Ammâr bin Yasir Bersumpah Bahwa Mu’awiyah Adalah Kaum Kafir ! “Demi Allah, mereka tidak masuk Islam akan tetapi mereka menyerah. Mereka merahasiakan kekafiran sehingga setelah mendapatkan para pembela, mereka menampakkannya!’”

Siapa yang tidak kenal Yazid bin Muawiyah?. Uraian prestasinya [baca : aib] bisa terukir dalam berpuluh-puluh lembar. Yazid orang yang merusak ketentraman Madinah, Yazid biang keladi pembantaian Ahlul Bait di karbala, Yazid peminum khamar, Yazid seorang nashibi dan Yazid yang dikatakan oleh sebagian ulama dengan predikat laknatullah. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitulah kata pepatah, begitu anaknya begitu pula ayahnya Muawiyah bin Abi Sufyan.

Semua kezaliman pemerintahan Yazid berawal dari Muawiyah. Muawiyah adalah orang yang menjadikan manusia semacam Yazid sebagai khalifah bagi umat islam saat itu. Muawiyah menghalalkan segala cara agar Yazid bisa menjadi khalifah dan dibaiat oleh kaum muslim, bahkan dengan cara paksaan dan ancaman bunuh.

وحدثنا وهب قال حدثني أبي عن أيوب عن نافع قال خطب معاوية فذكر ابن عمر فقال والله ليبايعن أو لأقتلنه فخرج عبد الله بن عبد الله بن عمر إلى أبيه فأخبره، وسار إلى مكة ثلاثا، فلما أخبره بكى ابن عمر، فبلغ الخبر عبد الله بن صفوان فد خل على ابن عمر فقال أخطب هذا بكذا ؟ قال نعم. فقال: ما تريد ؟ أ تريد قتاله ؟ فقال: يا بن صفوان الصبر خير من ذلك. فقال ابن صفوان: والله لئن أراد ذلك لأقاتلنه. فقدم معاوية مكة، فنزل ذا طوى، فخرج إليه عبد الله بن صفوان فقال أنت الذي تزعم أنك تقتل ابن عمر إن لم يبايع لابنك ؟ فقال: أنا أقتل ابن عمر ؟ ! إني والله لا أقتله

Dan telah menceritakan kepada kami Wahab yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Ayub dari Nafi’ yang berkata Muawiyah berkhutbah, menyebutkan Ibnu Umar dan berkata “Demi Allah, dia harus membaiat atau aku akan membunuhnya”. Maka ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Umar keluar menemui Ayahnya untuk mengabarkan hal itu, ia berangkat ke Makkah selama tiga hari kemudian ketika ia mengabarkan hal itu, Ibnu Umar menangis. Sampailah kabar tersebut kepada ‘Abdullah bin Shafwan, kemudian ia menemui Ibnu Umar dan berkata “apakah orang itu berkhutbah begini begitu?. Ibnu Umar berkata “benar”. Ibnu Shafwan berkata “apa yang engkau inginkan? Memeranginya?. Ibnu Umar berkata “wahai Ibnu Shafwan bersabar lebih baik dari hal itu”. Ibnu Shafwan berkata “demi Allah, jika beliau menginginkan itu maka aku akan memeranginya”. Muawiyah datang ke Makkah dan singgah di Dzi Thuwa. Abdullah bin Shafwan keluar menemuinya dan berkata “engkau orangnya yang mengatakan akan membunuh Ibnu Umar jika dia tidak membaiat putramu?”. Muawiyah berkata “aku membunuh Ibnu Umar! Demi Allah aku tidak membunuhnya” [Tarikh Khaliifah bin Khayyaat hal 162/163]

Tidaklah mudah menawarkan hidayah Allah kepada para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, sebab sumber hidayah ilahi utama; al Qur’an al Karîm sudah mereka nomer-sekiankan, setelah riwayat (tidak terlalu penting kualitas shahih tidaknya) dan ucapan para pembesar kaum Salaf Shaleh (itupun mereka pilih yang kira-kira dapat mendukung atau paling tidak yang tidak merugikan dokma mereka!!)…

Ini adalah kenyataan betapa pun pahit dirasa dan berat diterima!

Secara terori, mereka mengklaim mengikuti Al Qur’an dan Sunnah dengan berdasarkan pemahaman Salaf! Namun kenyataannya, kasihan sekali Salaf Shaleh, mereka hanya diperalat… dikala dibutuhkan, mereka dipuja dan dirujuk… ketika tidak sejalan dengan akidah bentukan Sekte Salafi Wahhâbi apalagi bertentangan, pasti mereka segera dibuang… kalau perlu dikecam terang-terangan!

Dalam hal akidah posturisasi Allah, Salaf diperalat… mereka mengatakan bahwa mazhab Salaf adalah meyakini tajsîm dan tasybîh (walaupun para pengikut sekte Salafi Wahhâbi keberatan disebut sebagai kaum Mujassimah dan Musyabbbihah)…

Dalam hal pembelaan terhadap kaum munafik dan fasik durjana … sekali lagi Salaf dirujuk… tentunya yang sikapnya sejalan dengan doktrin Sekte sempalan Salafi Wahhâbi kata mereka, Salaf adalah menghormati dan menjunjung tinggi harkat para munafikun seperti Mu’awiyah putra pasangan Pak Abu Sufyan (gembong kaum kafir Quraisy yang berubah setrategi dengan menjadi munafik tulen) Tante Hindun (yang terkenal doyan pria kekar, masalah warna kulit tidak menjadi masalah, seperti Wahsyi) si pengunyah jantung Sayyiduna Hamzah paman Nabi saw.! atau Amr bin al Âsh, al Walîd dkk.

Karenanya, di sini saya tidak akan membawakan ayat-ayat suci al Qur’an atau hadis-hadis Nabi saw. tentang kemunafikan kaum munafik yang dibanggakan para pengikut sekte Salafi Wahhâbi sebagai Amirul Mukmin, sahabat mulia dan pengemban amanat kerasulan yang disucikan sesuci-suciya… Dia adalah Mu’awiyah!

Kaum Salafi Wahhâbi meyakini Mu’awiyah tidak sekedar sahabat Nabi saw. yang mulia, tetapi selain itu ia adalah paman kaum Mukminin, penulis wahyu suci… pembela Islam nomer wahid setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman!

Tidak sedikit –kata kaum Salafi Wahhâbi- hadis-hadis pujian disabdakan Nabi saw. untuk Mu’awiyah… mereka telan mentah-mentah (sampai-sampai mereka keracunan akidah sesat memuji mengidolakan gembong-gembong kaum munafik)…

Tetapi benarkan Mu’awiyah adalah hamba Mukmin kepercayaan Allah dan rasul-Nya?

Atau benarkan Mu’awiyah itu Islam dengan sebenar arti kata? Tidak munafik dan memendam dendam kusumat kepada Allah dan nabi-Nya?

Siapakah yang lebih mengenal Mu’awiyah dan kaum munafik sejawatnya? Kita yang telah dipisah oleh waktu dan ruang dengannya atau para sahabat dan tabi’in yang hidup sezaman dengannya. Mengenalnya dari dekat menyaksikan langsung sepak-terjangnya?

Allah telah menyebutkan kemunafikan Mu’awiyah! Nabi Muhammad saw. juga menegaskan hal itu dalam banyak hadisnya!

Tetapi semua itu tidak ada nilainya di mata pengikut sekte Salafi Wahhâbi! Yang laku hanya ucapan para Salaf Shaleh!

Itu pun masih harus dipilih dan disleksi! Salaf yang boleh dirujuk untuk memberikan penilaian akan kemunafikan Mu’awiyah haruslah salaf yang juga paling tidak “agak-agak munafik” juga!! Agar tidak menyalahi pengagungan doktrin sekte Salafi Wahhâbi terhadap Tuan mereka; Sayyiduna Mu’awiyah!

Salaf shaleh yang Mumkin apalagi pelopor dalam keimanan maka harus disingkirka jauh-jauh!

Kalau terlanjur diriwayatkan ia memberikan penilaian buruk atas Mu’awiyah bin Abu Sufyan, maka harus segera dicacat riwayatnya… berapa pun ongkosnya!

Ammâr Bersumpah Bahwa Mu’awiyah Cs. Adalah Kaum Kafir!

Tidak ada sahabat Nabi saw. yang paling menyebalkan buat kaum Salafi Wahhâbi melebihi Ammâr bin Yâsir (sahabat agung dan mulai yang surga rindu kepadanya)… pasalnya karena Ammâr ra. membela Sayyidin Ali as. Dan sangat membenci Mu’awiyah dan bersumpaj mengatakan bahwa Mu’awiyah Cs. Adalah kaum kafir yang hanya berpura-pura menerima Islam sambil menanti pembela yang membelanya untuk memerangi dan menghancurkan Islam!

Banyak sekali bukti yang memuat sumpah Ammâr bin Yâsir ra. tersebut! Ia telah direkam oleh belasan kaum tabi’in terpercaya dan diabadikan dalam banyak leteratur utama dan terpercaya dengan sanad yang shahih!

Dalam kesempatan ini saya hanya akan menyajikan satu saja di antara riwayat shahih sumpah Ammâr bin Yâsir ra., sambil menanti reaksi dari Barisan Pembela Kaum Munafik (BPKM) dari sekte Salafi Wahhâbi, yang pasti akan berontak dan segera menuduh kami Syi’ah Rafidhah … pembenci para sahabat dan tuduhan-tuduhan murahan lainnya!

Ya, pasti mereka akan mencarikan seribu satu alasan untuk menolak riwayat shahih yang akan saya sajikan di bawah ini! Mereka malu (jika masih punya rasa malu) kalau terbongkar bahwa mereka telah mengkhianati para Salaf Shaleh yang tegas-tegas bersumpah mengatakan bahwa Mu’awiyah –Tuan kebanggaan kaum Salafi Wahhâbi- dan antek-anteknya adalah kafif!

Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dalam Târîkh-nya yang dikenal dengan namaTârîkh Ibn Abi Khaitsamah,2/991, ia berkata:

حَدَّثَنَا أبي (زهير بن حرب ثقة) ، قال : حَدَّثَنا جَرِير ( هو ابن عبد الحميد ثقة)، عَنِ الأَعْمَش ( ثقة) ، عن مُنْذِرٍ الثَّوْرِيّ ( ثقة) ، عن سَعْد بن حُذَيْفَة ( ثقة) ، قال : قال عَمَّار (بن ياسر) – أي يوم صفين- : ( والله ما أَسْلَموا ولَكِنَّهُم اسْتَسْلَمُوا وأسرُّوا الْكُفْر حَتَّى وجدوا عليه أَعْوَانًا فأَظْهَروه ) اهـ.

“Ayahku (Zuhair bin Harb) berkata, ‘Jarîr (bin Abdul Hamîd) telah menyampaikan hadis kepadaku dari A’masy dari Mundzir ats Tsuari dari Sa’ad bin Hudzaifah ia berkata: “Ammâr (bin Yâsir) berkata (pada hari peperangan Shiffîn), ‘Demi Allah, mereka tidak masuk Islam akan tetapi mereka menyerah. Mereka merahasiakan kekafiran sehingga setelah mendapatkan para pembela, mereka menampakkannya!’”

Ustad Husain Ardilla Berkata:

Saya berharap para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, khususnya para ustadz (sebab kaum awam mereka hanyalah korban pembodohan, walaupun tidak sedikit ustadz-ustadz yang awam; sama-sama korban pembodohan) mau melihat ucapan Sayyiduna Ammâr ra. dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menilai siapa yang laik dipuji… disanjung… diidolakan dan dicintai serta kecintaan kepadanya dijadikan sebagai bagian dari akidah penentu surga neraka!

Apakah kurang jelas penegasan Sayyiduna Ammâr ra. Yang ia kuatkan dengan sumpah itu?!

Apakah Sayyiduna Ammâr bin Yâsir bukan Salaf Shaleh! Dan yang Salaf Shaleh hanya gembong-gembong kaum munafik dari keturunan pohon terkutuk; bani Umayyah?!

Saya hanya meminta kejujuran kalian dalam beragama! Pikirkan, sampai kapan kalian terus membela aimmatul kufri,para pemimpin kaum kafir/munafik seperti Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid, Hajjâj bin Yusuf, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan dkk. dengan mengatas-namakan Ahlusunnah wal Jama’ah?! Dengan mengatas-namakan Salaf Shaleh?!

Ahlusunnah adalah pembela kaum shalihin…. bukan pembela kaum dzalimin!!

Sekali lagi, saya hanya menyajikan satu dari ucapan Sayyiduna Ammâr ra. Sebagaimana saya sengaja tidak menghadirkan ayat-ayat al Qur’an dan sabda-sabda Nabi saw. tentangnya… sebab makanan doyanan para pengikut sekte Salafi Wahhâbi adalah yang diramu tangan-tangan Salaf Shaleh!

Salam sejahtera bagi yang mau tunduk kepada petunjuk Allah.

Histeris Rakyat Iran Memperingati “kesyahidan” Fatimah Az Zahra Yang Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!! Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !!!!!!!!!! Allahu Akbar

Histeris Rakyat  Iran Memperingati “kesyahidan” Fatimah Az Zahra Yang Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang-
Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya.

Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantim, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam.

Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku
Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah
Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash

Fatimah dicambuk.
Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk
Talkhis Syafi jilid 3 hal 156

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang.
Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah
Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312

Jamadil Awal, bulan yang berkah ini mengandungi hari kesedihan buat pencinta Ahlulbait(as), bunda kepada Hassanain, Qurrata ainar Rasul, dan penyambung antara Nubuwwah dan Imamah
.
Seperti biasa, di mana-mana sahaja ada pengikut Ahlulbait(as), maka akan di adakanlah majlis peringatan hari kesedihan ini. Di bawa ini ialah majlis yang dihadiri oleh Ayatollah Khamenei dan pemuka-pemuka politik di Iran.

Ini pula di Qom, yang dihadiri oleh para Marja’, antaranya, Ayatollah Saafi Gulpaigani, Wahid Khurasani dan Ali al Milani. Perhatikan bagaimana orang Syiah berinteraksi dengan ulama mereka, menunjukkan peranan penting ulama dalam sistem sosial masyarakat Syiah, dan perhatikan juga cara mereka dalam mengenang tragedi kepada Ahlulbait(as).

Ya Nabi SAW Puterimu  Di Zalimi  !!!!!!!!!!  Allahu  Akbar

Wow, tidak syak lagi, mereka memang mencintai Ahlulbait(as) samada dari percakapan atau perbuatan. Kat Malaysia ramai orang mengaku cinta Ahlulbait(as) jugak, tapi hampeh, tiada sebarang majlis diadakan di masjid-masjid, of course, kecuali penduduk Syiah di Malaysia la.

Hujjatul Islam Moawenian dalam ceramahnya menceritakan kisah berikut. Ulama besar Syiah, Allamah Amini, menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana di hadapan para ulama ahlusunah: Siapakah imamnya Fatimah binti Muhammad?

Ada sebuah kisah nyata tentang Allamah Amini (penulis kitab al-Ghadir). Allamah Amini diundang oleh para ulama suni dalam sebuah acara makan malam ketika beliau ada di Mekah atau Madinah. Pertama kalinya beliau menolak, tapi mereka memaksa. Namun kemudian, beliau menerima dengan satu syarat bahwa dia hanya datang untuk makan malam, bukan diskusi, karena pandangan beliau sudah dikenal. Mereka menerima persyaratannya. Mereka mengatakan kalau beliau datang, barulah akan dipikirkan apa yang akan dilakukan.

Dalam pertemuan tersebut terdapat sekitar 70-80 ulama besar suni yang menghafal antara 10-100 ribu hadis yang ada. Setelah mereka makan, mereka ingin mengajaknya terlibat dalam diskusi dan dengan cara ini mereka dapat membuatnya terdiam. Tapi Allamah Amini mengingatkan mereka tentang peraturan bahwa dia datang hanya untuk makan malam.

Salah satu di antara mereka kemudian mengatakan bahwa akan lebih baik jika masing-masing di antara yang hadir dapat mengutipkan sebuah hadis. Dengan cara ini, allamah juga akan terlibat menyampaikan hadis dan hadis tersebut dapat membantu mereka untuk memulai diskusi. Semuanya menyampaikan sebuah hadis sampai akhirnya giliran Allamah Amini. Mereka memintanya untuk menyampaikan sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw.

Allamah mengatakan tidak masalah, tapi dia akan menyampaikan sebuah hadis dengan satu syarat: setelah hadis disampaikan, masing-masing dari kalian harus menyampaikan pandangan tentang sanad dan kebenaran hadis tersebut. Mereka menerimanya.

Kemudian, beliau menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Siapa yang tidak mengenal imam zamannya kemudian meninggal, maka meninggalnya sama seperti pada masa jahiliah.”

من مات و لم يعرف إمام زمانه مات ميتة جاهلية

Kemudian ia bertanya kepada masing-masing dari mereka tentang kebenaran hadis tersebut. Mereka semua menyatakan bahwa hadis tersebut benar dan tidak ada keraguan tentangnya dalam semua kitab rujukan suni. Kemudian allamah mengatakan bahwa kalian semua sepakat tentang kebenaran hadis ini. “Baiklah, saya mempunyai satu pertanyaan. Katakan kepada saya apakah Fatimah mengenali imamnya? Lalu siapakah imamnya? Siapakah imamnya Fatimah?”

Tidak ada yang menjawabnya. Mereka semua terdiam dan setelah beberapa lama satu per satu meninggalkan tempat. “Allah mengetahui bahwa saya melakukan diskusi ini dengan ulama suni di Masjidilharam dan dia adalah orang yang sangat ahli dan berpengetahuan. Dia hanya tertawa. Aku tanyakan kepadanya jawaban pertanyaan saya, tapi dia hanya tertawa.”

Saya mulai marah dan mengatakan padanya, “Apa yang Anda tertawakan?” Dia menjawab, “Saya menertawakan diri saya sendiri.” Saya tanya, “Benarkah?” Dia menjawab, “Ya.” Saya tanya lagi, “Mengapa?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Anda. Jika saya katakan Fatimah tidak mengenal imam pada zamannya, itu berarti dia wafat sebagai orang kafir. Tapi tidak mungkin pemimpin para wanita di dunia ini tidak mengenal imamnya. Tidak pernah mungkin!”

“Jika Fatimah mengenal imamnya, bagaimana saya bisa mengatakannya? Misal Abu Bakar adalah imamnya, tetapi Bukhari dalam kitabnya menuliskan fakta bahwa Fatimah wafat dalam keadaan marah… Tidak mungkin bagi Fatimah untuk marah kepada imamnya!”

Fatimah adalah alasan terkuat kami. Karena Fatimah, tidak ada tempat untuk menyembunyikan kebenaran. Karenanya, menghidupkan nama Fatimah dan menangis untuk kesyahidahannya adalah seruan kepada tauhid. Menangis untuk Fatimah, pintu dan rumahnya yang terbakar adalah menangis untuk Alquran yang juga terbakar!

Sikap Ali bin Abi Talib (a.s.) terhadap jawatan khalifah.

Sahnya kekhalifahan Ali bin Abi Talib atau batilnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Uthman setelah kewafatan Rasulullah telah disabitkan dengan banyak dalil yang bersumber dari kitab-kitab Ahlusunnah. Namun begitu puak pelampau fanatic Wahabi masih tidak berhenti-henti mencari bahan untuk mencetuskan keraguan orang awam dari terhadap perkara ini.

Artikel saya kali ini meneliti protes dan pengingkaran Ali bin Abi Talib selama hayatnya terhadap kekhalifahan yang tidak sah tersebut dalam lembaran sejarah sekaligus menghancurkan hikayat dongeng: Diamnya Ali menunjukkan sahnya kekhalifan Abu Bakar. Jikalau rampasan kuasa berlaku sudah tentu pedang Zulfiqar telah terhunus sampai haknya kembali kepada pemiliknya.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah adalah satu kesilapan.

Abu Bakar mengakui: “Pembai’atan kepadaku adalah kesilapan dan Allah memelihara keburukannya…. ” إنّ بيعتي كانت فلتة وقى اللّه شرّها… Ansab al-Asyraf lil Bilazari jil 1 halaman 590, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 6 halaman 47

Umar al-Khattab telah berterus terang menyatakan: إنّ بيعة أبي بكر كانت فلتة وقى اللّه شرّها فمن عاد إلى مثلها فاقتلوه… Pembai’atan kepada Abu Bakar adalah kesilapan, Allah memelihara keburukannya, maka barangsiapa yang kembali kepada Bai’at seperti ini maka bunuhlah ia. – Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 2 halaman 26, Musnad Ahmad jil 1 halaman 55,

Sahih Bukhari jil 8 halaman 26:

فَوَاللَّهِ مَا كَانَتْ بَيْعَةُ أَبِى بَكْرٍ إِلاَّ فَلْتَةً

صحيح البجاری – المحاربين – باب رَجْمِ الْحُبْلَى مِنَ الزِّنَا إِذَا أَحْصَنَتْ

“Demi Allah, tidak lah bai’at kepada Abu Bakar melainkan kesilapan” – Sahih Bukhari

Menurut Ali bin Abi Talib, khalifah itu hak khusus untuk Ahlul Bait (as)

Ali bin Abi Talib menganggap khalifah adalah hak khusus untuk Ahlul Bait. Khalifah menurut pemilihan adalah bertentangan dengan Kitab dan Sunnah. Perkara ini beberapa kali ditemui dalam Nahjul Balaghah:

ولهم خصائصُ حقِّ الولاية، وفيهم الوصيّةُ والوِراثةُ.

نهج البلاغة عبده ج 1 ص 30، نهج البلاغة ( صبحي الصالح ) خطبة 2 ص 47، شرح نهج البلاغة ابن أبي الحديد ج 1 ص 139، ينابيع المودة قندوزي حنفي ج 3 ص 449 .

“Kepimpinan adalah hak Khusus bagi mereka (Ahlul Bait) dan mereka Washi dan waris (Rasulullah)” – Nahjul Balaghah Abduh jil 1 halaman 30 khutbah 2 halaman 47, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 1 halaman 139, Yanabi’ul Mawaddah jil 3 halaman 449

Surat Ali bin Abi Talib kepada warga Mesir:

فو اللّه ماكان يُلْقَى في رُوعِي ولا يَخْطُرُ بِبالي أنّ العَرَب تُزْعِجُ هذا الأمْرَ من بعده صلى اللّه عليه وآله عن أهل بيته ، ولا أنّهم مُنَحُّوهُ عَنّي من بعده.

نهج البلاغة، الكتاب الرقم 62، كتابه إلى أهل مصر مع مالك الأشتر لمّا ولاه إمارتها، شرح نهج البلاغه ابن أبي الحديد: 95/6، و151/17، الإمامة والسياسة: 133/1 بتحقيق الدكتور طه الزيني ط. مؤسسة الحلبي القاهرة .

“Maka demi Allah, tidak ia ditemukan dalam jiwaku, tidak terbayang di jiwaku bahawa bangsa Arab merebut urusan ini setelah nabi (saw) daripada Ahlul Baitnya, dan mereka mengalihkan ia daripadaku sepeninggalan baginda.”– Nahjul Balaghah surat 62, surat Imam Ali kepada warga Mesir

Dalam khutbah Ali ke-74, beliau berkata:

لَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا مِنْ غَيْرِي وَ وَ اللَّهِ لَأُسْلِمَنَّ مَا سَلِمَتْ أُمُورُ الْمُسْلِمِينَ وَ لَمْ يَكُنْ فِيهَا جَوْرٌ إِلَّا عَلَيَّ خَاصَّةً الْتِمَاساً لِأَجْرِ ذَلِكَ وَ فَضْلِهِ وَ زُهْداً فِيمَا تَنَافَسْتُمُوهُ مِنْ زُخْرُفِهِ وَ زِبْرِجِهِ.

“sesungguhnya kalian telah tahu bahawa saya manusia paling berhak dengannya (khalifah) daripada selainku. Demi Allah selama urusan kaum muslimin tinggal utuh, dan tidak ada penindasan di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang anda cita-citakan”– Nahjul Balaghah khutbah 74, Khutbah Ali bin Abi Talib tatkala orang ramai hendak memberi Bai’at kepada Uthman.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap pemerintahan Abu Bakar sebagai diktator

Ali bin Abi Talib menganggap kekhalifahan Abu Bakar bukan berasaskan demokrasi, namun beliau terus saja mengatakan kekhalifahan Abu Bakar adalah diktator

وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالأَمْرِ ، وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَصِيبًا . حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِى بَكْرٍ

صحيح البخارى: 82/5، كتاب المغازي، با غزوة خيبر، مسلم، ج 5، ص 154، (چاپ جديد: ص 729 ح 1758)، كتاب الجهاد، باب قول النبي (ص) لانورَث ما تركناه صدقة .

Ali bin Abi Talib mengatakan, “Akan tetapi dikau telah bertindak sewenang-wenangnya atas kami dengan urusan, dan kami melihat kekerabatan kami dengan Rasulullah. Maka air mata Abu Bakar menitis”.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap Umar tidak layak menjadi khalifah

Tatkala telah diketahui bahawasanya Abu Bakar memutuskan ingin melantik Umar sebagai khalifah, dalam Tabaqat Ibnu Sa’ad, Ali telah menentang keras dan berkata dengan terus terang sebagai berikut:

عن عائشة قالت لما حضرت أبا بكر الوفاة استخلف عمر فدخل عليه علي وطلحة فقالا من استخلفت قال عمر قالا فماذا أنت قائل لربك قال بالله تعرفاني لأنا أعلم بالله وبعمر منكما أقول استخلفت عليهم خير أهلك.

الطبقات: 196/3، تاريخ مدينة دمشق: 251/44، عمر بن الخطاب للاستاذ عبد الكريم الخطيب ص 75 .

‘Aisyah mengatakan tatkala hadirnya kematian di sisi Abu Bakar, maka masuklah Ali dan Talhah, maka bertanyalah mereka, siapakah yang menjadi khalifah? Dia menjawab, Umar. Mereka berkata, Apa yang anda akan katakan kepada Allah? Dia menjawab, Apakah kau perkenalkan Allah kepadaku? saya lebih mengenali Allah dan Umar daripada kalian, saya akan berkata kepada Allah, saya melantik sebaik-baik hambaMu sebagai khalifah. – Tabaqat, jil 3 halaman 196

Imam Ali bin Abi Talib memprotes keras pemilihan Uthman sebagai khalifah

Ali memaklumkan bantahannya sehingga menyebabkan ‘Abdul Rahman bin ‘Auf memberi ancaman bunuh (al-Imamah wal Siyasah, jil 1 halaman 45):

قال عبد الرحمن بن عوف : فلا تجعل يا علي سبيلاً إلى نفسك ، فإنّه السيف لا غير .

الامامة والسياسة ، تحقيق الشيري ج 1 ص 45، تحقيق الزيني ج 1 ص‏31 .

Telah berkata ‘Abdul Rahman bin ‘Auf, “Janganlah engkau jadikan jalan kepada dirimu wahai Ali, sesungguhnya ia adalah pedang tiada yang lain lagi” – Al-Imamah wal Siyasah, jilid 1 halaman 45

فَيَا لَلَّهِ وَ لِلشُّورَى مَتَى اعْتَرَضَ الرَّيْبُ فِيَّ مَعَ الْأَوَّلِ مِنْهُمْ حَتَّى صِرْتُ أُقْرَنُ إِلَى هَذِهِ النَّظَائِرِ لَكِنِّي أَسْفَفْتُ إِذْ أَسَفُّوا وَ طِرْتُ إِذْ طَارُوا فَصَغَا رَجُلٌ مِنْهُمْ لِضِغْنِهِ وَ مَالَ الآخَرُ لِصِهْرِهِ مَعَ هَنٍ وَ هَنٍ إِلَى أَنْ قَامَ ثَالِثُ الْقَوْمِ نَافِجاً حِضْنَيْهِ بَيْنَ نَثِيلِهِ وَ مُعْتَلَفِهِ وَ قَامَ مَعَهُ بَنُو أَبِيهِ يَخْضَمُونَ مَالَ اللَّهِ خِضْمَةَ الْإِبِلِ نِبْتَةَ الرَّبِيعِ إِلَى أَنِ انْتَكَثَ عَلَيْهِ فَتْلُهُ وَ أَجْهَزَ عَلَيْهِ عَمَلُهُ وَ كَبَتْ بِهِ بِطْنَتُهُ.

Aku berlindung dengan Allah dari Syura ini! pada zaman bilakah saya disetarakan dengan para anggota Syura di mana saya seperti yang mereka khayalkan, dan mereka telah letakkan saya dalam barisan itu. Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya pun bangkit sambil menelan harta Allah seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.

Imam Ali mengatakan Abu Bakar dan Umar adalah pengkhianat

Abu Bakar dan Umar adalah pembohong, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat menurut Ai bin Abi Talib. Seperti mana di dalam kitab Sahih Muslim iaitu kitab yang paling sahih setelah al-Quran, Umar mengatakan kepada Abbas dan Ali:

فلمّا توفّي رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، قال أبو بكر: أنا ولي رسول اللّه… فرأيتماه كاذباً آثماً غادراً خائناً… ثمّ توفّي أبو بكر فقلت : أنا وليّ رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، ولي أبي بكر، فرأيتماني كاذباً آثماً غادراً خائناً ! واللّه يعلم أنّي لصادق، بارّ، تابع للحقّ! .

صحيح مسلم ج 5 ص 152، (ص 728 ح 1757) كتاب الجهاد باب 15 حكم الفئ حديث 49، فتح الباري ج 6 ص 144 .

Setelah wafatnya Rasulullah (saw) Abu Bakar berkata: Aku pemimpin setelah Rasulullah… dan kalian berdua menganggap saya pendusta, pendosa, curang dan pengkhianat. Kemudian setelah wafatnya Abu Bakar, saya telah berkata: Sayalah pemimpin setelah Rasulullah (saw), pemimpin setelah Abu Bakar, maka kalian berdua melihat saya sebagai pendusta, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat!…. Sahih Muslim Kitab alJihad Bab 15

Imam Ali (as) menganggap khalifah yang lalu sebelumnya adalah perampas

Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini, Ali tetap saja menganggap khalifah sebelum daripadanya tidak Syar’i dan perampas. Beliau menulis dalam surat kepada ‘Aqil seperti berikut:

فَجَزَتْ قُرَيْشاً عَنِّي الْجَوَازِي فَقَدْ قَطَعُوا رَحِمِي وَ سَلَبُونِي سُلْطَانَ ابْنِ أُمِّي.

نهج البلاغة، كتاب رقم 36 .

Saya berhasrat kiranya orang Qurasy mendapat pembalasan atas perlakuan mereka terhadap saya. Kerana mereka mengabaikan kekerabatan dan merebut kekuasaan yang menjadi hak saya dari putera ibu saya (Nabi saw). – Nahjul Balaghah kitab nombor 36.

Dan Ibnu Abil Hadid di dalam kitabnya:

وغصبوني حقي ، وأجمعوا على منازعتي أمرا كنت أولى به.

شرح نهج البلاغة لابن أبي الحديد، ج 4، ص‏104، ج 9، ص 306 .

Mereka telah merampas hak saya, dan mereka berkumpul di atas perselisihan urusan kepimpinan yang mana saya lebih berhak atasnya. – Syarah Ibnu Abil Hadid jil 4 halaman 102, jil 9 halaman 306

دعوكم خليفة رسول الله (ص) لسريع ما كذبتم على رسول الله (ص) ثمّ قال أبو بكر : عد إليه فقل : أمير المؤمنين يدعوكم ، فرفع علي صوته فقال : سبحان الله لقد ادعى ما ليس له .

الإمامة والسياسة بتحقيق الزينى، ص 19 وبتحقيق الشيري، ص 30 .

Ibnu Qutaibah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar mengutus Qanfiz kepada Ali, beliau mengatakan, “Khalifah Rasulullah memanggil kalian” Ali menjawab, “Betapa cepatnya kalian mendustakan Rasulullah (saw). Abu Bakar kali kedua mengutus Qanfiz dan berkata, “Katakan padanya Amirulmukminin memanggil kalian” Ali meninggikan suara, “Subhanallah, sesungguhnya anda mendakwa apa yang bukan pada tempatnya!” – al-Imamah wal Siyasah halaman 19

Dengan ini punahlah kepercayaan yang mengatakan bahawa Ali (as) menganggap khalifah sebelumnya adalah sah menurut hukum syarak.

Apakah Ijma’ para sahabat merupakan dalil keridhaan Allah?

فَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى رَجُلٍ وَ سَمَّوْهُ إِمَاماً كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا .

Kata-katanya, “Maka sesungguhnya jikalau mereka (Muhajirin dan Ansar) berijmak atas seseorang dan menamakannya sebagai Imam, maka keridhaan Allah untuk itu”

Adapun kata-kata beliau, “Jikalau Muhajirin dan Ansar datang mengangkat seseorang itu sebagai Imam, Maka keridhaan tuhan di dalamnya”.

Saudara kita Ahlusunnah tidak boleh menggunakan kata-kata Ali ini sebagai dalil sahnya kekhalifahan sebelum beliau kerana:

Pertamanya: dalam beberapa naskah Nahjul Balaghah ayat «كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا» tertulis dengan «كَانَ ذَلِكَ رِضًا» tanpa penambahan kalimah «لِلَّهِ». (silakan rujuk Nahjul Balaghah cetakan Misr, Qahirah, al-Istiqamah di mana kalimah «لِلَّهِ» telah termasuk di dalamnya).

Oleh itu jikalau Muhajirin dan Ansar mengangkat seseorang itu sebagai khalifah merupakan dalil keridhaan mereka ke atas pemilihan ini. Pembai‘atan ini juga bukanlah kesan dari pemaksaan atau ancaman pedang.

