Kelemahan Akidah Sifat Dua Puluh dan Perlunya Rekonstruksi Teologi Islam Klasik Sunni !

KESALAHAN FATAL AJARAN SiFAT 20…
PENGKAFiRAN DALAM KiTAB KUNiNG YANG KEJi OLEH SYAiKH SANUSi…

Inilah BARANG BUKTi  KiTAB KiFAYATUL ‘AWAM :

Terjemahan kitab: ===Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama berkata : “ TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Ibnul Arabi dan Sanusi mengikuti pendapat ini===

Siapakah PENYUSUN DAFTAR SiFAT 50 PERTAMA KALi ?????
Jawab : Ajaran Sifat 20 atau akidah 50 di susun pertama kali oleh Syaikh As Sanusi ( lahir tahun 1437 M dan wafat tahun 1490 M ) dalam Kitab Umm Al Barahin…

Ajaran sifat 20 bukan lah susunan Abu Hasan Al Asy’ari.. Ini fakta sejarah internasional…

Seluruh kaum muslimin sepakat bahwa Mengimani dalil NAQLi (Al Quran dan Hadis adalah wajib hukum nya).. Murid SD pun tahu hal tersebut

Akan tetapi, apakah mengimani dalil aqli ( dalil akal ) yang dikarang OLEH Si PENYUSUN DAFTAR akidah  50 adalah mutlak wajib ????? Mari kita buktikan :

1. Dalam berbagai kitab kalam (kitab kuning) disebut kan tentang TEORi JAUHAR FARD (teori atom)… Menurut orang zaman dulu, atom (bahasa arab: jauhar fard) adalah benda yang amat halus, materi yang tidak dapat dibagi bagi lagi karena sangat halus nya..

Namun FATAL !!!!!!!!! Akal orang zaman dulu patah ketika perkembangan ilmu alam modern (ahli science modern) ternyata mampu membagi bagi atom menjadi electron, proton dan neutron…. Orang Islam yang pertama kali memaparkan teori tersebut ialah Abu Huzail al ‘Ulaaf tokoh Mu’tazilah dari Bashrah.. T

teori ini bersumber dari seorang filosof Yunani; DEMOCRiTOS… Teori Jauhar Al Fard sebenarnya dimaksud kan untuk menyanggah teori materi eternal (Al Maddah al Qadimah) yang di kemukakan oleh Aristoteles… Apakah dalil akal yang macam begini jika tidak kita percayai membuat kita jadi KAFiR ???? Tanya aja murid SD

2. Pada dalil kebaruan alam terdapat 7 pokok pembicaraan yang terkenal dengan sebutan mathalib sab’ah.. Syaikh Bajuri menyatakan : “mathalib sab’ah ini tidak dapat diketahui kecuali oleh orang orang yang rasikh atau yang sangat dalam ilmu nya”… Syaikh Sanusi menyatakan : “dengan mathalib sab’ah inilah si mukallaf akan selamat dari pintu jahannam yang tujuh”… Ini merupakan dalil akal yang bercampur filsafat Yunani yang mereka masukkan kedalam kitab kuning…

Apakah dalil akal yang macam begini, jika tidak kita percayai membuat kita jadi KAFiR ? akidah bukan dari orang orang filsafat

Ilmu mantiq yang berasal dari sikafir yunani digunakan untuk pembahasan akidah islam

Akidah yang benar adalah akidah Rasulullah S.A.W dan para sahabat nya r.a… Akidah bersifat tauqifiyyah dan ittiba’ pada Rasulullah S.A.W

Menurut penulis, sejumlah pembahasan ilmu kalam dalam kitab kuning merupakan model teologi yang telah dikembangkan oleh para pengikut Asy’ariyah, tidak selalu sama dengan pokok pemikiran Imam Abu Hasan Asy’ari.. Misal nya : Ajaran Sifat 20 di susun oleh Syaikh As Sanusi ( 1437 M- 1490 M ) dalam Kitab Umm Al Barahin… Ajaran sifat 20 bukan lah susunan Abu Hasan Al Asy’ari.. Ini fakta sejarah internasional…

Terdapat sejumlah kejanggalan ilmu kalam dalam kitab kuning, misal nya :
1. Pada dalil kebaruan alam terdapat 7 pokok pembicaraan yang terkenal dengan sebutan mathalib sab’ah ( silahkan check : Kitab Kifayatul Awam )

Syaikh Bajuri menyatakan : “mathalib sab’ah ini tidak dapat diketahui kecuali oleh orang orang yang rasikh atau yang sangat dalam ilmu nya”

Syaikh Sanusi menyatakan : “dengan mathalib sab’ah inilah si mukallaf akan selamat dari pintu jahannam yang tujuh”

JAWABAN SAYA :
Wahai Syaikh As Sanusi !!!! Bagaimana gerangan pendapat mu terhadap para Sahabat Rasulullah dan ulama ulama lain yang tidak menetap kan adanya Tuhan dengan perantaraan mathlab tujuh itu ?? Apakah lantaran itu pintu neraka jahannam menjadi terbuka bagi beliau beliau itu ?????

Wahai Syaikh Bajuri !!!!! apakah ilmu beliau beliau itu itu kurang rasikh atau tidak rasikh ???? Jangan mencampur akidah Islam dengan filsafat !!!!

2. Tentang bahagian bahagian alam.. Menurut orang orang mu’tazilah ; benda terdiri dari bagian bagian kecil yang tidak dapat dibagi bagi lagi (jauhar fard atau atom). Teori atom ini menjadi dasar pendapat mu’tazilah tentang kekuasaan Tuhan dan hubungan nya dengan alam…. Teori ini bersumber dari seorang filosof Yunani; DEMOCRiTOS yang masih di sengketakan di antara filosof filosof Yunani

Dengan demikian, akan timbul permasalahan sebagai berikut :
a. Kenapa dalam sejumlah kitab kuning; teori jauhar fard di anggap sebagai bagian dari akidah Islam versi Asy’ariyyah ??? Padahal sejarah pemikiran Islam membuktikan bahwa orang yang pertama kali memaparkan teori tersebut ialah Abu Huzail al ‘Ulaaf tokoh Mu’tazilah dari Bashrah.

b. Kalau penulis kitab Kifayatul Awam ingin membuktikan Tuhan dengan teori Jauhar Fard ( atom, dari bahasa Yunani : atomos; individed )… Bagaimana kah dengan penemuan baru bahwa atom terdiri dari proton, neutron dan electron ?
c. Teori tersebut bukan dari Islam… Itukah dalil aqli yang harus kita percayai ?

3.Al Qur an juga tidak menggunakan istilah istilah filsafat seperti jauhar, aradl dan sebagai nya.. karena agama tidak hanya untuk orang orang filosof

4.Membahas hukum hukum akal ( law of reason ) yang terbagi dalam tiga kategori :
– wajib pada akal, mustahil pada akal, jaiz pada akal .. Menurut para pengkaji; penggunaan hukum hukum ini di pengaruhi dialektika Yunani dan logika Aristoteles…..

.

Meyakini sifat 20  menjadi kewajiban umat islam Sunni dengan alasan alasan akal…

Penyusun daftar akidah sifat 20 adalah Abu Abdillah  Muhammad bin Yusuf As Sanusi (833 – 895 H / 1427 – 1490 M ) atau popular dengan panggilan Syaikh Sanusi  dari Tilimsan Negara Al Jazair, beliau mengarang kitab UMMUL  BARAHiN (Aqidah Sughra)

Sifat 20 atau akidah 50 merupakan tahrif terhadap sifat sifat Allah SWT

Apakah itu yang namanya tauhid ???

Saudaraku…

Yang pasti tidak ada dalil yang menyatakan sifat wajib Allah SWT  cuma dua puluh…

Lagipula Nabi SAW, sahabat dan para imam ahlul bait tidak pernah menyebut nyebut sifat 20 ataupun  akidah 50…

Pemahaman “Sifat Allah Yang Wajib Cuma 20″ bukan kebenaran mutlak dan bisa dikritik.

Pada masa Nabi  SAW, akidah belum bercampur dengan unsur unsur budaya luar, masalah baru muncul saat wilayah Islam meluas ke daerah non Arab yang mana daerah daerah tersebut sudah memiliki budaya sendiri…

Ilmu kalam pesantren menyusun akidah wajib dengan pemahaman filosofis sehingga sesuatu yang sebenarnya masih dalam tahap filsafat teoritis dinaikkan tingkat menjadi akidah…

Padahal yang namanya filsafat teoritis masih bersifat praduga sehingga mazhab sunni tidak lagi mengenal yang mana akidah dan yang mana filsafat…

Pandangan filosofis dianggap kebenaran mutlak dan disamarkan menjadi akidah wajib, disitulah letak kesalahan  Asy’ari dan penerus penerusnya

Misal : Terminologi seperti  jauhar, jisim, ‘aradh, jirim, jauhar fard dan daur tasalsul dalam kitab kuning  sunni  itu bukanlah akidah tetapi filsafat teoritis yang dipakai untuk membahas materi

Mareka mentahrif sifat Allah menjadi Cuma 20 saja, apakah itu kerjaan umat Islam dan apa itu yang namanya tauhid ???

Pemikiran  kalam tentang Sifat 20 sudah banyak yang kritik, tetapi sudah enak. Kalau mereka mau dikritik maka tidak mungkin umat islam hari ini selemah sekarang..

Dalam Al Quran ada 1108 ayat tentang sains tetapi ulama sunni tidak menelitinya secara mendalam sehingga menimbulkan ekses yang sangat buruk bagi perkembangan Islam

Kita diperintah meneliti alam (apa yang ada dilangit dan dibumi)  atau meneliti makhluk Nya, mengapa ulama sunni mengabaikan perintah tersebut lalu sibuk meneliti yang tidak dianjurkan yaitu  Zat Nya…

Kitab kuning dianggap sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak ada budaya kritik, memunculkan kekakuan pemikiran !!!

Misal : Menurut mereka, orang yang mampu menghapal sifat 20 atau akidah 50 sudah dianggap tauhidnya mendalam…

Doktrin dan pendidikan agama di sekolah harus ditulis ulang, jangan berhenti berijtihad kontemporer dalam segala aspek

Berimanlah kepada ayat ayat Allah secara total tanpa memilah antara ayat ayat alam dengan ayat ayat syari’at

Setiap gagasan teologi dalam kitab kuning harus dikaji ulang. Ulama sunni jangan mengharamkan apalagi mengkafirkan orang orang yang melakukan pengkajian tersebut

Faktanya, untuk memperbaiki gagasan teologi tersebut sangat sulit karena dianggap sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak boleh ada ijtihad susulan…

Tauhid pada kitab kuning sunni sulit di revisi karena manusia tidak mau memakai AKAL yang telah ALLAH berikan…

Apa dampak buruk kalam dan manthiq Yunani seperti  aristoteles terhadap mazhab sunni ??

Jawab :

Dampak buruknya adalah menyerupakan Tuhan dengan makhluk, sebab titik tolak logika Aristoteles yang tidak berbasis wahyu kan bertentangan dengan logika yang berbasis wahyu

Allah SWT bukanlah objek yang bisa dijadikan objek eksperimen oleh ulama sunni.. Ahli kalam sunni terlalu berani membuat eksperimen terhadap Dia. Dia Yang Agung yang tidak dapat dicapai oleh pandangan materi…

Penjabaran kalam sunni terlalu dipaksakan padahal Allah SWT  tidak pernah meminta kita untuk meneliti Zat Nya, tetapi yang diminta adalah meneliti ciptaan Nya agar semakin mengenal Dia

Apa dampak fatal manthiq Aristoteles terhadap akidah sunni ??

Jawab :

Manthiq aristoteles dengan tolak ukur materi sedangkan Allah SWT immateri (transedent)  sehingga logika aristoteles tidak bisa dijadikan akidah, karena akidah Islam tidak butuh filsafat yunani dalam penjabaran

Yang pasti Allah SWT memerintahkan kita meneliti Alam agar mengenal Nya, jadi bukan dengan meneliti Zat Nya…

Pada tauhid asma’ wa shifat hingga detik ini masih memunculkan polemic berkepanjangan antara hambaliyyah (termasuk wahabi) dengan kaum sunni tradisional seperti NU

Sifat Allah SWT adalah apa yang Dia tetapkan dalam syari’at Nya…

Akal ahlul kalam sunni mempunyai batasan karena pengaruh ruang dan waktu, sementara Allah SWT tidak dibatasi oleh ruang dan waktu…

Teori jauhar, ‘aradh, jisim dll  YANG  SERiNG  DiSEBUT  SEBUT  DALAM KiTAB  KUNiNG  hanya berlaku untuk materi, bukan untuk membuktikan ada atau tidaknya Allah SWT karena Allah adalah immateri, tentu tidak bisa ditentukan keberadaan Nya dengan teori teori materi apalagi dengan teori yang masih bersifat trial and error (coba coba bisa gagal)

Kitab kuning teologi sunni banyak memakai istilah istilah Yunani untuk memahami tentang materi berdasarkan teori kebendaan.. lalu mereka pakai untuk menentukan keberadaan Allah SWT

.

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”.Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

bahwa kalam Asy’ari  dan  tasawuf adalah penyebab kemunduran Sunni  walaupun Asy’ariyah dan sufi  telah berjasa dalam menemukan keharmonisan mistis antara ukhrawi dan duniawi, meski tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan masyarakat muslim yang asy’ariyah  dan sufi sangat terbelakang di banding Barat.

Ilmu kalam lahir sebab polemik hebat antara sesama umat islam sendiri, ataupun antara umat islam dengan pemeluk agama lain. Keretakan ini sesunguhnya sudah mulai terbentuk setelah Rasul wafat

Setiap generasi memiliki tantangan yang khas. Setiap tantangan menghasilkan pemecahan yang khas pula. Maka dari itu, tidak mengherankan satu peradaban yang dibangun oleh generasi tertentu memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan peradaban yang dibangun oleh generasi yang lain. Setiap keunikan dalam peradaban tersebut adalah kebaikan dalam dirinya sendiri. Artinya adalah bahwa tidak setiap kebaikan yang ada pada masa tertentu adalah kebaikan juga pada masa yang lain.Untuk itu perubahan demi perubahan seharusnya diupayakan sebagai usaha pembaruan sebagai respon dari tantangan zaman.

Mu’tazilah  dipelopori oleh Wasil ibn Atho’. Mu’tazilah inilah, menurut Nurcholis Madjid, sebagai pelopor yang sungguh-sunggguh digiatkannya pemikiran tentang ajaran-ajaran pokok Islam secara lebih sistematis. Paham mereka amat rasional sehingga mereka dikenal sebagai paham rasionalis Islam. Sikap rasionalik ini dimulai dari titik tolak bahwa akal mempunyai kedudukan tinggi bahkan kedudukannya boleh dikatakan sama dengan wahyu dalam memahami agama.(Nurcholis Madjid, tt:21)

.

melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).

Pada dasarnya al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-Asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlak. Dengan demikian, jelasnya bahwa Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki dirinya, sedang Al-Asy’ari dari visi bahwa Allah adalah pemilik mutlak.

.

Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari golongan tradisiona Islam, terutama golongan Hanbai, yaitu pengikut-pengikut mazhab ibn Hambal. Mereka yang menentang ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisonal yang dipelopori Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324H/935M).(Abdurrahman Badawi, 1984:497) Disamping aliran Asy’ariyah, timbul pula suatu aliran di Samarkand yang juga bermaksud menentang aliran Mu’tazilah. Aliran ini didirikan oleh Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi (w.333H/944M). Aliran ini kemudian terkenal dengan nama teologi Al-Maturudiyah.(H.AR. Gibb, 1960:414)

Rumusan klasik di bidang teologi  sunni yang kita warisi dari para pendahulu Muslim pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari kenyataan-kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw.

.

Kritik atas Teologi Islam Klasik
Kalau kita perhatikan bahasan tentang doktrin-doktrin teologi Islam klasik itu adalah trend teosentris. Tuhan dan Ketuhanan (theos) menjadi core teologisnya. Dengan perumusan diskursus terutama pada Tuhan dan ketuhanan, sudah barang tentu teologi semacam itu (hanya) relevan sebagai alas struktur dari religiusitas yang “membela” Tuhan, bukan manusia. Untuk konteks zaman pertengahan Hijriyah, ketika era formatis Islam masih berlangsung, boleh jadi masih menemuni signifikansinya

.

Namun, untuk kontek saat, tatkala dunia telah bergerak maju kearah dunia modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dielakkan lagi untuk merekontruksi teologi Islam yang asalnya membela Tuhan (teosentris) menuju keberpihakan kepada kemanusiaan (antroposentri) sebagai suatu rangka pikir untuk memahami kenyataan sekaligus suatu motivasi religius untuk membalik-mengubanya menjadi lebih baik.

Merekontruksi teologi sunni  klasik merupakan sebuah keniscayaan. Karena dengan mempertahankan doktrin-doktrin teologi Islam klasik yang lebih cenderung kepada trend teosentris atau Ketuhanan (theos) yang menjadi pembahasan pokok teologisnya telah jauh menyimpang dari misinya yang paling awal dan mendasar, yaitu liberasi atau emansipasi umat manusia.

Rumusan klasik sunni  di bidang teologi pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari fakta-fakta nyata kemanusian dan kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw. sangatlah liberatif, progresif, emansipatif dan revolutif

.
Disamping itu, kita membutuhkan formulasi teologi Islam kontemporer sebagai sintesis dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islam harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya)

.

Oleh karena itu, diskursus teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Dengan demikian, agar Islam lebih survive dalam menghadapi dunia modern dan postmodern, maka perlu adanya perubahan diskursus teologi Islam yang pada mulanya hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).

teologi tidak sekedar sebagai dogma keagamaan yang kosong melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia

metodologi teologi sunni  tidak bisa mengantarkan kepada keyakinan atau pengetahuan yang menyakinkan tentang Tuhan tetapi baru pada tahap ‘mendekati keyakinan’ dalam pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud spiritual lainnya.

teologi sunni tidak ‘ilmiah’ dan tidak ‘membumi’, Untuk mengatasi kekurangan teologi klasik yang dianggap tidak berkaitan dengan realitas sosial maka perlu beralih ke teologi syi’ah

Pemikiran ini, minimal, di dasarkan atas dua alasan; pertama, kebutuhan akan adanya sebuah ideologi (teologi) yang jelas di tengah pertarungan global antara berbagai ideologi. Kedua, pentingnya teologi baru yang bukan hanya bersifat teoritik tetapi sekaligus juga praktis yang bisa mewujudkan sebuah gerakan dalam sejarah

.

“…Jika para pendahulu telah memulai muqaddimah konvensional mereka
yang bersifat keimanan itu dengan nama Allah;

maka kami memulainya atas nama bumi yang terampas, atas nama kemerdekaan, atas nama kebaikan,atas nama perlawanan,
atas nama persamaan dan keadilan, atas nama persatuan umat
atas nama kemajuan,atas nama kebangkitan umat,
atas nama cinta kemurnian, atas nama mereka yang terbungkam,
dan atas nama seluruh kaum Muslimin yang tertindas…”

.

Teologi sunni yang bersifat dialektik lebih diarahkan untuk mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniannya, bukan dialektika konsep tentang watak sosial dan sejarah, disamping bahwa ilmu kalam sunni juga sering disusun sebagai persembahan kepada para penguasa, yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi.

Sedemikian, hingga pemikiran teologi lepas dari sejarah dan pembicaraan tentang manusia disamping cenderung sebagai legitimasi bagi status quo daripada sebagai pembebas dan penggerak manusia kearah kemandirian dan kesadaran

.

Selain itu, secara praktis, teologi tidak bisa menjadi ‘pandangan yang benar-benar hidup’ yang memberi motivasi tindakan dalam kehidupan konkrit manusia. Sebab, penyusunan teologi tidak didasarkan atas kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia, sehingga muncul keterpecahan (split) antara keimanan teoritik dan keimanan praktis dalam umat, yang pada gilirannya melahirkan sikap-sikap moral ganda atau ‘singkritisme kepribadian’.

Fenomena sinkritis ini tampak jelas dengan adanya ‘faham’ keagamaan dan sekularisme (dalam kebudayaan), tradisional dan modern (dalam peradaban), Timur dan Barat (dalam politik), konservatisme dan progresivisme (dalam sosial) dan kapitalisme dan sosialisme (dalam ekonomi).

.

Dalam  kitab  kuning  Pesantren  tradisional  yaitu  Kitab  “Kifayatul  Awam” : Menurut  abu  hasan  al   asy’ari   “Wujud   adalah  maujud  itu  sendiri  maka  wujud  Allah  Ta’ala  adalah  Zat  Nya  sendiri, maka  jadilah  wujud  itu  bukan  sifat, maka  jadilah  sifat  sifat  yang  wajib  itu  12”

Saudaraku…

Imam  Al  Asy’ari  berpendapat  bahwa  sifat  ma’nawiyah  itu  tidak  ada,  yang  ada  adalah  sifat  ma’ani ( sumber  kutipan : Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997 )

Saudaraku…

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun  1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

saudaraku…

Bahasa dan istilah-istilah dalam teologi sunni klasik adalah warisan nenek moyang dalam bidang teologi yang khas yang seolah-olah sudah menjadi doktrin yang tidak bisa diganggu gugat

istilah-istilah dalam teologi sebenarnya tidak hanya mengarah pada yang transenden dan ghaib, tetapi juga mengungkap tentang sifat-sifat dan metode keilmuan; yang empirik-rasional seperti iman, amal dan imamah, yang historis seperti nubuwah dan ada pula yang metafisik, seperti Tuhan dan akherat.

analisa realitas perlu dilakukan untuk mengetahui latar belakang historis-sosiologis munculnya teologi dimasa lalu dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat atau para penganutnya. Selanjutnya, analisa realitas berguna untuk menentukan stressing bagi arah dan orentasi teologi kontemporer.

teologi sunni  dinilai gagal memberi arahan kepada kemanusiaan, karena akhirnya yang terjadi justru totalitarianisme. Disini mungkin saya  terilhami oleh inspirator revolosi sosial Iran; Ali Syariati

————————————————————————————————————–

Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Sumber  kutipan :

1.   Mohd. Nor  Ngah, Kitab  Jawi : Islamic  Thought  Of  The  Malay  Muslim Scholars ( Singapore : Institute  of  Southeast  Asian  Studies, 1982 ) halaman  9

2. Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

————————————————————————————————————–

Jawaban kami :

Hukum  akal  terbagi  tiga menurut  kaum  sunni  :

-  Wajib  pada  akal

-  Mustahil  pada  akal

-  Jaiz   pada  akal

Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Apakah  akidah  kepada  Allah  dan  Rasul  bisa  tegak  dengan  memakai  akal  akalan  ulama  penulis  kitab  kuning  ????? Pantas lah  umat  sunni   mundur dalam  pengamalan   akidah !!!!!!!!!

saudaraku….

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/10/sifat20.jpg?w=257

Takrifan:1. Sifat Nafsiah – diri zat Allah swt, wujudNya tidak disebabkan oleh sesuatu sebab

2. Sifat Salbiah – menafikan perkara-perkara yang tidak layak bagi Zat Allah swt atau hujah-hujah sifat yang membesarkan kelebihan zat yang Maha Agung itu daripada sekalian yang baharu

3. Sifat Ma’ani – sifat yang berdiri pada zat Allah swt, yakni sifat khusus yang dimiliki oleh Allah swt dan lazim melazimi pula ia dengan sifat ma’anawiyah

4. Sifat Ma’anawiyah – zat yang disebabkan suatu sebab akan wujudnya, yakni kelakuan zat atau fungsi zat yang mempunyai sifat ma’ani atau kelakuan sifat ma’ani yang digerakkan oleh zatNya.

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/10/sifat20-istaghna_iftiqar.jpg?w=244

Takrifan:

ISTAGHNA – Sifat KEKAYAAN Allah swt

IFTIQAR – Sifat berhajat, berkehendak sekalian makhluk kepada Allah swt

saudaraku….

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

Lalu bagaimana dengan hadits:

Sesungguhnya bagi Allah sembilan puluh sembilan nama, barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah.”

[Riwayat Bukhori:6410, Muslim:2677]

Jawabnya: Hadits ini tidak menunjukkan pembatasan nama Allah hanya semobilan puluh sembilan saja. Bila demikian maka susunan kalimatnya adalah:

Sesungguhnya nama-nama Allah ada sembilan puluh sembilan, barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah

Dengan demikian, maka makna hadits ini adalah nama-nama Allah yang sembilan puluh sembilan yang siapa saja dapat menghapalnya akan masuk jannah. Berarti masih ada nama-nama lain yang tidak diperintahkan untuk menghapalnya. Selain itu kalimat “…barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah” bukan merupakan kalimat tersendiritetapi kalimat pelengkap dari sebelumnya. Kalimat yang semisal dengannya, seperti ucapan: “Saya mempunyai seratus ribu rupiah yang saya persiapkan untuk shodaqoh”. Berarti anda masih mempunyai uang yang lain yang dipersiapkan untuk keperluan lainnya.

“Ulama telah bersepakat bahwa hadits ini bukan pembatasan nama-nama Allah. Namun bukan berarti Allah tidak memiliki nama-nama yang lain. Tetapi maksud dari hadits ini yaitu sembilan puluh sembilan nama ini, bagi yang menghapalnya akan masuk jannah. Tujuannya sekedar informasi akan masuk jannah bagi yang mampu menghapal 99 nama tersebut, bukan pembatasan nama. Oleh karenanya tersebut dalam lafadz lain: Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk Diri-Mu…atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya”

nama Allah tidak terbatas. Demikian pula sifat-Nya. Karena setiap nama pasti mengandung sifat, berarti sifat Allah juga tidak terbatas. “Allah mempunyai nama-nama dan sifat yang disimpan pada ilmu ghoib di sisi-Nya. Tidak ada yang mengetahuinya, baik itu malaikat yang dekat dengan Allah atau nabi yang diutus, seperti disebutkan dalam hadits shohih: Aku mohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya”

——————————————————————————————

….. Demikianlah  ciri ciri utama pemikiran  tradisionalisme  tentang  ilmu tauhid  yang  bertolak  dari   Rukun  Iman. Diantara  rukun rukun tersebut, rukun yang pertama  atau  kepercayaan kepada  Allah  lebih dominant. Meskipun  rukun ini  diutamakan, tetapi hanya  berpusat  pada  ajaran sifat 20. Konsep  akidah  seperti  ini bukan saja dipengaruhi  dialektika  yunani  dan  logika  aristoteles, bahkan  dianggap  sempit   dan tidak  menyentuh  kehidupan  manusia.

Memerlukan  cara  baru  untuk  menulis  teologi. Keadaan  sosial, politik  dan filsafat  banyak  pengaruhnya terhadap  perkembangan  teologi  dalam  Islam, dengan tidak mengetahui  hal hal tersebut, pengetahuan  kita  tentang  teologi  Islam  akan  terasa  kurang  mempunyai  dasar yang kukuh…

Sumber  kutipan :

Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

——————————————————————————————

Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Sumber  kutipan :

a.  Mohd. Nor  Ngah, Kitab  Jawi : Islamic  Thought  Of  The  Malay  Muslim Scholars ( Singapore : Institute  of  Southeast  Asian  Studies, 1982 ) halaman  9

b. Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

—————————————————————

Saudaraku….

Kritik  dilancarkan terhadap  ajaran  tauhid  tradisional   yang  mengajarkan  sifat  20  yang  dianggap  berasaskan  logika  aristoteles (Sumber kutipan : A. Hassan, Kitab  Al  Tauhid (Penang: Persama  Press, 1959) hal. 23 -24…. Nik  Mohyideen  Musa, Pelajaran  Ilmu  Tauhid ( Kuala  Lumpur : Dewan  Bahasa  dan  Pustaka, 1979 ) halaman 102-104

—————————————————————

Saudaraku….

Mengenai  kepercayaan  kepada  Nabi  dan  Rasul, pembahasannnya  juga  menggunakan  hukum  hukum  akal.  Ada  empat  sifat  wajib, yaitu  shidiq, amanah, tabligh  dan  fathanah.  Sedangkan sifat  mustahil  ialah  yang  berlawanan  dengan  keempat  sifat  ini. Sifat  jaiz  bagi  rasul  ialah  sifat  sifat  sebagai  manusia  biasa  yang  tidak  merendahkan  martabat  mereka  sebagai  Nabi  dan  Rasul  ( Sumber kutipan : Hussain  bin  Nasir  Al  Banjari, Tamrin  al  Sibyan, halaman  14-15 ; idem, Hidayat  Al Sibyan, halaman 7; Haji  Mohd. Sharif  bin  Abdul  Rahman, al Muqaddimah  Al  Tauhidiyah (Pulau  Pinang : Abdullah B.M. nurdin  Al  Rawi, 1959), halaman 8-9

Semua deskripsi Tuhan dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an maupun Sunnah, sebenarnya lebih mengarah pada pembentukan manusia yang baik, manusia ideal, insan kamil.

Saya melakukan ini dalam rangka untuk mengalihkan perhatian dan pandangan umat Islam yang cenderung ingin tahu wujud Tuhan  menuju sikap yang lebih berorentasi pada realitas empirik

Sebab, apa yang di kehendaki dari konsep tauhid tersebut tidak akan bisa dimengerti dan tidak bisa difahami kecuali dengan ditampakkan. Jelasnya, konsep tauhid tidak akan punya makna tanpa direalisakan dalam kehidupan kongkrit.

Perealisasian nafi (pengingkaran) adalah dengan menghilangkan tuhan-tuhan modern, seperti ideologi, gagasan, budaya dan ilmu pengetahuan yang membuat manusia sangat tergantung kepadanya dan menjadi terkotak-kotak sesuai dengan idiologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dipujanya. Realisasi dari isbat (penetapan) adalah dengan penetapan satu ideologi yang menyatukan dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu tuhan-tuhan modern tersebut.

Dengan demikian, dalam konteks kemanusiaan yang lebih kongkrit, tauhid adalah upaya pada kesatuan sosial masyarakat tanpa kelas, kaya atau miskin. Distingsi kelas bertentangan dengan kesatuan dan persamaan eksistensial manusia. Tauhid berarti kesatuan kemanusiaan tanpa diskriminasi ras, tanpa perbedaan ekonomi, tanpa perbedaan masyarakat maju dan berkembang

Teologi dimulai dari titik praktis pembebasan rakyat tertindas. Slogan-slogannya yang dipergunakan, pembebasan rakyat tertindas dari penindasan penguasa, persamaan derajat muslimin

tentang tauhid yang ‘mendunia’ telah disampaikan tokoh dari kalangan Syiah, Murtadha Muthahhari. Syi’ah mampu mengemas konsep-konsepnya tersebut secara lebih utuh, jelas dan op to dete, sehingga terasa baru.

adalah langkah berani dan maju dalam upaya untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam mengejar ketertinggalannya dihadapan Barat.

Artinya, teologi tidak hanya berupa ide-ide kosong tapi merupakan ide ‘kongkrit’ yang mampu membangkitkan dan menuntun umat dalam mengarungi kehidupan nyata

Dalam sejarah awal perkembangan Islam, ajaran keesaan Tuhan (tauhid) merupakan tugas pokok pertama Nabi saw yang harus disampaikan dan didakwahkan kepada umatnya. Tauhid menempati struktur hierarkis paling istimewa dalam keseluruhan sistem serta bangunan keberagamaan kaum Muslim. Keabsahan semua rangkaian upacara keagamaan mereka sangat bergantung pada eksistensi tauhidnya

.

Membahas masalah perbuatan manusia, yang menyangkut penegasan apakah itu merupakan suatu tindakan yang ditentukan oleh manusia ataukah di ikuti oleh campur tangan Tuhan. Disini al-Asy’ari telah mengeluarkan pendapatnya bahwa semua tindak-tanduk manusia adalah ciptaan Tuhan, sedangkan manusia hanya memiliki upaya (al-kasb) untuk bertindak. Atau dengan kata lain al-Asy’ari telah membedakan antara al-Khaliq dan al-kasb. Hingga berkesimpulan bahwa segala sesuatu itu tidak memiliki pengaruh apapun secara dzatiah nya akan tetapi yang memiliki pengaruh haqiqi dari semua itu hanyalah Allah swt.(Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, 1903:9)

.

Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok Mujasimah (antropomorfis) dan kelompok Musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut arti harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain adalah esensi-esensinya. (Asy-Syahrastani, 1990: 46)

.
Sementara Al-Asy’ari snediri berpendapat bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah bukanlah esensinya dan juga bukan berarti keluar dari esensi tersebut. Ia memiliki sifat yang melebihi segalanya dan berdiri bersama dengan zat itu sendiri tanpa ada satupun yang dapat menyetarakan-Nya. (C A Qadir, 1991:67-8)

.
Di samping mempengaruhi keabsahan ritual keagamaan, tauhid juga berfungsi mengendalikan gerak, tindakan dan dinamika kemanusiaan. Secara sosiologis, konsep tauhid ikut mengarahkan, membentuk dan menentukan kualitas perilaku individu maupun komunitas umat Islam. Semakin tinggi kualitas tauhidnya, semakin tinggi pula tingkat perilaku keimanan sosialnya. Refleki dari ketinggian kualitas tauhid ini dengan sangat baik dicontohkan oleh para pahlawan (mujahid) Muslim yang berperang demi menegakkan kalimat ilahi dan menyebarkan dakwah keislaman. Orang dengan kualitas tauhid yang mumpuni tidak mengenal rasa takut, menjadi pemberani dan rela berkorban segalanya demi meraih cita-cita tegaknya kalimat Allah, termasuk mengorbankan nyawanya sendiri

.
Dengan demikian, pandangan dunia (world view) tauhid sangat mempengaruhi pola pikir, pola bertindak, gaya dan cara memandang realitas, strategi aksi serta bentuk relasi sosial antar manusia. Dalam konteks ini, tauhid sangat mirip sebuah ideologi; sebut saja ideologi ketuhanan atau ideologi kehidupan (way of life) yang memberi arahan ideal bagi terwujudnya tatanan sosial yang dikehendaki. Tentunya ideologi dalam pengertian sebagai sebuah kumpulan ide, konsep dan gagasan yang menjadi referensi praksis untuk menggapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Tauhid dalam formulasi semacam ini berkembang pada masa-masa awal kelahiran Islam.
Berdasarkan analisis sejarah para pakar, doktrin tauhid yang dikembangkan Nabi Muhammad saw berwatak dinamis, progresif dan liberatif. Ketika itu, tauhid dipahami sebagai ajaran yang menyeru umat manusia untuk hanya menyembah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa; menghambakan diri kepada-Nya; menyerahkan totalitas eksistensial kemanusiaan kepada-Nya dan mengesakan-Nya dari segala bentuk penyembahan, ketundukkan, kepatuhan, ketaatan dan penghambaan diri kepada selain-Nya. Tauhid demikian berkarakter subversif: menantang mainstream status quo dan memberontak terhadap segala struktur kuasa maupun sosial yang hegemonik, tiranik dan sewenang-wenang. Doktrin tauhid benar-benar revolusioner dan transformatif

.
Namun, seiring perkembangan sejarah dan peradaban kemanusiaan, doktrin tauhid mulai mengalami pergeseran secara signifikan. Diskursus teologi yang pada awalnya berkorelasi kuat dengan kenyataan aktual kemanusiaan, direduksi sedemikian rupa menjadi kumpulan wacana spekulatif yang tidak ada sangkut pautnya dengan kenyataan yang hidup dalam gerak sejarah. Berkembangnya tradisi keilmuan baru yang mewujud pada kerja sistematisasi, penyusunan formal (al-tadwin) dan spesialisasi bidang keilmuan, menyebabkan doktrin-doktrin tauhid tertransformasi ke dalam bangunan doktrinal baku, tertutup, teoritik dan kurang memiliki daya dorong sosial

.

Tauhid hanya mampu bergaung dalam karya-karya tulis, bukan berkibar di medan-medan tempur sebagaimana pada zaman Nabi Muhammad saw. Demikianlah, ajaran tauhid kehilangan fungsi transformasinya. Ironisnya, pemahaman ajaran tauhid model ini yang kemudian diwarisi generasi umat Islam hingga sekarang.
Berpijak pada kemandegan pemikiran di bidang teologis yang tidak lagi memiliki fungsi sosial transformatif inilah, diperlukan penggalian ulang spirit of theology yang leberatif, progresif dan berkorelasi sebagai jawaban dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengubah diskursus teologi Islam dari berbicara tentang Tuhan (teosentris) sebagai core teologinya beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).
Dalam konteks ini pembahasan tulisan ini difokuskan agar bisa keluar dari kungkungan dogmatis dan menawarkan metode pendekatan baru agar bisa menjaring aneka pengalaman kemanusiaan dan sosial kekinian untuk kemudian dibedah dan dianalisis sesuai dengan cara kerja ilmu kalam

.

Dengan demikian, secara singkat tauhid berisi pembahasan teoritik menyangkut sistem keyakinan, sistem kepercayaan (kredo) dan struktur akidah kaum Muslim berdasarkan rasio dan wahyu. Tujuan akhir ilmu ini adalah pembenaran terhadap akidah Islam serta meneguhkan keimanan dengan keyakinan. Karena itu, Tauhid memiliki posisi penting dalam mekanisme keberagamaan umat Islam, karena berisi pokok-pokok ajaran yang sifatnya mendasar,

.

teologi atau berteologi haruslah dapat menumbuhkan moralitas atau sistem nilai etika untuk membimbing dan menanamkan dalam diri manusia agar memiliki tanggung jawab moral, yang dalam Al-Qur’an disebut taqwa. Secara pasti teologi Islam merupakan usaha intelektual yang memberi penuturan koheren dan setia dengan isi yang ada dalam Al-Qur’an. Teologi harus mempunyai kegunaan dalam agama apabila teologi itu fungsional dalam kehidupan agama. Disebut fungsional sejauh teologi tersebut dapat memberikan kedamaian intelektual dan spritual bagi umat manusia serta dapat diajarkan pada umat

.

Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islah harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya). Teologi yang fungsional adalah teologi yang memenuhi panggilan tersebut, bersentuhan dan berdialok, sekaligus menunjukkan jalan keluar terhadap berbagai persoalan empirik kemanusiaan

.

tantangan kalam atau teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Teologi, dalam agama apapun yang hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) dan tidak mengkaitkan diskursusnya dengan persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris), memilki rumusan teologis yang lambat laun akan menjadi out of date. AlQur’an sendiri hampir dalam setiap diskursusnya selalu menyentuh dimensi kemanusiaan universal

.

Seharusnya teologi dan kalam yang hidup untuk era sekarang ini berdialog dengan realitas dan perkembangan pemikiran yang berjalan saat ini. Bukan teologi yang berdialok dengan masa lalu, apalagi masa silam yang terlalu jauh. Teologi Islam kontemporer tidak dapat tidak harus memahami perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi

.
Kalau kita analisis terdapat tiga kelemahan yang dimiliki oleh pembahasan teologi Islam klasik diantaranya. Pertama, Persoalan manusia, alam dan sejarah. Selama ini, yang ditonjolkan oleh ilmu kalam selalu saja pembahasan abstrak seputar eksistensi Tuhan, atribut-atribut yang melekat kepada-Nya, eksistensi malaikat, artikel-artikel eskatologis, kenabian, dan ha-hal teoritik lain yang tidak berkorelasi dengan kenyataan yang terjadi. Wacana kalam klasik tidak lagi mamiliki hubungan harmonis dengan kenyataan riil kemanusiaan. Dan ini adalah distorsi besar-besaran terhadap sejarah dan ajaran Islam, karena sebelumnya teologi sangat lekat dengan antropologi

.
Kedua, eksistensi teologi Islam tradisional dalam paradigmanya yang spekulatif, teoritik, elitik, statis dan kehilangan daya dorong sosial serta momentum perlawanannya. Selama ini artikel-artikel teologi klasik hanya penuh dengan refleksi keimanan murni; menggambarkan keimanan sema-mata dan tidak berkaitan dengan kemanusiaan nyata. Gaya pembahasan seperti ini sangat berbahaya, sesuatu yang tak berarti dan hampa makna

.
Ketiga, paradigma teologi klasik Islam sudah saatnya diperbaharui (reformasi), dipahami ulang (rekonstruksi) dan dirumuskan kembali (reformulasi) dalam modelnya yang baru dan progresif, karena sudah tidak relevan dengan tuntutan modernitas, gerak sejarah dan dinamika perkembangan zaman

.
Bertolak dari kelemahan-kelemahan ilmu kalam di atas, tampaknya dekontruksi terhadap ilmu ini merupakan sebuah keniscayaan. Dekontruksi tidak hanya berarti membongkar kontruksi yang sudah ada. Didalam dekontruksi tetap diperlukan usaha-usaha yang mengiringinya, yaitu merekontruksi apa yang seharusnya merupakan tuntutan baru. Tujuan dekontruksi adalah melakukan “demitologisasi” konsep atau pandangan-pandangan yang ada, yang telah menjadi “teks sakral” dan mitos keilmuan dalam dunia Islam. Untuk mencapai itu, perlu dilakukan pembongkaran melalui gagasan kritis dan mendasarkan tipe rasionalitas yang seharusnya menjadi alas ilmu tersebut, serta secara modern menilai kembali wahyu sebagai gejala budaya dan sejarah yang komplek

.

saya melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).

Urgensi dari penghadiran suatu kontruk teologi yang bersifat transformatik dan membebaskan bertolak pada tujuan utama di syari’atkan Islam pada dasarnya adalah revolusi kemanusiaan dan ide-ide pembebasan merupakan salah satu tema pokok dalam Islam. Ide-ide tersebut adalah al-’adalah (keadilan), al-musawamah (egalitarianisme, kesetaraan;persamaan derajat), dan al-hurriyah (kebebasan). Tiga ide tersebut dalam konteks teologi yang transformatif perlu adanya rekonstruksi atau redefinisi makna teologi

.
Selama ini teologi lazim dimaknai sebagai suatu diskursus seputar Tuhan. Namun, dalam kerangka paradigma transformatif, teologi semestinya tidak lagi difahami (semata-mata) sebagaimana pemaknaan yang dikenal dalam wacana kalam klasik itu, yakni suatu diskursus tentang Tuhan yang sangat teosentris, yang secara etimologi merujuk pada akar kata theos dan logos. Ia seharusnya dimaknai dan dipahami sebagai sungguh-sunguh ilmu kalam

.

Gagasan tentang reformasi (atau rekonstruksi) teologi tradisional diperlukan untuk mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan sesuai dengan perubahan konteks sosial politik yang terjadi. Teologi tradisional Islam lahir dalam konteks sejarah ketika inti sistem kepercayaan Islam, yaitu Transendensi Tuhan diserang oleh wakil-wakil dari sekte-sekte dan budaya-budaya kuno. Teologi dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan untuk memelihara kemurnian iman. Dialektika berasal dari dialog dan mengandung pengertian saling menolak; hanya merupakan dialektika kata-kata, bukan konsep-konsep tentang alam, manusia, masyarakat atau sejarah

.
Sekarang ini konteks sosial politik telah berubah. Islam mengalami berbagai kekalahan di berbagai medan pertempuran sepanjang periode kolonisasi. Karena itu, kerangka konseptual lama masa-masa permulaan, yang berasal dari kebudayaan klasik harus dirubah menjadi kerangka konseptual baru, yang berasal dari kebudayaan modern

.

Pemahaman tauhid sedemikian tidak hanya diarahkan secara vertikal untuk membebaskan manusia dari ketersesatan dalam bertuhan, tetapi juga secara sosial-horisontal dikehendaki berperan sebagai teologi yang membebaskan manusia agar terlepas dari seluruh anasir penindasan. Cita pembebasam manusia dari ketertindasan, karena itu, merupakan saah satu ‘aqidah iahiyah. Elaborasi lebih jauh dari pemahaman tauhid semacam ini menuntut pula redefinisi terhadap entitas makna iman, nilai kufr dan sebutan kafir, dan pada akhirnya reposisi entitas makna Islam dan Musim searah dengan kepentingan praksis pembebasan.

.

Konsep Keadilan Sosial.
Konsep keadilan merupakan doktrin yang diperbincangkan oleh teologi Islam kasik. Dalam diskursus teologi Islam klasik tema tersebut cenderung terfokus semata pada perbincangan soal-soal keadilan Tuhan (al-’adl).

teologi dapat berperan sebagai suatu ideologi pembebasan bagi yang tertindas atau sebagai suatu pembenaran penjajahan oleh para penindas. Teologi memberikan fungsi legitimatif bagi setiap perjuangan kepentingan dari masing-masing lapisan masyarakat yang berbeda.

Berangkat dari situlah, maka konsep keadilan Tuhan (a-’adl) perlu direkontruksi dan redefinisi pada konsep keadilan sosial. Pengedepanan konsep ini bertolak dari kesadaran bahwa ketidakadian sosial (kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ekploitasi, diskriminasi, dan dehumanisasi) merupakan produk dari suatu proses sosial lewat struktur dan sistem yang tidak adil, yang terjadi antaran proses sejarah manusia

.

Artinya realitas sosial yang tidak adil bukanlah takdir Tuhan (predestination) seperti umumnya diyakini teologi-teologi tradisional, melainkan hasil dari proses sejarah yang disengaja. Bukan pula hanya akibat “ada yang salah dalam bangunan mentalitas-budaya manusia”, seperti keyakinan teologi-teologi rasional, melainkan imbas langsung dari diselenggarakannya sistem dan struktur yang tidak adil, eksploitatuf, dan menindas.

.

Konsep Spirituaitas Pembebasan.
Konsep ini merupakan konkretisasi dari proses refleksi kritis atas realitas manusia (umat) di satu sisi dan atas tujuan utama Islam sebagai agama pembebasan di sisi lain. Pembebasan (liberation,tahrir) dalam kerangka spiritualitas tidak hanya diarahkan pada struktur-sistem yang menindas, tetapi juga secara terus menerus pada upaya membebaskan manusia dari hegemoni wacana tertentu berupa produk pemikiran keagamaan tertentu, misalnya spriritualitas ini harus senantiasa mengambil tempat dan peran aktif dalam proses kontektuaisasi teks-teks keagamaan atas konteks kekinian

.
Pengenaan spiritualitas pembebasan itu secara khusus bertujuan agar aspek relligius dari gagasan teologi dimaksud tidak hilang sekaligus eternalitas nilai-nilai trandensinya tak terabaikan

.

Oleh sebab itu, selain menumpukan diri pada gagasan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar, ia juga menekankan pada pemaknaan kontekstual dengan realitas kekinian (segenap bentuk social malaise). Akhirnya, di wilayah praktis, aktualisasi atau manifestasi teologi reformatif ini membutuhkan keterlibatan aktif dari kaum tertindas sendiri. Tanpa itu, bisa dipastikan ia akan gagal menjadi motivasi religius yang betul-betul transformatif dan berdaya membebaskan. Pelibatan aktif mereka itu terlepas model menejemen gerakan apapun yang pada akhirnya diambil

.
Dengan berteologi secara demikian kita bisa memulai berharap munculnya realitas sosial kemanusiaan yang lebih mengembirakan

.

Dalam pada itu Isam sebagai entitas nilai maupun agama akan benar-benar hadir sebagaimana spirit aslinya sebagai agama yang membebaskan. Hal itu memungkinkannya hadir sebagai entitas yang berdaya melakukan pembebasan dan tidak justru memperkokoh diri sebagai indtitusi penindas, langsung maupuin tidak. Melalui rekonstruksi teologis sedemikian, Islam sebagai entitas ajaran niscaya mengambi jalan “mengubah dunia untuk mengubah manusia” dan bukan “mengubah manusia untuk mengubah dunia”.

Rekomendasi ini niscaya demi menyadari kondisi faktual umat Islam saat ini yang terpuruk di berbagai bidang kehidupan dan mandulnya beragan paradigma teologi Islam yang dianut mereka untuk memotivasi berlangsungnya proses transformasi sosial. Dua kenyataan inilah yang secara langsung menjadi basis historis mengapa rekontruksi teologi Islam itu perlu. Dalam pada itu kita bisa menarik kesimpulan betapa Islam dalam proses sejarah telah semakin jauh dari rasionalitas Tuhan ketika ia diturunkan

.
Terkait itulah rekontruksi terhadap teologi warisan Islam klasik ini menjadi hal yang sangat strategis guna memulai transformasi sosial umat secara total. Redefinisi teologi Islam klasik menuju teologi Islam yang transformatif akan memberikan signifikansi bagi kesadaran teologis umat yang kritis dalam melihat teks (Qur’an/hadits, ide-ide kemanusiaan) dan konteks kekinian. Pada saat berbarengan ia berpotensi pula menjadi motivasi reigius bagi umat untuk melakukan transformatif atas realitas ketertindasan yang mengkungkung mereka baik berupa ideologi Barat seperti developmentalisme atau kapitalisme, ataupun berwujud nilai-nilai yang mereka konseptualisasi sendiri, termasuk “nilai-nilai agama”
Dalam kerangka pembebasan, upaya pelahiran kesadaran teologis antropomorpisme itu penting, setidaknya disebabkan dua urgensi, yakni pertama, dilevel wacana pemikiran keagamaan ia akan mengurai stagnasi wacana intelektual Islam sejak pasca-Abad pertengahan, khususnya, di ranah teoogi. Disitu jargon-jargon semisal “membuka pintu Ijtihad” disatu sisi dan berlawanan dengan “pintu ijtihad telah tertutup” pada sisi yang lain akan menemukan momentum dan intensitas persinggungannya. Kedua, di level praksis ia akan memposisikan diri sebagai motivasi religius yang membebaskan bagi umat dalam melakukan perlawanan terhadap struktur dan sistem penindasan yang melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan, diskriminasi, dehumanisasi, dan sejenisnya.

Pada saat yang sama ia akan mendorong pada pemahaman bahwa realitas tidak manusiawi itu berlangsung bukan lagi bersifat individual atau apalagi merupakan sesuatu yang sudah dipastikan, seperti pemahaman teologi tradisional, melainkan sudah bersifat sosial—-tercipta oleh struktur-sistem yang memang menghendaki demikian

.
Paling tidak melalui dua level itulah eksistensi umat Islam ke depan akan menemukan bentuknya, dan masa depan peradaban umat akan kembali menjadi menemukan memontumnya dan akan dikagumi baik bagi umat Islam sendiri maupun dunia Barat.

Hari ini banyak perkara yang telah hilang dari umat Islam. Di antaranya ialah ilmu dan hikmah, kasih sayang, perpaduan, empayar, jemaah dan ummah. Mungkin kerana itu hilanglah wibawa umat Islam. Bila umat Islam tidak ada wibawa ertinya tidak ada kekuatan, lemah dan lumpuh. Akhirnya umat Islam seluruh dunia hari ini macam kain buruk atau debu-debu yang berterbangan yang tidak ada harga satu sen pun atau ibarat buih-buih di laut yang dipecah belahkan oleh ombak laut. Itulah yang sedang berlaku pada dunia Islam hari ini, akibat dari itu umat Islam menjadi hina. Hina disebabkan dijajah tapi jajah bentuk baru bukan bentuk lama. Penjajahan bentuk lama bersifat fizikal, tapi bentuk baru ini, kalau orang itu tidak kuat dengan Tuhan tidak prihatin, bukan sahaja awamul muslimin, ulama dan pemimpin Islam pun tidak faham, bahkan ulama dan pemimpin Islam sudah anggap kita sudah merdeka hari ini padahal kalau kita prihatin umat Islam hari ini dijajah bentuk baru. Penjajahan secara bentuk baru inilah yang umat Islam termasuk pemimpin dan ulama tidak faham.

Penjajahan bentuk baru yang sedang berlaku pada umat Islam hari ini yang besar-besarnya ialah:

  1. Ideology telah menjajah syariat atau ideology telah menjadi syariat. Semua negara Islam menggunakan ideology dari yahudi menggantikan syariat Islam.
  2. Pendidikan sudah dijajah. Daripada pendidikan yang bertunjangkan iman di tukar kepada pendidikan sekuler yang tidak dikaitkan dengan iman yang tidak bertunjangkan Tuhan.
  3. Ekonomi dunia dahulu dikuasai umat Islam yang bersifat khidmat, bersih dari riba, monopoli dan penindasan kini dijajah oleh ekonomi yang besifat riba, penzaliman, penindasan dan monopoli,
  4. Kebudayaan Islam yang bersih sudah dijajah oleh kebudayaan yang kotor, maksiat, bahkan sesetengah hal, telah diganti oleh kebudayaan yang lucah.

Penjajahan yang berbetuk rohani dan maknawi ini bukan sahaja umat Islam tidak faham tapi ulama dan pemimpin Islam pun tidak faham, sebab itu umat Islam hari berbangga umat Islam merdeka tapi hakikatnya belum merdeka, sebab sebenarnya penjajahan sekarang bertukar dari penjajahan bentuk lama ke bentuk baru. Kalau dahulu berbetuk fizikal tapi sekarang berbentuk maknawi dan rohani. Ini hakikatnya yang sedang berlaku pada umat Islam pada hari ini.

Umat Islam Indonesia adalah ahlus sunnah waljama’ah, yang mayoritasnya adalah pengikut Aqidah Asy’ariyyah. Aqidah Asy’ariyyah ditandai dengan keimanan kepada sifat 20; serta menakwil sifat-sifat Allah yang lainnya.

Ahlussunnah, ahli hadits, dan ahli atsar sudah ada sebelum imam al-Asy’ari lahir, dan tidak menjadi asy’ariyyah setelah imam al-Asy’ari menjadi imam.

Kelompok salaf sunni, Ahlussunnah, ahli hadits dan ahli atsar berpegang teguh dengan sunnah dan membenci kalam dan ahlinya, sementara kelompok asya’irah adalah termasuk ahli kalam dan membela kalam.

Para ulama salaf sunni  sebelum imam al-Asy’ari dan sesudahnya berwasiat agar mengikuti manhaj salaf as-shalih, yaitu mengikuti hadits dan atsar dan tidak berwasiat untuk mengikuti asyairah atau ilmu kalam.

sangat terkenal kalau imam Asy’ari akhirnya menisbatkan diri kepada imam Ahmad ibn Hanbal ra. Jadi bukan hanya orang lain, justru imam Asy’ari sendiri yang menyatakan hal itu dalam kitabnya al-Ibanah seperti yang ada dalam Tabyin Kadzibil Muftari yang ditahqiq oleh al-Kautsari (hal. 125)

.

Sedangkan di dalam kitab Maqalat beliau menyatakan mengikut para ulama ahli hadits dan ahli sunnah (maqalat: 226), serta menyendirikan penyebutan Abdullah ibn Said ibn Kulab dalam hal-hal yang pemikirannya menyalahi ahli hadits ahli sunnah. (Maqalat halaman 146, 226, 229, 398, 421, 423)

Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:

Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).

Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).

dalam fase kedua ini al-Asy’ari menulis kitabnya al-Ibanah (50) padahal ia meyakini bahwa fase kedua ini memanjang dari tahun 300 H hingga 324 atau 330 H), yang tentu ada puluhan kitab yang dikarang oleh al-Asy’ari selama masa 24 atau 30 tahun itu. dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya. Menurut al-Kautsari al-Ibanah ditulis saat memasuki Baghdad (hamisy Tabyin Kadzibil muftari hal. 289)

Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah[2] (320-324/330 H) yaitu Allah SWT  memiliki wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain tetapi berbeda dengan makhluk, akidah seperti ini adalah akidah salafi wahabi yang dicela  Nahdlatul  Ulama dan Asya’irah

(2) Ithâfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn, al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurrahmân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.

Siapa yang merenungkan kitab Shahih BUKHARi dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.

Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad, warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil, ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara.

Asya’irah Menentang Abu Hasan Al Asy’ari !!! Kontradiksi

Klaim bahwa sebagian ulama ahli hadits sebagai bermanhaj Asy’ariyyah perlu dikritisi dan diluruskan (124-172). Mereka yang diklaim itu sangat banyak, antara lain: Alhafizh Abu Bakar al-Ismaili (371H), al-Hafizh al-Daruquthni (385 H),al-Hafizh al-Baihaqi (458 H), al-Hafizh an-Nawawi (676 H), Ibn Hajr al-Asqalani (852).

Kesimpulan :

Akidah syi’ah imamiyah menta’wilkan tangan Allah, menta’wilkan wajah Allah dll

Jadi  yang  sesat  Abu  Hasan Al Asy’ari  ataukah  syi’ah imamiyah ???

Bahkan imam Asyari sendiri menisbatkan dirinya kepada Imam Ahmad imam Ahli hadits, dan setelah menceritakan akidah ahli hadits ahli sunnah (para salaf shalih) mengatakan:

فهذه جملة ما يأمرون به ويستسلمون إليه ويرونه، وبكل ما ذكرنا من قولهم نقول وإليه نذهب؛ وما توفيقنا إلا بالله …( مقالات الإسلاميين: 229)

Pendidikan dan pengaruh Mu’tazilah tidak bisa dilepaskan dari al-Asy’ari yang dibuktikan dengan dialektiaka yang tetap ia gunakan meskipun sudah keluar dari Mu’tazilah. Hanya saja ia menggunakan pendekatan dialektis dan logis untuk mendukung pendapatnya dalam mengukuhkan madzhab Asy’ariyah. Ia menggunakan filsafat bukan sebagai kebenaran itu filsafat itu sendiri, tetapi ia memakainya sebagai alat untuk mengungkap dan memperjelas argumennya
.
Tanpa kehilangan pandangan tentang segi-segi kuat di atas itu, pembicaraan tentang paham Asy’ari tidak mungkin lepas dari segi-segi lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir Islam sendiri di luar kubu Kalam Asy’ari, maupun dari dalam pandangan para pemikir lainnya. Dan kelemahan itu diantaranya:
.
• Asy’ari cenderung bersikap pasrah kepada nasib (fatalisme). tentang perilaku manusia, termasuk tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya
• Dengan melakukan kasb seperti telah di ketahui pada faham asy”ri, hal tersebut tidak akan berpengaruh apapun dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
• Konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya.

Dari uraian-uraian diatas kita bisa mengetahui berbagai polemic-polemik permasalahan yang muncul pada tubuh Asy’ariah dalam doktrin aqidah islamiah. Di satu sisi karena pangaruh Al Ghozali dengan paparan argumenya yang logis, Asy’ariah bisa berkembang dengan begitu pesat, di sisi lain Asy’ariah seakan mambodohi masyarakat dengan konsep kasb nya yang sulit untuk dimengerti dan malah cenderung membingungkan banyak orang. Malah di sebutkan dalam kitab Jawharat al-Tawhid,

Wa ‘indana li al-’abd-i kasb-un kullifa
Wa lam yakun mu’atstsir-an fa ‘l-ta’rifa

Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,
Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan berpengaruh
Jadi, intinya manusia tetap dibebani kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya.

dalam proses perkembangan paham Asy’ari, konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya

Aliran mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat.

Barangkali di masa itu kebutuhan untuk menjawab tantangan aqidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena di masa itu sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Al-Asy‘ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen kalangan ahli logika ketika menyerang aqidah Islam. Karena itulah metode aqidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.

Bila dilihat dari kaca lain seperti di zaman di mana tantangan akal ini tidak lagi mendominasi, bisa saja terasa agak janggal karena metode akal atau rasio yang digunakan terasa kurang relevan lagi.

Karena itu wajar bila dikritisi lebih detail, ada saja hal-hal yang dirasa kurang pas dan relevan lagi. Sebagian para pengkritik menyataskan bahwa paham As’ariyah menyalahi ahlussunnah wa al-jamaah dalam lima belas masalah, salah satunya adalah masalah asma’ dan sifat. Meski demikian, para pendukung mazhab Asy‘ari juga punya argumen yang membenarkan pendapat mereka.

Penyebaran Aqidah Asy-”ariyah

Aqidah ini menyebar luas di zaman wazir Nizhamul Muluk pad dinasti ani Saljuq dan seolah menjadi aqidah resmi negara.

Semakin berkembang lagi di masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah,baik yang ada di Baghdad maupun di kotaNaisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Jugadidukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-syafi”i dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa aqidah Asy-”ariyah ini adalah aqidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.

Para Ulama yang Berpaham Asy-”ariyah

Di antara para ulama besar dunia yang berpaham aqidah ini dan sekaligus juga menjadi tokohnya antara lain:

* Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
* Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
* Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
* Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
* Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)

Cak Nur juga menyoroti sisi kelemahan paham ini untuk dijadikan bahan refleksi. Kelemahan paham Asy’ariyah menurut Cak Nur terletak pada Qudrah dan Iradah Tuhan dan manusia. Al-Asy’ari sebetulnya hendak menengahi dua kubu ekstrim yang berkembang ketika itu. Kedua kubu tersebut adalah paham Jabariyah yang cenderung fatalistik dan menganggap manusia ibarat robot, sudah didesain dan dikendalikan. Namun paham ini ditolak oleh Qadariyah, mengatakan manusia mempunyai kebebasan bertindak dan menentukan pilihan (free will). Al-Asy’ari memberikan format baru dengan konsep kasb. Tetapi konsep tersebut dipandang sulit dipahami oleh Cak Nur dan cenderung fatalistik. Manusia dibebani kasb (usaha) tetapi usahanya tidak berpengaruh apa-apa. Manusia dalam konteks ini bukan tidak berdaya sebagaimana menurut paham Jabariyah, tetapi tidak bebas yang bisa menentukan kegiatannya sendiri seperti kata kaum Qadariyah.

Cak Nur lebih sepakat dengan syair yang dikemukakan oleh Ibnu Taymiah, tokoh reformis Islam yang pada substansinya mengatakan bahwa semua tindakan manusia tidak dapat keluar dari ketentuan-Nya. Hanya saja manusia tetap mempunyai kemerdekaan bertindak (free will) karena Allah telah menciptakan kehendak (iradah) yang dengannya manusia mampu memilih jalan hidup.

Sangat tampak kritisisme Cak Nur dalam hal ini. Ia ingin membetulkan kebekuan dan absurditas pemahaman teologi karena pemikiran-pemikiran tidak akan lepas dari kelemahan-kelemahan. Ia hendak memperbaiki kelemahan itu sehingga konsep yang dimaksud lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam sekalipun. Barangkali apa yang dimaksudkan al-Asy’ari bagi kaum intelektual tidak akan terlalu problematic sekalipun dalam syairnya secara tersurat ditulis kasb tidak akan berpengaruh. Dan tentu saja hal itu tidak dimaksudkan untuk itu karena dengan tegas pula dikatakan manusia tidak bebas dan tidak pula terpaksa. Dalam hemat penulis apa yang dimaksudkan Ibnu Taymiah juga dimaksudkan oleh al-Asy’ari. Kelihatannya al-Asy’ari menemui kesulitan untuk menjelaskan maksud itu. Namun, tawaran Cak Nur juga baik karena yang dilihat adalah aspek kemaslahatan supaya konsep free will lebih mudah dipahami.

Sebetulnya antara al-Asy’ari dan Ibnu Taymiah juga sepakah ketidak-setujuan keduanya terhadap pendekatan Qadariyah atau pun Jabariyah. Keduanya hendak menengahi antara kedua kubu sehingga konsepnya lebih bisa diterima. Sebab, sikap moderat adalah kecenderungan mayoritas. Tetapi bukan masalah kecenderungan—dalam hemat penulis—tetapi pijakan kedua tokoh itu konsistensi pada kebenaran.

Secara eksplisit tulisan Cak Nur menjelaskan, di samping keunggulan di bidang metodologi, kelebihan paham Asy’ariyah juga karena kepiawaian pendirinya memanfaatkan logika dan filsafat untuk menjelaskan konsep Asy’ariyah. Melalui kekuatan argumentasinya ia mampu memukau ilmuan modern dan teolog Kristen.

Paham teologi Asy’ari termasuk paham teologi tradisional,
yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang
menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang
leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu’tazilah
dan Salafiyah, tetapi “benang merah” sebagai jalan tengah
yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak
Mu’tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali
lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang
bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1]

Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy’ari lebih baik
memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas.
Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang
pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi
zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy’ari juga
tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri.

Sebenarnya, nama asli Imam Asy’ari adalah Ali Ibn Ismail [2]
-keluarga Abu Musa al-Asy’ari. [3] Panggilan akrabnya Abu
al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M
[5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat
di Baghdad pada tahun 324 H./935 M.

Abu al-Hasan al-Asy’ari pada mulanya belajar membaca,
menulis dan menghafal al-Qur’an dalam asuhan orang tuanya,
yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir
dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah
al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya’kub, Abdur Rahman
Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih
Syafi’i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340
H./951 M.) -seorang tokoh Mu’tazilah di Bashrah. Sampai umur
empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba’i, serta
ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran
Mu’tazilah. [9]

Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Untuk hal
ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab
meninggalkan atau keluar dari Mu’tazilah. Sebab klasik yang
biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena
terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran
pokok Mu’tazilah, yaitu masalah “keadilan Tuhan.” Mu’tazilah
berpendapat, “semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari
manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu,
kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti
menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan
manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa ‘l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut:

Al-Asy’ari (A) – Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga
orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam
bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam
keadaan masih kecil.

Aldubba’i (J) – yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir
masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.

A – Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih
baik di Sorga, mungkinkah?

J – Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan
jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil
belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.

A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan
salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan
mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang
taqwa itu.

J – Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu,
jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan
engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah – Red) matikan
engkau adalah untuk kemaslahatanmu.

A – Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, “Ya Tuhanku
Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa
depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?

Al-Jubba’i menjawab, “Engkau gila, (dalam riwayat lain
dikatakan, bahwa Al-Jubba’i hanya terdiam dan tidak
menjawab). [11]

Dalam percakapan di atas, al-Jubba’i, jagoan Mu’tazilah itu,
tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh
al-Asy’ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah
ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy’ari sendiri untuk
memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang
Mu’tazilah.

Bagi Mu’tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan
protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai
dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di
sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan
tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan
bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab,
tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan
orang-orang yang taqwa.

Di alam akhirat, menurut Mu’tazilah, tidak ada lagi
perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah
mendapati al-Wa’ad wa al-Wa’id. Dia sudah menepati janji.
Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan
jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan
masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka
bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan
Maha Suci dari penganiayaan. [12]

Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan
lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak
menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama
artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri
sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan
petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan
Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia
dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak
rasional.

Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan
ajaran-ajaran Mu’tazilah karena pernah bermimpi melihat
Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada
bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi
kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal
tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan
itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah
yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya.
[15]

Diriwayatkan bahwa al-Asy’ari sebelum mengambil keputusan
untuk keluar dari Mu’tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya
selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu
naik mimbar dan menyampaikan:

“Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur’an adalah makhluk; Allah
swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin
di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya
sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya
lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya
lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar
dari kekejian dan skandal Mu’tazilah.” [16]

Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas
dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita
ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy’ari meninggalkan faham
Mu’tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan
ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal,
sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di
kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi
kesamaan yang sangat mirip.

Al-Asy’ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar
pada Mu’tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas
menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali,
sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran
al-Asy’ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa
tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy’ari memakai
ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang
Mu’tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat,
penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali
menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan
bid’ah dan kufur. Al-Asy’ari melakukan sanggahan terhadap
Mu’tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran
Mu’tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang
bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan
aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah
buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan
al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam,
kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam
sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu,
baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf
dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut
al-Falasifah (kesalahan para filsuf).

Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa
al-Asy’ari adalah para tokoh Mu’tazilah, karena itu
sanggahannya tertuju langsung pada Mu’tazilah. Sementara
para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional
Mu’tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap
aliran al-Asy’ari harus dengan tegas pula melakukan
sanggahan terhadap filsuf.

Pemikiran al-Asy’ari yang asli baru dapat diketahui setelah
ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu’tazilah dan
pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad
bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari
penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia
hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh
nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis
dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah
sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur’an.
[18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang
tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan
mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang
sakral dianggap suatu bid’ah. Setiap dogma harus dipercayai
tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa.

Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah dan
keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui
ajaran-ajaran al-Asy’ari, kita dapat melihat pada
kitab-kitab yang ditulisnya, terutama:

1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama
dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber
yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya.
Buku ini terdiri -dari tiga bagian:

a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam
b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan
c.Beberapa persoalan ilmu Kalam.

2.Al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang
kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya
terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam
buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu’tazilah.

3.Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala ahl al-Zaigh wa al-bida’,
berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa
persoalan ilmu Kalam.

Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang
terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma’. Yang
pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam
arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu’tazilah.
Sedangkan buku kedua (al-Luma’), peranan akal lebih tinggi
dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran
kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu
kalam. [19]

Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy’ari pada kitabnya
al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar
dari Mu’tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam
rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,
sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap
Mu’tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang
dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini
dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan
teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh,
maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh
itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya
terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah
mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya,
menampakkan sikap bencinya terhadap Mu’tazilah lebih nyata.
Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis
langsung setelah al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah.

Lain halnya dengan kitabnya al-Luma’, yang ditulis setelah
kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas.
Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy’ari
dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya
sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma’,
argumentasi rasional al-Asy’ari menonjol kembali dalam
memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi
metaforisnya (ta’wil). Kecenderungannya pada metode kaum
Mu’tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak
paham teologi al-Asy’ari.

Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap
al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi
kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam
kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang
dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke
dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan
berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya
lagi untuk keluar.

Sebagai penentang Mu’tazilah, sudah barang tentu al-Asy’ari
berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan
sendiri merupakan pengetahuan (‘Ilm). Yang benar, Tuhan itu
mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya,
bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan
sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan
melihat. [20]

Disini terlihat, al-Asy’ari menetapkan sifat kepada Tuhan
seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup
berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah,
sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam.
Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa
sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu
hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan
makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, “Siapa yang
tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi
“Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku,” lalu ia langsung
mengatakan, wajib dipotong tangannya.” [21]

Lain halnya dengan al-Asy’ari, baginya arti sifat tidak jauh
berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. Bagi
al-Asy’ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan Zat,
dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy’ari yang
seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas dari
paradoks. [22]

Bagi Mu’tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak
mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang
mengetahui (‘Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan
(‘Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya
sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk
memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan
yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah)
bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya,
menafsirkan kelemahan Allah. [23]

Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy’ari yang
lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu,
al-Asy’ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak
dapat dilihat, kata al-Asy’ari, hanyalah yang tak punya
wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan
oleh karena itu dapat dilihat. [24]

Argumen al-Qur’an yang dimajukannya antara lain,
“Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada
Allah” (QS. al-Qiyamah: 22-23).

Menurut al-Asy’ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa
berarti memikirkan seperti pendapat Mu’tazilah, karena
akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti
menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang
menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada
penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat
kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti
berarti melihat dengan mata kepala. [25]

Sungguhpun al-Asy’ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin
nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala,
namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi
menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan
itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan,
tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan
kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan
bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

Namun demikian, untuk dapat menerima, bahwa Tuhan dapat
dilihat nanti di akhirat, maka al-Asy’ari memerlukan pula
untuk menafsirkan atau menta’wilkan ayat yang berikut ini:

Artinya: “Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia
dapat mengangkat penglihatannya.” (al-An’am: 103) Ayat
tersebut di atas diartikan oleh al-Asy’ari, bahwa yang
dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini, dan
bukan di akhirat. Dan juga diartikan tidak dapat melihat
Tuhan di akhirat bagi orang kafir. [27]

Apa yang telah kita ungkapkan di atas, adalah merupakan
sebagian dari pemikiran al-Asy’ari tentang tauhid. Sekarang
kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. Sengaja
dirangkaikan keadilan dengan tauhid, karena pembahasan
tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata,
sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq
dengan makhluknya.

Al-Asy’ari, seperti Mu’tazilah, meyakini bahwa Allah adalah
Maha Adil. Tetapi seperti kaum Salafi, ia menolak bahwa kita
mewajibkan sesuatu kepada Allah. Dan juga menolak faham
al-Shalah wa al-Ashlah Mu’tazilah, artinya, Tuhan wajib
mewujudkan yang baik, bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan
manusia. Allah, kata al-Asy’ari, bebas memperbuat apa yang
kehendaki-Nya. [28]

Al-Asy’ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan
kehendak mutlak Tuhan. Keadilan diartikannya “menempatkan
sesuatu pada tempat yang sebenarnya,” yaitu seseorang
mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta
mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. [29]
Tidak dapat dikatakan salah, kata al-Asy’ari, kalau Tuhan
memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga, termasuk
orang-orang kafir, dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan
bersifat dzalim, jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam
neraka. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut
pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum, dan
karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum,
maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum.
[31]

Oleh karena itu, Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak,
dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap
makhluk-Nya. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari
kiamat, menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim, atau
memasukkan orang kafir ke dalam sorga, maka Tuhan tidaklah
berbuat salah dan dzalim. Tuhan masih tetap bersifat adil.
[32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan
hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan.

Paham keadilan al-Asy’ari ini mirip dengan paham sebagian
umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. Sang
raja yang absolut diktator itu, memiliki hal penuh untuk
membunuh atau menghidupkan rakyatnya. Kemudian digambarkan,
bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum,
dalam arti, dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada
undang-undang dan hukum. Karena undang-undang dan hukum itu
adalah bikinannya sendiri.

Dari asumsi itu, kemudian al-Asy’ari menganalogikan bahwa
Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Dia memperbuat
sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. Maka tidak seorangpun
yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai
kemaslahatan umat manusia, baik di dunia ini, maupun di
akhirat. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia,
baik di dunia atau di akhirat, maka tidak seorangpun yang
akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. Persis seperti
seorang raja yang absolut diktator, kalau ia menganiaya
seluruh rakyatnya, maka tak seorangpun yang sanggup
menentangnya. Karena manusia, bagi al-Asy’ari, selalu
digambarkan sebagai seorang yang lemah, tidak mempunyai daya
dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan
absolut mutlak. [34] Karena manusia dipandang lemah, maka
paham al-Asy’ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham
Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will).
Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak
dan kekuasaan Tuhan. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan
dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai
istilah al-kasb (acquisition, perolehan). Al-Kasb dapat
diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia
dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. Tentang
faham kasb ini, al-Asy’ari memberi penjelasan yang sulit
ditangkap. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia
dalam perbuatannya. Namun dalam penjelasannya tertangkap
bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi,
dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif
dalam perbuatannya. [35] Kasb, kata al-Asy’ari, adalah
sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan
perantaraan daya yang diciptakan. [36]

Melihat kepada pengertian, “sesuatu yang timbul dari yang
berbuat” mengandung atas perbuatannya. Tetapi keterangan
bahwa “kasb itu adalah ciptaan Tuhan” menghilangkan arti
keaktifan itu, sehingga akhirnya manusia bersifat pasif
dalam perbuatan-perbuatannya.

Argumen yang dimajukan oleh al-Asy’ari tentang diciptakannya
kasb oleh Tuhan adalah ayat:

“Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu.” (QS.
al-Shaffat 37:96)

Jadi dalam paham al-Asy’ari, perbuatan-perbuatan manusia
adalah diciptakan Tuhan. [37] Dan tidak ada pembuat (agent)
bagi kasb kecuali Allah. [38] Dengan perkataan lain, yang
mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, menurut al-Asy’ari,
sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan,
dapat dilihat dari pendapat al-Asy’ari tentang kehendak dan
daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. Al-Asy’ari
menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin
dikehendaki. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari
kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki
sesuatu, ia pasti ada, dan jika Tuhan tidak menghendakinya
niscaya ia tiada. [39] Firman Tuhan:

“Kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki” (QS.
al-Insan 76:30).

Ayat ini diartikan oleh al-Asy’ari bahwa manusia tak bisa
menghendaki sesuatu, kecuali jika Allah menghendaki manusia
supaya menghendaki sesuatu itu. [40] Ini mengandung arti
bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan,
dan kehendak yang ada dalam diri manusia, sebenarnya tidak
lain dari kehendak Tuhan.

Dalam teori kasb, untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam
perbuatan manusia, terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan
Tuhan dan perbuatah manusia. Perbuatan Tuhan adalah hakiki
dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang).
Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut.
Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua
orang yang mengangkat batu b esar ; yang seorang mampu
mengangkatnya sendirian, sedangkan yang seorang lagi tidak
mampu. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu
besar itu, maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat
tadi, namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu
tidak turut mengangkat. Demikian pulalah perbuatan manusia.
Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya
Tuhan, tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat
sebagai pembuat. [43]

Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham
al-Asy’ari, untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya,
daya Tuhan dan daya manusia. Tetapi daya yang berpengaruh
dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah
daya Tuhan, sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau
tidak disokong oleh daya Tuhan.

Karena manusia dalam teori kasb al-Asy’ari tidak mempunyai
pengaruh efektif dalam perbuatannya, maka banyak para ahli
menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat, bahkan
Ibn Hazm (w. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. 728 H) menilai,
sebagai jabariyah murni. [44] Harun Nasution juga
berpendapat demikian. Alasannya karena menurut al-Asy’ari
kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya
Tuhan, dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan
bukan perbuatan manusia. [46]

Ibn Taimiyyah menilai al-Asy’ari telah gagal dengan konsep
kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan
Jabbariyah. Sebab, menurut Ibn Taimiyyah, Kasb-nya
al-Asy’ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham
Jabariyah murni, yang mengingkari sama sekali adanya
kemampuan pada manusia untuk berbuat. Memang, seperti yang
sudah kita uraikan di atas, al-Asy’ari menegaskan bahwa kasb
manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan
perbuatan manusia itu. Oleh karena itu, Ibn Taimiyyah
menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy’ari itu tidak
masuk akal. [46]

PENGARUH KALAM AL-ASY’ARI

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa dalam faham teologi
al-Asy’ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang
lemah, yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat
berhadapan dengan kekuasaan yang absolut, apalagi berhadapan
dengan kekuasaan mutlak Allah.

Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan
kultural masyarakat pada masanya, yaitu keadaan masyarakat
Islam pada abad ke-9 M. [47] dimana raja-raja selalu
berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk
menghukum siapa saja yang diinginkannya, sang raja tidak
perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Sebab
undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri.

Karena teologi al-Asy’ari didirikan atas kerangka landasan
yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang
lemah, maka disinilah letak kekuatan teologi itu, yaitu ia
dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang
bersifat sederhana dalam pemikiran.

Kunci keberhasilan teologi al-Asy’ari ialah karena sejak
awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya – umat
Islam, yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni.
Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan
ajaran-ajaran Mu’tazilah.

Sejarah menunjukkan, bahwa aliran al-Asy’ari telah berhasil
menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur
tangan khalifah al-Mutawakkil, ketika yang terakhir ini
membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai paham resmi pada waktu
itu. Kemudian setelah wafatnya al-Asy’ari pada tahun 935M.
Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya, antara lain,
al-Baqillani, al-Juwaini dan al-Ghazali. Akhirnya, aliran
itu mengalami kemajuan besar sekali, sehingga mayoritas umat
Islam menganutnya sampai detik ini.

Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi
al-Asy’ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya
terhadap Dinasti yang berkuasa, sebagai konsekuensi logis
dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. Dengan
demikian, ia sering mendapat dukungan, bahkan menjadi aliran
dari Dinasti yang berkuasa. Sungguhpun demikian, paham
al-Asy’ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh
negatif. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran
rasionalisme di dunia Islam. Hilangnya pemikiran
rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat
Islam selama berabad-abad.

Karena akal manusia, menurut al-Asy’ari, mempunyai daya yang
lemah, akibatnya, menjadikan penganutnya kurang mempunyai
ruang gerak, karena terikat tidak saja pada dogma-dogma,
tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni,
yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain
dari arti letterlek, tetapi mereka artikan secara letterlek.
Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat
mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang
terjadi dalam masyarakat modern. Selain itu, ia dapat
merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat
kemajuan dan pembangunan. Bahkan, lebih tegas lagi, Sayeed
Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam
sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme
al-Asy’ari. [49]

Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi, termasuk perbuatan
manusia, adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna
pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya, dan
lebih dari itu, menjadikan manusia-manusia yang tidak mau
bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. Peristiwa
terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham
Fatalisme. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak
Tuhan semata, sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab
atasnya.

Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat, seperti
rezeki, jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan, menjadikan
manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan
merubah struktur masyarakat. Dan ia selalu mempersalahkan
takdir atas kemiskinan, kebodohan dan kematian massal yang
terjadi.

Untuk menutup tulisan ini, suatu kesimpulan dapat diambil
bahwa faham teologi al-Asy’ari mempunyai basis yang kuat
pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara
hidup dan berpikir, serta jauh dari pengetahuan. Tetapi
teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan
perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru.

CATATAN

1.Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II, Mesir,
tahun 1976, h. 46

2.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail
Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa
al-Asy’ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-lbanah ‘an
Ushul al-Dinyanah, Ed, Dr. Fauqiyah Husein Mahmud, Mesir,
1977, h. 9 (Selanjutnya disebut, Fauqiyah, al-lbanah). Lihat
juga Abu al-Hasan al-Asy’ari, maqalat al-Islamiyyin wa
Ikhtilaf al-Mushallin, ed., M. Mahyudin Abdul Hamid, Mesir,
1969, h. 3

3.Abu Musa al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat
Rasul-Allah saw. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali
Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan
Muawiyah, lihat Hamudah Guramah, Abu al-Hasan al-Asy’ari,
Mesir, 1973 h. 60

4.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 10

5.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun
lahirnya: 270 H./885 M. Ibn Atsir, dalam al-Lubab I. h. 52
270 H./881 M. Al-Makrizi, dalam al-Khutbath III, h. 303
(dikutip dari Fanqiyah, Ibid., h. 13 Penulis lebih cenderung
menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari
Mu’tazilah adalah pada tahun 300 H. Sedangkan usianya waktu
itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. (lihat M. Ali
Abu Rayyan, Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam,
Iskandariyah, 1980, h. 310

6.Hamuddh, Al-Asy’ari, hal. 60

7.Fauqiyah, Al-Ibanah, hal. 29

8.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982 h.
36

9.Louis Gardet & J. Anawati, Falsafat al-Fikrial-Dini Bain
al-Islam wa al-Masihiyah I (terj.) Bairut, 1976, h 93

10.Zuhdi Jar Allah, Al-Mu’tazilah. Bairut, 1974, h. 102

11.Lihat Rayyan, Tarikh, h. 312 Gardet & Anawati, Falsafah,
h. 94. Madkour, Fi al-Falsafah, h. 116, Subhi Fi Ilm
al-Kalam II, h. 73, Dan Hamudah, al-Asy’ari, h.65

12.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982, h.
159.

13.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan
perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu’tazilah, dapat
dilihat pada, Mahmud Kasim, Dirasat Fi al-Falsafah
al-Islamiyyah, Mesir, 1973 h. 164-165

14.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 31

15.Ibid., h. 34

16.Ibid., dan lihat juga Subhi, Fi Ilm al-Kalam II,
Iskandiyah, h. 41

17.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah’an Ushul al-Dinayah,
Mesir,1397 H. H.8

18.Faiqiyah, Al-Ibanah, h. 35

19.Hasan Mahmud al-Asy’ari, dalam, Dirasat Arabiyah wa
Islamiyah I, Dar el Ulum, Kairo, 1985, h. 38

20.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Kitab al-Luma’ Fi al-Rad’ala ahl
al-Zaigh wa al-Bida’, Kairo, 1965, h. 30

21.Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal I, Ed. Abd. Aziz
M.M. Wakil, Kairo, 1968, h. 104

22.Madkour, Fi al-Fasafah II, h. 50

23.Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, h. 51

24.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 17. Lihat juga, Al-Syahrastani,
Al-Mihal I, h. 100

25.Al-Asy’ari, Ibid, h. 13

26.Al-Syahrastani, Al-Milal I, h. 100. Lihat juga Madkour,

27.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 16

28.Al-Sahrastani, Al-Milal I, h. 102, 113

29.Ibid., h. 101

30.Ibid

31.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 71

32.Ibid., lihat juga Mahmud Kasim, Dirasat, h. 167

33.Mahmud Kasim, h. 168

34.Ibid.

35.Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah,
Kairo, tt., h.205

36.Al-Asy’ari, al-Luma’, h. 76

37.Ibid., h. 70

38.Ibid., h. 72

39.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 51

40.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 57

41.Ibid, h. 41

42.Abd al-Rahman Badawi, Madzahib al-Islamiyin, Bairut,
1971, h. 562

43.Abd al-Qahir al-Baghdadi, Kitab Ushul al Din, Bairut,
1981, h. 133-134

44.Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib, h. 205

45.Harun Nasution, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 1983 h.
112

46.Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah II, h. 16-17

47.Mahmud Kasim, Dirasat, h. 34

48.Sayeed Ameer Alim, The Spirit Of Islam, Delhi, tt., h.
472 473.

para santri dan masyarakat yang mengaku sebagai pengikut al-Asy‘arî yang disebut dengan al-Asy‘ariyyah telah menyalahi al-Asy‘arî sendiri, terbukti bahwa al-Asy‘arî dengan kitab al-Ibânahnya dan beberapa kitab lain berbeda akidah dengan orang-orang yang mengaku sebagai pengikutnya atau al-Asy‘ariyyah. Al-Asy‘arî mengakui keberadaan Allah subhânahû wa ta‘âlâ bertempat di atas ‘Arasy sementara al-Asy‘ariyyah tidak. Tentunya hal ini bertolak belakang antara al-Asy‘arî dengan pemahaman pengikutnya.

Umat Islam Indonesia adalah ahlus sunnah waljama’ah, yang mayoritasnya adalah pengikut Aqidah Asy’ariyyah. Aqidah Asy’ariyyah ditandai dengan keimanan kepada sifat 20; serta menakwil sifat-sifat Allah yang lainnya.

Ahlussunnah, ahli hadits, dan ahli atsar sudah ada sebelum imam al-Asy’ari lahir, dan tidak menjadi asy’ariyyah setelah imam al-Asy’ari menjadi imam.

Kelompok salaf sunni, Ahlussunnah, ahli hadits dan ahli atsar berpegang teguh dengan sunnah dan membenci kalam dan ahlinya, sementara kelompok asya’irah adalah termasuk ahli kalam dan membela kalam.

Para ulama salaf sunni  sebelum imam al-Asy’ari dan sesudahnya berwasiat agar mengikuti manhaj salaf as-shalih, yaitu mengikuti hadits dan atsar dan tidak berwasiat untuk mengikuti asyairah atau ilmu kalam.

sangat terkenal kalau imam Asy’ari akhirnya menisbatkan diri kepada imam Ahmad ibn Hanbal ra. Jadi bukan hanya orang lain, justru imam Asy’ari sendiri yang menyatakan hal itu dalam kitabnya al-Ibanah seperti yang ada dalam Tabyin Kadzibil Muftari yang ditahqiq oleh al-Kautsari (hal. 125)

.

Sedangkan di dalam kitab Maqalat beliau menyatakan mengikut para ulama ahli hadits dan ahli sunnah (maqalat: 226), serta menyendirikan penyebutan Abdullah ibn Said ibn Kulab dalam hal-hal yang pemikirannya menyalahi ahli hadits ahli sunnah. (Maqalat halaman 146, 226, 229, 398, 421, 423)

Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:

Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).

Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).

dalam fase kedua ini al-Asy’ari menulis kitabnya al-Ibanah (50) padahal ia meyakini bahwa fase kedua ini memanjang dari tahun 300 H hingga 324 atau 330 H), yang tentu ada puluhan kitab yang dikarang oleh al-Asy’ari selama masa 24 atau 30 tahun itu. dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya. Menurut al-Kautsari al-Ibanah ditulis saat memasuki Baghdad (hamisy Tabyin Kadzibil muftari hal. 289)

Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah[2] (320-324/330 H) yaitu Allah SWT  memiliki wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain tetapi berbeda dengan makhluk, akidah seperti ini adalah akidah salafi wahabi yang dicela  Nahdlatul  Ulama dan Asya’irah

(2) Ithâfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn, al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurrahmân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.

Siapa yang merenungkan kitab Shahih BUKHARi dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.

Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad, warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil, ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara.

Asya’irah Menentang Abu Hasan Al Asy’ari !!! Kontradiksi

Klaim bahwa sebagian ulama ahli hadits sebagai bermanhaj Asy’ariyyah perlu dikritisi dan diluruskan (124-172). Mereka yang diklaim itu sangat banyak, antara lain: Alhafizh Abu Bakar al-Ismaili (371H), al-Hafizh al-Daruquthni (385 H),al-Hafizh al-Baihaqi (458 H), al-Hafizh an-Nawawi (676 H), Ibn Hajr al-Asqalani (852).

Kesimpulan :

Akidah syi’ah imamiyah menta’wilkan tangan Allah, menta’wilkan wajah Allah dll

Jadi  yang  sesat  Abu  Hasan Al Asy’ari  ataukah  syi’ah imamiyah ???

Bahkan imam Asyari sendiri menisbatkan dirinya kepada Imam Ahmad imam Ahli hadits, dan setelah menceritakan akidah ahli hadits ahli sunnah (para salaf shalih) mengatakan:

فهذه جملة ما يأمرون به ويستسلمون إليه ويرونه، وبكل ما ذكرنا من قولهم نقول وإليه نذهب؛ وما توفيقنا إلا بالله …( مقالات الإسلاميين: 229)

Meyakini sifat 20  menjadi kewajiban umat islam Sunni dengan alasan alasan akal…

Penyusun daftar akidah sifat 20 adalah Abu Abdillah  Muhammad bin Yusuf As Sanusi (833 – 895 H / 1427 – 1490 M ) atau popular dengan panggilan Syaikh Sanusi  dari Tilimsan Negara Al Jazair, beliau mengarang kitab UMMUL  BARAHiN (Aqidah Sughra)

Sifat 20 atau akidah 50 merupakan tahrif terhadap sifat sifat Allah SWT

Apakah itu yang namanya tauhid ???

Saudaraku…

Yang pasti tidak ada dalil yang menyatakan sifat wajib Allah SWT  cuma dua puluh…

Lagipula Nabi SAW, sahabat dan para imam ahlul bait tidak pernah menyebut nyebut sifat 20 ataupun  akidah 50…

Pemahaman “Sifat Allah Yang Wajib Cuma 20″ bukan kebenaran mutlak dan bisa dikritik.

Pada masa Nabi  SAW, akidah belum bercampur dengan unsur unsur budaya luar, masalah baru muncul saat wilayah Islam meluas ke daerah non Arab yang mana daerah daerah tersebut sudah memiliki budaya sendiri…

Ilmu kalam pesantren menyusun akidah wajib dengan pemahaman filosofis sehingga sesuatu yang sebenarnya masih dalam tahap filsafat teoritis dinaikkan tingkat menjadi akidah…

Padahal yang namanya filsafat teoritis masih bersifat praduga sehingga mazhab sunni tidak lagi mengenal yang mana akidah dan yang mana filsafat…

Pandangan filosofis dianggap kebenaran mutlak dan disamarkan menjadi akidah wajib, disitulah letak kesalahan  Asy’ari dan penerus penerusnya

Misal : Terminologi seperti  jauhar, jisim, ‘aradh, jirim, jauhar fard dan daur tasalsul dalam kitab kuning  sunni  itu bukanlah akidah tetapi filsafat teoritis yang dipakai untuk membahas materi

Mareka mentahrif sifat Allah menjadi Cuma 20 saja, apakah itu kerjaan umat Islam dan apa itu yang namanya tauhid ???

Pemikiran  kalam tentang Sifat 20 sudah banyak yang kritik, tetapi sudah enak. Kalau mereka mau dikritik maka tidak mungkin umat islam hari ini selemah sekarang..

Dalam Al Quran ada 1108 ayat tentang sains tetapi ulama sunni tidak menelitinya secara mendalam sehingga menimbulkan ekses yang sangat buruk bagi perkembangan Islam

Kita diperintah meneliti alam (apa yang ada dilangit dan dibumi)  atau meneliti makhluk Nya, mengapa ulama sunni mengabaikan perintah tersebut lalu sibuk meneliti yang tidak dianjurkan yaitu  Zat Nya…

Kitab kuning dianggap sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak ada budaya kritik, memunculkan kekakuan pemikiran !!!

Misal : Menurut mereka, orang yang mampu menghapal sifat 20 atau akidah 50 sudah dianggap tauhidnya mendalam…

Doktrin dan pendidikan agama di sekolah harus ditulis ulang, jangan berhenti berijtihad kontemporer dalam segala aspek

Berimanlah kepada ayat ayat Allah secara total tanpa memilah antara ayat ayat alam dengan ayat ayat syari’at

Setiap gagasan teologi dalam kitab kuning harus dikaji ulang. Ulama sunni jangan mengharamkan apalagi mengkafirkan orang orang yang melakukan pengkajian tersebut

Faktanya, untuk memperbaiki gagasan teologi tersebut sangat sulit karena dianggap sebagai kebenaran mutlak sehingga tidak boleh ada ijtihad susulan…

Tauhid pada kitab kuning sunni sulit di revisi karena manusia tidak mau memakai AKAL yang telah ALLAH berikan…

Apa dampak buruk kalam dan manthiq Yunani seperti  aristoteles terhadap mazhab sunni ??

Jawab :

Dampak buruknya adalah menyerupakan Tuhan dengan makhluk, sebab titik tolak logika Aristoteles yang tidak berbasis wahyu kan bertentangan dengan logika yang berbasis wahyu

Allah SWT bukanlah objek yang bisa dijadikan objek eksperimen oleh ulama sunni.. Ahli kalam sunni terlalu berani membuat eksperimen terhadap Dia. Dia Yang Agung yang tidak dapat dicapai oleh pandangan materi…

Penjabaran kalam sunni terlalu dipaksakan padahal Allah SWT  tidak pernah meminta kita untuk meneliti Zat Nya, tetapi yang diminta adalah meneliti ciptaan Nya agar semakin mengenal Dia

Apa dampak fatal manthiq Aristoteles terhadap akidah sunni ??

Jawab :

Manthiq aristoteles dengan tolak ukur materi sedangkan Allah SWT immateri (transedent)  sehingga logika aristoteles tidak bisa dijadikan akidah, karena akidah Islam tidak butuh filsafat yunani dalam penjabaran

Yang pasti Allah SWT memerintahkan kita meneliti Alam agar mengenal Nya, jadi bukan dengan meneliti Zat Nya…

Pada tauhid asma’ wa shifat hingga detik ini masih memunculkan polemic berkepanjangan antara hambaliyyah (termasuk wahabi) dengan kaum sunni tradisional seperti NU

Sifat Allah SWT adalah apa yang Dia tetapkan dalam syari’at Nya…

Akal ahlul kalam sunni mempunyai batasan karena pengaruh ruang dan waktu, sementara Allah SWT tidak dibatasi oleh ruang dan waktu…

Teori jauhar, ‘aradh, jisim dll  YANG  SERiNG  DiSEBUT  SEBUT  DALAM KiTAB  KUNiNG  hanya berlaku untuk materi, bukan untuk membuktikan ada atau tidaknya Allah SWT karena Allah adalah immateri, tentu tidak bisa ditentukan keberadaan Nya dengan teori teori materi apalagi dengan teori yang masih bersifat trial and error (coba coba bisa gagal)

Kitab kuning teologi sunni banyak memakai istilah istilah Yunani untuk memahami tentang materi berdasarkan teori kebendaan.. lalu mereka pakai untuk menentukan keberadaan Allah SWT

.

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”.Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

bahwa kalam Asy’ari  dan  tasawuf adalah penyebab kemunduran Sunni  walaupun Asy’ariyah dan sufi  telah berjasa dalam menemukan keharmonisan mistis antara ukhrawi dan duniawi, meski tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan masyarakat muslim yang asy’ariyah  dan sufi sangat terbelakang di banding Barat.

Ilmu kalam lahir sebab polemik hebat antara sesama umat islam sendiri, ataupun antara umat islam dengan pemeluk agama lain. Keretakan ini sesunguhnya sudah mulai terbentuk setelah Rasul wafat

Setiap generasi memiliki tantangan yang khas. Setiap tantangan menghasilkan pemecahan yang khas pula. Maka dari itu, tidak mengherankan satu peradaban yang dibangun oleh generasi tertentu memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan peradaban yang dibangun oleh generasi yang lain. Setiap keunikan dalam peradaban tersebut adalah kebaikan dalam dirinya sendiri. Artinya adalah bahwa tidak setiap kebaikan yang ada pada masa tertentu adalah kebaikan juga pada masa yang lain.Untuk itu perubahan demi perubahan seharusnya diupayakan sebagai usaha pembaruan sebagai respon dari tantangan zaman.

Mu’tazilah  dipelopori oleh Wasil ibn Atho’. Mu’tazilah inilah, menurut Nurcholis Madjid, sebagai pelopor yang sungguh-sunggguh digiatkannya pemikiran tentang ajaran-ajaran pokok Islam secara lebih sistematis. Paham mereka amat rasional sehingga mereka dikenal sebagai paham rasionalis Islam. Sikap rasionalik ini dimulai dari titik tolak bahwa akal mempunyai kedudukan tinggi bahkan kedudukannya boleh dikatakan sama dengan wahyu dalam memahami agama.(Nurcholis Madjid, tt:21)

.

melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).

Pada dasarnya al-Asy’ari dan Mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-Asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga ia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah penguasa mutlak. Dengan demikian, jelasnya bahwa Mu’tazilah mengartikan keadilan dari visi manusia yang memiliki dirinya, sedang Al-Asy’ari dari visi bahwa Allah adalah pemilik mutlak.

.

Aliran Mu’tazilah yang bercorak rasional mendapat tantangan keras dari golongan tradisiona Islam, terutama golongan Hanbai, yaitu pengikut-pengikut mazhab ibn Hambal. Mereka yang menentang ini kemudian mengambil bentuk aliran teologi tradisonal yang dipelopori Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (w. 324H/935M).(Abdurrahman Badawi, 1984:497) Disamping aliran Asy’ariyah, timbul pula suatu aliran di Samarkand yang juga bermaksud menentang aliran Mu’tazilah. Aliran ini didirikan oleh Abu Mansur Muhammad Al-Maturidi (w.333H/944M). Aliran ini kemudian terkenal dengan nama teologi Al-Maturudiyah.(H.AR. Gibb, 1960:414)

Rumusan klasik di bidang teologi  sunni yang kita warisi dari para pendahulu Muslim pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari kenyataan-kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw.

.

Kritik atas Teologi Islam Klasik
Kalau kita perhatikan bahasan tentang doktrin-doktrin teologi Islam klasik itu adalah trend teosentris. Tuhan dan Ketuhanan (theos) menjadi core teologisnya. Dengan perumusan diskursus terutama pada Tuhan dan ketuhanan, sudah barang tentu teologi semacam itu (hanya) relevan sebagai alas struktur dari religiusitas yang “membela” Tuhan, bukan manusia. Untuk konteks zaman pertengahan Hijriyah, ketika era formatis Islam masih berlangsung, boleh jadi masih menemuni signifikansinya

.

Namun, untuk kontek saat, tatkala dunia telah bergerak maju kearah dunia modern yang ditandai oleh kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, maka tidak dapat dielakkan lagi untuk merekontruksi teologi Islam yang asalnya membela Tuhan (teosentris) menuju keberpihakan kepada kemanusiaan (antroposentri) sebagai suatu rangka pikir untuk memahami kenyataan sekaligus suatu motivasi religius untuk membalik-mengubanya menjadi lebih baik.

Merekontruksi teologi sunni  klasik merupakan sebuah keniscayaan. Karena dengan mempertahankan doktrin-doktrin teologi Islam klasik yang lebih cenderung kepada trend teosentris atau Ketuhanan (theos) yang menjadi pembahasan pokok teologisnya telah jauh menyimpang dari misinya yang paling awal dan mendasar, yaitu liberasi atau emansipasi umat manusia.

Rumusan klasik sunni  di bidang teologi pada hakikatnya tidak lebih dari sekumpulan diskursus keagamaan yang kering dan tidak punya kaitan apapun dengan fakta-fakta nyata kemanusiaan. Paradigma teologi klasik yang ditinggalkan para pendahulu hanyalah sebentuk ajaran langitan, wacana teoritis murni, abstrak-spekulatif, elitis dan statis; jauh sekali dari fakta-fakta nyata kemanusian dan kenyataan sosial kemasyarakatan. Padahal, semangat awal dan misi paling mendasar dari gagasan teologi Islam (Tauhid) sebagaimana tercermin di masa Nabi saw. sangatlah liberatif, progresif, emansipatif dan revolutif

.
Disamping itu, kita membutuhkan formulasi teologi Islam kontemporer sebagai sintesis dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islam harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya)

.

Oleh karena itu, diskursus teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Dengan demikian, agar Islam lebih survive dalam menghadapi dunia modern dan postmodern, maka perlu adanya perubahan diskursus teologi Islam yang pada mulanya hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).

teologi tidak sekedar sebagai dogma keagamaan yang kosong melainkan menjelma sebagai ilmu tentang perjuangan sosial, menjadikan keimanan berfungsi secara aktual sebagai landasan etik dan motivasi tindakan manusia

metodologi teologi sunni  tidak bisa mengantarkan kepada keyakinan atau pengetahuan yang menyakinkan tentang Tuhan tetapi baru pada tahap ‘mendekati keyakinan’ dalam pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud spiritual lainnya.

teologi sunni tidak ‘ilmiah’ dan tidak ‘membumi’, Untuk mengatasi kekurangan teologi klasik yang dianggap tidak berkaitan dengan realitas sosial maka perlu beralih ke teologi syi’ah

Pemikiran ini, minimal, di dasarkan atas dua alasan; pertama, kebutuhan akan adanya sebuah ideologi (teologi) yang jelas di tengah pertarungan global antara berbagai ideologi. Kedua, pentingnya teologi baru yang bukan hanya bersifat teoritik tetapi sekaligus juga praktis yang bisa mewujudkan sebuah gerakan dalam sejarah

.

“…Jika para pendahulu telah memulai muqaddimah konvensional mereka
yang bersifat keimanan itu dengan nama Allah;

maka kami memulainya atas nama bumi yang terampas, atas nama kemerdekaan, atas nama kebaikan,atas nama perlawanan,
atas nama persamaan dan keadilan, atas nama persatuan umat
atas nama kemajuan,atas nama kebangkitan umat,
atas nama cinta kemurnian, atas nama mereka yang terbungkam,
dan atas nama seluruh kaum Muslimin yang tertindas…”

.

Teologi sunni yang bersifat dialektik lebih diarahkan untuk mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniannya, bukan dialektika konsep tentang watak sosial dan sejarah, disamping bahwa ilmu kalam sunni juga sering disusun sebagai persembahan kepada para penguasa, yang dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi.

Sedemikian, hingga pemikiran teologi lepas dari sejarah dan pembicaraan tentang manusia disamping cenderung sebagai legitimasi bagi status quo daripada sebagai pembebas dan penggerak manusia kearah kemandirian dan kesadaran

.

Selain itu, secara praktis, teologi tidak bisa menjadi ‘pandangan yang benar-benar hidup’ yang memberi motivasi tindakan dalam kehidupan konkrit manusia. Sebab, penyusunan teologi tidak didasarkan atas kesadaran murni dan nilai-nilai perbuatan manusia, sehingga muncul keterpecahan (split) antara keimanan teoritik dan keimanan praktis dalam umat, yang pada gilirannya melahirkan sikap-sikap moral ganda atau ‘singkritisme kepribadian’.

Fenomena sinkritis ini tampak jelas dengan adanya ‘faham’ keagamaan dan sekularisme (dalam kebudayaan), tradisional dan modern (dalam peradaban), Timur dan Barat (dalam politik), konservatisme dan progresivisme (dalam sosial) dan kapitalisme dan sosialisme (dalam ekonomi).

.

Dalam  kitab  kuning  Pesantren  tradisional  yaitu  Kitab  “Kifayatul  Awam” : Menurut  abu  hasan  al   asy’ari   “Wujud   adalah  maujud  itu  sendiri  maka  wujud  Allah  Ta’ala  adalah  Zat  Nya  sendiri, maka  jadilah  wujud  itu  bukan  sifat, maka  jadilah  sifat  sifat  yang  wajib  itu  12”

Saudaraku…

Imam  Al  Asy’ari  berpendapat  bahwa  sifat  ma’nawiyah  itu  tidak  ada,  yang  ada  adalah  sifat  ma’ani ( sumber  kutipan : Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997 )

Saudaraku…

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun  1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

saudaraku…

Bahasa dan istilah-istilah dalam teologi sunni klasik adalah warisan nenek moyang dalam bidang teologi yang khas yang seolah-olah sudah menjadi doktrin yang tidak bisa diganggu gugat

istilah-istilah dalam teologi sebenarnya tidak hanya mengarah pada yang transenden dan ghaib, tetapi juga mengungkap tentang sifat-sifat dan metode keilmuan; yang empirik-rasional seperti iman, amal dan imamah, yang historis seperti nubuwah dan ada pula yang metafisik, seperti Tuhan dan akherat.

analisa realitas perlu dilakukan untuk mengetahui latar belakang historis-sosiologis munculnya teologi dimasa lalu dan bagaimana pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat atau para penganutnya. Selanjutnya, analisa realitas berguna untuk menentukan stressing bagi arah dan orentasi teologi kontemporer.

teologi sunni  dinilai gagal memberi arahan kepada kemanusiaan, karena akhirnya yang terjadi justru totalitarianisme. Disini mungkin saya  terilhami oleh inspirator revolosi sosial Iran; Ali Syariati

————————————————————————————————————–

Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Sumber  kutipan :

1.   Mohd. Nor  Ngah, Kitab  Jawi : Islamic  Thought  Of  The  Malay  Muslim Scholars ( Singapore : Institute  of  Southeast  Asian  Studies, 1982 ) halaman  9

2. Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

————————————————————————————————————–

Jawaban kami :

Hukum  akal  terbagi  tiga menurut  kaum  sunni  :

-  Wajib  pada  akal

-  Mustahil  pada  akal

-  Jaiz   pada  akal

Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Apakah  akidah  kepada  Allah  dan  Rasul  bisa  tegak  dengan  memakai  akal  akalan  ulama  penulis  kitab  kuning  ????? Pantas lah  umat  sunni   mundur dalam  pengamalan   akidah !!!!!!!!!

saudaraku….

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/10/sifat20.jpg?w=257

Takrifan:1. Sifat Nafsiah – diri zat Allah swt, wujudNya tidak disebabkan oleh sesuatu sebab

2. Sifat Salbiah – menafikan perkara-perkara yang tidak layak bagi Zat Allah swt atau hujah-hujah sifat yang membesarkan kelebihan zat yang Maha Agung itu daripada sekalian yang baharu

3. Sifat Ma’ani – sifat yang berdiri pada zat Allah swt, yakni sifat khusus yang dimiliki oleh Allah swt dan lazim melazimi pula ia dengan sifat ma’anawiyah

4. Sifat Ma’anawiyah – zat yang disebabkan suatu sebab akan wujudnya, yakni kelakuan zat atau fungsi zat yang mempunyai sifat ma’ani atau kelakuan sifat ma’ani yang digerakkan oleh zatNya.

http://syiahali.files.wordpress.com/2010/10/sifat20-istaghna_iftiqar.jpg?w=244

Takrifan:

ISTAGHNA – Sifat KEKAYAAN Allah swt

IFTIQAR – Sifat berhajat, berkehendak sekalian makhluk kepada Allah swt

saudaraku….

Dalam aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah ada konsep sifat 20 yang wajib bagi Allah. Konsep ini sangat populer dan harus diketahui oleh setiap orang Muslim. Akhir-akhir ini ada sebagian kelompok yang mempersoalkan sifat 20 tersebut dengan beberapa alasan, antara lain alasan tidak adanya teks dalam al-Qur’an dan hadits yang mewajibkan mengetahui sifat 20. Bahkan dalam hadits sendiri diterangkan bahwa nama-nama Allah (al-Asma’ al-Husna) jumlahnya justru 99. Dari sini muncul sebuah gugatan, mengapa sifat yang wajib bagi Allah yang harus diketahui itu hanya 20 saja, bukan 99 sebagaimana yang terdapat dalam al-Asma’ al-Husna? Sebagaimana yang sering dilontarkan oleh seorang tokoh Wahhabi di Radio lokal.

Sifat 20 ternyata bukan bersumber dari ajaran Al Asy’ari, tetapi dari Muhammad bin Yusuf As Sanusi ( wafat 1490 ) melalui risalah yang berjudul : Umm Al Barahin..

Syaikh Abu ’Abdullah Muhammad bin Yusuf al-Sanusi ( lahir tahun 1427 M di Tilimsan Aljazair dan wafat pada tahun 1490 M ) telah mengajarkan ajaran pengkafiran,

sebagaimana yang dikutip dalam kitab kuning “KiFAYATUL ‘AWAM” karya Syaikh Muhammad Al Fudhali yang berbunyi sbb: “”Adapun taklid yakni mengetahui akidah akidah yang 50 dan tidak mengetahui akan dalil nya yang ijmaly atau tafshily maka para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.. Sebagian ulama berkata : TiDAK MENCUKUPi TAKLiD iTU DAN ORANG YANG BERTAKLiD KAFiR”. Sanusi mengikuti pendapat ini”” ( sumber : Kitab kuning Kifayatul ‘Awam )

Aliran Asy’ariyah di Indonesia bercorak Sanusiyah ( Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 78).

Dengan demikian aliran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Indonesia lebih dekat kepada aliran Sanusiyah daripada Asy’ariyah (Sumber : Buku “Apakah Anda Termasuk Golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ?”,Penerbit Bina Ilmu, Surabaya, 1978 halaman 71)

Imam Al Asy’ari berpendapat bahwa SiFAT MA’NAWiYAH itu tidak ada, yang ada adalah sifat ma’ani ( Sumber : Buku “Pemikiran Islam di Malaysia” karya Dr.Abdul Rahman Haji Abdullah  (dari Pusat Pendidikan Jarak Jauh Universitas Sains Malaysia), hal. 42 Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta, 1997) ..

Gawat !!! Siapa yang harus kita ikuti ??? Apakah Akidah Imam Al Asy’ari ataukah akidah sifat 20 Syaikh Sanusi ??? Maka patah sudah ajaran pengkafiran !!!!

Lalu bagaimana dengan hadits:

Sesungguhnya bagi Allah sembilan puluh sembilan nama, barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah.”

[Riwayat Bukhori:6410, Muslim:2677]

Jawabnya: Hadits ini tidak menunjukkan pembatasan nama Allah hanya semobilan puluh sembilan saja. Bila demikian maka susunan kalimatnya adalah:

Sesungguhnya nama-nama Allah ada sembilan puluh sembilan, barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah

Dengan demikian, maka makna hadits ini adalah nama-nama Allah yang sembilan puluh sembilan yang siapa saja dapat menghapalnya akan masuk jannah. Berarti masih ada nama-nama lain yang tidak diperintahkan untuk menghapalnya. Selain itu kalimat “…barang siapa menghitungnya/menghapalnya akan masuk jannah” bukan merupakan kalimat tersendiritetapi kalimat pelengkap dari sebelumnya. Kalimat yang semisal dengannya, seperti ucapan: “Saya mempunyai seratus ribu rupiah yang saya persiapkan untuk shodaqoh”. Berarti anda masih mempunyai uang yang lain yang dipersiapkan untuk keperluan lainnya.

“Ulama telah bersepakat bahwa hadits ini bukan pembatasan nama-nama Allah. Namun bukan berarti Allah tidak memiliki nama-nama yang lain. Tetapi maksud dari hadits ini yaitu sembilan puluh sembilan nama ini, bagi yang menghapalnya akan masuk jannah. Tujuannya sekedar informasi akan masuk jannah bagi yang mampu menghapal 99 nama tersebut, bukan pembatasan nama. Oleh karenanya tersebut dalam lafadz lain: Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk Diri-Mu…atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya”

nama Allah tidak terbatas. Demikian pula sifat-Nya. Karena setiap nama pasti mengandung sifat, berarti sifat Allah juga tidak terbatas. “Allah mempunyai nama-nama dan sifat yang disimpan pada ilmu ghoib di sisi-Nya. Tidak ada yang mengetahuinya, baik itu malaikat yang dekat dengan Allah atau nabi yang diutus, seperti disebutkan dalam hadits shohih: Aku mohon kepada-Mu dengan seluruh asma-Mu yang telah Engkau namakan untuk diri-Mu atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau masih dalam rahasia ghoib pada-Mu yang Engkau sendiri mengetahuinya”

——————————————————————————————

….. Demikianlah  ciri ciri utama pemikiran  tradisionalisme  tentang  ilmu tauhid  yang  bertolak  dari   Rukun  Iman. Diantara  rukun rukun tersebut, rukun yang pertama  atau  kepercayaan kepada  Allah  lebih dominant. Meskipun  rukun ini  diutamakan, tetapi hanya  berpusat  pada  ajaran sifat 20. Konsep  akidah  seperti  ini bukan saja dipengaruhi  dialektika  yunani  dan  logika  aristoteles, bahkan  dianggap  sempit   dan tidak  menyentuh  kehidupan  manusia.

Memerlukan  cara  baru  untuk  menulis  teologi. Keadaan  sosial, politik  dan filsafat  banyak  pengaruhnya terhadap  perkembangan  teologi  dalam  Islam, dengan tidak mengetahui  hal hal tersebut, pengetahuan  kita  tentang  teologi  Islam  akan  terasa  kurang  mempunyai  dasar yang kukuh…

Sumber  kutipan :

Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

——————————————————————————————

Khusus  tentang  kepercayaan  kepada  Allah  dan  Rasul, aliran tradisional  membahas hukum hukum  akal  ( law  of  reason ) yang  terbagi   dalam  tiga  kategori  : wajib, mustahil, dan  jaiz..  Menurut  para pengkaji, penggunaan  hukum hukum ini  dipengaruhi  dialektika  Yunani  dan  logika  Aristoteles

Sumber  kutipan :

a.  Mohd. Nor  Ngah, Kitab  Jawi : Islamic  Thought  Of  The  Malay  Muslim Scholars ( Singapore : Institute  of  Southeast  Asian  Studies, 1982 ) halaman  9

b. Dr. Abdul  Rahman  Haji   Abdullah  ( Pusat  Pendidikan  Jarak  Jauh Universitas  Sains  Malaysia ), Buku   “Pemikiran  Islam  di  Malaysia, Sejarah  dan  Aliran”, Penerbit   Gema  Insani  Press, Jakarta, 1997

—————————————————————

Saudaraku….

Kritik  dilancarkan terhadap  ajaran  tauhid  tradisional   yang  mengajarkan  sifat  20  yang  dianggap  berasaskan  logika  aristoteles (Sumber kutipan : A. Hassan, Kitab  Al  Tauhid (Penang: Persama  Press, 1959) hal. 23 -24…. Nik  Mohyideen  Musa, Pelajaran  Ilmu  Tauhid ( Kuala  Lumpur : Dewan  Bahasa  dan  Pustaka, 1979 ) halaman 102-104

—————————————————————

Saudaraku….

Mengenai  kepercayaan  kepada  Nabi  dan  Rasul, pembahasannnya  juga  menggunakan  hukum  hukum  akal.  Ada  empat  sifat  wajib, yaitu  shidiq, amanah, tabligh  dan  fathanah.  Sedangkan sifat  mustahil  ialah  yang  berlawanan  dengan  keempat  sifat  ini. Sifat  jaiz  bagi  rasul  ialah  sifat  sifat  sebagai  manusia  biasa  yang  tidak  merendahkan  martabat  mereka  sebagai  Nabi  dan  Rasul  ( Sumber kutipan : Hussain  bin  Nasir  Al  Banjari, Tamrin  al  Sibyan, halaman  14-15 ; idem, Hidayat  Al Sibyan, halaman 7; Haji  Mohd. Sharif  bin  Abdul  Rahman, al Muqaddimah  Al  Tauhidiyah (Pulau  Pinang : Abdullah B.M. nurdin  Al  Rawi, 1959), halaman 8-9

Semua deskripsi Tuhan dan sifat-sifat-Nya, sebagaimana yang ada dalam al-Qur’an maupun Sunnah, sebenarnya lebih mengarah pada pembentukan manusia yang baik, manusia ideal, insan kamil.

Saya melakukan ini dalam rangka untuk mengalihkan perhatian dan pandangan umat Islam yang cenderung ingin tahu wujud Tuhan  menuju sikap yang lebih berorentasi pada realitas empirik

Sebab, apa yang di kehendaki dari konsep tauhid tersebut tidak akan bisa dimengerti dan tidak bisa difahami kecuali dengan ditampakkan. Jelasnya, konsep tauhid tidak akan punya makna tanpa direalisakan dalam kehidupan kongkrit.

Perealisasian nafi (pengingkaran) adalah dengan menghilangkan tuhan-tuhan modern, seperti ideologi, gagasan, budaya dan ilmu pengetahuan yang membuat manusia sangat tergantung kepadanya dan menjadi terkotak-kotak sesuai dengan idiologi dan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dipujanya. Realisasi dari isbat (penetapan) adalah dengan penetapan satu ideologi yang menyatukan dan membebaskan manusia dari belenggu-belenggu tuhan-tuhan modern tersebut.

Dengan demikian, dalam konteks kemanusiaan yang lebih kongkrit, tauhid adalah upaya pada kesatuan sosial masyarakat tanpa kelas, kaya atau miskin. Distingsi kelas bertentangan dengan kesatuan dan persamaan eksistensial manusia. Tauhid berarti kesatuan kemanusiaan tanpa diskriminasi ras, tanpa perbedaan ekonomi, tanpa perbedaan masyarakat maju dan berkembang

Teologi dimulai dari titik praktis pembebasan rakyat tertindas. Slogan-slogannya yang dipergunakan, pembebasan rakyat tertindas dari penindasan penguasa, persamaan derajat muslimin

tentang tauhid yang ‘mendunia’ telah disampaikan tokoh dari kalangan Syiah, Murtadha Muthahhari. Syi’ah mampu mengemas konsep-konsepnya tersebut secara lebih utuh, jelas dan op to dete, sehingga terasa baru.

adalah langkah berani dan maju dalam upaya untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam mengejar ketertinggalannya dihadapan Barat.

Artinya, teologi tidak hanya berupa ide-ide kosong tapi merupakan ide ‘kongkrit’ yang mampu membangkitkan dan menuntun umat dalam mengarungi kehidupan nyata

Dalam sejarah awal perkembangan Islam, ajaran keesaan Tuhan (tauhid) merupakan tugas pokok pertama Nabi saw yang harus disampaikan dan didakwahkan kepada umatnya. Tauhid menempati struktur hierarkis paling istimewa dalam keseluruhan sistem serta bangunan keberagamaan kaum Muslim. Keabsahan semua rangkaian upacara keagamaan mereka sangat bergantung pada eksistensi tauhidnya

.

Membahas masalah perbuatan manusia, yang menyangkut penegasan apakah itu merupakan suatu tindakan yang ditentukan oleh manusia ataukah di ikuti oleh campur tangan Tuhan. Disini al-Asy’ari telah mengeluarkan pendapatnya bahwa semua tindak-tanduk manusia adalah ciptaan Tuhan, sedangkan manusia hanya memiliki upaya (al-kasb) untuk bertindak. Atau dengan kata lain al-Asy’ari telah membedakan antara al-Khaliq dan al-kasb. Hingga berkesimpulan bahwa segala sesuatu itu tidak memiliki pengaruh apapun secara dzatiah nya akan tetapi yang memiliki pengaruh haqiqi dari semua itu hanyalah Allah swt.(Abu Al-Hasan Al-Asy’ari, 1903:9)

.

Al-Asy’ari dihadapkan pada dua pandangan ekstrim. Dengan kelompok Mujasimah (antropomorfis) dan kelompok Musyabbihah yang berpendapat, Allah mempunyai semua sifat yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan sunnah, dan sifat-sifat itu harus difahami menurut arti harfiyahnya. Kelompok mutazilah berpendapat bahwa sifat-sifat Allah tidak lain adalah esensi-esensinya. (Asy-Syahrastani, 1990: 46)

.
Sementara Al-Asy’ari snediri berpendapat bahwa sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah bukanlah esensinya dan juga bukan berarti keluar dari esensi tersebut. Ia memiliki sifat yang melebihi segalanya dan berdiri bersama dengan zat itu sendiri tanpa ada satupun yang dapat menyetarakan-Nya. (C A Qadir, 1991:67-8)

.
Di samping mempengaruhi keabsahan ritual keagamaan, tauhid juga berfungsi mengendalikan gerak, tindakan dan dinamika kemanusiaan. Secara sosiologis, konsep tauhid ikut mengarahkan, membentuk dan menentukan kualitas perilaku individu maupun komunitas umat Islam. Semakin tinggi kualitas tauhidnya, semakin tinggi pula tingkat perilaku keimanan sosialnya. Refleki dari ketinggian kualitas tauhid ini dengan sangat baik dicontohkan oleh para pahlawan (mujahid) Muslim yang berperang demi menegakkan kalimat ilahi dan menyebarkan dakwah keislaman. Orang dengan kualitas tauhid yang mumpuni tidak mengenal rasa takut, menjadi pemberani dan rela berkorban segalanya demi meraih cita-cita tegaknya kalimat Allah, termasuk mengorbankan nyawanya sendiri

.
Dengan demikian, pandangan dunia (world view) tauhid sangat mempengaruhi pola pikir, pola bertindak, gaya dan cara memandang realitas, strategi aksi serta bentuk relasi sosial antar manusia. Dalam konteks ini, tauhid sangat mirip sebuah ideologi; sebut saja ideologi ketuhanan atau ideologi kehidupan (way of life) yang memberi arahan ideal bagi terwujudnya tatanan sosial yang dikehendaki. Tentunya ideologi dalam pengertian sebagai sebuah kumpulan ide, konsep dan gagasan yang menjadi referensi praksis untuk menggapai tujuan-tujuan yang diinginkan. Tauhid dalam formulasi semacam ini berkembang pada masa-masa awal kelahiran Islam.
Berdasarkan analisis sejarah para pakar, doktrin tauhid yang dikembangkan Nabi Muhammad saw berwatak dinamis, progresif dan liberatif. Ketika itu, tauhid dipahami sebagai ajaran yang menyeru umat manusia untuk hanya menyembah kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa; menghambakan diri kepada-Nya; menyerahkan totalitas eksistensial kemanusiaan kepada-Nya dan mengesakan-Nya dari segala bentuk penyembahan, ketundukkan, kepatuhan, ketaatan dan penghambaan diri kepada selain-Nya. Tauhid demikian berkarakter subversif: menantang mainstream status quo dan memberontak terhadap segala struktur kuasa maupun sosial yang hegemonik, tiranik dan sewenang-wenang. Doktrin tauhid benar-benar revolusioner dan transformatif

.
Namun, seiring perkembangan sejarah dan peradaban kemanusiaan, doktrin tauhid mulai mengalami pergeseran secara signifikan. Diskursus teologi yang pada awalnya berkorelasi kuat dengan kenyataan aktual kemanusiaan, direduksi sedemikian rupa menjadi kumpulan wacana spekulatif yang tidak ada sangkut pautnya dengan kenyataan yang hidup dalam gerak sejarah. Berkembangnya tradisi keilmuan baru yang mewujud pada kerja sistematisasi, penyusunan formal (al-tadwin) dan spesialisasi bidang keilmuan, menyebabkan doktrin-doktrin tauhid tertransformasi ke dalam bangunan doktrinal baku, tertutup, teoritik dan kurang memiliki daya dorong sosial

.

Tauhid hanya mampu bergaung dalam karya-karya tulis, bukan berkibar di medan-medan tempur sebagaimana pada zaman Nabi Muhammad saw. Demikianlah, ajaran tauhid kehilangan fungsi transformasinya. Ironisnya, pemahaman ajaran tauhid model ini yang kemudian diwarisi generasi umat Islam hingga sekarang.
Berpijak pada kemandegan pemikiran di bidang teologis yang tidak lagi memiliki fungsi sosial transformatif inilah, diperlukan penggalian ulang spirit of theology yang leberatif, progresif dan berkorelasi sebagai jawaban dari perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi dengan mengubah diskursus teologi Islam dari berbicara tentang Tuhan (teosentris) sebagai core teologinya beralih pada persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris).
Dalam konteks ini pembahasan tulisan ini difokuskan agar bisa keluar dari kungkungan dogmatis dan menawarkan metode pendekatan baru agar bisa menjaring aneka pengalaman kemanusiaan dan sosial kekinian untuk kemudian dibedah dan dianalisis sesuai dengan cara kerja ilmu kalam

.

Dengan demikian, secara singkat tauhid berisi pembahasan teoritik menyangkut sistem keyakinan, sistem kepercayaan (kredo) dan struktur akidah kaum Muslim berdasarkan rasio dan wahyu. Tujuan akhir ilmu ini adalah pembenaran terhadap akidah Islam serta meneguhkan keimanan dengan keyakinan. Karena itu, Tauhid memiliki posisi penting dalam mekanisme keberagamaan umat Islam, karena berisi pokok-pokok ajaran yang sifatnya mendasar,

.

teologi atau berteologi haruslah dapat menumbuhkan moralitas atau sistem nilai etika untuk membimbing dan menanamkan dalam diri manusia agar memiliki tanggung jawab moral, yang dalam Al-Qur’an disebut taqwa. Secara pasti teologi Islam merupakan usaha intelektual yang memberi penuturan koheren dan setia dengan isi yang ada dalam Al-Qur’an. Teologi harus mempunyai kegunaan dalam agama apabila teologi itu fungsional dalam kehidupan agama. Disebut fungsional sejauh teologi tersebut dapat memberikan kedamaian intelektual dan spritual bagi umat manusia serta dapat diajarkan pada umat

.

Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern, Islah harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan dan sebagainya). Teologi yang fungsional adalah teologi yang memenuhi panggilan tersebut, bersentuhan dan berdialok, sekaligus menunjukkan jalan keluar terhadap berbagai persoalan empirik kemanusiaan

.

tantangan kalam atau teologi Islam kontemporer adalah isu-isu kemanusiaan universal, pluralisme keberagamaan, kemiskinan struktural, kerusakan lingkungan, dan sebagainya. Teologi, dalam agama apapun yang hanya berbicara tentang Tuhan (teosentris) dan tidak mengkaitkan diskursusnya dengan persoalan-persoalan kemanusiaan universal (antroposentris), memilki rumusan teologis yang lambat laun akan menjadi out of date. AlQur’an sendiri hampir dalam setiap diskursusnya selalu menyentuh dimensi kemanusiaan universal

.

Seharusnya teologi dan kalam yang hidup untuk era sekarang ini berdialog dengan realitas dan perkembangan pemikiran yang berjalan saat ini. Bukan teologi yang berdialok dengan masa lalu, apalagi masa silam yang terlalu jauh. Teologi Islam kontemporer tidak dapat tidak harus memahami perkembangan pemikiran manusia kontemporer yang diakibatkan oleh perubahan sosial yang dibawa oleh arus ilmu pengetahuan dan teknologi

.
Kalau kita analisis terdapat tiga kelemahan yang dimiliki oleh pembahasan teologi Islam klasik diantaranya. Pertama, Persoalan manusia, alam dan sejarah. Selama ini, yang ditonjolkan oleh ilmu kalam selalu saja pembahasan abstrak seputar eksistensi Tuhan, atribut-atribut yang melekat kepada-Nya, eksistensi malaikat, artikel-artikel eskatologis, kenabian, dan ha-hal teoritik lain yang tidak berkorelasi dengan kenyataan yang terjadi. Wacana kalam klasik tidak lagi mamiliki hubungan harmonis dengan kenyataan riil kemanusiaan. Dan ini adalah distorsi besar-besaran terhadap sejarah dan ajaran Islam, karena sebelumnya teologi sangat lekat dengan antropologi

.
Kedua, eksistensi teologi Islam tradisional dalam paradigmanya yang spekulatif, teoritik, elitik, statis dan kehilangan daya dorong sosial serta momentum perlawanannya. Selama ini artikel-artikel teologi klasik hanya penuh dengan refleksi keimanan murni; menggambarkan keimanan sema-mata dan tidak berkaitan dengan kemanusiaan nyata. Gaya pembahasan seperti ini sangat berbahaya, sesuatu yang tak berarti dan hampa makna

.
Ketiga, paradigma teologi klasik Islam sudah saatnya diperbaharui (reformasi), dipahami ulang (rekonstruksi) dan dirumuskan kembali (reformulasi) dalam modelnya yang baru dan progresif, karena sudah tidak relevan dengan tuntutan modernitas, gerak sejarah dan dinamika perkembangan zaman

.
Bertolak dari kelemahan-kelemahan ilmu kalam di atas, tampaknya dekontruksi terhadap ilmu ini merupakan sebuah keniscayaan. Dekontruksi tidak hanya berarti membongkar kontruksi yang sudah ada. Didalam dekontruksi tetap diperlukan usaha-usaha yang mengiringinya, yaitu merekontruksi apa yang seharusnya merupakan tuntutan baru. Tujuan dekontruksi adalah melakukan “demitologisasi” konsep atau pandangan-pandangan yang ada, yang telah menjadi “teks sakral” dan mitos keilmuan dalam dunia Islam. Untuk mencapai itu, perlu dilakukan pembongkaran melalui gagasan kritis dan mendasarkan tipe rasionalitas yang seharusnya menjadi alas ilmu tersebut, serta secara modern menilai kembali wahyu sebagai gejala budaya dan sejarah yang komplek

.

saya melihat perlunya pergeseran paradigma dari yang bercorak tradisional, yang bersandar pada paradigma logico-metafisika (dialektika kata-kata), kearah teologi yang mendasarkan pada paradigma “empiris” (dialektika sosial politik). Teologi bukan tentang ilmu semata, tetapi menjadi ilmu kalam (ilmu tentang analisis kalam atau ucapan semata dan juga sebagai konteks ucapan, yang berkaitan dengan pengertian yang mengacu pada iman).

Urgensi dari penghadiran suatu kontruk teologi yang bersifat transformatik dan membebaskan bertolak pada tujuan utama di syari’atkan Islam pada dasarnya adalah revolusi kemanusiaan dan ide-ide pembebasan merupakan salah satu tema pokok dalam Islam. Ide-ide tersebut adalah al-’adalah (keadilan), al-musawamah (egalitarianisme, kesetaraan;persamaan derajat), dan al-hurriyah (kebebasan). Tiga ide tersebut dalam konteks teologi yang transformatif perlu adanya rekonstruksi atau redefinisi makna teologi

.
Selama ini teologi lazim dimaknai sebagai suatu diskursus seputar Tuhan. Namun, dalam kerangka paradigma transformatif, teologi semestinya tidak lagi difahami (semata-mata) sebagaimana pemaknaan yang dikenal dalam wacana kalam klasik itu, yakni suatu diskursus tentang Tuhan yang sangat teosentris, yang secara etimologi merujuk pada akar kata theos dan logos. Ia seharusnya dimaknai dan dipahami sebagai sungguh-sunguh ilmu kalam

.

Gagasan tentang reformasi (atau rekonstruksi) teologi tradisional diperlukan untuk mengubah orientasi perangkat konseptual sistem kepercayaan sesuai dengan perubahan konteks sosial politik yang terjadi. Teologi tradisional Islam lahir dalam konteks sejarah ketika inti sistem kepercayaan Islam, yaitu Transendensi Tuhan diserang oleh wakil-wakil dari sekte-sekte dan budaya-budaya kuno. Teologi dimaksudkan untuk mempertahankan doktrin utama dan untuk memelihara kemurnian iman. Dialektika berasal dari dialog dan mengandung pengertian saling menolak; hanya merupakan dialektika kata-kata, bukan konsep-konsep tentang alam, manusia, masyarakat atau sejarah

.
Sekarang ini konteks sosial politik telah berubah. Islam mengalami berbagai kekalahan di berbagai medan pertempuran sepanjang periode kolonisasi. Karena itu, kerangka konseptual lama masa-masa permulaan, yang berasal dari kebudayaan klasik harus dirubah menjadi kerangka konseptual baru, yang berasal dari kebudayaan modern

.

Pemahaman tauhid sedemikian tidak hanya diarahkan secara vertikal untuk membebaskan manusia dari ketersesatan dalam bertuhan, tetapi juga secara sosial-horisontal dikehendaki berperan sebagai teologi yang membebaskan manusia agar terlepas dari seluruh anasir penindasan. Cita pembebasam manusia dari ketertindasan, karena itu, merupakan saah satu ‘aqidah iahiyah. Elaborasi lebih jauh dari pemahaman tauhid semacam ini menuntut pula redefinisi terhadap entitas makna iman, nilai kufr dan sebutan kafir, dan pada akhirnya reposisi entitas makna Islam dan Musim searah dengan kepentingan praksis pembebasan.

.

Konsep Keadilan Sosial.
Konsep keadilan merupakan doktrin yang diperbincangkan oleh teologi Islam kasik. Dalam diskursus teologi Islam klasik tema tersebut cenderung terfokus semata pada perbincangan soal-soal keadilan Tuhan (al-’adl).

teologi dapat berperan sebagai suatu ideologi pembebasan bagi yang tertindas atau sebagai suatu pembenaran penjajahan oleh para penindas. Teologi memberikan fungsi legitimatif bagi setiap perjuangan kepentingan dari masing-masing lapisan masyarakat yang berbeda.

Berangkat dari situlah, maka konsep keadilan Tuhan (a-’adl) perlu direkontruksi dan redefinisi pada konsep keadilan sosial. Pengedepanan konsep ini bertolak dari kesadaran bahwa ketidakadian sosial (kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, ekploitasi, diskriminasi, dan dehumanisasi) merupakan produk dari suatu proses sosial lewat struktur dan sistem yang tidak adil, yang terjadi antaran proses sejarah manusia

.

Artinya realitas sosial yang tidak adil bukanlah takdir Tuhan (predestination) seperti umumnya diyakini teologi-teologi tradisional, melainkan hasil dari proses sejarah yang disengaja. Bukan pula hanya akibat “ada yang salah dalam bangunan mentalitas-budaya manusia”, seperti keyakinan teologi-teologi rasional, melainkan imbas langsung dari diselenggarakannya sistem dan struktur yang tidak adil, eksploitatuf, dan menindas.

.

Konsep Spirituaitas Pembebasan.
Konsep ini merupakan konkretisasi dari proses refleksi kritis atas realitas manusia (umat) di satu sisi dan atas tujuan utama Islam sebagai agama pembebasan di sisi lain. Pembebasan (liberation,tahrir) dalam kerangka spiritualitas tidak hanya diarahkan pada struktur-sistem yang menindas, tetapi juga secara terus menerus pada upaya membebaskan manusia dari hegemoni wacana tertentu berupa produk pemikiran keagamaan tertentu, misalnya spriritualitas ini harus senantiasa mengambil tempat dan peran aktif dalam proses kontektuaisasi teks-teks keagamaan atas konteks kekinian

.
Pengenaan spiritualitas pembebasan itu secara khusus bertujuan agar aspek relligius dari gagasan teologi dimaksud tidak hilang sekaligus eternalitas nilai-nilai trandensinya tak terabaikan

.

Oleh sebab itu, selain menumpukan diri pada gagasan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar, ia juga menekankan pada pemaknaan kontekstual dengan realitas kekinian (segenap bentuk social malaise). Akhirnya, di wilayah praktis, aktualisasi atau manifestasi teologi reformatif ini membutuhkan keterlibatan aktif dari kaum tertindas sendiri. Tanpa itu, bisa dipastikan ia akan gagal menjadi motivasi religius yang betul-betul transformatif dan berdaya membebaskan. Pelibatan aktif mereka itu terlepas model menejemen gerakan apapun yang pada akhirnya diambil

.
Dengan berteologi secara demikian kita bisa memulai berharap munculnya realitas sosial kemanusiaan yang lebih mengembirakan

.

Dalam pada itu Isam sebagai entitas nilai maupun agama akan benar-benar hadir sebagaimana spirit aslinya sebagai agama yang membebaskan. Hal itu memungkinkannya hadir sebagai entitas yang berdaya melakukan pembebasan dan tidak justru memperkokoh diri sebagai indtitusi penindas, langsung maupuin tidak. Melalui rekonstruksi teologis sedemikian, Islam sebagai entitas ajaran niscaya mengambi jalan “mengubah dunia untuk mengubah manusia” dan bukan “mengubah manusia untuk mengubah dunia”.

