Kitab kuning menyerang syi’ah tetapi gagal !

Salam dan selawat buat Baginda Rasul Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalihi Wasallam serta Ahlul Baytnya yang suci serta tahniah kita ucapkan buat mereka Maasumin as. atas Hari Perlantikan Imamah dan Wilayahnya Imam bagi segala Imam, Amirul Mukminin Ali Ibni Abi Tolib Alaihissalam. Tahniah juga buat kaum Muslimin pada hari ini kerana telah sempurna agama dan hujjat buat kita semua.

Syî’ah diasumsikan sebagian orang sebagai kaum yang telah tersesat sangat jauh dari kebenaran dan karena mempertuhankan ‘Ali bin Abî Thâlib, bahkan mereka itu dianggap telah merusak ajaran Islam yang suci secara keseluruhan. Dan sebagian yang lain menilai bahwa syî’ah itu adalah ummat Islam yang konsisten dengan Islam yang suci yang mengikuti Ahlulbait karena kepatuhannya kepada Allah dan Rasûl-Nya. Itulah dua asumsi serta dua pandangan yang tidak pernah bertemu, sebab menilainya dengan penilaian subyektifitas masing-masing, namun boleh jadi penilaian keduanya itu benar, sebab ada syî’ah sebagai madzhab yang dianggap menyimpang, dan ada syî’ah secara spiritual sebagai julukan bagi orang-orang yang mengikuti figur-figur kebenaran, yaitu Rasûlullâh saw dan Ahlulbaitnya. Syî’ah secara bahasa artinya pengikut, dan yang dimaksudkan di sini adalah pengikut Nabi saw dan Ahlulbaitnya.

 

Kecintaan sebagian syî’ah dan kepengikutannya terhadap Nabi serta Ahlulbaitnya, boleh jadi hanya sebatas klaim saja, atau dialamatkan orang kepadanya sebagai syî’ah sementara perilakunya berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya sehingga mereka tidak menjadi penghias Ahlulbait, maka Imam Ja’far Al-Shâdiq as membagi syî’ah kepada tiga kelompok sebagaimana telah disebutkan di atas.

Syî’ah yang benar-benar syî’ah itu, biasanya dalam penyebutannya suka disandarkan kepada Nabi, ‘Ali atau Ahlulbait lainnya, misalnya syî’atunâ (syî’ah kami), syî’atu ‘Aliyyin (syî’ah ‘Ali), syî’atu Ja’far (syî’ah Ja’far) dan sebagainya. Atau seperti yang difirmankan Allah dalam Al-Quran, Dan sesungguhnya di antara syî’ah-nya itu adalah Ibrâhîm. (Sûrah Al-Shâffât ayat 83)

Rasûlullâh saw dan Ahlubaitnya mendefinisikan syî’ah-nya itu dari sisi ketaatannya kepada Allah ‘azza wa jalla, dari segi kekuatannya dalam beribadah kepada-Nya, dari kepeduliannya terhadap sesamanya dan dari kemuliaan akhlak dan budi pekertinya. Oleh karena itu perhatikan akhlak syî’ah yang sesungguhnya menurut Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya.

Rasûlullâh saw bersabda, “Sesungguhnya syî’ah kami itu adalah orang-orang yang benar-benar mengikuti kami dalam amal-amal kami.”

Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata, “Syî’ah-ku demi Allah, mereka itu adalah orang-orang yang sabar, berilmu, mengenal Allah dan ajaran-Nya, taat menjalankan perintah-Nya, mendapat petunjuk dengan kecintaan kepada-Nya, kuat dalam ibadahnya, langgeng kezuhudannya, pucat pasi wajahnya (dikarenakan panjangnya shalat malam), layu matanya (karena kurang tidur), kering bibirnya (karena banyak berdzikir atau puasa), kempis perutnya (karena tidak banyak makan), mereka dikenal ke-ruhbâniyyah-annya (cahayanya) pada muka-mukanya dan kependetaannya (kemuliannya) pada kelakuannya, mereka laksana pelita yang menerangi setiap yang gelap, jika mereka hadir mereka tidak begitu dikenal (sebagai orang terkemuka) dan apabila mereka tidak hadir, orang-orang tidak merasa kehilangan (sebab mereka tidak dianggap penting). Mereka itu syî’ah-ku yang baik dan saudara-saudaraku yang mulia. Duhai alangkah rindunya aku kepada mereka.”
Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata kepada Nauf, “Syî’ah-ku wahai Nauf adalah orang-orang yang layu bibirnya (karena banyak berdzikir), yang kempis perutnya (karena tidak banyak makan), ruhbân (ahli ibadah) di malam hari dan bagaikan singa (bukan pemalas) di siang hari. Apabila malam telah larut, mereka ikatkan kainnya di tengah-tengah (badannya) dan mengenakan selendang di ujung-ujungnya, mereka berdirikan kakinya (dalam shalat malam) dan mereka hamparkan dahinya (lama dalam bersujud). Apabila siang telah tiba, mereka adalah orang-orang yang santun, berilmu, ahli kebaikan dan ber-taqwâ. Mereka jadikan bumi sebagai hamparan, air sebagai wewangian (untuk berwudhu) dan Al-Quran sebagai syi’ar. Jika mereka hadir, mereka tidak begitu dikenal dan apabila mereka tidak ada orang-orang tidak merasa kehilangan. Mereka tidak melolong seperti lolongan anjing dan tidak tamak seperti ketamakan burung gagak. Jika mereka melihat orang yang beriman, mereka memuliakannya dan apabila mereka melihat orang fâsiq, mereka menjauhinya. Keburukan dari mereka tidak ada dan kalbu-kalbu mereka disedihkan (karena merasa sangat sedikit berbuat kebaikan atau merasa banyak dosa). Kebutuhan mereka enteng dan jiwa-jiwa mereka suci, badan-badan mereka berbeda-beda (berlainan suku bangsa), namun hati-hati mereka bersatu. Mereka itu syî’ah-ku, demi Allah, wahai Nauf.”

Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata, “Syî’ah kami adalah orang-orang yang mencurahkan pembelaan kepada kami, mereka saling cinta-mencintai dalam kecintaan kepada kami, mereka saling berkunjung dalam menghidupkan ajaran kami, jika mereka marah, maka marahnya tidak sampai kepada berbuat aniaya dan apabila mereka rela, maka relanya tidak sampai melampaui batas. Kehadiran mereka adalah berkah bagi setiap orang yang bertetangga dengannya dan kedamaian untuk orang-orang yang bergaul dengannya.”

Imam ‘Ali bin Abî Thâlib as berkata, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi telah melihat ke bumi, kemudian Dia memilih kami dan memilihkan untuk kami syî’ah yang membela kami, yang gembira dengan kegembiraan kami, yang bersedih dengan kesedihan kami, mereka korbankan harta dan jiwa demi membela kami, maka mereka itu dari kami, kepada kami dan bersama kami di dalam surga-surga.”

Imam Ja’far Al-Shâdiq as berkata, “Syî’ah kami adalah ahli warâ’ (sifat hati-hati agar tidak melanggar) dan ijtihâd (bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya), ahli dalam menyempurnakan janji dan menyampaikan amanat, ahli zuhud (tidak gembira dengan harta yang datang dan tidak berduka atas harta yang hilang) dan shalat mereka lima puluh satu rakaatdalam sehari semalam, mereka puasa di siang hari, mereka mensucikan hartanya (dengan zakat, infâq, khumus atau sedekah), mereka menunaikan haji ke Baitullâh dan mereka menjauhi segala sesuatu yang diharamkan.”

Imam Ja’far Al-Shâdiq as berkata, “Syî’ah kami adalah orang-orang yang mempersembahkan amal yang baik, mereka menahan diri dari perbuatan yang tidak baik, mereka tampakkan yang indah, mereka bersegera kepada perkara yang mulia, sebab mereka mengharapkan rahmat Tuhan Yang Maha Mulia. Maka mereka itu dari kami, kepada kami dan bersama kami di mana pun kami berada.”

Imam Ja’far Al-Shâdiq as berkata, “Sesungguhnya syî’ah ‘Ali itu adalah orang-orang yang menjaga perut dan kemaluannya (dari yang syubhat dan yang haram), mereka itu kuat jihadnya, berkerja karena Allah Penciptanya, mengharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya. Dan apabila kalian melihat orang-orang seperti itu, maka mereka itulah syî’ah Ja’far.”

Imam Ja’far Al-Shâdiq as berkata, “Ujilah syî’ah kami ketika datang waktu-waktu shalat, bagaimana mereka memperhatikannya (bersegera shalat atau tidak); kepada rahasia kami, bagaimana mereka menjaganya di sisi musuh-musuh kami dan kepada harta benda mereka, bagaimana bantuan dan sosialnya kepada ikhwân-nya (saudara-saudaranya se-Islam).”

Imam Ja’far Al-Shâdiq as berkata, “Syi’ah kami adalah orang-orang yang saling menyayangi di antara mereka…” (Bihârul Anwâr 71/258)

Imam Muhammad Al-Bâqir as berkata kepada Jâbir Al-Ju’fî, “Wahai Jâbir! Sampaikan salam dariku kepada syi’ah-ku dan beri tahukan kepada mereka bahwa tidak ada kedekatan di antara kami dan Allah ‘azza wa jalla, dan seseorang tidak bisa dekat kepada-Nya, kecuali dengan ketaatan. Wahai Jâbir! Siapa yang taat kepada Allah dan mencintai kami, dialah wali kami, dan siapa yang tidak taat kepada Allah, maka kecintaannya kepada kami tidak berguna baginya.” (Mizânul Hikmah 2: 238)

Imam Muhammad Al-Bâqir as berkata, “Janganlah kalian tertipu oleh berbagai pendapat tentang syî’ah, maka demi Allah syî’ah kami itu adalah orang-orang yang patuh kepada Allah.”

Imâm Muhammad Al-Bâqir as berkata, “Syî’ah kami tiada lain melainkan orang-orang yang ber-taqwâ kepada Allah serta taat kepada-Nya; mereka tidak dikenal, kecuali dengan sifat tawâdhu’ (rendah hati) dan khusyû’ (dalam beribadah); menunaikan amanat; banyak mengingat Allah, berpuasa dan shalat; berbuat kebaikan kepada kedua orang tua; membantu para tetangga yang faqîr, yang miskin, yang punya utang dan anak-anak yatim; jujur dalam berbicara; rajin membaca Al-Quran; menahan lidah dari menggunjing orang selain dengan kebaikan, dan mereka itu adalah orang-orang kepercayaan masyarakatnya dalam berbagai persoalan.”

Imam Muhammad Al-Bâqir as berkata, “Demi Allah, kami tidak punya keterlepasan diri (barâ`ah) dari Allah dan tidak ada kedekatan (qarâbah) antara kami dan Allah, kami tidak punya hujjah atas Allah dan kami tidak bisa dekat kepada Allah kecuali dengan ketaatan. Barangsiapa di antara kamu yang taat kepada Allah, maka kecintaannya kepada kami akan bermanfaat, tetapi siapa di antara kamu yang tidak taat kepada Allah, maka kecintaannya kepada kami tidak berguna baginya. Celakalah kalian! Jangan kalian tertipu! Celakalah kalian! Jangan sampai kalian tertipu!.” (Mizânul Hikmah 2: 238-239)

Abû Ismâ’îl berkata kepada Imam Muhammad Al-Bâqir as, ”Kujadikan diriku sebagai tebusanmu, sesungguhnya syî’ah di daerah kami itu banyak.” Kemudian beliau bertanya, “Apakah orang yang kayanya menyantuni orang miskinnya? Apakah orang yang berbuat kebaikan memaafkan orang yang salahnya? Dan apakah mereka saling membantu?” Saya jawab, “Tidak.” Lalu beliau berkata, “Mereka itu bukan syi’ah, syi’ah itu orang yang mengamalkan hal ini.” (Bihârul Anwâr 71/254)

Imam Hasan Al-’Askari as berkata, “Syî’ah ‘Ali as itu adalah orang-orang yang berada di jalan Allah, mereka tidak peduli apakah kematian menimpa mereka ataukah mereka yang menyongsong kematian. Syî’ah ‘Ali itu adalah orang-orang yang mengutamakan ikhwân-nya di atas diri-diri mereka sendiri walaupun mereka dalam keadaan kekurangan, dan mereka itu orang-orang yang Allah tidak melihat mereka melanggar larangan-Nya, dan Dia tidak kehilangan mereka dari apa yang diperintahkan-Nya. Dan syî’ah ‘Ali itu adalah orang-orang yang mengikuti ‘Ali dalam hal memuliakan saudara-saudaranya yang beriman.”

Itulah di antara ciri-ciri orang syî’ah yang sesungguhnya. Kalaulah kita mengaku-ngaku sebagai syî’ah Nabi dan Ahlulbait, kayaknya tidak begitu etis, seperti halnya sebagian orang Arab yang mengaku-ngaku beriman padahal belum nyata taatnya, maka turunlah ayat keempat belas dari sûrah Al-Hujurât menegur mereka, Dan berkatalah orang-orang A’rab: Kami telah beriman. Katakanlah: Kalian belum beriman, tetapi katakanlah: Kami telah masuk Islam…
Jadi syî’ah yang sesungguhnya itu identik dengan mu’minîn, dan seandainya kita dituduh orang sebagai syî’ah–puji bagi Allah–mudah-mudahan saja tuduhan itu menjadi kenyataan sebagai syî’ah Rasûlullâh dan Ahlulbaitnya. Âmîn!

Syî’ah yang ke Surga
Allah ‘azza wa jalla berfirman, Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, mereka itu sebaik-baik makhluk, balasan buat mereka di sisi Tuhannya adalah surga ‘Aden yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya, Allah rela kepada mereka dan mereka rela kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi mereka yang takut kepada Tuhannya.

Ibnu ‘Abbâs berkata, “Ketika turun ayat Innal ladzîna âmanû wa ‘amilush shâlihâti ulâika hum khairul bariyyah. Rasûlullâh saw berkata kepada ‘Ali, ‘Dia itu adalah kamu dan syî’ah-mu, pada hari kiamat mereka itu rela dan mendapatkan rela.’”

Jâbir bin ‘Abdullâh berkata, “Ketika kami sedang berada di sisi Nabi saw tiba-tiba datang ‘Ali, kemudian Nabi saw berkata, ‘Demi yang diriku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang ini (‘Ali) dan syî’ah-nya benar-benar beruntung pada hari kiamat.’ Kemudian turun ayat, Innal ladzîna âmanû wa ‘amilush shâlihâti ulâika hum khairul bariyyah. Adalah para sahabat Nabi saw apabila ‘Ali as datang, mereka bilang, ‘Telah datang khairul bariyyah.’”

Dari Jâbir bin Yazîd, dari Imam Muhammad Al-Bâqir as berkata, “Ummu Salamah, istri Nabi saw telah ditanya tentang ‘Ali bin Abî Thâlib as, beliau menjawab, ‘Aku mendengar Rasûlullâh saw berkata, ‘Sesungguhnya ‘Ali dan syî’ah-nya, mereka itu orang-orang yang beruntung.’”

Syî’ah Nabi dan Ahlulbaitnya adalah ahli surga, mereka akan menempati surga-surga yang tinggi dan mereka termasuk rombongan pertama yang masuk ke dalam surga bersama-sama Rasûlullâh saw. Imâm ‘Ali bin Abî Thâlib as mengadukan kedengkian orang kepada Rasûlullâh saw, kemudian beliau berkata, “Wahai ‘Ali! Ada empat orang yang pertama-tama masuk ke dalam surga, yaitu aku, kamu, Hasan dan Husain. Keturunan kita di belakang kita, pecinta kita di belakang keturunan kita sedangkan syî’ah-syî’ah kita di sebelah kanan kita dan di sebelah kiri kita.”

Setiap pencinta Nabi dan Ahlulbaitnya belum tentu menjadi syî’ah-nya, karena kecintaan itu perlu kepada pembuktian, yaitu kepengikutan secara lahir dan batin. Tetapi setiap syî’ah-nya pasti pecintanya. Apabila kita tidak taat kepada Allah, maka kita bukan syî’ah Rasûlillâhi wa ahli baitih.[]

Pada tahun kesepuluh Hijrah, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalihi Wasallam telah pergi ke Makkah bagi menunaikan fardhu Haji. Haji pada kali ini merupakan haji yang terakhir bagi Rasul, maka oleh sebab itu ia dinamakan sebagai Hujjatul Wida’ . Para haji yang telah bersama Rasulullah bilangan mereka mencapai sehingga sebanyak seratus dua puluh ribu orang.

Ibadah haji telah tamat dan Rasulullah pun memulakan perjalanan untuk pulang ke Madinah, berduyun-duyun manusia datang untuk mengucapkan selamat tinggal dan selain daripada penduduk-penduduk Makkah semuanya bersama Rasulullah meneruskan perjalanan pulang ke negeri masing-masing. Apabila mereka telah sampai di satu tempat bernama Ghadir Khum, hampir 5km daripada Juhfah, Jibrail Al-Amin telah turun membawa wahyu kepada Rasul untuk berhenti di tempat tersebut. Rasulullah pun mengarahkan semua ummat Islam untuk berhenti di situ.

Para rombongan hairan dengan arahan untuk berhenti dengan tiba-tiba tersebut yang mana dari segi zahir ia tidak sesuai pada tempat dan masanya, tempat yang tidak memiliki air dan pada waktu tengah hari dengan cuaca yang panas terik. Mereka bercakap sesama sendiri : Pasti telah turun perintah yang penting daripada Tuhan dan kepentingan perintah yang dipertanggungjawabkan ke atas Rasulullah (dapat difahami) cukup dengan larangan Baginda meneruskan perjalanan pada keadaan yang tidak sesuai begini untuk menyampaikan wahyu Tuhan.

Perintah Allah ini berhubung kait dengan ayat :

يا ايها الرسول بلغ ما انزل اليك من ربك و ان لم تفعل فما بلغت رسالته و الله يعصمك من الناس

Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, bererti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.

Cahaya matahari tengah hari 18 Zulhijjah di Ghadir Khum terik memancar dan rombongan besar yang mana sejarah telah mencatatkan bilangan mereka adalah daripada 70 ribu sehingga 120 ribu orang telah berhenti disitu atas perintah Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih dan menunggu apakah yang bakal dicatat oleh sejarah pada hari itu. Disebabkan panas yang sangat terik mereka telah membahagikan pakaian mereka kepada dua bahagian, satu untuk diletakkan di atas kepala dan yang lainnya diletakkan di bawah kaki. Dalam detik-detik penting tersebut, terdengar suara azan berkumandang mengajak manusia untuk solat. Mereka pun bersiap-siap untuk bersembahyang dan Rasulullah pun mengimami solat jemaah di Ghadir kemudian Rasulullah naik ke atas mimbar yang telah didirikan di tengah ummat manusia dan dengan suara yang lantang berkhutbah. Diantara sabda Baginda adalah seperti berikut:

Segala puji hanya bagi Allah. DaripadaNya kita memohon pertolongan, kepadaNya kita beriman dan bertawakal serta kita berlindung daripada kejelekan hawa nafsu dan amalan buruk yang mana tidak ada Hadi dan penunjuk bagi orang yang sesat selain Dia; Tuhan yang mana jika sesiapa yang Dia beri hidayah maka tidak akan ada lagi yang dapat menyesatkannya. Aku bersaksi bahawa Tidak ada Tuhan selainNya dan Muhammad hamba dan RasulNya.

Wahai manusia, telah hampir waktu untuk aku mengucapkan selamat tinggal kepada dakwah yang hak (benar) dan meninggalkan kalian. Aku mempunyai tanggungjawab dan kalian juga mempunyai tanggungjawab. Apakah yang kalian fikirkan mengenai diriku?

Kami bersaksi bahawa kamu telah menyampaikan agama Tuhan, menginginkan kebaikan serta menasihati kami dan telah berusaha di jalan ini, maka Allah Subhanahu Wa Taala akan memberikan ganjaran yang baik kepadamu.

Rasulullah meneruskan khutbahnya setelah menenangkan keadaan sekeliling :

Adakah kalian bersaksi bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan rasulNya? Syurga dan neraka adalah hak, hari kiamat tanpa syak pasti akan berlaku dan Tuhan akan menghidupkan kembali mereka-mereka yang telah terkubur didalam tanah?

Sahabat-sahabat Rasul menjawab : Ya, ya kami bersaksi.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih meneruskan :

Aku akan meninggalkan kepada kalian dua benda berharga, bagaimanakah perlakuan kamu dengan mereka? Seorang telah bertanya : Apakah dua benda berharga tersebut?

Baginda Sallallahu Alaihi Wa Aalih bersabda : Benda berharga akbar adalah kitab Tuhan (Quran) yang mana satu bahagiannya di tangan Tuhan dan bahagian yang lainnya di tangan kalian. Genggamlah ia dengan erat supaya kamu tidak sesat. Dan benda berharga asghar adalah Itrah Ahlul Baitku. Allah Subhanahu Wa Taala telah memberitakanku bahawa dua tinggalanku ini tidak akan berpisah antara satu sama lain sehingga hari kiamat.

Wahai manusia, janganlah berpaling daripada Kitab Allah dan Itrahku dan jangan ketinggalan daripada mereka supaya kamu tidak binasa.

Ketika itu, Baginda Sallallahu Alaihi Wa Aalih mengambil tangan Ali Alaihissalam dan mengangkat tangannya sehinggakan cahaya putih dibawah ketiak Rasul kelihatan kepada semua. Mereka melihat Imam Ali Alaihissalam disisi Rasul serta turut mengenalinya dan kini mereka telah memahami tujuan daripada pengumpulan ini pasti adalah mengenai sesuatu yang berkenaan dengan Ali Alaihissalam, mereka semua menanti untuk mendengar sabda Rasul (saaw) seterusnya.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih bersabda :

Siapakah yang lebih Aula dan didahulukan keatas orang Islam daripada mereka sendiri? 
Sahabat Rasul menjawab : Allah dan RasulNya lebih mengetahui.

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih bersabda :

Allah Subhanahu Wa Taala adalah maulaku, aku adalah maula para mukmin dan aku lebih aula dan didahulukan ke atas mereka dari diri mereka sendiri.

Kemudian bersabda :

من كنت مولاه فهذا على مولاه

Wahai manusia, barangsiapa Aku adalah maulanya, maka Ali adalah maulanya.
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih mengulang kata-kata terakhir ini sebanyak tiga kali kemudian bersabda :

(Daripada riwayat Ahmad Bin Hanbal didalam musnadnya, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih mengulang kata-kata tersebut sebanyak empat kali.)

Ya Allah, cintailah mereka yang mencintai Ali, musuhilah mereka yang memusuhi Ali. Ya Allah, bantulah penolong Ali dan hinakanlah musuh-musuhnya. Tuhanku, jadikan Ali bersama hak (kebenaran).
Kemudian bersabda Sallallahu Alaihi Wa Aalih :

Hendaklah yang hadir menyampaikannya pada yang tidak hadir dan saling memberitakan kepada orang lain berkenaan perintah ini.

Kemudian Malaikat wahyu turun dan menyampaikan kepada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih bahawa Allah Subhanahu Wa Taala hari ini telah menyempurnakan agamaNya dan telah mencukupkan nikmatnya ke atas seluruh mukmin.

اليوم اكملت لكم دينكم و اتممت عليكم نعمتى و رضيت لكم الاسلام ديناً) سوره مائده ، آيه 3)

Ketika itu, telah terdengar takbir yang dilaungkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih dan bersabda : 
Aku bersyukur ke Hadrat Ilahi bahawa Dia telah menyempurnakan agamaNya dan mencukupkan nikmatNya serta telah ridha akan risalahku dan wilayah Ali selepasku..

Rasulullah turun daripada tempatnya dan sahabat-sahabat Baginda, datang berduyun-duyun mengucapkan tanhiah kepada Amirul Mukminin Ali Alaihissalam dan menggelarkannya sebagai maula setiap lelaki dan wanita mukmin.

Ghadir dikenali sebagai hari pembakar semangat, hari wilayah, hari imamah, hari wishayah, hari ukhuwah, hari peningkatan, keberanian, pelindungan, keridhaan. Hari nikmat, hari kesyukuran, hari menyampaikan, hari mengucapkan tahniah dan syabas, hari kegembiraan, kebahagiaan, memberi hadiah, hari perjanjian dan memperbaharuinya, hari penyempurna agama dan penyampaian hak, hari pemusnahan syaitan, hari yang mengenalkan jalan serta rahbar (pemimpin), hari ujian, hari putus asa musuh dan harapan pencinta dan ringkasan hari Islam, Quran dan Itrah, satu hari yang dimuliakan oleh pengikut sebenar agama Islam dan mengucapkan tahniah antara satu sama lain.

Allah Subhanahu Wa Taala memberikan pahala dan ganjaran beberapa kali ganda pada hari ini berbanding hari-hari raya yang lain yang mana kita tidak akan dapat melihat ganjaran sebegini selain daripada hari tersebut. Berbuat baik pada hari ini memurahkan rezeki dan memanjangkan umur. Menyayangi antara satu sama lain menyebabkan rahmat dan kasih sayang Tuhan. Pada hari ini, berikanlah harta yang telah dikurniakan Tuhan kepadamu kepada sanak saudara setakat yang kamu mampu dengan senyuman diwajah. Bergembiralah apabila dapat membantu orang lain dan bersyukurlah ke atas segala nikmat yang diberikan Allah. Berbuat baiklah kepada sesiapa yang memerlukan bantuan darimu dari segi pakaian dan makanan, samakan dirimu seperti orang yang berada dibawahmu. Amalkanlah persamaan ini setakat yang kamu mampu yang mana pahala satu dirham pada hari ini umpama seratus ribu dirham dan barakahnya pula adalah disisi Tuhan.

Berpuasa pada hari ini telah disunatkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala dan mempunyai pahala berlipat kali ganda. Jika sesiapa pada hari ini, menyempurnakan keperluan saudaranya – sebelum diminta – dan dengan niat yang baik, pahalanya seperti dia telah berpuasa pada hari ini dan pada malamnya beribadah sehingga terbit fajar. Selain itu, barangsiapa pada hari ini memberi makan (berbuka puasa) kepada orang yang berpuasa umpama dia telah memberi makan kumpulan-kumpulan manusia.

Ghadir Didalam Quran

Berkenaan peristiwa Ghadir selepas daripada ayat Tabligh yakni ayat :

(يا اَيّها الرسول بلغ ما انزل اليك من ربك)
Telah turun dua ayat lain yang terdiri daripada :

1) Ayat sempurna agama

اليوم يئس الذين كفروا من دينكم فلا تخشوهم و اخشون اليوم اكملت لكم دينكم و اتممت عليكم نعمتى و رضيت لكم الاسلام ديناً

Pada hari ini (Hari Ghadir) orang-orang kafir telah berputus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini (Hari Ghadir Khum) telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagimu (Al-Maidah, 3).

Apabila kita teliti ayat di atas ini, dapat difahami bahawa hari turun ayat tersebut merupakan suatu peristiwa yang sangat penting, yang mana ia merupakan punca musuh berputus asa daripada harapan untuk mengalahkan Islam. Sekarang, kita perlu meneliti apakah hari yang memiliki kepentingan sebegini ?

1-Adakah Hari Pembukaan Kota Makkah mempunyai ciri-ciri ini? Adalah jelas tidak, ini adalah kerana pada hari tersebut, perjanjian-perjanjian orang Islam dengan musyrikin masih menunjukkan kekuatan musyrikin dan ibadah haji masih dilakukan seperti pada zaman jahiliyah, dan sebahagian daripada hukum-hukum Islam turun selepas peristiwa tersebut. Di sini, orang kafir masih belum berputus asa, agama juga masih belum sempurna dari segi penyampaian furu’ dan hukum-hukum asasi.

2-Adakah hari pengumuman baraat (kebenciaan) terhadap musyrikin dapat menjadi hari penting tersebut, dengan menggambarkan bahawa pada hari ini musyrikin berputus asa dan tidak lagi mempunyai harapan? Sekali lagi tidak, kerana penyampaian agama dari segi hukum-hukum masih belum sempurna pada hari tersebut seperti berkenaan sebahagian daripada hudud, qisas dan hukum-hukum berkenaan kalalah (saudara sebapa atau saudara seibu sebapa) yang turun selepas peristiwa ini. Oleh itu, putus asa sahaja bukanlah penunjuk hari tersebut, bahkan putus asa perlu seiring dengan penyempurnaan agama; dan hari pengumuman baraat ini tidak memiliki kedua-dua ciri ini.

Sekarang kita hendaklah melihat apakah hari yang memiliki kedua-dua perkara berharga ini?

Sebahagian berpendapat bahawa hari tersebut, adalah hari Arafah tahun sepuluh Hijrah yang mana didalam sejarah terkenal dengan Hujjatul Wida’ tetapi dengan merujuk kepada peristiwa sejarah, hari ini tidak memiliki dua perkara tersebut.

Namun berputus asa dan tidak lagi memiliki harapan boleh diterangkan kepada dua bentuk :

1) Kafir Quraish dan musyrikin yang berada di semenanjung Arab telah berputus asa sebelum peristiwa ini lagi (Hujjatul Wida’), Quraish pada hari pembukaan kota Makkah dan musyrikin pada hari pengumuman baraat, telah berputus asa sepenuhnya untuk mengalahkan Islam, maka dalam keadaan ini, tidak benar untuk kita mengatakan musyrikin berputus asa pada hari Arafah tahun sepuluh Hijrah (Hujjatul Wida’) dalam keadaan yang mana perkara ini telah berlaku lebih setahun sebelumnya.

2)Semua orang musyrik (seluruhnya) masih belum berputus asa sehinggalah hari tersebut.

Disini, masalah penyempurnaan agama, jika agama bermaksud hukum-hukum dan furu’ Ad-Din, maka pada hari Arafah semua hukum belum sempurna bahkan asas hukum-hukum yang berkaitan dengan (Riba, warisan dan kalalah) selepas hari Arafah diturunkan.

Maka, satu-satunya hari yang memiliki ciri-ciri kedua-duanya adalah hari Ghadir yang mana penentuan pengganti bukan sahaja memutuskan harapan musuh malah menyempurnakan juga agama Tuhan. Sebenarnya, maksud putus asa disini adalah putus asa yang dimiliki disebabkan penyempurnaan agama. Dan maksud penyempurnaan agama adalah penyempurnaan rukun-rukun dan pengukuh agama itu, bukan penerangan furu’ dan bahagian-bahagiannya.

Putus Asa Musuh dan Penyempurnaan Agama

1) Penentuan pengganti dan punca putus asa

Hari yang mana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih secara rasmi menentukan penggantinya merupakan hari orang kafir berputus asa dan harapan untuk melihat kemusnahan Islam kerana mereka sebelum ini membayangkan agama Islam hanya dapat berdiri dengan kewujudan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih dan dengan wafatnya Baginda Sallallahu Alaihi Wa Aalih Islam juga akan musnah dan keadaan akan kembali seperti dahulu (zaman jahiliyah), namun ketika mereka melihat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih telah menentukan seorang yang berkemampuan (dari segi ilmu pengetahuan, keadilan dan saksama, kekuatan dan ketegasan yang tidak ada tandingan) untuk kepimpinan dan ummat Islam telah membaiatnya, maka mereka pun berputus asa dari melihat kejatuhan Islam. Dan sepenuhnya putus harapan apabila melihat Islam tumbuh dengan sebuah agama yang mempunyai asas kukuh, yang tidak akan goyah.

Ayat Quran memberi saksi bahawa orang kafir menginginkan ummat Islam meninggalkan agama mereka dan kembali kepada agama nenek moyang mereka yang terdahulu seperti mana Allah Subhanahu Wa Taala di dalam Quran berfirman :

ود كثير من اهل الكتاب لويردونكم من بعد ايمانكم كفاراً

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman (Baqarah,109).

Tetapi kemajuan pantas Islam di semenanjung Arab dan kejatuhan pemerintahan syirik di Makkah telah menghancurkan harapan mereka namun satu-satu harapan yang dibayangkan oleh mereka adalah oleh kerana pembawa agama baru(Islam), tidak memiliki anak untuk mengambil alih kepimpinan dan pemerintahan Islam yang masih baru selepas kewafatan Baginda Sallallahu Alaihi Wa Aalih, daripada ini, asas pemerintahan Islam akan musnah selepas pemergian Rasul dan tidak akan mengambil masa yang lama untuk mereka mengalahkan Islam dan keadaan akan kembali seperti dahulu.

Allah telah berfirman di dalam Al-Quran berkenaan perkara ini :

اَمْ يَقُولُونَ شاعِرٌ نَتَرّبصُ به رَيْبَ المَنُون

Bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya (Thuur, 30).

Ia merupakan pelan terakhir yang diharapkan oleh mereka, tetapi satu hari Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih telah menentukan wasinya dan pemimpin muslimin selepasnya, hari itu merupakan hari yang mana malam melabuhkan bayangnya menghadirkan ketakutan dan menghancurkan harapan dalam hidup mereka.

2) Penyempurnaan Agama

Jika hari itu harapan musyrikin musnah dengan pemilihan khalifah dan penentuan pengganti, maka agama Islam juga akan turut sempurna, dan maksud (penyempurnaan agama) didalam ayat, bukanlah penerangan tentang furu’ agama dan hukum-hukum fekah untuk ummat Islam, bahkan sempurnanya agama adalah apabila sebuah agama itu dapat kekal, mempunyai asas yang kukuh ataupun dengan penentuan pemimpin yang akan menjalankan dan mengukuhkan benteng-benteng dan penyebab kekalnya agama tersebut. Oleh itu, dengan mengambil makna ini, kedua-dua ayat sesuai dan berkaitan antara satu sama lain. Dan hari yang merealisasikan dua perkara ini akan ditentukan.

Bukti-bukti Penurunan Ayat Di Ghadir

Para penafsir dan ahli hadis telah meriwayatkan turun ayat adalah pada hari Ghadir. Dan disini terdapat sebahagian daripada riwayat-riwayat yang membuktikannya. Dan jika riwayat syiah ditambah dengan riwayat ahlul sunnah, maka perkara ini akan mencapai pada had yang paling tinggi daripada tawatir.
Di sini terdapat beberapa alamat untuk rujukan daripada kitab :

1) Al-Wilayah penulis Thabari (wafat 310 H).
2)Tafsir Ibnu Katsir Syami, (774H) j2, m/s14.
3)Tafsir Ad-Dar Al-Mantsur Sayuti Syafie, wafat (911H) j2, m/s259 dan Al-Itqan, j1, m/s31.
4)Tarikh Abu Bakar Khatib Baghdadi, wafat (43) j8, m/s290.
5)Syeikh Al-Islam Hamwini, di dalam Farayid As-Samthin bab 13.
6) Khawarizmi, wafat (568H) didalam Manaqib m/s80 dan 94.
7)Tarikh Ibnu Katsir, j5, m/s2101.
8)Tazkirah Sibt Ibn Juzi Hanafi, wafat (654) m/s18.

Allamah Al-Marhum Amini didalam kitab Jawid (Al-Ghadir) j1, m/s 230 ke atas, telah meriwayatkan kata-kata dan riwayat-riwayat dari Ahlul Sunnah yang mana semuanya memberi saksi bahawa ayat (اليوم اكملت) telah diturunkan pada hari Ghadir…Namun riwayat-riwayat syiah dapat ditemui didalam kitab-kitab yang berkaitan dengan Imamah dan tafsir-tafsir muktabar.
Beberapa perkara penting yang terdapat di dalam ayat tersebut :

1) Kumpulan daripada penafsir-penafsir seperti Fakhru Razi didalam Mafatih Al-Ghaib, Alusi didalam Ruh Al-Maa’ni dan Abduh didalam Al-Manar meriwayatkan bahawa panjang umur Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih selepas turun ayat ini, tidak lebih daripada 81 hari. Ketika wafat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih (berdasarkan riwayat Kulaini didalam Kafi dan riwayat Ahlul sunnah) berlaku pada 12 Rabiul Awal, hari turun ayat, hari ke-18 Zulhijjah, maka harinya adalah hari Ghadir. Sebenarnya bergantung kepada syarat bahawa kita tidak mengira hari Ghadir dan hari wafatnya Rasulullah, dan dua bulan daripada tiga bulan berturut-turut, dikira sebanyak 29 hari (contohnya : 11 hari bulan Zulhijjah + 29 hari Muharram + 30 hari Safar + 11 hari Rabiul Awal = 81 hari).

2- Banyak riwayat yang mengatakan turun ayat ini adalah pada hari Ghadir, yang mana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih selepas pemilihan Ali Alaihissalam untuk kekhalifahan bersabda :
الله اكبرعلى اكمال الدين و اتمام النعمة و رضا الرب برسالتى و بالولاية لعلى (ع) من بعدى
Syukur ke Hadrat Ilahi atas penyempurnaan agama, mencukupi nikmat dan keridhaanNya ke atas risalahku dan wilayah Ali Alaihissalam selepasku .

Sepertimana yang difahami daripada hadis ini, Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih telah menggunakan isi ayat yang sedang dibahaskan didalam sabdanya, maka ia secara langsung menunjukkan bahawa ayat tersebut adalah berkenaan hari Ghadir.

3-Dalam keadaan yang mana dalil-dalil yang pasti menyaksikan bebasnya (topik berbeza daripada ayat keseluruhan) ayat walaupun ayat tersebut berada di antara ayat yang menerangkan hukum yang berkaitan dengan daging-daging halal dan haram, perkara ini tidak tersembunyi bagi mereka yang mempunyai ilmu dan tahu berkenaan keadaan zaman awal Islam kerana sejarah dan hadis sahih telah menyaksikan bahawa Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih telah memohon untuk menulis wasiat untuk ummatnya supaya selepas kewafatan Baginda Sallallahu Alaihi Wa Aalih mereka tidak akan sesat, namun manusia-manusia yang ingkar apabila mengetahui bahawa Rasul Sallallahu Alaihi Wa Aalih ingin menulis berkenaan kekhalifahan, maka dengan segera mereka mentohmah Nabi Sallallahu Alaihi Wa Aalih dengan nyanyuk (mengucapkan sesuatu yang tidak difahami).

Peristiwa ini dan yang seumpamanya sepertimana yang telah tercatat didalam sejarah, berkaitan dengan mereka-mereka yang pada awal Islam mempunyai tujuan tersendiri berkenaan perkara kekhalifahan dan pengganti Rasul Sallallahu Alaihi Wa Aalih, oleh itu, bagi mengingkarinya mereka tidak lagi mengenal had dan sempadan.

Dengan mengingat kepada keadaan dan suasana ketika penurunan ayat ini, maka bagi menjaga dan memelihara ayat dari semua segi tahrif dan perubahan, perlu disembunyikan sesuatu yang berharga tersebut dengan suatu perkara biasa supaya ia kurang diberi perhatian.

Disini Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih dengan perintah Tuhan bertanggungjawab meletakkan ayat yang berkaitan dengan pengganti di antara perkara-perkara biasa supaya kurang diberi perhatian oleh musuh-musuh dan dengan cara ini sanad Ilahi ini dapat sampai ke tangan orang di masa hadapan.

2)Ayat berkenaan meminta azab

Ayat ketiga yang diturunkan berkenaan peristiwa Ghadir adalah ayat meminta azab.
Ketika Rasul Sallallahu Alaihi Wa Aalih telah memilih Ali Alaihissalam sebagai khalifah pada hari Ghadir Khum, khabar ini telah tersebar ke serata tempat, Nu’man Bin Harist Fahri telah datang ke sisi Rasul Sallallahu Alaihi Wa Aalih dan berkata : Kamu telah mengajak kami kepada Tuhan yang Esa, dan kami bersaksi dengannya, kemudian kamu mengarahkan untuk mengerjakan solat, puasa, haji dan zakat, dan kami pun mengerjakannya, adakah kamu belum ridha dan puas dengan semua ini sehinggakan remaja ini (dengan mengisyaratkan kepada Imam Ali Alaihissalam) telah kamu pilih sebagai penggantimu, adakah kata-kata ini dari kamu sendiri atau dari Allah Subhanahu Wa Taala?

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih bersabda : Demi Tuhan yang tidak ada Tuhan selainNya, ia adalah daripada Allah Subhanahu Wa Taala. Ketika ini, Nu’man mengalihkan wajahnya daripada Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih dan berkata :

اللهم ان هذاهو الحق من عندك فامطِر علينا حجارة من السماء

Ya Allah, jika betul dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit (Surah Anfaal, 32).

Ketika dia menghabiskan kata-kata tersebut tiba-tiba jatuh seketul batu dari langit dan membunuhnya, kemudian ayat ini turun :

سال سائل بعذاب واقع للكافرين ليس له دافع. من الله ذى المعارج

Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab dan ia pun terjadi, azab ini adalah khusus orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (Yang datang) dari Allah, Yang mempunyai malaikat-malaikat yang naik ke langit (Al-Ma’aarij, 1-3).

Sebab turun ayat ini telah diriwayatkan oleh para penafsir dan ahli hadis syiah dan kumpulan daripada Ahlul sunnah yang mana bilangan mereka sampai kepada 30 orang dan ia dapat dirujuk didalam kitab Al-Ghadir .

Sebab turun ayat tersebut telah diterima oleh ulama-ulama Islam kecuali Ibnu Taimiyah yang tidak mempunyai hubungan baik dengan keluarga risalah, didalam kitab Minhaj As-Sunnah yang mana lebih sesuai jika dinamakan dengan Minhaj Al-Bida’h, telah mengingkari sebab turun ayat ini dengan 7 perkara dan Al-Marhum Allamah Amini didalam permulaan jilid Al-Ghadir telah menjawab kesemuanya dan kami datangkan disini :

1- Peristiwa Ghadir berlaku selepas pulang daripada Hujjatul Wida’ namun di dalam sebab turun ayat tersebut Nu’man bertemu Rasulullah ketika di Abthah dan Abthah terletak di Makkah.

Jawapan : Pertama : didalam riwayat Sirah Halabi, Sibt Ibn Juzi dan yang lainnya, Nu’man bertemu dan berbicara dengan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih di dalam Masjid Madinah. Kedua : Ibthah yang didalam bahasa Arab adalah pantai dan pada setiap tempat yang air banjir melaluinya, ia dapat dirujuk kepada kitab-kitab bahasa.

2- Surah Ma‘aarij adalah surah Makki (diturunkan di Makkah) dan telah turun sepuluh tahun sebelum peristiwa Ghadir, oleh itu bagaimana ayat ini boleh dikaitkan dengan peristiwa yang berlaku selepas Ghadir Khum.

Jawapan : Ukuran dalam menentukan sebuah surah itu adalah Makki atau Madani adalah kebanyakan ayat didalam surah tersebut telah diturunkan dimana (Makkah atau Madinah), terdapat banyak surah-surah Makki tetapi didalamnya terdapat ayat-ayat yang turun di Madinah dan juga sebaliknya. Perkara ini akan difahami dengan merujuk kepada Quran yang telah dikeluarkan di negara-negara Arab yang mana pada permulaan setiap surah mengisyaratkan berkenaan Makki dan Madani surah tersebut.

3-Ayat : ( واذ قالوا اللهم ان كان هذا هو الحق من عندك فامطر علينا حجارة من السماء ) 32, surah Al-Anfaal telah turun selepas perang Badar dan sebelum peritiwa Ghadir.

Jawapan : Masalah ini sebenarnya adalah keanak-anakan kerana pembahasan kita tidak ada kena mengena langsung dengan ayat tersebut (ayat ini telah turun selepas perang Badar), bahkan perbahasan adalah berkenaan ayat (سأل سائل بعذاب واقع).

4-Kewujudan Rasul Sallallahu Alaihi Wa Aalih dengan hukum ayat :
و ما كان الله ليعذ بهم و انت فيهم و ما كان الله معذبهم و هم يستغفرون

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun (Al-Anfaal, 33).
Dengan kewujudan Nabi Sallallahu Alaihi Wa Aalih azab tidak akan diturunkan.

Jawapan : Maksud ayat adalah azab yang menghancurkan sebuah kumpulan manusia, seperti azab-azab yang terdapat di dalam Quran berkenaan kisah-kisah para Rasul terdahulu, bukannya azab satu orang tambahan pula dia sendiri yang memohonnya, jika tidak sejarah mencatatkan bahawa terdapat mereka-mereka yang binasa akibat daripada laknat Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih seperti yang berlaku kepada Aswad Bin Mathlab, Malik Bin Thalalah dan yang lain.

5-Jika benar peritiwa ini telah berlaku maka hendaklah ia terkenal seperti cerita berkenaan Ashhabul Fiil (tentera bergajah).

Jawapan : Peristiwa berkenaan satu orang dengan yang berkenaan satu jemaah besar adalah amat berbeza, jika kita lupakan yang itu pun, untuk meriwayatkan peristiwa kedua (tentera bergajah) ini terdapat riwayat yang banyak tetapi sebaliknya berkenaan kelebihan Imam riwayat-riwayat hanya berbentuk tersembunyi, namun dengan keadaan sebegini jika 30 orang berilmu meriwayatkan berkenaannya pasti ia merupakan salah satu inayah daripada Tuhan yang mana daripada jalan ini Dia memelihara hujjatNya.

6- Nu’man berdasarkan sebab turun ayat, telah menerima dan beriman dengan usul yang lima, dalam keadaan ini, bagaimanakah boleh turun ke atasnya?

Jawapan: Sebab turun ayat menunjukkan bahawa dia tidak ridha dengan keputusan Rasul Sallallahu Alaihi Wa Aalih bahkan dia juga tidak ridha dengan perintah Tuhan kerana dia telah berkata: Jika pemilihan Ali sebagai khalifah adalah daripada Allah Subhanahu Wa Taala maka turunkan azab kepadanya, apakah murtad yang lebih besar daripada ini.

7-Didalam kitab-kitab berkenaan nama-nama para sahabat tidak terdapat nama Nu’man Bin Harist.

Jawapan: Bilangan sahabat-sahabat Rasul lebih daripada yang terdapat didalam kitab-kitab . Mereka-mereka yang mengkaji berkenaan sejarah para sahabat hanya mencatatkan nama-nama mereka setakat informasi yang mereka miliki dan merujuk kepada muqaddimah kitab-kitab seperti Al-Istia’b, Asad Al-Ghabah, Al-Ishayah dan maklumat-maklumat berkenaan kitab-kitab ini akan menjelaskan perkara ini.
Kelebihan Hari ini :

Hari kelapan belas Zulhijjah merupakan hari peringatan sebuah sejarah penting. Hari yang mana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalihi Wasallam selepas menunaikan haji pada tahun kesepuluh Hijrah telah mengumpulkan manusia di Ghadir ketika dalam perjalanan pulang ke Madinah dan menyampaikan firman Tuhan yang telah memilih Ali Alaihissalam sebagai Imam dan Wali ke atas ummat manusia.

Disitulah turun ayat (الیَومَ أَکمَلتُ لَکُم دِینَکُم، وَ أَتمَمتُ عَلَیکُم نِعمَتِی، وَرَضِیتُ لَکُمُ الإِسلَامَ دِینًا) . Allah Subhanahu Wa Taala telah menyempurnakan agama Islam dan memutuskan harapan para musuh dengan pemilihan Ali Alaihissalam sebagai Imam bagi ummat. Hari ini merupakan antara hari raya yang paling besar bagi ummat Islam, sepertimana yang terdapat didalam banyak riwayat berkenaan kepentingan hari atas hari-hari raya yang lain.

Didalam riwayat daripada Imam Ridha Alaihissalam yang berkata: (Pada Hari kiamat, empat hari yang telah dijadikan perhiasan akan dibawa ke Arash Ilahi: Hari Raya Aidil Adha (Korban), Hari Raya Aidil Fitri, Hari Jumaat dan Hari Raya Ghadir. Namun antara empat hari ini, Hari Raya Ghadir dari segi keindahan umpama bulan dikelilingi bintang-bintang.

Didalam riwayat yang sama, hari ini merupakan hari Raya Akbar; hari dimana dosa-dosa para syiah (yang bertaubat) Amirul Mukminin Alaihissalam akan diampuni dan hari ini, hari kegembiraan, hari yang mana senyuman terlakar di semua wajah mukminin.

Didalam riwayat lain, Imam Sodiq Alaihissalam telah disoal : Adakah bagi ummat Islam hari raya lain selain daripada Hari Raya Aidil Fitri dan Hari Raya Aidil Adha? Berkata Alaihissalam: Ya. Hari Raya yang mana lebih azhim dan mulia lebih daripada dua hari tersebut. Hari tersebut adalah hari yang mana Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih telah memilih Imam Ali Alaihissalam sebagai Imam ummat dan didalam riwayat lain berkata Alaihissalam: Hari tersebut adalah hari kelapan belas Zulhijjah.

Oleh kerana itu, hari ini ummat Islam menyambutnya dengan mengadakan majlis-majlis gembira, madahi dan perbahasan berkenaan Hari Raya Ghadir dan masalah Imamah serta kelebihan Amirul Mukminin Alaihissalam. Mengenalkan serta mengajar anak-anak dan para remaja berkenaan wilayah Amirul Mukminin Ali Alaihissalam, kitab-kitab, sunnah dan sejarah berkenaannya.

Hari Raya Ghadir dari kalam Maasumin as.

1) Amirul Mukminin Alahis Salam dan Ghadir
Berkata seorang lelaki kepada Amirul Mukminin Ali as. : Beritahukan aku kelebihan anda yang paling tinggi di sisi Rasul Sallallahu Alaihi Wa Aalihi Wasallam? Imam as. berkata : Rasul saaw telah memilih Aku di Hari Ghadir dan menyatakan kewajipan Wilayatku dari sisi Tuhan dengan perintahNya.

2) Hadrat Zahra Salamullah Alaiha dan Ghadir
Berkenaan peristiwa Ghadir Hadrat Zahra sa. telah berkata :
Rasulullah saww. telah mengukuhkan perjanjian wilayat untuk Ali as. pada Hari Ghadir, sehingga dengan wasilah ini dapat menghancurkan segala harapan dan angan-angan para musuh.

3) Imam Reza as. dan Raya Ghadir
Imam Reza as. telah berkata mengenai Raya Ghadir : Hari ini adalah Hari Raya bagi Keluarga Muhammad saww. Dan Allah swt. akan melipat gandakan harta bagi setiap orang yang merayakan hari tersebut.

4) Imam Reza as. dan Hadiah-hadiah di Hari Ghadir
Telah diriwayatkan bahawa Imam Reza as. pada Hari Raya Ghadir telah menjemput beberapa orang dari sahabat-sahabat Beliau untuk makan malam dan menghantar hadiah-hadiah ke Rumah mereka serta berkhutbah tentang kelebihan-kelebihan hari ini.

5) Hadrat Ma’sumah Alaihas Salam dan Hadis Ghadir
Hadrat Fatimah Ma’sumah as. telah menukilkan hadis Ghadir dengan sanad dibawah, telah berkata : Hadrat Fatimah puteri Imam Musa B. Jaafar as., dari Fatimah puteri Imam Sodiq as., dari Fatimah puteri Imam Baqir as., dari Fatimah puteri Imam Zainal Abidin as., dari Fatimah dan Sukainah puteri-puterinya Imam Husain as., dari Ummu Kalsum puteri Fatimah Zahra Alaihas Salam menukilkan bahawa Ibunya Hadrat Zahra sa. puteri Rasulullah saww. telah bersabda kepada kaum muslimin : Adakah kamu telah lupa akan kata-kata Rasulullah saww. pada hari Ghadir Khum yang telah bersabda : Barangsiapa mengakui yang Aku adalah Maulanya, maka Ali adalah Maulanya.

Ghadir dari Kalam Imam Khomeini Rahimahullah

Bagi pandangan Sayyed Ruhullah Khomeini ra., Ghadir adalah Hari Raya yang paling besar dan penerus Nubuwwah. Berkenaan perkara ini beliau telah berkata : Hari yang penuh barakah ini (Raya Ghadir), adalah salah satu dari hari raya besar Islam dan dari riwayat-riwayat yang sampai pada kita, Ghadir adalah raya yang paling besar, ini dikeranakan ia adalah penerus Nubuwwah, penerus maknawiyat Rasulullah, penerus pemerintahan Ilahi, maka disebabkan semua perkara ini, ia merupakan Hari Raya yang paling besar.

Raya Ghadir dari Kalam Rahbar Muazzam Ayatullah Sayyid Ali Khamanei

Makam Muazzam Rahbar, Hadrat Ayatullah Sayyid Ali Khamanei mengenai Hari Raya Ghadir telah berkata : Hari Raya Ghadir yang dinamakan Raya Wilayah, adalah satu hari yang menjelaskan dan menentukan makna wilayah Islam dengan wasilah Rasul Mulia saww.. Bagi mereka yang ingin menyatakan satu contoh dari Islam, contoh yang terbaik adalah orang yang Rasul saww. pilih dan tentukan wilayahnya dari ilham Ilahi dan perintah Allah swt. Wilayah merupakan satu tajuk dari pemerintahan Islam dan penentu daripada pentadbiran masyarakat dan politik buat Islam, satu makna yang tepat dan terperinci dimana ia merupakan makna asli wilayah.

