah

MANUSIA TERSEMPURNA AL-RASUL MUHAMMAD SAAW

Riwayat Singkat Rasulullah Saw

Nama            : Muhammad.

Ayah             : Abdullah bin Abdul Muthalib.

Ibu                 : Aminah binti Wahab.

Kelahiran  : Makkah, Sabtu 17 Rabiul Awal, Tahun Gajah.

Wafat            : Senin, 28 Safar 11 H.

Makam        : Madinah Al-Munawwarah.

Bangsa Quraisy

Bangsa Quraisy dipandang sebagai salah satu bangsa yang dihormati dan disegani di antara bangsa-bangsa yang ada di semenanjung Arabia. Quraisy sendiri terbagi ke dalam berbagai suku. Bani Hasyim adalah salah satu suku terhormat di antara suku-suku yang ada. Qushai bin Kilab adalah nenek moyang mereka yang bertugas sebagai penjaga Ka’bah.

Di tengah warga Makkah, Hasyim dikenal sebagai orang yang mulia, bijaksana, dan terhormat. Ia banyak membantu mereka, memulai perniagaan pada musim dingin dan musim panas supaya mereka mendapatkan penghidupan yang layak. Atas jasa-jasanya, warga kota memberinya julukan “sayid” (tuan). Julukan ini secara turun-temurun disandang oleh anak keturunan Hasyim.

Setelah Hasyim, kepemimpinan bangsa Quraisy dipercayakan kepada anaknya yang bernama Muthalib, kemudian dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib adalah seorang yang berwibawa. Pada masanya, Abrahah Al-Habasyi menyerbu Makkah untuk menghancurkan Ka’bah, namun berkat pertolongan Allah SWT, Abrahah dan pasukan gajahnya mengalami kekalahan. Tahun penyerbuan itu kemudian dikenal dengan nama Tahun Gajah. Dan sejak peristiwa itu, nama Abdul Muthalib pun semakin terpandang di kalangan kabilah Arab.

Abdul Muthalib mempunyai beberapa anak. Di antara mereka, Abdullah-lah anak yang paling saleh dan paling dicintainya. Pada usia 24 tahun, Abdullah menikah dengan perempuan mulia bernama Aminah.

Dua bulan setelah Tahun Gajah, Aminah melahirkan seorang anak. Ia memberinya nama Muhammad. Sebelum kelahiran Muhammad, ayahnya Abdullah meninggal dunia. Tak lama setelah melahirkan, sang ibu pun menyusul suaminya kembali ke alam baka. Maka, sejak awal kelahirannya, Muhammad sudah menjalani hidupnya sebagai anak yatim.

Setelah ditinggalkan oleh kedua orang tua yang dicintainya, Muhammad diasuh oleh sang kakek, Abdul Muthalib. Berkat anugerah dan rahmat dari Allah SWT, Muhammad tumbuh menjadi dewasa dengan kesucian jiwa yang terpelihara.

Warga kota Makkah begitu mencintainya, bahkan merelakan barang-barang mereka berada di bawah pengawasan Muhammad. Atas kejujuran dan sifat amanah yang ditunjukkannya, mereka memberinya gelar “Al-Amin”, yakni orang yang tepercaya.

Dengan bekal iman yang teguh, Muhammad membantu orang-orang fakir, membela orang-orang yang tertindas, membagikan makanan kepada mereka yang lapar, mendengarkan keluhan-keluhan mereka, dan berusaha memberikan jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka hadapi.

Ketika beberapa orang pemuda menggalang sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “Sumpah Pemuda” (Hilful Fudhul), segera Muhammad pun bergabung bersama mereka, karena gerakan itu sejalan dengan perilaku luhur dan tujuan-tujuannya.

Pada suatu waktu, Abu Thalib, paman Muhammad, menasehatinya untuk ikut berniaga dengan kafilah dagang Khadijah, seorang wanita Makkah yang kaya dan terhormat. Kemudian, Muhammad pun ditunjuk untuk memimpin kafilah dagang tersebut.

Selama bergabung dalam kafilah dagangnya, Khadijah menyaksikan dari dekat kejujuran, keteguhan, dan keutamaan perilaku Muhammad. Tak segan lagi Khadijah melamarnya. Muhammad menerima lamaran itu. Dan tak lama kemudian, mereka pun melangsungkan pernikahan.

Dari perhikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Fatimah, yang dari keturunannya lahirlah manusia-manusia suci.

Hajar Aswad (Batu Hitam)

Sepuluh tahun setelah pernikahan itu, banjir besar melanda kota Makkah yang merusak sebagian besar bangunan Ka’bah. Warga kota bermaksud untuk memperbaikinya.

Untuk mencegah perseturuan yang bakal terjadi, perbaikan itu dilakukan oleh berbagai suku yang ada di kota secara gotong royong. Namun, tatkala perbaikan telah selesai, tibalah saatnya untuk meletakkan Hajar Aswad. Ketika itu, masing-masing bangsa mengaku paling berhak untuk meletakkan batu itu.

Perang hampir saja terjadi. Tiba-tiba Muhammad muncul memberi sebuah usulan, dengan menanggalkan jubahnya dan meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-tengahnya, lalu setiap kepala suku memegang tepi jubah itu, lantas membawanya bersama-sama ke tempat asalnya.

Wahyu Pertama

Menginjak usia 40 tahun, Muhammad diangkat sebagai nabi. Suatu hari, ketika beliau sedang melakukan ibadah di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril as membawa wahyu dari Allah dan menyapanya, “Iqra! Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari gumpalan darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Mahamulia. Dialah yang mengajarkan ilmu dengan pena. Dialah yang telah mengajarkan kepada manusia akan segala yang tidak diketahuinya.”

Sejak itu, Muhammad terpilih untuk mengemban risalah Allah sebagai Rasulullah saw di tengah umat manusia di seluruh dunia.

Di awal-awal kenabian, Rasulullah saw berdakwah secara rahasia. Pada saat itu, hanya beberapa orang saja yang mau menerima Islam. Orang pertama yang mengakui Muhammad sebagai Rasulullah saw ialah istri beliau, Khadijah, kemudian disusul oleh sepupunya, Ali bin Abi Thalib.

Tiga tahun lamanya Islam terus menyebar di kalangan rakyat miskin kota Makkah. Setelah itu, Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw untuk melakukan dakwah secara terang-terangan, mengajak manusia menyembah Tuhan Yang Esa dan memulai perang suci melawan para penyembah berhala.

Tugas dakwah merupakan tugas yang penuh resiko dan bahaya. Sebab, para pemimpin kabilah telah sekian lama larut dalam kenikmatan berupa kedudukan dan menjadikan orang-orang sebagai budaknya.

Mereka khawatir bahwa dakwah Rasulullah saw akan merongrong kekuasaan mereka. Selain itu, tugas dakwah akan menjumpai kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaannya, karena berhala-berhala itu telah lama dijadikan sesembahan oleh mereka.

Rasulullah saw tidak mengenal toleransi. Ia memilih untuk memikul tugas ini untuk mengesakan Tuhan dan menegakkan undang-undang Tauhid di muka bumi.

Masyarakat yang sebelumnya menghormati dan santun terhadap Nabi saw, kini berbalik membenci dan memusuhi dakwah beliau dengan harta. Namun usaha mereka gagal.

Kemudian, permusuhan mereka berlanjut dengan menyiksa dan menjarah harta-harta milik Nabi saw. Namun, usaha mereka ini pun tidak berhasil untuk menahan laju dakwah suci beliau.

Kaum kafir Makkah tidak pernah lelah untuk mengubah pendirian Rasulullah saw. Mereka meningkatkan permusuhannya dan mengusir beliau beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya keluar dari Makkah, lalu mengurungnya di ladang Abu Thalib hingga sebagian mereka yang bersama Rasul di dalamnya mati kelaparan.

Mereka bahkan memperketat pengurungan ladang itu sehingga makanan dan minuman tidak dapat ditemui oleh Nabi beserta pengikutnya yang setia. Beberapa penduduk yang ikut Nabi mempertaruhkan hidupnya untuk menyelundupkan makanan dari kota di kegelapan malam.

Waktu berlalu begitu cepat. Kaum kafir menyerah pada tekad dan kegigihan yang ditunjukkan oleh kaum muslimin. Mereka memutuskan untuk membunuh Rasulullah saw.

Untuk itu, mereka memilih pemuda-pemuda terkuat dari kalangan keluarga dan suku mereka dengan memberikan upah yang tinggi kepada siapa yang berhasil membunuh beliau. Mereka menetapkan untuk menyergap kediaman Nabi saw pada malam hari.

Hijrah ke Madinah

Rencana keji itu diketahui oleh Rasulullah saw melalui wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril as. Beliau memilih sepupunya Ali bin Abi Thalib untuk menggantikannya tidur di atas ranjang beliau dengan mempertaruhkan hidupnya demi keselamatan beliau.

Beliau hijrah dari Makkah ke Madinah di kegelapan malam. Kaum musyrikin telah berkumpul untuk membunuh Nabi saw. Betapa terkejutnya mereka, tatkala mendapati Ali di atas ranjang Rasul saw. Mereka segera mengejar beliau. Namun pengejaran itu gagal. Mereka pun kembali ke Makkah dengan tangan hampa.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Nabi saw tiba di Quba, sebuah tempat di dekat kota Madinah. Penduduk desa menyambut kedatangan beliau. Dengan suka cita beliau berencana membangun tempat salat dan menyusun tugas-tugas dakwah.

Pembangunan masjid Quba berjalan lancar. Nabi saw turun tangan langsung dalam menyelesaikan pembangunannya. Sesudah itu, beliau melakukan salat Jumat dan berdiri sebagai khatib. Inilah salat Jumat yang pertama kali dilaksanakan oleh beliau.

Rasulullah saw menetap di Quba untuk beberapa saat sambil menyampaikan ajaran-ajaran Allah. Di sana pula beliau menantikan kedatangan Ali yang ditinggalkannya di kota Makkah untuk menunaikan titipan dan amanat kepada pemiliknya masing-masing. Hingga akhirnya Ali pun datang ke Quba bersama kaum wanita keluarga Bani Hasyim.

Rasulullah saw memasuki kota Yatsrib, dan sejak saat itu pula nama kota itu berubah menjadi Madinatur-Rasul atau Madinah Al-Munawarah. Penduduk kota menyambut beliau dan sebagian kaum Muhajirin yang menyertainya dengan begitu hangat dan meriah. Setiap penduduk berlomba meminta beliau untuk duduk di rumah mereka. Kepada mereka semua, beliau berkata, “Berilah jalan kepada untaku ini. Aku akan menjadi tamu orang yang di depan pintunya unta ini berhenti.”

Si unta berjalan dan melintasi jalan-jalan kota Madinah, hingga ia menghentikan langkahnya dan bersila di depan pintu rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Di rumah itulah Rasulullah saw dijamu.

Sesampainya di Madinah, pertama yang dilakukan oleh Rasulullah saw ialah pembangunan masjid sebagai pusat dakwah dan pengajaran. Nabi juga segera menyerukan perdamaian serta persaudaraan antara dua bangsa; Aus dan Khazraj, yang telah berperang selama bertahun-tahun akibat hasutan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi Madinah.

Dalam rangka mengikis habis akar-akar pembeda antara kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dan kaum Anshar sebagai penduduk asli Madinah, Rasulullah saw mempersaudarakan mereka satu persatu, sehingga kaum Muhajirin tidak menjadi beban kaum Anshar di kemudian hari dan mereka dapat hidup bersama dengan rukun dan damai.

Orang-orang Yahudi Madinah memandang persaudaraan itu dengan penih kedengkian. Mereka selalu berusaha menyulut semangat perpecahan di kalangan kaum muslimin. Sementara Rasulullah saw memadamkan api pertikaian, mereka malah giat mengobarkannya.

Peralihan Kiblat

Pada awalnya, Rasulullah saw melakukan salat dan ibadah ke arah Masjid Al-Aqsa di Jerusalem. Itu berlanjut selama 13 tahun di Makkah dan 17 bulan di Madinah.

Kaum Yahudi pun mengadap masjid Al-Aqsa dalam salat-salat mereka. Karena ini pula mereka selalu mencemooh kaum muslimin, “Jika benar kami dalam kesesatan, lalu mengapa kalian mengikuti kiblat kami.”

Hingga pada suatu hari, turunlah wahyu yang memerintahkan Rasulullah saw agar kaum muslimin menghadap Ka’bah Masjidil Haram dalam setiap salat mereka.

Perintah ini sungguh memukul kaum Yahudi. Mereka bertanya-tanya tentang sebab peralihan kiblat kaum muslimin. Mereka tidak sadar bahwa peralihan kiblat ini merupakan ujian bagi kaum muslimin sendiri, sehingga dapat dikenali siapa yang mentaati dengan siapa yang menentang Rasulullah saw.

Peperangan Rasulullah saw.

1. Perang Badar

Rasulullah saw mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan kabilah-kabilah tetangga guna melindungi kota Madinah dari segala ancaman makar dan penyerangan.

Sementara itu, Quraisy Makkah melakukan penjarahan atas harta-harta umat Islam di kota itu. Rasulullah saw pun berpikir untuk merebut kembali harta-harta itu dari mereka. Untuk itu, beliau memutuskan untuk menyerang kafilah-kafilah pedagang kafir Quraisy.

Demikianlah awal meletusnya bentrokan senjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin di suatu tempat dekat sumur Badar. Oleh karena ini, peperangan pertama di antara mereka ini dinamai perang Badar.

Kaum muslimin mampu memenangkan peperangan itu secara gemilang. Nama mereka pun mulai terpandang dan disegani di semenanjung Arabia.

2. Perang Uhud

Bagi kaum musyrik Quraisy, kemenangan kaum muslimin pada perang Badar itu malah membuat hati mereka terbakar kemarahan. Tak ayal lagi, Abu Sufyan mulai mengitung hari untuk melancarkan pembalasan dendam. Bahkan ia melarang perempuan-perempuan Quraisy menangisi korban perang Badar, supaya api dendam tetap membara di dalam jiwa-jiwa mereka.

Sementara di Madinah, kemenangan gemilang kaum muslimin meresahkan kaum Yahudi. Segera mereka mendekati orang-orang Quraisy dan menghasut mereka untuk menuntut dendam atas kaum muslimin.

Untuk itu, salah seorang Yahudi bernama Ka’ab bin Asyraf bertolak ke Makkah. Setibanya di sana ia membacakan syair-syair dan mengulang-ulangnya, hanya untuk membakar emosi kaum Quraisy.

Hasilnya, kaum Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah, dan sepakat dendam mereka untuk menyerang Madinah. Di sana mereka pun menghitung biaya yang akan dikeluarkan pada pertempuran mendatang itu. Biayanya ditaksir mencapai 50.000 Dinar. Sejak itu, mereka mulai mempersiapkan persenjataan dan meminta bantuan dari kabilah-kabilah yang bermukim di sekitar Makkah.

3000 pasukan Quraisy bersenjata lengkap bertolak ke Madinah melalui padang sahara. Abu Sufyan menjadi panglima perang dan Khalid bin Walid memimpin pasukan. Abbas bin Abdul Muthalib yang merahasiakan keislamannya mengirimkan kurir untuk menyampaikan pesan ihwal rencana penyerangan itu.

Setelah menerima pesan dari pamannya, Rasulullah saw segera mengadakan musyawarah yang menyepakati untuk menyambut lawan di luar kota.

7 Syawal tahun ke-3 Hijriah, tepatnya pada hari Sabtu pagi, pasukan kaum muslimin bergerak meninggalkan Madinah menuju gunung Uhud. Atas perintah Rasulullah saw, mereka mendirikan tenda-tenda tidak jauh dari barisan musuh.

Rasulullah saw menempatkan Abdullah bin Jabir bersama 50 orang lainnya yang dilengkapi busur dan anak panah untuk berada di atas bukit. Beliau memperingatkan mereka untuk tidak beranjak dari puncak bukit itu betapapun resiko yang akan menghadang, apakah menang atau kalah dalam peperangan. Setelah itu, pasukan yang membawa bendera Tauhid dan pasukan yang mengusung bendera Syirik berhadapan satu sama lainnya. Pertempuran itu dimulai oleh Abu Umair dari Quraisy.

Pada awal-awal pertempuran, tentara Islam bertarung dengan gagah berani dan membuat tentara kafir hampir kalah. Namun kemudian, keadaan justru berbalik. Pasukan panah yang mengawasi medan perang itu melihat saudara-saudaranya memukul mundur pasukan musuh. Mereka pun turun meninggalkan bukit untuk memungut ghanimah (harta rampasan perang). Mereka lalai terhadap perintah Rasulullah saw untuk tidak beranjak dari posisi mereka.

Khalid bin Walid memanfaatkan kelengahan kaum muslimin. Ia dan pasukannya berbalik mengitari gunung kemudian menyerang kaum muslimin yang sedang sibuk mengumpulkan ghanimah itu dari arah belakang. Banyak pasukan Islam tewas karena ketidaktaatan mereka kepada Rasulullah saw. Ada sekitar 70 pejuang kaum muslimin syahid dan selebihnya ada yang melarikan diri dari medan pertempuran.

Perang berakhir dengan kemenangan berada di pihak musuh. Rasulullah saw dapat diselamatkan berkat kesetiaan Ali bin Abi Thalib serta bantuan pasukan muslimin lainnya. Ali beserta pasukan Islam lainnya berhasil mengejar dan membunuh beberapa tentara musuh.

Dengan kegigihan mereka, kota Madinah selamat dari penyerbuan kaum kafir itu. Namun demikian, perang Uhud ini telah memberikan pelajaran ketaatan dan kesetiaan yang tak terlupakan oleh kaum muslimin.

3. Perang Khandaq

Orang-orang Yahudi yang terusir dari Madinah akibat permusuhan dan pengkhianatan mereka sendiri, tidak tinggal diam melihat keadaan kaum muslimin. Pemimpin mereka melakukan pendekatan dengan pemimpin-pemimpin Quraisy di Makkah, sambil melancarkan hasutan supaya mereka mengadakan perlawanan terhadap kaum muslimin. Pemimpin Yahudi itu berjanji untuk menyokong bangsa Quraisy dengan segala kekuatan yang ada.

Sebagai hasil dari pendekatan ini, berbagai bangsa, suku, dan kelompok bersekutu untuk mengangkat senjata melawan umat Islam. Oleh karena itu, peperangan ini dikenal sebagai perang Ahzab, yaitu perang gabungan beberapa bangsa melawan Islam.

Pasukan bersenjata mereka terdiri dari kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi, orang-orang munafik, dan pengkhianat Islam dari Madinah. Mereka bertekad bulat untuk menghancurkan Islam.

Pada bulan Syawal tahun ke-5 Hijriah, sebanyak sepuluh ribu pasukan sekutu itu berangkat menuju Madinah. Di depan mereka adalah Abu Sufyan sebagai panglima perang pasukan sekutu.

Beberapa pasukan berkuda dari kabilah Khuza’i memasuki kota Madinah dan melaporkan keadaan musuh kepada panglima besar kaum muslimin, Rasulullah saw.

Rasulullah saw memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan para komandan diminta berkumpul untuk memusyawarahkan segala sesuatu yang diperlukan.

Dalam musyawarah itu, salah seorang sahabat Rasulullah saw yang bernama Salman Al-Farisi mengusulkan untuk menggali parit di sekeliling kota Madinah dan kaum muslimin berlindung di balik galian parit itu. Usulan itu diterima secara mufakat. Maka, sebanyak tiga ribu sukarelawan Islam bekerja siang dan malam untuk menggali parit sedalam lima meter, selebar enam meter, dan sepanjang dua belas ribu meter.

Beberapa jalur dan jembatan dibuat di atas parit dan beberapa penjaga ditugasi untuk mengawasi kedatangan pasukan musuh. Di balik parit, dibangun pos-pos pertahanan yang di atasnya dijaga oleh pasukan berpanah.

Pasukan kaum musyrikin pun tiba. Mereka melihat galian parit mengelilingi kota yang menyulitkan mereka untuk melintasi dan menyerang orang-orang di seberang parit.

Abu Sufyan segera memanggil Huyay bin Ahthab, pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir dan memintanya untuk menemui Ka’b bin Asad, pemimpin Yahudi dari Bani Quraizhah yang sedang bermukim di Madinah. Ka’b bin Asad diseru untuk membuka lapang jalan orang-orang Yahudi. Makar ini dimaksudkan untuk melapangkan jalan orang-orang musyrikin menyerang kaum muslimin.

Cara licik Abu Sufyan ini telah diketahui sebelumnya. Rasulullah saw telah mengambil langkah-langkah preventif dengan menugaskan 500 prajurit untuk berpatroli di sekeliling kota. Prajurit itu ditugasi untuk memelihara kota agar stabil dalam keadaan siaga dan waspada. Mereka mewaspadai orang-orang yang datang dan pergi dari kota. Dengan langkah pencegahan ini, persekongkolan warga kota dengan pihak musuh dapat diatasi.

Ancaman bahaya serangan dari dalam kota berhasil digagalkan dan pasukan sekutu itu tetap pada posisi mereka di seberang parit. Mereka tidak berhasil untuk mengecoh kaum muslimin.

Hingga tibalah suatu hari, lima orang gagah berani dari pihak musuh melintasi parit. Kelima orang gagah berani itu dipimpin oleh Amr bin Abdi Wud. Di atas kudanya ia berteriak lantang, “Hai orang-orang yang mengaku penghuni Surga, di mana kalian semua? Majulah, sehingga aku dapat mengirim kalian ke Surga.”

Tidak satu pun orang yang menjawab tantangan itu, kecuali Ali bin Abi Thalib. Ia begitu cepat bangkit dan maju mendekati orang itu. Dan setelah saling adu tantangan, Ali mengayunkan pedangnya dengan sekali tebasan ke atas kepala Amr. Setelah Amr tersungkur tewas, Ali mengumandangkan takbir, “Allahu Akbar!”

Salah satu kawan Amr bin Abdi Wud melarikan diri dan terjatuh ke dalam parit. Ali tidak memberikan kesempatan kepada lawan dan segera menghabisinya. Sedangkan ketiga sahabat Amr yang lain berhasil melarikan diri dari kejaran Ali.

Peristiwa di atas ini begitu menggugah keimanan dan keberanian umat Islam, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw, “Sekali tebasan pedang Ali jauh lebih berharga daripada ibadah tujuh puluh tahun seluruh manusia dan jin.”

Demi menjaga semangat pasukannya, Khalid bin Walid bersama beberapa pasukan berkuda, pada hari berikutnya, mencoba untuk melewati parit. Namun, pasukan muslimin terlalu tangguh untuk mereka hadapi. Mereka hanya berusaha dengan mengepung kota.

Di tengah pengepungan, Nu‘aim bin Mas‘ud yang terkenal dengan kecerdikannya memutuskan untuk masuk Islam. Rasulullah saw menyuruhnya agar merahasiakan keimanannya, hingga ia bisa memperdaya kaum musyrikin dan menebarkan perpecahan dari antara mereka dan kaum Yahudi.

Sama seperti Nu‘aim, Khuzaifah Al-Yamani menyusup di kegelapan malam ke dalam jajaran musuh sampai menembus jantung kekuatan mereka. Di dalamnya ia berusaha mengendurkan tekad perang, hingga berhasil mematahkan semangat juang mereka.

Sampai pada suatu malam, badai besar berhembus, belum lagi udara yang semakin dingin menggigilkan. Tak pelak lagi, semangat pasukan musyrikin menjadi luluh lantak. Ditambah perselisihan di antara mereka semakin meluas setelah melihat pengepungan yang tidak membuahkan hasil.

Sebelum terjadi perkembangan pertempuran yang mengecewakan, Abu Sufyan segera meninggalkan medan tempur secara diam-diam di kegelapan malam. Panglima musyrikin itu beserta pasukannya kembali ke Makkah dengan perasaan malu.

Ketika pasukan muslimin terbangun di pagi hari, mereka menyaksikan laskar kafir telah meninggalkan medan pertempuran. Ketika Rasulullah saw mendengarkan berita tentang kaburnya musuh, beliau memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan pos-pos pertahanan dan kembali ke kota.

Nasib Bani Quraizah

Setelah meraih kemenangan gemilang pada perang Ahzab, Rasulullah saw membawa pasukannya mendekati benteng pertahanan Bani Quraizah. Pasukan Islam memaksa mereka menyerah, setelah mengepung benteng mereka selama dua puluh lima hari.

Karena menderita kekalahan, Bani Quraizhah memohon agar dapat meninggalkan kota Madinah. Akan tetapi Rasulullah saw menolaknya, sebab jika sampai lolos meninggalkan kota, mereka akan membuat persekongkolan lagi dan menciptakan peperangan baru, sebagaimana Bani Nadzir yang memicu untuk meletuskan perang Khandaq.

Akhirnya, orang-orang Yahudi yang licik itu harus kecewa pada keputusan itu. Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan maklumat bahwa orang-orang yang berkhianat dan membantu pihak musuh selama pererangan harus dibunuh dan harta kekayaan mereka harus dirampas.

Perjanjian Hudaibiyah

Derita kekalahan kafir Quraisy dan kedigjayaan kaum Muslimin, khususnya penaklukan Bani Musthaliq sampai menyebabkan mereka masuk agama Islam, telah menggelapkan mata kaum kafir Quraisy.

Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-7 Hijriah, Nabi Muhammad saw beserta 14000 laskar Islam bergerak menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Kepergian Rasulullah saw ke tanah suci tidak hanya untuk keperluan ibadah saja, namun juga untuk kepentingan politik. Haji beliau kali ini bertujuan untuk menjadikan status kewarganegaraan kaum muslimin di semenanjung Arabia menjadi benar-benar diakui. Dengan demikian, kaum muslimin berhak untuk bermukim di sepanjang tanah Arab tanpa harus takut diusir.

Kaum kafir Quraisy menerima kabar bahwa Rasulullah saw akan berkunjung ke Baitullah Ka’bah. Mereka bersumpah di hadapan berhala-berhala untuk tidak membiarkan beliau memasuki kota Makkah.

Kafir Quraisy mengutus Khalid bin Walid beserta dua ratus pasukan berkuda untuk menghadang Rasulullah saw bersama pasukannya.

Saat itu, Rasulullah saw telah sampai di daerah Hudaibiyah melalui jalan berbeda untuk menghindari pertempuran dan peperangan yang mungkin mengintai setiap saat. Segera beliau mengutus salah seorang sahabat untuk mengintai pasukan Quraisy dan meyakinkan mereka bahwa Rasulullah saw beserta kaum muslimin datang hanya untuk menunaikan ibadah haji saja. Sahabat itu ditugaskan untuk meyakinkan para pemimpin Quraisy bahwa kedatangan Rasulullah saw kali ini tidak untuk berperang. Namun, mereka malah berlaku kurang ajar terhadap utusan beliau.

Rasulullah saw meminta baiat (sumpah setia) kepada sahabat agar tetap setia dan rela berkorban kepada beliau di bawah pohon. Ketika hal ini diketahui oleh kafir Quraisy, mereka sangat geram sekaligus malu, sehingga diutuslah Suhail sebagai wakil mereka untuk berunding.

Kaum kafir Quraisy tidak menghendaki kaum muslimin memasuki kota Makkah dan menunaikan ibadah haji pada tahun ini dan segera pulang ke Madinah. Apabila mereka mau menunaikan haji pada tahun depan, kaum muslimin tidak diperbolehkan untuk membawa senjata. Selama masa haji itu, pihak Quraisylah yang bertanggung jawab atas keselamatan, keamanan harta dan jiwa kaum muslimin.

Perjanjian ditandatangani dengan lima butir kesepakatan, meskipun beberapa orang Islam kecewa. Puncak kekecewaan mereka tunjukkan dengan keberatan terhadap keputusan-keputusan Rasulullah saw. Mereka mengira bahwa penandatanganan perjanjian itu adalah suatu aib yang memalukan umat Islam, khususnya pada satu butir kesepakatan yang menyatakan bahwa jika seorang muslim lari dari Makkah lalu sampai di Madinah, maka ia akan dipulangkan ke tempat asalnya. Sebaliknya, orang muslim Madinah yang masuk Makkah tidak boleh kembali ke Madinah.

Kekecewaan itu sebenarnya tidak berdasar. Mereka tidak mengerti bahwa keuntungan perjanjian itu sesungguhnya merupakan awal dari penaklukan kota Makkah kelak.

4. Perang Khaibar

Pada awal bulan Rabiul Awal tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah saw beserta 1600 kaum muslimin bertolak dari Madinah menuju Khaibar. Laskar Islam di bawah komandan beliau menyerang musuh dengan tiba-tiba dan dengan mudah merebut tanah Raji’ yang terletak di antara Khaibar dan Ghathafan.

Panglima besar laskar Islam, Rasulullah saw menerapkan strategi militer yang jitu. Sehingga antara orang-orang Yahudi Khaibar dengan orang-orang Arab Ghathafan tidak dapat saling membantu satu sama yang lain.

Laskar Islam mengepung benteng Khaibar pada malam hari. Mereka mengambil posisi di tempat strategis yang tersembunyi di balik tanaman palem. Dengan mudah mereka menguasai lembah Khaibar. Kemudahan ini berkat keberanian dan ketulusan mereka dalam berkorban.

Sayangnya, dua lembah strategis yang menjadi markas kaum Yahudi tidak dapat dikuasai. Kaum Yahudi itu mempertahankan benteng mereka mati-matian dengan melepaskan anak-anak panah ke arah pasukan muslimin.

Rasulullah saw memerintahkan Abu Bakar memimpin pasukan tempur, namun tidak berhasil menaklukkan benteng itu. Pada hari kedua, Umar Bin Khatab ditunjuk sebagai komandan tempur, namun ia juga tidak berhasil. Di seberang sana, kaum Yahudi Khaibar terus saja memperolok kaum muslimin.

Melihat kegagalan kaum muslimin merebut benteng tersebut, Rasulullah saw bersabda, “Besok aku akan memberikan bendera Islam ini kepada orang yang hanya kembali bila benteng pertahanan Yahudi itu telah dikuasai.”

Seluruh sahabat menantikan fajar tiba untuk menyaksikan siapa gerangan orang yang beruntung itu. Masing-masing memimpikan menjadi pemegang bendara esok hari.

Pada pagi harinya, Rasulullah saw memanggil Ali. Beliau menyerahkan bendera Islam itu kepadanya dan menugaskannya untuk menaklukkan lembah Khaibar. Rasulullah saw berdoa untuk kesuksesan Ali.

Ali menerima tugas ini dengan penuh semangat. Ia bersama pasukannya bergerak mendekati pintu gerbang Khaibar. Pintu gerbang itu dijaga oleh dua saudara yang gagah berani, Haris dan Marhab. Mereka menyerang pasukan Ali dengan garang sampai tunggang-langgang menyelamatkan dirinya masing-masing.

Sebagai komandan perang, Ali segera menghadang kedua bersaudara itu. Dengan kegagahan dan keperkasaannya, ia mampu menghempaskan kedua orang Yahudi itu.

Kematian mereka membuat orang-orang Yahudi yang berada di balik benteng menjadi ketakutan dan panik. Mereka cepat-cepat menutup pintu gerbang dan bersembunyi di baliknya. Pasukan muslimin yang tadinya kocar-kacir melarikan diri, setelah melihat keunggulan Ali, segera kembali dan bersiaga di belakang sang komandan. Ali maju mendekati pintu gerbang itu dan mengangkatnya lepas dari benteng.

Sementara kaum Yahudi tercengang menyaksikan kekuatan dan keberanian Ali hingga mereka menyerah takluk, Ali melemparkan pintu itu ke atas parit untuk dijadikan jembatan yang kemudian dilalui pasukan muslimin. Demikianlah mereka berhasil dengan mudah memasuki dan menduduki Khaibar, benteng kokoh orang-orang Yahudi itu.

Sama seperti kaum Yahudi, kaum muslimin pun takjub di hadapan kekuatan Ali. Mereka bertanya-tanya satu sama lain, bagaimana Ali bisa melakukannya. Tujuh orang muslim sempat mengangkat pintu itu, namun pintu itu tak bergeser sedikit pun.

Tentang kekuatannya, Ali menuturkan, “Aku tidak mampu merobohkan gerbang itu dengan kekuatan manusia biasa. Tapi aku melakukannya dengan kekuatan Allah SWT.”

Akhirnya, pasukan muslimin menguasai seluruh benteng yang ada di sekitar Khaibar dan menaklukkan orang-orang Yahudi. Sisa-sisa orang Yahudi memohon kepada Rasulullah saw untuk diperbolehkan tinggal. Mereka ingin tetap dapat mengolah tanah tersebut untuk pertanian dan perkebunan. Mereka berjanji akan menyumbangkan setengah dari hasil panen itu kepada kaum muslimin. Beliau mengabulkan permohonan itu.

Tanah Fadak

Berita tentang penaklukan Khaibar terdengar oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di Fadak. Mereka menjadi sangat risau dan ketakutan. Orang-orang Fadak itu mengutus wakil mereka untuk bertemu dengan Rasulullah saw dengan membawa pesan akan perlunya dibuat suatu perjanjian. Mereka lalu menyerahkan separuh wilayah Fadak kepada beliau yang kemudian dihadiahkannya kepada putrinya, Fatimah agar dapat dikelola untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya dan keperluan orang-orang miskin.

Sesudah perang Khaibar, Rasulullah saw bertolak menuju Wadi Qura (lembah Qura) yang menjadi pusat pemukiman Yahudi. Beliau dan pasukan muslimin mengepung pemukiman itu dan begitu cepat ditaklukkan. Beliau berjanji untuk mengembalikan tanah Yahudi itu kepada pemiliknya, dengan syarat bahwa separuh dari hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum muslimin. Hal ini berlaku sebagaimana pengembalian tanah di lembah Khaibar, yakni separuh hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum muslimin.

Perjanjian ini dilakukan untuk mengaktifkan sektor ekonomi dan mampu menghasilkan kesejahteraan umat Islam, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dan hartanya jika ada seruan perang.

5. Perang Mu’tah

Sebelum meletusnya perang Mu’tah, Rasulullah saw mengutus Harits bin Umair kepada penguasa Syiria dengan maksud mengajaknya menerima Islam. Namun pihak penguasa berlaku kurang ajar. Mereka menahan dan membunuh duta Islam itu.

Setelah peristiwa ini, Rasulullah saw masih mengutus enam belas duta Islam (da’i) untuk mengajak penguasa Syiria dan rakyatnya kepada Islam. Sayangnya, mereka juga dibunuh. Dari enam belas orang duta itu, hanya satu orang yang mampu meloloskan diri dan kembali ke Madinah.

Segera ia melapor kepada Rasulullah saw. Beliau sangat terpukul mendengar hal itu. Pembantaian terhadap para duta itu membuat beliau mengeluarkan perintah untuk berjihad. Beliau menghimpun 3000 pasukan pada Jumadil Tsani tahun ke-8 Hijriah.

Sebelum pasukan muslimin meninggalkan Madinah, Rasulullah saw memberikan pengarahan kepada mereka, “Yang akan memimpin pasukan pertama kali adalah Ja’far bin Abi Thalib. Jika sesuatu menimpanya, maka tampuk kepemimpinan diserahkan pada Zaid bin Haritsah. Dan jika terjadi sesuatu pada Zaid, maka Abdullah bin Ruwahah yang menjadi pimpinan kalian. Dan jika Abdullah bin Ruwahah juga menjumpai kesyahidannya, maka pilihlah komandan di antara kalian.”

Setelah mendapatkan pengarahan dari penglima besar mereka, berangkatlah pasukan itu di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib. Ketika pasukan muslimin sampai di dekat kota Ma’an, mereka mendapat berita bahwa Kaisar Romawi telah mengirim 100000 pasukannya ditambah 100000 orang Arab yang berada di bawah kekuasaannya.

Perang Yang Tak Seimbang

Laskar musuh yang berjumlah 200000 pasukan itu berhadapan dengan 3000 pasukan muslimin. Setelah berhadap-hadapan, perang pun meletus. Ja’far bin Abu Talib bertempur dengan gagah berani sampai darah penghabisan. Ia gugur sebagai syahid.

Pucuk pimpinan segera diambil oleh Zaid bin Haritsah. Zaid pun bertempur dengan gagah berani. Namun, ia pun mati syahid. Setelah gugurnya Zaid, Pasukan muslimin dipimpin oleh Abdullah bin Ruwahah yang juga berakhir dengan kesyahidannya.

Dengan gugurnya para komandan mereka yang gagah berani itu, kaum muslimin segera memilih Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan. Khalid segera menarik pasukannya dari medan pertempuran dan menyelamatkan prajurit dari medan tempur.

Pada sore harinya, Khalid merencanakan penarikan seluruh pasukan dari medan pertempuran dan memimpin mereka bergerak menuju Madinah.

Penaklukan Kota Makkah

Penarikan mundur pasukan muslimin dari medan pertempuran Mu’tah telah membuat kafir Quraisy semakin berani dan congkak. Mereka berpikir bahwa kaum muslimin telah kehilangan daya dan kekuatan tempur. Oleh karena itu, mereka mengkhianati perjanjian Hudaibiyah. Dengan bantuan sekutu-sekutunya, mereka menyerang dan membunuh banyak kaum muslimin yang berasal dari Bani Thaif.

Abu Sufyan tahu betul bahwa kaum muslimin tidak akan tinggal diam dan mereka segera mengirimkan jawaban atas pengkhianatan ini. Abu Sufyan mengharap bisa bertemu dengan Rasulullah saw di Madinah dan meminta maaf atas tragedi tersebut.

Masih di hadapan Rasulullah saw, Abu Sufyan meminta agar beliau tetap mau memegang perjanjian Hudaibiyah. Akan tetapi, beliau menampik permintaan itu, sehingga Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan kecewa.

Segera Rasulullah saw memerintahkan pasukannya untuk siaga. Sebanyak 10000 laskar kaum muslimin menyatakan siap sedia untuk mengambil bagian dalam peperangan selanjutnya. Beliau menugaskan sejumlah prajurit agar berjaga-jaga di sekeliling kota untuk mencegah siapa saja yang hendak meninggalkan kota dan meyebarkan berita kepada kafir Quraisy dalam hal ini.

Tetapi seorang pengkhianat keji bernama Hathib membocorkannya kepada kaum musyrik Makkah. Dengan dalih risau akan keselamatan keluarganya, Hatib mengutus seorang kurir wanita untuk menyebarkan berita ini.

Niat busuknya segera diketahui. Surat yang berisi bocoran tentang persiapan kaum muslimin berhasil digeledah. Rasulullah saw memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk melakukan pemboikotan sosial terhadap Hathib, si pegkhianat Islam itu. Sesungguhnya hukuman boikot itu lebih buruk daripada hukuman mati.

Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, Rasulullah saw memerintahkan pasukannya dan sebagian kaum muslimin untuk bergerak cepat. Mereka harus sampai di kota Makkah dalam waktu satu minggu. Beliau beserta pasukan dan seluruh kaum muslimin yang menyertai beliau mendirikan tenda di dekat kota Makkah.

Rasulullah saw memberikan komando kepada pasukan muslimin untuk berpencar pada malam hari dan menyalakan api unggun di mana-mana. Pihak musuh berfikir bahwa sebuah pasukan besar telah tiba dari Madinah. Musuh pun menjadi ketakutan. Mereka menyangka bahwa pasukan dalam jumlah raksasa akan menyerang.

Malam harinya, gurun di sekeliling kota Makkah menjadi terang benderang dengan nyala api unggun di mana-mana. Suara riuh dan slogan-slogan kaum muslimin berkumandang, unta-unta dan kuda-kuda meringkik. Ketika Abu Sufyan beserta sekelompok Quraisy datang menyaksikan hal ini, ia merinding ketakutan. Ia menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia tidak pernah menyaksikan pasukan sebesar ini selama hidupnya.

Abu Sufyan datang menjumpai Abbas bin Abdul Muthalib untuk meminta usulan darinya. Dengan maksud untuk berdamai, Abbas membawanya datang untuk menemui Rasulullah saw, sang panglima tertinggi kaum muslimin.

Demi kemaslahatan dan kejayaan Islam, Rasulullah saw mengatakan kepada Abu Sufyan agar dapat meyakinkan penduduk kota Makkah, bahwa siapa saja yang mencari perlindungan hendaknya memasuki rumah Abu Sufyan. Setelah mendengar pandangan Rasulullah saw, ia bertolak kembali ke Makkah dengan membawa ampunan dari beliau.

Sesampainya di Makkah, Abu Sufyan mengingatkan penduduk kota bahwa kaum muslimin akan datang dengan pasukan raksasa. Untuk menghindari pertumpahan darah, maka sebaiknya mereka menyerah dan membiarkan kaum muslimin memasuki kota Makkah.

Akhirnya kota Makkah dapat dikuasai dengan damai tanpa adanya pertumpahan darah.

Pengampunan Umum

Sekelompok kaum muslimin, khususnya para pengungsi yang pernah diperlakukan secara kejam oleh Quraisy, berniat menuntut balas terhadap orang-orang Makkah yang menyiksa dan mengusir mereka dari kota.

Akan tetapi, Rasulullah saw mengumumkan “Pengampunan Umum” untuk warga makkah, bahkan untuk mereka yang telah melakukan penyiksaan dan pengusiran terhadap kaum muslimin.

Setelah merobohkan semua patung dan berhala satu persatu, Rasul saw memerintahkan Bilal untuk menaiki Ka’bah dan mengumandangkan gema Tauhid: “Allahu Akbar, La ilaha illallah, Muhammad rasulullah”.

6.Perang Hunain

Setelah kejatuhan pusat kekuatan kaum musyrikin oleh kaum muslimin, para penyembah berhala itu tetap diperbolehkan tinggal di sekeliling Ka’bah. Mereka merasa malu dan bagitu ketakutan. Oleh karena itu, mereka mengundang kabilah masing-masing untuk berkumpul.

Mereka memutuskan bahwa untuk mengalahkan kaum muslimin, hendaknya mereka bersekutu dalam menghancurkan pasukan muslimin itu. Dalam pertemuan itu, diputuskanlah kepala kabilah Hawazin sebagai panglima mereka.

Mendengar berita ihwal pertemuan itu, Rasulullah saw mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai keadaan musuh dan mencari informasi tentang kesepakatan perang yang ditandatangani oleh kabilah-kabilah itu. Mata-mata itu berhasil mendapatkan informasi dan segera melaporkannya kepada beliau.

Persiapan Menjelang Perang Hunain

Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan tersebut, Rasulullah saw tidak tinggal diam. Panglima besar kaum muslimin itu segera memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah Hunain. Para pejuang itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8 H.

Malik, panglima tentara kafir, mengutus tiga orang prajuritnya untuk memata-matai pasukan muslimin. Mereka menyaksikan kehebatan pasukan muslimin dan melaporkan hasil pengintaiannya itu kepada Malik. Ia merasa bahwa mereka tidak memiliki daya untuk menghadapi pasukan muslimin. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis. Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk menyergap jika pasukan musuh terlihat.

Pasukan muslimin tiba di lembah Hunain pada malam Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di tempat itu. Rencananya, mereka akan bergerak memasuki lembah Hunain pada Shubuh hari.

Pihak musuh yang telah siaga menyambut kedatangan mereka dengan bersembunyi di balik ilalang. Setelah melihat musuh menampakkan diri, mereka lalu menyergap dari empat penjuru.

Di tengah kegelapan malam, kuda-kuda yang ditunggangi pasukan muslimin itu membuat kegaduhan. Kegaduhan ini menjadi ramai oleh sekitar 2000 muallaf (muslim baru). Para muallaf itu melarikan diri, dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pelarian diri itu telah membuat musuh menjadi tambah semangat untuk menceraiberaikan pasukan muslimin.

Hanya 10 orang sahabat yang bersiaga di samping Rasulullah saw. Merekalah yang membela beliau dari ancaman pedang musuh. Beliau memerintahkan mereka untuk lari mencari pertolongan. Abbas berteriak dengan suara lantang, memanggil sahabat-sahabat yang melarikan diri itu. Musuh yang pada awalnya meraih kemenangan itu, lambat laun menjadi lemah akibat kembalinya pasukan muslimin yang melarikan diri tadi.

Walhasil, benteng pertahanan musuh dihancurkan. Musuh lari tunggang langgang meninggalkan peralatan tempur mereka. Rasulullah saw memerintahkan beberapa orang sahabat untuk mengejar musuh yang melarikan diri sehingga mereka menjadi tidak berdaya. Maksud pengejaran ini adalah agar tidak tersisa lagi musuh yang bisa melakukan perlawanan militer di kemudian hari.

Para sahabat yang mengejar musuh itu berhasil menunaikan tugas mereka. Atas keberhasilan pasukan muslimin menaklukkan musuh, Rasulullah saw kemudian membagikan harta rampasan perang kepada kaum muslimin.

7. Perang Tabuk

Pada bulan Rajab tahun ke-9 H, Rasulullah saw menerima laporan bahwa kaum muslimin yang bermukim di barat daya perbatasan Arabia, mendapat ancaman dari kekaisaran Romawi dan berniat untuk menyerang wilayah-wilayah Islam.

Setelah mempersiapkan pasukan, Rasulullah saw mengumumkan rencananya kepada khalayak ramai. Cara ini berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat sebelumnya. Dahulu, beliau merahasiakan niatnya. Kali ini beliau memberitahukan kepada khalayak secara terbuka.

Masyarakat mempersembahkan segala sesuatu yang diperlukan oleh pasukan muslimin. Mereka dengan antusias dan penuh semangat mengorbankan harta, bahkan kaum wanita merelakan simpanan perhiasan mereka untuk digunakan dalam peperangan.

Makar Kaum Munafik

Bersamaan dengan bergeraknya pasukan muslimin, orang-orang munafik mulai menebarkan hasutan, menciptakan semangat anti perang dan menanamkan rasa takut dalam diri pasukan muslimin akan kehebatan pasukan Romawi.

Mereka melakukan berbagai cara, di antaranya ialah membangun sebuah masjid dengan nama “Masjid Dhirar” sebagai pusat penyebaran propaganda anti perang itu. Mereka berharap agar orang-orang tidak ambil bagian dalam jihad itu.

Syukurlah, berkat kesigapan dan ketegasan, Rasulullah saw berhasil menggagalkan persekongkolan orang-orang munafik itu.

Atas perintah Rasulullah saw, rumah tempat berkumpulnya orang-orang Yahudi dan kaum munafik itu dibakar oleh massa. Dengan cara demikian ini, persekongkolan yang mereka galang berhasil ditumpas.

Persiapan Perang Tabuk

Sebanyak 30000 pasukan muslimin meninggalkan kota Madinah. Jumlah pasukan ini adalah yang terbesar dari yang sebelumnya. Rasulullah saw sendiri yang menjadi panglima pasukan itu. Beliau memeriksa persiapan-persiapan pasukannya. Setelah itu, panglima muslimin itu berpidato di depan pasukannya.

Beliau menunjuk Ali bin Abi Talib sebagai pemimpin di Madinah selama kepergiannya beserta pasukan muslimin ke Tabuk.

Mereka tiba di padang Tabuk yang panas membara setelah menempuh perjalanan sejauh 600 kilometer. Namun, mereka terkejut setibanya di tempat itu. Mereka tidak melihat tanda-tanda pasukan Romawi.

Sepertinya, pihak musuh telah mengetahui gerakan pasukan muslimin yang penuh semangat untuk mati syahid. Pemimpin Romawi memutuskan untuk menarik mundur pasukannya dari arah utara.

Pasukan muslimin berdiam di Tabuk selama 20 hari sebelum kembali ke Madinah, tanpa terjadi pertempuran apa pun.

Persekongkolan Kaum Munafik

Sekembalinya dari Tabuk, sekelompok orang munafik memendam niat jahat kepada Rasulullah saw. Mereka bermaksud untuk membunuh panglima orang-orang pencinta kebenaran itu. Kaum munafik yang ikut serta dalam perjalanan ke Tabuk itu hanyalah didorong oleh rasa takut kepada kaum muslimin lainnya.

Mereka ingin menakut-nakuti unta tunggangan Rasulullah saw dengan bersembunyi di balik bukit. Bila beliau terjatuh, mereka mudah membunuhnya. Tapi niat keji itu tersingkap dan membuat orang-orang munafik melarikan diri. Pasukan muslimin ingin segera menghabisi hidup kaum munafik itu, namun Rasulullah saw meminta mereka untuk membiarkannya.

Sekembalinya dari Tabuk, Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk menggusur Masjid Dhirar. Perintah ini beliau sampaikan setelah menerima wahyu dari Allah SWT.

Peperangan Tabuk merupakan unjuk kekuatan pasukan muslimin. Seluruh kaum muslimin mengambil bagian dalam pertempuran ini.

Melihat kekuatan yang begitu besar, negara-negara tetangga dan orang-orang kafir menjadi enggan terlibat dalam persekongkolan untuk merongrong pemerintahan Islam.

Pembersihan Orang-orang Kafir

Hingga tahun ke-9 Hijriah, orang-orang kafir masih menunaikan ibadah Haji sesuai dengan kebiasaan nenek moyang mereka. Pada tahun yang sama, surat Al-Bara’ah atau At-Taubah diturunkan.

Rasulullah saw mempercayakan surat itu kepada Ali dibacakan di hadapan orang-orang kafir Makkah. Beliau memerintahkan Ali untuk menyampaikan, “Tidak diperbolehkan orang-orang kafir memasuki rumah suci Ka’bah, terhitung sejak hari ini. Dan mulai hari ini, tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah di sekitar Ka’bah dengan telanjang.”

Sesuai perintah Rasulullah saw, Ali berangkat menuju Makkah dan membacakan surat Al-Bara’ah yang baru saja diturunkan, dan ditujukan kepada orang-orang kafir itu agar menghentikan kemusyrikan mereka.

Di tengah para jemaah haji, Ali menyerukan, “Wahai sekalian manusia, tidak akan ada orang kafir yang masuk surga, tidak akan ada orang musyrik yang berhaji setelah tahun ini, tidak akan ada orang telanjang yang bertawaf, dan siapa saja yang punya perjanjian damai dengan Rasulullah, maka ia punya kesempatan sampai berakhirnya masa perjanjian itu.”

Mubahalah (Saling Memohon Kutukan dari Allah SWT)

Rasulullah saw mulai mengirimkan surat kepada penguasa-penguasa yang ada di dunia. Beliau mengirimkan surat kepada keuskupan di Najran dan mengajak orang-orang Kristen yang ada di sana untuk memeluk Islam. Bila menolak, mereka diharuskan untuk membayar jizyah (pajak) sebagai bentuk dukungan mereka kepada pemerintahan Islam.

Sang uskup telah membaca ihwal kedatangan seorang nabi baru setelah Isa putra Maryam as. Dia juga mengetahui kedatangannya melalui Kitab Suci Nasrani. Kemudian dia segera mengirimkan utusan ke Madinah untuk mencari tahu kebenaran berita itu.

Sesampainya di Madinah, mereka memulai dialog dengan Rasulullah saw pada kesempatan itu, beliau menjelaskan ajaran-ajaran Islam yang lurus, sementara mereka menanyakan ihwal Nabi Isa Al-Masih as, “Apakah ia anak Allah ataukah anak Maryam?”

Rasul saw menjawab, “Sesungguhnya Isa Al-Masih tidak lain adalah rasul Allah, sama seperti rasul-rasul yang telah mendahuluinya, dan ibunya adalah wanita tepercaya. Mereka berdua memakan makanan.” (QS. Ali ‘Imran: 59), “Dan ihwal Isa di sisi Allah seperti Adam yang telah diciptakan Allah dari tanah, lalu berkata kepadanya, ‘Jadilah’, maka terjadilah ia.” (QS. Ali ‘Imran: 61)

Namun, utusan Najran sebanyak 60 orang itu tetap saja menolak untuk beriman kepada Rasul saw.

Malaikat Jibril as. turun menyampaikan wahyu dari Yang Maha Kuasa kepada Nabi saw. Dalam wahyu tersebut, Allah menyerukan beliau dan orang-orang Najran untuk bermubahalah, yakni memohon kepada Allah SWT agar mengutuk siapa yang sebenarnya berdusta.

Ketika saat mubahalah itu tiba, Rasulullah saw hanya membawa empat orang keluarganya dari Ahlulbait, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Sewaktu orang-orang Nasrani itu melihat beliau datang beserta rombongan pilihannya, pemimpin Nasrani itu berkata, “Demi Tuhan! Saya meyaksikan wajah-wajah yang jika mereka memoon kepada Allah untuk menumbangkan sebuah gunung, niscaya gunung itu akan tumbang. Jangan kamu melakukan mubahalah dengan mereka. Jika tidak, kamu semua akan musnah dan tak seorang pun Nasrani yang akan tersisa di muka bumi ini.”

Akhirnya, mereka setuju untuk membayar pajak. Diputuskan bahwa orang-orang Nasrani akan membayar sebanyak 2.000 Hullas (jubah) dan 30 busur panah kepada kaum muslimin.

Haji Wada’ (Perpisahan)

Pada bulan Dzulhijah tahun ke-10 Hijriah, Nabi saw mengumumkan akan menunaikan haji tahun itu. Beliau berpesan, bahwa siapa saja yang mau menyertainya segera mempersiapkan diri.

Berita ini menciptakan semangat dan kegembiraan di kalangan kaum muslimin. Bersama Nabi saw, mereka mempersiapkan diri menyambut pesan beliau itu. Rasulullah saw menunjuk Abu Dujanah sebagai wakil beliau di Madinah. Beliau beserta sahabat-sahabat lainnya bergegas menuju Makkah.

Rasulullah saw memulai pelaksanaan rukun ibadah Haji di Dzulhulaifah dan melantunkan Labaik. Dari Dzulhulaifah, Rasulullah saw bertolak menuju Makkah.

Setelah sepuluh hari tiba di Makkah, beliau memasuki Masjidil Haram dan melaksanakan rukun-rukun Haji lainnya. Hari berikutnya, beliau menyampaikan pidato di Mina. Beliau bersabda, “Kita membutuhkan kemapanan dalam pemerintahan Islam.”

Ghadir Khum

Pada hari Kamis, 18 Dzulhijah, Nabi saw tiba di dekat ladang Juhfah. Pada saat itu, malaikat Jibril as menyampaikan wahyu dari Tuhan yang harus beliau sampaikan. Rasulullah saw mengumpulkan para sahabat dengan mengatakan bahwa beliau akan mengumumkan suatu pesan yang sangat penting.

Ratusan jamaah Haji berkumpul pada pelaksanaan acara pidato Rasulullah saw. Telinga mereka dipasang baik-baik untuk mendengarkan pesan yang akan disampaikan beliau, “Segala puji dan puja bagi Allah Yang Maha Kuasa. Hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan dan keimanan, Dialah tempat tumpuan hajat manusia. Aku (Muhammad saw) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya.

“Wahai kaum muslimin! Aku segera meninggalkan kalian semua dan kutinggalkan dua wasiat yang berharga kepada kalian, yaitu Al-Qur’an dan Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan terpisah satu sama lain sampai kalian menjumpaiku di telaga Kautsar (pada Hari Pengadilan). Oleh karena itu, jagalah mereka dan jangan kalian tinggalkan. Jika kalian tinggalkan wasiat ini, maka kalian akan binasa.”

Kemudian beliau meraih tangan Ali bin Abi Thalib dan mengangkatnya seraya bersabda, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpin kalian sepeninggalku. Ya Allah! cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhi Ali. Tolonglah orang-orang yang menolong Ali dan binasakanlah orang-orang yang membinasakan Ali.”

Wafatnya Nabi Saw

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan itu, Rasulullah saw jatuh sakit. Sekelompok orang memanfaatkan keadaan, dan nabi-nabi palsu pun bermunculan. Setelah Rasulullah saw mendengar berita ini, beliau memerintahkan untuk memerangi mereka.

Suatu hari, Nabi saw yang dalam keadaan payah dibantu oleh Ali bin Abi Thalib guna berziarah ke kuburan sahabat-sahabatnya yang telah gugur di pekuburan Baqi’. Setelah itu, beliau meminta Imam Ali untuk membawanya pulang kembali.

Hari demi hari berlalu, sakit Nabi saw bertambah serius dan parah, hingga insan kamil itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di pangkuan Ali. Manusia suci itu telah kembali menghadap kekasihnya Yang Mahakasih pada hari Senin 28 Shafar tahun ke-11 H. Mangkatnya beliau menyebabkan dunia Islam berkabung dan berduka.

Mutiara Hadis Rasulullah Saw

• “Seburuk-buruk manusia di hadapan Allah SWT adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengambil manfaat dari ilmu yang dimikinya.”

• “Semulia-mulia rumah adalah rumah yang di dalamnya anak-anak yatim disantuni dengan kasih sayang dan cinta.”

• “Barang siapa beriman pada Allah SWT, hari akhir dan janji-janji Allah SWT, hendaknya menunaikan amanat dan janjinya.”

• “Tatapan seorang anak kepada orang tuanya karena kasih sayang adalah ibadah.”

• “Sahabat yang berbudi luhur dan mulia sungguh lebih berharga daripada harta benda.”

==========================================================

IMAM ALI BIN ABI THALIB AS,

PEMIMPIN YANG ADIL

Riwayat Singkat Imam Ali as

Nama                         : Ali.

Gelar                          : Amirul Mukminin.

Julukan                   : Abul Hasan.

Lahir                          : 13 Rajab Tahun 23 SH.

Syahadah                : Tahun 40 H.

Masa Imamah     : Tahun 35 H.

Masa Khilafah     : 5 tahun.

Usia                            : 63 tahun.

Makam                    : Najaf Asyraf, Irak.

Hari Lahir

Pada hari Jumat, 13 Rajab, tepatnya 23 tahun sebelum hijrah, lahirlah dari keluarga Abu Thalib seorang bayi mulia yang menyinari kota Makkah dan alam semesta dunia.

Ketika paman Nabi saw yang bernama Abbas bin Abu Thalib sedang duduk santai bersama seorang lelaki yang bernama Qu’nab, datanglah Fatimah binti Asad untuk melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah dan memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT. Pandangan matanya tertuju ke langit sambil bermunajat kepada-Nya dengan penuh khusyuk.

Dalam doanya itu ia berkata, “Ketahuilah wahai Tuhanku, sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan kepada semua yang datang dari sisi-Mu, yaitu para rasul dan kitab-kitab yang dibawa oleh mereka. Sesungguhnya aku membenarkan seruan kakekku Ibrahim Al-Khalil as. Dialah yang membangun kembali Ka’bah yang mulia ini. Maka demi orang yang telah membangun Ka’bah ini, dan demi janin yang ada dalam kandunganku ini, aku memohon pada-Mu; mudahkanlah kelahirannya.”

Tidak lama setelah itu, terjadilah peristiwa yang sangat menakjubkan, pertanda bahwa Allah SWT telah mengabulkan doanya. Di saat itu, tembok Ka’bah terbelah sehingga Fatimah binti Asad bisa masuk ke dalamnya, setelah itu tertutup kembali. Peristiwa yang sangat aneh dan menakjubkan itu membuat semua orang yang menyaksikannya terheran-heran.

Abbas bin Abu Thalib yang juga turut menyaksikan kejadian tersebut langsung pulang ke rumah untuk mengabarkan kejadian tersebut kepada keluarga dan kerabatnya, lalu kembali lagi ke Ka’bah bersama beberapa orang wanita untuk membantu kelahiran janin Fatimah itu. Namun, mereka hanya mampu mengelilingi Ka’bah, tanpa bisa masuk ke dalamnya. Seluruh penduduk kota Makkah tetap dalam kebingungan sambil menanti Fatimah keluar.

Empat hari kemudian, barulah Fatimah keluar dari dalam Ka’bah sambil menimang putranya yang baru saja lahir. Orang-orang bertanya-tanya tentang nama bayi mulia itu, Fatimah menjawab, “Namanya adalah Ali.”

Demikianlah kelahiran Imam Ali as yang serba menakjubkan itu.

Semenjak masih dalam susuan, Ali tumbuh besar dan terdidik di dalam rumah Nabi saw. Pada salah satu khutbahnya yang terhimpun dalam Nahjul Balaghah, Ali pernah menuturkan, “Ketika aku masih kecil, beliau saw membaringkanku di tempat tidurnya, mendekapku dengan penuh kasih-sayang, dan mengunyahkan makanan untuk disuapkan ke mulutku.”

Masa Kanak-Kanak

Sejak masa kanak-kanak, Imam Ali as tidak pernah berpisah dari pendidikan manusia agung Rasulullah saw. Beliau senantiasa menyertai Rasulullah saw, laksana bayangan yang begitu setia mengikuti empunya.

Mengenang masa kanak-kanaknya, Imam Ali as mengisahkan, “Aku senantiasa mengikuti Rasulullah saw bak seorang anak unta yang masih menyusu selalu menyertai ibunya. Setiap hari Rasulullah saw selalu menyempurnakan perangaiku dan memintaku untuk mengikutinya. Setiap tahun aku selalu menyaksikan beliau pergi ke goa Hira’, sementara tidak seorang pun mengetahui kepergian beliau. Ketika itu, tidak ada satu rumah pun yang menyatukan seorang pun di dalam Islam selain Rasulullah, Khadijah, dan yang ketiga adalah aku sendiri. Kusaksikan cahaya wahyu dan risalah ilahi. Di sana kucium semerbak kenabian dari rumah kudus itu.”

Ketika Allah SWT mengangkat Muhammad saw sebagai seorang Rasul untuk seluruh umat manusia, dan memerintahkan agar beliau berdakwah dan memberikan peringatan kepada keluarga serta kerabatnya, beliau memerintahkan Ali agar menyiapkan makanan untuk 40 orang dan mengundang kerabat beliau. Di antara mereka yang memenuhi undangan ialah paman-paman beliau, seperti Abu Thalib, Hamzah, Abbas, dan Abu Lahab.

Seperti dalam kenangan Imam Ali as sendiri, beliau menuturkan, “Kemudian Nabi berpidato di hadapan mereka, ‘Wahai putra-putra Abdul Muthalib! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah melihat di antara bangsa Arab ada seorang pemuda yang mendatangi kaumnya dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah kubawa untuk kalian. Sesungguhnya aku membawa untuk kalian kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah, bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepadaku agar mengajak kalian semua untuk meraih kebaikan tersebut. Siapakah di antara kalian yang siap membela dan menolongku dalam urusan ini dan untuk menjadi saudaraku, washi, dan khalifahku atas kalian semua?’

Ketika itu, semua yang hadir diam dan tidak seorang pun yang menjawab seruan beliau. Aku segera berkata, meski usiaku saat itu paling muda di antara mereka, ‘Aku ya Rasulullah, akulah yang akan menjadi pembela dan penolongmu.’ Saat itu juga Rasulullah saw berkata, ‘Inilah Ali sebagai saudaraku, washi, dan khalifahku atas kalian semua. Maka, dengarkanlah dan taatilah dia.’”

Masa Muda

Masa kanak-kanak seakan berlalu begitu cepat. Kini Ali as telah menjadi seorang pemuda sempurna. Sementara ia masih terus mengikuti Rasulullah saw ke mana saja beliau pergi dan di mana saja beliau berada, bagaikan laron yang selalu beterbangan di sekitar lilin.

Ali as adalah pemuda yang tampan, kuat, dan gagah berani. Kekuatan dan keberanian ini digunakannya untuk berkhidmat dan berbakti kepada agama Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ketika kita menengok sejarah Islam, kita jumpai bagaimana Imam Ali as senantiasa hadir dan ikut serta dalam setiap peperangan dan pertempuran. Beliau berperang dan menyerang musuh-musuhnya dengan penuh ksatria dan prawira di barisan terdepan.

Pada perang Hunain, di saat sebagian kaum muslimin lari tunggang-langgang meninggalkan Rasulullah saw di awal pertempuran, Ali as tetap tampil tegar dan gigih melakukan perlawanan, sementara bendera Islam tetap berkibar di atas kepalanya, sampai akhirnya tentara Islam dapat meraih kemenangan atas pasukan musyrikin.

Pada perang Khaibar, Ali bin Abi Thalib as memimpin pasukan muslimin untuk melakukan serangan yang dahsyat terhadap kaum Yahudi. Padahal sebelumnya, pasukan muslimin mengalami dua kali kegagalan. Penyerangan pertama dipimpin oleh Abu Bakar, dan penyerangan kedua dipimpin oleh Umar bin Khattab. Kedua usaha penyerangan itu dapat dipukul mundur oleh pasukan Yahudi.

Penyerangan ketiga dipercayakan kepada Ali. Beliau memimpin pasukan dan berhasil menjebol benteng kokoh Khaibar. Bahkan, beliau mencabut salah satu pintu gerbang benteng itu dan mengangkat dengan tangannya sendiri.

Ketika kaum Yahudi menyaksikan kegagahan dan keberanian Ali tersebut, mereka segera kabur tunggang-langgang karena ketakutan, sebelum akhirnya mereka menyerah.

Tebusan Pertama

Setiap manusia yang berakal sehat selalu berusaha membela dirinya, karena ia ingin senantiasa hidup, dan tidak menghendaki kematian. Dalam kehidupan ini, kita saksikan sedikit sekali orang-orang yang mau mengorbankan dirinya demi orang lain.

Ketika kita membaca sejarah Rasulullah saw dan kisah perjalanan hijrah beliau, kita akan merasa kagum dan penuh haru. Kita saksikan betapa Imam Ali as dengan penuh keberanian berbaring di tempat tidur Nabi saw sebagai tebusan jiwa beliau yang suci dari serangan musuh-musuh Islam yang ingin membunuhnya pada malam hijrah itu, padahal ketika itu Imam Ali as masih sangat muda.

Rencana pembunuhan atas diri Rasulullah saw itu diawali dengn berkumpulnya sekelompok kaum musyrikin di Darun Nadwah. Di sanalah mereka membuat kesepakatan dan memutuskan untuk menghabisi jiwa kudus Rasulullah saw. Cara dan taktik yang mereka ambil ialah dengan memilih satu orang pemuda dari setiap kabilah Quraisy. Mereka ditugaskan menyergap rumah Rasulullah saw pada tengah malam dan membunuhnya secara serentak.

Wahyu Ilahi turun dari langit, mengabarkan kepada Rasulullah saw akan tipu daya dan makar jahat orang-orang kafir Quraisy tersebut. Mengetahui rencana jahat itu, Imam Ali as segera pergi menuju rumah Rasulullah saw untuk bermalam di tempat tidur beliau.

Dengan izin Allah SWT, Rasulullah saw berhasil keluar pada malam hari itu juga tanpa diketahui oleh mereka. Mereka malah menduga bahwa beliau masih berada di tempat tidurnya. Ketika mereka berhasil masuk untuk membunuh beliau saw, ternyata yang mereka dapati adalah Ali. Betapa terkejutnya saat mereka menjumpai Ali yang tengah berbaring di atas tempat tidur Nabi saw. Mereka pun segera pergi meninggalkan rumah Nabi dalam keadaan malu dan penuh kecewa.

Demikianlah Rasulullah saw dapat menyelamatkan diri berkat pengorbanan sahabatnya yang setia, Imam Ali as.

Di Jalan Allah

Islam adalah agama keselamatan dan kehidupan. Karena itu, Islam menolak pembunuhan dan pertumpahan darah tanpa hak. Semua peperangan dan pertempuran yang terjadi pada masa Rasulullah saw adalah demi membela diri dan mempertahankan agama.

Beliau senantiasa berusaha menghindari peperangan sebisa mungkin. Akan tetapi ketika Islam terancam bahaya, kaum muslimin pun melakukan pertahanan dan perlawanan gigih dan kesatria demi mengangkat “Kalimat Allah”.

Ketika kita mengkaji peperangan-peperangan yang terjadi pada masa awal-awal Islam, sejarah mencatat bahwa pedang Ali bin Abi Thalib berperan andil yang sangat besar atas kejayaan Islam dan umatnya. Pedang yang diberi nama Dzul Fiqar itu senantiasa berkilauan, bagaikan kilat menyambar dalam setiap medan peperangan.

“Ali senantiasa bersama hak dan hak selalu bersama Ali.” Demikian sabda Nabi saw tentang Imam kita, Ali bin Abi Thalib as.

Akhlak Imam Ali as

Pada masa khilafah Imam Ali as, Kufah merupakan ibu kota pemerintahan Islam, sekaligus menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.

Pada suatu hari, terjadi pertemuan di luar kota Kufah antara dua orang laki-laki. Satu di antara mereka adalah Amirul Mukminin Ali as dan yang lainnya adalah seorang laki-laki yang beragama Nasrani. Laki-laki Nasrani ini sama sekali tidak mengenal beliau. Berlangsunglah percakapan antara kedua orang itu sambil berjalan, hingga keduanya sampai di persimpangan yang memisahkan jalan mereka menjadi dua; yang satu menuju kota Kufah dan yang lainnya mengarah ke suatu perkampungan.

Imam Ali as harus menempuh perjalanannya menuju kota Kufah, sementara laki-laki Nasrani itu hendak melanjutkan perjalanannya menuju kampungnya. Namun beliau masih saja mengiringinya, padahal seharusnya beliau mengambil jalan yang menuju ke arah kota kufah.

Laki-laki Nasrani itu terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Bukankah Anda hendak kembali ke Kufah?” Beliau menjawab, “Ya betul, akan tetapi aku ingin mengantarmu beberapa langkah demi menunaikan hak persahabatan dalam perjalanan, karena sesungguhnya teman seperjalanan itu mempunyai hak dan aku ingin memenuhi hakmu itu.”

Laki-laki Nasrani itu merasa tertarik dan ia bergumam dalam hatinya, “Betapa agung dan mulianya agama orang ini yang telah mengajarkan akhlak yang mulia kepada manusia.” Ia pun sangat terdorong untuk mengungkapkan keislamannya dan bergabung bersama kaum muslimin.

Kekaguman dan keterkejutannya itu menjadi lebih besar lagi tatkala ia tahu, bahwa sebenarnya teman perjalanannya itu tiada lain adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, pemimpin negara Islam yang luas.

Keteguhan Ali as

Pada kondisi yang wajar dan normal, seseorang akan dapat mengendalikan jiwa dan menentukan sikapnya yang sesuai dengan kondisi tersebut. Akan tetapi, pada kondisi dimana ia terbakar api kemarahan dan permusuhan, seseorang acapkali kehilangan keseimbangan dirinya, hingga pada saat-saat seperti ini sulit sekali baginya untuk menguasai kembali dirinya.

Tidak demikian halnya pada diri Ali Abi Thalib as. Ia tetap tenang dan tegar pada setiap keadaan dan kondisi. Sikapnya sama sekali tidak terpengaruh oleh dorongan emosi jiwanya, dan perbuatannya senantiasa mengiringi ridha Allah SWT.

Perilaku Ali di dalam rumah tangga, sikapnya dalam peperangan, pergaulan dan perlakuannya di tengah masyarakat senantiasa tunduk di bawah syariat dan undang-undang Islam. Beliau telah menjaga jiwanya sedemikian rupa, sehingga ia menjadi teladan yang unggul bagi setiap muslim yang beriman kepada Tuhannya.

Dalam perang Khandaq, ketika kaum musyrikin hendak menyerang kota Madinah, atas perintah Rasulullah saw kaum muslimin menggali parit untuk melindungi kota dari serangan musuh. Situasi saat itu sangat genting dan membahayakan sekali bagi umat Islam, terlebih lagi ketika ‘Amr bin Abdi Wud dan sebagian penunggang kuda musyrikin Quraisy berhasil melompati parit tersebut.

Setelah berhasil melewati parit dengan kudanya yang besar dan gagah, Amr bersuara lantang menantang kaum muslimin untuk turun ke perang tanding dengannya. ‘Amr bukanlah orang biasa. Ia seorang jawara Arab yang gagah berani.

Ketika itu sebagian besar kaum Muslimin merasa ciut dan gentar hatinya untuk berhadapan dengannya, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Pada kesempatan inilah Imam Ali bangkit untuk memenuhi tantangan ‘Amr. Beliau maju menuju ke arah musuh yang congkak itu, tanpa sedikit pun ada rasa takut dalam hatinya.

Sementara itu, Rasulullah saw dengan tenang menyaksikan peristiwa itu dan bersabda, “Kini keimanan seutuhnya bangkit melawan kemusyrikan seutuhnya.”

Akan tetapi, ‘Amr bin Abdi Wud berusaha menghindar dari bertanding duel dengan Imam Ali. Ia berkata, “Wahai Ali! Kembalilah! Aku tidak ingin membunuhmu.” Ali menjawab dengan penuh kemantapan iman, “Tapi, aku ingin membunuhmu.”

Mendengar jawaban itu, ‘Amr naik pitam dan begitu berang. Segera ia menghunuskan pedangnya dan melayangkannya ke arah Ali. Namun, Ali dengan cepat dapat menghindar dari serangan pedang tersebut. Untuk beberapa saat, kedua pemberani itu itu saling menyerang, menangkis, dan menghindar.

Ali tidak memberikan peluang sedikit pun kepada lawannya untuk menarik nafas. Sampai pada kesempatan yang tepat, Ali dapat melayangkan pedang Dzul Fiqarnya tepat mengenai sasaran yang membuat ‘Amr jatuh tersungkur di atas tanah. Pemandangan tersebut membuat kawan-kawan ‘Amr ketakutan dan mundur secara teratur.

Namun, tatkala Ali hendak menghabisi nyawanya, ‘Amr yang congkak itu malah meludahi wajahnya. Untuk sesaat saja perlakuan seperti itu menyulut kemarahan Ali. Karena itu pula ia mengurungkan niat untuk membunuh ‘Amr sampai emosi beliau kembali tenang. Ali melakukan ini agar tebasan pedangnya bukan sebagai pembalasan dendam dan dorongan murka, akan tetapi demi keikhlasannya yang murni kepada Allah SWT dan agama-Nya.

Sungguh, Ali adalah kesatria teladan bagi seluruh prajurit di semua peperangan dan pertempuran. Sikap dan sepak terjangnya telah mengukir indah sejarah bangsa Arab dan Islam dengan tinta emas.

Setelah ‘Amr bin Abdi Wud terhempas mati, Ali kembali membawa kemenangan gemilang kepada Rasulullah saw. Beliau menyambutnya degan penuh hangat, haru, dan puas. Beliau berkata, “Tebasan pedang Ali atas ‘Amr menandingi pahala ibadahnya seluruh tsaqalain.” Yakni, pukulan pedang Imam Ali as yang membelah badan ‘Amr menjadi dua itu sama dengan ibadahnya seluruh jin dan manusia.

Pada saat berlangsungnya duel antara Ali bin Abi Thalib dengan ‘Amr bin Abdi Wud, kaum musyrikin senantiasa mengamati dan memperhatikan peristiwa itu dengan penuh ketegangan. Tatkala mereka menyaksikan prajuritnya itu jatuh tersungkur ke tanah, mereka pun mendengar Ali berteriak keras, “Allahu Akbar”. Seketika itu pula dada mereka bergetar ketakutan, jiwa mereka tampak melemah dan putus asa untuk melanjutkan peperangan.

Akhirnya, mereka mengakhiri penyerangan dan pengepungan kota Madinah dan kembali menarik diri dengan segenap kepiluan, kegagalan, dan kekecewaan.

Imam Ali as di Perang Shiffin

Kekesatriaan dan keprawiraan itu tidaklah berarti apapun jika tidak diiringi dengan sifat semulia belas dan kasih sayang. Manusia yang berjiwa laksana pahlawan dan pemberani senantiasa menjaga kehormatan dirinya.

Demikianlah sosok agung Imam Ali as.

Beliau tidak mau membunuh musuhnya yang telah terluka parah atau tercekik kehausan. Beliau juga enggan mengusir orang yang kalah. Perikemanusiaannya begitu tinggi dalam setiap peperangan. Beliau tidak pernah menggunakan lapar atau haus-dahaga sebagai senjatanya dalam peperangan melawan musuh-musuh Islam, walaupun mereka sama sekali tidak menganggap penting akan perkara itu.

Bahkan sebaliknya, musuh-musuh Islam tak segan-segan menggunakan cara yang paling buruk demi meraih kemenangan. Dalam perang Shiffin misalnya, pasukan Mu‘awiyah berhasil menguasai sungai Furat, dan ia memerintahkan kepada segenap pasukannya agar mencegah prajurit Imam Ali as untuk mendekati sungai tersebut. Namun, beliau mengingatkan mereka bahwa ajaran Islam, kemanusiaan, dan kekesatriaan sangat mengecam perlakuan semacam itu. Akan tetapi, Muawiyah tidak mempedulikannya, karena yang ia pikirkan hanyalah keuntungan pribadi dan tujuannya yang rakus dan hina.

Pada saat itu Imam Ali as berkata kepada para prajuritnya dengan suara lantang, “Hilangkan dahaga pedang-pedang kalian dengan darah, demi menghilangkan rasa haus kalian dengan seteguk air, karena sesungguhnya kematian dalam kehidupan kalian akan tunduk, dan kehidupan dalam kematian kalian akan unggul.”

Dengan serentak para prajurit Imam Ali as menyerang musuh-musuh Islam yang tengah menjaga sungai Furat, dan dengan mudahnya mereka merebut sungai itu. Kemudian para prajurit Imam Ali as pun segera menyatakan bahwa mereka akan memukul setiap pasukan Muawiyah yang hendak meneguk air dari sungai tersebut. Akan tetapi, Imam Ali as segera mengeluarkan perintahnya agar mengosongkan tepi sungai dan tidak menggunakan air sebagai senjata, karena yang demikian itu bertentangan dengan akhlak Islam dalam peperangan.

Sang Pemimpin Yang Miskin

Masih pada masa-masa menjabat sebagai Amiril Mukminin dan khalifah bagi kaum muslimin, Imam Ali as menghadapi berbagai tantangan, bencana, dan kesusahan hidup dunia. Walaupun demikian, beliau sendiri terjun langsung menangani kemiskinan umat Islam dan rakyatnya.

Imam Ali as sama sekali tidak memiliki dendam pribadi kepada siapa pun, sehingga orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan menyimpan kedengkian serta kebencian yang mendalam sekalipun tetap dapat menerima bagian dari Baitul Mal (kekayaan negara). Bahkan, beliau tidak membeda-bedakan dalam membagikan harta Baitul Mal itu di antara para sahabat, kerabat, famili, dan orang-orang yang dekat dengan beliau dengan yang rakyat lainnya.

Pada suatu hari, seorang wanita bernama Saudah datang menjumpai Amirul Mukminin Ali as untuk mengadukan perlakuan buruk seorang pegawai pajak terhadap dirinya. Ketika itu beliau sedang melaksanakan salat. Tatkala bayangan seorang wanita itu datang menghampirinya, beliau mempercepat salatnya.

Seusai salat, beliau menoleh kepada wanita itu dan berkata kepadanya dengan penuh santun dan lembut, “Apa yang bisa saya lakukan untukmu?” Sambil menangis Saudah menjawab, “Aku ingin mengadukan perlakuan buruk pegawai saat mengambil pajak dariku.” Mendengar hal itu Imam Ali as terkejut dan menangis, kemudian mengangkat kepalanya ke langit dan berkata, “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyuruh mereka untuk berbuat aniaya terhadap hamba-Mu.”

Setelah itu beliau megambil sepotong kulit dan menuliskan sebuah perintah untuk memecat pegawai buruk tersebut dari pekerjaannya. Surat tersebut beliau serahkan kepada Saudah. Dengan gembira wanita itu menerimanya untuk selanjutnya ia sampaikan kepada yang bersangkutan.

Pada suatu hari Amiril Mukminin Ali as menerima laporan dari kota Bashrah bahwa gubernur kota itu yang bernama Utsman bin Hanif telah memenuhi undangan seorang kaya raya dan hadir dalam pesta pernikahannya. Mendengar hal tersebut, beliau segera mengirimkan sehelai surat untuknya.

Dalam surat itu Imam Ali as. menegur dan memberikan peringatan kepada gubernurnya tentang sesuatu di balik undangan tersebut. Karena sesungguhnya orang-orang kaya apabila mengadakan pesta perkawinan bukanlah sekedar menyajikan jamuan makanan semata. Akan tetapi, acara semacam itu mereka jadikan sebagai alat pelicin dan suap untuk penguasa kota tersebut, sehingga mereka dapat meraih tujuan mereka. Di dalam surat itu pula Imam as menyampaikan berbagai saran dan nasihatnya yang perlu direnungkan dan dicamkan baik-baik.

Dalam surat tersebut Imam Ali as menegaskan, “Wahai Ibn Hanif, telah sampai laporan kepadaku bahwa ada orang kaya raya yang mengundangmu untuk menghadiri pesta pernikahan, lalu dengan segera dan senang hati engkau menyambut undangan tersebut dengan jamuan makanan yang berwarna warni. Sungguh aku tidak mengira bahwa engkau sudi menghadiri makanan seseorang yang hanya dihadiri oleh orang-orang kaya sedang orang-orang miskin tidak mereka hiraukan.

“Ketahuilah sesungguhnya setiap rakyat mempunyai pemimpin yang harus ditaati dan diikuti petujuk cahaya ilmunya. Ketahuilah! Sesungguhnya pemimpinmu mencukupkan tubuhnya hanya dengan dua helai jubah yang kasar, dan makanannya hanya dengan dua potong roti kering.”

Salah seorang sahabat Imam Ali as yang bernama ‘Ady bin Hatim At-Tha’i pernah ditanya seseorang tentang pemerintahan beliau. Ia berkata, “Aku saksikan orang yang kuat menjadi lemah di sisinya karena ia menuntut tanggung jawab darinya, dan orang yang lemah menjadi kuat di sisinya karena hak-haknya terpenuhi.”

Tentang keadaan hidupnya, beliau sendiri pernah menggambarkan, “Bagaimana mungkin aku menjadi seorang pemimpin jika aku sendiri tidak merasakan kesusahan dan kesengsaraan mereka.”

Dalam pandangan Imam Ali, kekuasaan dan jabatan itu tidaklah berharga. Pada suatu kesempatan, beliau pernah bertanya kepada Ibn Abbas sembari menjahit sandalnya, “Menurutmu berapa harga sandalku ini?” Setelah memandang dan mengamati beberapa saat, Ibnu Abbas berkata, “Sangat murah, bahkan tidak ada harganya.” Kemudian Imam Ali as lantas berkata, “Sesungguhnya sandal ini lebih berharga bagiku dibandingkan sebuah kekuasaan dan jabatan kecuali aku dapat menegakkan yang hak dan menghancurkan kebatilan.”

Tidak Ada Keistimewaan!

Sejak hari pertama menjadi khalifah kaum muslimin, Imam Ali as menegaskan di hadapan khalayak bahwa pemerintahannya akan berjalan di atas keadilan dan persamaan hak di antara rakyat, dan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan orang Ajam (non-Arab) kecuali dengan takwa. Beliau pun tidak membedakan antara tuan dengan budaknya.

Sebagian orang mengecam jalan pemetintahan beliau tersebut. Mereka memberikan usulan agar beliau kembali kepada cara-cara pemerintahan lama yang telah dijalankan oleh para khalifah sebelumnya. Namun, Imam Ali as menolak dengan jawaban keras, “Apakah kalian memintaku untuk meraih kemenangan dengan jalan kezaliman?” Beliau melanjutkan, “Seandainya harta negara itu adalah milikku sendiri, maka aku pun akan membagi rata kepada seluruh rakyat. Apalagi harta itu adalah milik Allah.”

Pada suatu hari kakak beliau yang bernama Aqil datang ke rumahnya. Imam Ali as menyambut gembira kedatangan sang kakak. Ketika tiba waktu makan malam, ternyata Aqil tidak melihat apa-apa di atas sufrah (alas makanan) selain roti dan garam. Ia terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Hanya inikah yang aku lihat?” Beliau menjawab, “Bukankah ini adalah nikmat Allah yang patut disyukuri?”

Kedatangan Aqil sebenarnya untuk meminta bantuan kepada Imam Ali as demi menutupi utangnya. Imam berkata, “Tunggu sebentar, aku akan ambilkan harta milikku.” Aqil mulai merasa kesal dan berkata, “Bukankah Baitul Mal ada di tanganmu? Kenapa engkau memberiku dari harta milikmu sendiri?” Imam as membalas, “Kalau kau mau, ambillah pedangmu dan aku akan mengambil pedangku, lalu kita keluar bersama-sama menuju ke kawasan Hairah yang di dalamnya terdapat peadagang-pedagang kaya, kita masuki rumah salah seorang dari mereka dan kita ambil harta kekayaannya.” Aqil menolak dan berkata, “Memangnya aku datang untuk merampok!” Imam as menjawab, “Mencuri harta kekayaan seorang dari mereka itu masih lebih baik daripada engkau mencuri harta milik semua kaum muslimin.”

Demikianlah Imam Ali as hidup pada masa pemerintahannya yang adil.

Beliau makan makanan kaum fakir miskin dan hidup dengan penuh kesederhanaan. Ketika orang-orang berkata kepada beliau, “Muawiyah membagi-bagikan harta kekayaan kepada orang-orang untuk menggalang pendukung. Akan tetapi mengapa engkau tidak melakukan hal yang serupa?” Imam as menjawab, “Apakah kalian hendak menyuruhku untuk meraih kemenangan dengan berlaku zalim?”

Membela Wanita

Pada suatu hari di musim panas yang sangat menyengat, seorang wanita diusir dari rumah oleh suaminya. Wanita itu meminta tolong kepada Imam Ali as. Dengan segera beliau keluar menuju rumah suami wanita yang malang tersebut. Setibanya di sana, beliau mengetuk pintunya. Seorang pemuda yang tidak mengenal beliau membuka pintu.

Ketika Imam mengecam perlakuan buruknya itu, pemuda tersebut berteriak dengan suara keras dan penuh kemarahan. Ia mengancam akan menyiksa isterinya itu lebih jahat lagi lantaran ia mengadukan perakuannya kepada Imam.

Pada saat itu, beberapa orang yang mengenal Imam melewati jalan di hadapan rumah tersebut. Mereka mengucapkan salam kepada Imam Ali as, “Assalamualaika, wahai Amirul Mukminin!” Mendengar ucapan salam mereka itu, pemuda tersebut baru sadar bahwa orang yang kini berada di hadapannya adalah khalifah kaum muslimin.

Tak pelak lagi, ia pun gemetar ketakutan, lalu menundukkan diri dan segera mencium tangan Imam seraya memohon maaf dalam-dalam. Pemuda itu berjanji kepada Imam untuk tidak mengulang lagi perlakuan buruknya tersebut. Imam menasihati kedua suami-isteri itu dan memberikan bimbingan agar kehidupan rumah tangga mereka terbina tentram dan hidup dengan penuh kedamaian.

Ghadir Khum

Pada tahun 10 H, Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji Wada’. Haji Wada’ adalah haji terakhir sekaligus haji perpisahan bagi beliau. Beliau merasa sudah semakin dekat perjumpaannya dengan Allah SWT. Sejak awal masa risalah, sering kali beliau menyampaikan perkara tentang seseorang yang bakal menjadi pengganti beliau sebagai khalifahnya untuk kaum muslimin.

Nabi saw senantiasa berfikir bagaimana caranya membuka jalan untuk kesuksesan khalifahnya, Ali bin Abi Thalib as. Mengenai kekhilafahannya beliau memberikan berbagai isyarat dan penegasan yang didengar langsung oleh para sahabat, “Ali senantiasa bersama kebenaran, dan kebenaran senantiasa bersama Ali.” Atau sabda beliau lainnya, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya.”

Jabir bin Abdillah Al-Ansari ra pernah berkata, “Kami tidak dapat mengenali orang-orang munafik kecuali dengan mengetahui kedengkian mereka terhadap Ali as.”

Lain dari itu, para sahabat pun pernah mendengar wasiat Nabi saw yang menyatakan, “Ayyuhannas, aku berwasiat kepada kalian agar mencintai saudara dan putra pamanku, Ali bin Abi Thalib, karena sesungguhnya tidak ada yang mencintainya kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang mendengkinya kecuali orang munafik.”

Sampai pada tanggal 18 bulan Dzulhijjah tahun yang sama, Rasulullah saw kembali dari melaksanakan haji Wada’ yang diikuti oleh lebih dari seratus ribu kaum muslimin. Saat itulah Jibril as turun membawa pesan langit untuk beliau.

Rasulullah saw menghentikan perjalanannya di suatu tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Beliau memerintahkan semua kaum muslimin agar menghentikan perjalanan mereka di tempat yang mulia dan bersejarah itu. Di tengah padang pasir dan di tengah panasnya terik matahari yang membakar itu, beliau menyampaikan khutbahnya di hadapan kaum muslimin dan seluruh para sahabatnya. Dalam khutbahnya itu beliau bersabda, “Ayyuhannas, tak lama lagi aku akan dipanggil oleh Tuhanku dan aku akan memenuhi panggilan-Nya itu. Sesungguhnya aku akan dimintai tanggung jawab, demikian pula kalian, maka apakah yang akan kalian katakan?”

Kaum muslimin dengan serentak menjawab, “Sesungguhnya kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Tuhan dengan baik, engkau telah berjihad dan memberikan nasihat, semoga Allah akan membalasmu dengan kebaikan.”

Nabi saw melanjutkan, “Bukankah kalian telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya? Sesungguhnya surga adalah nyata, neraka adalah nyata, kematian adalah nyata, kebangkitan adalah nyata, hari akhirat itu tidak diragukan lagi kejadiannya, dan sesungguhnya Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang berada di dalam kubur.”

Kaum muslimin menjawab lagi dengan serempak, “Benar, kami bersaksi akan hal itu semua.”

Rasulullah saw menengadah ke hadirat Allah SWT, “Ya Allah! Saksikanlah kesaksian mereka itu!”

Lalu beliau menyambung khutbahnya, “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah SWT adalah pembimbingku, sedang aku adalah pemimpin kaum mukminin, dan sesungguhnya aku lebih utama daripada diri-diri kalian. Maka, barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.

“Dan sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian dua pusaka (tsaqalain) yang sangat berharga, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan ‘Ithrah (Ahlulbait).”

Pada siang itu, puluhan ribu kaum muslimin melihat dan menyaksikan Nabi saw mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib as sebagai cara pelantikannya menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin setelah ketiadaan beliau. Para sahabat yang kemudian diikuti oleh kaum muslimin lainnya menyatakan baiat (ikrar setia) kepada Imam Ali as mengucapkan sambutan selamat kepadanya, “Salam sejahtera atasmu, wahai pemimpin kaum mukminin!”

Nasib Khilafah

Rasulullah saw telah mangkat meninggalkan dunia yang fana ini untuk selamanya demi memenuhi panggilan Tuhannya, sebagaimana yang telah beliau katakan. Seluruh kaum muslimin merasa terkejut dengan kepergiannya itu.

Di tengah-tengah duka dan kesedihan yang mendalam, tidak jauh di seberang sana berkumpul sekelompok umat Islam untuk memilih seorang khalifah yang akan menggantikan Rasul sebagai pemimpin umat. Dengan cara ini mereka sesungguhnya telah merampas kedudukan khilafah dari pemegangnya yang sah. Mereka membiarkan Imam Ali as sendirian. Beliau sendiri lebih memilih berdiam diri demi menjaga keutuhan agama dan kemaslahatan seluruh kaum muslimin saat itu.

Setelah kemelut yang panjang dan tegang, akhirnya Abu Bakar dinyatakan terpilih sebagai khalifah pertama bagi kaum muslimin. Khilafahnya dilanjutkan oleh Umar bin Khattab.

Ketika tiba saatnya khilafah jatuh di tangan Utsman bin Affan, keluarga Bani Umayyah mulai ikut duduk di berbagai jabatan pemerintahannya. Mereka dapat memegang kendali khilafah tanpa lagi menyembunyikan ketamakan dan kerakusannya. Maka tersebarlah kerusakan di mana-mana. Tak segan-segan keluarga Umayyah berlaku sewenang-wenang, dan menjalankan pemerintahan Ustman dengan penuh kezaliman.

Pada masa itu, kaum muslimin melihat Utsman hanya memilih dan mengutamakan keluarganya untuk duduk di dalam kekuasannya, dan bahkan mengasingkan sebagian sahabat terkemuka Nabi seperti Abu Dzar, lebih keras lagi dari itu ia pun berani memecut seorang sahabat Nabi yang sangat dekat dan setia, Ammar bin Yasir tanpa alasan dan bukti yang jelas.

Kenyataan ini membuat kaum muslimin segera mengadakan demo dan unjuk rasa. Mereka mendatangi kota Madinah untuk menuntut Utsman agar turun dari kursi khilafah Rasul saw.

Api amarah masyarakat muslim terhadap Utsman semakin membara. Dalam situasi itu, Imam Ali as berusaha mendamaikan dan menentramkan mereka, serta menasihati Khalifah Utsman agar segera bertaubat dan bersikap adil, dan menganjurkannya agar tidak menuruti bisikan dan bujuk rayu orang-orang munafik, seperti Marwan bin Hakam. Sayangnya, Ustman tidak peduli pada nasihat dan arahan beliau.

Kemurkaan dan kedengkian kaum muslimin mencapai puncaknya. Mereka mengadakan pengepungan di sekeliling istana khilafah, nyawa Utsman pun terancam bahaya. Mengetahui hal itu Imam Ali as segera mengutus kedua puteranya, Al-Hasan dan Al-Husain as ke istana khilafah dan memerintahkan mereka berdua agar berdiri di depan pintu untuk menjaga Ustman dari serangan orang-orang yang hendak membunuhnya.

Dalam kondisi yang sudah sangat genting seperti itu, Khalifah Utsman tetap berkeras kepala pada sikapnya memerintah, padahal kemarahan para demonstran sudah mencapai titik-didihnya. Puncak kemarahan tersebut meledak ketika sebagian mereka memanjat naik ke istana dan masuk lewat belakang, hingga akhirnya mereka berhasil mendekati Utsman. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, mereka segera membunuhnya.

Khalifah Utsman pergi meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Adapun kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah Imam Ali as. Mereka memohon kepadanya agar menerima khilafah, menjadi amiril mukminin, dan memimpin umat Islam dengan penuh keadilan.

Pada mulanya, Imam Ali as menolak permohonan kaum muslimin itu, namun karena mereka terus mendesak, akhirnya beliau menerima tawaran tersebut.