Rekomendasi ini niscaya demi menyadari kondisi faktual umat Islam saat ini yang terpuruk di berbagai bidang kehidupan dan mandulnya beragan paradigma teologi Islam yang dianut mereka untuk memotivasi berlangsungnya proses transformasi sosial. Dua kenyataan inilah yang secara langsung menjadi basis historis mengapa rekontruksi teologi Islam itu perlu. Dalam pada itu kita bisa menarik kesimpulan betapa Islam dalam proses sejarah telah semakin jauh dari rasionalitas Tuhan ketika ia diturunkan

.
Terkait itulah rekontruksi terhadap teologi warisan Islam klasik ini menjadi hal yang sangat strategis guna memulai transformasi sosial umat secara total. Redefinisi teologi Islam klasik menuju teologi Islam yang transformatif akan memberikan signifikansi bagi kesadaran teologis umat yang kritis dalam melihat teks (Qur’an/hadits, ide-ide kemanusiaan) dan konteks kekinian. Pada saat berbarengan ia berpotensi pula menjadi motivasi reigius bagi umat untuk melakukan transformatif atas realitas ketertindasan yang mengkungkung mereka baik berupa ideologi Barat seperti developmentalisme atau kapitalisme, ataupun berwujud nilai-nilai yang mereka konseptualisasi sendiri, termasuk “nilai-nilai agama”
Dalam kerangka pembebasan, upaya pelahiran kesadaran teologis antropomorpisme itu penting, setidaknya disebabkan dua urgensi, yakni pertama, dilevel wacana pemikiran keagamaan ia akan mengurai stagnasi wacana intelektual Islam sejak pasca-Abad pertengahan, khususnya, di ranah teoogi. Disitu jargon-jargon semisal “membuka pintu Ijtihad” disatu sisi dan berlawanan dengan “pintu ijtihad telah tertutup” pada sisi yang lain akan menemukan momentum dan intensitas persinggungannya. Kedua, di level praksis ia akan memposisikan diri sebagai motivasi religius yang membebaskan bagi umat dalam melakukan perlawanan terhadap struktur dan sistem penindasan yang melahirkan ketidakadilan, kemiskinan, keterbelakangan, diskriminasi, dehumanisasi, dan sejenisnya.

Pada saat yang sama ia akan mendorong pada pemahaman bahwa realitas tidak manusiawi itu berlangsung bukan lagi bersifat individual atau apalagi merupakan sesuatu yang sudah dipastikan, seperti pemahaman teologi tradisional, melainkan sudah bersifat sosial—-tercipta oleh struktur-sistem yang memang menghendaki demikian

.
Paling tidak melalui dua level itulah eksistensi umat Islam ke depan akan menemukan bentuknya, dan masa depan peradaban umat akan kembali menjadi menemukan memontumnya dan akan dikagumi baik bagi umat Islam sendiri maupun dunia Barat.

Hari ini banyak perkara yang telah hilang dari umat Islam. Di antaranya ialah ilmu dan hikmah, kasih sayang, perpaduan, empayar, jemaah dan ummah. Mungkin kerana itu hilanglah wibawa umat Islam. Bila umat Islam tidak ada wibawa ertinya tidak ada kekuatan, lemah dan lumpuh. Akhirnya umat Islam seluruh dunia hari ini macam kain buruk atau debu-debu yang berterbangan yang tidak ada harga satu sen pun atau ibarat buih-buih di laut yang dipecah belahkan oleh ombak laut. Itulah yang sedang berlaku pada dunia Islam hari ini, akibat dari itu umat Islam menjadi hina. Hina disebabkan dijajah tapi jajah bentuk baru bukan bentuk lama. Penjajahan bentuk lama bersifat fizikal, tapi bentuk baru ini, kalau orang itu tidak kuat dengan Tuhan tidak prihatin, bukan sahaja awamul muslimin, ulama dan pemimpin Islam pun tidak faham, bahkan ulama dan pemimpin Islam sudah anggap kita sudah merdeka hari ini padahal kalau kita prihatin umat Islam hari ini dijajah bentuk baru. Penjajahan secara bentuk baru inilah yang umat Islam termasuk pemimpin dan ulama tidak faham.

Penjajahan bentuk baru yang sedang berlaku pada umat Islam hari ini yang besar-besarnya ialah:

  1. Ideology telah menjajah syariat atau ideology telah menjadi syariat. Semua negara Islam menggunakan ideology dari yahudi menggantikan syariat Islam.
  2. Pendidikan sudah dijajah. Daripada pendidikan yang bertunjangkan iman di tukar kepada pendidikan sekuler yang tidak dikaitkan dengan iman yang tidak bertunjangkan Tuhan.
  3. Ekonomi dunia dahulu dikuasai umat Islam yang bersifat khidmat, bersih dari riba, monopoli dan penindasan kini dijajah oleh ekonomi yang besifat riba, penzaliman, penindasan dan monopoli,
  4. Kebudayaan Islam yang bersih sudah dijajah oleh kebudayaan yang kotor, maksiat, bahkan sesetengah hal, telah diganti oleh kebudayaan yang lucah.

Penjajahan yang berbetuk rohani dan maknawi ini bukan sahaja umat Islam tidak faham tapi ulama dan pemimpin Islam pun tidak faham, sebab itu umat Islam hari berbangga umat Islam merdeka tapi hakikatnya belum merdeka, sebab sebenarnya penjajahan sekarang bertukar dari penjajahan bentuk lama ke bentuk baru. Kalau dahulu berbetuk fizikal tapi sekarang berbentuk maknawi dan rohani. Ini hakikatnya yang sedang berlaku pada umat Islam pada hari ini.

Pendidikan dan pengaruh Mu’tazilah tidak bisa dilepaskan dari al-Asy’ari yang dibuktikan dengan dialektiaka yang tetap ia gunakan meskipun sudah keluar dari Mu’tazilah. Hanya saja ia menggunakan pendekatan dialektis dan logis untuk mendukung pendapatnya dalam mengukuhkan madzhab Asy’ariyah. Ia menggunakan filsafat bukan sebagai kebenaran itu filsafat itu sendiri, tetapi ia memakainya sebagai alat untuk mengungkap dan memperjelas argumennya
.
Tanpa kehilangan pandangan tentang segi-segi kuat di atas itu, pembicaraan tentang paham Asy’ari tidak mungkin lepas dari segi-segi lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir Islam sendiri di luar kubu Kalam Asy’ari, maupun dari dalam pandangan para pemikir lainnya. Dan kelemahan itu diantaranya:
.
• Asy’ari cenderung bersikap pasrah kepada nasib (fatalisme). tentang perilaku manusia, termasuk tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya
• Dengan melakukan kasb seperti telah di ketahui pada faham asy”ri, hal tersebut tidak akan berpengaruh apapun dalam setiap kegiatan yang dilakukan.
• Konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya.

Dari uraian-uraian diatas kita bisa mengetahui berbagai polemic-polemik permasalahan yang muncul pada tubuh Asy’ariah dalam doktrin aqidah islamiah. Di satu sisi karena pangaruh Al Ghozali dengan paparan argumenya yang logis, Asy’ariah bisa berkembang dengan begitu pesat, di sisi lain Asy’ariah seakan mambodohi masyarakat dengan konsep kasb nya yang sulit untuk dimengerti dan malah cenderung membingungkan banyak orang. Malah di sebutkan dalam kitab Jawharat al-Tawhid,

Wa ‘indana li al-’abd-i kasb-un kullifa
Wa lam yakun mu’atstsir-an fa ‘l-ta’rifa

Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,
Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan berpengaruh
Jadi, intinya manusia tetap dibebani kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya.

dalam proses perkembangan paham Asy’ari, konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan para pengikutnya kepada sikap yang lebih mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang dikehendakinya

Aliran mereka adalah polarisasi antara wahyu dan filsafat.

Barangkali di masa itu kebutuhan untuk menjawab tantangan aqidah dengan menggunakan ratio telah menjadi beban. Karena di masa itu sedang terjadi penerjemahan besar-besaran pemikiran filsafat barat yang materialis dan rasionalis ke dunia Islam. Sehingga dunia Islam mendapatkan tantangan hebat untuk bisa menjawab argumen-argumen yang bisa dicerna akal.

Al-Asy‘ari adalah salah satu tokoh penting yang punya peranan dalam menjawab argumen kalangan ahli logika ketika menyerang aqidah Islam. Karena itulah metode aqidah yang beliau kembangkan merupakan panggabungan antara dalil naqli dan aqli.

Bila dilihat dari kaca lain seperti di zaman di mana tantangan akal ini tidak lagi mendominasi, bisa saja terasa agak janggal karena metode akal atau rasio yang digunakan terasa kurang relevan lagi.

Karena itu wajar bila dikritisi lebih detail, ada saja hal-hal yang dirasa kurang pas dan relevan lagi. Sebagian para pengkritik menyataskan bahwa paham As’ariyah menyalahi ahlussunnah wa al-jamaah dalam lima belas masalah, salah satunya adalah masalah asma’ dan sifat. Meski demikian, para pendukung mazhab Asy‘ari juga punya argumen yang membenarkan pendapat mereka.

Penyebaran Aqidah Asy-”ariyah

Aqidah ini menyebar luas di zaman wazir Nizhamul Muluk pad dinasti ani Saljuq dan seolah menjadi aqidah resmi negara.

Semakin berkembang lagi di masa keemasan madrasah An-Nidzamiyah,baik yang ada di Baghdad maupun di kotaNaisabur. Madrasah Nizhamiyah yang di Baghdad adalah universitas terbesar di dunia. Didukung oleh para petinggi negeri itu seperti Al-Mahdi bin Tumirat dan Nuruddin Mahmud Zanki serta sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Jugadidukung oleh sejumlah besar ulama, terutama para fuqaha mazhab Asy-syafi”i dan mazhab Al-Malikiyah periode akhir-akhir. Sehingga wajar sekali bila dikatakan bahwa aqidah Asy-”ariyah ini adalah aqidah yang paling populer dan tersebar di seluruh dunia.

Para Ulama yang Berpaham Asy-”ariyah

Di antara para ulama besar dunia yang berpaham aqidah ini dan sekaligus juga menjadi tokohnya antara lain:

* Al-Ghazali (450-505 H/ 1058-1111M)
* Al-Imam Al-Fakhrurrazi (544-606H/ 1150-1210)
* Abu Ishaq Al-Isfirayini (w 418/1027)
* Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (328-402 H/950-1013 M)
* Abu Ishaq Asy-Syirazi (293-476 H/ 1003-1083 M)

Cak Nur juga menyoroti sisi kelemahan paham ini untuk dijadikan bahan refleksi. Kelemahan paham Asy’ariyah menurut Cak Nur terletak pada Qudrah dan Iradah Tuhan dan manusia. Al-Asy’ari sebetulnya hendak menengahi dua kubu ekstrim yang berkembang ketika itu. Kedua kubu tersebut adalah paham Jabariyah yang cenderung fatalistik dan menganggap manusia ibarat robot, sudah didesain dan dikendalikan. Namun paham ini ditolak oleh Qadariyah, mengatakan manusia mempunyai kebebasan bertindak dan menentukan pilihan (free will). Al-Asy’ari memberikan format baru dengan konsep kasb. Tetapi konsep tersebut dipandang sulit dipahami oleh Cak Nur dan cenderung fatalistik. Manusia dibebani kasb (usaha) tetapi usahanya tidak berpengaruh apa-apa. Manusia dalam konteks ini bukan tidak berdaya sebagaimana menurut paham Jabariyah, tetapi tidak bebas yang bisa menentukan kegiatannya sendiri seperti kata kaum Qadariyah.

Cak Nur lebih sepakat dengan syair yang dikemukakan oleh Ibnu Taymiah, tokoh reformis Islam yang pada substansinya mengatakan bahwa semua tindakan manusia tidak dapat keluar dari ketentuan-Nya. Hanya saja manusia tetap mempunyai kemerdekaan bertindak (free will) karena Allah telah menciptakan kehendak (iradah) yang dengannya manusia mampu memilih jalan hidup.

Sangat tampak kritisisme Cak Nur dalam hal ini. Ia ingin membetulkan kebekuan dan absurditas pemahaman teologi karena pemikiran-pemikiran tidak akan lepas dari kelemahan-kelemahan. Ia hendak memperbaiki kelemahan itu sehingga konsep yang dimaksud lebih mudah dipahami oleh masyarakat awam sekalipun. Barangkali apa yang dimaksudkan al-Asy’ari bagi kaum intelektual tidak akan terlalu problematic sekalipun dalam syairnya secara tersurat ditulis kasb tidak akan berpengaruh. Dan tentu saja hal itu tidak dimaksudkan untuk itu karena dengan tegas pula dikatakan manusia tidak bebas dan tidak pula terpaksa. Dalam hemat penulis apa yang dimaksudkan Ibnu Taymiah juga dimaksudkan oleh al-Asy’ari. Kelihatannya al-Asy’ari menemui kesulitan untuk menjelaskan maksud itu. Namun, tawaran Cak Nur juga baik karena yang dilihat adalah aspek kemaslahatan supaya konsep free will lebih mudah dipahami.

Sebetulnya antara al-Asy’ari dan Ibnu Taymiah juga sepakah ketidak-setujuan keduanya terhadap pendekatan Qadariyah atau pun Jabariyah. Keduanya hendak menengahi antara kedua kubu sehingga konsepnya lebih bisa diterima. Sebab, sikap moderat adalah kecenderungan mayoritas. Tetapi bukan masalah kecenderungan—dalam hemat penulis—tetapi pijakan kedua tokoh itu konsistensi pada kebenaran.

Secara eksplisit tulisan Cak Nur menjelaskan, di samping keunggulan di bidang metodologi, kelebihan paham Asy’ariyah juga karena kepiawaian pendirinya memanfaatkan logika dan filsafat untuk menjelaskan konsep Asy’ariyah. Melalui kekuatan argumentasinya ia mampu memukau ilmuan modern dan teolog Kristen.

Paham teologi Asy’ari termasuk paham teologi tradisional,
yang mengambil posisi antara ekstrim rasionalis yang
menggunakan metafor dan golongan ekstrim tekstualis yang
leterlek. Ia mengambil posisi di antara aliran Mu’tazilah
dan Salafiyah, tetapi “benang merah” sebagai jalan tengah
yang diambilnya tidak begitu jelas. Suatu kali ia memihak
Mu’tazilah, lain kali cenderung ke Salafiyah, dan lain kali
lagi, mengambil kedua pendapat dari kedua aliran yang
bertentangan itu lalu mengkompromikannya menjadi satu. [1]

Untuk meninjau pemikiran-pemikiran al-Asy’ari lebih baik
memaparkan lebih dulu sejarah hidupnya meski secara ringkas.
Dengan pemaparan ini akan terlihat gambaran latar belakang
pemikirannya. Sebab suatu pemikiran merupakan hasil refleksi
zaman dan kondisi dari suatu masyarakat. Dan al-Asy’ari juga
tidak lepas dari konteks zaman dan maksyarakatnya sendiri.

Sebenarnya, nama asli Imam Asy’ari adalah Ali Ibn Ismail [2]
-keluarga Abu Musa al-Asy’ari. [3] Panggilan akrabnya Abu
al-Hasan [4]. Dia dilahirkan di Bashrah pada 260 H./875 M
[5] -saat wafatnya filsuf Arab muslim al-Kindi. [6] Ia wafat
di Baghdad pada tahun 324 H./935 M.

Abu al-Hasan al-Asy’ari pada mulanya belajar membaca,
menulis dan menghafal al-Qur’an dalam asuhan orang tuanya,
yang kebetulan meninggal dunia ketika ia masih kecil.
Selanjutnya dia belajar kepada ulama Hadits, Fiqh, Tafsir
dan bahasa antara lain kepada al-Saji, Abu Khalifah
al-Jumhi, Sahal Ibn Nuh, Muhammad Ibn Ya’kub, Abdur Rahman
Ibn Khalf dan lain-lain. [7] Demikian juga ia belajar Fiqih
Syafi’i kepada seorang faqih: Abu Ishak al-Maruzi (w. 340
H./951 M.) -seorang tokoh Mu’tazilah di Bashrah. Sampai umur
empat puluh tahun ia selalu bersama ustaz al-Juba’i, serta
ikut berpartisipasi dalam mempertahankan ajaran-ajaran
Mu’tazilah. [9]

Pada tahun 300 H./915 M dalam usia 40 tahun, Abu al-Hasan
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah. Untuk hal
ini terdapat beberapa pendapat mengenai sebab-sebab
meninggalkan atau keluar dari Mu’tazilah. Sebab klasik yang
biasa disebut perpisahan dia dengan gurunya karena
terjadinya dialog antara keduanya tentang salah satu ajaran
pokok Mu’tazilah, yaitu masalah “keadilan Tuhan.” Mu’tazilah
berpendapat, “semua perbuatan Tuhan tidak kosong dari
manfaat dan kemashlahatan. Tuhan tidak menghendaki sesuatu,
kecuali bermanfaat bagi manusia, bahkan Dia mesti
menghendaki yang baik dan terbaik untuk kemashlahatan
manusia. Paham ini di sebut al-Shalah wa ‘l-Ashlah. [10]

Dialog tersebut berlangsung sebagai berikut:

Al-Asy’ari (A) – Bagaimana pendapat tuan tentang nasib tiga
orang bersaudara setelah wafat; yang tua mati dalam
bertaqwa; yang kedua mati kafir; dan yang ketiga mati dalam
keadaan masih kecil.

Aldubba’i (J) – yang taqwa mendapat terbaik; yang kafir
masuk neraka; dan yang kecil selamat dari bahaya neraka.

A – Kalau yang kecil ingin mendapatkan tempat yang lebih
baik di Sorga, mungkinkah?

J – Tidak, karena tempat itu hanya dapat dicapai dengan
jalan ibadat dan kepatuhan kepada Tuhan. Adapun anak kecil
belum mempunyai ibadat dan kepatuhan kepada-Nya.

A- Kalau anak kecil itu mengatakan kepada Tuhan: itu bukan
salahku. Sekiranya Engkau bolehkan aku terus hidup, aku akan
mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh yang
taqwa itu.

J – Allah akan menjawab kepada anak kecil itu, Aku tahu,
jika engkau terus hidup, engkau akan berbuat maksiat dan
engkau akan mendapat siksa; maka Saya (Allah – Red) matikan
engkau adalah untuk kemaslahatanmu.

A – Sekiranya saudaranya yang kafir mengatakan, “Ya Tuhanku
Engkau ketahui masa depanku sebagaimana Engkau ketahui masa
depannya, mengapa Engkau tidak jaga kepentinganku?

Al-Jubba’i menjawab, “Engkau gila, (dalam riwayat lain
dikatakan, bahwa Al-Jubba’i hanya terdiam dan tidak
menjawab). [11]

Dalam percakapan di atas, al-Jubba’i, jagoan Mu’tazilah itu,
tampaknya dengan mudah saja dapat ditumbangkan oleh
al-Asy’ari. Tetapi dialog ini kelihatannya hanyalah sebuah
ilustrasi yang dibuat para pengikut al-Asy’ari sendiri untuk
memperlihatkan perbedaan logikanya dengan logika orang-orang
Mu’tazilah.

Bagi Mu’tazilah, si anak kecil tentu tidak akan mengajukan
protes kepada Allah, karena dia sendiri tahu, bahwa sesuai
dengan keadilan Tuhan, tempat yang cocok untuknya memang di
sana. Kalau Tuhan menempatkan anak kecil sederajat dengan
tempat orang yang taqwa, tentu dia sendiri akan merasakan
bahwa Tuhan sudah tidak adil lagi terhadap dirinya. Sebab,
tempatnya memang bukanlah seharusnya sederajat dengan
orang-orang yang taqwa.

Di alam akhirat, menurut Mu’tazilah, tidak ada lagi
perdebatan tentang keadilan Tuhan. Di sana, manusia sudah
mendapati al-Wa’ad wa al-Wa’id. Dia sudah menepati janji.
Yang taqwa mendapat sorga, yang kafir mendapat neraka, dan
jika di sana terdapat yang meninggal dunia dalam keadaan
masih kecil, baik anak-anak orang mukmin atau kafir, maka
bagi mereka tidak ada alasan untuk disiksa, karena Tuhan
Maha Suci dari penganiayaan. [12]

Bagi yang kafir lebih tidak punya alasan lagi. Sebab, Tuhan
lebih memperhatikan kemaslahatannya di dunia. Tuhan tidak
menghendaki kekafirannya. Berarti, jika ia kafir sama
artinya dengan kehendak diri sendiri. Sementara, dia sendiri
sudah tahu akibat kekafirannya, karena ia diberi akal dan
petunjuk. [13] Jadi, kalau yang kafir harus menyalahkan
Tuhan atas kehendak dan perbuatannya sendiri, maka ia
dianggap oleh Memorandum suatu pemikiran yang tidak
rasional.

Sebab lain yang biasa disebutkan adalah meninggalkan
ajaran-ajaran Mu’tazilah karena pernah bermimpi melihat
Rasulullah saw sebanyak tiga kali. Mimpi itu terjadi pada
bulan Ramadhan. Mimpi pertama terjadi pada tanggal 10; mimpi
kedua pada tanggal duapuluh, dan mimpi ketiga pada tanggal
tigapuluh. [14] Dalam mimpi yang terjadi pada bulan Ramadlan
itu Rasulullah menyampaikan bahwa madzhab ahli haditslah
yang benar, karena itulah madzhabnya yang berasal dari saya.
[15]

Diriwayatkan bahwa al-Asy’ari sebelum mengambil keputusan
untuk keluar dari Mu’tazilah, ia mengisolir diri di rumahnya
selama limabelas hari. Sesudah itu ia pergi ke mesjid lalu
naik mimbar dan menyampaikan:

“Saya dulu mengatakan, bahwa al-Qur’an adalah makhluk; Allah
swt. tidak dapat dilihat dengan pandangan mata orang mukmin
di akhirat dan perbuatan jahat adalah perbuatan saya
sendiri. Sekarang saya taubat dari semuanya itu. Saya
lemparkan keyakinan-keyakinan lama saya, sebagaimana saya
lemparkan baju ini (isyarat pada jubahnya). Dan saya keluar
dari kekejian dan skandal Mu’tazilah.” [16]

Terlepas dari soal sesuai atau tidaknya uraian di atas
dengan fakta sejarah; maka dari sisi lain dapat pula kita
ungkapkan sebab yang mendorong al-Asy’ari meninggalkan faham
Mu’tazilah. Sebab itu ialah rasa skeptis dan
ketidakpercayaannya lagi terhadap kemampuan akal,
sebagaimana yang pernah pula dialami oleh al-Ghazali di
kemudian hari. Pada kedua tokoh ini terdapat suatu indikasi
kesamaan yang sangat mirip.

Al-Asy’ari, sebagai contoh pendiri aliran, setelah belajar
pada Mu’tazilah, kemudian merasa tidak puas, lantas
menyerangnya. Demikian juga halnya dengan al-Ghazali,
sebagai benteng pertahanan yang kokoh terhadap aliran
al-Asy’ari, setelah ia belajar filsafat, kemudian merasa
tidak puas, lalu menyerang pula. Al-Asy’ari memakai
ungkapan-ungkapan yang pedas sekali dalam menyerang
Mu’tazilah, dengan tuduhan sebagai golongan sesat,
penyeleweng, dan majusinya umat. Begitu pula al-Ghazali
menyerang para filsuf, dengan tuduhan sebagai golongan
bid’ah dan kufur. Al-Asy’ari melakukan sanggahan terhadap
Mu’tazilah setelah ia mengetahui benar akan aliran
Mu’tazilah itu. Setelah itu ia menulis sebuah buku yang
bernama Maqalat al-Islamiyyin yang berisikan kepercayaan
aliran-aliran. Dan untuk bantahannya ia menulis lagi sebuah
buku yang bernama al-Ibanah. Demikian juga halnya dengan
al-Ghazali, setelah mengkaji filsafat secara mendalam,
kemudian ia tulis pemikiran-pemikiran filsuf itu dalam
sebuah buku yang bernama Maqasid al-Falsafah. Setelah itu,
baru ia melakukan bantahan-bantahan terhadap para filsuf
dengan mengarang sebuah buku yang bernama Tahafut
al-Falasifah (kesalahan para filsuf).

Sebagaimana diketahui, pemegang janji rasional pada masa
al-Asy’ari adalah para tokoh Mu’tazilah, karena itu
sanggahannya tertuju langsung pada Mu’tazilah. Sementara
para filsuf yang dinilai sebagai pewaris pemikiran rasional
Mu’tazilah, maka al-Ghazali sebagai pembela ikhlas terhadap
aliran al-Asy’ari harus dengan tegas pula melakukan
sanggahan terhadap filsuf.

Pemikiran al-Asy’ari yang asli baru dapat diketahui setelah
ia menyatakan pemisahan dirinya dari Mu’tazilah dan
pengakuannya menganut paham aqidah salafiyah aliran Ahmad
bin Hambal. [17] Yaitu keimanan yang tidak didasari
penyelaman persoalan gaib yang mendalam. Di sisi lain, ia
hanya percaya pada akidah dengan dalil yang ditunjuk oleh
nash, dan dipahami secara tekstual sebagaimana yang tertulis
dalam Kitab suci dan sunnah Rasul. Fungsi akal hanyalah
sebagai saksi pembenar dan penjelas dalil-dalil al-Qur’an.
[18] Jadi akal terletak di belakang nash-nash agama yang
tidak boleh berdiri sendiri. Ia bukanlah hakim yang akan
mengadili. Spekulasi apapun terhadap segala sesuatu yang
sakral dianggap suatu bid’ah. Setiap dogma harus dipercayai
tanpa mengajukan pertanyaan bagaimana dan mengapa.

Sekarang permasalahannya ialah, sampai seberapa jauh
al-Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran Mu’tazilah dan
keikhlasannya terhadap ajaran Salafiyah. Untuk mengetahui
ajaran-ajaran al-Asy’ari, kita dapat melihat pada
kitab-kitab yang ditulisnya, terutama:

1.Maqalat al-Islamiyyin, merupakan karangan yang pertama
dalam soal-soal kepercayaan Islam. Buku ini menjadi sumber
yang penting, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya.
Buku ini terdiri -dari tiga bagian:

a.Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam
b.Aqidah aliran Ashhab al-Hadits dan Ahl al-Sunnah, dan
c.Beberapa persoalan ilmu Kalam.

2.Al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah, berisikan uraian tentang
kepercayaan Ahl al-Sunnah dan pernyataan penghargaannya
terhadap persoalan-persoalan yang banyak dan penting. Dalam
buku ini ia menyerang dengan pedas aliran Mu’tazilah.

3.Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala ahl al-Zaigh wa al-bida’,
berisikan sorotan terhadap lawan-lawannya dalam beberapa
persoalan ilmu Kalam.

Para ahli mempertanyakan tentang perbedaan kandungan yang
terdapat pada kedua kitabnya al-Ibanah dan al-Luma’. Yang
pertama, peranan naql lebih tinggi ketimbang akal. Dalam
arti, Salafiahnya lebih dominan dibandingkan Mu’tazilah.
Sedangkan buku kedua (al-Luma’), peranan akal lebih tinggi
dalam memahami nash-nash. Di sini terlihat adanya anjuran
kembali untuk memahami nash-nash agama dengan metode ilmu
kalam. [19]

Perbedaan ini bisa terjadi, karena al-Asy’ari pada kitabnya
al-Ibanah ditulisnya langsung setelah pernyataannya keluar
dari Mu’tazilah. Jadi, secara psikologis, bukunya dalam
rangka menonjolkan sikap loyalnya terhadap kaum Salafi,
sebagai rekan barunya. Dan sikap kebenciannya terhadap
Mu’tazilah karena penilaiannya sebagai musuh yang sedang
dihadapinya, meski dulu teman akrabnya. Sebenarnya, ini
dapat dipahami. Sebab, seseorang yang selama ini dijadikan
teman baik, oleh karena suatu hal berubah menjadi musuh,
maka ia akan memperlihatkan sikap bencinya terhadap musuh
itu. Dan sebaliknya akan memperlihatkan sikap loyalnya
terhadap teman baru. Karena itu, kitab al-Ibanah
mencerminkan tingkat kesunyian secara penuh. Sebaliknya,
menampakkan sikap bencinya terhadap Mu’tazilah lebih nyata.
Karena itu, kitab al-Ibanah menurut para ahli ditulis
langsung setelah al-Asy’ari meninggalkan faham Mu’tazilah.

Lain halnya dengan kitabnya al-Luma’, yang ditulis setelah
kitab al-Ibanah. Ia sudah mesti mengambil sikap yang jelas.
Maka di sini terlihat kembali kajian keagamaan al-Asy’ari
dengan dalil-dalil rasional dan membangun ilmu kalamnya
sendiri. Dengan demikian, ketika menulis kitab al-Luma’,
argumentasi rasional al-Asy’ari menonjol kembali dalam
memahami nash-nash agama dan terlihat interpretasi
metaforisnya (ta’wil). Kecenderungannya pada metode kaum
Mu’tazilah inilah yang menyebabkan kaum Hambali menolak
paham teologi al-Asy’ari.

Hal itu memperlihatkan gambaran yang agak mirip dengan sikap
al-Ghazali yang mencoba menyerang para filsuf, tetapi
kenyataannya ia tetap mempergunakan metode falsafah dalam
kajian keislaman, khususnya logika Aristoteles. Inilah yang
dikatakan oleh Ibn Taimiyyah bahwa al-Ghazali telah masuk ke
dalam kandang falsafah, kemudian berusaha keluar, dan
berputar-putar mencari pintunya, tetapi sudah tidak berdaya
lagi untuk keluar.

Sebagai penentang Mu’tazilah, sudah barang tentu al-Asy’ari
berpendapat, bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mustahil Tuhan
sendiri merupakan pengetahuan (‘Ilm). Yang benar, Tuhan itu
mengetahui (Alim). Tuhan mengetahui dengan pengetahuanNya,
bukanlah dengan Zat-Nya. Demikian pula bukan dengan
sifat-sifat seperti, sifat hidup, berkuasa, mendengar dan
melihat. [20]

Disini terlihat, al-Asy’ari menetapkan sifat kepada Tuhan
seperti halnya kaum Salafi. Namun cara penafsirannya cukup
berbeda. Kaum Salafi hanya menetapkan sifat kepada Allah,
sebagaimana teks ayat, tanpa melakukan pembahasan mendalam.
Mereka hanya menerima arti dengan jalan kepercayaan, bahwa
sifat-sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk-Nya. Begitu
hati-hatinya mereka dalam menjaga persamaan Allah dengan
makhluk-Nya, sehingga mereka mengatakan, “Siapa yang
tergerak tangannya, lalu ketika membaca ayat yang berbunyi
“Aku (Allah) ciptakan dengan tangan-Ku,” lalu ia langsung
mengatakan, wajib dipotong tangannya.” [21]

Lain halnya dengan al-Asy’ari, baginya arti sifat tidak jauh
berbeda dengan pengertian sifat bagi Muitazilah. Bagi
al-Asy’ari, sifat berada pada Zat, tetapi sifat bukan Zat,
dan bukan pula lain dari Zat. Ungkapan al-Asy’ari yang
seperti ini, kata Dr. Ibrahim Madkour, tidak terlepas dari
paradoks. [22]

Bagi Mu’tazilah, sifat sama dengan Zat. Sifat tidak
mempunyai pengertian yang sebenarnya. Jika dikatakan, yang
mengetahui (‘Alim), maka artinya menetapkan pengetahuan
(‘Ilm) bagi Allah, dan yang mengetahui itu adalah Zat-Nya
sendiri. Dalam hal ini, menetapkan sifat hanya sekedar untuk
memahami bahwa Allah bukanlah jahil. Seperti juga mengatakan
yang berkuasa (qadir) adalah menetapkan kekuasaan (qudrah)
bagi Allah. Kekuasaan itu adalah Zat-Nya sendiri. Artinya,
menafsirkan kelemahan Allah. [23]

Masih berbicara tentang tauhid, pemikiran al-Asy’ari yang
lain ialah, bahwa Tuhan dapat dilihat di akhirat. Untuk itu,
al-Asy’ari membawakan argumen rasio dan nash. Yang tidak
dapat dilihat, kata al-Asy’ari, hanyalah yang tak punya
wujud. Setiap wujud mesti dapat dilihat, Tuhan berwujud, dan
oleh karena itu dapat dilihat. [24]

Argumen al-Qur’an yang dimajukannya antara lain,
“Wajah-wajah yang ketika itu berseri-seri memandang kepada
Allah” (QS. al-Qiyamah: 22-23).

Menurut al-Asy’ari kata nazirah dalam ayat itu tak bisa
berarti memikirkan seperti pendapat Mu’tazilah, karena
akhirat bukanlah tempat berfikir; juga tak bisa berarti
menunggu, karena wajah atau muka tidak dapat menunggu, yang
menunggu adalah manusia. Lagi pula, di sorga tidak ada
penungguan, karena menunggu mengandung arti dan membuat
kejengkelan dan kebosanan. Oleh karena itu, nazirah mesti
berarti melihat dengan mata kepala. [25]

Sungguhpun al-Asy’ari berpendapat, bahwa orang-orang mukmin
nanti dapat melihat Tuhan di Akhirat dengan mata kepala,
namun pemahamannya bukanlah bersifat harfiyah. Tetapi
menghendaki suatu penafsiran lagi yaitu, bahwa melihat Tuhan
itu tidak mesti mempunyai tempat dan terarah pada tujuan,
tetapi hanya merupakan suatu penglihatan pengetahuan dan
kesadaran, dengan mempergunakan mata, yang belum terfikirkan
bagi kita sekarang, bagaimana bentuk mata itu nantinya. [26]

Namun demikian, untuk dapat menerima, bahwa Tuhan dapat
dilihat nanti di akhirat, maka al-Asy’ari memerlukan pula
untuk menafsirkan atau menta’wilkan ayat yang berikut ini:

Artinya: “Penglihatan tak dapat menangkap-Nya tetapi ia
dapat mengangkat penglihatannya.” (al-An’am: 103) Ayat
tersebut di atas diartikan oleh al-Asy’ari, bahwa yang
dimaksud tidak dapat melihat Tuhan adalah di dunia ini, dan
bukan di akhirat. Dan juga diartikan tidak dapat melihat
Tuhan di akhirat bagi orang kafir. [27]

Apa yang telah kita ungkapkan di atas, adalah merupakan
sebagian dari pemikiran al-Asy’ari tentang tauhid. Sekarang
kita berpindah kepada pemikirannya tentang keadilan. Sengaja
dirangkaikan keadilan dengan tauhid, karena pembahasan
tentang tauhid hanyalah merupakan filsafat ketuhanan semata,
sedangkan keadilan adalah merupakan filsafat hubungan khaliq
dengan makhluknya.

Al-Asy’ari, seperti Mu’tazilah, meyakini bahwa Allah adalah
Maha Adil. Tetapi seperti kaum Salafi, ia menolak bahwa kita
mewajibkan sesuatu kepada Allah. Dan juga menolak faham
al-Shalah wa al-Ashlah Mu’tazilah, artinya, Tuhan wajib
mewujudkan yang baik, bahkan yang terbaik untuk kemaslahatan
manusia. Allah, kata al-Asy’ari, bebas memperbuat apa yang
kehendaki-Nya. [28]

Al-Asy’ari meninjau keadilan Tuhan dari sudut kekuasaan dan
kehendak mutlak Tuhan. Keadilan diartikannya “menempatkan
sesuatu pada tempat yang sebenarnya,” yaitu seseorang
mempunyai kekuasaan mutlak atas harta yang dimilikinya serta
mempergunakannya sesuai dengan pengetahuan pemilik. [29]
Tidak dapat dikatakan salah, kata al-Asy’ari, kalau Tuhan
memasukkan seluruh umat manusia ke dalam sorga, termasuk
orang-orang kafir, dan juga tidak dapat dikatakan Tuhan
bersifat dzalim, jika Ia memasukkan seluruh manusia ke dalam
neraka. [30] Karena perbuatan salah dan tidak adil menurut
pendapatnya adalah perbuatan yang melanggar hukum, dan
karena di atas Tuhan tidak ada undang-undang atau hukum,
maka perbuatan Tuhan tidak pernah bertentangan dengan hukum.
[31]

Oleh karena itu, Tuhan sebagai pemilik yang berkuasa mutlak,
dapat berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya terhadap
makhluk-Nya. Jika Tuhan menyakiti anak-anak kecil di hari
kiamat, menjatuhkan hukuman bagi orang mukmim, atau
memasukkan orang kafir ke dalam sorga, maka Tuhan tidaklah
berbuat salah dan dzalim. Tuhan masih tetap bersifat adil.
[32] Upah yang diberikan Tuhan hanyalah merupakan rahmat dan
hukuman tetap merupakan keadilan Tuhan.

Paham keadilan al-Asy’ari ini mirip dengan paham sebagian
umat yang merestui seorang raja yang absolut diktator. Sang
raja yang absolut diktator itu, memiliki hal penuh untuk
membunuh atau menghidupkan rakyatnya. Kemudian digambarkan,
bahwa sang raja itu diatas dari undang-undang dan hukum,
dalam arti, dia tidak perlu patuh dan tunduk kepada
undang-undang dan hukum. Karena undang-undang dan hukum itu
adalah bikinannya sendiri.

Dari asumsi itu, kemudian al-Asy’ari menganalogikan bahwa
Allah adalah memiliki kemerdekaan mutlak. Dia memperbuat
sekehendak-Nya terhadap milik-Nya. Maka tidak seorangpun
yang dapat mewajibkan sesuatu kepada Allah mengenai
kemaslahatan umat manusia, baik di dunia ini, maupun di
akhirat. [33] Kalau Allah menganiaya seluruh umat manusia,
baik di dunia atau di akhirat, maka tidak seorangpun yang
akan sanggup mempersalahkan dan menuntut-Nya. Persis seperti
seorang raja yang absolut diktator, kalau ia menganiaya
seluruh rakyatnya, maka tak seorangpun yang sanggup
menentangnya. Karena manusia, bagi al-Asy’ari, selalu
digambarkan sebagai seorang yang lemah, tidak mempunyai daya
dan kekuatan apa-apa disaat berhadapan dengan kekuasaan
absolut mutlak. [34] Karena manusia dipandang lemah, maka
paham al-Asy’ari dalam hal ini lebih dekat kepada faham
Jabariyah (fatalisme) dari faham Qadariyah (Free Will).
Manusia dalam kelemahannya banyak tergantung kepada kehendak
dan kekuasaan Tuhan. Untuk menggambarkan hubungan perbuatan
dengan kemauan dan kekuasaan mutlak Tuhan al-Asyari memakai
istilah al-kasb (acquisition, perolehan). Al-Kasb dapat
diartikan sebagai suatu perbuatan yang timbul dari manusia
dengan perantaraan daya yang diciptakan oleh Allah. Tentang
faham kasb ini, al-Asy’ari memberi penjelasan yang sulit
ditangkap. Di satu pihak ia ingin melukiskan peran manusia
dalam perbuatannya. Namun dalam penjelasannya tertangkap
bahwa kasb itu pada hakekatnya adalah ciptaan Tuhan. Jadi,
dalam teori kasb manusia tidak mempunyai pengaruh efektif
dalam perbuatannya. [35] Kasb, kata al-Asy’ari, adalah
sesuatu yang timbul dari yang berbuat (al-muhtasib) dengan
perantaraan daya yang diciptakan. [36]

Melihat kepada pengertian, “sesuatu yang timbul dari yang
berbuat” mengandung atas perbuatannya. Tetapi keterangan
bahwa “kasb itu adalah ciptaan Tuhan” menghilangkan arti
keaktifan itu, sehingga akhirnya manusia bersifat pasif
dalam perbuatan-perbuatannya.

Argumen yang dimajukan oleh al-Asy’ari tentang diciptakannya
kasb oleh Tuhan adalah ayat:

“Allah menciptakan kamu dan perbuatan-perbuatan kamu.” (QS.
al-Shaffat 37:96)

Jadi dalam paham al-Asy’ari, perbuatan-perbuatan manusia
adalah diciptakan Tuhan. [37] Dan tidak ada pembuat (agent)
bagi kasb kecuali Allah. [38] Dengan perkataan lain, yang
mewujudkan kasb atau perbuatan manusia, menurut al-Asy’ari,
sebenarnya adalah Tuhan sendiri.

Bahwa perbuatan manusia sebenarnya adalah perbuatan Tuhan,
dapat dilihat dari pendapat al-Asy’ari tentang kehendak dan
daya yang menyebabkan perbuatan menjadi wujud. Al-Asy’ari
menegaskan bahwa Tuhan menghendaki segala apa yang mungkin
dikehendaki. Tidak satupun didalam ini terwujud lepas dari
kekuasaan dan kehendak Tuhan. Jika Tuhan menghendaki
sesuatu, ia pasti ada, dan jika Tuhan tidak menghendakinya
niscaya ia tiada. [39] Firman Tuhan:

“Kamu tidak menghendaki kecuali Allah menghendaki” (QS.
al-Insan 76:30).

Ayat ini diartikan oleh al-Asy’ari bahwa manusia tak bisa
menghendaki sesuatu, kecuali jika Allah menghendaki manusia
supaya menghendaki sesuatu itu. [40] Ini mengandung arti
bahwa kehendak manusia adalah satu dengan kehendak Tuhan,
dan kehendak yang ada dalam diri manusia, sebenarnya tidak
lain dari kehendak Tuhan.

Dalam teori kasb, untuk terwujudnya suatu perbuatan dalam
perbuatan manusia, terdapat dua perbuatan, yaitu perbuatan
Tuhan dan perbuatah manusia. Perbuatan Tuhan adalah hakiki
dan perbuatan manusia adalah majazi (sebagai lambang).
Al-Baghdadi mencoba menjelaskan kepada kita sebagai berikut.
Tuhan dan manusia dalam suatu perbuatan adalah seperti dua
orang yang mengangkat batu b esar ; yang seorang mampu
mengangkatnya sendirian, sedangkan yang seorang lagi tidak
mampu. Kalau kedua orang tersebut sama-sama mengangkat batu
besar itu, maka terangkatnya batu itu adalah oleh yang kuat
tadi, namun tidak berarti bahwa orang yang tidak sanggup itu
tidak turut mengangkat. Demikian pulalah perbuatan manusia.
Perbuatan pada hakekatnya terjadi dengan perantaraannya daya
Tuhan, tetapi manusia dalam pada itu tidak kehilangan sifat
sebagai pembuat. [43]

Buat sementara dapat kita simpulkan bahwa dalam paham
al-Asy’ari, untuk terwujudnya perbuatan perlu ada dua daya,
daya Tuhan dan daya manusia. Tetapi daya yang berpengaruh
dan efektif pada akhirnya dalam perwujudan perbuatan ialah
daya Tuhan, sedangkan daya manusia tidaklah efektif kalau
tidak disokong oleh daya Tuhan.

Karena manusia dalam teori kasb al-Asy’ari tidak mempunyai
pengaruh efektif dalam perbuatannya, maka banyak para ahli
menilai bahwa kasb adalah sebagai jabariyah moderat, bahkan
Ibn Hazm (w. 456 H) dan Ibn Taimiyyah (w. 728 H) menilai,
sebagai jabariyah murni. [44] Harun Nasution juga
berpendapat demikian. Alasannya karena menurut al-Asy’ari
kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya
Tuhan, dan perbuatan itu sendiri adalah perbuatan Tuhan dan
bukan perbuatan manusia. [46]

Ibn Taimiyyah menilai al-Asy’ari telah gagal dengan konsep
kasb-nya yang hendak menengahi antara Qaddariyyah dengan
Jabbariyah. Sebab, menurut Ibn Taimiyyah, Kasb-nya
al-Asy’ari itu telah membawa para pengikutnya berfaham
Jabariyah murni, yang mengingkari sama sekali adanya
kemampuan pada manusia untuk berbuat. Memang, seperti yang
sudah kita uraikan di atas, al-Asy’ari menegaskan bahwa kasb
manusia itu tidak mempunyai efek nyata dalam mewujudkan
perbuatan manusia itu. Oleh karena itu, Ibn Taimiyyah
menilai konsep kasb yang ditetapkan al-Asy’ari itu tidak
masuk akal. [46]

PENGARUH KALAM AL-ASY’ARI

Seperti telah disebutkan di atas, bahwa dalam faham teologi
al-Asy’ari manusia selalu digambarkan sebagai seorang yang
lemah, yang tidak mempunyai daya dan kekuatan apa-apa disaat
berhadapan dengan kekuasaan yang absolut, apalagi berhadapan
dengan kekuasaan mutlak Allah.

Teologi ini timbul merupakan refleksi dari status sosial dan
kultural masyarakat pada masanya, yaitu keadaan masyarakat
Islam pada abad ke-9 M. [47] dimana raja-raja selalu
berkuasa dengan diktator dan mempunyai hak penuh untuk
menghukum siapa saja yang diinginkannya, sang raja tidak
perlu patuh dan tunduk kepada undang-undang dan hukum. Sebab
undang-undang dan hukum itu adalah bikinannya sendiri.

Karena teologi al-Asy’ari didirikan atas kerangka landasan
yang menganggap bahwa akal manusia mempunyai daya yang
lemah, maka disinilah letak kekuatan teologi itu, yaitu ia
dengan mudah dapat diterima oleh umumnya umat Islam yang
bersifat sederhana dalam pemikiran.

Kunci keberhasilan teologi al-Asy’ari ialah karena sejak
awal berdirinya ia telah berpihak kepada awwamnya – umat
Islam, yang jumlahnya selalu mayoritas di dunia Sunni.
Mereka adalah orang-orang yang tidak setuju dengan
ajaran-ajaran Mu’tazilah.

Sejarah menunjukkan, bahwa aliran al-Asy’ari telah berhasil
menarik rakyat banyak di bawah naungannya berkat campur
tangan khalifah al-Mutawakkil, ketika yang terakhir ini
membatalkan aliran Mu’tazilah sebagai paham resmi pada waktu
itu. Kemudian setelah wafatnya al-Asy’ari pada tahun 935M.
Ajarannya dikembangkan oleh para pengikutnya, antara lain,
al-Baqillani, al-Juwaini dan al-Ghazali. Akhirnya, aliran
itu mengalami kemajuan besar sekali, sehingga mayoritas umat
Islam menganutnya sampai detik ini.

Salah satu faktor penting bagi tersebarnya teologi
al-Asy’ariyah di dunia Islam adalah sifat akomodatifnya
terhadap Dinasti yang berkuasa, sebagai konsekuensi logis
dari paham manusia lemah dan patuh kepada penguasa. Dengan
demikian, ia sering mendapat dukungan, bahkan menjadi aliran
dari Dinasti yang berkuasa. Sungguhpun demikian, paham
al-Asy’ari ini juga telah membawa dampak dan pengaruh
negatif. Ia telah menghilangkan kesadaran pemikiran
rasionalisme di dunia Islam. Hilangnya pemikiran
rasionalisme tersebut telah menyebabkan kemunduran umat
Islam selama berabad-abad.

Karena akal manusia, menurut al-Asy’ari, mempunyai daya yang
lemah, akibatnya, menjadikan penganutnya kurang mempunyai
ruang gerak, karena terikat tidak saja pada dogma-dogma,
tetapi juga pada ayat-ayat yang mengandung arti dzanni,
yaitu ayat-ayat yang sebenarnya boleh mengandung arti lain
dari arti letterlek, tetapi mereka artikan secara letterlek.
Dengan demikian para penganutnya teologi ini sukar dapat
mengikuti dan mentolerir perubahan dan perkembangan yang
terjadi dalam masyarakat modern. Selain itu, ia dapat
merupakan salah satu dari faktor-faktor yang memperlambat
kemajuan dan pembangunan. Bahkan, lebih tegas lagi, Sayeed
Ameer Ali mengatakan bahwa kemerosotan bangsa-bangsa Islam
sekarang ini salah satu sebabnya karena formalisme
al-Asy’ari. [49]

Paham bahwa semua peristiwa yang terjadi, termasuk perbuatan
manusia, adalah atas kehendak Tuhan menghilangkan makna
pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya, dan
lebih dari itu, menjadikan manusia-manusia yang tidak mau
bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahannya. Peristiwa
terowongan Mina adalah salah satu bukti nyata dari faham
Fatalisme. Dengan dalih peristiwa itu terjadi atas kehendak
Tuhan semata, sehingga tidak ada yang mau bertanggungjawab
atasnya.

Paham fatalisme yang berkembang dalam masyarakat, seperti
rezeki, jodoh dan maut adalah di tangan Tuhan, menjadikan
manusia-manusia yang enggan merubah nasibnya sendiri dan
merubah struktur masyarakat. Dan ia selalu mempersalahkan
takdir atas kemiskinan, kebodohan dan kematian massal yang
terjadi.

Untuk menutup tulisan ini, suatu kesimpulan dapat diambil
bahwa faham teologi al-Asy’ari mempunyai basis yang kuat
pada suatu masyarakat yang bersifat sederhana dalam cara
hidup dan berpikir, serta jauh dari pengetahuan. Tetapi
teologi ini akan menjadi lemah disaat berhadapan
perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan teknologi baru.

CATATAN

1.Ibrahim Madkour, Fi al-Falsafah al-Islamiyyah II, Mesir,
tahun 1976, h. 46

2.Ali Ibn Ismail Ibn Abi Basyar Ishak Ibn Salim Ibn Ismail
Ibn Abdullah Ibn Musa Ibn Bilal Ibn Abi Burdah Ibn Musa
al-Asy’ari (Lihat Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-lbanah ‘an
Ushul al-Dinyanah, Ed, Dr. Fauqiyah Husein Mahmud, Mesir,
1977, h. 9 (Selanjutnya disebut, Fauqiyah, al-lbanah). Lihat
juga Abu al-Hasan al-Asy’ari, maqalat al-Islamiyyin wa
Ikhtilaf al-Mushallin, ed., M. Mahyudin Abdul Hamid, Mesir,
1969, h. 3

3.Abu Musa al-Asy’ari adalah salah seorang sahabat
Rasul-Allah saw. dan salah seorang hakim yang mewakili Ali
Ibn Abi Thalib waktu terjadinya arbitrase antara Ali dan
Muawiyah, lihat Hamudah Guramah, Abu al-Hasan al-Asy’ari,
Mesir, 1973 h. 60

4.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 10

5.Terdapat beberapa variasi pendapat dalam menetapkan tahun
lahirnya: 270 H./885 M. Ibn Atsir, dalam al-Lubab I. h. 52
270 H./881 M. Al-Makrizi, dalam al-Khutbath III, h. 303
(dikutip dari Fanqiyah, Ibid., h. 13 Penulis lebih cenderung
menetapkan sejarah lahirnya pada ketika memisahkan diri dari
Mu’tazilah adalah pada tahun 300 H. Sedangkan usianya waktu
itu sudah umum diketahui empat puluh tahun. (lihat M. Ali
Abu Rayyan, Tarikh al-Fikri al-Falsafi Fi al-lslam,
Iskandariyah, 1980, h. 310

6.Hamuddh, Al-Asy’ari, hal. 60

7.Fauqiyah, Al-Ibanah, hal. 29

8.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982 h.
36

9.Louis Gardet & J. Anawati, Falsafat al-Fikrial-Dini Bain
al-Islam wa al-Masihiyah I (terj.) Bairut, 1976, h 93

10.Zuhdi Jar Allah, Al-Mu’tazilah. Bairut, 1974, h. 102

11.Lihat Rayyan, Tarikh, h. 312 Gardet & Anawati, Falsafah,
h. 94. Madkour, Fi al-Falsafah, h. 116, Subhi Fi Ilm
al-Kalam II, h. 73, Dan Hamudah, al-Asy’ari, h.65

12.A. Mahmud Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, 1982, h.
159.

13.Bahwa manusia harus bertanggung jawab atas kehendak dan
perbuatannya sendiri menurut pendapat Mu’tazilah, dapat
dilihat pada, Mahmud Kasim, Dirasat Fi al-Falsafah
al-Islamiyyah, Mesir, 1973 h. 164-165

14.Fauqiyah, Al-Ibanah, h. 31

15.Ibid., h. 34

16.Ibid., dan lihat juga Subhi, Fi Ilm al-Kalam II,
Iskandiyah, h. 41

17.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Al-Ibanah’an Ushul al-Dinayah,
Mesir,1397 H. H.8

18.Faiqiyah, Al-Ibanah, h. 35

19.Hasan Mahmud al-Asy’ari, dalam, Dirasat Arabiyah wa
Islamiyah I, Dar el Ulum, Kairo, 1985, h. 38

20.Abu al-Hasan al-Asy’ari, Kitab al-Luma’ Fi al-Rad’ala ahl
al-Zaigh wa al-Bida’, Kairo, 1965, h. 30

21.Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal I, Ed. Abd. Aziz
M.M. Wakil, Kairo, 1968, h. 104

22.Madkour, Fi al-Fasafah II, h. 50

23.Subhi, Fi Ilm al-Kalam II, Iskandiyah, h. 51

24.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 17. Lihat juga, Al-Syahrastani,
Al-Mihal I, h. 100

25.Al-Asy’ari, Ibid, h. 13

26.Al-Syahrastani, Al-Milal I, h. 100. Lihat juga Madkour,

27.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 16

28.Al-Sahrastani, Al-Milal I, h. 102, 113

29.Ibid., h. 101

30.Ibid

31.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 71

32.Ibid., lihat juga Mahmud Kasim, Dirasat, h. 167

33.Mahmud Kasim, h. 168

34.Ibid.

35.Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyah,
Kairo, tt., h.205

36.Al-Asy’ari, al-Luma’, h. 76

37.Ibid., h. 70

38.Ibid., h. 72

39.Al-Asy’ari, Al-Ibanah, h. 51

40.Al-Asy’ari, Al-Luma’, h. 57

41.Ibid, h. 41

42.Abd al-Rahman Badawi, Madzahib al-Islamiyin, Bairut,
1971, h. 562

43.Abd al-Qahir al-Baghdadi, Kitab Ushul al Din, Bairut,
1981, h. 133-134

44.Abu Zahrah, Tarikh al-Madzahib, h. 205

45.Harun Nasution, Teologi Islam, UI-Press, Jakarta, 1983 h.
112

46.Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah II, h. 16-17

47.Mahmud Kasim, Dirasat, h. 34

48.Sayeed Ameer Alim, The Spirit Of Islam, Delhi, tt., h.
472 47

.

Syi’ah  menolak  ajaran Abu Hasan Al Asy’ari  yang menyatakan Allah berada   di arsy, menolak  ajaran bahwa Allah  punya tangan – wajah – mata yang zhahir

Jika anda melihat sendiri dalam Sahih Bukhari, banyak hadis  palsu  Nabi s.a.w yang menyebut sifat Tangan, kaki, turun, wajah, dan sebagainya tanpa ditakwil kepada makna lain. Kami syi’ah  menolak  ajaran  menzahirkan  tangan-kaki-wajah Allah  SWT

قَالَ مُعَاوِيَةُ بْنُ حَكَمُ السُّـلَمِى: وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ اُحُدٍوَالْجُوَانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ . فَاِذَا بِالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بَشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَاَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ . اَسَفَ كَمَا يَاْسـفُوْنَ . لَكِنِّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَاَتَيْتُ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَـلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ . قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ اَفَلاَاَعْتِقُهَا؟ قَالَ: اِئْتِنِيْ بِهَا. فَقَالَ لَهَا: اَيْنَ اللهُ ؟ قَالَتْ فِى السَّـمَآءِ . قَالَ: مَنْ اَنَا؟ قَالَتْ اَنْتَ رَسُـوْلُ اللهِ. قَالَ : اَعْتِقْهَا فَاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ

Berkata Muawiyah bin Hakam As-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pergunungan Uhud dan Juwaiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Kerananya wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku. Aku berkata: Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya? Jawab Rasulullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. Di mana Allah? Dijawabnya: Di langit. Rasulullah bertanya lagi: Siapakah aku? Dijawabnya: Engkau Rasulullah. Maka baginda bersabda: Merdekakanlah wanita ini, kerana dia adalah seorang mukminah”. (H/R Muslim dan Abi Daud)

Menurut  syi’ah, hadis  ini palsu !!! Allah  tidak bertempat  dilangit secara zahir, yang  benar  adalah  bahwa pusat  pemerintahan Allah  SWT  ada dilangit  dikendalikan  malaikat

manhaj Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah sangat berbeda dengam kaum Asy’ariyyah (Asyaa’irah). Beliau telah menetapkan sifat-sifat Allah ta’ala yang terdapat di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahiihah sebagaimana zhahirnya. Beliau rahimahullah menetapkan sifat istiwaa’, tangan, wajah, turun, dan yang lainnya. Bahkan yang menunjukkan manhaj beliau yang bertolak belakang dengan kaum Asy’ariyyah adalah pengingkaran beliau tentang ta’wil istiwaa’ dengan istilaa’ (menguasai) atau tangan dengan nikmat.

Al-Imam Al-Asy’ariy rahimahullah menyebutkan dalam kitabnya di atas (yaitu : Maqaalatul-Islaamiyyiin) pada bab : ‘Apakah Allah berada di suatu tempat tertentu, atau tidak berada di suatu tempat, atau berada di setiap tempat ?’ ; maka beliau berkata :

إختلفوا في ذلك على سبع عشرة مقالة منها قال أهل السنة وأصحاب الحديث إنه ليس بجسم ولا يشبه الأشياء وإنه على العرش كما قال : (الرحمن على العرش استوى). ولا نتقدم بين يدي الله بالقول، بل نقول استوى بلا كيف وإن له يدين كما قال : (خلقت بيدي) وإنه ينزل إلى سماء الدنيا كما جاء في الحديث.

ثم قال : وقالت المعتزلة استوى على عرشه بمعنى إستولى وتأولوا اليد بمعنى النعمة وقوله تجري بأعيننا أي بعلمنا

“Mereka (para ulama) berbeda pendapat tentang permasalahan tersebut menjadi tujuh belas pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut adalah pendapat Ahlus-Sunnah dan Ashhaabul-Hadiits yang mengatakan bahwa Allah tidak bersifat mempunyai badan (seperti makhluk), dan tidak pula Dia menyerupai sesuatupun (dari makhluk-Nya). Dan bahwasannya Dia berada di atas ‘Arsy sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Kami tidak mendahului Allah dengan satu perkataanpun tentangnya, namun kami mengatakan bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) tanpa menanyakan bagaimananya. Dan bahwasannya Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Kepada yang telah Kuciptakan dengan kedua tangan-Ku’ (QS. Shaad : 75). Dan bahwasannya Allah turun ke langit dunia sebagaimana yang terdapat dalam hadits”.

Kemudian beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata : “Mu’tazillah berkata : ‘Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya’ ; dengan makna menguasai (istilaa’). Dan mereka menta’wilkan pengertian tangan (Allah) dengan nikmat. (Dan juga menakwilkan) firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar ; 14), yaitu : dengan ilmu Kami”.[4]

Saya selaku pengikut syi’ah menganggap Abu Hasan Al Asy’ari adalah seorang ahlul kalam yang merasionalkan akidah Imam Ahmad bin Hambal, dengan kata lain Asy’ari adalah penengah antara paham mu’tazilah dan paham ahlul hadis..

Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya.

PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH

  1. Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:

Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).

Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).

Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah[2] (320-324/330 H).

[2] Ithâfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn, al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurrahmân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.

Adapun setelah meninggalkan mu’tazilah maka dia tidak menyatakan ikut Imam Ahmad tapi langsung mengikuti ibnu Kullab, al-Muhasibi dan al-Qalanisi seperti yang dikatakan oleh Khaldun,

Semua orang itu ditahdzir oleh Imam Ahmad dan lainnya karena kalamnya. Dan kitab yang dihasilkan waktu itu adalah kitab seperti al-Luma’ fi raddi ala ahl az-Zaighi wal bida’. Dan itu adalah kitab yang pertama kali dikarang pasca mu’tazilah seperti dikutip oleh penulis dari Ibn Asakir

dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya.

kembali ke persoalan: tujuan dari pembahasan itu adalah membuktikan adanya 3 fase pemikiran imam asy’ari rahimahullah: i’tizal, keluar dari i’tizal kemudian intisab kepada imam Ahmad rahimahullah. Dan ini diucapkan oleh ibnu katsir dan dikutib oleh az-zabidi. Sudah jelas?

Bukhari adalah Imam al-dunya pada zamannya dan pembawa bendera hadits. Ini tidak mengherankan sebab ia adalah murid imam Ahmad ra, ibn Ruhawaih, Abu Nuaim, Abu Ubaid al-Qasim ibn Salam dan para ulama salaf.

Siapa yang merenungkan kitab Shahihnya dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.

Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad, warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil, ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara. Sifat ini secara sepakat diingkari oleh ibn Kullab dan Asyairah karena dianggap tasybih menurut kaidah mereka bahwa kalamullah itu al-kalam an-Nafsi. Metode Bukhari dalam kitab Tauhid dan Khalq ‘af’al al-Ibad nyata membatalkan klaim kullabiyyahnya. Termasuk yang menguatkan adalah tidak satupun imam bukhari menyebut nama ibn Kullab dalam kitab-kitabnya, juga tidak ucapan al-Muhasibi, al-Qalanisi, al-Karabisi dan lainnya, tidak dalam shahihnya, maupun tawarikhnya dan kitab-kitabnya yang lain

Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah , beliau
berkata;

Dan berpendapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal–semoga Allah mencerahkan wajahnya,meninggikan derajatnya, dan memberi balasan yang melimpah. Siapa yang menyelisihi perkataannya dia akan menyimpang, karena dia adalah imam yang mulia, pemimpin yang sempurna yang dengan perantaranya Allah menjelaskan kebenaran, menumpas kesesatan, membuat minhaj ini menjadi gamblang, membarantas bid’ah–bid’ah rekayasa para ahli bid’ah, penyelewangan orang yang menyimpang, dan kegamangan orang yang ragu– ragu. Semoga Allah merohmatinya’.

.
Ringkas perkataan kami adalah kami beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab– kitab-Nya, para Rasul-nya dan apa yang dibawa oleh mereka dari sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah, kami tidak akan menolak sedikitpun, sesunguhnya Allah adalah Ilah yang Esa, tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makluk, tidak membutuhkan anak dan istri, dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya, Allah mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar, Surga dan Neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur, dan Allah bersemayam di atas Arsy, seperti firman-nya.
الرَّحْمَانُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَاى
(Thoha ayat 5)

Allah mempunyai dua tangan, tapi tidak boleh di takyif, seperti firman-Nya: خَلَقْتُ بِيَدَيً (QS. Shod: 75) dan Firman-Nya:
بَلْ يََدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ (QS. Al Maidah: 64)

Allah mempunyai dua mata tanpa ditakyif, seperti firmanya (QS. Al Qomar: 14)

Allah bersemayam di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana firman Allah :

الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya :
“Allah itu bersemayam di atas ‘arsy” (QS. Thaha : 5)
Dan bahwasanya Allah itu memiliki wajah sebagaimana telah berfirman :

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبُّكَ ذُوْ الجَلاَل وَالإِكْرَامِ

Artinya :
“Kekallah wajah Allah yang memiliki keagungan” (QS. Ar-Rahman : 27).
Bahwasanya Allah memiliki dua tangan (tanpa membahas bagaimana tangan itu), sebagaimana firman Allah :
…لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Ketika Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75).
…بَلْ يَدَاهُ مَبْسوطَتَنِ

Artinya :
“Bahkan kedua tangan Allah iu terbuka” (QS. Al-Maidah : 64).
.

Dan bahwasanya Allah memiliki dua mata tanpa membahas bagaimana mata itu, sebagaimana firman-Nya: …تَجْرَيْ بِأَعْيُنِنَا
Artinya : “Berjalan dengan mata kami ” (QS Al-Qomar :14).

Kita mengatakan bahwa imam yang mulia setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam itu adalah Abu Bakar as-Shiddiiq radliallahu ‘anhu. Dan bahwasanya melalui dia, Allah telah menjayakan dan mendhahirkan Islam terhadap orang-orang murtad dan kaum muslimin menjadikannya dia sebagai imamah pertama sebagaimana Rasulullah memperlakukannya demikian, dan mereka semua menamakannya sebagai khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

.
Kemudian Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu, kemudian Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu kemudian Ali bin Abi Thalib.

Maka mereka itulah imam setelah Rasulullah saw dan kekhilafahan mereka adalah khilafah kenabian (khilafah nubuwwah)

.
Kita menyaksikan kepastian masuk surga bagi sepuluh sahabat yang dijamin demikian oleh Rasulullah dan kita mencintai seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berhenti dari membicarakan atas apa-apa yang menjadi perselisihan diantara mereka.

Kita meyakini bahwasanya para imam yang empat itu adalah khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk dan keutamaan, yang selain mereka tidak ada yang menandingi mereka.
Kita membenarkan seluruh riwayat dari para rawi yang tsiqah, yang mana menegaskan turunnya Allah ke langit dunia dan bahwasanya Dia mengatakan apakah ada orang yang meminta ampun, dan membenarkan apa-apa yang mereka riwayatkan dan kukuhkan berbeda halnya dengan apa apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang dan sesat.

Kita kembali dalam apa yang kita perselisihkan terhadap Al-Qur’an, sunnah Rasul dan ijma’ kaum muslimin dan apa-apa yang semakna dengan itu, kita tidak berbuat bid’ah yang dilarang dalam Islam ini dan tidak mengatakan apa-apa tentang Allah yang tidak kita ketahui.

Kita mengatakan bahwasanya Allah itu akan datang pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Dan Allah itu akan datang pada hari kiamat secara bershaf-shaf” (QS. Al-Mutaffifin : 22).
Dan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala mendekat terhadap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Kami lebih dekat daripadanya dari urat kerongkongan” (QS. Qaaf :16)

Artinya :
“Kemudian mendekat dan kemudian lebih mendekat lagi, maka jadilah antara Allah dan Rasulullah antara dua ujung busur panah dan lebih dekat lagi” (QS. An-Najm :8-9).
Dan diantara ajaran dien kita adalah kita menegakkan shalat jum’at, shalat ied dan seluruh shalat jama’ah dibelakang setiap orang baik maupun tidak baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu shalat di belakang Al-Hajjaj.

Bahwasanya mengusap kedua sepatu adalah sunnah baik dalam keadaan mukim atau musafir, lain halnya dengan orang yang mengingkari hal itu
Kita mendo’akan kebaikan para imam dan mengakui keimamahannya dan menghukum sesat bagi yang membolehkan berontak terhadap mereka apabila tampak dari mereka ketidak istiqomahannya.

Kita meyakini kemungkaran adanya pemberontakan dengan menggunakan pedang dan meninggalkan perang dalam keadaan fitnah dan membenarkan keluarnya Dajjal sebagimana riwayat-riwayat dari Rasulullah tentang hal itu

========================================================================================

ABU  HASAN  AL  ASY’ARi   YANG  MENJADi  KONTROVERSi   SALAFi  WAHABi   vs  NAHDLATUL  ULAMA

Pengikut  Asy’ari   seperti   Nahdlatul  Ulama  tidak menyadari   bahwa  akidah  Asy’ari  yang asli  mirip dengan salafi wahabi yang sekarang.

Di lain pihak, Salafi  Wahabi tidak menyadari bahwa Abu Hasan Al Asy’ari ternyata  “masih ahlul kalam”….

Petaka aswaja sunni karena salah pilih imam  dibidang akidah…

Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin:
“Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)”

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir.. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa  keutamaan sahabat besar adalah Abubakar lalu Umar lalu Usman lalu Ali.. Juga disebutkan  wajib taat pada pemimpin…Dan dikitab itu disebutkan bahwa orang mu’min  boleh berimam shalat pada ahli bid’ah/orang fasik

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir..…  ARTiNYA  walaupun  mereka  menganggap hal tersebut   SEBAGAi   BERBEDA  DENGAN  MAKHLUK, tetapi  I’tiqad  ahlul  hadis  hasywiyyah  dan Abu Hasan  Al  Asy’ari   adalah  antropomorfis  !!!!!!

Dalam  kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin, tokoh  sunni   Abu  HAsan Al  Asy’ari  menulis  : “ Keagungan  Allah  mempunyai batas  yang  berdekatan dengan bagian  tertinggi   dari   ‘arsy nya”… Abu  Hasan  menyatakan : “Allah mempunyai  dua  tangan, dua mata, dua  kaki, semua  akan binasa kecuali  WAJAH nya ( Kitab  Maqalat  Al  islamiyyin hal. 295 )

Pertanyaan :

  1. Apakah  keagungan  ZAT  Allah  cuma  sebatas  bagian tertinggi  dari  arsy nya ???
  2. Apakah  tangan  dan  mata  Allah  akan  binasa  ????