Kedua: Jikalau kita tanggapi bahawa kalimah «للّه» wujud dalam teks Nahjul Balaghah itu, maka maksudnya sudah tentu semua Muhajirin dan Ansar termasuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang bersepakatan atas keimaman seseorang. Pastilah ini menunjukkan keridhaan Allah (swt).

Adakah Fathimah Zahra membai’at Abu Bakar?

Tidakkah keridhaan Fathimah merupakan keridhaan Nabi (saw). Hakim Nisyaburi menyatakan:

إنّ اللّه يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك.

“Sesungguhnya Allah murka kepada siapa yang menyebabkan engkau marah dan meridhai barangsiapa yang membuatkan engkau ridha”.

Hadis ini dikatakannya:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

مستدرك: 153/3، مجمع الزوائد: 203/9، الآحاد والمثاني للضحاك: 363/5، الإصابة: 266265/8، تهذيب التهذيب: 392/21، سبل الهدى والرشاد للصالحي الشامي: 11/ 44 .

“ Sahih persanadannya namun Bukhari dan Muslim tidak menyebutnya”. – Mustadrak jilid 3 halaman 153

Bukhari menyatakan Rasulullah bersabda:

فاطمة بَضْعَة منّى فمن أغضبها أغضبني .

صحيح البخارى 210/4، (ص 710، ح 3714)، كتاب فضائل الصحابة، ب 12 – باب مَنَاقِبُ قَرَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه‏وسلم . و 219/4 ، (ص 717، ح 3767) كتاب فضائل الصحابة ، ب 29 – باب مَنَاقِبُ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, barangsiapa membuatkan dia marah maka ia telah membuatkan aku marah” – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 210

Muslim Nisyaburi menukilkan baginda bersabda:

إِنَّمَا فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يُؤْذِينِي مَا آذَاهَا.

صحيح مسلم 141/7 ح 6202 كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم، ب 15 -باب فَضَائِلِ فَاطِمَةَ بِنْتِ النَّبِيِّ عَلَيْهَا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, akan membuatkan aku sakit barangsiapa menyakiti beliau”. – Sahih Muslim jilid 7 halaman 141.

Tidak ada syak lagi Sayida Zahra bukan sahaja tidak member Bai’at kepada Abu Bakar, malahan murka kepada Abu Bakar sampai beliau meninggal dunia sebagai mana dinukilkan oleh Bukhari:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ.

صحيح البخارى: 42/4، ح 3093، كتاب فرض الخمس، ب 1 – باب فَرْضِ الْخُمُسِ .

“Marahlah Fathimah binti Rasulullah (saw) kepada Abu Bakar, maka tidak hilang kemurkaannya sehingga beliau wafat”. – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 42

Dengan ini beliau telah memberi wasiat kepada Ali supaya jenazahnya dikebumikan pada waktu malam tanpa memaklumkan shalat jenazah beliau kepada Abu Bakar yang mengakui dirinya sebagai khalifah setelah Nabi (saw).

فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ، دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلاً، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا .

صحيح بخارى، ج 5، ص 82، ح 4240، كتاب المغازى، ب 38، باب غَزْوَةُ خَيْبَرَ، صحيح مسلم، ج 5، ص 154، ح 4470، كتاب الجهاد والسير (المغازى )، ب 16 – باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم «لاَ نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ» .

“Maka tatkala beliau wafat, suaminya Ali menyemadikannya di waktu malam, dan beliau tidak pernah mengizinkan Abu Bakar menyolati jenazahnya”. – Sahih Bukhari jilid 5 halaman 154.

Imam Ali (as) tidak berada di kalangan Muhajirin dan Ansar dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Ali (as) tidak membai’at Abu Bakar sampai 6 bulan.

وعاشت بعد النبي صلى الله عليه وسلم، ستة أشهر… ولم يكن يبايع تلك الأشهر .

صحيح البخاري، ج 5، ص 82، صحيح مسلم، ج 5، ص 154.

Fathimah az-Zahra hidup setelah 6 bulan wafatnya Rasulullah….. beliau tidak memberi Bai’at selama itu- Sahih Bukhari – Sahih Bukhari jil 5 halaman 82

Tidakkah Bai’at Ali (as) merupakan dalil sahnya kekhalifahan Abu Bakar? Tidakkah Bani Hashim menahan diri dari membai’at? Abdul Razak menerangkan:

فقال رجل للزهري : فلم يبايعه عليّ ستة أشهر ؟ قال : لا ، ولا أحد من بني هاشم .

المصنف لعبد الرزاق الصنعاني، ج 5، ص 472 – 473.

Seorang lelaki bertanya kepada Zuhri, “Apakah benar Ali (as) selama 6 bulan tidak memberi Bai’at?” beliau menjawab, “Ali dan Bani Hashim tidak memberi Bai’at” – Al-Mushannaf Abdul Razak jil 5 halaman 472-473

Komentar ini telah dinukilkan dalam Sunan Baihaqi, Tarikh Tabari dan Ibnu Athir dalam kedua kitab Rijal dan Tarikhnya. Rujukannya sebagai berikut:

اسد الغابة: 222/3 و الكامل في التاريخ ، ج 2 ، ص 325 و السنن الكبرى، ج 6، ص 300 و تاريخ الطبري، ج 2، ص 448 .

Asad al-Ghabah jilid 3 halaman 222, Kamil Fi Tarikh jilid 2 halaman 325, Sunan al-Kubra jilid 6 halaman 300 dan tarikh al-Tabari jilid 2 halaman 448

Tidakkah Ibnu Hazm salah seorang ulama besar Ahlusunnah mengatakan:

ولعنة اللّه على كلّ إجماع يخرج عنه على بن أبى طالب ومن بحضرته من الصحابة .

المحلى: ج 9، ص 345، بتحقيق أحمد محمد شاكر، ط. بيروت – دارالفكر .

“Laknat Allah ke atas seluruh Ijma’ yang mana Ali bin Abi Talib dan para sahabatnya tidak termasuk di dalamnya” – Al-Mahalli jil 9 halaman 325

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan: Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Ugamamu selamat. – al-Mu’jam al-Kabir Tabrani, jilid 11 halaman 60

Kebakhilan, menyebabkan Ali tidak mencapai kekhalifahan

Kekeliruan ini bukanlah perkara baru namun pertanyaan tentangnya terus berlegar dalam sejarah termasuk di zaman Ali sendiri. Seorang dari bani Asad bertanya kepada Ali:

كيف دفعكم قومكم عن هذا المقام وأنتم أحق به ؟

يَا أَخَا بَنِي أَسَدٍ إِنَّكَ لَقَلِقُ الْوَضِينِ تُرْسِلُ فِي غَيْرِ سَدَدٍ وَ لَكَ بَعْدُ ذِمَامَةُ الصِّهْرِ وَ حَقُّ الْمَسْأَلَةِ وَ قَدِ اسْتَعْلَمْتَ فَاعْلَمْ أَمَّا الِاسْتِبْدَادُ عَلَيْنَا بِهَذَا الْمَقَامِ وَ نَحْنُ الاَعْلَوْنَ نَسَباً وَ الأَشَدُّونَ بِالرَّسُولِ ص نَوْطاً فَإِنَّهَا كَانَتْ أَثَرَةً شَحَّتْ عَلَيْهَا نُفُوسُ قَوْمٍ وَ سَخَتْ عَنْهَا نُفُوسُ آخَرِينَ وَ الْحَكَمُ اللَّهُ وَ الْمَعْوَدُ إِلَيْهِ الْقِيَامَةُ

وَ دَعْ عَنْكَ نَهْباً صِيحَ فِي حَجَرَاتِهِ‏

وَ لَكِنْ حَدِيثاً مَا حَدِيثُ الرَّوَاحِلِ‏

نهج البلاغة ، خطبة 162، نهج البلاغه محمد عبده ، ج2 ،‌ ص64 و شرح ابن أبي الحديد ، ج9 ، ص 241 و علل الشرايع ، ج1 ،‌ ص146 .

Seorang dari Bani Asad bertanya pada Imam Ali: Mengapakah engkau yang lebih layak menjadi khalifah namun mengenepikannya? Ali menjawab: Wahai saudara Bani Asad engkau seorang yang menyedihkan dan bertanya bukan pada tempatnya, walau bagaimanapun sebagai penghormatan atas persaudaraan, hak pertanyaan dihormati. Sekarang engkau mau tahu, maka ketahuilah kezaliman dan mementing diri dengan kekhalifahan itu membebani kami, dalam keadaan kami lebih kukuh pertalian nasab dengan rasul, bukanlah egois dan serakah memonopoli namun: sekumpulan orang yang bakhil melekat dengan singgahsana kekhalifahan, dan sekumpulan orang dengan bebas merampasnya, dan hakim adalah Allah dan kita semua kembali kepadaNya di hari kiamat….. kembalilah, kenangkan sejarah kisah para perampas, kisah yang menyingkap perompakan para penunggang unta- Nahjul Balaghah Muhammad Abduh, jil 2 hal 64

Perseteruan terhadap Imam Ali yang terpendam di dalam dada

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan:

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Agamamu selamat

Perkara ini sangat jelas terkandung dalam teks Nahjul Balaghah seperti berikut:

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ بَعَثَ مُحَمَّداً(صلى الله عليه وآله) نَذِيراً لِلْعَالَمِينَ وَ مُهَيْمِناً عَلَى الْمُرْسَلِينَ فَلَمَّا مَضَى ع تَنَازَعَ الْمُسْلِمُونَ الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ

فَوَاللَّهِ مَا كَانَ يُلْقَى فِي رُوعِي وَ لَا يَخْطُرُ بِبَالِي أَنَّ الْعَرَبَ تُزْعِجُ هَذَا الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ ص عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَ لاَ أَنَّهُمْ مُنَحُّوهُ عَنِّي مِنْ بَعْدِهِ فَمَا رَاعَنِي إِلَّا انْثِيَالُ النَّاسِ عَلَى فُلَان يُبَايِعُونَهُ

فَأَمْسَكْتُ يَدِي حَتَّى رَأَيْتُ رَاجِعَةَ النَّاسِ قَدْ رَجَعَتْ عَنِ الإِْسْلاَمِ يَدْعُونَ إِلَى مَحْقِ دَيْنِ مُحَمَّد ص فَخَشِيتُ إِنْ لَمْ أَنْصُرِ الاِْسْلاَمَ وَ أَهْلَهُ أَنْ أَرَى فِيهِ ثَلْماً أَوْ هَدْماً تَكُونُ الْمُصِيبَةُ بِهِ عَلَيَّ أَعْظَمَ مِنْ فَوْتِ وِلاَيَتِكُمُ الَّتِي إِنَّمَا هِيَ مَتَاعُ أَيَّام قَلَائِلَ يَزُولُ مِنْهَا مَا كَانَ كَمَا يَزُولُ السَّرَابُ أَوْ كَمَا يَتَقَشَّعُ السَّحَابُ فَنَهَضْتُ فِي تِلْكَ الاَْحْدَاثِ حَتَّى زَاحَ الْبَاطِلُ وَ زَهَقَ وَ اطْمَأَنَّ الدِّينُ وَ تَنَهْنَهَ

Amma ba’du, Allah Yang Mahasuci mengutus Muhammad (saw) sebagai pemberi peringatan bagi seluruh dunia dan saksi bagi semua nabi. Ketika Nabi wafat, kaum Muslim bertengkar tentang kekuasaan sepeninggal baginda.

Demi Allah, tak pernah terlintas difikiran saya, dan saya tak pernah membayangkan, bahawa setelah Nabi orang Arab akan meragut kekhalifahan ini daripada Ahlul Bait setelah baginda, mereka akan mengalihnya daripada saya setelah baginda, tidak saya bimbang melainkan manusia secara mendadak dari mana hala membaiat lelaki itu.

Oleh kerana itu, saya menahan tangan saya hingga saya melihat bahawa ramai orang sedang menghindar dari Islam dan berusaha untuk membinasakan agama Muhammad (saw). Maka saya khuatir bahwa apabila saya tidak melindungi Islam dan umatnya lalu terjadi di dalamnya suatu perpecahan atau kehancuran, hal itu akan merupakan suatu pukulan yang lebih besar kepada saya daripada hilangnya kekuasaan atas anda, yang bagaimanapun (hanyalah) akan berlangsung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlalu sebagaimana berlalunya bayangan, atau sebagai hilangnya awan melayang. Oleh karena itu, dalam peristiwa-peristiwa ini saya bangkit hingga kebatilan dihancurkan dan lenyap, dan agama mendapatkan kedamaian dan keselamatan. – Nahjul Balaghah surat 62

Mengapa Ali tidak bertindak mengambil kembali haknya?

Para Washi Anbiya punyai satu kaedah yang menuruti perintah Allah. Tanggung jawab yang mereka sandang telah dikhususkan untuk diamalkan dan Imam Ali juga sebagai Washi Rasulullah juga tidak terkecuali dalam perkara ini. Oleh itu beliau tidak boleh bangun dengan menghunuskan pedang dan mengambil kembali kekhalifahan dengan cara kekerasan. Dengan merujuk kepada sejarah para nabi dapatlah kita memahami bahawa Ali tidak punyai cara lain dari mendiamkan diri.

al-Quran menceritakan nabi Allah Nuh (as) mengatakan:

فَدَعا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِر

54. 10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”

Baginda berdoa kepada Allah bahawa saya dikalahkan, maka bantulah aku. Begitujuga dalam surah Maryam bahawasanya Nabi Allah Ibrahim (as) berkata:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَما تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ وَأَدْعُوا رَبِّي

19. 48. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Telah tercatat dalam sejarah bahawa Nabi Ibrahim berangkat dari babylon ke pergunungan tanah Parsi dan tinggal disekitarnya selama 7 tahun. Setelah itu baginda kembali lagi ke Babylon dan menghancurkan berhala-berhala serta mendakwa dirinya sebagai nabi

Begitu juga kisah ketakutan yang menimpa nabi Allah Musa (as):

فَخَرَجَ مِنْها خائِفاً يَتَرَقَّبُ قالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظّالِمِينَ

28. 21. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Begitu juga dalam surah al-’Araf, peristiwa kaum bani Israel menyembah sapi akibat termakan tipu daya Samiri tatkala pemergian nabi Musa. Nabi Allah Harun (as) juga berdiam diri dan Allah swt berfirman:

وأخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

7. 150. Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”

Harun adalah khalifah Nabi Musa sepeninggalan baginda pergi bermunajat kepada Allah. Namun Nabi Allah Harun tidak bangun dengan pedang menentang kesesatan kaumnya yang terpedaya dengan Samiri.

Rasulullah pernah menisbahkan Ali dengan diri baginda umpama Harun di sisi Musa melainkan tiada lagi Nabi setelah baginda. Oleh itu tindakan Ali tidak memprotes perampasan hak kekhalifahannya dengan pedang adalah menepati sirah para washi sebelumnya dengan penuh hikmah. Tatkala Ali dipaksa memberi Bai’ah, beliau telah pergi ke makam Rasulullah dan mengulangi kalimah Nabi Allah Harun (as):

إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

Mughazali, ahli Fiqh Syafie dan Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib dan ‘Allamah al-Faqih ibnu al-Maghazali menukilkan bahawasanya Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Talib:

عن أبي عثمان النهدي عن علي كرم الله وجهه قال : كنت أمشي مع رسول الله (ص) فأتينا على حديقة فاعتنقني ثم أجهش باكيا فقلت يا رسول الله ما يبكيك ؟ فقال (ص) : أبكي لضغائن في صدر قوم لا يبدونها لك إلا بعدي قلت : في سلامة من ديني ؟ قال في سلامة من دينك.

Diriwayatkan oleh al-‘Allamah al-Kanji al-Syafi’ie di dalam kitab Kifayah al-Thalib, bab 16 dengan sanad kepada Ibnu ‘Asakir yang bersanad kepada Anas bin Malik dan riwayat-riwayat yang lain seperti mana di dalam al-Manaqib dan Yanabi’. kemudian ‘Allamah al-Kanji berkata setelah menukilkan riwayat ini mengatakan Hadis ini Hasan:

Ummat ini punyai perseteruan di dalam dada mereka yang akan mereka lahirkan sepeninggalanku nanti. Aku berpesan padamu supaya bersabar. Semoga Allah mengurniakan kebaikan buatmu.

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

بحار الانوار، ج 32، ص111 ; الكافئه، ص19

Demi Allah, mata-mata menangis, hati-hati teraniaya dan dada-dada kami sudah penuh dari kemarahan, perseteruan dan permusuhan. Jikalau tidak takut akan perpecahan kaum muslimin yang membawa kepada kekufuran mereka, demi Allah akan setiap saat akan saya ubah kekhalifahan, namun saya mendiamkan diri… Biharul Anwar, jil 32 halaman 111

ya-fatimah.gif

fatimah-az-zahra-1.jpg

ya-fatimah-2.jpg

Fatimah Az Zahra, penghulu wanita di syurga
.
fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah.Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.Tidak ada yang aneh  dengan  bai’at  Imam Ali  pada Abubakar… Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat. Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa? Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS.

Sejarah telah diatur dan kita hanya memiliki rekaan sebuah cerita ‘sejarah’ kononnya…aku dari dulu mengkaji perihal sahabat² yang di’angkat’kononnya penuh keistimewaan disisi nabi.aku tahu siapa abu bakar,umar,usman dan aisyah.kalau mereka hidup,mereka pasti malu kerana aku tahu siapa mereka…apa tujuan abu bakar berdamping dengan Nabi,apa keistimewaan umar dalam islam…?gagah?sebutkan nama² orang yang mati ditangan umar?!10 orang pun cukup…tak ada kan…usman dan femili muawiyah…

dan apa wasiat Nabi pada aisyah sebelum wafat.jgn sekali-kali keluar dari rumah…tapi macammana pula dengan wataknya sebagai ketua peperangan antara beliau dan ali.Nabi sudah berkata bahawa baginda gedung ilmu dan ali pintunya….kenapa kita berpaksikan hadis sibapak kucing yang nyaris dihukum mati oleh umar.banyak lagi yang kita tenggelam oleh cerita rekaan antara zaman kita sehingga zaman nabi.contoh seperti politik sekarang.media sentiasa menggambarkan pemimpin arus perdana sebagai wira dan tiada ruang untuk kita lihat apa keburukannya.cukuplah berpegang pada al-quran dan sunah.sayangi ahlul bait….aku bukan sunnah mahupun syiah…aku pencari kebenaran

bila kita kaji perihal diatas kita akan dapat sedikit sebanyak fakta pada persoalan dimana dan mengapa makamnya fatimah dirahsiakan.apakah kerana bimbang ancaman musuh dalam selimut.lihat sahaja pada cara kematian ahlul bait yg lain selain fatimah.ali,hasan dan husin.tragis bukan.benar kita terleka pada sejarah peperangan aisyah dan ali.kenapa orang yang paling hampir dengan nabi saling berperang.

bukan lah perselisihan kecil anak beranak jika sudah segerombolan angkatan perang tersedia.allah sahaja yang maha mengetahui.allahumasalli ala muhammad,awala ali muhammad.itu sahaja tanda kasihnya aku pada Nabi dan keluarga nabi

bahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran. Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umar

dan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak…(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)

sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…

tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…

benar benar bingung….segala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk???

tdk ada satupun yg mngetahui dimana kbradaan makam sayyidah fatimah,krna beliau mmng tidak inggin kuburanx diketahui oleh orng2 munafiq,beliau wafat dlm keadaan sakit hati yg tramat dlm,rosul jauh lbh mncintai putrix dibnding sapapun,”fatimah bit atu minni’fatimah adlh sbgian dr aq,mk jgn sekali2 mnyakiti sydh fatimah krna rosul akan trsakiti,dan apabila rosul sdh trsakiti mk allah akan murka kpdax,krna rosul mrpakan kekasih allah,dan allah tdk akan mnciptakan dunia dan seisix klo bkn krna rosulullah

Inilah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW…selalu mencakar dirinya sendiri dari dalam. ada teman mengatakan bahwa terkadang sejarah adalah milik siapa yang berkuasa saat itu…,mungkin ada benarnya juga tapi kita lupa satu hal bahwa Allah menjadikan sejarah agar umat yang “belakangan” bisa belajar “positif dan negatif-nya”sejarah tersebut. Dienul Islam adalah agama pembawa kedamaian,kesejahteraan dan kemajuan,yang mendukung manusia selaku khalifah Allah dimuka bumi. Ia bukanlah agama yang membawa kebencian menjadi sesuatu yang absolut karena Sang Pencipta adalah Maha Pemaaf,jika “produk”nya bertaubat. Marilah kita jalankan Dien ini sesuai dengan aslinya tanpa melibatkan oknum yang lain,biarlah mereka dan diri kita akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan dikehidupan dunia ini. Dien ini dilaksanakan dengan “manual” yang telah diberikan “Pencipta”nya dan akal pikiran kita serta hati nurani sebagai nilai pembandingnya.. Ada kisah yang menceritakan seorang shahabat bertanya pada Baginda Rasul tentang konsep dan hakikat dosa serta pahala lalu Rasul berkata “Tanyalah hati nuranimu jika kamu melakukan sesuatu,jika hatimu gundah gulana dan rasa bersalah setelah melakukan sesuatu maka itulah perbuatan dosa..begitupun sebaliknya..WaLlaahu a’lam..Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.

Teka-teki yang hendak kita cari jawabannya. Sebenarnya jika kita kritis pula maka kita harus bertanya pula, kenapa Sy. Fathimah Zahra as mewasiatkan untuk dimakamkan pada malam hari?

As Shaduq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda : seakan saya melihat rumahnya dimasuki kehinaan, kehormatannya dilecehkan, diserobot haknya, dihalangi untuk menerima warisannya, tulang rusuknya dipatahkan, dan janinnya digugurkan.
Amali Shaduq hal 100


Kenapa sampai sekarang makam beliau masih teka-teki, artinya tidak diketahui secara jelas makamnya?


Kenapa, dan kenapa?


Ada apa dibalik semua ini?

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58
Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah, Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Sakit berkepanjangan mengakibatkan janin Muhsin pun gugur..tulang rusuknya patah dan janin yang dikandungnya gugur..Muhsin gugur dari perut ibunya…..Fatimah terbaring di tempat tidur hingga wafat sebagai syahid… Orang itu  fatmah binti Rasulullah hingga berdarah dan gugur janinnya

.

seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar…. mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. ( Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.)
……gugurnya  janin Muhsin, dan membuat Fatimah sakit parah, dia melarang orang yang menyakitinya dari menjenguknya, ( Lihat Dala’ilul Imamah, At Thabari, hal 45)
Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Fatimah az Zahra, anak perempuan Rasulullah, seorang wanita yang keagungannya di angkat sendiri oleh Allah swt ke satu tahap tertinggi, yang tidak tercapai oleh mana-mana wanita. kedudukan beliau tidak boleh di ragukan lagi kerana terlampau banyak hadis yang meriwayatkan keagungan makam Fatimah az Zahra. Mari kita ambil pengajaran dengan melihat sedikit dari kata-kata Rasulullah(sawa) tentang anak kesayangan baginda.
  1. Ahli keluargaku yang paling di sayangi ialah Fatimah.
  2. Ayatul Tatheer(33:33) diturunkan untuk 5 orang, diriku, Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain
  3. Penghulu wanita di syurga ialah Fatimah
  4. Aku tidak gembira melainkan Fatimah gembira
  5. Mahdi akan datang dari Ahlul Baitku dari keturunan Fatimah.
  6. Fatimah ialah sebahagian dari ku, barangsiapa membuatkan beliau marah, membuatku marah, menyakiti beliau bermakna menyakiti ku.
  7. Ya Fatimah, sesungguhnya Tuhan berasa marah apabila kamu marah.

Begitulah kedudukan beliau di sisi Rasulullah, yang juga menunjukkan kedudukan beliau di sisi Allah swt. Satu kedudukan yang tidak akan di capai lagi oleh mana-mana wanita.

“Apa yang mereka telah lakukan padamu Y Fatimah sepeninggalan bapamu!!”

Tanggal 13 Jamadil Awal atau 3 Jamadil Akhir, ialah hari kesedihan bagi pencinta Ahlul Bait kerana ia adalah hari pemergian Qurrata Ainul Rasul, kegembiraan Rasulullah. Lebih menyedihkan pemergian beliau adalah dalam keadaan di sakiti.

Amirul Mukminin Imam Ali sendiri mengetuai mandi jenazah beliau. Turut dilaporkan membantu dalam urusan itu ialah Asma binti Umays. Asma meriwayatkan: “Fatimah telah menyatakan di dalam wasiat beliau yang tiada orang lain di benarkan menguruskan jenazahnya kecuali Imam Ali dan diriku(Asma). Olwh itu kami memandikan beliau bersama, dan Amirul Mukminin bersolat untuk Fatimah bersama Hassan, Hussain, Ammar, Miqdad,’Aqil, Az Zubair, Abu Dzar, Salman, Burydah dan beberapa orang dari Bani Hasyim. Mereka bersolat di waktu malam ,dan demi menuruti  wasiat Fatimah, Imam Ali, mengebumikan beliau dalam rahsia.”

Terdapat banyak perselisihan di antara ahli Hadis tentang kedudukan sebenar kubur beliau. Ahli Hadis kita sendiri menyatakan beliau di kuburkan di Baqi’. Sementara yang lain menyatakan beliau dikuburkan di dalam bilik beliau sendiri dan apabila Ummayad membesarkan masjid Nabi, kubur beliau berada di dalam kawasan itu. Sementara yang lain masih menyatakan bahawa ia terdapat di antara kubur dan mimbar Nabi. Ini berdasarkan sabda baginda: Terdapat di antara kuburku dan minbarku, taman di antara taman di syurga”. Pendapat pertama adalah tidak mungkin, jadi pendapat kedua dan ketiga adalah lebih dekat kepada kebenaran. Oleh itu sebagai ihtiyat, maka jika kita melakukan ziarah, ia perlu di lakukan di ketiga-tiga tempat.

Pengebumian Yang Sunyi

Di dalam kegelapan malam, apabila mata-mata sedang tertutup terlena dan suasana yang sunyi, upaca pengebumian jenazah meninggalak rumah Imam Ali, membawa anak perempuan Rasulullah(sawa) ke tempat persemadian terakhir beliau. Ini berlaku pada malam 3 Jamadil Akhir 11AH.

Upacara yang menyentuh hati ini menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui, diikuti oleh beberapa hamba Allah yang setia. Mereka ialah Ali(A.S.), Hasan(A.S.), Hussain(A.S.), Zainab(A.S.) and Umm Kulthum(A.S.)… Abu Dhar, Ammar, Miqdad, dan Salman

Di mana lagi ribuan yang tinggal di Madinah?  Seseorang mungkin bertanya, dan jawapan yang datang berbunyi begini:  Fatimah telah meminta agar tiada orang lain hadir di majlis pengebumian beliau! Ahli keluarga terdekat dan sahabat bergegas untuk mengebumikan Fatimah dan pulang ke rumah agar tiada orang lain mengetahui kedudukan sebenar kubur beliau.

Imam Ali, suami beliau berasa sangat sedih atas pemergian ini, namau siapa yang tidak apabila dipisahkan dengan wanita terbaik alam ini? Dalam keadaan menangis, Imam Ali berbicara dengan Rasulullah(sawa);

“Ya Rasulullah, salam keatas kamu dari ku dan dari anak perempuan mu yang telah pergi menemui mu. Ya Rasulullah(sawa)! Kesabaran ku semakin menipis dan ketahanan ku semakin lemah(atas kejadian ini), kecuali aku mempunyai asas yang cukup kuat untuk bertahan dalam kejadian yang sangat menghancurkan hati ku iaitu dengan pemergian mu. Aku membaringkan kamu di dalam kubur mu, apabila kamu tidak lagi bernyawa, dan kepalamu di antara leherku dan dada ku. “Sesungguhnya dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali”(2″56)

Sekarang amanah telah dikembalikan dan apa yang telah diberi kini telah di ambil semula. Kesedihanku tidak mempunya sempadan dan malam-malamku tidak akan lena tidurnya sehingga Allah swt memilihkan untukku sebuah rumah yang di dalamnya ada kamu. Semestinya anak kamu pasti mengadukan kepada mu akan Ummah yang menindas beliau. Kamu bertnya keadaan sebenar kapadanya dan mendapat berita akan situasi sebenar, Perkara ini terjadi sewaktu masa belum lama berlalu dan memori mu masih belum menghilang. Salam ku ke atas kamu berdua, salam seorang yang bersedih dan berduka dan bukan dari seorang yang membenci dan mecemuh, jika aku pergi sekarang, ia bukanlah kerana aku sudah letih akan kalian dan jika aku tinggal, ia bukanlah kerana kurangnya kepercayaan ku atas janji Allah kepada orng-orang yang sabar.”

Percubaan yang Gagal

Pada waktu subuh, orang ramai berkumpul untuk menyertai pengebumian Fatimah, akan tetapi mereka telah di beritahu bahawa puteri Rasulullah telah di kebumikan secara rahsia di waktu malam. Sementara itu Imam Ali telah membuat 4 kuburan baru di Baqi’ untuk memalsukan kedudukan sebenar Fatimah.

Apabila orang ramai memasuki tanah perkuburan itu, mereka berasa keliru akan kedudukan sebenar kubur beliau, mereka memandang antara satu sama lain, dan dengan nada menyesal, mereka berkata: “Nabi kita hanya meninggalkan seorang anak perempuan, namun beliau meninggal dalam keadaan tanpa penyertaan kita dalam pengebumiannya. Malah kita langsung tidak mengetahui lokasi nya!”

Menyedari pemberontakan yang mungkin terjadi dari suasana beremosi ini, pihak pemerintah mengumumkan: “Pilihlah sekumpulan wanita Muslim, dan minta mereka menggali tanah-tanah ini, agar kita dapat menemui Fatimah dan menyolatkan beliau.

Ya! Mereka mencuba untuk menjalankan rancangan itu, melanggar wasiat Fatimah, dan menyebabkan percubaan Imam Ali untuk merahsiakan lokasi sebenar Fatimah gagal. Apakah mereka telah lupa akan ketajaman pedang Imam Ali dan keberanian beliau yang terkenal itu? Adakah mereka menyangkakan Imam Ali akan duduk senyap dalam menghadapi rancangan mereka yang tidak masuk akal itu?

Imam Ali tidak membalas balik selepas kewafatan Rasulullah kerana beliau mementingkan kesatuan Muslim sebagai sesuatu yang lebih utama. Bagaimanapun ini tidak bermakna beliau akan membiarkan jenayah mereka ke atas Fatimah Az Zahra walaupun selepas pemergian beliau.

Dalam kata lain, Rasulullah meminta Imam Ali untuk bersabar, tetapi hanyalah sehingga peringkat tertentu. Apabila Imam Ali mendengar rancangan mereka, beliau bergegas memakai pakaian perang dan menuju ke Baqi’.

Imam Ali mengeluarkan pedang dan berkata:

“JIka kamu -berani mengubah walau satu sahaja batu dari kubur-kubur ini, akan ku serang walaupun sehingga mereka ialah pengikut terakhir ketidakadilan.”

Orang ramai menyedari keseriusan kata-kata Imam Ali, dan mengambil amaran beliau dengan penuh kepercayan yang beliau akan melakukan sebagaimana yang diucapkan. Namun seseorang dari pihak pemerintah berkata kepada Imam Ali dengan kata-kata ini:

“Apa masalahnya Abul Hassan? Demi Allah, kami akan menggali semula kubur Fatimah dan menyolatkan beliau.” Imam Ali kemudiannya memegang pakaian orang itu dan membaling orang itu ke tanah dan berkata:

“Ibnu Sawada! Aku telah meninggalkan hak ku untuk mengelakkan orang ramai dari meninggalkan kepercayaan mereka, tetapi dalam kes Fatimah, demi Dia yang nyawa ku berada di dalam tangannya, jika kamu dan pengikut kamu berani mencuba sesuatu, aku akan mengalirkan tanah dengan darah kamu.”

Pada ketika ini Abu Bakr berkata:

“Abu al Hassan, aku meminta kepadamu demi hak Rasulullah dan demi Dia yang berada di atas arash, lepaskan dia dan kami tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai.” Seterusnya sehingga ke hari ini, kedudukan sebenar kubur Fatimah masih belum di ketahui.

Kelmarin, 17 Mei 2010, beersamaan 3 Jamadil Akhir adalah hari kesedihan bagi Ummah Muhammad,bagi mereka yang mencintai apa yang Rasulullah cintai, dan membenci apa yang Rasulullah benci.” Marilah kita perbanyakkan solawat keatas baginda dan keluarga baginda yang suci, menegenangkan jasa mereka kepada Islam dan diri kita sendiri.  Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Masa berlanjut…

Inilah penerus perjuangan Fatimah :

Ayatollah Khameinei di hadapan rumahnya di Qom

1 gambar menceritakan 1000 maksud. Inilah pemimpin tertinngi Iran. Disebabkan satu gambar menceritakan 1000 maksud, maka x payah la cerita panjang-panjang.

Dengan ini dapat kita rumuskan, diamnya Ali bin Abi Talib dan beliau membiarkan Abu Bakar memerintah bukanlah dalil keridhaannya, hakikatnya beliau ingin menjaga agama Islam dari musnah

Fathimah Zahra tidak sudi membai’at Abu Bakar tetapi Mengapa Imam Ali tidak bertindak mengambil kembali haknya ?? Imam Ali (as) tidak berada di kalangan Muhajirin dan Ansar dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar

Hujjatul Islam Moawenian dalam ceramahnya menceritakan kisah berikut. Ulama besar Syiah, Allamah Amini, menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana di hadapan para ulama ahlusunah: Siapakah imamnya Fatimah binti Muhammad?

Ada sebuah kisah nyata tentang Allamah Amini (penulis kitab al-Ghadir). Allamah Amini diundang oleh para ulama suni dalam sebuah acara makan malam ketika beliau ada di Mekah atau Madinah. Pertama kalinya beliau menolak, tapi mereka memaksa. Namun kemudian, beliau menerima dengan satu syarat bahwa dia hanya datang untuk makan malam, bukan diskusi, karena pandangan beliau sudah dikenal. Mereka menerima persyaratannya. Mereka mengatakan kalau beliau datang, barulah akan dipikirkan apa yang akan dilakukan.

