Keunggulan Syi’ah Imamiyah Dibidang Pendidikan dan Pemilihan Umum

Benarkah Indonesia terbelakang dan miskin karena mayoritasnya penduduknya Muslim Sunni ? Benarkah Islam Sunni justru menghambat kemajuan peradaban? Apakah Indonesia memiliki pemimpin dan elite nasional yang bervisi cinta ilmu pengetahuan dan peradaban?

Adakah politisi dan elite nasional yang bervisi demikian? Ternyata tidak. Dengan menyesal harus kita katakan demikian. Buktinya, parpol dan para penguasa hanya mengejar kekuasaan belaka. Sementara para elite serta pemimpin nasional tak punya komitmen kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban seperti di zaman keemasan Islam dahulu.

Setidaknya itulah komentar Prof Dr Mulyadi Kartanegara, guru besar UIN Jakarta . Pandangan Mulyadi itu dibenarkan oleh Tisnaya Kartakusuma, Hans Satya Budi dan Abas Jauhari MA dosen UIN Ciputat, dalam seminar ‘Kontribusi Islam dan Jala Sutra dalam Ruang Peradaban Indonesia Raya’ yang dipandu akademisi muda PSIK Universitas Paramadina Herdi Sahrasad. Seminar diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina bersama Industry & Labor Watch, Jakarta

Mulyadi mengingatkan, perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan Dunia Islam-lah yang menyebabkan kebangkitan dan kemajuan Eropa setelah Barat lama dilanda abad kegelapan. Dan dewasa ini Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia, namun disebut oleh negara-negara Barat sebagai the sleeping giant (raksasa tidur) karena krisis peradaban.

“Jika Indonesia mau bangkit, maka penterjemahan dan alih bahasa naskah-naskah Islam klasik mutlak diperlukan untuk membangkitkan khasanah intelektual dan peradaban Islam,” tegas Mulyadi.

Tidak ada bangsa yang bangkit dan maju tanpa kebangkitan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Tradisi ilmiah Islam di masa lampau sangatlah kaya. Ibnu Sina menghasilkan karya tentang psikologi dan botani.

Memang ada perbedaan antara fisika Islam dan matematika Islam dengan yang di Barat. Kalau mereka hanya tahu yang dari Barat, maka mereka tidak tahu bahwa ada yang lain. Jika mereka kenal khazanah keilmuan pasti akan terkagum-kagum. Masalahnya, ilmuwan banyak yang kurang mengapresiasi keilmuan Islam karena mereka belum tahu.

Mulyadi, Tisnaya, Abas dan Hans menegaskan, dalam Islam itu ada ilmu rasional dan ilmu agama. Sejauh itu ilmu rasional, maka diskusi akan terjadi di sana . Tapi, ilmu rasional dalam Islam tidak boleh melanggar prinsip-prinsip keislaman, tauhid, keyakinan kepada hari akhir.

Jadi, kata Mulyadi, dalam upaya membangun peradaban maka kita harus membangun kurikulum pendidikan yang meliputi seluruh level eksistensi mulai dari yang fisik, matematik dan metafisik. Dengan tiga disiplin yang dirangkai itu maka kita akan memiliki pandangan yang holistik. Tidak seperti sekarang fisika, matematika, biologi berjalan sendiri-sendiri atau tidak saling berkaitan.

Dalam tradisi keilmuan Islam selalu ada hirarki. Misalnya, ilmu dibagi dua yakni naqliyah dan aqliyah. Dalam aqliyah ada nazhariyah dan amaliyah. Nazhariyah ada fisika, matematika dan metafisika. Kemudian, amaliyah ada etika, ekonomi dan politik. Tapi yang praktis tidak boleh dilepaskan dari yang teoritis.

Oleh karena itu, ada satu kesatuan yang holistik. Ilmu jiwa misalnya, dalam tradisi ilmiah Islam bisa menyatukan antara fisika dan metafisika. Masuk fisika ketika jiwanya masih dalam tubuh. Tapi ketika jiwanya sudah tidak ada dalam tubuh, maka masuk dalam metafisika.

Dalam hal ini, kata Mulyadi dan Tisnaya, betapa pentingnya universitas dan perpustakaan. Sejarah telah mencatat bahwa perpustakaan merupakan sebuah entitas yang tidak bisa di nafikkan dalam mendukung kemajuan intelektual sebuah komunitas. Setidaknya ini ditunjukkan oleh Harun al-Rasyid yang membangun Khizanah al-Hikmah.

Khizanah al-Hikmah ini lebih dari sekedar perpustakaan, namun juga merupakan pusat penelitian. Khizanah al-Hikmah yang kemudian oleh al-Makmun diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah pada tahun 815 M, pada masanya telah menyangga berbagai kegiatan ilmiah. Selain perpustakaan dan penelitian, juga sebagai tempat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.

Mulyadi menambahkan, sebagai contoh Ibnu Sina, yang merupakan seorang ahli kedokteran dan juga seorang filosof. Dengan buku terkenalnya, Al-Kanun, namanya dikenal dunia. Dan bukunya telah dijadikan rujukan ilmu kedokteran selama berabad-abad.

Uraian di atas merupakan sedikit contoh perkembangan keilmuan yang ada di dunia timur. Perpustakaan universitas di zaman keemasan Islam, yang banyak orang menyebutnya sebagai jantung universitas dan peradaban Islam era kekhalifahan, merupakan salah satu penyangga kegiatan keilmuan dan peradaban Islam masa itu. Sisa-sisanya bisa dilihat di Timur Tengah sampai sekarang. Apakah pemerintah mau melakukan itu semua? Kita belum tahu

“Sesungguhnya engkau berada pada akhlaq yg agung ”

Muqoddimah Melihat perkembangan terakhir ummat Islam di Indonesia tergambar dgn jelas betapa merosotnya akhlaknya sebagian ummat Islam. Dekadensi moral terjadi terutama dikalangan remaja. Sementara pembendungannya masih berlarut-larut dan dgn konsep yg tidak jelas.

Rusaknya moral ummat tidak terlepas dari upaya jahat dari pihak luar ummat yg dgn sengaja menebarkan berbagai penyakit moral dan konsepsi agar ummat loyo dan berikutnya tumbang. Sehingga yg tadinya mayoritas menjadi minoritas dalam kualitas. Keadaan semakin buruk ketika pihak aparat terlibat dan melemahnya peran ulama` dan tokoh masyarakat.

Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas akhlak-nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik “Suatu bangsa sangat ditentukan kualita akhlak-nya jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.”

Hampir semua sektor kehidupan ummat mengalami krisis akhlak. Para mengalami pertikaian internal dan merebutkan vested interest dan jarang terkooptasi oleh kekuasaan yg dzalim. Para ulama`nya mengalami kemerosotan moral sehingga tidak lagi berjuang utk kepentingan ummat tetapi hanya kepentingan sesaat; mendukung status quo. Para pengusahanya melarikan diri dari tanggung jawab zakat infaq dan sedekah sehingga kedermawanan menjadi macet dan tidak jarang berinteraksi dgn sistem ribawi serta tidak mempedulikan lagi cara kerja yg haram atau halal. Para siswa dan mahasiswa terlibat banyak kasus pertikaian narkoba dan kenakalan remaja lainnya.

Kaum wanita muslimah terseret jauh kepada peradaban Barat dgn slogan kebebasan dan emansipasi yg berakibat kepada rusaknya moral mereka maka tak jarang mereka menjadi sasaran manusia berhidung belang dan tak jarang dijadikan komoditi murahan . Dan berbagai macam lapisan masyarakat muslim termasuk persoalan kaum miskin yg kurang sabar sehingga menjadi obyek garapan pihak lain termasuk seperti bentuk nyatanya pemurtadan semisal kristenisasi.

Pengertian akhlak Secara etimotogi bahasa akhlak dari akar bahasa Arab “khuluk” yg berarti tabiat muruah kebiasaan fithrah naluri dll . Secara epistemologi Syar’i  akhlak adalah sesuatu yg menggambarkan tentang perilaku seseorang yg terdapat dalam jiwa yg baik yg darinya keluar perbuatan secara mudah dan otomatis tanpa terpikir sebelumnya. Dan jika sumber perilaku itu didasari oleh perbuatan yg baik dan muliayang dapat dibenarkan oleh akal dan syariat maka ia dinamakan akhlak yg mulia nammun jika sebaliknya maka ia dinamakan akhlak yg tercela

Memang perlu dibedakan antara akhlak dan moral. Karena akhlak lbh didasari oleh faktor yg melibatkan kehendak sang pencipta sementara moral lbh penekanannya pada unsur manusiawinya. Sebagai contoh mengucapkan selamat natal kepada non muslim secara akhlak tidak dibenarkan tetapi secara moral itu biasa-biasa saja.

Sentral Akhlak Akhlak secara teoritis memang indah tapi secara praktek memerlukan kerja keras. Oleh krn itu Allah SWT mengutus Nabi SAW-Nya utk memberi contoh akhlak mulia kepada manusia.Pekerjaan itu dilakukan oleh Nabi SAW sebaik mungkin sehingga mendapat pujian dari Allah SWT “Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yg agung “. Bahkan Rasulullah SAW sendiri bersabda “Aku diutus utk menyempurnakan Akhlak“. Lebih dari itu beliau menempatkan muslim yg paling tinggi derajatnya adl yg paling baik akhlaknya. “Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin adl mereka yg paling bagus akhlaknya

Maka tak heran Aisyah mendiskripsikan Rasulullah SAW sebagai Al Qur`an berjalan ; “Akhlak Rasulullah SAW adl Al Qur`an“.

Cakupan Akhlak Mulia Dimensi akhlak dalam Islam mencakup beberapa hal yaitu ;

    Akhlak kepada Allah SWT dgn cara mencintai-Nya mensyukuri ni’mat-Nya malu kepada-Nya utk berbuat maksiat selalu bertaubat bertawakkal takut akan adzab-Nya dan senantiasa berharap akan rahmat-Nya.
    Akhlak kepada Rasulullah SAW dgn cara beradab dan menghormatinya mentaati dan mencintai beliau menjadi kaumnya sebagai perantara dalam segala aspek kehidupan banyak menyebut nama beliau menerima seluruh ajaran beliau menghidupkan sunnah-sunnah beliau dan lbh mencintai beliau daripada diri kita sendiri anak kita bapak kita dll.
    Akhlak terhadap Al Qur`an dgn cara membacanya dgn khusyuk tartil dan sesempurna mungkin sambil memahaminya menghapalnya dan mengamalkannya dalam kehidupan riil.
    Akhlak kepada makhluk Allah SWT mulai diri sendiri orangtua kerabat handaitaulan tetangga dan sesama mukmin sesuai dgn tuntunan Islam.
    Akhlak kepada orang kafir dgn cara membenci kekafiran mereka tetapi tetap berbuat adil kepada mereka berupa membalas kekejaman mereka atau memaafkannya dan berbuat baik kepada mereka secara manusiawi selama hal itu tidak bertentangan dgn syariat Islam dan mengajak mereka kepada Islam.
      Akhlak terhadap makhluk lain termasuk kepada menyayangi binatang yg tidak mengganggu menjga tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan melestarikannya dll.

Krisis Akhlak Apabila norma-norma akhlak mulia tidak dijalankan dgn baik bahkan cenderung dilanggar maka akan terjadi apa yg dinamakan krisis akhlak. Sebagai contoh kami kemukakan data-data terjadinya perusakan akhlak terutama kepada para remaja berupa narkoba shabu-shabu putow heroin ganja ecstasi morphin dll. Sasarannya mulai dari anak-anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi dari pengangguran sampai artis. Pengaruh buruk yg diperoleh adl dapat merusak hati dan otak meskipun pada tahap awal sipecandu merasa segar gembira fly tidak tidur dan merasa berani. Police watch Indonesia suatu LSM yg memantau keterlibatan polisi dalam jaringan penyimpangan menyebutkan bahwa 42% kasus narkoba terjadi dijakarta 58% terjadi diJawa Barat Bali Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur dan Sumatra Barat.

Jakarta Barat kawasan terbesar kasus narkoba krn dikawasan itu banyak terdapat tempat maksiat sisanya di Jakarta Pusat Jakarta Utara dan Jakarta Timur . Bahkan telah merambat kekota-kota kecil dan kampung-kampung.

Pembentengan dari krisis Akhlak Tentunya ummat Islam tidak berjaya kalau melepaskan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Makanya mereka harus kembali menghidupkan Islam sebagaimana yg telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan 12 imam ahlul bait

Kita harus kembali menghidupkan masjid sebagai pusat kegiatan ummat Islam. Memperkuat daya tahan rumah tangga dari ancaman dekadensi moral termasuk film-film ysng bobrok menjaga disiplin dan keamanan sekolah serta memberikan lingkungan materi agama yg cukup serta menjaga daya tahan lingkungan masyarakat dari berbagai arus perusakan dan penyesatan sekaligus mengaktifkan pemerintah utk membentengi masyarakat dari berbagai bentuk kemaksiatan. Wallahu A`lam.

Sudah menjadi keputusan yang disepakati secara umum bahwa pendidikan merupakan sektor vital bagi kehidupan manusia, tetapi pelanggaran terhadap kesepakatan ini tak dapat dikatakan jarang. Mulai dari tidak diberinya kesempatan untuk berpendidikan karena biaya mahal sampai kriminalitas dalam dunia pendidikan. Ini bukan hanya melanda dunia pendidikan secara umum, tetapi juga pendidikan agama (Islam).

Ironisnya, sekarang ini, pendidikan diperalat menjadi sarana mobilisasi sosial-politik-ekonomi. Dominasi sikap yang seperti ini dalam dunia pendidikan telah melahirkan patologi psiko-sosial, terutama dikalangan peserta didik dan orang tua, yang terkenal dengan sebutan “penyakit gelar”, yaitu usaha dalam meraih suatu gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan melainkan karena nilai-nilai ekonomi, politik dan sosial. Maka wajar berkembang ijazah palsu dan lembaga-lembaga pendidikan yang tidak bertanggung jawab atau bahkan para sarjana yang tidak mengetahui ilmu apa yang dimilikinya kecuali kebanggaan atas gelar yang diperolehnya. Gelar telah menjadi “jimat keramat” dalam menghadapi kehidupan. Orientasi ilmu yang mengedepankan kualitas kemanusiaan telah bergeser menjadi orientasi nilai keuangan.

Budaya praktis dan pragmatis, serta instan telah melahirkan manusia yang suka mencari “jimat gelar” untuk memperbaiki kehidupan material, intelektual dan spiritualnya. “Jimat” itu setidaknya dapat dipampangkan di depan (atau di belakang) namanya dengan keyakinan akan mampu memberikannya kehidupan lebih baik, tanpa harus bersusah payah berpikir inovatif dan bertindak kreatif melakukan analisa kritis fenomena kehidupan yang sedang dihadapi. Ini setidaknya tergambar dari ungkapan Imam Ja’far Shadiq, ‘betapa banyak orang yang membawa fiqih tetapi dia tidak faqih,’ atau ejekan al-Quarn dengan menyebut “bagai keledai yg membawa kitab2″.

Begitu pula pendidikan agama (Islam). Sistem pendidikan agama yang masih dikotomis mulai dari lembaga, kenseptualisasi ilmu, kurikulum, pendidik dan peserta didik, serta faktor lainnya menjadikan pendidikan agama tak mampu bersanding apalagi bertanding—walaupun bukan ini yang kita harapkan. Misalnya, adanya pembagian ilmu menjadi ilmu agama dan ilmu non agama. Ini berakibat pada bias tentang orang yang menuntut/mencari ilmu. Ulama yang fasih membaca kitab kuning untuk menemukan keinginan Tuhan dipandang lebih agamis dan tinggi kedudukannya daripada ilmuan yang cermat membaca alam semesta untuk menemukan jejak ilahi. Dari sini, ilmu ‘naqliyah’ lebih dikedepankan dan mendapat tempat terhormat daripada ilmu-ilmu ‘aqliyah’ yang mendapat tempat di pinggiran. Kita lebih mengenal al-Ghazali dengan kitab Ihya ulumuddin ketimbang tahafut al-falasifah atau misykat al-Anwar. Bahkan Ibnu Rusyd lebih kita kenal sebagai faqih dengan kitab bidayatul mujtahid ketimbang tahafut al-tahafut atau fashl maqal yang ditulisnya.

Ini berimbas lagi pada dimensi praktisnya, yang mana kita memandang lebih berpahala mendirikan mesjid daripada laboratorium atau pusat-pusat penelitian, lebih afdhal menahan kantuk malam untuk tahajjud daripada menahan kantuk di laboratorium, mahasiswa yang rajin ke mesjid lebih mulia daripada yang rajin mendatangi pusat penelitian, padahal suatu penyelidikan biasanya untuk kebaikan umat sejagad sedangkan ibadah ritual seringkali hanya untuk kebaikan pribadi. Sewajarnya kita menghargai keduanya yang barangkali memiliki kelebihan disamping kelemahan-kelemahannya. Semua ini meyadarkan kita akan pentingnya aktualisasi pendidikan Islam untuk menciptakan masyarakat berperadaban….

PEMILIHAN UMUM

Sebuah pemerintahan dirancang tidak bisa dianggap demokratis kecuali para pejabat yang memimpin pemerintahan itu dipilih secara bebas oleh warga negara dalam cara yang terbuka dan jujur untuk semuanya. Pelaksanaan pemilihan bisa saja bervariasi, namun intisarinya tetap sama untuk semua masyarakat demokratis; akses bagi semua warga negara yang memenuhi syarat untuk mendapatkan hak pilih, perlindungan bagi tiap individu terhadap pengaruh-pengaruh luar yang tak diinginkan saat ia memberikan suara, dan penghitungan yang jujur dan terbuka terhadap hasil pemungutan suara.

Dalam hal ini, Republik Islam Iran menerapkan sistem pemilu untuk membentuk tak kurang dari tiga lembaga tertingginya. Pertama, pemilu untuk membentuk Dewan Ahli (Majlis-i Khubregan). Kedua, pemilu untuk memilih anggota parlemen, yakni Dewan Permusyawaratan Islam (Majlis-i Syura-yi Islami) sebagai lembaga tertinggi negara yang dipilih langsung oleh rakyat dalam suatu pemilu berdasarkan sistem distrik. (Bahkan, meskipun Republik Islam Iran menganut sistem presidensial, pemilihan menteri-menteri sebagai pembantu presiden harus mendapatkan approval dari parlemen dan sering sekali lewat suatu perdebatan panjang). Ketiga, pemilu untuk memilih presiden secara langsung. Di luar itu, konstitusi Republik Islam Iran juga mewajibkan pemungutan suara secara langsung oleh rakyat –referendum– dalam penetapan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah ekonomi, politik, dan sosial budaya yang amat penting.[1]

Bab I Pasal 6 Undang-Undang Dasar Republik Islam Iran menyatakan :

“Di Republik Islam Iran, urusan negara harus diatur berdasarkan pendapat umum yang di ungkapkan melalui pemilihan umum, termasuk pemilihan presiden, anggota Majelis Perwakilan Islam, dan anggota dewan, atau melalui referendum untuk hal-hal khusus dalam pasal lain konstitusi ini”. (UUD RII, Bab I, Pasal 6).

Tercatat hingga saat ini Iran telah sembilan kali melaksanakan pemilihan presiden, terakhir putaran pertama 16 Juni dan putaran kedua 24 Juni 2005 yang dimenangkan Mahmoud Ahmadinejad.

Pemilu presiden, yang merupakan aktivitas terpenting dalam proses demokrasi, di Iran juga berlangsung seperti di negara-negara demokratis lain, termasuk AS. Terdapat lebih dari satu capres yang mewakili berbagai partai dan aliran politik serta mewakili berbagai kecenderungan yang ada dalam masyarakat.

Namun, di Iran, seorang kandidat presiden yang mencalonkan diri atau dicalonkan partai politik atau organisasi sosial kemasyarakatan lain harus menjalani berbagai tahapan proses penjaringan sebelum resmi menjadi capres yang berhak ikut pemilu. Keputusan akhir apakah seseorang memenuhi kualifikasi atau tidak untuk menjadi capres ditetapkan oleh lembaga tinggi negara yang disebut Dewan Pelindung (Guardian Council).[2]

Dari 100 capres lebih yang mendaftarkan diri pada pemilu baru-baru ini, sebagian besar memang digugurkan Dewan Pelindung, yang akhirnya memutuskan hanya ada tujuh calon yang benar-benar memenuhi kualifikasi untuk menjadi Presiden Iran.

Keputusan Dewan Pelindung juga tak selalu bersifat mutlak dan sampai batas-batas tertentu dapat digugat dan dipertanyakan. Pendaftaran capres dari kubu reformis Mostafa Moin, misalnya, sempat ditolak Dewan, tetapi kemudian dapat diterima setelah ada usaha banding dari para pendukungnya.[3]

Karena rakyat Iran, sejak 1979 sudah bersepakat untuk hidup bersama di bawah hukum dan panji-panji Islam, masuk akal apabila penjaringan para capres dilakukan dengan mempertimbangkan hukum dan peraturan-peraturan Islam, yang mungkin tak sepenuhnya dipahami oleh para kritikus Iran, termasuk Bush.

Seperti diberitakan oleh berbagai media, bahwa Presiden Amerika Serikat, George W Bush (16/6-2005), menilai pemilihan umum Iran, Jumat (17/6) jauh dari standar dasar proses demokrasi, “Rakyat Iran menghendaki sistem demokrasi yang seutuhnya di mana pemilu digelar secara jujur, tapi pemimpin mereka menjawabnya dengan sesuatu yang menjadi kebalikannya.” Pernyataan Bush ini dikuatkan oleh menteri luar negeri AS, Condoleezza Rice, “Apa yang terjadi di Iran saat ini adalah justru di mana Iran melangkah “mundur”.[4]

Terlepas dari berbagai tudingan itu, dalam pertemuan yang dihadiri beberapa ribu warga Teheran, dua hari menjelang pemilu putaran pertama, pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei menepis tuduhan George Walker Bush yang menyatakan pemilu Iran tidak demokratis dengan menyatakan:

“Dalam pemilu kali ini terdapat sejumlah capres yang mewakili kelompok-kelompok politik yang berbeda dan rakyat dapat bebas memilih calon unggulannya. Demokrasi di Iran dijalankan secara transparan. Namun, seperti juga dalam sistem demokrasi Barat, demokrasi religius di Iran juga memiliki berbagai keterbatasan, baik yang terlihat maupun tidak”.[5]

Kemudian, seusai memberikan suaranya, Kamal Kharrazi, menteri luar negeri Iran menyatakan bahwa Bush mengeluarkan komentar demikian karena tidak mengetahui apa-apa tentang Iran, “Meski sok mengajari kami soal demokrasi, Bush sama sekali tak mau tahu tentang adanya demokrasi akar rumput di Iran.” Masih menurut Kharrazi, kehadiran rakyat merupakan tanda kebesaran Revolusi Islam dan bukti nyata bahwa komentar Bush sama sekali tak berharga.[6]

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Hamid Reza Asefi juga menyatakan, kritik Bush pada Pemilu Presiden Iran sama sekali tak berdasar. Pernyataan itu dikeluarkan hanya atas dasar kebencian dan dendam. “Di Iran kami memiliki banyak capres dengan berbagai pandangan dan kecenderungan. Sementara di AS hanya ada dua calon, yakni dari Partai Demokrat dan Republik. Bush tak usah mengkhawatiri demokrasi Iran.[7]

Di bawah ini akan diuraikan betapa pemilihan umum yang bebas sangat diidamkan oleh bapak Pendiri Republik Islam Iran. Yamani menjelaskan,[8] ketika pemilu untuk menentukan bentuk negara Iran pertama setelah revolusi dilaksanakan, Ayatullah Khomeini menyerukan kepada rakyat untuk memberikan suaranya pada pemilu dengan kebebasan memilih bentuk negara, baik itu kerajaan, demokrasi, atau lainnya, meskipun Imam Khumaini tetap menyerukan kepada Republik Islam.

Ketika berbicara tentang sumber keabsahan Dewan Pembentuk Konstitusi atau Majelis Konstituante Republik Islam Iran, Ayatullah Khomeini menyatakan:

“Keabsahan Dewan Pembentuk Konstitusi diwujudkan dengan penunjukan dewan tersebut oleh rakyat. Mekanismenya adalah pemilihan umum yang dilaksanakan secara nasional. Dalam satu mekanisme, rakyat memilihnya secara langsung, dan dalam mekanisme yang lain, rakyat memilih wakil-wakil yang bertindak atas nama mereka. Mekanisme apa pun yang dipakai, hak memilih itu sejatinya ada pada rakyat itu sendiri”.

Dengan demikian, tudingan sebagian pengamat bahwa Iran tidak melaksanakan prinsip asasi demokrasi sebagai tidak berdasar, kecuali hanya bentuk apriori dan sentimen kesejarahan, agama atau kepentingan. Kendatipun tak dapat dipungkiri bahwa wali faqih, bukan saja memiliki wewenang untuk meng-approve atau tidak meng-approve calon presiden, ia sekaligus berwenang untuk memecat presiden dalam hal presiden dianggap tidak kapabel setelah mendapatkan rekomendasi Mahkamah Agung. Hal ini perlu sebagai mekanisme pengawasan agar pemerintahan tidak menjadi despotik. Namun, menurut Khomeini, Wilayah al-Faqih tak bisa menjadi diktator. Jika seorang faqih bertindak sebagai diktator, ia tak akan dapat mencapai wilayah atas orang-orang.[9] Kekuasaan wali faqih dalam hal seperti ini pernah diterapkan oleh Ayatullah Khomeini ketika ia memecat Abul Hasan Bani Sadr, presiden saat itu.[10] Namun hak yang dimilikinya itu ternyata berasal dari rakyat yang memilihnya. Rakyat Iran telah bersepakat untuk meyakini penetapan prinsip fundamental ini lewat pemilihan umum. Jika rakyat menyaksikan pelanggaran dalam penggunaan hak tersebut, mereka bisa saja mencabut dukungan atas wali faqih.

Ketegasan Khomeini mengenai hak-hak rakyat dalam memilih pemimpinnya terungkap dalam pernyataan tentang pemilihan kepala-kepala pemerintahan:

Wali faqih adalah seorang individu yang memiliki moralitas (akhlak), patriotisme, pengetahuan, dan kompetensi yang telah diakui oleh rakyat. Rakyat sendirilah yang memilih figur mana yang memenuhi kriteria semacam itu. Rakyat sendirilah, sekali lagi, yang harus mengelola urusan-urusan administratif dan bidang-bidang kerja urusan-urusan lain dalam pemerintahan mereka. Rakyat berhak memilih sendiri presiden mereka, dan memang sudah semestinya demikian. Sesuai dengan hak asasi manusia. Anda semua, rakyat, harus menentukan nasib anda sendiri. Majelis (parlemen Iran) menempati posisi tertinggi atas semua institusi lain, dan majelis ini tidak lain merupakan pelembagaan kehendak rakyat.[11]

PENGHARGAAN TERHADAP HAK-HAK ASASI MANUSIA

Gagasan yang menjunjung tinggi martabat manusia dengan mudah dapat dijumpai dalam tradisi historis, kultural, dan religius Islam. Namun konsep modern tentang hak asasi manusia (HAM) secara teoretis merupakan hal baru, bentukan abad ke-18. Karakteristik pokoknya, yakni setiap orang menikmati hak-hak dasar tertentu berdasarkan kenyataan bahwa ia adalah manusia tanpa diskriminasi atas dasar ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama atau lainnya.[12]

Konsep HAM modern itu jelas merupakan kreasi Barat. Ia lahir dari rahim modernitas Barat, ketika teori sekuler modern tentang hukum alam diterima para filsuf Zaman Pencerahan. Oleh mereka, teori hukum alam itu diperluas cakupannya, dan muncullah kesepakatan luas tentang prinsip mengenai hak-hak alamiah manusia. Didorong, antara lain, oleh Revolusi Prancis (1789-1799), Revolusi Amerika, dan berakhirnya perang dunia II (1939-1945) dengan kekalahan fasisme Jerman, Italia, dan Jepang, prinsip itu ditetapkan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1945. prinsip inilah kemudian yang dielaborasi secara lebih sistematis dalam the Universal Declaration of Human Rights (UDHR) [Deklarasi Universal tentang HAM].[13]

Berisi 30 pasal, UDHR dimulai oleh mukadimah. Pasal 1 dan 2 berisi pernyataan umum bahwa manusia mempunyai hak yang didapat sejak lahir tanpa diskriminasi atas dasar apa pun. Pasal 3-21 berbicara mengenai hak-hak individu. Pasal 22-27 berbicara mengenai hak-hak ekonomi sosial (termasuk hak untuk mendapatkan pekerjaan serta mendirikan serikat buruh, dan anak-anak memiliki hak akan keamanan sosial dan pendidikan) dan hak-hak yang bersifat kultural (termasuk hak akan kebebasan berhati nurani dan beragama, yang meliputi hak untuk pindah agama dan menjalankan agama). Tiga pasal terakhir (pasal 28-30) menegaskan kebutuhan akan sebuah kerangka kerja agar hak-hak tersebut dapat direalisasikan. Seorang individu tidak saja menikmati hak, melainkan juga mempunyai kewajiban. Siapapun harus tunduk pada beberapa restriksi legal yang diadakan untuk menjamin diakui dan dihormatinya hak-hak dan kebebasan orang lain. Tidak ada satu negara pun yang boleh bertindak dalam cara apa saja sehingga melanggar hak-hak dan kebebasan seseorang atau kelompok.[14]

Meskipun tidak mengikat secara hukum, UDHR jelas merupakan standar HAM paling penting yang diterima oleh sebuah organisasi internasional pada abad ini. dalam pemahaman dewasa ini, istilah HAM mendapat konotasi dan makna konkretnya dari UDHR yang ditetapkan pada 10 Desember 1948 itu, dan covenant yang dibuat belakangan untuk melengkapinya. Dua covenant yang paling penting dikeluarkan pada 1966 adalah International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Perjanjian Internasional mengenai Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Kultural) dan International Covenantion Civil and Political Rights (Perjanjian Internasional mengenai Hak-Hak Sipil dan Politik).[15]

Dalam rumusan HAM modern ini, masyarakat dipandang sekuler, dan agama tidak dapat dipandang sebagai tatanan yang mengikat masyarakat atau negara. Hukum dipandang sekuler dan independen dari otoritas agama tertentu. Sebuah hukum mendapat kekuatan legal dengan penerimaan manusia atasnya (legislasi), dan itu berarti tidak sakral dan terikat oleh waktu. Kompetensi agama  benar-benar hanya terletak pada pilihan bebas seseorang atasnya (pasal 18), pada keputusan keluarga (pasal 26:3), dan pilihan orang tua sehubungan dengan pendidikan anak-anak mereka. Kompetensi itu tidak berlaku pada bidang hukum, karena hukum harus ditegakkan secara pukul rata tanpa mempedulikan agama. Basis otoritas pemerintah adalah kehendak rakyat, kedaulatan manusia dan bukan sesuatu yang ilahiah.

Sebetulnya di sinilah masalahnya, tatkala kita ingin mengukur apakah Wilayah al-Faqih menjunjung tinggi HAM, atau tidak. Wilayah al-Faqih adalah konsep pemerintahan yang ditetapkan secara demokratis dan merupakan konstitusi yang diakui oleh rakyat Iran, memiliki landasan filosofis berbeda dengan konsep UDHR. Wilayah al-Faqih menjunjung tinggi syariat Islam, sementara UDHR menjunjung tinggi sekulerisme. Karenanya wajar jika Iran – sebagaimana Arab Saudi – menolak rumusan UDHR secara de jure meski tidak membatalkan ratifikasi negara itu terhadap Perjanjian Internasional mengenai Hak-Hak Sipil dan Politik. Dalam pasal 4 undang-undang dasar Iran menyatakan: “Segala jenis hukum dan peraturan… haruslah didasarkan pada kriteria Islam. Prinsip ini berlaku mutlak dan umum bagi semua pasal dan undang-undang dasar, hukum dan peraturan. Para ahli hukum Islam (fuqaha’) dalam dewan pengawas mempunyai tugas untuk mengawasi penerapannya.”

Imam Khomeini menyatakan: “Apa yang mereka katakanan sebagai HAM adalah omong kosong, tak lebih dari koleksi aturan korup yang dibuat oleh kaum zionis untuk menghancurkan seluruh agama yang benar.” [16]

Sementara itu Ayatullah Ali Khamenei yang terpilih menggantikan Imam Khomeini sebagai rahbar (pemimpin revolusioner) menegaskan: “Ketika kita ingin tahu apa yang benar dan apa yang salah, kita tidak pergi ke PBB; kita merujuk pada Alquran … Bagi kita UDHR tidak lebih dari kumpulan omong kosong yang dibuat oleh murid-murid setan.” [17]

Bahkan pemerintah Iran curiga terhadap organisasi pemantau HAM, seperti Amnesti Internasional. Pada 1981, Imam Khomeini berkata: [18]

“Hati-hatilah! Segala unsur kekuatan setan dan sekutunya, seperti Amnesti Internasional dan organisasi lainnya, telah bersatu untuk menghancurkan Republik Islam kita dan tidak mengizinkannya untuk tumbuh dan berkembang… Kita tahu bahwa Amnesti Internasional yang minta izin datang ke Iran dan memeriksa apa yang terjadi di sini, sebenarnya membawa misi untuk datang dan mengecam negara kita. Mereka bersatu untuk menghancurkan gerakan Islam kita, yang tidak lain berarti menghancurkan Islam.”

Kendati demikian, Catatan menyangkut perlakuan Republik Islam terhadap golongan minoritas agama dijelaskan pada Bab I Pasal 13 :

“Rakyat Iran pemeluk agama Zoroaster, Yahudi, dan Kristen merupakan golongan minoritas yang diakui dan bebas melakukan ritus-ritus keagamaan mereka, dan bertindak menurut hukum agamanya sepanjang menyangkut ajaran-ajaran agama dan status pribadinya.” (UUD RII Pasal 13)

Begitu pula terhadap hak-hak umum masyarakat, konstitusi Iran telah memberikan jaminan yang jelas. Dalam Bab III, di bawah judul Hak-hak Sipil, konstitusi Iran menegaskan persamaan hak diantara warga Negara Iran tanpa memandang suku, etnik, bahasa, bangsa, dan lainnya :

“Semua rakyat Iran, baik dari suku dan bangsa apa pun, akan menikmati hak-hak yang sama dan perbedaan warna kulit, ras, bahasa dan sebangsanya, tidak akan dianggap sebagai hak istimewa.” (UUD RII Pasal 19)

Sebagai jaminan atas hak-hak hukum, sosial, politik, ekonomi, undang-undang menyebutkan :

“Seluruh rakyat, baik laki-laki maupun perempuan akan mendapat perlindungan hukum yang sama, dan akan menikmati semua hak asasi manusia, dalam politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan sesuai dengan ajaran Islam” (UUD RII Pasal 20)

“Prestise, kehidupan, harta kekayaan, dan hak-hak rayat, serta tempat tinggal dan penghuninya bagi setiap individu akan dijamin oleh hukum, jika tidak dianggap sebaliknya oleh hukum.” (UUD RII Pasal 22).

Adapun tentang kaum wanita ditegaskan akan hak-haknya:

“Pemerintah wajib menjamin hak-hak kaum wanita; dengan tetap memperhatikan patokan Islam, pemerintah harus melaksanakan hal-hal berikut ini :

  1. Menciptakan lingkungan yang sehat demi pertumbuhan kepribadian wanita dan demi menghidupkan kembali status jasmani dan rohani mereka.
  2. Membantu para ibu, terutama ketika mengandung,  memberikan perlindungan dan bantuan untuk anak-anak yatim.
  3. Menciptakan pengadilan yang kompeten untuk melindungi anggota keluarga.
  4. Membuat asuransi khusus untuk parajanda, wanita jompo, dan wanita yang tidak punya wali.
  5. Memberi kedudukan wali bagi para ibu yang mampu terhadap anak-anak jika anak-anak itu tidak memiliki wali yang sah. (UUD RII Pasal 21)

Kemudian, salah seorang pemimpin revolusi terkemuka, Bani-Sadr, menyatakan bahwa setiap kelompok harus mendapatkan hak yang dijamin oleh Undang-Undang: “Menghargai identitas dan hak-hak suatu kelompok sebagaimana identitas dan hak-hak kelompoknya, adalah ide Islam”, dia mengklaim, “karena itu, kita tidak perlu bertengkar dengan orang-orang yang mengatakan; hak kami adalah milik kami.”[19]

Konstitusi Iran dalam hal ini menjamin hak kaum minoritas untuk mengikuti aturan perilaku domestik mereka sepanjang dalam kehidupan publik mereka berkelakuan sesuai dengan norma-norma Islam. Konstitusi juga menjamin “kesamaan hak”, tidak saja bagi setiap kelompok etnik atau suku, tetapi juga bagi “rakyat Iran penganut Zoroastrian, Yahudi dan Kristen” sebagai “minoritas yang diakui’.

Meskipun komunitas Yahudi telah menciut jumlahnya sehingga separo dari populasi sebelum revolusi akibat arus migrasi dan dampak buruk pada masa-masa sulit pada tahun-tahun awal setelah revolusi, secara umum, orang-orang Yahudi mampu mempraktikkan agama mereka secara bijaksana dan menjalankan fungsi mereka di tengah masyarakat. Di bawah Rafsanjani, orang-orang Yahudi diberi visa exit-ganda dan televisi Teheran untuk pertama kalinya sejak revolusi menyiarkan upacara Seder pada perayaan Paskah. Gereja-gereja Kristen juga dapat mempraktikkan keyakinan mereka dan menjalankan fungsi mereka dalam masyarakat, meskipun dilarang menyebarluaskannya di tengah kaum Muslim.[20]

Namun menurut John L. Esposito dan John O. Voll, meskipun ada jaminan undang-undang dan kemampuan umum untuk hidup dan berfungsi di tengah masyarakat, golongan minoritas etnik dan agama kadang-kadang mendapati bahwa kehidupan mereka sulit, jika tidak dapat dikatakan membahayakan. Keduanya mencatat, toleransi agama dari rezim itu sering naik-turun, yang mencerminkan situasi politik dalam negeri dan pertarungan antara ideolog pragmatis dan ideolog militan. Golongan minoritas agama diwajibkan menaati pelarangan minum alkohol dan pemisahan jenis kelamin dalam fungsi-fungsi publik. Mengajak orang-orang Muslim untuk mengikuti agama mereka, dan murtad merupakan pelanggaran besar. Semua ini merupakan contoh-contoh penganiayaan agama, meskipun masih diperdebatkan sejauh mana hal itu dilakukan dan apa alasannya.[21]

Terlepas dari keraguan kedua penulis tersebut, yang pasti konstitusi Iran telah memberikan perlindungan atas hak warga negara sebagai salah satu persyaratan negara demokratis. Namun kebebasan tersebut harus sesuai dengan konstitusi Iran. Sama halnya dengan kebebasan yang diberikan oleh negara demokratis liberal lain, liberalisme kentara sekali dalam menafsirkan kebebasan yang mereka persepsikan. Sebut saja Prancis atau Inggris sebagai negara yang diamini masyarakat dunia sebagai negara demokratis, tetap saja memberlakukan undang-undang yang melarang umat Islam mengenakan jilbab di sekolah-sekolah milik pemerintah, padahal pelarangan itu bertentangan dengan hak asasi umat Islam untuk menjalankan perintah agamanya, bahkan bertentangan dengan liberalisme itu sendiri.

Jika yang dinilai adalah “penerapan undang-undang”, maka akan sedikit sekali negara atau boleh jadi tidak ada yang lolos dari “seleksi” pelaksanaan undang-undang secara paripurna dan tanpa cacat. Bukti di atas menjelaskan hal itu, dan diskriminasi atas suku aborigin yang terjadi di Amerika Serikat bukan merupakan rahasia umum, padahal negara ini mengaku sebagai pejuang demokrasi.

KEBEBASAN BERSERIKAT DAN BERPENDAPAT

Revolusi menawarkan sebuah janji. Otoriterisme politik dan korupsi sosial yang dijalankan kerajaan Pahlevi akan dihancurkan dan diganti dengan Republik Islam yang merdeka, yang akan mewujudkan suatu masyarakat yang lebih demokratis dan berkeadilan sosial. Revolusi menjanjikan kebebasan dari kelaliman pemerintahan otokrasi Syah, yang dilambangkan oleh SAVAK dan penjara Evin di Teheran. Pemerintahan Syah telah dikecam oleh para kritikusnya karena tindakan penindasan dan pelanggaran atas hak-hak asasi manusia, sensor ketat, pelarangan partai-partai politik, penangkapan, penahanan, penyiksaan, eksekusi dan pembunuhan terhadap para anggota oposisi serta terciptanya suatu masyarakat yang di dalamnya nasib pribadi dan karier profesional individu bergantung pada belas kasih raja. Para kritikus itu menuntut partisipasi politik, kebebasan asasi untuk berbicara, bermusyawarah, berserikat, dan pers yang bebas.[22] Kebebasan berserikat dan berkumpul diatur dalam Bab III Pasal 26 dan 27 konstitusi Iran menyatakan:

“Partai, perserikatan, kelompok politik dan serikat buruh serta masyarakat minoritas Islam dan yang diakui akan bebas, dengan syarat mereka tidak melanggar asas-asas kemerdekaan, kebebasan, persatuan nasional, dan prinsip Islam serta dasar Republik Islam. Tidak seorang pun akan dilarang atau dipaksa untuk mengikuti mereka.” (UUD RII Pasal 26)

“Rapat umum dan pawai akan bebas, asalkan mereka tidak bersenjata dan tidak merusak dasar-dasar Islam.” (UUD RII Pasal 27)

Jaminan konstitusi ini memberi dampak positif bagi perkembangan organisasi massa atau organisasi politik di Iran. Riza Sihbudi mencatat, secara garis besar, organisasi-organisasi politik di Iran pasca-revolusi dapat dikategorikan menjadi empat kelompok, yaitu:[23]

  1. Kelompok Islam, terdiri dari dua partai besar: Partai Republik Islam (Hezb-e Jomhori-e Islami) dan Partai Republik Rakyat Muslim (Hezb-e Jomhori-e Khalq-e Mosalman).
  2. Kelompok nasionalis. Dalam kelompok ini sekurang-kurangnya ada empat organisasi politik, yaitu Front Nasional (Jebhe-e Melli); Gerakan Pembebasan Iran (Nehzat-e Azadi-e Iran atau the Liberation Movement of Iran); Front Demokrasi Nasional (Jebhe-e Democratic e-Melli); dan sebut saja “kelompok Bani Sadr”.
  3. Kelompok kiri/Marxis. Dalam kelompok ini sekurang-kurangnya ada tiga organisasi yang cukup dikenal, yaitu Partai “Massa” (Hezb-e Tudeh), Organisasi Pejuang Rakyat Iran (Sazeman-e Mojahedin-e Khalq-e Iran, dan Organisasi Gerilya Pejuang Rakyat Iran (Sazeman-e Cherkiha-ye Fedayen-e Khalq-e Iran).
  4. Kelompok royalis. Dalam kelompok royalis (monarkis) terdapat nama-nama keluarga mendiang (bekas Syah) Reza Pahlevi seperti Farah Pahlevi, Putri Azadeh, putri Ashraf (saudara bekas Syah), dan Reza Pahlevi II (bekas putra mahkota) dan lain-lain.

Sejak awal berdirinya Republik Islam Iran, betapapun kharismatis dan berkuasanya Khomeini, berbagai fraksi ramai bersaing untuk meraih kekuasaan, dan dengan demikian, toleransi pemerintah terhadap pluralisme serta perbedaan pendapat diuji. Meskipun kepemimpinan di Iran tetap setia pada revolusi, perbedaan pendapat dan kebijakan yang penting berlangsung di antara fraksi-fraksi yang bersaing menyangkut isu kebijakan dalam negeri dan luar negeri seperti land reform, nasionalisasi, penyebaran revolusi keluar negeri, dan berhubungan dengan Barat. Bahkan Partai Republik Islam yang didominasi para ulama itu bubar pada 1987 akibat timbulnya pertikaian-pertikaian fraksi.[24]

Selain itu, kendati parlemen dan pemerintah dikuasai oleh partai yang sama, namun tidak berarti kehadiran Majelis hanya sebagai “pelengkap”. Bahkan di bawah kepemimpinan Rafsanjani (1984), Majelis berhasil tampil sebagai lembaga politik paling berpengaruh sesudah lembaga Wilayah al-Faqih. Majelis tidak segan-segan mengecam kebijaksanaan pemerintah.[25] Perbedaan yang tajam antara Mejelis dan pemerintah sering kali muncul pada saat pengangkatan anggota kabinet. Pada 1981 dan 2005, misalnya, usulan Presiden Ali Khamenei  dan Mahmoud Ahmadinejad ditolak oleh Majelis.[26]

Ahmad Khumaini, anak Imam Khumaini, menyebutkan bahwa munculnya pendapat yang berbeda dalam kekuatan yang tunduk pada pemerintahan dan prinsip-prinsip revolusi merupakan hal yang wajar dan biasa, serta tidak akan mebahayakan posisi pemerintahan dan stabilitas Negara. Bahkan, baginya, hal itu akan menumbuhkan pemikiran yang sehat dalam pemaparan-pemaparan pendapat yang saling mengisi dalam memahami atau menginterpretasikan undang-undang, dengan syarat tetap berpijak pada kebenaran dan batasan-batasan yang jelas dalam prinsip-prinsip Islam dan konstitusi resmi.[27]

Lebih lanjut, ia menegaskan, pemaparan pendapat yang berbeda, tentang bagaimana cara mengurusi masyarakat serta mengatasi problematika politik dan ekonomi, disamping dapat meningkatkan kesadaran publik, juga sangat berpengaruh dan bermanfaat untuk mendeteksi hal-hal yang negative dan positif dari kebijakan Negara serta kemudian memperbaikinya.[28]

KEBEBASAN PERS

“Dalam media massa (radio dan televisi) kebebasan publisitas dan propaganda akan dijamin menurut ajaran Islam. Media massa tersebut akan berada di bawah pengawasan tiga kekuasaan: Kehakiman (Dewan Kehakiman Agung), legislatif dan eksekutif. (UUD RII Pasal 175)

Kebebasan pers, merupakan salah satu penopang penting bagi Negara yang demokratis. Kehidupan masyarakat industri ditandai dengan semacam sistem kontrol dari rakyat berupa pers atau opini publik. Opini publik ini diwujudkan di dalam pers, maka pers harus diberikan kebebasan seluas-luasnya. Semua negara mengakui kebebasan pers. Kata “bebas” harus disebut karena merupakan prinsip yang disepakati sebagai salah satu ciri demokrasi itu.[29]

Iran dengan Wilayah al-Faqih-nya sebagaimana berlaku dalam negara demokratis mana pun di dunia ini menganut kebebasan pers asal bertanggung jawab dan tidak membahayakan dasar-dasar Islam dan keselamatan negara. Bab III Pasal 24 dan 25 Konstitusi Iran menyatakan:

“Pers dan publikasi mempunyai kebebasan untuk menulis asalkan tidak membahayakan dasar-dasar Islam atau hak-hak rakyat. Hukum akan menentukan tentang penerapan hak ini.” (UUD RII Pasal 24)

“Menyensor surat atau tidak menyampaikan, menyadap telepon dan membuka pembicaraan telepon, membuka telegram dan telex, menyensor atau tidak menyampaikan atau tidak mengirimkan pesan, mendengar-dengar atau bertanya tentang urusan orang lain akan dilarang, jika tidak dianggap sebaliknya oleh undang-undang.” (UUD RII Pasal 25)

Pernyataan “jika tidak dianggap sebaliknya oleh undang-undang” mengindikasikan bahwa betapapun kebebasan yang diberikan untuk mengakses informasi dan berekspresi tetap saja dibatasi oleh undang-undang. Sebab kebebasan berekspresi dapat saja membahayakan negara, dan transparansi dalam segala hal merupakan sebuah proses yang sulit dan kompleks dan membutuhkan keseimbangan yang hati-hati antar kepemimpinan yang saling bertentangan.

Di satu sisi, sebuah pemerintahan terbuka adalah yang memiliki nilai-nilai pertanggungjawaban dan partisipasi yang demokratis. Namun, pada sisi yang lain pemerintahan yang terbuka sering membutuhkan kost yang besar, karena transparansi mesti mengorbankan sejumlah kepentingan yang sah atau efisiensi di pemerintahan, serta dapat merusak nilai-nilai sosial yang baik seperti perlindungan terhadap privasi seseorang, keamanan nasional dan penegakan hukum. Rodney A. Smolla menyatakan, pemerintahan-pemerintahan demokratis seharusnya terbuka dan transparan, namun dalam situasi dan kondisi tertentu membutuhkan upaya rahasia atau diam-diam agar dapat berfungsi secara tepat. [30] Karenanya, masih menurut Smolla, Amerika, sebagai kanfium demokrasi, tetap saja memberikan batasan atas kebebasan informasi dan berekspresi tersebut.[31]

Menarik ungkapan yang dikemukakan oleh John Esposito dan John O. Voll, sebagaimana dikutip oleh Yamani:[32]

“…. ideologi dan tuntutan islami dari negara itu berimplikasi pada kontrol negara atas pers dan media massa, serta penerapan aturan yang menetapkan minuman, pakaian (bagi kaum wanita dan pria), dan ibadah. Namun, bahkan di sini, pers, sebagaimana parlemen Iran, sangat beraneka ragam dan, dalam batas-batas tertentu, bersikap kritis sejak soal kepemimpinan dan land reform hingga pendidikan, perdagangan dengan Barat, dan kedudukan kaum perempuan.”

Kriteria tunggal untuk menentukan ‘harus’ dan ‘jangan’, ‘baik’ dan ‘buruk’, serta ‘nilai’ dan ‘non-nilai’, yang dalam bahasa filsafat disebut ‘hasan’ dan ‘qabah’ adalah apakah sesuatu itu selaras atau tidak selaras dengan kesempurnaan tertinggi manusia dan kedekatan kepada Allah swt. Kebebasan pers dan media massa dapat ditimbang  dari prinsip aturan yang sama. Jika berperan efektif bagi kesempurnaan manusia dan kedekatannya kepada Allah swt, maka pers dan media massa menjadi ihwal yang diinginkan dan menghasilkan nilai positif. Namun, jika menyebabkan keterpisahan manusia dari Tuhan dan menjauh dari kesempurnaan, maka semua itu akan dianggap sebagai hal yang bertentangan dengan nilai dan banyak kasus, menjadi wajib bagi pemerintah untuk mencegahnya.[33]

KEBEBASAN BUDAYA DI IRAN

Program kebudayaan merupakan salah satu elemen penting dalam Republik Islam Iran. Jika masa Syah Pahlevi, kebudayaan Barat menjadi acuan resmi negara, maka berlawanan dengan hal itu, pasca revolusi kebudayaan Islam menjadi landasan akurat bagi kebijakan negara. Ayatullah al-Uzhma Ali Khamenei, yang merupakan wali faqih dan rahbar sejak meninggalnya Imam Khumaini, menegaskan bahwa saat ini telah terjadi perang kebudayaan (al-ghazwu al-Tsaqafah) di Iran, di mana kekuatan politik dan ekonomi Barat berusaha mempengaruhi dan meneror secara halus terhadap unsur-unsur dan prinsip-prinsip dasar kebudayaan Islam.[34]

Perang kebudayaan ini, menurut Imam Khamenei, menghendaki generasi baru Iran melucuti keyakinan dirinya dengan tiga cara. Pertama, menggoyang keyakinan mereka terhadap agamanya. Kedua, memutuskan hubungan mereka dari keyakinan terhadap prinsip-prinsip revolusi Islam. Ketiga, menjauhkan mereka dari pemikiran efektif yang mampu menghasilkan kekuatan besar yang berwibawa seraya menggiring mereka untuk merasakan keadaan yang diliputi ketakutan dan ancaman.[35]

Perang kebudayaan ini dilakukan berdasarkan dua pilar yang harus diperhatikan secara seksama, yaitu :

  1. Menggantikan budaya setempat (lokal) dengan budaya asing. Praktek ini dalam kenyataannya melanjutkan praktek politik yang dilakukan di masa Pahlevi.
  2. Melakukan serangan budaya terhadap nilai-nilai yang menyangga Republik Islam dan bangsanya dengan berbagai cara dan sarana, diantaranya, mengimpor film-film dan drama picisan berseri produksi asing serta penyebaran buku-buku dan majalah yang ditulis berdasarkan arahan pihak asing.[36]

Untuk mengimplementasikan dan menjaga kebudayaan Islam, terutama saat berhubungan dengan kebudayaan-kebudayaan dari negara-negara lainnya, Rahbar melalui Menteri Kebudayaan dan Petunjuk Islami Iran, membentuk Organisasi Islam Kebudayaan dan Hubungan Internasional (Islamic Culture and Relations Organization).

Dalam Anggaran Dasarnya (AD) pada pasal 2, organisasi ini bertujuan untuk :

  1. Menghidupkan dan menyebarluaskan pemikiran dan pengetahuan islami di dunia dengan tujuan membangun kesadaran umat Islam dan menyampaikan pesan Islam ke seluruh dunia.
  2. Menyampaikan informasi tentang berbagai sumber, tujuan dan posisi Revolusi Islam dan menjelaskan kedudukannya bagi masyarakat dunia.
  3. Memperluas perayaan budaya dengan berbagai negara dan kaum dunia terutama dengan umat Islam dan kaum mustadh’afin.
  4. Memperkuat dan menyesuaikan perayaan budaya Republik Islam Iran dengan berbagai negara lain dan organisasi budaya lainnya.
  5. Memperkenalkan budaya dan peradaban Iran, karakter budaya, geografi dan sejarahnya dengan benar.
  6. Menyediakan sarana persatuan di kalangan kaum muslimin dan mendirikan satu barisan berdasarkan prinsip ajaran Islam.
  7. Pertarungan pemikiran dengan budaya anti agama, anti Islam, anti Revolusi dan menyadarkan kaum muslimin tentang teror pecah belah musuh serta membela hak-hak kaum muslimin.
  8. Menumbuhkan, meningkatkan dan memperbaiki kondisi budaya, tabligh, politik, ekonomi dan sosial kaum muslimin khususnya bagi para pengikut Ahli Bait as di seluruh dunia.

Sedangkan pada pasal 3, menyebutkan tugas-tugas organisasi sebagai beikut :

  1. Menentukan kebijakan, manajemen, petunjuk, pengawasan dan koordinasi:
    1. Menentukan kebijakan dan koordinasi semua aktivitas budaya-tabligh di luar negeri.
    2. Menunjuki, mengawasi dan melindungi aktivitas budaya organisasi swasta di luar negeri.
    3. Mengawasi kualitas pelaksanaan perjanjian dan pertukaran budaya, seni dan tabligh dengan negara-negara lainnya.
    4. Memberi petunjuk dan membantu secara materi atau maknawi kepada berbagai tokoh, organisasi, asosiasi Islam asosiasi penduduk di luar negeri serta mengawasi aktivitas mereka.
    5. Memanajemen program budaya dan tabligh untuk warga Iran dan mereka yang berada di luar negeri dan berminat dengan budaya dan peradaban Islam Iran.
    6. Membuat peraturan dan hukum yang mengawasi penyediaan dan penerbitan buku, majalah dan produk budaya-tabligh lainnya untuk luar negri dan mengawasi kualitas pelaksanaannya.

b.   Aktivitas studi dan penelitian

  1. Studi dan analisa dengan tujuan mengenali berbagai metode yang sesuai dalam rangka memperkenalkan ilmu, makrifah, budaya dan peradaban Islam dan Iran.
  2. Melakukan studi dan penelitian budaya internasional dan membantu para peneliti Islam khususnya dalam pengetahuan tentang agama, mazhab, budaya negara dan struktur alur pemikiran berbagai masyarakat.
  3. Mengenali berbagai masyarakat, organisasi dan tokoh-tokoh budaya serta mazhab dunia terutama di negara-negara Islam.

c.    Pelaksanaan.

  1. Menciptakan sarana dan koordinasi untuk membuat perjanjian yang dibutuhkan dalam rangka tukar menukar kebudayaan, ilmiah, pendidikan, seni, film layar lebar, pariwisata, berita, media informasi, olahraga dan pertolongan. Jika perlu, mengikuti pertemua dengan berbagai organisasi budaya kawasan dan internasional bekerjasama dengan unit-unit pelaksana yang terkait.
  2. Melakukan kerjasama budaya dan tabligh dengan berbagai pusat Islam dan budaya negara-negara lain dan berbagai organisasi lokal dan internasional.
  3. Membantu menciptakan dan menyebarluaskan aktivitas berbagai pesantren dan universitas di luar negeri.
  4. Menciptakan, memperluas dan memanejeman urusan berbagai perwakilan budaya Iran dan berbagai pusat Islam dan budaya yang terikat dengan Republik Islam Iran di luar negeri dan menentukan perwakilan budaya dan tabligh serta mengawasi pelaksanaan kewajiban mereka.
  5. Memilih, mendidik, memperluas dan mengirimkan muballigh dan guru agama ke luar negeri.
  6. Memperluas bahasa dan sastra Persia serta memperkuat kedudukannya.
  7. Menulis, menerjemah dan menerbitkan berbagai buku dan majalah yang sesuai dengan tujuan memperkenalkan ilmu, makrifah, budaya dan peradaban Islam dan Iran serta pertukaran budaya dengan negara-negara lainnya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kebebasan budaya di Iran sangat mempertimbangkan nasionalisme dan terutama nilai-nilai syariat Islam.


[1] Yamani. Antara Al-Farabi dan Khumaini: Filsafat Politik Islam. (Bandung: Mizan, 2002), h. 129.

[2] Yamani. Antara, h. 129.

[3] Yamani. Antara, h. 129.

[4]Bush Mencela Pemilu Iran”, dalam Harian Republika, (18 Juni 2005), h. 4.

[5] Muliana Karim, Presiden Bush dan Demokrasi Religius ala Iran, dalam Harian Kompas (22 Juni 2005), h. 40.

[6] Muliana Karim. Presiden, h. 40.

[7] Muliana Karim. Presiden, h. 40.

[8] Yamani. Antara, h. 136.

[9] Yamani. Antara, h. 142

[10] Yamani. Antara, h. 142.

[11] Yamani. Antara, h. 136-137.

[12] Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 161, dan lihat juga David Litle. et. al Kebebasan Agama dan Hak-hak Asasi Manusia.(Yogyakarta: Pustaka Pelajar dan Academia, 1997), h. xiii

[13] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 161.

[14] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 161.

[15] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 161.

[16] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 166.

[17] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 166.

[18] Taufik Abdullah. et.al. Ensiklopedi, h. 166.

[19] Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi, h. 214-215.

[20] John L. Esposito dan John O. Voll. Demokrasi di Negara-negara Muslim. (Bandung: Mizan), h. 94.

[21] John L. Esposito dan John O. Voll. Demokrasi, h. 94.

[22] John L. Esposito dan John O. Voll. Demokrasi, h. 90. Tentang kebebasan berpendapat ini juga dapat ditelaah dari perbincangan yang alot antara Sourosy dengan Murtadha Muthahhari saat penetapan nama Republik Islam Iran. Murthadha Muthahhari. Kebebasan, h. 3-130.

[23] Riza Sihbudi. Biografi Politik Imam Khomeini. (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), h. 90-101.

[24] Yamani. Antara, h. 148.

[25] Riza Sihbudi. Biografi, h. 87

[26] Riza Sihbudi. Biografi, h. 89-90.

[27] Ahmad Khumaini. Imam Khomaini. (Bogor: Cahaya, 2004),  h.423-424.

[28] Ahmad Khumaini. Imam, h. 424.

[29] Jalaluddin Rakhmat. Pemikiran Politik Islam dari Nabi Saw. Via Al-Farabi hingga Ayatullah Khomeini (Sebuah Pengantar), dalam Yamani. Antara, h. 21-22.

[30] Rodney A. Smolla. Hak Masyarakat Untuk Tahu: Transparansi Dalam Lembaga-Lembaga Pemerintahan, dalam Jurnal Demokrasi, Office of International, h. 65.

[31] Hal-hal yang tidak dapat diakses dalam konstitusi Amerika menurut Rodney A. Smolla adalah: [1] rahasia keamanan nasional yang berhubungan dengan pertahanan nasional atau kebijakan luar negeri; [2] materi yang berhubungan semata-mata dengan aturan-aturan personel dan praktik internal sebuah badan pemerintah; [3] materi yang secara khusus dikecualikan dari pembukaan informasi berdasarkan undang-undang federal lainnya; [4] rahasia perdagangan dan komersial atau informasi keuangan yang mendapatkan hak istimewa atau dirahasiakan; [5] memorandum antar atau di dalam badan pemerintah atau surat-menyurat yang menurut undang-undang tidak akan bisa tersedia untuk pihak lain selain badan itu dalam proses berperkara melawan badan itu; [6] berkas pribadi dan kesehatan serta arsip-arsip semacamnya jelas-jelas merupakan pelanggaran terhadap privasi pribadi; [7] arsip atau informasi yang dikumpulkan untuk tujuan-tujuan penegakan hukum, di mana pada titik tertentu keluarnya arsip-arsip atau informasi tersebut memungkinkan terjadinya gangguan terhadap upaya penegakan hukum [8] materi yang berhubungan dengan pemeriksaan dan peraturan perbankan; [9] informasi geologi dan geofisik termasuk peta-peta yang berhubungan dengan sumur minyak.  Lihat Rodney A. Smolla. Hak, h. 65.

[32] Yamani. Antara, h. 147-148.

[33] Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Freedom: Bebas Terpaksa atau Terpaksa Bebas. (Jakarta: Al-Huda, 2006), h. 74.

[34] Imam Ali Khamenei. Perang Kebudayaan (Jakarta: Cahaya, 2005), h. 15.

[35] Imam Ali Khamenei. Perang, h. 16.

[36] Imam Ali Khamenei. Perang, h. 16-17.

Syi’ah Imamiyah Menghormati Wanita, kami bukan pemerkosa TKW

Feminisme di Mata Presiden Iran

Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad menyerukan perempuan di dunia Islam untuk menyusun sebuah program bagi memulihkan hak-hak manusia secara umum dan perempuan secara khusus.Selama pertemuan tingkat menteri Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada hari Ahad (19/12) di Tehran, Ahmadinejad meminta perumusan Peta Jalan untuk merevitalisasi hak asasi manusia (HAM), terutama hak-hak perempuan.

“Para elit dan intelektual dari negara-negara lain juga perlu bergabung untuk menyusun konsep tersebut,” kata Ahmadinejad.

Pertemuan tiga hari di Tehran tentang “Perempuan, Keluarga dan Ekonomi” berusaha untuk menemukan mekanisme peningkatan partisipasi konstruktif kaum perempuan dalam beragam kegiatan sosial, ekonomi, politik dan budaya dan memberi mereka kemandirian finansial dan sosial yang lebih besar.

Delegasi lebih dari 30 negara juga akan bertukar pandangan tentang bagaimana mengurangi dampak masalah finansial bagi perempuan dan memberi mereka peran yang lebih aktif dalam perekonomian.

Ahmadinejad menyebut feminisme sebagai jeritan protes dari perempuan yang hancur dalam sistem Kapitalis. Ditambahkannya, ekonomi harus melayani kepentingan manusia, keluarga dan masyarakat dan bukan sebaliknya.

Seraya menilai negara-negara anggota OKI sebagai unsur penting dan pemberi kebahagiaan masyarakat, Ahmadinejad menuturkan, peran utama perempuan dapat didefinisikan dalam tiga aspek yaitu mencurahkan kasih sayang, menciptakan ketenangan, dan memberi bimbingan dan pengajaran.

“Keluarga merupakan pilar utama masyarakat. Kebahagiaan, kemajuan dan kesempurnaan masyarakat terletak pada kebahagiaan keluarga. Sebuah keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang merupakan titik utama gerakan masyarakat ke arah kesempurnaan. Oleh karena itu manajemen keluarga termasuk ranah manajemen yang paling kompleks dan peran perempuan dalam bidang ini tidak bisa ditandingi dan tokoh-tokoh dunia adalah hasil dari bimbingan perempuan yang berjiwa besar,” jelas Ahmadinejad.

semestinya…kita bertanya apakah siap hidup serasi dengan kaum pria—

hidup yang didasarkan pada saling menghargai perbedaan masing-masing,

namun juga saling mengakui betapa kita saling membutuhkan dan saling menginginkan.”

(Danielle Crittenden, 2002: 238)

Wanita dijajah pria sejak dulu”, begitu salah satu bait syair lagu yang popular di Indonesia. Syair ini menyadarkan kita bahwa eksploitasi wanita telah berjalan sistematis dari masa ke masa. Uniknya eksploitasi ini muncul dalam beragam bentuk yang terkadang tidak disadari oleh wanita itu sendiri. Jika, wanita masa Ibu Kartini, dipaksa menjual harga dirinya kepada Belanda, wanita kini dengan rela menjual segalanya demi uang sekian juta. Jika, Ibu Kartini di zaman Belanda berusaha menyadarkan wanita dari kebodohan dan penjajahan, maka ‘Kartini’ sekarang mesti menyadarkan wanita bahwa dirinya lebih mulai daripada uang sekian juta.

Jika dahulu kala, wanita disimpan sebagai untuk memuaskan pria, kini ia dipajang dalam iklan untuk memuluskan komoditas yang dipasarkan, bahkan tak jarang wanita itu sendiri telah menjadi komoditas yang diperdagangkan. Bukankah mobil mulus akan terlihat lebih indah jika diduduki wanita mulus? Bukankah rokok akan lebih laris jika dijajakan oleh wanita yang menantang? Tidakkah minuman akan lebih menarik jika memperlihatkan sedotan wanita? Begitulah, dengan kemasan yang apik, para pencipta citra dan pelaku bisnis memanfaatkannya dan mempublikasikan sederetan istilah untuk mempengaruhi persepsi manusia, khususnya wanita. Istilah ‘menarik’, ‘cantik’, ‘anak gaul’, ‘gengsi’, ‘gokil’, dan seabrek lainnya, menjadi trend perkembangan zaman dan pergaulan, sehingga, kita seolah terasing jika tidak ikut dalam arus itu. Hasilnya, jiwa materialisme, konsumerisme, dan hedonisme menjadi kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan.

Secara cermat, kita melihat bahwa eksploitasi terhadap wanita diterapkan secara dalam dan sitematis baik dengan kajian teoritis maupun budaya yang praktis. Secara teoritis, doktrin-doktrin agama ditafsirkan sedemikian rupa oleh sekelompok orang untuk mendudukan posisi wanita di bawah kendali laki-laki. Sederet teks-teks sakral dikumpulkan untuk membuktikan bahwa pesan-pesan Tuhan memang memihak laki-laki dan menempatkan perempuan sebagai makhluk yang harus diwaspadai, dimarahi, dan dijadikan abdi laki-laki. Adapun secara ilmiah, para ilmuwan menciptakan sekumpulan teori yang mendukung mitos-mitos tentang perempuan, seperti perempuan itu rendah akalnya, misterius sifatnya, ditakdirkan untuk mengabdi pada laki-laki, dan tidak kuat fisiknya.

Untuk menghapus semua kesan hina ini, memancarlah semangat mendunia yang menghembuskan isu kesetaraan gender atau emansipasi. Suara-suara yang saling sambung antar generasi ke generasi memberikan andil bagi pembentukan opini dunia terhadap peran dan kedudukan wanita dalam seluruh struktur kehidupan manusia, baik agama, budaya, sosial, ekonomi, maupun politik. Tak urung, sebagai realisasi ide tersebut telah terbentuk gerakan sejagat untuk mengangkat harkat dan martabat wanita yang sepanjang hayat keberadaanya selalu tertindas sebagai makhluk setengah jadi  dan warga kelas dua di bumi ini.

Terlebih lagi, abad modern belakangan ini dianggap sebagai abad kesadaran untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara pria dan wanita. Ramalan John Naisbitt dan Patricia Aburdene dalam buku Megatrend 2000 tampaknya benar, bahwa wanita akan mengambil semua peran dalam berbagai lini kehidupan. Karenanya perbincangan tentang wanita telah menjadi bagian dari kajian filsafat, sains, bahkan agama. Corak pandangan berkembang, mulai dari yang menghinakan hingga yang memuliakan.

Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa pria dan wanita adalah berbeda. Banyak penelitian dan buku ditulis untuk membuktikannya. Perbedaan itu tidak hanya menyangkut jenis kelamin saja, tetapi juga faktor-faktor lain yang melekat pada keduanya. Namun, perbedaan tersebut bukanlah ingin menunjukkan kekurangan dan ketidaksempurnaan pada salah satunya, tetapi sebaliknya, itu merupakan hikmah penciptaan dan karya utama alam dalam menjaga keseimbangan dan hubungan timbal balik antara pria dan wanita, yang dalam ungkapan Danielle Crittenden, ‘semestinya…kita bertanya apakah siap hidup serasi dengan kaum pria—hidup yang didasarkan pada saling menghargai perbedaan masing-masing, namun juga saling mengakui betapa kita saling membutuhkan dan saling menginginkan.” (Crittenden, 2002: 238)

Tidak ada manusia yang meminta dirinya menjadi pria atau wanita. Jenis kelamin, merupakan ketetapan ilahiah yang bekerja dengan sistem keadilan dan kebijaksanaan Tuhan. Karenanya, Tuhan Sang Pencipta, tidak mempersoalkan manusia dari sisi fisikal ini, melainkan lebih melihat inti keberadaan manusia sebagai makhluk yang berakal dan memiliki sisi ruhaniah yang suci. Kesempurnaan manusia, tidaklah dipandang dari sudut biologis dan anatomi tubuhnya, melainkan dari psikologis dan konstruksi ruhaninya.

Dengan demikian, wanita memiliki andil setara dengan pria dalam menggapai kesempurnaan diri dari seluruh aspeknya, karena ruhani manusia tidak memiliki label jenis kelamin. Artinya, hakikat kemanusiaan bukanlah pria dan bukan pula wanita. Melainkan, sejauh mana aktualisasi potensi kemanusiaanlah yang menjadi ukuran derajat manusia di sisi Sang Pencipta. Sudah mafhum secara umum, bahwa secara normative Kitab Suci  banyak membicarakan wanita-wanita mulia yang melebihi kaum Adam. Kita mengenal Maryam Ibunda Nabi Isa as, Asiyah istri Firaun, Ratu Bilqis, Ibunda Nabi Musa as, Khadijah istri Rasulullah saaw, dan Fatimah al-Zahra ummu abiha.

Jika kita memahami secara jeli, kemuliaan mereka bukan hanya karena ritual agama yang istiqamah (terus menerus), tetapi juga karena peran mereka di ranah publik dalam memperbaiki masyarakat, melawan kekuasaan zalim, mendidik, serta partisipasi sosial- politik dan keagamaan.

Karena itu, sebagai upaya untuk kembali mengaktualkan peran wanita, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, diantaranya: Pertama, melakukan berbagai kajian sistematis dengan mengaktifkan perempuan untuk mengenal dan memahami diri sendiri. Kedua, menentang segala bentuk usaha diskriminasi dan penindasan terhadap perempuan baik yang dilakukan dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam pekerjaan. Ketiga, melakukan redefenisi dan rekonstruksi pandangan manusia tentang kemuliaan wanita. Keempat, reinterpretasi (menafsirkan kembali) doktrin keagamaan mengenai perempuan secara kritis dan objektif. Dengan usaha dan kerja keras, mudah-mudahan kita dapat merubah tangisan Kartini menjadi seyuman bahagia

Krisis agama semakin kentara, setahap demi setahap bangunan megah nalar modern dan postmodern menggeser nalar agama ke kolong-kolong jembatan dan kaki-kaki lima. Memang, belakangan ini, terlihat mulai ramainya pengajian-pengajian, padatnya tempat-tempat ibadah, maraknya majelis-majelis zikir, munculnya perdagangan syariah, dan sebagainya yang semuanya membawa simbol agama kepermukaan dari ketenggelamannya selama ini. Namun, ragam seremonial keagamaan itu belum mampu menaikkan citra agama ditengah badai terorisme, korupsi, kemiskinan, kebodohan, dan terlebih lagi kekerasan dan konplik keagamaan. Ini berarti, “pelecehan terhadap agama” tidak saja dilakukan oleh kalangan anti agama melainkan juga oleh kumpulan umat pecinta agama.

Bagi komunitas anti agama (bahkan anti Tuhan, ateisme), melihat agama tak lain merupakan ekspresi manusia dalam menghadapi kemelut kehidupannya dan kebuntuan nalar mencari jawabnya. Bagi sebagian ahli, Anak diibaratkan kertas kosong (tabularasa) yang tidak memiliki pembawaan apapun termasuk jiwa religius. Mereka memandang manusia sebagai bentuk, bukan secara kejiwaan, dan menganggap bahwa manusia pada awalnya tidaklah beragama. Keberagamaan timbul dikarenakan kondisi dan situasi yang dihadapi oleh manusia dalam kehidupannya di dunia ini.

Singkatnya, agama bukanlah hal yang asasi dalam diri dan kehidupan manusia, tetapi hanya merupakan suatu yang fungsional dan pragmatis, yang menekankan segi egoistis (ananiyah) manusia yang ingin menjadikan agama sebagai alat bagi kepentingannya sendiri. Pandangan-pandangan seperti ini dapat kita lihat dari tulisan-tulisan yang diajukan oleh Sigmund Frued , Karl Marx, Emile Durkheim , Williem James , dan lain-lainnya.

Bagi Sigmund Freud (1856-1939) sang pendiri psikoanalisis, memandang agama merupakan gangguan pikiran (obsesi/obsession), atau juga sebagai khayalan (illusion) dan pemenuhan keinginan (libido/nafsu) masa kanak-kanak yang terhambat (fiksasi). Libido merupakan energi seksual yang mesti disalurkan agar mendatangkan lust (kenikmatan). Ketegangan libido dan penyalurannya berlangsung terus menerus berdasarkan lustprinzip (asas kelezatan atau mencari nimat). Jika tidak tersalurkan atau terhambat pemuasan penyalurannya, maka akan mendatangkan ketidaksenangan dan kekecewaan (frustrasi) pada diri individu. Teori ini diperkuat Freud dengan mengedepankan kasus Oedipus Complex yang menyukai ibunya, namun terhambat karena keberadaan ayahnya, akhirnya ia membunuh ayahnya demi menyalurkan libidonya yang terpendam. Namun perbuatan itu mendatangkan penyesalan yang pada puncaknya terjadi penyembahan kepada ayahnya. Inilah awal dari munculnya agama.

Keadaan frustrasi ini mengarahkan manusia pada sublimasi yaitu merubah energi seksualnya kepada dimensi lain yang bisa memuaskan atau mengurangi tingkat frustrasinya. Perubahan energi seksual ini dapat mengarah pada dimensi atau energi rasional dan rohani yang menjadi dasar munculnya agama.

Secara sosial, Emile Durkheim, dedengkot sosiologi agama berkesimpulan bahwa keyakinan agama merupakan sistem sosial yang diciptakan masyarakat, atau agama sebagai ciptaan manusia yang berkoloni. Agama yang diciptakan itu dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan kehidupan bersama dalam kelompok atau masyarakatnya.

Merujuk pada analaisis Huston Smith dalam Why Religion Matters, dalam memasuki abad modern, mulai terjadi pembunuhan pada agama. Hal itu dilakukan oleh dua raksasa yang berkuasa, yaitu kekuasaan politik (politikisme) dan kekuasaan sains (saintisme) yang tersimpul dalam satu ideologi modern yakni sekularisme.