Bagi   syi’ah  : ini  pelecehan ………

Pada masa  Rasululullah  SAW :   Kaum  mujassimah  dari  kalangan  Yahudi  ( ahlul kitab ) memiliki  i’tiqad MEMBADANKAN  ALLAH, sehingga mereka  terjerat kedalam ekstrimitas…Namun  hal tersebut  menyusup kedalam ajaran Islam

Abu  Hurairah  yang  merupakan  MANTAN  YAHUDi  (  kemudian ia masuk  Islam   ) memiliki  beberapa  orang  sahabat  karib  dari  kalangan  mantan  ahlul kitab yang  masuk  Islam seperti  Ka’ab  al  Ahbar  dan  Wahab Munabbih  memasukkan  akidah  israilliyat  kedalam  hadis  sunni…

Penganut  mazhab  hambali  ( salafiah ) menolak  keras  asy’ariyyah  maturidiyyah  karena  dua aliran kalam ini dianggap bid’ah….

Pada  akhirnya….

Aliran   ASY’ARiYYAH   MAMPU  MENGALAHKAN  DUA  ALiRAN  :

  1. Aliran   rasionalis   mu’tazilah
  2. Aliran   ahlul   hadis  hasywiyyah  ( anti  ilmu  kalam )

kedua aliran ini terkapar…. karena aliran kalam aswaja sunni dibentuk Abu hAsan al asy’ari dan abu manshur al maturidy… Jadi  asy’ari dan maturidy merupakan perintis  awal  aliran kalam aswaja sunni

—————-

Pertanyaan  : Dimanakah  posisi  Abu  Hasan Al  Asy’ari  ???

Jawab : Asy’ari  adalah  tokoh  aliran  kalam  yang  mencoba  memadukan aliran  mu’tazilah  dengan  aliran  ahlul  hadis  hasywiyyah

———————–

Pertanyaan : Wahabi  mengklaim  Abu  HAsan  Al  Asy’ari  mengalami  3  fase  kehidupan,  jadi  asy’ari  adalah  salafi  ????

Jawab : Abu  Hasan  Al  Asy’ari  mencetuskan  teori  kasb, yang mana teori  ini  dikecam  keras  oleh  iBNU   TAiMIYYAH  karena  berbau  jabariyah..

Dalam maqolatul Islamiyyin bab inilah hikayat Sekumpulan perkatan
ahlul hadits dan ahlussunah, hal 290–297 beliau berkata seperti yang
tercantum dalam Al Ibanah di muka. Kemudian pada akhir Bab beliau
berkata: “Inilah sekumpulan perkataan yang diperintahkan, dilaksanakan
oleh mereka dan itulah pendapat mereka, kami berkata dan berpendapat
sama persis dengan siapa perkataan dan pendapat mereka. Tidak ada yang
memberi taufik kepada kami kecuali Allah saja. Dialah yang mencukupi
kami dan dialah sebaik–baik pemelihara. Kepada-Nya kami meminta
pertolongan, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya akan kembali!
Dari dua kitab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau
menetapkan:
1.      Sifat–sifat yang tetap bagi Allah yang termaktuf dalam kitab-nya
dan dalam sunah nabi-Nya secara hakiki sesuai kegungan Allah ta’ala,
seperti sifat istiwa Allah di atas Arsy, Allah mempunyai dua tangan,
dua mata dan wajah secra hakiki, namun tidak boleh ditanyakan
bentuknya dan diserupakan dengan makhluk. Allah memiliki sifat ilmu,
pendengaran, penglihatan, kekuatan dan irodah (berkehendak) Allah
berbicara dan al Qur’an adalah kalam Allah, Allah turun ke langit
dunia

.
2.      Allah akan dilihat pada hari kiamat dengan jelas tanpa pengahalng.
3.      Allah akan datang (sifat mamji’) pada hari kiamat sedangkan
malaikat berbaris )

Tidak hanya itu dalam kitab lainnya Risalah Ila Ahli Tsaghr, beliau
menetapkan adanya ijma” kesepakatan salaf dalam masalah aqidah
khususnya asma dan sifat yaitu;
1.      Salaf bersepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan,
sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
2.      Mereka bersepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit
dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada
hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di
atas arsy.
3.      Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari
kiamat dengan mata mereka, (hal 210 – 225)

Abu  Hasan  Al  Asy’ari  menyatakan : “Allah  bersemayam di atas  singgasana Nya, Dia  mempunyai  sepasang  tangan  tetapi bukan  sebagai  pemilikan, Dia  mempunyai  mata tetapi  bukan  sebagai  cara, dan  Dia  mempunyai  wajah”( Kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin  karya  Abu  Hasan  Al  Asy’ari  ) ….

Memang, pemahaman  metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali  dan  abu  Hasan  Al   Asy’ari   cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah… Anehnya  pengikut   asy’ari   mengkafir kan  ajaran  Asy’ari  Sang  Gembong  Pendiri  Mazhab  !!!!!

Hambaliyyah  dan  Asy’ari   berpendapat  bahwa  derajat  keagungan  Allah  mempunyai  batas  yang  berdekatan  dengan  bagian  paling  tinggi  dari  singgasana  Nya….

Imam  Ali  bin  Abu  Thalib  menolak  pandangan  kejasmaniahan  Allah  dan  menempatkan  Allah  diatas  kualitas kualitas yang  dapat  disifatkan  pada  makhluk Nya :

“”Mereka  yang  mengklaim  dapat  disamakan  dengan  Mu  menzalimi  Mu  ketika  menyamakan  Mu  dengan  berhala berhala  mereka, secara  keliru  melekatkan  pada Mu  suatu  sifat  yang  mungkin  cocok  bagi  ciptaan Mu, dan  secara  tersirat  mengakui  bahwa  Engkau  tersusun  dari   bagian  bagian  seperti  hal  hal  material ( Kitab  Nahj  Al  Balaghah  halaman  144 )

Syi’ah  menolak  kejasmaniahan  Allah…

Salafi  mengambil   arti  lahiriah, sedangkan  syi’ah  mengambil  arti  majazi  (kiasan)…

Syi’ah  menolak  hal  hal  material  seperti  kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan  komposisi  pada  Allah  SWT

.

Allah  ZAT  Yang Tak Terbatas  sehingga  Allah tidak menempati ruang..Allah adalah Dzat Yang Tak Terbatas dari segala sisi

ayat  “Tuhan Yang Mahapengasih beristiwa’  di atas arsy ”[a] (QS. 20:5)

Ayat-ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah menempati ruangan tertentu, karena maksud dari kata ‘arsy atau singgasana dalam ayat ini bukan dalam pengertian fisik, melainkan bahwa kekuasaan-Nya mencakup alam fisik dan meta-fisik sekaligus. Dalam pada itu, jika kita katakan bahwa Allah menempati ruang, maka sesungguhnya kita telah membatasi-Nya dan memberi-Nya sifat makhluk sehingga tak ubahnya seperti makhluk, padahal Dia adalah “Tida ada sast pun yang serupa dengan-Nya” (QS. 42:11), dan “Tidak satu pun yang menyamai-Nya” (QS. 112:4)

Demikian pula ketika Allah berfirman, Tetapi kedua tangan-Nya terbentang. (QS. 5:64), atau, Dan buatlah kapal dengan mata Kami. (QS. 11:37), sama sekali tidak dapat dipahami dalam arti mata atau tangan fisik, karena setiap fisik mempunyai bagian-bagian dan memerlukan ruang, waktu, dan arah sehingga ia akan punah, sedangkan Allah mustahil demikian. Kalau begitu, maka makna yang paling tepat untuk kata “kedua tangan-Nya” pada ayat di atas ialah kekuasaan-Nya yang besar, di mana semua alam tunduk pada-Nya. Sedangkan makna “mata”, ialah pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu.

Sebagai contoh, kita yakin bahwa maksud kata al-’ama atau buta dalam ayat, Barangsiapa buta di dunia akan buta pula di akhirat, (QS. 17:72), sudah pasti bukan dalam arti buta fisik, sebagaimana makna harfiyah, karena banyak sekali orang buta, tapi baik dan salih

Allah Bukan Jasmani dan Tidak Dapat Dilihat Syi’ah meyakini bahwa Allah Swt tidak dapat dilihat dengan kasat mata, sebab sesuatu yang yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah jasmani dan memerlukan ruang, warna, bentuk, dan arah, padahal semua itu adalah sifat-sifat makhluk, sedangkan Allah jauh dari segala sifat-sifat makhluk-Nya. Oleh karena itu, meyakini bahwa Allah dapat dilihat dapat membawa kepada kemusyrikan. Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan sedang Dia menjangkau penglihatan, dan Dia Mahahalus lagi Mahatahu. (QS. 6:103)

Ini menunjukkan bahwa Allah mutlak tidak dapat dilihat.Adapun adanya beberapa ayat atau pun riwayat yang menengarai adanya kemungkinan melihat Allah, maka yang dimaksud bukan rnelihat-Nya secara kasat mata, tapi melalui penglihatan batin atau mata hati, sebab al-Quran tidak saling bertentangan, tapi justeru saling menafsirkan, al-Qurn yufassiru ba’dhuhu ba’dhan.[b]

Karena itu, ketika seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin Ali Ibn Abi Thalib: “Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?” Amirul Mukminin menjawab, “Bagaimana aku bisa menyembah Tuhan yang tidak kulihat?” Tapi buru-bur Amirul Mukminin menyempurnakan kalimatnya, “Tapi Dia tidak dapat dilihat oleh mata. Dia hanya dapatdijangkau oleh kekuatan hati yang penuh dengan iman”. (Nahjul Balaghah, Khutbah 179)

Syi’ah meyakini bahwa memberikan sifat-sifat makhluk kepada Allah seperti ruang, arah, fisik, atau dapat dilihat akan membuat seseorang tidak dapat mengenal Allah dan dapat rnembawa kepada kemusyrikan Mahasuci Allah dari sifat-sifat makhluk. Sesungguhnya Ia tidak serupa dengan apa pun.

manusia bebas dalam kehendaknya (free will) dan mengikuti jalan kebenaran melalui pilihannya sendiri. Akan tetapi, karena kebebasan dan kemampuan kita untuk mengerjakan sesuatu datangnya dari Allah, maka perbuatan-perbuatan kita atas  izin  Allah

Jika kita terpaksa dalam perbuatan-perbuatan kita, maka tidak ada artinya pengutusan para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, ajaran agama, pengajaran, pendidikan, dan sebagainya. Demikian pula tidak ada artinya pahala dan azab Tuhan. Inilah yang diajarkan madrasah Ahlubait bahwa tidak jabr (mutlah terpaksa) dan ridak pula tafwidh (bebas mutlak), tapi di antara keduanya. Sesungguhnya tidak jabr dan tidak pula tafwidh, tapi di antara keduanya (Ushul al-Kafi, I, hal.160)

Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah Swt dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

[a] Berdasarkan beberapa ayatal-Quran dapat dipahami bahwa “Kursi”-Nya meliputi alam materi. Firman Allah, “Kursi-Nya mencakup langit dan bumi”. (QS. 2:225)

[b] Ungkapan di atas sangat populer dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Sementar itu, dalam kitab Nahjul Balaghah diriwayatkan pula dari Amirul Mukminin as dengan redaksi yang berbeda, yaitu “Sesungguhnya al-Quran, satu sama lainnya saling membenarkan”.

Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi atau kiasan, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Banyak ulama-ulama pakar yang mengeritik dan menolak akidah mengenai Tajsim/Penjasmanian dan Tasybih atau Penyerupaan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Karena ini bertentangan dengan firman Allah swt. sebagai berikut: Dalam surat Syuura (42) : 11; ‘ Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya

Setiap dalil yang menyiratkan seolah olah Zat Allah memiliki organ jasmaniah atau menempati ruang maka wajib hukumnya di majazi / di kiasan kan / di metafora kan, jadi tidak boleh dizahirkan

Bahkan, ketika dikatakan Isa adalah roh Allah, orang-orang Nasrani menetapkannya dengan makna zahir sehingga mendakwa Isa salah satu daripada sifat-sifat Allah.

Saudaraku…..

SAYYiD MUHAMMAD RASYiD RiDHA ( 1865-1935 ), adalah seorang pembaharu dari Aswaja Sunni.. Beliau merupakan murid Muhammad Abduh yang sangat populer
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Asy Syahid Husain, putera Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (a) ..

Berikut saya ringkas beberapa pendapat RASYiD RiDHA dalam Tafsir Al Manar
Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 115 ??

Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Kiblat yang diridhai Allah” (b)
Kalau anda bertanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ??? Ya, ada.. Pendapat Rasyid Ridha senada dengan pendapat Mujahid ( w.104 H ) dan Imam Syafi’i ( w.204 H ) (c)

Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 272
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Keridhaan Allah” (d)

Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al An’am (6) ayat 52
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Keridhaan Allah” (e)
Apakah a’yunina pada Qs. Hud ( 11 ) ayat 37 artinya mata Allah atau pengawasan Allah ??

Jawab: Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha; penggunaan kata jamak a’yunina adalah mubalaghah (mempertegas) adanya perhatian Allah dalam mengawasi dan menjaga (f)
Kalau anda tanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ? Ya, ada.. Pendapat Rasyid Ridha senada dengan Mujahid ( w.104 H ) yang mengatakan bahwa orang orang Arab biasa menggunakan lafal ‘ayn dalam bentuk mufrad (tunggal) untuk menyebut perhatian dan menggunakan lafal a’yun dalam bentuk jamak untuk menyebut perhatian yang tinggi (g)

Apakah “kedua tangan Allah terbuka” pada Qs. Al Maidah (5) ayat 64 artinya Allah memiliki dua tangan zahir ataukah Allah Pemurah ?? Mana yang benar ???

Jawab : Yang benar artinya adalah Allah Pemurah.. Kalau anda bertanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ??? Ya, ada.. Ibn Abbas (w.68 H) menyatakan bahwa lafal “ghull al yad” ( tangan terbelenggu ) sudah lumrah di pakai dalam bahasa Arab untuk arti kikir , dan lafal “basth al yad” ( tangan terbuka ) dipakai untuk arti pemurah dan dermawan (h)

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengutip Qs. Al Isra’ (17) ayat 29 yang berbunyi; “Dan jangan lah kamu jadikan tangan mu terbelenggu pada lehermu dan janganlah pula kamu terlalu membukanya” .. (h) Apakah tangan manusia disini bermakna zahir ????
Jadi kenapa ada bentuk tunggal dan ganda pada YAD ALLAH dalam Qs.5:64 ?

Jawab: Menurut Al Baydhawi (w.691 H); bentuk ganda ( tatsniyah pada “bal yadahu mabsuthatan” ) bukan bentuk tunggal (mufrad seperti pada “yadullah maghlulah”) ADALAH untuk mempertegas kemurahan Nya dan mempertegas penolakan Nya terhadap fitnah keji orang orang Yahudi.. INGAT :Al Quran turun pada masa sastra Arab sedang berada dipuncaknya !!!
Rujukan :
a = Buku “Rasionalitas Al Quran” karya M. Quraisy Shihab hal. 71. Penerbit Lentera Hati, 2006

c = Ibnu Al Qayyim Al Jawziyah, Mukhtashar Al Shawa’iq Al Mursalah ‘An Al Jahmiyyah wa Al Mu’aththilah, cetakan ke 1 ( Beirut: Dar A- Kutub Al ‘ilmiyyah ) hal. 339

b = TAFSiR AL M A N A R, disusun Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, jilid 1, hal. 435

d= Ibid, Jilid 3 hal. 83

e = Ibid, Jilid 7 hal. 436

f = Ibid, Jilid 12 hal. 73

h = Ibid, Jilid 6 hal. 454

g= Buku “Rasyid Ridha, Konsep Teologi”, karya Dr. A.Athaillah dari IAIN ANTASARI, penerbit ERLANGGA

………………………………………………………………………..

Saudara pembaca  …..

Apa maksud wajah Allah ??

Jawab :
Di dalam surat Al-Baqarah [2], ayat 272 disebutkan, “Dan janganlah Kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah (wajhillâh).” Berangkat dari ayat ini, sebuah soal mengemuka; apakah maksud dari ungkapan wajhullâh tersebut?

Wajh secara leksikal bermakna wajah, dan terkadang bermakna dzat (substansi). Oleh karena itu, wajhullah bermakna Dzat Allah. Niat para pemberi infak harus ditujukan kepada dzat kudus Allah Swt. Oleh karena itu, kata wajh pada ayat ini dan yang semisalnya bermuatan satu jenis penegasan. Karena, ketika wajh disebutkan (untuk dzat Ilahi), merupakan penegasan terhadap untuk Allah swt. semata, bukan untuk yang lain.

Selain itu, galibnya, wajah manusia -secara lahiriah- adalah bagian termulia di dalam struktur tubuhnya. Lantaran organ-organ yang penting pada tubuh manusia terletak di wajahnya, seperti penglihatan, pendengaran, dan mulut. Atas dasar ini, ketika ungkapan wajhullah digunakan pada ayat ini, itu memberikan arti kemuliaan dan nilai penting. Di sini, wajh secara figuratif (majâzî) digunakan dalam kaitannya dengan Allah Swt, yang sejatinya merupakan satu bentuk penghormatan dan signifikansi dari ayat ini.

artinya : “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya”
Maknalafadz illa wajhahu (kecuali wajah-Nya), al Imam al Bukhari berkata: “kecuali sulthan (tasharruf atau kekuasaan-) Allah”.

Mengaharapkan “wajah Allah” bermakna “mengharapkan pahala/ridho Allah

wa maa tunfiquuna illabtighaa-a wajhillah

“Dan Janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena Keridhaan Allah ” (Al-Baqarah 272).

Dalam tafsir jalalain disebutkan : (illabtighaa-a wajhillah) mengharapkan ganjaran dari Allah saja bukan selainnya dari kekayaan dunia.

Tafsir Ayat Mutasyabihat WAJAH
Kemanapun engkau menghadap maka akan kamu dapati WAJAH ALLAH ( KIBLAT ALLAH ) (QS albaqarah 115) menurut  Mujahid

Saudaraku….

Tafsir Ayat Mutasyabihat TANGAN
Allah SWT telah berfirman dalam Adzariyat : 47
Artinya : ” Dan langit, kami membinanya dengan Tangan(Kekuasaan) Kami….” (Qs adzariyat ayat 47)

Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz  biaidin) adalah “dengan kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.

Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar sunni :
Dalam Tafsir Qurtuby:
Dalam Tafsir Thabary :
Dalam Tafsir Jalalain ; Biquwati

Lafadz BI AIDIN artinya DENGAN KEKUTAN-NYA
kemudian dalam surat Al-Fath : 10

firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.

Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi saw bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”… Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Pada hadits lainnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa dari arah Najd akan timbul dua tanduk iblis. Sekarang kita bertanya-tanya siapakah gerangan? Yakni Musailamah Al Kadzab dan Muhamad Bin Abdul Wahhab. Keduanya datang dari arah itu.

ternyata  akidah  wahabi   dibidang  asma’  wa  shifat  sama  dengan  akidah  Abu  Hasan  Al  Asy’ari…

Akidah Abu Hasan Al Asy’ari  Dalam Kitab Maqalat Al Islamiyyin Sam Dengan Akidah Wahabi  Salafi…  Kenapa  Kaum  Sunni  Cuma  Berani  Mengkafirkan  Akidah  Wahabi  Tetapi  Mengagung Agungkan  Abu Hasan  Al  Asy’ari…. Mazhab Anda Kacau Balau !

Al-Ibanah Adalah Kitab Karya Imam Abul Hasan Al-Asy’ari Yang Sebenar

Abu-Syafiq telah menulis satu artikel di dalam blognya yang berjudul “Al-Ibanah ‘An Usul Al-Diyanah’ Bukan Kesemua Isi Kandungannya Tulisan Imam Asy’ari”. Artikel ini sangatlah tidak ilmiah dalam membuktikan dakwaan mereka terhadap kitab yang menunjukkan kembalinya Imam Asy’ari kepada aqidah salaf. Abu Syafiq kemudiannya berkata “Wahabi Berdusta pada Kitab Al-Ibanah” perkataan ini sangatlah tidak teliti malah menuduh serta mengklaim para wahabi yang menambah-nambah isi kandungannya. Di sini saya nukilkan kata-kata ulama bahawa Kitab Al-Ibanah adalah benar-benar adalah tulisan Imam Asy’ari dan bukan seperti yang di katakan oleh golongan ahbash terutamanya abu-syafiq yang berguru dengan syeikh Harari Al-Habasy seorang pengasas golongan Ahbash.

Tokoh yang terkenal Al-Hafiz Az-Dzahabi telah menisbatkan kitab Al-Ibanah kepada Abul Hasan Al-Asy’ari seperti mana katanya dalam kitab Al-‘Uluw lil ‘Aliyil Ghaffar halaman 278: “Abul Hasan Al-Asy’ari berkata dalam kitabnya Al-Ibanah ‘An Usul Ad-Diyanah dalam bab Istiwa’ (bersemayamnya Allah di atas ‘Arasy): “Jika seseorang berkata: “Apa pandanganmu tentang Istiwa?” Maka jawabnya: “Kami berpendapat bahawa Allah beristiwa (bersemayam) di atas ‘Arasy sebagaimana firman Allah s.w.t:

“(Iaitu) Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arasy” [Thaaha: 5]

Az-Dzahabi meriwayatkan dari Al-Hafiz Abul Abbas Ahmad bin Tsabit Ath-Thuraqy, bahawa ia berkata: “Aku membaca kitab Abul Hasan Al-Asy’ary yang berjudul Al-Ibanah tentang dalil-dalil yang menetapkan bahawa Allah bersemayam di atas ‘Arasy”. Ia menukilkan juga dari Abu Ali Ad-Daqqaaq bahawa ia mendengar Zahir bin Ahmad Al-Faqih berkata: “Imam Abul Hasan Al-Asy’ari wafat di rumahku. Ketika sedang sakarat beliau mengucapkan: :Semoga Allah melaknat Mu’tazilah yang keliru dan bodoh”.[Dinukil daripada pengenalan pada kitab Al-Ibanah 'An Usul Al-Diyanah yang di tulis oleh Syeikh Hammad bin Muhammad Al-Anshari. Beliau adalah Pensyarah Fakulti dakwah Universiti Islamiyah Madinah Al-Munawwarah.]

Telah berkata Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah dalam kitabnya Al-Ibaanah fii Ushuulid-Diyaanah, pada Baab Al-Istiwaa’:

فإن قال قائل : ما تقولون في الإستواء ؟. قيل [له] نقول : نقول إن الله مستو على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى) وقال : (إليه يصعد الكلم الطيب) وقال : (بل رفعه الله إليه) وقال حكاية عن فرعون : (وقال فرعون يا هامان ابن لي صرحا لعلي أبلغ الأسباب أسباب السموات فأطلع إلى إله موسى وإني لأظنه كاذبا). فكذب موسى في قوله : إن الله فوق السموات. وقال عزوجل : (أأمنتم من في السماء أن يخسف بكم الأرض) فالسموات فوقها العرش، فلما كان العرش فوق السموات. وكل ما علا فهو سماء، وليس إذا قال : (أأمنتم من في السماء) يعني جميع السموات، وإنما أراد العرش الذي هو أعلى السموات، ألا ترى أنه ذكر السموات فقال : (وجعل القمر فيهن نورا) ولم يرد أنه يملأهن جميعا، [وأنه فيهن جميعا]. قال : ورأينا المسلمين جميعا يرفعون أيديهم – إذا دعوا – نحو السماء لأن الله مستو على العرش الذي هو فوق السماوات، فلو لا أن الله على العرش لم يرفعوا أيديهم نحو العرش.

“Apabila seseorang bertanya : ‘Apa yang engkau katakan mengenai istiwaa’ ?’. Maka dikatakan kepadanya : ‘Kami mengatakan sesungguhnya Allah bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). ‘Kepada-Nya lah naik perkataan-perkataan yang baik’ (QS. Fathir : 10). ‘Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya’ (QS. An-Nisaa’ : 158). Allah juga berfirman mengenai hikayat/cerita Fir’aun : ‘Dan berkatalah Firaun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta” (QS. Al-Mukmin : 36-37). Fir’aun mendustakan Musa yang mengatakan : ‘Sesungguhnya Allah berada di atas langit’. Allah ‘azza wa jalla berfirman : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu’ (QS. Al-Mulk : 16). Yang berada di atas langit adalah ‘Arsy (dimana Allah bersemayam/ber-istiwaa’ di atasnya). Ketika ‘Arsy berada di atas langit, maka segala sesuatu yang berada di atas disebut langit (as-samaa’). Dan bukanlah yang dimaksud jika dikatakan : ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit’ ; yaitu semua langit, namun yang dimaksud adalah ‘Arsy yang berada di puncak semua langit. Tidakkah engkau melihat bahwasannya ketika Allah menyebutkan langit-langit, Dia berfirman : ‘Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya’ (QS.Nuuh : 16) ? Bukanlah yang dimaksud bahwa bulan memenuhi seluruh langit dan berada di seluruh langit”.

Beliau (Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah) melanjutkan : “Dan kami melihat seluruh kaum muslimin mengangkat tangan mereka – ketika berdoa – ke arah langit, karena (mereka berkeyakinan) bahwa Allah bersemayam (istiwaa’) di ‘Arsy yang berada di atas semua langit. Jika saja Allah tidak berada di atas ‘Arsy, tentu mereka tidak akan mengarahkan tangan mereka ke arah ‘Arsy”.

Beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) membantah dalam khutbahnya kepada Mu’tazillah, Jahmiyyah, dan Raafidhah. Hingga kemudian beliau berkata : Apabila ada seseorang mengatakan jika engkau telah mengingkari/membantah secara lengkap perkataan Mu’tazillah, Qadariyyah, Jahmiyyah, Haruriyyah/Khawarij, Raafidhah, dan Murji’ah; maka beritahukanlah kepada kami tentang perkataan yang menjadi pendapat dan agama bagimu ! Maka katakanlah padanya : ‘Perkataan yang kami katakan dan agama yang kami anut adalah berpegang-teguh kepada Kitabullah (Al-Qur’an), Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan apa-apa yang diriwayatkan dari shahabat, tabi’in, serta para imam ahli-hadits. Kami berpegang teguh terhadap hal itu. Dan juga, dengan agama (pemahaman) yang Ahmad bin Hanbal berada di atasnya – semoga Allah membaguskan wajahnya. Barangsiapa yang menyelisihi perkataannya (Ahmad bin Hanbal) adalah para pembangkang, karena dia adalah seorang imam yang utama dan pemimpin yang sempurna dimana Allah telah memberikan penjelasan kebenaran melalui perantaraannya di saat muncul kesesatan. Melalui perantaraannya, Allah juga telah menjelaskan manhaj yang benar dan membungkam ahlul-bida’. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada imam yang unggul dan agung, serta kepada seluruh imam-imam kaum muslimin.

وجملة قولنا : أن نقر بالله وملائكته وكتبه ورسله، وما جاء من عند الله، وما رواه الثقات عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، لا نرد من ذلك شيئا، وأن الله إله واحد فرد صمد، لا إله غيره، وأن محمدا عبده ورسوله، وأن الجنة والنار حق، وأن الساعة آتية لا ريب فيها، وأن الله يبعث من في القبور، وأن الله تعالى مستو على عرشه كما قال : (الرحمن على العرش استوى) وأن له وجها كما قال : (ويبقى وجه ربك) وأنه له يدين كما قال : (بل يداه مبسوطتان) وأن له عينين بلا كيف كما قال : (تجري بأعيننا) وأن من زعم أن اسم الله غيره كان ضالا، وندين أن الله يرى بالأبصار يوم القيامة كما يرى القمر ليلة البدر، يراه المؤمنون – إلى أن قال :

وندين بأنه يقلب القلوب، وأن القلوب بين إصبعين من أصابعه، وأنه يضع السموات والأرض على إصبع، كما جاء في الحديث، – إلى أن قال : -

وأنه يقرب من خلقه كيف شاء كما قال : (ونحن أقرب إليه من حبل الوريد) وكما قال : (ثم دنا فتدلى فكان قاب قوسين أو أدنى) ونرى مفارقة كل داعية إلى بدعة، ومجانبة أهل الأهواء، وسنحتج لما ذكرناه من قولنا وما بقي [منه] بابا بابا، وشيئا شيئا.

Dan kesimpulan perkataan kami adalah : ‘Kami mengakui Allah, para malaikat-Nya. Kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan apa-apa yang datang dari sisi Allah, serta apa-apa yang diriwayatkan oleh para perawi tsiqaat dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kami tidak menolak satupun dari hal tersebut sedikitpun. Dan bahwasannya Allah adalah Tuhan yang Esa, tempat bergantung, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia. Dan bahwasannya Muhammad adalah hamba sekaligus utusan-Nya, surga dan neraka adalah haq (benar), kiamat akan datang tanpa ada keraguan di dalamnya, Allah akan membangkitkan manusia dari kuburnya, Allah ta’ala bersemayam (istiwaa’) di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana firman-Nya : ‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy’ (QS. Thaha : 5). Allah mempunyai wajah, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan tetap kekal wajah Tuhan-Mu’ (QS. Ar-Rahmaan : 27). Allah mempunyai dua tangan sebagaimana firman-Nya : ‘Tetapi kedua tangan Allah terbuka’ (QS. Al-Maaidah : 64). Allah mempunyai dua mata tanpa ditanyakan bagaimananya, sebagaimana firman-Nya : ‘Yang berlayar dengan mata-mata Kami’ (QS. Al-Qamar : 14). Dan barangsiapa yang berkeyakinan bahwa nama Allah bukanlah Allah, maka ia adalah orang yang sesat. Kami meyakini bahwa Allah kelak akan dilihat dengan penglihatan (mata) pada hari kiamat oleh kaum mukminin sebagaimana dilihatnya bulan di malam purnama”. Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :

Kami berkeyakinan bahwasannya Allah membolak-balikkan hati, dan hati-hati manusia itu berada di antara dua jari di antara jari-jari Allah. Juga, bahwasannya Allah meletakkan semua langit dan bumi di atas satu jari, sebagaimana tercantum dalam hadits”. Hingga beliau (Al-Imam Al-Asy’ariy) berkata :

“Dan bahwasannya Allah itu dekat dengan makhluk-Nya dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya : ‘Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat kehernya’ (QS. Qaaf : 16). ‘Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)’ (QS. An-Najm : 8-9). Sedangkan di sisi lain kami melihat jauhnya setiap penyeru bid’ah dan pengikut hawa nafsu (dari agama dan pemahaman yang benar ini). Kami akan berhujjah (berargumentasi) dengan apa yang telah kami sebutkan tadi bab per bab secara rinci”.

“Al-Imam Abul-Hasan Al-Asy’ariy telah berkata dalam kitabnya yang berjudul Al-‘Imad fir-Ru’yah:

ألفنا كتابا كبيرا في الصفات تكلمنا فيه على أصناف المعتزلة والجهمية، فيه فنون كثيرة من الصفات في إثبات الوجه واليدين، وفي إستوائه على العرش.

كان أبو الحسن أولا معتزليا أخذ عن أبي علي الجبائي، ثم نابذه ورد عليه، وصار متكلما للسنة، ووافق أئمة الحديث في جمهور ما يقولونه، وهو ما سقناه عنه من أنه نقل إجماعهم على ذلك وأنه موافقهم. وكان يتوقد ذكاء، أخذ علم الأثر عن الحافظ زكريا الساجي. وتوفي سنة أربع وعشرين وثلاثمائة، وله أربع وستون سنة رحمه الله تعالى.

“Kami telah menulis satu kitab besar dalam permasalahan sifat-sifat (Allah) dimana kami berbicara dari sudut pandang kelompok Mu’tazillah dan Jahmiyyah. Padanya terdapat berbagai macam pembahasan sifat dalam penetapan wajah dan dua tangan, serta istiwaa’-Nya di atas ‘Arsy”.

Di antara para ulama yang mengisbatkan buku Al-Ibanah kepada Imam Asy’ari juga adalah Al-Hafiz Al-Kabir Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali Al-Baihaqi, Asy-Syafi’I wafat pada tahun 458 H dalam kitabnya Al-I’tiqad wal Hidayah Ilaa Sabili Ar-Rasyaad pada bab Al-Qaulu fii Al-Quran halaman 31: “Asy-Syafi’I r.a menyebutkan bahawa bukti yang menunjukkan Al-Quran yang kita tulis dalam mushaf disebut Kalam Allah adalah bahawasanya Allah s.w.t berbicara dengan Al-Quran kepada hambaNya dan mengutuskan Rasul-Nya s.a.w dengan mambawa Al-Quran dan maknanya.

Di antara yang mengisbatkan Al-Ibanah adalah benar-benar daripada Imam Asy’ari ialah Ibn Farhun Al-Maliki. Ia berkata dalam kitabnya Ad-Dibaaj halaman 193-194: “Di antra kitab yang ditulis Abul Hasan Al-Asy’ari adalah Al-Luma’ Al-Kabir, Al-Luma’ Ash-Shaghir dan Kitab Al-Ibanah ‘An Usul Al-Diyanah.

Abu Al-Fallah Abdul Hayyi bin Al’Imad Al-Hanbali (w 1098 H) juga mengisbatkan kitab Al-Ibanah adalah karya Imam Asy-‘ari. Ia berkata dalam kitabnya Syadzarat Adz-Dzahab fi A’yaanil min dzahab pada juz 2 halaman 303: “Abul Hasan Al-Asy’ari telah berkata dalam kitabnya Al-Ibanah ‘An Usul Al-Diyanah dan ini adalah kitab beliau yang terakhir”.

Seterusnya Abul Qaasim Abdul Malik bin Isa bin Darbas Asy’Syafi’I (w 605 H) ia berkata dalam kitab Adz-Dzabb ‘An Abil Hasan Al-Asy’ari: “Wahai saudara-saudara sekalian! Ketahuilah bahawa Al-Ibanah ‘An Usul Al-Diyanah adalah kitab yang ditulis oleh Al-Imam Abul Hasan Al-Asy’ari yang merupakan keyakinan beliau yang terakhir

Imam Abu Hanifah berkata lagi: Barangsiapa yang berkata: “Aku tidak tahu Rabbku, di langit atau di bumi?” bererti ia kafir. Begitu juga seseorang menjadi kafir apabila mengatakan bahawa Allah itu di atas ‘Arasy, tetapi aku tidak tahu adakah ‘Arasy itu di langit atau di bumi. –al-Fiqhul Absath, ms. 46

Imam Abu Hanifah berkata kepada seseorang wanita yang bertanya: “Dimanakah Ilahmu yang engkau sembah itu?” Ia menjawab: “Sesungguhnya Allah itu ada di langit bukan di bumi.” Lalu datanglah seorang pemuda mengajukan pertanyaan: “Bagaimana dengan ayat: وهو معكم اين ما كنتم? “Dia bersama kamu dimana kamu berada.” (Surah al-Hadid: 4).

IMAM MALIK BIN ANAS

Abu Nu’aim mentakhrijkan dari Ja’far bin Abdillah berkata: “Ketika kami sedang berada di samping Malik bin Anas, datanglah seorang pemuda lalu bertanya: “Wahai Abu Abdillah, Ar-Rahman (Allah yang Maha Pengasih) bersemayam di atas ‘Arasy bagaimana bersemayamNya?” Mendengar pertanyaan ini, Imam Malik menjadi berang dan marah. Lalu ia menundukkan muka ke bumi seraya menyandarkannya ke tongkat yang dipegangnya hingga tubuhnya bersimbah peluh. Setelah ia mengangkat kepalanya, ia lantas berkata: “Cara bersemayamNya tidak diketahui (tidak dapat digambarkan), sedang istiwanya (bersemayamnya) telah jelas dan diketahui, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid’ah. Aku menyangka engkau adalah si pelaku bid’ah.” Lalu beliau menyuruh orang itu keluar. –Hilyatul Aulia’ (VI/325-326), Ibn Abdil Barr dalam at-Tauhid (VI/151), Al-Baihaqi dalam al-Asma’ Was Sifat, ms. 498, Ibn Hajar dalam Fathul Bari (XIII/406-407), Az-Zahabi dalam al-Uluw, ms. 103

IMAM MUHAMMAD IDRIS AS-SYAFI’I

Imam Syafi’i Rahimahullah berkata: “Allah Tabaraka wa Taala memiliki asma’ (nama-nama) dan sifat-sifat yang telah disebutkan oleh KitabNya dan diberitakan oleh NabiNya s.a.w. kepada umatnya, yang tidak boleh diingkari oleh sesiapa pun dari makhluk Allah S.W.T. yang telah sampai kepadanya dalil bahawa al-Quran turun membawa keterangan tentang hal tersebut, juga sabda Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan tsiqah telah jelas-jelas sahih yang menerangkan masalah itu. Maka barangsiapa yang mengingkari atau berbeza dengan semuanya itu padahal hujah (dalil/ keterangan) tersebut telah jelas baginya, bererti ia kafir kepada Allah S.W.T. Adapun jika ia menentang kerana belum mendapat hujah/ keterangan tersebut, maka ia diampuni kerana kebodohannya, kerana pengetahuan tentang semuanya itu (sifat-sifat Allah dan asma’Nya) tidak dapat dijangkau oleh akal dan pemikiran.

Yang termasuk ke dalam keterangan-keterangan seperti itu adalah juga keterangan-keterangan Allah S.W.T. bahawa Dia Maha Mendengar dan bahawa Allah itu memiliki tangan sesuai dengan firmanNya: “Bahkan Tangan Allah itu terbuka.” (Surah al-Maidah: 64). Dan bahawa Allah memiliki tangan kanan, sebagaimana dinyatakan: “…Dan langit digulung dengan tangan kananNya.” (Surah az-Zumar: 67) dan bahawa Allah itu memiliki wajah, berdasarkan firmanNya yang menetapkan: “Dan tiap-tiap sesuatu itu pasti binasa, kecuali Wajah Allah…” (Surah Al-Qasas: 88), “Dan kekallah wajah Rabbmu yang mempunyai keagungan dan kemulian.” (Surah Ar-Rahman: 27). Juga bahawa Allah mempunyai tumit, sesuai dengan pernyataan Rasulullah s.a.w: “Sehingga Rabb Azza wa Jalla meletakkan tumitNya pada Jahannam.” (Riwayat Bukhari, no: 4848 dan Muslim, no: 2848) dan Allah ketawa berdasarkan sabda Rasulullah s.a.w. tentang orang yang mati fi sabilillah: “Ia akan bertemu dengan Allah Azza wa Jalla sedang Allah tertawa kepadanya….” (Riwayat Bukhari, no: 2826 dan Muslim, no:1890).

Dan bahawa Allah turun ke langit dunia pada setiap malam berdasarkan hadis Rasulullah s.a.w. tentangnya. Begitu juga keterangan bahawa Allah S.W.T. itu tidak buta sebelah mataNya berdasarkan pernyataan Nabi s.a.w. ketika baginda menyebut dajjal, baginda bersabda: “Dajjal itu buta sebelah matanya, dan sesungguhnya Rabbmu tidaklah buta (sebelah mataNya).” (Riwayat Bukhari, no: 7231 dan Muslim, no: 2933). Dan bahawa orang-orang mukmin pasti akan melihat Rabb mereka pada hari kiamat dengan pandangan mata mereka seperti halnya mereka melihat bulan di malam purnama, juga bahawa Allah S.W.T. mempunyai jari-jemari seperti ditetapkan oleh sabda Nabi s.a.w: “Tidaklah ada satu jari pun melainkan ia berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman Azza wa Jalla.” (Riwayat Ahmad IV/182, Ibnu Majah I/72, Hakim I/525 dan Ibn Mandah ms.87. Imam Hakim mensahihkannya dipersetujui oleh az-Zahabi dalam at-Talkhis)

Semua sifat-sifat ini yang telah ditetapkan oleh Allah S.W.T. sendiri bagi diriNya dan oleh Rasulullah s.a.w. untukNya, hakikatnya tidaklah dapat dijangkau oleh akal atau fikiran dan orang yang mengingkarinya kerana bodoh (tidak mengetahui keterangan-keterangan tentangnya) tidaklah kafir kecuali jika ia mengetahuinya tetapi ia mengingkarinya, barulah ia kafir. Dan bilamana yang datang tersebut merupakan berita yang kedudukannya dalam pemahaman seperti sesuatu yang disaksikan dalam apa yang didengar, maka wajib baginya sebagai orang yang mendengar berita tersebut untuk mengimani dan tunduk kepada hakikat hal tersebut dan mempersaksikan atasnya seperti halnya ia melihat dan mendengar dari Rasulullah s.a.w.

Namun kita tetapkan sifat-sifat ini dengan menafikan (meniadakan) tasybih sebagaimana Allah telah menafikannya dari diriNya dalam firmanNya: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surah As-Syura: 11). –Dinukil daripada I’tiqadul Aimmatil Arba’ah oleh Dr. Muhammad bin Abdurrahman al-Khumais

IMAM AHMAD BIN HANBAL

Syeikh Ibn Taimiyyah menyebut kata-kata Imam Hanbal: “Kita beriman kepada Allah itu di atas ‘Arasy sesuai dengan kehendaknya tanpa dibatasi dan tanpa disifati dengan sifat yang kepadanya seseorang yang berusaha mensifatinya telah sampai atau dengan batas yang kepadanya seseorang yang membatasinya telah sampai. Sifat-sifat Allah itu (datang) dariNya dan milikNya. Ia mempunyai sifat seperti yang Ia sifatkan untuk diriNya, yang tidak dapat dijangkau oleh pandangan.” –Ta’arudh al-‘Aqli wa al-Naqli (II/30)

Ibnul Jauzi dalam al-Manaqib menyebutkan tulisan (surat) Imam Ahmad bin Hanbal kepada Musaddad yang di antara isinya ialah: “Sifatilah Allah dengan sifat yang denganNya Ia telah mensifati diriNya dan nafikanlah dari Allah apa-apa yang Ia nafikan dari diriNya. –Manaqib Imam Ahmad, ms. 221

Di dalam kitab ar-Raddu ‘ala al-jahmiah tulisan Imam Ahmad, ia mengucapkan: “Jahm bin Safwan telah menyangka bahawa orang yang mensifati Allah dengan sifat yang dengannya Ia mensifati diriNya dalam kitabNya, atau dengan yang disebutkan Rasulullah s.a.w. dalam hadisnya adalah seorang kafir atau termasuk Musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk).” –Ar-Raddu ‘ala al-Jahmiah, ms. 104

Abu  Hasan  Al  Asy’ari  menyatakan : “Allah  bersemayam di atas  singgasana Nya, Dia  mempunyai  sepasang  tangan  tetapi bukan  sebagai  pemilikan, Dia  mempunyai  mata tetapi  bukan  sebagai  cara, dan  Dia  mempunyai  wajah”( Kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin  karya  Abu  Hasan  Al  Asy’ari  ) ….

Memang, pemahaman  metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali  dan  abu  Hasan  Al   Asy’ari   cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah… Anehnya  pengikut   asy’ari   mengkafir kan  ajaran  Asy’ari  Sang  Gembong  Pendiri  Mazhab  !!!!!

Hambaliyyah  dan  Asy’ari   berpendapat  bahwa  derajat  keagungan  Allah  mempunyai  batas  yang  berdekatan  dengan  bagian  paling  tinggi  dari  singgasana  Nya….

Imam  Ali  bin  Abu  Thalib  menolak  pandangan  kejasmaniahan  Allah  dan  menempatkan  Allah  diatas  kualitas kualitas yang  dapat  disifatkan  pada  makhluk Nya :

“”Mereka  yang  mengklaim  dapat  disamakan  dengan  Mu  menzalimi  Mu  ketika  menyamakan  Mu  dengan  berhala berhala  mereka, secara  keliru  melekatkan  pada Mu  suatu  sifat  yang  mungkin  cocok  bagi  ciptaan Mu, dan  secara  tersirat  mengakui  bahwa  Engkau  tersusun  dari   bagian  bagian  seperti  hal  hal  material ( Kitab  Nahj  Al  Balaghah  halaman  144 )

Syi’ah  menolak  kejasmaniahan  Allah…

Salafi  mengambil   arti  lahiriah, sedangkan  syi’ah  mengambil  arti  majazi  (kiasan)…

Syi’ah  menolak  hal  hal  material  seperti  kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan  komposisi  pada  Allah  SWT

Saya selaku pengikut syi’ah menganggap Abu Hasan Al Asy’ari adalah seorang ahlul kalam yang merasionalkan akidah Imam Ahmad bin Hambal, dengan kata lain Asy’ari adalah penengah antara paham mu’tazilah dan paham ahlul hadis..

Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya.

PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH

  1. Perjalanan hidup Imam Asy’ari terdiri dari 3 marhalah (periode) sebagaimana pembagian Ibnu Katsîr j (774 H) yang dinukil oleh Murtadhâ Az-Zabidi (1145 H) dalam Syarah Ihyâ’, yaitu:

Pertama: Marhalah I’tizâl (Mu’tazilah) yang jelas-jelas sudah beliau tinggalkan (260-300 H).

Kedua: Marhalah menetapkan sifat-sifat ‘aqliyah yang tujuh yaitu: hayât, ‘ilmu, qudrah, Irâdah, samâ’, bashar dan kalâm. Serta menakwilkan sifat-sifat khabariyah, seperti: wajah, dua tangan, qadam (tumit, kaki), sâq (betis, kaki) dan lain-lain (300 H – + 320 H).

Ketiga: Menetapkan semua sifat-sifat Allâh tanpa takyîf dan tasybîh sebagaimana madzhab salaf, yaitu manhaj beliau yang ditulis dalam kitâbnya yang terakhir, “Al-Ibânah[2] (320-324/330 H).

[2] Ithâfu `s-Sâdati `l-Muttaqîn, al-Murtadhâ al-Zubaidi, Darul Fikr, juz II hal. 5; Lihat Syu’batu `l-Aqîdah hal. 47; Abdurrahmân Dimisyqiyyah, Mausû’atu Ahli `s-Sunnah 1/430, 2/ 784.

Adapun setelah meninggalkan mu’tazilah maka dia tidak menyatakan ikut Imam Ahmad tapi langsung mengikuti ibnu Kullab, al-Muhasibi dan al-Qalanisi seperti yang dikatakan oleh Khaldun,

Semua orang itu ditahdzir oleh Imam Ahmad dan lainnya karena kalamnya. Dan kitab yang dihasilkan waktu itu adalah kitab seperti al-Luma’ fi raddi ala ahl az-Zaighi wal bida’. Dan itu adalah kitab yang pertama kali dikarang pasca mu’tazilah seperti dikutip oleh penulis dari Ibn Asakir

dan yang sudah jelas kitab al-Luma’ adalah kitab pertama dan al-Ibanah ditulis terakhir, atau diakhir-akhir hidupnya, minimal 20 tahun setelah itu sebab sampai tahun 320 H, imam al-Asy’ari tidak menyebutkan kitab al-Ibanah dalam daftar karangannya.

kembali ke persoalan: tujuan dari pembahasan itu adalah membuktikan adanya 3 fase pemikiran imam asy’ari rahimahullah: i’tizal, keluar dari i’tizal kemudian intisab kepada imam Ahmad rahimahullah. Dan ini diucapkan oleh ibnu katsir dan dikutib oleh az-zabidi. Sudah jelas?

Bukhari adalah Imam al-dunya pada zamannya dan pembawa bendera hadits. Ini tidak mengherankan sebab ia adalah murid imam Ahmad ra, ibn Ruhawaih, Abu Nuaim, Abu Ubaid al-Qasim ibn Salam dan para ulama salaf.

Siapa yang merenungkan kitab Shahihnya dan yang lainnya pasti mengetahui kalau akidahnya adalah akidah salaf ahlil atsar bukan kalam. Dia menetapkan shifat-shifat Allah sesuai dengan kesucian Allah tanpa tasybih, takyif dan tanpa ta’thil. Dalam kitab al-Tauhidnya ia menyebutkan 58 bab dalam menetapkan shifat-sifat Allah. Ia menetapkan nafs, wajh, ‘aibn, yad, syakhsh, syai`, al-qur`an syai`, uluwwillah ala khalqih, istiwa’ ala arsyih, istawa ma’nanya ‘ala, wartafa’a, kalamullah, menetapkan huruf dan suara untuk kalamullah, dll.

Juga kitabnya yang lain Khalq ‘af’al al-Ibad, warraddu ala al-Jahmiyyah wa ashhab al-Ta’thil, ia menetapkan bahwa kalamullah itu dengan suara. Sifat ini secara sepakat diingkari oleh ibn Kullab dan Asyairah karena dianggap tasybih menurut kaidah mereka bahwa kalamullah itu al-kalam an-Nafsi. Metode Bukhari dalam kitab Tauhid dan Khalq ‘af’al al-Ibad nyata membatalkan klaim kullabiyyahnya. Termasuk yang menguatkan adalah tidak satupun imam bukhari menyebut nama ibn Kullab dalam kitab-kitabnya, juga tidak ucapan al-Muhasibi, al-Qalanisi, al-Karabisi dan lainnya, tidak dalam shahihnya, maupun tawarikhnya dan kitab-kitabnya yang lain

Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah , beliau
berkata;

Dan berpendapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal–semoga Allah mencerahkan wajahnya,meninggikan derajatnya, dan memberi balasan yang melimpah. Siapa yang menyelisihi perkataannya dia akan menyimpang, karena dia adalah imam yang mulia, pemimpin yang sempurna yang dengan perantaranya Allah menjelaskan kebenaran, menumpas kesesatan, membuat minhaj ini menjadi gamblang, membarantas bid’ah–bid’ah rekayasa para ahli bid’ah, penyelewangan orang yang menyimpang, dan kegamangan orang yang ragu– ragu. Semoga Allah merohmatinya’.

.
Ringkas perkataan kami adalah kami beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab– kitab-Nya, para Rasul-nya dan apa yang dibawa oleh mereka dari sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah, kami tidak akan menolak sedikitpun, sesunguhnya Allah adalah Ilah yang Esa, tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makluk, tidak membutuhkan anak dan istri, dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya, Allah mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar, Surga dan Neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur, dan Allah bersemayam di atas Arsy, seperti firman-nya.
الرَّحْمَانُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَاى
(Thoha ayat 5)

Allah mempunyai dua tangan, tapi tidak boleh di takyif, seperti firman-Nya: خَلَقْتُ بِيَدَيً (QS. Shod: 75) dan Firman-Nya:
بَلْ يََدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ (QS. Al Maidah: 64)

Allah mempunyai dua mata tanpa ditakyif, seperti firmanya (QS. Al Qomar: 14)

Allah bersemayam di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana firman Allah :

الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya :
“Allah itu bersemayam di atas ‘arsy” (QS. Thaha : 5)
Dan bahwasanya Allah itu memiliki wajah sebagaimana telah berfirman :

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبُّكَ ذُوْ الجَلاَل وَالإِكْرَامِ

Artinya :
“Kekallah wajah Allah yang memiliki keagungan” (QS. Ar-Rahman : 27).
Bahwasanya Allah memiliki dua tangan (tanpa membahas bagaimana tangan itu), sebagaimana firman Allah :
…لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Ketika Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75).
…بَلْ يَدَاهُ مَبْسوطَتَنِ

Artinya :
“Bahkan kedua tangan Allah iu terbuka” (QS. Al-Maidah : 64).
.

Dan bahwasanya Allah memiliki dua mata tanpa membahas bagaimana mata itu, sebagaimana firman-Nya: …تَجْرَيْ بِأَعْيُنِنَا
Artinya : “Berjalan dengan mata kami ” (QS Al-Qomar :14).

Kita mengatakan bahwa imam yang mulia setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam itu adalah Abu Bakar as-Shiddiiq radliallahu ‘anhu. Dan bahwasanya melalui dia, Allah telah menjayakan dan mendhahirkan Islam terhadap orang-orang murtad dan kaum muslimin menjadikannya dia sebagai imamah pertama sebagaimana Rasulullah memperlakukannya demikian, dan mereka semua menamakannya sebagai khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

.
Kemudian Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu, kemudian Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu kemudian Ali bin Abi Thalib.

Maka mereka itulah imam setelah Rasulullah saw dan kekhilafahan mereka adalah khilafah kenabian (khilafah nubuwwah)

.
Kita menyaksikan kepastian masuk surga bagi sepuluh sahabat yang dijamin demikian oleh Rasulullah dan kita mencintai seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berhenti dari membicarakan atas apa-apa yang menjadi perselisihan diantara mereka.

Kita meyakini bahwasanya para imam yang empat itu adalah khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk dan keutamaan, yang selain mereka tidak ada yang menandingi mereka.
Kita membenarkan seluruh riwayat dari para rawi yang tsiqah, yang mana menegaskan turunnya Allah ke langit dunia dan bahwasanya Dia mengatakan apakah ada orang yang meminta ampun, dan membenarkan apa-apa yang mereka riwayatkan dan kukuhkan berbeda halnya dengan apa apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang dan sesat.

Kita kembali dalam apa yang kita perselisihkan terhadap Al-Qur’an, sunnah Rasul dan ijma’ kaum muslimin dan apa-apa yang semakna dengan itu, kita tidak berbuat bid’ah yang dilarang dalam Islam ini dan tidak mengatakan apa-apa tentang Allah yang tidak kita ketahui.

Kita mengatakan bahwasanya Allah itu akan datang pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Dan Allah itu akan datang pada hari kiamat secara bershaf-shaf” (QS. Al-Mutaffifin : 22).
Dan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala mendekat terhadap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Kami lebih dekat daripadanya dari urat kerongkongan” (QS. Qaaf :16)

Artinya :
“Kemudian mendekat dan kemudian lebih mendekat lagi, maka jadilah antara Allah dan Rasulullah antara dua ujung busur panah dan lebih dekat lagi” (QS. An-Najm :8-9).
Dan diantara ajaran dien kita adalah kita menegakkan shalat jum’at, shalat ied dan seluruh shalat jama’ah dibelakang setiap orang baik maupun tidak baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu shalat di belakang Al-Hajjaj.

Bahwasanya mengusap kedua sepatu adalah sunnah baik dalam keadaan mukim atau musafir, lain halnya dengan orang yang mengingkari hal itu
Kita mendo’akan kebaikan para imam dan mengakui keimamahannya dan menghukum sesat bagi yang membolehkan berontak terhadap mereka apabila tampak dari mereka ketidak istiqomahannya.

Kita meyakini kemungkaran adanya pemberontakan dengan menggunakan pedang dan meninggalkan perang dalam keadaan fitnah dan membenarkan keluarnya Dajjal sebagimana riwayat-riwayat dari Rasulullah tentang hal itu

========================================================================================

ABU  HASAN  AL  ASY’ARi   YANG  MENJADi  KONTROVERSi   SALAFi  WAHABi   vs  NAHDLATUL  ULAMA

Pengikut  Asy’ari   seperti   Nahdlatul  Ulama  tidak menyadari   bahwa  akidah  Asy’ari  yang asli  mirip dengan salafi wahabi yang sekarang.

Di lain pihak, Salafi  Wahabi tidak menyadari bahwa Abu Hasan Al Asy’ari ternyata  “masih ahlul kalam”….

Petaka aswaja sunni karena salah pilih imam  dibidang akidah…

Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin:
“Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)”

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir.. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa  keutamaan sahabat besar adalah Abubakar lalu Umar lalu Usman lalu Ali.. Juga disebutkan  wajib taat pada pemimpin…Dan dikitab itu disebutkan bahwa orang mu’min  boleh berimam shalat pada ahli bid’ah/orang fasik

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir..…  ARTiNYA  walaupun  mereka  menganggap hal tersebut   SEBAGAi   BERBEDA  DENGAN  MAKHLUK, tetapi  I’tiqad  ahlul  hadis  hasywiyyah  dan Abu Hasan  Al  Asy’ari   adalah  antropomorfis  !!!!!!

Dalam  kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin, tokoh  sunni   Abu  HAsan Al  Asy’ari  menulis  : “ Keagungan  Allah  mempunyai batas  yang  berdekatan dengan bagian  tertinggi   dari   ‘arsy nya”… Abu  Hasan  menyatakan : “Allah mempunyai  dua  tangan, dua mata, dua  kaki, semua  akan binasa kecuali  WAJAH nya ( Kitab  Maqalat  Al  islamiyyin hal. 295 )

Pertanyaan :

  1. Apakah  keagungan  ZAT  Allah  cuma  sebatas  bagian tertinggi  dari  arsy nya ???
  2. Apakah  tangan  dan  mata  Allah  akan  binasa  ????

Bagi   syi’ah  : ini  pelecehan ………

Pada masa  Rasululullah  SAW :   Kaum  mujassimah  dari  kalangan  Yahudi  ( ahlul kitab ) memiliki  i’tiqad MEMBADANKAN  ALLAH, sehingga mereka  terjerat kedalam ekstrimitas…Namun  hal tersebut  menyusup kedalam ajaran Islam

Abu  Hurairah  yang  merupakan  MANTAN  YAHUDi  (  kemudian ia masuk  Islam   ) memiliki  beberapa  orang  sahabat  karib  dari  kalangan  mantan  ahlul kitab yang  masuk  Islam seperti  Ka’ab  al  Ahbar  dan  Wahab Munabbih  memasukkan  akidah  israilliyat  kedalam  hadis  sunni…

Penganut  mazhab  hambali  ( salafiah ) menolak  keras  asy’ariyyah  maturidiyyah  karena  dua aliran kalam ini dianggap bid’ah….

Pada  akhirnya….

Aliran   ASY’ARiYYAH   MAMPU  MENGALAHKAN  DUA  ALiRAN  :

  1. Aliran   rasionalis   mu’tazilah
  2. Aliran   ahlul   hadis  hasywiyyah  ( anti  ilmu  kalam )

kedua aliran ini terkapar…. karena aliran kalam aswaja sunni dibentuk Abu hAsan al asy’ari dan abu manshur al maturidy… Jadi  asy’ari dan maturidy merupakan perintis  awal  aliran kalam aswaja sunni

—————-

Pertanyaan  : Dimanakah  posisi  Abu  Hasan Al  Asy’ari  ???

Jawab : Asy’ari  adalah  tokoh  aliran  kalam  yang  mencoba  memadukan aliran  mu’tazilah  dengan  aliran  ahlul  hadis  hasywiyyah

———————–

Pertanyaan : Wahabi  mengklaim  Abu  HAsan  Al  Asy’ari  mengalami  3  fase  kehidupan,  jadi  asy’ari  adalah  salafi  ????

Jawab : Abu  Hasan  Al  Asy’ari  mencetuskan  teori  kasb, yang mana teori  ini  dikecam  keras  oleh  iBNU   TAiMIYYAH  karena  berbau  jabariyah..

Dalam maqolatul Islamiyyin bab inilah hikayat Sekumpulan perkatan
ahlul hadits dan ahlussunah, hal 290–297 beliau berkata seperti yang
tercantum dalam Al Ibanah di muka. Kemudian pada akhir Bab beliau
berkata: “Inilah sekumpulan perkataan yang diperintahkan, dilaksanakan
oleh mereka dan itulah pendapat mereka, kami berkata dan berpendapat
sama persis dengan siapa perkataan dan pendapat mereka. Tidak ada yang
memberi taufik kepada kami kecuali Allah saja. Dialah yang mencukupi
kami dan dialah sebaik–baik pemelihara. Kepada-Nya kami meminta
pertolongan, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya akan kembali!
Dari dua kitab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau
menetapkan:
1.      Sifat–sifat yang tetap bagi Allah yang termaktuf dalam kitab-nya
dan dalam sunah nabi-Nya secara hakiki sesuai kegungan Allah ta’ala,
seperti sifat istiwa Allah di atas Arsy, Allah mempunyai dua tangan,
dua mata dan wajah secra hakiki, namun tidak boleh ditanyakan
bentuknya dan diserupakan dengan makhluk. Allah memiliki sifat ilmu,
pendengaran, penglihatan, kekuatan dan irodah (berkehendak) Allah
berbicara dan al Qur’an adalah kalam Allah, Allah turun ke langit
dunia

.
2.      Allah akan dilihat pada hari kiamat dengan jelas tanpa pengahalng.
3.      Allah akan datang (sifat mamji’) pada hari kiamat sedangkan
malaikat berbaris )

Tidak hanya itu dalam kitab lainnya Risalah Ila Ahli Tsaghr, beliau
menetapkan adanya ijma” kesepakatan salaf dalam masalah aqidah
khususnya asma dan sifat yaitu;
1.      Salaf bersepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan,
sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
2.      Mereka bersepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit
dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada
hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di
atas arsy.
3.      Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari
kiamat dengan mata mereka, (hal 210 – 225)

Abu  Hasan  Al  Asy’ari  menyatakan : “Allah  bersemayam di atas  singgasana Nya, Dia  mempunyai  sepasang  tangan  tetapi bukan  sebagai  pemilikan, Dia  mempunyai  mata tetapi  bukan  sebagai  cara, dan  Dia  mempunyai  wajah”( Kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin  karya  Abu  Hasan  Al  Asy’ari  ) ….

Memang, pemahaman  metodologi para Ahli Hadis dari mazhab Hambali  dan  abu  Hasan  Al   Asy’ari   cenderung tekstual / literal menyebabkan terjadinya perbedaan mereka dengan Syi’ah dan mayoritas Ahlusunah… Anehnya  pengikut   asy’ari   mengkafir kan  ajaran  Asy’ari  Sang  Gembong  Pendiri  Mazhab  !!!!!

Hambaliyyah  dan  Asy’ari   berpendapat  bahwa  derajat  keagungan  Allah  mempunyai  batas  yang  berdekatan  dengan  bagian  paling  tinggi  dari  singgasana  Nya….

Imam  Ali  bin  Abu  Thalib  menolak  pandangan  kejasmaniahan  Allah  dan  menempatkan  Allah  diatas  kualitas kualitas yang  dapat  disifatkan  pada  makhluk Nya :

“”Mereka  yang  mengklaim  dapat  disamakan  dengan  Mu  menzalimi  Mu  ketika  menyamakan  Mu  dengan  berhala berhala  mereka, secara  keliru  melekatkan  pada Mu  suatu  sifat  yang  mungkin  cocok  bagi  ciptaan Mu, dan  secara  tersirat  mengakui  bahwa  Engkau  tersusun  dari   bagian  bagian  seperti  hal  hal  material ( Kitab  Nahj  Al  Balaghah  halaman  144 )

Syi’ah  menolak  kejasmaniahan  Allah…

Salafi  mengambil   arti  lahiriah, sedangkan  syi’ah  mengambil  arti  majazi  (kiasan)…

Syi’ah  menolak  hal  hal  material  seperti  kejasmaniahan, ruang, waktu, ketersusunan dan  komposisi  pada  Allah  SWT

.

Allah  ZAT  Yang Tak Terbatas  sehingga  Allah tidak menempati ruang..Allah adalah Dzat Yang Tak Terbatas dari segala sisi

ayat  “Tuhan Yang Mahapengasih beristiwa’  di atas arsy ”[a] (QS. 20:5)

Ayat-ayat di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa Allah menempati ruangan tertentu, karena maksud dari kata ‘arsy atau singgasana dalam ayat ini bukan dalam pengertian fisik, melainkan bahwa kekuasaan-Nya mencakup alam fisik dan meta-fisik sekaligus. Dalam pada itu, jika kita katakan bahwa Allah menempati ruang, maka sesungguhnya kita telah membatasi-Nya dan memberi-Nya sifat makhluk sehingga tak ubahnya seperti makhluk, padahal Dia adalah “Tida ada sast pun yang serupa dengan-Nya” (QS. 42:11), dan “Tidak satu pun yang menyamai-Nya” (QS. 112:4)

Demikian pula ketika Allah berfirman, Tetapi kedua tangan-Nya terbentang. (QS. 5:64), atau, Dan buatlah kapal dengan mata Kami. (QS. 11:37), sama sekali tidak dapat dipahami dalam arti mata atau tangan fisik, karena setiap fisik mempunyai bagian-bagian dan memerlukan ruang, waktu, dan arah sehingga ia akan punah, sedangkan Allah mustahil demikian. Kalau begitu, maka makna yang paling tepat untuk kata “kedua tangan-Nya” pada ayat di atas ialah kekuasaan-Nya yang besar, di mana semua alam tunduk pada-Nya. Sedangkan makna “mata”, ialah pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu.

Sebagai contoh, kita yakin bahwa maksud kata al-’ama atau buta dalam ayat, Barangsiapa buta di dunia akan buta pula di akhirat, (QS. 17:72), sudah pasti bukan dalam arti buta fisik, sebagaimana makna harfiyah, karena banyak sekali orang buta, tapi baik dan salih

Allah Bukan Jasmani dan Tidak Dapat Dilihat Syi’ah meyakini bahwa Allah Swt tidak dapat dilihat dengan kasat mata, sebab sesuatu yang yang dapat dilihat dengan kasat mata adalah jasmani dan memerlukan ruang, warna, bentuk, dan arah, padahal semua itu adalah sifat-sifat makhluk, sedangkan Allah jauh dari segala sifat-sifat makhluk-Nya. Oleh karena itu, meyakini bahwa Allah dapat dilihat dapat membawa kepada kemusyrikan. Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan sedang Dia menjangkau penglihatan, dan Dia Mahahalus lagi Mahatahu. (QS. 6:103)

Ini menunjukkan bahwa Allah mutlak tidak dapat dilihat.Adapun adanya beberapa ayat atau pun riwayat yang menengarai adanya kemungkinan melihat Allah, maka yang dimaksud bukan rnelihat-Nya secara kasat mata, tapi melalui penglihatan batin atau mata hati, sebab al-Quran tidak saling bertentangan, tapi justeru saling menafsirkan, al-Qurn yufassiru ba’dhuhu ba’dhan.[b]

Karena itu, ketika seseorang bertanya kepada Amirul Mukminin Ali Ibn Abi Thalib: “Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?” Amirul Mukminin menjawab, “Bagaimana aku bisa menyembah Tuhan yang tidak kulihat?” Tapi buru-bur Amirul Mukminin menyempurnakan kalimatnya, “Tapi Dia tidak dapat dilihat oleh mata. Dia hanya dapatdijangkau oleh kekuatan hati yang penuh dengan iman”. (Nahjul Balaghah, Khutbah 179)

Syi’ah meyakini bahwa memberikan sifat-sifat makhluk kepada Allah seperti ruang, arah, fisik, atau dapat dilihat akan membuat seseorang tidak dapat mengenal Allah dan dapat rnembawa kepada kemusyrikan Mahasuci Allah dari sifat-sifat makhluk. Sesungguhnya Ia tidak serupa dengan apa pun.

manusia bebas dalam kehendaknya (free will) dan mengikuti jalan kebenaran melalui pilihannya sendiri. Akan tetapi, karena kebebasan dan kemampuan kita untuk mengerjakan sesuatu datangnya dari Allah, maka perbuatan-perbuatan kita atas  izin  Allah

Jika kita terpaksa dalam perbuatan-perbuatan kita, maka tidak ada artinya pengutusan para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, ajaran agama, pengajaran, pendidikan, dan sebagainya. Demikian pula tidak ada artinya pahala dan azab Tuhan. Inilah yang diajarkan madrasah Ahlubait bahwa tidak jabr (mutlah terpaksa) dan ridak pula tafwidh (bebas mutlak), tapi di antara keduanya. Sesungguhnya tidak jabr dan tidak pula tafwidh, tapi di antara keduanya (Ushul al-Kafi, I, hal.160)

Adanya paradigma (cara pandang) yang berbeda pada umat manusia adalah konklusi dari dua jalan (kebajikan dan kejahatan) yang telah diilhamkan Allah Swt dalam diri setiap manusia (baca Qs. 90:10).

[a] Berdasarkan beberapa ayatal-Quran dapat dipahami bahwa “Kursi”-Nya meliputi alam materi. Firman Allah, “Kursi-Nya mencakup langit dan bumi”. (QS. 2:225)

[b] Ungkapan di atas sangat populer dan diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Sementar itu, dalam kitab Nahjul Balaghah diriwayatkan pula dari Amirul Mukminin as dengan redaksi yang berbeda, yaitu “Sesungguhnya al-Quran, satu sama lainnya saling membenarkan”.

Pada kenyataannya terdapat ayat al-Qur’an yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi atau kiasan, yang mana kata-kata Allah swt. harus diartikan sesuai dengannya. Banyak ulama-ulama pakar yang mengeritik dan menolak akidah mengenai Tajsim/Penjasmanian dan Tasybih atau Penyerupaan Allah swt. terhadap makhluk-Nya. Karena ini bertentangan dengan firman Allah swt. sebagai berikut: Dalam surat Syuura (42) : 11; ‘ Tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya

Setiap dalil yang menyiratkan seolah olah Zat Allah memiliki organ jasmaniah atau menempati ruang maka wajib hukumnya di majazi / di kiasan kan / di metafora kan, jadi tidak boleh dizahirkan

Bahkan, ketika dikatakan Isa adalah roh Allah, orang-orang Nasrani menetapkannya dengan makna zahir sehingga mendakwa Isa salah satu daripada sifat-sifat Allah.

Saudaraku…..