Mulailah Amiril Mukminin Ali as menjalankan roda khilafahnya dan mengatur negara berdasarkan keadilan dan undang-undang Islam. Panji kebenaran dan keadilan kembali berkibar di bawah kepemimpinan beliau. Di dalamnya kaum muslimin pun kembali menikmati ketentraman setelah 25 tahun lamanya.

Pemerintahan Imam Ali as

Sejak hari pertama khilafah dan kepemimpinannya, Imam Ali as menegaskan di hadapan kaum muslimin asas pemerintahannya, yaitu menegakkan keadilan, menjalankan undang-undang Allah SWT, dan menindak segala macam kezaliman dan kejahatan.

Masyarakat muslim telah terbiasa menghadapi kezaliman dan ketidakadilan pada masa-masa sebelumnya. mereka telah menyaksikan perlakuan khalifah yang tidak lagi berlandasakan pada hukum-hukum Allah; mereka mengistimewakan sebagian dan menelantarkan sebagian lainnya, mencurahkan harta kekayaan negara hanya kepada keluarga Umayyah dan orang-orang yang setia kepada kekuasaannya saja. Sementara sebagian besar kaum Muslimin hidup dalam keadan miskin dan penuh dengan penderitaan.

Ketika Ali bin Abi Thalib as menjabat sebagai khalifah dan beliau berjanji akan menegakkan keadilan di tengah kaum muslimin, terutama bagi yang keadaan ekonominya lemah, mereka menyambutnya dengan penuh harapan. Lain halnya dengan orang-orang kaya yang biasa hidup mewah dan suka berfoya-foya. Sebagian mereka sangat khawatir kekayaan, kemewahan dan kepentingan mereka terusik dengan keadilan Ali as.

Karena itu, mereka segera bergerak cepat menyiapkan langkah-langkah dalam rangka menghadapi pemerintahan Ali as berkobarlah api permusuhan dan peperangan di dalam negara dan di antara sesama kaum Muslimin. Sejarah mencatat bahwa perang Jamal adalah peperangan pertama di antara mereka. Setelah itu terjadi perang Shiffin, lalu perang Nahrawan.

Syahadah Imam Ali as

Setelah kaum Khawarij mengalami kekalahan besar dalam perang Nahrawan, tiga orang durjana berkumpul untuk mengambil mufakat, yaitu membunuh beberapa orang yang mereka anggap sebagai musuh dan penghalang mereka dalam mencapai tujuan-tujuan mereka.

Ketiga orang itu adalah Ibnu Muljam, Hajjaj bin Abdillah, dan Umar bin Bakar At-Tamimi. Mereka bertiga telah sepakat dan bertekad untuk membunuh Muawiyah, ‘Amr bin ‘Ash, dan Imam Ali as. Ibnu Muljam sendiri telah bersumpah untuk melakukan pembunuhan atas Imam Ali as. Maka pada 19 Ramadhan 40 H., Ibnu Muljam melakukan rencana jahatnya.

Seperti biasa, subuh itu Imam Ali as memimpin salat subuh berjamaah bersama kaum Mukminin di Masjid Kufah, Irak. Ibnu Muljam berhasil menyusup diam-diam sampai mendekati beliau yang tenagh bersujud. Namun, tatkala beliau bangkit dari sujudnya, Ibnu Muljam segera menebaskan pedangnya yang beracun itu, tepat di bagian kepala beliau as. Darah suci beliau berhamburan memerahi mihrab dan pakaian beliau. Pemimpin yang adil itu meratap lemah, “Demi Tuhan Ka’bah! Sungguh aku telah menang.”

Pada saat itu, terdengar oleh masyarakat suara dari langit berucap, “Demi Allah, sungguh tonggak petunjuk telah roboh, orang yang paling takwa telah terbunuh, … orang yang paling celaka telah membunuhnya.”

Ibnu Muljam berusaha melarikan diri dari kota Kufah. Akan tetapi, ia berhasil dibekuk. Ketika ia dibawa ke hadapan Imam Ali as, beliau berkata kepadanya, “Bukankah aku selalu berbuat baik kepadamu?”

Ia menjawab, “Ya, betul.”

Sebagian orang berusaha untuk melakukan pembalasan dendam terhadap Ibnu Muljam. Akan tetapi, Imam Ali mencegah mereka. Bahkan, beliau berpesan kepada putranya Hasan as agar senantiasa berbuat baik kepadanya selama beliau masih hidup.

Pada 21 Ramadhan, Imam Ali as menjemput kesyahidannya. Tak lama setelah itu, Imam Hasan as melaksanakan hukum Qishash Islam terhadap pembunuh ayahnya itu.

Demikianlah Imam Ali as, sang pemimpin yang adil itu meninggalkan dunia pada usia 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah saw. Jenazah beliau dimakamkan di luar kota Kufah secara rahasia di kegelapan malam.[]

Mutiara Hadits Imam Ali as

▪ “Janganlah engkau mencari kehidupan hanya untuk makan. Akan tetapi, carilah makan agar engkau dapat hidup.”

▪ “Sesuatu yang paling merata manfaatnya adalah kematian orang-orang jahat.”

▪ “Janganlah engkau mengecam Iblis secara terang-terangan, sementara engkau adalah temannya dalam kesunyian.”

▪ “Akal seorang penulis itu terletak pada penanya.”

▪ “Kawan sejati adalah belahan ruh, sedangkan saudara adalah belahan badan.”

▪ “Janganlah engkau mengucapkan sesuatu yang engkau sendiri tidak suka jika orang lain mengucapkannya kepadamu.”

▪ “Kurang ajar adalah penyebab segala keburukan.”

▪ “Galilah ilmu pengetahuan sejak kecil, pasti engkau akan beruntung tatkala besar.”

▪ “Lebih baik engkau memilih kalah (mengalah) sedang engkau sebagai orang yang adil, daripada engkau memilih menang dalam keadaan engkau sebagai orang yang zalim.”

============================================================

FATIMAH AZ-ZAHRA AS,

PENGHULU WANITA SEMESTA

Mukadimah

Dahulu kala, masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Demikian pula masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Mereka senantiasa memandang wanita sebagai makhluk yang hina. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup.

Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya, seperti hak sebagai ibu, hak sebagai istri, dan hak sebagai pemudi.

Tentu kita semua sering mendengar hadis Nabi saw yang menyatakan, “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”

Di lain kesempatan, beliau bersabda, “Kerelaan Allah terletak pada kerelaan orang tua.” (Dan perempuan termasuk salah satu dari orang tua).

Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan, undang-undang yang menjamin perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.

Sebagai contoh yang jelas ialah hijab atau jilbab. Jilbab bukanlah penjara bagi wanita, tapi ia merupakan kebanggaan baginya, sebagaimana kita selalu melihat permata yang tersimpan rapi di dalam kotaknya, atau buah-buahan yang tersembunyi di balik kulitnya.

Sedangkan bagi wanita muslimah, Allah SWT telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaga diriya, yaitu jilbab. Bahkan tidak hanya sekedar pelindung, jilbab dapat menambah ketenangan dan keindahan pada diri wanita tersebut.

Wanita dalam pandangan Islam berbeda secara mencolok dari apa yang terjadi di Barat. Dunia Barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan, dan bisa diambil keuntungan materinya, dengan dalih memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.

Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari naluri serta nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Barat telah sedemikian mengkuatirkan.

Dalam pandangan dunia Barat, wanita telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga lagi, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi, ataupun dalam dunia kontes kecantikan.

Teman-teman, marilah kita sejenak menengok sosok teladan kaum wanita dalam Islam yang terwujud dalam kehidupan putri Rasulullah tercinta.

Dialah Siti Fatimah Az-Zahra as.

Putri tersayang Nabi Muhammad saw.

Istri tercinta Imam Ali as.

Bunda termulia Hasan, Husain, dan Zainab as.

Hari Lahir

Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj beliau.

Sebelumnya, Jibril as telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahiran Fatimah. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.

Fatimah di Rumah Wahyu

Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.

Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah as.

Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”

Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.

Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.

Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.

Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.

Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.

Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.

Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.

Pernikahan Fatimah as

Setelah Fatimah as mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah as).”

Kemudian, Jibril as datang untuk mengkabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib as. Tak lama setelah itu, Ali as datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah as. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?”

Fatimah as diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”

Acara Pernikahan

Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu ‘alallah.”

Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”

Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”

Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu”.

Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kaum Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim, telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahlulbait Nabi yang telah Allah bersihkan kotoran jiwa dari mereka dan telah sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.

Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.

Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah saw. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.

Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi saw.

Hanya Allah SWT saja yang mengetahui kecintaan yang terjalin di antara dua hati, Ali dan Fatimah. Kecintaan mereka hanya tertumpahkan demi Allah dan di atas jalan-Nya.

Fatimah as senantiasa mendukung perjuangan Ali as dan pembelaannya terhadap Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya senantiasa berada di barisan utama dan terdepan dalam setiap peperangan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan kaum muslimin. Ali pula yang senantiasa berada di samping mertuanya, Rasulullah saw.

Fatimah as senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suami, juga berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihannya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas layaknya seorang ibu rumah tangga. Setiap kali Ali pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.

Fatimah as merupakan pokok yang baik, yang akarnya menghujam kokoh ke bumi, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fatimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan didikan Al-Qur’an.

Keluarga Teladan

Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.

Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.

Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.

Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. “Ya binta Rasulillah”; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin”; wahai pemimpin kaum mukmin.

Demikianlah kehidupan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as.

Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.

Buah Hati

Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.

Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.

Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”

Satu tahun berselang, Fatimah as melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as itu dengan nama-nama tersebut.

Dan begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.

Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.

Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.

Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.

Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.

Kepergian Sang Ayah

Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.

Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk.

Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur’an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.

Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.

Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.

Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.

Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.

Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.

Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.

Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”

Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Putri Tercinta Rasul

Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.

Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.

Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.

Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.

Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.

Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah … dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.

“Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku … Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!

Ibn Miskawaih Tokoh Pendidikan Syi’ah Era Klasik Yang Membawa Kemajuan Peradaban Sunni


PENDAHULUAN

Ketika dinasti Abbasiyah (750-1258 M) menguasai dunia Islam secara menyeluruh, kebudayaan dan peradaban Islam pun semakin maju. Meskipun benih-benihnya telah mulai disemai pada era dinasti Umayyah, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan dan peradaban Islam baru mencapai puncaknya ketika dinasti Abbasyiah berkuasa atas dunia Islam. Kebudayaan dan peradaban Islam itu lahir karena umat Islam di bawah komando Kekhalifahan Abbasyiah telah menggali dua macam sumber ilmu pengetahuan, yakni sumber dalam dan sumber luar. Sumber dalam ini tidak lain adalah al-Quran dan hadits. Penggalian atas sumber dalam ini melahirkan pelbagai macam ilmu-ilmu agama. Sementara sumber luar itu merupakan setiap ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh umat manusia sebelum Islam lahir. Sumber luar ini berasal dari pusat-pusat peradaban dunia pra Islam, seperti Yunani, Iskandariyah, Jundisyapur, India, dan lainnya. Sumber-sumber luar ini dapat berbentuk filsafat, sains, dan teknologi. Demikianlah, karena umat Islam berhasil menggali kedua macam sumber ilmu tersebut, mereka pun akhirnya dapat mengkonstruksi kebudayaan dan peradaban Islam yang khas.

Sebagaimana diuraikan di atas, selain karena umat Islam menggali sumber dalam, kebudayaan dan peradaban Islam muncul dilatari oleh adalah aktifitas penerjemahan atas kitab-kitab ilmu pengetahuan sebagai buah kebudayaan dan peradaban manusia pra-Islam yang merupakan sumber luar. Kegiatan seperti ini sebenarnya telah dilakukan pada masa kekhalifahan Umayyah (660-750 M) di Damaskus, namun kegiatannya masih terbatas kepada penerjemahan kitab-kitab tertentu. Maksudnya, para penerjemah hanya menerjemahkah kitab-kitab yang diduga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, seperti kitab-kitab tentang kedokteran, astronomi, kimia, dan matematika.[1] Sementara kitab-kitab lain masih belum dilirik sama sekali. Barulah ketika dinasti Abbasyiah berkuasa, seluruh kitab ilmu pengetahuan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab seperti kitab-kitab filsafat, sains, dan teknologi. Para penerjemah menerjemahkan kitab-kitab orisinil karya Phytagoras, Plato, Aristoteles, Plotinus, Galen, Nicomachus, Euclide, Ptolemaeus, Hippocrate,[2] dan lainnya. Pada akhirnya, kegiatan penerjemahan ini memacu lahirnya the Golden Age of Islam sepanjang abad 8 sampai abad 12 M.[3]

Pada masa keemasan Islam tersebut, banyak pemikir Islam muncul ke permukaan. Secara pasti, mereka menguasai dan memahami hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan. Selain banyak memberikan syarah atas kitab-kitab asing, mereka pun menuliskan buah fikir nya di berbagai cabang ilmu pengetahuan.[4] Tak dapat dipungkiri, keberadaan para pemikir Islam tersebut menjadi penopang utama pilar kebudayaan dan peradaban Islam di zaman Klasik. Para pemikir dimaksud antara lain adalah al-Kindi, al-Farabi, al-Razi, Ibn Miskawaih, al-Amiri, al-Sijistani, at-Tauhidi, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Thufail, Ibn Rusyd,[5] dan ratusan lainnya. Meskipun memiliki ciri khas tersendiri, namun tidak dapat disangkal bahwa pemikiran mereka memiliki rantai sanad hingga ke pemikiran para filsuf pra-Islam semacam Phytagoras, Plato, Aristoteles, Plotinus, Phorphyrius, dan lainnya. Kebesaran nama dan pemikiran mereka telah membuat banyak ahli meneliti biografi dan pemikiran para filsuf Islam tersebut.

Selain para pemikir Islam era Klasik di atas, para sarjana Modern banyak meneliti tentang Ibn Miskawaih (w. 1030 M). Penelitian itu dilakukan selain karena Ibn Miskawaih menjadi salah satu pilar kebudayaan dan peradaban Islam era Klasik, juga karena tokoh di bidang filsafat akhlaq ini memiliki pokok-pokok fikiran yang khas. Pemikiran-pemikiran Ibn Miskawaih pun dipandang memiliki nilai guna bagi dunia Modern, selain sebagai wadah inspirasi bagi filsuf dan ilmuan Modern.

Tulisan ini mencoba memaparkan pemikiran Ibn Miskawaih tentang pendidikan akhlaq. Secara khusus, tulisan ini akan memfokuskan pembahasan hanya kepada sejumlah pemikirannya, yakni hakikat jiwa sebagai dasar utama pembahasan akhlaq, prinsip-prinsip akhlaq, pendidikan akhlaq, dan pendidikan jiwa. Sebagai sebuah makalah sederhana, makalah ini tidak berpretensi untuk menguraikan secara mendalam seluruh pemikiran akhlaqnya. Karena keterbatasan waktu, maka makalah ini hanya menyajikan sejumlah pemikiran pendidikan akhlaq Ibn Miskawaih secara umum.

 

MENGENAL IBN MISKAWAIH; SEBUAH SKETSA BIOGRAFIS

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Khasim Ahmad bin Ya’kub bin Maskawaih. Ia lebih dikenal dengan nama Ibn Miskawaih.[6] Beliau dilahirkan di kota Ray (Iran) pada tahun 320 H/932 M[7]. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ibn Miskawaih mempelajari kitab Tarikh al-Thabari kepada Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-Qadhi (w. 350 H/960 M). Selain belajar sejarah, beliau pun mempelajari filsafat kepada Ibn al-Khammar, salah seorang komentator Aristoteles[8] dan al-Hasan bin Siwar, seorang ‘ulama pengkaji filsafat, kedokteran dan logika.[9] Tidak hanya sebatas itu, beliau pun mempelajari ilmu bahasa, ilmu kedokteran, ilmu fiqh, hadits, matematika, musik, ilmu militer,[10] dan lainnya. Karena beliau memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, maka beliau pun dapat melahap habis semua pelajaran yang diberikan kepadanya. Walhasil, beliau pun menjadi salah seorang filsuf Islam terkemuka di zamannya.

Sebagai seorang pemikir besar, Ibn Miskawaih telah melahap seluruh kitab-kitab filsafat dari warisan peradaban pra-Islam. Pada masanya, beliau banyak membaca dan menelaah kitab-kitab pemikir dari berbagai peradaban seperti Yunani, Persia, Romawi, dan lainnya. Karena itu pula, pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh dari berbagai peradaban itu memberikan pengaruh yang tidak kecil bagi Ibn Miskawaih. Hal ini terlihat jelas, ketika Ibn Miskawaih merumuskan pandangannya, beliau pun mengkombinasikan pemikiran-pemikiran dari Plato, Aristoteles, Galen dan ajaran Islam.[11]

Ibn Miskawaih hidup pada masa dinasti Buwaihi. Ketika masih muda, ia mengabdi kepada Abu Muhammad al-Hasan al-Muhallabi, wazir pangeran Buwaihi, Mu’iz ad-Daulah di Baghdad.[12] Setelah Al-Muhallabi itu wafat pada tahun 352 H/963 M), Ibn Miskawaih pun mendekati Ibn al-‘Amid di Ray, wazir dari Rukn al-Daulah. Rukn al-Daulah ini tidak lain adalah saudara Mu’iz al-Daulah. Ibn al-‘Amid bukan orang sembarangan, sebab ia seorang tokoh sastra terkenal. Tidak hanya itu, Ibn al-‘Amid bekerja sebagai pustakawan. Karena Ibn al-‘Amid menjadi wazir dari Rukn al-Daulah, maka beliau pun mendapat kedudukan terhormat di ibukota pemerintahan dinasti Buwaihi tersebut.[13] Pada tahun 360 H/970 M, al-‘Amid wafat, sehingga kedududkannya digantikan oleh anaknya, yakni Abu al-Fath. Ibn Miskawaih pun mengabdi kepada anak al-‘Amid ini. Pada tahun 366 H/976 M, Abu al-Fath wafat, sehingga jabatan wazir direbut oleh musuhnya yang bernama al-Shahib ibn ‘Abbad. Karena musuh Abu al-Fath merebut kekuasaan, maka sebagai pendukung Abu al-Fath, Ibn Miskawaih pun meninggalkan kota Ray. Kemudian, Ibn Miskawaih berangkat menuju Baghdad. Di kota ini, Ibn Miskawaih mengabdikan diri kepada penguasa Dinasti Buwaihi, yakni ‘Adhud al-Daulah. Pada masa ini, Ibn Miskawaih diangkat sebagai bendahara penguasa dinasti Buwaihi. Setelah ‘Adhud al-Daulah wafat, Ibn Miskawaih tetap mengabdi kepada para pengganti pangeran dinasti Buwaihi ini, yakni Shamsham al-Daulah (388 H/998 M) dan Baha’ al-Daulah (403 H/1012 M).[14]

Ibn Miskawaih hidup sebagai seorang Syi’ah. Para penulis biografi pun memasukkan nya ke dalam daftar ulama dan filosof Syi’ah karena beberapa pandangannya menegaskan keharusan kemaksuman para imam. Sebagai seorang filsuf, Ibn Miskawaih banyak berdebat dengan para filsuf sezamannya, seperi Ibn Sina.[15]

Meskipun beliau menduduki jabatan strategis di pemerintahan Dinasti Buwaihi, namun hal itu tidak membuatnya malas menulis. Hal ini terbukti karena beliau banyak menulis kitab-kitab yang bermutu tinggi, antara lain al-Fauz al-Akbar; al-Fauz al-Ashghar; Tajarib al-Umam; Uns al-Farid; Tartib al-Sa’adah; al-Mustaufa; Jawidan Khirad; al-Jami’; al-Siya; On the Simple Drugs; On the Compositions of the Bajats; Kitab al-Asyribah; Tahdzib al-Akhlaq; Risalah fi al-Lazzah wa al-Alam fi jauhar al-Nafs; Ajwibah wa As’ilah fi al Nafs wa al-‘Aql; al-Jawab fi al-Masa’il al-Tsalas; Risalah fi Jawab fi Su’al Ali ibn Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqah al-‘Aql; dan Thaharah al-Nafs.[16]

Ibn Miskawaih wafat di Isfahan (Iran) pada 9 Shafar 421 H[17]/1030 M.[18]

HAKIKAT JIWA MANUSIA

Menurut Ibn Miskawaih, manusia memiliki kemiripan dengan alam semesta. Karena itu, jika alam semesta disebut sebagai makrokosmos, maka manusia disebut sebagai mikrokosmos. Di samping memiliki panca indra, manusia memiliki indra bersama. Indra bersama ini berperan sebagai pengikat sesama indra. Indra bersama ini memiliki ciri. Ciri-ciri indra bersama ini adalah bahwa indra bersama dapat menerima citra-citra indrawi secara serentak, tanpa zaman, tempat, dan pembagian. Kemudian, citra-citra itu tidak saling bercampur dan saling mendesak. Daya indra bersama ini beralih ke tingkat daya khayal, sebuah daya yang berada di bagian depan otak. Dari daya khayal ini beralih ke daya fikir. Daya berfikir ini dapat berhubungan dengan Akal Aktif guna mengetahui hal-hal Ilahi.[19]

Menurut Ibn Miskawaih, pada diri manusia terdapat tubuh dan jiwa. Jiwa tidak dapat menjadi sebuah fungsi dari materi. Hal ini karena dua hal. Pertama. Suatu benda yang berbeda-beda bentuk dan keadaannya, dengan sendirinya tidak bisa menjadi salah satu dari bentuk-bentuk dan keadaan-keadaan itu. Suatu benda yang warnanya bermacam-macam tentu, dalam pembawaannya sendiri, tidak berwarna. Jiwa, dalam mempersepsi obyek-obyek eksternal, mengasumsi, seolah-olah, berbagai bentuk dan keadaan; karena itu, jiwa tidak dapat dianggap sebagai salah satu dari bentuk-bentuk itu. Kedua. Atribut-atribut itu terus menerus berubah; tentu ada, di luar lingkup perubahan, substratum permanen tertentu yang menjadi fondasi identitas personal.[20]

Karena jiwa tidak dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari materi, maka Ibn Miskawaih mencoba membuktikan bahwa jiwa bukan materi. Alasan-alasannya sebagai berikut:

  1. Indra, setelah mempersepsi suatu rangsangan kuat, selama beberapa waktu, tidak lagi mampu mempersepsi rangsangan yang lebih lemah. Namun demikian, ini berbeda benar dengan aksi mental intuisi.
  2. Jika kita renungkan suatu subyek yang musykil, kita berusaha keras untuk sepenuhnya menutup kedua belah mata kita terhadap obyek-obyek di sekitar kita, yang kita anggap sebagai sedemikian banyak halangan bagi aktifitas spiritual. Jika esensi jiwa adalah materi, maka agar aktifitasnya tak terhambat, jiwa tidak perlu lari dari dunia materi.
  3. Mempersepsi rangsangan kuat memperlemah dan kadang-kadang merugikan indra. Di sisi lain, intelek berkembang menjadi kuat dengan mengetahui ide-ide dan faham-faham umum.
  4. kelemahan fisik yang disebabkan oleh umur yang tua tidak mempengaruhi kekuatan mental.
  5. Jiwa dapat memahami proposisi-proposisi tertentu yang tidak mempunyai pertalian dengan data indrawi. Indra misalnya, tidak mampu memahami bahwa dua hal yang bertentangan tidak dapat ada bersama.
  6. Ada suatu kekuatan tertentu pada diri kita yang mengatur organ-organ fisik, membetulkan kesalahan-kesalahan inderawi, dan menyatukan semua pengetahuan. Prinsip penyatuan yang merenung-renungkan materi yang dibawa dihadapannya melalui saluran indrawi, dan yang menimbulkan evidensi (bukti) masing-masing indra, inilah yang menentukan karakter keadaan-keadaan tandingan, maka dengan sendirinya jiwa itu harus berada di atas lingkungan materi.[21]

Menurutnya, jiwa bukan bagian dari tubuh dan bukan aksiden tubuh. Pada wujudnya, jiwa tidak butuh kekuatan tubuh. Jiwa merupakan substansi sederhana dan tidak dapat dapat ditangkap oleh panca indra. Antara jiwa dan hidup itu tidak sama. Jiwa itu suatu esensi yang hidup dan kekal, serta bisa mencapai kesempurnaan hidup di dunia. Selanjutnya, menurutnya, perbedaan antara jiwa manusia dari jiwa binatang adalah potensi akal. Jiwa manusia memiliki potensi akal. Potensi akan adalah potensi untuk memiliki pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis.[22]

Secara lengkap, Ibn Miskawaih menuliskan pemikirannya tentang jiwa di dalam bukunya yang berjudul Tahzib al-Akhlaq. Dalam buku ini, ibn Miskawaih menulis bahwa manusia terdiri atas dua unsur yakni tubuh dan jiwa. Tubuh manusia itu materi (jauhar) dan berbentuk (‘Aradh). Tubuh manusia dan fakultas-fakultasnya mengetahui ilmu melalui indra. Tubuh sangat butuh terhadap indranya. Tubuh pun sangat berhasrat terhadap hal-hal indrawi semacam kenikmatan jasadi, keinginan balas dendam, dan ego untuk menang. Melalui hal ini, kekuatan tubuh akan bertambah dan tubuh akan terus mengalami kesempurnaan. Kesempurnaan eksistensi tubuh manusia terkait erat dengan hal-hal seperti itu. Sementara itu, jiwa itu bukan tubuh, bukan bagian dari tubuh, serta bukan pula materi. Jiwa manusia ini tidak cocok dengan hal-hal jasadi. Ketika jiwa dapat menjauhi hal-hal jasadi, maka jiwa akan semakin sempurna. Jiwa memiliki kecenderungan kepada selain hal-hal jasadi. Jiwa ingin mengetahui realitas Ilahiah. Jiwa pun sangat mendambakan sesuatu hal yang lebih mulia dari hal-hal jasmaniah. Jiwa ingin menjauhkan diri dari kenikmatan jasmani, dan berharap mendapatkan kenikmatan akal. Dari aspek ini, jelas jiwa lebih mulia dari pada benda-benda jasadi.[23]

Menurut Ibn Miskawaih, jiwa mendapat banyak prinsip ilmu pengetahuan melalui indra. Namun begitu, jiwa ini sendiri memiliki prinsip lain serta tingkah laku yang lain pula. Tidak seperti indra karena indra hanya mengetahui obyek indrawi, maka jiwa mampu mengetahui sebab-sebab harmonis dan bertolak belakang dari segala hal yang dapat diindra tadi. Di samping itu, jiwa dapat mengetahui kesalahan dan keabsahan indra, namun pengetahuan jiwa ini bukan dari indra, namun dari hasil kesimpulan jiwa itu sendiri. Selain itu, jiwa itu pun dapat mengetahui dirinya sendiri. Jika jiwa mengetahui bahwa dirinya (jiwa) memahami ma’qulat-nya sendiri, maka jiwa mengetahuinya bukan dari sumber lain, melainkan dari dirinya sendiri. Hal ini lumrah, karena jiwa itu mengetahui segala hal baik dirinya maupun selainnya, dari esensi dan substansinya sendiri yakni akal. Dengan begitu, jiwa tidak membutuhkan sesuatu guna mengetahui sesuatu kecuali dirinya sendiri. Berdasarkan hal ini, maka akal, yang berfikir, dan objek yang dipikirkan itu satu kesatuan. Secara agak mendalam dapat disimpulkan bahwa prilaku jiwa itu sendiri bisa dikatakan ilmu pengetahuan.[24]

Ibn Miskawaih menjelaskan tentang kebajikan jiwa. Menurutnya, keutamaan atau kebajikan jiwa terletak pada kecenderungan jiwa kepada dirinya sendiri, yakni ilmu pengetahuan, sembari tidak cenderung kepada tingkah laku tubuh. Kebajikan jiwa diukur dari sejauh mana jiwa mengupayakan kebajikan dan mendambakannya. Keutamaan ini akan terus meningkat ketika jiwa memperhatikan dirinya sendiri serta berusaha keras menyingkirkan segala rintangan bagi pencapaian tingkat keutamaan seperti ini. Namun demikian, Ibn Miskawaih menyadari bahwa pencapaian tingkat keutamaan ini memiliki kendala. Kendala ini tidak lain segala hal bersifat badani, indrawi, serta segala hal yang berhubungan dengan keduanya. Ketika kendala ini berhasil dihadapi oleh jiwa, dan jiwa itu suci dari segala perbuatan keji (nafsu badani dan nasfu hewani), maka keutamaan-keutamaan itu akan tercapai. Dengan kata lain, keutamaan jiwa lahir ketika jiwa suci dari nafsu badani dan nafsu hewani.[25]

Secara umum, Ibn Miskawaih membagi kekuatan jiwa menjadi tiga macam, yakni al-Quwwah al-Natiqah, al-Quwwah Syahwiyyah, dan al-Quwwah al-Ghadabiyyah. Adalah al-Quwwah al-Natiqah sebuah fakultas yang berkaitan dengan berfikir, melihat, dan mempertimbangkan segala sesuatu. Fakultas ini disebut fakultas raja. Fakultas ini menggunakan organ tubuh otak. Sementara al-Quwwah Syahwiyyah sebuah fakultas yang berkaitan dengan marah, berani, berani menghadapi bahaya, ingin berkuasa, menghargai diri, dan menginginkan bermacam-macam kehormatan. Fakultas ini disebut sebagai fakultas binatang. Organ tubuh yang digunakannya adalah hati. Terakhir, al-Quwwah al-Ghadabiyyah sebagai sebuah fakultas yang berkenaan dengan nafsu syahwat dan makan, keinginan pada nikmatnya makanan, minuman, senggama, dan kenikmatan indrawi lainnya. Ketigas fakultas ini berbeda antara satu dengan lainnya. Fakultas ini disebut fakultas binatang buas. Fakultas ini menggunakan organ jantung.[26]

 

PRINSIP-PRINSIP AKHLAK

Pada pembahasan terdahulu telah dikemukakan tentang tiga daya jiwa. Ketiga daya ini melahirkan sifat kebajikan. Jumlah keutamaan (kebajikan) sama dengan jumlah fakultas-fakultas dan kebalikan dari keutamaan-keutamaan ini. Menurut Ibn Miskawaih, ketika aktifitas jiwa kebinatangan dikendalikan oleh jiwa berfikir, dan jiwa itu tidak tenggelam dalam memenuhi keinginannya sendiri, maka jiwa ini akan mencapai kebajikan sikap sederhana (iffah) yang diiringi kebajikan dermawan. Sementara itu, ketika jiwa amarah memadai dan mematuhi segala aturan yang ditetapkan oleh jiwa berfikir serta tidak bangkit pada waktu yang tidak tepat, maka jiwa ini akan mencapai kebajikan sikap sabar yang diiringi kebajikan sikap berani. Setelah itu, dari ketiga kebajikan itu satu kebajikan lain sebagai kelengkapan dan kesempurnaan tiga kebajikan itu, yakni kebajikan sifat adil. Kebajikan sikap adil ini berhubungan dengan tepat antara kebajikan satu dengan kebajikan lainnya. Jadi, keutamaan (kebajikan) manusia itu terdiri atas empat hal yakni arif, sederhana, berani, dan adil.[27]

Sementara itu, keempat keutamaan (kebajikan) ini memiliki lawan. Kebalikan dari keempat keutamaan ini terbagi atas empat pula, yakni bodoh, rakus, pengecut dan lalim. Keempat sifat ini dapat dikatakan sebagai penyakit jiwa dan menimbulkan banyak kepedihan seperti perasaan takut, sedih, marah, berjenis-jenis cinta dan keinginan, dan karakter buruk lainnya.[28]

Menurut Ibn Miskawaih, keutamaan adalah kebaikan. Sementara ketidakutamaan sebagai lawan dari keutamaan adalah kejahatan. Menurut tokoh ini, kebaikan merupakan hal yang dapat dicapai oleh manusia dengan melaksanakan kemauannya dan dengan berupaya dan dengan hal yang berkaitan dengan tujuan diciptakannya manusia. Sementara keburukan atau kejahatan adalah hal yang menjadi penghambat manusia mencapai kebaikan, baik berupa kemauan dan upayanya atau berupa kemalasan dan keengganannya mencari kebaikan.[29]

Ibn Miskawaih telah memberikan definisi keempat keutamaan (kebajikan) tersebut dan macam-macam dari keempat keutamaan itu. Menurutnya, kearifan adalah keutamaan dari jiwa berfikir dan mengetahui. Kearifan ini memiliki bagian-bagian seperti pintar, ingat, berfikir,  cepat memahami dan benar pemahamannya, jerni pikiran, serta mampu belajar dengan mudah. Sederhana adalah keutamaan dari bagian hawa nafsu. Keberanian adalah keutamaan jiwa amarah. Keberanian ini dibagi menjadi beberapa bagian pula yakni besar jiwa, ulet, tegar, tabah, menguasai diri, perkasa serta ulet dalam bekerja. Sederhana ini memiliki bagian-bagian yakni rasa malu, tenang, dermawan, integritas, puas, loyal, berdisiplin diri, optimis, kelembutan, anggun berwibawa, dan wara’. Sementara keadilan adalah kebajikan jiwa yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan tersebut. Keadilan ini dibagi atas beberapa bagian, yakni bersahabat, bersemangat, sosial, silaturahmi, memberi imbalan, bersikap baik dalam kerjasama, jeli dalam memutuskan masalah, cinta kasih, beribadah, jauh dari rasa dengki, memberi imbalan terbaik meski sedang ditimpa keburukan, berpenampilan lembut, berwibawa di segala bidang, menjauhkan diri dari bermusuhan, tidak menceritakan hal yang tidak layak, mengikuti orang-orang yang berkata dengan benar, tidak bicara tentang sesama Muslim bila tidak ada kebaikannya, menjauhi diri dari kata-kata buruk, tidak betah berucap kalau cuma akan menjatuhkan seseorang, tidak peduli pada perkataan orang pelit waktu berbicara di depan umum, mendalami masalah seseorang yang perlu dibantu, dan mengulang pertanyaan bila belum jelas. Ibn Miskawaih menuliskan bahwa dermawan termasuk pada sifat kebajikan. Dermawan adalah kecenderungan untuk berada di tengah dalam soal memberi. Dermawan ini memiliki bagian-bagian yakni murah hati, mementingkan orang lain, rela, berbakti, dan tangan terbuka.[30]

Menurut Ibn Miskawaih, kebajikan merupakan titik tengah antara dua ujung. Ujung-ujung itu merupakan keburukan-keburukan. Dengan demikian, kebajikan-kebajikan di atas pun berada pada titik tengah antara dua keburukan. Karena itu, kearifan adalah titik tengah yang letaknya ada di antara bodoh dan dungu. Pandai antara titik tengah yang terletak pada posisi antara kebusukan mental dan ketololan. Ingat adalah titik tengah yang terletak antara posisi antara dua lupa, yakni melalaikan segala yang mesti diingat dan memperhatikan apa yang harus diingat. Kecemerlangan adalah titik tengah antara memikirkan sesuatu yang tidak semestinya dipikirkan dan kurang memikirkan sesuatu yang semestinya dipikirkan. Sederhana merupakan titik tengah antara memperturutkan hawa nafsu dan mengabaikan hawa nafsu. Keberanian merupakan titik tengah antara pengecut dan sembrono. Keadilan merupakan titik tengah antara berbuat lalim dan dilalimi. Begitu pula kebajikan-kebajikan lainnya merupakan titik tengah antara dua keburukan dan kehinaan.[31]

Bagi Ibn Miskawaih, kebajikan hanya dapat dicapai seseorang, jika orang tersebut bergaul dengan masyarakat. Menurutnya, manusia tidak akan pernah dapat mencapai kesempurnaan dengan hidup menyendiri. Manusia memerlukan orang lain pada komunitas tertentu agar kebahagiaan insaninya tercapai. Manusia niscaya memerlukan manusia lain selain dirinya. Seorang manusia harus bersahabat dengan manusia lain dan harus menyayanginya secara tulus. Sebab, mereka melengkapi eksistensinya sekaligus menyempurnakan kemanusiaannya dengan hal ini. Hal ini karena manusia sebagai makhluq sosial. Tanpa bergaul dengan masyarakat, maka manusia itu tidak akan dapat menggapai kebajikan.[32]

Di samping masalah kebajikan (keutamaan), menurut Ibn Miskawaih bahwa masalah pokok kajian akhlaq adalah kebaikan dan kebahagiaan. Pembahasan ini memiliki kaitan erat dengan pembahasan akhlaq. Menurut Ibn Miskawaih, kebaikan diartikan sebagai tujuan setiap sesuatu. Jadi, kebaikan berarti tujuan terakhir. Sementara kebahagiaan diartikan sebagai kebaikan dalam kaitannya dengan pemiliknya dan kesempurnaan bagi pemiliknya. Dengan kata lain, kebahagian itu bagian dari kebaikan. Secara agak mendalam, maka kebahagiaan dapat diartikan sebagai kesempurnaan dan akhir dari kebaikan. Kebahagiaan merupakan kebaikan paling utama di antara seluruh kebaikan lainnya.[33]

Menurut Ibn Miskawaih, karena manusia terdiri atas dua unsur yakni tubuh dan jiwa, maka kebahagiaan itu meliputi keduanya. Kebahagiaan itu ada dua tingkat, pertama kebahagiaan jasmani dan kedua kebahagiaan jiwa. Bagi Ibn Miskawaih, kebahagiaan seseorang berada pada salah satu dari dua tingkatan, yakni: Pertama. Ketika manusia itu berada pada tingkatan hal-hal jasmani menyatu dengan keadaan-keadaan rendah mereka dan berbahagian di dalamnya. Keadaan-keadaan rendah ini diartikan sebagai segala hal yang dapat dijangkau oleh indra. Kedua, bersamaan dengan itu pula, ketika manusia itu mencari hal-hal mulia, berupaya mendapatkan hal-hal mulia, menyukainya, dan merasa puas dengannya. Bisa dikatakan pula ketika manusia itu berada pada tingkatan ruhani, lekat dengan hal-hal tinggi, dan berbahagian di dalamnya. Bersamaan dengan ini, manusia itu mengamati dan menelaah hal-hal rendah, mengambil pelajaran darinya, merenungkan tanda-tanda kebesaran Ilahi dan bukti-bukti kearifan sempurna, mengikuti contoh-contohnya, mengaturnya, melimpahkan bermacam-macam kebaikan padanya, dan memandunya memperoleh kebaikan demi kebaikan sebatas kesanggupannya. Dengan kata lain, seseorang dikatakan bahagia ketika orang tersebut berada pada salah satu dari dua tingkatan di atas.[34]

Di samping masalah kebajikan; serta kebaikan dan kebahagiaan, Ibn Miskawaih pun membicarakan masalah cinta. Menurut Ibn Miskawaih bahwa asas semua keutamaan adalah cinta kepada semua manusia. Jika manusia tidak memiliki cinta, maka suatu komunitas masyarakat tidak akan dapat ditegakkan. Bahkan manusia tidak akan sampai kepada tingkat kesempurnaannya kecuali manusia itu memelihara jenisnya dan menunjukkan pengertiannya terhadap sesama jenisnya. Menurutnya, cinta tidak akan berbekas kecuali jika manusia berada di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, jika seorang manusia mengasingkan diri dari masyarakat, maka manusia itu belum dapat dinilai sebagai seorang pemilik sifat terpuji atau tercela. Penilaian itu dapat diberikan ketika manusia itu telah berkecimpung di dalam komunitasnya. Tidak hanya itu, suatu masyarakat buruk tidak akan dapat berubah jika orang-orang terbaik di dalamnya mengasingkan diri tanpa ingin memberikan pertolongan bagi perbaikan masyarakat itu.[35]

 

HAKIKAT AKHLAK

Menurut Ibn Miskawaih, akhlaq adalah suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikir atau dipertimbangkan secara mendalam. Ibn Miskawaih membagi asal keadaan jiwa ini menjadi dua jenis. Pertama alamiah dan bertolak dari watak. Kedua tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Baginya akhlaq itu alami sifatnya namun akhlaq pun dapat berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasihat-nasihat yang mulia. Pada mulanya, keadaan ini terjadi karena dipertimbangkan dan dipikirkan, namun kemudian melalui praktik terus menerus akan menjadi akhlaq.[36]

Kedua pandangan Ibn Miskawaih ini dapat dirujuk kepada pemikiran-pemikiran filsuf pra-Islam seperti Galen dan Aristoteles. Berkenaan dengan akhlaq sebagai sesuatu berasal dari alamiah dan bertolak dari watak, pandangan ini diambil Ibn Miskawaih dari pemikiran kaum Stoik, sekelompok pemikir pra-Stoik, dan Galen. Bagi kaum Stoik, manusia secara alami baik. Bagi pemikir pra-Stoik, manusia itu secara alami buruk. Sementara bagi Galen, sebagian manusia secara alami bermoral baik. Jumlah manusia seperti ini sedikit. Mereka pun tidak akan berubah menjadi manusia bermoral buruk. Sebagian manusia lain secara alami bermoral buruk. Jumlah manusia seperti ini sangat banyak. Mereka tidak akan pernah berubah menjadi manusia bermoral baik. Terakhir, sebagian manusia berada pada posisi tengah-tengah, yakni mereka bisa berubah menjadi baik akibat bergaul dengan orang-orang yang baik dan mengikuti ajakan mereka. Mereka pun bisa berubah menjadi buruk akibat bergaul dengan orang-orang jahat, dan mereka mau mengikutinya. Berkenaan dengan akhlaq sebagai hal yang berasal dari proses latihan dan kebiasaan, pemikiran ini berasal dari Aristoteles. Bagi Aristoteles, orang yang buruk bisa berubah menjadi baik melalui pendidikan. Melalui nasehat yang berulang-ulang dan disiplin, serta bimbingan yang baik, akan melahirkan hasil-hasil yang berbeda-beda pada berbagai orang. Sebagian mereka tanggap dan menerimanya, sementara sebagian lain tidak menerimanya.[37]

PENDIDIKAN AKHLAK

Sebagai filsuf akhlaq, Ibn Miskawaih memberikan perhatian serius terhadap pendidikan akhlaq anak-anak. Menurut Ibn Miskawaih, jiwa seorang anak itu diibaratkan sebagai mata rantai antara jiwa binatang dan jiwa manusia berakal. Pada jiwa anak-anak ini, jiwa binatang berakhir sementara jiwa manusia mulai muncul. Menurutnya, anak-anak harus dididik mulai dengan menyesuaikan rencana-rencananya dengan urutan daya-daya yang ada pada anak-anak, yakni daya keinginan, daya marah, dan daya berfikir. Dengan daya keinginan, anak-anak dididik dalam hal adab makan, minum, berpakaian, dan lainnya. Sementara daya berani diterapkan untuk mengarahkan daya marah. Kemudian daya berfikir dilatih dengan menalar, sehingga akan dapat menguasai segala tingkah laku.[38]

Kehidupan utama anak-anak memerlukan dua syarat, yakni syarat kejiwaan dan syarat sosial. Syarat pertama tersimpul dalam menumbuhkan watak cinta kepada kebaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan muda pada anak yang berbakat baik. Bagi anak-anak tidak berbakat, maka hal ini bisa dilakukan dengan cata latihan membiasakan diri agar cenderung kepada kebaikan. Syarat kedua dapat dicapai dengan cara memilihkan teman-teman yang baik, menjauhkan anak dari pergaulan dengan teman-temannya yang berakhlaq buruk, menumbuhkan rasa percaya diri pada dirinya, dan menjauhkan anak-anak dari lingkungan keluarganya pada saat-saat tertentu, serta memasukkan mereka ke tempat kondusif.

Selanjutnya Ibn Miskawaih menyatakan bahwa banyak tingkatan manusia dalam menerima akhlaq. Dalam konteks anak-anak, Ibn Miskawaih menyebutkan bahwa akhlaq atau karakter mereka muncul sejak awal pertumbuhan mereka. Anak-anak tidak menutup-nutupi dengan sengaja dan sadar, sebagaimana dilakukan orang dewasa. Seorang anak terkadang merasa enggan untuk memperbaiki karakternya. Karakter mereka itu mulai dari karakter yang keras sampai kepada karakter yang malu-malu. Terkadang karakter anak-anak itu baik, terkadang pula buruk seperti kikir, keras kepala, dengki, dan seterusnya. Keberadaan pelbagai karakter anak ini menjadi bukti bahwa anak-anak tidak memiliki tingkatan karakter yang sama. Tak hanya itu, sebagian mereka tanggap dan sebagian lain tidak tanggap, sebagian mereka lembut dan sebagian lagi keras, sebagian mereka baik dan sebagian lain buruk. Namun sebagian mereka berada pada posisi tengah di antara kedua kubu ini. Sebagai pendidik, maka orang tua harus mendisiplinkan karakter mereka. Jika tabiat-tabiat ini diabaikan, tidak didisiplinkan, dan di koreksi, maka mereka akan tumbuh berkembang mengukuti tabiatnya. Selama hidupnya, kondisinya tidak akan berubah. Mereka akan memuaskan diri sesuai dengan apa yang dianggapnya cocok menurut selera alamiahnya, dan seterusnya.[39]

Tidak sebatas itu, Ibn Miskawaih memandang syari’at agama dapat menjadi faktor guna meluruskan karakter remaja. Syari’at agama menjadi penting karena dapat membiasakan mereka untuk melakukan perbuatan yang baik. Syari’at agama pun dapat mempersiapkan diri mereka untuk menerima kearifan, mengupayakan kebajikan dan mencapai kebahagiaan melalui berfikir dan penalaran yang akurat. Dalam konteks ini, sebagai pendidik, maka orang tua wajib mendidik mereka agar menaati syari’at ini, agar berbuat baik. Hal ini dapat dilakukan melalui nasehat, pemberian ganjaran dan hukuman. Jika mereka telah membiasakan diri dengan prilaku ini, dan kondisi ini terus berlangsung lama, maka mereka akan melihat hasil dari prilaku mereka itu. Mereka pun akan mengetahui jalan kebajikan dan sampailah mereka pada tujuan mereka dengan cara yang baik.[40]

Menurut Ibn Miskawaih, tujuan pendidikan akhlaq ini adalah mencetak tingkah laku manusia yang baik, sehingga manusia itu dapat berprilaku terpuji dan sempurna sesuai dengan substansinya sebagai manusia, serta bertujuan mengangkat manusia dari derajat yang paling tercela sebagai derajat yang dikutuk oleh Allah SWT. Secara tegas dapat dikatakan bahwa menurut Ibn Miskawaih bahwa pendidikan akhlaq ini bertujuan agar manusia menjadi manusia sempurna.[41]

Menurut Ibn Miskawaih, kesempurnaan manusia memiliki tingkatan dan substansi. Baginya kesempurnaan manusia ada dua maca, yakni kesempurnaan kognitif dan kesempurnaan praktis. Kesempurnaan kognitif terwujud jika manusia mendapatkan pengetahuan sedemikian rupa sehingga persepsinya, wawasannya, dan kerangka berfikirnya menjadi akurat. Sementara kesempurnaan praktis ialah kesempurnaan karakter. Menurut Ibn Miskawaih, kesempurnaan teoritis (kognitif) berkenaan dengan kesempurnaan praktis. Kesempurnaan teoritis tidak lengkap tanpa kesempurnaan praktis, begitu pula sebaliknya. Hal ini karena pengetahuan adalah permulaannya dan perbuatan itu akhirnya. Kesempurnaan sejati tercapai jika keduanya berjalin berkelindan. Di pihak lain, bagi Ibn Miskawaih bahwa kesempurnaan manusia itu terletak pada kenikmatan spiritual, bukan kenikmatan jasmani.[42]

Ibn Miskawaih menuliskan tentang metode agar seorang manusia dapat mencapai kesempurnaan itu. Yakni seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan tubuh dan jiwa dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. Dalam konteks tubuh, maka seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan jasmani dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. Kebutuhan jasmani adalah makanan, pakaian, senggama, dan lainnya. Karena itu, seorang manusia harus mengambilkan hanya bila diperlukan untuk menghilangkan ketidaksempurnaannya dan demi kelangsungan hidupnya. Kemudian, manusia itu pun tidak boleh melampaui batas dalam memenuhi kebutuhan tubuhnya. Dalam konteks jiwa, maka seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan jasmani dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. kebutuhan jiwa adalah pengetahuan, mendapatkan objek-objek fikiran, membuktikan kebenaran pendapat, menerima kebenaran, dan seterusnya. Seorang manusia harus mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan jiwa ini, serta mengetahui kekurangan dan melenyapkan kekurangan tersebut.[43]

Ibn Miskawaih memberikan perhatian besar terhadap pendidikan akhlaq bagi anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak dapat memiliki akhlaq sempurna dan segara menggapai kesempurnaannya. Pendidikan akhlaq ini dapat dicapai dengan melakukan hal-hal sebagai berikut[44]:

  1. Seorang pendidik hendaknya mendidik manusia sejak kecil untuk mengikuti syari’at agama agar terbiasa mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, membaca buku-buku akhlaq agar akhlaqk dan kualitas terpuji merasuk dalam dirinya melalui dalil-dalil rasional, dan mempalajari matematika sehingga terbiasa dengan perkataan dan argumentasi yang benar dan tepat. Jika semua hal ini dilakukan, maka seseorang dapat mencapai tingkat manusia sempurna, sebagaimana dijelaskan di atas.
  2. Jika seorang anak dididik dengan kesenangan dan kenikmatan jasmani, sehingga jiwa dan raganya telah terbiasa dengan hal-hal yang bersifat jasmaniah itu, maka hendaknya orang tua atau pendidik lain mengajari anak itu agar anak itu memandang semua kesenangan dan kenikmatan jasmani tersebut sebagai kesengsaraan dan kerugian, bukan sebagai kebahagiaan dan keberuntungan. Hendak pula anak itu diajari agar anak itu menjauhkan dirinya dari kenikmatan seperti itu secara perlahan.
  3. Orang tua harus memahami jiwa anak-anak secara umum. Secara umum dikatakan bahwa seorang anak kecil itu malu-malu. Dia akan menundukkan kepalanya ke bawah. Dia pun takut dan tidak berani menatap wajah orang dewasa. Hal ini mengindikasikan bahwa anak tersebut telah mulai mampu membedakan baik dan buruk. Rasa malunya itu merupakan pengekangan diri yang terjadi karena anak itu khawatir jika ada keburukan yang muncul dari dirinya. Jiwa seperti ini siap menerima pendidikan dan cocok untuk dipupuk.
  4. Orang tua harus memilihkan teman bergaul yang berakhlaq mulia untuk anaknya. Seorang anak tidak boleh dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang berakhlaq buruk, karena orang-orang seperti itu akan merusak jiwanya. Sebab jiwa anak kecil masih sederhana dan belum menerima gambar apa pun serta belum mempunyai pendapat yang akan mengubahkan dari satu keadaan ke keadaan lain. Jika jiwa anak itu telah menerima gambar tertentu, maka anak ini akan tumbuh sesuai dengan jiwa seperti gambar yang diterimanya. Oleh sebab itu, jiwa seorang anak harus diupayakan agar mencintai kebaikan dan membenci keburukan.
  5. Orang tua harus mengajari anak agar berpakaian baik. Anak harus diajari agar berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya, memakai pakaian putih, dan lainnya.
  6. Orang tua harus membiasakan anak untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.
  7. Orang tua harus memuji seorang anak ketika anak tersebut melakukan kebaikan dan akhlaq mulia.
  8. Orang tua hendaknya memerintahkan seorang anak agar menghafal tradisi-tradisi yang baik, syair-syair yang dapat membuatnya terbiasa melakukan moral terpuji.
  9. Orang tua hendaknya mengajari anaknya tentang tata cara makan yang baik. Orang tua harus mengajari anaknya bahwa tujuan makan bukan demi kenikmatan semata, melainkan demi kesehatan. Makan tidak boleh berlebihan dan melampaui batas. Orang tua pun harus memberi banyak makan di malam hari, sebab jika orang tua memberi makan di siang hari, maka anak menjadi malas, mengantuk, dan otaknya menjadi lamban.
  10. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak tidak boleh menyembunyikan sesuatu. Sebab tidak mungkin dia berbuat begitu, kecuali dipastikan bahwa perbuatanmua buruk.
  11. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu tidak tidur terlalu lama, karena akibatnya membuat otak anak menjadi bebal dan mematikan pikirannya. Jangan sampai dia terbiasa tidur siang. Jangan biarkan dia tidur ditempat empuk dan mewah agar dia terbiasa hidup sederhana.
  12. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu sering berjalan, bergerak, berkuda, dan olah raga. Anak diajari agar tidak boleh jalan tergesa-gesa, bersikap angkuh, tetapi supaya anak itu sering mensedekapkan tangannya ke dada.
  13. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu tidak boleh memanjangkan rambut (jika laki-laki), tidak boleh memakai pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, tidak boleh memakai cincin, tidak boleh membanggakan kedua orang tuanya, tidak boleh sombong dan keras hati.
  14. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak tidak boleh meludah, menguap, dan membuang ingus ketika sedang bersama orang lain. Tidak boleh bertopang dagu dan menyandarkan kepala pada kedua tangannya, sebab hal itu menunjukkan bahwa dia malas. Biasakan anak tidak berbohong dan tidak boleh bersumpah.
  15. Orang tua harus mengajari anaknya agar anaknya membiasakan tidak banyak bicara dan hanya menjawab pertanyaan. Hendaknya anak itu mendengarkan kata-kata orang tua dan diam dihadapan orang dewasa. Anak diajari agar tidak berkata kotor, hina, sumpah serapah, menuduh, dan tidak bicara senonoh. Biasakan dia dengan kata-kata anggun, bermuka manis kepada orang lain, tidak mengatakan kata-kata buruk di depan orang lain. Ajari anak hendaknya anak belajar melayani diri sendiri.
  16. Orang tua harus mengajari anaknya agar ketika anak dipukul oleh gurunya, maka dia tidak boleh mengadu dan tidak boleh meminta perlindungan orang lain, karena tindakan itu hanya pantas dilakukan para budak.
  17. Orang tua hendaknya tidak menakut-nakuti anak kecil. Berilah anak semangat, memberikan hadiah kepadanya jika mereka berbuat baik, agar anak tidak meminta-minta kepada orang lain. Upayakan mereka agar mereka benci kepada perhiasan dan agar mereka lebih takut pada keduanya ketimbang takut pada hewan buas.
  18. Orang tua harus membiasakan agar anak taat kepada kedua orang tua, dan pendidiknya. Biarkan dia bermain dengan permainan baik.

Menurut Ibn Miskawaih, semua hal yang disebutkan di atas sangat bermanfaat, tidak hanya bagi anak kecil, tetapi juga untuk anak-anak. Hal ini bermanfaat karena sikap-sikap seperti itu mendidik anak untuk cinta kepada kebajikan dan kemuliaan, serta untuk tumbuh berkembang dengan kebajikan dan kemuliaan tersebut. Akibatnya, dia akan mudah menjauhi kehinaan dan keburukan, dan mudah mengikuti ajaran filsafat. Dia akan terbiasa mengekang diri dari hawa nafsu yang senantiasa menggodanya, serta bisa menjaga diri agar tidak hanyut oleh kenikmatan jasmaniah. Sikap baik itu akan membawanya kepada martabat yang yang tinggi.[45]

 

PENDIDIKAN JIWA MANUSIA

Menurut Ibn Miskawaih, pendidikan jiwa itu seperti halnya pendidikan jasmani yakni menjaga kesehatannya selagi sehat dan memilihkannya jika sakit. Di dalam karyanya, Ibn Miskawaih menuliskan sejumlah metode guna mendidik jiwa agar tetap sehat, yakni:[46]

  1. Tidak bergaul dengan orang-orang yang jiwanya tidak baik dan tidak bajik. Seseorang jika ingin mendidik jiwanya harus menjauhi orang-orang keji yang suka pada kenikmatan-kenikmatan buruk, suka berbuat dosa, bangga, dan tenggelam dalam dosa. Bergaul dengan orang-orang seperti mereka akan membuat jiwa kotor sehingga tidak dapat dibersihkan kecuali melalui waktu yang sangat lama. Manusia harus bergaul dengan pemilik jiwa yang baik dan bajik, jiwa yang suka mencari kebajikan dan ingin memilikinya, jiwa yang rindu pada ilmu-ilmu hakiki serta pengetahuan yang sahih.
  2. Khusuk melaksanakan tugas yang berkenaan dengan pengetahuan dan praktik, suatu tugas yang tak boleh diabaikan, sehingga kedua hal itu dapat melayani jiwa. Karena itu, seseorang harus melatih diri dengan berfikir dan mempelajari ilmu-ilmu matematika. Selain itu, olah raga diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh.
  3. Senantiasa melakukan hal-hal di atas. Karena dengan berbuat demikian, seseungguhnya seseorang sedang menjaga nikmat tiada tara yang mulia sebagai anugrah bagi jiwanya.
  4. Seseorang harus merasa cukup jika telah memperoleh kebahagiaan eksternal dan tidak hidup secara berlebihan. Sebab kebahagiaan eksternal tidak ada batasnya. Jika seseorang masih berupaya memperoleh kebahagiaan eksternal yang lebih banyak lagi, maka orang tersebut akan mengalami bahaya yang tak ada habisnya.
  5. Seseorang dianjurkan untuk tidak menggelorakan fakultas hawa nafsu dan amarah-nya dengan cara mengingatkan dirinya akan apa yang didapatnya dari masing-masing fakultas tadi.
  6. Seseorang harus memperhatikan seluruh tindakan dan rencananya, serta organ-organ tubuh dan jiwa yang akan digunakannya untuk melaksanakan rencananya itu, agar dia tidak menggunakannya menurut kebiasaan yang menyimpang dari pikirannya.
  7. Seseorang harus senantiasa introspeksi diri. Dia harus tahu cela apa yang terdapat dalam dirinya.
  8. Seseorang harus mampu menjauhkan diri dari penyakit-penyakit jiwa dan bahkan harus mampu mengidentifikasi pelbagai penyakit jiwa serta cara penyembuhannya. Orang tersebut harus mengetahui penyebab, akibat dan cara menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa tersebut. Menurut Ibn Miskawaih, penyakit-penyakit jiwa itu tidak lain adalah kebalikan atau lawan dari kebajikan-kebajikan sebagaimana disebut di atas. Penyakit-penyakit jiwa itu adalah seperti bodoh, rakus, pengecut, dan lalim. Namun Ibn Miskawaih membagi lagi kejahatan dan kehinaan menjadi delapan bagian. Jumlah ini dua kali jumlah kebajikan yang empat. Kedelapan bagian itu adalah sembrono dan pengecut sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa berani. Kemudian memperturutkan hawa nafsu dan mengabaikan hawa nafsu sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa sederhana. Kemudian bodoh dan tolol sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa ‘arif. Dan lalim dan watak budak sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa adil. Kedelapan jenis penyakit jiwa ini bertolak belakang dengan empat kebajikan yang merupakan tanda kesehatan jiwa. Sebenarnya, di bawah penyakit-penyakit jiwa ini memiliki jenis-jenis penyakit lain yang tak terbatas. Perinciannya dapat dilihat beberapa contoh di bawah ini:

Marah

Menurut Ibn Miskawaih, marah juga merupakan salah satu bentuk penyakit jiwa. Penyebab marah ini adalah sombong, cekcok, meminta dengan sangat, bercanda, berolok-olok, mengejek, khianat, berbuat salah dan mencari hal-hal yang membawa kemasyhuran dan yang membuat manusia saling bersaing diri. Sifat marah ini menimbulkan hal-hal buruk seperti menyesal, mengharap dihukum cepat atau lambat, perubahan tempramen serta kepedihan. Sifat marah ini dapat disembuhkan dengan cara menyingkirkan sebab-sebab marah, melemahkan daya marah, menyabut substansi marah dan melindungi diri dari akibat-akibatnya. Selain itu, sifat marah dapat disembuhkan melalui cara menghentikan sikap melampaui batas.

Takut

Sebagai salah satu penyakit jiwa, sifat takut disebabkan oleh sejumlah hal, yakni merasa bakal terjadi sesuatu yang buruk, takut pada kejadian-kejadian yang bakan terjadi. Sebenarnya kejadian ini baru sebatas kemungkinan saja sehingga bisa terjadi dan bisa tidak terjadi. Karena itu jangan ditetapkan di dalam hati bahwa hal itu pasti terjadi, karena hal ini membuat kita takut. Inilah cara pengobatannya. Selain itu sifat takut disebabkan oleh pilihan buruk dan dosa sendiri. Hal ini dapat disembuhkan dengan jalan mengekang diri untuk tidak mengulangi perbuatan itu, tidak melakukan perbuatan bahaya, dan meninggalkan semua perbuatan keji yang kita cemaskan segala akibatnya. Ibn Miskawaih menyebutkan bahwa terkadang manusia itu takut tua dan takut mati. Untuk kasus takut tua, maka seseorang harus menyadari bahwa jika manusia menghendaki umur panjang, berarti dia pasti akan berusia tua dan mengantisipasinya bahwa hal itu akan terjadi. Untuk kasus takut mati, bahwa penyebab takut mati adalah orang tersebut tidak mengetahui hakikat jiwa, tidak tahu hakikat mati, menduga bahwa jiwa akan hancur bersama jasad, menduga ada penderitaan menyakitkan setelah kematian, dan adanya keyakinan ada siksa setelah mati. Penyembuhannya dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang hakikat jiwa dan hakikat mati.

Sedih

Sebagai salah satu penyakit jiwa, sifat sedih hati disebabkan hilangnya sesuatu yang dicintai dan gagal mendapatkan apa yang dicari. Hal ini karena seseorang serakah pada harta benda, haus pad nafsu badani, dan merasa rugi ketika salah satu dari itu semua hilang atau gagal diperoleh. Penyembuhannya dapat dilakukan melalui memberikan pemahaman tentang hakikat dirinya dan menjelaskan bahwa seluruh alam semesta akan hancur karena tidak kekal. Jika hal ini telah dilakukan, maka seseorang yang terkena penyakit sedih hati tidak akan sedih lagi. Jika sudah demikian, maka orang tersebut akan mengarahkan tujuannya bukan kepada hal-hal jasmaniah lagi, melainkan ke tujuan-tujuan suci dan hanya mencari kebaikan-kebaikan kekal saja.

PENUTUP

Pada bagian terdahulu, Penulis telah menjelaskan pokok-pokok pemikiran Ibn Miskawaih tentang hakikat jiwa, prinsip-prinsip Akhlaq, hakikat Akhlaq, Pendidikan akhlaq, dan pendidikan jiwa. Berdasarkan uraian-uraian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa Ibn Miskawaih benar-benar seorang filosof akhlaq yang handal. Uraian-uraiannya cukup filosofis dan mendalam. Karena itu sebagai sebuah apresiasi, generasi sekarang wajib memberikan penghargaan kepada filsuf yang satu ini. Penghargaan itu dapat berupa menjaga dan mengembangkan warisan pemikiran Ibn Miskawaih itu. Yang lebih penting lagi, sebesar-besar sebuah penghargaan adalah tidak mengadopsi pemikiran Klasik secara membabi buta tanpa diiringi sikap analitis-kritis, seraya mengajukan solusi kreatif dan alternatif. Wallahu A’lam bi al-Shawab

 

DAFTAR BACAAN

Al-Ahwani, Ahmad Fuad, Filsafat Islam, terjemahan Tim Pustaka Firdaus, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.

Ali, Yusnaril, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Amin, Ahmad, Zuhr al-Islam, Juz II, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1969.

Badawi, Abdurrahman,Miskawaih”, dalam, M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, Vol. 1, Wiesbaden: Otto Harrosowitz, 1963.

Boer, T.J. De, The History of Philosophy in Islam, New York: Dover Publication, tt.

Dahlan, Abdul Azis,Filsafat”, dalam, Taufik Abdullah (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.

______(ed.), Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Hitti, Philip K, History of the Arabs; From the Earliest Times to the Present, New York: Macmillan Press, 2002.

Iqbal, Muhammad, Metafisika Persia; Suatu Sumbangan untuk Sejarah Filsafat, terjemahan Joebar Ayoeb, Bandung: Mizan, 1990.

Jalaluddin, dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996.

Jum’ah, M. Luthfi, Tarikh Falsafah al-Islam, Mesir: tp, 1927.

Kamal, Zainun, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997).

Ibn Al-Khatib, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.

Labib, Muhsin, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Jakarta: Al Huda, 2005.

Leamen, Oliver, “Ibn Miskawaih”, dalam, Syed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terjemahan Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2003.

Madjid, Nurcholis, (ed.), Khazanah Intelektual Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.

Musa, Muhammad Yusuf, Bain al-Din wa al-Falsafah, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971.

Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.

Sharif, M. M, Alam Fikiran Islam; Peranan Ummat Islam Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan, terjemahan Fuad Moh. Fachruddin, Bandung: CV Diponogoro, 1979.

_____, (ed.), Para Filosof Muslim, terjemahan Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1999.

Souyb, Joesoef, Pemikiran Islam Merobah Dunia, Medan: Madju, 1984.

Zurayk, C. K, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.

 


[1]Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, terj. Tim Pustaka Firdaus, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), hlm. 41.

[2]Ibid, hlm. 44-62.

[3] Baca: Philip K. Hitti, History of the Arabs; From the Earliest Times to the Present, (New York: Macmillan Press, 2002), hlm. 350-570.

[4] Baca: M. M Sharif, Alam Fikiran Islam; Peranan Ummat Islam Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Terj. Fuad Moh. Fachruddin, (Bandung: CV Diponogoro, 1979).

[5] Sekedar melihat biografi dan pemikiran para filosof Muslim ini, lihat: Muhsin Labib, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, (Jakarta: Al Huda, 2005); M.M. Syarif (ed.), Para Filosof Muslim, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1999); Ahmad Daudy (ed.), Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984); Nurcholis Madjid (ed.), Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

[6] M. Luthfi Jum’ah, Tarikh Falsafah al-Islam, (Mesir: tp, 1927), hlm. 304.

[7] Para penulis biografi berbeda pandangan dalam hal penentuan tahun lahirnya. Jalaluddin dan Usman Said menyatakan bahwa tokoh ini lahir pada tahun 330 H/940 M. Sementara Yusnaril Ali menuliskan bahwa tokoh ini lahir tahun 330 H/932 M. Ahmad Daudy hanya menyebut tahun hijriahnya yakni 330 H. Zainun Kamal menyebut tahun 330-921 H/421-1030 M. Sementara C.K. Zurayk menuliskan tahunnya 320 H/932 M. Sedangkan Ibn al-Khatib hanya menuliskan tahun wafatnya yakni 421 H/1030 M. Lihat, Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 135; Yusnaril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 53; Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hlm. 61; Zainun Kamal, “Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 13-14; C. K. Zurayk,Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 18; dan Ibn Al-Khatib, “Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 26.

[8] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hlm. 56.

[9] Labib, Para Filosof, hlm. 110.

[10] Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, Juz II, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1969), hlm. 66.

[11] T.J. D Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, tt.), hlm. 128.

[12] Joesoef Souyb, Pemikiran Islam  Merobah Dunia, (Medan: Madju, 1984), hlm. 120.

[13] Oliver Leamen,Ibn Miskawaih”, dalam Syed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 310.

[14] Lihat: C.K. Zurayk,Sebuah Pengantar”, hlm. 18-19.

[15] Labib, Para Filosof, hlm. 110-111.

[16] Abdurrahman Badawi,Miskawaih”, dalam M.M. Sharif (ed), A History of Muslim Philosophy, vol. 1, (Wiesbaden: Otto Harrosowitz, 1963), hlm. 469-470.

[17] Labib, Para Filosof, hlm. 111.

[18] Muhammad Iqbal, Metafisika Persia; Suatu Sumbangan untuk Sejarah Filsafat, terj. Joebar Ayoeb, (Bandung: Mizan, 1990), hlm. 50.

[19] Hasyimsyah, Filsafat Islam, hlm. 62.

[20] Iqbal, Metafisika Persia, hlm. 55.

[21] Iqbal, Metafisika Persia, hlm. 56.

[22] Abdul Azis Dahlan,Filsafat”, dalam Taufik Abdullah (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 196-197; Souyb, Pemikiran Islam, hlm. 122.

[23] Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 35-37.

[24] Ibid, hlm. 37, 39.

[25] Ibid, hlm. 39.

[26] Ibid, hlm. 43-44.

[27] Ibid, hlm. 44.

[28] Ibid, hlm. 45.

[29] Ibid, hlm. 41.

[30] Ibid, hlm. 45-50.

[31] Ibid, hlm. 51-52.

[32] Ibid, hlm. 54.

[33] Ibid, hlm. 89-91.

[34] Ibid, hlm. 95-97.

[35] bid, hlm. 133-161.

[36] Ibid, hlm. 56.

[37] Ibid, hlm. 56-58.

[38] Ibid, hlm. 60.

[39] Ibid, hlm. 50.

[40] Ibid, hlm. 59-60.

[41] Ibid, hlm. 60-63.

[42] Ibid, hlm. 64-65.

[43] Ibid, hlm. 669-70

[44] Ibid, hlm. 70-81.

[45] Ibid, hlm. 80.

[46] Ibid, hlm. 162-195.

Keunggulan Syi’ah Imamiyah Dibidang Filsafat dan Akal

Albert Einstein (si jenius) mengklaim syi’ah sebagai mazhab yang penuh pertumbuhan sains dan teknologi  !  Fakta itu terbukti dizaman kita, MUI sudah gila jika tuduh syi’ah sesat !

Syi’ah akan maju pesat  karena doktrinnya relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Sains, kekuasaan dan moralitas sebagai satu kesatuan menurut syi’ah

Tauhid Ahlul Bait Mengandung Unsur Sains Iptek Yang Terintegrasi

syi’ah mengintegrasikan iptek/sains dan agama

“Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam” kata Albert Einstein

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklärung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis punya muatan seperti ini tidak bakal di mazhab lain. Hanya mazhab Syiah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas

ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. Kami  mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.

Berdasarkan laporan situs mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.

Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklärung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis punya muatan seperti ini tidak bakal di mazhab lain. Hanya mazhab Syiah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas. Sayangnya, kebanyakan ilmuannya tidak mengetahui hal itu.

Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan mikraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai.

Salah satu hadis yang menjadi sandarannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mikraj jasmani Rasulullah saw. Disebutkan, “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam Syiah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”.

E = M.C² >> M = E : C²

Artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berujud semula, hidup kembali.

Dalam suratnya kepada Ayatullah al-Uzma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior”, dan untuk menggembirakan ruh Prof. Hesabi (fisikawan dan murid satu-satunya Einstein asal Iran), ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam safety box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi), dengan alasan keamanan.

Risalah ini dibeli oleh Prof. Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga 3 juta dolar dari seorang penjual barang antik Yahudi. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Kantor berita Iran IRIB (24/9/2011)  melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. IRIB mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.
Berdasarkan laporan situs mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.
.
TERNYATA  ALBERT  EiNSTEiN PENGANUT   SYi’AH

Ketika media-media zionis berusaha mencegah peningkatan jumlah pemeluk baru Islam di kalangan masyarakat Barat dan berusaha mencoreng citra agama cinta damai dan keadilan ini, terungkap sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut Islam Syiah Imamiyah. Berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”

.
Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.
Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah
.
Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai
.

Benarkah Indonesia terbelakang dan miskin karena mayoritasnya penduduknya Muslim Sunni ? Benarkah Islam Sunni justru menghambat kemajuan peradaban? Apakah Indonesia memiliki pemimpin dan elite nasional yang bervisi cinta ilmu pengetahuan dan peradaban?

Adakah politisi dan elite nasional yang bervisi demikian? Ternyata tidak. Dengan menyesal harus kita katakan demikian. Buktinya, parpol dan para penguasa hanya mengejar kekuasaan belaka. Sementara para elite serta pemimpin nasional tak punya komitmen kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban seperti di zaman keemasan Islam dahulu.

Setidaknya itulah komentar Prof Dr Mulyadi Kartanegara, guru besar UIN Jakarta . Pandangan Mulyadi itu dibenarkan oleh Tisnaya Kartakusuma, Hans Satya Budi dan Abas Jauhari MA dosen UIN Ciputat, dalam seminar ‘Kontribusi Islam dan Jala Sutra dalam Ruang Peradaban Indonesia Raya’ yang dipandu akademisi muda PSIK Universitas Paramadina Herdi Sahrasad. Seminar diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina bersama Industry & Labor Watch, Jakarta

Mulyadi mengingatkan, perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan Dunia Islam-lah yang menyebabkan kebangkitan dan kemajuan Eropa setelah Barat lama dilanda abad kegelapan. Dan dewasa ini Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia, namun disebut oleh negara-negara Barat sebagai the sleeping giant (raksasa tidur) karena krisis peradaban.

“Jika Indonesia mau bangkit, maka penterjemahan dan alih bahasa naskah-naskah Islam klasik mutlak diperlukan untuk membangkitkan khasanah intelektual dan peradaban Islam,” tegas Mulyadi.

Tidak ada bangsa yang bangkit dan maju tanpa kebangkitan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Tradisi ilmiah Islam di masa lampau sangatlah kaya. Ibnu Sina menghasilkan karya tentang psikologi dan botani.

Memang ada perbedaan antara fisika Islam dan matematika Islam dengan yang di Barat. Kalau mereka hanya tahu yang dari Barat, maka mereka tidak tahu bahwa ada yang lain. Jika mereka kenal khazanah keilmuan pasti akan terkagum-kagum. Masalahnya, ilmuwan banyak yang kurang mengapresiasi keilmuan Islam karena mereka belum tahu.

Mulyadi, Tisnaya, Abas dan Hans menegaskan, dalam Islam itu ada ilmu rasional dan ilmu agama. Sejauh itu ilmu rasional, maka diskusi akan terjadi di sana . Tapi, ilmu rasional dalam Islam tidak boleh melanggar prinsip-prinsip keislaman, tauhid, keyakinan kepada hari akhir.

Jadi, kata Mulyadi, dalam upaya membangun peradaban maka kita harus membangun kurikulum pendidikan yang meliputi seluruh level eksistensi mulai dari yang fisik, matematik dan metafisik. Dengan tiga disiplin yang dirangkai itu maka kita akan memiliki pandangan yang holistik. Tidak seperti sekarang fisika, matematika, biologi berjalan sendiri-sendiri atau tidak saling berkaitan.

Dalam tradisi keilmuan Islam selalu ada hirarki. Misalnya, ilmu dibagi dua yakni naqliyah dan aqliyah. Dalam aqliyah ada nazhariyah dan amaliyah. Nazhariyah ada fisika, matematika dan metafisika. Kemudian, amaliyah ada etika, ekonomi dan politik. Tapi yang praktis tidak boleh dilepaskan dari yang teoritis.

Oleh karena itu, ada satu kesatuan yang holistik. Ilmu jiwa misalnya, dalam tradisi ilmiah Islam bisa menyatukan antara fisika dan metafisika. Masuk fisika ketika jiwanya masih dalam tubuh. Tapi ketika jiwanya sudah tidak ada dalam tubuh, maka masuk dalam metafisika.

Dalam hal ini, kata Mulyadi dan Tisnaya, betapa pentingnya universitas dan perpustakaan. Sejarah telah mencatat bahwa perpustakaan merupakan sebuah entitas yang tidak bisa di nafikkan dalam mendukung kemajuan intelektual sebuah komunitas. Setidaknya ini ditunjukkan oleh Harun al-Rasyid yang membangun Khizanah al-Hikmah.

Khizanah al-Hikmah ini lebih dari sekedar perpustakaan, namun juga merupakan pusat penelitian. Khizanah al-Hikmah yang kemudian oleh al-Makmun diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah pada tahun 815 M, pada masanya telah menyangga berbagai kegiatan ilmiah. Selain perpustakaan dan penelitian, juga sebagai tempat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.

Mulyadi menambahkan, sebagai contoh Ibnu Sina, yang merupakan seorang ahli kedokteran dan juga seorang filosof. Dengan buku terkenalnya, Al-Kanun, namanya dikenal dunia. Dan bukunya telah dijadikan rujukan ilmu kedokteran selama berabad-abad.

Uraian di atas merupakan sedikit contoh perkembangan keilmuan yang ada di dunia timur. Perpustakaan universitas di zaman keemasan Islam, yang banyak orang menyebutnya sebagai jantung universitas dan peradaban Islam era kekhalifahan, merupakan salah satu penyangga kegiatan keilmuan dan peradaban Islam masa itu. Sisa-sisanya bisa dilihat di Timur Tengah sampai sekarang. Apakah pemerintah mau melakukan itu semua? Kita belum tahu

Bismillah..BiMuhammad wa Aali Muhammad…

Lebih dari 14 abad yang lalu ketika Ilmu pengetahuan dalam era kegelapan jahiliah, barbar, primitif serta era perbudakan Islam hadir sebagai Bukti Kebesaran-NYA SWT melalui Jibril as.

Wahyu Kalamullah yg berisi petunjuk dan ilmu tentang ciptaan Allah, bagaimana bumi terbentuk, tumbuhan dan hewan serta manusia tercipta,bagaimana langit, awan, bulan, matahari, petir, hujan, serta seluruh yg ada dilangit & bumi diciptakan..
Sebagian besar umat islam tahu akan hal itu namun hanya berhenti pada BANGGA akan Islam namun kurang mau menelaah lebih dalam lagi hingga mampu memperkuat Iman melalui memperkuat keyakinan akan betapa Besar & Agung CiptaanNYA serta betapa Maha Besar dan Maha Kuasanya Allah SWT.14 abad yg lalu Islam telah menerangkan dan menjelaskan seluruh hal yang berada jauh diluar jangkauan akal bahkan khayal manusia yang bahkan baru-baru ini dalam abad 20an para Ilmuwan hanya mampu sedikit menguak keberadaan sebagian kecil dari Ilmu yg tercantum dan diajarkan Alqur’an melalui Nabi Saaw dan para Imam suci Ahlilbayth beliau (saww).

Dunia sains modern di awal abad ke-20 M dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan  Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan ini pada 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory). Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=mc2. Rumus teori relativitas yang begitu populer menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan. Selain itu, teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi

.
Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu, Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat

.
Inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan, dua pengamat yang bergerak relatif akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama. Meski begitu, isi hukum fisik akan terlihat sama oleh keduanya. Dengan ditemukannya teori relativitas, manusia bisa menjelaskan sifat-sifat materi dan struktur alam semesta.
“Pertama kali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas, yaitu sekitar tahun lalu 1905. Saya tidak dapat mengatakan secara eksak dari mana ide semacam ini muncul. Namun, saya yakin, ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak,” ungkap Einstein saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University pada 4 Desember 1922

.
Benarkah Einstein pencetus teori relativitas pertama? Di Barat sendiri, ada yang meragukan teori relativitas itu pertama kali ditemukan Einstein. Sebab, ada yang berpendapat bahwa teori relativitas pertama kali diungkapkan oleh Galileo Galilei dalam karyanya bertajuk Dialogue Concerning the World’s Two Chief Systems pada 1632

.
Teori relativitas merupakan revolusi dari ilmu matematika dan fisika. Sejatinya, 1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas, yaitu saintis dan filosof legendaris bernama Al-Kindi yang mencetuskan teori itu.
Sesungguhnya, tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al-Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu pasti sangat menguasai kitab suci Alquran. Sebab, tak diragukan lagi bahwa ayat-ayat Alquran mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini.
Aya-ayat Alquran yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutup-tutupi

.
Dalam Al-Falsafa al-Ula, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi itu telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era kekhalifahan Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman.
Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi

.
“Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al-Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al-Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.
Gagasan yang dilontarkan Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolut,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes, dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya.
Menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein

.
Dalam Al-Falsafa al-Ula, Al-Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar

.
“Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain,” tutur Al-Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat.
Menurut Einstein, tak ada hukum yang absolut dalam pengertian hukum tak terikat pada pengamat. Sebuah hukum, papar dia, harus dibuktikan melalui pengukuran. Al-Kindi menyatakan, seluruh fenomena fisik, seperti manusia menjadi dirinya, adalah relatif dan terbatas.
Meski setiap manusia tak terbatas dalam jumlah dan keberlangsungan, mereka terbatas; waktu, gerakan, benda, dan ruang yang juga terbatas. Einstein lagi-lagi mengamini pernyataan Al-Kindi yang dilontarkannya pada abad ke-11 M. “Eksistensi dunia ini terbatas meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein

.
Dengan teori itu, Al-Kindi tak hanya mencoba menjelaskan seluruh fenomena fisik. Namun, juga dia membuktikan eksistensi Tuhan. Karena, itu adalah konsekuensi logis dari teorinya. Di akhir hayatnya, Einsten pun mengakui eksistensi Tuhan. Teori relativitas yang diungkapkan kedua ilmuwan berbeda zaman itu pada dasarnya sama. Namun, penjelasan Einstein telah dibuktikan dengan sangat teliti

.
Bahkan, teori relativitasnya telah digunakan untuk pengembangan energi, bom atom, dan senjata nuklir pemusnah massal. Sedangkan, Al-Kindi mengungkapkan teorinya untuk membuktikan eksistensi Tuhan dan keesaan-Nya. Sayangnya, pemikiran cemerlang sang saintis Muslim tentang teori relativitas itu itu tak banyak diketahui. Sungguh sangat ironis, memang.
Relativitas dalam Alquran

Alam semesta raya ini selalu diselimuti misteri. Kitab suci Alquran yang diturunkan kepada umat manusia merupakan kuncinya. Allah SWT telah menjanjikan bahwa Alquran merupakan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Untuk membuka selimut misteri alam semesta itu, Sang Khalik memerintahkan manusia agar berpikir.
Berikut ini adalah beberapa ayat Alquran yang membuktikan teori relativitas itu.”…. Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS Alhajj: 47). “Dia mengatur urusan langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Assajdah: 5).
“Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS 70: 3-4). “Dan, kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Annaml: 88)

.
“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka, tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (QS 23: 122-114)

.
Karena kebenaran Alquran itu, konon di akhir hayatnya, Einsten secara diam-diam juga telah memeluk agama Islam. Dalam sebuah tulisan, Einstein mengakui kebenaran Alquran. “Alquran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Alquran adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar,” ungkap Einstein. Wallahualam.

Si Jenius dari Abad IX

Al-Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861).
Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani

.
Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, Al-Mu’tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan

.
Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam

.
Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Penemuan Albert Einstein

Tidak dapat dipungkiri bahwa Albert Einstein adalah salah seorang ilmuwan terkemuka abad 20. Salah seorang genius Fisika Teori penemu Teori Relativitas yang sangat terkenal itu. Teori ini membuat Hukum Newton yang telah berusia 300 tahun itu menjadi usang.

Selain itu dia juga mengembangkan teori lain. Beberapa di antaranya belum selesai dirumuskan ketika dia meninggal. Misalnya Teori Medan Terpadu. Teori yang memadukan antara hukum pergerakan planet dan pergerakan partikel atom ini hingga sekarang terkatung-katung nasibnya karena belum ada yang tampil untuk menyelesaikannya.

Pada kesempatan lain dia pernah melontarkan pernyataan paradoksal yang berpotensi mengantarkannya pada penemuan terbesarnya. Namun pernyataan ini pun terhenti di tengah jalan. Dia menyatakan :

“Hal yang paling tidak dapat dipahami tentang dunia adalah bahwa dunia dapat dipahami.”

Dengan pengetahuan yang dimilikinya dia dapat menghitung gerak benda-benda angkasa dengan akurat. Dia bisa dengan rinci menjelaskan perilaku partikel. Dia menemukan energi yang sangat dahsyat hanya dengan perhitungan di atas kertas. Hal ini menunjukkan bahwa dia dapat memahami dunia ini dengan lebih baik daripada kebanyakan orang.

Artinya dia bisa memahami berbagai hukum yang berlaku di alam semesta ini. Bintang-bintang yang seolah diletakkan secara acak itu ternyata terikat oleh hukum yang mengatur pergerakannya. Komet yang seolah tidak menentu kehadirannya itu ternyata melintasi garis edar yang bisa dihitung persamaannya..

Singkat kata alam semesta yang menakjubkan ini ternyata terikat oleh hukum yang bisa dipahami. Apalagi oleh orang-orang seperti Einstein ini. Hukum yang dalam Islam biasa disebut sebagai sunnatullah.

Memahami Alam Semesta

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencipatakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sangat presisi. Seluruh benda langit melintas pada garis edarnya dengan tertib selama jutaan tahun. Ini bisa terjadi karena keseimbangan yang berlaku atasnya sebagaimana telah dinyatakan didalam Al-Qur’an yang mulia :

“Dialah yang telah menciptakan 7 langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? Kemudian lihatlah lagi dan lagi, pandanganmu akan lelah dalam mencari sesuatu yang tidak seimbang.” [QS. Al-Mulk : 3-4]

Bayangkan kita sedang naik sepeda. Kalau kita tidak mampu menjaga keseimbangan, maka hanya dalam dua atau tiga kayuhan sepeda sudah akan rubuh. Namun begitu kita bisa menjaga sepeda tetap seimbang, maka kita bisa menempuh berpuluh-puluh kilometer dan tetap tegak.

Bisa kita bayangkan betapa seimbang alam semesta ini yang bisa bertahan selama berjuta-juta tahun. Seandainya keseimbangan itu terganggu sedikit saja niscaya akan runtuhlah alam semesta ini. Keseimbangan inilah yang mungkin telah memukau Einstein sehingga meluncurlah pernyataan sebgaimana tertulis di atas.

Pertanyaan berikutnya adalah : bagaimana hal ini bisa terjadi ?

Pembahasan tentang masalah ini telah begitu sering dilakukan. Saya khawatir akan membuat Anda bosan bila mengulanginya lagi. Kita lagnsung saja mengembalikannya kepada Al-Qur’an.

“Sekiranya ada di langit dan di bumi  tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Masa Sucilah Allah, pemilik ‘Arsy, dari segala yang mereka sifatkan kepada_Nya.” [QS. Al-Anbiyaa' : 22]

Kesimpulan saya, Einstein hanya membutuhkan satu langkah lagi untuk mencapai penemuan terbesarnya. Yaitu untuk menemukan Tuhannya yang Maha Esa. Yang bersendirian dalam menciptakan dan mengatur makhluknya.

Kemungkinan lain adalah dia sebenarnya telah menempuh langkah itu dan menemukan_Nya. Akan tetapi tidak diutarakan. Untuk suatu alasan yang tidak diketahui.


Kurang lebih 14 abad yang lalu Imam Ja’far Shadiq as berkata :

“Sesungguhnya dibalik matahari terdapat 40 matahari yang didalamnya terdapat Makhluq yang banyak, dan sesungguhnya dibalik Bulan terdapat 40 bulan yang didalamnya terdapat makhluq yang banyak yang tidak mengetahui apakah Allah SWT menciptakan Adam atau tidak”

Para Ilmuwan abad ini hanya mampu mengatakan :

“Dalam galaxi kita terdapat sekitar seratus lima puluh juta bintang tetap,sebagian diantaranya mirip matahari kita,oleh karenanya tidak ada bukti yang mendukung keyakinan bahwa Planet Bumi ini adalah satu-satunya planet yg memiliki kekhususan kekhususan”

Subhanallah..

Alam raya ini tidaklah dapat dibayangkan betapa luasnya,mereka yang menggunakan AKALnya mempelajari hanya mampu memperkirakan luasnya dengan ukuran jutaan tahun cahaya,satu tahun cahaya sama dengan 10 trilyun KM dan sampai dengan saat ini manusia hanya mampu mencapai pengetahuan tentang JARAK paling jauh puluhan bilyun tahun cahaya.

Dengan keterbatasan jarak pada puluhan bilyun tahun cahaya ilmuwan menemukan banyak sekali super gugus galaxi yang jumlahnya tak TERHITUNG.Bumi dan sekian banyak bintang yang kita saksikan kilaunya berada dalam galaxi bima sakti hanya bisa di ibaratkan:

” SEBUTIR KACANG TANAH DI TENGAH SAMUDERA BEBAS”…

mari kita pikirkan BETAPA KECILNYA yang kita pikir BESAR dan Betapa MAHA BESAR ALLAH SWT.
ALLAHU AKBAR…

Lalu sejenak mari RENUNGKAN tentang Rasulullah SAWW..

Ada dalam POSISI bagaimana KEBESARAN beliau SAWW….?

Beliau SAWW adalah Rahmatan Lil Aalamin…

Sementara Allah SWT berfirman “RahmatKU meliputi segala sesuatu “……

Segala sesuatu selainNYA adalah al Aaalamin,dan Rasulullah Muhammad SAWW adalah PUNCAK RAHMAT-NYA bagi SEMESTA ALAM…
Sungguh KEBESARAN Rasulullah SAWW pun tak mampu diukur oleh MakhluqNYA..

Maka tepat sekali jika Alqur’an mengatakan pada Ummat Muhammad SAWW :
Maka Nikmat manalagi dari Tuhanmu yang kalian DUSTAkan “

Allah SWT berfirman bhw Sesungguhnya Nabi SAWW tidak berbuat berbicara dengan dasar HAWA NAFSUnya melainkan adalah WAHYU yg diWAHYUKAN,semua gerak dan diam beliau SAWW adalah selalu dalam KONTROL WAHYU-NYA,semua nisbat ketidaksempurnaan Makhluq adalah jauh dari beliau SAWW

JIKA ALAM TAK MAMPU DIKETAHUI BERAPA DAN BAGAIMANA BESARNYA MAKA BAGAIMANA MUNGKIN RAHMAT-NYA BAGI ALAM YAKNI NABI SAWW MAMPU DIJANGKAU KEBESARANNYA OLEH AKAL YANG SERBA TERBATAS……

Kita diperintah untuk mengenal Allah SWT dalam menyembahNYA,mencintaiNYA, maka adalah hal yg Mutlaq harus ada bagi setiap muslim dalam beribadah adalah selalu berusaha mengenal Rasulullah SAWW,mengenal kebesaran beliau SAAW,mencintai beliau SAWW,sebagaimna FirmanNYA :

“Katakanlah (wahai Muhammad)..Jika kalian mencintai Allah,maka CINTAI lah aku niscaya Allah menCINTAI kalian “{QS.Ali Imran (3):31}

Nabi Muhammad SAWW bersabda bahwa:

“Tidaklah BERIMAN seorang hamba hingga aku lebih dicintainya dibanding dirinya,keluargaku lebih dicintainya dibanding keluarganya,dengan begitu mereka lebih mencintai keluargaku dibanding keluarganya dengannya mereka mencintaiku lebih dari diri diri mereka ”

(Biharul Anwar,XXVII hal 13 dan Kanzul Ummal hal 93 )

Bahwa Nabi SAWW bersabda:

Allah mewahyukan kpd seorg nabiNya: Bhw keZUHUDanmu dr dunia akan membawa ketenangan bgmu. Dan pemutusan hubungan dg semua makhluk (atas sgl keperluan), selain denganKu akan membawa kemuliaan dan kejayaan bgmu. Akan tetapi SUDAHKAH engkau MEMUSUHI seorg MUSUH karenaKU dan menCINTAI seorg wali karenaKU ?..

Mari sejenak merenung kembali,bagaimana posisi Nabi SAWW dan keluarga Suci nya (as) dalam Diri dan Hati kita dibandingkan harta,karier,istri/suami dan anak2 kita,dibandingkan dengan ambisi dan target2 pencapaian kita..?

Telah masukkah kita dalam KRITERIA ber IMAN seperti sabda Nabi SAWW tsb ?

Alannabiy Muhammad wa Aalihi Shalawatullah wasalaamuhu adada RahmatiKa kama tuhibbu hatta tardha Ya Rabb..

KETIKA SERINGKALI KITA TELAH MERASA “BENAR”…

BismillahBiMuhammad wa Aali Muhammad…

FIRMAN ALLAH SWT :
“Hai orang-orang beriman , mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan”
(QS. as-Shaff : 2-3).

Allah SWT berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(Surah an-Nisaa’ : 65 )

Rasulullah saww bersabda :
“Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali, mereka tidak akan terpisah hingga mereka bertemu denganku di telaga Haudh”
{Dalam Mustadrak ala Shahihain, oleh Al Hakim Naisaburi (Juz.3 hal.124 )}

RASULULLAH SAWW dari AWAL masa DAKWAHNYA telah bersabda :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan khalifahku sepeninggalku”.

Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Thalib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka :
“Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
Hadits tersebut juga banyak diriwayatkan dalam kitab ahlusunnah, seperti :1. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319.2. Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62.3. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15.4. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”. Dll

Rasulullah saww :
“Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah (berpemimpin) kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan.“
(Shahih Bukhari, jld 5, hl. 65, cetkn. Darul Fikr)

FirmanNya di dalam (Surah al-Maidah (5): 55):
“Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat dalam keadaaan rukuk.”

FirmanNYA SWT :
“Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yg berjihad dan bersabar diantara kamu dan agar kami menyatakan (baik/buruk) hal ikhwalmu”
( Q.S Muhammad 47:31 )
FirmanNYA SWT :
“Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam (Silm) Islam keseluruhannya. Janganlah kamu ikut langkah-langkah syaitan.”
(Surah al-Baqarah : 208)

Imam Ali as berkata:
“القرابة الی المودة احوج من المودة الی القرابة”
(alqarabatu ilal mawaddati ahwaju minal mawaddati ilal qarabah)

“Kedekatan itu lebih membutuhkan cinta daripada tuntutan cinta terhadap kedekatan.”
{Nahjul Balaghah: Alhikmah 308}

Ini berarti kita dituntut untuk lebih mencintai kekasih, keluarga, sanak saudara, tetangga, dan orang-orang disekitar kita. Karena mereka lebih dekat dengan kita. Kita dituntut untuk lebih peduli terhadap mereka, dan cinta adalah unsur yang tidak boleh dilupakan dalam hal ini. Namun di sisi lain, kita boleh jadi mencintai seseorang yang tidak dekat dengan kita. Sebagaimana jika seseorang mencintai atau mengidolakan seorang tokoh tekenal nun jauh di sana.

Namun kecintaan yang paling mulia dan tertinggi dalam Islam adalah kecintaan hamba terhadap Tuhannya.

FirmanNYA SWT :
“Jika ayah-ayah kalian, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah LEBIH KAMU CINTAI dari Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq.”
{Al-Quran surat At-Taubah ayat 24 }

SESUNGGUHNNYA KECINTAAN PADA AHLULBAIT DAN KEPEMIMPINAN IMAM ALI adalah AMANAH NABI SAWW DAN PERINTAH-NYA SWT….