Dalam pertemuan tersebut terdapat sekitar 70-80 ulama besar suni yang menghafal antara 10-100 ribu hadis yang ada. Setelah mereka makan, mereka ingin mengajaknya terlibat dalam diskusi dan dengan cara ini mereka dapat membuatnya terdiam. Tapi Allamah Amini mengingatkan mereka tentang peraturan bahwa dia datang hanya untuk makan malam.

Salah satu di antara mereka kemudian mengatakan bahwa akan lebih baik jika masing-masing di antara yang hadir dapat mengutipkan sebuah hadis. Dengan cara ini, allamah juga akan terlibat menyampaikan hadis dan hadis tersebut dapat membantu mereka untuk memulai diskusi. Semuanya menyampaikan sebuah hadis sampai akhirnya giliran Allamah Amini. Mereka memintanya untuk menyampaikan sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw.

Allamah mengatakan tidak masalah, tapi dia akan menyampaikan sebuah hadis dengan satu syarat: setelah hadis disampaikan, masing-masing dari kalian harus menyampaikan pandangan tentang sanad dan kebenaran hadis tersebut. Mereka menerimanya.

Kemudian, beliau menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Siapa yang tidak mengenal imam zamannya kemudian meninggal, maka meninggalnya sama seperti pada masa jahiliah.”

من مات و لم يعرف إمام زمانه مات ميتة جاهلية

Kemudian ia bertanya kepada masing-masing dari mereka tentang kebenaran hadis tersebut. Mereka semua menyatakan bahwa hadis tersebut benar dan tidak ada keraguan tentangnya dalam semua kitab rujukan suni. Kemudian allamah mengatakan bahwa kalian semua sepakat tentang kebenaran hadis ini. “Baiklah, saya mempunyai satu pertanyaan. Katakan kepada saya apakah Fatimah mengenali imamnya? Lalu siapakah imamnya? Siapakah imamnya Fatimah?”

Tidak ada yang menjawabnya. Mereka semua terdiam dan setelah beberapa lama satu per satu meninggalkan tempat. “Allah mengetahui bahwa saya melakukan diskusi ini dengan ulama suni di Masjidilharam dan dia adalah orang yang sangat ahli dan berpengetahuan. Dia hanya tertawa. Aku tanyakan kepadanya jawaban pertanyaan saya, tapi dia hanya tertawa.”

Saya mulai marah dan mengatakan padanya, “Apa yang Anda tertawakan?” Dia menjawab, “Saya menertawakan diri saya sendiri.” Saya tanya, “Benarkah?” Dia menjawab, “Ya.” Saya tanya lagi, “Mengapa?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Anda. Jika saya katakan Fatimah tidak mengenal imam pada zamannya, itu berarti dia wafat sebagai orang kafir. Tapi tidak mungkin pemimpin para wanita di dunia ini tidak mengenal imamnya. Tidak pernah mungkin!”

“Jika Fatimah mengenal imamnya, bagaimana saya bisa mengatakannya? Misal Abu Bakar adalah imamnya, tetapi Bukhari dalam kitabnya menuliskan fakta bahwa Fatimah wafat dalam keadaan marah… Tidak mungkin bagi Fatimah untuk marah kepada imamnya!”

Fatimah adalah alasan terkuat kami. Karena Fatimah, tidak ada tempat untuk menyembunyikan kebenaran. Karenanya, menghidupkan nama Fatimah dan menangis untuk kesyahidahannya adalah seruan kepada tauhid. Menangis untuk Fatimah, pintu dan rumahnya yang terbakar adalah menangis untuk Alquran yang juga terbakar!

Sikap Ali bin Abi Talib (a.s.) terhadap jawatan khalifah.

Sahnya kekhalifahan Ali bin Abi Talib atau batilnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Uthman setelah kewafatan Rasulullah telah disabitkan dengan banyak dalil yang bersumber dari kitab-kitab Ahlusunnah. Namun begitu puak pelampau fanatic Wahabi masih tidak berhenti-henti mencari bahan untuk mencetuskan keraguan orang awam dari terhadap perkara ini.

Artikel saya kali ini meneliti protes dan pengingkaran Ali bin Abi Talib selama hayatnya terhadap kekhalifahan yang tidak sah tersebut dalam lembaran sejarah sekaligus menghancurkan hikayat dongeng: Diamnya Ali menunjukkan sahnya kekhalifan Abu Bakar. Jikalau rampasan kuasa berlaku sudah tentu pedang Zulfiqar telah terhunus sampai haknya kembali kepada pemiliknya.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah adalah satu kesilapan.

Abu Bakar mengakui: “Pembai’atan kepadaku adalah kesilapan dan Allah memelihara keburukannya…. ” إنّ بيعتي كانت فلتة وقى اللّه شرّها… Ansab al-Asyraf lil Bilazari jil 1 halaman 590, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 6 halaman 47

Umar al-Khattab telah berterus terang menyatakan: إنّ بيعة أبي بكر كانت فلتة وقى اللّه شرّها فمن عاد إلى مثلها فاقتلوه… Pembai’atan kepada Abu Bakar adalah kesilapan, Allah memelihara keburukannya, maka barangsiapa yang kembali kepada Bai’at seperti ini maka bunuhlah ia. – Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 2 halaman 26, Musnad Ahmad jil 1 halaman 55,

Sahih Bukhari jil 8 halaman 26:

فَوَاللَّهِ مَا كَانَتْ بَيْعَةُ أَبِى بَكْرٍ إِلاَّ فَلْتَةً

صحيح البجاری – المحاربين – باب رَجْمِ الْحُبْلَى مِنَ الزِّنَا إِذَا أَحْصَنَتْ

“Demi Allah, tidak lah bai’at kepada Abu Bakar melainkan kesilapan” – Sahih Bukhari

Menurut Ali bin Abi Talib, khalifah itu hak khusus untuk Ahlul Bait (as)

Ali bin Abi Talib menganggap khalifah adalah hak khusus untuk Ahlul Bait. Khalifah menurut pemilihan adalah bertentangan dengan Kitab dan Sunnah. Perkara ini beberapa kali ditemui dalam Nahjul Balaghah:

ولهم خصائصُ حقِّ الولاية، وفيهم الوصيّةُ والوِراثةُ.

نهج البلاغة عبده ج 1 ص 30، نهج البلاغة ( صبحي الصالح ) خطبة 2 ص 47، شرح نهج البلاغة ابن أبي الحديد ج 1 ص 139، ينابيع المودة قندوزي حنفي ج 3 ص 449 .

“Kepimpinan adalah hak Khusus bagi mereka (Ahlul Bait) dan mereka Washi dan waris (Rasulullah)” – Nahjul Balaghah Abduh jil 1 halaman 30 khutbah 2 halaman 47, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 1 halaman 139, Yanabi’ul Mawaddah jil 3 halaman 449

Surat Ali bin Abi Talib kepada warga Mesir:

فو اللّه ماكان يُلْقَى في رُوعِي ولا يَخْطُرُ بِبالي أنّ العَرَب تُزْعِجُ هذا الأمْرَ من بعده صلى اللّه عليه وآله عن أهل بيته ، ولا أنّهم مُنَحُّوهُ عَنّي من بعده.

نهج البلاغة، الكتاب الرقم 62، كتابه إلى أهل مصر مع مالك الأشتر لمّا ولاه إمارتها، شرح نهج البلاغه ابن أبي الحديد: 95/6، و151/17، الإمامة والسياسة: 133/1 بتحقيق الدكتور طه الزيني ط. مؤسسة الحلبي القاهرة .

“Maka demi Allah, tidak ia ditemukan dalam jiwaku, tidak terbayang di jiwaku bahawa bangsa Arab merebut urusan ini setelah nabi (saw) daripada Ahlul Baitnya, dan mereka mengalihkan ia daripadaku sepeninggalan baginda.”– Nahjul Balaghah surat 62, surat Imam Ali kepada warga Mesir

Dalam khutbah Ali ke-74, beliau berkata:

لَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا مِنْ غَيْرِي وَ وَ اللَّهِ لَأُسْلِمَنَّ مَا سَلِمَتْ أُمُورُ الْمُسْلِمِينَ وَ لَمْ يَكُنْ فِيهَا جَوْرٌ إِلَّا عَلَيَّ خَاصَّةً الْتِمَاساً لِأَجْرِ ذَلِكَ وَ فَضْلِهِ وَ زُهْداً فِيمَا تَنَافَسْتُمُوهُ مِنْ زُخْرُفِهِ وَ زِبْرِجِهِ.

“sesungguhnya kalian telah tahu bahawa saya manusia paling berhak dengannya (khalifah) daripada selainku. Demi Allah selama urusan kaum muslimin tinggal utuh, dan tidak ada penindasan di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang anda cita-citakan”– Nahjul Balaghah khutbah 74, Khutbah Ali bin Abi Talib tatkala orang ramai hendak memberi Bai’at kepada Uthman.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap pemerintahan Abu Bakar sebagai diktator

Ali bin Abi Talib menganggap kekhalifahan Abu Bakar bukan berasaskan demokrasi, namun beliau terus saja mengatakan kekhalifahan Abu Bakar adalah diktator

وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالأَمْرِ ، وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَصِيبًا . حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِى بَكْرٍ

صحيح البخارى: 82/5، كتاب المغازي، با غزوة خيبر، مسلم، ج 5، ص 154، (چاپ جديد: ص 729 ح 1758)، كتاب الجهاد، باب قول النبي (ص) لانورَث ما تركناه صدقة .

Ali bin Abi Talib mengatakan, “Akan tetapi dikau telah bertindak sewenang-wenangnya atas kami dengan urusan, dan kami melihat kekerabatan kami dengan Rasulullah. Maka air mata Abu Bakar menitis”.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap Umar tidak layak menjadi khalifah

Tatkala telah diketahui bahawasanya Abu Bakar memutuskan ingin melantik Umar sebagai khalifah, dalam Tabaqat Ibnu Sa’ad, Ali telah menentang keras dan berkata dengan terus terang sebagai berikut:

عن عائشة قالت لما حضرت أبا بكر الوفاة استخلف عمر فدخل عليه علي وطلحة فقالا من استخلفت قال عمر قالا فماذا أنت قائل لربك قال بالله تعرفاني لأنا أعلم بالله وبعمر منكما أقول استخلفت عليهم خير أهلك.

الطبقات: 196/3، تاريخ مدينة دمشق: 251/44، عمر بن الخطاب للاستاذ عبد الكريم الخطيب ص 75 .

‘Aisyah mengatakan tatkala hadirnya kematian di sisi Abu Bakar, maka masuklah Ali dan Talhah, maka bertanyalah mereka, siapakah yang menjadi khalifah? Dia menjawab, Umar. Mereka berkata, Apa yang anda akan katakan kepada Allah? Dia menjawab, Apakah kau perkenalkan Allah kepadaku? saya lebih mengenali Allah dan Umar daripada kalian, saya akan berkata kepada Allah, saya melantik sebaik-baik hambaMu sebagai khalifah. – Tabaqat, jil 3 halaman 196

Imam Ali bin Abi Talib memprotes keras pemilihan Uthman sebagai khalifah

Ali memaklumkan bantahannya sehingga menyebabkan ‘Abdul Rahman bin ‘Auf memberi ancaman bunuh (al-Imamah wal Siyasah, jil 1 halaman 45):

قال عبد الرحمن بن عوف : فلا تجعل يا علي سبيلاً إلى نفسك ، فإنّه السيف لا غير .

الامامة والسياسة ، تحقيق الشيري ج 1 ص 45، تحقيق الزيني ج 1 ص‏31 .

Telah berkata ‘Abdul Rahman bin ‘Auf, “Janganlah engkau jadikan jalan kepada dirimu wahai Ali, sesungguhnya ia adalah pedang tiada yang lain lagi” – Al-Imamah wal Siyasah, jilid 1 halaman 45

فَيَا لَلَّهِ وَ لِلشُّورَى مَتَى اعْتَرَضَ الرَّيْبُ فِيَّ مَعَ الْأَوَّلِ مِنْهُمْ حَتَّى صِرْتُ أُقْرَنُ إِلَى هَذِهِ النَّظَائِرِ لَكِنِّي أَسْفَفْتُ إِذْ أَسَفُّوا وَ طِرْتُ إِذْ طَارُوا فَصَغَا رَجُلٌ مِنْهُمْ لِضِغْنِهِ وَ مَالَ الآخَرُ لِصِهْرِهِ مَعَ هَنٍ وَ هَنٍ إِلَى أَنْ قَامَ ثَالِثُ الْقَوْمِ نَافِجاً حِضْنَيْهِ بَيْنَ نَثِيلِهِ وَ مُعْتَلَفِهِ وَ قَامَ مَعَهُ بَنُو أَبِيهِ يَخْضَمُونَ مَالَ اللَّهِ خِضْمَةَ الْإِبِلِ نِبْتَةَ الرَّبِيعِ إِلَى أَنِ انْتَكَثَ عَلَيْهِ فَتْلُهُ وَ أَجْهَزَ عَلَيْهِ عَمَلُهُ وَ كَبَتْ بِهِ بِطْنَتُهُ.

Aku berlindung dengan Allah dari Syura ini! pada zaman bilakah saya disetarakan dengan para anggota Syura di mana saya seperti yang mereka khayalkan, dan mereka telah letakkan saya dalam barisan itu. Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya pun bangkit sambil menelan harta Allah seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.

Imam Ali mengatakan Abu Bakar dan Umar adalah pengkhianat

Abu Bakar dan Umar adalah pembohong, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat menurut Ai bin Abi Talib. Seperti mana di dalam kitab Sahih Muslim iaitu kitab yang paling sahih setelah al-Quran, Umar mengatakan kepada Abbas dan Ali:

فلمّا توفّي رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، قال أبو بكر: أنا ولي رسول اللّه… فرأيتماه كاذباً آثماً غادراً خائناً… ثمّ توفّي أبو بكر فقلت : أنا وليّ رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، ولي أبي بكر، فرأيتماني كاذباً آثماً غادراً خائناً ! واللّه يعلم أنّي لصادق، بارّ، تابع للحقّ! .

صحيح مسلم ج 5 ص 152، (ص 728 ح 1757) كتاب الجهاد باب 15 حكم الفئ حديث 49، فتح الباري ج 6 ص 144 .

Setelah wafatnya Rasulullah (saw) Abu Bakar berkata: Aku pemimpin setelah Rasulullah… dan kalian berdua menganggap saya pendusta, pendosa, curang dan pengkhianat. Kemudian setelah wafatnya Abu Bakar, saya telah berkata: Sayalah pemimpin setelah Rasulullah (saw), pemimpin setelah Abu Bakar, maka kalian berdua melihat saya sebagai pendusta, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat!…. Sahih Muslim Kitab alJihad Bab 15

Imam Ali (as) menganggap khalifah yang lalu sebelumnya adalah perampas

Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini, Ali tetap saja menganggap khalifah sebelum daripadanya tidak Syar’i dan perampas. Beliau menulis dalam surat kepada ‘Aqil seperti berikut:

فَجَزَتْ قُرَيْشاً عَنِّي الْجَوَازِي فَقَدْ قَطَعُوا رَحِمِي وَ سَلَبُونِي سُلْطَانَ ابْنِ أُمِّي.

نهج البلاغة، كتاب رقم 36 .

Saya berhasrat kiranya orang Qurasy mendapat pembalasan atas perlakuan mereka terhadap saya. Kerana mereka mengabaikan kekerabatan dan merebut kekuasaan yang menjadi hak saya dari putera ibu saya (Nabi saw). – Nahjul Balaghah kitab nombor 36.

Dan Ibnu Abil Hadid di dalam kitabnya:

وغصبوني حقي ، وأجمعوا على منازعتي أمرا كنت أولى به.

شرح نهج البلاغة لابن أبي الحديد، ج 4، ص‏104، ج 9، ص 306 .

Mereka telah merampas hak saya, dan mereka berkumpul di atas perselisihan urusan kepimpinan yang mana saya lebih berhak atasnya. – Syarah Ibnu Abil Hadid jil 4 halaman 102, jil 9 halaman 306

دعوكم خليفة رسول الله (ص) لسريع ما كذبتم على رسول الله (ص) ثمّ قال أبو بكر : عد إليه فقل : أمير المؤمنين يدعوكم ، فرفع علي صوته فقال : سبحان الله لقد ادعى ما ليس له .

الإمامة والسياسة بتحقيق الزينى، ص 19 وبتحقيق الشيري، ص 30 .

Ibnu Qutaibah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar mengutus Qanfiz kepada Ali, beliau mengatakan, “Khalifah Rasulullah memanggil kalian” Ali menjawab, “Betapa cepatnya kalian mendustakan Rasulullah (saw). Abu Bakar kali kedua mengutus Qanfiz dan berkata, “Katakan padanya Amirulmukminin memanggil kalian” Ali meninggikan suara, “Subhanallah, sesungguhnya anda mendakwa apa yang bukan pada tempatnya!” – al-Imamah wal Siyasah halaman 19

Dengan ini punahlah kepercayaan yang mengatakan bahawa Ali (as) menganggap khalifah sebelumnya adalah sah menurut hukum syarak.

Apakah Ijma’ para sahabat merupakan dalil keridhaan Allah?

فَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى رَجُلٍ وَ سَمَّوْهُ إِمَاماً كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا .

Kata-katanya, “Maka sesungguhnya jikalau mereka (Muhajirin dan Ansar) berijmak atas seseorang dan menamakannya sebagai Imam, maka keridhaan Allah untuk itu”

Adapun kata-kata beliau, “Jikalau Muhajirin dan Ansar datang mengangkat seseorang itu sebagai Imam, Maka keridhaan tuhan di dalamnya”.

Saudara kita Ahlusunnah tidak boleh menggunakan kata-kata Ali ini sebagai dalil sahnya kekhalifahan sebelum beliau kerana:

Pertamanya: dalam beberapa naskah Nahjul Balaghah ayat «كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا» tertulis dengan «كَانَ ذَلِكَ رِضًا» tanpa penambahan kalimah «لِلَّهِ». (silakan rujuk Nahjul Balaghah cetakan Misr, Qahirah, al-Istiqamah di mana kalimah «لِلَّهِ» telah termasuk di dalamnya).

Oleh itu jikalau Muhajirin dan Ansar mengangkat seseorang itu sebagai khalifah merupakan dalil keridhaan mereka ke atas pemilihan ini. Pembai‘atan ini juga bukanlah kesan dari pemaksaan atau ancaman pedang.

Kedua: Jikalau kita tanggapi bahawa kalimah «للّه» wujud dalam teks Nahjul Balaghah itu, maka maksudnya sudah tentu semua Muhajirin dan Ansar termasuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang bersepakatan atas keimaman seseorang. Pastilah ini menunjukkan keridhaan Allah (swt).

Adakah Fathimah Zahra membai’at Abu Bakar?

Tidakkah keridhaan Fathimah merupakan keridhaan Nabi (saw). Hakim Nisyaburi menyatakan:

إنّ اللّه يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك.

“Sesungguhnya Allah murka kepada siapa yang menyebabkan engkau marah dan meridhai barangsiapa yang membuatkan engkau ridha”.

Hadis ini dikatakannya:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

مستدرك: 153/3، مجمع الزوائد: 203/9، الآحاد والمثاني للضحاك: 363/5، الإصابة: 266265/8، تهذيب التهذيب: 392/21، سبل الهدى والرشاد للصالحي الشامي: 11/ 44 .

“ Sahih persanadannya namun Bukhari dan Muslim tidak menyebutnya”. – Mustadrak jilid 3 halaman 153

Bukhari menyatakan Rasulullah bersabda:

فاطمة بَضْعَة منّى فمن أغضبها أغضبني .

صحيح البخارى 210/4، (ص 710، ح 3714)، كتاب فضائل الصحابة، ب 12 – باب مَنَاقِبُ قَرَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه‏وسلم . و 219/4 ، (ص 717، ح 3767) كتاب فضائل الصحابة ، ب 29 – باب مَنَاقِبُ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, barangsiapa membuatkan dia marah maka ia telah membuatkan aku marah” – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 210

Muslim Nisyaburi menukilkan baginda bersabda:

إِنَّمَا فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يُؤْذِينِي مَا آذَاهَا.

صحيح مسلم 141/7 ح 6202 كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم، ب 15 -باب فَضَائِلِ فَاطِمَةَ بِنْتِ النَّبِيِّ عَلَيْهَا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, akan membuatkan aku sakit barangsiapa menyakiti beliau”. – Sahih Muslim jilid 7 halaman 141.

Tidak ada syak lagi Sayida Zahra bukan sahaja tidak member Bai’at kepada Abu Bakar, malahan murka kepada Abu Bakar sampai beliau meninggal dunia sebagai mana dinukilkan oleh Bukhari:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ.

صحيح البخارى: 42/4، ح 3093، كتاب فرض الخمس، ب 1 – باب فَرْضِ الْخُمُسِ .

“Marahlah Fathimah binti Rasulullah (saw) kepada Abu Bakar, maka tidak hilang kemurkaannya sehingga beliau wafat”. – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 42

Dengan ini beliau telah memberi wasiat kepada Ali supaya jenazahnya dikebumikan pada waktu malam tanpa memaklumkan shalat jenazah beliau kepada Abu Bakar yang mengakui dirinya sebagai khalifah setelah Nabi (saw).

فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ، دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلاً، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا .

صحيح بخارى، ج 5، ص 82، ح 4240، كتاب المغازى، ب 38، باب غَزْوَةُ خَيْبَرَ، صحيح مسلم، ج 5، ص 154، ح 4470، كتاب الجهاد والسير (المغازى )، ب 16 – باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم «لاَ نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ» .

“Maka tatkala beliau wafat, suaminya Ali menyemadikannya di waktu malam, dan beliau tidak pernah mengizinkan Abu Bakar menyolati jenazahnya”. – Sahih Bukhari jilid 5 halaman 154.

Imam Ali (as) tidak berada di kalangan Muhajirin dan Ansar dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Ali (as) tidak membai’at Abu Bakar sampai 6 bulan.

وعاشت بعد النبي صلى الله عليه وسلم، ستة أشهر… ولم يكن يبايع تلك الأشهر .

صحيح البخاري، ج 5، ص 82، صحيح مسلم، ج 5، ص 154.

Fathimah az-Zahra hidup setelah 6 bulan wafatnya Rasulullah….. beliau tidak memberi Bai’at selama itu- Sahih Bukhari – Sahih Bukhari jil 5 halaman 82

Tidakkah Bai’at Ali (as) merupakan dalil sahnya kekhalifahan Abu Bakar? Tidakkah Bani Hashim menahan diri dari membai’at? Abdul Razak menerangkan:

فقال رجل للزهري : فلم يبايعه عليّ ستة أشهر ؟ قال : لا ، ولا أحد من بني هاشم .

المصنف لعبد الرزاق الصنعاني، ج 5، ص 472 – 473.

Seorang lelaki bertanya kepada Zuhri, “Apakah benar Ali (as) selama 6 bulan tidak memberi Bai’at?” beliau menjawab, “Ali dan Bani Hashim tidak memberi Bai’at” – Al-Mushannaf Abdul Razak jil 5 halaman 472-473

Komentar ini telah dinukilkan dalam Sunan Baihaqi, Tarikh Tabari dan Ibnu Athir dalam kedua kitab Rijal dan Tarikhnya. Rujukannya sebagai berikut:

اسد الغابة: 222/3 و الكامل في التاريخ ، ج 2 ، ص 325 و السنن الكبرى، ج 6، ص 300 و تاريخ الطبري، ج 2، ص 448 .

Asad al-Ghabah jilid 3 halaman 222, Kamil Fi Tarikh jilid 2 halaman 325, Sunan al-Kubra jilid 6 halaman 300 dan tarikh al-Tabari jilid 2 halaman 448

Tidakkah Ibnu Hazm salah seorang ulama besar Ahlusunnah mengatakan:

ولعنة اللّه على كلّ إجماع يخرج عنه على بن أبى طالب ومن بحضرته من الصحابة .

المحلى: ج 9، ص 345، بتحقيق أحمد محمد شاكر، ط. بيروت – دارالفكر .

“Laknat Allah ke atas seluruh Ijma’ yang mana Ali bin Abi Talib dan para sahabatnya tidak termasuk di dalamnya” – Al-Mahalli jil 9 halaman 325

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan: Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Ugamamu selamat. – al-Mu’jam al-Kabir Tabrani, jilid 11 halaman 60

Kebakhilan, menyebabkan Ali tidak mencapai kekhalifahan

Kekeliruan ini bukanlah perkara baru namun pertanyaan tentangnya terus berlegar dalam sejarah termasuk di zaman Ali sendiri. Seorang dari bani Asad bertanya kepada Ali:

كيف دفعكم قومكم عن هذا المقام وأنتم أحق به ؟

يَا أَخَا بَنِي أَسَدٍ إِنَّكَ لَقَلِقُ الْوَضِينِ تُرْسِلُ فِي غَيْرِ سَدَدٍ وَ لَكَ بَعْدُ ذِمَامَةُ الصِّهْرِ وَ حَقُّ الْمَسْأَلَةِ وَ قَدِ اسْتَعْلَمْتَ فَاعْلَمْ أَمَّا الِاسْتِبْدَادُ عَلَيْنَا بِهَذَا الْمَقَامِ وَ نَحْنُ الاَعْلَوْنَ نَسَباً وَ الأَشَدُّونَ بِالرَّسُولِ ص نَوْطاً فَإِنَّهَا كَانَتْ أَثَرَةً شَحَّتْ عَلَيْهَا نُفُوسُ قَوْمٍ وَ سَخَتْ عَنْهَا نُفُوسُ آخَرِينَ وَ الْحَكَمُ اللَّهُ وَ الْمَعْوَدُ إِلَيْهِ الْقِيَامَةُ

وَ دَعْ عَنْكَ نَهْباً صِيحَ فِي حَجَرَاتِهِ‏

وَ لَكِنْ حَدِيثاً مَا حَدِيثُ الرَّوَاحِلِ‏

نهج البلاغة ، خطبة 162، نهج البلاغه محمد عبده ، ج2 ،‌ ص64 و شرح ابن أبي الحديد ، ج9 ، ص 241 و علل الشرايع ، ج1 ،‌ ص146 .

Seorang dari Bani Asad bertanya pada Imam Ali: Mengapakah engkau yang lebih layak menjadi khalifah namun mengenepikannya? Ali menjawab: Wahai saudara Bani Asad engkau seorang yang menyedihkan dan bertanya bukan pada tempatnya, walau bagaimanapun sebagai penghormatan atas persaudaraan, hak pertanyaan dihormati. Sekarang engkau mau tahu, maka ketahuilah kezaliman dan mementing diri dengan kekhalifahan itu membebani kami, dalam keadaan kami lebih kukuh pertalian nasab dengan rasul, bukanlah egois dan serakah memonopoli namun: sekumpulan orang yang bakhil melekat dengan singgahsana kekhalifahan, dan sekumpulan orang dengan bebas merampasnya, dan hakim adalah Allah dan kita semua kembali kepadaNya di hari kiamat….. kembalilah, kenangkan sejarah kisah para perampas, kisah yang menyingkap perompakan para penunggang unta- Nahjul Balaghah Muhammad Abduh, jil 2 hal 64

Perseteruan terhadap Imam Ali yang terpendam di dalam dada

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan:

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Agamamu selamat

Perkara ini sangat jelas terkandung dalam teks Nahjul Balaghah seperti berikut:

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ بَعَثَ مُحَمَّداً(صلى الله عليه وآله) نَذِيراً لِلْعَالَمِينَ وَ مُهَيْمِناً عَلَى الْمُرْسَلِينَ فَلَمَّا مَضَى ع تَنَازَعَ الْمُسْلِمُونَ الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ

فَوَاللَّهِ مَا كَانَ يُلْقَى فِي رُوعِي وَ لَا يَخْطُرُ بِبَالِي أَنَّ الْعَرَبَ تُزْعِجُ هَذَا الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ ص عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَ لاَ أَنَّهُمْ مُنَحُّوهُ عَنِّي مِنْ بَعْدِهِ فَمَا رَاعَنِي إِلَّا انْثِيَالُ النَّاسِ عَلَى فُلَان يُبَايِعُونَهُ

فَأَمْسَكْتُ يَدِي حَتَّى رَأَيْتُ رَاجِعَةَ النَّاسِ قَدْ رَجَعَتْ عَنِ الإِْسْلاَمِ يَدْعُونَ إِلَى مَحْقِ دَيْنِ مُحَمَّد ص فَخَشِيتُ إِنْ لَمْ أَنْصُرِ الاِْسْلاَمَ وَ أَهْلَهُ أَنْ أَرَى فِيهِ ثَلْماً أَوْ هَدْماً تَكُونُ الْمُصِيبَةُ بِهِ عَلَيَّ أَعْظَمَ مِنْ فَوْتِ وِلاَيَتِكُمُ الَّتِي إِنَّمَا هِيَ مَتَاعُ أَيَّام قَلَائِلَ يَزُولُ مِنْهَا مَا كَانَ كَمَا يَزُولُ السَّرَابُ أَوْ كَمَا يَتَقَشَّعُ السَّحَابُ فَنَهَضْتُ فِي تِلْكَ الاَْحْدَاثِ حَتَّى زَاحَ الْبَاطِلُ وَ زَهَقَ وَ اطْمَأَنَّ الدِّينُ وَ تَنَهْنَهَ

Amma ba’du, Allah Yang Mahasuci mengutus Muhammad (saw) sebagai pemberi peringatan bagi seluruh dunia dan saksi bagi semua nabi. Ketika Nabi wafat, kaum Muslim bertengkar tentang kekuasaan sepeninggal baginda.

Demi Allah, tak pernah terlintas difikiran saya, dan saya tak pernah membayangkan, bahawa setelah Nabi orang Arab akan meragut kekhalifahan ini daripada Ahlul Bait setelah baginda, mereka akan mengalihnya daripada saya setelah baginda, tidak saya bimbang melainkan manusia secara mendadak dari mana hala membaiat lelaki itu.

Oleh kerana itu, saya menahan tangan saya hingga saya melihat bahawa ramai orang sedang menghindar dari Islam dan berusaha untuk membinasakan agama Muhammad (saw). Maka saya khuatir bahwa apabila saya tidak melindungi Islam dan umatnya lalu terjadi di dalamnya suatu perpecahan atau kehancuran, hal itu akan merupakan suatu pukulan yang lebih besar kepada saya daripada hilangnya kekuasaan atas anda, yang bagaimanapun (hanyalah) akan berlangsung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlalu sebagaimana berlalunya bayangan, atau sebagai hilangnya awan melayang. Oleh karena itu, dalam peristiwa-peristiwa ini saya bangkit hingga kebatilan dihancurkan dan lenyap, dan agama mendapatkan kedamaian dan keselamatan. – Nahjul Balaghah surat 62

Mengapa Ali tidak bertindak mengambil kembali haknya?

Para Washi Anbiya punyai satu kaedah yang menuruti perintah Allah. Tanggung jawab yang mereka sandang telah dikhususkan untuk diamalkan dan Imam Ali juga sebagai Washi Rasulullah juga tidak terkecuali dalam perkara ini. Oleh itu beliau tidak boleh bangun dengan menghunuskan pedang dan mengambil kembali kekhalifahan dengan cara kekerasan. Dengan merujuk kepada sejarah para nabi dapatlah kita memahami bahawa Ali tidak punyai cara lain dari mendiamkan diri.

al-Quran menceritakan nabi Allah Nuh (as) mengatakan:

فَدَعا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِر

54. 10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”

Baginda berdoa kepada Allah bahawa saya dikalahkan, maka bantulah aku. Begitujuga dalam surah Maryam bahawasanya Nabi Allah Ibrahim (as) berkata:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَما تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ وَأَدْعُوا رَبِّي

19. 48. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Telah tercatat dalam sejarah bahawa Nabi Ibrahim berangkat dari babylon ke pergunungan tanah Parsi dan tinggal disekitarnya selama 7 tahun. Setelah itu baginda kembali lagi ke Babylon dan menghancurkan berhala-berhala serta mendakwa dirinya sebagai nabi

Begitu juga kisah ketakutan yang menimpa nabi Allah Musa (as):

فَخَرَجَ مِنْها خائِفاً يَتَرَقَّبُ قالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظّالِمِينَ

28. 21. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Begitu juga dalam surah al-’Araf, peristiwa kaum bani Israel menyembah sapi akibat termakan tipu daya Samiri tatkala pemergian nabi Musa. Nabi Allah Harun (as) juga berdiam diri dan Allah swt berfirman:

وأخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

7. 150. Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”

Harun adalah khalifah Nabi Musa sepeninggalan baginda pergi bermunajat kepada Allah. Namun Nabi Allah Harun tidak bangun dengan pedang menentang kesesatan kaumnya yang terpedaya dengan Samiri.

Rasulullah pernah menisbahkan Ali dengan diri baginda umpama Harun di sisi Musa melainkan tiada lagi Nabi setelah baginda. Oleh itu tindakan Ali tidak memprotes perampasan hak kekhalifahannya dengan pedang adalah menepati sirah para washi sebelumnya dengan penuh hikmah. Tatkala Ali dipaksa memberi Bai’ah, beliau telah pergi ke makam Rasulullah dan mengulangi kalimah Nabi Allah Harun (as):

إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

Mughazali, ahli Fiqh Syafie dan Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib dan ‘Allamah al-Faqih ibnu al-Maghazali menukilkan bahawasanya Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Talib:

عن أبي عثمان النهدي عن علي كرم الله وجهه قال : كنت أمشي مع رسول الله (ص) فأتينا على حديقة فاعتنقني ثم أجهش باكيا فقلت يا رسول الله ما يبكيك ؟ فقال (ص) : أبكي لضغائن في صدر قوم لا يبدونها لك إلا بعدي قلت : في سلامة من ديني ؟ قال في سلامة من دينك.

