Inilah 4 orang yang dijanjikan Surga dan tidak ada seoranng Ulama pun yang berselisih paham

Tidak seperti yang 10, Inilah 4 orang yang dijanjikan Surga dan tidak ada seoranng Ulama pun yang berselisih paham
.
Ada banyak hadits yang memberitakan tentang adanya 4 sahabat Rasulillah SAWW yang dijamin Surga dan terbukti hingga akhir hayat mereka kisah perjalanan hidup mereka telah membuktikan ke shahihan hadits ini, beda dengan hadits 10 orang dijamin masuk surga, perilaku hidup sebagian dari mereka tidak mecerminkan perilaku orang yang dijamin sesungguhnya.
Adapun beberapa hadits yang bisa dirujuk adalah :
  1. Musnad Ahmad 5/351 no 23018 (Dengan redaksi sama dengan no 1) ) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسو الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  2. Sunan Tirmidzi 5/636 no 3718 menuliskan Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan kalau Allah SWT memerintahkan Beliau untuk mencintai empat orang sahabat dan Rasulullah SAW juga diberitahu bahwa Allah SWT mencintai keempat sahabat tersebut. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW siapakah keempat sahabat yang mendapat keistimewaan seperti itu. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mereka adalah Ali RA, Abu Dzar RA, Miqdad bin Aswad RA, dan Salman Al Farisi RA. Hadis ini diriwayatkan dalam,. Berikut hadis riwayat Tirmidzi :حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  3. Mustadrak Al Hakim 3/130 no 4649 (Dengan redaksi sama dengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
Mereka yang dijanjikan yaitu : Ali (as) , Abu Dzar , Miqdad dan Salman, yang disebut terkhir adalah yang dikenal sebagai Syi’ah Ali yabna Abi Thalib AS. mereka ini tidak pernah :
  1. Lari dari pertempuran baik di Uhud , Khaibar maupun Hunain.
  2. Tidak membatalkan Baiat Ridwan.
  3. Mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya dengan mengikuti Imam Ali KW sebagai Pemimpin mereka.

Janji Allah akan Pemerintahaan al-Mahdi

Kita selaku umat yang beriman kepada Allah Swt. dan berkeyakinan, bahwa Dialah Dzat yang Maha Adil, Maha Pengasih lagi Penyayang, merasa terhibur dengan janji-janji Allah yang tidak mungkin diingkari-Nya
.
Dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, Allah menjanjikan bahwasanya pada akhirnya kelak bumi ini akan diwariskan dan dikuasai oleh orang-orang baik, adil dan bertaqwa. Allah Swt. berfirman, “Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi, dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin dan akan mewarisi bumi ini.” (QS. Al-Qashash ayat 5). Ayat di atas secara kontekstual menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang ditindas Fir’aun, dan Allah menjanjikan kepada mereka nanti untuk menjadi pemimpin dan pewaris bumi
.
Meskipun demikian, maksud ayat tersebut tidak dibatasi dengan peristiwa yang dialami bangsa Yahudi waktu itu saja, karena ayat ini ingin menjelaskan bahwa orang-orang yang tertindas dan diperlakukan zalim, suatu saat nanti akan menjadi penguasa dan pemimpin di atas bumi ini. Jadi ayat tersebut menyatakan, bahwa yang akan menjadi pemimpin dan pewaris bumi adalah orang-orang yang tertindas.
Pada ayat lainnya Allah berfirman, “Sesungguhnya, bumi ini akan diwarisi hamba-hamba-Ku yang shaleh.” (QS. Al-Anbiya, 105). Ayat tersebut dengan jelas menyatakan, bahwa bumi ini akan diwariskan kepada orang-orang yang baik dan shaleh. Jadi yang akan mewarisi dan menguasai bumi, pada akhirnya adalah orang-orang yang shaleh
.
Dalam Al-Qur’an surat An-Nur ayat 55, Allah berfirman, “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang beriman dan beramal kebaikan di antara kalian, bahwa Dia benar-benar akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menggantikan keadaan mereka aman setelah mereka ketakutan.” Ayat di atas menjelaskan, bahwasanya Allah berjanji akan menyerahkan kekuasaan atas bumi ini kepada orang-orang yang beriman dan beramal kebaikan. Beranjak dari tiga ayat di atas dan keimanan, tampak bahwa Allah tidak akan melanggar janji-Nya. Kita selaku kaum muslim yakin, bahwa penderitaan, penindasan dan kezaliman akan berakhir, dan dunia ini akan berada di bawah kepemimpinan orang-orang yang bijak dan shaleh, sehingga pemerataan keadilan dan kedamaian akan tegak
.
Andaikata kita amati dengan baik, bahwa kekuasaan dan kepemimpinan akan diserahkan kepada orang-orang tertindas, orang-orang shaleh, orang-orang beriman dan beramal kebaikan. Tiga kriteria tersebut harus ada pada diri seorang pemimpin yang akan mewarisi bumi dan memimpin dunia sesuai dengan janji Allah. Kriteria-kriteria pemimpin yang Allah janjikan Ada tiga kriteria yang harus ada pada seorang calon pemimpin yang Allah janjikan, yaitu tertindas, beramal baik dan beriman
.
Maksud tertindas pada pemimpin yang Allah janjikan, adalah seorang yang selama hidupnya selalu mengalami penindasan, tekanan, dan penderitaan. Sedangkan yang dimaksud beramal baik, adalah pemimpin tersebut akan menebarkan persaudaraan, kedamaian dan keadilan kepada seluruh umat manusia. Adapun maksud dari beriman, adalah dia bukan seorang yang materialis dan kapitalis, yang hanya berusaha memuaskan kebutuhan fisik saja
.
Bahkan sebaliknya, ia mengajak manusia agar menghargai nilai-nilai kemanusiaan dan menyadarkan manusia bahwa kehidupan tidak hanya di dunia ini saja, tetapi di hari kemudian juga. Oleh karenanya pemimpin yang dijanjikan, adalah pemimpin yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Siapakah pemimpin yang dijanjikan itu ? Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita tidak perlu mereka-mereka, karena jawabannya dapat kita peroleh dengan mudah dari keterangan hadis-hadis Nabi Muhammad Saaw. Hadis Nabi, sebagaimana fungsinya sebagai penjelas Al-Qur’an, menjelaskan tentang siapa pemimpin yang Allah janjikan itu
.
Dalam banyak kitab Hadis dari kalangan Ahlu Sunnah dan Syi’ah disebutkan, bahwa pemimpin yang dijanjikan itu adalah Imam al-Mahdi al-Muntadzar. Di sini akan kami sebutkan sebagian kecil dari Hadis-Hadis tentang al-Mahdi al-Muntadzar.
  1. Ahmad, Turmudzi, Abu Daud dan Ibnu Majah meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah Saaw bersabda, “Sekiranya dunia ini hanya tinggal sehari saja, niscaya Allah mengutus seorang manusia dari keluargaku (keturunanku) yang akan memenuhi dunia dengan keadilan, setelah dunia dipenuhi kezaliman.” (Kitab Is’af ar-Raghibin).
  2. Rasulullah Saaw bersabda, “Di akhir zaman kelak, akan keluar seorang dari keturunanku, namanya seperti namaku dan julukannya seperti julukanku. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya bumi dipenuhi kezaliman. Itulah al-Mahdi.” (Kitab Tadzkirah al-Khawwas, 204).
  3. Rasulullah Saaw bersabda, “Barangsiapa mengingkari keluarnya al-Mahdi, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad, dan barang siapa mengingkari tentang kemunculan Dajjal, maka dia telah kufur.” (Kitab Faraid as-Simthain).
Menurut Abu Said al-Khudri, Rasulullah Saaw bersabda, “Sampaikanlah kabar gembira tentang al-Mahdi. Sesungguhnya dia akan datang di akhir zaman ketika terjadi kesulitan dan gempa. Allah akan menebarkan keadilan dan kedamaian melalui al-Mahdi di muka bumi ini.” (Kitab Dalail al-Imamah, 171).
.
Sulaim berkata: Abu Dhar, Salman dan al-Miqdad telah memberitahuku hadis, kemudian aku telah mendengarnya pula dari Ali bin AbuThalib as Mereka berkata: “Sesungguhnya seorang lelaki merasa kagum dengan Ali bin Abu Thalib as . Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali as: Saudaraku (Ali) adalah kemegahan Arab. Anda adalah sepupuku yang paling mulia, bapa yang paling dihormati, saudara laki-laki yang paling mulia,jiwa yang paling mulia, keturunan yang paling mulia, istri yang paling mulia,mempunyai anak lelaki yang paling mulia, paman di sebelah tua yang palingdihormati, paling sempurna tingkah-lakunya, paling banyak ilmunya, paling fasih membaca al-Qur’an, paling mengetahui sunnah-sunnah Allah, paling berani hatinya, paling pemurah, paling zuhud di dunia, paling menggembeling energi,paling baik budi pekertinya, paling benar lidahnya serta palingmencintai Allah dan aku (Rasul). [1]
Anda akan hidup sesudahku selama tiga puluh tahun. Anda akan melihat kezaliman Quraisy. Kemudian Anda akan berjihad di jalan Allah jika Anda mendapatkan pembantu-pembantu. Anda akan berjihad karena takwil al-Qur’an sebagaimana telah berjihad karena Tanzilnya, Anda akan menentang al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin dari umat ini. Anda akan mati sebagai seorang syahid di mana jenggot akan berlumuran dengan darah dari kepala Anda. Pembunuh Anda menyamai pembunuh al-Naqah (unta betina), dalam kemurkaan Allah dan berjauhandari-Nya. Pembunuh Anda menyamai pembunuh Yahya bin Zakaria dan menyamai Fir’aun yang memiliki Pancang (al-Autad)”
.
1. Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu’aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya’, i, hlm. 63. al-Kanjial-Syafi’i, Kifayah al-Talib, hlm.332.

ISTRI NABI BUKANLAH AHLUL BAYT YANG MAKSUM (SEPERTI YANG DIMAKSUDKAN DALAM QS.33:33)