Sains— dalam balutan sekularisme berubah menjadi saintisme— berdiri atas nama metode ilmiah, yang menggantikan posisi wahyu sebagai jalan menuju pengetahuan. Secara konseptual, itu membentuk pandangan dunia ilmiah, sementara teknologinya membentuk dunia modern. Sebagai akibatnya, agama dipinggirkan, baik secara intelektual maupun politik. Sedangkan secara politik—yang dalam balutan sekularisme menjadi politikisme—, transportasi dan perpindahan penduduk yang lebih mudah memperkenalkan gejala baru dalam sejarah : pluralisme kultural. Hasilnya adalah penyingkiran agama dari kehidupan publik karena agama membeda-bedakan, sementara politik justru mau mengupayakan landasan bersama yang dapat menengahi perbedaan-perbedaan warganya. Sedangkan secara intelektual, sains tidak mempunyai tempat bagi wahyu sebagai sumber pengetahuan, dan ketika kaum modernis semakin cenderung berpikir dengan sains dalam soal-soal kebenaran, kepercayaan kepada wahyu semakin hilang

Memang, tidak semua ahli sinis terhadap agama, namun loncengl telah dibunyikan komunitas anti agama untuk memberi tanda istirahatnya agama dari perjuangan panjangnya. Meskipun usaha mereka belum mampu menyingkirkan agama, namun setidaknya berhasil membatasi ruang gerak agama untuk bermain hanya dilokasi individunya, tempat tingalnya, atau rumah ibadahnya. Selebihnya, lokasi terlarang untuk agama……utk itu kita menunggu pencerahannya dari kawan2 semua…. wallahu a’lam

Suatu hari Iblis bertamu ke istana Firaun…mereka bercengkerama sebagai teman yg setia…tetapi kemudian Iblis berkata,..”wahai Firaun, hari ini akau ingin memutus tali persahabatan kita”….”Kenapa”?, Tanya Firaun dengan terkejut….maka Iblis pun menjawab, “Aku takut mendapatkan kutukan Tuhan yg kedua kalinya…sedurhaka-durhak

anya aku, hanya tidak mau sujud kpd Adam, tetapi tetap mengakui Tuhan…sedangkan engkau bukan hanya tidak sujud, tetapi malah mengaku Tuhan…sungguh engkau lebih durhaka dariku, dan aku takut saat Tuhan mengutukmu, akau terkena imbas kutukan itu.”..Selamat tinggal Un, lanjut Iblis….Tentang Negara Firaun, Tuhan berfirman :… “(Siksaan) yang demikian itu adalah Karena Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang Telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya Maka kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya dan kami tenggelamkan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya; dan kesemuanya adalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. al-Anfaal : 53-54)Ayat di atas mengingatkan kita tentang model pemerintahan zalim yang pernah berdiri di permukaan bumi. Pemerintahan zalim dipimpin oleh seorang raja yang angkuh yang bergelar Fir’aun. Setelah Firaun melampaui batas dalam kesesatan, ketidakadilan dan kesombongan, maka Allah swt murka dan menghancurkan Fir’aun beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Tidak sampai di situ, allah menjadikan Firaun sebagai contoh dan pelajaran bagi suatu negara dan pemerintahan, di mana Allah menegaskan, “jika suatu negara telah meniru dan menjadikan sistem pemerintahannya mirip dengan pemerintahan Firaun, maka Allah akan menghukum dan memnimpakan bencana kepada mereka.” 

Sistem pemerintahan Firaun dibangun melalui kedurhakaannya kpd Tuhan..dilanjutkan penentangannya kepada utusan Tuhan…tidak sampai disitu saja, dia juga mengaku Tuhan dan menganggap manusai lainnya sbg hamba dan budaknya……

Sebagai pemimpin dia tidak menebarkan rahmat tetapi menyebar azab. Takut kekuasaanya terganggu, shg dia harus membunuh org2 yg dianggap akan merusuh. Untuk itu ia membuat komunitas yg mewakili masyarakat utk menjadi corong kekuasaanya…inilah empat elemen penegak NEGARA FIRAUNI :

1. Penguasanya adalah FIR’AUN yg terknal zalim, tidak berlaku adil dan menggunakan kekuasaannya untuk menindas orang-orang lemah, memeras orang-orang miskin, dan merampas hak orang-orang yang tidak berdaya.

2. Penyandang dananya adalah QARUN, yaitu orang-orang kaya yang mendukung pemerintaha Firaun, yang rakus mengumpulkan proyek-proyek tapa memperdulikan halal dan haram. Demi duit, mereka tidak ragu-ragu menghantam, menyakiti, membunuh, bahkan menfitnah sesama saudaranya.

3. Aktor intelektualnya adalah HAMAN, yaitu cendekiaan dan ilmuan yang menjadikannya kecerdasannya untuk mengabdi pada Tiran. Kecerdikannya digunakan untuk meliciki orang banyak.

4. Ulamanya adalah Bal’am bin Baura, yaitu ulama yang mendukung tiran dengan menjaual ayat-ayat Tuhan untuk memperoleh keuntungan material. Yang mengemas ambisi duniawi dengan ritus-ritus dan pura-pura saleh. Yang mengeluarkan fatwa2 utk melanggengkan kekuasaan Firaun..

Inilah empat elemen penyangga Negara dan Pemerintahan tirani Firaun…..yg membuat Iblis pun harus mengaku kalah….Negara manakah yg keempat elemen ini bersatu membentuk negaranya…mudah2an bukan di negara tercinta Indonesia Raya…..wallahu a’lam

  • Share this:

Kebenaran Syi’ah Imamiyah Sebagai Jalan Keselamatan

Akhlak (moral), dikatakan oleh Sayid Mujtaba Lari merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perkembangan masyarakat, apakah akan menuju kemajuan atau malah tersungkur kepada lembah kehancuran.[1] Untuk itu, sebuah kenyataan penting jika empat belas abad yang lalu, seorang manusia sempurna di utus dengan tujuan inti untuk menyempurnakan akhlak manusia, “sesungguhnya aku di utus untuk meneyempurnakan akhlak manusia”, begitu sabda agung kenabian Muhammad saww.

Sabda di atas mengindikasikan bahwa pembentukan akhlak merupakan dimensi puncak terpenting dari kesempurnaan manusia. Secara umum hal ini dapat kita benarkan. Sebab, lazimnya kita menilai manusia dari akhlaknya hingga ukuran-ukuran fisikal terpental jauh dari penilaian. Misalnya, jika ada orang yang tampan atau cantik, tetapi berperangai buruk, maka secara otomatis kita akan mencibirkannya. Begitu juga dengan orang yang berilmu pengetahuan, cerdas dan pintar, akan tetapi berakhlak rendah, kurang ajar dan tidak tahu sopan santun, maka kita akan cenderung membenci dan menghinanya. Namun sebaliknya, ada orang yang biasa-biasa saja dari fisiknya, tidak terlalu cerdas otaknya, tetapi berkhlak mulia, maka kita akan senang bergaul dan berinteraksi dengannya. Jadi, sederhananya dapat disimpulkan nilai kemanusiaan terletak pada akhlaknya.

Karena itu, bagi penulis konsepsi pendidikan akhlak merupakan kunci sukses tarbiyah islamiyah (pendidikan Islam). Sebab, dimensi akidah, dimensi ibadah (syariah), dan dimensi akhlak adalah trikonsepsi struktur ajaran Islam. Akan tetapi akhlak menempati posisi inti sebagai puncak dari pembuktian akidah dan pelaksanaan ibadah. Insan kamil (manusia paripurna) yang merupakan orientasi tertinggi kemanusiaan dicirikan secara khas dengan karakter akhlak al-karimah (akhlak mulia).

Merujuk pada sejarah pemikiran, maka persoalan akhlak telah menjadi salah satu pembahasan serius para pemikir dunia, baik di Timur maupun di Barat, pra Islam maupun pasca Islam. Yunani, yang merupakan salah satu ikon peradaban dunia telah meninggalkan jejak-jejak pemikiran para ilmuannya mengenai akhlak seperti yang dapat kita temui pada ungkapan-ungkapan Socrates, Plato maupun Aristoteles. Socrates dan Plato menuangkan pemikirannya dalam kitab Republic-nya sedangkan Aristoteles secara konfrehensif membahas dalam buku Nichomachian Ethic yang sangat terkenal itu.

Dalam sejarah Islam Klasik kita mengenal sederet filosof besar yang mengukir sejarah seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Miskawaih, al-Ghazali hingga Mulla Sadra. Di abad kontemporer ini kita mengenal Allamah Thabathabai, Murtadha Muthahhari, Imam Khumaini, dan juga Sayid Mujtaba Musawi Lari. Sederetan tokoh mutakhir ini, dikatakan sebagai pelanjut tradisi ilmiah filsafat Islam, yang banyak menulis buku dan telah diterjemahkan dan disebarkan dalam berbagai bahasa seperti Persia, Arab, Inggris, Perancis, Urdu, Jerman, dan tentunya juga Indonesia.

Dengan antusiasme yang tinggi, para pemikir Islam menelaah sejarah perkembangan masyarakat dalam dinamika maju dan mundurnya. Beragam studi dilakukan, bahkan tak jarang hingga membandingkan antara peradaban Barat dan Islam. Diantara objek kajian yang dengan serius digeluti adalah persoalan pertumbuhan dan perkembangan akhlak serta spiritual manusia dengan ragam dialektisnya dalam kehidupan sosial, budaya, politik, ataupun pergumulan ekonomi kemasyarakatan. Kesungguhan dan ketekunan para ulama pewaris nabi yang luar biasa dalam mengembangkan pokok-pokok pikiran demi merekonstruksi konsepsi pendidikan akhlak dari abad ke abad, telah menorehkan tinta emas dalam tradisi pengetahuan teoritis dan pengamalan praktis dalam kontruksi peradaban Islam yang gemilang.

MAKNA AKHLAK

Secara etimologis, akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu al-khuluq yang berarti al-sajiyyah (karakter), ath-tabhi (tabiat atau watak), al-adah (tradisi atau kebiasaan), al-din (agama), al-muruah (harga diri). Sedangkan menurut pandangan para ulama Islam, meskipun beragam dalam menyusun defenisinya namun setidaknya ada defenisi umum yang dirumuskan, yaitu akhlak merupakan karakter yang telah tertanam (malakah) dalam jiwa manusia sehingga mengarahkannya dengan mudah untuk melakukan tindakan-tindakan. Misalnya, Allamah Thabathabai mendefenisikan ilmu akhlak sebagai ilmu yang membahas pembawaan-pembawaan manusia yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan tumbuh-tumbuhan, kekuatan binatang, dan kekuatan kemanusiaan untuk membedakan keutamaan dari keburukan agar manusia berhias dan bersifat dengannya sehingga mendapatkan kesempurnaan kebahagiaan ilmiahnya.[2]

Adapun Imam al-Ghazali mendefenisikan akhlak sebagai bentuk jiwa (nafs) yang terpatri, yang darinya muncul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan. Apabila suatu bentuk memunculkan beragam perbuatan indah dan terpuji berdasarkan akal dan syariat, maka ia dinamakan akhlak yang terpuji (akhlak mahmudah). Sebaliknya, jika darinya muncul beragam perbuatan buruk, ia dinamakan akhlak tercela (akhlak mazmumah).[3]

Selanjutnya, Imam al-Ghazali menjelaskan perbedaan akhlak dengan perbuatan (fi’il), kemampuan (qudrah), dan pengetahuan (ma’rifah). Menurutnya, khulq (akhlak) bukanlah perbuatan (fi’l). Karena, banyak orang yang khulq-nya dermawan tetapi tidak mendermakan harta, mungkin lantaran kehabisan harta atau halangan tertentu. Terkadang pula, khulq-nya bakhil (pelit) tetapi ia mendermakan harta, mungkin karena motif-motif tertentu atau riya. Khulq juga tidak sama dengan kemampuan (qudrah), sebab, kemampuan dinisbahkan pada menahan diri dan memberi. Tetapi, terhadap keduanya yang berlawanan ini keadaannya sama. Setiap orang diciptakan dengan fitrah dalam kondisi yang mampu memberi dan menahan. Itu tidak menyebabkan munculnya khulq kebakhilan dan khulq kedermawanan. Khulq juga bukanlah pengetahuan (ma’rifah), sebab, pengetahuan berkaitan dengan kebaikan dan keburukan sekaligus pada tingkatan yang sama. Akan tetapi khulq merupakan malakah yakni bentuk yang dengannya jiwa bersiap-siap untuk memunculkan sikap menahan diri atau memberi. Jadi, khulq adalah bentuk jiwa dan rupa batiniah.[4]

Dengan demikian akhlak merupakan sifat psikologis (ruhaniah) dan bukan suatu tindakan atau perbuatan, meskipun al-amal al-ikhtiari merupakan manifestasi luarnya. Akhlak juga bukanlah hasil dari sebuah kebetulan, karena ia berupa pembawaan yang melekat dalam jiwa (malakah). Maka, malakah harus memiliki fondasi sebagaimana bangunan memerlukan fondasi. Adapun fondasi-fondasi akhlak ialah naluri, keturunan, lingkungan, pendidikan, dan kebiasaan.[5]

SUMBER-SUMBER AKHLAK

Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa manusia memiliki pembawaan-pembawaan yang berhubungan dengan tiga domain kekuatan yang terhimpun dalam diri manusia, yaitu kekuatan tumbuh-tumbuhan, kekuatan kebinatangan, dan kekuatan kemanusiaan. Ketiga kekuatan ini yang mengarahkan manusia pada dimensi moralitas (akhlak terpuji) atau juga akhlak rendah yang tercela.[6] Sedangkan Imam Khumaini, menyebutkan tiga daya atau fakultas batin yang penting dan menjadi sumber bagi seluruh malakah (watak/karakter) baik maupun buruk dan dasar bagi seluruh bentuk-bentuk gaib yang tinggi. Ketiga daya itu adalah al-quwwah al-wahmiyyah (daya imajinasi atau pencitraan), al-quwwah al-ghadabiyyah (daya amarah), al-quwwah al-syahwiyyah (daya syahwat).[7] Ketiganya, lanjut Imam Khumaini, bisa menjadi pasukan Sang Maha Pengasih yang akan membawa kebahagiaan dan keberuntungan bagi manusia jika semuanya mengikuti akal sehat dan ajaran para nabi Allah yang mulia, sebaliknya jika dibiarkan apa adanya, maka semua daya itu akan menjadi pasukan setan.[8]

Jiwa (nafs) adalah esensi surgawi yang menggunakan tubuh dan memanfaatkan berbagai organ lain untuk mencapai maksud dan tujuannya. Tetapi, perlu diketahui bahwa jiwa (nafs) bukanlah sesuatu yang kosong hampa tanpa memiliki potensi-potensi keruhanian, melainkan suatu wujud inti dari keberadaan manusia yang unik, luar biasa, dan penuh daya yang tak terbatas untuk senantiasa menyempurna dengan cara menyerap asma-asma ketuhanan, atau pula sebaliknya menjadi hina karena lebih mementingkan sisi kebinatangannya. Seperti disebutkan al-Quran bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan, namun dapat pula ia dilemparkan ke dalam jurang kecelakaan yang penuh kehinaan, “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Kemudian kami campakkan ia ketempat yang serendah-rendahnya” (Q.S. At-Tin: 4-5)

Penting diperhatikan, bahwa potensi diri kemanusiaan bermata ganda yaitu mengandung sisi negatif dan positif sekaligus. Hal itu dikarenankan, jiwa manusia memiliki kecakapan yang meliputi keduanya. An-Naraqi menyebutkan empat kecakapan utama yang dimiliki oleh jiwa, yaitu :

  1. Kecakapan akal (al-quwwah al-aqliyah)—bersifat malaikat.
  2. Kecakapan amarah (al-quwwah al-ghadabiyah)—bersifat buas.
  3. Kecakapan nafsu (al-quwwah ash-shahwiyah)—bersifat binatang.
  4. Kecakapan imajinasi (al-quwwah al-wahmiyyah)—bersifat kejam.[9]

Fungsi keempat kecakapan itu sangatlah berguna bagi kehidupan manusia. Sebab, apabila manusia tidak memiliki akal, tidak akan mungkin dapat membedakan yang baik dan yang buruk, benar dan salah. Apabila tidak memiliki kekuatan amarah, dia tidak dapat melindungi dirinya dari serangan, dan apabila kekuatan seksual tidak ada, keberadaan spesies manusia akan punah. Sedangkan, jika tidak memiliki kekuatan imajinasi, maka dia tidak dapat menggambarkan (visualize) hal-hal yang universal dan hal-hal yang partikular dan membuat kesimpulan dari gambaran tersebut.[10]

Dari keempat daya atau kecakapan di atas, diakui bahwa, kecakapan akal merupakan potensi termulia dan terbaik. Ia menjadi cahaya bagi jiwa untuk menjadi suci, sempurna dan bahagia. Jika, akal menjadi raja yang mengendalikan semua kecakapan lainnya, maka manusia akan mencapai perkembangan ruhani yang menjadikan dirinya dekat kepada Allah swt. Namun, jika akal menjadi tawanan dari ketiga daya di atas, maka saat itu akal akan bertindak menyalahi tabiat aslinya yang selalu benar. Misalnya, jika kekuatan akal mengabdi kepada kekuatan ghadab, syahwat, atau wahmiyyah, maka seseorang akan menjadi tiran di muka bumi, sehingga akan bertabiat sewenang-wenang, menebar kerusakan, menjadi teman setan, menghalalkan segala cara, dan mengingkari kebaikan serta mengerjakan kejahatan. Jadi, keempat daya ini menjadi sumber-sumber penting bagi perilaku manusia.

METODE PENDIDIKAN AKHLAK

Pendidikan akhlak merupakan pendidikan yang memiliki posisi inti dalam struktur ajaran Islam. Nilai penting tersebut dapat kita rujuk melalui dua pendekatan yaitu pendekatan naqliyah (normatif) dan pendekatan aqliyah (ilmiah).

Secara normatif, al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad  SAW memberikan penegasan gamblang akan keharusan manusia untuk berakhlak mulia yang dimunculkan dalam refleksi tindakan baik itu kata-kata, perbuatan, maupun sikap. Manusia yang dalam dirinya ada manifestasi ilahiah yang kemudian diaktualisasikan melalui kemanusiaan sempurna (insan kamil) dengan cerminan akhlak mulia akan mendapatkan pujian dari Allah SWT. Dalam al-Quran, Allah memuji hamba-Nya dengan begitu indahnya :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Q.S. al-Qalam: 4)

“Sungguh pada diri Rasululah ada suri tauladan yang baik.” (Q.S.        )

“Demi jiwa serta penyempurnaanya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. al-Syam: 7-10).

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa kemuliaan manusia terletak pada kemuliaan akhlak, sehingga layak mendapatkan pujian Allah SWT. Bukankah, kemualiaan itu terletak pada ketakwaan? Benar, karena ketakwaan adalah pokok akhlak. Menariknya ayat tersebut yang diidentifikasi untuk memuji Rasulullah SAW, menggunakan kata pujian dengan salah satu sifat Allah SWT, yaitu al-azhim (Maha Agung). Ayatullah Hasan Zaseh Amuli mengatakan :

“Berakhlak adalah merealisasikan dan menyifati diri dengan hakikat akhlak tersebut, bukan pengetahuan tentang makna atau konsep seperti yang diperoleh dengan merujuk pada kamus; bahwa rahim (kasih sayang) adalah begini dan athuf adalah begini. Dengan demikian, jelaslah makna hadits Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama. Barangsiapa yang memahami dan mengamalkannya, maka ia akan masuk surga”. Maksudnya, berakhlak dengan hakikat nama-nama tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya dari Rasulullah saw, “Sesungguhnya Allah mempunyai 99 akhlak. Barangsiapa berakhlak dengannya, maka ia masuk surga.” Sebab, hadis-hadis saling menjelaskan satu sama lain, sebagaimana sebagian al-Quran membicarakan sebagian yang lainnya.”[11]

Kemuliaan akhlak juga merupakan tujuan pengutusan para nabi. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah menegaskan bahwa sebenarnya ia diutus Allah dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia” Ini berarti, dengan berakhlak mulia manusia sedang menyerap sifat-sifat Tuhan dan kemudian ia manifestasikan (pancarkan) dalam kehidupannya sehari-hari dikomunitasnya. Menurut Majid Rasyid Pur, sabda Rasulullah SAW tersebut bermakna umum sekaligus spesifik. Hal ini karena kata buitstu yang berarti ‘aku diutus’ menunjukkan pemaknaan umum akan kenabian dan kerasulan yang berarti utusan Tuhan, namun di sisi lain, nabi juga menegaskan bahwa dirinya tabah dan sabar menghadapi berbagai kesulitan, caci maki, hinaan masyarakat Arab musyrik, dan lain-lain. Semua itu beliau tempuh demi menyempurnakan akhlak mulia. Adapun kalimat “untuk menyempurnakan” dapat dipahami bahwa seluruh agama dan ajaran ilahi bertujuan untuk membenahi akhlak manusia.[12]

Dengan demikian, dimensi spiritual kenabian bukanlah diperoleh secara kebetulan dan untung-untungan, melainkan dengan kerja keras dengan mengerahkan seluruh potensinya sehingga menggapai maqam kedekatan dengan Allah swt hingga dinyatakan layak untuk mengemban misi kenabian. Perjuangan nabi Muhammad saw yang begitu kukuh untuk tetap mempertahankan dirinya pada jalur kesucian ditengah badai kehancuran masyarakat Arab Mekah, menjadikan nabi sebagai sosok yang terlatih secara sadar untuk senantiasa berbicara, bersikap dan bertindak dengan cara-cara yang beradab, penuh wibawa, dan akhlak mulia. Kebiasaan nabi untuk senantiasa melakukan aktivitas berguna dan baik, menjadikan dirinya sebagai eksistensi kemanusiaan tersempurna diseluruh jagat raya.

Muhammad Mahdi bin Abi Dzar An-Naraqi dalam kitabnya yang terkenal Jami’ al-Saadat menyebutkan bahwa akhlak yang dihasilkan dari malakah (kecakapan, pembawaan) jiwa yang dengan latihan dan praktek berulang-ulang sehingga dapat dengan mudah dimunculkan dapat beragam aktivitas akan terinternalisasi secara kuat di dalam diri manusia sehingga tidak mudah untuk dirusak. Menurut An-Naraqi, suatu watak tertentu (malakah) mungkin muncul dalam diri manusia karena salah satu alasan berikut ini :

  1. Dandanan (make-up) alami dan buatan; hal ini menampilkan bahwa beberapa orang memiliki sifat sabar sementara lainnya mudah tersinggung dan tidak percaya diri.
  2. Kebiasaan; terbentuk karena kegiatan dan tindakan khusus yang dilakukan secara berulang-ulang dan berkelanjutan guna membentuk watak tertentu. Latihan dan usaha yang dilakukan secara sadar; yang jika dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang cukup lama akan memungkinkan untuk membentuk watak tertentu.[13]

Jadi, jika ingin memperoleh akhlak mulia, maka seseorang dianjurkan untuk mengulang-ulang perbuatan baik dan amal saleh secara berkesinambungan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan yang tertanam di dalam jiwa dan sulit untuk dihilangkan.[14]

Allamah Thabathabai memaparkan tiga metode pendidikan untuk meraih kesempurnaan dan perbaikan akhlak, yaitu :

  1. Mendidik akhlak dengan tujuan-tujuan keduniawian yang baik. Hal ini berarti berhubungan dengan pujian dan celaan di hadapan manusia
  2. Mendidik akhlak melalui tujuan-tujuan ukhrawi yang mengindikasikan pada pahala dan dosa, ganjaran dan siksaaan di yaumil akhir kelak.
  3. Mendidik manusia secara deskriptif dan ilmiah dengan menggunakan ilmu pengetahuan (ma’arif) yang tidak menyisakan subjek ketercelaan.[15]

Ketiga cara ini handaknya digunakan sesuai dengan kondisi dan situasi yang tepat sesuai jenjang dan kemampuan individu.  

PENUTUP

Akhlak merupakan puncak dari kemanusiaan, inti pengutusan kenabian, serta cerminan bagi ketuhanan. Karenanya, siapa yang berhasil mencapai kesempurnaan akhlak maka ia memasuki tahap manifestasi asma dan sifat Tuhan, dimana seluruh organ tubuhnya menjadi alat bagi Tuhan untuk menebarkan rahmat pada semesta ciptaan. Sebab itu, pendidikan akhlak mesti dikukuhkan sebagai pendidikan puncak dari manusia. Wallahu a’lamu bi al-shawab.


[1] Sayid Mujtaba Musawi Lari. Ethic and Spiritual Growth. (Qum: Foundation of Islamic C.P.W, 2005), h. 11.

[2] Sayid Muhammad Husain Thabathabai. al-Mizan fi Tafsir al-Quran Jilid I, (Beirut: Muassasah al-a’lami li al-Mathbuat, 1991 M), h. 370.

[3] Sayyid Kamal Haydari. Manajemen Ruh. (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 29.

[4] Sayyid Kamal Haydari. Manajemen Ruh. h. 30.

[5] Muhammad Amin Zainuddin. Membangun Surga di Hati Dengan Kemuliaan Akhlak. (Bogor: Cahaya, 2004), h. 25-26.

[6] Sayid Muhammad Husain Thabathabai. al-Mizan, h. 370-371.

[7] Imam Khumaini. 40 Hadis. (Bandung: Mizan, 2004), hlm.16.

[8] Imam Khumaini. 40 Hadis, h.19.

[9] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi. Penghimpun Kebahagiaan: Jami’ as-Saadat. (Jakarta: Lentera, 2004), h.19-20.

[10] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi. Penghimpun, h. 20

[11] Sayid Kamal Haydari. Manajemen, h. 28.

[12] Lihat Majid Rasyid Pur. Tazkiyah al-Nafs: Penyucian Jiwa (Bogor: Cahaya, 2003), h. 37-38.

[13] Muhammad Mahdi bin Abi Dzar an-Naraqi, Penghimpun, h.12.

[14] Thabathabai, al-Mizan, h.  351.

[15] Thabathabai, al-Mizan, h.  351-355.

Ciri-ciri penyakit jiwa yang telah menghantui masyarakat modern adalah penyakit yang dideritanya adalah bukanlah penyakit sejati, secara tradisional disebut penyakit mental, dan sekarang orang menyebutnya psikosomatis. Ia bukanlah penyakit dalam pengertian bahwa penderita harus menganggap dirinya mengidap sakit, akan tetapi penyakit yang dialami sipenderita adalah sebagai akibat tekanan dari alam sekitar mereka atau bisa juga ‘sesama manusia saling bermusuhan hanya karena persoalan yang tidak begitu penting dalam kaca mata agama, yakni kebutuhan akan materi dan kebutuhan-kebutuhan yang lain untuk sementara waktu.

Konskuensi dari cara pandang masyarakat yang materialistik ini  sangat erat kaitannya dengan perkembangan pengamalan ajaran agama sebagai pembimbing keselamatan hidup. Peraturan agama bukan dianggap hal sakral dan penting untuk menyelami makna batinnya sehingga mampu membimbing manusia dalam menempuh perjalanan hidupnya, jangan sampai ajaran agama hanya sebatas kulit luar belaka selebihnya tidak ada, agama hanya dikenal  pada hari-hari perayaan besar belaka, sementara dalam kehidupan kesehariannya tetap saja melanggar ajaran mulia yang terdapat agama.

Jika penyakit ini telah menghinggapi masyarakat modern, maka tugas para ahli agamalah untuk menyadarkan masyarakat kembali agar pandangan yang dulunya materialistik berubah kepada cara pandangan ilahiah atau ketuhanan. Disaat para dokter kesehatan tubuh tidak mampu maka saat itu para dokter spritual yang tercerahkan turun tangan ambil bagian untuk menyelamatkan masyarakat yang sedang sekarat ini.

Sekedar untuk mengingatkan bahwa masyarakat kita mulai berperilaku yang tidak diinginkan agama mulia kita. Sebahagian perilaku masyarakat sekarang tidak lebih baik sebagaimana manusia primitif berperilaku. Sigmund Freud mengingatkan kita “Manusia primitif memenuhi kebutuhan hasratnya lebih baik daripada manusia yang telah berperadaban” hidup mereka bebas dari penyakit kecemasan yang tidak realistik, mereka tidak menderita penyakit kejiwaan sebagaimana yang telah banyak memakan korban. Akan tetapi sejak munculnya dunia peradaban yang di agung-agungkan oleh para pendukungnya, kehidupan manusia yang dulunya sederhana tapi bersahaja berubah menjadi kehidupan yang canggih akan tetapi penuh dengan persoalan mutakhir. Menurut para ahli bahwa tidak semua persoalan manusia modern kali ini mampu dipecahkan menurut cara pandang ilmu yang empirik, para ahli itu rupanya telah sadar yang selama ini sedikit mengabaikan agama atau malah menjauhkan agama dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Salah satu faktor terpenting yang menyebabkan manusia di zaman medern ini mengalami gangguan kejiwaan adalah rasa kecemasan dan keinginan yang telah mendominasi akal pikirannya untuk mengumpulkan materi dan menaklukkannya alam sebisa mungkin, falsafahnya‘ cara pandangnya’ seperti ini ‘hidup harus mengikuti keinginan nafsu sepuas-puasnya, bukan hidup sesuai dengan kebutuhan, sebab jika kita hidup berdasarkan atas kebutuhan maka kemungkinan besar akan berakhir pada kecukupan dan kesederhanaan, sebab dalam pandangan para arif semakin mencintai alam materi maka semakin jauh pula diri kita dari alam immaterial yang lebih mulia dari segala-galanya.

Ketahuilah, sesungguhnya cinta dunia adalah  pokok segala kesalahan (Imam Ali kw). Buah dari kecintaan kepada dunia yang berlebih akan berakibat pelanggaran terhadap sendi-sendi agama, bukan hanya itu saja, kecintaan terhadap dunia telah banyak menguasai manusia dan menderitanya lagi mampu membutakan dan menjadikan  tuli pendengaran manusia dari mendengar pesan-pesan mulia keselamatan bagi dirinya.

Pahamilah. Bahwa penyakit kejiwaan atau psikosomatis bukanlah diakibatkan oleh bakteri semacam virus atau pertumbuhan jaringan tubuh yang tidak sempurna, melainkan sesuatu yang diakibatkan  oleh kondisi kehidupan sehari-hari. Jika masyarakat kita tidak mampu mendapatkan kebahagiaan ples ketenteraman persi para monitor yang memberikan impian menggiurkan lewat corongnya yakni media massa televisi dan lainnya, maka semakin tertekanlah batin dan semakin buruk pula pandangan mereka terhadap ajaran agama, sebab bisa jadi mereka berpaling dari Tuhan, karena Tuhan persi mereka  tidak mampu melakukan dan memenuhi kebutuhan bagi kehidupan masyarakat modern.

Masyarakat modern perlu terapi khusus dari para arif yang mulia sebab mereka satu-satunya yang mampu membimbing masyarakat agar tidak membenci agama atau lari dari agama dan membuat ajaran baru yang lebih berbahaya lagi. Para pencinta keabadian selalu mengirimpan pesannya ”Biasakan dirimu untuk berpikir dan merenung, sebab hal itu akan mampu menyelamatkanmu dari kesesatan  dan memperbaiki sifat dan perilakumu kebnatangannmu, kembangkan potensi malaikatmu agar engkau sampai pada keabadian.

Agama yang mulia ini selalu mengingatkan kita akan kedudukan manusia yang lebih mulia disi Allah swt dari alam meteri ini. Alasan rasionalnya adalah bahwa di dalam setiap diri manusia ada sesuatu yang tersimpan dan jika sesuatu itu dapat dihidupkan dan dibangkitkan dengan cara latihan keagamaan, maka terangkatlah dirimu yang semula segumpal daging belaka menjadi lebih berharga dari seluruh ini alam ini. Bukankah kita telah tahu bahwa Allah swt telah menciptakan manusia yang paling mendekati diri-Nya, di dalam diri manusia ada tempat bagi Allah jika tempat itu tidak tercemari oleh materi-materi yang kerap menyelimuti pandangan kita kepada cahaya kebenaran.

Kecintaan kita kepada alam materi dan seisinya yang lebih rendah posisinya dari diri kita membuat kita menjadi orang yang kikir bahkan menbuat diri kita lupa akan kematian yang setiap pergesesan waktu telah mendekati kepada kita. Abu Turab telah berpesan kepada manusia “Wahai makluk Allah! Aku sarankan kalian untuk menjaga jarak dengan dunia yang segera akan meninggalkan kalian semuanya sekalipun kalian tidak mau meninggalkannya. Maka dari itu, jangan bernafsu mendapatkan kehormatan duniawi dan kebanggaannya, dan jangan merasa senang dengan keindahan dan kekayaannya, juga jangan meratapi berbagai kejadian yang tidak menyenangkan di dunia ini, karena kemulian dan kekayaan di dunia ini cepat atau lambat akan binasa. Di dunia ini setiap waktu ada akhirnya, dan setiap kehidupan di dalamnya akan ada matinya, dan anda juga akan mati, mari menyimpan kebajikan di bank-Nya Allah dengan cara melaksanakan kebajikan dan perintah-perintah lainnya.

Waspadalah! Saat-saat kita berbuat dosa kepada Allah dan kepada sesama kita. Pandanglah isi dunia ini sebagaimana pandangan orang zuhud, dan palingkan wajah kita dari keindahannya, sebab umur dunia ini pada hakikatnya telah tua renta yang sebentar lagi sampai azalnya. Dunia akan segera mematikan semua isinya dan menggantikannya dengan isi yang lain lagi. Semoga Allah swt mencurahkan rahmat-Nya  kepada kita dan kepada orang-orang yang selalu merenung tentang eksistensi ‘wujud’ dirinya dan alam semesta. Kita seharusnya mengingat dan jangan sampai melupakannya yakni kelak akan ada suatu masa ketika hanya seorang beriman yang dapat hidup bahagia sebagaimana kehidupan yang ada di dunia ini. Semoga saja kita yang mulai tercerahkan ini tidak terdaftar sebagai manusia yang sakit jiwa hanya karena mengumpulkan dan menguasai dunia padahal kita tidak mampu menguasainya, sebab kita tahu sebagaimana kata para para pendahulu ‘semakin kencang lari anda untuk berlari mengumpulkan materi, maka semakin kencang pula larinya, hanya ada satu cara yang harus dipirkan yakni biarkan dunia mengejar kita, sementara kita sedang berkontemplasi ‘merenung’ dan mendapatkan cucuran dari hidayah yang Mahasempurna yakni Allah swt. 

Ketaatan kepada Allah swt akan melahirkan implikasi positif bagi perkembangan peribadi manusia dan selanjutnya akan melahirkan keinginan yang kuat untuk tidak melakukan apa yang terlarang menurut kesimpulan akal dan terlarang pula dalam kacamata agama atau syarak. Sedangkan kebalikannya adalah gagalnya manusia untuk menghargai perintah agama atau diidentikkan dengan penginkaran atau penolakan padahal ia tahu bahwa apa yang diingkari itu merupakan fakta keberaran yang tidak terbantahkan. Perilaku tercela ini dalam agama diistilahkan dengan kecaman ‘pengkafiran’ terhadap ajaran Allah swt dan biasanya orang seperti ini meletakkan akal sehatnya dibelakang punggungnya. Ciri-ciri pengkafiran atau ‘penghingkaran’ lain misalnya telah diketahui menghalalkan segala cara demi mempertahankan ‘mengumpulkan’ materi sebanyak mungkin, membangun istananya di dunia, ciri lain adalah pengamalan agama sebatas simbol belaka dan jiwanya tidak menyakini akan kebenaran yang tersimpan di dalamnya. Contoh “kekafiran” yang lain adalah pemeliharaan jiwanya diserahkan sepenuhnya kepada logika hawa nafsunya yang kontras dengan logika akal. Akhirnya jika perilaku buruk dan menyesatkan kehidupan manusia ini telah bersemi maka seluruh aktifitasnya biasanya menunjukkan kecintaan yang luar biasa kepada keindahan isi dunia hingga kematian pun menghampirinya. Sekedar menginatkan pesan Imam Ali bin Abi Thalib kw, bahwa akar segala kejahatan adalah cinta kepada dunia. Ambillah isi dunia secukupnya dan selebihnya titipkan kepada Allah swt agar terpelihara dengan baik.

Ingatlah pesan dari wali Allah yang telah tercerahkan, ‘sesungguhnya takut (takwa) kepada Allah swt dalah kunci untuk mendapatkan hidayah, bekal untuk akhirat, kemerdekaan dari setiap bentuk perbudakan, dan keselamatan dari segala kehancuran. Dengan bantuan pertolonga takwa, si pencari kebenaran akan meraih kemenangan, sementara orang yang bersegera menuju keselamatan maka ia akan selamat dan mendapatkan apa yang telah diinginkan-Nya. (Imam Ali as)

Kedekatan dengan Allah swt dimaknai bukan hanya dekat secara fisik sebab Allah swt tidak memiliki fisik sebagaimana dengan mahkluk ciptaan-Nya. Yang dimaksud dengan dekat disini menurut para ahli adalah kedekatan posisi penghambaan dan penyerahan diri secara utuh dan keikhlasan dalam beramal semata-mata dilakukan hanya demi keridhaan Allah swt. Jadi beribadah disini bukan mengharapkan sanjungan atau penilaian dari manusia bahwa dirinya adalah termasuk orang yang soleh melainkan penilaian yang lebih berharga dan lebih tinggi yakni kesempurnaan penghambaan sebagaimana yang diinginkan Allah swt.

Untuk mendekatkan diri kepada Allah swt bukan persoalah mudah. Kita butuh kepada pengorbanan, butuh akan tenaga, melatih keihklasan dalam beramal dan yang paling penting dari semua itu adalah perlunya ilmu dan kesabaran. Berkorban saja tanpa perhitungan menjadi sia-sia. Memiliki tenaga tapi tidak tahu mau kemana dialokasikan tidak ada gunanya. Ikhlas tapi tidak memiliki ilmu adalah mustahil untuk mampu sampai kepada hamba yang ma’rifatnya ‘pengenalan’ kepada Allah swt mendekati kesempurnaan.

Untuk langkah awal bila ingin mencapai ma’rifat ‘mengenal’ yang sesungguhnya maka tidak ada jalan lain kecuali melaksanakan seluruh perintah Allah swt secara syariat dan diikuti dengan berbagai lahitan pembersihan diri dari perilaku-perilaku tercela.

Allah swt berfirman dalam hadis Qudsi “Tidak ada cara lain yang akan dilakukan oleh hambaku yang ingin bertakararub (mendekat) kepada-Ku yang lebih Aku sukai dibandingkan dengan melakukan amalan-amalan sunnah, sehingga Aku menyanyanginya. Jika Aku mencintainnya maka Aku akan menjadi telinga yang dengannya ia mendengar, menjadi mata yang dengannya ia melihat , menjadi mulut yang denganya ia berbicara, menjadi tangan yang dengannya ia memegang. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku niscaya akan mengabulkannya.

Penjelasan singkat dari hadis ini adalah sebagai berikut. Apabila kita secara pelan-pelan meneladani dan mengikuti pesan-pesan yang terkandung pada sunnah yang contoh hidupnya adalah perilaku keseharian Rasulullah swt dan orang-orang yang suci lagi setia mengikuti ajarannya. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing pendengaran si hamba untuk tidak mendengar sesuatu yang tidak menguntungkan bagi dirinya. Pendengaran orang yang telah mencapai tarap kesempurnaan kedekataannya kepada Allah swt tidak sama dengan sebagaimana pendengaran orang awam atau dengan pendengar orang-orang yang biasa melakukan maksiat kepada Allah. Ketakwaan kepada Allah swt akan membimbing seorang hamba untuk mampu melihat keajaiban dan kesempurnanan penciptaan Allah baik di dalam dirinya maupun dialam yang luas. Kemampuan melihat dengan menggunakan penglihatan Allah bukan dimaknai sebagaimana kita atau makhluk melihat, yang dimaksud melihat dengan penglihatan Allah adalah penglihatan mata batin yang telah bersrih dari kekurangan dan kekaburan dalam memandang kempurnaan Allah sebagai pencipta diri dan kebaikan atas ciptaan-Nya. Ketakwaan kepada Allah akan mampu merayu Allah yang Mahapemurah untuk mengabulkan apa yang diharapkan si hamba, tentunya ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai terkabulkannya doa-doa sipeminta. Syarat pertama permintaan hamba tidak akan dikabulkan jika yang dimohon dapat membuat dirinya menjadi jauh atau lalai kepada Allah. Allah akan menangguhkan semua permohonan sihamba sebab ada doa yang menurut pandangan akal kita seharusnya dikabulkan sementara dalam pandangan Allah harus ditunda akan tetapi bukan untuk tidak dikabulkan. Semua permohoan hamba-hamba-Nya akan dikabulkan Allah swt selama tidak bertentangan dengan syarak, sebab Allah sendiri telah menjaminya dengan firman-Nya ‘mintalah kepada-Ku pasti akan kukabulkan.’

Tanpa ketakwaan tidak ada kebahagian yang abadi. Kebahagiaan karena menguasai alam semesta memang mempesona, namun sisi dalamnya dapat membawa kehancuran. Kebahagian di dunia saja tidaklah cukup, sebab bahagia sementara waktu tidak akan mampu mengungguli kebahagiaan yang abadi. Takutlah kita kepada Allah swt yang implementasinya melakukan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dan mencegah semua kemungkaran dan kejelekan.

Sibukkan diri kita untuk mengumpulkan kebaikan dan cegah serta kuasailah diri Anda agar terbebas dari perangkat dan rayuan dunia yang menjauhkan diri dari Allah swt. Mari kita menyucikan hati, menyiapkan bekal untuk hari yang tidak ada lagi waktu mencari bekal. Semoga pesan sprital dari Imam Ali bin Abi Thalib ini menyadarkan diri kita semua, “Wahai makluk Allah! Takutlah kepada Allah. Camkan selalu alasan kenapa Dia menciptakan kalian, dan takutlah kepadan-Nya dengan mengikuti pentunjuk-Nya yang telah diberikan kepada kalian. Siapkan diri kalian sedemikian rupa sehingga layak mendapatkan apa yang telah dijanjikan-Nya kepada kalian, dengan menyakini kebenaran-Nya dan atas janji-janji-Nya dan dengan rasa takut akan hari putusan-Nya. Tidak ada bekal yang paling penting selain bekal ketakwaan ‘takut’ kepada-Nya, dan tidak ada kesengsaraan yang paling abadi dan mengerikan kecuali kesengsaraan akibat tidak mendapatkan hidayah dari Allah swt, semoga kebahagiaan menyertai kita semua sampai Allah memanggil kita dalam keadaan tetap takut kepada-Nya.

Narkoba mengancam generasi muda kita. “pil setan” dan “bubuk iblis” ini telah beredar sedemikian mudahnya hingga tidak hanya ditemui di gang-gang tempat mangkalnya para bandit, melainkan juga telah memasuki lorong-lorong kelas tempat calon pemimpin bangsa ini dididik. Pelajar yang seharusnya menyandang tas dan buku dengan berpakaian rapi, mendadak kabur di jalanan dengan menyandang pedang dan kelewang. Apa yang terjadi? Sudah pasti mereka lagi tawuran.

Dijurusan lain kita melihat, eksploitasi seksual telah membudaya di tengah-tengah kita sehingga tidak ada lagi rasa malu dan harga diri. Bentuk klasik yang namanya prostitusi mewabah tidak hanya digedung-gedung mewah tampatnya para kaum elite, tetapi juga di trotoar jalan tempat singgahnya kaum pailit. Sensualitas yang ditampilkan, tidak lagi di ruang tertutup yang menyeleksi para undangannya, melainkan telah dijajakan di pasar publik melalui beragam kemasan bisnis yang disebut iklan, model, dunia hiburan, serta lainnya yang diperdebatkan atas nama seni dan kebebasan ekspresi. Tak urung, pemimpin redaksi majalah dewasa play boy saja mendapat angin segar dengan vonis bebas yang dibacakan Bapak Hakim dalam sidang yang terhormat. Padahal di persidangan lain, tak jarang kita mendengar seorang kakek memperkosa cucunya, seorang ayah “meniduri” anaknya, dukun melakukan tindakan cabul, sodomi, atau pesta seks dikalangan pelajar, mahasiswa, bahkan pejabat, yang tergiur hanya karena pandangan menantang dalam kemasan pornografi dan pornoaksi.

Kita arahkan pandangan ke sudut lain, maka terlihat ada pembunuhan sadis dan perampokan tragis. Kehidupan di bawah garis kemiskinan dengan ekonomi sulit yang melilit, menyembunyikan nurani suci dan belas kasih demi sejengkal perut untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi tempat yang aman, karena pencopet, pencuri, penggarong, perampok, atau apapun namanya bertebaran dipinggir jalan, terminal, bus kota, hingga rumah-rumah kita. Anehnya, hal ini juga merebak dikalangan elite yang hidup di atas garis kekayaaan, dengan nama yang lebih keren yakni korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kemudian seorang ibu tega menjual anaknya, perdagangan bayi telah menjadi lahan untuk mengais rezeki. “Perbudakan” modern atas nama tenaga kerja, babu atau pembantu meninggalkan jejak-jejak luka di fisik dan di hati karena hidup mereka di bawah cengkeraman kejam sang majikan.
Itulah sekilas daftar masalah yang kita jumpai dalam tiap sudut kehidupan ini. Banyak lagi yang bisa kita daftarkan sebagai anggota tumpukan kejahatan.

Bagi para analis dan pemerhati, sudah seharusnya pemerintah dan kita semua berusaha meningkatkan kehidupan sosial ekonomi rakyat, atau agar para aparat lebih bersikap tegas kepada para penjahat dengan meningkatkan sistem keamanan, atau mungkin sudah saatnya tertib politik disadari oleh para pejabat yang menggunakan kekuasaan sewenang-wenang. Namun jika kita cermati dengan lebih jeli dan dalam, maka negeri ini telah luluh lantak di hantam badai krisis yang lebih dahsyat dari moneter, yaitu krisis akhlak (moralitas), krisis malu, ataupun krisis adab. Saya takut, kita mendapat cap yg berubah dari bangsa beradab menjadi bangsa biadab….mau kemana bangsaku..???? wallahu a’lam

Bedah buku “MENGAPA SAYA KELUAR DARI SYIAH” Karya Husain al-Musawi..yg diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar

Bismihi Ta’ala

Allahumma shalli ‘ala muhammad wa aali muhammad

PENDAHULUAN

Perbedaan adalah rahmat Allah swt dan dinamika yang berkembang di dalam tradisi intelektual Islam dari zaman klasik hingga abad modern saat ini. Tapi terkadang perbedaan menjadi bencana di tangan manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Padahal islam mengajarkan untuk menebarkan kedamaian baik dengan lisan maupun tulisan, dan tentu saja dengan tindakan. Bahkan Tuhan berpesan, “Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil”…dan juga “janganlah kamu menghina suatu kaum karena boleh jadi mereka lebih baik dari kamu”.

Namun, Falsafah Islam yang berkeadilan dan falsafah Indonesia yang menghargai kebhinekaan telah tercemari dengan berbagai tindakan atas nama agama. Gerakan islam yang mengandung kekerasan, Konflik keagamaan yang berujung peperangan, terorisme, dan saling menyesatkan telah menjadi konsumsi publik yang membahayakan. Setiap insan berinovatif bukan untuk membangun hal-hal yang positif, tetapi cenderung negatif dan destruktif.

Teman saya yang memiliki semangat keislaman yang tidak diragukan lagi berteriak, “Tugas kita adalah menegakkan izzah Islam, agar semua orang tunduk kepada Tuhan, dan orang2 yang menyimpang harus diluruskan”. Tapi teman saya yang satu lagi dengan lemah berkomentar, “mengapa agama yang diturunkan untuk menebar kasih sayang, tetapi malah menyebar kebencian? Saya berkata pula menimpali, “pendapat kamu berdua disatukan dengan terbitnya buku ini, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” kok bisa begitu?, tanya mereka. Dengan singkat saya menjawab, karena si penulis ingin meluruskan orang2 sesat seperti keinginanmu (teman pertama), tetapi sekaligus menebar kebencian seperti pendapatmu (kpd teman yg kedua).

Kehadiran buku ini memberikan beberapa hal penting. Pertama, Pada tahap tertentu buku ini menjelaskan pemikiran-pemikiran mazhab syiah, hanya saja —daripada membahas secara ilmiah—, buku ini secara sengaja mengumpulkan sisi-sisi negatif mazhab syiah.

Kedua, Buku ini pada tahap tertentu telah menciptakan sentimen kemazhaban dari kedua belah pihak (sunni dan syiah) yang dapat merusak persatuan kaum muslimin dalam bingkai berbeda-beda tetapi tetap satu juga.

Ketiga, terkait dengan hal yang kedua, buku ini meningkatkan ketegangan hubungan antar umat seagama yang seharusnya dipupuk terlebih disaat Islam dipojokkan dengan beragam isu konflik yang berdampak internasional seperti isu terorisme.

Meskipun begitu, pertama, buku ini juga telah menjadi iklan gratis bagi mazhab syiah, sehingga bagi pengkaji yang objektif terpancing untuk memahami mazhab syiah dari sumber-sumber yang kredibel. selain itu, kedua, buku ini mengingatkan orang syiah –dan pada tahap tertentu juga orang-orang sunni— untuk lebih waspada karena masih ada sisa-sisa penghalang bagi pendekatan antar mazhab dan persatuan kekuatan kaum muslimin. dan ketiga, Buku ini menjadi contoh bahwa terkadang penerbit buku tidak mengindahkan keilmiahan dan dampak sosial religius dalam penerbitan buku, tetapi lebih pada keuntungan.

Tetapi sebagai sebuah sikap ilmiah saya berusaha untuk sabar dalam membaca dan tentunya menganalisis setiap katanya, utuk mendapatkan misi dan visi pengarangnya. Untuk itu, saya akan tuliskan beberapa hal penting untuk kita dapat mengenal isi buku dan pengarangnya. (Catt. Karena takut tulisannya kepanjangan, maka akan dibuat secara bersambung)

SEKILAS SOSOK BUKU DAN PENGARANG

Buku ini berjudul asli “Lillahi Tsumma Littarikh”, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang cukup propokatif, “Mengapa Saya Keluar dari Syiah?” yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka al-Kaustsar edisi pertama tahun 2002 dan kini telah dicetak edisi kelimanya tahun 2008.

Buku ini ditulis oleh seorang yang mengaku bernama Sayid Husain al-Musawi. Dari namanya, ia mengaku keturunan Nabi saaw dan telah menjadi mujtahid dengan menyelesaikan pendidikannya di haujah Najaf Irak dibawah asuhan Sayid (?) Muhamamd Husain Ali Kasyf al-Ghita (lihat hal.4). Ia mengaku lahir di Karbala dari keluarga syiah yang taat beragama, serta mengawali pendidikannya hingga remaja di kota tempat Imam Husain as syahid tersebut (lihat hal. 2).

Buku ini terdiri dari 153 halaman yang dimulai dengan kata pengantar oleh Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi yang mengaku pakar aliran syiah. Dengan pengantar tersebut, buku ini semakin kelihatan “prestisiusnya”. Membahas banyak persoalan yang selain pendahuluan dan penutup, buku ini dibagi dalam tujuh pembahasan, sbb :
1. Tentang Abdullah bin Saba’
2. Hakikat Penisbatan Syiah Kepada Ahlul Bait
3. Nikah Mut’ah dan Hal-Hal yang Berhubungan Dengannya
4. Khumus
5. Kitab-kitab Samawi
6. Pandangan Syiah terhadap Ahlussunnah
7. Pengaruh Kekuatan Asing Dalam Pembentukan Ajaran Syiah.

Pada halaman terakhir dilampirkan fatwa yang dikeluarkan oleh Husain Bahrul Ulum, tentang kesesatan buku tersebut.

KEJANGGALAN SOSOK PENGARANG (HUSAIN AL-MUSAWI)

Ada pepatah yang terkenal “Sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh juga” dan “sepandai-pandai menyembunyikan bangkai akhirnya akan tercium juga”. Pepatah ini kelihatannya sesuai untuk penulis buku ini, bahkan bukan hanya sekali-kali saja dia jatuh tetapi seringkali dia jatuh pada berbagai kesalahan dalam tulisannya. Kita akan lihat bahwa buku ini tidak lebih merupakan dongeng imajiner seorang penulis untuk menciptakan propokasi kepada umat Islam. Tapi al-hamdulillah, Allah masih menjaga kaum muslimin dari berbagai perpecahan dan tipu daya setan baik setan yang berbentuk jin maupun setan manusia.

Buku ini tidak menuliskan secara jelas siapa sebenarnya Sayid Husain al-Musawi. Tidak diketahui kapan lahir dan silsilah keluarganya, pendidikan dan guru-gurunya baik di Karbala’ maupun di Najaf (Irak). Juga tidak diketahui karya-karya yang ditulisnya selain buku ini. Dari sini kita meragukan keadaan dan kualitas keilmuannya yang mengaku mujtahid syiah.

Terlebih setelah kita mendapatkan beberapa kejanggalan yang sangat mencolok dari buku yang ditulisnya ini. Kejanggalan sosok pengarang terlihat saat kita melanjutkan bacaan menelusuri buku ini kata-kata demi kata, paragraf demi paragraf, dan halaman demi halaman. Diantara kejanggalannya adalah sbb:

(Catt : Untuk memepermudah, tulisan asli Husain al-Musawi saya beri tanda >; sedangkan tanggapan saya menggunakan tanda #)

1. Husain al-Musawi menulis pada halaman 128 :

> “Disaat sedang memandikan saya menemukan bahwa sang mayit tidak di khitan. Saya tiak bisa menyebutkan siapa nama mayat tersebut, karena anak-anaknya mengetahui siapa yang memandikan bapaknya. Jika saya menyebutkan, pasti mereka akan mengetahui siapa saya, selanjutnya akan mengetahui penulis buku ini, sehingga terbukalah segala urusan saya dan akan terjadi suatu tindakan yang tidak terpuji.”

# Perhatikanlah, bahwa dia mengakui dirinya tidak ingin dikenali. Dia tidak menyebutkan siapa nama mayit yang memandikannya, karena takut dikenali dan dampaknya….. Tetapi dia berani menyebutkan Nama Ayatullah Sayid Khui, Syeikh Kasyf al-Ghita, bahkan Ayatullah Khumaini dengan hinaan dan cercaan yang lebih buruk lagi padahal mereka menurut pengakuannya adalah guru dan marja’nya.

2. Husain musawi menulis pada halaman 94 :

> “Diakhir pembahasan tentang khumus ini saya tidak melewatkan perkataan temanku yang mulia, seorang penyair jempolan dan brilian, Ahmad Ash-Shafi an-Najafi Rahimahullah. Saya mengenalnya setelah saya meraih gelar mujtahid. Kami menjadi teman yang sangat kental walaupun terdapat perbedaan umur yang sangat mencolok, dimana dia tiga puluh lima tahun lebih tua dari umurku.” (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, 2008, hal. 94)

# Perlu diketahui bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi dilahirkan pada tahun 1895 M/ 1313-14 H dan wafat pada tahun 1397 H. Jika kita bandingkan dengan umur yang disebutkan oleh Husain al-Musawi bahwa Ahmad Ash-Shafi an-Najafi itu lebih tua 35 tahun dari dirinya, maka kita menemukan tahun kelahirAn Husain al-Musawi adalah tahun 1930 M atau 1349 H, dengan perhitungan sbb :
– 1895 M + 35 = 1930 M
– 1314 H + 35 = 1349 H

Kemudian, bandingkan dengan halaman 68 Husain Musawi menyebutkan bahwa ia bertemu dengan Sayid Syarafudin al-Musawi (Pengarang Kitab al-Muraja’at atau Dialog Sunnah Syiah) di Najaf, Irak.

Husain Musawi menulis pada halaman 68 :

> “Suatu hari di kota Najaf datang berita kepada saya bahwa yang mulia Sayid Abdul Husain Syarafuddin al-Musawi sampai ke Baghdad, dan sampai ke Hauzah (kota ilmu) untuk bertemu dengan yang mulia Imam Ali Kasyif al-Ghita. Sayid Syarafuddin adalah orang yang sangat dihormati dikalangan orang-orang syiah, baik dari kalangan awam maupun orang-orang khusus. Terutama setelah terbitnya kitab-kitab yang dia karang yaitu kitab Muraja’at dan kitab Nash wal Ijtihad.” (lihat hal. 68)

# Perlu diketahui bahwa Sayid Syarafuddin al-Musawi datang ke Najaf pada tahun 1355 H (buku al-Muraja’at diterbitkan pertama kali juga tahun 1355 H). Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan kedatangan Sayid syarafuddin al-Musawi maka usianya pada saat itu masih 6 tahun (1349 H – 1355 H = 6 tahun)….sementara pada Bab PENDAHULUAN (halaman 2), Husain al-Musawi menyebutkan bahwa ia datang ke Najaf pada usia remaja setelah menyelesaikan pendidikannya di Karbala….bagaimana mungkin ia ada di Najaf pada saat itu dan menjadi pelajar tingkat tinggi (kelas bahtsul kharij) pada usia 6 tahun…???? Sungguh kebohongan yang nyata.

Kemudian pada halaman 4 dia menulis :

> “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan meendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu Sayid (?) Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita.”

# Dengan jelas ia menyebutkan bahwa dia mendapat ijazah mujtahid dari “Sayid” Kasyf al-Ghita’ tapi tidak disebutkan tahun berapa ijazahnya dikeluarkan. Perlu diketahui bahwa Kasyif Ghita’ bukanlah Sayid (bukan keturunan ahlul bait), tetapi Syeikh. Syeikh Kasyif al-Ghita meninggal pada tahun 1373 H. Jika kita bandingkan tahun kelahiran Husain al-Musawi dengan tahun wafatnya Syeikh Kasyf al-Ghita, maka kita menemukan usia Husain al-Musawi tamat dari belajar dan menjadi mujtahid maksimal adalah 24 tahun (1349 – 1373 H = 24 tahun). Jika kita kurangi bahwa ia mendapat gelar 5 tahun sebelum meninggalnya Syeikh Ali Kasyf al-Ghita, yakni tahun 1368 H, maka berarti usianya menjadi mujtahid adalah 19 tahun (1349 – 1368 H = 19 tahun). Suatu prestasi yang membanggakan dan luar biasa. Tetapi anehnya, selain tidak ada datanya, tidak ada pula satupun ulama dan pelajar serta masyarakat mengetahui ada seorang yang mencapai gelar mujtahid pada usia tersebut dan berasal dari Karbala yang bernama Husain al-Musawi.

Dan lebih mengherankan lagi, sehingga kedok si penulis semakin terbuka, adalah bahwa Husain al-Musawi menulis pada halaman 131-132, sbb :
> “Ketika saya berkunjung ke India saya bertemu dengan Sayid Daldar Ali. Dia memperlihatkan kepada saya kitabnya yang berjudul Asas al-ushul.

# Ini adalah kebohongan nyata yang tidak bisa disembunyikan lagi oleh Husain al-Musawi. Ketahuilah bahwa Sayid Daldar Ali adalah ulama abad ke 19 yang wafat pada tahun 1820 M/ 1235 H (lihat kitab ‘Adz-Dzari’ah Ila Tasanif al-Syiah’). Ini berarti, sayid Daldar Ali telah meninggal selama 110-114 tahun sebelum lahirnya Husain al-Musawi yang lahir pada tahun 1930 M (1820 M – 1930 M = 110 tahun) atau (1235 – 1349 H = 114 tahun). Bagaimana mungkin Husain al-Musawi bertemu dengan sayid Daldar Ali padahal ia sendiri belum lahir bahkan ayah dan kakeknya pun mungkin belum lahir…????

Jika dia memang bertemu dengan Sayid Daldar Ali, berarti setidaknya Husain al-Musawi lahir pada tahun 1800 M. Jika dia lahir tahun 1800 M, bagaimana mungkin usianya lebih muda dari Ahmad Ash-Shafi an-Najafi yang lahir pada tahun 1895 M..??? dan bagaimana mungkin dia belajar kepada Syeikh Kasyf Ghita yang lahir pada tahun 1877 M..?? bagaimana dia bertemu dengan Sayid Khui di tahun 1992 (berarti usianya 192 tahun)? bagaimana mungkin dia mengikuti Revolusi Iran pada tahun 1979 (berarti usianya 179 tahun) ..??? dan banyak lagi kisah aneh yang diimajinasikan oleh si penulis buku ini.

Dengan beberapa bukti di atas (dan masih banyak lagi lainnya) kita dapat menyimpulkan bahwa pengarang buku ini bukanlah seorang mujtahid syiah, bahkan mungkin bukan pula penganut mazhab syiah. Namanya juga diragukan apakah benar Sayid Husain al-Musawi atau sekedar mencatut nama agar lebih meyakinkan. Bagi saya, penulis buku ini adalah sosok imajiner yang membuat kisah imajinasi dengan berusaha menjadi tokoh utama dalam sandiwara fiktif ini. Buku ini bisa kita anggap sebagai novel dongeng untuk mendiskriditkan Islam seperti The Satanic Verses yang ditulis oleh Salman Rusydi…..mungkin saja, Husain al-Musawi ingin menjadi pelanjut Salman Rusydi. Wallahu a’lam

HUSAIN AL-MUSAWI TIDAK MENGENAL ULAMA-ULAMA DAN IMAM-IMAM SYIAH

“Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, ternyata tidak mengenal tokoh-tokoh dan ulama-ulama syiah, bahkan ia tidak mengenal imam syiah.”

Sebagai buku yang ditulis untuk propokatif, karya Husain al-Musawi, “Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?” memang sudah sewajarnya tidak memiliki bobot akademis dan ilmiah. Selain kerancuan dan kejanggalan sosok Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah, dia juga tidak mengenal tokoh-tokoh syiah bahkan gurunya sendiri. Selain itu bahkan dia tidak mengetahui tradisi keilmuan syiah dalam ushul maupun furu’.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Husain al-Musawi adalah sosok fiktif yang mengarang buku dengan khayalan dan imajinasinya. Dia ingin membuat sandiwara dan berusaha menjadi pemain utamanya dan menjadikan yang lain sebagai “bandit-banditnya”. Tapi sayang, ternyata pemeran utama ini tidak tahu naskah skenarionya, dan tidak mengenal dengan baik lawan bermainnya. Pada edisi ketiga ini, kita akan mengungkap lanjutan kepalsuannya dan kebodohannya tentang ulama-ulama dan imam
-imam syiah. Untuk tidak berpanjang mari kita cermati beberapa isi buku tersebut.

1). Pada halaman 4 (dan berlanjut dihalaman2 berikutnya), ia menulis :

> “Yang penting, saya menyelesaikan studiku dengan sangat memuaskan, hingga saya mendapat ijazah (sertifikat) ilmiah dengan mendapat derajat ijtihad dari salah seorang tokoh yang paling tinggi kedudukannya, yaitu SAYID MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYIF AL-GHITA”….

# Perhatikanlah, Husain Musawi menyebut “Sayid Muhammad Husain Ali Kasyf al-Ghita, padahal Allamah Kasyif al-Ghita bukanlah “SAYID”, karena beliau bukanlah keturunan dari Rasulullah saaw dan Ahlul bait nabi saaw. Sehingga Allamah Kasyf al-Ghita tidak pernah dipanggil dengan Sayid melainkan dengan “SYEIKH”. Kita bisa baca semua buku-buku ulama syiah yang besar maupun yang kecil, semua menyebut dengan “SYEIKH KASYF AL-GHITA”. Bahkan kita bisa lihat sendiri di dalam karya-karyanya misalnya “Ashl Syiah wa Ushuluha” disana disebutkan nama SYEIKH MUHAMMAD HUSAIN ALI KASYF AL-GHITA.

Bagaimana mungkin Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid dan menjadi murid Syeikh Kasyif al-Ghita, tidak tahu tentang silsilah gurunya ini…??? Padahal orang awam syiah sekalipun tahu perbedaan antara Sayid dengan Syeikh.

2). Pada halman 12, ia menulis :

> “…sebagaimana SAYID MUHAMMAD JAWAD pun mengingkari keberadaannya ketika memberi pengantar buku tersebut”,

# Perhatikanlah, dia menyebut Sayid Muhammad Jawad, padahal yang benar adalah “SYEIKH MUHAMMAD JAWAD (MUGHNIYAH)” karena beliau juga bukan keturunan ahlul bait as.

# Masih banyak lagi kesalahannya seperti menyebut Sayid Ali Gharwi (lihat halaman 26), padahal seharausnya Mirza Ali Ghuruwi. Begitu juga pada halaman 111 dia menulis “SAYID MUHAMMAD BAQIR ASH-SHADUQ”..??? Siapa orang ini….??? Apakah maksudnya Syeikh Shaduq yang bernama asli Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qummi (gelarnya Syeikh Shaduq)…???? Atau apakah maksudnya adalah Allamah Sayid Muhammad Baqir Ash-Shadr, salah seorang marja’ syiah di Najaf…?? … ini mungkin hanya salah tulis

3. Tidak hanya disitu ia juga tidak bisa membedakan antara ulama sunni dan syiah. Bahkan keliru menyebut buku syiah. Misalnya : Pada halaman 28 dan 29 dia mengutip dari buku “Maqatil ath-Thalibin” padahal buku tersebut bukan buku syiah. “Maqatil ath-Thalibin” adalah buku karya Ulama ahlus sunnah Abul Faraj al-Isfahani.

Itu diantara kekeliruan2 nya menyebut ulama-ulama syiah. Tapi hal itu masih lumayan. Sebab, tidak hanya sampai disitu, bahkan Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid syiah ini, tidak bisa membedakan imam2 syiah. Dia kesulitan membedakan Imam-imam syiah karena terkadang memiliki panggilan yang sama. Perhatikan pernyataanya berikut ini :

4. Pada halaman 18, ia menulis :
> Amirul mukminin as berkata, “Kalaulah aku bisa membedakan pengikutku, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang yang memisahkan diri. Kalaulah akau menguji mereka, maka tidak akan aku dapatkan kecuali orang-orang murtad. Kalaulah aku menyeleksi mereka, maka tidak ada yang akan lolos seorang pun dari seribu orang.” (Al-Kafi/Ar-Raudhah, 8/338)

# Ternyata Husain al-Musawi tidak mengenal Imam-imam Syiah. Diatas ia menulis “AMIRUL MUKMININ as berkata”. Perlu diketahui, gelar AMIRUL MUKMININ itu diperuntukkan kepada Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama syiah). Setelah kita periksa ke kitab ar-Raudhah al-Kafi, ternyata tidak terdapat kata “Amirul Mukminin”, tetapi yang ada adalah “ABUL HASAN”. Di bawah ini saya tuliskan riwayatnya sbb :

وَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الصُّوفِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ بَكْرٍ الْوَاسِطِيُّ قَالَ قَالَ لِي أَبُو الْحَسَنِ ( عليه السلام ) لَوْ مَيَّزْتُ شِيعَتِي لَمْ أَجِدْهُمْ إِلَّا وَاصِفَةً وَ لَوِ امْتَحَنْتُهُمْ لَمَا وَجَدْتُهُمْ إِلَّا مُرْتَدِّينَ وَ لَوْ تَمَحَّصْتُهُمْ لَمَا خَلَصَ مِنَ الْأَلْفِ وَاحِدٌ وَ لَوْ غَرْبَلْتُهُمْ غَرْبَلَةً لَمْ يَبْقَ مِنْهُمْ إِلَّا مَا كَانَ لِي إِنَّهُمْ طَالَ مَا اتَّكَوْا عَلَى الْأَرَائِكِ فَقَالُوا نَحْنُ شِيعَةُ عَلِيٍّ إِنَّمَا شِيعَةُ عَلِيٍّ مَنْ صَدَّقَ قَوْلَهُ فِعْلُهُ .

“Dengan sanad-sanad ini, dari Muhammad bin Sulaiman, dari Ibrahim bin Abdillah al-Sufi berkata: meyampaikan kepadaku Musa bin Bakr al-Wasiti berkata : “Abu al-Hasan a.s berkata kepadaku (Qala li Abul Hasan) : ‘Jika aku menilai syi‘ahku, aku tidak mendapati mereka melainkan pada namanya/sifatnya saja. Jika aku menguji mereka, nescaya aku tidak mendapati mereka kecuali orang-orang yang murtad (murtaddiin). Jika aku periksa mereka dengan cermat, maka tidak seorangpun yang lulus dari seribu orang. Jika aku seleksi mereka, maka tidak ada seorangpun yang tersisisa dari mereka selain dari apa yang ada padaku, sesungguhnya mereka masih duduk di atas bangku-bangku, mereka berkata : Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya. (ar-Raudhat al-Kafi hadis no 290)

# Perhatikan, hadits di atas menyebutkan ABUL HASAN as, bukan Amirul Mukminin. Ketahuilah Abul Hasan as adalah panggilan utk beberapa imam syiah diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib as (imam pertama), Imam Ali Zainal Abidin as (imam keempat), Imam Musa al-Kadzhim (imam ketujuh), Imam Ali ar-Ridha (imam kedelapan), dan Imam Ali al-Hadi (imam kesepuluh).

Sekarang siapakah Abul Hasan yang dimaksud oleh hadits di atas..???

Jawabnya adalah bahwa hadits diatas berasal dari Imam Musa al-Kadzhim bukan dari Amirul mukminin Imam Ali bin Abi Thalib as. Sebab, hadits tersebut diriwayatkan oleh Musa bin Bakr al-Wasithi, dan beliau adalah sahabat Imam Musa al-Kadzhim as (imam ketujuh syiah).

Bagaimana mungkin, Husain al-Musawi yang mengaku mujtahid ini, tidak mengenal imamnya sendiri..???? Ini mujtahid yag salah kaprah….

# Selain itu, perhatikan bagaimana ia memotong bagian akhir dari riwayat tersebut yang menegaskan, “Kami adalah Syi‘ah Ali. Sesungguhnya Syi‘ah Ali adalah orang yang amalannya membenarkan kata-katanya”.

Jika kita perhatikan akhir dari riwayat tersebut, maka jelaslah bagaimana Imam Musa al-Kadzim menyipati orang2 syiah yg sejati…..
Dimanakah posisi Husain al-Musawi…??? mungkin termasuk yag bagian pertama dari hadits di atas….yaitu ngaku syiah dan murtaddin yang tidak lolos seleksi para imam….Wallahu a’lam.

SYIAH DAN PENAMAAN RAFIDHAHSeperti kita lihat dalam bukunya yg saya bedah di froum diskusi ini, salah satu kebiasaan Husain al-Musawi adalah menciptakan riwayat palsu atau riwayat lemah dan juga memotong2 riwayat hadits2 syiah sesuka hatinya utk menciptakan citra buruk syiah. Tapi propagandanya memang sudah bisa ditebak bagi org2 yg mau menggunakan sedikit tenaga dan pikirannya. 

Diantara yg dipotongnya adalah riwayat ttg penamaan Rafidhah kepada syiah….

- Pada halaman 22 poin 4, Husain al-Musawi menuliskan sbb :

> Sesunguhnya Ahlu Bait menyebut dan menyifati para pengikut mereka sebagai thagut umat ini, kelompok sempalan dan pelempar kitab. Kemudian mereka menambahkan atas hal itu dengan ucapannya, ‘Ingat sesungguhnya laknat Allah atas orang2 yg zahalim’. Oleh karena itu mereka datang kepada Abu Abdillah as, lalu berkata kepadanya : ‘Sesungguhnya kami telah dicela dengan celaan yang sangat berat di atas punggung-punggung kami, matilah terhadapnya hati-hati kami, para pemimpin menghalalkan darah-darah kami dalam hadits yang diriwayatkan oleh para ahli fikih mereka. Maka Abu Abdullah berkata, “Rafidhah”? Mereka menjawab “Ya”. Maka dia berkata, “tidak! demi Allah bukanlah mereka yang menamai kamu sekalian dengan nama tersebut, tetapi Allah lah yg menamai kamu sekalian dengan nama tersebut.” (Al-Kafi, 3/34)

Husain al-Musawi kemudian mengomentari riwayat tersebut dgn mengatakan, “Abu Abdullah menjelaskan bahwa yg menamai mereka dengan sebutan rafidhah adalah Allah dan bukan ahlus sunnah.
——————-

# Perhatikanlah bagaimana ia memgutip sebagian riwayat dan menyembunyikan riwayat lanjutannya. Setelah saya periksa teks aslinya ternyata sangat panjang (sampai dua halaman) dan Husain al-Musawi memotong teksnya sesuka hatinya untuk menunjukkan sisi negatifnya saja. Padahal hadits ini merupakan pujian bagi orang-orang syiah. Hadits tersebut terdapat dalam Kitab Raudhat al-Kafi bab Khutbah Thalutiyah yg merupakan pujian2 dan kelebihan2 org2 syiah.

Perhatikan teks lengkap berikut ini dari“Kitab Raudhat al-Kafi Bab Khutbah Thalutiyyah hdits no 6 sbb :

عِدَّةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) إِذْ دَخَلَ عَلَيْهِ أَبُو بَصِيرٍ وَ قَدْ خَفَرَهُ النَّفَسُ فَلَمَّا أَخَذَ مَجْلِسَهُ قَالَ لَهُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا هَذَا النَّفَسُ الْعَالِي فَقَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ يَا ابْنَ رَسُولِ اللَّهِ كَبِرَ سِنِّي وَ دَقَّ عَظْمِي وَ اقْتَرَبَ أَجَلِي مَعَ أَنَّنِي لَسْتُ أَدْرِي مَا أَرِدُ عَلَيْهِ مِنْ أَمْرِ آخِرَتِي فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَ إِنَّكَ لَتَقُولُ هَذَا قَالَ جُعِلْتُ فِدَاكَ وَ كَيْفَ لَا أَقُولُ هَذَا فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَ مَا عَلِمْتَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُكْرِمُ الشَّبَابَ مِنْكُمْ
وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَكَيْفَ يُكْرِمُ الشَّبَابَ وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ فَقَالَ يُكْرِمُ اللَّهُ الشَّبَابَ أَنْ يُعَذِّبَهُمْ وَ يَسْتَحْيِي مِنَ الْكُهُولِ أَنْ يُحَاسِبَهُمْ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ هَذَا لَنَا خَاصَّةً أَمْ لِأَهْلِ التَّوْحِيدِ قَالَ فَقَالَ لَا وَ اللَّهِ إِلَّا لَكُمْ خَاصَّةً دُونَ الْعَالَمِ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ فَإِنَّا قَدْ نُبِزْنَا نَبْزاً انْكَسَرَتْ لَهُ ظُهُورُنَا وَ مَاتَتْ لَهُ أَفْئِدَتُنَا وَ اسْتَحَلَّتْ لَهُ الْوُلَاةُ دِمَاءَنَا فِي حَدِيثٍ رَوَاهُ لَهُمْ فُقَهَاؤُهُمْ قَالَ فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ ( عليه السلام ) الرَّافِضَةُ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ لَا وَ اللَّهِ مَا هُمْ سَمَّوْكُمْ وَ لَكِنَّ اللَّهَ سَمَّاكُمْ بِهِ أَ مَا عَلِمْتَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ أَنَّ سَبْعِينَ رَجُلًا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ رَفَضُوا فِرْعَوْنَ وَ قَوْمَهُ لَمَّا اسْتَبَانَ لَهُمْ ضَلَالُهُمْ فَلَحِقُوا بِمُوسَى ( عليه السلام ) لَمَّا اسْتَبَانَ لَهُمْ هُدَاهُ فَسُمُّوا فِي عَسْكَرِ مُوسَى الرَّافِضَةَ لِأَنَّهُمْ رَفَضُوا فِرْعَوْنَ وَ كَانُوا أَشَدَّ أَهْلِ ذَلِكَ الْعَسْكَرِ عِبَادَةً وَ أَشَدَّهُمْ حُبّاً لِمُوسَى وَ هَارُونَ وَ ذُرِّيَّتِهِمَا ( عليهما السلام ) فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ إِلَى مُوسَى ( عليه السلام ) أَنْ أَثْبِتْ لَهُمْ هَذَا الِاسْمَ فِي التَّوْرَاةِ فَإِنِّي قَدْ سَمَّيْتُهُمْ بِهِ وَ نَحَلْتُهُمْ إِيَّاهُ فَأَثْبَتَ مُوسَى ( عليه السلام ) الِاسْمَ لَهُمْ ثُمَّ ذَخَرَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ لَكُمْ هَذَا الِاسْمَ حَتَّى نَحَلَكُمُوهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ رَفَضُوا الْخَيْرَ وَ رَفَضْتُمُ الشَّرَّ افْتَرَقَ النَّاسُ كُلَّ فِرْقَةٍ وَ تَشَعَّبُوا كُلَّ شُعْبَةٍ فَانْشَعَبْتُمْ مَعَ أَهْلِ بَيْتِ نَبِيِّكُمْ ( صلى الله عليه وآله ) وَ ذَهَبْتُمْ حَيْثُ ذَهَبُوا وَ اخْتَرْتُمْ مَنِ اخْتَارَ اللَّهُ لَكُمْ وَ أَرَدْتُمْ مَنْ أَرَادَ اللَّهُ فَأَبْشِرُوا ثُمَّ أَبْشِرُوا فَأَنْتُمْ وَ اللَّهِ الْمَرْحُومُونَ الْمُتَقَبَّلُ مِنْ مُحْسِنِكُمْ وَ الْمُتَجَاوَزُ عَنْ مُسِيئِكُمْ مَنْ لَمْ يَأْتِ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ حَسَنَةٌ وَ لَمْ يُتَجَاوَزْ لَهُ عَنْ سَيِّئَةٍ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ إِنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ مَلَائِكَةً يُسْقِطُونَ الذُّنُوبَ عَنْ ظُهُورِ شِيعَتِنَا كَمَا يُسْقِطُ الرِّيحُ الْوَرَقَ فِي أَوَانِ سُقُوطِهِ وَ ذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَ جَلَّ الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَ مَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَ يَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا اسْتِغْفَارُهُمْ وَ اللَّهِ لَكُمْ دُونَ هَذَا الْخَلْقِ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجالٌ صَدَقُوا ما عاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضى نَحْبَهُ وَ مِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَ ما بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
إِنَّكُمْ وَفَيْتُمْ بِمَا أَخَذَ اللَّهُ عَلَيْهِ مِيثَاقَكُمْ مِنْ وَلَايَتِنَا وَ إِنَّكُمْ لَمْ تُبَدِّلُوا بِنَا غَيْرَنَا وَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَعَيَّرَكُمُ اللَّهُ كَمَا عَيَّرَهُمْ حَيْثُ يَقُولُ جَلَّ ذِكْرُهُ وَ ما وَجَدْنا لِأَكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَ إِنْ وَجَدْنا أَكْثَرَهُمْ لَفاسِقِينَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ إِخْواناً عَلى سُرُرٍ مُتَقابِلِينَ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَنَا اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ وَ شِيعَتَنَا وَ عَدُوَّنَا فِي آيَةٍ مِنْ كِتَابِهِ فَقَالَ عَزَّ وَ جَلَّ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّما يَتَذَكَّرُ أُولُوا الْأَلْبابِ فَنَحْنُ الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَ عَدُوُّنَا الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ وَ شِيعَتُنَا هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ وَ اللَّهِ مَا اسْتَثْنَى اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ بِأَحَدٍ مِنْ أَوْصِيَاءِ الْأَنْبِيَاءِ وَ لَا أَتْبَاعِهِمْ مَا خَلَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ( عليه السلام ) وَ شِيعَتَهُ فَقَالَ فِي كِتَابِهِ وَ قَوْلُهُ الْحَقُّ يَوْمَ لا يُغْنِي مَوْلًى عَنْ مَوْلًى شَيْئاً وَ لا هُمْ يُنْصَرُونَ إِلَّا مَنْ رَحِمَ اللَّهُ يَعْنِي بِذَلِكَ عَلِيّاً ( عليه السلام ) وَ شِيعَتَهُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ إِذْ يَقُولُ يا عِبادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ إِنَّ عِبادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطانٌ وَ اللَّهِ مَا أَرَادَ بِهَذَا إِلَّا الْأَئِمَّةَ ( عليهم السلام ) وَ شِيعَتَهُمْ فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ فَقَالَ فَأُولئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَ الصِّدِّيقِينَ وَ الشُّهَداءِ وَ الصَّالِحِينَ وَ حَسُنَ
أُولئِكَ رَفِيقاً فَرَسُولُ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فِي الْآيَةِ النَّبِيُّونَ وَ نَحْنُ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ الصِّدِّيقُونَ وَ الشُّهَدَاءُ وَ أَنْتُمُ الصَّالِحُونَ فَتَسَمَّوْا بِالصَّلَاحِ كَمَا سَمَّاكُمُ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَقَدْ ذَكَرَكُمُ اللَّهُ إِذْ حَكَى عَنْ عَدُوِّكُمْ فِي النَّارِ بِقَوْلِهِ وَ قالُوا ما لَنا لا نَرى رِجالًا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الْأَشْرارِ أَتَّخَذْناهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصارُ وَ اللَّهِ مَا عَنَى وَ لَا أَرَادَ بِهَذَا غَيْرَكُمْ صِرْتُمْ عِنْدَ أَهْلِ هَذَا الْعَالَمِ شِرَارَ النَّاسِ وَ أَنْتُمْ وَ اللَّهِ فِي الْجَنَّةِ تُحْبَرُونَ وَ فِي النَّارِ تُطْلَبُونَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي قَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ مَا مِنْ آيَةٍ نَزَلَتْ تَقُودُ إِلَى الْجَنَّةِ وَ لَا تَذْكُرُ أَهْلَهَا بِخَيْرٍ إِلَّا وَ هِيَ فِينَا وَ فِي شِيعَتِنَا وَ مَا مِنْ آيَةٍ نَزَلَتْ تَذْكُرُ أَهْلَهَا بِشَرٍّ وَ لَا تَسُوقُ إِلَى النَّارِ إِلَّا وَ هِيَ فِي عَدُوِّنَا وَ مَنْ خَالَفَنَا فَهَلْ سَرَرْتُكَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ قَالَ قُلْتُ جُعِلْتُ فِدَاكَ زِدْنِي فَقَالَ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ لَيْسَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا نَحْنُ وَ شِيعَتُنَا وَ سَائِرُ النَّاسِ مِنْ ذَلِكَ بُرَآءُ يَا أَبَا مُحَمَّدٍ فَهَلْ سَرَرْتُكَ وَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى فَقَالَ حَسْبِي .