SAYYiD MUHAMMAD RASYiD RiDHA ( 1865-1935 ), adalah seorang pembaharu dari Aswaja Sunni.. Beliau merupakan murid Muhammad Abduh yang sangat populer
Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah seorang bangsawan Arab yang mempunyai garis keturunan langsung dari Sayyidina Asy Syahid Husain, putera Ali bin Abi Thalib dan Fatimah (a) ..

Berikut saya ringkas beberapa pendapat RASYiD RiDHA dalam Tafsir Al Manar
Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 115 ??

Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Kiblat yang diridhai Allah” (b)
Kalau anda bertanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ??? Ya, ada.. Pendapat Rasyid Ridha senada dengan pendapat Mujahid ( w.104 H ) dan Imam Syafi’i ( w.204 H ) (c)

Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al Baqarah (2) ayat 272
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Keridhaan Allah” (d)

Apa arti “Wajah Allah” dalam Qs. Al An’am (6) ayat 52
Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha adalah : “Keridhaan Allah” (e)
Apakah a’yunina pada Qs. Hud ( 11 ) ayat 37 artinya mata Allah atau pengawasan Allah ??

Jawab: Menurut Syaikh Muhammad Rasyid Ridha; penggunaan kata jamak a’yunina adalah mubalaghah (mempertegas) adanya perhatian Allah dalam mengawasi dan menjaga (f)
Kalau anda tanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ? Ya, ada.. Pendapat Rasyid Ridha senada dengan Mujahid ( w.104 H ) yang mengatakan bahwa orang orang Arab biasa menggunakan lafal ‘ayn dalam bentuk mufrad (tunggal) untuk menyebut perhatian dan menggunakan lafal a’yun dalam bentuk jamak untuk menyebut perhatian yang tinggi (g)

Apakah “kedua tangan Allah terbuka” pada Qs. Al Maidah (5) ayat 64 artinya Allah memiliki dua tangan zahir ataukah Allah Pemurah ?? Mana yang benar ???

Jawab : Yang benar artinya adalah Allah Pemurah.. Kalau anda bertanya ; Apakah Salaf 300 H ada menyatakan demikian ??? Ya, ada.. Ibn Abbas (w.68 H) menyatakan bahwa lafal “ghull al yad” ( tangan terbelenggu ) sudah lumrah di pakai dalam bahasa Arab untuk arti kikir , dan lafal “basth al yad” ( tangan terbuka ) dipakai untuk arti pemurah dan dermawan (h)

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengutip Qs. Al Isra’ (17) ayat 29 yang berbunyi; “Dan jangan lah kamu jadikan tangan mu terbelenggu pada lehermu dan janganlah pula kamu terlalu membukanya” .. (h) Apakah tangan manusia disini bermakna zahir ????
Jadi kenapa ada bentuk tunggal dan ganda pada YAD ALLAH dalam Qs.5:64 ?

Jawab: Menurut Al Baydhawi (w.691 H); bentuk ganda ( tatsniyah pada “bal yadahu mabsuthatan” ) bukan bentuk tunggal (mufrad seperti pada “yadullah maghlulah”) ADALAH untuk mempertegas kemurahan Nya dan mempertegas penolakan Nya terhadap fitnah keji orang orang Yahudi.. INGAT :Al Quran turun pada masa sastra Arab sedang berada dipuncaknya !!!
Rujukan :
a = Buku “Rasionalitas Al Quran” karya M. Quraisy Shihab hal. 71. Penerbit Lentera Hati, 2006

c = Ibnu Al Qayyim Al Jawziyah, Mukhtashar Al Shawa’iq Al Mursalah ‘An Al Jahmiyyah wa Al Mu’aththilah, cetakan ke 1 ( Beirut: Dar A- Kutub Al ‘ilmiyyah ) hal. 339

b = TAFSiR AL M A N A R, disusun Syaikh Muhammad Rasyid Ridha, jilid 1, hal. 435

d= Ibid, Jilid 3 hal. 83

e = Ibid, Jilid 7 hal. 436

f = Ibid, Jilid 12 hal. 73

h = Ibid, Jilid 6 hal. 454

g= Buku “Rasyid Ridha, Konsep Teologi”, karya Dr. A.Athaillah dari IAIN ANTASARI, penerbit ERLANGGA

………………………………………………………………………..

Saudara pembaca  …..

Apa maksud wajah Allah ??

Jawab :
Di dalam surat Al-Baqarah [2], ayat 272 disebutkan, “Dan janganlah Kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah (wajhillâh).” Berangkat dari ayat ini, sebuah soal mengemuka; apakah maksud dari ungkapan wajhullâh tersebut?

Wajh secara leksikal bermakna wajah, dan terkadang bermakna dzat (substansi). Oleh karena itu, wajhullah bermakna Dzat Allah. Niat para pemberi infak harus ditujukan kepada dzat kudus Allah Swt. Oleh karena itu, kata wajh pada ayat ini dan yang semisalnya bermuatan satu jenis penegasan. Karena, ketika wajh disebutkan (untuk dzat Ilahi), merupakan penegasan terhadap untuk Allah swt. semata, bukan untuk yang lain.

Selain itu, galibnya, wajah manusia -secara lahiriah- adalah bagian termulia di dalam struktur tubuhnya. Lantaran organ-organ yang penting pada tubuh manusia terletak di wajahnya, seperti penglihatan, pendengaran, dan mulut. Atas dasar ini, ketika ungkapan wajhullah digunakan pada ayat ini, itu memberikan arti kemuliaan dan nilai penting. Di sini, wajh secara figuratif (majâzî) digunakan dalam kaitannya dengan Allah Swt, yang sejatinya merupakan satu bentuk penghormatan dan signifikansi dari ayat ini.

artinya : “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya”
Maknalafadz illa wajhahu (kecuali wajah-Nya), al Imam al Bukhari berkata: “kecuali sulthan (tasharruf atau kekuasaan-) Allah”.

Mengaharapkan “wajah Allah” bermakna “mengharapkan pahala/ridho Allah

wa maa tunfiquuna illabtighaa-a wajhillah

“Dan Janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena Keridhaan Allah ” (Al-Baqarah 272).

Dalam tafsir jalalain disebutkan : (illabtighaa-a wajhillah) mengharapkan ganjaran dari Allah saja bukan selainnya dari kekayaan dunia.

Tafsir Ayat Mutasyabihat WAJAH
Kemanapun engkau menghadap maka akan kamu dapati WAJAH ALLAH ( KIBLAT ALLAH ) (QS albaqarah 115) menurut  Mujahid

Saudaraku….

Tafsir Ayat Mutasyabihat TANGAN
Allah SWT telah berfirman dalam Adzariyat : 47
Artinya : ” Dan langit, kami membinanya dengan Tangan(Kekuasaan) Kami….” (Qs adzariyat ayat 47)

Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz  biaidin) adalah “dengan kekuasaan“, bukan maksudnya tangan yang merupakan anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.

Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar sunni :
Dalam Tafsir Qurtuby:
Dalam Tafsir Thabary :
Dalam Tafsir Jalalain ; Biquwati

Lafadz BI AIDIN artinya DENGAN KEKUTAN-NYA
kemudian dalam surat Al-Fath : 10

firman Nya : ”Mereka yg berbai’at padamu sungguh mereka telah berbai’at pada Allah, Tangan Allah diatas tangan mereka” (QS Al Fath 10), dan disaat Bai’at itu tak pernah teriwayatkan bahwa ada tangan turun dari langit yg turut berbai’at pada sahabat.

Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi saw bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”… Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Pada hadits lainnya dijelaskan oleh Rasulullah bahwa dari arah Najd akan timbul dua tanduk iblis. Sekarang kita bertanya-tanya siapakah gerangan? Yakni Musailamah Al Kadzab dan Muhamad Bin Abdul Wahhab. Keduanya datang dari arah itu.

ternyata  akidah  wahabi   dibidang  asma’  wa  shifat  sama  dengan  akidah  Abu  Hasan  Al  Asy’ari…

Akidah Abu Hasan Al Asy’ari  Dalam Kitab Maqalat Al Islamiyyin Sam Dengan Akidah Wahabi  Salafi…  Kenapa  Kaum  Sunni  Cuma  Berani  Mengkafirkan  Akidah  Wahabi  Tetapi  Mengagung Agungkan  Abu Hasan  Al  Asy’ari…. Mazhab Anda Kacau Balau !

Kitab Al Ibanah adalah karya imam Abu Hasan Al-Asy’ari, seperti ditegaskan oleh para ulama, persaksian mereka sudah cukup sebagai
bantahan terhadap orang yang menyangka bahwa kitab itu hanya dinisbatkan kepada beliau bukan karyanya.

PERKATAAN ABU HASAN AL-ASYA’ARI SEPUTAR SIFAT– SIFAT ALLAH
Berikut ini akan dikemukakan perkataan imam Abu Hasan Al-Asy’ari yang diambil dari kitab beliau yaitu Al Ibanah An Ushulid Diyanah dan
Muqolatul Islamiyyin Wakhtilafil Mushollin. Dalam kitab Al Ibanah Bab Kejelasan Perkataan ahlul hak dan ahlussunah , beliau
berkata;

Dan berpendapat dengan apa yang dikatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal–semoga Allah mencerahkan wajahnya,
meninggikan derajatnya, dan memberi balasan yang melimpah. Siapa yang menyelisihi perkataannya dia akan menyimpang, karena dia adalah imam
yang mulia, pemimpin yang sempurna yang dengan perantaranya Allah menjelaskan kebenaran, menumpas kesesatan, membuat minhaj ini menjadi
gamblang, membarantas bid’ah–bid’ah rekayasa para ahli bid’ah, penyelewangan orang yang menyimpang, dan kegamangan orang yang ragu–
ragu. Semoga Allah merohmatinya’.

.
Ringkas perkataan kami adalah kami beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab– kitab-Nya, para Rasul-nya dan apa yang dibawa oleh mereka dari
sisi Allah dan apa yang diriwayatkan oleh para ulama yang terpercaya dari Rasulullah, kami tidak akan menolak sedikitpun, sesunguhnya Allah
adalah Ilah yang Esa, tiada Ilah yang berhak diibadahi kecuali Dia, Dia Esa dan tempat bergantung seluruh makluk, tidak membutuhkan anak
dan istri, dan Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya, Allah mengutusnya dengan membawa petunjuk dan dien yang benar, Surga dan
Neraka benar adanya. Hari kiamat pasti datang, tidak ada kesamaran sedikitpun. Dan Allah akan membangkitkan yang ada di kubur,

dan Allah
bersemayam di atas Arsy, seperti firman-nya.
الرَّحْمَانُ عَلىَ الْعَرْشِ اسْتَوَاى
(Thoha ayat 5)

Allah mempunyai dua tangan, tapi tidak boleh di takyif,
seperti firman-Nya: خَلَقْتُ بِيَدَيً (QS. Shod: 75) dan Firman-Nya:
بَلْ يََدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ (QS. Al Maidah: 64)

Allah mempunyai dua mata tanpa ditakyif, seperti firmanya (QS. Al Qomar: 14)

Allah bersemayam di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana firman Allah :

الرَّحْمَانُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya :
“Allah itu bersemayam di atas ‘arsy” (QS. Thaha : 5)
Dan bahwasanya Allah itu memiliki wajah sebagaimana telah berfirman :

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبُّكَ ذُوْ الجَلاَل وَالإِكْرَامِ

Artinya :
“Kekallah wajah Allah yang memiliki keagungan” (QS. Ar-Rahman : 27).
Bahwasanya Allah memiliki dua tangan (tanpa membahas bagaimana tangan itu), sebagaimana firman Allah :
…لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Ketika Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku” (QS. Shaad : 75).
…بَلْ يَدَاهُ مَبْسوطَتَنِ

Artinya :
“Bahkan kedua tangan Allah iu terbuka” (QS. Al-Maidah : 64).
.

Dan bahwasanya Allah memiliki dua mata tanpa membahas bagaimana mata itu, sebagaimana firman-Nya: …تَجْرَيْ بِأَعْيُنِنَا
Artinya : “Berjalan dengan mata kami ” (QS Al-Qomar :14).

Kita mengatakan bahwa imam yang mulia setelah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam itu adalah Abu Bakar as-Shiddiiq radliallahu ‘anhu. Dan bahwasanya melalui dia, Allah telah menjayakan dan mendhahirkan Islam terhadap orang-orang murtad dan kaum muslimin menjadikannya dia sebagai imamah pertama sebagaimana Rasulullah memperlakukannya demikian, dan mereka semua menamakannya sebagai khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu, kemudian Utsman bin Affan radliallahu ‘anhu kemudian Ali bin Abi Thalib.

Maka mereka itulah imam setelah Rasulullah saw dan kekhilafahan mereka adalah khilafah kenabian (khilafah nubuwwah).
Kita menyaksikan kepastian masuk surga bagi sepuluh sahabat yang dijamin demikian oleh Rasulullah dan kita mencintai seluruh sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berhenti dari membicarakan atas apa-apa yang menjadi perselisihan diantara mereka.

Kita meyakini bahwasanya para imam yang empat itu adalah khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk dan keutamaan, yang selain mereka tidak ada yang menandingi mereka.
Kita membenarkan seluruh riwayat dari para rawi yang tsiqah, yang mana menegaskan turunnya Allah ke langit dunia dan bahwasanya Dia mengatakan apakah ada orang yang meminta ampun, dan membenarkan apa-apa yang mereka riwayatkan dan kukuhkan berbeda halnya dengan apa apa yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang dan sesat.

Kita kembali dalam apa yang kita perselisihkan terhadap Al-Qur’an, sunnah Rasul dan ijma’ kaum muslimin dan apa-apa yang semakna dengan itu, kita tidak berbuat bid’ah yang dilarang dalam Islam ini dan tidak mengatakan apa-apa tentang Allah yang tidak kita ketahui.

Kita mengatakan bahwasanya Allah itu akan datang pada hari kiamat, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Dan Allah itu akan datang pada hari kiamat secara bershaf-shaf” (QS. Al-Mutaffifin : 22).
Dan bahwasanya Allah subhanahu wata’ala mendekat terhadap hamba-hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya :
Artinya :
“Kami lebih dekat daripadanya dari urat kerongkongan” (QS. Qaaf :16)

Artinya :
“Kemudian mendekat dan kemudian lebih mendekat lagi, maka jadilah antara Allah dan Rasulullah antara dua ujung busur panah dan lebih dekat lagi” (QS. An-Najm :8-9).
Dan diantara ajaran dien kita adalah kita menegakkan shalat jum’at, shalat ied dan seluruh shalat jama’ah dibelakang setiap orang baik maupun tidak baik, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhu shalat di belakang Al-Hajjaj.

Bahwasanya mengusap kedua sepatu adalah sunnah baik dalam keadaan mukim atau musafir, lain halnya dengan orang yang mengingkari hal itu.
Kita mendo’akan kebaikan para imam dan mengakui keimamahannya dan menghukum sesat bagi yang membolehkan berontak terhadap mereka apabila tampak dari mereka ketidak istiqomahannya.

Kita meyakini kemungkaran adanya pemberontakan dengan menggunakan pedang dan meninggalkan perang dalam keadaan fitnah dan membenarkan keluarnya Dajjal sebagimana riwayat-riwayat dari Rasulullah tentang hal itu

========================================================================================

ABU  HASAN  AL  ASY’ARi   YANG  MENJADi  KONTROVERSi   SALAFi  WAHABi   vs  NAHDLATUL  ULAMA

Pengikut  Asy’ari   seperti   Nahdlatul  Ulama  tidak menyadari   bahwa  akidah  Asy’ari  yang asli  mirip dengan salafi wahabi yang sekarang.

Di lain pihak, Salafi  Wahabi tidak menyadari bahwa Abu Hasan Al Asy’ari ternyata  “masih ahlul kalam”….

Petaka aswaja sunni karena salah pilih imam  dibidang akidah…

Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin.
Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah
orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu
Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.
Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir.. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa  keutamaan sahabat besar adalah Abubakar lalu Umar lalu Usman lalu Ali.. Juga disebutkan  wajib taat pada pemimpin…Dan dikitab itu disebutkan bahwa orang mu’min  boleh berimam shalat pada ahli bid’ah/orang fasik

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir..…  ARTiNYA  walaupun  mereka  menganggap hal tersebut   SEBAGAi   BERBEDA  DENGAN  MAKHLUK, tetapi  I’tiqad  ahlul  hadis  hasywiyyah  dan Abu Hasan  Al  Asy’ari   adalah  antropomorfis  !!!!!!

Dalam  kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin, tokoh  sunni   Abu  HAsan Al  Asy’ari  menulis  : “ Keagungan  Allah  mempunyai batas  yang  berdekatan dengan bagian  tertinggi   dari   ‘arsy nya”… Abu  Hasan  menyatakan : “Allah mempunyai  dua  tangan, dua mata, dua  kaki, semua  akan binasa kecuali  WAJAH nya ( Kitab  Maqalat  Al  islamiyyin hal. 295 )

Pertanyaan :

  1. Apakah  keagungan  ZAT  Allah  cuma  sebatas  bagian tertinggi  dari  arsy nya ???
  2. Apakah  tangan  dan  mata  Allah  akan  binasa  ????

Bagi   syi’ah  : ini  pelecehan ………

Pada masa  Rasululullah  SAW :   Kaum  mujassimah  dari  kalangan  Yahudi  ( ahlul kitab ) memiliki  i’tiqad MEMBADANKAN  ALLAH, sehingga mereka  terjerat kedalam ekstrimitas…Namun  hal tersebut  menyusup kedalam ajaran Islam

Abu  Hurairah  yang  merupakan  MANTAN  YAHUDi  (  kemudian ia masuk  Islam   ) memiliki  beberapa  orang  sahabat  karib  dari  kalangan  mantan  ahlul kitab yang  masuk  Islam seperti  Ka’ab  al  Ahbar  dan  Wahab Munabbih  memasukkan  akidah  israilliyat  kedalam  hadis  sunni…

Penganut  mazhab  hambali  ( salafiah ) menolak  keras  asy’ariyyah  maturidiyyah  karena  dua aliran kalam ini dianggap bid’ah….

Pada  akhirnya….

Aliran   ASY’ARiYYAH   MAMPU  MENGALAHKAN  DUA  ALiRAN  :

  1. Aliran   rasionalis   mu’tazilah
  2. Aliran   ahlul   hadis  hasywiyyah  ( anti  ilmu  kalam )

kedua aliran ini terkapar…. karena aliran kalam aswaja sunni dibentuk Abu hAsan al asy’ari dan abu manshur al maturidy… Jadi  asy’ari dan maturidy merupakan perintis  awal  aliran kalam aswaja sunni

—————-

Pertanyaan  : Dimanakah  posisi  Abu  Hasan Al  Asy’ari  ???

Jawab : Asy’ari  adalah  tokoh  aliran  kalam  yang  mencoba  memadukan aliran  mu’tazilah  dengan  aliran  ahlul  hadis  hasywiyyah

———————–

Pertanyaan : Wahabi  mengklaim  Abu  HAsan  Al  Asy’ari  mengalami  3  fase  kehidupan,  jadi  asy’ari  adalah  salafi  ????

Jawab : Abu  Hasan  Al  Asy’ari  mencetuskan  teori  kasb, yang mana teori  ini  dikecam  keras  oleh  iBNU   TAiMIYYAH  karena  berbau  jabariyah..

Dalam maqolatul Islamiyyin bab inilah hikayat Sekumpulan perkatan
ahlul hadits dan ahlussunah, hal 290–297 beliau berkata seperti yang
tercantum dalam Al Ibanah di muka. Kemudian pada akhir Bab beliau
berkata: “Inilah sekumpulan perkataan yang diperintahkan, dilaksanakan
oleh mereka dan itulah pendapat mereka, kami berkata dan berpendapat
sama persis dengan siapa perkataan dan pendapat mereka. Tidak ada yang
memberi taufik kepada kami kecuali Allah saja. Dialah yang mencukupi
kami dan dialah sebaik–baik pemelihara. Kepada-Nya kami meminta
pertolongan, kepada-Nya kami bertawakal dan kepada-Nya akan kembali!
Dari dua kitab tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa beliau
menetapkan:
1.      Sifat–sifat yang tetap bagi Allah yang termaktuf dalam kitab-nya
dan dalam sunah nabi-Nya secara hakiki sesuai kegungan Allah ta’ala,
seperti sifat istiwa Allah di atas Arsy, Allah mempunyai dua tangan,
dua mata dan wajah secra hakiki, namun tidak boleh ditanyakan
bentuknya dan diserupakan dengan makhluk. Allah memiliki sifat ilmu,
pendengaran, penglihatan, kekuatan dan irodah (berkehendak) Allah
berbicara dan al Qur’an adalah kalam Allah, Allah turun ke langit
dunia.
2.      Allah akan dilihat pada hari kiamat dengan jelas tanpa pengahalng.
3.      Allah akan datang (sifat mamji’) pada hari kiamat sedangkan
malaikat berbaris )

Tidak hanya itu dalam kitab lainnya Risalah Ila Ahli Tsaghr, beliau
menetapkan adanya ijma” kesepakatan salaf dalam masalah aqidah
khususnya asma dan sifat yaitu;
1.      Salaf bersepakat menetapkan sifat mendengar, melihat, dua tangan,
sifat qobdh (menggenggam) dan dua tangan Allah adalah kanan.
2.      Mereka bersepakat menetapkan sifat nuzul (Allah turun ke langit
dunia pada sepertiga malam yang akhir), maji (kedatangan Allah pada
hari kiamat untuk memutuskan), uluw (ketinggian) dan Allah berada di
atas arsy.
3.      Mereka bersepakat bahwa kaum mukmin akan melihat Allah pada hari
kiamat dengan mata mereka, (hal 210 – 225)

ABU  HASAN  AL  ASY’ARi   YANG  MENJADi  KONTROVERSi   SALAFi  WAHABi   vs  NAHDLATUL  ULAMA

Pengikut  Asy’ari   seperti   Nahdlatul  Ulama  tidak menyadari   bahwa  akidah  Asy’ari  yang asli  mirip dengan salafi wahabi yang sekarang.

Di lain pihak, Salafi  Wahabi tidak menyadari bahwa Abu Hasan Al Asy’ari ternyata  “masih ahlul kalam”….

Petaka aswaja sunni karena salah pilih imam  dibidang akidah…

Lebih aneh lagi ucapan yang terlontar dari Pensyarah kitab Ihya Ulumuddin, Imam Az Zabidi dalam kitabnya Ittihaf Sadatul Mutaqiin.
Apabila disebut kaum Ahlussunah wal jama’ah, maka maksudnya ialah
orang–orang yang mengikuti rumusan (faham) Asy’ari dan faham Abu
Manshur Al-Maturidi. (Lihat I’tiqad Ahlussunah Wal Jama’ah, KH.
Sirojuddin Abbas, hal. 16–17)

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir.. Dalam kitab itu juga disebutkan bahwa  keutamaan sahabat besar adalah Abubakar lalu Umar lalu Usman lalu Ali.. Juga disebutkan  wajib taat pada pemimpin…Dan dikitab itu disebutkan bahwa orang mu’min  boleh berimam shalat pada ahli bid’ah/orang fasik

Dalam kitab  Al Maqalat  Al  Islamiyyin disebutkan :  Imam  Ahmad  bin  Hambal  ( Ahlul   hadis   ) dan   Abu  Hasan  Al Asy’ari   meyakini   bahwa  Allah  memiliki  anggota  badan   jasmaniah seperti  : dua tangan, wajah, dua mata, mereka  juga meyakini  bahwa  Allah  bertempat  di arsy  dan turun  ke langit  dunia  pada  sepertiga malam yang akhir..…  ARTiNYA  walaupun  mereka  menganggap hal tersebut   SEBAGAi   BERBEDA  DENGAN  MAKHLUK, tetapi  I’tiqad  ahlul  hadis  hasywiyyah  dan Abu Hasan  Al  Asy’ari   adalah  antropomorfis  !!!!!!

Dalam  kitab  Maqalat  Al  Islamiyyin, tokoh  sunni   Abu  HAsan Al  Asy’ari  menulis  : “ Keagungan  Allah  mempunyai batas  yang  berdekatan dengan bagian  tertinggi   dari   ‘arsy nya”… Abu  Hasan  menyatakan : “Allah mempunyai  dua  tangan, dua mata, dua  kaki, semua  akan binasa kecuali  WAJAH nya ( Kitab  Maqalat  Al  islamiyyin hal. 295 )

Pertanyaan :

  1. Apakah  keagungan  ZAT  Allah  cuma  sebatas  bagian tertinggi  dari  arsy nya ???
  2. Apakah  tangan  dan  mata  Allah  akan  binasa  ????

Bagi   syi’ah  : ini  pelecehan ………

Pada masa  Rasululullah  SAW :   Kaum  mujassimah  dari  kalangan  Yahudi  ( ahlul kitab ) memiliki  i’tiqad MEMBADANKAN  ALLAH, sehingga mereka  terjerat kedalam ekstrimitas…Namun  hal tersebut  menyusup kedalam ajaran Islam

Abu  Hurairah  yang  merupakan  MANTAN  YAHUDi  (  kemudian ia masuk  Islam   ) memiliki  beberapa  orang  sahabat  karib  dari  kalangan  mantan  ahlul kitab yang  masuk  Islam seperti  Ka’ab  al  Ahbar  dan  Wahab Munabbih  memasukkan  akidah  israilliyat  kedalam  hadis  sunni…

Penganut  mazhab  hambali  ( salafiah ) menolak  keras  asy’ariyyah  maturidiyyah  karena  dua aliran kalam ini dianggap bid’ah….

Pada  akhirnya….

Aliran   ASY’ARiYYAH   MAMPU  MENGALAHKAN  DUA  ALiRAN  :

  1. Aliran   rasionalis   mu’tazilah
  2. Aliran   ahlul   hadis  hasywiyyah  ( anti  ilmu  kalam )

kedua aliran ini terkapar…. karena aliran kalam aswaja sunni dibentuk Abu hAsan al asy’ari dan abu manshur al maturidy… Jadi  asy’ari dan maturidy merupakan perintis  awal  aliran kalam aswaja sunni

—————-

Pertanyaan  : Dimanakah  posisi  Abu  Hasan Al  Asy’ari  ???

Jawab : Asy’ari  adalah  tokoh  aliran  kalam  yang  mencoba  memadukan aliran  mu’tazilah  dengan  aliran  ahlul  hadis  hasywiyyah

———————–

Pertanyaan : Wahabi  mengklaim  Abu  HAsan  Al  Asy’ari  mengalami  3  fase  kehidupan,  jadi  asy’ari  adalah  salafi  ????

Jawab : Abu  Hasan  Al  Asy’ari  mencetuskan  teori  kasb, yang mana teori  ini  dikecam  keras  oleh  iBNU   TAiMIYYAH  karena  berbau  jabariyah.. Itulah bukti  Asy’ari  adalah  tokoh  kalam dan  asy’ari   bukan  salafi  murni  !!!!!!!!!!!!!!

Allah SWT Dalam Akidah Ahlusunnah

Di antara keyakinan tentang Allah SWT dan sifat-sifat-Nya yang meniscayakan tajsîm dan tasybîh adalah keyakinan bahwa Allah SWT itu butuh kepada ruang dan wadah untuk bertempat. Dan tempat itu adalah Arsy. Dan Arsy yang di atasnya Allah bersemayam itu dipikul oleh delapan malaikat dalam bentuk kambing hutan yang mengapung di atas laut di atas langit ke tujuh. Dalam laut itu seperti tebal antara langit yang satu dengan langit lainnya! Demikianlah keyakinan Mazhab Sunni dalam menggambarkan Tuhan yang dibangun di atas hadis-hadis yang diriwayatkan para muhaddis dan dibakukan sebagai dasar akidah oleh para ulama Sunni. Hadis tentangnya dikenal dengan nama hadis Au’âl (kambing jantan).

Untuk menyingkat pembahasan ini, saya akan sebutkan langsung nash hadis andalan Mazhab Sunni dalam menegakkan akidah yang satu ini.

Nash Hadis Au’âl!

Para muhaddis Sunni, di antaranya Al Hâkim dalam kitab al Mustadrak-nya[1] dengan sanad: Dari Abdullah ibn Umarah dari Abbas ibn Abdil Muththalib, ia berkata:

.

كنا جلوساً مع رسول الله (ص) بالبطحاء ، فمرت سحابة ، فقال رسول الله (ص) : أتدرون ما هذا ؟ فقلنا : الله ورسوله أعلم . فقال السحاب . فقلنا: السحاب ؟ فقال : والمزن فقلنا : وما المزن ؟ فقال : والعنان ، ثم سكت ، ثم قال : أتدرون كم بين السماء والأرض ؟

فقلنا : الله ورسوله أعلم .

فقال : بينهما مسيرة خمسمائة سنة ، وبين كل سماء إلى السماء التي تليها مسيرة خمسمائة سنة ، وكثف كل سماء مسيرة خمسمائة سنة ، وفوق السماء السابعة بحر بين أعلاه وأسفله كما بين السماء والأرض ، ثم فوق ذلك ثمانية أوعال بين ركبهم وأظلافهم كما بين السماء والأرض ، والله فوق ذلك ليس يخفى عليه من أعمال بني آدم شيء .

.

Ketika kami sedangn duduk di sisi Rasulullah saw. di sebuah lembah, lalu lewatlah awan, maka beliau saw. bersabda: ‘Tahukah kalian apa namanya ini?’ kamipun menjawab, ‘Allah dan rasul-Nya lah yang lebih tau.’ Lalu beliau bersabda, ‘Ia adalah sahâb/awan.’ Maka kamipun mengatakan: ‘awan.’ Dan al muzn, lanjut beliau. Maka kami pun mengatakan, al muzn. Al ‘anân, tambah beliau lagi, dan kami pun mengatakannya. Kemudian beliau berhenti sejenak lalu bersabda: ‘Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bumi?

Kamipun menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih mengetahui.’

Lanjut beliau: ‘Jarak antara langit dan bumi adalah lima ratus tahun (perjalanan). Dan jarak antara satu langit dengan langit setelahnya adalah lima ratus tahun (perjalanan). Dan tebal antara satu langit dengan langit berikutnya adalah lima ratus tahun (perjalanan).

Dan di atas langit ke tujuh terdapat lautan yang jarak antara atas dan bawahnya seperti jarak antara langit dan bumi. Kemudian di atas itu terdapat delapan kambing hutan yang antara lutut dan kuku-kuku mereka sepertti jarak antara langit dan bumi. Dan Allah berada di atas itu. Tiada terseumbunyi sedikitpun dari amal anak Adam.”

(Al Hâkim berkata; “Hadis ini shahhih sanadnya akan tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.” Adz Dzahabi juga menyetujui penshahihan itu.)

Seperti telah disinggung bahwa hadis di atas telah diriwayatkan banyak ulama selain al Hâkim, di antaranya adalah:

1)  Ahmad dalam Musnad-nya. Hanya saja dalam riwayat Ahmad terdapat tambahan di akhirnyta:

.

: ثم فوق ذلك ثمانية أوعال بين ركبهن وأظلافهن كما بين السماء والأرض ، ثم فوق ذلك العرش بين أسفله وأعلاه كما بين السماء والأرض ، والله تبارك وتعالى فوق ذلك وليس يخفى عليه من أعمال بنى آدم شيء

“Kemudian di atasnya terdapat delapan ekor kambing hutan yang jarak antara lutut dan kuku-kuku mereka seperti jarak antara kangit dan bumi. Kemudian di atasnya terdapat Arsy yang jarak antara atas dan bawahnya seperti jarak antara kangit dan bumi. Dan Allah Yang Maha Berkah dan maha Tinggi berada di atasnya. Dan tiada samar atas-Nya amal-amal bani Adam.[2]

2)      At Turmudzi dan ia mengatakan: “hadis itu Hasan Gharîb.

3)      Abu Daud.

4)      Ibnu Mâjah.

5)      Abu Ya’lâ al Mûshili.

6)      Al Bzzâr.

7)      Ibnu Ab Syaibah dalam kitab al ‘Arsy.

8)      Al Fâkihi dalam kitab Akhâr Mekkah.

9)      Ibnu Abi Hâtim.

10)   Al Lâlakai ath Thabari dalam ‘Ushûl I’tiqâd Ahlisunnah wal Jamâ’ah.

11) Al âjuri dalam kitab Syarî’ah.

12)   Utsman ibn Sa’ad ad Dârimi dalam an Naqdhi, dan dalam ar radd ‘Ala al jahmiah.

13)   Ibnu Khuzaimah dalam kitab at Tauhid.

14)   Ibnu Mandah dalam kitab at Tauhid.

15)   Al baihaqi dalam al Asmâ’ wa ash Shifât.

16)   Abu Bakr asy Syafi’i dalam kitab al Fawâid.

17)   Ar Ruyâni dalam Musnad-nya.

18)   Ibnu ABdil Barr dalam att Tamhid-nya.

19)   Abu Syaikh al Isfahâni dalam kitab al ‘Adhamah.

20)   Al Maqdisi dalam kitab al Mutkhtarah-nya.

21)   Adz Dzahabi dalam kktab al ‘Uluw-nya.

22)   Dan selain mereka masih banyak lainnya.[3]

Pernyataan Para Ulama Ahlusunnah wal Jamâah

Para ulama Ahlusunnah-khusunya yang bermazhab Hanbali, yang sekarang menamakan diri dengan Salafiyah telah menshahihkan hadis di atas dan menjadikannya dasar dalam meyakini bahwa Allah (Maha Suci Allah dari pensifatan kaum Jahil) itu bertempat dan bersemayam di atas Arsy-Nya yang dipikul oleh delapan malaikat yang menyerupai rupa kambing. Di antara mereka:

1)                  Al Hâkim

2)                  Adz Dzahabi seperti telah Anda baca bersama pernyataan mereka berdua.

3)      Ibnu Tamiyah (yang selalu mereka sebut dengan gelar Syeikhul Islam sebagai penghormatan.

Keterangan Ibnu Tamiyah

Dalam perdebatannya dengan lawan akidah al Wâsithiah-nya, Ibnu Tamiyah yang dipojokkan kerena meyakini apa yang disebutkan dalam hadis membela diri dengan mengatakan:

.

… وطلب بعضهم إعادة قراءة الأحاديث المذكورة في العقيدة ليطعن في بعضها ، فعرفت مقصوده . فقلت: كأنك قد استعددت للطعن في حديث الأوعـال: حديث العباس بن عبـد المطلب .

“Sebagian mereka meminta untuk meneliti kembali hadis-hadis tersebut dalam Aqidah karena sebagiannya ada yang cacat. Aku mengerti maksudnya, maka aku berkata, ‘Sepertinya kamu telah menyiapkan kecaman atas hadis Au’âl yaitu hadis riwayat Abbas ibn Abdul Muththalib

Lalu ia mengatakan:

.

وكانوا قد اعنتوا حتى ظفروا بما تكلم به زكي الدين عبد العظيم من قول البخاري في تأريخه : عبد الله بن عميرة لا يعرف له سماع من الأحنف . فقلت : هذا الحديث مع أنه رواه أهل السنن كأبي داود ، وابن ماجة ، والترمذي ، وغيرهم ، فهو مروي من طريقين مشهورين فالقدح في أحدهما لا يقدح في الآخر .

فقال : أليس مداره على ابن عميرة ، وقد قال البخاري : لا يُعرف له سماع من الأحنف ؟

فقلت : قد رواه إمام الأئمة ابن خزيمة في كتاب التوحيد الذي اشترط فيه أنه لا يحتج فيه إلا بما نقله العدل عن العدل موصولاً إلى النبي صلى الله عليه (وآله) وسلم . قلت : والإثبات مقدم على النفي ، والبخاري إنما نفى معرفة سماعه من الأحنف ، لم ينف معرفة الناس بهذا ، فإذا عرف غيره كإمام الأئمة ابن خزيمة ما ثبت به الإسناد كان معرفته وإثباته مقدماً على نفي غيره وعدم معرفته .

.

“Mereka telah bersungguh-sungguh dalam memerhatikan hadis ini sehingga mereka menemukan keterangan dari Zakiyyuddîn Abdul ‘Adzim yang menukil pernyataan Bukhari dalam kitab Târîkh-nya: ‘Abdullah ibn ‘Umairah itu tidak dikenal pernah mendengar hadis dari Ahnaf.’ Maka aku berkata: ‘Hadis ini telah diriwayatkan oleh penulis kitab Sunan seperti Abu Daud, Ibnu Mâjah, at Turmudzi dan lainnya. Dia telah diriwayatkan dari dua jalur yang terkenal. Mengecam salah satunya tidak akan mencacat hadis jalur lainnya.

Ia berkata: ‘Bukankah hadis itu berporos pada Ibnu ‘Umairah, sementara Bukhari telah berkata: ‘Abdullah ibn ‘Umairah itu tidak dikenal pernah mendengar hadis dari Ahnaf?’

Maka aku berkata: “Hadis itu telah diriwayatkan oleh imam para imam; Ibnu Khuzaimah dalam kitab at Tauhid-nya yang di dalamnya ia mensyaratkan untuk tidak berhujjah melainkan dengan hadis yang dinukil oleh parawi adil hingga bersambung kepada Nabi saw. Aku (Ibnu Taimyah) berkata: ’Dan yang menetapkan lebih diutamakan dari yang menafikan. Bukhari hanya menafikan pengetahuannya bahwa Ibnu ‘Umairah itu pernah mendengar riwayat dai Ahnaf. Tetapi ia tidak menafikan pengetahuan orang lain. Maka jika ada seorang imam lain seperti Ibnu Khuzaimah; imam para imam mengetahuinya yang dengannya telah tetap sanad maka ia lebih diutamakan atas penafian selainnya dan ketidak tauannya. [4]

4)      Ibnu Qayyim al Jauziyah (murid setia Ibnu Tamiyah)

Ibnu Qayyim juga menshahihkan hadis ini dalam Hasyiah (cacatan pinggir atas kitab) Sunan Abu Daud. Dan setelah menyebutkan beberap kritik di antaranya pertentangannya dengan hadis Abu Hurairah, ia berkata:

فكل منهما يصدق الآخر ويشهد بصحته ، ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافاً كثيراً .

“Maka kedua hadis itu saling membenarkan dan mendukung keshahihannya. Andai bukan dari Allah pastilah kamu menemukan pertentangan yang banyak. [5]

Inilah dongeng Au’âl yang menjadi akidah andalan para ulama Ahlusunnah. Dan itulah keterangan para ulama tentangnya dan selain mereka masih banyak lainnya.

Ibnu Jakfari berkata

Jika Anda meneliti akidah kaum pagan dan rajin membaca dongeng-dongeng bangsa Yunani kuno pasti Anda akan segera mengetahui sumber dongeng yang berubah menjadi akidah andalan Mazhab Sunni. Dalam dongeng bangsa Yunani kuno digambarkan bahwa tuahn mereka mengendareai singgasana dan kendaraan yang memuatnya. Jelas gambaran Tuhan seperti dalam hadis Au’âl adalah akidah yang sangat bertentangan dengan Kemaha Sucian Allah!

Saya yakin Anda setuju jika ada yang mengatakan bahwa Allah harus disucikan dari pensifatan kaum jahil. Dan meyakini bahwa Allah –Dzat Yang Maha Agung dan Maha Suci dari butuh kepada makhluk-Nya!

Tetapi jika kebutuhan Allah kepada bertempat….  Bersemayam di atas Arsy yang dipikul oleh Au’âl (kambing hutan jantan) yang mengapung di atas lautan yang berada di atas langit ke tujuh itu tidak dianggap bertentangan dengan kemaha sucian Allah SWT.. maka apa yang harus kami katakkan?

Para ulama Ahlusunnah (khususnya mereka yang kental dengan kayakinan tajsîm dan tasybîh) hanya sibuk menerangkan bahwa yang dimaksud dengan Au’âl itu adalah para malaikat yang memikul Arsy yang di atasnya Allah SWT bersemayam, bukan kambing hutan jantan yang beneran. Mungkin dalam anggapan mereka dengan demikian masalahnya menjadi beres… kemaha sucian Allah terselamatkan!

Apa bedanya, Allah yang sedang bersemayam di atas Arsy yang mana Arsy-Nya dipikul makhluk-Nya, baik dia itu kambing hutan jantan atau malaikat? Apakah akan merubah masalah? Tolong fatwakan kepada kami, semoga Allah merahmati dan memberi upah surga abadi untuk kalian wahai Sunniyyûn?

Mungkin akal kami sangat terbatas dan tidak sejenius kalian, sehingga mampu meyakini Kemaha Sucian Allah itu terletak pada bersemayamnya Allah di atas Arsy yang ditegakkan di atas punggung Au’âl dan bukan pada ketidak butuhan Allah SWT kepada tempat, apapun dia, Arsy atau lainya? Sebab seperti disabdakan dan diajarkan para imam Ahlulbait as. yang kami beriman akan keimamahan dan kemaksuman mereka menegaskan bahwa Maha Suci Allah dari bertempat, sebab Dia adalah Dzat yang Azali dan telah wujud sebelum wujudnya tempat. Dialah yang menciptakan tempat, lalu bagaimana Dia butuh kepada bertempat.

Namun sayang, sabda-sabda suci para imam suci tidak kalian hiraukan dan tidak diindahkan. Kalian lebih bangga mengandalkan hadis-hadis palsu buatan kaum pembatil. Innâ Lillâhi wa Innâ ilaihi Râji’ûn.


[1] Mustadrak,1/378.

[2] Musnad Ahmad,1/206.

[3] Sunan at Turmudzi,5/395 hadis:3320, Sunan Abu Daud,4/231, ‘Aun al Ma’bûd (syarah Sunan Abu Daud,7/4-6, Sunan Ibnu Mâjah,1/69 hadis:193, Musnad al Bazzâr,4/135 hadis:1310, al Asmâ’ wa ash Shifât:526, Musnad Abu Ya’lâ,12/76 hdis:6713, Akhbâr Mekkah,3/76, 77 hadis:1827, kitab Al Arsy:319-322, ar Radd ‘ala al Jahmiah:50 hadis 72, at Tamhîd,7/140, al Ahâhîts al Mikhtârah,8/378 dan 375 hadis: 462 dan376 hadis:464, Syarah ‘Ushûli Aqidah Ahlisunnah,3/389-390 nomer:650, 390-391 nomer:651, at Tauhîd; Ibnu Khuzaimah:101-102, kitab as Sunnah; Ibnu Abi ‘Âshim,1/253 hadis:577, 254 hadis:578 , kitab al ‘Adhamah:82 nomer 206, 2/566 nomer 15, asy Syari’ah:292, al ‘Uluw:59, Itsbât Shifati al ‘Uluw; Ibnu Qudamah al Maqdisi:59, dan Firdaus al Akhbâr,5/130.

[4] Majmû’ Fatâwa Ibn Tamiyah,3/191-193.

[5] Hasyiyah atas Sunan Abu Daud,7/8 Dan pernyataan Ibnu Qayyim di atas dapat juga Anda baca dalam Tuhfatu Ahwadzi (syarah Sunan at Turmudzi; Al Mubarakfuri)9/166.

=====================================================================

Bandingkan Akidah Kalian Dengan Akidah Kami!!

Tidak ada yang dapat dipercaya dalam mengawal agama Islam selain pribadi-pribadi suci yang telah direkomendasikan Allah dan rasul-Nya untuk menjadi pengawal dan menjaga agama-Nya dari kerusakan dan penyimpangan yang dilakoni oleh kaum-kaum, yang entah dengan sengaja atau karena keteledoran atau karena kelemahan dan kejahilan.

Dalam salah satu hadis shahihnya, Nabi tercinta saw. telah memperkenalkan kepada kita pribadi-pribadi suci yang lahir dari pohon kenabian. Beliau saw. bersabda:

فِيْ كُلِّ خَلَفٍ مِن أُمَّتِي عُدولٌ مِن أهْلِ بَيْتِي، يَنْفَونَ عَن هذا الدِّيْنِ تَحْرِيْفَ الضَّالِّيْن، وانْتِحالَ الْمُبْطِلِيْنَ، وَتأوِيْلَ الجاهِلِين. الاَ و إنَّ أَئِمَّتَكُم وَفْدُكُم إلىَ اللهِ، فَانْظُرُوا مَنْ تُوْفِدُوْنَ.

“Pada setiap generasi dari umatku ada orang-orang adil dari Ahlulbaitku, mereka menghilangkan dari agama ini penyimpangan kaum sesat, penambahan kaum pembatil dan penakwilan menyimpang kaum jahil. Ketahuilah bahwa para imam kalian adalah delegasi yang membimbing kalian menuju Allah, maka perhatikan siapa yang kalian jadikan delegasi.” [1]

Perhatikan! Bagaimana Nabi saw. telah mensinyalir terjadinya kerusakan dan penyimpangan, khususnya dalam akidah dengan memperalat ayat-ayat mutasyâbihât dan memalsu atau tertipu oleh hadis palsu yang akan dialami oleh agama Islam -yang dengan susah payah dan pengorbanan beliau perjuangkan-. Dan yang melakoninya adalah trio penyesat umat:

  1. Kaum Sesat, dengan penyimpangan tafsir agama yang disengaja untuk menyesatkan para pejalan di padang pasir luas tak bertepi menuju hidayah Allah SWT…
  2. Kaum Pembatil yang mengaku-ngaku menyandang maqam tertentu dan memikiki kedudukan istimewa di sisi Allah SWT yang kemudian dengannya mereka menjaring kaum yang sedang kebingungan mencari-cari figur panutannya yang akan menuntunnya menuju tepian petunjuk Ilahi dan kebahagian serta kedamaian abadi…
  3. Kaum Jahil yang memaksa diri menyelami lautan ajaran Islam lalu menebak-nebak takwil dan maksud ajaran langit…

Sebagai bukti kecil, kami akan sebutkan dua model sajian akidah yang ditawarkan Ahlulbait suci Nabi saw. dan yang ditawarkan oleh selain Ahlulbait suci as.

  • Akidah Tauhid Tawaran Sunni

Para ulama Sunni telah meriwayatkan hadis atas nama Nabi saw. dari Umar dan selainnya, bahwa Allah SWT duduk di atas Arsy-Nya. Dan Arsy itu mengeluarkan suara tanda adanya beban berat yang ia pikul. Maha Suci Allah dari bualan kaum Pembid’ah!

Al Haitsami meriwayatkan dalam kitab Majma’ az Zawâid,1/83 dari Umar:

أن امرأة أتت النبي (ص) فقالت: أدع الله أن يدخلني الجنة، فَعَظَّمَ الرب تبارك وتعالى وقال:إن كرسيه وسع السموات والأرض، وإن له أطيطاً كأطيط الرَّحْل الجديد إذا رُكب، من ثقله

“Bahwa ada seorang wanita datag menemui Nabi saw. lalu berkata, ‘Berdoalah agar Allah memasukkanku ke dalam surga.’ Maka Nabi saw. mengagungkan Tuhan Maha Berkah Lagi Maha Tinggi, lalu berkata: “Sesungguhnya Kursi-Nya melebihi luasnya langit-langit dan bumi, dan ia (kursi Allah) memiliki bunyi/athîth seperti athîth kendaraan baru jika dikendarai karena bobot-Nya.”

Setelah meriwayatkannya, al Haitsami menegaskan kesahihannya dengan mengatakan:

رواه البزار ورجاله رجال الصحيح

“Hadis ini dirwayatkan oleh al Bazzâr dan seluruh perawinya adalah parawi berkualitas sahih.”

Jika demikian pasti Anda berhak bertanya, berapa juta ton bobot Tuhan mereka sehingga Kursi Allah hampi-hampir tak sanggup menaggung-Nya dan merasa keberatan sehingga mengeluarkan suara/ athîth?

Sementara di hadis lain, yang juga diriwayatkan dan disahihahkan para penggede ulama dan imam Ahlusunnah bahwa langit … itu berada dalam genggaman jari-jemari Allah… dan yang aneh jari-jemari Allah masih belum jelas jumlahnya, menurut sebagian riwayatnya ada enam sementara hadis lainnya memastikan jumlahnya ada lima….

Imam Bukhaari meriwayatkan dalam kitab Shahih karangannya,6/33 dari Abdulllah ibn Umar, ia berkata:.

.

جاء حبر من الأحبار إلى رسول الله (ص) فقال: يا محمد إنا نجد أن الله يجعل السماوات على إصبع والأرضين على إصبع والشجر على إصبع والماء والثرى على إصبع وسائر الخلائق على إصبع فيقول أنا الملك! فضحك النبي (ص) حتى بدت نواجذه تصديقاً لقول الحبر!

.

“Ada seorang pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata, “Hai Muhammad, kami menemukan (dalam kitab Taurat_pen) bahwa Allah menjadikan langit-langit di atas sebuah jari, bumi-bumi di atas sebuah jari lain, pepohonan di atas jari lain lagi, air di atas jari, bintang di atas jari dan seluruh ciptaan di atas jari lain. Lalu Dia berfiman; “Akulah Raja!” Maka Nabi saw. tertawa sehingga gigi-gigi graham beliau terlihat sebagai pembenaran atas ucapan sang pendeta.”

Hadis serupa juga diriwayatkan Imam Sunni Ahmad ibn Hanbal dalam kitab Musnad-Nya,1/457 dari Abdullah ibn Mas’ud:

.

جاء حبر إلى رسول الله (ص) فقال: يامحمد أو يا رسول الله إن الله عز وجل يوم القيامة يحمل السموات على إصبع والأرضين على إصبع والجبال على إصبع والشجر على إصبع والماء والثرى على إصبع وسائر الخلق على إصبع، يهزهن فيقول أنا الملك! فضحك رسول الله (ص) حتى بدت نواجذه تصديقاً لقول الحبر.

“Ada seorang pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah saw. lalu berkata, “Hai Muhammad, (atau ia berkata: Hai Rasul Allah), sesungguhnya Allah –Azza wa Jalla/Yang Maha Mulia lagi Maha Agung- pada hari kiamat akan menggotong langit-langit di atas sebuah jari, bumi-bumi di atas sebuah jari lain, gunung-gunung di atas sebuah jari, pepohonan di atas jari lain lagi, air di atas jari, bintang di atas jari dan seluruh ciptaan di atas jari lain, Dia menggoyangkannya sambil berfiman; “Akulah Raja!” Maka Nabi saw. tertawa sehingga gigi-gigi graham beliau terlihat sebagai pembenaran atas ucapan sang pendeta.” [2]

.

Hadis ini juga disambut gembira oleh pendiri sekte Wahhâbiyah; Ibnu ABdil Wahhâb dalam kitab at Tauhid karyanya.

Demikian mereka memperkenalkan kemaha agungan Allah…. Allah berbobot sehingga membuat berat Kusri yang Dia duduki dan dalam lembaran lain justru seluruh ciptaan-Nya  (termasuk Kursi sebab ia adalah termasuk ciptaan Allah) berada di atas sebuah jari-Nya.

Konsep Tauhid Tawaran Ahlulbait as.

Nah, sekarang bandingkan dengan sabda Ahlulbait suci as. sebagaimana diriwayatkan Nabi saw ; Syeikh al Kulaini dalam kitab berharga beliau al Kâfi yang mulia,1/130:

.

عن صفوان بن يحيى قال: سألني أبو قرة المحدث أن أدخله على أبي الحسن الرضا (عليه السلام) فأستأذنته فأذن لي فدخل فسأله عن الحلال والحرام، ثم قال له: أفتقر أن الله محمول؟ فقال أبو الحسن (عليه السلام): كل محمول مفعول به مضاف إلى غيره محتاج، والمحمول اسم نقص في اللفظ، والحامل فاعل وهو في اللفظ مدحة، وكذلك قول القائل: فوق وتحت وأعلى وأسفل، وقد قال الله: (وَللهِ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا)، ولم يقل في كتبه، إنه المحمول،بل قال: إنه الحامل في البر والبحر، والممسك السماوات والأرض أن تزولا، والمحمول ما سوى الله! ولم يسمع أحد آمن بالله وعظمته قط قال في دعائه: يا محمول!!

“Dari Shafwân ibn Yahya, ia berkata, Abu Qarrah memintaku agar aku memasukkannya menemui Abul Hasan ar Ridha as., lalu aku memintakan izin untuknya, kemudian beliau mengizinkan dan iapun masuk, lalu bertanya kepada Imam tentang masalah (hukum) halal dan haram. Kemudian ia berkata kepadanya, ‘Apakah engkau mengakui bahwa Allah itu dimuat/dipikul?’ Maka Abul Hasan as. bersabda: “setiap yang dipikul itu berarti ia maf’ûl (dikenai pekerjaan) dan disandarkan kepada sesuatu lainnya dan butuh. Yang diangkut itu adalah kata yang mengandung konotasi kurang/cacat. Sedangkan ‘si pembawa’ adalah palaku, dan ia dalam pengucapan adalah pujian. Demikain pula dengan ucapan seorang: di atas, di bawah, lebih tinggi dan lebih rendah/lebih di bawah. Dan Allah telah berfirman: “Dan bagi-Nya nama-nama yang baik, maka serulah Dia dengannya.” Dan Allah tidak pernah berfirman dalam kitab-kitab suci-Nya bahwa Dia dipikul/dimuat. Bahkan Dialah Dzat Yang Membawa baik di lautan maupun di daratan. Dialah yang menahan langit-langit dan bumi dari berjatuhan/sirna. Yang diangkut itu yang selain Allah! Dan tidak pernah didengar ada seorang yang beriman kepada Allah dan mengakui keagungan-Nya berkata dalam doa yang ia panjatkan: Wahai Dzat yang Diangkut.


قال أبو قرة: فإنه قال: (وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ) وقال: (الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ)؟

Abu Qarrah berkata: “Sesungguhnya Dia berfirman: Dan malaikat-malaikat berada di penjuru- penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arasy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.“ (QS. Al Hâqqah [69];17 (

Dan Dia berfiarman: “Malaikat- malaikat) yang memikul Arasy… “?

Maka Abul Hasan as. bersabda:

العرش ليس هو الله، والعرش اسم علم وقدرة، وعرشه فيه كل شئ، ثم أضاف الحمل إلى غيره: خلق من خلقه، لأنه استعبد خلقه بحمل عرشه، وهم حملة علمه، وخلقاً يسبحون حول عرشه وهم يعملون بعلمه، وملائكة يكتبون أعمال عباده؟ واستعبد أهل الأرض بالطواف حول بيته، والله (عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى كما قال، والعرش ومن يحمله ومن حول العرش الله الحامل لهم، الحافظ لهم، الممسك القائم على كل نفس، وفوق كل شئ، وعلى كل شئ، ولا يقال: محمول ولا أسفل، قولاً مفرداً لايوصل بشئ فيفسد اللفظ والمعنى.

“Arsy bukanllah Allah dan Arsy adalah nama untuk ilmu dan kekuasaan. Arsy-Nya di dalamnya terdapat segala sesuatu. Kemudian Dia menyandarkan tugas memikul kepada selain-Nya yaitu makhluk dari ciptaan-Nya. Sebab Allah memperhambakan makhluk-Nya untuk memikul Arsy-Nya, mereka itu adalah para pemikul Arsy. Ada sekelompok ciptaan-Nya yang bertasbih di sekitar Arsy-Nya dan mereka beraktifitas atas sepengetahuan Allah. Dan ada pula para malaikat yang mencatat amal hamba-hamba-Nya. Dan Allah memperhambakan penduduk bumi dengan bertawaf mengelilingi rumah-Nya (Ka’bah) dan Allah beristiwâ’ di atas Arsy-Nya, seperti yang Ia firmankan. Dan Arsy berserta yang membawanya dan yang berada di sekitar Arsy, Allah lah yang membawa mereka, menjaga mereka, menahan mereka dari keruntuhan dan yang mengurus setiap jiwa. Dia di atas segala sesuatu. Dan tidak dikatakan bahwa Dia dimuat/angkut dan pula Dia di bawah sesuatu…


قال أبو قرة: فتكذب بالرواية التي جاءت أن الله إذا غضب إنما يعرف غضبه أن الملائكة الذين يحملون العرش يجدون ثقله على كواهلهم، فيخرون سجداً، فإذا ذهب الغضب خف ورجعوا إلى مواقفهم؟

Abu Qarrah berkata, “Lalu apakah Anda membohongkan riwayat yang berkata bahwa sesungguhnya jika Allah murka akan diketahui murka-Nya bahwa para malaikat yang memikul Arsy-Nya merasakan adanya berat di atas pundak-pundak mereka, lalu mereka sujud. Dan jika murka Allah hilang (berhenti) maka menjadi ringanlah Arsy itu dan mereka pun kembali ke pos-pos mereka masing-masing?”


فقال أبو الحسن (عليه السلام): أخبرني عن الله تبارك وتعالى منذ لعن إبليس إلى يومك هذا هو غضبان عليه، فمتى رضي؟ وهو في صفتك لم يزل غضبان عليه وعلى أوليائه وعلى أتباعه، كيف تجترئ أن تصف ربك بالتغيير من حال إلى حال وأنه يجري عليه ما يجري على المخلوقين. سبحانه وتعالى، لم يزُل مع الزائلين، ولم يتغير مع المتغيرين، ولم يتبدل مع المتبدلين، ومن دونه يده وتدبيره، وكلهم إليه محتاج، وهو غني عمن سواه

Maka Abul Hasan as. bersabda: “Baritahukan kepadaku tentang Allah Yang Maha Berkah lagi Maha Tinggi sejak Dia melaknat Iblis hingga hari ini, tidakkah Dia murka atasnya, lalu kapan Dia rela? Dia (Allah) berdasarkan pensifatanmu itu senantiasa murka atas Iblis dan para pengikutnya, lalu bagaimana engkau berani mensifati Tuhanmu dengan adanya perubahan dari sebuah kondisi ke kondisi lainnya, dan sesungguhnya berlaku atas-Nya apa yang berlaku atas ciptaan-Nya?! Maha Suci dan Maha Tinggi Allah. Dia tidak beranjak bersama ciptaan yang beranjak dan Dia tidak berubah bersama benda-benda yang mengamali perubahan seta tidak berganti bersama makhluk yang berganti. ….. dan semuanya (selain-Nya) adalah butuh kepada-Nya dan Dia tidak butuh kepada selain Dzat-Nya sendiri.” [3]

Setelah menyajikan satu dari ratusan atau bahkan ribuan sabda para imam mulia Ahlulbait Nabi as., pembaca kami persilahkan untuk membandingkan tawaran konsep ketuhanan dan tauhid yang  mereka ajarkan dengan konsep tauhid yang ditawarkan diajarkan oleh selain para imam Ahlulbait as.?

Sepenuhnya saya serahkan kepada Anda.


[1] Hadis di atas dapat Anda temukan dalam ash Shawâiq:150 dan 151 ketika menafsirkan ayat ke 4 dari riwayat Mulla dalam Sirahnya juga Dzakhâir al ‘Uqba; Muhibbuddîn ath Thabari:17  dari Mulla.[2] Hadis ini juga diriwayatkan dalam banyak kesempatan lain oleh Ahmad ibn Hanbal, di antaranya:6/33 dan 8/174,202.

[3] Beberapa kalimat dalam hadis mulai di atas sengaja tidak kami terjemahkan karena ketidak mampuan kami dalam memilih kata yang tepat untuknya, agar kami tidak terjatuh dalam memaknai sabda mulia para imam suci dengan sembarangan. Sebab yang kami terjemahkan bukan ocehan Ka’ab Ahbâr misalnya.!!

===================================================================

Pembahasan Sanad Hadis Ummu Thufail “Nabi Melihat Allah Dalam Bentuk Pemuda Berambut Lebat”

Hadis Ru’yatullah termasuk hadis kontroversial yang diributkan baik ulama-ulama terdahulu maupun yang datang kemudian. Hadis ini diperbincangkan karena matannya mengandung lafaz yang mungkar yaitu Nabi SAW melihat Allah dalam bentuk Pemuda. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ummu Thufail. Dalam tulisan kali ini akan dibahas terlebih dahulu hadis Ummu Thufail

Takhrij Hadis Ummu Thufail

عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قالت سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ( رأيت ربي في المنام في صورة شاب موقر في خضر عليه نعلان من ذهب وعلى وجهه فراش من ذهب)

Dari Ummu Thufail Istri Ubay bin Ka’ab, ia berkata “Aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Aku melihat Rabbku di dalam mimpi dalam bentuk pemuda berambut lembat dengan pakaian hijau memakai sandal dari emas dan berada di atas tempat tidur dari emas”.

Hadis riwayat Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir 25/143 no 346, Asmaa’ Was Shifaat Baihaqi hadis no 922, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 15/426, Daruquthni dalam Ar Ru’yah no 231 dan 232, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 62/161, Abu Ya’la dalam Ibthaalut At Ta’wiilat no 130, 131 dan 132, Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 9 dan Al Maudhu’at 1/125. Semuanya dengan jalan Ibnu Wahb dari Amru bin Al Harits dari Sa’id bin Abi Hilal dari Marwan bin Utsman dari Umaarah bin Amir bin Hazm Al Anshari dari Ummu Thufail.

Hadis ini sanadnya dhaif jiddan dan dengan matan yang mungkar maka tidak diragukan kalau hadis ini maudhu’ (palsu). Hadis ini mengandung illat

  • Marwan bin Utsman, dia seorang yang dhaif sebagaimana disebutkan Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 8/272 no 1244. Dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 dan Ibthaalut Ta’wiilaat Abu Ya’la no 137 disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal menyatakan Marwan bin Utsman majhul. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/171 menyatakan ia dhaif sedangkan dalam Al Ishabah 8/246 no 12116 biografi Ummu Thufail ia menyatakan Marwan bin Utsman matruk.
  • Umaarah bin Amir, dia adalah perawi yang majhul. Dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 Ahmad bin Hanbal menyatakan “ia tidak dikenal”. Al Bukhari dalam Tarikh As Shaghir juz 1 no 1419 juga berkata “Umaarah tidak dikenal”. Adz Dzahabi dalam Mughni Adh Dhu’afa no 4404 juga berkata “tidak dikenal”.
  • Inqitha’ (sanadnya terputus) Umaarah dari Ummu Thufail. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Bukhari dalam Tarikh As Shaghir juz 1 no 1419 dan Tarikh Al Kabir juz 6 no 3111 bahwa Umaarah tidak diketahui mendengar dari Ummu Thufail. Ibnu Hibban memasukkan Umaarah dalam kitabnya Ats Tsiqat juz 5 no 4682 dan menyatakan bahwa Ia tidak mendengar dari Ummu Thufail. Penyebutannya dalam kitab Ats Tsiqat tidak bisa dijadikan hujjah sebagai penta’dilan karena Umaarah telah dinyatakan majhul oleh Ahmad bin Hanbal dan Al Bukhari.

Cacat lain adalah pada sebagian sanadnya [Ibnu Jauzi, Ibnu Asakir dan Al Khatib] juga diriwayatkan oleh Nuaim bin Hammad dari Ibnu Wahb, dia walaupun dita’dilkan oleh sebagian orang tetapi ia juga dinyatakan dhaif oleh An Nasa’i [Ad Dhu’afa Wal Matrukin no 617], Abu Fath Al Azdi dan Ibnu Ady menuduhnya sebagai pemalsu hadis [At Tahdzib juz 10 n0 833]. Ibnu Hajar dalam At Taqrib menyebutnya shaduq yukhti’u tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 7166 bahwa ia seorang yang dhaif. Kendati demikian Nuaim bin Hammad tidaklah menyendiri meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Wahb. Bersamanya ada Ahmad bin Shalih Al Mishri [Ath Thabrani], Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb, Ahmad bin Isa [Baihaqi], dan Yahya bin Sulaiman [Ath Thabrani]. Oleh karena itu pendapat yang benar adalah hadis tersebut maudhu’ karena illat yang telah kami sebutkan.

Hadis ini tidak diragukan lagi adalah hadis maudhu’ sebagaimana yang telah dikatakan oleh para ulama diantaranya Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al Maudhu’at 1/125. Ahmad bin Hanbal mengatakan hadis tersebut mungkar dalam Muntakhab Min Illal Al Khallal no 183 dan Ibthaalut Ta’wiilaat Abu Ya’la no 137. Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat juz 5 no 4682 juga mengakui kalau hadis tersebut mungkar. Begitu pula yang dikatakan Bukhari dalam Tarikh Al kabir juz 5 no 4682. Bashar Awad Ma’ruf pentahqiq kitab Tarikh Baghdad 15/426 juga menyatakan hadis tersebut maudhu’. Bahkan Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ahadits Adh Dhaifah no 6371 menyatakan hadis tersebut maudhu’. Jadi hadis tersebut bukan sekedar dhaif tetapi memang maudhu’.

Syaikh Al Albani melakukan keanehan yang luar biasa dalam kitabnya Zhilal Al Jannah Fi Takhrij As Sunnah Ibnu Abi Ashim hadis no 471. Ibnu Abi Ashim meriwayatkan

ثنا اسماعيل بن عبدالله ثنا نعيم بن حماد ويحيى بن سليمان قالا حدثنا عبدالله بن وهب عن عمرو بن الحارث عن سعيد بن أبي هلال حدثه أن مروان بن عثمان حدثه عن عمارة بن عامر عن أم الطفيل امرأة أبي بن كعب قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول رأيت ربي في المنام في أحسن صورة وذكر كلاما

Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abdullah yang berkata menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammad dan Yahya bin Sulaiman yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Amru bin Al Harits dari Sa’id bin Abi Hilal yang menceritakan kepadanya, dari Marwan bin Utsman yang menceritakan kepadanya, dari Umaarah bin Amir dari Ummu Thufail istri Ubay bin Ka’ab yang berkata aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk –kemudian menyebutkan perkataan-.

Syaikh berkomentar bahwa hadis ini shahih lighairihi, shahih dengan penguat hadis-hadis sebelumnya, sanadnya dhaif gelap. Tentu saja bagi seorang peneliti pernyataan shahih lighairihi ini merupakan suatu keanehan. Pernyataan shahih lighairihi hanya berlaku bagi hadis yang sanadnya hasan lizatihi dan dikuatkan oleh hadis-hadis shahih lain. Hadis Ummu Thufail sudah jelas sangat dhaif sehingga tidak mungkin bisa naik menjadi shahih lighairihi.

Selain itu hadis Ru’yatullah riwayat Ummu Thufail adalah hadis yang berlafaz mungkar, lafaz itulah yang tidak disebutkan oleh Ibnu Abi Ashim dimana ia meringkasnya dengan kalimat –kemudian menyebutkan perkataan-. Tentu tidaklah sulit bagi seorang Syaikh Al Albani untuk mengetahui lafaz hadis Ummu Thufail tersebut secara lengkap, oleh karena itu sudah seharusnya Syaikh tidak menyatakan shahih hadis Ummu Thufail karena pada dasarnya hadis Ummu Thufail itu berbeda dengan hadis-hadis lainnya. Jika dikatakan bahwa hadis itu shahih hanya sebatas perkataan Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk, maka sudah seharusnya Syaikh memberikan pernyataan secara eksplisit tentang hal itu dan mengatakan bahwa lafaz hadis Ummu Thufail itu sebenarnya mungkar dan yang shahih hanya bagian Aku telah melihat Rabbku di dalam mimpi dalam sebaik-baik bentuk. Bagi kami hal seperti ini jelas sekali sangat penting apalagi hadis yang dibicarakan ini bukan masalah yang sederhana yaitu Nabi SAW melihat Rabb di dalam mimpi dalam bentuk pemuda berambut lebat.

Anehnya seorang ulama seperti Abu Zur’ah Ad Dimasyq tidak segan-segan mengakui kebenaran hadis Ummu Thufail yang berlafaz mungkar. Hal ini sebagaimana yang dikutip oleh Daruquthni dalam Ar Ru’yah no 231 dan Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wilaat no 140, Abu Ya’la mengatakan kalau Abu Zur’ah menshahihkan hadis Ummu Thufail di atas. Abu Zur’ah berkata

كل هؤلاء الرجال معروفون لهم أنساب قوية بالمدينة فأما مروان بن عثمان فهو مروان بن عثمان بن أبى سعيد بن المعلى الأنصارى وأما عمارة فهو ابن عامر بن عمرو بن حزم صاحب رسول الله وعمرو بن الحارث وسعيد ابن أبى هلال فلا يشك فيهما وحسبك بعبد الله بن وهب محدثا فى دينه وفضله

Semua perawinya dikenal mempunyai nasab yang kuat di Madinah, Marwan bin Utsman dia adalah Marwan bin Utsman bin Abi Sa’id bin Al Ma’ally Al Anshari dan Umaarah dia adalah Ibnu Amir bin Amru bin Hazm sahabat Rasulullah. Amru bin Harits dan Sa’id bin Abi Hilal tidak diragukan keduanya dan cukuplah Abdullah bin Wahb muhaddis dalam agamanya dan keutamaannya.