RIWAYAT YANG MENEGASKAN BAHWA ISTRI NABI BUKANLAH AHLUL BAYT YANG MAKSUM  (SEPERTI YANG DIMAKSUDKAN DALAM QS.33:33)
.
ASBABUN NUZUL
عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير
Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. [Shahih Sunan Tirmidzi no 3205]
.
عن حكيم بن سعد قال ذكرنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه عند أم سلمة قالت فيه نزلت (إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا) قالت أم سلمة جاء النبي صلى الله عليه وسلم إلى بيتي, فقال: “لا تأذني لأحد”, فجاءت فاطمة, فلم أستطع أن أحجبها عن أبيها, ثم جاء الحسن, فلم أستطع أن أمنعه أن يدخل على جده وأمه, وجاء الحسين, فلم أستطع أن أحجبه, فاجتمعوا حول النبي صلى الله عليه وسلم على بساط, فجللهم نبي الله بكساء كان عليه, ثم قال: “وهؤلاء أهل بيتي, فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا, فنزلت هذه الآية حين اجتمعوا على البساط; قالت: فقلت: يا رسول الله: وأنا, قالت: فوالله ما أنعم وقال: “إنك إلى خير”
Dari Hakim bin Sa’ad yang berkata “kami menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib RA di hadapan Ummu Salamah. Kemudian ia [Ummu Salamah] berkata “Untuknyalah ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun . Ummu Salamah berkata “Nabi SAW datang ke rumahku dan berkata “jangan izinkan seorangpun masuk”. Lalu datanglah Fathimah maka aku tidak dapat menghalanginya menemui Ayahnya, kemudian datanglah Hasan dan aku tidak dapat melarangnya menemui kakeknya dan Ibunya”. Kemudian datanglah Husain dan aku tidak dapat mencegahnya. Maka berkumpullah mereka di sekeliling Nabi SAW di atas hamparan kain. Lalu Nabi SAW menyelimuti mereka dengan kain tersebut kemuian bersabda “Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Lalu turunlah ayat tersebut ketika mereka berkumpul di atas kain. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah SAW dan aku?”. Demi Allah, beliau tidak mengiyakan. Beliau hanya berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan”. [Tafsir At Thabari 22/12 no 21739]
.
حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا
Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata Ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun ditujukan untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/227]
.
حدثنا الحسن بن أحمد بن حبيب الكرماني بطرسوس حدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا عمار بن محمد عن سفيان الثوري عن أبي الجحاف داود بن أبي عوف عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه في قوله عز و جل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قال نزلت في خمسة في رسول الله صلى الله عليه و سلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم
Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani yang berkata telah menceirtakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi ‘Auf dari Athiyyah Al ‘Aufiy dari Abu Said Al Khudri RA bahwa firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun untuk lima orang yaitu Rasulullah SAW Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhum”. [Mu’jam As Shaghir Thabrani 1/231 no 375]
.
عن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت : في بيتي نزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قالت : فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى علي و فاطمة و الحسن و الحسين رضوان الله عليهم أجمعين فقال : اللهم هؤلاء أهل بيتي قالت أم سلمة : يا رسول الله ما أنا من أهل البيت ؟ قال : إنك أهلي خير و هؤلاء أهل بيتي اللهم أهلي أحق
Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Turun dirumahku ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait] kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhu ajma’in dan berkata “Ya Allah merekalah Ahlul BaitKu”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Rasul SAW menjawab “kamu keluargaku yang baik dan Merekalah Ahlul BaitKu Ya Allah keluargaku yang haq”. [Al Mustadrak 2/451 no 3558 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]
.
حدثنا الحسين بن الحكم الحبري الكوفي ، حدثنا مخول بن مخول بن راشد الحناط ، حدثنا عبد الجبار بن عباس الشبامي ، عن عمار الدهني ، عن عمرة بنت أفعى ، عن أم سلمة قالت : نزلت هذه الآية في بيتي : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ، يعني في سبعة جبريل ، وميكائيل ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن ، والحسين عليهم السلام وأنا على باب البيت فقلت : يا رسول الله ألست من أهل البيت ؟ قال إنك من أزواج النبي عليه السلام وما قال : إنك من أهل البيت
Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Mukhawwal bin Mukhawwal bin Rasyd Al Hanath yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Jabar bin ‘Abbas Asy Syabami dari Ammar Ad Duhni dari Umarah binti Af’a dari Ummu Salamah yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] dan ketika itu ada tujuh penghuni rumah yaitu Jibril Mikail, Rasulullah Ali Fathimah Hasan dan Husain. Aku berada di dekat pintu lalu aku berkata “Ya Rasulullah Apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?”. Rasulullah SAW berkata “kamu termasuk istri Nabi Alaihis Salam”. Beliau tidak mengatakan “sesungguhnya kamu termasuk Ahlul Bait”. [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/228]
.
عن أم سلمه رضي الله عنها قالت نزلت هذه الاية في بيتي إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قلت يارسول الله ألست من أهل البيت قال إنك إلى خير إنك من أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت وأهل البيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم أجمعين
Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?. Beliau SAW menjawab “kamu dalam kebaikan kamu termasuk istri Rasulullah SAW”. Aku berkata “Ahlul Bait adalah Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radiallahuanhum ajma’in”. [Al Arba’in Fi Manaqib Ummahatul Mukminin Ibnu Asakir hal 106]
.
فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده
“Kami berkata “Siapakah Ahlul Bait ? Apakah istri-istri Nabi ? Kemudian Zaid menjawab ” TIDAK, Demi Allah seorang wanita (istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”. [Shahih Muslim no 2408]
عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير
Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah Mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. [Shahih Sunan Tirmidzi no 3205]
.
عن حكيم بن سعد قال ذكرنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه عند أم سلمة قالت فيه نزلت (إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا) قالت أم سلمة جاء النبي صلى الله عليه وسلم إلى بيتي, فقال: “لا تأذني لأحد”, فجاءت فاطمة, فلم أستطع أن أحجبها عن أبيها, ثم جاء الحسن, فلم أستطع أن أمنعه أن يدخل على جده وأمه, وجاء الحسين, فلم أستطع أن أحجبه, فاجتمعوا حول النبي صلى الله عليه وسلم على بساط, فجللهم نبي الله بكساء كان عليه, ثم قال: “وهؤلاء أهل بيتي, فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا, فنزلت هذه الآية حين اجتمعوا على البساط; قالت: فقلت: يا رسول الله: وأنا, قالت: فوالله ما أنعم وقال: “إنك إلى خير”
Dari Hakim bin Sa’ad yang berkata “kami menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib RA di hadapan Ummu Salamah. Kemudian ia [Ummu Salamah] berkata “Untuknyalah ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun . Ummu Salamah berkata “Nabi SAW datang ke rumahku dan berkata “jangan izinkan seorangpun masuk”. Lalu datanglah Fathimah maka aku tidak dapat menghalanginya menemui Ayahnya, kemudian datanglah Hasan dan aku tidak dapat melarangnya menemui kakeknya dan Ibunya”. Kemudian datanglah Husain dan aku tidak dapat mencegahnya. Maka berkumpullah mereka di sekeliling Nabi SAW di atas hamparan kain. Lalu Nabi SAW menyelimuti mereka dengan kain tersebut kemuian bersabda “Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Lalu turunlah ayat tersebut ketika mereka berkumpul di atas kain. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah SAW dan aku?”. Demi Allah, beliau tidak mengiyakan. Beliau hanya berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan”. [Tafsir At Thabari 22/12 no 21739]
.
حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا
Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata Ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun ditujukan untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/227]
.
حدثنا الحسن بن أحمد بن حبيب الكرماني بطرسوس حدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا عمار بن محمد عن سفيان الثوري عن أبي الجحاف داود بن أبي عوف عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه في قوله عز و جل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قال نزلت في خمسة في رسول الله صلى الله عليه و سلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم
Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani yang berkata telah menceirtakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi ‘Auf dari Athiyyah Al ‘Aufiy dari Abu Said Al Khudri RA bahwa firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun untuk lima orang yaitu Rasulullah SAW Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhum”. [Mu’jam As Shaghir Thabrani 1/231 no 375]
.
عن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت : في بيتي نزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قالت : فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى علي و فاطمة و الحسن و الحسين رضوان الله عليهم أجمعين فقال : اللهم هؤلاء أهل بيتي قالت أم سلمة : يا رسول الله ما أنا من أهل البيت ؟ قال : إنك أهلي خير و هؤلاء أهل بيتي اللهم أهلي أحق
Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Turun dirumahku ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait] kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhu ajma’in dan berkata “Ya Allah merekalah Ahlul BaitKu”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Rasul SAW menjawab “kamu keluargaku yang baik dan Merekalah Ahlul BaitKu Ya Allah keluargaku yang haq”. [Al Mustadrak 2/451 no 3558 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi]
.
حدثنا الحسين بن الحكم الحبري الكوفي ، حدثنا مخول بن مخول بن راشد الحناط ، حدثنا عبد الجبار بن عباس الشبامي ، عن عمار الدهني ، عن عمرة بنت أفعى ، عن أم سلمة قالت : نزلت هذه الآية في بيتي : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ، يعني في سبعة جبريل ، وميكائيل ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن ، والحسين عليهم السلام وأنا على باب البيت فقلت : يا رسول الله ألست من أهل البيت ؟ قال إنك من أزواج النبي عليه السلام وما قال : إنك من أهل البيت
Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Mukhawwal bin Mukhawwal bin Rasyd Al Hanath yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Jabar bin ‘Abbas Asy Syabami dari Ammar Ad Duhni dari Umarah binti Af’a dari Ummu Salamah yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] dan ketika itu ada tujuh penghuni rumah yaitu Jibril Mikail, Rasulullah Ali Fathimah Hasan dan Husain. Aku berada di dekat pintu lalu aku berkata “Ya Rasulullah Apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?”. Rasulullah SAW berkata “kamu termasuk istri Nabi Alaihis Salam”. Beliau tidak mengatakan “sesungguhnya kamu termasuk Ahlul Bait”. [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/228]
عن أم سلمه رضي الله عنها قالت نزلت هذه الاية في بيتي إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قلت يارسول الله ألست من أهل البيت قال إنك إلى خير إنك من أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت وأهل البيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم أجمعين
Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?. Beliau SAW menjawab “kamu dalam kebaikan kamu termasuk istri Rasulullah SAW”. Aku berkata “Ahlul Bait adalah Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radiallahuanhum ajma’in”. [Al Arba’in Fi Manaqib Ummahatul Mukminin Ibnu Asakir hal 106]
.
فقلنا من أهل بيته ؟ نساؤه ؟ قال لا وايم الله إن المرأة تكون مع الرجل العصر من الدهر ثم يطلقها فترجع إلى أبيها وقومها أهل بيته أصله وعصبته الذين حرموا الصدقة بعده
“Kami berkata “Siapakah Ahlul Bait ? Apakah istri-istri Nabi ? Kemudian Zaid menjawab ” TIDAK, Demi Allah seorang wanita (istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”. [Shahih Muslim no 2408]
.
“Katakanlah:” Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (al-qurba). Dan siapa yang mengerjakan kebaikan (al-Hasanah) akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. “(Surat al-Syu’ara : 23)
.
Para ahli Tafsir Syi’ah bersepakat bahwa ayat tersebut diturunkan secara khusus kepada Ahl-Bait; ‘Ali as, Fatimah as, Hasan as dan Husain as.Demikian juga kebanyakan Ahli Tafsir Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah di dalam buku-buku Sahih dan Musnad mereka mengakui bahwa ayat tersebut diturunkan kepada ‘itrah yang suci. Tetapi ada segolongan kecil dari mereka (Sunni) yang membuat interpretasi yang menyalahi apa yang diturunkan Allah SWT itu
.
Ahlu l-Bait AS dan para ulama Syi’ah bersepakat bahwa perkataaan al-Qur’ba di dalam ayat tersebut adalah kerabat Rasulullah SAW;’Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.(salam untuk mereka). Merekalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah SAW. Dan kataal-Hasanah (kebaikan) berarti kasih sayang kepada mereka dan menjadikan mereka imam, karena Allah sangat mengampuni orang yang mewalikan mereka
.
Dan ini adalah suatu hal yang disepakati oleh Syi’ahkarena itu merupakan suatu kepastian karena banyak hadits-hadits muktabar tentang ini. Hadits-haditsyang muktabar menurut Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah sebagai berikut:
Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan di dalamManaqib, al-Tabrani, al-Hakim dan Ibn Abi Hatim dari ‘Abbas sebagaimana telahdiriwayatkan oleh Ibn Hajr di dalam interpretasi ayat 14 dari ayat-ayat yangtelah dinyatakan di dalam pasal satu dari bab sebelas dari al -Sawa ‘iqnya dia berkata:
Ketika turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau SAW menjawab: ‘Ali, Fatimah dan dua anak lelaki mereka berdua
.
Hadith ini juga telahdicatat oleh Ibn Mardawaih, [1] diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Ibn Mundhir,al-Muqrizi, al-Baghawi, al-Tha’labi dalam tafsir-tafsir mereka. Al-Suyuti didalam Durr al-Manthur, Abu Nu’aim di dalam Hilyahnya, al-Hamawaini di dalamal-Fara’id, al-Wahidi di dalam Asbab al-Nuzul dan Ibn Maghazili di dalamal-Manaqib, al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf,[2] Muhibbuddin al-Tabari dalam Dhakha’iral-‘Uqba, [3] Thalhah al-Syafi’i di dalam Matalib su’ul, [4] Abu Sa’id di dalamTafsirnya, [5] al-Nasafi di dalam tafsirnya, [6] Abu Hayyan di dalam Tafsirnya,[7] Ibn Sibagh al-Maliki di dalam Fusul al-Muhimmah, [8] al-Hafiz al-Haithamidi dalam al-Majma ‘, [9] al-Kanji al-Syafi’i di dalam kifayah al- Talib.[10]
.
Al-Qastalani di dalam al-Mawahib, berkata: “Allah memastikan kasih sayang kepada semua kerabat Rasulullah SAW dan mewajibkan kasih sayang bagian dari Ahlu l-Baitnya AS dan zuriatnya. Justru itu Dia berfirman dalam (QS Al-Syura ‘(42): 23)…..” Katakanlah: “Aku tidak meminta upahmu sesuatu upahpun atasseruanku kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan.” al-Zurqani didalam Syarh al-Mawahib, [11] al-Syablanji di dalam Nur al-Absar, [12] Ibn Hajr didalam Sawa’iq al-Muhriqah, [13] al-Suyuti di dalam ‘Ihya al-Mayyit di Hamisyal-Ithaf. [14]
.
Al-Bukhari di dalam Sahihnya,[15] dari Ibnu Abbas RD bahwa dia ditanya tentang firman:…” kecuali kasih sayang kepada kekeluargaan. ” Dia berkata: Itulah adalah kerabat Rasulullah SAW. Al-Tabaridalam Tafsirnya, [16] dari Sa’id bin Jubair tentang firman, Surat al-Syura ‘(42): 23 )…..”Katakanlah: “Aku tidak meminta upahmu sesuatu upahpun atas seruankukecuali kasih sayang kepada kekeluargaan . ” Dia berkata: Itulah adalah kerabat Rasulullah SAW
.
Ibn Hajr al-‘Asqalani didalam al-Kafi al-Syafi fi Takhrij Ahadith al-Kasysyaf, [17] berkata:al-Tabrani, Ibn Abi Hatim dan al-Hakim telah meriwayatkannya di dalam Manaqibal-Syafi’i dari Husayn Asyqar dari Qais bin al-Rabi ‘dari A’masy dariSa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas ditanya: Wahai Rasulullah! Siapakah kerabatanda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab: ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain
.
Al-Qunduzi al-Hanafi di dalam Yanabi ‘al-Mawaddah, [18]berkata: Ahmad telah meriwayatkan di dalam Musnadnya dengan sanadnya daripdaSa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas RD bahwa ayat ini diturunkan kepada lima orang. Al-Tabrani di dalamMu’jam al-Kabirnya menyatakan ayat ini diturunkan kepada lima orang.
Ibn Abi Hatim di dalamTafsirnya dan al-Hakim di dalam al-Manaqibnya menyatakan ayat ini diturunkankepada lima orang. Al-Wahidi di dalam Al-Wasit, Abu Nu’aim di dalamHilyah al-Auliya ‘, al-Tha’labi di dalam Tafsirnya, al-Hamawaini di dalamFara’id al-Simtin, Abu Bakar bin Syahabbuddin al-Syafi’ i dalam RasyfahSadi[19] semuannya meriwayatkan bahwa ayat tersebut di turunkan kepada limaorang.
Al-Mulla di Sirahnyameriwayatkan sebuah hadits: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan ke ataskalian kasih sayang terhadap kerabatku dan aku menanyakan kalian tentang merekadi hari esok.”
.
Ahmad di dalam Manaqib dan al-Tabrani di dalam al-Kabirmeriwayatkan dari ‘Abbas RD dia berkata: Sedangkan turunnya ayat ini mereka bertanya: Wahai Rasulullah SAW siapakah kerabat kamu yang diwajibkan ke ataskami mengasihi mereka? Beliau menjawab: ‘Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak lelaki mereka’.
.
Al-Baghawi dan al-Tha’labimeriwayatkan di dalam Tafsir mereka dari ‘Ibn Abbas RD dia berkata Sedangkan turunnya ayat (Surah al-Syu’ara’ (42): 23), sebagian orang berkata: Ia hanya menghendaki supaya kita mengasihi kerabatnya. Lantas Jibril memberitahukan Nabi SAW tentang tuduhan mereka. Maka turunlah ayat (Surahal-Syu’ara ‘(42): 24) “Bahkan mereka mengatakan: Dia (Muhammad) telah mengada-adakan dusta terhadap Allah.” Maka sebagian mereka berkata: Wahai Rasulullah kami menyaksikan sesungguhnya Anda adalah seorang yang benar. Maka turunlah pula (Surat al-Syu’ara ‘(42):25): “Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkankesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
.
Al-Tabrani di dalamal-Ausat dan al-Kabir telah meriwayatkan dari Abu Tufail sebuah khutbah Hasan AS: Kami dari Ahlu l-Bait yang telah difardhukan Allah untuk mengasihi mereka dan menjadikan mereka pemimpin. Maka beliau berkata: Di antara apa yang telah diturunkan ke atas Muhammad SAW adalah: Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Di dalam riwayat yang lain: Kami adalah dari Ahlul-Bait yang telah fardhukan Allah ke atas setiap Muslim mengasihi mereka. Maka turunlah ayat (Surah al-Syu’ara (24): 23): “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan siapa yang mengerjakan kebaikanakan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi MahaMensyukuri. “
.
Al-Sudimeriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firmanNya: “Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” dia berkata :al-Muawaddah (cinta) terhadap kerabat keluarga Muhammad SAW
.
Al-Hakim di dalamal-Mustadrak[20] dengan membuang sanad-sanadnya dari ‘Umar bin’ Ali daribapaknya dari ‘Ali bin Husain dia berkata: Hasan bin Ali berpidato ketikapembunuhan’ Ali AS. Ia memuji Tuhan hingga akhirnya beliau berkata:”Kami adalah dari Ahlu l-Bait yang dihilangkan kekotoran mereka oleh Allahdan membersihkan mereka dengan sebersih-bersihnya. Dan kamilah Ahlu l-Bait yangdifardhukan Allah ke atas setiap Muslim supaya mengasihi mereka. Maka beliauberkata : Allah berfirman kepada NabiNya:Katakanlah ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun …..”Al-Dhahabi juga meriwayatkan hadits tersebut di dalamal-Talkhisnya.[21]
.
Al-Zamakhsyari di dalam al-Kasysyaf[22] berkata:Sedangkan ayat tersebut diturunkan, ada orang bertanya: Wahai Rasulullah,siapakah kerabat anda yang diwajibkan ke atas kami mengasihi mereka? Beliau menjawab:’Ali, Fatimah, dan kedua-dua anak lelaki mereka. Dan diriwayatkan dari ‘Ali AS: Aku merayukepada Rasulullah SAW tentang hasad dengki manusia terhadapku. Maka beliau menjawab: Tidakkah Anda meridhai bahwaAnda di kalangan empat orang yang pertama akan memasuki surga? Aku,anda, Hasan dan Husain …..
Al-Karimi meriwayatkan dari ‘Aisyah dengan sanadnya dari’Ali RA. al-Tabrani meriwayatkannya dari Abi Rafi ‘di dalam Takhrij Al-kasysyafdari Nabi SAW: Diharamkan syurga ke atas orang yang menzalimi Ahlu l-Baitku danmenyakitiku di itrahku. Hadith ini juga telah diriwayatkan oleh al-Tha’labi didalam al-Takhrij al-Kasysyat. Al-Khawarizmi didalam Maqtal al-Husain, [23] Ibn Batriq di dalam al-Umdah[24] dari Musnad Ahmaddengan membuang beberapa sanad dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas bahwa ayattersebut telah diturunkan kepada lima orang
.
Muhammad bin Thalhah al-Syafi’i dalam Matalib al-Su’ul[26]berkata: Merekalah dhawi l-Qurba di dalam ayat tersebut, ianya telahditerangkan dan disetujui oleh perawi-perawi hadits di dalam Musnad-Musnadmereka dari Jubair dari ‘Ibnu Abbas sedangkan turunnya firmanNya:”Katakanlah:” Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atasseruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan. Dan siapa yang mengerjakankebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
.
” Mereka bertanya wahai Rasulullah SAW:”Siapakah mereka yang diwajibkan atas kami mengasihi mereka? Ia SAWmenjawab: ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.Al-Wahidi dan al-Tha’labimeriwayatkan hadits ini dengan sanadnya al-Tha’labi menyatakan: KetikaRasulullah SAW melihat kepada ‘Ali, Fatimah, Hasan dan Husain beliau bersabda:Aku memerangi orang yang memerangi kalian dan berdamai dengan orang yangberdamai dengan kalian. Al-Hijazi di dalam al-Wadhih[27] berkata: Merekaitu adalah ‘Ali, Fatimah kedua anak lelaki mereka berdua. Dia berkata:Pengertian ini telah diriwayatkan oleh Rasulullah SAW yang telah diterangkan oleh Allah SWT.
Al-Kanji al-Syafi’i didalam kifayah al-Talib[28] dengan membuang beberapa sanad dari Jabir bin’Abdullah, berkata:
Seorang Badui datang kepada Nabi SAW berkata: “Ya Muhammad terangkan ke atasku Islam. Makadia berkata: “Kami naik saksi bahwa tiada tuhan selain Dia yang Tunggaltiada sekutu bagiNya dan sesungguhnya Muhammad adalah hambaNya dan pesuruhNya. Dia bertanya: ApakahAnda meminta upah dariku ke atasnya? Menjawab: Tidak! Melainkan mengasihikerabatku. Dia bertanya: kerabatku atau kerabatAnda? Beliau menjawab: kerabatku. Dia berkata: Sekarang aku membai’ahAnda, dan bagi orang yang tidak mencintai Anda dan mencintai kerabat anda, makalaknat Allah ke atas mereka. Maka Nabi SAWW bersabda: Amin ….. Buatlah rujukan ke buku-buku hadits karangan Ahlu s-Sunnahwal-Jama’ah, niscaya Anda akan menemukan hadits-hadits yang banyak tentang ini.
AyatullahMar’asyi al-Najafi di dalam Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq[29] karanganal-Sa’id al-Syahid Nur Allah al-Tastari, telah mengumpulkan hadits-hadits yangbanyak dari referensi Ahlu s-Sunnah dengan menyebutkan perawi-perawi mereka.Begitu juga al-‘Allamah al-Amini di dalam al-Ghadir.[30]
.
Justru itu referensi Ahlu s-Sunnah sendiri telah mengukuhkan pernyataan Syi’ah karena ada hadits-hadits yang muktabar dan mutawatirtentang hak ‘Ali dan keluarganya AS. Sesungguhnya kebenaran terserlah wal-hamdulillah
.
Singkatnya, dengan ayat ini orang yang menjadi imam dan khalifah setelah Rasulullah SAW secara langsungadalah imam ‘Amiru l-Mukmimin’ Ali AS. Karena ayat tersebut membuktikanbahwa mengasihi ‘Ali AS adalah wajib karena Allah memberikan pahala kepadaorang yang mengasihi kerabatnya. Karena itu jikakesalahan terjadi dari mereka maka kasih sayang kepada mereka wajib dihentikankarena firman di dalam (Surah al-Mujadalah (58): 22): “Kamu tidak akanmendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan akhirat, saling berkasihsayang dengan orang -orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya. “
.
Dan selain dari ‘Ali AS adalah tidak maksum. Karena itu,beliaulah imam secara langsung. Ayatullahal-‘Uzma al-Syahid al-Nur al-Tastari di buku Ihqaq al-Haqa’iq berkata:Orang-orang Syi’ah mengemukakan dalil-dalil pada keimamahan ‘Ali AS terhadapAhlu s-Sunnah bukanlah suatu hal yang wajib , malah ianya suatu amalansukarela karena Ahlu s-Sunnah wal-Jama’ah telah sepakat sesama mereka tentangkeimamahan ‘Ali AS setelah Rasulullah SAW.
———————
1. al-Nabhan, al-Arba’in,hlm. 90.
2. Al-Kasysyaf, II,hlm. 339.
3. Dhakha’iral-‘Uqba, hlm. 25.
4. Matalibal-su’ul, hlm. 8.
5. Hamisyh Mafatih al-Ghaib, VI, hlm. 665.
6. Tafsir al-Nasafi, hlm. 99.
7. Tafsir Abu Hayyan, VII, hlm. 156.
8. al-Fusul al-Muhimmah, hlm. 12.
9. Majma ‘al-Zawaid, IX, hlm. 168.
10. Kifayah al-Thalib, hlm. 31.
11. Syarh al-Mawahib, VII, hlm. 3 & 21.
12. Nur al-Absar, hlm. 112.
13. al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 105.
14. Ihya ‘al-Mayyit, 101 & 135.
15. Sahih, VI, hlm. 129.
16. Jami ‘al-Bayan, XXV, hlm. 14-15.
17. al-Kafi al-Syafi’i, hlm. 145.
18. Yanabi ‘al-Mawaddah, hlm. 106.
19. Rasyfah al-Sadi, hlm. 21 … 106.
20. al-Mustadrak, III, hlm. 172.
21. al-Talkhis, III, hlm. 172.
22. al-Kasysyaf, III, hlm. 402.
23. Maqtal al-Husain, hlm.1.
24. al-Umdah, hlm. 23.
25. Matalib al-su’ul, hlm. 3.
26. al-Wadhih, XXV, hlm. 19.
27. Kifayah al-Thalib, hlm. 31.
28. Ta’liqatuhu ‘Ala Ihqaq al-Haqa’iq, III, hlm. 2 & 23.
29. al-Ghadir, II, hlm. 306.
30. Syi’ah mengatakan bahwa Imamah ‘Ali AS adalah setelah Rasulullah SAW secara langsung tanpa wasitah yaitu tidak didahului oleh orang lain. Sementara Ahlu s-Sunnah mengatakan Imamah’Ali AS adalah setelah Rasulullah SAW secara wasitah (perantaraan) yaitu telah didahului oleh Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Nasab Abubakar dan Umar