Ghadir dari Pandangan Ahlul Sunnah

1) Thabari dalam Kitabnya Al-Wilayah
Sebahagian dari riwayat Ghadir didalam kitab-kitab Ahlul Sunnah, dengan terang menjelaskan bahawa ayat Akmaluddin (sempurnya agama) di Juhfah dan pada Hari Ghadir diturunkan selepas sabda Rasulullah saww. atas perintah Allah swt. mengenai Ali as. kepada muslimin. Antara ayat-ayat berkenaan Amirul Mikminin Ali as. yang turun pada Hari Ghadir adalah ayat : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu agama bagimu.” (QS Al-Maidah: 3) dan ia adalah sebab turun ayat ini yang juga disokong oleh sebahagian ulama-ulama Ahlul Sunnah. Dari kata-kata Hafiz Abu Jaafar Muhammad B. Jarir Thabari, dalam Kitab Al-Wilayah dengan sanadnya dari Zaid B. Arqam meriwayatkan : Turun ayat ini, pada Hari Ghadir Khum berkenaan Amirul Mukminin Ali as. Thabari dalam kitab ini menjelaskan : Rasulullah saww. membawa Ali bersamanya ke atas mimbar, dan mengangkat tangan Ali as. keatas, sehingga kelihatan putihnya kedua-dua ketiak mereka, dan Rasul saww. menjelaskan mengenai Ali as. tentang apa yang diperintahkan oleh Allah swt.

2) Hafiz Abul Qasim
Hafiz Abul Qasim, Hakim Hakani, melalui perantaraan Abu Said Khudri meriwayatkan : Ketika turun ayat “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu agama bagimu.” (QS Al-Maidah: 3), Rasul Islam saww. bersabda : Tuhan meredhai risalahku dan wilayah Ali B. Abi Talib selepasku.

Telah berkata Imam Ali Ibn Musa Ar-Ridha Alaihissalam:

“ Barangsiapa yang berada di Najaful Ashraf pada hari ini bagi menunaikan ziarah Imam Ali bin Abi Talib (as) akan mendapat ganjaran yang tinggi (besar). Bersedekahlah pada hari ini sebanyak mungkin yang kamu mampu dengan nama Allah swt kepada mereka yang kurang berkemampuan, kerana “Hari Al-Ghadir” adalah dikhususkan untuk membantu mereka yang berhak.”

Amalan Hari Raya Ghadir :

Telah diriwayatkan beberapa amalan bagi hari ini :

1- Berpuasa yang mana terdapat riwayat daripada Imam Sodiq Alaihissalam bahawa berpuasa pada hari ini umpama berpuasa selama enam puluh bulan. Riwayat lain mengatakan berpuasa pada Hari Raya Ghadir merupakan kaffarah enam puluh tahun.

2- Al-Marhum Kaf’ami didalam (Bilad Al-Amin) meriwayatkan bahawa mandi sunnat hari ini adalah mustahab.

3- Berbuat baik dan berkhidmat kepada saudara-saudara mukmin.

Riwayat daripada Imam Sodiq Alaihissalam berkata: Hari ini adalah hari beribadah, hari memberi makan, berbuat baik dan berkhidmat kepada saudara seagama.

Riwayat lain daripada Imam Ridha Alaihissalam yang berkata: Barangsiapa yang hari ini meluaskan rezeki, memberikan dan menginfakkan kepada keluarga dan saudara mukminnya, maka Allah Subhanahu Wa Taala akan meluaskan rezekinya.

4- Ziarah Amirul Mukminin Ali Alaihissalam pada hari ini mempunyai banyak fadhilah dan kelebihan.

Didalam satu riwayat daripada Ibnu Abi Nasir (salah seorang daripada sahabat dan penolong setia Imam Ridha Alaihissalam) yang meriwayatkan bahawa Imam Ridha Alaihissalam telah berkata kepadanya: Walau dimana sahaja kamu berada berusahalah pada Hari Raya Ghadir, untuk berada paling dekat dengan makamnya Amirul Mukminin Alaihissalam, kerana pada hari tersebut Allah Subhanahu Wa Taala akan mengampuni ramai daripada lelaki-lelaki dan wanita-wanita muslim dan akan melepaskan pada hari ini daripada api neraka Jahannam dua kali ganda mereka-mereka yang dilepaskan daripada api neraka pada bulan Ramadhan, malam Lailatul Qadar dan malam Hari Raya Aidil Fitri.

Telah diriwayatkan ziarah-ziarah untuk Amirul Mukminin Alaihissalam pada hari ini yang mana yang paling makruf daripadanya adalah Ziarah Aminullah yang mana ziarah ini boleh dibaca untuk Amirul Mukminin Alaihissalam tidak kira dekat atau jauh, begitu juga ziarah khusus Amirul Mukminin pada Hari Ghadir.

5- Imam Ridha Alaihissalam berkata: Pada hari sebegini yang merupakan hari raya dan hari mengucapkan tahniah antara satu sama lain, maka adalah lebih baik seorang mukmin apabila bertemu antara satu sama lain untuk menyebut :

اَلحَمدُ لِلهِ الَّذِی جَعَلنَا مِنَ المُتَمَسِّکِینَ بِوِلَایَةِ أَمِیرِ المُؤمِنِینَ وَالأَئِمَّةِ عَلَیهِمُ السَّلامُ.

6- Pada hari ini, apabila bertemu saudara mukminmu sebutlah :

اَلحَمدُ لِلهِ الَّذِی أَکرَمنَا بِهَذَا الیَومِ، وَجَعَلنَا مِنَ المُؤمِنِینَ، وَجَعَلَنَا مِنَ المُوفِینَ بِعَهدِهِ إِلَینَا، وَمِیثَاقِهِ الَّذِی وَاثَقَنَا بِهِ، مِن وِلَایَةِ وُلَاةِ أَمرِهِ، وَالقُوَّامِ بِقِسطِهِ، وَلَم یَجعَلنَا مِنَ الجَاحِدِینَ وَالمُکَذِّبِینَ بِیَومِ الدِّینِ.

7-Membaca doa Nudbah pada hari ini .

8-Al-Marhum Sayyid Bin Thawus dengan sanad sahih daripada Imam Sodiq Alaihissalam meriwayatkan bahawa pada Hari Ghadir, solatlah dua rakaat, selepas selesai solat maka sujudlah dan bersyukurlah kepada Allah sebanyak 100 kali (contoh sebutlah: شُکرًا لِله – Syukran Lillah) kemudian setelah bangun daripada sujud bacalah doa ini :

اَللّهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ بِاَنَّ لَكَ الْحَمْدَ وَحْدَكَ لا شَريكَ لَكَ وَاَنَّكَ
واحِدٌ اَحَدٌ صَمَدٌ لَمْ تَلِدْ وَلَمْ تُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَكَ كُفُواً اَحَدٌ وَاَنَّ
مُحَمّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ صَلَواتُكَ عَلَيْهِ وَ آلِهِ يا مَنْ هُوَ كُلَّ يَوْمٍ فى
شَاْنٍ كَما كانَ مِنْ شَاْنِكَ اَنْ تَفَضَّلْتَ عَلَىَّ بِاَنْ جَعَلْتَنى مِنْ اَهْلِ
اِجابَتِكَ وَاَهْلِ دِينِكَ وَاَهْلِ دَعْوَتِكَ وَوَفَّقْتَنى لِذلِكَ فى مُبْتَدَءِ
خَلْقى تَفَضُّلاً مِنْكَ وَكَرَماً وَجُوداً ثُمَّ اَرْدَفْتَ الْفَضْلَ فَضْلاً وَالْجُودَ
جُوداً وَالْكَرَمَ كَرَماً رَاْفَةً مِنْكَ وَرَحْمَةً اِلى اَنْ جَدَّدْتَ ذلِكَ الْعَهْدَ
لى تَجْديداً بَعْدَ تَجديدِكَ خَلْقى وَكُنْتُ نَسْياً مَنْسِيّاً ناسِياً ساهِياً
غافِلاً فَاَتْمَمْتَ نِعْمَتَكَ بِاَنْ ذَكَّرْتَنى ذلِكَ وَمَنَنْتَ بِهِ عَلَىَّ وَهَدَيْتَنى
لَهُ فَليَكُنْ مِنْ شَاْنِكَ يا اِلهى وَسَيِّدى وَمَولاىَ اَنْ تُتِمَّ لى ذلِكَ وَلا
تَسْلُبَنيهِ حَتّى تَتَوَفّانى عَلى ذلِكَ وَاَنتَ عَنّى راضٍ فَاِنَّكَ اَحَقُّ
المُنعِمينَ اَنْ تُتِمَّ نِعمَتَكَ عَلَىَّ اَللّهُمَّ سَمِعْنا وَاَطَعْنا وَاَجَبْنا داعِيَكَ
بِمَنِّكَ فَلَكَ الْحَمْدُ غُفْرانَكَ رَبَّنا وَاِلَيكَ المَصيرُ امَنّا بِاللّهِ وَحدَهُ لا
شَريكَ لَهُ وَبِرَسُولِهِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَصَدَّقْنا وَاَجَبْنا
داعِىَ اللّهِ وَاتَّبَعْنَا الرَّسوُلَ فى مُوالاةِ مَوْلينا وَمَوْلَى الْمُؤْمِنينَ اَميرِ
المُؤْمِنينَ عَلِىِّ بْنِ اَبيطالِبٍ عَبْدِاللّهِ وَاَخى رَسوُلِهِ وَالصِّدّيقِ الاْكْبَرِ
وَالحُجَّةِ عَلى بَرِيَّتِهِ المُؤَيِّدِ بِهِ نَبِيَّهُ وَدينَهُ الْحَقَّ الْمُبينَ عَلَماً لِدينِ
اللّهِ وَخازِناً لِعِلْمِهِ وَعَيْبَةَ غَيْبِ اللّهِ وَمَوْضِعَ سِرِّ اللّهِ وَاَمينَ اللّهِ عَلى
خَلْقِهِ وَشاهِدَهُ فى بَرِيَّتِهِ اَللّهُمَّ رَبَّنا اِنَّنا سَمِعْنا مُنادِياً يُنادى
لِلا يمانِ اَنْ امِنُوا بِرَبِّكُمْ فَامَنّا رَبَّنا فَاغْفِرْ لَنا ذُنُوبَنا وَكَفِّرْ عَنّا
سَيِّئاتِنا وَتَوَفَّنا مَعَ الاْبْرارِ رَبَّنا وَ اتِنا ما وَعَدْتَنا عَلى رُسُلِكَ وَلا
تُخْزِنا يَوْمَ الْقِيمَةِ اِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْميعادَ فَاِنّا يا رَبَّنا بِمَنِّكَ وَلُطْفِكَ
اَجَبْنا داعِيَكَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ وَصَدَّقْناهُ وَصَدَّقْنا مَوْلَى الْمُؤْمِنينَ
وَكَفَرْنا بِالجِبْتِ وَالطّاغُوتِ فَوَلِّنا ما تَوَلَّيْنا وَاحْشُرْنا مَعَ اَئِمَّتِنا فَاِنّا
بِهِمْ مُؤْمِنُونَ مُوقِنُونَ وَلَهُمْ مُسَلِّمُونَ امَنّا بِسِرِّهِمْ وَعَلانِيَتِهِمْ
وَشاهِدِهِمْ وَغائِبِهِمْ وَحَيِّهِمْ وَمَيِّتِهِمْ وَرَضينا بِهِمْ اَئِمَّةً وَقادَةً
وَسادَةً وَحَسْبُنا بِهِمْ بَيْنَنا وَبَيْنَ اللّهِ دُونَ خَلْقِهِ لا نَبْتَغى بِهِمْ بَدَلاً وَلا
نَتَّخِذُ مِنْ دُونِهِمْ وَليجَةً وَبَرِئْنا اِلَى اِلله مِنْ كُلِّ مَنْ نَصَبَ لَهُمْ حَرْباً
مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ مِنَ الأَوَّلينَ وَالأَ خِرينَ وَكَفَرْنا بِالْجِبْتِ
وَالطّاغُوتِ وَالاَوثانِ الاَرْبَعَةِ وَاَشْياعِهِمْ وَاَتْباعِهِمْ وَكُلِّ مَنْ
والاهُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ مِنْ اَوَّلِ الدَّهرِ اِلى آخِرِهِ اَللّهُمَّ اِنّا
نُشْهِدُكَ اَنّا نَدينُ بِما دانَ بِهِ مُحَمَّدٌ وَ الُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ
وَعَلَيْهِمْ وَقَوْلُنا ما قالُوا وَدينُنا ما دانُوا بِهِ ما قالُوا بِهِ قُلْنا وَما دانُوا
بِهِ دِنّا وَما اَنْكَرُوا اَنْكَرْنا وَمَنْ والَوْا والَيْنا وَمَنْ عادَوْا عادَيْنا وَمَنْ
لَعَنُوا لَعَنّا وَمَنْ تَبَرَّؤُا مِنهُ تَبَرَّأنَا {مِنهُ} وَمَن تَرَحَّمُوا عَلَیهِ تَرَحَّمنَا
عَلَيْهِ آمَنّا وَسَلَّمْنا وَرَضينا وَاتَّبَعْنا مَوالِيَنا صَلَواتُ اللّهِ عَلَيْهِمْ
اَللّهُمَّ فَتَمِّمْ لَنا ذلِكَ وَلا تَسْلُبْناهُ وَاجْعَلْهُ مُسْتَقِرّاً ثابِتاً عِنْدَنا وَلا
تَجْعَلْهُ مُسْتَعاراً وَاَحْيِنا ما اَحْيَيْتَنا عَلَيْهِ وَاَمِتْنا اِذا اَمَتَّنا عَلَيْهِ آلُ
مُحَمَّدٍ اَئِمَّتُنا فَبِهِمْ نَاْتَمُّ وَاِيّاهُمْ نُوالى وَعَدُوَّهُمْ عَدُوَّ اللّهِ نُعادى
فَاجْعَلْنا مَعَهُمْ فِى الدُّنْيا وَالأخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبينَ فَاِنّا بِذ لِكَ راضُونَ
يا اَرْحَمَ الرّاحِمينَ

Selepas selesai solat, sujud kembali dan sebutlah 100 kali اَلحَمدُ لِله – Alhamdulillah dan 100 kali شُکرًا لِله – Syukran Lillah.

Imam Alaihissalam menyambung : Barangsiapa yang melakukan amalan ini, maka dia akan memiliki pahala orang yang berada disisi Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Aalih pada Hari Ghadir dan berbaiat kepada Baginda Sallallahu Alaihi Wa Aalih. (Al-Marhum Muhaddis Qumi berkata: Adalah lebih baik solat ini ditunaikan ketika hampir zohor kerana waktu tersebut berdekatan dengan waktu pemilihan Imam Ali Alaihissalam sebagai khalifah.

9- Telah diriwayatkan daripada Syeikh Mufid Rahimahullah bahawa bacalah doa ini pada Hari Ghadir :

اَللّهُمَّ اِنّى اَسْئَلُكَ بِحَقِّ
مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَعَلِىٍّ وَلِيِّكَ وَالشَّاْنِ وَالْقَدْرِ الَّذى خَصَصْتَهُما بِهِ دُونَ
خَلْقِكَ اَنْ تُصَلِّىَ عَلى مُحَمَّدٍ وَعَلِي وَاَنْ تَبْدَءَ بِهِما فى كُلِّ خَيْرٍ
عاجِلٍ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَ الِ مُحَمَّدٍ الاْئِمَّةِ الْقادَةِ وَالدُّعاةِ
السّادَةِ وَالنُّجُومِ الزّاهِرَةِ وَالاْعْلامِ الْباهِرَةِ وَساسَةِ الْعِبادِ وَاَرْكانِ
الْبِلادِ وَالنّاقَةِ الْمُرْسَلَةِ وَالسَّفينَةِ النّاجِيَةِ الْجارِيَةِ فِى الْلُّجَجِ
الْغامِرَةِ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَ الِ مُحَمَّدٍ خُزّانِ عِلْمِكَ وَاَرْكانِ
تَوْحِيدِكَ وَدَعآئِمِ دينِكَ وَمَعادِنِ كَرامَتِكَ وَصِفْوَتِكَ مِنْ بَرِيَّتِكَ
وَخِيَرَتِكَ مِنْ خَلْقِكَ الاْتْقِيآءِ الاْنْقِيآءِ النُّجَبآءِ الاْبْرارِ وَالْبابِ
الْمُبْتَلى بِهِ النّاسُ مَنْ اَتاهُ نَجى وَمَنْ اَباهُ هَوى اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى
مُحَمَّدٍ وَ الِ مُحَمَّدٍ اَهْلِ الذِّكْرِ الَّذينَ اَمَرْتَ بِمَسْئَلَتِهِمْ وَذَوِى
الْقُرْبَى الَّذينَ اَمَرْتَ بِمَوَدَّتِهِمْ وَفَرَضْتَ حَقَّهُمْ وَجَعَلْتَ الْجَنَّةَ مَعادَ
مَنِ اقْتَصَّ اثارَهُمْ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَ الِ مُحَمَّدٍ كَما اَمرَوُا
بِطاعَتِكَ وَنَهَوْا عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَدَلّوُا عِبادَكَ عَلى وَحْدانِيَّتِكَ اَللّهُمَّ
اِنّى اَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَنَجيبِكَ وَصَفْوَتِكَ وَاَمينِكَ
وَرَسُولِكَ اِلى خَلْقِكَ وَبِحَقِّ اَميرِ الْمُؤْمِنينَ وَيَعْسُوبِ الدّينِ وَقاَّئِدِ
الْغُرِّ الْمُحَجَّلينَ الْوَصِىِّ الْوَفِىِّ وَالصِّدّيقِ الاْكْبَرِ وَالْفارُوقِ بَيْنَ
الْحَقِّ وَالْباطِلِ وَالشّاهِدِ لَكَ وَالدّالِّ عَلَيْكَ وَالصّادِعِ بِاَمْرِكَ
وَالْمُجاهِدِ فى سَبيلِكَ لَمْ تَاْخُذْهُ فيكَ لَوْمَةُ لاَّئِمٍ اَنْ تُصَلِّىَ عَلى
مُحَمَّدٍ وَ الِ مُحَمَّدٍ وَاَنْ تَجْعَلَنى فى هذَا الْيَوْمِ الَّذى عَقَدْتَ فيهِ
لِوَلِيِّكَ الْعَهْدَ فى اَعْناقِ خَلْقِكَ وَاَكْمَلْتَ لَهُمُ الّدينَ مِنَ الْعارِفينَ
بِحُرْمَتِهِ وَالْمُقِرّينَ بِفَضْلِهِ مِنْ عُتَقآئِكَ وَطُلَقائِكَ مِنَ النّارِ وَلا
تُشْمِتْ بى حاسِدِى النِّعَمِ اَللّهُمَّ فَكَما جَعَلْتَهُ عيدَكَ الاْكْبَرَ وَسَمَّيْتَهُ
فِى السَّمآءِ يَوْمَ الْعَهْدِ الْمَعْهُودِ وَفِى الاْرْضِ يَوْمَ الْميثاقِ الْمَاْخُوذِ
وَالجَمْعِ المَسْئُولِ صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَ الِ مُحَمَّدٍ وَاَقْرِرْ بِهِ عُيُونَنا
وَاجْمَعْ بِهِ شَمْلَنا وَلا تُضِلَّنا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنا وَاجْعَلْنا لاِنْعُمِكَ مِنَ
الشّاكِرينَ يا اَرْحَمَ الرّاحِمينَ اَلْحَمْدُ لِلّهِ الَّذى عَرَّفَنا فَضْلَ هذَا الْيَوْمِ
وَبَصَّرَنا حُرْمَتَهُ وَكَرَّمَنا بِهِ وَشَرَّفَنا بِمَعْرِفَتِهِ وَهَدانا بِنُورِهِ يا رَسُولَ
اللّهِ يا اَميرَ الْمُؤْمِنينَ عَلَيْكُما وَعَلى عِتْرَتِكُما وَعَلى مُحِبِّيكُما مِنّى
اَفْضَلُ السَّلامِ ما بَقِىَ اللّيْلُ وَالنَّهارُ وَبِكُما اَتَوَجَّهُ اِلىَ اللّهِ رَبّى
وَرَبِّكُما فى نَجاحِ طَلِبَتى وَقَضآءِ حَوآئِجى وَتَيْسيرِ اُمُورى اَللّهُمَّ
اِنّى اَسْئَلُكَ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَ الِ مُحَمَّدٍ اَنْ تُصَلِّىَ عَلى مُحَمَّدٍ وَ الِ
مُحَمَّدٍ وَاَنْ تَلْعَنَ مَنْ جَحَدَ حَقَّ هذَا الْيَوْمِ وَاَنْكَرَ حُرْمَتَهُ فَصَدَّ عَنْ
سَبيلِكَ لإِطْفآءِ نُورِكَ فَاَبَى اللّهُ اِلاّ اَنْ يُتِمَّ نُورَهُ اَللّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ اَهْلِ
بَيْتِ مُحَمَّدٍ نَبِيِّكَ وَاكْشِفْ عَنْهُمْ وَبِهِمْ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ الْكُرُباتِ
اَللّهُمَّ امْلاَءِ الاْرْضَ بِهِمْ عَدْلاً كَما مُلِئَتْ ظُلْماً وَجَوْراً وَاَنْجِزْ لَهُمْ
ما وَعَدْتَهُمْ اِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْميعادَ

10- Disebabkan kebesaran Hari “Ghadir” dan keberkatan yang dimilikinya, adalah baik saudara mukmin untuk membaca akad ukhuwah dan persaudaraan pada hari ini antara satu sama lain untuk lebih mengeratkan hubungan persaudaraan serta kerjasama antara mereka.

Al-Marhum Haji Nuri didalam Mustadrak Al-Wasail berkata: Letakkan tangan kananmu di atas tangan kanan saudara mukminmu dan sebutlah:

وَأَخَیتُکَ فِی اللهِ، وَصَافَیتُکَ فِی اللهِ، وَصَافَحتُکَ فِی اللهِ، وَعَاهَدتُ اللهَ وَمَلَآئِکَتَهُ وَکُتُبَهُ وَرُسُلَهُ وَأَنبِیَائَهُ، وَالأَئِمَّةَ المَعصُومِینَ عَلَیهِمُ السَّلَامُ، عَلَی أَنِّی إِن کُنتُ مِن أَهلِ الجَنَّةِ وَالشَّفَاعَةِ، وَأُذِنَ لِی بِأَن أَدخُلَ الجَنَّةَ، لا أَدخُلُهَا إِلَّا وَأَنتَ مَعِی

Kemudian saudara mukmin berkata :

قَبِلتُ.

Kemudian sebutlah:

أَسقَطتُ عَنکَ جَمِیعَ حُقُوقِ اَلأُخُوَّةِ، مَا خَلَا الشَّفَاعَةَ وَالدُّعآءَ وَالزِّیَارَةَ.

Ketika saudara mukmin tersebut mengabulkannya, maka jadilah saudara maknawi antara satu sama lain. Dan dikeranakan tanggungjawab ukhuwah persudaraan adalah sangat berat, semua hak-hak saudara akan dilepaskan kecuali ziarah, doa dan syaafat satu sama lain.

Hawzah ilmiyah adalah sebuah kawasan ilmu yang tidak dibatasi dinding atau pembatas. Di dalamnya terdapat puluhan bahkan ratusan sekolah, pusat penelitian dan asrama pelajar, masjid dan husainiyah. Ia lebih bisa diumpamakan sebuah kawasan ilmu yang otonom laksana Vatikan di tengah pemerintahan Italia yang berpusat di Roma.

Hawzah ilmiyah adalah sebuah kawasan ilmu yang tidak dibatasi dinding atau pembatas. Di dalamnya terdapat puluhan bahkan ratusan sekolah, pusat penelitian dan asrama pelajar, masjid dan husainiyah. Ia lebih bisa diumpamakan sebuah kawasan ilmu yang otonom laksana Vatikan di tengah pemerintahan Italia yang berpusat di Roma.

Hawzah sejak dahulu memiliki sistem pengeloalan yang mandiri, termasuk pembiayaan dan beasiswa serta akomodasi siswa dan pengajar yang dialirkan dari dana khumus yang dikelola oleh para marja’. Hawzah ilmiah adalah sistem tradisional yang dikendalikan oleh para marja’ demi mengatur proses studi agama dan segala hal yang bertautan dengannya.

Hawzah Baghdad
Hawzah Baghdad lebih berfokus sebagai hawzah gerakan dan kajian akbar teologis dan fiqhi bagi hawzah-hawzah syiah. Mungkin hawzah ini benar-benar menjadi salah satu madrasah klasik teologi syiah. Hawzah ini memulai peranannya sejak zaman Imam Muhammad al-Jawad (195-220 Q).

Di sana lahir para mutakallim dan faqih ternama serta tokoh-tokoh besar. Tasyayu’ di Baghdad memiliki akar yang tua dan kembali pada masa Salman al-Farisi (32 Qamariyah) –Hawzah Madâ`in. Abu Ishaq Ibrahim, astrolog syiah pertama, adalah orang yang di musim semi tahun 145 Q, memberitahu kepada Manshur jam yang sesuai untuk awal pembangunan kota Baghdad -Da`iratu al-Ma’arif Tasyayu 4/26-27.

Karenanya kaum syiah memiliki peran penting dalam kebangkitan budaya Baghdad sejak tahun-tahun pertama pembangunan Baghdad. Dan terhitung sejak kemenangan Irak lahir salah satu pusat kekuatan dan pertemuan kaum syiah. Berbagai macam strategi para khalifah Abbasiyah terhadap tasyayu di Baghdad. Kaum syiah di Baghdad setiapkali punya kemauan berbuat, budaya akan lahir di kota indah ini. Mereka mengalami surut ketika muncul kaum yang menyiksa dan membunuh mereka. Abad keempat dan awal abad kelima hijriyah, rutinitas otoritas Alu Baweih termasuk masa terpenting dalam sejarah Syiah.

Karena di masa ini, empat kitab riwâ`i (yang memuat hadis-hadis) Syiah: al-Kâfi, Man lâ Yahdhuruhu al-Faqîh, at-Tahdzîb dan al-Istibshâr. Juga empat kitab rijâli (yang memuat para perawi Syiah): Fihrits Syaikh ath-Thusi, Rijâl Syaikh ath-Thusi, Rijal an-Najasyi dan Rijal Kasyi, yang mana (empat kitab tersebut) adalah sebagai poros tasyrî’ bagi para faqih Imamiyah. Pada divisi ini menjadi “masa pengumpulan” dan pemikiran Tasyayu’ (Syiah) Itsna ‘Asyariyah lambat laun menjauh dari golongan Sab’iyah dan Ghulat. Dan golongan Waqifiyah, Mu’tazilah dan sebagian golongan lainnya larut dalam Tasyayu’. Pemikiran Syiah yang kokoh dan besar menjadi pencipta pilar. Dan pemikiran ahli hadis atau Akhbariyun bersamaan awal masa Ghaibah Shughra (260-329 Q) hingga separuh akhir abad keempat hijriyah, menaungi sepenuhnya madrasah-madrasah Syiah dan ia sendiri telah memainkan kekuatan mutlak di hawzah-hawzah Syiah.

Pada masa itu, masalah Mahdawiyah (mahdisme) juga termasuk masalah penting dan ramai diperbincangkan. Sementara para musuh melancarkan serangan dari sisi ini. Mereka melemparkan berbegai macam tuduhan terhadap Syiah. Namun dengan pencapaian kekuatan daulat Syiah Alu Baweih di Iran dan Irak, maka terbentuklah mata rantai madrasah-madrasah filsafat dan teologi Syiah. Dan mayoritas dari kaum teolog menancapkan kekuatan-kekuatan Syiah. Setelah satu perlawanan yang berat dengan Akhbariyun, dengan mengorbitkan karya-karya seperti Tashhîh al-I’tiqâd, Maqabis al-Anwar fi ar-Radd ‘ala Ahli al-Akhbar karya al-Mufid, Risalah fi ar-Radd ‘ala Ashhabi al-‘Adad karya Syarif Murtadha, dengan kekuatan mereka maka (serangan tersebut) berkurang. Dan pemikiran Ahlu al-‘Aql dan Ashhabu al-Ijtihad mendapatkan kekuatan (Majalah Hawzah no 78 tahun 1375 Syamsiyah/146). Setelah penaklukan Baghdad pada bulan Jumadil Ula 334 Q, oleh Mu’izzud Daulah Ahmad Bubahi di masa pemerintahan al-Muthi’ Billah Abbasi dan dengan pencapaian kekuatan kaum Syiah, maka kebebasan kembali pada rakyat. Kelas-kelas pelajaran dan kajian filsafat, kalam, kedokteran, perbintangan, irfan, matematika dan semua bab-bab ilmu, mengalami kemajuan. Masa Alu Baweih di Baghdad merupakan masa paling gemilang bagi peradaban Islam.

Sebagian perintis hawzah Baghdad antara lain: Tsiqatul Islam Syaikh Abu Ja’far Muhammad (329 Q), putra Ya’qub al-Kulaini penulis kitab al-Kafi yang memegang otoritas fuqaha Syiah di masa al-Muqtadir Billah, khalifah Abbasiyah. Dan kalangan ulama dari jauh dan dekat sering datang ke madrasahnya. Ustadz DR Husain Mahfuzh menulis dalam mukadimahnya atas kitab al-Kafi:

“Majelis kuliahnya (putra al-Kulaini) adalah pusat para ulama besar dari daerah jauh dan dekat yang datang untuk mencari ilmu dan menggali ilmunya”..

Syaikh Abu Abdillah Muhammad (413 Q) yang dikenal dengan Syaikh Mufid, salah seorang teolog besar dan faqih Syiah, di hawzahnya ratusan pelajar belajar ilmu kepadanya. Alamul Huda Syarif Murtadha (436 Q), seorang teolog dan ulama Syiah terkenal, cuma dia yang punya kursi ta’lim di Baghdad. Syaikh Abu Ja’far Muhammad ath-Thusi (460 Q) yang dikenal dengan Syaikh ath-Tha`ifah, pada tahun 408 datang dari Khurasan ke Baghdad dan masuk ke hawzah pelajaran Syaikh Mufid, Sayyid Murtadha dan lainnya. Khalifah Abbasiyah al-Qatim Biamrillah menyerahkan kursi ta’lim ilmu kalam kepadanya di Baghdad. Dan pelajar-pelajar ilmu agama dari berbagai daerah datang ke hawzahnya (Syaikh Thusi). Jumlah murid-muridnya lebih dari dari 300 orang. Syaikh Agha Buzurg Tehrani tentang syarah kehidupan Syaikh Thusi, beliau menyebutkan ada 36 nama orang-orang besar sebagai murid-muridnya.

Hawzah Syiah Baghdad di masa itu sebagai taman tarbiyah dan sumber ulama, para mujtahid, mutakallim (teolog) dan fuqaha Imamiyah besar yang terkenal. Hawzah ini mewariskan pusaka yang berharga. Dan adalah pusat budaya yang membesarkan ratusan orang alim yang faqih, mutakallim dan meyakini ajaran Ahlulbait. Dengan semangat tinggi dan keteguhan mereka yang tak kenal lelah, hawzah ini menjadi obor yang menyala bagi Tasyayu’ di berbagai tempat dunia Islam.

Di sisi lain, ajaran Tasyayu’ dan penganutnya yang berdiri sebagai fenomena kontra terhadap kezaliman (orang-orang) istana khulafa Abbasiyah, mendapatkan kedudukan yang tinggi di tengah khalayak rakyat dan sebagai sebuah ideologi yang unggul di hadapan muslimin. Gerakan pemikiran ini mengkhawatirkan istana Abbasiyûn, karena itu mereka menjalin perjanjian dengan umara` Turki Sunni yang memusuhi umara Syi’i Iran. Perjanjian sial ini menyebabkan pemerintahan Samaniyûn (261-389 Q) di belakang sungai Khurasan yang merupakan benteng kaum Sab’iyah, digulingkan oleh Alputkin pimpinan pasukan Turki Ghaznawi, dan pemerintahan Alu Bawaeih (320-448) oleh Salajiqah.

Bangdad di bawah kekuasaan Thoghrol Bik Saljuqi, menyebabkan hawzah besar Baghdad dan universitas Syiah Baghdad juga mati. Perpustakaan-perpustakaan Imamiyah dibakar dan orang-orang Syiah di semua markas Syiah dibunuh. Di tambah lagi muncul fitnah-fitnah golongan Syiah dan Sunni. Di antara karya-karya Syiah, perpustakaan Sayyid Murtadha yang menampung 80000 ribu kitab berharga nan langka dan perpustakaan Abu Nashr Syapur bin Ordasyir, perdana menteri Baha`uddaulah al-Baweihi, yang dibangun pada tahun 381 Q di Kurkh, kampung orang-orang Syiah, sebagai “Baitul Hikmah”, itu musnah dibakar. Yaqut Hamudi tentang perpustakaan ini, ia menulis:

“Di perpustakaan khusus Abu Nashr Syapur,… ada kitab-kitab yang sepertinya tidak dimiliki oleh seorangpun di dunia ini. Kebanyakan kitab-kitab tersebut adalah tulisan tangan para penulisnya sendiri. Namun masuknya Toghrol Bik, raja Saljuqi, ke Baghdad pada tahun 447 Q, perpustakaan ini dengan apa yang ada di daerah Kurkh dibakar (Mu’jam al-Buldan 2/342).

Mereka juga membakar rumah dan perpustakaan Syaikh Thusi, dan kursi yang beliau duduki mengajar teologi dibawa ke lapangan besar Kurkh dan dibakar (al-Muntzhim, Ibn Jauzi 16/16). Syaikh Thusi terpaksa hijrah ke hawzah Karbala dengan sembunyi-sembunyi dan beberapa waktu kemudian pergi ke Najaf. Lalu beliau mendirikan madrasah di sana.

Pembantaian Keluarga Nabi SAW !!!

Syair Imam Husein a.s :

 

Jika agama kakekku takkan tegak kecuali dengan jalan harus dibunuhnya aku..?
Maka, wahai pedang-pedang kaum durjana perangilah aku..!
Wahai kematian, datanglah dan aku menyongsongmu
Ketahuilah, batas kehidupan dan kematian adalah semu.
Aku lindungi keluarga Muhammad SAW darimu
Aku perangi kalian dengan tanpa ragu dan jemu
Bagiku kehidupan dan kematian adalah sama
Kematian sang at indah di mata sang kesatria
Kehidupan adalah masa di mata sang jawara.
Kematian pasti datang mencari mangsa
Celakalah orang yang menjajakan agama demi harta dan tahta
Celakalah orang yang memerangi Marga Thoha
di akhirat nanti mereka akan merangkak mengemis iba.

Di dalam kemah tangisan para putri Nabi SAW semakin menjadi, tak tega melihat putra bungsu Al-Husain’As yang berusia 5 bulan menggelepar kehausan, suara tangisannya parau dan lirih. Al-Husain As membawa, mengangkatnya tinggi-tinggi bayi itu agar tampak oleh lawan, memohon secangkir air bagi bayinya, dengan bersabda:

” Hai kaum durjana… kalian biarkan kaum Yahudi dan Nasrani bahkan kuda, anjing dan babi minum di sungai Eufrat. Aku mohon secangkir saja untuk bayi ini…! “

Seorang pasukan lawan menjawab sambil melepaskan anak panahnya: Inilah air kiriman dariku..! Al-Husein As terkejut mendengar tangis bayinya terhenti seketika… Al-Husain As terhentak merasakan cairan hangat mengaliri kepala, wajah, terus turun kebawah, dan ternyata darah..! Bayi itu diturunkannya, sekujur tubuh Al-Husain As menggigil melihat kenyataan yang tak terduga… Bayi itu diletakkan di atas tanah, Al-Husain As mencabut perlahan anak panah yang menancap di leher menembus dada bayinya, memancarlah darahnya, lalu ditadahinya dengan kedua telapak tangannya, dan dilemparkannya ke arah langit sambil berteriak:

” Terimalah persembahan awalku ya Allah…! “

Banyak penulis yang menyaksikan, darah yang dilemparkan kelangit itu, tidak turun kembali ke bumi. [Buku The Saviour oleh Antoane Bara ].

Inna Lillahi wa inna Ilaihi rojiun Ali Al-Ashghor wafat putra Imam Husain As yang terkecil. Al-Husein As memerintahkan menyerang satu persatu, mulai dari Sahabatnya, saudaranya, semuanya wafat, lalu giliran putranya yang terbesar bernama Ali Akbar. Ali Akbar menyerang dan terus menyerang lalu kembali menemui ayahnya:

” Duhai ayah Rasa haus ini mencekik leherku, kini seakan aku tak mampu lagi memegang pedang, adakah setetes air guna memulihkan tenagaku..? “
” Berperanglah semampumu nak… Kakekmu menantimu dan telah menyiapkan segelas madu merah dan surga nak…”

Ali Akbar menyerang memacu kudanya, lawannya menghujani anak panah yang menancap di sekujur tubuhnya, sebuah tombak menghunjam dilambungnya, Ali Akbar terhuyung di atas kudanya Al-Husein melesat memeluknya agar tidak jatuh terjerembab ke tanah. Dalam pelukan ayahnya, Ali Akbar tersenyum dan bersuara parau:

Maafkan aku ayah…. Aku tidak mampu lagi membantumu… Aku sangat mencintaimu ayah…”

Bibirnya, sekujur tubuhnya bergetar dalam pelukan ayahnya, lalu Al-Husain mengucapkan:” Inna Lillahi wa Inna Ilaihi rojiun. terimalah persembahan awalku Ya Allah.. !
.
Al-Husain berperang tiada lesu dan jemu, pasukan Umar yang licik itu menghujani anak panah yang memenuhi sekujur tubuhnya, hingga Al-HusainAs tiada berdaya lagi, pasukan Umar mengitari, menebas kedua lengannya dengan terbahak-bahak.

Al-Husain As berusaha mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang tak berlengan, berjalan terhuyung-huyung menuju ke kemah adiknya, tiba-tiba tiga tombak dihunjamkan dan robohlah sang pahlawan Rasulullah SAW itu..!

Sy Zainab menutup matanya, lalu membukanya kembali dan terlihat matahari memerah seakan marah, membelalakkan mata seakan murka menyaksikannya, dan terhentak terhenti dari peredarannya, tiada mau masuk keperaduannya.

Kemudian datanglah Syimir bin Zil Jauzan dengan beringas bangga sambil terbahak-bahak mencabuti tombak, anak panah dengan kasar, lalu duduk di dada Al-Husain As, yang semakin menyesakkan nafasnya, Al-Husain As dengan nafas yang tersisa bersabda:

H : Siapakah engkau..? Dan apa yang membuatmu menjadi begitu biadab..? siapakah aku yang kau duduki dadanya ini..?
S : Aku Syimir dan engkau Husain bin Ali..
H : Bila kau tahu, mengapa kau masih berniat membunuhku..?
S : Aku mengharap imbalan dari khalifah Yazid..
H : Tidakkah kau harapkan syafaat dari kakekku..?
S : Imbalan dari Yazid lebih aku dambakan..
H : Sebelum kau bunuh, berilah aku air minum dulu…
S : Bukankah kakekmu telah menyiapkannya di surga..?
H : Bukalah penutup wajahmu dan kakekku bersabda: pembunuhku, lelaki berwajah rusak menakutkan dan di sekujur tubuhnya berbulu sangat kasar, hingga tidak memikat babi hutan.
S : Engkau dan kakekmu sama-sama terkutuk dan akan aku potong pada setiap persendianmu dengan perlahan, sebagai imbalan dari ucapan kakekmu itu…!

Syimir mulai melucuti persendian jari-jari kaki, tangan Al- Husain As dengan perlahan, pada puncak kegeramannya Syimir menempelkan pedangnya di leher Al-Husain, tetapi pedang Syimir tak dapat melukai leher Al-Husain As, Syimir berganti-ganti pedang, namun lehernya tak tergoreskan, Syimir menekan pedangnya di leher Al-Husain, lalu menggeleng-gelengkan kepala Al-Husain dan tetap saja leher itu tak tergoreskan. Syimir bingung, putus asa, kemudian datang seseorang yang melihatnya berkata: Leher Al-Husain itu selalu diciumi oleh Rasulullah SAW.

Syimir membalik, menelungkupkan tubuh Al Husain As yang tak berdaya, Al-Husain mengarahkan pandangannya tertuju kepada sy Zainab adiknya…. Syimir menyembelihnya dari belakang lehernya…. Sy Zainab menjerit, pekikkannya merobek-robek langit. Bersama kewafatan Al-Husein As, mataharipun terjun menenggelamkan dirinya kedalam bumi pada hari Jum’at tanggal 10 Muharram 61 H. Innalillahi wa inna Ilaihi rojiun….

Kudanya datang ke kemah Sy Zainab tanpa penunggangnya penuh dengan luka dan dengan air matanya berbela sungkawa.

Di Madinah, setiap sore mengamati air bercampur tanah di dalam botol yang tiba-tiba berubah menjadi darah dan Ummu Salamah ra menjerit menangis mengabarkan kepada orang akan wafatnya Al-Husain As, para Sahabat Nabi SAW menangis melaknat Yazid.

Kepala Al-Husain As ditancapkan di ujung tombak diarak dipertontonkan, dibelakangnya barisan keluarga Rasulullah SAW dirantai tangan dan kakinya di giring bagaikan tawanan perang yang dihinakan menuju Kufah hingga ke Syam.

Diperjalanan tiba-tiba alam menjadi gelap gulita, pasukan pengawal mengistirahatkan membuka rantai para tawanan, sy Syaharbanu ra keguguran karena kelelahan.

Pendeta Bhuhaira tertegun, berjalan menuju sinar yang menjulang kelangit dan diketahuinya pusat sinar itu dari kepala Al- Husain As yang tertancap diujung tombak.

Pendeta itu membayar mahal untuk meminjam semalam kepala Al-Husain As. Kepala Al-Husain As dibedirikan perlahan di atas meja, di bersihkannya kepala, wajahnya dari darah bercampur tanah yang melekatinya, mengelapnya dengan kapas dan air hangat, tanpa henti jari jemarinya bergerak lembut, meminyaki dan menyisir rambutnya hingga wajah Al-Husain As bersih ceria.

Pendeta Bhuhaira memandanginya, menciumi wajah mulia itu sambil berkata:

Aku yakin engkau orang mulia, keturunan orang mulia, salamku untukmu, ayahmu, kakekmu, bila engkau keturunan Ahmad Nabi akhir zaman, sampaikanlah salamku dan katakan aku beriman kepadanya nak…

Keluarga Nabi Muhammad SAW yang tersisa akhirnya sampai di Syam dalam keadaan kelelahan tangan, kaki membengkak berdarah karena rantai besi yang diikatkannya.

Tawanan disambut senyum kesinisan, tawa penghinaan, kalimat menyakitkan, sesampainya di Syam, kaki, tangan dibuka borgolnya dengan kasar oleh pengawal menampakkan kebencian yang dipamerkan dihadapan tuannya demi harapkan sanjungan dan jasa.

Pasukan lemparkan kepala Al-Husain As dengan kasar di lantai, Keluarga Nabi SAW terhentak menyaksikannya

oleh deraan kenyataan yang menyakitkan, penguasa tahta kedholiman, Yazid berbicara sambil menginjak kepala Al-Husain As, yang melihatnya pasti akan berkata:

Perbuatannya memerihkan mata. Hentakannya menyesakkan dada. Kalimatnya meledakkan kepala. Kata-katanya memekakkan telinga. Nada-nadanya melunglaikan raga Aksinya menjerat jiwa. Kesombongannya mendirikan bulu roma. Beginilah nasib pemburu akherat harus menerima dera nestapa dunia.

Saat diinjak, kepala Al-Husain As bersabda:

” Kamu telah memisahkan kepalaku dari tubuhku….” Kepala Al-Husain As dipecutinya hingga diam. [The Saviour: Syarh Al-Qashidah Abi Firas: 148 ].

Ibnu Wakidah mendengar kepala Al-Husain As membaca Surat Al-Kahfi, Ibnu Wakidah ragu dan sangsi bila suara itu keluar dari lisan kepala itu, tiba-tiba beliau berhenti mengaji dan kepala Al-Husain menoleh ke arahnyanya sambil bersabda:

” Hai Ibnu Wakidah.. Tidakkah kamu tahu bahwa kami para Imam selalu hidup dan diberi rizki di sisi Tuhan-Nya..?”

Ibnu Wakidah berniat mencuri kepala itu dan menguburkannya, tiba-tiba kepala itu bersabda:

” Hai Ibu Wakidah… Tidak perlu melakukan hal itu, karena perbuatan mereka yang menumpahkan darahku lebih berat di sisi Allah SWT daripada yang membawaku berjalan di ujung tombak, maka biarkanlah, mereka kelak akan mengetahui, saat dibelenggu dengan rantai dileher mereka sambil diseret. [ The Saviour: Syarh Al-Qashidah Abi Firas: 149 ] .

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an QS 2:154

” Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di Jalan Allah [bahwa mereka itu] mati, bahkan [sebenarnya] mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.

Minhal bin Amr berkata:

Aku melihat kepala Al-Husain As di ujung tombak, di depannya ada seorang yang membaca Surat Al-Kahfi hingga sampai pada ayat:

” Dan [yang mempunyai] rahim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan… ” Kepala itu bersabda dengan bahasa yang fasih: Ada yang lebih mengherankan daripada Ashhabul Kahfi yaitu pembunuhan terhadapku dan membawa kepalaku. The Saviour: Al-Khshalsh As-Suyuthi 2:127 ].

Saat Yazid memerintahkan membunuh seorang utusan kaisar Romawi yang membela Al-Husain tiba-tiba kepala itu bersuara keras:

La haula wa la quwwata ilia Billah
The Saviour: Magtal Al-Awalim: 151].

Hampir sebulan Yazid terpuaskan dan akhirnya membebaskan. Kafilah suci pergi menuju Karbala guna menyambung jari jemari, betis, lengan disatukan dengan tubuh dan kepalanya, lalu jenazah Al-Husain dishalati dan dimakamkan di Karbala.

Kafilah suci lalu pergi menuju Madinah guna melaporkan semua kejadian kepada kakeknya kepada ibunya pertanda tugas suci Sy Zainab telah diselesaikan dengan baik.

Sesampainya di Madinah dari Karbala, seluruh keluarga itu mengalami keguncangan yang kesekian kalinya, kali ini ledakan dahsyat dalam hati dan fikiran menyatu dalam perasaan ingin mengadukan kepada kakeknya Rasulullah SAW di pusaranya.

Semuanya berlari ingin segera mencapai pusara, di masjid Nabawi, setelah melihat makam kakeknya, tubuh beliau itu terhenti, mendadak bergetar dan lunglai terjatuh di pelataran masjid, beliau tak mampu berdiri lagi dan merangkak menuju pusara Nabi Muhammad SAW guna menguras isi hatinya.
Sy Zainab ra membuat acara peringatan Arbain, seluruh penduduk Madinah hadir dan menangisi Al-Husain As.

Yazid mendengar dan merasa khawatir lalu bersurat kepada Walid gubernur Madinah, yang kemudian mengusir sy Zainab ra dari Madinah, pergi ke Mesir. Sy Syaharbanu ra istri Imam Husain As menuju kemakam Rasulullah SAW, menangis, mengadu:

Benar sabdamu ya Rasulullah bahwa: Ahlul Baitmu padanan Al- Qur’an yang tak dapat dipisahkan. Dahulu di Shiffin pasukan Muawiyah menancapkan AlQur’an di ujung tombak untuk melanggengkan kekuasaannya. Kini di Karbala pasukan Yazid bin Muawiyah menancapkan kepala Husainmu, Ahlul Baitmu diujung tombak pula demi melanggengkan kekuasaannya. Dan sempurnalah kekejian Bani Umaiyah terhadap Bani Hasyim….

Benar sabdamu ya Rasulullah…. Kesyahidan Al-Husain membuat tiara di dalam hati orang orang beriman yang tidak akan pernah padam untuk selama-lamanya. Ya Rasulullah… doakan aku segera menyusulnya… Demi Allah… Aku tak sanggup hidup lagi…

Sy Syaharbanu memohon kepada kerabatnya untuk segera membongkar atap rumahnya, sambil menangis Imam Ali Zainal Abidin As bersabda:

ZA : ” Duhai ibuku…Bila atap rumah ini dibongkar maka engkau akan wafat oleh sengatan panasnya matahari Bu…”
Ibu: ” Aku telah menyaksikan ayahmu selalu terkena sengatan matahari dalam keadaan haus dan lapar dipaksa untuk berperang dan wafat kehausan…. Apakah aku akan lari dari sengatan matahari nak.? Keinginanku segera wafat nak… Dan engkau ku titipkan kepada Allah SWT… Maafkan… maafkan ibu nak… Aku tak dapat melupakan saat ayahmu ditelungkupkan nak… Semoga Allah memberikan ketabahan kepadamu nak.”

Semakin lama semakin banyak yang meminangnya, akan tetapi setiap pinangan yang hadir, bagai tusukan duri di hatinya. Setahun kemudian Syaharbanu wafat. Inna Lillahi w a inna Ilaihi rojiun…

Kita telah mengetahui sekelumit perjuangan, penderitaan Ahlul Kisa’ As yang sesuai dengan sabda Rasulullah SAW:

” Tiada penderitaan [ujian] seorang Nabipun seperti penderitaanku dan tiada penderitaan sebuah keluarga pun seperti penderitaan keluargaku.

Tiada Zat Semulia Allah SWT
Tiada Malaikat semulia Jibril As
Tiada Kitab semulia Al-Qur’an
Tiada Nabi semulia Nabi Muhammad SAW
Tiada Insan semulia Ahlul Bait As.

Al-Hasan dan Al-Husain yang benihnya ditanam oleh Rasulullah SAW dan tunasnya terpelihara di istana ke-Nabian dan di taman ke Imaman hingga berbunga dengan aroma semerbak keharumannya. Harum kebenaran Ilahi di atmosfer akidah Islami. Penyejuk mata dan hati bagi Sang Nabi.

Pada suatu hari, Rasulullah SAW naik di atas mimbar dalam keadaan sedih meletakkan telapak tangan kanannya di kepala Al- Hasan dan yang kiri di kepala Al-Husain lalu bersabda:

” Ya Allah…. Sesungguhnya aku adalah hamba dan Rasul-Mu.. dua anak ini adalah keturunanku yang terbaik dan utama yang aku tinggalkan di tengah umatku, Jibril As telah memberitahuku bahwa keduanya akan diburu dan dibunuh dengan racun dan pedang.
Ya Allah…. Berkahilah ia dalam kesyahidannya dan jadikanlah dia penghulu para Syuhada….

Rasulullah SAW saat mengimami shalat Isya’ dalam sujudnya sangat lama, setelah shalat Sahabat bertanya mengapa saat sujud tadi sangat lama ya Rasulullah…? Rasul SAW: ” Husain naik dipunggungku, aku biarkan sampai ia turun sendiri…! “

Rasulullah SAW memberikan manisan lebih banyak kepada salah seorang teman Al-Husain As, saat Al-Husain bertanya, maka Rasulullah SAW bersabda:

” Temanmu yang satu itu lebih mencintaimu ya Al-Husain…

Pada acara Arbain para penyair dari berbagai daerah bahkan luar negeri berdatangan dengan mempersiapkan syair-syairnya untuk dibaca pada acara tersebut, sangat banyak yang membawakan syairnya secara bergantian, tidak terhitung banyaknya penyair yang pingsan pada saat membaca syairnya itu. Ada seorang pemuda belia yang rupawan naik keatas panggung sambil membawa secarik keatas cukup lama dia berada di atas panggung karena perasaan cintanya kepada Al- Husain As pemuda itu tak mampu berucap pandangan matanya mengarah ke atas tubuh dan bibirnya bergetar dari sela-sela bibirnya keluar suara ” Yaa Husain…” lalu pingsan.

Syair pujian Khalil Gibran untuk Imam Husain as:

” Kesyahidan yang dipersembahkan oleh Al-HusainAs mengajarkan kepada manusia bagaimana dari keadaan teraniaya bisa meraih kemenangan.”