Rasulullah saaw bersabda:
“لا ایمان من لا امانة له”
(laa imana man la amanata lah)“Maka tidak beriman orang yang tidak menjaga amanat.”

Rasulullah Saww bersabda :

“Wahai manusia sekalian! Allah adalah maulaku dan aku adalah maula kalian, maka barang siapa menganggap aku sebagai maulanya, maka ‘Ali ini (juga) adalah maulanya! “Ya Allah, cintailah siapa yang memperwalikannya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya.. !

(Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 118, 119, jilid 4, hlm. 281, 370, 372, 382, 383 dan jilid 5, hlm. 347, 370; al-Hakim, Mustadrak, jilid 3, hlm. 109; Sunan Ibnu Majah; al-Hakim al-Haskani, ibid., jilid 1, hlm. 190, 191; Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hlm. 209-213)

Rasulullah saww bersabda :
“Sekiranya manusia bersepakat mencintai Ali, niscaya Allah tidak menciptakan neraka”
( Muhammad Salih al-Hanafi, Kaukab al-Durriy, hlm.122).

lalu…ketika dengan yaqin kita MERASA dalam JALUR YG BENAR apakah otomatis KITA TELAH BENAR atau kita HANYA tahu KEBENARAN dan merasa menjadi TELAH PALING BENAR?…SUDAH BENAR KRITERIA CINTA YANG SERING KITA KLAIM ?….

Imam Khomeini qs berkata :

“Wahai makhluq yang malang,karena terlalu percaya pada dirimu sendiri dengan merasa telah berada pada kedudukan mulia sebagai Hamba-NYA seolah Rahmat-NYA adalah Hakmu,Allah SWT akan tunjukkan padamu bahwa jangankan ibadahmu dan kesalehanmu tak berguna bahkan semua amal yang kalian pandang sebagai pencapaian adalah justru SARANA mu menjauh dariNYA dan semua itu secara ironis menjadi penyebab kutukanNYA yang abadi bagimu”

“Kalian para pemilik ujb apapun busanamu telah merusak tatanan suci Pasukan Ilahi dalam batinmu sendiri,kalian cemari keImanan dengan kotoran najis yang lebih buruk dari akibat dosa maksiat dhahir,kalian pandang makhluqNYA berkasta-kasta seolah mereka lebih buruk darimu sementara kalian tak tahu bagaimana akhir hidup mereka juga akhir hidupmu sendiri,dalamm keadaan ini jika habis masamu maka kalian akan berpulang dalan keadaan Kufr,kesendirian Barzakh yang amat mengerikan menantimu sementara kekalnya Neraka bisa menjadi pasti bagimu”

“Engkau Makhluq yang malang merasa bangga karena telah mengingatNYA,menyebut-nyebut namaNYA dan para kekasihNYA,engkau lakukan semua aturan Akhlaq dan tidak melakukan apa2 yang diharamkanNYA,kalian bayangkan akhir Mulia…apakah bukan dalam kedaan DUSTA ketika kau shalat sedang engkau berkata semata-mata demi Allah ? bukankah shalatmu bermakna pencarian kepuasan batinmu hingga ketika terbangun dari shalat kau pandang sekeliling dan selainmu tak sebanding denganmu?”

“Wahai diri-diri…janganlah mengoceh terlalu banyak tentang Allah SWT,jangan kalian lebih2kan cintamu kepada Allah..Wahai Sufi..Wahai Filosof..wahai Faqih..Wahai Zahid dan Wahai para pemikir..Kalian makhluq malang yang tertipu oleh muslihat diri dan nafsu,kalian makhluq tanpa daya yang tersesat dalam dalam kemelut harapan palsu dan cinta diri…janganlah berpikir sebaik itu tentang dirimu,tanyailah hatimu sedang kemana menuju,sedang mencintaiNYA atau mencinta dirimu sendiri..tanyailah apakah hatimu Muwahhid atau justru musrik..lalu untuk apakah Ujb’mu ini? lalu untuk apa rasa tenang atau mungkin gembiramu?”

“Renungkanlah keadaanmu wahai manusia..pada mulanya kalian bukan apa2,tersembunyi dalam lipatan ketiadaan selama bermasa-masa yang bahkan lebih tak berarti daripada ketiadaan itu sendiri dan belum hadir dalam alam keberadaan…ketika Allah SWT ciptakanmu dalam keadaan paling berkekurangan,hina lagi tak berarti…bandingkanlah apa keadaanmu kini dan ingatlah bahwa ketika Allah berkehendak memanggilmu maka DIA SWT hanya memerintahkan kepada segenap dayamu agar menjadi lemah dan seluruh daya persepsimu agar berhenti dari Aktifitasnya,seluruh inderamu dimatikan fungsinya lalu beberapa jam kemudian bahkan sanak kerabatmu tak sanggup menahan bau busuk dari tubuhmu…lalu untuk apa sombongmu ?

PENUTUP…..

S.Ibnu Mustafa alHusayni:

“Segeralah Perhatikan dirimu wahai saudaraku,dalam keadaan seperti apa Jiwa,Raga serta amalmu..ketika Ujb’ dan Riya’ sebagai pondasi perilakumu maka takkan mungkin kalian mampu menahan sedikit celaan akan amal ibadah serta dirimu,gagasan yang tersembunyi halus dalam Batinmu hanyalah penghargaan dari MakhluqNYA sembari mengharap Pahala dariNYA..bukankah kalian sedang menyekutukanNYA dalam tujuan Amal ibadahmu ? bagaimana jika dalam keadaan Jiwa semacam ini secara tiba2 kalian harus kembali padaNYA,maka kalian berpulang dengan membawa bendera Dosa MakhluqNYA yang terkutuk Iblis “

{ Syarah 40 Hadits Akhlaq Imam Khomeini,S.Ibnu Mustafa Al Husayni}

FIRMAN-NYA SWT:

“Mereka yg mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yg paling baik diantaranya,mereka itulah orang2 yg telah diberi allah petunjuk & mereka itulah orang2 yg mempunyai akal.”

{Q.S.azumar[39]:18}

“Sesungguhnya engkau berada pada akhlaq yg agung ”

Muqoddimah Melihat perkembangan terakhir ummat Islam di Indonesia tergambar dgn jelas betapa merosotnya akhlaknya sebagian ummat Islam. Dekadensi moral terjadi terutama dikalangan remaja. Sementara pembendungannya masih berlarut-larut dan dgn konsep yg tidak jelas.

Rusaknya moral ummat tidak terlepas dari upaya jahat dari pihak luar ummat yg dgn sengaja menebarkan berbagai penyakit moral dan konsepsi agar ummat loyo dan berikutnya tumbang. Sehingga yg tadinya mayoritas menjadi minoritas dalam kualitas. Keadaan semakin buruk ketika pihak aparat terlibat dan melemahnya peran ulama` dan tokoh masyarakat.

Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas akhlak-nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik “Suatu bangsa sangat ditentukan kualita akhlak-nya jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.”

Hampir semua sektor kehidupan ummat mengalami krisis akhlak. Para mengalami pertikaian internal dan merebutkan vested interest dan jarang terkooptasi oleh kekuasaan yg dzalim. Para ulama`nya mengalami kemerosotan moral sehingga tidak lagi berjuang utk kepentingan ummat tetapi hanya kepentingan sesaat; mendukung status quo. Para pengusahanya melarikan diri dari tanggung jawab zakat infaq dan sedekah sehingga kedermawanan menjadi macet dan tidak jarang berinteraksi dgn sistem ribawi serta tidak mempedulikan lagi cara kerja yg haram atau halal. Para siswa dan mahasiswa terlibat banyak kasus pertikaian narkoba dan kenakalan remaja lainnya.

Kaum wanita muslimah terseret jauh kepada peradaban Barat dgn slogan kebebasan dan emansipasi yg berakibat kepada rusaknya moral mereka maka tak jarang mereka menjadi sasaran manusia berhidung belang dan tak jarang dijadikan komoditi murahan . Dan berbagai macam lapisan masyarakat muslim termasuk persoalan kaum miskin yg kurang sabar sehingga menjadi obyek garapan pihak lain termasuk seperti bentuk nyatanya pemurtadan semisal kristenisasi.

Pengertian akhlak Secara etimotogi bahasa akhlak dari akar bahasa Arab “khuluk” yg berarti tabiat muruah kebiasaan fithrah naluri dll . Secara epistemologi Syar’i  akhlak adalah sesuatu yg menggambarkan tentang perilaku seseorang yg terdapat dalam jiwa yg baik yg darinya keluar perbuatan secara mudah dan otomatis tanpa terpikir sebelumnya. Dan jika sumber perilaku itu didasari oleh perbuatan yg baik dan muliayang dapat dibenarkan oleh akal dan syariat maka ia dinamakan akhlak yg mulia nammun jika sebaliknya maka ia dinamakan akhlak yg tercela

Memang perlu dibedakan antara akhlak dan moral. Karena akhlak lbh didasari oleh faktor yg melibatkan kehendak sang pencipta sementara moral lbh penekanannya pada unsur manusiawinya. Sebagai contoh mengucapkan selamat natal kepada non muslim secara akhlak tidak dibenarkan tetapi secara moral itu biasa-biasa saja.

Sentral Akhlak Akhlak secara teoritis memang indah tapi secara praktek memerlukan kerja keras. Oleh krn itu Allah SWT mengutus Nabi SAW-Nya utk memberi contoh akhlak mulia kepada manusia.Pekerjaan itu dilakukan oleh Nabi SAW sebaik mungkin sehingga mendapat pujian dari Allah SWT “Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yg agung “. Bahkan Rasulullah SAW sendiri bersabda “Aku diutus utk menyempurnakan Akhlak“. Lebih dari itu beliau menempatkan muslim yg paling tinggi derajatnya adl yg paling baik akhlaknya. “Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin adl mereka yg paling bagus akhlaknya

Maka tak heran Aisyah mendiskripsikan Rasulullah SAW sebagai Al Qur`an berjalan ; “Akhlak Rasulullah SAW adl Al Qur`an“.

Cakupan Akhlak Mulia Dimensi akhlak dalam Islam mencakup beberapa hal yaitu ;

    Akhlak kepada Allah SWT dgn cara mencintai-Nya mensyukuri ni’mat-Nya malu kepada-Nya utk berbuat maksiat selalu bertaubat bertawakkal takut akan adzab-Nya dan senantiasa berharap akan rahmat-Nya.
    Akhlak kepada Rasulullah SAW dgn cara beradab dan menghormatinya mentaati dan mencintai beliau menjadi kaumnya sebagai perantara dalam segala aspek kehidupan banyak menyebut nama beliau menerima seluruh ajaran beliau menghidupkan sunnah-sunnah beliau dan lbh mencintai beliau daripada diri kita sendiri anak kita bapak kita dll.
    Akhlak terhadap Al Qur`an dgn cara membacanya dgn khusyuk tartil dan sesempurna mungkin sambil memahaminya menghapalnya dan mengamalkannya dalam kehidupan riil.
    Akhlak kepada makhluk Allah SWT mulai diri sendiri orangtua kerabat handaitaulan tetangga dan sesama mukmin sesuai dgn tuntunan Islam.
    Akhlak kepada orang kafir dgn cara membenci kekafiran mereka tetapi tetap berbuat adil kepada mereka berupa membalas kekejaman mereka atau memaafkannya dan berbuat baik kepada mereka secara manusiawi selama hal itu tidak bertentangan dgn syariat Islam dan mengajak mereka kepada Islam.
      Akhlak terhadap makhluk lain termasuk kepada menyayangi binatang yg tidak mengganggu menjga tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan melestarikannya dll.

Krisis Akhlak Apabila norma-norma akhlak mulia tidak dijalankan dgn baik bahkan cenderung dilanggar maka akan terjadi apa yg dinamakan krisis akhlak. Sebagai contoh kami kemukakan data-data terjadinya perusakan akhlak terutama kepada para remaja berupa narkoba shabu-shabu putow heroin ganja ecstasi morphin dll. Sasarannya mulai dari anak-anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi dari pengangguran sampai artis. Pengaruh buruk yg diperoleh adl dapat merusak hati dan otak meskipun pada tahap awal sipecandu merasa segar gembira fly tidak tidur dan merasa berani. Police watch Indonesia suatu LSM yg memantau keterlibatan polisi dalam jaringan penyimpangan menyebutkan bahwa 42% kasus narkoba terjadi dijakarta 58% terjadi diJawa Barat Bali Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur dan Sumatra Barat.

Jakarta Barat kawasan terbesar kasus narkoba krn dikawasan itu banyak terdapat tempat maksiat sisanya di Jakarta Pusat Jakarta Utara dan Jakarta Timur . Bahkan telah merambat kekota-kota kecil dan kampung-kampung.

Pembentengan dari krisis Akhlak Tentunya ummat Islam tidak berjaya kalau melepaskan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Makanya mereka harus kembali menghidupkan Islam sebagaimana yg telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan 12 imam ahlul bait

Kita harus kembali menghidupkan masjid sebagai pusat kegiatan ummat Islam. Memperkuat daya tahan rumah tangga dari ancaman dekadensi moral termasuk film-film ysng bobrok menjaga disiplin dan keamanan sekolah serta memberikan lingkungan materi agama yg cukup serta menjaga daya tahan lingkungan masyarakat dari berbagai arus perusakan dan penyesatan sekaligus mengaktifkan pemerintah utk membentengi masyarakat dari berbagai bentuk kemaksiatan.

Wallahu A`lam.


Pendahuluan

Pemikiran filsafat Islam, dalam makna luas, tampaknya memang belum berkembang dengan semestinya di tanah air. Pernyataan ini lahir dengan fakta bahwa belum pernah ada filsuf yang berasal dari warga negara Indonesia. Kalau melirik kembali sejarah bangsa Indonesia, sebenarnya pemikiran filosofis pernah hidup di negeri ini sehingga membuat peradaban Islam Nusantara mencapai titik klimaks. Sebut saja misalnya, pemikiran Hamzah Fanshuri (w. 1600 M), dan muridnya, Syamsuddin As-Sumatrani (w. 1630 M), telah dengan fasih mengembangkan ajaran Gnosis Ibn ‘Arabi (w. 1240 M). Aliran filsafat ‘Arabian’ ini adalah salah satu aliran filsafat terpenting di Dunia Islam. Tema utama dari aliran Gnosis ini adalah wahdatul wujud dan Insan Kamil. Ajaran Gnosis Ibn Arabi ini memadukan visi mistis dan rasional, selain banyak terminologi filsafat yang digunakan dalam aliran ini. Aliran ini berkembang di Nusantara pada abad-abad XVI-XVII M.

Sekaitan dengan itu, berarti pemikiran Hamzah Fanshuri dan para muridnya bisa dikatakan sebagai pemikiran filsafat Islam, meskipun pemikirannya ‘bercampur’ dengan ajaran Gnosis Ibn ‘Arabi. Dalam perspektif lain, banyak ahli memasukkan aliran Gnosis Ibn Arabi sebagai salah satu aliran filsafat Islam terbesar di Dunia Islam. Dengan alasan ini, maka Hamzah Fanshuri bisa dikatakan sebagai salah seorang filsuf Muslim pertama di tanah air. Pelekatan predikat filsuf ini kepada Hamzah Fanshuri tentu bisa memunculkan perdebatan yang panjang. Fakta historis ini membuktikan bahwa pemikiran filsafat Islam pernah mengalami kejayaan ketika negara Indonesia masih terdiri atas kerajaan-kerajaan sekitar abad XVI-XVII M. Sejak penduduk Nusantara dijajah oleh bangsa Eropa, bahkan hingga mereka berhasil meraih kemerdekaannya, pemikiran filsafat Islam semakin hilang dari perederannya, jika tidak ingin mengatakannya mati.

Hingga kini, pemikiran filsafat Islam memang mulai menyinari kembali bumi Indonesia dalam skala terbatas. Namun demikian, prosesnya masih dalam tahap gagasan awal. Sebagai sebuah gagasan awal, penumbuhan kembali pemikiran filsafat di Nusantara masih mengalami problematika serius. Selain minimnya para pakar filsafat Islam dalam arti yang sesungguhnya atau tidak adanya filsuf terkemuka di negeri ini, buku-buku daras filsafat Islam pun masih sangat minim dikarang oleh para pemikir Muslim di kawasan jambrut khatulistiwa ini. Bahkan kuantitas buku-buku filsafat klasik standart masih sangat terbatas, bahkan masih banyak belum diterjemahkan secara besar-besaran.

Dalam kasus terakhir, karya-karya pemikir lokal memang belum ada yang mengulas secara signifikan tentang tema-tema filsafat Islam. Sebagai sebuah bagian dari kajian filsafat Islam, karya-karya tentang epistemologi Islam pun sangat jarang ditemukan di Indonesia. Sekali lagi, karya-karya tentang epistemologi yang ada hanya masih berupa gagasan awal, sehingga harus terus dikembangkan lebih lanjut. Fenomena ini membuat para pelajar filsafat di Indonesia harus menggunakan karya-karya filsuf Muslim benua lain. Tragisnya lagi, tidak sedikit pelajar filsafat di negeri ini menggunakan karya-karya filsuf Barat, yang sebenarnya pandangan mereka memiliki sejumlah prinsip yang berbeda dengan ideologi Islam. Akan tetapi, usaha mereka dalam upaya mempelajari filsafat Islam dari karya pemikir luar itu tetap harus didukung, karena upaya mereka itu bisa dijadikan sebagai batu loncatan tahap awal menuju penumbuh-segaran kembali kajian filsafat Islam di kawasan Nusantara.

Di sinilah letak signifikansi kajian pemikiran Muthahhari tentang epistemologi Islam. Beliau memang belum pernah hadir secara fisik ke Indonesia, namun pemikirannya telah hadir di kawasan ini sejak era 1980-an. Bahkan pemikiran filsafatnya, terutama tentang masalah epistemologi, telah memperkaya khazanah pemikiran filsafat di Indonesia. Tentu saja, kajian ini secara langsung ataupun tidak langsung akan turut memperkaya karya-karya filsafat Islam yang telah ada, terutama karya tentang epistemologi Islam, di Nusantara. Tulisan  ini akan memfokuskan kajiannya kepada pemikiran epistemologi Murtadha Muthahhari.  Sebelum menguraikan pandangannya tentang hal ini, makalah ini akan berupaya memotret biografi tokoh dari negeri Mullah ini.

Sketsa Biografi

Murtadha Muthahhari, begitu nama lengkapnya, lahir 2 Februari 1919 di pojok dusun kecil yang bernama Fariman, propinsi Khurasan, Iran.[1] Nama ayahnya adalah Hujjatul Islam Muhammad Husein Muthahhari, salah seorang ‘ulama besar[2] di kampung halamannya. Keluarganya adalah keluarga Muslim yang menganut mazhab Syi’ah Itsna ‘Asyariyah Ushuliya’. Selain belajar ilmu dasar Islam seperti teologi kepada ayahnya, Muthahhari juga belajar di madrasah Fariman, sebuah madrasah tradisional yang mengajarkan membaca, menulis, juz ‘ammah, dan sastra Arab.[3] Pendidikan dasarnya ini berlangsung hingga beliau berusia sekitar dua belas tahun.

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, Muthahhari langsung berangkat ke Hawzah[4] Mashyad untuk melanjutkan studi religinya pada 1932. Hawzah Masyhad adalah salah satu pusat pendidikan keagamaan Syi’ah, selain Hawzah Qom (Iran); serta Hawzah Najaf dan Karbala di Irak. Di Hawzah Masyhad tersebut, Muthahhari telah menunjukkan kecerdasan dan keseriusan dalam upaya mempelajari ilmu-ilmu Islam.[5] Di sana, beliau juga telah menunjukkan minat besar terhadap filsafat dan Irfan. Selama di Masyhad, beliau banyak terinspirasi oleh kepribadian seorang filsuf Islam tradisional ternama kala itu, Mirza Mehdi Syahidi Razavi.[6]

Pada tahun 1936, Muthahhari meninggalkan Masyhad lalu berangkat ke Hawzah Qom guna melanjutkan studinya. Beliau hijrah ke kota Qom ini dikarenakan oleh beberapa faktor. Pertama, guru yang menjadi curahan perhatiannya, Mirza Mehdi Syahidi Razawi wafat pada tahun 1936. Kedua, Kemunduran yang dialami Hawzah Masyhad. Ketiga, adanya tekanan-tekanan destruktif dari pemerintah tirani yaitu raja Reza Khan, terhadap seluruh lembaga-lembaga keislaman, termasuk Hawzah Mashyad.[7] Kerajaan Persia kala itu menganggap bahwa eksistensi berbagai institusi Islam tersebut dapat mengganggu stabilitas politis negara.

Kepergiannya dari Masyhad bukannya tanpa bekas, sebab kota ini telah memberikan pengaruh intelektual bagi Muthahhari berupa kesadaran diri untuk mencintai ilmu sepanjang hayatnya. Kendati guru yang menjadi pusat perhatiannya itu wafat dan beliau belum cukup umur untuk mengikuti kuliah-kuliah yang disampaikan oleh guru tersebut, namun beliau telah menemukan kecintaan mendalam terhadap teologi, filsafat, dan Irfan.[8]

Pada tahun 1937, Muthahhari telah menetap di Qom.[9] Di kota ini, beliau menjadi salah satu pelajar agama yang cukup cerdas. Di kota ini, beliau pun sangat apresiatif terhadap mata pelajaran filsafat. Secara mendalam, beliau mempelajari ilmu ini melalui ‘Allamah Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’i. Gurunya ini mengenalkan kepada Muthahhari secara komprehensif tentang berbagai bentuk pemikiran sejak Aristoteles hingga Sartre. Thabathaba’i merupakan Mufassir, Teosof, dan Filosof terbesar pada abad ke-20 M. Sayyid Husein Nasr yang merupakan murid Thabathaba’i, mengungkapkan bahwa ‘Allamah Thabathaba’i memiliki kelebihan sebagai seorang Syaikh dalam bidang syari’ah dan ilmu-ilmu esoteris, sekaligus seorang Filosof terkemuka.[10] Selain belajar filsafat kepada Thabathaba’i, Muthahhari pun mempelajarinya dari Ayatullah Al-Astiyani, dan Syaikh Mahdi Al-Mazandarani.[11]

Pada tahun 1941, Muthahhari berangkat ke Isfahan untuk mempelajari kitab Nahjul Balaghah. Kitab ini merupakan kumpulan dari pidato dan surat-surat Imam pertama mazhab Syi’ah, Imam ‘Ali bin Abi Thalib. Kitab ini sangat sarat dengan pengetahuan filosofis dan spiritual. Karena itulah, beliau berminat mengkaji kitab ini, sehingga membuatnya harus menemui Mirza Ali Aqa Shirazi Isfahani di Isfahan. Mirza Ali adalah salah seorang guru yang memiliki otoritas untuk naskah-naskah Syi’ah Klasik, khususnya kitab Nahjul Balaghah.

Sebagai seorang pelajar filsafat, beliau telah banyak membaca kitab-kitab filsafat, seperti kitab Syarh-i Manzumah, sebuah naskah filosofis karya Mulla Hadi Sabzewari. Beliau mempelajari kitab tersebut di bawah bimbingan Imam Khomeini sejak tahun 1945. Muthahhari sangat memahami karya itu, sehingga beliau dikenal sebagai pensyarah buku Syarh-i Manzhumah tersebut. Kemudian pada tahun 1946, beliau mempelajari Kifayah Al Ushul, sebuah kitab hukum dari Akhun Khorasani di bawah bimbingan Imam Khomeini. Melalui kitab ini, kemudian beliau pun memulai komitmennya untuk mempelajari filsafat Marxisme. Kajian filsafatnya pun terus berjalan dengan mempelajari kitab Al-Asfar Al-Arba’ah karya Mulla Shadra. Beliau mulai mengkaji kitab ini sejak tahun 1949 di bawah asuhan Imam Khomeini. Teman sekelasnya dalam mempelajari kitab Mulla Shadra tersebut antara lain Ayatullah Montezari, Hajj Aqa Reza Shadr dan Hajj Aqa Mehdi Ha’eri. Pemahaman Muthahhari yang sangat baik tentang filsafat Shadra tersebut turut menjadikannya seorang ahli teosofi Mulla Shadra. Pada tahun 1950, Muthahhari pun mempelajari kitab filsafat Marxisme karya George Pulizer yang berjudul Introduction to Philosophy, tetapi hanya melalui terjemahannya dalam bahasa Persia. Di samping itu, bersama dengan Montezari dan Behesyty, Muthahhari juga mempelajari berbagai kitab filosofis karya dari Ibn Sina kepada ‘Allamah Thabathaba’i.[12]

Muthahhari juga mempelajari ilmu fiqih dan ushul fiqh di Qom. Dalam bidang ini, yang merupakan mata pelajaran pokok kurikulum tradisional di Hawzah, beliau mempelajarinya melalui Ayatullah Burujerdi, pengganti Syekh Abdul Karim Yazdi sebagai direktur lembaga pengajaran di Qom.[13] Tak cukup pada seorang guru, Muthahhari juga mendapatkan pelajaran tersebut dari Ayatullah Hujjat Kuhkamari, Ayatullah Sayyid Muhammad Damad, Ayatullah Sayyid Muhammad Reza Gulpayagani, dan Ayatullah Haji Sayyid Shadr Al-Din Shadr. Kesuksesannya dalam mempelajari mata pelajaran ini ditandai dengan kelulusannya pada ujian untuk meraih gelar Ayatullah[14] di hadapan para ulama besar seperti Ayatullah Shadr, Ayatullah Muhammad Muhaqqiq, dan Ayatullah Muhammad Hujjat.[15]

Selain itu, Muthahhari juga mempelajari ilmu Akhlaq. Pada tahun 1362 H, beliau berangkat ke kota Burujur untuk mengikuti pelajaran akhlaq dari Ayatullah Sayyid Hussein Burujerdi, yang ketika itu bermukim di sana. Setelah itu, beliau kembali ke kota Qom bersama gurunya tersebut pada bulan Muharram tahun 1364 H. Untuk mendalami ilmu ini, Muthahhari juga berguru kepada Syaikh Ali Al-Syirazi Al-Ishfahani.[16]

Tidak sampai di sini, Muthahhari pun mempelajari Irfan. Untuk itu, beliau berguru kepada Ayatullah Al-‘Uzhma Ruhullah Khomeini. Oleh karena Imam Khomeini juga seorang Marja-i Taqlid, Muthahhari pun mempelajari ilmu fiqih dan ushul fiqih darinya, di samping juga aktif mengikuti kuliah-kuliah filsafat yang digelar pemimpin Revolusi Islam Iran ini.[17]

Seperti ‘Allamah Thabathaba’i, Muthahhari juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan modern. Beliau cukup berantusias dalam mempelajari ilmu pengetahuan modern ini. Buku-buku yang ditulis oleh Will Durrant, Sigmund Freud, Bertrand Russel, Albert Einstein, Erich Fromm, Alexis Carrel, Charles Darwin, Immanuel Kant, dan pemikiran filosof Barat lainnya beliau telaah secara seksama dan serius. Kendati demikian, beliau tidak rendah diri dan malu-malu untuk lebih menonjolkan filsafat Islam. Ini dibuktikan dengan analisis-kritisnya terhadap pemikiran Barat Modern. Karena itulah, beliau dikenal sebagai salah satu kritikus filsafat Barat terkemuka pada masanya.

Kemudian, beliau pun juga menaruh perhatian khusus kepada filsafat Materialisme. Beliau mempelajari pengetahuan tersebut dari berbagai sumber sekunder. Pada tahun 1946, beliau mulai mempelajari filsafat Materialisme yang diperolehnya dari buku dan pamflet dalam bahasa Persia yang dibuat oleh partai Tudeh. Dia juga sering membaca karya-karya yang ditulis oleh ilmuan Partai Tudeh tersebut, seperti karya Taqi Arani, maupun penerbitan-penerbitan Marxis dalam bahasa Arab yang berasal dari Mesir.[18] Selain itu, beliau juga banyak mempelajari filsafat Materialisme dari Allamah Thabathaba’i, melalui sebuah diskusi rutin pada setiap hari Kamis. Diskusi tersebut berlangsung selama tiga tahun yaitu antara tahun 1950 sampai 1953, hingga menghasilkan sebuah buku berjudul Ushul el Filsafat wa Ravesh-e Realisme, karya ‘Allamah Thabathaba’i. Mutahhhari kemudian mengedit buku ini, sembari menambahkan banyak catatan sebagai syarahan terhadap buku itu. Karena itulah, buku tersebut menjadi lebih tebal dari naskah aslinya. Buku itu pun secara bertahap diterbitkan dalam rentang waktu antara tahun 1953 hingga 1985.

Pada masa berikutnya, Muthahhari berangkat ke Teheran pada tahun 1952. Di kota inilah beliau mulai membina rumah tangga dengan istri pilihannya. Istrinya tersebut adalah puteri dari seorang ‘ulama ternama bernama Ayatullah Ruhani.[19]

Demikianlah masa-masa di mana Muthahhari mengenyam pendidikan. Beliau tidak hanya mendalami sebuah disiplin ilmu, tetapi juga mencoba menguasai seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Tak pelak lagi, beliau pun berhasil. Keseriusannya dalam studi keagamaan telah menjadikan beliau seorang mujtahid, baik dalam bidang tafsir, fiqih, ushul fiqh, filsafat, maupun ‘Irfan.

Karir Akademis dan Politis

Muthahhari adalah sosok pemikir Islam Iran legendaris. Beliau berkecimpung tidak hanya dalam bidang akademis tetapi juga berperan secara aktif dalam bidang politik. Dalam bidang akademis, beliau sangat aktif memberikan pengajaran baik untuk para mahasiswa maupun masyarakat awam, selain banyak menulis buku-buku dalam bidang keilmuan yang beraneka ragam. Dalam bidang politik, beliau pun aktif berkecimpung dalam berbagai organisasi. Hal itu dilakukan dalam rangka berjuang menggulingkan pemerintahan tirani rezim Pahlevi, bersama para ‘ulama, mahasiswa, dan masyarakat Iran yang tertindas; di mana Imam Khomeini menjadi pemimpin mereka.

Sejarah telah mencatat bagaimana Muthahhari memberikan dedikasinya terhadap dunia pendidikan di Iran. Sejak tahun 1953, beliau mendirikan sebuah sekolah agama dan mengajar mata pelajaran filsafat[20], sebagai mata pelajaran favoritnya sejak masa mudanya. Sekolah bercorak keagamaan tersebut bernama Madrasa-yi Marvi.[21] Sekolah agama tersebut digunakan sebagai fasilitas untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, terutama filsafat, bagi para pemuda Islam Iran.

Namun itu bukanlah karir perdananya di bidang pendidikan. Sebab, beliau pun pernah mengajar pelbagai macam pengetahuan seperti filsafat, logika, teologi, dan fiqih pada saat masih berstatus pelajar di Qom. Beberapa tahun kemudian, beliau juga pernah diamanahkan untuk mengajar pengetahuan yang sama di fakultas Teologi dan Ilmu-Ilmu Keislaman, Universitas Teheran. Bahkan pihak universitas memberikan kepadanya jabatan strategis, seperti mengangkatnya menjadi Ketua Jurusan Filsafat di Universitas tersebut.[22] Beliau bergabung dengan Universitas itu sejak tahun 1954 hingga kelak diangkat menjadi guru besar filsafat[23]. Meskipun sebelumnya, pada tahun 1964, promosi gelar professor untuk Muthahhari ditolak. Ini tidak lain karena keterlibatan Muthahhari dalam bidang politik dengan mendukung revolusi politik Imam Khomeini. Tidak bisa dipungkiri pula bahwa beberapa koleganya di Universitas Teheran juga kurang menyukainya.[24]

Selain mengajar dan memberikan ceramah di berbagai tempat, Muthahhari juga aktif dalam kegiatan jurnalistik. Sejak tahun 1953, beliau menjadi penulis tetap di jurnal filsafat Al-Hikmah.[25] Dalam jurnal ilmiah tersebut, beliau mulai menyampaikan berbagai gagasan dan pemikiran briliannya. Tulisan-tulisannya memang banyak digemari oleh masyarakat, sehingga menjadikannya terkenal.

Selain aktif dalam bidang akademis, beliau juga aktif dalam bidang politik. Pada masanya, pemerintahan negara dikuasai oleh pemerintahan Pahlevi. Melihat kemungkaran yang terus dilakukan rezim itu, bersama Imam Khomeini dan masyarakat, beliau turut berjuang melawan kekuatan pemerintah yang tidak kecil. Karena oposisinya terhadap pemerintah ini, beliau bersama Imam Khomeini pernah dipenjarakan oleh pemerintah pada tahun 1963. Setelah Imam Khomeini di buang ke Turki, Muthahhari pun dibebaskan. Namun atas perintah Imam Khomeini, lantas Muthahhari memimpin perjuangan Revolusi Iran yang juga didukung masyarakat dan ‘ulama Iran. Selanjutnya, pada tahun 1971, beliau bertanggung jawab guna menentukan rencana-rencana politik ideologi di masjid Al-Jawad. Untuk mengambil berbagai kebijakan, beliau pun selalu meminta nasehat kepada Imam Khomeini, terutama dalam persoalan politik yang penting.[26]

Agar perjuangan politiknya semakin solid, maka Muthahhari pun aktif mendirikan organisasi. Beliau pernah mendirikan Husainiyah Irsyad bersama para koleganya. Organisasi ini adalah sebuah lembaga di Teheran Utara yang bertujuan merekrut kaum muda berpendidikan sekuler agar setia kepada Islam. Organisasi ini didirikan sejak tahun 1965.[27] Jauh sebelum organisasi ini berdiri, Muthahhari juga aktif mengikuti organisasi lain. Beliau pernah bergabung dengan Organisasi Keislaman Profesional yang berada di bawah pengawasan Mahdi Bazargan dan Ayatullah Taleqani. Organisasi ini menyelenggarakan berbagai kuliah kepada para anggota mereka seperti dokter, insinyur, serta dokter.[28] Kemudian, beliau pernah bergabung dengan organisasi ‘ulama Teheran bernama ‘Masyarakat Keagamaan Bulanan’ sejak tahun 1960. Beliau juga pernah diamanahkan untuk memimpin organisasi ini. Salah satu pengurus organisasi ini adalah teman kuliah Muthahhari di Qum, yaitu Ayatullah Behesyti. Para anggota kelompok ini mengorganisasikan kuliah-kuliah umum bulanan yang dirancang secara serempak, untuk memaparkan relevansi Islam dengan masalah-masalah kontemporer, dan untuk menstimulasikan pemikiran reformis di kalangan ‘ulama.Terakhir, Ayatullah Muthahhari pun juga pernah berkecimpung dengan organisasi ‘Jam’iyah Ulama Militan’, sebuah organisasi Islam penting waktu itu.[29] Melalui berbagai organisasi inilah, kelak Mutahhari semakin dikenal luas dan menjadi tokoh yang cukup diperhitungkan Pemerintah.

Aktifitas politik Muthahhari juga dapat dilihat dari perannya dalam mengisi panggung politik internasional. Pada tahun 1969, beliau bersama Ayatullah Zanjani dan ‘Allamah Thabathaba’i mengeluarkan pernyataan keras untuk mengutuk agresi pemerintah Amerika dan Israel ke Palestina. Tidak sekedar itu, beliau pun aktif mengumpulkan dana yang diperlukan oleh para pengungsi Palestina sejak agresi tersebut.[30]

Pemerintah akhirnya menilai bahwa aktifitas politis Muthahhari membahayakan stabilitas kekuasaan kerajaan. Karena itu, pada tahun 1972, kegiatan-kegiatan intelektual pusat-pusat kebudayaan Islam, terutama Husainiyah Irsyad dan mesjid Al-Jawad dilarang beraktifitas oleh rezim Shah. Akhirnya, beliau dipenjarakan untuk kesekian kalinya sebagai akibat kegiatan politiknya itu meski tidak lama kemudian beliau dibebaskan tanpa syarat.[31]

Menjelang kemenangan Revolusi Islam Iran, Muthahhari mendapat tugas mulia dari Imam Khomeini. Beliau ditugaskan untuk mengorganisir masyarakat ‘Ulama Mujahidin’ dan memimpin ‘Dewan Revolusi’. Setelah Revolusi Islam di Iran berhasil menggulingkan pemerintahan Pahlevi, Muthahhari tetap menjadi pembantu setia Imam Khomeini.[32] Muthahhari pun terus memberikan dedikasinya kepada masyarakat dan negaranya. Untuk itulah beliau tetap memimpin ‘Dewan Revolusi’.

Sebagai seorang politisi, tentu Muthahhari memiliki lawan politik. Sikap tegasnya dalam memperjuangkan Revolusi Islam dengan berbagai manuver politik, membuat lawannya gerah. Kelompok Furqan yang tidak menyukai Muthahhari, melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya. Rencana pembunuhan itu berhasil dilaksanakan pada hari selasa malam tanggal 1 Mei 1979, dan Muthahhari pun ditembak mati oleh kelompok tersebut. Peristiwa penembakan itu dilakukan pada saat Muthahhari ingin pulang ke rumahnya, setelah selesai mengadakan rapat di rumah Yadullah Shahabi, salah satu anggota Dewan Revolusi. Pada saat itu beliau berjalan sendirian menuju ke tempat parkir mobilnya. Belum sampai ke mobilnya, beliau mendengar suara asing memanggilnya. Ketika beliau melirik ke arah suara tersebut, seketika sebuah peluru menembus kepalanya, masuk di bawah cuping telinga kanan dan keluar di atas alis mata kiri. Beliau memang sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun beliau telah syahid dalam perjalanan.[33]

Muthahhari pun tidak dapat mengabdi kepada bangsanya lagi. Pada hari rabu, tanggal 2 Mei 1979, negara Iran berkabung. Para penyiar radio dengan suara perlahan mengumumkan syahidnya Muthahhari diiringi pembacaan beberapa petikan dari tulisannya.[34] Beliau pun disemayamkan di rumah sakit. Hingga hari kamis, di tengah-tengah perkabungan luas, jasadnya dibawa ke beberapa tempat untuk dishalatkan. Yang pertama sekali ke Universitas Teheran, lalu ke Qom, untuk kemudian dimakamkan di sebelah makam Syaikh Abdul Karim Ha’iri Yazdi, yang juga tidak jauh dari makam Sayyidah Fathimah Al-Ma’shumah.[35]

Sebuah poster pernah dibuat untuk mengabadikan sosok Muthahhari. Poster itu bergambar seorang yang wajah bercambang dengan kacamata tebal dan lingkaran sorban menyeruak di sela buku tebal dan menara mesjid pada latar belakang, juga ada merpati yang tengah terbang dengan punggung dihiasi sabda Rasulullah SAW; Tinta ‘ulama lebih utama dari pada darah segar Syuhada’.[36]

Meskipun secara fisik telah tiada, namun secara intelektual Muthahhari tetap hidup. Sebab, kini buah fikirnya tetap hidup dalam menghiasi blantika pemikiran Islam Kontemporer. Beberapa karya tulisnya adalah seperti: A Discourse in the Islamic Republic; Al-‘Adl Al-Ilahiy; Al-‘Adl fi Al-Islam; Akhlaq; Allah fi Hayat al-Insan; An Introduction to ‘Ilm Kalam; An Introduction to ‘Irfan; Attitude and Conduct of Prophet Muhammad; The Burning of Library in Iran and Alexandria; The Concept of Islamic Republic (An Analysis of the Revolution in Iran); Al-Dawafi’ Nahw Al Maddiyah; Al-Dhawabit Al-Khuluqiyah li al Suluk al Jins; Durus min Al-Quran, The End of Prophethood; Eternal Life; Extracts from Speeches of Ayatullah Muthahhari; Glimses on Nahj al-Balaghah; Fi Rihab Nahj al-Balaghah; The Goal of Life; Al-Hadaf al-Samiy li al Hayat al-Insan; Happiness; History and Human Evolution; Human Being in the Quran; Ijtihad in the Imamiyah Tradition; Ijtihad fi al Islam; Al Imdad al-Ghaybi; Al-Islam wa Iran; Islam Movement of the Twentieth Century; ‘Isyrun Haditsan; Jihad; Jurisprudence and its Principles; Logic; Al-Malaqat al-Falsafiyah; Man and Faith; Man and His Destiny; Al-Insan wa al-Qadr; Mans Social Evolution; Al-Takamul al-Ijtima’iy li al Insan; Maqalat Islamiyah; The Martyr; Al Syahid Yatahaddats ‘an Al Syahid; Master and Mastership; Wilayah; The Sation of the Master; Al- Waly wal- Wilayah; Al Naby Al Ummy; The Nature of Imam Husein’s Movement; Haqiqah al-Nahdhah al-Huseiniyah; On the Islamic al-Hijab; Mas’alah al-Hijab; Philosophy; Polarization around the character of Ali bin Abi Thalib; Qashash al-Abrar; Religion and the World;, Recpecting Rights and Despising the World; Ihtiram al-Huquq wa Tahqir al-Dunya; Reviving Islamic Ethos; Ihya al-Fikr al-Diniy; Right of Woman in Islam; Huquq al-Mar’ah fi’al Islam; The Role of Ijtihad in Legislation; The Role of Reason in Ijtihad; The Saviour’s Revolution; Al-Mahdiy wa Falsafah al-Tarikh; Sexual Etichs in Islam; Al-Suluk al-Jinsy baina al-Islam wa al-Gharb; Society and History; Social and Historical Change; Al-Mujtama’ wa al Tarikh; Spirit, Matter, and Life; Spiritual Sayings; Al-Tafkir fi al-Tashawwur al-Islami; Al-Takamul al-Ijtima’iy al-Insan; Al-Tahsil, Al-Taqwa, Understanding the Quran; Ushul Falsafah wa Madzhab al-Waqi’iy; The World View of Tawhid; Al Mafhum al-Tawhidiy li al-‘Alam; dan Al-Wahy wa an Nubuwah.[37] Yang perlu di catat, ini hanya merupakan sebagian dari karya Muthahhari. Masih banyak karya lain dari tokoh ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu dalam makalah ini. Ini pula membuktikan bahwa meskipun beliau disibukkan oleh perjuangan Revolusi Islam Iran, di samping aktifitas lainnya, namun beliau tetap menyempatkan diri untuk menggoreskan pemikirannya ke dalam sebuah kertas putih.

Metode Berfikir

Setiap pemikir besar memiliki metode berfikir tertentu dalam setiap wujud pemikirannya. Metode berfikir itu biasanya mewarnai seluruh hasil pemikirannya, dan bahkan merupakan ‘akar tunggal’ dari seluruh pendekatan dan gagasan yang dikedepankannya.[38] Demikian pula dengan Ayatullah Muthahhari, yang secara pasti memiliki sebuah metode berfikir tertentu.

Umum dikenal bahwa pada abad XX, Hawzah Qom telah diwarnai beberapa akademi.[39] Salah satu dari beberapa akademi tersebut adalah akademi “Rasionalisme-Tekstualisme”. Dalam hal ini, Muhsin Labib menerangkan bahwa Muthahhari sebagai salah satu pemikir besar Iran, termasuk ke dalam aliran pemikiran atau akademi tersebut.[40] Kenyataan ini juga yang memberikan gambaran bahwa corak berfikir Muthahhari adalah Rasionalisme-Tekstualisme.

Akademi ini adalah sebuah aliran yang menjadikan rasio (akal) sebagai landasan pemikiran dan menggunakan teks-teks agama sebagai argumen pembenar dari landasan yang telah dikonstruk oleh akal tersebut. Metode berfikir ini memang sangat kentara dalam berbagai karya Muthahhari. Dalam berbagai karyanya yang terkenal itu tampak bahwa beliau memang senantiasa memulai pembahasan dengan menggunakan dalil-dalil rasional dan pada akhirnya, untuk mendukung pemikirannya itu, beliau menggunakan teks-teks agama.

Dalam konteks ini, bahwa tampak Muthahhari sangat cukup apresiatif terhadap akal. Beliau selalu menggunakan dalil-dalil akal (dalil aqli) dalam membahas sebuah permasalahan. Setelah itu, beliau pun mencari dalil-dalil wahyu (dalil naqli) untuk mendukung pemikiran yang telah dibangunnya melalui akal tersebut. Sebab itulah, sebagaimana diungkap Muhammad Ja’far, bahwa filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu yang berdiri di atas fundamental kekuatan nalar rasio, mendapatkan tempat yang cukup istimewa dalam semua lini konsepsi pemikiran Muthahhari. Kendati begitu, bukan berarti sosok Muthahhari mengesampingkan nash-nash agama dan dimensi spiritualitas serta hanya bertumpu pada rasio belaka. Beliau pun mengecam pemikir yang hanya sepenuhnya bertumpu dan berorientasi pada akal atau rasio, tanpa mempertimbangkan nash-nash agama dan spiritualitas.[41] Boleh jadi sikap Muthahhari ini ingin membuktikan bahwa dalil-dalil akal tidak bertolak belakang dengan nash-nash agama, tetapi memiliki kaitan erat, bahkan saling mendukung.

Gagasannya Tentang Epistemologi

Kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata ‘episteme’, yang bermakna ‘ilmu’. Epistemologi ini dikenal sebagai cabang filsafat yang mengkaji segala sesuatu yang terkait dengan pengetahuan, seperti tabi’at dasar, sifat, jenis-jenis, obyek, struktur, asal mula, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.[42] Hal ini terkait dengan tiga jenis pendekatan yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.  Apabila ontologi membicarakan tentang ke-apa-an (mahiyah) dan ke-ada-an (wujud), dan aksiologi membicarakan kegunaan sesuatu, maka epistemologi membicarakan dua hal yaitu sumber dan cara memperoleh sesuatu. Epistemologi membicarakan pembagian, hakikat, metode, dan sumber ilmu. Sebenarnya, pembahasan tentang epistemologi ini cukup luas dan dalam. Karenanya, tulisan ini hanya mengulas pemikiran Muthahhari tentang signifikansi kajian epistemologi, kemungkinan epistemologi, klasifikasi ilmu, sumber dan alat epistemologi, dan karakteristik pengetahuan indrawi dan rasio.

  1. 1. Signifikansi Kajian Epistemologi

Ketika masih hidup, Muthahhari sering mengadakan berbagai ceramah yang tidak hanya dihadiri para pemuda Iran, namun juga para mahasiswa. Secara kuantitas, jumlah mereka bisa mencapai ribuan orang. Pada tahun 1977 M, beliau memberikan ceramah-ceramah tentang epistemologi di Teheran. Ceramah-ceramah ini telah menghasilkan sebuah buku berjudul “Mas’ale-ye Syenokh” (masalah epistemologi). Selain buku tersebut, Muthahhari pun telah menghasilkan buku lain tentang pembahasan yang sama berjudul “Syenokh Dar Quran” (Epistemologi dalam al-Quran). Muthahhari pun pernah menulis buku syarahan atas kitab “Syarh  Manzhumah” karya Mulla Hadi Sabzewari. Jilid ketiga buku syarahan ini menguraikan pula tentang masalah epistemologi, dan kajian hanya mengkonsentrasikan tentang masalah ma’qulat awwali dan ma’qulat tsani. Selain itu, Muthahhari pun membuat syarah atas kitab gurunya, Allamah Thabathaba’i, yang berjudul Usus-e Falsafah wa Rawisy-e Rialism. Syarahan Muthahhari atas kitab ini malah membuat kitab ini lebih tebal dari naskah aslinya. Dalam syarahannya atas kitab ini, Muthahhari menuliskan pula pandangannya tentang epistemologi. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Muthahhari memang sangat concern terhadap masalah epistemologi.

Patut mendapat catatan, meskipun buku-buku karya Muthahhari di atas sama-sama membahas tentang masalah epistemologi, namun Muthahhari menggunakan pendekatan yang berbeda-beda dalam mengulas masalah tersebut dalam masing-masing buku. Dalam kitab “Mas’ale-ye Syenokh”, selain menggunakan pendekatan Qurani, Muthahhari menggunakan pendekatan psikologi. Dalam kitab “Syenokh Dar Quran”, ia malah cenderung membahas epistemologi dengan pendekatan Qurani semata. Dalam kitab syarahannya atas kitab “Syarh  Manzhumah”, dan kitab Usus-e Falsafah wa Rawisy-e Rialism, Muthahhari hanya membahas tema epistemologi dengan menggunakan pendekatan filosofis.[43]

Pada dasarnya, Muthahhari masih memiliki banyak buku yang berkaitan dengan masalah epistemologi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Masing-masing buku ini pun, seperti halnya buku-buku di atas, menggunakan pendekatan yang saling berbeda dalam membahas masalah epistemologi. Banyaknya buku Muthahhari yang membahas masalah epistemologi mengindikasikan bahwa bagi tokoh ini kajian epistemologi sangat penting. Pembahasan epistemologi dengan menggunakan pendekatan yang berbeda-beda ini menunjukkan bahwa tokoh ini sangat piawai dan cerdas, bahkan menguasai penuh konsep-konsep epistemologi secara mendalam.

Keberadaan buku “Mas’ale-ye Syenokh” memiliki latar belakang yang panjang. Sejak Muthahhari menggelar ceramah tentang epistemologi 1977 M di Teheran, di mana ceramah itu dihadiri oleh ribuan pemuda dan mahasiswa Iran, pemerintah Iran melarang Muthahhari berceramah lagi. Bahkan larangan ini sudah dinyatakan pemerintah pada tahun 1974 M. Namun Muthahhari tidak mengindahkan larangan ini. Bukan karena Muthahari membahas tema epistemologi yang membuat pemerintah melarangnya berceramah lagi di depan publik, namun pertimbangan pemerintah adalah kuantitas massa yang mendengarkan ceramah Muthahhari tersebut. Dalam kondisi politik dalam negeri yang sedang tidak stabil, aktifitas Muthahhari ini jelas menaruh kecurigaan besar dari pihak pemerintah. Bagi pemerintah, bagaimana mungkin sebuah ceramah ilmiah dihadiri oleh ribuan massa. Karena berfikir seperti ini, maka pemerintah akhirnya menganggap aktifitas ceramah Muthahhari ini sebagai gerakan politik guna melawan kekuasaan pemerintah.

Yang menarik perhatian adalah mengapa Muthahhari tetap memaksakan diri untuk menyampaikan ceramah tentang epistemologi Islam pada tahun 1977 M, sementara sejak tahun 1974 M pemerintah Iran telah melarangnya berceramah di hadapan publik?. Tentu saja ada suatu misi besar di balik sikap Muthahhari tersebut.

Muthahhari bisa dikatakan sebagai sosok pejuang di panggung pemikiran Islam dan mengenal zamannya. Pada masa hidupnya, berbagai pemikiran asing telah merasuki jiwa masyarakat Iran, terutama pemikiran para pemudanya. Pada masa itu, para konstituen Marxisme cukup gencar melakukan reformasi di bidang kebudayaan. Mereka pun berupaya menanamkan benih-benih Marxisme di segala aspek kehidupan masyarakat. Ironinya, pihak dinasti Pahlevi malah memberikan dukungan terhadap upaya mereka. Pihak dinasti Pahlevi berharap aktifitas mereka dapat terus memperlemah gerakan Islam khususnya kaum Mullah di Iran. Senyatanya, lambat-laun pemikiran Marxisme memperoleh tempat di hari sebagian besar masyarakat, khususnya para pemuda Iran.  Melihat fenomena ini, di mana Marxisme begitu berkembang pesat, sejumlah pihak mulai merasa gerah, namun mereka ini belum mampu memberikan solusi yang cepat dan tepat. Kala itu, para pemuda Muslim menjadi sasaran para konstituen Marxisme. Karena tidak memiliki basis pemikiran yang kuat, para pemuda tersebut tidak mampu mematahkan berbagai keraguan yang ditanamkan oleh para pengikut Marxisme. Biasanya, para pendukung Marxisme itu menabur keraguan dalam diri pemuda Islam Iran terhadap ajaran agama Islam.

Benar bahwa karena kondisi seperti inilah Muthahhari merasa terpanggil untuk membela Islam dan bangsa Iran. Beliau memang merasakan bahwa pemikiran asing itu sudah cukup menyebar luas di kalangan masyarakat dan semakin lama semakin kuat. Beberapa segmen masyarakat pun telah dipengaruhi oleh pemikiran tersebut. Sementara itu, para ‘ulama dan cendekiawan Muslim belum mampu memberikan perlawanan intelektual terhadap filsafat Marxisme itu, apalagi solusi alternatif. Selain ‘Allamah Thabathaba’i dan Muthahhari, hanya sebagian kecil pelajar yang memahami dengan baik filsafat Materialisme, terutama Marxisme. Karena itulah, meski sudah dilarang ceramah sejak tahun 1974 M, dan demi tegaknya ajaran Islam, beliau pun akhirnya menyempatkan diri untuk memberikan ceramah-ceramah sepanjang tahun 1977 M.

Tema dari pelbagai ceramahnya itu tidak lain adalah masalah epistemologi. Tentu saja, ada alasan dari pemilihan topik ini bila dilihat dari kondisi dalam negeri Iran. Dalam memilih topik ini, tentu Muthahhari memiliki kepentingan dan tujuan. Beliau menilai bahwa kajian epistemologi Islam pada masa itu sangat penting, selain memiliki arti dan pengaruh khusus. Signifikansinya adalah untuk membuktikan kerapuhan berbagai pemikiran asing, terutama Marxisme. Untuk mematahkan pemikiran filsafat Marxisme, masyarakat Iran harus memahami epistemologi Islam secara memadai. Sebagai solusi, Muthahhari menawarkan pemikiran Islam sebagai solusi alternatif. Pada berbagai ceramahnya itu, beliau membuktikan betapa kokohnya pemikiran Islam dan rapuhnya pemikiran asing.

Namun sebuah keputusan yang diambil seorang anak manusia akan melahirkan resiko, baik bersifat positif maupun negatif. Karena Muthahhari telah dilarang berceramah sejak tahun 1974 M, namun beliau tetap melakukan aktifitas ini. Sebab itulah, pemerintah Iran segera menangkap Muthahhari, kendati atas desakan masyarakat Iran, akhirnya Muthahhari dibebaskan.

Demikian sebuah sikap tegas dari Muthahhari. Beliau berpendapat bahwa masyarakat Muslim Iran memerlukan pelajaran epistemologi Islam, karena memiliki nilai guna dalam membendung arus pemikiran asing. Apabila masyarakat Muslim mampu memahami epistemologi Islam secara benar, maka mereka akan dengan mudah mengkritisi sembari mematahkan argumentasi-argumentasi filsafat asing seperti Marxisme. Karena itulah, Muthahhari banyak memberi ceramah dan menulis tentang masalah epistemologi perspektif Islam. Barangkali, sikap dan pandangan Muthahhari ini bisa dijadikan signifikansi bentuk pertama dari kajian epistemologi.

Secara lebih tegas, Muthahhari menuturkan bahwa “masalah epistemologi merupakan masalah yang cukup penting untuk dibincangkan saat ini, bahkan jarang ada sebuah permasalahan sepenting masalah epistemologi”.[44] Pandangannya ini tentu tidak terlepas dari konteks kehidupan masyarakat Iran ketika Muthahhari masih hidup. Seperti uraian di atas, pada masa pemerintahan dinasti Pahlevi, pelbagai pemikiran asing terutama Marxisme telah menyusup dengan sukses ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Karena itulah, kajian epistemologi cukup penting diadakan saat itu.

Signifikansi kedua dari kajian epistemologi bagi murid Imam Khomeini ini adalah bahwa karena setiap individu ingin memiliki suatu bentuk ideologi sebagai landasan hidupnya sehingga masalah epistemologi menjadi penting. Biasanya, setiap individu memiliki ideologi yang saling berbeda satu sama lainnya. Tentu saja masing-masing individu tersebut akan mempertahankan ideologinya itu. Tidak jarang, perbedaan itu akan melahirkan pertikaian dan perselisihan antar penganut ideologi.[45]

Menurut Muthahhari, bahwa ideologi merupakan hasil dari pandangan alam, sedangkan pandangan alam itu adalah hasil dari kajian epistemologi.[46] Di sinilah mulai tampak bahwa betapa penting kajian epistemologi itu. Menurutnya, sebelum membahas masalah ideologi, seseorang mesti membahas masalah epistemologi. Karena kajian epistemologi melahirkan pandangan alam (ontologi), dan pandangan alam akan melahirkan ideologi tersebut.[47] Beliau menulis:

Sebelum kita menuju pada alam dan mengatakan bahwa alam itu adalah semacam ini atau semacam itu, dan sebelum kita menuju pada permasalahan ideologi yang ini, atau yang itu adalah benar, terlebih dahulu kita mesti menuju kepada epistemologi. Kita mesti saksikan bersama, manakah epistemologi yang benar, dan manakah yang salah, serta apa sebenarnya epistemologi yang betul dan salah itu.[48]

Dengan demikian, Muthahhari berpandangan bahwa setiap individu akan mampu memilih ideologi tertentu melalui perantaraan epistemologi. Melalui epistemologi pula, setiap individu akan mampu mengkritisi setiap ideologi yang ada, sehingga individu itu mampu memilah mana yang benar dan mana yang salah. Pada akhirnya, setiap individu akan memiliki ideologi yang terbaik sebagai landasan utama dalam segala aktifitas kehidupannya.

  1. 2. Kemungkinan Epistemologi

Tema kemungkinan epistemologi ini memiliki sejarah yang panjang. Sejak dahulu, para filsuf telah membahasnya. Para filsuf tersebut mengumandangkan sebuah pertanyaan, mungkinkah epistemologi (pengetahuan) itu?. Apa seseorang mungkin untuk mengetahui dan memahami hakikat alam beserta manusia?. Mungkinkah seseorang mencapai kebenaran sejati?. Atau mungkinkah manusia memperoleh pengetahuan?. Tema seperti ini merupakan tema yang paling mendasar dalam kajian epistemologi.

Muthahhari pun telah membahas masalah ini sebagaimana terlihat dalam berbagai bukunya. Dalam bukunya yang berjudul “Mas’ale-ye Syenokh”, beliau mencoba membuktikan kemungkinan epistemologi itu, baik melalui bukti aqliyah maupun bukti naqliyah. Muthahhari pun mengembangkan argumentasinya ini secara luas.

Muthahhari berpendapat bahwa epistemologi itu mungkin secara aqli. Bahwa manusia mampu memperoleh pengetahuan, dan hal ini dapat dibuktikan secara aqliyah. Sebelumnya, Muthahhari mengawali pembahasan dengan menguraikan pandangan para filsuf yang menolak kemungkinan epistemologi, dan kemudian beliau mengkritisinya. Muthahhari secara tegas menolak pandangan Pyrho, seorang filsuf Yunani, yang berpandangan bahwa manusia itu tidak mampu untuk mengetahui dan memahami. Pyrho menyatakan bahwa ungkapan “saya tidak tahu” adalah ketentuan dan nasib pasti manusia. Filsuf Yunani ini pun menyatakan bahwa ada dua instrumen dalam diri manusia untuk mengetahui sesuatu yakni indra dan akal. Baginya, kedua instrumen ini dapat melakukan kesalahan, selain dapat sedikit berbuat benar. Dari sini, Pyrho menuturkan bahwa sesuatu yang ada kemungkinan salah dan dapat menjadi salah tidak dapat dijadikan sebagai sandaran.

Dalam hal ini, Muthahhari memberikan kritikan sederhana. Menurutnya, Pyrho telah menemukan hakikat. Sebab filsuf Yunani ini dan para pendukungnya, telah menemukan kekeliruan dengan perantaraan sebuah keyakinan. Mereka itu memiliki keyakinan bahwa mereka telah menemukan berbagai kekeliruan indra dan rasioa. Menurut Muthahhari, pernyataan ini adalah sebuah pengetahuan. Dengan kata lain, jika seseorang menyatakan bahwa rasio dan indra memiliki kekeliruan, kemudian orang itu meyakini bahwa rasio dan indra melakukan sebuah kekeliruan, maka pernyataan itu sama dengan “saya mengetahui bahwa rasio dan indra telah melakukan suatu kekeliruan”. Pengetahuannya tentang kekeliruan rasio dan indera adalah sebuah pengetahuan, dan ini adalah hakikat. Tatkala manusia masih belum sampai kepada hakikat, maka manusia itu tidak akan mengetahui kekeliruan yang ada di depannya.[49] Dengan demikian, terbukti bahwa epistemologi itu mungkin secara akliah.

Selanjutnya Muthahhari berpendapat bahwa sebagian pengetahuan manusia itu terdapat kekeliruan, namun sebagian pengetahuannya lagi tidak memiliki kekeliruan. Secara sederhana, ini tampak pada penjelasan tentang kekeliruan indera dan rasio di atas. Dari sini beliau mulai menyarankan agar manusia tidak mengingkari kemungkinan epistemologi secara total (over generalisasi) lantaran manusia itu memiliki beberapa kekeliruan. Atas dasar inilah, Muthahhari memandang bahwa manusia harus memiliki sebuah neraca sehingga neraca itu dapat berfungsi sebagai pembenar atas berbagai kekeliruan tersebut.[50]

Selain membuktikan kemungkinan epistemologi secara akliah, Muthahhari pun membuktikan kemungkinan epistemologi dengan pendekatan Qurani. Beliau berpandangan bahwa al-Quran mengakui adanya kemungkinan untuk memperoleh epistemologi (pengetahuan). Secara tegas al-Quran pernah mengajak manusia kepada pengetahuan. Alasannya karena dalam al-Quran terdapat perintah untuk memperhatikan, melihat, dan merenungkan segala sesuatu. Misalnya, perintah memperhatikan segala sesuatu di langit dan bumi[51] sebagaimana dinyatakan Q.S. Yunus: 101, Katakanlah:: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Di samping itu, menurut Muthahhari bahwa kisah Nabi Adam as. di dalam al-Quran memiliki sebuah hikmah yang berkaitan dengan masalah epistemologi. Hikmah kisah itu tidak lain adalah masalah kemungkinan manusia memperoleh epistemologi. Muthahhari menceritakan bahwa sejak pertama kali ke dalam surga, Adam adalah seorang manusia. Karena Adam seorang manusia, maka Allah membekalinya dengan pelbagai potensi agar ia mampu memperoleh pengetahuan. Setelah itu, Allah pun mengajarkan pelbagai pengetahuan kepada Adam, hingga akhirnya Adam pun memiliki pengetahuan serta mengetahui berbagai hakikat. Epistemologi tersebut diperolehnya sebelum Adam dimasukkan ke dalam surga. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Q.S. al-Baqarah: 31, Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”.

Ayat ini bagi Muthahhari mengandung pengertian bahwa nabi Adam memiliki pengetahuan yang tidak terbatas.[52] Namun karena Adam memakan ‘buah pohon terlarang’, yakni sesuatu yang berhubungan dengan sisi kebinatangan seperti hawa nafsu, keserakahan, iri dan dengki, ketamakan, serta sifat-sifat anti kemanusiaan lainnya, maka sikapnya itu akhirnya menjatuhkan dirinya dari nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena surga itu tempat manusia, sementara Adam telah memakan buah itu, maka Adam pun diusir oleh Allah SWT. Bagi Muthahhari, ini karena Adam memiliki pengetahuan (epistemologi), namun Adam masih terperdaya dengan sikap kebinatangan seperti hawa nafsu, serakah, dengki, dan lainnya. Dengan kata lain, nabi Adam tidak mengamalkan epistemologinya itu, sehingga ia pun terusir dari surga.[53]

Muthahhari menjelaskan secara lebih terperinci bahwa Adam sebenarnya tidak mengamalkan peringkat keempat dari epistemologinya, sehingga Adam pun diusir oleh Allah SWT dari surga. Peringkat pertama adalah epistemologi, peringkat kedua adalah pandangan alam, peringkat ketiga adalah ideologi, dan peringkat keempat adalah pengamalan, yakni suatu keharusan untuk melaksanakan amal perbuatan. Peringkat keempat ini berhubungan dengan perintah dan larangan, boleh dan tidak. Karena Adam melanggar perintah Allah SWT, maka Adam pun diusir oleh-Nya.[54]

Selanjutnya Muthahhari mengemukakan pula bahwa al-Quran telah menegaskan kemungkinan manusia memperoleh kebenaran. Al-Quran mengajak manusia untuk mengenal Allah SWT, dunia, dirinya, dan sejarah. Menurutnya, kisah Adam di atas, yang sesungguhnya adalah kisah tentang manusia, menjelaskan bahwa Adam dianggap oleh Allah SWT cukup tepat untuk mengetahui semua nama Allah SWT dan realitas-realitas alam semesta. Bahkan dalam kasus tertentu, pengetahuan manusia dapat memahami beberapa poin pengetahuan Allah SWT. Muthahhari mengutip Q.S. al-Baqarah ayat 255 guna mendukung pandangannya ini[55]. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

  1. 3. Klasifikasi Ilmu

Diskusi tentang ilmu perspektif Islam akan melahirkan sebuah pertanyaan. Apa makna ilmu dalam sudut pandang Islam?. Ketika umat Islam diperintahkan untuk menuntut ilmu oleh agama Islam, maka ilmu apa saja yang harus dipelajari oleh mereka?.

Menurut Muthahhari, bahwa makna kata ‘ilmu’ dalam Islam atau ilmu yang diperintahkan dalam Islam adalah setiap ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat Islam. Bahwa ilmu yang diperintahkan Islam adalah setiap ilmu yang dapat membantu terlaksananya tujuan-tujuan individu, tujuan-tujuan sosial Islam, dan setiap ilmu yang jika umat Islam tidak diketahui tentang ilmu tersebut, maka hal itu akan menyebabkan tidak dapat terlaksananya tujuan suci Islam. Jadi, makna ilmu dalam Islam bukan bermakna setiap ilmu yang tidak mempunyai pengaruh bagi tujuan Islam, bahkan setiap ilmu yang memberikan pengaruh buruk bagi tujuan-tujuan Islam. Dalam konteks terakhir ini, Islam tidak mewajibkan umat Islam untuk mempelajari ilmu tersebut, bahkan mengharamkannya.[56]

Muthahhari menegaskan bahwa pembagian ilmu menjadi dua yaitu ilmu agama dan ilmu bukan agama, sebagaimana banyak dibuat oleh para pemikir Islam, adalah sungguh tidak benar dan harus ditolak. Pembagian ini hanya akan menimbulkan sangkaan bagi sebagian umat bahwa ilmu-ilmu di luar ilmu-ilmu agama adalah ilmu-ilmu yang asing dari Islam, sehingga mereka harus menjauhinya. Secara tegas dapat dikatakan bahwa kelengkapan dan keuniversalan Islam menuntut bahwa setiap ilmu yang bermanfaat, penting, dan diperlukan oleh umat Islam, maka itu harus dianggap sebagai ilmu-ilmu agama.[57]

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa Muthahhari menolak upaya dikhotomi ilmu pengetahuan. Beliau, selain menolak pandangan bahwa makna ‘ilmu’ dalam Islam hanyalah ilmu-ilmu agama atau juga ilmu-ilmu tertentu saja, juga menyalahkan sebagian pemikir yang melakukan pembagian ilmu menjadi dua bagian, ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu bukan ilmu-ilmu agama.

Penolakan Muthahhari di atas bukanlah tanpa alasan yang logis. Beliau pun menuliskan beberapa alasan untuk menolak dikhotomisasi ilmu pengetahuan. Beliau menolak bahwa makna ‘ilmu’ dalam Islam hanyalah sebagai ilmu-ilmu agama semata. Adapun alasan-alasan yang dikemukakannya adalah sebagai berikut:

Pertama. Apabila makna ‘ilmu’ dalam Islam hanya berarti ‘ilmu-ilmu agama’, maka pada hakikatnya Islam hanya menganjurkan umat Islam kepada dirinya (Islam) sendiri. Dengan demikian, berarti Islam tidak mengatakan apapun tentang ilmu, dalam arti, pengetahuan tentang hakikat-hakikat alam ciptaan. Berarti pula, Islam tetap berada pada bentuk dan keadaan yang pertama. Logisnya, meskipun sebuah ajaran memusuhi ilmu, dan menentang terhadap tingkat kemajuan pemikiran dan pengetahuan masyarakat Islam, namun secara pasti ajaran tersebut tidak akan menentang dirinya. Pendeknya, jika makna ‘ilmu’ yang diperintahkan Islam adalah hanya ‘ilmu-ilmu agama’, dapat dikatakan bahwa kesepakatan Islam tentang ilmu adalah nihil sehingga pandangan Islam tentang Ilmu adalah negatif.[58]

Kedua. Makna hadits, bahwa “hikmah adalah barang milik orang Mukmin yang hilang, maka ambillah dia meskipun kamu harus mengambilnya dari orang Musyrik” dan hadits “Carilah ilmu walaupun ke negeri Cina”, adalah bersifat umum. Makna kata ‘ilmu’ pada hadits tersebut pun bersifat umum, tidak dikhususkan pada ‘ilmu-ilmu agama’ semata. Sebab memang tidak ada hubungan antara negeri Cina dengan ‘ilmu-ilmu agama’, seperti halnya tidak ada hubungannya antara orang-orang Musyrik dengan ‘ilmu-ilmu agama’. Bagi Muthahhari, makna ‘ilmu’ dalam hadits di atas tidak hanya bermakna sebagai ‘ilmu-ilmu agama’, tetapi juga mencakup ‘ilmu-ilmu’ yang dianggap sebagian pihak sebagai ‘ilmu-ilmu selain ilmu agama’.[59]

Ketiga. Logika al-Quran al-Karim tentang ilmu tidak berbentuk sesuatu yang bersifat khusus. Al-Quran menyeru umat Islam untuk memikirkan dan mengkaji berbagai masalah, termasuk juga seluruh fenomena alam semesta. Contohnya adalah seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 164; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. Menurutnya ayat tersebut menunjukkan bahwa al-Quran secara tegas menyeru umat Islam agar mengkaji fenomena-fenomena alam semesta. Tentunya, seruan untuk mengkaji alam semesta akan bermuara kepada semua ilmu yang dianggap sebagai ‘ilmu non agama’ tersebut. Dengan demikian, adanya seruan al-Quran untuk meneliti fenomena alam tersebut menjadi bukti bahwa Islam tidak hanya menyeru kepada ‘ilmu-ilmu agama’ saja, melainkan juga semua ilmu yang dianggap oleh sementara pihak sebagai ‘ilmu-ilmu selain ilmu-ilmu agama’ tersebut.[60]

Keempat. Bahwa ajaran Islam dimulai dengan tauhid. Sedangkan tauhid itu bersifat rasional. Umat Islam pun dilarang untuk bertaklid dalam beragama. Umat Islam harus memiliki argumen-argumen rasional tentang ajaran Islam, sebelum mereka menerima keyakinan Islam tersebut. Dengan demikian, umat Islam diperbolehkan mengkaji wilayah tauhid. Pada gilirannya, untuk mengkaji tauhid ini, tidak bisa tidak, umat Islam harus mendayagunakan potensinya untuk mengkaji alam. Sebab dalam sudut pandang al-Quran al-Karim, salah satu metode untuk menemukan tauhid yang benar adalah dengan memperhatikan seluruh lembaran alam ciptaan. Sementara untuk membuka seluruh rahasia alam ciptaan maka umat Islam wajib harus memiliki ilmu pengetahuan seperti biologi, zoologi, navigasi, fisika, kimia, astronomi, dan lainnya. Tanpanya, umat Islam tidak akan mampu mengkaji alam semesta dengan baik, dan imbasnya, umat Islam akan kehilangan salah satu metode untuk mendapatkan tauhid yang benar.[61]

Setelah mengetahui makna ilmu menurut Muthahhari, berikut ini akan dipaparkan pandangannya tentang klasifikasi ilmu. Setelah menelusuri berbagai karyanya, Muthahhari memang tidak memberikan penjelasan rinci berkenaan dengan konsep pembagian ilmu perspektif Islam. Untuk itulah, maka tulisan berikut ini akan mencoba mensistematisasikan pemikirannya tentang pembagian ilmu tersebut. Berdasarkan sejumlah penjelasannya, setidaknya pembagian ilmu dapat dilihat dari tiga tinjauan sebagai berikut:

Pertama, ilmu ditinjau dari sumbernya. Dalam konteks sumber nya, maka ilmu secara keseluruhan terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah ilmu naqli (wahyu). Sementara kedua adalah ilmu aqli (akal).[62] Permasalahannya, bahwa Muthahhari tidak menjelaskan secara lebih terperinci tentang ilmu-ilmu yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqli dan ilmu-ilmu aqli tersebut.

Kedua, ditinjau dari sudut kewajiban agama. Di sini, Muthahhari membagi ilmu menjadi dua jenis, yaitu ilmu Wajib ‘Aini dan ilmu Wajib Kifayah. Ilmu Wajib ‘Aini mencakup ilmu-ilmu yang membahas seputar agama Islam, baik ilmu ushuluddin maupun ilmu furu’uddin; dan setiap ilmu yang menjadi pendahuluan bagi ilmu-ilmu tersebut. Setiap pribadi Muslim wajib mempelajari ilmu-ilmu Wajib ‘Aini ini. Sedangkan ilmu Wajib Kifayah mencakup segala ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat Islam atau pun segala macam ilmu yang menjadi syarat atas terselesaikannya setiap tujuan dan kebutuhan masyarakat Islam. Segala ilmu yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat Islam akan menjadi Wajib Kifayah bagi masyarakat Islam untuk menuntutnya. Termasuk ke dalam ilmu Wajib Kifayah ini, ilmu-ilmu yang tercakup ke dalam ilmu-ilmu Alam dan ilmu-ilmu Matematika.[63]

Ketiga, ditinjau dari sudut apakah ilmu itu sebagai perantara (wasilah) atau sebagai tujuan (hadaf). Dalam konteks ini, Muthahhari menyatakan bahwa semua ilmu Islam tersebut dibagi menjadi dua macam. Pertama adalah ‘ilmu tujuan’ (hadaf), yakni setiap ilmu yang memiliki hukum wajib yang berdiri sendiri. Sedangkan kedua adalah ‘ilmu perantara’ (wasilah), yakni setiap ilmu yang bermanfaat bagi umat Islam dikarenakan kedudukannya sebagai mukaddimah dan alat untuk bisa melaksanakan sebuah kewajiban dan tujuan Islam.[64] Dalam konteks ini, Muthahhari telah memberikan contoh riil. Yang termasuk ke dalam ilmu tujuan ini, menurutnya, adalah semua ilmu tentang Ketuhanan dan semua ilmu yang berkaitan erat dengan ilmu-ilmu tentang ketuhanan tersebut seperti ilmu tentang alam akhirat. Karena itu, ilmu-ilmu seperti inilah yang menjadi tujuan dalam mempelajari ilmu dalam agama Islam. Sehingga semua ilmu yang lain hanyalah sebagai alat untuk mencapai ilmu tujuan ini. Sedangkan contoh ilmu alat adalah seluruh ilmu selain dari ilmu-ilmu Ketuhanan tersebut. Karena itulah, Muthahhari menyatakan bahwa semua ilmu selain ilmu tujuan di atas adalah alat, bukan tujuan. Semua ilmu selain ilmu-ilmu Ketuhanan tersebut dikatakan sebagai ilmu alat disebabkan karena ilmu tersebut berkedudukan sebagai mukaddimah dan alat untuk bisa melaksanakan sebuah kewajiban dan tujuan agama Islam. Tokoh ini pun memisalkan bahwa semua ilmu agama Islam, selain ilmu-ilmu tentang Ketuhanan, misalnya ilmu fiqh, ilmu akhlaq, ilmu hadits, dan lainnya adalah ilmu alat, sehingga ilmu-ilmu itu bukan ilmu tujuan. Termasuk contoh dari ilmu-ilmu alat adalah semua ilmu yang menjadi pengantar untuk memahami semua ilmu agama Islam tersebut, selain ilmu-ilmu tentang Ketuhanan tersebut, misalnya ilmu tata bahasa Arab dan ilmu logika.[65]

  1. 4. Sumber Pengetahuan

Muthahhari menyatakan bahwa ada empat sumber pengetahuan (sumber epistemologi), yaitu alam, rasio, hati, dan sejarah. Proses penggalian empat sumber ini akan melahirkan ilmu pengetahuan yang merupakan suatu keharusan dalam membangun peradaban.[66] Beliau menulis:

Dari sudut pandang Islam, sumber pengetahuan adalah tanda-tanda alam, atau tanda-tanda yang ada di dalam alam semesta, yang ada dalam diri manusia, dalam sejarah, atau dalam berbagai peristiwa sosial dan berbagai episode bangsa dan masyarakat, dalam akal atau dalam prinsip-prinsip yang sudah jelas, dalam hati, dalam pengertiannya sebagai organ pencerah dan penyuci, dan dalam catatan yang diwariskan umat-umat terdahulu.[67]

Secara umum Muthahhari membagi sumber epistemologi menjadi dua jenis, yakni sumber luar dan sumber dalam.  Sumber luar ini hanya satu yakni alam. Sementara sumber dalam ada dua yakni rasio dan hati.[68] Namun demikian, Muthahhari tidak mengemukakan kedudukan sejarah sebagai salah satu sumber epistemologi, apakah sejarah dijadikan sebagai sumber luar atau sebagai sumber dalam.

Muthahhari memaparkan sedemikian rupa tentang alam sebagai salah satu sumber epistemologi. Maksud dari alam di sini adalah alam materi, alam ruang dan waktu, alam gerakan, atau alam tempat manusia hidup. Agar manusia tersebut memperoleh pengetahuan dari alam, maka manusia harus mengaktualisasikan semua inderanya.[69] Keabsahan alam sebagai salah satu sumber epistemologi dalam Islam banyak dinyatakan oleh al-Quran. Al-Quran sering menyeru manusia agar mereka merenungkan alam materi seperti langit dan bumi. Muthahhari mengutip Q.S. Yunus ayat 101[70] guna mendukung pandangannya tersebut. Katakanlah:: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Sumber epistemologi selain alam, bagi Muthahhari adalah rasio. Baginya, rasio dikenal sebagai sumber dalam bagi epistemologi. Rasio ini diyakini dapat melahirkan ilmu pengetahuan. Sumber ini hanya akan menghasilkan pengetahuan jika manusia menggunakan alat silogisme dan demonstrasi. Jika ini tidak dilakukan, maka manusia itu tidak akan dapat memperoleh pengetahuan.[71]

Menurut penelitian Muthahhari sendiri, bahwa rasio sangat niscaya dikatakan sebagai salah satu sumber epistemologi yang mendapatkan legitimasi dari al-Quran. Ia menyatakan bahwa al-Quran sendiri mempercayai keandalan akal sebagai sumber memperoleh ilmu pengetahuan dan kebenaran-kebenaran yang diperoleh akal tersebut. Bahkan argumen-argumen ak-Quran didasarkan pula kepada akal dan kebenaran-kebenaran seperti itu. Muthahhari mengutip sejumlah ayat dari al-Quran al-Karim guna mendukung pandangannya tersebut. “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”(Q.S. Al-Anbiya’: 22). “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” (Q.S. Al-Mukminun: 91).

Sumber epistemologi ketiga menurut Muthahhari adalam hati. Menurutnya, melalui sumber ini, manusia pun akan mampu mendapat ilham dan wahyu dari Allah SWT. Keyakinan seorang Muslim bahwa hati sebagai salah satu sumber epistemologi dilatari oleh keyakinan Muslim tersebut terhadap keberadaan suatu alam di balik alam fisik ini, yang dikenal sebagai alam metafisik. Hal ini karena ilham sebagai bentuk pengetahuan dari sumber hati berasal dari alam non fisik ini. Agar seseorang dapat memperoleh pengetahuan dari sumber hati ini, maka manusia harus melakukan metode tazkiyatun nafs (penyucian hati). Beliau menulis: “Setiap manusia dapat menerima ilham sesuai dengan dedikasi tulusnya dan upayanya untuk menjaga kesucian dan aktifitas spiritual di pusat ini (hati). Wahyu para nabi merupakan bentuk pengetahuan seperti ini yang tingkatannya paling tinggi”.[72]

Sumber epistemologi yang terakhir menurut Muthahhari adalah sejarah. Menurutnya sejarah memiliki arti penting sebagai salah satu sumber epistemologi yang diakui keabsahaannya oleh al-Quran al-Karim. Dengan kata lain, Al-Quran membuktikan signifikansi dari sejarah sebagai sumber epistemologi. Jadi, selain alam, rasio, hati, al-Quran secara tegas mengakui sejarah sebagai sumber epistemologi. Hal ini dapat dilihat betapa al-Quran memerintahkan kepada manusia agar menjadikan sejarah sebagai bahan kajian. Muthahhari mengutip Q.S. al-An’am: 11 sebagai penyokong atas pandangannya tersebut “Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, Kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” Bagi tokoh ini, ayat ini secara jelas menyeru agar manusia memperhatikan berbagai peninggalan sejarah. Manusia harus memperhatikan perubahan sejarah yang terdapat dalam kehidupan dan sosial manusia.[73] Dengan memperhatikan sejarah, maka manusia akan menemukan berbagai perubahan sejarah yang terjadi pada berbagai masyarakat. Setelah itu, manusia akan menemukan bahwa sejarah itu sesungguhnya berisikan berbagai informasi dan pengetahuan sejak awal dunia hingga masa akhirnya.[74]

  1. 5. Alat Epistemologi

Pembahasan sumber epistemologi tidak lengkap tanpa mengkaji masalah alat epistemologi. Menurut Muthahhari bahwa agar keempat sumber epistemologi di atas, alam, rasio, hati, dan sejarah benar-benar menjadi sumber pengetahuan, maka seorang manusia harus memfungsikan alat-alat epistemologinya. Beliau menyatakan bahwa setidaknya ada empat macam sarana (alat) untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Keempat macam sarana ini dimiliki oleh setiap manusia dan diciptakan sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan. Keempat alat epistemologi dimaksud adalah indra (tajribah), argumentasi logika (burhan), penyucian hati (tazkiyatun nafs), [75] dan menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain[76]

Muthahhari mengungkapkan bahwa keempat alat epistemologi ini pun mendapatkan legitimasi dari al-Quran al-Karim. Beliau misalnya mengutip Q.S. An-Nahl: 78 untuk mendukung pendapatnya ini. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. Ayat ini baginya secara gamblang mengungkapkan bahwa indra, dan argumentasi logika sebagai alat epistemologi. Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika manusia masih berada di dalam kandungan, setiap manusia sama sekali tidak memiliki alat epistemologi. Barulah ketika manusia lahir di alam dunia, Allah menganugrahkan telinga dan mata, dua dari lima indera manusia. Tiga indra lainnya memang tidak disebutkan di dalam ayat ini, karena bagi Muthahhari indra telinga dan mata ini memiliki pengaruh lebih besar dalam epistemologi bila dibandingkan dengan ketiga indera lainnya. Teliga dan mata diketahui memiliki kemampuan lebih besar untuk menghasilkan pengetahuan. Sementara meskipun indra peraba, perasa, dan penciuman memiliki pula kemampuan menghasilkan pengetahuan, namun hanya pada wilayah yang sempit. [77]

Selanjutnya Muthahhari memaparkan bahwa al-Quran memang merasa indra tidak cukup menjadikan indra sebagai satu-satunya alat memperoleh ilmu pengetahuan, sehingga al-Quran menyebutkan pula sesuatu yang disebut lub dan hijr, yakni pusat fikiran (rasio) sebagai alat memperoleh pengetahuan selain dari indra. Dalam Q.S. An-Nahl: 78 di atas, rasio disebut sebagai al-Afidah, yang dimaknai pula sebagai hati, dan/atau suatu kekuatan memilah (tajziyah) dan menyusun (tarkib), mengeneralkan (ta’mim), melepas (tajrid), [78] dan silogisme (burhan). [79] Kekuatan ini disebut kekuatan rasio, di mana ia sangat berperan bagi proses kelahiran ilmu pengetahuan.  Beliau menegaskan bahwa bukan rasio ini disebut sebagai alat epistemologi, sebab rasio ini, sebagaimana diungkap di atas, disebut sebagai salah satu sumber epistemologi, namun kekuatan rasio inilah yang diakui sebagai sarana (alat) untuk memperoleh pengetahuan.

Dalam Q.S. An-Nahl: 78 di atas disebutkan pula agar manusia mensyukuri atas segala anugerah dari Allah SWT tersebut. Mensyukuri anugrah Allah SWT dalam konteks ini dipahami sebagai usaha untuk menggunakan berbagai kenikmatan dari-Nya kepada sesuatu yang merupakan tujuan-Nya dalam menciptakan kenikmatan tersebut. Sebagaimana diungkap dalam ayat ini, indra, argumentasi logika, dan penyucian jiwa dinyatakan sebagai salah satu nikmat dari Allah SWT, karena itu, manusia harus mensyukurinya dengan menggunakan ketiganya sesuai jalur masing-masing. Manusia mensyukuri nikmat mata dengan cara memperhatikan dan mengkaji alam, mensyukuri telinga dengan mendengarkan kebaikan, dan mensyukuri nikmat rasio dengan cara berfikir, merenung, memilah, menyusun, mengeneralkan, dan melepas. [80]

Selain indra dan argumentasi logika, Muthahhari pun berupaya membuktikan secara naqliyah bahwa penyucian jiwa diakui al-Quran sebagai alat pengetahuan. Ia meyakini bahwa ketaqwaan dan penyucian jiwa sebagai salah satu sarana guna meraih ilmu pengetahuan selain indra dan argumentasi logika. Guna mendukung pendapatnya ini, Muthahhari banyak mengutip sejumlah ayat al-Quran, misalnya Q.S. Asy-Syams: 7-9,[81]Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Baginya ayat ini telah cukup jelas membuktikan penyucian sebagai salah satu alat memperoleh ilmu pengetahuan.

Muthahhari tidak memungkuri para filsuf memiliki perbedaan pandangan dalam hal pengakuan legalitas alat-alat epistemologi di atas. Sebagian filsuf hanya mengakui indra sebagai alat epistemologi sembari menolak alat-alat epistemologi lainnya. Sebaliknya sebagian lainnya hanya menerima argumentasi logika dan/atau sebagai satu-satunya alat epistemologi sembari menolak kedudukan alat epistemologi lainnya. Akan tetapi Muthahhari sendiri menegaskan bahwa dirinya dan banyak filsuf Islam lainnya meyakini bahwa indra, argumentasi logika, dan penyucian jiwa sebagai alat epistemologi. Al-Quran al-Karim sendiri, sebagaimana disebut di atas, mendukung konsep ini. [82]

Muthahhari pun menempatkan ‘menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain sebagai sarana (alat) keempat guna meraih ilmu pengetahuan. Muthahhari menulis bahwa “sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah…telaah atas karya-karya ilmiah orang lain. [83] Sarana ini pun diakui oleh al-Quran al-Karim sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-Alaq: 1-5, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahapemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Kendati alat-alat epistemologi di atas diakui keabsahannya, namun kesemua alat epistemologi tersebut memiliki wilayah (objek) kajian yang berbeda-beda. Manusia tidak boleh mencampuradukkannya satu sama lain.[84] Misalnya, wilayah kajian indra, sebagai salah satu alat epistemologi, hanyalah alam fisik semata. Sementara argumentasi logika sebagai alat epistemologi wilayah kajiannya adalah alam non materi (rasional), dan penyucian jiwa sebagai salah satu dari alat epistemologi hanya menjadikan hati sebagai objek kajiannya. [85]

  1. 6. Pendalaman Kajian

Bardasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada empat sumber pengetahuan yakni alam, rasio, hati, dan sejarah. Sementara sarana (alat) untuk meraih ilmu pengetahuan ada empat pula yakni indra, silogisme, penyucian jiwa, dan menelaah karya-karya ilmiah orang lain.

Muthahhari menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara sumber pengetahuan dengan sarana meraih pengetahuan tersebut. Alam sebagai sumber pengetahuan sementara alat bagi sumber ini adalah indra. Rasio sebagai sumber pengetahuan, sementara alat bagi sumber ini adalah silogisme. Sementara hati sebagai sumber pengetahuan, sedangkan penyucian jiwa sebagai alat bagi sumber ini. [86] Sedangkan menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain tersebut menjadi alat epistemologi bagi sejarah, sebagai salah satu sumber epistemologi. [87] Baginya, fungsionalisasi alat epistemologi tersebut terhadap sumber epistemologi akan menghasilkan pengetahuan.

Secara lebih jelas, Muthahhari menjelaskan bahwa manusia bisa memperoleh pengetahuan dengan memfungsikan indranya. Indra manusia itu seperti penglihatan, pendengaran, peraba, pencium, dan perasa. Sebagai salah satu alat guna memperoleh pengetahuan, manusia harus menjaga indranya itu sebaik-baiknya. Sebab jika manusia tersebut kehilangan salah satu indra itu, maka itu akan membuat manusia itu akan kehilangan satu pengetahuan. Jika manusia kehilangan seluruh indranya tersebut, maka manusia akan kehilangan banyak pengetahuan tentang dunia fisik. [88]

Selanjutnya manusia akan memperoleh pengetahuan, jika ia mengaktualisasikan rasionya. Rasio manusia ini memiliki sejumlah kemampuan seperti mengeneralkan (ta’mim), memilah dan mengurai (tajziyah dan tahlil), menyusun (tarkib), melepas (tajrid), berargumentasi (burhan), dan mencabut (intiza’). [89] Seluruh kemampuan ini adalah kemampuan rasio manusia, dan rasio manusia sering mempraktikkan kemampuannya tersebut. [90] Karena rasio manusia memiliki pelbagai kemampuan tersebut, maka rasio manusia memiliki kemampuan berfikir dan mengetahui. Seandainya rasio tidak memiliki pelbagai kemampuan tersebut, maka rasio manusia tidak akan mungkin memiliki kemampuan berfikir, apalagi mengetahui sesuatu. [91]

Selain menggunakan indra dan rasio, Muthahhari menyatakan pula bahwa manusia akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan jika manusia tersebut melakukan penyucian jiwa/hatinya. Dengan praktik ini, manusia akan memperoleh pengetahuan berupa ilham. Bahkan para nabi, karena hati mereka telah disucikan, memperoleh pengetahuan wahyu, sebagai bentuk ilham tertinggi. [92] Melalui metode ini pula, Muthahhari meyakini bahwa manusia akan mampu memperoleh ilmu tentang hakikat dirinya. Allah SWT bahkan akan memberikan cahaya-Nya kepada hati manusia yang telah suci tersebut. Dia akan selalu memberikan bimbingan melalui jalan gaib, dan pada akhirnya manusia itu akan diberikan oleh-Nya pengetahuan tentang berbagai hakikat kehidupan. Allah SWT pun senantiasa akan membuka tirai kegelapan di mata dan pikiran manusia yang telah mensucikan jiwanya tersebut. [93]

Sebagai penutup, manusia pun akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan ketika manusia itu mengkaji sejarah. Ini dapat dilakukan dengan menelaah pelbagai karya ilmiah orang lain dan berbagai catatan dari umat terdahulu. Apabila manusia senantiasa mempelajari dan membaca kitab-kitab sejarah, maka manusia itu akan memperoleh pengetahuan.[94] Dengan menelaah sejarah melalui kajian secara mendalam atas kitab-kitab umat terdahulu, maka manusia akan dapat menemukan betapa sejarah menjelaskan perubahan hukum-hukum yang berlaku pada suatu masyarakat. [95] Dengan metode ini, manusia pun akan memperoleh pengetahuan tentang segala peristiwa pelbagai kehidupan, baik peristiwa awal penciptaan alam, bahkan peristiwa akhir penciptaan. [96] Setelah manusia memperoleh ilmu pengetahuan itu maka pada akhirnya manusia akan memperoleh pelajaran berharga dari umat terdahulu. Hal ini karena sejarah memang mengandung banyak pelajaran. [97]

  1. 7. Karakteristik Pengetahuan Indrawi dan Rasional

Uraian di atas menyimpulkan bahwa ketika seorang manusia mengaktualisasikan indranya, dan digunakan sebagai alat menelaah alam fisik, maka manusia tersebut akan memperoleh pengetahuan. Pengetahuan ini disebut sebagai epistemologi (pengetahuan) indrawi. Muthahhari menyebut jenis epistemologi (pengetahuan) ini sebagai epistemologi lahiriah, epistemologi dangkal, dan epistemologi tidak mendalam. [98]

Muthahhari menjelaskan bahwa pengetahuan indrawi ini dimiliki oleh manusia dan binatang. Misalnya manusia dan binatang ini memiliki kemampuan melihat angkasa, mendengar suara, mencium batu, dan sebagainya. Kendati begitu, kadang-kadang pengetahuan indrawi dan manusia memiliki kelemahan dan kelebihan. Misalnya manusia memiliki kemampuan melihat dan membedakan warna, sedangkan binatang tidak memiliki kemampuan tersebut. Dalam sudut pandang lain, malah terkadang binatang memiliki kemampuan melihat, mendengar, dan mencium sesuatu yang tidak mampu dilihat, didengar, dan dicium oleh manusia. Terkadang indra manusia lebih peka dari pada indra binatang. Sebaliknya, terkadang indra binatang lebih peka dari pada indra manusia. Namun demikian, manusia dan binatang sama sama memiliki kemampuan memperoleh pengetahuan indrawi meski tingkat kemampuan masing-masing terbatas dan relatif. Tingkat ilmu pengetahuan indrawi mereka berbeda-beda. [99]

Secara umum, Muthahhari menyebutkan empat karakteristik pengetahuan indrawi ini, yakni sebagai berikut:

  1. Epistemologi indrawi ini bersifat partikular (juz’i), dalam arti pengetahuan ini berbentuk satu-satu dan individu. Misalnya seorang manusia hanya mampu melihat dengan matanya berbagai individu seperti ayat, ibu, kakak, adik, dan lainnya. Namun pengetahuan ini hanya tergambar dan terbayang di benak manusia dalam bentuk partikular. Mata manusia tidak memiliki suatu pemahaman universal tentang sesuatu yang dilihatnya. Dengan kata lain, sifat epistemologi indrawi ini adalah perorangan, satu persatu, dan berhubungan dengan tiap-tiap sesuatu. [100]
  2. Pengetahuan indrawi ini bersifat lahiriah sehingga pengetahuan ini hanya menyaksikan segala sesuatu yang sifatnya lahiriah. Pengetahuannya pun tidak mendalam sehingga tidak mengetahui esensi segala benda. Pengetahuan jenis ini tidak memahami pula hubungan sebab-akibat, apalagi mengetahui keharusan antara sebab dengan akibat, yakni ketika sebab telah sempurna, maka pasti akan muncul akibat. Pendeknya, bahwa pengetahuan indrawi bersifat lahiriah sehingga pengetahuan ini tidak mengetahui hubungan batiniah, esensi dan substansi berbagai benda yang ada. [101]
  3. Pengetahuan indrawi ini bersifat masa sekarang. Ini karena indra tidak mampu melihat, mendengar, dan merasakan masa lalu dan masa depan. Jadi, pengetahuan indrawi ini hanya berhubungan dengan masa sekarang, dan tidak mampu berhubungan dengan masa lalu dan masa sekarang. [102]
  4. Pengetahuan indrawi hanya berhubungan dengan tempat tertentu. Pengetahuan ini hanya terbatas pada kawasan tertentu. Ini karena indra manusia tidak bisa melihat, mendengar, dan merasakan suatu tempat yang lain selain tempat manusia itu sendiri berada. Jika manusia itu berada pada suatu tempat, maka manusia itu hanya bisa melihat, mendengar, dan merasakan tempat itu saja, sedangkan pada saat yang sama, manusia itu tidak akan pernah mampu mengetahui tempat lainnya. [103]

Di pihak lain, Muthahhari mengemukakan bahwa tatkala manusia mendayagunakan kemampuan dan kekuatan rasionya dengan melakukan silogisme, maka manusia itu pun akan bisa memperoleh ilmu pengetahuan. Pengetahuan rasio ini disebut sebagai epistemologi mendalam (umqi). Pengetahuan ini memiliki karakteristik khas, yakni sebagai berikut:

  1. Pengetahuan rasional bersifat universal.
  2. Pengetahuan rasional ini bersifat tidak lahiriah sehingga mampu melihat hubungan sebab dan akibat serta mampu memahami esensi dan substansi sesuatu.
  3. Pengetahuan rasional ini tidak terikat ruang dan waktu, sehingga manusia dapat mengetahui segala peristiwa, baik di masa lalu, masa sekarang, dan masa lalu, maupun di peristiwa di berbaga tempat. [104]

Penutup

Muthahhari dapat dikatakan sebagai salah satu tokoh yang banyak mengulas masalah epistemologi ini. Hal ini dapat dilihat secara jelas di berbagai karyanya. Kendati begitu, semua konsep epistemologi Murtadha Muthahhari tidak dibahas oleh tulisan sederhana ini. Karena bersifat pengantar, maka tulisan ini tidak mengelaborasi pandangan tokoh ini tentang hal tersebut. Walhasil, barangkali para peneliti lain diharapkan dapat mengkaji pemikiran filsuf asal negeri Mullah ini tentang epistemologi Islam. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Daftar Kepustakaan

Algar, Hamid,Hidup dan Karya Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2002.