ABUBAKAR

Konon pada masa jahiliyah di Mekah ada seorang yang bernama Abdullah Bin Jad’an. Dia adalah pemuka dalam bisnis “perdagangan budak” laki-laki dan wanita. Hingga dia memiliki 100 budak laki (Mukhtashor tarikh damsyiqy 5/254, Al-Ma’arif Li Ibni Qutaibah 576 cet. Dar el-kutub 1960)

 

Abdullah bin Jad’an tidak dikaruniai keturunan (mandul) (Rasaail Al-Jahidh) Sedangkan Abu Guhafah dan putra-putranya adalah budak-budak dari Abdullah Bin Jad’an yang kesemuanya berasal dari Habasyah, dan setelah dibebaskan Abubakar dari perbudakan maka dinamakan ’Atiiq”. Nama seperti ini adalah nama panggilan bangsa Arab kala itu yang disandangkan pada seseorang yang telah dibebaskan dari Budak dengan nama ‘Atii, Mu’taq atau ‘Utaiq (Thobaqat Ibnu Sa’ad 3/286)

 

Abubakar asalnya bukan dari Arab. Namun pergaulannya dengan Gabail-gabail Arab dengan mudah dia membaur. Dengan persilangan dan pengadopsian oleh pemuka gabilah-gabilah Arab hingga menikah dan mendapatkan putri-putri mulia dari keturunan Gabail yang ada. Sebagaimana diketahui bahwa jabatan Abu Guhafah di rumah Abdullah Bin Jad’an kala itu adalah 1. Penyedia makan dan pembantu dirumah 2. Pengusir lalat yang ada di meja makan (Syarah Nahjul Balaghah Li Al-Mu’tazily, juz 13/275)

 

Hingga ketika perang Jamal berkecamuk, seseorang meledek Aisyah dengan Syairnya: “Kalau hanya tuang-menuang (pembantu) untuk Bani Taim kita yakini kondisi itu # karena asal mula Bani taim adalah Budak laki-laki dan Budak perempuan” (dalam arti mengapa kita ikuti kepemimpinan seorang mantan budak, Pent) (Tarikh Thobary 3/531, Tarikh Mas’udy 2/370, Mukhtashor Tarikh Dimascq Ibnu Mandzur 9/305, Ibnu Al-atsir 3/253, dan Rasail Al-Jahidh)

 

Dengan demikian bahwa Abubakar di mekkah tak seorangpun mengenalnya dan dia adalah mantan hamba sahaya dari Abdullah Bin Jad’an Al-taimy sedangkan namanya adalah ‘Atiiq. Abdullah Bin Jad’an telah membebaskan dia dan kedua saudaranya yang juga menjadi budak. Namun tak seorangpun tahu tentang nasib kedua saudaranya yang dibebaskan dari budak. Wallah ‘Alam

 

http://www.al-shaaba.net/vb/showthread.php?t=10565&page=4

juga dapat di lihat di http://www.yahosein.com/vb/showthread.php?t=138232

 

(Lihat pula secara lengkap dalam buku “Sirah Al-sayyidah ‘Aisyah” jilid 1 hal 14-18)

karya Dr. Najah Al-Tho’iy cetakan pertama 2005, penerbit Dar Al-Huda Li Ihya Al-

Turats, London-Bairut)

======================================
UMAR
Konon, ada seorang yang bernama Nafil, dia adalah budak(hamba sahaya) dari Kilab Bin Luay Bin Ghalib Al-Quraisy, setelah majikannya wafat makadia itu pindah tangan pada majikan barunya yaitu Abdul Muththalib. Disisi lain, ada seorang budak perempuan yang bernama Shohhak yang datang dari Negri Habasyah (Ethiopia)
.
Tugasnya si Nafil adalah menggembalakan unta-unta dari Abdul Mutthalib sedangkan tugasnya Shohhak adalah menggembalakan domba-dombanya. AbdulMuththalib memisahkan keduanya (Nafil dan Shohhak) ditempat gembalaan, namun tiba-tiba keduanya bertemu di satu tempat penggembalaan, ketika Nafil melihat Shohhak, maka bangkitlah gairah birahinya dan dia mencintainya saat itu juga
.
Dengan cerita yang agak rumit dan panjang…..(agar tidakterjerat oleh UU pornografi. red) akhirnya keduanya berhasil melakukan hubungan intim hingga hamil lah si Shohhak. Setelah waktunya, maka lahirlah yang disebut dengan SiKhottob
.
Ketika sang jabang bayi ini (Si Khottob) lahir, oleh Shohhak bayi tersebut di tengah malam yang sunyi di buang di tempat timbunan sampah. Tiba-tiba adaseorang wanita Yahudi yang mengambil bayi itu, lalu dibawa lah sang bayi kerumahnya dan di pelihara olehnya
hingga dewasa
.
Pekerjaan anak pungut itu setelah dia dewasa adalahmemotong-motong kayu (bakar).Singkatnya, pada saat itu Si Khottob melihat Shohhak dan dia tidak tahu siapa Shohhak itu sebenarnya (yang sebenarnya Shohhak itu adalah ibunya Khottob sendiri yangmembuangnya, Pent). Lalu keduanya melakukan hubungan intim hingga Shohhak pun hamil, dan setelah waktunya maka lahirlah seorang putri yangdalam cerita dinamakanHantamah
.
Sang jabang bayi perempuan itupun bernasib sama dengan ayahnya dulu. Shohhak membuangnya di salah satu timbunan sampah di luar kota Makkah. Hingga Hantamah di temukan dalam pembuangannya oleh Hisyam Bin Al-Mughirah BinAl-Walid. Kemudian oleh Hisyam jabang bayi tersebut di adop dan dididiknya,nasabnya pun di nisbatkan (di cantolkan) pada nasab Hisyam (Hantamah Binti Hisyam, Pent)
.
Khottob sering kali datang kerumah Hisyam Bin Al-MughirahBin Al-Walid. Pada suatu saat, tiba-tiba Khottob melihat Hantamah yang muda belia, dan Khottob pun mengaguminya. Lalu Khottob meminangnya dari Hisyam setelahitu Hisyam pun mengawinkan Hantamah pada Khottob, nah dari pernikahan itulahirlah manusia yang bernama “Umar”
(Lihat kitab “Lagad Syayya’atni Al-Husein” hal 176-177 karyaIdris Alhusainy Al-Maghriby, Kasykuul juz 3 hal 212-213 oleh Syeikh YusufAl-Bahreiny yang menukil dari Muhamad bin Saib Al-Kalby Al-Nassabah dan Abu MukhannafLuth Bin Yahya Al-Azdy Al-Nassabah dalam kitab Al-Sholabah Fi Ma’rifahAl-Shohabah, dan pula dalam kitab Al-Tanqih Min Al-Nasab Al-Shorih. Juga Mashodir Nasab’Umar dalam kitab Al-Dzari’ah 24 hal 141, 4 hal 102, 10 hal 119 dst…Juga dalamkitab Bihar Al-Anwar juz 86 hal 224-225. Juga dalam kitab ‘Aqad Al-Durar Fi TarikhGatli Umar oleh Sayyid Murtadho Bin Dawud Al-Husainy. Juga dalam kitab Nasab UmarBin Khatttab oleh Syeikh hasyim Bin Sulaiman Al-Katlaktany, juga dalam kitabMaqtal ‘Umar oleh Syeikh Zainuddin Ali Al-Hilly di nukil dari kitab “Laula ‘Ali LaHalaka ‘Umar” karya Abu ‘Ali penerbit Lujnah Ashab Al-Kisa” cetakan pertama 1998).
Jadi Hantamah adalah sebagai saudari dan ibu dari Umar. Khottob adalah kakek dari Umar Juga sebagai Ayah Umar dari Ibunya yang bernama Hantamah. Karena Hantamah dan Khottob saudara seibu (Shohhak) maka Khottob adalah Khal nya Umar.
.
Dalam kitab “Nadhoriyyat Al-Khalifatain” karya pemikir IslamDr. Najah Al-Thoiy juz 1 halaman 41-43 dikatakan:
Dalam salah satu peraturan yang dikeluarkan oleh Umar adalah larangan berbicara masalah nasab” (lihat Syarah Nahju Al-Balaghah oleh Ibnu AbyAl-Hadid juz 11 hal 68-69)
Kenapa demikian, karena hal  ini di peruntukan agar orang-orang pada saat itu tidak menyelidiki nasabnya yang dalam kenyataan sosok Khottob adalah Kakeknya, juga Ayahnya dan Khal (saudara ibu) nya.
Alasan bahwa Khottob adalah kakek Umar karena Hantamah adalah Ibu Umar sebagaimana ini dikuatkan oleh Ibnu Qutaibah dalam kitabnya”Al-Ma’arif” bahwa dia (Hantamah) adalah putri dari Khottob, maka jadilah Khottob sebagai kakeknya Umar.
Alasan bahwa Khottob adalah ayah dari Umar sangat jelas,karena dia adalah suami Hantamah Ibu kandungnya Umar. Alasan bahwa Khottob adalah Khal (saudara ibu) dari Umaradalah karena Khottob dan hantamah adalah saudara dari ibunya yang bernama Shohhak. Saudara dari ibu dalam bahasa arab dinamakan Khal
.
Maka Nafil dan putranya Khottob keduanya telah ‘mengandili’si Shohhak sedangkan Shohhak adalah Ibu Khottob, Khottob mengawini Hantamah sedangkan hantamah adalah putrinya sendiri.
(Lihat: Kalam Aby Muhnaf Fi Nasab Umar, dan juga kitabAl-Matsalib Muhammad Bin Syahr Asyub dan terdapat sebagiannya di kitab Bihar Al-Anwarjuz 31 hal 99, karya Al-Majlisy, juga dalam kitab Al-Matsalib Al-‘Arab olehAl-Kalby).
Berkata Ibnu Katsir Al-Damsyiqy: “Konon si Khottob adalah Ayah dari Umar Bin Khottob juga sebagai saudara ayahnya (pamannya) dan merangkapsebagai saudara dari ibunya”
(Lihat: Sirah Al-Nabawiyyah oleh Ibnu Katsir juz 1 hal 153,cetakan ‘Isa Al-Baby Al-Halaby dkk Cairo. 1384 H / 1964 M, dan cetakan Dar Al-Fikr,Bairut juz 1 hal 153 tahun 1398 H / 1978 M. Dengan demikian bahwa kitab “MatsalibAl-‘Arab karya Ibnu Al-Kalby, dan Mufagiyaat karya Zubair Bin Bakkar dan Sirah IbnuIshaq dan Al-Sirah Al-Nabawiyyah karya Ibnu Katsir keseluruhannya telah memuat tentang Nasab Umar Bin Khottob)
.
Karna bahayanya permasalahan semacam ini jika sampai ke publik dan demi menjaga kridibilitas serta reputasi Umar kalau-kalau akan dikategorikan kedalam anak hasil perzinahan, maka beberapa penerbit telah menghapus sejarah ini dari kitab Mufaqiyaat dan kitab Sirah Ibnu Ishaq maka kini di cetak sesuai dengan kehendak mereka. (lihat kitab Matsalib Al-‘Arab oleh Al-Kalby)
Sumber: kitab “Nadhoriyat Al-Khalifatain” karya cendikiawanIslam Dr. Najah Al-Thoiy juz 1 halaman 41-43 percetakan Al-Huda, Bairut cetakanpertama tahun 1998.