Diriwayatkan oleh al-‘Allamah al-Kanji al-Syafi’ie di dalam kitab Kifayah al-Thalib, bab 16 dengan sanad kepada Ibnu ‘Asakir yang bersanad kepada Anas bin Malik dan riwayat-riwayat yang lain seperti mana di dalam al-Manaqib dan Yanabi’. kemudian ‘Allamah al-Kanji berkata setelah menukilkan riwayat ini mengatakan Hadis ini Hasan:

Ummat ini punyai perseteruan di dalam dada mereka yang akan mereka lahirkan sepeninggalanku nanti. Aku berpesan padamu supaya bersabar. Semoga Allah mengurniakan kebaikan buatmu.

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

بحار الانوار، ج 32، ص111 ; الكافئه، ص19

Demi Allah, mata-mata menangis, hati-hati teraniaya dan dada-dada kami sudah penuh dari kemarahan, perseteruan dan permusuhan. Jikalau tidak takut akan perpecahan kaum muslimin yang membawa kepada kekufuran mereka, demi Allah akan setiap saat akan saya ubah kekhalifahan, namun saya mendiamkan diri… Biharul Anwar, jil 32 halaman 111

Kesimpulan

Dengan ini dapat kita rumuskan, diamnya Ali bin Abi Talib dan beliau membiarkan Abu Bakar memerintah bukanlah dalil keridhaannya, hakikatnya beliau ingin menjaga agama Islam dari musnah

Imam Ali bin Abi Talib menganggap pemerintahan Abu Bakar sebagai diktator dan menganggap Umar tidak layak menjadi khalifah karena Abu Bakar dan Umar adalah pengkhianat, memprotes keras pemilihan Usman sebagai khalifah serta menganggap khalifah yang lalu sebelumnya adalah perampas

Sikap Ali bin Abi Talib (a.s.) terhadap jawatan khalifah.

Sahnya kekhalifahan Ali bin Abi Talib atau batilnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Uthman setelah kewafatan Rasulullah telah disabitkan dengan banyak dalil yang bersumber dari kitab-kitab Ahlusunnah. Namun begitu puak pelampau fanatic Wahabi masih tidak berhenti-henti mencari bahan untuk mencetuskan keraguan orang awam dari terhadap perkara ini.

Artikel saya kali ini meneliti protes dan pengingkaran Ali bin Abi Talib selama hayatnya terhadap kekhalifahan yang tidak sah tersebut dalam lembaran sejarah sekaligus menghancurkan hikayat dongeng: Diamnya Ali menunjukkan sahnya kekhalifan Abu Bakar. Jikalau rampasan kuasa berlaku sudah tentu pedang Zulfiqar telah terhunus sampai haknya kembali kepada pemiliknya.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah adalah satu kesilapan.

Abu Bakar mengakui: “Pembai’atan kepadaku adalah kesilapan dan Allah memelihara keburukannya…. ” إنّ بيعتي كانت فلتة وقى اللّه شرّها… Ansab al-Asyraf lil Bilazari jil 1 halaman 590, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 6 halaman 47

Umar al-Khattab telah berterus terang menyatakan: إنّ بيعة أبي بكر كانت فلتة وقى اللّه شرّها فمن عاد إلى مثلها فاقتلوه… Pembai’atan kepada Abu Bakar adalah kesilapan, Allah memelihara keburukannya, maka barangsiapa yang kembali kepada Bai’at seperti ini maka bunuhlah ia. – Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 2 halaman 26, Musnad Ahmad jil 1 halaman 55,

Sahih Bukhari jil 8 halaman 26:

فَوَاللَّهِ مَا كَانَتْ بَيْعَةُ أَبِى بَكْرٍ إِلاَّ فَلْتَةً

صحيح البجاری – المحاربين – باب رَجْمِ الْحُبْلَى مِنَ الزِّنَا إِذَا أَحْصَنَتْ

“Demi Allah, tidak lah bai’at kepada Abu Bakar melainkan kesilapan” – Sahih Bukhari

Menurut Ali bin Abi Talib, khalifah itu hak khusus untuk Ahlul Bait (as)

Ali bin Abi Talib menganggap khalifah adalah hak khusus untuk Ahlul Bait. Khalifah menurut pemilihan adalah bertentangan dengan Kitab dan Sunnah. Perkara ini beberapa kali ditemui dalam Nahjul Balaghah:

ولهم خصائصُ حقِّ الولاية، وفيهم الوصيّةُ والوِراثةُ.

نهج البلاغة عبده ج 1 ص 30، نهج البلاغة ( صبحي الصالح ) خطبة 2 ص 47، شرح نهج البلاغة ابن أبي الحديد ج 1 ص 139، ينابيع المودة قندوزي حنفي ج 3 ص 449 .

“Kepimpinan adalah hak Khusus bagi mereka (Ahlul Bait) dan mereka Washi dan waris (Rasulullah)” – Nahjul Balaghah Abduh jil 1 halaman 30 khutbah 2 halaman 47, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 1 halaman 139, Yanabi’ul Mawaddah jil 3 halaman 449

Surat Ali bin Abi Talib kepada warga Mesir:

فو اللّه ماكان يُلْقَى في رُوعِي ولا يَخْطُرُ بِبالي أنّ العَرَب تُزْعِجُ هذا الأمْرَ من بعده صلى اللّه عليه وآله عن أهل بيته ، ولا أنّهم مُنَحُّوهُ عَنّي من بعده.

نهج البلاغة، الكتاب الرقم 62، كتابه إلى أهل مصر مع مالك الأشتر لمّا ولاه إمارتها، شرح نهج البلاغه ابن أبي الحديد: 95/6، و151/17، الإمامة والسياسة: 133/1 بتحقيق الدكتور طه الزيني ط. مؤسسة الحلبي القاهرة .

“Maka demi Allah, tidak ia ditemukan dalam jiwaku, tidak terbayang di jiwaku bahawa bangsa Arab merebut urusan ini setelah nabi (saw) daripada Ahlul Baitnya, dan mereka mengalihkan ia daripadaku sepeninggalan baginda.”– Nahjul Balaghah surat 62, surat Imam Ali kepada warga Mesir

Dalam khutbah Ali ke-74, beliau berkata:

لَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا مِنْ غَيْرِي وَ وَ اللَّهِ لَأُسْلِمَنَّ مَا سَلِمَتْ أُمُورُ الْمُسْلِمِينَ وَ لَمْ يَكُنْ فِيهَا جَوْرٌ إِلَّا عَلَيَّ خَاصَّةً الْتِمَاساً لِأَجْرِ ذَلِكَ وَ فَضْلِهِ وَ زُهْداً فِيمَا تَنَافَسْتُمُوهُ مِنْ زُخْرُفِهِ وَ زِبْرِجِهِ.

“sesungguhnya kalian telah tahu bahawa saya manusia paling berhak dengannya (khalifah) daripada selainku. Demi Allah selama urusan kaum muslimin tinggal utuh, dan tidak ada penindasan di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang anda cita-citakan”– Nahjul Balaghah khutbah 74, Khutbah Ali bin Abi Talib tatkala orang ramai hendak memberi Bai’at kepada Uthman.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap pemerintahan Abu Bakar sebagai diktator

Ali bin Abi Talib menganggap kekhalifahan Abu Bakar bukan berasaskan demokrasi, namun beliau terus saja mengatakan kekhalifahan Abu Bakar adalah diktator

وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالأَمْرِ ، وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَصِيبًا . حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِى بَكْرٍ

صحيح البخارى: 82/5، كتاب المغازي، با غزوة خيبر، مسلم، ج 5، ص 154، (چاپ جديد: ص 729 ح 1758)، كتاب الجهاد، باب قول النبي (ص) لانورَث ما تركناه صدقة .

Ali bin Abi Talib mengatakan, “Akan tetapi dikau telah bertindak sewenang-wenangnya atas kami dengan urusan, dan kami melihat kekerabatan kami dengan Rasulullah. Maka air mata Abu Bakar menitis”.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap Umar tidak layak menjadi khalifah

Tatkala telah diketahui bahawasanya Abu Bakar memutuskan ingin melantik Umar sebagai khalifah, dalam Tabaqat Ibnu Sa’ad, Ali telah menentang keras dan berkata dengan terus terang sebagai berikut:

عن عائشة قالت لما حضرت أبا بكر الوفاة استخلف عمر فدخل عليه علي وطلحة فقالا من استخلفت قال عمر قالا فماذا أنت قائل لربك قال بالله تعرفاني لأنا أعلم بالله وبعمر منكما أقول استخلفت عليهم خير أهلك.

الطبقات: 196/3، تاريخ مدينة دمشق: 251/44، عمر بن الخطاب للاستاذ عبد الكريم الخطيب ص 75 .

‘Aisyah mengatakan tatkala hadirnya kematian di sisi Abu Bakar, maka masuklah Ali dan Talhah, maka bertanyalah mereka, siapakah yang menjadi khalifah? Dia menjawab, Umar. Mereka berkata, Apa yang anda akan katakan kepada Allah? Dia menjawab, Apakah kau perkenalkan Allah kepadaku? saya lebih mengenali Allah dan Umar daripada kalian, saya akan berkata kepada Allah, saya melantik sebaik-baik hambaMu sebagai khalifah. – Tabaqat, jil 3 halaman 196

Imam Ali bin Abi Talib memprotes keras pemilihan Uthman sebagai khalifah

Ali memaklumkan bantahannya sehingga menyebabkan ‘Abdul Rahman bin ‘Auf memberi ancaman bunuh (al-Imamah wal Siyasah, jil 1 halaman 45):

قال عبد الرحمن بن عوف : فلا تجعل يا علي سبيلاً إلى نفسك ، فإنّه السيف لا غير .

الامامة والسياسة ، تحقيق الشيري ج 1 ص 45، تحقيق الزيني ج 1 ص‏31 .

Telah berkata ‘Abdul Rahman bin ‘Auf, “Janganlah engkau jadikan jalan kepada dirimu wahai Ali, sesungguhnya ia adalah pedang tiada yang lain lagi” – Al-Imamah wal Siyasah, jilid 1 halaman 45

فَيَا لَلَّهِ وَ لِلشُّورَى مَتَى اعْتَرَضَ الرَّيْبُ فِيَّ مَعَ الْأَوَّلِ مِنْهُمْ حَتَّى صِرْتُ أُقْرَنُ إِلَى هَذِهِ النَّظَائِرِ لَكِنِّي أَسْفَفْتُ إِذْ أَسَفُّوا وَ طِرْتُ إِذْ طَارُوا فَصَغَا رَجُلٌ مِنْهُمْ لِضِغْنِهِ وَ مَالَ الآخَرُ لِصِهْرِهِ مَعَ هَنٍ وَ هَنٍ إِلَى أَنْ قَامَ ثَالِثُ الْقَوْمِ نَافِجاً حِضْنَيْهِ بَيْنَ نَثِيلِهِ وَ مُعْتَلَفِهِ وَ قَامَ مَعَهُ بَنُو أَبِيهِ يَخْضَمُونَ مَالَ اللَّهِ خِضْمَةَ الْإِبِلِ نِبْتَةَ الرَّبِيعِ إِلَى أَنِ انْتَكَثَ عَلَيْهِ فَتْلُهُ وَ أَجْهَزَ عَلَيْهِ عَمَلُهُ وَ كَبَتْ بِهِ بِطْنَتُهُ.

Aku berlindung dengan Allah dari Syura ini! pada zaman bilakah saya disetarakan dengan para anggota Syura di mana saya seperti yang mereka khayalkan, dan mereka telah letakkan saya dalam barisan itu. Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya pun bangkit sambil menelan harta Allah seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.

Imam Ali mengatakan Abu Bakar dan Umar adalah pengkhianat

Abu Bakar dan Umar adalah pembohong, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat menurut Ai bin Abi Talib. Seperti mana di dalam kitab Sahih Muslim iaitu kitab yang paling sahih setelah al-Quran, Umar mengatakan kepada Abbas dan Ali:

فلمّا توفّي رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، قال أبو بكر: أنا ولي رسول اللّه… فرأيتماه كاذباً آثماً غادراً خائناً… ثمّ توفّي أبو بكر فقلت : أنا وليّ رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، ولي أبي بكر، فرأيتماني كاذباً آثماً غادراً خائناً ! واللّه يعلم أنّي لصادق، بارّ، تابع للحقّ! .

صحيح مسلم ج 5 ص 152، (ص 728 ح 1757) كتاب الجهاد باب 15 حكم الفئ حديث 49، فتح الباري ج 6 ص 144 .

Setelah wafatnya Rasulullah (saw) Abu Bakar berkata: Aku pemimpin setelah Rasulullah… dan kalian berdua menganggap saya pendusta, pendosa, curang dan pengkhianat. Kemudian setelah wafatnya Abu Bakar, saya telah berkata: Sayalah pemimpin setelah Rasulullah (saw), pemimpin setelah Abu Bakar, maka kalian berdua melihat saya sebagai pendusta, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat!…. Sahih Muslim Kitab alJihad Bab 15

Imam Ali (as) menganggap khalifah yang lalu sebelumnya adalah perampas

Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini, Ali tetap saja menganggap khalifah sebelum daripadanya tidak Syar’i dan perampas. Beliau menulis dalam surat kepada ‘Aqil seperti berikut:

فَجَزَتْ قُرَيْشاً عَنِّي الْجَوَازِي فَقَدْ قَطَعُوا رَحِمِي وَ سَلَبُونِي سُلْطَانَ ابْنِ أُمِّي.

نهج البلاغة، كتاب رقم 36 .

Saya berhasrat kiranya orang Qurasy mendapat pembalasan atas perlakuan mereka terhadap saya. Kerana mereka mengabaikan kekerabatan dan merebut kekuasaan yang menjadi hak saya dari putera ibu saya (Nabi saw). – Nahjul Balaghah kitab nombor 36.

Dan Ibnu Abil Hadid di dalam kitabnya:

وغصبوني حقي ، وأجمعوا على منازعتي أمرا كنت أولى به.

شرح نهج البلاغة لابن أبي الحديد، ج 4، ص‏104، ج 9، ص 306 .

Mereka telah merampas hak saya, dan mereka berkumpul di atas perselisihan urusan kepimpinan yang mana saya lebih berhak atasnya. – Syarah Ibnu Abil Hadid jil 4 halaman 102, jil 9 halaman 306

دعوكم خليفة رسول الله (ص) لسريع ما كذبتم على رسول الله (ص) ثمّ قال أبو بكر : عد إليه فقل : أمير المؤمنين يدعوكم ، فرفع علي صوته فقال : سبحان الله لقد ادعى ما ليس له .

الإمامة والسياسة بتحقيق الزينى، ص 19 وبتحقيق الشيري، ص 30 .

Ibnu Qutaibah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar mengutus Qanfiz kepada Ali, beliau mengatakan, “Khalifah Rasulullah memanggil kalian” Ali menjawab, “Betapa cepatnya kalian mendustakan Rasulullah (saw). Abu Bakar kali kedua mengutus Qanfiz dan berkata, “Katakan padanya Amirulmukminin memanggil kalian” Ali meninggikan suara, “Subhanallah, sesungguhnya anda mendakwa apa yang bukan pada tempatnya!” – al-Imamah wal Siyasah halaman 19

Dengan ini punahlah kepercayaan yang mengatakan bahawa Ali (as) menganggap khalifah sebelumnya adalah sah menurut hukum syarak.

Apakah Ijma’ para sahabat merupakan dalil keridhaan Allah?

فَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى رَجُلٍ وَ سَمَّوْهُ إِمَاماً كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا .

Kata-katanya, “Maka sesungguhnya jikalau mereka (Muhajirin dan Ansar) berijmak atas seseorang dan menamakannya sebagai Imam, maka keridhaan Allah untuk itu”

Adapun kata-kata beliau, “Jikalau Muhajirin dan Ansar datang mengangkat seseorang itu sebagai Imam, Maka keridhaan tuhan di dalamnya”.

Saudara kita Ahlusunnah tidak boleh menggunakan kata-kata Ali ini sebagai dalil sahnya kekhalifahan sebelum beliau kerana:

Pertamanya: dalam beberapa naskah Nahjul Balaghah ayat «كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا» tertulis dengan «كَانَ ذَلِكَ رِضًا» tanpa penambahan kalimah «لِلَّهِ». (silakan rujuk Nahjul Balaghah cetakan Misr, Qahirah, al-Istiqamah di mana kalimah «لِلَّهِ» telah termasuk di dalamnya).

Oleh itu jikalau Muhajirin dan Ansar mengangkat seseorang itu sebagai khalifah merupakan dalil keridhaan mereka ke atas pemilihan ini. Pembai‘atan ini juga bukanlah kesan dari pemaksaan atau ancaman pedang.

Kedua: Jikalau kita tanggapi bahawa kalimah «للّه» wujud dalam teks Nahjul Balaghah itu, maka maksudnya sudah tentu semua Muhajirin dan Ansar termasuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang bersepakatan atas keimaman seseorang. Pastilah ini menunjukkan keridhaan Allah (swt).

Adakah Fathimah Zahra membai’at Abu Bakar?

Tidakkah keridhaan Fathimah merupakan keridhaan Nabi (saw). Hakim Nisyaburi menyatakan:

إنّ اللّه يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك.

“Sesungguhnya Allah murka kepada siapa yang menyebabkan engkau marah dan meridhai barangsiapa yang membuatkan engkau ridha”.

Hadis ini dikatakannya:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

مستدرك: 153/3، مجمع الزوائد: 203/9، الآحاد والمثاني للضحاك: 363/5، الإصابة: 266265/8، تهذيب التهذيب: 392/21، سبل الهدى والرشاد للصالحي الشامي: 11/ 44 .

“ Sahih persanadannya namun Bukhari dan Muslim tidak menyebutnya”. – Mustadrak jilid 3 halaman 153

Bukhari menyatakan Rasulullah bersabda:

فاطمة بَضْعَة منّى فمن أغضبها أغضبني .

صحيح البخارى 210/4، (ص 710، ح 3714)، كتاب فضائل الصحابة، ب 12 – باب مَنَاقِبُ قَرَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه‏وسلم . و 219/4 ، (ص 717، ح 3767) كتاب فضائل الصحابة ، ب 29 – باب مَنَاقِبُ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, barangsiapa membuatkan dia marah maka ia telah membuatkan aku marah” – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 210

Muslim Nisyaburi menukilkan baginda bersabda:

إِنَّمَا فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يُؤْذِينِي مَا آذَاهَا.

صحيح مسلم 141/7 ح 6202 كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم، ب 15 -باب فَضَائِلِ فَاطِمَةَ بِنْتِ النَّبِيِّ عَلَيْهَا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, akan membuatkan aku sakit barangsiapa menyakiti beliau”. – Sahih Muslim jilid 7 halaman 141.

Tidak ada syak lagi Sayida Zahra bukan sahaja tidak member Bai’at kepada Abu Bakar, malahan murka kepada Abu Bakar sampai beliau meninggal dunia sebagai mana dinukilkan oleh Bukhari:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ.

صحيح البخارى: 42/4، ح 3093، كتاب فرض الخمس، ب 1 – باب فَرْضِ الْخُمُسِ .

“Marahlah Fathimah binti Rasulullah (saw) kepada Abu Bakar, maka tidak hilang kemurkaannya sehingga beliau wafat”. – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 42

Dengan ini beliau telah memberi wasiat kepada Ali supaya jenazahnya dikebumikan pada waktu malam tanpa memaklumkan shalat jenazah beliau kepada Abu Bakar yang mengakui dirinya sebagai khalifah setelah Nabi (saw).

فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ، دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلاً، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا .

صحيح بخارى، ج 5، ص 82، ح 4240، كتاب المغازى، ب 38، باب غَزْوَةُ خَيْبَرَ، صحيح مسلم، ج 5، ص 154، ح 4470، كتاب الجهاد والسير (المغازى )، ب 16 – باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم «لاَ نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ» .

“Maka tatkala beliau wafat, suaminya Ali menyemadikannya di waktu malam, dan beliau tidak pernah mengizinkan Abu Bakar menyolati jenazahnya”. – Sahih Bukhari jilid 5 halaman 154.

Imam Ali (as) tidak berada di kalangan Muhajirin dan Ansar dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Ali (as) tidak membai’at Abu Bakar sampai 6 bulan.

وعاشت بعد النبي صلى الله عليه وسلم، ستة أشهر… ولم يكن يبايع تلك الأشهر .

صحيح البخاري، ج 5، ص 82، صحيح مسلم، ج 5، ص 154.

Fathimah az-Zahra hidup setelah 6 bulan wafatnya Rasulullah….. beliau tidak memberi Bai’at selama itu- Sahih Bukhari – Sahih Bukhari jil 5 halaman 82

Tidakkah Bai’at Ali (as) merupakan dalil sahnya kekhalifahan Abu Bakar? Tidakkah Bani Hashim menahan diri dari membai’at? Abdul Razak menerangkan:

فقال رجل للزهري : فلم يبايعه عليّ ستة أشهر ؟ قال : لا ، ولا أحد من بني هاشم .

المصنف لعبد الرزاق الصنعاني، ج 5، ص 472 – 473.

Seorang lelaki bertanya kepada Zuhri, “Apakah benar Ali (as) selama 6 bulan tidak memberi Bai’at?” beliau menjawab, “Ali dan Bani Hashim tidak memberi Bai’at” – Al-Mushannaf Abdul Razak jil 5 halaman 472-473

Komentar ini telah dinukilkan dalam Sunan Baihaqi, Tarikh Tabari dan Ibnu Athir dalam kedua kitab Rijal dan Tarikhnya. Rujukannya sebagai berikut:

اسد الغابة: 222/3 و الكامل في التاريخ ، ج 2 ، ص 325 و السنن الكبرى، ج 6، ص 300 و تاريخ الطبري، ج 2، ص 448 .

Asad al-Ghabah jilid 3 halaman 222, Kamil Fi Tarikh jilid 2 halaman 325, Sunan al-Kubra jilid 6 halaman 300 dan tarikh al-Tabari jilid 2 halaman 448

Tidakkah Ibnu Hazm salah seorang ulama besar Ahlusunnah mengatakan:

ولعنة اللّه على كلّ إجماع يخرج عنه على بن أبى طالب ومن بحضرته من الصحابة .

المحلى: ج 9، ص 345، بتحقيق أحمد محمد شاكر، ط. بيروت – دارالفكر .

“Laknat Allah ke atas seluruh Ijma’ yang mana Ali bin Abi Talib dan para sahabatnya tidak termasuk di dalamnya” – Al-Mahalli jil 9 halaman 325

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan: Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Ugamamu selamat. – al-Mu’jam al-Kabir Tabrani, jilid 11 halaman 60

Kebakhilan, menyebabkan Ali tidak mencapai kekhalifahan

Kekeliruan ini bukanlah perkara baru namun pertanyaan tentangnya terus berlegar dalam sejarah termasuk di zaman Ali sendiri. Seorang dari bani Asad bertanya kepada Ali:

كيف دفعكم قومكم عن هذا المقام وأنتم أحق به ؟

يَا أَخَا بَنِي أَسَدٍ إِنَّكَ لَقَلِقُ الْوَضِينِ تُرْسِلُ فِي غَيْرِ سَدَدٍ وَ لَكَ بَعْدُ ذِمَامَةُ الصِّهْرِ وَ حَقُّ الْمَسْأَلَةِ وَ قَدِ اسْتَعْلَمْتَ فَاعْلَمْ أَمَّا الِاسْتِبْدَادُ عَلَيْنَا بِهَذَا الْمَقَامِ وَ نَحْنُ الاَعْلَوْنَ نَسَباً وَ الأَشَدُّونَ بِالرَّسُولِ ص نَوْطاً فَإِنَّهَا كَانَتْ أَثَرَةً شَحَّتْ عَلَيْهَا نُفُوسُ قَوْمٍ وَ سَخَتْ عَنْهَا نُفُوسُ آخَرِينَ وَ الْحَكَمُ اللَّهُ وَ الْمَعْوَدُ إِلَيْهِ الْقِيَامَةُ

وَ دَعْ عَنْكَ نَهْباً صِيحَ فِي حَجَرَاتِهِ‏

وَ لَكِنْ حَدِيثاً مَا حَدِيثُ الرَّوَاحِلِ‏

نهج البلاغة ، خطبة 162، نهج البلاغه محمد عبده ، ج2 ،‌ ص64 و شرح ابن أبي الحديد ، ج9 ، ص 241 و علل الشرايع ، ج1 ،‌ ص146 .

Seorang dari Bani Asad bertanya pada Imam Ali: Mengapakah engkau yang lebih layak menjadi khalifah namun mengenepikannya? Ali menjawab: Wahai saudara Bani Asad engkau seorang yang menyedihkan dan bertanya bukan pada tempatnya, walau bagaimanapun sebagai penghormatan atas persaudaraan, hak pertanyaan dihormati. Sekarang engkau mau tahu, maka ketahuilah kezaliman dan mementing diri dengan kekhalifahan itu membebani kami, dalam keadaan kami lebih kukuh pertalian nasab dengan rasul, bukanlah egois dan serakah memonopoli namun: sekumpulan orang yang bakhil melekat dengan singgahsana kekhalifahan, dan sekumpulan orang dengan bebas merampasnya, dan hakim adalah Allah dan kita semua kembali kepadaNya di hari kiamat….. kembalilah, kenangkan sejarah kisah para perampas, kisah yang menyingkap perompakan para penunggang unta- Nahjul Balaghah Muhammad Abduh, jil 2 hal 64

Perseteruan terhadap Imam Ali yang terpendam di dalam dada

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan:

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Agamamu selamat

Perkara ini sangat jelas terkandung dalam teks Nahjul Balaghah seperti berikut:

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ بَعَثَ مُحَمَّداً(صلى الله عليه وآله) نَذِيراً لِلْعَالَمِينَ وَ مُهَيْمِناً عَلَى الْمُرْسَلِينَ فَلَمَّا مَضَى ع تَنَازَعَ الْمُسْلِمُونَ الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ

فَوَاللَّهِ مَا كَانَ يُلْقَى فِي رُوعِي وَ لَا يَخْطُرُ بِبَالِي أَنَّ الْعَرَبَ تُزْعِجُ هَذَا الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ ص عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَ لاَ أَنَّهُمْ مُنَحُّوهُ عَنِّي مِنْ بَعْدِهِ فَمَا رَاعَنِي إِلَّا انْثِيَالُ النَّاسِ عَلَى فُلَان يُبَايِعُونَهُ

فَأَمْسَكْتُ يَدِي حَتَّى رَأَيْتُ رَاجِعَةَ النَّاسِ قَدْ رَجَعَتْ عَنِ الإِْسْلاَمِ يَدْعُونَ إِلَى مَحْقِ دَيْنِ مُحَمَّد ص فَخَشِيتُ إِنْ لَمْ أَنْصُرِ الاِْسْلاَمَ وَ أَهْلَهُ أَنْ أَرَى فِيهِ ثَلْماً أَوْ هَدْماً تَكُونُ الْمُصِيبَةُ بِهِ عَلَيَّ أَعْظَمَ مِنْ فَوْتِ وِلاَيَتِكُمُ الَّتِي إِنَّمَا هِيَ مَتَاعُ أَيَّام قَلَائِلَ يَزُولُ مِنْهَا مَا كَانَ كَمَا يَزُولُ السَّرَابُ أَوْ كَمَا يَتَقَشَّعُ السَّحَابُ فَنَهَضْتُ فِي تِلْكَ الاَْحْدَاثِ حَتَّى زَاحَ الْبَاطِلُ وَ زَهَقَ وَ اطْمَأَنَّ الدِّينُ وَ تَنَهْنَهَ

Amma ba’du, Allah Yang Mahasuci mengutus Muhammad (saw) sebagai pemberi peringatan bagi seluruh dunia dan saksi bagi semua nabi. Ketika Nabi wafat, kaum Muslim bertengkar tentang kekuasaan sepeninggal baginda.

Demi Allah, tak pernah terlintas difikiran saya, dan saya tak pernah membayangkan, bahawa setelah Nabi orang Arab akan meragut kekhalifahan ini daripada Ahlul Bait setelah baginda, mereka akan mengalihnya daripada saya setelah baginda, tidak saya bimbang melainkan manusia secara mendadak dari mana hala membaiat lelaki itu.

Oleh kerana itu, saya menahan tangan saya hingga saya melihat bahawa ramai orang sedang menghindar dari Islam dan berusaha untuk membinasakan agama Muhammad (saw). Maka saya khuatir bahwa apabila saya tidak melindungi Islam dan umatnya lalu terjadi di dalamnya suatu perpecahan atau kehancuran, hal itu akan merupakan suatu pukulan yang lebih besar kepada saya daripada hilangnya kekuasaan atas anda, yang bagaimanapun (hanyalah) akan berlangsung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlalu sebagaimana berlalunya bayangan, atau sebagai hilangnya awan melayang. Oleh karena itu, dalam peristiwa-peristiwa ini saya bangkit hingga kebatilan dihancurkan dan lenyap, dan agama mendapatkan kedamaian dan keselamatan. – Nahjul Balaghah surat 62

Mengapa Ali tidak bertindak mengambil kembali haknya?

Para Washi Anbiya punyai satu kaedah yang menuruti perintah Allah. Tanggung jawab yang mereka sandang telah dikhususkan untuk diamalkan dan Imam Ali juga sebagai Washi Rasulullah juga tidak terkecuali dalam perkara ini. Oleh itu beliau tidak boleh bangun dengan menghunuskan pedang dan mengambil kembali kekhalifahan dengan cara kekerasan. Dengan merujuk kepada sejarah para nabi dapatlah kita memahami bahawa Ali tidak punyai cara lain dari mendiamkan diri.

al-Quran menceritakan nabi Allah Nuh (as) mengatakan:

فَدَعا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِر

54. 10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”

Baginda berdoa kepada Allah bahawa saya dikalahkan, maka bantulah aku. Begitujuga dalam surah Maryam bahawasanya Nabi Allah Ibrahim (as) berkata:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَما تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ وَأَدْعُوا رَبِّي

19. 48. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Telah tercatat dalam sejarah bahawa Nabi Ibrahim berangkat dari babylon ke pergunungan tanah Parsi dan tinggal disekitarnya selama 7 tahun. Setelah itu baginda kembali lagi ke Babylon dan menghancurkan berhala-berhala serta mendakwa dirinya sebagai nabi

Begitu juga kisah ketakutan yang menimpa nabi Allah Musa (as):

فَخَرَجَ مِنْها خائِفاً يَتَرَقَّبُ قالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظّالِمِينَ

28. 21. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Begitu juga dalam surah al-’Araf, peristiwa kaum bani Israel menyembah sapi akibat termakan tipu daya Samiri tatkala pemergian nabi Musa. Nabi Allah Harun (as) juga berdiam diri dan Allah swt berfirman:

وأخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

7. 150. Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”

Harun adalah khalifah Nabi Musa sepeninggalan baginda pergi bermunajat kepada Allah. Namun Nabi Allah Harun tidak bangun dengan pedang menentang kesesatan kaumnya yang terpedaya dengan Samiri.

Rasulullah pernah menisbahkan Ali dengan diri baginda umpama Harun di sisi Musa melainkan tiada lagi Nabi setelah baginda. Oleh itu tindakan Ali tidak memprotes perampasan hak kekhalifahannya dengan pedang adalah menepati sirah para washi sebelumnya dengan penuh hikmah. Tatkala Ali dipaksa memberi Bai’ah, beliau telah pergi ke makam Rasulullah dan mengulangi kalimah Nabi Allah Harun (as):

إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

Mughazali, ahli Fiqh Syafie dan Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib dan ‘Allamah al-Faqih ibnu al-Maghazali menukilkan bahawasanya Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Talib:

عن أبي عثمان النهدي عن علي كرم الله وجهه قال : كنت أمشي مع رسول الله (ص) فأتينا على حديقة فاعتنقني ثم أجهش باكيا فقلت يا رسول الله ما يبكيك ؟ فقال (ص) : أبكي لضغائن في صدر قوم لا يبدونها لك إلا بعدي قلت : في سلامة من ديني ؟ قال في سلامة من دينك.

Diriwayatkan oleh al-‘Allamah al-Kanji al-Syafi’ie di dalam kitab Kifayah al-Thalib, bab 16 dengan sanad kepada Ibnu ‘Asakir yang bersanad kepada Anas bin Malik dan riwayat-riwayat yang lain seperti mana di dalam al-Manaqib dan Yanabi’. kemudian ‘Allamah al-Kanji berkata setelah menukilkan riwayat ini mengatakan Hadis ini Hasan:

Ummat ini punyai perseteruan di dalam dada mereka yang akan mereka lahirkan sepeninggalanku nanti. Aku berpesan padamu supaya bersabar. Semoga Allah mengurniakan kebaikan buatmu.

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

بحار الانوار، ج 32، ص111 ; الكافئه، ص19

Demi Allah, mata-mata menangis, hati-hati teraniaya dan dada-dada kami sudah penuh dari kemarahan, perseteruan dan permusuhan. Jikalau tidak takut akan perpecahan kaum muslimin yang membawa kepada kekufuran mereka, demi Allah akan setiap saat akan saya ubah kekhalifahan, namun saya mendiamkan diri… Biharul Anwar, jil 32 halaman 111

Hujjatul Islam Moawenian dalam ceramahnya menceritakan kisah berikut. Ulama besar Syiah, Allamah Amini, menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana di hadapan para ulama ahlusunah: Siapakah imamnya Fatimah binti Muhammad?