“Sejumlah sahabat kami, dari Sahal bin Ziad, dari Muhammad bin Sulaiman, dari ayahnya berkata: Aku berada di sisi Abu Abdillah as, mendadak Abu Basir datang. Beliau kelihatan gelisah dengan nafasnya yg sesak. Setelah dia duduk, maka Abu Abdillah as berkata kepadanya: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau resah seperti ini? Maka dia menjawab : Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, wahai putra Rasulullah, umurku telah tua, tulangku lemah dan ajalku semkain dekat, tetapi aku belum tahu bagaimana keadaanku di akhirat kelak.?

Abu Abdillah as berkata: Wahai Abu Muhammad, mengapa engkau berkata seperti itu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, mengapa aku tidak boleh berkata demikian? Maka Imam as berkata: Tidakkah engkau tahu bahwa sesungguhnya Allah memuliakan para pemuda dan malu kepada golongan tua diantara kamu? Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sebagai tebusan utkmu, bagaimana Dia memuliakan para pemuda di kalangan kita dan malu kepada yang tua?

Abu Abdilah as. berkata: “Dia memuliakan para pemuda diantara kamu supaya Dia tidak menyiksa mereka dan Dia malu kepada kelompok tua diantara kamu supaya Dia tidak menghisab mereka. Abu Basir berkata: Aku jadikan diriku sbg tebusanmu, adakah hal ini hanya khusus untuk kita atau untuk semua ahli tauhid? Abu Abdillah as berkata: “Tidak, demi Allah hal ini khusus untuk kamu dan tidak untuk yg lain. Abu Basir berkata: “Aku jadikan diriku sbg tebusan utkmu, kami telah buruk, punggung kami patah, hati kami mati, penguasa menghalalkan darah kami dengan hadis2 yang diriwayatkan oleh para fukaha mereka.

Abu Abdillah as. berkata : Rafidhah? Abu Basir berkata: Ya!. Beliau as. berkata : “Bukan mereka yang menamai kamu demikain, tetapi Allah swt yang telah menamai kamu dengan nama tersebut. TIDAKKAH ENGKAU TAHU WAHAI ABU MUHAMMAD, BAHWA ADA 70 LAKI-LAKI BANI ISRAEL BERSAMA FIRA’UN YANG MENGIKUTINYA. KETIKA MEREKA MELIHAT KESESATAN FIR’AUN DAN PETUNJUK DARI MUSA AS, MAKA MEREKA MENOLAK (RAFADHU) FIR’AUN.

KEMUDIAN MEREKA MENGIKUTI MUSA DAN BERADA DALAM NAUNGAN MUSA AS, DAN MEEKA DIKENAL SEBAGAI ORG2 YANG RAJIN BERIBADAH. MEREKA MENOLAK FIRA’UN. MAKA ALLAH MEWAHYUKAN KEPADA MUSA AS AGAR MENJADIKAN NAMA ITU UNTUK MEREKA DI DALAM TAURAT.

SESUNGGUHNYA AKU MENJADIKAN NAMA MEREKA, KEMUDIAN ALLAH MENYIMPAN NAMA TERSEBUT SEHINGGA MEMBERIKAN NAMA TERSEBUT KEPADA KAMU SEKALIAN. WAHAI ABU MUHAMMAD, MEREKA TELAH MENOLAK KEBAIKAN SEDANGKAN KAMU SEDANG MENOLAK KEJAHATAN. MANUSIA TERPECAH MENJADI BEBERAPA GOLONGAN DAN SYIAH, TETAPI KAMU TELAH MENJADI SYIAH AHLUL BAIT NABIMU. KARENA ITU, KAMU TELAH BERPEGANG DENGAN APA YANG TELAH DIPERINTAHKAN ALLAH DAN KAMU TELAH MEMILIH APA2 YANG TELAH DIPILIH ALLAH. MAKA BERGEMBIRALAH KAMU DAN BERITAKAN KABAR GEMBIRA INI KEPADA MEREKA.

Kemudian, selanjutnya Abu Abdilah as memberikan kabar gembira dan keutamaan serta kelebihan2 syiah mereka……silahkan anda baca riwayat di atas…maaf sy gak terjemahkan seluruhnya… takut kepanjangan..

# Perhatikanlah…bahwa dengan membaca keseluruhan hadits ini, maka akan dengan jelas terlihat bahwa Husain al-Musawi berusaha membalikkan fakta yg sebenarnya dengan memotong2 riwayat sesuka hatinya…

Apakah Husain al-Musawi ingin mengatakan bahwa org2 yg menolak (rafadhu) Firuan adalah org2 sesat dan yg mengikuti Fira’aun adalah org2 soleh yg selamat….???

Begitulah org2 syiah menolak pemerintahan2 zalim yg meniru pemerintahan Fira’un. Jika Fir’aun dahulu kala memeriksa semua rumah utk mencari dan membunuh anak lelaki yg akan meruntuhkan kekuasaanya… maka penguasa2 masa itu…membunuh para ahlul bait Rasul saaw. Mereka meracun Hasan as dan membunuh Husain as dan keluarganya serta sahabat2nya di Karbala…Tidak hanya sampai disitu, mereka mengawasi setiap Keturunan Rasulullah saaw berikutnya dan mengawasi para pengiktunya. Mencaci maki ahlul bait dan pengikutnya…membunuh org2 yg tidak mau mencaci keluarga Nabi saaw.

Sampai2..seperti Firaun di zaman Musa as, mereka juga mengawasi rumah Imam Hasan al-Askari (Imam kesebelas syiah) utk mencari tahu kelahiran bayinya al-Imam Muhammad al-Mahdi afs dan membunuhnya, karena mereka tahu Imam Mahdi dan para pengikutnya akan meruntuhkan kekuasaan mereka…..org2 syiah inilah yg disebut hadits tersebut sbg yg menolak (rafadhu) penguasa zalim….apakah org yg menolak pemimpin2 zalim seperti Firaun itu sesat..??? silahkan anda jawab sendiri….karena sy rasa tidak perlu diajari lagi.

KESALAHAN KESIMPULAN TENTANG ABDULLAH BIN SABA’

Salah satu sebab terjadinya kesalahan berpikir adalah terlalu cepat mengambil kesimpulan saat belum memahami sebuah persoalan secara utuh. Banyak orang bisa membaca berita, tetapi sedikit yang bisa menafsirkan dan menganalisis berita.

Pembahasan tentang Abdullah bin saba’ bisa dinilai dari dua hal yaitu keberadaan Abdullah bin Saba’ dan pendapat para ulama syiah tentang sosok Abdullah bin Saba’.

1. Keberadaan Abdullah bin Saba’

Para ulama dan ilmuwan muslim baik dari sunni maupun syiah berbeda pendapat tentang keberadaan sosok Abdullah bin Saba’. Sebagian menganggapnya ada dan sebagian lagi menganggapnya sosok dongeng dan fiktif.

Keberadaan Abdullah bin Saba’ disebutkan baik oleh buku2 syiah maupun buku2 sunni. Jika ditelusuri sumber buku2 syiah ttg Abdulah bin Saba’ terdapat pada karya An-Naubakhti, Firaq al-Syiah dan al-Asyari al-Qumi, al-Maqqalat wal Firaq. Dan setelah kita periksa maka ternyata karya an-Naubakhti dan al-Qummi ini tidak menyebutkan sanadnya dan sumber pengambilannya…shg dianggap bahwa mereka hanya menuliskan cerita populer tersebut yg beredar dikalangan sunni.

Adapun yg pertama melakukan studi ilmiah dan istematis ttg Abdullah bin Saba’ adalah Sayid Murtadha al-Askari. Dan dari hasil penelususrannya tersebut, ia menganggap bahwa cerita ttg Abdullah bin Saba’ adalah fiktif. Sehingga, ia menolak keberadaan Abdullah bin saba’.

Adapun dari sunni yang menegaskan bahwa Ibnu Saba’ adalah fiktif dan dongeng adalah Thaha Husain dalam bukunya Fitnah al-Kubra dan Ali wa Banuhu, Dr. Hamid Hafna Daud dalam kitabnya Nadzharat fi al-Kitab al-Khalidah, Muhammad Imarah dalam kitab Tiyarat al-Fikr al-Islami, Hasan Farhan al-Maliki dalam Nahu Inqadzu al-Tarikh al-Islami, Abdul Aziz al-Halabi dlm kitabnya Abdullah bin Saba’, Ahmad Abbas Shalih dalam kitabnya al-Yamin wa al-Yasar fil Islami.

2. Pendapat para ulama Syiah tentang Abdullah bin Saba’

Para ulama syiah dari dulu hingga sekarang tidak menganggap Abdullah bin Saba’ sebagai tokoh syiah dan sahabat Imam Ali dan Imam-imam lainnya. Bahkan seluruh ulama syiah mengecam dan melaknat serta berlepas diri (tabarri) dari pendapat dan diri Abdullah bin Saba’. Bahkan buku-buku dan pendapat-pendapat yang dikutip oleh Husain al-Musawi dalam bukunya ini sudah cukup memnunjukkan sikap para Imam syiah dan ulama syiah tentang Abdullah bin saba’.

Dengan dua catatan di atas, maka jelaslah persoalan Ibnu Saba’ yang tidak kaitannya dengan mazhab syiah. Mungkinkah org ditolak keberadaanya atau yang dihina dan dikafirkan oleh seluruh imam2 syiah dan ulama-ulama syiah dijadikan tokoh panutan dalam syiah..??? sungguh kesimpulan yang gegabah dan tentu saja salah kaprah. …

Pada halaman 12, Husain al-Musawi menulis :
> “Abdullah bin Saba’adalah salah satu sebab, bahkan sebab yang paling utama kebencian sebagian besar orang syiah kepada ahlus sunnah.

# Darimana sumber kesimpulan Husain al-Musawi ini muncul..??? Sumber satu2nya adalah imajinasinya yang tak pernah kering. Coba perhatikan, Husain al-Musawi berusaha mempropokasi pembacanya. Pertanyaan kita apa hubungan antara Abdullah bin Saba’ dan kebencian kepada ahlu sunnah. Padahal kalau kita perhatikan seluruh buku2 syiah dan juga buku2 sunni dari yang besar sampai yang kecil tidak ada satupun yang memuji Abdulah bin Saba’. Semua buku itu mencela dan menyatakan kesesatan dan kekafiran Abdulah bin Saba’. Jadi sunni dan syiah sepakat akan kekafiran Abdulah bin Saba’. Seharusnya kesimpulan yang rasional dari hal itu adalah bahwa ahlussunnah dan syiah sama2 membenci Abdullah bin Saba’. Coba perhatikan enam kutipan kitab syiah yang ditulisnya dari mulai halaman 12 sampai halaman 15, bukankah semua isinya menghujat Abdullah bin Saba’..???

Seharusnya, jika dia menyatakan bahwa syiah adalah pengikut Ibnu Saba’, maka dia harus menyebutkan hadits2 syiah yg memuji Ibnu Saba’..??? tapi sayang dia takkan menemukannya….wallahu a’lam

datanglah seorang kafir ke hadapan Imam Ali ar-Ridha as dan kemudian berkata : “Buktikanlah kepadaku keberadaan Tuhan itu”!

Suatu hari berkatalah orang-orang kafir, ‘Bagaimana Tuhan Yang Satu itu bisa mendengar sekian banyak manusia, maka sebagai jawabannya Allah menurunkan ayat :

“Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang…Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (Q.S. al-Baqarah : 163-164)

Ayat di atas memberikan bukti kepada kita akan keberadaan dan keesaan Allah swt, dengan memperhatikan enam fenomena di jagad raya :
1. Penciptaan langit dan bumi.
2. Silih bergantinya malam dan siang.
3. Bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia
4. Air yang diturunkan dari langit yang dapat menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan tersebarnya di bumi itu segala jenis hewan.
5. Pengisaran angin.
6. Awan yang dikendalikan antara langit dan bumi.

Keenam fenomena ini merupakan bukti nyata keberadaan dan keesaan Allah. Tetapi sebagaimana ditegaskan oleh ayat tersebut, semua itu hanya bermakna bagi orang-orang yang mau memikirkan. Benarlah Rasulullah saaw yang bersabda, “Agama adalah akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal”.

Hari ini…sebagian orang mungkin bertanya, bagaimana kita membuktikan keberadaan Allah padahal Ia tidak pernah kita lihat? Pertanyaan seperti ini terkadang membuat kita bingung dan gelisah, bahkan jika dibiarkan akan membuat kita menjadi ragu-ragu dalam beragama. Tapi, sering kali untuk menutupi kegelisahan itu kita hanya berkata..”Keberadaan Tuhan cukup kita yakini saja”.

Namun..statement tersebut ternyata tidak juga mengikis kegelisahan kita..sebab kita punya akal yg senantiasa bertanya utk mencari tahu. Karenanya, kita memerlukan argumen untuk membuktikan keberadaan Allah swt, meskipun tidak pernah kita dengar atau kita melihat diri-Nya secara langsung.

Suatu hari datanglah seorang kafir ke hadapan Imam Ali ar-Ridha as dan kemudian berkata : “Buktikanlah kepadaku keberadaan Tuhan itu”! Imam Ali ar-Ridha menjawab : “Saat aku memikirkan tentang tubuhku, aku sadar bahwa aku tidak bisa menambahkan sesuatu pada panjang dan lebarnya, atau mengurangi sesuatu daripadanya. Demikian pula, aku tak bisa memilih untuk bahagia atau tidak bahagia (sebagai contoh, bisa saja aku telah berusaha keras untuk sembuh dari sakit, tetapi tetap saja gagal). Dari bukti ini dan juga dari memperhatikan pengaturan matahari, bintang-bintang, planet-planet dan bumi serta keteraturan seluruh alam semesta, aku paham bahwa tubuhku dan alam ini ada pencipta dan pengaturnya Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa.”

Cobalah kamu lempar sebuah batu ke atas, kemudian tunggulah beberapa saat batu pasti akan kembali jatuh ke bawah menuju tanah. Kenapa hal itu terjadi? Kita akan menjawab bahwa batu itu ditarik oleh kekuatan bumi yang kita sebut dengan gravitasi. Kenapa kita yakin bahwa gravitasi itu ada, padahal kita tidak pernah mendengarnya, tidak pernah melihat bentuknya, dan tidak pernah mencium baunya? Jawabnya, kita mengetahui melalui efek yang yang ditimbulkannya, dimana kita mengamati, bahwa setiap benda-benda yang terlepas akan jatuh ke tanah.

Jadi, jika ditelusuri apa yang ada di alam dunia ini pun, akan ditemukan hal-hal yang tidak mampu indera kita menangkapnya. Ini menjadi lebih jelas dengan mengamati tingkatan makhluk yang sering kita pelajari di sekolah, sebagai berikut :
1. Benda mati. Benda mati ini, sepenuhnya dapat diindera oleh manusia seperti batu, tanah, dan lain-lain.
2. Tumbuh-tumbuhan. Pada tingkat tumbuh-tumbuhan sudah terdapat hal-hal yang dapat kita indera seperti batang pohon, daunya, akarnya, buahnya, dan lain-lain. Namun, ada juga hal-hal yang tidak dapat kita indera seperti kehidupan yang ada pada tumbuhan, karena tumbuhan termasuk makhluk hidup.
3. Dunia hewan. Pada hewan juga terdapat hal-hal yang bisa diindera seperti bentuk tubuhnya atau bulunya. Tetapi ada juga yang tidak bisa kita indera seperti kehidupan, naluri, dan cinta kasih pada binatang.
4. Dunia manusia. Perhatikan dirimu, apa yang engkau lihat. Kamu akan melihat tubuhmu, tanganmu, kepalamu, kakimu, hidungmu, bibirmu, model rambutmu, dan lainnya. Tetapi apakah engkau pernah melihat bentuk atau kekuatan hidup pada dirimu, kesadaran, akal pikiran, takut, atau cinta kasih? Kamu tidak pernah melihatnya, tetapi kamu yakin semua itu ada pada dirimu.

Dengan demikian, ternyata di alam ini banyak sekali hal-hal yang tidak dapat kita indera, tidak pernah kita lihat, dengar atau rasakan, tetapi kita meyakini keberadaannya dari efek yang ditimbulkannya. Itulah mengapa Allah berfirman di dalam al-Quran, “Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan apa yang tidak kamu lihat” (Q.S. al-Haqqah : 38-39). Sedangkan menurut pandangan ilmuwan Muslim ada lima hierarki realitas wujud yang disebut dengan al-Hadharat al-Ilahiyah al-Khamis (Lima Kehadiran Ilahi), yaitu alam nasut (alam materi), alam malakut (alam kejiwaan), alam jabarut (alam ruh), alam lahut (sifat-sifat uluhiyah), dan alam hahut (wujud zat ilahi). Hanya alam yang pertama saja (alam materi) yang mampu dijangkau oleh manusia dengan inderanya, sedangkan empat lainnya termasuk alam gaib yang tidak dapat di indera.

Sekarang, coba kamu perhatikan komputer kita masing2. Ia memiliki bagian-bagian hardware dan sofware yang kemudian di susun sehingga jadilah satu unit komputer. Mungkinkah, komputer itu tersusun dan jadi dengan sendirinya tanpa ada yang meyusun atau merakitnya? Jika, satu unit komputer saja harus ada yang membuatnya yang memiliki kecerdasan tinggi, lalu mungkinkah alam yang luas dan rumit ini datang dengan sendirinya tanpa diciptakan oleh suatu kekuatan yang Tinggi? Tentu saja kita jawab : Tidak!, alam ini pasti ada yang menciptakannya.” Itulah yang kita sebut Allah swt. Inilah bukti keberadaan Allah swt.

‘Ya allah, karuniailah kami kecerahan hati dan ketajaman akal, untuk senantiasa memperhatikan segala jejak-jejak yang Engkau tinggalkan di alam ciptaan.”
wallahu a’lam

Kebenaran Syi’ah Imamiyah Ditengah SPRITUALITAS DAN GLOBALISASI

Pendahuluan

Tema spiritualitas dan globalisasi sangat urgen untuk dibincangkan. Selain karena tugas mata kuliah spiritualitas dan kemodrenan, diskursus ini juga terkait dengan sebuah “era”, di mana kita hidup di dalamnya, dan kita termasuk makhluk yang menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual.

Apa hakekat globalisasi? Bagaimana sejarahnya? Apa yang dimaksud dengan spiritualitas? Bagaimana spiritualitas di era global? Deretan pertanyaan tersebut akan coba dijelaskan dalam makalah ini.

Globalisasi

Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias.[1]

Dalam banyak hal, globalisasi mempunyai karakteristik yang sama dengan internasionalisasi sehingga kedua istilah ini sering dipertukarkan. Sebagian pihak sering menggunakan istilah globalisasi yang dikaitkan dengan berkurangnya peran negara atau batas-batas negara.[2]

Kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya universal. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekadar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.[3]

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.[4]

Keterpesonaan akan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai konsekwensi modernitas di era global ini, berakhir pada peniscayaan terhadap ratio yang membuat manusia memandang dan menghadirkan dunia dengan segala persoalannya sebagai realitas yang sederhana. Oleh Yasraf Amir Pilliang dunia seperti itu diistilahkan dengan dunia yang telah dilipat (2004).[5] Hal ini disebabkan oleh kenyataan betapa kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat aktivitas hidup manusia semakin efektif dan efisien.

Dunia yang telah dilipat muncul sebagai konsekwensi dari kehadiran berbagai penemuan teknologi mutakhir terutama transportasi, telekomunikasi dan informasi,  jarak-ruang semakin kecil dan semakin sedikit waktu yang diperlukan dalam pergerakan di dalamnya, inilah pelipatan ruang-waktu. Adalagi pelipatan waktu-tindakan, yakni pemadatan tindakan ke dalam satuan waktu tertentu dalam rangka memperpendek jarak dan durasi tindakan, dengan tujuan mencapai efisiensi waktu. Dahulu manusia melakukan satu hal dalam satu waktu tertentu, seperti memasak, menyetir, membaca, menelepon dan lain-lain. Kini, manusia dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu bersamaan, menyetir mobil sambil menelepon, mendengar musik, makan dan sambil bicara.

Pada bagian lain ada pula miniaturisasi ruang-waktu, dimana sesuatu dikerdilkan dalam berbagai dimensi, aspek, sifat dan bentuk lainnya. Realitas ditampilkan melalui media gambar, fotografi, televisi, film, video, dan internet. Sebagaimana yang dikatakan oleh Paul Virilio yang dikutip sebagaimana dikutip oleh Nurhamzah,[6] bahwa ruang saat ini tidak lagi meluas, tetapi mengerut di dalam sebuah layar elektronik. Jika ingin mengetahui sesuatu yang riil, manusia dapat mencari dan menyaksikan melalui video, film, dan televisi. Ingin tahu mendetail tentang sang bintang idola, maka orang tinggal mengklik satu situs dalam internet, kemudian tampillah sang bintang dengan ragam tentang dirinya, dan seterusnya. Demikianlah di antara beberapa gambaran tentang pelipatan dunia oleh perkembangan teknologi mutakhir di bidang transportasi, komunikasi dan informasi.

Sejarah globalisasi

Banyak sejarawan menyebut globalisasi sebagai fenomena di abad ke-20 ini yang dihubungkan dengan bangkitnya ekonomi internasional. Padahal interaksi dan globalisasi dalam hubungan antarbangsa di dunia telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Bila ditelusuri, benih-benih globalisasi telah tumbuh ketika manusia mulai mengenal perdagangan antarnegeri sekitar tahun 1000 dan 1500 M. Saat itu, para pedagang dari Tiongkok dan India mulai menelusuri negeri lain baik melalui jalan darat (seperti misalnya jalur sutera maupun jalan laut untuk berdagang.[7]

Fase selanjutnya ditandai dengan dominasi perdagangan kaum muslim di Asia dan Afrika. Kaum muslim membentuk jaringan perdagangan yang antara lain meliputi Jepang, Tiongkok, Vietnam, Indonesia, Malaka, India, Persia, pantai Afrika Timur, Laut Tengah, Venesia, dan Genoa. Di samping membentuk jaringan dagang, kaum pedagang muslim juga menyebarkan nilai-nilai agamanya, nama-nama, abjad, arsitek, nilai sosial dan budaya Arab ke warga dunia.[8]

Fase selanjutnya ditandai dengan eksplorasi dunia secara besar-besaran oleh bangsa Eropa. Spanyol, Portugis, Inggris, dan Belanda adalah pelopor-pelopor eksplorasi ini. Hal ini didukung pula dengan terjadinya revolusi industri yang meningkatkan keterkaitan antarbangsa dunia. berbagai teknologi mulai ditemukan dan menjadi dasar perkembangan teknologi saat ini, seperti komputer dan internet. Pada saat itu, berkembang pula kolonialisasi di dunia yang membawa pengaruh besar terhadap difusi kebudayaan di dunia.[9]

Semakin berkembangnya industri dan kebutuhan akan bahan baku serta pasar juga memunculkan berbagai perusahaan multinasional di dunia. Di Indonesia misalnya, sejak politik pintu terbuka, perusahaan-perusahaan Eropa membuka berbagai cabangnya di Indonesia. Freeport dan Exxon dari Amerika Serikat, Unilever dari Belanda, British Petroleum dari Inggris adalah beberapa contohnya. Perusahaan multinasional seperti ini tetap menjadi ikon globalisasi hingga saat ini.[10]

Fase selanjutnya terus berjalan dan mendapat momentumnya ketika perang dingin berakhir dan komunisme di dunia runtuh. Runtuhnya komunisme seakan memberi pembenaran bahwa kapitalisme adalah jalan terbaik dalam mewujudkan kesejahteraan dunia. Implikasinya, negara negara di dunia mulai menyediakan diri sebagai pasar yang bebas. Hal ini didukung pula dengan perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Alhasil, sekat-sekat antarnegara pun mulai kabur.[11]

Spiritualitas

Spiritualitas dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai kejiwaan, rohani, batin, mental; dan moral.[12] Term ini disejajarkan dengan istilah rúhaniyah. Muhammad Husain Abdullah dalam Mafahim Islamiyah mendefinisikan “rúhaniyah” sebagai idrak shillah billahi (kesadaran hubungannya dengan Allah SWT).[13] Sementara al-Farra` dan Abu Haitsam menyebutnya dengan istilah “ruh”, yaitu substansi kehidupan manusia dan tidak diketahui secara pasti eksestensinya.[14] Ruh juga digunakan untuk wahyu, seperti pada surat al-Mukmin ayat 15. Wahyu ibarat nyawa bagi seorang Muslim, sebagaimana ruh menjadi nyawa bagi manusia.

Terlepas dari perbedaan istilah spritualitas dalam bahasa Arab, pendapat Nurcholis Madjid berikut kelihatannya mewakili arti diskursus ini, yaitu sesuatu yang hanya bisa dipahami dan dialami sendiri, bersifat individual dan berasal dari fitrah kemanusiaan.[15]

Sebagai fitrah kemanusiaan, spiritualitas, menurut Yasraf, adalah sesuatu yang mempunyai kekuatan otonom dan mampu menghidupi atau menggerakkan sesuatu yang lain di luar dirinya, baik yang bersifat ketuhanan maupun yang bukan. Dia mengidentikkan spiritualitas sebagai Sesuatu yang Tidak Diketahui dan Yang Tak Berhingga.[16]

Dimensi spiritual manusia tersebut dan kecenderungan-kecenderungan dasarnya adalah sebuah bukti yang gamblang  atas kefitrahan kepercayaan (spritualitas), dan termasuk salah satu dari empat perasaan yang populer dan mendasar yang akhir-akhir ini diintroduksi oleh sebagian psikolog dan psikoanalis sebagai dimensi spiritual manusia, yaitu perasaan kognitif atau kuriositas, perasaan estetik, perasaan etik dan perasaan religius (spritualitas).[17]

Di antara empat dimensi spritual manusia yang terkadang juga disebut sebagai kecenderungan kepada kesempurnaan mutlak, kecendrungan terakhir itu mengajak manusia kepada kesadaran akan keberadaan Tuhan, dan  keyakianan akan adanya Sumber Awal Yang Maha Agung.

Kebutuhan Spritualitas di Era Global

Era global adalah zaman ketika manusia menemukan dirinya sebagai kekuatan yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Manusia dipandang sebagai makhluk yang hebat, yang independen dari Tuhan dan alam. Manusia di era global dan sebagai konsekwensi modernisasi, melepaskan diri dari keterikatannya dengan Tuhan (theomosphisme), untuk selanjutnya membangun tatanan manusia yang semata-mata berpusat pada manusia (antropomorphisme). Manusia menjadi tuan atas nasibnya sendiri, yang mengakibatkan terputusnya dari nilai-nilai spiritual. Akibatnya, manusia modern “Barat” pada akhirnya tidak mampu menjawab persoalan-persoalan hidup sendiri.

Modernisme akhirnya dirasakan membawa kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup. Timbul berbagai kritik dan usaha pencarian baru. Manusia membutuhkan pola pemikiran baru yang diharapkan membawa kesadaran dan pola kehidupan baru. Dalam hal kesadaran manusia, secara praktis, timbul gejala pencarian makna hidup dan upaya penemuan diri pada kepercayaan-kepercayaan yang sarat dengan spiritualitas. “Organized Religion” (agama yang terorganisasi) tidak selamanya dapat memenuhi harapan. Oleh sebab itu, bermunculan kecenderungan untuk kembali kepada orisinalitas (fundamentalis), kharisma yang dapat menentukan (cults) dan fenomena-fenomena yang luar biasa (magic). Sebagaimana diungkapkan oleh Komaruddin Hiayat:

Dimensi spiritualitas dari faham dan penghayatan keberagamaan,  pada dasarnya merupakan sebuah perjalanan ke dalam diri manusia sendiri. Bisa jadi masyarakat modern di era global yang memiliki fasilitas transportasi canggih merasa telah melanglang buana, bahkan telah melakukan perjalanan ke planet lain, namun amat mungkin masih miskin dalam pengembaraannya dalam upaya mengenal dimensi batinnya, bahwa ia adalah makhluk spiritual. Pencapaian sains dan teknologi memang membuat manusia lupa bahwa dirinya adalah makhluk spiritual, sehingga ia menjadi terasing dari dirinya sendiri dan dari Tuhannya. Inilah yang disebut situasi kehampaan spiritual. Dan itu terjadi akibat gaya hidup serba kebendaan di zaman modern (era glogal) yang menyebabkan manusia sulit menemukan dirinya dan makna hidupnya yang terdalam.[18]

Namun, seperti senantiasa terjadi dalam sejarah kehidupan spiritual manusia, gagasan tentang spiritualitas yang murni selalu mengalami distorsi dan materialisasi yang bersifat fetis. Tak heran, spiritualitas dalam realitas kebudayaan kontemporer pun mengalami distorsi.[19]

Saat ini, spiritualitas telah mengalami titik balik, yaitu dari nilai spiritual ke terapi. Dahulu, apabila seseorang gelisah, maka mereka biasanya mencari penentram jiwanya dalam agama, sedang saat ini manusia lebih banyak lari ke terapi-terapi yang sifatnya adalah “pengobatan” sementara. Manusia konsumer, menurut Yasraf, tidak tertarik akan “keselamatan diri” lewat perenungan atau ibadat, melainkan tertarik terhadap ilusi-ilusi yang bersifat sementara, seperti kesehatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan keamanan psikis lewat terapi; hanyut dalam berbagai bentuk terapi, seperti, yoga, latihan spiritual kilat, konser musik rock, astrologi populer, joging, pusat kebugaran, karaoke. Kondisi ini melahirkan suatu fenomena yang disebut Yasraf sebagai pospiritualitas, yaitu kondisi spiritualitas ketika yang suci bercampur aduk dengan yang profan, yang sakral bersimbiosis dengan yang permukaan, sehingga batas-batas di antara semuanya menjadi kabur.

Permasalahan yang agak pelik dan cukup licin tentang spiritualitas, apalagi dalam realitas kebudayaan kontemporer, adalah “makna” pengalaman spiritual itu sendiri. dalam masyarakat kontemporer, suatu pengalaman yang sifatnya sangat profan dan sekuler pun bisa dimaknai sebagai pengalaman “spiritual”. Inilah bentuk pos spiritualitas dalam masyarakat kontemporer. Yasraf, misalnya, mengutip sebuah pernyataan Madonna dari karya Akbar S. Ahmed, yang bisa merepresentasikan fenomena pospiritualitas tersebut:

“Saya religius“, “Saya spiritual”, katanya. Namun ketika ditanya tentang doa tersebut, ia berkata “Ya saya religius…, saya tidak mencoba membangun jembatan antara seks dan agama. Hanya gereja Katolik yang bersi¬keras memisahkan dan itu nonsens.”[20]

Pembicaraan tentang permasalahan spiritualitas dan apa yang disebut sebagai “pengalaman” spiritual memang sangat problematis. Selain sulit untuk diverifikasi—dan juga permasalahan “otoritas”—adalah masalah keserupaan dan tafsirannya. Misalnya, seseorang yang memakan obat-obatan psikotropika bisa saja menafsirkan bahwa dia pun “merasakan” pengalaman spiritual, entah berupa penglihatan, penampakan, atau bahkan bisikan-bisikan. Bahkan, pada tingkatan filosofis pun, hal tersebut tetap menjadi permasalahan yang tak terdamaikan, seperti yang diungkapkan oleh Dodi Salman:

Sufisme diharapkan dapat menjadi mesin “pencerahan” di tengah deru mesin hasrat kapitalisme dan masyarakat postmodern (era global) yang berputar tanpa henti. Akan tetapi, derasnya perputaran mesin hasrat tersebut—yang mewujud di dalam bentuk-bentuk komoditi, citra, gaya hidup, tontonan—telah menimbulkan kekhawatiran, jangan-jangan sufisme itu sendiri dapat terperangkap di dalam arus hasrat postmodern sehingga yang tercipta adalah semacam “sufi materialistik”, yaitu para sufi yang terperangkap di dalam pengaruh jagat materi dan gaya hidup masyarakat postmodern. Inilah misalnya, seorang wanita “sufi”, yang berkunjung ke sebuah mall mewah, mengendarai sendiri mobil build-up-nya yang terbaru, mengenakan setelan fesyen mutakhir rancangan Versace, memakai kacamata sunglass yang gelap; membawa handpone mutakhirnya yang trendi, sambil menenteng ke mana-mana “sertifikat sufi”, sebagai “citra” dan “legitimasi” diri di tengah belantara citra budaya postmodern yang bersifat paradoks.[21]

Perkembangan Spritualitas di Era Global

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, baik bersifat negatif maupun positif, termasuk di antaranya aspek budaya[22] dan spiritualitas.

Era ini, dan merupakan prestasi mutakhir modernisme, telah mengantarkan manusia pada supremasi rasionalisme, empirisme, dan positivisme dan dogmatisme agama. Kenyataan ini dapat dipahami, karena abad modern dibangun atas dasar pemisahan antara ilmu pengetahuan dan filsafat dari pengaruh agama (sekularisme). Perpaduan antara rasionalisme dan empirisme dalam satu paket epistemologi melahirkan apa yang oleh Huxley disebut dengan metode ilmiah (scientific method).[23]

Kesimpulan

Spritualitas merupakan potensi kemanusian yang tidak mungkin hilang dalam kondisi dan situasi apa pun. Gaung spiritualitas akan tetap menggema kendatipun manusia telah bertahta di puncak rasionalitas, dan berada di sebuah “era”, disebut globalisai. Tuntutan spiritualitas manusia tidak terikat dengan ruang waktu, ia akan tetap eksis dan menggema dalam setiap situasi.


REFERENSI

Ahmed, Akbar S. and Hastings Donnan (ed.), Islam Globalization and Post Modernity, London and New York, Routledge, 1994

______________, Posmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam, Bandung: Mizan, 1992

Armstrong, Karen, Sejarah Tuhan,.  Bandung: Mizan, 2003

Giddens, A., The Consequences of Modernity, Cambridge: Polity Press, 1990

Hidayat, Komaruddin, Kualifikasi Seorang Kiyai, http://tokohindonesia.com/ ensiklopedi/ k/ komaruddin-hidayat/biografi/02.shtml,, 2009

“Kesunyian dan Kegilaan: Sufisme dan Postmodernisme” dalam Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-tuhan” Digital, Jakarta: Grasindo, 2004

Maksum, Ali, Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam dalam Kancah Kebangkitan Agama, http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-1.html, 2008

Mandhur, Ibn, Lisan al-Arab, Jilid 3, Kairo: Dar al-Hadits 2003

Mustafa, Mr., Pengertian dan Ciri-ciri Globalisasi, http://mustofasmp2. wordpress. Com / 2008

Nurhamzah, Absurditas Manusia Modern : Sebuah Rekonstruksi Spiritual Manusia Modern, E-mail : Hamzah_tuhankecil@yahoo.com, 2009

Pals, Daniel L. Seven Trories of Religion, Yogyakarta: Qalam, 2001

Pirages, Dennis, The New Context for International Relations: Global Ecopolitics, North Scituate, Massachusetts, tt.

Spiritualitas tak Bisa Diperoleh Lewat “Cyberspace, Jakarta, Kompas, Senin, 27 Maret 2000

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka cetakan 1990

Yakub, Husein, Muhammad, Mafahim Islamiyah, Kairo: Maktabah Syafa, 2000

Yasraf Amir Pilliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yogyakarta: Jalasutra, 2004

_________________, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, Yogyakarta: Jalasutra, 2004


[1].  Mr. Mustafa, Pengertian dan Ciri-ciri Globalisasi,(http://mustofasmp2. wordpress. Com / 2008/12/31/), h. 1

[2]. Dennis, Pirages, The New Context for International Relations: Global Ecopolitics, (North Scituate, Massachusetts, tt.), h. 4-6

[3]. Akbar S. Ahmed and Hastings Donnan (ed.), Islam Globalization and Post Modernity, (London and New York, Routledge, 1994), h. 1-3. Lihat: A. Giddens, The Consequences of Modernity, (Cambridge: Polity Press, 1990), h. 64

[4]. Ibid.

[5]. Yasraf Amir Pilliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, (Yogyakarta: Jalasutra, 2004), h. 23

[6]. Nurhamzah, Absurditas Manusia Modern : Sebuah Rekonstruksi Spiritual Manusia Modern, (E-mail : Hamzah_tuhankecil@yahoo.com, 2009), h. 3

[7] . Mr. Mustafa, h. 2

[8]. Ibid.

[9]. Ibid.

[10]. Ibid.

[11]. Ibid.

[12]. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka cetakan 1990), h. 857

[13]. Muhammad Husein Yakub, Mafahim Islamiyah, (Kairo: Maktabah Syafa, 2000), h. 17

[14]. Ibn Mandhur, Lisan al-Arab, Jilid 3, (Kairo: Dar al-Hadits 2003), h. 290

[15] . Spiritualitas tak Bisa Diperoleh Lewat “Cyberspace, (Jakarta, Kompas, Senin, 27 Maret 2000), h.1

[16]. Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan, (Yogyakarta: Jalasutra, 2004), h. 503-504

[17]. Karen Armstrong, Sejarah Tuhan,.  (Bandung: Mizan, 2003), h. VII

[18]. Komaruddin Hidayat, Kualifikasi Seorang Kiyai, (http://tokohindonesia.com/ ensiklopedi/ k/ komaruddin-hidayat/biografi/02.shtml,, 2009), h. 3

[19]. Dikutip dari prolog Dunia yang Dilipat, Edisi 1, tidak dimuat lagi dalam Edisi II

[20]. Akbar S. Ahmed, Posmodernisme: Bahaya dan Harapan Bagi Islam, (Bandung: Mizan, 1992), h. 224.

[21]. “Kesunyian dan Kegilaan: Sufisme dan Postmodernisme” dalam Yasraf Amir Piliang, Dunia yang Berlari: Mencari “Tuhan-tuhan” Digital, (Jakarta: Grasindo, 2004), h. 204

[22]. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Daniel L. Pals, Seven Trories of Religion, (Yogyakarta: Qalam, 2001), h. 149

[23]. Ali Maksum, Spiritualitas Abad Modern : Reposisi Islam dalam Kancah Kebangkitan Agama,

Tiga Serangkai : Nabi SAW, Imam Ali dan Fatimah

MANUSIA TERSEMPURNA AL-RASUL MUHAMMAD SAAW

Riwayat Singkat Rasulullah Saw

Nama            : Muhammad.

Ayah             : Abdullah bin Abdul Muthalib.

Ibu                 : Aminah binti Wahab.

Kelahiran  : Makkah, Sabtu 17 Rabiul Awal, Tahun Gajah.

Wafat            : Senin, 28 Safar 11 H.

Makam        : Madinah Al-Munawwarah.

Bangsa Quraisy

Bangsa Quraisy dipandang sebagai salah satu bangsa yang dihormati dan disegani di antara bangsa-bangsa yang ada di semenanjung Arabia. Quraisy sendiri terbagi ke dalam berbagai suku. Bani Hasyim adalah salah satu suku terhormat di antara suku-suku yang ada. Qushai bin Kilab adalah nenek moyang mereka yang bertugas sebagai penjaga Ka’bah.

Di tengah warga Makkah, Hasyim dikenal sebagai orang yang mulia, bijaksana, dan terhormat. Ia banyak membantu mereka, memulai perniagaan pada musim dingin dan musim panas supaya mereka mendapatkan penghidupan yang layak. Atas jasa-jasanya, warga kota memberinya julukan “sayid” (tuan). Julukan ini secara turun-temurun disandang oleh anak keturunan Hasyim.

Setelah Hasyim, kepemimpinan bangsa Quraisy dipercayakan kepada anaknya yang bernama Muthalib, kemudian dilanjutkan oleh Abdul Muthalib.

Abdul Muthalib adalah seorang yang berwibawa. Pada masanya, Abrahah Al-Habasyi menyerbu Makkah untuk menghancurkan Ka’bah, namun berkat pertolongan Allah SWT, Abrahah dan pasukan gajahnya mengalami kekalahan. Tahun penyerbuan itu kemudian dikenal dengan nama Tahun Gajah. Dan sejak peristiwa itu, nama Abdul Muthalib pun semakin terpandang di kalangan kabilah Arab.

Abdul Muthalib mempunyai beberapa anak. Di antara mereka, Abdullah-lah anak yang paling saleh dan paling dicintainya. Pada usia 24 tahun, Abdullah menikah dengan perempuan mulia bernama Aminah.

Dua bulan setelah Tahun Gajah, Aminah melahirkan seorang anak. Ia memberinya nama Muhammad. Sebelum kelahiran Muhammad, ayahnya Abdullah meninggal dunia. Tak lama setelah melahirkan, sang ibu pun menyusul suaminya kembali ke alam baka. Maka, sejak awal kelahirannya, Muhammad sudah menjalani hidupnya sebagai anak yatim.

Setelah ditinggalkan oleh kedua orang tua yang dicintainya, Muhammad diasuh oleh sang kakek, Abdul Muthalib. Berkat anugerah dan rahmat dari Allah SWT, Muhammad tumbuh menjadi dewasa dengan kesucian jiwa yang terpelihara.

Warga kota Makkah begitu mencintainya, bahkan merelakan barang-barang mereka berada di bawah pengawasan Muhammad. Atas kejujuran dan sifat amanah yang ditunjukkannya, mereka memberinya gelar “Al-Amin”, yakni orang yang tepercaya.

Dengan bekal iman yang teguh, Muhammad membantu orang-orang fakir, membela orang-orang yang tertindas, membagikan makanan kepada mereka yang lapar, mendengarkan keluhan-keluhan mereka, dan berusaha memberikan jalan keluar atas masalah-masalah yang mereka hadapi.

Ketika beberapa orang pemuda menggalang sebuah gerakan yang dikenal dengan nama “Sumpah Pemuda” (Hilful Fudhul), segera Muhammad pun bergabung bersama mereka, karena gerakan itu sejalan dengan perilaku luhur dan tujuan-tujuannya.

Pada suatu waktu, Abu Thalib, paman Muhammad, menasehatinya untuk ikut berniaga dengan kafilah dagang Khadijah, seorang wanita Makkah yang kaya dan terhormat. Kemudian, Muhammad pun ditunjuk untuk memimpin kafilah dagang tersebut.

Selama bergabung dalam kafilah dagangnya, Khadijah menyaksikan dari dekat kejujuran, keteguhan, dan keutamaan perilaku Muhammad. Tak segan lagi Khadijah melamarnya. Muhammad menerima lamaran itu. Dan tak lama kemudian, mereka pun melangsungkan pernikahan.

Dari perhikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Fatimah, yang dari keturunannya lahirlah manusia-manusia suci.

Hajar Aswad (Batu Hitam)

Sepuluh tahun setelah pernikahan itu, banjir besar melanda kota Makkah yang merusak sebagian besar bangunan Ka’bah. Warga kota bermaksud untuk memperbaikinya.

Untuk mencegah perseturuan yang bakal terjadi, perbaikan itu dilakukan oleh berbagai suku yang ada di kota secara gotong royong. Namun, tatkala perbaikan telah selesai, tibalah saatnya untuk meletakkan Hajar Aswad. Ketika itu, masing-masing bangsa mengaku paling berhak untuk meletakkan batu itu.

Perang hampir saja terjadi. Tiba-tiba Muhammad muncul memberi sebuah usulan, dengan menanggalkan jubahnya dan meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-tengahnya, lalu setiap kepala suku memegang tepi jubah itu, lantas membawanya bersama-sama ke tempat asalnya.

Wahyu Pertama

Menginjak usia 40 tahun, Muhammad diangkat sebagai nabi. Suatu hari, ketika beliau sedang melakukan ibadah di gua Hira, datanglah Malaikat Jibril as membawa wahyu dari Allah dan menyapanya, “Iqra! Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari gumpalan darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Mahamulia. Dialah yang mengajarkan ilmu dengan pena. Dialah yang telah mengajarkan kepada manusia akan segala yang tidak diketahuinya.”

Sejak itu, Muhammad terpilih untuk mengemban risalah Allah sebagai Rasulullah saw di tengah umat manusia di seluruh dunia.

Di awal-awal kenabian, Rasulullah saw berdakwah secara rahasia. Pada saat itu, hanya beberapa orang saja yang mau menerima Islam. Orang pertama yang mengakui Muhammad sebagai Rasulullah saw ialah istri beliau, Khadijah, kemudian disusul oleh sepupunya, Ali bin Abi Thalib.

Tiga tahun lamanya Islam terus menyebar di kalangan rakyat miskin kota Makkah. Setelah itu, Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw untuk melakukan dakwah secara terang-terangan, mengajak manusia menyembah Tuhan Yang Esa dan memulai perang suci melawan para penyembah berhala.

Tugas dakwah merupakan tugas yang penuh resiko dan bahaya. Sebab, para pemimpin kabilah telah sekian lama larut dalam kenikmatan berupa kedudukan dan menjadikan orang-orang sebagai budaknya.

Mereka khawatir bahwa dakwah Rasulullah saw akan merongrong kekuasaan mereka. Selain itu, tugas dakwah akan menjumpai kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaannya, karena berhala-berhala itu telah lama dijadikan sesembahan oleh mereka.

Rasulullah saw tidak mengenal toleransi. Ia memilih untuk memikul tugas ini untuk mengesakan Tuhan dan menegakkan undang-undang Tauhid di muka bumi.

Masyarakat yang sebelumnya menghormati dan santun terhadap Nabi saw, kini berbalik membenci dan memusuhi dakwah beliau dengan harta. Namun usaha mereka gagal.

Kemudian, permusuhan mereka berlanjut dengan menyiksa dan menjarah harta-harta milik Nabi saw. Namun, usaha mereka ini pun tidak berhasil untuk menahan laju dakwah suci beliau.

Kaum kafir Makkah tidak pernah lelah untuk mengubah pendirian Rasulullah saw. Mereka meningkatkan permusuhannya dan mengusir beliau beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya keluar dari Makkah, lalu mengurungnya di ladang Abu Thalib hingga sebagian mereka yang bersama Rasul di dalamnya mati kelaparan.

Mereka bahkan memperketat pengurungan ladang itu sehingga makanan dan minuman tidak dapat ditemui oleh Nabi beserta pengikutnya yang setia. Beberapa penduduk yang ikut Nabi mempertaruhkan hidupnya untuk menyelundupkan makanan dari kota di kegelapan malam.

Waktu berlalu begitu cepat. Kaum kafir menyerah pada tekad dan kegigihan yang ditunjukkan oleh kaum muslimin. Mereka memutuskan untuk membunuh Rasulullah saw.

Untuk itu, mereka memilih pemuda-pemuda terkuat dari kalangan keluarga dan suku mereka dengan memberikan upah yang tinggi kepada siapa yang berhasil membunuh beliau. Mereka menetapkan untuk menyergap kediaman Nabi saw pada malam hari.

Hijrah ke Madinah

Rencana keji itu diketahui oleh Rasulullah saw melalui wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril as. Beliau memilih sepupunya Ali bin Abi Thalib untuk menggantikannya tidur di atas ranjang beliau dengan mempertaruhkan hidupnya demi keselamatan beliau.

Beliau hijrah dari Makkah ke Madinah di kegelapan malam. Kaum musyrikin telah berkumpul untuk membunuh Nabi saw. Betapa terkejutnya mereka, tatkala mendapati Ali di atas ranjang Rasul saw. Mereka segera mengejar beliau. Namun pengejaran itu gagal. Mereka pun kembali ke Makkah dengan tangan hampa.

Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Nabi saw tiba di Quba, sebuah tempat di dekat kota Madinah. Penduduk desa menyambut kedatangan beliau. Dengan suka cita beliau berencana membangun tempat salat dan menyusun tugas-tugas dakwah.

Pembangunan masjid Quba berjalan lancar. Nabi saw turun tangan langsung dalam menyelesaikan pembangunannya. Sesudah itu, beliau melakukan salat Jumat dan berdiri sebagai khatib. Inilah salat Jumat yang pertama kali dilaksanakan oleh beliau.

Rasulullah saw menetap di Quba untuk beberapa saat sambil menyampaikan ajaran-ajaran Allah. Di sana pula beliau menantikan kedatangan Ali yang ditinggalkannya di kota Makkah untuk menunaikan titipan dan amanat kepada pemiliknya masing-masing. Hingga akhirnya Ali pun datang ke Quba bersama kaum wanita keluarga Bani Hasyim.

Rasulullah saw memasuki kota Yatsrib, dan sejak saat itu pula nama kota itu berubah menjadi Madinatur-Rasul atau Madinah Al-Munawarah. Penduduk kota menyambut beliau dan sebagian kaum Muhajirin yang menyertainya dengan begitu hangat dan meriah. Setiap penduduk berlomba meminta beliau untuk duduk di rumah mereka. Kepada mereka semua, beliau berkata, “Berilah jalan kepada untaku ini. Aku akan menjadi tamu orang yang di depan pintunya unta ini berhenti.”

Si unta berjalan dan melintasi jalan-jalan kota Madinah, hingga ia menghentikan langkahnya dan bersila di depan pintu rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Di rumah itulah Rasulullah saw dijamu.

Sesampainya di Madinah, pertama yang dilakukan oleh Rasulullah saw ialah pembangunan masjid sebagai pusat dakwah dan pengajaran. Nabi juga segera menyerukan perdamaian serta persaudaraan antara dua bangsa; Aus dan Khazraj, yang telah berperang selama bertahun-tahun akibat hasutan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi Madinah.

Dalam rangka mengikis habis akar-akar pembeda antara kaum Muhajirin yang datang dari Makkah dan kaum Anshar sebagai penduduk asli Madinah, Rasulullah saw mempersaudarakan mereka satu persatu, sehingga kaum Muhajirin tidak menjadi beban kaum Anshar di kemudian hari dan mereka dapat hidup bersama dengan rukun dan damai.

Orang-orang Yahudi Madinah memandang persaudaraan itu dengan penih kedengkian. Mereka selalu berusaha menyulut semangat perpecahan di kalangan kaum muslimin. Sementara Rasulullah saw memadamkan api pertikaian, mereka malah giat mengobarkannya.

Peralihan Kiblat

Pada awalnya, Rasulullah saw melakukan salat dan ibadah ke arah Masjid Al-Aqsa di Jerusalem. Itu berlanjut selama 13 tahun di Makkah dan 17 bulan di Madinah.

Kaum Yahudi pun mengadap masjid Al-Aqsa dalam salat-salat mereka. Karena ini pula mereka selalu mencemooh kaum muslimin, “Jika benar kami dalam kesesatan, lalu mengapa kalian mengikuti kiblat kami.”

Hingga pada suatu hari, turunlah wahyu yang memerintahkan Rasulullah saw agar kaum muslimin menghadap Ka’bah Masjidil Haram dalam setiap salat mereka.

Perintah ini sungguh memukul kaum Yahudi. Mereka bertanya-tanya tentang sebab peralihan kiblat kaum muslimin. Mereka tidak sadar bahwa peralihan kiblat ini merupakan ujian bagi kaum muslimin sendiri, sehingga dapat dikenali siapa yang mentaati dengan siapa yang menentang Rasulullah saw.

Peperangan Rasulullah saw.

1. Perang Badar

Rasulullah saw mengadakan perjanjian gencatan senjata dengan kabilah-kabilah tetangga guna melindungi kota Madinah dari segala ancaman makar dan penyerangan.

Sementara itu, Quraisy Makkah melakukan penjarahan atas harta-harta umat Islam di kota itu. Rasulullah saw pun berpikir untuk merebut kembali harta-harta itu dari mereka. Untuk itu, beliau memutuskan untuk menyerang kafilah-kafilah pedagang kafir Quraisy.

Demikianlah awal meletusnya bentrokan senjata antara kaum muslimin dan kaum musyrikin di suatu tempat dekat sumur Badar. Oleh karena ini, peperangan pertama di antara mereka ini dinamai perang Badar.

Kaum muslimin mampu memenangkan peperangan itu secara gemilang. Nama mereka pun mulai terpandang dan disegani di semenanjung Arabia.

2. Perang Uhud

Bagi kaum musyrik Quraisy, kemenangan kaum muslimin pada perang Badar itu malah membuat hati mereka terbakar kemarahan. Tak ayal lagi, Abu Sufyan mulai mengitung hari untuk melancarkan pembalasan dendam. Bahkan ia melarang perempuan-perempuan Quraisy menangisi korban perang Badar, supaya api dendam tetap membara di dalam jiwa-jiwa mereka.

Sementara di Madinah, kemenangan gemilang kaum muslimin meresahkan kaum Yahudi. Segera mereka mendekati orang-orang Quraisy dan menghasut mereka untuk menuntut dendam atas kaum muslimin.

Untuk itu, salah seorang Yahudi bernama Ka’ab bin Asyraf bertolak ke Makkah. Setibanya di sana ia membacakan syair-syair dan mengulang-ulangnya, hanya untuk membakar emosi kaum Quraisy.

Hasilnya, kaum Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah, dan sepakat dendam mereka untuk menyerang Madinah. Di sana mereka pun menghitung biaya yang akan dikeluarkan pada pertempuran mendatang itu. Biayanya ditaksir mencapai 50.000 Dinar. Sejak itu, mereka mulai mempersiapkan persenjataan dan meminta bantuan dari kabilah-kabilah yang bermukim di sekitar Makkah.

3000 pasukan Quraisy bersenjata lengkap bertolak ke Madinah melalui padang sahara. Abu Sufyan menjadi panglima perang dan Khalid bin Walid memimpin pasukan. Abbas bin Abdul Muthalib yang merahasiakan keislamannya mengirimkan kurir untuk menyampaikan pesan ihwal rencana penyerangan itu.

Setelah menerima pesan dari pamannya, Rasulullah saw segera mengadakan musyawarah yang menyepakati untuk menyambut lawan di luar kota.

7 Syawal tahun ke-3 Hijriah, tepatnya pada hari Sabtu pagi, pasukan kaum muslimin bergerak meninggalkan Madinah menuju gunung Uhud. Atas perintah Rasulullah saw, mereka mendirikan tenda-tenda tidak jauh dari barisan musuh.

Rasulullah saw menempatkan Abdullah bin Jabir bersama 50 orang lainnya yang dilengkapi busur dan anak panah untuk berada di atas bukit. Beliau memperingatkan mereka untuk tidak beranjak dari puncak bukit itu betapapun resiko yang akan menghadang, apakah menang atau kalah dalam peperangan. Setelah itu, pasukan yang membawa bendera Tauhid dan pasukan yang mengusung bendera Syirik berhadapan satu sama lainnya. Pertempuran itu dimulai oleh Abu Umair dari Quraisy.

Pada awal-awal pertempuran, tentara Islam bertarung dengan gagah berani dan membuat tentara kafir hampir kalah. Namun kemudian, keadaan justru berbalik. Pasukan panah yang mengawasi medan perang itu melihat saudara-saudaranya memukul mundur pasukan musuh. Mereka pun turun meninggalkan bukit untuk memungut ghanimah (harta rampasan perang). Mereka lalai terhadap perintah Rasulullah saw untuk tidak beranjak dari posisi mereka.

Khalid bin Walid memanfaatkan kelengahan kaum muslimin. Ia dan pasukannya berbalik mengitari gunung kemudian menyerang kaum muslimin yang sedang sibuk mengumpulkan ghanimah itu dari arah belakang. Banyak pasukan Islam tewas karena ketidaktaatan mereka kepada Rasulullah saw. Ada sekitar 70 pejuang kaum muslimin syahid dan selebihnya ada yang melarikan diri dari medan pertempuran.

Perang berakhir dengan kemenangan berada di pihak musuh. Rasulullah saw dapat diselamatkan berkat kesetiaan Ali bin Abi Thalib serta bantuan pasukan muslimin lainnya. Ali beserta pasukan Islam lainnya berhasil mengejar dan membunuh beberapa tentara musuh.

Dengan kegigihan mereka, kota Madinah selamat dari penyerbuan kaum kafir itu. Namun demikian, perang Uhud ini telah memberikan pelajaran ketaatan dan kesetiaan yang tak terlupakan oleh kaum muslimin.

3. Perang Khandaq

Orang-orang Yahudi yang terusir dari Madinah akibat permusuhan dan pengkhianatan mereka sendiri, tidak tinggal diam melihat keadaan kaum muslimin. Pemimpin mereka melakukan pendekatan dengan pemimpin-pemimpin Quraisy di Makkah, sambil melancarkan hasutan supaya mereka mengadakan perlawanan terhadap kaum muslimin. Pemimpin Yahudi itu berjanji untuk menyokong bangsa Quraisy dengan segala kekuatan yang ada.

Sebagai hasil dari pendekatan ini, berbagai bangsa, suku, dan kelompok bersekutu untuk mengangkat senjata melawan umat Islam. Oleh karena itu, peperangan ini dikenal sebagai perang Ahzab, yaitu perang gabungan beberapa bangsa melawan Islam.

Pasukan bersenjata mereka terdiri dari kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi, orang-orang munafik, dan pengkhianat Islam dari Madinah. Mereka bertekad bulat untuk menghancurkan Islam.

Pada bulan Syawal tahun ke-5 Hijriah, sebanyak sepuluh ribu pasukan sekutu itu berangkat menuju Madinah. Di depan mereka adalah Abu Sufyan sebagai panglima perang pasukan sekutu.

Beberapa pasukan berkuda dari kabilah Khuza’i memasuki kota Madinah dan melaporkan keadaan musuh kepada panglima besar kaum muslimin, Rasulullah saw.

Rasulullah saw memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan para komandan diminta berkumpul untuk memusyawarahkan segala sesuatu yang diperlukan.

Dalam musyawarah itu, salah seorang sahabat Rasulullah saw yang bernama Salman Al-Farisi mengusulkan untuk menggali parit di sekeliling kota Madinah dan kaum muslimin berlindung di balik galian parit itu. Usulan itu diterima secara mufakat. Maka, sebanyak tiga ribu sukarelawan Islam bekerja siang dan malam untuk menggali parit sedalam lima meter, selebar enam meter, dan sepanjang dua belas ribu meter.

Beberapa jalur dan jembatan dibuat di atas parit dan beberapa penjaga ditugasi untuk mengawasi kedatangan pasukan musuh. Di balik parit, dibangun pos-pos pertahanan yang di atasnya dijaga oleh pasukan berpanah.

Pasukan kaum musyrikin pun tiba. Mereka melihat galian parit mengelilingi kota yang menyulitkan mereka untuk melintasi dan menyerang orang-orang di seberang parit.

Abu Sufyan segera memanggil Huyay bin Ahthab, pemimpin Yahudi dari Bani Nadhir dan memintanya untuk menemui Ka’b bin Asad, pemimpin Yahudi dari Bani Quraizhah yang sedang bermukim di Madinah. Ka’b bin Asad diseru untuk membuka lapang jalan orang-orang Yahudi. Makar ini dimaksudkan untuk melapangkan jalan orang-orang musyrikin menyerang kaum muslimin.

Cara licik Abu Sufyan ini telah diketahui sebelumnya. Rasulullah saw telah mengambil langkah-langkah preventif dengan menugaskan 500 prajurit untuk berpatroli di sekeliling kota. Prajurit itu ditugasi untuk memelihara kota agar stabil dalam keadaan siaga dan waspada. Mereka mewaspadai orang-orang yang datang dan pergi dari kota. Dengan langkah pencegahan ini, persekongkolan warga kota dengan pihak musuh dapat diatasi.

Ancaman bahaya serangan dari dalam kota berhasil digagalkan dan pasukan sekutu itu tetap pada posisi mereka di seberang parit. Mereka tidak berhasil untuk mengecoh kaum muslimin.

Hingga tibalah suatu hari, lima orang gagah berani dari pihak musuh melintasi parit. Kelima orang gagah berani itu dipimpin oleh Amr bin Abdi Wud. Di atas kudanya ia berteriak lantang, “Hai orang-orang yang mengaku penghuni Surga, di mana kalian semua? Majulah, sehingga aku dapat mengirim kalian ke Surga.”

Tidak satu pun orang yang menjawab tantangan itu, kecuali Ali bin Abi Thalib. Ia begitu cepat bangkit dan maju mendekati orang itu. Dan setelah saling adu tantangan, Ali mengayunkan pedangnya dengan sekali tebasan ke atas kepala Amr. Setelah Amr tersungkur tewas, Ali mengumandangkan takbir, “Allahu Akbar!”

Salah satu kawan Amr bin Abdi Wud melarikan diri dan terjatuh ke dalam parit. Ali tidak memberikan kesempatan kepada lawan dan segera menghabisinya. Sedangkan ketiga sahabat Amr yang lain berhasil melarikan diri dari kejaran Ali.

Peristiwa di atas ini begitu menggugah keimanan dan keberanian umat Islam, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah saw, “Sekali tebasan pedang Ali jauh lebih berharga daripada ibadah tujuh puluh tahun seluruh manusia dan jin.”

Demi menjaga semangat pasukannya, Khalid bin Walid bersama beberapa pasukan berkuda, pada hari berikutnya, mencoba untuk melewati parit. Namun, pasukan muslimin terlalu tangguh untuk mereka hadapi. Mereka hanya berusaha dengan mengepung kota.

Di tengah pengepungan, Nu‘aim bin Mas‘ud yang terkenal dengan kecerdikannya memutuskan untuk masuk Islam. Rasulullah saw menyuruhnya agar merahasiakan keimanannya, hingga ia bisa memperdaya kaum musyrikin dan menebarkan perpecahan dari antara mereka dan kaum Yahudi.

Sama seperti Nu‘aim, Khuzaifah Al-Yamani menyusup di kegelapan malam ke dalam jajaran musuh sampai menembus jantung kekuatan mereka. Di dalamnya ia berusaha mengendurkan tekad perang, hingga berhasil mematahkan semangat juang mereka.

Sampai pada suatu malam, badai besar berhembus, belum lagi udara yang semakin dingin menggigilkan. Tak pelak lagi, semangat pasukan musyrikin menjadi luluh lantak. Ditambah perselisihan di antara mereka semakin meluas setelah melihat pengepungan yang tidak membuahkan hasil.

Sebelum terjadi perkembangan pertempuran yang mengecewakan, Abu Sufyan segera meninggalkan medan tempur secara diam-diam di kegelapan malam. Panglima musyrikin itu beserta pasukannya kembali ke Makkah dengan perasaan malu.

Ketika pasukan muslimin terbangun di pagi hari, mereka menyaksikan laskar kafir telah meninggalkan medan pertempuran. Ketika Rasulullah saw mendengarkan berita tentang kaburnya musuh, beliau memerintahkan pasukannya untuk meninggalkan pos-pos pertahanan dan kembali ke kota.

Nasib Bani Quraizah

Setelah meraih kemenangan gemilang pada perang Ahzab, Rasulullah saw membawa pasukannya mendekati benteng pertahanan Bani Quraizah. Pasukan Islam memaksa mereka menyerah, setelah mengepung benteng mereka selama dua puluh lima hari.

Karena menderita kekalahan, Bani Quraizhah memohon agar dapat meninggalkan kota Madinah. Akan tetapi Rasulullah saw menolaknya, sebab jika sampai lolos meninggalkan kota, mereka akan membuat persekongkolan lagi dan menciptakan peperangan baru, sebagaimana Bani Nadzir yang memicu untuk meletuskan perang Khandaq.

Akhirnya, orang-orang Yahudi yang licik itu harus kecewa pada keputusan itu. Sa’ad bin Mu’adz menyampaikan maklumat bahwa orang-orang yang berkhianat dan membantu pihak musuh selama pererangan harus dibunuh dan harta kekayaan mereka harus dirampas.

Perjanjian Hudaibiyah

Derita kekalahan kafir Quraisy dan kedigjayaan kaum Muslimin, khususnya penaklukan Bani Musthaliq sampai menyebabkan mereka masuk agama Islam, telah menggelapkan mata kaum kafir Quraisy.

Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-7 Hijriah, Nabi Muhammad saw beserta 14000 laskar Islam bergerak menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Kepergian Rasulullah saw ke tanah suci tidak hanya untuk keperluan ibadah saja, namun juga untuk kepentingan politik. Haji beliau kali ini bertujuan untuk menjadikan status kewarganegaraan kaum muslimin di semenanjung Arabia menjadi benar-benar diakui. Dengan demikian, kaum muslimin berhak untuk bermukim di sepanjang tanah Arab tanpa harus takut diusir.

Kaum kafir Quraisy menerima kabar bahwa Rasulullah saw akan berkunjung ke Baitullah Ka’bah. Mereka bersumpah di hadapan berhala-berhala untuk tidak membiarkan beliau memasuki kota Makkah.

Kafir Quraisy mengutus Khalid bin Walid beserta dua ratus pasukan berkuda untuk menghadang Rasulullah saw bersama pasukannya.

Saat itu, Rasulullah saw telah sampai di daerah Hudaibiyah melalui jalan berbeda untuk menghindari pertempuran dan peperangan yang mungkin mengintai setiap saat. Segera beliau mengutus salah seorang sahabat untuk mengintai pasukan Quraisy dan meyakinkan mereka bahwa Rasulullah saw beserta kaum muslimin datang hanya untuk menunaikan ibadah haji saja. Sahabat itu ditugaskan untuk meyakinkan para pemimpin Quraisy bahwa kedatangan Rasulullah saw kali ini tidak untuk berperang. Namun, mereka malah berlaku kurang ajar terhadap utusan beliau.

Rasulullah saw meminta baiat (sumpah setia) kepada sahabat agar tetap setia dan rela berkorban kepada beliau di bawah pohon. Ketika hal ini diketahui oleh kafir Quraisy, mereka sangat geram sekaligus malu, sehingga diutuslah Suhail sebagai wakil mereka untuk berunding.

Kaum kafir Quraisy tidak menghendaki kaum muslimin memasuki kota Makkah dan menunaikan ibadah haji pada tahun ini dan segera pulang ke Madinah. Apabila mereka mau menunaikan haji pada tahun depan, kaum muslimin tidak diperbolehkan untuk membawa senjata. Selama masa haji itu, pihak Quraisylah yang bertanggung jawab atas keselamatan, keamanan harta dan jiwa kaum muslimin.

Perjanjian ditandatangani dengan lima butir kesepakatan, meskipun beberapa orang Islam kecewa. Puncak kekecewaan mereka tunjukkan dengan keberatan terhadap keputusan-keputusan Rasulullah saw. Mereka mengira bahwa penandatanganan perjanjian itu adalah suatu aib yang memalukan umat Islam, khususnya pada satu butir kesepakatan yang menyatakan bahwa jika seorang muslim lari dari Makkah lalu sampai di Madinah, maka ia akan dipulangkan ke tempat asalnya. Sebaliknya, orang muslim Madinah yang masuk Makkah tidak boleh kembali ke Madinah.

Kekecewaan itu sebenarnya tidak berdasar. Mereka tidak mengerti bahwa keuntungan perjanjian itu sesungguhnya merupakan awal dari penaklukan kota Makkah kelak.

4. Perang Khaibar

Pada awal bulan Rabiul Awal tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah saw beserta 1600 kaum muslimin bertolak dari Madinah menuju Khaibar. Laskar Islam di bawah komandan beliau menyerang musuh dengan tiba-tiba dan dengan mudah merebut tanah Raji’ yang terletak di antara Khaibar dan Ghathafan.

Panglima besar laskar Islam, Rasulullah saw menerapkan strategi militer yang jitu. Sehingga antara orang-orang Yahudi Khaibar dengan orang-orang Arab Ghathafan tidak dapat saling membantu satu sama yang lain.

Laskar Islam mengepung benteng Khaibar pada malam hari. Mereka mengambil posisi di tempat strategis yang tersembunyi di balik tanaman palem. Dengan mudah mereka menguasai lembah Khaibar. Kemudahan ini berkat keberanian dan ketulusan mereka dalam berkorban.

Sayangnya, dua lembah strategis yang menjadi markas kaum Yahudi tidak dapat dikuasai. Kaum Yahudi itu mempertahankan benteng mereka mati-matian dengan melepaskan anak-anak panah ke arah pasukan muslimin.

Rasulullah saw memerintahkan Abu Bakar memimpin pasukan tempur, namun tidak berhasil menaklukkan benteng itu. Pada hari kedua, Umar Bin Khatab ditunjuk sebagai komandan tempur, namun ia juga tidak berhasil. Di seberang sana, kaum Yahudi Khaibar terus saja memperolok kaum muslimin.

Melihat kegagalan kaum muslimin merebut benteng tersebut, Rasulullah saw bersabda, “Besok aku akan memberikan bendera Islam ini kepada orang yang hanya kembali bila benteng pertahanan Yahudi itu telah dikuasai.”

Seluruh sahabat menantikan fajar tiba untuk menyaksikan siapa gerangan orang yang beruntung itu. Masing-masing memimpikan menjadi pemegang bendara esok hari.

Pada pagi harinya, Rasulullah saw memanggil Ali. Beliau menyerahkan bendera Islam itu kepadanya dan menugaskannya untuk menaklukkan lembah Khaibar. Rasulullah saw berdoa untuk kesuksesan Ali.

Ali menerima tugas ini dengan penuh semangat. Ia bersama pasukannya bergerak mendekati pintu gerbang Khaibar. Pintu gerbang itu dijaga oleh dua saudara yang gagah berani, Haris dan Marhab. Mereka menyerang pasukan Ali dengan garang sampai tunggang-langgang menyelamatkan dirinya masing-masing.

Sebagai komandan perang, Ali segera menghadang kedua bersaudara itu. Dengan kegagahan dan keperkasaannya, ia mampu menghempaskan kedua orang Yahudi itu.

Kematian mereka membuat orang-orang Yahudi yang berada di balik benteng menjadi ketakutan dan panik. Mereka cepat-cepat menutup pintu gerbang dan bersembunyi di baliknya. Pasukan muslimin yang tadinya kocar-kacir melarikan diri, setelah melihat keunggulan Ali, segera kembali dan bersiaga di belakang sang komandan. Ali maju mendekati pintu gerbang itu dan mengangkatnya lepas dari benteng.

Sementara kaum Yahudi tercengang menyaksikan kekuatan dan keberanian Ali hingga mereka menyerah takluk, Ali melemparkan pintu itu ke atas parit untuk dijadikan jembatan yang kemudian dilalui pasukan muslimin. Demikianlah mereka berhasil dengan mudah memasuki dan menduduki Khaibar, benteng kokoh orang-orang Yahudi itu.

Sama seperti kaum Yahudi, kaum muslimin pun takjub di hadapan kekuatan Ali. Mereka bertanya-tanya satu sama lain, bagaimana Ali bisa melakukannya. Tujuh orang muslim sempat mengangkat pintu itu, namun pintu itu tak bergeser sedikit pun.

Tentang kekuatannya, Ali menuturkan, “Aku tidak mampu merobohkan gerbang itu dengan kekuatan manusia biasa. Tapi aku melakukannya dengan kekuatan Allah SWT.”

Akhirnya, pasukan muslimin menguasai seluruh benteng yang ada di sekitar Khaibar dan menaklukkan orang-orang Yahudi. Sisa-sisa orang Yahudi memohon kepada Rasulullah saw untuk diperbolehkan tinggal. Mereka ingin tetap dapat mengolah tanah tersebut untuk pertanian dan perkebunan. Mereka berjanji akan menyumbangkan setengah dari hasil panen itu kepada kaum muslimin. Beliau mengabulkan permohonan itu.

Tanah Fadak

Berita tentang penaklukan Khaibar terdengar oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di Fadak. Mereka menjadi sangat risau dan ketakutan. Orang-orang Fadak itu mengutus wakil mereka untuk bertemu dengan Rasulullah saw dengan membawa pesan akan perlunya dibuat suatu perjanjian. Mereka lalu menyerahkan separuh wilayah Fadak kepada beliau yang kemudian dihadiahkannya kepada putrinya, Fatimah agar dapat dikelola untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya dan keperluan orang-orang miskin.

Sesudah perang Khaibar, Rasulullah saw bertolak menuju Wadi Qura (lembah Qura) yang menjadi pusat pemukiman Yahudi. Beliau dan pasukan muslimin mengepung pemukiman itu dan begitu cepat ditaklukkan. Beliau berjanji untuk mengembalikan tanah Yahudi itu kepada pemiliknya, dengan syarat bahwa separuh dari hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum muslimin. Hal ini berlaku sebagaimana pengembalian tanah di lembah Khaibar, yakni separuh hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum muslimin.