Bagir, Haidar,Suatu Pengantar Kepada Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2002.

_____, Murtadha Muthahhari; Sang Mujahid, Sang Mujtahid, Bandung: Yayasan Muthahhari, 1988.

Bagus, Loren, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996.

Beik, Abdullah, “Murtadha Muthahhari; Muslim dalam Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq”, dalam majalah Al-Isyraq No.4/Th.I, Jumadhil Akhir-Rajab, 1417 H

Harahap, Syahrin, Metodologi Studi Tokoh Pemikiran Islam, Jakarta: Istiqamah Mulya Press, 2006.

Hartoko, Dick, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Rajawali, 1986.

Hartono, Rudhy,Ilmu dan Epistemologi”, dalam Jurnal Al-Huda, Vol. III. No. 9, 2003,

Ja’far, Muhammad, “Pandangan Muthahhari Tentang Agama, Sejarah, Al Quran dan Muhammad”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.11. 2005.

Kartanegara, Mulyadhi, Nalar Religius; Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia, Jakarta: Erlangga, 2007.

Labib, Muhsin, Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Jakarta: Lentera, 2005.

____,Hawzah Ilmiyah Qom; Ladang Peternakan Filosof Muslim Benua Lain”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.9. 2003,

Muthahhari, Murtadha, Mutiara Wahyu, Terj. Syekh Ali al-Hamid, Bogor: Cahaya, 2004.

_____, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam Tentang Jagat Raya, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2002.

_____, Mengenal Epistemologi: Sebuah Pembuktian Terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, terj. M.J. Bafaqih, Jakarta: Lentera, 2001.

_____, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Pertama, Terj. Ahmad Subandi, Jakarta: Lentera, 1999.

_____, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Kedua, Terj.  Ahmad Subandi, Jakarta: Lentera, 2000

_____, Kenabian Terakhir, Terj. Muhammad Jawad Bafaqih, Jakarta: Lentera, 2001.

_____, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein Al-Habsy, dkk, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.

Nasution, Harun, Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

Nasr, Seyyed Hossein, “Pengantar”, dalam Muhammad Husein Thabathaba’i, Hikmah Islam, Terj. Husein Anis Al-Habsy, Bandung: Mizan, 1993.

Rakhmat, Jalaluddin, “Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama”, dalam Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir, Bandung: Mizan, 1995.

Rastan, Sastan,Syahid Murtadha Muthahhari; Pembangkit Kebangunan Intelektual Islam”, dalam majalah Yaum Al-Quds, No. 9, Ramadhan 1403 H,

Pustaka Zahra, “Biografi Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein al Habsyi, dkk, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.

Penerbit Marja,Tentang Penulis”, dalam Murtadha Muthahhari, ‘Ali Bin Abi Thalib; Kekuatan dan Kesempurnaannya, Terj. Zulfikar Ali, Bandung: Penerbit Marja, 2005.

Runes, Bagobert D, Dictionary of Philosophy, Tottawa New Jersey: Adam’s & Co, 1971.


[1] Para penulis biografi Muthahhari tampak berbeda pendapat dalam menentukan tahun-tahun kelahirannya. Sebagian pendapat menyatakan Muthahhari lahir tahun 1920, sedangkan sebagian lainnya menyatakan beliau lahir tahun 1919. Hanya saja mereka sepakat tokoh ini lahir pada tanggal 2 Februari. Beberapa penulis seperti Muhsin Labib, Haidar Bagir, Hamid Algar dan Mulyadhi Kartanegara terlihat sepakat dengan pendapat pertama. Sedangkan Jalaluddin Rakhmat, dan Sastan Rastan tampak sepakat dengan pendapat kedua. Dalam kelender Hijriah, Abdullah Beik menyatakan  beliau lahir pada tanggal 13 Jumadil Ula 1338 H. Lihat; Muhsin Labib, Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, (Jakarta: Lentera, 2005) hlm. 278; Lihat juga Haidar Bagir,Suatu Pengantar Kepada Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2002), hlm 9; Hamid  Algar,Hidup dan Karya Murtadha Muthahhari” dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2002), hlm 23; Jalaluddin Rakhmat,Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama” dalam Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1995), hlm 7; Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari; Pembangkit Kebangunan Intelektual Islam”, dalam majalah Yaum Al-Quds, No. 9, Ramadhan 1403 H, hlm. 7; Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari; Muslim dalam Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq”, dalam majalah Al-Isyraq No.4/Th.I, Jumadhil Akhir-Rajab, 1417 H; dan, Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius; Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 90.

[2] Pustaka Zahra, “Biografi Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein al Habsyi, dkk (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003).

[3] Penerbit Marja,Tentang Penulis”, dalam Murtadha Muthahhari, ‘Ali Bin Abi Thalib; Kekuatan dan Kesempurnaannya, Terj. Zulfikar Ali, (Bandung: Penerbit Marja, 2005), hlm. 5.

[4] Hawzah di negeri Iran adalah sebuah lembaga pendidikan Islam Syi’ah yang berfungsi sebagai lembaga pengkaderan ‘ulama Syi’ah masa depan. Di dalamnya diajarkan berbagai disiplin ilmu Islam seperti fiqih, ushul fiqh, tafsir, hadits, filsafat, dan lainnya. Institusi Hawzah telah berhasil dalam melahirkan banyak Mujtahid Syi’ah sepanjang masa, tidak hanya dalam bidang hukum Islam, tetapi juga dalam bidang filsafat dan ‘irfan. Di negeri Indonesia, lembaga ini dapat diumpamakan semacam pondok pesantren.

[5] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 29.

[6] Labib, Filosof, hlm. 278.

[7] Labib, Filosof, hlm. 278-279.

[8] Labib, Filosof, hlm. 279.

[9] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm 91.

[10] Seyyed Hossein Nasr, “Pengantar”, dalam Muhammad Husein Thabathaba’i, Hikmah Islam, Terj. Husein Anis Al-Habsy, (Bandung: Mizan, 1993) hlm. 7.

[11] Murtadha Muthahhari, Mutiara Wahyu, Terj. Syekh Ali al-Hamid, (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 156.

[12] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm. 91-92.

[13] Labib, Filosof, hlm. 279.

[14] Gelar ini adalah gelar keagamaan dalam tradisi Islam Syi’ah yang menandakan bahwa seorang Thalabeh (pelajar) di sebuah Hawzah telah mencapai predikat Mujtahid Muthlaq sehingga berhak untuk berijtihad secara individual.

[15] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 29.

[16] Muthahhari, Mutiara Wahyu, hlm. 156.

[17] Muthahhari, Mutiara Wahyu, hlm. 155-156.

[18] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 28

[19] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31.

[20] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 30.

[21] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31.

[22] Penerbit Zahra, “Biografi Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. xxi.

[23] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 30.

[24] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm. 92; Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31-32.

[25] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 30.

[26] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[27] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[28] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[29] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[30] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[31] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[32] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[33] Algar,Hidup dan Karya”, h 41.

[34] Jalaluddin Rakhmat,Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama”, dalam, Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1995), h 7.

[35] Murtadha Muthahhari, Mutiara Wahyu, Terj. Ali Ahmad, (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 160.

[36] Rakhmat,Murtadha Muthahhari”, hlm. 8.

[37] Lihat, Haidar Bagir, Murtadha Muthahhari; Sang Mujahid, Sang Mujtahid, (Bandung: Yayasan Muthahhari, 1988), hlm 83-86.

[38] Syahrin Harahap, Metodologi Studi Tokoh Pemikiran Islam, (Jakarta: Istiqamah Mulya Press, 2006), hlm. 38.

[39] Beberapa akademi itu antara lain; Pertama, Rasionalisme-Tekstualisme. Ini merupakan salah satu aliran dalam mazhab Qom yang menjadikan rasio sebagai landasan lalu mengaitkannya dengan teks-teks agama sebagai pembenarnya. Kedua, Tekstualisme-Rasionalisme. Ini adalah aliran yang menjadikan teks-teks agama sebagai postulat dan menjadikan rasio sebagai alat pembenarnya. Ketiga Tekstualisme-Rasionalisme-Teosofisme. Ini merupakan sebuah aliran yang menggabungkan rasio, teks-teks agama dan ‘irfan. Keempat, Teosofisme. Ini adalah aliran yang mengutamakan ‘irfan atau emosi dalam memahami realitas. Kelima, Rasionalisme-Modernisme. Ini adalah aliran yang menggunakan rasional dan pengetahuan modern. Keenam, Neo-Parapatetisme. Ini adalah aliran yang tidak sepenuhnya mendukung pandangan Ibn Sina, namun secara metodologis hampir mirip dengan pandangan Ibn Sina, karena banyak mengandalkan deduksi dalam telaahannya.

Secara umum, akibat dinamika pemikiran filsafat terus berlangsung, Mazhab Qom berkembang dan terbagi dalam beberapa sub-mazhab dan kelompok. Pertama, sekelompok filosof yang berperan sebagai advokat atau mediator murni filsafat Mulla Shadra tanpa melakukan penambahan apapun di dalamnya apalagi kritik, seperti Hasan Zadeh Amuli. Kedua, sekelompok filosof, seperti Jawadi Amoli, yang hanya mengkritisi sebagian argumen Mulla Shadra atau sistematika bukunya menyangkut pola pembagian dan pengurutan sub-tema. Ketiga, para filsosof yang melakukan kritik dan berusaha mengubah sebagian struktur bangungan filsafat dengan menawarkan sistematika baru dalam penyajian dan pengajaran filsafat, seperti Muhammad Taqi Mizbah Yazdi. Meskipun demikian, ketiga kelompok ini menyepakati tema-tema yang merupakan prinsip Mazhab Qum. Lihat, Muhsin Labib,Hawzah Ilmiyah Qom; Ladang Peternakan Filosof Muslim Benua Lain”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.9. 2003, hlm. 162-163.

[40] Labib, “Hawzah Ilmiyah Qom”, hlm. 162.

[41] Muhammad Ja’far, “Pandangan Muthahhari Tentang Agama, Sejarah, Al Quran dan Muhammad”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.11. 2005. hlm. 96.

[42] Bagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy, (Tottawa New Jersey: Adam’s & Co, 1971), hlm. 94; Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 10; Loren Bagus, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 212; dan Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: Rajawali, 1986), hlm. 22.

[43] Murtadha Muthahhari, Mengenal Epistemologi: Sebuah Pembuktian Terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, terj. M.J. Bafaqih, (Jakarta: Lentera, 2001), hlm. 11-15.

[44] Ibid, hlm. 16-17.

[45] Ibid, hlm. 17.

[46] Ibid, hlm. 49.

[47] Ibid, hlm. 39.

[48] Ibid, hlm. 21.

[49] Ibid, hlm. 30.

[50] Ibid, hlm. 31.

[51] Ibid, hlm. 42.

[52] Ibid, hlm. 41-42.

[53] Ibid, hlm. 34-39.

[54] Ibid, hlm. 39-40.

[55] Murtadha Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam Tentang Jagat Raya, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Lentera, 2002), hlm. 183.

[56] Murtadha Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Kedua, terjemahan Ahmad Subandi, (Jakarta: Lentera, 2000), hlm. 273, 269.

[57] Murtadha Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Pertama, terjemahan Ahmad Subandi, (Jakarta: Lentera, 1999), hlm. 177.

[58] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 267.

[59] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 268.

[60] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 271.

[61] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 271-272.

[62] Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein Al-Habsy, dkk, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hlm. 4.

[63] Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, hlm. 1-2.

[64] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, hlm. 273-274.

[65] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 273-274.

[66] Rudhy Hartono, Ilmu dan Epistemologi, dalam Jurnal Al-Huda, Vol. III. No. 9, 2003, hlm. 1.

[67] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183.

[68] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 86.

[69] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 81-82.

[70] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183.

[71] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 86-87.

[72] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 184.

[73] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 103-104.

[74] Ibid, hlm. 106.

[75] Ibid, hlm. 87.

[76] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 184.

[77] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 58-60.

[78] Ibid, hlm. 61

[79] Ibid, hlm. 87.

[80] Ibid, hlm. 64.

[81] Muthahhari, Manusia dan  Alam Semesta, hlm. 186.

[82] Ibid, hlm. 71.

[83] Ibid, hlm. 184.

[84] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 87.

[85] Ibid, hlm. 87.

[86] Ibid, hlm. 87.

[87] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183-186.

[88] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 51.

[89] Ibid, hlm. 53-55. Lihat pula foot note no. 10.

[90] Ibid, hlm. 87.

[91] Ibid, hlm. 56.

[92] Ibid, hlm. 86.

[93] Ibid, hlm. 73.

[94] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 73.

[95] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 73.

[96] Ibid, hlm. 106.

[97] Ibid, hlm. 108.

[98] Ibid, hlm. 131.

[99] Ibid, hlm. 130-131.

[100] Ibid, hlm. 131-132.

[101] Ibid, hlm. 132.

[102] Ibid, hlm. 133.

[103] Ibid, hlm. 133.

[104] Ibid, hlm. 133-143.

Kemajuan Sains dan Teknologi Iran Di Tengah berbagai Kecaman AS

Saya termasuk salah satu orang yang senang sekali mengetahui perkembangan sosial,budaya, politik, dan kecanggihan sains dan teknologi dari negara tetangga. Salah satunya perkembangan negara Iran. Iran merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang saat ini sedang mendapat kecaman dari AS atas produksi nuklirnya yang di klaim membahayakan umat manusia. Padahal Iran sudah berkali-kali mengatakan bahwa Iran memproduksi Nuklir untuk tujuan damai dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, bukan untuk digunakan memproduksi senjata pemusnah massal. Namun AS sepertinya tidak ingin disaingi oleh negara Iran yang perkembangan teknologinya yang semakin canggih. Iran menurut saya cukup cerdik dia membangun basis pengembangan nuklirnya di bawah tanah yaitu sekitar 75 kaki dari permukaan tanah dan tentu saja sulit di hancurkan oleh AS karena keberadaannya berada di pusat padat penduduk. Pabrik utama nuklir ini terletak dekat Natanz, 350 km dari selatan Teheran. Pabrik ini mengerjakan pembuatan mesin-mesin sentrifugal (putaran) dan menampung 50.000 mesin sentrifugal, disamping laboratorium. Iran memang benar-benar mempersiapkan ini semua. Iran meminta Rusia dalam merancang fasilitas sejenis yang digunakan sebagai bunker/tempat persembunyian bagi prajurit dan militer untuk menyelamatkan diri. Bunker ini mirip dengan bunker di Virginia dan Pensylvania yang didesain untuk melindungi para pemimpin AS (p.256-257)
.
Iran yang keras dalam mempertahankan keinginannya untuk memproduksi Nuklir ini harus mendapatkan konsekuensi yang menurut saya sangat berat. Akibat yang harus diterima oleh Iran adalah Iran harus menanggung embargo ekonomi dari banyak negara. Iran sudah kenyang dengan berbagai sanksi, sudah 28 tahun Iran mengalami sanksi itu, misalnya saja pada tahun 1995 Persiden AS Bill Clinton melakukan embargo total pada Iran, lalu mengeluarkan UU D’Amato yang melarang perusahaan-perusahaan asing untuk menanamkan modalnya di sektor perminyakan Iran lebih dari US$40 juta per tahun, tapi Iran mampu melewati kesulitan itu dan tetap dapat survive, karena ternyata tidak ada negara yang benar-benar mematuhi peraturan untuk tidak bekerja sama dengan Iran, karena mereka butuh pada Miyak Iran, seperti Inggris dan Prancis yang merupakan sekutu AS. Negara ini tetap menanamkan modalnya yang besar pada bidang energi Iran. Sanksi lainnya yaitu dilakukan oleh Dewan Keamanan (DK) PBB. DK PBB melarang pejabat dan pengusaha individu melakukan kunjungan ke Iran, jika melanggar maka akan dibekukan asetnya karena akan dianggap terlibat dalam program nuklir Iran. Selain itu sanksi lainnya adalah pembatasan negara dan lembaga keuangan internasional yang akan membuat komitmen untuk melakukan hibah, bantuan keuangan. Hal itu akan menghambat laju perekonomian Iran (p.323-325)
.
Seperti yang kita tahu bila orang dihadapkan berbagai kesulitan, maka biasanya orang akan cenderung kreatif untuk mencari peluang-peluang atau mencari solusi-solusi yang memungkinkan untuk terlepas dari problem yang membelit negara ini. Iran menjadi negara yang mandiri. Dulu Iran mengimpor gandum, sekarang menjadi negara pengekspor gandum, kemudian di bidang kemiliteran Iran mengembangkan senjata baru yang hebat, misalnya mampu mengembangkan rudal Shihab-1 yang mempunyai daya jelajah antara 300-500 km yaitu Shihab 1. Shihab 1 ini merupakan teknologi yang ditiru atau dicangkok Iran dari Rudal Scud-B Rusia yang berdaya jelajah 300 km dan Shihab 2 yang merupakan hasil dari meniru teknologi rudal rusia yaitu Scud-C. Negara ini mampu mencangkok atau meniru serta mengembangkannya lebih lanjut dari senjata rudal milik rusia yang sebelumnya digunakan oleh Iran. Selain itu juga Iran juga mengembangkan kemampuan militer yang mampu menangkis dan menghantam target AS di kawasan Teluk dan Irak yaitu Shihab 3 yang dapat membawa 3 hulu ledak perang sekaligus. Kemudian dibidang telekomunikasi Iran berhasil meluncurkan satelit ke luar angkasa. selain itu bidang lainnya Iran mampu mengkloning dan membuat mesin mobil sendiri. Iran termasuk negara yang berhasil membangun nuklir sampai berkembang dengan cukup berhasil (p.323-325)
.

Hal ini terjadi karena Presiden Iran saat ini yaitu Ahmadinejad bertekad bahwa dalam memajukan ekonomi iran, maka harus dilakukan peningkatan kemampuan penguasaan sains dan teknologi atau ilmu pengetahuan untuk menggerakkan ekonomi Iran. Seperti yang kita tahu bahwa Iran ratusan tahun lalu merupakan pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, filsafat, kedokteran, dan ilmu astronomi, disaat negara eropa berada di dalam kegelapan. Menurut sumber lain, jumlah ilmuwan dan teknokrat yang bergerak dibidang penelitian dan pengembangan pada tahun 1987-1997 perbandingannya adalah 560 orang untuk tiap 1 juta Penduduk Iran. Jumlah ini tentunya sangat memadai untuk pengembangan teknologi di bidang militer. Kita juga dapat belajar dari Iran bahwa saat ini dibutuhkan kebijakan pemerintah yang berpihak pada kepentingan ilmu pengetahuan dan sains dan teknologi. Selama ini anggaran untuk riset dan teknologi selalu dipangkas untuk kepentingan lainnya.

Ekonomi Muqawama: Pertumbuhan Sains dan Teknologi Iran

Sabtu, 2012 Desember 29 13:43

Gelombang deras tekanan sanksi Barat terhadap Republik Islam selama lebih dari tiga dekade gagal melumpuhkan Iran. Bahkan kian hari Iran justru menampilkan berbagai prestasi, termasuk di bidang sains dan teknologi. Betapa tidak, pada 2010, untuk pertama kalinya Iran menguasai hampir satu persen perkembangan sains dunia. Tentu saja merupakan angka yang tidak kecil di kalangan negara-negara sedang berkembang. Data statistik dari berbagai pusat keilmuan dunia menunjukkan bahwa produksi ilmu pengetahuan di Iran pada tahun 2005 sebesar 0,3 persen dari perkembangan ilmu dunia. Kemudian melonjak menjadi 0,8 persen pada tahun 2010. Meski demikian, Iran akan terus meningkatkannya hingga menembus angka 2 persen hingga akhir tahun 2015 berdasarkan proyeksi pembangunan sains dan teknologi 20 tahun.

Produksi ilmu pengetahuan di Iran sejak tahun 1990 hingga 2000 rata-rata berkisar 23 persen. Pada tahun 2000 hingga 2010 naik menjadi 32 persen. Berdasarkan proyeksi 20 tahun, rata-rata pertumbuhan ilmu pengetahuan di Iran sebesar 26 persen. Kini, berdasarkan laporan terbaru lembaga internasional, pertumbuhan produksi ilmu pengetahuan di Iran setara dengan 13 persen pertumbuhan dunia. Berdasarkan laporan Information Sciences Institute (ISI), peneliti Iran memproduksi karya ilmiah sebesar 20.228 pada tahun 2009. Posisi Iran di bidang ini naik dua tingkat dari tahun 2008. Iran berada di urutan 22 dari 55 negara yang berada di garda depan produksi ilmu pengetahuan. Pertumbuhan pesat ini disertai perbaikan kualitas di tahun 2010. Fenomena ini menunjukkan konsistensi pertumbuhan ilmu pengetahuan di Iran.

Keberhasilan akademisi Iran dalam satu dekade terakhir menunjukkan mekarnya potensi ilmiah di negara ini. Para pengamat menilai berlanjutnya perkembangan ini bisa menyebabkan Iran menempati urutan pertama produksi ilmu pengetahuan di Timur Tengah. Terkait kemajuan ini, bidang medis dan farmasi Iran menyumbangkan kontribusi terbesar. Sebab rata-rata dalam setahun terakhir diproduksi sekitar 50 produk baru farmasi Iran yang dibuat putra bangsa. Salah satunya adalah obat antibiotik dan berbagai obat tertentu yang menjadi monopoli negara-negara maju selama bertahun-tahun lalu.

Dewasa ini, Iran juga berhasil memproduksi obat bioteknologi seperti Gamma interferon untuk mengobati penyakit infeksi yang berbahaya akibat terjadinya kerusakan sistem kekebalan tubuh. Produksi jenis obat seperti ini memerlukan keahlian dan fasilitas yang canggih. Menteri Kesehatan Republik Islam Iran, Marzieh Vahid Dastjer menyatakan, industri farmasi Iran bertekad untuk swasembada di bidang ini. Saat ini, 96 persen kebutuhan obat dalam negeri berhasil diproduksi anak bangsa. Sisanya, mengisi sekitar empat persen obat-obatan impor dilakukan dengan dukungan industri farmasi dalam negeri dengan  dukungan kementerian kesehatan dan pengobatan Iran.

Saat ini Iran memiliki pabrik farmasi dan memproduksi berbagai obat yang dibutuhkan dengan memanfaatkan potensi putra bangsa. Untuk itu, Iran memegang posisi penting di kawasan. Saat ini Iran bekerjasama dengan Turki, Kuba dan sejumlah perusahaan farmasi terkemuka dunia untuk memproduksi obat-obatan. Peresmian pabrik kapsul gelatin soft dengan menggunakan teknologi terbaru di dunia termasuk keberhasil Iran tahun lalu di tengah gencarnya sanksi internasional anti Iran yang tidak adil.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan riset sains dan teknologi nuklir, Iran dalam dua tahun terakhir meraih keberhasilan luar biasa di bidang produksi radio obat dan saat ini tengah merencanakan untuk memproduksi 20 jenis radio obat. Sekitar 120 pusat medis nuklir tengah aktif dan melakukan berbagai inovasi di bidang ini.
Iran berhasil memproduksi obat formula baru dengan menggunakan teknologi nuklir yang dimulai sejak akhir dekade 1990. Negara ini juga sedang memproduksi tujuh jenis obat sensitif. Di bidang produksi obat lain, Iran juga melakukan terobosan besar dalam beberapa tahun terakhir, dan menjadi produsen kedua di dunia yang memproduksi obat deferasirox dengan label merk Osveral. Obat ini digunakan untuk mengobati penyakit thalassemia. Selain itu, Iran juga berhasil memproduksi obat triptorelin yang masih diimpor negara ini selama bertahun-tahun. Kini, obat tersebut diproduksi dan dipasarkan secara massal di dalam negeri atas izin kementerian kesehatan Iran.

Tahun lalu, Iran juga berhasil menguasai bioteknologi farmasi dan membumikannya dengan memproduksi berbagai obat yang mampu bersaing dengan produk-produk dari Eropa. Keberhasilan tersebut merupakan terobosan besar Iran di bidang farmasi di Iran, sekaligus menunjukkan keberhasilan Tehran mematahkan monopoli yang dilakukan AS dan sejumlah negara Eropa dan Jepang di bidang produk bioteknologi.

Republik Islam Iran kembali menunjukkan kemampuannya di bidang medis dan farmasi dengan memproduksi secara massal paclitaxel, obat anti kanker. Paclitaxel adalah sejenis obat suntik untuk mengobati berbagai jenis kanker termasuk kanker payudara, rahim, paru-paru dan kulit. Saat ini jenis obat ini termasuk dalam list obat impor di Departemen Kesehatan Iran. Mengingat harganya yang mahal karena impor maka para pasien dan keluarganya kerap kesulitan untuk membelinya. Obat ini untuk pertama kalinya di produksi di Timur Tengah dan ditangani oleh Perusahaan Farmasi Sobhanoncology  milik Komite Eksekutif Instruktur Imam Khomeini. Perusahaan ini juga termasuk anak perusahaan al-Borz.

Selain itu, Iran berhasil memproduksi lebih dari 60 jenis bioteknologi di bidang vaksin di Institut Razi. Lembaga ini memiliki pengalaman lebih dari 80 tahun di bidang produksi vaksin dan obat yang merupakan lembaga riset terkemuka di Iran dan Timur Tengah.

Setiap tahunnya lebih dari 3,5 miliar unit medis olahan termasuk vaksin utama anti difteri, polio dan pertusis. Proyek lainnya adalah produksi vaksin influenza yang telah berhasil diujicoba di laboratorium. Diprediksi pada tahun baru yang tinggal satu setengah bulan lagi, Iran berhasil menguasai teknologi produksi vaksin influenza.

Kini Iran terus bergerak maju di bidang perkembangan sains dan teknologi. Di bidang farmasi dan medis, Iran bertekad menjadi produsen sains dan teknologi sekaligus menjadi poros keilmuan di kawasan Timur Tengah. Contoh riil dari berbagai kemajuan Iran adalah sains dan teknologi nuklir, nano teknologi, dan produksi sel punca serta kloning.

Irandalam beberapa tahun terakhir bertengger di urutan kelima dunia di bidang kloning domba setelah Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan Cina. Iran berhasil memproduksi sapi hasil kloning yang pertama kali di Timur Tengah dan termasuk segelintir negara yang menguasai teknologi kloning di dunia.

Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dari pengertian ini kita dapat menjabarkan bahwa dengan adanya globalisasi ini maka antar satu negara dengan negara yang lain menimbulkan kerja sama, interaksi melalui perdagangan, investasi, perjalanan ekonomi, budaya populer, dan lain-lain, yang akan mempengaruhi satu sama lain, dampak negatifnya situasi ini akan mengurangi rasa nasionalisme, peran negara dan batas-batas negara.

Namun tidak sesempit itu, banyak pandangan tentang globalisasi salah satunya, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diangkat oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Karena negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

Contoh-contoh pengaruh globalisasi pada berbagai bidang,

  1. Bidang ekonomi, aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa. pengaruh globalisasi pada aspek ini bisa terlihat dengan jelas, dimana hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti American Warteg, Coca Cola, Pizza Hut, Unilever, dll.) membanjir di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
  2. Bidang sosial, globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa. Namun dampak negatif pada bidang ini, mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

Dan masih banyak lagi, dengan demikian kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebagai penerus bangsa sudah seharusnya kita meningkatkan jiwa nasionalisme kita, dan belajar lebih giat untuk memajukan negara kita.

Saya menulis tulisan ini terinspirasi oleh sebuah film yaitu “THE SECRET”, disini saya akan mengungkapkan rahasia-rahasia kesuksesan yang di ungkap dalam film tersebut.

Tindakan – tindakan yang harus dilakukan:

  • Selalu berfikiran positif. Jika kita selalu berfikiran positif maka kita akan selalu mendapatkan hal-hal positif yang kita pikirkan.
  • Harus menjauhi fikiran-fikiran negatif. ketika kita tidak menyukai sesuatu dan menduga-duga hal tersebut akan menimpa kita, maka hal tersebut akan menimpa kita. Begitu juga ketika kita ingin meraih sesuatu lalu kita putus asa dan beranggapan kita tidak akan meraihnya, maka itu akan terjadi.
  • Lebih memerhatikan hal-hal yang kita inginkan, dan menjauhkan hal-hal yang tidak kita inginkan.
  • Catat semua keinginan, dan memberikan respon yang baik kepada keinginan tersebut. Jangan menduga-duga bahwa keinginan tersebut tidak akan tercapai, karena itu akan membuat keinginan tersebut tidak tercapai.
  • Gambarkanlah dan bayangkanlah hal-hal yang kamu inginkan agar menjadi kenyataan.
  • Mulailah menghargai hal-hal yang anda syukuri, jangan memikirkan kebencian kepada hal-hal yang tidak kamu miliki, dan jangan memikirkan masalah demi masalah karena itu akan memperbesar masalah.

Teori – teori tercapainya cita – cita tersebut:

- Dua perasaan :

  • Perasaan buruk. pada awalnya semua dari fikiran buruk, perasaan bersalah, marah, sedih, kemudian frustasi, semua terasa buruk. Dan semua perasaan tersebut menyatakan bahwa perasaan kita tidak sesuai dengan keinginan kita, itu yang disebut dengan frekwensi fikiran buruk.
  • Perasaan baik. Perasaan yang penuh harapan, kebahagiaan dan cinta. semua perasaan tersebut menyatakan bahwa perasaan kita sesuai dengan keinginan kita, itu yang disebut dengan frekwensi fikiran baik.

- The Point :

  • Ask. Meminta apa yang kita inginkan,fikirkan, kalau perlu kita catat semua.
  • Answer. Setelah meminta maka keinginan akan tercapai.
  • Receive. Menerima, kita hanya perlu membuat respon baik untuk menerimanya, bergairah, senang akan mendapatkannya. Hindari dugaan –dugaan buruk atau keputus asaan.

Kata – kata bijak:

  • Imajinasi adalah segalanya, imajinasi adalah gambaran pendahuluan dari peristiwa hidup yang akan menjadi kenyataan. -Albert Einstein-
  • Ambil langkah pertama dengan penuh keyakinan, anda tidak harus melihat anak tangga, cukup ambil langkah dianak tangga pertama. –Dr. Martin Luther King Ir-

Cerita – cerita kesuksesan orang – orang yang menerapkan rahasia ini:

  • David Schirmer, ketika setiap dia ingin memarkirkan mobilny dia selalu berfikir dan menbayangkan bahwa dia akan mendapatkan tempat yang ia inginkan, dan ternyata hal itu benar, dia selalu mendapatkan tempat parker yang ia inginkan.
  • Lee brower, sesuatu terjadi pada keluarganya, dia menemukan sebuah batu dan menyimpannya disakunya. Dan dia berkata “setiap saya menyentuh batu ini saya akan memikirkan hal yang saya syukuri” dan setiap setiap hari ia membawa batu tersebut dan mulai mensyukuri semua hal yang ia miliki. Suatu hari temannya melihat batu tersebut jatuh dari sakunya, dan dia bertanya “apa itu?” lalu ia menjawab “itu adalah batu penghargaan”, suatu ketika anak teman david tersebut jatuh sakit, dan dengan penuh harapan ia meminta david untuk mengiriminya 3 batu penghargaan untuknya, kemudian david mengambil batu tersebut dari pinggir sungai dan memberikan kepada temannya tersebut, dan ternyata beberapa bulan kemudian anak teman david sembuh dari sakitnya.
  • John assaraf, pada tahun 1995 ia membuat papan visi, dan menempatkan semua foto yang ia inginkan kedalam papan visi tersebut. Dan setiap hari dalam kantornya ia selalu menatap papan visi itu, dan selalu menatap dan membayangkan itu semua kenyataan, lalu ia sering pindah rumah semua perabotan dimasukkan kedalam kardus dan disimpan dalam gudang, setelah itu ia selalu pindah rumah dan terakhir membeli rumah di kalifornia dan merenovarsinya selama setahun. Suatu pagi anak laki – lakinya masuk ke ruang kantornya, dan kerdus berisi papan visi tersebut disamping pintu dan diduduki oleh anaknya, dan anaknya bertanya apa isinya lalu dibuka, dan seketika john menangis melihat isinya karena ternyata isi papan visi tersebut benar – benar menjadi kenyataan, bahkan rumah yang ia tempati sama seperti yang berada didalam gambar.

Mudah bukan?? Lebih jelasnya silahkan tonton film “the secret” karena masih banyak pengalaman-pengalan yang dialami orang sukses setelah menjalani rahasia ini. Selamat mencoba!!

Brig Jen Ahmad Vahidi, Menhan Iran

Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi mengatakan Tentara Republik Islam dilengkapi dengan persenjataan dan peralatan yang paling canggih.
“Hal yang penting ini telah dicapai melalui upaya Personil Angkatan Darat Republik Islam,” kata Vahidi pada hari Minggu di Provinsi Kurdistan.

Vahidi menambahkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah mencapai kemajuan dan keberhasilan berkat arahan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

“Hari ini Tentara Republik Islam Iran selalu siap untuk melawan setiap serangan musuh,”kata menteri pertahanan pada ISNA .

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan penting di sektor pertahanan dan mencapai swasembada peralatan dan sistem militer.

Sebelumnya pada bulan April, Iran berhasil menguji-tembak sistim rudah anti-pesawat terbaru negara bernama Sayyad-2 (Pemburu 2).

Sistem ini adalah versi upgrade dari Sayyad-1, yang terdiri dari rudal dua tahap yang dapat menargetkan semua jenis pesawat, termasuk pembom, di ketinggian menengah dan tinggi.

Sitem rudal anti-pesawat Sayyad dapat digunakan dalam peperangan elektronik, dan terhadap sistem radar penampang rendah (RCS).

Rudal Shahin (Hawk) dan Shalamcheh yang diproduksi oleh Departemen Pertahanan juga berhasil diuji dan dikirim ke unit tentara yang berbeda pada bulan April.

Pada bulan Januari, Iran berhasil menguji-menembak rudal mid-range Hawk, permukaan-ke-udara dan Kementerian Pertahanan Iran mengirimkan sistem rudal jelajah baru itu ke Angkatan Laut.

Sistem yang dirancang dan diproduksi oleh pakar Iran, mampu mendeteksi dan menghancurkan target yang berbeda di laut.

Semoga sukses^_^

RU’YATULLAH ANALISIS ATAS ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM yang dimenangkan Syi’ah Imamiyah

PENDAHULUAN

Dalam tradisi filsafat Islam, para filosof Islam dan kaum teosof telah memberikan pandangan mereka tentang tingkatan-tingkatan keberadaan segala sesuatu (maratib al-wujud/hierarchy of being). Menurut prinsip ini, wujud terbagi ke dalam tingkatan-tingkatan, mulai dari Wujud Puncak yang bersifat Mutlak, yaitu Allah SWT, hingga paling rendah, yakni materi awal.[1] Hal ini bisa dilihat pula pada teori emanasi sebagaimana diuraikan oleh para filosof Muslim semisal al-Farabi, Ibn Sina, Ikhwanushofa, Suhrawardi, dan Mulla Shadra.

Sementara kaum teosof memiliki cara pengungkapan berbeda tentang maratib al-wujud ini. Sebagian teosof memandang bahwa wujud terbagi atas tiga kelompok, yakni pertama, wujud mutlak yang bersifat ruhani (Allah SWT), kedua, wujud khayali (imajinal), dan ketiga, wujud jismani (fisis-material). Wujud pertama dikenal sebagai ‘alam al-amr. Wujud kedua disebut alam barzakh. Sedangkan wujud yang ketiga dikenal sebagai alam syahadah. Sementara sebagian teosof lain menyatakan bahwa wujud terbagi atas beberapa tingkatan, yakni alam ruhani mutlak (hadirat Ilahi), alam barzakh, dan alam dunia. Sementara alam ruhani mutlak terdiri atas sejumlah tingkatan, yakni ghayb al-ghuyub (paling gaib), ahadiyah (ketakberbilangan), wahidiyah (kesatuan). Di pihak lain, sejumlah teosof menjelaskan bahwa wujud terbagi atas sejumlah tingkatan, yakni pertama, alam jabarut, kedua, alam malakut, dan ketiga, alam nasut/malak. Pandangan lain menyebutkan tingkatan wujud adalah pertama, alam hahut (Wujud Mutlak Allah SWT), kedua, alam lahut (Manifestasi Wujud Allah SWT di tingkatan keberbilangan), dan ketiga, alam nasut (alam manusia).[2]

Meskipun banyak versi tentang masalah maratib al-wujud, sebagaimana dipaparkan di atas, jelasnya bahwa semua pandangan tersebut hanyalah berbeda dalam penggunaan bahasa, namun substansi pembahasannya tidak berbeda. Di samping itu, semua wujud yang disebut pertama merupakan wujud tertinggi dalam hierarki wujud, bahkan “Pencipta” wujud-wujud lainnnya, berikut disusul wujud-wujud lainnya, sebagai wujud terendah di bawah wujud pertama tersebut.

Sejalan dengan tingkatan-tingkatan wujud di atas, kaum filosof Islam dan teosof Islam menyatakan bahwa manusia dikaruniai dengan berbagai daya (fakultas) untuk mempersepsi pelbagai wujud-wujud di atas, yakni panca indera, jiwa (nafs), dan fu’ad (qalb/ruh/’aql). Daya panca indra berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi alam fisis-material. Daya jiwa (nafs) berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi alam barzakh atau alam khayal atau alam imajinal. Sedangkan fu’ad dapat berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi wujud tertinggi dalam tingkatan-tingkatan wujud (maratib al-wujud) tersebut, yaitu Wujud Puncak atau ’Alam al-amr atau Hahut atau alam Jabarut atau Wujud Ruhani yang bersifat mutlak.[3] Demikian pandangan para filosof dan teosof Islam tentang tingkatan-tingkatan wujud (maratib al-wujud).

Berdasarkan keterangan di atas, seorang manusia tidak akan mungkin melihat Allah SWT di alam dunia yang bersifat fisis-material dengan matanya (indera). Sebab, mata manusia hanya berfungsi sebagai alat untuk melihat alam fisis-material semata. Namun Allah SWT dapat dilihat jika seorang manusia memfungsikan sebuah daya lain dalam dirinya, yakni fu’ad. Menurut filosof dan teosof, alat ini mampu mempersepsi alam gaib mutlak, yakni Allah SWT. Untuk melihat alam khayal/alam barzakh, manusia dapat memfungsikan jiwa/nafsnya. Yang jelas, ketika seorang manusia ingin memfungsikan ketiga daya tersebut sehingga dapat mempersepsi wujud-wujud sesuai dengan kapasitas dan wewenang daya itu, maka manusia tersebut harus melatih secara kontinyu ketiga daya tersebut. Ketika manusia itu telah berhasil melatih sejumlah daya tersebut, maka manusia itu dapat memfungsikan daya-daya itu guna melihat wujud-wujud sesuai dengan kapasitas dan wewenang daya-daya tersebut.

Dalam tradisi Kalam di dunia Islam, para Mutakallim berselisih paham tentang masalah ru’yatullah (baca: melihat Allah SWT) ini. Sebagian kalangan menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak sekaligus. Sebagian lain menyatakan pula bahwa Allah SWT hanya dapat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Sebagian lagi berpendapat bahwa Allah SWT sangat tidak mungkin dilihat oleh manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Masing-masing mereka pun mengajukan argumen-argumen tertentu, baik argumen aqliyah maupun argumen naqliyah.

Dalam makalah yang sederhana ini, Penulis akan mencoba menguraikan permasalahan-permasalahan tentang ru’yatullah. Secara khusus, Penulis akan memaparkan pandangan al-Quran dan Hadits tentang ru’yatulllah, pandangan sejumlah aliran Kalam dalam Islam tentang ru’yatullah, konsep ru’yatullah menurut Syi’i, Mu’tazili, dan Sunni, serta urgensi konsep ru’yatullah tersebut bagi kehidupan manusia modern. Sebagai sebuah makalah yang sederhana, makalah ini tidak berpretensi untuk menentukan pandangan paling benar di antara sejumlah pandangan tentang ru’yatullah tersebut. Namun tidak ditutup kemungkinan jika Penulis dan Pembaca memilih satu dari sekian pandangan atau pula melakukan sintesis antar pandangan itu guna menentukan pandangannya sendiri tanpa diiringi sikap menyalahkan apalagi mengkafirkan pandangan lainnya.

AL-QURAN DAN HADITS TENTANG RU’YATULLAH

Di dalam al-Quran al-Karim, Allah SWT memberikan penjelasan-penjelasan tentang permasalahan ru’yatullah. Akan tetapi, sebagian ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia tidak akan mungkin melihat Tuhannya. Sementara sebagian ayat-ayat al-Quran lainnya malah mensinyalir bahwa manusia dapat melihat Tuhannya. Sekelompok aliran kalam menjadikan ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia tidak akan mungkin melihat Tuhannya sebagai ayat muhkamat, sehingga ayat-ayat al-Quran yang menyatakan sebaliknya adalah sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Sebaliknya, sekelompok aliran kalam menyebut ayat-ayat al-Quran tentang kemungkinan manusia melihat Tuhannya sebagai ayat muhkamat, sehingga ayat-ayat al-Quran yang menyatakan sebaliknya sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai konsekuensi, masing-masing aliran menerima secara tegas ayat-ayat muhkamat dan menakwilkan ayat-ayat al-Quran yang dianggap mutasyabihat.[4]

1. Ayat-Ayat Tentang Kemungkinan Melihat Allah

Sejumlah ayat al-Quran yang sepintas tampak menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat Allah SWT adalah sebagai berikut:

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri; kepada Tuhan-nya mereka Melihat.(Q.S. 75: 22-23)

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Pada hari di mana mereka akan bertemu dengan-Nya dengan penuh kedamaian; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.(Q.S. Al-Ahzab/33: 43-44).

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”.(Q.S.Al-Baqarah/2: 55)

Wahai manusia, sesungguhnya apabila kamu bersungguh-sungguh menemui Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.(Q.S. Insyiqaq/84: 6)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami; Atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya; Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami.(Q.S. Al-Isra’/17: 90-92)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman”. Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa (Q.S. 25: 21-22).

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.(Q.S. Al-Baqarah/2: 46)

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.(Q.S. Al-Baqarah/2: 223)

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Q.S.Al-Baqarah/2: 249)

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.(Q.S. Al-An’am: 31)

Kemudian kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.(Q.S. Al-An’am: 154)

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.(Q.S. At-Taubah: 77)

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami. (Q.S. Yunus/10: 7)

Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.(Q.S. Yunus/10: 11)

Dan (Ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. (Q.S. Yunus/10: 45)

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak Mengetahui”. (Q.S. Hud/11: 29)

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (Q.S. Ra’du/13: 2)

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Q.S. Al-Kahfi/18: 105)

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. Al-Kahfi/18: 110)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”. (Q.S. Al-Furqan/25: 21)

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-‘Ankabuut/29: 5)

Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. (Q.S. Al-‘Ankabuut/29: 23)

Dan Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (Q.S. Rum/30: 8)

Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?”. Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya. (Q.S. As-Sajadah/32: 10)

2. Ayat-Ayat Yang Menunjukkan Kemustahilan Melihat Allah

Sementara sejumlah ayat al-Quran yang secara sepintas tampak menyatakan bahwa seorang manusia tidak akan dapat melihat Tuhannya adalah sebagai berikut:

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S. 6 : 103)

Sekali-kali tidak, sesungguhnya Allah pada hari itu akan menutup diri-Nya dari pandangan mereka. (Q.S. Muthaffifin/83: 15)

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Q.S. 7: 143)

Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Asy-Syura/42: 51)

Demikianlah sejumlah ayat al-Quran berkenaan dengan masalah ru’yatullah. Ayat-ayat al-Quran yang tampak menyatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan, dijadikan sejumlah aliran kalam sebagai dalil naqli bagi kemungkinan manusia melihat Tuhan. Mereka menakwilnya ayat-ayat yang sepintas menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat melihat. Sebaliknya, ayat-ayat yang tampak menyatakan bahwa manusia tidak dapat melihat Tuhan dijadikan oleh sejumlah aliran sebagai dalil naqli bagi ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan. Konsekuensinya, mereka menakwilkan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat.

Jika dilihat sepintas tampak bahwa ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan masalah ru’yatullah saling bertentangan. Sebagian ayat menyatakan kemungkinan manusia melihat Tuhan, sementara sebagian ayat lainnya menyatakan kebalikannya. Untuk masalah ini, harus diperhatikan bahwa sesungguhnya tidak ada pertentangan di dalam al-Quran. Kesimpulan bahwa ayat-ayat al-Quran saling kontradiksi itu hanya merupakan akibat pemahaman yang keliru semata-mata. Karena itu, para sarjana Islam harus mampu menakwilkan sejumlah ayat al-Quran yang tampak berlawanan itu. Ini pula sebenarnya segi paling menarik dan paling mengagumkan dari susunan al-Quran.[5] Pendeknya, tidak ada pertentangan di dalam al-Quran.

3. Hadits-Hadits Tentang Melihat Allah dalam Kitab Sunni dan Syiah

Di pihak lain, menurut tradisi Sunni (Ahlussunnahwaljama’ah), ada sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW yang membahas permasalahan ru’yatullah ini, sebagaimana tertulis di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dalam kitab Sahih Bukhari tertera sejumlah hadits tentang ru’yatullah, sebagaimana tertulis di bawah ini.

- Dari Aisyah r.a, katanya: “Siapa yang menceritakan kepada engkau, bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Tuhannya, sesungguhnya orang tersebut berdusta, karena Tuhan mengatakan: “Pandangan tidak sampai kepada-Nya. Dan siapa yang mencerita-kan kepada engkau, bahwa Nabi Muhammad SAW mengetahui hal yang gaib, sesungguhnya orang itu dusta, karena Tuhan mengatakan “Tiada yang mengetahui hal yang gaib melainkan Allah”.[6]

- Dari Jarir r.a. katanya: “ketika kami sedang duduk dekat Nabi SAW, beliau memperhatikan bulan di malam purnama, beliau bersabda “Sesungguhnya kamu nanti akan melihat Tuhan kamu, sebagaimana kamu melihat bulan ini dan kamu tidak berdesak-desak untuk melihat-Nya. Dan kalau kamu sanggup tidak ketinggalan dalam mengerjakan sembahyang sebelum matahari terbit dan sembahyang yang sebelum matahari terbenam, perbuatlah”.[7]

- Dari Adi bin Hatim r.a. katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu nanti akan berbicara dengan Tuhannya, tanpa perantaraan juru bahasa dan tidak ada pula dinding yang membatasi”. [8]

Sementara dalam kitab Sahih Muslim, tertera sejumlah hadits tentang ru’yatullah, yakni sebagai berikut:

- Diriwayatkan dari Abu Musa r.a. : Rasulullah SAW pernah berdiri di tengah-tengah kami menjelaskan lima pokok pembicaraan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, Allah SWT tidak tidur, dan tidak patut bagi-Nya untuk tidur; Dia menurunkan dan menaikkan kadar timbangan amal hamba-Nya; kepada-Nyalah diangkat amal hamba-Nya yang malam hari sebelum amal yang siang hari; dan juga amal yang siang hari sebelum amal yang malam harinya; tirai Allah SWT adalah cahaya. Jika Allah SWT menyingkap tirai-Nya, cahaya Zat Allah itu akan menghanguskan semua Makhluq-Nya.[9]

- Diriwayatkan dari Masruq :  Saya pernah duduk bersandar di rumah ‘Aisyah, lalu beliau berkata: “Wahai Abu ‘Aisyah, ada tiga perkara, barang siapa berkata dengan salah satu darinya, berarti dia telah berdusta besar terhadap Allah SWT”. Saya bertanya, “Apa tiga perkara itu?”. Aisyah menjawab: “Mengatakan bahwa Muhammad telah melihat Tuhannya, berarti dia telah melakukan kebohongan yang besar”. Masruq berkata: “Waktu itu saya sedang bersandar, lalu saya duduk dan berkata, “Wahai Ummul Mukminin!, tunggu, jangan tergesa-gesa, bukankah Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya Muhammad itu telah melihat Jibril di ufuk yang terang (Q.S. Al-Takwir: 23), dan firman-Nya, Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa yang asli) dalam waktu yang lain? (Q.S. An-Najm: 13). Aisyah menjawab, “Aku adalah orang pertama dari ummat ini yang bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah SAW”. Lalu beliau menjawab, “Dia itu adalah Jibril a.s yang belum pernah aku melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali hanya dua kali itu aku melihatnya turun dari langit. Bentuk kejadian aslinya yang agung itu menutupi ruangan antara langit dan bumi”. Kemudian Aisyah r.a berkata, “Apakah engkau tidak pernah mendengar Allah SWT berfirman: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(Q.S. 6: 103). Apakah engkau tidak mengdengar Allah SWT berfirman: Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.(Q.S. Asy-Syura/42: 51)……[10]

- Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a : Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah kita akan melihat Tuhan kita nanti pada hari kiamat?”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Apakah kamu pernah terhalang mendung untuk melihat bulan purnama?”. Mereka menjawab, “Tidak wahai Rasulullah SAW”. Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu pernah terhalang untuk melihat matahari sewaktu tidak ada mendung?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Demikian pula kamu melihat-Nya, Allah akan menghimpun manusia nanti pada hari kiamat, lalu berfirman “Barangsiapa menyembah matahari, dia mengikuti matahari, barangsiapa menyembah bulan, dia mengikuti bulan, dan barangsiapa menyembah berhala, dia mengikuti berhala. Dan tinggallah umat Muhammad ini, termasuk di dalamnya orang munafik, lalu Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang tidak mereka kenali, kemudian Dia berfirman, “Aku Tuhanmu!”. Kemudian mereka menjawab, “kami berlindung kepada Allah SWT darimu, inilah tempat kami sehingga Tuhan yang telah kami kenal itu datang”. Kemudian Allah datang lagi dalam bentuk yang mereka kenali, lalu Dia berfirman, “Aku Tuhanmu”. Lalu mereka berkata, “Engkau Tuhan kami”. Lalu mereka mengikuti-Nya. Setelah itu, dipancangkanlah titian di tengah api Jahannam. Jadi, aku dan umatkulah yang mula-mula melintasinya dan tidak seorang pun yang diperkenankan berbicara waktu itu, kecuali rasul-rasul Allah ……[11]

Berdasarkan penelusuran terhadap tradisi madzhab Syi’ah Imamiyah (Itsna’asyariyah), ditemukan sejumlah hadits-hadits tentang masalah ru’yatullah ini. Di dalam kitab Ushul al-Kafi karya Abu Ya’kub Al Kulaini, misalnya, terdapat sejumlah hadits tentang ru’yatullah, salah satunya adalah sebagaimana berikut:

- Muhammad bin Abi Abdillah, dari Ali bin Abi al-Qasim, dari Ya’kub bin Ishaq, berkata: “saya mengajukan pertanyaan kepada Abi Muhammad”, “Bagaimana seorang hamba menyembah Tuhannya sementara hamba tersebut tidak melihat-Nya?”. Maka beliau menjawab: ”Wahai Abu Yusuf, bahwa Allah SWT sebagai pemberi nikmat atasku dan atas ayah-ayahku, dapat dilihat secara nyata. Maka aku bertanya kepadanya: ”Apakah Rasulullah SAW melihat Tuhannya?”, Maka beliau pun menjawab “Sesungguhnya Rasulullah SAW melihat Allah SWT dengan hatinya (bi qalbihi) yang bersumber dari cahaya keagungannya dan kecintaannya”.[12]

Dalam berbagai hadits dalam kitab Ushul al-Kafi karya Abu Ya’kub Al Kulaini tersebut terdapat banyak sekali hadits tentang permasalahan ru’yatullah ini. Semua hadits tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia, namun manusia itu tidak melihat Allah SWT dengan indera matanya, namun manusia akan melihat Allah SWT dengan hatinya (bi qalbih). Hal ini sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW dan para Imam Syi’ah Imamiyah, di mana Rasululllah SAW dan para Imam Syi’ah Imamiyah secara nyata telah melihat Allah SWT, bukan dengan indera mata mereka, namun mereka melihat-Nya dengan qalb-nya yang bersih dan suci.[13] Namun ini adalah sumber dari madzhab Syi’ah Imamiyah, dan mereka mendukungnya.

RU’YATULLAH DALAM PEMIKIRAN ALIRAN KALAM

Secara historis, umat Islam telah terbagi-bagi menjadi sejumlah aliran teologi. Aliran-aliran teologi ini muncul ketika Nabi Muhammad SAW telah wafat. Jadi, aliran ini belum muncul ke permukaan pada priode kenabian, kendati pun benih-benihnya mulai tampak secara samar-samar. Perpecahan ini tidak terjadi pada priode kenabian karena ketika itu Nabi Muhammad berfungsi sebagai hakim atau pemutus segala perkara. Sehingga ketika sebuah permasalahan baik permasalahan teologi maupun hukum, maka umat Islam dapat menanyakan langsung kepada nabi, dan jawaban atas pertanyaan itu pun segera diperoleh dan diyakini.

Dalam konteks teologis, sebenarnya Nabi Muhammad SAW telah menanamkan aqidah Islam yang kuat kepada umat Islam. Menurut hemat Penulis, sungguh keliru jika sejumlah pemikir menganggap bahwa permasalahan teologis baru muncul pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama pasca perang Shiffin ketika Muawiyah bin Abi Sofyan memberontak kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Sebab sebenarnya pelbagai permasalahan telah muncul pada priode kenabian. Hanya saja, bagaimana format baku teologi yang diajarkan Nabi Muhammad kepada umatnya itu jarang dikemukakan. Selama ini, para penulis sejarah Kalam hanya menuliskan pandangan-pandangan teologis dari berbagai aliran kalam dalam Islam.

Ketika Nabi Muhammad SAW mengajarkan aqidah Islam kepada umatnya, maka Nabi Muhammad SAW akan memperhatikan tingkat kemampuan intelektual para ‘muridnya’. Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan teologi Islam secara sangat sederhana kepada sebagian sahabat yang memiliki intelektual rendah. Sementara itu, tidak tertutup kemungkinan jika Nabi Muhammad SAW mengajarkan teologi Islam melalui pendekatan filosofis dan intuitif kepada sebagian sahabat yang memang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi. Hal ini sangat jelas karena ketika Nabi Muhammad SAW hendak menyampaikan risalah, maka terlebih dahulu beliau akan melihat tingkat kemampuan akal para audiensnya.

Pada dasarnya, kemunculan sejumlah pandangan teologis pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat terkait dengan fakta di atas. Hal ini sangat jelas karena, setiap umat Nabi Muhammad SAW pada priode awal memiliki kecerdasan yang tidak sama, sehingga terang saja jika umatnya akan menafsirkan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang teologi tersebut secara berbeda-beda. Di samping itu, Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan teologi secara filosofis kepada segelintir umatnya yang cerdas. Sementara kepada umatnya yang kurang cerdas, maka Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan akidah Islam secara sederhana. Karena Nabi Muhammad SAW mengajarkan akidah Islam dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda, maka sepintas lalu ajaran-ajaran teologi itu akan tampak berbeda, bahkan bertentangan meskipun sebenarnya tidak demikian. Barangkali hal ini pula membuat umat Islam priode awal memiliki perbedaan pandangan yang tajam di bidang teologi, dan selanjutnya masing-masing mereka akan meyakini sepenuh hati ajaran-ajaran nabi yang mereka pahami itu.

Perpecahan umat Islam di berbagai bidang terutama teologi semakin terlihat ketika khalifah ‘Ali bin Ali Thalib menduduki jabatan khalifah. Ketika sepupu dan menantu nabi Muhammad SAW, yakni Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah, pemimpin umat Islam, beliau dihadapkan kepada sejumlah persoalan, terutama pemberontakan sejumlah sahabat kepadanya. Tak pelak, sejumlah peperangan antar sesama umat Islam pun terjadi, antara lain adalah perang Shiffin. Perang ini terjadi antara khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan gubernur Damaskus, yakni Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Sejumlah persoalan internal menjadi faktor pemicu lahirnya perang ini. Namun yang jelas, setelah perang ini berakhir, kondisi umat Islam ditandai oleh lahirnya banyak aliran. Dalam perkembangannya, aliran-aliran teologi dalam Islam antara lain adalah Khawarij, Syi’ah, Murji’ah, Qadariyah, Jabbariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan lain sebagainya. Tak hanya sebatas itu, masing-masing aliran tersebut terpecah pula menjadi sejumlah sekte-sekte yang jumlahnya bisa sangat banyak.

Salah satu masalah ilmu kalam sebagai bahan kajian para Mutakallim adalah masalah Ru’yatullah. Sebagaimana diketahui bahwa umat Islam terpecah menjadi sejumlah aliran teologi. Dalam kasus ru’yatullah, masing-masing aliran teologi ini memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pandangan aliran-aliran Kalam tentang Ru’yatullah terbagi atas dua kelompok.

Pertama. Sekelompok aliran yang berpendapat bahwa Allah SWT dapat dilihat. Mengenai alat yang digunakan, sebagian pendapat menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan mata. Sementara sebagian lain mengungkapkan bahwa Allah SWT hanya bisa dilihat dengan hati. Mengenai tempatnya, sebagian menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat di dunia dan di akhirat sekaligus. Sementara sebagian lain berpendapat bahwa Allah SWT hanya dapat di lihat di akhirat saja. Kelompok-kelompok ini adalah sebagai berikut:

Sebagian pemuka Murji’ah. Mereka menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia melalui penglihatan matanya di akhirat kelak.[15]

Sebagian pemuka Mu’tazilah. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia, tetapi tidak melalui penglihatan matanya, melainkan melalui hati sanubarinya. Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan hati manusia sehingga manusia dapat mengetahui-Nya. Pandangan terakhir dianut sebagian besar pengikut aliran Mu’tazilah, terutama Abu al-Hudzail.[16] Sementara itu, Ahmad bin Khabith dan al-Fadhal al-Hadtsi, keduanya pendiri al-Khabithiyyah dan al-Haditsiyah (masih aliran Mu’tazilah), menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia di hari kiamat. Namun manusia melihat Tuhan melalui akal aktif, sebuah akal yang menangkap semua gambaran yang ada. Pada hari kiamat, akal ini mampu membuka hijab akal sehingga akal ini dapat melihat Tuhan. Namun penglihatan akal terhadap Tuhan tidak serupa dengan sesuatu yang diciptakan Tuhan.[17]

Aliran Dhirariyah. Bagi pengikut aliran ini, manusia dapat melihat Allah SWT di akhirat kelak. Karena pada saat itu, Allah SWT akan menciptakan indera keenam bagi orang-orang beriman (baca: mukmin) agar mereka dapat melihat-Nya.[18]

Sekelompok ahli ibadah. Pada masa Klasik, sekelompok ahli ibadah berpandangan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia ini, sesuai dengan kadar perbuatan seseorang. Jika seseorang memiliki banyak perbuatan baik, maka orang tersebut bisa melihat–Nya dengan baik. Sebaliknya, jika orang tersebut memiliki perbuatan tidak baik, maka orang tersebut tidak akan dapat melihat Allah SWT dengan baik pula.[19]

Kalangan ahli hadits tentang ru’yatullah ini. Bagi kalangan ahli hadits, seorang mukmin niscaya dapat melihat Allah SWT dengan penglihatannya di hari kiamat kelak, sebagaimana melihat bulan di malam purnama. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak akan dapat melihat-Nya karena terhalang oleh kekafirannya. Hal ini sebagaimana firman-Nya: “Sekali-kali tidaklah begitu, bahkan sebenarnya mereka pada hari kiamat itu terhalang dari melihat Tuhannya. (Q.S. Al-Muthaffifin: 15). Selain itu, mereka beralasan bahwa menurut kisah al-Quran bahwa Nabi Musa as pun meminta kepada Allah SWT agar menampakkan diri-Nya, kemudian Dia mengabulkan permintaannya tersebut, sehingga menampaklah diri-Nya di atas gunung dan seketika itu nabi Musa as pun pingsang. Berdasarkan cerita ini, para ahli hadits menganggap bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan penglihatan di dunia ini, tetapi hanya bisa dilihat di hari akhirat semata.[20]

Aliran Mujassimah. Kelompok Mujassimah meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia melalui indera matanya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.[21]

Aliran Musyabbihah. Menurut aliran ini, manusia dapat melihat Tuhan di dunia ini. Tuhan pun dapat ditemui oleh manusia, dan Tuhan dapat menemui manusia di dunia ini.[22]

Aliran Bakriyyah. Kelompok Bakriyyah meyakini bahwa Allah SWT akan menciptakan suatu bentuk tertentu atas diri-Nya, sehingga dengan bentuk itu Dia pun akan dapat terlihat, bahkan Dia dapat berbicara langsung dengan manusia.[23]

Husein al-Najar. Al-Najar berpandangan bahwa Allah SWT akan menjadikan mata pada hati, sehingga terciptalah daya kekuatan ilmu padanya, di mana dengan daya kekuatan ilmu tersebut, seseorang bisa melihat-Nya atau pun mengetahui-Nya.[24]

Dharar dan Hafs al-Fard. Keduanya beranggapan bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan penglihatan mata, tetapi Dia akan menciptakan indera keenam kepada mereka, sehingga dengan indera keenam itu mereka pun akan bisa melihat Allah SWT.[25]

Sebagian Mutakallimin lain menganggap bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia ini, sehingga mereka tidak mengingkari jika seseorang melihat Allah SWT di jalan raya. Sebagian Mutakallimin menyebutkan bahwa seorang manusia dapat melihat Allah SWT, bahkan orang tersebut dapat menjumpai-Nya, menyentuh-Nya, dan mendekatkan diri dengan-Nya. Tidak hanya itu, mereka meyakini bahwa seseorang yang berbuat baik dapat pula seiring sejalan dengan-Nya, jika Dia menghendaki hal itu. Pandangan ini dianut oleh seorang Mutakallimin yang bernama Mudhar dan Kahmas. Di pihak lain, Mutakallimin lain semacam Abdul Wahid menyatakan bahwa Allah SWT itu sebenarnya bisa dilihat oleh para hamba-Nya, sesuai dengan amal perbuatan yang ada pada hamba-Nya tersebut. Karena itu, jika amal perbuatan hamba-Nya tersebut baik, maka niscaya hamba-Nya itu akan dapat melihat-Nya. Pandangan Mutakallimin lain menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT ketika tidur, sementara ketika manusia tersebut sadar, maka manusia itu tidak dapat melihat-Nya. Pandangan ini dianut oleh Sulaiman al-Tamimi.[26]

Zuhair al-Atsari dan pengikutnya. Mereka menyatakan bahwa karena Allah SWT itu bersemayang di setiap tempat, maka Allah SWT dapat dilihat dengan penglihatan mata. Namun bagi mereka, seseorang tidak boleh memikirkan tentang cara melihat Allah tersebut. Kendati demikian, Allah SWT bukanlah jisim. Dia tidak terbatas, sehingga Dia tidak bisa dirasa dan diraba. Mereka pun meyakini bahwa Allah akan mendatangi manusia di hari kiamat kelak. Kendati begitu, mereka menyatakan bahwa seseorang tidak boleh mempersoalkan bagaimana Allah SWT mendatangi manusia tersebut.[27]

Syi’ah Imamiyah. Madzhab Syi’ah Imamiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan pernah dapat dilihat oleh mata fisik manusia baik di dunia maupun akhirat kelak. Bagi mereka meyakini bahwa keyakinan akal (ilmu al-yaqin) bukan sebagai tingkat keyakinan tertinggi manusia, melainkan hati (ain al-yaqin). Ain al-Yaqin (yakin karena melihat) mengandung makna menyaksikan Tuhan dengan hati, bukan dengan mata. Karena itu kaum Syi’ah Imamiyah meyakinmi bahwa kendati Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata fisik, namun Tuhan dapat dilihat dengan hati yang suci dan bersih.[28]

Aliran Thahawiyah. Aliran ini menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia. Mereka menekankan bahwa masalah melihat tuhan merupakan rukun iman. Masalah ini mesti diterima oleh umat Islam tanpa keraguan, tanpa interpretasi personal, dan tanpa fikiran anthropomorfis. Setiap upaya umat Islam untuk menginterpretasikan masalah ini melalui fikiran, maka mereka berarti mengingkari rukun iman yang satu ini.[29]

Kedua, sekelompok aliran yang berpendapat bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat. Mereka menyatakan bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat baik di dunia maupun di akhirat. Mata dan hati manusia tidak akan pernah mampu melihat Allah SWT.

Sebagian kaum Murji’ah. Mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia melalui indera matanya.[30] Bahkan sekelompok pemuka aliran Murji’ah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia baik melalui indera mata maupun hati. Tidak hanya itu, manusia tersebut bukan hanya tidak bisa melihat-Nya di dunia saja, bahkan manusia tidak akan pernah melihat-Nya di akhirat kelak.[31]

Aliran Mu’tazilah. Mayoritas kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat dengan penglihatan mata. Bahkan mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak bisa diketahui dengan penglihatan mata atau pun hati, baik di dunia maupun di akhirat kelak.[32] Dalam konteks ini, al-Juba’i dan Abu Hasyim Abd Salam, dua orang pemuka Mu’tazilah meyakini bahwa  manusia tidak akan pernah melihat zat Allah di akhirat kelak, apalagi di dunia.[33]

Aliran Jabbariyah. Menurut Jaham bin Shafwan, tokoh aliran Jabbariyah menyatakan bahwa Tuhan tidak akan dapat dilihat manusia di akhirat, apalagi di dunia.[34]

Aliran Khawarij dan Syi’ah Zaidiyah. Para pemuka aliran Khawarij dan Syi’ah Zaidiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia baik melalui indera mata maupun hati. Tidak hanya itu, manusia tersebut bukan hanya tidak bisa melihat-Nya di dunia saja, bahkan manusia tidak akan pernah melihat-Nya di akhirat kelak.[35]

Demikianlah paparan umum tentang sejarah pemikiran Kalam yang berkenaan dengan konsep Ru’yatullah. Keanekaan ragam pemikiran tentang konsep Ru’yatullah ini menjadi indikasi bahwa umat Islam tidak memiliki kesamaan pandangan tentang hal tersebut. Kendati begitu, sebuah sikap toleran dalam menanggapi perbedaan tersebut menjadi keniscayaan demi menggapai persatuan umat Islam.

RU’YATULLAH : ANTARA SYI’I, MU’TAZILI, DAN SUNNI

Pada bagian terdahulu, Penulis telah mengemukakan secara umum tentang sejumlah pandangan mengenai masalah Ru’yatullah tanpa disertai dalil, baik dalil-dalil aqliyah atau pun dalil-dalil naqliyah.  Karena itu, pada bagian ini Penulis akan menjelaskan sejumlah argumen dari aliran Syi’i, Mu’tazili, dan Sunni tentang masalah Ru’yatullah. Dipilihnya ketiga aliran ini, karena ketiga aliran ini memiliki pandangan yang lebih sistematis dan komprehensif, di samping ketiga aliran ini menjadi aliran terbesar sepanjang sejarah pemikiran Islam. Tidak hanya itu, aliran Syi’i dan Sunni pun masih terus eksis hingga saat ini, sehingga pengkajian tentang pemikiran aliran-aliran ini masih dianggap penting dan aktual. Berikut pandangan-pandangan ketiga aliran teologi Islam ini tentang masalah Ru’yatullah.

1. ALIRAN SYI’AH IMAMIYAH

Aliran Syi’ah Imamiyah merupakan salah satu aliran Syi’ah yang berkembang di dunia Islam. Tidak seperti aliran Syi’ah lainnya, aliran ini meyakini bahwa ada dua belas imam pengganti kepemimpinan nabi Muhammad SAW. Aliran ini berkembang di negara-negara seperti Iran, Iraq, Suriah, Libanon, Indonesia, Pakistan, dan lainnya. Aliran ini pun memiliki konsep kalam yang sistematis, filosofis, dan mendalam.

Para ‘ulama Syi’ah Imamiyah pun pernah membahas tentang masalah Ru’yatullah. Aliran Syi’ah Imamiyah mempercayai bahwa Allah SWT tidak memiliki tubuh. Dia tidak terbatas dan tidak memiliki organ-organ tubuh.[36] Allah SWT bukan suatu bentuk ragawi sehingga Dia tidak menempati ruang dan tidak bergerak dari suatu tempat ke tempat lain. Karena itulah, mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan mata, baik di dunia maupun di akhirat.[37]

Lebih jelasnya, aliran Syi’ah Imamiyah menolak ta’til mutlak dan tasybih mutlak. Ta’til adalah konsep yang menyatakan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat Tuhan. Pengetahuan dan kecerdasan manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat Allah SWT. Sementara tasbih adalah konsep yang menyatakan bahwa Allah SWT memiliki kesamaan dengan makhluq. Dalam konsep ini, Allah SWT dibuat menyerupai makhluq sehingga Dia memiliki bentuk dan rupa. Perbedaan antara Allah SWT dengan makhluq-Nya tidak lain hanyalah pangkat dan gelar. Bagi Syi’ah Imamiyah, konsep yang benar adalah kedudukan antara keduanya, yakni antara ta’til dan tasbih. Menurut pemuka aliran Syi’ah Imamiyah, memang manusia sebenarnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengetahui Allah SWT sebenar-benarnya. Namun melalui fenomena-fenomena alam dan makhluq-Nya, manusia bisa memperoleh pengetahuan mengenai Allah SWT. Pengetahuan manusia tentang Allah tersebut tidak mutlak dan tidak lengkap. Bagi madzhab Syi’ah, Allah SWT memiliki semua aspek positif dari segala pengetahuan manusia tentang-Nya. Namun pada saat yang bersamaan, Dia tidak terbatasi oleh pengetahuan manusia tersebut. Pengetahuan manusia tidak dapat membatasi-Nya. Di pihak lain, Allah SWT tidak memiliki tubuh. Dia tidak terbatas. Dia tidak berada di dalam ruang dan waktu. Allah SWT tidak pantas memiliki tubuh fana, lemah, dan rentan kerusakan. Bagi mereka, Allah SWT itu lebih tinggi dari prasangka manusia terhadap-Nya. Ketika manusia memberikan nama-nama dan sifat-sifat kepada-Nya itu, maka nama-nama dan sifat-sifat yang diberikan kepada-Nya itu tidak melebihi bahkan tidak menyamai keagungan-Nya yang sebenarnya. Dia tidak bisa digambarkan. Setiap penggambaran atas diri-Nya selalu jauh lebih rendah dari kenyataan. Pengetahuan paling tinggi adalah menempatkan-Nya di tempat di mana manusia tidak bisa lagi menggambarkan diri-Nya. Dia lebih sempurna dari pada setiap kesempurnaan. Bagi aliran Syi’ah Imamiyah, Allah SWT memiliki nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Namun nama-nama dan sifat-sifat-Nya tersebut tidaklah memadai untuk menyatakan kekekalan dan keberadaan-Nya. Meskipun memiki nama-nama dan sifat-sifat, ketika seseorang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka orang tersebut harus selalu konsisten dengan keMahasempurnaan dan kekekalan yang dimiliki-Nya. Ketika seseorang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka orang tersebut harus mengartikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya secara hati-hati. Orang tersebut tidak boleh memahaminya sebagaimana memahami nama-nama dan sifat-sifat manusia. Nama-nama dan sifat-sifat-Nya memiliki makna lebih luas apabila dibandingkan dengan nama-nama dan sifat-sifat manusia. Demikianlah, aliran Syi’ah Imamiyah menghendaki posisi antara ta’til dengan tasybih. Mereka menolak ta’til mutlak dan menolak tasybih mutlak. Karena itu, bagi mereka bukan ta’til dan bukan tasybih, melainkan antara keduanya.[38]

Para ‘ulama Syi’ah Imamiyah mendukung ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat oleh mata fisik manusia baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, mereka menafsirkan ayat-ayat yang sepintas menyatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhannya. Menurut mereka, makna ‘pertemuan dengan Allah SWT di akhirat’ di dalam ayat-ayat al-Quran adalah bahwa Allah SWT pada hari Penghisaban menghilangkan semua keraguan akan eksistensi atau keberadaan diri-Nya dengan memperlihatkan amalan-amalan mereka. Pada hari itu, seluruh keraguan tentang keberadaan Allah SWT akan sirna karena Allah SWT telah memperlihatkan kebesaran Hari Penghisaban tersebut.[39]

Demikianlah, aliran Syi’ah Imamiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh mata fisik manusia. Namun bagi mereka, bukan berarti manusia benar-benar tidak dapat melihat Allah SWT. Bagi mereka, manusia dapat melihat manusia namun mereka melihat-Nya tidak melalui mata fisiknya, melainkan melalui hati yang suci dan bersih. Mereka meyakini bahwa keyakinan indra dan keyakinan akal (ilmu al-yaqin) itu bukan sebagai tingkat keyakinan tertinggi manusia, melainkan keyakinan hati (ain al-yaqin). Keyakinan hati manusia lebih tinggi dari pada keyakinan akal dan indranya. Ain al-Yaqin (yakin karena melihat) mengandung makna menyaksikan Tuhan dengan hati, bukan dengan mata (indra) dan akal. Pendeknya, bagi Syi’ah Imamiyah, kendati Tuhan tidak dapat dilihat dengan indra dan akal, namun Tuhan dapat dilihat dengan hati yang bersih dan suci. Hal ini pun selalu ditekankan oleh para Imam Syi’ah Imamiyah.[40]

Tegasnya, bagi Syi’ah Imamiyah, keyakinan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh mata fisik manusia, baik di dunia maupun di akhirat, sangat bertentangan dengan dalil akal dan naqal. Karena hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki tubuh. Karena jika Allah SWT dapat dilihat oleh mata fisik, sebagai konsekuensi hukum fisik, maka Allah SWT itu harus memiliki fisik. Pada dasarnya, keyakinan ini merupakan keyakinan kaum Yahudi yang menyusup ke dalam keyakinan umat Islam. Walhasil, bagi aliran Syi’ah Imamiyah, keyakinan Islam tidak lain adalah bahwa Allah SWT bisa dilihat bukan melalui indra fisiknya, melainkan melalui penglihatan hati yang suci dan bersih.[41]

2. ALIRAN AHLUSSUNNAH WA AL-JAMA’AH

Aliran Ahlussunnah wal Jama’ah ini sering diidentikkan dengan aliran Asy’ariyah dan aliran Maturidiyah.[42] Secara umum dapat dikatakan bahwa aliran Ahlussunnahwaljama’ah ini menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh orang-orang mukmin di akhirat kelak.[43] Para pemuka aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah meyakini hal ini. Mereka semua sepakat tentang kemungkinan manusia melihat Tuhan di akhirat kelak. Hanya saja, masing-masing mereka menggunakan argumentasi-argumentasi yang berbeda, dan sedikit berbeda dalam perincian-perinciannya. Secara khusus, bagian ini akan memaparkan pandangan aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah tentang masalah ru’yatullah.

Aliran Asy’ariyah

Secara umum dapat dikatakan bahwa aliran Asy’ariyah menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia. Mereka mengajukan sejumlah argumen, tidak saja argumen aqli namun pula argumen naqli. Bagi aliran ini, jika sesuatu menempati ruang dan waktu, maka sesuatu itu bersifat temporal. Bagi mereka, Tuhan tidak menempati ruang dan waktu. Bagi mereka, suatu benda, meskipun benda itu tidak ada di depan orang yang melihatnya, mungkin saja untuk dilihat. Karena itu pula, Tuhan sangat mungkin dilihat, meskipun indra manusia tidak memperoleh kesan obyek yang mengenai indra itu. Selain itu, tidak mustahil Tuhan akan menciptakan di dalam diri manusia sebuah kapasitas untuk melihat-Nya di akhirat kelak.[44]

Menurut al-Asy’ari, segala keberadaan dapat dilihat dan menyebabkan dapat dilihat dari sisi keberadaannya. Karena Allah SWT itu secara niscaya ada, maka Dia mesti dapat dilihat oleh manusia di hari akhirat kelak.[45] Al-Asy’ari memiliki dua pendapat tentang hakikat ru’yat. Pertama, ru’yat itu sebagai pengetahuan khusus, yakni khusus melihat yang ada dan bukan yang tidak ada. Kedua, penglihatan itu adalah temuan di belakang ilmu, bukan refleksi dari yang ditemui dan bukan pula pengaruh dari yang ditemui.[46]

Berkenaan dengan Tuhan, aliran Asy’ariyah berada pada posisi tengah antara golongan Musyabihah dan Mujassimah dengan golongan tanzih (nihil).[47] Pemuka aliran ini menyatakan bahwa Allah itu memiliki wajah, tangan, mata, dan Dia bersemayam di Arsy. Namun demikian, seseorang tidak boleh menanyakan bagaimana wajah, tangan, mata, dan seperti apa bersemayam di Arsy itu. Bersamaan dengan itu, seseorang pun tidak boleh mengingkari semua hal itu.[48] Demikian pandangan mereka tentang hakikat Tuhan.

Dalam bukunya al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah, Abul Hasan Al-Asy’ari menguraikan secara luas pandangannya tentang masalah ini. Menurutnya, Allah SWT dapat dilihat oleh penglihatan mata manusia di akhirat kelak. Beliau pun mengajukan argumentasi-argumentasi, baik aqliyah maupun naqliyah. Dalam konteks argumen aqliyah, beliau menyatakan: Pertama. Setiap yang ada, mungkin untuk diperlihatkan Allah kepada kita. Yang tidak mungkin terlihat adalah sesuatu yang tidak ada. Jika Allah termasuk sesuatu yang ada, berarti Dia dapat memeprlihatkan wujud-Nya kepada manusia, dan ini tidak mustahil. Kedua, bahwa Allah melihat segala sesuatu. Jika Allah melihat sesuatu, maka tidak mungkin Dia melihat sesuatu sementara Dia tidak dapat melihat diri-Nya. Jika Dia dapat melihat diri-Nya sendiri, maka bukan suatu kemustahilan jika Dia memperlihatkan diri-Nya kepada kita. Dengan kata lain, jika Allah mengetahui sesuatu, maka berarti Dia mengetahui diri-Nya, dan jika Dia dapat melihat diri-Nya berarti tidak mustahil jika Dia memperlihatkan diri-Nya kepada kita. Sebagaimana halnya Dia mengetahui tentang diri-Nya, maka tidak mustahil jika Dia memberitahukan kepada kita tentang diri-Nya.[49]

Berkenaan dengan dalil naqli, Abu Hasan al-Asy’ari menganggap bahwa ayat-ayat tentang kemungkinan manusia melihat Tuhan sebagai ayat-ayat muhkam sehingga mesti diyakini. Sementara ayat-ayat tentang ketidakmungkinan melihat Tuhan sebagai ayat-ayat mutasyabih, sehingga perlu ditakwil. Sedikitnya, beliau mengajukan sejumlah ayat sebagai argumentasi guna membuktikan bahwa manusia dapat melihat Tuhan di akhirat tentang matanya, yakni:[50]

  1. Q.S. al-Qiyamah ayat 22-23 membuktikan bahwa manusia dapat melihat Tuhan melalui mata di akhirat kelak. Kata nazhar dalam ayat ini memiliki 4 kemungkinan makna, yakni berfikir, menunggu, merahmati, dan melihat. Ayat ini membicarakan peristiwa di hari akhirat, karena itu kata Nazhar tidak mungkin berfikir karena akhirat bukan tempat berfikir, bukan pula bermakna menunggu karena kata ini dikaitkan dengan kata wajah, sehingga  maknanya adalah melihat dengan mata yang ada di wajah, dan bukan pula bermakna merahmati, karena makhluk tidak mungkin merahmati Penciptanya. Kata Nazhar tidak mungkin pula bermakna menunggu karena kata ini disertai huruf ila dan sebelumnya terdapat kata wujuh, sehingga maknanya harus melihat dengan mata kepala. Jika kata nazhar dalam ayat ini tidak disertai huruf ila, maka maknanya bisa ‘menunggu’.
  2. Q.S. al-A’raf ayat 143. Dalam ayat ini, Allah SWT menceritakan bahwa Musa memohon kepada Allah agar ia bisa melihat-Nya. Dalam konteks ini, Musa diangkat Allah sebagai nabi. Allah pun memeliharanya dari kesalahan-kesalahan. Karena itu, tidak mungkin Musa mengajukan sebuah permintaan yang mustahil. Jika hal itu tidak boleh dilakukan Musa, maka nabi Musa tidak akan meminta hal-hal mustahil kepada Tuhannya. Oleh karena Musa meminta kepada Tuhan agar ia bisa melihat-Nya, berarti ia meminta sesuatu yang tidak mustahil,. Jadi, melihat Tuhan adalah sesuatu yang mungkin. Dalam ayat ini pula, sebenarnya Allah berkuasa menjadikan gunung tersebut kokoh. Jika hal itu dilakukan Allah, maka Musa akan mampu melihat-Nya. Sesungguhnya Allah berkuasa menjadikan hamba-Nya mampu melihat-Nya. Benar bahwa mata manusia tidak akan mampu melihat matahari di dunia, maka mata manusia pun tidak akan mampu melihat-Nya di akhirat. Namun kelak, Allah sangat berkuasa untuk memperkuat pandangan mata manusia tersebut, sehingga mata manusia mampu melihat-Nya.
  3. Berdasarkan Q.S. Yunus: 26; Q.S. Qaaf: 35; Q.S. al-Ahzab: 44; dan Q.S. al-Muthaffifin: 15, bahwa melihat Tuhan itu sangat mungkin terjadi. Karena melihat Tuhan itu merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman. Orang-orang beriman akan melihat-Nya, sebagai balasan atas perbuatan kebajikannya di dunia. Sementara orang-orang kafir tidak akan dapat melihat-Nya, sebagai balasan atas kejahatannya di dunia.
  4. Secara lahiriah, Q.S. al-An’am: 103 menunjukkan ketidakmungkinan melihat Tuhan. Namun bagi al-Asy’ari, maknanya bukan demikian, melainkan ketidakmungkinan melihat-Nya di dunia, sementara melihat-Nya di akhirat sangat mungkin. Bisa pula diartikan sebagai ketidakmungkinan orang-orang kafir melihat-Nya. Di samping itu, kata ru’yah memiliki perbedaan makna dengan kata idrak. Kata idrak dalam ayat ini berarti melihat seutuhnya. Sementara kata ru’yah bermakna sekedar melihat dan/atau melihat tidak seutuhnya. Jadi, kedua kata ini berbeda maknanya. Oleh karena itu, ayat tersebut memiliki makna bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat secara penuh (idrak), namun dapat dilihat tidak seutuhnya dan/atau sekedarnya (ru’yah).[51] Bahwa melihat Allah bukan dalam melihat-Nya secara penuh tidak akan mengurangi kesempurnaan Allah SWT. Benar bahwa manusia tidak dapat mencapai-Nya, namun bukan berarti manusia itu tidak dapat melihat-Nya. Manusia melihat-Nya dengan mata kepala, bukan berarti manusia itu telah mencapai-Nya.

Pandangan al-‘Asy’ari tentang ru’yatullah ini diikuti oleh para penerusnya. Sebagaimana al-Asy’ari, al-Baqillani menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Sebagaimana alasan al-Asy’ari, al-Baqillani menandaskan bahwa setiap yang ada dapat dilihat. Karena Tuhan itu niscaya ada, maka Tuhan pun dapat dilihat, sebagaimana dinyatakan-Nya dalam Q.S. al-A’raf: 143 dan Q.S. Al-Qiyamah: 22-23.[52] kemudian, Al-Baghdadi menyatakan bahwa Tuhan pun dapat dilihat. Baginya manusia dapat melihat aksiden, karena manusia dapat membedakan antara hitam dan putih. Kalau aksiden dapat dilihat, maka Tuhan pun dapat dilihat.[53] Sementara itu, al-Juwaini menyatakan pula bahwa manusia dapat melihat Tuhannya di akhirat kelak dengan menggunakan mata kepalanya. Penglihatan itu akan menjadi kenyataan nanti di akhirat, ketika manusia berada di syurga.[54] Muhammad bin Tumart menandaskan pula bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia. Bahwa manusia wajib meyakini dan membenarkan dalam hati bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Namun melihat ini bukan berarti Tuhan memiliki tubuh (tasybih).[55] Al-Syahrastani pun mendukung bahwa manusia mampu melihat Tuhannya di akhirat kelak. Baginya, setiap hal yang berwujud dapat dilihat oleh manusia, karena Tuhan niscaya memiliki wujud, maka Tuhan pun dapat dilihat oleh manusia. Baginya, setiap umat Islam wajib mengimani masalah ru’yatullah (melihat Tuhan) ini.[56] Demikianlah, ajaran al-Asy’ari tentang ru’yatullah didukung oleh generasi penerusnya. Namun tak dapat disangkal, para generasi penerus al-Asy’ari tersebut terus mengembangan konsep ini, terutama penambahan dan penguatan argumentasi-argumentasi tentang kemungkinan melihat Allah SWT di akhirat kelak.

Aliran Maturidiyah

Menurut pendiri aliran ini, Abu Mansur al-Maturidi bahwa Tuhan itu dapat dilihat. Uniknya, meskipun Dia dapat dilihat oleh manusia, namun Tuhan itu bersifat immateri. Dia tidak bersifat dengan sifat-sifat materil (jasmaniah). Karena itu, jika ada ayat-ayat menggambarkan bahwa Tuhan itu bersifat dengan sifat-sifat materi, maka seseorang harus mengartikan ayat-ayat itu secara metaforis (takwil).[57] Jelasnya, Tuhan tidak berbadan. Karena badan itu suatu yang tersusun dari substansi dan aksiden. Bagi Maturidi, bahwa Tuhan itu tidak merupakan materi karena materi itu sesuatu yang mempunyai arah, mempunyai akhir, dan mempunyai tiga dimensi (ruang, waktu, dan tempat). Karenanya, jisim mutlak tidak boleh dinisbatkan kepada Tuhan. Dengan demikian, jelas bahwa Tuhan itu immateri, tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat, dan tidak terbatas. Meskipun begitu, menurut Maturidi, Tuhan dapat dilihat karena Dia diyakini ada-Nya (wujud-Nya).[58]

Pendeknya, Tuhan itu dapat dilihat oleh manusia. Ru’yah kepada Tuhan itu sesuatu hal yang dapat terjadi. Dalam konteks ini, Abu Mansur Maturidi mendukung ayat-ayat yang secara tegas menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat, misalnya Q.S. al-Qiyamah: 22-23. Namun begitu, manusia hanya dapat melihat Allah di akhirat kelak saja, sebagaimana tergambar dalam ayat itu. Abu Mansur Maturidi mengajukan sejumlah argumen tentang mengapa Allah dapat dilihat di akhirat kelak. Pertama, Tuhan itu memiliki wujud. Kendati pun Dia tidak memiliki bentuk dan tidak mengambil tempat, serta tidak memerlukan ruang (tidak terbatas). Jika Tuhan itu terbatas, maka Tuhan bersifat materi. Karena jika sesuatu terbatas, maka sesuatu itu berjisim. Padahal Tuhan itu adalah Syai, sesuatu yang pasti adanya dan bukan yang lain. Karena Dia itu ada wujud-Nya, maka sesuatu yang ada pasti bisa dilihat.[59]

Selanjutnya, menurut Abu Mansur Maturidi, bahwa ru’yah kepada Tuhan itu merupakan bagian dari peristiwa hari kiamat. Sedangkan peristiwa hari kiamat itu hanya diketahui oleh Ilmu Allah SWT. Sedangkan manusia hanya mengetahui ungkapan-ungkapan tentang adanya peristiwa hari kiamat itu, dan manusia tidak mengetahui tentang bagaimana peristiwa hari kiamat itu. Dari sini, Abu Mansur menolak pandangan Mu’tazilah ketika aliran ini menganalogikan melihat Tuhan dengan melihat benda materi, yang berarti menjisimkan Tuhan. Bagi Abu Mansur, analogi itu tidak sempurna dan tertolak. Karena menganalogikan sesuatu bersifat materi dengan sesuatu bersifat immateri. Padahal, semua peristiwa itu bersifat immateri, bukan bersifat materi, maka tidak relevan menganalogikan materi untuk segala hal kejadian di akhirat kelak. Seterusnya, Abu Mansur menyimpulkan bahwa manusia dapat melihat Tuhan di akhirat kelak, dan peristiwa ini merupakan bagian dari peristiwa hari kiamat, sehingga cara melihat Tuhan hanya diketahui oleh Tuhan saja.[60]

Abu Mansur al-Maturidi menafsirkan sedemikian rupa ayat-ayat yang sepintas menafikan kemungkinan manusia melihat Tuhan, sebagaimana terlihat pada Q.S. al-An’am: 103. Banyak pihak menyatakan bahwa ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah dapat melihat Tuhannya. Kata idrak dalam ayat tersebut dimaknai sebagai ru’yah, sehingga kata idrak dalam ini bermakna bahwa Tuhan tidak dapat dilihat. Namun Abu Mansur menandaskan bahwa kata idrak itu bermakna menguasai (melihat) yang terbatas. Sementara Tuhan itu Mahasuci dari sifat terbatas, karena sifat terbatas itu berarti titik maksimum dan membatasi yang lebih tinggi. Tuhan menjadikan segala sesuatu dengan batas yang bisa dijangkau. Jadi, baginya kata idrak tidak bisa diartikan sebagai ru’yah. Dengan begitu, maka kata idrak dalam ayat ini hanya berarti melihat pada batas sesuatu sehingga dengan batas itulah sesuatu itu dapat diketahui. Sementara ru’yah tidak menghendaki jika objek penglihatan itu terbatas, bahkan ru’yah dapat terjadi atas sejumlah hal yang tidak dapat diketahui hakikatnya, kecuali dengan mengerti tentangnya.[61]

Kemudian, Abu Mansur menyatakan bahwa jika Tuhan tidak dapat dilihat oleh manusia, maka permintaan Musa untuk melihat Tuhannya adalah sia-sia. Seandainya manusia itu mustahil melihat Tuhan, maka niscaya seorang nabi seperti nabi Musa as. tidak akan mengharapkannya, sebagaimana tertera pada Q.S. al-A’raf: 143. Dalam ayat ini, Tuhan menjawab lan tarani (kamu takkan melihat-Ku), bukan lan ura (Aku tak bisa dilihat). Ini menjadi dalil kuat bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia.[62]

Terakhir, bagi Abu Mansur al-Maturidi, bahwa ru’yatullah itu merupakan tambahan anugrah dan pahala dari sisi Tuhan. Adalah melihat Tuhan itu sebagai anugerah terbesar bagi insan beriman di akhirat kelak. Tuhan menjanjikan balasan terbaik bagi manusia, dan manusia beriman tidak hanya mendapatkan surga, namun mereka mendapatkan anugrah terbesar, yakni ru’yatullah.[63] Pada akhirnya, Abu Mansur menandaskan bahwa ru’yah itu hanya melalui pengetahuan hati.[64]

3. ALIRAN MU’TAZILAH

Aliran Mu’tazilah memiliki pandangan berbeda tentang ru’yatullah dengan aliran lainnya. Mereka menegaskan bahwa manusia tidak akan mampu melihat Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Semua pemuka Mu’tazilah meyakini bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat melalui mata fisik. Namun sejumlah kecil pemuka Mu’tazilah seperti Abu Huzail meyakini bahwa manusia dapat melihat Tuhan melalui hatinya[65]. Akan tetapi tidak sedikit pula pemuka kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa Allah SWT tidak bisa diketahui dengan penglihatan mata atau pun hati, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Pandangan terakhir diyakini para pemuka Mu’tazilah seperti al-Fuwathi, Abbad ibn Sulaiman, dan lainnya.[66]

Aliran Mu’tazilah menolak keyakinan antropomorfisme. Mereka tidak meyakini bahwa Allah memiliki wujud materil. Allah SWT bukan wujud materil. Karena itu, Allah tidak membutuhkan tempat. Karena itu, Allah SWT tidak serupa dengan makhluq. Oleh karena Allah seperti itu, maka mereka meyakini bahwa manusia tidak akan dapat melihat Allah SWT di di dunia dan di akhirat kelak. Sejumlah pemuka Mu’tazilah memang meyakini bahwa Allah dapat dilihat oleh manusia melalui hati sanubari, namun pada umumnya pemuka-pemuka aliran ini menolak hal tersebut. Alasan-alasan yang mereka ajukan adalah sebagai berikut:[67]

  1. Dalam Q.S. al-Qiyamah: 22-23, menjelaskan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat oleh manusia. Menurut mereka, kata nazhara tidak berarti ra’a (melihat), karena kata ini jika dikaitkan dengan kata ‘ain (mata) berarti usaha untuk melihat, sebagaimana jika dikaitkan dengan hati (qalb) berarti usaha untuk tahu. Hakikat nazhara adalah mengarahkan mata ke arah sesuatu untuk melihatnya. Jika demikian, mestilah Tuhan yang dilihat itu berada pada satu arah. Jika pendapat ini benar, maka Allah itu berjisim, karena berada pada arah tertentu. Karena itu tidak dapat diterima, maka mestilah kata rabbiha (Tuhannya) ditakwilkan dengan pahala yang diberikan Tuhan.
  2. Kata nazhara biasanya dipakai untuk pengertian menanti (al-intizhar). Terkadang pula dipakai untuk pengertian mengarahkan mata ke suatu objek untuk melihatnya. Bahkan dipakai pula untuk pengertian berfikir dengan hati untuk memperoleh pengetahuan.
  3. Pendapat bahwa kata nazhara jika dikaitkan dengan wajah berarti ‘melihat’ tidak dapat diterima. Karena pengertian ‘melihat’ dengan wajah tidak dikenal dalam bahasa Arab. Yang biasa dikenal adalah pengaitan mata dengan penglihatan.
  4. Dalam Q.S. al-An’am ayat 103 dijelaskan secara tegas bahwa Allah tidak akan dapat dilihat. Bagi kaum Mu’tazilah, Tuhan tidak dapat dilihat karena kata al-idrak disertai penyebutan kata al-bashar, yang dimaksudkan adalah melihat dengan penglihatan mata. Ayat ini bersifat umum tanpa ada pengecualian. Karena itulah, Tuhan tidak akan dilihat oleh manusia.
  5. Kaum Mu’tazilah menolak penafsiran kaum Asy’ariyah terhadap Q.S. al-A’raf ayat 143 bahwa Allah SWT dapat dilihat. Bagi mereka, permintaan Musa kepada Tuhan tidak menunjukkan apakah yang diminta boleh terjadi atau tidak. Terkadang, ada seseorang mengajukan permintaan guna membuktikan bahwa orang tersebut sudah mencurahkan tenaga agar orang tempat ia meminta melakukan sesuatu, walaupun ia tahu orang itu tidak akan melakukannya. Terkadang pula, seseorang mengajukan permintaan untuk meyakinkan orang lain yang mendengarnya bahwa yang diminta itu tidak mungkin dilakukan. Ayat ini dijadikan kaum Mu’tazilah sebagai alasan penolakan melihat Tuhan. Karena jawaban Allah terhadap permintaan nabi Musa adalah bahwa Musa tidak akan melihat-Nya. Musa disuruh-Nya untuk melihat gunung, jika gunung itu masih tetap pada tempatnya, barulah Musa dapat melihat-Nya. Kenyataannya, gunung itu hancur setelah Allah menampakkan diri-Nya kepadanya. Jadi, nabi Musa tidak akan dapat melihat-Nya. Dalam ayat ini pun, kata yang dipakai untuk menafikan adalah kata lan, yang memberikan penafian di masa mendatang. Karena itu, Tuhan tidak akan pernah dilihat selamanya. Pendeknya, Musa mengetahui bahwa melihat Allah itu suatu hal yang mustahil. Namun Musa tetap memohon kepada Allah  ketika kaumnya memaksa untuk dapat melihat Allah, agar mereka dapat membuktikan Musa sebagai seorang Nabi. Musa meminta untuk dapat melihat Tuhan dengan maksud meredam tuntutan kaumnya yang ingin melihat Tuhan.
  6. Dalam Q.S. 4: 152; Q.S. 2: 52; dan Q.S. 7: 155 dijelaskan bagaimana kaum nabi Musa disambar petir karena mereka ingin melihat Tuhan. Karena mereka memaksa Musa agar Musa memperlihatkan Tuhan kepada mereka, maka mereka disambar petir. Hal ini terjadi karena kaum nabi Musa meminta sesuatu yang tidak dibenarkan, yakni ingin melihat Tuhan dengan mata kepala.
  7. Q.S. 42: 51 menjelaskan pula tentang ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan. Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa hubungan Allah dengan para hambanya yang terpilih melalui dialog terbagi tiga macam. Namun akal dapat menerima adanya bentuk dialog lain. Bentuk lain adalah Allah berdialog kepada hamba-Nya yang dikehendakinya seraya dapat melihat Allah. Namun bentuk keempat ini disanggah oleh al-Quran, meskipun akal mampu membayangkannya. Ayat tersebut disusun dalam bentuk pengecualian secara tegas.