Ada sebuah kisah nyata tentang Allamah Amini (penulis kitab al-Ghadir). Allamah Amini diundang oleh para ulama suni dalam sebuah acara makan malam ketika beliau ada di Mekah atau Madinah. Pertama kalinya beliau menolak, tapi mereka memaksa. Namun kemudian, beliau menerima dengan satu syarat bahwa dia hanya datang untuk makan malam, bukan diskusi, karena pandangan beliau sudah dikenal. Mereka menerima persyaratannya. Mereka mengatakan kalau beliau datang, barulah akan dipikirkan apa yang akan dilakukan.

Dalam pertemuan tersebut terdapat sekitar 70-80 ulama besar suni yang menghafal antara 10-100 ribu hadis yang ada. Setelah mereka makan, mereka ingin mengajaknya terlibat dalam diskusi dan dengan cara ini mereka dapat membuatnya terdiam. Tapi Allamah Amini mengingatkan mereka tentang peraturan bahwa dia datang hanya untuk makan malam.

Salah satu di antara mereka kemudian mengatakan bahwa akan lebih baik jika masing-masing di antara yang hadir dapat mengutipkan sebuah hadis. Dengan cara ini, allamah juga akan terlibat menyampaikan hadis dan hadis tersebut dapat membantu mereka untuk memulai diskusi. Semuanya menyampaikan sebuah hadis sampai akhirnya giliran Allamah Amini. Mereka memintanya untuk menyampaikan sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw.

Allamah mengatakan tidak masalah, tapi dia akan menyampaikan sebuah hadis dengan satu syarat: setelah hadis disampaikan, masing-masing dari kalian harus menyampaikan pandangan tentang sanad dan kebenaran hadis tersebut. Mereka menerimanya.

Kemudian, beliau menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Siapa yang tidak mengenal imam zamannya kemudian meninggal, maka meninggalnya sama seperti pada masa jahiliah.”

من مات و لم يعرف إمام زمانه مات ميتة جاهلية

Kemudian ia bertanya kepada masing-masing dari mereka tentang kebenaran hadis tersebut. Mereka semua menyatakan bahwa hadis tersebut benar dan tidak ada keraguan tentangnya dalam semua kitab rujukan suni. Kemudian allamah mengatakan bahwa kalian semua sepakat tentang kebenaran hadis ini. “Baiklah, saya mempunyai satu pertanyaan. Katakan kepada saya apakah Fatimah mengenali imamnya? Lalu siapakah imamnya? Siapakah imamnya Fatimah?”

Tidak ada yang menjawabnya. Mereka semua terdiam dan setelah beberapa lama satu per satu meninggalkan tempat. “Allah mengetahui bahwa saya melakukan diskusi ini dengan ulama suni di Masjidilharam dan dia adalah orang yang sangat ahli dan berpengetahuan. Dia hanya tertawa. Aku tanyakan kepadanya jawaban pertanyaan saya, tapi dia hanya tertawa.”

Saya mulai marah dan mengatakan padanya, “Apa yang Anda tertawakan?” Dia menjawab, “Saya menertawakan diri saya sendiri.” Saya tanya, “Benarkah?” Dia menjawab, “Ya.” Saya tanya lagi, “Mengapa?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Anda. Jika saya katakan Fatimah tidak mengenal imam pada zamannya, itu berarti dia wafat sebagai orang kafir. Tapi tidak mungkin pemimpin para wanita di dunia ini tidak mengenal imamnya. Tidak pernah mungkin!”

“Jika Fatimah mengenal imamnya, bagaimana saya bisa mengatakannya? Misal Abu Bakar adalah imamnya, tetapi Bukhari dalam kitabnya menuliskan fakta bahwa Fatimah wafat dalam keadaan marah… Tidak mungkin bagi Fatimah untuk marah kepada imamnya!”

Fatimah adalah alasan terkuat kami. Karena Fatimah, tidak ada tempat untuk menyembunyikan kebenaran. Karenanya, menghidupkan nama Fatimah dan menangis untuk kesyahidahannya adalah seruan kepada tauhid. Menangis untuk Fatimah, pintu dan rumahnya yang terbakar adalah menangis untuk Alquran yang juga terbakar!

Dengan ini dapat kita rumuskan, diamnya Ali bin Abi Talib dan beliau membiarkan Abu Bakar memerintah bukanlah dalil keridhaannya, hakikatnya beliau ingin menjaga agama Islam dari musnah

Perawi Syiah Dalam Hadis Sunni !!!Cukup lah sekadar saya memuatkan 5 nama contoh, dari ratusan perawi Syiah lain yang diterima oleh ulama Muhaddithin Sunni, jika hadis mereka di tolak, maka sebahagian besar hadis Sunni akan hilang dari kitab-kitab mereka

Perawi Syiah Dalam Hadis Sunni

Antara hujah Wahabi dalam percubaan mereka untuk mengdiskreditkan hujah-hujah yang dibawa oleh Syiah, adalah dengan mendhaifkan hadis yang di bawa Syiah, dengan alasan perawi sesebuah hadis itu adalah Syiah dan wajib ditolak

.

Pendapat ini jelas batil kerana, mengikut kajian kami bersandarkan kepada fakta yang kuat, para Imam Hadis Sunni, ramai dari mereka yang mengambil hadis dari perawi Syiah, malah, menyatakan mereka sebagai tsiqah, yakni boleh dipercayai. Jika mereka sendiri boleh mempercayai perawi Syiah, maka mengapa tidak kalian? Ternyata ini hanyalah ketololan Wahabi.

Berikut adalah antara Syiah Rafidi yang dijadikan sebagai perawi oleh Imam-Imam besar, muhaddithin Sunni.

1. Ubayd Allah b. Musa al-’Absi

Beliau merupakan perawi bagi kitab-kitab tersebut:

  • Sahih Bukhari [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab al-salat]
  • Sunan al-Nasa’i [kitab al-sahw]
  • Sunan Abu Dawud [kitab al-taharah]
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-muqaddamah]

Pendapat tentang beliau:

  • “Abu Daud berkata:  Beliau ialah seorang Syi’i yang kuat, hadis beliau adalah dibenarkan….Ibn Mandah berkata: Ahmad ibn Hanbal selalu menunjukkan ‘Ubaydullah kepada masyarakat, dan beliau terkenal sebagai Rafid (Syiah Ali yang ekstrim),dan beliau tidak akan membenarkan orang yang bernama Muawiyah memasuki rumahnya.’[Mazhab Imam Hadis, Bukhari dan para perawinya(Percetakan Salafi, UK, 1997), ms. 89 ;Al-Dhahabi, Siyar A'lam al-Nubala, jilid. 9, ms .553-557]
  • Seorang yang soleh, salah seorang sarjana Syiah yang penting … dianggap tsiqah oleh Yahya b. Ma’in, Abu Hatim beliau seorang yang tsiqah dan boleh dipercayai … al-’Ijli berkata: Beliau merupakan seorang pakar Quran…”[Al-Dhahabi, Tadhkirat al-Huffaz di bawah tajuk "'Ubayd Allah b. Musa al-'Absi"]

2. Abbad b. Ya’qub al-Rawajini

Beliau merupakan perawi bagi kitab berikut:

  • Sahih Bukhari  [kitab al-tawhid]
  • Sahih al-Tirmidhi  [kitab al-manaqib]
  • Sunan Ibn Majah  [kitab ma ja' fi al-jana'iz]

Pendapat tentang beliau:

  • Beliau seorang Rafidi yang boleh dipercayai dan hadisnya ada di dalam (Sahih) al-Bukhari.[Ibn Hajar al-'Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abbad b. Ya'qub al-Rawajani"]
  • Abu Hatim berkata: Beliau ialah seorang Syeikh yang terpercaya.  Ibn ‘Adi berkata: Beliau kerap menolak para Salaf. Beliau ialah seorang Syiah ekstrim.  Salih b. Muhammad berkata: Beliau pernah mengkritik Usman, Ibn Hibban berkata: beliau ialah seorang Rafidi yang mengajak (orang lain ke aqidahnya).  beliau meriwayatkan hadis ini …, “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbar ku, maka bunuhlah dia!”[Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abbad b. Ya'qub al-Rawajani"]

3. ‘Abd al-Malik b. A’yan al-Kufi

  • Sahih al-Bukhari [kitab al-tawhid]
  • Sahih Muslim [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab tafsir al-Qur'an]
  • Sunan al-Nasa’i [kitab al-'iman wa al-nudhur]
  • Sunan Abu Dawud [kitab al-buyu']
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-zakah]

Pendapat tentang beliau:

  • Beliau ialah seorang Syiah Rafidi seorang yang bijak berpendapat.[Abu Ja'far al-'Uqayli, Du'afa al-'Uqayli, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]
  • Beliau seorang Rafidi, dipercayai (saduq).[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]
  • Al-’Ijli berkata: Beliau berasal dari Kufah, seorang Tabi’i , dipercayai.Sufyan berkata: ‘Abd al-Malik b. ‘A’yan yang Shi’i meriwayatkan, beliau ialah seorang Rafidi pada kami, seorang yang bijak berpendapat. Hamid berkata: ketiga-tiga beradik itu, ‘Abd al-Malik, Zurarah, and Hamran semua mereka ialah Rawafid. Abu Hatim berkata:  Beliau adalah antara Syiah yang awal, beliau seorang yang benar, mempunyai hadis yang bagus dan hadis beliau tertulis.[Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]

4. Abd al-Razzaq al-San’ani

  • Sahih Bukhari  [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim  [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi  [kitab al-taharah]
  • Sunan Nasa’i  [kitab al-taharah]
  • Sunan Abi Dawud  [kitab al-taharah]
  • Sunan Ibn Majah  [kitab al-muqaddamah fi al-'iman]

Pendapat tentang beliau:

  • Ibn ‘Adi berkata:  mereka (para ulama) tidak nampak sebarang masalah pada hadis beliau kecuali beliau dikenali sebagai Syiah… seorang yang bermaruah … merawikan hadis kemuliaan Ahlulbait dan keburukan yang lain. Mukhlid al-Shu’ayri berkata:Aku bersama ‘Abd al-Razzaq apabila seseorang menyebut Mu’awiyah.  ‘Abd al-Razzaq berkata: ‘Jangan mencemarkan perhimpuanan ini dengan menyebut keturunan Abu Sufyan!’.[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, "'Abd al-Razzaq al-San'ani"]
  • Ibn ‘Adi merawikan dari ‘Abd al-Razzaq…, “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbar ku, maka bunuhlah dia!”.[Al-Dhahabi, Mizan al-'I'tidal, "'Abd al-Razzaq al-San'ani"]

5. Awf b. Abi Jamilah al-’A’rabi

  • Sahih Bukhari  [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim [kitab al-masajid wa mawadi' al-salat]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab al-salat]
  • Sunan Nasa’i [kitab al-taharah]
  • Sunan Abi Dawud [kitab al-salat]
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-salat]
  • Beliau seorang Rafidi tetapi dipercayai… Dianggap tsiqah oleh ramai ulama, dan beliau seorang Syiah

[Al-Dhahabi, Siyar A'lam al-Nubala, "'Awf b. Abi Jamilah"]

  • ‘Awf ialah seorang Qadari, Syi’i, dan Shaytan!

[Abu Ja'far al-'Uqayli, Du'afa al-'Uqayli, "'Awf b. Abi Jamilah"]

  • Al-Nasa’i berkata: Sangat dipercayai.

[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, "'Awf b. Abi Jamilah"]

Cukup lah sekadar saya memuatkan 5 nama contoh, dari ratusan perawi Syiah lain yang diterima oleh ulama Muhaddithin Sunni, dan mereka bersaksi atas kebenaran mereka, kerana jika tidak, masakan mereka akan dijadikan sumber perawi? Ternyata kesimpulannya di sini, jika hadis mereka di tolak, maka sebahagian besar hadis Sunni akan hilang dari kitab-kitab mereka

.

Wallahualam

Sistem Pendidikan Republik Islam Iran MENGGUNCANG DUNiA !!!!!

Sejak masa-masa awal kemenangan Revolusi Islam, masalah kemandirian di bidang ekonomi senantiasa menjadi perhatian utama. Pasalnya, pada era pra-revolusi, akibat kesalahan fatal politik Rezim Pahlevi, menyebabkan Iran amat bergantung dengan Barat, khususnya AS. Sebaliknya, pasca kemenangan Revolusi Islam, negara-negara Barat berupaya menekan dan mengancam Republik Islam Iran dengan pelbagai cara, termasuk dengan menerapkan embargo ekonomi.

Karena itu, Iran pun berusaha mencapai kemandirian di bidang pertanian dan industri. Upaya ini bahkan terus dilanjutkan, meski di saat Iran menjalani masa-masa sulit perang yang dipaksakan oleh Rezim Ba’ats, Irak selama delapan tahun. Upaya tiada kenal lelah inipun, akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Iran berhasil mencapai swasembada gandum, sebuah komoditas strategis pertanian. Sejak tahun lalu, Iran bahkan sanggup mengekspor hasil produksi gandumnya ke sejumlah negara. Begitu pula di berbagai komoditas pertanian lainnya. Iran juga berhasil meraih kemajuan dengan menerapkan program mekanisasi pertanian.

Salah satu dampak buruk yang diwariskan sistem perekonomian Rezim Pahlevi dan masih berpengaruh hingga kini adalah ketergantungan Iran terhadap pendapatan minyak bumi. Masalah ini membuat struktur ekonomi menjadi rapuh, namun dengan usaha keras pemerintah Republik Islam Iran, ketergantungan terhadap pendapatan minyak pun perlahan-lahan mulai dibatasi. Sebagai misal, pada tahun 2007-2008 ini, komposisi pendapatan minyak dalam anggaran negara Iran kurang dari 50 persen. Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir pendapatan dari sektor non-minyak makin naik secara signifikan. Berdasarkan sejumlah data, pendapatan Iran di sektor non-minyak pada tahun 2006 mengalami peningkatan 47 persen atau sekitar 16 miliar USD. Peningkatan ini membuat situasi ekonomi Iran relatif bisa bertahan meski harga minyak dunia mengalami fluktuatif.

Di sisi lain, untuk memanfaatkan secara optimal cadangan minyak, Iran berupaya meningkatkan produksi komoditas petrokimia dan olahan minyak lainnya agar lebih bermanfaat dan bernilai. Sehingga pada periode 2007-2008, produksi petrokimia Iran meningkat lebih dari 30 juta ton. Rencananya tiga tahun lagi, produksi di sektor ini akan ditingkatkan menjadi 58 juta ton.

Salah satu produksi industri Iran yang berhasil diekspor sejak beberapa tahun terakhir adalah produk otomotif. Iran mengekspor kendaraan penumpang dan barangnya ke berbagai negara seperti Syria, Turkmenistan, Afghanistan, Azerbaijan, dan Venezuela. Iran juga menjalin kerjasama pembangunan pabrik mobil dengan sejumlah negara. Pada tahun 2006, Iran mengeskpor lebih dari 30 ribu kendaraan senilai 350 juta USD. Pembangunan di bidang infrastruktur, seperti pembangunan jalan, rel kereta api, jembatan, jalan tol dalam kota, dan kereta api bawah tanah (subway) merupakan langkah pembangunan paling kentara pasca revolusi.

Kemajuan lain ekonomi Iran pasca Revolusi Islam adalah meningkatnya investasi asing, padahal Iran saat ini masih berada di bawah tekanan sanksi ekonomi AS. Tahun lalu, investasi asing di sektor perminyakan, yang merupakan salah satu bidang yang paling dikhawatirkan oleh AS, mengalami peningkatan sekitar 9 persen. Begitu juga di bidang gas, tingkat eksplorasi, produksi, dan ekspor di bidang ini mengalami peningkatan signifikan. Pada bulan Februari ini, menteri perminyakan Iran melaporkan adanya penemuan ladang gas baru dengan cadangan gas sebesar 11 triliun kaki kubik. Iran adalah negara pemilik cadangan gas terbesar kedua di dunia, setelah Rusia. Selain itu, Teheran juga telah menjalin beragam kontrak kerjasama di bidang gas dengan negara-negara lain. Sebagai contoh, baru-baru ini Iran dan Austria menandatangani kontrak ekspor gas senilai 50 miliar USD dan kerjasama produksi gas dengan Malaysia senilai 16 miliar USD.

Salah satu slogan utama Revolusi Islam Iran adalah meningkatkan taraf hidup rakyat, khususnya kalangan menengah ke bawah dan mewujudkan keadilan sosial. Karena itu, pemerintah Republik Islam Iran berusaha keras meningkatkan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Terlebih khusus di era kepemimpinan Presiden Ahmadinejad, yang lebih fokus untuk merealisasikan visi keadilan yang yang disuarakan oleh Revolusi Islam. Program kunjungan ke daerah Presiden Ahmadinejad beserta kabinetnya merupakan upaya serius pemerintah untuk menyentuh secara langsung persoalan rakyat di berbagai daerah sehingga bisa diupayakan tindakan yang lebih cepat untuk mengatasi persoalan daerah. Selama dua tahun pertama masa kepemimpinannya, Presiden Ahmadinejad berhasil mengunjungi 30 propinsi. Kini, di paruh kedua masa kepemiminannya, dia pun melaksanakan kembali rangkaian safari ke berbagai daerah untuk menganalisa dan menindaklanjuti kebijakan sebelumnya.

Masih di bidang pembangunan keadilan sosial, Pemerintahan Ahmadinejad juga mengeluarkan program pembagian ‘saham keadilan’. Lewat program ini, saham perusahaan-perusahaan negara dibagikan kepada kalangan masyarakat berpendapatan rendah, sementara hasil keuntungannya akan dikembalikan lagi kepada mereka.

Kendati Iran pasca revolusi, menghadapi beragam tekanan dan embargo, namun para ilmuan dan teknisi militer Iran tidak pernah menyerah untuk memajukan kekuatan pertahanan negaranya. Tak heran bila kini Iran berhasil meraih keberhasilan yang tidak pernah diduga sebelumnya di bidang persenjataan modern. Angkatan bersenjata RII, saat ini berhasil membuat dan mengembangkan berbagai bentuk roket, seperti roket darat ke darat, darat ke laut, dan darat ke udara. Begitu pula di bidang pembuatan helikopter dan pesawat tempur, para ilmuan Iran berhasil mencapai kemajuan yang menarik di bidang ini. Sejumlah pesawat tempur berteknologi tinggi baik berjenis tanpa awak maupun standar, berhasil dibuat oleh Iran.

Angkatan darat militer Iran juga berhasil membuat peralatan perang modern lainnya seperti, tank, panser, meriam, dan beragam bentuk senjata personal. Begitu pula di matra laut, kekuatan pertahanan laut Iran juga berhasil menorehkan prestasi gemilang. Seperti pembuatan beragam jenis kapal perang dan perahu cepat militer serta beragam persenjataan penting lainnya. Di bidang perangkat militer elektronik, Iran juga berhasil membuat gebrakan baru di bidang ini. Tak heran jika kini Iran menyatakan siap mengadapi ancaman perang elektronik.

Kemajuan mengagumkan Iran di bidang industri militer membuat sejumlah negara kian tertarik menjalin kerjasama dengan Iran. Saat ini, Iran telah mengekspor hasil-hasil industri militernya ke 57 negara.

Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.

Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini,  Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran. Mari belajar dari Iran.

Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.

Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Isu nuklir Iran adalah topik yang begitu akrab. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini, ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran.

Wilayah Negara Iran masuk dalam kategori Negara-negara timur tengah yang memiliki luas wilayah 1.648.195 kilometer persegi dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 sebesar 7.270.198 jiwa. Tingkat ekonomi pada tahun 2006 di Negara ini tergolong menengah kebawah pada tahun 2004 sebesar   US$ 2439.  Negara ini menmpati peringkat HDI ke 96 dari 177 negara. Dan  EDI ke 86 dari 125 negara.

Menurut dokumen yang disetujui oleh supreme council of education pada 1998, perkembangan nasional adalah tujuan utama bagi pendidikan yaitu untuk meningkatkan produktivitas, mencapai integrasi social dan nasional, mengelaola nilai-nilai social, moral dan spiritual denagan penekanan pada penguatan dan dorongan keyakinan terhadap Islam. Tujuan-tujuan yang disetujui council juga menekankan peran pendidikan pada pengembangan sumberdaya manusia untuk level ekonomi yang berbeda-beda dan oleh karena itu pendidikan dipandang sebagai investasi untuk masa depan

Anggaran Pendidikan

Anggaran kementrian pendidikan pada tahun 1996 adalah 6.130 miliyar riyal (RI), merupakan 3,8% dari anggaran belanja Negara. Anggaran yang disetujui adalah RI 5.455,6 miliyar riyal, tetapi untuk menyediakan dana talangan bagi kementrian pendidikan, bebrapa tambahan tambahan dana telah di alokasikan dan anggaran pendidikan bertambah menjadi RI 6.130 miliyar riyal. Selain itu, untuk meningkatkan anggaran, beberapa kesepakatan telah disetujui selama dua tahun terakhir untuk memberikan sumber dana baru bagi kementrian pendidikan.

Pada tahun 2003, total pembiayaan pendidikan (termasuk pendidikan dasar hingga prauniversitas) sejumlah RI 39, 880 miliyar riyal atau 12% dari total anggaran belanja Negara pada tahun 2001.

Peran Pemerintah

Sistem sekolah berada di bawah yurisdiksi Kementerian Pendidikan dan Pelatihan. Selain sekolah, Kementerian ini juga memiliki tanggung jawab untuk beberapa pelatihan guru dan beberapa lembaga teknis. Departemen Pendidikan mempekerjakan jumlah tertinggi pegawai negeri sipil 42%  dari total dan menerima 21%  dari anggaran nasional. Sebanyak 15.018.903 siswa telah bersekolah di sekolah dengan 87.024 kelas 485.186 di seluruh negeri pada tahun akademik 1990-1991. Dengan rincian sebagai berikut: 509 sekolah untuk anak-anak cacat, 3.586 TK, 59.280 Sekolah Dasar, 15.580 Sekolah Menengah Pertama, 4.515 Sekolah Menengah Atas, 380 Sekolah Teknik, 405 Studi Bisnis dan sekolah-sekolah kejuruan, 64 Sekolah Pertanian, 238 kota dan 182 guru sekolah dasar pedesaan ‘akademi pelatihan, tujuh kejuruan dan profesional latihan guru dan 19 lembaga perguruan tinggi teknologi. Ada juga 2.259 sekolah-sekolah pendidikan orang dewasa.

Pendidikan Pra- Sekolah

Pendidikan sebelum sekolah dasar ditempuh 1 tahun dan melayani anak usia 5 tahun. Pendidikan sebelum sekolah dasar tidak wajib. Tidak ada ujian pada akhir sekolah  ini dan anak-anak secara otomatis melanjutkan ke pendidikan berikutnya.

Pendidikan dasar

Sekolah dasar adalah pendidikan formal tahap pertama dan hukumnya adalah wajib. Dan ditempuh selama 5 tahun dan usia masuk sekolah dasar adalah 6 tahun. Para siswa mengikuti ujian akhir pada tingkat ke lima, dan apabila lulus mereka mendapatkan ijazah tamat sekolah dasar

Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah terdiri dari dua tahapan, sekolah menengah rendah dan sekolah menengah tinggi. Sekolah menengah rendah ditempuh selama 3 tahun (kelompok usia 11- 13 tahun). Pendidikan delapan tahun yang terdiri dari sekolah dasar dan sekolah menengah rendah di kategorikan sebagai pendidikan dasar.

Program 3 tahun sekolah menengah tinggi adalah untuk para siswa yang telah lulus dari sekolah menengah rendah. Mata pelajaran yang ditawarkan pada sekolah menengah tinggi dapat di klasifikasikan menjadi tiga bidang : akademik, teknik, dan kejuruan, serta Kar-Danesh (ilmu pengetehuan ketrampilan, sebuah cabangdari kejuruan yang fleksibel).

Program satu tahun prauniversitas tersedia bagi mereka yang berhasil lulus dari sekolah menengah atas jurusan akademik. Bagi yang mengambil jurusan teknik dan kejuruan, para siswa yang telah lulus sekolah menengah atas dapat mendaftar pada program dua tahun yang dapat mengantarkan di dalamnya termasuk universitas, collage dan pusat-pusat pendidikan tinggi. Yang dapat masuk perguruan tinggi adalah mereka yang telah lulus sekolah menengah atas dan berhasil lulus pada ujian masuk perguruan tinggi. Universitas di bagi menjadi universitas umum dan khusus, universitas teknologi komperhensif, universitas terbuka, universitas Islam azad, dan universitas kedokteran

————————————

Kurikulum Pendidikan

Pendidikan pra sekolah

Pada jenjang pra sekolah murid diajarkan mengenai belajar bahsa, pengantar matematika, dan konsep sains, lebih-lebih pada nilai-nilai agama dan kepercayaan. Selain itu juga meliputi tentang kegiatan ketrampilan seperti kerajinan tangan, menggunting, mancetak, menggambar, bercerita, bermain, dan berolahraga.

Pendidikan dasar

Fokus kurikulum pendidikan dasar adalah pada pengembangan ketrampilan dasar baca dan berhitung, studi lingkungan dalam tema fisik dan fenomena social, dan pembelajaran agama. Semua mata pelajaran dan buku pelajaran untuk sekolah dasar diputuskan dan disiapkan pada level pusat.

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah rendah

Kelompok agama minoritas melakukan pembelajaran khusus mereka dan terdapat daftar bacaan khusus untuk kelompok sunni. Diwajibkan untuk lulus semua mata pelajaran pada jurusan yang berbeda. Pembelajaran digunakan dengan bahasa Persia pada semua level. Untuk daerah bilingual, maka diadakan kursus satu bulan untuk mengajarkan kunci-kunci konsep bahasa sebelum tahun ajaran baru di mulai. Ujian dilakukan pada akhir kelas III yang diadakan oleh level kabupaten dan propinsi.

Pendidikan menengah atas

Sekolah menengah atas diperuntukkan bagi siswa yang telah lulus sekolah menengah dasar. Mata pelajaran yang ditawarkan dikelompokkan dalam jurusan sebagai berikut:

Jurusan akademik: tujuan jurusan ini adalah mempromosikan pengetahuan umum dan budaya. Tedapat ujian akhir yang dikelola oleh tingkat nasional dan bagi siwa yang lulus mendapat ijazah diploma.

Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan: Jurusan ini terdiri dari tiga bidang: teknik pertanian dan kejuruan. Sekarang terdapat 30 bidang pada pendidikan teknik dan kejuruan (TVE). Siwa yang memenuhi kualifikasi pendidikan TVE dapat juga masuk  pada lembaga yang menawarkan program teknik atau preuniversity dan mendapat sertifikat terampil pertama.

Jurusan kar-danesh (knowledge skill):  Tiap kar-danesh mempunyai silabi yang dikembangkan di bawah secretariat pendidikan menengah proses pendidikan ini mencakup 400 ketrampilan, berbeda dengan jurusan yang lain. Pendidikan ini bersifat berbasis kompetensi. Siswa yang beehasil dianugrahi ijazah terampil tingkat II, dan diploma.


Pendidikan di Iran mempunyai jenjang pendidikan pra sekolah 1 tahun, pendidikan dasar 5 tahun, pendidikan menengah dasar 3 tahun, pendidikan menengah atas 3 tahun. Pendidikan menengah atas terbagi atas: jurusan akademik, Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan, Jurusan kar-danesh.pendidikan Pendidikan di Iran di pegang oleh Kementerian Pendidikan dan Pelatihan.

syi’ah mengintegrasikan iptek/sains dan agama

Albert Einstein (si jenius) mengklaim syi’ah sebagai mazhab yang penuh pertumbuhan sains dan teknologi  !  Fakta itu terbukti dizaman kita, MUI sudah gila jika tuduh syi’ah sesat !

Syi’ah akan maju pesat  karena doktrinnya relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Sains, kekuasaan dan moralitas sebagai satu kesatuan menurut syi’ah

Tauhid Ahlul Bait Mengandung Unsur Sains Iptek Yang Terintegrasi

syi’ah mengintegrasikan iptek/sains dan agama

“Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam” kata Albert Einstein

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklärung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis punya muatan seperti ini tidak bakal di mazhab lain. Hanya mazhab Syiah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas

ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. Kami  mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.

Berdasarkan laporan situs mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.

Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklärung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as. dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis punya muatan seperti ini tidak bakal di mazhab lain. Hanya mazhab Syiah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas. Sayangnya, kebanyakan ilmuannya tidak mengetahui hal itu.

Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan mikraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai.

Salah satu hadis yang menjadi sandarannya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mikraj jasmani Rasulullah saw. Disebutkan, “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam Syiah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”.

E = M.C² >> M = E : C²

Artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berujud semula, hidup kembali.

Dalam suratnya kepada Ayatullah al-Uzma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior”, dan untuk menggembirakan ruh Prof. Hesabi (fisikawan dan murid satu-satunya Einstein asal Iran), ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam safety box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi), dengan alasan keamanan.

Risalah ini dibeli oleh Prof. Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga 3 juta dolar dari seorang penjual barang antik Yahudi. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Kantor berita Iran IRIB (24/9/2011)  melansir sebuah berita yang menyatakan bahwa ilmuwan Albert Einstein adalah seorang penganut Syiah. IRIB mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.
Berdasarkan laporan situs mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”.Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.
.
TERNYATA  ALBERT  EiNSTEiN PENGANUT   SYi’AH

Ketika media-media zionis berusaha mencegah peningkatan jumlah pemeluk baru Islam di kalangan masyarakat Barat dan berusaha mencoreng citra agama cinta damai dan keadilan ini, terungkap sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relatifitas yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut Islam Syiah Imamiyah. Berdasarkan laporan situs Mouood.org, Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatollah Al-Udzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syiah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatollah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”

.
Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.
Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklarung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relatifitas lewat ayat-ayat Al-Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib as dalam kitab Nahjul Balaghah
.
Dalam makalahnya itu, Einstein menyebut penjelasan Imam Ali as tentang perjalanan miraj jasmani Rasulullah ke langit dan alam malakut yang hanya dilakukan dalam beberapa detik sebagai penjelasan Imam Ali as yang paling bernilai
.

Benarkah Indonesia terbelakang dan miskin karena mayoritasnya penduduknya Muslim Sunni ? Benarkah Islam Sunni justru menghambat kemajuan peradaban? Apakah Indonesia memiliki pemimpin dan elite nasional yang bervisi cinta ilmu pengetahuan dan peradaban?

Adakah politisi dan elite nasional yang bervisi demikian? Ternyata tidak. Dengan menyesal harus kita katakan demikian. Buktinya, parpol dan para penguasa hanya mengejar kekuasaan belaka. Sementara para elite serta pemimpin nasional tak punya komitmen kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban seperti di zaman keemasan Islam dahulu.

Setidaknya itulah komentar Prof Dr Mulyadi Kartanegara, guru besar UIN Jakarta . Pandangan Mulyadi itu dibenarkan oleh Tisnaya Kartakusuma, Hans Satya Budi dan Abas Jauhari MA dosen UIN Ciputat, dalam seminar ‘Kontribusi Islam dan Jala Sutra dalam Ruang Peradaban Indonesia Raya’ yang dipandu akademisi muda PSIK Universitas Paramadina Herdi Sahrasad. Seminar diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina bersama Industry & Labor Watch, Jakarta

Mulyadi mengingatkan, perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan Dunia Islam-lah yang menyebabkan kebangkitan dan kemajuan Eropa setelah Barat lama dilanda abad kegelapan. Dan dewasa ini Indonesia adalah negeri Muslim terbesar di dunia, namun disebut oleh negara-negara Barat sebagai the sleeping giant (raksasa tidur) karena krisis peradaban.

“Jika Indonesia mau bangkit, maka penterjemahan dan alih bahasa naskah-naskah Islam klasik mutlak diperlukan untuk membangkitkan khasanah intelektual dan peradaban Islam,” tegas Mulyadi.

Tidak ada bangsa yang bangkit dan maju tanpa kebangkitan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Tradisi ilmiah Islam di masa lampau sangatlah kaya. Ibnu Sina menghasilkan karya tentang psikologi dan botani.

Memang ada perbedaan antara fisika Islam dan matematika Islam dengan yang di Barat. Kalau mereka hanya tahu yang dari Barat, maka mereka tidak tahu bahwa ada yang lain. Jika mereka kenal khazanah keilmuan pasti akan terkagum-kagum. Masalahnya, ilmuwan banyak yang kurang mengapresiasi keilmuan Islam karena mereka belum tahu.

Mulyadi, Tisnaya, Abas dan Hans menegaskan, dalam Islam itu ada ilmu rasional dan ilmu agama. Sejauh itu ilmu rasional, maka diskusi akan terjadi di sana . Tapi, ilmu rasional dalam Islam tidak boleh melanggar prinsip-prinsip keislaman, tauhid, keyakinan kepada hari akhir.

Jadi, kata Mulyadi, dalam upaya membangun peradaban maka kita harus membangun kurikulum pendidikan yang meliputi seluruh level eksistensi mulai dari yang fisik, matematik dan metafisik. Dengan tiga disiplin yang dirangkai itu maka kita akan memiliki pandangan yang holistik. Tidak seperti sekarang fisika, matematika, biologi berjalan sendiri-sendiri atau tidak saling berkaitan.

Dalam tradisi keilmuan Islam selalu ada hirarki. Misalnya, ilmu dibagi dua yakni naqliyah dan aqliyah. Dalam aqliyah ada nazhariyah dan amaliyah. Nazhariyah ada fisika, matematika dan metafisika. Kemudian, amaliyah ada etika, ekonomi dan politik. Tapi yang praktis tidak boleh dilepaskan dari yang teoritis.

Oleh karena itu, ada satu kesatuan yang holistik. Ilmu jiwa misalnya, dalam tradisi ilmiah Islam bisa menyatukan antara fisika dan metafisika. Masuk fisika ketika jiwanya masih dalam tubuh. Tapi ketika jiwanya sudah tidak ada dalam tubuh, maka masuk dalam metafisika.