Mahatma Gandhi yang beragama Hindu dari India:

” Kesyahidan Husain itu mengajarkan kepada jiwa bagaimana ia menyalakan, berinteraksi dengan peristiwa-peristiwa mencerahkan yang utama dan prinsip-prinsip yang luhur, sehingga interaksinya menggoncangkan tabiat, seperti kegoncangan yang jatuh cinta yang kacau pikirannya karena mengingat rupa kekasihnya, kemudian ia mengekalkannya dalam kalam, syair, dan keindahan, hingga catatan itu di abadikan oleh sejarah. Hal itu agar menjadi biografi yang paling kekal bagi kesyahidan yang paling agung ini, dan agar menjadi seindah-indah ucapan untuk sesempurna sempurna bentuknya.”

Banyak cara ditempuh untuk mengubur hasil perjuangan Imam Husain as. di padang Karbala’ demi menegakkan agama datuknya; Rasulullah saw. dan membongkar kedok kepalsuan, kemunafikan dan kekafiran rezim Bani Umayyah yang dilakonkan oleh sosok Yazid yang bejat lagi munafik…

Banyak cara licik ditempuh, mulai dari menutup-nutupi kejahatan Yazid dan menampilkannnya sebagai seorang Khalifah yang adil dan bertanggung jawab akan perjalanan Risalah Allah, atau mencarikan uzur dan pembelaan atas apa yang dilakukannnya terhadap Imam Husain dan keluarga suci Nabi saw., terhadap penduduk kota suci Madinah yang ia perintahkan pasukannya agar menebar kekejaman yang tak tertandingi dalam sejarah Islam, membantai penduduknya, dan memperkosa gadis dan wanita; putri-putri para sahabat Anshar -khususnya- dll. hingga membuat-buat kepalsuan atas nama agama tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan keutamaan berpuasa di dalamnya.

Dalam kesempatan ini kami akan batasi kajian kali ini hanya pada kepalsuan keutamaan puasa Asyûrâ’.

Para Pendongen itu berkata:

• Ketika Nabi saw. hijrah ke kota Madinah, beliau menyaksikan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyûrâ’ yaitu hari kesepuluh bulan Muharram, lalu beliau bertanya kepada mereka, mengapa mereka berpuasa, maka mereka menjawab, “Ini adalah hari agung, Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya.” Maka Nabi saw. bersabda, “Kami lebih berhak atas Musa dan lebih berhak untuk berpuasa di banding kalian.” Lalu beliau memerintahkan umat Islam agar berpuasa untuk hari itu. Demikian dalam dua kitab Shahih; Bukhrai dan Muslim dan lainnya.[1]

• Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan selainnya didongengkan dari Aisyah ra. dan selainnya bahwa: Kaum Quraisy berpuasa di hari Asyûrâ’ di masa Jahiliyah mereka. Dan rasulullah saw. juga berpuasa. Lalu setelah beliau berhijrah ke kota Madinah beliau pun berpuasa dan memerintah (umat Islam) agar berpuasa. Maka ketika diwajibkan puasa Ramadhan, beliau bersabda, “Barang siapa yang mau silahkan berpuasa (Asyûrâ’) dan siapa yang mau juga boleh meninggalkannya.”[2]

• Sebagian pendongeng juga menyebutkan –seperti diriwayatkan dalam Shahih Muslim- bahwa Nabi saw. baru melaksanakan puasa Asyûrâ’ itu di tahun sembilan Hijrah dan setelah menyaksikan orang-orang Yahudi melakukannya, beliau berjanji jika berumur panjang akan menyalahi kaum Yahudi dengan menambah puasa hari kesembilan juga. Tetapi beliau wafat sebelum bulan Muharram tahun depan.[3]

Ibnu Jakfari berkata:

Di sini kami memastikan bahwa dongeng di atas adalah palsu dan hanya hasil khayalan kaum pendongen belaka!

Dan: 
A) Terlepas dari cacat parah pada sanad riwayat-riwayat di atas, di mana ia diriwayatkan dari jalur orang-oraang yang bermasalah dan baru tiba di kota suci Madinah beberapa tahun setelah Hijrah Nabi saw. seperti Abu Musa al Asy’ari, dan ada yang saat hijrah masih kanak-kanak seperti Ibnu Zubair dan di antara mereka ada yang baru menyatakan secara formal keislamannya di tahun-tahun akhir Hijrah Nabi saw. seperti Mu’awiyah ibnu Abu Sufyan.

B) Terlepas dari adanya kontradiksi di antara riwayat-riwayat di atas, seperti, sebagian riwayatnya mengatakan bahwa:

1. Nabi saw. berpuasa di hari Asyûrâ’ itu karena mengikuti Yahudi di mana sebelumnya beliau tidak mengetahuinya, dan setelah mengetahuinya dari orang-oraang Yahudi kota Madinah beliau berkeyakinan bahwa beliau dan umat Islam lah lebih berhak atas Musa as. dari kaum Yahudi itu! 
2. Sementara riwayat lain mengatakan bahwa Nabi saw. seperti juga kaum Musyrik lainnya sejak zaman Jahiliyah telah menjalankan tradisi puasa Asyûrâ’. 
3. Sementara riwayat ketiga mengatakan bahwa Nabi saw. meninggalkan tradisi puasa Asyûrâ’ setelah diwajibkannya puasa bulan Ramadhan. 
4. Adapun riwayat keempat mengatakan bahwa Nabi saw. baru mengetahui kebiasaan kaum Yahudi kota Madinah berpuasa hari Asyûrâ’ sebagai ungkapan syukur mereka atas keselamatan Nabi Musa as. dan kaumnya itu di tahun kesembilan Hijrah. Dan kemudian Nabi aw. Berjanji akan menyalahi kaum Yahudi itu dengan menambah puasa hari kesembilan bulan itu. Namun sayang beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya. 
5. Bahkan mereka meriwayatkan dari Mu’awiyah (yang baru memeluk Islam dari tahun fathu Makkah) bahwa Nabi saw. tidak pernah memerintahkan umat berpuasa di hari Asyûrâ’ akan tetapi beliau bersabda, “Barang siapa mau berpuasa silahkan dan yang tidak juga tidak apa2.” 
Dan masih banyak keanehan lain dalam riwayat-riwayat dongeng puasa hari Asyûrâ’. Dan Ibnu Qayyim telah memaparkannya dalam kitab Zâd al Ma’âd-nya.[4]

Terlepas dari semua masalah di atas coba perhatikan catatan di bawah ini:

Pertama: Riwayat pertama di atas mengtakan kepada kita bahwa Nabi mulia saw. tidak mengetahui sunnah saudara beliau; Nabi Musa as. dan beliau baru mengetahuinya dari orang-orang Yahudi dan setelahnya beliau bertaqlid kepada mereka!

Hal demikian mungkin tidak merisaukan pikiran para ulama itu, sebab mereka meriwayatkan (dan kami beristighfar/memohon ampunan Allah atas kepalsuan itu) bahwa Nabi saw. memang sangat menyukai untuk menyesuaikan diri dengan kaum Yahudi dan Nashrani dalam hal-hal yang belum diperintahkan dalam wahyu. Seperti diriwayatkan Bukhari dan lainnya.[5] 
Akan tetapi yang aneh dan lucu mereka pada waktu yang sama juga meriwayatkan bahwa Nabi saw. itu selalu bersemangat untuk menyalahi kaum Yahudi dan Nashrani dalam segala urusan, seperti yang mereka kisahkan dalam kasus adzan, di mana beliau menolak tawaran agar adzan dilakukan dengan meniup trompet atau menabuh lonceng seperti di gereja-gereja! Juga dalam masalah datang bulan dan menyemir rambut yang telah beruban… begitu juga Nabi saw. sering berpuasa di hari sabtu dan minggu dengan tujuan menyalahi Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashrani).. 
Semua yang mereka riwayatkan ini benar-benar bertentangan dengan apa yang mereka katakan dalam riwayat puasa Asyûrâ’. Sebuah kontradiksi yang biasa kita temukan dalam riwayat-riwayat para ulama itu, seihingga kami tidak kaget lagi dengannya.!!

Sampai-sampai karena kaum Yahudi mengeluhkan sikap Nabi saw. tersebut, mereka berkata, “Orang ini (Nabi maksud mereka) tidak bermaksud membiarkan urusan kita melainkan dia menyalahi kita dalam segala urusan kita.”[6]

Ibnu al Hâj berkata, “Adalah Nabi saw. membenci menyesuai Ahlul Kitab dalam semua urusan mereka, sampai-sampai orang-orang Yahudi berkata, ‘Muhammad menginginkan untuk tidak membiarkan ursan kita melainkan ia menyalahi kita tentangnya.’

Dan telah datang dalam hadis: “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia dari mereka.”[7]

Kedua: ada sebuah kenyataan yang sering diabaikan oleh para ulama (khususnya mereka yang tertipu dengan dongeng-dongeng palsu tentang puasa Asyura) bahwa kata Asyûrâ’ untuk menunjuk pada hari kesepuluh bulan Muharram itu baru berlaku setelah kesyahidan Imam Husain as. cucu tercita Nabi Muhammad saw. dan keluarga serta pengikut setia beliau… jadi ia adalah nama/istilah Islami. Artinya istilah itu baru berlaku setelah datangnya Islam dan dilakukan oleh kaum Muslimin, sementara sebelum itu istilah itu tidak pernah ada dan berlaku.

Ibnu al Atsîr berkata, “Ia adalah nama Islam.”[8]

Ibnu Duraid berkata, “Sesunguhnya ia adalah nama Islami yang sebelumnya di masa jahiliyah tidak dikenal.”[9]

Ketiga: Dalam ajaran kaum Yahudi tidak ditemukan adanya puasa Asyûrâ’ dan sekarang pu mereka tidak melakukannya dan tidak pula menganggapnya sebagai hari raya dan hari besar!

Keempat: Lebih dari semua itu adalah bahwa puasa bulan Ramadhan telah diwajibkan sejak beliau masih tinggal di Makkah! Seperti dalam kisah diutusnya ‘Amr ibn Murrah al Juhani sebagaimana diriwayatkan banyak ulama di antaranya Ibnu Katsir, ath Thabarani, Abu Nu’aim, al Haitsami dan lainnya.[10]

Bahaya Pemalsuan Atas Nama Nabi saw.!

Dan kenyataan ini menjadikan kita membayangkan betapa besar bahaya yang sedang mengancam agama Islam dengan kepalsuan-kepalsuan semacam itu…. Bagaimana kebencian terhadap keluarga suci Nabi saw. dan para pecinta mereka (baca Syi’ah) telah maracuni jiwa dan kemudian mendorong sebagian orang untuk berani memalsu hadis atas nama Nabi Muhammad saw. dengan harapan dapat mengubur perjuangan cucu tercinta Nabi saw.! Dan kemudian lantaran berbaik sangka kepada para pemalsu itu, sebagian ulama menerima dan meriwayatkannya dalam kitab-kitab mereka!

Kepalsuan dan pemalsuan atas nama Nabi saw. seperti itu menjadikan kita harus selalu waspada terhadap semua langkah yang dirancang oleh oknum musuh-musuh Ahlulbait Nabi as. dalam memerangi mereka dan mengaburkan keagungan dan kemuliaan perjuangan mereka!

Hari Asyura’ Adalah Hari Raya Bani Umayyah dan Musuh-musuh Keluarga Suci Nabi as.

Para penguasa Bani Umayyah dan antek-antek mereka di sepanjang sejarah berusaha menjadikan hari ke sepuluh bulan Muharram (Asyûrâ’) sebagai hari raya, hari kebahagian, hari kegembiraan, hari kemenangan dan hari keselamatan! Semua itu mereka lakukan untuk menentang Ahlulbait as. yang menjadikannya sebagai hari duka atas kesyahidan Imam Husain as. dan keluarga serta pengikut setia beliau.

Al Biruni melaporkan “Adapun Bani Umayyyah mereka telah mengenakan baju-baju baru, berhias diri, bercelak dan berlebaran. Mereka mengadakan parayaan-perayaan dan jamuan tamu. Mereka membagi-bagi permen dan makanan-makanan yang lezat. Dan demikian lah yang berkalu di kalangan masyarakat selama kekuasan mereka dan tetap berlaku meski kekuasaan mereka telah tumbang. 
Adapun kaum Syi’ah, mereka meratapi dan menangisi kesyahidan penghulu para syuhada’ ; Al Husain as…. .“[11]

Al Miqrizi melaporkan, “Dan setelah tumbangnya kekuasaan ‘Alawiyyin di Mesir, para penguasa dari dinasti Ayyubiyah menjadikan Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan. Mereka berlapang-lapang kepada keluarga mereka. Mereka menyajikan beragam makanan lezat. Memakai alat-alat dapur yang baru. Mereka bercelak dan mendatangi pemandian-pemandian umum sesuai dengan kebiasaan penduduk kota Syam yang ditradisikan oleh Hajjaj di masa kekuasaan Abdul Malik ibn Marwan dengan tujuan menyakitkan hati Syi’ah Ali ibn Abi Thalib (Karramallah wajhahu/ semoga Allah memliakan wajah beliau), di mana mereka menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari duka dan kesedihan atas kasyahidan Husain ibn Ali as. sebagi beliau gugur syahid di hari itu.” Kemudian ia melanjutkan: “Dan kami masih menyaksikan sisa-sisa tradisi bani Ayyûb yang menjadikan hari Asyûrâ’ sebagai hari kegembiraan dan kelapangan.”

Al Miqrizi juga menyebutkan doa Imam Muhammad al Baqir as. (Imam Kelima Syi’ah) yang berbunyi: “Dan ini adalah hari di mana bani Umayyah dan anak keturunan wanita pengunyah jantung meyakini keberkahannya karena mereka telah berhasil membunuh Husain.”[12] 
Dan untuk semua itu, musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as. telah membuat-buat kepalsuan atas nama Nabi saw. tentang keagungan hari Asyûrâ’ dan pahala besar yang dijanjikan bahwa yang berpuasa, berbanyak-banyak dalam memberi uang belanja kepada keluarga, mengusap kepala anak yatim, membagi-bagi makanan dan menampakkan kehabagian dan kegembiraan di dalamnya. Walaupun tidak sedikit pula usaha telah dicurahkan ulama Islam (sunni) dalam membongkar kepalsuaan hadis-hadis seperti itu.

Namun yang paling menyedihkan dari pemalsuan atas nama Nabi saw. adalah fatwa-fatwa sesat lagi menyesatkan yang diproduksi sebagai terompet kemunafikan dan kesesatan bani Umayyah yang melarang menampakkan kesedihan atas kesyahidan Imam Husain as. dan juga melarang membacakan kisah kesyahidannya!

——————————————————————————–

[1] Mushannaf Abdurrazzâq,4/289 dan 290, Shahih Bukhari,1/244, Shahih Muslim,3/150, as Sirah al Halaibiyah,2/132-133, al Bidayah wa an Nihayah,1/274, 3/355. baca juga tafsir Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat-ayat puasa dalam surah al Baqarah.

[2] Ibid. dan Muwaththa’; Imam Malik,1/279 dan Zâd al Ma’âd,1/164 dan 165.

[3] Shahih Muslim,3/151.

[4] Zâd al Ma’âd,1/164-165.

[5] Shahih Bukhari, pada bab Farq asy Sya’ri Fi al Libâs, as Sirah al Halabiyah,2/132 dan Zâd al Ma’âd,1/165.

[6] As Sirah al Halabiyah,2/115 dan Sunan Abu Daud,2/250.

[7] Al Madkhal,2/48.

[8] An Nihayah; Ibnu Atsîr,3/240.

[9] Ibid.

[10] Al Bidayah wa an Nihayah,2/252 dari riwqayat Abu Nu’aim, Majma’ az Zawâid,9/244 dari riwayat ath Thabarani dan Kanzu ‘Ummâl,7/64 dari riwayat ar Ruyâni dan Ibnu ‘Asâkir.

[11] ‘Ajâib al Makhlûqât,1/114.

[12] Al Khithath; al Miqrizi,1/490. baca juga al Hadhârah Fi al Qarni ar Râbi’ al Hijri,1/138.

Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam acara perayaan Hari Raya Iedul Ghadir menyatakan bahwa kebohongan meluas Rezim Zionis Israel dan pihak-pihak asing terkait program nuklir sipil Iran malah akan menjatuhkan kredibilitas mereka. Rahbar dalam pertemuannya dengan ribuan warga Iran dari berbagai kalangan menyebut AS sebagai gembong para musuh Iran. Dikatakannya pula, Inggris adalah musuh terburuk Iran.

Lebih lanjut Rahbar menuturkan, “Rezim Zionis Israel, AS dan negara-negara arogan lainnya mengkhawatirkan kebangkitan ummat Islam dan status Iran sebagai negara kiblat. Untuk itu, mereka berupaya mengucilkan Iran dengan berbagai konspirasi dalam 30 tahun terakhir ini. Namun upaya itu gagal berkat kemuliaan ilahi.” Dikatakannya pula, “Ketika tidak mampu mengancam rakyat dengan intimidasi dan sanksi, negara-negara arogan berupaya akan menggunakan berbagai cara untuk menciptakan perselisihan di dalam negeri.”

Rahbar dalam bagian pidatonya menambahkan, “Para gembong arogansi dalam berbagai propaganda, mengungkapkan habisnya kesabaran mereka. Akan tetapi semua pihak mengetahui bahwa mereka tidak cukup sabar dalam menghadapi Iran. Dalam 30 tahun terakhir ini, para musuh menggunakan berbagai konspirasi politik, ekonomi, militer dan propaganda untuk menekan bangsa ini.”

Dalam kesempatan itu, Rahbar juga mengucapkan selamat atas Hari Raya Iedul Ghadir kepada bangsa Iran dan ummat Islam sedunia. Seraya menjelaskan bahwa mengapa Hari Raya Iedul Ghadir disebut sebagai Hari Raya Akbar, Rahbar mengatakan, ” Peristiwa Ghadir mempunyai kandungan lebih besar dibanding dengan hari-hari besar lainnya, karena hari itu menjelaskan tugas abadi ummat Islam berlandaskan standar ilahi dalam aspek hidayah dan pemerintahan.”

Menyinggung propaganda anti-Syiah, Rahbar menjelaskan, “Negara-negara arogan mengetahui dengan baik bahwa bangsa Iran dengan berpegang teguh pada spirit kepemimpinan dan pembentukan pemerintah Islam, telah mewujudkan harapan seluruh ummat Islam dan para pemikir muslim. Untuk itu, para musuh berupaya mendepak Syiah dari dunia Islam.”

Konspirasi CIA dan Salafi Wahabi Menghadang Mazhab Syi’ah ! Salafi Antek CIA

Dalam pertemuan CIA itu, telah diputuskan bahwa sebuah lembaga independen akan didirikan untuk mempelajari Islam Syiah secara khusus dan menyusun strategi dalam menghadapi Syiah. Bujet awal sebesar 40 juta US dolar juga telah disediakan. Untuk penyempurnaan proyek ini, ada tiga tahap program.

Sebuah buku berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology” telah terbit di AS. Buku ini berisi wawancara detail dengan Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan direktur CIA.

Dalam wawancara ini diungkapkan hal-hal yang sangat mengejutkan. Dikatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah. Dr. Michael Brant sendiri telah lama bertugas di bagian tersebut, akan tetapi ia kemudian dipecat dengan tuduhan korupsi dan penyelewengan jabatan.

Tampaknya dalam rangka balas dendam, ia membongkar rencana-rencana rahasia CIA ini. Brant berkata bahwa sejak beberapa abad silam dunia Islam berada di bawah kekuasaan negara-negara Barat. Meskipun kemudian sebagian besar negara-negara Islam ini sudah merdeka, akan tetapi negara-negara Barat tetap menguasai kebebasan, politik, pendidikan, dan budaya mereka, terutama sistem politik dan ekonomi mereka. Oleh sebab itu, meski telah merdeka dari penjajahan fisik, mereka masih banyak terikat kepada Barat.

Pada tahun 1979, kemenangan Revolusi Islam telah menggagalkan politik-politik kami. Pada mulanya Revolusi Islam ini dianggap hanya sebagai reaksi wajar dari politik-politik Syah Iran. Dan setelah Syah tersingkir, kami (AS) akan menempatkan lagi orang-orang kami di dalam pemerintahan Iran yang baru, sehingga kami akan dapat melanjutkan politik-politik kami di Iran.

Setelah kegagalan besar AS dalam dua tahun pertama (dikuasainya Kedubes AS di Teheran dan hancurnya pesawat-pesawat tempur AS di Tabas) dan setelah semakin meningkatnya kebangkitan Islam dan kebencian terhadap Barat, juga setelah munculnya pengaruh-pengaruh Revolusi Islam Iran di kalangan Syiah di berbagai negara–terutama Libanon, Irak, Kuwait, Bahrain, dan Pakistan–akhirnya para pejabat tinggi CIA menggelar pertemuan besar yang disertai pula oleh wakil-wakil dari Badan Intelijen Inggris. Inggris dikenal telah memiliki pengalaman luas dalam berurusan dengan negara-negara ini.

Dalam pertemuan tersebut, kami sampai pada beberapa kesimpulan, di antaranya bahwa Revolusi Islam Iran bukan sekadar reaksi alami dari politik Syah Iran. Tetapi, terdapat berbagai faktor dan hakikat lain, di mana faktor terkuatnya adalah adanya kepemimpinan politik Marjaiyah (kepemimpinan agama) dan syahidnya Husein, cucu Rasulullah, 1400 tahun lalu, yang hingga kini masih tetap diperingati oleh kaum Syiah melalui upacara-upacara kesedihan secara luas. Sesungguhnya dua faktor ini yang membuat Syiah lebih aktif dibanding Muslimin lainnya.

Dalam pertemuan CIA itu, telah diputuskan bahwa sebuah lembaga independen akan didirikan untuk mempelajari Islam Syiah secara khusus dan menyusun strategi dalam menghadapi Syiah. Bujet awal sebesar 40 juta US dolar juga telah disediakan. Untuk penyempurnaan proyek ini, ada tiga tahap program:

1. Pengumpulan informasi tentang Syiah, markas-markas dan jumlah lengkap pengikutnya.

2. Program-program jangka pendek: propaganda anti-Syiah, mencetuskan permusuhan dan bentrokan besar antara Syiah dan Sunni dalam rangka membenturkan Syiah dengan Sunni yang merupakan mayoritas Muslim, lalu menarik mereka (kaum Syiah) kepada AS.

3. Program-program jangka panjang: demi merealisasikan tahap pertama, CIA telah mengutus para peneliti ke seluruh dunia, di mana enam orang dari mereka telah diutus ke Pakistan, untuk mengadakan penelitian tentang upacara kesedihan bulan Muharram. Para peneliti CIA ini harus mendapatkan jawaban bagi soal-soal berikut:

a. Di kawasan dunia manakah kaum Syiah tinggal, dan berapa jumlah mereka?

b. Bagaimanakah status sosial-ekonomi kaum Syiah, dan apa perbedaan-perbedaan di antara mereka?

c. Bagaimanakah cara untuk menciptakan pertentangan internal di kalangan Syiah?

d. Bagaimanakah cara memperbesar perpecahan antara Syiah dan Sunni?

e. Mengapa mereka kuatir terhadap Syiah?

Dr. Michael Brant berkata bahwa setelah melalui berbagai polling tahap pertama dan setelah terkumpulnya informasi tentang pengikut Syiah di berbagai negara, didapat poin-poin yang disepakati, sebagai berikut:

Para Marja’ Syiah adalah sumber utama kekuatan mazhab ini, yang di setiap zaman selalu melindungi mazhab Syiah dan menjaga sendi-sendinya. Dalam sejarah panjang Syiah, kaum ulama (para Marja) tidak pernah menyatakan baiat (kesetiaan) kepada penguasa yang tidak Islami. Akibat fatwa Ayatullah Syirazi, Marja Syiah saat itu, Inggris tidak mampu bertahan di Iran.

Di Irak yang merupakan pusat terbesar ilmu-ilmu Syiah, Saddam dengan segala kekuatan dan segenap usaha tidak mampu membasmi Syiah. Pada akhirnya, ia terpaksa mengakhiri usahanya itu.

Ketika semua pusat ilmu lain di dunia selalu mengambil langkah beriringan dengan para penguasa, Hauzah Ilmiyah Qom justru menggulung singgasana kerajaan tirani Syah.

Di Libanon, Ayatullah Musa Shadr memaksa pasukan militer Inggris, Perancis, dan Israel melarikan diri. Keberadaan Israel juga terancam oleh sang Ayatullah dalam bentuk Hizbullah.

Setelah semua penelitian ini, kami sampai pada kesimpulan bahwa berbenturan langsung dengan Syiah akan banyak menimbulkan kerugian, dan kemungkinan menang atas mereka sangat kecil.

Oleh sebab itu, kami mesti bekerja di balik layar. Sebagai ganti slogan lama Inggris: Pecah-belah dan Kuasai (Divide and Rule), kami memiliki slogan baru: Pecah-belah dan Musnahkan (Divide and Annihilate).
Rencana mereka sebagai berikut:

1. Mendorong kelompok-kelompok yang membenci Syiah untuk melancarkan aksi-aksi anti-Syiah.

2. Memanfaatkan propaganda negatif terhadap Syiah, untuk mengisolasi mereka dari masyarakat Muslim lainnya.

3. Mencetak buku-buku yang menghasut Syiah.

4. Ketika kuantitas kelompok anti-Syiah meningkat, gunakan mereka sebagai senjata melawan Syiah (contohnya: Taliban di Afghanistan dan Sipah-e Sahabah di Pakistan).

5. Menyebarkan propaganda palsu tentang para Marja dan ulama Syiah.

Orang-orang Syiah selalu berkumpul untuk memperingati tragedi Karbala. Dalam peringatan itu, seorang akan berceramah dan menguraikan sejarah tragedi Karbala, dan hadirin pun mendengarkannya. Lalu mereka akan memukul dada dan melakukan ‘upacara kesedihan’ (azadari). Penceramah dan para pendengar ini sangat penting bagi kita. Karena, azadari-azadari seperti inilah yang selalu menciptakan semangat menggelora kaum Syiah dan mendorong mereka untuk selalu siap memerangi kebatilan demi menegakkan kebenaran. Untuk itu:

1. Kita harus mendapatkan orang-orang Syiah yang materialistis dan memiliki akidah lemah, tetapi memiliki kemasyhuran dan kata-kata yang berpengaruh. Karena, melalui orang-orang inilah kita bisa menyusup ke dalam upacara-upacara azadari (wafat para Imam Ahlul Bait).

2. Mencetak atau menguasai para penceramah yang tidak begitu banyak mengetahui akidah Syiah.

3. Mencari sejumlah orang Syiah yang butuh duit, lalu memanfaatkan mereka untuk kampanye anti-Syiah. Sehingga, melalui tulisan-tulisan, mereka akan melemahkan fondasi-fondasi Syiah dan melemparkan kesalahan kepada para Marja dan ulama Syiah.

4. Memunculkan praktik-praktik azadari yang tidak sesuai dan bertentangan dengan ajaran Syiah yang sebenarnya.

5. Tampilkan praktik azadari (seburuk mungkin), sehingga muncul kesan bahwa orang-orang Syiah ini adalah sekelompok orang dungu, penuh khurafat, yang di bulan Muharram melakukan hal-hal yang mengganggu orang lain.

6. Untuk menyukseskan semua rencana itu harus disediakan dana besar, termasuk mencetak penceramah-penceram ah yang dapat menistakan praktik azadari. Sehingga, mazhab Syiah yang berbasis logika itu dapat ditampilkan sebagai sesuatu yang tidak logis dan palsu. Hal ini akan memunculkan kesulitan dan perpecahan di antara mereka.

7. Jika sudah demikian, tinggal kita kerahkan sedikit kekuatan untuk membasmi mereka secara tuntas.

8. Kucurkan dana besar untuk mempropagandakan informasi palsu.

9. Berbagai topik anti-Marjaiyah harus disusun, lalu diserahkan kepada para penulis bayaran untuk disebarkan kepada masyarakat luas. Marjaiyah, yang merupakan pusat kekuatan Syiah, harus dimusnahkan. Akibatnya, para pengikut Syiah akan bertebaran tanpa arah, sehingga mudah untuk menghancurkan mereka.

Untuk Info lebih lengkapnya:
http://www.victorynewsmagazine.com/images/ConspiracyAgainstJaffariSchoolofThoughtRevealed.htm

Dalam pertemuan CIA itu, telah diputuskan bahwa sebuah lembaga independen akan didirikan untuk mempelajari Islam Syiah secara khusus dan menyusun strategi dalam menghadapi Syiah. Bujet awal sebesar 40 juta US dolar juga telah disediakan. Untuk penyempurnaan proyek ini, ada tiga tahap program.
Sebuah buku berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology” telah terbit di AS.
Buku ini berisi wawancara detail dengan Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan direktur CIA.

Dalam wawancara ini diungkapkan hal-hal yang sangat mengejutkan. Dikatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dolar untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah. Dr. Michael Brant sendiri telah lama bertugas di bagian tersebut, akan tetapi ia kemudian dipecat dengan tuduhan korupsi dan penyelewengan jabatan.

Tampaknya dalam rangka balas dendam, ia membongkar rencana-rencana rahasia CIA ini. Brant berkata bahwa sejak beberapa abad silam dunia Islam berada di bawah kekuasaan negara-negara Barat. Meskipun kemudian sebagian besar negara-negara Islam ini sudah merdeka, akan tetapi negara-negara Barat tetap menguasai kebebasan, politik, pendidikan, dan budaya mereka, terutama sistem politik dan ekonomi mereka. Oleh sebab itu, meski telah merdeka dari penjajahan fisik, mereka masih banyak terikat kepada Barat.

Pada tahun 1979, kemenangan Revolusi Islam telah menggagalkan politik-politik kami. Pada mulanya Revolusi Islam ini dianggap hanya sebagai reaksi wajar dari politik-politik Syah Iran. Dan setelah Syah tersingkir, kami (AS) akan menempatkan lagi orang-orang kami di dalam pemerintahan Iran yang baru, sehingga kami akan dapat melanjutkan politik-politik kami di Iran.

Setelah kegagalan besar AS dalam dua tahun pertama (dikuasainya Kedubes AS di Teheran dan hancurnya pesawat-pesawat tempur AS di Tabas) dan setelah semakin meningkatnya kebangkitan Islam dan kebencian terhadap Barat, juga setelah munculnya pengaruh-pengaruh Revolusi Islam Iran di kalangan Syiah di berbagai negara–terutama Libanon, Irak, Kuwait, Bahrain, dan Pakistan–akhirnya para pejabat tinggi CIA menggelar pertemuan besar yang disertai pula oleh wakil-wakil dari Badan Intelijen Inggris. Inggris dikenal telah memiliki pengalaman luas dalam berurusan dengan negara-negara ini.

Dalam pertemuan tersebut, kami sampai pada beberapa kesimpulan, di antaranya bahwa Revolusi Islam Iran bukan sekadar reaksi alami dari politik Syah Iran. Tetapi, terdapat berbagai faktor dan hakikat lain, di mana faktor terkuatnya adalah adanya kepemimpinan politik Marjaiyah (kepemimpinan agama) dan syahidnya Husein, cucu Rasulullah, 1400 tahun lalu, yang hingga kini masih tetap diperingati oleh kaum Syiah melalui upacara-upacara kesedihan secara luas. Sesungguhnya dua faktor ini yang membuat Syiah lebih aktif dibanding Muslimin lainnya.

Dalam pertemuan CIA itu, telah diputuskan bahwa sebuah lembaga independen akan didirikan untuk mempelajari Islam Syiah secara khusus dan menyusun strategi dalam menghadapi Syiah. Bujet awal sebesar 40 juta US dolar juga telah disediakan. Untuk penyempurnaan proyek ini, ada tiga tahap program:

1. Pengumpulan informasi tentang Syiah, markas-markas dan jumlah lengkap pengikutnya.

2. Program-program jangka pendek: propaganda anti-Syiah, mencetuskan permusuhan dan bentrokan besar antara Syiah dan Sunni dalam rangka membenturkan Syiah dengan Sunni yang merupakan mayoritas Muslim, lalu menarik mereka (kaum Syiah) kepada AS.

3. Program-program jangka panjang: demi merealisasikan tahap pertama, CIA telah mengutus para peneliti ke seluruh dunia, di mana enam orang dari mereka telah diutus ke Pakistan, untuk mengadakan penelitian tentang upacara kesedihan bulan Muharram. Para peneliti CIA ini harus mendapatkan jawaban bagi soal-soal berikut:

a. Di kawasan dunia manakah kaum Syiah tinggal, dan berapa jumlah mereka?

b. Bagaimanakah status sosial-ekonomi kaum Syiah, dan apa perbedaan-perbedaan di antara mereka?

c. Bagaimanakah cara untuk menciptakan pertentangan internal di kalangan Syiah?

d. Bagaimanakah cara memperbesar perpecahan antara Syiah dan Sunni?

e. Mengapa mereka kuatir terhadap Syiah?

Dr. Michael Brant berkata bahwa setelah melalui berbagai polling tahap pertama dan setelah terkumpulnya informasi tentang pengikut Syiah di berbagai negara, didapat poin-poin yang disepakati, sebagai berikut:

Para Marja’ Syiah adalah sumber utama kekuatan mazhab ini, yang di setiap zaman selalu melindungi mazhab Syiah dan menjaga sendi-sendinya. Dalam sejarah panjang Syiah, kaum ulama (para Marja) tidak pernah menyatakan baiat (kesetiaan) kepada penguasa yang tidak Islami. Akibat fatwa Ayatullah Syirazi, Marja Syiah saat itu, Inggris tidak mampu bertahan di Iran.

Di Irak yang merupakan pusat terbesar ilmu-ilmu Syiah, Saddam dengan segala kekuatan dan segenap usaha tidak mampu membasmi Syiah. Pada akhirnya, ia terpaksa mengakhiri usahanya itu.

Ketika semua pusat ilmu lain di dunia selalu mengambil langkah beriringan dengan para penguasa, Hauzah Ilmiyah Qom justru menggulung singgasana kerajaan tirani Syah.

Di Libanon, Ayatullah Musa Shadr memaksa pasukan militer Inggris, Perancis, dan Israel melarikan diri. Keberadaan Israel juga terancam oleh sang Ayatullah dalam bentuk Hizbullah.

Setelah semua penelitian ini, kami sampai pada kesimpulan bahwa berbenturan langsung dengan Syiah akan banyak menimbulkan kerugian, dan kemungkinan menang atas mereka sangat kecil.

Oleh sebab itu, kami mesti bekerja di balik layar. Sebagai ganti slogan lama Inggris: Pecah-belah dan Kuasai (Divide and Rule), kami memiliki slogan baru: Pecah-belah dan Musnahkan (Divide and Annihilate).
Rencana mereka sebagai berikut:

1. Mendorong kelompok-kelompok yang membenci Syiah untuk melancarkan aksi-aksi anti-Syiah.

2. Memanfaatkan propaganda negatif terhadap Syiah, untuk mengisolasi mereka dari masyarakat Muslim lainnya.

3. Mencetak buku-buku yang menghasut Syiah.

4. Ketika kuantitas kelompok anti-Syiah meningkat, gunakan mereka sebagai senjata melawan Syiah (contohnya: Taliban di Afghanistan dan Sipah-e Sahabah di Pakistan).

5. Menyebarkan propaganda palsu tentang para Marja dan ulama Syiah.

Orang-orang Syiah selalu berkumpul untuk memperingati tragedi Karbala. Dalam peringatan itu, seorang akan berceramah dan menguraikan sejarah tragedi Karbala, dan hadirin pun mendengarkannya. Lalu mereka akan memukul dada dan melakukan ‘upacara kesedihan’ (azadari). Penceramah dan para pendengar ini sangat penting bagi kita. Karena, azadari-azadari seperti inilah yang selalu menciptakan semangat menggelora kaum Syiah dan mendorong mereka untuk selalu siap memerangi kebatilan demi menegakkan kebenaran. Untuk itu:

1. Kita harus mendapatkan orang-orang Syiah yang materialistis dan memiliki akidah lemah, tetapi memiliki kemasyhuran dan kata-kata yang berpengaruh. Karena, melalui orang-orang inilah kita bisa menyusup ke dalam upacara-upacara azadari (wafat para Imam Ahlul Bait).

2. Mencetak atau menguasai para penceramah yang tidak begitu banyak mengetahui akidah Syiah.

3. Mencari sejumlah orang Syiah yang butuh duit, lalu memanfaatkan mereka untuk kampanye anti-Syiah. Sehingga, melalui tulisan-tulisan, mereka akan melemahkan fondasi-fondasi Syiah dan melemparkan kesalahan kepada para Marja dan ulama Syiah.

4. Memunculkan praktik-praktik azadari yang tidak sesuai dan bertentangan dengan ajaran Syiah yang sebenarnya.

5. Tampilkan praktik azadari (seburuk mungkin), sehingga muncul kesan bahwa orang-orang Syiah ini adalah sekelompok orang dungu, penuh khurafat, yang di bulan Muharram melakukan hal-hal yang mengganggu orang lain.

6. Untuk menyukseskan semua rencana itu harus disediakan dana besar, termasuk mencetak penceramah-penceram ah yang dapat menistakan praktik azadari. Sehingga, mazhab Syiah yang berbasis logika itu dapat ditampilkan sebagai sesuatu yang tidak logis dan palsu. Hal ini akan memunculkan kesulitan dan perpecahan di antara mereka.

7. Jika sudah demikian, tinggal kita kerahkan sedikit kekuatan untuk membasmi mereka secara tuntas.

8. Kucurkan dana besar untuk mempropagandakan informasi palsu.

9. Berbagai topik anti-Marjaiyah harus disusun, lalu diserahkan kepada para penulis bayaran untuk disebarkan kepada masyarakat luas. Marjaiyah, yang merupakan pusat kekuatan Syiah, harus dimusnahkan. Akibatnya, para pengikut Syiah akan bertebaran tanpa arah, sehingga mudah untuk menghancurkan mereka.

Untuk Info lebih lengkapnya:
http://www.victorynewsmagazine.com/images/ConspiracyAgainstJaffariSchoolofThoughtRevealed.htm

Sebagian dari cendikiawan modern kita berusaha dengan penuh semangat membedakan dan membagi Syi’ahisme/Syi’isme atau Tasyayyu’ menjadi dua macam:

 

1. Tasyayyu’ Ruhi Maknawi (Syi’ah datam moral dan spiritual).
2. Tasyayyu’ Siasi (Syi’ah dalam masalah soslal politik).

Dan mereka juga dengan susah payah ingin membuktikan bahwa Ahlul Bait sejak setelah pembantaian Imam Husain dan keluarga serta sahabatnya di padang Karbala telah meninggalkan aktifitas politik, sebaliknya mereka menyibukkan diri dengan berkhalwat dan beribadat serta memberi wejangan dan nasehat kepada masyarakat.

Tasyayyu’ sejak lahir tidak pernah tergambar sebagal garis haluan spiritual saja tetapi ia lahir sebagai konsep yang telah dicanangkan Rasulullah demi kelancaran dakwah di bawah kepemlmplnan Ali bin Abi Thalib setelah Rasul wafat baik dalam segi intelektual ataupun dalam segi politik sosial secara sama rata, sesuai dengan kondisi yang telah memproses timbulnya faham itu.

Dan atas dasar yang telah kita pelajari di atas, kita tidak menemukan adanya perbedaan antara Syi’ah spiritual dan Syi’ah politik dalam konsep Tasyayyu’ secara utuh, mengingat kedua hal penting itu tidak terpisah dari Islam secara utuh.

Dengan demilkian kita dapat memastikan bahwa Tasyayyu’ adalah konsep yang disajikan guna menjaga kelancaran dakwah setelah Nabi. Masa depan yang memerlukan adanya suatu pimpinan Intelektual dan soslal pdltik dalam rangka menelusuri perkembangan Islam secara serentak.

Dan sejak semula sudah terdapat orang-orang yang mendukung kepemimpinan Ali KW sebagal individu satu-satunya di tengah-tengah masyarakat Islam yang mampu memainkan peranan Khilafah dan melanjutkan kepemim¬pinan dari ketiga orang yang telah mendahuluinya. Rasa hormat dan simpati itulah yang mendorong hati masyarakat menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya setelah Utsman bin Affan tewas terbunuh. Rasa cinta mereka itu bukanlah Syi’ahis yang bersifat spiritual ataupun politik. sebab Tasyayyu’ adalah rasa yakin dan iman bahwa Ali adalah pengganti secara langsung kepemimpinan Rasulullah. Tasyayyu’ mempunyai ruang lingkup dan pengertian yang lebih luas dari itu semua. Tasyayyu’ adalah sikap mendukung Ali secara menyeluruh sebagai pemimpin setelah Rasul. Maka tidak dapat kita seenaknya membagi Tasyayyu’ menjadi dua pengertian saja secara terpisah.

Kita ketahui bahwa diantara para sahabat besar ada yang mendukung dan berfaham Syi’i dalam segi intelektual dan politik sosial seperti Salman AI-Farisi, Abu Dzar Al-Ghifari, Ammar bin Yasir, dan lain-lain. Tapi sikap mengikuti secara mutlak atau Tasyayyu’ mereka tidak terbatas pada segi sosial politik saja. Tetapi mereka beriman secara sempurna bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pengganti Rasul dan pengemban dakwah setelahnya dan berfungsi sebagal pemimpin intelektual dan politik sosial. Sikap iman mereka dalam hal intelektual dan pemikiran tercermin dalam Tasyayyu’ spiritual mereka yang telah kita jelaskan tadi.

Adapun sikap mengikuti dan iman mereka dalam sosial politik, itu tersirat dalam sikap protes terhadap kepemimpinan dan khalifah Abu Bakar dan partai berkuasa yang telah mengambil hak kekhilafahan Ali.

Sebenamya pendapat yang memisahkan tasyayyu’ moril dari tasyayyu’ politik tidak timbul dan dihasilkan oleh logika seorang yang merasa dirinya sebagal seorang syi’i. Lontaran ini mereka keluarkan akibat dari rasa putus asa dan apatis melihat kenyataan yang ada dihadapannya dan merupakan pengamh dari jiwa dan semangat tasyayyu’ yang mulai luntur dan lenyap yang tidak lagi melihat Tasyayyu’ sebagai konsep yang dipaparkan untuk melanjutkan kepemimpinan Islam dalam rangka membina Ummat dan menyempumakan target perombakan besar-besaran yang telah digariskan Rasul yang akhirnya condong surut dan berubah menjadi ajaran dan bibit ideologi yang tersimpan di dalam lubuk hati dan menjadikannya sebagal tongkat dan pembimbing dalam mencapal ctta-cita dan angan-angannya saja.

Dari sini kita dapat menyadari mengapa sampai para Imam dari keluarga Rasul dan Cucu Husain as. meninggalkan gelanggang sosial politik dan memisahkan diri dari dunia dengan semua keributan dan romantikanya yang bermacam-macam. Kita lihat Tasyayyu’ yang merupakan konsep pengembangan dakwah dan pelanjut kepemimpinan Islam dan bahwa manifestasi dan misdak dari kepemimpinan Islam itu adalah aksi perombakan yang telah diprakarsai demi penyempurnaan upaya membina Umat atas dasar prinsip dan ajaran Islam.

Jika itu semua kita sadari, maka tidak mungkin kita akan beranggapan bahwa para Imam dari Ahli-Bait Rasul tidak lagi memperhatikan segi sosial politik. sebab dengan tidak memperhatikan segi ini berarti mereka tidak antusias kepada Tasyayyu’ itu sendiri. Dan ini anggapan nihil bahwa para Imam itu meninggalkan kancah sosial politik itu berdasarkan alasan bahwa para Imam tersebut tidak lagi mengangkat senjata dan tidak mengadakan aksi pemberontakan militer dalam menanggapi situasi yang ada pada saat itu. Anggapan seperti ini adalah cermin kepicikan dan keterbatasan dalam memahami dan mengartikan aktifitas polttik sebagai aksi pemberontakkan militer dan angkat senjata saja.

Dan kita mempunyai nash dan data otentik yang banyak dari pada Imam yang menunjukan bahwa para Imam selalu siaga dan siap terlibat dalam aksi militer bila terdapat di sisi mereka pendukung dan penglkut-penglkut yang berani dan setia disamping bila ada kekuatan yang dapat menjamin tercapainya cita-cita Islam melalui aksi militer tersebut.

Jika kita selalu memantau dengan teliti perjalanan gerakan Syi’ahisme kita akan berkesimpulan bahwa para Imam dari Ahli-Bait Rasul berpandangan bahwa menerima tampuk kekuasaan dengan sendirinya tidak dapat menunjang dan menciptakan perombakan secara Islami, hal ini akan tercapai bila kekuasaan tersebut didukung dan dibangun atas dasar pondasi dan pangkalan yang kokoh serta sadar akan tujuan dan cita-clta kepemimpinan dan yakin akan kebenaran teori itu serta menjelaskan sikap mereka kepada masyarakat disamping mereka harus tabah menghadapi resiko penekanan dan Intimidasi dari luar dan dalam.

Pada pertengahan abad pertama setelah wafatnya Rasul tokoh-tokoh yang didukung oleh masa – sejak pengambilalihan kekuasaan dari pihak yang kompeten – selalu berusaha mengambil kembali kekuasaan dengan cara yang mereka anggap benar, sebab mereka masih yakin adanya tonggak-tonggak masa yang sudah sadar atau sedang menuju kearahnya baik dan pihak Muhajirin Anshar maupun dari pihak tabi’in. Tapi setelah berjalan lebih dari setengah abad dan setelah rasa optimisme itu larut sendiri dikalangan mereka ditambah dengan hadirnya generasi-generasi loyo di tengah-tengah arus penyelewengan yang melanda pada saat ttu.

Setelah menjadi suatu hal yang pasti bahwa apabila gerakan Syl’ah menerima kekuasaan pun itu tidak akan membuahkan hasil dan mewujudkan cita-cita yang diidamkan, karena tidak didukung dengan adanya pangkalan dan tonggak-tonggak masa yang sadar dan siap untuk berkorban. Menghadapi kenyataan ini diperlukan dua tindakan:

1. Bertindak demi terciptanya tonggak dan sendi-sendi rakyat yang sadar sehingga dapat menyiapkan saat yang tepat dan menguntungkan untuk mengambil kembali kekuasaan.
2. Menggerakkan dan menghidupkan nurani dan emosi Umat Islam serta menjaga semangat dan nurani tersebut, sehingga dapat melindungi mereka dari segala macam sikap lunak yang bisa menjatuhkan harga diri dan Identitas mereka selaku Umat Islam dari pihak penguasa yang zalim.

Tindakan pertama adalah tugas yang telah dijalankan den para Imam dengan sendirinya. Dan tindakan kedua adalah tugas yang harus dllakukan oleh beberapa tokoh dan kader revolusioner alawi yang selalu rajin – dengan pengorbanan yang tidak sedikit – melindungi nurani dan semangat jiwa Islami. Dan sebagian orang mukhlis daripada mereka mendapat dukungan moril dari para Imam.

Imam Ali bin Musa Ar-Redha pernah berkata kepada khalifah Ma’mun – ketika beliau mengenang jasa mulia bin Ali Zainal Abidin – la adalah termasuk dari pada cendekiawan-cendekiawan keluarga Muhammad. Beliau murka dan marah hanya karena Allah lalu berjuang melawan musuh-musuhNya hingga tewas dijalan-Nya.

Aku pernah diberitahu Ayahku Musa bin Ja’far bahwa ia dari ayahnya Ja’far berkata: Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya kepada pamanku Zaid. la meminta kerelaan dan restu dari pihak keluarga Muhammad kemudian ia berhasil dan Allah penuhi permohonannya. la berkata: “Saya mengajak kalian agar rela akan keluarga Muhammad:” (Wasa’il As-Syi’ah. Kitab al-Jihad).

Akhimya kita ketahui bahwa tindakan dan sikap para Imam meninggalkan aksi mlitter dan pemberontakan fisik secara langsung melawan penyelewengan-penyelewengan itu tidak berarti mereka meninggalkan secara menyeluruh fungsi segi sosial politik serta memisahkan diri dari urusan kekuasaan dan cita-cita mengambilnya kembali lalu hanya sibuk berkhalwat dan melakukan ibadah ritual, tapi sikap demikian ini menggambarkan dan menandakan perbedaan yang menyolok antara konsep tindakan yang berkenaan dengan masalah sosial politik yang dttentukan oleh kondisi objektif dan ditunjang dengan pemahaman yang mendasar tentang esensi dan kandungan yang ada pada tindakan dan aksi perombakan serta metode dan cara mewujudkannya dalam bentuk yang hadir dan terjelma dalam realitas.

Kutipan dari Buku “Kemelut Kepemimpinan pasca Rasulullah saw”. Muhammad Baqir Sadr


Diterjemahkan dari publikasi hasil penelitian Muhammad Sahir versi bahasa inggris dengan judul: “The Saudi Dynasty: From where is it? And who is the real ancestor of this family?”. Rezim Saudi telah memerintahkan untuk membunuhnya karena dia telah mengungkapkan siapa sebenarnya keluarga Saudi itu; apa agama mereka sebenarnya; dan apakah mereka benar2 asli orang Arab?

Inilah terjemahan bebas saya atas hasil penelitian itu :

Pada tahun 851 H, sebuah rombongan kafilah dari Kabilah Al-Masalih, salah satu kabilah dari Bani Anza, mengadakan perjalanan ke Irak dalam rangka membeli kebutuhan pangan seperti gandum, jagung dll. untuk dibawa kembali ke Najd. Kafilah itu dipimpin oleh Sahmi bin Hathlul.

Ketika rombongan kafilah sampai di Basra mereka bertemu dengan saudagar Yahudi yang kaya bernama Murdahai bin Ibrahim bin Musa yang menjual bahan2 kebutuhan pangan yang mereka perlukan. Disela-sela tawar menawar, saudagar Yahudi itu menanyakan mereka darimana dan dijawab bahwa mereka adalah Kabilah Al-Masalih dari Bani Anza. Mendengar hal ini, saudagar Yahudi ini kemudian memeluk satu persatu semua anggota rombongan itu sambil mengatakan bahwa dia juga berasal dari Kabilah Al-Masalih yang terpaksa pindah ke Basra karena perselisihan antara ayahnya dengan anggota Bani Anza lainnya.

Mengiringi cerita bohong tersebut, dia memerintahkan pelayannya untuk memenuhi seluruh onta2 mereka dengan tepung gandum, kurma, tamman dan bahan2 kebutuhan pangan mereka lainnya. Kebaikan ini sangat berkesan dan sekaligus membuat mereka bangga karena bertemu “saudara” sendiri yang menjadi saudagar kaya di Irak. Mereka tidak saja sangat menyukainya tetapi juga sangat mempercayainya.

Ketika rombongan akan kembali ke Najd, saudagar Yahudi yang berpura-pura sebagai bagian dari Kabilah Al-Masalih itu meminta agar dia diperkenankan ikut rombongan itu pulang ke Najd. Dengan senang hati permintaan itu dipenuhi.

Sesampainya di Najd, saudagar Yahudi itu dengan dukungan penuh “saudara-saudaranya” mulai mempropagandakan dirinya. Namun pandangan-pandangannya ditentang masyarakat Al-Qasim dibawah pimpinan Syekh Saleh Salman Abdullah Al Tamimi, seorang ulama Muslim terkemuka. Dakwahnya meliputi kawasan Najd, Yaman dan Hijaz. Akibat penentangan ini dia pindah dari Al-Qasim ke Al- Ihsa dan mengganti namanya dengan Marhan bin Ibrahim Musa.

Dia kemudian tinggal ditempat yang bernama Dir’iya dekat Al-Qatif. Di sini dia mulai menyebarkan cerita bohong tentang Perisai Nabi Muhammad saw bahwa perisai tersebut diambil oleh Kafir Quraisy pada waktu Perang Uhud dan kemudian dijual kepada sebuah kabilah Yahudi bernama Bani Qunaiqa’ yang menyimpannya sebagai pusaka. Dia secara bertahap menaikkan posisinya dimata kaum Badui dengan cerita2 bohong seperti itu dan sekaligus secara halus tersamar mempengaruhi orang2 Badui agar beranggapan bahwa orang Yahudi telah ikut berjasa menjaga peninggalan Islam yang sangat bersejarah.

Dengan semakin kuat posisi dan pengaruhnya dimata kaum Badui Arab, dia kemudian memutuskan untuk menjadikan Dir’iya sebagai ibukota kerajaan Yahudi di tanah Arab dan memproklamirkan dirinya sebagai raja mereka.

Sementara itu Bani Ajaman bersama dengan Bani Khalid menyadari bahaya dari Marhan setelah mereka mengetahui siapa dia sebenarnya dan rencana jahatnya. Mereka kemudian menyerang Dir’iya dan berhasil mendudukinya tetapi tidak berhasil menangkap Marhan karena keburu melarikan diri.