URGENSI KONSEP RU’YATULLAH BAGI KEHIDUPAN MODERN

Sebagaimana penjelasan di atas, para teolog Muslim Klasik telah merumuskan konsep ru’yatullah. Masing-masing teolog berbeda pendapat tentang hal ini. Harus diakui bahwa diskusi-diskusi mengenai materi konsep ru’yatullah ini dan konsep kalam lainnya cukup penting dilakukan, namun diskusi mengenai relevansi dan urgensi konsep-konsep ini bagi kehidupan manusia modern juga menjadi tidak kalah penting. Sebab manusia di zaman modern membutuhkan pemahaman mendalam tentang nilai guna konsep ru’yatullah dan konsep kalam lainnya bagi kehidupannya di dunia ini. Umat Islam pun sebenarnya harus mampu menjelaskan urgensi konsep ru’yatullah dan konsep kalam lainnya bagi kehidupan kekinian. Hal ini penting agar setiap umat manusia menemukan bahwa agama Islam ini sebagai agama yang dapat memenuhi kebutuhan manusia modern serta agama yang membumi. Berikut ini akan diuraikan secara umum urgensi konsep ru’yatullah bagi kehidupan manusia modern.

Harus dipahami bahwa manusia Modern masih cenderung bersifat individualistik. Sikap-sikap individualistik telah mendominasi kehidupan manusia Modern. Akibatnya mereka dihadapi oleh krisis moral dan nilai. Banyak manusia melakukan sesuatu tidak atas dasar moral dan nilai-nilai. Masing-masing manusia lebih mengutamakan ego pribadi dari pada mengutamakan kebaikan komunitas masyarakatnya. Sebab itulah, mereka pun menghadapi krisis moral dan nilai.

Di samping itu, kehidupan manusia modern lebih cenderung bersifat pragmatis-materialistik. Segala sesuatu diukur berdasarkan keuntungan material, bukan spiritual. Pemikiran pragmatis demikian telah membuat manusia modern hanya mencari keuntungan-keuntungan material. Bahkan tidak jarang mereka menempuhnya dengan cara apapun. Hal ini pula membuat krisis moral dan nilai semakin subur.

Bila dikaji secara mendalam, bahwa konsep ru’yatullah ini memiliki relevansi dengan kehidupan manusia modern, sebagaimana konsep-konsep kalam lainnya. Menurut hemat Penulis, sesungguhnya konsep ru’yatullah menjadi penting bagi kehidupan manusia modern karena selain dapat memberikan motivasi dan semangat juang bagi manusia modern, konsep ini pun dipandang mampu menumbuhkan sikap terpuji seraya menghilangkan sifat tercela, serta menumbuhkan pola hidup idealis. Konsep ini dapat membangun sikap militan, optimis, progresif, disiplin, bertanggung jawab, mawas diri, telaten, waspada, dan lainnya. Jelasnya, konsep ini memiliki banyak nilai guna bagi kehidupan manusia modern yang tidak mungkin satu persatu disebutkan makalah ini.

Terlepas dari perdebatan tentang kemungkinan atau ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan, namun yang jelas bahwa: Pertama, Tuhan itu dapat melihat kita. Hal ini karena Allah SWT Mahamelihat. Al-Quran dan hadits telah menegaskan tentang kebenaran hal ini. Kedua, jika benar bahwa manusia dapat melihat Tuhan, maka hal ini menjadi sebuah anugerah paling besar dari Tuhan untuk umat Islam. Jika demikian, maka setiap Muslim harus berharap agar mereka dapat melihat-Nya. Seandainya Tuhan tidak dapat di lihat, kembali pada poin pertama, namun Dia Mahamelihat, termasuk melihat hamba-Nya (Muslim tersebut). Kedua premis ini dapat dijadikan analisis guna mengetahui nilai guna pemahaman atas konsep ru’yatullah ini bagi kehidupan manusia pada era modern.

Sebagaimana dinyatakan di atas, bahwa pemahaman atas konsep ru’yatullah sebenarnya dapat memberikan motivasi dan semangat juang bagi seorang Muslim. Ketika seseorang memahami bahwa Tuhan senantiasa melihat hamba-hamba-Nya, maka hal ini akan memberi motivasi kepada orang tersebut untuk berbuat kebaikan dan menjauhi tindakan keburukan. Orang tersebut akan memiliki semangat juang yang tinggi untuk melakukan perbuatan baik dan menolak perbuatan buruk. Tidak hanya itu, jika orang tersebut mengetahui bahwa dirinya akan dapat melihat Tuhannya, maka secara otomatis dirinya akan termotivasi melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan, karena manusia yang akan melihat-Nya hanyalah orang-orang beriman, yakni orang-orang yang berbuat kebajikan. Allah SWT hanya memberikan anugerah terbesar itu, yakni melihat-Nya, bagi orang-orang beriman atau orang-orang berbuat kebajikan. Sementara pelaku tindakan keburukan tidak akan mampu melihat-Nya, karena Tuhan tidak akan memberikan anugrah itu kepadanya. Kemudian, Orang tersebut pun akan memiliki semangat juang tinggi untuk berbuat kebajikan dan menjauhi perbuatan ketidak-kebajikan, agar Tuhan segera memberikan anugerah itu kepadanya.

Di pihak lain, jika konsep ru’yatullah ini dipahami secara benar, maka hal ini dipandang ampuh dalam menumbuhkan sifat-sifat terpuji dan menghilangkan sifat-sifat tercela. Seseorang yang meyakini bahwa Tuhan dapat melihatnya, atau pun kelak orang tersebut dapat melihat-Nya, maka orang tersebut pasti akan cenderung berbuat kebaikan dan tidak melakukan keburukan, sehingga orang tersebut akan selalu berbuat baik. Hal ini lumrah karena orang tersebut pasti takut berbuat buruk karena Tuhan melihatnya; dan orang tersebut akan cenderung berbuat baik agar dapat melihat Tuhannya kelak. Jika hal ini terus dilakukan, maka konsekuensinya, akan lahir sifat-sifat mulia dalam dirinya sementara sifat-sifat buruk akan segera terkikis dari dalam dirinya. Jika ini terlaksana dengan baik, maka masalah krisis moral manusia modern dapat segera diatasi.

Selain kedua nilai guna di atas, sebenarnya pemahaman atas masalah ru’yatullah ini akan menumbuhkan pola hidup idealis bagi seorang Muslim. Pola hidup idealis antara lain sikap militan, optimis, progresif, disiplin, bertanggung jawab, mawas diri, telaten, waspada, dan lainnya. Ketika seseorang meyakini bahwa kelak ia akan melihat Tuhannya, sementara hal ini merupakan anugerah terbesar dari Tuhan, maka orang tersebut akan dapat memiliki sikap militan. Orang tersebut akan rela mengorbankan jiwa dan raganya demi sebuah kebaikan, agama, dan bangsanya. Karena orang itu yakin, jika ia mati, maka ia akan segera melihat Tuhannya sebagai suatu kenikmatan terbesar. Orang tersebut pun akan lebih optimis dalam menjalani hidupnya, karena ia yakini bahwa hidup ini sebagai sarana utama bagi perjumpaan dirinya dengan Tuhannya. Orang tersebut akan menjadi lebih progresif, karena ia yakin bahwa segala usahanya dapat menjadi sarana meraih kenikmatan terbesar, yakni melihat Tuhannya. Orang itu akan menjadi lebih disiplin dalam melaksanakan perintah-perintah agama dan pekerjaan-pekerjaan duniawi, karena jika tidak demikian, maka ia akan berdosa sehingga ia tidak akan pernah mendapatkan kenikmatan terbesar itu. Orang itu pun akan menjadi lebih bertanggung jawab, mawas diri, telaten, dan waspada dalam melakukan sebuah perbuatan dan pekerjaan, karena jika demikian, maka ia tidak telah melanggar amanah, baik dari Tuhannya maupun orang lain. Hal ini akan membuatnya berdosa, sehingga ia pun tidak akan memperoleh kenikmatan terbesar di akhirat kelak. Jika semua hal ini telah tercapai, maka segala masalah kehidupan manusia Modern, terutama krisis moral dan nilai akan dapat diselesaikan.

PENUTUP

Pada bagian terdahulu Penulis telah mendeskripsikan sejumlah pandangan pelbagai aliran teologi Islam tentang konsep ru’yatullah. Berdasarkan paparan di atas, tampak bahwa hanya syi’ah imamiyah yang benar tentang  ru’yatullah. Viva Syi’ah Imamiyah !!!

Sebagian aliran menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia dan atau di akhirat dengan mata kepala. Sebagian lagi menyatakan bahwa manusia hanya dapat melihat Allah SWT di akhirat saja. Sementara sebagian lainnya malah menyatakan bahwa manusia tidak akan mungkin dapat melihat Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat dengan mata kepala. Pada bagian terdahulu, Penulis pun telah memaparkan urgensi konsep ru’yatullah bagi kehidupan manusia modern. Berdasarkan paparan itu, jelas bahwa konsep-konsep kalam, terutama konsep ru’yatullah memiliki nilai guna bagi dunia kekinian. Dari sini terbukti bahwa agama Islam merupakan agama yang dapat memenuhi kebutuhan manusia modern dan agama yang membumi.

Demikianlah sebuah permasalahan teologis dalam Islam di mana para Teolog Muslim telah berupaya menyelesaikan permasalahan tersebut, meskipun pada akhirnya mereka tidak meraih kesimpulan yang sama dari masalah yang sama. Kendati demikian, hendaknya generasi Islam sekarang menghargai kerja intelektual para Mutakallim priode klasik di atas. Penghargaan itu dapat berupa menghormati kesimpulan yang mereka peroleh tanpa diiring sikap klaim sesat menyesatkan atas diri mereka. Wallaahu A’lam bi al-Shawab.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abul Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah, Beirut: Dar al-Maktab al-Ilmiyah, tt.

________, Al-Ibanah; Buku Putih Imam al-Asy’ari, Terj. Abu Ihsan Al-Atsari, Solo: Tibyan, tt.

________, Maqalat Islamiyyin Wa Ikhtilaf al-Mushalliin, Juz 1, Beirut: Dar Ihya’ al Turats al ‘Araby, tt.

________, Maqalat Islamiyyin Wa Ikhtilaf al-Mushalliin, Terj. A. Nasir Yusuf & Karsidi Diningrat, Jakarta: Pustaka Setia, 1998.

Abu Ya’kub Al-Kulaini,Ushul al-Kafi, Beirut: Alaalami Library, 2005.

Abu Lubabah Husein, Pemikiran Hadits Mu’tazilah, ter. Usman Sya’roni, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003.

Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, terj. Asywadie Syukur, Surabaya: Bina Ilmu, 2005.

A.K.M. Ayyubi, Aliran Thahawiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

________, Aliran Maturidiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

Al-Huda, Antologi Islam; Sebuah Risalah Tematis Dari Keluarga Nabi, terj. Rofik Suhud, dkk, Jakarta: Al-Huda, 2005.

Abdul Karim al-Bahbahani, Ru’yatullah; Bain al-Tanzih wa al-Tashbih, (Beirut: al-Majmu’ al-‘Alami li Ahlu al-Bait, 2006).

Abdul Qahhar ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, Kairo: Maktabah Dar al-Turast, tt.

A. Mahmud Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, Beirut: Dar al-Nahdhah Harbiyah, 1975.

Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, Bandung: Arasy, 2006.

Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Terj. Zainuddin Hamidy, dkk, Semarang: Wijaya Jakarta, 1992.

Imam Muslim, Sahih Muslim, Berut: Al Maktab Al Islami, tt.

Machasin, Al-Qadhi Abdul Jabbar; Mutasyabih al-Quran Dalil Rasionalitas al-Quran, (Yogyakarta: LkiS, 2002)

Muhammad bin Abdurrahman Aali Khumais, Paham al-Maturidiyah Dalam Beraqidah, terj. Achmad Rofi’i, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998.

Muhammad Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, terj. M. Thalib, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991.

Murtadha Muthahhari, Manusia dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, Bandung: Yayasan Muthahhari, 2003.

________, Mengenal Ilmu Kalam, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Pustaka  Zahra, 2002.

M. Abdul Hye, Aliran Asy’ariyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

Muhammad Amin Suma, Kelompok dan Gerakan, dalam Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Ajaran, Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Noer Iskandar al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur al-Maturidi; Perbandingan dengan Kalam Mu’tazilah dan al-Asy’ari, Jakarta: RajaGrafindo Persada,  2001.

Al-Qadhi al-Qudhah ‘Abdul Jabbar, Syarah Ushul Khamsah, Kairo: Maktabah Wahbah, 1996.

Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, Jakarta: Pustaka Zahra, 2002.

Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini; Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam, Jakarta: Erlangga, 2005.

Yasin T. Al-Jibouri, Konsep Tuhan Menurut Islam, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2003.

Zuhdi Jarallah, Al-Mu’tazilah, Beirut: al-Maususah al-‘Arabiyah al-Dirasah wa al-Nasyar, 1990.


[1]Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, (Bandung: Arasy, 2006), hlm 119-123.

[2]Bagir, Buku Saku, hlm 123.

[3]Bagir, Buku Saku, hlm 123-124.

[4]Muhammad Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, terj. M. Thalib, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991), hlm 51-52.

[5]Murtadha Muthahhari, Manusia dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, (Bandung: Yayasan Muthahhari, 2003), hlm 10.

[6]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Terj. Zainuddin Hamidy, dkk, (Semarang: Wijaya Jakarta, 1992), hlm 187.

[7]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hlm 194.

[8]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hlm 194.

[9]Imam Muslim, Sahih Muslim, (Berut: Al Maktab Al Islami, tt), hlm 58-59

[10]Imam Muslim, Sahih Muslim, hlm 56-57.

[11]Imam Muslim, Sahih Muslim, hlm 58-62.

[12]Abu Ya’kub Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, (Beirut: Alaalami Library, 2005), hlm 57

[13]Lihat sejumlah hadits tentang ru’yatullah dalam Abu Ya’kub Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, (Beirut: Alaalami Library, 2005), hlm 57-59. Semua hadits di dalam kitab tersebut menunjukkam bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia khususnya para nabi dan Imam a.s, namun mereka melihat-Nya tidak dengan indera mata, melainkan dengan hati yang suci. Lihat, Al-Kulaini,Ushul al-Kafi, hlm 57-59.

[15]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 218.

[16]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 222, 288.

[17]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, terj. Asywadie Syukur, (Surabaya: Bina Ilmu, 2005), hlm 53-54.

[18]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 355.

[19]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 361.

[20]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 367-368.

[21]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[22]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 90, 95.

[23]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[24]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289; Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 74.

[25]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[26]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 286.

[27]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 373.

[28]Murtadha Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Pustaka  Zahra, 2002), hlm 94-95. Bandingkan, Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm 204-211.

[29]A.K.M. Ayyubi, Aliran Thahawiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), hlm 142-143.

[30]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 218.

[31]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288.

[32]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 222, 288.

[33]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 66.

[34]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 73.

[35]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288.

[36]Al-Huda, Antologi Islam; Sebuah Risalah Tematis Dari Keluarga Nabi, terj. Rofik Suhud, dkk, (Jakarta: Al-Huda, 2005), hlm 643-647.

[37]Yasin T. Al-Jibouri, Konsep Tuhan Menurut Islam, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Lentera, 2003), hlm 252-253.

[38]Lihat: Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm 157-171; Bandingkan, Abdul Karim al-Bahbahani, Ru’yatullah; Bain al-Tanzih wa al-Tashbih, (Beirut: al-majmu’ al-‘Alami li Ahlu al-Bait, 2006).

[39]Behesti, Selangkah Menuju Allah, hlm 211.

[40]Lihat: Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam, h 204-211; Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, hlm 57-59.

[41]Al-Bahbahani, Ru’yatullah, h 110

[42]Muhammad Amin Suma, Kelompok dan Gerakan, dalam Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Ajaran, (Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h 358.

[43]Abdul Qahhar ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, (Kairo: Maktabah Dar al-Turast, tt), h 359.

[44]Lihat: M. Abdul Hye, Aliran Asy’ariyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), h 77-80.

[45]A. Mahmud Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, (Beirut: Dar al-Nahdhah Harbiyah, 1975), h 66-69.

[46]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, h 84.

[47]Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 54.

[48]Abul Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah, (Beirut: Dar al-Maktab al-Ilmiyah, tt), h 51-53. Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 54-72.

[49]al-Asy’ari, Al-Ibanah, h 26.

[50]al-Asy’ari, Al-Ibanah, h 21-30.

[51]Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 74-76.

[52]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, h 102.

[53]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 124-129.

[54]Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini; Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam, (Jakarta: Erlangga, 2005), h 105-106; Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 158-159.

[55]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, h 231.

[56]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 250-251.

[57]A.K.M. Ayyub Ali,  Aliran Maturidiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), h119.

[58]Noer Iskandar al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur al-Maturidi; Perbandingan dengan Kalam Mu’tazilah dan al-Asy’ari, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,  2001), h 30-31; Muhammad bin Abdurrahman Aali Khumais, Paham al-Maturidiyah Dalam Beraqidah, terj. Achmad Rofi’i, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998), h 38-42.

[59]Al-Barsany, Pemikiran Kalam, h 42-43.

[60]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 44.

[61]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 45.

[62]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 46.

[63]Ali, Aliran Maturidiyah, h 121.

[64]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 47.

[65]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, h 222.

[66]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, h 288.

[67]Lihat: Al-Qadhi al-Qudhah ‘Abdul Jabbar, Syarah Ushul Khamsah, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1996), h 232—277. Bandingkan: Zuhdi Jarallah, Al-Mu’tazilah, (Beirut: al-Maususah al-‘Arabiyah al-Dirasah wa al-Nasyar, 1990), h 87-90; Machasin, Al-Qadhi Abdul Jabbar; Mutasyabih al-Quran Dalil Rasionalitas al-Quran, (Yogyakarta: LkiS, 2002), h 132-145; Abu Lubabah Husein, Pemikiran Hadits Mu’tazilah, ter. Usman Sya’roni, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), h 100-109.

Keunggulan Syi’ah Imamiyah dibidang imamah

Pokok masalah pembahasan kita sekarang adalah “imamah”. Kami tahu bahwa bagi kami, kaum Syiah, imamah luar biasa penting, sementara mazhab lain kaum Muslim tidak memandang sedemikian penting. Alasannya adalah konsepsi imamah kami beda dengan konsepsi imamah mazhab lain. Tak syak lagi, ada kesamaannya juga, namun yang memandang luar biasa penting terhadap imamah hanyalah kaum Syiah.

Misal, ketika kami, kaum Syiah, ingin menguraikan prinsip-prinsip pokok agama menurut ajaran Syiah, kami katakan bahwa prinsip-prinsip ini adalah Tauhid, Kenabian, Keadilan Ilahi, Imamah dan Akhirat. Kami memandang imamah sebagai prinsip pokok agama. Sedikit banyak, kaum Sunni juga tidak sama sekali menolak imamah. Namun menurut keyakinan mereka, imamah bukan prinsip pokok agama. Mereka memandang imamah hanya sebagai masalah tambahan. Sesungguhnya ada perbedaan pendapat yang mendasar mengenai imamah. Kami mempercayai imamah seperti ini, sedangkan kaum Sunni mem­percayai imamah yang lain. Alasan kenapa kaum Syiah memandang imamah sebagai prinsip pokok agama, sedangkan kaum Sunni memandangnya sebagai masalah tambahan, adalah konsepsi Syiah mengenai Imamah beda sekali dengan konsepsi imamah Sunni.

Makna Imam

Imam berarti pemimpin atau orang yang di depan. Kata “imam” dalam bahasa Arab tidak menunjukkan arti kesucian hidup. Dan imam adalah orang yang punya pengikut, tak soal dengan fakta apakah dia saleh atau tidak. Al-Qur’an sendiri menggunakan kata ini dalam kedua arti itu. Di saui tcmpat Al-Qur’an mengatakan:

Kami tunjuk mereka sebagai Imam yang memberikan panduan dengan izin Kami. (QS. al-Anbiyâ’: 73)

Di tempat lain dikatakan:

Imam-imam yang mengajak orang ke neraka. (QS. al-Qashash: 41)

Mengenai Fir’aun, Al-Qur’an menggunakan frase yang mengandung arti yang sama dengan arti imam atau pemimpin. Dikatakan:

Pada Hari Pengadilan dia akan membawa kaumnya ke api neraka. (QS. Hûd: 98)

Dengan demikian, secara harfiah arti imam adalah pemimpin. Namun sekarang perhatian kami bukan pada pemimpin yang jahat. Baiklah sekarang kami bahas konsepsi imamah. Kata “imamah” berlaku untuk beberapa kasus. Beberapa konsep imamah diakui oleh kaum Sunni juga. Namun mereka berbeda dengan kami mengenai siapa imam itu dan bagaimana kualitasnya. Mereka sama sekali tidak mempercayai konsep-konsep imamah tertentu. Mereka tidak mempercayai imamah dalam arti seperti yang kami percayai. Mereka tidak sepakat dengan orang yang mengemban jabatan ini. Imamah versi mereka tak lain adalah pemimpin sosial, dan dalam arti seperti inilah kata ini digunakah dalam buku-buku teolog akademis lama.

Khâja Nasiruddin Tusi, dalam “at-Tajrid”, mendefinisikan imamah sebagai kewajiban umum masyarakat. Di sini perlu juga disebutkan poin lain:

Beragam Aspek Nabi

Nabi saw, dalam masa hidupnya karena khusus posisinya dalam Islam, memiliki beberapa aspek seperti ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan riwayat hidupnya. Pada saat yang sama Nabi memiliki beberapa jabatan. Dia adalah seorang Nabi Allah, dan dalam kapasitas ini dia menyampaikan risalah dan perintah Allah kepada umat manusia. Al-Qur’an mengatakan:

Apa saja yang diberikan Rasul, ambillah, dan apa saja yang dilarangnya, jauhilah. (QS. al-Hasyr: 7)

Dengan kata lain, apa saja petunjuk dan perintah yang diberikan Nabi saw kepada umat manusia, maka itu diberikannya atas nama Allah. Dari sudut pandang ini, Nabi saw hanya menyampaikan wahyu yang diturunkan kepadanya. Jabatan lain Nabi saw adalah hakim agung, karena itu Nabi melaksanakan keadilan di tengah kaum Muslim. Menurut Islam, setiap orang tidak bisa menjadi hakim, karena dari sudut pandang Islam, memutuskan perkara adalah urusan Allah. Allah menyuruh keadilan, dan hakim adalah orang yang melaksanakan keadilan kalau terjadi perselisihan. Jabatan ini juga dengan jelas diberikan kepada Nabi saw oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an mengatakan:

Demi Tuhanmu, mereka tak akan mempercayai kebenaran sampai mereka menjadikanmu hakim untuk apa yang mereka perselmhkan dan menerima apa yang kamu putuskan dan mereka tunduk kepada keputusanmu dengan sepenuh hati. (QS. an-Nisâ’: 65)

Nabi saw diangkat menjadi hakim oleh Allah. Karena itu, jabatan hakim ini bukanlah jabatan biasa, melainkan Jabatan ilahiah. Praktisnya dia juga Nabi-hakim. Jabatan ketiga yang resmi diemban Nabi saw dan jabatan ini diberikan kepadanya oleh Al-Qur’an adalah jabatan sebagai kepala negara. Dia adalah kepala negara dan pemimpin masyarakat Muslim. Dengan kata lain, dalam masyarakat Muslim dia adalah pembuat kebijakan dan orang yang memiliki kemampuan memerintah dengan baik. Diyakini bahwa aspek ini, yang terdapat dalam diri Nabi saw, yang digambarkan oleh ayat Al-Qur’an,

Wahai Orang-orang beriman, taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya dan pemimpin-pernimpin (kompeten)-mu. (QS. an-Nisâ’: 59)

Sesungguhnya tiga jabatan yang diemban Nabi saw bukan sekadar jabatan formal atau seremonial. Petunjuk dan perintah yang kita terima darinya pada dasarnya ada tiga macam:

(1) Macam pertama berupa wahyu Allah. Mengenai wahyu Allah ini Nabi saw tak dapat berbuat atas inisiatifnya sendiri. Fungsi satu-satunya adalah menyampaikan kepada umat manusia wahyu yang diturunkan kepadanya.

(2) Petunjuk dan perintah agama. Misal, Nabi mengajarkan bagaimana salat dan berpuasa. Namun ketika dia melaksanakan keadilan, maka keputusannya bukan keputusan wahyu. Kalau terjadi perselisihan antara dua orang, maka Nabi memutuskan perkaranya berdasarkan standar Islam, dan memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah. Dalam hal seperti ini, Jibril tidak turun membawa wahyu untuknya. Kalau untuk kasus-kasus luar biasa, masalahnya lain. Pada umumnya Nabi saw memutuskan semua perkara hukum berdasarkan bukti yang ada, persis seperti yang dilakukan orang lain. Paling banter dapat dikatakan bahwa keputusannya lebih baik dibanding keputusan orang lain. Nabi sendiri mengatakan bahwa dirinya diperintahkan untuk menyampaikan pendapat berdasarkan apa yang tampaknya masuk akal. Misal ada penggugat dan tergugat, dan penggugat mengajukan dua saksi yang tak tercela. Nabi akan memutuskan perkara ini berdasarkan bukti mereka. Jadi, keputusan ini akan merupakan keputusan Nabi sendiri, dan bukan keputusan yang diwahyukan kepadanya.

(3) Dalam kapasitas ketiga ini, ketika Nabi saw memberikan perintah sebagai pemimpin masyarakat, sifat perintahnya ini beda dengan sifat apa yang disampaikannya sebagai wahyu Allah. Allah mengangkat Nabi sebagai pemimpin masyarakat. Dalam kapasitas ini Nabi terkadang bermusyawarah. Kita tahu bahwa Nabi bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya pada waktu Perang Badar dan Uhud dan pada banyak kesempatan lainnya. Tampaknya tak ada musyawarah mengenai perintah wahyu Tuhan. Nabi tak pernah bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya mengenai bagaimana bersembahyang maghrib. Kalau ada masalah-masalah tertentu yang ditanyakan kepada Nabi, sementara Allah memerintahkan begini, maka Nabi harus mengikuti perintah-Nya. Namun untuk masalah-masalah yang tak ada ketentuan ilahiahnya, Nabi sering berkonsultasi dengan sahabat untuk meminta pendapatnya. Kalau dalam kasus-kasus seperti ini Nabi mengeluarkan ketentuan, ini dilakukannya karena Nabi mendapat wewenang dari Allah untuk melakukan demikian. Dalam beberapa kasus yang berkaitan dengan manajemen sosial, memang Nabi juga menerima wahyu, namun ini merupakan kasus yang luar biasa. Biasanya Nabi tidak menerima petunjuk terperinci mengenai masalah-masalah sosial-politik, dan mengenai masalah-masalah ini Nabi tidak bcrtindak sebagai rasul semata. Fakta yang tak dapat dipungkiri moniuijukkan bahwa Nabi, dalam semua kapasitas ini, bekerja simuhan.

Imamah dalam Arti Pemimpin Masyarakat

Makna pertama imamah seperti disebutkan di atas adalah mgas umum masyarakat. Salah satu jabatan Nabi yang kosong begini Nabi wafat adalah kepemimpinan masyarakat. Jelas, masyarakat butuh pemimpin. Siapa pemimpin masyarakat sepeninggal Nabi? Baik kaum Syiah maupun kaum Sunni sepakat bahwa masyarakat membutuhkan pemimpin dan panglima tertinggi. Di sinilah timbul masalah khilafah. Kaum Syiah mengatakan bahwa Nabi sendiri telah menunjuk penerusnya dan mengumumkan bahwa sepeninggal dirinya Imam Alilah yang memegang kendali urusan kaum Muslim. Kaum Sunni yang logika lain tidak menerima pandangan ini setidak-tidaknya dalam bentuk yang diterima kaum Syiah. Menurut kaum Sunni, Nabi tidak menunjuk siapa pun sebagai penerusnya, dan tugas kaum Muslim sendiri untuk memilih pemimpin. Kaum Sunni menerima prinsip Imamah ketika mereka mengatakan bahwa kaum Muslim membutuhkan pemimpin. Yang mereka katakan adalah bahwa pemimpin dipilih oleh kaum Muslim. Kaum Syiah justru mengatakan bahwa Nabi sendirilah yang menunjuk penerusnya berdasarkan wahyu Allah.

Kalau saja masalah imamah sekadar masalah kepemimpinan politik sepeninggal Nabi, kami, kaum Syiah, tentu tak akan menganggap imamah sebagai prinsip pokok agama, dan tentu pas kalau menggolongkan masalah ini sebagai masalah tambahan. Dapat kami katakan bahwa masalah imamah yang dipercaya kaum Syiah sekadar mendeklarasikan bahwa Imam Ali as adalah salah seorang sahabat Nabi saw seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan banyak lainnya atau bahkan seperti Abu Dzar dan Salman, namun Imam Ali as lebih baik, lebih berilmu, lebih takwa dan lebih mampu dibanding sahabat-sahabat lain dan bahwa Nabi saw menunjuk Imam Ali as sebagai penerusnya. Namun kaum Syiah tidak berhenti di sini saja. Mereka mempercayai dua ajaran yang tak ada di kaum Sunni. Salah satunya adalah imamah dalam arti otoritas keagamaan.

Imamah dalam Arti Otoritas Keagamaan

Telah kami kemukakan bahwa Nabi saw menyampaikan wahyu Allah SWT yang diterimanya kepada orang yang bebas bertanya kepada Nabi apa saja yang ingin diketahuinya tentang ajaran Islam. Orang juga bertanya kepada Nabi tentang apa yang tak didapati mereka dalam Al-Qur’an. Sekarang pertanyaannya adalah apakah isi Al-Qur’an dan apa yang telah disampaikan Nabi kepada khalayak umum adalah apa yang diinginkan Islam, yaitu menyampaikan petunjuk, ajaran dan pengetahuan Islam? Karena itu, Nabi saw mendidik Imam Ali as, penerusnya, sebagai pakar luar biasa, dan mengajarkan kepada Imam Ali as scgalanya tentang Islam, setidak-tidaknya semua prinsip dan norma umum Islam. Imam Ali as adalah sahabat Nabi yang paling mencolok keunggulannya. Dia maksum seperti Nabi saw, Dia bahkan tahu apa yang disiratkan oleh Allah SWT.

Nabi saw bersabda ketika memperkenalkan Imam Ali as:

“Sepeninggalku, bawalah semua masalah keagamaan kepada Ali, tanyakan kepada Ali dan penerus-penerusku yang lain apa saja yang ingin kalian ketahui.”

Dalam hal ini, imamah merupakan spesialisasi dalam Islam, suatu spesialisasi yang luar biasa dan ilahiah, yang jauh di atas derajat spesialisasi yang dapat dicapai mujtahid. Para imam adalah pakar dalam Islam. Pengetahuan istimewa mereka mengenai Islam bukan didapat dari akal pikiran mereka sendiri yang bisa saja salah. Mereka menerima pengetahuan dengan cara yang tak kita ketahui. Imam Ali as menerima pengetahuan tentang ilmu-ilmu Islam langsung dari Nabi saw. Dan Imam-imam berikutnya menerimanya melalui Imam Ali bin Abi Thalib as. Dalam kasus imam-imam, pengetahuan ini tak mengandung kekeliruan. Pengetahuan ini diturunkan dari satu imam ke imam yang lain.

Kaum Sunni tak percaya adanya orang yang berposisi seperti itu. Dengan kata lain, kaum Sunni tidak mempercayai adanya imam dalam pengertian seperti ini. Kaum Sunni mengatakan bahwa, alih-alih Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar adalah Imam. Mereka tidak mengakui bahwa sahabat Nabi, tidak Abu Bakar, tidak Umar, tidak Utsman, memegang jabatan seperti itu. Itulah sebabnya mereka menganggap begitu banyak kekeliruan dalam masalah keagamaan berasal dari Abu Bakar dan Umar. Sebaliknya, kaum Syiah percaya imam-imam mereka maksum, dan tak akan pernah mengakui bahwa imam-imam mereka pernah berbuat keliru. Namun kaum Sunni, dalam buku-buku mereka, mengatakan bahwa Abu Bakar pernah mengatakan begini, namun dia salah. Ketika menyadari kekeliruannya, dia berkata bahwa ada setan yang selalu mengalahkannya. Kaum Sunni juga mengatakan bahwa Umar pernah berbuat keliru, dan kemudian, dengan menyebut-nyebut wanita-wanita tertentu, menyatakan bahwa wanita-wanita itu lebih alim dibanding dirinya.

Konon ketika Abu Bakar meninggal, anggota keluarganya yang wanita, termasuk putrinya, Aisyah, istri Nabi saw, menangis. Ketika Umar mendengar ratapan mereka, Umar mengirim pcsan kepada mereka agar diam, namun mereka tidak memenuhi pcrmintaan Umar. Umar mengirim pesan lagi dan kemudian mengancam akan menghukum mereka. Akhirnya Aisyah diberitahu oleh beberapa wanita bahwa Umar mengancam kalau mereka tak mau diam. Aisyah menyuruh memanggil Umar. Ketika Umar datang, Aisyah menanyakan apa yang diinginkan dikatakan Umar dan kenapa Umar mengirim pesan demi pesan. Umar mengatakan mendengar Nabi saw bersabda:

“Kalau ada orang meninggal, lalu anggota keluarganya menangisinya, maka orang yang meninggal tersebut akan mendapat hukuman.” Aisyah berkata, “Anda tidak mengerti. Anda salah. Masalahnya bukan begitu. Aku tahu bagaimana itu. Ketika seorang Yahudi yang jahat meninggal, keluarganya menangisinya. Nabi saw bersabda bahwa mereka menangis dan dia dihukum. Nabi saw tidak mengatakan bahwa dia dihukum karena mereka menangis. Nabi saw mengatakan bahwa mereka menangisinya, namun mereka tidak tahu bahwa dia tengah dihukum. Bagaimana hubungannya dengan masalah ini? Meskipun menangis dilarang, kenapa Allah harus menghukum orang tak berdosa karena dosa yang kita lakukan?” “Aneh”, kata Umar. “Begitukah?” “Ya,” kata Aisyah, “begitulah.” Umar pun berkata, “Seandainya wanita-wanita ini tak ada, Umar akan celaka.”

Kaum Sunni sendiri mengatakan bahwa tujuh puluh (sangat banyak) kali Umar berkata, “Kalau tak ada Ali, Umar akan celaka.” Umar sendiri berkali-kali mengakui bahwa Ali sering meluruskan kesalahan-kesalahannya, dan Umar biasa mengakui kesalahannya. Pendek kata, kaum Sunni tidak mempercayai imam dalam pengertian seperti yang kami yakini. Namun fakta yang tak terpungkiri menunjukkan bahwa Nabi sajalah yang menerima wahyu samawi. Kami tidak mengatakan bahwa para imam juga menerima wahyu. Risalah Islam disampaikan kepada umat manusia oleh Nabi saja, dan kepada Nabi saja Allah menurunkan ajaran-ajaran penting Islam. Tak ada ajaran dan ketentuan Islam yang tidak diwahyukan kepada Nabi. Namun pertanyaan apakah semua ajaran Islam disampaikan kepada seluruh manusia, lain masalahnya. Kaum Sunni mengatakan bahwa Nabi menyampaikan semua ajaran Islam kepada sahabat-sahabatnya. Namun kaum Sunni berada dalam dilema ketika menghadapi problem yang tak ada riwayatnya dari sahabat Nabi. Untuk memecahkan situasi ini, kaum, Sunni mengemukakan hukum analogi, dengan hukum analogi ini mereka mengaku melengkapi apa yang tak ada. Dalam hubungan ini Imam Ali as berkata, “Apakah Anda bermaksud mengatakan bahwa agama Allah tidak lengkap, dan Andalah yang melengkapinya?” (Nahj al-Balâghah, khotbah 18)

Kaum Syiah justru mengatakan bahwa Allah SWT menurunkan ajaran Islam dengan lengkap kepada Nabi saw, dan Nabi saw me­nyampaikannya dengan lengkap kepada umat manusia. Nabi saw menyampaikannya dengan lengkap, namun Nabi saw tidak menyebutkan segala sesuatunya kepada manusia pada umumnya. Sesungguhnya banyak pertanyaan diajukan selama hayat Nabi saw. Namun, Nabi saw menyampaikah semua ajaran yang diterimanya dari Allah kepada murid istimewanya, Imam Ali bin Abi Thalib as, dan meminta Imam Ali as untuk menyampaikannya kepada masyarakat bila diperlukan.

Di sinilah muncul masalah kemaksuman. Kaum Syiah mengata­kan bahwa karena Nabi saw, sengaja atau tidak, tak mungkin salah bicara, murid istimewanya pun tak mungkin salah, karena Nabi saw mendapat pertolongan dari Allah SWT, murid istimewa ini pun mendapat pertolongan dari Allah SWT. Inilah satu lagi karakter imamah.

Imamah dalam Arti Wilayah

Ini merupakan arti ketiga imamah, dan sungguh artinya yang paling tinggi. Dalam ajaran Syiah, pengertian seperti ini sangat dititikberatkan. Sedikit banyak, wilayah merupakan titik kesamaan antara Syiah dan tasawuf. Namun kalau kami kata demikian, jangan salah paham, karena mungkin Anda mendapati apa yang dikatakan kaum orientalis mengenai hal ini. Mereka mengatakan bahwa wilayah adalah masalah yang sangat mendapat perhatian kaum sufi dan mendapat perhatian kaum Syiah juga sejak masa awal Islam. Saya ingat bahwa sekitar sepuluh tahun silam seorang orientalis mewawancarai Allamah Thabathaba’i. Salah satu pertanyaan yang diajukannya adalah apakah Syiah mengambil konsepsi wilayah dari kaum sufi, atau kaum sufi mengambilnya dari Syiah. Faktanya adalah doktrin wilayah sudah ada di kalangan Syiah ketika belum ada tasawuf. Kalau saja terjadi pengambilan dari yang satu oleh yang lain, maka harus dikatakan bahwa kaum sufilah yang mengambil­nya dari Syiah. Masalah wilayah dapat disamakan dengan masalah manusia sempurna dan penguasa zaman. Kaum sufi sangat menekankan poin ini.

Maulawi mengatakan bahwa di setiap masa ada seorang wali, qa’im (penguasa zaman). Di setiap masa ada seorang manusia sempurna yang memiliki semua keunggulan manusiawi. Tak ada zaman yang tak ada wall sempurnanya, yang sering digambarkan sebagai quthb (poros, otoritas). Kaum sufi percaya bahwa wall sempurna adalah juga manusia sempurna. Mereka menganggap wall sempurna memiliki banyakjabatan, sebagiannya tak dapat kita mengerti, Salah satu jabatannya adalah mengendalikan hati manusia, dalam pengertian bahwa dia adalah roh universal yang mengungguli semua roh. Maulawi secara tidak langsung menyebut jabatan ini dalam kisahnya tentang Ibrahim bin Adham. Kisah ini tak lebih dari cerita fiksi belaka. Namun Maulawi bercerita untuk menjelaskan apa yang dimaksudnya. Dia bercerita hanya untuk menekankan. maksudnya. Maulawi mengatakan bahwa Ibrahim bin Adham pergi ke sungai, kemudian melemparkan jarum ke sungai itu. Lalu dia menginginkan kembalinya jarum itu. Ikan-ikan pada menyembulkan kepalanya dari sungai, masing-masing membawa satu jarum di mulutnya. Maulawi selanjutnya mengatakan, “Wahai yang tak memiliki kemampuan, perhatikan hati Anda di hadapan mereka yang memiliki sifat-sifat unggul hati.”

Selanjutnya dia mengatakan, “Syaikh (pemandu spiritual) itu jadi sadar akan apa yang ada di hati orang. Syaikh bisa tahu itu karena dirinya bagaikan singa, sedangkan hati orang bagaikan sarangnya”.

Syiah pada umumnya menggunakan kata wilayah dalam artinya yang paling tinggi. Mereka percaya bahwa wali dan imam adalah penguasa zaman, dan selalu ada seorang manusia sempurna di dunia ini. Dalam kebanyakan ziyarah (penghormatan) yang kami baca, kami mengakui eksistensi wilayah dan imamah dalam pengertian ini, dan percaya bahwa imam memiliki roh universal. Dalam ziyarah itu, yang kami baca dan kami anggap sebagai bagian dari ajaran Syiah, kami mengatakan, “Aku memberikan kesaksian bahwa engkau melihat di mana aku berada; engkau mendengar perkataanku dan membalas salamku.” Perlu dicatat bahwa kami sampaikan itu kepada seorang imam yang telah wafat. Dari sudut pandang kami, dalam hal ini tak ada bedanya antara imam yang telah wafat dan imam yang masih hidup. Kami katakan, “Salam atasmu, Ali bin Musa ar-Ridha. Aku menyadari dan memberikan kesaksian bahwa engkau mendengar dan membalas salamku.”

Kaum Sunni, kecuali kaum Wahabi, percaya bahwa Nabi saw saja yang memiliki kualitas mengetahui dan mendengar ini. Menurut mereka, di dunia ini tak ada lagi yang memiliki status spiritual yang tinggi seperti itu dan persepsi spiritual seperti itu. Namun kami, kaum Syiah, percaya bahwa posisi ini dimiliki oleh imam-imam kami. Kepercayaan ini merupakan bagian dari prinsip agama kami, dan kami selalu mengakuinya.

Pendek kata, masalah imamah ada tiga derajatnya, dan kalau kami tidak membedakan ketiga derajat ini, kami akan menghadapi kesulitan berkenaan dengan pengambilan kesimpulan tertentu dalam hubungan ini. Berdasarkan ketiga derajat ini, ada tiga kelompok dalam Syiah. Mereka mengatakan bahwa Nabi saw mengangkat Imam Ali as sebagai pemimpin masyarakat sepeninggalnya, dan bahwa Abu Bakar, Umar dan Utsman tak dapat mengklaim posisi ini. Orang-orang seperti ini menjadi Syiah hanya sebatas ini saja. Mereka tidak mempercayai dua derajat selanjutnya, atau bungkam tentang dua derajat ini. Sebagian lainnya mem­percayai derajat kedua meski tidak mempercayai derajat ketiga. Konon almarhum Muhammad Baqir Durchal, guru Ayatullah Burujerdi di Isfahan, tak mempercayai derajat ketiga ini. Namun mayoritas Syiah dan ulama Syiah mempercayai derajat ketiga juga.

Kalau mau membahas imamah, maka harus dibahasnya dalam tiga tahap; imamah menurut Al-Qur’an, imamah menurut hadis, dan imamah menurut akal. Pertama-tama man kita lihat apakah ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan imamah menunjukkan arti imamah seperti yang diyakini kaum Syiah. Dan jika begitu, apakah menunjukkan imamah dalam pengertian kepemimpinan politik dan sosial saja, ataukah dalam pengertian otoritas keagamaan dan wilayah spiritual juga. Setelah ini dijelaskan, baru kita lihat apa yang dikatakan hadis-hadis Nabi mengenai imamah. Akhirnya kita analisis imamah dari sudut pandang akal, dan kita lihat apa yang dikatakan akal mengenai tahap-tahapnya itu. Apakah pandangan Sunni yang menyebutkan bahwa penerus Nabi harus dipilih oleh umat lebih masuk akal, atau apakah merupakan fakta kalau Nabi sendiri telah mengangkat penerusnya? Begitu juga, apa yang sesuai dengan akal berkenaan dengan dua lagi arti imamah.

Hadis Imamah

Sebelum mengemukakan ayat-ayat Al-Qur’an tentang imamah, kami ingin mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Syiah dan Sunni. Biasanya hadis yang sama-sama disepakati oleh Syiah dan Sunni tak dapat diabaikan, karena kesepakatan ini menunjuk­kan bahwa hadis itu autentik, sekalipun susunan katanya bisa saja berbeda dalam beragam riwayat. Kami, kaum Syiah, biasanya meriwayatkan hadis ini seperti ini: “Barangsiapa mati sementara tidak mengenal imam zamannya, maka dia mati jahiliah.” Kata-kata ini sangat serius, karena pada periode jahiliah orang tidak mempercayai keesaan Allah (tauhid) dan juga tidak mempercayai kenabian. Hadis ini terdapat di sebagian besar kitab hadis Syiah, termasuk “al-Kâfî” yang dianggap sebagai koleksi hadis Syiah paling andal. Fakta pentingnya adalah hadis ini juga terdapat dalam kitab-kitab Sunni. Menurut satu riwayat mereka menyebut susunan kata “Barangsiapa mati tanpa imam, maka matinya mati jahiliah.” Susunan kata lainnya adalah “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berbaiat, maka matinya mati jahiliah.” Teks lain mengatakan, “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak berimam, maka matinya mati jahiliah.” Ada beberapa versi lain, dan itu menunjukkan betapa Nabi saw memandang sangat pending masalah imamah.

Mereka yang menerima imamah hanya dalam pengertian kepemimpinan sosial mengatakan bahwa Nabi saw memandang sangat penting masalah kepemimpinan karena hukum Islam baru dapat dilaksanakan kalau ada pemimpin yang bajik dan kesetiaan kuat umat kepadanya. Islam bukanlah agama individualistik. Tak ada yang dapat mengatakan bahwa karena dia mempercayai Allah dan Nabi-Nya, maka dia tak ada hubungannya dengan orang lain. Setiap orang harus tahu dan mengerti siapa imam pada masanya, dan harus beraktivitas di bawah naungan kepemimpinannya.

Mereka yang menerima imamah dalam pengertian otoritas keagamaan mengatakan bahwa barangsiapa memperhatikan agamanya, maka dia harus mengenal otoritas keagamaannya, dan harus tahu siapa yang harus diikutinya dalam masalah agama. Mutlak tidak Islami kalau mempercayai agama namun mendapatkan agama dari sumber yang bertentangan dengan agama itu sendiri.

Mereka yang menerima imamah dalam pengertian wilayah spiritual mengatakan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa orang yang tidak di bawah perwalian wali yang sempurna, maka dia seperti orang yang mati pada masa jahiliah. Karena hadis ini mutawatir (diriwayatkan oleh rangkaian otoritas yang banyak jumlahnya), maka kami sebudcan hadis ini dahulu untuk pegangan dalam pembahasan lebih lanjut masalah imamah. Kini man kita lihat ayat-ayat Al-Qur’an.

Imamah dalam Al-Qur’an

Beberapa ayat Al-Qur’an dikutip oleh kaum Syiah berkaitan dengan imamah. Salah satunya diawali dengan kata-kata, “Walimu hanyalah Allah.” Dalam semua kasus ini ada hadis-hadis Sunni yang mendukung sudut pandang Syiah. Bunyi ayat ini adalah:

Walimu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman yang menegakkan salat, membayar zakat seraya rukuk. (QS. al-Mâ`idah: 55)

Kata yang digunakan dalam ayat ini adalah wait yang artinya wali. Karena itu wilayah artinya perwalian. Menurut ajaran Islam, zakat tidak dibayar sembari rukuk. Karena itu membayar zakat sembari rukuk tak dapat disebut prinsip atau norma umum yang berlaku untuk banyak orang. Ayat ini berkenaan dengan satu peristiwa yang terjadi hanya sekali. Peristiwa ini diriwayatkan oleh Syiah maupun Sunni. Imam Ali as tengah rukuk ketika seorang peminta-minta datang meminta sedekah. Imam Ali as memberi isyarat dan menarik perhatiannya dengan jarinya. Si peminta-minta segera mengambil cincin Imam Ali as dari jarinya, lalu pergi. Dengan kata lain, Imam Ali as tidak menunggu sampai salatnya selesai. Imam Ali as begitu luar biasa sehingga dalam keadaan tengah salat pun Imam dengan isyarat menyuruh si peminta-minta untuk mengambil cincin di jari Imam, menjualnya dan menggunakan uangnya untuk memenuhi kebutuhannya.

Baik kaum Syiah maupun Sunni sepakat bahwa Imam Ali as berbuat demikian, dan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan ini. Dapat dicatat bahwa bersedekah dalam keadaan tengah rukuk tidak termasuk dalam ajaran Islam. Bukan wajib dan bukan pula dianjurkan. Karena itu tak dapat dikatakan bahwa beberapa orang melakukan demikian. Karena itu (mereka yang berbuat demikian) jelaslah yang dimaksud adalah Imam Ali as. Di beberapa tempat Al-Qur’an menggunakan ungkapan “mereka mengatakan…”, padahal hal itu diucapkan oleh hanya satu orang. Di sini juga “mereka yang berbuat demikian” artinya adalah si individu yang berbuat demikian. Karena itu melalui ayat ini Imam Ali as diangkat menjadi wali umat Muslim. Namun demikian, ayat ini perlu dibahas lebih lanjut, dan pembahasannya nanti. Ada ayat-ayat lain ber­kenaan dengan peristiwa Ghadir. Peristiwa ini sendiri merupakan bagian dari tradisi Islam. Ini akan dibahas nanti. Salah satu ayat tersebut, yang turun berkenaan dengan peristiwa Ghadir, berbunyi:

Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu, karena jika tidak, kamu berarti tidak menyampaikan risalah-Nya. (QS. al-Mâ`idah: 67)

Nada ayat ini sama seriusnya dengan nada hadis, “Barangsiapa mati dalam keadaan tidak mengenal Imam zamannya, maka matinya mati jahiliah.” Singkatnya dapat dikatakan bahwa ayat itu sendiri menunjukkan bahwa pokok masalahnya begitu penting sehingga kalau Nabi tidak menyampaikannya, berarti Nabi sama sekali tidak menyampaikan risalah Allah.

Syiah dan Sunni sepakat bahwa Surah al-Mâ`idah adalah Surah terakhir yang diturunkan kepada Nabi saw, dan ayat ini merupakan satu dari ayat-ayat terakhir Surah ini. Dengan kata lain, turun ketika Nabi sudah menyampaikan semua hukum dan ajaran lain Islam selama 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah sebagai Nabi saw. Ayat ini termasuk petunjuk, perintah atau ajaran terakhir Islam. Kini kaum Syiah bertanya petunjuk, ajaran atau perintah seperti apa yang begitu penting sehingga kalau tidak disampaikan, maka seluruh yang dikerjakan Nabi di masa sebelumnya jadi batal. Anda tak mungkin dapat menunjukkan pokok masalah apa pun yang berkaitan dengan tahun-tahun terakhir hayat Nabi saw yang begitu penting. Namun kami katakan bahwa masalah imamah begitu penting sehingga kalau imamah hilang, maka tak ada lagi yang tersisa. Tanpa imamah, seluruh bangunan Islam akan hancur lebur. Kaum Syiah mengutip riwayat-riwayat dan hadis-hadis Sunni itu sendiri untuk memperkuat klaim mereka bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa Ghadir Khum.

Dalam Surah al-Mâ`idah itu sendiri ada ayat lain yang bunyinya,

Hari ini Aku sempurnakan agamamu bagimu, lengkapkan karunia-Ku kepadamu, dan Aku pilih Islam sebagai agamamu. (QS. al-Mâ`idah: 3)

Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari itu terjadi sesuatu, yang begitu penting sehingga agama jadi sempurna, karunia Allah kepada umat manusia jadi lengkap, dan tanpa itu Islam tak mungkin seperti yang dikehendaki oleh Allah SWT. Kaum Syiah berargumen bahwa nada ayat ini menunjukkan bahwa sesuatu yang berkenaan dengan ayat ini begitu penting sehingga eksistensi Islam sebagai agama yang benar itu sendiri bergantung pada sesuatu itu. Sekarang pertanyaannya adalah seperti apa sesuatu itu. Kaum Syiah mengatakan dapat menunjukkan sesuatu itu. Sedangkan kaum lainnya tidak. Selain itu, ada riwayat-riwayat yang menegaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan masalah imamah. Tiga ayat ini yang merupakan substansi argumen-argumen Syiah sudah kami kemukakan.

Kelemahan Akidah Sifat Dua Puluh dan Perlunya Rekonstruksi Teologi Islam Klasik Sunni !

KESALAHAN FATAL AJARAN SiFAT 20…
PENGKAFiRAN DALAM KiTAB KUNiNG YANG KEJi OLEH SYAiKH SANUSi…

Inilah BARANG BUKTi  KiTAB KiFAYATUL ‘AWAM :

Terjemahan kitab: ===Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama berkata : “ TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Ibnul Arabi dan Sanusi mengikuti pendapat ini===

Siapakah PENYUSUN DAFTAR SiFAT 50 PERTAMA KALi ?????
Jawab : Ajaran Sifat 20 atau akidah 50 di susun pertama kali oleh Syaikh As Sanusi ( lahir tahun 1437 M dan wafat tahun 1490 M ) dalam Kitab Umm Al Barahin…

Ajaran sifat 20 bukan lah susunan Abu Hasan Al Asy’ari.. Ini fakta sejarah internasional…

Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa Mengimani dalil NAQLi (Al Quran dan Hadis adalah wajib hukum nya).. Murid SD pun tahu hal tersebut

Akan tetapi, apakah mengimani dalil aqli ( dalil akal ) yang dikarang OLEH Si PENYUSUN DAFTAR akidah  50 adalah mutlak wajib ????? Mari kita buktikan :

1. Dalam berbagai kitab kalam (kitab kuning) disebut kan tentang TEORi JAUHAR FARD (teori atom)… Menurut orang zaman dulu, atom (bahasa arab: jauhar fard) adalah benda yang amat halus, materi yang tidak dapat dibagi bagi lagi karena sangat halus nya..

Namun FATAL !!!!!!!!! Akal orang zaman dulu patah ketika perkembangan ilmu alam modern (ahli science modern) ternyata mampu membagi bagi atom menjadi electron, proton dan neutron…. Orang Islam yang pertama kali memaparkan teori tersebut ialah Abu Huzail al ‘Ulaaf tokoh Mu’tazilah dari Bashrah.. T

teori ini bersumber dari seorang filosof Yunani; DEMOCRiTOS… Teori Jauhar Al Fard sebenarnya dimaksud kan untuk menyanggah teori materi eternal (Al Maddah al Qadimah) yang di kemukakan oleh Aristoteles… Apakah dalil akal yang macam begini jika tidak kita percayai membuat kita jadi KAFiR ???? Tanya aja murid SD

2. Pada dalil kebaruan alam terdapat 7 pokok pembicaraan yang terkenal dengan sebutan mathalib sab’ah.. Syaikh Bajuri menyatakan : “mathalib sab’ah ini tidak dapat diketahui kecuali oleh orang orang yang rasikh atau yang sangat dalam ilmu nya”… Syaikh Sanusi menyatakan : “dengan mathalib sab’ah inilah si mukallaf akan selamat dari pintu jahannam yang tujuh”… Ini merupakan dalil akal yang bercampur filsafat Yunani yang mereka masukkan kedalam kitab kuning…

Apakah dalil akal yang macam begini, jika tidak kita percayai membuat kita jadi KAFiR ? akidah bukan dari orang orang filsafat

Ilmu mantiq yang berasal dari sikafir yunani digunakan untuk pembahasan akidah islam

Akidah yang benar adalah akidah Rasulullah S.A.W dan para sahabat nya r.a… Akidah bersifat tauqifiyyah dan ittiba’ pada Rasulullah S.A.W

Menurut penulis, sejumlah pembahasan ilmu kalam dalam kitab kuning merupakan model teologi yang telah dikembangkan oleh para pengikut Asy’ariyah, tidak selalu sama dengan pokok pemikiran Imam Abu Hasan Asy’ari.. Misal nya : Ajaran Sifat 20 di susun oleh Syaikh As Sanusi ( 1437 M- 1490 M ) dalam Kitab Umm Al Barahin… Ajaran sifat 20 bukan lah susunan Abu Hasan Al Asy’ari.. Ini fakta sejarah internasional…

Terdapat sejumlah kejanggalan ilmu kalam dalam kitab kuning, misal nya :
1. Pada dalil kebaruan alam terdapat 7 pokok pembicaraan yang terkenal dengan sebutan mathalib sab’ah ( silahkan check : Kitab Kifayatul Awam )

Syaikh Bajuri menyatakan : “mathalib sab’ah ini tidak dapat diketahui kecuali oleh orang orang yang rasikh atau yang sangat dalam ilmu nya”

Syaikh Sanusi menyatakan : “dengan mathalib sab’ah inilah si mukallaf akan selamat dari pintu jahannam yang tujuh”

JAWABAN SAYA :
Wahai Syaikh As Sanusi !!!! Bagaimana gerangan pendapat mu terhadap para Sahabat Rasulullah dan ulama ulama lain yang tidak menetap kan adanya Tuhan dengan perantaraan mathlab tujuh itu ?? Apakah lantaran itu pintu neraka jahannam menjadi terbuka bagi beliau beliau itu ?????

Wahai Syaikh Bajuri !!!!! apakah ilmu beliau beliau itu itu kurang rasikh atau tidak rasikh ???? Jangan mencampur akidah Islam dengan filsafat !!!!

2. Tentang bahagian bahagian alam.. Menurut orang orang mu’tazilah ; benda terdiri dari bagian bagian kecil yang tidak dapat dibagi bagi lagi (jauhar fard atau atom). Teori atom ini menjadi dasar pendapat mu’tazilah tentang kekuasaan Tuhan dan hubungan nya dengan alam…. Teori ini bersumber dari seorang filosof Yunani; DEMOCRiTOS yang masih di sengketakan di antara filosof filosof Yunani

Dengan demikian, akan timbul permasalahan sebagai berikut :
a. Kenapa dalam sejumlah kitab kuning; teori jauhar fard di anggap sebagai bagian dari akidah Islam versi Asy’ariyyah ??? Padahal sejarah pemikiran Islam membuktikan bahwa orang yang pertama kali memaparkan teori tersebut ialah Abu Huzail al ‘Ulaaf tokoh Mu’tazilah dari Bashrah.

b. Kalau penulis kitab Kifayatul Awam ingin membuktikan Tuhan dengan teori Jauhar Fard ( atom, dari bahasa Yunani : atomos; individed )… Bagaimana kah dengan penemuan baru bahwa atom terdiri dari proton, neutron dan electron ?
c. Teori tersebut bukan dari Islam… Itukah dalil aqli yang harus kita percayai ?

3.Al Qur an juga tidak menggunakan istilah istilah filsafat seperti jauhar, aradl dan sebagai nya.. karena agama tidak hanya untuk orang orang filosof

4.Membahas hukum hukum akal ( law of reason ) yang terbagi dalam tiga kategori :
– wajib pada akal, mustahil pada akal, jaiz pada akal .. Menurut para pengkaji; penggunaan hukum hukum ini di pengaruhi dialektika Yunani dan logika Aristoteles…..

.

Meyakini sifat 20  menjadi kewajiban umat islam Sunni dengan alasan alasan akal…

Penyusun daftar akidah sifat 20 adalah Abu Abdillah  Muhammad bin Yusuf As Sanusi (833 – 895 H / 1427 – 1490 M ) atau popular dengan panggilan Syaikh Sanusi  dari Tilimsan Negara Al Jazair, beliau mengarang kitab UMMUL  BARAHiN (Aqidah Sughra)

Sifat 20 atau akidah 50 merupakan tahrif terhadap sifat sifat Allah SWT

Apakah itu yang namanya tauhid ???

Saudaraku…

Yang pasti tidak ada dalil yang menyatakan sifat wajib Allah SWT  cuma dua puluh…

Lagipula Nabi SAW, sahabat dan para imam ahlul bait tidak pernah menyebut nyebut sifat 20 ataupun  akidah 50…

Pemahaman “Sifat Allah Yang Wajib Cuma 20″ bukan kebenaran mutlak dan bisa dikritik.

Pada masa Nabi  SAW, akidah belum bercampur dengan unsur unsur budaya luar, masalah baru muncul saat wilayah Islam meluas ke daerah non Arab yang mana daerah daerah tersebut sudah memiliki budaya sendiri…

Ilmu kalam pesantren menyusun akidah wajib dengan pemahaman filosofis sehingga sesuatu yang sebenarnya masih dalam tahap filsafat teoritis dinaikkan tingkat menjadi akidah…

Padahal yang namanya filsafat teoritis masih bersifat praduga sehingga mazhab sunni tidak lagi mengenal yang mana akidah dan yang mana filsafat…

Pandangan filosofis dianggap kebenaran mutlak dan disamarkan menjadi akidah wajib, disitulah letak kesalahan  Asy’ari dan penerus penerusnya

Misal : Terminologi seperti  jauhar, jisim, ‘aradh, jirim, jauhar fard dan daur tasalsul dalam kitab kuning  sunni  itu bukanlah akidah tetapi filsafat teoritis yang dipakai untuk membahas materi

Mareka mentahrif sifat Allah menjadi Cuma 20 saja, apakah itu kerjaan umat Islam dan apa itu yang namanya tauhid ???

Pemikiran  kalam tentang Sifat 20 sudah banyak yang kritik, tetapi sudah enak. Kalau mereka mau dikritik maka tidak mungkin umat islam hari ini selemah sekarang..

Dalam Al Quran ada 1108 ayat tentang sains tetapi ulama sunni tidak menelitinya secara mendalam sehingga menimbulkan ekses yang sangat buruk bagi perkembangan Islam

Kita diperintah meneliti alam (apa yang ada dilangit dan dibumi)  atau meneliti makhluk Nya, mengapa ulama sunni mengabaikan perintah tersebut lalu sibuk meneliti yang tidak dianjurkan yaitu  Zat Nya…

Kitab kuning dianggap sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak ada budaya kritik, memunculkan kekakuan pemikiran !!!

Misal : Menurut mereka, orang yang mampu menghapal sifat 20 atau akidah 50 sudah dianggap tauhidnya mendalam…

Doktrin dan pendidikan agama di sekolah harus ditulis ulang, jangan berhenti berijtihad kontemporer dalam segala aspek

Berimanlah kepada ayat ayat Allah secara total tanpa memilah antara ayat ayat alam dengan ayat ayat syari’at

Setiap gagasan teologi dalam kitab kuning harus dikaji ulang. Ulama sunni jangan mengharamkan apalagi mengkafirkan orang orang yang melakukan pengkajian tersebut

Faktanya, untuk memperbaiki gagasan teologi tersebut sangat sulit karena dianggap sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak boleh ada ijtihad susulan…

Tauhid pada kitab kuning sunni sulit di revisi karena manusia tidak mau memakai AKAL yang telah ALLAH berikan…

Apa dampak buruk kalam dan manthiq Yunani seperti  aristoteles terhadap mazhab sunni ??

Jawab :

Dampak buruknya adalah menyerupakan Tuhan dengan makhluk, sebab titik tolak logika Aristoteles yang tidak berbasis wahyu kan bertentangan dengan logika yang berbasis wahyu

Allah SWT bukanlah objek yang bisa dijadikan objek eksperimen oleh ulama sunni.. Ahli kalam sunni terlalu berani membuat eksperimen terhadap Dia. Dia Yang Agung yang tidak dapat dicapai oleh pandangan materi…

Penjabaran kalam sunni terlalu dipaksakan padahal Allah SWT  tidak pernah meminta kita untuk meneliti Zat Nya, tetapi yang diminta adalah meneliti ciptaan Nya agar semakin mengenal Dia

Apa dampak fatal manthiq Aristoteles terhadap akidah sunni ??

Jawab :

Manthiq aristoteles dengan tolak ukur materi sedangkan Allah SWT immateri (transedent)  sehingga logika aristoteles tidak bisa dijadikan akidah, karena akidah Islam tidak butuh filsafat yunani dalam penjabaran

Yang pasti Allah SWT memerintahkan kita meneliti Alam agar mengenal Nya, jadi bukan dengan meneliti Zat Nya…

Pada tauhid asma’ wa shifat hingga detik ini masih memunculkan polemic berkepanjangan antara hambaliyyah (termasuk wahabi) dengan kaum sunni tradisional seperti NU

Sifat Allah SWT adalah apa yang Dia tetapkan dalam syari’at Nya…

Akal ahlul kalam sunni mempunyai batasan karena pengaruh ruang dan waktu, sementara Allah SWT tidak dibatasi oleh ruang dan waktu…

Teori jauhar, ‘aradh, jisim dll  YANG  SERiNG  DiSEBUT  SEBUT  DALAM KiTAB  KUNiNG  hanya berlaku untuk materi, bukan untuk membuktikan ada atau tidaknya Allah SWT karena Allah adalah immateri, tentu tidak bisa ditentukan keberadaan Nya dengan teori teori materi apalagi dengan teori yang masih bersifat trial and error (coba coba bisa gagal)

Kitab kuning teologi sunni banyak memakai istilah istilah Yunani untuk memahami tentang materi berdasarkan teori kebendaan.. lalu mereka pakai untuk menentukan keberadaan Allah SWT

.

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”.Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

bahwa kalam Asy’ari  dan  tasawuf adalah penyebab kemunduran Sunni  walaupun Asy’ariyah dan sufi  telah berjasa dalam menemukan keharmonisan mistis antara ukhrawi dan duniawi, meski tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan masyarakat muslim yang asy’ariyah  dan sufi sangat terbelakang di banding Barat.

Ilmu kalam lahir sebab polemik hebat antara sesama umat islam sendiri, ataupun antara umat islam dengan pemeluk agama lain. Keretakan ini sesunguhnya sudah mulai terbentuk setelah Rasul wafat

Setiap generasi memiliki tantangan yang khas. Setiap tantangan menghasilkan pemecahan yang khas pula. Maka dari itu, tidak mengherankan satu peradaban yang dibangun oleh generasi tertentu memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan peradaban yang dibangun oleh generasi yang lain. Setiap keunikan dalam peradaban tersebut adalah kebaikan dalam dirinya sendiri. Artinya adalah bahwa tidak setiap kebaikan yang ada pada masa tertentu adalah kebaikan juga pada masa yang lain.Untuk itu perubahan demi perubahan seharusnya diupayakan sebagai usaha pembaruan sebagai respon dari tantangan zaman.

Mu’tazilah  dipelopori oleh Wasil ibn Atho’. Mu’tazilah inilah, menurut Nurcholis Madjid, sebagai pelopor yang sungguh-sunggguh digiatkannya pemikiran tentang ajaran-ajaran pokok Islam secara lebih sistematis. Paham mereka amat rasional sehingga mereka dikenal sebagai paham rasionalis Islam. Sikap rasionalik ini dimulai dari titik tolak bahwa akal mempunyai kedudukan tinggi bahkan kedudukannya boleh dikatakan sama dengan wahyu dalam memahami agama.(Nurcholis Madjid, tt:21)

.

melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).

Pada dasarnya al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-Asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlak. Dengan demikian, jelasnya bahwa Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki dirinya, sedang Al-Asy’ari dari visi bahwa Allah adalah pemilik mutlak.

.

Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari golongan tradisiona Islam, terutama golongan Hanbai, yaitu pengikut-pengikut mazhab ibn Hambal. Mereka yang menentang ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisonal yang dipelopori Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324H/935M).(Abdurrahman Badawi, 1984:497) Disamping aliran Asy’ariyah, timbul pula suatu aliran di Samarkand yang juga bermaksud menentang aliran Mu’tazilah. Aliran ini didirikan oleh Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi (w.333H/944M). Aliran ini kemudian terkenal dengan nama teologi Al-Maturudiyah.(H.AR. Gibb, 1960:414)

Rumusan klasik di bidang teologi  sunni yang kita warisi dari para pendahulu Muslim pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari kenyataan-kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw.

.

Kritik atas Teologi Islam Klasik
Kalau kita perhatikan bahasan tentang doktrin-doktrin teologi Islam klasik itu adalah trend teosentris. Tuhan dan Ketuhanan (theos) menjadi core teologisnya. Dengan perumusan diskursus terutama pada Tuhan dan ketuhanan, sudah barang tentu teologi semacam itu (hanya) relevan sebagai alas struktur dari religiusitas yang “membela” Tuhan, bukan manusia. Untuk konteks zaman pertengahan Hijriyah, ketika era formatis Islam masih berlangsung, boleh jadi masih menemuni signifikansinya

.

Namun, untuk kontek saat, tatkala dunia telah bergerak maju kearah dunia modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dielakkan lagi untuk merekontruksi teologi Islam yang asalnya membela Tuhan (teosentris) menuju keberpihakan kepada kemanusiaan (antroposentri) sebagai suatu rangka pikir untuk memahami kenyataan sekaligus suatu motivasi religius untuk membalik-mengubanya menjadi lebih baik.

Merekontruksi teologi sunni  klasik merupakan sebuah keniscayaan. Karena dengan mempertahankan doktrin-doktrin teologi Islam klasik yang lebih cenderung kepada trend teosentris atau Ketuhanan (theos) yang menjadi pembahasan pokok teologisnya telah jauh menyimpang dari misinya yang paling awal dan mendasar, yaitu liberasi atau emansipasi umat manusia.

Rumusan klasik sunni  di bidang teologi pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari fakta-fakta nyata kemanusian dan kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw. sangatlah liberatif, progresif, emansipatif dan revolutif

.
Disamping itu, kita membutuhkan formulasi teologi Islam kontemporer sebagai sintesis dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islam harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya)

.

Oleh karena itu, diskursus teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Dengan demikian, agar Islam lebih survive dalam menghadapi dunia modern dan postmodern, maka perlu adanya perubahan diskursus teologi Islam yang pada mulanya hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).

teologi tidak sekedar sebagai dogma keagamaan yang kosong melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia

metodologi teologi sunni  tidak bisa mengantarkan kepada keyakinan atau pengetahuan yang menyakinkan tentang Tuhan tetapi baru pada tahap ‘mendekati keyakinan’ dalam pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud spiritual lainnya.

teologi sunni tidak ‘ilmiah’ dan tidak ‘membumi’, Untuk mengatasi kekurangan teologi klasik yang dianggap tidak berkaitan dengan realitas sosial maka perlu beralih ke teologi syi’ah

Pemikiran ini, minimal, di dasarkan atas dua alasan; pertama, kebutuhan akan adanya sebuah ideologi (teologi) yang jelas di tengah pertarungan global antara berbagai ideologi. Kedua, pentingnya teologi baru yang bukan hanya bersifat teoritik tetapi sekaligus juga praktis yang bisa mewujudkan sebuah gerakan dalam sejarah

.

“…Jika para pendahulu telah memulai muqaddimah konvensional mereka
yang bersifat keimanan itu dengan nama Allah;

maka kami memulainya atas nama bumi yang terampas, atas nama kemerdekaan, atas nama kebaikan,atas nama perlawanan,
atas nama persamaan dan keadilan, atas nama persatuan umat
atas nama kemajuan,atas nama kebangkitan umat,
atas nama cinta kemurnian, atas nama mereka yang terbungkam,
dan atas nama seluruh kaum Muslimin yang tertindas…”

.

Teologi sunni yang bersifat dialektik lebih diarahkan untuk mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniannya, bukan dialektika konsep tentang watak sosial dan sejarah, disamping bahwa ilmu kalam sunni juga sering disusun sebagai persembahan kepada para penguasa, yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi.

Sedemikian, hingga pemikiran teologi lepas dari sejarah dan pembicaraan tentang manusia disamping cenderung sebagai legitimasi bagi status quo daripada sebagai pembebas dan penggerak manusia kearah kemandirian dan kesadaran

.

Selain itu, secara praktis, teologi tidak bisa menjadi ‘pandangan yang benar-benar hidup’ yang memberi motivasi tindakan dalam kehidupan konkrit manusia. Sebab, penyusunan teologi tidak didasarkan atas kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia, sehingga muncul keterpecahan (split) antara keimanan teoritik dan keimanan praktis dalam umat, yang pada gilirannya melahirkan sikap-sikap moral ganda atau ‘singkritisme kepribadian’.

Fenomena sinkritis ini tampak jelas dengan adanya ‘faham’ keagamaan dan sekularisme (dalam kebudayaan), tradisional dan modern (dalam peradaban), Timur dan Barat (dalam politik), konservatisme dan progresivisme (dalam sosial) dan kapitalisme dan sosialisme (dalam ekonomi).

.

Dalam  kitab  kuning  Pesantren  tradisional  yaitu  Kitab  “Kifayatul  Awam” : Menurut  abu  hasan  al   asy’ari   “Wujud   adalah  maujud  itu  sendiri  maka  wujud  Allah  Ta’ala  adalah  Zat  Nya  sendiri, maka  jadilah  wujud  itu  bukan  sifat, maka  jadilah  sifat  sifat  yang  wajib  itu  12”

Saudaraku…

Imam  Al  Asy’ari  berpendapat  bahwa  sifat  ma’nawiyah  itu  tidak  ada,  yang  ada  adalah  sifat  ma’ani ( sumber  kutipan : Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997 )

Saudaraku…

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun  1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

saudaraku…

Bahasa dan istilah-istilah dalam teologi sunni klasik adalah warisan nenek moyang dalam bidang teologi yang khas yang seolah-olah sudah menjadi doktrin yang tidak bisa diganggu gugat

istilah-istilah dalam teologi sebenarnya tidak hanya mengarah pada yang transenden dan ghaib, tetapi juga mengungkap tentang sifat-sifat dan metode keilmuan; yang empirik-rasional seperti iman, amal dan imamah, yang historis seperti nubuwah dan ada pula yang metafisik, seperti Tuhan dan akherat.

analisa realitas perlu dilakukan untuk mengetahui latar belakang historis-sosiologis munculnya teologi dimasa lalu dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat atau para penganutnya. Selanjutnya, analisa realitas berguna untuk menentukan stressing bagi arah dan orentasi teologi kontemporer.

teologi sunni  dinilai gagal memberi arahan kepada kemanusiaan, karena akhirnya yang terjadi justru totalitarianisme. Disini mungkin saya  terilhami oleh inspirator revolosi sosial Iran; Ali Syariati

————————————————————————————————————–

Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Sumber  kutipan :

1.   Mohd. Nor  Ngah, Kitab  Jawi : Islamic  Thought  Of  The  Malay  Muslim Scholars ( Singapore : Institute  of  Southeast  Asian  Studies, 1982 ) halaman  9

2. Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

————————————————————————————————————–

Jawaban kami :

Hukum  akal  terbagi  tiga menurut  kaum  sunni  :

-  Wajib  pada  akal

-  Mustahil  pada  akal

-  Jaiz   pada  akal

Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Apakah  akidah  kepada  Allah  dan  Rasul  bisa  tegak  dengan  memakai  akal  akalan  ulama  penulis  kitab  kuning  ????? Pantas lah  umat  sunni   mundur dalam  pengamalan   akidah !!!!!!!!!

saudaraku….

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/10/sifat20.jpg?w=257

Takrifan:1. Sifat Nafsiah – diri zat Allah swt, wujudNya tidak disebabkan oleh sesuatu sebab

2. Sifat Salbiah – menafikan perkara-perkara yang tidak layak bagi Zat Allah swt atau hujah-hujah sifat yang membesarkan kelebihan zat yang Maha Agung itu daripada sekalian yang baharu

3. Sifat Ma’ani – sifat yang berdiri pada zat Allah swt, yakni sifat khusus yang dimiliki oleh Allah swt dan lazim melazimi pula ia dengan sifat ma’anawiyah

4. Sifat Ma’anawiyah – zat yang disebabkan suatu sebab akan wujudnya, yakni kelakuan zat atau fungsi zat yang mempunyai sifat ma’ani atau kelakuan sifat ma’ani yang digerakkan oleh zatNya.

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/10/sifat20-istaghna_iftiqar.jpg?w=244

Takrifan:

ISTAGHNA – Sifat KEKAYAAN Allah swt

IFTIQAR – Sifat berhajat, berkehendak sekalian makhluk kepada Allah swt

saudaraku….

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

Lalu bagaimana dengan hadits:

Sesungguhnya bagi Allah sembilan puluh sembilan nama, barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah.”

[Riwayat Bukhori:6410, Muslim:2677]

Jawabnya: Hadits ini tidak menunjukkan pembatasan nama Allah hanya semobilan puluh sembilan saja. Bila demikian maka susunan kalimatnya adalah:

Sesungguhnya nama-nama Allah ada sembilan puluh sembilan, barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah

Dengan demikian, maka makna hadits ini adalah nama-nama Allah yang sembilan puluh sembilan yang siapa saja dapat menghapalnya akan masuk jannah. Berarti masih ada nama-nama lain yang tidak diperintahkan untuk menghapalnya. Selain itu kalimat “…barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah” bukan merupakan kalimat tersendiritetapi kalimat pelengkap dari sebelumnya. Kalimat yang semisal dengannya, seperti ucapan: “Saya mempunyai seratus ribu rupiah yang saya persiapkan untuk shodaqoh”. Berarti anda masih mempunyai uang yang lain yang dipersiapkan untuk keperluan lainnya.

“Ulama telah bersepakat bahwa hadits ini bukan pembatasan nama-nama Allah. Namun bukan berarti Allah tidak memiliki nama-nama yang lain. Tetapi maksud dari hadits ini yaitu sembilan puluh sembilan nama ini, bagi yang menghapalnya akan masuk jannah. Tujuannya sekedar informasi akan masuk jannah bagi yang mampu menghapal 99 nama tersebut, bukan pembatasan nama. Oleh karenanya tersebut dalam lafadz lain: Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk Diri-Mu…atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya”

nama Allah tidak terbatas. Demikian pula sifat-Nya. Karena setiap nama pasti mengandung sifat, berarti sifat Allah juga tidak terbatas. “Allah mempunyai nama-nama dan sifat yang disimpan pada ilmu ghoib di sisi-Nya. Tidak ada yang mengetahuinya, baik itu malaikat yang dekat dengan Allah atau nabi yang diutus, seperti disebutkan dalam hadits shohih: Aku mohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya”

——————————————————————————————

….. Demikianlah  ciri ciri utama pemikiran  tradisionalisme  tentang  ilmu tauhid  yang  bertolak  dari   Rukun  Iman. Diantara  rukun rukun tersebut, rukun yang pertama  atau  kepercayaan kepada  Allah  lebih dominant. Meskipun  rukun ini  diutamakan, tetapi hanya  berpusat  pada  ajaran sifat 20. Konsep  akidah  seperti  ini bukan saja dipengaruhi  dialektika  yunani  dan  logika  aristoteles, bahkan  dianggap  sempit   dan tidak  menyentuh  kehidupan  manusia.

Memerlukan  cara  baru  untuk  menulis  teologi. Keadaan  sosial, politik  dan filsafat  banyak  pengaruhnya terhadap  perkembangan  teologi  dalam  Islam, dengan tidak mengetahui  hal hal tersebut, pengetahuan  kita  tentang  teologi  Islam  akan  terasa  kurang  mempunyai  dasar yang kukuh…

Sumber  kutipan :

Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

——————————————————————————————

Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Sumber  kutipan :

a.  Mohd. Nor  Ngah, Kitab  Jawi : Islamic  Thought  Of  The  Malay  Muslim Scholars ( Singapore : Institute  of  Southeast  Asian  Studies, 1982 ) halaman  9

b. Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

—————————————————————

Saudaraku….

Kritik  dilancarkan terhadap  ajaran  tauhid  tradisional   yang  mengajarkan  sifat  20  yang  dianggap  berasaskan  logika  aristoteles (Sumber kutipan : A. Hassan, Kitab  Al  Tauhid (Penang: Persama  Press, 1959) hal. 23 -24…. Nik  Mohyideen  Musa, Pelajaran  Ilmu  Tauhid ( Kuala  Lumpur : Dewan  Bahasa  dan  Pustaka, 1979 ) halaman 102-104

—————————————————————

Saudaraku….

Mengenai  kepercayaan  kepada  Nabi  dan  Rasul, pembahasannnya  juga  menggunakan  hukum  hukum  akal.  Ada  empat  sifat  wajib, yaitu  shidiq, amanah, tabligh  dan  fathanah.  Sedangkan sifat  mustahil  ialah  yang  berlawanan  dengan  keempat  sifat  ini. Sifat  jaiz  bagi  rasul  ialah  sifat  sifat  sebagai  manusia  biasa  yang  tidak  merendahkan  martabat  mereka  sebagai  Nabi  dan  Rasul  ( Sumber kutipan : Hussain  bin  Nasir  Al  Banjari, Tamrin  al  Sibyan, halaman  14-15 ; idem, Hidayat  Al Sibyan, halaman 7; Haji  Mohd. Sharif  bin  Abdul  Rahman, al Muqaddimah  Al  Tauhidiyah (Pulau  Pinang : Abdullah B.M. nurdin  Al  Rawi, 1959), halaman 8-9

Semua deskripsi Tuhan dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an maupun Sunnah, sebenarnya lebih mengarah pada pembentukan manusia yang baik, manusia ideal, insan kamil.

Saya melakukan ini dalam rangka untuk mengalihkan perhatian dan pandangan umat Islam yang cenderung ingin tahu wujud Tuhan  menuju sikap yang lebih berorentasi pada realitas empirik

Sebab, apa yang di kehendaki dari konsep tauhid tersebut tidak akan bisa dimengerti dan tidak bisa difahami kecuali dengan ditampakkan. Jelasnya, konsep tauhid tidak akan punya makna tanpa direalisakan dalam kehidupan kongkrit.

Perealisasian nafi (pengingkaran) adalah dengan menghilangkan tuhan-tuhan modern, seperti ideologi, gagasan, budaya dan ilmu pengetahuan yang membuat manusia sangat tergantung kepadanya dan menjadi terkotak-kotak sesuai dengan idiologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dipujanya. Realisasi dari isbat (penetapan) adalah dengan penetapan satu ideologi yang menyatukan dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu tuhan-tuhan modern tersebut.

Dengan demikian, dalam konteks kemanusiaan yang lebih kongkrit, tauhid adalah upaya pada kesatuan sosial masyarakat tanpa kelas, kaya atau miskin. Distingsi kelas bertentangan dengan kesatuan dan persamaan eksistensial manusia. Tauhid berarti kesatuan kemanusiaan tanpa diskriminasi ras, tanpa perbedaan ekonomi, tanpa perbedaan masyarakat maju dan berkembang

Teologi dimulai dari titik praktis pembebasan rakyat tertindas. Slogan-slogannya yang dipergunakan, pembebasan rakyat tertindas dari penindasan penguasa, persamaan derajat muslimin

tentang tauhid yang ‘mendunia’ telah disampaikan tokoh dari kalangan Syiah, Murtadha Muthahhari. Syi’ah mampu mengemas konsep-konsepnya tersebut secara lebih utuh, jelas dan op to dete, sehingga terasa baru.

adalah langkah berani dan maju dalam upaya untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam mengejar ketertinggalannya dihadapan Barat.

Artinya, teologi tidak hanya berupa ide-ide kosong tapi merupakan ide ‘kongkrit’ yang mampu membangkitkan dan menuntun umat dalam mengarungi kehidupan nyata

Dalam sejarah awal perkembangan Islam, ajaran keesaan Tuhan (tauhid) merupakan tugas pokok pertama Nabi saw yang harus disampaikan dan didakwahkan kepada umatnya. Tauhid menempati struktur hierarkis paling istimewa dalam keseluruhan sistem serta bangunan keberagamaan kaum Muslim. Keabsahan semua rangkaian upacara keagamaan mereka sangat bergantung pada eksistensi tauhidnya

.

Membahas masalah perbuatan manusia, yang menyangkut penegasan apakah itu merupakan suatu tindakan yang ditentukan oleh manusia ataukah di ikuti oleh campur tangan Tuhan. Disini al-Asy’ari telah mengeluarkan pendapatnya bahwa semua tindak-tanduk manusia adalah ciptaan Tuhan, sedangkan manusia hanya memiliki upaya (al-kasb) untuk bertindak. Atau dengan kata lain al-Asy’ari telah membedakan antara al-Khaliq dan al-kasb. Hingga berkesimpulan bahwa segala sesuatu itu tidak memiliki pengaruh apapun secara dzatiah nya akan tetapi yang memiliki pengaruh haqiqi dari semua itu hanyalah Allah swt.(Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, 1903:9)

.

Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok Mujasimah (antropomorfis) dan kelompok Musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut arti harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain adalah esensi-esensinya. (Asy-Syahrastani, 1990: 46)

.
Sementara Al-Asy’ari snediri berpendapat bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah bukanlah esensinya dan juga bukan berarti keluar dari esensi tersebut. Ia memiliki sifat yang melebihi segalanya dan berdiri bersama dengan zat itu sendiri tanpa ada satupun yang dapat menyetarakan-Nya. (C A Qadir, 1991:67-8)

.
Di samping mempengaruhi keabsahan ritual keagamaan, tauhid juga berfungsi mengendalikan gerak, tindakan dan dinamika kemanusiaan. Secara sosiologis, konsep tauhid ikut mengarahkan, membentuk dan menentukan kualitas perilaku individu maupun komunitas umat Islam. Semakin tinggi kualitas tauhidnya, semakin tinggi pula tingkat perilaku keimanan sosialnya. Refleki dari ketinggian kualitas tauhid ini dengan sangat baik dicontohkan oleh para pahlawan (mujahid) Muslim yang berperang demi menegakkan kalimat ilahi dan menyebarkan dakwah keislaman. Orang dengan kualitas tauhid yang mumpuni tidak mengenal rasa takut, menjadi pemberani dan rela berkorban segalanya demi meraih cita-cita tegaknya kalimat Allah, termasuk mengorbankan nyawanya sendiri

.
Dengan demikian, pandangan dunia (world view) tauhid sangat mempengaruhi pola pikir, pola bertindak, gaya dan cara memandang realitas, strategi aksi serta bentuk relasi sosial antar manusia. Dalam konteks ini, tauhid sangat mirip sebuah ideologi; sebut saja ideologi ketuhanan atau ideologi kehidupan (way of life) yang memberi arahan ideal bagi terwujudnya tatanan sosial yang dikehendaki. Tentunya ideologi dalam pengertian sebagai sebuah kumpulan ide, konsep dan gagasan yang menjadi referensi praksis untuk menggapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Tauhid dalam formulasi semacam ini berkembang pada masa-masa awal kelahiran Islam.
Berdasarkan analisis sejarah para pakar, doktrin tauhid yang dikembangkan Nabi Muhammad saw berwatak dinamis, progresif dan liberatif. Ketika itu, tauhid dipahami sebagai ajaran yang menyeru umat manusia untuk hanya menyembah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa; menghambakan diri kepada-Nya; menyerahkan totalitas eksistensial kemanusiaan kepada-Nya dan mengesakan-Nya dari segala bentuk penyembahan, ketundukkan, kepatuhan, ketaatan dan penghambaan diri kepada selain-Nya. Tauhid demikian berkarakter subversif: menantang mainstream status quo dan memberontak terhadap segala struktur kuasa maupun sosial yang hegemonik, tiranik dan sewenang-wenang. Doktrin tauhid benar-benar revolusioner dan transformatif

.
Namun, seiring perkembangan sejarah dan peradaban kemanusiaan, doktrin tauhid mulai mengalami pergeseran secara signifikan. Diskursus teologi yang pada awalnya berkorelasi kuat dengan kenyataan aktual kemanusiaan, direduksi sedemikian rupa menjadi kumpulan wacana spekulatif yang tidak ada sangkut pautnya dengan kenyataan yang hidup dalam gerak sejarah. Berkembangnya tradisi keilmuan baru yang mewujud pada kerja sistematisasi, penyusunan formal (al-tadwin) dan spesialisasi bidang keilmuan, menyebabkan doktrin-doktrin tauhid tertransformasi ke dalam bangunan doktrinal baku, tertutup, teoritik dan kurang memiliki daya dorong sosial

.

Tauhid hanya mampu bergaung dalam karya-karya tulis, bukan berkibar di medan-medan tempur sebagaimana pada zaman Nabi Muhammad saw. Demikianlah, ajaran tauhid kehilangan fungsi transformasinya. Ironisnya, pemahaman ajaran tauhid model ini yang kemudian diwarisi generasi umat Islam hingga sekarang.
Berpijak pada kemandegan pemikiran di bidang teologis yang tidak lagi memiliki fungsi sosial transformatif inilah, diperlukan penggalian ulang spirit of theology yang leberatif, progresif dan berkorelasi sebagai jawaban dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengubah diskursus teologi Islam dari berbicara tentang Tuhan (teosentris) sebagai core teologinya beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).
Dalam konteks ini pembahasan tulisan ini difokuskan agar bisa keluar dari kungkungan dogmatis dan menawarkan metode pendekatan baru agar bisa menjaring aneka pengalaman kemanusiaan dan sosial kekinian untuk kemudian dibedah dan dianalisis sesuai dengan cara kerja ilmu kalam

.

Dengan demikian, secara singkat tauhid berisi pembahasan teoritik menyangkut sistem keyakinan, sistem kepercayaan (kredo) dan struktur akidah kaum Muslim berdasarkan rasio dan wahyu. Tujuan akhir ilmu ini adalah pembenaran terhadap akidah Islam serta meneguhkan keimanan dengan keyakinan. Karena itu, Tauhid memiliki posisi penting dalam mekanisme keberagamaan umat Islam, karena berisi pokok-pokok ajaran yang sifatnya mendasar,

.

teologi atau berteologi haruslah dapat menumbuhkan moralitas atau sistem nilai etika untuk membimbing dan menanamkan dalam diri manusia agar memiliki tanggung jawab moral, yang dalam Al-Qur’an disebut taqwa. Secara pasti teologi Islam merupakan usaha intelektual yang memberi penuturan koheren dan setia dengan isi yang ada dalam Al-Qur’an. Teologi harus mempunyai kegunaan dalam agama apabila teologi itu fungsional dalam kehidupan agama. Disebut fungsional sejauh teologi tersebut dapat memberikan kedamaian intelektual dan spritual bagi umat manusia serta dapat diajarkan pada umat

.

Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islah harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya). Teologi yang fungsional adalah teologi yang memenuhi panggilan tersebut, bersentuhan dan berdialok, sekaligus menunjukkan jalan keluar terhadap berbagai persoalan empirik kemanusiaan

.

tantangan kalam atau teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Teologi, dalam agama apapun yang hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) dan tidak mengkaitkan diskursusnya dengan persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris), memilki rumusan teologis yang lambat laun akan menjadi out of date. AlQur’an sendiri hampir dalam setiap diskursusnya selalu menyentuh dimensi kemanusiaan universal

.

Seharusnya teologi dan kalam yang hidup untuk era sekarang ini berdialog dengan realitas dan perkembangan pemikiran yang berjalan saat ini. Bukan teologi yang berdialok dengan masa lalu, apalagi masa silam yang terlalu jauh. Teologi Islam kontemporer tidak dapat tidak harus memahami perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi

.
Kalau kita analisis terdapat tiga kelemahan yang dimiliki oleh pembahasan teologi Islam klasik diantaranya. Pertama, Persoalan manusia, alam dan sejarah. Selama ini, yang ditonjolkan oleh ilmu kalam selalu saja pembahasan abstrak seputar eksistensi Tuhan, atribut-atribut yang melekat kepada-Nya, eksistensi malaikat, artikel-artikel eskatologis, kenabian, dan ha-hal teoritik lain yang tidak berkorelasi dengan kenyataan yang terjadi. Wacana kalam klasik tidak lagi mamiliki hubungan harmonis dengan kenyataan riil kemanusiaan. Dan ini adalah distorsi besar-besaran terhadap sejarah dan ajaran Islam, karena sebelumnya teologi sangat lekat dengan antropologi

.
Kedua, eksistensi teologi Islam tradisional dalam paradigmanya yang spekulatif, teoritik, elitik, statis dan kehilangan daya dorong sosial serta momentum perlawanannya. Selama ini artikel-artikel teologi klasik hanya penuh dengan refleksi keimanan murni; menggambarkan keimanan sema-mata dan tidak berkaitan dengan kemanusiaan nyata. Gaya pembahasan seperti ini sangat berbahaya, sesuatu yang tak berarti dan hampa makna

.
Ketiga, paradigma teologi klasik Islam sudah saatnya diperbaharui (reformasi), dipahami ulang (rekonstruksi) dan dirumuskan kembali (reformulasi) dalam modelnya yang baru dan progresif, karena sudah tidak relevan dengan tuntutan modernitas, gerak sejarah dan dinamika perkembangan zaman

.
Bertolak dari kelemahan-kelemahan ilmu kalam di atas, tampaknya dekontruksi terhadap ilmu ini merupakan sebuah keniscayaan. Dekontruksi tidak hanya berarti membongkar kontruksi yang sudah ada. Didalam dekontruksi tetap diperlukan usaha-usaha yang mengiringinya, yaitu merekontruksi apa yang seharusnya merupakan tuntutan baru. Tujuan dekontruksi adalah melakukan “demitologisasi” konsep atau pandangan-pandangan yang ada, yang telah menjadi “teks sakral” dan mitos keilmuan dalam dunia Islam. Untuk mencapai itu, perlu dilakukan pembongkaran melalui gagasan kritis dan mendasarkan tipe rasionalitas yang seharusnya menjadi alas ilmu tersebut, serta secara modern menilai kembali wahyu sebagai gejala budaya dan sejarah yang komplek

.

saya melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).

Urgensi dari penghadiran suatu kontruk teologi yang bersifat transformatik dan membebaskan bertolak pada tujuan utama di syari’atkan Islam pada dasarnya adalah revolusi kemanusiaan dan ide-ide pembebasan merupakan salah satu tema pokok dalam Islam. Ide-ide tersebut adalah al-’adalah (keadilan), al-musawamah (egalitarianisme, kesetaraan;persamaan derajat), dan al-hurriyah (kebebasan). Tiga ide tersebut dalam konteks teologi yang transformatif perlu adanya rekonstruksi atau redefinisi makna teologi

.
Selama ini teologi lazim dimaknai sebagai suatu diskursus seputar Tuhan. Namun, dalam kerangka paradigma transformatif, teologi semestinya tidak lagi difahami (semata-mata) sebagaimana pemaknaan yang dikenal dalam wacana kalam klasik itu, yakni suatu diskursus tentang Tuhan yang sangat teosentris, yang secara etimologi merujuk pada akar kata theos dan logos. Ia seharusnya dimaknai dan dipahami sebagai sungguh-sunguh ilmu kalam

.

Gagasan tentang reformasi (atau rekonstruksi) teologi tradisional diperlukan untuk mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan sesuai dengan perubahan konteks sosial politik yang terjadi. Teologi tradisional Islam lahir dalam konteks sejarah ketika inti sistem kepercayaan Islam, yaitu Transendensi Tuhan diserang oleh wakil-wakil dari sekte-sekte dan budaya-budaya kuno. Teologi dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan untuk memelihara kemurnian iman. Dialektika berasal dari dialog dan mengandung pengertian saling menolak; hanya merupakan dialektika kata-kata, bukan konsep-konsep tentang alam, manusia, masyarakat atau sejarah

.
Sekarang ini konteks sosial politik telah berubah. Islam mengalami berbagai kekalahan di berbagai medan pertempuran sepanjang periode kolonisasi. Karena itu, kerangka konseptual lama masa-masa permulaan, yang berasal dari kebudayaan klasik harus dirubah menjadi kerangka konseptual baru, yang berasal dari kebudayaan modern

.

Pemahaman tauhid sedemikian tidak hanya diarahkan secara vertikal untuk membebaskan manusia dari ketersesatan dalam bertuhan, tetapi juga secara sosial-horisontal dikehendaki berperan sebagai teologi yang membebaskan manusia agar terlepas dari seluruh anasir penindasan. Cita pembebasam manusia dari ketertindasan, karena itu, merupakan saah satu ‘aqidah iahiyah. Elaborasi lebih jauh dari pemahaman tauhid semacam ini menuntut pula redefinisi terhadap entitas makna iman, nilai kufr dan sebutan kafir, dan pada akhirnya reposisi entitas makna Islam dan Musim searah dengan kepentingan praksis pembebasan.

.

Konsep Keadilan Sosial.
Konsep keadilan merupakan doktrin yang diperbincangkan oleh teologi Islam kasik. Dalam diskursus teologi Islam klasik tema tersebut cenderung terfokus semata pada perbincangan soal-soal keadilan Tuhan (al-’adl).

teologi dapat berperan sebagai suatu ideologi pembebasan bagi yang tertindas atau sebagai suatu pembenaran penjajahan oleh para penindas. Teologi memberikan fungsi legitimatif bagi setiap perjuangan kepentingan dari masing-masing lapisan masyarakat yang berbeda.

Berangkat dari situlah, maka konsep keadilan Tuhan (a-’adl) perlu direkontruksi dan redefinisi pada konsep keadilan sosial. Pengedepanan konsep ini bertolak dari kesadaran bahwa ketidakadian sosial (kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ekploitasi, diskriminasi, dan dehumanisasi) merupakan produk dari suatu proses sosial lewat struktur dan sistem yang tidak adil, yang terjadi antaran proses sejarah manusia

.

Artinya realitas sosial yang tidak adil bukanlah takdir Tuhan (predestination) seperti umumnya diyakini teologi-teologi tradisional, melainkan hasil dari proses sejarah yang disengaja. Bukan pula hanya akibat “ada yang salah dalam bangunan mentalitas-budaya manusia”, seperti keyakinan teologi-teologi rasional, melainkan imbas langsung dari diselenggarakannya sistem dan struktur yang tidak adil, eksploitatuf, dan menindas.

.

Konsep Spirituaitas Pembebasan.
Konsep ini merupakan konkretisasi dari proses refleksi kritis atas realitas manusia (umat) di satu sisi dan atas tujuan utama Islam sebagai agama pembebasan di sisi lain. Pembebasan (liberation,tahrir) dalam kerangka spiritualitas tidak hanya diarahkan pada struktur-sistem yang menindas, tetapi juga secara terus menerus pada upaya membebaskan manusia dari hegemoni wacana tertentu berupa produk pemikiran keagamaan tertentu, misalnya spriritualitas ini harus senantiasa mengambil tempat dan peran aktif dalam proses kontektuaisasi teks-teks keagamaan atas konteks kekinian

.
Pengenaan spiritualitas pembebasan itu secara khusus bertujuan agar aspek relligius dari gagasan teologi dimaksud tidak hilang sekaligus eternalitas nilai-nilai trandensinya tak terabaikan

.

Oleh sebab itu, selain menumpukan diri pada gagasan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar, ia juga menekankan pada pemaknaan kontekstual dengan realitas kekinian (segenap bentuk social malaise). Akhirnya, di wilayah praktis, aktualisasi atau manifestasi teologi reformatif ini membutuhkan keterlibatan aktif dari kaum tertindas sendiri. Tanpa itu, bisa dipastikan ia akan gagal menjadi motivasi religius yang betul-betul transformatif dan berdaya membebaskan. Pelibatan aktif mereka itu terlepas model menejemen gerakan apapun yang pada akhirnya diambil

.
Dengan berteologi secara demikian kita bisa memulai berharap munculnya realitas sosial kemanusiaan yang lebih mengembirakan

.

Dalam pada itu Isam sebagai entitas nilai maupun agama akan benar-benar hadir sebagaimana spirit aslinya sebagai agama yang membebaskan. Hal itu memungkinkannya hadir sebagai entitas yang berdaya melakukan pembebasan dan tidak justru memperkokoh diri sebagai indtitusi penindas, langsung maupuin tidak. Melalui rekonstruksi teologis sedemikian, Islam sebagai entitas ajaran niscaya mengambi jalan “mengubah dunia untuk mengubah manusia” dan bukan “mengubah manusia untuk mengubah dunia”.

Rekomendasi ini niscaya demi menyadari kondisi faktual umat Islam saat ini yang terpuruk di berbagai bidang kehidupan dan mandulnya beragan paradigma teologi Islam yang dianut mereka untuk memotivasi berlangsungnya proses transformasi sosial. Dua kenyataan inilah yang secara langsung menjadi basis historis mengapa rekontruksi teologi Islam itu perlu. Dalam pada itu kita bisa menarik kesimpulan betapa Islam dalam proses sejarah telah semakin jauh dari rasionalitas Tuhan ketika ia diturunkan

.
Terkait itulah rekontruksi terhadap teologi warisan Islam klasik ini menjadi hal yang sangat strategis guna memulai transformasi sosial umat secara total. Redefinisi teologi Islam klasik menuju teologi Islam yang transformatif akan memberikan signifikansi bagi kesadaran teologis umat yang kritis dalam melihat teks (Qur’an/hadits, ide-ide kemanusiaan) dan konteks kekinian. Pada saat berbarengan ia berpotensi pula menjadi motivasi reigius bagi umat untuk melakukan transformatif atas realitas ketertindasan yang mengkungkung mereka baik berupa ideologi Barat seperti developmentalisme atau kapitalisme, ataupun berwujud nilai-nilai yang mereka konseptualisasi sendiri, termasuk “nilai-nilai agama”
Dalam kerangka pembebasan, upaya pelahiran kesadaran teologis antropomorpisme itu penting, setidaknya disebabkan dua urgensi, yakni pertama, dilevel wacana pemikiran keagamaan ia akan mengurai stagnasi wacana intelektual Islam sejak pasca-Abad pertengahan, khususnya, di ranah teoogi. Disitu jargon-jargon semisal “membuka pintu Ijtihad” disatu sisi dan berlawanan dengan “pintu ijtihad telah tertutup” pada sisi yang lain akan menemukan momentum dan intensitas persinggungannya. Kedua, di level praksis ia akan memposisikan diri sebagai motivasi religius yang membebaskan bagi umat dalam melakukan perlawanan terhadap struktur dan sistem penindasan yang melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan, diskriminasi, dehumanisasi, dan sejenisnya.

Pada saat yang sama ia akan mendorong pada pemahaman bahwa realitas tidak manusiawi itu berlangsung bukan lagi bersifat individual atau apalagi merupakan sesuatu yang sudah dipastikan, seperti pemahaman teologi tradisional, melainkan sudah bersifat sosial—-tercipta oleh struktur-sistem yang memang menghendaki demikian

.
Paling tidak melalui dua level itulah eksistensi umat Islam ke depan akan menemukan bentuknya, dan masa depan peradaban umat akan kembali menjadi menemukan memontumnya dan akan dikagumi baik bagi umat Islam sendiri maupun dunia Barat.

Hari ini banyak perkara yang telah hilang dari umat Islam. Di antaranya ialah ilmu dan hikmah, kasih sayang, perpaduan, empayar, jemaah dan ummah. Mungkin kerana itu hilanglah wibawa umat Islam. Bila umat Islam tidak ada wibawa ertinya tidak ada kekuatan, lemah dan lumpuh. Akhirnya umat Islam seluruh dunia hari ini macam kain buruk atau debu-debu yang berterbangan yang tidak ada harga satu sen pun atau ibarat buih-buih di laut yang dipecah belahkan oleh ombak laut. Itulah yang sedang berlaku pada dunia Islam hari ini, akibat dari itu umat Islam menjadi hina. Hina disebabkan dijajah tapi jajah bentuk baru bukan bentuk lama. Penjajahan bentuk lama bersifat fizikal, tapi bentuk baru ini, kalau orang itu tidak kuat dengan Tuhan tidak prihatin, bukan sahaja awamul muslimin, ulama dan pemimpin Islam pun tidak faham, bahkan ulama dan pemimpin Islam sudah anggap kita sudah merdeka hari ini padahal kalau kita prihatin umat Islam hari ini dijajah bentuk baru. Penjajahan secara bentuk baru inilah yang umat Islam termasuk pemimpin dan ulama tidak faham.

Penjajahan bentuk baru yang sedang berlaku pada umat Islam hari ini yang besar-besarnya ialah:

  1. Ideology telah menjajah syariat atau ideology telah menjadi syariat. Semua negara Islam menggunakan ideology dari yahudi menggantikan syariat Islam.
  2. Pendidikan sudah dijajah. Daripada pendidikan yang bertunjangkan iman di tukar kepada pendidikan sekuler yang tidak dikaitkan dengan iman yang tidak bertunjangkan Tuhan.
  3. Ekonomi dunia dahulu dikuasai umat Islam yang bersifat khidmat, bersih dari riba, monopoli dan penindasan kini dijajah oleh ekonomi yang besifat riba, penzaliman, penindasan dan monopoli,
  4. Kebudayaan Islam yang bersih sudah dijajah oleh kebudayaan yang kotor, maksiat, bahkan sesetengah hal, telah diganti oleh kebudayaan yang lucah.

Penjajahan yang berbetuk rohani dan maknawi ini bukan sahaja umat Islam tidak faham tapi ulama dan pemimpin Islam pun tidak faham, sebab itu umat Islam hari berbangga umat Islam merdeka tapi hakikatnya belum merdeka, sebab sebenarnya penjajahan sekarang bertukar dari penjajahan bentuk lama ke bentuk baru. Kalau dahulu berbetuk fizikal tapi sekarang berbentuk maknawi dan rohani. Ini hakikatnya yang sedang berlaku pada umat Islam pada hari ini.

Umat Islam Indonesia adalah ahlus sunnah waljama’ah, yang mayoritasnya adalah pengikut Aqidah Asy’ariyyah. Aqidah Asy’ariyyah ditandai dengan keimanan kepada sifat 20; serta menakwil sifat-sifat Allah yang lainnya.

Ahlussunnah, ahli hadits, dan ahli atsar sudah ada sebelum imam al-Asy’ari lahir, dan tidak menjadi asy’ariyyah setelah imam al-Asy’ari menjadi imam.

Kelompok salaf sunni, Ahlussunnah, ahli hadits dan ahli atsar berpegang teguh dengan sunnah dan membenci kalam dan ahlinya, sementara kelompok asya’irah adalah termasuk ahli kalam dan membela kalam.

Para ulama salaf sunni  sebelum imam al-Asy’ari dan sesudahnya berwasiat agar mengikuti manhaj salaf as-shalih, yaitu mengikuti hadits dan atsar dan tidak berwasiat untuk mengikuti asyairah atau ilmu kalam.

sangat terkenal kalau imam Asy’ari akhirnya menisbatkan diri kepada imam Ahmad ibn Hanbal ra. Jadi bukan hanya orang lain, justru imam Asy’ari sendiri yang menyatakan hal itu dalam kitabnya al-Ibanah seperti yang ada dalam Tabyin Kadzibil Muftari yang ditahqiq oleh al-Kautsari (hal. 125)

.

Sedangkan di dalam kitab Maqalat beliau menyatakan mengikut para ulama ahli hadits dan ahli sunnah (maqalat: 226), serta menyendirikan penyebutan Abdullah ibn Said ibn Kulab dalam hal-hal yang pemikirannya menyalahi ahli hadits ahli sunnah. (Maqalat halaman 146, 226, 229, 398, 421, 423)

Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:

Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).

Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).

dalam fase kedua ini al-Asy’ari menulis kitabnya al-Ibanah (50) padahal ia meyakini bahwa fase kedua ini memanjang dari tahun 300 H hingga 324 atau 330 H), yang tentu ada puluhan kitab yang dikarang oleh al-Asy’ari selama masa 24 atau 30 tahun itu. dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya. Menurut al-Kautsari al-Ibanah ditulis saat memasuki Baghdad (hamisy Tabyin Kadzibil muftari hal. 289)

Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah[2] (320-324/330 H) yaitu Allah SWT  memiliki wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain tetapi berbeda dengan makhluk, akidah seperti ini adalah akidah salafi wahabi yang dicela  Nahdlatul  Ulama dan Asya’irah

(2) Ithâfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn, al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurrahmân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.

Siapa yang merenungkan kitab Shahih BUKHARi dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.

Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad, warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil, ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara.

Asya’irah Menentang Abu Hasan Al Asy’ari !!! Kontradiksi

Klaim bahwa sebagian ulama ahli hadits sebagai bermanhaj Asy’ariyyah perlu dikritisi dan diluruskan (124-172). Mereka yang diklaim itu sangat banyak, antara lain: Alhafizh Abu Bakar al-Ismaili (371H), al-Hafizh al-Daruquthni (385 H),al-Hafizh al-Baihaqi (458 H), al-Hafizh an-Nawawi (676 H), Ibn Hajr al-Asqalani (852).

Kesimpulan :

Akidah syi’ah imamiyah menta’wilkan tangan Allah, menta’wilkan wajah Allah dll

Jadi  yang  sesat  Abu  Hasan Al Asy’ari  ataukah  syi’ah imamiyah ???

Bahkan imam Asyari sendiri menisbatkan dirinya kepada Imam Ahmad imam Ahli hadits, dan setelah menceritakan akidah ahli hadits ahli sunnah (para salaf shalih) mengatakan:

فهذه جملة ما يأمرون به ويستسلمون إليه ويرونه، وبكل ما ذكرنا من قولهم نقول وإليه نذهب؛ وما توفيقنا إلا بالله …( مقالات الإسلاميين: 229)

Pendidikan dan pengaruh Mu’tazilah tidak bisa dilepaskan dari al-Asy’ari yang dibuktikan dengan dialektiaka yang tetap ia gunakan meskipun sudah keluar dari Mu’tazilah. Hanya saja ia menggunakan pendekatan dialektis dan logis untuk mendukung pendapatnya dalam mengukuhkan madzhab Asy’ariyah. Ia menggunakan filsafat bukan sebagai kebenaran itu filsafat itu sendiri, tetapi ia memakainya sebagai alat untuk mengungkap dan memperjelas argumennya
.
Tanpa kehilangan pandangan tentang segi-segi kuat di atas itu, pembicaraan tentang paham Asy’ari tidak mungkin lepas dari segi-segi lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir Islam sendiri di luar kubu Kalam Asy’ari, maupun dari dalam pandangan para pemikir lainnya. Dan kelemahan itu diantaranya:
.
• Asy’ari cenderung bersikap pasrah kepada nasib (fatalisme). tentang perilaku manusia, termasuk tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya
• Dengan melakukan kasb seperti telah di ketahui pada faham asy”ri, hal tersebut tidak akan berpengaruh apapun dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
• Konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya.

Dari uraian-uraian diatas kita bisa mengetahui berbagai polemic-polemik permasalahan yang muncul pada tubuh Asy’ariah dalam doktrin aqidah islamiah. Di satu sisi karena pangaruh Al Ghozali dengan paparan argumenya yang logis, Asy’ariah bisa berkembang dengan begitu pesat, di sisi lain Asy’ariah seakan mambodohi masyarakat dengan konsep kasb nya yang sulit untuk dimengerti dan malah cenderung membingungkan banyak orang. Malah di sebutkan dalam kitab Jawharat al-Tawhid,

Wa ‘indana li al-’abd-i kasb-un kullifa
Wa lam yakun mu’atstsir-an fa ‘l-ta’rifa

Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,
Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan berpengaruh
Jadi, intinya manusia tetap dibebani kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya.

dalam proses perkembangan paham Asy’ari, konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya

Aliran mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat.

Barangkali di masa itu kebutuhan untuk menjawab tantangan aqidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena di masa itu sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Al-Asy‘ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen kalangan ahli logika ketika menyerang aqidah Islam. Karena itulah metode aqidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.

Bila dilihat dari kaca lain seperti di zaman di mana tantangan akal ini tidak lagi mendominasi, bisa saja terasa agak janggal karena metode akal atau rasio yang digunakan terasa kurang relevan lagi.

Karena itu wajar bila dikritisi lebih detail, ada saja hal-hal yang dirasa kurang pas dan relevan lagi. Sebagian para pengkritik menyataskan bahwa paham As’ariyah menyalahi ahlussunnah wa al-jamaah dalam lima belas masalah, salah satunya adalah masalah asma’ dan sifat. Meski demikian, para pendukung mazhab Asy‘ari juga punya argumen yang membenarkan pendapat mereka.

Penyebaran Aqidah Asy-”ariyah

Aqidah ini menyebar luas di zaman wazir Nizhamul Muluk pad dinasti ani Saljuq dan seolah menjadi aqidah resmi negara.

Semakin berkembang lagi di masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah,baik yang ada di Baghdad maupun di kotaNaisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Jugadidukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-syafi”i dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa aqidah Asy-”ariyah ini adalah aqidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.

Para Ulama yang Berpaham Asy-”ariyah

Di antara para ulama besar dunia yang berpaham aqidah ini dan sekaligus juga menjadi tokohnya antara lain:

* Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
* Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
* Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
* Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
* Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)

Cak Nur juga menyoroti sisi kelemahan paham ini untuk dijadikan bahan refleksi. Kelemahan paham Asy’ariyah menurut Cak Nur terletak pada Qudrah dan Iradah Tuhan dan manusia. Al-Asy’ari sebetulnya hendak menengahi dua kubu ekstrim yang berkembang ketika itu. Kedua kubu tersebut adalah paham Jabariyah yang cenderung fatalistik dan menganggap manusia ibarat robot, sudah didesain dan dikendalikan. Namun paham ini ditolak oleh Qadariyah, mengatakan manusia mempunyai kebebasan bertindak dan menentukan pilihan (free will). Al-Asy’ari memberikan format baru dengan konsep kasb. Tetapi konsep tersebut dipandang sulit dipahami oleh Cak Nur dan cenderung fatalistik. Manusia dibebani kasb (usaha) tetapi usahanya tidak berpengaruh apa-apa. Manusia dalam konteks ini bukan tidak berdaya sebagaimana menurut paham Jabariyah, tetapi tidak bebas yang bisa menentukan kegiatannya sendiri seperti kata kaum Qadariyah.

Cak Nur lebih sepakat dengan syair yang dikemukakan oleh Ibnu Taymiah, tokoh reformis Islam yang pada substansinya mengatakan bahwa semua tindakan manusia tidak dapat keluar dari ketentuan-Nya. Hanya saja manusia tetap mempunyai kemerdekaan bertindak (free will) karena Allah telah menciptakan kehendak (iradah) yang dengannya manusia mampu memilih jalan hidup.

Sangat tampak kritisisme Cak Nur dalam hal ini. Ia ingin membetulkan kebekuan dan absurditas pemahaman teologi karena pemikiran-pemikiran tidak akan lepas dari kelemahan-kelemahan. Ia hendak memperbaiki kelemahan itu sehingga konsep yang dimaksud lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam sekalipun. Barangkali apa yang dimaksudkan al-Asy’ari bagi kaum intelektual tidak akan terlalu problematic sekalipun dalam syairnya secara tersurat ditulis kasb tidak akan berpengaruh. Dan tentu saja hal itu tidak dimaksudkan untuk itu karena dengan tegas pula dikatakan manusia tidak bebas dan tidak pula terpaksa. Dalam hemat penulis apa yang dimaksudkan Ibnu Taymiah juga dimaksudkan oleh al-Asy’ari. Kelihatannya al-Asy’ari menemui kesulitan untuk menjelaskan maksud itu. Namun, tawaran Cak Nur juga baik karena yang dilihat adalah aspek kemaslahatan supaya konsep free will lebih mudah dipahami.

Sebetulnya antara al-Asy’ari dan Ibnu Taymiah juga sepakah ketidak-setujuan keduanya terhadap pendekatan Qadariyah atau pun Jabariyah. Keduanya hendak menengahi antara kedua kubu sehingga konsepnya lebih bisa diterima. Sebab, sikap moderat adalah kecenderungan mayoritas. Tetapi bukan masalah kecenderungan—dalam hemat penulis—tetapi pijakan kedua tokoh itu konsistensi pada kebenaran.

Secara eksplisit tulisan Cak Nur menjelaskan, di samping keunggulan di bidang metodologi, kelebihan paham Asy’ariyah juga karena kepiawaian pendirinya memanfaatkan logika dan filsafat untuk menjelaskan konsep Asy’ariyah. Melalui kekuatan argumentasinya ia mampu memukau ilmuan modern dan teolog Kristen.

Paham teologi Asy’ari termasuk paham teologi tradisional,
yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang
menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang
leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu’tazilah
dan Salafiyah, tetapi “benang merah” sebagai jalan tengah
yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak
Mu’tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali
lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang
bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1]

Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy’ari lebih baik
memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas.
Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang
pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi
zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy’ari juga
tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri.

Sebenarnya, nama asli Imam Asy’ari adalah Ali Ibn Ismail [2]
-keluarga Abu Musa al-Asy’ari. [3] Panggilan akrabnya Abu
al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M
[5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat
di Baghdad pada tahun 324 H./935 M.

Abu al-Hasan al-Asy’ari pada mulanya belajar membaca,
menulis dan menghafal al-Qur’an dalam asuhan orang tuanya,
yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir
dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah
al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya’kub, Abdur Rahman
Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih
Syafi’i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340
H./951 M.) -seorang tokoh Mu’tazilah di Bashrah. Sampai umur
empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba’i, serta
ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran
Mu’tazilah. [9]

Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Untuk hal
ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab
meninggalkan atau keluar dari Mu’tazilah. Sebab klasik yang
biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena
terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran
pokok Mu’tazilah, yaitu masalah “keadilan Tuhan.” Mu’tazilah
berpendapat, “semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari
manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu,
kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti
menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan
manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa ‘l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut:

Al-Asy’ari (A) – Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga
orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam
bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam
keadaan masih kecil.

Aldubba’i (J) – yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir
masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.

A – Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih
baik di Sorga, mungkinkah?

J – Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan
jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil
belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.

A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan
salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan
mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang
taqwa itu.

J – Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu,
jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan
engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah – Red) matikan
engkau adalah untuk kemaslahatanmu.

A – Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, “Ya Tuhanku
Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa
depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?

Al-Jubba’i menjawab, “Engkau gila, (dalam riwayat lain
dikatakan, bahwa Al-Jubba’i hanya terdiam dan tidak
menjawab). [11]

Dalam percakapan di atas, al-Jubba’i, jagoan Mu’tazilah itu,
tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh
al-Asy’ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah
ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy’ari sendiri untuk
memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang
Mu’tazilah.

Bagi Mu’tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan
protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai
dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di
sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan
tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan
bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab,
tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan
orang-orang yang taqwa.

Di alam akhirat, menurut Mu’tazilah, tidak ada lagi
perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah
mendapati al-Wa’ad wa al-Wa’id. Dia sudah menepati janji.
Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan
jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan
masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka
bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan
Maha Suci dari penganiayaan. [12]

Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan
lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak
menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama
artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri
sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan
petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan
Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia
dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak
rasional.

Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan
ajaran-ajaran Mu’tazilah karena pernah bermimpi melihat
Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada
bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi
kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal
tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan
itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah
yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya.
[15]

Diriwayatkan bahwa al-Asy’ari sebelum mengambil keputusan
untuk keluar dari Mu’tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya
selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu
naik mimbar dan menyampaikan:

“Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur’an adalah makhluk; Allah
swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin
di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya
sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya
lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya
lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar
dari kekejian dan skandal Mu’tazilah.” [16]

Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas
dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita
ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy’ari meninggalkan faham
Mu’tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan
ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal,
sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di
kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi
kesamaan yang sangat mirip.

Al-Asy’ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar
pada Mu’tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas
menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali,
sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran
al-Asy’ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa
tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy’ari memakai
ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang
Mu’tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat,
penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali
menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan
bid’ah dan kufur. Al-Asy’ari melakukan sanggahan terhadap
Mu’tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran
Mu’tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang
bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan
aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah
buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan
al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam,
kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam
sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu,
baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf
dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut
al-Falasifah (kesalahan para filsuf).

Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa
al-Asy’ari adalah para tokoh Mu’tazilah, karena itu
sanggahannya tertuju langsung pada Mu’tazilah. Sementara
para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional
Mu’tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap
aliran al-Asy’ari harus dengan tegas pula melakukan
sanggahan terhadap filsuf.

Pemikiran al-Asy’ari yang asli baru dapat diketahui setelah
ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu’tazilah dan
pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad
bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari
penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia
hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh
nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis
dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah
sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur’an.
[18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang
tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan
mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang
sakral dianggap suatu bid’ah. Setiap dogma harus dipercayai
tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa.

Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah dan
keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui
ajaran-ajaran al-Asy’ari, kita dapat melihat pada
kitab-kitab yang ditulisnya, terutama:

1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama
dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber
yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya.
Buku ini terdiri -dari tiga bagian:

a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam
b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan
c.Beberapa persoalan ilmu Kalam.

2.Al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang
kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya
terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam
buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu’tazilah.

3.Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala ahl al-Zaigh wa al-bida’,
berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa
persoalan ilmu Kalam.

Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang
terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma’. Yang
pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam
arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu’tazilah.
Sedangkan buku kedua (al-Luma’), peranan akal lebih tinggi
dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran
kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu
kalam. [19]

Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy’ari pada kitabnya
al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar
dari Mu’tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam
rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,
sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap
Mu’tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang
dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini
dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan
teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh,
maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh
itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya
terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah
mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya,
menampakkan sikap bencinya terhadap Mu’tazilah lebih nyata.
Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis
langsung setelah al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah.

Lain halnya dengan kitabnya al-Luma’, yang ditulis setelah
kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas.
Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy’ari
dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya
sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma’,
argumentasi rasional al-Asy’ari menonjol kembali dalam
memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi
metaforisnya (ta’wil). Kecenderungannya pada metode kaum
Mu’tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak
paham teologi al-Asy’ari.

Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap
al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi
kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam
kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang
dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke
dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan
berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya
lagi untuk keluar.

Sebagai penentang Mu’tazilah, sudah barang tentu al-Asy’ari
berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan
sendiri merupakan pengetahuan (‘Ilm). Yang benar, Tuhan itu
mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya,
bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan
sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan
melihat. [20]

Disini terlihat, al-Asy’ari menetapkan sifat kepada Tuhan
seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup
berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah,
sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam.
Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa
sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu
hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan
makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, “Siapa yang
tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi
“Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku,” lalu ia langsung
mengatakan, wajib dipotong tangannya.” [21]

Lain halnya dengan al-Asy’ari, baginya arti sifat tidak jauh
berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. Bagi
al-Asy’ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan Zat,
dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy’ari yang
seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas dari
paradoks. [22]

Bagi Mu’tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak
mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang
mengetahui (‘Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan
(‘Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya
sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk
memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan
yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah)
bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya,
menafsirkan kelemahan Allah. [23]

Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy’ari yang
lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu,
al-Asy’ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak
dapat dilihat, kata al-Asy’ari, hanyalah yang tak punya
wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan
oleh karena itu dapat dilihat. [24]

Argumen al-Qur’an yang dimajukannya antara lain,
“Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada
Allah” (QS. al-Qiyamah: 22-23).

Menurut al-Asy’ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa
berarti memikirkan seperti pendapat Mu’tazilah, karena
akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti
menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang
menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada
penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat
kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti
berarti melihat dengan mata kepala. [25]

Sungguhpun al-Asy’ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin
nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala,
namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi
menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan
itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan,
tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan
kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan
bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

Namun demikian, untuk dapat menerima, bahwa Tuhan dapat
dilihat nanti di akhirat, maka al-Asy’ari memerlukan pula
untuk menafsirkan atau menta’wilkan ayat yang berikut ini:

Artinya: “Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia
dapat mengangkat penglihatannya.” (al-An’am: 103) Ayat
tersebut di atas diartikan oleh al-Asy’ari, bahwa yang
dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini, dan
bukan di akhirat. Dan juga diartikan tidak dapat melihat
Tuhan di akhirat bagi orang kafir. [27]

Apa yang telah kita ungkapkan di atas, adalah merupakan
sebagian dari pemikiran al-Asy’ari tentang tauhid. Sekarang
kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. Sengaja
dirangkaikan keadilan dengan tauhid, karena pembahasan
tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata,
sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq
dengan makhluknya.

Al-Asy’ari, seperti Mu’tazilah, meyakini bahwa Allah adalah
Maha Adil. Tetapi seperti kaum Salafi, ia menolak bahwa kita
mewajibkan sesuatu kepada Allah. Dan juga menolak faham
al-Shalah wa al-Ashlah Mu’tazilah, artinya, Tuhan wajib
mewujudkan yang baik, bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan
manusia. Allah, kata al-Asy’ari, bebas memperbuat apa yang
kehendaki-Nya. [28]

Al-Asy’ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan
kehendak mutlak Tuhan. Keadilan diartikannya “menempatkan
sesuatu pada tempat yang sebenarnya,” yaitu seseorang
mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta
mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. [29]
Tidak dapat dikatakan salah, kata al-Asy’ari, kalau Tuhan
memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga, termasuk
orang-orang kafir, dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan
bersifat dzalim, jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam
neraka. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut
pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum, dan
karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum,
maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum.
[31]

Oleh karena itu, Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak,
dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap
makhluk-Nya. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari
kiamat, menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim, atau
memasukkan orang kafir ke dalam sorga, maka Tuhan tidaklah
berbuat salah dan dzalim. Tuhan masih tetap bersifat adil.
[32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan
hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan.

Paham keadilan al-Asy’ari ini mirip dengan paham sebagian
umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. Sang
raja yang absolut diktator itu, memiliki hal penuh untuk
membunuh atau menghidupkan rakyatnya. Kemudian digambarkan,
bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum,
dalam arti, dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada
undang-undang dan hukum. Karena undang-undang dan hukum itu
adalah bikinannya sendiri.

Dari asumsi itu, kemudian al-Asy’ari menganalogikan bahwa
Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Dia memperbuat
sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. Maka tidak seorangpun
yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai
kemaslahatan umat manusia, baik di dunia ini, maupun di
akhirat. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia,
baik di dunia atau di akhirat, maka tidak seorangpun yang
akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. Persis seperti
seorang raja yang absolut diktator, kalau ia menganiaya
seluruh rakyatnya, maka tak seorangpun yang sanggup
menentangnya. Karena manusia, bagi al-Asy’ari, selalu
digambarkan sebagai seorang yang lemah, tidak mempunyai daya
dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan
absolut mutlak. [34] Karena manusia dipandang lemah, maka
paham al-Asy’ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham
Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will).
Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak
dan kekuasaan Tuhan. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan
dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai
istilah al-kasb (acquisition, perolehan). Al-Kasb dapat
diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia
dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. Tentang
faham kasb ini, al-Asy’ari memberi penjelasan yang sulit
ditangkap. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia
dalam perbuatannya. Namun dalam penjelasannya tertangkap
bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi,
dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif
dalam perbuatannya. [35] Kasb, kata al-Asy’ari, adalah
sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan
perantaraan daya yang diciptakan. [36]

Melihat kepada pengertian, “sesuatu yang timbul dari yang
berbuat” mengandung atas perbuatannya. Tetapi keterangan
bahwa “kasb itu adalah ciptaan Tuhan” menghilangkan arti
keaktifan itu, sehingga akhirnya manusia bersifat pasif
dalam perbuatan-perbuatannya.

Argumen yang dimajukan oleh al-Asy’ari tentang diciptakannya
kasb oleh Tuhan adalah ayat:

“Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu.” (QS.
al-Shaffat 37:96)

Jadi dalam paham al-Asy’ari, perbuatan-perbuatan manusia
adalah diciptakan Tuhan. [37] Dan tidak ada pembuat (agent)
bagi kasb kecuali Allah. [38] Dengan perkataan lain, yang
mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, menurut al-Asy’ari,
sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan,
dapat dilihat dari pendapat al-Asy’ari tentang kehendak dan
daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. Al-Asy’ari
menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin
dikehendaki. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari
kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki
sesuatu, ia pasti ada, dan jika Tuhan tidak menghendakinya
niscaya ia tiada. [39] Firman Tuhan:

“Kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki” (QS.
al-Insan 76:30).

Ayat ini diartikan oleh al-Asy’ari bahwa manusia tak bisa
menghendaki sesuatu, kecuali jika Allah menghendaki manusia
supaya menghendaki sesuatu itu. [40] Ini mengandung arti
bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan,
dan kehendak yang ada dalam diri manusia, sebenarnya tidak
lain dari kehendak Tuhan.

Dalam teori kasb, untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam
perbuatan manusia, terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan
Tuhan dan perbuatah manusia. Perbuatan Tuhan adalah hakiki
dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang).
Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut.
Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua
orang yang mengangkat batu b esar ; yang seorang mampu
mengangkatnya sendirian, sedangkan yang seorang lagi tidak
mampu. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu
besar itu, maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat
tadi, namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu
tidak turut mengangkat. Demikian pulalah perbuatan manusia.
Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya
Tuhan, tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat
sebagai pembuat. [43]

Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham
al-Asy’ari, untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya,
daya Tuhan dan daya manusia. Tetapi daya yang berpengaruh
dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah
daya Tuhan, sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau
tidak disokong oleh daya Tuhan.

Karena manusia dalam teori kasb al-Asy’ari tidak mempunyai
pengaruh efektif dalam perbuatannya, maka banyak para ahli
menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat, bahkan
Ibn Hazm (w. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. 728 H) menilai,
sebagai jabariyah murni. [44] Harun Nasution juga
berpendapat demikian. Alasannya karena menurut al-Asy’ari
kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya
Tuhan, dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan
bukan perbuatan manusia. [46]

Ibn Taimiyyah menilai al-Asy’ari telah gagal dengan konsep
kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan
Jabbariyah. Sebab, menurut Ibn Taimiyyah, Kasb-nya
al-Asy’ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham
Jabariyah murni, yang mengingkari sama sekali adanya
kemampuan pada manusia untuk berbuat. Memang, seperti yang
sudah kita uraikan di atas, al-Asy’ari menegaskan bahwa kasb
manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan
perbuatan manusia itu. Oleh karena itu, Ibn Taimiyyah
menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy’ari itu tidak
masuk akal. [46]

PENGARUH KALAM AL-ASY’ARI

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa dalam faham teologi
al-Asy’ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang
lemah, yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat
berhadapan dengan kekuasaan yang absolut, apalagi berhadapan
dengan kekuasaan mutlak Allah.

Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan
kultural masyarakat pada masanya, yaitu keadaan masyarakat
Islam pada abad ke-9 M. [47] dimana raja-raja selalu
berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk
menghukum siapa saja yang diinginkannya, sang raja tidak
perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Sebab
undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri.

Karena teologi al-Asy’ari didirikan atas kerangka landasan
yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang
lemah, maka disinilah letak kekuatan teologi itu, yaitu ia
dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang
bersifat sederhana dalam pemikiran.

Kunci keberhasilan teologi al-Asy’ari ialah karena sejak
awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya – umat
Islam, yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni.
Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan
ajaran-ajaran Mu’tazilah.

Sejarah menunjukkan, bahwa aliran al-Asy’ari telah berhasil
menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur
tangan khalifah al-Mutawakkil, ketika yang terakhir ini
membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai paham resmi pada waktu
itu. Kemudian setelah wafatnya al-Asy’ari pada tahun 935M.
Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya, antara lain,
al-Baqillani, al-Juwaini dan al-Ghazali. Akhirnya, aliran
itu mengalami kemajuan besar sekali, sehingga mayoritas umat
Islam menganutnya sampai detik ini.

Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi
al-Asy’ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya
terhadap Dinasti yang berkuasa, sebagai konsekuensi logis
dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. Dengan
demikian, ia sering mendapat dukungan, bahkan menjadi aliran
dari Dinasti yang berkuasa. Sungguhpun demikian, paham
al-Asy’ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh
negatif. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran
rasionalisme di dunia Islam. Hilangnya pemikiran
rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat
Islam selama berabad-abad.

Karena akal manusia, menurut al-Asy’ari, mempunyai daya yang
lemah, akibatnya, menjadikan penganutnya kurang mempunyai
ruang gerak, karena terikat tidak saja pada dogma-dogma,
tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni,
yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain
dari arti letterlek, tetapi mereka artikan secara letterlek.
Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat
mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang
terjadi dalam masyarakat modern. Selain itu, ia dapat
merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat
kemajuan dan pembangunan. Bahkan, lebih tegas lagi, Sayeed
Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam
sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme
al-Asy’ari. [49]

Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi, termasuk perbuatan
manusia, adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna
pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya, dan
lebih dari itu, menjadikan manusia-manusia yang tidak mau
bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. Peristiwa
terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham
Fatalisme. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak
Tuhan semata, sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab
atasnya.

Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat, seperti
rezeki, jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan, menjadikan
manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan
merubah struktur masyarakat. Dan ia selalu mempersalahkan
takdir atas kemiskinan, kebodohan dan kematian massal yang
terjadi.

Untuk menutup tulisan ini, suatu kesimpulan dapat diambil
bahwa faham teologi al-Asy’ari mempunyai basis yang kuat
pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara
hidup dan berpikir, serta jauh dari pengetahuan. Tetapi
teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan
perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru.

CATATAN

1.Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II, Mesir,
tahun 1976, h. 46

2.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail
Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa
al-Asy’ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-lbanah ‘an
Ushul al-Dinyanah, Ed, Dr. Fauqiyah Husein Mahmud, Mesir,
1977, h. 9 (Selanjutnya disebut, Fauqiyah, al-lbanah). Lihat
juga Abu al-Hasan al-Asy’ari, maqalat al-Islamiyyin wa
Ikhtilaf al-Mushallin, ed., M. Mahyudin Abdul Hamid, Mesir,
1969, h. 3

3.Abu Musa al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat
Rasul-Allah saw. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali
Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan
Muawiyah, lihat Hamudah Guramah, Abu al-Hasan al-Asy’ari,
Mesir, 1973 h. 60

4.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 10

5.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun
lahirnya: 270 H./885 M. Ibn Atsir, dalam al-Lubab I. h. 52
270 H./881 M. Al-Makrizi, dalam al-Khutbath III, h. 303
(dikutip dari Fanqiyah, Ibid., h. 13 Penulis lebih cenderung
menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari
Mu’tazilah adalah pada tahun 300 H. Sedangkan usianya waktu
itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. (lihat M. Ali
Abu Rayyan, Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam,
Iskandariyah, 1980, h. 310

6.Hamuddh, Al-Asy’ari, hal. 60

7.Fauqiyah, Al-Ibanah, hal. 29

8.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982 h.
36

9.Louis Gardet & J. Anawati, Falsafat al-Fikrial-Dini Bain
al-Islam wa al-Masihiyah I (terj.) Bairut, 1976, h 93

10.Zuhdi Jar Allah, Al-Mu’tazilah. Bairut, 1974, h. 102

11.Lihat Rayyan, Tarikh, h. 312 Gardet & Anawati, Falsafah,
h. 94. Madkour, Fi al-Falsafah, h. 116, Subhi Fi Ilm
al-Kalam II, h. 73, Dan Hamudah, al-Asy’ari, h.65

12.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982, h.
159.

13.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan
perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu’tazilah, dapat
dilihat pada, Mahmud Kasim, Dirasat Fi al-Falsafah
al-Islamiyyah, Mesir, 1973 h. 164-165

14.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 31

15.Ibid., h. 34

16.Ibid., dan lihat juga Subhi, Fi Ilm al-Kalam II,
Iskandiyah, h. 41

17.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah’an Ushul al-Dinayah,
Mesir,1397 H. H.8

18.Faiqiyah, Al-Ibanah, h. 35

19.Hasan Mahmud al-Asy’ari, dalam, Dirasat Arabiyah wa
Islamiyah I, Dar el Ulum, Kairo, 1985, h. 38

20.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Kitab al-Luma’ Fi al-Rad’ala ahl
al-Zaigh wa al-Bida’, Kairo, 1965, h. 30

21.Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal I, Ed. Abd. Aziz
M.M. Wakil, Kairo, 1968, h. 104

22.Madkour, Fi al-Fasafah II, h. 50

23.Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, h. 51

24.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 17. Lihat juga, Al-Syahrastani,
Al-Mihal I, h. 100

25.Al-Asy’ari, Ibid, h. 13

26.Al-Syahrastani, Al-Milal I, h. 100. Lihat juga Madkour,

27.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 16

28.Al-Sahrastani, Al-Milal I, h. 102, 113

29.Ibid., h. 101

30.Ibid

31.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 71

32.Ibid., lihat juga Mahmud Kasim, Dirasat, h. 167

33.Mahmud Kasim, h. 168

34.Ibid.

35.Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah,
Kairo, tt., h.205

36.Al-Asy’ari, al-Luma’, h. 76

37.Ibid., h. 70

38.Ibid., h. 72

39.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 51

40.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 57

41.Ibid, h. 41

42.Abd al-Rahman Badawi, Madzahib al-Islamiyin, Bairut,
1971, h. 562

43.Abd al-Qahir al-Baghdadi, Kitab Ushul al Din, Bairut,
1981, h. 133-134

44.Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib, h. 205

45.Harun Nasution, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 1983 h.
112

46.Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah II, h. 16-17

47.Mahmud Kasim, Dirasat, h. 34

48.Sayeed Ameer Alim, The Spirit Of Islam, Delhi, tt., h.
472 473.

para santri dan masyarakat yang mengaku sebagai pengikut al-Asy‘arî yang disebut dengan al-Asy‘ariyyah telah menyalahi al-Asy‘arî sendiri, terbukti bahwa al-Asy‘arî dengan kitab al-Ibânahnya dan beberapa kitab lain berbeda akidah dengan orang-orang yang mengaku sebagai pengikutnya atau al-Asy‘ariyyah. Al-Asy‘arî mengakui keberadaan Allah subhânahû wa ta‘âlâ bertempat di atas ‘Arasy sementara al-Asy‘ariyyah tidak. Tentunya hal ini bertolak belakang antara al-Asy‘arî dengan pemahaman pengikutnya.

Umat Islam Indonesia adalah ahlus sunnah waljama’ah, yang mayoritasnya adalah pengikut Aqidah Asy’ariyyah. Aqidah Asy’ariyyah ditandai dengan keimanan kepada sifat 20; serta menakwil sifat-sifat Allah yang lainnya.

Ahlussunnah, ahli hadits, dan ahli atsar sudah ada sebelum imam al-Asy’ari lahir, dan tidak menjadi asy’ariyyah setelah imam al-Asy’ari menjadi imam.

Kelompok salaf sunni, Ahlussunnah, ahli hadits dan ahli atsar berpegang teguh dengan sunnah dan membenci kalam dan ahlinya, sementara kelompok asya’irah adalah termasuk ahli kalam dan membela kalam.

Para ulama salaf sunni  sebelum imam al-Asy’ari dan sesudahnya berwasiat agar mengikuti manhaj salaf as-shalih, yaitu mengikuti hadits dan atsar dan tidak berwasiat untuk mengikuti asyairah atau ilmu kalam.

sangat terkenal kalau imam Asy’ari akhirnya menisbatkan diri kepada imam Ahmad ibn Hanbal ra. Jadi bukan hanya orang lain, justru imam Asy’ari sendiri yang menyatakan hal itu dalam kitabnya al-Ibanah seperti yang ada dalam Tabyin Kadzibil Muftari yang ditahqiq oleh al-Kautsari (hal. 125)

.

Sedangkan di dalam kitab Maqalat beliau menyatakan mengikut para ulama ahli hadits dan ahli sunnah (maqalat: 226), serta menyendirikan penyebutan Abdullah ibn Said ibn Kulab dalam hal-hal yang pemikirannya menyalahi ahli hadits ahli sunnah. (Maqalat halaman 146, 226, 229, 398, 421, 423)

Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:

Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).

Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).

dalam fase kedua ini al-Asy’ari menulis kitabnya al-Ibanah (50) padahal ia meyakini bahwa fase kedua ini memanjang dari tahun 300 H hingga 324 atau 330 H), yang tentu ada puluhan kitab yang dikarang oleh al-Asy’ari selama masa 24 atau 30 tahun itu. dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya. Menurut al-Kautsari al-Ibanah ditulis saat memasuki Baghdad (hamisy Tabyin Kadzibil muftari hal. 289)

Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah[2] (320-324/330 H) yaitu Allah SWT  memiliki wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain tetapi berbeda dengan makhluk, akidah seperti ini adalah akidah salafi wahabi yang dicela  Nahdlatul  Ulama dan Asya’irah

(2) Ithâfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn, al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurrahmân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.

Siapa yang merenungkan kitab Shahih BUKHARi dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.

Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad, warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil, ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara.

Asya’irah Menentang Abu Hasan Al Asy’ari !!! Kontradiksi

Klaim bahwa sebagian ulama ahli hadits sebagai bermanhaj Asy’ariyyah perlu dikritisi dan diluruskan (124-172). Mereka yang diklaim itu sangat banyak, antara lain: Alhafizh Abu Bakar al-Ismaili (371H), al-Hafizh al-Daruquthni (385 H),al-Hafizh al-Baihaqi (458 H), al-Hafizh an-Nawawi (676 H), Ibn Hajr al-Asqalani (852).

Kesimpulan :

Akidah syi’ah imamiyah menta’wilkan tangan Allah, menta’wilkan wajah Allah dll

Jadi  yang  sesat  Abu  Hasan Al Asy’ari  ataukah  syi’ah imamiyah ???

Bahkan imam Asyari sendiri menisbatkan dirinya kepada Imam Ahmad imam Ahli hadits, dan setelah menceritakan akidah ahli hadits ahli sunnah (para salaf shalih) mengatakan:

فهذه جملة ما يأمرون به ويستسلمون إليه ويرونه، وبكل ما ذكرنا من قولهم نقول وإليه نذهب؛ وما توفيقنا إلا بالله …( مقالات الإسلاميين: 229)

Meyakini sifat 20  menjadi kewajiban umat islam Sunni dengan alasan alasan akal…

Penyusun daftar akidah sifat 20 adalah Abu Abdillah  Muhammad bin Yusuf As Sanusi (833 – 895 H / 1427 – 1490 M ) atau popular dengan panggilan Syaikh Sanusi  dari Tilimsan Negara Al Jazair, beliau mengarang kitab UMMUL  BARAHiN (Aqidah Sughra)

Sifat 20 atau akidah 50 merupakan tahrif terhadap sifat sifat Allah SWT

Apakah itu yang namanya tauhid ???

Saudaraku…

Yang pasti tidak ada dalil yang menyatakan sifat wajib Allah SWT  cuma dua puluh…

Lagipula Nabi SAW, sahabat dan para imam ahlul bait tidak pernah menyebut nyebut sifat 20 ataupun  akidah 50…

Pemahaman “Sifat Allah Yang Wajib Cuma 20″ bukan kebenaran mutlak dan bisa dikritik.

Pada masa Nabi  SAW, akidah belum bercampur dengan unsur unsur budaya luar, masalah baru muncul saat wilayah Islam meluas ke daerah non Arab yang mana daerah daerah tersebut sudah memiliki budaya sendiri…

Ilmu kalam pesantren menyusun akidah wajib dengan pemahaman filosofis sehingga sesuatu yang sebenarnya masih dalam tahap filsafat teoritis dinaikkan tingkat menjadi akidah…

Padahal yang namanya filsafat teoritis masih bersifat praduga sehingga mazhab sunni tidak lagi mengenal yang mana akidah dan yang mana filsafat…

Pandangan filosofis dianggap kebenaran mutlak dan disamarkan menjadi akidah wajib, disitulah letak kesalahan  Asy’ari dan penerus penerusnya

Misal : Terminologi seperti  jauhar, jisim, ‘aradh, jirim, jauhar fard dan daur tasalsul dalam kitab kuning  sunni  itu bukanlah akidah tetapi filsafat teoritis yang dipakai untuk membahas materi

Mareka mentahrif sifat Allah menjadi Cuma 20 saja, apakah itu kerjaan umat Islam dan apa itu yang namanya tauhid ???

Pemikiran  kalam tentang Sifat 20 sudah banyak yang kritik, tetapi sudah enak. Kalau mereka mau dikritik maka tidak mungkin umat islam hari ini selemah sekarang..

Dalam Al Quran ada 1108 ayat tentang sains tetapi ulama sunni tidak menelitinya secara mendalam sehingga menimbulkan ekses yang sangat buruk bagi perkembangan Islam

Kita diperintah meneliti alam (apa yang ada dilangit dan dibumi)  atau meneliti makhluk Nya, mengapa ulama sunni mengabaikan perintah tersebut lalu sibuk meneliti yang tidak dianjurkan yaitu  Zat Nya…

Kitab kuning dianggap sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak ada budaya kritik, memunculkan kekakuan pemikiran !!!

Misal : Menurut mereka, orang yang mampu menghapal sifat 20 atau akidah 50 sudah dianggap tauhidnya mendalam…

Doktrin dan pendidikan agama di sekolah harus ditulis ulang, jangan berhenti berijtihad kontemporer dalam segala aspek

Berimanlah kepada ayat ayat Allah secara total tanpa memilah antara ayat ayat alam dengan ayat ayat syari’at

Setiap gagasan teologi dalam kitab kuning harus dikaji ulang. Ulama sunni jangan mengharamkan apalagi mengkafirkan orang orang yang melakukan pengkajian tersebut

Faktanya, untuk memperbaiki gagasan teologi tersebut sangat sulit karena dianggap sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak boleh ada ijtihad susulan…

Tauhid pada kitab kuning sunni sulit di revisi karena manusia tidak mau memakai AKAL yang telah ALLAH berikan…

Apa dampak buruk kalam dan manthiq Yunani seperti  aristoteles terhadap mazhab sunni ??

Jawab :

Dampak buruknya adalah menyerupakan Tuhan dengan makhluk, sebab titik tolak logika Aristoteles yang tidak berbasis wahyu kan bertentangan dengan logika yang berbasis wahyu

Allah SWT bukanlah objek yang bisa dijadikan objek eksperimen oleh ulama sunni.. Ahli kalam sunni terlalu berani membuat eksperimen terhadap Dia. Dia Yang Agung yang tidak dapat dicapai oleh pandangan materi…

Penjabaran kalam sunni terlalu dipaksakan padahal Allah SWT  tidak pernah meminta kita untuk meneliti Zat Nya, tetapi yang diminta adalah meneliti ciptaan Nya agar semakin mengenal Dia

Apa dampak fatal manthiq Aristoteles terhadap akidah sunni ??

Jawab :

Manthiq aristoteles dengan tolak ukur materi sedangkan Allah SWT immateri (transedent)  sehingga logika aristoteles tidak bisa dijadikan akidah, karena akidah Islam tidak butuh filsafat yunani dalam penjabaran

Yang pasti Allah SWT memerintahkan kita meneliti Alam agar mengenal Nya, jadi bukan dengan meneliti Zat Nya…

Pada tauhid asma’ wa shifat hingga detik ini masih memunculkan polemic berkepanjangan antara hambaliyyah (termasuk wahabi) dengan kaum sunni tradisional seperti NU

Sifat Allah SWT adalah apa yang Dia tetapkan dalam syari’at Nya…

Akal ahlul kalam sunni mempunyai batasan karena pengaruh ruang dan waktu, sementara Allah SWT tidak dibatasi oleh ruang dan waktu…

Teori jauhar, ‘aradh, jisim dll  YANG  SERiNG  DiSEBUT  SEBUT  DALAM KiTAB  KUNiNG  hanya berlaku untuk materi, bukan untuk membuktikan ada atau tidaknya Allah SWT karena Allah adalah immateri, tentu tidak bisa ditentukan keberadaan Nya dengan teori teori materi apalagi dengan teori yang masih bersifat trial and error (coba coba bisa gagal)

Kitab kuning teologi sunni banyak memakai istilah istilah Yunani untuk memahami tentang materi berdasarkan teori kebendaan.. lalu mereka pakai untuk menentukan keberadaan Allah SWT

.

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”.Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

bahwa kalam Asy’ari  dan  tasawuf adalah penyebab kemunduran Sunni  walaupun Asy’ariyah dan sufi  telah berjasa dalam menemukan keharmonisan mistis antara ukhrawi dan duniawi, meski tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan masyarakat muslim yang asy’ariyah  dan sufi sangat terbelakang di banding Barat.

Ilmu kalam lahir sebab polemik hebat antara sesama umat islam sendiri, ataupun antara umat islam dengan pemeluk agama lain. Keretakan ini sesunguhnya sudah mulai terbentuk setelah Rasul wafat

Setiap generasi memiliki tantangan yang khas. Setiap tantangan menghasilkan pemecahan yang khas pula. Maka dari itu, tidak mengherankan satu peradaban yang dibangun oleh generasi tertentu memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan peradaban yang dibangun oleh generasi yang lain. Setiap keunikan dalam peradaban tersebut adalah kebaikan dalam dirinya sendiri. Artinya adalah bahwa tidak setiap kebaikan yang ada pada masa tertentu adalah kebaikan juga pada masa yang lain.Untuk itu perubahan demi perubahan seharusnya diupayakan sebagai usaha pembaruan sebagai respon dari tantangan zaman.

Mu’tazilah  dipelopori oleh Wasil ibn Atho’. Mu’tazilah inilah, menurut Nurcholis Madjid, sebagai pelopor yang sungguh-sunggguh digiatkannya pemikiran tentang ajaran-ajaran pokok Islam secara lebih sistematis. Paham mereka amat rasional sehingga mereka dikenal sebagai paham rasionalis Islam. Sikap rasionalik ini dimulai dari titik tolak bahwa akal mempunyai kedudukan tinggi bahkan kedudukannya boleh dikatakan sama dengan wahyu dalam memahami agama.(Nurcholis Madjid, tt:21)

.

melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).

Pada dasarnya al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-Asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlak. Dengan demikian, jelasnya bahwa Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki dirinya, sedang Al-Asy’ari dari visi bahwa Allah adalah pemilik mutlak.

.

Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari golongan tradisiona Islam, terutama golongan Hanbai, yaitu pengikut-pengikut mazhab ibn Hambal. Mereka yang menentang ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisonal yang dipelopori Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324H/935M).(Abdurrahman Badawi, 1984:497) Disamping aliran Asy’ariyah, timbul pula suatu aliran di Samarkand yang juga bermaksud menentang aliran Mu’tazilah. Aliran ini didirikan oleh Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi (w.333H/944M). Aliran ini kemudian terkenal dengan nama teologi Al-Maturudiyah.(H.AR. Gibb, 1960:414)

Rumusan klasik di bidang teologi  sunni yang kita warisi dari para pendahulu Muslim pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari kenyataan-kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw.

.

Kritik atas Teologi Islam Klasik
Kalau kita perhatikan bahasan tentang doktrin-doktrin teologi Islam klasik itu adalah trend teosentris. Tuhan dan Ketuhanan (theos) menjadi core teologisnya. Dengan perumusan diskursus terutama pada Tuhan dan ketuhanan, sudah barang tentu teologi semacam itu (hanya) relevan sebagai alas struktur dari religiusitas yang “membela” Tuhan, bukan manusia. Untuk konteks zaman pertengahan Hijriyah, ketika era formatis Islam masih berlangsung, boleh jadi masih menemuni signifikansinya

.

Namun, untuk kontek saat, tatkala dunia telah bergerak maju kearah dunia modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dielakkan lagi untuk merekontruksi teologi Islam yang asalnya membela Tuhan (teosentris) menuju keberpihakan kepada kemanusiaan (antroposentri) sebagai suatu rangka pikir untuk memahami kenyataan sekaligus suatu motivasi religius untuk membalik-mengubanya menjadi lebih baik.

Merekontruksi teologi sunni  klasik merupakan sebuah keniscayaan. Karena dengan mempertahankan doktrin-doktrin teologi Islam klasik yang lebih cenderung kepada trend teosentris atau Ketuhanan (theos) yang menjadi pembahasan pokok teologisnya telah jauh menyimpang dari misinya yang paling awal dan mendasar, yaitu liberasi atau emansipasi umat manusia.

Rumusan klasik sunni  di bidang teologi pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari fakta-fakta nyata kemanusian dan kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw. sangatlah liberatif, progresif, emansipatif dan revolutif

.
Disamping itu, kita membutuhkan formulasi teologi Islam kontemporer sebagai sintesis dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islam harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya)

.

Oleh karena itu, diskursus teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Dengan demikian, agar Islam lebih survive dalam menghadapi dunia modern dan postmodern, maka perlu adanya perubahan diskursus teologi Islam yang pada mulanya hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).

teologi tidak sekedar sebagai dogma keagamaan yang kosong melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia

metodologi teologi sunni  tidak bisa mengantarkan kepada keyakinan atau pengetahuan yang menyakinkan tentang Tuhan tetapi baru pada tahap ‘mendekati keyakinan’ dalam pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud spiritual lainnya.

teologi sunni tidak ‘ilmiah’ dan tidak ‘membumi’, Untuk mengatasi kekurangan teologi klasik yang dianggap tidak berkaitan dengan realitas sosial maka perlu beralih ke teologi syi’ah

Pemikiran ini, minimal, di dasarkan atas dua alasan; pertama, kebutuhan akan adanya sebuah ideologi (teologi) yang jelas di tengah pertarungan global antara berbagai ideologi. Kedua, pentingnya teologi baru yang bukan hanya bersifat teoritik tetapi sekaligus juga praktis yang bisa mewujudkan sebuah gerakan dalam sejarah

.

“…Jika para pendahulu telah memulai muqaddimah konvensional mereka
yang bersifat keimanan itu dengan nama Allah;

maka kami memulainya atas nama bumi yang terampas, atas nama kemerdekaan, atas nama kebaikan,atas nama perlawanan,
atas nama persamaan dan keadilan, atas nama persatuan umat
atas nama kemajuan,atas nama kebangkitan umat,
atas nama cinta kemurnian, atas nama mereka yang terbungkam,
dan atas nama seluruh kaum Muslimin yang tertindas…”

.

Teologi sunni yang bersifat dialektik lebih diarahkan untuk mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniannya, bukan dialektika konsep tentang watak sosial dan sejarah, disamping bahwa ilmu kalam sunni juga sering disusun sebagai persembahan kepada para penguasa, yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi.

Sedemikian, hingga pemikiran teologi lepas dari sejarah dan pembicaraan tentang manusia disamping cenderung sebagai legitimasi bagi status quo daripada sebagai pembebas dan penggerak manusia kearah kemandirian dan kesadaran

.

Selain itu, secara praktis, teologi tidak bisa menjadi ‘pandangan yang benar-benar hidup’ yang memberi motivasi tindakan dalam kehidupan konkrit manusia. Sebab, penyusunan teologi tidak didasarkan atas kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia, sehingga muncul keterpecahan (split) antara keimanan teoritik dan keimanan praktis dalam umat, yang pada gilirannya melahirkan sikap-sikap moral ganda atau ‘singkritisme kepribadian’.

Fenomena sinkritis ini tampak jelas dengan adanya ‘faham’ keagamaan dan sekularisme (dalam kebudayaan), tradisional dan modern (dalam peradaban), Timur dan Barat (dalam politik), konservatisme dan progresivisme (dalam sosial) dan kapitalisme dan sosialisme (dalam ekonomi).

.

Dalam  kitab  kuning  Pesantren  tradisional  yaitu  Kitab  “Kifayatul  Awam” : Menurut  abu  hasan  al   asy’ari   “Wujud   adalah  maujud  itu  sendiri  maka  wujud  Allah  Ta’ala  adalah  Zat  Nya  sendiri, maka  jadilah  wujud  itu  bukan  sifat, maka  jadilah  sifat  sifat  yang  wajib  itu  12”

Saudaraku…

Imam  Al  Asy’ari  berpendapat  bahwa  sifat  ma’nawiyah  itu  tidak  ada,  yang  ada  adalah  sifat  ma’ani ( sumber  kutipan : Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997 )

Saudaraku…

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun  1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

saudaraku…

Bahasa dan istilah-istilah dalam teologi sunni klasik adalah warisan nenek moyang dalam bidang teologi yang khas yang seolah-olah sudah menjadi doktrin yang tidak bisa diganggu gugat

istilah-istilah dalam teologi sebenarnya tidak hanya mengarah pada yang transenden dan ghaib, tetapi juga mengungkap tentang sifat-sifat dan metode keilmuan; yang empirik-rasional seperti iman, amal dan imamah, yang historis seperti nubuwah dan ada pula yang metafisik, seperti Tuhan dan akherat.

analisa realitas perlu dilakukan untuk mengetahui latar belakang historis-sosiologis munculnya teologi dimasa lalu dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat atau para penganutnya. Selanjutnya, analisa realitas berguna untuk menentukan stressing bagi arah dan orentasi teologi kontemporer.

teologi sunni  dinilai gagal memberi arahan kepada kemanusiaan, karena akhirnya yang terjadi justru totalitarianisme. Disini mungkin saya  terilhami oleh inspirator revolosi sosial Iran; Ali Syariati

————————————————————————————————————–

Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Sumber  kutipan :

1.   Mohd. Nor  Ngah, Kitab  Jawi : Islamic  Thought  Of  The  Malay  Muslim Scholars ( Singapore : Institute  of  Southeast  Asian  Studies, 1982 ) halaman  9

2. Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

————————————————————————————————————–

Jawaban kami :

Hukum  akal  terbagi  tiga menurut  kaum  sunni  :

-  Wajib  pada  akal

-  Mustahil  pada  akal

-  Jaiz   pada  akal

Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Apakah  akidah  kepada  Allah  dan  Rasul  bisa  tegak  dengan  memakai  akal  akalan  ulama  penulis  kitab  kuning  ????? Pantas lah  umat  sunni   mundur dalam  pengamalan   akidah !!!!!!!!!

saudaraku….

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/10/sifat20.jpg?w=257

Takrifan:1. Sifat Nafsiah – diri zat Allah swt, wujudNya tidak disebabkan oleh sesuatu sebab

2. Sifat Salbiah – menafikan perkara-perkara yang tidak layak bagi Zat Allah swt atau hujah-hujah sifat yang membesarkan kelebihan zat yang Maha Agung itu daripada sekalian yang baharu

3. Sifat Ma’ani – sifat yang berdiri pada zat Allah swt, yakni sifat khusus yang dimiliki oleh Allah swt dan lazim melazimi pula ia dengan sifat ma’anawiyah

4. Sifat Ma’anawiyah – zat yang disebabkan suatu sebab akan wujudnya, yakni kelakuan zat atau fungsi zat yang mempunyai sifat ma’ani atau kelakuan sifat ma’ani yang digerakkan oleh zatNya.

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/10/sifat20-istaghna_iftiqar.jpg?w=244

Takrifan:

ISTAGHNA – Sifat KEKAYAAN Allah swt

IFTIQAR – Sifat berhajat, berkehendak sekalian makhluk kepada Allah swt

saudaraku….

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

Lalu bagaimana dengan hadits:

Sesungguhnya bagi Allah sembilan puluh sembilan nama, barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah.”

[Riwayat Bukhori:6410, Muslim:2677]

Jawabnya: Hadits ini tidak menunjukkan pembatasan nama Allah hanya semobilan puluh sembilan saja. Bila demikian maka susunan kalimatnya adalah:

Sesungguhnya nama-nama Allah ada sembilan puluh sembilan, barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah

Dengan demikian, maka makna hadits ini adalah nama-nama Allah yang sembilan puluh sembilan yang siapa saja dapat menghapalnya akan masuk jannah. Berarti masih ada nama-nama lain yang tidak diperintahkan untuk menghapalnya. Selain itu kalimat “…barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah” bukan merupakan kalimat tersendiritetapi kalimat pelengkap dari sebelumnya. Kalimat yang semisal dengannya, seperti ucapan: “Saya mempunyai seratus ribu rupiah yang saya persiapkan untuk shodaqoh”. Berarti anda masih mempunyai uang yang lain yang dipersiapkan untuk keperluan lainnya.

“Ulama telah bersepakat bahwa hadits ini bukan pembatasan nama-nama Allah. Namun bukan berarti Allah tidak memiliki nama-nama yang lain. Tetapi maksud dari hadits ini yaitu sembilan puluh sembilan nama ini, bagi yang menghapalnya akan masuk jannah. Tujuannya sekedar informasi akan masuk jannah bagi yang mampu menghapal 99 nama tersebut, bukan pembatasan nama. Oleh karenanya tersebut dalam lafadz lain: Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk Diri-Mu…atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya”

nama Allah tidak terbatas. Demikian pula sifat-Nya. Karena setiap nama pasti mengandung sifat, berarti sifat Allah juga tidak terbatas. “Allah mempunyai nama-nama dan sifat yang disimpan pada ilmu ghoib di sisi-Nya. Tidak ada yang mengetahuinya, baik itu malaikat yang dekat dengan Allah atau nabi yang diutus, seperti disebutkan dalam hadits shohih: Aku mohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya”

——————————————————————————————

….. Demikianlah  ciri ciri utama pemikiran  tradisionalisme  tentang  ilmu tauhid  yang  bertolak  dari   Rukun  Iman. Diantara  rukun rukun tersebut, rukun yang pertama  atau  kepercayaan kepada  Allah  lebih dominant. Meskipun  rukun ini  diutamakan, tetapi hanya  berpusat  pada  ajaran sifat 20. Konsep  akidah  seperti  ini bukan saja dipengaruhi  dialektika  yunani  dan  logika  aristoteles, bahkan  dianggap  sempit   dan tidak  menyentuh  kehidupan  manusia.

Memerlukan  cara  baru  untuk  menulis  teologi. Keadaan  sosial, politik  dan filsafat  banyak  pengaruhnya terhadap  perkembangan  teologi  dalam  Islam, dengan tidak mengetahui  hal hal tersebut, pengetahuan  kita  tentang  teologi  Islam  akan  terasa  kurang  mempunyai  dasar yang kukuh…

Sumber  kutipan :

Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

——————————————————————————————

Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Sumber  kutipan :

a.  Mohd. Nor  Ngah, Kitab  Jawi : Islamic  Thought  Of  The  Malay  Muslim Scholars ( Singapore : Institute  of  Southeast  Asian  Studies, 1982 ) halaman  9

b. Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

—————————————————————

Saudaraku….

Kritik  dilancarkan terhadap  ajaran  tauhid  tradisional   yang  mengajarkan  sifat  20  yang  dianggap  berasaskan  logika  aristoteles (Sumber kutipan : A. Hassan, Kitab  Al  Tauhid (Penang: Persama  Press, 1959) hal. 23 -24…. Nik  Mohyideen  Musa, Pelajaran  Ilmu  Tauhid ( Kuala  Lumpur : Dewan  Bahasa  dan  Pustaka, 1979 ) halaman 102-104

—————————————————————

Saudaraku….

Mengenai  kepercayaan  kepada  Nabi  dan  Rasul, pembahasannnya  juga  menggunakan  hukum  hukum  akal.  Ada  empat  sifat  wajib, yaitu  shidiq, amanah, tabligh  dan  fathanah.  Sedangkan sifat  mustahil  ialah  yang  berlawanan  dengan  keempat  sifat  ini. Sifat  jaiz  bagi  rasul  ialah  sifat  sifat  sebagai  manusia  biasa  yang  tidak  merendahkan  martabat  mereka  sebagai  Nabi  dan  Rasul  ( Sumber kutipan : Hussain  bin  Nasir  Al  Banjari, Tamrin  al  Sibyan, halaman  14-15 ; idem, Hidayat  Al Sibyan, halaman 7; Haji  Mohd. Sharif  bin  Abdul  Rahman, al Muqaddimah  Al  Tauhidiyah (Pulau  Pinang : Abdullah B.M. nurdin  Al  Rawi, 1959), halaman 8-9

Semua deskripsi Tuhan dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an maupun Sunnah, sebenarnya lebih mengarah pada pembentukan manusia yang baik, manusia ideal, insan kamil.

Saya melakukan ini dalam rangka untuk mengalihkan perhatian dan pandangan umat Islam yang cenderung ingin tahu wujud Tuhan  menuju sikap yang lebih berorentasi pada realitas empirik

Sebab, apa yang di kehendaki dari konsep tauhid tersebut tidak akan bisa dimengerti dan tidak bisa difahami kecuali dengan ditampakkan. Jelasnya, konsep tauhid tidak akan punya makna tanpa direalisakan dalam kehidupan kongkrit.

Perealisasian nafi (pengingkaran) adalah dengan menghilangkan tuhan-tuhan modern, seperti ideologi, gagasan, budaya dan ilmu pengetahuan yang membuat manusia sangat tergantung kepadanya dan menjadi terkotak-kotak sesuai dengan idiologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dipujanya. Realisasi dari isbat (penetapan) adalah dengan penetapan satu ideologi yang menyatukan dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu tuhan-tuhan modern tersebut.

Dengan demikian, dalam konteks kemanusiaan yang lebih kongkrit, tauhid adalah upaya pada kesatuan sosial masyarakat tanpa kelas, kaya atau miskin. Distingsi kelas bertentangan dengan kesatuan dan persamaan eksistensial manusia. Tauhid berarti kesatuan kemanusiaan tanpa diskriminasi ras, tanpa perbedaan ekonomi, tanpa perbedaan masyarakat maju dan berkembang

Teologi dimulai dari titik praktis pembebasan rakyat tertindas. Slogan-slogannya yang dipergunakan, pembebasan rakyat tertindas dari penindasan penguasa, persamaan derajat muslimin

tentang tauhid yang ‘mendunia’ telah disampaikan tokoh dari kalangan Syiah, Murtadha Muthahhari. Syi’ah mampu mengemas konsep-konsepnya tersebut secara lebih utuh, jelas dan op to dete, sehingga terasa baru.

adalah langkah berani dan maju dalam upaya untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam mengejar ketertinggalannya dihadapan Barat.

Artinya, teologi tidak hanya berupa ide-ide kosong tapi merupakan ide ‘kongkrit’ yang mampu membangkitkan dan menuntun umat dalam mengarungi kehidupan nyata

Dalam sejarah awal perkembangan Islam, ajaran keesaan Tuhan (tauhid) merupakan tugas pokok pertama Nabi saw yang harus disampaikan dan didakwahkan kepada umatnya. Tauhid menempati struktur hierarkis paling istimewa dalam keseluruhan sistem serta bangunan keberagamaan kaum Muslim. Keabsahan semua rangkaian upacara keagamaan mereka sangat bergantung pada eksistensi tauhidnya

.

Membahas masalah perbuatan manusia, yang menyangkut penegasan apakah itu merupakan suatu tindakan yang ditentukan oleh manusia ataukah di ikuti oleh campur tangan Tuhan. Disini al-Asy’ari telah mengeluarkan pendapatnya bahwa semua tindak-tanduk manusia adalah ciptaan Tuhan, sedangkan manusia hanya memiliki upaya (al-kasb) untuk bertindak. Atau dengan kata lain al-Asy’ari telah membedakan antara al-Khaliq dan al-kasb. Hingga berkesimpulan bahwa segala sesuatu itu tidak memiliki pengaruh apapun secara dzatiah nya akan tetapi yang memiliki pengaruh haqiqi dari semua itu hanyalah Allah swt.(Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, 1903:9)

.

Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok Mujasimah (antropomorfis) dan kelompok Musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut arti harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain adalah esensi-esensinya. (Asy-Syahrastani, 1990: 46)

.
Sementara Al-Asy’ari snediri berpendapat bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah bukanlah esensinya dan juga bukan berarti keluar dari esensi tersebut. Ia memiliki sifat yang melebihi segalanya dan berdiri bersama dengan zat itu sendiri tanpa ada satupun yang dapat menyetarakan-Nya. (C A Qadir, 1991:67-8)

.
Di samping mempengaruhi keabsahan ritual keagamaan, tauhid juga berfungsi mengendalikan gerak, tindakan dan dinamika kemanusiaan. Secara sosiologis, konsep tauhid ikut mengarahkan, membentuk dan menentukan kualitas perilaku individu maupun komunitas umat Islam. Semakin tinggi kualitas tauhidnya, semakin tinggi pula tingkat perilaku keimanan sosialnya. Refleki dari ketinggian kualitas tauhid ini dengan sangat baik dicontohkan oleh para pahlawan (mujahid) Muslim yang berperang demi menegakkan kalimat ilahi dan menyebarkan dakwah keislaman. Orang dengan kualitas tauhid yang mumpuni tidak mengenal rasa takut, menjadi pemberani dan rela berkorban segalanya demi meraih cita-cita tegaknya kalimat Allah, termasuk mengorbankan nyawanya sendiri

.
Dengan demikian, pandangan dunia (world view) tauhid sangat mempengaruhi pola pikir, pola bertindak, gaya dan cara memandang realitas, strategi aksi serta bentuk relasi sosial antar manusia. Dalam konteks ini, tauhid sangat mirip sebuah ideologi; sebut saja ideologi ketuhanan atau ideologi kehidupan (way of life) yang memberi arahan ideal bagi terwujudnya tatanan sosial yang dikehendaki. Tentunya ideologi dalam pengertian sebagai sebuah kumpulan ide, konsep dan gagasan yang menjadi referensi praksis untuk menggapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Tauhid dalam formulasi semacam ini berkembang pada masa-masa awal kelahiran Islam.
Berdasarkan analisis sejarah para pakar, doktrin tauhid yang dikembangkan Nabi Muhammad saw berwatak dinamis, progresif dan liberatif. Ketika itu, tauhid dipahami sebagai ajaran yang menyeru umat manusia untuk hanya menyembah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa; menghambakan diri kepada-Nya; menyerahkan totalitas eksistensial kemanusiaan kepada-Nya dan mengesakan-Nya dari segala bentuk penyembahan, ketundukkan, kepatuhan, ketaatan dan penghambaan diri kepada selain-Nya. Tauhid demikian berkarakter subversif: menantang mainstream status quo dan memberontak terhadap segala struktur kuasa maupun sosial yang hegemonik, tiranik dan sewenang-wenang. Doktrin tauhid benar-benar revolusioner dan transformatif

.
Namun, seiring perkembangan sejarah dan peradaban kemanusiaan, doktrin tauhid mulai mengalami pergeseran secara signifikan. Diskursus teologi yang pada awalnya berkorelasi kuat dengan kenyataan aktual kemanusiaan, direduksi sedemikian rupa menjadi kumpulan wacana spekulatif yang tidak ada sangkut pautnya dengan kenyataan yang hidup dalam gerak sejarah. Berkembangnya tradisi keilmuan baru yang mewujud pada kerja sistematisasi, penyusunan formal (al-tadwin) dan spesialisasi bidang keilmuan, menyebabkan doktrin-doktrin tauhid tertransformasi ke dalam bangunan doktrinal baku, tertutup, teoritik dan kurang memiliki daya dorong sosial

.

Tauhid hanya mampu bergaung dalam karya-karya tulis, bukan berkibar di medan-medan tempur sebagaimana pada zaman Nabi Muhammad saw. Demikianlah, ajaran tauhid kehilangan fungsi transformasinya. Ironisnya, pemahaman ajaran tauhid model ini yang kemudian diwarisi generasi umat Islam hingga sekarang.
Berpijak pada kemandegan pemikiran di bidang teologis yang tidak lagi memiliki fungsi sosial transformatif inilah, diperlukan penggalian ulang spirit of theology yang leberatif, progresif dan berkorelasi sebagai jawaban dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengubah diskursus teologi Islam dari berbicara tentang Tuhan (teosentris) sebagai core teologinya beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).
Dalam konteks ini pembahasan tulisan ini difokuskan agar bisa keluar dari kungkungan dogmatis dan menawarkan metode pendekatan baru agar bisa menjaring aneka pengalaman kemanusiaan dan sosial kekinian untuk kemudian dibedah dan dianalisis sesuai dengan cara kerja ilmu kalam

.

Dengan demikian, secara singkat tauhid berisi pembahasan teoritik menyangkut sistem keyakinan, sistem kepercayaan (kredo) dan struktur akidah kaum Muslim berdasarkan rasio dan wahyu. Tujuan akhir ilmu ini adalah pembenaran terhadap akidah Islam serta meneguhkan keimanan dengan keyakinan. Karena itu, Tauhid memiliki posisi penting dalam mekanisme keberagamaan umat Islam, karena berisi pokok-pokok ajaran yang sifatnya mendasar,

.

teologi atau berteologi haruslah dapat menumbuhkan moralitas atau sistem nilai etika untuk membimbing dan menanamkan dalam diri manusia agar memiliki tanggung jawab moral, yang dalam Al-Qur’an disebut taqwa. Secara pasti teologi Islam merupakan usaha intelektual yang memberi penuturan koheren dan setia dengan isi yang ada dalam Al-Qur’an. Teologi harus mempunyai kegunaan dalam agama apabila teologi itu fungsional dalam kehidupan agama. Disebut fungsional sejauh teologi tersebut dapat memberikan kedamaian intelektual dan spritual bagi umat manusia serta dapat diajarkan pada umat

.

Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islah harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya). Teologi yang fungsional adalah teologi yang memenuhi panggilan tersebut, bersentuhan dan berdialok, sekaligus menunjukkan jalan keluar terhadap berbagai persoalan empirik kemanusiaan

.

tantangan kalam atau teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Teologi, dalam agama apapun yang hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) dan tidak mengkaitkan diskursusnya dengan persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris), memilki rumusan teologis yang lambat laun akan menjadi out of date. AlQur’an sendiri hampir dalam setiap diskursusnya selalu menyentuh dimensi kemanusiaan universal

.

Seharusnya teologi dan kalam yang hidup untuk era sekarang ini berdialog dengan realitas dan perkembangan pemikiran yang berjalan saat ini. Bukan teologi yang berdialok dengan masa lalu, apalagi masa silam yang terlalu jauh. Teologi Islam kontemporer tidak dapat tidak harus memahami perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi

.
Kalau kita analisis terdapat tiga kelemahan yang dimiliki oleh pembahasan teologi Islam klasik diantaranya. Pertama, Persoalan manusia, alam dan sejarah. Selama ini, yang ditonjolkan oleh ilmu kalam selalu saja pembahasan abstrak seputar eksistensi Tuhan, atribut-atribut yang melekat kepada-Nya, eksistensi malaikat, artikel-artikel eskatologis, kenabian, dan ha-hal teoritik lain yang tidak berkorelasi dengan kenyataan yang terjadi. Wacana kalam klasik tidak lagi mamiliki hubungan harmonis dengan kenyataan riil kemanusiaan. Dan ini adalah distorsi besar-besaran terhadap sejarah dan ajaran Islam, karena sebelumnya teologi sangat lekat dengan antropologi

.
Kedua, eksistensi teologi Islam tradisional dalam paradigmanya yang spekulatif, teoritik, elitik, statis dan kehilangan daya dorong sosial serta momentum perlawanannya. Selama ini artikel-artikel teologi klasik hanya penuh dengan refleksi keimanan murni; menggambarkan keimanan sema-mata dan tidak berkaitan dengan kemanusiaan nyata. Gaya pembahasan seperti ini sangat berbahaya, sesuatu yang tak berarti dan hampa makna

.
Ketiga, paradigma teologi klasik Islam sudah saatnya diperbaharui (reformasi), dipahami ulang (rekonstruksi) dan dirumuskan kembali (reformulasi) dalam modelnya yang baru dan progresif, karena sudah tidak relevan dengan tuntutan modernitas, gerak sejarah dan dinamika perkembangan zaman

.
Bertolak dari kelemahan-kelemahan ilmu kalam di atas, tampaknya dekontruksi terhadap ilmu ini merupakan sebuah keniscayaan. Dekontruksi tidak hanya berarti membongkar kontruksi yang sudah ada. Didalam dekontruksi tetap diperlukan usaha-usaha yang mengiringinya, yaitu merekontruksi apa yang seharusnya merupakan tuntutan baru. Tujuan dekontruksi adalah melakukan “demitologisasi” konsep atau pandangan-pandangan yang ada, yang telah menjadi “teks sakral” dan mitos keilmuan dalam dunia Islam. Untuk mencapai itu, perlu dilakukan pembongkaran melalui gagasan kritis dan mendasarkan tipe rasionalitas yang seharusnya menjadi alas ilmu tersebut, serta secara modern menilai kembali wahyu sebagai gejala budaya dan sejarah yang komplek

.

saya melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).

Urgensi dari penghadiran suatu kontruk teologi yang bersifat transformatik dan membebaskan bertolak pada tujuan utama di syari’atkan Islam pada dasarnya adalah revolusi kemanusiaan dan ide-ide pembebasan merupakan salah satu tema pokok dalam Islam. Ide-ide tersebut adalah al-’adalah (keadilan), al-musawamah (egalitarianisme, kesetaraan;persamaan derajat), dan al-hurriyah (kebebasan). Tiga ide tersebut dalam konteks teologi yang transformatif perlu adanya rekonstruksi atau redefinisi makna teologi

.
Selama ini teologi lazim dimaknai sebagai suatu diskursus seputar Tuhan. Namun, dalam kerangka paradigma transformatif, teologi semestinya tidak lagi difahami (semata-mata) sebagaimana pemaknaan yang dikenal dalam wacana kalam klasik itu, yakni suatu diskursus tentang Tuhan yang sangat teosentris, yang secara etimologi merujuk pada akar kata theos dan logos. Ia seharusnya dimaknai dan dipahami sebagai sungguh-sunguh ilmu kalam

.

Gagasan tentang reformasi (atau rekonstruksi) teologi tradisional diperlukan untuk mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan sesuai dengan perubahan konteks sosial politik yang terjadi. Teologi tradisional Islam lahir dalam konteks sejarah ketika inti sistem kepercayaan Islam, yaitu Transendensi Tuhan diserang oleh wakil-wakil dari sekte-sekte dan budaya-budaya kuno. Teologi dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan untuk memelihara kemurnian iman. Dialektika berasal dari dialog dan mengandung pengertian saling menolak; hanya merupakan dialektika kata-kata, bukan konsep-konsep tentang alam, manusia, masyarakat atau sejarah

.
Sekarang ini konteks sosial politik telah berubah. Islam mengalami berbagai kekalahan di berbagai medan pertempuran sepanjang periode kolonisasi. Karena itu, kerangka konseptual lama masa-masa permulaan, yang berasal dari kebudayaan klasik harus dirubah menjadi kerangka konseptual baru, yang berasal dari kebudayaan modern

.

Pemahaman tauhid sedemikian tidak hanya diarahkan secara vertikal untuk membebaskan manusia dari ketersesatan dalam bertuhan, tetapi juga secara sosial-horisontal dikehendaki berperan sebagai teologi yang membebaskan manusia agar terlepas dari seluruh anasir penindasan. Cita pembebasam manusia dari ketertindasan, karena itu, merupakan saah satu ‘aqidah iahiyah. Elaborasi lebih jauh dari pemahaman tauhid semacam ini menuntut pula redefinisi terhadap entitas makna iman, nilai kufr dan sebutan kafir, dan pada akhirnya reposisi entitas makna Islam dan Musim searah dengan kepentingan praksis pembebasan.

.

Konsep Keadilan Sosial.
Konsep keadilan merupakan doktrin yang diperbincangkan oleh teologi Islam kasik. Dalam diskursus teologi Islam klasik tema tersebut cenderung terfokus semata pada perbincangan soal-soal keadilan Tuhan (al-’adl).

teologi dapat berperan sebagai suatu ideologi pembebasan bagi yang tertindas atau sebagai suatu pembenaran penjajahan oleh para penindas. Teologi memberikan fungsi legitimatif bagi setiap perjuangan kepentingan dari masing-masing lapisan masyarakat yang berbeda.

Berangkat dari situlah, maka konsep keadilan Tuhan (a-’adl) perlu direkontruksi dan redefinisi pada konsep keadilan sosial. Pengedepanan konsep ini bertolak dari kesadaran bahwa ketidakadian sosial (kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ekploitasi, diskriminasi, dan dehumanisasi) merupakan produk dari suatu proses sosial lewat struktur dan sistem yang tidak adil, yang terjadi antaran proses sejarah manusia

.

Artinya realitas sosial yang tidak adil bukanlah takdir Tuhan (predestination) seperti umumnya diyakini teologi-teologi tradisional, melainkan hasil dari proses sejarah yang disengaja. Bukan pula hanya akibat “ada yang salah dalam bangunan mentalitas-budaya manusia”, seperti keyakinan teologi-teologi rasional, melainkan imbas langsung dari diselenggarakannya sistem dan struktur yang tidak adil, eksploitatuf, dan menindas.

.

Konsep Spirituaitas Pembebasan.
Konsep ini merupakan konkretisasi dari proses refleksi kritis atas realitas manusia (umat) di satu sisi dan atas tujuan utama Islam sebagai agama pembebasan di sisi lain. Pembebasan (liberation,tahrir) dalam kerangka spiritualitas tidak hanya diarahkan pada struktur-sistem yang menindas, tetapi juga secara terus menerus pada upaya membebaskan manusia dari hegemoni wacana tertentu berupa produk pemikiran keagamaan tertentu, misalnya spriritualitas ini harus senantiasa mengambil tempat dan peran aktif dalam proses kontektuaisasi teks-teks keagamaan atas konteks kekinian

.
Pengenaan spiritualitas pembebasan itu secara khusus bertujuan agar aspek relligius dari gagasan teologi dimaksud tidak hilang sekaligus eternalitas nilai-nilai trandensinya tak terabaikan

.

Oleh sebab itu, selain menumpukan diri pada gagasan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar, ia juga menekankan pada pemaknaan kontekstual dengan realitas kekinian (segenap bentuk social malaise). Akhirnya, di wilayah praktis, aktualisasi atau manifestasi teologi reformatif ini membutuhkan keterlibatan aktif dari kaum tertindas sendiri. Tanpa itu, bisa dipastikan ia akan gagal menjadi motivasi religius yang betul-betul transformatif dan berdaya membebaskan. Pelibatan aktif mereka itu terlepas model menejemen gerakan apapun yang pada akhirnya diambil

.
Dengan berteologi secara demikian kita bisa memulai berharap munculnya realitas sosial kemanusiaan yang lebih mengembirakan

.

Dalam pada itu Isam sebagai entitas nilai maupun agama akan benar-benar hadir sebagaimana spirit aslinya sebagai agama yang membebaskan. Hal itu memungkinkannya hadir sebagai entitas yang berdaya melakukan pembebasan dan tidak justru memperkokoh diri sebagai indtitusi penindas, langsung maupuin tidak. Melalui rekonstruksi teologis sedemikian, Islam sebagai entitas ajaran niscaya mengambi jalan “mengubah dunia untuk mengubah manusia” dan bukan “mengubah manusia untuk mengubah dunia”.

Rekomendasi ini niscaya demi menyadari kondisi faktual umat Islam saat ini yang terpuruk di berbagai bidang kehidupan dan mandulnya beragan paradigma teologi Islam yang dianut mereka untuk memotivasi berlangsungnya proses transformasi sosial. Dua kenyataan inilah yang secara langsung menjadi basis historis mengapa rekontruksi teologi Islam itu perlu. Dalam pada itu kita bisa menarik kesimpulan betapa Islam dalam proses sejarah telah semakin jauh dari rasionalitas Tuhan ketika ia diturunkan

.
Terkait itulah rekontruksi terhadap teologi warisan Islam klasik ini menjadi hal yang sangat strategis guna memulai transformasi sosial umat secara total. Redefinisi teologi Islam klasik menuju teologi Islam yang transformatif akan memberikan signifikansi bagi kesadaran teologis umat yang kritis dalam melihat teks (Qur’an/hadits, ide-ide kemanusiaan) dan konteks kekinian. Pada saat berbarengan ia berpotensi pula menjadi motivasi reigius bagi umat untuk melakukan transformatif atas realitas ketertindasan yang mengkungkung mereka baik berupa ideologi Barat seperti developmentalisme atau kapitalisme, ataupun berwujud nilai-nilai yang mereka konseptualisasi sendiri, termasuk “nilai-nilai agama”
Dalam kerangka pembebasan, upaya pelahiran kesadaran teologis antropomorpisme itu penting, setidaknya disebabkan dua urgensi, yakni pertama, dilevel wacana pemikiran keagamaan ia akan mengurai stagnasi wacana intelektual Islam sejak pasca-Abad pertengahan, khususnya, di ranah teoogi. Disitu jargon-jargon semisal “membuka pintu Ijtihad” disatu sisi dan berlawanan dengan “pintu ijtihad telah tertutup” pada sisi yang lain akan menemukan momentum dan intensitas persinggungannya. Kedua, di level praksis ia akan memposisikan diri sebagai motivasi religius yang membebaskan bagi umat dalam melakukan perlawanan terhadap struktur dan sistem penindasan yang melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan, diskriminasi, dehumanisasi, dan sejenisnya.