Perjanjian ini dilakukan untuk mengaktifkan sektor ekonomi dan mampu menghasilkan kesejahteraan umat Islam, sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dan hartanya jika ada seruan perang.

5. Perang Mu’tah

Sebelum meletusnya perang Mu’tah, Rasulullah saw mengutus Harits bin Umair kepada penguasa Syiria dengan maksud mengajaknya menerima Islam. Namun pihak penguasa berlaku kurang ajar. Mereka menahan dan membunuh duta Islam itu.

Setelah peristiwa ini, Rasulullah saw masih mengutus enam belas duta Islam (da’i) untuk mengajak penguasa Syiria dan rakyatnya kepada Islam. Sayangnya, mereka juga dibunuh. Dari enam belas orang duta itu, hanya satu orang yang mampu meloloskan diri dan kembali ke Madinah.

Segera ia melapor kepada Rasulullah saw. Beliau sangat terpukul mendengar hal itu. Pembantaian terhadap para duta itu membuat beliau mengeluarkan perintah untuk berjihad. Beliau menghimpun 3000 pasukan pada Jumadil Tsani tahun ke-8 Hijriah.

Sebelum pasukan muslimin meninggalkan Madinah, Rasulullah saw memberikan pengarahan kepada mereka, “Yang akan memimpin pasukan pertama kali adalah Ja’far bin Abi Thalib. Jika sesuatu menimpanya, maka tampuk kepemimpinan diserahkan pada Zaid bin Haritsah. Dan jika terjadi sesuatu pada Zaid, maka Abdullah bin Ruwahah yang menjadi pimpinan kalian. Dan jika Abdullah bin Ruwahah juga menjumpai kesyahidannya, maka pilihlah komandan di antara kalian.”

Setelah mendapatkan pengarahan dari penglima besar mereka, berangkatlah pasukan itu di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib. Ketika pasukan muslimin sampai di dekat kota Ma’an, mereka mendapat berita bahwa Kaisar Romawi telah mengirim 100000 pasukannya ditambah 100000 orang Arab yang berada di bawah kekuasaannya.

Perang Yang Tak Seimbang

Laskar musuh yang berjumlah 200000 pasukan itu berhadapan dengan 3000 pasukan muslimin. Setelah berhadap-hadapan, perang pun meletus. Ja’far bin Abu Talib bertempur dengan gagah berani sampai darah penghabisan. Ia gugur sebagai syahid.

Pucuk pimpinan segera diambil oleh Zaid bin Haritsah. Zaid pun bertempur dengan gagah berani. Namun, ia pun mati syahid. Setelah gugurnya Zaid, Pasukan muslimin dipimpin oleh Abdullah bin Ruwahah yang juga berakhir dengan kesyahidannya.

Dengan gugurnya para komandan mereka yang gagah berani itu, kaum muslimin segera memilih Khalid bin Walid untuk memimpin pasukan. Khalid segera menarik pasukannya dari medan pertempuran dan menyelamatkan prajurit dari medan tempur.

Pada sore harinya, Khalid merencanakan penarikan seluruh pasukan dari medan pertempuran dan memimpin mereka bergerak menuju Madinah.

Penaklukan Kota Makkah

Penarikan mundur pasukan muslimin dari medan pertempuran Mu’tah telah membuat kafir Quraisy semakin berani dan congkak. Mereka berpikir bahwa kaum muslimin telah kehilangan daya dan kekuatan tempur. Oleh karena itu, mereka mengkhianati perjanjian Hudaibiyah. Dengan bantuan sekutu-sekutunya, mereka menyerang dan membunuh banyak kaum muslimin yang berasal dari Bani Thaif.

Abu Sufyan tahu betul bahwa kaum muslimin tidak akan tinggal diam dan mereka segera mengirimkan jawaban atas pengkhianatan ini. Abu Sufyan mengharap bisa bertemu dengan Rasulullah saw di Madinah dan meminta maaf atas tragedi tersebut.

Masih di hadapan Rasulullah saw, Abu Sufyan meminta agar beliau tetap mau memegang perjanjian Hudaibiyah. Akan tetapi, beliau menampik permintaan itu, sehingga Abu Sufyan kembali ke Makkah dengan kecewa.

Segera Rasulullah saw memerintahkan pasukannya untuk siaga. Sebanyak 10000 laskar kaum muslimin menyatakan siap sedia untuk mengambil bagian dalam peperangan selanjutnya. Beliau menugaskan sejumlah prajurit agar berjaga-jaga di sekeliling kota untuk mencegah siapa saja yang hendak meninggalkan kota dan meyebarkan berita kepada kafir Quraisy dalam hal ini.

Tetapi seorang pengkhianat keji bernama Hathib membocorkannya kepada kaum musyrik Makkah. Dengan dalih risau akan keselamatan keluarganya, Hatib mengutus seorang kurir wanita untuk menyebarkan berita ini.

Niat busuknya segera diketahui. Surat yang berisi bocoran tentang persiapan kaum muslimin berhasil digeledah. Rasulullah saw memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk melakukan pemboikotan sosial terhadap Hathib, si pegkhianat Islam itu. Sesungguhnya hukuman boikot itu lebih buruk daripada hukuman mati.

Pada tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 Hijriah, Rasulullah saw memerintahkan pasukannya dan sebagian kaum muslimin untuk bergerak cepat. Mereka harus sampai di kota Makkah dalam waktu satu minggu. Beliau beserta pasukan dan seluruh kaum muslimin yang menyertai beliau mendirikan tenda di dekat kota Makkah.

Rasulullah saw memberikan komando kepada pasukan muslimin untuk berpencar pada malam hari dan menyalakan api unggun di mana-mana. Pihak musuh berfikir bahwa sebuah pasukan besar telah tiba dari Madinah. Musuh pun menjadi ketakutan. Mereka menyangka bahwa pasukan dalam jumlah raksasa akan menyerang.

Malam harinya, gurun di sekeliling kota Makkah menjadi terang benderang dengan nyala api unggun di mana-mana. Suara riuh dan slogan-slogan kaum muslimin berkumandang, unta-unta dan kuda-kuda meringkik. Ketika Abu Sufyan beserta sekelompok Quraisy datang menyaksikan hal ini, ia merinding ketakutan. Ia menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia tidak pernah menyaksikan pasukan sebesar ini selama hidupnya.

Abu Sufyan datang menjumpai Abbas bin Abdul Muthalib untuk meminta usulan darinya. Dengan maksud untuk berdamai, Abbas membawanya datang untuk menemui Rasulullah saw, sang panglima tertinggi kaum muslimin.

Demi kemaslahatan dan kejayaan Islam, Rasulullah saw mengatakan kepada Abu Sufyan agar dapat meyakinkan penduduk kota Makkah, bahwa siapa saja yang mencari perlindungan hendaknya memasuki rumah Abu Sufyan. Setelah mendengar pandangan Rasulullah saw, ia bertolak kembali ke Makkah dengan membawa ampunan dari beliau.

Sesampainya di Makkah, Abu Sufyan mengingatkan penduduk kota bahwa kaum muslimin akan datang dengan pasukan raksasa. Untuk menghindari pertumpahan darah, maka sebaiknya mereka menyerah dan membiarkan kaum muslimin memasuki kota Makkah.

Akhirnya kota Makkah dapat dikuasai dengan damai tanpa adanya pertumpahan darah.

Pengampunan Umum

Sekelompok kaum muslimin, khususnya para pengungsi yang pernah diperlakukan secara kejam oleh Quraisy, berniat menuntut balas terhadap orang-orang Makkah yang menyiksa dan mengusir mereka dari kota.

Akan tetapi, Rasulullah saw mengumumkan “Pengampunan Umum” untuk warga makkah, bahkan untuk mereka yang telah melakukan penyiksaan dan pengusiran terhadap kaum muslimin.

Setelah merobohkan semua patung dan berhala satu persatu, Rasul saw memerintahkan Bilal untuk menaiki Ka’bah dan mengumandangkan gema Tauhid: “Allahu Akbar, La ilaha illallah, Muhammad rasulullah”.

6.Perang Hunain

Setelah kejatuhan pusat kekuatan kaum musyrikin oleh kaum muslimin, para penyembah berhala itu tetap diperbolehkan tinggal di sekeliling Ka’bah. Mereka merasa malu dan bagitu ketakutan. Oleh karena itu, mereka mengundang kabilah masing-masing untuk berkumpul.

Mereka memutuskan bahwa untuk mengalahkan kaum muslimin, hendaknya mereka bersekutu dalam menghancurkan pasukan muslimin itu. Dalam pertemuan itu, diputuskanlah kepala kabilah Hawazin sebagai panglima mereka.

Mendengar berita ihwal pertemuan itu, Rasulullah saw mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai keadaan musuh dan mencari informasi tentang kesepakatan perang yang ditandatangani oleh kabilah-kabilah itu. Mata-mata itu berhasil mendapatkan informasi dan segera melaporkannya kepada beliau.

Persiapan Menjelang Perang Hunain

Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan tersebut, Rasulullah saw tidak tinggal diam. Panglima besar kaum muslimin itu segera memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah Hunain. Para pejuang itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8 H.

Malik, panglima tentara kafir, mengutus tiga orang prajuritnya untuk memata-matai pasukan muslimin. Mereka menyaksikan kehebatan pasukan muslimin dan melaporkan hasil pengintaiannya itu kepada Malik. Ia merasa bahwa mereka tidak memiliki daya untuk menghadapi pasukan muslimin. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis. Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk menyergap jika pasukan musuh terlihat.

Pasukan muslimin tiba di lembah Hunain pada malam Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di tempat itu. Rencananya, mereka akan bergerak memasuki lembah Hunain pada Shubuh hari.

Pihak musuh yang telah siaga menyambut kedatangan mereka dengan bersembunyi di balik ilalang. Setelah melihat musuh menampakkan diri, mereka lalu menyergap dari empat penjuru.

Di tengah kegelapan malam, kuda-kuda yang ditunggangi pasukan muslimin itu membuat kegaduhan. Kegaduhan ini menjadi ramai oleh sekitar 2000 muallaf (muslim baru). Para muallaf itu melarikan diri, dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pelarian diri itu telah membuat musuh menjadi tambah semangat untuk menceraiberaikan pasukan muslimin.

Hanya 10 orang sahabat yang bersiaga di samping Rasulullah saw. Merekalah yang membela beliau dari ancaman pedang musuh. Beliau memerintahkan mereka untuk lari mencari pertolongan. Abbas berteriak dengan suara lantang, memanggil sahabat-sahabat yang melarikan diri itu. Musuh yang pada awalnya meraih kemenangan itu, lambat laun menjadi lemah akibat kembalinya pasukan muslimin yang melarikan diri tadi.

Walhasil, benteng pertahanan musuh dihancurkan. Musuh lari tunggang langgang meninggalkan peralatan tempur mereka. Rasulullah saw memerintahkan beberapa orang sahabat untuk mengejar musuh yang melarikan diri sehingga mereka menjadi tidak berdaya. Maksud pengejaran ini adalah agar tidak tersisa lagi musuh yang bisa melakukan perlawanan militer di kemudian hari.

Para sahabat yang mengejar musuh itu berhasil menunaikan tugas mereka. Atas keberhasilan pasukan muslimin menaklukkan musuh, Rasulullah saw kemudian membagikan harta rampasan perang kepada kaum muslimin.

7. Perang Tabuk

Pada bulan Rajab tahun ke-9 H, Rasulullah saw menerima laporan bahwa kaum muslimin yang bermukim di barat daya perbatasan Arabia, mendapat ancaman dari kekaisaran Romawi dan berniat untuk menyerang wilayah-wilayah Islam.

Setelah mempersiapkan pasukan, Rasulullah saw mengumumkan rencananya kepada khalayak ramai. Cara ini berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat sebelumnya. Dahulu, beliau merahasiakan niatnya. Kali ini beliau memberitahukan kepada khalayak secara terbuka.

Masyarakat mempersembahkan segala sesuatu yang diperlukan oleh pasukan muslimin. Mereka dengan antusias dan penuh semangat mengorbankan harta, bahkan kaum wanita merelakan simpanan perhiasan mereka untuk digunakan dalam peperangan.

Makar Kaum Munafik

Bersamaan dengan bergeraknya pasukan muslimin, orang-orang munafik mulai menebarkan hasutan, menciptakan semangat anti perang dan menanamkan rasa takut dalam diri pasukan muslimin akan kehebatan pasukan Romawi.

Mereka melakukan berbagai cara, di antaranya ialah membangun sebuah masjid dengan nama “Masjid Dhirar” sebagai pusat penyebaran propaganda anti perang itu. Mereka berharap agar orang-orang tidak ambil bagian dalam jihad itu.

Syukurlah, berkat kesigapan dan ketegasan, Rasulullah saw berhasil menggagalkan persekongkolan orang-orang munafik itu.

Atas perintah Rasulullah saw, rumah tempat berkumpulnya orang-orang Yahudi dan kaum munafik itu dibakar oleh massa. Dengan cara demikian ini, persekongkolan yang mereka galang berhasil ditumpas.

Persiapan Perang Tabuk

Sebanyak 30000 pasukan muslimin meninggalkan kota Madinah. Jumlah pasukan ini adalah yang terbesar dari yang sebelumnya. Rasulullah saw sendiri yang menjadi panglima pasukan itu. Beliau memeriksa persiapan-persiapan pasukannya. Setelah itu, panglima muslimin itu berpidato di depan pasukannya.

Beliau menunjuk Ali bin Abi Talib sebagai pemimpin di Madinah selama kepergiannya beserta pasukan muslimin ke Tabuk.

Mereka tiba di padang Tabuk yang panas membara setelah menempuh perjalanan sejauh 600 kilometer. Namun, mereka terkejut setibanya di tempat itu. Mereka tidak melihat tanda-tanda pasukan Romawi.

Sepertinya, pihak musuh telah mengetahui gerakan pasukan muslimin yang penuh semangat untuk mati syahid. Pemimpin Romawi memutuskan untuk menarik mundur pasukannya dari arah utara.

Pasukan muslimin berdiam di Tabuk selama 20 hari sebelum kembali ke Madinah, tanpa terjadi pertempuran apa pun.

Persekongkolan Kaum Munafik

Sekembalinya dari Tabuk, sekelompok orang munafik memendam niat jahat kepada Rasulullah saw. Mereka bermaksud untuk membunuh panglima orang-orang pencinta kebenaran itu. Kaum munafik yang ikut serta dalam perjalanan ke Tabuk itu hanyalah didorong oleh rasa takut kepada kaum muslimin lainnya.

Mereka ingin menakut-nakuti unta tunggangan Rasulullah saw dengan bersembunyi di balik bukit. Bila beliau terjatuh, mereka mudah membunuhnya. Tapi niat keji itu tersingkap dan membuat orang-orang munafik melarikan diri. Pasukan muslimin ingin segera menghabisi hidup kaum munafik itu, namun Rasulullah saw meminta mereka untuk membiarkannya.

Sekembalinya dari Tabuk, Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin untuk menggusur Masjid Dhirar. Perintah ini beliau sampaikan setelah menerima wahyu dari Allah SWT.

Peperangan Tabuk merupakan unjuk kekuatan pasukan muslimin. Seluruh kaum muslimin mengambil bagian dalam pertempuran ini.

Melihat kekuatan yang begitu besar, negara-negara tetangga dan orang-orang kafir menjadi enggan terlibat dalam persekongkolan untuk merongrong pemerintahan Islam.

Pembersihan Orang-orang Kafir

Hingga tahun ke-9 Hijriah, orang-orang kafir masih menunaikan ibadah Haji sesuai dengan kebiasaan nenek moyang mereka. Pada tahun yang sama, surat Al-Bara’ah atau At-Taubah diturunkan.

Rasulullah saw mempercayakan surat itu kepada Ali dibacakan di hadapan orang-orang kafir Makkah. Beliau memerintahkan Ali untuk menyampaikan, “Tidak diperbolehkan orang-orang kafir memasuki rumah suci Ka’bah, terhitung sejak hari ini. Dan mulai hari ini, tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah di sekitar Ka’bah dengan telanjang.”

Sesuai perintah Rasulullah saw, Ali berangkat menuju Makkah dan membacakan surat Al-Bara’ah yang baru saja diturunkan, dan ditujukan kepada orang-orang kafir itu agar menghentikan kemusyrikan mereka.

Di tengah para jemaah haji, Ali menyerukan, “Wahai sekalian manusia, tidak akan ada orang kafir yang masuk surga, tidak akan ada orang musyrik yang berhaji setelah tahun ini, tidak akan ada orang telanjang yang bertawaf, dan siapa saja yang punya perjanjian damai dengan Rasulullah, maka ia punya kesempatan sampai berakhirnya masa perjanjian itu.”

Mubahalah (Saling Memohon Kutukan dari Allah SWT)

Rasulullah saw mulai mengirimkan surat kepada penguasa-penguasa yang ada di dunia. Beliau mengirimkan surat kepada keuskupan di Najran dan mengajak orang-orang Kristen yang ada di sana untuk memeluk Islam. Bila menolak, mereka diharuskan untuk membayar jizyah (pajak) sebagai bentuk dukungan mereka kepada pemerintahan Islam.

Sang uskup telah membaca ihwal kedatangan seorang nabi baru setelah Isa putra Maryam as. Dia juga mengetahui kedatangannya melalui Kitab Suci Nasrani. Kemudian dia segera mengirimkan utusan ke Madinah untuk mencari tahu kebenaran berita itu.

Sesampainya di Madinah, mereka memulai dialog dengan Rasulullah saw pada kesempatan itu, beliau menjelaskan ajaran-ajaran Islam yang lurus, sementara mereka menanyakan ihwal Nabi Isa Al-Masih as, “Apakah ia anak Allah ataukah anak Maryam?”

Rasul saw menjawab, “Sesungguhnya Isa Al-Masih tidak lain adalah rasul Allah, sama seperti rasul-rasul yang telah mendahuluinya, dan ibunya adalah wanita tepercaya. Mereka berdua memakan makanan.” (QS. Ali ‘Imran: 59), “Dan ihwal Isa di sisi Allah seperti Adam yang telah diciptakan Allah dari tanah, lalu berkata kepadanya, ‘Jadilah’, maka terjadilah ia.” (QS. Ali ‘Imran: 61)

Namun, utusan Najran sebanyak 60 orang itu tetap saja menolak untuk beriman kepada Rasul saw.

Malaikat Jibril as. turun menyampaikan wahyu dari Yang Maha Kuasa kepada Nabi saw. Dalam wahyu tersebut, Allah menyerukan beliau dan orang-orang Najran untuk bermubahalah, yakni memohon kepada Allah SWT agar mengutuk siapa yang sebenarnya berdusta.

Ketika saat mubahalah itu tiba, Rasulullah saw hanya membawa empat orang keluarganya dari Ahlulbait, yaitu Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Sewaktu orang-orang Nasrani itu melihat beliau datang beserta rombongan pilihannya, pemimpin Nasrani itu berkata, “Demi Tuhan! Saya meyaksikan wajah-wajah yang jika mereka memoon kepada Allah untuk menumbangkan sebuah gunung, niscaya gunung itu akan tumbang. Jangan kamu melakukan mubahalah dengan mereka. Jika tidak, kamu semua akan musnah dan tak seorang pun Nasrani yang akan tersisa di muka bumi ini.”

Akhirnya, mereka setuju untuk membayar pajak. Diputuskan bahwa orang-orang Nasrani akan membayar sebanyak 2.000 Hullas (jubah) dan 30 busur panah kepada kaum muslimin.

Haji Wada’ (Perpisahan)

Pada bulan Dzulhijah tahun ke-10 Hijriah, Nabi saw mengumumkan akan menunaikan haji tahun itu. Beliau berpesan, bahwa siapa saja yang mau menyertainya segera mempersiapkan diri.

Berita ini menciptakan semangat dan kegembiraan di kalangan kaum muslimin. Bersama Nabi saw, mereka mempersiapkan diri menyambut pesan beliau itu. Rasulullah saw menunjuk Abu Dujanah sebagai wakil beliau di Madinah. Beliau beserta sahabat-sahabat lainnya bergegas menuju Makkah.

Rasulullah saw memulai pelaksanaan rukun ibadah Haji di Dzulhulaifah dan melantunkan Labaik. Dari Dzulhulaifah, Rasulullah saw bertolak menuju Makkah.

Setelah sepuluh hari tiba di Makkah, beliau memasuki Masjidil Haram dan melaksanakan rukun-rukun Haji lainnya. Hari berikutnya, beliau menyampaikan pidato di Mina. Beliau bersabda, “Kita membutuhkan kemapanan dalam pemerintahan Islam.”

Ghadir Khum

Pada hari Kamis, 18 Dzulhijah, Nabi saw tiba di dekat ladang Juhfah. Pada saat itu, malaikat Jibril as menyampaikan wahyu dari Tuhan yang harus beliau sampaikan. Rasulullah saw mengumpulkan para sahabat dengan mengatakan bahwa beliau akan mengumumkan suatu pesan yang sangat penting.

Ratusan jamaah Haji berkumpul pada pelaksanaan acara pidato Rasulullah saw. Telinga mereka dipasang baik-baik untuk mendengarkan pesan yang akan disampaikan beliau, “Segala puji dan puja bagi Allah Yang Maha Kuasa. Hanya kepada-Nya kita meminta pertolongan dan keimanan, Dialah tempat tumpuan hajat manusia. Aku (Muhammad saw) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad saw adalah hamba dan utusan-Nya.

“Wahai kaum muslimin! Aku segera meninggalkan kalian semua dan kutinggalkan dua wasiat yang berharga kepada kalian, yaitu Al-Qur’an dan Ahlulbaitku. Keduanya tidak akan terpisah satu sama lain sampai kalian menjumpaiku di telaga Kautsar (pada Hari Pengadilan). Oleh karena itu, jagalah mereka dan jangan kalian tinggalkan. Jika kalian tinggalkan wasiat ini, maka kalian akan binasa.”

Kemudian beliau meraih tangan Ali bin Abi Thalib dan mengangkatnya seraya bersabda, “Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpin kalian sepeninggalku. Ya Allah! cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhi Ali. Tolonglah orang-orang yang menolong Ali dan binasakanlah orang-orang yang membinasakan Ali.”

Wafatnya Nabi Saw

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan itu, Rasulullah saw jatuh sakit. Sekelompok orang memanfaatkan keadaan, dan nabi-nabi palsu pun bermunculan. Setelah Rasulullah saw mendengar berita ini, beliau memerintahkan untuk memerangi mereka.

Suatu hari, Nabi saw yang dalam keadaan payah dibantu oleh Ali bin Abi Thalib guna berziarah ke kuburan sahabat-sahabatnya yang telah gugur di pekuburan Baqi’. Setelah itu, beliau meminta Imam Ali untuk membawanya pulang kembali.

Hari demi hari berlalu, sakit Nabi saw bertambah serius dan parah, hingga insan kamil itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di pangkuan Ali. Manusia suci itu telah kembali menghadap kekasihnya Yang Mahakasih pada hari Senin 28 Shafar tahun ke-11 H. Mangkatnya beliau menyebabkan dunia Islam berkabung dan berduka.

Mutiara Hadis Rasulullah Saw

• “Seburuk-buruk manusia di hadapan Allah SWT adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengambil manfaat dari ilmu yang dimikinya.”

• “Semulia-mulia rumah adalah rumah yang di dalamnya anak-anak yatim disantuni dengan kasih sayang dan cinta.”

• “Barang siapa beriman pada Allah SWT, hari akhir dan janji-janji Allah SWT, hendaknya menunaikan amanat dan janjinya.”

• “Tatapan seorang anak kepada orang tuanya karena kasih sayang adalah ibadah.”

• “Sahabat yang berbudi luhur dan mulia sungguh lebih berharga daripada harta benda.”

==========================================================

IMAM ALI BIN ABI THALIB AS,

PEMIMPIN YANG ADIL

Riwayat Singkat Imam Ali as

Nama                         : Ali.

Gelar                          : Amirul Mukminin.

Julukan                   : Abul Hasan.

Lahir                          : 13 Rajab Tahun 23 SH.

Syahadah                : Tahun 40 H.

Masa Imamah     : Tahun 35 H.

Masa Khilafah     : 5 tahun.

Usia                            : 63 tahun.

Makam                    : Najaf Asyraf, Irak.

Hari Lahir

Pada hari Jumat, 13 Rajab, tepatnya 23 tahun sebelum hijrah, lahirlah dari keluarga Abu Thalib seorang bayi mulia yang menyinari kota Makkah dan alam semesta dunia.

Ketika paman Nabi saw yang bernama Abbas bin Abu Thalib sedang duduk santai bersama seorang lelaki yang bernama Qu’nab, datanglah Fatimah binti Asad untuk melakukan tawaf di sekeliling Ka’bah dan memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT. Pandangan matanya tertuju ke langit sambil bermunajat kepada-Nya dengan penuh khusyuk.

Dalam doanya itu ia berkata, “Ketahuilah wahai Tuhanku, sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan kepada semua yang datang dari sisi-Mu, yaitu para rasul dan kitab-kitab yang dibawa oleh mereka. Sesungguhnya aku membenarkan seruan kakekku Ibrahim Al-Khalil as. Dialah yang membangun kembali Ka’bah yang mulia ini. Maka demi orang yang telah membangun Ka’bah ini, dan demi janin yang ada dalam kandunganku ini, aku memohon pada-Mu; mudahkanlah kelahirannya.”

Tidak lama setelah itu, terjadilah peristiwa yang sangat menakjubkan, pertanda bahwa Allah SWT telah mengabulkan doanya. Di saat itu, tembok Ka’bah terbelah sehingga Fatimah binti Asad bisa masuk ke dalamnya, setelah itu tertutup kembali. Peristiwa yang sangat aneh dan menakjubkan itu membuat semua orang yang menyaksikannya terheran-heran.

Abbas bin Abu Thalib yang juga turut menyaksikan kejadian tersebut langsung pulang ke rumah untuk mengabarkan kejadian tersebut kepada keluarga dan kerabatnya, lalu kembali lagi ke Ka’bah bersama beberapa orang wanita untuk membantu kelahiran janin Fatimah itu. Namun, mereka hanya mampu mengelilingi Ka’bah, tanpa bisa masuk ke dalamnya. Seluruh penduduk kota Makkah tetap dalam kebingungan sambil menanti Fatimah keluar.

Empat hari kemudian, barulah Fatimah keluar dari dalam Ka’bah sambil menimang putranya yang baru saja lahir. Orang-orang bertanya-tanya tentang nama bayi mulia itu, Fatimah menjawab, “Namanya adalah Ali.”

Demikianlah kelahiran Imam Ali as yang serba menakjubkan itu.

Semenjak masih dalam susuan, Ali tumbuh besar dan terdidik di dalam rumah Nabi saw. Pada salah satu khutbahnya yang terhimpun dalam Nahjul Balaghah, Ali pernah menuturkan, “Ketika aku masih kecil, beliau saw membaringkanku di tempat tidurnya, mendekapku dengan penuh kasih-sayang, dan mengunyahkan makanan untuk disuapkan ke mulutku.”

Masa Kanak-Kanak

Sejak masa kanak-kanak, Imam Ali as tidak pernah berpisah dari pendidikan manusia agung Rasulullah saw. Beliau senantiasa menyertai Rasulullah saw, laksana bayangan yang begitu setia mengikuti empunya.

Mengenang masa kanak-kanaknya, Imam Ali as mengisahkan, “Aku senantiasa mengikuti Rasulullah saw bak seorang anak unta yang masih menyusu selalu menyertai ibunya. Setiap hari Rasulullah saw selalu menyempurnakan perangaiku dan memintaku untuk mengikutinya. Setiap tahun aku selalu menyaksikan beliau pergi ke goa Hira’, sementara tidak seorang pun mengetahui kepergian beliau. Ketika itu, tidak ada satu rumah pun yang menyatukan seorang pun di dalam Islam selain Rasulullah, Khadijah, dan yang ketiga adalah aku sendiri. Kusaksikan cahaya wahyu dan risalah ilahi. Di sana kucium semerbak kenabian dari rumah kudus itu.”

Ketika Allah SWT mengangkat Muhammad saw sebagai seorang Rasul untuk seluruh umat manusia, dan memerintahkan agar beliau berdakwah dan memberikan peringatan kepada keluarga serta kerabatnya, beliau memerintahkan Ali agar menyiapkan makanan untuk 40 orang dan mengundang kerabat beliau. Di antara mereka yang memenuhi undangan ialah paman-paman beliau, seperti Abu Thalib, Hamzah, Abbas, dan Abu Lahab.

Seperti dalam kenangan Imam Ali as sendiri, beliau menuturkan, “Kemudian Nabi berpidato di hadapan mereka, ‘Wahai putra-putra Abdul Muthalib! Demi Allah, sesungguhnya aku tidak pernah melihat di antara bangsa Arab ada seorang pemuda yang mendatangi kaumnya dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang telah kubawa untuk kalian. Sesungguhnya aku membawa untuk kalian kebaikan dunia dan akhirat. Ketahuilah, bahwa Allah SWT telah memerintahkan kepadaku agar mengajak kalian semua untuk meraih kebaikan tersebut. Siapakah di antara kalian yang siap membela dan menolongku dalam urusan ini dan untuk menjadi saudaraku, washi, dan khalifahku atas kalian semua?’

Ketika itu, semua yang hadir diam dan tidak seorang pun yang menjawab seruan beliau. Aku segera berkata, meski usiaku saat itu paling muda di antara mereka, ‘Aku ya Rasulullah, akulah yang akan menjadi pembela dan penolongmu.’ Saat itu juga Rasulullah saw berkata, ‘Inilah Ali sebagai saudaraku, washi, dan khalifahku atas kalian semua. Maka, dengarkanlah dan taatilah dia.’”

Masa Muda

Masa kanak-kanak seakan berlalu begitu cepat. Kini Ali as telah menjadi seorang pemuda sempurna. Sementara ia masih terus mengikuti Rasulullah saw ke mana saja beliau pergi dan di mana saja beliau berada, bagaikan laron yang selalu beterbangan di sekitar lilin.

Ali as adalah pemuda yang tampan, kuat, dan gagah berani. Kekuatan dan keberanian ini digunakannya untuk berkhidmat dan berbakti kepada agama Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ketika kita menengok sejarah Islam, kita jumpai bagaimana Imam Ali as senantiasa hadir dan ikut serta dalam setiap peperangan dan pertempuran. Beliau berperang dan menyerang musuh-musuhnya dengan penuh ksatria dan prawira di barisan terdepan.

Pada perang Hunain, di saat sebagian kaum muslimin lari tunggang-langgang meninggalkan Rasulullah saw di awal pertempuran, Ali as tetap tampil tegar dan gigih melakukan perlawanan, sementara bendera Islam tetap berkibar di atas kepalanya, sampai akhirnya tentara Islam dapat meraih kemenangan atas pasukan musyrikin.

Pada perang Khaibar, Ali bin Abi Thalib as memimpin pasukan muslimin untuk melakukan serangan yang dahsyat terhadap kaum Yahudi. Padahal sebelumnya, pasukan muslimin mengalami dua kali kegagalan. Penyerangan pertama dipimpin oleh Abu Bakar, dan penyerangan kedua dipimpin oleh Umar bin Khattab. Kedua usaha penyerangan itu dapat dipukul mundur oleh pasukan Yahudi.

Penyerangan ketiga dipercayakan kepada Ali. Beliau memimpin pasukan dan berhasil menjebol benteng kokoh Khaibar. Bahkan, beliau mencabut salah satu pintu gerbang benteng itu dan mengangkat dengan tangannya sendiri.

Ketika kaum Yahudi menyaksikan kegagahan dan keberanian Ali tersebut, mereka segera kabur tunggang-langgang karena ketakutan, sebelum akhirnya mereka menyerah.

Tebusan Pertama

Setiap manusia yang berakal sehat selalu berusaha membela dirinya, karena ia ingin senantiasa hidup, dan tidak menghendaki kematian. Dalam kehidupan ini, kita saksikan sedikit sekali orang-orang yang mau mengorbankan dirinya demi orang lain.

Ketika kita membaca sejarah Rasulullah saw dan kisah perjalanan hijrah beliau, kita akan merasa kagum dan penuh haru. Kita saksikan betapa Imam Ali as dengan penuh keberanian berbaring di tempat tidur Nabi saw sebagai tebusan jiwa beliau yang suci dari serangan musuh-musuh Islam yang ingin membunuhnya pada malam hijrah itu, padahal ketika itu Imam Ali as masih sangat muda.

Rencana pembunuhan atas diri Rasulullah saw itu diawali dengn berkumpulnya sekelompok kaum musyrikin di Darun Nadwah. Di sanalah mereka membuat kesepakatan dan memutuskan untuk menghabisi jiwa kudus Rasulullah saw. Cara dan taktik yang mereka ambil ialah dengan memilih satu orang pemuda dari setiap kabilah Quraisy. Mereka ditugaskan menyergap rumah Rasulullah saw pada tengah malam dan membunuhnya secara serentak.

Wahyu Ilahi turun dari langit, mengabarkan kepada Rasulullah saw akan tipu daya dan makar jahat orang-orang kafir Quraisy tersebut. Mengetahui rencana jahat itu, Imam Ali as segera pergi menuju rumah Rasulullah saw untuk bermalam di tempat tidur beliau.

Dengan izin Allah SWT, Rasulullah saw berhasil keluar pada malam hari itu juga tanpa diketahui oleh mereka. Mereka malah menduga bahwa beliau masih berada di tempat tidurnya. Ketika mereka berhasil masuk untuk membunuh beliau saw, ternyata yang mereka dapati adalah Ali. Betapa terkejutnya saat mereka menjumpai Ali yang tengah berbaring di atas tempat tidur Nabi saw. Mereka pun segera pergi meninggalkan rumah Nabi dalam keadaan malu dan penuh kecewa.

Demikianlah Rasulullah saw dapat menyelamatkan diri berkat pengorbanan sahabatnya yang setia, Imam Ali as.

Di Jalan Allah

Islam adalah agama keselamatan dan kehidupan. Karena itu, Islam menolak pembunuhan dan pertumpahan darah tanpa hak. Semua peperangan dan pertempuran yang terjadi pada masa Rasulullah saw adalah demi membela diri dan mempertahankan agama.

Beliau senantiasa berusaha menghindari peperangan sebisa mungkin. Akan tetapi ketika Islam terancam bahaya, kaum muslimin pun melakukan pertahanan dan perlawanan gigih dan kesatria demi mengangkat “Kalimat Allah”.

Ketika kita mengkaji peperangan-peperangan yang terjadi pada masa awal-awal Islam, sejarah mencatat bahwa pedang Ali bin Abi Thalib berperan andil yang sangat besar atas kejayaan Islam dan umatnya. Pedang yang diberi nama Dzul Fiqar itu senantiasa berkilauan, bagaikan kilat menyambar dalam setiap medan peperangan.

“Ali senantiasa bersama hak dan hak selalu bersama Ali.” Demikian sabda Nabi saw tentang Imam kita, Ali bin Abi Thalib as.

Akhlak Imam Ali as

Pada masa khilafah Imam Ali as, Kufah merupakan ibu kota pemerintahan Islam, sekaligus menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam.

Pada suatu hari, terjadi pertemuan di luar kota Kufah antara dua orang laki-laki. Satu di antara mereka adalah Amirul Mukminin Ali as dan yang lainnya adalah seorang laki-laki yang beragama Nasrani. Laki-laki Nasrani ini sama sekali tidak mengenal beliau. Berlangsunglah percakapan antara kedua orang itu sambil berjalan, hingga keduanya sampai di persimpangan yang memisahkan jalan mereka menjadi dua; yang satu menuju kota Kufah dan yang lainnya mengarah ke suatu perkampungan.

Imam Ali as harus menempuh perjalanannya menuju kota Kufah, sementara laki-laki Nasrani itu hendak melanjutkan perjalanannya menuju kampungnya. Namun beliau masih saja mengiringinya, padahal seharusnya beliau mengambil jalan yang menuju ke arah kota kufah.

Laki-laki Nasrani itu terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Bukankah Anda hendak kembali ke Kufah?” Beliau menjawab, “Ya betul, akan tetapi aku ingin mengantarmu beberapa langkah demi menunaikan hak persahabatan dalam perjalanan, karena sesungguhnya teman seperjalanan itu mempunyai hak dan aku ingin memenuhi hakmu itu.”

Laki-laki Nasrani itu merasa tertarik dan ia bergumam dalam hatinya, “Betapa agung dan mulianya agama orang ini yang telah mengajarkan akhlak yang mulia kepada manusia.” Ia pun sangat terdorong untuk mengungkapkan keislamannya dan bergabung bersama kaum muslimin.

Kekaguman dan keterkejutannya itu menjadi lebih besar lagi tatkala ia tahu, bahwa sebenarnya teman perjalanannya itu tiada lain adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as, pemimpin negara Islam yang luas.

Keteguhan Ali as

Pada kondisi yang wajar dan normal, seseorang akan dapat mengendalikan jiwa dan menentukan sikapnya yang sesuai dengan kondisi tersebut. Akan tetapi, pada kondisi dimana ia terbakar api kemarahan dan permusuhan, seseorang acapkali kehilangan keseimbangan dirinya, hingga pada saat-saat seperti ini sulit sekali baginya untuk menguasai kembali dirinya.

Tidak demikian halnya pada diri Ali Abi Thalib as. Ia tetap tenang dan tegar pada setiap keadaan dan kondisi. Sikapnya sama sekali tidak terpengaruh oleh dorongan emosi jiwanya, dan perbuatannya senantiasa mengiringi ridha Allah SWT.

Perilaku Ali di dalam rumah tangga, sikapnya dalam peperangan, pergaulan dan perlakuannya di tengah masyarakat senantiasa tunduk di bawah syariat dan undang-undang Islam. Beliau telah menjaga jiwanya sedemikian rupa, sehingga ia menjadi teladan yang unggul bagi setiap muslim yang beriman kepada Tuhannya.

Dalam perang Khandaq, ketika kaum musyrikin hendak menyerang kota Madinah, atas perintah Rasulullah saw kaum muslimin menggali parit untuk melindungi kota dari serangan musuh. Situasi saat itu sangat genting dan membahayakan sekali bagi umat Islam, terlebih lagi ketika ‘Amr bin Abdi Wud dan sebagian penunggang kuda musyrikin Quraisy berhasil melompati parit tersebut.

Setelah berhasil melewati parit dengan kudanya yang besar dan gagah, Amr bersuara lantang menantang kaum muslimin untuk turun ke perang tanding dengannya. ‘Amr bukanlah orang biasa. Ia seorang jawara Arab yang gagah berani.

Ketika itu sebagian besar kaum Muslimin merasa ciut dan gentar hatinya untuk berhadapan dengannya, termasuk Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Pada kesempatan inilah Imam Ali bangkit untuk memenuhi tantangan ‘Amr. Beliau maju menuju ke arah musuh yang congkak itu, tanpa sedikit pun ada rasa takut dalam hatinya.

Sementara itu, Rasulullah saw dengan tenang menyaksikan peristiwa itu dan bersabda, “Kini keimanan seutuhnya bangkit melawan kemusyrikan seutuhnya.”

Akan tetapi, ‘Amr bin Abdi Wud berusaha menghindar dari bertanding duel dengan Imam Ali. Ia berkata, “Wahai Ali! Kembalilah! Aku tidak ingin membunuhmu.” Ali menjawab dengan penuh kemantapan iman, “Tapi, aku ingin membunuhmu.”

Mendengar jawaban itu, ‘Amr naik pitam dan begitu berang. Segera ia menghunuskan pedangnya dan melayangkannya ke arah Ali. Namun, Ali dengan cepat dapat menghindar dari serangan pedang tersebut. Untuk beberapa saat, kedua pemberani itu itu saling menyerang, menangkis, dan menghindar.

Ali tidak memberikan peluang sedikit pun kepada lawannya untuk menarik nafas. Sampai pada kesempatan yang tepat, Ali dapat melayangkan pedang Dzul Fiqarnya tepat mengenai sasaran yang membuat ‘Amr jatuh tersungkur di atas tanah. Pemandangan tersebut membuat kawan-kawan ‘Amr ketakutan dan mundur secara teratur.

Namun, tatkala Ali hendak menghabisi nyawanya, ‘Amr yang congkak itu malah meludahi wajahnya. Untuk sesaat saja perlakuan seperti itu menyulut kemarahan Ali. Karena itu pula ia mengurungkan niat untuk membunuh ‘Amr sampai emosi beliau kembali tenang. Ali melakukan ini agar tebasan pedangnya bukan sebagai pembalasan dendam dan dorongan murka, akan tetapi demi keikhlasannya yang murni kepada Allah SWT dan agama-Nya.

Sungguh, Ali adalah kesatria teladan bagi seluruh prajurit di semua peperangan dan pertempuran. Sikap dan sepak terjangnya telah mengukir indah sejarah bangsa Arab dan Islam dengan tinta emas.

Setelah ‘Amr bin Abdi Wud terhempas mati, Ali kembali membawa kemenangan gemilang kepada Rasulullah saw. Beliau menyambutnya degan penuh hangat, haru, dan puas. Beliau berkata, “Tebasan pedang Ali atas ‘Amr menandingi pahala ibadahnya seluruh tsaqalain.” Yakni, pukulan pedang Imam Ali as yang membelah badan ‘Amr menjadi dua itu sama dengan ibadahnya seluruh jin dan manusia.

Pada saat berlangsungnya duel antara Ali bin Abi Thalib dengan ‘Amr bin Abdi Wud, kaum musyrikin senantiasa mengamati dan memperhatikan peristiwa itu dengan penuh ketegangan. Tatkala mereka menyaksikan prajuritnya itu jatuh tersungkur ke tanah, mereka pun mendengar Ali berteriak keras, “Allahu Akbar”. Seketika itu pula dada mereka bergetar ketakutan, jiwa mereka tampak melemah dan putus asa untuk melanjutkan peperangan.

Akhirnya, mereka mengakhiri penyerangan dan pengepungan kota Madinah dan kembali menarik diri dengan segenap kepiluan, kegagalan, dan kekecewaan.

Imam Ali as di Perang Shiffin

Kekesatriaan dan keprawiraan itu tidaklah berarti apapun jika tidak diiringi dengan sifat semulia belas dan kasih sayang. Manusia yang berjiwa laksana pahlawan dan pemberani senantiasa menjaga kehormatan dirinya.

Demikianlah sosok agung Imam Ali as.

Beliau tidak mau membunuh musuhnya yang telah terluka parah atau tercekik kehausan. Beliau juga enggan mengusir orang yang kalah. Perikemanusiaannya begitu tinggi dalam setiap peperangan. Beliau tidak pernah menggunakan lapar atau haus-dahaga sebagai senjatanya dalam peperangan melawan musuh-musuh Islam, walaupun mereka sama sekali tidak menganggap penting akan perkara itu.

Bahkan sebaliknya, musuh-musuh Islam tak segan-segan menggunakan cara yang paling buruk demi meraih kemenangan. Dalam perang Shiffin misalnya, pasukan Mu‘awiyah berhasil menguasai sungai Furat, dan ia memerintahkan kepada segenap pasukannya agar mencegah prajurit Imam Ali as untuk mendekati sungai tersebut. Namun, beliau mengingatkan mereka bahwa ajaran Islam, kemanusiaan, dan kekesatriaan sangat mengecam perlakuan semacam itu. Akan tetapi, Muawiyah tidak mempedulikannya, karena yang ia pikirkan hanyalah keuntungan pribadi dan tujuannya yang rakus dan hina.

Pada saat itu Imam Ali as berkata kepada para prajuritnya dengan suara lantang, “Hilangkan dahaga pedang-pedang kalian dengan darah, demi menghilangkan rasa haus kalian dengan seteguk air, karena sesungguhnya kematian dalam kehidupan kalian akan tunduk, dan kehidupan dalam kematian kalian akan unggul.”

Dengan serentak para prajurit Imam Ali as menyerang musuh-musuh Islam yang tengah menjaga sungai Furat, dan dengan mudahnya mereka merebut sungai itu. Kemudian para prajurit Imam Ali as pun segera menyatakan bahwa mereka akan memukul setiap pasukan Muawiyah yang hendak meneguk air dari sungai tersebut. Akan tetapi, Imam Ali as segera mengeluarkan perintahnya agar mengosongkan tepi sungai dan tidak menggunakan air sebagai senjata, karena yang demikian itu bertentangan dengan akhlak Islam dalam peperangan.

Sang Pemimpin Yang Miskin

Masih pada masa-masa menjabat sebagai Amiril Mukminin dan khalifah bagi kaum muslimin, Imam Ali as menghadapi berbagai tantangan, bencana, dan kesusahan hidup dunia. Walaupun demikian, beliau sendiri terjun langsung menangani kemiskinan umat Islam dan rakyatnya.

Imam Ali as sama sekali tidak memiliki dendam pribadi kepada siapa pun, sehingga orang-orang yang sebelumnya memusuhi beliau dan menyimpan kedengkian serta kebencian yang mendalam sekalipun tetap dapat menerima bagian dari Baitul Mal (kekayaan negara). Bahkan, beliau tidak membeda-bedakan dalam membagikan harta Baitul Mal itu di antara para sahabat, kerabat, famili, dan orang-orang yang dekat dengan beliau dengan yang rakyat lainnya.

Pada suatu hari, seorang wanita bernama Saudah datang menjumpai Amirul Mukminin Ali as untuk mengadukan perlakuan buruk seorang pegawai pajak terhadap dirinya. Ketika itu beliau sedang melaksanakan salat. Tatkala bayangan seorang wanita itu datang menghampirinya, beliau mempercepat salatnya.

Seusai salat, beliau menoleh kepada wanita itu dan berkata kepadanya dengan penuh santun dan lembut, “Apa yang bisa saya lakukan untukmu?” Sambil menangis Saudah menjawab, “Aku ingin mengadukan perlakuan buruk pegawai saat mengambil pajak dariku.” Mendengar hal itu Imam Ali as terkejut dan menangis, kemudian mengangkat kepalanya ke langit dan berkata, “Ya Allah! Sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak menyuruh mereka untuk berbuat aniaya terhadap hamba-Mu.”

Setelah itu beliau megambil sepotong kulit dan menuliskan sebuah perintah untuk memecat pegawai buruk tersebut dari pekerjaannya. Surat tersebut beliau serahkan kepada Saudah. Dengan gembira wanita itu menerimanya untuk selanjutnya ia sampaikan kepada yang bersangkutan.

Pada suatu hari Amiril Mukminin Ali as menerima laporan dari kota Bashrah bahwa gubernur kota itu yang bernama Utsman bin Hanif telah memenuhi undangan seorang kaya raya dan hadir dalam pesta pernikahannya. Mendengar hal tersebut, beliau segera mengirimkan sehelai surat untuknya.

Dalam surat itu Imam Ali as. menegur dan memberikan peringatan kepada gubernurnya tentang sesuatu di balik undangan tersebut. Karena sesungguhnya orang-orang kaya apabila mengadakan pesta perkawinan bukanlah sekedar menyajikan jamuan makanan semata. Akan tetapi, acara semacam itu mereka jadikan sebagai alat pelicin dan suap untuk penguasa kota tersebut, sehingga mereka dapat meraih tujuan mereka. Di dalam surat itu pula Imam as menyampaikan berbagai saran dan nasihatnya yang perlu direnungkan dan dicamkan baik-baik.

Dalam surat tersebut Imam Ali as menegaskan, “Wahai Ibn Hanif, telah sampai laporan kepadaku bahwa ada orang kaya raya yang mengundangmu untuk menghadiri pesta pernikahan, lalu dengan segera dan senang hati engkau menyambut undangan tersebut dengan jamuan makanan yang berwarna warni. Sungguh aku tidak mengira bahwa engkau sudi menghadiri makanan seseorang yang hanya dihadiri oleh orang-orang kaya sedang orang-orang miskin tidak mereka hiraukan.

“Ketahuilah sesungguhnya setiap rakyat mempunyai pemimpin yang harus ditaati dan diikuti petujuk cahaya ilmunya. Ketahuilah! Sesungguhnya pemimpinmu mencukupkan tubuhnya hanya dengan dua helai jubah yang kasar, dan makanannya hanya dengan dua potong roti kering.”

Salah seorang sahabat Imam Ali as yang bernama ‘Ady bin Hatim At-Tha’i pernah ditanya seseorang tentang pemerintahan beliau. Ia berkata, “Aku saksikan orang yang kuat menjadi lemah di sisinya karena ia menuntut tanggung jawab darinya, dan orang yang lemah menjadi kuat di sisinya karena hak-haknya terpenuhi.”

Tentang keadaan hidupnya, beliau sendiri pernah menggambarkan, “Bagaimana mungkin aku menjadi seorang pemimpin jika aku sendiri tidak merasakan kesusahan dan kesengsaraan mereka.”

Dalam pandangan Imam Ali, kekuasaan dan jabatan itu tidaklah berharga. Pada suatu kesempatan, beliau pernah bertanya kepada Ibn Abbas sembari menjahit sandalnya, “Menurutmu berapa harga sandalku ini?” Setelah memandang dan mengamati beberapa saat, Ibnu Abbas berkata, “Sangat murah, bahkan tidak ada harganya.” Kemudian Imam Ali as lantas berkata, “Sesungguhnya sandal ini lebih berharga bagiku dibandingkan sebuah kekuasaan dan jabatan kecuali aku dapat menegakkan yang hak dan menghancurkan kebatilan.”

Tidak Ada Keistimewaan!

Sejak hari pertama menjadi khalifah kaum muslimin, Imam Ali as menegaskan di hadapan khalayak bahwa pemerintahannya akan berjalan di atas keadilan dan persamaan hak di antara rakyat, dan bahwa tidak ada perbedaan antara orang Arab dan orang Ajam (non-Arab) kecuali dengan takwa. Beliau pun tidak membedakan antara tuan dengan budaknya.

Sebagian orang mengecam jalan pemetintahan beliau tersebut. Mereka memberikan usulan agar beliau kembali kepada cara-cara pemerintahan lama yang telah dijalankan oleh para khalifah sebelumnya. Namun, Imam Ali as menolak dengan jawaban keras, “Apakah kalian memintaku untuk meraih kemenangan dengan jalan kezaliman?” Beliau melanjutkan, “Seandainya harta negara itu adalah milikku sendiri, maka aku pun akan membagi rata kepada seluruh rakyat. Apalagi harta itu adalah milik Allah.”

Pada suatu hari kakak beliau yang bernama Aqil datang ke rumahnya. Imam Ali as menyambut gembira kedatangan sang kakak. Ketika tiba waktu makan malam, ternyata Aqil tidak melihat apa-apa di atas sufrah (alas makanan) selain roti dan garam. Ia terkejut dan berkata kepada Imam Ali, “Hanya inikah yang aku lihat?” Beliau menjawab, “Bukankah ini adalah nikmat Allah yang patut disyukuri?”

Kedatangan Aqil sebenarnya untuk meminta bantuan kepada Imam Ali as demi menutupi utangnya. Imam berkata, “Tunggu sebentar, aku akan ambilkan harta milikku.” Aqil mulai merasa kesal dan berkata, “Bukankah Baitul Mal ada di tanganmu? Kenapa engkau memberiku dari harta milikmu sendiri?” Imam as membalas, “Kalau kau mau, ambillah pedangmu dan aku akan mengambil pedangku, lalu kita keluar bersama-sama menuju ke kawasan Hairah yang di dalamnya terdapat peadagang-pedagang kaya, kita masuki rumah salah seorang dari mereka dan kita ambil harta kekayaannya.” Aqil menolak dan berkata, “Memangnya aku datang untuk merampok!” Imam as menjawab, “Mencuri harta kekayaan seorang dari mereka itu masih lebih baik daripada engkau mencuri harta milik semua kaum muslimin.”

Demikianlah Imam Ali as hidup pada masa pemerintahannya yang adil.

Beliau makan makanan kaum fakir miskin dan hidup dengan penuh kesederhanaan. Ketika orang-orang berkata kepada beliau, “Muawiyah membagi-bagikan harta kekayaan kepada orang-orang untuk menggalang pendukung. Akan tetapi mengapa engkau tidak melakukan hal yang serupa?” Imam as menjawab, “Apakah kalian hendak menyuruhku untuk meraih kemenangan dengan berlaku zalim?”

Membela Wanita

Pada suatu hari di musim panas yang sangat menyengat, seorang wanita diusir dari rumah oleh suaminya. Wanita itu meminta tolong kepada Imam Ali as. Dengan segera beliau keluar menuju rumah suami wanita yang malang tersebut. Setibanya di sana, beliau mengetuk pintunya. Seorang pemuda yang tidak mengenal beliau membuka pintu.

Ketika Imam mengecam perlakuan buruknya itu, pemuda tersebut berteriak dengan suara keras dan penuh kemarahan. Ia mengancam akan menyiksa isterinya itu lebih jahat lagi lantaran ia mengadukan perakuannya kepada Imam.

Pada saat itu, beberapa orang yang mengenal Imam melewati jalan di hadapan rumah tersebut. Mereka mengucapkan salam kepada Imam Ali as, “Assalamualaika, wahai Amirul Mukminin!” Mendengar ucapan salam mereka itu, pemuda tersebut baru sadar bahwa orang yang kini berada di hadapannya adalah khalifah kaum muslimin.

Tak pelak lagi, ia pun gemetar ketakutan, lalu menundukkan diri dan segera mencium tangan Imam seraya memohon maaf dalam-dalam. Pemuda itu berjanji kepada Imam untuk tidak mengulang lagi perlakuan buruknya tersebut. Imam menasihati kedua suami-isteri itu dan memberikan bimbingan agar kehidupan rumah tangga mereka terbina tentram dan hidup dengan penuh kedamaian.

Ghadir Khum

Pada tahun 10 H, Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji Wada’. Haji Wada’ adalah haji terakhir sekaligus haji perpisahan bagi beliau. Beliau merasa sudah semakin dekat perjumpaannya dengan Allah SWT. Sejak awal masa risalah, sering kali beliau menyampaikan perkara tentang seseorang yang bakal menjadi pengganti beliau sebagai khalifahnya untuk kaum muslimin.

Nabi saw senantiasa berfikir bagaimana caranya membuka jalan untuk kesuksesan khalifahnya, Ali bin Abi Thalib as. Mengenai kekhilafahannya beliau memberikan berbagai isyarat dan penegasan yang didengar langsung oleh para sahabat, “Ali senantiasa bersama kebenaran, dan kebenaran senantiasa bersama Ali.” Atau sabda beliau lainnya, “Aku adalah kota ilmu, sedang Ali adalah pintunya.”

Jabir bin Abdillah Al-Ansari ra pernah berkata, “Kami tidak dapat mengenali orang-orang munafik kecuali dengan mengetahui kedengkian mereka terhadap Ali as.”

Lain dari itu, para sahabat pun pernah mendengar wasiat Nabi saw yang menyatakan, “Ayyuhannas, aku berwasiat kepada kalian agar mencintai saudara dan putra pamanku, Ali bin Abi Thalib, karena sesungguhnya tidak ada yang mencintainya kecuali orang mukmin, dan tidak ada yang mendengkinya kecuali orang munafik.”

Sampai pada tanggal 18 bulan Dzulhijjah tahun yang sama, Rasulullah saw kembali dari melaksanakan haji Wada’ yang diikuti oleh lebih dari seratus ribu kaum muslimin. Saat itulah Jibril as turun membawa pesan langit untuk beliau.

Rasulullah saw menghentikan perjalanannya di suatu tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Beliau memerintahkan semua kaum muslimin agar menghentikan perjalanan mereka di tempat yang mulia dan bersejarah itu. Di tengah padang pasir dan di tengah panasnya terik matahari yang membakar itu, beliau menyampaikan khutbahnya di hadapan kaum muslimin dan seluruh para sahabatnya. Dalam khutbahnya itu beliau bersabda, “Ayyuhannas, tak lama lagi aku akan dipanggil oleh Tuhanku dan aku akan memenuhi panggilan-Nya itu. Sesungguhnya aku akan dimintai tanggung jawab, demikian pula kalian, maka apakah yang akan kalian katakan?”

Kaum muslimin dengan serentak menjawab, “Sesungguhnya kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah Tuhan dengan baik, engkau telah berjihad dan memberikan nasihat, semoga Allah akan membalasmu dengan kebaikan.”

Nabi saw melanjutkan, “Bukankah kalian telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya? Sesungguhnya surga adalah nyata, neraka adalah nyata, kematian adalah nyata, kebangkitan adalah nyata, hari akhirat itu tidak diragukan lagi kejadiannya, dan sesungguhnya Allah SWT akan membangkitkan orang-orang yang berada di dalam kubur.”

Kaum muslimin menjawab lagi dengan serempak, “Benar, kami bersaksi akan hal itu semua.”

Rasulullah saw menengadah ke hadirat Allah SWT, “Ya Allah! Saksikanlah kesaksian mereka itu!”

Lalu beliau menyambung khutbahnya, “Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya Allah SWT adalah pembimbingku, sedang aku adalah pemimpin kaum mukminin, dan sesungguhnya aku lebih utama daripada diri-diri kalian. Maka, barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhinya.

“Dan sesungguhnya aku meninggalkan untuk kalian dua pusaka (tsaqalain) yang sangat berharga, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan ‘Ithrah (Ahlulbait).”

Pada siang itu, puluhan ribu kaum muslimin melihat dan menyaksikan Nabi saw mengangkat tangan Ali bin Abi Thalib as sebagai cara pelantikannya menjadi khalifah bagi seluruh kaum muslimin setelah ketiadaan beliau. Para sahabat yang kemudian diikuti oleh kaum muslimin lainnya menyatakan baiat (ikrar setia) kepada Imam Ali as mengucapkan sambutan selamat kepadanya, “Salam sejahtera atasmu, wahai pemimpin kaum mukminin!”

Nasib Khilafah

Rasulullah saw telah mangkat meninggalkan dunia yang fana ini untuk selamanya demi memenuhi panggilan Tuhannya, sebagaimana yang telah beliau katakan. Seluruh kaum muslimin merasa terkejut dengan kepergiannya itu.

Di tengah-tengah duka dan kesedihan yang mendalam, tidak jauh di seberang sana berkumpul sekelompok umat Islam untuk memilih seorang khalifah yang akan menggantikan Rasul sebagai pemimpin umat. Dengan cara ini mereka sesungguhnya telah merampas kedudukan khilafah dari pemegangnya yang sah. Mereka membiarkan Imam Ali as sendirian. Beliau sendiri lebih memilih berdiam diri demi menjaga keutuhan agama dan kemaslahatan seluruh kaum muslimin saat itu.

Setelah kemelut yang panjang dan tegang, akhirnya Abu Bakar dinyatakan terpilih sebagai khalifah pertama bagi kaum muslimin. Khilafahnya dilanjutkan oleh Umar bin Khattab.

Ketika tiba saatnya khilafah jatuh di tangan Utsman bin Affan, keluarga Bani Umayyah mulai ikut duduk di berbagai jabatan pemerintahannya. Mereka dapat memegang kendali khilafah tanpa lagi menyembunyikan ketamakan dan kerakusannya. Maka tersebarlah kerusakan di mana-mana. Tak segan-segan keluarga Umayyah berlaku sewenang-wenang, dan menjalankan pemerintahan Ustman dengan penuh kezaliman.

Pada masa itu, kaum muslimin melihat Utsman hanya memilih dan mengutamakan keluarganya untuk duduk di dalam kekuasannya, dan bahkan mengasingkan sebagian sahabat terkemuka Nabi seperti Abu Dzar, lebih keras lagi dari itu ia pun berani memecut seorang sahabat Nabi yang sangat dekat dan setia, Ammar bin Yasir tanpa alasan dan bukti yang jelas.

Kenyataan ini membuat kaum muslimin segera mengadakan demo dan unjuk rasa. Mereka mendatangi kota Madinah untuk menuntut Utsman agar turun dari kursi khilafah Rasul saw.

Api amarah masyarakat muslim terhadap Utsman semakin membara. Dalam situasi itu, Imam Ali as berusaha mendamaikan dan menentramkan mereka, serta menasihati Khalifah Utsman agar segera bertaubat dan bersikap adil, dan menganjurkannya agar tidak menuruti bisikan dan bujuk rayu orang-orang munafik, seperti Marwan bin Hakam. Sayangnya, Ustman tidak peduli pada nasihat dan arahan beliau.

Kemurkaan dan kedengkian kaum muslimin mencapai puncaknya. Mereka mengadakan pengepungan di sekeliling istana khilafah, nyawa Utsman pun terancam bahaya. Mengetahui hal itu Imam Ali as segera mengutus kedua puteranya, Al-Hasan dan Al-Husain as ke istana khilafah dan memerintahkan mereka berdua agar berdiri di depan pintu untuk menjaga Ustman dari serangan orang-orang yang hendak membunuhnya.

Dalam kondisi yang sudah sangat genting seperti itu, Khalifah Utsman tetap berkeras kepala pada sikapnya memerintah, padahal kemarahan para demonstran sudah mencapai titik-didihnya. Puncak kemarahan tersebut meledak ketika sebagian mereka memanjat naik ke istana dan masuk lewat belakang, hingga akhirnya mereka berhasil mendekati Utsman. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, mereka segera membunuhnya.

Khalifah Utsman pergi meninggalkan dunia fana ini dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Adapun kaum muslimin berbondong-bondong mendatangi rumah Imam Ali as. Mereka memohon kepadanya agar menerima khilafah, menjadi amiril mukminin, dan memimpin umat Islam dengan penuh keadilan.

Pada mulanya, Imam Ali as menolak permohonan kaum muslimin itu, namun karena mereka terus mendesak, akhirnya beliau menerima tawaran tersebut.

Mulailah Amiril Mukminin Ali as menjalankan roda khilafahnya dan mengatur negara berdasarkan keadilan dan undang-undang Islam. Panji kebenaran dan keadilan kembali berkibar di bawah kepemimpinan beliau. Di dalamnya kaum muslimin pun kembali menikmati ketentraman setelah 25 tahun lamanya.

Pemerintahan Imam Ali as

Sejak hari pertama khilafah dan kepemimpinannya, Imam Ali as menegaskan di hadapan kaum muslimin asas pemerintahannya, yaitu menegakkan keadilan, menjalankan undang-undang Allah SWT, dan menindak segala macam kezaliman dan kejahatan.

Masyarakat muslim telah terbiasa menghadapi kezaliman dan ketidakadilan pada masa-masa sebelumnya. mereka telah menyaksikan perlakuan khalifah yang tidak lagi berlandasakan pada hukum-hukum Allah; mereka mengistimewakan sebagian dan menelantarkan sebagian lainnya, mencurahkan harta kekayaan negara hanya kepada keluarga Umayyah dan orang-orang yang setia kepada kekuasaannya saja. Sementara sebagian besar kaum Muslimin hidup dalam keadan miskin dan penuh dengan penderitaan.

Ketika Ali bin Abi Thalib as menjabat sebagai khalifah dan beliau berjanji akan menegakkan keadilan di tengah kaum muslimin, terutama bagi yang keadaan ekonominya lemah, mereka menyambutnya dengan penuh harapan. Lain halnya dengan orang-orang kaya yang biasa hidup mewah dan suka berfoya-foya. Sebagian mereka sangat khawatir kekayaan, kemewahan dan kepentingan mereka terusik dengan keadilan Ali as.

Karena itu, mereka segera bergerak cepat menyiapkan langkah-langkah dalam rangka menghadapi pemerintahan Ali as berkobarlah api permusuhan dan peperangan di dalam negara dan di antara sesama kaum Muslimin. Sejarah mencatat bahwa perang Jamal adalah peperangan pertama di antara mereka. Setelah itu terjadi perang Shiffin, lalu perang Nahrawan.

Syahadah Imam Ali as

Setelah kaum Khawarij mengalami kekalahan besar dalam perang Nahrawan, tiga orang durjana berkumpul untuk mengambil mufakat, yaitu membunuh beberapa orang yang mereka anggap sebagai musuh dan penghalang mereka dalam mencapai tujuan-tujuan mereka.

Ketiga orang itu adalah Ibnu Muljam, Hajjaj bin Abdillah, dan Umar bin Bakar At-Tamimi. Mereka bertiga telah sepakat dan bertekad untuk membunuh Muawiyah, ‘Amr bin ‘Ash, dan Imam Ali as. Ibnu Muljam sendiri telah bersumpah untuk melakukan pembunuhan atas Imam Ali as. Maka pada 19 Ramadhan 40 H., Ibnu Muljam melakukan rencana jahatnya.

Seperti biasa, subuh itu Imam Ali as memimpin salat subuh berjamaah bersama kaum Mukminin di Masjid Kufah, Irak. Ibnu Muljam berhasil menyusup diam-diam sampai mendekati beliau yang tenagh bersujud. Namun, tatkala beliau bangkit dari sujudnya, Ibnu Muljam segera menebaskan pedangnya yang beracun itu, tepat di bagian kepala beliau as. Darah suci beliau berhamburan memerahi mihrab dan pakaian beliau. Pemimpin yang adil itu meratap lemah, “Demi Tuhan Ka’bah! Sungguh aku telah menang.”

Pada saat itu, terdengar oleh masyarakat suara dari langit berucap, “Demi Allah, sungguh tonggak petunjuk telah roboh, orang yang paling takwa telah terbunuh, … orang yang paling celaka telah membunuhnya.”

Ibnu Muljam berusaha melarikan diri dari kota Kufah. Akan tetapi, ia berhasil dibekuk. Ketika ia dibawa ke hadapan Imam Ali as, beliau berkata kepadanya, “Bukankah aku selalu berbuat baik kepadamu?”

Ia menjawab, “Ya, betul.”

Sebagian orang berusaha untuk melakukan pembalasan dendam terhadap Ibnu Muljam. Akan tetapi, Imam Ali mencegah mereka. Bahkan, beliau berpesan kepada putranya Hasan as agar senantiasa berbuat baik kepadanya selama beliau masih hidup.

Pada 21 Ramadhan, Imam Ali as menjemput kesyahidannya. Tak lama setelah itu, Imam Hasan as melaksanakan hukum Qishash Islam terhadap pembunuh ayahnya itu.

Demikianlah Imam Ali as, sang pemimpin yang adil itu meninggalkan dunia pada usia 63 tahun, sama dengan usia Rasulullah saw. Jenazah beliau dimakamkan di luar kota Kufah secara rahasia di kegelapan malam.[]

Mutiara Hadits Imam Ali as

▪ “Janganlah engkau mencari kehidupan hanya untuk makan. Akan tetapi, carilah makan agar engkau dapat hidup.”

▪ “Sesuatu yang paling merata manfaatnya adalah kematian orang-orang jahat.”

▪ “Janganlah engkau mengecam Iblis secara terang-terangan, sementara engkau adalah temannya dalam kesunyian.”

▪ “Akal seorang penulis itu terletak pada penanya.”

▪ “Kawan sejati adalah belahan ruh, sedangkan saudara adalah belahan badan.”

▪ “Janganlah engkau mengucapkan sesuatu yang engkau sendiri tidak suka jika orang lain mengucapkannya kepadamu.”

▪ “Kurang ajar adalah penyebab segala keburukan.”

▪ “Galilah ilmu pengetahuan sejak kecil, pasti engkau akan beruntung tatkala besar.”

▪ “Lebih baik engkau memilih kalah (mengalah) sedang engkau sebagai orang yang adil, daripada engkau memilih menang dalam keadaan engkau sebagai orang yang zalim.”

============================================================

FATIMAH AZ-ZAHRA AS,

PENGHULU WANITA SEMESTA

Mukadimah

Dahulu kala, masyarakat memandang perempuan bagaikan hewan atau bagian dari kekayaan yang dimiliki oleh seorang laki-laki. Demikian pula masyarakat Arab pada masa Jahiliyah. Mereka senantiasa memandang wanita sebagai makhluk yang hina. Bahkan, sebagian di antara mereka ada yang menguburkan anak perempuan mereka hidup-hidup.

Ketika fajar mentari Islam terbit, Islam memberikan hak kepada kaum hawa dan telah menentukan pula batas-batasnya, seperti hak sebagai ibu, hak sebagai istri, dan hak sebagai pemudi.

Tentu kita semua sering mendengar hadis Nabi saw yang menyatakan, “Surga itu terletak di bawah kaki ibu.”

Di lain kesempatan, beliau bersabda, “Kerelaan Allah terletak pada kerelaan orang tua.” (Dan perempuan termasuk salah satu dari orang tua).

Islam telah memberikan batasan kemanusiaan kepada wanita dan memberikan aturan, undang-undang yang menjamin perlindungan, penjagaan terhadap kemuliaan wanita dan kehormatannya.

Sebagai contoh yang jelas ialah hijab atau jilbab. Jilbab bukanlah penjara bagi wanita, tapi ia merupakan kebanggaan baginya, sebagaimana kita selalu melihat permata yang tersimpan rapi di dalam kotaknya, atau buah-buahan yang tersembunyi di balik kulitnya.

Sedangkan bagi wanita muslimah, Allah SWT telah memberikan aturan yang dapat melindunginya dan menjaga diriya, yaitu jilbab. Bahkan tidak hanya sekedar pelindung, jilbab dapat menambah ketenangan dan keindahan pada diri wanita tersebut.

Wanita dalam pandangan Islam berbeda secara mencolok dari apa yang terjadi di Barat. Dunia Barat memandang wanita laksana benda atau materi yang layak untuk diiklankan, diperdagangkan, dan bisa diambil keuntungan materinya, dengan dalih memelihara etika dan kemuliaan wanita sebagai manusia.

Pandangan ini benar-benar telah membuat nilai wanita terpuruk dan terpisah dari naluri serta nilai-nilai kemanusiaan. Kita juga menyaksikan keretakan keluarga, perceraian yang terjadi di dalam masyarakat Barat telah sedemikian mengkuatirkan.

Dalam pandangan dunia Barat, wanita telah berubah menjadi seonggok barang yang tidak berharga lagi, baik dalam dunia perfilman, iklan, promosi, ataupun dalam dunia kontes kecantikan.

Teman-teman, marilah kita sejenak menengok sosok teladan kaum wanita dalam Islam yang terwujud dalam kehidupan putri Rasulullah tercinta.

Dialah Siti Fatimah Az-Zahra as.

Putri tersayang Nabi Muhammad saw.

Istri tercinta Imam Ali as.

Bunda termulia Hasan, Husain, dan Zainab as.

Hari Lahir

Fatimah as dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad saw diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra’ dan Mikraj beliau.

Sebelumnya, Jibril as telah memberi kabar gembira kepada Rasulullah akan kelahiran Fatimah. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.

Fatimah di Rumah Wahyu

Fatimah as hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad saw. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Acapkali Rasulullah saw melihat Fatimah masuk ke dalam rumahnya, beliau langsung menyambut dan berdiri, kemudian mencium kepala dan tangannya.

Pada suatu hari, ‘Aisyah bertanya kepada Rasulullah saw tentang sebab kecintaan beliau yang sedemikian besar kepada Fatimah as.

Beliau menegaskan, “Wahai ‘Aisyah, jika engkau tahu apa yang aku ketahui tentang Fatimah, niscaya engkau akan mencintainya sebagaimana aku mencintainya. Fatimah adalah darah dagingku. Ia tumpah darahku. Barang siapa yang membencinya, maka ia telah membenciku, dan barang siapa membahagiakannya, maka ia telah membahagiakanku.”

Kaum muslimin telah mendengar sabda Rasulullah yang menyatakan, bahwa sesungguhnya Fatimah diberi nama Fatimah karena dengan nama itu Allah SWT telah melindungi setiap pecintanya dari azab neraka.

Fatimah Az-Zahra’ as menyerupai ayahnya Muhammad saw dari sisi rupa dan akhlaknya.

Ummu Salamah ra, istri Rasulullah, menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Demikian juga ‘Aisyah. Ia pernah menyatakan bahwa Fatimah adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan dan pikirannya.

Fatimah as mencintai ayahandanya melebihi cintanya kepada siapa pun.

Setelah ibunda kinasihnya, Khadijah as wafat, beliaulah yang merawat ayahnya ketika masih berusia enam tahun. Beliau senantiasa berusaha untuk menggantikan peranan ibundanya bagi ayahnya itu.

Pada usianya yang masih belia itu, Fatimah menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian yang dilancarkan oleh orang-orang musyrikin Makkah terhadapnya. Dialah yang membalut luka-luka sang ayah, dan yang membersihkan kotoran-kotoran yang dilemparkan oleh orang-orang Quraisy ke arah ayahanda tercinta.

Fatimah senantiasa mengajak bicara sang ayah dengan kata-kata dan obrolan yang dapat menggembirakan dan menyenangkan hatinya. Untuk itu, Rasulullah saw memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha, yaitu ibu bagi ayahnya, karena kasih sayangnya yang sedemikian tercurah kepada ayahandanya.

Pernikahan Fatimah as

Setelah Fatimah as mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk beranjak pindah ke rumah suaminya (menikah), banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah saw menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah as).”

Kemudian, Jibril as datang untuk mengkabarkan kepada Rasulullah saw, bahwa Allah telah menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib as. Tak lama setelah itu, Ali as datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah as. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?”

Fatimah as diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”

Acara Pernikahan

Rasulullah saw kembali menemui Ali as sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu ‘alallah.”

Kemudian, Nabi saw menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.”

Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”

Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu”.

Di tengah-tengah keramaian dan kerumunan wanita yang berasal dari kaum Anshar, Muhajirin, dan Bani Hasyim, telah lahir sesuci-suci dan seutama-utamanya keluarga dalam sejarah Islam yang kelak menjadi benih bagi Ahlulbait Nabi yang telah Allah bersihkan kotoran jiwa dari mereka dan telah sucikan mereka dengan sesuci-sucinya.

Acara pernikahan kudus itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya. Tetapi Rasulullah saw mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.

Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah saw. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini.

Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi saw.

Hanya Allah SWT saja yang mengetahui kecintaan yang terjalin di antara dua hati, Ali dan Fatimah. Kecintaan mereka hanya tertumpahkan demi Allah dan di atas jalan-Nya.

Fatimah as senantiasa mendukung perjuangan Ali as dan pembelaannya terhadap Islam sebagai risalah ayahnya yang agung nan mulia. Dan suaminya senantiasa berada di barisan utama dan terdepan dalam setiap peperangan. Dialah yang membawa panji Islam dalam setiap peperangan kaum muslimin. Ali pula yang senantiasa berada di samping mertuanya, Rasulullah saw.

Fatimah as senantiasa berusaha untuk berkhidmat dan membantu suami, juga berupaya untuk meringankan kepedihan dan kesedihannya. Beliau adalah sebaik-baik istri yang taat. Beliau bangkit untuk memikul tugas-tugas layaknya seorang ibu rumah tangga. Setiap kali Ali pulang ke rumah, ia mendapatkan ketenangan, ketentraman, dan kebahagiaan di sisi sang istri tercinta.

Fatimah as merupakan pokok yang baik, yang akarnya menghujam kokoh ke bumi, dan cabangnya menjulang tinggi ke langit. Fatimah dibesarkan dengan cahaya wahyu dan beranjak dewasa dengan didikan Al-Qur’an.

Keluarga Teladan

Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama.

Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.

Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan contoh dan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Ali senantiasa membantu Fatimah dalam pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya. Begitu pula sebaliknya, Fatimah selalu berupaya untuk mencari keridhaan dan kerelaan Ali, serta senantiasa memberikan rasa gembira kepada suaminya.

Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. “Ya binta Rasulillah”; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin”; wahai pemimpin kaum mukmin.

Demikianlah kehidupan Imam Ali as dan Sayidah Fatimah as.

Keduanya adalah teladan bagi kedua pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.

Buah Hati

Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah as melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah saw diberi nama “Hasan”. Rasul saw sangat gembira sekali atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah SWT berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah saw dari Fatimah Az-Zahra as. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.

Bila Rasulullah saw keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan.

Suatu hari Rasul saw lewat di depan rumah Fatimah as. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”

Satu tahun berselang, Fatimah as melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul saw teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah as itu dengan nama-nama tersebut.

Dan begitulah Allah SWT menghendaki keturunan Rasul saw berasal dari putrinya Fatimah Zahra as.

Kedudukan Fatimah Az-Zahra’ as

Meskipun kehidupan beliau sangat singkat, tetapi beliau telah membawa kebaikan dan berkah bagi alam semesta. Beliau adalah panutan dan cermin bagi segenap kaum wanita. Beliau adalah pemudi teladan, istri tauladan dan figur yang paripurna bagi seorang wanita. Dengan keutamaan dan kesempurnaan yang dimiliki ini, beliau dikenal sebagai “Sayyidatu Nisa’il Alamin”; yakni Penghulu Wanita Alam Semesta.