Dalam pelariannya, Marhan bin Ibrahim Musa yang nama aslinya Murdahai bin Ibrahim Musa yang adalah orang Yahudi ini, sampai disebuah tanah pertanian yang waktu itu disebut Al-Malibid Ghusaiba dekat Al-Arid, yang dikemudian hari dan sampai sekarang disebut Al-Riyadh.

Dia meminta kepada pemilik tanah pertanian itu agar diperbolehkan tinggal disitu. Dengan baik hati dan penuh keramahtamahan pemilik tanah pertanian tersebut memperkenankannya. Tetapi, kurang lebih satu bulan setelah ia tinggal disitu, pemilik tanah pertanian yang baik hati itu beserta seluruh keluarganya ia bunuh, dan berpura-pura bahwa pemilik tanah pertanian beserta seluruh keluarganya dibunuh oleh perampok. Kekejian dan kebohongannya tidak sampai disitu saja, ia juga menyebarkan berita bahwa ia sudah membeli seluruh tanah pertanian itu dari pemiliknya sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Karenanya sekarang dia berhak atas tanah pertanian itu dan mengubah namanya menjadi Al-Dir’iya, sama dengan nama tempat sebelumnya yang lepas dari tangannya.

Di situ ia kemudian membangun sebuah Tempat Persinggahan yang diberi nama Madaffa, dan bersama-sama dengan para pengikutnya kembali menyebarkan propaganda yang menyesatkan bahwa dia adalah seorang Syeikh Arab tulen dan agung. Dia kemudian membunuh Syeikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, musuh bebuyutannya, di sebuah masjid di kota yang disebut Al-Zalafi.

Setelah puas dapat melenyapkan Syeikh Saleh, dia kemudian menjadikan tempat yang namanya sudah diubahnya menjadi Al-Dir’iya tersebut sebagai pusat kegiatannya. Dia mengawini banyak wanita dan memperoleh banyak anak yang semuanya dia beri nama-nama Arab. Salah satu anak lelakinya dia beri nama Al-Maqaran (berakar dari nama Yahudi: Mack-Ren) yang kemudian mempunyai anak lelaki yang diberi nama Muhammad. Anak lelakinya yang lain dia beri nama Saud, dan nama inilah yang kemudian dan sampai sekarang menjadi nama Dinasti Saudi.

Dengan berjalannya waktu, keturunan Marhan si Yahudi ini telah berkembang biak semakin banyak dan semakin kuat di bawah nama Keluarga Saudi. Mengikuti jejak pendahulunya mereka meneruskan gerakan bawah tanah dan konspirasinya menentang Negeri/Bangsa Arab. Secara illegal mereka memperluas wilayahnya dan membunuh setiap orang yang menentang mereka. Mereka menghalalkan segala cara untuk meraih ambisi mereka. Mereka tidak saja menggunakan uang mereka tetapi juga para wanita mereka untuk membeli pengaruh, khususnya terhadap mereka yang mau menulis biografi asli dari Keluarga Yahudi ini. Mereka menyewa penulis bayaran untuk merekayasa biografi mereka, yang sekaligus menyembunyikan keturunan siapa mereka sebenarnya, dengan mengaitkan mereka dengan kabilah-kabilah Arab terkenal seperti Rabi’a, Anza dan Al-Masalikh.

Sebagai contoh rekayasa penulis bayaran ditahun 1362 H atau 1943-an misalnya seperti Muhammad Amin Al-Tamimi, Direktur Perpustakaan Kerajaaan Saudi, membuatkan silsilah yang menyambung kepada Nabi Besar Kita Muhammad Rasulullah saw. Untuk itu ia mendapat hadiah 35.000 Pound Mesir dari Duta Besar Saudi untuk Mesir yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadil.

Dalam Buku Sejarah Keluarga Saudi halaman 98 – 101 penulis sejarah bayaran mereka menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap seluruh penduduk Najd adalah kafir dan karenanya wajib dibunuh, hartanya dirampas, dan para wanitanya dijadikan budak. Tidak ada seorang muslim/muslimah pun yang keyakinannya murni kecuali mereka mengikuti paham Muhammad bin Abdul Wahab. Doktrinnya memberi kekuasaan kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan kota-kota, desa-desa, perkampungan beserta seluruh isinya, membunuh para lelaki dan anak-anak, memperkosa para wanitanya, merobek perut para wanita yang sedang hamil dan kemudian memotong tangan anak-anak mereka lalu membakar mereka. Doktrin brutalnya juga memberi kekuasaan kepada Keluarga Saudi untuk merampas dan menguasai seluruh harta benda dan kekayaan penduduk yang mereka anggap sesat (yaitu mereka yang tidak mengikuti paham Wahabi).

Keturunan Saud (sekarang dikenal dengan Keluarga Saudi) mengkampanyekan pembunuhan terhadap para pemimpin kabilah-kabilah Arab dengan menuduhnya sebagai kaum kafir dan musyrik .

Keluarga Saudi yang sejatinya adalah Keluarga Yahudi ini benar-benar telah melakukan segala macam perbuatan keji atas nama ajaran sesat mereka yaitu Wahabisme, dan benar-benar telah menimbulkan teror dihati para penduduk kota-kota dan desa-desa sejak tahun 1163 H. Mereka menamakan seluruh jazirah Arab yakni Negeri Rasulullah saw dengan nama keluarga mereka yaitu Saudi Arabia seakan seluruh kawasan di jazirah Arab adalah milik pribadi keluarga mereka, dan seluruh penduduk lainnya dianggap sebagai para pelayan dan budak mereka yang harus bekerja keras untuk kesenangan majikan mereka yakni Keluarga Saudi.

Mereka benar-benar menguasai seluruh kekayaan alam sebagai milik pribadi mereka dan bila ada orang yang memprotes kelakuan Dinasti Yahudi ini maka orang tersebut akan dipancung didepan umum. Pernah salah seorang putri mereka pergi ke Florida, Amerika Serikat, dengan segala kebesarannya menyewa 90 (sembilan puluh) Suite Rooms di Grand Hotel dengan harga sewa US$ 1 juta per malam. Tidak ada yang berani memprotes kemewahan dan pemborosan ini karena takut akan dipancung didepan umum.

Kesaksian atas Darah Yahudi dari Keluarga Saudi

Pada tahun 1960, Radio Sawt Al Arab di Kairo Mesir dan Radio Yaman di Sana’a mengkonfirmasikan kebenaran Darah Yahudi dari Keluarga Saudi.

Raja Faisal Al-Saud waktu itu tidak bisa menolak kenyataan Darah Yahudi dari Keluarga Saudi ketika dia menyatakan kepada Washington Post pada 17 September 1969 dengan berkata: ”Kami, Keluarga Saudi adalah saudara sepupu (cousins) Yahudi. Kami sama sekali tidak setuju kepada sebarang Pemerintah Negara Arab atau Pemerintah Negara Muslim yang menunjukkan kebencian kepada Yahudi, tetapi kita harus hidup berdampingan secara damai dengan mereka. Negara kami (Arabia) adalah asal muasal darimana orang Yahudi pertama muncul, dan kemudian keturunannya menyebar keseluruh penjuru dunia”. Demikianlah deklarasi Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.

Hafiz Wahbi, Penasehat Kerajaan Saudi, menyebutkan dalam bukunya yang berjudul ”Peninsula of Arabia” bahwa Raja Abdul Aziz Al Saud yang meninggal tahun 1953 telah berkata: ”Pesan kami (Pesan Saudi) kepada seluruh kabilah Arab yang menentang kami: Kakek saya, Saud Awal, pernah menawan sejumlah Sheikh dari Kabilah Mathir dan ketika serombongan orang dari kabilah yang sama datang menuntut pembebasan mereka, Saud Awal memerintahkan kepada para pengawalnya untuk memenggal kepala semua tawanan itu, kemudian, dia ingin menghinakan para penuntut itu dengan mengundang mereka untuk memakan daging korbannya yang sudah dimasak sementara potongan kepalanya ditaruh di atas nampan. Para penuntut itu sangat terkejut dan menolak untuk memakan daging keluarganya sendiri; dan karena penolakannya itu, dia memerintahkan kepada para pengawalnya untuk memenggal kepala mereka juga”.

Hafiz Wahbi mengatakan lebih jauh bahwa maksud Raja Abdul Aziz Al Saud menceritakan kisah berdarah itu agar delegasi dari Kabilah Mathir yang saat itu sedang datang untuk menuntut pembebasan pemimpin mereka saat itu, yakni Sheikh Faisal Al Darwish, untuk tidak meneruskan niat mereka. Karena bila tidak mereka akan mengalami nasib yang sama. Dia membunuh Sheikh itu dan menggunakan darahnya untuk wudhu tepat sebelum ia melakukan sholat (sesuai dengan fatwa sesat paham Wahabi ).

Kesalahan Sheikh Faisal Al Darwish saat itu adalah karena dia mengkritik Raja Abdul Aziz Al Saud yang telah menandatangani dokumen yang disiapkan pemerintah Inggris sebagai sebuah Deklarasi untuk memberikan Palestina kepada Yahudi. Penandatanganan itu dilakukan di sebuah konferensi yang diselenggarakan di Al Aqeer pada tahun 1922.

Begitulah dan hal itu berlanjut terus sampai sekarang dalam sistem kekuasaan rezim Keluarga Saudi atau tepatnya Keluarga Yahudi ini. Semua tujuannya adalah: menguasai semua kekayaan dan keberkahan negeri Rasulullah saw; dengan cara merampok dan segala macam perbuatan keji lainnya, penyesatan, pengkafiran, mengeksekusi semua yang menentangnya dengan tuduhan kafir dan musyrik yang semuanya itu didasarkan atas doktrin paham wahabi.

PENDAHULUAN

Dalam beberapa tahun saja yaitu dalam rintisan berdirinya kerajaan Wahhabi Saudi Arabia III –Mamlakah al Arabiyyah al Saudiyyah (The Kingdom of Saudi Arabia, yaitu kerajaan Saudi Arabia sekarang). Sekte ini telah lebih dari membunuh 400.000 nyawa kaum muslimin dan membuat cacat permanen lebih dari 350.000 orang lainya dalam Ambisi mendirikan Kerajaan Saudi Arabia.

Penulisan ini bukan didasari kepada kebencian terhadap Sekte Wahhabi dan kerajaan Saudi Arabia yang telah sukses memecah belah bangsa Arab menjadi berkeping-keping hingga sekarang. Serta keberhasilanya mempermalukan dunia Islam sejak berdirinya hingga hari ini. Namun lebih didasari pada semangat kebebasan berfikir yang sangat ditentang keras oleh ajaran Wahhabi dan pengagum ajaran ini.

Wahhabi bukan saja menjadi musuh Islam, namun karena semangat INTOLERAN-nya yang begitu meresahkan menjadikan sekte ini menjadi musuh kemanusian keseluruhan yang menjunjung tinggi semangat kebebasan berfikir dan berpendapat, beragama dan berkepercayaan(sekte/mazhab).

Menurut tokoh Wahhabi DR Said Hawwa dalam bukunya “al-Islam pada bab Maa yub thilu as Shahadatain (bab pertama) terbitan Darul Ifta’ Riyadh Saudi Arabia mengatakan “Demokrasi” adalah salah satu bentuk Shirk yang membatalkan Shahadatain seseorang, dalam kitab tsb dijelaskan 21 perkara yang membatalkan Shahadat. Tanpa pernah menjelaskan bagaimana hukumnya mendirikan Kerajaan..?? Dua buku Said Hawwa yang kontroversial “al-Islam dan Jundullah (Laskar Tuhan) saya dengar sudah diterbitkan dalam terjemahan bahasa Indonesia, yang menjadi kitab marja’ kaum Wahhabi Indonesia.

Dengan mengetahui sejarah dan latar belakang berdirinya Wahhabism kita akan bisa menarik benang merah antara “TERORISM dan WAHHABISM”. Dan suatu kenyataan pula bahwa semua terrorist Islam adalah Wahhabi.

Banyaknya gerakan dan organisasi di Indonesia yang mengusung Ideologi ini sebagai faham dan modelnya sebenarnya, amat sangat membahayakan sendi-sendi persatuan bangsa serta keamanan nasional, meskipun hampir semuanya tidak pernah mau mengatakan bahwa mereka Wahhabi. Laskar Jihad Ahlusunnah wal Jama’ah yang merupakan sempalan Thaliban pun juga tidak mau dikatakan Wahhabi.

Bulan May 2006 Washington post berdasarkan laporan dari penelitian Freedom House foundation melaporkan tentang perubahan kurikulum materi pelajaran disekolah-sekolah Saudi Arabia yang mengajarkan tentang ajaran INTOLERAN Wahhabi, katanya telah direvisi pemerintah Kerajaan Saudi Arabia. Namun setelah diteliti ternyata hanya sedikit sekali perubahanya. Sembilan poin yang kontroversial ternyata masih ada, antara lain kepada anak didik diajarkan untuk tidak berkawan dengan non muslim, menyebutkan golongan Shufi dan shi’ah sebagai polytheism(ahl shirk) dll. (www.freedomhouse.org) bagian Center for religious Freedom). Suatu pendidikan kebencian yang tidak mungkin hilang hanya dalam satu generasi.

Dalam tulisan ini saya tidak membahas masalah materi ajaran Wahhabiyyah, namun lebih dititik beratkan pada “sejarah kelam dan brutal” sekte ini dalam ambisinya mendirikan sebuah Negara Absulut Monarchy sekterian “The Kingdom of Saudi Arabia” Mamlakah al Arabiyyah al Saudiyyah. Pem-fokusan pada pembentukan kerajaan Saudi Arabia karena disamping memang Negara ini adalah “anak haram hasil perselingkuhan antara agamawan dan politikus” yang memang menarik untuk dikaji, juga karena didalam Saudi Arabia ada Negara Hijaz ( Mekka dan Medina) yang masih dijajah Saudi sejak 1924. Disamping bukan bidang saya menulis ttg materi sebuah ajaran dan jurisprodensi agama.

Sejarah PEDANG, DARAH, NYAWA dan HARTA ternyata tidak membuat pemerintah kerajaan Saudi malu dengan sejarah masa lalunya, namun dengan bangganya mereka abadikan dalam lambang resmi Negara.

Diposkan oleh Yayasan Al-Jawad Bandung di 08.19 0 komentar

//

Senin, 26 April 2010



KECURIGAAN banyak orang terhadap ideologi wahhabi yang diduga menjadi induk semang atas tindak kekerasan atau teror atas nama agama di belahan dunia mendapat perhatian sejumlah kalangan, baik dari agamawan, aktivis sosial, dan bahkan pengamat politik. Gerakan wahhabi sebenarnya merupakan langgam lawas, tetapi pemunculannya selalu aktual, karena dikait-kaitkan dengan setiap tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Tragedi 11 September 2001 yang meluluhlantahkan WTC, gedung kebanggaan negeri Paman Sam, sepertinya menjadi ”perantara positif” sekaligus ”hikmah”. Pascaperistiwa September kelabu itu, sejumlah analisis kritis membuka tirai ideologi wahhabi yang ternyata mempunyai andil dalam mendoktrinisasi kelompok Islam tertentu yang secara sosiologis dikategorikan ”keras” dan ”ekstrem”.

Pertanyaannya, bagaimana menguji kebenaran asumsi dan stereotip negatif itu? Buku ini selain memberikan informasi penting tentang seluk-beluk yang menyangkut gerakan wahhabi, juga menyediakan ruang dialektika-kritis bagi pembacanya -bagaimana mestinya kita menyikapi gerakan yang mewabah bernama wahhabi itu.

Nur Khalik Ridwan, penulisnya, terlihat sangat bersemangat dan berapi-api mengeksplorasi bahasan tema dalam buku yang dirangkai dalam tiga seri ini. Sebab, jika dilihat dari aspek kapabilitas intelektualnya, Nur Khalik Ridwan dikenal sebagai sosok muda yang sangat produktif melahirkan karya bergenre kritis, terutama dalam bidang pemikiran keagamaan. Itu sebabnya, tidak heran, Kang Khalik -sapaan akrabnya- oleh sebuah majalah terkemuka di tanah air pernah dinobatkan sebagai salah seorang sosok penggiat revolusi kaum muda.

Buku ini adalah satu-satunya karya (setidaknya di Indonesia) yang berhasil merekam dan memotret keberadaan gerakan wahhabi secara kritis dan komprehensif. Pada buku pertama, diterangkan aspek historisitas, doktrin, dan penamaan istilah ”wahhabi”, yang dinisbatkan pada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab. Dua kritikus legendaris atas wahhabi, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Hanbali dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan as-Safi’i, juga tak luput dari perhatian Nur Khalik Ridwan yang ditampilkan secara dramatis. Buku pertama ini diberi judul Doktrin Wahhabi dan Benih-Benih Radikalisme Islam.

Menurut Nur Khalik Ridwan, penulisan buku ini dilandasi beberapa faktor penting, yaitu adanya pengaruh wahhabisme yang begitu besar terhadap banyak gerakan Islam dan radikalisasi-radikalisasi lain berbasis agama; belum ada kajian di Indonesia yang secara khusus membahas wahhabi dari akar sejarah hingga soal bagaimana posisinya di negara Arab; terjadinya tren pergeseran dan penolakan wahhabisme justru di kalangan ormas yang dulu terpengaruh ide-ide wahhabi; semakin gencarnya transnasionalisasi ide-ide wahhabi dan ekspansi yang bertubi-tubi, hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia; dan menjamurnya web blog yang dikuasai para wahhabi untuk menyebarkan wacana, ideologi, dan gerakannya (Jld I, hlm 3-10).

Buku kedua, yang bertitel Perselingkuhan Wahhabi dalam Agama, Bisnis, dan Kekuasaan, memuat analisis tajam persoalan relasi gerakan wahhabi dengan kekuasaan -dalam hal ini Kerajaan Arab Saudi. Hamid Algar menulis komentar menarik dalam Wahhabism: A Critical Essay (2002), yang sayangnya, tidak dirujuk oleh Nur Khalik. Menurut Algar, dalam sejarah pemikiran Islam yang berlangsung lama dan sangat kaya, wahhabisme tidak menempati posisi yang memiliki arti penting. Gerakan wahhabi bernasib baik karena muncul di Semenanjung Arab (Najad, sebuah tempat yang relatif jauh dari semenanjung itu) dan karena itu dekat dengan Haramayn, yang secara geografis merupakan jantung dunia muslim.

Keluarga Saudi, yang menjadi patron gerakan wahhabi, sangat mujur ketika pada abad ke-20 memperoleh kekayaan minyak luar biasa, yang sebagiannya telah digunakan untuk menyebarluaskan paham wahhabisme di dunia Islam dan wilayah-wilayah lain. Jika kedua faktor itu tidak ada, wahhabisme mungkin hanya akan tercatat dalam sejarah sebagai gerakan sektarian yang marginal dan berumur pendek.

Pada buku ketiga, Membedah Ideologi Kekerasan Wahhabi, Nur Khalik mencurahkan tenaga dan pikiran untuk melakukan kajian kritis terhadap ajaran atau doktrin, serta cara berpikir wahhabi yang sangat eksklusif dan menekankan absolutisme. Nur Khalik mencatat, di ranah ini tidak jarang mereka (kelompok wahhabi) mengafirkan umat Islam di luar kelompoknya, seperti tuduhan takfir (pengafiran) kepada umat Islam salaf dan khalaf yang ber-tawassul dengan para nabi, sahabat, tabi’in, dan wali-wali Allah yang saleh (Jld III, hlm 129). Ini sekaligus menjadi salah satu ciri seseorang sebagai anggota kelompok wahhabi.

Karena itu, ajaran dan doktrin-doktrin wahhabi sungguh bertentangan dengan keyakinan mayoritas muslim dunia (Sunni). Memang, sejak awal, para ulama Sunni telah mengamati bahwa kelompok wahhabi tidak termasuk bagian dari ahlu sunnah wal jamaah. Hal itu karena hampir seluruh praktik, tradisi, dan kepercayaan yang dikecam Muhammad bin Abdul Wahhab secara historis telah merupakan bagian integral Islam Sunni, yang dipelihara dalam berbagai literatur yang sangat kaya dan diterima mayoritas kaum muslim.

Di buku ketiga ini, diskusi tentang bagaimana gerakan wahhabi bergerilya ke wilayah-wilayah Islam, termasuk di Indonesia, terasa semakin lengkap dan menemukan pijakan relevansi dengan kenegaraan kita. Namun, Nur Khalik belum tuntas menganalisisnya. Sebab, menurut pengakuannya, dia masih dalam proses mengimajinasikan, dan direncanakan disusun menjadi buku tersendiri di lain waktu.

Yang pasti, inilah buku ”babon” (induk) yang secara khusus membongkar gerakan wahhabi beserta peran dan implikasi politisnya. Selamat membaca. (*)

Judul Buku: Seri Gerakan Wahhabi

Penulis: Nur Khalik Ridwan

Penerbit : Tanah Air, Jogjakarta

Cetakan : Pertama, November 2009

Ama Salman@Ali Usman,

Revolusi Iran dan Revolusi Imam Shadiq as

Di hari itu, seluruh rakyat Iran turun ke jalan-jalan. Tak peduli anak-anak, wanita dan orang tua, semuanya dengan semangat menyala meneriakkan yel-yel Allahu Akbar, Khomeini pemimpin kami. Teriakan yang menggelegar itu membuat bumi seakan-akan goyah. Di hari itu, mahasiswa, dosen, guru, ulama, pedagang, pejabat dan pekerja bersama-sama turun ke jalan mengungkapkan kecintaan mereka terhadap Imam Khomeini.

Di setiap mata mereka tersirat cahaya kebanggaan dan kehormatan. Tangan-tangan mereka membawa sekuntum bunga dan beriringan menjemput kedatangan pemimpin mereka. Ketika matahari muncul di ufuk timur, tampak sesosok tubuh keluar dari pintu pesawat. Ketika warga melihatnya serentak mereka meneriakkan yel-yel “Khomeini wahai pemimpin”. Dialah Imam Khomeini yang baru saja tiba di Iran dari tempat pengasingannya di Perancis. Ulama sekaligus pemimpin karismatik ini menyambut luapan kegembiraan rakyat Iran dengan tersenyum.

Itulah hari ke 12 di bulan Bahman 1357 H.S bertepatan dengan 1 Februari 1979. bersamaan dengan kedatangan Imam Khomeini ke Iran, seorang analis Barat menulis, “Kini seorang ulama menjadi pemimpin sejati dan kedudukannya di atas para politikus lainnya”. Koran Times terbitan London ketika mengenalkan pribadi agung ini menulis, “Imam Khomeini sosok yang berhasil menarik simpati berbagai kalangan dengan ucapannya. Beliau berbicara dengan bahasa masyarakat awam dan berhasil memberikan rasa percaya diri kepada pengikutnya. Beliau menunjukkan kepada rakyatnya bahwa ia mampu menghadapi AS”.

Michel Foucault, filosof asal Perancis menyatakan, “Keperibadian Ayatullah Al-Udzma Khomeini mampu meruntuhkan legenda keluarga Pahlevi. Tidak ada pemimpin negara dan politik meski mereka mendapat dukungan penuh media yang berani mengklaim bahwa rakyatnya memiliki hubungan emosional yang tinggi seperti yang dimiliki Imam Khomeini dengan rakyat Iran”.

Imam Khomeini sang pencetus Revolusi Islam bukan sekedar pemimpin politik dan revolusi. Sosok yang tak pernah kenal lelah ini selama bertahun-tahun menghabiskan usianya untuk memberi penerangan kepada rakyat dan menyeru untuk memerangi kezaliman dan ketidakadilan. Keperibadian beliau melampaui batasan manusia biasa yang terkekang dengan fisik kasarnya. Beliau seorang ulama yang mengikuti dan meneruskan jejak para nabi serta senantiasa meneriakkan kebenaran dan keadilan sebagai hakikat penciptaan.

Oleh karena itu, revolusi yang dipimpin Imam Khomeini tidak terbatas pada rakyat Iran. Revolusi Islam bersumber pada Al-Qur’an dan Islam yang mengajak umat manusia ke arah kebenaran dan kebebasan serta keadilan. Nilai-nilai luhur ini bukan hanya dihormati rakyat Iran, namun juga seluruh bangsa di dunia. Dunia modern pun tak luput dari pengaruh revolusi besar ini yang menyerukan kebebasan dan independensi. Dengan cepat revoluisi ini menyebar ke seluruh penjuru dunia dan telah berhasil menyadarkan berbagai bangsa dunia dari tidur panjangnya.

Pribadi Imam Khomeini penuh dengan semangat relijius dan kepercayaan tinggi terhadap diri sendiri. Alvin Toffler, pakar sosiologi dari AS mengatakan, “Ayatullah Khomeini kepada dunia mengatakan, selanjutnya kekuatan arogan dunia tidak menjadi pemain tunggal di pentas internasional karena seluruh bangsa memiliki kekuasaan. Apa yang diucapkan Imam Khomeini kepada kita adalah klaim kekuatan arogan dunia yang mengaku memiliki kekuasaan untuk mengatur dunia sejatinya mereka tidak memiliki hak tersebut”.

Revolusi Islam Iran sebagai revolusi idiologi dan religi terbesar dunia modern memiliki posisi penting. Keistimewaan yang dimiliki revolusi ini yang menjadikannya berbeda dengan revolusi-revolusi dunia lainnya adalah sisi modernisitas yang terkandung di dalamnya. Hal inilah yang menyebabkan revolusi ini hingga kini terus mendapat perhatian para pengamat politik dan sosial meski telah berusia tiga dekade. Meski demikian, kita menyaksikan upaya besar-besaran media Barat untuk mencitrakan bahwa revolusi Islam Iran telah habis masanya dan sistem yang diusung revolusi ini telah usang dan tidak mampu menjawab tantangan zaman.

Revolusi Islam yang kini memasuki dekade ke empat dari usianya berada dalam kondisi khusus. Mengingat revolusi ini bertumpu pada gerakan massa, namun Revolusi Islam adalah benda hidup, kokoh dan dinamis. Revolusi Islam sepanjang sejarahnya berhasil melalui berbagai rintangan yang menghadang dan berhasil mencapai kemajuan dan keagungan. Menurut para pengamat politik, Revolusi Islam di fase terbarunya tetap memiliki semangat seperti pertama kali meletus. Tak hanya itu, revolusi Islam juga mampu menghadapi seluruh rintangan yang menghadang.

Di puncak terdapat seorang pemimpin yang berani, luas pengalaman dan tegas. Pemimpin ini telah menggariskan perjalanan bangsa Iran. Slogan rakyat Iran yang berbunyi, “Metode masa depan bangsa Iran adalah jalan yang telah digariskan Imam Khomeini, revolusi, penentangan terhadap pemaksaan kekuatan arogan dunia, membela kaum tertindas dan mengibarkan bendera Islam di dunia”, sejatinya perjalanan yang telah digariskan Imam semasa hidupnya. Rakyat pemberani dan pejuang Iran sebenarnya juga pendukung utama revolusi Islam. Mereka di saat kritis telah berhasil mengembalikan nilai dan norma revolusi Islam dengan aksi mereka turun ke jalan-jalan. Aksi demo pada sembilan Dey 1388 atau 30 Desember 2009 lalu membuktikan loyalitas warga terhadap nilai-nilai Revolusi Islam. Menurut pernyataan Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran atau Rahbar, Ayatullah Al-Udzma Ali Khamenei, “Selama bangsa ini dengan kesadaran dan iman mereka bertekad mempertahankan hak-haknya maka pasti mereka akan menang”.

Revolusi Islam ibarat mentari pagi hari yang menghapus kegelapan malam. Ia muncul dengan mengusung ide bahwa politik harus bergandengan dengan etika dan agama. Oleh karena itu, yang berhak menjadi pemimpin adalah pribadi cerdik dan bertakwa serta menyerukan keadilan sehingga dunia dipenuhi perdamaian. Revolusi Islam memberikan harapan kepada manusia yang hidup di bawah tekanan kezaliman.

Imam Ja’far as dilahirkan pada 17 Rabiul Awal 83 H di kota Madinah. Ayah beliau adalah Imam Muhammad Al-Baqir as. Era Imam Shadiq as merupakan masa yang penuh dengan peristiwa penting dalam sejarah Islam. Sebab proses peralihan kekuasaan dari dinasti Umayah ke dinasti Abbasiyah di masa itu menyisakan beragam dampak sosial dan politik. Di sisi lain, masyarakat muslim di zaman itu berhadapan langsung dengan perkembangan pelbagai bentuk ideologi dan aliran teologi dan filsafat. Atmosfer kebangkitan ilmiah terasa sangat kental sekali yang dibarengi dengan maraknya penyebaran dan penerjemahan pemikiran filsafat dan teologi dari dunia luar, seperti Yunani dan Persia.
Tentu saja, kebangkitan ilmiah yang demikian pesat itu juga memunculkan beragam penyimpangan pemikiran dan akidah. Kondisi tersebut niscaya membuat misi dakwah Imam Shadiq memikul tanggung jawab yang besar. Dari satu sisi, masyarakat di masa itu mulai condong kepada pemikiran ateisme dan materialisme. Sementara di sisi lain, Imam Shadiq as harus mempertahankan Islam dari pelbagai penyimpangan dan kesalahan interpretasi.

Dalam kondisi yang sangat sensitif inilah, Imam Shadiq as melancarkan gerakan revolusi kultural Islam. Gerakan ini ditandai dengan keberhasilan mencetak lebih dari 4 ribu ilmuan dan ulama terkemuka dalam pelbagai bidang. Masing-masing memiliki spesialisasi dalam bidang keilmuan tertentu. Mereka pun disebar ke berbagai penjuru negeri-negeri muslim. Ibarat kata, murid-murid Imam Shadiq as laksana kobaran pelita yang menerangi sudut-sudut dunia Islam. Gerakan revolusi kultural dan revitalisasi pemikiran Islam oleh Imam Shadiq ini berhasil membuka ufuk baru kebangkitan ilmiah di kalangan masyarakat muslim.

Lewat gerakan revolusi keilmuannya itu, Imam Shadiq as menghimpun pemikiran orisinal Islam, terutama dalam masalah fiqh dan kalam serta mendidik para ilmuan dan ulama. Beragam khazanah ilmiah di bidang ahlak, fiqh, tafsir, dan kalam serta ilmu-ilmu lainnya yang bisa kita akses hingga kini merupakan hasil dari jerih payah dan perjuangan Imam Shadiq. Di mata para pemikir dan ulama dari berbagai mazhab, madrasah pemikiran Imam Shadiq as berdiri di atas landasan yang kokoh. Ulama terkemuka Ahlusunnah, Ahmad Zaki Saleh, menuturkan, “Mazhab Syiah yang dipelopori Imam Ja’far Shadiq as merupakan mazhab pertama yang membangun persoalan keagamaan di atas landasan rasional. Semangat ilmiah di mazhab ini sangat terasa kental melebihi mazhab-mazhab lainnya”.

Salah satu ciri khas gerak dakwah Imam Shadiq as adalah perdebatan ilmiah beliau dengan para pemikir dari berbagai kelompok dan aliran, termasuk kalangan ateis di zaman itu. Penguasaan Imam Shadiq as terhadap pelbagai ilmu pengetahuan, menjadikan beliau sebagai tokoh yang sulit dibantah argumentasi-argumentasi ilmiahnya.

Imam Shadiq as mendidik murid-murid besar di antaranya Hisyam bin Hakam, Muhammad bin Muslim dan Jabir bin Hayan. Sejarah menyebutkan bahwa murid-murid Imam Shadiq as mencapai 4000 orang. Sebagian dari mereka memiliki berbagai karya ilmiah yang tiada tara di zamannya. Misalnya Hisyam bin Hakam, pakar teologi Islam, menulis 31 buku. Jabir bin Hayan yang dikenal sebagai bapak kimia menulis lebih dari 200 buku dan pada abad pertengahan, karya tersebut diterjemahkan ke berbagai bahasa Eropa. Mufadhal juga merupakan salah satu murid terkemuka Imam Shadiq as yang menulis buku “Tauhid Mufadhal”.

Abu Hanifah, pemimpin mazhab Hanafi mengungkapkan kalimat indah tentang keagungan Imam Shadiq as. Abu Hanifah sendiri merupakan cendekiawan yang terkenal di masa itu. Suatu hari Khalifah Mansur yang begitu dengki dengan keagungan Imam Shadiq as mengusulkan kepada Abu Hanifah untuk menggelar ajang debat dengan Imam Shadiq. Khalifah meminta Abu Hanifah merancang pertanyaan yang sulit sehingga dengan cara itu pamor Imam Shadiq as diharapkan akan turun ketika tak bisa menjawabnya.

Abu Hanifah mengatakan, “Aku telah siapkan 40 pertanyaan yang sulit kemudian aku menemui Mansur. Saat itu Imam Shadiq as juga berada dalam pertemuan tersebut. Ketika melihatnya aku begitu terpesona hingga aku tidak bisa menjelaskan perasaanku di waktu itu. 40 masalah aku tanyakan kepada Ja’far bin Muhammad. Beliau menjelaskan masalah tersebut tidak hanya dari pandangannya sendiri namun ia mengungkapkan pandangan berbagai mazhab. Di sebagian masalah ada yang sepakat dengan kami dan sebagian bertentangan. Terkadang beliau menjelaskan pula pandangan yang ketiga. Ia menjawab 40 soal yang aku tanyakan dengan baik dan terlihat sangat menguasainya hingga aku sendiri terpesona oleh jawabannya. Harus kuakui, tidak pernah kulihat orang yang lebih faqih dan lebih pandai selain Ja’far bin Muhammad. Selama dua tahun aku berguru padanya. Jika dua tahun ini tidak ada, tentu aku celaka”.

Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki juga pernah menjadi murid Imam Shadiq as. Malik berkata, Imam Shadiq selalu senyum lembut. Aku tidak pernah melihat beliau mengatakan sesuatu yang sia-sia. Ketakutan kepada Tuhan menyelimuti jiwanya. Setiap kali aku menemuinya, beliau selalu menghamparkan alas tempat duduknya untukku.

Kemuliaan akhlak Imam Shadiq as senantiasa menjadi buah bibir umat Islam di masa itu. Sejarawan Islam, Ibnu Khalakan menuturkan, “Imam Shadiq as merupakan salah seorang keturunan Rasulullah dan tokoh utama Ahlul Bait as. Ia dijuluki dengan gelar Al-Shadiq, sebab setiap apa yang diucapkannya adalah kejujuran dan kebenaran. Keutamaan beliau melebihi apa yang bisa dilukiskan oleh lisan”.

Imam as juga dikenal sebagai sosok yang sangat penyayang dan dermawan. Kefasihan dan ketrampilan beliau dalam bertutur kata, sangat mengagumkan dan memikat siapapun yang mendengarnya. Meski beliau senantiasa menjadi pihak yang unggul dalam setiap perdebatan ilmiah, namun Imam tetap bersikap rendah hati dan sangat bijaksana kepada lawan-lawan debatnya.

Kadang di tengah teriknya musim panas, Imam Shadiq as tetap bertani di ladangnya. Beliau berkata, “Jika dalam keadaan seperti ini, aku menemui Tuhanku, niscaya aku akan bahagia”.

Kendati Imam Shadiq as adalah pemimpin umat dan tokoh yang terpandang, namun kehidupan beliau sangat merakyat. Suatu ketika, kota Madinah dilanda masa kekeringan dan masyarakat mengalami kekurangan gandum. Kepada pembantunya yang bernama Mu’tab, Imam berkata, “Berapa banyak kita punya gandum di rumah?”. Mu’tab menjawab, “Cukup untuk kebutuhan beberapa bulan”. Beliau pun segera memerintahkannya untuk menjual seluruh gandumnya. Mu’tab pun segera menjual seluruh gandumnya ke pasar Madinah. Setibanya di rumah, Imam Shadiq berkata, “Mulai saat ini, buatlah rotiku dari gandum yang dibeli dari pasar. Roti rumah ini harus seperti roti orang kebanyakan, separuh dari gandum dan separuh lagi dari barli (sejenis gandum kualitas rendah).”

Setiap kali ada kesempatan, Imam Shadiq as selalu melakukan perlawanan terhadap pemimpin zalim dengan senjata ilmu dan penanya. Imam berkata, “Barang siapa yang memuji pemimpin zalim dan tunduk di hadapannya agar mendapatkan keuntungan dari pemimpin tersebut, maka ia akan berada dalam kobaran api neraka bersama pemimpin zalim itu”.

Sebagaimana disebutkan dalam sejarah, Imam Shadiq adalah manusia yang paling rendah hati di kalangan masyarakatnya. Kaum papa dengan mudah menyampaikan keperluannya kepada beliau dan beliaupun memenuhi keperluan mereka dengan kasih sayang. Sikap mulia dan merakyat Imam Shadiq ini, makin meningkatkan kesadaran politik dan sosial masyarakat. Tentu saja hal tersebut menyulut kekhawatiran para pemimpin zalim dinasti Abbasiyah. Khalifah Mansur pun merasakan posisinya makin terancam. Lalu, ia meracuni Imam Shadiq as hingga akhirnya beliau pun gugur syahid pada tahun 148 H.

Hujr bin Adi al Adbar adalah seorang sahabat Rasulullah (saww) dan salah satu pengikut sejati Imam Ali (as). Muawiyah Laknatullah telah memerintahkan pengikutnya (Laknatullah untuk mereka) membunuh Hujr bin Adi al Adbar. Hujr merupakan salah seorang sahabat Rasulullah (saww) yang tidak terima jika Imam Ali (as) dihina dengan cara apapun. Ibn Ziyad Laknatullah menyarankan kepada Muawiyah Laknatullah untuk menangkap Hujr dan sahabat-sahabatnya. Saat perjalanan ke Damaskus, Muawiyah Lakanatullah memerintahkan agar mereka dibunuh.

Hujr ibn Adi

Hujr ibn Adi (Arabicحجر بن عدي ‎) (d.660) was a supporter of Ali ibn Abi talib,
Aksi teror terhadap umat Islam dijalankan terhadap mereka yang tidak memberikan konsensus atas otoritas politis Muawiyah. Teror dilakukan secara terorganisir melalui jaringan aparatur pemerintahan dan pejabat-pejabat gubernur di beberapa wilayah kekuasaannya. Teror ini  dilakukan dengan cara intimidasi, pemenjaraan, pembunuhan hingga peperangan
.
Sementara pembunuhan tanpa alasan yang sah, dalam Islam memang merupakan kejahatan fatal, sebagaimana dalam ayat QS: 5;32 oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan .seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu  sungguh sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi
.
Seperti kebanyakan penguasa otoriter, maka dinasti muawiyah pun membutuhkan pemerintahan yang kuat. Untuk tujuan ini maka umat Islam dipaksa untuk mendukung, menyokong dan jika perlu memuja otoritas muawiyah. Disisi lain, terhadap rakyat dipaksa untuk membantu menyingkirkan, mendiskreditkan dan menjatuhkan siapapun yang mengganggu otoritas muawiyah. Dalam sejarah disebutkan bahwa telah terjadi propaganda anti Imam Ali as. Dengan melakukan penghujatan dalam tiap akhir mimbar jum’at di masjid-masjid dalam wilayah kekuasaan mu’awiyah
.
Salah satu skandal pembunuhan tokoh penting – terhadap sahabat nabi yang sangat dihormati – adalah pembunuhan terhadap Hujr ibn Adi dan para pengikutnya. Latar belakang pembunuhan tersebut adalah suatu upaya untuk menyingkirkan pengaruh Imam Ali as. Dan pengikutnya (syi’ah Ali), agar “stabilitas” pemerintahan dapat terkendali. Metode represif dalam pengendalian stabilitas tersebut adalah untuk menciptakan ketakutan-ketakutan dan membungkam kelompok-kelompok oposisi
.
Hujr bin Adi bin Jabalah Al-Kindi adalah seorang sahabat yang emberani. Ia pernah menjadi utusan Rasulullah SAW. dan terjun dalam Perang Qadisiyah. Ia dibunuh bersama sahabat-sahabatnya pada tahun 51 H. (Al-’Alam, II/169)Disebutkan ketika Hujr akan dibunuh, ia berkata, “Biarkanlah aku berwudhu.”
.
Mereka menjawab, “Berwudhulah.”
.

Kemudia ia berkata, “Biarkanlah aku melaksanakan shalat dua rakaat.” Maka ia pun melaksanakan shalat dua rakaat pendek. Kemudian ia berkata, “Sekiranya aku tidak khawatir mereka akan mengatakan bahwa aku cemas karena akan mati, niscaya aku akan memanjangkan kedua rakaat shalat tersebut.” Ia melanjutkan, “Kedua rakaat tersebut telah didahului banyak shalat.”Kemudian mereka menggiringnya utnuk dibunuh. Mereka telah menggali kubur dan menyiapkan kafan untuknya dan sahabat-sahabatnya. Kemudia dikatakan kepdanya, “Engkau telah berkata bahwa engkau tidak gentar.”

Hujr menjawab, “Aku tidak akan gentar walaupun telah kulihat kubur yang telah tergali, kafan yang telah terbentang, dan pedang yang telah terhunus!

Kemudian seroang algojo maju ke hadapannya dan berkata, “Ulurkan lehermu!”

Ia menjawab, “Aku tidak akan membantu pembunuhan terhadap diriku.”

Maka algojo itu memenggal dan membunuhnya.

Pada hari ke 19 Ramadhan, Amirul Mukminin Imam Ali as sulit berbicara akibat racun yang bersarang dalam dirinya, dan beliau berkata, “Singkatkanlah pertanyaan-pertanyaan kalian.”

Hujur bin Adhi berkata, “Aku berdiri dan mengungkapkan syair kepada Imam Ali as,
Alangkah malangnya sang pemuka kaum takwa, ayah para manusia suci, sang Haidar yang suci (jiwanya) !

.
Orang kafir yang nista, pezina, terkutuk, fasik turunnya, celakalah yang telah membunuhnya.
Laknat Allah bagi yang berpaling dari kalian (wahai Ahlulbayt) dan yang berlepas diri dari kalian dengan laknat yang amat dahsyat

.
Karena kalian pada hari Mahsyar adalah bekalku, dan kalian Itrah Sang Nabi pemberi hidayah.

Mendengar syair Hujur ini, Imam Ali as menatapnya seraya berkata, “Bagaimanakah jadinya engkau nanti, yang pada saat itu, engkau akan dipaksa untuk berlepas diri dariku?”

Hujur menjawab,”Aku bersumpah demi Allah, seandainya aku dicincang dengan pedang lalu dibakar, aku tidak akan berpaling darimu.”

Imam Ali as berkata,”Semoga Allah memberimu balasan yang baik dan taufik dalam setiap kebaikan.”

Hujr bin Adi al Adbar adalah seorang sahabat Rasulullah (saww) dan salah satu pengikut sejati Imam Ali (as). Muawiyah Laknatullah telah memerintahkan pengikutnya (Laknatullah untuk mereka) membunuh Hujr bin Adi al Adbar. Hujr merupakan salah seorang sahabat Rasulullah (saww) yang tidak terima jika Imam Ali (as) dihina dengan cara apapun. Ibn Ziyad Laknatullah menyarankan kepada Muawiyah Laknatullah untuk menangkap Hujr dan sahabat-sahabatnya. Saat perjalanan ke Damaskus, Muawiyah Lakanatullah memerintahkan agar mereka dibunuh.

Ulama Mazhab Hanafi, Kamaluddin Umar ibn al Adim mencatat dalam Bughyat al Talib fi Tarikh Halab juz.2 hal.298 :

“Dia (Hujr bin Adi al Adbar) adalah penduduk Kufah, ia datang menemui Rasulullah (saww) sbg utusan (dr Kufah) dan dia salah seorang perawi dari (jalur) Ali bin Abi Thalib”

Hujr bin Adi al Adbar ikut serta dalam perang Jamal dan Sifin disisi Ali dan dia termasuk dalam syiah-nya. Ia telah dibunuh atas perintah Muawiyah di desa Mriaj Adra dekat Damaskus. Pada saat akan dibunuh ia meminta ; “Jgn singkirkan rantai ini setelah aku terbunuh, bgtu juga jgn bersihkan darahnya. Kami akan bertemu dg Muawiyah dan akan ku laporkan penentanganku terhadapnya” (Al Isaba, juz.1 halm.313 “Dzikr Hujr bin Adi”).

Aisyah berkata :

“Muawiyah..! kau telah membunuh Hujr dan sahabat-sahabatnya, Demi Allah, Rasul (saww) berkata kepadaku ; “Di lembah Adra tujuh orang akan terbunuh, yg membuat Allah dan seluruh (isi) langit murka”
(Tarikh, olh ibn Asakir, juz. 12 hal.227 “Dzikr Hujr bin Adi”)

“Hujr dan sahabat-sahabatnya ditangkap dan dibawa ke lembah Adra yang dekat dengan damaskus. Muawiyah memerintahkan bahwa hujr dan sahabat-sahabatnya hrs dibunuh dilembah tsb.”
(asad-ul-Ghaba, juz.1 hal. 244 “Dzikr Hujr bin Adi”)

Ibn Qutayba Dinwari (213-276 H) mencatat dalam karyanya yg masyhur “Al Ma’arif’”hal 76 :
Ia datang kepada Rasulullah saw sebagai utusan dan masuk Islam, ia hadir dalam perang Qadsiya, ia juga hadir dalam perang Jamal dan Sifin bersama Ali, lalu Muawiyah membunuhnya di Adra bersama kelompoknya”

Ulama mazhab Syafi’i, Allamah Hibatullah Lalkai (w.418) mencatat dalam “Syarh Usul Itiqad Ahlu Sunnah” Juz. 7 hal. 18 :
“Apa yang telah diriwayatkan mengenai karamah Hujr bin Adi atau Qais Makhshus seorang sahabat Rasulullah (saw)”

Imam Ali (as) bicara mengenai Hujr bin Adi :

Tercatat bahwa Imam Ali meramalkan terbunuhnya Hujr, hal ini oleh Allamah Muttaqi al Hindi dicatat dalam “Kanzul-Ummal” :
(Imam) Ali berkata “Hai orang-orang Kufah..! tujuh orang terbaik di antara kalian akan terbunuh, perumpamaan mereka sama dengan orang beriman di lembah”. Hujr bin Adi al Adbar dan sahabat-sahabatnya berada diantara mereka, dan mereka berasal dari Kufah, Muawiyah membunuh mereka di Adra perbatasan Damaskus”
(Kanzul Umal, Juz. 13 hal.531 riwayat 36530)

Pernah juga Aisyah bertanya kepada Muawiyah, (Kanzul Ummal juz.13 hal.556 riwayat 37510) :
Abi al Aswad meriwayatkan bahwa Muawiyah menemui Aisyah, dan Aisyah bertanya kepadanya ;
“Mengapa kau bunuh orang-orang Adra” (mksdnya Hujr dan sahabatnya).
Muawiyah menjawab : “Wahai Umul Mukminin, Aku melihat bahwa kematian mereka lebih baik untuk umat dan hidupnya mereka akan membawa kerugian umat”
Ia (Aisyah) berkata : “Aku mendengar Rasulullah (saww) berkata : “Beberapa orang akan terbunuh di Adra, Allah dan penduduk surga akan murka karena hal itu”

Untuk para Nashibi (wahabi) Muawiyah adalah orang yang mulia, mereka menyanjung Muawiyah dan mengatakan dia adalah Khalifah Muslim, menyebut “Radhiallahu Anhu” setelah menyebut namanya…!

Sejarah dipaparkan sangat jelas bahwa Muawiyah telah membuat Allah Murka, bukan hanya dalam kasus yang ini, ia adalah pembenci Ahlul Bait (as) yang masuk dalam al Ahzab 33. Tidak diragukan lagi bahwa Muawiyah adalah orang yang pantas dilaknat..!

Dalam Al Bidayah wal Nihayah juz. 8 hal.55 disebutkan bahwa :
“Ibn Asakir mencatat bahwa Hujr datang kepada Rasulullah (saw) dan mendengar (hadis) dari Ali, ammar, Syarajil bin Marat yang dikenal dengan Syarjil bin Marat”

Al Hakim dalam Mustadrak membuat bab khusus tentang Hujr bin Adi (ra), “Keutamaan Hujr bin Adi (ra) dan Ia seorang sahabat Muhammad saw (Manaqib Hujr bin Adi wa huwa asahab Muhammad” (Al Mustadrak Sahihain Juz.3 hal.468)

Jika orang berdalih bahwa Muawiyah adalah “sahabat” Rasul (saww) dan oleh karenanya ia tidak boleh dilaknat, siapapun yang mengatakan hal tersebut, lihatlah bahwa Muawiyah adalah pembunuh sahabat Rasulullah (saww) yang sekaligus pengikut Imam Ali (as), maka cukup bagi kami bahwa murka Allah kepada Muawiyah membebaskan kami untuk melaknat orang terkutuk ini.

“Sesungguhnya orang-orang yang menyimpan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh semua makhluk yang dapat melaknat. Kecuali mereka yang telah bertaubat dan melakukan perbaikan dan menerangkan kebenaran, mereka itu Akulah Yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.”(Al-Baqarah ;159-160)

Demi Allah, saya lebih suka melewatkan suatu malam dalam jaga di atas duri-duri as-sa’dân (tumbuhan yang mempunyai duri-duri lancip) atau digiring dalam keadaan terbelenggu sebagai tawanan daripada menemui Allah dan Rasul-Nya di Hari Pengadilan sebagai penindas terhadap seseorang atau sebagai penyerobot (koruptor) sesuatu dari kekayaan dunia. Dan bagaimana saya dapat menindas sesorang demi (suatu kehidupan) yang begerak cepat ke arah kehancuran dan akan tinggal di bawah bumi untuk waktu lama.

Demi Allah, saya sungguh melihat (saudara saya) ‘Aqîl jatuh dalam kemiskinan dan ia meminta kepada saya satu sha’ (seberat kka-kira 3 kg) (dari bagian) gandum Anda, dan saya pun melihat anak-anaknya dengan rambut kusut dan wajah berdebu karena kelaparan, seakan-akan wajah mereka dihitamkan oleh nila. la datang kepada saya beberapa kali dan mengulangi permohonannya berkali-kali. Saya mendengarkannya dan ia berpikir seakan-akan saya mau menjual iman saya kepadanya dan mengikuti langkahnya dengan meninggalkan jalan saya sendiri. Kemudian saya (hanya) memanaskan sepotong besi dan mendekatkannya ke tubuhnya supaya ia boleh mengambil suatu pelajaran dari hal itu, lalu ia menangis sebagai seseorang dalam keadaan sakit yang berkepanjangan menangis karena kesakitan dan ia sudah hampir terbakar dengan besi panas itu. Kemudian saya berkata kepadanya, “Perempuan-perempuan berkabung boleh berkabung atas Anda, wahai ‘Aqîl. Apakah Anda menangis karena besi (panas) ini yang telah dibuat oleh seorang manusia sebagai main-main, sementara Anda mendorong saya ke arah api yang dipersiapkan Allah Yang Mahakuasa untuk (perwujudan) kemurkaan-Nya? Haruskah Anda menangis karena sakit tetapi saya tak boleh menangis karena api?

Suatu kejadian yang lebih aneh lagi dari ini ialah seorang lelaki [Al-Asy'ats ibn Qais] datang kepada kami di malam hari dengan botol tertutup yang penuh dengan pasta madu [sesuatu yg mahal], tetapi saya tidak menyukainya, seakan itu adalah liur atau muntah ular. Saya tanyakan kepadanya apakah itu suatu ganjaran, atau zakat atau sedekah, karena hal-hal ini terlarang bagi kami para anggota keluarga Nabi. la katakan hal itu bukan ini dan bukan itu melainkan suatu hadiah. Kemudian saya berkata, “Perempuan tak beranak boleh menangisi Anda. Apakah Anda datang untuk menyelewengkan saya dari agama Allah, atau apakah Anda gila, ataukah Anda telah ditaklukkan oleh suatu jin, atau apakah Anda berbicara tanpa makna?”

Demi Allah, sekalipun saya diberi semua wilayah tujuh (lapis langit) dengan segala yang ada di bawahnya agar saya melanggar perintah Allah dengan sekadar merebut sebutir gandum murahan dari seekor semut, saya tidak akan melakukannya. Bagi saya dunia Anda lebih enteng dari daun di mulut belalang yang sedang mengunyahnya. Apa hubungan ‘Ali dengan hadiah yang akan lewat dan kesenangan yang tidak akan langgeng? Kami memohon perlindungan Allah dari tergelincimya kebijaksanaan dan jahatnya kekeliruan, dan dari Dia kami mengharap pertolongan. •

Nahjul Balaghah Khotbah 222

Muawiyah Membunuh Sahabat Nabi Hujr bin Adi

Di antara salah satu penyimpangan yang dilakukan Muawiyah adalah perbuatannya yang membunuh salah seorang Sahabat Nabi yaitu Hujr bin Adiy Al Kindi RA. Hujr bin Adi adalah sahabat Nabi yang setia kepada Imam Ali AS, beliau bersama Imam Ali baik dalam perang Jamal maupun perang Shiffin. Para Ahli sejarah dan biografi rijal menyebutkan bahwa Hujr bin Adi dan para sahabatnya diperintahkan oleh Muawiyah untuk dieksekusi di desa Azra’ salah satu wilayah di Syam.