Apa yang dimaksud dengan badâ”, lauh mahfuz, kitabul mubin, lauh mahw wa itsbât?

Apa yang dimaksud dengan badâ”, lauh mahfuz, kitabul mubin, lauh mahw wa itsbât?

 

************

 

“Badâ’” secara leksikal bermakna nampaknya (jelasnya) sesuatu setelah tersembunyi. Dan yang digunakan dalam al-Qur’an adalah makna leksikal ini: “wa badâ lahum minaLlâh mâ lam yakunu yahtasibun”; “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (Qs, al-Zumar [39]: 47). Dan secara teknikal sebagian ulama berpandangan bahwa badâ’ dalam urusan penciptaan (takwini) semacam nasakh dalam urusan tasyri’i (pelaksanaan syariat). Dan ia bermakna barunya sebuah “pendapat”. Harus diketahui bahwa badâ’ dan nasakh dari sisi Tuhan adalah sesuatu yang mustahil, lantaran hal ini meniscayakan, didahuluinya ilmu Tuhan dengan kejahilan, sementara Tuhan suci dari sifat jahil. Sebagaimana Imam Shadiq As bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt tidak memulai sesuatu dengan kejahilan.” Apa yang dapat digambarkan dari Tuhan adalah badâ’ dan nasakh secara lahir; itu artinya memunculkan sesuatu bagi manusia yang tersembunyi bagi mereka sebelunya, dimana perkara ini telah diketahui oleh Tuhan semenjak azal. Dan semenjak permulaan dengan bentuk baru yang muncul ini Tuhan mengetahuinya, akan tetapi demi kemaslahatan yang dituntut pada tingkatan taklif membuat perkara itu tersembunyi bagi manusia. Kemudian sesuai kondisinya muncul dan makna ini dapat diterima oleh akal manusia.

 

Dalam al-Qur’an disebutkan: “Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitâb (Lauh Mahfûzh).” (Qs. Ar-Ra’ad [13]:39). Ayat ini merupakan ayat yang paling tegas membincang masalah perubahan dalam takdir adalah badâ”. Karena ilmu Tuhan, sebagaimana yang disabdakan oleh Imam Shadiq As, terdiri dari dua jenis: “Ilmu maknun dan ilmu makhzun yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Swt, dimana badâ’ sendiri diambil dari ilmu tersebut. Ilmu yang lainnya adalah ilmu yang diajarkan kepada para malaikat, para nabi dan kepada kami yang juga mengetahui ilmu tersebut.”

 

Oleh karena itu, ilmu dimana badâ’ bersumber adalah lauh mahfuz dan ilmu yang terkait dengan badâ” adalah “lauh mawh wa itsbât.” Sekarang mari kita amati bersama apa yang dimaksud dengan lauh mahfuz dan lauh mahw wa itsbât itu.

 

Lauh mahfûz dan lauh mahw wa itsbât

 

Yang dimaksud dengan lauh mahfuz (ummul kitab) adalah ilmu azali Tuhan dimana segala yang ditakdirkan dalam ilmu Tuhan tersebut bersifat tetap dan tidak dapat berubah. Menurut kebanyakan penafsir, lauh mahfuz dan kitabul mubin adalah satu. Karena kitab mubin adalah derajat ilmu Allah Swt, dan pada ayat ditegaskan bahwa “Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Kitab Mubin).” (Qs. Yunus [10]:61)

 

Adapun yang dimaksud dengan lauh mahw wa itsbât adalah lembaran kosmos, dunia eksistensi, dan pelataran tabiat dimana nasib dan takdir segala sesuatu tercatat di dalamnya, namun tidak satu pun dari nasib dan takdir ini bersifat tetap. Melainkan segala sesuatunya memiliki sisi tuntutan-tuntutan.

 

Hasil dari perubahan ini adalah berdasarkan kemaslahatan dan tuntutan ruang dan waktu dan sebagainya. Pada lauh mahw wa itsbât ini segalanya berproses dimana badâ’ juga terkait di dalamnya. Berbeda dengan lauh mahfuzh (ilmu azali Tuhan) yang juga disebut sebagai “kitabul mubin” dan “ummul kitab”, ia tidak berubah dan bersifat tetap.

 

Penjelasan:

 

Makna leksikal dan teknikal “badâ'”

 

Badâ” derivatnya adalah “buduww” yang bermakna tampak nyata [1] dan secara teknis disebutkan bahwa sebagaimana nasakh memiliki dua makna:

 

1. Munculnya pendapat baru bagi Tuhan –yang tadinya tidak diketahui dan kemudian diketahui oleh Tuhan– makna dari badâ” dalam artian ini adalah tidak benar dan dalam kaitannya dengan Allah Swt adalah tidak mungkin dan mustahil.

 

2. Memunculkan suatu perkara bagi manusia yang tadinya terpendam dan tersembunyi; artinya perkara ini diketahui oleh Tuhan semenjak azal dan semenjak permulaan dengan bentuk barunya yang kemudian muncul, akan tetapi sesuai dengan kemaslahatan yang dituntut pada tingkatan taklif, untuk beberapa waktu terpendam dan tersembunyi bagi manusia kemudian dimunculkan sesuai dengan tuntutan maslahat yang ada. Makna badâ’ yang sedemikian adalah makna yang dapat diterima dan masuk akal.[2] Yang diyakini oleh ulama Syiah sebagai makna badâ” adalah bersandar kepada riwayat-riwayat Ahlulbait As seperti yang dinukil dari Imam Shadiq As yang bersabda: “Di samping mengikat janji tentang tauhid, Allah Swt juga mengikat janji dengan para nabi tentang iman terhadap badâ”.”[3] Atau hadis yang lain yang menyebutkan bahwa: “Setiap orang yang beranggapan bahwa sebuah permasalahan menjadi jelas bagi Tuhan yang sebelumnya tidak diketahuinya, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah Swt.”[4] Imam Shadiq As menegaskan masalah ini, makna badâ” tatkala disandarkan kepada Allah Swt adalah bermakna ibdâ’, yang berarti memunculkan sesuatu yang tadinya tersembunyi, terpendam dan sebelumnya tidak terprediksi.[5]

 

Di antara ayat-ayat yang menunjukkan pada realitas ini adalah ” Bagi tiap-tiap masa ada kitab (yang tertentu). Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitâb (Lauh Mahfûzh).” (Qs. Ar-Ra’ad [13]:38-39)

 

Penjelasan masalah ini adalah bahwa ilmu Tuhan yang dengannya Dia mengatur seluruh kondisi ciptaan-Nya terdiri dari dua jenis:

 

Yang pertama adalah ilmu makhzun yang tiada diketahui oleh siapa pun kecuali Tuhan yang disebut sebagai “Lauh Mahfuzh” dan yang kedua ilmu yang dianugerahkan Tuhan kepada para malaikat, para nabi dan wali-wali Tuhan lainnya yang disebut sebagai “lauh mahw wa itsbât” dimana badâ” memiliki akses pada bagian ilmu ini.[6]

 

Imam Shadiq As bersabda: “Allah Swt memiliki dua jenis ilmu: Ilmu maknun dan ilmu makhzun yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali Allah Swt dimana badâ” sendiri bersumber ilmu dari jenis ilmu ini. Yang lainnya adalah ilmu yang diajarkan kepada para malaikat, para nabi dan kami juga mengetahui ilmu ini.”[7]

 

Oleh karena itu, kita memiliki dua jenis ilmu: Ilmu yang menjadi nara-sumber bagi badâ” yang merupakan lauh mahfuzh dan ilmu yang terkait dengan badâ” yang disebut sebagai lauh mahw wa itsbât. Dengan demikian, badâ” adalah penghapusan (mahw) pertama dan penetapan (itsbât) kedua dan Allah Swt mengetahui keduanya. Hal ini merupakan realitas yang tidak dapat dinafikan dan diingkari oleh orang-orang yang berakal; karena untuk terwujud dan terealisirnya pelbagai peristiwa dan kejadian dua jenis prediksi yang dapat digambarkan: Yang pertama terjadinya peristiwa tersebut tanpa kekeliruan yang sesuai dengan tuntutan sebab-sebab nâqish (tidak sempurna), misalnya syarat atau sebab (illat) atau tiadanya halangan. Yang kedua terjadinya peristiwa tersebut tanpa kekeliruan yang selaras dengan pelbagai tuntutan sebab-sebab tâmmah (sempurna) peristiwa tersebut. Wujudnya bersifat tetap, tidak bersyarat dan tidak menyelisih dan kedua kitab tersebut yang disinggung dalam ayat yang disebutkan di atas; yaitu yang diperkenalkan sebagai kitab penghapusan (mahw), kitab penetapan (itsbât) dan ummul kitab, atau adalah dua tingkatan wujud, dan atau awal dari keduanya.[8]

 

Lauh mahfuzh, kitabul mubin, dan lauh mahw wa itsbât

 

“Dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat segala sesuatu).” (Qs. Qaf [50]4), atau pada ayat, “yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfûzh.” (Qs. Al-Buruj [85]:22) Kedua ayat ini menandaskan tentang sebuah kitab yang memelihara (mencatat) seluruh perbuatan manusia dan selainnya. Dan pada saat yang sama termasuk seluruh karakteristik seluruh peristiwa dan tipologi setiap orang dan segala perubahan yang terjadi pada keduanya. Namun kitab tersebut tidak mengalami perubahan dan pergantian. Sesuai dengan ucapan kebanyakan penafsir, lauh mahfuzh adalah kitab mubin (kitab yang nyata) itu sendiri. Karena yang dimaksud dengan kitab mubin adalah tingkatan ilmu Allah Swt; artinya seluruh maujud tercatat pada ilmu-Nya yang tak-terbatas. Dan bukti dari ucapan ini adalah: “Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarah (atom) di bumi atau pun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh). (Qs. Yunus [10]:61) dan pada ayat, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam dan tempat penyimpanan binatang itu. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (pada Lauh Mahfûzh pada kitab ilmu Tuhan).” (Qs. Hud [11]:6) dan menunjukkan bahwa semesta keberadaan yang membentang luas juga merupakan potret dari lauh mahfuzh ini. Dengan demikian yang dimaksud dengan lauh mahfuzh (ummul kitab) dan kitab mubin (kitab yang nyata) adalah ilmu azali Tuhan dimana seluruh takdir dan nasib manusia tercatat di dalamnya dan tidak dapat berubah.