Bila Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Firaun, dan Khadijah binti Khuwalid, mereka semua adalah penghulu kaum wanita pada zamannya, tetapi Sayidah Fatimah as adalah penghulu kaum wanita di sepanjang zaman, mulai dari wanita pertama hingga wanita akhir zaman.

Beliau adalah panutan dan suri teladan dalam segala hal. Di kala masih gadis, ia senantiasa menyertai sang ayah dan ikut serta merasakan kepedihannya. Pada saat menjadi istri Ali as, beliau selalu merawat dan melayani suaminya, serta menyelesaikan segala urusan rumah tangganya, hingga suaminya merasa tentram bahagia di dalamnya.

Demikian pula ketika beliau menjadi seorang ibu. Beliau mendidik anak-anaknya sedemikian rupa atas dasar cinta, kebaikan, keutamaan, dan akhlak yang luhur dan mulia. Hasan, Husain, dan Zainab as adalah anak-anak teladan yang tinggi akhlak dan kemanusiaan mereka.

Kepergian Sang Ayah

Sekembalinya dari Haji Wada‘, Rasulullah saw jatuh sakit, bahkan beliau sempat pingsan akibat panas dan demam keras yang menimpanya. Fatimah as bergegas menghampiri beliau dan berusaha untuk memulihkan kondisinya. Dengan air mata yang luruh berderai, Fatimah berharap agar sang maut memilih dirinya dan merenggut nyawanya sebagai tebusan jiwa ayahandanya.

Tidak lama kemudian Rasul saw membuka kedua matanya dan mulai memandang putri semata wayang itu dengan penuh perhatian. Lantas beliau meminta kepadanya untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Fatimah pun segera membacakan Al-Qur’an dengan suara yang khusyuk.

Sementara sang ayah hayut dalam kekhusukan mendengarkan kalimat-kalimat suci Al-Qur’an, Fatimah pun memenuhi suasana rumah Nabi. Beliau ingin menghabiskan detik-detik akhir hayatnya dalam keadaan mendengarkan suara putrinya yang telah menjaganya dari usia yang masih kecil dan berada di samping ayahnya di saat dewasa.

Rasul saw meninggalkan dunia dan ruhnya yang suci mi’raj ke langit.

Kepergian Rasul saw merupakan musibah yang sangat besar bagi putrinya, sampai hatinya tidak kuasa memikul besarnya beban musibah tersebut. Siang dan malam, beliau selalu menangis.

Belum lagi usai musibah itu, Fatimah as mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang berebut kekuasaan dan kedudukan.

Setelah mereka merampas tanah Fadak dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam perkara khilafah (kepemimpinan), Fatimah Az-Zahra’ as berupaya untuk mempertahankan haknya dan merebutnya dengan keberanian yang luar biasa.

Imam Ali as melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayidah Fatimah as secara terus menerus bisa menyebabkan negara terancam bahaya besar, hingga dengan begitu seluruh perjuangan Rasul saw akan sirna, dan manusia akan kembali ke dalam masa Jahiliyah.

Atas dasar itu, Ali as meminta istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci.

Akhirnya, Sayidah Fatimah as pun berdiam diri dengan menyimpan kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin akan sabda Nabi, “Kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah, dan kemarahan Rasulullah adalah kemarahan Allah SWT.”

Sayidah Fatimah as diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau berwasiat agar dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Putri Tercinta Rasul

Bagaikan cahaya lilin yang menyala kemudian perlahan-lahan meredup. Demikianlah ihwal Fatimah Az-Zahra’ as sepeninggal Rasul saw. Ia tidak kuasa lagi hidup lama setelah ditinggal wafat oleh sang ayah tercinta. Kesedihan senantiasa muncul setiap kali azan dikumandangkan, terlebih ketika sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammadan(r) Rasulullah.

Kerinduan Sayidah Fatimah untuk segera bertemu dengan sang ayah semakin menyesakkan dadanya. Bahkan kian lama, kesedihannya pun makin bertambah. Badannya terasa lemah, tidak lagi sanggup menahan renjana jiwanya kepada ayah tercinta.

Demikianlah keadaan Sayidah Fatimah as saat meninggalkan dunia. Beliau tinggalkan Hasan yang masih 7 tahun, Husain yang masih 6 tahun, Zainab yang masih 5 tahun, dan Ummi Kultsum yang baru saja memasuki usia 3 tahun.

Yang paling berat dalam perpisahan ini, ia harus meninggalkan suami termulia, Ali as, pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayidah Fatimah as memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiatkan kepada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil. Beliau pun mewasiatkan kepada sang suami agar menguburkannya secara rahasia. Hingga sekarang pun makam suci beliau masih misterius. Dengan demikian terukirlah tanda tanya besar dalam sejarah tentang dirinya.

Fatimah Az-Zahra’ as senantiasa memberikan catatan kepada sejarah akan penuntutan beliau atas hak-haknya yang telah dirampas. Sehingga umat Islam pun kian bertanya-tanya terhadap rahasia dan kemisterian kuburan beliau.

Dengan penuh kesedihan, Imam Ali as duduk di samping kuburannya, diiringi kegelapan yang menyelimuti angkasa. Kemudian Imam as mengucapkan salam, “Salam sejahtera bagimu duhai Rasulullah … dariku dan dari putrimu yang kini berada di sampingmu dan yang paling cepat datang menjumpaimu.

“Duhai Rasulullah! Telah berkurang kesabaranku atas kepergian putrimu, dan telah berkurang pula kekuatanku … Putrimu akan mengabarkan kepadamu akan umatmu yang telah menghancurkan hidupnya. Pertanyaan yang meliputinya dan keadaan yang akan menjawab. Salam sejahtera untuk kalian berdua!

Ibn Miskawaih Tokoh Pendidikan Syi’ah Era Klasik Yang Membawa Kemajuan Peradaban Sunni


PENDAHULUAN

Ketika dinasti Abbasiyah (750-1258 M) menguasai dunia Islam secara menyeluruh, kebudayaan dan peradaban Islam pun semakin maju. Meskipun benih-benihnya telah mulai disemai pada era dinasti Umayyah, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan dan peradaban Islam baru mencapai puncaknya ketika dinasti Abbasyiah berkuasa atas dunia Islam. Kebudayaan dan peradaban Islam itu lahir karena umat Islam di bawah komando Kekhalifahan Abbasyiah telah menggali dua macam sumber ilmu pengetahuan, yakni sumber dalam dan sumber luar. Sumber dalam ini tidak lain adalah al-Quran dan hadits. Penggalian atas sumber dalam ini melahirkan pelbagai macam ilmu-ilmu agama. Sementara sumber luar itu merupakan setiap ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh umat manusia sebelum Islam lahir. Sumber luar ini berasal dari pusat-pusat peradaban dunia pra Islam, seperti Yunani, Iskandariyah, Jundisyapur, India, dan lainnya. Sumber-sumber luar ini dapat berbentuk filsafat, sains, dan teknologi. Demikianlah, karena umat Islam berhasil menggali kedua macam sumber ilmu tersebut, mereka pun akhirnya dapat mengkonstruksi kebudayaan dan peradaban Islam yang khas.

Sebagaimana diuraikan di atas, selain karena umat Islam menggali sumber dalam, kebudayaan dan peradaban Islam muncul dilatari oleh adalah aktifitas penerjemahan atas kitab-kitab ilmu pengetahuan sebagai buah kebudayaan dan peradaban manusia pra-Islam yang merupakan sumber luar. Kegiatan seperti ini sebenarnya telah dilakukan pada masa kekhalifahan Umayyah (660-750 M) di Damaskus, namun kegiatannya masih terbatas kepada penerjemahan kitab-kitab tertentu. Maksudnya, para penerjemah hanya menerjemahkah kitab-kitab yang diduga dapat bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, seperti kitab-kitab tentang kedokteran, astronomi, kimia, dan matematika.[1] Sementara kitab-kitab lain masih belum dilirik sama sekali. Barulah ketika dinasti Abbasyiah berkuasa, seluruh kitab ilmu pengetahuan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab seperti kitab-kitab filsafat, sains, dan teknologi. Para penerjemah menerjemahkan kitab-kitab orisinil karya Phytagoras, Plato, Aristoteles, Plotinus, Galen, Nicomachus, Euclide, Ptolemaeus, Hippocrate,[2] dan lainnya. Pada akhirnya, kegiatan penerjemahan ini memacu lahirnya the Golden Age of Islam sepanjang abad 8 sampai abad 12 M.[3]

Pada masa keemasan Islam tersebut, banyak pemikir Islam muncul ke permukaan. Secara pasti, mereka menguasai dan memahami hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan. Selain banyak memberikan syarah atas kitab-kitab asing, mereka pun menuliskan buah fikir nya di berbagai cabang ilmu pengetahuan.[4] Tak dapat dipungkiri, keberadaan para pemikir Islam tersebut menjadi penopang utama pilar kebudayaan dan peradaban Islam di zaman Klasik. Para pemikir dimaksud antara lain adalah al-Kindi, al-Farabi, al-Razi, Ibn Miskawaih, al-Amiri, al-Sijistani, at-Tauhidi, Ibn Sina, Ibn Bajjah, Ibn Thufail, Ibn Rusyd,[5] dan ratusan lainnya. Meskipun memiliki ciri khas tersendiri, namun tidak dapat disangkal bahwa pemikiran mereka memiliki rantai sanad hingga ke pemikiran para filsuf pra-Islam semacam Phytagoras, Plato, Aristoteles, Plotinus, Phorphyrius, dan lainnya. Kebesaran nama dan pemikiran mereka telah membuat banyak ahli meneliti biografi dan pemikiran para filsuf Islam tersebut.

Selain para pemikir Islam era Klasik di atas, para sarjana Modern banyak meneliti tentang Ibn Miskawaih (w. 1030 M). Penelitian itu dilakukan selain karena Ibn Miskawaih menjadi salah satu pilar kebudayaan dan peradaban Islam era Klasik, juga karena tokoh di bidang filsafat akhlaq ini memiliki pokok-pokok fikiran yang khas. Pemikiran-pemikiran Ibn Miskawaih pun dipandang memiliki nilai guna bagi dunia Modern, selain sebagai wadah inspirasi bagi filsuf dan ilmuan Modern.

Tulisan ini mencoba memaparkan pemikiran Ibn Miskawaih tentang pendidikan akhlaq. Secara khusus, tulisan ini akan memfokuskan pembahasan hanya kepada sejumlah pemikirannya, yakni hakikat jiwa sebagai dasar utama pembahasan akhlaq, prinsip-prinsip akhlaq, pendidikan akhlaq, dan pendidikan jiwa. Sebagai sebuah makalah sederhana, makalah ini tidak berpretensi untuk menguraikan secara mendalam seluruh pemikiran akhlaqnya. Karena keterbatasan waktu, maka makalah ini hanya menyajikan sejumlah pemikiran pendidikan akhlaq Ibn Miskawaih secara umum.

 

MENGENAL IBN MISKAWAIH; SEBUAH SKETSA BIOGRAFIS

Nama lengkapnya adalah Abu Ali al-Khasim Ahmad bin Ya’kub bin Maskawaih. Ia lebih dikenal dengan nama Ibn Miskawaih.[6] Beliau dilahirkan di kota Ray (Iran) pada tahun 320 H/932 M[7]. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ibn Miskawaih mempelajari kitab Tarikh al-Thabari kepada Abu Bakar Ahmad ibn Kamil al-Qadhi (w. 350 H/960 M). Selain belajar sejarah, beliau pun mempelajari filsafat kepada Ibn al-Khammar, salah seorang komentator Aristoteles[8] dan al-Hasan bin Siwar, seorang ‘ulama pengkaji filsafat, kedokteran dan logika.[9] Tidak hanya sebatas itu, beliau pun mempelajari ilmu bahasa, ilmu kedokteran, ilmu fiqh, hadits, matematika, musik, ilmu militer,[10] dan lainnya. Karena beliau memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, maka beliau pun dapat melahap habis semua pelajaran yang diberikan kepadanya. Walhasil, beliau pun menjadi salah seorang filsuf Islam terkemuka di zamannya.

Sebagai seorang pemikir besar, Ibn Miskawaih telah melahap seluruh kitab-kitab filsafat dari warisan peradaban pra-Islam. Pada masanya, beliau banyak membaca dan menelaah kitab-kitab pemikir dari berbagai peradaban seperti Yunani, Persia, Romawi, dan lainnya. Karena itu pula, pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh dari berbagai peradaban itu memberikan pengaruh yang tidak kecil bagi Ibn Miskawaih. Hal ini terlihat jelas, ketika Ibn Miskawaih merumuskan pandangannya, beliau pun mengkombinasikan pemikiran-pemikiran dari Plato, Aristoteles, Galen dan ajaran Islam.[11]

Ibn Miskawaih hidup pada masa dinasti Buwaihi. Ketika masih muda, ia mengabdi kepada Abu Muhammad al-Hasan al-Muhallabi, wazir pangeran Buwaihi, Mu’iz ad-Daulah di Baghdad.[12] Setelah Al-Muhallabi itu wafat pada tahun 352 H/963 M), Ibn Miskawaih pun mendekati Ibn al-‘Amid di Ray, wazir dari Rukn al-Daulah. Rukn al-Daulah ini tidak lain adalah saudara Mu’iz al-Daulah. Ibn al-‘Amid bukan orang sembarangan, sebab ia seorang tokoh sastra terkenal. Tidak hanya itu, Ibn al-‘Amid bekerja sebagai pustakawan. Karena Ibn al-‘Amid menjadi wazir dari Rukn al-Daulah, maka beliau pun mendapat kedudukan terhormat di ibukota pemerintahan dinasti Buwaihi tersebut.[13] Pada tahun 360 H/970 M, al-‘Amid wafat, sehingga kedududkannya digantikan oleh anaknya, yakni Abu al-Fath. Ibn Miskawaih pun mengabdi kepada anak al-‘Amid ini. Pada tahun 366 H/976 M, Abu al-Fath wafat, sehingga jabatan wazir direbut oleh musuhnya yang bernama al-Shahib ibn ‘Abbad. Karena musuh Abu al-Fath merebut kekuasaan, maka sebagai pendukung Abu al-Fath, Ibn Miskawaih pun meninggalkan kota Ray. Kemudian, Ibn Miskawaih berangkat menuju Baghdad. Di kota ini, Ibn Miskawaih mengabdikan diri kepada penguasa Dinasti Buwaihi, yakni ‘Adhud al-Daulah. Pada masa ini, Ibn Miskawaih diangkat sebagai bendahara penguasa dinasti Buwaihi. Setelah ‘Adhud al-Daulah wafat, Ibn Miskawaih tetap mengabdi kepada para pengganti pangeran dinasti Buwaihi ini, yakni Shamsham al-Daulah (388 H/998 M) dan Baha’ al-Daulah (403 H/1012 M).[14]

Ibn Miskawaih hidup sebagai seorang Syi’ah. Para penulis biografi pun memasukkan nya ke dalam daftar ulama dan filosof Syi’ah karena beberapa pandangannya menegaskan keharusan kemaksuman para imam. Sebagai seorang filsuf, Ibn Miskawaih banyak berdebat dengan para filsuf sezamannya, seperi Ibn Sina.[15]

Meskipun beliau menduduki jabatan strategis di pemerintahan Dinasti Buwaihi, namun hal itu tidak membuatnya malas menulis. Hal ini terbukti karena beliau banyak menulis kitab-kitab yang bermutu tinggi, antara lain al-Fauz al-Akbar; al-Fauz al-Ashghar; Tajarib al-Umam; Uns al-Farid; Tartib al-Sa’adah; al-Mustaufa; Jawidan Khirad; al-Jami’; al-Siya; On the Simple Drugs; On the Compositions of the Bajats; Kitab al-Asyribah; Tahdzib al-Akhlaq; Risalah fi al-Lazzah wa al-Alam fi jauhar al-Nafs; Ajwibah wa As’ilah fi al Nafs wa al-‘Aql; al-Jawab fi al-Masa’il al-Tsalas; Risalah fi Jawab fi Su’al Ali ibn Muhammad Abu Hayyan al-Shufi fi Haqiqah al-‘Aql; dan Thaharah al-Nafs.[16]

Ibn Miskawaih wafat di Isfahan (Iran) pada 9 Shafar 421 H[17]/1030 M.[18]

HAKIKAT JIWA MANUSIA

Menurut Ibn Miskawaih, manusia memiliki kemiripan dengan alam semesta. Karena itu, jika alam semesta disebut sebagai makrokosmos, maka manusia disebut sebagai mikrokosmos. Di samping memiliki panca indra, manusia memiliki indra bersama. Indra bersama ini berperan sebagai pengikat sesama indra. Indra bersama ini memiliki ciri. Ciri-ciri indra bersama ini adalah bahwa indra bersama dapat menerima citra-citra indrawi secara serentak, tanpa zaman, tempat, dan pembagian. Kemudian, citra-citra itu tidak saling bercampur dan saling mendesak. Daya indra bersama ini beralih ke tingkat daya khayal, sebuah daya yang berada di bagian depan otak. Dari daya khayal ini beralih ke daya fikir. Daya berfikir ini dapat berhubungan dengan Akal Aktif guna mengetahui hal-hal Ilahi.[19]

Menurut Ibn Miskawaih, pada diri manusia terdapat tubuh dan jiwa. Jiwa tidak dapat menjadi sebuah fungsi dari materi. Hal ini karena dua hal. Pertama. Suatu benda yang berbeda-beda bentuk dan keadaannya, dengan sendirinya tidak bisa menjadi salah satu dari bentuk-bentuk dan keadaan-keadaan itu. Suatu benda yang warnanya bermacam-macam tentu, dalam pembawaannya sendiri, tidak berwarna. Jiwa, dalam mempersepsi obyek-obyek eksternal, mengasumsi, seolah-olah, berbagai bentuk dan keadaan; karena itu, jiwa tidak dapat dianggap sebagai salah satu dari bentuk-bentuk itu. Kedua. Atribut-atribut itu terus menerus berubah; tentu ada, di luar lingkup perubahan, substratum permanen tertentu yang menjadi fondasi identitas personal.[20]

Karena jiwa tidak dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari materi, maka Ibn Miskawaih mencoba membuktikan bahwa jiwa bukan materi. Alasan-alasannya sebagai berikut:

  1. Indra, setelah mempersepsi suatu rangsangan kuat, selama beberapa waktu, tidak lagi mampu mempersepsi rangsangan yang lebih lemah. Namun demikian, ini berbeda benar dengan aksi mental intuisi.
  2. Jika kita renungkan suatu subyek yang musykil, kita berusaha keras untuk sepenuhnya menutup kedua belah mata kita terhadap obyek-obyek di sekitar kita, yang kita anggap sebagai sedemikian banyak halangan bagi aktifitas spiritual. Jika esensi jiwa adalah materi, maka agar aktifitasnya tak terhambat, jiwa tidak perlu lari dari dunia materi.
  3. Mempersepsi rangsangan kuat memperlemah dan kadang-kadang merugikan indra. Di sisi lain, intelek berkembang menjadi kuat dengan mengetahui ide-ide dan faham-faham umum.
  4. kelemahan fisik yang disebabkan oleh umur yang tua tidak mempengaruhi kekuatan mental.
  5. Jiwa dapat memahami proposisi-proposisi tertentu yang tidak mempunyai pertalian dengan data indrawi. Indra misalnya, tidak mampu memahami bahwa dua hal yang bertentangan tidak dapat ada bersama.
  6. Ada suatu kekuatan tertentu pada diri kita yang mengatur organ-organ fisik, membetulkan kesalahan-kesalahan inderawi, dan menyatukan semua pengetahuan. Prinsip penyatuan yang merenung-renungkan materi yang dibawa dihadapannya melalui saluran indrawi, dan yang menimbulkan evidensi (bukti) masing-masing indra, inilah yang menentukan karakter keadaan-keadaan tandingan, maka dengan sendirinya jiwa itu harus berada di atas lingkungan materi.[21]

Menurutnya, jiwa bukan bagian dari tubuh dan bukan aksiden tubuh. Pada wujudnya, jiwa tidak butuh kekuatan tubuh. Jiwa merupakan substansi sederhana dan tidak dapat dapat ditangkap oleh panca indra. Antara jiwa dan hidup itu tidak sama. Jiwa itu suatu esensi yang hidup dan kekal, serta bisa mencapai kesempurnaan hidup di dunia. Selanjutnya, menurutnya, perbedaan antara jiwa manusia dari jiwa binatang adalah potensi akal. Jiwa manusia memiliki potensi akal. Potensi akan adalah potensi untuk memiliki pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis.[22]

Secara lengkap, Ibn Miskawaih menuliskan pemikirannya tentang jiwa di dalam bukunya yang berjudul Tahzib al-Akhlaq. Dalam buku ini, ibn Miskawaih menulis bahwa manusia terdiri atas dua unsur yakni tubuh dan jiwa. Tubuh manusia itu materi (jauhar) dan berbentuk (‘Aradh). Tubuh manusia dan fakultas-fakultasnya mengetahui ilmu melalui indra. Tubuh sangat butuh terhadap indranya. Tubuh pun sangat berhasrat terhadap hal-hal indrawi semacam kenikmatan jasadi, keinginan balas dendam, dan ego untuk menang. Melalui hal ini, kekuatan tubuh akan bertambah dan tubuh akan terus mengalami kesempurnaan. Kesempurnaan eksistensi tubuh manusia terkait erat dengan hal-hal seperti itu. Sementara itu, jiwa itu bukan tubuh, bukan bagian dari tubuh, serta bukan pula materi. Jiwa manusia ini tidak cocok dengan hal-hal jasadi. Ketika jiwa dapat menjauhi hal-hal jasadi, maka jiwa akan semakin sempurna. Jiwa memiliki kecenderungan kepada selain hal-hal jasadi. Jiwa ingin mengetahui realitas Ilahiah. Jiwa pun sangat mendambakan sesuatu hal yang lebih mulia dari hal-hal jasmaniah. Jiwa ingin menjauhkan diri dari kenikmatan jasmani, dan berharap mendapatkan kenikmatan akal. Dari aspek ini, jelas jiwa lebih mulia dari pada benda-benda jasadi.[23]

Menurut Ibn Miskawaih, jiwa mendapat banyak prinsip ilmu pengetahuan melalui indra. Namun begitu, jiwa ini sendiri memiliki prinsip lain serta tingkah laku yang lain pula. Tidak seperti indra karena indra hanya mengetahui obyek indrawi, maka jiwa mampu mengetahui sebab-sebab harmonis dan bertolak belakang dari segala hal yang dapat diindra tadi. Di samping itu, jiwa dapat mengetahui kesalahan dan keabsahan indra, namun pengetahuan jiwa ini bukan dari indra, namun dari hasil kesimpulan jiwa itu sendiri. Selain itu, jiwa itu pun dapat mengetahui dirinya sendiri. Jika jiwa mengetahui bahwa dirinya (jiwa) memahami ma’qulat-nya sendiri, maka jiwa mengetahuinya bukan dari sumber lain, melainkan dari dirinya sendiri. Hal ini lumrah, karena jiwa itu mengetahui segala hal baik dirinya maupun selainnya, dari esensi dan substansinya sendiri yakni akal. Dengan begitu, jiwa tidak membutuhkan sesuatu guna mengetahui sesuatu kecuali dirinya sendiri. Berdasarkan hal ini, maka akal, yang berfikir, dan objek yang dipikirkan itu satu kesatuan. Secara agak mendalam dapat disimpulkan bahwa prilaku jiwa itu sendiri bisa dikatakan ilmu pengetahuan.[24]

Ibn Miskawaih menjelaskan tentang kebajikan jiwa. Menurutnya, keutamaan atau kebajikan jiwa terletak pada kecenderungan jiwa kepada dirinya sendiri, yakni ilmu pengetahuan, sembari tidak cenderung kepada tingkah laku tubuh. Kebajikan jiwa diukur dari sejauh mana jiwa mengupayakan kebajikan dan mendambakannya. Keutamaan ini akan terus meningkat ketika jiwa memperhatikan dirinya sendiri serta berusaha keras menyingkirkan segala rintangan bagi pencapaian tingkat keutamaan seperti ini. Namun demikian, Ibn Miskawaih menyadari bahwa pencapaian tingkat keutamaan ini memiliki kendala. Kendala ini tidak lain segala hal bersifat badani, indrawi, serta segala hal yang berhubungan dengan keduanya. Ketika kendala ini berhasil dihadapi oleh jiwa, dan jiwa itu suci dari segala perbuatan keji (nafsu badani dan nasfu hewani), maka keutamaan-keutamaan itu akan tercapai. Dengan kata lain, keutamaan jiwa lahir ketika jiwa suci dari nafsu badani dan nafsu hewani.[25]

Secara umum, Ibn Miskawaih membagi kekuatan jiwa menjadi tiga macam, yakni al-Quwwah al-Natiqah, al-Quwwah Syahwiyyah, dan al-Quwwah al-Ghadabiyyah. Adalah al-Quwwah al-Natiqah sebuah fakultas yang berkaitan dengan berfikir, melihat, dan mempertimbangkan segala sesuatu. Fakultas ini disebut fakultas raja. Fakultas ini menggunakan organ tubuh otak. Sementara al-Quwwah Syahwiyyah sebuah fakultas yang berkaitan dengan marah, berani, berani menghadapi bahaya, ingin berkuasa, menghargai diri, dan menginginkan bermacam-macam kehormatan. Fakultas ini disebut sebagai fakultas binatang. Organ tubuh yang digunakannya adalah hati. Terakhir, al-Quwwah al-Ghadabiyyah sebagai sebuah fakultas yang berkenaan dengan nafsu syahwat dan makan, keinginan pada nikmatnya makanan, minuman, senggama, dan kenikmatan indrawi lainnya. Ketigas fakultas ini berbeda antara satu dengan lainnya. Fakultas ini disebut fakultas binatang buas. Fakultas ini menggunakan organ jantung.[26]

 

PRINSIP-PRINSIP AKHLAK

Pada pembahasan terdahulu telah dikemukakan tentang tiga daya jiwa. Ketiga daya ini melahirkan sifat kebajikan. Jumlah keutamaan (kebajikan) sama dengan jumlah fakultas-fakultas dan kebalikan dari keutamaan-keutamaan ini. Menurut Ibn Miskawaih, ketika aktifitas jiwa kebinatangan dikendalikan oleh jiwa berfikir, dan jiwa itu tidak tenggelam dalam memenuhi keinginannya sendiri, maka jiwa ini akan mencapai kebajikan sikap sederhana (iffah) yang diiringi kebajikan dermawan. Sementara itu, ketika jiwa amarah memadai dan mematuhi segala aturan yang ditetapkan oleh jiwa berfikir serta tidak bangkit pada waktu yang tidak tepat, maka jiwa ini akan mencapai kebajikan sikap sabar yang diiringi kebajikan sikap berani. Setelah itu, dari ketiga kebajikan itu satu kebajikan lain sebagai kelengkapan dan kesempurnaan tiga kebajikan itu, yakni kebajikan sifat adil. Kebajikan sikap adil ini berhubungan dengan tepat antara kebajikan satu dengan kebajikan lainnya. Jadi, keutamaan (kebajikan) manusia itu terdiri atas empat hal yakni arif, sederhana, berani, dan adil.[27]

Sementara itu, keempat keutamaan (kebajikan) ini memiliki lawan. Kebalikan dari keempat keutamaan ini terbagi atas empat pula, yakni bodoh, rakus, pengecut dan lalim. Keempat sifat ini dapat dikatakan sebagai penyakit jiwa dan menimbulkan banyak kepedihan seperti perasaan takut, sedih, marah, berjenis-jenis cinta dan keinginan, dan karakter buruk lainnya.[28]

Menurut Ibn Miskawaih, keutamaan adalah kebaikan. Sementara ketidakutamaan sebagai lawan dari keutamaan adalah kejahatan. Menurut tokoh ini, kebaikan merupakan hal yang dapat dicapai oleh manusia dengan melaksanakan kemauannya dan dengan berupaya dan dengan hal yang berkaitan dengan tujuan diciptakannya manusia. Sementara keburukan atau kejahatan adalah hal yang menjadi penghambat manusia mencapai kebaikan, baik berupa kemauan dan upayanya atau berupa kemalasan dan keengganannya mencari kebaikan.[29]

Ibn Miskawaih telah memberikan definisi keempat keutamaan (kebajikan) tersebut dan macam-macam dari keempat keutamaan itu. Menurutnya, kearifan adalah keutamaan dari jiwa berfikir dan mengetahui. Kearifan ini memiliki bagian-bagian seperti pintar, ingat, berfikir,  cepat memahami dan benar pemahamannya, jerni pikiran, serta mampu belajar dengan mudah. Sederhana adalah keutamaan dari bagian hawa nafsu. Keberanian adalah keutamaan jiwa amarah. Keberanian ini dibagi menjadi beberapa bagian pula yakni besar jiwa, ulet, tegar, tabah, menguasai diri, perkasa serta ulet dalam bekerja. Sederhana ini memiliki bagian-bagian yakni rasa malu, tenang, dermawan, integritas, puas, loyal, berdisiplin diri, optimis, kelembutan, anggun berwibawa, dan wara’. Sementara keadilan adalah kebajikan jiwa yang timbul akibat menyatunya tiga kebajikan tersebut. Keadilan ini dibagi atas beberapa bagian, yakni bersahabat, bersemangat, sosial, silaturahmi, memberi imbalan, bersikap baik dalam kerjasama, jeli dalam memutuskan masalah, cinta kasih, beribadah, jauh dari rasa dengki, memberi imbalan terbaik meski sedang ditimpa keburukan, berpenampilan lembut, berwibawa di segala bidang, menjauhkan diri dari bermusuhan, tidak menceritakan hal yang tidak layak, mengikuti orang-orang yang berkata dengan benar, tidak bicara tentang sesama Muslim bila tidak ada kebaikannya, menjauhi diri dari kata-kata buruk, tidak betah berucap kalau cuma akan menjatuhkan seseorang, tidak peduli pada perkataan orang pelit waktu berbicara di depan umum, mendalami masalah seseorang yang perlu dibantu, dan mengulang pertanyaan bila belum jelas. Ibn Miskawaih menuliskan bahwa dermawan termasuk pada sifat kebajikan. Dermawan adalah kecenderungan untuk berada di tengah dalam soal memberi. Dermawan ini memiliki bagian-bagian yakni murah hati, mementingkan orang lain, rela, berbakti, dan tangan terbuka.[30]

Menurut Ibn Miskawaih, kebajikan merupakan titik tengah antara dua ujung. Ujung-ujung itu merupakan keburukan-keburukan. Dengan demikian, kebajikan-kebajikan di atas pun berada pada titik tengah antara dua keburukan. Karena itu, kearifan adalah titik tengah yang letaknya ada di antara bodoh dan dungu. Pandai antara titik tengah yang terletak pada posisi antara kebusukan mental dan ketololan. Ingat adalah titik tengah yang terletak antara posisi antara dua lupa, yakni melalaikan segala yang mesti diingat dan memperhatikan apa yang harus diingat. Kecemerlangan adalah titik tengah antara memikirkan sesuatu yang tidak semestinya dipikirkan dan kurang memikirkan sesuatu yang semestinya dipikirkan. Sederhana merupakan titik tengah antara memperturutkan hawa nafsu dan mengabaikan hawa nafsu. Keberanian merupakan titik tengah antara pengecut dan sembrono. Keadilan merupakan titik tengah antara berbuat lalim dan dilalimi. Begitu pula kebajikan-kebajikan lainnya merupakan titik tengah antara dua keburukan dan kehinaan.[31]

Bagi Ibn Miskawaih, kebajikan hanya dapat dicapai seseorang, jika orang tersebut bergaul dengan masyarakat. Menurutnya, manusia tidak akan pernah dapat mencapai kesempurnaan dengan hidup menyendiri. Manusia memerlukan orang lain pada komunitas tertentu agar kebahagiaan insaninya tercapai. Manusia niscaya memerlukan manusia lain selain dirinya. Seorang manusia harus bersahabat dengan manusia lain dan harus menyayanginya secara tulus. Sebab, mereka melengkapi eksistensinya sekaligus menyempurnakan kemanusiaannya dengan hal ini. Hal ini karena manusia sebagai makhluq sosial. Tanpa bergaul dengan masyarakat, maka manusia itu tidak akan dapat menggapai kebajikan.[32]

Di samping masalah kebajikan (keutamaan), menurut Ibn Miskawaih bahwa masalah pokok kajian akhlaq adalah kebaikan dan kebahagiaan. Pembahasan ini memiliki kaitan erat dengan pembahasan akhlaq. Menurut Ibn Miskawaih, kebaikan diartikan sebagai tujuan setiap sesuatu. Jadi, kebaikan berarti tujuan terakhir. Sementara kebahagiaan diartikan sebagai kebaikan dalam kaitannya dengan pemiliknya dan kesempurnaan bagi pemiliknya. Dengan kata lain, kebahagian itu bagian dari kebaikan. Secara agak mendalam, maka kebahagiaan dapat diartikan sebagai kesempurnaan dan akhir dari kebaikan. Kebahagiaan merupakan kebaikan paling utama di antara seluruh kebaikan lainnya.[33]

Menurut Ibn Miskawaih, karena manusia terdiri atas dua unsur yakni tubuh dan jiwa, maka kebahagiaan itu meliputi keduanya. Kebahagiaan itu ada dua tingkat, pertama kebahagiaan jasmani dan kedua kebahagiaan jiwa. Bagi Ibn Miskawaih, kebahagiaan seseorang berada pada salah satu dari dua tingkatan, yakni: Pertama. Ketika manusia itu berada pada tingkatan hal-hal jasmani menyatu dengan keadaan-keadaan rendah mereka dan berbahagian di dalamnya. Keadaan-keadaan rendah ini diartikan sebagai segala hal yang dapat dijangkau oleh indra. Kedua, bersamaan dengan itu pula, ketika manusia itu mencari hal-hal mulia, berupaya mendapatkan hal-hal mulia, menyukainya, dan merasa puas dengannya. Bisa dikatakan pula ketika manusia itu berada pada tingkatan ruhani, lekat dengan hal-hal tinggi, dan berbahagian di dalamnya. Bersamaan dengan ini, manusia itu mengamati dan menelaah hal-hal rendah, mengambil pelajaran darinya, merenungkan tanda-tanda kebesaran Ilahi dan bukti-bukti kearifan sempurna, mengikuti contoh-contohnya, mengaturnya, melimpahkan bermacam-macam kebaikan padanya, dan memandunya memperoleh kebaikan demi kebaikan sebatas kesanggupannya. Dengan kata lain, seseorang dikatakan bahagia ketika orang tersebut berada pada salah satu dari dua tingkatan di atas.[34]

Di samping masalah kebajikan; serta kebaikan dan kebahagiaan, Ibn Miskawaih pun membicarakan masalah cinta. Menurut Ibn Miskawaih bahwa asas semua keutamaan adalah cinta kepada semua manusia. Jika manusia tidak memiliki cinta, maka suatu komunitas masyarakat tidak akan dapat ditegakkan. Bahkan manusia tidak akan sampai kepada tingkat kesempurnaannya kecuali manusia itu memelihara jenisnya dan menunjukkan pengertiannya terhadap sesama jenisnya. Menurutnya, cinta tidak akan berbekas kecuali jika manusia berada di tengah-tengah masyarakat. Karena itu, jika seorang manusia mengasingkan diri dari masyarakat, maka manusia itu belum dapat dinilai sebagai seorang pemilik sifat terpuji atau tercela. Penilaian itu dapat diberikan ketika manusia itu telah berkecimpung di dalam komunitasnya. Tidak hanya itu, suatu masyarakat buruk tidak akan dapat berubah jika orang-orang terbaik di dalamnya mengasingkan diri tanpa ingin memberikan pertolongan bagi perbaikan masyarakat itu.[35]

 

HAKIKAT AKHLAK

Menurut Ibn Miskawaih, akhlaq adalah suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikir atau dipertimbangkan secara mendalam. Ibn Miskawaih membagi asal keadaan jiwa ini menjadi dua jenis. Pertama alamiah dan bertolak dari watak. Kedua tercipta melalui kebiasaan dan latihan. Baginya akhlaq itu alami sifatnya namun akhlaq pun dapat berubah cepat atau lambat melalui disiplin serta nasihat-nasihat yang mulia. Pada mulanya, keadaan ini terjadi karena dipertimbangkan dan dipikirkan, namun kemudian melalui praktik terus menerus akan menjadi akhlaq.[36]

Kedua pandangan Ibn Miskawaih ini dapat dirujuk kepada pemikiran-pemikiran filsuf pra-Islam seperti Galen dan Aristoteles. Berkenaan dengan akhlaq sebagai sesuatu berasal dari alamiah dan bertolak dari watak, pandangan ini diambil Ibn Miskawaih dari pemikiran kaum Stoik, sekelompok pemikir pra-Stoik, dan Galen. Bagi kaum Stoik, manusia secara alami baik. Bagi pemikir pra-Stoik, manusia itu secara alami buruk. Sementara bagi Galen, sebagian manusia secara alami bermoral baik. Jumlah manusia seperti ini sedikit. Mereka pun tidak akan berubah menjadi manusia bermoral buruk. Sebagian manusia lain secara alami bermoral buruk. Jumlah manusia seperti ini sangat banyak. Mereka tidak akan pernah berubah menjadi manusia bermoral baik. Terakhir, sebagian manusia berada pada posisi tengah-tengah, yakni mereka bisa berubah menjadi baik akibat bergaul dengan orang-orang yang baik dan mengikuti ajakan mereka. Mereka pun bisa berubah menjadi buruk akibat bergaul dengan orang-orang jahat, dan mereka mau mengikutinya. Berkenaan dengan akhlaq sebagai hal yang berasal dari proses latihan dan kebiasaan, pemikiran ini berasal dari Aristoteles. Bagi Aristoteles, orang yang buruk bisa berubah menjadi baik melalui pendidikan. Melalui nasehat yang berulang-ulang dan disiplin, serta bimbingan yang baik, akan melahirkan hasil-hasil yang berbeda-beda pada berbagai orang. Sebagian mereka tanggap dan menerimanya, sementara sebagian lain tidak menerimanya.[37]

PENDIDIKAN AKHLAK

Sebagai filsuf akhlaq, Ibn Miskawaih memberikan perhatian serius terhadap pendidikan akhlaq anak-anak. Menurut Ibn Miskawaih, jiwa seorang anak itu diibaratkan sebagai mata rantai antara jiwa binatang dan jiwa manusia berakal. Pada jiwa anak-anak ini, jiwa binatang berakhir sementara jiwa manusia mulai muncul. Menurutnya, anak-anak harus dididik mulai dengan menyesuaikan rencana-rencananya dengan urutan daya-daya yang ada pada anak-anak, yakni daya keinginan, daya marah, dan daya berfikir. Dengan daya keinginan, anak-anak dididik dalam hal adab makan, minum, berpakaian, dan lainnya. Sementara daya berani diterapkan untuk mengarahkan daya marah. Kemudian daya berfikir dilatih dengan menalar, sehingga akan dapat menguasai segala tingkah laku.[38]

Kehidupan utama anak-anak memerlukan dua syarat, yakni syarat kejiwaan dan syarat sosial. Syarat pertama tersimpul dalam menumbuhkan watak cinta kepada kebaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan muda pada anak yang berbakat baik. Bagi anak-anak tidak berbakat, maka hal ini bisa dilakukan dengan cata latihan membiasakan diri agar cenderung kepada kebaikan. Syarat kedua dapat dicapai dengan cara memilihkan teman-teman yang baik, menjauhkan anak dari pergaulan dengan teman-temannya yang berakhlaq buruk, menumbuhkan rasa percaya diri pada dirinya, dan menjauhkan anak-anak dari lingkungan keluarganya pada saat-saat tertentu, serta memasukkan mereka ke tempat kondusif.

Selanjutnya Ibn Miskawaih menyatakan bahwa banyak tingkatan manusia dalam menerima akhlaq. Dalam konteks anak-anak, Ibn Miskawaih menyebutkan bahwa akhlaq atau karakter mereka muncul sejak awal pertumbuhan mereka. Anak-anak tidak menutup-nutupi dengan sengaja dan sadar, sebagaimana dilakukan orang dewasa. Seorang anak terkadang merasa enggan untuk memperbaiki karakternya. Karakter mereka itu mulai dari karakter yang keras sampai kepada karakter yang malu-malu. Terkadang karakter anak-anak itu baik, terkadang pula buruk seperti kikir, keras kepala, dengki, dan seterusnya. Keberadaan pelbagai karakter anak ini menjadi bukti bahwa anak-anak tidak memiliki tingkatan karakter yang sama. Tak hanya itu, sebagian mereka tanggap dan sebagian lain tidak tanggap, sebagian mereka lembut dan sebagian lagi keras, sebagian mereka baik dan sebagian lain buruk. Namun sebagian mereka berada pada posisi tengah di antara kedua kubu ini. Sebagai pendidik, maka orang tua harus mendisiplinkan karakter mereka. Jika tabiat-tabiat ini diabaikan, tidak didisiplinkan, dan di koreksi, maka mereka akan tumbuh berkembang mengukuti tabiatnya. Selama hidupnya, kondisinya tidak akan berubah. Mereka akan memuaskan diri sesuai dengan apa yang dianggapnya cocok menurut selera alamiahnya, dan seterusnya.[39]

Tidak sebatas itu, Ibn Miskawaih memandang syari’at agama dapat menjadi faktor guna meluruskan karakter remaja. Syari’at agama menjadi penting karena dapat membiasakan mereka untuk melakukan perbuatan yang baik. Syari’at agama pun dapat mempersiapkan diri mereka untuk menerima kearifan, mengupayakan kebajikan dan mencapai kebahagiaan melalui berfikir dan penalaran yang akurat. Dalam konteks ini, sebagai pendidik, maka orang tua wajib mendidik mereka agar menaati syari’at ini, agar berbuat baik. Hal ini dapat dilakukan melalui nasehat, pemberian ganjaran dan hukuman. Jika mereka telah membiasakan diri dengan prilaku ini, dan kondisi ini terus berlangsung lama, maka mereka akan melihat hasil dari prilaku mereka itu. Mereka pun akan mengetahui jalan kebajikan dan sampailah mereka pada tujuan mereka dengan cara yang baik.[40]

Menurut Ibn Miskawaih, tujuan pendidikan akhlaq ini adalah mencetak tingkah laku manusia yang baik, sehingga manusia itu dapat berprilaku terpuji dan sempurna sesuai dengan substansinya sebagai manusia, serta bertujuan mengangkat manusia dari derajat yang paling tercela sebagai derajat yang dikutuk oleh Allah SWT. Secara tegas dapat dikatakan bahwa menurut Ibn Miskawaih bahwa pendidikan akhlaq ini bertujuan agar manusia menjadi manusia sempurna.[41]

Menurut Ibn Miskawaih, kesempurnaan manusia memiliki tingkatan dan substansi. Baginya kesempurnaan manusia ada dua maca, yakni kesempurnaan kognitif dan kesempurnaan praktis. Kesempurnaan kognitif terwujud jika manusia mendapatkan pengetahuan sedemikian rupa sehingga persepsinya, wawasannya, dan kerangka berfikirnya menjadi akurat. Sementara kesempurnaan praktis ialah kesempurnaan karakter. Menurut Ibn Miskawaih, kesempurnaan teoritis (kognitif) berkenaan dengan kesempurnaan praktis. Kesempurnaan teoritis tidak lengkap tanpa kesempurnaan praktis, begitu pula sebaliknya. Hal ini karena pengetahuan adalah permulaannya dan perbuatan itu akhirnya. Kesempurnaan sejati tercapai jika keduanya berjalin berkelindan. Di pihak lain, bagi Ibn Miskawaih bahwa kesempurnaan manusia itu terletak pada kenikmatan spiritual, bukan kenikmatan jasmani.[42]

Ibn Miskawaih menuliskan tentang metode agar seorang manusia dapat mencapai kesempurnaan itu. Yakni seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan tubuh dan jiwa dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. Dalam konteks tubuh, maka seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan jasmani dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. Kebutuhan jasmani adalah makanan, pakaian, senggama, dan lainnya. Karena itu, seorang manusia harus mengambilkan hanya bila diperlukan untuk menghilangkan ketidaksempurnaannya dan demi kelangsungan hidupnya. Kemudian, manusia itu pun tidak boleh melampaui batas dalam memenuhi kebutuhan tubuhnya. Dalam konteks jiwa, maka seorang manusia harus mengetahui kekurangan-kekurangan jasmani dan kebutuhan-kebutuhan primernya untuk melenyapkan kekurangan-kekurangan itu serta memperbaikinya. kebutuhan jiwa adalah pengetahuan, mendapatkan objek-objek fikiran, membuktikan kebenaran pendapat, menerima kebenaran, dan seterusnya. Seorang manusia harus mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan jiwa ini, serta mengetahui kekurangan dan melenyapkan kekurangan tersebut.[43]

Ibn Miskawaih memberikan perhatian besar terhadap pendidikan akhlaq bagi anak-anak. Hal ini bertujuan agar anak dapat memiliki akhlaq sempurna dan segara menggapai kesempurnaannya. Pendidikan akhlaq ini dapat dicapai dengan melakukan hal-hal sebagai berikut[44]:

  1. Seorang pendidik hendaknya mendidik manusia sejak kecil untuk mengikuti syari’at agama agar terbiasa mengerjakan kewajiban-kewajiban agama, membaca buku-buku akhlaq agar akhlaqk dan kualitas terpuji merasuk dalam dirinya melalui dalil-dalil rasional, dan mempalajari matematika sehingga terbiasa dengan perkataan dan argumentasi yang benar dan tepat. Jika semua hal ini dilakukan, maka seseorang dapat mencapai tingkat manusia sempurna, sebagaimana dijelaskan di atas.
  2. Jika seorang anak dididik dengan kesenangan dan kenikmatan jasmani, sehingga jiwa dan raganya telah terbiasa dengan hal-hal yang bersifat jasmaniah itu, maka hendaknya orang tua atau pendidik lain mengajari anak itu agar anak itu memandang semua kesenangan dan kenikmatan jasmani tersebut sebagai kesengsaraan dan kerugian, bukan sebagai kebahagiaan dan keberuntungan. Hendak pula anak itu diajari agar anak itu menjauhkan dirinya dari kenikmatan seperti itu secara perlahan.
  3. Orang tua harus memahami jiwa anak-anak secara umum. Secara umum dikatakan bahwa seorang anak kecil itu malu-malu. Dia akan menundukkan kepalanya ke bawah. Dia pun takut dan tidak berani menatap wajah orang dewasa. Hal ini mengindikasikan bahwa anak tersebut telah mulai mampu membedakan baik dan buruk. Rasa malunya itu merupakan pengekangan diri yang terjadi karena anak itu khawatir jika ada keburukan yang muncul dari dirinya. Jiwa seperti ini siap menerima pendidikan dan cocok untuk dipupuk.
  4. Orang tua harus memilihkan teman bergaul yang berakhlaq mulia untuk anaknya. Seorang anak tidak boleh dibiarkan bergaul dengan orang-orang yang berakhlaq buruk, karena orang-orang seperti itu akan merusak jiwanya. Sebab jiwa anak kecil masih sederhana dan belum menerima gambar apa pun serta belum mempunyai pendapat yang akan mengubahkan dari satu keadaan ke keadaan lain. Jika jiwa anak itu telah menerima gambar tertentu, maka anak ini akan tumbuh sesuai dengan jiwa seperti gambar yang diterimanya. Oleh sebab itu, jiwa seorang anak harus diupayakan agar mencintai kebaikan dan membenci keburukan.
  5. Orang tua harus mengajari anak agar berpakaian baik. Anak harus diajari agar berpakaian sesuai dengan jenis kelaminnya, memakai pakaian putih, dan lainnya.
  6. Orang tua harus membiasakan anak untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban agama.
  7. Orang tua harus memuji seorang anak ketika anak tersebut melakukan kebaikan dan akhlaq mulia.
  8. Orang tua hendaknya memerintahkan seorang anak agar menghafal tradisi-tradisi yang baik, syair-syair yang dapat membuatnya terbiasa melakukan moral terpuji.
  9. Orang tua hendaknya mengajari anaknya tentang tata cara makan yang baik. Orang tua harus mengajari anaknya bahwa tujuan makan bukan demi kenikmatan semata, melainkan demi kesehatan. Makan tidak boleh berlebihan dan melampaui batas. Orang tua pun harus memberi banyak makan di malam hari, sebab jika orang tua memberi makan di siang hari, maka anak menjadi malas, mengantuk, dan otaknya menjadi lamban.
  10. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak tidak boleh menyembunyikan sesuatu. Sebab tidak mungkin dia berbuat begitu, kecuali dipastikan bahwa perbuatanmua buruk.
  11. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu tidak tidur terlalu lama, karena akibatnya membuat otak anak menjadi bebal dan mematikan pikirannya. Jangan sampai dia terbiasa tidur siang. Jangan biarkan dia tidur ditempat empuk dan mewah agar dia terbiasa hidup sederhana.
  12. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu sering berjalan, bergerak, berkuda, dan olah raga. Anak diajari agar tidak boleh jalan tergesa-gesa, bersikap angkuh, tetapi supaya anak itu sering mensedekapkan tangannya ke dada.
  13. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak itu tidak boleh memanjangkan rambut (jika laki-laki), tidak boleh memakai pakaian yang tidak sesuai dengan jenis kelaminnya, tidak boleh memakai cincin, tidak boleh membanggakan kedua orang tuanya, tidak boleh sombong dan keras hati.
  14. Orang tua harus mengajari anaknya agar anak tidak boleh meludah, menguap, dan membuang ingus ketika sedang bersama orang lain. Tidak boleh bertopang dagu dan menyandarkan kepala pada kedua tangannya, sebab hal itu menunjukkan bahwa dia malas. Biasakan anak tidak berbohong dan tidak boleh bersumpah.
  15. Orang tua harus mengajari anaknya agar anaknya membiasakan tidak banyak bicara dan hanya menjawab pertanyaan. Hendaknya anak itu mendengarkan kata-kata orang tua dan diam dihadapan orang dewasa. Anak diajari agar tidak berkata kotor, hina, sumpah serapah, menuduh, dan tidak bicara senonoh. Biasakan dia dengan kata-kata anggun, bermuka manis kepada orang lain, tidak mengatakan kata-kata buruk di depan orang lain. Ajari anak hendaknya anak belajar melayani diri sendiri.
  16. Orang tua harus mengajari anaknya agar ketika anak dipukul oleh gurunya, maka dia tidak boleh mengadu dan tidak boleh meminta perlindungan orang lain, karena tindakan itu hanya pantas dilakukan para budak.
  17. Orang tua hendaknya tidak menakut-nakuti anak kecil. Berilah anak semangat, memberikan hadiah kepadanya jika mereka berbuat baik, agar anak tidak meminta-minta kepada orang lain. Upayakan mereka agar mereka benci kepada perhiasan dan agar mereka lebih takut pada keduanya ketimbang takut pada hewan buas.
  18. Orang tua harus membiasakan agar anak taat kepada kedua orang tua, dan pendidiknya. Biarkan dia bermain dengan permainan baik.

Menurut Ibn Miskawaih, semua hal yang disebutkan di atas sangat bermanfaat, tidak hanya bagi anak kecil, tetapi juga untuk anak-anak. Hal ini bermanfaat karena sikap-sikap seperti itu mendidik anak untuk cinta kepada kebajikan dan kemuliaan, serta untuk tumbuh berkembang dengan kebajikan dan kemuliaan tersebut. Akibatnya, dia akan mudah menjauhi kehinaan dan keburukan, dan mudah mengikuti ajaran filsafat. Dia akan terbiasa mengekang diri dari hawa nafsu yang senantiasa menggodanya, serta bisa menjaga diri agar tidak hanyut oleh kenikmatan jasmaniah. Sikap baik itu akan membawanya kepada martabat yang yang tinggi.[45]

 

PENDIDIKAN JIWA MANUSIA

Menurut Ibn Miskawaih, pendidikan jiwa itu seperti halnya pendidikan jasmani yakni menjaga kesehatannya selagi sehat dan memilihkannya jika sakit. Di dalam karyanya, Ibn Miskawaih menuliskan sejumlah metode guna mendidik jiwa agar tetap sehat, yakni:[46]

  1. Tidak bergaul dengan orang-orang yang jiwanya tidak baik dan tidak bajik. Seseorang jika ingin mendidik jiwanya harus menjauhi orang-orang keji yang suka pada kenikmatan-kenikmatan buruk, suka berbuat dosa, bangga, dan tenggelam dalam dosa. Bergaul dengan orang-orang seperti mereka akan membuat jiwa kotor sehingga tidak dapat dibersihkan kecuali melalui waktu yang sangat lama. Manusia harus bergaul dengan pemilik jiwa yang baik dan bajik, jiwa yang suka mencari kebajikan dan ingin memilikinya, jiwa yang rindu pada ilmu-ilmu hakiki serta pengetahuan yang sahih.
  2. Khusuk melaksanakan tugas yang berkenaan dengan pengetahuan dan praktik, suatu tugas yang tak boleh diabaikan, sehingga kedua hal itu dapat melayani jiwa. Karena itu, seseorang harus melatih diri dengan berfikir dan mempelajari ilmu-ilmu matematika. Selain itu, olah raga diperlukan untuk menjaga kesehatan tubuh.
  3. Senantiasa melakukan hal-hal di atas. Karena dengan berbuat demikian, seseungguhnya seseorang sedang menjaga nikmat tiada tara yang mulia sebagai anugrah bagi jiwanya.
  4. Seseorang harus merasa cukup jika telah memperoleh kebahagiaan eksternal dan tidak hidup secara berlebihan. Sebab kebahagiaan eksternal tidak ada batasnya. Jika seseorang masih berupaya memperoleh kebahagiaan eksternal yang lebih banyak lagi, maka orang tersebut akan mengalami bahaya yang tak ada habisnya.
  5. Seseorang dianjurkan untuk tidak menggelorakan fakultas hawa nafsu dan amarah-nya dengan cara mengingatkan dirinya akan apa yang didapatnya dari masing-masing fakultas tadi.
  6. Seseorang harus memperhatikan seluruh tindakan dan rencananya, serta organ-organ tubuh dan jiwa yang akan digunakannya untuk melaksanakan rencananya itu, agar dia tidak menggunakannya menurut kebiasaan yang menyimpang dari pikirannya.
  7. Seseorang harus senantiasa introspeksi diri. Dia harus tahu cela apa yang terdapat dalam dirinya.
  8. Seseorang harus mampu menjauhkan diri dari penyakit-penyakit jiwa dan bahkan harus mampu mengidentifikasi pelbagai penyakit jiwa serta cara penyembuhannya. Orang tersebut harus mengetahui penyebab, akibat dan cara menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa tersebut. Menurut Ibn Miskawaih, penyakit-penyakit jiwa itu tidak lain adalah kebalikan atau lawan dari kebajikan-kebajikan sebagaimana disebut di atas. Penyakit-penyakit jiwa itu adalah seperti bodoh, rakus, pengecut, dan lalim. Namun Ibn Miskawaih membagi lagi kejahatan dan kehinaan menjadi delapan bagian. Jumlah ini dua kali jumlah kebajikan yang empat. Kedelapan bagian itu adalah sembrono dan pengecut sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa berani. Kemudian memperturutkan hawa nafsu dan mengabaikan hawa nafsu sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa sederhana. Kemudian bodoh dan tolol sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa ‘arif. Dan lalim dan watak budak sebagai dua ujung dari satu titik tengah yang berupa adil. Kedelapan jenis penyakit jiwa ini bertolak belakang dengan empat kebajikan yang merupakan tanda kesehatan jiwa. Sebenarnya, di bawah penyakit-penyakit jiwa ini memiliki jenis-jenis penyakit lain yang tak terbatas. Perinciannya dapat dilihat beberapa contoh di bawah ini:

Marah

Menurut Ibn Miskawaih, marah juga merupakan salah satu bentuk penyakit jiwa. Penyebab marah ini adalah sombong, cekcok, meminta dengan sangat, bercanda, berolok-olok, mengejek, khianat, berbuat salah dan mencari hal-hal yang membawa kemasyhuran dan yang membuat manusia saling bersaing diri. Sifat marah ini menimbulkan hal-hal buruk seperti menyesal, mengharap dihukum cepat atau lambat, perubahan tempramen serta kepedihan. Sifat marah ini dapat disembuhkan dengan cara menyingkirkan sebab-sebab marah, melemahkan daya marah, menyabut substansi marah dan melindungi diri dari akibat-akibatnya. Selain itu, sifat marah dapat disembuhkan melalui cara menghentikan sikap melampaui batas.

Takut

Sebagai salah satu penyakit jiwa, sifat takut disebabkan oleh sejumlah hal, yakni merasa bakal terjadi sesuatu yang buruk, takut pada kejadian-kejadian yang bakan terjadi. Sebenarnya kejadian ini baru sebatas kemungkinan saja sehingga bisa terjadi dan bisa tidak terjadi. Karena itu jangan ditetapkan di dalam hati bahwa hal itu pasti terjadi, karena hal ini membuat kita takut. Inilah cara pengobatannya. Selain itu sifat takut disebabkan oleh pilihan buruk dan dosa sendiri. Hal ini dapat disembuhkan dengan jalan mengekang diri untuk tidak mengulangi perbuatan itu, tidak melakukan perbuatan bahaya, dan meninggalkan semua perbuatan keji yang kita cemaskan segala akibatnya. Ibn Miskawaih menyebutkan bahwa terkadang manusia itu takut tua dan takut mati. Untuk kasus takut tua, maka seseorang harus menyadari bahwa jika manusia menghendaki umur panjang, berarti dia pasti akan berusia tua dan mengantisipasinya bahwa hal itu akan terjadi. Untuk kasus takut mati, bahwa penyebab takut mati adalah orang tersebut tidak mengetahui hakikat jiwa, tidak tahu hakikat mati, menduga bahwa jiwa akan hancur bersama jasad, menduga ada penderitaan menyakitkan setelah kematian, dan adanya keyakinan ada siksa setelah mati. Penyembuhannya dapat dilakukan dengan memberikan pemahaman tentang hakikat jiwa dan hakikat mati.

Sedih

Sebagai salah satu penyakit jiwa, sifat sedih hati disebabkan hilangnya sesuatu yang dicintai dan gagal mendapatkan apa yang dicari. Hal ini karena seseorang serakah pada harta benda, haus pad nafsu badani, dan merasa rugi ketika salah satu dari itu semua hilang atau gagal diperoleh. Penyembuhannya dapat dilakukan melalui memberikan pemahaman tentang hakikat dirinya dan menjelaskan bahwa seluruh alam semesta akan hancur karena tidak kekal. Jika hal ini telah dilakukan, maka seseorang yang terkena penyakit sedih hati tidak akan sedih lagi. Jika sudah demikian, maka orang tersebut akan mengarahkan tujuannya bukan kepada hal-hal jasmaniah lagi, melainkan ke tujuan-tujuan suci dan hanya mencari kebaikan-kebaikan kekal saja.

PENUTUP

Pada bagian terdahulu, Penulis telah menjelaskan pokok-pokok pemikiran Ibn Miskawaih tentang hakikat jiwa, prinsip-prinsip Akhlaq, hakikat Akhlaq, Pendidikan akhlaq, dan pendidikan jiwa. Berdasarkan uraian-uraian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa Ibn Miskawaih benar-benar seorang filosof akhlaq yang handal. Uraian-uraiannya cukup filosofis dan mendalam. Karena itu sebagai sebuah apresiasi, generasi sekarang wajib memberikan penghargaan kepada filsuf yang satu ini. Penghargaan itu dapat berupa menjaga dan mengembangkan warisan pemikiran Ibn Miskawaih itu. Yang lebih penting lagi, sebesar-besar sebuah penghargaan adalah tidak mengadopsi pemikiran Klasik secara membabi buta tanpa diiringi sikap analitis-kritis, seraya mengajukan solusi kreatif dan alternatif. Wallahu A’lam bi al-Shawab

 

DAFTAR BACAAN

Al-Ahwani, Ahmad Fuad, Filsafat Islam, terjemahan Tim Pustaka Firdaus, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.

Ali, Yusnaril, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

Amin, Ahmad, Zuhr al-Islam, Juz II, Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1969.

Badawi, Abdurrahman,Miskawaih”, dalam, M.M. Sharif (ed.), A History of Muslim Philosophy, Vol. 1, Wiesbaden: Otto Harrosowitz, 1963.

Boer, T.J. De, The History of Philosophy in Islam, New York: Dover Publication, tt.

Dahlan, Abdul Azis,Filsafat”, dalam, Taufik Abdullah (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Daudy, Ahmad, Kuliah Filsafat Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1992.

______(ed.), Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Hitti, Philip K, History of the Arabs; From the Earliest Times to the Present, New York: Macmillan Press, 2002.

Iqbal, Muhammad, Metafisika Persia; Suatu Sumbangan untuk Sejarah Filsafat, terjemahan Joebar Ayoeb, Bandung: Mizan, 1990.

Jalaluddin, dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996.

Jum’ah, M. Luthfi, Tarikh Falsafah al-Islam, Mesir: tp, 1927.

Kamal, Zainun, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997).

Ibn Al-Khatib, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.

Labib, Muhsin, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Jakarta: Al Huda, 2005.

Leamen, Oliver, “Ibn Miskawaih”, dalam, Syed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terjemahan Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2003.

Madjid, Nurcholis, (ed.), Khazanah Intelektual Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1984.

Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.

Musa, Muhammad Yusuf, Bain al-Din wa al-Falsafah, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1971.

Nasution, Hasyimsyah, Filsafat Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999.

Sharif, M. M, Alam Fikiran Islam; Peranan Ummat Islam Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan, terjemahan Fuad Moh. Fachruddin, Bandung: CV Diponogoro, 1979.

_____, (ed.), Para Filosof Muslim, terjemahan Ilyas Hasan, Bandung: Mizan, 1999.

Souyb, Joesoef, Pemikiran Islam Merobah Dunia, Medan: Madju, 1984.

Zurayk, C. K, “Sebuah Pengantar”, dalam, Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terjemahan Helmi Hidayat, Bandung: Mizan, 1997.

 


[1]Ahmad Fuad Al-Ahwani, Filsafat Islam, terj. Tim Pustaka Firdaus, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995), hlm. 41.

[2]Ibid, hlm. 44-62.

[3] Baca: Philip K. Hitti, History of the Arabs; From the Earliest Times to the Present, (New York: Macmillan Press, 2002), hlm. 350-570.

[4] Baca: M. M Sharif, Alam Fikiran Islam; Peranan Ummat Islam Dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Terj. Fuad Moh. Fachruddin, (Bandung: CV Diponogoro, 1979).

[5] Sekedar melihat biografi dan pemikiran para filosof Muslim ini, lihat: Muhsin Labib, Para Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, (Jakarta: Al Huda, 2005); M.M. Syarif (ed.), Para Filosof Muslim, terj. Ilyas Hasan, (Bandung: Mizan, 1999); Ahmad Daudy (ed.), Segi-segi Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984); Nurcholis Madjid (ed.), Khazanah Intelektual Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

[6] M. Luthfi Jum’ah, Tarikh Falsafah al-Islam, (Mesir: tp, 1927), hlm. 304.

[7] Para penulis biografi berbeda pandangan dalam hal penentuan tahun lahirnya. Jalaluddin dan Usman Said menyatakan bahwa tokoh ini lahir pada tahun 330 H/940 M. Sementara Yusnaril Ali menuliskan bahwa tokoh ini lahir tahun 330 H/932 M. Ahmad Daudy hanya menyebut tahun hijriahnya yakni 330 H. Zainun Kamal menyebut tahun 330-921 H/421-1030 M. Sementara C.K. Zurayk menuliskan tahunnya 320 H/932 M. Sedangkan Ibn al-Khatib hanya menuliskan tahun wafatnya yakni 421 H/1030 M. Lihat, Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 135; Yusnaril Ali, Perkembangan Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hlm. 53; Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), hlm. 61; Zainun Kamal, “Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 13-14; C. K. Zurayk,Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 18; dan Ibn Al-Khatib, “Sebuah Pengantar”, dalam Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 26.

[8] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1999), hlm. 56.

[9] Labib, Para Filosof, hlm. 110.

[10] Ahmad Amin, Zuhr al-Islam, Juz II, (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1969), hlm. 66.

[11] T.J. D Boer, The History of Philosophy in Islam, (New York: Dover Publication, tt.), hlm. 128.

[12] Joesoef Souyb, Pemikiran Islam  Merobah Dunia, (Medan: Madju, 1984), hlm. 120.

[13] Oliver Leamen,Ibn Miskawaih”, dalam Syed Hossein Nasr dan Oliver Leamen (ed.), Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 310.

[14] Lihat: C.K. Zurayk,Sebuah Pengantar”, hlm. 18-19.

[15] Labib, Para Filosof, hlm. 110-111.

[16] Abdurrahman Badawi,Miskawaih”, dalam M.M. Sharif (ed), A History of Muslim Philosophy, vol. 1, (Wiesbaden: Otto Harrosowitz, 1963), hlm. 469-470.

[17] Labib, Para Filosof, hlm. 111.

[18] Muhammad Iqbal, Metafisika Persia; Suatu Sumbangan untuk Sejarah Filsafat, terj. Joebar Ayoeb, (Bandung: Mizan, 1990), hlm. 50.

[19] Hasyimsyah, Filsafat Islam, hlm. 62.

[20] Iqbal, Metafisika Persia, hlm. 55.

[21] Iqbal, Metafisika Persia, hlm. 56.

[22] Abdul Azis Dahlan,Filsafat”, dalam Taufik Abdullah (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Pemikiran dan Peradaban, (Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), hlm. 196-197; Souyb, Pemikiran Islam, hlm. 122.

[23] Ibn Miskawaih, Menuju Kesempurnaan Akhlaq; Buku Daras Pertama Tentang Filsafat Etika, terj. Helmi Hidayat, (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 35-37.

[24] Ibid, hlm. 37, 39.

[25] Ibid, hlm. 39.

[26] Ibid, hlm. 43-44.

[27] Ibid, hlm. 44.

[28] Ibid, hlm. 45.

[29] Ibid, hlm. 41.

[30] Ibid, hlm. 45-50.

[31] Ibid, hlm. 51-52.

[32] Ibid, hlm. 54.

[33] Ibid, hlm. 89-91.

[34] Ibid, hlm. 95-97.

[35] bid, hlm. 133-161.

[36] Ibid, hlm. 56.

[37] Ibid, hlm. 56-58.

[38] Ibid, hlm. 60.

[39] Ibid, hlm. 50.

[40] Ibid, hlm. 59-60.

[41] Ibid, hlm. 60-63.

[42] Ibid, hlm. 64-65.

[43] Ibid, hlm. 669-70

[44] Ibid, hlm. 70-81.

[45] Ibid, hlm. 80.

[46] Ibid, hlm. 162-195.

Keunggulan Syi’ah Imamiyah Dibidang Filsafat dan Akal

Albert Einstein (si jenius) mengklaim syi’ah sebagai mazhab yang penuh pertumbuhan sains dan teknologi  !  Fakta itu terbukti dizaman kita, MUI sudah gila jika tuduh syi’ah sesat !

Syi’ah akan maju pesat  karena doktrinnya relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Sains, kekuasaan dan moralitas sebagai satu kesatuan menurut syi’ah

Tauhid Ahlul Bait Mengandung Unsur Sains Iptek Yang Terintegrasi

syi’ah mengintegrasikan iptek/sains dan agama

“Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam” kata Albert Einstein

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklärung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis punya muatan seperti ini tidak bakal di mazhab lain. Hanya mazhab Syiah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas

ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. Kami  mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.

Berdasarkan laporan situs mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.

Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklärung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis punya muatan seperti ini tidak bakal di mazhab lain. Hanya mazhab Syiah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas. Sayangnya, kebanyakan ilmuannya tidak mengetahui hal itu.

Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan mikraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai.

Salah satu hadis yang menjadi sandarannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mikraj jasmani Rasulullah saw. Disebutkan, “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam Syiah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”.

E = M.C² >> M = E : C²

Artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berujud semula, hidup kembali.

Dalam suratnya kepada Ayatullah al-Uzma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior”, dan untuk menggembirakan ruh Prof. Hesabi (fisikawan dan murid satu-satunya Einstein asal Iran), ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam safety box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi), dengan alasan keamanan.

Risalah ini dibeli oleh Prof. Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga 3 juta dolar dari seorang penjual barang antik Yahudi. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Kantor berita Iran IRIB (24/9/2011)  melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. IRIB mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.
Berdasarkan laporan situs mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.
.
TERNYATA  ALBERT  EiNSTEiN PENGANUT   SYi’AH

Ketika media-media zionis berusaha mencegah peningkatan jumlah pemeluk baru Islam di kalangan masyarakat Barat dan berusaha mencoreng citra agama cinta damai dan keadilan ini, terungkap sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut Islam Syiah Imamiyah. Berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”

.
Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.
Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah
.
Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai
.

Benarkah Indonesia terbelakang dan miskin karena mayoritasnya penduduknya Muslim Sunni ? Benarkah Islam Sunni justru menghambat kemajuan peradaban? Apakah Indonesia memiliki pemimpin dan elite nasional yang bervisi cinta ilmu pengetahuan dan peradaban?

Adakah politisi dan elite nasional yang bervisi demikian? Ternyata tidak. Dengan menyesal harus kita katakan demikian. Buktinya, parpol dan para penguasa hanya mengejar kekuasaan belaka. Sementara para elite serta pemimpin nasional tak punya komitmen kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban seperti di zaman keemasan Islam dahulu.

Setidaknya itulah komentar Prof Dr Mulyadi Kartanegara, guru besar UIN Jakarta . Pandangan Mulyadi itu dibenarkan oleh Tisnaya Kartakusuma, Hans Satya Budi dan Abas Jauhari MA dosen UIN Ciputat, dalam seminar ‘Kontribusi Islam dan Jala Sutra dalam Ruang Peradaban Indonesia Raya’ yang dipandu akademisi muda PSIK Universitas Paramadina Herdi Sahrasad. Seminar diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina bersama Industry & Labor Watch, Jakarta

Mulyadi mengingatkan, perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan Dunia Islam-lah yang menyebabkan kebangkitan dan kemajuan Eropa setelah Barat lama dilanda abad kegelapan. Dan dewasa ini Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia, namun disebut oleh negara-negara Barat sebagai the sleeping giant (raksasa tidur) karena krisis peradaban.

“Jika Indonesia mau bangkit, maka penterjemahan dan alih bahasa naskah-naskah Islam klasik mutlak diperlukan untuk membangkitkan khasanah intelektual dan peradaban Islam,” tegas Mulyadi.

Tidak ada bangsa yang bangkit dan maju tanpa kebangkitan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Tradisi ilmiah Islam di masa lampau sangatlah kaya. Ibnu Sina menghasilkan karya tentang psikologi dan botani.

Memang ada perbedaan antara fisika Islam dan matematika Islam dengan yang di Barat. Kalau mereka hanya tahu yang dari Barat, maka mereka tidak tahu bahwa ada yang lain. Jika mereka kenal khazanah keilmuan pasti akan terkagum-kagum. Masalahnya, ilmuwan banyak yang kurang mengapresiasi keilmuan Islam karena mereka belum tahu.

Mulyadi, Tisnaya, Abas dan Hans menegaskan, dalam Islam itu ada ilmu rasional dan ilmu agama. Sejauh itu ilmu rasional, maka diskusi akan terjadi di sana . Tapi, ilmu rasional dalam Islam tidak boleh melanggar prinsip-prinsip keislaman, tauhid, keyakinan kepada hari akhir.

Jadi, kata Mulyadi, dalam upaya membangun peradaban maka kita harus membangun kurikulum pendidikan yang meliputi seluruh level eksistensi mulai dari yang fisik, matematik dan metafisik. Dengan tiga disiplin yang dirangkai itu maka kita akan memiliki pandangan yang holistik. Tidak seperti sekarang fisika, matematika, biologi berjalan sendiri-sendiri atau tidak saling berkaitan.

Dalam tradisi keilmuan Islam selalu ada hirarki. Misalnya, ilmu dibagi dua yakni naqliyah dan aqliyah. Dalam aqliyah ada nazhariyah dan amaliyah. Nazhariyah ada fisika, matematika dan metafisika. Kemudian, amaliyah ada etika, ekonomi dan politik. Tapi yang praktis tidak boleh dilepaskan dari yang teoritis.

Oleh karena itu, ada satu kesatuan yang holistik. Ilmu jiwa misalnya, dalam tradisi ilmiah Islam bisa menyatukan antara fisika dan metafisika. Masuk fisika ketika jiwanya masih dalam tubuh. Tapi ketika jiwanya sudah tidak ada dalam tubuh, maka masuk dalam metafisika.

Dalam hal ini, kata Mulyadi dan Tisnaya, betapa pentingnya universitas dan perpustakaan. Sejarah telah mencatat bahwa perpustakaan merupakan sebuah entitas yang tidak bisa di nafikkan dalam mendukung kemajuan intelektual sebuah komunitas. Setidaknya ini ditunjukkan oleh Harun al-Rasyid yang membangun Khizanah al-Hikmah.

Khizanah al-Hikmah ini lebih dari sekedar perpustakaan, namun juga merupakan pusat penelitian. Khizanah al-Hikmah yang kemudian oleh al-Makmun diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah pada tahun 815 M, pada masanya telah menyangga berbagai kegiatan ilmiah. Selain perpustakaan dan penelitian, juga sebagai tempat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.

Mulyadi menambahkan, sebagai contoh Ibnu Sina, yang merupakan seorang ahli kedokteran dan juga seorang filosof. Dengan buku terkenalnya, Al-Kanun, namanya dikenal dunia. Dan bukunya telah dijadikan rujukan ilmu kedokteran selama berabad-abad.

Uraian di atas merupakan sedikit contoh perkembangan keilmuan yang ada di dunia timur. Perpustakaan universitas di zaman keemasan Islam, yang banyak orang menyebutnya sebagai jantung universitas dan peradaban Islam era kekhalifahan, merupakan salah satu penyangga kegiatan keilmuan dan peradaban Islam masa itu. Sisa-sisanya bisa dilihat di Timur Tengah sampai sekarang. Apakah pemerintah mau melakukan itu semua? Kita belum tahu

Bismillah..BiMuhammad wa Aali Muhammad…

Lebih dari 14 abad yang lalu ketika Ilmu pengetahuan dalam era kegelapan jahiliah, barbar, primitif serta era perbudakan Islam hadir sebagai Bukti Kebesaran-NYA SWT melalui Jibril as.

Wahyu Kalamullah yg berisi petunjuk dan ilmu tentang ciptaan Allah, bagaimana bumi terbentuk, tumbuhan dan hewan serta manusia tercipta,bagaimana langit, awan, bulan, matahari, petir, hujan, serta seluruh yg ada dilangit & bumi diciptakan..
Sebagian besar umat islam tahu akan hal itu namun hanya berhenti pada BANGGA akan Islam namun kurang mau menelaah lebih dalam lagi hingga mampu memperkuat Iman melalui memperkuat keyakinan akan betapa Besar & Agung CiptaanNYA serta betapa Maha Besar dan Maha Kuasanya Allah SWT.14 abad yg lalu Islam telah menerangkan dan menjelaskan seluruh hal yang berada jauh diluar jangkauan akal bahkan khayal manusia yang bahkan baru-baru ini dalam abad 20an para Ilmuwan hanya mampu sedikit menguak keberadaan sebagian kecil dari Ilmu yg tercantum dan diajarkan Alqur’an melalui Nabi Saaw dan para Imam suci Ahlilbayth beliau (saww).