Dalam hal ini, kata Mulyadi dan Tisnaya, betapa pentingnya universitas dan perpustakaan. Sejarah telah mencatat bahwa perpustakaan merupakan sebuah entitas yang tidak bisa di nafikkan dalam mendukung kemajuan intelektual sebuah komunitas. Setidaknya ini ditunjukkan oleh Harun al-Rasyid yang membangun Khizanah al-Hikmah.

Khizanah al-Hikmah ini lebih dari sekedar perpustakaan, namun juga merupakan pusat penelitian. Khizanah al-Hikmah yang kemudian oleh al-Makmun diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah pada tahun 815 M, pada masanya telah menyangga berbagai kegiatan ilmiah. Selain perpustakaan dan penelitian, juga sebagai tempat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika.

Mulyadi menambahkan, sebagai contoh Ibnu Sina, yang merupakan seorang ahli kedokteran dan juga seorang filosof. Dengan buku terkenalnya, Al-Kanun, namanya dikenal dunia. Dan bukunya telah dijadikan rujukan ilmu kedokteran selama berabad-abad.

Uraian di atas merupakan sedikit contoh perkembangan keilmuan yang ada di dunia timur. Perpustakaan universitas di zaman keemasan Islam, yang banyak orang menyebutnya sebagai jantung universitas dan peradaban Islam era kekhalifahan, merupakan salah satu penyangga kegiatan keilmuan dan peradaban Islam masa itu. Sisa-sisanya bisa dilihat di Timur Tengah sampai sekarang. Apakah pemerintah mau melakukan itu semua? Kita belum tahu

Bismillah..BiMuhammad wa Aali Muhammad…

Lebih dari 14 abad yang lalu ketika Ilmu pengetahuan dalam era kegelapan jahiliah, barbar, primitif serta era perbudakan Islam hadir sebagai Bukti Kebesaran-NYA SWT melalui Jibril as.

Wahyu Kalamullah yg berisi petunjuk dan ilmu tentang ciptaan Allah, bagaimana bumi terbentuk, tumbuhan dan hewan serta manusia tercipta,bagaimana langit, awan, bulan, matahari, petir, hujan, serta seluruh yg ada dilangit & bumi diciptakan..
Sebagian besar umat islam tahu akan hal itu namun hanya berhenti pada BANGGA akan Islam namun kurang mau menelaah lebih dalam lagi hingga mampu memperkuat Iman melalui memperkuat keyakinan akan betapa Besar & Agung CiptaanNYA serta betapa Maha Besar dan Maha Kuasanya Allah SWT.14 abad yg lalu Islam telah menerangkan dan menjelaskan seluruh hal yang berada jauh diluar jangkauan akal bahkan khayal manusia yang bahkan baru-baru ini dalam abad 20an para Ilmuwan hanya mampu sedikit menguak keberadaan sebagian kecil dari Ilmu yg tercantum dan diajarkan Alqur’an melalui Nabi Saaw dan para Imam suci Ahlilbayth beliau (saww).

Dunia sains modern di awal abad ke-20 M dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan  Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan ini pada 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory). Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=mc2. Rumus teori relativitas yang begitu populer menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan. Selain itu, teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi

.
Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu, Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat

.
Inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan, dua pengamat yang bergerak relatif akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama. Meski begitu, isi hukum fisik akan terlihat sama oleh keduanya. Dengan ditemukannya teori relativitas, manusia bisa menjelaskan sifat-sifat materi dan struktur alam semesta.
“Pertama kali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas, yaitu sekitar tahun lalu 1905. Saya tidak dapat mengatakan secara eksak dari mana ide semacam ini muncul. Namun, saya yakin, ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak,” ungkap Einstein saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University pada 4 Desember 1922

.
Benarkah Einstein pencetus teori relativitas pertama? Di Barat sendiri, ada yang meragukan teori relativitas itu pertama kali ditemukan Einstein. Sebab, ada yang berpendapat bahwa teori relativitas pertama kali diungkapkan oleh Galileo Galilei dalam karyanya bertajuk Dialogue Concerning the World’s Two Chief Systems pada 1632

.
Teori relativitas merupakan revolusi dari ilmu matematika dan fisika. Sejatinya, 1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas, yaitu saintis dan filosof legendaris bernama Al-Kindi yang mencetuskan teori itu.
Sesungguhnya, tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al-Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu pasti sangat menguasai kitab suci Alquran. Sebab, tak diragukan lagi bahwa ayat-ayat Alquran mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini.
Aya-ayat Alquran yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutup-tutupi

.
Dalam Al-Falsafa al-Ula, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq Al-Kindi itu telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era kekhalifahan Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman.
Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al-Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al-Kindi

.
“Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al-Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al-Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.
Gagasan yang dilontarkan Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolut,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes, dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya.
Menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein

.
Dalam Al-Falsafa al-Ula, Al-Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar

.
“Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain,” tutur Al-Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat.
Menurut Einstein, tak ada hukum yang absolut dalam pengertian hukum tak terikat pada pengamat. Sebuah hukum, papar dia, harus dibuktikan melalui pengukuran. Al-Kindi menyatakan, seluruh fenomena fisik, seperti manusia menjadi dirinya, adalah relatif dan terbatas.
Meski setiap manusia tak terbatas dalam jumlah dan keberlangsungan, mereka terbatas; waktu, gerakan, benda, dan ruang yang juga terbatas. Einstein lagi-lagi mengamini pernyataan Al-Kindi yang dilontarkannya pada abad ke-11 M. “Eksistensi dunia ini terbatas meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein

.
Dengan teori itu, Al-Kindi tak hanya mencoba menjelaskan seluruh fenomena fisik. Namun, juga dia membuktikan eksistensi Tuhan. Karena, itu adalah konsekuensi logis dari teorinya. Di akhir hayatnya, Einsten pun mengakui eksistensi Tuhan. Teori relativitas yang diungkapkan kedua ilmuwan berbeda zaman itu pada dasarnya sama. Namun, penjelasan Einstein telah dibuktikan dengan sangat teliti

.
Bahkan, teori relativitasnya telah digunakan untuk pengembangan energi, bom atom, dan senjata nuklir pemusnah massal. Sedangkan, Al-Kindi mengungkapkan teorinya untuk membuktikan eksistensi Tuhan dan keesaan-Nya. Sayangnya, pemikiran cemerlang sang saintis Muslim tentang teori relativitas itu itu tak banyak diketahui. Sungguh sangat ironis, memang.
Relativitas dalam Alquran

Alam semesta raya ini selalu diselimuti misteri. Kitab suci Alquran yang diturunkan kepada umat manusia merupakan kuncinya. Allah SWT telah menjanjikan bahwa Alquran merupakan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Untuk membuka selimut misteri alam semesta itu, Sang Khalik memerintahkan manusia agar berpikir.
Berikut ini adalah beberapa ayat Alquran yang membuktikan teori relativitas itu.”…. Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS Alhajj: 47). “Dia mengatur urusan langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Assajdah: 5).
“Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS 70: 3-4). “Dan, kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Annaml: 88)

.
“Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka, tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (QS 23: 122-114)

.
Karena kebenaran Alquran itu, konon di akhir hayatnya, Einsten secara diam-diam juga telah memeluk agama Islam. Dalam sebuah tulisan, Einstein mengakui kebenaran Alquran. “Alquran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Alquran adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar,” ungkap Einstein. Wallahualam.

Si Jenius dari Abad IX

Al-Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad. Saat itu, panji-panji kejayaan Islam dikerek oleh Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya, yakni Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847), dan Mutawakil (847-861).
Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani

.
Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, Al-Mu’tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan

.
Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam

.
Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Penemuan Albert Einstein

Tidak dapat dipungkiri bahwa Albert Einstein adalah salah seorang ilmuwan terkemuka abad 20. Salah seorang genius Fisika Teori penemu Teori Relativitas yang sangat terkenal itu. Teori ini membuat Hukum Newton yang telah berusia 300 tahun itu menjadi usang.

Selain itu dia juga mengembangkan teori lain. Beberapa di antaranya belum selesai dirumuskan ketika dia meninggal. Misalnya Teori Medan Terpadu. Teori yang memadukan antara hukum pergerakan planet dan pergerakan partikel atom ini hingga sekarang terkatung-katung nasibnya karena belum ada yang tampil untuk menyelesaikannya.

Pada kesempatan lain dia pernah melontarkan pernyataan paradoksal yang berpotensi mengantarkannya pada penemuan terbesarnya. Namun pernyataan ini pun terhenti di tengah jalan. Dia menyatakan :

“Hal yang paling tidak dapat dipahami tentang dunia adalah bahwa dunia dapat dipahami.”

Dengan pengetahuan yang dimilikinya dia dapat menghitung gerak benda-benda angkasa dengan akurat. Dia bisa dengan rinci menjelaskan perilaku partikel. Dia menemukan energi yang sangat dahsyat hanya dengan perhitungan di atas kertas. Hal ini menunjukkan bahwa dia dapat memahami dunia ini dengan lebih baik daripada kebanyakan orang.

Artinya dia bisa memahami berbagai hukum yang berlaku di alam semesta ini. Bintang-bintang yang seolah diletakkan secara acak itu ternyata terikat oleh hukum yang mengatur pergerakannya. Komet yang seolah tidak menentu kehadirannya itu ternyata melintasi garis edar yang bisa dihitung persamaannya..

Singkat kata alam semesta yang menakjubkan ini ternyata terikat oleh hukum yang bisa dipahami. Apalagi oleh orang-orang seperti Einstein ini. Hukum yang dalam Islam biasa disebut sebagai sunnatullah.

Memahami Alam Semesta

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencipatakan alam semesta ini dengan keseimbangan yang sangat presisi. Seluruh benda langit melintas pada garis edarnya dengan tertib selama jutaan tahun. Ini bisa terjadi karena keseimbangan yang berlaku atasnya sebagaimana telah dinyatakan didalam Al-Qur’an yang mulia :

“Dialah yang telah menciptakan 7 langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ? Kemudian lihatlah lagi dan lagi, pandanganmu akan lelah dalam mencari sesuatu yang tidak seimbang.” [QS. Al-Mulk : 3-4]

Bayangkan kita sedang naik sepeda. Kalau kita tidak mampu menjaga keseimbangan, maka hanya dalam dua atau tiga kayuhan sepeda sudah akan rubuh. Namun begitu kita bisa menjaga sepeda tetap seimbang, maka kita bisa menempuh berpuluh-puluh kilometer dan tetap tegak.

Bisa kita bayangkan betapa seimbang alam semesta ini yang bisa bertahan selama berjuta-juta tahun. Seandainya keseimbangan itu terganggu sedikit saja niscaya akan runtuhlah alam semesta ini. Keseimbangan inilah yang mungkin telah memukau Einstein sehingga meluncurlah pernyataan sebgaimana tertulis di atas.

Pertanyaan berikutnya adalah : bagaimana hal ini bisa terjadi ?

Pembahasan tentang masalah ini telah begitu sering dilakukan. Saya khawatir akan membuat Anda bosan bila mengulanginya lagi. Kita lagnsung saja mengembalikannya kepada Al-Qur’an.

“Sekiranya ada di langit dan di bumi  tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Masa Sucilah Allah, pemilik ‘Arsy, dari segala yang mereka sifatkan kepada_Nya.” [QS. Al-Anbiyaa' : 22]

Kesimpulan saya, Einstein hanya membutuhkan satu langkah lagi untuk mencapai penemuan terbesarnya. Yaitu untuk menemukan Tuhannya yang Maha Esa. Yang bersendirian dalam menciptakan dan mengatur makhluknya.

Kemungkinan lain adalah dia sebenarnya telah menempuh langkah itu dan menemukan_Nya. Akan tetapi tidak diutarakan. Untuk suatu alasan yang tidak diketahui.


Kurang lebih 14 abad yang lalu Imam Ja’far Shadiq as berkata :

“Sesungguhnya dibalik matahari terdapat 40 matahari yang didalamnya terdapat Makhluq yang banyak, dan sesungguhnya dibalik Bulan terdapat 40 bulan yang didalamnya terdapat makhluq yang banyak yang tidak mengetahui apakah Allah SWT menciptakan Adam atau tidak”

Para Ilmuwan abad ini hanya mampu mengatakan :

“Dalam galaxi kita terdapat sekitar seratus lima puluh juta bintang tetap,sebagian diantaranya mirip matahari kita,oleh karenanya tidak ada bukti yang mendukung keyakinan bahwa Planet Bumi ini adalah satu-satunya planet yg memiliki kekhususan kekhususan”

Subhanallah..

Alam raya ini tidaklah dapat dibayangkan betapa luasnya,mereka yang menggunakan AKALnya mempelajari hanya mampu memperkirakan luasnya dengan ukuran jutaan tahun cahaya,satu tahun cahaya sama dengan 10 trilyun KM dan sampai dengan saat ini manusia hanya mampu mencapai pengetahuan tentang JARAK paling jauh puluhan bilyun tahun cahaya.

Dengan keterbatasan jarak pada puluhan bilyun tahun cahaya ilmuwan menemukan banyak sekali super gugus galaxi yang jumlahnya tak TERHITUNG.Bumi dan sekian banyak bintang yang kita saksikan kilaunya berada dalam galaxi bima sakti hanya bisa di ibaratkan:

” SEBUTIR KACANG TANAH DI TENGAH SAMUDERA BEBAS”…

mari kita pikirkan BETAPA KECILNYA yang kita pikir BESAR dan Betapa MAHA BESAR ALLAH SWT.
ALLAHU AKBAR…

Lalu sejenak mari RENUNGKAN tentang Rasulullah SAWW..

Ada dalam POSISI bagaimana KEBESARAN beliau SAWW….?

Beliau SAWW adalah Rahmatan Lil Aalamin…

Sementara Allah SWT berfirman “RahmatKU meliputi segala sesuatu “……

Segala sesuatu selainNYA adalah al Aaalamin,dan Rasulullah Muhammad SAWW adalah PUNCAK RAHMAT-NYA bagi SEMESTA ALAM…
Sungguh KEBESARAN Rasulullah SAWW pun tak mampu diukur oleh MakhluqNYA..

Maka tepat sekali jika Alqur’an mengatakan pada Ummat Muhammad SAWW :
Maka Nikmat manalagi dari Tuhanmu yang kalian DUSTAkan “

Allah SWT berfirman bhw Sesungguhnya Nabi SAWW tidak berbuat berbicara dengan dasar HAWA NAFSUnya melainkan adalah WAHYU yg diWAHYUKAN,semua gerak dan diam beliau SAWW adalah selalu dalam KONTROL WAHYU-NYA,semua nisbat ketidaksempurnaan Makhluq adalah jauh dari beliau SAWW

JIKA ALAM TAK MAMPU DIKETAHUI BERAPA DAN BAGAIMANA BESARNYA MAKA BAGAIMANA MUNGKIN RAHMAT-NYA BAGI ALAM YAKNI NABI SAWW MAMPU DIJANGKAU KEBESARANNYA OLEH AKAL YANG SERBA TERBATAS……

Kita diperintah untuk mengenal Allah SWT dalam menyembahNYA,mencintaiNYA, maka adalah hal yg Mutlaq harus ada bagi setiap muslim dalam beribadah adalah selalu berusaha mengenal Rasulullah SAWW,mengenal kebesaran beliau SAAW,mencintai beliau SAWW,sebagaimna FirmanNYA :

“Katakanlah (wahai Muhammad)..Jika kalian mencintai Allah,maka CINTAI lah aku niscaya Allah menCINTAI kalian “{QS.Ali Imran (3):31}

Nabi Muhammad SAWW bersabda bahwa:

“Tidaklah BERIMAN seorang hamba hingga aku lebih dicintainya dibanding dirinya,keluargaku lebih dicintainya dibanding keluarganya,dengan begitu mereka lebih mencintai keluargaku dibanding keluarganya dengannya mereka mencintaiku lebih dari diri diri mereka ”

(Biharul Anwar,XXVII hal 13 dan Kanzul Ummal hal 93 )

Bahwa Nabi SAWW bersabda:

Allah mewahyukan kpd seorg nabiNya: Bhw keZUHUDanmu dr dunia akan membawa ketenangan bgmu. Dan pemutusan hubungan dg semua makhluk (atas sgl keperluan), selain denganKu akan membawa kemuliaan dan kejayaan bgmu. Akan tetapi SUDAHKAH engkau MEMUSUHI seorg MUSUH karenaKU dan menCINTAI seorg wali karenaKU ?..

Mari sejenak merenung kembali,bagaimana posisi Nabi SAWW dan keluarga Suci nya (as) dalam Diri dan Hati kita dibandingkan harta,karier,istri/suami dan anak2 kita,dibandingkan dengan ambisi dan target2 pencapaian kita..?

Telah masukkah kita dalam KRITERIA ber IMAN seperti sabda Nabi SAWW tsb ?

Alannabiy Muhammad wa Aalihi Shalawatullah wasalaamuhu adada RahmatiKa kama tuhibbu hatta tardha Ya Rabb..

KETIKA SERINGKALI KITA TELAH MERASA “BENAR”…

BismillahBiMuhammad wa Aali Muhammad…

FIRMAN ALLAH SWT :
“Hai orang-orang beriman , mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan”
(QS. as-Shaff : 2-3).

Allah SWT berfirman:
“Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(Surah an-Nisaa’ : 65 )

Rasulullah saww bersabda :
“Ali bersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali, mereka tidak akan terpisah hingga mereka bertemu denganku di telaga Haudh”
{Dalam Mustadrak ala Shahihain, oleh Al Hakim Naisaburi (Juz.3 hal.124 )}

RASULULLAH SAWW dari AWAL masa DAKWAHNYA telah bersabda :
“Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan khalifahku sepeninggalku”.

Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Thalib. Lalu Rasul saww berkata pada mereka :
“Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”.
Hadits tersebut juga banyak diriwayatkan dalam kitab ahlusunnah, seperti :1. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319.2. Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62.3. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15.4. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”. Dll

Rasulullah saww :
“Siapa yang ingin hidup seperti hidupku dan wafat seperti wafatku serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku yaitu Jannatul Khuld, maka hendaklah ia berwilayah (berpemimpin) kepada Ali dan keturunan sesudahnya, karena sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu ke pintu kesesatan.“
(Shahih Bukhari, jld 5, hl. 65, cetkn. Darul Fikr)

FirmanNya di dalam (Surah al-Maidah (5): 55):
“Sesungguhnya wali kamu adalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan solat dan memberi zakat dalam keadaaan rukuk.”

FirmanNYA SWT :
“Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yg berjihad dan bersabar diantara kamu dan agar kami menyatakan (baik/buruk) hal ikhwalmu”
( Q.S Muhammad 47:31 )
FirmanNYA SWT :
“Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam (Silm) Islam keseluruhannya. Janganlah kamu ikut langkah-langkah syaitan.”
(Surah al-Baqarah : 208)

Imam Ali as berkata:
“القرابة الی المودة احوج من المودة الی القرابة”
(alqarabatu ilal mawaddati ahwaju minal mawaddati ilal qarabah)

“Kedekatan itu lebih membutuhkan cinta daripada tuntutan cinta terhadap kedekatan.”
{Nahjul Balaghah: Alhikmah 308}

Ini berarti kita dituntut untuk lebih mencintai kekasih, keluarga, sanak saudara, tetangga, dan orang-orang disekitar kita. Karena mereka lebih dekat dengan kita. Kita dituntut untuk lebih peduli terhadap mereka, dan cinta adalah unsur yang tidak boleh dilupakan dalam hal ini. Namun di sisi lain, kita boleh jadi mencintai seseorang yang tidak dekat dengan kita. Sebagaimana jika seseorang mencintai atau mengidolakan seorang tokoh tekenal nun jauh di sana.

Namun kecintaan yang paling mulia dan tertinggi dalam Islam adalah kecintaan hamba terhadap Tuhannya.

FirmanNYA SWT :
“Jika ayah-ayah kalian, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah LEBIH KAMU CINTAI dari Allah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq.”
{Al-Quran surat At-Taubah ayat 24 }

SESUNGGUHNNYA KECINTAAN PADA AHLULBAIT DAN KEPEMIMPINAN IMAM ALI adalah AMANAH NABI SAWW DAN PERINTAH-NYA SWT….

Rasulullah saaw bersabda:
“لا ایمان من لا امانة له”
(laa imana man la amanata lah)“Maka tidak beriman orang yang tidak menjaga amanat.”

Rasulullah Saww bersabda :

“Wahai manusia sekalian! Allah adalah maulaku dan aku adalah maula kalian, maka barang siapa menganggap aku sebagai maulanya, maka ‘Ali ini (juga) adalah maulanya! “Ya Allah, cintailah siapa yang memperwalikannya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya.. !

(Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 118, 119, jilid 4, hlm. 281, 370, 372, 382, 383 dan jilid 5, hlm. 347, 370; al-Hakim, Mustadrak, jilid 3, hlm. 109; Sunan Ibnu Majah; al-Hakim al-Haskani, ibid., jilid 1, hlm. 190, 191; Ibnu Katsir, Tarikh, jilid 5, hlm. 209-213)

Rasulullah saww bersabda :
“Sekiranya manusia bersepakat mencintai Ali, niscaya Allah tidak menciptakan neraka”
( Muhammad Salih al-Hanafi, Kaukab al-Durriy, hlm.122).

lalu…ketika dengan yaqin kita MERASA dalam JALUR YG BENAR apakah otomatis KITA TELAH BENAR atau kita HANYA tahu KEBENARAN dan merasa menjadi TELAH PALING BENAR?…SUDAH BENAR KRITERIA CINTA YANG SERING KITA KLAIM ?….

Imam Khomeini qs berkata :

“Wahai makhluq yang malang,karena terlalu percaya pada dirimu sendiri dengan merasa telah berada pada kedudukan mulia sebagai Hamba-NYA seolah Rahmat-NYA adalah Hakmu,Allah SWT akan tunjukkan padamu bahwa jangankan ibadahmu dan kesalehanmu tak berguna bahkan semua amal yang kalian pandang sebagai pencapaian adalah justru SARANA mu menjauh dariNYA dan semua itu secara ironis menjadi penyebab kutukanNYA yang abadi bagimu”

“Kalian para pemilik ujb apapun busanamu telah merusak tatanan suci Pasukan Ilahi dalam batinmu sendiri,kalian cemari keImanan dengan kotoran najis yang lebih buruk dari akibat dosa maksiat dhahir,kalian pandang makhluqNYA berkasta-kasta seolah mereka lebih buruk darimu sementara kalian tak tahu bagaimana akhir hidup mereka juga akhir hidupmu sendiri,dalamm keadaan ini jika habis masamu maka kalian akan berpulang dalan keadaan Kufr,kesendirian Barzakh yang amat mengerikan menantimu sementara kekalnya Neraka bisa menjadi pasti bagimu”

“Engkau Makhluq yang malang merasa bangga karena telah mengingatNYA,menyebut-nyebut namaNYA dan para kekasihNYA,engkau lakukan semua aturan Akhlaq dan tidak melakukan apa2 yang diharamkanNYA,kalian bayangkan akhir Mulia…apakah bukan dalam kedaan DUSTA ketika kau shalat sedang engkau berkata semata-mata demi Allah ? bukankah shalatmu bermakna pencarian kepuasan batinmu hingga ketika terbangun dari shalat kau pandang sekeliling dan selainmu tak sebanding denganmu?”

“Wahai diri-diri…janganlah mengoceh terlalu banyak tentang Allah SWT,jangan kalian lebih2kan cintamu kepada Allah..Wahai Sufi..Wahai Filosof..wahai Faqih..Wahai Zahid dan Wahai para pemikir..Kalian makhluq malang yang tertipu oleh muslihat diri dan nafsu,kalian makhluq tanpa daya yang tersesat dalam dalam kemelut harapan palsu dan cinta diri…janganlah berpikir sebaik itu tentang dirimu,tanyailah hatimu sedang kemana menuju,sedang mencintaiNYA atau mencinta dirimu sendiri..tanyailah apakah hatimu Muwahhid atau justru musrik..lalu untuk apakah Ujb’mu ini? lalu untuk apa rasa tenang atau mungkin gembiramu?”

“Renungkanlah keadaanmu wahai manusia..pada mulanya kalian bukan apa2,tersembunyi dalam lipatan ketiadaan selama bermasa-masa yang bahkan lebih tak berarti daripada ketiadaan itu sendiri dan belum hadir dalam alam keberadaan…ketika Allah SWT ciptakanmu dalam keadaan paling berkekurangan,hina lagi tak berarti…bandingkanlah apa keadaanmu kini dan ingatlah bahwa ketika Allah berkehendak memanggilmu maka DIA SWT hanya memerintahkan kepada segenap dayamu agar menjadi lemah dan seluruh daya persepsimu agar berhenti dari Aktifitasnya,seluruh inderamu dimatikan fungsinya lalu beberapa jam kemudian bahkan sanak kerabatmu tak sanggup menahan bau busuk dari tubuhmu…lalu untuk apa sombongmu ?

PENUTUP…..

S.Ibnu Mustafa alHusayni:

“Segeralah Perhatikan dirimu wahai saudaraku,dalam keadaan seperti apa Jiwa,Raga serta amalmu..ketika Ujb’ dan Riya’ sebagai pondasi perilakumu maka takkan mungkin kalian mampu menahan sedikit celaan akan amal ibadah serta dirimu,gagasan yang tersembunyi halus dalam Batinmu hanyalah penghargaan dari MakhluqNYA sembari mengharap Pahala dariNYA..bukankah kalian sedang menyekutukanNYA dalam tujuan Amal ibadahmu ? bagaimana jika dalam keadaan Jiwa semacam ini secara tiba2 kalian harus kembali padaNYA,maka kalian berpulang dengan membawa bendera Dosa MakhluqNYA yang terkutuk Iblis “

{ Syarah 40 Hadits Akhlaq Imam Khomeini,S.Ibnu Mustafa Al Husayni}

FIRMAN-NYA SWT:

“Mereka yg mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yg paling baik diantaranya,mereka itulah orang2 yg telah diberi allah petunjuk & mereka itulah orang2 yg mempunyai akal.”

{Q.S.azumar[39]:18}

“Sesungguhnya engkau berada pada akhlaq yg agung ”

Muqoddimah Melihat perkembangan terakhir ummat Islam di Indonesia tergambar dgn jelas betapa merosotnya akhlaknya sebagian ummat Islam. Dekadensi moral terjadi terutama dikalangan remaja. Sementara pembendungannya masih berlarut-larut dan dgn konsep yg tidak jelas.

Rusaknya moral ummat tidak terlepas dari upaya jahat dari pihak luar ummat yg dgn sengaja menebarkan berbagai penyakit moral dan konsepsi agar ummat loyo dan berikutnya tumbang. Sehingga yg tadinya mayoritas menjadi minoritas dalam kualitas. Keadaan semakin buruk ketika pihak aparat terlibat dan melemahnya peran ulama` dan tokoh masyarakat.

Padahal nilai suatu bangsa sangat tergantung dari kualitas akhlak-nya seperti dikemukakan penyair Mesir Syauki Bik “Suatu bangsa sangat ditentukan kualita akhlak-nya jika akhlak sudah rusak hancurlah bangsa tersebut.”

Hampir semua sektor kehidupan ummat mengalami krisis akhlak. Para mengalami pertikaian internal dan merebutkan vested interest dan jarang terkooptasi oleh kekuasaan yg dzalim. Para ulama`nya mengalami kemerosotan moral sehingga tidak lagi berjuang utk kepentingan ummat tetapi hanya kepentingan sesaat; mendukung status quo. Para pengusahanya melarikan diri dari tanggung jawab zakat infaq dan sedekah sehingga kedermawanan menjadi macet dan tidak jarang berinteraksi dgn sistem ribawi serta tidak mempedulikan lagi cara kerja yg haram atau halal. Para siswa dan mahasiswa terlibat banyak kasus pertikaian narkoba dan kenakalan remaja lainnya.

Kaum wanita muslimah terseret jauh kepada peradaban Barat dgn slogan kebebasan dan emansipasi yg berakibat kepada rusaknya moral mereka maka tak jarang mereka menjadi sasaran manusia berhidung belang dan tak jarang dijadikan komoditi murahan . Dan berbagai macam lapisan masyarakat muslim termasuk persoalan kaum miskin yg kurang sabar sehingga menjadi obyek garapan pihak lain termasuk seperti bentuk nyatanya pemurtadan semisal kristenisasi.

Pengertian akhlak Secara etimotogi bahasa akhlak dari akar bahasa Arab “khuluk” yg berarti tabiat muruah kebiasaan fithrah naluri dll . Secara epistemologi Syar’i  akhlak adalah sesuatu yg menggambarkan tentang perilaku seseorang yg terdapat dalam jiwa yg baik yg darinya keluar perbuatan secara mudah dan otomatis tanpa terpikir sebelumnya. Dan jika sumber perilaku itu didasari oleh perbuatan yg baik dan muliayang dapat dibenarkan oleh akal dan syariat maka ia dinamakan akhlak yg mulia nammun jika sebaliknya maka ia dinamakan akhlak yg tercela

Memang perlu dibedakan antara akhlak dan moral. Karena akhlak lbh didasari oleh faktor yg melibatkan kehendak sang pencipta sementara moral lbh penekanannya pada unsur manusiawinya. Sebagai contoh mengucapkan selamat natal kepada non muslim secara akhlak tidak dibenarkan tetapi secara moral itu biasa-biasa saja.

Sentral Akhlak Akhlak secara teoritis memang indah tapi secara praktek memerlukan kerja keras. Oleh krn itu Allah SWT mengutus Nabi SAW-Nya utk memberi contoh akhlak mulia kepada manusia.Pekerjaan itu dilakukan oleh Nabi SAW sebaik mungkin sehingga mendapat pujian dari Allah SWT “Sesungguhnya engkau berada pada akhlak yg agung “. Bahkan Rasulullah SAW sendiri bersabda “Aku diutus utk menyempurnakan Akhlak“. Lebih dari itu beliau menempatkan muslim yg paling tinggi derajatnya adl yg paling baik akhlaknya. “Sesempurna-sempurna iman seseorang mukmin adl mereka yg paling bagus akhlaknya

Maka tak heran Aisyah mendiskripsikan Rasulullah SAW sebagai Al Qur`an berjalan ; “Akhlak Rasulullah SAW adl Al Qur`an“.

Cakupan Akhlak Mulia Dimensi akhlak dalam Islam mencakup beberapa hal yaitu ;

    Akhlak kepada Allah SWT dgn cara mencintai-Nya mensyukuri ni’mat-Nya malu kepada-Nya utk berbuat maksiat selalu bertaubat bertawakkal takut akan adzab-Nya dan senantiasa berharap akan rahmat-Nya.
    Akhlak kepada Rasulullah SAW dgn cara beradab dan menghormatinya mentaati dan mencintai beliau menjadi kaumnya sebagai perantara dalam segala aspek kehidupan banyak menyebut nama beliau menerima seluruh ajaran beliau menghidupkan sunnah-sunnah beliau dan lbh mencintai beliau daripada diri kita sendiri anak kita bapak kita dll.
    Akhlak terhadap Al Qur`an dgn cara membacanya dgn khusyuk tartil dan sesempurna mungkin sambil memahaminya menghapalnya dan mengamalkannya dalam kehidupan riil.
    Akhlak kepada makhluk Allah SWT mulai diri sendiri orangtua kerabat handaitaulan tetangga dan sesama mukmin sesuai dgn tuntunan Islam.
    Akhlak kepada orang kafir dgn cara membenci kekafiran mereka tetapi tetap berbuat adil kepada mereka berupa membalas kekejaman mereka atau memaafkannya dan berbuat baik kepada mereka secara manusiawi selama hal itu tidak bertentangan dgn syariat Islam dan mengajak mereka kepada Islam.
      Akhlak terhadap makhluk lain termasuk kepada menyayangi binatang yg tidak mengganggu menjga tanaman dan tumbuh-tumbuhan dan melestarikannya dll.

Krisis Akhlak Apabila norma-norma akhlak mulia tidak dijalankan dgn baik bahkan cenderung dilanggar maka akan terjadi apa yg dinamakan krisis akhlak. Sebagai contoh kami kemukakan data-data terjadinya perusakan akhlak terutama kepada para remaja berupa narkoba shabu-shabu putow heroin ganja ecstasi morphin dll. Sasarannya mulai dari anak-anak sekolah dasar sampai perguruan tinggi dari pengangguran sampai artis. Pengaruh buruk yg diperoleh adl dapat merusak hati dan otak meskipun pada tahap awal sipecandu merasa segar gembira fly tidak tidur dan merasa berani. Police watch Indonesia suatu LSM yg memantau keterlibatan polisi dalam jaringan penyimpangan menyebutkan bahwa 42% kasus narkoba terjadi dijakarta 58% terjadi diJawa Barat Bali Jawa Tengah Yogyakarta Jawa Timur dan Sumatra Barat.

Jakarta Barat kawasan terbesar kasus narkoba krn dikawasan itu banyak terdapat tempat maksiat sisanya di Jakarta Pusat Jakarta Utara dan Jakarta Timur . Bahkan telah merambat kekota-kota kecil dan kampung-kampung.

Pembentengan dari krisis Akhlak Tentunya ummat Islam tidak berjaya kalau melepaskan ajaran Islam dalam kehidupan mereka. Makanya mereka harus kembali menghidupkan Islam sebagaimana yg telah dilakukan oleh Rasulullah SAW dan 12 imam ahlul bait

Kita harus kembali menghidupkan masjid sebagai pusat kegiatan ummat Islam. Memperkuat daya tahan rumah tangga dari ancaman dekadensi moral termasuk film-film ysng bobrok menjaga disiplin dan keamanan sekolah serta memberikan lingkungan materi agama yg cukup serta menjaga daya tahan lingkungan masyarakat dari berbagai arus perusakan dan penyesatan sekaligus mengaktifkan pemerintah utk membentengi masyarakat dari berbagai bentuk kemaksiatan.

Wallahu A`lam.