Kami katakan perkataan Abu Zur’ah sungguh merupakan kekacauan yang patut disayangkan muncul dari beliau. Marwan bin Utsman telah disebutkan kalau Ahmad bin Hanbal menyatakan ia majhul dan Abu Hatim menyatakannya dhaif. Abu Zur’ah sendiri tidak menjelaskan keadaannya oleh karena itu tetaplah ia dengan predikat dhaif dan menjadi tertuduh karena hadis ini. Selain itu keadaan Umaarah sendiri tidak dijelaskan oleh Abu Zar’ah dan ulama lain telah menyatakan bahwa ia tidak dikenal. Jadi hadis tersebut maudhu’ dan tidak ada artinya penshahihan dari Abu Zar’ah. Sungguh tidak dapat dimengerti bagaimana lafaz mungkar pada hadis tersebut bisa diakui kebenarannya oleh ulama sekaliber Abu Zur’ah. Jauh setelah Abu Zur’ah ternyata Ibnu Taimiyyah ulama salafy yang terkenal itu ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas dengan lafaz mungkar yang mirip hadis Ummu Thufail di atas. Ulama yang aneh

——————————————————————————————

Allah-nya Kaum Wahhabiyah Bersemayam Di Atas Arsy Dan Arsy-Nya Di Atas Punggung Delapan Kambing Hutan!

Dalam akhir kitab Tauhîd-nya, Imam Besar Sekte Wahhâbiyah menegaskan bahwa Allah bersemayan di atas Arsy… arsy-Nya berada di atas laut yang berada di atas langit ke tujuh dan memiliki kedalaman seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya yaitu 71 atau 72 atau 73 tahun perjalanan…. Nah di atas lautan itu ada delapan ekor kambing hutan yang ukurannya sangat besar, antara kuku-kuku danlutut-lututnya seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya.. di atas punggung-punggung kedelapan kambing hutan itulah Arsy Allah bertempat… lalu allah bersemayam di atas Arsy-Nya yang berada di atas punggung-punggung kambing hutan. (Kitab  Fathu al Majîd Syarh Kitab al Tauhîd:515-516)

Pentahqiqnya membanggakan konsep Tauhid sesat yang diusung Imam Sekte Wahhâbiyah ini. Ia mengatakan: Pengarang telah mengawali kitabnya yang agung ini dengan menerangkan tauhdi Ilahiyah, sebab kebanyakan umat yang datang belakangan jahil terhadapnya. Mereka malakukan sesuatu yang menyalahhi tauhdi berupa kemusyrikan dan menyekutukan Allah…. Kemdian beliau mengakhiri kitabnya dengan menerangkan Tauhdi Asmâ’ dan Sifat. Sebab kebanyakan kaum umum tidak perhatian terhadap ilmu ini yang digeluti oleh orang yang tidak mumpuni….. (Ibid.517)

Jadi inilah konsep Tauhid yang menjadi inti ajakan Imam Sekte Wahhâbiyah!! Kita diajak untuk mengimani konsep Tauhid yang mengatakan bahwa Allah bertengger di atas Arsy-nya yang berada di atas punggung-punggung delapan kambing hutan raksasa mengapun di atas air laut di atas laingit ke tujuh!

Saya beraharap ada seorang pelukis yang siap  melukis obyek unggulan ini untuk dijadikan hiasan dinding di kantor-kantor para mufti Sekte Whhâbiyah di Arab Saudi sana dan di depan mihrab-mihrab mmasjid mereka agar shalat mereka lebih khusuk dengan memerhatikan postur Tuhan mereka yang sedang diusung di atas punggung kambing hutan raksasa!

Atau  membuat miniature yang memposturisasi Tuhan mereka! Agar tidak kalah dengan para ppenyembah berhala di India atau negeri-negeri penyemba berhala lainnya!

Setuju?!

Teks Riwayat Andalan Imam Wahhabi Dari Kitab at Tauhid dan Fathul Majid:

Sebegian pembaca mungkin ada yang meragukan kebenaran apa yang kami tulis dalam artikel kami sebeulmnya tentang akidah Imam Wahhabiyah bahwa Arsy Allah dipikul oleh delapan ekor kambing hutan dan meminta teks asli yang termuat dalam kitab tersebut, maka kami dengan senang hati menampilkan teks asli tersebut.

و عن العباس بن عبد المطلب رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه و آله و سلم: هل تدرون كم بين السماء و الأرض؟ قلنا: ألله و رسوله أعلم. قال: بينهما مسيرة خمسمائة سنة، و من كل سماء إلى سما مسيرة خمسمائة سنة، و كثف كل سماء مسيرة خمسمائة سنة، و بين السماء السابعة و العرش بحر بين أسفله و أعلاه كما بين السماء و الآرض، و الله تعالى فوق ذلك. و ليس يخفى عليه شيئ من أعمال بني آدم. أخرجه أبو داود و غيره.

(Baca Fathul Majid:515)

Akan tetapi sebenaranya Imam Wahhabi melakukan manipulasi dan merobeh-robah sedikit redaksi riwayat di atas. Sebab apa yang tertera dalam kitab Sunan Abu Daud berbeda dengan apa yang ia sebutkan. Tetapi kami tidak akan mempermasalahkannya sekarang.

Karenanya Syeikh Abdurrahman (pensyarahnya) mengakuinya walaupun kemudian ia menutupinya dengan mengatakan bahwa Syeikh meringkas riwayat, sementara yang terjadi bukan meringkas akan tetapi merobah-robah (merusak keotentikannya).

Pensyarahnya menyebutkan riwayat dengan lengkap:

هل تدرون ما بعد ما بين السماء و الأرض؟ قالوا: لا ندري. قال: إن بعد ما بينهما إما واحدة أو اثنتان أو ثلاث و سبعون سنة، ثم السماء التي فوقها كذلك، حتى عدّ سبع سموات، ثم فوق السابعة بحر بين أسفله وأعلاه مثل ما بين سماء إلى سماء ثم فوق ذلك ثمانية أوعال، بين أظلافِهم و ركبهم مثل ما بين السماء إلى سماء ثم على ظهورهم العلرش بين اسفله و أعلاه كما بين سماء إلى سماء ثم الله فوق ذلك.

Tahukah kalian berapa jarak antara langit dan bumi? Mereka berkata: Kami tidak mengetahuinya. Beliau bersabda: Sesungguhnya jarak antara keduanya adalah tujuh puluh satau atau dua atau tiga tahun, kemudian langit yang ada di atasnya juga demikian hingga tujuh lapis langit. Kemudian di atas langit ke tujuh ada laut yang jarak antara bawah dan atasnya seperti jarak antara satu langit dengan langit atasnya. Kemudian di atasnya terdapat delapan ekor kambing hutan jarak antara kuku-kuku dan lutut-lutut mereka seperti jarak antara satu langit dengan langit atasnya. Kemudian di atas punggung mereka terdapat Arsy yang jarak antara bagian bawah dan atasnya seperti jakar antara satu langit dengan langit atasnya. Kemudian Allah di atas itu semua.

Adz Dzahabi berkata: Hadis ini telah diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad yang hasan.

Akan tetapi, na’asnya hadis di atas adalah lemah dari sisi sanadnya, dan seperti ditegaskan oleh pentahqiq kitab tersebut Syeikh Muhammad Hamid Faqi. (Fathu al Majid:515-516)

————————————————————————————

Ibnu Taimiyyah Menshahihkan Hadis “Nabi Melihat Allah SWT Dalam Bentuk Pemuda Amrad”.

Kali ini hadis yang akan dibahas adalah hadis ru’yatullah riwayat Ibnu Abbas. Hadis ini juga tidak lepas dari kemungkaran yang nyata dengan lafaz “Melihat Allah SWT dalam bentuk pemuda amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya)”.Tetapi anehnya hadis dengan lafaz mungkar ini tidak segan-segan dinyatakan shahih oleh Abu Zur’ah, Ath Thabrani, Abu Bakar bin Shadaqah dan tentu syaikh salafy yang terkenal Ibnu Taimiyyah.

Takhrij Hadis Ibnu Abbas

ثنا حماد بن سلمة عن قتادة عن عكرمة عن بن عباس قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم رأيت ربي جعدا امرد عليه حلة خضراء

Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata Rasulullah SAW bersabda “Aku melihat Rabbku dalam bentuk pemuda amrad berambut keriting dengan pakaian berwarna hijau”.

Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Asmaa’ was Shifaat no 938, Ibnu Ady dalam Al Kamil 2/260-261, Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 13/55 biografi Umar bin Musa bin Fairuz, Adz Dzahabi dalam As Siyaar 10/113 biografi Syadzaan, Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 122, 123, 125, 126,127 ,129, dan 143 (dengan sedikit perbedaan pada lafaznya), Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal Al Mutanahiyah no 15. Semuanya dengan jalan sanad yang berujung pada Hammad bin Salamah dari Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas. Sedangkan yang meriwayatkan dari Hammad adalah Aswad bin Amir yakni Syadzaan (tsiqat dalam At Taqrib 1/102), Ibrahim bin Abi Suwaid (tsiqat oleh Abu Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil 2/123 no 377), Abdush Shamad bin Kaisan atau Abdush Shamad bin Hasan (shaduq oleh Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil 6/51 no 272).

Hadis ini maudhu’ dengan sanad yang dhaif dan matan yang mungkar. Hadis ini mengandung illat

  • Hammad bin Salamah, ia tidak tsabit riwayatnya dari Qatadah. Dia walaupun disebutkan sebagai perawi yang tsiqah oleh para ulama, dia juga sering salah karena kekacauan pada hafalannya sebagaimana yang disebutkan dalam At Tahdzib juz 3 no 14 dan At Taqrib 1/238. Disebutkan dalam Syarh Ilal Tirmidzi 2/164 yang dinukil dari Imam Muslim bahwa Hammad bin Salamah banyak melakukan kesalahan dalam riwayatnya dari Qatadah. Oleh karena itu hadis Hammad bin Salamah dari Qatadah ini tidak bisa dijadikan hujjah apalagi jika menyendiri dan lafaznya mungkar.
  • Tadlis Qatadah, Ibnu Hajar telah menyebutkannya dalam Thabaqat Al Mudallisin no 92 sebagai mudallis martabat ketiga, dimana Ibnu Hajar mengatakan bahwa pada martabat ketiga hadis perawi mudallis tidak dapat diterima kecuali ia menyebutkan penyimakannya dengan jelas. Dalam Tahrir At Taqrib no 5518 juga disebutkan bahwa hadis Qatadah lemah kecuali ia menyebutkan sama’ nya dengan jelas. Dalam hadis ini Qatadah meriwayatkan dengan ‘an ‘anah sehingga hadis ini lemah.

Kelemahan sanad hadisnya ditambah dengan matan yang mungkar sudah cukup untuk menyatakan hadis ini maudhu’ sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Jauzi dalam Al ‘Ilal no 15. Kemungkaran hadis ini juga tidak diragukan lagi bahkan diakui oleh Baihaqi dan Adz Dzahabi dalam As Siyaar. Bashar Awad Ma’ruf dalam tahqiqnya terhadap kitab Tarikh Baghdad 13/55 menyatakan hadis ini maudhu’.

Sayang sekali kemungkaran hadis ini seperti nya luput dari pandangan sebagian ulama seperti Abu Zur’ah, Ath Thabrani dan Al Faqih Abu Bakar Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin Shadaqah [seorang Imam Hafiz yang tsiqat tsiqat sebagaimana disebutkan Al Khatib dalam Tarikh Baghdad 5/40-41]. Mereka mengakui kebenaran hadis ini. Abu Ya’la dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 144 mengutip penshahihahn dari Ath Thabrani, ia berkata

قال وأبلغت أنّ الطبراني قال حديث قتادة عن عكرمة عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم في الرؤية صحيح ، وقال من زعم أني رجعت عن هذا الحديث بعدما حدثت به فقد كذب

Telah disampaikan bahwa Ath Thabrani berkata “hadis Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas dari Nabi SAW  tentang Ru’yah adalah shahih, dan siapa yang mengatakan bahwa aku rujuk dari hadis ini setelah meriwayatkannya maka sungguh ia telah berdusta.

Dalam Ibthaalut Ta’wiilat no 145 Ath Thbarani berkata

سمعت إبن صدقة الحافظ يقول من لم يؤمن بحديث عكرمة فهو زنديق

Aku mendengar Ibnu Shadaqah Al Hafiz berkata “siapa yang tidak mempercayai hadis Ikrimah [tentang Ru’yah] maka ia seorang zindiq”.

Dalam Al Laaly Al Masnu’ah 2/32 As Suyuthi mengutip perkataan Ath Thabrani

قال الطبراني سمعت أبابكر بن صدقة يقول سمعت أبا زرعة الرازي يقول حديث قتادة عن عكرمة عن إبن عباس في الرؤية صحيح رواه شاذان وعبدالصمد بن كيسان وإبراهيم بن أبي سويد لا ينكره إلاّ معتزلي

Ath Thabrani berkata aku mendengar Abu Bakar bin Shadaqah berkata aku mendengar Abu Zur’ah Ar Razi berkata “hadis Qatadah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas tentang Ru’yah adalah shahih yang diriwayatkan oleh Syadzaan, Abdush Shamad bin Kaisan dan Ibrahim bin Abi Suwaid, tidak ada yang mengingkarinya melainkan ia seorang mu’tazilah.

Tentu saja fenomena ini adalah keanehan yang luar biasa. Bagaimana mungkin mereka begitu berani menshahihkan hadis tersebut bahkan mengecam orang yang mengingkarinya. Sikap berlebihan seperti ini benar-benar patut disayangkan. Apakah ulama-ulama lain dan orang-orang islam yang mengingkari hadis ini akan dengan mudahnya mereka katakan zindiq atau mu’tazilah?. Apakah Imam Ahmad bin Hanbal itu zindiq atau mu’tazilah?. Terkadang sehebat apapun ulama tetap tampaklah kenehannya.

Selain mereka, ternyata ada pula Ibnu Taimiyyah yang ikut-ikutan menshahihkan hadis Ibnu Abbas ini. Ia dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis dengan lafal pemuda amrad dalam kitabnya Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290.

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah

Dan ini penggalan kitab tersebut juz 7 hal 290 dimana Ibnu Taimiyyah menshahihkan hadis Ru’yah dengan lafal pemuda amrad

Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290
Bayaan Talbiis Al Jahmiyyah 7/290

Sudah jelas pernyataan shahih terhadap hadis ini adalah kebathilan yang nyata. Bagaimana mungkin mereka tidak risih untuk mengatakan bahwa Allah SWT menampakkan dalam bentuk pemuda amrad di dalam mimpi?. Dan kalau kita perhatikan ulama yang disebut Ibnu Taimiyyah ini, dalam kitab-kitabnya seperti Minhaj As Sunnah ia tidak segan-segan mendustakan berbagai hadis shahih keutamaan Ahlul Bait hanya karena hadis tersebut mungkar dalam pandangannya tetapi anehnya ia tidak segan-segan untuk menshahihkan hadis mungkar riwayat Ibnu Abbas di atas. Sungguh berkali-kali keanehan.

——————————————————————————————-

Pendahulu Kaum Wahhâbi Melarang Kaum Asy’ariyah Menuniakan Shalat Jum’at Di Masjid Jami’!

Kekakuan an keganasan sikap serta kebengisan perlakuaan yang sering kali kita saksikan dari kaum Wahhâbi/Salafi di berbagai daerah di tanah air dan juga seperti diberitakan di berbagai belahan duni Islam, khususnya ketika mereka merasa kuat… baik disebabkan banyak jumlah merreka atau karena ada dukungan dari penguasa … semua itu bukanlah hal baru dan sikap yang lahir dari kehampaan… Akan tetapi ia adalah model didikan dan doktrin yang ditanamkan dalam jiwa sempit mereka… ini adalah doktrin turn-temurun yang sudah menjadi bagian tak terpisahlkan dari ediologi dan keyakinan keberagamaan komunitas ini…

Sejarah mencatat bahwa pendahulu kaum Wahhabi/Salafi telah mengajarkan doktrin kekerasan dengan praktik nyata bagaimana mereka harus menyikapi lawan-lawan mereka; kaum Muslimin dari mazhab-mazhab lain selain mazhab Hanbali (yang mereka modifikasi menjadi mazhab galak dan sadis)!

Ibnu Katsir (ahli sejarah dan mufassir yang tak henti-hentinya dibanggakan kaum Salafi Wahhâbi) melaporkan (tentu kaum Wahhâbi harus menerimanya, sebab beliau adalaah imam terpercaya dalam keyakinan mereka)  bahwa kaum pendahulu kaum Wahhâbi (Hanâbilah) telah berbuat kejahatan agamis dengan melarang kaum Muslimin beraliran Asy’ariyah menunaikan shalat jum’at!

Dengar apa laporang Ibnu Katsir ketika beliau melaporkan pristiwa tahun 447 H:

وفيها وقعت الفتنة بين الأشـاعرة والحنابلـة ، فقـوي جانب الحنابلة قـوة عظيمـة ، بحيث أنه كان ليس لأحد من الأشاعرة أن يشهـد الجمعة ولا الجماعات .

“Pada tahun ini terjadilah fitnah (kekacauan) antara penganut Asy’ariyah dan kaum Hanâbilah. Lalu kuatlah posisi kaum Hanâbilah dengan kekuatan yang sangat sehingga tidak seorang pun dari pengikut Asy’ariyah yang dibolehkan menhadiri shalat Jum’at dan jama’ah.”[1]

Ibnu Jauzi juga melaporkan pristiwa tahun 447 H sebagai berikut:

ووقعت بين الحنابلة والأشاعرة فتنة عظيمة حتى تأخر الأشاعـرة عـن الجمعـات خـوفاً من الحنابلة .

“Dan terjadilah fitnah/kerusuha besar antara kaum Hanâbilah dan Asy’ariyah sampai-sampai kaum Asy’ariyah meninggalkan shalat jum’at karena takut dari kaum Hanâbilah.”[2]

Keurusahan yang terjadi, sekali lagi diakaibatkan kaum Hanbaliyah menyebarkan akidah sesat tentang tajsîm dan demi menikat hati kaum awam mereka membawa-bawa nama Imam Ahmad ibn Hanbal! Ibnu Kahldun merekam dengan rinci keganasan yang dipicu oleh pendahulu/Salaf kaum Salafi Wahhâbi dal;am masalah sifat Allah SWT. Ia melaporkan:

… وبين الحنابلة والشافعية وغيرهم من تصريح الحنابلة بالتشبيه في الذات والصفات ، ونسبتهم ذلك إلى الإمام أحمد ، وحاشاه منه ، فيقع الجدال والنكير ، ثم يفضي إلى الفتنة بين العوام .

“Dan antara kaum Hanbaliyah dan Syafi’iyah dan penganut mazhab lainnya terjadi perdebatan di mana kaum Hanbaliyah berterang-terangan dalam akidah tasybîh (menyerupakah Allah dengan makhluk-Nya) dalam Dzat dan Sifat dan mereka menisbatkan akidah itu kepada Imam Ahmad (dan tidak mungkin beliau berakidah seperti itu), lalu terjadilah perdebatan dan penolakan keras kemudian menyulut fitnah di kalangan kaum awam.”[3]

Ustad  Syi’ah  Ali :

Selamanya kaum Hanbaliyah (yang kini diwakili kaum Wahhâbi/Salafi) meracuni kaum awam (walaupun ulama mereka juga tidak kalah awamnya dengn kaum awam yang sangat awam) dengan bahasan-bahasan tentang tauhid yang berorientasi kepada doktrin penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Walaupun mereka selalu ngoto mengelak bahwa akidah mereka itu adalah inti akidah tasybîb dan tajsîm!

Kini cara-cara itu juga mulai dipergunakan kaum Wahhâbi selalui otot-ooto preman bayaran untuk melarang kaum Muslim yang tidak mereka sukai untuk menegakkan shalat di masjid-masjid; rumah ibadah!

Jika nanti mereka kuat, mungkin saja apa yang diprktikkan pendahulu mereka juga dikalukan kepada kaum Mulim non Wahhâbi…

Coba perhatikan sikap mereka ketika mendapat sedekit angin segar… ketika sedikit merasa kuat.. langgar-langgar kaum Muslim yang dahulu membaca Mauludan dan Diba’an atau tawassul dan istighatsah mereka kuasai kemudian semua acara ritual itu diporak-porandakan… dilarang… dengan alasan bid’ah! Mengandung unsur syirik.. dll. masjid-masjid yang dahulu membaca qunut dilarang dengan alasan Nabi saw. tidak pernah mensunnahkan qunut!

Al hasil… mereka adalah kelompok ganas yang tidak pernah mentolerir perbedaaan mazhab! Hanya mazhab mereka saja yang boleh dijalankan… sebab hanya mazhab mereka yang mengikuti Al Qur’an dan Sunnah! Mazhab-mazhab lain sesat! Menyimpang dari tuntunan Salaf!

Bukankah cara berpikir seperti itu adalah bahaya?!


[1] Al Bidâyah wa an Nihâyah,12/71. terbitan Dâr ar Rayyân Li at Tutrâts-Kairo.

[2] Al Muntadzim,15/347.

[3] Tarikh Ibn Khaldûn,3/477.

Segala hal ditempuh bagi kaum Wahhâbi/Salafy, khusunya bagi para sukarelawan dan Misionaris mereka dalam menegakkan akidah andalan mazhab menyimpang mereka! Demi meyakinkan kaum awam, dalil harus ditegakkan… Tidak ada Qur’an dan Sunnah shahihan, ucapan para pendata Yahudi dan/atau pendapat kaum Musyrik pun jadi! Demikian kira-kira semangat da’wah yang mereka usung!

Itulah yang benar-benar terjadi! Mazhab Wahhabi/Salafy “ngotot” menyebarkan dan meyakinkan kaum Muslimin bahwa Allah itu berbentuk… bersemayam, duduk di atas Arsy-Nya yang dipikul oleh delapan kambing hutan atau dipikul empat malaikat yang rupa dan bentuk mereka beragam, ada yang menyerupai seekor singa dan yang lainnya menyerupai bentuk binatang lain… dan lain sebagainya dari akidah ketuhanan yang menggambarkan  Allah itu berbentuk dan menyandang sifat-sifat makhluk-Nya..

Termasuk di antara akidah nyeleneh lagi menyimpang kaum Wahhâbi/Salafy adalah keyakinan bahwa Allah itu bersemayam/duduk di atas Arsy-Nya…. Mereka memperkosa berbagai ayat Al Qur’an dan menelan mentah-mentah riwayat palsu beracun dan menjadikan ucapan belum pasti kebenaranya dari orang-orang yang mereka vonis kafir-musyrik yang telah menyimpang akidahnya dan keluar dari agama! Menjadikan semua itu sebagai pondasi keyakinan dan akidah sesat mereka!

He he he….mari kita buktikan hadis hadis  yang dianggap sahih oleh Sunni karena ada dlm kitab Sahih Bukhori.

Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadis hadis  Israilliyat spt:
1. Adam diciptakan spt bentuk Allah
2. Setan lari sambil kentut ktk mendengar suara adzan
3. Nabi Sulaiman as mengancam akan membelah bayi yg diperebutkan dua ibu
4. Allah menaruh kakinya di neraka
5. Nabi Sulaiman as meniduri 70 wanita dlm semalam tp hanya melahirkan seorang bayi separuh manusia
6. Nabi Muhammad saw membakar sarang semut karena gara2 digigit seekor semut.
7. Nabi Isa turun membunuh babi (apa salahnya babi ?)
8. Awan yg berbicara
9. Sapi dan serigala berbicara bhs Arab
10. Musa menampar malaikat
11. Nabi Musa yg telanjang mengejar batu yg lari membawa bajunya, terlihat kemaluannya oleh Bani Israil.
12. Allah mencipta Adam pada hari Jumat sesudah Ashar
13. Allah turun ke langit dunia.
14. Sungai Nil dan Efrat adalah sungai dari surga
15. Tidak ada penyakit yg menular

dll.

Dalam Sahih Bukhori hadis no. 3 umpamanya kita dpt baca peristiwa ketika Rasulullah menerima wahyu yg digambarkan spt orang yg ketakutan dan tdk mengenal siapa yg mendatanginya. Hadis ini driwiyatkan dari Aisyah. Ada keganjilan dlm hadis ini, baik dari sanad maupun matan :
1. Pada sanad riwayat disebutkan seorang bernama Al-Zuhri, Urwah bin Zubayr, dari Aisyah. Al-Zuhri adalah ulama penguasa yg berkhidmat kpd Hisyam bin Abd Malik. Ia sangat terkenal membenci Imam Ali.

2. Ketika peristiwa turunnya wahyu itu, Aisyah belum dilahirkan. Dlm riwayat ini seolah-olah Aisyah mendengar sendiri. Dalam ilmu hadis seharusnya ia mengatakan :’ Aku mendengar Rasulullah saw bersabda….dst.

3. Rasulullah digambarkan tdk faham dg pengalaman ruhani yg dia alami. Padahal beliau adalah Insan Kamil.

Hadis2 yg bertentangan dg pernyataan Al-Quran tentang ketinggian maqom Nabi saw a.l. :

1. Lupa rakaat salat
2. Mau salat lupa mandi janabah
3. Menonton sambil bermesraan di depan org banyak
4. Rasul kena sihir
5. Allah punya betis
6. Nabi berbicara tanpa ilmu
7. Nabi lupa ayat al-Quran
8. Buang air menghadap kiblat.

dan masih banyak lagi hadis2 yg bermasalah baik dari segi sanad maupun matannya. Hal itu menunjukkan bahwa banyak hadis2 palsu dalam kitab hadis yg di-klaim sahih spt dlm Bukhori dan Muslim.

Bayangkan saja seorang Nabi yg Allah dan para malaikat-Nya membaca salawat dlm Al-Quran,digambarkan oleh hadis2 Sunni spt itu !!

Engga usah kemana-mana dulu gimana tanggapan ente ttg hadis2 yg bermasalah yg merendahkan derajat Nabi dlm kitab “sahih: Bukhori ? Contoh yg terakhir adalah riwayat bahwa Nabi doyan jimak (bersetubuh). Bayangkan sehari semalam 9 istri digilir ! Ini kitab hadis soalnya sdh beredar ke seluruh dunia melalui internet. Siapa kalo bgt yg bikin malu ? Diriwayatkan dari Qatadah berkata bahwa Anas bin Malik pernah bercerita kepada kami bahwa Nabi saw pernah menggilir isteri-isterinya dalam satu waktu sehari semalam dan jumlah mereka ada sebelas orang. Qatadah mengatakan,’Aku bertanya kepada Anas,’Seberapa kuat beliau saw?’ Dia menjawab,’Kami pernah memperbincangkannya bahwa kekuatan beliau saw sebanding dengan (kekuatan) tiga puluh orang.” Said berkata dari Qatadah,’Sesungguhnya Anas menceritakan kepada mereka bahwa jumlah isteri-isterinya saw adalah sembilan orang.” (HR. Bukhori)

Berbeda dg ulama Sunni yg secara tergesa-gesa mengklaim sahihnya semua hadis dalam kitab hadis Bukhori Muslim, para ulama Syi’ah tdk mengambil sikap yg berlebihan dg meyakini bahwa semua hadis dlm kitab Al-Kafi adalah sahih. Tetapi mereka juga tdk bisa menerima jika keterbatasan pemahaman manusia dijadikan tolok ukur dlm menilai kesahihan suatu hadis. Atau menilai kedudukan suatu hadis hanya dg mengandalkan aspek sanad semata.Jadi sanad bukan segala-galanya, tapi harus ditimbang dg Al-Quran dan logika yg sehat.

Dalam khazanah intelektual Ahlul Bait ada kaedah2 dan neraca untuk mengenal ciri hadis yg sahih yg dpt diterima sbg sabda Nabi saw atau sabda para Imam Ahlul Bait dan membedakannya dari ucapan palsu yg dinisbahkan kpd Nabi saw dan para Imam. Kaidah2 itu adalah sbb :

Pertama, menimbang hadis dengan al-Quran

Kedua, mengambil hadis yg bertentangan dg hadis para penguasa dan pendukungnya.

Sementara itu Sahih Bukhori yg temen ente klaim sahih sanadnya ternyata setelah diteliti hadis2nya sangat bermasalah baik dari segi sanad maupun matannya. Diatas ane sdh memberikan beberapa contoh hadis2 yg bermasalah. Dan ternyata dari sekitar 2000-an hadis yg ada dalam kitab ringkasan “Sahih” Bukhori jumlah hadis yg katanya berasal dari Imam Ali hanya sekitar 5 atau 6 hadis. Lainnya didominasi oleh Abu Hurairah, Aisyah dan Anas bin Malik.

He he…kok engga mudeng juga. Emangnya cuma ulama Sunni yg punya Mustolah Hadis/Rijal Hadis atau Jarh wa Ta’dil. Syi’ah juga punya mang. Cuma bedanya Sunni cukup puas atau berhenti pada titik Jarh wa Ta’dil, sedangkan Syi’ah terus berlanjut ke verifikasi berdasarkan tolok ukur Al-Quran. Bukti2 yg menunjukkan bahwa para ulama hadis Sunni cukup puas dg verifikasi sanad dlm hadis Bukhori yg digembar-gemborkan sahih, adalah sbb :

1. Nabi lupa rakaat salat. Hadis no. 471)
Dari Abu Huarirah ra, ia berkata: Rasulullah saw salat bersama kami akan salah satu salat Maghrib dan Isya. Beliau salat bersama kami dua rakaat kemudian salam. Beliau berdiri pada kayu yg melintang di masjid. Lalu beliau bertelekan padanya seolah-olah beliau marah, beliau meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri, menjalinkan jari-jari dan meletakkan pipi kanan diatas bagian luar telapak tangan kiri beliau, dan keluarlah orang2 yang bersegera di pintu mesjid. Mereka berkata:’ Salatnya ringkas’. Di kalangan kaum itu ada Abu Bakar dan Umar takut untuk menyatakannya. Di kaum itu ada seorang laki2 yg kedua tangannya panjang bernama Dzul Yadain berkata :’Wahai Rasulullah, apakah engkau lupa atau mengqashar salat ?’ Beliau bersabda:’Saya tdk lupa dan tdk pula salat itu diqashar.’ Ia bertanya:’Apakah sebagaimana yg dikatakan oleh Dzul Yadain ?’ Mereka menjawab:’Ya’. Maka beliau maju dan salat akan apa yg tertinggal, kemudian beliau salam, takbir dan sujud spt sujudnya, atau lebih lama. Kemudian beliau mengangkat kepala, takbir, kemudian takbir dan sujud spt sujudnya atau lebih lama. Kemudian beliau mengangkat kepala, takbir dan salam.

2. Mau salat lupa mandi janabah. (Hadis no. 176)
Abu Hurairah ra. menceritakan:”(Pada suatu ektika) orang telah qomat untuk salat. Saf telah diluruskan sambil berdiri. Rasulullah saw datang kpd kami. Setelah berdiri di tempatnya biasa salat, tiba2 ia ingat bahwa beliau junub. Beliau berkata kpd kami,”Tunggulah sebentar !” Sesudah mandi ia datang kembali kpd kami, sedangkan rambutnya masih basah. lalu beliau takbir dan salat bersama-sama dg kami”.

3. Nabi lupa ayat Al-Quran (Hadis no. 2532)
Dari Aisyah ra. Dia berkata:”Nabi saw mendengar seorang laki2 sedang membaca Al-Quran di masjid. Lalu beliau bersabda:”Semoga Allah merahmatinya. Dia telah mengingatkan aku akan ayat ini dan ayat ini dari surat ini yg hampir saja aku lupa.”

Bayangkan saja seorang Al-Mustafa (manusia pilihan), seorang kekasih Allah, seorang Sayidul Anbiya wal Mursalin, seorang yang akhlaknya Al-Quran atau yg disebut Al-Quran dg Khuluqil Adzim dan seorang Insan Kamil, dalam Sahih Bukhori ini digambarkan sbg orang pelupa yg biasa ada pada manusia biasa.

Perhatikan point 3. Walaupun hadis ini sangat pendek, tapi kandungan maknanya sangat membahayakan bangunan Islam, karena jika Rasulullah saw lupa akan ayat2 yg harus disampaikannya, lantas apa yg menjamin keaslian Al-Quran ? Jika hadis ini diterima, kita membuka peluang untuk meragukan otentitas Al-Quran !! Hadis ini bertentangan dg jaminan Allah, ‘Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran dan Kamilah yg menjaganya (QS Al-Hijr 9). ‘Kami akan membacakan Al-Quran kepadamu (Muhammad) sehingga kamu tidak akan (pernah) lupa (QS Al’Ala 6).

Bagaimana hadis2 spt bisa lolos ? Gawat….gawat….! Makanya engga cukup cuma pake kritik sanad (Mustholah Hadis dan Jarh wa’ ta’dil).

4. Rasul Allah kena sihir.(Hadis no. 3118)
Dari Aisyah ra, dia berkata:”Nabi saw disihir, shg terbayang oleh beliau bahwa beliau berbuat sesuatu padahal beliau tdk berbuat demikian itu, hingga pada suatu hari beliau berdoa dan berdoa dan di kemudian hari beliau beliau bersabda:”Adakah kamu (Aisyah) tahu bahwa Allah berfatwa (memenuhi doa) kepadaku mengenai kesembuhanku ? Telah datang kepadaku dua orang (malaikat Jibril dan Mikail, dlm mimpi). Seorang (Jibril) dari keduanya duduk di kepalaku dan yg lain (Mikail) di kedua kakiku. Seorang (Mikail) dari keduanya berkata: kpd yg lain (Jibril):’Apakah sakitnya laki2 (Nabi) ini ?”
Dia (Jibril) menjawab:”Dia disihir.”
Dia (Mikail) bertanya:” Dan siapakah yg menyihirnya ?”
Dia (Jibril) menjawab:” Labid bin ‘Asham.”……..dst.

Pemikir Islam spt Syaikh Muhammad Abduh dan Sayyid Ridha menolak riwayat ini. Yah bayangkan saja seorang nabi Musa saja mampu mengalahkan puluhan tukang sihir di hadapan umum. Apalagi seorang Sayyidul Anbiya wal Mursalin spt Nabi Muhammad saw ? Tapi aneh dlm kitab hadis Sunni spt dlm Buhkori dan Muslim ada kisah spt ini yg jelas2 menurunkan derajat nabi saw yg sangat tinggi di sisi Allah ?

Mau tambah lagi ? He he cukup 4 contoh dulu…..

Dlm kitab2 hadis Syi’ah engga ada tuh riwayat2 spt itu. Eh, pake bilang ulama Syi’ah engga pede segala. Tapi salut juga sama ente, kitab sahihnya banyak kemasukan riwayat2 yg maudhu, eh sempat2nya bisa bilang org lain engga pede.

Hua kakak…kuman di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata terlihat.

Nih lihat riwayat tahrif Al-Quran dari kitab hadis Sunni :

1.”Dari Qabishah bin Uqbah yg berasal dari Ibrahim bin ‘Alqamah. Ia berkata kpd kami:”Saya bersama pengikut ‘Abdullah bin Ubay datang ke Syam. Abu Darda yg mendengar kedatangan kami segera datang dan bertanya:”Adakah diantara kalian yg membaca Al-Quran?”. Orang2 menunjuk kpd saya. Kemudian ia berkata :”Bacalah!” Maka sayapun membaca :”Wa layli idza yaghsya wan nahaari idza tajalla wa dzdzakaro wal untsa”. Mendengar demikian dia bertanya:”Apakah engkau mendengarnya dari mulut temanmu ‘Abdullah bin Ubay? Aku menjawab:”Ya”. Ia melanjutkan:”Saya mendengarnya dari mulut Nabi saw dan mereka menolak untuk menerimanya.” (Sahih Bukhori Kitab At-Tafsir bab Surah wal laily idza yakhsya).
Bacaan tsb kurang “ma kholaqo”.

2. Umar bin Khattab berkata:”Bila bukan karena orang akan mengatakan bahwa Umar menambah ayat kedalam Kitab Allah, akan kutulis ayat rajam dg tanganku sendiri.” (Sahih Bukhori, Bab Asy-Syahadah ‘indal Hakim fi wilayatil Qadha’).

Dg demikian Umar termasuk org yg meyakini adanya tahrif dan pengirangan dalam Al-Quran. Sebab ayat rajam yg dia yakini ada dalam Al-Quran, ternyata tidak ada !

3. Dari Khuzaifah yg berkata:”Saya pernah membaca Surah Ahzab pada masa Nabi saw dan tujuh puluh (70) ayat darinya saya sudah agak lupa dan saya tdk mendapatkannya di dalam Al-Quran yg ada sekarang.” ( Ad-Durrul Mansur, jilid 5, hal 180).

4. Dari Abdurrazaq yg berasal dari Tsauri dari Zirr bin Hubaisy yg berkata:”Ubay bin Ka’ab telah bertanya kpd saya:”Berapa jumlah ayat yg kalian baca dari Surah Al-Ahzab?” Saya menjawab:”Tujuh puluh tiga (73) atau tujuh puluh empat (74) ayat.” Dia bertanya:” Hanya sebanyak itu ?” Pada mulanya Surah tsb sama panjangnya dg Surah Al-Baqarah atau lebih. Dan di dalamnya terdapat Surah Rajam.” Saya bertanya:”Wahai Abu Mundzir, bagaimana bunyi Surah rajam itu ?” Dia menjawab:” Ayat tsb ialah :”..idza zanaya wasysyaihotu farjumu humal battatan nakalan minallah wallahu ‘azizun hakiim…”

Lah kalau ada ulama yg mengatakan kitab hadisnya sahih tapi ternyata banyak yg dhaif/maudhunya apa bukan penipu ?! Hi hi hi ente lucu deh. Soalnya ente kok bangga dg ulama spt itu.

Ajaran Islam dibangun di atas dua pilar utama; Al Qur’an dan Sunnah! Al Qur’an adalah qath’iul wurûd (sudah pasti dan terbukti datangnya dari sisi Allah SWT), kendati dalam dalâlah/petunjuknya bersifat dzanni (masih terbukanya beberapa penafsiran tentangnya). Sedangkan Sunnah Nabiwiyah kita terima dalam kualitas dzanniyah, yang rawan pemalsuan, kekeliruan dan penyelewengan. Sebagaimana dari sisi dalâlah-nya juga banyak yang bersifat dzanniyah.[1]

Berangkat dari kenyataan ini, adalah keharusan atas para ulama untuk menyeleksi dengan teliti semua riwayat yang memuat klaim Sunnah agar kita dapat menemukan Sunnah yang shahihah dari tumpukan riwayat-riwayat yang mengklaim memuat Sunnah!

Dan karena produk-produk palsu atas nama Sunnah Nabi saw. telah membanjiri ‘Pasar Hadis’ maka tidaklah heran jika banyak ‘Ahli Hadis’ yang tertipu dan kemudian menganggapnya sebagai Sunnah yang sedang mereka cari![2] Mereka mengoleksinya dalam kitab-kitab kebanggaan mereka dan generasi berikutnya menganggap produk palsu itu sebagai Sunnah Nabi Muhammad saw.; sumber kedua ajaran Islam yang murni! Kitab-kitab hadis yang diyakini penulisnya sebagai hanya memuat hadis-hadis shahih sekali pun ternyata tidak selamat dari rembesan hadis-hadis palsu atau hadis-hadis bermasalah!

Namun demikian sebagian pihak mengklaim dengan nada menantang bahwa apa yang dilakukan para Muhaddis Sunni telah mencapai puncak ketelitian dalam menyeleksi hadis-hadis, dan puncak dari usaha itu adalah dibukukannya enam kitab hadis Shahih, khususnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim!

Dalam kesempatan ini saya tidak sedang meragukan “kerja ngotot” mereka dalam menyaring hadis, akan tetapi sekedar mempertanyakan sejauh mana kesuksesan usaha tersebut! Sebab pada kenyataannya masih terlalu banyak hadis bermasalah yang lolos seleksi dan masuk dalam kategori hadis sehat, sementara ia mengandung penyakit!

Mungkin hal itu diakibatkan oleh dahsyatnya produk-produk palsu yang diikemas dengan kemasan menarik dan menipu sehingga bukan hal mudah membedakannya dari Sunnah yang Shahihah! Atau diakibatkan ketidak akuratan alat seleksi yang mereka pergunakan! Atau karena sebab lain! Wallahu A’lam.

Hadis-hadis bermasalah itu menyebar hamper dalam semua bab dan tema agama, dari tema akidah, syari’at (fikih), akhlak, sejarah para nabi as., sejarah Nabi Muhammad saw. dll.

Di bawah ini saya berharap ada jawaban memuaskan dari mereka yang membanggakan hasil usaha slektif para Ahli Hadis Sunni, yang dianggapnya telah mencapai puncaknya! Berbeda dengan dunia hadis Syi’ah yang masih amboradul, serba tidak matang, tak mengenal liku-liku sanad riwayat dan rentang kepalsuan! Saya berharap teman-teman tersebut mmeberikan jawaban ilmiah tentang hadis-hadis bermasalah riwayat Bukhari dean Muslim atau salah satu dari keduanya di bawah ini. Dan sengaja saya batasi telaah saya pada dua kitab tershahih setelah Al Qur’an itu mengingat:

A)    Kedua kitab tersebut adalah telah mendapat kepercayaan luas di kalangan tokoh-tokoh Ahlusunnah sebagai Ashahhu kutubi ba’da itabillah/kitab tershahih setelah Kitabullah!

B)     Dengan melibatkan kitab-kitab hadis level dua dikhawatirkan akan makin mempermarah keadaan. Sebab dalam kitab-kitab tersebut terdapat banyak hadis yang mengerikan untuk diungkap, walaupun dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim juga banyak hadis yang tidak kalah bermasalahnya!

  • Postur Nabi Adam as. Sama dengan Postur Allah SWT!

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Nabi saw. bersabda:

حدثنا ‏ ‏يحيى بن جعفر ‏ ‏حدثنا ‏ ‏عبد الرزاق ‏ ‏عن ‏ ‏معمر ‏ ‏عن ‏ ‏همام ‏ ‏عن ‏ ‏أبي هريرة ‏
‏عن النبي ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏قال ‏ ‏خلق الله ‏ ‏آدم ‏ ‏على صورته طوله ستون ذراعا فلما خلقه قال اذهب فسلم على أولئك النفر من الملائكة جلوس فاستمع ما يحيونك فإنها تحيتك وتحية ذريتك فقال السلام عليكم فقالوا السلام عليك ورحمة الله فزادوه ورحمة الله فكل من يدخل الجنة على صورة ‏ ‏آدم ‏ ‏فلم يزل الخلق ينقص بعد حتى الآن[3]

“Allah menciptakan Adam atas bentuk/shûrah-Nya, panjangnya enam puluh hasta. Dan ketika Dia menciptakannya, Dia berfiman, ‘Pergilah dan  ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu dan dengarkan jawaban mereka, karena ia adalah ucapan salammu dan salam keturunmu. Maka Adam mengucapkan: “Salam atas kalian.” Lalu mereka menjwab: “Salam dan rahmat Allah atasmu.” Para malaikat itu menambah kata rahmat Allah. Maka setiap orang yang masuk surga akan berpostur seperti Adam. Dan setelahnya ciptaan berkurang (mengecil) ukurannya sehingga seperti sekarang ini.”

(HR. Shahih Bukhari, Kitab al Isti’dân, Bab Bad’u as Salâm dan Shahih Muslim, Kitab al Jannah wa Shifatu Na’îmiha, Bab Yadkhulul Jannah Aqwâmun…)

Hadis di ataas dengan redaksi lain, dari Abu Hurairah dari Nabi saw. :

“Jika seorang dari kalian memukul saudaranya hendaknya ia menghindari memukul wajah, sebab sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas bentuk/shûrah-Nya.”

(HR Shahih Muslim, Bab an Nahyu ‘An Dharbil Wajhi/larangan memukul wajah)

Ibnu Jakfari Berkata:

Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya!

Ada kekhawatiran bahwa Abu Hurairah menimba ucapan itu dari Guru Besar yang bernama Ka’ab al Ahbâr; seorang pendeta Yahudi yang berpura-pura memeluk Islam dan kemudian menyebarkan ajaran yahudiyah di tengah-tengah kaum Muslimin dan sempat memikat kekaguman sebagian sahabat, seperti Abu Hurairah yang kemudian menjadi murid setia yang rajin menjajahkan kepalsuan bualannya!

Sebab bulalan palsu seperti itu termuat dengan kentalnya dalam Al Kitab; Penjanjian Lama, Kitab Kejadian:1:27:

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambarann-Nya, menurut gambaran Allah diciptakan-Nya dia.”[4]

Dan pada Kitab Kejadian 5:1:

“Pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah.”

Para penafsir Al Kitab kebingungan dalam mengahadapi ayat-ayat di atas, dan akhirnya mereka terpaksa mempelesetkan maknanya agar tidak memberi makna materistis bagi Dzat Allah. Mereka mengartikan bahwa yang dimaksud dengannya adalah bahwa Allah menciptakan manusia menyerupai Allah dalam kesucian/kekudusannya.[5]

Sepereti Anda ketahui bahwa tasfir yang dipilih dalam kamus tersebut adalah demi menghindar dari tajsîs/meyakini Allah berpostru seperti makhluk-Nya. Tetapi anehnya mereka yang mengadopsi tekas Al Kitab dan kemudian menamakannya sebagai sabda Nabi sauci Muhammad saw. letah melangkah lebih jauh dengan menutup semua pintu usaha untuk menakwilkannya dengan selain makna posturisasi Allah. Maha suci Allah dari pensifatan mereka, seperti yang dapat Anda saksikan dalam riwayat kedua yang saya sebutkan dari riwayat Imam Muslim!

Jika Tinggi Ada 60 Hasta, Berapa Lebar Badannya?

Saranya sah-saha saja jika ada yang usil dan ingin tahu berapa sebenarnya lebar badan Nabi Adam as. sebab beliau addalah ayah kita semua. Di sini al ‘Aini –pensyarah Shahih Bukhari- memberikan jawaban pasti bahwa lebar badan Adam; ayah umat manusia adalah tujuh hasta! Hanya tujuh hasta! Tidak lebih dan tidak kurang![6]

Edialkah prawakan seperti itu? Panjang 60 hasta, lebar 7 hasta!

Jika panjang/tinggi Adam itun 60 hasta itu mkeniscayakan tulang tengkoraknya sepanjang 2 hasta. Tapi anehnya sepanjang penemuan vosil dan kerangka manusia pra sejarah sekalipunn tidak pernah ditemukan tengkorak manusia seperti itu! Apa yang ditemukan para iilmuan tidak jauh beda besarnya dengan tengkorak manusia sekarang/modern. Tidak pula ternah ditemukan ada kerangka manusia setinggi 60 hasta!

Selain itu, jika benar apa yang dikatakan Abu Hurairah bahwa tinggi Adam as. adalah 60 hasta maka sermestinya tebal badannya mencapai 17,7 hasta. Sebab manusia normal, lebar badan mestinya adalah 2/7 dari tinggi badannya!

Jika benar bahwa lebar badan Adam as. itu 7 hasta maka semestinya tingginya adalah 24,5 hasta bukan 69 hasta!

Jadi di hadapan ucapan Abu Hurairah itu hanya ada dua plihan;

A)                Abu Hurairah salah dalam memberikan gambaran postur Nabi Adam as.!

B)                 Adam as. memang diciptakan tidak Fi Ahsani taqwîm/sebaik-baik bentuk penciptaan. Postus Adam as. terlalu ramping, tidak serasi antara tinggi dan lebar!

  • Allah SWT Memamerkan Betis Indah-Nya

Di antara hadis-hadis Shahih Bukhari dan Muslim terkait dengan masalah tauhid dan sifat Allah SWT yang perlu mendapat sorotan adalah hadis yang mengatakan bahwa: “Kelak di hari kiamat ketika para pengyembah selain Allah telah dipertemukan dengan sesembahan mereka…. Sehingga setelah selesai dan tidak tersisa melainkan mereka yang menyembah Allah; baik yang shaleh maupun yang durja. Datanglah Allah Rabbul ‘Alâmin daalam tampilan lain yang lebih rendah dari tampilan yang pernah mereka kenal di dunia dahulu, lalu Allah berfirman kepada mereka, “Apa yang kalian nanti? Semua telah mengikuti sesembahan yang dahulu mereka sembah.” Maka mereka menjawab, “Orang-orang telah meninggalkan kami di dunia di saat kami sangat membutuhkan mereka, kami tidak menemani mereka. Kami sedang menanti Tuhan yang dahulu kami sembah.” Lalu Allah berfirman, “Aku-lah Tuhan kalian.” Maka mereka berkata, ‘Kami tidak pernah menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Dua atau tiga kali mereka ucapkan.

Dalam riwayat lain: “Maka datanglah Dzat Yang Maha Perkasa dalam bentuk selain bentuk yang dahulu mereka saksikan pertama kali, lalu Dia berkata, “Aku-lah Tuhan kalian.” Maka mereka berkata, “Engkau Tuhan kami?”…

Dalam riwayat lain, mereka berkata menolak, “Kami berlindung darimu!.”

Maka Allah berfiman, “Adakah tanda antara kalian dan Dia dengannya kalian mengenal-Nya?” Mereka berkata, “Ya, ada. Betis.” Maka Allah menyingkap betis-Nya. Maka bersujudlah semua orang Mukmin, adapun orang yang dahulu menyembah-Nya karena riya’ dan mencari pamor tidak bias bersujud, setiap kali mereka hendak bersujud punggung mereka menajdi seperti papan dan mereka tertelungkup… “

(Shahih Bukhari, Kitab at Tauhid, Bab Qaulullah –Ta’ala- Wujûhun Yaumaidzin Nâdzirah, hadsi no.7439 dan beberapa tempat lainnya di antaranya: Kitab at Tafsîr, Bab Qaulihi Innallaha Lâ Yadzlimu Mitsqâla Dzarratin, hadis no.4581 dan baca juga Shahih Muslim Bab Ma’rifah Tharîq ar Ru’yah).

Di antara redaksri riwayat Bukhari adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا ‏ ‏يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ ‏ ‏حَدَّثَنَا ‏ ‏اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏زَيْدٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ ‏ ‏عَنْ ‏ ‏أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ‏ ‏قَالَ :‏قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ ‏ ‏هَلْ تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ إِذَا كَانَتْ صَحْوًا قُلْنَا لَا قَالَ فَإِنَّكُمْ لَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ رَبِّكُمْ يَوْمَئِذٍ إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَتِهِمَا ثُمَّ قَالَ يُنَادِي مُنَادٍ لِيَذْهَبْ كُلُّ قَوْمٍ إِلَى مَا كَانُوا يَعْبُدُونَ فَيَذْهَبُ أَصْحَابُ الصَّلِيبِ مَعَ صَلِيبِهِمْ وَأَصْحَابُ الْأَوْثَانِ مَعَ أَوْثَانِهِمْ وَأَصْحَابُ كُلِّ آلِهَةٍ مَعَ آلِهَتِهِمْ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ وَغُبَّرَاتٌ مِنْ ‏ ‏أَهْلِ الْكِتَابِ ‏ ‏ثُمَّ يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ تُعْرَضُ كَأَنَّهَا سَرَابٌ فَيُقَالُ ‏ ‏لِلْيَهُودِ ‏ ‏مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ ‏ ‏عُزَيْرَ ‏ ‏ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلَا وَلَدٌ فَمَا تُرِيدُونَ قَالُوا نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا فَيُقَالُ اشْرَبُوا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي جَهَنَّمَ ثُمَّ يُقَالُ ‏ ‏لِلنَّصَارَى ‏ ‏مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ فَيَقُولُونَ كُنَّا نَعْبُدُ ‏ ‏الْمَسِيحَ ‏ ‏ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ كَذَبْتُمْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ صَاحِبَةٌ وَلَا وَلَدٌ فَمَا تُرِيدُونَ فَيَقُولُونَ نُرِيدُ أَنْ تَسْقِيَنَا فَيُقَالُ اشْرَبُوا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي جَهَنَّمَ حَتَّى يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَا يَحْبِسُكُمْ وَقَدْ ذَهَبَ النَّاسُ فَيَقُولُونَ فَارَقْنَاهُمْ وَنَحْنُ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَيْهِ الْيَوْمَ وَإِنَّا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِيَلْحَقْ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ وَإِنَّمَا نَنْتَظِرُ رَبَّنَا قَالَ فَيَأْتِيهِمْ الْجَبَّارُ فِي صُورَةٍ غَيْرِ صُورَتِهِ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَلَا يُكَلِّمُهُ إِلَّا الْأَنْبِيَاءُ فَيَقُولُ هَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُ آيَةٌ تَعْرِفُونَهُ فَيَقُولُونَ السَّاقُ فَيَكْشِفُ عَنْ سَاقِهِ فَيَسْجُدُ لَهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ وَيَبْقَى مَنْ كَانَ يَسْجُدُ لِلَّهِ رِيَاءً وَسُمْعَةً فَيَذْهَبُ كَيْمَا يَسْجُدَ فَيَعُودُ ظَهْرُهُ ‏ ‏طَبَقًا ‏ ‏وَاحِدًا ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ ……

*****

Dalam riwayat-riwayat tersebut dikatakan bahwa (1) Umat manusia kelak di hari kiamat akan melihat Allah dengan mata telanjang! Sebagiamana sebelumnya nmereka juga pernah melihat-Nya hanya saja dalam tampilan dan bentuk lain yang berbeda dengan bentuk di hari kiamat. Dan hal itu tentunya meniscayakan adanya cahaya yang menyambung antara mata dan Dzat Allah!  (2) Memandang Allah SWT drngan mata telanjang ternyata tidak terbatas hanya bagi kaum Mukminin saja, akan tetapi Allah juga akan dilihat oleh kaum munafikin! (3) Allah memiliki bentuk yang terdiri dari bagian-bagian dan berlaku padanya apa yang berlaku atas meteri seperti berpindah tempat, bergerak dan menempati  ruang, serta akan tampil untuk di permukaan dan diliaht mata telanjang! (4) Allah tampil daalam rupa dan bentuk yang bermacam-macam. (5) Dan ketika Allah tampil di hari kiamat dalam bentuk dan rupa lain yang tidak mereka kelal sebelumnya, maka mereka meminta agar Allah menampakkan tanda pengenal yaitu betis! Akhirnya Allah menyingkap betis-Nya dan mereka pun mengenali-Nya lalu merreka bersujud!

Itu artinya, andai Allah tidak memperkenalkan jati diri-Nya dengan menyingkap betis-Nya pastilah kaum Mukminin di hari kiamat itu tidak akan mengenal-Nya. Maha suci Allah dari menyerupai makhluk-Nya!

Betis Allah!

Masalah penetapan adanya betis Allah SWT. yang  Allah singkap itu terkait dengan ayat 42 surah Nûn,  karena itu, Bukhari menyebutkan hadis ini pada tafsir surah Nûn Bab Yauma Yuksyafu ‘An Sâqin, sebagai tafsir dari ayat tersebut! Oleh sebab itu kami akan menelaah maksud ayat tersebut walau secara ringkas.

يَكِْشِفُ رَبُّنا عن ساقٍ….

“Pada hari betis disngkapkan…. “

Ayat tersebut dalam rangkaian ayat-ayat yang berbicara tentang kedahsyatan kejadian di hari kiamat. Kaum kafir diminta untuk mendatangkan sesembahan mereka untuk menolong dan menyelamatkan mereka! Kapan? “Pada hari betis disngkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa.” Yang dimaksud dengan betis disingkapkan adalah menggambarkan keadaan yang sedang ketakutan dan  kedahsyatan yang sangat!

Tafsir ini telah dinukil dari para pembesa Salaf, seperti Ibnu Abbas, hasan al Basrhi, Mujahid, Qatadah dan Sa’id ibn Jubair. Baca ketarangan mereka dalam: Fathu al Bâri,18/307.

Akan tetapi, Bukhari memaknai kata sâqin dengan arti betis dan dikaitan dengan Dzat Allah SWT.; betis Allah!!

Dan akibat menerima tanpa seleksi hadis Bukhari di atas, sebagian orang berkeyakinan bahwa Allah SWT punya betis yang kelak pada hari kiamat akan disingkap sebagai tanda pengenal kepada kaum Mukminin!!

Mengepa terjadi penyelewengan dalam memahami makna ayat di atas? Jawabnya jelas! Karena Bukhari; Imam Ahli Hadis telah meriwayatkannya demikian!

Sementara salah satu pangkal kesalahan itu terletak pada adanya kesalahan pada penukilan teks sebenarnya! Imam Bukhari meriwayatkannya dengan redaksi demikian:

يَكِْشِفُ رَبُّنا عن ساقِهِ….

“Tuhan kami menyingkap betis-Nya, maka bersujudlah semua orang mukmin dan mukminah….” (HR. Bukari, Kitab at Tafsîr, Bab Yauma Yuksyafu ‘An Sâqin, hadis no.4919)

Sepertinya terjadi kesalahan dalam redaksi itu yang kemudian menyebabkan kekacauan akidah tentang sifat Allah SWT.

Coba Anda perhatikan redaksi dalam ayat Al Qur’an di atas! Ia hanya menyebutkan kata: ساقٍdan dalam bentuk nakirah. Ia berkata, “Pada hari betis disngkapkan.” Tidak ada sebutan bahwa Allah menyingkap betis-Nya, sehingga ia sama sekali tidak terkait dengan sifat Allah! Akan tetapi, ketika kita memerhatikan riwayat Bukhari kita temukan bahwa Allah yang menyingkap betis-Nya! Betis Allah!!

Karenanya salah seorang tokoh agung Ahli Hadis Sunni bernama Isma’ili menegaskan bahwa pada redaksi riwayat Bukhari di atas terjadi kesalahan! Yang shahih adalah tanpa kata ganti orang ketiga: هِ  pada kata: ساقِهِ, sebab redaksi terakhir ini sesuai dengan redaksi Al Qur’an. Dan tidak lah terbayangtkan bahwa Allah punya organ badan sebab yang demikian itu menyerupkan-Nya dengan makhluk-Nya, sementara Allah tidak menyerupai makhlu-Nya! Demikian ditegaskan al Isma’ili.[7]

Jadi dalam hemat al Isma’ili, Bukhari salah dalam menukil atau meriwayatkan redaksi hadis yang salah!

Akankah para ulama Sunni lainnya berbesar hati seperti al Isma’il?

Penutup:

Selain dua contoh kasus di atas, masih banyak lainnya! Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kapada saya untuk membeberkan kasud-kasus lainnya dalam kesempatan mendatang. Amîn.

Dan semoga kenyataan ini menjadi bahan renungan bagi para pecinta Sunnah Nabi saw. dan kami menanti sikap ilmiah (bukan ocehan kosong) dari para pemerhati!

Dan jika kitab tershahih Ahlusunnah sedemikian rentangnya dari kepalsuan, maka  apa bayakan kita terhadap kitab-kitab hadis lainnya yang dari sisi kualitas jauh di bawah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim?!


[1] Tentunya tidak menutup kenyataan bahwa di antara ayat-ayat Al Qur’an ada yang qathi petunjuknya sebagaimana di antara Sunnah ada yang qathi juga wurûd-nya.

[2] Qadhi Abu Bakar ibn al Arabi meriwayatkan dalam syarahh at Turmudzi dari Ibnu Hubâb bahwa Malik telah meriwayatkan seratus ribu hadis. Ia menghimpunnya dalam Muwaththa’ sebanyaak sepuluh ribu, kemudian ia terus-menerus menyocokkannya dengan Al Qur’an dan Sunnah dan menguji kualitasnya dengan atsâr dan akhbâr, sehingga ia kembali (hanya menerima) lima ratus hadis saja.”

[3] http://hadith.al-islam.com/Display/Display.asp?Doc=0&Rec=9299.

[4] Al Kitab,diterbitankan OLEH  LEMBAGA AL KITAB INDONESIA – JAKARTA 1985.

[5] Baca Kamus al Kitab al Muqaddas, pada kata Adam.

[6] ‘Umdah al Qâri,22/229.

[7] Baca Fathu al Bâri,18/308.

==========================================

Tuhan Salafi Jelas Berbentuk!

Jika dikatakan bahwa kalian wahai orang=orang Salafi/Wahabi adalah Mujassimah! Kalian marah, dan menepisnya dengan mengatakan bahwa kami adalah pengikut Salaf Shaleh! Kami memurnikan Tauhid! Kami Mensifati Allah SWT dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya sifati Diri-Nya!!

Akan tetapi semua akidah kalian tentang ketuhanan dengan terang menunjukkan bahwa Tuhyan kalian itu berbentuk, berfisik, terdiri dari beberapa angoota seperti tangan, betis, wajah, mata, telinga… sebagaimana kalian juga mensifatinya dengan sifat makhluk_nya seperti berlari-lari kecil, naik dan turun.. bersemayam di attas Arsy yang dipikul delapan ekor kambing hutan yang kalian artikan malaikat berbentuk kambing jantan… dan lain sebagainya dari akidaah menyimpang dan kental dengan tajsim!

Kini, kalian mensifati Tuhan kalian dengan bertambah berat bobot tubuh-Nya apabila ia murka… entah apa relevansinya antara murka dengan bertambah boot badan? Apa karena “ngeden” (dalam bahasa jawa negeden pasti Anda mengerti maknanya)…. ? Atau karena sebab lain?

Yang pasti demikian akidah kalian!!

Ini buktinya!!

Perhatikan baik-baik!

Maka beliau menjawab: “Ya, benar. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran… “

Cacatan kaki:
Hadis itu diriwayatkan Ibnu Asakir secara lengkap: “Nabi menjawab: “Ya, benar, demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran. Mereka berkata, ‘Kapan ia menjadi berat?
Nabi menjawab, “Jika kaum musyrikun bengkit kepada kemusyrikan mereka maka murka Allah  azza wa Jalla menjadi keras, dan Arsy menjadi berat atas para pemangulnya sehingga ada seorang yang sadar akan: ‘Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya’, maka redahkan murka Allah Azza wa Jalla dan menjadi ringanlah Arsy atas para pemikulnya. dan mereka pun mendoakan, ‘Ya Allah ampunilah si pengucap kalimat itu,’”
(Tarikh Damasqus,19/362 dan Tahdzib at Tahdzib,7/221)
.
Akidah Ahmad ibn Hanbal:

Terjemah:

“Dan sesungguhnya ar Rahman (Allah) membuat barat atas para pemikul Arsy sejak awal siang… “

Subhanallah, Maha Suci Allah dari pensifatan kaum penyimpang!

Apakah kalian setuju dengan akidah seperti ini?

=====================================

kesimpulan :

Ulama  Sunni  Menipu  Umat !!!!!!!!!!!!!!!!!!

Syi’ah  menolak  ajaran Abu Hasan Al Asy’ari  yang menyatakan Allah berada   di arsy, menolak  ajaran bahwa Allah  punya tangan – wajah – mata yang zhahir…

Syi’ah  menolak paham  Allah  bersemayam di langit  di arsy  secara zahir…

Allah SWT tidak diliputi tempat….

Berikut ialah beberapa tambahan dalil bagi menambah kekuatan bahawa perkataan maula yang disebutkan bukanlah bermaksud sahabat, tetapi pemimpin.

Salam dan Solawat

Berikut ialah beberapa tambahan dalil bagi menambah kekuatan bahawa perkataan maula yang disebutkan bukanlah bermaksud sahabat, tetapi pemimpin.

Imam Abu Ishaq at Tsalabi telah mengeluafkan riwayat dengan 2 sanad muktabar dalam menafsirkan Surah al Maarij di dalam kitab beliau, Al Kabir:

Ketika Rasulullah berada di Ghadir Khum, baginda menyeru agar orang ramai berkumpul. Lalu baginda bersabda sambil memegang tangan Ali:

“Barangsiapa yang aku ialah maulanya, maka ini Ali maulanya.” Berita itu kemudiannya tersebar luas ke seluruh pelusuk tanah kaum muslimin. Apabila berita itu sampai ke al Harits ibn an Nu’man al Fihri, beliau dengan segera berangkat berjumpa dengan baginda Nabi, setelah tiba, beliau berkata:

“Wahai Muhammad, kamu telah memerintahkan kami mengakui bahawa tiada Tuhan selain Allah dan kamu adalah Rasulnya, maka kami menerimanya. Kamu memerintahkan kami menunaikan solat 5 waktu, maka kami menerimanya. Kamu memerintahkan kami mengeluarkan zakat, lantas kamia menerimanya. Kamu memerintahkan kami berpuasa di bulan Ramadhan, maka kami menerimanya. Kamu memerintahkan kami menunaikan haji, maka kami menerimanya. Namun kamu tidak cukup dengan semua itu, hingga kamu mengangkat sepupu mu dan mengutamakannya ke atas kami dengan kata mu, “Barangsiapa yang aku ialah maulanya, maka Ali ialah maulanya. Adakah perkara ini datang dari kamu ataua dari Allah swt?”

Lalu baginda menjawab: “Demi Dia yang tiada Tuhan  selainnya. Sesungguhnya perkara ini adalah benar dari Allah swt.

Mendengar jawapan itu Harits berpaling dan menuju ke kudanya sambil berkata: “Ya Allah, sekiranya apa yang diucapkan oleh Muhammad itu benar, maka datangkanlah kepada kami batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.”

Belumpun sempat beliau sampai ke tunggangan beliau, tiba-tiba sebiji batu datang dari langit tepat ke kepala beliau menembusi keluar ke duburnya. Dengan itu turunlah wahyu dari Allah yang berbunyi:

“Salah seorang (secara mengejek-ejek) meminta kedatangan azab yang (dijanjikan) akan berlaku,untuk orang-orang yang kafir, yang tidak ada sesiapapun dapat menolak kedatangannya -Dari Allah yang menguasai tempat-tempat turun naik”

Rujukan kisah ini:

1. Nuzm Durar as Simthin, Zarandi al Hanafi
2. Nurul Absar, Syablanji
3. Tazkiratul Khawas, Sibt Ibnu Jauzi
4. Al Fusulul Muhimmah, ibnu Sabbagh al Maliki
5. Yanabi al Mawaddah, Qunduzi al Hanafi
6. Sirah al Halabiyah, Burhanuddin al Halabi asy Syafii
7. Syawahidul Tanzil, Hakim al Huskani
8. Tafsir al Qurtubi, Tafsir Abi Saud, dan Tafsir al Manar
9. Syarh Jamius Soghir, Suyuthi

Lihatlah, ini adalah satu lagi tambahan bukti kepimpinan Imam Ali. Ini dapat kita dasarkan kepada perkataan maula di sini bukanlah bermaksud sahabat,kawan atau apa sahaja omongan kosong wahabi. Dengan konteks sebegini penting yang ditunjukkan, adakah semata-mata kerana Rasulullah(sawa) menerangkan kepada para sahabat kedudukan Imam Ali sebagai sahabat?

Mengapa Harits terlampau marah sehingga perlu berjumpa Rasul, kerana Rasul menyatakan Imam Ali sebagai kawan? Macam la sebelum ini, mereka tidak mengetahui betapa rapatnya mereka berdua, apabila Imam Ali dipersaudarakan dengan baginda, malah Rasul menyatakan hubungan mereka berdua seperti Musa kepada Harun?

Cukup-cukuplah menentang hujah yang haq, jika kamu tidak mahu menerima pun, hormatilah pendapat kami. Ini ialah hujah dari buku kamu, rujukan kamu. Kalau dari rujukan kami, tidak perlu diucapkan lagi.

Saya hairan, apa salahnya kami mengambil panduan syariat dari Ahlulbait(as) ? Mengapa perlu ditentang habis habisan hanya kerana kepercayaan kami ini? Kenapa kamu tidak dapat menerima Ahlulbait(as) sebagai Imam rujukan kamu? Adakah mereka terlampau jahil? Apakah mereka pembuat maksiat? Apakah mereka penjilat punggung kerajaan yang berkuasa sehingga mengeluarkan fatwa mengikut kemahuan para khalifah yang memerntah? Ataupun hanya kerana mereeka menghancurkan segala fantasi yang kalian pegang sebelum ini?

Ini kesimpulan saya dan kata-kata saya..

Agama Islam yang diterjemahkan melalui mazhab Syiah, adalah naluri semulajadi bagi manusia, konsep ketuhanan dalam Islam menarik para manusia yang luar dari agama ini untuk menerima Islam, sementara konsep imamah pula adalah penambah perisa semula jadi bagi melengkapkan Islam ini secukup rasa.