Ibnu Hajar menyebutkan biografi Hujr bin Adi dalam kitabnya Al Ishabah Fi Tamyiz As Shahabah 2/37 no 1631. Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Al Isti’ab 1/329 dan Ibnu Atsir dalam Usud Al Ghabah 1/565 mengatakan bahwa Hujr bin Adi salah seorang sahabat Nabi yang utama. Ibnu Atsir berkata dalam biografi Hujr

وشهد القادسية وكان من فضلاء الصحابة

Dia ikut dalam perang Qadisiyah dan dia salah seorang dari sahabat Nabi yang utama.

Selain itu Ibnu Atsir juga berkata tentang Hujr

فأنزل هو وأصحابه عذراء وهي قرية عند دمشق فأمر معاوية بقتلهم

Dia dan sahabatnya sampai di Adzra’ sebuah desa di Damasykus dan Muawiyah memerintahkan untuk membunuh mereka.

Al Hakim dalam Al Mustadrak 3/468 menuliskan Hujr dalam kitab Ma’rifat As Shahabah dengan judul

ذكر مناقب حجر بن عدي رضى الله تعالى عنه

وهو راهب أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم

Keutamaan Hujr bin Adi Radiallahuta’ala anhu dan dia rahib sahabat Muhammad Shalallahualaihi wassalam.

Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An Nubala 3/463 menyebutkan biografi Hujr bin Adi dan ia berkata “lahu sahabah” yang artinya dia seorang Sahabat Nabi SAW. Adz Dzahabi juga memasukkan nama Hujr bin Adi dalam kitabnya Tajrid Asma As Shahabah 1/123 no 1264 dan berkata Adz Dzahabi dalam Tarikh Al Islam 4/33

حجر بن عدي حجر الخير. له وفادة على النبي صلى الله عليه وسلم فأسلم

Hujr bin Adiy Hujr Al khayr dia utusan yang datang kepada Nabi SAW dan memeluk islam.

Khairuddin Az Zarkali dalam kitabnya Al ‘Alam 2/169 menyebutkan biografi Hujr bin Ady

حجر بن عدي بن جبلة الكندي  ويسمى حجر الخير  صحابي شجاع  من المقدمين  وفد على رسول الله صلى الله عليه وسلم وشهد القادسية  ثم كان من أصحاب علي وشهد معه وقعتي الجمل وصفين

Hujr bin Ady bin Jabalah Al Kindi Hujr Al Khayr seorang Sahabat yang gagah berani dari golongan terdahulu. Dia utusan yang datang kepada Nabi SAW ikut dalam perang Qadisiyah dan dia juga sahabat Ali berada di sisinya pada saat perang  Jamal dan Shiffin.

Az Zarkali juga berkata

فأمر معاوية بقتله في مرج عذراء ( من قرى دمشق ) مع أصحاب

Muawiyah memerintahkan membunuhnya di Azra’ (suatu desa di damasykus) bersama para sahabatnya.

Ibnu Qutaibah Al Dinawari dalam kitabnya Al Ma’arif hal 148 menyebutkan biografi Hujr bin Ady

حجر بن عدي رضي الله تعالى عنه

هو الذي قتله معاوية ويكنى أبا عبد الرحمن وكان وفد إلى النبي صلى الله عليه وسلم وأسلم وشهد القادسية وشهد الجمل وصفين مع علي، فقتله معاوية بمرج غدراء مع عدة

Hujr bin Adiy Radiallahuta’ala anhu, dia dibunuh oleh Muawiyah. Kuniyahnya Abu Abdurrahman, dia seorang utusan yang datang kepada Nabi SAW dan memeluk islam. Ikut dalam perang Qadisiyah, mengikuti perang Jamal dan Shiffin bersama Ali, Muawiyah membunuhnya di Azra’ bersama beberapa sahabatnya.

Syi’ah Indonesia Kian Maju Pesat ! Perkembangan Syi’ah Indonesia

Ulama Syiah Indonesia: “Menumbangkan Rezim Pembohong Tak Cukup dengan Puisi”
Minggu, 16 Januari 2011 , 10:58:00 WIB

ILUSTRASI

fatwa ulama  Indonesia – Malaysia tak ubahnya seperti khotbah-khotbah semata, yakni didengar ketika khotbah berlangsung namun tidak dilakukan ketika khotbah itu selesai.

Apa faktor yang menyebabkan fatwa ulama itu tidak efektif? Faktornya adalah, pertama, Indonesia bukan negara para ulama, mullah atau negara yang berdasarkan hukum Islam. Bila negara yang mengacu ulama sebagai sumber hukum maka ucapan-ucapan para ulama itu menjadi hukum positif sehingga implementasinya di bawah dilaksanakan oleh aparat dengan ketat. Misalnya di Iran, ulama atau mullah sebagai salah satu sumber hukum maka fatwa-fatwa yang dikeluarkan akan dijalankan oleh aparat penegak hukum, dan yang terbukti melanggar akan dikenakan sanksi.

Di Indonesia secara keseluruhan menerapkan hukum didasari atas kesepakatan antara pemerintah dengan DPR, sehingga dimensi hukum yang ada tidak hanya dilandasi oleh faktor yang hanya mengedepankan moral (agama) semata namun juga aspek lainnya. Hukum inilah yang dijadikan pegangan dan rujukan. Bila ada permasalah hukum, yang dijadikan dasar penyelesaian harus mengacu pada tata urutan hukum yang ada, bukan mengacu pada fatwa. Sehingga sehebat apa pun fatwa, ia tidak bisa dijadikan acuan hukum.

Kedua, sebab Indonesia negara yang hukumnya tidak mengacu pada ulama, maka fatwa yang dikeluarkan itu sering saling negasi dengan hukum formal. Ketika salah satu organisasi keagamaan mengeluarkan fatwa haram merokok, fatwa itu sepertinya tidak membuat perokok berhenti merokok. Faktornya, secara hukum formal, misalnya peraturan daerah (perda) menyatakan tidak akan memberi sangsi perokok bila ketahuan merokok, hanya mengatur tempat merokok saja. Selain itu, pemerintah sendiri tidak melarang peredaran rokok dan iklan rokok. Jadi di sini ada hubungan yang saling menegasi antara fatwa dengan hukum formal. Kemudian perokok merasa bahwa fatwa tidak akan menjerat dirinya bila dirinya melanggar fatwa. Perokok merasa hukum formallah yang bisa menindak dirinya.

Ketiga, fatwa yang dikeluarkan oleh ulama biasanya melihat dari satu sisi semata, yakni sisi negatifnya saja. Akibat dari melihat dari sisi negatifnya saja maka sisi positif yang ada menjadi hilang. Misalnya saja ketika Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMP3) se-Jawa Timur di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, beberapa waktu lalu, yang menyatakan bahwa facebook adalah haram. Alasan yang digunakan para ulama yang adalah Kitab Bariqah Mahmudiyah halaman 7, Kitab Ihya’ Ulumudin halaman 99, Kitab Al-Fatawi Al-Fiqhiyyah Al-Kubra halaman 203, serta sejumlah kitab dan tausyiyah dari ulama besar. Tentu apa yang dinyatakan yang hanya melihat dari sisi negatif penggunaan facebook, sementara sisi positifnya tidak dilihat.

Akibat dari penilaian secara sepihak, maka diantara ulama sendiri terjadi ketidaksepakatan dalam soal fatwa. Ketua MUI, H Amidhan, dalam masalah ini pernah mengatakan, ulama-ulama dari Jawa Timur tersebut tidak termasuk dalam wadah MUI pusat dan dalam masalah facebook, H Amidhan menyatakan, haramnya konten dalam facebook berbeda dengan haramnya babi. Sementara Ketua MUI Kalimantan Selatan Prof H Asywadie Syukur Lc berhati-hati dalam menyatakan keberadaan facebook itu boleh atau tidak.

Keempat, fatwa dari ulama tidak menimbulkan efek jera atau tidak efektif karena ada kecurigaan bahwa fatwa yang ada merupakan sebuah pesanan dengan imbalan dana kepada ulama. Tentu MUI tidak akan mengeluarkan fatwa tentang soal hemat energi bila tidak didekati oleh KESDM. Tentu KESDM tidak datang dengan tangan hampa, pastinya ada hal-hal yang dijanjikan buat MUI ketika keputusan yang mendukung program KESDM difatwakan.

Demikian pula soal fatwa haram merokok, lembaga yang mengeluarkan fatwa itu disebut-sebut menerima dana dari organisasi internasional yang bergerak di bidang anti rokok. Di sini menunjukkan bahwa ulama tidak tulus dan ikhlas ketika mengeluarkan fatwa

.

Tanpa amar maruf nahi munkar (menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran), agama ibarat tubuh tanpa kepala.

“Untuk itu kritik tokoh agama kepada pemerintah yang dzalim, terutama Islam, mendapat landasan dari Quran dan Hadits. Kata Imam Ali, agama yang hanya shalat berkali-kali, haji dan umrah bolak-balik, tapi tidak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, ibarat badan tanpa kepala. Tanpa kepala tidak bisa disebut badan,” kata pembina Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi (STAIMI), Hasan Dalil, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Minggu, 16/1/2011).

Menurut ulama yang dikenal baik oleh Syiah dan kelompok Sunni Indonesia ini, kritik terhadap pemerintah juga mendapat landasan dari sisi hukum dan sejarah Islam.

“Hukum Islam selalu dimulai dari bab thaharah atau bersuci. Suci tidak hanya fisik tapi juga mental. Mental yang kotor dari penguasa harus dibersihkan. Begitu juga dari sisi sejarah. Setelah 50 tahun Nabi Muhammad SAW meninggal, penguasa sangat dzalim, menganggap harta negara sebagaimana harta pribadinya, maka munculah Imam Husein cucu Nabi untuk melawan. Bersama 18 keluarga Nabi dan 54 sahabat setia, Imam Husein melawan hingga syahid dan terbunuh. Kenapa Imam Husein? Kotor yang sedikit cukup dibersihkan oleh pencuci sedikit. Kotor yang banyak perlu dibersihkan oleh orang-orang yang luar biasa. Maka sangat tepat sikap para tokoh lintas agama yang membeberkan kebohongan pemerintah. Sebab perlu orang luar biasa, seperti ulama dan rohaniawan untuk membongkar ini. Imam memang terbunuh, tapi rakyat jadi melek dan sadar bahwa rezim ini bohong,” kata Hasan.

Hasan Dalil juga mengingatkan agar mengkritik pemerintah bukan hanya dengan himbauan maupun pusisi, tapi harus bergerak dengan sikap.

“Tidak cukup dengan puisi Adhie Massardi tentang Republik Kebohongan. Sebagaimana kata dia juga dalam pusisi sebelumnya, bahwa diskusi adalah selemah-lemah iman perjuangan. Maka harus bergerak menumbangkan rezim yang dzalim dan bertentangan dengan islam, Sebagaimana dalam satu sila, kerakyatatan yang dipimpin hikmat kebijaksaan. Bukan oleh koalisi partai untuk saling menutupi kebohongan,” demikian Hasan

………………………………………………………………………………

Kutip Gus Dur, NU Disebut Syiah Minus Imamah
Jumat, 01 Januari 2010, 10:11:26 WIB

 Sebagian sikap dan pemikiran Gus Dur mendapat apresiasi dari beberapa ulama Syiah Indonesia.
“Gus Dur selalu menganjurkan kebaikan kepada kelompok minoritas, termasuk kita yang berpegang pada madzhab Ahlul Bait, Syiah. Kita merasa dibela Gus Dur dari beberapa kelompok yang akan membubarkan Syiah. Gus Dur juga selalu mengatakan bahwa Syiah itu adalah NU plus imamah dan NU itu adalah Syiah minus imamah. Bahkan beliau orang yang pertama di Indonesia yang bukan Syiah yang menggelar peringatan Asyura di Ciganjur,” kata salah seorang ulama Syiah Indonesia, Hasan Dalil, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Jumat,1/1).

Namun demikian, kata Hasan Dalil, ada beberapa sikap Gus Dur yang mesti dikritisi termasuk keterlibatan dalam yayasan milik Israel. Menurut Pembina Sekolah Tinggi Agama Islam Madinatul Ilmi ini, masalah Israel adalah masalah hitam putih yang bukan multitafsir.

“Sikap Gus Dur sering multitafsir. Tapi berkaitan dengan Israel harus hitam putih. Israel itu menginjak-injak hak asasi manusia dan menjajah. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan konstitusi tertinggi negara kita, Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang melarang segala bentuk penjajahan. Kita kritik itu,” kata Hasan Dalil.

Namun satu hal yang menarik dari Gus Dur, kata Hasan Dalil, tidak pernah marah dan tersinggung jika dikritik. Hasan Dalil pun punya kesan pribadi dengan Gus Dur.

“Kita ulama Syiah datang pada beliau. Saya sebutkan pada beliau di kalangan atas elit dan intelektual, sudah memahami madzhab Ahlul Bait dan menghormati Ayatullah Imam Khomaini. Namun di kalangan sebagian NU di bawah ada yang masih berlaku keras pada kelompok Syiah. Saya contohkan peristiwa di Bangil. Ternyata Gus Dur langsung menelpon ulama NU Bangil dan memerintahkan untuk menjaga kelompok syiah dan mencegah segala bentuk kekerasan. Ini luar biasa,” kata Hasan Dalil.


Dialog Interaktif Sunni dan Syiah di STAIN Samarinda.

Konflik keyakinan yang berlangsung selama 90 tahun antara Islam Sunni dan Syiah sudah saatnya diakhiri. Arah menuju persatuan Sunni dan Syiah sedang dirintis oleh STAIN Samarinda dengan menggelar dialog interaktif Sunni dan Syiah dengan tema “Dialog Interaktif Sunni -Syiah dalam Keberagaman Ummat” dengan menghadirkan nara sumber Syekh Jawad Ibrahimi (syiah) dan Dr. Fakhrul Ghazi, Lc, MA (sunni) rabu siang (10/03) di gedung serba guna STAIN Samarinda Jl. KH Abul Hasan Samarinda.

Dialog yang dimulai jam 11:00 wita hingga jam 14:00 wita merupakan upaya mencari titik temu dan upaya untuk menyatukan kaum muslimin di mana persatuan kaum muslimin menjadi keharusan dan kebutuhan.

Pembicara pertama adalah Dr. Fakhrul Gazi, Lc. MA dari STAIN Samarinda. Dalam ceramah beliau yang berlangsung sekitar 40 menit beliau memaparkan ada jalan menuju ke arah persatuan antara sunni dan syiah dan langkah ke arah sana sudah dirintis oleh beberapa ulama di Mesir. Beberapa ulama syiah di mesir melakukan shalat berjamaah dan bermakmum kepada ulama sunni, begitu pula sebaliknya. dalam keterangan lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa dulu Imam Ghazali yang suni dari Persia seringkali melakukan shalat berjamaah bersama orang-orang syiah dan menjadi makmum.

Selanjutnya Syekh Jawad Ibrahimi sebagai pembicara kedua menyampaikan pandangannya bahwa sunni dan syiah tidak ada bedanya. “Karena saya melihat orang-orang sunni mencintai keluarga Nabi” tuturnya. Berbicara dihadapan sekitar 500 mahasiswa dan mahasiswi dengan menggunakan Bahasa Persia yang diterjemahkan oleh Ustadz Abdullah Hinduan beliau menyampaikan pula bahwa  kecintaan kepada keluarga Nabi adalah titik temu dari semua mazhab. Karena itu bila kita ingin mempersatukan kaum muslimin, persatukanlah mereka dari titik pertemuan ini; yaitu kecintaan kepada keluarga Nabi.

Dalam paparan lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa Dalam penjelasan hadis “Agama itu nashîhah”, selanjutnya disebutkan tentang kecintaan yang tulus atau nashîhah kita terhadap sesama kaum muslimin. Kecintaan kita kepada kaum muslimin dapat ditampakkan dalam usaha untuk menjaga kesatuan kaum muslimin. Lawan dari nashîhah adalah ghasâsah; mengkhianati kaum muslimin, berlaku tidak jujur, memfitnah mereka, dan bahkan mengkafirkan saudara-saudaranya. Hal ini termasuk kepada dosa besar. Oleh sebab itu kelompok ini dipisahkan oleh Rasulullah dari kaum mukmin dan disebut sebagai kelompok pengkhianat.

Dialog interaktif ini mengalir tanpa adanya ketegangan bersamaan dengan kondisi Kota samarinda yang sedang diguyur hujan. Beberapa pesrta yang hadir tampak bersemangat mendengarkan uraian-uraian dari kedua pembicara tersebut. Para peserta yang diberikan kesempatan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada session tanya jawab dengan antusias melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Syekh Jawad Ibrahimi seputar syiah. Dengan jawaban-jawaban yang argumentatif dan kuat beliau menjawab setiap permasalahan dan akan tercermin sebuah gambaran bahwa beliau adalah gudang ilmu.

Menteri Agama Membuka Seminar Nasional Ahlul Bait Ke-5

Seminar Nasional Ahlul Bait, Silatnas Ke-5, akan digelar di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta, pada tanggal 2 hingga 4 April 2010. Silatnas kali ini akan dibuka secara resmi oleh Menteri Agama RI, Suryadharma Ali .

Dalam baliho Silatnas Ke-5 di depan Asrama Haji terpampang nama Ketua Mahkamah Konstitusi Profesor Moh Mahfud dan Menteri Kehutanan, Zukfili Hasan, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal TNI (Purn) yang akan menjadi pembicara utama di seminatr tersebut. Selain itu, juga terdapat nama pembicara inti lainnya seperti Dr Haidar Bagir MA, Dr Muhsin Labib MA, Ir. Sayuthi Asyathri dan Ust Zahir Yahya, MA.

Panitia Silatnas Ahlul Bait ketika dihubungi wartawan IRIB menjelaskan, “Silatnas Ke-5 bertujuan menjalin komunikasi antar-yayasan Ahlul Bait di seluruh Indonesia.”

“Dalam seminar itu akan diluncurkan sebuah silabus pelatihan dasar bagi kader kader Ahul Bait di seluruh Indonesia, ” tegas salah satu panitia silatnas yang namanya enggan disebut.

Menurut keterangan panitia, 300 yayasan Ahlul Bait yang tersebar dari Papua hingga Aceh akan ikut serta dalam Silatnas Ke-5 yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Silatnas Terakhir Ditutup, 3 Bulan Lagi Rakernas

JAKARTA –

Keharuan terpancar dari wajah-wajah peserta Seminar Nasional Ahlul Bait, Silatnas Ke-5, saat bersalaman setelah para peserta membaca doa wahdah . Kemaren (Ahad, 4/4 ) Seminar Nasional Ahlul Bait, Silatnas Ke-5, ditutup dengan lagu Indonesia Raya dan shalawat yang dipimpin oleh Ustadz Hasan Daliel dan doa yang dipimpin oleh Ustadz Omar Shahab.

SC Ustadz Ahmad Hidayat menutup secara resmi Seminar Nasional Ahlul Bait, Silatnas Ke-5, setelah sebelumnya dilaksanakan sidang pleno sebagai kelanjutan dari sidang pleno sabtu malam (3/4) yang memutuskan dibentuknya dewan pengarah dalam mengawal embrio yang nantinya melahirkan ormas.

Sidang pleno Ahad pagi (4/4) SC Ustadz Ahmad Hidayat membacakan hasil temuan Dewan Pengarah berupa body ormas yang akan dibentuk nantinya. Rapat Dewan Pengarah diantaranya memutuskan bahwa selambat-lambatnya 3 bulan setelah setelah Silatnas ke-5 dilaksanakan Rakernas. Rancangan body ormas yang dibuat oleh Dewan pengarah nantinya ormas itu terdiri :

  • 1. Dewan Syuro
  • 2. Dewan Tanfidiyah
  • 3. Dewan Pembina
  • 4. Departemen-departemen

Dewan pengarah akan melakukan tugas :

  • 1. Melengkapi susunan body ormas
  • 2. Merekomandasikan hasil Silatnas ke-5 untuk segera dilaksanakan Rakernas selambat-lambatnya 3 bulan.   Agenda Rakernas nanti merumuskan AD/ART dan memutuskan nama ormas

Silatnas ke-5 tahun 2010 ini merupakan Silatnas terakhir. Peserta diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesan selama mengikuti Silatnas kali ini. Peserta dari luar Jawa yang diwakili oleh Ustadz Sayyid Ahmad Syahab. “Saya merasakan bahwa Silatnas kali ini bebeda dengan silatnas-silatnas sebelumnya. Silatnas kali ini sungguh luar biasa”. Tuturnya. Dari pulau Jawa diwakili oleh Ustadz Miqdad Turkan. Beliau mengatakan kerja panitia Silatnas ini sungguh luar biasa dan beliau juga menyampaikan bahwa di acara ini bisa bertemu ikhwan dari berbagai penjuru tanah air

Meriahnya Acara Maulud Nabi SAW di Yayasan Az-Zahra Balikpapan

BALIKPAPAN, Ahad, (7/3) kemarin suasana yang berbeda terlihat di Yayasan Az-zahra Balikpapan Sejak pagi kesibukan mewarnai lingkungan Yayasan yang beralamat di  Jl Letjen Haryono MT Ring Road 100,Damai,Balikpapan.

Hari itu memang istimewa, telah menjadi kebiasaan bahwa setiap di bulan Rabiul Awal Yayasan Az-Zahra selalu mengadakan acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Demikian pula dengan tahun ini. Menurut ketua panitia Indra Gunawan Peringatan Maulid Nabi yang dimulai tepat pukul 7:00 wita dan berakhir hingga sebelum dzuhur ini terlihat sangat meriah. Acara kali ini dilaksanakan dengan mengadakan Khitanan massal dengan peserta 40 anak. 20 anak dari lingkunagn Kota Balikpapan dan 20 anak dari pinggir Kota Balikpapan yaitu Kelurahan Amburawang. Kemudian acara dimeriahkan pula dengan lomba tartil Qur’an & Tajwid, lomba puisi Rasulullah Saw dengan tema “Nabi Agung Saw” dan lomba membaca surat-surat pendek

Peringatan puncak dilaksanakan malam harinya berlangsung sekitar pukul 20.00 wita  menghadirkan penceramah dari bangil Ustadz Muhammad Bin Alwi BSA, Syekh Jawad Ibrahimi dari Islamic Cultural Center (ICC Jakarta) dan Ustadz Abdullah Hinduan sebagai penterjemah

Syekh Jawad Ibrahimi dalam ceramahnya yang menggunakan bahasa Persia yang diterjemahkan oleh Ustadz Abdullah Hinduan memaparkan “tidak ada nama yang lebih dicintai dan tidak ada nama yang lebih terkenal selain nama Muhammad”. lebih lanjut beliau mengatakan “Saya sangat bangga bersama kalian dan bisa bertatap muka dengan kalian di majelis agung yang membesarkan nama Muhammad Saw dan mari kita menanamkan kasih sayang dan kebersamaan “. Beliau juga menyampaikan bahwa beliau merasa bukan orang asing dihadapan hadirin dan beliau mengucapkan terima kasih.

Sementara itu sebagi pengisi puncak acara Ustadz Muhammad bin Alwi BSA dalam ceramahnya yang berlangsung sekitar 40 menit menjelaskan tujuan maulid adalah untuk memperkokoh persaudaraan umat. “Tidak ada lagi perbedaan warna kulit, bahasa, bangsa, dan status sosial. semua adalah saudara karena diikat kalimat La Ilaha Illallah Muhammadar Rasulullah”. Selanjutnya beliau memaparkan tujuan di ciptakannya para Nabi mulai nabi Adam hingga Nabi Isa adalah untuk mengabarkan kedatangan Nabi besar Muhammad Saw. Dipaparkan pula keagungan Nabi Muhammad adalah beberapa Nabi sebelum Nabi Muhammad dalam doa mereka ingin agar supaya dijadikan umat Nabi Muhammad Saw

Acara Peringatan maulid nabi Muhammad Saw kali ini dihadiri oleh Walikota Balikpapan Bapak Imdaad Hamid SE, Ketua MUI Cabang Balikpapan, Ketua Dewan Masjid Kota Balikpapan, dan Kepala Kantor Depag Balikpapan.

Dilaksanakan pula penyerahan cenderamata dan jas yayasan Az-Zahra kepada Bapak Walikota kemudian acara ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Ustadz Abdullah Hinduan dari Jakarta. (ET)

Milad Imam Mahdi Afs 1432 H & Deklarasi ABI DPW Kaltim

milad imam mahdiBismillahirrahmanirrahim
Allahumma Shalli Ala Muhammad wa Aali Muhammad
YAYASAN AL QO’IM KALIMANTAN TIMUR BEKERJASAMA DENGAN DPW AHLULBAIT INDONESIA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR MELAKSANAKAN PERAYAAN MILAD IMAM MAHDI AS DAN PELANTIKAN DPW AHLULBAIT INDONESIA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR. DEMI KELANCARAN DAN KESUKSESAN ACARA KAMI MOHOKAN DOANYA, SEKLAIGUS MENGUNDANG ANTUM SEKALIAN UNTUK MENGHADIRINYA DI GEDUNG PRAMUKA JL. M. YAMIN SAMARINDA TANGGAL 16 JULI 2011.

.

Ulama Iran Besok Hadiri Milad Imam Mahdi AFS. di Samarinda

Yayasan Al-Qo'im

Yayasan Al-qo’im Kaltim Samarinda bersama beberapa yayasan diantaranya yayasan Al-Munthazar Duabelas Samarinda, yayasan Ghipari Tenggarong, yayasan Az-zahra Balikpapan, yayasan YAPPIB Donghwa, yayasan Gemilang Samarinda, yayasan Gerbang Ilmu Samarinda, berencana menggelar Milad Imam Mahdi AFS besok Minggu (25/7).

“Acara Milad Imam Mahdi yang direncanakan tanggal 25 Juli 2010 nanti sudah menjadi agenda rutin yayasan serta hasil keputusan rapat beberapa yayasan yang tergabung di dalam wadah Forum Komunikasi Ahlul Bait Kaltim (FADAK) dengan tujuan memperingati kelahiran manusia yang dinjanjikan Allah akan kedatangannya” kata Sayyid Ahmad Syahab Ketua Yayasan Al-Qo’im Kaltim.

Ia mengatakan, Milad Imam Mahdi AFS kali ini mendatangkan seorang ulama dari Iran Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Murtadha Al-Musawi yang diharapkan mampu memberikan pencerahan kepada warga Samarinda dan sekitarnya dan sebagai upaya untuk mengisi nisfu Sya’ban yang di dalam Islam mempunyai f dhilah yang sangat besar..

Selain itu didatangkan pula ulama dari Bangil yang sudah tidak asing lagi di kalangan Ahlul Bait Samarinda, Ustadz Muhammad bin Alwi BSA dengan uraian-uraiannya yang luar biasa yang bisa membuka wawasan keagamaan bagi pendengarnya.

Hadir pula Ustadz Hasyim Abdullah Abdun untuk mengisi qasidah dan shalawat untuk acara yang dijadwalkan besok. Ustadz asal kota Malang ini telah banyak mengeluarkan album lagu-lagu qasidah maupun shalawat.

Nantinya, acara yang ketuai oleh Sayyid Fadhil Syafaril Baraqbah  ini dilaksanakan di Gedung Pramuka Jl. M. Yamin samping Mall Lembuswana Samarinda.

Milad Sayyidah Fatimah Zahra AS di Samarinda Hadirkan Ustadz Othman Omar Shihab

Ustadz Othman Umar Shihab: Islam Punya Batasan Penggunaan Teknologi

ALQOIMKALTIM.COM – Yayasan Al Qo’im Kaltim kembali menggelar tabligh bersama Ustadz Othman Omar Shihab dari Jakarta yang biasa mengasuh acara Iqra’ di Trans TV dan Tiaian Qalbu di TV One.

Kali ini menggandeng Yayasan Almuntazhar Duabelas dan pengurus Masjid Almukmin Komplek Lamin Etam, memperingati mauled Nabi dan hari kelahiran atau Milad Sayyidah Fatimah Azzahra AS, putri Baginda Rasulullah SAW.

Ditemui disekretariatnya, Ketua Yayasan Al Qo’im Kaltim Sayyid Ahmad Syahab menerangkan, kegiatan akan berlangsung Minggu (22/5) malam di Masjid Almukmin, Komplek Lamin Etam, pukul 19.00 Wita. Ini katanya, sekaligus undangan buat warga untuk hadir bersama-sama dalam majelis mulia ini.

Sangat penting memperingati hari kelahiran Sayyidah Fatimah Azzahra AS  agar umat Islam lebih mengenal sosok mulia ini. Beliau putrid tercinta Rasulullah SAW, yang dibersarkan dan dibimbing langsung oleh Rasulullah dalam rumah ke-Nabian” ujarnya.

“Beliau bukanlah sosok biasa. Beliau merupakan wanita luar biasa yang dalam beberapa riwayat Rasul bersabda, Wanita penghuni surge yang paling utama adalah Fatimah binti Muhammad, Khadijah binti Khuwailid, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Fir’aun. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Thabrani, Hakim, Thahawi dalam Shahih Al Jami’ As Shaghir no 1135 dan silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1508)” tuturnya.

Kemudian Dalam sabda Rasulullah SAW lainnya “Fatimah adalah bahagian dari padakau, barang siapa ragu terhadapnya berarti ragu terhadapku, dan membohonginya berarti membohongiku”. (Hadits riwayat Bukhari dalah Shahih Bukhari kitab nikah bab Dzabb ar-Rajuli).

Acara tersebut juga menghadirkan Ustadz Hasyim Abdullah Abdun dari Malang yang selama ini dikenal sebagai pelantun Qasidah dan Shalawat.

Peringatan Wiladah Imam Ali as Yayasan Az-Zahra Balikpapan

ALQOIMKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Yayasan Az-Zahra Balikpapan, Minggu (27/6/2010) bertepatan tanggal 15 Rajab 1431 H menggelar peringatan Wiladah Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib

Pantauan Alqoimkaltim.com, turut hadir dalam peringatan tersebut sejumlah beberpa ikhwan maupun akhwat kota Balikpapan. Hadir pula beberapa ikhwan maupun akhwat dari Samarinda, Tenggarong dan Penajam Paser Utara (PPU)

Acara yang digelar pukul 14.00 wite ini diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-quran, sambutan ketua panitia dan acara puncak adalah uraian hikmah wiladah Imam Ali as oleh Ustadz Ahmad Shahab.

Di dalam uraiannya Ustadz Ahmad Shahab memaparkan manusia diberi nikmat-nikmat oleh Allah swt, akan tetapi nikmat terbesar dari sekian banyaknya nikmat-nikmat itu adalah dikaruniakannya nikmat iman. Namun nikmat iman ini juga diberikan kepada umat-umat Nabi-Nabi terdahulu. Ada yang lebih agung dari nikmat iman, yaitu nikmat menjadi umat Nabi Muhammad saw sebagaimana Nabi Musa pernah berharap menjadi umat Muhammad saw. Nikmat-nikmat ini bertingkat-tingkat sebagaimana surga juga bertingkat-tingkat, ada yang lebih tinggi tingkatannya dari nikmat menjadi umat Nabi Muhammad yaitu nikmat berwilayah kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Tholib as.

Pada uraian selanjutnya Ustadz Ahmad Shahab menceritakan riwayat lahirnya Amirul Mukminin ali bin Abi Tholib as di dalam Ka’bah yang menjadi kiblatnya umat Islam di manapun berada dan apapun mazhabnya. Diriwayatkan oleh Abbas bin Adul Mutholib paman Rasulullah saw tatkala Ibunda Imam Ali Fathimah binti Assad as saat mengandung beliau thawaf  mengelilingi Ka’bah. Tampak kelelahan, keringat mengucur deras seraya berpegangan pada dinding Ka’bah. Dia berdoa memandang kepada Allah seraya matanya memandang ke langit “ya Rob ketahuilah ya Allah sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan beriman kepada Rasul-Rasul dan kitab-kitab yang dibawa oleh mereka dan aku memenuhi seruan kakekku Al-Khalil Nabi Ibrahim as. Dialah yang membangun tempat ini. Demi yang membangun tempat ini dan demi janin yang aku kandung permudahlah kelahiran bayiku ini”. Fathimah binti Assad tidak saja bertawasul kepada Nabi Ibrahim as dan Ka’bah wanita mulia ini juga bertawasul kepada bayi yang masih dalam kandungannya yaitu Imam Ali as. Fathimah binti Assad mengetahui kedudukan mulia yang ada pada anaknya. Tak lama setelah itu dinding Ka’bah bergetar dan terbukalah dinding Ka’bah kemudian masuklah Fathimah binti Assad kedalam Ka’bah kemudian dinding Ka’bah itu menutup kembali hingga 4 hari kemudian ibunda Imam Ali as keluar dari pintu sambil menggendong putra yang baru dilahirkannya. Kejadian ini menggemparkan kota Makkah hingga orang berdatangan. Tatkala beliau keluar dari dalam Ka’bah orang pertama yang mencium bayi suci itu adalah Imam Ali as.Hali ini menjadi isyarat sebagaimana Ka’bah seseorang tidak sah sholatnya bila tidak menghadap ke Ka’bah, maka seseorang tidak sah keislamannya bila tidak menjadikan Imkam Ali as sebagai rujukan sepeninggal Rasulullah saw.

Acara Wiladah Imam Ali bin Abi Tholib iyang diselenggarakan di Yayasan Az-Zahra Balikpapan ini ditutup dengan pembacaan doa ziarah oleh Ustadz Alimin dari PPU

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Yayasn Al-Qo’im Kaltim dan Peluncuran Website Yayasan

SAMARINDA-Bertempat di Husainiyah Yayasan Al-Qo’im Kaltim Sealasa malam (9/3), acara peringatan Maulid Nabi Muhammad benar-benar semarak dan hikmat. Hal ini ditandai dengan kehadiran para ulama-ulama dari Iran dan jakarta Syekh Jawad Ibrahimi (Iran) dan Ustadz Abdullah Hinduan (Jakarta) dan banyaknya pecxinta Ahlul Bait yang hadir. Kehadiran para ulama besar itu benar-benar sangat diharapkan oleh para jamaah Ahlul Bait Kota Samarinda dan Kaltim

Semangatnya para ikhwan maupun akhwat dalam mengagungkan Nabi Agung Muhammad Saw tergambar manakala sejak sore hari sudah hadir di Husainiyah Yayasan Al-Qo’im Kaltim dan mereka dengan khusu’ mengikuti sholat maghrib dan isya’ secara berjamaah yang di Imami oleh Syekh Jawad Ibrahimi dari Iran

 

Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa Atawasul yang dipimpin oleh Amir Patang. Hal ini benar-benar semakin hikmat saat bait-bait doa dilantunkan dengan khusu’.

Setelah istirahat sekitar 10 menit tibalah acara peringatan maulid nabi Muhammad saw dan peluncuran website Yayasan Al-qo’im Kaltim yang dimulai dengan diawali sholawat. Ketua panitia sayyid Syafaril Baraqbah menugaskan Rudiyansyah untuk memandu acara ini.

Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan pembacaan Hadits Kisa yang dibacakan oleh Amir patang dihadapan tamu-tamu mulia. Riwayat tentang Ahlul Kisa dan asbabun nuzul turunnya surat Al-Ahzab 33 tidak asing lagi di kalangan pecinta Ahlul Bait Kota Samarinda maupun Kaltim.

Selanjutnya Ketua yayasan Al-Qo’im kaltim Ustadz Ahmad Syahab memberikan kata sambutan. Dengan wajah sangat bahagia memberitahukan telah hadirnya media berupa website dari Yayasan Al-Qo’im Kaltim sebagai sarana informasi dan sarana dakwah. Dalam  kesempatan ini pula mengucapkan terima kasih kepada kedua Ulama yang mulia ini atas kehadiran mereka untuk memberikan tausiyah, Dalam kata sambutan selanjutnya beliau mengucapkan terima kasih pula kepada panita yang telah bekerja keras demi suksenya acara ini serta atas kehadiran ikhwan maupun akhwat.

Kata sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ustadz Abdullah Hinduan dari Jakarta. Inti dari kata sambutan beliau adalah bila mana suatu tempat atau suatu majelis yang di sana digunakan untuk mengagungkan nama Muhammad Saw maka tempat ataupun majelis itu bernilai di sisi Allah, dan tiada perkataan yang lebih agung dan mulia di sisi Allah selain di mana perkataan itu adalah digunakan untuk mengagungkan Rasulullah Saw. Tiada sarana yang lebih bernilai dan agung di sisi Allah selain sarana yang digunakan untuk mengagungkan ajaran Muhammad Saw. Dalam paparannya lebih lanjut beliau menyampaikan ungkapan terima kasih dan penghargaan kepada ustadz Ahmad Syahab, Sayiid Abdlu Rahman Syahab, dan pengurus-pengurus Yayasn Al-Qo’im Kaltim yang telah bekerja keras mengembangkan dakwah Ahlul Bait ditengah umat yang telah digelincirkan oleh sejarah.

Kemudian acara dilanjutkan dengan peluncuran website yayasan Al-Qo’im Kaltim yang beralamat di http://www.alqoimkaltim.com. Syekh Jawad Ibrahimi dan Ustadz Abdullah Hinduan didampingi oleh ketua yayasan serta Rudiansyah diberikan kehoramatan untuk meluncurkan secara resmi website ini.

Tibalah acara puncak acara Maulid Nabi Muhammad Saw yang disampaikan oleh Syekh Jawad Ibrahimi. Dengan menggunakan bahasa Persia yang diterjemhakan oleh Ustadz Jawad Ibrahimi beliau memaparkan bahwa Nabi Muhammad Saw menjadi tujuan diciptakan makhluk Allah. Alam akan bernilai bilamana keberadaan Rasulullah saw dan keluaraga sucinya didalamnya. Dalam paparan lebih lanjut beliau menguraikan Rasulullah Saw adalah emanasi dari sifat-sifat sempurna Allah. Semua sifat-sifat sempurna Allah, sifat keindahan, keagunagn dan sifat-sifat sempurna Allah yang lain terkumpul dalam diri pribadi Nabi, Nabi dan keluarga sucinya mampu menyerap dan melaksanakan sifat-sifat sempurna Allah tersebut. Selanjutnya beliau menguraikan Rasulullah saw mencapai kedudukan tertinggi dari makhluk dengan mencapai kedudukan manusia kamil. dalam paparan lebih lanjut beliau menguraikan pula bahwa ketaantan kepada Ulil Amr disejajarkan dengan dengan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah Saw. Artinya bahwa ketaatan kepada Ulil Amr ini karena Allah dan Rasulullah Saw adalah suci dan Ulil Amr harus suci pula. Barometer ketaan ini adalah kemaksuman. Keluaraga suci rasulullah saw yang telah dimaksumkan oleh Allah menduduki kedudukan mulia sebagi pribadi-pribadi yang wajib ditaatidan mereka adalah Ulil Amr yang dimaksudkan oleh Allah itu. Karena barometer ketaatan adalah kemaksuman maka Sayyidah Fathimah Zahra juga sebagi pribadi yang wajib untuk ditaati

Sebelum mengakhiri ceramhnya beliau memanjatkan doa kepada yang hadir juga kepada kaum mukminin mukminat, dan muslimin muslimat.

Peringatan Maulid Yayasan Al-Muntadzar12 Semarak Melibatkan Warga

foto : wardianto

Samarinda-Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1431 Hijriah yang jatuh pada, Sabtu malam(6/3), diadakan oleh Yayasan Al-Muntadzar12 Samarinda bekerjasama dengan pengurus Masjid Babul Jannah Samarinda, kalimantan Timur (Kaltim) dipadati beberapa ikhwan dan akhwat maupun warga di sekitar Masjid.

Peringatan puncak perayaan yang berlangsung sekitar pukul 20.00 wita itu juga menghadirkan penceramah dari Islamic Cultural Center (ICC Jakarta) Syekh Jawad Ibrahimi dan Ustadz Abdullah Hinduan sebagai penterjemah

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dipusatkan di Lingkungan warga jalan Merdeka itu adalah Rangkaian dari Safari Syekh jawad Ibrahimi yang sebelumnya pada hari Jum’at malam (5/3) telah dilangsungkan acara SILATURRAHMI SYEKH JAWAD IBRAHIMI DENGAN IKHWAN & AKHWAT di Yayasan Al-Muntadzar12. Setelah ini beliau mengisi acara yang sama  di Donghwa Penajam Paser Utara, di Yayasan Ghipari Tenggarong, di Yayasan Al-Qo’im Kaltim Samarinda pada hari selasa malam (9/3), dan Yayasan Gerbang Ilmu Sangatta.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, yang dilaksanakan oleh Yayasan Al-Munthadzar12 bekerjasama dengan Masjid Babul Jannah ini sudah pernah beberapa kali dilaksanakan dengan tujuan demi siar Islam, ukhuwah Islamiyah serta mengenang hari kelahiran nabi besar Muhammad SAW sebagai Nabi yang Uswatun Khasanah pembawa kebajikan bagi umat manusia yang ada di muka bumi ini.

Untuk menyemarakkan kegiatan tersebut, panitia telah bekerja ekstra keras dengan menjalin kersama beberapa Yayasan dilingkungan Kota Samarinda dan Tenggarong serta pengurus-pengurus Masjid maupun warga masyarakat.

Inti ceramah Syekh Jawad Ibrahimi yang menggunakan bahasa Persia yang diterjemahkan Oleh Ustadz Abdullah Hinduan adalah lahirnya Rasulullah Saw sebagai Rahmat Bagi keseluruhan alam dengan menghilangkan perbedaan ras, suku bangsa, agama, strata ekonomi, dan perbedaan-perbedaan lainya dan menjujung persamaan manusia. “tidak ada perbedaan orang Indonesia dan Iran, tidak ada bedanya laki-laki dan perempuan, tidak ada bedanya yang kaya dan yang miskin, tidak ada bedanya Islam dan agama lainnya.” tuturnya.

Acara ini dipandu oleh pembawa acara dari Masjid Babul Jannah, dirangkai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an kemudian ditutup dengan do’a (

.

Syi’ah politik adalah mereka yang memiliki cita-cita politik untuk membentuk negara Islam

Syi’ah politik aktivitasnya menekankan pada penyebaran ide-ide politik dan pembentukan lapisan intelektual Syi’ah

Strategi dakwah Syi’ah politik pada awalnya menggunakan pendekatan kampus. Beberapa kampus yang menjadi basisnya adalah Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Universitas Jayabaya Jakarta, Universitas Pajajaran (Unpad) Bandung, dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun karena gagal dan kalah berkembang dengan kelompok Ihwan, akhirnya pada tahun 1990-an strateginya diubah. Kini kelompok Syi’ah keluar dari kampus dan mengembangkan dakwahnya langsung ke tengah masyarakat melalui pendirian sejumlah yayasan dan membentuk ormas bernama IJABI (Iakatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Yayasan-yayasan itu sebagian mengkhususkan pada kegiatan penerbitan buku, sebagian lainnya membangun kelompok-kelompok intelektual dengan program beasiswa ke luar negeri (ke Qum, Iran) dan sebagian lagi mengembangkan kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan.

Sejauh yang dapat diketahui, generasi program beasiswa ke Qum, Iran, yang pertama adalah Umar Shahab dan Husein Shahab. Keduanya berasal dari YAPI, Bangil, dan pulang ke Indonesia tahun 1970-an. Kedua tokoh inilah yang mengembangkan Syi’ah dikalangan kampus pada awal 1980-an. Tidak banyak yang berhasil dikader dan menjadi tokoh. Dari UI misalnya, diantaranya adalah Agus Abubakar dan Sayuti As-Syatiri. Dari Universitas Jayabaya muncul Zulfan Lindan, dan dari ITB muncul Haidar Bagir. Namun perlu digarisbawahi, di luar jalur kedua tokoh diatas, pada pertengahan 1980-an muncul Jalaluddin Rahmat sebagai cendekiawan Syi’ah.

Namun seiring berhasilnya revolusi Islam di Iran, sejak 1981 gelombang pengiriman mahasiswa ke Qum mulai semakin intensif. Generasi alumni Qum kedua inilah yang sekarang banyak memimpin yayasan-yayasan Syi’ah dan  menjadi pelopor gerakan Syi’ah di Indonesia.

Kini, gerakan Syiah di Indonesia diorganisir olehl Islamic Cultural Center (ICC), dipimpin Syaikh Mohsen Hakimollah, yang datang langsung dari Iran. Secara formal organisasi ini bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah. ICC Jakarta dibawah kendali dan pengawasan langsung Supreme Cultural Revolution Council (SCRC) Iran.

Di bidang pendidikan ICC mengorganisir lembaga-lembaga pendidikan, sosial dan penerbitan yang jumlahnya sangat banyak dan bertebaran diberbagai daerah. Sedangkan dibidang dakwah, ICC bergerak di dua sektor, pertama, gerakan kemasyarakatan, yang dijalankan oleh Ikatan Jamaah Ahlul Bait (IJABI), kedua, gerakan politik, yang dijalankan oleh yayasan OASE. Yayasan ini mengkhusukan bergerak dibidang mobilisasi opini publik. Sedangkan untuk bidang gerakan politik dan parlemen dikomandani oleh sejumlah tokoh. Strategi politik parlementer yang mereka tempuh ini dilakukan dengan cara menyebarkan kader ke sejumlah partai politik.

Mengenai IJABI sebagai motor gerakan kemasyarakatan, hingga sekarang strukturnya telah meluas secara nasional hingga di Daerah Tingkat II. Tentu format yang demikian dapat  menjadi kekuatan efektif untuk memobilisasi pengaruh dan kepentingan politik. Kader-kader IJABI selain telah banyak yang aktif di dunia kampus, kelompok-kelompok pengajian, lembaga-lembaga sosial dan media, di daerah-daerah juga telah banyak yang menjadi anggota parlemen. Di level daerah inilah IJABI memiliki peranan penting sebagai simpul gerakan dakwah dan politik di masing-masing daerah.

…………..

“Maka apakah mereka tidak melakukan “Nazhor” (memperhatikan) unta, bagamana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gemunung, bagaimana mereka ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dibentangkan?

Q.S. Al-Ghaasyiyah: 17-20

Bagaimana perasaan Anda, jika mengetahui sedikit informasi tentang alam semesta dari seorang ilmuwan? Misalnya, ia mengatakan bahwa alam semesta asalnya hanya sebuah materi yang berada pada volum titik nol (ketiadaan), kemudian terjadi dentuman besar (big bang) sehingga langit dan bumi terpisah seperti yang kita saksikan sekarang. Galaksi yang kita huni ini sebetulnya hanyalah bagian kecil—jika tidak mengatakannya seperti debu—dari miliaran bintang gemintang dan planet-planet lainnya di tatar jagat raya. Langit yang senantiasa memayungi kita tanpa tiang ini pun sebetulnya terus mengembang menjauhi bumi dengan kecepatan tinggi.

Ilmuwan itu juga mengatakan, bahwa matahari sebagai pusat garis edar Bumi pun mempunyai garis edaranya, di mana ia berputar di jalurnya mengelilingi pusat edar. Di luar angkasa juga ada sebuah lubang hitam (black hole: bintang mati), dimana daya hisap gravitasinya sangat besar, sampai-sampai mampu menghisap dirinya sendiri dan benda yang bergerak didekatnya sebesar dan secepat apapun. Dan Ia juga mengatakan, Ratusan, ribuan, bahkan jutaan miliar benda planet yang ada di luar angkasa berjalan pada garisnya masing-masing, tidak berkeliaran dengan bebas, sehingga antar bintang dan planet tidak saling betabrakan.

Selain tentang luar angkasa, bagaimana jika Anda mengetahui sedikit Informasi tentang Bumi dari ilmuwan pula. Bahwa, daratan yang ada di Bumi, di mana gunung-gemunung ditancapkan di atasnya, itu senantiasa bergerak—melaju bukan bergetar—kendati sangat lambat. Juga, laut yang terdiri dari jutaan miliar liter air. Itu tidak semua airnya bercampur. Seperti gelas yang berisi air manis dan air tawar. Kedua airnya tidak menyatu, dari satu sisi kita merasakan airnya tawar, dari
sisi lain airnya manis, padahal kedua air itu menempati gelas yang sama. Seperti analogi itu, air laut pun benar-benar ada yang terpisah. Bahkan ada yang mengatakan, bahwa kendati air di laut dalam satu wadah, namun airnya itu berkelompok-kelompok (tidak campur).

Juga, di dalam dedaunan dari tetumbuhan, itu ada unsur apinya. Yakni setiap zat hijau daun (klorifil) itu menyimpan energi panas yang dipancarkan matahari melalui proses fotosintesis. Dan, awan-gemawan yang hilir mudik di langit itu mengangkut jutaan bahkan miliar liter air, yang suatu saat akan ditumpahkannya kebumi menjadi hujan. Dan, Tahukah Anda ? alam semesta yang secara indrawi sangat besar ini. sesungguhnya semua itu hanya partikel-partikel yang sangat kecil terdiri dari atom atau molekul.

Sekali lagi, bagaimana perasaan Anda mengetahui informasi—tepatnya pengetahuan—itu dari seorang ilmuwan terkemuka zaman sekarang? Percaya atau tidak? Subjektivitas saya, kalau ilmuwan terkemuka yang mengatakannya, akan banyak orang yang percaya.

Lalu, bagaimana kalau Anda mengetahui pengetahuan itu dari seorang manusia yang bukan ilmuwan, tidak pernah sekolah, bahkan ia juga tidak pandai membaca dan menulis (ummy) pada abad ketujuh. Dia menceritkan kejadian-kejadian itu berdasarkan pengetehuan yang diperolehnya dari kitab suci al-Quran pada abad ke-7, dimana pengetahuan manusia pada ilmu alam sangat terbatas, bahkan belum sampai pada hal-hal yang disebutkan tadi.

Sekarang yang jadi pertanyaan bukan pada seorang ummy itu. Meleinkan apa yang disampaikan al-Quran itu. Percayakah Anda apa yang disampaikan al-Quran itu ucapan manusia? Merasa takjubkah Anda sebuah Kitab telah “bercerita” tentang ilmu pengetahuan modern yang ditemukan baru-baru ini dengan berbagai perabot canggih, tapi Kitab itu sudah menyinggungnya pada abad ke-7?

Anda berhak menjawabnya, sesuka Anda.
***
Mengimani seluruh ayat-Nya

Saat al-Quran diturunkan, manusia tidak mengerti sama sekali tentang ilmu alam—kalau pun ada—hanya samara-samar dan masih sangat terbatas. Maksudnya, ilmu tentang alam semesta yang dimiliki manusia saat itu, pengetahuannya belum sampai menemukan apa-apa yang telah di ungkapkan al-Quran. Dan, barulah sekitar abad lima belas ke sini, para ilmuwan mencapai puncaknya dalam pengetahuan tersebut. Sehingga, ayat-ayat “kauniyah” (ayat yang menceritakan tentang alam semesta), beberapa kebenarannya mulai terbukti melalui penemuan-penemuan mereka.

al-Quran adalah Kitabnya umat Islam. Seharusnya yang pertama kali bisa mengungkap “rahasia alam semesta” dalam pandangan “sains modern” itu orang Islam. Sejatinya, jika Muslim memang mengerti dan “membaca” al-Quran, walaupun ia tidak bisa mengungkap alam semesata, minimal ia tahu tentang kejadian itu secara garis besar. Sebagaiamana al-Quran menginformasikannya.

Di sini, sepertinya kita sebagai muslim harus berpikir sejenak. Betulkah kita sudah “membaca” seluruh ayat al-Quran? Yakinkah bahwa al-Quran itu sebagai “pedoman” sekaligus sebagai “induknya pengetahuan”? al-Quran memang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman kehidupan. Namun, kita jangan hanya membidik ayat-ayat tentang ubudiyah saja, apalagi ayat itu untuk menyerang sesama saudara Muslim. Salah besar jika al-Quran hanya pedoman ritual ibadah saja. Sebab, selain ayat tentang ibadah, akidah dan tauhid, al-Quran juga menyajikan ayat-ayat ‘kauniyah’. Yaitu, ayat-ayat yang menjelaskan atau menceritakan tentang alam semesta, sifat, sikap, dan gejalanya.