 

Berbeda dengan lauh mahw wa itsbât, dimana nasib dan takdir segala sesuatu tercatat, namun tidak satu pun dari takdir ini bersifat tetap, melainkan seluruhnya memiliki dimensi maslahat. Yang dimaksud dengan lauh mahw dan itsbât adalah lembaran kosmos, semesta eksistensi dan dunia natural dimana takdir segala sesuatu pada tabiatnya, berdasarkan kemaslahatan dan tiadanya halangan, tersedianya sebab sempurna (illat tammah) bagi terpenuhinya sesuatu dan kita tidak memiliki pengetahuan terkait dengan halangan yang dimaksud. Sementara Allah Swt mengetahui halangan tersebut. Atas alasan ini, Imam ‘Ali bin Husain As bersabda: “Sekiranya tiada ayat dalam Kitabullah, aku akan menyebutkan apa yang akan terjadi hingga hari Kiamat.” Zurarah berkata, “Aku bertanya, ayat yang mana?” Imam menjawab: “Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitâb (Lauh Mahfûzh).” (Qs. Ar-Ra’ad [13]:38-39)[9]

 

Dengan demikian lauh mahw dan itsbât adalah hukum yang bersifat umum yang termasuk di dalamnya seluruh peristiwa yang terbatas pada masa dan waktu. Dengan kata lain, seluruh maujud yang terdapat pada tujuh petala langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tunduk pada hukum ini. Sebagaimana Allah Swt berfirman: “Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya melainkan dengan benar dan untuk waktu yang ditentukan. (Qs. Ahqaf [46]:3)

 

Dari keseluruhan pembahasan dapat disimpulkan bahwa perubahan berdasarkan kemaslahatan dan tuntutan ruang dan waktu dan sebagainya terproses pada lauh mahw wa itsabt. Berbeda dengan lauh mahfuzh (ilmu azali Ilahi) yang tidak mengalami perubahan. Oleh karena itu, seluruh maujud berdimensi ganda, dimensi pertama perubahan terkait dengan kematian, kehidupan, sirna dan tetap, dan segala jenis perubahan. Dan dimensi kedua yang memiliki corak permanen yang tidak mengalami perubahan dan bada’ adalah termasuk pada dimensi yang pertama.[Sumber: indonesia.islamquest.net]

 

_________________________________________

 

[1] Kamus Qur’an, Qurasyi, Sayid Ali Akbar, jil, 1, hal. 172

[2] Hadi Ma’rifat, Tafsir wa Mufassirân, Muassasah Farhang-e al-Tamhid, cetakan pertama, Urdibehesyt, 1379, jil. 1, hal. 522.

[3] Kâfi, Dar al-Kitab al-Islami, Teheran, 1265, hal. 148, hadis 15.

[4] Safina al-Bihâr, jil. 1, hal. 51, dan Kafi, idem, hal 148, hadis 9 yang mirip dengan redaksi ini.

[5] Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 10, 249.

[6] Hadi Ma’rifat, Tafsir wa Mufassirân, idem, hal. 523.

[7] Allamah Majlisi, Bihâr al-Anwâr , jil. 4, hal. 109-110, no.27 dan Kafi, hal 423, hadis 8 yang mirip dengan redaksi ini.

[8] Allamah Thaba’thabai, Tafsir al-Mizan, terjemahan Musawi Hamadani, jil. 11, hal. 584

[9] ‘Arusi Huwaizi, Tafsir Nur al-Tsaqalain, Muassasah Ismailiyyan, 1373, jil. 2, hal. 512.

Dalil-dalil Tentang Adanya Raj’ah (“Kebangkitan kembali sekelompok manusia dari ummah Rasulullah)

Dalil-dalil Tentang Adanya Raj’ah (“Kebangkitan kembali sekelompok manusia dari ummah Rasulullah)

Raj’ah adalah, “Kebangkitan kembali sekelompok manusia dan ummah Rasulullah Saww yang memang tinggal derajat keimanannya dan kedurjanaan, untuk menenima sebagian balasan mereka di dunia ini.”

Dalam masalah pembuktian tentang adanya Raj’ah (faham Raj’ah) ada dua hal yang penting yang harus dibahas:
1. Apakah kejadian Raj’ah itu adalah suatu yang mustahil atau tidak?
2. Apakah ada ayat atau hadits yang dapal dijadikan sebagai dalil tentang adanya Raj’ah?
Untuk menjawab pertanyaan pertama adalah sebagai berikut: Raj’ah tidak berbeda dengan kebangkitan (Al-Ba’ats) ummat manusia pada hari kiamat kecuali dalam hal ruang dan waktu.
Raj’ah terjadi di dunia dan sebelum hari kiamat tiba, sedangkan Al-Ba’ats (Kebangkitan sejati) terjadi setelah hari kiamat dan bertemp at di alam akhirat
.
Adapun dalil-dalil aqli (akal atau rasio) yang pernah diutarakan oleh teolog-teolog Islam untuk membuktikan kebenaran Al-Ba’ats itu juga dapat digunakan untuk membuktikan adanya Raj ‘ah secara akal
.
Untuk menjawab pertanyaan kedua adalah: Dalam al-Qur’an banyak ayat-ayat yang menegaskan bahwa pada zaman Nabi-nabi terdahulu, sering terjadi semacam Raj’ah yaitu bangkit atau hidupnya seorang atau sekelompok manusia setelah mereka mengalami kematian.
Pertama:
Dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa Nabi Isa As memiliki mu’jizat dapat menghidupkan orang yang sudah mati. Dalam ayat yang berbunyi: “…dan aku menghidupkan orang yang mati dengan seizin Allah…” (Q.S.3: 49)
.
Kedua:
Seorang dari bangsa Yahudi pernah melalui (lewat) pada suatu desa yang sudah hancur dan binasa penduduknya, lalu ia bertanya-tanya siapa gerangankah yang akan membangkitkan semuanya ini? Lalu orang ini dimatikan oleh Allah selama 100 tahun, kemudian dibangkitkan kembali untuk membuktikan bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya ini. Disebutkan dalam ayat yang berbunyi: “Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang-orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, ‘Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah roboh? Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun. Kemudian menghidupkannya kembali Allah bertanya: “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini? la menjawab, saya telah tinggal di sini sehari atau setengah hari, Allah berfirman: Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah dan lihatlah keledai kamu (yang telah menjadi tulang-belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda-tanda kekuasan Kami bagi manusia dan lihatlah kepada tulang-belulang keledai itu, bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami menutupnya dengan daging. Maka talkala setelah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) dia pun berkata: “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. 2: 259)
.
Ketiga:
Al-Qur’an menceritakan ada sekelompok dari bani Israel yang melarikan diri dari kota mereka karena takut mati terserang oleh wabak yang tersebar luas, lalu Allah mematikan mereka semua, kemudian setelah menjadi tulang belulang dan musnah dimakan tanah mereka dibangkitkan dan dihidupkan sebagaimana semula, untuk menjadi bukti kebenaran “Al-Ba’ats”.
Ibnu Katsir berkomentar: “Dihidupkannya mereka itu merupakan bukti yang kuat dan nyata bahwa kebangkitan jasmani pada hari kiamat itu benar-benar akan terjadi.” Kisah di atas kami kutip dari Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal 298.
Ayat-ayat yang dipakai oleh Ulama Imamiyah sebagai dalil Raj’ah: “Dan (ingatlah) hari (ketika) Kami kumpulkan dari tiap-tiap ummat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok).” (Q.S .27: 83).
Ayat tersebut di atas menurut pandangan Ulama-ulama Syi’ah jelas menunjukkan adanya Raj’ah, sebab Allah berfirman bahwa Dia akan membangkitkan sekelompok manusia yang mendustakan ayat-ayat-Nya, hal itu dapat dipahami secara jelas dari kata “min” yang berarti sebagian. Jadi yang dibangkitkan hanya sekelompok ummat saja, tidak semua ummat manusia, dan ini jelas berbeda dengan kebangkitan total yang terjadi pada hari kiamat yang diberitakan dalam Al Qur’an bahwa tidak ada yang tersisa seorang pun dalam firman-Nya: “Dan akan Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dan mereka.” (Q.S.18: 47). Lihat Tafsir Majma’ul Bayan jilid 4 Juz 7, hal. 234-235 diterbitkan oleh maktabah Ayatullah Al-Udzma Al-Mar’asi -Qum, Iran- Tahun 1403 H
.
Hadits atau riwayat-riwayat Ahlul Bait yang menyatakan hal ini cukup banyak dan kuat kedudukannya dan itu merupakan hal yang diakui secara luas dalam ajaran Ahlul Bait. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Syeikh Muhammad Ridha Al-Mudhaffar dalam bukunya “Aqo’id Al-Imamiyah” hal. 71. Kemudian beliau menambahkan bahwa faham Raj’ah bukan merupakan ajaran pokok (Ushul) Madzhab Syi’ah Imamiyah. Hanya saja kita (orang-orang Syi’ah meyakini hal itu disebabkan adanya riwayat-riwayat Shahih yang tak terbantahkan, yang datang dari jalur Ahlul Bait dan itu termasuk perkara Ghaib (belum terjadi) yang mereka sampaikan kepada kita. Dan penjelasan di atas akan nampak jelas kesalahan mereka yang berpendapat bahwa Raj’ah adalah ajaran Yahudi yang tersisip ke dalam ajaran Syi’ah sebagaimana yang dinyatakan oleh Ahmad Amin penulis buku “Fajrul Islam”
.
Tidak semua kesamaan yang ada pada suatu ajaran dengan ajaran lainnya itu berarti mengambil dari yang lain. Kalau memang demikian, orang dapat mengatakan bahwa beberapa pokok ajaran Islam itu diambil dan ajaran Nasrani dan Yahudi dikarenakan adanya kesamaan. Bukankah Al-Qur’an itu untuk membenarkan dan menetapkan sebagian dan ajaran Nasrani dan Yahudi dalam ayat: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang ada sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya).” (Q.S.5: 48)
.
Kalau memang benar bahwa Raj’ah itu disadap dari ajaran Yahudi, walaupun hal itu tidak pernah dapat dibuktikan berdasarkan kajian ilmiah. Inilah keterangan singkat tentang faham Raj’ah beserta dalil-dalilnya. Mudah-mudahan dapat sedikit memberi penjelasan bagi mereka yang belum mengerti (memahaminya)
.
Adapun untuk lebih puasnya kami persilahkan pembaca langsung merujuk tulisan-tulisan, kajian ulama-ulama Syi’ah tentang hal ini. Wallahu a’lam
.

 

.

Perhatikan bahwa mut’ah terdiri dari dua jenis yaitu nikah mut’ah dan haji tamattu’. Jenis yang kedua ini adalah salah satu cara pelaksanaan ibadah haji yang tidak ada hubungannya dengan tata cara suatu pernikahan. Kedua jenis mut’ah ini dilakukan pada zaman Rasulullah Saww, zaman pemerintahan Abu Bakar,dan kemudian keduanya dilarang oleh Umar. Di dalam Alquran, ada ayat yangmenjelaskan bahwa haji tamattu’ dapat dilakukan

 Nikah Mut’ah tidak dapat dilakukan di Indonesia – Malaysia dan Brunei karena ““Nikah Mut’ah harus didukung oleh OTORiTAS PENUH NEGARA dibawah kondisi yang dikendalikan secara ketat, Mereka yang menyalahgunakannya harus dihukum, Nikah Mut’ah memiliki tujuan orisinal untuk memelihara perintah TUHAN dengan tepat agar tidak diputar balikkan oleh orang orang JAHAT demi kepentingan zina dan pelacuran mereka””

Nikah  Mut’ah  tidak  dapat dilakukan di Indonesia – Malaysia dan Brunei  karena  ““Nikah Mut’ah harus didukung  oleh  OTORiTAS PENUH NEGARA  dibawah kondisi yang dikendalikan secara ketat, Mereka yang menyalahgunakannya harus dihukum, Nikah Mut’ah memiliki  tujuan orisinal untuk memelihara perintah TUHAN dengan tepat agar tidak diputar balikkan oleh orang orang JAHAT demi kepentingan zina dan pelacuran mereka””

Indonesia – Malaysia dan Brunei  bukan negara Islam bermazhab syi’ah…

Jika anda menemukan pemerkosa di tiga negara tersebut, dapatkah anda menggantung nya hidup hidup tanpa didasari HUKUM NEGARA ?

Jika anda melakukan, maka bisa bisa anda masuk penjara…

 