Ia ibarat madu yang menarik lebah, kecantikan yang mengindahkan mata dan panadol yang menghilangkan sakit kepala kerana perbezaan mazhab.

Wallahualam..

Mu’awiyah Penulis Wahyu ???

Salam dan Solawat

Nama beberapa orang penulis wahyu telah sedia maklum dalam lembaran sejarah seperti Ali bin Abi Talib, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Thabit dan lain-lain lagi. Walau bagaimanapun Muawiyah yang terkenal sebagai kelompok Fiatul Baghi (pendurhaka yang sesat) turut dikatakan penulis wahyu  dan cerita ini telah lama beredar di kalangan penyokong kuat Muawiyah supaya martabat individu ini dimuliakan umat Islam. Namun sejauh mana kesahihan pengriwayatannya menurut timbangan ilmu saringan hadis dan pandangan ulama terdahulu? Jikalau benar ia penulis wahyu sekalipun mestikah ia terpelihara dari melakukan dosa?

Penelitian riwayat penulisan Wahyu oleh Muawiyah.

Riwayat terpenting yang menyabitkan penulisan wahyu oleh Muawiyah diambil dari kitab Hadis Sahih Muslim oleh Muslim bin Hajjaj Nisyaburi:

Telah diceritakan kepada kami ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Azim dan Ahmad bin Ja’far al-Ma’taqiri, mereka berkata telah diceritakan oleh al-Nadhru –beliau adalah Ibnu Muhammad al-Yamami- telah diceritakan oleh ‘Ikrimah, telah diceritakan kepada kami Abu Zumail, telah diceritakan kepadaku Ibnu Abbas yang berkata:

“Kaum Muslimin tidak memberi perhatian kepada Abu Sufyan dan sahabat-sahabatnya”. Abu Sufyan berkata kepada Nabi (saw): “Wahai nabi Allah, saya punya tiga permintaan dan perhatikanlah”, Nabi bersabda, “Iya”. Dia mengatakan: Padaku Ummu Habibah binti Abu Sufyan, gadis arab terbaik dan tercantik, saya kahwinkan ia denganmu”. Nabi bersabda, “Iya”. Dia berkata, “Jadikanlah Muawiyah penulis apa yang ada antara kedua tanganmu (Wahyu). Nabi bersabda, “Iya”.  Dia berkata: “Arahkan aku menjadi panglima tentera memerangi orang kafir sebagaimana aku telah memerangi Muslimin”. Nabi berkata “Iya”. Berkata Abu Zumail, “Jikalau dia tidak memohonannya daripada Nabi, niscaya permintaannya tidak dikabulkan, kerana nabi tidak menjadikan permintaan itu sesuatu melainkan mengatakan Iya”. – (Sahih Muslim, jilid 4 halaman 1945)

Nawawi dalam Syarahnya menyatakan:

Ini merupakan salah satu hadis yang terkenal bermasalah kerana tiada keraguan lagi bahawa Abu Sufyan telah masuk Islam dalam tahun pembebasan kota Makkah iaitu tahun ke-delapan Hijrah.

Abu Ubaidah dan Khalifah bin Khayyat, dan Ibnu al-Barqi dan ramai lagi berkata: Rasulullah (saw) berkahwin dengan Ummu Habibah pada tahun ke-enam dan menurut yang lain pula tahun ke-tujuh Hijrah.

Al-Qadhi berkata: Sungguh aneh Abu Sufyan menikahkannya kerana tidak ada keraguan lagi, menurut riwayat Abu Sufyan masih kafir ketika masuk ke kota Madinah.

Berkata Ibnu Hazm, hadis ini termasuk riwayat yang diragui; kerana tidak berselisih di kalangan manusia bahawasanya Nabi (saw)  sudah lama menikahi Ummu Habibah sebelum pembebasan kota Makkah dan ia termasuk di kalangan Muhajirin yang berhijrah ke Habsyah sementara ayahnya masih kafir. Menurut riwayat daripada Ibnu Hazm lagi, beliau berkata: Hadis ini Maudhu’. Masalah di sini ialah seorang yang bernama ‘Ikrimah bin Ammar yang menukilkannya daripada Abi Zumai.

Shamsudin Zahabi (wafat dalam tahun 748 Hijrah)  dalam Mizan al-I’tidal menulis bahawa hadis ini dan tiga hadis yang lain telah diambil daripada orang yang tidak boleh dipercayai:

Ibnu al-Mulqin Syafie (wafat dalam tahun 804 Hijrah) juga mengkritik hadis ini:

Hadis ini merupakan hadis-hadis yang masyhur dan terkenal dengan masalahnya, dan pertikaiannya ialah: Abu Sufyan masuk Islam di hari pembukaan kota Makkah, dan peristiwa pembukaan itu berlaku pada tahun ke-sembilan, dan Nabi telah menikah dengannya jauh lebih lama sebelum peristiwa itu. Telah berkata Khalifah bin Khayyat: Pernikahannya terkenal berlangsung dalam tahun ke-enam Hijrah dan baginda bertemu dengannya dalam tahun ke-tujuh, dan sebahagian mengatakan tahun ke-tujuh. Ada pula yang mengatakan tahun ke-lima.- (Badrul Munir fi Takhrijul Ahadith, jilid 6 halaman 731.)

Berkata Ibnu Qayyim al-Jauzi (Wafat pada tahun 751, beliau merupakan murid istimewa Ibnu Taimiyah dan penyebar pemikiran dan akidahnya) telah mengkritik hadis ini seperti berikut:

Hadis ini menimbulkan masalah kepada manusia. Ummu Habibah telah menikahi Rasulullah (saw) sebelum Abu Sufyan memeluk Islam di mana perkahwinan ini atas izin kurnia raja Najashi. Kemudian ia datang kepada Rasulullah (saw) sebelum keislaman ayahnya. Bagaimana mungkin ia mengatakan ‘aku nikahkan dikau dengan Ummu Habibah?

Ada golongan yang mengatakan hadis ini adalah dusta dan tiada asasnya, Ibnu Hazm mengatakan ‘Akramah bin ‘Ammar menciptanya.

Namun ada kumpulan yang lain mempertahankannya dengan mengatakan: Dalam Sahih Muslim tidak ada hadis Maudhu’, adapun maksud hadis itu ialah Abu Sufyan meminta pernikahan anaknya diulang lagi supaya ia mendapat tempat di sisi umat Islam. Namun alasan ini lemah kerana Rasulullah (saw) merupakan seorang yang berpegang teguh dengan janji telah menerima permintaan Abu Sufyan dalam hadis tersebut, namun tidak ada seorang pun yang mengatakan akad nikah itu diperbaharui semula setelah itu. Jikalaulah perkara ini dinukilkan maka telah sedia maklum bahawa peristiwa ini tidak pernah berlangsung.

Berkata pula golongan yang lain, tidak ada sejarawan yang bersetuju bahawa Rasulullah menikahi Ummu Habibah (ra) di Habsyah. Bahkan sebahagian mereka menyatakan Nabi (saw) menikahinya di Madinah setelah ia datang dari Habsyah. Perkara ini diceritakan oleh Abu Muhammad al-Munziri namun ianya sangat lemah sedangkan jawapan yang dimaksudkan dalam hadis itu ialah:

1. Sesungguhnya pendapat ini tidak diketahui samada Sahih atau Hasan, dan tidak ada seorang pun yang terpecaya menukilkannya.

2. Kisah perkahwinan Ummu Habibah di bumi Habsyah adalah mutawatir seperti mana perkahwinan baginda dengan Khadijah dan Aisyah di Makkah, dengan Hafsah, Safiyah dan Maimunah di Madinah. Ianya sudah masyhur dan meyakinkan. Jikalau ada riwayat yang bertentang dengan perkara ini, sudah tentu ianya salah dan tidak boleh diambil kira.

3. Sudah maklum di kalangan sejarawan Sirah Nabawiyah bahawa baginda tidak menangguhkan pernikahan baginda dengan Ummu Habibah sehingga pembebasan kota Makkah, tidak pula seorang pun meragui peristiwa ini.

4. Ketika Abu Sufyan datang ke Madinah bertemu dengan anaknya Ummu Habibah dan ingin duduk di atas tilam Rasulullah (saw), Ummu Habibah mengumpul tilam itu. Abu Sufyan berkata: Wahai anakku, aku tidak tahu mengapakah engkau mengasingkan tilam ini dariku? atau aku tidak layak untuk tilam ini? Ummu Habibah berkata: Bahkan ia adalah tilam Rasulullah (kata beralas iaitu: ‘Engkau orang kafir, tidak boleh duduk di atas tempat baginda’).

5. Ummu Habibah termasuk daripada golongan muhajirin ke Habsyah bersama suaminya Ubaidillah bin Jahsy yang keluar dari Islam dan memeluk agama Kristian kemudian meninggal dunia di sana. Ummu Habibah berangkat dari Habsyah menuju kepada Rasulullah di Madinah, bukan kepada ayahnya. Perkara ini jelas dan tidak ada keraguan di kalangan sejarawan. Telah sedia maklum bahawa ayahnya belum lagi masuk Islam kecuali dalam tahun pembukaanan kota Makkah. Tidak mungkinlah ia boleh mengatakan: ‘Aku mempunyai seorang perempuan Arab yang tercantik, dan aku kahwinkan ia denganmu’..? Apakah Ummu Habibah ada di sisi ayahnya setelah masuk Islam? Jikalau tawaran kepada baginda ini sebelum Abu Sufyan masuk Islam, maka ia adalah mustahil; kerana Ummu Habibah sama sekali tidak berada di sisi Abu Sufyan sebagai walinya. Mustahil juga jikalau Abu Sufyan mengatakan demikian setelah masuk Islam kerana pernikahan Ummu Habibah tidak pernah ditangguh sehingga tahun Fathul Makkah.

Berkata Abul Faraj bin Jauzi: Hadis ini antara yang tidak benar. Tiada syak lagi ‘Ikrimah bin Ammar dituduh menceritakan hadis ini.

Dia berkata: Kami mengatakan kesilapannya daripada perawi, kerana para sejarawan berijma’ bahawa Ummu Habibah adalah isterinya ‘Ubaidillah bin Jahsy mempunyai seorang anak dan telah berhijrah ke Habsyah; namun ‘Ubaidillah telah memeluk agama Kristian sedangkan Ummu Habibah tetap berpegang pada agamanya. Rasulullah mengirim utusan meminangnya kepada raja Najashi. Maka Ummu Habibah menikahi Rasulullah dengan mahar bernilai empat ribu dirham dalam tahun ke-tujuh Hijrah. Abu Sufyan datang ke Madinah di zaman perjanjian damai dan pergi ke rumah anaknya. Namun Ummu Habibah mengumpul tilam Rasulullah supaya Abu Sufyan tidak duduk di atasnya. Tidak ada khilaf bahawa Abu Sufyan dan Muawiyah masuk Islam dalam tahun pembebasan kota Makkah pada tahun ke-delapan Hijrah dan tidak pernah diketahui Abu Sufyan memohon kepada Rasulullah demikian.

Berkata satu lagi golongan daripada mereka iaitu al-Baihaqi dan al-Munziri semoga Allah merahmati kedua mereka: Mungkin tawaran pernikahan Ummu Habibah daripada Abu Sufyan berlaku dalam salah satu perjalanannya ke Madinah iaitu setelah mendengar berita kematian suaminya di Habsyah. Dan dua tawarannya yang lain setelah beliau masuk Islam di mana semua kata-katanya dihimpun dan diriwayatkan seperti ini.

Ini juga sangat lemah, kerana Abu Sufyan berangkat ke Madinah di zaman perdamaian setelah Hijrah dan sebelum pembabasan kota Makkah. Ketika itu Ummu Habibah sudah menjadi isteri Nabi (saw) dan Abu Sufyan tidak pernah berangkat sebelum itu kecuali bersama pasukan tempur tahun perang Khandak. Jikalau tidak ada perjanjian damai di antara mereka dan Nabi (saw), Abu Sufyan tidak akan berangkat ke Madinah. Oleh itu bilakah ia menikahkan Ummu Habibah dengan Rasulullah? ini adalah satu kesilapan yang jelas.

Dari satu sudut lagi, tidak benar Abu Sufyan dalam keadaan kafir menikahkan anaknya kerana dia tidak boleh menjadi wali kepada Ummu Habibah. Tidak pula ditangguhkan pernikahan ini sehingga dia masuk Islam kemudian memohonnya. Tidak benar kata-katanya: ‘aku nikahkan dikau dengan Ummu Habibah’.

Tambahan pula zahir hadis ini menunjukkan tiga permintaan daripada baginda dalam satu masa. Dia berkata: “Tunaikanlah tiga permintaanku”. Hadis tersebut telah maklum bahawa permintaannya ialah: Dia ingin menjadi panglima tentera dan memohon Muawiyah dijadikan penulis wahyu. Dia hendaklah mengatakan demikian setelah masuk Islam. Jikalau sebagian permintaannya itu dikemukakan ketika ia masih kafir, apakah ini boleh diterima sebagai himpunan kata-kata?

Oleh itu seluruh hadis ini Batil dan tidak ada nilai. Dalam pandangan ilmiyah ianya tidak mempunyai manfaat dan Allah Maha Mengetahui

Maka benarlah bahawa hadis tersebut tidak terjaga dan banyak kesalahan di dalamnya. Wallahu A’lam. – Ibnu Qayyim al-Jawzi dalam kitab Jala ul Afham Fi Fadhli Solah ‘Ala Muhammad Khairul Anam, jilid 1 halaman 243-249.

Ahlusunnah percaya Muawiyah hanyalah seorang penulis surat biasa Rasulullah sahaja.

Ramai tokoh Ahlusunnah percaya bahawa Muawiyah hanya menulis surat-surat biasa Rasulullah (saw) untuk orang lain. Shamsudin Zahabi dalam Siyar A’lam Nubala menulis:

Daripada Abi al-Hasan al-Kufi yang berkata: Zaid bin Thabit penulis Wahyu, Muawiyah adalah penulis surat-surat Nabi kepada orang-orang Arab – Siyar A’lam al-Nubala juz 3 halaman 123.

Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam al-Ishabah menulis:

Madain berkata: Zaib bin Tsabit menulis Wahyu dan Muawiyah menulis surat Nabi (saw) untuk orang-orang Arab – al-Ishabah juz 6 halaman 153

Ibnu Abil Hadid menulis:

Penyelidik daripada kalangan sejarawan mengatakan: Sesungguhnya Wahyu ditulis oleh Ali, Zaid bin Tsabit dan Zaid bin Arqam. Manakala Hanzalah bin al-Rabi’ al-Timi dan Muawiyah menulis surat baginda kepada kerajaan-kerajaan  dan kepala-kepala kabilah, mereka berdua menulis keperluan-keperluan dan harta-harta Baitul Mal termasuk pembahagiannya…. – Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid juz 1 halaman 201-202

Penulis Wahyu tidak menyebabkan seseorang itu Maksum dari melakukan dosa

Kemurtadan seorang penulis wahyu:

Jikalaulah kita menganggap Muawiyah penulis Wahyu sekalipun, tidak sekali-kali dia mempunyai kelebihan maksum yang tidak melakukan dosa. Pernah terjadi satu peristiwa seorang yang bernama Abdullah bin Abi Sarhin yang disepakati oleh Syiah dan Sunni sebagai penulis wahyu di zaman Rasulullah. Namun ia keluar dari Islam dan memeluk agama Kristian. Nabi mengarahkan dia dibunuh walaupun ia berpaut pada kain Ka’bah

Ibnu Abi Syubaih dalam al-Mushannaf, Nasai dalam al-Mujtabi, Zahabi dalam Tarikh Islam, Ibnu Kathir dalam al-Bidayah wan Nihayah telah menukilkan:

Daripada Mush’ab bin Sa’ad berkata, daripada bapanya yang berkata: Tatkala hari pembukaan kota Makkah, Rasulullah (saw) memberi keamanan kepada manusia melainkan empat laki-laki dan dua wanita. Baginda bersabda, “Bunuhlah mereka walaupun kalian menemukan mereka berpaut pada kain Ka’bah iaitu ‘Ikrimah bin Abi Jahl, Abdullah bin Khatl, Maqisa bin Shubabah, Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarhin.

Rujukan- Ibnu Abi Syaibah al-Kufi, Abu Bakar bin Muhammad, al-Kitab al-Mushannaf fil Ahadith wal Athar, jilid 7 halaman 404. Al-Nasai, Ahmad bin Syuib Abu Abdul Rahman, al-Mujtaba min al-Sunan, jilid 7 halaman 105. Ibnu Kathir, al-Bidayah Wan Nihayah, jilid 4 halaman 298.

Samarqandi dalam tafsir ayat 93 surah al-An’am menulis tentang kemurtadannya:

‘Dan barangsiapa yang mengatakan kami akan menurunkan seperti apa yang Allah turunkan (surah al-An’am ayat 93)’

Orang yang mengatakan demikian adalah Abdullah bin Abi Sarhin iaitu pernah menjadi penulis wahyu. Dia adalah orang yang diarah oleh Nabi menulis “Sami’an Bashira” tetapi ditulisnya sebagai “Sami’an Hakima”, dan apabila disuruh menulis “‘Aliman Hakima” dia menulis “Sami’an Bashira”. Dia berkata: “Jikalau Muhammad (saw) diberi wahyu, maka saya juga telah diberi wahyu. Jikalau diturunkan kepadanya, maka diturunkan juga kepada saya. Oleh itu dia termasuk orang musyrikin dan menjadi kafir. Tafsir al-Samarqandi juz 1 halaman 487

Jasad penulis wahyu tidak diterima bumi

Menarik perhatian di sini salah seorang penulis wahyu di zaman Rasulullah telah murtad dan pergi berlindung dengan Ahli Kitab. Setelah ia mati, terjadi satu peristiwa yang aneh di mana mayatnya tidak dapat ditanam kerana tidak diterima oleh bumi.

Muslim Nisyaburi menulis dalam Sahihnya:

Anas bin Malik berkata: Seorang laki-laki daripada Bani Najjar yang membaca surah Baqarah dan Ali ‘Imran, beliau menjadi untuk Rasulullah (saw). Kemudian dia melarikan diri dan berlindung dengan Ahli Kitab dan mereka sangat senang dengannya. Tidak lama kemudian dia meninggal lantas mereka menggali kubur dan menanamnya. Namun mereka terkejut apabila bumi melemparkan ia keluar ke permukaan. Mereka menggali lagi untuknya dan menanamnya, namun bumi tetap saja melemparnya ke permukaan. Akhirnya mereka membiarkannya tanpa dikebumikan.

Perseteruan Muawiyah dengan Ali

Penulisan Wahyu buat Abdullah bin Abi Sarhin tidak memberi manfaat dan tidak membuatkan ia terselamat dari api nereka. Bagaimana dosa-dosa Muawiyah dapat dilindungi dan disucikan dengan penulisan Wahyu?

Apakah penulis wahyu diperbolehkan keluar memerangi Imam dan Khalifah Allah dan malakukan pembunuhan lebih dari seratus ribu orang muslimin? Tidakkah mencaci Amirul Mukminin itu bererti mencaci Rasulullah? Apakah penulisan wahyu boleh menyucikan Muawiyah dari dosa memusuhi Ali?

Ibnu Taimiyah telah mengiktiraf bahawa Muawiyah telah memberi arahan kepada Sa’ad bin Abu Waqqas mencaci Ali:

“Adapun hadis: Sa’d tatkala Muawiyah memberi arahan supaya beliau mencaci, namun dia menahan diri. Muawiyah bertanya: Apakah yang menghalang engkau dari mencerca Ali bin Abi Talib? Maka Sa’ad berkata: Ada tiga perkara yang disabda oleh Rasulullah (saw) yang menyebabkan aku tidak akan mencacinya. Jikalau aku mempunyai salah satu kelebihan itu, maka ianya lebih baik dari unta berbulu merah. Hadis ini Sahih yang diriwayatkan Muslim Nisyaburi dalam kitab Sahihnya”. – Minhaj al-Sunnah oleh Ibnu Taimiyah, jilid 5 halaman 42.

Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Nasai dalam bab kelebihan Amirul Mukminin (as), Zahabi dalam Tarikh al-Islam dan banyak lagi menukilkan dengan sanad yang Sahih bahawa mencaci Ali bin Abi Talib (as) bererti mencaci Rasulullah (saw):

Abdillah pergi bertemu Ummu Salamah dan ia berkata: Adakah sesiapa di kalangan anda yang mencerca Rasulullah (saw)?. Aku berkata: Saya berlindung dengan Allah… Ia berkata: Aku mendengar daripada Rasulullah (saw) bersabda: Barangsiapa yang mencerca Ali, maka ia telah mencerca aku. – Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 6 halaman 323, hadis no 26791, Sunnan Nasai, jilid 1 halaman 1111 hadis no 91, Tarikh al-Islam oleh Zahabi jilid 3 halaman 634.

Hakim Nisyaburi setelah menukilkan hadis ini berkata:

Hadis ini Sahih namun Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya. – Mustadrak ‘Ala Sahihain, jilid 3 halaman 130.

Haithami juga berkata:

Ahmad meriwayatkan Hadis tersebut dan perawinya adalah perawi Sahih (perawi hadis sahih Bukhari) melainkan Abu Abdullah Jadali, namun ia juga turut Thiqah.-  Majma’ Zawaid oleh al-Haithami, jilid 9 halaman 130.

Oleh itu sejarah telah mengajar kita bahawa seorang penulis Wahyu belum tentu beliau tetap beristiqomah dalam keimanan. Apalagi  Muawiyah seorang yang terkenal dari golongan Fiatul Baghi

Wallahualam

Perang Jamal tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as.

Tahun 10 hijriyah, Nabi SAW bersama para sahabatnya melakukan ibadah haji. Musim haji tahun itu, hanya dihadiri oleh mereka yang telah memeluk agam Islam. Sejarah mencatat, bahwa lebih dari 100 ribu muslim ikut menyertai rasulullah SAW dalam ibadah haji yang disebut dengan hajjatul wada’ ini. Hajjatul Wada berarti haji perpisahan, karena setelah tahun itu umat Islam ditinggalkan oleh pemimpin mereka, Rasulullah SAW yang wafat hanya selang beberapa bulan sepulangnya dari haji ini.
Seperti yang telah kami singgung dalam searah kehidupan rasul SAW, di tengah perjalanan pulang ke Madinah, Nabi mendapatkan wahyu untuk menyampaikan pesan penting Tuhan. Untuk melaksanakan perintah itu, beliau menyuruh para sahabatnya untuk berhenti di tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum. Di sanalah beliau menyampaikan hadisnya yang terkenal, “Man Kuntu Maulahu fahadza Aliyyun maulah.” Barang siapa yang menjadikanku sebagai pemimpin maka Ali adalah pemimpinnya juga. Hadis ini difahami sebagai pengumuman dari Nabi bahwa sepeninggal beliau Ali-lah yang akan memimpin umat Islam
.
Di penghujung bulan Shafar tahun 11 hijriyah, Nabi SAW menerima panggilan Sang Khalik untuk menghadap-nya. Beliau wafat meninggalkan umatnya setelah menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Umat Islam bagai anak-anak yatim yang kehilangan orang tua mereka. Untuk itulah sejumlah orang berkumpul di sebuah balairung yang disebut dengan nama Saqifah bani Saidah. Pertemuan itu dihadiri oleh sejumlah orang Anshar dan beberapa orang muhajirin. Meski sempat terjadi keributan, pertemuan itu menghasilkan keputusan mengangkat Abu bakar sebagai khalifah pengganti Rasulullah untuk memerintah atas umat
.
Pengangkatan Abu Bakar sebagai khalifah di saat jenazah suci Rasulullah SAW belum dimakamkan, cukup mengejutkan bagi para sahabat yang lain. Sebagian dari mereka masih meyakini bahwa Rasul sudah menjelaskan siapakah yang bakal menjadi penerus beliau. Namun segala penentangan terhadap keputusan itu tidak membuahkan hasil apapun.
.
Sejarah mencatat bahwa sepeninggal Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai jawara tangguh dan pewaris ilmu Rasulullah SAW, hidup menyendiri. Beliau lebih menyibukkan diri dengan ibadah, menulis Al-Quran, bekerja dan mengajarkan ilmu kepada orang-orang tertentu, semisal Abdullah bin Abbas. Hubungan Ali dengan khalifah Abu Bakar tidak banyak dicatat oleh sejarah. Sepeninggal khalifah Abu Bakar, Umar yang menjadi khalifah kedua banyak memanfaatkan ilmu dan nasehat Ali. Ketika akan menyerang Persia, sesuai dengan saran Ali, Umar tidak menyertai pasukannya. Dalam banyak kasus, Umar juga membatalkan keputusannya ketika ada penentangan dari Ali. Kata-kata Umar yang terkenal, “Jika tidak ada Ali, Umar pasti binasa,” atau ungkapan, “Semoga Allah tidak menguji dengan satu maslah tanpa kehadiran Abul Hasan” diabadikan oleh para sejarawan
.
Menjelang kematiannya, khalifah Umar menunjuk enam orang sahabat, yatiu Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin Auf sebagai anggota syura. Tugas syura ini adalah memilih salah seorang diantara mereka sebagai khalifah. Dengan ketentuan yang telah ditetapkan, Abdurrahman bin Auf mengulurkan tangannya untuk membaiat usman. Keputusan itulah yang akhirnya ditetapkan dan Usman bin Affan menjadi khalifah ketiga
.
Di masa kekhalifahan Utsman bin Affan, Ali tidak banyak memegang peranan, sebab khalifah ketiga ini lebih mengutamakan sanak familinya dari pada orang lain termasuk dalam masalah pemerintahan. Ketidakpuasan umum terhadap kinerja khalifah dan para pejabat pemerintahan saat itu, telah memunculkan kebangkitan massa. Meski termasuk tokoh yang paling vokal terhadap penyelewengan yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan saat itu, Imam Ali as tetap berusaha mencegah terjadinya aksi pembunuhan terhadap khalifah. Semua upaya dilakukannya termasuk memerintah putra-putranya untuk mengirimkan air dan makanan ke rumah khalifah yang dikepung massa. Namun, takdir berkehendak lain dan khalifah Usman terbunuh di tengah kerusuhan tersebut
.
Ali Dibaiat Sebagai Khalifah
Masyarakat umum yang merasakan kekosongan kepemimpinan menyerbu rumah Ali dan mengajukan baiat mereka. Putra Abu Thalib menolak baiat tersebut dan meminta umat untuk membaiat orang selain dirinya. Ketika desakan massa semakin kuat, Ali menerima baiat mereka. Praktis dengan baiat yang dilakukan umat secara aklamasi terhadap dirinya, Ali bin Abi Thalib menjadi khalifah kaum muslimin.
Kebijakan pertama yang dilakukan Ali adalah mencopot para pejabat yang tidak layak lalu mengganti mereka dengan orang-orang yang cakap dan adil. Imam Ali yang dikenal dengan keadilannya juga mencabut undang-undang yang diskriminatif. Beliau memutuskan untuk membatalkan segala konsesi yang sebelumnya diberikan kepada orang-orang Quresy dan menyamaratakan hak umat atas kekayaan baitul mal
.
Perang Jamal
Sikap inilah yang mendapat penentangan sejumlah orang yang selama bertahun-tahun menikmati keistimewaan yang dibuat oleh khalifah sebelumnya. Ketidakpuasan itu kian meningkat sampai akhirnya mendorong sekelompok orang untuk menyusun kekuatan melawan beliau. Thalhah, Zubair dan Aisyah berhasil mngumpulkan pasukan yang cukup besar di Basrah untuk bertempur melawan khalifah Ali bin Abi Thalib
.
Mendengar adanya pemberontakan itu, Imam Ali mengerahkan pasukannya. Kedua pasukan saling berhadapan. Ali terus berusaha membujuk Thalhah dan Zubair agar mengurungkan rencana berperang. Beliau mengingatkan keduanya akan hari-hari manis saat bersama Rasulullah SAW dan berperang melawan pasukan kafir
.
Meski ada riwayat yang menyebutkan bahwa himbauan Imam Ali itu tidak berhasil menyadarkan kedua sahabat Nabi itu, tetapi sebagian sejarawan menceritakan bahwa Thalhah dan Zubair saat mendengar teguran Ali, bergegas meninggalkan medan perang
.
Perang tak terhindarkan. Ribuan nyawa melayang sia-sia, hanya karena ketidakpuasan sebagian orang terhadap keadilan yang ditegakkan oleh Imam Ali as. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan yang dikomandoi Aisyah, yang saat itu menunggang unta. Perang Jamal atau Perang Unta berakhir setelah unta yang dinaiki oleh Aisyah tertusuk tombak dan jatuh terkapar
.
Sebagai khalifah yang bijak, Ali memaafkan mereka yang sebelum ini menghunus pedang untuk memeranginya. Aisyah juga dikirim kembali ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita bersenjata lengkap. Fitnah pertama yang terjadi pada masa kekhalifahan Imam Ali as berhasil dipadamkan. Namun masih ada kelompok-kelompok lain yang menghunus pedang melawan Ali yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai poros kebenaran.

Mu’awiyah Ahli Adudomba Yang Licik : Musuh Besar Imam Ali !

Setelah api fitnah pasukan Jamal berhasil dipadamkan, pemerintahan Imam Ali as kembali diguncang oleh pemberontakan pasukan Syam pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan. Perang ini terjadi setelah Muawiyah yang menjabat sebagai gubernur Syam sejak masa khalifah Umar bin Khatthab, menolak berbaiat dan tidak bersedia tunduk kepada pemerintahan Imam Ali as. Saat Imam Ali melalui sepucuk surat memintanya untuk berbaiat, Muawiyah mengumpulkan warga Syam di masjid dan mengatakan bahwa ia akan menuntut darah khalifah Usman yang dibunuh oleh para pemberontak
.
Muawiyah mendapat dukungan warga Syam yang siap melakukan pembalasan atas darah khalifah. Pasukan Syam telah disiagakan untuk memberontak. Berita akan kesiapan pasukan Syam sampai ke telinga Imam Ali as. Beliau segera memanggil para sahabatnya untuk meminta pendapat mereka mengenai rencana serangan ke Syam. Sebagian besar sahabat mendukung rencana itu, bahkan beberapa diantaranya mencaci pasukan Syam. Imam melarang mereka dan mengatakan bahwa beliau tidak menyukai orang yang suka mencaci. Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat besar Nabi SAW dan pengikut setia Imam Ali as turut menyatakan dukungan
.
Setelah Imam Ali as yakin bahwa Muawiyah hanya mengenal bahasa kekerasan, beliau mengumumkan rencananya menyerang Syam kepada seluruh warga. Al-Hasan dan Al-Husein as, dua putra Imam Ali as memikul tugas mengajak masyarakat untuk menyertai pasukan Kufah menuju Syam
.
Mendengar kesiapan pasukan Kufah, Muawiyah mengumpulkan warga Syam di masjid. Di atas mimbar masjid Syam, dia mengangkat tinggi-tinggi sebuah baju yag berlumur darah seraya mengatakan, “Inilah baju khalifah Usman yang masih berlumur darah.” Muawiyah mengajak warga Syam untuk menyertai pasukannya menyerang pasukan Irak yang dipimpin oleh Imam Ali as
.
Dua pasukan besar Syam dan Kufah bertemu. Kepada para sahabatnya, Imam Ali berpesan untuk tidak memulai perang sebelum pasukan Syam menyerang. Tanggal 1 Shafar tahun 37 hijriyah, kedua pasukan terlibat pertempuran sengit. Perang yang dikenal dengan nama perang Shiffin ini berlangsung cukup lama. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Diantara mereka yang gugur di pasukan Imam Ali adalah Ammar bin Yasir, Khuzaimah yang disebut nabi dengan nama dzu syahadatain atau orang memiliki dua syahadah, Uwais Al-Qarani, seorang arif yang dipuji Nabi serta sejumlah sahabat besar lainnya
.
Ketika Muawiyah menyaksikan keletihan dan ketidakmampuan pasukannya untuk melanjutkan perang, ia memerintahkan orang-orangnya untuk mengangkat Al-Qur’an di atas tombak seraya memekikkan suara gencatan senjata. Tipu muslihat itu berhasil membuat pasukan Kufah ragu melangkah. Mereka tertipu oleh tipu daya ini dan tidak lagi mengacuhkan perintah Imam Ali as untuk melanjutkan perang. Ketidakpatuhan pasukan Kufah kepada pemimpinnya memaksa Imam Ali as untuk menerima ajakan damai yang sebenarnya hanyalah tipu muslihat Muawiyah untuk lolos dari kekalahan yang sudah di depan mata dalam perang Shiffin
.
Gencatan senjata dilanjutkan dengan masing-masing pasukan mengirimkan juru runding. Muawiyah menunjuk Amr bin Ash yang dikenal licik ke meja perundingan. Sementara Imam Ali menunjuk Abdullah bin Abbas yang di kalangan Quresy dikenal sebagai orang cerdik dan arif. Tetapi lagi-lagi, pasukan Irak menentang keputusan Imam Ali. Dengan berdalih bahwa Ibnu Abbas adalah anggota pasukan Irak, maka dia tidak berhak duduk di meja perundingan. Mereka lantas memilih Abu Musa Al-Asy’ari yang tidak terlibat dalam perang Shiffin. Imam Ali yang kecewa dengan sikap pasukannya yang tidak lagi menghiraukan pemimpin mereka mengatakan, “Silahkan lakukan apa yang kalian inginkan.”
.
Dalam perundingan itu, Amr bin Ash dan Abu Musa sepakat untuk bersama-sama mengumumkan pencabutan jabatan Imam Ali dan dan Muawiyah. Setelah terlebih dahulu Abu Musa menyatakan keputusan menurunkan Ali dari khilafah, Amr dengan licik menyatakan bahwa dia menunjuk Muawiyah untuk menjadi pemimpin dan khalifah atas umat Islam.
Perang Nahrawan
Peristiwa hakamiyyah atau perundingan setelah perang Shiffin menjadi percikan awal munculnya kelompok baru yang dinamakan Khawarij. Kelompok ini mengangkat slogan “Tidak ada keputusan kecuali keputusan Allah.” Dengan slogan ini mereka menyatakan penentangan atas keputusan Imam Ali yang bersedia berunding dengan Muawiyah. Setelah mendengar jawaban dan keterangan dari khalifah ini, sebagian besar orang yang semula bergabung dengan kelompok itu memisahkan diri dan kembali ke barisan Imam Ali as.
Tak lama kemudian Khawarij membentuk pasukan dan memilih salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin. Pasukan ini bergerak ke arah daerah bernama Nahrawan. Siapa saja yang ditemui dan menyatakan mendukung kepemimpinan Imam Ali as tidak selamat dari tebasan pedang mereka. Keberingasan Khawarij membulatkan tekad Imam Ali untuk menghabisi mereka
.
Saat dua pasukan berhadapan, sekali lagi Ali menasehati mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Kelompok demi kelompok memisahkan diri dari pasukan khawarij, sampai jumlah mereka berkurang menjadi hanya 1.800 penunggang kuda dan 1.500 pejalan kaki. Imam Ali berpesan kepada pasukannya yang berjumlah 14 ribu orang untuk tidak memulai perang. Khawarij secepat kilat menyerang dengan beringas dan dengan cepat pula barisan mereka kucar kacir. Pasukan ini lumpuh hanya beberapa saat setelah perang dimulai. Dari barisan Imam Ali hanya kurang dari 10 orang yang gugur. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 9 Shafar tahun 38 hijriyah
.
Warga Kufah Khianati Khalifah
Hasil keputusan perundingan antara Amr bin As dan Abu Musa Al-Ashari tidak bisa diterima oleh Imam Ali. Beliau segera mengeluarkan pengumuman tentang rencana menyerang kembali Syam. Akan tetapi hasutan orang-orang semisal Asyats bin Qais membuat orang-orang yang berada di barisan Imam Ali mengambil keputusan untuk kembali ke Kufah dengan alasan letih menghadapi peperangan. Hanya sekitar 300 orang yang memenuhi panggilan khalifah untuk berkumpul di kamp Nukhailah bersama beliau.
Ketidakloyalan warga Kufah kepada pemimpin mereka cukup memukul perasaan Imam Ali. Beliau terpaksa kembali ke Kufah dan urung menyerang Syam dengan jumlah pasukan yang hanya segelintir orang saja. Imam Ali kecewa dan mengecam sikap warga Kufah tersebut.
.
Setelah perang Nahrawan berakhir, Imam Ali as kembali mengimbau umat untuk bersiap-siap menyerang Muawiyah di Syam yang melakukan pembangkangan dan merusak persatuan kaum muslimin. Namun seruan beliau itu tidak mendapat sambutan masyarakat luas. Sejumlah orang seperti Asy’ats bin Qais sangat berperan dalam mengendurkan semangat para pendukung khalifah untuk kembali menyusun kekuatan di bawah kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib as. Akibatnya, dengan alasan letih karena perang, mereka memilih untuk meninggalkan pemimpin mereka di kamp Nukhailah. Menyaksikan kondisi yang demikian, Amirul Mukminin terpaksa kembali ke Kufah
.
Imam Ali as memendam kekecewaan yang mendalam terhadap warga Kufah. Berkali² beliau mengecam warga kota itu karena ketidakloyalan mereka kepada khalifah. Dalam sebuah khotbahnya, beliau mengatakan, “Aku terjebak di tengah orang² tidak menaati perintah dan tidak memenuhi panggilanku. Wahai kalian yang tidak mengerti kesetiaan! Untuk apa kalian menunggu? Mengapa kalian tidak melakukan tindakan apapun untuk membela agama Allah? Mana agama yang kalian yakini dan mana kecemburuan yang bisa membangkitkan amarah kalian?”
.
Pada kesempatan yang lain beliau berkata, “Wahai umat yang jika aku perintah tidak menggubris perintahku, dan jika aku panggil tidak menjawab panggilanku! Kalian adalah orang² yang kebingungan kala mendapat kesempatan dan lemah ketika diserang. Jika sekelompok orang datang dengan pemimpinnya, kalian cerca mereka, dan jika terpaksa melakukan pekerjaan berat, kalian menyerah. Aku tidak lagi merasa nyaman berada di tengah² kalian. Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara.”
.
Meski kecewa akan sikap dan perlakuan warga Kufah terjhadap dirinya, Imam Ali as terus berusaha menyadarkan mereka dan menggerakkan semangat mereka untuk kembali berjihad di jalan Allah. Dalam banyak kesempatan, beliau mengingatkan mereka akan kebenaran yang berada di pihaknya dan bahwa berperang melawan Muawiyah adalah tugas suci yang harus dilaksanakan, sebab Muawiyah memecah belah umat dan berusaha menyebarkan kebatilan di tengah umat.
Berbeda dengan kondisi Kufah, di Syam, Muawiyah menikmati kesetiaan warga di negeri itu yang siap mengorbankan nyawa deminya. Muawiyah yang mendengar berita pengkhianatan warga Kufah terhadap pemimpin mereka, berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk mengguncang dan merongrong pemerintahan Ali bin Abi Thalib as. Salah satu caranya adalah dengan melakukan penyerangan ke sejumlah wilayah kekuasaan khalifah yaitu Jazirah Arabia dan Irak. Dengan cara ini, Muawiyah berupaya menjatuhkan mental para pendukung Ali
.
Usaha Imam Ali as untuk kembali menyusun kekuatan, mulai menampakkan hasil. Kelompok demi kelompok menyatakan kesediaan mereka untuk bergabung dengan pasukan beliau. Upaya menggalang kekuatan terus dilakukan oleh orang-orang dekat dengan Imam Ali as, termasuk kedua putra beliau Al-Hasan dan Al-Husein as. Dalam kondisi seperti itu, Allah ternyata berkehendak lain. Setelah berjuang sekian tahun menjaga amanah imamah yang diberikan oleh Rasulullah, dan setelah menyaksikan pengkhianatan demi pengkhianatan orang-orang di sekelilingnya, Imam Ali a.s. harus menghadap Sang Pencipta, Allah SWT
.
Hari itu, tanggal 19 ramadhan tahun 40 hijriyah. Amirul Mukminin Ali as keluar dari rumahnya menuju masjid Kufah untuk memimpin shalat subuh berjamaah. Di tengah shalat, saat beliau mengangkat kepala dari sujudnya, sebilah pedang beracun terayun dan mendarat tepat di atas dahi putra Abu Thalib itu. Darah mengucur deras membahasi mihrab masjid. Jemaah masjid tersentak mendengar suara Ali, “Fuztu wa rabbil ka’bah. Demi pemilik Ka’bah, aku telah meraih kemenangan.”
.
Ali roboh di mihrabnya dengan luka yang parah, sementara warga dengan cepat menangkap sang pembunuh yang tak lain adalah Abdurrahman bin Muljam, seorang khawarij. Al-Hasan membawa ayahnya ke rumah. Berita itu segera menyebar di seluruh penjuru kota Kufah. Berbagai usaha dilakukan untuk menyelematkan jiwa Imam Ali as. Tetapi takdir Allah berkehendak lain. Ali bin Abi Thalib gugur syahid pada tanggal 21 Ramadhan atau dua hari setelah peristiwa pemukulan itu terjadi
.
Sebelum meninggalkan dunia yang fana ini, Amirul Mukminin mewasiatkan beberapa hal kepada putra-putranya dan kepada umat. Di antara pesan beliau adalah menjalin hubungan sanak keluaga atau silaturrahim, memperhatikan anak yatim dan tetangga, mengamalkan ajaran Al-Qur’an, menegakkan shalat yang merupakan tiang agama, melaksanakan ibadah haji, puasa, jihad, zakat, memperhatikan keluarga Nabi dan hamba-hamba Allah, serta menjalankan amr maruf dan nahi munkar
.
Menurut sejumlah riwayat, Imam Ali as menghembuskan nafasnya yang terakhir ketika bibir beliau berulang-ulang mengucapkan “Lailahaillallah” dan membaca ayat, “Faman ya’mal mitsqala dzarratin khairan yarah. Waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.” Artinya, “Siapapun yang melakukan kebaikan sebiji atompun, dia akan mendapatkan balasannyanya, dan siapa saja melakukan keburukan meski sekecil biji atom, kelak dia akan mendapatkan balasannya.”
.
Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Ali as sejak lama telah mengetahui kapan dan bagaimana beliau akan meneguk cawan syahadah. Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW menjelaskan kemuliaan bulan Ramadhan kepada para sahabatnya. Kepada Nabi, Ali bertanya, di bulan suci ini, amalan apakah yang terbaik? Rasul SAW menjawab, “Meninggalkan perbuatan dosa.” Mendadak mata Nabi berkaca-kaca. Ali menanyakan apa yang membuat beliau menangis? Rasul menjawab, bahwa Ali kelak akan dibunuh di bulan Ramadhan.
Kepergian Imam Ali as meninggalkan kedukaan yang mendalam di tengah umat Islam. Betapa tidak, Ali adalah orang yang mewarisi ilmu Nabi dan pemimpin besar umat ini. Akan tetapi, beliau ternyata harus meninggalkan ummat setelah mengalami berbagai macam pengkhianatan dan fitnah. Kondisi yang ada saat itu memaksa keluarga besar Rasulullah untuk memakamkannya di malam hari secara diam-diam di luar kota Kufah. Tempat itu di kemudian hari menjadi sebuah kota bernama Najaf.

Setelah Ghadir Khum, Allah tidak akan menerima alasan lagi dari siapapun

Rasulullah saw bersabda, “Surga berada di bawah telapak kaki ibu.” (Kanz al-‘Ummal hadis: 45439 dan Muntakhab Mizan al-Hikmah hal 614)
Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah saw dan berkata, “Wahai Rasulullah! Kepada siapa aku harus berbuat baik? Rasulullah bersabda, “Kepada ibumu.” Pria tadi masih bertanya, “Lalu kepada siapa lagi? Rasulullah menjawab, “Kepada ibumu.” Ia masih bertanya, “Lalu kepada siapa aku harus berbuat baik? Rasulullah menjawab, “Kepada ibumu.” Pria itu masih belum berputus asa, ia bertanya lagi, “Setelah ibu, kepada siapa aku harus berbuat baik? Nabi kemudian menjawab, “Kepada ayahmu.” (Al-Kafi jilid 2, hal 159 hadis 9 dan Muntakhab Mizan al-Hikman hal 614)
Rasulullah saw bersabda, “Hak terbesar atas seorang wanita adalah suaminya dan hak terbesar seorang pria ada pada ibunya.” (Kanz al-‘Ummal hadis 44771 dan Muntakhab Mizan al-Hikmah hal 254)
Riwayat pribadi Sayyidah Fathimah az-Zahra & posisi wanita
Riwayat dari Rasulullah:
  1. Surga berada di bawah telapak kaki ibu.
  2. Kebahagiaan dan kecelakaan setiap orang telah ditetapkan dalam rahim ibu.
  3. Seorang ibu mempersiapkan kebahagiaan dunia dan akhirat anaknya dengan melaksanakan perannya sebagai pendidik.
  4. Fathimah adalah seorang malaikat yang berujud manusia. Setiap kali saya ingin membaui surga, pasti saya mencium Fathimah as.
  5. Setiap kali ingin mencium bau surga, pasti saya mencium Fathimah as.
  6. Anak perempuanku diberi nama Fathimah karena Allah menjauhkan dirinya dan pecintanya dari api neraka.
  7. Saya bak pohon, Fathimah adalah putiknya, Ali adalah serbuk sarinya dan Hasan dan Husein adalah buahnya. Sementara pecinta Ahlul Bait pada hakikatnya adalah daun surgawi.
  8. Setiap orang yang mengenal Fathimah sesuai dengan hakikat Fathimah, berarti ia telah menemukan Lailatul Qadr. Sebab penamaan beliau dengan Fathimah dikarenakan tidak ada makhluk yang bakal sampai pada hakikat makrifatnya.
  9. Setiap orang yang menyakitinya, berarti ia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah.
  10. Fathimah adalah bagian tubuh, cahaya mata dan buah hatiku.
  11. Sesungguhnya Allah telah menciptakan anggota badan Fathimah hingga tulang-tulangnya penuh dengan keimanan dan keyakinan. Itulah mengapa ia begitu tenggelam dalam ketaatan kepada Allah.
  12. Jihad seorang wanita adalah menjadi isteri yang baik.
  13. Bila engkau sedang menunaikan shalat sunnah lalu ayahmu memanggilmu, maka jangan batalkan shalatmu. Namun bila ibumu yang memanggilmu, segera batalkan shalatmu.
  14. Allah lebih pengasih kepada anak-anak perempuan ketimbang laki-laki.
  15. Orang yang posisinya paling dekat denganku di Hari Kiamat adalah mereka yang berperilaku baik terhadap isterinya.
  16. Seorang mukmin makan dengan lahap karena cinta akan isterinya. Tapi orang munafik, memaksa isterinya makan sesuai dengan keinginannya.
Riwayat Imam Jakfar Shadiq as:
  1. Fathimah disebut Zahra dikarenakan selama di mihrab ia senantiasa beribadah dan cahayanya tampak bagi penduduk langit.
  2. Selama manusia semakin mencintai wanita, keimanannya akan terus tumbuh.
  3. Apa saja yang membuat kita semakin suka, pasti ia akan lebih mencintai wanita.
  4. Fathimah adalah cahaya mata dan buah hati Rasulullah saw.
  5. Imam Ali as berkata, “Demi Allah! Rumahmu (Fathimah) adalah rumah yang memberikan ketenangan. Setiap kali saya tiba di rumah dan melihat tatapannya itu saja mampu menghilangkan segala kesedihan dan kekalutan dari hatiku.
Doa dan ucapan Sayyidah Fathimah as:
  1. Ya Allah! Aku memohon Engkau menganugerahkan ikhlas dan ketakutan saat gembira dan marah, begitu juga mengambil sikap tengah saat kaya dan miskin.
  2. Ya ilahi! Hinakan jiwaku dan tambahkan sikap teguh dalam jiwaku.
  3. Seseorang yang mengirimkan ibadah ikhlasnya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan maslahat terbaik kepadanya.
  4. Menampilkan wajah yang menyenangkan di hadapan saudara mukmin pahalanya adalah surga.
  5. Allah menjadikan ketaatan kepada kami Ahlul Bait dapat menciptakan keteraturan bagi umat Islam dan imamah dan kepemimpinan kami Ahul Bait sebagai faktor pemersatu dan melindungi umat Islam dari perpecahan.
  6. Setelah Ghadir Khum, Allah tidak akan menerima alasan lagi dari siapapun.
  7. Ali adalah imam rabbani, ilahi dan tubuh nurani yang menjadi poros semua arif dan penyembah Allah. Ali adalah anak dari keluarga suci, pengucap kebenaran yang menjadi inti imamah. Ali adalah ayah Hasan dan Husein yang menjadi kembang Rasulullah, dua penghulu pemuda ahli surga.
  8. Demikianlah, kebahagiaan sempurna akan diraih seseorang yang mencintai Imam Ali as di masa hidup dan setelah matinya.
  9. Imamah dan kepemimpinan kami Ahlul Bait menjadi faktor keselamatan dari perpecahan dan jihad di jalan Allah menjadi sumber kemuliaan dan keabadian Islam.
  10. Ya ilahi! Demi hak nabi-nabi yang Engkau pilih. Demi tangisan Hasan dan Husein di masa perpisahan denganku. Aku memohon agar Engkau menghapus dosa pengikutku dan pengikut anak-anakku.
  11. Saya tidak menyukai dunia orang-orang yang mencintai dunia.
  12. Orang terbaik di antara kalian adalah yang lebih lembut dan penuh kasih dalam berinteraksi dengan masyarakat.
  13. Orang paling bernilai adalah yang paling mengasihi isterinya dan pemurah.
  14. Saat di mana seorang wanita berada di rumahnya dan melakukan pekerjaan rumah dan mendidik anak-anak, saat itu merupakan kondisi terdekatnya dengan Allah.
  15. Ketika aku dibangkitkan di Hari Kiamat, niscaya aku akan memberikan syafaatku kepada para pendosa umat Nabi Muhammad saw.
  16. Sesungguhnya Allah adalah hakikat keselamatan. Keselamatan berasal dari-Nya dan keselamatan akan kembali kepada-Nya.
  17. Mereka yang membaca surat al-Hadid, al-Waqi’ah dan ar-Rahman akan dipanggil sebagai sebagai ahli surga di langit dan di bumi.
  18. Ada tiga hal dari dunia kalian yang aku sukai; membaca al-Quran, menatap wajah Rasulullah saw dan berinfak di jalan Allah.
  19. Pemilik kendaraan lebih berhak mengendarai ketimbang kendaraannya.
  20. Imamah demi melindungi sistem dan mengubah perpecahan umat Islam menjadi persatuan.
Sumber:
  1. Nahj al-Hayah, Farhang Sukhanan-e Fathimah as, Mohammad Dashti, Qom, Nashr-e Moassaseh Tahghighati Amir al-Mukminin as, 1375.
  2. Shahifeh az-Zahra as, Javad Ghayyoumi Esfahani, Qom, Moasseseh Nashr-e Eslami, 1375.
  3. Ayineh Zan, Majmoe-ye Mouzui Sukhanon-e Magham-e Moazzam-e Rahbari, Amir Hossein Banki Poufard, Tehran, Daftar Mothaleat va Tahghighat-e Zanan, 1381.
  4. Jaigah-e Zan dar Andishe-ye Imam Khomeini ra, Tebyan Daftar-e Hashtom, Chap-e Haftum, 1378.
  5. Dah Maghaleh va Nokteh ha va Lataef dan Magham-e Zan, Mohammad Ali Akhgari, Nashr-e Sonboleh, Khorasan, 1381.
  6. http://www.nooraseman.com/thread-1786.htm
  7. http://www.fajr.ir/gozide-bayanat/ahadis-zan.html

(Pengkultusan) Sahabat Rasulullah SAWW menurut Ulama Ahlus Sunnah

Ibnu Atsir mengatakan bahwa para sahabat: “tidak layak dikenakan kepada mereka kecaman” (Ibn Al-Atsir, Mukadimah Usud al-Ghabah)
Ibn Abi Hatim ar Razi memaparkan karakteristik sahabat sebagai berikut:
  • Sahabat terpelihara dari segala “keraguan, kebohongan, kesalahan, kekeliruan, kebimbangan, kesombongan”.
  • Sahabat adalah para imam pemberi petunjuk, dan karena itu seluruh perilakunya harus dijadikan teladan
  • Sahabat juga adalah hujjah agama ; artinya, perilakunya dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum-hukum agama
Dan Ibn Hajar al ‘Asqallani yang mengatakan: “Jika kamu melihat orang mengkritik seorang saja sahabat Rasulullah saw , ketahuilah bahwa ia itu zindiq. Karena Rasul benar, Al-Quran benar, apa yang dibawanya benar. Disampaikan kepada kita semuanya oleh sahabatnya. Mereka bermaksud untuk mengecam saksi-saksi agama kita untuk membatalkan Al-Kitab dan Sunnah. Merekalah orang-orang zindiq, yang lebih pantas mendapat kecaman” (Al-Ishabah 1:18)
.
Perhatikan apa yang para Ulama ”Panutan” ini , dimanakah letak koridor berfikir mereka ? , Alangkah berbahyanya menetapkan semua manusia yang disabdakan Rasulullah SAWW sebagai ”tempat khilaf dan salah” dengan sanjungan yang tidak pada tempatnya, Naudzubillah min dzalik
.
Betapa kejinya mereka meracuni saudara kita yang tidak mau berpikir jernih agar terlihat jelas kebohongan mereka itu.
.
Setelah menguburkan ayahandanya, Imam Hasan dan Imam Hussain serta rombongan kembali ke Ku’fah, di tengah perjalanan mereka melihat seorang pengemis tua dan buta sedang merintih. Mereka bertanya,”Siapa kau dan kenapa gelisah dan meritih ?”

Dia berkata,”Aku adalah orang asing dan miskin. Ditempat ini aku tidak punya kawan dan tempat curahan hati, sudah setahun aku berada di kota ini, setiap hari datang orang yang baik hati, dia selalu membawakan makanan untuku, sungguh dia orang yang baik hati. Tapi sudah tiga hari ini dia tidak datang padaku dan menanyakan keadaanku”
Mereka bertanya,”Apakah kau mengetahui namanya ?”
.
Dia menjawab, ”Tidak”
”Apakah engkau tidak menanyakan namanya ?”
”Aku sudah menanyakannya tapi dia malah berkata,’Apa urusanmu dengan namaku. Aku mengurusmu hanya karena Allah semata”
Mereka berkata,”Apakah kau punya petunjuk dari perkataan dan perilakunya ?”
.
Dia berkata ,”Lisannya selalu berdzikir kepada Allah. Ketika dia bertashbih dab bertahlil, bumi dan zaman, pintu dan dinding, seirama dengan suaranya. Ketika duduk disampingku dia selalu berkata, Orang miskin duduk bersama orang miskin, orang asing duduk bersama orang asing”
Imam Hasan , Imam Hussain, Muhammad bin Hanafi’ah dan Abdullah bin Ja’far mengenali orang baik hati ini, mereka saling bertatapan dan berkata,”Hai orang miskin, semua tanda-tanda yang kau sebutkan itu adalah tanda-tanda ayah kami, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib”
.
Orang miskin itu berkata,”Kalau begitu, kenapa sudah tiga hari ini dia tidak datang padaku”
Mereka berkata’”Seorang celaka telah memukul kepala beliau dengan pedang, dan beliaupun kini telah bergegas menuju tempat abadi dan kami baru saja kembali dari penguburannya”
Sesaat setelah menetahui kejadiannya, pengemis itu langsung beerteriak dan merintih. Dia menjatuhkan dirinya ketanah dan menaburkan tanah keatas kepalany. Lalu dia berkata,”Apa kelayakan yang aku miliki sampai sampai Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib sudi mengrusku?, kenapa beliau dbunuh ?”. Imam Hasan dan Imam Hussain berusaha menenangkannya
Akhirnya lelaki itu merapatkan tubuhnya sambil berkata,”Aku bersumpah demi kakek kalian dan ruh suci ayahanda kalian, bawalah aku ke pusaranya”.
.
Imam Hasan memegang memegang tangan kanannya, sementara Imam hussain tangan kirinya. Lalu keduanya membawanya kedekat kubur Imam Ali. Lelaki tua itu menjatuhkan tubuhnya diatas pusara Imam
.
Denga meneteskan air matanya, dia berkata.”Ya Allah!. Aku tak tahan berpisah dengan ayah yang berhati baik ini. Dengan kebenaran penghuni kubur ini, Cabutlah Nyawaku”.
Doanya mustajab!. Saat itu pula dia menhembuskan nafas terakhir

mari kita telusuri periode pertama dari kehidupan Umat Islam pada zaman Nabi, kita akan menemukan adanya dua garis pemikiran utama yang sangat bertolak belakang dan juga muncul berbarengan dengan timbulnya masyarakat Islam awal

Sampai sekarang istilah Syiah melekat kepada umat Islam yang mengakui kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib setelah wafat Rasulullah saw; yang juga meyakini khalifah Islam harus berasal dari keturunan Sayidah Fathimah Az-Zahra.Sampai sekarang, Syiah melekat kepada umat Islam yang mengambil sumber-sumber agama dari Ahlulbait.Dalam sejarah politik Islam, orang-orang menyebut para pengikut Ahlulbait sebagai Syiah

.

mari kita telusuri periode pertama dari kehidupan Umat Islam pada zaman Nabi, kita akan menemukan adanya dua garis pemikiran utama yang sangat bertolak belakang dan juga muncul berbarengan dengan timbulnya masyarakat Islam awal
.
Umat sunni masa kini menganggap semua sahabat adil adalah sebuah sikap ghuluw karena faktanya tidak semua sahabat adil, antara sahabat yg satu dengan sahabat yg lain tentulah ada perbedaannya tidaklah sama dalam hal ilmu dan keadilannya dan ini bisa kita analogikan sebagai sebuah sikap menentang sunatullah dan didalam sejarah terbukti siapa yang menentang Sunatullah akan binasa dan celaka….pelajari kitab-kitab sejarah dengan seksama dan saudara akan terbelalak melihat fakta yang tak sesuai dengan keinginan saudara !!!!!!
.
Perbedaan antara sunni – syi’ah telah mengakibatkan timbulnya beberapa perbedaan ideologis saat Rasul menemui Kekasihnya. Yang mana Ideologi itu melahirkan perbedaan garis politik antara dua kubu yang kemudian cenderung membentuk dua blok atau partai politik dalam tubuh masyarakat Islam
.
Lalu salah satunya berhasil mengambil alih tampuk kekuasaan yang mendapat simpati dan dukungan dari mayoritas masyarakat. Sebaliknya, kubu lain yang tidak berhasil cenderung menjadi kelompok minoritas yang eksklusif dan tersudutkan di tengah-tengah masyarakat yang tidak mendukung bahkan memusuhi mereka. -Kelompok minoritas tersebut adalah Syi’ah
.
Dua kubu utama yang sama-sama menyertai masa lahirnya dan terbentuknya masyarakat Muslim pada zaman Nabi itu sebagai berikut:
.
Kelompok pertama: menerima secara mutlak keputusan dan perintah agama tanpa pamrih, tanpa mengutamakan ide sendiri atas ketentuan tersebut dan menghayati serta meyakini hukum dan penyelesaian agama terhadap segala aspek kehidupan.
.
Kelompok kedua: beranggapan bahwa loyalitas dan iman kepada agama tidak menuntut penghayatan dan penerapan dalam bentuk praktek setiap masalah yang bersumber pada agama kecuali pada masalah yang bersifat ritual dan dogma. Selanjutnya lebih dari itu mereka mengutamakan ijtihad sebagai penyelesaian yang dapat menggantikan fungsi hukum agama dengan mempertimbangkan keadaan dan ukuran kepentingan yang dibutuhkan dalam segala segi kehidupan
.
Mungkin faktor utama dari berkembang dan tersebarnya pengaruh pemikiran ijtihadi (bil ra’yu) dikalangan Muslimin adalah garis dan pola pemikiran seperti ini yang sedikit banyak bersatu dengan naluri kecenderungan setiap orang yang selalu bertindak sesuai dengan kepentingan dan kehendak pribadinya daripada bertindak atas dasar perintah dan dorongan dari luar, yang terkadang belum dimengerti maksudnya
.
Garis pemikiran ini dipelopori dan disponsori oleh beberapa sahabat senior seperti Umar bin Khattab yang terkenal nekad menegur dan mengkritik sebagian tindakan Rasul (yang adalah wahyu Allah) dan mengajukan pendapat pribadinya dalam beberapa masalah yang bertentangan dengan teks ketetapan agama atas dasar alasan dan anggapan yang tampaknya rasionil bahwa ia sebagai orang berakal berhak menyelesaikan sendiri beberapa urusan yang mungkin penyelesaiannya itu tidak sama dengan penyelesaian yang telah diajarkan agama
.
Kenyataan ini terlihat dalam sikapnya yang kontroversial dalam menanggapi fakta perdamaian Hudaibiyah dan kritiknya yang tegas terhadap resolusi per damaian yang disepakati dan ditanda tangani deh Rasul dan langkahnya yang mengundang sensasi dengan menon-fungsikan Hayya ‘ala kholrll ‘amal dalam panggilan azan yang telah diajarkan deh Rasulullah SAW. la Juga sempat tenar karena langkahnya mencanangkan hukum modern dan menanggalkan hukum lama Rasul dengan mengharamkan dan meniadakan Hajji Mut’ah (Tamattu) dan ratusan pikiran-pikiran pribadinya yang tak asing lagi bagi kita
.
Dua aliran pemiklran yang sangat berbeda itu pernah bertemu dan tertumpah secara kebetulan di satu tempat dan wadah pada hari terakhir hidup Nabi). Bukhori telah meriwayatkan dalam sahihnya dari Ibnu Abbas. la berkata:
“Ketika Rasulullah hampir wafat sedangkan di rumah beliau terdapat beberapa orang termasuk Umar bin Khattab, belau bersuara: Mari kutullskan untuk kalian sebuah pusaka (yang jika kalian mengikutinya) maka kalian tidak akan tersesat untuk selama-lamanya.
Tiba-tiba Umar berkata :
“Penyakit Nabi itu sudah terlalu parah sehlngga bellau mengigau, apa perlunya tulisan itu sedangkan Al-Qur’an ada di sisi kalian. Sudahlah, AI-Qur’an itu sendiri cukup sebagai pedoman bagi kita”.
Pernyataan Umar ini akhirnya mengundang keriuhan dan perselisihan pendapat di antara orang-orang yang berkerumun menengok Rasul yang sedang terbaring sakit. Sebagian berkata:
“Berikan! Beliau hendak menuliskan sebuah pedoman untuk kalian yang akan dapat menyelamatkan kalian kelak.”
.
Sebagian yang lain mendukung Umar menolak memberikan secarik kertas kepada Nabi Besar Muhammad SAW. Selang beberpa saat, rumah Rasul tersebut berubah menjadi ajang perang mulut antar sahabat yang berkerumun mengelilingi bellau. Akhirnya, Nabi dengan kesal mengusir mereka: “Ayo enyahlah kalian!”. Begitulah perintah Rasul
.
Tragedi bersejarah ini juga dengan jelas membuktikan dan menggambarkan betapa jauh dan mendasarnya perbedaan antara dua golongan adalah peristiwa perselisihan dan cekcok yang muncul akibat dari penunjukkan Rasul kepada Usamah bin Zaid bin Harits sebagai Panglima devisi perang, padahal penunjukkan itu berdasarkan perintah langsung dari Nabi yang tak dapat ditolak. Sampai-sampal beliau bangkit dari ranjang dengan memaksakan tubuhnya yang sudah lemah lunglai untuk keluar dari rumah dalam keadaan sakit bellau mengetuh kesal di hadapan pengikutinya:
“Wahai ummati Desas-desus apa yang aku dengar tentang penunjukkan Usamah (sebagai panglima perang)? Tetapi mengapa dulu kalian tidak menolak penunjukkan ayahnya sebagal panglima. Demi Tuhan! la pantas dan mampu memegang jabatan panglima!”
Dan kedua haluan yang memulai konflik dan perselisihan pada masa hidup Rasul telah tampak dalam sikapnya terhadap masalah pimpinan Imam setelah Nabi
.
Orang-orang yang mewakili garis nash berpendapat bahwa adanya nash dan ketetapan Rasul berkenaan dengan hak kekhalifahan merupakan sebab dan dasar prinsip yang mengharuskan seorang Muslim agar menerima secara mutlak segala macam keputusan dan hukum agama tanpa menggantinya dengan gagasan sendiri karena beberapa pertimbangan kepentingan disamping kondisi dan situasi yang ada (ini menurut logika dan pola pemikiran mereka tentunya)
.
Dengan demikian kita dapat berkesimpulan bahwa golongan Syi’ah telah hadir dl tengah-tengah masyarakat Islam sejak pada masa hidup Rasul yang beranggotakan orang-orang Muslim yang secara praktis telah mematuhi dengan mutlak konsep dan ketetapan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin setelah Rasul. Dan haluan yang berfaham Syi’ah kemudlan leblh menjelma dalam kerangka bentuk yang jelas pada saat pertama dart sikap protes dan menolak keputusan yang telah diambil pada sidang darurat Saqifah Bani Saidah yang telah membekukan fungsi pim pinan Ali dan mengambil alih serta memberikannya kepada orang lain.
.
Ath-Thabarsi dalam buku Al-lhtijaj membawakan sebuah riwayat dari Ibban bin Taghib. la bertanya kepada Imam Ja’far bin Muhammad ash-Shadiq:
“Kujadikan diriku tebusan darimu. Apakah ada orang yang menolak kepemimpinan Abu Bakar di antara para sahabat Rasullah?” Imam menjawab:”Ya. Dua belas orang, dari kaum Muhajirin yang menolak; mereka itu adalah Khalid bin Said bin Abi Al’ash, Salman AI-Farisi, Abu Dzar AI-Ghifari, Miqdad bin AI’aswad, Ammar bin Yasir, Buraidah Al’aslami. Dan dari pihak Anshar adalah Abul Haitsam bin Attihan, Utsman bin Hunaif, Khuzaimah bin Tsabit Dzus-syahadatain, Ubay bin Ka’ab dan Abu Ayyub AI’anshari”
.
fungsi kepemimpinan pasca Nabi wafat terdapat pada 12 imam Ahlul Bait sesuai dengan kondisi yang telah kita pelajari atas dasar nash-nash Nabi yang telah menekankan hal tersebut berkali-kali. Contoh utamanya ialah nash-nash Nabi tentang kepemimpinan intelektual seperti hadits Tsaqalaian Rasulullah yang berbunyi demikian:
.
Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka penting(as-Tsaqalain); yaitu Kitab Allah yang merupakan tali yang tak terputus dart langit hingga ke bumi dan yang keduanya adalah Itrah (keturunanku) dari Ahlul Baitku. Dan bahwa keduanya tidak akan terpisah dengan kedua fungsi masing-masing sampai keduanya menjumpaiku di telaga al-Haudh alkaut’sar, oleh karena itu lihatlah kelak bagaimana sampai kalian mendurhakaiku dengan melanggarnya. (AI-Hakim dalam Al- Mustadrak, At-Tirmidzi, Annasa’i, Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain yang diriwayatkan oleh lebih dari dua puluh sahabat)
.
Dan contoh utama dari fungsi kepemimpinan sosial adalah hadits AI-Ghadir yang dibawakan oleh Ath-Thabrani dengan sanad (rantai urutan perawi) yang shahih dari Zaid bin Al-Arqam. la berkata:
“Rasulullah pernah berpidato di daerah Ghadir Khum di bawah pohon, beliau bersabda: Wahai manusia! Aku akan diminta pertanggung-fawaban dan begitu juga kalian. Lalu bagaimana kalian mengatakan dan menanggapi ini semua! Para sahabat serentak menjawab: Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan, telah berjuang dan telah menasehati, maka semoga Allah mem-balas jasa kebaikanmu dengan kebaikan pula. Lalu beliau meneruskan dan bersabda: Bukankah kalian bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya dan bahwa surga dan neraka-Nya adalah benar dan nyata dan bahwa mati itu benar dan bahwa saat Kiamat itu past tiba dan bahwa Allah akan membangkitkan setiap orang yang terpendam dalam kubur! Mereka serentak menjawab: Ya! Kami bersaksi demikian. Lalu beliau melanjutkan lagi: Ya Allah! Saksikanlah. Selanjutnya bersabda kepada hadirin: Wahai ummat! Allah adalah Pemimpin dan Kekasihku, dan aku adalah pemimpin setiap mukmin dan aku lebih utama (awla) dan lebih berhak atas diri kalian sendiri. Maka, barangsiapa yang menganggapku sebagai pemimpinnya (maulahu), maka orang ini (Ali disebelah beliau) adalah pemimpinnya (maulahu) juga. Ya Allah! Cintailah setiap orang yang mencintainya dan musuhilah orang yang memusuhinya!”
(Hadits ini diriwayatkan lebih delapan puluh tabi’in. Dan dari penghafal hadiths abad kedua sekitar enam enam puluh orang. Dan juga tercatat secara rinci dalam kitab AI-Ghadir dalam sebelas jilid).
Profile Picture

tipikal penguasa Bani Umayyah yang Khalifahnya yang tidak suka berbasa-basi, tampil apa adanya dan sanggup berbuat apa saja untuk melindungi kekuasaannya dari ancaman. Berbeda nanti dengan Bani Abbasiyah yang tipikal penguasanya penuh dengan hipokrasi dan kemunafikan. Mereka tampil di depan khalayak dengan tampang khusuk dan penuh iman, tak jarang bercucuran air mata ketika dinasihati oleh para ahli ibadah. Namun pada lain waktu, mereka 360 derajat berbeda dengan melakukan hal-hal yang amat memalukan dan membelalakkan mata. Dalam kealfaan dan kegilaannya itu, mereka justru tidak risih disapa sebagai pemimpin kaum beriman (Amirul Mu’minin) dan Khalifah bagi umat Islam (Khalifah al-Muslimin).