Sebagai “pembaca” kitab suci Islam, tidaklah baik mengimani sebagian ayat dan mengacuhkan bahkan tidak menganggap penting ayat yang lainnya. Sebab Allah SWT menceritakan tentang “kauniyah” di dalam al-Quran, tentu saja agar hal itu diyakini kebenarannya dan dipikirkan kejadiannya. Al-Quran beberapa kali mengatakan “ulul al-bab, ulul al-abshar, …tafakkarun, … ta’qilun, … tadabbarun, … dll”, semua kata itu mempunyai konotasi yang sama, yakni Penggunaan akal”. Yang esensinya, betapa hamba Allah harus memahami betul-betul ayat-ayat Allah. Karena, pada ungkapan itu Allah cenderung menyinggung “pikiran” dari pada “hati”. Artinya, tentu saja agar kita bisa memahami kehidupan (alam semesta), bukan sekadar melihat dan merasakan keindahannya.

Dalam beberapa tempat Al Qur’an memberikan Isyarat Ilmiah yang kebenarannya telah dibuktikan oleh sains modern Abad 20. Sehingga bisa dikatakan bahwa ia adalah dalil terbesar akan kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah swt. Inilah yang disebut dengan Mukjizat Sains/Ilmiah dalam Al Qur’an.

Untuk memahami kebenaran ayat sains tentu tidak cukup hanya dengan membaca Al Qur’an dan tafsirnya. Karena ungkapan Alqur’an bersifat global atau tidak merincinya secara detail dan ilmiah. Untuk memahaminya kita perlu merujuk kepada sumber-sumber ilmiah lain yang lebih rinci menjelaskan ayat-ayat tersebut.

Kebenaran mutlak tentang sains yang disebutkan Al Qur’an tidak mungkin bertentangan dengan kebenaran mutlak hasil penemuan Ilmiah modern. Sedangkan ayat Al qur’an yang masih diperselisihkan maksudnya (dzonniyyud dalalah) tidak bisa dijadikan dalil bagi penemuan ilmiyahh yang masih diragukan.

Ayat-ayat sains merupakan pembenaran dari Firman Allah saw : “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar”. (QS. Fushshilat : 53). Ia adalah ajakan untuk beriman, berpengetahuan dan beramal. Sekaligus sebagai sarana paling ampuh untuk berdakwah di kalangan para scientist khususnya di dunia barat.

Demikianlah sekilas panduan dalam memahami ayat-ayat sains. Adapun untuk memahami kandungan ayat demi ayatnya, kita perlu merujuk pada sumber-sumber lain seperti buku-buku astronomi, kedokteran, biologi dan sebagainya.

Catatan :

Isyarat-isyarat sains dalam Al Qur’an sebenarnya jauh lebih banyak dari yang telah dirinci dalam “Indeks ayat sains dan teknologi dalam Al Qur’an”. Namun hanya ayat-ayat yang memiliki kaitan erat dan kandungan sainsnya lebih banyak yang disebutkan disini. Sementara ayat yang kaitannya terlalu jauh tidak dimasukkan ke dalam daftar.

Kita, di dunia ini, tidak pernah bisa melihat Allah. Lalu bagaimana kita bisa mengetahui bahwa Allah memang ada dan tidak ada sekutu bagi-Nya? Dan bagaimana kita bisa mengenal-Nya?

Memang, Allah telah menetapkan bahwa kita tidak akan bisa melihat-Nya di dunia ini, namun Allah telah menampakkan kepada kita ayat-ayat-Nya. Kemudian, Allah telah menganugerahkan kepada kita akal pikiran dan hati agar kita bisa memahami ayat-ayat-Nya.

Allah telah menyediakan untuk kita dua jenis ayat. Yang pertama, ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat yang Allah firmankan dalam kitab-kitab-Nya. Al-Qur’an adalah ayat qauliyah. Yang kedua, ayat kauniyah, yaitu ayat-ayat dalam bentuk segala ciptaan Allah berupa alam semesta dan semua yang ada didalamnya. Ayat-ayat ini meliputi segala macam ciptaan Allah, baik itu yang kecil (mikrokosmos) ataupun yang besar (makrokosmos). Bahkan diri kita baik secara fisik maupun psikis juga merupakan ayat kauniyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS Fushshilat ayat 53:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala penjuru bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Hubungan antara Ayat Qauliyah dan Ayat Kauniyah

Antara ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah terdapat hubungan yang sangat erat karena keduanya sama-sama berasal dari Allah. Kalau kita memperhatikan ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an, kita akan mendapati sekian banyak perintah dan anjuran untuk memperhatikan ayat-ayat kauniyah. Salah satu diantara sekian banyak perintah tersebut adalah firman Allah dalam QS Adz-Dzariyat ayat 20-21:

“Dan di bumi terdapat ayat-ayat (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

Dalam ayat diatas, jelas-jelas Allah mengajukan sebuah kalimat retoris: “Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Kalimat yang bernada bertanya ini tidak lain adalah perintah agar kita memperhatikan ayat-ayat-Nya yang berupa segala yang ada di bumi dan juga yang ada pada diri kita masing-masing. Inilah ayat-ayat Allah dalam bentuk alam semesta (ath-thabi’ah, nature).

Dalam QS Yusuf ayat 109, Allah berfirman: “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka?”

Ini juga perintah dari Allah agar kita memperhatikan jenis lain dari ayat-ayat kauniyah, yaitu sejarah dan ihwal manusia (at-tarikh wal-basyariyah).

Disamping itu, sebagian diantara ayat-ayat kauniyah juga tidak jarang disebutkan secara eksplisit dalam ayat qauliyah, yakni Al-Qur’an. Tidak jarang dalam Al-Qur’an Allah memaparkan proses penciptaan manusia, proses penciptaan alam semesta, keadaan langit, bumi, gunung-gunung, laut, manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya. Bahkan ketika para ilmuwan menyelidiki dengan seksama paparan dalam ayat-ayat tersebut, mereka terkesima dan takjub bukan kepalang karena menemukan keajaiban ilmiah pada ayat-ayat tersebut, sementara Al-Qur’an diturunkan beberapa ratus tahun yang lalu, dimana belum pernah ada penelitian-penelitian ilmiah.

Karena itu, tidak hanya ayat-ayat qauliyah yang menguatkan ayat-ayat kauniyah. Sebaliknya, ayat-ayat kauniyah juga senantiasa menguatkan ayat-ayat qauliyah. Adanya penemuan-penemuan ilmiah yang menegaskan kemukjizatan ilmiah pada Al-Qur’an tidak diragukan lagi merupakan bentuk penguatan ayat-ayat kauniyah terhadap kebenaran ayat-ayat qauliyah.

Kewajiban Kita terhadap Ayat-ayat Allah

Setelah kita mengetahui bentuk ayat-ayat Allah, yang menjadi penting untuk dipertanyakan adalah apa yang harus kita lakukan terhadap ayat-ayat tersebut. Atau dengan kata lain, apa kewajiban kita terhadap ayat-ayat tersebut? Dan jawabannya ternyata hanya satu kata: iqra’ (bacalah), dan inilah perintah yang pertama kali Allah turunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq: 1-5)

Lalu bagaimana kita membaca ayat-ayat Allah? Jawabannya ada pada dua kata: tadabbur dan tafakkur.

Terhadap ayat-ayat qauliyah, kewajiban kita adalah tadabbur, yakni membacanya dan berusaha untuk memahami dan merenungi makna dan kandungannya. Sedangkan terhadap ayat-ayat kauniyah, kewajiban kita adalah tafakkur, yakni memperhatikan, merenungi, dan mempelajarinya dengan seksama. Dan untuk melakukan dua kewajiban tersebut, kita menggunakan akal pikiran dan hati yang telah Allah karuniakan kepada kita.

Mengenai kewajiban tadabbur, Allah memberikan peringatan yang sangat keras kepada orang yang lalai melakukannya. Allah berfirman dalam QS Muhammad ayat 24: “Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Dan mengenai kewajiban tafakkur, Allah menjadikannya sebagai salah satu sifat orang-orang yang berakal (ulul albab). Dalam QS Ali ‘Imran ayat 190 – 191, Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Tujuan Membaca Ayat-ayat Allah

Tujuan utama dan pertama kita membaca ayat-ayat Allah adalah agar kita semakin mengenal Allah (ma’rifatullah). Dan ketika kita telah mengenal Allah dengan baik, secara otomatis kita akan semakin takut, semakin beriman, dan semakin bertakwa kepada-Nya. Karena itu, indikasi bahwa kita telah membaca ayat-ayat Allah dengan baik adalah meningkatnya keimanan, ketakwaan, dan rasa takut kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat qauliyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (QS Al-Anfal: 2)

Dan yang semestinya terjadi pada diri kita setelah kita membaca ayat-ayat kauniyah adalah sebagaimana firman Allah berikut ini: “Dan mereka mentafakkuri (memikirkan) tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali ‘Imran: 191)

Selanjutnya, kita juga membaca ayat-ayat Allah agar kita memahami sunnah-sunnah Allah (sunnatullah), baik itu sunnah Allah pada manusia dalam bentuk ketentuan syar’i (taqdir syar’i) maupun sunnah Allah pada ciptaan-Nya dalam bentuk ketentuan penciptaan (taqdir kauni).

Dengan memahami ketentuan syar’i, kita bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan syariat yang ia kehendaki, dan dalam hal ini kita bebas untuk memilih untuk taat atau ingkar. Namun, apapun pilihan kita, taat atau ingkar, memiliki konsekuensinya masing-masing.

Adapun dengan memahami ketentuan penciptaan, baik itu mengenai alam maupun sejarah dan ihwal manusia, kita akan mampu memanfaatkan alam dan sarana-sarana kehidupan untuk kemakmuran bumi dan kesejahteraan umat manusia. Dengan pemahaman yang baik mengenai ketentuan tersebut, kita akan mampu mengelola kehidupan tanpa melakukan perusakan

Maktabah Alawiyyin Syiah Imamiyah 12 Indonesia, tahun 1379 H
Dari kiri Ali Baqir al-Musawi, Doktor Muhammad Sa’id Thayyib, Sayyid Hasyim as-Salmân, almarhûm Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, Doktor Sâmi dan Amin al-Aththâs.
Habib Ali Al Habsyi Kwitang, habib Ali Al Atthas Bungur, dan Syeikh Mudzaffar Ulama Syiah berdo’a bersama
Habib Ali Al Habsyi Kwitang, habib Ali Al Atthas Bungur, Ulama Syiah Syeikh Mudzaffar, Habib Salim Bin Jindan
Ulama Syiah Syeikh Mudzaffar bersama Habib Salim Bin Jindan
JANGAN ADA LAGI INSIDEN SEPERTI ANTARA PONDOK YAPI DAN KELOMPOK ASWAJA. MESKI HABIB SALIM BIN JINDAN DAN SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI ADALAH SUNNI, BELIAU TETAP MAU DUDUK DAN FOTO BERSAMA DENGAN ULAMA SYIAH. TIRULAH BELIAU-BELIAU. JANGAN ADA LAGI KEKERASAN ANTARA SUNNI DAN SYIAH. APALAGI KEKERASAN YANG DIKOBARKAN OLEH SEBAGIAN MURID ULAMA YANG ADA DI ATAS.

.
Syekh Ahmad Deedat, kristolog masyhur yang juga seorang ulama suni mengatakan:
“Saya katakan kenapa Anda tidak bisa menerima ikhwan Syiah sebagai mazhab kelima? Hal yang mengherankan adalah mereka mengatakan kepada Anda ingin bersatu. Mereka tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. Mereka berteriak “Tidak ada suni atau Syiah, hanya ada satu, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah belah. Bisakah Anda membayangkan, kita suni adalah 90% dari muslim dunia dan 10%-nya adalah Syiah yang ingin menjadi saudara seiman, tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka (Syiah) yang seharusnya ketakutan.”

.

Hingga saat ini Iran disebut-sebut sebagai negara Islam yang paling maju terutama dalam bidang Sains diantara negara-negara Islam lainnya. Tapi negara inipun masih belum juga diakui sebagai salah satu negara maju (secara keseluruhan), diantara negara-negara lain di dunia. Sedangkan Israel, yang masih dalam kontroversi (karena wilayahnya yang merupakan hasil rampasan dari wilayah Palestina), sudah mendapat pengakuan dan predikat sebagai salah-satu negara maju di dunia.

Sekarang, apakah menjadi negara maju itu harus?. Sebagian besar dari kita pasti menjawab “Ya”. Tapi, coba kita lihat sekali lagi, apakah Islam itu cocok untuk kehidupan masyarakat negara maju seperti Jepang ataupun Amerika Serikat?—Yang notabene adalah negara super power yang saat ini memengang kendali Dunia. Saya rasa “Tidak Terlalu”. Ya, kenapa saya berpendapat demikian?.

Lihatlah kehidupan warga negara Amerika Serikat yang begitu bebas, termasuk untuk perilaku seks bebas (yang menimbulkan HIV-AIDS). Dan saat ini, ada 14 negara bagian di AS yang melegalkan marijuana, yaitu: Alaska, California, Colorado, Hawaii, Maine, Maryland, Michigan, Montana, Nevada, New Mexico, Oregon, Rhode Island, Vermont dan Washington.

negara maju di barat

Atau kehidupan warga negara Jepang yang dikenal sebagai pekerja keras, memiliki penanganan medis yang sangat baik, dan standar hidup yang tinggi, yang membuat mereka memiliki harapan hidup yang lebih panjang. Tapi, ketahuilah kebanyakan dari mereka hidup penuh tekanan, hal ini dapat dilihat dari predikat Jepang yang merupakan salah-satu negara dengan tingkat kasus bunuh diri paling tinggi di dunia.

jepang negara bunuh diri tertinggi

Di bawah ini, adalah peta yang menunjukkan pembagian negara-negara berdasarkan jumlah kasus bunuh dirinya:

kasus bunuh diri negara maju

Rata-rata kasus bunuh diri:
Merah: di atas 13
Kuning: 6.5-13
Biru Tua: kurang dari 6.5
Abu-abu: Tidak ada

Apa gunanya angka harapan hidup yang tinggi, kalau banyak yang bunuh diri karena tekanan hidup yang berlebih?.

Seperti yang kita ketahui, bagi kita umat Islam, bunuh diri ataupun mencoba bunuh diri merupakan salah satu dosa yang paling besar di hadapan Allah Swt. Dan lihatlah negara-negara mayoritas penduduk Islam, di daerah Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika, hampir tidak tercatat adanya kasus bunuh diri disana.

Selain itu, negara-negara maju juga sudah melegalkan perjudian maupun minuman beralkohol di negaranya. Di negara maju yang super sibuk, tentu memiliki jam kerja yang begitu padat hingga larut malam, dan mereka hampir tidak memiliki waktu istirahat (mungkin termasuk untuk Shalat). Bahkan saat ini, di Italia (dan mungkin dinegara-negara maju lainnya), muncul sebuah kebijakan “aneh” yaitu, melarang para pekerja Muslim untuk berpuasa di bulan Ramadhan karena alasan keseahatan (Larangan tersebut dikeluarkan Komite Keselamatan Kegiatan Pertanian Italia. Mereka mengharuskan pekerja di ladang, termasuk Muslim, untuk tetap makan dan minum selama Ramadhan). Dan bagi mereka yang melanggar, dipecat adalah konsekuensinya.

Alkohol merupakan salah satu penyebab utama tindakan kriminal (Bahkan sudah dijelaskan dalam sebuah kisah Islami, bahwa alkohol bisa membuat seseorang nekad untuk memperkosa dan lalu membunuh). Karena legalitas dari alkohol di negara-negara maju. maka inilah hasilnya:


Secara perhitungan “kasar”, negara-negara maju seperti, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Prancis, Rusia, dan Jepang berada di enam teratas, sebagai negara dengan tingkat kriminalitas tertinggi di dunia (Meskipun tidak semua tindak kriminalitas dinegara-negera maju tersebut merupakan kejahatan yang disebabkan oleh minuman beralkohol). Dan anda tidak akan menemukan negara Islam sampai urutan ke 32 (Turki). Dan hanya beberapa negara Islam yang masuk dalam 82 negara dalam daftar tersebut.

Jadi, apakah kehidupan penduduk di negara maju saat ini, bisa berjalan sesuai syariat Islam?. Mungkin dulu ya, tapi sekarang tidak. Coba bandingkan kehidupan kita dengan orang-orang di barat sana. Mengapa dinegara kita yang masih banyak terdapat orang-orang muslim yang taat beribadah, justru tertinggal dari meraka (orang barat) yang hidup penuh kebebasan dan sangat jauh dari syariat Islam, tapi mereka berhasil mendirikan negara-negara yang maju.

Tapi, bukan tidak mungkin di masa yang akan datang, kejayaan Islam akan bangkit kembali dengan cara yang tidak kita duga-duga.

Namun, “Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya, “Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing” (HR Muslim).

Mungkin saja kita sedang dalam masa kembalinya Islam, siapa tahu? Wallah hu Alam, kiamat semakin dekat bukan?, dan saat itu, sudah tidak ada lagi orang-orang yang beriman alias kaum Muslimin. Berdasarkan hadits-hadits shohih, Nabi Muhammad Saw. Sebelum kiamat terjadi, tanda-tanda besar akan bermunculan, ketika kiamat sudah dekat sekali (seribu tahun mungkin dianggap dekat, mengingat sejarah bumi yang begitu panjang). Maka Allah Swt, akan mendatangkan sebuah angin sejuk yang menyebabkan setiap orang beriman menemui ajalnya saat tersentuh angin tersebut. Sebab Allah Swt, tidak akan mengizinkan kiamat terjadi ketika masih ada kaum beriman di muka bumi walau hanya seorangpun.

Saya samasekali tidak bermaksud, membuat anda berfikir bahwa “Islam merupakan penghalang suatu negara untuk maju di jaman yang modern ini”. Tapi, yang ingin saya tekankan adalah “Apa yang baik di mata manusia belum tentu baik di hadapan Allah Swt.”, dan “Tak mengapa miskin di dunia, asalkan tak miskin di Akhirat”. Bukankah seseorang yang “ndeso”, miskin, berkulit hitam, dan berbibir tebal sekalipun, akan lebih baik di hadapan Allah Swt, ketika ia memiliki keimanan yang teguh kepada-Nya. Daripada seseorang (ilmuwan sekalipun) yang mendapat puja dan puji karena kecerdasannya, kaya raya, modern, atau berpenamplian sangat menarik, tetapi ia tidak percaya akan adanya Tuhan, yaitu Allah Swt. Dan bukan berarti saya menganggap miskin itu lebih baik dan menjadi kaya dan maju itu adalah buruk. Karena miskin dan kaya itu relatif (tergantung dari sudut pandang apa kita melihatnya).

Agnes Monica sang Nasrani dipuja puja para remaja muslim karena mengajarkan “cinta” melalui lagu lagu dan sinetron…

Akibat kelakuan para artis maka anak anak Jamal Mirdad yang ikut agama ibunya dianggap sah sah saja…

perkawinan antar agama oleh para artis kini seolah hal hal biasa saja..

Atas nama cinta para artis maka agama menjadi rusak…

Ulama sunni diam karena kualitas mereka dan pengaruh mereka tidak relevan dengan tantangan zaman…

Siti Nurhaliza  dengan bebas bisa memamerkan aurat disebuah negara yang mengklaim dirinya Islam…

Para ulama Malaysia terdiam dan menikmatinya…

Ujung ujungnya malah syi’ah yang dikejar kejar dan dituduh sesat…

Wow ! Artis dianggap lebih suci daripada mazhab ahlulbait !

………………………………………..

 Sabtu, 09 April 2011

Ulama Syiah Ancam Aktifkan Milisi jika Pasukan AS Tak Tinggalkan Irak

Moqtada al-Sadr mengatakan para pendukungnya akan melanjutkan pertempuran jika pasukan AS tetap berada di Irak setelah akhir tahun ini.

Foto: AP
Ulama radikal Syiah Irak, Muqtada al-Sadr saat melakukan shalat Jumat di Kufa (14/1).

Ulama Syiah yang berpengaruh, Moqtada al-Sadr, mengatakan para pendukungnya akan melanjutkan pertempuran mereka melawan pasukan Amerika di Irak jika pasukan Amerika tetap berada di Irak melampaui batas waktu untuk menarik diri pada akhir tahun ini.

Seorang juru bicara membacakan pernyataan dari ulama itu hari Sabtu kepada ratusan ribu pendukungnya yang berkumpul di Baghdad. Milisi Laskar Mahdi pimpinan Sadr bertempur melawan pasukan Amerika selama bertahun-tahun setelah invasi Amerika ke Irak, sampai gencatan senjata dinyatakan tahun 2008.

Pengumuman Moqtada al-Sadr itu dikeluarkan setelah Menteri Pertahanan Amerika Robert Gates mengatakan kepada pasukan Amerika di Irak bahwa Amerika Serikat akan bersedia untuk tetap menempatkan pasukan militernya di Irak setelah akhir tahun ini jika pemerintah Irak menghendakinya.

Sekarang ini, kurang lebih 47.000 tentara Amerika masih berada di negara itu untuk melatih pasukan keamanan Irak. PM Irak Nuri al-Maliki baru-baru ini mengatakan, kemampuan angkatan bersenjatanya makin meningkat untuk menjaga keamanan Irak

.

oleh  Amin Farazala  Al malaya ( nick name : Ustad Syi’ah Ali / Ibnu Jakfari )

( Membantah Yayasan Al Bayyinat /  Thohir Abdullah Al-Kaff )

———————————————————————————————-

Pergerakan Syi’ah di Indonesia

Berlian tak perlu digembar-gemborkan lagi tentang mahal dan keistimewaannya,

yang paling penting adalah bagaimana memasarkannya agar setiap orang
–yang tidak memiliki uang sekalipun—dapat memilikinya!

Keberhasilan dakwah Syi’ah di Tanah Air, jelas tidak terlepas dari gerakan mereka yang tersusun rapih, sistematis, dan terorganisir. Terbukti, betapa gencarnya dakwah Syi’ah yang dilakukan dalam berbagai sarana dan prasarana sehingga mudah menyasar kaum mayoritas sunnah di mana pun dan bukan saja di Tanah Air.

Menurut satu di antara tiga teori sejarah awal kedatangan Syi’ah di Indonesia, Syi’ah baru datang setelah peristiwa Revolusi Islam Iran (RII) yang dimulai antara lain dengan tulisan-tulisan Ali Shariati disusul pemikir Islam Iran lain. Sebetulnya, banyak orang terpengaruh Syi’ah kerena peristiwa RII.

Perkembangan Syi’ah seolah menemukan momentumnya pasca Revolusi Iran 12 Januari 1979. Seperti umumnya terjadi di Indonesia, ia dibawa oleh para pelajar yang menuntut ilmu di Negeri Iran. Semenjak itu, Syi’ah menjadi wacana intelektual yang menarik perhatian. Diskusi-diskusi digelar, buku-buku karya ulama dan intelektual Syi’ah dikaji. Perlahan-lahan, Syi’ah pun mulai mendapatkan pengikutnya.

Seperti diakui Muhsin Labib, salah seorang penulis Syi’ah Indonesia, Revolusi Islam Iran yang diletuskan oleh Khomeini telah menjadi momentum historis bagi tersebarnya ajaran Ahlul Bait ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Keberhasilan Khomeini menumbangkan monarki Pahlevi yang menjadi anak emas Amerika di Timur Tengah telah membuat bangsa Indonesia terbelalak.

Para pemuda dan mahasiswa dengan antusiasme tinggi mempelajari buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan revolusioner Iran, seperti Murtadha Muthahhari dan Ali Shariati. Sejak saat itulah terjadilah gelombang besar masyarakat Indonesia memasuki ajaran Syi’ah. Maraknya antusiasme kepada Syi’ah, sebagai negara Muslim terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara, tentu berpengaruh terhadap berkembangnya ajaran Syi’ah di Malaysia dan kawasan Asia Tenggara.

Pada dekade terakhir ini, diskursus pemikiran Syi’ah kembali meramaikan kancah pergulatan pemikiran di Indonesia. Dalam banyak hal, ia merupakan bias logis angin perubahan (the wind of changes) yang ditiupkan oleh keberhasilan revolusi Islam Iran (RII) yang digerakkan oleh sekte Islam Syi’ah.

Tentang pengaruh revolusi tersebut, Dr. Richard N. Frye, ahli masalah Iran di Universitas Harvard, seperti dikutip Jalaluddin Rahmat, berkomentar, “Hubungan revolusi Islam (Syi’ah) di Iran dengan dunia ketiga, yakni bangsa-bangsa yang tidak memiliki kekayaan dan kekuatan di dunia, adalah sama seperti hubungan antara revolusi Perancis dengan bangsa-bangsa Eropa Barat. Revolsi Islam di Iran bukan hanya titik-balik dalam sejarah Iran saja. Revolusi itu juga merupakan satu titik-balik rakyat di seluruh negara-negara Islam, bahkan bagi massa rakyat di dunia ketiga.”

Revolusi Iran, dengan pemikir-pemikir yang mendukung di belakangnya, seperti Dr. Ali Shariati, MH. Thabathabai dan Murtadha Muthahhari, memberikan alternatif kepada mereka. Maka tidak mengherankan jika kita dapati sebagian intelektual Indonesia dengan begitu fasih mengutip Ali Shariati, Muthahhari atau pemikir-pemikir Syi’ah lainnya. Jalaluddin Rahmat, bahkan dengan jelas menamakan yayasan yang didirikannya: Yayasan Muthahhari, nama tokoh Syi’ah terkenal itu.

Pasca peristiwa 11 September 2001, invasi AS ke Irak, naiknya Ahmadinejad sebagai Presiden Iran dan kemenangan Hizbullah atas Israel adalah sebagian fenomena-fenomena global yang memengaruhi posisi dan grafik pertumbuhan ajaran Syi’ah di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya.

Saat ini, menurut keterangan Ahmad Barakbah –salah seorang alumni Qum Iran– seperti ditulis redaksi jurnal Ulumul Qur’an, di Indonesia terdapat kurang lebih 40 yayasan Syi’ah yang tersebar di sejumlah kota besar seperti Malang, Jember, Pontianak, Jakarta, Bangil, Samarinda, Banjarmasin, dan sebagainya.

Selain itu, peran lulusan Iran aktif menyebarkan paham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren. Di antaranya Ahmad Barakbah yang mendirikan Pesantren Al-Hadi di Pekalongan (sudah hangus dibakar massa), ada juga Husein Al-Kaff yang mendirikan Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih banyak puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perkembangan Syi’ah di Jawa pun tidak ketinggalan. Achmad Alatas, Ketua Yayaan Nuruts Tsaqolain Semarang menyebut, Habib Abdulkadir Bafaqih, pimpinan Pondok Pesantren Alqairat Bangsri Jepara sebagai ulama yang kali pertama terang-terangan menahbiskan diri sebagai penganut Syi’ah di Jawa Tengah. Ia yang sebelumnya seorang Sunni mulai mengajarkan akidah Syi’ah kepada santri-santrinya.

Menurut pusat data lembaga penelitian Syi’ah di Yogyakarta, Rausyan Fikr, seperti disampaikan dalam makalah yang ditulis oleh Pengurus wilayah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Yogyakarta, AM Safwan, pada tahun 2001, terdapat 36 yayasan Syi’ah di Indonesia dengan 43 kelompok pengajian. Sebanyak 21 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat provinsi, dan 33 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat kabupaten dan kota.

Namun dalam perkembangannya, justru kecenderungan untuk mempelajari Syi’ah makin meningkat. Buku-buku tentang Syi’ah pun dengan gampang bisa diperoleh di toko-toko buku. Bahkan lembaga atau komunitas Syi’ah juga berkembang pesat tanpa lagi takut dengan pelbagai gunjingan miring tentangnya. Menurut hasil hitungan Rausyan Fikr, hingga Februari 2001 saja, tidak kurang 373 judul buku mengenai Syi’ah telah diterbitkan oleh 59 penerbit yang ada di Indonesia.

Seiring dengan terbukanya era reformasi, tak dimungkiri menjadi semacam pintu yang begitu leluasa bagi kebangkitan sejumlah aliran keagamaan di Indonesia yang sebelumnya justru terpinggirkan. Satu di antaranya kaum Syi’ah. Setelah sekian lama bergerak di bawah tanah, mereka mulai berani menunjukkan eksistensi dirinya.

Dari cuplikan singkat sejarah di atas, penulis menyimpulkan sedikitnya ada empat strategi dakwah yang mereka lakukan bertujuan untuk membumikan keyakinan mereka di mana pun. Dengan menjadikan negara Iran sebagai pusat sumber ilmu ajaran Syi’ah, kebanyakan tokoh besar Syi’ah semuanya berasal dari Iran di mana misi-misi dakwah dijalankan oleh wakil-wakil Iran seperti pihak kedutaan, LSM, perusahaan maupun perdagangan bahkan hingga pusat-pusat pendidikan beberapa negara-negara Ahl al-Sunnah.

Adapun misi dakwah mereka ialah:

1.    Mempersiapkan dan mengkader juru dakwah yang terdiri dari segala bangsa
2.    Menerjemahkan dan meluaskan penerbitan buku-buku pro-Syi‘ah berbahasa Persia.
3.    Menjalankan proyek bantuan sosial dan kebajikan pada orang-orang miskin secara ikhlas
4.    Mendirikan situs-situs online dalam berbagai bahasa untuk misi perluasan jangkauan dakwah tanpa pengawasan ketat dari pihak pemerintah.

Sejak tumbangnya Syah Reza Pahlevi yaitu meletusnya Revolusi Iran pada tahun 1979 yang dipimpin oleh tokoh spiritual Ayatullah Khomeini sejak itu pula paham Syi’ah merembes ke berbagai Negara. Gema jihad melawan “kemungkaran” dan Iran lantas menembus hampir di seluruh dunia. Gerakan itu mendapat respons positif berupa terbentuknya solidaritas muslim dunia secara moral mendukung gerakan itu.

Ada aspek menarik dari gerakan itu, yaitu militansi ke-Islaman. Mungkin aspek itulah yang membentuk rasa solidaritas di dunia Islam. Lalu di Indonesia.

Beberapa lama kemudian di tanah air muncul kelompok-kelompok yang dinilai oleh beberapa pihak mengarah ke gerakan Syi’ah seperti di Iran atau muncul gema gerakan Syi’ah dihembuskan tokoh-tokoh Iran yang sengaja disebar ke beberapa negara. Barangkali itu yang disebut Ekspor Revolusi yang begitu dikhawatirkan.

Perkembangan Syi’ah atau yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait di Indonesia memang cukup pesat. Sejumlah lembaga yang berbentuk pesantren maupun yayasan didirikan di beberapa kota di Indonesia, seperti Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan di luar Jawa. Dan membanjirnya buku-buku tentang Syi’ah yang sengaja diterbitkan oleh para penerbit yang memang berindikasi Syi’ah atau lewat media massa, ceramah-ceramah agama dan lewat pendidikan dan pengkaderan di pesantren-pesantren, di majelis-majelis ta’lim.

Gerak mereka tidak seragam ada yang begitu agresif dalam menda’wahkan Syi’ahnya dan ada juga yang lebih lambat. Ada yang terasa demikian frontal dan ada juga yang terkesan amat sensitif. Namun demikian semuanya menuju kepada titik yang sama, Syi’ah! Besar sekali memang dana yang dibutuhkan untuk mempropagandakan dan memperkenalkan revolusi itu, tetapi itu memang sangat dibutuhkan untuk mengangkat panji-panji revolusi. Memperkenalkan Syi’ah di panggung politik dunia dan yang terpenting mendesakkan kepada dunia Islam untuk mengakui keberadaan Syi’ah sebagai salah satu aliran yang sah di dunia Islam.

Apalagi vokalitas dalam mensikapi kekuatan Barat yang cenderung ingin menjadi penguasa dunia, semakin menarik perhatian kaum Muslimin

Syiah adalah sebuah mazhab yang sangat identik dengan perlawanan terhadap segala bentuk kebatilan, ketidak adilan dan segala macam model penindasan terhadap manusia. Dari awal kemunculannya yakni di masa Nabi Muhammad SAW masih hidup, Syiah telah memperlihatkan eksistensi dan konsistensinya menegakkan hukum agama seperti apa yang diajarkan Muhammad SAW. Persis sama seperti yang di gambarkan Taha Husein yang menyatakan bahwa “Syiah adalah sebuah kekuatan yang berdiri tegar dan tegas, melawan kezaliman dan karenya Syiah eksis, kokoh dan semakin hidup”.

Di Indonesia, Mazhab ini berkembang sangat pesat terutama dikampus-kampus. Ini menjadi salah satu karakter mazhab ini karena selalu tumbuh dan berkembang di pusat-pusat ilmu pengetahuan. Karakter ini yang kemudian menjadi daya tarik sendiri, dan Syiah banyak diminati mahasiswa untuk mempelajari. Banyak kemudian yang tertarik dan menjadi pengikut mazhab ini.

Disisi lain, disaat  Indonesia dililit ketidak adilan Mazhab Syiah menawarkan model pembebasan yang sangat manusiawi. Terlebih lagi ketika Revolusi Islam Iran bergulir mazhab ini telah memperlihatkan model perlawanan yang efektif. Mazhab ini kemudian semakin tumbuh pesat bahkan sudah banyak pengikutnya dengan terang-terangan melakukan perlawanan terhadap ketidak adilan yang dilakukan pemerintah.

Pergerakan Syi’ah di sini akan penulis batasi pada konteks sekarang. Sebab yang lebih menarik, tentu bukan sekedar menengok pergolakan sejarah masa lalunya saja. Di mana mengenali pergerakan Islam Syi’ah kontemporer di Indonesia sangat diperlukan guna mengenali titik-titik kerawanan yang bisa muncul akibat ketidakmengertian kita menangkap sinyal-sinyal perbedaan “furuiyyah” mereka dengan Islam mainstream.

Paling tidak, pergerakan Syi’ah ini dapat kita lihat dari tiga sisi, yaitu; politik, intelektual dan sosial-keagamaan.

A. Pada Ranah Politik

Seperti yang diulas di atas, bahwa hampir terdapat kesepakatan mayoritas intelektual Muslim, bahwa kemunculan Syi’ah terkait dengan persoalan politik; atau tepatnya adalah perebutan hegemoni kepemimpinan politik umat Islam setelah mangkatnya Rasulullah. Sekalipun sebagian kalangan berharap agar “tragedi” tersebut dijadikan bagian dari sejarah masa lalu (the past histories), yang seharusnya dikubur atau dibuang jauh-jauh dari memori umat kini. Namun, nampaknya untuk sampai pada harapan ini, tidaklah semudah membalikkan telapang tangan. Justru bagi sebagian kalangan, legenda itu sengaja dijadikan sebagai simbol bagi tetap eksisnya clash lama menuju persaingan hegemoni politik atau “politik identitas”.

Dan dilematisnya, pertarungan ini semakin menemukan momentumnya pada saat-saat sekarang. Terutama paska keberhasilan revolusi Islam yang diusung oleh Imam Khomeini pada 1979, di mana secara tidak langsung revolusi ini menggiring mata dunia untuk mengenal satu bentuk konsep politik yang berbeda dari sebelumnya. Kemudian, rentetan perang antara Irak vs Iran, Hizbullah (Lebanon) vs Israel, Amerika vs Irak dan Afghanistan; perang yang terakhir ini merupakan satu paket agenda Amerika untuk melawan terorisme internasional. Dan yang harus dicatat, negara-negara terakhir tersebut merupakan Negara Sunni mayoritas. Banyak kalangan, mengamati krisis yang terjadi di Negara Muslim khususnya di Timur Tengah ini, tidak terlepas dari problem sektarianisme kelompok yang mudah sekali “dimanfaatkan” baik bagi kepentingan imprealisme Barat, ataupun syahwat politik penguasa lokal.

Kalau kita ambil contoh dalam konteks relasi Sunni-Syi’ah saja, aroma politik ini lalu mudah dipetakan menjadi sebuah konflik yang telah menyejarah lama. Kongkritnya, Sunni menganggap, bahwa akhir dari drama peperangan ini merupakan awal dari kemenangan Syi’ah dalam meraih hegemoni kepemimipinan politik dunia. Atau pameo yang sering kita dengar adalah; dalam suatu pertarungan, biasanya akan ada kelompok yang keluar sebagai pemenang atau unsur yang diuntungkan sekalipun ia tidak terlibat langsung secara fisik. Seperti contohnya, Amerika yang berperang dengan Irak, setelah Irak kalah, dan Sadam Husein jatuh, kekuatan politik Syi’ah yang selama ini termarjinalkan menjadi bisa bernafas lega. Pertimbangannya cukup sederhana, sebab Sadam walau bagaimanapun adalah Sunni, dan tipikal kepemimpinan Sunni, sudah mereka (baca; Syi’ah) kenal sejak dulu; tidak akan memberikan kesempatan bagi sekte Syi’ah untuk “hidup” bebas.[Dapat dibaca sejarah klasik perang Shiffin; perang antara Muawiyyah dan Ali bin Abi Thalib, yang berakhir dengan terbunuhnya ahlul bait di Karbala-Irak. Banyak pemikir Syi’ah yang mengambil referensi termarjinalkannya Syi’ah masa kini dari sejarah kelam masa lalu itu, sehingga terminologi “mustad’afin” (orang-orang lemah/termarjinalkan) menjadi satu trend di khazanah pemikiran sosial-politik Syi’ah. Tragedi Karbala -yang sesungguhnya berpangkal dari perampasan hak politik Ali di Tsaqifah bani Sa’idah- bagi mereka tidak hanya memiliki dampak politis, akan tetapi juga dampak teologis. Di antaranya adalah, pemalsuan hadits, bermunculannya sekte-sekte ‘sempalan’ di umat Islam, pengingkaran atas kemaksuman Rasulullah dan para Imam ahlul bait, dll. Untuk lebih detil lihat: Dr. Asad al-Qasim, al-Khilafah wa al-Imamah wa Atsaruha al-Muashirah, Daar Ihya at-Turats, Qom-Iran, 1418 H.)
]

Sebaliknya bagi kalangan Syi’ah memandang, bahwa dengan kekalahan yang dialami oleh negara-negara Muslim Sunni mayoritas itu, ialah suatu starting point untuk merebut hegemoni politik, sebagai alternatif model kepemimpinan baru yang tidak lagi Sunni oriented. Bahkan sebagian pemikir Syi’ah menyebut kesempatan ini sebagai babak baru bagi sebuah kebangkitan Syi’ah di masa depan.[Untuk mengetahui pandangan ini secara lebih komferehensif, dapat ditemukan pada pemikir Syi’ah kontemporer, seperti Vali R. Nasr. Baca buku: Vali Nasr, “Kebangkitan Syi’ah, Islam, Konflik, dan Masa Depan”, Diwan Press, Jakarta, cet. I, 2007, (terjh. M. Ide Murteza).]

Pada konteks Indonesia, untuk mencapai target seperti yang telah diungkapkan tadi, barangkali masih sangat jauh. Tarik-menarik politik hegemoni tidak terlalu mempengaruhi alur pemikiran kalangan Syi’ah juga Sunni di Indonesia. Hal ini dapat disebabkan diantaranya, masih minimnya jumlah pengikut Syi’ah di Indonesia dan adanya penilaian masyarakat atas aliran ini sebagai sekte sempalan Islam yang ‘berbahaya’, sehingga tahapan yang sepertinya tengah dibangun saat ini adalah terbatas pada “politik pencitraan” dan transformasi ideologi dalam berbagai bentuk aktivitas yang “cenderung” inklusif dan tidak konfrontatif. Penegasan identitas kesyi’ahan hampir jarang ditampakkan pada ranah politik.

Suatu kondisi yang membedakannya dengan gerakan Islam politik semacam, organisasi “Usrah” (baca; Moslem Brotherhood- nya Indonesia), Hizbut Tahrir, Majelis Mujahiddin Indonesia, dan sebagainya. Bahkan sebenarnya kalangan Syi’ah di Indonesia dan juga di banyak negara di dunia, diam-diam mengkritisi sekaligus tidak merasa optimis dengan masa depan politik yang diusung oleh kalangan Islam politik yang penulis sebut di atas. Sebab menurut mereka, terbukti kurang berhasil dan hanya melahirkan “kegaduhan” politik di mana-mana. Serangkaian aksi kekerasan (terorisme) yang berlindung di jubah penegakkan hukum Allah, yang banyak dilakukan oleh kalangan Sunni seperti, Wahhabi, Salafi, Jihadi, Ikhwan dan sebagainya, bagi sebagian pendukung Syi’ah dianggap sebagai sebuah sikap yang keliru dan mencoreng nama Islam. Lebih-lebih pada kekerasaan sektarianisme kalangan-kalangan tersebut atas minoritas Syi’ah, yang masih menganggap Syi’ah lebih berbahaya dari pada orang-orang kafir yang halal darahnya.

Namun, iklim demokrasi di Indonesia mampu memberikan ruang aktualisasi pada berbagai aliran dan sekte apapun, termasuk di dalamnya Syi’ah. Bukan suatu hal yang mustahil sekte ini pun akan tergiur memberikan warna politiknya di panggung Indonesia. Sekalipun penulis masih ragu dalam waktu dekat ini akan dapat terwujud. Tantangan terbesar sejatinya tidak datang dari konstitusi, akan tetapi dari “konstituen” atau masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang bersedia menerima kehadiran Islam yang tidak menjadi mainstream Sunni masih terlalu sedikit. Banyak faktor yang menjadi kendalanya, di antaranya adalah pendidikan dan pengetahuan. Kalangan Syi’ah di Indonesia mengetahui benar dilema ini, maka jalur politik sementara waktu masih merupakan “barang haram” bagi mereka. Sehingga sekalipun mereka berpolitik, politik itu dimaknai dalam bentuk yang berbeda, seperti politik kerakyatan dan pendidikan yang tidak praktis, namun lebih menyentuh pada aspek sosial dan budaya.

B. Pada Ranah Intelektual

Senada dengan analisa Martin van Bruinessen,[Martin adalah seorang Indonesianist, ia sampaikan analisanya ini dalam makalah ilmiah, berjudul: “Sectarian Movements in Indonesian Islam: Social and Cultural Background"), Ulumul Qur'an, vol. III no. 1, 1992, hlm. 16-27. ] bahwa telah terjadi pergeseran orientasi di kalangan Syi’ah dari murni sebuah gerakan politik ke arah pergerakan intelektual. Hal ini terbukti dengan maraknya etos transformatif dari kalangan mereka, melalui usaha memperkenalkan khazanah pemikiran tokoh-tokoh terkenal Syi’ah yang tidak semata politik minded, namun disejajarkan dengan bidang-bidang humaniora lainnya. Hal ini merupakan indikasi baru; tengah adanya kesadaran intelektual dalam bentuk memperkenalkan studi filsafat dan sains Syi’ah di luar politik kepada pembaca lain di seluruh dunia.  Di tanah air, pergeseran ini antara lain terlihat dalam urutan terjemahan karya penulis Syi’ah: Ali Syari’ati disusul oleh Murtadha Muthahhari dan kemudian Baqir Al-Shadr. Khomeini pertama-tama dilihat sebagai pemimpin revolusi saja, kemudian juga sebagai ahli ‘irfan (tasawwuf dan metafisika). Sekarang diskusi-diskusi lebih sering berkisar sekitar filsafat atau persoalan ‘ishmah (apakah para Imam Duabelas ma’shum?) daripada situasi politik Iran.

Gairah intelektual muslim Syi’ah Indonesia ini juga tampak pada maraknya penerbitan-penerbitan buku yang mengusung ide-ide pencerahan ala Syi’ah. Penulis belum mengetahui secara pasti lembaga penerbit apa saja yang murni berasal dari proyeksi Syi’ah. Namun paling tidak, melihat beberapa karya yang sering mengusung gagasan kesyi’ahan ini, telah ratusan karya baik karangan buku, jurnal, majalah,  maupun terjemahan yang tersebar di seluruh Indonesia. Penulis ambil satu contoh saja, adalah jurnal ‘Al-Huda’ yang dikeluarkan oleh Islamic Cultural Centre (ICC) Jakarta, selalu mengetengahkan pemikiran revolusioner Syi’ah, mulai dari isu politik, filsafat, metafisika, sosiologi, mantik, tasawuf, fikih, tafsir, hadits dan lain-lain. Banyak juga mahasiswa Indonesia yang masih belajar di Iran menulis artikelnya pada jurnal ini, bahkan sekembalinya mereka ke tanah air ada yang menjadi manajer Jurnal tersebut. Sehingga, muatan tulisan yang dibaca begitu sangat aktual, karena nampaknya mereka selalu berusaha untuk menghadirkan kajian ini secara empirik dan dari sumbernya yang otentik.

Di samping itu, lembaga ICC ini juga aktif melakukan aktifitas lainnya, seperti amal bhakti sosial, kajian, perayaan hari besar Islam, peringatan hari-hari keramat Syi’ah, kerjasama lembaga inter dan intra negara, pelatihan-pelatihan, dan lain-lain.

Pendirian lembaga-lembaga riset dan kajian tentang kesyi’ahan di tanah air merupakan langkah yang patut kita apresiasi, dalam memberikan studi keislaman yang berbeda dari kajian-kajian biasanya. Studi keislaman seperti sejarah, fikih, tasawuf, teologi, filsafat, dan lain-lain di tanah air yang didominasi oleh satu atau dua warna aliran saja, masih belum bisa memperkaya khazanah keislaman yang dibutuhkan. Lebih-lebih dapat menyediakan jawaban atas pelbagai permasalahan-permasalahan baru. Penulis percaya, bahwa dengan semakin diperkenalkannya persfektif fikih Syi’ah (ahlul bait) contohnya, akan mampu memberikan alternatif solusi atas permasalahan fikih kontemporer. Fikih Ja’fari misalnya yang konon lebih dekat dengan fikih Syafi’i, sebisa mungkin disosialisasikan dan diaplikasikan dalam forum-forum bahtsul masail atau majelis tarjih yang telah ada. Pengenalan fikih ahlul bait ini, tidaklah cukup hanya sekedar mengangkat sisi historis kemunculannya ke tengah-tengah masyarakat seperti yang ada saat ini, namun sudah harus mengarah kepada sisi aplikasinya terhadap pemecahan masalah-masalah kontemporer. Sehingga, siapa tahu dengan kehadiran pendekatan fikih yang baru ini, lebih membuka kesempatan berijtihad yang lebih elastis dan terbuka lagi.

Kehadiran satu warna fikih yang menjadi “andalan” umat Islam Indonesia seperti sekarang, sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Sebab, selain tidak membuka kran pintu ijtihad, juga akan memunculkan fatwa-fatwa fikih yang sempit dan menyulitkan. Nah, kemunculan Syi’ah di Indonesia, dengan membawa warna pendekatan Islam yang lain, semakin memberikan alternatif-alternatif solusi bagi persoalan keumataan yang ada. Tentu, hal ini tidak cukup hanya dengan menjadikan apa-apa yang khas dari Syi’ah itu, ditransformasikan sebatas wacana saja. Tapi harus lebih menukik kepada kajian-kajian yang aplikabel. Untuk mewujudkannya, tentu tidak hanya dibutuhkan banyaknya penganut Syi’ah di tanah air, namun lebih ditentukan oleh faktor banyaknya pakar-pakar atau ketersediaan SDM yang mampu mengambil alih tugas ini. Di sinilah, kalangan Syi’ah harus lebih bekerja keras lagi memikirkan munculnya intelektual-intelektual yang memiliki kapabilitas dimaksud.

C. Pada Ranah Sosial-Keagamaan

Kehadiran Syiah sempat mendapat tentangan luas, bahkan paham Syiah dituduh “sesat” dan akan menjadi ancaman bagi akidah umat Islam Indonesia yang mayoritas berpaham Sunni. Sebuah seminar di Istiqlal, Jakarta, pada September 1997, malah merekomendasikan pelarangan ajaran itu di Indonesia.[Seminar ini digagas oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), hadir dalam kesempatan ini, sejumlah tokoh dan ulama dari berbagai ormas Islam, di antara tokoh yang memberikan makalah adalah, K.H. Kholil Ridlwan, K.H. Hasan Basri, K.H. Drs. Dawan Anwar, Dr. Ridlwan Saidi, dan lain-lain. Acara seminar ini sempat mengalami protes dari pihak yang tidak setuju, diantaranya dari ketua umum PBNU saat itu,  KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan beberapa tokoh HAM dan Kebebasan Beragama di Indonesia.]

Bahkan tak jarang banyak pula kekerasan massa yang dialami oleh aktifitas yang dilakukan oleh kalangan Syi’ah ini. Berdasarkan pengalaman tersebut, para pengikut aliran ini mulai sering melakukan introspeksi diri, untuk lebih berhati-hati dan profesional lagi dalam melakukan misi dakwahnya.

Memang perlu diakui, bahwa memperkenalkan suatu aliran apapun saja bentuknya, lebih-lebih ia dikesankan “eksentrik” dengan pandangan rata-rata, bukanlah suatu usaha yang mudah. Asumsi ini bukan saja didasarkan pada fakta empirik, akan tetapi nampaknya ia telah menjadi sebuah hukum alam. Dan hal ini seharusnya sudah disadari betul oleh pengikut aliran Syi’ah di Indonesia. Penulis menilai, adalah sebuah langkah yang sangat keliru apabila dalam kondisi “keterbatasannya” Syi’ah di Indonesia lebih memfokuskan pada penguatan simbol-simbol kesyi’ahan, ketimbang karya nyata yang menelanjangkan diri dari formalitas simbol. Yang lebih keliru lagi, apabila belakangan orang lain tidak menemukan esensi apa-apa di balik formalitas tersebut, kecuali simbol itu sendiri. Tindakan serupa mau tidak mau justru malah mendulang reaksi yang kontraproduktif dari masyarakat Islam mainstream. Pelarangan, atau aksi anarkis terhadap sekte ini boleh jadi terkait dengan kekeliruan langkah strategi tersebut.

Betapapun banyaknya karya yang muncul dari civitas kalangan Syi’ah ini –seperti yang telah disinggung di atas- seharusnya memiliki orientasi bagi penyelesaian permasalah kebangsaan (umat) yang tengah dirasakan, dari pada sebatas penguatan ideologi “langit” yang tidak menakar kepada realitas bumi. Penulis beranggapan, suburnya sikap anti pati suatu kelompok kepada kelompok yang lainnya,  boleh jadi karena masing-masing enggan keluar dari kubangan perdebatan “kalimat” yang cenderung tidak berpengaruh terhadap nilai mutualisme bagi semua. Di samping faktor keterjebakan mereka pada sikap over fanatism yang sangat tidak menguntungkan bagi umat Islam itu sendiri. Maka, karya nyata berupa kesalehan sosial yang dijelmakan dalam proyek pembangunan dan kesejahteraan rakyat yang tidak dibatasi khusus bagi pengikut Syi’ah, sejatinya bisa menjadi fly over untuk lebih mendekatkan umat kepada substansi ajaran Syi’ah ini. Opini publik tentang kehadiran aliran-aliran Islam “sempalan” justru tidak menambah masalah baru bagi umat, melainkan menjadi solusi bagi masalah tersebut, harus menjadi target kalangan pengusung aliran keislaman apapun saja, termasuk juga Syi’ah.

Dalam konteks ini, maka yang menjadi tolak ukur sukses dan tidaknya misi suatu aliran, bukan pada seberapa cantiknya ia menampilkan kemasan dalamnya saja, akan tetapi lebih kepada seberapa dalamkah aliran itu memberikan dampak sosial atau jawaban atas apa yang dihajatkan oleh bangsa.

Satu ilustrasi saja dari bentuk kekeliruan dakwah yang ada, bahwa orang akan enggan melihat apalagi terpanggil untuk ikut dalam aliran Syi’ah ini, atau paling tidak bisa menerima kehadirannya, jika agenda pertama dan/atau utama adalah bagaimana menjadikan umat Islam menjadi ragu dengan sifat-sifat keutamaan yang dimiliki para sahabat Nabi, sehingga yang tersisa bagi sebuah keutamaan tersebut hanyalah ototoritas para ahlul bait. Atau tragedi fitnah kubra masa lalu masih terus menyisakan dosa keturunan yang harus dibayar oleh semua orang yang tidak berpihak pada kelompok ahlul bait. Atau mengasumsikan terus berlangsungnya politik hegemoni sebagai sebuah setting mengembalikan hak otoritas kepemimpinan politik dunia yang telah dirampas, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian tokoh Syi’ah, semisal Vali Reza Nasr di atas.

Sebab menurut penulis, sekalipun –katakanlah- agenda semacam ini sukses, namun sedikit pun ia tidak akan memberikan solusi bagi problematika keummatan saat ini. Ia tak ubahnya sebatas wacana yang terlihat menarik jika tertata rapih pada rak-rak buku. Formula strategi seperti ini, -meminjam istilah Mohammed Arkoun- akan lebih dahulu tertolak sebelum diajukan.