Pendahuluan

Pemikiran filsafat Islam, dalam makna luas, tampaknya memang belum berkembang dengan semestinya di tanah air. Pernyataan ini lahir dengan fakta bahwa belum pernah ada filsuf yang berasal dari warga negara Indonesia. Kalau melirik kembali sejarah bangsa Indonesia, sebenarnya pemikiran filosofis pernah hidup di negeri ini sehingga membuat peradaban Islam Nusantara mencapai titik klimaks. Sebut saja misalnya, pemikiran Hamzah Fanshuri (w. 1600 M), dan muridnya, Syamsuddin As-Sumatrani (w. 1630 M), telah dengan fasih mengembangkan ajaran Gnosis Ibn ‘Arabi (w. 1240 M). Aliran filsafat ‘Arabian’ ini adalah salah satu aliran filsafat terpenting di Dunia Islam. Tema utama dari aliran Gnosis ini adalah wahdatul wujud dan Insan Kamil. Ajaran Gnosis Ibn Arabi ini memadukan visi mistis dan rasional, selain banyak terminologi filsafat yang digunakan dalam aliran ini. Aliran ini berkembang di Nusantara pada abad-abad XVI-XVII M.

Sekaitan dengan itu, berarti pemikiran Hamzah Fanshuri dan para muridnya bisa dikatakan sebagai pemikiran filsafat Islam, meskipun pemikirannya ‘bercampur’ dengan ajaran Gnosis Ibn ‘Arabi. Dalam perspektif lain, banyak ahli memasukkan aliran Gnosis Ibn Arabi sebagai salah satu aliran filsafat Islam terbesar di Dunia Islam. Dengan alasan ini, maka Hamzah Fanshuri bisa dikatakan sebagai salah seorang filsuf Muslim pertama di tanah air. Pelekatan predikat filsuf ini kepada Hamzah Fanshuri tentu bisa memunculkan perdebatan yang panjang. Fakta historis ini membuktikan bahwa pemikiran filsafat Islam pernah mengalami kejayaan ketika negara Indonesia masih terdiri atas kerajaan-kerajaan sekitar abad XVI-XVII M. Sejak penduduk Nusantara dijajah oleh bangsa Eropa, bahkan hingga mereka berhasil meraih kemerdekaannya, pemikiran filsafat Islam semakin hilang dari perederannya, jika tidak ingin mengatakannya mati.

Hingga kini, pemikiran filsafat Islam memang mulai menyinari kembali bumi Indonesia dalam skala terbatas. Namun demikian, prosesnya masih dalam tahap gagasan awal. Sebagai sebuah gagasan awal, penumbuhan kembali pemikiran filsafat di Nusantara masih mengalami problematika serius. Selain minimnya para pakar filsafat Islam dalam arti yang sesungguhnya atau tidak adanya filsuf terkemuka di negeri ini, buku-buku daras filsafat Islam pun masih sangat minim dikarang oleh para pemikir Muslim di kawasan jambrut khatulistiwa ini. Bahkan kuantitas buku-buku filsafat klasik standart masih sangat terbatas, bahkan masih banyak belum diterjemahkan secara besar-besaran.

Dalam kasus terakhir, karya-karya pemikir lokal memang belum ada yang mengulas secara signifikan tentang tema-tema filsafat Islam. Sebagai sebuah bagian dari kajian filsafat Islam, karya-karya tentang epistemologi Islam pun sangat jarang ditemukan di Indonesia. Sekali lagi, karya-karya tentang epistemologi yang ada hanya masih berupa gagasan awal, sehingga harus terus dikembangkan lebih lanjut. Fenomena ini membuat para pelajar filsafat di Indonesia harus menggunakan karya-karya filsuf Muslim benua lain. Tragisnya lagi, tidak sedikit pelajar filsafat di negeri ini menggunakan karya-karya filsuf Barat, yang sebenarnya pandangan mereka memiliki sejumlah prinsip yang berbeda dengan ideologi Islam. Akan tetapi, usaha mereka dalam upaya mempelajari filsafat Islam dari karya pemikir luar itu tetap harus didukung, karena upaya mereka itu bisa dijadikan sebagai batu loncatan tahap awal menuju penumbuh-segaran kembali kajian filsafat Islam di kawasan Nusantara.

Di sinilah letak signifikansi kajian pemikiran Muthahhari tentang epistemologi Islam. Beliau memang belum pernah hadir secara fisik ke Indonesia, namun pemikirannya telah hadir di kawasan ini sejak era 1980-an. Bahkan pemikiran filsafatnya, terutama tentang masalah epistemologi, telah memperkaya khazanah pemikiran filsafat di Indonesia. Tentu saja, kajian ini secara langsung ataupun tidak langsung akan turut memperkaya karya-karya filsafat Islam yang telah ada, terutama karya tentang epistemologi Islam, di Nusantara. Tulisan  ini akan memfokuskan kajiannya kepada pemikiran epistemologi Murtadha Muthahhari.  Sebelum menguraikan pandangannya tentang hal ini, makalah ini akan berupaya memotret biografi tokoh dari negeri Mullah ini.

Sketsa Biografi

Murtadha Muthahhari, begitu nama lengkapnya, lahir 2 Februari 1919 di pojok dusun kecil yang bernama Fariman, propinsi Khurasan, Iran.[1] Nama ayahnya adalah Hujjatul Islam Muhammad Husein Muthahhari, salah seorang ‘ulama besar[2] di kampung halamannya. Keluarganya adalah keluarga Muslim yang menganut mazhab Syi’ah Itsna ‘Asyariyah Ushuliya’. Selain belajar ilmu dasar Islam seperti teologi kepada ayahnya, Muthahhari juga belajar di madrasah Fariman, sebuah madrasah tradisional yang mengajarkan membaca, menulis, juz ‘ammah, dan sastra Arab.[3] Pendidikan dasarnya ini berlangsung hingga beliau berusia sekitar dua belas tahun.

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya, Muthahhari langsung berangkat ke Hawzah[4] Mashyad untuk melanjutkan studi religinya pada 1932. Hawzah Masyhad adalah salah satu pusat pendidikan keagamaan Syi’ah, selain Hawzah Qom (Iran); serta Hawzah Najaf dan Karbala di Irak. Di Hawzah Masyhad tersebut, Muthahhari telah menunjukkan kecerdasan dan keseriusan dalam upaya mempelajari ilmu-ilmu Islam.[5] Di sana, beliau juga telah menunjukkan minat besar terhadap filsafat dan Irfan. Selama di Masyhad, beliau banyak terinspirasi oleh kepribadian seorang filsuf Islam tradisional ternama kala itu, Mirza Mehdi Syahidi Razavi.[6]

Pada tahun 1936, Muthahhari meninggalkan Masyhad lalu berangkat ke Hawzah Qom guna melanjutkan studinya. Beliau hijrah ke kota Qom ini dikarenakan oleh beberapa faktor. Pertama, guru yang menjadi curahan perhatiannya, Mirza Mehdi Syahidi Razawi wafat pada tahun 1936. Kedua, Kemunduran yang dialami Hawzah Masyhad. Ketiga, adanya tekanan-tekanan destruktif dari pemerintah tirani yaitu raja Reza Khan, terhadap seluruh lembaga-lembaga keislaman, termasuk Hawzah Mashyad.[7] Kerajaan Persia kala itu menganggap bahwa eksistensi berbagai institusi Islam tersebut dapat mengganggu stabilitas politis negara.

Kepergiannya dari Masyhad bukannya tanpa bekas, sebab kota ini telah memberikan pengaruh intelektual bagi Muthahhari berupa kesadaran diri untuk mencintai ilmu sepanjang hayatnya. Kendati guru yang menjadi pusat perhatiannya itu wafat dan beliau belum cukup umur untuk mengikuti kuliah-kuliah yang disampaikan oleh guru tersebut, namun beliau telah menemukan kecintaan mendalam terhadap teologi, filsafat, dan Irfan.[8]

Pada tahun 1937, Muthahhari telah menetap di Qom.[9] Di kota ini, beliau menjadi salah satu pelajar agama yang cukup cerdas. Di kota ini, beliau pun sangat apresiatif terhadap mata pelajaran filsafat. Secara mendalam, beliau mempelajari ilmu ini melalui ‘Allamah Sayyid Muhammad Husein Thabathaba’i. Gurunya ini mengenalkan kepada Muthahhari secara komprehensif tentang berbagai bentuk pemikiran sejak Aristoteles hingga Sartre. Thabathaba’i merupakan Mufassir, Teosof, dan Filosof terbesar pada abad ke-20 M. Sayyid Husein Nasr yang merupakan murid Thabathaba’i, mengungkapkan bahwa ‘Allamah Thabathaba’i memiliki kelebihan sebagai seorang Syaikh dalam bidang syari’ah dan ilmu-ilmu esoteris, sekaligus seorang Filosof terkemuka.[10] Selain belajar filsafat kepada Thabathaba’i, Muthahhari pun mempelajarinya dari Ayatullah Al-Astiyani, dan Syaikh Mahdi Al-Mazandarani.[11]

Pada tahun 1941, Muthahhari berangkat ke Isfahan untuk mempelajari kitab Nahjul Balaghah. Kitab ini merupakan kumpulan dari pidato dan surat-surat Imam pertama mazhab Syi’ah, Imam ‘Ali bin Abi Thalib. Kitab ini sangat sarat dengan pengetahuan filosofis dan spiritual. Karena itulah, beliau berminat mengkaji kitab ini, sehingga membuatnya harus menemui Mirza Ali Aqa Shirazi Isfahani di Isfahan. Mirza Ali adalah salah seorang guru yang memiliki otoritas untuk naskah-naskah Syi’ah Klasik, khususnya kitab Nahjul Balaghah.

Sebagai seorang pelajar filsafat, beliau telah banyak membaca kitab-kitab filsafat, seperti kitab Syarh-i Manzumah, sebuah naskah filosofis karya Mulla Hadi Sabzewari. Beliau mempelajari kitab tersebut di bawah bimbingan Imam Khomeini sejak tahun 1945. Muthahhari sangat memahami karya itu, sehingga beliau dikenal sebagai pensyarah buku Syarh-i Manzhumah tersebut. Kemudian pada tahun 1946, beliau mempelajari Kifayah Al Ushul, sebuah kitab hukum dari Akhun Khorasani di bawah bimbingan Imam Khomeini. Melalui kitab ini, kemudian beliau pun memulai komitmennya untuk mempelajari filsafat Marxisme. Kajian filsafatnya pun terus berjalan dengan mempelajari kitab Al-Asfar Al-Arba’ah karya Mulla Shadra. Beliau mulai mengkaji kitab ini sejak tahun 1949 di bawah asuhan Imam Khomeini. Teman sekelasnya dalam mempelajari kitab Mulla Shadra tersebut antara lain Ayatullah Montezari, Hajj Aqa Reza Shadr dan Hajj Aqa Mehdi Ha’eri. Pemahaman Muthahhari yang sangat baik tentang filsafat Shadra tersebut turut menjadikannya seorang ahli teosofi Mulla Shadra. Pada tahun 1950, Muthahhari pun mempelajari kitab filsafat Marxisme karya George Pulizer yang berjudul Introduction to Philosophy, tetapi hanya melalui terjemahannya dalam bahasa Persia. Di samping itu, bersama dengan Montezari dan Behesyty, Muthahhari juga mempelajari berbagai kitab filosofis karya dari Ibn Sina kepada ‘Allamah Thabathaba’i.[12]

Muthahhari juga mempelajari ilmu fiqih dan ushul fiqh di Qom. Dalam bidang ini, yang merupakan mata pelajaran pokok kurikulum tradisional di Hawzah, beliau mempelajarinya melalui Ayatullah Burujerdi, pengganti Syekh Abdul Karim Yazdi sebagai direktur lembaga pengajaran di Qom.[13] Tak cukup pada seorang guru, Muthahhari juga mendapatkan pelajaran tersebut dari Ayatullah Hujjat Kuhkamari, Ayatullah Sayyid Muhammad Damad, Ayatullah Sayyid Muhammad Reza Gulpayagani, dan Ayatullah Haji Sayyid Shadr Al-Din Shadr. Kesuksesannya dalam mempelajari mata pelajaran ini ditandai dengan kelulusannya pada ujian untuk meraih gelar Ayatullah[14] di hadapan para ulama besar seperti Ayatullah Shadr, Ayatullah Muhammad Muhaqqiq, dan Ayatullah Muhammad Hujjat.[15]

Selain itu, Muthahhari juga mempelajari ilmu Akhlaq. Pada tahun 1362 H, beliau berangkat ke kota Burujur untuk mengikuti pelajaran akhlaq dari Ayatullah Sayyid Hussein Burujerdi, yang ketika itu bermukim di sana. Setelah itu, beliau kembali ke kota Qom bersama gurunya tersebut pada bulan Muharram tahun 1364 H. Untuk mendalami ilmu ini, Muthahhari juga berguru kepada Syaikh Ali Al-Syirazi Al-Ishfahani.[16]

Tidak sampai di sini, Muthahhari pun mempelajari Irfan. Untuk itu, beliau berguru kepada Ayatullah Al-‘Uzhma Ruhullah Khomeini. Oleh karena Imam Khomeini juga seorang Marja-i Taqlid, Muthahhari pun mempelajari ilmu fiqih dan ushul fiqih darinya, di samping juga aktif mengikuti kuliah-kuliah filsafat yang digelar pemimpin Revolusi Islam Iran ini.[17]

Seperti ‘Allamah Thabathaba’i, Muthahhari juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan modern. Beliau cukup berantusias dalam mempelajari ilmu pengetahuan modern ini. Buku-buku yang ditulis oleh Will Durrant, Sigmund Freud, Bertrand Russel, Albert Einstein, Erich Fromm, Alexis Carrel, Charles Darwin, Immanuel Kant, dan pemikiran filosof Barat lainnya beliau telaah secara seksama dan serius. Kendati demikian, beliau tidak rendah diri dan malu-malu untuk lebih menonjolkan filsafat Islam. Ini dibuktikan dengan analisis-kritisnya terhadap pemikiran Barat Modern. Karena itulah, beliau dikenal sebagai salah satu kritikus filsafat Barat terkemuka pada masanya.

Kemudian, beliau pun juga menaruh perhatian khusus kepada filsafat Materialisme. Beliau mempelajari pengetahuan tersebut dari berbagai sumber sekunder. Pada tahun 1946, beliau mulai mempelajari filsafat Materialisme yang diperolehnya dari buku dan pamflet dalam bahasa Persia yang dibuat oleh partai Tudeh. Dia juga sering membaca karya-karya yang ditulis oleh ilmuan Partai Tudeh tersebut, seperti karya Taqi Arani, maupun penerbitan-penerbitan Marxis dalam bahasa Arab yang berasal dari Mesir.[18] Selain itu, beliau juga banyak mempelajari filsafat Materialisme dari Allamah Thabathaba’i, melalui sebuah diskusi rutin pada setiap hari Kamis. Diskusi tersebut berlangsung selama tiga tahun yaitu antara tahun 1950 sampai 1953, hingga menghasilkan sebuah buku berjudul Ushul el Filsafat wa Ravesh-e Realisme, karya ‘Allamah Thabathaba’i. Mutahhhari kemudian mengedit buku ini, sembari menambahkan banyak catatan sebagai syarahan terhadap buku itu. Karena itulah, buku tersebut menjadi lebih tebal dari naskah aslinya. Buku itu pun secara bertahap diterbitkan dalam rentang waktu antara tahun 1953 hingga 1985.

Pada masa berikutnya, Muthahhari berangkat ke Teheran pada tahun 1952. Di kota inilah beliau mulai membina rumah tangga dengan istri pilihannya. Istrinya tersebut adalah puteri dari seorang ‘ulama ternama bernama Ayatullah Ruhani.[19]

Demikianlah masa-masa di mana Muthahhari mengenyam pendidikan. Beliau tidak hanya mendalami sebuah disiplin ilmu, tetapi juga mencoba menguasai seluruh disiplin ilmu pengetahuan. Tak pelak lagi, beliau pun berhasil. Keseriusannya dalam studi keagamaan telah menjadikan beliau seorang mujtahid, baik dalam bidang tafsir, fiqih, ushul fiqh, filsafat, maupun ‘Irfan.

Karir Akademis dan Politis

Muthahhari adalah sosok pemikir Islam Iran legendaris. Beliau berkecimpung tidak hanya dalam bidang akademis tetapi juga berperan secara aktif dalam bidang politik. Dalam bidang akademis, beliau sangat aktif memberikan pengajaran baik untuk para mahasiswa maupun masyarakat awam, selain banyak menulis buku-buku dalam bidang keilmuan yang beraneka ragam. Dalam bidang politik, beliau pun aktif berkecimpung dalam berbagai organisasi. Hal itu dilakukan dalam rangka berjuang menggulingkan pemerintahan tirani rezim Pahlevi, bersama para ‘ulama, mahasiswa, dan masyarakat Iran yang tertindas; di mana Imam Khomeini menjadi pemimpin mereka.

Sejarah telah mencatat bagaimana Muthahhari memberikan dedikasinya terhadap dunia pendidikan di Iran. Sejak tahun 1953, beliau mendirikan sebuah sekolah agama dan mengajar mata pelajaran filsafat[20], sebagai mata pelajaran favoritnya sejak masa mudanya. Sekolah bercorak keagamaan tersebut bernama Madrasa-yi Marvi.[21] Sekolah agama tersebut digunakan sebagai fasilitas untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, terutama filsafat, bagi para pemuda Islam Iran.

Namun itu bukanlah karir perdananya di bidang pendidikan. Sebab, beliau pun pernah mengajar pelbagai macam pengetahuan seperti filsafat, logika, teologi, dan fiqih pada saat masih berstatus pelajar di Qom. Beberapa tahun kemudian, beliau juga pernah diamanahkan untuk mengajar pengetahuan yang sama di fakultas Teologi dan Ilmu-Ilmu Keislaman, Universitas Teheran. Bahkan pihak universitas memberikan kepadanya jabatan strategis, seperti mengangkatnya menjadi Ketua Jurusan Filsafat di Universitas tersebut.[22] Beliau bergabung dengan Universitas itu sejak tahun 1954 hingga kelak diangkat menjadi guru besar filsafat[23]. Meskipun sebelumnya, pada tahun 1964, promosi gelar professor untuk Muthahhari ditolak. Ini tidak lain karena keterlibatan Muthahhari dalam bidang politik dengan mendukung revolusi politik Imam Khomeini. Tidak bisa dipungkiri pula bahwa beberapa koleganya di Universitas Teheran juga kurang menyukainya.[24]

Selain mengajar dan memberikan ceramah di berbagai tempat, Muthahhari juga aktif dalam kegiatan jurnalistik. Sejak tahun 1953, beliau menjadi penulis tetap di jurnal filsafat Al-Hikmah.[25] Dalam jurnal ilmiah tersebut, beliau mulai menyampaikan berbagai gagasan dan pemikiran briliannya. Tulisan-tulisannya memang banyak digemari oleh masyarakat, sehingga menjadikannya terkenal.

Selain aktif dalam bidang akademis, beliau juga aktif dalam bidang politik. Pada masanya, pemerintahan negara dikuasai oleh pemerintahan Pahlevi. Melihat kemungkaran yang terus dilakukan rezim itu, bersama Imam Khomeini dan masyarakat, beliau turut berjuang melawan kekuatan pemerintah yang tidak kecil. Karena oposisinya terhadap pemerintah ini, beliau bersama Imam Khomeini pernah dipenjarakan oleh pemerintah pada tahun 1963. Setelah Imam Khomeini di buang ke Turki, Muthahhari pun dibebaskan. Namun atas perintah Imam Khomeini, lantas Muthahhari memimpin perjuangan Revolusi Iran yang juga didukung masyarakat dan ‘ulama Iran. Selanjutnya, pada tahun 1971, beliau bertanggung jawab guna menentukan rencana-rencana politik ideologi di masjid Al-Jawad. Untuk mengambil berbagai kebijakan, beliau pun selalu meminta nasehat kepada Imam Khomeini, terutama dalam persoalan politik yang penting.[26]

Agar perjuangan politiknya semakin solid, maka Muthahhari pun aktif mendirikan organisasi. Beliau pernah mendirikan Husainiyah Irsyad bersama para koleganya. Organisasi ini adalah sebuah lembaga di Teheran Utara yang bertujuan merekrut kaum muda berpendidikan sekuler agar setia kepada Islam. Organisasi ini didirikan sejak tahun 1965.[27] Jauh sebelum organisasi ini berdiri, Muthahhari juga aktif mengikuti organisasi lain. Beliau pernah bergabung dengan Organisasi Keislaman Profesional yang berada di bawah pengawasan Mahdi Bazargan dan Ayatullah Taleqani. Organisasi ini menyelenggarakan berbagai kuliah kepada para anggota mereka seperti dokter, insinyur, serta dokter.[28] Kemudian, beliau pernah bergabung dengan organisasi ‘ulama Teheran bernama ‘Masyarakat Keagamaan Bulanan’ sejak tahun 1960. Beliau juga pernah diamanahkan untuk memimpin organisasi ini. Salah satu pengurus organisasi ini adalah teman kuliah Muthahhari di Qum, yaitu Ayatullah Behesyti. Para anggota kelompok ini mengorganisasikan kuliah-kuliah umum bulanan yang dirancang secara serempak, untuk memaparkan relevansi Islam dengan masalah-masalah kontemporer, dan untuk menstimulasikan pemikiran reformis di kalangan ‘ulama.Terakhir, Ayatullah Muthahhari pun juga pernah berkecimpung dengan organisasi ‘Jam’iyah Ulama Militan’, sebuah organisasi Islam penting waktu itu.[29] Melalui berbagai organisasi inilah, kelak Mutahhari semakin dikenal luas dan menjadi tokoh yang cukup diperhitungkan Pemerintah.

Aktifitas politik Muthahhari juga dapat dilihat dari perannya dalam mengisi panggung politik internasional. Pada tahun 1969, beliau bersama Ayatullah Zanjani dan ‘Allamah Thabathaba’i mengeluarkan pernyataan keras untuk mengutuk agresi pemerintah Amerika dan Israel ke Palestina. Tidak sekedar itu, beliau pun aktif mengumpulkan dana yang diperlukan oleh para pengungsi Palestina sejak agresi tersebut.[30]

Pemerintah akhirnya menilai bahwa aktifitas politis Muthahhari membahayakan stabilitas kekuasaan kerajaan. Karena itu, pada tahun 1972, kegiatan-kegiatan intelektual pusat-pusat kebudayaan Islam, terutama Husainiyah Irsyad dan mesjid Al-Jawad dilarang beraktifitas oleh rezim Shah. Akhirnya, beliau dipenjarakan untuk kesekian kalinya sebagai akibat kegiatan politiknya itu meski tidak lama kemudian beliau dibebaskan tanpa syarat.[31]

Menjelang kemenangan Revolusi Islam Iran, Muthahhari mendapat tugas mulia dari Imam Khomeini. Beliau ditugaskan untuk mengorganisir masyarakat ‘Ulama Mujahidin’ dan memimpin ‘Dewan Revolusi’. Setelah Revolusi Islam di Iran berhasil menggulingkan pemerintahan Pahlevi, Muthahhari tetap menjadi pembantu setia Imam Khomeini.[32] Muthahhari pun terus memberikan dedikasinya kepada masyarakat dan negaranya. Untuk itulah beliau tetap memimpin ‘Dewan Revolusi’.

Sebagai seorang politisi, tentu Muthahhari memiliki lawan politik. Sikap tegasnya dalam memperjuangkan Revolusi Islam dengan berbagai manuver politik, membuat lawannya gerah. Kelompok Furqan yang tidak menyukai Muthahhari, melakukan upaya pembunuhan terhadap dirinya. Rencana pembunuhan itu berhasil dilaksanakan pada hari selasa malam tanggal 1 Mei 1979, dan Muthahhari pun ditembak mati oleh kelompok tersebut. Peristiwa penembakan itu dilakukan pada saat Muthahhari ingin pulang ke rumahnya, setelah selesai mengadakan rapat di rumah Yadullah Shahabi, salah satu anggota Dewan Revolusi. Pada saat itu beliau berjalan sendirian menuju ke tempat parkir mobilnya. Belum sampai ke mobilnya, beliau mendengar suara asing memanggilnya. Ketika beliau melirik ke arah suara tersebut, seketika sebuah peluru menembus kepalanya, masuk di bawah cuping telinga kanan dan keluar di atas alis mata kiri. Beliau memang sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat, namun beliau telah syahid dalam perjalanan.[33]

Muthahhari pun tidak dapat mengabdi kepada bangsanya lagi. Pada hari rabu, tanggal 2 Mei 1979, negara Iran berkabung. Para penyiar radio dengan suara perlahan mengumumkan syahidnya Muthahhari diiringi pembacaan beberapa petikan dari tulisannya.[34] Beliau pun disemayamkan di rumah sakit. Hingga hari kamis, di tengah-tengah perkabungan luas, jasadnya dibawa ke beberapa tempat untuk dishalatkan. Yang pertama sekali ke Universitas Teheran, lalu ke Qom, untuk kemudian dimakamkan di sebelah makam Syaikh Abdul Karim Ha’iri Yazdi, yang juga tidak jauh dari makam Sayyidah Fathimah Al-Ma’shumah.[35]

Sebuah poster pernah dibuat untuk mengabadikan sosok Muthahhari. Poster itu bergambar seorang yang wajah bercambang dengan kacamata tebal dan lingkaran sorban menyeruak di sela buku tebal dan menara mesjid pada latar belakang, juga ada merpati yang tengah terbang dengan punggung dihiasi sabda Rasulullah SAW; Tinta ‘ulama lebih utama dari pada darah segar Syuhada’.[36]

Meskipun secara fisik telah tiada, namun secara intelektual Muthahhari tetap hidup. Sebab, kini buah fikirnya tetap hidup dalam menghiasi blantika pemikiran Islam Kontemporer. Beberapa karya tulisnya adalah seperti: A Discourse in the Islamic Republic; Al-‘Adl Al-Ilahiy; Al-‘Adl fi Al-Islam; Akhlaq; Allah fi Hayat al-Insan; An Introduction to ‘Ilm Kalam; An Introduction to ‘Irfan; Attitude and Conduct of Prophet Muhammad; The Burning of Library in Iran and Alexandria; The Concept of Islamic Republic (An Analysis of the Revolution in Iran); Al-Dawafi’ Nahw Al Maddiyah; Al-Dhawabit Al-Khuluqiyah li al Suluk al Jins; Durus min Al-Quran, The End of Prophethood; Eternal Life; Extracts from Speeches of Ayatullah Muthahhari; Glimses on Nahj al-Balaghah; Fi Rihab Nahj al-Balaghah; The Goal of Life; Al-Hadaf al-Samiy li al Hayat al-Insan; Happiness; History and Human Evolution; Human Being in the Quran; Ijtihad in the Imamiyah Tradition; Ijtihad fi al Islam; Al Imdad al-Ghaybi; Al-Islam wa Iran; Islam Movement of the Twentieth Century; ‘Isyrun Haditsan; Jihad; Jurisprudence and its Principles; Logic; Al-Malaqat al-Falsafiyah; Man and Faith; Man and His Destiny; Al-Insan wa al-Qadr; Mans Social Evolution; Al-Takamul al-Ijtima’iy li al Insan; Maqalat Islamiyah; The Martyr; Al Syahid Yatahaddats ‘an Al Syahid; Master and Mastership; Wilayah; The Sation of the Master; Al- Waly wal- Wilayah; Al Naby Al Ummy; The Nature of Imam Husein’s Movement; Haqiqah al-Nahdhah al-Huseiniyah; On the Islamic al-Hijab; Mas’alah al-Hijab; Philosophy; Polarization around the character of Ali bin Abi Thalib; Qashash al-Abrar; Religion and the World;, Recpecting Rights and Despising the World; Ihtiram al-Huquq wa Tahqir al-Dunya; Reviving Islamic Ethos; Ihya al-Fikr al-Diniy; Right of Woman in Islam; Huquq al-Mar’ah fi’al Islam; The Role of Ijtihad in Legislation; The Role of Reason in Ijtihad; The Saviour’s Revolution; Al-Mahdiy wa Falsafah al-Tarikh; Sexual Etichs in Islam; Al-Suluk al-Jinsy baina al-Islam wa al-Gharb; Society and History; Social and Historical Change; Al-Mujtama’ wa al Tarikh; Spirit, Matter, and Life; Spiritual Sayings; Al-Tafkir fi al-Tashawwur al-Islami; Al-Takamul al-Ijtima’iy al-Insan; Al-Tahsil, Al-Taqwa, Understanding the Quran; Ushul Falsafah wa Madzhab al-Waqi’iy; The World View of Tawhid; Al Mafhum al-Tawhidiy li al-‘Alam; dan Al-Wahy wa an Nubuwah.[37] Yang perlu di catat, ini hanya merupakan sebagian dari karya Muthahhari. Masih banyak karya lain dari tokoh ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu dalam makalah ini. Ini pula membuktikan bahwa meskipun beliau disibukkan oleh perjuangan Revolusi Islam Iran, di samping aktifitas lainnya, namun beliau tetap menyempatkan diri untuk menggoreskan pemikirannya ke dalam sebuah kertas putih.

Metode Berfikir

Setiap pemikir besar memiliki metode berfikir tertentu dalam setiap wujud pemikirannya. Metode berfikir itu biasanya mewarnai seluruh hasil pemikirannya, dan bahkan merupakan ‘akar tunggal’ dari seluruh pendekatan dan gagasan yang dikedepankannya.[38] Demikian pula dengan Ayatullah Muthahhari, yang secara pasti memiliki sebuah metode berfikir tertentu.

Umum dikenal bahwa pada abad XX, Hawzah Qom telah diwarnai beberapa akademi.[39] Salah satu dari beberapa akademi tersebut adalah akademi “Rasionalisme-Tekstualisme”. Dalam hal ini, Muhsin Labib menerangkan bahwa Muthahhari sebagai salah satu pemikir besar Iran, termasuk ke dalam aliran pemikiran atau akademi tersebut.[40] Kenyataan ini juga yang memberikan gambaran bahwa corak berfikir Muthahhari adalah Rasionalisme-Tekstualisme.

Akademi ini adalah sebuah aliran yang menjadikan rasio (akal) sebagai landasan pemikiran dan menggunakan teks-teks agama sebagai argumen pembenar dari landasan yang telah dikonstruk oleh akal tersebut. Metode berfikir ini memang sangat kentara dalam berbagai karya Muthahhari. Dalam berbagai karyanya yang terkenal itu tampak bahwa beliau memang senantiasa memulai pembahasan dengan menggunakan dalil-dalil rasional dan pada akhirnya, untuk mendukung pemikirannya itu, beliau menggunakan teks-teks agama.

Dalam konteks ini, bahwa tampak Muthahhari sangat cukup apresiatif terhadap akal. Beliau selalu menggunakan dalil-dalil akal (dalil aqli) dalam membahas sebuah permasalahan. Setelah itu, beliau pun mencari dalil-dalil wahyu (dalil naqli) untuk mendukung pemikiran yang telah dibangunnya melalui akal tersebut. Sebab itulah, sebagaimana diungkap Muhammad Ja’far, bahwa filsafat sebagai sebuah disiplin ilmu yang berdiri di atas fundamental kekuatan nalar rasio, mendapatkan tempat yang cukup istimewa dalam semua lini konsepsi pemikiran Muthahhari. Kendati begitu, bukan berarti sosok Muthahhari mengesampingkan nash-nash agama dan dimensi spiritualitas serta hanya bertumpu pada rasio belaka. Beliau pun mengecam pemikir yang hanya sepenuhnya bertumpu dan berorientasi pada akal atau rasio, tanpa mempertimbangkan nash-nash agama dan spiritualitas.[41] Boleh jadi sikap Muthahhari ini ingin membuktikan bahwa dalil-dalil akal tidak bertolak belakang dengan nash-nash agama, tetapi memiliki kaitan erat, bahkan saling mendukung.

Gagasannya Tentang Epistemologi

Kata epistemologi berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata ‘episteme’, yang bermakna ‘ilmu’. Epistemologi ini dikenal sebagai cabang filsafat yang mengkaji segala sesuatu yang terkait dengan pengetahuan, seperti tabi’at dasar, sifat, jenis-jenis, obyek, struktur, asal mula, metode, dan validitas ilmu pengetahuan.[42] Hal ini terkait dengan tiga jenis pendekatan yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi.  Apabila ontologi membicarakan tentang ke-apa-an (mahiyah) dan ke-ada-an (wujud), dan aksiologi membicarakan kegunaan sesuatu, maka epistemologi membicarakan dua hal yaitu sumber dan cara memperoleh sesuatu. Epistemologi membicarakan pembagian, hakikat, metode, dan sumber ilmu. Sebenarnya, pembahasan tentang epistemologi ini cukup luas dan dalam. Karenanya, tulisan ini hanya mengulas pemikiran Muthahhari tentang signifikansi kajian epistemologi, kemungkinan epistemologi, klasifikasi ilmu, sumber dan alat epistemologi, dan karakteristik pengetahuan indrawi dan rasio.

  1. 1. Signifikansi Kajian Epistemologi

Ketika masih hidup, Muthahhari sering mengadakan berbagai ceramah yang tidak hanya dihadiri para pemuda Iran, namun juga para mahasiswa. Secara kuantitas, jumlah mereka bisa mencapai ribuan orang. Pada tahun 1977 M, beliau memberikan ceramah-ceramah tentang epistemologi di Teheran. Ceramah-ceramah ini telah menghasilkan sebuah buku berjudul “Mas’ale-ye Syenokh” (masalah epistemologi). Selain buku tersebut, Muthahhari pun telah menghasilkan buku lain tentang pembahasan yang sama berjudul “Syenokh Dar Quran” (Epistemologi dalam al-Quran). Muthahhari pun pernah menulis buku syarahan atas kitab “Syarh  Manzhumah” karya Mulla Hadi Sabzewari. Jilid ketiga buku syarahan ini menguraikan pula tentang masalah epistemologi, dan kajian hanya mengkonsentrasikan tentang masalah ma’qulat awwali dan ma’qulat tsani. Selain itu, Muthahhari pun membuat syarah atas kitab gurunya, Allamah Thabathaba’i, yang berjudul Usus-e Falsafah wa Rawisy-e Rialism. Syarahan Muthahhari atas kitab ini malah membuat kitab ini lebih tebal dari naskah aslinya. Dalam syarahannya atas kitab ini, Muthahhari menuliskan pula pandangannya tentang epistemologi. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Muthahhari memang sangat concern terhadap masalah epistemologi.