Dunia sains modern di awal abad ke-20 M dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan  Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan ini pada 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory). Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=mc2. Rumus teori relativitas yang begitu populer menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan. Selain itu, teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi

.
Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu, Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat

.
Inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan, dua pengamat yang bergerak relatif akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama. Meski begitu, isi hukum fisik akan terlihat sama oleh keduanya. Dengan ditemukannya teori relativitas, manusia bisa menjelaskan sifat-sifat materi dan struktur alam semesta.
“Pertama kali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas, yaitu sekitar tahun lalu 1905. Saya tidak dapat mengatakan secara eksak dari mana ide semacam ini muncul. Namun, saya yakin, ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak,” ungkap Einstein saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University pada 4 Desember 1922

.
Benarkah Einstein pencetus teori relativitas pertama? Di Barat sendiri, ada yang meragukan teori relativitas itu pertama kali ditemukan Einstein. Sebab, ada yang berpendapat bahwa teori relativitas pertama kali diungkapkan oleh Galileo Galilei dalam karyanya bertajuk Dialogue Concerning the World’s Two Chief Systems pada 1632

.
Teori relativitas merupakan revolusi dari ilmu matematika dan fisika. Sejatinya, 1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas, yaitu saintis dan filosof legendaris bernama Al-Kindi yang mencetuskan teori itu.
Sesungguhnya, tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al-Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu pasti sangat menguasai kitab suci Alquran. Sebab, tak diragukan lagi bahwa ayat-ayat Alquran mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini.
Aya-ayat Alquran yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutup-tutupi

.
Dalam Al-Falsafa al-Ula, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi itu telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era kekhalifahan Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman.
Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi

.
“Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al-Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al-Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.
Gagasan yang dilontarkan Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolut,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes, dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya.
Menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein

.
Dalam Al-Falsafa al-Ula, Al-Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar

.
“Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain,” tutur Al-Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat.
Menurut Einstein, tak ada hukum yang absolut dalam pengertian hukum tak terikat pada pengamat. Sebuah hukum, papar dia, harus dibuktikan melalui pengukuran. Al-Kindi menyatakan, seluruh fenomena fisik, seperti manusia menjadi dirinya, adalah relatif dan terbatas.
Meski setiap manusia tak terbatas dalam jumlah dan keberlangsungan, mereka terbatas; waktu, gerakan, benda, dan ruang yang juga terbatas. Einstein lagi-lagi mengamini pernyataan Al-Kindi yang dilontarkannya pada abad ke-11 M. “Eksistensi dunia ini terbatas meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein

.
Dengan teori itu, Al-Kindi tak hanya mencoba menjelaskan seluruh fenomena fisik. Namun, juga dia membuktikan eksistensi Tuhan. Karena, itu adalah konsekuensi logis dari teorinya. Di akhir hayatnya, Einsten pun mengakui eksistensi Tuhan. Teori relativitas yang diungkapkan kedua ilmuwan berbeda zaman itu pada dasarnya sama. Namun, penjelasan Einstein telah dibuktikan dengan sangat teliti

.
Bahkan, teori relativitasnya telah digunakan untuk pengembangan energi, bom atom, dan senjata nuklir pemusnah massal. Sedangkan, Al-Kindi mengungkapkan teorinya untuk membuktikan eksistensi Tuhan dan keesaan-Nya. Sayangnya, pemikiran cemerlang sang saintis Muslim tentang teori relativitas itu itu tak banyak diketahui. Sungguh sangat ironis, memang.
Relativitas dalam Alquran

Alam semesta raya ini selalu diselimuti misteri. Kitab suci Alquran yang diturunkan kepada umat manusia merupakan kuncinya. Allah SWT telah menjanjikan bahwa Alquran merupakan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Untuk membuka selimut misteri alam semesta itu, Sang Khalik memerintahkan manusia agar berpikir.
Berikut ini adalah beberapa ayat Alquran yang membuktikan teori relativitas itu.”…. Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS Alhajj: 47). “Dia mengatur urusan langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Assajdah: 5).
“Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS 70: 3-4). “Dan, kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Annaml: 88)

.
“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka, tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (QS 23: 122-114)

.
Karena kebenaran Alquran itu, konon di akhir hayatnya, Einsten secara diam-diam juga telah memeluk agama Islam. Dalam sebuah tulisan, Einstein mengakui kebenaran Alquran. “Alquran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Alquran adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar,” ungkap Einstein. Wallahualam.

Si Jenius dari Abad IX

Al-Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861).
Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani

.
Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, Al-Mu’tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan

.
Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam

.
Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Penemuan Albert Einstein

Tidak dapat dipungkiri bahwa Albert Einstein adalah salah seorang ilmuwan terkemuka abad 20. Salah seorang genius Fisika Teori penemu Teori Relativitas yang sangat terkenal itu. Teori ini membuat Hukum Newton yang telah berusia 300 tahun itu menjadi usang.

Selain itu dia juga mengembangkan teori lain. Beberapa di antaranya belum selesai dirumuskan ketika dia meninggal. Misalnya Teori Medan Terpadu. Teori yang memadukan antara hukum pergerakan planet dan pergerakan partikel atom ini hingga sekarang terkatung-katung nasibnya karena belum ada yang tampil untuk menyelesaikannya.

Pada kesempatan lain dia pernah melontarkan pernyataan paradoksal yang berpotensi mengantarkannya pada penemuan terbesarnya. Namun pernyataan ini pun terhenti di tengah jalan. Dia menyatakan :

“Hal yang paling tidak dapat dipahami tentang dunia adalah bahwa dunia dapat dipahami.”

Dengan pengetahuan yang dimilikinya dia dapat menghitung gerak benda-benda angkasa dengan akurat. Dia bisa dengan rinci menjelaskan perilaku partikel. Dia menemukan energi yang sangat dahsyat hanya dengan perhitungan di atas kertas. Hal ini menunjukkan bahwa dia dapat memahami dunia ini dengan lebih baik daripada kebanyakan orang.

Artinya dia bisa memahami berbagai hukum yang berlaku di alam semesta ini. Bintang-bintang yang seolah diletakkan secara acak itu ternyata terikat oleh hukum yang mengatur pergerakannya. Komet yang seolah tidak menentu kehadirannya itu ternyata melintasi garis edar yang bisa dihitung persamaannya..

Singkat kata alam semesta yang menakjubkan ini ternyata terikat oleh hukum yang bisa dipahami. Apalagi oleh orang-orang seperti Einstein ini. Hukum yang dalam Islam biasa disebut sebagai sunnatullah.

Memahami Alam Semesta

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencipatakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sangat presisi. Seluruh benda langit melintas pada garis edarnya dengan tertib selama jutaan tahun. Ini bisa terjadi karena keseimbangan yang berlaku atasnya sebagaimana telah dinyatakan didalam Al-Qur’an yang mulia :

“Dialah yang telah menciptakan 7 langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? Kemudian lihatlah lagi dan lagi, pandanganmu akan lelah dalam mencari sesuatu yang tidak seimbang.” [QS. Al-Mulk : 3-4]

Bayangkan kita sedang naik sepeda. Kalau kita tidak mampu menjaga keseimbangan, maka hanya dalam dua atau tiga kayuhan sepeda sudah akan rubuh. Namun begitu kita bisa menjaga sepeda tetap seimbang, maka kita bisa menempuh berpuluh-puluh kilometer dan tetap tegak.

Bisa kita bayangkan betapa seimbang alam semesta ini yang bisa bertahan selama berjuta-juta tahun. Seandainya keseimbangan itu terganggu sedikit saja niscaya akan runtuhlah alam semesta ini. Keseimbangan inilah yang mungkin telah memukau Einstein sehingga meluncurlah pernyataan sebgaimana tertulis di atas.

Pertanyaan berikutnya adalah : bagaimana hal ini bisa terjadi ?

Pembahasan tentang masalah ini telah begitu sering dilakukan. Saya khawatir akan membuat Anda bosan bila mengulanginya lagi. Kita lagnsung saja mengembalikannya kepada Al-Qur’an.

“Sekiranya ada di langit dan di bumi  tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Masa Sucilah Allah, pemilik ‘Arsy, dari segala yang mereka sifatkan kepada_Nya.” [QS. Al-Anbiyaa' : 22]

Kesimpulan saya, Einstein hanya membutuhkan satu langkah lagi untuk mencapai penemuan terbesarnya. Yaitu untuk menemukan Tuhannya yang Maha Esa. Yang bersendirian dalam menciptakan dan mengatur makhluknya.

Kemungkinan lain adalah dia sebenarnya telah menempuh langkah itu dan menemukan_Nya. Akan tetapi tidak diutarakan. Untuk suatu alasan yang tidak diketahui.


Kurang lebih 14 abad yang lalu Imam Ja’far Shadiq as berkata :

“Sesungguhnya dibalik matahari terdapat 40 matahari yang didalamnya terdapat Makhluq yang banyak, dan sesungguhnya dibalik Bulan terdapat 40 bulan yang didalamnya terdapat makhluq yang banyak yang tidak mengetahui apakah Allah SWT menciptakan Adam atau tidak”

Para Ilmuwan abad ini hanya mampu mengatakan :

“Dalam galaxi kita terdapat sekitar seratus lima puluh juta bintang tetap,sebagian diantaranya mirip matahari kita,oleh karenanya tidak ada bukti yang mendukung keyakinan bahwa Planet Bumi ini adalah satu-satunya planet yg memiliki kekhususan kekhususan”

Subhanallah..

Alam raya ini tidaklah dapat dibayangkan betapa luasnya,mereka yang menggunakan AKALnya mempelajari hanya mampu memperkirakan luasnya dengan ukuran jutaan tahun cahaya,satu tahun cahaya sama dengan 10 trilyun KM dan sampai dengan saat ini manusia hanya mampu mencapai pengetahuan tentang JARAK paling jauh puluhan bilyun tahun cahaya.

Dengan keterbatasan jarak pada puluhan bilyun tahun cahaya ilmuwan menemukan banyak sekali super gugus galaxi yang jumlahnya tak TERHITUNG.Bumi dan sekian banyak bintang yang kita saksikan kilaunya berada dalam galaxi bima sakti hanya bisa di ibaratkan:

” SEBUTIR KACANG TANAH DI TENGAH SAMUDERA BEBAS”…

mari kita pikirkan BETAPA KECILNYA yang kita pikir BESAR dan Betapa MAHA BESAR ALLAH SWT.
ALLAHU AKBAR…

Lalu sejenak mari RENUNGKAN tentang Rasulullah SAWW..

Ada dalam POSISI bagaimana KEBESARAN beliau SAWW….?

Beliau SAWW adalah Rahmatan Lil Aalamin…

Sementara Allah SWT berfirman “RahmatKU meliputi segala sesuatu “……

Segala sesuatu selainNYA adalah al Aaalamin,dan Rasulullah Muhammad SAWW adalah PUNCAK RAHMAT-NYA bagi SEMESTA ALAM…
Sungguh KEBESARAN Rasulullah SAWW pun tak mampu diukur oleh MakhluqNYA..

Maka tepat sekali jika Alqur’an mengatakan pada Ummat Muhammad SAWW :
Maka Nikmat manalagi dari Tuhanmu yang kalian DUSTAkan “

Allah SWT berfirman bhw Sesungguhnya Nabi SAWW tidak berbuat berbicara dengan dasar HAWA NAFSUnya melainkan adalah WAHYU yg diWAHYUKAN,semua gerak dan diam beliau SAWW adalah selalu dalam KONTROL WAHYU-NYA,semua nisbat ketidaksempurnaan Makhluq adalah jauh dari beliau SAWW

JIKA ALAM TAK MAMPU DIKETAHUI BERAPA DAN BAGAIMANA BESARNYA MAKA BAGAIMANA MUNGKIN RAHMAT-NYA BAGI ALAM YAKNI NABI SAWW MAMPU DIJANGKAU KEBESARANNYA OLEH AKAL YANG SERBA TERBATAS……

Kita diperintah untuk mengenal Allah SWT dalam menyembahNYA,mencintaiNYA, maka adalah hal yg Mutlaq harus ada bagi setiap muslim dalam beribadah adalah selalu berusaha mengenal Rasulullah SAWW,mengenal kebesaran beliau SAAW,mencintai beliau SAWW,sebagaimna FirmanNYA :

“Katakanlah (wahai Muhammad)..Jika kalian mencintai Allah,maka CINTAI lah aku niscaya Allah menCINTAI kalian “{QS.Ali Imran (3):31}

Nabi Muhammad SAWW bersabda bahwa:

“Tidaklah BERIMAN seorang hamba hingga aku lebih dicintainya dibanding dirinya,keluargaku lebih dicintainya dibanding keluarganya,dengan begitu mereka lebih mencintai keluargaku dibanding keluarganya dengannya mereka mencintaiku lebih dari diri diri mereka ”

(Biharul Anwar,XXVII hal 13 dan Kanzul Ummal hal 93 )

Bahwa Nabi SAWW bersabda:

Allah mewahyukan kpd seorg nabiNya: Bhw keZUHUDanmu dr dunia akan membawa ketenangan bgmu. Dan pemutusan hubungan dg semua makhluk (atas sgl keperluan), selain denganKu akan membawa kemuliaan dan kejayaan bgmu. Akan tetapi SUDAHKAH engkau MEMUSUHI seorg MUSUH karenaKU dan menCINTAI seorg wali karenaKU ?..

Mari sejenak merenung kembali,bagaimana posisi Nabi SAWW dan keluarga Suci nya (as) dalam Diri dan Hati kita dibandingkan harta,karier,istri/suami dan anak2 kita,dibandingkan dengan ambisi dan target2 pencapaian kita..?

Telah masukkah kita dalam KRITERIA ber IMAN seperti sabda Nabi SAWW tsb ?

Alannabiy Muhammad wa Aalihi Shalawatullah wasalaamuhu adada RahmatiKa kama tuhibbu hatta tardha Ya Rabb..

KETIKA SERINGKALI KITA TELAH MERASA “BENAR”…

BismillahBiMuhammad wa Aali Muhammad…

FIRMAN ALLAH SWT :
“Hai orang-orang beriman , mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan”
(QS. as-Shaff : 2-3).

Allah SWT berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(Surah an-Nisaa’ : 65 )

Rasulullah saww bersabda :
“Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali, mereka tidak akan terpisah hingga mereka bertemu denganku di telaga Haudh”
{Dalam Mustadrak ala Shahihain, oleh Al Hakim Naisaburi (Juz.3 hal.124 )}

RASULULLAH SAWW dari AWAL masa DAKWAHNYA telah bersabda :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan khalifahku sepeninggalku”.

Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Thalib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka :
“Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
Hadits tersebut juga banyak diriwayatkan dalam kitab ahlusunnah, seperti :1. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319.2. Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62.3. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15.4. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”. Dll

Rasulullah saww :
“Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah (berpemimpin) kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan.“
(Shahih Bukhari, jld 5, hl. 65, cetkn. Darul Fikr)

FirmanNya di dalam (Surah al-Maidah (5): 55):
“Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat dalam keadaaan rukuk.”

FirmanNYA SWT :
“Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yg berjihad dan bersabar diantara kamu dan agar kami menyatakan (baik/buruk) hal ikhwalmu”
( Q.S Muhammad 47:31 )
FirmanNYA SWT :
“Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam (Silm) Islam keseluruhannya. Janganlah kamu ikut langkah-langkah syaitan.”
(Surah al-Baqarah : 208)

Imam Ali as berkata:
“القرابة الی المودة احوج من المودة الی القرابة”
(alqarabatu ilal mawaddati ahwaju minal mawaddati ilal qarabah)

“Kedekatan itu lebih membutuhkan cinta daripada tuntutan cinta terhadap kedekatan.”
{Nahjul Balaghah: Alhikmah 308}

Ini berarti kita dituntut untuk lebih mencintai kekasih, keluarga, sanak saudara, tetangga, dan orang-orang disekitar kita. Karena mereka lebih dekat dengan kita. Kita dituntut untuk lebih peduli terhadap mereka, dan cinta adalah unsur yang tidak boleh dilupakan dalam hal ini. Namun di sisi lain, kita boleh jadi mencintai seseorang yang tidak dekat dengan kita. Sebagaimana jika seseorang mencintai atau mengidolakan seorang tokoh tekenal nun jauh di sana.

Namun kecintaan yang paling mulia dan tertinggi dalam Islam adalah kecintaan hamba terhadap Tuhannya.

FirmanNYA SWT :
“Jika ayah-ayah kalian, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah LEBIH KAMU CINTAI dari Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq.”
{Al-Quran surat At-Taubah ayat 24 }

SESUNGGUHNNYA KECINTAAN PADA AHLULBAIT DAN KEPEMIMPINAN IMAM ALI adalah AMANAH NABI SAWW DAN PERINTAH-NYA SWT….

Rasulullah saaw bersabda:
“لا ایمان من لا امانة له”
(laa imana man la amanata lah)“Maka tidak beriman orang yang tidak menjaga amanat.”

Rasulullah Saww bersabda :

“Wahai manusia sekalian! Allah adalah maulaku dan aku adalah maula kalian, maka barang siapa menganggap aku sebagai maulanya, maka ‘Ali ini (juga) adalah maulanya! “Ya Allah, cintailah siapa yang memperwalikannya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya.. !

(Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 118, 119, jilid 4, hlm. 281, 370, 372, 382, 383 dan jilid 5, hlm. 347, 370; al-Hakim, Mustadrak, jilid 3, hlm. 109; Sunan Ibnu Majah; al-Hakim al-Haskani, ibid., jilid 1, hlm. 190, 191; Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hlm. 209-213)

Rasulullah saww bersabda :
“Sekiranya manusia bersepakat mencintai Ali, niscaya Allah tidak menciptakan neraka”
( Muhammad Salih al-Hanafi, Kaukab al-Durriy, hlm.122).

lalu…ketika dengan yaqin kita MERASA dalam JALUR YG BENAR apakah otomatis KITA TELAH BENAR atau kita HANYA tahu KEBENARAN dan merasa menjadi TELAH PALING BENAR?…SUDAH BENAR KRITERIA CINTA YANG SERING KITA KLAIM ?….

Imam Khomeini qs berkata :

“Wahai makhluq yang malang,karena terlalu percaya pada dirimu sendiri dengan merasa telah berada pada kedudukan mulia sebagai Hamba-NYA seolah Rahmat-NYA adalah Hakmu,Allah SWT akan tunjukkan padamu bahwa jangankan ibadahmu dan kesalehanmu tak berguna bahkan semua amal yang kalian pandang sebagai pencapaian adalah justru SARANA mu menjauh dariNYA dan semua itu secara ironis menjadi penyebab kutukanNYA yang abadi bagimu”

“Kalian para pemilik ujb apapun busanamu telah merusak tatanan suci Pasukan Ilahi dalam batinmu sendiri,kalian cemari keImanan dengan kotoran najis yang lebih buruk dari akibat dosa maksiat dhahir,kalian pandang makhluqNYA berkasta-kasta seolah mereka lebih buruk darimu sementara kalian tak tahu bagaimana akhir hidup mereka juga akhir hidupmu sendiri,dalamm keadaan ini jika habis masamu maka kalian akan berpulang dalan keadaan Kufr,kesendirian Barzakh yang amat mengerikan menantimu sementara kekalnya Neraka bisa menjadi pasti bagimu”

“Engkau Makhluq yang malang merasa bangga karena telah mengingatNYA,menyebut-nyebut namaNYA dan para kekasihNYA,engkau lakukan semua aturan Akhlaq dan tidak melakukan apa2 yang diharamkanNYA,kalian bayangkan akhir Mulia…apakah bukan dalam kedaan DUSTA ketika kau shalat sedang engkau berkata semata-mata demi Allah ? bukankah shalatmu bermakna pencarian kepuasan batinmu hingga ketika terbangun dari shalat kau pandang sekeliling dan selainmu tak sebanding denganmu?”

“Wahai diri-diri…janganlah mengoceh terlalu banyak tentang Allah SWT,jangan kalian lebih2kan cintamu kepada Allah..Wahai Sufi..Wahai Filosof..wahai Faqih..Wahai Zahid dan Wahai para pemikir..Kalian makhluq malang yang tertipu oleh muslihat diri dan nafsu,kalian makhluq tanpa daya yang tersesat dalam dalam kemelut harapan palsu dan cinta diri…janganlah berpikir sebaik itu tentang dirimu,tanyailah hatimu sedang kemana menuju,sedang mencintaiNYA atau mencinta dirimu sendiri..tanyailah apakah hatimu Muwahhid atau justru musrik..lalu untuk apakah Ujb’mu ini? lalu untuk apa rasa tenang atau mungkin gembiramu?”

“Renungkanlah keadaanmu wahai manusia..pada mulanya kalian bukan apa2,tersembunyi dalam lipatan ketiadaan selama bermasa-masa yang bahkan lebih tak berarti daripada ketiadaan itu sendiri dan belum hadir dalam alam keberadaan…ketika Allah SWT ciptakanmu dalam keadaan paling berkekurangan,hina lagi tak berarti…bandingkanlah apa keadaanmu kini dan ingatlah bahwa ketika Allah berkehendak memanggilmu maka DIA SWT hanya memerintahkan kepada segenap dayamu agar menjadi lemah dan seluruh daya persepsimu agar berhenti dari Aktifitasnya,seluruh inderamu dimatikan fungsinya lalu beberapa jam kemudian bahkan sanak kerabatmu tak sanggup menahan bau busuk dari tubuhmu…lalu untuk apa sombongmu ?

PENUTUP…..

S.Ibnu Mustafa alHusayni:

“Segeralah Perhatikan dirimu wahai saudaraku,dalam keadaan seperti apa Jiwa,Raga serta amalmu..ketika Ujb’ dan Riya’ sebagai pondasi perilakumu maka takkan mungkin kalian mampu menahan sedikit celaan akan amal ibadah serta dirimu,gagasan yang tersembunyi halus dalam Batinmu hanyalah penghargaan dari MakhluqNYA sembari mengharap Pahala dariNYA..bukankah kalian sedang menyekutukanNYA dalam tujuan Amal ibadahmu ? bagaimana jika dalam keadaan Jiwa semacam ini secara tiba2 kalian harus kembali padaNYA,maka kalian berpulang dengan membawa bendera Dosa MakhluqNYA yang terkutuk Iblis “

{ Syarah 40 Hadits Akhlaq Imam Khomeini,S.Ibnu Mustafa Al Husayni}

FIRMAN-NYA SWT:

“Mereka yg mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yg paling baik diantaranya,mereka itulah orang2 yg telah diberi allah petunjuk & mereka itulah orang2 yg mempunyai akal.”

{Q.S.azumar[39]:18}

“Sesungguhnya engkau berada pada akhlaq yg agung ”

Muqoddimah Melihat perkembangan terakhir ummat Islam di Indonesia tergambar dgn jelas betapa merosotnya akhlaknya sebagian ummat Islam. Dekadensi moral terjadi terutama dikalangan remaja. Sementara pembendungannya masih berlarut-larut dan dgn konsep yg tidak jelas.

Rusaknya moral ummat tidak terlepas dari upaya jahat dari pihak luar ummat yg dgn sengaja menebarkan berbagai penyakit moral dan konsepsi agar ummat loyo dan berikutnya tumbang. Sehingga yg tadinya mayoritas menjadi minoritas dalam kualitas. Keadaan semakin buruk ketika pihak aparat terlibat dan melemahnya peran ulama` dan tokoh masyarakat.

Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas akhlak-nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik “Suatu bangsa sangat ditentukan kualita akhlak-nya jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.”

Hampir semua sektor kehidupan ummat mengalami krisis akhlak. Para mengalami pertikaian internal dan merebutkan vested interest dan jarang terkooptasi oleh kekuasaan yg dzalim. Para ulama`nya mengalami kemerosotan moral sehingga tidak lagi berjuang utk kepentingan ummat tetapi hanya kepentingan sesaat; mendukung status quo. Para pengusahanya melarikan diri dari tanggung jawab zakat infaq dan sedekah sehingga kedermawanan menjadi macet dan tidak jarang berinteraksi dgn sistem ribawi serta tidak mempedulikan lagi cara kerja yg haram atau halal. Para siswa dan mahasiswa terlibat banyak kasus pertikaian narkoba dan kenakalan remaja lainnya.

Kaum wanita muslimah terseret jauh kepada peradaban Barat dgn slogan kebebasan dan emansipasi yg berakibat kepada rusaknya moral mereka maka tak jarang mereka menjadi sasaran manusia berhidung belang dan tak jarang dijadikan komoditi murahan . Dan berbagai macam lapisan masyarakat muslim termasuk persoalan kaum miskin yg kurang sabar sehingga menjadi obyek garapan pihak lain termasuk seperti bentuk nyatanya pemurtadan semisal kristenisasi.

Pengertian akhlak Secara etimotogi bahasa akhlak dari akar bahasa Arab “khuluk” yg berarti tabiat muruah kebiasaan fithrah naluri dll . Secara epistemologi Syar’i  akhlak adalah sesuatu yg menggambarkan tentang perilaku seseorang yg terdapat dalam jiwa yg baik yg darinya keluar perbuatan secara mudah dan otomatis tanpa terpikir sebelumnya. Dan jika sumber perilaku itu didasari oleh perbuatan yg baik dan muliayang dapat dibenarkan oleh akal dan syariat maka ia dinamakan akhlak yg mulia nammun jika sebaliknya maka ia dinamakan akhlak yg tercela

Memang perlu dibedakan antara akhlak dan moral. Karena akhlak lbh didasari oleh faktor yg melibatkan kehendak sang pencipta sementara moral lbh penekanannya pada unsur manusiawinya. Sebagai contoh mengucapkan selamat natal kepada non muslim secara akhlak tidak dibenarkan tetapi secara moral itu biasa-biasa saja.

Sentral Akhlak Akhlak secara teoritis memang indah tapi secara praktek memerlukan kerja keras. Oleh krn itu Allah SWT mengutus Nabi SAW-Nya utk memberi contoh akhlak mulia kepada manusia.Pekerjaan itu dilakukan oleh Nabi SAW sebaik mungkin sehingga mendapat pujian dari Allah SWT “Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yg agung “. Bahkan Rasulullah SAW sendiri bersabda “Aku diutus utk menyempurnakan Akhlak“. Lebih dari itu beliau menempatkan muslim yg paling tinggi derajatnya adl yg paling baik akhlaknya. “Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin adl mereka yg paling bagus akhlaknya

Maka tak heran Aisyah mendiskripsikan Rasulullah SAW sebagai Al Qur`an berjalan ; “Akhlak Rasulullah SAW adl Al Qur`an“.

Cakupan Akhlak Mulia Dimensi akhlak dalam Islam mencakup beberapa hal yaitu ;

    Akhlak kepada Allah SWT dgn cara mencintai-Nya mensyukuri ni’mat-Nya malu kepada-Nya utk berbuat maksiat selalu bertaubat bertawakkal takut akan adzab-Nya dan senantiasa berharap akan rahmat-Nya.
    Akhlak kepada Rasulullah SAW dgn cara beradab dan menghormatinya mentaati dan mencintai beliau menjadi kaumnya sebagai perantara dalam segala aspek kehidupan banyak menyebut nama beliau menerima seluruh ajaran beliau menghidupkan sunnah-sunnah beliau dan lbh mencintai beliau daripada diri kita sendiri anak kita bapak kita dll.
    Akhlak terhadap Al Qur`an dgn cara membacanya dgn khusyuk tartil dan sesempurna mungkin sambil memahaminya menghapalnya dan mengamalkannya dalam kehidupan riil.
    Akhlak kepada makhluk Allah SWT mulai diri sendiri orangtua kerabat handaitaulan tetangga dan sesama mukmin sesuai dgn tuntunan Islam.
    Akhlak kepada orang kafir dgn cara membenci kekafiran mereka tetapi tetap berbuat adil kepada mereka berupa membalas kekejaman mereka atau memaafkannya dan berbuat baik kepada mereka secara manusiawi selama hal itu tidak bertentangan dgn syariat Islam dan mengajak mereka kepada Islam.
      Akhlak terhadap makhluk lain termasuk kepada menyayangi binatang yg tidak mengganggu menjga tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan melestarikannya dll.

Krisis Akhlak Apabila norma-norma akhlak mulia tidak dijalankan dgn baik bahkan cenderung dilanggar maka akan terjadi apa yg dinamakan krisis akhlak. Sebagai contoh kami kemukakan data-data terjadinya perusakan akhlak terutama kepada para remaja berupa narkoba shabu-shabu putow heroin ganja ecstasi morphin dll. Sasarannya mulai dari anak-anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi dari pengangguran sampai artis. Pengaruh buruk yg diperoleh adl dapat merusak hati dan otak meskipun pada tahap awal sipecandu merasa segar gembira fly tidak tidur dan merasa berani. Police watch Indonesia suatu LSM yg memantau keterlibatan polisi dalam jaringan penyimpangan menyebutkan bahwa 42% kasus narkoba terjadi dijakarta 58% terjadi diJawa Barat Bali Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur dan Sumatra Barat.

Jakarta Barat kawasan terbesar kasus narkoba krn dikawasan itu banyak terdapat tempat maksiat sisanya di Jakarta Pusat Jakarta Utara dan Jakarta Timur . Bahkan telah merambat kekota-kota kecil dan kampung-kampung.

Pembentengan dari krisis Akhlak Tentunya ummat Islam tidak berjaya kalau melepaskan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Makanya mereka harus kembali menghidupkan Islam sebagaimana yg telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan 12 imam ahlul bait

Kita harus kembali menghidupkan masjid sebagai pusat kegiatan ummat Islam. Memperkuat daya tahan rumah tangga dari ancaman dekadensi moral termasuk film-film ysng bobrok menjaga disiplin dan keamanan sekolah serta memberikan lingkungan materi agama yg cukup serta menjaga daya tahan lingkungan masyarakat dari berbagai arus perusakan dan penyesatan sekaligus mengaktifkan pemerintah utk membentengi masyarakat dari berbagai bentuk kemaksiatan.

Wallahu A`lam.


Pendahuluan

Pemikiran filsafat Islam, dalam makna luas, tampaknya memang belum berkembang dengan semestinya di tanah air. Pernyataan ini lahir dengan fakta bahwa belum pernah ada filsuf yang berasal dari warga negara Indonesia. Kalau melirik kembali sejarah bangsa Indonesia, sebenarnya pemikiran filosofis pernah hidup di negeri ini sehingga membuat peradaban Islam Nusantara mencapai titik klimaks. Sebut saja misalnya, pemikiran Hamzah Fanshuri (w. 1600 M), dan muridnya, Syamsuddin As-Sumatrani (w. 1630 M), telah dengan fasih mengembangkan ajaran Gnosis Ibn ‘Arabi (w. 1240 M). Aliran filsafat ‘Arabian’ ini adalah salah satu aliran filsafat terpenting di Dunia Islam. Tema utama dari aliran Gnosis ini adalah wahdatul wujud dan Insan Kamil. Ajaran Gnosis Ibn Arabi ini memadukan visi mistis dan rasional, selain banyak terminologi filsafat yang digunakan dalam aliran ini. Aliran ini berkembang di Nusantara pada abad-abad XVI-XVII M.

Sekaitan dengan itu, berarti pemikiran Hamzah Fanshuri dan para muridnya bisa dikatakan sebagai pemikiran filsafat Islam, meskipun pemikirannya ‘bercampur’ dengan ajaran Gnosis Ibn ‘Arabi. Dalam perspektif lain, banyak ahli memasukkan aliran Gnosis Ibn Arabi sebagai salah satu aliran filsafat Islam terbesar di Dunia Islam. Dengan alasan ini, maka Hamzah Fanshuri bisa dikatakan sebagai salah seorang filsuf Muslim pertama di tanah air. Pelekatan predikat filsuf ini kepada Hamzah Fanshuri tentu bisa memunculkan perdebatan yang panjang. Fakta historis ini membuktikan bahwa pemikiran filsafat Islam pernah mengalami kejayaan ketika negara Indonesia masih terdiri atas kerajaan-kerajaan sekitar abad XVI-XVII M. Sejak penduduk Nusantara dijajah oleh bangsa Eropa, bahkan hingga mereka berhasil meraih kemerdekaannya, pemikiran filsafat Islam semakin hilang dari perederannya, jika tidak ingin mengatakannya mati.

Hingga kini, pemikiran filsafat Islam memang mulai menyinari kembali bumi Indonesia dalam skala terbatas. Namun demikian, prosesnya masih dalam tahap gagasan awal. Sebagai sebuah gagasan awal, penumbuhan kembali pemikiran filsafat di Nusantara masih mengalami problematika serius. Selain minimnya para pakar filsafat Islam dalam arti yang sesungguhnya atau tidak adanya filsuf terkemuka di negeri ini, buku-buku daras filsafat Islam pun masih sangat minim dikarang oleh para pemikir Muslim di kawasan jambrut khatulistiwa ini. Bahkan kuantitas buku-buku filsafat klasik standart masih sangat terbatas, bahkan masih banyak belum diterjemahkan secara besar-besaran.

Dalam kasus terakhir, karya-karya pemikir lokal memang belum ada yang mengulas secara signifikan tentang tema-tema filsafat Islam. Sebagai sebuah bagian dari kajian filsafat Islam, karya-karya tentang epistemologi Islam pun sangat jarang ditemukan di Indonesia. Sekali lagi, karya-karya tentang epistemologi yang ada hanya masih berupa gagasan awal, sehingga harus terus dikembangkan lebih lanjut. Fenomena ini membuat para pelajar filsafat di Indonesia harus menggunakan karya-karya filsuf Muslim benua lain. Tragisnya lagi, tidak sedikit pelajar filsafat di negeri ini menggunakan karya-karya filsuf Barat, yang sebenarnya pandangan mereka memiliki sejumlah prinsip yang berbeda dengan ideologi Islam. Akan tetapi, usaha mereka dalam upaya mempelajari filsafat Islam dari karya pemikir luar itu tetap harus didukung, karena upaya mereka itu bisa dijadikan sebagai batu loncatan tahap awal menuju penumbuh-segaran kembali kajian filsafat Islam di kawasan Nusantara.

Di sinilah letak signifikansi kajian pemikiran Muthahhari tentang epistemologi Islam. Beliau memang belum pernah hadir secara fisik ke Indonesia, namun pemikirannya telah hadir di kawasan ini sejak era 1980-an. Bahkan pemikiran filsafatnya, terutama tentang masalah epistemologi, telah memperkaya khazanah pemikiran filsafat di Indonesia. Tentu saja, kajian ini secara langsung ataupun tidak langsung akan turut memperkaya karya-karya filsafat Islam yang telah ada, terutama karya tentang epistemologi Islam, di Nusantara. Tulisan  ini akan memfokuskan kajiannya kepada pemikiran epistemologi Murtadha Muthahhari.  Sebelum menguraikan pandangannya tentang hal ini, makalah ini akan berupaya memotret biografi tokoh dari negeri Mullah ini.

Sketsa Biografi

Murtadha Muthahhari, begitu nama lengkapnya, lahir 2 Februari 1919 di pojok dusun kecil yang bernama Fariman, propinsi Khurasan, Iran.[1] Nama ayahnya adalah Hujjatul Islam Muhammad Husein Muthahhari, salah seorang ‘ulama besar[2] di kampung halamannya. Keluarganya adalah keluarga Muslim yang menganut mazhab Syi’ah Itsna ‘Asyariyah Ushuliya’. Selain belajar ilmu dasar Islam seperti teologi kepada ayahnya, Muthahhari juga belajar di madrasah Fariman, sebuah madrasah tradisional yang mengajarkan membaca, menulis, juz ‘ammah, dan sastra Arab.[3] Pendidikan dasarnya ini berlangsung hingga beliau berusia sekitar dua belas tahun.

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, Muthahhari langsung berangkat ke Hawzah[4] Mashyad untuk melanjutkan studi religinya pada 1932. Hawzah Masyhad adalah salah satu pusat pendidikan keagamaan Syi’ah, selain Hawzah Qom (Iran); serta Hawzah Najaf dan Karbala di Irak. Di Hawzah Masyhad tersebut, Muthahhari telah menunjukkan kecerdasan dan keseriusan dalam upaya mempelajari ilmu-ilmu Islam.[5] Di sana, beliau juga telah menunjukkan minat besar terhadap filsafat dan Irfan. Selama di Masyhad, beliau banyak terinspirasi oleh kepribadian seorang filsuf Islam tradisional ternama kala itu, Mirza Mehdi Syahidi Razavi.[6]

Pada tahun 1936, Muthahhari meninggalkan Masyhad lalu berangkat ke Hawzah Qom guna melanjutkan studinya. Beliau hijrah ke kota Qom ini dikarenakan oleh beberapa faktor. Pertama, guru yang menjadi curahan perhatiannya, Mirza Mehdi Syahidi Razawi wafat pada tahun 1936. Kedua, Kemunduran yang dialami Hawzah Masyhad. Ketiga, adanya tekanan-tekanan destruktif dari pemerintah tirani yaitu raja Reza Khan, terhadap seluruh lembaga-lembaga keislaman, termasuk Hawzah Mashyad.[7] Kerajaan Persia kala itu menganggap bahwa eksistensi berbagai institusi Islam tersebut dapat mengganggu stabilitas politis negara.

Kepergiannya dari Masyhad bukannya tanpa bekas, sebab kota ini telah memberikan pengaruh intelektual bagi Muthahhari berupa kesadaran diri untuk mencintai ilmu sepanjang hayatnya. Kendati guru yang menjadi pusat perhatiannya itu wafat dan beliau belum cukup umur untuk mengikuti kuliah-kuliah yang disampaikan oleh guru tersebut, namun beliau telah menemukan kecintaan mendalam terhadap teologi, filsafat, dan Irfan.[8]

Pada tahun 1937, Muthahhari telah menetap di Qom.[9] Di kota ini, beliau menjadi salah satu pelajar agama yang cukup cerdas. Di kota ini, beliau pun sangat apresiatif terhadap mata pelajaran filsafat. Secara mendalam, beliau mempelajari ilmu ini melalui ‘Allamah Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’i. Gurunya ini mengenalkan kepada Muthahhari secara komprehensif tentang berbagai bentuk pemikiran sejak Aristoteles hingga Sartre. Thabathaba’i merupakan Mufassir, Teosof, dan Filosof terbesar pada abad ke-20 M. Sayyid Husein Nasr yang merupakan murid Thabathaba’i, mengungkapkan bahwa ‘Allamah Thabathaba’i memiliki kelebihan sebagai seorang Syaikh dalam bidang syari’ah dan ilmu-ilmu esoteris, sekaligus seorang Filosof terkemuka.[10] Selain belajar filsafat kepada Thabathaba’i, Muthahhari pun mempelajarinya dari Ayatullah Al-Astiyani, dan Syaikh Mahdi Al-Mazandarani.[11]

Pada tahun 1941, Muthahhari berangkat ke Isfahan untuk mempelajari kitab Nahjul Balaghah. Kitab ini merupakan kumpulan dari pidato dan surat-surat Imam pertama mazhab Syi’ah, Imam ‘Ali bin Abi Thalib. Kitab ini sangat sarat dengan pengetahuan filosofis dan spiritual. Karena itulah, beliau berminat mengkaji kitab ini, sehingga membuatnya harus menemui Mirza Ali Aqa Shirazi Isfahani di Isfahan. Mirza Ali adalah salah seorang guru yang memiliki otoritas untuk naskah-naskah Syi’ah Klasik, khususnya kitab Nahjul Balaghah.

Sebagai seorang pelajar filsafat, beliau telah banyak membaca kitab-kitab filsafat, seperti kitab Syarh-i Manzumah, sebuah naskah filosofis karya Mulla Hadi Sabzewari. Beliau mempelajari kitab tersebut di bawah bimbingan Imam Khomeini sejak tahun 1945. Muthahhari sangat memahami karya itu, sehingga beliau dikenal sebagai pensyarah buku Syarh-i Manzhumah tersebut. Kemudian pada tahun 1946, beliau mempelajari Kifayah Al Ushul, sebuah kitab hukum dari Akhun Khorasani di bawah bimbingan Imam Khomeini. Melalui kitab ini, kemudian beliau pun memulai komitmennya untuk mempelajari filsafat Marxisme. Kajian filsafatnya pun terus berjalan dengan mempelajari kitab Al-Asfar Al-Arba’ah karya Mulla Shadra. Beliau mulai mengkaji kitab ini sejak tahun 1949 di bawah asuhan Imam Khomeini. Teman sekelasnya dalam mempelajari kitab Mulla Shadra tersebut antara lain Ayatullah Montezari, Hajj Aqa Reza Shadr dan Hajj Aqa Mehdi Ha’eri. Pemahaman Muthahhari yang sangat baik tentang filsafat Shadra tersebut turut menjadikannya seorang ahli teosofi Mulla Shadra. Pada tahun 1950, Muthahhari pun mempelajari kitab filsafat Marxisme karya George Pulizer yang berjudul Introduction to Philosophy, tetapi hanya melalui terjemahannya dalam bahasa Persia. Di samping itu, bersama dengan Montezari dan Behesyty, Muthahhari juga mempelajari berbagai kitab filosofis karya dari Ibn Sina kepada ‘Allamah Thabathaba’i.[12]

Muthahhari juga mempelajari ilmu fiqih dan ushul fiqh di Qom. Dalam bidang ini, yang merupakan mata pelajaran pokok kurikulum tradisional di Hawzah, beliau mempelajarinya melalui Ayatullah Burujerdi, pengganti Syekh Abdul Karim Yazdi sebagai direktur lembaga pengajaran di Qom.[13] Tak cukup pada seorang guru, Muthahhari juga mendapatkan pelajaran tersebut dari Ayatullah Hujjat Kuhkamari, Ayatullah Sayyid Muhammad Damad, Ayatullah Sayyid Muhammad Reza Gulpayagani, dan Ayatullah Haji Sayyid Shadr Al-Din Shadr. Kesuksesannya dalam mempelajari mata pelajaran ini ditandai dengan kelulusannya pada ujian untuk meraih gelar Ayatullah[14] di hadapan para ulama besar seperti Ayatullah Shadr, Ayatullah Muhammad Muhaqqiq, dan Ayatullah Muhammad Hujjat.[15]

Selain itu, Muthahhari juga mempelajari ilmu Akhlaq. Pada tahun 1362 H, beliau berangkat ke kota Burujur untuk mengikuti pelajaran akhlaq dari Ayatullah Sayyid Hussein Burujerdi, yang ketika itu bermukim di sana. Setelah itu, beliau kembali ke kota Qom bersama gurunya tersebut pada bulan Muharram tahun 1364 H. Untuk mendalami ilmu ini, Muthahhari juga berguru kepada Syaikh Ali Al-Syirazi Al-Ishfahani.[16]

Tidak sampai di sini, Muthahhari pun mempelajari Irfan. Untuk itu, beliau berguru kepada Ayatullah Al-‘Uzhma Ruhullah Khomeini. Oleh karena Imam Khomeini juga seorang Marja-i Taqlid, Muthahhari pun mempelajari ilmu fiqih dan ushul fiqih darinya, di samping juga aktif mengikuti kuliah-kuliah filsafat yang digelar pemimpin Revolusi Islam Iran ini.[17]

Seperti ‘Allamah Thabathaba’i, Muthahhari juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan modern. Beliau cukup berantusias dalam mempelajari ilmu pengetahuan modern ini. Buku-buku yang ditulis oleh Will Durrant, Sigmund Freud, Bertrand Russel, Albert Einstein, Erich Fromm, Alexis Carrel, Charles Darwin, Immanuel Kant, dan pemikiran filosof Barat lainnya beliau telaah secara seksama dan serius. Kendati demikian, beliau tidak rendah diri dan malu-malu untuk lebih menonjolkan filsafat Islam. Ini dibuktikan dengan analisis-kritisnya terhadap pemikiran Barat Modern. Karena itulah, beliau dikenal sebagai salah satu kritikus filsafat Barat terkemuka pada masanya.

Kemudian, beliau pun juga menaruh perhatian khusus kepada filsafat Materialisme. Beliau mempelajari pengetahuan tersebut dari berbagai sumber sekunder. Pada tahun 1946, beliau mulai mempelajari filsafat Materialisme yang diperolehnya dari buku dan pamflet dalam bahasa Persia yang dibuat oleh partai Tudeh. Dia juga sering membaca karya-karya yang ditulis oleh ilmuan Partai Tudeh tersebut, seperti karya Taqi Arani, maupun penerbitan-penerbitan Marxis dalam bahasa Arab yang berasal dari Mesir.[18] Selain itu, beliau juga banyak mempelajari filsafat Materialisme dari Allamah Thabathaba’i, melalui sebuah diskusi rutin pada setiap hari Kamis. Diskusi tersebut berlangsung selama tiga tahun yaitu antara tahun 1950 sampai 1953, hingga menghasilkan sebuah buku berjudul Ushul el Filsafat wa Ravesh-e Realisme, karya ‘Allamah Thabathaba’i. Mutahhhari kemudian mengedit buku ini, sembari menambahkan banyak catatan sebagai syarahan terhadap buku itu. Karena itulah, buku tersebut menjadi lebih tebal dari naskah aslinya. Buku itu pun secara bertahap diterbitkan dalam rentang waktu antara tahun 1953 hingga 1985.

Pada masa berikutnya, Muthahhari berangkat ke Teheran pada tahun 1952. Di kota inilah beliau mulai membina rumah tangga dengan istri pilihannya. Istrinya tersebut adalah puteri dari seorang ‘ulama ternama bernama Ayatullah Ruhani.[19]

Demikianlah masa-masa di mana Muthahhari mengenyam pendidikan. Beliau tidak hanya mendalami sebuah disiplin ilmu, tetapi juga mencoba menguasai seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Tak pelak lagi, beliau pun berhasil. Keseriusannya dalam studi keagamaan telah menjadikan beliau seorang mujtahid, baik dalam bidang tafsir, fiqih, ushul fiqh, filsafat, maupun ‘Irfan.

Karir Akademis dan Politis

Muthahhari adalah sosok pemikir Islam Iran legendaris. Beliau berkecimpung tidak hanya dalam bidang akademis tetapi juga berperan secara aktif dalam bidang politik. Dalam bidang akademis, beliau sangat aktif memberikan pengajaran baik untuk para mahasiswa maupun masyarakat awam, selain banyak menulis buku-buku dalam bidang keilmuan yang beraneka ragam. Dalam bidang politik, beliau pun aktif berkecimpung dalam berbagai organisasi. Hal itu dilakukan dalam rangka berjuang menggulingkan pemerintahan tirani rezim Pahlevi, bersama para ‘ulama, mahasiswa, dan masyarakat Iran yang tertindas; di mana Imam Khomeini menjadi pemimpin mereka.

Sejarah telah mencatat bagaimana Muthahhari memberikan dedikasinya terhadap dunia pendidikan di Iran. Sejak tahun 1953, beliau mendirikan sebuah sekolah agama dan mengajar mata pelajaran filsafat[20], sebagai mata pelajaran favoritnya sejak masa mudanya. Sekolah bercorak keagamaan tersebut bernama Madrasa-yi Marvi.[21] Sekolah agama tersebut digunakan sebagai fasilitas untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, terutama filsafat, bagi para pemuda Islam Iran.

Namun itu bukanlah karir perdananya di bidang pendidikan. Sebab, beliau pun pernah mengajar pelbagai macam pengetahuan seperti filsafat, logika, teologi, dan fiqih pada saat masih berstatus pelajar di Qom. Beberapa tahun kemudian, beliau juga pernah diamanahkan untuk mengajar pengetahuan yang sama di fakultas Teologi dan Ilmu-Ilmu Keislaman, Universitas Teheran. Bahkan pihak universitas memberikan kepadanya jabatan strategis, seperti mengangkatnya menjadi Ketua Jurusan Filsafat di Universitas tersebut.[22] Beliau bergabung dengan Universitas itu sejak tahun 1954 hingga kelak diangkat menjadi guru besar filsafat[23]. Meskipun sebelumnya, pada tahun 1964, promosi gelar professor untuk Muthahhari ditolak. Ini tidak lain karena keterlibatan Muthahhari dalam bidang politik dengan mendukung revolusi politik Imam Khomeini. Tidak bisa dipungkiri pula bahwa beberapa koleganya di Universitas Teheran juga kurang menyukainya.[24]

Selain mengajar dan memberikan ceramah di berbagai tempat, Muthahhari juga aktif dalam kegiatan jurnalistik. Sejak tahun 1953, beliau menjadi penulis tetap di jurnal filsafat Al-Hikmah.[25] Dalam jurnal ilmiah tersebut, beliau mulai menyampaikan berbagai gagasan dan pemikiran briliannya. Tulisan-tulisannya memang banyak digemari oleh masyarakat, sehingga menjadikannya terkenal.

Selain aktif dalam bidang akademis, beliau juga aktif dalam bidang politik. Pada masanya, pemerintahan negara dikuasai oleh pemerintahan Pahlevi. Melihat kemungkaran yang terus dilakukan rezim itu, bersama Imam Khomeini dan masyarakat, beliau turut berjuang melawan kekuatan pemerintah yang tidak kecil. Karena oposisinya terhadap pemerintah ini, beliau bersama Imam Khomeini pernah dipenjarakan oleh pemerintah pada tahun 1963. Setelah Imam Khomeini di buang ke Turki, Muthahhari pun dibebaskan. Namun atas perintah Imam Khomeini, lantas Muthahhari memimpin perjuangan Revolusi Iran yang juga didukung masyarakat dan ‘ulama Iran. Selanjutnya, pada tahun 1971, beliau bertanggung jawab guna menentukan rencana-rencana politik ideologi di masjid Al-Jawad. Untuk mengambil berbagai kebijakan, beliau pun selalu meminta nasehat kepada Imam Khomeini, terutama dalam persoalan politik yang penting.[26]

Agar perjuangan politiknya semakin solid, maka Muthahhari pun aktif mendirikan organisasi. Beliau pernah mendirikan Husainiyah Irsyad bersama para koleganya. Organisasi ini adalah sebuah lembaga di Teheran Utara yang bertujuan merekrut kaum muda berpendidikan sekuler agar setia kepada Islam. Organisasi ini didirikan sejak tahun 1965.[27] Jauh sebelum organisasi ini berdiri, Muthahhari juga aktif mengikuti organisasi lain. Beliau pernah bergabung dengan Organisasi Keislaman Profesional yang berada di bawah pengawasan Mahdi Bazargan dan Ayatullah Taleqani. Organisasi ini menyelenggarakan berbagai kuliah kepada para anggota mereka seperti dokter, insinyur, serta dokter.[28] Kemudian, beliau pernah bergabung dengan organisasi ‘ulama Teheran bernama ‘Masyarakat Keagamaan Bulanan’ sejak tahun 1960. Beliau juga pernah diamanahkan untuk memimpin organisasi ini. Salah satu pengurus organisasi ini adalah teman kuliah Muthahhari di Qum, yaitu Ayatullah Behesyti. Para anggota kelompok ini mengorganisasikan kuliah-kuliah umum bulanan yang dirancang secara serempak, untuk memaparkan relevansi Islam dengan masalah-masalah kontemporer, dan untuk menstimulasikan pemikiran reformis di kalangan ‘ulama.Terakhir, Ayatullah Muthahhari pun juga pernah berkecimpung dengan organisasi ‘Jam’iyah Ulama Militan’, sebuah organisasi Islam penting waktu itu.[29] Melalui berbagai organisasi inilah, kelak Mutahhari semakin dikenal luas dan menjadi tokoh yang cukup diperhitungkan Pemerintah.

Aktifitas politik Muthahhari juga dapat dilihat dari perannya dalam mengisi panggung politik internasional. Pada tahun 1969, beliau bersama Ayatullah Zanjani dan ‘Allamah Thabathaba’i mengeluarkan pernyataan keras untuk mengutuk agresi pemerintah Amerika dan Israel ke Palestina. Tidak sekedar itu, beliau pun aktif mengumpulkan dana yang diperlukan oleh para pengungsi Palestina sejak agresi tersebut.[30]

Pemerintah akhirnya menilai bahwa aktifitas politis Muthahhari membahayakan stabilitas kekuasaan kerajaan. Karena itu, pada tahun 1972, kegiatan-kegiatan intelektual pusat-pusat kebudayaan Islam, terutama Husainiyah Irsyad dan mesjid Al-Jawad dilarang beraktifitas oleh rezim Shah. Akhirnya, beliau dipenjarakan untuk kesekian kalinya sebagai akibat kegiatan politiknya itu meski tidak lama kemudian beliau dibebaskan tanpa syarat.[31]

Menjelang kemenangan Revolusi Islam Iran, Muthahhari mendapat tugas mulia dari Imam Khomeini. Beliau ditugaskan untuk mengorganisir masyarakat ‘Ulama Mujahidin’ dan memimpin ‘Dewan Revolusi’. Setelah Revolusi Islam di Iran berhasil menggulingkan pemerintahan Pahlevi, Muthahhari tetap menjadi pembantu setia Imam Khomeini.[32] Muthahhari pun terus memberikan dedikasinya kepada masyarakat dan negaranya. Untuk itulah beliau tetap memimpin ‘Dewan Revolusi’.

Sebagai seorang politisi, tentu Muthahhari memiliki lawan politik. Sikap tegasnya dalam memperjuangkan Revolusi Islam dengan berbagai manuver politik, membuat lawannya gerah. Kelompok Furqan yang tidak menyukai Muthahhari, melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya. Rencana pembunuhan itu berhasil dilaksanakan pada hari selasa malam tanggal 1 Mei 1979, dan Muthahhari pun ditembak mati oleh kelompok tersebut. Peristiwa penembakan itu dilakukan pada saat Muthahhari ingin pulang ke rumahnya, setelah selesai mengadakan rapat di rumah Yadullah Shahabi, salah satu anggota Dewan Revolusi. Pada saat itu beliau berjalan sendirian menuju ke tempat parkir mobilnya. Belum sampai ke mobilnya, beliau mendengar suara asing memanggilnya. Ketika beliau melirik ke arah suara tersebut, seketika sebuah peluru menembus kepalanya, masuk di bawah cuping telinga kanan dan keluar di atas alis mata kiri. Beliau memang sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun beliau telah syahid dalam perjalanan.[33]

Muthahhari pun tidak dapat mengabdi kepada bangsanya lagi. Pada hari rabu, tanggal 2 Mei 1979, negara Iran berkabung. Para penyiar radio dengan suara perlahan mengumumkan syahidnya Muthahhari diiringi pembacaan beberapa petikan dari tulisannya.[34] Beliau pun disemayamkan di rumah sakit. Hingga hari kamis, di tengah-tengah perkabungan luas, jasadnya dibawa ke beberapa tempat untuk dishalatkan. Yang pertama sekali ke Universitas Teheran, lalu ke Qom, untuk kemudian dimakamkan di sebelah makam Syaikh Abdul Karim Ha’iri Yazdi, yang juga tidak jauh dari makam Sayyidah Fathimah Al-Ma’shumah.[35]

Sebuah poster pernah dibuat untuk mengabadikan sosok Muthahhari. Poster itu bergambar seorang yang wajah bercambang dengan kacamata tebal dan lingkaran sorban menyeruak di sela buku tebal dan menara mesjid pada latar belakang, juga ada merpati yang tengah terbang dengan punggung dihiasi sabda Rasulullah SAW; Tinta ‘ulama lebih utama dari pada darah segar Syuhada’.[36]

Meskipun secara fisik telah tiada, namun secara intelektual Muthahhari tetap hidup. Sebab, kini buah fikirnya tetap hidup dalam menghiasi blantika pemikiran Islam Kontemporer. Beberapa karya tulisnya adalah seperti: A Discourse in the Islamic Republic; Al-‘Adl Al-Ilahiy; Al-‘Adl fi Al-Islam; Akhlaq; Allah fi Hayat al-Insan; An Introduction to ‘Ilm Kalam; An Introduction to ‘Irfan; Attitude and Conduct of Prophet Muhammad; The Burning of Library in Iran and Alexandria; The Concept of Islamic Republic (An Analysis of the Revolution in Iran); Al-Dawafi’ Nahw Al Maddiyah; Al-Dhawabit Al-Khuluqiyah li al Suluk al Jins; Durus min Al-Quran, The End of Prophethood; Eternal Life; Extracts from Speeches of Ayatullah Muthahhari; Glimses on Nahj al-Balaghah; Fi Rihab Nahj al-Balaghah; The Goal of Life; Al-Hadaf al-Samiy li al Hayat al-Insan; Happiness; History and Human Evolution; Human Being in the Quran; Ijtihad in the Imamiyah Tradition; Ijtihad fi al Islam; Al Imdad al-Ghaybi; Al-Islam wa Iran; Islam Movement of the Twentieth Century; ‘Isyrun Haditsan; Jihad; Jurisprudence and its Principles; Logic; Al-Malaqat al-Falsafiyah; Man and Faith; Man and His Destiny; Al-Insan wa al-Qadr; Mans Social Evolution; Al-Takamul al-Ijtima’iy li al Insan; Maqalat Islamiyah; The Martyr; Al Syahid Yatahaddats ‘an Al Syahid; Master and Mastership; Wilayah; The Sation of the Master; Al- Waly wal- Wilayah; Al Naby Al Ummy; The Nature of Imam Husein’s Movement; Haqiqah al-Nahdhah al-Huseiniyah; On the Islamic al-Hijab; Mas’alah al-Hijab; Philosophy; Polarization around the character of Ali bin Abi Thalib; Qashash al-Abrar; Religion and the World;, Recpecting Rights and Despising the World; Ihtiram al-Huquq wa Tahqir al-Dunya; Reviving Islamic Ethos; Ihya al-Fikr al-Diniy; Right of Woman in Islam; Huquq al-Mar’ah fi’al Islam; The Role of Ijtihad in Legislation; The Role of Reason in Ijtihad; The Saviour’s Revolution; Al-Mahdiy wa Falsafah al-Tarikh; Sexual Etichs in Islam; Al-Suluk al-Jinsy baina al-Islam wa al-Gharb; Society and History; Social and Historical Change; Al-Mujtama’ wa al Tarikh; Spirit, Matter, and Life; Spiritual Sayings; Al-Tafkir fi al-Tashawwur al-Islami; Al-Takamul al-Ijtima’iy al-Insan; Al-Tahsil, Al-Taqwa, Understanding the Quran; Ushul Falsafah wa Madzhab al-Waqi’iy; The World View of Tawhid; Al Mafhum al-Tawhidiy li al-‘Alam; dan Al-Wahy wa an Nubuwah.[37] Yang perlu di catat, ini hanya merupakan sebagian dari karya Muthahhari. Masih banyak karya lain dari tokoh ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu dalam makalah ini. Ini pula membuktikan bahwa meskipun beliau disibukkan oleh perjuangan Revolusi Islam Iran, di samping aktifitas lainnya, namun beliau tetap menyempatkan diri untuk menggoreskan pemikirannya ke dalam sebuah kertas putih.

Metode Berfikir

Setiap pemikir besar memiliki metode berfikir tertentu dalam setiap wujud pemikirannya. Metode berfikir itu biasanya mewarnai seluruh hasil pemikirannya, dan bahkan merupakan ‘akar tunggal’ dari seluruh pendekatan dan gagasan yang dikedepankannya.[38] Demikian pula dengan Ayatullah Muthahhari, yang secara pasti memiliki sebuah metode berfikir tertentu.

Umum dikenal bahwa pada abad XX, Hawzah Qom telah diwarnai beberapa akademi.[39] Salah satu dari beberapa akademi tersebut adalah akademi “Rasionalisme-Tekstualisme”. Dalam hal ini, Muhsin Labib menerangkan bahwa Muthahhari sebagai salah satu pemikir besar Iran, termasuk ke dalam aliran pemikiran atau akademi tersebut.[40] Kenyataan ini juga yang memberikan gambaran bahwa corak berfikir Muthahhari adalah Rasionalisme-Tekstualisme.

Akademi ini adalah sebuah aliran yang menjadikan rasio (akal) sebagai landasan pemikiran dan menggunakan teks-teks agama sebagai argumen pembenar dari landasan yang telah dikonstruk oleh akal tersebut. Metode berfikir ini memang sangat kentara dalam berbagai karya Muthahhari. Dalam berbagai karyanya yang terkenal itu tampak bahwa beliau memang senantiasa memulai pembahasan dengan menggunakan dalil-dalil rasional dan pada akhirnya, untuk mendukung pemikirannya itu, beliau menggunakan teks-teks agama.

Dalam konteks ini, bahwa tampak Muthahhari sangat cukup apresiatif terhadap akal. Beliau selalu menggunakan dalil-dalil akal (dalil aqli) dalam membahas sebuah permasalahan. Setelah itu, beliau pun mencari dalil-dalil wahyu (dalil naqli) untuk mendukung pemikiran yang telah dibangunnya melalui akal tersebut. Sebab itulah, sebagaimana diungkap Muhammad Ja’far, bahwa filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu yang berdiri di atas fundamental kekuatan nalar rasio, mendapatkan tempat yang cukup istimewa dalam semua lini konsepsi pemikiran Muthahhari. Kendati begitu, bukan berarti sosok Muthahhari mengesampingkan nash-nash agama dan dimensi spiritualitas serta hanya bertumpu pada rasio belaka. Beliau pun mengecam pemikir yang hanya sepenuhnya bertumpu dan berorientasi pada akal atau rasio, tanpa mempertimbangkan nash-nash agama dan spiritualitas.[41] Boleh jadi sikap Muthahhari ini ingin membuktikan bahwa dalil-dalil akal tidak bertolak belakang dengan nash-nash agama, tetapi memiliki kaitan erat, bahkan saling mendukung.

Gagasannya Tentang Epistemologi

Kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata ‘episteme’, yang bermakna ‘ilmu’. Epistemologi ini dikenal sebagai cabang filsafat yang mengkaji segala sesuatu yang terkait dengan pengetahuan, seperti tabi’at dasar, sifat, jenis-jenis, obyek, struktur, asal mula, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.[42] Hal ini terkait dengan tiga jenis pendekatan yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.  Apabila ontologi membicarakan tentang ke-apa-an (mahiyah) dan ke-ada-an (wujud), dan aksiologi membicarakan kegunaan sesuatu, maka epistemologi membicarakan dua hal yaitu sumber dan cara memperoleh sesuatu. Epistemologi membicarakan pembagian, hakikat, metode, dan sumber ilmu. Sebenarnya, pembahasan tentang epistemologi ini cukup luas dan dalam. Karenanya, tulisan ini hanya mengulas pemikiran Muthahhari tentang signifikansi kajian epistemologi, kemungkinan epistemologi, klasifikasi ilmu, sumber dan alat epistemologi, dan karakteristik pengetahuan indrawi dan rasio.

  1. 1. Signifikansi Kajian Epistemologi

Ketika masih hidup, Muthahhari sering mengadakan berbagai ceramah yang tidak hanya dihadiri para pemuda Iran, namun juga para mahasiswa. Secara kuantitas, jumlah mereka bisa mencapai ribuan orang. Pada tahun 1977 M, beliau memberikan ceramah-ceramah tentang epistemologi di Teheran. Ceramah-ceramah ini telah menghasilkan sebuah buku berjudul “Mas’ale-ye Syenokh” (masalah epistemologi). Selain buku tersebut, Muthahhari pun telah menghasilkan buku lain tentang pembahasan yang sama berjudul “Syenokh Dar Quran” (Epistemologi dalam al-Quran). Muthahhari pun pernah menulis buku syarahan atas kitab “Syarh  Manzhumah” karya Mulla Hadi Sabzewari. Jilid ketiga buku syarahan ini menguraikan pula tentang masalah epistemologi, dan kajian hanya mengkonsentrasikan tentang masalah ma’qulat awwali dan ma’qulat tsani. Selain itu, Muthahhari pun membuat syarah atas kitab gurunya, Allamah Thabathaba’i, yang berjudul Usus-e Falsafah wa Rawisy-e Rialism. Syarahan Muthahhari atas kitab ini malah membuat kitab ini lebih tebal dari naskah aslinya. Dalam syarahannya atas kitab ini, Muthahhari menuliskan pula pandangannya tentang epistemologi. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Muthahhari memang sangat concern terhadap masalah epistemologi.

Patut mendapat catatan, meskipun buku-buku karya Muthahhari di atas sama-sama membahas tentang masalah epistemologi, namun Muthahhari menggunakan pendekatan yang berbeda-beda dalam mengulas masalah tersebut dalam masing-masing buku. Dalam kitab “Mas’ale-ye Syenokh”, selain menggunakan pendekatan Qurani, Muthahhari menggunakan pendekatan psikologi. Dalam kitab “Syenokh Dar Quran”, ia malah cenderung membahas epistemologi dengan pendekatan Qurani semata. Dalam kitab syarahannya atas kitab “Syarh  Manzhumah”, dan kitab Usus-e Falsafah wa Rawisy-e Rialism, Muthahhari hanya membahas tema epistemologi dengan menggunakan pendekatan filosofis.[43]

Pada dasarnya, Muthahhari masih memiliki banyak buku yang berkaitan dengan masalah epistemologi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Masing-masing buku ini pun, seperti halnya buku-buku di atas, menggunakan pendekatan yang saling berbeda dalam membahas masalah epistemologi. Banyaknya buku Muthahhari yang membahas masalah epistemologi mengindikasikan bahwa bagi tokoh ini kajian epistemologi sangat penting. Pembahasan epistemologi dengan menggunakan pendekatan yang berbeda-beda ini menunjukkan bahwa tokoh ini sangat piawai dan cerdas, bahkan menguasai penuh konsep-konsep epistemologi secara mendalam.

Keberadaan buku “Mas’ale-ye Syenokh” memiliki latar belakang yang panjang. Sejak Muthahhari menggelar ceramah tentang epistemologi 1977 M di Teheran, di mana ceramah itu dihadiri oleh ribuan pemuda dan mahasiswa Iran, pemerintah Iran melarang Muthahhari berceramah lagi. Bahkan larangan ini sudah dinyatakan pemerintah pada tahun 1974 M. Namun Muthahhari tidak mengindahkan larangan ini. Bukan karena Muthahari membahas tema epistemologi yang membuat pemerintah melarangnya berceramah lagi di depan publik, namun pertimbangan pemerintah adalah kuantitas massa yang mendengarkan ceramah Muthahhari tersebut. Dalam kondisi politik dalam negeri yang sedang tidak stabil, aktifitas Muthahhari ini jelas menaruh kecurigaan besar dari pihak pemerintah. Bagi pemerintah, bagaimana mungkin sebuah ceramah ilmiah dihadiri oleh ribuan massa. Karena berfikir seperti ini, maka pemerintah akhirnya menganggap aktifitas ceramah Muthahhari ini sebagai gerakan politik guna melawan kekuasaan pemerintah.

Yang menarik perhatian adalah mengapa Muthahhari tetap memaksakan diri untuk menyampaikan ceramah tentang epistemologi Islam pada tahun 1977 M, sementara sejak tahun 1974 M pemerintah Iran telah melarangnya berceramah di hadapan publik?. Tentu saja ada suatu misi besar di balik sikap Muthahhari tersebut.

Muthahhari bisa dikatakan sebagai sosok pejuang di panggung pemikiran Islam dan mengenal zamannya. Pada masa hidupnya, berbagai pemikiran asing telah merasuki jiwa masyarakat Iran, terutama pemikiran para pemudanya. Pada masa itu, para konstituen Marxisme cukup gencar melakukan reformasi di bidang kebudayaan. Mereka pun berupaya menanamkan benih-benih Marxisme di segala aspek kehidupan masyarakat. Ironinya, pihak dinasti Pahlevi malah memberikan dukungan terhadap upaya mereka. Pihak dinasti Pahlevi berharap aktifitas mereka dapat terus memperlemah gerakan Islam khususnya kaum Mullah di Iran. Senyatanya, lambat-laun pemikiran Marxisme memperoleh tempat di hari sebagian besar masyarakat, khususnya para pemuda Iran.  Melihat fenomena ini, di mana Marxisme begitu berkembang pesat, sejumlah pihak mulai merasa gerah, namun mereka ini belum mampu memberikan solusi yang cepat dan tepat. Kala itu, para pemuda Muslim menjadi sasaran para konstituen Marxisme. Karena tidak memiliki basis pemikiran yang kuat, para pemuda tersebut tidak mampu mematahkan berbagai keraguan yang ditanamkan oleh para pengikut Marxisme. Biasanya, para pendukung Marxisme itu menabur keraguan dalam diri pemuda Islam Iran terhadap ajaran agama Islam.

Benar bahwa karena kondisi seperti inilah Muthahhari merasa terpanggil untuk membela Islam dan bangsa Iran. Beliau memang merasakan bahwa pemikiran asing itu sudah cukup menyebar luas di kalangan masyarakat dan semakin lama semakin kuat. Beberapa segmen masyarakat pun telah dipengaruhi oleh pemikiran tersebut. Sementara itu, para ‘ulama dan cendekiawan Muslim belum mampu memberikan perlawanan intelektual terhadap filsafat Marxisme itu, apalagi solusi alternatif. Selain ‘Allamah Thabathaba’i dan Muthahhari, hanya sebagian kecil pelajar yang memahami dengan baik filsafat Materialisme, terutama Marxisme. Karena itulah, meski sudah dilarang ceramah sejak tahun 1974 M, dan demi tegaknya ajaran Islam, beliau pun akhirnya menyempatkan diri untuk memberikan ceramah-ceramah sepanjang tahun 1977 M.

Tema dari pelbagai ceramahnya itu tidak lain adalah masalah epistemologi. Tentu saja, ada alasan dari pemilihan topik ini bila dilihat dari kondisi dalam negeri Iran. Dalam memilih topik ini, tentu Muthahhari memiliki kepentingan dan tujuan. Beliau menilai bahwa kajian epistemologi Islam pada masa itu sangat penting, selain memiliki arti dan pengaruh khusus. Signifikansinya adalah untuk membuktikan kerapuhan berbagai pemikiran asing, terutama Marxisme. Untuk mematahkan pemikiran filsafat Marxisme, masyarakat Iran harus memahami epistemologi Islam secara memadai. Sebagai solusi, Muthahhari menawarkan pemikiran Islam sebagai solusi alternatif. Pada berbagai ceramahnya itu, beliau membuktikan betapa kokohnya pemikiran Islam dan rapuhnya pemikiran asing.

Namun sebuah keputusan yang diambil seorang anak manusia akan melahirkan resiko, baik bersifat positif maupun negatif. Karena Muthahhari telah dilarang berceramah sejak tahun 1974 M, namun beliau tetap melakukan aktifitas ini. Sebab itulah, pemerintah Iran segera menangkap Muthahhari, kendati atas desakan masyarakat Iran, akhirnya Muthahhari dibebaskan.

Demikian sebuah sikap tegas dari Muthahhari. Beliau berpendapat bahwa masyarakat Muslim Iran memerlukan pelajaran epistemologi Islam, karena memiliki nilai guna dalam membendung arus pemikiran asing. Apabila masyarakat Muslim mampu memahami epistemologi Islam secara benar, maka mereka akan dengan mudah mengkritisi sembari mematahkan argumentasi-argumentasi filsafat asing seperti Marxisme. Karena itulah, Muthahhari banyak memberi ceramah dan menulis tentang masalah epistemologi perspektif Islam. Barangkali, sikap dan pandangan Muthahhari ini bisa dijadikan signifikansi bentuk pertama dari kajian epistemologi.

Secara lebih tegas, Muthahhari menuturkan bahwa “masalah epistemologi merupakan masalah yang cukup penting untuk dibincangkan saat ini, bahkan jarang ada sebuah permasalahan sepenting masalah epistemologi”.[44] Pandangannya ini tentu tidak terlepas dari konteks kehidupan masyarakat Iran ketika Muthahhari masih hidup. Seperti uraian di atas, pada masa pemerintahan dinasti Pahlevi, pelbagai pemikiran asing terutama Marxisme telah menyusup dengan sukses ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Karena itulah, kajian epistemologi cukup penting diadakan saat itu.

Signifikansi kedua dari kajian epistemologi bagi murid Imam Khomeini ini adalah bahwa karena setiap individu ingin memiliki suatu bentuk ideologi sebagai landasan hidupnya sehingga masalah epistemologi menjadi penting. Biasanya, setiap individu memiliki ideologi yang saling berbeda satu sama lainnya. Tentu saja masing-masing individu tersebut akan mempertahankan ideologinya itu. Tidak jarang, perbedaan itu akan melahirkan pertikaian dan perselisihan antar penganut ideologi.[45]

Menurut Muthahhari, bahwa ideologi merupakan hasil dari pandangan alam, sedangkan pandangan alam itu adalah hasil dari kajian epistemologi.[46] Di sinilah mulai tampak bahwa betapa penting kajian epistemologi itu. Menurutnya, sebelum membahas masalah ideologi, seseorang mesti membahas masalah epistemologi. Karena kajian epistemologi melahirkan pandangan alam (ontologi), dan pandangan alam akan melahirkan ideologi tersebut.[47] Beliau menulis:

Sebelum kita menuju pada alam dan mengatakan bahwa alam itu adalah semacam ini atau semacam itu, dan sebelum kita menuju pada permasalahan ideologi yang ini, atau yang itu adalah benar, terlebih dahulu kita mesti menuju kepada epistemologi. Kita mesti saksikan bersama, manakah epistemologi yang benar, dan manakah yang salah, serta apa sebenarnya epistemologi yang betul dan salah itu.[48]

Dengan demikian, Muthahhari berpandangan bahwa setiap individu akan mampu memilih ideologi tertentu melalui perantaraan epistemologi. Melalui epistemologi pula, setiap individu akan mampu mengkritisi setiap ideologi yang ada, sehingga individu itu mampu memilah mana yang benar dan mana yang salah. Pada akhirnya, setiap individu akan memiliki ideologi yang terbaik sebagai landasan utama dalam segala aktifitas kehidupannya.

  1. 2. Kemungkinan Epistemologi

Tema kemungkinan epistemologi ini memiliki sejarah yang panjang. Sejak dahulu, para filsuf telah membahasnya. Para filsuf tersebut mengumandangkan sebuah pertanyaan, mungkinkah epistemologi (pengetahuan) itu?. Apa seseorang mungkin untuk mengetahui dan memahami hakikat alam beserta manusia?. Mungkinkah seseorang mencapai kebenaran sejati?. Atau mungkinkah manusia memperoleh pengetahuan?. Tema seperti ini merupakan tema yang paling mendasar dalam kajian epistemologi.

Muthahhari pun telah membahas masalah ini sebagaimana terlihat dalam berbagai bukunya. Dalam bukunya yang berjudul “Mas’ale-ye Syenokh”, beliau mencoba membuktikan kemungkinan epistemologi itu, baik melalui bukti aqliyah maupun bukti naqliyah. Muthahhari pun mengembangkan argumentasinya ini secara luas.

Muthahhari berpendapat bahwa epistemologi itu mungkin secara aqli. Bahwa manusia mampu memperoleh pengetahuan, dan hal ini dapat dibuktikan secara aqliyah. Sebelumnya, Muthahhari mengawali pembahasan dengan menguraikan pandangan para filsuf yang menolak kemungkinan epistemologi, dan kemudian beliau mengkritisinya. Muthahhari secara tegas menolak pandangan Pyrho, seorang filsuf Yunani, yang berpandangan bahwa manusia itu tidak mampu untuk mengetahui dan memahami. Pyrho menyatakan bahwa ungkapan “saya tidak tahu” adalah ketentuan dan nasib pasti manusia. Filsuf Yunani ini pun menyatakan bahwa ada dua instrumen dalam diri manusia untuk mengetahui sesuatu yakni indra dan akal. Baginya, kedua instrumen ini dapat melakukan kesalahan, selain dapat sedikit berbuat benar. Dari sini, Pyrho menuturkan bahwa sesuatu yang ada kemungkinan salah dan dapat menjadi salah tidak dapat dijadikan sebagai sandaran.

Dalam hal ini, Muthahhari memberikan kritikan sederhana. Menurutnya, Pyrho telah menemukan hakikat. Sebab filsuf Yunani ini dan para pendukungnya, telah menemukan kekeliruan dengan perantaraan sebuah keyakinan. Mereka itu memiliki keyakinan bahwa mereka telah menemukan berbagai kekeliruan indra dan rasioa. Menurut Muthahhari, pernyataan ini adalah sebuah pengetahuan. Dengan kata lain, jika seseorang menyatakan bahwa rasio dan indra memiliki kekeliruan, kemudian orang itu meyakini bahwa rasio dan indra melakukan sebuah kekeliruan, maka pernyataan itu sama dengan “saya mengetahui bahwa rasio dan indra telah melakukan suatu kekeliruan”. Pengetahuannya tentang kekeliruan rasio dan indera adalah sebuah pengetahuan, dan ini adalah hakikat. Tatkala manusia masih belum sampai kepada hakikat, maka manusia itu tidak akan mengetahui kekeliruan yang ada di depannya.[49] Dengan demikian, terbukti bahwa epistemologi itu mungkin secara akliah.

Selanjutnya Muthahhari berpendapat bahwa sebagian pengetahuan manusia itu terdapat kekeliruan, namun sebagian pengetahuannya lagi tidak memiliki kekeliruan. Secara sederhana, ini tampak pada penjelasan tentang kekeliruan indera dan rasio di atas. Dari sini beliau mulai menyarankan agar manusia tidak mengingkari kemungkinan epistemologi secara total (over generalisasi) lantaran manusia itu memiliki beberapa kekeliruan. Atas dasar inilah, Muthahhari memandang bahwa manusia harus memiliki sebuah neraca sehingga neraca itu dapat berfungsi sebagai pembenar atas berbagai kekeliruan tersebut.[50]

Selain membuktikan kemungkinan epistemologi secara akliah, Muthahhari pun membuktikan kemungkinan epistemologi dengan pendekatan Qurani. Beliau berpandangan bahwa al-Quran mengakui adanya kemungkinan untuk memperoleh epistemologi (pengetahuan). Secara tegas al-Quran pernah mengajak manusia kepada pengetahuan. Alasannya karena dalam al-Quran terdapat perintah untuk memperhatikan, melihat, dan merenungkan segala sesuatu. Misalnya, perintah memperhatikan segala sesuatu di langit dan bumi[51] sebagaimana dinyatakan Q.S. Yunus: 101, Katakanlah:: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Di samping itu, menurut Muthahhari bahwa kisah Nabi Adam as. di dalam al-Quran memiliki sebuah hikmah yang berkaitan dengan masalah epistemologi. Hikmah kisah itu tidak lain adalah masalah kemungkinan manusia memperoleh epistemologi. Muthahhari menceritakan bahwa sejak pertama kali ke dalam surga, Adam adalah seorang manusia. Karena Adam seorang manusia, maka Allah membekalinya dengan pelbagai potensi agar ia mampu memperoleh pengetahuan. Setelah itu, Allah pun mengajarkan pelbagai pengetahuan kepada Adam, hingga akhirnya Adam pun memiliki pengetahuan serta mengetahui berbagai hakikat. Epistemologi tersebut diperolehnya sebelum Adam dimasukkan ke dalam surga. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Q.S. al-Baqarah: 31, Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”.