Namun, satu hal yang cukup menarik dari pergerakan kelompok Syi’ah di Indonesia, adalah pada komitmennya untuk selalu menjalin kerjasama inter-intra lembaga, khususnya dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan yang telah ada. Suatu langkah yang patut didukung, sebagai upaya menghilangkan gap antara kalangan elit umat, sehingga dari sana dapat berakselerisasi kepada kesefahaman antar grass root masing-masing.

website http://syiahali.wordpress.com merupakan  web syi’ah imamiyah terlengkap di Indonesia, Malaysia dan Brunei  sehingga menjadi gerbong kebangkitan syi’ah imamiyah di Melayu

Lembaga-lembaga Syi’ah

Sejumlah lembaga, baik yang berbentuk pesantren maupun Yayasan, didirikan di beberapa kota di Indonesia.

Menurut pengakuan AHMAD BARAQBAH salah seorang alumni Qum, Iran: Di Indonesia sekarang ini terdapat kurang lebih 40 Yayasan Syi’ah yang tersebar di sejumlah kota besar seperti Malang, Jember, Pontianak, Jakarta, Bangil, Samarinda, Banjarmasin dan sebagainya. Secara informal yayasan itu biasa mengadakan pertemuan dan melakukan pembagian tugas, terutama dalam soal target sasaran. Misalnya, yayasan Al-Muntazhar untuk kalangan umum dan pesantren Al-Hadi lebih berorientasi kepada kelompok umur pendidikan dasar yang diharapkan dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi di Iran.

Dan sebagian dari lembaga-lembaga tersebut yaitu:

Yayasan Muthahhari

Yayasan ini didirikan di Bandung, nama Muthahhari diambil dari nama seorang pemikir Syi’ah. Pendukung Yayasan ini banyak yang berasal dari ITS dan UNPAD. Mereka sekarang telah lulus jadi sarjana dan tersebar di berbagai tempat. Dari Muthahhari juga keluar Jurnal Al-Hikmah yang banyak menunjukkan pikiran-pikiran Syi’ah.

Yayasan Al-Muntazhar

Yayasan Al-Muntazhar didirikan di Jakarta pada 7 Oktober 1991 oleh kelompok orang yang meyakini kebenaran Madzhab Ahlul Bait (Syi’ah). Perkenalan dengan madzhab ini diawali oleh minat di kalangan pendiri Yayasan untuk melakukan kajian terhadap madzhab Ahlul Bait. Kajian itu pada mulanya dilakukan secara bergilir dari rumah ke rumah. Namun, karena jama’ahnya makin hari makin banyak, para pengkaji dan peminat itu berkesimpulan bahwa alangkah lebih baiknya kalau dibuat satu Yayasan yang mempunyai landasan hukum dalam rangka mengembangkan kajian madzhab Ahlul Bait tersebut.

Atas dasar pemikiran itu, maka dibentuklah Yayasan Al-Muntazhar. Setelah terbentuk, para peminat kajian madzhab Ahlul Bait rupanya semakin banyak. Terakhir jumlah jama’ah itu tercatat sekitar 400 orang yang berasal dari berbagai kawasan Jakarta Barat dan sekitarnya seperti Tangerang, Cengkareng, dan kawasan Jakarta kota.

Pada perkembangan lebih lanjut, aktivitas jamaah Al-Muntazhar tidak terbatas pada pengkajian.Yayasan ini, antara lain juga menyelenggarakan program pendidikan dari tingkat anak-anak (TPA), SD, SMP, dan SMA.

Yayasan Al-Jawad

Yayasan Al-Jawad didirikan di Bandung oleh sekelompok peminat dan pengikut madzhab Ahlul Bait. Yayasan yang berlokasi di pinggir kota Bandung, ini oleh para pendirinya pertama-tama dimaksudkan sebagai wadah bagi pengkajian madzhab Ahlul Bait. Di antaranya, Yayasan ini pernah menyelenggarakan “Paket Ja’fari Terpadu” dan kursus-kursus sejenis. Tampaknya model kegiatan pengkajian yang diselenggarakan oleh yayasan ini adalah kursus-kursus intensif dengan peserta terbatas.

Meskipun hampir seluruh kegiatannya bersifat terbatas, namun komunitas yayasan ini boleh dikatakan sangat luas. Ini terlihat dari heterogenitasnya peserta kursus yang diselenggarakannya. Kebanyakan peserta kursus yayasan ini berasal dari pelbagai daerah di luar Bandung selain itu tentu saja dari daerah Bandung sendiri.

Karena komunitas yang demikian luas itulah, maka salah satu program yang mendapat perhatian yayasan ini adalah penerbitan. Melalui kegiatan penerbitan, yayasan ini selain dapat mengkomunikasikan pandangan dan doktrin madzhab Ahlul Bait kepada segenap komunitasnya, juga dapat mengkomunikasikan masalah-masalah individual yang berkaitan ke-Syi’ah-an.

Paling tidak ada dua jenis penerbitan yang dikelola oleh Yayasan Al-Jawad, yaitu Bulletin dan Buku. Untuk bulletin, yayasan ini menerbitkan Bulletin Al-Jawad. Bulletin ini yang diterbitkan rutin setiap bulan in hanya berisi doktrin madzhab Ahlul Bait, seperti shalat sunnah Rawatib, Ta’qib shalat fardhu dan sebagainya. Namun setelah berjalan beberapa waktu, Bulletin ini ditingkatkan baik dari segi jumlah maupun keanekaragaman isi, namanya kemudian diubah dengan Al-Ghadir

Yayasan Mulla Shadra

Yayasan Mulla Shadra didirikan di Bogor pada November 1993 oleh sejumlah orang yang tertarik dan ingin mengkaji doktrin-doktrin Syi’ah. Yayasan ini, pada mulanya dimaksudkan semata-mata sebagai forum-forum studi (Ta’lim). Namun, pada perkembangannya kemudian muncul gagasan dan keinginan untuk memperluas bidang kegiatan.

Yayasan ini tidak hanya studi tetapi juga meliputi kegiatan-kegiatan sosial, pendidikan dan kesehatan. Hanya saja, karena sejumlah hambatan, gagasan dan keinginan itu di antaranya mendirikan sekolah umum dan madrasah sampai sekarang belum terwujud. Yang sudah berjalan lancar adalah les privat bagi masyarakat yang tinggal di sekitar yayasan ini.

Yayasan ini berawal dari pengajian biasa yang dilanjutkan dengan pendalaman tentang Islam. Dari sinilah kemudian para anggota pengajian mulai tertarik pada buku-buku tentang Islam dan kajian-kajian tentang Intelektual, terutama pemikiran-pemikiran ‘Ali Syari’ati yang banyak memberikan inspirasi bagi kaum muda tentang revolusi, perubahan sosial dan sebagainya. Selanjutnya, para anggota yayasan ini mulai mengkaji latar belakang revolusi Iran yang boleh dikatakan menjadi ideal bagi anggota pengajian ini.

Selain itu, para anggota pengajian juga mencoba memahami konsep keislaman secara lebih utuh, misalnya konsep Tasyayyu’. Setelah itu, kajian lembaga ini beralih ke buku-buku karya Murtadha Muthahhari dan buku-buku lain terutama tentang Syi’ah yang baru terbit. Yayasan ini sengaja diberi nama Mulla Shadra mengambil nama salah seorang filosof Syi’i terkemuka

Pesantren YAPI, Bangil

Yayasan ini tertua dibanding yayasan yang tertera di atas. Pendirinya yaitu Al-Ustadz Husein Al-Habsyi. Banyak tokoh-tokoh Syi’ah Indonesia keluaran YAPI, hanya saja sang pendiri tidak mengaku dirinya beraliran Syi’ah seperti sering dilontarkan dalam ceramah-ceramahnya. Begitu juga dalam bukunya yang berjudul Ukhuwah Islamiyah,

Adapun Jalaluddin Rahmat mengatakan Ustadz Husein itu orang Syi’ah sebagaimana dalam wawancaranya. Kemudian belakangan mulai ada orang-orang Syi’ah yang sulit didefinisikan itu yang menulis buku. Sebetulnya mereka tidak membela paham Syi’ah misalnya Ustadz Husein Al-Habsyi menulis buku kecil berjudul “Rasulullah Tidak Bermuka Masam”

Bahkan Jalaluddin Rahmat menegaskan lebih dari itu bahwa: “Beliau adalah guru saya,” ujar KH Jalaluddin Rahmat Msc, dalam sambutannya pada menit-menit terakhir upacara pemakaman jenazah Ustadz Husein Al-Habsyi di Pondok YAPI Kenep Bangil.

Inilah sebagian potret sejumlah lembaga-lembaga Syi’ah, yang secara garis besar telah menggambarkan motif gerakan perkembangan Syi’ah di Indonesia. Tentu saja masih banyak lembaga lain dan tempat pengajian yang khusus Syi’ah seperti di Bangsri, Jawa Tengah.

Majalah Editor memberitakan: Di markas kampung Sidodadi (Surabaya) mereka biasa melakukan diskusi intensif di sebuah ruangan berukuran kurang lebih 18m2 belasan kader Syi’ah duduk bersimpuh, mendengarkan seseorang yang dijadikan imam. Dari situlah beberapa fatwa meluncur. Sang imam yang pendidikannya empat tahun di kota Qum Iran, kota kelahiran Khomeini. Konon pemuda tadi dan sejumlah pemuda lainnya dikirim ke Iran oleh Habib Husein Al-Habsyi, ulama yang cukup populer dari Bangil, Jawa Timur.

Yayasan Al-Muhibbin

Yayasan ini berdomisili di Probolinggo Jawa Timur, dan telah mengeluarkan kalender, dengan terang-terangan tertulis (dengan bahasa Arab) pada kalender tersebut akan kesaksian Ahlul Imam, yaitu kesaksian kepada Allah, Nabi Muhammad saw dan Imam-imam Dua belas.

Pesantren Al-Hadi

Pesantren ini didirikan pada tahun 1989 di Pekalongan Jawa Tengah. Pesantren yang secara khusus mengajarkan madzhab Ahlul Bait ini didirikan oleh Ustadz Ahmad Baraqbah, seorang alumni Qum, Ustadz Hasan Musawi dan sebagainya.

Juga disebutkan bahwa sistem pendidikan yang digunakan di pesantren ini kurang lebih sama dengan yang diterapkan di Qum, Iran. Para lulusan pesantren ini pun, jika ingin meneruskan jenjang pendidikannya, akan dikirim ke Qum. Karena itu, boleh dikatakan, inilah satu-satunya pesantren yang kurikulumnya sama dengan pesantren-pesantren di Qum. Pertama-tama para santri di sini diajarkan madzhab Ahlul Bait terutama fiqih Imam Ja’far Ash-Shadiq atau yang lebih dikenal dengan madzhab Ja’fari. Selanjutnya, para santri itu diajarkan Fiqih perbandingan madzhab, Muqaranah Al-Madzahib. Selain itu, kitab-kitab yang diajarkan di Iran juga diajarkan di Pesantren ini. Pesantren Al-Hadi memang mempunyai hubungan baik dengan ulama-ulama Iran, khususnya dalam hubungan pengiriman santri-santri ke Iran untuk menuntut ilmu di sana.

Jenjang pendidikan di pesantren ini dibagi ke dalam empat tingkatan. Dan semuanya terbagi dalam empat kelas. Di samping itu juga tersedia kelas khusus untuk persiapan bagi santri yang masih sangat awam. Kini Pesantren Al-Hadi memiliki sembilan orang pengajar, dan semuanya alumni Qum. Sedangkan santrinya kurang lebih 112 orang (putra-putri). Mayoritas santri-santri berasal dari luar Jawa, seperti Sulawesi, Sumatera, Kalimantan dan sebagainya. Usia mereka berkisar antara 10-20 tahun.

Selain menyelenggarakan pendidikan formal pesantren ini juga menyelenggarakan pengajian-pengajian untuk umum. Peminat pengajian ini cukup banyak, meskipun hanya terbatas pada masyarakat Pekalongan sendiri. [84]

Dan menurut Pangdam V Brawijaya, Imam Utomo, ada aliran Syi’ah diajarkan di Bangkalan, namun sejauh ini belum dirinci siapa tokohnya dan di mana lokasi aliran tersebut diajarkan. “Yang pada pokoknya telah kami temukan di Bangkalan,” kata Pangdam V Brawijaya, Mayor Jenderal TNI Imam Utomo.

Kader-kader Syi’ah Kader-kader Syi’ah yang telah dikader di Iran konon mereka tidak dapat dilacak meskipun oleh KBRI, sebab mereka belajar bukan di Universitas melainkan di rumah atau pondok-pondok para mullah. Begitu juga keberangkatannya ke Iran tidak melalui suatu prosedur resmi sehingga Pemerintah pun tidak dapat melacak. Kata Jalaluddin Rakhmat: “Jadi sebenarnya tidak melalui prosedur resmi, seperti bea siswa dari Pemerintah Iran misalnya.”

Juga Jalaluddin mengatakan, “Kalau ada orang yang punya maksud ingin belajar di Iran itu gampang. Asal ia bisa bayar sendiri ongkos ke Iran, ia bisa berangkat ke sana. Secara teoritis begitulah, gampang. Tapi secara praktis tentu di sana harus ada hubungan orang-orang yang mengurusnya. Jadi secara teoritis sederhana saja.”

Yang paling menonjol dalam mengirim santri-santri ke Iran yaitu Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil dan Pesantren Al-Hadi Pekalongan.Sepulangnya di tanah air mereka membuka pengajian-pengajian Syi’ah di berbagai tempat dengan mission yang sangat tinggi, menggiring orang-orang Ahlus Sunnah ke fiqih Syi’ah

Jalaluddin Rakhmat menegaskan: “Gelombang ketiga ini ditandai dengan kehadiran alumnus-alumnus Qum yang belakangan (setelah ustadz Umar), orientasi mereka fiqih. Jadi ketika mereka datang ke Indonesia, mereka memenuhi kebutuhan akan fiqih ini. Mulailah mereka memberikan pengajian-pengajian Syi’ah di berbagai tempat. Syi’ah gelombang ketiga ini juga ditandai dengan semangat missionari yang sangat tinggi. Mereka pulang dengan romantisme lulusan muda. Sebagaimana biasa, romantisme lulusan muda merasa terpanggil untuk menyelamatkan dunia, yang salah satu caranya ialah membawa orang kepada fiqih Syi’ah. Mulailah mereka mengajarkan fiqih Syi’ah ini di berbagai pengajian.”

“Jenjang pendidikan di pesantren ini dibagi ke dalam empat tingkatan. Dan semuanya terbagi dalam empat kelas. Di samping itu juga tersedia kelas khusus untuk persiapan bagi santri yang masih sangat awam. Kini pesantren Al-Hadi memiliki sembilan orang pengajar, dan semuanya alumni Qum. Sedangkan santrinya yang sekolah di Iran itu malah mendapat santunan, dan tinggal di pondok-pondok tidak bayar,” tegas Jalaluddin juga

Bahkan kader-kader Syi’ah yang digembleng di Indonesia, semangat mereka sangat tinggi dan militan, mereka banyak ditugaskan ke daerah-daerah. Seperti santri-santri Ponpes YAPI Bangil: Banyak santri-santri Habib yang ditugaskan di daerah-daerah terpencil, Ambon, Manado, Gorontalo, Sorong, Irian Jaya. dan sebentar lagi Maluku, Kupang dan Flores

4. Majalah dan Bulletin

Majalah-majalah dan Bulletin Syi’ah yang beredar di Indonesia antaranya:

a. Majalah Yaum Al-Quds. Diterbitkan oleh seksi Pers dan Penerangan Kedutaan Iran di Jakarta. Dibagikan cuma-cuma.
b. Majalah Al-Mawaddah. Diterbitkan di Bandung oleh Forum Komunikasi Ahlul Bait Indonesia (FKABI).
c. Majalah Al-Hikmah. Diterbitkan oleh Yayasan Muthahhari Bandung. Banyak menterjemahkan pikiran-pikiran Syi’ah.
d. Majalah Al-Mushthafa, Jakarta. Majalah ini juga mengadakan wawancara dengan tokoh-tokoh Ahlus Sunnah yang condong ke Syi’ah dan memberi angin segar untuk perjuangannya.
e. Bulletin Al-Jawad. Diterbitkan rutin setiap bulan oleh Yayasan Al-Jawad, berisi doktrin aliran Syi’ah.
f. BBulletin Al-Ghadir, juga diterbitkan oleh Yayasan Al-Jawad.
g. Bulletin Al-Tanwir, diterbitkan oleh Yayasan Muthahhari.
h. Bulletin Ibnu Sabil, diterbitkan setiap bulan di Pekalongan

………………

Tidak sedikit dari kalangan muslimin yang tidak mengenal sosok keluarga suci Nabi saw. Sehingga karena ketidaktahuannya mereka enggan bahkan menolak untuk mengikuti tapak-tilasnya. Bukan hanya itu, bahkan yang sudah mengenalnya tak mampu mengikuti jejaknya.Sosok keluarga suci Nabi saw bukan sosok manusia biasa yang mudah diikuti jejaknya dari segi ibadah, ilmu dan kedermawanannya. Sebagian yang sudah mengenalnya berusaha menisbatkan dirinya sebagai pengikutnya, tapi itupun berat dan tak mampu mengikuti tapak-tilasnya karena saking banyaknya penghalang dalam diri kita.Secara ilmu kita sudah mengakui bahwa merekalah yang layak kita teladani. Tapi ternyata memang tidak mudah mengaplikasikan ilmu dan pengakuan ke dalam kehidupan keseharian kita. Sekiranya umat Rasulullah saw bersepakat dan mampu menteladani keluarga suci Nabi saw, niscaya persoalan-persoalan hidup manusia akan selesai dengan bantuan Allah swt. Inilah sejatinya inti dan subtansi persoalan Laylatul Qadar (malam Al-Qadar) yang didambakan oleh seluruh kaum mukminin dan muslimin. Berikut ini salah satu keteladanan dari keluarga suci Nabi saw:Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata:
“Dalam kegelapan malam Ali bin Husein (sa) sering keluar rumah, membawa kantongan kantongan yang berisi uang dinar dan dirham. Ia meletakkan kantongan itu di pundaknya. Kadang-kadang ia memikulnya karung yang berisi makanan atau kayu bakar. Ia mendatangi dan mengetok pintu orang-orang miskin dari pintu ke pintu. Ia memberi setiap orang yang keluar dari pintu itu. Ia menutupi wajahnya saat ia mendatangi rumah orang fakir-miskin agar ia tidak mengenalnya.Ketika beliau wafat mereka merasa kehilangan hal itu. Setelah beliau wafat mereka baru tahu bahwa yang sering mengetok pintunya itu ternyata Ali bin Husein yang dikenal dengan sebutan Ali Zainal Abidin (sa). Ketika jenazahnya dimandikan nampak di pundaknya membekas hitam seperti pundak onta, karena saking seringnya memikul karung di pundaknya mendatangi rumah-rumah fakir-miskin.

Pada suatu hari beliau keluar rumah membawa selengdang sutera. Ketika datang seorang pengemis, beliau kalungkan selendang itu padanya lalu beliau pergi dan meninggalkannya. Beliau punya kebiasaan membeli kain sutera di musim dingin, jika datang musim panas beliau menjualnya dan mensedekahkan uangnya…

Di Madinah ada ratusan keturunan Nabi saw yang fakir. Mereka semua ta’ajjub terhadap kepribadian Imam Ali Zainal Abidin (sa), karena beliau sering datang membawa makanannya sendiri untuk anak-anak yatim, orang-orang yang sengsara, orang-orang yang sakit yang merana, dan orang-orang miskin yang tak berdaya. Beliau memberikan kepada mereka dengan tangannya sendiri. Jika ada keluarga dari mereka, beliau sendiri yang membawakan makanan kepada keluarganya. Beliau tidak pernah makan sebelum beliau bersedekah seperti yang beliau makan.” (Al-Wasail 6: 276, hadis ke 8)

Sufyan bin ‘Ayniyah bercerita bahwa Az-Zuhri pernah melihat Imam Ali Zainal Abidin (sa) berjalan kaki di malam yang dingin dalam kondisi hujan, memikul karung yang tepung gandum dan kayu bakar. Az-Zuhri bertanya kepadanya: Duhai putera Rasulullah, apa ini? Beliau menjawab: “Aku ingin safar (melakukan perjalanan) yang telah dijanjikan yaitu mencari bekal untuk aku bawa ke kampung yang terjaga (Akhirat).

Az-Zuhri berkata: Ini pembantuku, biarlah dia yang menggantikanmu untuk membawanya, tapi beliau menolak tawaranku.
Az-Zuhri berkata: Aku saja yang akan menggantikanmu untuk membawanya, dengan rasa hormatku padamu biarlah aku yang membawanya.
Ali Zainal Abidin (sa) berkata: Aku tidak memikirkan kehormatanku untuk sesuatu yang menyelamatkan diriku dalam perjalananku (ke Akhirat), yang kuinginkan adalah bekal yang baik untuk perjalanan kepulanganku. Dengan hak aku mohonkan Anda, semoga Allah memperkenankan hajatmu, silahkan tinggalkan aku.

Kemudian Az-Zuhri meninggalkan beliau.
Beberapa hari berikutnya Az-Zuhri berkata kepada beliau: Wahai putera Rasulullah, aku belum bisa merasakan dampak perjalanan yang pernah engkau ceritakan padaku.
Beliau berkata: Baiklah wahai Zuhri, tidak lain yang aku maksudkan hanyalah kematian. Untuk itu aku persiapkan. Tidak lain mempersiapkan untuk kematian adalah menjauhi segala yang haram, mencurahkan segala kemampuan untuk kedermawanan dan kebajikan. (Al-Wasail 6: 279, hadis ke 5)

Inilah sebagian dari keteladanan kedermawanan Imam Ali Zainal Abidin (sa) keluarga suci Rasulullah saw. Beliau sendiri yang membawa sedekah ke rumah orang-orang fakir-miskin dan dengan tangannya sendiri beliau memberikan kepada mereka.

Beliau tidak mengundang fakir-miskin ke rumahnya untuk mengantri dan mendapatkan sedekah darinya. Beliau juga tidak memberikan sedekahnya kepada mereka di jalanan atau di pinggir jalan. Beliau mendatangi rumah fakir-miskin, mengetok dari pintu ke pintu orang-orang fakir-miskin.

Sekiranya kaum yang kaya dan punya kelebihan rizki menteladani akhlak beliau, tentu Pemerintah DKI tak perlu mengeluarkan PERDA, menangkap pengemis dan mendenda pemberinya. Lalu siapa yang salah?

Beberapa waktu lalu, seorang teman meminta saya untuk membaca sebuah posting dalam milis yang diikutinya. Meski agak ogah-ogahan, demi menyenangkannya, saya pun membacanya. Ternyata isinya mengundang selera saya. Rupanya pengirimnya mengomentari aksi anarkisme terhadap beberapa orang yang dianggap sebagai penyebar aliran sesat (baca: Syiah). Ia mencoba untuk mengangkat sebuah hipotesa yang cukup tajam sekaligus menggelikan.

Meski mengaku penentang anarkisme, ia mengingatkan bahwa aksi anarki yang terjadi di Bangil itu adalah akibat dan reaksi serta kulminasi dari gerah terhadap orang-orang Syiah, yang menurutnya, tidak semestinya melakukan misionari di tengah masyarakat sunni.

Ia nampaknya mengemukakan vandalisme itu sebagai aplogi dan justifikasi implisit. Menurutnya, Syiah sebagai pendatang baru semestinya tidak mencari penganut di tengah masyarakat yang menganut mazhab yang lebih dulu ada, yaitu Sunni. Ia bahkan mengakhiri postingnya dengan menghimbau kepada orang-orang Syiah untuk untuk mempertimbangkan hal itu agar terhindar dari brutalisme.

Banyak poin lemah yang bisa ditemukan dalam posting ‘asal nulis’ itu, misalnya tidak adanya bukti nyata bahwa orang-orang Syiah mengajak orang-orang sunni untuk menganut mazhab Syiah. Apalagi tuduhan-tuduhan yang biasa dilontarkan adalah konsep taqiyah yang digunakan oleh orang-orang Syiah di Bangil.

Semestinya tuduhan demikian bisa dijadikan bukti penolakan karena bila orang-orang Syiah meyakini konsep taqiyah, maka itu membuktikan bahwa mazhab Syiah tidak berwatak misionaris. Nah, kalau untuk mengaku Syiah saja masih berhati-hati dan bersembunyi, maka tuduhan misionari menjadi kelihalangan subjek.

Poin lain yang juga perlu diperhatikan adalah fakta nyata tidak adanya lagi ’sunni sejati’ sebagaimana plaform Sunni tradisional ala Abul-Hasan Asy’ari dengan teologinya. NU sendiri yang diyakini sebagai representasi dari teologi Sunni sekarang sedang mengalami transforamsi dan reformasi pemikiran. Munculnya fenomena Gus Dur lalu Ulil Absar Abdillah kemudian guntur Romli yang tumbuh dari lumbung-lumbung Sunni tradisional, yang kini mendominasi generasi muda NU, adalah bukti nyata akan trend ini. Sedangkan Muhammdiyah, Persis dan Al-Irsyad sejak semula telah menunjukkan kehendak untuk tidak serta merta menduplikasi pandangan orisinil Sunni.

Poin ketiga yang tak patut diabaikan adalah perlunya memperjelas hot isue. Apakah ‘Sunni’ itu nama barang ataukah merek dagang? Bila ditilik substansinya (makna), maka siapapun yang merasa mengikuti Sunnah Nabi saw, berhak menyandang predikat (nama barang) ’sunni’, teramsuk Syiah dan lainnya. Bila ’sunni’ diperlakukan sebagai merek dagang, maka ia sebuah simbol yang menjadi hak paten sebuah institusi atau perusahaan. Hingga kini NU dan kelompok-kelompok Islam lain di indonesia sedang memperebutkan hak paten ini. Yang menggelikan kelompok ‘wahabi hardcore’ seperti Jakfar Talib dan kelompoknya sempat mengkalim sebagai sebagai ‘Lazkar Ahlussunnah’. Selain itu, kata ’salaf’ juga masih menjadi sengketa di antara mereka.

Tapi poin yang paling menarik adalah anggapan Syiah sebagai pendatang baru di Indonesia. Benarkah Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim ini hasil perjuangan para pendakwah dari satu mazhab saja?

Proses sinkretisasi antara Islam dengan kebudayaan setempat di Indonesia sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke Nusantara. Teori Gujarat menyatakan bahwa pembawa Islam yang pertama kali masuk ke Nusantara adalah pedagang-pedagang yang datang dari Gujarat yang sangat kental dengan budaya Persia.

Itu berarti, yang pertama kali masuk ke nusantara adalah Islam versi Persia-Gujarat (Syiah). Ajaran pantheisme (kesatuan wujud, union mistik, Manunggal ing Kawula Gusti), di Jawa dan Sumatera merupakan pandangan teologi dan mistisisme (tasawuf falsafi) yang tidak harmonis dengan akidah Asy’ariah, apalagi Islam wahabi yang literal. Ritus-ritus Tabut di Bengkulu dan Sumatera dan Gerebek Sura di Jogjakarta dan Ponorogo adalah situs teologi Syiah yang datang dari Gujarat-Persia.

Kedatangan para pendakwah Islam dari Saudi Arabia (yang sebelumnya dikenal dengan jazirah atau Hijaz) telah membuka sebuah babak baru benturan antara Islam Gujarat-Persia-Syiah dan Islam Arab-wahabi. Agaknya inilah yang bisa dianggap sebagai embrio konflik antara literalisme dan rasionalisme di Indonesia.

Pada masa-masa berikutnya, terhentinya arus kedatangan pedagang dan pendakwah dari Persia telah membuka kesempatan bagi kedatangan para pendakwah Islam dari Arab. Inilah yang menandai berakhirnya pengaruh mazhab Syiah di Indonesia. Kini yang tersisa hanyalah situs-situs budaya dan peninggalan sejarahnya.

Namun yang perlu diperhatikan, ada dua jenis pendakwah Arab yang tidak bisa dianggap sama, yaitu pendakwah dari Yaman (Hadhramaut) yang membawa Islam mazhab Syafii dan pendakwah dari Saudi Arabia yang menyebarkan Islam wahabi atau Salafi. Islam Sunni yang direpresentasi oleh NU di Indonesia adalah himpunan mazhab kalam Abul-Hasan Asy’ari dan empat mazhab fikih serta tasawuf Ghazali, sebagaimana ditegaskan dalam Qanun Asasinya.

Sedangkan Islam wahabi didirikan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb (1111 H/1700 M- 1206 H/1792 M). Ia sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama besar bermazhab Hanbali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke 4 M. Untuk menimba ilmu, ia juga mengembara dan belajar di Makkah, Madinah, Baghdad dan Bashra [Irak], Damaskus {Siria], Iran, termasuk kota Qum, Afghanistan dan India. Di Baghdad ia mengawini seorang wanita kaya. Ia mengajar di Bashra selama 4 tahun. Tatkala pulang ke kampung halamannya ia menulis bukunya yang kemudian menjadi rujukan kaum pengikutnya, Kitâbut’Tauhîd. Para pengikutnya menamakan diri kaum Al-Muwahhidûn. Ia kemudian pindah ke ‘Uyaynah.

Dalam khotbah-khotbah Jumat di ‘Uyaynah, ia terang-terangan mengafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali menjalankan agama seperti di zaman Nabi. Di kota ini ia mulai menggagas dan meletakkan teologi ultra-puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi. Mula-mula ia menyerang mazhab Syiah, lalu kaum sufi, kemudian ia mulai menyerang kaum Sunni Segala yang dianggapnya tidak dilakukan Nabi, dianggap bid’ah. Tapi ia sendiri tidak melakukan penelitian yang cermat terhadap biografi Nabi. Itu sebabnya, tatkala pemerintah Saudi ‘terpaksa’ menggunakan telepon, TV, radio dan lain-lain, kaum Wahhabi ini melakukan perlawanan keras. Tetapi hadis-hadis yang mewajibkan Muslim taat pada pemerintah yang baik maupun yang fasik yang banyak sekali jumlahnya, digunakan pemerintah untuk menahan dan menganggap mereka sebagai pembangkang bahkan teroris.

Kemenangan suku badui dari klan Saud sangat bergantung pada dukungan Kolonialisme Inggris. Berkat gucuran dana, suplay senjata dan pendidikan keterampilan, kekuasaan Ibnu Su’ûd menyebar ke seluruh Jazirah Arab yang masa itu berada dalam kekhalifahan ‘Utsmaniyah dengan tujuan melemahkan khilafah itu. Tahun 1800 seluruh Jazirah Arab telah dikuasai dan keamiran berubah menjadi kerajaan Saudi Arabia. Sejak itu Hijaz menjadi harta mutlak hanya satu keluarga bernama Al-Saud, dan menjadi nama negaranya.

Karena dianggap sebagai tempat kelahiran Nabi, banyak orang Indonesia yang tanpa sadar mengirimkan anaknya ke Hijaz, yang saat itu sudah berubah menjadi Saudi Arabia, untuk mempelajari agama Islam di sana dengan harapan menjadi penguat Islam di Tanah Air dan kampung halamannya. Namun, karena paham Wahabi menjadi mazhab resmi di Arab Saudi dan sejumlah negara Teluk sejak keruntuhan kerajaan Turki Ottoman (yang diratapi oleh sebuah ormas Islam di Indonesi), para pelajar itu pulang ke Indonesia dengan membawa paham wahabi. Sejak saat itulah wahabi masuk ke Indonesia.

Kaum Wahabi melakukan sejumlah aksi misionari dengan mengusung jargon ‘pemurnian Islam’ dan ‘pembasmian TBC’ (takhayul, bidah dan khurafat), seperti tahlil, maulid dan semacamnya, seraya menganggapnya sebagai pengaruh paham Syiah yang dianggap sesat bahkan kafir. Konflik pun tak terhindarkan.

Konflik terjadi pertama kali di di Indonesia pada abad 19 di Minang Kabau. Kemunculan kelompok ini menimbulkan perang terbuka dengan kalangan muslim lain, yang mayoritas beraliran Sunni (Syafii) dan Syiah yang dikenal dengan perang Paderi. Konflik ini menjadi amunisi bagi pemerintah kolonial Belanda untuk menguatkan cengkramannya. Paham ini dalam versinya yang lebih moderat dianut oleh ormas keagamaan seperti Persatuan Islam (Persis) yang mempunyai basis di Bangil dan Bandung. Metode dakwahnya yang kasar dengan membidahkan tahlil dan tradisi-tradisi lainnya, melaui majalah Al-Muslimun, cukup mengundang kecaman dan penentangan dari para kyai NU, terutama pada masa hidup Hasan Bandung dan putranya, Abdulkadir ز

Pada awal 90 an gerakan Salafi memisahkan diri dari gerakan Tarbiyah dan mendirikan gerakan tersendiri yang lebih radikal. Tidak seperti kelompok Tarbiyah yang berbasis di daerah Jawa Barat, kelompok ini mengambil basis di beberapa kota besar di Jawa Tengah, seperti Jogjakarta dan Solo. Kini kelompok salafi radikal dikenal dengan ‘mazhab Saudi’, sedangkan yang lebih moderat diseknal dengan ‘mazhab Kuwait’. Dua negara kaya minyak ini, secara institusional mapun individual, memang dikenal sebagai donaturnya.

Kelompok Salafi juga aktif menyebarkan pandangan-pandangannya melalui buku, buletin dan majalah murah meriah, bahkan sebagian dibagikan secara gratis. Majalah-majalah hot jenis kedua juga menjadi corong misionarinya. Kelompok ini juga menggunakan media rekaman kaset ceramah/pidato tokoh-tokohnya yang disebarkan secara internal dari tangan ke tangan (dalam lingkungan gerakan) sebagai metode dakwah dengan materi dakwah yang sangat-sangat radikal, seperti menyebarkan kebencian terhadap para penganut agama selain Islam, bahkan selain Wahabi.

Semula yang melakukan penentangan terhadap Wahabisme adalah para kyai dari kalangan santri (Nahdliyyin) yang merupakan representasi dari Islam Sunni. Pesantren-pesantren dijadikan sebagai basis pendidikan untuk melawan arus misionri wahhabi yang tidak pernah kehabisan dana. Pendirian sejumlah ormas yang menjadi ‘wahabi rakitan lokal (tentu tidak menggunakan nama Wahabi), lalu pendirian LPBA yang kemudian diganti dengan LIPIA juga pengiriman guru-guru ‘build-up’ dari Saudi ke Indonesia menandai keberhasilan Wahabisme di Indonesia. Ia yang semula ditentang secara besar-besaran karena anti tahlil dan wirid, kini diterima sebagai bagian dari umat Islam. Ormas-ormas non NU pun akhirnya diterima.

Namun Wahabisme tidak selalu bernasib baik. Dalam perkembangannya radikalisme yang berkembang di lingkungan kelompok ini akhirnya memancing keretakan dan konflik horizontal diantara mereka sendiri. Fenomena radikalisme Juhaiman yang menguasai Masjidil Haram beberapa tahun silam, Ben Laden dengan Al-Qaedah serta Talibanisme melahirkan perpecahan dalam simpul-simpul Wahabisme.

Di Arab Saudi, tempat kelahirannya, wahabisme radikal mulai mendapatkan tekanan dari aparat Kerajaan. Islam Sunni yang semula dianaktirikan, mulai mendapatkan kelonggaran. Muslim Syiah, yang menjadi mayoritas di wilayah Timur, mulai diperlakukan dengan baik. Karena itu, wahabisme tidak bisa dipandang dan dinilai secara general rata, dan mungkin mesti dibagi dua; yang moderat bahkan sekuler seperti keluarga Saud yang sudah tidak lagi mengangkat celana di atas mata kaki (malah pakai jubah yang menyapu tanah dan kadang pakai dasi dan minum wine).

Yang mengharukan, sebagian orang tidak cukup cerdas untuk membedakan antara Sunni asli Indonesia (Syafii) dan wahabi (Sunni anti Asy’ari), yang belakangan mulai memakai nama Ahlussunnah sebagai strategi cerdiknya. Bahkan sebagian menganggap radikalisme sebagai pertanda relejiusitas dan keteguhan beragama.

Pada tanggal 2 April akan diselenggarakan Siaturahmi Nasional ke 4 lembaga-lembaga AB di Pondok Gede, Jakarta. Silatnas ini akan dihadiri, menurut panitia, oleh lebih dari 180 yayasan dan lembaga non formal AB yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Banyak harapan yang dialamatkan ke perhelatan ini. Semoga dapat terwujud, amin.
Dalam suasana itu, saya ingin mempublish ulang note saya yang pernah mendapatkan respon sangat besar dari friends. Semoga ini dapat merefresh dan menjadi bahan renungan serta evaluasi untuk kita semua.
Revolusi Islam Iran yang diletuskan oleh Imam Khomeini telah menjadi momentum historis bagi tersebarnya ajaran Ahlul-bait ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Keberhasilan Imam Khomeini menumbangkan monarki Pahlevi yang menjadi anak emas Amerika di Timut Tengah telah membuat bangsa Indonesia terbelalak.
Para pemuda dan mahasiswa dengan antusiasme tinggi mempelajari buku-buku yang ditulis oleh cendekiawan revolusioner Iran, seperti Murtadha Muthahhari dan Ali Syariati. Sejak saat itulah terjadilah gelombang besar masyarakat Indonesia memasuki mazhab Ahlulbait. Maraknya antusiasme kepada mazhab Ahlulbait Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar dan paling berpengaruh di Asia Tenggara, tentu berpengaruh terhadap berkembangnya ajaran Ahlulbait di Malaysia dan kawasan Asia Tengggara.
Sejumlah peristiwa politik di era perang dingin dan represi rezim Orba terhadap gerakan-geraklan Islam di Inonesia serta kebijakan politik luar negeri Iran pada masa-masa awal terbentuknya Republik Islam sedikit banyak mempengaruhi grafik naik turun pertumbuhan ajaran Ahlulbait di Indonesia yang lebih banyak didominasi oleh pengaruh politik dan pemikiran ketimbang aspek-aspek lainnya.
Dalam perajalanan daur waktu, tak mengherankan, romantisme dan eufuria aksdental yang tidak berdiri di atas pandangan dunia kesyiahan itu pun secara determinan pun berkurang. Seiring dengan itu, ikon sekaliber Ali Syariati dan Murtadha Muthahhri pun redup karena relevansi dann kontekstualitas wacana menjadi tuntutan yang niscaya. Pada gilirannya, terjadi proses seleksi yang secara kuantitatif mungkin kurang optimistik. Ternyata beberapa tahun berikutnya, kelesuan juga masih terlihat dan stagnasi menjadi sebuah realitas yang teak terelakkan. Tentu, tak ada gading yang tak retak karena hanya gading buatan yang bertahan. Akibatnya, terjadi polarisasi yang kadang berujung pada konflik konyol dan mubazir yang sering kali diubah dengan kata ‘mis-komunikasi’. Diperlukan sebuah penelitian dan verikasi yang serius untuk memastikannya.
Kini mazhab Ahlulbait di Indonesia dan Asia tenggara telah menginjak usia dewasa. Tantangan-tantangannya makin kompleks, karena apapun yang terjadi di setiap titik di dunia, terutama di Timur Tengah, akan berdampak terhadap eksistensi dan masa depan serta proyeksi pengembangan ajaran ini di Indonesia.
Peristiwa 11 September, invasi Amerika ke Irak, naiknya Ahmadinejad sebagai Presiden Republik Islam dan kememangan Hezbollah atas Israel agresor adalah sebagian dari fenomena-fenomena besar yang mempengaruhi posisi dan grafik pertumbuhan ajaran Ahlulbait di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya.
Selain menghadapi tantangan-tantangan eksternal dan global diatas, komunitas-komunitas penganut Ahlulbait di Indonesia menghadapi setumpuk tantangan regional dan sejumlah problema internal, terutama dalam komunikasi dengan komunitas-komunitas yang menganut mazhab Ahlussunnah, Pemerintah dan bahkan antar sesama komunitas dan individu Syiah lainnya.
Beban dan tantangan itu terasa makin berat dan pada bagian-bagian tertentu menjadi kendala yang serius. Problema-problema utama yang menjadi tantangan dan hambatan dakwah mazhab Ahlubait antara lain sebagai berikut:
1. Rekayasa global yang dirancang oleh kekuatan-kekuatan imperalisme dan Zionisme demi menyudutkan Iran dan mazhab Ahlulbait dengan menyebarluaskan isu-isu negatif melalui buku, media massa dan internet dan merusak keutuhan dengan melakukan infiltrasi dan pembusukan secara sporadis dan konstan dalam aneka modus dan pola.
2. Krisis koordinasi antar tokoh, institusi dan komunitas pengikut Ahlubait sebagai akibat dari minimnya perencanaan dan proyeksi dakwah dan minimnya sejumlah syarat pendukung, seperti krisis SDM dalam berbagai bidang terutama politik, ekonomi dan pendidikan, krisis dana, krisis metode dakwah yang tidak baku dan komprhensif, menjangkitnya eksklusivisme yang menciptkan jarak menganga antara super minoritas Syiah dan mayoritas warga Indonesia dan individualisme yang menghambat terbentuknya sebuah struktur masyarakat Ahlulbait yang diakui secara informal dan formal.
3. Ketidakjelasan dan dis-koordinasi sentra-sentra internasional yang bergerak dalam dakwah mazhab Ahlulbait yang masing-masing menjalankan program yang kadang kala saling berbenturan, tidak relevan dan kontekstual, dan tidak berbasis pada budaya dan jatidiri lokal Indonesia.
4. Pola perekrutan juru dakwah yang tidak konsisten dan sistematis telah berdampak terhadap tidak meratanya kualitas juru dakwah yang semestinya mampu mereasisiakan tujuan dakwah dalam tiga tahap; (1) Menepis kecurigaan masyarakat Sunni di Indonesia terhadap ajaran Ahlulbait sebagai mazhab yang menyimpang atau mazhab yang bermuatan politis yang bercitat-cita membangun sebuah imperium Syiah di dunia, sebagaimana secara konsisten disebarkan oleh musuh-musuh Islam; (2) Menghadirkan ajaran Ahlulbait dalam kemasan subtansi tanpa simbol sebagai khazanah pemikiran altrenatif di pusat-pusat pendidikan ternama dan media massa; (3) menghadirkan mazhab Syiah sebagai jalan yang lurus karena berbasasis pada al-Quran dan ajaran-ajaran Nabi yang disampaikan melalui Ahlulbait; (4) membentuk unit-unit berkualitas dalam komunitas Syiah di Indonesia yang diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dan berskala luas dalam berbagai bidang, terutama pengentasan kemiskinan dan pendidikan serta peningkatan moral bagi bangsa Indonesia.
Itulah contoh-contoh dari problema yang bila tidak diselesaikan dalam waktu yang cepat akan menghambat dakwah Ahlulbait, bahkan membuatnya stagnan dan berakhir dengan kegagalan.
Untungnya, berdasarkan pengamatan kami, problema-problema tersebut dapat dengan mudah dan segera diatasi bila hal-hal sebagai berikut kita lakukan:
1. Membentuk tim khusus yang terdiri dari sejumlah orang yang mumpuni dalam berbagai bidang, a) bidang penataan organisasi dan perencanaan serta evaluasi; b) bidang pendanaan dan auditing; c) bidang perekrutan SDM dan pemetaan sasaran dakwah yang meliputi latar belakang penidikan, profesi dan letak geografis serta strata ekonomi bahkan kesegaran intelejensi dan attitud dan aptitude; d) bidang pengkaderan dan kajian strategis pembuatan modul dakwah yang komprhensif dan bebas dari aspek-aspek sensitif secara teologis, strategis dan metodologis; f) bidang koordinasi dan rekonsiliasi yang akan bertugas mengevaluasi dan meminimalkan konflik-konflik internal yang telah berlangsung cukup lama dan kontraproduktif dengan langkah-langkah terencana dan objektif.
2. Mengubah oritentasi dakwah dari pendekatan personal emosional dan historikal menjadi pendekatan sistemik dan intelektual agar pola hubungan masyarakat dengan pusat-pusat kegiatan dan tokohnya tidak lagi bersifat hirarkis dan paternalistik yang mengancam kreativitas, kristisisme dan inovasi.
3. Membangun sentra-sentra pendidikan, riset dan sosial di berbagai kota besar agar dapat di dijadikan sebagai bukti nyata manfaat dari eksistensi komunitas super-minoritas Syiah di Indonesia, dengan merekrut SDM lokal yang berkualifikasi dan berdedikasi sebagai pengelolanya.
4. Memanfaatkan era informasi dan tekonologi informasi melalui sentra media baik cetak maupun elektronik yang dikelola oleh SDM yang berkualitas dan berdedikasi.
5. Membentuk tim khusus untuk menjalin dan membina hubungan inter-personal dengan tokoh-tokoh agama dan politik baik di tingkat internasional maupun nasional demi membentangkan jalan dan mengurangi tekanan politik dari dalam maupun global.
Tentu, solusi-solusi diatas masih sangat mungkin untuk disempurnakan daqn bahkan direvisi bergantung pada tingkat urgensi dan prioritasnya.
Sambil menghitung hari, bila solusi-solusi itu tak kunjung muncul, maka kegamangan akan terus menjadi endemi dan epidemi yang meranggas setiap dada pengikut AB di Indonesia. Mungkinkah?

Hari – hari terakhir Abu Bakar dan Umar yang memilukan

Ath-Thabari meriwayatkan dalam Tarikh ath-Thabari, Khalifah Abu Bakar berkata ketika ia melihat seekor burung sedang bertengger diatas dahan pohon, “Betapa bahagianya engkau wahai burung, engkau hanya makan buah dan berbaring di pepohonan, tiada hukuman atau imbalan bagimu, andai aku pohon tumbuh disisi jalan, lalu seekor unta akan makan dedaunanku dan mengeluarkanku, dan (andai) aku tidak pernah terlahir sebagai manusia”

Khalifah Abu Bakar dengan ketinggian Spiritual seperti yang diyakini mayoritas ummat Islam telah berandai-andai untuk tidak pernah menjadi manusia, sungguh memilukan ….

Di Kitab Shahih Bukhori Jilid 2, hal. 201, tercatat Ibnu Abbas memberikan hiburan kepada Khalifah Umar bin Khotob yang terluka parah, Umar berkata : “Demi Allah, sekiranya aku memiliki emas yang memenuhi seluruh bumi ini, aku akan berikan semua untuk menebus diriku dari azab Allah sebelum aku menemui-Nya”

Khalifah Umar bin Khottob, yang setan saja takut kepadanya (tentu saja karena takutnya si setan tidak berani menggoda) berkeinginan menebus dirinya dari Allah…

Yang pro kepada Abu bakar dan Umar bin Khotob pasti akan mengatakan itulah bentuk kemurnian spiritual dari dua Shaikhain ini , sedangkan yang berlawanan dengan mereka tentu akan mengatakan sebaliknya.

Yang paling adil mari kita merujuk kepada Kitab Suci kita al-Qur’an al-Karim : “Camkanlah!, sesungguhnya kekasih-kekasih Allah tidak pernah merasa takut dan tidak pernah pula merasa berduka cita. Orang-orang yang beriman dan menjaga diri dari kejahatan bagi mereka berita gembira di dunia dan di akhirat, tidak ada sedikitpun perubahan dalam janji-janji Allah. Itulah kemenangan yang besar”. (QS Yunus : 62)

“Dan seandainya setiap diri yang Zalim mempunyai kekayaan sepenuh bumi ini untuk dijadikan tebusan. Mereka akan menyatakan penyesalan mereka ketika menyaksikan siksaan itu. Tetapi ketentuan dijalankan kepada mereka secara adil dan mereka tidak dirugikan sedikitpun. (QS Yunus : 54)

Cukuplah dua ayat tadi mewakili ayat-ayat yang berkaitan dengan keluhan kaedua Khalifah itu, yang menarik adalah pada Qur’an Surat Yunus : 62 , telah dengan apik menggambarkan ketenangan Orang-orang yang beriman dalam menghadapi kematian karena mendapatkan berita di dunia dan akherat.

Sedangkan Qur’an Surat Yunus : 54, menggambarkan dengan jelas tentang orang Zolim yang berkehendak menebus dirinya dari azab Allah, walaupun mereka menyesal tapi Allah tidak peduli , Dia tetap menjalankan ketetapannya secara adil dan tidak merugikan siapapun.

Sungguh perbuatan buruk akan diperlihatkan dan mereka akan tertimpa apa yang telah mereka perolok-olokan itu.

Lalu apa yang terjadi pada kita dan apa yang mampu kita pikirkan jika kita mengikuti jejak mereka ??

Sementara dihadapan kita ada al-Qur’an yang memberi kita gambaran kepada kita siapa yang harus kita ta’ati , dan yang pasti mereka seperti juga Rasulullah saw pasti tidak akan mendurhakai Allah swt :

“Wahai orang-orang yang beriman, taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul dan Ulil Amri (orang-orang yang mempunyai otoritas) diantara kalian”. (An-Nisa : 59).

Cari dan Kenalilah mereka lalu ta’atlah ………………

Wajah Asli Dinasti Saudi..Membongkar Gerakan Wahhabi

KECURIGAAN banyak orang terhadap ideologi wahhabi yang diduga menjadi induk semang atas tindak kekerasan atau teror atas nama agama di belahan dunia mendapat perhatian sejumlah kalangan, baik dari agamawan, aktivis sosial, dan bahkan pengamat politik. Gerakan wahhabi sebenarnya merupakan langgam lawas, tetapi pemunculannya selalu aktual, karena dikait-kaitkan dengan setiap tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Tragedi 11 September 2001 yang meluluhlantahkan WTC, gedung kebanggaan negeri Paman Sam, sepertinya menjadi ”perantara positif” sekaligus ”hikmah”. Pascaperistiwa September kelabu itu, sejumlah analisis kritis membuka tirai ideologi wahhabi yang ternyata mempunyai andil dalam mendoktrinisasi kelompok Islam tertentu yang secara sosiologis dikategorikan ”keras” dan ”ekstrem”.

Pertanyaannya, bagaimana menguji kebenaran asumsi dan stereotip negatif itu? Buku ini selain memberikan informasi penting tentang seluk-beluk yang menyangkut gerakan wahhabi, juga menyediakan ruang dialektika-kritis bagi pembacanya -bagaimana mestinya kita menyikapi gerakan yang mewabah bernama wahhabi itu.

Nur Khalik Ridwan, penulisnya, terlihat sangat bersemangat dan berapi-api mengeksplorasi bahasan tema dalam buku yang dirangkai dalam tiga seri ini. Sebab, jika dilihat dari aspek kapabilitas intelektualnya, Nur Khalik Ridwan dikenal sebagai sosok muda yang sangat produktif melahirkan karya bergenre kritis, terutama dalam bidang pemikiran keagamaan. Itu sebabnya, tidak heran, Kang Khalik -sapaan akrabnya- oleh sebuah majalah terkemuka di tanah air pernah dinobatkan sebagai salah seorang sosok penggiat revolusi kaum muda.

Buku ini adalah satu-satunya karya (setidaknya di Indonesia) yang berhasil merekam dan memotret keberadaan gerakan wahhabi secara kritis dan komprehensif. Pada buku pertama, diterangkan aspek historisitas, doktrin, dan penamaan istilah ”wahhabi”, yang dinisbatkan pada pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab. Dua kritikus legendaris atas wahhabi, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab al-Hanbali dan Syaikh Ahmad Zaini Dahlan as-Safi’i, juga tak luput dari perhatian Nur Khalik Ridwan yang ditampilkan secara dramatis. Buku pertama ini diberi judul Doktrin Wahhabi dan Benih-Benih Radikalisme Islam.

Menurut Nur Khalik Ridwan, penulisan buku ini dilandasi beberapa faktor penting, yaitu adanya pengaruh wahhabisme yang begitu besar terhadap banyak gerakan Islam dan radikalisasi-radikalisasi lain berbasis agama; belum ada kajian di Indonesia yang secara khusus membahas wahhabi dari akar sejarah hingga soal bagaimana posisinya di negara Arab; terjadinya tren pergeseran dan penolakan wahhabisme justru di kalangan ormas yang dulu terpengaruh ide-ide wahhabi; semakin gencarnya transnasionalisasi ide-ide wahhabi dan ekspansi yang bertubi-tubi, hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia; dan menjamurnya web blog yang dikuasai para wahhabi untuk menyebarkan wacana, ideologi, dan gerakannya (Jld I, hlm 3-10).