Allah yang Maha Besar Lagi Maha Agung berfirman dalam Surah Annisa ayat 24:
….Dan dihalalkan bagi kamu (selain perempuan yang diharamkan untukmu) untukmencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini demi melindungi dirimu (daridosa), bukan untuk berzina. Maka istri-istri yang yang telah kamu nikmati(istamta’tum) setelah suatu perjanjian, maka berikanlah kepada mereka maharnyasebagai suatu kewajiban. Dan bukanlah dosa bagi kamu terhadap apa yang telahkalian saling merelakannya (untuk memperpanjang perjanjian itu) setelah memenuhikewajibanmu (yang pertama). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi mahaBijaksana.”
Pada ayat tersebut, istilah bahasa Arab yang sama dengan kata “nikah”ataupun istilah turunannya, belum pernah digunakan sebelumnya. Tetapi, kata”mut’ah” yang berarti kenikmatan, kesenangan atau nikah sementara telahdigunakan di ayat ini yaitu pada kata “Istamta’tum.” Kata “istamta’tum” adalahkata kerja ke sepuluh dari akar kata m-t-a. Seperti yang akan kita lihat, kataistamta’ juga telah banyak digunakan di dalam kumpulan tafsir Sunni tentangnikah mut’ah.
Tentunya, mut’ah juga merupakan salah satu bentuk pernikahan,tetapi peraturan-peraturannya berbeda dengan nikah da’im, termasuk kebolehan pasangan dalam nikah mut’ah itu untuk memperpanjang pernikahan mereka denganperjanjian yang menguntungkan keduanya seperti yang dinyatakan pada akhir ayattersebut di atas. Lebih jauh lagi, jika kita melihat beberapa komentar Sunniterhadap masalah mut’ah, banyak mufassir seperti halnya Fakhr Ar Razi menyatakan bahwa ayat 4:24 itu diturunkan sehubungan dengan nikah mut’ah.Mereka mengatakan dengan terang-terangan bahwa nikah mut’ah menjadi halalberdasarkan ayat tersebut, tetapi kemudian menegaskan bahwa nikah mut’ahdilarang setelah itu
.
Suatu hal yang mengherankan adalah banyaknya mufassir Sunni yangmengomentari ayat tersebut dengan menyebutkan sebuah hadits bahwa Imam ‘Ali binAbi Thalib ra mengatakan: “Mut’ah adalah suatu karunia dari Allah. Sekiranyatidak ada Umar yang melarangnya, maka tidak akan orang yang berzina kecualiyang benar-benar bejat (shaqi).” Silahkan merujuk pada beberapa kitab tafsirSunni berikut: 1. Tafsir Al-Kabir, oleh al-Tsa’labi, komentar tentang ayat 2:242. Tafsir Al-Kabir, oleh Fakhr al-Razi, V3, hal. 200, komentar tentang ayat2:24 3. Tafsir Al-Kabir, oleh Ibn Jarir al-Tabari, komentar tentang ayat 2:24dengan silsilah perawi yang otentik, V8, hal. 178, hadits no. 9042 4. Tafsiral-Durr al-Mantsur, oleh al-Suyuti, V2, hal. 140, dari beberapa perawi 5.Tafsir al-Qurtubi, V5, hal. 130, komentar tentang ayat 2:24 6. Tafsir IbnHayyan, V3, hal. 218, komentar tentang ayat 2:24 7. Tafsir Nisaburi, olehAl-Nisaburi (abad kedelapan) 8. Ahkam al-Quran, oleh Jassas, V2, hal. 179,komentar tentang ayat 2:24 9
.
Beberapa sumber yang diceritakan oleh Ibn Abbas yang telah disebutkan olehTabari dan Tha’labi dalam tafsir mereka. Hal yang menarik untuk diperhatikanadalah bahwa Umar tidak menisbatkan pelarangan Mut’ah kepada Rasulullah Saww,tetapi justru menisbatkan pelarangan itu kepada dirinya sendiri. Banyak sahabatyang menyaksikan bahwa Umar yang telah melakukan pelarangan tersebut. Umar dengan jelas mengatakan: “Mut’ah telah diperbolehkan oleh Rasulullah (Saww) dankemudian saya melarangnya.”
Seorang tokoh Sunni yang besar, Fakhr al-Razi yang digelari Imam alMusyaqqiqin (pemimpin orang-orang ragu) di dalam sebuah tafsirnya yang tebalketika mengomentari ayat tentang nikah mut’ah menjelaskan: Umar berkata: “Ada dua mut’ah yangdiperbolehkan pada zaman Rasulullah Saww dan saya melarang keduanya. Keduamut’ah itu adalah haji tamattu’ dan nikah mut’ah dengan perempuan.” Silahkanmerujuk pada referensi Sunni di dalam: 1. Tafsir al-Kabir oleh Fakhr –al-razi,V3, hal. 201, pada ayat 4:24 2. Musnad Ahmad bin hambal, V1, hal. 52
.
Perhatikan bahwa mut’ah terdiri dari dua jenis yaitu nikah mut’ah dan haji tamattu‘. Jenis yang kedua ini adalah salah satu cara pelaksanaan ibadah haji yang tidak ada hubungannya dengan tata cara suatu pernikahan. Kedua jenis mut’ah ini dilakukan pada zaman Rasulullah Saww, zaman pemerintahan Abu Bakar,dan kemudian keduanya dilarang oleh Umar. Di dalam Alquran, ada ayat yangmenjelaskan bahwa haji tamattu’ dapat dilakukan
.
Namun, penjelasan hajitamattu’ atau haji mut’ah ini bukanlah bidang kajian kita dalam tulisan ini.
Umar sendiri tidak mengatakan bahwa nikah mut’ah dilarang sendiri oleh Rasulullah Saww. Jika sekiranya Rasulullah sendiri yang melarang nikah mut’ah tersebut, maka semestinya Umar mengatakan:”Kedua mut’ah itu diperbolehkan dan kemudian dilarang pada zaman Rasulullah,karnanya saya memberitahukan kalian bahwa Rasulullah telah menetapkan hukumkedua (tentang pelarangannya) yang menghapus hukum yang pertama (tentang pembolehannya)”. Tetapi kita dapat melihat dengan jelas bahwa Umar dengan terang-teranganmenisbatkan pelarangan itu pada dirinya sendiri dan menetapkan bahwa mut’ah ituharam
.
Al-Zamakhsyari, seorang mufassir Sunni yang lain pada komentarnya tentang ayat 4:24 mengatakan bahwa ayat ini adalah ayat muhkamat dari Alquran. Beliau merujukkanpendapatnya pada pendapat Ibn Abbas. (Tafsir al-Kasysyaf oleh Zamakhsyari, V1,hal. 519).
Baik Ibn Jarir al-Tabari maupun Zamakhsyari menyebutkan bahwa: “al-Hakam IbnAyniyah pernah ditanyai apakah ayat tentang nikah mut’ah telah dimansukh. Saatitu beliau menjawab ‘Tidak'”. Silahkan lihat di dalam sumber Sunni : 1. TafsirTabari, komentar tentang ayat 2:24, V8, hal. 178 2. Tafsir al-Kasysyaf,komentar tentang ayat 2:24, V1, hal. 519
.
Ibn Katsir juga menjelaskan dalam tafsirnya: “Bukhari mengatakan bahwa Umartelah melarang setiap orang untuk melakukan nikah mut’ah”. Lihat referensiSunni dalam Tafsir Ibn Katsir, V1, hal. 233. Di dalam tafsir Sunni yang lain disebutkan bahwa: Umar suatu waktu berpidato di atas mimbar sambil mengatakan:”Wahai sekalian manusia, ada tiga hal yang diperbolehkan di zaman Rasulullahdan saya melarang dan mengharamkan semuanya. Ketiga hal itu adalah nikahmut’ah, haji tamattu’ dan mengucapkan ‘Hayya ‘Al-khair al-amal’.” ReferensiSunni: 1. Syarh al-Tajrid oleh al-Fadhil al-Qosyaji (bagian Imamah) 2.Al-Mustaniran oleh Tabari 3. Al-Mustabin oleh Tabari 4. Sekedar catatan, halketiga yang dilarang oleh Umar seperti yang disebut dalam kutipan di atasadalah ucapan di dalam adzan dan qamat setelah kalimat Hayya ala al-falah.
Meskipun ucapan ini telah dilarang oleh Umar di masa pemerintahannya, tetapi mazhab Syi’ah masih mempraktekkannya sampai saat ini. Kalimat itu berarti “mari berlomba-lomba menuju amal yang baik.” Kalimat ini telah dihilangkan oleh Umar dan kemudian digantikannya dengan kalimat: Ash-Shalatu Khairun min an-naum yangberarti “shalat lebih baik daripada tidur” (khusus pada azan shalat subuh,pent.)
.
Menarik untuk diketahui, ada beberapa tokoh Sunni yang menerima bahwa nikah mut’ah diperbolehkan dan dihalalkan selama-lamanya berdasarkan ayat Alquran.Salah satu diantaranya adalah seorang tokoh Tunisia, Syaikh al-Tahir Ibn Asyarpada tafsirnya tentang ayat 4:24. (Lihat al-Tahrir wa al-Tanwir oleh Syaikhal-Tahir Ibn Asyar, V3, hal. 5)
.
Di samping itu, banyak tokoh-tokoh lain yang berpikiran terbuka dimanamereka tidak memperbolehkan otoritas pemimpin-pemimpinnya mempengaruhikeputusan mereka. Beberapa orang ada yang mencoba membuat keraguan arti kata”mut’ah” dengan mengatakan bahwa secara literal, mut’ah berarti kesenangan dantidak secara spesifik menunjukkan suatu jenis pernikahan. Orang-orang ini,bukannya mencari defenisi praktis tentang mut’ah di dalam sejarah, hadits,ataupun hukum; justru mereka mencari kamus bahasa Arab
.
Padahal, di dalam kamus bahasa Arab itu sendiri dituliskan bahwa pengertianpraktis mut’ah adalah pernikahan sementara atau nikah mut’ah. Semua mazhabSyi’ah dan Sunni setuju dengan pengertian ini. Al-Qurtubi, salah seorangmufassir terkenal dari mazhab Sunni menulis: “Tidak ada perselisihan seluruh mazhab, apakah dari golongan Salaf ataupun Khalaf, bahwa mut’ah adalah suatu pernikahan dalam interval waktu tertentu yang tidak mencakup pemberian warisan.”
/
Mengganti defenisi praktis dengan pengertian linguistik adalah suatu halyang sangat berbahaya dan dilarang oleh hukum agama karena mempunyai implikasi yang luas. Misalnya, ketika seseorang mengatakan bahwa shalat berarti pujian atau permohonan, maka hal itu dapat diartikan bahwa seseorang tidak perlu melakukan pujian itu setiap hari (padahal shalat itu wajib dilakukan lima kalisehari semalam); atau ketika zakat berarti ‘mensucikan’, maka seseorang tidakperlu mengeluarkan zakat dengan uang atau lainnya (karna pengsucian tidakberarti memberikan sesuatu dengan uang atau sejenisnya). Ini benar-benarpengertian yang sangat rancu
.
Kemungkinan, orang-orang tersebut tidak pernah membaca riwayat yang berhubungan dengan “mut’ah” dalam pengertian yang sangat praktis pada zaman Rasulullahdan zaman kekhalifahan awal, juga mereka mungkin tidak mengetahui bagaimana sebagian sahabat Rasulullah melakukan nikah mut’ah hanya dengan segenggam kurma sebagai maharnya. Bahkan di dalam Shahih Bukhari yang berbahasa Inggris,”mut’ah al-nisa'” diterjemahkan dengan arti ‘temporary marriage’ (pernikahansementara) dan “istimta’a” diartikan dengan ‘marrying temporarily’ (menikah sementara)
.
Di dalam dua kitab Shahih inilah dimuat riwayat-riwayat yang menjelaskanpengertian ini secara terperinci. (Silahkan merujuk pada Bagian Kedua untukmelihat secara lengkap riwayat masalah ini dalam Shahih Bukhari dan ShahihMuslim). Apakah orang-orang tersebut memang belum pernah mendengar tentangnikah mut’ah di dalam sejarah Islam? Beberapa orang yang lain juga memberikankerancuan tentang arti ayat nikah mut’ah (4:24) dengan mengatakan bahwa, kata”istamta’a” dalam ayat itu merujuk pada penyempurnaan pernikahan da’im setelah pemberian mahar
.
Cara yang terbaik untuk mengerti tentang ayat tersebut adalah; pertama, mengerti bahasa Arab dengan benar (karena kadang padanan yang benar-benar tepat dalam bahasa yang lain tidak ditemukan); kedua,membandingkan komentar-komentar yang ada sehubungan dengan masalah tersebut(tanpa terlebih dahulu membuat pemihakan); dan yang ketiga, melihat kembali semua riwayat yang berhubungan dengan nikah mut’ah untuk mengetahui apakahistilah “istamta’a” itu sudah pernah digunakan. Jika kita telah melalui ketiga tahapan ini dan telah memperhatikan semua pendapat yang berbeda-beda, maka kita semakin dekat dengan sasaran klarifikasi pengertian kita dalam masalah ini
.
Kita telah melihat beberapa rujukan dari tafsir-tafsir Sunni di mana paramufassir sepakat bahwa ayat 4:24 diturunkan untuk menjelaskan tentang nikahmut’ah bahkan mereka juga telah menyebutkan beberapa riwayat ketikamengomentari ayat tersebut. Lantas, bagaimana mungkin ayat ini dimaksudkanuntuk menjelaskan nikah da’im? Apakah mungkin beberapa tokoh-tokoh Sunni itusudah tidak bisa berfikir secara logis lagi dalam melihat permasalahan ini?Pada pembahasan selanjutnya akan ditunjukkan riwayat-riwayat yang lebih banyaklagi dari mazhab Sunni dalam komentar mereka tentang ayat 4:24 ini
.
Di dalam Shahih Muslim disebutkan, seorang sahabat Rasulullah Saww, JabirIbn Abdillah al-Ansari mengatakan : “Istamta’a berarti menikah sementara”(Lihat Shahih Muslim, versi Bahasa Inggris, V2, Bab DXLI dengan judul:Temporary Marriage (Nikah Mut’ah), hadits 3246. Juga silahkan merujuk padabagian kedua untuk teks bahasa Arabnya secara lengkap). Jabir ternyata tidakmenghubungkan kata “istamta’a” dengan penyempurnaan pernikahan secara umum
.
Di dalam ayat 4:24 Allah berfirman : “……Dan bukanlah dosa bagi kamu terhadapapa yang telah kalian saling merelakannya (untuk memperpanjang perjanjian itu)setelah memenuhi kewajibanmu (yaitu mahar pada perjanjian yang pertama)”
.
Kesepakatan kedua belah pihak setelah kewajiban dipenuhi yang dimaksud dalamayat di atas merujuk pada perpanjangan masa pernikahan sementara setelah maharyang pertama telah diberikan kepada perempuan. Dengan demikian, perempuantersebut dapat memilih dengan bebas apakah dia akan memperpanjang masa pernikahan mereka atau tidak tanpa ada paksaan.
Dengan cara ini, Allah ingin mempertegas bahwa nikah mut’ah akan memberikan manfaat yang lebih baik lagi jika pasangan nikah mut’ah memperpanjang masanya(atau bahkan melanjutkannya ke pernikahan da’im) dengan memberikan mahar yang baru setelah mahar yang pertama telah ditunaikan.
Ibn Jarir al-Tabari dalam tafsirnya menuliskan: “Beberapa riwayatmenyebutkan bahwa arti dari ‘….Dan bukanlah dosa bagi kamu terhadap apa yang telah kalian saling merelakannya setelah memenuhi kewajibanmu…’ adalah: ‘Wahaisekalian manusia, bukanlah dosa bagi kalian untuk saling menyetujui antara kamudan perempuan yang telah kalian merasakan kesenangan bersama-sama dalam suatupernikahan sementara, untuk memperpanjang masa pernikahan kalian jikaperjanjian yang pertama telah berakhir, dengan memberikan mahar yang lebihbanyak lagi sebagai kewajiban sebelum kalian meninggalkan mereka.’
Al-Suddi RA menceritakan: “Dan bukanlah dosa bagi kalian terhadap apa yang kalian sepakati setelah memenuhi persyaratan perjanjian di antara kalian. Jika suami menginginkan untuk memperpanjang perjanjiannya, maka dia dapat meminta istrinya untukmembuat perjanjian yang baru setelah memberikan mahar yang pertama sebelum masanikah mut’ah itu berakhir. Dia dapat mengatakan kepada istrinya: ‘Saya akanmenikah mut’ah dengan kamu dengan syarat ini dan syarat yang itu.’ Lalu diamemperpanjang masa nikah mut’ah mereka sebelum dia meninggalkan istrinya karenaperjanjian yang pertama telah berakhir. Inilah yang dimaksud dalam ayat ini.”(Riwayat 9046). Rujukan dari mazhab Sunni: Tafsir al-Tabari oleh Ibn Jariral-Tabari, komentar tentang ayat 4:24, V8, hal. 180
.
Alasan yang lain untuk menunjukkan bahwa mahar yang disebutkan dalam ayatini bukanlah untuk pernikahan da’im adalah karna Alqur’an telah membicarakan tentang mahar untuk pernikahan da’im pada bagian awal di surat yang sama denganmenyebutkan firman Allah: “Nikahilah olehmu perempuan yang kamu senangi dua,tiga atau empat, tetapi jika kamu merasa bahwa kamu tidak mampu berbuat adil(terhadap mereka), maka pilihlah satu saja…..” (4:3) Demikian juga, Allah telahmenjelaskan ketika berfirman: “Dan berikanlah perempuan itu maharnya (padapernikahan da’im) sebagai hadiah buat mereka” (4:4) Ayat-ayat ini menjelaskantentang pernikahan da’im dan mahar yang berhubungan dengannya. Sehingga, adalahsuatu hal yang tidak perlu jika Allah harus mengulangi masalah mahar ini di surat yang sama
.
Tetapi, jika memang Allah ingin menjelaskan tentang nikah mut’ah pada ayat4:24, maka tentunya penjelasan mahar ini adalah untuk masalah yang baru. Halini dapat dilihat dari kata yang digunakan oleh Allah Swt pada ayat tentangnikah mut’ah (4:24) yang diambil dari turunan akar kata “mut’ah” yang jelasberbeda dengan kata-kata yang digunakan pada ayat yang lain di dalam surat An-Nisa. Allahberfirman: ” …(Kecuali perempuan-perempuan yang diharamkan bagimu untukmenikahinya) Dan dihalalkan bagi kamu untuk mencari istri-istri dengan hartamuuntuk dikawini demi melindungi dirimu (dari dosa), bukan untuk berzina. Makaistri-istri yang yang telah kamu nikmati (istamta’tum) setelah suatuperjanjian, maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai suatu kewajiban. Dan bukanlah dosa bagi kamu terhadap apa yang telah kalian saling merelakannya(untuk memperpanjang perjanjian itu) setelah memenuhi kewajibanmu (yangpertama). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi maha Bijaksana.” (4:24)
.
Dengan demikian, Allah menjelaskan jenis-jenis pernikahan yang berbeda-bedaitu dengan membagi penjelasan dalam tiga bagian di dalam surat An-Nisa’. Bagian pertama menjelaskan tentang nikah da’im pada ayat sebelum 4:24, bagian keduatentang pernikahan mut’ah pada ayat 4:24, serta bagian ketiga tentang pernikahan dengan budak perempuan pada ayat 4:25. Allah Swt berfirman: “Dan barangsiapa diantara kamu(orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk mengawini perempuanmerdeka dan beriman, maka ia boleh mengawini perempuan beriman dari budak-budakyang kamu miliki. Allah mengetahui keimananmu, sebagian kamu dari sebagian yanglainnya; karena itu kawinilah mereka (budak-budak itu) dengan seizin tuanmereka dan berilah mahar kepada mereka dengan cara yang pantas sedang merekapunadalah perempuan-perempuan yang memelihara dirinya, bukan pezina dan bukan pulaperempuan yang mengambil laki-laki sebagai peliharaannya. Dan apabila merekatelah menjaga dirinya melalui pernikahan, tetapi kemudian megerjakan perbuatankeji (zina), maka hukumannya adalah setengan dari hukuman perempuan merdekayang bersuami. (Kebolehan menikahi budak-budak perempuan) itu adalah bagiorang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) diantaramu, dan kesabaran itu lebih baik bagimu. Allah Maha Pengampun lagi MahaPenyayang.” (4:25) Pada ayat ini Allah menyebutkan mahar yang berhubungandengan budak perempuan
.
Allah menyebutkan masalah mahar ini sebanyak tiga kalidalam tiga bagian ayat-ayat di atas; pertama untuk pernikahan da’im, keduauntuk pernikahan mut’ah dan terakhir untuk pernikahan dengan budak perempuan.Sekali lagi, untuk mempertegas bahwa ayat 4:24 diturunkan sehubungan dengannikah mut’ah, maka kami menunjukkan beberapa hadits lagi dari mufassir Sunni.
Tabari meyebutkan bahwa Mujahid RA mengatakan: “Yang dimaksud dengan ‘makaistri-istri yang yang telah kamu nikmati (istamta’tum) setelah suatu perjanjian’dalam ayat (4:24) adalah nikah mut’ah.” Referensi Sunni: Tafsir At-Tabari olehIbn Jarir al-Tabari, komentar tentang ayat 4:24, V8, hal. 176, Hadits 9034.
Bahkan, di dalam banyak tafsir Sunni yang lain, disebutkan hadits yang samadengan yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari (lihat Bagian Kedua) denganpenjelasan yang lebih terinci ketika menjelaskan tentang ayat 4:24. Imran IbnHusain menceritakan: “Ayat 4:24 tentang nikah mut’ah telah diturunkan oleh Allah di dalam Alqur’an, dan tidak ada satupun ayat yang diturunkan untukme-mansukh-kannya; bahkan, Rasulullah Saww menyuruh kami melakukan nikah mut’ahsehingga kamipun melakukannya pada zaman Rasulullah masih hidup dan tidakpernah sekalipun Rasulullah melarangnya sampai Beliau meninggal. Tetapi,seseorang(yang telah melarang nikah mut’ah) menunjukkan keinginannya sendiri.” Silahkanlihat dalam beberapa referensi Sunni: 1. Tafsir al-Kabir, oleh al-Tsa’labi,komentar tentang ayat 4:24. 2. Tafsir al-Kabir, oleh Fakhr al-Razi, komentartentang ayat 4:24, V3, hal. 200 dan 202 3. Tafsir Ibn Hayyan, V3, hal. 218,komentar tentang ayat 4:24 4. Tafsir al-Nisaburi, oleh al-Nisaburi (abad kedelapan)
.
Karena itu sangat jelas bahwa, Imran Ibn Husain membicarakan masalah nikah mut’ah dalam kutipan ini. Jika tidak, tidak mungkin para mufassir Sunni tersebut menempatkan riwayat ini pada penjelasan mereka tentang ayat 4:24.Beberapa hadits yang lainpun, dapat pula dijadikan bukti-bukti bahwa ayat 4:24 menjelaskan tentang nikah mut’ah
.
Di dalam banyak tafsir Sunni, kalimat “untuk waktu yang tertentu” telah ditambahkan pada ayat 4:24 setelah kata “istamta’tum” sehingga ayat itu terbaca’maka istri-istri yang yang telah kamu nikmati (istamta’tum) setelah suatuperjanjian untuk waktu yang tertentu.” Kalimat ini haruslah diartikan sebagaitafsiran terhadap ayat Alqur’an, bukan bagian dari ayat tersebut. Seperti yangkita ketahui, banyak ayat-ayat Allah yang diturunkan tetapi tidak dimasukkan kedalam Alqur’an karena ayat-ayat tersebut hanyalah penjelasan dan bukanmerupakan bagian dari Alquran itu sendiri
.
Seperti yang kita ketahui bahwa hadits Qudsi juga merupakan firman Allahtetapi bukan bagian dari Alquran. Bahkan Alqur’an sendiri mengatakan bahwasemua perkataan Rasulullah Saww adalah wahyu. Allah berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkan (Muhammad) itu menuruti kemauan hawa nafsunya sendiri. Ucapannyaitu tiada lain kecuali apa yang telah diwahyukan (Allah) kepadanya” (53:3-4)
.
Oleh karena itu, semua perkataan Rasulullah Saww adalah wahyu dan pasti tidakbertentangan dengan Alqur’an. Hal itu juga mencakup penjelasan Beliau tentangAlqur’an dan sunnah Beliau. Sekarang kita lihat kembali hadits yang ingin kamitunjukkan
.
Diceritakan bahwa Abu Nadhra berkata: “Ibn Abbas (RA) membaca ayat4:24 dengan tambahan kalimat ‘untuk waktu yang tertentu.’ Saya kemudian bertanya padanya: ‘Saya tidak membaca ayat itu seperti kamu membacanya.‘ Ibn Abbas menjawab: ‘Saya bersumpah dengan nama Allah, seperti inilah Allah menurunkan nya’ dan Ibn Abbas mengulangi pernyataannya tiga kali.”Lihat dalamreferensi Sunni: 1. Tafsir al-Kabir, oleh Ibn Jarir al-Tabari, komentar tentangayat 4:24, V8, hal. 177, Hadits 9038 2. Tafsir al-Kabir, oleh al-Tsa’labi,komentar tentang ayat 4:24 yang sama dengan hadits yang diriwayatkan oleh Jubair.
Dan juga Abu Nadhra mengatakan: “Saya menanyakan kepada Ibn Abbas tentangnikah mut’ah kemudian Ibn Abbas menjelaskan: ‘Pernahkah kamu membaca ayat:….Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (istamta’tum) dengan perjanjiandalam suatu waktu tertentu…’ Maka saya berkata: ‘Jika sekiranya saya membaca seperti caramu, maka pasti saya tidak menanyakannya lagi kepadamu.’
Kemudian Ibn Abbas berkata : ‘Memang ayat itu untuk menjelaskan tentangnikah mut’ah'”. Lihat referensi Sunni dalam al-Kabir oleh Ibn Jarir al-Tabaripada komentar tentang ayat 4:24, V8, hal. 177, Hadits 9036 – 9037.
Dan jugadiceritakan bahwa al-Suddy RA mengatakan: “Ayat yang berbunyi ‘Dan mereka yangtelah kamu nikmati melalui perjanjian dalam suatu waktu tertentu’ adalahmenjelaskan tentang nikah mut’ah, yaitu seorang laki-laki menikahi seorangperempuan dengan jumlah mahar tertentu untuk suatu waktu yang tertentu pula dandisaksikan oleh dua orang saksi. Dan jika perempuan itu masih gadis (perawan),maka laki-laki tesebut harus meminta izin kepada wali perempuan. Ketika periodepernikahan mereka sudah berakhir, maka mereka secara langsung akan berpisahtanpa saling mewarisi satu sama lain.” Referensi Sunni adalah Tafsir al-Kabiroleh Ibn al-Tabari, komentar tentang ayat 4:24, V8, hal. 176, Hadits 9033
.
Abu Karib menceritakan bahwa Yahya berkata: “Saya melihat sebuah bukubersama Nasir yang menuliskan: ‘Dan mereka yang telah kamu nikmati melalui perjanjian dalam suatu waktu tertentu.'” Lihat dalam referensi Sunni: 1. Tafsiral-Kabir Ibn Jarir al-Tabari pada ayat 4:24, hal. 176-177, Hadits 9035
2.Tafsir al-Kabir al-Tsa’labi pada ayat 4:24 yang menceritakan riwayat yang samadari Abi Thabit
.
Salah seorang sahabat Rasulullah yang lain yakni Ubay Ibn Ka’ab (yang dalam sumber-sumber Sunni dikatakan bahwa Rasulullah memerintahkanpara sahabat untuk mempercayainya karna pemahamannya yang dalam tentang Alqur’an, dimana beliau juga adalah sebagai salah seorang dari tiga orang yangterpercaya dalam bidang ini, lihat Shahih Bukhari, edisi Bahasa Inggris, V6,Hadits 521) juga menambahkan kalimat pada ayat 4:24 seperti penambahan yangdilakukan oleh Ibn Abbas. Qatadah ra mengatakan: “Ubay ibn Ka’ab membaca ayat4:24 adalah ‘…. dan mereka yang telah kamu nikmati melalui perjanjian dalam suatu waktu tertentu.”’ Referensi Sunni adalah Tafsir al-Kabir Ib Jarir al-Tabari,komentar tentang ayat 4:24, V8, hal. 178, Hadits 9041.