Contoh kevulgaran dan kejujuran Bani Umayyah dapat dilihat dari sikap Abdul Malik bin Marwan. Dalam Tarikh al-Khulafa, al-Suyuti menceritakan kisah dari Ibnu Abi Aisyah mengatakan, Abdul Malik pernah diminta untuk memutuskan suatu perkara sambil diajukan kepadanya sebongkah mushaf al-Qur’an. Akan tetapi, ia justru mencampakkannya seraya berkata: “Ini adalah persentuhanku yang terakhir denganmu!”. Dan kenyataanya, apa yang ia katakan kemudian ia lakukan. Setelah menyatakan talak dengan al-Qur’an, sang ahli fiqih ini kemudian menjalankan roda pemerintahan dengan instingnya.

Bani Umayyah awalnya didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sofyan (satu kakek buyut dengan Utsman bin Affan R.A.). Ia menjadi Khalifah setelah wafatnya Ali bin Abu Thalib. Orang-orang Madinah saat itu membaiat Hasan bin Ali, namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu yang sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya Utsman bin Affan, pertempuran Shiffin, perang Jamal dan penghianatan dari orang-orang Khawarij dan Syi’ah, dan terakhir terbunuhnya Ali bin Abi Thalib.

Namun kemudian Mu’awiyah bin Abu Sufyan mewajibkan seluruh rakyatnya untuk membai’at anaknya, yaitu Yazid bin Mu’awiyah sebagai Khalifah pengganti dirinya. Sekaligus memperkenalkan suksesi secara putra mahkota, seperti layaknya sistem Monarki (Kerajaan). Memang prosesi pengangkatannya menggunakan bai’at sebagai formalisasi pengangkatan Khalifah, akan tetapi bai’at tersebut kemudian hanya menjadi kamuflase saja, karena bai’at dilakukan secara paksa dan ancaman hukuman mati akan diberikan bagi siapa saja yang menentang keputusan itu atau menolak bai’at.

Mu’awiyah bin Abu Sufyan bahkan memberikan interprestasi sendiri dari kata Khalifah, dimana ia menambahkan kata “Allah” dibelakang kata Khalifah, yang dalam pengertiannya penguasa yang diangkat oleh Allah. Sedangkan Abu Bakar R.A. telah melarang penggunaan kata “Khalifah Allah”, ketika ia dipanggil demikian. Ia berkata, “Aku bukan Khalifah Tuhan, tapi aku adalah Khalifah (pengganti, perwakilan) dari utusan Tuhan. Lagipula, seseorang hanya dapat bertindak sebagai “Khalifah” (pengganti, perwakilan) seseorang yang tidak ada, bukan sesuatu yang ada (karena Tuhan selalu ada).

Tindakan pewarisan tahta ini memicu protes dikalangan umat. Ia di anggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan Hasan bin Ali ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya Yazid bin Mu’awiyah sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.



Keterangan gambar: Makam Muawiyah bin Abu Sofyan di Syria. Digembok rapat karena orang-orang suka membuang kotoran di makam ini. Konon di sekitarnya juga tumbuh pohon berduri yang tidak tumbuh di tempat lain.

 Kubur Muawiyah Laknatullah

Sejarah kemudian mencatatat munculnya Abdullah bin Zubair yang menyatakan dirinya secara terbuka sebagai Khalifah menggantikan Husain bin Ali yang terbunuh dalam perang Karbala. Terjadi dualisme kepemimpinan dan perpecahan yang hebat di kalangan umat Islam. Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhilafahan Abdul Malik bin Marwan (Khalifah ke-5 Bani Umayyah yang juga dikenal ahli fiqih), yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.

Pola pemerintahan tangan besi yang dipraktekkan Dinasti Umayyah berlanjut. Ketika Abdul Malik bin Marwan memimpin, ia menjadikan Hajjaj “si tukang jagal” sebagai tangan kanannya. Kekejaman Hajjaj bin Yusuf begitu terkenal, hingga ada pameo “jika Hajjaj datang, malaikat menyingkir dan setanpun berdansa mendekat”.

Demikian kenyataan sejarahnya, bahwa Dinasti Umayyah dibangun di atas genangan darah sesama Muslim. Pendahulu Abdul Malik bin Marwan seperti Yazid dikenal sebagai monster haus darah dengan tumbal pertamanya Husain bin Ali bin Abu Thalib. Tidak kalah sadisnya, Abdul Malik sang ahli fiqih ini juga telah melakukan pembantaian dengan jubah kebesarannya sekaligus menyatakan talak tiga dengan al-Qur’an, lalu ia memimpin dengan instingnya.

Namun sayangnya, saat itu Ulama-Ulamanya atau sejenis Ulama plat merah saat ini, selalu saja mendoakan Abdul Malik seraya berkata bahwa Abdul Malik sang penjaga amanat umat Islam, dimana saat itu spekulasi hadits bermunculan, salah satunya berbunyi “orang-orang yang sekurang-kurangnya pernah tiga hari memimpin umat Islam akan diampuni dosa-dosanya”. Dan menjelang kematianya, Abdul Malik bin Marwan berwasiat kepada anaknya Walid “Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah dengan kekuasaan yang telah diamanatkan padamu dan tetaplah hormati Hajjaj bin Yusuf, serta jangan hiraukan komentar orang tentang Hajaj bin Yusuf”.

Dan ketika anaknya Walid menangis, Abdul Malik berkata “Mental apaan ini, jika aku mati singsingkan lengan bajumu, pakailah sabuk kulit macan dan selipkan pedang, jika ada orang yang berkata lebih berhak atas kekuasaan dari padamu, tebaslah batang lehernya”.

Sejarah mencatat, bahwa kekuasaan Dinasti Bani Umayyah dimarakkan oleh tiga nama orang sebagai sadis, namun merupakan Khalifah yang dikenal populer yakni Yazid bin Muawiyah sang pembantai, Yazid bin Abdul Malik dan Walid bin Yazid. Satu orang yang kemudian dikenal sebagai sangat bijaksana yakni Umar bin Abdul Azis, karena kebijaksanaannya itu ia dijuluki Umar kedua yang memiliki kebijaksanaan yang tinggi setelah Umar bin Khatab. Namun sayang orang baik ini harus mati terminum racun yang diduga diberikan oleh keluarga dekatnya sendiri karena menginginkan kekuasaannya.

Kezaliman Yazid bin Muawiyah tidak cukup ditandai dengan pembantaian atas Husain bin Ali, yakni ketika Yazid bin Muawiyah bersama pasukannya menaklukan Madinah karena masyarakatnya mencabut bai’at atasnya, Yazid memaklumatkan pembantaian dan anarkisme selama tiga hari dalam kota. Ibnu Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh-nya meriwayatkan, akibat pembantaian itu 4.500 jiwa menjadi tumbal dan sekitar 1.000 perawan muslimah diperkosanya. Dan lebih dahsyatnya Yazid bin Muawiyah sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, telah secara ekplisit menyatakan kemurtadan dengan menyebutkan, “Klan Hasyim bermain-main dengan kuasa. Kekuasaan tidak datang wahyupun tidak menjelang”. Disebutkan dalam Tarikh al-Khulafa, Yazid juga dikenal gemar mengumbar nafsu dan minum minuman keras.

Sementara itu Yazid yang lain yakni Yazid bin Abdul Malik, ia adalah Khalifah pengganti Umar bin Abdul Azis. Yazid bin Abdul Malik menjadikan selama kekuasaannya sebagai lautan kebobrokan moral dan kemesuman, namun sebagaimana diriwayatkan oleh al-Suyuti dalam Tarikh al-Khulafa-nya: Ketika Yazid bin Abdul Malik mendapatkan mandat sebagai Khalifah, ia datangkan 40 orang Syeikh (maha guru agama), dan meminta agar 40 Syeikh tersebut berfatwa yang isinya bahwa seorang Khalifah tidak akan dihisab oleh Tuhan, apalagi disiksa.

Keadaan ini menegaskan juga bahwa ternyata kerusakan itu tidak hanya datang dari Khalifah, tetapi juga bisa datang dari Ulama dalam pengertian ahli ilmu agama. Kalau selama kekuasaan Yazid bin Abdul Malik telah menghabiskan masanya dengan bermesum ria dengan perempuan bernama Salamah dan roman cintanya dengan Habbabah. Al-Mas’udi dalam Muruj al-Dzahab-nya meriwayatkan dari jalur Abu Hamzah al-Khariji menyatakan; Yazid mendudukan Hababah di paha kanannya, dan Salamah di sebelah kirinya, lalu secara terbuka dia menyatakan “aku ingin terbang” sambil berkata aku terbang menuju laknat Tuhan dan azabnya yang pedih. Ibnu Katsir juga meriwayatkan, bahwa ia (Yazid bin Abdul Malik) menginginkan agar istana dikosongkan dari manusia, ia menginginkan berdua saja dengan Habbabah untuk mengumbar libidonya, hingga bersenda gurau, yang akhirnya Habbabah harus mati tersedak buah anggur, dan bangkainyapun terus diciumi, dipeluk dengan penuh nafsu, barulah ketika mulai membusuk, mayat Habbabah dikubur dan Yazid bin Abdul Malik menginap dikuburan berhari-hari meratapi kematian kekasihnya.

Cerita lebih gila dari tiga tokoh antik dalam Dinasti Bani Umayyah adalah munculnya anak Yazid bin Abdul Malik, yakni al-Walid bin Yazid, Ia seorang homoseksual yang “overdosis” dan hobinya menjadikan Mushaf Al-Quran sebagai sasaran memanah sambil membaca ‘auzubillahi, laa hawla walaqwata‘. Ketika beberapa orang ulama menyatakan al-Walid bin Yazid sebagai kafir dan zindiq, seorang ulama besar pula yang bernama Al-Zhahabi membelanya, sambil berkata, tidak benar kalau al-Walid kafir dan zindiq, namun memang ia dikenal sebagai pemabuk dan pelaku homoseksual. Bahkan ketika al-Walid pergi kerumah seorang Ulama bernama al-Muhtadi tentang desas desus tuduhan kafir zindik, al-Muhtadi justru membelanya. Layaknya kebanyakan Ulama sekarang yang membela penguasa sekalipun penguasa sudah berlaku yang zalim. Ketika membaca perilaku homoseksualitas Khalifah ini, anda mungkin tersentak sejenak.

Kita mungkin menyangka bahwa gejala LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transeksual) hanya ada di zaman kita dimana kebebasan individu begitu didewakan. Kenyataannya, gejala seperti ini sudah ada bahkan sejak awal kekhilafahan. Pelakunya pun tidak tanggung-tanggung, sang Khalifah sendiri. Kita mungkin juga mengira bahwa kebiasaan perselingkuhan antara penguasa dan agamawan hanya ada dalam kisah sejarah Eropa.

Mari kita lihat apa yang dilakukan al-Walid ketika membaca ayat “Mereka melakukan penaklukan dan takluklah setiap tiran yang bebal. Dibelakang mereka sudah menguntit neraka jahannam. Mereka akan disiram air yang menggelegak…” Seketika itu pula ia meletakkan mushaf al-Qur’annya untuk dipanah. Namun, ia berubah pikiran, lalu cukup melemparkannya sambil berkata:

Aku menantang semua tiran yang bebal

Ini, akulah sang tiran bebal

Kalau tuhanku datang di hari kebangkitan

Katakan, Tuhan, aku telah ditaklukkan al-Walid

Muhammad Ibnu Yazid al-Mubarrad mengatakan: “Sesungguhnya al-Walid sudah ateis dalam syairnya yang menyebut-nyebut soal Nabi dan wahyu Tuhan yang tak datang padanya:”

Seorang Hasyimi bermain-main dengan kuasa

Tanpa wahyu turun, tanpa Kitab

Titahkan Tuhan melarangku makan

Suruh Tuhan menghalangiku minum

Al-Walid juga pernah berusaha membuat kubah di atas Ka’bah untuk minum-minum ketika ia melaksanakan haji beserta beberapa kerabatnya. Namun para pemuka sukunya berhasil meyakinkannya untuk mencabut keinginannya. Yang jelas, dari kisah hidupnya ia betul-betul memperturutkan hasratnya. Sampai-sampai kegilaan akan hiburan dan minuman itu mampu menguasai para elit dan masyarakat pada zamannya, sebagaimana diceritakan al-Mas’udi. Karena itu tak heran bila bermunculan bintang-bintang di bidang tarik suara bak American Idol, di antaranya Ibnu Sarih, Ma’bad, al-Gharidh, Ibnu Aisyah, Ibnu Muhriz, Thawis, dan Dahman.

Riwayat al-Walid berakhir dengan pembelotan sepupunya, yaitu Yazid bin al-Walid, yang membunuhnya setelah mencicipi kekuasaan selama satu tahun tiga bulan. Namun, takdir menentukan masa kepemimpinan Yazid pun jauh lebih pendek; tak lebih dari lima bulan. Ia meninggal, lalu digantikan adiknya, Ibrahim, untuk jangka waktu 70 hari saja, karena dikudeta Marwan bin Muhammad sebagai upaya balas dendam terhadap al-Walid bin Yazid. Setelah itu, masa Bani Umayyah berakhir dengan tewasnya Marwan, yang berkuasa sekitar 5 tahun, di tangan orang-orang Abbasiyah.

Terlalu banyak cerita gelap yang dapat diungkap dari Dinasti Bani Umayyah, beberapa kesimpulan yang dapat dipetik adalah pertama, adalah benar bahwa Dinasti ini telah melebarkan wilayah kekuasaan Islam, namun motivasinya lebih banyak untuk kesenangan nafsu sebagai layaknya masyarakat Jahiliyah yang baru berkenalan dengan dunia luar. Kedua, era Umayyah adalah nepostisme ke-Araban yang akut. Ketiga, pada era inilah Ulama-Ulama besar banyak bermunculan, namun seringkali Ulama malah bertindak menjustifikasi kebijakan Khalifah, sekalipun menyimpang dari Islam.

Selanjutnya akan kita dedah pula bagaimana Dinasti Bani Abbasiyah. Yang ternyata tidak kalah sadisnya, sekalipun pada Dinasti ini the Golden Era-nya peradaban Islam tertoreh dalam sejarah. Dinasti ini sebenarnya tidak perlu diperkenalkan lagi, sebab ia telah mempekenalkan diri lewat figur pendirinya yakni Abbul Abbas Al-Saffah (Abbul Abas si tukang jagal). Ada dua dekrit yang dikeluarkan oleh sang tukang jagal ini yakni pertama untuk mencari kuburan dan memburu apa saja yang tersisa dari pimpinan Bani Umayyah, kedua melecut, menyalib, membakar mayatnya dan menghamburkan ke udara abu jenazah para pemimpin Bani Umayyah.

Dinasti Bani Abbasiyah merebut kekuasaan dengan klaim bahwa hak kekuasaannya telah ditentukan dan diberi mandat langsung dari Tuhan. Dalam Musnad-nya, Ibnu Hanbal misalnya menyebutkan hadits berikut: “Akan muncul pemimpin dari sanak keluargaku pada masa terjadinya peralihan zaman dan malapetaka besar. Ia disebut al-Saffah, kedermawanannya sangat melimpah”. Al-Thabari juga menyebutkan: “Rasulullah pernah mewartakan kepada pamannya Abbas, bahwa kepemimpinan Arab kelak akan jatuh ke tangan sanak keluarganya. Sampai-sampai sanak keluarganya itu tidak sabar menantikan kapan saat itu tiba”. Inilah cara Abbasiyah merebut simpati massa untuk membai’at dan loyal terhadap mereka. Bermulalah model kekuasaan berdasarkan klaim palsu agama ini yang didukung dengan ancaman keras bagi mereka yang tidak loyal dan mengancam kekuasaan.

Pasukan tentara Bani Abbas kemudian berhasil menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan mereka “memainkan” pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami’ milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kembali kuburan Mu’awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Memang benar kemudian mereka bongkar kuburan Muawiyah dan Yazid bin Muawiyah dan hanya menemukan sepotong tulang yang sudah mirip dengan arang lalu mereka angkat dan bakar lalu dilambungkan abunya ke udara. Sementara saat membongkar kuburan Abdul Malik bin Marwan, mereka menemukan tengkorangnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya. Mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka di jalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing. Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah.

Ibnu Atsir dalam al-Kamil fi al-Tarikh mengungkapkan bahwa Al-Saffah juga melakukan pengejaran terhadap seluruh sanak keluarga dan pendukung Bani Umayyah. Ia menghabisi mereka semua, kecuali anak-anak yang masih menyusu dan mereka yang telah melarikan diri ke Andalusia.

Al-Mas’udi pula dalam Muruj al-Dzahab mengungkapkan kisahnya secara lebih terperinci. Haitsam bin Uday at-Tha’i meriwayatkan kisah dari Amru bin Hani. “Kami pergi mencari kuburan pemuka Umayyah pada masa Abu Abbas al-Saffah. Hanya mayat Hisyam yang kami temukan masih utuh, kecuali bagian hidungnya. Abdullah bin Ali mengeluarkannya, menyambuknya 80 kali, lalu membakarnya. Jenazah Sulaiman kami keluarkan dari pekuburan Dabiq. Yang tersisa memang hanya tulang belulang, tulang rusuk, dan tengkoraknya. Tapi kami membakarnya. Kami masih melakukan hal serupa terhadap setiap keluarga Umayyah, terutama di komplek pekuburan Qinasrin. Petualangan kami berakhir di Damaskus. Disana kami menemukan kuburan al-Walid bin Abdul Malik. Tapi kami tak menemukan apa-apa secuil pun. Kami juga menggali kuburan Abdul Malik, tapi tidak menemukan hal lain, kecuali sebagian tengkorak kepalanya. Lalu kami lanjutkan dengan penggalian kuburan Yazid bin Muawiyyah, tapi kami hanya menemukan sepotong tulang. Dan di sepanjang liang lahatnya kami menemukan garis hitam seperti di torehkan arang. Kami masih memburu jenazah-jenazah keluarga Umayyah di seantero negeri dan membakar apa yang terjumpa dari jenazah mereka”.

Farag Fauda dalam bukunya Al-Haqiqah al-Ghaybah, yang banyak menginspirasi dan komentarnya banyak saya kutip dalam tulisan ini mengatakan, ketika ia merenungkan kejadian-kejadian sadis ini, akal sehat bertanya, apa alasan dan justifikasi semua tindakan mereka ini. Pembunuhan terhadap para pembesar dalam konteks perebutan kekuasaan, membunuh sanak keluarga demi menjamin masa depan kekuasaan baru dan menghapuskan sisa-sisa kekuasaan masa lalu memang sudah sering terjadi. Akan tetapi, memburu jenazah, membalas dendam, menggantung dan membakarnya, benar-benar perkara yang sangat berlebihan.

Disamping berbuat bengis diluar kemanusiaan, pemimpin Abbasiah tetap saja berpidato dengan gaya layaknya orang yang sangat saleh dan beradab dengan cara memuji-muji Islam dengan kalimat “Segala puji bagi Allah yang telah memilih Islam, yang memuliakan dan mengagungkannya, yang telah memilihkannya untuk kita dan membuatnya tetap kukuh bersama kita, kita menjadi lurus dan lebur di dalamnya, serta menjadi pemenang karenanya”. Pidato tersebut sepintas mirip dengan pernyataan para pejabat saat ini yang menampakan diri seakan sangat suci dan sedikit-sedikit mengutip kalimat-kalimat suci bertabur ayat, namun membiarkan korupsi terus berlangsung, sehingga benar kemudian sepanjang masa Dinasti Bani Abbasiah, umat benar-benar tertipu dengan muslihat sang Khalifah yang berselingkuh dengan sebahagian besar Ulama dengan tampilan seakan muslim yang baik dan berlidung dibalik jubah agama, namun prilakunya sangat tidak beradab.

Dinasti Bani Umayyah kemudian di habisi sampai ke akar-akarnya oleh Bani Abbasiyah. Mereka yang masih tersisa dari Bani Umayyah menetap di Andalusia dan memerintah secara otonom, yang akhirnya musnah jua ditelan zaman sampai tahun 1031 H.

Kembali ke kisah Al-Saffah, Khalifah ini punya kepandaian dalam bersandiwara, bukan hanya bengis di hadapan lawan politik dan penuh iman di hadapan pendukungnya, ia juga pandai bersandiwara ketika mengeksekusi musuh-musuhnya. Ia mengatur skenario pembantaian sisa-sisa kerabat Bani Umayyah layaknya sebuah drama opera sabun, ada plot, kisahnya berlangsung secara alamiah, mengalir kemudian ada klimaks dan ending-nya yang sudah di set. Kita akan mulai kisah ini dengan babak sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Atsir. Ibnu Atsir menuturkan “Di saat al-Saffah sedang melakukan perjamuan yang ramah terhadap Sulaiman bin Hisyam bin Abdul Malik, Sudaif sang penyair datang sembari melantunkan syairnya:

Jangan silau akan tampilan seseorang

Jika sumsum simpan penyakit mematikan

Hunuskan pedang, sediakan lecutan

Sampai tak tersisa keluarga Umayyah pun seorang

Kontan, Sulaiman tertegun seketika, lalu berkata: “Anda benar-benar telah membunuhku, wahai Syekh (Sudaif)!” Al-Saffah pun langsung beranjak masuk ke ruang pribadinya sambil menarik Sulaiman. Ia menghabisi nyawanya.

Suatu ketika Al-Saffah memberikan jaminan keamanan kepada keluarga Umayyah lainnya yang berjumlah 90 orang. Setting peristiwa masih tetap berada di tempat perjamuan makan yang sama. Dan sepanjang pembuat acara adalah Khalifah, kemurahan hati akan dipastikan tetap terjaga. Rasa amanpun tak pantas disangka-sangka. Tapi secara mengejutkan, seorang penyair datang seraya melantunkan syair:

Kekuasaan tidak akan goyah

Di tangan Badut-Badut Bani Abbas

Atas Bani Hasyim ia menuntut balas

Setelah lama terbuang tabah

Jangan lagi tergelincir oleh Abdus Syam

Penggallah tiap tunas yang sedang mengembang

Mendengar syair itu, al-Saffah lalu memerintahkan untuk menghantam kepala mereka semua dengan pentungan besi. Sebagian pecah kepala, tetapi jasadnya tetap bernyawa, dalam kondisi yang mengenaskan. Tatkala al-Saffah menyaksikan sekitar 90 orang yang sedang meregang nyawa, ia meninggikan suara sambil menuturkan titah: ‘Gelar permadaniku untuk bersantap secara lesehan di atas mereka!’ Ia dan orang-orangnya memulai dinner party (santap malam), sementara permadani menari ke kanan dan ke kiri. Tatkala permadani tidak lagi bergerak, mereka pun selesai dari kunyahan mereka sambil mengucap alhamdulillah dan tahniah kepada para tentara dan kerabatnya.

Apabila para Khalifah gemar mendeklarasikan dirinya sebagai “tukang jagal semena-mena” (al-Saffah al-Mubih) untuk menunjukkan kebengisannya, begitu pula tingkah seorang gubernurnya. Dalam Tarikh al-Ya’qubi disebutkan Rayyah bin Utsman selaku gubernur Madinah dimasa al-Mansur menggelari dirinya sebagai “si ular anak si ular”. Kondisi di masa ini menunjukkan pada kita bahwa otoritarianisme yang di balut agama tidak hanya terjadi di barat, dan menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak perlu mengusulkan adanya pembagian kekuasaan, menciptakan mekanisme kontrol dan Undang-Undang yang menjamin Negara tidak jatuh pada despotisme.

Abul A’la al-Maududi dalam al-Khilafah wa al-Mulk menceritakan kembali berdasarkan riwayat dari Ibnu Atsir dan al-Thabari; tidak lama kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan al-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan dikalangan rakyat: “Barangsiapa memasuki masjid Jami’, maka ia dijamin keamananya”. Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu Masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung mencari keselamatan itu. Sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari di kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya dan berlangsunglah selama itu penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Seorang ahli fiqih terkenal di Khurasan bernama Ibrahim bin Maimum percaya kepada kaum Abbasiyin yang telah berjanji “akan menegakkan hukum-hukum Allah sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah”. Atas dasar itu ia menunjukkan semangat yang berkobar-kobar dalam mendukung mereka, dan selama pemberontakan itu berlangsung, ia adalah tangan kanan Abu Muslim al-Khurasani (pendiri Negara Khurasan yang kemudian menyerahkannya ke al-Saffah). Namun ketika ia (setelah berhasilnya gerakan kaum Abbasiyin itu) menuntut kepada Abu Muslim agar menegakkan hukum-hukum Allah dan melarang tindakan-tindakan yang melanggar kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, segera ia dihukum mati oleh Abu Muslim.

Abu Ja’far al-Mansur, Khalifah kedua Bani Abbasiyah naik tahta. Ia melakukan intrik politik agar Abu Muslim al-Khurasani bersedia membunuh Abdullah bin Ali (paman al-Saffah sekaligus panglima pasukan Abbasiyah di peperangan Zab yang menuntaskan kemenangan mereka terhadap orang-orang Umayyah). Setelah misi tuntas, ia sendiri yang turun tangan menghabisi Abu Muslim al-Khurasani. Abu Ja’far tidak peduli ketika Abu Muslim memohon: “Tidakkah lebih baik engkau biarkan aku hidup untuk menyingkirkan musuh-musuhmu?” Tetapi Abu Ja’far menampik: “Siapakah musuh yang lebih mematikan dari dirimu?!”.

Abu Ja’far al-Mansur bersekutu dengan Pepin dan Charlemagne, yang menguasai sebagian besar daratan Eropa pada abad pertengahan, demi menaklukkan Abdur Rahman bin Mu’awiyah bin Hisyam, Khalifah Umayyah di Andalusia. Namun ia gagal menaklukkannya. Kita mungkin berfikir kalau Khalifah tidak sepantasnya bekerjasama dengan kafir harbi fi’lan (Negara kafir yang secara terang-terangan memerangi umat Islam) karena tindakan seperti ini di haramkan syara’, apalagi bekerjasama untuk membantai umat Islam sendiri. Kita juga mungkin berfikir bahwa situasi seperti ini hanya terjadi di zaman kita. Kekuasaan telah menggelapkan mata mereka. Bagi al-Mansur, prinsip politiknya: “Lakukanlah apapun, tempuh jalan manapun, bersekutulah dengan musuhnya musuhmu, demi mencapai tujuanmu dan menang atas musuhmu”. Artinya, ia benar-benar telah melupakan Islam, masa bodoh dengan hukum-hukum al-Qur’an dan Sunnah, serta menjauhkan diri sedapat mungkin dari teladan para Khulafa’ al-Rasyidun. Ia hanya mengingat dirinya sebagai “penguasa Tuhan di muka bumi”, tipikal penguasa Arab-Quraisy. Ia mendasarkan kekuasaannya atas hak Bani Abbas terhadap Khalifah, bukan berdasarkan hak rakyat untuk memilih.

Al-Mansur juga terkenal anti kritik. Suatu ketika Ibnu Muqaffa mengirimkan untuk al-Mansur buku yang berjudul Risalah al-Sahaabah (Risalah tentang Para Sahabat). Buku itu berisi nasihat untuk Khalifah agar pandai-pandai memilih para pembantu dan memperbaiki sistem pengelolaan masyarakatnya. Nasihat itu ia sampaikan dengan sangat santun. Boleh jadi, ia sedang mengharap penghargaan materi yang pantas untuk karyanya dengan mengirimkannya kepada Khalifah. Dan mungkin, ia pun tidak mengira bahwa sekedar memberi nasihat kepada penguasa adalah tindak kriminal. Kaki dan tangan Ibnu Muqaffa dicincang satu per satu. Potongan dagingnya di panggang di atas bara api, tepat di hadapannya. Setelah matang, satu per satu pula daging panggang itu dijejalkan ke mulutnya. Ibnu Muqaffa menjalani penderitaan tiada tara sampai ajal pun menjemputnya.

Mungkin Ibnu Muqaffa pun bertanya tatkala harus mengunyah jasadnya sendiri atas perintah “pemimpin kaum beriman”: pemimpin apa dan beriman seperti apa??? Ia mungkin bertanya, inikah hakikatnya kekuasaan Khilafah yang disebut “Islamiyah” itu? Islamiyah apanya??? Mungkin saat itu ia juga menyadari apa yang sekarang mesti pula disadari oleh para pejuang Khilafah dan sistem syariah, dan mereka yang memandang remeh usulan pembatasan dan pembagian kekuasaan, yang berfantasi tentang nikmatnya Negara despotik yang mengatasnamakan agama.

Namun demikian, walaupun al-Mansur masuk sejarah dari aspek yang paling bejatnya, ia tetaplah tercatat sebagai seorang negarawan besar yang berhasil mengukuhkan kekuasaannya dan mewariskannya kepada keturunan-keturunannya, meskipun dibangun di atas genangan darah. Dan kenyataan bahwa ia semena-mena, sebetulnya juga tidak lepas dari fatwa para fuqaha, ketakutan sebagian, dan bungkamnya sebagian yang lain. Juga yang terpenting tidak jalannya fungsi-fungsi pemerintahan, tidak adanya pembagian kekuasaan dan check and balance.

Era Abbasiyah adalah era pemerintahan paling bergairah dalam kebangkitan akal dan peradaban. Dan paling maju dalam soal fiqih. Dan untuk melengkapi gambarnya, kita dapat pula menyebutnya paling maju dalam soal kenikmatan hidup dan durjananya, ini ditandai dengan maraknya dunia hiburan dan kemaksiatan. Farag Fauda mengatakan, kondisi ini didorong oleh banyak faktor, namun barangkali faktor utamanya adalah apa yang di masa sekarang disebut sebagai “iklim kondusif” yang membuka peluang untuk kemaksiatan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa di masa lalu minuman keras, musik dan tarik suara menjadi kegemaran para Khalifah-Arab dalam pesta-fora mereka. Ini karena Ulama juga membolehkannya. Saat itu para fuqaha Irak yang terdiri dari murid-murid Abu Hanifah mempunyai fatwa yang membolehkan minuman keras. Sementara itu ulama Hijaz membolehkan musik dan nyanyian. Itulah iklim atau suasana umum yang mendorong maraknya musik dan minuman keras serta konsekuensi-konsekuensi lain seperti maraknya dunia hiburan, perempuan penghibur, dan penyimpangan perilaku seksual. Dunia hiburan sudah menjadi bagian dari kenikmatan masyarakat kala itu. Untuk soal menikmati perempuan penghibur, al-Mahdi dan putranya, Harun al-Rasyid adalah jagonya. Untuk soal penyimpangan seksual, al-Watsiq adalah bintangnya.

Mengenai maraknya minuman keras itu, “iklim kondusif” bukan hanya datang dari Khalifah, tapi pendapat fuqaha kala itu yang merupakan murid-murid Abu Hanifah yang merujukkan pendapatnya dari Abdullah bin Mas’ud yang kemudian mengambil kesimpulan bahwa kata khamar dalam al-Qur’an adalah air sari buah anggur berdasarkan makna kebahasaan dan dari hadits-hadits nabi lainnya. Pemahaman inilah yang membuat Abu Hanifah berijtihad menyangkut halalnya beberapa jenih khamar seperti sari buah kurma dan kismis. Dengan catatan, bahan-bahan itu diolah sewajarnya dan diminum dengan kadar tidak memabukkan.

Masa Abbasiyah ini diramaikan pula dengan maraknya perbudakan dan pergundikan. Perbudakan dan pergundikan bersumber dari sistem perdagangan budak yang masih ramai di masa itu, dan hasil pampasan perang. Asal mereka pun bermacam-macam, ada gundik Romawi, Persia dan Ethiopia. Terjadinya surplus budak ini menimbulkan fenomena saling menghadiahi selir, yang menjadi kebiasaan umum. Jumlah gundik-gundik yang dimiliki para petinggi Negara semakin berkembang dalam sejarah imperium Islam. Dari belasan di masa sahabat, menjadi puluhan pada masa Umayyah, mencapai ratusan pada masa Yazid bin Abdul Malik, dan menembus angka ribuan pada masa Abbasiyah. Bilangan ini bahkan mencapai angka 4000 (empat ribu) orang di masa al-Mutawakkil. Dalam Tarikh al-Khulafa, al-Suyuti menceritakan Khalifah yang gemar minum-minuman keras ini konon telah meniduri seluruh empat ribu gundiknya selama seperempat abad masa kepemimpinannya. Tentu ini merupakan rekor tertinggi kepemilikan gundik yang pernah tercatatkan dalam sejarah umat manusia yang seharusnya masuk ke dalam catatan Book of Record.

Membaca sejarah kehidupaan Khalifah di masa itu, pembaca mungkin terheran-heran, mengapa masyarakat Islam di masa itu jauh dari kehidupan Islam, padahal masa itu adalah masa kekhilafahan. Kita mungkin berimajinasi bahwa masyarakat Islam dan pemimpin-pemimpinnya di masa kekhilafahan adalah masyarakat yang dekat dengan agama, dan syariat diterapkan secara total dalam semua aspek kehidupan. Namun anggapan itu salah, masyarakat Islam kala itu tidak lebih baik dari masyarakat kita saat ini yang sebagian dari Anda menganggapnya sebagai “masyarakat jahiliah modern” atau jauh dari agama (ideologi) Islam yang sebenarnya. Saat itu, syariat memang diterapkan, tapi diterapkan secara “kreatif” dan tebang pilih.

Pembacaan sejarah akan dilanjutkan pada masa pemerintahan Harun al-Rasyid yang sangat terkenal itu, terlepas dari kekurangan dan kelebihan, tentunya orang sudah kenal dengan siapa Harun al-Rasyid, atau paling tidak dengan al-Ma’mum dan al-Mu’tasim.

Pasca Harun al-Rasyid, putranya al-Amin (Shalih bin Harun) naik tahta. Al-Amin telah dinobatkan sebagai pengganti Harun semasa ia masih anak-anak. Harun al-Rasyid mewasiatkan bahwa setelah al-Amin naik tahta, jabatan Khalifah akan di lanjutkan oleh saudara al-Amin, yakni al-Ma’mun. Sementara al-Amin menjadi Khalifah, al-Ma’mun menjadi gubernur Khurasan di Persia Timur. Namun kemudian, Khalifah al-Amin membatalkan hak Khalifah al-Makmun, dan menggantinya dengan putranya sendiri, Musa bin Muhammad al-Amin. Perebutan kekuasaan ini mengakibatkan perang saudara yang berujung pada dipenggalnya kepala al-Amin oleh panglima Tahir bin Husain yang di utus oleh saudaranya sendiri al-Ma’mun, setelah bala tentaranya berhasil menaklukkan tentara al-Amin dan memasuki Baghdad.

Al-Amin sebagai Khalifah ternyata juga dikenal abnormal dalam perilaku seksualnya. Dia sangat menyukai teman kencan seranjang sejenis dengan meninggalkan istri-istri dan gundik-gundiknya. Pacar yang sangat digandrungi oleh al-Amin bernama Kautsar, sementara Kautsar adalah seorang laki-laki tampan yang dibeli oleh Harun al-Rasyid sebagai hadiah buat al-Amin, karena dia mengetahui prilaku seksual anaknya. Satu peristiwa mencolok yang dilakukan oleh al-Amin terhadap kekasihnya Kautsar, yakni mengangkut dirham sebanyak tiga keledai untuk penyembuhan Kautsar karena cidera ringan, sementara dana tersebut sudah dialokasikan untuk biaya perang. Dan akhirnya al-Amin dihancurkan oleh para menteri dan gubernurnya sendiri karena ia lebih banyak berhura-hura, menghamburkan kas Negara dan asyik bermesraan dengan sesama jenis bernama Kautsar.

Satu Khalifah lagi yang kurang dikenal yang sangat piawai membuka babak baru sejarah dinasti keturunan Abbas bin Abdul Muthalib ini. Dia adalah al-Watsiq. Al-Watsiq adalah Khalifah terakhir Dinasti Abbasiah periode awal. Ia memerintah selama 6 tahun, ia seorang Transeks namun cenderung berperilaku homoseks, selama 6 tahun, nyaris waktunya digunakan dengan berpindah-pindah pelukan dari satu pria ke pria lainnya.

Satu pacar yang paling disukai oleh al-Watsiq adalah Muhaj, cowok keren dan sangat pandai memainkan perasaan al-Watsiq, sebuah pameo menceritakan, bila al-Watsiq sedang nyaman dalam pelukan Muhaj, maka stabilitas pemerintahan akan baik, namun jika al-Watsiq sedang cemburu buta dengan si Muhaj, maka dia akan mencari lawan-lawan politiknya untuk dibunuh. Prilaku homoseksual dua insan sesama jenis ini teruntai dalam syair ala dangdut:

Muhaj menguasai jiwa ini,

Lewat kerlingan mata yang sungguh menawan

Tubuhnya indah mempesona

Amboi manjanya dan penuh gairah

Jika mata tertuju padanya

Ia tak lagi mampu berpindah

Al-Watsiq selama hidupnya tercatat telah menyusun lebih dari 100 syair lagu. Satu riwayat menceritakan, ketika al-Watsiq sedang mengadakan rapat bersama para pembesar istana, kemudian Muhaj yang memang menyadari akan posisinya, tiba-tiba muncul dengan melenggak-lenggokan badanya kemudian mengerlingkan mata kepada al-Watsiq dan membawakannya sekuntum bakung, sehingga al-Watsiq tanpa banyak bicara kemudian dari mulutnya meluncur syair-syair penuh birahi dan menyebabkan rapat penting tentang posisinya sebagai Khalifah menjadi runyam.

Al-Watsiq selain memiliki perilaku seks yang menyimpang, dia juga mempunyai sejarah inkuisisi seperti halnya ayahnya al-Ma’mum, kalau al-Ma’mum meninkuisisi Imam Ahmad bin Hambal dan beberapa ulama lainnya, sementara al-Watsiq melakukan hal yang serupa terhadap Ahmad bin Nasr al-Khaza’i seorang ahli haditst, al-Khaza’i dijemput paksa dan dihadapkan kepada al-Watsiq bersama Ulama-Ulama pelat merah saat itu, dan terjadilah dialog tentang kemahlukan al-Qur’an, namun karena al-Khaza’i tetap teguh dengan pendapatnya, akhirnya al-Watsiq meminta sebilah pedang sambil berkata, jika aku bergerak jangan ada yang ikut bergerak, aku akan menghitung langkahku menuju si kafir yang tidak menyembah Tuhan yang sama dengan Tuhan kita. Lalu ia meminta dibentangkan permadani tempat al-Khaza’i bersimpuh, lalu dipancungnyalah sang ahli hadits itu.

Sampai disini dululah pembacaan sejarah Bani Abbasiyah

19 maret 2011

Komisi Ukhuwah Islamiyah Majelis Ulama Indonesia menggelar diskusi yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah Di Tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia. ” Diskusi bertempat di kantor Pusat Majelis Ulama Indonesia Jl. Proklamasi Jakarta Pusat digelar kemarin (Senin, 14/3/2011).

Diskusi itu melibatkan tokoh-tokoh agama di tingkat nasional seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra, Prof. Dr. K. H. Aqiel Siradj, Dr. K.H. Qureisy Shihab dan Dr. Khalid Walid.

Prof. Azyumardi Azra dalam diskusi itu mengulas perspektifnya yang berjudul, “Realitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia dan Tantangannya dari Masa ke Masa.” Prof. Azyumardi mengatakan, “Di Indonesia terdapat upaya aktualisasi Umat Wahdatan yang tidak berada dalam titik ekstrim. Baru belakangan ini muncul gerakan trans-nasional yang mudah mengkafirkan dan mengecam pandangan yang berbeda termasuk menolak maulid. “Menurut Prof Azyumardi, kelompok ini menjadi sumber konflik dan pemecah belah umat Islam di Indonesia. Prof, Azyumardi juga menambahkan, “Kelompok ini juga cenderung menyalahkan semua pandangan dan melakukan tindakan kekerasan seperti yang terjadi terhadap Ahmadiyah.”

Lebih lanjut Prof. Azyumardi Azra, “Syiah adalah sahabat kita. Saya sangat menyesalkan pelarangan Syiah yang terjadi di Malaysia.” Prof. Azyumardi juga menyatakan dirinya sebagai simpatisan Syiah.

Dalam diskusi yang mengangkat tema Ukhuwah Islamiyah itu, Ketua PBNU, Prof. Dr. K.H. Aqiel Siradj juga menjadi salah satu pembicara inti. Dalam diskusi, Prof Aqiel Siradj mengulas pandangannya yang bertema, ‘Menjaga, Memelihara dan Merawat Ukhuwah Islamiyah.”

Dalam kesempatan itu, Prof Aqiel Siradj mencontohkan masa Nabi. Dikatakannya, ” Di masa Nabi ada pluralitas keyakinan, dan tetap dilindungi dan dihormati.” Prof Aqiel Siradj mencontohkan Piagam Madinah sebagai dasar kebersamaan dan apresiasi.

Lebih Lanjut Aqiel Siradj yang juga pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia, menawarkan empat kiat untuk melangkah seperti yang dilakukan Rasulullah Saw dalam Piagam Madinah. Dikatakannya, “Kiat pertama, memahami orang lain. Kiat kedua, mengembangkan dan melestarikan tradisi. Ketiga, menjaga komitmen kemanusiaan dalam berbangsa dan bernegara. Keempat, memahami ideologi lain.”

Prof Aqiel Siradj dalam pernyataannya di diskusi yang bertema Ukhuwah Islamiyah itu menyayangkan kekerasan yang seringkali dilakukan. Padahal menurut Aqiel Siradj, perbedaan adalah hal yang diciptakan Allah, bahkan bagian dinamika kehidupan. Lebih lanjut Prof Aqiel Siradj mengaku kagum atas mazhab Syiah yang melahirkan intelektual-intelektual luar biasa dan tetap berpegang teguh pada keyakinan agama.

Masih dalam diskusi Ukhuwah Islamiyah, Prof. Dr. K.H. Qureisy Shihab juga ikut menyumbang pandangan yang memilih tema, “Membangun Visi Bersama Umat Islam Indonesia. ” Dikatakannya, “Perbedaan adalah keniscayaan. Perbedaan dalam Islam adalah hal yang alami.”

Prof Qureisy Shihab dalam pernyataannya menegaskan, “Perbedaan antarmazhab hanyalah pada tingkat ushul mazhab dan furu’u-dien semata (baca: prinsip mazhab bukan agama).” Menurut Prof Qureisy Shihab, hal tersebut hampir ditemukan pada seluruh mazhab atau aliran dalam Islam, baik Mu’tazilah, bahkan Wahabiyah.

Dalam penjelasannya, Qureisy Shihab menjelaskan, “Syiah memiliki ushul mazhab imamah atau kepemimpinan. Karena hal tersebut merupakan ushul mazhab, maka mereka yang tidak menerima Imamah tidaklah berarti kafir.” Prof Qureisy Shihab juga menyayangkan kelompok-kelompok yang sering mengkafirkan kelompok lain. Menurut Prof Qureisy Shihab, pengkafiran bermula dari kedangkalan pengetahuan.

Di penghujung acara, Dr.Khalid Walid yang juga penggagas acara tersebut menyatakan bahwa acara seperti ini harus terus digalakkan demi persatuan umat dan kesatuan bangsa Indonesia di nusantara. Diskusi ilmiah yang bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah di tengah Pluralitas Pemikiran dan Gerakan Islam di Indonesia, ” dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan akademisi dan wakil pengurus pusat ormas-ormas Islam Indonesia termasuk Organisasi Ahlul Bait Indonesia atau ABI.

Ayat at- Tathir, kenikmatan tertinggi Allah swt khusus untuk Ahlul-Bait Rasulullah saww

FirmanNya di dalam (Surah al-Ahzab : 33): “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kamu (‘an-kum) wahai Ahlul-Bait, dan mensucikan kamu sesuci²nya.”
.
Menurut tafsir-tafsir Syi’ah, ayat ini diturunkan secara khusus kepada Ahlul-Bait as saja. Sementara orang lain tidak termasuk di dalam ayat² tersebut
.
Sedangkan tafsir² Ahl-Sunnah , ada yang mengakui bahwa ayat tersebut dikhususkan untuk Ahlul-Bait as saja, ada pula yang menyatakan ayat tersebut termasuk isteri² Nabi saww, dan ada yang mengatakan itu dikhususkan kepada isteri²nya saww saja dan pendapat itu bertentangan dengan kaedah Bahasa Arab yang tidak menggunakan Dhamir Ta’nith (kata ganti perempuan) untuk perempuan di dalam ayat tersebut. Malah Allah SWT menggunakan Dhamir Tadhkir (kata ganti lelaki) yaitu perkataan ‘an-kum (daripada kamu) dan perkataan yutahhira-kum membersihkan kamu (lelaki).
Kaidah ini mudah diketahui bahkan oleh kebanyakan orang awam. jikalau Allah SWT di dalam ayat tadi menghendaki isteri²Nabi saww, niscaya Dia menggunakan dhamir Ta’nith, ‘an-kunna (daripada kamu isteri-isteri) dan yutahhirakunna Dia membersihkan (kamu isteri²) sebagaimana Dia menggunakan dhamir Ta’nith sebelumnya (Surah al-Ahzab (33):32. Lantaran itu Allah telah menggunakan dhamir tadhkir untuk mengeluarkan isteri² daripada ayat tersebut
.
‘Ali bin Ibrahim di dalam Tafsirnya (1) daripada Zaid bin ‘Ali AS dia berkata: Sesungguhnya orang² yang jahil mengatakan bahwa Allah menghendaki dengan ayat ini isteri² Nabi Saw. Pada hakikatnya mereka berbohong dan mereka berdosa. Demi Allah sekiranya Dia maksudkan isteri² Nabi SAW, nescaya Dia akan berkata: an kunna al-Rijs (daripada kalian isteri²) dan yutahhira-kunna (membersihkan kalian isteri² dengan sebersih²nya. Dan Dia menggunakan perkataan muannathan (ganti nama perempuan) sebagaimana Dia berfirman: Wazkurna mayutla fibuyuti-kunna, wa la Tabarrajna, wa lastunna Kaahadin min l-Nisa.’ Oleh itu ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33):33) tidak harus pada isteri² Nabi saww sekalipun ianya ditafsirkan bersamaan dengan Ahlu l-Bait as. Kerana Allah SWT telah mengancam mereka sebelum ayat Tathir dalam firmanNya (Surah al-Ahzab (33): 28-30).
Dan Dia juga telah mengancam mereka dengan firmanNya (Surah al-Tahrim (66):4-5):”Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-² Mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat² adalah penolongnya pula. Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri² yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.”
.
Inilah adalah menurut apa yang difirmankan-Nya (al-Mantuq). Adapun mafhumNya: Wahai isteri-² Nabi kalian tidaklah mukminat, qanitat, ta’ibat, sekiranya kalian masih menyakiti Rasululloh SAW. Dan apa yang jelas terdapat di kalangan isteri² tersebut yang telah memerangi Khalifah ‘Ali, Hasan dan Husain as. Memerangi mereka berarti memerangi Allah menurut hadith Rasulullah saww.
Kita tidak lupa bahwa ‘Aisyah telah memimpin angkatan bersenjata ketika memprotes jenazah Imam Hasan sa yang hendak dikebumikan di samping datuknya Rasulullah saww. Jikalau ‘Aisyah masih hidup di hari peperangan Husain as di Karbala, kemungkinan dia akan memerangi Husain bin ‘Ali as pula karena sifatnya yang sentiasa memerangi Ahlul-Bait as.(2)
.
Ketika itu Ibn ‘Abbas berkata kepada ‘Aisyah: “Anda menaiki unta, menaiki baghal, dan sekiranya anda hidup anda akan menaiki gajah. Bagi anda sepersembilan daripada seperlapan tetapi anda memiliki kesemuanya”. Yaitu anda memiliki rumah anda sedangkan anda memiliki sepersembilan daripada seperdelapan dan bakinya adalah untuk isteri²nya saww. Dan tujuh perdelapan adalah untuk Fatimah kemudian untuk anak²nya
.
Melihat kelakuan dari sebagian Istri Rasulullah saww bagaimana mungkin mereka termasuk di dalam ayat at-Tathir yang disucikan daripada segala dosa? Telah diriwayatkan bahwa ‘Aisyah Ra berkata kepada Nabi SAW di dalam keadaan marah:”Tidakkah anda saja yang menyangka anda seorang Nabi Allah? (3)
.
Adakah mereka layak dengan tindakan mereka yang menyalahi adab sebagai isteri, lebih-² lagi suami mereka itu adalah Rasulullah saww, dimasukkan ke dalam ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33):33) bersih dari dosa sedangkan mereka berlumuran dengannya? kalau ayat itu termasuk “isteri²” khususnya ‘Aisyah, niscaya dia berpesta dan memberitahukan kepada semua orang
.
Rasulullah saww telah menutup ke atas ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dengan al-Kisa'(pakaian) dan mengangkatkan tangannya ke atas mereka sambil membaca ayat Tathir :”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan segala dosa dari kami (‘an-kum) wahai Ahlul-Bait, dan membersihkan kamu sebersih²nya” adalah semata-mata untuk memisahkan mereka daripada isteri² dan orang² Islam yang lain, dan sabda Rasulullh : Wahai Tuhanku, mereka itulah Ahlul-Baitku
.
Dan juga dalil yang lebih kuat bahwa isteri-² Nabi SAW tidak termasuk Ahlul-Baitnya ialah Nabi saww tidak membawa mereka keluar di Hari Mubahalah dengan Kristian Najran kerana beliau menjanjikan mereka untuk membawa wanita²nya bersama sebagaimana firmanNya di dalam (Surah Ali Imran (3):61): “maka katakanlah (kepadanya): Marilah kita memanggil anak² kami dan anak² kamu, wanita² kami dan wanita² kamu, diri² kami dan diri –diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang² yang dusta.”
.
Jelas manusia yang oleh Nabi saww diajak bermubahalah berhadapan dengan Nasara Najran iyalah orang yang Allah telah hilangkan dari mereka kekotoran seperti yang tercantum di dalam al-Qur’an yang mulia. Lagipula apabila perkataan Ahlu l-Bait as diucapkan secara langsung berarti al-itrah al-Tahirah as;’Ali, Fatimah, Hasan dan Husain Ali tidak termasuk isteri².
Untuk lebih menguatkan Nabi saww selalu menerangkan kelebihan² mereka di dalam hadith²nya yang mutawatir di dalam buku² Sahih Ahl-Sunnah. Dan tidak seorang pun memasukkan “isteri²” di dalam hadith² tersebut. Di antaranya dua hadith yang muktabar yang diriwayatkan oleh jumhur Muslimin”
1. Hadith Thaqalain: Sabda Nabi saww yang bermaksud: “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang berharga; Kitab Allah dan ‘Itrahku (Ahlu l-Baitku) selama kalian berpegang kepada kedua²nya kalian tidak akan sesat selama²nya.”
2. Hadith al-Safinah: Sesungguhnya yang bermaksud: Umpama Ahlu l-Baitku sepertilah Bahtera Nuh, siapa yagn menaikinya akan berjaya, dan siapa yang tidak menaikinya akan sesat selama²nya.(4)
.
Begitu juga penyair² Ahl-Sunnah dan Syi’ah apabila mereka menyusun syair memuji Ahlu l-Bait as yang mereka maksudkan adalah lima Ahlul-Kisa': Muhammad saww, Fatimah, ‘Ali, Hasan dan Husain as. Perhatikanlah sya’ir yang dibuat oleh Imam Syafi’i mengenai Ahlu l-Bait AS:

Wahai Ahlul-Bait Rasulullah cintamu suatu fardhu daripada Tuhan di dalam al-Qur’an telah diturunkan. Memadailah kebesaran Nabimu sesungguhnya siapa yang tidak bersalawat ke atas kalian tidak sah sembahyangnya.

Dimaksudkan dengan Ahlul-Bait as ialah ‘Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain as. Demikianlah juga banyak karangan para ulama Ahl-Sunnah menjelaskan bahwa maksud Ahlul-Bait ialah Nabi saww dan keturunan ‘Ali yang disucikan
.
Ya, memang terdapat orang² seperti ‘Ikramah al-Barbari, Muqatil dan lain-lain yang terkenal dengan pembohongan ke atas Rasulullah saww telah membuat hadith-hadith palsu. Rasulullah saww bersabda maksudnya: Akan banyak pembohongan ke atasku, siapa yang membohongi ke atasku dengan sengaja maka hendaklah ia duduk di tempatnya di neraka
.
Oleh itu mengkhususkan “isteri²” atau meletakkan mereka bersama Ahlul-Bait asdi dalam ayat Tathir (Surah al-Ahzab (33): 33) adalah rekaan musuh-musuh Ahlu l-Bait. Malah mereka mencipta perkara² yang berlawanan dengan Ahlul-Bait as, perkara ini adalah jelas. Lantaran itu menolak hadith-hadith palsu dan membersihkan buku-buku sirah dan sejarah daripadanya adalah perkara yang wajib dilaksanakan.
Ini menunjukan suatu kepastian bahwa ayat Tathir dan pembersihan kekotoran daripada mereka adalah istimewa untuk para imam Ahlu l-Bait as. Mereka adalah zuriat Rasulullah saww dan mereka lebih berhak dengannya. Justeru itu perkataan innama di dalam ayat tersebut bermaksud al-Hasr (pengkhususan kepada mereka saja)
.
Ayat ini juga dengan jelas menunjukkan bersihnya “itrah Nabi saww daripada keaiban dan kemaksuman mereka daripada dosa². Sehingga imamah tidak layak melainkan bagi mereka yang bersih daripada segala keaiban dan dosa.
Justeru itu sabitnya imamah ‘Ali dan anak²nya as sama ada mereka memegang jawatan itu ataupun tidak disebabkan orang ramai tidak menyokong mereka sebagaimana sabdanya: “Hasan dan Husain kedua-duanya imam sama ada mereka memegang jawatan ataupun tidak, kerana kedua²nya telah dilantik oleh Allah swt”. Dan sesiapa yang mempunyai kedudukan sedemikian, keimamahannya tidak akan dicacatkan oleh penentangan orang ramai terhadapnya. Kerana imamah bukanlah melalui perlantikan orang ramai, malah melalui nas daripada Allah swt
.
Imam al-Bahrani di dalam Ghayat a-Maram(5) telah mencatat lebih daripada seratus dua puluh hadith mengkhususkan Ahlu l-Bait as dengan “mereka” bukan isteri² Nabi saww dan lebih sepertiga daripada hadith² tersebut adalah menurut saluran Ahl-Sunnah.
Al-Suyuti di dalam al-Durr al-Manthu”(6)menegaskan bahwa ayat tersebut diturunkan kepada lima orang Ahlu l-Kisa melalui dua puluh jalur. Al-Tabari di dalam Jami’ al-Bayan(7) menyatakan ianya diturunkan kepada Nabi SAW, Fatimah, ‘Ali, Hasan dan Husain melalui enam belas jalur. Al-Sayyid Syihabuddin dan al-Mar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haq karangan Qadhi Nur Allah al-Tastari RH telah menyebutkan riwayat² dan hadith² yang banyak semuanya menurut saluran Ahl-Sunnah wal-Jama’ah bahwa ayat tersebut telah diturunkan kepada lima orang Ahlul-Kisa';Muhammad, Fatimah,’Ali, Hasan dan Husain AS
.
Beberapa riwayat Ahl-Sunnah yang menunjukkan bahwa ayat Tathir diturunkan kepada lima orang Ashabu l-Kisa’ seperti berikut:
  1. Ahmad bin Hanbal telah mencatat dalam Musnadnya[8] dari Anas bin Malik bahwa Nabi SAW telah melalui rumah Fatimah AS selama enam bulan. Apabila beliau keluar untuk sembahyang Subuh, beliau bersabda: wahai Ahlul-Bait! Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan daripada kamu kekotoran Ahlul-Bait dan membersihkan kamu sebersih²nya. Al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul[9] telah menafsirkan ayat tersebut dengan menyatakan bahwa ayat itu diturunkan kepada lima orang Ashabu l-Kisa’.
  2. Ibn Jarir telah mencatat di dalam Tafsirnya begitu juga Ibn al-Mundhir, Ibn Abi Hatim, Ibn Mardawaih,al-Tabrani, dan lain-lain. Al-Turmudhi dan al-Hakim menyatakan kesahihan hadith tersebut. Begitu juga al-Baihaqi di dalam Sunannya dengan bermacam-macam saluran. Umm Salamah berkata: Ayat Tathir telah diturunkan di rumahku. Di dalam rumah itu ada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Maka Rasulullah saww menyelimutkan mereka dengan al-Kisa’ (kain berwarna hitam) dan bersabda: Wahai Tuhanku, mereka itulah Ahlu l-Baitku. Justeru itu hilanglah daripada mereka kekotoran dan bersihlah mereka dengan sebersih²nya.
  3. Muslim di dalam Sahihnya [10] bab ‘Fadhl Ahlu l-Bait as’ meriwayatkan daripada ‘Aisyah dia berkata: Rasulullah keluar di waktu pagi, di atasnya kain hitam, maka datanglah Hasan bin ‘Ali, maka beliau memasukkan ke dalamnya. Kemudian datang Husain, maka dia memasukkan bersamanya, kemudian datang ‘Ali, maka beliau memasukkannya. Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan daripada kamu kekotoran dosa Ahlul-Bait dan membersihkan mereka dengan sebersih²nya.” Hadith ini telah dikeluarkan oleh Ahmad dari hadith ‘Aisyah di dalam Musnadnya.
(Kitab Rujukan Li madha akhtartu madhab Ahlul Bayt karya Syaikh Muhammd Mar’I al-Amin Al-Antaki)

Catatan kaki :

1. Tafsir ‘Ali bin Ibrahim, hlm. 531. 2. Hasan AS disemadikan berjauhan dari datuknya SAWAW sebagai menyahuti protes ‘Aisyah RD; Sibt Ibnu Jauzi, Tadhkirah al-Khawwas, hlm. 122. 3. Ihya’ ‘Ulum al-Din, II, hlm. 20. 4. Muslim, Sahih, VII, hlm. 123; Turmudhi, al-Sunan, II, hlm. 307; al-Darimi, al-Sunan, II, hlm. 332; Ibn Hanbal, al-Musnad, III, hlm. 14,17, dan 36. 5. Ghayat al-Maram, hlm. 150. 6. al-Durr al-Manthur, V, hlm. 18. 7. Jami’ al-Bayan, XXII, hlm. 198. 8. al-Musnad, II, hlm. 259. 9. Asbab al-Nuzul, hlm. 251. 10. Sahih, hlm. 331.

Ajakan ini berlaku bagi mereka yang Para Pencari Kebenaran, bukan mereka yang sombong dan bukan pula untuk mereka yang dengki. Karena orang sombong adalah mereka yang tidak mau menerima kebenaran, dan orang dengki adalah mereka yang merasa iri terhadap maqam (kedudukan) orang lain.
Dan siapakah Ahlul Bayt (Keluarga) rasululloh saw yang wajib kita cintai itu? , Supaya tidak berbantahan kita tinjau dari Al-Qur’an:
  1. Allah SWT berfirman dalam Surah al-Ahzab:33: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala Rijs dari kalian wahai Ahlul Bayt, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya”. Ada silang pendapat oleh mereka yang tidak ingin keutamaan itu hanya dimiliki oleh Ali bin Tholib, Fathimah , Hassan dan Hussain (Salam untuk mereka), hal yang paling mendasar jika memang Istri² dan keluarga Bani Hasyim lainnya termasuk Ahlul-Bayt, tentu kita sudah menemukan dalil mengenainya dari mereka.
  2. Allah SWT berfirman: “Aku tidak meminta kepadamu suatu upahpun atas seruanku kecuali kecintaan kepada kerabat (ku).” (Surah Al-Syura:23). Al-Zamakhsari dalam Tafsir al-Kashshaf menyatakan: “Telah diriwayatkan bahwa sekumpulan orang² musyrikin telah membicarakan diantara mereka sendiri tentang kegiatan Rasululloh, mereka berkata: “Apakah Muhammad ada meminta upah buat sesuatu yang dilakukannya?”. Kemudian turun ayat ini. Seterusnya beliau menyatakan bahwa setelah turun ayat di atas ada seseorang bertanya; “Wahai Rasulullah SAW siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami untuk mengasihi mereka?” Rasulullah SAW menjawab: “Ali, Fatimah dan kedua anak mereka.”
  3. Allah ta’ala telah berfirman dalam Surah Ali Imran:61 “Sesiapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu maka katakanlah marilah kita memanggil anak² kami dan anak² kamu, isteri² kami dan isteri² kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang² yang berdusta.”
Yang perlu diperhatikan adalah panggilan terhadap al-Hassan dan al-Hussain sebagai Putra Rasululloh (abna-ana), dan Fathimatuz-Zahra sebagai satu-satunya wanita yang mewakili (Nisa-ana) dan tidak ada satu orang lainpun termasuk istri-istri Rasululloh, terakhir diri Ali AS terkait dengan diri Rasululloh saw (anfu-sana)
Peserta Mubahalloh hanya 5 orang yaitu mereka yang disucikan (al-Ahzab:33), dan yang diwajibkan kita mencintainya (al-Syura:23) agar kita tidak berbuat zalim terhadap Rasulullah saw.
Kemuliaan apa yang dimiliki para Pecinta Ahlul-Bait itu? Az-Zamakhsyari, meriwayatkan bahwa Rasululloh saw bersabda :
  • Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, dia meninggal dalam keadaan syahid.
  • Ketahuilah!. Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, dia meninggal dalam keadaan diampuni dosanya.
  • Ketahuilah!, Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, dia meninggal dalam keadaan bertobat.
  • Ketahuilah!. Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, dia meninggal dalam keadaan dalam keadaan beriman, yang sempurna imannya.
  • Ketahuilah!. Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, Malikat maut akan memberinya kabar gembira dengan (masuk) Sorga, kemudian Munkar & Nakir (juga akan mengabarkan hal yang sama)
  • Ketahuilah!. Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, dia akan diantar masuk kedalam Sorga, sebagaimana pengantin perempuan diantar ke rumah suaminya.
  • Ketahuilah!. Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, akan dibukakan baginya didalam kuburnya dua pintu Sorga.
  • Ketahuilah!. Barang siapa meninggal dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, Allah akan menjadikannya tempat persinggahan para Malaikat.
Adakah kemuliaan yang lebih besar dari kemuliaan-kemuliaan yang mereka (para Pecinta Ahlul Bait) peroleh, daripada mencintai selain dari mereka? Jika jawabannya tidak ada, maka marilah kita bergabung bersama mereka, dan mencintai Ahlul Bait sebenar² mencintai, agar memperoleh kemuliaan seperti kemuliaan yang diterima oleh Para Pecinta Ahl-Bayt yang telah ditetapkan lewat lisan suci Nabi-Nya saw, yang ucapannya tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan.

Hudaibiyyah Dan Pembangkangan Sahabat Rasulullah saww

Ringkasan peristiwa adalah seperti berikut: Pada tahun keenam Hijrah Rasulullah bersama seribu empat ratus sahabatnya keluar dari Madinah dengan tujuan umrah. Disuruhnya para sahabat menyarungkan pedangnya masing-masing. Mereka berihram di Zul Hulaifah dan membawa binatang korban agar orang-orang Quraisy tahu bahawa mereka datang untuk umrah bukan untuk berperang.
Kerana sifat angkuhnya,  orang-orang Quraisy tidak mahu kelak orang Arab mendengar bahawa Muhammad telah masuk ke Mekah dan memecahkan benteng mereka. Diutusnya serombongan delegasi yang diketuai oleh Suhail bin Amru bin Abdu Wud al-Amiri agar meminta Nabi kembali ke tempat asalnya. Tahun depan mereka akan dizinkan untuk selama tiga hari. Orang-orang Quraisy juga meletakkan syarat yang berat yang kemudiannya diterima oleh Rasul SAWA berdasarkan kemaslahatan yang dilihatnya dan wahyu Allah kepadanya.
Namun sebahagian sahabat tidak senang dengan sikap Nabi seperti ini. 
Mereka menentangnya dengan keras. 
Umar bin Khattab bin Khattab datang dan berkata:  “Apakah benar engkau adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?
Ya“,  jawab Nabi.
Bukankah kita dalam hak dan musuh kita dalam kebatilan?”
Ya“,  sahut Nabi lagi.  “Lalu kenapa kita hinakan agama kita?“,  desak Umar bin Khattab.
Aku adalah Rasulullah. Aku tidak melanggar perintahNya dan Dia-lah Penolongku“,  jawab Nabi.
Bukankah engkau mengatakan kepada kami bahwa kita akan mendatangi Rumah Allah dan bertawaf di sana?”
Ya,  tetapi apakah aku mengatakan kepadamu pada tahun ini juga?“,  tanya Nabi.
“Tidak”,  jawab Umar bin Khattab.  “Engkau akan datang ke sana dan tawaf di sekitarnya“.
Kemudian Umar bin Khattab datang kepada Abu Bakar dan bertanya:  “Hai Abu Bakar! Benarkah ini adalah Nabi Allah yang sesungguhnya?”

Ya“,  jawab Abu Bakar.
Kemudian Umar bin Khattab mengajukan pertanyaan yang serupa kepada Abu Bakar dan dijawabnya dengan jawapan yang serupa juga.
Hai saudara!“,  kata Abu Bakar.
Beliau adalah Rasulullah yang sesungguhnya. Beliau tidak melanggar perintahNya dan Dialah PenolongNya maka percayalah dengannya.
Setelah Rasulullah selesai menulis piagam perdamaian,  beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya:  “Pergilah kalian sembelih binatang-binatang korban itu dan cukurlah rambut!” “Demi Allah tidak satu sahabatpun berdiri memenuhi perintah itu sehingga Nabi mengucapkannya sebanyak tiga kali.
Ketika dilihatnya mereka tidak mematuhi perintahnya baginda masuk ke khemahnya dan keluar kembali tanpa bercakap dengan sesiapa pun. Beliau menyembelih binatang korbannya dengan tangannya sendiri lalu memanggil tukang cukurnya dan beliau mencukur rambutnya. Ketika para sahabat melihat ini mereka berdiri dan menyembelih korban mereka lalu saling mencukur sehingga hampir-hampir mereka saling berbunuh-bunuhan. (Lihat buku-buku sejarah dan sirah. Juga lihat Sahih Bukhari di dalam Bab as-Syurut fil Jihad,  Jilid 2,  hlm. 122; juga Sahih Muslim Bab Sulhul Hudaibiyyah Jilid 2). 

Demikianlah ringkasan kisah Perdamaian Hudaibiyyah yang disepakati oleh Sunnah dan Syiah. Para ahli sejarah dan sirah seperti Tabari,  Ibnul Athir,  dan Ibnu Saad menuliskan cerita ini di buku mereka masing-masing. Begitu juga Bukhari dan Muslim. 

Perhatikanlah betapa Umar bin Khattab telah mencapai taraf kafir karena meragukan nabiyullah saww dan perhatikan pula dampak dari perbuatan Umar bin Khattab itu terhadap kelakuan para  “sahabat yang kalian bilang adil “itu terhadap perintah rasulullah saww.