Buku kedua, yang bertitel Perselingkuhan Wahhabi dalam Agama, Bisnis, dan Kekuasaan, memuat analisis tajam persoalan relasi gerakan wahhabi dengan kekuasaan -dalam hal ini Kerajaan Arab Saudi. Hamid Algar menulis komentar menarik dalam Wahhabism: A Critical Essay (2002), yang sayangnya, tidak dirujuk oleh Nur Khalik. Menurut Algar, dalam sejarah pemikiran Islam yang berlangsung lama dan sangat kaya, wahhabisme tidak menempati posisi yang memiliki arti penting. Gerakan wahhabi bernasib baik karena muncul di Semenanjung Arab (Najad, sebuah tempat yang relatif jauh dari semenanjung itu) dan karena itu dekat dengan Haramayn, yang secara geografis merupakan jantung dunia muslim.

Keluarga Saudi, yang menjadi patron gerakan wahhabi, sangat mujur ketika pada abad ke-20 memperoleh kekayaan minyak luar biasa, yang sebagiannya telah digunakan untuk menyebarluaskan paham wahhabisme di dunia Islam dan wilayah-wilayah lain. Jika kedua faktor itu tidak ada, wahhabisme mungkin hanya akan tercatat dalam sejarah sebagai gerakan sektarian yang marginal dan berumur pendek.

Pada buku ketiga, Membedah Ideologi Kekerasan Wahhabi, Nur Khalik mencurahkan tenaga dan pikiran untuk melakukan kajian kritis terhadap ajaran atau doktrin, serta cara berpikir wahhabi yang sangat eksklusif dan menekankan absolutisme. Nur Khalik mencatat, di ranah ini tidak jarang mereka (kelompok wahhabi) mengafirkan umat Islam di luar kelompoknya, seperti tuduhan takfir (pengafiran) kepada umat Islam salaf dan khalaf yang ber-tawassul dengan para nabi, sahabat, tabi’in, dan wali-wali Allah yang saleh (Jld III, hlm 129). Ini sekaligus menjadi salah satu ciri seseorang sebagai anggota kelompok wahhabi.

Karena itu, ajaran dan doktrin-doktrin wahhabi sungguh bertentangan dengan keyakinan mayoritas muslim dunia (Sunni). Memang, sejak awal, para ulama Sunni telah mengamati bahwa kelompok wahhabi tidak termasuk bagian dari ahlu sunnah wal jamaah. Hal itu karena hampir seluruh praktik, tradisi, dan kepercayaan yang dikecam Muhammad bin Abdul Wahhab secara historis telah merupakan bagian integral Islam Sunni, yang dipelihara dalam berbagai literatur yang sangat kaya dan diterima mayoritas kaum muslim.

Di buku ketiga ini, diskusi tentang bagaimana gerakan wahhabi bergerilya ke wilayah-wilayah Islam, termasuk di Indonesia, terasa semakin lengkap dan menemukan pijakan relevansi dengan kenegaraan kita. Namun, Nur Khalik belum tuntas menganalisisnya. Sebab, menurut pengakuannya, dia masih dalam proses mengimajinasikan, dan direncanakan disusun menjadi buku tersendiri di lain waktu.

Yang pasti, inilah buku ”babon” (induk) yang secara khusus membongkar gerakan wahhabi beserta peran dan implikasi politisnya. Selamat membaca. (*)

Judul Buku: Seri Gerakan Wahhabi

Penulis: Nur Khalik Ridwan

Penerbit : Tanah Air, Jogjakarta

Cetakan : Pertama, November 2009

Ama Salman@Ali Usman,

PENDAHULUAN

Dalam beberapa tahun saja yaitu dalam rintisan berdirinya kerajaan Wahhabi Saudi Arabia III –Mamlakah al Arabiyyah al Saudiyyah (The Kingdom of Saudi Arabia, yaitu kerajaan Saudi Arabia sekarang). Sekte ini telah lebih dari membunuh 400.000 nyawa kaum muslimin dan membuat cacat permanen lebih dari 350.000 orang lainya dalam Ambisi mendirikan Kerajaan Saudi Arabia.

Penulisan ini bukan didasari kepada kebencian terhadap Sekte Wahhabi dan kerajaan Saudi Arabia yang telah sukses memecah belah bangsa Arab menjadi berkeping-keping hingga sekarang. Serta keberhasilanya mempermalukan dunia Islam sejak berdirinya hingga hari ini. Namun lebih didasari pada semangat kebebasan berfikir yang sangat ditentang keras oleh ajaran Wahhabi dan pengagum ajaran ini.

Wahhabi bukan saja menjadi musuh Islam, namun karena semangat INTOLERAN-nya yang begitu meresahkan menjadikan sekte ini menjadi musuh kemanusian keseluruhan yang menjunjung tinggi semangat kebebasan berfikir dan berpendapat, beragama dan berkepercayaan(sekte/mazhab).

Menurut tokoh Wahhabi DR Said Hawwa dalam bukunya “al-Islam pada bab Maa yub thilu as Shahadatain (bab pertama) terbitan Darul Ifta’ Riyadh Saudi Arabia mengatakan “Demokrasi” adalah salah satu bentuk Shirk yang membatalkan Shahadatain seseorang, dalam kitab tsb dijelaskan 21 perkara yang membatalkan Shahadat. Tanpa pernah menjelaskan bagaimana hukumnya mendirikan Kerajaan..?? Dua buku Said Hawwa yang kontroversial “al-Islam dan Jundullah (Laskar Tuhan) saya dengar sudah diterbitkan dalam terjemahan bahasa Indonesia, yang menjadi kitab marja’ kaum Wahhabi Indonesia.

Dengan mengetahui sejarah dan latar belakang berdirinya Wahhabism kita akan bisa menarik benang merah antara “TERORISM dan WAHHABISM”. Dan suatu kenyataan pula bahwa semua terrorist Islam adalah Wahhabi.

Banyaknya gerakan dan organisasi di Indonesia yang mengusung Ideologi ini sebagai faham dan modelnya sebenarnya, amat sangat membahayakan sendi-sendi persatuan bangsa serta keamanan nasional, meskipun hampir semuanya tidak pernah mau mengatakan bahwa mereka Wahhabi. Laskar Jihad Ahlusunnah wal Jama’ah yang merupakan sempalan Thaliban pun juga tidak mau dikatakan Wahhabi.

Bulan May 2006 Washington post berdasarkan laporan dari penelitian Freedom House foundation melaporkan tentang perubahan kurikulum materi pelajaran disekolah-sekolah Saudi Arabia yang mengajarkan tentang ajaran INTOLERAN Wahhabi, katanya telah direvisi pemerintah Kerajaan Saudi Arabia. Namun setelah diteliti ternyata hanya sedikit sekali perubahanya. Sembilan poin yang kontroversial ternyata masih ada, antara lain kepada anak didik diajarkan untuk tidak berkawan dengan non muslim, menyebutkan golongan Shufi dan shi’ah sebagai polytheism(ahl shirk) dll. (www.freedomhouse.org) bagian Center for religious Freedom). Suatu pendidikan kebencian yang tidak mungkin hilang hanya dalam satu generasi.

Dalam tulisan ini saya tidak membahas masalah materi ajaran Wahhabiyyah, namun lebih dititik beratkan pada “sejarah kelam dan brutal” sekte ini dalam ambisinya mendirikan sebuah Negara Absulut Monarchy sekterian “The Kingdom of Saudi Arabia” Mamlakah al Arabiyyah al Saudiyyah. Pem-fokusan pada pembentukan kerajaan Saudi Arabia karena disamping memang Negara ini adalah “anak haram hasil perselingkuhan antara agamawan dan politikus” yang memang menarik untuk dikaji, juga karena didalam Saudi Arabia ada Negara Hijaz ( Mekka dan Medina) yang masih dijajah Saudi sejak 1924. Disamping bukan bidang saya menulis ttg materi sebuah ajaran dan jurisprodensi agama.

Sejarah PEDANG, DARAH, NYAWA dan HARTA ternyata tidak membuat pemerintah kerajaan Saudi malu dengan sejarah masa lalunya, namun dengan bangganya mereka abadikan dalam lambang resmi Negara.

Diterjemahkan dari publikasi hasil penelitian Muhammad Sahir versi bahasa inggris dengan judul: “The Saudi Dynasty: From where is it? And who is the real ancestor of this family?”. Rezim Saudi telah memerintahkan untuk membunuhnya karena dia telah mengungkapkan siapa sebenarnya keluarga Saudi itu; apa agama mereka sebenarnya; dan apakah mereka benar2 asli orang Arab?

Inilah terjemahan bebas saya atas hasil penelitian itu :

Pada tahun 851 H, sebuah rombongan kafilah dari Kabilah Al-Masalih, salah satu kabilah dari Bani Anza, mengadakan perjalanan ke Irak dalam rangka membeli kebutuhan pangan seperti gandum, jagung dll. untuk dibawa kembali ke Najd. Kafilah itu dipimpin oleh Sahmi bin Hathlul.

Ketika rombongan kafilah sampai di Basra mereka bertemu dengan saudagar Yahudi yang kaya bernama Murdahai bin Ibrahim bin Musa yang menjual bahan2 kebutuhan pangan yang mereka perlukan. Disela-sela tawar menawar, saudagar Yahudi itu menanyakan mereka darimana dan dijawab bahwa mereka adalah Kabilah Al-Masalih dari Bani Anza. Mendengar hal ini, saudagar Yahudi ini kemudian memeluk satu persatu semua anggota rombongan itu sambil mengatakan bahwa dia juga berasal dari Kabilah Al-Masalih yang terpaksa pindah ke Basra karena perselisihan antara ayahnya dengan anggota Bani Anza lainnya.

Mengiringi cerita bohong tersebut, dia memerintahkan pelayannya untuk memenuhi seluruh onta2 mereka dengan tepung gandum, kurma, tamman dan bahan2 kebutuhan pangan mereka lainnya. Kebaikan ini sangat berkesan dan sekaligus membuat mereka bangga karena bertemu “saudara” sendiri yang menjadi saudagar kaya di Irak. Mereka tidak saja sangat menyukainya tetapi juga sangat mempercayainya.

Ketika rombongan akan kembali ke Najd, saudagar Yahudi yang berpura-pura sebagai bagian dari Kabilah Al-Masalih itu meminta agar dia diperkenankan ikut rombongan itu pulang ke Najd. Dengan senang hati permintaan itu dipenuhi.

Sesampainya di Najd, saudagar Yahudi itu dengan dukungan penuh “saudara-saudaranya” mulai mempropagandakan dirinya. Namun pandangan-pandangannya ditentang masyarakat Al-Qasim dibawah pimpinan Syekh Saleh Salman Abdullah Al Tamimi, seorang ulama Muslim terkemuka. Dakwahnya meliputi kawasan Najd, Yaman dan Hijaz. Akibat penentangan ini dia pindah dari Al-Qasim ke Al- Ihsa dan mengganti namanya dengan Marhan bin Ibrahim Musa.

Dia kemudian tinggal ditempat yang bernama Dir’iya dekat Al-Qatif. Di sini dia mulai menyebarkan cerita bohong tentang Perisai Nabi Muhammad saw bahwa perisai tersebut diambil oleh Kafir Quraisy pada waktu Perang Uhud dan kemudian dijual kepada sebuah kabilah Yahudi bernama Bani Qunaiqa’ yang menyimpannya sebagai pusaka. Dia secara bertahap menaikkan posisinya dimata kaum Badui dengan cerita2 bohong seperti itu dan sekaligus secara halus tersamar mempengaruhi orang2 Badui agar beranggapan bahwa orang Yahudi telah ikut berjasa menjaga peninggalan Islam yang sangat bersejarah.

Dengan semakin kuat posisi dan pengaruhnya dimata kaum Badui Arab, dia kemudian memutuskan untuk menjadikan Dir’iya sebagai ibukota kerajaan Yahudi di tanah Arab dan memproklamirkan dirinya sebagai raja mereka.

Sementara itu Bani Ajaman bersama dengan Bani Khalid menyadari bahaya dari Marhan setelah mereka mengetahui siapa dia sebenarnya dan rencana jahatnya. Mereka kemudian menyerang Dir’iya dan berhasil mendudukinya tetapi tidak berhasil menangkap Marhan karena keburu melarikan diri.

Dalam pelariannya, Marhan bin Ibrahim Musa yang nama aslinya Murdahai bin Ibrahim Musa yang adalah orang Yahudi ini, sampai disebuah tanah pertanian yang waktu itu disebut Al-Malibid Ghusaiba dekat Al-Arid, yang dikemudian hari dan sampai sekarang disebut Al-Riyadh.

Dia meminta kepada pemilik tanah pertanian itu agar diperbolehkan tinggal disitu. Dengan baik hati dan penuh keramahtamahan pemilik tanah pertanian tersebut memperkenankannya. Tetapi, kurang lebih satu bulan setelah ia tinggal disitu, pemilik tanah pertanian yang baik hati itu beserta seluruh keluarganya ia bunuh, dan berpura-pura bahwa pemilik tanah pertanian beserta seluruh keluarganya dibunuh oleh perampok. Kekejian dan kebohongannya tidak sampai disitu saja, ia juga menyebarkan berita bahwa ia sudah membeli seluruh tanah pertanian itu dari pemiliknya sebelum peristiwa tragis itu terjadi. Karenanya sekarang dia berhak atas tanah pertanian itu dan mengubah namanya menjadi Al-Dir’iya, sama dengan nama tempat sebelumnya yang lepas dari tangannya.

Di situ ia kemudian membangun sebuah Tempat Persinggahan yang diberi nama Madaffa, dan bersama-sama dengan para pengikutnya kembali menyebarkan propaganda yang menyesatkan bahwa dia adalah seorang Syeikh Arab tulen dan agung. Dia kemudian membunuh Syeikh Saleh Salman Abdullah Al-Tamimi, musuh bebuyutannya, di sebuah masjid di kota yang disebut Al-Zalafi.

Setelah puas dapat melenyapkan Syeikh Saleh, dia kemudian menjadikan tempat yang namanya sudah diubahnya menjadi Al-Dir’iya tersebut sebagai pusat kegiatannya. Dia mengawini banyak wanita dan memperoleh banyak anak yang semuanya dia beri nama-nama Arab. Salah satu anak lelakinya dia beri nama Al-Maqaran (berakar dari nama Yahudi: Mack-Ren) yang kemudian mempunyai anak lelaki yang diberi nama Muhammad. Anak lelakinya yang lain dia beri nama Saud, dan nama inilah yang kemudian dan sampai sekarang menjadi nama Dinasti Saudi.

Dengan berjalannya waktu, keturunan Marhan si Yahudi ini telah berkembang biak semakin banyak dan semakin kuat di bawah nama Keluarga Saudi. Mengikuti jejak pendahulunya mereka meneruskan gerakan bawah tanah dan konspirasinya menentang Negeri/Bangsa Arab. Secara illegal mereka memperluas wilayahnya dan membunuh setiap orang yang menentang mereka. Mereka menghalalkan segala cara untuk meraih ambisi mereka. Mereka tidak saja menggunakan uang mereka tetapi juga para wanita mereka untuk membeli pengaruh, khususnya terhadap mereka yang mau menulis biografi asli dari Keluarga Yahudi ini. Mereka menyewa penulis bayaran untuk merekayasa biografi mereka, yang sekaligus menyembunyikan keturunan siapa mereka sebenarnya, dengan mengaitkan mereka dengan kabilah-kabilah Arab terkenal seperti Rabi’a, Anza dan Al-Masalikh.

Sebagai contoh rekayasa penulis bayaran ditahun 1362 H atau 1943-an misalnya seperti Muhammad Amin Al-Tamimi, Direktur Perpustakaan Kerajaaan Saudi, membuatkan silsilah yang menyambung kepada Nabi Besar Kita Muhammad Rasulullah saw. Untuk itu ia mendapat hadiah 35.000 Pound Mesir dari Duta Besar Saudi untuk Mesir yang waktu itu dijabat oleh Ibrahim Al-Fadil.

Dalam Buku Sejarah Keluarga Saudi halaman 98 – 101 penulis sejarah bayaran mereka menyatakan bahwa Dinasti Saudi menganggap seluruh penduduk Najd adalah kafir dan karenanya wajib dibunuh, hartanya dirampas, dan para wanitanya dijadikan budak. Tidak ada seorang muslim/muslimah pun yang keyakinannya murni kecuali mereka mengikuti paham Muhammad bin Abdul Wahab. Doktrinnya memberi kekuasaan kepada Keluarga Saudi untuk menghancurkan kota-kota, desa-desa, perkampungan beserta seluruh isinya, membunuh para lelaki dan anak-anak, memperkosa para wanitanya, merobek perut para wanita yang sedang hamil dan kemudian memotong tangan anak-anak mereka lalu membakar mereka. Doktrin brutalnya juga memberi kekuasaan kepada Keluarga Saudi untuk merampas dan menguasai seluruh harta benda dan kekayaan penduduk yang mereka anggap sesat (yaitu mereka yang tidak mengikuti paham Wahabi).

Keturunan Saud (sekarang dikenal dengan Keluarga Saudi) mengkampanyekan pembunuhan terhadap para pemimpin kabilah-kabilah Arab dengan menuduhnya sebagai kaum kafir dan musyrik .

Keluarga Saudi yang sejatinya adalah Keluarga Yahudi ini benar-benar telah melakukan segala macam perbuatan keji atas nama ajaran sesat mereka yaitu Wahabisme, dan benar-benar telah menimbulkan teror dihati para penduduk kota-kota dan desa-desa sejak tahun 1163 H. Mereka menamakan seluruh jazirah Arab yakni Negeri Rasulullah saw dengan nama keluarga mereka yaitu Saudi Arabia seakan seluruh kawasan di jazirah Arab adalah milik pribadi keluarga mereka, dan seluruh penduduk lainnya dianggap sebagai para pelayan dan budak mereka yang harus bekerja keras untuk kesenangan majikan mereka yakni Keluarga Saudi.

Mereka benar-benar menguasai seluruh kekayaan alam sebagai milik pribadi mereka dan bila ada orang yang memprotes kelakuan Dinasti Yahudi ini maka orang tersebut akan dipancung didepan umum. Pernah salah seorang putri mereka pergi ke Florida, Amerika Serikat, dengan segala kebesarannya menyewa 90 (sembilan puluh) Suite Rooms di Grand Hotel dengan harga sewa US$ 1 juta per malam. Tidak ada yang berani memprotes kemewahan dan pemborosan ini karena takut akan dipancung didepan umum.

Kesaksian atas Darah Yahudi dari Keluarga Saudi

Pada tahun 1960, Radio Sawt Al Arab di Kairo Mesir dan Radio Yaman di Sana’a mengkonfirmasikan kebenaran Darah Yahudi dari Keluarga Saudi.

Raja Faisal Al-Saud waktu itu tidak bisa menolak kenyataan Darah Yahudi dari Keluarga Saudi ketika dia menyatakan kepada Washington Post pada 17 September 1969 dengan berkata: ”Kami, Keluarga Saudi adalah saudara sepupu (cousins) Yahudi. Kami sama sekali tidak setuju kepada sebarang Pemerintah Negara Arab atau Pemerintah Negara Muslim yang menunjukkan kebencian kepada Yahudi, tetapi kita harus hidup berdampingan secara damai dengan mereka. Negara kami (Arabia) adalah asal muasal darimana orang Yahudi pertama muncul, dan kemudian keturunannya menyebar keseluruh penjuru dunia”. Demikianlah deklarasi Raja Faisal Al-Saud bin Abdul Aziz.

Hafiz Wahbi, Penasehat Kerajaan Saudi, menyebutkan dalam bukunya yang berjudul ”Peninsula of Arabia” bahwa Raja Abdul Aziz Al Saud yang meninggal tahun 1953 telah berkata: ”Pesan kami (Pesan Saudi) kepada seluruh kabilah Arab yang menentang kami: Kakek saya, Saud Awal, pernah menawan sejumlah Sheikh dari Kabilah Mathir dan ketika serombongan orang dari kabilah yang sama datang menuntut pembebasan mereka, Saud Awal memerintahkan kepada para pengawalnya untuk memenggal kepala semua tawanan itu, kemudian, dia ingin menghinakan para penuntut itu dengan mengundang mereka untuk memakan daging korbannya yang sudah dimasak sementara potongan kepalanya ditaruh di atas nampan. Para penuntut itu sangat terkejut dan menolak untuk memakan daging keluarganya sendiri; dan karena penolakannya itu, dia memerintahkan kepada para pengawalnya untuk memenggal kepala mereka juga”.

Hafiz Wahbi mengatakan lebih jauh bahwa maksud Raja Abdul Aziz Al Saud menceritakan kisah berdarah itu agar delegasi dari Kabilah Mathir yang saat itu sedang datang untuk menuntut pembebasan pemimpin mereka saat itu, yakni Sheikh Faisal Al Darwish, untuk tidak meneruskan niat mereka. Karena bila tidak mereka akan mengalami nasib yang sama. Dia membunuh Sheikh itu dan menggunakan darahnya untuk wudhu tepat sebelum ia melakukan sholat (sesuai dengan fatwa sesat paham Wahabi ).

Kesalahan Sheikh Faisal Al Darwish saat itu adalah karena dia mengkritik Raja Abdul Aziz Al Saud yang telah menandatangani dokumen yang disiapkan pemerintah Inggris sebagai sebuah Deklarasi untuk memberikan Palestina kepada Yahudi. Penandatanganan itu dilakukan di sebuah konferensi yang diselenggarakan di Al Aqeer pada tahun 1922.

Begitulah dan hal itu berlanjut terus sampai sekarang dalam sistem kekuasaan rezim Keluarga Saudi atau tepatnya Keluarga Yahudi ini. Semua tujuannya adalah: menguasai semua kekayaan dan keberkahan negeri Rasulullah saw; dengan cara merampok dan segala macam perbuatan keji lainnya, penyesatan, pengkafiran, mengeksekusi semua yang menentangnya dengan tuduhan kafir dan musyrik yang semuanya itu didasarkan atas doktrin paham wahabi.

Musuh Islam sebenarnya saat ini bukan hanya Yahudi, Nasrani, Komunis tetapi juga sesame muslim sendiri. Kebanyakan dari golongan muslim yang menghancurkan Islam, mereka tidak menyadari bahwa tindakannya hanya akan menghancurkan Islam itu sendiri. Berkumpul bersama mereka, berdiskusi, atau bahkan hanya melihat mereka, dapat membawa kegelapan dihati kita.. Berdebat dengan salafi nashibi


Salafi Wahabi pelanjut misi sesat kaum Nawashib!

Tidak ada kebencian terhadap keluarga suci Nabi Muhammad saw. yang ditampakkan kelompok yang mengaku Muslim melebihi kebencian kaum Nawâshib, baik al Bakriyyah al Utsmaniyyah maupun kaum Khawârij. Sejarah mencatat bahwa tidak sedikit dari mereka yang menyelinap di tengah-tengah umat Islam dengan menyembunyikan identitas mereka sesungguhnya, namun demikian kebusukan akidah dan jiwa mereka sulit mereka sembunyikan, sebab sepandai-pandai seorang menyembunyikan bangkai pasti suatu saat, cepat atau lambat akan tercium juga baunya! Kebusukan mental dan jiwa mereka akan tercium melalui kata-kata yang terlontar atau sikap sinis yang tampak dari mereka.

————————————————————

Kebencian kepada Imam Ali as. adalah bukti kuat kemunafikan.

Dalam banyak hadis, Nabi menyabdakan:

Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan dari Zirr ibn Hubaisy, ia berkata, “Aku mendengar Ali as. bersabda:

وَ الذِي فَلَقَ الْحَبَّةَ و بَرَأَ النَّسَمَةَ إنَّهُ لَعَهْدُ النَّبِيِّ الأُمِّيْ أَنَّهُ : لاَ يُحِبُّنِيْ إلاَّ مُؤْمِنٌ ولاَ يُبْغِضُنِيْ إلا مُنافِقُ.

“Demi Dzat Yang membelah biji-bijian dan menciptakan makhluk bernyawa, ini adalah ketetapan Nabi yang Ummi kepadaku bahwa tiada mencintaiku kecuali mukmin dan tiada membenciku kecuali munafik.”[1]

Allah SWT akan membongkar kedok kemunafikan mereka melalui apa yang terlontar dari mulut-mulut mereka yang mencerminkan kebusukan hati mereka. Allah berfirman:

أَمْ حَسِبَ الَّذينَ في قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ أَنْ لَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغانَهُمْ * وَ لَوْ نَشاءُ لَأَرَيْناكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسيماهُمْ وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في لَحْنِ الْقَوْلِ وَ اللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمالَكُمْ.

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka.* Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (QS. Muhammad [47]:29-30)

Imam Jalaluddin as Suyuthi meriwayatkan dalam tafsir ad Durr al Mantsûr-nya [2] ketika menafsirkan ayat di atas beberapa hadis di antaranya:

Ibnu ‘Asâkir dan Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al Khudri ra. ia berkata tentang ayat:

وَ لَتَعْرِفَنَّهُمْ في لَحْنِ الْقَوْلِ

“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka”

Ia berkata: “Dengan kebenciannya kepada Ali ibn Abi Thalib.”

Dan kaum munafik adalah penghuni tetap neraka Jahannam.

Allah berfirman:

إِنَّ الْمُنافِقينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَ لَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصيراً إِلاَّ الَّذينَ تابُوا وَ أَصْلَحُوا وَ اعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَ أَخْلَصُوا دينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنينَ وَ سَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنينَ أَجْراً عَظيماً.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.* Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisâ’[4]:145-146)

Ulama Islam Telah Membongkar Kemunafikan Kaum Nawâshib!

Para ulama Islam, baik Sunni maupun Syi’ah telah membongkar kedok kemunafikan dan penyimpangan kaum Nawâshib. Mereka bukan Sunni apalagi Syi’ah! Ulama Sunni sendiri menolak jika mereka digolongkan sebagai Ahlusunnah! Lebih dari itu, mereka adalah kelompok terkecam!

Beberapa abad silam ajaran menyimpang dan kesesatan kaum Nawâshib mulai dihidupkan dan disebar-luaskan kembali oleh Ibnu Taimiyah dan murid-murid setiapnya seperti Ibnu Qayyim, adz Dzahabi dkk. Dan kini tonggak obor estafet itu direbut oleh kaum Salafiyah Wahabiyah.

Dengan semangat berkobar-kobar mereka bangkit menghidupkan kembali dan menyebar-luaskan kesesatan kaum Nawâshib dengan berkedok ajaran sesat mereka adalah ajaran Ahlusunnah wa al Jama’ah. Aktifitas mereka juga tertuju kepada pendha’ifan dan menvonis maudhû’/ palsu hadis-hadis keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait Nabi saw. dengan berbagai alasan yang mengada-ngada. Di samping yang tidak mereka lewatkan adalah membela mati-matian musuh-musuh Imam Ali dan Ahlulbait as., seperti Mu’awiyah. Yazid, Amr ibn al ‘Âsh dkk.

Seperti telah kami singgung bahwa di antara cara licik dan licin mereka adalah mempoles pandangan sesat kaum Nawâshib sebagai yang mewakili pandangan Sunni. Dalam rangka ini mereka tidak segan-segan memalsu atas nama tokoh-tokoh Salaf!

Blog Nawâshib: haulasyiah menurunkan artikel berjudul: ( ISYARAT RASULULLAH ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH, bantahan syubuhat syi’ah ke 5 ) untuk menghidupkan kembali kesesatan pandangan kaum Nawâshib yang telah setangan terkubur itu. Di dalamnya oleh Ustadz Muh. Umar as Sewed berkata:

“Para ulama telah berbeda pendapat tentang bagaimana pengangkatan Abu Bakar ash-Shidiq sebagai khalifah. Apakah pengangkatan tersebut ditentukan dengan nash secara langsung dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam atau dilakukan dengan musyawarah antara kaum muslimin. Sebagian ulama berpendapat bahwa pengangkatan beliau sebagai khalifah ada lah hasil dari musyawarah dari kaum muslimin ketika itu.

Sedangkan Hasan al-Bashri dan sebagian para ulama dari kalangan ahlul hadits berpendapat bahwa terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah adalah dengan nash yang samar dan isyarat dari rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam”. (Lihat Syarh Aqidah ath-Thahawiyah, hal. 471)

Ibnu Jakfari berkata:

Apa yang ia katakan itu tidak berdasar dan hanya kaum Nawashib lah yang meyakini keyakinan seperti itu. Umat Islam selain Nawâshib hanya meyakini salah satu dari dua opsi dalam masalah kekhilifahan sepeninggal Nabi Muhammad saw:

* Nabi telah menunjuk Imam Ali as. sebagai Imam dan Khalifah sepeninggal beliau secara langsung dengan penunjukan terang dan tegas! (Baca: http://www.facebook.com/profile.php?id=1155794121&v=app_2347471856&ref=profile#!/note.php?note_id=412397671140)

* Nabi saw, tidak menunjuk siapa-siapa. Abu Bakar dipilih oleh kaum Muslim saat itu berdasarkan musyawarah/baiat. Tidak ada penunjukan atasnya sama sekali.

Yang meyakini adanya menunjukan hanya kaum Nawâshib. Mereka tidak segan-segan memalsu banyak hadis atas nama Nabi Muhammad saw. untuk menandingi hadis-hadis keutamaan dan penujukan Imam Ali as., yang kemudian hadis-hadis palsu itu mereka sebar-luaskan di tengah-tangah umat Islam!

Ahlusunnah Sepakat Tidak Ada Nash Penujukan Atas Abu Bakar!

Hal mendasar yang akan membubarkan angan-angan kaum Nawâshib, seperti pendiri sekte sempalan Wahhabiyah dan para mukallidnya dalam hal ini adalah: bahwa termasuk hal yang telah disepakati para pembesar ulama Ahlusunnah adalah bahwa Nabi saw. tidak pernah menujuk siapa Khalifah sepeninggal beliau saw.

Ada sebuah stitmen penting dan mendasar yang disampaikan Umar –selaku Khalifah kedua- ketika ia diminta para sahabat untuk menunjuk seorang Khalifah yang akan mengantikan posisinya setalah mati nanti, maka ia berkata, ”Jika aku tidak menunjuk seorang pengganti maka ketahuilah bahwa Rasulullah juga tidak menunjuk seorang pengganti dan jika aku menunjuk maka Abu Bakar telah menunjuk.” [3]

Dan di saat-saat terakhir menjelang kematiannya, ketika ada yang mengatakan kepadanya, “Jangan Anda biarkan umat Muhammad tanpa pengembala, tunjuklah seorang pemimpin!” Umar ibn al Khaththâb menjawab, “Jika aku membiarkan maka ketahuilah bahwa orang yang lebih baik dariku (Rasulullah saw. maksudnya) telah membiarkan dan jika aku menunjuk seorang pengganti maka sesungguhnya seorang yang juga lebih baik dariku (Abu Bakar maksudnya) telah menunjuk.” [4]

Selain bukti di atas, Anda dapat menemukan bagaimana Abu Bakar -selaku Khalifah pertama- juga berandai-andai jika ia dahulu bertanya kepada Rasulullah saw. siapa yang berhak atas jabatan kekhalifahan ini dan apakah kaum Anshar memiliki hak untuk menjabat atau tidak? Abu Bakar berkata, “Saya ingin andai dahulu aku bertanya kepada Rasulullah untuk siapa perkara (khilafah) ini sehingga ia tidak direbut oleh seorang pun yang bukan ahlinya? Aku ingin andai aku bertanya, apakah orang-orang Anshar mempunyai hak dalam perkara ini?” [5]

Al hasil, banyak sekali bukti akan hal itu, akan tetapi jika Anda hanya mau patuh dan mendengar ucapan ulama, maka kami akan sebutkan pernyataan tegas seorang tokoh tersohor Ahlusunnah di bawah ini.

Ketika berusaha menegakkan bukti keabsahan Khilafah Abu Bakar, Imam al Qusyji mewakili pandangan Ahlusunnah mengatakan demikian, Al Maqshad Keempat tentang Imam (Khalifah) yang haq sepeninggal Rasulullah saw.. menurut kami (Ahlusunnah) adalah Abu Bakar, sedangkan menurut Syi’ah adalah Ali as.

Dalil kami adalah dua:

Pertama: Cara penunjukan seorang Imam (Khalifah) bisa dengan nash (penunjuan langsung) bisa dengan ijmâ’. Adapun nash sama sekali tidak ada, seperti akan dijelaskan nanti, sedangankan ijmâ’ tidak terjadi untuk selain Abu Bakar secara aklamasi…. “[6]

Mungkin Ustadz as Sewed kurang mengenal dan tidak akrab dengan buku-buku teologi Ahlusunnah Asy’ariyyah yang ditulis para ulama dan tokoh mereka, sebab bisa jadi sang Ustadz mulia hanya akrab dengan kitab-kitab kaum Nawâshib dan musuh-musuh Ahlusunnah Asy’ariyah seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, adz Dzahabi, Ibnu Abdil Wahhab, Abdul Aziz ibn Bâz dan Ibnu Utsaimin CS. yang menggolongkan Asya’ariyah termasuk kelompok sesat!

Hanya Kaum Nawâshib Yang Meyakini Penunjukan Abu Bakar Sebagai Khalifah!

Jika demikian, lalu kelompok manakan yang meyakini keyakinan sesat seperti itu?

Keterangan ulama Ahlusunnah di bawah ini akan menjawabnya. Perhatikan!

Dalam kitab al Mawâqif dan Syarahnya ditegaskan:

الإمام الْحقُّ بعد النبي (ص) أبو بكر، ثبتَتْ إمامتُهُ بالإجماعِ وَ إنْ تَوقَّفَ بعضُهم … و لَم ينُصَّ رسول اللهِ (ص) علَى أحَدٍ خِلافًا لِلْبَكْرِيَّةِ، فَإنهم زَعَمُوا النصَّ على أبِي بكر…. إِمَّا نَصًّا جَلِيًّا و إما نَصًّا خَفِيًّا، و الْحقُّ عِنْدَ الْجُمهور نَفْيُهُما

“Imam (Khalifah) yang benar/haq sepeninggal Nabi saw. adalah Abu Bakar. Keimamahannya telah tetap dengan dasar ijmâ’, walaupun ada sebagian orang sahabat menahan diri tentangnya (tidak mengakuinya) [7] … Rasulullah saw. tidak menunjuk seorang pun, berbeda dengan kaum al Bakriyah, mereka mengaku adanya nash (penunjukan) atas Abu Bakar…. Baik nash terang maupun nash samar. Dan yang benar adalah pendapat Jumhur yaitu tidak adanya nash dari dua bentuk tersebut!“.[8]

Pernyataaan serupa juga ditegaskan oleh al Munnâwi dalam Faidhul Qadîr -nya.[9]

Maka jelaslah sekarang bahwa kaum Nawâshib (al Bakriyah) lah di balik kesesatan pandangan yang ditegakkan di atas hadis-hadis palsu itu.

Jika demikian, dari hidangan siapakah as Sewed dan kaum Nawâshib modern menelan fitnah tersebut?

Bukti di bawh ini akan memperjelas bahwa tidak lain mereka menelan fitnah ini dari gembong kaun Nawâshib abad pertengahan yang kini selalu menjadi andalan dan rujukan utama mereka… Dia tidak lain adalah Ibnu Taimyah, hamba sesat lagi menyesatkan seperti ditegaskan para ulama Ahlusunnah!

Ketika Allamah al Hilli (semoga rahmat Allah meliputinya) dalam kitab Minhâj al Karâmah-nya mengatakan bahwa dalam pandangan Ahlusunnah diyakini bahwa Nabi saw. tidak menunjuk siapa-siapa, Ibnu Taimiyah bangkit membantah dengan mengatakan:

“Tidak benar pendapat itu sebagai pendapat seluruh Ahlusunnah. akan tetapi ada beberapa kelompok dari Ahlusunnah yang berpendapat bahwa imamah (khilafah) Abu Bakar telah tetap berdasarkan nash.” [10]

Apa yang dikatakan Ibnu Taimyah di atas jelaslah palsu! Ibnu Tamiyah jelas-jelas memalsu keterangan adanya kelompok-kelompok di dalam tubuh Ahlusunnah yang menyakini adanya nash penunjukan atas Abu Bakar! Sebab Ahlusunnah sepakat tidak adanya nash penunjukan atas Abu Bakar!

Dan dengan demikian terbongkarlah sudah kedok sok Sunni yang sedang dilakonkan kaum Nawâshib seperti as Sewed Sc… sebab terbukti sekarang bahwa sumber rujukan pemalsuan data tersebut adalah Ibnu Taimiyah; seorang yang telah dikecam bahkan divonis sesat dan munafik oleh banyak ulama Sunni.

Tentang Ibnu Tamiyah; Imam kaum Salafiyah Nawâshib yang satu ini, al Hâfidz Ibnu Hajar al Asqallâni berkata:

ومنهم من ينسبه الى الزندقة، لقوله ان النبي لا يستغاث به، وان في ذلك تنقيصا و منعا من تعظيم النبي، ومنهم من ينسبه الى النفاق لقوله في علي ما تقدم، ولقوله انه كان مخذولا حيثما توجه، وانه حاول الخلافة مرار فلم يحصلها، انما قتاله للرئاسة لا للديانة.

“Dan di antara ulama Islam ada yang menisbatkannya (Ibnu Taimiyah) kepada kakafiran karena ucapannya bahwa Nabi tidak layak diistighatsai. Ucapan itu adalah penghinaan dan larangan untuk mangagungkan Nabi. Dan di antara ulama ada yang menisbatkannya kepada kemunafikan karena ucapannya yang lalu dan ucapannya bahwa Ali selalu dihinakan Allah kemanapun ia menuju. Dan ia (Ali) terus-menerus merusaha merebut Khilafah tetapi tidak pernah berhasil. Ali berperang hanya untuk merebut kekuasaan bukan untuk menegakkkan agama.”

Dengan demikian, akan lebih jujur jika kaum Salafiyah Nawâshib tidak berbicara mengatas-namakan Ahlusunnah wa Al Jama’ah, sebab mereka bukan Ahlusunnah! Mereka adalah Nawâshib!

Jika Benar Demikian Berarti Hasan Bashri Bukan Sunni Dia Nâshibi!

Seperti telah disinggung bahwa kaum Nawâshib tak segan-segan memalsu atas nama tokoh-tokoh penting generasi pendahulu untuk menipu kaum awam bahwa kesesatan mereka sebenarnya berlebel “Salafi” yang diambil dari pandangan kaum Salaf Shaleh!

Dalam kasus ini nama Hasan al Bashri; seorang tokoh ternama generasi tabi’în mereka bawa-bawa!

Jika benar apa yang mereka sebutkan, pastilah Hasan al Bashri bukan seorang Sunni atau yang boleh dan layak ditokohkan oleh Ahlusunnah, sebab dengan pandangannya itu ia tergolong al Bakriyah! Apakah itu yang hendak disimpulkan oleh kaum Nawâshib?

Penutup

Untuk sementara kami cukupkan tanggapan kami atas ustadz as Sewed, semoga dalam kesempatan lain kami kembali membuktikan penyimpangan dan kesalahan kaum Nawâshib; musuh-musuh Ahlulbait as. dan Syi’ah setia mereka. Amin..

Wa Shallallahu ‘Alâ Sayyidina Muhammad Wa Âlihi ath Thâhirîn.

_____________________________________________________________________

[1] Hadis telah diriwayatkan oleh:

1) Imam Muslim dalam Shahihnya

2) An Nasa’i dalam Sunannya dengan dua jalur dan dalam Khashâishnya dengan tiga jalur: hadis 95,96 dan 97, yang semuanya sahih berdasarkan komentar Abu Ishaq al Hawaini (korektor kitab Khashâish), terbitan Saudi Arabia.

3) At Turmudzi dalam Sunannya, Manâqibu Ali, bab 95 (Tuhfatu al Ahwadzi,10/239-230) dan ia berkata: “Hadis ini hasan sahih.”

4) Ibnu Mâjah dalam Shahihnya, bab Fadhlu Ali ibn Abi Thalib ra.,1/42, hadis114. Ia hadis pertama dalam bab itu.

5) Ibnu Abi ‘Âshim dalam kitab Sunnahnya,2/598.

6) Abu Nu’aim dalam Hilyatu al Awliyâ’, 4/185 dari tiga jalur dari Adiy ibn Tsâbit dari Zirr, kemudian ia berkata, “Hadis ini muttafaqun ‘alaih (disepakati kesahihannya)”. Setelahnya ia menyebutkan banyak ulama yang meriwayatkan dari Adiy.

7) Al Muttaqi al Hindi dalam Kanz al ‘Umâlnya, 6/394 dan ia berkata, “Hadis ini telah dikeluarkan oleh Al Humaidi, Ibnu Abi Syaibah, Ahmad ibn Hanbal, Al Adani, At Turmudzi, An Nasa’i, Ibnu Mâjah, Ibnu Hibbân, Abu Nu’aim dan Ibnu Abi ‘Âshim.

[2] Ad Durr al Mantsûr,6/54.

[3] Baca Shahih Bukhari,9/100, pada Kitabu al Ahkâm, Bab al Istikhlâf dan Shahih Muslim, 3/1454 bab al Istikhlâf wa tarkihi, Hilyah al Auliyâ’,1\44, as Sunan al Kubrâ, 8\149 dll.

[4] Murûj adz Dzahab; as Mas’udi,:2\253. Dâr al Fikr.

[5] Tarikh ath Thabari:4\53dan al Iqd al Farîd,2\254.

[6] Al Mawâqif Fi Ilmi al Kalâm; Qadhi ‘Adhududdîn Abdurahman ibn Ahmad al Îji:400. cet. ‘Alamul Kotob, Bairut.

[7] Seperti Sa’ad ibn Ubadah –seorang tokoh sentral kaun Anshar dan putra-putranya yang hingga wafat secara mesterius ia tetap menolak mengakui kekhalifahan Abu Bakar. Demikian juga dengan Siti Fatimah –putri kesayangan Nabi saw. dn istri Imam Ali as. hingga beliau wafat tetap menolak mengakui keabsahan kekhalifahan Abu Bakar! Sebagian kaum Nâwashib tidak segan-segan menyerang dan menghujat serta menuduh Sa’ad sebagai rajulun sû’ (seorang yang busuk) lagi munafik. Sedang tentang Siti Faitmah as. saya tidak mengetahui hingga saat ini bagaimana sikap kaum Salafiyah Nawâshib terhadap beliau as.? Apakah mereka juga menvonisnya mati jahiliah sebab tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar? Atau mereka akan mengada-ngada kepalsuan dengan mengatakan bahwa Fatimah adalah orang wanita pertama yang membaiat dan mengakui serta merestui kekhalifahan Abu Bakar!!

[8] Syarah al Mawâqif,8/354.

[9] Faidhul Qadîr,2/56, ketika menerangkan hadis nomer:1318-1310. terbitan Dâr al Ma’rifah. Bairut-Lebanon.

[10] Minhâj as Sunnah; mIbnu Taimyah,1/487.

Musuh Islam sebenarnya saat ini bukan hanya Yahudi, Nasrani, Komunis tetapi juga sesame muslim sendiri. Kebanyakan dari golongan muslim yang menghancurkan Islam, mereka tidak menyadari bahwa tindakannya hanya akan menghancurkan Islam itu sendiri. Berkumpul bersama mereka, berdiskusi, atau bahkan hanya melihat mereka, dapat membawa kegelapan dihati kita. Berdebat dengan mereka adalah tindakan yang terburuk.

Dibalik perhatian mereka yang baik terhadap ibadah mereka, dan hanya Allah swt dan nabi saw yang mengetahuinya, mereka tak dapat menolong diri mereka sendiri untuk menjadi korban dari ibadahnya sendiri. Muslim yang tumbuh dalam lingkungan islam dan semenjak kecil dalam didikan sekolah Islam hingga ketingak universitas, kurikulum agama islam yang mereka pelajari berdasarkan akidah yang akan menghancurkan Islam itu sendiri.

Media massa, televisi, radio , surat kabar, walaupun merupakan program yang sangat relijius, juga artikel mereka di surat kabar merupakan hal yang sangat mendistorsikan pemahaman keislaman. Dan hal ini tak dapat mengangkat citra islam bahkan membuat perpecahan dikalangan umat Islam sendiri. Tetapi mereka masih mengatakan hal itu sesuatu yang islami.

Jangan harapkan mereka, kecuali keburukan saja dari golongan seperti ini. Allah swt telah menuliskan bimbingan dan epetance, bahwa hanya dengan rasa memiliki kepada nabi saw melalui barakah Awliya, mereka dapat menghitung kehidupannya dan melalui pandangan ampunan dan meletakan mereka dibawah sayap intercession.

Dalam pandangan saya, saya hanya melihat satu cara bagaimana menghadapi mereka di Amerika dan didunia barat, dan hal itu adalah dengan cara menjauh dari mereka dan mengingatkan masyarakat tentang mereka. Seorang Syaikh yang saya ketahui mengatakan kepada para murid-muridnya untuk menjauhi mereka, mereka adalah musuh sesungguhnya bagi Islam, dan berbicara dengan mereka akan membawa kegelapan pada hati, bahkan pada seluruh sisa umur kehidupan mereka. Dan butuh waktu seratus tahun untuk membersihkan racun dari hati akibat racun dari ibadah mereka.

Bagaimana cara mengenali mereka?

Disini ada beberapa elemen dasar ciri-ciri mereka sehingga kita dapat menghindari mereka dalam kehidupan didunia maupun diakherat nanti. Insya Allah. Satu-satunya harapan untuk Islam di bumi ini adalah…

Salat mereka tidak sesuai dari salah satu daripada umunya mazhab dalam islam. Khususnya ketika mereka mengangkat tangan mereka setelah ruku dan menyilangkan tangan mereka diantara ruku dan sujud.

Cara mereka ketika Tashahhud (ketika duduk tahiyat) dan menggerakan jari telunjuk mereka terus menerus selama tasahud tersebut. Pemahaman mereka terhadap sunah Mustafa, hadist Nabi saw, sangat kontradiksi dengan seluruh mazhab meskipun mereka menggunakan hadist yang sama yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nabi saw menggerakkan telunjuknya ketika tashahud. Beberapa mazhab hanya menggerakkan tangan sekali saja, kecuali mazhab Maliki dalam seluruh tashahud tetapi hanya menggerakkan kekiri dan kekanan tidak keatas dan kebawah. Mereka membuat cara yang baru dengan menggerakn telunjuk kesegala arah yang sangat bertentangan dengan cara-cara yang disebutkan dalam mazhab.

Mereka tidak pernah melakuakan Shalat Israq, 2 rakaat sunah setelah matahari terbit, Bila hal ini masih belum cukup untuk mengenali tanda-tanda mereka dan menghindari berkumpul bersama mereka bahkan menjauh dari mereka, maka ada beberapa cirri-ciri mereka lainnya seperti disebutkan dibawah ini.

Mereka berkata, bahwa sholat mereka hanya mengikuti Qur’an dan sunah saja. Berarti kehidupan Islam yang dibangun muslim selama lebih dari 13 abad, sebelum faham mereka muncul pada tahun 1930 an mereka katakan tidak mengikuti Qur’an dan Sunah. Tetapi mereka juga mengatakan kembali kepada sunah adalah keharusan, jangan dengarkan para Imam mazhab atau ulama islam lainnya, siapapun mereka.

Mayoritas muslim akan berpegangan pada Ulama Besar Islam dijaman awal yang mengatakan, “Jika kalian melihat apa yang saya katakan dan hal itu bertentangan dengan sunah Nabi saw, maka abaikan apa yang saya katakan, dan ikuti sunah saja”. Kata-kata ini menggambarkan betapa rendah hatinya ulama besar jaman awal yang tidak ingin menonjolkan diri, tetapi saat ini mereka menghantam saja. Mereka tidak memperhatikan , bahwa Imam yang mengatakan hal ini juga mengatakan, “Jika Nabi saw meninggalkan ku meski hanya satu malam, saya akan menganggap diriku sebagai hipokrit”. Ini adalah ucapan Abu Hanifa Ibn Numan, mudah-mudahan Allah merahmatinya.

Mereka juga berkata,”Mereka adalah manusia biasa dan kita juga manusia”. Kita tahu saat ini yang mereka tak tahu. Yang paling moderat diantara mereka adalah mereka yang tidak berbicara negative mengenai para Imam mazhab, meskipun demikian mereka tetap tidak mengikuti kebiasaan Imam para Madzhab tsb. Mereka mengikuti cara mereka sendiri berdasarkan buku terkenal Sifat Salat Nabi saw, oleh Nasrudin al Albani, Albani bahkan tidak pernah bisa membuktikan bahwa ia telah mendapat Ijazah untuk mengajar dari gurunya.

Satu dari argument terburuk mereka, adalah bertanya mengenai dalil dari Al-Quran dan Sunah yang menjadi pedoman para Ulama Besar tadi. Mereka tidak mengerti bahwa Al-Quran dan Sunah adalah pilar yang mana antara lainnya terbukti termasuk juga Qiyas, Ijma. Dan juga yang tak kalah pentingnya adalah Maaruf, atau berdasarkan pendapat orang yang memiliki moral yang baik dan setuju bahwa amalan tersebut adalah baik.

Jika kalian bertanya kepada mereka mengenai kebiasaan muslim di seluruh dunia memperingati hari kelahiran atau Maulid Nabi, maka mereka akan mengatakan Bid’ah.

Masjid-masjid mereka hanya memiliki dinding yang putih saja, padahal rumah dan kantor mereka penuh hiasan kaligrafi. Tak perlu bertanya kepada mereka mengapa demikian, karena mereka tak akan menjawabnya. Mereka mungkin saja sangat dermawan dan kaya, tetapi berhati-hatilah apa yang mereka katakan dibelakang kalian jika kalian mengatakan bahwa kalian adalah murid dari Syaikh ini. Itu adalah salah satu dosa terbesar dalam pandangan mereka jika kalian memiliki Syaikh.

Mereka mungkin memaafkan kalian jika kalian tak tahu ilmu agama, tetapi mereka tak akan memaafkan kalian jika kalian mempelajari agama melalui seorang Mursyid. Mereka lebih memilih belajar melalui buku, video tape atau melalui universitas mereka.

Poin terakhir dalam bagian ini adalah interpretasi literal mereka dalam sebuah hadis Nabi saw seperti, “Apa yang terdapat di bawah engkel adalah neraka!. Disisi lain mereka cenderung untuk mencari interpretasi sendiri, tetapi paling obvious dari hadist kewalian”, “Aku akan menjadi mata baginya bagi apa yang dilihatnya, menjadi pendengarannya ketika ia mendengar, menjadi tangannya untuk memegang, dan menjadi kakinya dimana ia melangkah”. Pernah saya katakan hadist ini kepada seorang teman di perpustakaan Islamic Center dan satu dari mereka yang duduk disebelahku berkata, “Ini adalah Hululiya!”. Saya tak dapat menahan berkata, “Jika Nabi saw berkata ini adalah hululiya maka saya hululiya.”

Ayatullah Ali Khamenei berkisah: Saya bersama Hashemi Rafsanjani dan seorang lainnya bergerak dari Tehran menuju kota Qom untuk menghadap Imam Khomeini guna menanyakan perihal apa yang harus kita perbuat terhadap para mata-mata yang ditangkap dari kedutaan besar Amerika Serikat. Apakah mereka tetap kita tahan atau kita bebaskan saja. Apalagi pemerintahan sementara saat itu terus menyebarkan pernyataan-pernyataan miring terkait para tahanan tersebut
.
Ketika kami sampai di Qom dan menghadap Imam Khomeini, teman-teman menjelaskan keadaan yang sebenarnya dan menambahkan bahwa sejumlah media memberikan tanggapan yang beragam, dan Amerika Serikat juga tak ketinggalan melakukan propaganda, begitu juga pejabat pemerintah memberikan pernyataan yang lain. Setelah berpikir sejenak, Imam Khomeini kemudian bertanya, “Apakah kalian takut kepada Amerika?” Kami menjawab, “Tidak.” Imam melanjutkan dengan mengatakan bahwa tahan saja mata-mata tersebut
.
Begitulah, orang akan melihat betapa Imam Khomeini tidak dibuat gentar oleh kedigdayaan lahir dan imperium yang memiliki segalanya. Keberanian dan ketidakgentaran menghadapi kekuatan materi pada diri beliau bersumber dari kepribadian besar dan kearifan beliau. Keberanian yang penuh perhitungan berbeda dengan keberanian yang membabi buta. Contohnya, seorang anak kecil tidak takut pada orang yang kuat dan juga tidak takut terhadap hewan buas. Orang yang kuat juga tidak mengenal rasa takut. Hanya saja manusia terkadang melakukan kesalahan dan tidak menyadari kekuatan yang sebenarnya.