Ayat ini bagi Muthahhari mengandung pengertian bahwa nabi Adam memiliki pengetahuan yang tidak terbatas.[52] Namun karena Adam memakan ‘buah pohon terlarang’, yakni sesuatu yang berhubungan dengan sisi kebinatangan seperti hawa nafsu, keserakahan, iri dan dengki, ketamakan, serta sifat-sifat anti kemanusiaan lainnya, maka sikapnya itu akhirnya menjatuhkan dirinya dari nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena surga itu tempat manusia, sementara Adam telah memakan buah itu, maka Adam pun diusir oleh Allah SWT. Bagi Muthahhari, ini karena Adam memiliki pengetahuan (epistemologi), namun Adam masih terperdaya dengan sikap kebinatangan seperti hawa nafsu, serakah, dengki, dan lainnya. Dengan kata lain, nabi Adam tidak mengamalkan epistemologinya itu, sehingga ia pun terusir dari surga.[53]

Muthahhari menjelaskan secara lebih terperinci bahwa Adam sebenarnya tidak mengamalkan peringkat keempat dari epistemologinya, sehingga Adam pun diusir oleh Allah SWT dari surga. Peringkat pertama adalah epistemologi, peringkat kedua adalah pandangan alam, peringkat ketiga adalah ideologi, dan peringkat keempat adalah pengamalan, yakni suatu keharusan untuk melaksanakan amal perbuatan. Peringkat keempat ini berhubungan dengan perintah dan larangan, boleh dan tidak. Karena Adam melanggar perintah Allah SWT, maka Adam pun diusir oleh-Nya.[54]

Selanjutnya Muthahhari mengemukakan pula bahwa al-Quran telah menegaskan kemungkinan manusia memperoleh kebenaran. Al-Quran mengajak manusia untuk mengenal Allah SWT, dunia, dirinya, dan sejarah. Menurutnya, kisah Adam di atas, yang sesungguhnya adalah kisah tentang manusia, menjelaskan bahwa Adam dianggap oleh Allah SWT cukup tepat untuk mengetahui semua nama Allah SWT dan realitas-realitas alam semesta. Bahkan dalam kasus tertentu, pengetahuan manusia dapat memahami beberapa poin pengetahuan Allah SWT. Muthahhari mengutip Q.S. al-Baqarah ayat 255 guna mendukung pandangannya ini[55]. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

  1. 3. Klasifikasi Ilmu

Diskusi tentang ilmu perspektif Islam akan melahirkan sebuah pertanyaan. Apa makna ilmu dalam sudut pandang Islam?. Ketika umat Islam diperintahkan untuk menuntut ilmu oleh agama Islam, maka ilmu apa saja yang harus dipelajari oleh mereka?.

Menurut Muthahhari, bahwa makna kata ‘ilmu’ dalam Islam atau ilmu yang diperintahkan dalam Islam adalah setiap ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat Islam. Bahwa ilmu yang diperintahkan Islam adalah setiap ilmu yang dapat membantu terlaksananya tujuan-tujuan individu, tujuan-tujuan sosial Islam, dan setiap ilmu yang jika umat Islam tidak diketahui tentang ilmu tersebut, maka hal itu akan menyebabkan tidak dapat terlaksananya tujuan suci Islam. Jadi, makna ilmu dalam Islam bukan bermakna setiap ilmu yang tidak mempunyai pengaruh bagi tujuan Islam, bahkan setiap ilmu yang memberikan pengaruh buruk bagi tujuan-tujuan Islam. Dalam konteks terakhir ini, Islam tidak mewajibkan umat Islam untuk mempelajari ilmu tersebut, bahkan mengharamkannya.[56]

Muthahhari menegaskan bahwa pembagian ilmu menjadi dua yaitu ilmu agama dan ilmu bukan agama, sebagaimana banyak dibuat oleh para pemikir Islam, adalah sungguh tidak benar dan harus ditolak. Pembagian ini hanya akan menimbulkan sangkaan bagi sebagian umat bahwa ilmu-ilmu di luar ilmu-ilmu agama adalah ilmu-ilmu yang asing dari Islam, sehingga mereka harus menjauhinya. Secara tegas dapat dikatakan bahwa kelengkapan dan keuniversalan Islam menuntut bahwa setiap ilmu yang bermanfaat, penting, dan diperlukan oleh umat Islam, maka itu harus dianggap sebagai ilmu-ilmu agama.[57]

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa Muthahhari menolak upaya dikhotomi ilmu pengetahuan. Beliau, selain menolak pandangan bahwa makna ‘ilmu’ dalam Islam hanyalah ilmu-ilmu agama atau juga ilmu-ilmu tertentu saja, juga menyalahkan sebagian pemikir yang melakukan pembagian ilmu menjadi dua bagian, ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu bukan ilmu-ilmu agama.

Penolakan Muthahhari di atas bukanlah tanpa alasan yang logis. Beliau pun menuliskan beberapa alasan untuk menolak dikhotomisasi ilmu pengetahuan. Beliau menolak bahwa makna ‘ilmu’ dalam Islam hanyalah sebagai ilmu-ilmu agama semata. Adapun alasan-alasan yang dikemukakannya adalah sebagai berikut:

Pertama. Apabila makna ‘ilmu’ dalam Islam hanya berarti ‘ilmu-ilmu agama’, maka pada hakikatnya Islam hanya menganjurkan umat Islam kepada dirinya (Islam) sendiri. Dengan demikian, berarti Islam tidak mengatakan apapun tentang ilmu, dalam arti, pengetahuan tentang hakikat-hakikat alam ciptaan. Berarti pula, Islam tetap berada pada bentuk dan keadaan yang pertama. Logisnya, meskipun sebuah ajaran memusuhi ilmu, dan menentang terhadap tingkat kemajuan pemikiran dan pengetahuan masyarakat Islam, namun secara pasti ajaran tersebut tidak akan menentang dirinya. Pendeknya, jika makna ‘ilmu’ yang diperintahkan Islam adalah hanya ‘ilmu-ilmu agama’, dapat dikatakan bahwa kesepakatan Islam tentang ilmu adalah nihil sehingga pandangan Islam tentang Ilmu adalah negatif.[58]

Kedua. Makna hadits, bahwa “hikmah adalah barang milik orang Mukmin yang hilang, maka ambillah dia meskipun kamu harus mengambilnya dari orang Musyrik” dan hadits “Carilah ilmu walaupun ke negeri Cina”, adalah bersifat umum. Makna kata ‘ilmu’ pada hadits tersebut pun bersifat umum, tidak dikhususkan pada ‘ilmu-ilmu agama’ semata. Sebab memang tidak ada hubungan antara negeri Cina dengan ‘ilmu-ilmu agama’, seperti halnya tidak ada hubungannya antara orang-orang Musyrik dengan ‘ilmu-ilmu agama’. Bagi Muthahhari, makna ‘ilmu’ dalam hadits di atas tidak hanya bermakna sebagai ‘ilmu-ilmu agama’, tetapi juga mencakup ‘ilmu-ilmu’ yang dianggap sebagian pihak sebagai ‘ilmu-ilmu selain ilmu agama’.[59]

Ketiga. Logika al-Quran al-Karim tentang ilmu tidak berbentuk sesuatu yang bersifat khusus. Al-Quran menyeru umat Islam untuk memikirkan dan mengkaji berbagai masalah, termasuk juga seluruh fenomena alam semesta. Contohnya adalah seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 164; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. Menurutnya ayat tersebut menunjukkan bahwa al-Quran secara tegas menyeru umat Islam agar mengkaji fenomena-fenomena alam semesta. Tentunya, seruan untuk mengkaji alam semesta akan bermuara kepada semua ilmu yang dianggap sebagai ‘ilmu non agama’ tersebut. Dengan demikian, adanya seruan al-Quran untuk meneliti fenomena alam tersebut menjadi bukti bahwa Islam tidak hanya menyeru kepada ‘ilmu-ilmu agama’ saja, melainkan juga semua ilmu yang dianggap oleh sementara pihak sebagai ‘ilmu-ilmu selain ilmu-ilmu agama’ tersebut.[60]

Keempat. Bahwa ajaran Islam dimulai dengan tauhid. Sedangkan tauhid itu bersifat rasional. Umat Islam pun dilarang untuk bertaklid dalam beragama. Umat Islam harus memiliki argumen-argumen rasional tentang ajaran Islam, sebelum mereka menerima keyakinan Islam tersebut. Dengan demikian, umat Islam diperbolehkan mengkaji wilayah tauhid. Pada gilirannya, untuk mengkaji tauhid ini, tidak bisa tidak, umat Islam harus mendayagunakan potensinya untuk mengkaji alam. Sebab dalam sudut pandang al-Quran al-Karim, salah satu metode untuk menemukan tauhid yang benar adalah dengan memperhatikan seluruh lembaran alam ciptaan. Sementara untuk membuka seluruh rahasia alam ciptaan maka umat Islam wajib harus memiliki ilmu pengetahuan seperti biologi, zoologi, navigasi, fisika, kimia, astronomi, dan lainnya. Tanpanya, umat Islam tidak akan mampu mengkaji alam semesta dengan baik, dan imbasnya, umat Islam akan kehilangan salah satu metode untuk mendapatkan tauhid yang benar.[61]

Setelah mengetahui makna ilmu menurut Muthahhari, berikut ini akan dipaparkan pandangannya tentang klasifikasi ilmu. Setelah menelusuri berbagai karyanya, Muthahhari memang tidak memberikan penjelasan rinci berkenaan dengan konsep pembagian ilmu perspektif Islam. Untuk itulah, maka tulisan berikut ini akan mencoba mensistematisasikan pemikirannya tentang pembagian ilmu tersebut. Berdasarkan sejumlah penjelasannya, setidaknya pembagian ilmu dapat dilihat dari tiga tinjauan sebagai berikut:

Pertama, ilmu ditinjau dari sumbernya. Dalam konteks sumber nya, maka ilmu secara keseluruhan terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah ilmu naqli (wahyu). Sementara kedua adalah ilmu aqli (akal).[62] Permasalahannya, bahwa Muthahhari tidak menjelaskan secara lebih terperinci tentang ilmu-ilmu yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqli dan ilmu-ilmu aqli tersebut.

Kedua, ditinjau dari sudut kewajiban agama. Di sini, Muthahhari membagi ilmu menjadi dua jenis, yaitu ilmu Wajib ‘Aini dan ilmu Wajib Kifayah. Ilmu Wajib ‘Aini mencakup ilmu-ilmu yang membahas seputar agama Islam, baik ilmu ushuluddin maupun ilmu furu’uddin; dan setiap ilmu yang menjadi pendahuluan bagi ilmu-ilmu tersebut. Setiap pribadi Muslim wajib mempelajari ilmu-ilmu Wajib ‘Aini ini. Sedangkan ilmu Wajib Kifayah mencakup segala ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat Islam atau pun segala macam ilmu yang menjadi syarat atas terselesaikannya setiap tujuan dan kebutuhan masyarakat Islam. Segala ilmu yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat Islam akan menjadi Wajib Kifayah bagi masyarakat Islam untuk menuntutnya. Termasuk ke dalam ilmu Wajib Kifayah ini, ilmu-ilmu yang tercakup ke dalam ilmu-ilmu Alam dan ilmu-ilmu Matematika.[63]

Ketiga, ditinjau dari sudut apakah ilmu itu sebagai perantara (wasilah) atau sebagai tujuan (hadaf). Dalam konteks ini, Muthahhari menyatakan bahwa semua ilmu Islam tersebut dibagi menjadi dua macam. Pertama adalah ‘ilmu tujuan’ (hadaf), yakni setiap ilmu yang memiliki hukum wajib yang berdiri sendiri. Sedangkan kedua adalah ‘ilmu perantara’ (wasilah), yakni setiap ilmu yang bermanfaat bagi umat Islam dikarenakan kedudukannya sebagai mukaddimah dan alat untuk bisa melaksanakan sebuah kewajiban dan tujuan Islam.[64] Dalam konteks ini, Muthahhari telah memberikan contoh riil. Yang termasuk ke dalam ilmu tujuan ini, menurutnya, adalah semua ilmu tentang Ketuhanan dan semua ilmu yang berkaitan erat dengan ilmu-ilmu tentang ketuhanan tersebut seperti ilmu tentang alam akhirat. Karena itu, ilmu-ilmu seperti inilah yang menjadi tujuan dalam mempelajari ilmu dalam agama Islam. Sehingga semua ilmu yang lain hanyalah sebagai alat untuk mencapai ilmu tujuan ini. Sedangkan contoh ilmu alat adalah seluruh ilmu selain dari ilmu-ilmu Ketuhanan tersebut. Karena itulah, Muthahhari menyatakan bahwa semua ilmu selain ilmu tujuan di atas adalah alat, bukan tujuan. Semua ilmu selain ilmu-ilmu Ketuhanan tersebut dikatakan sebagai ilmu alat disebabkan karena ilmu tersebut berkedudukan sebagai mukaddimah dan alat untuk bisa melaksanakan sebuah kewajiban dan tujuan agama Islam. Tokoh ini pun memisalkan bahwa semua ilmu agama Islam, selain ilmu-ilmu tentang Ketuhanan, misalnya ilmu fiqh, ilmu akhlaq, ilmu hadits, dan lainnya adalah ilmu alat, sehingga ilmu-ilmu itu bukan ilmu tujuan. Termasuk contoh dari ilmu-ilmu alat adalah semua ilmu yang menjadi pengantar untuk memahami semua ilmu agama Islam tersebut, selain ilmu-ilmu tentang Ketuhanan tersebut, misalnya ilmu tata bahasa Arab dan ilmu logika.[65]

  1. 4. Sumber Pengetahuan

Muthahhari menyatakan bahwa ada empat sumber pengetahuan (sumber epistemologi), yaitu alam, rasio, hati, dan sejarah. Proses penggalian empat sumber ini akan melahirkan ilmu pengetahuan yang merupakan suatu keharusan dalam membangun peradaban.[66] Beliau menulis:

Dari sudut pandang Islam, sumber pengetahuan adalah tanda-tanda alam, atau tanda-tanda yang ada di dalam alam semesta, yang ada dalam diri manusia, dalam sejarah, atau dalam berbagai peristiwa sosial dan berbagai episode bangsa dan masyarakat, dalam akal atau dalam prinsip-prinsip yang sudah jelas, dalam hati, dalam pengertiannya sebagai organ pencerah dan penyuci, dan dalam catatan yang diwariskan umat-umat terdahulu.[67]

Secara umum Muthahhari membagi sumber epistemologi menjadi dua jenis, yakni sumber luar dan sumber dalam.  Sumber luar ini hanya satu yakni alam. Sementara sumber dalam ada dua yakni rasio dan hati.[68] Namun demikian, Muthahhari tidak mengemukakan kedudukan sejarah sebagai salah satu sumber epistemologi, apakah sejarah dijadikan sebagai sumber luar atau sebagai sumber dalam.

Muthahhari memaparkan sedemikian rupa tentang alam sebagai salah satu sumber epistemologi. Maksud dari alam di sini adalah alam materi, alam ruang dan waktu, alam gerakan, atau alam tempat manusia hidup. Agar manusia tersebut memperoleh pengetahuan dari alam, maka manusia harus mengaktualisasikan semua inderanya.[69] Keabsahan alam sebagai salah satu sumber epistemologi dalam Islam banyak dinyatakan oleh al-Quran. Al-Quran sering menyeru manusia agar mereka merenungkan alam materi seperti langit dan bumi. Muthahhari mengutip Q.S. Yunus ayat 101[70] guna mendukung pandangannya tersebut. Katakanlah:: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Sumber epistemologi selain alam, bagi Muthahhari adalah rasio. Baginya, rasio dikenal sebagai sumber dalam bagi epistemologi. Rasio ini diyakini dapat melahirkan ilmu pengetahuan. Sumber ini hanya akan menghasilkan pengetahuan jika manusia menggunakan alat silogisme dan demonstrasi. Jika ini tidak dilakukan, maka manusia itu tidak akan dapat memperoleh pengetahuan.[71]

Menurut penelitian Muthahhari sendiri, bahwa rasio sangat niscaya dikatakan sebagai salah satu sumber epistemologi yang mendapatkan legitimasi dari al-Quran. Ia menyatakan bahwa al-Quran sendiri mempercayai keandalan akal sebagai sumber memperoleh ilmu pengetahuan dan kebenaran-kebenaran yang diperoleh akal tersebut. Bahkan argumen-argumen ak-Quran didasarkan pula kepada akal dan kebenaran-kebenaran seperti itu. Muthahhari mengutip sejumlah ayat dari al-Quran al-Karim guna mendukung pandangannya tersebut. “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”(Q.S. Al-Anbiya’: 22). “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” (Q.S. Al-Mukminun: 91).

Sumber epistemologi ketiga menurut Muthahhari adalam hati. Menurutnya, melalui sumber ini, manusia pun akan mampu mendapat ilham dan wahyu dari Allah SWT. Keyakinan seorang Muslim bahwa hati sebagai salah satu sumber epistemologi dilatari oleh keyakinan Muslim tersebut terhadap keberadaan suatu alam di balik alam fisik ini, yang dikenal sebagai alam metafisik. Hal ini karena ilham sebagai bentuk pengetahuan dari sumber hati berasal dari alam non fisik ini. Agar seseorang dapat memperoleh pengetahuan dari sumber hati ini, maka manusia harus melakukan metode tazkiyatun nafs (penyucian hati). Beliau menulis: “Setiap manusia dapat menerima ilham sesuai dengan dedikasi tulusnya dan upayanya untuk menjaga kesucian dan aktifitas spiritual di pusat ini (hati). Wahyu para nabi merupakan bentuk pengetahuan seperti ini yang tingkatannya paling tinggi”.[72]

Sumber epistemologi yang terakhir menurut Muthahhari adalah sejarah. Menurutnya sejarah memiliki arti penting sebagai salah satu sumber epistemologi yang diakui keabsahaannya oleh al-Quran al-Karim. Dengan kata lain, Al-Quran membuktikan signifikansi dari sejarah sebagai sumber epistemologi. Jadi, selain alam, rasio, hati, al-Quran secara tegas mengakui sejarah sebagai sumber epistemologi. Hal ini dapat dilihat betapa al-Quran memerintahkan kepada manusia agar menjadikan sejarah sebagai bahan kajian. Muthahhari mengutip Q.S. al-An’am: 11 sebagai penyokong atas pandangannya tersebut “Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, Kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” Bagi tokoh ini, ayat ini secara jelas menyeru agar manusia memperhatikan berbagai peninggalan sejarah. Manusia harus memperhatikan perubahan sejarah yang terdapat dalam kehidupan dan sosial manusia.[73] Dengan memperhatikan sejarah, maka manusia akan menemukan berbagai perubahan sejarah yang terjadi pada berbagai masyarakat. Setelah itu, manusia akan menemukan bahwa sejarah itu sesungguhnya berisikan berbagai informasi dan pengetahuan sejak awal dunia hingga masa akhirnya.[74]

  1. 5. Alat Epistemologi

Pembahasan sumber epistemologi tidak lengkap tanpa mengkaji masalah alat epistemologi. Menurut Muthahhari bahwa agar keempat sumber epistemologi di atas, alam, rasio, hati, dan sejarah benar-benar menjadi sumber pengetahuan, maka seorang manusia harus memfungsikan alat-alat epistemologinya. Beliau menyatakan bahwa setidaknya ada empat macam sarana (alat) untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Keempat macam sarana ini dimiliki oleh setiap manusia dan diciptakan sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan. Keempat alat epistemologi dimaksud adalah indra (tajribah), argumentasi logika (burhan), penyucian hati (tazkiyatun nafs), [75] dan menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain[76]

Muthahhari mengungkapkan bahwa keempat alat epistemologi ini pun mendapatkan legitimasi dari al-Quran al-Karim. Beliau misalnya mengutip Q.S. An-Nahl: 78 untuk mendukung pendapatnya ini. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. Ayat ini baginya secara gamblang mengungkapkan bahwa indra, dan argumentasi logika sebagai alat epistemologi. Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika manusia masih berada di dalam kandungan, setiap manusia sama sekali tidak memiliki alat epistemologi. Barulah ketika manusia lahir di alam dunia, Allah menganugrahkan telinga dan mata, dua dari lima indera manusia. Tiga indra lainnya memang tidak disebutkan di dalam ayat ini, karena bagi Muthahhari indra telinga dan mata ini memiliki pengaruh lebih besar dalam epistemologi bila dibandingkan dengan ketiga indera lainnya. Teliga dan mata diketahui memiliki kemampuan lebih besar untuk menghasilkan pengetahuan. Sementara meskipun indra peraba, perasa, dan penciuman memiliki pula kemampuan menghasilkan pengetahuan, namun hanya pada wilayah yang sempit. [77]

Selanjutnya Muthahhari memaparkan bahwa al-Quran memang merasa indra tidak cukup menjadikan indra sebagai satu-satunya alat memperoleh ilmu pengetahuan, sehingga al-Quran menyebutkan pula sesuatu yang disebut lub dan hijr, yakni pusat fikiran (rasio) sebagai alat memperoleh pengetahuan selain dari indra. Dalam Q.S. An-Nahl: 78 di atas, rasio disebut sebagai al-Afidah, yang dimaknai pula sebagai hati, dan/atau suatu kekuatan memilah (tajziyah) dan menyusun (tarkib), mengeneralkan (ta’mim), melepas (tajrid), [78] dan silogisme (burhan). [79] Kekuatan ini disebut kekuatan rasio, di mana ia sangat berperan bagi proses kelahiran ilmu pengetahuan.  Beliau menegaskan bahwa bukan rasio ini disebut sebagai alat epistemologi, sebab rasio ini, sebagaimana diungkap di atas, disebut sebagai salah satu sumber epistemologi, namun kekuatan rasio inilah yang diakui sebagai sarana (alat) untuk memperoleh pengetahuan.

Dalam Q.S. An-Nahl: 78 di atas disebutkan pula agar manusia mensyukuri atas segala anugerah dari Allah SWT tersebut. Mensyukuri anugrah Allah SWT dalam konteks ini dipahami sebagai usaha untuk menggunakan berbagai kenikmatan dari-Nya kepada sesuatu yang merupakan tujuan-Nya dalam menciptakan kenikmatan tersebut. Sebagaimana diungkap dalam ayat ini, indra, argumentasi logika, dan penyucian jiwa dinyatakan sebagai salah satu nikmat dari Allah SWT, karena itu, manusia harus mensyukurinya dengan menggunakan ketiganya sesuai jalur masing-masing. Manusia mensyukuri nikmat mata dengan cara memperhatikan dan mengkaji alam, mensyukuri telinga dengan mendengarkan kebaikan, dan mensyukuri nikmat rasio dengan cara berfikir, merenung, memilah, menyusun, mengeneralkan, dan melepas. [80]

Selain indra dan argumentasi logika, Muthahhari pun berupaya membuktikan secara naqliyah bahwa penyucian jiwa diakui al-Quran sebagai alat pengetahuan. Ia meyakini bahwa ketaqwaan dan penyucian jiwa sebagai salah satu sarana guna meraih ilmu pengetahuan selain indra dan argumentasi logika. Guna mendukung pendapatnya ini, Muthahhari banyak mengutip sejumlah ayat al-Quran, misalnya Q.S. Asy-Syams: 7-9,[81]Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Baginya ayat ini telah cukup jelas membuktikan penyucian sebagai salah satu alat memperoleh ilmu pengetahuan.

Muthahhari tidak memungkuri para filsuf memiliki perbedaan pandangan dalam hal pengakuan legalitas alat-alat epistemologi di atas. Sebagian filsuf hanya mengakui indra sebagai alat epistemologi sembari menolak alat-alat epistemologi lainnya. Sebaliknya sebagian lainnya hanya menerima argumentasi logika dan/atau sebagai satu-satunya alat epistemologi sembari menolak kedudukan alat epistemologi lainnya. Akan tetapi Muthahhari sendiri menegaskan bahwa dirinya dan banyak filsuf Islam lainnya meyakini bahwa indra, argumentasi logika, dan penyucian jiwa sebagai alat epistemologi. Al-Quran al-Karim sendiri, sebagaimana disebut di atas, mendukung konsep ini. [82]

Muthahhari pun menempatkan ‘menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain sebagai sarana (alat) keempat guna meraih ilmu pengetahuan. Muthahhari menulis bahwa “sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah…telaah atas karya-karya ilmiah orang lain. [83] Sarana ini pun diakui oleh al-Quran al-Karim sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-Alaq: 1-5, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahapemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Kendati alat-alat epistemologi di atas diakui keabsahannya, namun kesemua alat epistemologi tersebut memiliki wilayah (objek) kajian yang berbeda-beda. Manusia tidak boleh mencampuradukkannya satu sama lain.[84] Misalnya, wilayah kajian indra, sebagai salah satu alat epistemologi, hanyalah alam fisik semata. Sementara argumentasi logika sebagai alat epistemologi wilayah kajiannya adalah alam non materi (rasional), dan penyucian jiwa sebagai salah satu dari alat epistemologi hanya menjadikan hati sebagai objek kajiannya. [85]

  1. 6. Pendalaman Kajian

Bardasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada empat sumber pengetahuan yakni alam, rasio, hati, dan sejarah. Sementara sarana (alat) untuk meraih ilmu pengetahuan ada empat pula yakni indra, silogisme, penyucian jiwa, dan menelaah karya-karya ilmiah orang lain.

Muthahhari menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara sumber pengetahuan dengan sarana meraih pengetahuan tersebut. Alam sebagai sumber pengetahuan sementara alat bagi sumber ini adalah indra. Rasio sebagai sumber pengetahuan, sementara alat bagi sumber ini adalah silogisme. Sementara hati sebagai sumber pengetahuan, sedangkan penyucian jiwa sebagai alat bagi sumber ini. [86] Sedangkan menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain tersebut menjadi alat epistemologi bagi sejarah, sebagai salah satu sumber epistemologi. [87] Baginya, fungsionalisasi alat epistemologi tersebut terhadap sumber epistemologi akan menghasilkan pengetahuan.

Secara lebih jelas, Muthahhari menjelaskan bahwa manusia bisa memperoleh pengetahuan dengan memfungsikan indranya. Indra manusia itu seperti penglihatan, pendengaran, peraba, pencium, dan perasa. Sebagai salah satu alat guna memperoleh pengetahuan, manusia harus menjaga indranya itu sebaik-baiknya. Sebab jika manusia tersebut kehilangan salah satu indra itu, maka itu akan membuat manusia itu akan kehilangan satu pengetahuan. Jika manusia kehilangan seluruh indranya tersebut, maka manusia akan kehilangan banyak pengetahuan tentang dunia fisik. [88]

Selanjutnya manusia akan memperoleh pengetahuan, jika ia mengaktualisasikan rasionya. Rasio manusia ini memiliki sejumlah kemampuan seperti mengeneralkan (ta’mim), memilah dan mengurai (tajziyah dan tahlil), menyusun (tarkib), melepas (tajrid), berargumentasi (burhan), dan mencabut (intiza’). [89] Seluruh kemampuan ini adalah kemampuan rasio manusia, dan rasio manusia sering mempraktikkan kemampuannya tersebut. [90] Karena rasio manusia memiliki pelbagai kemampuan tersebut, maka rasio manusia memiliki kemampuan berfikir dan mengetahui. Seandainya rasio tidak memiliki pelbagai kemampuan tersebut, maka rasio manusia tidak akan mungkin memiliki kemampuan berfikir, apalagi mengetahui sesuatu. [91]

Selain menggunakan indra dan rasio, Muthahhari menyatakan pula bahwa manusia akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan jika manusia tersebut melakukan penyucian jiwa/hatinya. Dengan praktik ini, manusia akan memperoleh pengetahuan berupa ilham. Bahkan para nabi, karena hati mereka telah disucikan, memperoleh pengetahuan wahyu, sebagai bentuk ilham tertinggi. [92] Melalui metode ini pula, Muthahhari meyakini bahwa manusia akan mampu memperoleh ilmu tentang hakikat dirinya. Allah SWT bahkan akan memberikan cahaya-Nya kepada hati manusia yang telah suci tersebut. Dia akan selalu memberikan bimbingan melalui jalan gaib, dan pada akhirnya manusia itu akan diberikan oleh-Nya pengetahuan tentang berbagai hakikat kehidupan. Allah SWT pun senantiasa akan membuka tirai kegelapan di mata dan pikiran manusia yang telah mensucikan jiwanya tersebut. [93]

Sebagai penutup, manusia pun akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan ketika manusia itu mengkaji sejarah. Ini dapat dilakukan dengan menelaah pelbagai karya ilmiah orang lain dan berbagai catatan dari umat terdahulu. Apabila manusia senantiasa mempelajari dan membaca kitab-kitab sejarah, maka manusia itu akan memperoleh pengetahuan.[94] Dengan menelaah sejarah melalui kajian secara mendalam atas kitab-kitab umat terdahulu, maka manusia akan dapat menemukan betapa sejarah menjelaskan perubahan hukum-hukum yang berlaku pada suatu masyarakat. [95] Dengan metode ini, manusia pun akan memperoleh pengetahuan tentang segala peristiwa pelbagai kehidupan, baik peristiwa awal penciptaan alam, bahkan peristiwa akhir penciptaan. [96] Setelah manusia memperoleh ilmu pengetahuan itu maka pada akhirnya manusia akan memperoleh pelajaran berharga dari umat terdahulu. Hal ini karena sejarah memang mengandung banyak pelajaran. [97]

  1. 7. Karakteristik Pengetahuan Indrawi dan Rasional

Uraian di atas menyimpulkan bahwa ketika seorang manusia mengaktualisasikan indranya, dan digunakan sebagai alat menelaah alam fisik, maka manusia tersebut akan memperoleh pengetahuan. Pengetahuan ini disebut sebagai epistemologi (pengetahuan) indrawi. Muthahhari menyebut jenis epistemologi (pengetahuan) ini sebagai epistemologi lahiriah, epistemologi dangkal, dan epistemologi tidak mendalam. [98]

Muthahhari menjelaskan bahwa pengetahuan indrawi ini dimiliki oleh manusia dan binatang. Misalnya manusia dan binatang ini memiliki kemampuan melihat angkasa, mendengar suara, mencium batu, dan sebagainya. Kendati begitu, kadang-kadang pengetahuan indrawi dan manusia memiliki kelemahan dan kelebihan. Misalnya manusia memiliki kemampuan melihat dan membedakan warna, sedangkan binatang tidak memiliki kemampuan tersebut. Dalam sudut pandang lain, malah terkadang binatang memiliki kemampuan melihat, mendengar, dan mencium sesuatu yang tidak mampu dilihat, didengar, dan dicium oleh manusia. Terkadang indra manusia lebih peka dari pada indra binatang. Sebaliknya, terkadang indra binatang lebih peka dari pada indra manusia. Namun demikian, manusia dan binatang sama sama memiliki kemampuan memperoleh pengetahuan indrawi meski tingkat kemampuan masing-masing terbatas dan relatif. Tingkat ilmu pengetahuan indrawi mereka berbeda-beda. [99]

Secara umum, Muthahhari menyebutkan empat karakteristik pengetahuan indrawi ini, yakni sebagai berikut:

  1. Epistemologi indrawi ini bersifat partikular (juz’i), dalam arti pengetahuan ini berbentuk satu-satu dan individu. Misalnya seorang manusia hanya mampu melihat dengan matanya berbagai individu seperti ayat, ibu, kakak, adik, dan lainnya. Namun pengetahuan ini hanya tergambar dan terbayang di benak manusia dalam bentuk partikular. Mata manusia tidak memiliki suatu pemahaman universal tentang sesuatu yang dilihatnya. Dengan kata lain, sifat epistemologi indrawi ini adalah perorangan, satu persatu, dan berhubungan dengan tiap-tiap sesuatu. [100]
  2. Pengetahuan indrawi ini bersifat lahiriah sehingga pengetahuan ini hanya menyaksikan segala sesuatu yang sifatnya lahiriah. Pengetahuannya pun tidak mendalam sehingga tidak mengetahui esensi segala benda. Pengetahuan jenis ini tidak memahami pula hubungan sebab-akibat, apalagi mengetahui keharusan antara sebab dengan akibat, yakni ketika sebab telah sempurna, maka pasti akan muncul akibat. Pendeknya, bahwa pengetahuan indrawi bersifat lahiriah sehingga pengetahuan ini tidak mengetahui hubungan batiniah, esensi dan substansi berbagai benda yang ada. [101]
  3. Pengetahuan indrawi ini bersifat masa sekarang. Ini karena indra tidak mampu melihat, mendengar, dan merasakan masa lalu dan masa depan. Jadi, pengetahuan indrawi ini hanya berhubungan dengan masa sekarang, dan tidak mampu berhubungan dengan masa lalu dan masa sekarang. [102]
  4. Pengetahuan indrawi hanya berhubungan dengan tempat tertentu. Pengetahuan ini hanya terbatas pada kawasan tertentu. Ini karena indra manusia tidak bisa melihat, mendengar, dan merasakan suatu tempat yang lain selain tempat manusia itu sendiri berada. Jika manusia itu berada pada suatu tempat, maka manusia itu hanya bisa melihat, mendengar, dan merasakan tempat itu saja, sedangkan pada saat yang sama, manusia itu tidak akan pernah mampu mengetahui tempat lainnya. [103]

Di pihak lain, Muthahhari mengemukakan bahwa tatkala manusia mendayagunakan kemampuan dan kekuatan rasionya dengan melakukan silogisme, maka manusia itu pun akan bisa memperoleh ilmu pengetahuan. Pengetahuan rasio ini disebut sebagai epistemologi mendalam (umqi). Pengetahuan ini memiliki karakteristik khas, yakni sebagai berikut:

  1. Pengetahuan rasional bersifat universal.
  2. Pengetahuan rasional ini bersifat tidak lahiriah sehingga mampu melihat hubungan sebab dan akibat serta mampu memahami esensi dan substansi sesuatu.
  3. Pengetahuan rasional ini tidak terikat ruang dan waktu, sehingga manusia dapat mengetahui segala peristiwa, baik di masa lalu, masa sekarang, dan masa lalu, maupun di peristiwa di berbaga tempat. [104]

Penutup

Muthahhari dapat dikatakan sebagai salah satu tokoh yang banyak mengulas masalah epistemologi ini. Hal ini dapat dilihat secara jelas di berbagai karyanya. Kendati begitu, semua konsep epistemologi Murtadha Muthahhari tidak dibahas oleh tulisan sederhana ini. Karena bersifat pengantar, maka tulisan ini tidak mengelaborasi pandangan tokoh ini tentang hal tersebut. Walhasil, barangkali para peneliti lain diharapkan dapat mengkaji pemikiran filsuf asal negeri Mullah ini tentang epistemologi Islam. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Daftar Kepustakaan

Algar, Hamid,Hidup dan Karya Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2002.

Bagir, Haidar,Suatu Pengantar Kepada Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2002.

_____, Murtadha Muthahhari; Sang Mujahid, Sang Mujtahid, Bandung: Yayasan Muthahhari, 1988.

Bagus, Loren, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996.

Beik, Abdullah, “Murtadha Muthahhari; Muslim dalam Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq”, dalam majalah Al-Isyraq No.4/Th.I, Jumadhil Akhir-Rajab, 1417 H

Harahap, Syahrin, Metodologi Studi Tokoh Pemikiran Islam, Jakarta: Istiqamah Mulya Press, 2006.

Hartoko, Dick, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Rajawali, 1986.

Hartono, Rudhy,Ilmu dan Epistemologi”, dalam Jurnal Al-Huda, Vol. III. No. 9, 2003,

Ja’far, Muhammad, “Pandangan Muthahhari Tentang Agama, Sejarah, Al Quran dan Muhammad”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.11. 2005.

Kartanegara, Mulyadhi, Nalar Religius; Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia, Jakarta: Erlangga, 2007.

Labib, Muhsin, Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Jakarta: Lentera, 2005.

____,Hawzah Ilmiyah Qom; Ladang Peternakan Filosof Muslim Benua Lain”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.9. 2003,

Muthahhari, Murtadha, Mutiara Wahyu, Terj. Syekh Ali al-Hamid, Bogor: Cahaya, 2004.

_____, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam Tentang Jagat Raya, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2002.

_____, Mengenal Epistemologi: Sebuah Pembuktian Terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, terj. M.J. Bafaqih, Jakarta: Lentera, 2001.

_____, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Pertama, Terj. Ahmad Subandi, Jakarta: Lentera, 1999.

_____, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Kedua, Terj.  Ahmad Subandi, Jakarta: Lentera, 2000

_____, Kenabian Terakhir, Terj. Muhammad Jawad Bafaqih, Jakarta: Lentera, 2001.

_____, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein Al-Habsy, dkk, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.

Nasution, Harun, Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

Nasr, Seyyed Hossein, “Pengantar”, dalam Muhammad Husein Thabathaba’i, Hikmah Islam, Terj. Husein Anis Al-Habsy, Bandung: Mizan, 1993.

Rakhmat, Jalaluddin, “Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama”, dalam Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir, Bandung: Mizan, 1995.

Rastan, Sastan,Syahid Murtadha Muthahhari; Pembangkit Kebangunan Intelektual Islam”, dalam majalah Yaum Al-Quds, No. 9, Ramadhan 1403 H,

Pustaka Zahra, “Biografi Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein al Habsyi, dkk, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.

Penerbit Marja,Tentang Penulis”, dalam Murtadha Muthahhari, ‘Ali Bin Abi Thalib; Kekuatan dan Kesempurnaannya, Terj. Zulfikar Ali, Bandung: Penerbit Marja, 2005.

Runes, Bagobert D, Dictionary of Philosophy, Tottawa New Jersey: Adam’s & Co, 1971.


[1] Para penulis biografi Muthahhari tampak berbeda pendapat dalam menentukan tahun-tahun kelahirannya. Sebagian pendapat menyatakan Muthahhari lahir tahun 1920, sedangkan sebagian lainnya menyatakan beliau lahir tahun 1919. Hanya saja mereka sepakat tokoh ini lahir pada tanggal 2 Februari. Beberapa penulis seperti Muhsin Labib, Haidar Bagir, Hamid Algar dan Mulyadhi Kartanegara terlihat sepakat dengan pendapat pertama. Sedangkan Jalaluddin Rakhmat, dan Sastan Rastan tampak sepakat dengan pendapat kedua. Dalam kelender Hijriah, Abdullah Beik menyatakan  beliau lahir pada tanggal 13 Jumadil Ula 1338 H. Lihat; Muhsin Labib, Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, (Jakarta: Lentera, 2005) hlm. 278; Lihat juga Haidar Bagir,Suatu Pengantar Kepada Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2002), hlm 9; Hamid  Algar,Hidup dan Karya Murtadha Muthahhari” dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2002), hlm 23; Jalaluddin Rakhmat,Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama” dalam Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1995), hlm 7; Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari; Pembangkit Kebangunan Intelektual Islam”, dalam majalah Yaum Al-Quds, No. 9, Ramadhan 1403 H, hlm. 7; Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari; Muslim dalam Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq”, dalam majalah Al-Isyraq No.4/Th.I, Jumadhil Akhir-Rajab, 1417 H; dan, Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius; Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 90.

[2] Pustaka Zahra, “Biografi Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein al Habsyi, dkk (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003).

[3] Penerbit Marja,Tentang Penulis”, dalam Murtadha Muthahhari, ‘Ali Bin Abi Thalib; Kekuatan dan Kesempurnaannya, Terj. Zulfikar Ali, (Bandung: Penerbit Marja, 2005), hlm. 5.

[4] Hawzah di negeri Iran adalah sebuah lembaga pendidikan Islam Syi’ah yang berfungsi sebagai lembaga pengkaderan ‘ulama Syi’ah masa depan. Di dalamnya diajarkan berbagai disiplin ilmu Islam seperti fiqih, ushul fiqh, tafsir, hadits, filsafat, dan lainnya. Institusi Hawzah telah berhasil dalam melahirkan banyak Mujtahid Syi’ah sepanjang masa, tidak hanya dalam bidang hukum Islam, tetapi juga dalam bidang filsafat dan ‘irfan. Di negeri Indonesia, lembaga ini dapat diumpamakan semacam pondok pesantren.

[5] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 29.

[6] Labib, Filosof, hlm. 278.

[7] Labib, Filosof, hlm. 278-279.

[8] Labib, Filosof, hlm. 279.

[9] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm 91.

[10] Seyyed Hossein Nasr, “Pengantar”, dalam Muhammad Husein Thabathaba’i, Hikmah Islam, Terj. Husein Anis Al-Habsy, (Bandung: Mizan, 1993) hlm. 7.

[11] Murtadha Muthahhari, Mutiara Wahyu, Terj. Syekh Ali al-Hamid, (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 156.

[12] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm. 91-92.

[13] Labib, Filosof, hlm. 279.

[14] Gelar ini adalah gelar keagamaan dalam tradisi Islam Syi’ah yang menandakan bahwa seorang Thalabeh (pelajar) di sebuah Hawzah telah mencapai predikat Mujtahid Muthlaq sehingga berhak untuk berijtihad secara individual.

[15] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 29.

[16] Muthahhari, Mutiara Wahyu, hlm. 156.

[17] Muthahhari, Mutiara Wahyu, hlm. 155-156.

[18] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 28

[19] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31.

[20] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 30.

[21] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31.

[22] Penerbit Zahra, “Biografi Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. xxi.

[23] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 30.

[24] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm. 92; Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31-32.

[25] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 30.

[26] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[27] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[28] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[29] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[30] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[31] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[32] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[33] Algar,Hidup dan Karya”, h 41.

[34] Jalaluddin Rakhmat,Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama”, dalam, Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1995), h 7.

[35] Murtadha Muthahhari, Mutiara Wahyu, Terj. Ali Ahmad, (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 160.

[36] Rakhmat,Murtadha Muthahhari”, hlm. 8.

[37] Lihat, Haidar Bagir, Murtadha Muthahhari; Sang Mujahid, Sang Mujtahid, (Bandung: Yayasan Muthahhari, 1988), hlm 83-86.

[38] Syahrin Harahap, Metodologi Studi Tokoh Pemikiran Islam, (Jakarta: Istiqamah Mulya Press, 2006), hlm. 38.

[39] Beberapa akademi itu antara lain; Pertama, Rasionalisme-Tekstualisme. Ini merupakan salah satu aliran dalam mazhab Qom yang menjadikan rasio sebagai landasan lalu mengaitkannya dengan teks-teks agama sebagai pembenarnya. Kedua, Tekstualisme-Rasionalisme. Ini adalah aliran yang menjadikan teks-teks agama sebagai postulat dan menjadikan rasio sebagai alat pembenarnya. Ketiga Tekstualisme-Rasionalisme-Teosofisme. Ini merupakan sebuah aliran yang menggabungkan rasio, teks-teks agama dan ‘irfan. Keempat, Teosofisme. Ini adalah aliran yang mengutamakan ‘irfan atau emosi dalam memahami realitas. Kelima, Rasionalisme-Modernisme. Ini adalah aliran yang menggunakan rasional dan pengetahuan modern. Keenam, Neo-Parapatetisme. Ini adalah aliran yang tidak sepenuhnya mendukung pandangan Ibn Sina, namun secara metodologis hampir mirip dengan pandangan Ibn Sina, karena banyak mengandalkan deduksi dalam telaahannya.

Secara umum, akibat dinamika pemikiran filsafat terus berlangsung, Mazhab Qom berkembang dan terbagi dalam beberapa sub-mazhab dan kelompok. Pertama, sekelompok filosof yang berperan sebagai advokat atau mediator murni filsafat Mulla Shadra tanpa melakukan penambahan apapun di dalamnya apalagi kritik, seperti Hasan Zadeh Amuli. Kedua, sekelompok filosof, seperti Jawadi Amoli, yang hanya mengkritisi sebagian argumen Mulla Shadra atau sistematika bukunya menyangkut pola pembagian dan pengurutan sub-tema. Ketiga, para filsosof yang melakukan kritik dan berusaha mengubah sebagian struktur bangungan filsafat dengan menawarkan sistematika baru dalam penyajian dan pengajaran filsafat, seperti Muhammad Taqi Mizbah Yazdi. Meskipun demikian, ketiga kelompok ini menyepakati tema-tema yang merupakan prinsip Mazhab Qum. Lihat, Muhsin Labib,Hawzah Ilmiyah Qom; Ladang Peternakan Filosof Muslim Benua Lain”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.9. 2003, hlm. 162-163.

[40] Labib, “Hawzah Ilmiyah Qom”, hlm. 162.

[41] Muhammad Ja’far, “Pandangan Muthahhari Tentang Agama, Sejarah, Al Quran dan Muhammad”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.11. 2005. hlm. 96.

[42] Bagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy, (Tottawa New Jersey: Adam’s & Co, 1971), hlm. 94; Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 10; Loren Bagus, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 212; dan Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: Rajawali, 1986), hlm. 22.

[43] Murtadha Muthahhari, Mengenal Epistemologi: Sebuah Pembuktian Terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, terj. M.J. Bafaqih, (Jakarta: Lentera, 2001), hlm. 11-15.

[44] Ibid, hlm. 16-17.

[45] Ibid, hlm. 17.

[46] Ibid, hlm. 49.

[47] Ibid, hlm. 39.

[48] Ibid, hlm. 21.

[49] Ibid, hlm. 30.

[50] Ibid, hlm. 31.

[51] Ibid, hlm. 42.

[52] Ibid, hlm. 41-42.

[53] Ibid, hlm. 34-39.

[54] Ibid, hlm. 39-40.

[55] Murtadha Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam Tentang Jagat Raya, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Lentera, 2002), hlm. 183.

[56] Murtadha Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Kedua, terjemahan Ahmad Subandi, (Jakarta: Lentera, 2000), hlm. 273, 269.

[57] Murtadha Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Pertama, terjemahan Ahmad Subandi, (Jakarta: Lentera, 1999), hlm. 177.

[58] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 267.

[59] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 268.

[60] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 271.

[61] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 271-272.

[62] Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein Al-Habsy, dkk, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hlm. 4.

[63] Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, hlm. 1-2.

[64] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, hlm. 273-274.

[65] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 273-274.

[66] Rudhy Hartono, Ilmu dan Epistemologi, dalam Jurnal Al-Huda, Vol. III. No. 9, 2003, hlm. 1.

[67] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183.

[68] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 86.

[69] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 81-82.

[70] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183.

[71] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 86-87.

[72] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 184.

[73] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 103-104.

[74] Ibid, hlm. 106.

[75] Ibid, hlm. 87.

[76] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 184.

[77] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 58-60.

[78] Ibid, hlm. 61

[79] Ibid, hlm. 87.

[80] Ibid, hlm. 64.

[81] Muthahhari, Manusia dan  Alam Semesta, hlm. 186.

[82] Ibid, hlm. 71.

[83] Ibid, hlm. 184.

[84] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 87.

[85] Ibid, hlm. 87.

[86] Ibid, hlm. 87.

[87] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183-186.

[88] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 51.

[89] Ibid, hlm. 53-55. Lihat pula foot note no. 10.

[90] Ibid, hlm. 87.

[91] Ibid, hlm. 56.

[92] Ibid, hlm. 86.

[93] Ibid, hlm. 73.

[94] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 73.

[95] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 73.

[96] Ibid, hlm. 106.

[97] Ibid, hlm. 108.

[98] Ibid, hlm. 131.

[99] Ibid, hlm. 130-131.

[100] Ibid, hlm. 131-132.

[101] Ibid, hlm. 132.

[102] Ibid, hlm. 133.

[103] Ibid, hlm. 133.

[104] Ibid, hlm. 133-143.

Kemajuan Sains dan Teknologi Iran Di Tengah berbagai Kecaman AS

Saya termasuk salah satu orang yang senang sekali mengetahui perkembangan sosial,budaya, politik, dan kecanggihan sains dan teknologi dari negara tetangga. Salah satunya perkembangan negara Iran. Iran merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang saat ini sedang mendapat kecaman dari AS atas produksi nuklirnya yang di klaim membahayakan umat manusia. Padahal Iran sudah berkali-kali mengatakan bahwa Iran memproduksi Nuklir untuk tujuan damai dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, bukan untuk digunakan memproduksi senjata pemusnah massal. Namun AS sepertinya tidak ingin disaingi oleh negara Iran yang perkembangan teknologinya yang semakin canggih. Iran menurut saya cukup cerdik dia membangun basis pengembangan nuklirnya di bawah tanah yaitu sekitar 75 kaki dari permukaan tanah dan tentu saja sulit di hancurkan oleh AS karena keberadaannya berada di pusat padat penduduk. Pabrik utama nuklir ini terletak dekat Natanz, 350 km dari selatan Teheran. Pabrik ini mengerjakan pembuatan mesin-mesin sentrifugal (putaran) dan menampung 50.000 mesin sentrifugal, disamping laboratorium. Iran memang benar-benar mempersiapkan ini semua. Iran meminta Rusia dalam merancang fasilitas sejenis yang digunakan sebagai bunker/tempat persembunyian bagi prajurit dan militer untuk menyelamatkan diri. Bunker ini mirip dengan bunker di Virginia dan Pensylvania yang didesain untuk melindungi para pemimpin AS (p.256-257)
.
Iran yang keras dalam mempertahankan keinginannya untuk memproduksi Nuklir ini harus mendapatkan konsekuensi yang menurut saya sangat berat. Akibat yang harus diterima oleh Iran adalah Iran harus menanggung embargo ekonomi dari banyak negara. Iran sudah kenyang dengan berbagai sanksi, sudah 28 tahun Iran mengalami sanksi itu, misalnya saja pada tahun 1995 Persiden AS Bill Clinton melakukan embargo total pada Iran, lalu mengeluarkan UU D’Amato yang melarang perusahaan-perusahaan asing untuk menanamkan modalnya di sektor perminyakan Iran lebih dari US$40 juta per tahun, tapi Iran mampu melewati kesulitan itu dan tetap dapat survive, karena ternyata tidak ada negara yang benar-benar mematuhi peraturan untuk tidak bekerja sama dengan Iran, karena mereka butuh pada Miyak Iran, seperti Inggris dan Prancis yang merupakan sekutu AS. Negara ini tetap menanamkan modalnya yang besar pada bidang energi Iran. Sanksi lainnya yaitu dilakukan oleh Dewan Keamanan (DK) PBB. DK PBB melarang pejabat dan pengusaha individu melakukan kunjungan ke Iran, jika melanggar maka akan dibekukan asetnya karena akan dianggap terlibat dalam program nuklir Iran. Selain itu sanksi lainnya adalah pembatasan negara dan lembaga keuangan internasional yang akan membuat komitmen untuk melakukan hibah, bantuan keuangan. Hal itu akan menghambat laju perekonomian Iran (p.323-325)
.
Seperti yang kita tahu bila orang dihadapkan berbagai kesulitan, maka biasanya orang akan cenderung kreatif untuk mencari peluang-peluang atau mencari solusi-solusi yang memungkinkan untuk terlepas dari problem yang membelit negara ini. Iran menjadi negara yang mandiri. Dulu Iran mengimpor gandum, sekarang menjadi negara pengekspor gandum, kemudian di bidang kemiliteran Iran mengembangkan senjata baru yang hebat, misalnya mampu mengembangkan rudal Shihab-1 yang mempunyai daya jelajah antara 300-500 km yaitu Shihab 1. Shihab 1 ini merupakan teknologi yang ditiru atau dicangkok Iran dari Rudal Scud-B Rusia yang berdaya jelajah 300 km dan Shihab 2 yang merupakan hasil dari meniru teknologi rudal rusia yaitu Scud-C. Negara ini mampu mencangkok atau meniru serta mengembangkannya lebih lanjut dari senjata rudal milik rusia yang sebelumnya digunakan oleh Iran. Selain itu juga Iran juga mengembangkan kemampuan militer yang mampu menangkis dan menghantam target AS di kawasan Teluk dan Irak yaitu Shihab 3 yang dapat membawa 3 hulu ledak perang sekaligus. Kemudian dibidang telekomunikasi Iran berhasil meluncurkan satelit ke luar angkasa. selain itu bidang lainnya Iran mampu mengkloning dan membuat mesin mobil sendiri. Iran termasuk negara yang berhasil membangun nuklir sampai berkembang dengan cukup berhasil (p.323-325)
.

Hal ini terjadi karena Presiden Iran saat ini yaitu Ahmadinejad bertekad bahwa dalam memajukan ekonomi iran, maka harus dilakukan peningkatan kemampuan penguasaan sains dan teknologi atau ilmu pengetahuan untuk menggerakkan ekonomi Iran. Seperti yang kita tahu bahwa Iran ratusan tahun lalu merupakan pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, filsafat, kedokteran, dan ilmu astronomi, disaat negara eropa berada di dalam kegelapan. Menurut sumber lain, jumlah ilmuwan dan teknokrat yang bergerak dibidang penelitian dan pengembangan pada tahun 1987-1997 perbandingannya adalah 560 orang untuk tiap 1 juta Penduduk Iran. Jumlah ini tentunya sangat memadai untuk pengembangan teknologi di bidang militer. Kita juga dapat belajar dari Iran bahwa saat ini dibutuhkan kebijakan pemerintah yang berpihak pada kepentingan ilmu pengetahuan dan sains dan teknologi. Selama ini anggaran untuk riset dan teknologi selalu dipangkas untuk kepentingan lainnya.

Ekonomi Muqawama: Pertumbuhan Sains dan Teknologi Iran

Sabtu, 2012 Desember 29 13:43

Gelombang deras tekanan sanksi Barat terhadap Republik Islam selama lebih dari tiga dekade gagal melumpuhkan Iran. Bahkan kian hari Iran justru menampilkan berbagai prestasi, termasuk di bidang sains dan teknologi. Betapa tidak, pada 2010, untuk pertama kalinya Iran menguasai hampir satu persen perkembangan sains dunia. Tentu saja merupakan angka yang tidak kecil di kalangan negara-negara sedang berkembang. Data statistik dari berbagai pusat keilmuan dunia menunjukkan bahwa produksi ilmu pengetahuan di Iran pada tahun 2005 sebesar 0,3 persen dari perkembangan ilmu dunia. Kemudian melonjak menjadi 0,8 persen pada tahun 2010. Meski demikian, Iran akan terus meningkatkannya hingga menembus angka 2 persen hingga akhir tahun 2015 berdasarkan proyeksi pembangunan sains dan teknologi 20 tahun.

Produksi ilmu pengetahuan di Iran sejak tahun 1990 hingga 2000 rata-rata berkisar 23 persen. Pada tahun 2000 hingga 2010 naik menjadi 32 persen. Berdasarkan proyeksi 20 tahun, rata-rata pertumbuhan ilmu pengetahuan di Iran sebesar 26 persen. Kini, berdasarkan laporan terbaru lembaga internasional, pertumbuhan produksi ilmu pengetahuan di Iran setara dengan 13 persen pertumbuhan dunia. Berdasarkan laporan Information Sciences Institute (ISI), peneliti Iran memproduksi karya ilmiah sebesar 20.228 pada tahun 2009. Posisi Iran di bidang ini naik dua tingkat dari tahun 2008. Iran berada di urutan 22 dari 55 negara yang berada di garda depan produksi ilmu pengetahuan. Pertumbuhan pesat ini disertai perbaikan kualitas di tahun 2010. Fenomena ini menunjukkan konsistensi pertumbuhan ilmu pengetahuan di Iran.

Keberhasilan akademisi Iran dalam satu dekade terakhir menunjukkan mekarnya potensi ilmiah di negara ini. Para pengamat menilai berlanjutnya perkembangan ini bisa menyebabkan Iran menempati urutan pertama produksi ilmu pengetahuan di Timur Tengah. Terkait kemajuan ini, bidang medis dan farmasi Iran menyumbangkan kontribusi terbesar. Sebab rata-rata dalam setahun terakhir diproduksi sekitar 50 produk baru farmasi Iran yang dibuat putra bangsa. Salah satunya adalah obat antibiotik dan berbagai obat tertentu yang menjadi monopoli negara-negara maju selama bertahun-tahun lalu.

Dewasa ini, Iran juga berhasil memproduksi obat bioteknologi seperti Gamma interferon untuk mengobati penyakit infeksi yang berbahaya akibat terjadinya kerusakan sistem kekebalan tubuh. Produksi jenis obat seperti ini memerlukan keahlian dan fasilitas yang canggih. Menteri Kesehatan Republik Islam Iran, Marzieh Vahid Dastjer menyatakan, industri farmasi Iran bertekad untuk swasembada di bidang ini. Saat ini, 96 persen kebutuhan obat dalam negeri berhasil diproduksi anak bangsa. Sisanya, mengisi sekitar empat persen obat-obatan impor dilakukan dengan dukungan industri farmasi dalam negeri dengan  dukungan kementerian kesehatan dan pengobatan Iran.

Saat ini Iran memiliki pabrik farmasi dan memproduksi berbagai obat yang dibutuhkan dengan memanfaatkan potensi putra bangsa. Untuk itu, Iran memegang posisi penting di kawasan. Saat ini Iran bekerjasama dengan Turki, Kuba dan sejumlah perusahaan farmasi terkemuka dunia untuk memproduksi obat-obatan. Peresmian pabrik kapsul gelatin soft dengan menggunakan teknologi terbaru di dunia termasuk keberhasil Iran tahun lalu di tengah gencarnya sanksi internasional anti Iran yang tidak adil.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan riset sains dan teknologi nuklir, Iran dalam dua tahun terakhir meraih keberhasilan luar biasa di bidang produksi radio obat dan saat ini tengah merencanakan untuk memproduksi 20 jenis radio obat. Sekitar 120 pusat medis nuklir tengah aktif dan melakukan berbagai inovasi di bidang ini.
Iran berhasil memproduksi obat formula baru dengan menggunakan teknologi nuklir yang dimulai sejak akhir dekade 1990. Negara ini juga sedang memproduksi tujuh jenis obat sensitif. Di bidang produksi obat lain, Iran juga melakukan terobosan besar dalam beberapa tahun terakhir, dan menjadi produsen kedua di dunia yang memproduksi obat deferasirox dengan label merk Osveral. Obat ini digunakan untuk mengobati penyakit thalassemia. Selain itu, Iran juga berhasil memproduksi obat triptorelin yang masih diimpor negara ini selama bertahun-tahun. Kini, obat tersebut diproduksi dan dipasarkan secara massal di dalam negeri atas izin kementerian kesehatan Iran.

Tahun lalu, Iran juga berhasil menguasai bioteknologi farmasi dan membumikannya dengan memproduksi berbagai obat yang mampu bersaing dengan produk-produk dari Eropa. Keberhasilan tersebut merupakan terobosan besar Iran di bidang farmasi di Iran, sekaligus menunjukkan keberhasilan Tehran mematahkan monopoli yang dilakukan AS dan sejumlah negara Eropa dan Jepang di bidang produk bioteknologi.

Republik Islam Iran kembali menunjukkan kemampuannya di bidang medis dan farmasi dengan memproduksi secara massal paclitaxel, obat anti kanker. Paclitaxel adalah sejenis obat suntik untuk mengobati berbagai jenis kanker termasuk kanker payudara, rahim, paru-paru dan kulit. Saat ini jenis obat ini termasuk dalam list obat impor di Departemen Kesehatan Iran. Mengingat harganya yang mahal karena impor maka para pasien dan keluarganya kerap kesulitan untuk membelinya. Obat ini untuk pertama kalinya di produksi di Timur Tengah dan ditangani oleh Perusahaan Farmasi Sobhanoncology  milik Komite Eksekutif Instruktur Imam Khomeini. Perusahaan ini juga termasuk anak perusahaan al-Borz.

Selain itu, Iran berhasil memproduksi lebih dari 60 jenis bioteknologi di bidang vaksin di Institut Razi. Lembaga ini memiliki pengalaman lebih dari 80 tahun di bidang produksi vaksin dan obat yang merupakan lembaga riset terkemuka di Iran dan Timur Tengah.

Setiap tahunnya lebih dari 3,5 miliar unit medis olahan termasuk vaksin utama anti difteri, polio dan pertusis. Proyek lainnya adalah produksi vaksin influenza yang telah berhasil diujicoba di laboratorium. Diprediksi pada tahun baru yang tinggal satu setengah bulan lagi, Iran berhasil menguasai teknologi produksi vaksin influenza.

Kini Iran terus bergerak maju di bidang perkembangan sains dan teknologi. Di bidang farmasi dan medis, Iran bertekad menjadi produsen sains dan teknologi sekaligus menjadi poros keilmuan di kawasan Timur Tengah. Contoh riil dari berbagai kemajuan Iran adalah sains dan teknologi nuklir, nano teknologi, dan produksi sel punca serta kloning.

Irandalam beberapa tahun terakhir bertengger di urutan kelima dunia di bidang kloning domba setelah Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan Cina. Iran berhasil memproduksi sapi hasil kloning yang pertama kali di Timur Tengah dan termasuk segelintir negara yang menguasai teknologi kloning di dunia.

Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dari pengertian ini kita dapat menjabarkan bahwa dengan adanya globalisasi ini maka antar satu negara dengan negara yang lain menimbulkan kerja sama, interaksi melalui perdagangan, investasi, perjalanan ekonomi, budaya populer, dan lain-lain, yang akan mempengaruhi satu sama lain, dampak negatifnya situasi ini akan mengurangi rasa nasionalisme, peran negara dan batas-batas negara.

Namun tidak sesempit itu, banyak pandangan tentang globalisasi salah satunya, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diangkat oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Karena negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

Contoh-contoh pengaruh globalisasi pada berbagai bidang,

  1. Bidang ekonomi, aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa. pengaruh globalisasi pada aspek ini bisa terlihat dengan jelas, dimana hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti American Warteg, Coca Cola, Pizza Hut, Unilever, dll.) membanjir di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
  2. Bidang sosial, globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa. Namun dampak negatif pada bidang ini, mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

Dan masih banyak lagi, dengan demikian kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebagai penerus bangsa sudah seharusnya kita meningkatkan jiwa nasionalisme kita, dan belajar lebih giat untuk memajukan negara kita.

Saya menulis tulisan ini terinspirasi oleh sebuah film yaitu “THE SECRET”, disini saya akan mengungkapkan rahasia-rahasia kesuksesan yang di ungkap dalam film tersebut.

Tindakan – tindakan yang harus dilakukan:

  • Selalu berfikiran positif. Jika kita selalu berfikiran positif maka kita akan selalu mendapatkan hal-hal positif yang kita pikirkan.
  • Harus menjauhi fikiran-fikiran negatif. ketika kita tidak menyukai sesuatu dan menduga-duga hal tersebut akan menimpa kita, maka hal tersebut akan menimpa kita. Begitu juga ketika kita ingin meraih sesuatu lalu kita putus asa dan beranggapan kita tidak akan meraihnya, maka itu akan terjadi.
  • Lebih memerhatikan hal-hal yang kita inginkan, dan menjauhkan hal-hal yang tidak kita inginkan.
  • Catat semua keinginan, dan memberikan respon yang baik kepada keinginan tersebut. Jangan menduga-duga bahwa keinginan tersebut tidak akan tercapai, karena itu akan membuat keinginan tersebut tidak tercapai.
  • Gambarkanlah dan bayangkanlah hal-hal yang kamu inginkan agar menjadi kenyataan.
  • Mulailah menghargai hal-hal yang anda syukuri, jangan memikirkan kebencian kepada hal-hal yang tidak kamu miliki, dan jangan memikirkan masalah demi masalah karena itu akan memperbesar masalah.

Teori – teori tercapainya cita – cita tersebut:

- Dua perasaan :

  • Perasaan buruk. pada awalnya semua dari fikiran buruk, perasaan bersalah, marah, sedih, kemudian frustasi, semua terasa buruk. Dan semua perasaan tersebut menyatakan bahwa perasaan kita tidak sesuai dengan keinginan kita, itu yang disebut dengan frekwensi fikiran buruk.
  • Perasaan baik. Perasaan yang penuh harapan, kebahagiaan dan cinta. semua perasaan tersebut menyatakan bahwa perasaan kita sesuai dengan keinginan kita, itu yang disebut dengan frekwensi fikiran baik.

- The Point :

  • Ask. Meminta apa yang kita inginkan,fikirkan, kalau perlu kita catat semua.
  • Answer. Setelah meminta maka keinginan akan tercapai.
  • Receive. Menerima, kita hanya perlu membuat respon baik untuk menerimanya, bergairah, senang akan mendapatkannya. Hindari dugaan –dugaan buruk atau keputus asaan.

Kata – kata bijak:

  • Imajinasi adalah segalanya, imajinasi adalah gambaran pendahuluan dari peristiwa hidup yang akan menjadi kenyataan. -Albert Einstein-
  • Ambil langkah pertama dengan penuh keyakinan, anda tidak harus melihat anak tangga, cukup ambil langkah dianak tangga pertama. –Dr. Martin Luther King Ir-

Cerita – cerita kesuksesan orang – orang yang menerapkan rahasia ini:

  • David Schirmer, ketika setiap dia ingin memarkirkan mobilny dia selalu berfikir dan menbayangkan bahwa dia akan mendapatkan tempat yang ia inginkan, dan ternyata hal itu benar, dia selalu mendapatkan tempat parker yang ia inginkan.
  • Lee brower, sesuatu terjadi pada keluarganya, dia menemukan sebuah batu dan menyimpannya disakunya. Dan dia berkata “setiap saya menyentuh batu ini saya akan memikirkan hal yang saya syukuri” dan setiap setiap hari ia membawa batu tersebut dan mulai mensyukuri semua hal yang ia miliki. Suatu hari temannya melihat batu tersebut jatuh dari sakunya, dan dia bertanya “apa itu?” lalu ia menjawab “itu adalah batu penghargaan”, suatu ketika anak teman david tersebut jatuh sakit, dan dengan penuh harapan ia meminta david untuk mengiriminya 3 batu penghargaan untuknya, kemudian david mengambil batu tersebut dari pinggir sungai dan memberikan kepada temannya tersebut, dan ternyata beberapa bulan kemudian anak teman david sembuh dari sakitnya.
  • John assaraf, pada tahun 1995 ia membuat papan visi, dan menempatkan semua foto yang ia inginkan kedalam papan visi tersebut. Dan setiap hari dalam kantornya ia selalu menatap papan visi itu, dan selalu menatap dan membayangkan itu semua kenyataan, lalu ia sering pindah rumah semua perabotan dimasukkan kedalam kardus dan disimpan dalam gudang, setelah itu ia selalu pindah rumah dan terakhir membeli rumah di kalifornia dan merenovarsinya selama setahun. Suatu pagi anak laki – lakinya masuk ke ruang kantornya, dan kerdus berisi papan visi tersebut disamping pintu dan diduduki oleh anaknya, dan anaknya bertanya apa isinya lalu dibuka, dan seketika john menangis melihat isinya karena ternyata isi papan visi tersebut benar – benar menjadi kenyataan, bahkan rumah yang ia tempati sama seperti yang berada didalam gambar.

Mudah bukan?? Lebih jelasnya silahkan tonton film “the secret” karena masih banyak pengalaman-pengalan yang dialami orang sukses setelah menjalani rahasia ini. Selamat mencoba!!

Brig Jen Ahmad Vahidi, Menhan Iran

Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi mengatakan Tentara Republik Islam dilengkapi dengan persenjataan dan peralatan yang paling canggih.
“Hal yang penting ini telah dicapai melalui upaya Personil Angkatan Darat Republik Islam,” kata Vahidi pada hari Minggu di Provinsi Kurdistan.

Vahidi menambahkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah mencapai kemajuan dan keberhasilan berkat arahan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

“Hari ini Tentara Republik Islam Iran selalu siap untuk melawan setiap serangan musuh,”kata menteri pertahanan pada ISNA .

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan penting di sektor pertahanan dan mencapai swasembada peralatan dan sistem militer.

Sebelumnya pada bulan April, Iran berhasil menguji-tembak sistim rudah anti-pesawat terbaru negara bernama Sayyad-2 (Pemburu 2).

Sistem ini adalah versi upgrade dari Sayyad-1, yang terdiri dari rudal dua tahap yang dapat menargetkan semua jenis pesawat, termasuk pembom, di ketinggian menengah dan tinggi.

Sitem rudal anti-pesawat Sayyad dapat digunakan dalam peperangan elektronik, dan terhadap sistem radar penampang rendah (RCS).

Rudal Shahin (Hawk) dan Shalamcheh yang diproduksi oleh Departemen Pertahanan juga berhasil diuji dan dikirim ke unit tentara yang berbeda pada bulan April.

Pada bulan Januari, Iran berhasil menguji-menembak rudal mid-range Hawk, permukaan-ke-udara dan Kementerian Pertahanan Iran mengirimkan sistem rudal jelajah baru itu ke Angkatan Laut.

Sistem yang dirancang dan diproduksi oleh pakar Iran, mampu mendeteksi dan menghancurkan target yang berbeda di laut.

Semoga sukses^_^

RU’YATULLAH ANALISIS ATAS ALIRAN-ALIRAN TEOLOGI ISLAM yang dimenangkan Syi’ah Imamiyah

PENDAHULUAN

Dalam tradisi filsafat Islam, para filosof Islam dan kaum teosof telah memberikan pandangan mereka tentang tingkatan-tingkatan keberadaan segala sesuatu (maratib al-wujud/hierarchy of being). Menurut prinsip ini, wujud terbagi ke dalam tingkatan-tingkatan, mulai dari Wujud Puncak yang bersifat Mutlak, yaitu Allah SWT, hingga paling rendah, yakni materi awal.[1] Hal ini bisa dilihat pula pada teori emanasi sebagaimana diuraikan oleh para filosof Muslim semisal al-Farabi, Ibn Sina, Ikhwanushofa, Suhrawardi, dan Mulla Shadra.

Sementara kaum teosof memiliki cara pengungkapan berbeda tentang maratib al-wujud ini. Sebagian teosof memandang bahwa wujud terbagi atas tiga kelompok, yakni pertama, wujud mutlak yang bersifat ruhani (Allah SWT), kedua, wujud khayali (imajinal), dan ketiga, wujud jismani (fisis-material). Wujud pertama dikenal sebagai ‘alam al-amr. Wujud kedua disebut alam barzakh. Sedangkan wujud yang ketiga dikenal sebagai alam syahadah. Sementara sebagian teosof lain menyatakan bahwa wujud terbagi atas beberapa tingkatan, yakni alam ruhani mutlak (hadirat Ilahi), alam barzakh, dan alam dunia. Sementara alam ruhani mutlak terdiri atas sejumlah tingkatan, yakni ghayb al-ghuyub (paling gaib), ahadiyah (ketakberbilangan), wahidiyah (kesatuan). Di pihak lain, sejumlah teosof menjelaskan bahwa wujud terbagi atas sejumlah tingkatan, yakni pertama, alam jabarut, kedua, alam malakut, dan ketiga, alam nasut/malak. Pandangan lain menyebutkan tingkatan wujud adalah pertama, alam hahut (Wujud Mutlak Allah SWT), kedua, alam lahut (Manifestasi Wujud Allah SWT di tingkatan keberbilangan), dan ketiga, alam nasut (alam manusia).[2]

Meskipun banyak versi tentang masalah maratib al-wujud, sebagaimana dipaparkan di atas, jelasnya bahwa semua pandangan tersebut hanyalah berbeda dalam penggunaan bahasa, namun substansi pembahasannya tidak berbeda. Di samping itu, semua wujud yang disebut pertama merupakan wujud tertinggi dalam hierarki wujud, bahkan “Pencipta” wujud-wujud lainnnya, berikut disusul wujud-wujud lainnya, sebagai wujud terendah di bawah wujud pertama tersebut.

Sejalan dengan tingkatan-tingkatan wujud di atas, kaum filosof Islam dan teosof Islam menyatakan bahwa manusia dikaruniai dengan berbagai daya (fakultas) untuk mempersepsi pelbagai wujud-wujud di atas, yakni panca indera, jiwa (nafs), dan fu’ad (qalb/ruh/’aql). Daya panca indra berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi alam fisis-material. Daya jiwa (nafs) berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi alam barzakh atau alam khayal atau alam imajinal. Sedangkan fu’ad dapat berfungsi sebagai alat untuk mempersepsi wujud tertinggi dalam tingkatan-tingkatan wujud (maratib al-wujud) tersebut, yaitu Wujud Puncak atau ’Alam al-amr atau Hahut atau alam Jabarut atau Wujud Ruhani yang bersifat mutlak.[3] Demikian pandangan para filosof dan teosof Islam tentang tingkatan-tingkatan wujud (maratib al-wujud).

Berdasarkan keterangan di atas, seorang manusia tidak akan mungkin melihat Allah SWT di alam dunia yang bersifat fisis-material dengan matanya (indera). Sebab, mata manusia hanya berfungsi sebagai alat untuk melihat alam fisis-material semata. Namun Allah SWT dapat dilihat jika seorang manusia memfungsikan sebuah daya lain dalam dirinya, yakni fu’ad. Menurut filosof dan teosof, alat ini mampu mempersepsi alam gaib mutlak, yakni Allah SWT. Untuk melihat alam khayal/alam barzakh, manusia dapat memfungsikan jiwa/nafsnya. Yang jelas, ketika seorang manusia ingin memfungsikan ketiga daya tersebut sehingga dapat mempersepsi wujud-wujud sesuai dengan kapasitas dan wewenang daya itu, maka manusia tersebut harus melatih secara kontinyu ketiga daya tersebut. Ketika manusia itu telah berhasil melatih sejumlah daya tersebut, maka manusia itu dapat memfungsikan daya-daya itu guna melihat wujud-wujud sesuai dengan kapasitas dan wewenang daya-daya tersebut.

Dalam tradisi Kalam di dunia Islam, para Mutakallim berselisih paham tentang masalah ru’yatullah (baca: melihat Allah SWT) ini. Sebagian kalangan menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat kelak sekaligus. Sebagian lain menyatakan pula bahwa Allah SWT hanya dapat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Sebagian lagi berpendapat bahwa Allah SWT sangat tidak mungkin dilihat oleh manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Masing-masing mereka pun mengajukan argumen-argumen tertentu, baik argumen aqliyah maupun argumen naqliyah.

Dalam makalah yang sederhana ini, Penulis akan mencoba menguraikan permasalahan-permasalahan tentang ru’yatullah. Secara khusus, Penulis akan memaparkan pandangan al-Quran dan Hadits tentang ru’yatulllah, pandangan sejumlah aliran Kalam dalam Islam tentang ru’yatullah, konsep ru’yatullah menurut Syi’i, Mu’tazili, dan Sunni, serta urgensi konsep ru’yatullah tersebut bagi kehidupan manusia modern. Sebagai sebuah makalah yang sederhana, makalah ini tidak berpretensi untuk menentukan pandangan paling benar di antara sejumlah pandangan tentang ru’yatullah tersebut. Namun tidak ditutup kemungkinan jika Penulis dan Pembaca memilih satu dari sekian pandangan atau pula melakukan sintesis antar pandangan itu guna menentukan pandangannya sendiri tanpa diiringi sikap menyalahkan apalagi mengkafirkan pandangan lainnya.

AL-QURAN DAN HADITS TENTANG RU’YATULLAH

Di dalam al-Quran al-Karim, Allah SWT memberikan penjelasan-penjelasan tentang permasalahan ru’yatullah. Akan tetapi, sebagian ayat-ayat al-Qur’an menjelaskan bahwa manusia tidak akan mungkin melihat Tuhannya. Sementara sebagian ayat-ayat al-Quran lainnya malah mensinyalir bahwa manusia dapat melihat Tuhannya. Sekelompok aliran kalam menjadikan ayat-ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa manusia tidak akan mungkin melihat Tuhannya sebagai ayat muhkamat, sehingga ayat-ayat al-Quran yang menyatakan sebaliknya adalah sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Sebaliknya, sekelompok aliran kalam menyebut ayat-ayat al-Quran tentang kemungkinan manusia melihat Tuhannya sebagai ayat muhkamat, sehingga ayat-ayat al-Quran yang menyatakan sebaliknya sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Sebagai konsekuensi, masing-masing aliran menerima secara tegas ayat-ayat muhkamat dan menakwilkan ayat-ayat al-Quran yang dianggap mutasyabihat.[4]

1. Ayat-Ayat Tentang Kemungkinan Melihat Allah

Sejumlah ayat al-Quran yang sepintas tampak menyatakan bahwa seorang manusia dapat melihat Allah SWT adalah sebagai berikut:

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri; kepada Tuhan-nya mereka Melihat.(Q.S. 75: 22-23)

Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Pada hari di mana mereka akan bertemu dengan-Nya dengan penuh kedamaian; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.(Q.S. Al-Ahzab/33: 43-44).