Pada saat yang sama ia akan mendorong pada pemahaman bahwa realitas tidak manusiawi itu berlangsung bukan lagi bersifat individual atau apalagi merupakan sesuatu yang sudah dipastikan, seperti pemahaman teologi tradisional, melainkan sudah bersifat sosial—-tercipta oleh struktur-sistem yang memang menghendaki demikian

.
Paling tidak melalui dua level itulah eksistensi umat Islam ke depan akan menemukan bentuknya, dan masa depan peradaban umat akan kembali menjadi menemukan memontumnya dan akan dikagumi baik bagi umat Islam sendiri maupun dunia Barat.

Hari ini banyak perkara yang telah hilang dari umat Islam. Di antaranya ialah ilmu dan hikmah, kasih sayang, perpaduan, empayar, jemaah dan ummah. Mungkin kerana itu hilanglah wibawa umat Islam. Bila umat Islam tidak ada wibawa ertinya tidak ada kekuatan, lemah dan lumpuh. Akhirnya umat Islam seluruh dunia hari ini macam kain buruk atau debu-debu yang berterbangan yang tidak ada harga satu sen pun atau ibarat buih-buih di laut yang dipecah belahkan oleh ombak laut. Itulah yang sedang berlaku pada dunia Islam hari ini, akibat dari itu umat Islam menjadi hina. Hina disebabkan dijajah tapi jajah bentuk baru bukan bentuk lama. Penjajahan bentuk lama bersifat fizikal, tapi bentuk baru ini, kalau orang itu tidak kuat dengan Tuhan tidak prihatin, bukan sahaja awamul muslimin, ulama dan pemimpin Islam pun tidak faham, bahkan ulama dan pemimpin Islam sudah anggap kita sudah merdeka hari ini padahal kalau kita prihatin umat Islam hari ini dijajah bentuk baru. Penjajahan secara bentuk baru inilah yang umat Islam termasuk pemimpin dan ulama tidak faham.

Penjajahan bentuk baru yang sedang berlaku pada umat Islam hari ini yang besar-besarnya ialah:

  1. Ideology telah menjajah syariat atau ideology telah menjadi syariat. Semua negara Islam menggunakan ideology dari yahudi menggantikan syariat Islam.
  2. Pendidikan sudah dijajah. Daripada pendidikan yang bertunjangkan iman di tukar kepada pendidikan sekuler yang tidak dikaitkan dengan iman yang tidak bertunjangkan Tuhan.
  3. Ekonomi dunia dahulu dikuasai umat Islam yang bersifat khidmat, bersih dari riba, monopoli dan penindasan kini dijajah oleh ekonomi yang besifat riba, penzaliman, penindasan dan monopoli,
  4. Kebudayaan Islam yang bersih sudah dijajah oleh kebudayaan yang kotor, maksiat, bahkan sesetengah hal, telah diganti oleh kebudayaan yang lucah.

Penjajahan yang berbetuk rohani dan maknawi ini bukan sahaja umat Islam tidak faham tapi ulama dan pemimpin Islam pun tidak faham, sebab itu umat Islam hari berbangga umat Islam merdeka tapi hakikatnya belum merdeka, sebab sebenarnya penjajahan sekarang bertukar dari penjajahan bentuk lama ke bentuk baru. Kalau dahulu berbetuk fizikal tapi sekarang berbentuk maknawi dan rohani. Ini hakikatnya yang sedang berlaku pada umat Islam pada hari ini.

Pendidikan dan pengaruh Mu’tazilah tidak bisa dilepaskan dari al-Asy’ari yang dibuktikan dengan dialektiaka yang tetap ia gunakan meskipun sudah keluar dari Mu’tazilah. Hanya saja ia menggunakan pendekatan dialektis dan logis untuk mendukung pendapatnya dalam mengukuhkan madzhab Asy’ariyah. Ia menggunakan filsafat bukan sebagai kebenaran itu filsafat itu sendiri, tetapi ia memakainya sebagai alat untuk mengungkap dan memperjelas argumennya
.
Tanpa kehilangan pandangan tentang segi-segi kuat di atas itu, pembicaraan tentang paham Asy’ari tidak mungkin lepas dari segi-segi lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir Islam sendiri di luar kubu Kalam Asy’ari, maupun dari dalam pandangan para pemikir lainnya. Dan kelemahan itu diantaranya:
.
• Asy’ari cenderung bersikap pasrah kepada nasib (fatalisme). tentang perilaku manusia, termasuk tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya
• Dengan melakukan kasb seperti telah di ketahui pada faham asy”ri, hal tersebut tidak akan berpengaruh apapun dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
• Konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya.

Dari uraian-uraian diatas kita bisa mengetahui berbagai polemic-polemik permasalahan yang muncul pada tubuh Asy’ariah dalam doktrin aqidah islamiah. Di satu sisi karena pangaruh Al Ghozali dengan paparan argumenya yang logis, Asy’ariah bisa berkembang dengan begitu pesat, di sisi lain Asy’ariah seakan mambodohi masyarakat dengan konsep kasb nya yang sulit untuk dimengerti dan malah cenderung membingungkan banyak orang. Malah di sebutkan dalam kitab Jawharat al-Tawhid,

Wa ‘indana li al-’abd-i kasb-un kullifa
Wa lam yakun mu’atstsir-an fa ‘l-ta’rifa

Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,
Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan berpengaruh
Jadi, intinya manusia tetap dibebani kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya.

dalam proses perkembangan paham Asy’ari, konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya

Aliran mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat.

Barangkali di masa itu kebutuhan untuk menjawab tantangan aqidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena di masa itu sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Al-Asy‘ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen kalangan ahli logika ketika menyerang aqidah Islam. Karena itulah metode aqidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.

Bila dilihat dari kaca lain seperti di zaman di mana tantangan akal ini tidak lagi mendominasi, bisa saja terasa agak janggal karena metode akal atau rasio yang digunakan terasa kurang relevan lagi.

Karena itu wajar bila dikritisi lebih detail, ada saja hal-hal yang dirasa kurang pas dan relevan lagi. Sebagian para pengkritik menyataskan bahwa paham As’ariyah menyalahi ahlussunnah wa al-jamaah dalam lima belas masalah, salah satunya adalah masalah asma’ dan sifat. Meski demikian, para pendukung mazhab Asy‘ari juga punya argumen yang membenarkan pendapat mereka.

Penyebaran Aqidah Asy-”ariyah

Aqidah ini menyebar luas di zaman wazir Nizhamul Muluk pad dinasti ani Saljuq dan seolah menjadi aqidah resmi negara.

Semakin berkembang lagi di masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah,baik yang ada di Baghdad maupun di kotaNaisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Jugadidukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-syafi”i dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa aqidah Asy-”ariyah ini adalah aqidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.

Para Ulama yang Berpaham Asy-”ariyah

Di antara para ulama besar dunia yang berpaham aqidah ini dan sekaligus juga menjadi tokohnya antara lain:

* Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
* Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
* Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
* Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
* Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)

Cak Nur juga menyoroti sisi kelemahan paham ini untuk dijadikan bahan refleksi. Kelemahan paham Asy’ariyah menurut Cak Nur terletak pada Qudrah dan Iradah Tuhan dan manusia. Al-Asy’ari sebetulnya hendak menengahi dua kubu ekstrim yang berkembang ketika itu. Kedua kubu tersebut adalah paham Jabariyah yang cenderung fatalistik dan menganggap manusia ibarat robot, sudah didesain dan dikendalikan. Namun paham ini ditolak oleh Qadariyah, mengatakan manusia mempunyai kebebasan bertindak dan menentukan pilihan (free will). Al-Asy’ari memberikan format baru dengan konsep kasb. Tetapi konsep tersebut dipandang sulit dipahami oleh Cak Nur dan cenderung fatalistik. Manusia dibebani kasb (usaha) tetapi usahanya tidak berpengaruh apa-apa. Manusia dalam konteks ini bukan tidak berdaya sebagaimana menurut paham Jabariyah, tetapi tidak bebas yang bisa menentukan kegiatannya sendiri seperti kata kaum Qadariyah.

Cak Nur lebih sepakat dengan syair yang dikemukakan oleh Ibnu Taymiah, tokoh reformis Islam yang pada substansinya mengatakan bahwa semua tindakan manusia tidak dapat keluar dari ketentuan-Nya. Hanya saja manusia tetap mempunyai kemerdekaan bertindak (free will) karena Allah telah menciptakan kehendak (iradah) yang dengannya manusia mampu memilih jalan hidup.

Sangat tampak kritisisme Cak Nur dalam hal ini. Ia ingin membetulkan kebekuan dan absurditas pemahaman teologi karena pemikiran-pemikiran tidak akan lepas dari kelemahan-kelemahan. Ia hendak memperbaiki kelemahan itu sehingga konsep yang dimaksud lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam sekalipun. Barangkali apa yang dimaksudkan al-Asy’ari bagi kaum intelektual tidak akan terlalu problematic sekalipun dalam syairnya secara tersurat ditulis kasb tidak akan berpengaruh. Dan tentu saja hal itu tidak dimaksudkan untuk itu karena dengan tegas pula dikatakan manusia tidak bebas dan tidak pula terpaksa. Dalam hemat penulis apa yang dimaksudkan Ibnu Taymiah juga dimaksudkan oleh al-Asy’ari. Kelihatannya al-Asy’ari menemui kesulitan untuk menjelaskan maksud itu. Namun, tawaran Cak Nur juga baik karena yang dilihat adalah aspek kemaslahatan supaya konsep free will lebih mudah dipahami.

Sebetulnya antara al-Asy’ari dan Ibnu Taymiah juga sepakah ketidak-setujuan keduanya terhadap pendekatan Qadariyah atau pun Jabariyah. Keduanya hendak menengahi antara kedua kubu sehingga konsepnya lebih bisa diterima. Sebab, sikap moderat adalah kecenderungan mayoritas. Tetapi bukan masalah kecenderungan—dalam hemat penulis—tetapi pijakan kedua tokoh itu konsistensi pada kebenaran.

Secara eksplisit tulisan Cak Nur menjelaskan, di samping keunggulan di bidang metodologi, kelebihan paham Asy’ariyah juga karena kepiawaian pendirinya memanfaatkan logika dan filsafat untuk menjelaskan konsep Asy’ariyah. Melalui kekuatan argumentasinya ia mampu memukau ilmuan modern dan teolog Kristen.

Paham teologi Asy’ari termasuk paham teologi tradisional,
yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang
menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang
leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu’tazilah
dan Salafiyah, tetapi “benang merah” sebagai jalan tengah
yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak
Mu’tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali
lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang
bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1]

Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy’ari lebih baik
memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas.
Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang
pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi
zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy’ari juga
tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri.

Sebenarnya, nama asli Imam Asy’ari adalah Ali Ibn Ismail [2]
-keluarga Abu Musa al-Asy’ari. [3] Panggilan akrabnya Abu
al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M
[5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat
di Baghdad pada tahun 324 H./935 M.

Abu al-Hasan al-Asy’ari pada mulanya belajar membaca,
menulis dan menghafal al-Qur’an dalam asuhan orang tuanya,
yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir
dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah
al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya’kub, Abdur Rahman
Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih
Syafi’i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340
H./951 M.) -seorang tokoh Mu’tazilah di Bashrah. Sampai umur
empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba’i, serta
ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran
Mu’tazilah. [9]

Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Untuk hal
ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab
meninggalkan atau keluar dari Mu’tazilah. Sebab klasik yang
biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena
terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran
pokok Mu’tazilah, yaitu masalah “keadilan Tuhan.” Mu’tazilah
berpendapat, “semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari
manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu,
kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti
menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan
manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa ‘l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut:

Al-Asy’ari (A) – Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga
orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam
bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam
keadaan masih kecil.

Aldubba’i (J) – yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir
masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.

A – Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih
baik di Sorga, mungkinkah?

J – Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan
jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil
belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.

A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan
salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan
mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang
taqwa itu.

J – Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu,
jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan
engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah – Red) matikan
engkau adalah untuk kemaslahatanmu.

A – Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, “Ya Tuhanku
Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa
depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?

Al-Jubba’i menjawab, “Engkau gila, (dalam riwayat lain
dikatakan, bahwa Al-Jubba’i hanya terdiam dan tidak
menjawab). [11]

Dalam percakapan di atas, al-Jubba’i, jagoan Mu’tazilah itu,
tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh
al-Asy’ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah
ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy’ari sendiri untuk
memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang
Mu’tazilah.

Bagi Mu’tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan
protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai
dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di
sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan
tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan
bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab,
tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan
orang-orang yang taqwa.

Di alam akhirat, menurut Mu’tazilah, tidak ada lagi
perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah
mendapati al-Wa’ad wa al-Wa’id. Dia sudah menepati janji.
Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan
jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan
masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka
bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan
Maha Suci dari penganiayaan. [12]

Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan
lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak
menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama
artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri
sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan
petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan
Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia
dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak
rasional.

Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan
ajaran-ajaran Mu’tazilah karena pernah bermimpi melihat
Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada
bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi
kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal
tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan
itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah
yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya.
[15]

Diriwayatkan bahwa al-Asy’ari sebelum mengambil keputusan
untuk keluar dari Mu’tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya
selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu
naik mimbar dan menyampaikan:

“Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur’an adalah makhluk; Allah
swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin
di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya
sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya
lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya
lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar
dari kekejian dan skandal Mu’tazilah.” [16]

Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas
dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita
ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy’ari meninggalkan faham
Mu’tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan
ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal,
sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di
kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi
kesamaan yang sangat mirip.

Al-Asy’ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar
pada Mu’tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas
menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali,
sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran
al-Asy’ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa
tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy’ari memakai
ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang
Mu’tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat,
penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali
menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan
bid’ah dan kufur. Al-Asy’ari melakukan sanggahan terhadap
Mu’tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran
Mu’tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang
bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan
aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah
buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan
al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam,
kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam
sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu,
baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf
dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut
al-Falasifah (kesalahan para filsuf).

Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa
al-Asy’ari adalah para tokoh Mu’tazilah, karena itu
sanggahannya tertuju langsung pada Mu’tazilah. Sementara
para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional
Mu’tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap
aliran al-Asy’ari harus dengan tegas pula melakukan
sanggahan terhadap filsuf.

Pemikiran al-Asy’ari yang asli baru dapat diketahui setelah
ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu’tazilah dan
pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad
bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari
penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia
hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh
nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis
dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah
sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur’an.
[18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang
tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan
mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang
sakral dianggap suatu bid’ah. Setiap dogma harus dipercayai
tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa.

Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah dan
keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui
ajaran-ajaran al-Asy’ari, kita dapat melihat pada
kitab-kitab yang ditulisnya, terutama:

1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama
dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber
yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya.
Buku ini terdiri -dari tiga bagian:

a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam
b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan
c.Beberapa persoalan ilmu Kalam.

2.Al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang
kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya
terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam
buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu’tazilah.

3.Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala ahl al-Zaigh wa al-bida’,
berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa
persoalan ilmu Kalam.

Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang
terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma’. Yang
pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam
arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu’tazilah.
Sedangkan buku kedua (al-Luma’), peranan akal lebih tinggi
dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran
kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu
kalam. [19]

Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy’ari pada kitabnya
al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar
dari Mu’tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam
rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,
sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap
Mu’tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang
dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini
dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan
teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh,
maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh
itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya
terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah
mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya,
menampakkan sikap bencinya terhadap Mu’tazilah lebih nyata.
Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis
langsung setelah al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah.

Lain halnya dengan kitabnya al-Luma’, yang ditulis setelah
kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas.
Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy’ari
dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya
sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma’,
argumentasi rasional al-Asy’ari menonjol kembali dalam
memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi
metaforisnya (ta’wil). Kecenderungannya pada metode kaum
Mu’tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak
paham teologi al-Asy’ari.

Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap
al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi
kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam
kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang
dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke
dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan
berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya
lagi untuk keluar.

Sebagai penentang Mu’tazilah, sudah barang tentu al-Asy’ari
berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan
sendiri merupakan pengetahuan (‘Ilm). Yang benar, Tuhan itu
mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya,
bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan
sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan
melihat. [20]

Disini terlihat, al-Asy’ari menetapkan sifat kepada Tuhan
seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup
berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah,
sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam.
Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa
sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu
hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan
makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, “Siapa yang
tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi
“Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku,” lalu ia langsung
mengatakan, wajib dipotong tangannya.” [21]

Lain halnya dengan al-Asy’ari, baginya arti sifat tidak jauh
berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. Bagi
al-Asy’ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan Zat,
dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy’ari yang
seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas dari
paradoks. [22]

Bagi Mu’tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak
mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang
mengetahui (‘Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan
(‘Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya
sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk
memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan
yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah)
bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya,
menafsirkan kelemahan Allah. [23]

Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy’ari yang
lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu,
al-Asy’ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak
dapat dilihat, kata al-Asy’ari, hanyalah yang tak punya
wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan
oleh karena itu dapat dilihat. [24]

Argumen al-Qur’an yang dimajukannya antara lain,
“Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada
Allah” (QS. al-Qiyamah: 22-23).

Menurut al-Asy’ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa
berarti memikirkan seperti pendapat Mu’tazilah, karena
akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti
menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang
menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada
penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat
kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti
berarti melihat dengan mata kepala. [25]

Sungguhpun al-Asy’ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin
nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala,
namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi
menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan
itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan,
tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan
kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan
bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

Namun demikian, untuk dapat menerima, bahwa Tuhan dapat
dilihat nanti di akhirat, maka al-Asy’ari memerlukan pula
untuk menafsirkan atau menta’wilkan ayat yang berikut ini:

Artinya: “Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia
dapat mengangkat penglihatannya.” (al-An’am: 103) Ayat
tersebut di atas diartikan oleh al-Asy’ari, bahwa yang
dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini, dan
bukan di akhirat. Dan juga diartikan tidak dapat melihat
Tuhan di akhirat bagi orang kafir. [27]

Apa yang telah kita ungkapkan di atas, adalah merupakan
sebagian dari pemikiran al-Asy’ari tentang tauhid. Sekarang
kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. Sengaja
dirangkaikan keadilan dengan tauhid, karena pembahasan
tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata,
sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq
dengan makhluknya.

Al-Asy’ari, seperti Mu’tazilah, meyakini bahwa Allah adalah
Maha Adil. Tetapi seperti kaum Salafi, ia menolak bahwa kita
mewajibkan sesuatu kepada Allah. Dan juga menolak faham
al-Shalah wa al-Ashlah Mu’tazilah, artinya, Tuhan wajib
mewujudkan yang baik, bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan
manusia. Allah, kata al-Asy’ari, bebas memperbuat apa yang
kehendaki-Nya. [28]

Al-Asy’ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan
kehendak mutlak Tuhan. Keadilan diartikannya “menempatkan
sesuatu pada tempat yang sebenarnya,” yaitu seseorang
mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta
mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. [29]
Tidak dapat dikatakan salah, kata al-Asy’ari, kalau Tuhan
memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga, termasuk
orang-orang kafir, dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan
bersifat dzalim, jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam
neraka. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut
pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum, dan
karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum,
maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum.
[31]

Oleh karena itu, Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak,
dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap
makhluk-Nya. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari
kiamat, menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim, atau
memasukkan orang kafir ke dalam sorga, maka Tuhan tidaklah
berbuat salah dan dzalim. Tuhan masih tetap bersifat adil.
[32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan
hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan.

Paham keadilan al-Asy’ari ini mirip dengan paham sebagian
umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. Sang
raja yang absolut diktator itu, memiliki hal penuh untuk
membunuh atau menghidupkan rakyatnya. Kemudian digambarkan,
bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum,
dalam arti, dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada
undang-undang dan hukum. Karena undang-undang dan hukum itu
adalah bikinannya sendiri.

Dari asumsi itu, kemudian al-Asy’ari menganalogikan bahwa
Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Dia memperbuat
sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. Maka tidak seorangpun
yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai
kemaslahatan umat manusia, baik di dunia ini, maupun di
akhirat. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia,
baik di dunia atau di akhirat, maka tidak seorangpun yang
akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. Persis seperti
seorang raja yang absolut diktator, kalau ia menganiaya
seluruh rakyatnya, maka tak seorangpun yang sanggup
menentangnya. Karena manusia, bagi al-Asy’ari, selalu
digambarkan sebagai seorang yang lemah, tidak mempunyai daya
dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan
absolut mutlak. [34] Karena manusia dipandang lemah, maka
paham al-Asy’ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham
Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will).
Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak
dan kekuasaan Tuhan. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan
dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai
istilah al-kasb (acquisition, perolehan). Al-Kasb dapat
diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia
dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. Tentang
faham kasb ini, al-Asy’ari memberi penjelasan yang sulit
ditangkap. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia
dalam perbuatannya. Namun dalam penjelasannya tertangkap
bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi,
dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif
dalam perbuatannya. [35] Kasb, kata al-Asy’ari, adalah
sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan
perantaraan daya yang diciptakan. [36]

Melihat kepada pengertian, “sesuatu yang timbul dari yang
berbuat” mengandung atas perbuatannya. Tetapi keterangan
bahwa “kasb itu adalah ciptaan Tuhan” menghilangkan arti
keaktifan itu, sehingga akhirnya manusia bersifat pasif
dalam perbuatan-perbuatannya.

Argumen yang dimajukan oleh al-Asy’ari tentang diciptakannya
kasb oleh Tuhan adalah ayat:

“Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu.” (QS.
al-Shaffat 37:96)

Jadi dalam paham al-Asy’ari, perbuatan-perbuatan manusia
adalah diciptakan Tuhan. [37] Dan tidak ada pembuat (agent)
bagi kasb kecuali Allah. [38] Dengan perkataan lain, yang
mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, menurut al-Asy’ari,
sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan,
dapat dilihat dari pendapat al-Asy’ari tentang kehendak dan
daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. Al-Asy’ari
menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin
dikehendaki. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari
kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki
sesuatu, ia pasti ada, dan jika Tuhan tidak menghendakinya
niscaya ia tiada. [39] Firman Tuhan:

“Kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki” (QS.
al-Insan 76:30).

Ayat ini diartikan oleh al-Asy’ari bahwa manusia tak bisa
menghendaki sesuatu, kecuali jika Allah menghendaki manusia
supaya menghendaki sesuatu itu. [40] Ini mengandung arti
bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan,
dan kehendak yang ada dalam diri manusia, sebenarnya tidak
lain dari kehendak Tuhan.

Dalam teori kasb, untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam
perbuatan manusia, terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan
Tuhan dan perbuatah manusia. Perbuatan Tuhan adalah hakiki
dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang).
Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut.
Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua
orang yang mengangkat batu b esar ; yang seorang mampu
mengangkatnya sendirian, sedangkan yang seorang lagi tidak
mampu. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu
besar itu, maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat
tadi, namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu
tidak turut mengangkat. Demikian pulalah perbuatan manusia.
Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya
Tuhan, tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat
sebagai pembuat. [43]

Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham
al-Asy’ari, untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya,
daya Tuhan dan daya manusia. Tetapi daya yang berpengaruh
dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah
daya Tuhan, sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau
tidak disokong oleh daya Tuhan.

Karena manusia dalam teori kasb al-Asy’ari tidak mempunyai
pengaruh efektif dalam perbuatannya, maka banyak para ahli
menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat, bahkan
Ibn Hazm (w. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. 728 H) menilai,
sebagai jabariyah murni. [44] Harun Nasution juga
berpendapat demikian. Alasannya karena menurut al-Asy’ari
kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya
Tuhan, dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan
bukan perbuatan manusia. [46]

Ibn Taimiyyah menilai al-Asy’ari telah gagal dengan konsep
kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan
Jabbariyah. Sebab, menurut Ibn Taimiyyah, Kasb-nya
al-Asy’ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham
Jabariyah murni, yang mengingkari sama sekali adanya
kemampuan pada manusia untuk berbuat. Memang, seperti yang
sudah kita uraikan di atas, al-Asy’ari menegaskan bahwa kasb
manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan
perbuatan manusia itu. Oleh karena itu, Ibn Taimiyyah
menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy’ari itu tidak
masuk akal. [46]

PENGARUH KALAM AL-ASY’ARI

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa dalam faham teologi
al-Asy’ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang
lemah, yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat
berhadapan dengan kekuasaan yang absolut, apalagi berhadapan
dengan kekuasaan mutlak Allah.

Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan
kultural masyarakat pada masanya, yaitu keadaan masyarakat
Islam pada abad ke-9 M. [47] dimana raja-raja selalu
berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk
menghukum siapa saja yang diinginkannya, sang raja tidak
perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Sebab
undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri.

Karena teologi al-Asy’ari didirikan atas kerangka landasan
yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang
lemah, maka disinilah letak kekuatan teologi itu, yaitu ia
dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang
bersifat sederhana dalam pemikiran.

Kunci keberhasilan teologi al-Asy’ari ialah karena sejak
awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya – umat
Islam, yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni.
Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan
ajaran-ajaran Mu’tazilah.

Sejarah menunjukkan, bahwa aliran al-Asy’ari telah berhasil
menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur
tangan khalifah al-Mutawakkil, ketika yang terakhir ini
membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai paham resmi pada waktu
itu. Kemudian setelah wafatnya al-Asy’ari pada tahun 935M.
Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya, antara lain,
al-Baqillani, al-Juwaini dan al-Ghazali. Akhirnya, aliran
itu mengalami kemajuan besar sekali, sehingga mayoritas umat
Islam menganutnya sampai detik ini.

Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi
al-Asy’ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya
terhadap Dinasti yang berkuasa, sebagai konsekuensi logis
dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. Dengan
demikian, ia sering mendapat dukungan, bahkan menjadi aliran
dari Dinasti yang berkuasa. Sungguhpun demikian, paham
al-Asy’ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh
negatif. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran
rasionalisme di dunia Islam. Hilangnya pemikiran
rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat
Islam selama berabad-abad.

Karena akal manusia, menurut al-Asy’ari, mempunyai daya yang
lemah, akibatnya, menjadikan penganutnya kurang mempunyai
ruang gerak, karena terikat tidak saja pada dogma-dogma,
tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni,
yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain
dari arti letterlek, tetapi mereka artikan secara letterlek.
Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat
mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang
terjadi dalam masyarakat modern. Selain itu, ia dapat
merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat
kemajuan dan pembangunan. Bahkan, lebih tegas lagi, Sayeed
Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam
sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme
al-Asy’ari. [49]

Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi, termasuk perbuatan
manusia, adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna
pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya, dan
lebih dari itu, menjadikan manusia-manusia yang tidak mau
bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. Peristiwa
terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham
Fatalisme. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak
Tuhan semata, sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab
atasnya.

Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat, seperti
rezeki, jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan, menjadikan
manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan
merubah struktur masyarakat. Dan ia selalu mempersalahkan
takdir atas kemiskinan, kebodohan dan kematian massal yang
terjadi.

Untuk menutup tulisan ini, suatu kesimpulan dapat diambil
bahwa faham teologi al-Asy’ari mempunyai basis yang kuat
pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara
hidup dan berpikir, serta jauh dari pengetahuan. Tetapi
teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan
perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru.

CATATAN

1.Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II, Mesir,
tahun 1976, h. 46

2.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail
Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa
al-Asy’ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-lbanah ‘an
Ushul al-Dinyanah, Ed, Dr. Fauqiyah Husein Mahmud, Mesir,
1977, h. 9 (Selanjutnya disebut, Fauqiyah, al-lbanah). Lihat
juga Abu al-Hasan al-Asy’ari, maqalat al-Islamiyyin wa
Ikhtilaf al-Mushallin, ed., M. Mahyudin Abdul Hamid, Mesir,
1969, h. 3

3.Abu Musa al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat
Rasul-Allah saw. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali
Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan
Muawiyah, lihat Hamudah Guramah, Abu al-Hasan al-Asy’ari,
Mesir, 1973 h. 60

4.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 10

5.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun
lahirnya: 270 H./885 M. Ibn Atsir, dalam al-Lubab I. h. 52
270 H./881 M. Al-Makrizi, dalam al-Khutbath III, h. 303
(dikutip dari Fanqiyah, Ibid., h. 13 Penulis lebih cenderung
menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari
Mu’tazilah adalah pada tahun 300 H. Sedangkan usianya waktu
itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. (lihat M. Ali
Abu Rayyan, Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam,
Iskandariyah, 1980, h. 310

6.Hamuddh, Al-Asy’ari, hal. 60

7.Fauqiyah, Al-Ibanah, hal. 29

8.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982 h.
36

9.Louis Gardet & J. Anawati, Falsafat al-Fikrial-Dini Bain
al-Islam wa al-Masihiyah I (terj.) Bairut, 1976, h 93

10.Zuhdi Jar Allah, Al-Mu’tazilah. Bairut, 1974, h. 102

11.Lihat Rayyan, Tarikh, h. 312 Gardet & Anawati, Falsafah,
h. 94. Madkour, Fi al-Falsafah, h. 116, Subhi Fi Ilm
al-Kalam II, h. 73, Dan Hamudah, al-Asy’ari, h.65

12.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982, h.
159.

13.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan
perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu’tazilah, dapat
dilihat pada, Mahmud Kasim, Dirasat Fi al-Falsafah
al-Islamiyyah, Mesir, 1973 h. 164-165

14.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 31

15.Ibid., h. 34

16.Ibid., dan lihat juga Subhi, Fi Ilm al-Kalam II,
Iskandiyah, h. 41

17.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah’an Ushul al-Dinayah,
Mesir,1397 H. H.8

18.Faiqiyah, Al-Ibanah, h. 35

19.Hasan Mahmud al-Asy’ari, dalam, Dirasat Arabiyah wa
Islamiyah I, Dar el Ulum, Kairo, 1985, h. 38

20.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Kitab al-Luma’ Fi al-Rad’ala ahl
al-Zaigh wa al-Bida’, Kairo, 1965, h. 30

21.Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal I, Ed. Abd. Aziz
M.M. Wakil, Kairo, 1968, h. 104

22.Madkour, Fi al-Fasafah II, h. 50

23.Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, h. 51

24.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 17. Lihat juga, Al-Syahrastani,
Al-Mihal I, h. 100

25.Al-Asy’ari, Ibid, h. 13

26.Al-Syahrastani, Al-Milal I, h. 100. Lihat juga Madkour,

27.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 16

28.Al-Sahrastani, Al-Milal I, h. 102, 113

29.Ibid., h. 101

30.Ibid

31.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 71

32.Ibid., lihat juga Mahmud Kasim, Dirasat, h. 167

33.Mahmud Kasim, h. 168

34.Ibid.

35.Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah,
Kairo, tt., h.205

36.Al-Asy’ari, al-Luma’, h. 76

37.Ibid., h. 70

38.Ibid., h. 72

39.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 51

40.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 57

41.Ibid, h. 41

42.Abd al-Rahman Badawi, Madzahib al-Islamiyin, Bairut,
1971, h. 562

43.Abd al-Qahir al-Baghdadi, Kitab Ushul al Din, Bairut,
1981, h. 133-134

44.Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib, h. 205

45.Harun Nasution, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 1983 h.
112

46.Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah II, h. 16-17

47.Mahmud Kasim, Dirasat, h. 34

48.Sayeed Ameer Alim, The Spirit Of Islam, Delhi, tt., h.
472 47

.

Syi’ah  menolak  ajaran Abu Hasan Al Asy’ari  yang menyatakan Allah berada   di arsy, menolak  ajaran bahwa Allah  punya tangan – wajah – mata yang zhahir

Jika anda melihat sendiri dalam Sahih Bukhari, banyak hadis  palsu  Nabi s.a.w yang menyebut sifat Tangan, kaki, turun, wajah, dan sebagainya tanpa ditakwil kepada makna lain. Kami syi’ah  menolak  ajaran  menzahirkan  tangan-kaki-wajah Allah  SWT

قَالَ مُعَاوِيَةُ بْنُ حَكَمُ السُّـلَمِى: وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ اُحُدٍوَالْجُوَانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ . فَاِذَا بِالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بَشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَاَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ . اَسَفَ كَمَا يَاْسـفُوْنَ . لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَاَتَيْتُ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَـلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ . قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ اَفَلاَاَعْتِقُهَا؟ قَالَ: اِئْتِنِيْ بِهَا. فَقَالَ لَهَا: اَيْنَ اللهُ ؟ قَالَتْ فِى السَّـمَآءِ . قَالَ: مَنْ اَنَا؟ قَالَتْ اَنْتَ رَسُـوْلُ اللهِ. قَالَ : اَعْتِقْهَا فَاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Berkata Muawiyah bin Hakam As-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pergunungan Uhud dan Juwaiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Kerananya wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku. Aku berkata: Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya? Jawab Rasulullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. Di mana Allah? Dijawabnya: Di langit. Rasulullah bertanya lagi: Siapakah aku? Dijawabnya: Engkau Rasulullah. Maka baginda bersabda: Merdekakanlah wanita ini, kerana dia adalah seorang mukminah”. (H/R Muslim dan Abi Daud)

Menurut  syi’ah, hadis  ini palsu !!! Allah  tidak bertempat  dilangit secara zahir, yang  benar  adalah  bahwa pusat  pemerintahan Allah  SWT  ada dilangit  dikendalikan  malaikat

manhaj Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah sangat berbeda dengam kaum Asy’ariyyah (Asyaa’irah). Beliau telah menetapkan sifat-sifat Allah ta’ala yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah sebagaimana zhahirnya. Beliau rahimahullah menetapkan sifat istiwaa’, tangan, wajah, turun, dan yang lainnya. Bahkan yang menunjukkan manhaj beliau yang bertolak belakang dengan kaum Asy’ariyyah adalah pengingkaran beliau tentang ta’wil istiwaa’ dengan istilaa’ (menguasai) atau tangan dengan nikmat.

Al-Imam Al-Asy’ariy rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya di atas (yaitu : Maqaalatul-Islaamiyyiin) pada bab : ‘Apakah Allah berada di suatu tempat tertentu, atau tidak berada di suatu tempat, atau berada di setiap tempat ?’ ; maka beliau berkata :

إختلفوا في ذلك على سبع عشرة مقالة منها قال أهل السنة وأصحاب الحديث إنه ليس بجسم ولا يشبه الأشياء وإنه على العرش كما قال : (الرحمن على العرش استوى). ولا نتقدم بين يدي الله بالقول، بل نقول استوى بلا كيف وإن له يدين كما قال : (خلقت بيدي) وإنه ينزل إلى سماء الدنيا كما جاء في الحديث.

ثم قال : وقالت المعتزلة استوى على عرشه بمعنى إستولى وتأولوا اليد بمعنى النعمة وقوله تجري بأعيننا أي بعلمنا

“Mereka (para ulama) berbeda pendapat tentang permasalahan tersebut menjadi tujuh belas pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits yang mengatakan bahwa Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), dan tidak pula Dia menyerupai sesuatupun (dari makhluk-Nya). Dan bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Kami tidak mendahului Allah dengan satu perkataanpun tentangnya, namun kami mengatakan bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) tanpa menanyakan bagaimananya. Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Dan bahwasannya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang terdapat dalam hadits”.

Kemudian beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata : “Mu’tazillah berkata : ‘Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya’ ; dengan makna menguasai (istilaa’). Dan mereka menta’wilkan pengertian tangan (Allah) dengan nikmat. (Dan juga menakwilkan) firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar ; 14), yaitu : dengan ilmu Kami”.[4]

Saya selaku pengikut syi’ah menganggap Abu Hasan Al Asy’ari adalah seorang ahlul kalam yang merasionalkan akidah Imam Ahmad bin Hambal, dengan kata lain Asy’ari adalah penengah antara paham mu’tazilah dan paham ahlul hadis..

Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya.

PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH

  1. Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:

Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).

Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).

Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah[2] (320-324/330 H).

[2] Ithâfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn, al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurrahmân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.

Adapun setelah meninggalkan mu’tazilah maka dia tidak menyatakan ikut Imam Ahmad tapi langsung mengikuti ibnu Kullab, al-Muhasibi dan al-Qalanisi seperti yang dikatakan oleh Khaldun,

Semua orang itu ditahdzir oleh Imam Ahmad dan lainnya karena kalamnya. Dan kitab yang dihasilkan waktu itu adalah kitab seperti al-Luma’ fi raddi ala ahl az-Zaighi wal bida’. Dan itu adalah kitab yang pertama kali dikarang pasca mu’tazilah seperti dikutip oleh penulis dari Ibn Asakir

dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya.

kembali ke persoalan: tujuan dari pembahasan itu adalah membuktikan adanya 3 fase pemikiran imam asy’ari rahimahullah: i’tizal, keluar dari i’tizal kemudian intisab kepada imam Ahmad rahimahullah. Dan ini diucapkan oleh ibnu katsir dan dikutib oleh az-zabidi. Sudah jelas?

Bukhari adalah Imam al-dunya pada zamannya dan pembawa bendera hadits. Ini tidak mengherankan sebab ia adalah murid imam Ahmad ra, ibn Ruhawaih, Abu Nuaim, Abu Ubaid al-Qasim ibn Salam dan para ulama salaf.

Siapa yang merenungkan kitab Shahihnya dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.

Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad, warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil, ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara. Sifat ini secara sepakat diingkari oleh ibn Kullab dan Asyairah karena dianggap tasybih menurut kaidah mereka bahwa kalamullah itu al-kalam an-Nafsi. Metode Bukhari dalam kitab Tauhid dan Khalq ‘af’al al-Ibad nyata membatalkan klaim kullabiyyahnya. Termasuk yang menguatkan adalah tidak satupun imam bukhari menyebut nama ibn Kullab dalam kitab-kitabnya, juga tidak ucapan al-Muhasibi, al-Qalanisi, al-Karabisi dan lainnya, tidak dalam shahihnya, maupun tawarikhnya dan kitab-kitabnya yang lain

Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah , beliau
berkata;

Dan berpendapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal–semoga Allah mencerahkan wajahnya,meninggikan derajatnya, dan memberi balasan yang melimpah. Siapa yang menyelisihi perkataannya dia akan menyimpang, karena dia adalah imam yang mulia, pemimpin yang sempurna yang dengan perantaranya Allah menjelaskan kebenaran, menumpas kesesatan, membuat minhaj ini menjadi gamblang, membarantas bid’ah–bid’ah rekayasa para ahli bid’ah, penyelewangan orang yang menyimpang, dan kegamangan orang yang ragu– ragu. Semoga Allah merohmatinya’.

.
Ringkas perkataan kami adalah kami beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab– kitab-Nya, para Rasul-nya dan apa yang dibawa oleh mereka dari sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah, kami tidak akan menolak sedikitpun, sesunguhnya Allah adalah Ilah yang Esa, tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makluk, tidak membutuhkan anak dan istri, dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya, Allah mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar, Surga dan Neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur, dan Allah bersemayam di atas Arsy, seperti firman-nya.
الرَّحْمَانُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَاى
(Thoha ayat 5)

Allah mempunyai dua tangan, tapi tidak boleh di takyif, seperti firman-Nya: خَلَقْتُ بِيَدَيً (QS. Shod: 75) dan Firman-Nya:
بَلْ يََدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ (QS. Al Maidah: 64)

Allah mempunyai dua mata tanpa ditakyif, seperti firmanya (QS. Al Qomar: 14)

Allah bersemayam di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana firman Allah :

الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya :
“Allah itu bersemayam di atas ‘arsy” (QS. Thaha : 5)
Dan bahwasanya Allah itu memiliki wajah sebagaimana telah berfirman :

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبُّكَ ذُوْ الجَلاَل وَالإِكْرَامِ

Artinya :
“Kekallah wajah Allah yang memiliki keagungan” (QS. Ar-Rahman : 27).
Bahwasanya Allah memiliki dua tangan (tanpa membahas bagaimana tangan itu), sebagaimana firman Allah :
…لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Ketika Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75).
…بَلْ يَدَاهُ مَبْسوطَتَنِ

Artinya :
“Bahkan kedua tangan Allah iu terbuka” (QS. Al-Maidah : 64).
.

Dan bahwasanya Allah memiliki dua mata tanpa membahas bagaimana mata itu, sebagaimana firman-Nya: …تَجْرَيْ بِأَعْيُنِنَا
Artinya : “Berjalan dengan mata kami ” (QS Al-Qomar :14).

Kita mengatakan bahwa imam yang mulia setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam itu adalah Abu Bakar as-Shiddiiq radliallahu ‘anhu. Dan bahwasanya melalui dia, Allah telah menjayakan dan mendhahirkan Islam terhadap orang-orang murtad dan kaum muslimin menjadikannya dia sebagai imamah pertama sebagaimana Rasulullah memperlakukannya demikian, dan mereka semua menamakannya sebagai khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

.
Kemudian Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu, kemudian Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu kemudian Ali bin Abi Thalib.

Maka mereka itulah imam setelah Rasulullah saw dan kekhilafahan mereka adalah khilafah kenabian (khilafah nubuwwah)

.
Kita menyaksikan kepastian masuk surga bagi sepuluh sahabat yang dijamin demikian oleh Rasulullah dan kita mencintai seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berhenti dari membicarakan atas apa-apa yang menjadi perselisihan diantara mereka.

Kita meyakini bahwasanya para imam yang empat itu adalah khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk dan keutamaan, yang selain mereka tidak ada yang menandingi mereka.
Kita membenarkan seluruh riwayat dari para rawi yang tsiqah, yang mana menegaskan turunnya Allah ke langit dunia dan bahwasanya Dia mengatakan apakah ada orang yang meminta ampun, dan membenarkan apa-apa yang mereka riwayatkan dan kukuhkan berbeda halnya dengan apa apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang dan sesat.

Kita kembali dalam apa yang kita perselisihkan terhadap Al-Qur’an, sunnah Rasul dan ijma’ kaum muslimin dan apa-apa yang semakna dengan itu, kita tidak berbuat bid’ah yang dilarang dalam Islam ini dan tidak mengatakan apa-apa tentang Allah yang tidak kita ketahui.

Kita mengatakan bahwasanya Allah itu akan datang pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Dan Allah itu akan datang pada hari kiamat secara bershaf-shaf” (QS. Al-Mutaffifin : 22).
Dan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala mendekat terhadap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Kami lebih dekat daripadanya dari urat kerongkongan” (QS. Qaaf :16)

Artinya :
“Kemudian mendekat dan kemudian lebih mendekat lagi, maka jadilah antara Allah dan Rasulullah antara dua ujung busur panah dan lebih dekat lagi” (QS. An-Najm :8-9).
Dan diantara ajaran dien kita adalah kita menegakkan shalat jum’at, shalat ied dan seluruh shalat jama’ah dibelakang setiap orang baik maupun tidak baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu shalat di belakang Al-Hajjaj.

Bahwasanya mengusap kedua sepatu adalah sunnah baik dalam keadaan mukim atau musafir, lain halnya dengan orang yang mengingkari hal itu
Kita mendo’akan kebaikan para imam dan mengakui keimamahannya dan menghukum sesat bagi yang membolehkan berontak terhadap mereka apabila tampak dari mereka ketidak istiqomahannya.

Kita meyakini kemungkaran adanya pemberontakan dengan menggunakan pedang dan meninggalkan perang dalam keadaan fitnah dan membenarkan keluarnya Dajjal sebagimana riwayat-riwayat dari Rasulullah tentang hal itu

========================================================================================

ABU  HASAN  AL  ASY’ARi   YANG  MENJADi  KONTROVERSi   SALAFi  WAHABi   vs  NAHDLATUL  ULAMA

Pengikut  Asy’ari   seperti   Nahdlatul  Ulama  tidak menyadari   bahwa  akidah  Asy’ari  yang asli  mirip dengan salafi wahabi yang sekarang.

Di lain pihak, Salafi  Wahabi tidak menyadari bahwa Abu Hasan Al Asy’ari ternyata  “masih ahlul kalam”….

Petaka aswaja sunni karena salah pilih imam  dibidang akidah…

Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin:
“Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)”

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir.. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa  keutamaan sahabat besar adalah Abubakar lalu Umar lalu Usman lalu Ali.. Juga disebutkan  wajib taat pada pemimpin…Dan dikitab itu disebutkan bahwa orang mu’min  boleh berimam shalat pada ahli bid’ah/orang fasik

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir..…  ARTiNYA  walaupun  mereka  menganggap hal tersebut   SEBAGAi   BERBEDA  DENGAN  MAKHLUK, tetapi  I’tiqad  ahlul  hadis  hasywiyyah  dan Abu Hasan  Al  Asy’ari   adalah  antropomorfis  !!!!!!

Dalam  kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin, tokoh  sunni   Abu  HAsan Al  Asy’ari  menulis  : “ Keagungan  Allah  mempunyai batas  yang  berdekatan dengan bagian  tertinggi   dari   ‘arsy nya”… Abu  Hasan  menyatakan : “Allah mempunyai  dua  tangan, dua mata, dua  kaki, semua  akan binasa kecuali  WAJAH nya ( Kitab  Maqalat  Al  islamiyyin hal. 295 )

Pertanyaan :

  1. Apakah  keagungan  ZAT  Allah  cuma  sebatas  bagian tertinggi  dari  arsy nya ???
  2. Apakah  tangan  dan  mata  Allah  akan  binasa  ????

Bagi   syi’ah  : ini  pelecehan ………

Pada masa  Rasululullah  SAW :   Kaum  mujassimah  dari  kalangan  Yahudi  ( ahlul kitab ) memiliki  i’tiqad MEMBADANKAN  ALLAH, sehingga mereka  terjerat kedalam ekstrimitas…Namun  hal tersebut  menyusup kedalam ajaran Islam

Abu  Hurairah  yang  merupakan  MANTAN  YAHUDi  (  kemudian ia masuk  Islam   ) memiliki  beberapa  orang  sahabat  karib  dari  kalangan  mantan  ahlul kitab yang  masuk  Islam seperti  Ka’ab  al  Ahbar  dan  Wahab Munabbih  memasukkan  akidah  israilliyat  kedalam  hadis  sunni…

Penganut  mazhab  hambali  ( salafiah ) menolak  keras  asy’ariyyah  maturidiyyah  karena  dua aliran kalam ini dianggap bid’ah….

Pada  akhirnya….

Aliran   ASY’ARiYYAH   MAMPU  MENGALAHKAN  DUA  ALiRAN  :

  1. Aliran   rasionalis   mu’tazilah
  2. Aliran   ahlul   hadis  hasywiyyah  ( anti  ilmu  kalam )

kedua aliran ini terkapar…. karena aliran kalam aswaja sunni dibentuk Abu hAsan al asy’ari dan abu manshur al maturidy… Jadi  asy’ari dan maturidy merupakan perintis  awal  aliran kalam aswaja sunni

—————-

Pertanyaan  : Dimanakah  posisi  Abu  Hasan Al  Asy’ari  ???

Jawab : Asy’ari  adalah  tokoh  aliran  kalam  yang  mencoba  memadukan aliran  mu’tazilah  dengan  aliran  ahlul  hadis  hasywiyyah

———————–

Pertanyaan : Wahabi  mengklaim  Abu  HAsan  Al  Asy’ari  mengalami  3  fase  kehidupan,  jadi  asy’ari  adalah  salafi  ????

Jawab : Abu  Hasan  Al  Asy’ari  mencetuskan  teori  kasb, yang mana teori  ini  dikecam  keras  oleh  iBNU   TAiMIYYAH  karena  berbau  jabariyah..

Dalam maqolatul Islamiyyin bab inilah hikayat Sekumpulan perkatan
ahlul hadits dan ahlussunah, hal 290–297 beliau berkata seperti yang
tercantum dalam Al Ibanah di muka. Kemudian pada akhir Bab beliau
berkata: “Inilah sekumpulan perkataan yang diperintahkan, dilaksanakan
oleh mereka dan itulah pendapat mereka, kami berkata dan berpendapat
sama persis dengan siapa perkataan dan pendapat mereka. Tidak ada yang
memberi taufik kepada kami kecuali Allah saja. Dialah yang mencukupi
kami dan dialah sebaik–baik pemelihara. Kepada-Nya kami meminta
pertolongan, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya akan kembali!
Dari dua kitab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau
menetapkan:
1.      Sifat–sifat yang tetap bagi Allah yang termaktuf dalam kitab-nya
dan dalam sunah nabi-Nya secara hakiki sesuai kegungan Allah ta’ala,
seperti sifat istiwa Allah di atas Arsy, Allah mempunyai dua tangan,
dua mata dan wajah secra hakiki, namun tidak boleh ditanyakan
bentuknya dan diserupakan dengan makhluk. Allah memiliki sifat ilmu,
pendengaran, penglihatan, kekuatan dan irodah (berkehendak) Allah
berbicara dan al Qur’an adalah kalam Allah, Allah turun ke langit
dunia

.
2.      Allah akan dilihat pada hari kiamat dengan jelas tanpa pengahalng.
3.      Allah akan datang (sifat mamji’) pada hari kiamat sedangkan
malaikat berbaris )

Tidak hanya itu dalam kitab lainnya Risalah Ila Ahli Tsaghr, beliau
menetapkan adanya ijma” kesepakatan salaf dalam masalah aqidah
khususnya asma dan sifat yaitu;
1.      Salaf bersepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan,
sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
2.      Mereka bersepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit
dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada
hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di
atas arsy.
3.      Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari
kiamat dengan mata mereka, (hal 210 – 225)

Abu  Hasan  Al  Asy’ari  menyatakan : “Allah  bersemayam di atas  singgasana Nya, Dia  mempunyai  sepasang  tangan  tetapi bukan  sebagai  pemilikan, Dia  mempunyai  mata tetapi  bukan  sebagai  cara, dan  Dia  mempunyai  wajah”( Kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin  karya  Abu  Hasan  Al  Asy’ari  ) ….

Memang, pemahaman  metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali  dan  abu  Hasan  Al   Asy’ari   cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah… Anehnya  pengikut   asy’ari   mengkafir kan  ajaran  Asy’ari  Sang  Gembong  Pendiri  Mazhab  !!!!!

Hambaliyyah  dan  Asy’ari   berpendapat  bahwa  derajat  keagungan  Allah  mempunyai  batas  yang  berdekatan  dengan  bagian  paling  tinggi  dari  singgasana  Nya….

Imam  Ali  bin  Abu  Thalib  menolak  pandangan  kejasmaniahan  Allah  dan  menempatkan  Allah  diatas  kualitas kualitas yang  dapat  disifatkan  pada  makhluk Nya :

“”Mereka  yang  mengklaim  dapat  disamakan  dengan  Mu  menzalimi  Mu  ketika  menyamakan  Mu  dengan  berhala berhala  mereka, secara  keliru  melekatkan  pada Mu  suatu  sifat  yang  mungkin  cocok  bagi  ciptaan Mu, dan  secara  tersirat  mengakui  bahwa  Engkau  tersusun  dari   bagian  bagian  seperti  hal  hal  material ( Kitab  Nahj  Al  Balaghah  halaman  144 )

Syi’ah  menolak  kejasmaniahan  Allah…

Salafi  mengambil   arti  lahiriah, sedangkan  syi’ah  mengambil  arti  majazi  (kiasan)…

Syi’ah  menolak  hal  hal  material  seperti  kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan  komposisi  pada  Allah  SWT

.

Allah  ZAT  Yang Tak Terbatas  sehingga  Allah tidak menempati ruang..Allah adalah Dzat Yang Tak Terbatas dari segala sisi

ayat  “Tuhan Yang Mahapengasih beristiwa’  di atas arsy ”[a] (QS. 20:5)

Ayat-ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah menempati ruangan tertentu, karena maksud dari kata ‘arsy atau singgasana dalam ayat ini bukan dalam pengertian fisik, melainkan bahwa kekuasaan-Nya mencakup alam fisik dan meta-fisik sekaligus. Dalam pada itu, jika kita katakan bahwa Allah menempati ruang, maka sesungguhnya kita telah membatasi-Nya dan memberi-Nya sifat makhluk sehingga tak ubahnya seperti makhluk, padahal Dia adalah “Tida ada sast pun yang serupa dengan-Nya” (QS. 42:11), dan “Tidak satu pun yang menyamai-Nya” (QS. 112:4)

Demikian pula ketika Allah berfirman, Tetapi kedua tangan-Nya terbentang. (QS. 5:64), atau, Dan buatlah kapal dengan mata Kami. (QS. 11:37), sama sekali tidak dapat dipahami dalam arti mata atau tangan fisik, karena setiap fisik mempunyai bagian-bagian dan memerlukan ruang, waktu, dan arah sehingga ia akan punah, sedangkan Allah mustahil demikian. Kalau begitu, maka makna yang paling tepat untuk kata “kedua tangan-Nya” pada ayat di atas ialah kekuasaan-Nya yang besar, di mana semua alam tunduk pada-Nya. Sedangkan makna “mata”, ialah pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu.

Sebagai contoh, kita yakin bahwa maksud kata al-’ama atau buta dalam ayat, Barangsiapa buta di dunia akan buta pula di akhirat, (QS. 17:72), sudah pasti bukan dalam arti buta fisik, sebagaimana makna harfiyah, karena banyak sekali orang buta, tapi baik dan salih

Allah Bukan Jasmani dan Tidak Dapat Dilihat Syi’ah meyakini bahwa Allah Swt tidak dapat dilihat dengan kasat mata, sebab sesuatu yang yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah jasmani dan memerlukan ruang, warna, bentuk, dan arah, padahal semua itu adalah sifat-sifat makhluk, sedangkan Allah jauh dari segala sifat-sifat makhluk-Nya. Oleh karena itu, meyakini bahwa Allah dapat dilihat dapat membawa kepada kemusyrikan. Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan sedang Dia menjangkau penglihatan, dan Dia Mahahalus lagi Mahatahu. (QS. 6:103)

Ini menunjukkan bahwa Allah mutlak tidak dapat dilihat.Adapun adanya beberapa ayat atau pun riwayat yang menengarai adanya kemungkinan melihat Allah, maka yang dimaksud bukan rnelihat-Nya secara kasat mata, tapi melalui penglihatan batin atau mata hati, sebab al-Quran tidak saling bertentangan, tapi justeru saling menafsirkan, al-Qurn yufassiru ba’dhuhu ba’dhan.[b]

Karena itu, ketika seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin Ali Ibn Abi Thalib: “Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?” Amirul Mukminin menjawab, “Bagaimana aku bisa menyembah Tuhan yang tidak kulihat?” Tapi buru-bur Amirul Mukminin menyempurnakan kalimatnya, “Tapi Dia tidak dapat dilihat oleh mata. Dia hanya dapatdijangkau oleh kekuatan hati yang penuh dengan iman”. (Nahjul Balaghah, Khutbah 179)

Syi’ah meyakini bahwa memberikan sifat-sifat makhluk kepada Allah seperti ruang, arah, fisik, atau dapat dilihat akan membuat seseorang tidak dapat mengenal Allah dan dapat rnembawa kepada kemusyrikan Mahasuci Allah dari sifat-sifat makhluk. Sesungguhnya Ia tidak serupa dengan apa pun.

manusia bebas dalam kehendaknya (free will) dan mengikuti jalan kebenaran melalui pilihannya sendiri. Akan tetapi, karena kebebasan dan kemampuan kita untuk mengerjakan sesuatu datangnya dari Allah, maka perbuatan-perbuatan kita atas  izin  Allah

Jika kita terpaksa dalam perbuatan-perbuatan kita, maka tidak ada artinya pengutusan para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, ajaran agama, pengajaran, pendidikan, dan sebagainya. Demikian pula tidak ada artinya pahala dan azab Tuhan. Inilah yang diajarkan madrasah Ahlubait bahwa tidak jabr (mutlah terpaksa) dan ridak pula tafwidh (bebas mutlak), tapi di antara keduanya. Sesungguhnya tidak jabr dan tidak pula tafwidh, tapi di antara keduanya (Ushul al-Kafi, I, hal.160)

Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah Swt dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

[a] Berdasarkan beberapa ayatal-Quran dapat dipahami bahwa “Kursi”-Nya meliputi alam materi. Firman Allah, “Kursi-Nya mencakup langit dan bumi”. (QS. 2:225)

[b] Ungkapan di atas sangat populer dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Sementar itu, dalam kitab Nahjul Balaghah diriwayatkan pula dari Amirul Mukminin as dengan redaksi yang berbeda, yaitu “Sesungguhnya al-Quran, satu sama lainnya saling membenarkan”.

Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi atau kiasan, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Banyak ulama-ulama pakar yang mengeritik dan menolak akidah mengenai Tajsim/Penjasmanian dan Tasybih atau Penyerupaan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Karena ini bertentangan dengan firman Allah swt. sebagai berikut: Dalam surat Syuura (42) : 11; ‘ Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya

Setiap dalil yang menyiratkan seolah olah Zat Allah memiliki organ jasmaniah atau menempati ruang maka wajib hukumnya di majazi / di kiasan kan / di metafora kan, jadi tidak boleh dizahirkan

Bahkan, ketika dikatakan Isa adalah roh Allah, orang-orang Nasrani menetapkannya dengan makna zahir sehingga mendakwa Isa salah satu daripada sifat-sifat Allah.

Saudaraku…..

SAYYiD MUHAMMAD RASYiD RiDHA ( 1865-1935 ), adalah seorang pembaharu dari Aswaja Sunni.. Beliau merupakan murid Muhammad Abduh yang sangat populer
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Asy Syahid Husain, putera Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (a) ..

Berikut saya ringkas beberapa pendapat RASYiD RiDHA dalam Tafsir Al Manar
Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 115 ??

Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Kiblat yang diridhai Allah” (b)
Kalau anda bertanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ??? Ya, ada.. Pendapat Rasyid Ridha senada dengan pendapat Mujahid ( w.104 H ) dan Imam Syafi’i ( w.204 H ) (c)

Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 272
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Keridhaan Allah” (d)

Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al An’am (6) ayat 52
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Keridhaan Allah” (e)
Apakah a’yunina pada Qs. Hud ( 11 ) ayat 37 artinya mata Allah atau pengawasan Allah ??

Jawab: Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha; penggunaan kata jamak a’yunina adalah mubalaghah (mempertegas) adanya perhatian Allah dalam mengawasi dan menjaga (f)
Kalau anda tanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ? Ya, ada.. Pendapat Rasyid Ridha senada dengan Mujahid ( w.104 H ) yang mengatakan bahwa orang orang Arab biasa menggunakan lafal ‘ayn dalam bentuk mufrad (tunggal) untuk menyebut perhatian dan menggunakan lafal a’yun dalam bentuk jamak untuk menyebut perhatian yang tinggi (g)

Apakah “kedua tangan Allah terbuka” pada Qs. Al Maidah (5) ayat 64 artinya Allah memiliki dua tangan zahir ataukah Allah Pemurah ?? Mana yang benar ???

Jawab : Yang benar artinya adalah Allah Pemurah.. Kalau anda bertanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ??? Ya, ada.. Ibn Abbas (w.68 H) menyatakan bahwa lafal “ghull al yad” ( tangan terbelenggu ) sudah lumrah di pakai dalam bahasa Arab untuk arti kikir , dan lafal “basth al yad” ( tangan terbuka ) dipakai untuk arti pemurah dan dermawan (h)

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengutip Qs. Al Isra’ (17) ayat 29 yang berbunyi; “Dan jangan lah kamu jadikan tangan mu terbelenggu pada lehermu dan janganlah pula kamu terlalu membukanya” .. (h) Apakah tangan manusia disini bermakna zahir ????
Jadi kenapa ada bentuk tunggal dan ganda pada YAD ALLAH dalam Qs.5:64 ?

Jawab: Menurut Al Baydhawi (w.691 H); bentuk ganda ( tatsniyah pada “bal yadahu mabsuthatan” ) bukan bentuk tunggal (mufrad seperti pada “yadullah maghlulah”) ADALAH untuk mempertegas kemurahan Nya dan mempertegas penolakan Nya terhadap fitnah keji orang orang Yahudi.. INGAT :Al Quran turun pada masa sastra Arab sedang berada dipuncaknya !!!
Rujukan :
a = Buku “Rasionalitas Al Quran” karya M. Quraisy Shihab hal. 71. Penerbit Lentera Hati, 2006

c = Ibnu Al Qayyim Al Jawziyah, Mukhtashar Al Shawa’iq Al Mursalah ‘An Al Jahmiyyah wa Al Mu’aththilah, cetakan ke 1 ( Beirut: Dar A- Kutub Al ‘ilmiyyah ) hal. 339

b = TAFSiR AL M A N A R, disusun Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, jilid 1, hal. 435

d= Ibid, Jilid 3 hal. 83

e = Ibid, Jilid 7 hal. 436

f = Ibid, Jilid 12 hal. 73

h = Ibid, Jilid 6 hal. 454

g= Buku “Rasyid Ridha, Konsep Teologi”, karya Dr. A.Athaillah dari IAIN ANTASARI, penerbit ERLANGGA

………………………………………………………………………..

Saudara pembaca  …..

Apa maksud wajah Allah ??

Jawab :
Di dalam surat Al-Baqarah [2], ayat 272 disebutkan, “Dan janganlah Kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah (wajhillâh).” Berangkat dari ayat ini, sebuah soal mengemuka; apakah maksud dari ungkapan wajhullâh tersebut?

Wajh secara leksikal bermakna wajah, dan terkadang bermakna dzat (substansi). Oleh karena itu, wajhullah bermakna Dzat Allah. Niat para pemberi infak harus ditujukan kepada dzat kudus Allah Swt. Oleh karena itu, kata wajh pada ayat ini dan yang semisalnya bermuatan satu jenis penegasan. Karena, ketika wajh disebutkan (untuk dzat Ilahi), merupakan penegasan terhadap untuk Allah swt. semata, bukan untuk yang lain.

Selain itu, galibnya, wajah manusia -secara lahiriah- adalah bagian termulia di dalam struktur tubuhnya. Lantaran organ-organ yang penting pada tubuh manusia terletak di wajahnya, seperti penglihatan, pendengaran, dan mulut. Atas dasar ini, ketika ungkapan wajhullah digunakan pada ayat ini, itu memberikan arti kemuliaan dan nilai penting. Di sini, wajh secara figuratif (majâzî) digunakan dalam kaitannya dengan Allah Swt, yang sejatinya merupakan satu bentuk penghormatan dan signifikansi dari ayat ini.

artinya : “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya”
Maknalafadz illa wajhahu (kecuali wajah-Nya), al Imam al Bukhari berkata: “kecuali sulthan (tasharruf atau kekuasaan-) Allah”.

Mengaharapkan “wajah Allah” bermakna “mengharapkan pahala/ridho Allah

wa maa tunfiquuna illabtighaa-a wajhillah

“Dan Janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena Keridhaan Allah ” (Al-Baqarah 272).

Dalam tafsir jalalain disebutkan : (illabtighaa-a wajhillah) mengharapkan ganjaran dari Allah saja bukan selainnya dari kekayaan dunia.

Tafsir Ayat Mutasyabihat WAJAH
Kemanapun engkau menghadap maka akan kamu dapati WAJAH ALLAH ( KIBLAT ALLAH ) (QS albaqarah 115) menurut  Mujahid

Saudaraku….

Tafsir Ayat Mutasyabihat TANGAN
Allah SWT telah berfirman dalam Adzariyat : 47
Artinya : ” Dan langit, kami membinanya dengan Tangan(Kekuasaan) Kami….” (Qs adzariyat ayat 47)

Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz  biaidin) adalah “dengan kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.

Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar sunni :
Dalam Tafsir Qurtuby:
Dalam Tafsir Thabary :
Dalam Tafsir Jalalain ; Biquwati

Lafadz BI AIDIN artinya DENGAN KEKUTAN-NYA
kemudian dalam surat Al-Fath : 10

firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.

Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi saw bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”… Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Pada hadits lainnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa dari arah Najd akan timbul dua tanduk iblis. Sekarang kita bertanya-tanya siapakah gerangan? Yakni Musailamah Al Kadzab dan Muhamad Bin Abdul Wahhab. Keduanya datang dari arah itu.

ternyata  akidah  wahabi   dibidang  asma’  wa  shifat  sama  dengan  akidah  Abu  Hasan  Al  Asy’ari…

Akidah Abu Hasan Al Asy’ari  Dalam Kitab Maqalat Al Islamiyyin Sam Dengan Akidah Wahabi  Salafi…  Kenapa  Kaum  Sunni  Cuma  Berani  Mengkafirkan  Akidah  Wahabi  Tetapi  Mengagung Agungkan  Abu Hasan  Al  Asy’ari…. Mazhab Anda Kacau Balau !

Al-Ibanah Adalah Kitab Karya Imam Abul Hasan Al-Asy’ari Yang Sebenar

Abu-Syafiq telah menulis satu artikel di dalam blognya yang berjudul “Al-Ibanah ‘An Usul Al-Diyanah’ Bukan Kesemua Isi Kandungannya Tulisan Imam Asy’ari”. Artikel ini sangatlah tidak ilmiah dalam membuktikan dakwaan mereka terhadap kitab yang menunjukkan kembalinya Imam Asy’ari kepada aqidah salaf. Abu Syafiq kemudiannya berkata “Wahabi Berdusta pada Kitab Al-Ibanah” perkataan ini sangatlah tidak teliti malah menuduh serta mengklaim para wahabi yang menambah-nambah isi kandungannya. Di sini saya nukilkan kata-kata ulama bahawa Kitab Al-Ibanah adalah benar-benar adalah tulisan Imam Asy’ari dan bukan seperti yang di katakan oleh golongan ahbash terutamanya abu-syafiq yang berguru dengan syeikh Harari Al-Habasy seorang pengasas golongan Ahbash.

Tokoh yang terkenal Al-Hafiz Az-Dzahabi telah menisbatkan kitab Al-Ibanah kepada Abul Hasan Al-Asy’ari seperti mana katanya dalam kitab Al-‘Uluw lil ‘Aliyil Ghaffar halaman 278: “Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam kitabnya Al-Ibanah ‘An Usul Ad-Diyanah dalam bab Istiwa’ (bersemayamnya Allah di atas ‘Arasy): “Jika seseorang berkata: “Apa pandanganmu tentang Istiwa?” Maka jawabnya: “Kami berpendapat bahawa Allah beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arasy sebagaimana firman Allah s.w.t:

“(Iaitu) Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arasy” [Thaaha: 5]

Az-Dzahabi meriwayatkan dari Al-Hafiz Abul Abbas Ahmad bin Tsabit Ath-Thuraqy, bahawa ia berkata: “Aku membaca kitab Abul Hasan Al-Asy’ary yang berjudul Al-Ibanah tentang dalil-dalil yang menetapkan bahawa Allah bersemayam di atas ‘Arasy”. Ia menukilkan juga dari Abu Ali Ad-Daqqaaq bahawa ia mendengar Zahir bin Ahmad Al-Faqih berkata: “Imam Abul Hasan Al-Asy’ari wafat di rumahku. Ketika sedang sakarat beliau mengucapkan: :Semoga Allah melaknat Mu’tazilah yang keliru dan bodoh”.[Dinukil daripada pengenalan pada kitab Al-Ibanah 'An Usul Al-Diyanah yang di tulis oleh Syeikh Hammad bin Muhammad Al-Anshari. Beliau adalah Pensyarah Fakulti dakwah Universiti Islamiyah Madinah Al-Munawwarah.]

Telah berkata Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah dalam kitabnya Al-Ibaanah fii Ushuulid-Diyaanah, pada Baab Al-Istiwaa’:

فإن قال قائل : ما تقولون في الإستواء ؟. قيل [له] نقول : نقول إن الله مستو على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى) وقال : (إليه يصعد الكلم الطيب) وقال : (بل رفعه الله إليه) وقال حكاية عن فرعون : (وقال فرعون يا هامان ابن لي صرحا لعلي أبلغ الأسباب أسباب السموات فأطلع إلى إله موسى وإني لأظنه كاذبا). فكذب موسى في قوله : إن الله فوق السموات. وقال عزوجل : (أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض) فالسموات فوقها العرش، فلما كان العرش فوق السموات. وكل ما علا فهو سماء، وليس إذا قال : (أأمنتم من في السماء) يعني جميع السموات، وإنما أراد العرش الذي هو أعلى السموات، ألا ترى أنه ذكر السموات فقال : (وجعل القمر فيهن نورا) ولم يرد أنه يملأهن جميعا، [وأنه فيهن جميعا]. قال : ورأينا المسلمين جميعا يرفعون أيديهم – إذا دعوا – نحو السماء لأن الله مستو على العرش الذي هو فوق السماوات، فلو لا أن الله على العرش لم يرفعوا أيديهم نحو العرش.

“Apabila seseorang bertanya : ‘Apa yang engkau katakan mengenai istiwaa’ ?’. Maka dikatakan kepadanya : ‘Kami mengatakan sesungguhnya Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik’ (QS. Fathir : 10). ‘Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya’ (QS. An-Nisaa’ : 158). Allah juga berfirman mengenai hikayat/cerita Fir’aun : ‘Dan berkatalah Firaun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” (QS. Al-Mukmin : 36-37). Fir’aun mendustakan Musa yang mengatakan : ‘Sesungguhnya Allah berada di atas langit’. Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Yang berada di atas langit adalah ‘Arsy (dimana Allah bersemayam/ber-istiwaa’ di atasnya). Ketika ‘Arsy berada di atas langit, maka segala sesuatu yang berada di atas disebut langit (as-samaa’). Dan bukanlah yang dimaksud jika dikatakan : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit’ ; yaitu semua langit, namun yang dimaksud adalah ‘Arsy yang berada di puncak semua langit. Tidakkah engkau melihat bahwasannya ketika Allah menyebutkan langit-langit, Dia berfirman : ‘Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya’ (QS.Nuuh : 16) ? Bukanlah yang dimaksud bahwa bulan memenuhi seluruh langit dan berada di seluruh langit”.

Beliau (Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah) melanjutkan : “Dan kami melihat seluruh kaum muslimin mengangkat tangan mereka – ketika berdoa – ke arah langit, karena (mereka berkeyakinan) bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) di ‘Arsy yang berada di atas semua langit. Jika saja Allah tidak berada di atas ‘Arsy, tentu mereka tidak akan mengarahkan tangan mereka ke arah ‘Arsy”.

Beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) membantah dalam khutbahnya kepada Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Raafidhah. Hingga kemudian beliau berkata : Apabila ada seseorang mengatakan jika engkau telah mengingkari/membantah secara lengkap perkataan Mu’tazillah, Qadariyyah, Jahmiyyah, Haruriyyah/Khawarij, Raafidhah, dan Murji’ah; maka beritahukanlah kepada kami tentang perkataan yang menjadi pendapat dan agama bagimu ! Maka katakanlah padanya : ‘Perkataan yang kami katakan dan agama yang kami anut adalah berpegang-teguh kepada Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan apa-apa yang diriwayatkan dari shahabat, tabi’in, serta para imam ahli-hadits. Kami berpegang teguh terhadap hal itu. Dan juga, dengan agama (pemahaman) yang Ahmad bin Hanbal berada di atasnya – semoga Allah membaguskan wajahnya. Barangsiapa yang menyelisihi perkataannya (Ahmad bin Hanbal) adalah para pembangkang, karena dia adalah seorang imam yang utama dan pemimpin yang sempurna dimana Allah telah memberikan penjelasan kebenaran melalui perantaraannya di saat muncul kesesatan. Melalui perantaraannya, Allah juga telah menjelaskan manhaj yang benar dan membungkam ahlul-bida’. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada imam yang unggul dan agung, serta kepada seluruh imam-imam kaum muslimin.

وجملة قولنا : أن نقر بالله وملائكته وكتبه ورسله، وما جاء من عند الله، وما رواه الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، لا نرد من ذلك شيئا، وأن الله إله واحد فرد صمد، لا إله غيره، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن الجنة والنار حق، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور، وأن الله تعالى مستو على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى) وأن له وجها كما قال : (ويبقى وجه ربك) وأنه له يدين كما قال : (بل يداه مبسوطتان) وأن له عينين بلا كيف كما قال : (تجري بأعيننا) وأن من زعم أن اسم الله غيره كان ضالا، وندين أن الله يرى بالأبصار يوم القيامة كما يرى القمر ليلة البدر، يراه المؤمنون – إلى أن قال :

وندين بأنه يقلب القلوب، وأن القلوب بين إصبعين من أصابعه، وأنه يضع السموات والأرض على إصبع، كما جاء في الحديث، – إلى أن قال : -

وأنه يقرب من خلقه كيف شاء كما قال : (ونحن أقرب إليه من حبل الوريد) وكما قال : (ثم دنا فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى) ونرى مفارقة كل داعية إلى بدعة، ومجانبة أهل الأهواء، وسنحتج لما ذكرناه من قولنا وما بقي [منه] بابا بابا، وشيئا شيئا.

Dan kesimpulan perkataan kami adalah : ‘Kami mengakui Allah, para malaikat-Nya. Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan apa-apa yang datang dari sisi Allah, serta apa-apa yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqaat dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak menolak satupun dari hal tersebut sedikitpun. Dan bahwasannya Allah adalah Tuhan yang Esa, tempat bergantung, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dan bahwasannya Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya, surga dan neraka adalah haq (benar), kiamat akan datang tanpa ada keraguan di dalamnya, Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya, Allah ta’ala bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Allah mempunyai wajah, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan tetap kekal wajah Tuhan-Mu’ (QS. Ar-Rahmaan : 27). Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Tetapi kedua tangan Allah terbuka’ (QS. Al-Maaidah : 64). Allah mempunyai dua mata tanpa ditanyakan bagaimananya, sebagaimana firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar : 14). Dan barangsiapa yang berkeyakinan bahwa nama Allah bukanlah Allah, maka ia adalah orang yang sesat. Kami meyakini bahwa Allah kelak akan dilihat dengan penglihatan (mata) pada hari kiamat oleh kaum mukminin sebagaimana dilihatnya bulan di malam purnama”. Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :

Kami berkeyakinan bahwasannya Allah membolak-balikkan hati, dan hati-hati manusia itu berada di antara dua jari di antara jari-jari Allah. Juga, bahwasannya Allah meletakkan semua langit dan bumi di atas satu jari, sebagaimana tercantum dalam hadits”. Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :

“Dan bahwasannya Allah itu dekat dengan makhluk-Nya dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat kehernya’ (QS. Qaaf : 16). ‘Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)’ (QS. An-Najm : 8-9). Sedangkan di sisi lain kami melihat jauhnya setiap penyeru bid’ah dan pengikut hawa nafsu (dari agama dan pemahaman yang benar ini). Kami akan berhujjah (berargumentasi) dengan apa yang telah kami sebutkan tadi bab per bab secara rinci”.

“Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy telah berkata dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Imad fir-Ru’yah:

ألفنا كتابا كبيرا في الصفات تكلمنا فيه على أصناف المعتزلة والجهمية، فيه فنون كثيرة من الصفات في إثبات الوجه واليدين، وفي إستوائه على العرش.

كان أبو الحسن أولا معتزليا أخذ عن أبي علي الجبائي، ثم نابذه ورد عليه، وصار متكلما للسنة، ووافق أئمة الحديث في جمهور ما يقولونه، وهو ما سقناه عنه من أنه نقل إجماعهم على ذلك وأنه موافقهم. وكان يتوقد ذكاء، أخذ علم الأثر عن الحافظ زكريا الساجي. وتوفي سنة أربع وعشرين وثلاثمائة، وله أربع وستون سنة رحمه الله تعالى.

“Kami telah menulis satu kitab besar dalam permasalahan sifat-sifat (Allah) dimana kami berbicara dari sudut pandang kelompok Mu’tazillah dan Jahmiyyah. Padanya terdapat berbagai macam pembahasan sifat dalam penetapan wajah dan dua tangan, serta istiwaa’-Nya di atas ‘Arsy”.

Di antara para ulama yang mengisbatkan buku Al-Ibanah kepada Imam Asy’ari juga adalah Al-Hafiz Al-Kabir Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi, Asy-Syafi’I wafat pada tahun 458 H dalam kitabnya Al-I’tiqad wal Hidayah Ilaa Sabili Ar-Rasyaad pada bab Al-Qaulu fii Al-Quran halaman 31: “Asy-Syafi’I r.a menyebutkan bahawa bukti yang menunjukkan Al-Quran yang kita tulis dalam mushaf disebut Kalam Allah adalah bahawasanya Allah s.w.t berbicara dengan Al-Quran kepada hambaNya dan mengutuskan Rasul-Nya s.a.w dengan mambawa Al-Quran dan maknanya.

Di antara yang mengisbatkan Al-Ibanah adalah benar-benar daripada Imam Asy’ari ialah Ibn Farhun Al-Maliki. Ia berkata dalam kitabnya Ad-Dibaaj halaman 193-194: “Di antra kitab yang ditulis Abul Hasan Al-Asy’ari adalah Al-Luma’ Al-Kabir, Al-Luma’ Ash-Shaghir dan Kitab Al-Ibanah ‘An Usul Al-Diyanah.

Abu Al-Fallah Abdul Hayyi bin Al’Imad Al-Hanbali (w 1098 H) juga mengisbatkan kitab Al-Ibanah adalah karya Imam Asy-‘ari. Ia berkata dalam kitabnya Syadzarat Adz-Dzahab fi A’yaanil min dzahab pada juz 2 halaman 303: “Abul Hasan Al-Asy’ari telah berkata dalam kitabnya Al-Ibanah ‘An Usul Al-Diyanah dan ini adalah kitab beliau yang terakhir”.

Seterusnya Abul Qaasim Abdul Malik bin Isa bin Darbas Asy’Syafi’I (w 605 H) ia berkata dalam kitab Adz-Dzabb ‘An Abil Hasan Al-Asy’ari: “Wahai saudara-saudara sekalian! Ketahuilah bahawa Al-Ibanah ‘An Usul Al-Diyanah adalah kitab yang ditulis oleh Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari yang merupakan keyakinan beliau yang terakhir

Imam Abu Hanifah berkata lagi: Barangsiapa yang berkata: “Aku tidak tahu Rabbku, di langit atau di bumi?” bererti ia kafir. Begitu juga seseorang menjadi kafir apabila mengatakan bahawa Allah itu di atas ‘Arasy, tetapi aku tidak tahu adakah ‘Arasy itu di langit atau di bumi. –al-Fiqhul Absath, ms. 46

Imam Abu Hanifah berkata kepada seseorang wanita yang bertanya: “Dimanakah Ilahmu yang engkau sembah itu?” Ia menjawab: “Sesungguhnya Allah itu ada di langit bukan di bumi.” Lalu datanglah seorang pemuda mengajukan pertanyaan: “Bagaimana dengan ayat: وهو معكم اين ما كنتم? “Dia bersama kamu dimana kamu berada.” (Surah al-Hadid: 4).

IMAM MALIK BIN ANAS

Abu Nu’aim mentakhrijkan dari Ja’far bin Abdillah berkata: “Ketika kami sedang berada di samping Malik bin Anas, datanglah seorang pemuda lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah, Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arasy bagaimana bersemayamNya?” Mendengar pertanyaan ini, Imam Malik menjadi berang dan marah. Lalu ia menundukkan muka ke bumi seraya menyandarkannya ke tongkat yang dipegangnya hingga tubuhnya bersimbah peluh. Setelah ia mengangkat kepalanya, ia lantas berkata: “Cara bersemayamNya tidak diketahui (tidak dapat digambarkan), sedang istiwanya (bersemayamnya) telah jelas dan diketahui, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Aku menyangka engkau adalah si pelaku bid’ah.” Lalu beliau menyuruh orang itu keluar. –Hilyatul Aulia’ (VI/325-326), Ibn Abdil Barr dalam at-Tauhid (VI/151), Al-Baihaqi dalam al-Asma’ Was Sifat, ms. 498, Ibn Hajar dalam Fathul Bari (XIII/406-407), Az-Zahabi dalam al-Uluw, ms. 103

IMAM MUHAMMAD IDRIS AS-SYAFI’I

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: “Allah Tabaraka wa Taala memiliki asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh KitabNya dan diberitakan oleh NabiNya s.a.w. kepada umatnya, yang tidak boleh diingkari oleh sesiapa pun dari makhluk Allah S.W.T. yang telah sampai kepadanya dalil bahawa al-Quran turun membawa keterangan tentang hal tersebut, juga sabda Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan tsiqah telah jelas-jelas sahih yang menerangkan masalah itu. Maka barangsiapa yang mengingkari atau berbeza dengan semuanya itu padahal hujah (dalil/ keterangan) tersebut telah jelas baginya, bererti ia kafir kepada Allah S.W.T. Adapun jika ia menentang kerana belum mendapat hujah/ keterangan tersebut, maka ia diampuni kerana kebodohannya, kerana pengetahuan tentang semuanya itu (sifat-sifat Allah dan asma’Nya) tidak dapat dijangkau oleh akal dan pemikiran.

Yang termasuk ke dalam keterangan-keterangan seperti itu adalah juga keterangan-keterangan Allah S.W.T. bahawa Dia Maha Mendengar dan bahawa Allah itu memiliki tangan sesuai dengan firmanNya: “Bahkan Tangan Allah itu terbuka.” (Surah al-Maidah: 64). Dan bahawa Allah memiliki tangan kanan, sebagaimana dinyatakan: “…Dan langit digulung dengan tangan kananNya.” (Surah az-Zumar: 67) dan bahawa Allah itu memiliki wajah, berdasarkan firmanNya yang menetapkan: “Dan tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa, kecuali Wajah Allah…” (Surah Al-Qasas: 88), “Dan kekallah wajah Rabbmu yang mempunyai keagungan dan kemulian.” (Surah Ar-Rahman: 27). Juga bahawa Allah mempunyai tumit, sesuai dengan pernyataan Rasulullah s.a.w: “Sehingga Rabb Azza wa Jalla meletakkan tumitNya pada Jahannam.” (Riwayat Bukhari, no: 4848 dan Muslim, no: 2848) dan Allah ketawa berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w. tentang orang yang mati fi sabilillah: “Ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla sedang Allah tertawa kepadanya….” (Riwayat Bukhari, no: 2826 dan Muslim, no:1890).

Dan bahawa Allah turun ke langit dunia pada setiap malam berdasarkan hadis Rasulullah s.a.w. tentangnya. Begitu juga keterangan bahawa Allah S.W.T. itu tidak buta sebelah mataNya berdasarkan pernyataan Nabi s.a.w. ketika baginda menyebut dajjal, baginda bersabda: “Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Rabbmu tidaklah buta (sebelah mataNya).” (Riwayat Bukhari, no: 7231 dan Muslim, no: 2933). Dan bahawa orang-orang mukmin pasti akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka seperti halnya mereka melihat bulan di malam purnama, juga bahawa Allah S.W.T. mempunyai jari-jemari seperti ditetapkan oleh sabda Nabi s.a.w: “Tidaklah ada satu jari pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman Azza wa Jalla.” (Riwayat Ahmad IV/182, Ibnu Majah I/72, Hakim I/525 dan Ibn Mandah ms.87. Imam Hakim mensahihkannya dipersetujui oleh az-Zahabi dalam at-Talkhis)

Semua sifat-sifat ini yang telah ditetapkan oleh Allah S.W.T. sendiri bagi diriNya dan oleh Rasulullah s.a.w. untukNya, hakikatnya tidaklah dapat dijangkau oleh akal atau fikiran dan orang yang mengingkarinya kerana bodoh (tidak mengetahui keterangan-keterangan tentangnya) tidaklah kafir kecuali jika ia mengetahuinya tetapi ia mengingkarinya, barulah ia kafir. Dan bilamana yang datang tersebut merupakan berita yang kedudukannya dalam pemahaman seperti sesuatu yang disaksikan dalam apa yang didengar, maka wajib baginya sebagai orang yang mendengar berita tersebut untuk mengimani dan tunduk kepada hakikat hal tersebut dan mempersaksikan atasnya seperti halnya ia melihat dan mendengar dari Rasulullah s.a.w.

Namun kita tetapkan sifat-sifat ini dengan menafikan (meniadakan) tasybih sebagaimana Allah telah menafikannya dari diriNya dalam firmanNya: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah As-Syura: 11). –Dinukil daripada I’tiqadul Aimmatil Arba’ah oleh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais

IMAM AHMAD BIN HANBAL

Syeikh Ibn Taimiyyah menyebut kata-kata Imam Hanbal: “Kita beriman kepada Allah itu di atas ‘Arasy sesuai dengan kehendaknya tanpa dibatasi dan tanpa disifati dengan sifat yang kepadanya seseorang yang berusaha mensifatinya telah sampai atau dengan batas yang kepadanya seseorang yang membatasinya telah sampai. Sifat-sifat Allah itu (datang) dariNya dan milikNya. Ia mempunyai sifat seperti yang Ia sifatkan untuk diriNya, yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan.” –Ta’arudh al-‘Aqli wa al-Naqli (II/30)

Ibnul Jauzi dalam al-Manaqib menyebutkan tulisan (surat) Imam Ahmad bin Hanbal kepada Musaddad yang di antara isinya ialah: “Sifatilah Allah dengan sifat yang denganNya Ia telah mensifati diriNya dan nafikanlah dari Allah apa-apa yang Ia nafikan dari diriNya. –Manaqib Imam Ahmad, ms. 221

Di dalam kitab ar-Raddu ‘ala al-jahmiah tulisan Imam Ahmad, ia mengucapkan: “Jahm bin Safwan telah menyangka bahawa orang yang mensifati Allah dengan sifat yang dengannya Ia mensifati diriNya dalam kitabNya, atau dengan yang disebutkan Rasulullah s.a.w. dalam hadisnya adalah seorang kafir atau termasuk Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).” –Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiah, ms. 104

Abu  Hasan  Al  Asy’ari  menyatakan : “Allah  bersemayam di atas  singgasana Nya, Dia  mempunyai  sepasang  tangan  tetapi bukan  sebagai  pemilikan, Dia  mempunyai  mata tetapi  bukan  sebagai  cara, dan  Dia  mempunyai  wajah”( Kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin  karya  Abu  Hasan  Al  Asy’ari  ) ….

Memang, pemahaman  metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali  dan  abu  Hasan  Al   Asy’ari   cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah… Anehnya  pengikut   asy’ari   mengkafir kan  ajaran  Asy’ari  Sang  Gembong  Pendiri  Mazhab  !!!!!

Hambaliyyah  dan  Asy’ari   berpendapat  bahwa  derajat  keagungan  Allah  mempunyai  batas  yang  berdekatan  dengan  bagian  paling  tinggi  dari  singgasana  Nya….

Imam  Ali  bin  Abu  Thalib  menolak  pandangan  kejasmaniahan  Allah  dan  menempatkan  Allah  diatas  kualitas kualitas yang  dapat  disifatkan  pada  makhluk Nya :

“”Mereka  yang  mengklaim  dapat  disamakan  dengan  Mu  menzalimi  Mu  ketika  menyamakan  Mu  dengan  berhala berhala  mereka, secara  keliru  melekatkan  pada Mu  suatu  sifat  yang  mungkin  cocok  bagi  ciptaan Mu, dan  secara  tersirat  mengakui  bahwa  Engkau  tersusun  dari   bagian  bagian  seperti  hal  hal  material ( Kitab  Nahj  Al  Balaghah  halaman  144 )

Syi’ah  menolak  kejasmaniahan  Allah…

Salafi  mengambil   arti  lahiriah, sedangkan  syi’ah  mengambil  arti  majazi  (kiasan)…

Syi’ah  menolak  hal  hal  material  seperti  kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan  komposisi  pada  Allah  SWT

Saya selaku pengikut syi’ah menganggap Abu Hasan Al Asy’ari adalah seorang ahlul kalam yang merasionalkan akidah Imam Ahmad bin Hambal, dengan kata lain Asy’ari adalah penengah antara paham mu’tazilah dan paham ahlul hadis..

Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya.

PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH

  1. Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:

Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).

Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).

Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah[2] (320-324/330 H).

[2] Ithâfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn, al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurrahmân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.

Adapun setelah meninggalkan mu’tazilah maka dia tidak menyatakan ikut Imam Ahmad tapi langsung mengikuti ibnu Kullab, al-Muhasibi dan al-Qalanisi seperti yang dikatakan oleh Khaldun,

Semua orang itu ditahdzir oleh Imam Ahmad dan lainnya karena kalamnya. Dan kitab yang dihasilkan waktu itu adalah kitab seperti al-Luma’ fi raddi ala ahl az-Zaighi wal bida’. Dan itu adalah kitab yang pertama kali dikarang pasca mu’tazilah seperti dikutip oleh penulis dari Ibn Asakir

dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya.

kembali ke persoalan: tujuan dari pembahasan itu adalah membuktikan adanya 3 fase pemikiran imam asy’ari rahimahullah: i’tizal, keluar dari i’tizal kemudian intisab kepada imam Ahmad rahimahullah. Dan ini diucapkan oleh ibnu katsir dan dikutib oleh az-zabidi. Sudah jelas?

Bukhari adalah Imam al-dunya pada zamannya dan pembawa bendera hadits. Ini tidak mengherankan sebab ia adalah murid imam Ahmad ra, ibn Ruhawaih, Abu Nuaim, Abu Ubaid al-Qasim ibn Salam dan para ulama salaf.

Siapa yang merenungkan kitab Shahihnya dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.

Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad, warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil, ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara. Sifat ini secara sepakat diingkari oleh ibn Kullab dan Asyairah karena dianggap tasybih menurut kaidah mereka bahwa kalamullah itu al-kalam an-Nafsi. Metode Bukhari dalam kitab Tauhid dan Khalq ‘af’al al-Ibad nyata membatalkan klaim kullabiyyahnya. Termasuk yang menguatkan adalah tidak satupun imam bukhari menyebut nama ibn Kullab dalam kitab-kitabnya, juga tidak ucapan al-Muhasibi, al-Qalanisi, al-Karabisi dan lainnya, tidak dalam shahihnya, maupun tawarikhnya dan kitab-kitabnya yang lain

Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah , beliau
berkata;

Dan berpendapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal–semoga Allah mencerahkan wajahnya,meninggikan derajatnya, dan memberi balasan yang melimpah. Siapa yang menyelisihi perkataannya dia akan menyimpang, karena dia adalah imam yang mulia, pemimpin yang sempurna yang dengan perantaranya Allah menjelaskan kebenaran, menumpas kesesatan, membuat minhaj ini menjadi gamblang, membarantas bid’ah–bid’ah rekayasa para ahli bid’ah, penyelewangan orang yang menyimpang, dan kegamangan orang yang ragu– ragu. Semoga Allah merohmatinya’.

.
Ringkas perkataan kami adalah kami beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab– kitab-Nya, para Rasul-nya dan apa yang dibawa oleh mereka dari sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah, kami tidak akan menolak sedikitpun, sesunguhnya Allah adalah Ilah yang Esa, tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makluk, tidak membutuhkan anak dan istri, dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya, Allah mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar, Surga dan Neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur, dan Allah bersemayam di atas Arsy, seperti firman-nya.
الرَّحْمَانُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَاى
(Thoha ayat 5)

Allah mempunyai dua tangan, tapi tidak boleh di takyif, seperti firman-Nya: خَلَقْتُ بِيَدَيً (QS. Shod: 75) dan Firman-Nya:
بَلْ يََدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ (QS. Al Maidah: 64)

Allah mempunyai dua mata tanpa ditakyif, seperti firmanya (QS. Al Qomar: 14)

Allah bersemayam di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana firman Allah :

الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya :
“Allah itu bersemayam di atas ‘arsy” (QS. Thaha : 5)
Dan bahwasanya Allah itu memiliki wajah sebagaimana telah berfirman :

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبُّكَ ذُوْ الجَلاَل وَالإِكْرَامِ

Artinya :
“Kekallah wajah Allah yang memiliki keagungan” (QS. Ar-Rahman : 27).
Bahwasanya Allah memiliki dua tangan (tanpa membahas bagaimana tangan itu), sebagaimana firman Allah :
…لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Ketika Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75).
…بَلْ يَدَاهُ مَبْسوطَتَنِ

Artinya :
“Bahkan kedua tangan Allah iu terbuka” (QS. Al-Maidah : 64).
.

Dan bahwasanya Allah memiliki dua mata tanpa membahas bagaimana mata itu, sebagaimana firman-Nya: …تَجْرَيْ بِأَعْيُنِنَا
Artinya : “Berjalan dengan mata kami ” (QS Al-Qomar :14).

Kita mengatakan bahwa imam yang mulia setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam itu adalah Abu Bakar as-Shiddiiq radliallahu ‘anhu. Dan bahwasanya melalui dia, Allah telah menjayakan dan mendhahirkan Islam terhadap orang-orang murtad dan kaum muslimin menjadikannya dia sebagai imamah pertama sebagaimana Rasulullah memperlakukannya demikian, dan mereka semua menamakannya sebagai khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

.
Kemudian Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu, kemudian Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu kemudian Ali bin Abi Thalib.

Maka mereka itulah imam setelah Rasulullah saw dan kekhilafahan mereka adalah khilafah kenabian (khilafah nubuwwah)

.
Kita menyaksikan kepastian masuk surga bagi sepuluh sahabat yang dijamin demikian oleh Rasulullah dan kita mencintai seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berhenti dari membicarakan atas apa-apa yang menjadi perselisihan diantara mereka.

Kita meyakini bahwasanya para imam yang empat itu adalah khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk dan keutamaan, yang selain mereka tidak ada yang menandingi mereka.
Kita membenarkan seluruh riwayat dari para rawi yang tsiqah, yang mana menegaskan turunnya Allah ke langit dunia dan bahwasanya Dia mengatakan apakah ada orang yang meminta ampun, dan membenarkan apa-apa yang mereka riwayatkan dan kukuhkan berbeda halnya dengan apa apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang dan sesat.

Kita kembali dalam apa yang kita perselisihkan terhadap Al-Qur’an, sunnah Rasul dan ijma’ kaum muslimin dan apa-apa yang semakna dengan itu, kita tidak berbuat bid’ah yang dilarang dalam Islam ini dan tidak mengatakan apa-apa tentang Allah yang tidak kita ketahui.