Syi’ah Yang Sezaman dengan Nabi SAW dikaitkan dengan QS. Al-Bayyinah:7-8: (1) Abu Dzar Al Ghifari, (2) Salman al Farisi, (3) AlMiqdad bin al Aswad al Kindi (4) ‘Ammar bin Yasir

Mengutip dari hadis yang diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Na’im, yangmeriwayatkan dengan sanad dari IbnuAbbas, ketika turun ayat yang mulia :” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh mereka itu sebaik-baik makhluk” (QS. Al-Bayyinah:7-8), kemudian Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin AbiThalib, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syi’ahmu…”
.
“Manifestasi pengejawantahan syi’ah awal ini muncul usai wafatnya Rasulullah SAWW, sebagai bentuk loyalitas dan kepatuhan para sahabat kepadaRasulullah SAW yang telah menetapkan Ali Bin Abi Talib (Ahlul Ba’it Rasulullah SAW dan Ittrah Rasulullah SAW ) – di Ghadir Kum – sebagai yangharus di patuhi pasca beliau SAW tiada
.
Seorang ulama ahlu sunnah bernama Abu Hatim ar Razi dalam kitabnya al-Zinah, menuliskan, nama pertama yang diberikan dalam Islam sebagai julukan bagi sekelompok orang pada masa Rasulullah SAW masih hidup sebagi Syi’ah adalah (1) Abu Dzar Al Ghifari, (2) Salman al Farisi, (3) AlMiqdad bin al Aswad al Kindi (4) ‘Ammar bin Yasir
.
Ayatullah Sayyid Muhammad al Musawi mengomentari hal tersebut sebagai berikut, “…mereka adalah sahabat yang ikhlas, mereka mendengar Nabi SAW bersabda, “Syiah Ali adalah makhluk terbaik dan mereka adalah orang-orangyang beroleh kemenangan “, oleh karena itu mereka bangga menjadi bagian darimakhluk terbaik itu, dan mereka dikenal di kalangan sahabat dengan julukan syi’ah.
Di berbagai kesempatan Rasulullah SAW banyak memuji ke empatsahabat –syi’ah awal- tersebut, diantaranya :
  1. Sunan Tirmidzi 5/636 no 3718 menuliskanDiriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengatakan kalau Allah SWT memerintahkan Beliau untuk mencintai empat orang sahabat dan Rasulullah SAW juga diberitahubahwa Allah SWT mencintai keempat sahabat tersebut. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW siapakah keempat sahabat yang mendapatkeistimewaan seperti itu. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa mereka adalah Ali RA, Abu Dzar RA, Miqdad bin Aswad RA, dan Salman Al Farisi RA. Hadis ini diriwayatkan dalam,. Berikut hadis riwayat Tirmidzi :حدثنا إسماعيل بن موسىالفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسولالله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرنيبحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail binMusa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kamiSyarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  2. Sunan Ibnu Majah 1/53 no 149 (Dengan redaksi samadengan di atas) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبيربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرنيبحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثاو أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  3. Musnad Ahmad 5/351 no 23018 (Dengan redaksi samadengan no 1) ) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسو الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai. Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  4. Mustadrak Al Hakim 3/130 no 4649 (Dengan redaksi sama dengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telahmenceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  5. Al Kuna Al Bukhari 1/31 no 271 Dengan redaksi samadengan no 1) حدثنا إسماعيل بن موسى الفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عنأبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم إن اللهأمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسول الله سمهم لنا قال علي منهم يقولذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهم وأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik dari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empat orang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkan itu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  6. Tarikh Ibnu Asakir 21/409. ) حدثنا إسماعيل بن موسىالفزاري ابن بنت السدي حدثنا شريك عن أبي ربيعة عن ابن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم إن الله أمرني بحب أربعة وأخبرني أنه يحبهم قيل يا رسولالله سمهم لنا قال علي منهم يقول ذلك ثلاثا و أبو ذر المقداد و سلمان أمرني بحبهموأخبرني أنه يحبهم Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Musa Al-Fazari Ibnu binti As Suddi yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarikdari Abi Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata “Rasulullah SAW bersabda ‘Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkanKu untuk mencintai Empatorang dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka. Para sahabat bertanya “Ya Rasulullah SAW tolong sebutkan nama-nama mereka”. Rasulullah SAW bersabda “Ali diantaranya (Beliau menyebutkanitu tiga kali) kemudian Abu Dzar, Miqdad dan Salman. Allah SWT memerintahkanKu untuk mencintai Mereka dan Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia pun mencintai Mereka.
  7. Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya حدثنا عبد اللهحدثني أبي ثنا بن نمير عن شريك ثنا أبو ربيعة عن بن بريدة عن أبيه قال قال رسولالله صلى الله عليه و سلم ان الله عز و جل يحب من أصحابي أربعة أخبرني انه يحبهموأمرني ان أحبهم قالوا من هم يا رسول الله قال ان عليا منهم وأبو ذر الغفاريوسلمان الفارسي والمقداد بن الأسود الكندي Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair dari Syarik yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Rabi’ah dari Ibnu Buraidah dari Ayahnya yang berkata Rasulullah SAW bersabda “sesungguhnya Allah Azza wajalla mencintai empat orang dari sahabatKu. Allah SWT memberitahuKu bahwa Dia mencintai Mereka dan memerintahkanKu untuk mencintai Mereka. Para sahabat berkata “siapa mereka wahai Rasulullah?”. Rasulullah SAW berkata”Ali diantaranya, Abu Dzar Al Ghiffari, Salman Al Farisi dan Miqdad bin Aswad Al Kindi.
  8. Al Hafizh Abu Na’im, dalam Hilayah al Awliyajilid I hlm 172 meriwayatkan dari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mencintai empat orang. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka, lalu ditanyakan, “Siapa mereka itu ?” Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, AbuDzar, al Miqdad dan Salman.
  9. Ibnu Hajar al Makki dalam kitabnya al Shawa’iq alMuhriqah, dalam hadis ke lima dari empat puluh hadis yang menukil tentangkeutamaan Ali bin Abi Thalib meriwayatkan hadis dari Turmudizi dan al Hakimdari Buraidah bahwa Rasulullah saw bersabda, ” Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mencintai empat orang. Dia memberitahukan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka, lalu ditanyakan, “Siapa mereka itu ?” Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar, al Miqdad dan Salman.
  10. Ibnu Hajar al Makki dalam kitabnya al Shawa’iq alMuhriqah dalam hadis nomor 29 menukil dari Turmudzi dan al Hakim dari Anas binMalik, bahwa Rasulullah saw bersabda :”Surga merindukan tiga orang, mereka adalah Ali, Ammar dan Salman”.
  11. Ibn Maghazali al Syafi’i dalam Manaqib ‘Ali bin Abi Thalib hadis no 331, meriwayatkan hadis dengan sanadnya dari Buraidah: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai empat orang dari sahabatku. Allah mengabarkan bahwa Dia mencintai mereka dan Dia memerintahkan kepadaku untuk mencintai mereka,” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu, wahai Rasulullah saw?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ali, Abu Dzar, Salman dan al Miqdad bin al Aswad al-Kindi” Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan dalam Musnad 5/351dengan sanad dari Muhammad bin al Thufail dari syarik. Al Hakim meriwayatkan dalam al Mustadrak 3/30 melalui Imam Ahmad bin Hanbal darial Aswad bin ‘Amir dan Abdullah bin Numair yang disahihkan oleh al-Dzahabi dalam Talkhis. Al Hafizh al Qazwini meriwayatkan pula dalam Sunan alMushthafa 1/52 .
Jadi hati-hati mengatakan Syi’ah itu sesat, karena akan kembali kepada dirimu sendiri …