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”.(Q.S.Al-Baqarah/2: 55)

Wahai manusia, sesungguhnya apabila kamu bersungguh-sungguh menemui Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya.(Q.S. Insyiqaq/84: 6)

Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami; Atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya; Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami.(Q.S. Al-Isra’/17: 90-92)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kezaliman”. Pada hari mereka melihat malaikat dihari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa mereka berkata: “Hijraan mahjuuraa (Q.S. 25: 21-22).

(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.(Q.S. Al-Baqarah/2: 46)

Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.(Q.S. Al-Baqarah/2: 223)

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Q.S.Al-Baqarah/2: 249)

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.(Q.S. Al-An’am: 31)

Kemudian kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.(Q.S. Al-An’am: 154)

Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.(Q.S. At-Taubah: 77)

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami. (Q.S. Yunus/10: 7)

Dan kalau sekiranya Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka. Maka kami biarkan orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, bergelimangan di dalam kesesatan mereka.(Q.S. Yunus/10: 11)

Dan (Ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. (Q.S. Yunus/10: 45)

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak Mengetahui”. (Q.S. Hud/11: 29)

Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu. (Q.S. Ra’du/13: 2)

Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat. (Q.S. Al-Kahfi/18: 105)

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Q.S. Al-Kahfi/18: 110)

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami: “Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?” Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan) kezaliman”. (Q.S. Al-Furqan/25: 21)

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-‘Ankabuut/29: 5)

Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih. (Q.S. Al-‘Ankabuut/29: 23)

Dan Mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (Q.S. Rum/30: 8)

Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?”. Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya. (Q.S. As-Sajadah/32: 10)

2. Ayat-Ayat Yang Menunjukkan Kemustahilan Melihat Allah

Sementara sejumlah ayat al-Quran yang secara sepintas tampak menyatakan bahwa seorang manusia tidak akan dapat melihat Tuhannya adalah sebagai berikut:

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (Q.S. 6 : 103)

Sekali-kali tidak, sesungguhnya Allah pada hari itu akan menutup diri-Nya dari pandangan mereka. (Q.S. Muthaffifin/83: 15)

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sedia kala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (Q.S. 7: 143)

Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Asy-Syura/42: 51)

Demikianlah sejumlah ayat al-Quran berkenaan dengan masalah ru’yatullah. Ayat-ayat al-Quran yang tampak menyatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan, dijadikan sejumlah aliran kalam sebagai dalil naqli bagi kemungkinan manusia melihat Tuhan. Mereka menakwilnya ayat-ayat yang sepintas menyatakan bahwa Tuhan tidak dapat melihat. Sebaliknya, ayat-ayat yang tampak menyatakan bahwa manusia tidak dapat melihat Tuhan dijadikan oleh sejumlah aliran sebagai dalil naqli bagi ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan. Konsekuensinya, mereka menakwilkan ayat-ayat yang menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat.

Jika dilihat sepintas tampak bahwa ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan masalah ru’yatullah saling bertentangan. Sebagian ayat menyatakan kemungkinan manusia melihat Tuhan, sementara sebagian ayat lainnya menyatakan kebalikannya. Untuk masalah ini, harus diperhatikan bahwa sesungguhnya tidak ada pertentangan di dalam al-Quran. Kesimpulan bahwa ayat-ayat al-Quran saling kontradiksi itu hanya merupakan akibat pemahaman yang keliru semata-mata. Karena itu, para sarjana Islam harus mampu menakwilkan sejumlah ayat al-Quran yang tampak berlawanan itu. Ini pula sebenarnya segi paling menarik dan paling mengagumkan dari susunan al-Quran.[5] Pendeknya, tidak ada pertentangan di dalam al-Quran.

3. Hadits-Hadits Tentang Melihat Allah dalam Kitab Sunni dan Syiah

Di pihak lain, menurut tradisi Sunni (Ahlussunnahwaljama’ah), ada sejumlah hadits Nabi Muhammad SAW yang membahas permasalahan ru’yatullah ini, sebagaimana tertulis di dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Dalam kitab Sahih Bukhari tertera sejumlah hadits tentang ru’yatullah, sebagaimana tertulis di bawah ini.

- Dari Aisyah r.a, katanya: “Siapa yang menceritakan kepada engkau, bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Tuhannya, sesungguhnya orang tersebut berdusta, karena Tuhan mengatakan: “Pandangan tidak sampai kepada-Nya. Dan siapa yang mencerita-kan kepada engkau, bahwa Nabi Muhammad SAW mengetahui hal yang gaib, sesungguhnya orang itu dusta, karena Tuhan mengatakan “Tiada yang mengetahui hal yang gaib melainkan Allah”.[6]

- Dari Jarir r.a. katanya: “ketika kami sedang duduk dekat Nabi SAW, beliau memperhatikan bulan di malam purnama, beliau bersabda “Sesungguhnya kamu nanti akan melihat Tuhan kamu, sebagaimana kamu melihat bulan ini dan kamu tidak berdesak-desak untuk melihat-Nya. Dan kalau kamu sanggup tidak ketinggalan dalam mengerjakan sembahyang sebelum matahari terbit dan sembahyang yang sebelum matahari terbenam, perbuatlah”.[7]

- Dari Adi bin Hatim r.a. katanya: “Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu nanti akan berbicara dengan Tuhannya, tanpa perantaraan juru bahasa dan tidak ada pula dinding yang membatasi”. [8]

Sementara dalam kitab Sahih Muslim, tertera sejumlah hadits tentang ru’yatullah, yakni sebagai berikut:

- Diriwayatkan dari Abu Musa r.a. : Rasulullah SAW pernah berdiri di tengah-tengah kami menjelaskan lima pokok pembicaraan. Beliau bersabda, “Sesungguhnya, Allah SWT tidak tidur, dan tidak patut bagi-Nya untuk tidur; Dia menurunkan dan menaikkan kadar timbangan amal hamba-Nya; kepada-Nyalah diangkat amal hamba-Nya yang malam hari sebelum amal yang siang hari; dan juga amal yang siang hari sebelum amal yang malam harinya; tirai Allah SWT adalah cahaya. Jika Allah SWT menyingkap tirai-Nya, cahaya Zat Allah itu akan menghanguskan semua Makhluq-Nya.[9]

- Diriwayatkan dari Masruq :  Saya pernah duduk bersandar di rumah ‘Aisyah, lalu beliau berkata: “Wahai Abu ‘Aisyah, ada tiga perkara, barang siapa berkata dengan salah satu darinya, berarti dia telah berdusta besar terhadap Allah SWT”. Saya bertanya, “Apa tiga perkara itu?”. Aisyah menjawab: “Mengatakan bahwa Muhammad telah melihat Tuhannya, berarti dia telah melakukan kebohongan yang besar”. Masruq berkata: “Waktu itu saya sedang bersandar, lalu saya duduk dan berkata, “Wahai Ummul Mukminin!, tunggu, jangan tergesa-gesa, bukankah Allah SWT berfirman, Dan sesungguhnya Muhammad itu telah melihat Jibril di ufuk yang terang (Q.S. Al-Takwir: 23), dan firman-Nya, Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupa yang asli) dalam waktu yang lain? (Q.S. An-Najm: 13). Aisyah menjawab, “Aku adalah orang pertama dari ummat ini yang bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah SAW”. Lalu beliau menjawab, “Dia itu adalah Jibril a.s yang belum pernah aku melihatnya dalam bentuk aslinya, kecuali hanya dua kali itu aku melihatnya turun dari langit. Bentuk kejadian aslinya yang agung itu menutupi ruangan antara langit dan bumi”. Kemudian Aisyah r.a berkata, “Apakah engkau tidak pernah mendengar Allah SWT berfirman: Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.(Q.S. 6: 103). Apakah engkau tidak mengdengar Allah SWT berfirman: Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.(Q.S. Asy-Syura/42: 51)……[10]

- Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a : Beberapa orang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Apakah kita akan melihat Tuhan kita nanti pada hari kiamat?”. Kemudian Rasulullah SAW menjawab, “Apakah kamu pernah terhalang mendung untuk melihat bulan purnama?”. Mereka menjawab, “Tidak wahai Rasulullah SAW”. Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu pernah terhalang untuk melihat matahari sewaktu tidak ada mendung?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Demikian pula kamu melihat-Nya, Allah akan menghimpun manusia nanti pada hari kiamat, lalu berfirman “Barangsiapa menyembah matahari, dia mengikuti matahari, barangsiapa menyembah bulan, dia mengikuti bulan, dan barangsiapa menyembah berhala, dia mengikuti berhala. Dan tinggallah umat Muhammad ini, termasuk di dalamnya orang munafik, lalu Allah mendatangi mereka dalam bentuk yang tidak mereka kenali, kemudian Dia berfirman, “Aku Tuhanmu!”. Kemudian mereka menjawab, “kami berlindung kepada Allah SWT darimu, inilah tempat kami sehingga Tuhan yang telah kami kenal itu datang”. Kemudian Allah datang lagi dalam bentuk yang mereka kenali, lalu Dia berfirman, “Aku Tuhanmu”. Lalu mereka berkata, “Engkau Tuhan kami”. Lalu mereka mengikuti-Nya. Setelah itu, dipancangkanlah titian di tengah api Jahannam. Jadi, aku dan umatkulah yang mula-mula melintasinya dan tidak seorang pun yang diperkenankan berbicara waktu itu, kecuali rasul-rasul Allah ……[11]

Berdasarkan penelusuran terhadap tradisi madzhab Syi’ah Imamiyah (Itsna’asyariyah), ditemukan sejumlah hadits-hadits tentang masalah ru’yatullah ini. Di dalam kitab Ushul al-Kafi karya Abu Ya’kub Al Kulaini, misalnya, terdapat sejumlah hadits tentang ru’yatullah, salah satunya adalah sebagaimana berikut:

- Muhammad bin Abi Abdillah, dari Ali bin Abi al-Qasim, dari Ya’kub bin Ishaq, berkata: “saya mengajukan pertanyaan kepada Abi Muhammad”, “Bagaimana seorang hamba menyembah Tuhannya sementara hamba tersebut tidak melihat-Nya?”. Maka beliau menjawab: ”Wahai Abu Yusuf, bahwa Allah SWT sebagai pemberi nikmat atasku dan atas ayah-ayahku, dapat dilihat secara nyata. Maka aku bertanya kepadanya: ”Apakah Rasulullah SAW melihat Tuhannya?”, Maka beliau pun menjawab “Sesungguhnya Rasulullah SAW melihat Allah SWT dengan hatinya (bi qalbihi) yang bersumber dari cahaya keagungannya dan kecintaannya”.[12]

Dalam berbagai hadits dalam kitab Ushul al-Kafi karya Abu Ya’kub Al Kulaini tersebut terdapat banyak sekali hadits tentang permasalahan ru’yatullah ini. Semua hadits tersebut menjelaskan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia, namun manusia itu tidak melihat Allah SWT dengan indera matanya, namun manusia akan melihat Allah SWT dengan hatinya (bi qalbih). Hal ini sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW dan para Imam Syi’ah Imamiyah, di mana Rasululllah SAW dan para Imam Syi’ah Imamiyah secara nyata telah melihat Allah SWT, bukan dengan indera mata mereka, namun mereka melihat-Nya dengan qalb-nya yang bersih dan suci.[13] Namun ini adalah sumber dari madzhab Syi’ah Imamiyah, dan mereka mendukungnya.

RU’YATULLAH DALAM PEMIKIRAN ALIRAN KALAM

Secara historis, umat Islam telah terbagi-bagi menjadi sejumlah aliran teologi. Aliran-aliran teologi ini muncul ketika Nabi Muhammad SAW telah wafat. Jadi, aliran ini belum muncul ke permukaan pada priode kenabian, kendati pun benih-benihnya mulai tampak secara samar-samar. Perpecahan ini tidak terjadi pada priode kenabian karena ketika itu Nabi Muhammad berfungsi sebagai hakim atau pemutus segala perkara. Sehingga ketika sebuah permasalahan baik permasalahan teologi maupun hukum, maka umat Islam dapat menanyakan langsung kepada nabi, dan jawaban atas pertanyaan itu pun segera diperoleh dan diyakini.

Dalam konteks teologis, sebenarnya Nabi Muhammad SAW telah menanamkan aqidah Islam yang kuat kepada umat Islam. Menurut hemat Penulis, sungguh keliru jika sejumlah pemikir menganggap bahwa permasalahan teologis baru muncul pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, terutama pasca perang Shiffin ketika Muawiyah bin Abi Sofyan memberontak kepada khalifah ‘Ali bin Abi Thalib. Sebab sebenarnya pelbagai permasalahan telah muncul pada priode kenabian. Hanya saja, bagaimana format baku teologi yang diajarkan Nabi Muhammad kepada umatnya itu jarang dikemukakan. Selama ini, para penulis sejarah Kalam hanya menuliskan pandangan-pandangan teologis dari berbagai aliran kalam dalam Islam.

Ketika Nabi Muhammad SAW mengajarkan aqidah Islam kepada umatnya, maka Nabi Muhammad SAW akan memperhatikan tingkat kemampuan intelektual para ‘muridnya’. Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan teologi Islam secara sangat sederhana kepada sebagian sahabat yang memiliki intelektual rendah. Sementara itu, tidak tertutup kemungkinan jika Nabi Muhammad SAW mengajarkan teologi Islam melalui pendekatan filosofis dan intuitif kepada sebagian sahabat yang memang memiliki kapasitas intelektual yang tinggi. Hal ini sangat jelas karena ketika Nabi Muhammad SAW hendak menyampaikan risalah, maka terlebih dahulu beliau akan melihat tingkat kemampuan akal para audiensnya.

Pada dasarnya, kemunculan sejumlah pandangan teologis pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat terkait dengan fakta di atas. Hal ini sangat jelas karena, setiap umat Nabi Muhammad SAW pada priode awal memiliki kecerdasan yang tidak sama, sehingga terang saja jika umatnya akan menafsirkan ajaran Nabi Muhammad SAW tentang teologi tersebut secara berbeda-beda. Di samping itu, Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan teologi secara filosofis kepada segelintir umatnya yang cerdas. Sementara kepada umatnya yang kurang cerdas, maka Nabi Muhammad SAW akan mengajarkan akidah Islam secara sederhana. Karena Nabi Muhammad SAW mengajarkan akidah Islam dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda, maka sepintas lalu ajaran-ajaran teologi itu akan tampak berbeda, bahkan bertentangan meskipun sebenarnya tidak demikian. Barangkali hal ini pula membuat umat Islam priode awal memiliki perbedaan pandangan yang tajam di bidang teologi, dan selanjutnya masing-masing mereka akan meyakini sepenuh hati ajaran-ajaran nabi yang mereka pahami itu.

Perpecahan umat Islam di berbagai bidang terutama teologi semakin terlihat ketika khalifah ‘Ali bin Ali Thalib menduduki jabatan khalifah. Ketika sepupu dan menantu nabi Muhammad SAW, yakni Ali bin Abi Thalib menjabat sebagai khalifah, pemimpin umat Islam, beliau dihadapkan kepada sejumlah persoalan, terutama pemberontakan sejumlah sahabat kepadanya. Tak pelak, sejumlah peperangan antar sesama umat Islam pun terjadi, antara lain adalah perang Shiffin. Perang ini terjadi antara khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan gubernur Damaskus, yakni Mu’awiyah bin Abi Sofyan. Sejumlah persoalan internal menjadi faktor pemicu lahirnya perang ini. Namun yang jelas, setelah perang ini berakhir, kondisi umat Islam ditandai oleh lahirnya banyak aliran. Dalam perkembangannya, aliran-aliran teologi dalam Islam antara lain adalah Khawarij, Syi’ah, Murji’ah, Qadariyah, Jabbariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan lain sebagainya. Tak hanya sebatas itu, masing-masing aliran tersebut terpecah pula menjadi sejumlah sekte-sekte yang jumlahnya bisa sangat banyak.

Salah satu masalah ilmu kalam sebagai bahan kajian para Mutakallim adalah masalah Ru’yatullah. Sebagaimana diketahui bahwa umat Islam terpecah menjadi sejumlah aliran teologi. Dalam kasus ru’yatullah, masing-masing aliran teologi ini memiliki pandangan yang berbeda-beda.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pandangan aliran-aliran Kalam tentang Ru’yatullah terbagi atas dua kelompok.

Pertama. Sekelompok aliran yang berpendapat bahwa Allah SWT dapat dilihat. Mengenai alat yang digunakan, sebagian pendapat menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan mata. Sementara sebagian lain mengungkapkan bahwa Allah SWT hanya bisa dilihat dengan hati. Mengenai tempatnya, sebagian menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat di dunia dan di akhirat sekaligus. Sementara sebagian lain berpendapat bahwa Allah SWT hanya dapat di lihat di akhirat saja. Kelompok-kelompok ini adalah sebagai berikut:

Sebagian pemuka Murji’ah. Mereka menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia melalui penglihatan matanya di akhirat kelak.[15]

Sebagian pemuka Mu’tazilah. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia, tetapi tidak melalui penglihatan matanya, melainkan melalui hati sanubarinya. Dengan kata lain, mereka meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan hati manusia sehingga manusia dapat mengetahui-Nya. Pandangan terakhir dianut sebagian besar pengikut aliran Mu’tazilah, terutama Abu al-Hudzail.[16] Sementara itu, Ahmad bin Khabith dan al-Fadhal al-Hadtsi, keduanya pendiri al-Khabithiyyah dan al-Haditsiyah (masih aliran Mu’tazilah), menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia di hari kiamat. Namun manusia melihat Tuhan melalui akal aktif, sebuah akal yang menangkap semua gambaran yang ada. Pada hari kiamat, akal ini mampu membuka hijab akal sehingga akal ini dapat melihat Tuhan. Namun penglihatan akal terhadap Tuhan tidak serupa dengan sesuatu yang diciptakan Tuhan.[17]

Aliran Dhirariyah. Bagi pengikut aliran ini, manusia dapat melihat Allah SWT di akhirat kelak. Karena pada saat itu, Allah SWT akan menciptakan indera keenam bagi orang-orang beriman (baca: mukmin) agar mereka dapat melihat-Nya.[18]

Sekelompok ahli ibadah. Pada masa Klasik, sekelompok ahli ibadah berpandangan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia ini, sesuai dengan kadar perbuatan seseorang. Jika seseorang memiliki banyak perbuatan baik, maka orang tersebut bisa melihat–Nya dengan baik. Sebaliknya, jika orang tersebut memiliki perbuatan tidak baik, maka orang tersebut tidak akan dapat melihat Allah SWT dengan baik pula.[19]

Kalangan ahli hadits tentang ru’yatullah ini. Bagi kalangan ahli hadits, seorang mukmin niscaya dapat melihat Allah SWT dengan penglihatannya di hari kiamat kelak, sebagaimana melihat bulan di malam purnama. Sebaliknya, orang-orang kafir tidak akan dapat melihat-Nya karena terhalang oleh kekafirannya. Hal ini sebagaimana firman-Nya: “Sekali-kali tidaklah begitu, bahkan sebenarnya mereka pada hari kiamat itu terhalang dari melihat Tuhannya. (Q.S. Al-Muthaffifin: 15). Selain itu, mereka beralasan bahwa menurut kisah al-Quran bahwa Nabi Musa as pun meminta kepada Allah SWT agar menampakkan diri-Nya, kemudian Dia mengabulkan permintaannya tersebut, sehingga menampaklah diri-Nya di atas gunung dan seketika itu nabi Musa as pun pingsang. Berdasarkan cerita ini, para ahli hadits menganggap bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan penglihatan di dunia ini, tetapi hanya bisa dilihat di hari akhirat semata.[20]

Aliran Mujassimah. Kelompok Mujassimah meyakini bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia melalui indera matanya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.[21]

Aliran Musyabbihah. Menurut aliran ini, manusia dapat melihat Tuhan di dunia ini. Tuhan pun dapat ditemui oleh manusia, dan Tuhan dapat menemui manusia di dunia ini.[22]

Aliran Bakriyyah. Kelompok Bakriyyah meyakini bahwa Allah SWT akan menciptakan suatu bentuk tertentu atas diri-Nya, sehingga dengan bentuk itu Dia pun akan dapat terlihat, bahkan Dia dapat berbicara langsung dengan manusia.[23]

Husein al-Najar. Al-Najar berpandangan bahwa Allah SWT akan menjadikan mata pada hati, sehingga terciptalah daya kekuatan ilmu padanya, di mana dengan daya kekuatan ilmu tersebut, seseorang bisa melihat-Nya atau pun mengetahui-Nya.[24]

Dharar dan Hafs al-Fard. Keduanya beranggapan bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan penglihatan mata, tetapi Dia akan menciptakan indera keenam kepada mereka, sehingga dengan indera keenam itu mereka pun akan bisa melihat Allah SWT.[25]

Sebagian Mutakallimin lain menganggap bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia ini, sehingga mereka tidak mengingkari jika seseorang melihat Allah SWT di jalan raya. Sebagian Mutakallimin menyebutkan bahwa seorang manusia dapat melihat Allah SWT, bahkan orang tersebut dapat menjumpai-Nya, menyentuh-Nya, dan mendekatkan diri dengan-Nya. Tidak hanya itu, mereka meyakini bahwa seseorang yang berbuat baik dapat pula seiring sejalan dengan-Nya, jika Dia menghendaki hal itu. Pandangan ini dianut oleh seorang Mutakallimin yang bernama Mudhar dan Kahmas. Di pihak lain, Mutakallimin lain semacam Abdul Wahid menyatakan bahwa Allah SWT itu sebenarnya bisa dilihat oleh para hamba-Nya, sesuai dengan amal perbuatan yang ada pada hamba-Nya tersebut. Karena itu, jika amal perbuatan hamba-Nya tersebut baik, maka niscaya hamba-Nya itu akan dapat melihat-Nya. Pandangan Mutakallimin lain menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT ketika tidur, sementara ketika manusia tersebut sadar, maka manusia itu tidak dapat melihat-Nya. Pandangan ini dianut oleh Sulaiman al-Tamimi.[26]

Zuhair al-Atsari dan pengikutnya. Mereka menyatakan bahwa karena Allah SWT itu bersemayang di setiap tempat, maka Allah SWT dapat dilihat dengan penglihatan mata. Namun bagi mereka, seseorang tidak boleh memikirkan tentang cara melihat Allah tersebut. Kendati demikian, Allah SWT bukanlah jisim. Dia tidak terbatas, sehingga Dia tidak bisa dirasa dan diraba. Mereka pun meyakini bahwa Allah akan mendatangi manusia di hari kiamat kelak. Kendati begitu, mereka menyatakan bahwa seseorang tidak boleh mempersoalkan bagaimana Allah SWT mendatangi manusia tersebut.[27]

Syi’ah Imamiyah. Madzhab Syi’ah Imamiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan pernah dapat dilihat oleh mata fisik manusia baik di dunia maupun akhirat kelak. Bagi mereka meyakini bahwa keyakinan akal (ilmu al-yaqin) bukan sebagai tingkat keyakinan tertinggi manusia, melainkan hati (ain al-yaqin). Ain al-Yaqin (yakin karena melihat) mengandung makna menyaksikan Tuhan dengan hati, bukan dengan mata. Karena itu kaum Syi’ah Imamiyah meyakinmi bahwa kendati Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata fisik, namun Tuhan dapat dilihat dengan hati yang suci dan bersih.[28]

Aliran Thahawiyah. Aliran ini menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia. Mereka menekankan bahwa masalah melihat tuhan merupakan rukun iman. Masalah ini mesti diterima oleh umat Islam tanpa keraguan, tanpa interpretasi personal, dan tanpa fikiran anthropomorfis. Setiap upaya umat Islam untuk menginterpretasikan masalah ini melalui fikiran, maka mereka berarti mengingkari rukun iman yang satu ini.[29]

Kedua, sekelompok aliran yang berpendapat bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat. Mereka menyatakan bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat baik di dunia maupun di akhirat. Mata dan hati manusia tidak akan pernah mampu melihat Allah SWT.

Sebagian kaum Murji’ah. Mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia melalui indera matanya.[30] Bahkan sekelompok pemuka aliran Murji’ah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia baik melalui indera mata maupun hati. Tidak hanya itu, manusia tersebut bukan hanya tidak bisa melihat-Nya di dunia saja, bahkan manusia tidak akan pernah melihat-Nya di akhirat kelak.[31]

Aliran Mu’tazilah. Mayoritas kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat dengan penglihatan mata. Bahkan mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak bisa diketahui dengan penglihatan mata atau pun hati, baik di dunia maupun di akhirat kelak.[32] Dalam konteks ini, al-Juba’i dan Abu Hasyim Abd Salam, dua orang pemuka Mu’tazilah meyakini bahwa  manusia tidak akan pernah melihat zat Allah di akhirat kelak, apalagi di dunia.[33]

Aliran Jabbariyah. Menurut Jaham bin Shafwan, tokoh aliran Jabbariyah menyatakan bahwa Tuhan tidak akan dapat dilihat manusia di akhirat, apalagi di dunia.[34]

Aliran Khawarij dan Syi’ah Zaidiyah. Para pemuka aliran Khawarij dan Syi’ah Zaidiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh manusia baik melalui indera mata maupun hati. Tidak hanya itu, manusia tersebut bukan hanya tidak bisa melihat-Nya di dunia saja, bahkan manusia tidak akan pernah melihat-Nya di akhirat kelak.[35]

Demikianlah paparan umum tentang sejarah pemikiran Kalam yang berkenaan dengan konsep Ru’yatullah. Keanekaan ragam pemikiran tentang konsep Ru’yatullah ini menjadi indikasi bahwa umat Islam tidak memiliki kesamaan pandangan tentang hal tersebut. Kendati begitu, sebuah sikap toleran dalam menanggapi perbedaan tersebut menjadi keniscayaan demi menggapai persatuan umat Islam.

RU’YATULLAH : ANTARA SYI’I, MU’TAZILI, DAN SUNNI

Pada bagian terdahulu, Penulis telah mengemukakan secara umum tentang sejumlah pandangan mengenai masalah Ru’yatullah tanpa disertai dalil, baik dalil-dalil aqliyah atau pun dalil-dalil naqliyah.  Karena itu, pada bagian ini Penulis akan menjelaskan sejumlah argumen dari aliran Syi’i, Mu’tazili, dan Sunni tentang masalah Ru’yatullah. Dipilihnya ketiga aliran ini, karena ketiga aliran ini memiliki pandangan yang lebih sistematis dan komprehensif, di samping ketiga aliran ini menjadi aliran terbesar sepanjang sejarah pemikiran Islam. Tidak hanya itu, aliran Syi’i dan Sunni pun masih terus eksis hingga saat ini, sehingga pengkajian tentang pemikiran aliran-aliran ini masih dianggap penting dan aktual. Berikut pandangan-pandangan ketiga aliran teologi Islam ini tentang masalah Ru’yatullah.

1. ALIRAN SYI’AH IMAMIYAH

Aliran Syi’ah Imamiyah merupakan salah satu aliran Syi’ah yang berkembang di dunia Islam. Tidak seperti aliran Syi’ah lainnya, aliran ini meyakini bahwa ada dua belas imam pengganti kepemimpinan nabi Muhammad SAW. Aliran ini berkembang di negara-negara seperti Iran, Iraq, Suriah, Libanon, Indonesia, Pakistan, dan lainnya. Aliran ini pun memiliki konsep kalam yang sistematis, filosofis, dan mendalam.

Para ‘ulama Syi’ah Imamiyah pun pernah membahas tentang masalah Ru’yatullah. Aliran Syi’ah Imamiyah mempercayai bahwa Allah SWT tidak memiliki tubuh. Dia tidak terbatas dan tidak memiliki organ-organ tubuh.[36] Allah SWT bukan suatu bentuk ragawi sehingga Dia tidak menempati ruang dan tidak bergerak dari suatu tempat ke tempat lain. Karena itulah, mereka meyakini bahwa Allah SWT tidak bisa dilihat dengan mata, baik di dunia maupun di akhirat.[37]

Lebih jelasnya, aliran Syi’ah Imamiyah menolak ta’til mutlak dan tasybih mutlak. Ta’til adalah konsep yang menyatakan bahwa manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat Tuhan. Pengetahuan dan kecerdasan manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat Allah SWT. Sementara tasbih adalah konsep yang menyatakan bahwa Allah SWT memiliki kesamaan dengan makhluq. Dalam konsep ini, Allah SWT dibuat menyerupai makhluq sehingga Dia memiliki bentuk dan rupa. Perbedaan antara Allah SWT dengan makhluq-Nya tidak lain hanyalah pangkat dan gelar. Bagi Syi’ah Imamiyah, konsep yang benar adalah kedudukan antara keduanya, yakni antara ta’til dan tasbih. Menurut pemuka aliran Syi’ah Imamiyah, memang manusia sebenarnya tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengetahui Allah SWT sebenar-benarnya. Namun melalui fenomena-fenomena alam dan makhluq-Nya, manusia bisa memperoleh pengetahuan mengenai Allah SWT. Pengetahuan manusia tentang Allah tersebut tidak mutlak dan tidak lengkap. Bagi madzhab Syi’ah, Allah SWT memiliki semua aspek positif dari segala pengetahuan manusia tentang-Nya. Namun pada saat yang bersamaan, Dia tidak terbatasi oleh pengetahuan manusia tersebut. Pengetahuan manusia tidak dapat membatasi-Nya. Di pihak lain, Allah SWT tidak memiliki tubuh. Dia tidak terbatas. Dia tidak berada di dalam ruang dan waktu. Allah SWT tidak pantas memiliki tubuh fana, lemah, dan rentan kerusakan. Bagi mereka, Allah SWT itu lebih tinggi dari prasangka manusia terhadap-Nya. Ketika manusia memberikan nama-nama dan sifat-sifat kepada-Nya itu, maka nama-nama dan sifat-sifat yang diberikan kepada-Nya itu tidak melebihi bahkan tidak menyamai keagungan-Nya yang sebenarnya. Dia tidak bisa digambarkan. Setiap penggambaran atas diri-Nya selalu jauh lebih rendah dari kenyataan. Pengetahuan paling tinggi adalah menempatkan-Nya di tempat di mana manusia tidak bisa lagi menggambarkan diri-Nya. Dia lebih sempurna dari pada setiap kesempurnaan. Bagi aliran Syi’ah Imamiyah, Allah SWT memiliki nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Namun nama-nama dan sifat-sifat-Nya tersebut tidaklah memadai untuk menyatakan kekekalan dan keberadaan-Nya. Meskipun memiki nama-nama dan sifat-sifat, ketika seseorang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka orang tersebut harus selalu konsisten dengan keMahasempurnaan dan kekekalan yang dimiliki-Nya. Ketika seseorang menyebutkan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka orang tersebut harus mengartikan nama-nama dan sifat-sifat-Nya secara hati-hati. Orang tersebut tidak boleh memahaminya sebagaimana memahami nama-nama dan sifat-sifat manusia. Nama-nama dan sifat-sifat-Nya memiliki makna lebih luas apabila dibandingkan dengan nama-nama dan sifat-sifat manusia. Demikianlah, aliran Syi’ah Imamiyah menghendaki posisi antara ta’til dengan tasybih. Mereka menolak ta’til mutlak dan menolak tasybih mutlak. Karena itu, bagi mereka bukan ta’til dan bukan tasybih, melainkan antara keduanya.[38]

Para ‘ulama Syi’ah Imamiyah mendukung ayat-ayat yang menyatakan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat oleh mata fisik manusia baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, mereka menafsirkan ayat-ayat yang sepintas menyatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhannya. Menurut mereka, makna ‘pertemuan dengan Allah SWT di akhirat’ di dalam ayat-ayat al-Quran adalah bahwa Allah SWT pada hari Penghisaban menghilangkan semua keraguan akan eksistensi atau keberadaan diri-Nya dengan memperlihatkan amalan-amalan mereka. Pada hari itu, seluruh keraguan tentang keberadaan Allah SWT akan sirna karena Allah SWT telah memperlihatkan kebesaran Hari Penghisaban tersebut.[39]

Demikianlah, aliran Syi’ah Imamiyah meyakini bahwa Allah SWT tidak akan dapat dilihat oleh mata fisik manusia. Namun bagi mereka, bukan berarti manusia benar-benar tidak dapat melihat Allah SWT. Bagi mereka, manusia dapat melihat manusia namun mereka melihat-Nya tidak melalui mata fisiknya, melainkan melalui hati yang suci dan bersih. Mereka meyakini bahwa keyakinan indra dan keyakinan akal (ilmu al-yaqin) itu bukan sebagai tingkat keyakinan tertinggi manusia, melainkan keyakinan hati (ain al-yaqin). Keyakinan hati manusia lebih tinggi dari pada keyakinan akal dan indranya. Ain al-Yaqin (yakin karena melihat) mengandung makna menyaksikan Tuhan dengan hati, bukan dengan mata (indra) dan akal. Pendeknya, bagi Syi’ah Imamiyah, kendati Tuhan tidak dapat dilihat dengan indra dan akal, namun Tuhan dapat dilihat dengan hati yang bersih dan suci. Hal ini pun selalu ditekankan oleh para Imam Syi’ah Imamiyah.[40]

Tegasnya, bagi Syi’ah Imamiyah, keyakinan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh mata fisik manusia, baik di dunia maupun di akhirat, sangat bertentangan dengan dalil akal dan naqal. Karena hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki tubuh. Karena jika Allah SWT dapat dilihat oleh mata fisik, sebagai konsekuensi hukum fisik, maka Allah SWT itu harus memiliki fisik. Pada dasarnya, keyakinan ini merupakan keyakinan kaum Yahudi yang menyusup ke dalam keyakinan umat Islam. Walhasil, bagi aliran Syi’ah Imamiyah, keyakinan Islam tidak lain adalah bahwa Allah SWT bisa dilihat bukan melalui indra fisiknya, melainkan melalui penglihatan hati yang suci dan bersih.[41]

2. ALIRAN AHLUSSUNNAH WA AL-JAMA’AH

Aliran Ahlussunnah wal Jama’ah ini sering diidentikkan dengan aliran Asy’ariyah dan aliran Maturidiyah.[42] Secara umum dapat dikatakan bahwa aliran Ahlussunnahwaljama’ah ini menyatakan bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh orang-orang mukmin di akhirat kelak.[43] Para pemuka aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah meyakini hal ini. Mereka semua sepakat tentang kemungkinan manusia melihat Tuhan di akhirat kelak. Hanya saja, masing-masing mereka menggunakan argumentasi-argumentasi yang berbeda, dan sedikit berbeda dalam perincian-perinciannya. Secara khusus, bagian ini akan memaparkan pandangan aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah tentang masalah ru’yatullah.

Aliran Asy’ariyah

Secara umum dapat dikatakan bahwa aliran Asy’ariyah menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia. Mereka mengajukan sejumlah argumen, tidak saja argumen aqli namun pula argumen naqli. Bagi aliran ini, jika sesuatu menempati ruang dan waktu, maka sesuatu itu bersifat temporal. Bagi mereka, Tuhan tidak menempati ruang dan waktu. Bagi mereka, suatu benda, meskipun benda itu tidak ada di depan orang yang melihatnya, mungkin saja untuk dilihat. Karena itu pula, Tuhan sangat mungkin dilihat, meskipun indra manusia tidak memperoleh kesan obyek yang mengenai indra itu. Selain itu, tidak mustahil Tuhan akan menciptakan di dalam diri manusia sebuah kapasitas untuk melihat-Nya di akhirat kelak.[44]

Menurut al-Asy’ari, segala keberadaan dapat dilihat dan menyebabkan dapat dilihat dari sisi keberadaannya. Karena Allah SWT itu secara niscaya ada, maka Dia mesti dapat dilihat oleh manusia di hari akhirat kelak.[45] Al-Asy’ari memiliki dua pendapat tentang hakikat ru’yat. Pertama, ru’yat itu sebagai pengetahuan khusus, yakni khusus melihat yang ada dan bukan yang tidak ada. Kedua, penglihatan itu adalah temuan di belakang ilmu, bukan refleksi dari yang ditemui dan bukan pula pengaruh dari yang ditemui.[46]

Berkenaan dengan Tuhan, aliran Asy’ariyah berada pada posisi tengah antara golongan Musyabihah dan Mujassimah dengan golongan tanzih (nihil).[47] Pemuka aliran ini menyatakan bahwa Allah itu memiliki wajah, tangan, mata, dan Dia bersemayam di Arsy. Namun demikian, seseorang tidak boleh menanyakan bagaimana wajah, tangan, mata, dan seperti apa bersemayam di Arsy itu. Bersamaan dengan itu, seseorang pun tidak boleh mengingkari semua hal itu.[48] Demikian pandangan mereka tentang hakikat Tuhan.

Dalam bukunya al-Ibanah ‘an Ushul ad-Diyanah, Abul Hasan Al-Asy’ari menguraikan secara luas pandangannya tentang masalah ini. Menurutnya, Allah SWT dapat dilihat oleh penglihatan mata manusia di akhirat kelak. Beliau pun mengajukan argumentasi-argumentasi, baik aqliyah maupun naqliyah. Dalam konteks argumen aqliyah, beliau menyatakan: Pertama. Setiap yang ada, mungkin untuk diperlihatkan Allah kepada kita. Yang tidak mungkin terlihat adalah sesuatu yang tidak ada. Jika Allah termasuk sesuatu yang ada, berarti Dia dapat memeprlihatkan wujud-Nya kepada manusia, dan ini tidak mustahil. Kedua, bahwa Allah melihat segala sesuatu. Jika Allah melihat sesuatu, maka tidak mungkin Dia melihat sesuatu sementara Dia tidak dapat melihat diri-Nya. Jika Dia dapat melihat diri-Nya sendiri, maka bukan suatu kemustahilan jika Dia memperlihatkan diri-Nya kepada kita. Dengan kata lain, jika Allah mengetahui sesuatu, maka berarti Dia mengetahui diri-Nya, dan jika Dia dapat melihat diri-Nya berarti tidak mustahil jika Dia memperlihatkan diri-Nya kepada kita. Sebagaimana halnya Dia mengetahui tentang diri-Nya, maka tidak mustahil jika Dia memberitahukan kepada kita tentang diri-Nya.[49]

Berkenaan dengan dalil naqli, Abu Hasan al-Asy’ari menganggap bahwa ayat-ayat tentang kemungkinan manusia melihat Tuhan sebagai ayat-ayat muhkam sehingga mesti diyakini. Sementara ayat-ayat tentang ketidakmungkinan melihat Tuhan sebagai ayat-ayat mutasyabih, sehingga perlu ditakwil. Sedikitnya, beliau mengajukan sejumlah ayat sebagai argumentasi guna membuktikan bahwa manusia dapat melihat Tuhan di akhirat tentang matanya, yakni:[50]

  1. Q.S. al-Qiyamah ayat 22-23 membuktikan bahwa manusia dapat melihat Tuhan melalui mata di akhirat kelak. Kata nazhar dalam ayat ini memiliki 4 kemungkinan makna, yakni berfikir, menunggu, merahmati, dan melihat. Ayat ini membicarakan peristiwa di hari akhirat, karena itu kata Nazhar tidak mungkin berfikir karena akhirat bukan tempat berfikir, bukan pula bermakna menunggu karena kata ini dikaitkan dengan kata wajah, sehingga  maknanya adalah melihat dengan mata yang ada di wajah, dan bukan pula bermakna merahmati, karena makhluk tidak mungkin merahmati Penciptanya. Kata Nazhar tidak mungkin pula bermakna menunggu karena kata ini disertai huruf ila dan sebelumnya terdapat kata wujuh, sehingga maknanya harus melihat dengan mata kepala. Jika kata nazhar dalam ayat ini tidak disertai huruf ila, maka maknanya bisa ‘menunggu’.
  2. Q.S. al-A’raf ayat 143. Dalam ayat ini, Allah SWT menceritakan bahwa Musa memohon kepada Allah agar ia bisa melihat-Nya. Dalam konteks ini, Musa diangkat Allah sebagai nabi. Allah pun memeliharanya dari kesalahan-kesalahan. Karena itu, tidak mungkin Musa mengajukan sebuah permintaan yang mustahil. Jika hal itu tidak boleh dilakukan Musa, maka nabi Musa tidak akan meminta hal-hal mustahil kepada Tuhannya. Oleh karena Musa meminta kepada Tuhan agar ia bisa melihat-Nya, berarti ia meminta sesuatu yang tidak mustahil,. Jadi, melihat Tuhan adalah sesuatu yang mungkin. Dalam ayat ini pula, sebenarnya Allah berkuasa menjadikan gunung tersebut kokoh. Jika hal itu dilakukan Allah, maka Musa akan mampu melihat-Nya. Sesungguhnya Allah berkuasa menjadikan hamba-Nya mampu melihat-Nya. Benar bahwa mata manusia tidak akan mampu melihat matahari di dunia, maka mata manusia pun tidak akan mampu melihat-Nya di akhirat. Namun kelak, Allah sangat berkuasa untuk memperkuat pandangan mata manusia tersebut, sehingga mata manusia mampu melihat-Nya.
  3. Berdasarkan Q.S. Yunus: 26; Q.S. Qaaf: 35; Q.S. al-Ahzab: 44; dan Q.S. al-Muthaffifin: 15, bahwa melihat Tuhan itu sangat mungkin terjadi. Karena melihat Tuhan itu merupakan nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada orang-orang beriman. Orang-orang beriman akan melihat-Nya, sebagai balasan atas perbuatan kebajikannya di dunia. Sementara orang-orang kafir tidak akan dapat melihat-Nya, sebagai balasan atas kejahatannya di dunia.
  4. Secara lahiriah, Q.S. al-An’am: 103 menunjukkan ketidakmungkinan melihat Tuhan. Namun bagi al-Asy’ari, maknanya bukan demikian, melainkan ketidakmungkinan melihat-Nya di dunia, sementara melihat-Nya di akhirat sangat mungkin. Bisa pula diartikan sebagai ketidakmungkinan orang-orang kafir melihat-Nya. Di samping itu, kata ru’yah memiliki perbedaan makna dengan kata idrak. Kata idrak dalam ayat ini berarti melihat seutuhnya. Sementara kata ru’yah bermakna sekedar melihat dan/atau melihat tidak seutuhnya. Jadi, kedua kata ini berbeda maknanya. Oleh karena itu, ayat tersebut memiliki makna bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat secara penuh (idrak), namun dapat dilihat tidak seutuhnya dan/atau sekedarnya (ru’yah).[51] Bahwa melihat Allah bukan dalam melihat-Nya secara penuh tidak akan mengurangi kesempurnaan Allah SWT. Benar bahwa manusia tidak dapat mencapai-Nya, namun bukan berarti manusia itu tidak dapat melihat-Nya. Manusia melihat-Nya dengan mata kepala, bukan berarti manusia itu telah mencapai-Nya.

Pandangan al-‘Asy’ari tentang ru’yatullah ini diikuti oleh para penerusnya. Sebagaimana al-Asy’ari, al-Baqillani menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Sebagaimana alasan al-Asy’ari, al-Baqillani menandaskan bahwa setiap yang ada dapat dilihat. Karena Tuhan itu niscaya ada, maka Tuhan pun dapat dilihat, sebagaimana dinyatakan-Nya dalam Q.S. al-A’raf: 143 dan Q.S. Al-Qiyamah: 22-23.[52] kemudian, Al-Baghdadi menyatakan bahwa Tuhan pun dapat dilihat. Baginya manusia dapat melihat aksiden, karena manusia dapat membedakan antara hitam dan putih. Kalau aksiden dapat dilihat, maka Tuhan pun dapat dilihat.[53] Sementara itu, al-Juwaini menyatakan pula bahwa manusia dapat melihat Tuhannya di akhirat kelak dengan menggunakan mata kepalanya. Penglihatan itu akan menjadi kenyataan nanti di akhirat, ketika manusia berada di syurga.[54] Muhammad bin Tumart menandaskan pula bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia. Bahwa manusia wajib meyakini dan membenarkan dalam hati bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Namun melihat ini bukan berarti Tuhan memiliki tubuh (tasybih).[55] Al-Syahrastani pun mendukung bahwa manusia mampu melihat Tuhannya di akhirat kelak. Baginya, setiap hal yang berwujud dapat dilihat oleh manusia, karena Tuhan niscaya memiliki wujud, maka Tuhan pun dapat dilihat oleh manusia. Baginya, setiap umat Islam wajib mengimani masalah ru’yatullah (melihat Tuhan) ini.[56] Demikianlah, ajaran al-Asy’ari tentang ru’yatullah didukung oleh generasi penerusnya. Namun tak dapat disangkal, para generasi penerus al-Asy’ari tersebut terus mengembangan konsep ini, terutama penambahan dan penguatan argumentasi-argumentasi tentang kemungkinan melihat Allah SWT di akhirat kelak.

Aliran Maturidiyah

Menurut pendiri aliran ini, Abu Mansur al-Maturidi bahwa Tuhan itu dapat dilihat. Uniknya, meskipun Dia dapat dilihat oleh manusia, namun Tuhan itu bersifat immateri. Dia tidak bersifat dengan sifat-sifat materil (jasmaniah). Karena itu, jika ada ayat-ayat menggambarkan bahwa Tuhan itu bersifat dengan sifat-sifat materi, maka seseorang harus mengartikan ayat-ayat itu secara metaforis (takwil).[57] Jelasnya, Tuhan tidak berbadan. Karena badan itu suatu yang tersusun dari substansi dan aksiden. Bagi Maturidi, bahwa Tuhan itu tidak merupakan materi karena materi itu sesuatu yang mempunyai arah, mempunyai akhir, dan mempunyai tiga dimensi (ruang, waktu, dan tempat). Karenanya, jisim mutlak tidak boleh dinisbatkan kepada Tuhan. Dengan demikian, jelas bahwa Tuhan itu immateri, tidak mempunyai bentuk, tidak mengambil tempat, dan tidak terbatas. Meskipun begitu, menurut Maturidi, Tuhan dapat dilihat karena Dia diyakini ada-Nya (wujud-Nya).[58]

Pendeknya, Tuhan itu dapat dilihat oleh manusia. Ru’yah kepada Tuhan itu sesuatu hal yang dapat terjadi. Dalam konteks ini, Abu Mansur Maturidi mendukung ayat-ayat yang secara tegas menyatakan bahwa Tuhan dapat dilihat, misalnya Q.S. al-Qiyamah: 22-23. Namun begitu, manusia hanya dapat melihat Allah di akhirat kelak saja, sebagaimana tergambar dalam ayat itu. Abu Mansur Maturidi mengajukan sejumlah argumen tentang mengapa Allah dapat dilihat di akhirat kelak. Pertama, Tuhan itu memiliki wujud. Kendati pun Dia tidak memiliki bentuk dan tidak mengambil tempat, serta tidak memerlukan ruang (tidak terbatas). Jika Tuhan itu terbatas, maka Tuhan bersifat materi. Karena jika sesuatu terbatas, maka sesuatu itu berjisim. Padahal Tuhan itu adalah Syai, sesuatu yang pasti adanya dan bukan yang lain. Karena Dia itu ada wujud-Nya, maka sesuatu yang ada pasti bisa dilihat.[59]

Selanjutnya, menurut Abu Mansur Maturidi, bahwa ru’yah kepada Tuhan itu merupakan bagian dari peristiwa hari kiamat. Sedangkan peristiwa hari kiamat itu hanya diketahui oleh Ilmu Allah SWT. Sedangkan manusia hanya mengetahui ungkapan-ungkapan tentang adanya peristiwa hari kiamat itu, dan manusia tidak mengetahui tentang bagaimana peristiwa hari kiamat itu. Dari sini, Abu Mansur menolak pandangan Mu’tazilah ketika aliran ini menganalogikan melihat Tuhan dengan melihat benda materi, yang berarti menjisimkan Tuhan. Bagi Abu Mansur, analogi itu tidak sempurna dan tertolak. Karena menganalogikan sesuatu bersifat materi dengan sesuatu bersifat immateri. Padahal, semua peristiwa itu bersifat immateri, bukan bersifat materi, maka tidak relevan menganalogikan materi untuk segala hal kejadian di akhirat kelak. Seterusnya, Abu Mansur menyimpulkan bahwa manusia dapat melihat Tuhan di akhirat kelak, dan peristiwa ini merupakan bagian dari peristiwa hari kiamat, sehingga cara melihat Tuhan hanya diketahui oleh Tuhan saja.[60]

Abu Mansur al-Maturidi menafsirkan sedemikian rupa ayat-ayat yang sepintas menafikan kemungkinan manusia melihat Tuhan, sebagaimana terlihat pada Q.S. al-An’am: 103. Banyak pihak menyatakan bahwa ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah dapat melihat Tuhannya. Kata idrak dalam ayat tersebut dimaknai sebagai ru’yah, sehingga kata idrak dalam ini bermakna bahwa Tuhan tidak dapat dilihat. Namun Abu Mansur menandaskan bahwa kata idrak itu bermakna menguasai (melihat) yang terbatas. Sementara Tuhan itu Mahasuci dari sifat terbatas, karena sifat terbatas itu berarti titik maksimum dan membatasi yang lebih tinggi. Tuhan menjadikan segala sesuatu dengan batas yang bisa dijangkau. Jadi, baginya kata idrak tidak bisa diartikan sebagai ru’yah. Dengan begitu, maka kata idrak dalam ayat ini hanya berarti melihat pada batas sesuatu sehingga dengan batas itulah sesuatu itu dapat diketahui. Sementara ru’yah tidak menghendaki jika objek penglihatan itu terbatas, bahkan ru’yah dapat terjadi atas sejumlah hal yang tidak dapat diketahui hakikatnya, kecuali dengan mengerti tentangnya.[61]

Kemudian, Abu Mansur menyatakan bahwa jika Tuhan tidak dapat dilihat oleh manusia, maka permintaan Musa untuk melihat Tuhannya adalah sia-sia. Seandainya manusia itu mustahil melihat Tuhan, maka niscaya seorang nabi seperti nabi Musa as. tidak akan mengharapkannya, sebagaimana tertera pada Q.S. al-A’raf: 143. Dalam ayat ini, Tuhan menjawab lan tarani (kamu takkan melihat-Ku), bukan lan ura (Aku tak bisa dilihat). Ini menjadi dalil kuat bahwa Tuhan dapat dilihat oleh manusia.[62]

Terakhir, bagi Abu Mansur al-Maturidi, bahwa ru’yatullah itu merupakan tambahan anugrah dan pahala dari sisi Tuhan. Adalah melihat Tuhan itu sebagai anugerah terbesar bagi insan beriman di akhirat kelak. Tuhan menjanjikan balasan terbaik bagi manusia, dan manusia beriman tidak hanya mendapatkan surga, namun mereka mendapatkan anugrah terbesar, yakni ru’yatullah.[63] Pada akhirnya, Abu Mansur menandaskan bahwa ru’yah itu hanya melalui pengetahuan hati.[64]

3. ALIRAN MU’TAZILAH

Aliran Mu’tazilah memiliki pandangan berbeda tentang ru’yatullah dengan aliran lainnya. Mereka menegaskan bahwa manusia tidak akan mampu melihat Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Semua pemuka Mu’tazilah meyakini bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat melalui mata fisik. Namun sejumlah kecil pemuka Mu’tazilah seperti Abu Huzail meyakini bahwa manusia dapat melihat Tuhan melalui hatinya[65]. Akan tetapi tidak sedikit pula pemuka kaum Mu’tazilah berpandangan bahwa Allah SWT tidak bisa diketahui dengan penglihatan mata atau pun hati, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Pandangan terakhir diyakini para pemuka Mu’tazilah seperti al-Fuwathi, Abbad ibn Sulaiman, dan lainnya.[66]

Aliran Mu’tazilah menolak keyakinan antropomorfisme. Mereka tidak meyakini bahwa Allah memiliki wujud materil. Allah SWT bukan wujud materil. Karena itu, Allah tidak membutuhkan tempat. Karena itu, Allah SWT tidak serupa dengan makhluq. Oleh karena Allah seperti itu, maka mereka meyakini bahwa manusia tidak akan dapat melihat Allah SWT di di dunia dan di akhirat kelak. Sejumlah pemuka Mu’tazilah memang meyakini bahwa Allah dapat dilihat oleh manusia melalui hati sanubari, namun pada umumnya pemuka-pemuka aliran ini menolak hal tersebut. Alasan-alasan yang mereka ajukan adalah sebagai berikut:[67]

  1. Dalam Q.S. al-Qiyamah: 22-23, menjelaskan bahwa Allah SWT tidak dapat dilihat oleh manusia. Menurut mereka, kata nazhara tidak berarti ra’a (melihat), karena kata ini jika dikaitkan dengan kata ‘ain (mata) berarti usaha untuk melihat, sebagaimana jika dikaitkan dengan hati (qalb) berarti usaha untuk tahu. Hakikat nazhara adalah mengarahkan mata ke arah sesuatu untuk melihatnya. Jika demikian, mestilah Tuhan yang dilihat itu berada pada satu arah. Jika pendapat ini benar, maka Allah itu berjisim, karena berada pada arah tertentu. Karena itu tidak dapat diterima, maka mestilah kata rabbiha (Tuhannya) ditakwilkan dengan pahala yang diberikan Tuhan.
  2. Kata nazhara biasanya dipakai untuk pengertian menanti (al-intizhar). Terkadang pula dipakai untuk pengertian mengarahkan mata ke suatu objek untuk melihatnya. Bahkan dipakai pula untuk pengertian berfikir dengan hati untuk memperoleh pengetahuan.
  3. Pendapat bahwa kata nazhara jika dikaitkan dengan wajah berarti ‘melihat’ tidak dapat diterima. Karena pengertian ‘melihat’ dengan wajah tidak dikenal dalam bahasa Arab. Yang biasa dikenal adalah pengaitan mata dengan penglihatan.
  4. Dalam Q.S. al-An’am ayat 103 dijelaskan secara tegas bahwa Allah tidak akan dapat dilihat. Bagi kaum Mu’tazilah, Tuhan tidak dapat dilihat karena kata al-idrak disertai penyebutan kata al-bashar, yang dimaksudkan adalah melihat dengan penglihatan mata. Ayat ini bersifat umum tanpa ada pengecualian. Karena itulah, Tuhan tidak akan dilihat oleh manusia.
  5. Kaum Mu’tazilah menolak penafsiran kaum Asy’ariyah terhadap Q.S. al-A’raf ayat 143 bahwa Allah SWT dapat dilihat. Bagi mereka, permintaan Musa kepada Tuhan tidak menunjukkan apakah yang diminta boleh terjadi atau tidak. Terkadang, ada seseorang mengajukan permintaan guna membuktikan bahwa orang tersebut sudah mencurahkan tenaga agar orang tempat ia meminta melakukan sesuatu, walaupun ia tahu orang itu tidak akan melakukannya. Terkadang pula, seseorang mengajukan permintaan untuk meyakinkan orang lain yang mendengarnya bahwa yang diminta itu tidak mungkin dilakukan. Ayat ini dijadikan kaum Mu’tazilah sebagai alasan penolakan melihat Tuhan. Karena jawaban Allah terhadap permintaan nabi Musa adalah bahwa Musa tidak akan melihat-Nya. Musa disuruh-Nya untuk melihat gunung, jika gunung itu masih tetap pada tempatnya, barulah Musa dapat melihat-Nya. Kenyataannya, gunung itu hancur setelah Allah menampakkan diri-Nya kepadanya. Jadi, nabi Musa tidak akan dapat melihat-Nya. Dalam ayat ini pun, kata yang dipakai untuk menafikan adalah kata lan, yang memberikan penafian di masa mendatang. Karena itu, Tuhan tidak akan pernah dilihat selamanya. Pendeknya, Musa mengetahui bahwa melihat Allah itu suatu hal yang mustahil. Namun Musa tetap memohon kepada Allah  ketika kaumnya memaksa untuk dapat melihat Allah, agar mereka dapat membuktikan Musa sebagai seorang Nabi. Musa meminta untuk dapat melihat Tuhan dengan maksud meredam tuntutan kaumnya yang ingin melihat Tuhan.
  6. Dalam Q.S. 4: 152; Q.S. 2: 52; dan Q.S. 7: 155 dijelaskan bagaimana kaum nabi Musa disambar petir karena mereka ingin melihat Tuhan. Karena mereka memaksa Musa agar Musa memperlihatkan Tuhan kepada mereka, maka mereka disambar petir. Hal ini terjadi karena kaum nabi Musa meminta sesuatu yang tidak dibenarkan, yakni ingin melihat Tuhan dengan mata kepala.
  7. Q.S. 42: 51 menjelaskan pula tentang ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan. Dalam ayat ini, Allah menyatakan bahwa hubungan Allah dengan para hambanya yang terpilih melalui dialog terbagi tiga macam. Namun akal dapat menerima adanya bentuk dialog lain. Bentuk lain adalah Allah berdialog kepada hamba-Nya yang dikehendakinya seraya dapat melihat Allah. Namun bentuk keempat ini disanggah oleh al-Quran, meskipun akal mampu membayangkannya. Ayat tersebut disusun dalam bentuk pengecualian secara tegas.

URGENSI KONSEP RU’YATULLAH BAGI KEHIDUPAN MODERN

Sebagaimana penjelasan di atas, para teolog Muslim Klasik telah merumuskan konsep ru’yatullah. Masing-masing teolog berbeda pendapat tentang hal ini. Harus diakui bahwa diskusi-diskusi mengenai materi konsep ru’yatullah ini dan konsep kalam lainnya cukup penting dilakukan, namun diskusi mengenai relevansi dan urgensi konsep-konsep ini bagi kehidupan manusia modern juga menjadi tidak kalah penting. Sebab manusia di zaman modern membutuhkan pemahaman mendalam tentang nilai guna konsep ru’yatullah dan konsep kalam lainnya bagi kehidupannya di dunia ini. Umat Islam pun sebenarnya harus mampu menjelaskan urgensi konsep ru’yatullah dan konsep kalam lainnya bagi kehidupan kekinian. Hal ini penting agar setiap umat manusia menemukan bahwa agama Islam ini sebagai agama yang dapat memenuhi kebutuhan manusia modern serta agama yang membumi. Berikut ini akan diuraikan secara umum urgensi konsep ru’yatullah bagi kehidupan manusia modern.

Harus dipahami bahwa manusia Modern masih cenderung bersifat individualistik. Sikap-sikap individualistik telah mendominasi kehidupan manusia Modern. Akibatnya mereka dihadapi oleh krisis moral dan nilai. Banyak manusia melakukan sesuatu tidak atas dasar moral dan nilai-nilai. Masing-masing manusia lebih mengutamakan ego pribadi dari pada mengutamakan kebaikan komunitas masyarakatnya. Sebab itulah, mereka pun menghadapi krisis moral dan nilai.

Di samping itu, kehidupan manusia modern lebih cenderung bersifat pragmatis-materialistik. Segala sesuatu diukur berdasarkan keuntungan material, bukan spiritual. Pemikiran pragmatis demikian telah membuat manusia modern hanya mencari keuntungan-keuntungan material. Bahkan tidak jarang mereka menempuhnya dengan cara apapun. Hal ini pula membuat krisis moral dan nilai semakin subur.

Bila dikaji secara mendalam, bahwa konsep ru’yatullah ini memiliki relevansi dengan kehidupan manusia modern, sebagaimana konsep-konsep kalam lainnya. Menurut hemat Penulis, sesungguhnya konsep ru’yatullah menjadi penting bagi kehidupan manusia modern karena selain dapat memberikan motivasi dan semangat juang bagi manusia modern, konsep ini pun dipandang mampu menumbuhkan sikap terpuji seraya menghilangkan sifat tercela, serta menumbuhkan pola hidup idealis. Konsep ini dapat membangun sikap militan, optimis, progresif, disiplin, bertanggung jawab, mawas diri, telaten, waspada, dan lainnya. Jelasnya, konsep ini memiliki banyak nilai guna bagi kehidupan manusia modern yang tidak mungkin satu persatu disebutkan makalah ini.

Terlepas dari perdebatan tentang kemungkinan atau ketidakmungkinan manusia melihat Tuhan, namun yang jelas bahwa: Pertama, Tuhan itu dapat melihat kita. Hal ini karena Allah SWT Mahamelihat. Al-Quran dan hadits telah menegaskan tentang kebenaran hal ini. Kedua, jika benar bahwa manusia dapat melihat Tuhan, maka hal ini menjadi sebuah anugerah paling besar dari Tuhan untuk umat Islam. Jika demikian, maka setiap Muslim harus berharap agar mereka dapat melihat-Nya. Seandainya Tuhan tidak dapat di lihat, kembali pada poin pertama, namun Dia Mahamelihat, termasuk melihat hamba-Nya (Muslim tersebut). Kedua premis ini dapat dijadikan analisis guna mengetahui nilai guna pemahaman atas konsep ru’yatullah ini bagi kehidupan manusia pada era modern.

Sebagaimana dinyatakan di atas, bahwa pemahaman atas konsep ru’yatullah sebenarnya dapat memberikan motivasi dan semangat juang bagi seorang Muslim. Ketika seseorang memahami bahwa Tuhan senantiasa melihat hamba-hamba-Nya, maka hal ini akan memberi motivasi kepada orang tersebut untuk berbuat kebaikan dan menjauhi tindakan keburukan. Orang tersebut akan memiliki semangat juang yang tinggi untuk melakukan perbuatan baik dan menolak perbuatan buruk. Tidak hanya itu, jika orang tersebut mengetahui bahwa dirinya akan dapat melihat Tuhannya, maka secara otomatis dirinya akan termotivasi melakukan kebajikan dan meninggalkan keburukan, karena manusia yang akan melihat-Nya hanyalah orang-orang beriman, yakni orang-orang yang berbuat kebajikan. Allah SWT hanya memberikan anugerah terbesar itu, yakni melihat-Nya, bagi orang-orang beriman atau orang-orang berbuat kebajikan. Sementara pelaku tindakan keburukan tidak akan mampu melihat-Nya, karena Tuhan tidak akan memberikan anugrah itu kepadanya. Kemudian, Orang tersebut pun akan memiliki semangat juang tinggi untuk berbuat kebajikan dan menjauhi perbuatan ketidak-kebajikan, agar Tuhan segera memberikan anugerah itu kepadanya.

Di pihak lain, jika konsep ru’yatullah ini dipahami secara benar, maka hal ini dipandang ampuh dalam menumbuhkan sifat-sifat terpuji dan menghilangkan sifat-sifat tercela. Seseorang yang meyakini bahwa Tuhan dapat melihatnya, atau pun kelak orang tersebut dapat melihat-Nya, maka orang tersebut pasti akan cenderung berbuat kebaikan dan tidak melakukan keburukan, sehingga orang tersebut akan selalu berbuat baik. Hal ini lumrah karena orang tersebut pasti takut berbuat buruk karena Tuhan melihatnya; dan orang tersebut akan cenderung berbuat baik agar dapat melihat Tuhannya kelak. Jika hal ini terus dilakukan, maka konsekuensinya, akan lahir sifat-sifat mulia dalam dirinya sementara sifat-sifat buruk akan segera terkikis dari dalam dirinya. Jika ini terlaksana dengan baik, maka masalah krisis moral manusia modern dapat segera diatasi.

Selain kedua nilai guna di atas, sebenarnya pemahaman atas masalah ru’yatullah ini akan menumbuhkan pola hidup idealis bagi seorang Muslim. Pola hidup idealis antara lain sikap militan, optimis, progresif, disiplin, bertanggung jawab, mawas diri, telaten, waspada, dan lainnya. Ketika seseorang meyakini bahwa kelak ia akan melihat Tuhannya, sementara hal ini merupakan anugerah terbesar dari Tuhan, maka orang tersebut akan dapat memiliki sikap militan. Orang tersebut akan rela mengorbankan jiwa dan raganya demi sebuah kebaikan, agama, dan bangsanya. Karena orang itu yakin, jika ia mati, maka ia akan segera melihat Tuhannya sebagai suatu kenikmatan terbesar. Orang tersebut pun akan lebih optimis dalam menjalani hidupnya, karena ia yakini bahwa hidup ini sebagai sarana utama bagi perjumpaan dirinya dengan Tuhannya. Orang tersebut akan menjadi lebih progresif, karena ia yakin bahwa segala usahanya dapat menjadi sarana meraih kenikmatan terbesar, yakni melihat Tuhannya. Orang itu akan menjadi lebih disiplin dalam melaksanakan perintah-perintah agama dan pekerjaan-pekerjaan duniawi, karena jika tidak demikian, maka ia akan berdosa sehingga ia tidak akan pernah mendapatkan kenikmatan terbesar itu. Orang itu pun akan menjadi lebih bertanggung jawab, mawas diri, telaten, dan waspada dalam melakukan sebuah perbuatan dan pekerjaan, karena jika demikian, maka ia tidak telah melanggar amanah, baik dari Tuhannya maupun orang lain. Hal ini akan membuatnya berdosa, sehingga ia pun tidak akan memperoleh kenikmatan terbesar di akhirat kelak. Jika semua hal ini telah tercapai, maka segala masalah kehidupan manusia Modern, terutama krisis moral dan nilai akan dapat diselesaikan.

PENUTUP

Pada bagian terdahulu Penulis telah mendeskripsikan sejumlah pandangan pelbagai aliran teologi Islam tentang konsep ru’yatullah. Berdasarkan paparan di atas, tampak bahwa hanya syi’ah imamiyah yang benar tentang  ru’yatullah. Viva Syi’ah Imamiyah !!!

Sebagian aliran menyatakan bahwa manusia dapat melihat Allah SWT di dunia dan atau di akhirat dengan mata kepala. Sebagian lagi menyatakan bahwa manusia hanya dapat melihat Allah SWT di akhirat saja. Sementara sebagian lainnya malah menyatakan bahwa manusia tidak akan mungkin dapat melihat Allah SWT, baik di dunia maupun di akhirat dengan mata kepala. Pada bagian terdahulu, Penulis pun telah memaparkan urgensi konsep ru’yatullah bagi kehidupan manusia modern. Berdasarkan paparan itu, jelas bahwa konsep-konsep kalam, terutama konsep ru’yatullah memiliki nilai guna bagi dunia kekinian. Dari sini terbukti bahwa agama Islam merupakan agama yang dapat memenuhi kebutuhan manusia modern dan agama yang membumi.

Demikianlah sebuah permasalahan teologis dalam Islam di mana para Teolog Muslim telah berupaya menyelesaikan permasalahan tersebut, meskipun pada akhirnya mereka tidak meraih kesimpulan yang sama dari masalah yang sama. Kendati demikian, hendaknya generasi Islam sekarang menghargai kerja intelektual para Mutakallim priode klasik di atas. Penghargaan itu dapat berupa menghormati kesimpulan yang mereka peroleh tanpa diiring sikap klaim sesat menyesatkan atas diri mereka. Wallaahu A’lam bi al-Shawab.


DAFTAR KEPUSTAKAAN

Abul Hasan al-Asy’ari, al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah, Beirut: Dar al-Maktab al-Ilmiyah, tt.

________, Al-Ibanah; Buku Putih Imam al-Asy’ari, Terj. Abu Ihsan Al-Atsari, Solo: Tibyan, tt.

________, Maqalat Islamiyyin Wa Ikhtilaf al-Mushalliin, Juz 1, Beirut: Dar Ihya’ al Turats al ‘Araby, tt.

________, Maqalat Islamiyyin Wa Ikhtilaf al-Mushalliin, Terj. A. Nasir Yusuf & Karsidi Diningrat, Jakarta: Pustaka Setia, 1998.

Abu Ya’kub Al-Kulaini,Ushul al-Kafi, Beirut: Alaalami Library, 2005.

Abu Lubabah Husein, Pemikiran Hadits Mu’tazilah, ter. Usman Sya’roni, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003.

Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, terj. Asywadie Syukur, Surabaya: Bina Ilmu, 2005.

A.K.M. Ayyubi, Aliran Thahawiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

________, Aliran Maturidiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

Al-Huda, Antologi Islam; Sebuah Risalah Tematis Dari Keluarga Nabi, terj. Rofik Suhud, dkk, Jakarta: Al-Huda, 2005.

Abdul Karim al-Bahbahani, Ru’yatullah; Bain al-Tanzih wa al-Tashbih, (Beirut: al-Majmu’ al-‘Alami li Ahlu al-Bait, 2006).

Abdul Qahhar ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, Kairo: Maktabah Dar al-Turast, tt.

A. Mahmud Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, Beirut: Dar al-Nahdhah Harbiyah, 1975.

Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, Bandung: Arasy, 2006.

Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Terj. Zainuddin Hamidy, dkk, Semarang: Wijaya Jakarta, 1992.

Imam Muslim, Sahih Muslim, Berut: Al Maktab Al Islami, tt.

Machasin, Al-Qadhi Abdul Jabbar; Mutasyabih al-Quran Dalil Rasionalitas al-Quran, (Yogyakarta: LkiS, 2002)

Muhammad bin Abdurrahman Aali Khumais, Paham al-Maturidiyah Dalam Beraqidah, terj. Achmad Rofi’i, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998.

Muhammad Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, terj. M. Thalib, Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991.

Murtadha Muthahhari, Manusia dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, Bandung: Yayasan Muthahhari, 2003.

________, Mengenal Ilmu Kalam, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Pustaka  Zahra, 2002.

M. Abdul Hye, Aliran Asy’ariyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, Bandung: Nuansa Cendikia, 2004.

Muhammad Amin Suma, Kelompok dan Gerakan, dalam Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Ajaran, Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002.

Noer Iskandar al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur al-Maturidi; Perbandingan dengan Kalam Mu’tazilah dan al-Asy’ari, Jakarta: RajaGrafindo Persada,  2001.

Al-Qadhi al-Qudhah ‘Abdul Jabbar, Syarah Ushul Khamsah, Kairo: Maktabah Wahbah, 1996.

Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, Jakarta: Pustaka Zahra, 2002.

Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini; Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam, Jakarta: Erlangga, 2005.

Yasin T. Al-Jibouri, Konsep Tuhan Menurut Islam, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2003.

Zuhdi Jarallah, Al-Mu’tazilah, Beirut: al-Maususah al-‘Arabiyah al-Dirasah wa al-Nasyar, 1990.


[1]Haidar Bagir, Buku Saku Filsafat Islam, (Bandung: Arasy, 2006), hlm 119-123.

[2]Bagir, Buku Saku, hlm 123.

[3]Bagir, Buku Saku, hlm 123-124.

[4]Muhammad Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, terj. M. Thalib, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991), hlm 51-52.

[5]Murtadha Muthahhari, Manusia dan Takdirnya; Antara Free Will dan Determinisme, (Bandung: Yayasan Muthahhari, 2003), hlm 10.

[6]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Terj. Zainuddin Hamidy, dkk, (Semarang: Wijaya Jakarta, 1992), hlm 187.

[7]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hlm 194.

[8]Imam Bukhari, Shahih Bukhari, hlm 194.

[9]Imam Muslim, Sahih Muslim, (Berut: Al Maktab Al Islami, tt), hlm 58-59

[10]Imam Muslim, Sahih Muslim, hlm 56-57.

[11]Imam Muslim, Sahih Muslim, hlm 58-62.

[12]Abu Ya’kub Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, (Beirut: Alaalami Library, 2005), hlm 57

[13]Lihat sejumlah hadits tentang ru’yatullah dalam Abu Ya’kub Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, (Beirut: Alaalami Library, 2005), hlm 57-59. Semua hadits di dalam kitab tersebut menunjukkam bahwa Allah SWT dapat dilihat oleh manusia khususnya para nabi dan Imam a.s, namun mereka melihat-Nya tidak dengan indera mata, melainkan dengan hati yang suci. Lihat, Al-Kulaini,Ushul al-Kafi, hlm 57-59.

[15]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 218.

[16]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 222, 288.

[17]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, terj. Asywadie Syukur, (Surabaya: Bina Ilmu, 2005), hlm 53-54.

[18]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 355.

[19]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 361.

[20]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 367-368.

[21]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[22]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 90, 95.

[23]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[24]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289; Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 74.

[25]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288-289.

[26]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 286.

[27]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 373.

[28]Murtadha Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Pustaka  Zahra, 2002), hlm 94-95. Bandingkan, Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm 204-211.

[29]A.K.M. Ayyubi, Aliran Thahawiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), hlm 142-143.

[30]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 218.

[31]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288.

[32]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 222, 288.

[33]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 66.

[34]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, hlm 73.

[35]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, hlm 288.

[36]Al-Huda, Antologi Islam; Sebuah Risalah Tematis Dari Keluarga Nabi, terj. Rofik Suhud, dkk, (Jakarta: Al-Huda, 2005), hlm 643-647.

[37]Yasin T. Al-Jibouri, Konsep Tuhan Menurut Islam, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Lentera, 2003), hlm 252-253.

[38]Lihat: Sayyid Muhammad Husein Behesti, Selangkah Menuju Allah, terj. Apep Wahyudin, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2002), hlm 157-171; Bandingkan, Abdul Karim al-Bahbahani, Ru’yatullah; Bain al-Tanzih wa al-Tashbih, (Beirut: al-majmu’ al-‘Alami li Ahlu al-Bait, 2006).

[39]Behesti, Selangkah Menuju Allah, hlm 211.

[40]Lihat: Muthahhari, Mengenal Ilmu Kalam, h 204-211; Al-Kulaini, Ushul al-Kafi, hlm 57-59.

[41]Al-Bahbahani, Ru’yatullah, h 110

[42]Muhammad Amin Suma, Kelompok dan Gerakan, dalam Taufik Abdullah (ed), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Ajaran, (Jakarta: P.T. Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h 358.

[43]Abdul Qahhar ibn Thahir ibn Muhammad al-Baghdadi, Al-Farqu Bainal Firaq, (Kairo: Maktabah Dar al-Turast, tt), h 359.

[44]Lihat: M. Abdul Hye, Aliran Asy’ariyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), h 77-80.

[45]A. Mahmud Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, (Beirut: Dar al-Nahdhah Harbiyah, 1975), h 66-69.

[46]Asy-Syahrastani, Al-Milal wa al-Nihal, h 84.

[47]Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 54.

[48]Abul Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah ‘an Ushul al-Dinayah, (Beirut: Dar al-Maktab al-Ilmiyah, tt), h 51-53. Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 54-72.

[49]al-Asy’ari, Al-Ibanah, h 26.

[50]al-Asy’ari, Al-Ibanah, h 21-30.

[51]Yusuf Musa, al-Quran dan Filsafat, h 74-76.

[52]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, h 102.

[53]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 124-129.

[54]Tsuroya Kiswati, Al-Juwaini; Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam, (Jakarta: Erlangga, 2005), h 105-106; Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 158-159.

[55]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, h 231.

[56]Lihat: Subhi, Fi ‘Ilmu Kalam, 250-251.

[57]A.K.M. Ayyub Ali,  Aliran Maturidiyah, dalam M.M. Sharif (ed), Aliran-Aliran Filsafat Islam, terj. Karsidi Diningrat, (Bandung: Nuansa Cendikia, 2004), h119.

[58]Noer Iskandar al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam Abu Mansur al-Maturidi; Perbandingan dengan Kalam Mu’tazilah dan al-Asy’ari, (Jakarta: RajaGrafindo Persada,  2001), h 30-31; Muhammad bin Abdurrahman Aali Khumais, Paham al-Maturidiyah Dalam Beraqidah, terj. Achmad Rofi’i, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998), h 38-42.

[59]Al-Barsany, Pemikiran Kalam, h 42-43.

[60]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 44.

[61]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 45.

[62]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 46.

[63]Ali, Aliran Maturidiyah, h 121.

[64]Al-Barsany, Pemikiran Kalam Imam, h 47.

[65]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, h 222.

[66]Al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, h 288.

[67]Lihat: Al-Qadhi al-Qudhah ‘Abdul Jabbar, Syarah Ushul Khamsah, (Kairo: Maktabah Wahbah, 1996), h 232—277. Bandingkan: Zuhdi Jarallah, Al-Mu’tazilah, (Beirut: al-Maususah al-‘Arabiyah al-Dirasah wa al-Nasyar, 1990), h 87-90; Machasin, Al-Qadhi Abdul Jabbar; Mutasyabih al-Quran Dalil Rasionalitas al-Quran, (Yogyakarta: LkiS, 2002), h 132-145; Abu Lubabah Husein, Pemikiran Hadits Mu’tazilah, ter. Usman Sya’roni, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2003), h 100-109.