Kita mengatakan bahwasanya Allah itu akan datang pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Dan Allah itu akan datang pada hari kiamat secara bershaf-shaf” (QS. Al-Mutaffifin : 22).
Dan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala mendekat terhadap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Kami lebih dekat daripadanya dari urat kerongkongan” (QS. Qaaf :16)

Artinya :
“Kemudian mendekat dan kemudian lebih mendekat lagi, maka jadilah antara Allah dan Rasulullah antara dua ujung busur panah dan lebih dekat lagi” (QS. An-Najm :8-9).
Dan diantara ajaran dien kita adalah kita menegakkan shalat jum’at, shalat ied dan seluruh shalat jama’ah dibelakang setiap orang baik maupun tidak baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu shalat di belakang Al-Hajjaj.

Bahwasanya mengusap kedua sepatu adalah sunnah baik dalam keadaan mukim atau musafir, lain halnya dengan orang yang mengingkari hal itu
Kita mendo’akan kebaikan para imam dan mengakui keimamahannya dan menghukum sesat bagi yang membolehkan berontak terhadap mereka apabila tampak dari mereka ketidak istiqomahannya.

Kita meyakini kemungkaran adanya pemberontakan dengan menggunakan pedang dan meninggalkan perang dalam keadaan fitnah dan membenarkan keluarnya Dajjal sebagimana riwayat-riwayat dari Rasulullah tentang hal itu

========================================================================================

ABU  HASAN  AL  ASY’ARi   YANG  MENJADi  KONTROVERSi   SALAFi  WAHABi   vs  NAHDLATUL  ULAMA

Pengikut  Asy’ari   seperti   Nahdlatul  Ulama  tidak menyadari   bahwa  akidah  Asy’ari  yang asli  mirip dengan salafi wahabi yang sekarang.

Di lain pihak, Salafi  Wahabi tidak menyadari bahwa Abu Hasan Al Asy’ari ternyata  “masih ahlul kalam”….

Petaka aswaja sunni karena salah pilih imam  dibidang akidah…

Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin:
“Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)”

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir.. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa  keutamaan sahabat besar adalah Abubakar lalu Umar lalu Usman lalu Ali.. Juga disebutkan  wajib taat pada pemimpin…Dan dikitab itu disebutkan bahwa orang mu’min  boleh berimam shalat pada ahli bid’ah/orang fasik

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir..…  ARTiNYA  walaupun  mereka  menganggap hal tersebut   SEBAGAi   BERBEDA  DENGAN  MAKHLUK, tetapi  I’tiqad  ahlul  hadis  hasywiyyah  dan Abu Hasan  Al  Asy’ari   adalah  antropomorfis  !!!!!!

Dalam  kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin, tokoh  sunni   Abu  HAsan Al  Asy’ari  menulis  : “ Keagungan  Allah  mempunyai batas  yang  berdekatan dengan bagian  tertinggi   dari   ‘arsy nya”… Abu  Hasan  menyatakan : “Allah mempunyai  dua  tangan, dua mata, dua  kaki, semua  akan binasa kecuali  WAJAH nya ( Kitab  Maqalat  Al  islamiyyin hal. 295 )

Pertanyaan :

  1. Apakah  keagungan  ZAT  Allah  cuma  sebatas  bagian tertinggi  dari  arsy nya ???
  2. Apakah  tangan  dan  mata  Allah  akan  binasa  ????

Bagi   syi’ah  : ini  pelecehan ………

Pada masa  Rasululullah  SAW :   Kaum  mujassimah  dari  kalangan  Yahudi  ( ahlul kitab ) memiliki  i’tiqad MEMBADANKAN  ALLAH, sehingga mereka  terjerat kedalam ekstrimitas…Namun  hal tersebut  menyusup kedalam ajaran Islam

Abu  Hurairah  yang  merupakan  MANTAN  YAHUDi  (  kemudian ia masuk  Islam   ) memiliki  beberapa  orang  sahabat  karib  dari  kalangan  mantan  ahlul kitab yang  masuk  Islam seperti  Ka’ab  al  Ahbar  dan  Wahab Munabbih  memasukkan  akidah  israilliyat  kedalam  hadis  sunni…

Penganut  mazhab  hambali  ( salafiah ) menolak  keras  asy’ariyyah  maturidiyyah  karena  dua aliran kalam ini dianggap bid’ah….

Pada  akhirnya….

Aliran   ASY’ARiYYAH   MAMPU  MENGALAHKAN  DUA  ALiRAN  :

  1. Aliran   rasionalis   mu’tazilah
  2. Aliran   ahlul   hadis  hasywiyyah  ( anti  ilmu  kalam )

kedua aliran ini terkapar…. karena aliran kalam aswaja sunni dibentuk Abu hAsan al asy’ari dan abu manshur al maturidy… Jadi  asy’ari dan maturidy merupakan perintis  awal  aliran kalam aswaja sunni

—————-

Pertanyaan  : Dimanakah  posisi  Abu  Hasan Al  Asy’ari  ???

Jawab : Asy’ari  adalah  tokoh  aliran  kalam  yang  mencoba  memadukan aliran  mu’tazilah  dengan  aliran  ahlul  hadis  hasywiyyah

———————–

Pertanyaan : Wahabi  mengklaim  Abu  HAsan  Al  Asy’ari  mengalami  3  fase  kehidupan,  jadi  asy’ari  adalah  salafi  ????

Jawab : Abu  Hasan  Al  Asy’ari  mencetuskan  teori  kasb, yang mana teori  ini  dikecam  keras  oleh  iBNU   TAiMIYYAH  karena  berbau  jabariyah..

Dalam maqolatul Islamiyyin bab inilah hikayat Sekumpulan perkatan
ahlul hadits dan ahlussunah, hal 290–297 beliau berkata seperti yang
tercantum dalam Al Ibanah di muka. Kemudian pada akhir Bab beliau
berkata: “Inilah sekumpulan perkataan yang diperintahkan, dilaksanakan
oleh mereka dan itulah pendapat mereka, kami berkata dan berpendapat
sama persis dengan siapa perkataan dan pendapat mereka. Tidak ada yang
memberi taufik kepada kami kecuali Allah saja. Dialah yang mencukupi
kami dan dialah sebaik–baik pemelihara. Kepada-Nya kami meminta
pertolongan, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya akan kembali!
Dari dua kitab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau
menetapkan:
1.      Sifat–sifat yang tetap bagi Allah yang termaktuf dalam kitab-nya
dan dalam sunah nabi-Nya secara hakiki sesuai kegungan Allah ta’ala,
seperti sifat istiwa Allah di atas Arsy, Allah mempunyai dua tangan,
dua mata dan wajah secra hakiki, namun tidak boleh ditanyakan
bentuknya dan diserupakan dengan makhluk. Allah memiliki sifat ilmu,
pendengaran, penglihatan, kekuatan dan irodah (berkehendak) Allah
berbicara dan al Qur’an adalah kalam Allah, Allah turun ke langit
dunia

.
2.      Allah akan dilihat pada hari kiamat dengan jelas tanpa pengahalng.
3.      Allah akan datang (sifat mamji’) pada hari kiamat sedangkan
malaikat berbaris )

Tidak hanya itu dalam kitab lainnya Risalah Ila Ahli Tsaghr, beliau
menetapkan adanya ijma” kesepakatan salaf dalam masalah aqidah
khususnya asma dan sifat yaitu;
1.      Salaf bersepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan,
sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
2.      Mereka bersepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit
dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada
hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di
atas arsy.
3.      Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari
kiamat dengan mata mereka, (hal 210 – 225)

Abu  Hasan  Al  Asy’ari  menyatakan : “Allah  bersemayam di atas  singgasana Nya, Dia  mempunyai  sepasang  tangan  tetapi bukan  sebagai  pemilikan, Dia  mempunyai  mata tetapi  bukan  sebagai  cara, dan  Dia  mempunyai  wajah”( Kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin  karya  Abu  Hasan  Al  Asy’ari  ) ….

Memang, pemahaman  metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali  dan  abu  Hasan  Al   Asy’ari   cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah… Anehnya  pengikut   asy’ari   mengkafir kan  ajaran  Asy’ari  Sang  Gembong  Pendiri  Mazhab  !!!!!

Hambaliyyah  dan  Asy’ari   berpendapat  bahwa  derajat  keagungan  Allah  mempunyai  batas  yang  berdekatan  dengan  bagian  paling  tinggi  dari  singgasana  Nya….

Imam  Ali  bin  Abu  Thalib  menolak  pandangan  kejasmaniahan  Allah  dan  menempatkan  Allah  diatas  kualitas kualitas yang  dapat  disifatkan  pada  makhluk Nya :

“”Mereka  yang  mengklaim  dapat  disamakan  dengan  Mu  menzalimi  Mu  ketika  menyamakan  Mu  dengan  berhala berhala  mereka, secara  keliru  melekatkan  pada Mu  suatu  sifat  yang  mungkin  cocok  bagi  ciptaan Mu, dan  secara  tersirat  mengakui  bahwa  Engkau  tersusun  dari   bagian  bagian  seperti  hal  hal  material ( Kitab  Nahj  Al  Balaghah  halaman  144 )

Syi’ah  menolak  kejasmaniahan  Allah…

Salafi  mengambil   arti  lahiriah, sedangkan  syi’ah  mengambil  arti  majazi  (kiasan)…

Syi’ah  menolak  hal  hal  material  seperti  kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan  komposisi  pada  Allah  SWT

.

Allah  ZAT  Yang Tak Terbatas  sehingga  Allah tidak menempati ruang..Allah adalah Dzat Yang Tak Terbatas dari segala sisi

ayat  “Tuhan Yang Mahapengasih beristiwa’  di atas arsy ”[a] (QS. 20:5)

Ayat-ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah menempati ruangan tertentu, karena maksud dari kata ‘arsy atau singgasana dalam ayat ini bukan dalam pengertian fisik, melainkan bahwa kekuasaan-Nya mencakup alam fisik dan meta-fisik sekaligus. Dalam pada itu, jika kita katakan bahwa Allah menempati ruang, maka sesungguhnya kita telah membatasi-Nya dan memberi-Nya sifat makhluk sehingga tak ubahnya seperti makhluk, padahal Dia adalah “Tida ada sast pun yang serupa dengan-Nya” (QS. 42:11), dan “Tidak satu pun yang menyamai-Nya” (QS. 112:4)

Demikian pula ketika Allah berfirman, Tetapi kedua tangan-Nya terbentang. (QS. 5:64), atau, Dan buatlah kapal dengan mata Kami. (QS. 11:37), sama sekali tidak dapat dipahami dalam arti mata atau tangan fisik, karena setiap fisik mempunyai bagian-bagian dan memerlukan ruang, waktu, dan arah sehingga ia akan punah, sedangkan Allah mustahil demikian. Kalau begitu, maka makna yang paling tepat untuk kata “kedua tangan-Nya” pada ayat di atas ialah kekuasaan-Nya yang besar, di mana semua alam tunduk pada-Nya. Sedangkan makna “mata”, ialah pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu.

Sebagai contoh, kita yakin bahwa maksud kata al-’ama atau buta dalam ayat, Barangsiapa buta di dunia akan buta pula di akhirat, (QS. 17:72), sudah pasti bukan dalam arti buta fisik, sebagaimana makna harfiyah, karena banyak sekali orang buta, tapi baik dan salih

Allah Bukan Jasmani dan Tidak Dapat Dilihat Syi’ah meyakini bahwa Allah Swt tidak dapat dilihat dengan kasat mata, sebab sesuatu yang yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah jasmani dan memerlukan ruang, warna, bentuk, dan arah, padahal semua itu adalah sifat-sifat makhluk, sedangkan Allah jauh dari segala sifat-sifat makhluk-Nya. Oleh karena itu, meyakini bahwa Allah dapat dilihat dapat membawa kepada kemusyrikan. Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan sedang Dia menjangkau penglihatan, dan Dia Mahahalus lagi Mahatahu. (QS. 6:103)

Ini menunjukkan bahwa Allah mutlak tidak dapat dilihat.Adapun adanya beberapa ayat atau pun riwayat yang menengarai adanya kemungkinan melihat Allah, maka yang dimaksud bukan rnelihat-Nya secara kasat mata, tapi melalui penglihatan batin atau mata hati, sebab al-Quran tidak saling bertentangan, tapi justeru saling menafsirkan, al-Qurn yufassiru ba’dhuhu ba’dhan.[b]

Karena itu, ketika seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin Ali Ibn Abi Thalib: “Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?” Amirul Mukminin menjawab, “Bagaimana aku bisa menyembah Tuhan yang tidak kulihat?” Tapi buru-bur Amirul Mukminin menyempurnakan kalimatnya, “Tapi Dia tidak dapat dilihat oleh mata. Dia hanya dapatdijangkau oleh kekuatan hati yang penuh dengan iman”. (Nahjul Balaghah, Khutbah 179)

Syi’ah meyakini bahwa memberikan sifat-sifat makhluk kepada Allah seperti ruang, arah, fisik, atau dapat dilihat akan membuat seseorang tidak dapat mengenal Allah dan dapat rnembawa kepada kemusyrikan Mahasuci Allah dari sifat-sifat makhluk. Sesungguhnya Ia tidak serupa dengan apa pun.

manusia bebas dalam kehendaknya (free will) dan mengikuti jalan kebenaran melalui pilihannya sendiri. Akan tetapi, karena kebebasan dan kemampuan kita untuk mengerjakan sesuatu datangnya dari Allah, maka perbuatan-perbuatan kita atas  izin  Allah

Jika kita terpaksa dalam perbuatan-perbuatan kita, maka tidak ada artinya pengutusan para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, ajaran agama, pengajaran, pendidikan, dan sebagainya. Demikian pula tidak ada artinya pahala dan azab Tuhan. Inilah yang diajarkan madrasah Ahlubait bahwa tidak jabr (mutlah terpaksa) dan ridak pula tafwidh (bebas mutlak), tapi di antara keduanya. Sesungguhnya tidak jabr dan tidak pula tafwidh, tapi di antara keduanya (Ushul al-Kafi, I, hal.160)

Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah Swt dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

[a] Berdasarkan beberapa ayatal-Quran dapat dipahami bahwa “Kursi”-Nya meliputi alam materi. Firman Allah, “Kursi-Nya mencakup langit dan bumi”. (QS. 2:225)

[b] Ungkapan di atas sangat populer dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Sementar itu, dalam kitab Nahjul Balaghah diriwayatkan pula dari Amirul Mukminin as dengan redaksi yang berbeda, yaitu “Sesungguhnya al-Quran, satu sama lainnya saling membenarkan”.

Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi atau kiasan, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Banyak ulama-ulama pakar yang mengeritik dan menolak akidah mengenai Tajsim/Penjasmanian dan Tasybih atau Penyerupaan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Karena ini bertentangan dengan firman Allah swt. sebagai berikut: Dalam surat Syuura (42) : 11; ‘ Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya

Setiap dalil yang menyiratkan seolah olah Zat Allah memiliki organ jasmaniah atau menempati ruang maka wajib hukumnya di majazi / di kiasan kan / di metafora kan, jadi tidak boleh dizahirkan

Bahkan, ketika dikatakan Isa adalah roh Allah, orang-orang Nasrani menetapkannya dengan makna zahir sehingga mendakwa Isa salah satu daripada sifat-sifat Allah.

Saudaraku…..

SAYYiD MUHAMMAD RASYiD RiDHA ( 1865-1935 ), adalah seorang pembaharu dari Aswaja Sunni.. Beliau merupakan murid Muhammad Abduh yang sangat populer
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Asy Syahid Husain, putera Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (a) ..

Berikut saya ringkas beberapa pendapat RASYiD RiDHA dalam Tafsir Al Manar
Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 115 ??

Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Kiblat yang diridhai Allah” (b)
Kalau anda bertanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ??? Ya, ada.. Pendapat Rasyid Ridha senada dengan pendapat Mujahid ( w.104 H ) dan Imam Syafi’i ( w.204 H ) (c)

Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 272
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Keridhaan Allah” (d)

Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al An’am (6) ayat 52
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Keridhaan Allah” (e)
Apakah a’yunina pada Qs. Hud ( 11 ) ayat 37 artinya mata Allah atau pengawasan Allah ??

Jawab: Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha; penggunaan kata jamak a’yunina adalah mubalaghah (mempertegas) adanya perhatian Allah dalam mengawasi dan menjaga (f)
Kalau anda tanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ? Ya, ada.. Pendapat Rasyid Ridha senada dengan Mujahid ( w.104 H ) yang mengatakan bahwa orang orang Arab biasa menggunakan lafal ‘ayn dalam bentuk mufrad (tunggal) untuk menyebut perhatian dan menggunakan lafal a’yun dalam bentuk jamak untuk menyebut perhatian yang tinggi (g)

Apakah “kedua tangan Allah terbuka” pada Qs. Al Maidah (5) ayat 64 artinya Allah memiliki dua tangan zahir ataukah Allah Pemurah ?? Mana yang benar ???

Jawab : Yang benar artinya adalah Allah Pemurah.. Kalau anda bertanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ??? Ya, ada.. Ibn Abbas (w.68 H) menyatakan bahwa lafal “ghull al yad” ( tangan terbelenggu ) sudah lumrah di pakai dalam bahasa Arab untuk arti kikir , dan lafal “basth al yad” ( tangan terbuka ) dipakai untuk arti pemurah dan dermawan (h)

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengutip Qs. Al Isra’ (17) ayat 29 yang berbunyi; “Dan jangan lah kamu jadikan tangan mu terbelenggu pada lehermu dan janganlah pula kamu terlalu membukanya” .. (h) Apakah tangan manusia disini bermakna zahir ????
Jadi kenapa ada bentuk tunggal dan ganda pada YAD ALLAH dalam Qs.5:64 ?

Jawab: Menurut Al Baydhawi (w.691 H); bentuk ganda ( tatsniyah pada “bal yadahu mabsuthatan” ) bukan bentuk tunggal (mufrad seperti pada “yadullah maghlulah”) ADALAH untuk mempertegas kemurahan Nya dan mempertegas penolakan Nya terhadap fitnah keji orang orang Yahudi.. INGAT :Al Quran turun pada masa sastra Arab sedang berada dipuncaknya !!!
Rujukan :
a = Buku “Rasionalitas Al Quran” karya M. Quraisy Shihab hal. 71. Penerbit Lentera Hati, 2006

c = Ibnu Al Qayyim Al Jawziyah, Mukhtashar Al Shawa’iq Al Mursalah ‘An Al Jahmiyyah wa Al Mu’aththilah, cetakan ke 1 ( Beirut: Dar A- Kutub Al ‘ilmiyyah ) hal. 339

b = TAFSiR AL M A N A R, disusun Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, jilid 1, hal. 435

d= Ibid, Jilid 3 hal. 83

e = Ibid, Jilid 7 hal. 436

f = Ibid, Jilid 12 hal. 73

h = Ibid, Jilid 6 hal. 454

g= Buku “Rasyid Ridha, Konsep Teologi”, karya Dr. A.Athaillah dari IAIN ANTASARI, penerbit ERLANGGA

………………………………………………………………………..

Saudara pembaca  …..

Apa maksud wajah Allah ??

Jawab :
Di dalam surat Al-Baqarah [2], ayat 272 disebutkan, “Dan janganlah Kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah (wajhillâh).” Berangkat dari ayat ini, sebuah soal mengemuka; apakah maksud dari ungkapan wajhullâh tersebut?

Wajh secara leksikal bermakna wajah, dan terkadang bermakna dzat (substansi). Oleh karena itu, wajhullah bermakna Dzat Allah. Niat para pemberi infak harus ditujukan kepada dzat kudus Allah Swt. Oleh karena itu, kata wajh pada ayat ini dan yang semisalnya bermuatan satu jenis penegasan. Karena, ketika wajh disebutkan (untuk dzat Ilahi), merupakan penegasan terhadap untuk Allah swt. semata, bukan untuk yang lain.

Selain itu, galibnya, wajah manusia -secara lahiriah- adalah bagian termulia di dalam struktur tubuhnya. Lantaran organ-organ yang penting pada tubuh manusia terletak di wajahnya, seperti penglihatan, pendengaran, dan mulut. Atas dasar ini, ketika ungkapan wajhullah digunakan pada ayat ini, itu memberikan arti kemuliaan dan nilai penting. Di sini, wajh secara figuratif (majâzî) digunakan dalam kaitannya dengan Allah Swt, yang sejatinya merupakan satu bentuk penghormatan dan signifikansi dari ayat ini.

artinya : “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya”
Maknalafadz illa wajhahu (kecuali wajah-Nya), al Imam al Bukhari berkata: “kecuali sulthan (tasharruf atau kekuasaan-) Allah”.

Mengaharapkan “wajah Allah” bermakna “mengharapkan pahala/ridho Allah

wa maa tunfiquuna illabtighaa-a wajhillah

“Dan Janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena Keridhaan Allah ” (Al-Baqarah 272).

Dalam tafsir jalalain disebutkan : (illabtighaa-a wajhillah) mengharapkan ganjaran dari Allah saja bukan selainnya dari kekayaan dunia.

Tafsir Ayat Mutasyabihat WAJAH
Kemanapun engkau menghadap maka akan kamu dapati WAJAH ALLAH ( KIBLAT ALLAH ) (QS albaqarah 115) menurut  Mujahid

Saudaraku….

Tafsir Ayat Mutasyabihat TANGAN
Allah SWT telah berfirman dalam Adzariyat : 47
Artinya : ” Dan langit, kami membinanya dengan Tangan(Kekuasaan) Kami….” (Qs adzariyat ayat 47)

Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz  biaidin) adalah “dengan kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.

Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar sunni :
Dalam Tafsir Qurtuby:
Dalam Tafsir Thabary :
Dalam Tafsir Jalalain ; Biquwati

Lafadz BI AIDIN artinya DENGAN KEKUTAN-NYA
kemudian dalam surat Al-Fath : 10

firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.

Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi saw bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”… Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Pada hadits lainnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa dari arah Najd akan timbul dua tanduk iblis. Sekarang kita bertanya-tanya siapakah gerangan? Yakni Musailamah Al Kadzab dan Muhamad Bin Abdul Wahhab. Keduanya datang dari arah itu.

ternyata  akidah  wahabi   dibidang  asma’  wa  shifat  sama  dengan  akidah  Abu  Hasan  Al  Asy’ari…

Akidah Abu Hasan Al Asy’ari  Dalam Kitab Maqalat Al Islamiyyin Sam Dengan Akidah Wahabi  Salafi…  Kenapa  Kaum  Sunni  Cuma  Berani  Mengkafirkan  Akidah  Wahabi  Tetapi  Mengagung Agungkan  Abu Hasan  Al  Asy’ari…. Mazhab Anda Kacau Balau !

Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai
bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya.

PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH
Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan
Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah , beliau
berkata;

Dan berpendapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal–semoga Allah mencerahkan wajahnya,
meninggikan derajatnya, dan memberi balasan yang melimpah. Siapa yang menyelisihi perkataannya dia akan menyimpang, karena dia adalah imam
yang mulia, pemimpin yang sempurna yang dengan perantaranya Allah menjelaskan kebenaran, menumpas kesesatan, membuat minhaj ini menjadi
gamblang, membarantas bid’ah–bid’ah rekayasa para ahli bid’ah, penyelewangan orang yang menyimpang, dan kegamangan orang yang ragu–
ragu. Semoga Allah merohmatinya’.

.
Ringkas perkataan kami adalah kami beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab– kitab-Nya, para Rasul-nya dan apa yang dibawa oleh mereka dari
sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah, kami tidak akan menolak sedikitpun, sesunguhnya Allah
adalah Ilah yang Esa, tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makluk, tidak membutuhkan anak
dan istri, dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya, Allah mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar, Surga dan
Neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur,

dan Allah
bersemayam di atas Arsy, seperti firman-nya.
الرَّحْمَانُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَاى
(Thoha ayat 5)

Allah mempunyai dua tangan, tapi tidak boleh di takyif,
seperti firman-Nya: خَلَقْتُ بِيَدَيً (QS. Shod: 75) dan Firman-Nya:
بَلْ يََدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ (QS. Al Maidah: 64)

Allah mempunyai dua mata tanpa ditakyif, seperti firmanya (QS. Al Qomar: 14)

Allah bersemayam di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana firman Allah :

الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya :
“Allah itu bersemayam di atas ‘arsy” (QS. Thaha : 5)
Dan bahwasanya Allah itu memiliki wajah sebagaimana telah berfirman :

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبُّكَ ذُوْ الجَلاَل وَالإِكْرَامِ

Artinya :
“Kekallah wajah Allah yang memiliki keagungan” (QS. Ar-Rahman : 27).
Bahwasanya Allah memiliki dua tangan (tanpa membahas bagaimana tangan itu), sebagaimana firman Allah :
…لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Ketika Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75).
…بَلْ يَدَاهُ مَبْسوطَتَنِ

Artinya :
“Bahkan kedua tangan Allah iu terbuka” (QS. Al-Maidah : 64).
.

Dan bahwasanya Allah memiliki dua mata tanpa membahas bagaimana mata itu, sebagaimana firman-Nya: …تَجْرَيْ بِأَعْيُنِنَا
Artinya : “Berjalan dengan mata kami ” (QS Al-Qomar :14).

Kita mengatakan bahwa imam yang mulia setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam itu adalah Abu Bakar as-Shiddiiq radliallahu ‘anhu. Dan bahwasanya melalui dia, Allah telah menjayakan dan mendhahirkan Islam terhadap orang-orang murtad dan kaum muslimin menjadikannya dia sebagai imamah pertama sebagaimana Rasulullah memperlakukannya demikian, dan mereka semua menamakannya sebagai khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu, kemudian Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu kemudian Ali bin Abi Thalib.

Maka mereka itulah imam setelah Rasulullah saw dan kekhilafahan mereka adalah khilafah kenabian (khilafah nubuwwah).
Kita menyaksikan kepastian masuk surga bagi sepuluh sahabat yang dijamin demikian oleh Rasulullah dan kita mencintai seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berhenti dari membicarakan atas apa-apa yang menjadi perselisihan diantara mereka.

Kita meyakini bahwasanya para imam yang empat itu adalah khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk dan keutamaan, yang selain mereka tidak ada yang menandingi mereka.
Kita membenarkan seluruh riwayat dari para rawi yang tsiqah, yang mana menegaskan turunnya Allah ke langit dunia dan bahwasanya Dia mengatakan apakah ada orang yang meminta ampun, dan membenarkan apa-apa yang mereka riwayatkan dan kukuhkan berbeda halnya dengan apa apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang dan sesat.

Kita kembali dalam apa yang kita perselisihkan terhadap Al-Qur’an, sunnah Rasul dan ijma’ kaum muslimin dan apa-apa yang semakna dengan itu, kita tidak berbuat bid’ah yang dilarang dalam Islam ini dan tidak mengatakan apa-apa tentang Allah yang tidak kita ketahui.

Kita mengatakan bahwasanya Allah itu akan datang pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Dan Allah itu akan datang pada hari kiamat secara bershaf-shaf” (QS. Al-Mutaffifin : 22).
Dan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala mendekat terhadap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Kami lebih dekat daripadanya dari urat kerongkongan” (QS. Qaaf :16)

Artinya :
“Kemudian mendekat dan kemudian lebih mendekat lagi, maka jadilah antara Allah dan Rasulullah antara dua ujung busur panah dan lebih dekat lagi” (QS. An-Najm :8-9).
Dan diantara ajaran dien kita adalah kita menegakkan shalat jum’at, shalat ied dan seluruh shalat jama’ah dibelakang setiap orang baik maupun tidak baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu shalat di belakang Al-Hajjaj.

Bahwasanya mengusap kedua sepatu adalah sunnah baik dalam keadaan mukim atau musafir, lain halnya dengan orang yang mengingkari hal itu.
Kita mendo’akan kebaikan para imam dan mengakui keimamahannya dan menghukum sesat bagi yang membolehkan berontak terhadap mereka apabila tampak dari mereka ketidak istiqomahannya.

Kita meyakini kemungkaran adanya pemberontakan dengan menggunakan pedang dan meninggalkan perang dalam keadaan fitnah dan membenarkan keluarnya Dajjal sebagimana riwayat-riwayat dari Rasulullah tentang hal itu

========================================================================================

ABU  HASAN  AL  ASY’ARi   YANG  MENJADi  KONTROVERSi   SALAFi  WAHABi   vs  NAHDLATUL  ULAMA

Pengikut  Asy’ari   seperti   Nahdlatul  Ulama  tidak menyadari   bahwa  akidah  Asy’ari  yang asli  mirip dengan salafi wahabi yang sekarang.

Di lain pihak, Salafi  Wahabi tidak menyadari bahwa Abu Hasan Al Asy’ari ternyata  “masih ahlul kalam”….

Petaka aswaja sunni karena salah pilih imam  dibidang akidah…

Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin.
Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah
orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu
Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.
Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir.. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa  keutamaan sahabat besar adalah Abubakar lalu Umar lalu Usman lalu Ali.. Juga disebutkan  wajib taat pada pemimpin…Dan dikitab itu disebutkan bahwa orang mu’min  boleh berimam shalat pada ahli bid’ah/orang fasik

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir..…  ARTiNYA  walaupun  mereka  menganggap hal tersebut   SEBAGAi   BERBEDA  DENGAN  MAKHLUK, tetapi  I’tiqad  ahlul  hadis  hasywiyyah  dan Abu Hasan  Al  Asy’ari   adalah  antropomorfis  !!!!!!

Dalam  kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin, tokoh  sunni   Abu  HAsan Al  Asy’ari  menulis  : “ Keagungan  Allah  mempunyai batas  yang  berdekatan dengan bagian  tertinggi   dari   ‘arsy nya”… Abu  Hasan  menyatakan : “Allah mempunyai  dua  tangan, dua mata, dua  kaki, semua  akan binasa kecuali  WAJAH nya ( Kitab  Maqalat  Al  islamiyyin hal. 295 )

Pertanyaan :

  1. Apakah  keagungan  ZAT  Allah  cuma  sebatas  bagian tertinggi  dari  arsy nya ???
  2. Apakah  tangan  dan  mata  Allah  akan  binasa  ????

Bagi   syi’ah  : ini  pelecehan ………

Pada masa  Rasululullah  SAW :   Kaum  mujassimah  dari  kalangan  Yahudi  ( ahlul kitab ) memiliki  i’tiqad MEMBADANKAN  ALLAH, sehingga mereka  terjerat kedalam ekstrimitas…Namun  hal tersebut  menyusup kedalam ajaran Islam

Abu  Hurairah  yang  merupakan  MANTAN  YAHUDi  (  kemudian ia masuk  Islam   ) memiliki  beberapa  orang  sahabat  karib  dari  kalangan  mantan  ahlul kitab yang  masuk  Islam seperti  Ka’ab  al  Ahbar  dan  Wahab Munabbih  memasukkan  akidah  israilliyat  kedalam  hadis  sunni…

Penganut  mazhab  hambali  ( salafiah ) menolak  keras  asy’ariyyah  maturidiyyah  karena  dua aliran kalam ini dianggap bid’ah….

Pada  akhirnya….

Aliran   ASY’ARiYYAH   MAMPU  MENGALAHKAN  DUA  ALiRAN  :

  1. Aliran   rasionalis   mu’tazilah
  2. Aliran   ahlul   hadis  hasywiyyah  ( anti  ilmu  kalam )

kedua aliran ini terkapar…. karena aliran kalam aswaja sunni dibentuk Abu hAsan al asy’ari dan abu manshur al maturidy… Jadi  asy’ari dan maturidy merupakan perintis  awal  aliran kalam aswaja sunni

—————-

Pertanyaan  : Dimanakah  posisi  Abu  Hasan Al  Asy’ari  ???

Jawab : Asy’ari  adalah  tokoh  aliran  kalam  yang  mencoba  memadukan aliran  mu’tazilah  dengan  aliran  ahlul  hadis  hasywiyyah

———————–

Pertanyaan : Wahabi  mengklaim  Abu  HAsan  Al  Asy’ari  mengalami  3  fase  kehidupan,  jadi  asy’ari  adalah  salafi  ????

Jawab : Abu  Hasan  Al  Asy’ari  mencetuskan  teori  kasb, yang mana teori  ini  dikecam  keras  oleh  iBNU   TAiMIYYAH  karena  berbau  jabariyah..

Dalam maqolatul Islamiyyin bab inilah hikayat Sekumpulan perkatan
ahlul hadits dan ahlussunah, hal 290–297 beliau berkata seperti yang
tercantum dalam Al Ibanah di muka. Kemudian pada akhir Bab beliau
berkata: “Inilah sekumpulan perkataan yang diperintahkan, dilaksanakan
oleh mereka dan itulah pendapat mereka, kami berkata dan berpendapat
sama persis dengan siapa perkataan dan pendapat mereka. Tidak ada yang
memberi taufik kepada kami kecuali Allah saja. Dialah yang mencukupi
kami dan dialah sebaik–baik pemelihara. Kepada-Nya kami meminta
pertolongan, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya akan kembali!
Dari dua kitab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau
menetapkan:
1.      Sifat–sifat yang tetap bagi Allah yang termaktuf dalam kitab-nya
dan dalam sunah nabi-Nya secara hakiki sesuai kegungan Allah ta’ala,
seperti sifat istiwa Allah di atas Arsy, Allah mempunyai dua tangan,
dua mata dan wajah secra hakiki, namun tidak boleh ditanyakan
bentuknya dan diserupakan dengan makhluk. Allah memiliki sifat ilmu,
pendengaran, penglihatan, kekuatan dan irodah (berkehendak) Allah
berbicara dan al Qur’an adalah kalam Allah, Allah turun ke langit
dunia.
2.      Allah akan dilihat pada hari kiamat dengan jelas tanpa pengahalng.
3.      Allah akan datang (sifat mamji’) pada hari kiamat sedangkan
malaikat berbaris )

Tidak hanya itu dalam kitab lainnya Risalah Ila Ahli Tsaghr, beliau
menetapkan adanya ijma” kesepakatan salaf dalam masalah aqidah
khususnya asma dan sifat yaitu;
1.      Salaf bersepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan,
sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
2.      Mereka bersepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit
dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada
hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di
atas arsy.
3.      Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari
kiamat dengan mata mereka, (hal 210 – 225)

ABU  HASAN  AL  ASY’ARi   YANG  MENJADi  KONTROVERSi   SALAFi  WAHABi   vs  NAHDLATUL  ULAMA

Pengikut  Asy’ari   seperti   Nahdlatul  Ulama  tidak menyadari   bahwa  akidah  Asy’ari  yang asli  mirip dengan salafi wahabi yang sekarang.

Di lain pihak, Salafi  Wahabi tidak menyadari bahwa Abu Hasan Al Asy’ari ternyata  “masih ahlul kalam”….

Petaka aswaja sunni karena salah pilih imam  dibidang akidah…

Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin.
Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah
orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu
Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.
Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir.. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa  keutamaan sahabat besar adalah Abubakar lalu Umar lalu Usman lalu Ali.. Juga disebutkan  wajib taat pada pemimpin…Dan dikitab itu disebutkan bahwa orang mu’min  boleh berimam shalat pada ahli bid’ah/orang fasik

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir..…  ARTiNYA  walaupun  mereka  menganggap hal tersebut   SEBAGAi   BERBEDA  DENGAN  MAKHLUK, tetapi  I’tiqad  ahlul  hadis  hasywiyyah  dan Abu Hasan  Al  Asy’ari   adalah  antropomorfis  !!!!!!

Dalam  kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin, tokoh  sunni   Abu  HAsan Al  Asy’ari  menulis  : “ Keagungan  Allah  mempunyai batas  yang  berdekatan dengan bagian  tertinggi   dari   ‘arsy nya”… Abu  Hasan  menyatakan : “Allah mempunyai  dua  tangan, dua mata, dua  kaki, semua  akan binasa kecuali  WAJAH nya ( Kitab  Maqalat  Al  islamiyyin hal. 295 )

Pertanyaan :

  1. Apakah  keagungan  ZAT  Allah  cuma  sebatas  bagian tertinggi  dari  arsy nya ???
  2. Apakah  tangan  dan  mata  Allah  akan  binasa  ????

Bagi   syi’ah  : ini  pelecehan ………

Pada masa  Rasululullah  SAW :   Kaum  mujassimah  dari  kalangan  Yahudi  ( ahlul kitab ) memiliki  i’tiqad MEMBADANKAN  ALLAH, sehingga mereka  terjerat kedalam ekstrimitas…Namun  hal tersebut  menyusup kedalam ajaran Islam

Abu  Hurairah  yang  merupakan  MANTAN  YAHUDi  (  kemudian ia masuk  Islam   ) memiliki  beberapa  orang  sahabat  karib  dari  kalangan  mantan  ahlul kitab yang  masuk  Islam seperti  Ka’ab  al  Ahbar  dan  Wahab Munabbih  memasukkan  akidah  israilliyat  kedalam  hadis  sunni…

Penganut  mazhab  hambali  ( salafiah ) menolak  keras  asy’ariyyah  maturidiyyah  karena  dua aliran kalam ini dianggap bid’ah….

Pada  akhirnya….

Aliran   ASY’ARiYYAH   MAMPU  MENGALAHKAN  DUA  ALiRAN  :

  1. Aliran   rasionalis   mu’tazilah
  2. Aliran   ahlul   hadis  hasywiyyah  ( anti  ilmu  kalam )

kedua aliran ini terkapar…. karena aliran kalam aswaja sunni dibentuk Abu hAsan al asy’ari dan abu manshur al maturidy… Jadi  asy’ari dan maturidy merupakan perintis  awal  aliran kalam aswaja sunni

—————-

Pertanyaan  : Dimanakah  posisi  Abu  Hasan Al  Asy’ari  ???

Jawab : Asy’ari  adalah  tokoh  aliran  kalam  yang  mencoba  memadukan aliran  mu’tazilah  dengan  aliran  ahlul  hadis  hasywiyyah

———————–

Pertanyaan : Wahabi  mengklaim  Abu  HAsan  Al  Asy’ari  mengalami  3  fase  kehidupan,  jadi  asy’ari  adalah  salafi  ????

Jawab : Abu  Hasan  Al  Asy’ari  mencetuskan  teori  kasb, yang mana teori  ini  dikecam  keras  oleh  iBNU   TAiMIYYAH  karena  berbau  jabariyah.. Itulah bukti  Asy’ari  adalah  tokoh  kalam dan  asy’ari   bukan  salafi  murni  !!!!!!!!!!!!!!

Allah SWT Dalam Akidah Ahlusunnah

Di antara keyakinan tentang Allah SWT dan sifat-sifat-Nya yang meniscayakan tajsîm dan tasybîh adalah keyakinan bahwa Allah SWT itu butuh kepada ruang dan wadah untuk bertempat. Dan tempat itu adalah Arsy. Dan Arsy yang di atasnya Allah bersemayam itu dipikul oleh delapan malaikat dalam bentuk kambing hutan yang mengapung di atas laut di atas langit ke tujuh. Dalam laut itu seperti tebal antara langit yang satu dengan langit lainnya! Demikianlah keyakinan Mazhab Sunni dalam menggambarkan Tuhan yang dibangun di atas hadis-hadis yang diriwayatkan para muhaddis dan dibakukan sebagai dasar akidah oleh para ulama Sunni. Hadis tentangnya dikenal dengan nama hadis Au’âl (kambing jantan).

Untuk menyingkat pembahasan ini, saya akan sebutkan langsung nash hadis andalan Mazhab Sunni dalam menegakkan akidah yang satu ini.

Nash Hadis Au’âl!

Para muhaddis Sunni, di antaranya Al Hâkim dalam kitab al Mustadrak-nya[1] dengan sanad: Dari Abdullah ibn Umarah dari Abbas ibn Abdil Muththalib, ia berkata:

.

كنا جلوساً مع رسول الله (ص) بالبطحاء ، فمرت سحابة ، فقال رسول الله (ص) : أتدرون ما هذا ؟ فقلنا : الله ورسوله أعلم . فقال السحاب . فقلنا: السحاب ؟ فقال : والمزن فقلنا : وما المزن ؟ فقال : والعنان ، ثم سكت ، ثم قال : أتدرون كم بين السماء والأرض ؟

فقلنا : الله ورسوله أعلم .

فقال : بينهما مسيرة خمسمائة سنة ، وبين كل سماء إلى السماء التي تليها مسيرة خمسمائة سنة ، وكثف كل سماء مسيرة خمسمائة سنة ، وفوق السماء السابعة بحر بين أعلاه وأسفله كما بين السماء والأرض ، ثم فوق ذلك ثمانية أوعال بين ركبهم وأظلافهم كما بين السماء والأرض ، والله فوق ذلك ليس يخفى عليه من أعمال بني آدم شيء .

.

Ketika kami sedangn duduk di sisi Rasulullah saw. di sebuah lembah, lalu lewatlah awan, maka beliau saw. bersabda: ‘Tahukah kalian apa namanya ini?’ kamipun menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lah yang lebih tau.’ Lalu beliau bersabda, ‘Ia adalah sahâb/awan.’ Maka kamipun mengatakan: ‘awan.’ Dan al muzn, lanjut beliau. Maka kami pun mengatakan, al muzn. Al ‘anân, tambah beliau lagi, dan kami pun mengatakannya. Kemudian beliau berhenti sejenak lalu bersabda: ‘Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bumi?

Kamipun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.’

Lanjut beliau: ‘Jarak antara langit dan bumi adalah lima ratus tahun (perjalanan). Dan jarak antara satu langit dengan langit setelahnya adalah lima ratus tahun (perjalanan). Dan tebal antara satu langit dengan langit berikutnya adalah lima ratus tahun (perjalanan).

Dan di atas langit ke tujuh terdapat lautan yang jarak antara atas dan bawahnya seperti jarak antara langit dan bumi. Kemudian di atas itu terdapat delapan kambing hutan yang antara lutut dan kuku-kuku mereka sepertti jarak antara langit dan bumi. Dan Allah berada di atas itu. Tiada terseumbunyi sedikitpun dari amal anak Adam.”

(Al Hâkim berkata; “Hadis ini shahhih sanadnya akan tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Adz Dzahabi juga menyetujui penshahihan itu.)

Seperti telah disinggung bahwa hadis di atas telah diriwayatkan banyak ulama selain al Hâkim, di antaranya adalah:

1)  Ahmad dalam Musnad-nya. Hanya saja dalam riwayat Ahmad terdapat tambahan di akhirnyta:

.

: ثم فوق ذلك ثمانية أوعال بين ركبهن وأظلافهن كما بين السماء والأرض ، ثم فوق ذلك العرش بين أسفله وأعلاه كما بين السماء والأرض ، والله تبارك وتعالى فوق ذلك وليس يخفى عليه من أعمال بنى آدم شيء

“Kemudian di atasnya terdapat delapan ekor kambing hutan yang jarak antara lutut dan kuku-kuku mereka seperti jarak antara kangit dan bumi. Kemudian di atasnya terdapat Arsy yang jarak antara atas dan bawahnya seperti jarak antara kangit dan bumi. Dan Allah Yang Maha Berkah dan maha Tinggi berada di atasnya. Dan tiada samar atas-Nya amal-amal bani Adam.[2]

2)      At Turmudzi dan ia mengatakan: “hadis itu Hasan Gharîb.

3)      Abu Daud.

4)      Ibnu Mâjah.

5)      Abu Ya’lâ al Mûshili.

6)      Al Bzzâr.

7)      Ibnu Ab Syaibah dalam kitab al ‘Arsy.

8)      Al Fâkihi dalam kitab Akhâr Mekkah.

9)      Ibnu Abi Hâtim.

10)   Al Lâlakai ath Thabari dalam ‘Ushûl I’tiqâd Ahlisunnah wal Jamâ’ah.

11) Al âjuri dalam kitab Syarî’ah.

12)   Utsman ibn Sa’ad ad Dârimi dalam an Naqdhi, dan dalam ar radd ‘Ala al jahmiah.

13)   Ibnu Khuzaimah dalam kitab at Tauhid.

14)   Ibnu Mandah dalam kitab at Tauhid.

15)   Al baihaqi dalam al Asmâ’ wa ash Shifât.

16)   Abu Bakr asy Syafi’i dalam kitab al Fawâid.

17)   Ar Ruyâni dalam Musnad-nya.

18)   Ibnu ABdil Barr dalam att Tamhid-nya.

19)   Abu Syaikh al Isfahâni dalam kitab al ‘Adhamah.

20)   Al Maqdisi dalam kitab al Mutkhtarah-nya.

21)   Adz Dzahabi dalam kktab al ‘Uluw-nya.

22)   Dan selain mereka masih banyak lainnya.[3]

Pernyataan Para Ulama Ahlusunnah wal Jamâah

Para ulama Ahlusunnah-khusunya yang bermazhab Hanbali, yang sekarang menamakan diri dengan Salafiyah telah menshahihkan hadis di atas dan menjadikannya dasar dalam meyakini bahwa Allah (Maha Suci Allah dari pensifatan kaum Jahil) itu bertempat dan bersemayam di atas Arsy-Nya yang dipikul oleh delapan malaikat yang menyerupai rupa kambing. Di antara mereka:

1)                  Al Hâkim

2)                  Adz Dzahabi seperti telah Anda baca bersama pernyataan mereka berdua.

3)      Ibnu Tamiyah (yang selalu mereka sebut dengan gelar Syeikhul Islam sebagai penghormatan.

Keterangan Ibnu Tamiyah

Dalam perdebatannya dengan lawan akidah al Wâsithiah-nya, Ibnu Tamiyah yang dipojokkan kerena meyakini apa yang disebutkan dalam hadis membela diri dengan mengatakan:

.

… وطلب بعضهم إعادة قراءة الأحاديث المذكورة في العقيدة ليطعن في بعضها ، فعرفت مقصوده . فقلت: كأنك قد استعددت للطعن في حديث الأوعـال: حديث العباس بن عبـد المطلب .

“Sebagian mereka meminta untuk meneliti kembali hadis-hadis tersebut dalam Aqidah karena sebagiannya ada yang cacat. Aku mengerti maksudnya, maka aku berkata, ‘Sepertinya kamu telah menyiapkan kecaman atas hadis Au’âl yaitu hadis riwayat Abbas ibn Abdul Muththalib

Lalu ia mengatakan:

.

وكانوا قد اعنتوا حتى ظفروا بما تكلم به زكي الدين عبد العظيم من قول البخاري في تأريخه : عبد الله بن عميرة لا يعرف له سماع من الأحنف . فقلت : هذا الحديث مع أنه رواه أهل السنن كأبي داود ، وابن ماجة ، والترمذي ، وغيرهم ، فهو مروي من طريقين مشهورين فالقدح في أحدهما لا يقدح في الآخر .

فقال : أليس مداره على ابن عميرة ، وقد قال البخاري : لا يُعرف له سماع من الأحنف ؟

فقلت : قد رواه إمام الأئمة ابن خزيمة في كتاب التوحيد الذي اشترط فيه أنه لا يحتج فيه إلا بما نقله العدل عن العدل موصولاً إلى النبي صلى الله عليه (وآله) وسلم . قلت : والإثبات مقدم على النفي ، والبخاري إنما نفى معرفة سماعه من الأحنف ، لم ينف معرفة الناس بهذا ، فإذا عرف غيره كإمام الأئمة ابن خزيمة ما ثبت به الإسناد كان معرفته وإثباته مقدماً على نفي غيره وعدم معرفته .

.

“Mereka telah bersungguh-sungguh dalam memerhatikan hadis ini sehingga mereka menemukan keterangan dari Zakiyyuddîn Abdul ‘Adzim yang menukil pernyataan Bukhari dalam kitab Târîkh-nya: ‘Abdullah ibn ‘Umairah itu tidak dikenal pernah mendengar hadis dari Ahnaf.’ Maka aku berkata: ‘Hadis ini telah diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan seperti Abu Daud, Ibnu Mâjah, at Turmudzi dan lainnya. Dia telah diriwayatkan dari dua jalur yang terkenal. Mengecam salah satunya tidak akan mencacat hadis jalur lainnya.

Ia berkata: ‘Bukankah hadis itu berporos pada Ibnu ‘Umairah, sementara Bukhari telah berkata: ‘Abdullah ibn ‘Umairah itu tidak dikenal pernah mendengar hadis dari Ahnaf?’

Maka aku berkata: “Hadis itu telah diriwayatkan oleh imam para imam; Ibnu Khuzaimah dalam kitab at Tauhid-nya yang di dalamnya ia mensyaratkan untuk tidak berhujjah melainkan dengan hadis yang dinukil oleh parawi adil hingga bersambung kepada Nabi saw. Aku (Ibnu Taimyah) berkata: ’Dan yang menetapkan lebih diutamakan dari yang menafikan. Bukhari hanya menafikan pengetahuannya bahwa Ibnu ‘Umairah itu pernah mendengar riwayat dai Ahnaf. Tetapi ia tidak menafikan pengetahuan orang lain. Maka jika ada seorang imam lain seperti Ibnu Khuzaimah; imam para imam mengetahuinya yang dengannya telah tetap sanad maka ia lebih diutamakan atas penafian selainnya dan ketidak tauannya. [4]

4)      Ibnu Qayyim al Jauziyah (murid setia Ibnu Tamiyah)

Ibnu Qayyim juga menshahihkan hadis ini dalam Hasyiah (cacatan pinggir atas kitab) Sunan Abu Daud. Dan setelah menyebutkan beberap kritik di antaranya pertentangannya dengan hadis Abu Hurairah, ia berkata:

فكل منهما يصدق الآخر ويشهد بصحته ، ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافاً كثيراً .

“Maka kedua hadis itu saling membenarkan dan mendukung keshahihannya. Andai bukan dari Allah pastilah kamu menemukan pertentangan yang banyak. [5]

Inilah dongeng Au’âl yang menjadi akidah andalan para ulama Ahlusunnah. Dan itulah keterangan para ulama tentangnya dan selain mereka masih banyak lainnya.

Ibnu Jakfari berkata

Jika Anda meneliti akidah kaum pagan dan rajin membaca dongeng-dongeng bangsa Yunani kuno pasti Anda akan segera mengetahui sumber dongeng yang berubah menjadi akidah andalan Mazhab Sunni. Dalam dongeng bangsa Yunani kuno digambarkan bahwa tuahn mereka mengendareai singgasana dan kendaraan yang memuatnya. Jelas gambaran Tuhan seperti dalam hadis Au’âl adalah akidah yang sangat bertentangan dengan Kemaha Sucian Allah!

Saya yakin Anda setuju jika ada yang mengatakan bahwa Allah harus disucikan dari pensifatan kaum jahil. Dan meyakini bahwa Allah –Dzat Yang Maha Agung dan Maha Suci dari butuh kepada makhluk-Nya!

Tetapi jika kebutuhan Allah kepada bertempat….  Bersemayam di atas Arsy yang dipikul oleh Au’âl (kambing hutan jantan) yang mengapung di atas lautan yang berada di atas langit ke tujuh itu tidak dianggap bertentangan dengan kemaha sucian Allah SWT.. maka apa yang harus kami katakkan?

Para ulama Ahlusunnah (khususnya mereka yang kental dengan kayakinan tajsîm dan tasybîh) hanya sibuk menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Au’âl itu adalah para malaikat yang memikul Arsy yang di atasnya Allah SWT bersemayam, bukan kambing hutan jantan yang beneran. Mungkin dalam anggapan mereka dengan demikian masalahnya menjadi beres… kemaha sucian Allah terselamatkan!

Apa bedanya, Allah yang sedang bersemayam di atas Arsy yang mana Arsy-Nya dipikul makhluk-Nya, baik dia itu kambing hutan jantan atau malaikat? Apakah akan merubah masalah? Tolong fatwakan kepada kami, semoga Allah merahmati dan memberi upah surga abadi untuk kalian wahai Sunniyyûn?

Mungkin akal kami sangat terbatas dan tidak sejenius kalian, sehingga mampu meyakini Kemaha Sucian Allah itu terletak pada bersemayamnya Allah di atas Arsy yang ditegakkan di atas punggung Au’âl dan bukan pada ketidak butuhan Allah SWT kepada tempat, apapun dia, Arsy atau lainya? Sebab seperti disabdakan dan diajarkan para imam Ahlulbait as. yang kami beriman akan keimamahan dan kemaksuman mereka menegaskan bahwa Maha Suci Allah dari bertempat, sebab Dia adalah Dzat yang Azali dan telah wujud sebelum wujudnya tempat. Dialah yang menciptakan tempat, lalu bagaimana Dia butuh kepada bertempat.

Namun sayang, sabda-sabda suci para imam suci tidak kalian hiraukan dan tidak diindahkan. Kalian lebih bangga mengandalkan hadis-hadis palsu buatan kaum pembatil. Innâ Lillâhi wa Innâ ilaihi Râji’ûn.


[1] Mustadrak,1/378.

[2] Musnad Ahmad,1/206.

[3] Sunan at Turmudzi,5/395 hadis:3320, Sunan Abu Daud,4/231, ‘Aun al Ma’bûd (syarah Sunan Abu Daud,7/4-6, Sunan Ibnu Mâjah,1/69 hadis:193, Musnad al Bazzâr,4/135 hadis:1310, al Asmâ’ wa ash Shifât:526, Musnad Abu Ya’lâ,12/76 hdis:6713, Akhbâr Mekkah,3/76, 77 hadis:1827, kitab Al Arsy:319-322, ar Radd ‘ala al Jahmiah:50 hadis 72, at Tamhîd,7/140, al Ahâhîts al Mikhtârah,8/378 dan 375 hadis: 462 dan376 hadis:464, Syarah ‘Ushûli Aqidah Ahlisunnah,3/389-390 nomer:650, 390-391 nomer:651, at Tauhîd; Ibnu Khuzaimah:101-102, kitab as Sunnah; Ibnu Abi ‘Âshim,1/253 hadis:577, 254 hadis:578 , kitab al ‘Adhamah:82 nomer 206, 2/566 nomer 15, asy Syari’ah:292, al ‘Uluw:59, Itsbât Shifati al ‘Uluw; Ibnu Qudamah al Maqdisi:59, dan Firdaus al Akhbâr,5/130.

[4] Majmû’ Fatâwa Ibn Tamiyah,3/191-193.

[5] Hasyiyah atas Sunan Abu Daud,7/8 Dan pernyataan Ibnu Qayyim di atas dapat juga Anda baca dalam Tuhfatu Ahwadzi (syarah Sunan at Turmudzi; Al Mubarakfuri)9/166.

=====================================================================

Bandingkan Akidah Kalian Dengan Akidah Kami!!

Tidak ada yang dapat dipercaya dalam mengawal agama Islam selain pribadi-pribadi suci yang telah direkomendasikan Allah dan rasul-Nya untuk menjadi pengawal dan menjaga agama-Nya dari kerusakan dan penyimpangan yang dilakoni oleh kaum-kaum, yang entah dengan sengaja atau karena keteledoran atau karena kelemahan dan kejahilan.

Dalam salah satu hadis shahihnya, Nabi tercinta saw. telah memperkenalkan kepada kita pribadi-pribadi suci yang lahir dari pohon kenabian. Beliau saw. bersabda:

فِيْ كُلِّ خَلَفٍ مِن أُمَّتِي عُدولٌ مِن أهْلِ بَيْتِي، يَنْفَونَ عَن هذا الدِّيْنِ تَحْرِيْفَ الضَّالِّيْن، وانْتِحالَ الْمُبْطِلِيْنَ، وَتأوِيْلَ الجاهِلِين. الاَ و إنَّ أَئِمَّتَكُم وَفْدُكُم إلىَ اللهِ، فَانْظُرُوا مَنْ تُوْفِدُوْنَ.

“Pada setiap generasi dari umatku ada orang-orang adil dari Ahlulbaitku, mereka menghilangkan dari agama ini penyimpangan kaum sesat, penambahan kaum pembatil dan penakwilan menyimpang kaum jahil. Ketahuilah bahwa para imam kalian adalah delegasi yang membimbing kalian menuju Allah, maka perhatikan siapa yang kalian jadikan delegasi.” [1]

Perhatikan! Bagaimana Nabi saw. telah mensinyalir terjadinya kerusakan dan penyimpangan, khususnya dalam akidah dengan memperalat ayat-ayat mutasyâbihât dan memalsu atau tertipu oleh hadis palsu yang akan dialami oleh agama Islam -yang dengan susah payah dan pengorbanan beliau perjuangkan-. Dan yang melakoninya adalah trio penyesat umat:

  1. Kaum Sesat, dengan penyimpangan tafsir agama yang disengaja untuk menyesatkan para pejalan di padang pasir luas tak bertepi menuju hidayah Allah SWT…
  2. Kaum Pembatil yang mengaku-ngaku menyandang maqam tertentu dan memikiki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT yang kemudian dengannya mereka menjaring kaum yang sedang kebingungan mencari-cari figur panutannya yang akan menuntunnya menuju tepian petunjuk Ilahi dan kebahagian serta kedamaian abadi…
  3. Kaum Jahil yang memaksa diri menyelami lautan ajaran Islam lalu menebak-nebak takwil dan maksud ajaran langit…

Sebagai bukti kecil, kami akan sebutkan dua model sajian akidah yang ditawarkan Ahlulbait suci Nabi saw. dan yang ditawarkan oleh selain Ahlulbait suci as.

  • Akidah Tauhid Tawaran Sunni

Para ulama Sunni telah meriwayatkan hadis atas nama Nabi saw. dari Umar dan selainnya, bahwa Allah SWT duduk di atas Arsy-Nya. Dan Arsy itu mengeluarkan suara tanda adanya beban berat yang ia pikul. Maha Suci Allah dari bualan kaum Pembid’ah!

Al Haitsami meriwayatkan dalam kitab Majma’ az Zawâid,1/83 dari Umar:

أن امرأة أتت النبي (ص) فقالت: أدع الله أن يدخلني الجنة، فَعَظَّمَ الرب تبارك وتعالى وقال:إن كرسيه وسع السموات والأرض، وإن له أطيطاً كأطيط الرَّحْل الجديد إذا رُكب، من ثقله

“Bahwa ada seorang wanita datag menemui Nabi saw. lalu berkata, ‘Berdoalah agar Allah memasukkanku ke dalam surga.’ Maka Nabi saw. mengagungkan Tuhan Maha Berkah Lagi Maha Tinggi, lalu berkata: “Sesungguhnya Kursi-Nya melebihi luasnya langit-langit dan bumi, dan ia (kursi Allah) memiliki bunyi/athîth seperti athîth kendaraan baru jika dikendarai karena bobot-Nya.”

Setelah meriwayatkannya, al Haitsami menegaskan kesahihannya dengan mengatakan:

رواه البزار ورجاله رجال الصحيح

“Hadis ini dirwayatkan oleh al Bazzâr dan seluruh perawinya adalah parawi berkualitas sahih.”

Jika demikian pasti Anda berhak bertanya, berapa juta ton bobot Tuhan mereka sehingga Kursi Allah hampi-hampir tak sanggup menaggung-Nya dan merasa keberatan sehingga mengeluarkan suara/ athîth?

Sementara di hadis lain, yang juga diriwayatkan dan disahihahkan para penggede ulama dan imam Ahlusunnah bahwa langit … itu berada dalam genggaman jari-jemari Allah… dan yang aneh jari-jemari Allah masih belum jelas jumlahnya, menurut sebagian riwayatnya ada enam sementara hadis lainnya memastikan jumlahnya ada lima….

Imam Bukhaari meriwayatkan dalam kitab Shahih karangannya,6/33 dari Abdulllah ibn Umar, ia berkata:.

.

جاء حبر من الأحبار إلى رسول الله (ص) فقال: يا محمد إنا نجد أن الله يجعل السماوات على إصبع والأرضين على إصبع والشجر على إصبع والماء والثرى على إصبع وسائر الخلائق على إصبع فيقول أنا الملك! فضحك النبي (ص) حتى بدت نواجذه تصديقاً لقول الحبر!

.

“Ada seorang pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata, “Hai Muhammad, kami menemukan (dalam kitab Taurat_pen) bahwa Allah menjadikan langit-langit di atas sebuah jari, bumi-bumi di atas sebuah jari lain, pepohonan di atas jari lain lagi, air di atas jari, bintang di atas jari dan seluruh ciptaan di atas jari lain. Lalu Dia berfiman; “Akulah Raja!” Maka Nabi saw. tertawa sehingga gigi-gigi graham beliau terlihat sebagai pembenaran atas ucapan sang pendeta.”

Hadis serupa juga diriwayatkan Imam Sunni Ahmad ibn Hanbal dalam kitab Musnad-Nya,1/457 dari Abdullah ibn Mas’ud:

.

جاء حبر إلى رسول الله (ص) فقال: يامحمد أو يا رسول الله إن الله عز وجل يوم القيامة يحمل السموات على إصبع والأرضين على إصبع والجبال على إصبع والشجر على إصبع والماء والثرى على إصبع وسائر الخلق على إصبع، يهزهن فيقول أنا الملك! فضحك رسول الله (ص) حتى بدت نواجذه تصديقاً لقول الحبر.

“Ada seorang pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata, “Hai Muhammad, (atau ia berkata: Hai Rasul Allah), sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla/Yang Maha Mulia lagi Maha Agung- pada hari kiamat akan menggotong langit-langit di atas sebuah jari, bumi-bumi di atas sebuah jari lain, gunung-gunung di atas sebuah jari, pepohonan di atas jari lain lagi, air di atas jari, bintang di atas jari dan seluruh ciptaan di atas jari lain, Dia menggoyangkannya sambil berfiman; “Akulah Raja!” Maka Nabi saw. tertawa sehingga gigi-gigi graham beliau terlihat sebagai pembenaran atas ucapan sang pendeta.” [2]

.

Hadis ini juga disambut gembira oleh pendiri sekte Wahhâbiyah; Ibnu ABdil Wahhâb dalam kitab at Tauhid karyanya.

Demikian mereka memperkenalkan kemaha agungan Allah…. Allah berbobot sehingga membuat berat Kusri yang Dia duduki dan dalam lembaran lain justru seluruh ciptaan-Nya  (termasuk Kursi sebab ia adalah termasuk ciptaan Allah) berada di atas sebuah jari-Nya.

Konsep Tauhid Tawaran Ahlulbait as.

Nah, sekarang bandingkan dengan sabda Ahlulbait suci as. sebagaimana diriwayatkan Nabi saw ; Syeikh al Kulaini dalam kitab berharga beliau al Kâfi yang mulia,1/130:

.

عن صفوان بن يحيى قال: سألني أبو قرة المحدث أن أدخله على أبي الحسن الرضا (عليه السلام) فأستأذنته فأذن لي فدخل فسأله عن الحلال والحرام، ثم قال له: أفتقر أن الله محمول؟ فقال أبو الحسن (عليه السلام): كل محمول مفعول به مضاف إلى غيره محتاج، والمحمول اسم نقص في اللفظ، والحامل فاعل وهو في اللفظ مدحة، وكذلك قول القائل: فوق وتحت وأعلى وأسفل، وقد قال الله: (وَللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا)، ولم يقل في كتبه، إنه المحمول،بل قال: إنه الحامل في البر والبحر، والممسك السماوات والأرض أن تزولا، والمحمول ما سوى الله! ولم يسمع أحد آمن بالله وعظمته قط قال في دعائه: يا محمول!!

“Dari Shafwân ibn Yahya, ia berkata, Abu Qarrah memintaku agar aku memasukkannya menemui Abul Hasan ar Ridha as., lalu aku memintakan izin untuknya, kemudian beliau mengizinkan dan iapun masuk, lalu bertanya kepada Imam tentang masalah (hukum) halal dan haram. Kemudian ia berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mengakui bahwa Allah itu dimuat/dipikul?’ Maka Abul Hasan as. bersabda: “setiap yang dipikul itu berarti ia maf’ûl (dikenai pekerjaan) dan disandarkan kepada sesuatu lainnya dan butuh. Yang diangkut itu adalah kata yang mengandung konotasi kurang/cacat. Sedangkan ‘si pembawa’ adalah palaku, dan ia dalam pengucapan adalah pujian. Demikain pula dengan ucapan seorang: di atas, di bawah, lebih tinggi dan lebih rendah/lebih di bawah. Dan Allah telah berfirman: “Dan bagi-Nya nama-nama yang baik, maka serulah Dia dengannya.” Dan Allah tidak pernah berfirman dalam kitab-kitab suci-Nya bahwa Dia dipikul/dimuat. Bahkan Dialah Dzat Yang Membawa baik di lautan maupun di daratan. Dialah yang menahan langit-langit dan bumi dari berjatuhan/sirna. Yang diangkut itu yang selain Allah! Dan tidak pernah didengar ada seorang yang beriman kepada Allah dan mengakui keagungan-Nya berkata dalam doa yang ia panjatkan: Wahai Dzat yang Diangkut.


قال أبو قرة: فإنه قال: (وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ) وقال: (الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ)؟

Abu Qarrah berkata: “Sesungguhnya Dia berfirman: Dan malaikat-malaikat berada di penjuru- penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.“ (QS. Al Hâqqah [69];17 (

Dan Dia berfiarman: “Malaikat- malaikat) yang memikul Arasy… “?

Maka Abul Hasan as. bersabda:

العرش ليس هو الله، والعرش اسم علم وقدرة، وعرشه فيه كل شئ، ثم أضاف الحمل إلى غيره: خلق من خلقه، لأنه استعبد خلقه بحمل عرشه، وهم حملة علمه، وخلقاً يسبحون حول عرشه وهم يعملون بعلمه، وملائكة يكتبون أعمال عباده؟ واستعبد أهل الأرض بالطواف حول بيته، والله (عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كما قال، والعرش ومن يحمله ومن حول العرش الله الحامل لهم، الحافظ لهم، الممسك القائم على كل نفس، وفوق كل شئ، وعلى كل شئ، ولا يقال: محمول ولا أسفل، قولاً مفرداً لايوصل بشئ فيفسد اللفظ والمعنى.

“Arsy bukanllah Allah dan Arsy adalah nama untuk ilmu dan kekuasaan. Arsy-Nya di dalamnya terdapat segala sesuatu. Kemudian Dia menyandarkan tugas memikul kepada selain-Nya yaitu makhluk dari ciptaan-Nya. Sebab Allah memperhambakan makhluk-Nya untuk memikul Arsy-Nya, mereka itu adalah para pemikul Arsy. Ada sekelompok ciptaan-Nya yang bertasbih di sekitar Arsy-Nya dan mereka beraktifitas atas sepengetahuan Allah. Dan ada pula para malaikat yang mencatat amal hamba-hamba-Nya. Dan Allah memperhambakan penduduk bumi dengan bertawaf mengelilingi rumah-Nya (Ka’bah) dan Allah beristiwâ’ di atas Arsy-Nya, seperti yang Ia firmankan. Dan Arsy berserta yang membawanya dan yang berada di sekitar Arsy, Allah lah yang membawa mereka, menjaga mereka, menahan mereka dari keruntuhan dan yang mengurus setiap jiwa. Dia di atas segala sesuatu. Dan tidak dikatakan bahwa Dia dimuat/angkut dan pula Dia di bawah sesuatu…


قال أبو قرة: فتكذب بالرواية التي جاءت أن الله إذا غضب إنما يعرف غضبه أن الملائكة الذين يحملون العرش يجدون ثقله على كواهلهم، فيخرون سجداً، فإذا ذهب الغضب خف ورجعوا إلى مواقفهم؟

Abu Qarrah berkata, “Lalu apakah Anda membohongkan riwayat yang berkata bahwa sesungguhnya jika Allah murka akan diketahui murka-Nya bahwa para malaikat yang memikul Arsy-Nya merasakan adanya berat di atas pundak-pundak mereka, lalu mereka sujud. Dan jika murka Allah hilang (berhenti) maka menjadi ringanlah Arsy itu dan mereka pun kembali ke pos-pos mereka masing-masing?”


فقال أبو الحسن (عليه السلام): أخبرني عن الله تبارك وتعالى منذ لعن إبليس إلى يومك هذا هو غضبان عليه، فمتى رضي؟ وهو في صفتك لم يزل غضبان عليه وعلى أوليائه وعلى أتباعه، كيف تجترئ أن تصف ربك بالتغيير من حال إلى حال وأنه يجري عليه ما يجري على المخلوقين. سبحانه وتعالى، لم يزُل مع الزائلين، ولم يتغير مع المتغيرين، ولم يتبدل مع المتبدلين، ومن دونه يده وتدبيره، وكلهم إليه محتاج، وهو غني عمن سواه

Maka Abul Hasan as. bersabda: “Baritahukan kepadaku tentang Allah Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi sejak Dia melaknat Iblis hingga hari ini, tidakkah Dia murka atasnya, lalu kapan Dia rela? Dia (Allah) berdasarkan pensifatanmu itu senantiasa murka atas Iblis dan para pengikutnya, lalu bagaimana engkau berani mensifati Tuhanmu dengan adanya perubahan dari sebuah kondisi ke kondisi lainnya, dan sesungguhnya berlaku atas-Nya apa yang berlaku atas ciptaan-Nya?! Maha Suci dan Maha Tinggi Allah. Dia tidak beranjak bersama ciptaan yang beranjak dan Dia tidak berubah bersama benda-benda yang mengamali perubahan seta tidak berganti bersama makhluk yang berganti. ….. dan semuanya (selain-Nya) adalah butuh kepada-Nya dan Dia tidak butuh kepada selain Dzat-Nya sendiri.” [3]

Setelah menyajikan satu dari ratusan atau bahkan ribuan sabda para imam mulia Ahlulbait Nabi as., pembaca kami persilahkan untuk membandingkan tawaran konsep ketuhanan dan tauhid yang  mereka ajarkan dengan konsep tauhid yang ditawarkan diajarkan oleh selain para imam Ahlulbait as.?

Sepenuhnya saya serahkan kepada Anda.


[1] Hadis di atas dapat Anda temukan dalam ash Shawâiq:150 dan 151 ketika menafsirkan ayat ke 4 dari riwayat Mulla dalam Sirahnya juga Dzakhâir al ‘Uqba; Muhibbuddîn ath Thabari:17  dari Mulla.[2] Hadis ini juga diriwayatkan dalam banyak kesempatan lain oleh Ahmad ibn Hanbal, di antaranya:6/33 dan 8/174,202.

[3] Beberapa kalimat dalam hadis mulai di atas sengaja tidak kami terjemahkan karena ketidak mampuan kami dalam memilih kata yang tepat untuknya, agar kami tidak terjatuh dalam memaknai sabda mulia para imam suci dengan sembarangan. Sebab yang kami terjemahkan bukan ocehan Ka’ab Ahbâr misalnya.!!

===================================================================

Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”

Hadis Ru’yatullah termasuk hadis kontroversial yang diributkan baik ulama-ulama terdahulu maupun yang datang kemudian. Hadis ini diperbincangkan karena matannya mengandung lafaz yang mungkar yaitu Nabi SAW melihat Allah dalam bentuk Pemuda. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ummu Thufail. Dalam tulisan kali ini akan dibahas terlebih dahulu hadis Ummu Thufail

Takhrij Hadis Ummu Thufail

عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ( رأيت ربي في المنام في صورة شاب موقر في خضر عليه نعلان من ذهب وعلى وجهه فراش من ذهب)

Dari Ummu Thufail Istri Ubay bin Ka’ab, ia berkata “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Aku melihat Rabbku di dalam mimpi dalam bentuk pemuda berambut lembat dengan pakaian hijau memakai sandal dari emas dan berada di atas tempat tidur dari emas”.

Hadis riwayat Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 25/143 no 346, Asmaa’ Was Shifaat Baihaqi hadis no 922, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 15/426, Daruquthni dalam Ar Ru’yah no 231 dan 232, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 62/161, Abu Ya’la dalam Ibthaalut At Ta’wiilat no 130, 131 dan 132, Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 9 dan Al Maudhu’at 1/125. Semuanya dengan jalan Ibnu Wahb dari Amru bin Al Harits dari Sa’id bin Abi Hilal dari Marwan bin Utsman dari Umaarah bin Amir bin Hazm Al Anshari dari Ummu Thufail.

Hadis ini sanadnya dhaif jiddan dan dengan matan yang mungkar maka tidak diragukan kalau hadis ini maudhu’ (palsu). Hadis ini mengandung illat

  • Marwan bin Utsman, dia seorang yang dhaif sebagaimana disebutkan Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 8/272 no 1244. Dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 dan Ibthaalut Ta’wiilaat Abu Ya’la no 137 disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal menyatakan Marwan bin Utsman majhul. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/171 menyatakan ia dhaif sedangkan dalam Al Ishabah 8/246 no 12116 biografi Ummu Thufail ia menyatakan Marwan bin Utsman matruk.
  • Umaarah bin Amir, dia adalah perawi yang majhul. Dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 Ahmad bin Hanbal menyatakan “ia tidak dikenal”. Al Bukhari dalam Tarikh As Shaghir juz 1 no 1419 juga berkata “Umaarah tidak dikenal”. Adz Dzahabi dalam Mughni Adh Dhu’afa no 4404 juga berkata “tidak dikenal”.
  • Inqitha’ (sanadnya terputus) Umaarah dari Ummu Thufail. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Bukhari dalam Tarikh As Shaghir juz 1 no 1419 dan Tarikh Al Kabir juz 6 no 3111 bahwa Umaarah tidak diketahui mendengar dari Ummu Thufail. Ibnu Hibban memasukkan Umaarah dalam kitabnya Ats Tsiqat juz 5 no 4682 dan menyatakan bahwa Ia tidak mendengar dari Ummu Thufail. Penyebutannya dalam kitab Ats Tsiqat tidak bisa dijadikan hujjah sebagai penta’dilan karena Umaarah telah dinyatakan majhul oleh Ahmad bin Hanbal dan Al Bukhari.

Cacat lain adalah pada sebagian sanadnya [Ibnu Jauzi, Ibnu Asakir dan Al Khatib] juga diriwayatkan oleh Nuaim bin Hammad dari Ibnu Wahb, dia walaupun dita’dilkan oleh sebagian orang tetapi ia juga dinyatakan dhaif oleh An Nasa’i [Ad Dhu’afa Wal Matrukin no 617], Abu Fath Al Azdi dan Ibnu Ady menuduhnya sebagai pemalsu hadis [At Tahdzib juz 10 n0 833]. Ibnu Hajar dalam At Taqrib menyebutnya shaduq yukhti’u tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 7166 bahwa ia seorang yang dhaif. Kendati demikian Nuaim bin Hammad tidaklah menyendiri meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Wahb. Bersamanya ada Ahmad bin Shalih Al Mishri [Ath Thabrani], Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb, Ahmad bin Isa [Baihaqi], dan Yahya bin Sulaiman [Ath Thabrani]. Oleh karena itu pendapat yang benar adalah hadis tersebut maudhu’ karena illat yang telah kami sebutkan.

Hadis ini tidak diragukan lagi adalah hadis maudhu’ sebagaimana yang telah dikatakan oleh para ulama diantaranya Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al Maudhu’at 1/125. Ahmad bin Hanbal mengatakan hadis tersebut mungkar dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 dan Ibthaalut Ta’wiilaat Abu Ya’la no 137. Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 5 no 4682 juga mengakui kalau hadis tersebut mungkar. Begitu pula yang dikatakan Bukhari dalam Tarikh Al kabir juz 5 no 4682. Bashar Awad Ma’ruf pentahqiq kitab Tarikh Baghdad 15/426 juga menyatakan hadis tersebut maudhu’. Bahkan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Adh Dhaifah no 6371 menyatakan hadis tersebut maudhu’. Jadi hadis tersebut bukan sekedar dhaif tetapi memang maudhu’.

Syaikh Al Albani melakukan keanehan yang luar biasa dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah Ibnu Abi Ashim hadis no 471. Ibnu Abi Ashim meriwayatkan

ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول رأيت ربي في المنام في أحسن صورة وذكر كلاما

Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah yang berkata menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad dan Yahya bin Sulaiman yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Amru bin Al Harits dari Sa’id bin Abi Hilal yang menceritakan kepadanya, dari Marwan bin Utsman yang menceritakan kepadanya, dari Umaarah bin Amir dari Ummu Thufail istri Ubay bin Ka’ab yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk –kemudian menyebutkan perkataan-.

Syaikh berkomentar bahwa hadis ini shahih lighairihi, shahih dengan penguat hadis-hadis sebelumnya, sanadnya dhaif gelap. Tentu saja bagi seorang peneliti pernyataan shahih lighairihi ini merupakan suatu keanehan. Pernyataan shahih lighairihi hanya berlaku bagi hadis yang sanadnya hasan lizatihi dan dikuatkan oleh hadis-hadis shahih lain. Hadis Ummu Thufail sudah jelas sangat dhaif sehingga tidak mungkin bisa naik menjadi shahih lighairihi.

Selain itu hadis Ru’yatullah riwayat Ummu Thufail adalah hadis yang berlafaz mungkar, lafaz itulah yang tidak disebutkan oleh Ibnu Abi Ashim dimana ia meringkasnya dengan kalimat –kemudian menyebutkan perkataan-. Tentu tidaklah sulit bagi seorang Syaikh Al Albani untuk mengetahui lafaz hadis Ummu Thufail tersebut secara lengkap, oleh karena itu sudah seharusnya Syaikh tidak menyatakan shahih hadis Ummu Thufail karena pada dasarnya hadis Ummu Thufail itu berbeda dengan hadis-hadis lainnya. Jika dikatakan bahwa hadis itu shahih hanya sebatas perkataan Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk, maka sudah seharusnya Syaikh memberikan pernyataan secara eksplisit tentang hal itu dan mengatakan bahwa lafaz hadis Ummu Thufail itu sebenarnya mungkar dan yang shahih hanya bagian Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk. Bagi kami hal seperti ini jelas sekali sangat penting apalagi hadis yang dibicarakan ini bukan masalah yang sederhana yaitu Nabi SAW melihat Rabb di dalam mimpi dalam bentuk pemuda berambut lebat.

Anehnya seorang ulama seperti Abu Zur’ah Ad Dimasyq tidak segan-segan mengakui kebenaran hadis Ummu Thufail yang berlafaz mungkar. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Daruquthni dalam Ar Ru’yah no 231 dan Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wilaat no 140, Abu Ya’la mengatakan kalau Abu Zur’ah menshahihkan hadis Ummu Thufail di atas. Abu Zur’ah berkata

كل هؤلاء الرجال معروفون لهم أنساب قوية بالمدينة فأما مروان بن عثمان فهو مروان بن عثمان بن أبى سعيد بن المعلى الأنصارى وأما عمارة فهو ابن عامر بن عمرو بن حزم صاحب رسول الله وعمرو بن الحارث وسعيد ابن أبى هلال فلا يشك فيهما وحسبك بعبد الله بن وهب محدثا فى دينه وفضله

Semua perawinya dikenal mempunyai nasab yang kuat di Madinah, Marwan bin Utsman dia adalah Marwan bin Utsman bin Abi Sa’id bin Al Ma’ally Al Anshari dan Umaarah dia adalah Ibnu Amir bin Amru bin Hazm sahabat Rasulullah. Amru bin Harits dan Sa’id bin Abi Hilal tidak diragukan keduanya dan cukuplah Abdullah bin Wahb muhaddis dalam agamanya dan keutamaannya.

Kami katakan perkataan Abu Zur’ah sungguh merupakan kekacauan yang patut disayangkan muncul dari beliau. Marwan bin Utsman telah disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal menyatakan ia majhul dan Abu Hatim menyatakannya dhaif. Abu Zur’ah sendiri tidak menjelaskan keadaannya oleh karena itu tetaplah ia dengan predikat dhaif dan menjadi tertuduh karena hadis ini. Selain itu keadaan Umaarah sendiri tidak dijelaskan oleh Abu Zar’ah dan ulama lain telah menyatakan bahwa ia tidak dikenal. Jadi hadis tersebut maudhu’ dan tidak ada artinya penshahihan dari Abu Zar’ah. Sungguh tidak dapat dimengerti bagaimana lafaz mungkar pada hadis tersebut bisa diakui kebenarannya oleh ulama sekaliber Abu Zur’ah. Jauh setelah Abu Zur’ah ternyata Ibnu Taimiyyah ulama salafy yang terkenal itu ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas dengan lafaz mungkar yang mirip hadis Ummu Thufail di atas. Ulama yang aneh

——————————————————————————————

Allah-nya Kaum Wahhabiyah Bersemayam Di Atas Arsy Dan Arsy-Nya Di Atas Punggung Delapan Kambing Hutan!

Dalam akhir kitab Tauhîd-nya, Imam Besar Sekte Wahhâbiyah menegaskan bahwa Allah bersemayan di atas Arsy… arsy-Nya berada di atas laut yang berada di atas langit ke tujuh dan memiliki kedalaman seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya yaitu 71 atau 72 atau 73 tahun perjalanan…. Nah di atas lautan itu ada delapan ekor kambing hutan yang ukurannya sangat besar, antara kuku-kuku danlutut-lututnya seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya.. di atas punggung-punggung kedelapan kambing hutan itulah Arsy Allah bertempat… lalu allah bersemayam di atas Arsy-Nya yang berada di atas punggung-punggung kambing hutan. (Kitab  Fathu al Majîd Syarh Kitab al Tauhîd:515-516)

Pentahqiqnya membanggakan konsep Tauhid sesat yang diusung Imam Sekte Wahhâbiyah ini. Ia mengatakan: Pengarang telah mengawali kitabnya yang agung ini dengan menerangkan tauhdi Ilahiyah, sebab kebanyakan umat yang datang belakangan jahil terhadapnya. Mereka malakukan sesuatu yang menyalahhi tauhdi berupa kemusyrikan dan menyekutukan Allah…. Kemdian beliau mengakhiri kitabnya dengan menerangkan Tauhdi Asmâ’ dan Sifat. Sebab kebanyakan kaum umum tidak perhatian terhadap ilmu ini yang digeluti oleh orang yang tidak mumpuni….. (Ibid.517)

Jadi inilah konsep Tauhid yang menjadi inti ajakan Imam Sekte Wahhâbiyah!! Kita diajak untuk mengimani konsep Tauhid yang mengatakan bahwa Allah bertengger di atas Arsy-nya yang berada di atas punggung-punggung delapan kambing hutan raksasa mengapun di atas air laut di atas laingit ke tujuh!

Saya beraharap ada seorang pelukis yang siap  melukis obyek unggulan ini untuk dijadikan hiasan dinding di kantor-kantor para mufti Sekte Whhâbiyah di Arab Saudi sana dan di depan mihrab-mihrab mmasjid mereka agar shalat mereka lebih khusuk dengan memerhatikan postur Tuhan mereka yang sedang diusung di atas punggung kambing hutan raksasa!

Atau  membuat miniature yang memposturisasi Tuhan mereka! Agar tidak kalah dengan para ppenyembah berhala di India atau negeri-negeri penyemba berhala lainnya!

Setuju?!

Teks Riwayat Andalan Imam Wahhabi Dari Kitab at Tauhid dan Fathul Majid:

Sebegian pembaca mungkin ada yang meragukan kebenaran apa yang kami tulis dalam artikel kami sebeulmnya tentang akidah Imam Wahhabiyah bahwa Arsy Allah dipikul oleh delapan ekor kambing hutan dan meminta teks asli yang termuat dalam kitab tersebut, maka kami dengan senang hati menampilkan teks asli tersebut.

و عن العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم: هل تدرون كم بين السماء و الأرض؟ قلنا: ألله و رسوله أعلم. قال: بينهما مسيرة خمسمائة سنة، و من كل سماء إلى سما مسيرة خمسمائة سنة، و كثف كل سماء مسيرة خمسمائة سنة، و بين السماء السابعة و العرش بحر بين أسفله و أعلاه كما بين السماء و الآرض، و الله تعالى فوق ذلك. و ليس يخفى عليه شيئ من أعمال بني آدم. أخرجه أبو داود و غيره.

(Baca Fathul Majid:515)

Akan tetapi sebenaranya Imam Wahhabi melakukan manipulasi dan merobeh-robah sedikit redaksi riwayat di atas. Sebab apa yang tertera dalam kitab Sunan Abu Daud berbeda dengan apa yang ia sebutkan. Tetapi kami tidak akan mempermasalahkannya sekarang.

Karenanya Syeikh Abdurrahman (pensyarahnya) mengakuinya walaupun kemudian ia menutupinya dengan mengatakan bahwa Syeikh meringkas riwayat, sementara yang terjadi bukan meringkas akan tetapi merobah-robah (merusak keotentikannya).

Pensyarahnya menyebutkan riwayat dengan lengkap:

هل تدرون ما بعد ما بين السماء و الأرض؟ قالوا: لا ندري. قال: إن بعد ما بينهما إما واحدة أو اثنتان أو ثلاث و سبعون سنة، ثم السماء التي فوقها كذلك، حتى عدّ سبع سموات، ثم فوق السابعة بحر بين أسفله وأعلاه مثل ما بين سماء إلى سماء ثم فوق ذلك ثمانية أوعال، بين أظلافِهم و ركبهم مثل ما بين السماء إلى سماء ثم على ظهورهم العلرش بين اسفله و أعلاه كما بين سماء إلى سماء ثم الله فوق ذلك.

Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bumi? Mereka berkata: Kami tidak mengetahuinya. Beliau bersabda: Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah tujuh puluh satau atau dua atau tiga tahun, kemudian langit yang ada di atasnya juga demikian hingga tujuh lapis langit. Kemudian di atas langit ke tujuh ada laut yang jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara satu langit dengan langit atasnya. Kemudian di atasnya terdapat delapan ekor kambing hutan jarak antara kuku-kuku dan lutut-lutut mereka seperti jarak antara satu langit dengan langit atasnya. Kemudian di atas punggung mereka terdapat Arsy yang jarak antara bagian bawah dan atasnya seperti jakar antara satu langit dengan langit atasnya. Kemudian Allah di atas itu semua.

Adz Dzahabi berkata: Hadis ini telah diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang hasan.

Akan tetapi, na’asnya hadis di atas adalah lemah dari sisi sanadnya, dan seperti ditegaskan oleh pentahqiq kitab tersebut Syeikh Muhammad Hamid Faqi. (Fathu al Majid:515-516)

————————————————————————————

Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.

Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh Abu Zur’ah, Ath Thabrani, Abu Bakar bin Shadaqah dan tentu syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.

Takhrij Hadis Ibnu Abbas

ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).

Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat

  • Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
  • Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.

Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.

Sayang sekali kemungkaran hadis ini seperti nya luput dari pandangan sebagian ulama seperti Abu Zur’ah, Ath Thabrani dan Al Faqih Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Shadaqah [seorang Imam Hafiz yang tsiqat tsiqat sebagaimana disebutkan Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 5/40-41]. Mereka mengakui kebenaran hadis ini. Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 144 mengutip penshahihahn dari Ath Thabrani, ia berkata

قال وأبلغت أنّ الطبراني قال حديث قتادة عن عكرمة عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم في الرؤية صحيح ، وقال من زعم أني رجعت عن هذا الحديث بعدما حدثت به فقد كذب

Telah disampaikan bahwa Ath Thabrani berkata “hadis Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW  tentang Ru’yah adalah shahih, dan siapa yang mengatakan bahwa aku rujuk dari hadis ini setelah meriwayatkannya maka sungguh ia telah berdusta.

Dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 145 Ath Thbarani berkata

سمعت إبن صدقة الحافظ يقول من لم يؤمن بحديث عكرمة فهو زنديق

Aku mendengar Ibnu Shadaqah Al Hafiz berkata “siapa yang tidak mempercayai hadis Ikrimah [tentang Ru’yah] maka ia seorang zindiq”.

Dalam Al Laaly Al Masnu’ah 2/32 As Suyuthi mengutip perkataan Ath Thabrani

قال الطبراني سمعت أبابكر بن صدقة يقول سمعت أبا زرعة الرازي يقول حديث قتادة عن عكرمة عن إبن عباس في الرؤية صحيح رواه شاذان وعبدالصمد بن كيسان وإبراهيم بن أبي سويد لا ينكره إلاّ معتزلي

Ath Thabrani berkata aku mendengar Abu Bakar bin Shadaqah berkata aku mendengar Abu Zur’ah Ar Razi berkata “hadis Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang Ru’yah adalah shahih yang diriwayatkan oleh Syadzaan, Abdush Shamad bin Kaisan dan Ibrahim bin Abi Suwaid, tidak ada yang mengingkarinya melainkan ia seorang mu’tazilah.

Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya. Sikap berlebihan seperti ini benar-benar patut disayangkan. Apakah ulama-ulama lain dan orang-orang islam yang mengingkari hadis ini akan dengan mudahnya mereka katakan zindiq atau mu’tazilah?. Apakah Imam Ahmad bin Hanbal itu zindiq atau mu’tazilah?. Terkadang sehebat apapun ulama tetap tampaklah kenehannya.

Selain mereka, ternyata ada pula Ibnu Taimiyyah yang ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ia dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah

Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290

Sudah jelas pernyataan shahih terhadap hadis ini adalah kebathilan yang nyata. Bagaimana mungkin mereka tidak risih untuk mengatakan bahwa Allah SWT menampakkan dalam bentuk pemuda amrad di dalam mimpi?. Dan kalau kita perhatikan ulama yang disebut Ibnu Taimiyyah ini, dalam kitab-kitabnya seperti Minhaj As Sunnah ia tidak segan-segan mendustakan berbagai hadis shahih keutamaan Ahlul Bait hanya karena hadis tersebut mungkar dalam pandangannya tetapi anehnya ia tidak segan-segan untuk menshahihkan hadis mungkar riwayat Ibnu Abbas di atas. Sungguh berkali-kali keanehan.

——————————————————————————————-

Pendahulu Kaum Wahhâbi Melarang Kaum Asy’ariyah Menuniakan Shalat Jum’at Di Masjid Jami’!

Kekakuan an keganasan sikap serta kebengisan perlakuaan yang sering kali kita saksikan dari kaum Wahhâbi/Salafi di berbagai daerah di tanah air dan juga seperti diberitakan di berbagai belahan duni Islam, khususnya ketika mereka merasa kuat… baik disebabkan banyak jumlah merreka atau karena ada dukungan dari penguasa … semua itu bukanlah hal baru dan sikap yang lahir dari kehampaan… Akan tetapi ia adalah model didikan dan doktrin yang ditanamkan dalam jiwa sempit mereka… ini adalah doktrin turn-temurun yang sudah menjadi bagian tak terpisahlkan dari ediologi dan keyakinan keberagamaan komunitas ini…

Sejarah mencatat bahwa pendahulu kaum Wahhabi/Salafi telah mengajarkan doktrin kekerasan dengan praktik nyata bagaimana mereka harus menyikapi lawan-lawan mereka; kaum Muslimin dari mazhab-mazhab lain selain mazhab Hanbali (yang mereka modifikasi menjadi mazhab galak dan sadis)!

Ibnu Katsir (ahli sejarah dan mufassir yang tak henti-hentinya dibanggakan kaum Salafi Wahhâbi) melaporkan (tentu kaum Wahhâbi harus menerimanya, sebab beliau adalaah imam terpercaya dalam keyakinan mereka)  bahwa kaum pendahulu kaum Wahhâbi (Hanâbilah) telah berbuat kejahatan agamis dengan melarang kaum Muslimin beraliran Asy’ariyah menunaikan shalat jum’at!

Dengar apa laporang Ibnu Katsir ketika beliau melaporkan pristiwa tahun 447 H:

وفيها وقعت الفتنة بين الأشـاعرة والحنابلـة ، فقـوي جانب الحنابلة قـوة عظيمـة ، بحيث أنه كان ليس لأحد من الأشاعرة أن يشهـد الجمعة ولا الجماعات .

“Pada tahun ini terjadilah fitnah (kekacauan) antara penganut Asy’ariyah dan kaum Hanâbilah. Lalu kuatlah posisi kaum Hanâbilah dengan kekuatan yang sangat sehingga tidak seorang pun dari pengikut Asy’ariyah yang dibolehkan menhadiri shalat Jum’at dan jama’ah.”[1]

Ibnu Jauzi juga melaporkan pristiwa tahun 447 H sebagai berikut:

ووقعت بين الحنابلة والأشاعرة فتنة عظيمة حتى تأخر الأشاعـرة عـن الجمعـات خـوفاً من الحنابلة .

“Dan terjadilah fitnah/kerusuha besar antara kaum Hanâbilah dan Asy’ariyah sampai-sampai kaum Asy’ariyah meninggalkan shalat jum’at karena takut dari kaum Hanâbilah.”[2]

Keurusahan yang terjadi, sekali lagi diakaibatkan kaum Hanbaliyah menyebarkan akidah sesat tentang tajsîm dan demi menikat hati kaum awam mereka membawa-bawa nama Imam Ahmad ibn Hanbal! Ibnu Kahldun merekam dengan rinci keganasan yang dipicu oleh pendahulu/Salaf kaum Salafi Wahhâbi dal;am masalah sifat Allah SWT. Ia melaporkan:

… وبين الحنابلة والشافعية وغيرهم من تصريح الحنابلة بالتشبيه في الذات والصفات ، ونسبتهم ذلك إلى الإمام أحمد ، وحاشاه منه ، فيقع الجدال والنكير ، ثم يفضي إلى الفتنة بين العوام .

“Dan antara kaum Hanbaliyah dan Syafi’iyah dan penganut mazhab lainnya terjadi perdebatan di mana kaum Hanbaliyah berterang-terangan dalam akidah tasybîh (menyerupakah Allah dengan makhluk-Nya) dalam Dzat dan Sifat dan mereka menisbatkan akidah itu kepada Imam Ahmad (dan tidak mungkin beliau berakidah seperti itu), lalu terjadilah perdebatan dan penolakan keras kemudian menyulut fitnah di kalangan kaum awam.”[3]

Ustad  Syi’ah  Ali :

Selamanya kaum Hanbaliyah (yang kini diwakili kaum Wahhâbi/Salafi) meracuni kaum awam (walaupun ulama mereka juga tidak kalah awamnya dengn kaum awam yang sangat awam) dengan bahasan-bahasan tentang tauhid yang berorientasi kepada doktrin penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Walaupun mereka selalu ngoto mengelak bahwa akidah mereka itu adalah inti akidah tasybîb dan tajsîm!

Kini cara-cara itu juga mulai dipergunakan kaum Wahhâbi selalui otot-ooto preman bayaran untuk melarang kaum Muslim yang tidak mereka sukai untuk menegakkan shalat di masjid-masjid; rumah ibadah!

Jika nanti mereka kuat, mungkin saj