 

Penyimpangan² Usman dan siksaan pada Ammar bin Yassir

Telah diriwayatkan bahwa telah berkumpul beberapa kelompok dari para sahabat Nabi Alaihissolatu waalaihi wassalam lalu mereka menulis dan mengumpulkan data dalam satu catatan yaitu “berbagai pelanggaran²/penyimpanngan²” yang telah dilakukan oleh Usman (bin Affan) yang menyalahi Sunnah Rasulallah SAW dan pula Sunnah kedua Sahabatnya(Abubakar+Umar)” yang diantaranya adalah:
  • Telah memberikan kepada Marwan (bin Hakam) jatah “Khumus Afrika”. Dimana, didalam Khumus tersebut ada Haq Allah dan Rasulnya juga terdapat Haq Keluarga Nabi (Ahlulbait) serta orang- orang yatim dan miskin dari mereka.
  • Usman adalah khalifah pertama yang membangun rumah-rumahbertingkat hingga mencapai tujuh (7) tingkat dia bangun rumah di Madinah. Rumahuntuk (istrinya) Nailah serta rumah untuk A’isyah dan lain-lainnya darikeluarganya serta anak-anak perempuannya.
  • Untuk Marwan (bin Hakam), dia bangunkan istana di daerahDzu Khusub dari uang Khumus yang seharusnya adalah milik Allah dan Rasulnya.
  • Hanya menyerahkan kekuasaan serta jabatan-jabatan(amir-amir) pada keluarganya serta anak-anak pamannya dari Bani Umayyah saja(KKN). Bahkan usia-usia mereka (pejabat-pejabat) itu sangat muda belia dandini. Lebih-lebih, bahwa mereka tidak pernah menjadi Sahabat Rasulallah SAW danpula tidak mengerti pada bidang yang akan dijabatnya itu.
  • Si Walid Bin ‘Uqbah (sahabat Nabi!!!, pejabat Usman untukKufah) jika dia (menjadi Imam) pada salat subuh sedangkan dia itu adalah “amir”untuk mereka, dia mengimami dalam kondisi “mabuk” hingga salat subuh menjadi empat (4) rakaat. Kemudian setelah dia salam dari salatnya segera dia (Si Walid) menoleh pada makmumnya kala itu seraya berkata: “Jika aku mau, aku akan tambah rekaatnya (lebih dari empat)”.
  • Bahkan (Usman) setelah ada laporan semacam ini selalumenghalang-halangi hukuman pada si Walid dan mengundurkan pelaksanaannya.
  • Kaum Muhajirin dan Anshor (dimasa Usman berkuasa) samasekali tidak di berikan peran apapun juga tidak di libatkan dalam jabatan apapun. Bahkan (Usman) lebih mengedepankan pendapatnya sendiri dari pada pendapat-pendapat mereka semua.
  • Pemberian Hibah, Hadiah serta Anugrah pada mereka diMadinah yang bukan dari Sahabat Nabi juga bukan pada para Veteran perang danpula bukan pada mereka yang membela agama Islam dari pertama.
  • Dan masih ada lg yang lainnya……..
Setelah data lengkap, mereka bergegas akan menyerahkan hasil investigasi mereka pada usman sendiri sebagai bentuk ‘protes tertulis’. Sedangkan yang menulis catatan ini serta mengumpulkannya hampir 10 Sahabat Nabiyang diantaranya adalah Ammar Bin Yasir
.
Ketika mereka mulai mendekati kediaman usman dan catatan ituada di tangan Ammar, mulai lah mereka berpencar satu persatu hingga tinggallahAmmar sendiri yang masuk kedalam rumah usman, yang saat itu banyak tetamu daribangsanya yaitu Bani Umayyah.
Setelah Ammar minta izin dan di izinkan masuk, segeralahAmmar menyerahkan catatan-catatan itu pada usman yang di sebelahnya ada MarwanBin Hakkam. Usman membaca catatan itu lalu bertanya:
Usman: “kamu yang tulis ini”?
Ammar : “Ya”
Usman: “Siapa lagi yang ikut dalam gagasan ini?”
Ammar: “Banyak, hanya ketika mereka mau masuk ke rumah mu
sekarang ini, tiba-tiba mereka mengurungkan niatnya”.
Usman: “Siapa mereka”?
Ammar: “Maaf, saya tak bisa sebutkan siapa mereka?”
Usman: “Mengapa kamu lebih berani dari mereka?”
Marwan: “Wahai Amiril mukminin, sesungguhnya si budak hitam ini (maksudnya Ammar) telah memprovokasi orang-orang agar berani
padamu, kalau kau bunuh dia sekarang, niscaya engkau akan selamat dari makarnya”
Usman: “Pukuli dia sekarang!!!!!!!”
Lalu para Bani Umayyah yang hadir serta usman sendirimemukuli Ammar hingga perutnya robek dan pingsan tak siuman. Setelah itu,mereka menyeret Ammar dan melemparkannya di depan pintu masuk.
Ummu Salamah (Istri Nabi) saat itu melihat kejadian itu dan meminta orang-orang agar menggotongnya (Ammar yang sedang terluka parah tak sadarkan diri) dan memasukkan Ammar di rumahnya untuk di obati.
Ammar adalah sesepuh Bani Mughirah. Ketika Bani Mughirah mendengar tragedy tragis tersebut yang menimpa pada sesepuhnya. Maka Hisyam Bin Al-Walid dari Bani Mughirah menghadang Usman di jalan ketika dia akan solat dzohor.
Lalu Hisyam berkata pada Usman;
Hisyam: “Demi Allah (wahai Usman) kalau sampai AmmarMati  akibat pukulan-pukulan itu, niscayaakan ku bunuh pemuka dari Bani Umayyah”
Usman: “Tak tahu!!!! Aku tak ada di sana saat itu!!!”
Lihat: Kitab Imamah Wa Siyasah oleh Ibnu Qutaibah (lahir tahun 213 H wafat tahun 276 H) Juz 1 hal: 35-36. Lebih dikenal dengan kitab TarikhKhulafa’. Editor: Dr Toha Muhammad Azzainy (pengajar di Al Azhar University, Cairo). Penerbit Muhammad Alhalaby dkk.

Amirul Mukminin Ali as bukanlah Khulafaur Rasyidinnya Sunni

Sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, Amirul Mukminin Ali as bukanlah Khulafaur Rasyidin Sunni! (Tidak percaya ?.. Tanya Bukhori)

Didalam Tabaqat, yang dianggap oleh ulama’ Hanbali sebagai rujukan utama mereka, Ibn Abu Ya’li menyatakan bahwa Wadeezah al-Himsi berkata: ‘Saya menziarahi Ahmad ibn Hanbal, setelah penambahan nama Ali [as][1] kedalam urutan nama Khalifah yang tiga [Khalifah yang adil].

Saya berkata kepadanya: ‘Wahai Abu Abdullah! Apa yang telah kamu lakukan adalah memburukkan kedua mereka Talhah dan al-Zubayr!’ Ahmad berkata: ‘Janganlah membuat kenyataan yang jahil! Apa yang mempengaruhi  kita mengenai peperangan mereka, dan kenapa kamu menyebutnya sekarang?’ Saya berkata: ‘Semoga Allah memandu kamu kepada kebenaran, kami menyatakannya setelah kamu menambah nama Ali dan memberi mandat kepadanya [dengan sanjungan] sebagai Khalifah sebagaimana yang telah dimandatkan kepada Imam-imam sebelumnya!’ Ahmad berkata: ‘Dan apa yang menahan saya dari melakukannya?’ Saya berkata: ‘Satu hadits yang disampaikan oleh ibn Umar.’ Dia berkata kepada saya: ‘Umar ibn al-Khattab adalah terlebih baik dari anaknya, karena dia menerima  Ali sebagai Khalifah diatas Muslim dan menyenaraikan beliau diantara mereka-mereka ahli syura, dan Ali merujuk dirinya sebagai Amirul Mukminin; adakah saya yang akan mengatakan bahwa mereka yang beriman tidak mempunyai Pemimpin?!’Maka saya pun pergi.[2]
.
Insiden ini menerangkan kepada kita sebuah  fakta  bahwa penyampai tersebut adalah Pemimpin ‘ahl al-sunna wal-jamaah’ dan juga jurucbicara mereka, dan bahwa mereka menolak Khalifahnya Ali disebabkan oleh apa yang Abdullah ibn Umar, ahli faqih sunni, telah mengatakan yang telah al-Bukhari catat didalam sahihnya. Oleh karena mereka mengatakan bahwa sahih al-Bukhari adalah buku yang paling benar sesudah kitab Allah, adalah perlu bagi mereka untuk menolak Khalifahnya Ali dan tidak mengiktirafnya.
Didalam sahihnya, al-Bukhari menyatakan dari Abdullah ibn Umar berkata: ‘Semasa hidup rasul Allah, kami menganggap Abu Bakr paling utama, kemudian Umar ibn al-Khattab, kemudian Uthman ibn Affan, semoga Allah merasa senang dengan mereka’.[3]
.
Al-Bukhari menyatakan satu hadits lain yang disampaikan oleh ibn Umar yang lebih terang dari yang sebelumnya. Didalamnya Abdullah ibn Umar berkata: ‘Semasa hidup rasul Allah, kami tidak menganggap sesiapa yang melebihi dari Abu Bakr, kemudian Umar, kemudian Uthman, kemudian kami tinggalkan selebihnya dari para sahabat rasul tanpa membuat sebarang keutamaan diantara mereka.[4]
.
Untuk menyatakan asas dari ‘hadits’ ini, yang mana rasul Allah tidak pernah memberi mandat ataupun mengesahkannya, dan  itu tidak lain adalah satu dari  buah fikir Abdullah ibn Umar dan dari pandangannya yang berpihak disebabkan kebencian dan dendamnya terhadap Imam Ali yang telah diketahui umum, dengan inilah ‘ahl al-sunna wal jamaah’ telah mendirikan [mendasarkan] mazhab mereka untuk membenarkan [membolehkan] tindakkan mereka tidak mengiktiraf Khalifahnya Ali. Adalah melalui ‘hadits’ yang seperti ini, Banu Umayah telah membolehkan mengutuk, menghina, mencela dan memperkecilkan Ali
.
Pemerintahan mereka semenjak dari Muawiya dan hingga  Marwan ibn Muhammad ibn Marwan didalam tahun 132 AH telah mengarahkan untuk mengutuk Ali dari atas mimbar. Semua pendukung beliau [Imam Ali] atau yang tidak melaksanakan perbuatan yang keji itu akan di bunuh. [5]
———————————–
  1. Lihatlah bagaimana orang yang bercakap mengatakan: ‘Semoga Allah merasa senang dengannya,’ bahkan kemudiannya dia menolak untuk menerima nama beliau untuk ditambah didalam senarai ‘Khalifah rashidin’ dan membantah kepada Ahmad ibn Hanbal karena telah melakukannya. Lihatlah juga bagaimana dia berkata: ‘Kami telah menyatakannya, dst…,’ menunjukkan bahwa dia berkata bagi pihak ahl al-sunna yang telah menghantarnya untuk bertemu Ahmad ibn Hanbal untuk menyatakan bantahan mereka.
  2. Tabaqat al-Hanabila, jilid 1 ms 292
  3. Al-Bukhari, sahih jilid 4 ms 191, jilid 4 didalam buku pada mula kejadian didalam bab mengenai kemuliaan Abu Bakr yang hampir sama dengan kemuliaan para rasul
  4. Al-Bukhari sahih jilid 4 ms 203, didalam bab mengenai kemuliaan Uthman ibn Affan didalam buku pada permulaan kejadian
  5. Pengecualiannya hanya pada beberapa tahun semasa pemerintahan Umar ibn Abd al-Aziz. Dia menghentikan kebiasaan pada hina dan mengutuk, tetapi sesudah kematiannya mereka memulakan semula, malah lebih dari itu dengan menajiskan dan merusakkan kuburannya. Mereka telah sampai sehingga menghalang untuk menamakan sesaorang dengan namanya…