Patut mendapat catatan, meskipun buku-buku karya Muthahhari di atas sama-sama membahas tentang masalah epistemologi, namun Muthahhari menggunakan pendekatan yang berbeda-beda dalam mengulas masalah tersebut dalam masing-masing buku. Dalam kitab “Mas’ale-ye Syenokh”, selain menggunakan pendekatan Qurani, Muthahhari menggunakan pendekatan psikologi. Dalam kitab “Syenokh Dar Quran”, ia malah cenderung membahas epistemologi dengan pendekatan Qurani semata. Dalam kitab syarahannya atas kitab “Syarh  Manzhumah”, dan kitab Usus-e Falsafah wa Rawisy-e Rialism, Muthahhari hanya membahas tema epistemologi dengan menggunakan pendekatan filosofis.[43]

Pada dasarnya, Muthahhari masih memiliki banyak buku yang berkaitan dengan masalah epistemologi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Masing-masing buku ini pun, seperti halnya buku-buku di atas, menggunakan pendekatan yang saling berbeda dalam membahas masalah epistemologi. Banyaknya buku Muthahhari yang membahas masalah epistemologi mengindikasikan bahwa bagi tokoh ini kajian epistemologi sangat penting. Pembahasan epistemologi dengan menggunakan pendekatan yang berbeda-beda ini menunjukkan bahwa tokoh ini sangat piawai dan cerdas, bahkan menguasai penuh konsep-konsep epistemologi secara mendalam.

Keberadaan buku “Mas’ale-ye Syenokh” memiliki latar belakang yang panjang. Sejak Muthahhari menggelar ceramah tentang epistemologi 1977 M di Teheran, di mana ceramah itu dihadiri oleh ribuan pemuda dan mahasiswa Iran, pemerintah Iran melarang Muthahhari berceramah lagi. Bahkan larangan ini sudah dinyatakan pemerintah pada tahun 1974 M. Namun Muthahhari tidak mengindahkan larangan ini. Bukan karena Muthahari membahas tema epistemologi yang membuat pemerintah melarangnya berceramah lagi di depan publik, namun pertimbangan pemerintah adalah kuantitas massa yang mendengarkan ceramah Muthahhari tersebut. Dalam kondisi politik dalam negeri yang sedang tidak stabil, aktifitas Muthahhari ini jelas menaruh kecurigaan besar dari pihak pemerintah. Bagi pemerintah, bagaimana mungkin sebuah ceramah ilmiah dihadiri oleh ribuan massa. Karena berfikir seperti ini, maka pemerintah akhirnya menganggap aktifitas ceramah Muthahhari ini sebagai gerakan politik guna melawan kekuasaan pemerintah.

Yang menarik perhatian adalah mengapa Muthahhari tetap memaksakan diri untuk menyampaikan ceramah tentang epistemologi Islam pada tahun 1977 M, sementara sejak tahun 1974 M pemerintah Iran telah melarangnya berceramah di hadapan publik?. Tentu saja ada suatu misi besar di balik sikap Muthahhari tersebut.

Muthahhari bisa dikatakan sebagai sosok pejuang di panggung pemikiran Islam dan mengenal zamannya. Pada masa hidupnya, berbagai pemikiran asing telah merasuki jiwa masyarakat Iran, terutama pemikiran para pemudanya. Pada masa itu, para konstituen Marxisme cukup gencar melakukan reformasi di bidang kebudayaan. Mereka pun berupaya menanamkan benih-benih Marxisme di segala aspek kehidupan masyarakat. Ironinya, pihak dinasti Pahlevi malah memberikan dukungan terhadap upaya mereka. Pihak dinasti Pahlevi berharap aktifitas mereka dapat terus memperlemah gerakan Islam khususnya kaum Mullah di Iran. Senyatanya, lambat-laun pemikiran Marxisme memperoleh tempat di hari sebagian besar masyarakat, khususnya para pemuda Iran.  Melihat fenomena ini, di mana Marxisme begitu berkembang pesat, sejumlah pihak mulai merasa gerah, namun mereka ini belum mampu memberikan solusi yang cepat dan tepat. Kala itu, para pemuda Muslim menjadi sasaran para konstituen Marxisme. Karena tidak memiliki basis pemikiran yang kuat, para pemuda tersebut tidak mampu mematahkan berbagai keraguan yang ditanamkan oleh para pengikut Marxisme. Biasanya, para pendukung Marxisme itu menabur keraguan dalam diri pemuda Islam Iran terhadap ajaran agama Islam.

Benar bahwa karena kondisi seperti inilah Muthahhari merasa terpanggil untuk membela Islam dan bangsa Iran. Beliau memang merasakan bahwa pemikiran asing itu sudah cukup menyebar luas di kalangan masyarakat dan semakin lama semakin kuat. Beberapa segmen masyarakat pun telah dipengaruhi oleh pemikiran tersebut. Sementara itu, para ‘ulama dan cendekiawan Muslim belum mampu memberikan perlawanan intelektual terhadap filsafat Marxisme itu, apalagi solusi alternatif. Selain ‘Allamah Thabathaba’i dan Muthahhari, hanya sebagian kecil pelajar yang memahami dengan baik filsafat Materialisme, terutama Marxisme. Karena itulah, meski sudah dilarang ceramah sejak tahun 1974 M, dan demi tegaknya ajaran Islam, beliau pun akhirnya menyempatkan diri untuk memberikan ceramah-ceramah sepanjang tahun 1977 M.

Tema dari pelbagai ceramahnya itu tidak lain adalah masalah epistemologi. Tentu saja, ada alasan dari pemilihan topik ini bila dilihat dari kondisi dalam negeri Iran. Dalam memilih topik ini, tentu Muthahhari memiliki kepentingan dan tujuan. Beliau menilai bahwa kajian epistemologi Islam pada masa itu sangat penting, selain memiliki arti dan pengaruh khusus. Signifikansinya adalah untuk membuktikan kerapuhan berbagai pemikiran asing, terutama Marxisme. Untuk mematahkan pemikiran filsafat Marxisme, masyarakat Iran harus memahami epistemologi Islam secara memadai. Sebagai solusi, Muthahhari menawarkan pemikiran Islam sebagai solusi alternatif. Pada berbagai ceramahnya itu, beliau membuktikan betapa kokohnya pemikiran Islam dan rapuhnya pemikiran asing.

Namun sebuah keputusan yang diambil seorang anak manusia akan melahirkan resiko, baik bersifat positif maupun negatif. Karena Muthahhari telah dilarang berceramah sejak tahun 1974 M, namun beliau tetap melakukan aktifitas ini. Sebab itulah, pemerintah Iran segera menangkap Muthahhari, kendati atas desakan masyarakat Iran, akhirnya Muthahhari dibebaskan.

Demikian sebuah sikap tegas dari Muthahhari. Beliau berpendapat bahwa masyarakat Muslim Iran memerlukan pelajaran epistemologi Islam, karena memiliki nilai guna dalam membendung arus pemikiran asing. Apabila masyarakat Muslim mampu memahami epistemologi Islam secara benar, maka mereka akan dengan mudah mengkritisi sembari mematahkan argumentasi-argumentasi filsafat asing seperti Marxisme. Karena itulah, Muthahhari banyak memberi ceramah dan menulis tentang masalah epistemologi perspektif Islam. Barangkali, sikap dan pandangan Muthahhari ini bisa dijadikan signifikansi bentuk pertama dari kajian epistemologi.

Secara lebih tegas, Muthahhari menuturkan bahwa “masalah epistemologi merupakan masalah yang cukup penting untuk dibincangkan saat ini, bahkan jarang ada sebuah permasalahan sepenting masalah epistemologi”.[44] Pandangannya ini tentu tidak terlepas dari konteks kehidupan masyarakat Iran ketika Muthahhari masih hidup. Seperti uraian di atas, pada masa pemerintahan dinasti Pahlevi, pelbagai pemikiran asing terutama Marxisme telah menyusup dengan sukses ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Karena itulah, kajian epistemologi cukup penting diadakan saat itu.

Signifikansi kedua dari kajian epistemologi bagi murid Imam Khomeini ini adalah bahwa karena setiap individu ingin memiliki suatu bentuk ideologi sebagai landasan hidupnya sehingga masalah epistemologi menjadi penting. Biasanya, setiap individu memiliki ideologi yang saling berbeda satu sama lainnya. Tentu saja masing-masing individu tersebut akan mempertahankan ideologinya itu. Tidak jarang, perbedaan itu akan melahirkan pertikaian dan perselisihan antar penganut ideologi.[45]

Menurut Muthahhari, bahwa ideologi merupakan hasil dari pandangan alam, sedangkan pandangan alam itu adalah hasil dari kajian epistemologi.[46] Di sinilah mulai tampak bahwa betapa penting kajian epistemologi itu. Menurutnya, sebelum membahas masalah ideologi, seseorang mesti membahas masalah epistemologi. Karena kajian epistemologi melahirkan pandangan alam (ontologi), dan pandangan alam akan melahirkan ideologi tersebut.[47] Beliau menulis:

Sebelum kita menuju pada alam dan mengatakan bahwa alam itu adalah semacam ini atau semacam itu, dan sebelum kita menuju pada permasalahan ideologi yang ini, atau yang itu adalah benar, terlebih dahulu kita mesti menuju kepada epistemologi. Kita mesti saksikan bersama, manakah epistemologi yang benar, dan manakah yang salah, serta apa sebenarnya epistemologi yang betul dan salah itu.[48]

Dengan demikian, Muthahhari berpandangan bahwa setiap individu akan mampu memilih ideologi tertentu melalui perantaraan epistemologi. Melalui epistemologi pula, setiap individu akan mampu mengkritisi setiap ideologi yang ada, sehingga individu itu mampu memilah mana yang benar dan mana yang salah. Pada akhirnya, setiap individu akan memiliki ideologi yang terbaik sebagai landasan utama dalam segala aktifitas kehidupannya.

  1. 2. Kemungkinan Epistemologi

Tema kemungkinan epistemologi ini memiliki sejarah yang panjang. Sejak dahulu, para filsuf telah membahasnya. Para filsuf tersebut mengumandangkan sebuah pertanyaan, mungkinkah epistemologi (pengetahuan) itu?. Apa seseorang mungkin untuk mengetahui dan memahami hakikat alam beserta manusia?. Mungkinkah seseorang mencapai kebenaran sejati?. Atau mungkinkah manusia memperoleh pengetahuan?. Tema seperti ini merupakan tema yang paling mendasar dalam kajian epistemologi.

Muthahhari pun telah membahas masalah ini sebagaimana terlihat dalam berbagai bukunya. Dalam bukunya yang berjudul “Mas’ale-ye Syenokh”, beliau mencoba membuktikan kemungkinan epistemologi itu, baik melalui bukti aqliyah maupun bukti naqliyah. Muthahhari pun mengembangkan argumentasinya ini secara luas.

Muthahhari berpendapat bahwa epistemologi itu mungkin secara aqli. Bahwa manusia mampu memperoleh pengetahuan, dan hal ini dapat dibuktikan secara aqliyah. Sebelumnya, Muthahhari mengawali pembahasan dengan menguraikan pandangan para filsuf yang menolak kemungkinan epistemologi, dan kemudian beliau mengkritisinya. Muthahhari secara tegas menolak pandangan Pyrho, seorang filsuf Yunani, yang berpandangan bahwa manusia itu tidak mampu untuk mengetahui dan memahami. Pyrho menyatakan bahwa ungkapan “saya tidak tahu” adalah ketentuan dan nasib pasti manusia. Filsuf Yunani ini pun menyatakan bahwa ada dua instrumen dalam diri manusia untuk mengetahui sesuatu yakni indra dan akal. Baginya, kedua instrumen ini dapat melakukan kesalahan, selain dapat sedikit berbuat benar. Dari sini, Pyrho menuturkan bahwa sesuatu yang ada kemungkinan salah dan dapat menjadi salah tidak dapat dijadikan sebagai sandaran.

Dalam hal ini, Muthahhari memberikan kritikan sederhana. Menurutnya, Pyrho telah menemukan hakikat. Sebab filsuf Yunani ini dan para pendukungnya, telah menemukan kekeliruan dengan perantaraan sebuah keyakinan. Mereka itu memiliki keyakinan bahwa mereka telah menemukan berbagai kekeliruan indra dan rasioa. Menurut Muthahhari, pernyataan ini adalah sebuah pengetahuan. Dengan kata lain, jika seseorang menyatakan bahwa rasio dan indra memiliki kekeliruan, kemudian orang itu meyakini bahwa rasio dan indra melakukan sebuah kekeliruan, maka pernyataan itu sama dengan “saya mengetahui bahwa rasio dan indra telah melakukan suatu kekeliruan”. Pengetahuannya tentang kekeliruan rasio dan indera adalah sebuah pengetahuan, dan ini adalah hakikat. Tatkala manusia masih belum sampai kepada hakikat, maka manusia itu tidak akan mengetahui kekeliruan yang ada di depannya.[49] Dengan demikian, terbukti bahwa epistemologi itu mungkin secara akliah.

Selanjutnya Muthahhari berpendapat bahwa sebagian pengetahuan manusia itu terdapat kekeliruan, namun sebagian pengetahuannya lagi tidak memiliki kekeliruan. Secara sederhana, ini tampak pada penjelasan tentang kekeliruan indera dan rasio di atas. Dari sini beliau mulai menyarankan agar manusia tidak mengingkari kemungkinan epistemologi secara total (over generalisasi) lantaran manusia itu memiliki beberapa kekeliruan. Atas dasar inilah, Muthahhari memandang bahwa manusia harus memiliki sebuah neraca sehingga neraca itu dapat berfungsi sebagai pembenar atas berbagai kekeliruan tersebut.[50]

Selain membuktikan kemungkinan epistemologi secara akliah, Muthahhari pun membuktikan kemungkinan epistemologi dengan pendekatan Qurani. Beliau berpandangan bahwa al-Quran mengakui adanya kemungkinan untuk memperoleh epistemologi (pengetahuan). Secara tegas al-Quran pernah mengajak manusia kepada pengetahuan. Alasannya karena dalam al-Quran terdapat perintah untuk memperhatikan, melihat, dan merenungkan segala sesuatu. Misalnya, perintah memperhatikan segala sesuatu di langit dan bumi[51] sebagaimana dinyatakan Q.S. Yunus: 101, Katakanlah:: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Di samping itu, menurut Muthahhari bahwa kisah Nabi Adam as. di dalam al-Quran memiliki sebuah hikmah yang berkaitan dengan masalah epistemologi. Hikmah kisah itu tidak lain adalah masalah kemungkinan manusia memperoleh epistemologi. Muthahhari menceritakan bahwa sejak pertama kali ke dalam surga, Adam adalah seorang manusia. Karena Adam seorang manusia, maka Allah membekalinya dengan pelbagai potensi agar ia mampu memperoleh pengetahuan. Setelah itu, Allah pun mengajarkan pelbagai pengetahuan kepada Adam, hingga akhirnya Adam pun memiliki pengetahuan serta mengetahui berbagai hakikat. Epistemologi tersebut diperolehnya sebelum Adam dimasukkan ke dalam surga. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Q.S. al-Baqarah: 31, Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”.

Ayat ini bagi Muthahhari mengandung pengertian bahwa nabi Adam memiliki pengetahuan yang tidak terbatas.[52] Namun karena Adam memakan ‘buah pohon terlarang’, yakni sesuatu yang berhubungan dengan sisi kebinatangan seperti hawa nafsu, keserakahan, iri dan dengki, ketamakan, serta sifat-sifat anti kemanusiaan lainnya, maka sikapnya itu akhirnya menjatuhkan dirinya dari nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena surga itu tempat manusia, sementara Adam telah memakan buah itu, maka Adam pun diusir oleh Allah SWT. Bagi Muthahhari, ini karena Adam memiliki pengetahuan (epistemologi), namun Adam masih terperdaya dengan sikap kebinatangan seperti hawa nafsu, serakah, dengki, dan lainnya. Dengan kata lain, nabi Adam tidak mengamalkan epistemologinya itu, sehingga ia pun terusir dari surga.[53]

Muthahhari menjelaskan secara lebih terperinci bahwa Adam sebenarnya tidak mengamalkan peringkat keempat dari epistemologinya, sehingga Adam pun diusir oleh Allah SWT dari surga. Peringkat pertama adalah epistemologi, peringkat kedua adalah pandangan alam, peringkat ketiga adalah ideologi, dan peringkat keempat adalah pengamalan, yakni suatu keharusan untuk melaksanakan amal perbuatan. Peringkat keempat ini berhubungan dengan perintah dan larangan, boleh dan tidak. Karena Adam melanggar perintah Allah SWT, maka Adam pun diusir oleh-Nya.[54]

Selanjutnya Muthahhari mengemukakan pula bahwa al-Quran telah menegaskan kemungkinan manusia memperoleh kebenaran. Al-Quran mengajak manusia untuk mengenal Allah SWT, dunia, dirinya, dan sejarah. Menurutnya, kisah Adam di atas, yang sesungguhnya adalah kisah tentang manusia, menjelaskan bahwa Adam dianggap oleh Allah SWT cukup tepat untuk mengetahui semua nama Allah SWT dan realitas-realitas alam semesta. Bahkan dalam kasus tertentu, pengetahuan manusia dapat memahami beberapa poin pengetahuan Allah SWT. Muthahhari mengutip Q.S. al-Baqarah ayat 255 guna mendukung pandangannya ini[55]. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.

  1. 3. Klasifikasi Ilmu

Diskusi tentang ilmu perspektif Islam akan melahirkan sebuah pertanyaan. Apa makna ilmu dalam sudut pandang Islam?. Ketika umat Islam diperintahkan untuk menuntut ilmu oleh agama Islam, maka ilmu apa saja yang harus dipelajari oleh mereka?.

Menurut Muthahhari, bahwa makna kata ‘ilmu’ dalam Islam atau ilmu yang diperintahkan dalam Islam adalah setiap ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat Islam. Bahwa ilmu yang diperintahkan Islam adalah setiap ilmu yang dapat membantu terlaksananya tujuan-tujuan individu, tujuan-tujuan sosial Islam, dan setiap ilmu yang jika umat Islam tidak diketahui tentang ilmu tersebut, maka hal itu akan menyebabkan tidak dapat terlaksananya tujuan suci Islam. Jadi, makna ilmu dalam Islam bukan bermakna setiap ilmu yang tidak mempunyai pengaruh bagi tujuan Islam, bahkan setiap ilmu yang memberikan pengaruh buruk bagi tujuan-tujuan Islam. Dalam konteks terakhir ini, Islam tidak mewajibkan umat Islam untuk mempelajari ilmu tersebut, bahkan mengharamkannya.[56]

Muthahhari menegaskan bahwa pembagian ilmu menjadi dua yaitu ilmu agama dan ilmu bukan agama, sebagaimana banyak dibuat oleh para pemikir Islam, adalah sungguh tidak benar dan harus ditolak. Pembagian ini hanya akan menimbulkan sangkaan bagi sebagian umat bahwa ilmu-ilmu di luar ilmu-ilmu agama adalah ilmu-ilmu yang asing dari Islam, sehingga mereka harus menjauhinya. Secara tegas dapat dikatakan bahwa kelengkapan dan keuniversalan Islam menuntut bahwa setiap ilmu yang bermanfaat, penting, dan diperlukan oleh umat Islam, maka itu harus dianggap sebagai ilmu-ilmu agama.[57]

Dari penjelasan di atas, tampak bahwa Muthahhari menolak upaya dikhotomi ilmu pengetahuan. Beliau, selain menolak pandangan bahwa makna ‘ilmu’ dalam Islam hanyalah ilmu-ilmu agama atau juga ilmu-ilmu tertentu saja, juga menyalahkan sebagian pemikir yang melakukan pembagian ilmu menjadi dua bagian, ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu bukan ilmu-ilmu agama.

Penolakan Muthahhari di atas bukanlah tanpa alasan yang logis. Beliau pun menuliskan beberapa alasan untuk menolak dikhotomisasi ilmu pengetahuan. Beliau menolak bahwa makna ‘ilmu’ dalam Islam hanyalah sebagai ilmu-ilmu agama semata. Adapun alasan-alasan yang dikemukakannya adalah sebagai berikut:

Pertama. Apabila makna ‘ilmu’ dalam Islam hanya berarti ‘ilmu-ilmu agama’, maka pada hakikatnya Islam hanya menganjurkan umat Islam kepada dirinya (Islam) sendiri. Dengan demikian, berarti Islam tidak mengatakan apapun tentang ilmu, dalam arti, pengetahuan tentang hakikat-hakikat alam ciptaan. Berarti pula, Islam tetap berada pada bentuk dan keadaan yang pertama. Logisnya, meskipun sebuah ajaran memusuhi ilmu, dan menentang terhadap tingkat kemajuan pemikiran dan pengetahuan masyarakat Islam, namun secara pasti ajaran tersebut tidak akan menentang dirinya. Pendeknya, jika makna ‘ilmu’ yang diperintahkan Islam adalah hanya ‘ilmu-ilmu agama’, dapat dikatakan bahwa kesepakatan Islam tentang ilmu adalah nihil sehingga pandangan Islam tentang Ilmu adalah negatif.[58]

Kedua. Makna hadits, bahwa “hikmah adalah barang milik orang Mukmin yang hilang, maka ambillah dia meskipun kamu harus mengambilnya dari orang Musyrik” dan hadits “Carilah ilmu walaupun ke negeri Cina”, adalah bersifat umum. Makna kata ‘ilmu’ pada hadits tersebut pun bersifat umum, tidak dikhususkan pada ‘ilmu-ilmu agama’ semata. Sebab memang tidak ada hubungan antara negeri Cina dengan ‘ilmu-ilmu agama’, seperti halnya tidak ada hubungannya antara orang-orang Musyrik dengan ‘ilmu-ilmu agama’. Bagi Muthahhari, makna ‘ilmu’ dalam hadits di atas tidak hanya bermakna sebagai ‘ilmu-ilmu agama’, tetapi juga mencakup ‘ilmu-ilmu’ yang dianggap sebagian pihak sebagai ‘ilmu-ilmu selain ilmu agama’.[59]

Ketiga. Logika al-Quran al-Karim tentang ilmu tidak berbentuk sesuatu yang bersifat khusus. Al-Quran menyeru umat Islam untuk memikirkan dan mengkaji berbagai masalah, termasuk juga seluruh fenomena alam semesta. Contohnya adalah seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 164; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. Menurutnya ayat tersebut menunjukkan bahwa al-Quran secara tegas menyeru umat Islam agar mengkaji fenomena-fenomena alam semesta. Tentunya, seruan untuk mengkaji alam semesta akan bermuara kepada semua ilmu yang dianggap sebagai ‘ilmu non agama’ tersebut. Dengan demikian, adanya seruan al-Quran untuk meneliti fenomena alam tersebut menjadi bukti bahwa Islam tidak hanya menyeru kepada ‘ilmu-ilmu agama’ saja, melainkan juga semua ilmu yang dianggap oleh sementara pihak sebagai ‘ilmu-ilmu selain ilmu-ilmu agama’ tersebut.[60]

Keempat. Bahwa ajaran Islam dimulai dengan tauhid. Sedangkan tauhid itu bersifat rasional. Umat Islam pun dilarang untuk bertaklid dalam beragama. Umat Islam harus memiliki argumen-argumen rasional tentang ajaran Islam, sebelum mereka menerima keyakinan Islam tersebut. Dengan demikian, umat Islam diperbolehkan mengkaji wilayah tauhid. Pada gilirannya, untuk mengkaji tauhid ini, tidak bisa tidak, umat Islam harus mendayagunakan potensinya untuk mengkaji alam. Sebab dalam sudut pandang al-Quran al-Karim, salah satu metode untuk menemukan tauhid yang benar adalah dengan memperhatikan seluruh lembaran alam ciptaan. Sementara untuk membuka seluruh rahasia alam ciptaan maka umat Islam wajib harus memiliki ilmu pengetahuan seperti biologi, zoologi, navigasi, fisika, kimia, astronomi, dan lainnya. Tanpanya, umat Islam tidak akan mampu mengkaji alam semesta dengan baik, dan imbasnya, umat Islam akan kehilangan salah satu metode untuk mendapatkan tauhid yang benar.[61]

Setelah mengetahui makna ilmu menurut Muthahhari, berikut ini akan dipaparkan pandangannya tentang klasifikasi ilmu. Setelah menelusuri berbagai karyanya, Muthahhari memang tidak memberikan penjelasan rinci berkenaan dengan konsep pembagian ilmu perspektif Islam. Untuk itulah, maka tulisan berikut ini akan mencoba mensistematisasikan pemikirannya tentang pembagian ilmu tersebut. Berdasarkan sejumlah penjelasannya, setidaknya pembagian ilmu dapat dilihat dari tiga tinjauan sebagai berikut:

Pertama, ilmu ditinjau dari sumbernya. Dalam konteks sumber nya, maka ilmu secara keseluruhan terbagi menjadi dua jenis. Pertama adalah ilmu naqli (wahyu). Sementara kedua adalah ilmu aqli (akal).[62] Permasalahannya, bahwa Muthahhari tidak menjelaskan secara lebih terperinci tentang ilmu-ilmu yang termasuk ke dalam ilmu-ilmu naqli dan ilmu-ilmu aqli tersebut.

Kedua, ditinjau dari sudut kewajiban agama. Di sini, Muthahhari membagi ilmu menjadi dua jenis, yaitu ilmu Wajib ‘Aini dan ilmu Wajib Kifayah. Ilmu Wajib ‘Aini mencakup ilmu-ilmu yang membahas seputar agama Islam, baik ilmu ushuluddin maupun ilmu furu’uddin; dan setiap ilmu yang menjadi pendahuluan bagi ilmu-ilmu tersebut. Setiap pribadi Muslim wajib mempelajari ilmu-ilmu Wajib ‘Aini ini. Sedangkan ilmu Wajib Kifayah mencakup segala ilmu yang dibutuhkan oleh masyarakat Islam atau pun segala macam ilmu yang menjadi syarat atas terselesaikannya setiap tujuan dan kebutuhan masyarakat Islam. Segala ilmu yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat Islam akan menjadi Wajib Kifayah bagi masyarakat Islam untuk menuntutnya. Termasuk ke dalam ilmu Wajib Kifayah ini, ilmu-ilmu yang tercakup ke dalam ilmu-ilmu Alam dan ilmu-ilmu Matematika.[63]

Ketiga, ditinjau dari sudut apakah ilmu itu sebagai perantara (wasilah) atau sebagai tujuan (hadaf). Dalam konteks ini, Muthahhari menyatakan bahwa semua ilmu Islam tersebut dibagi menjadi dua macam. Pertama adalah ‘ilmu tujuan’ (hadaf), yakni setiap ilmu yang memiliki hukum wajib yang berdiri sendiri. Sedangkan kedua adalah ‘ilmu perantara’ (wasilah), yakni setiap ilmu yang bermanfaat bagi umat Islam dikarenakan kedudukannya sebagai mukaddimah dan alat untuk bisa melaksanakan sebuah kewajiban dan tujuan Islam.[64] Dalam konteks ini, Muthahhari telah memberikan contoh riil. Yang termasuk ke dalam ilmu tujuan ini, menurutnya, adalah semua ilmu tentang Ketuhanan dan semua ilmu yang berkaitan erat dengan ilmu-ilmu tentang ketuhanan tersebut seperti ilmu tentang alam akhirat. Karena itu, ilmu-ilmu seperti inilah yang menjadi tujuan dalam mempelajari ilmu dalam agama Islam. Sehingga semua ilmu yang lain hanyalah sebagai alat untuk mencapai ilmu tujuan ini. Sedangkan contoh ilmu alat adalah seluruh ilmu selain dari ilmu-ilmu Ketuhanan tersebut. Karena itulah, Muthahhari menyatakan bahwa semua ilmu selain ilmu tujuan di atas adalah alat, bukan tujuan. Semua ilmu selain ilmu-ilmu Ketuhanan tersebut dikatakan sebagai ilmu alat disebabkan karena ilmu tersebut berkedudukan sebagai mukaddimah dan alat untuk bisa melaksanakan sebuah kewajiban dan tujuan agama Islam. Tokoh ini pun memisalkan bahwa semua ilmu agama Islam, selain ilmu-ilmu tentang Ketuhanan, misalnya ilmu fiqh, ilmu akhlaq, ilmu hadits, dan lainnya adalah ilmu alat, sehingga ilmu-ilmu itu bukan ilmu tujuan. Termasuk contoh dari ilmu-ilmu alat adalah semua ilmu yang menjadi pengantar untuk memahami semua ilmu agama Islam tersebut, selain ilmu-ilmu tentang Ketuhanan tersebut, misalnya ilmu tata bahasa Arab dan ilmu logika.[65]

  1. 4. Sumber Pengetahuan

Muthahhari menyatakan bahwa ada empat sumber pengetahuan (sumber epistemologi), yaitu alam, rasio, hati, dan sejarah. Proses penggalian empat sumber ini akan melahirkan ilmu pengetahuan yang merupakan suatu keharusan dalam membangun peradaban.[66] Beliau menulis:

Dari sudut pandang Islam, sumber pengetahuan adalah tanda-tanda alam, atau tanda-tanda yang ada di dalam alam semesta, yang ada dalam diri manusia, dalam sejarah, atau dalam berbagai peristiwa sosial dan berbagai episode bangsa dan masyarakat, dalam akal atau dalam prinsip-prinsip yang sudah jelas, dalam hati, dalam pengertiannya sebagai organ pencerah dan penyuci, dan dalam catatan yang diwariskan umat-umat terdahulu.[67]

Secara umum Muthahhari membagi sumber epistemologi menjadi dua jenis, yakni sumber luar dan sumber dalam.  Sumber luar ini hanya satu yakni alam. Sementara sumber dalam ada dua yakni rasio dan hati.[68] Namun demikian, Muthahhari tidak mengemukakan kedudukan sejarah sebagai salah satu sumber epistemologi, apakah sejarah dijadikan sebagai sumber luar atau sebagai sumber dalam.

Muthahhari memaparkan sedemikian rupa tentang alam sebagai salah satu sumber epistemologi. Maksud dari alam di sini adalah alam materi, alam ruang dan waktu, alam gerakan, atau alam tempat manusia hidup. Agar manusia tersebut memperoleh pengetahuan dari alam, maka manusia harus mengaktualisasikan semua inderanya.[69] Keabsahan alam sebagai salah satu sumber epistemologi dalam Islam banyak dinyatakan oleh al-Quran. Al-Quran sering menyeru manusia agar mereka merenungkan alam materi seperti langit dan bumi. Muthahhari mengutip Q.S. Yunus ayat 101[70] guna mendukung pandangannya tersebut. Katakanlah:: “Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Sumber epistemologi selain alam, bagi Muthahhari adalah rasio. Baginya, rasio dikenal sebagai sumber dalam bagi epistemologi. Rasio ini diyakini dapat melahirkan ilmu pengetahuan. Sumber ini hanya akan menghasilkan pengetahuan jika manusia menggunakan alat silogisme dan demonstrasi. Jika ini tidak dilakukan, maka manusia itu tidak akan dapat memperoleh pengetahuan.[71]

Menurut penelitian Muthahhari sendiri, bahwa rasio sangat niscaya dikatakan sebagai salah satu sumber epistemologi yang mendapatkan legitimasi dari al-Quran. Ia menyatakan bahwa al-Quran sendiri mempercayai keandalan akal sebagai sumber memperoleh ilmu pengetahuan dan kebenaran-kebenaran yang diperoleh akal tersebut. Bahkan argumen-argumen ak-Quran didasarkan pula kepada akal dan kebenaran-kebenaran seperti itu. Muthahhari mengutip sejumlah ayat dari al-Quran al-Karim guna mendukung pandangannya tersebut. “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”(Q.S. Al-Anbiya’: 22). “Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu” (Q.S. Al-Mukminun: 91).

Sumber epistemologi ketiga menurut Muthahhari adalam hati. Menurutnya, melalui sumber ini, manusia pun akan mampu mendapat ilham dan wahyu dari Allah SWT. Keyakinan seorang Muslim bahwa hati sebagai salah satu sumber epistemologi dilatari oleh keyakinan Muslim tersebut terhadap keberadaan suatu alam di balik alam fisik ini, yang dikenal sebagai alam metafisik. Hal ini karena ilham sebagai bentuk pengetahuan dari sumber hati berasal dari alam non fisik ini. Agar seseorang dapat memperoleh pengetahuan dari sumber hati ini, maka manusia harus melakukan metode tazkiyatun nafs (penyucian hati). Beliau menulis: “Setiap manusia dapat menerima ilham sesuai dengan dedikasi tulusnya dan upayanya untuk menjaga kesucian dan aktifitas spiritual di pusat ini (hati). Wahyu para nabi merupakan bentuk pengetahuan seperti ini yang tingkatannya paling tinggi”.[72]

Sumber epistemologi yang terakhir menurut Muthahhari adalah sejarah. Menurutnya sejarah memiliki arti penting sebagai salah satu sumber epistemologi yang diakui keabsahaannya oleh al-Quran al-Karim. Dengan kata lain, Al-Quran membuktikan signifikansi dari sejarah sebagai sumber epistemologi. Jadi, selain alam, rasio, hati, al-Quran secara tegas mengakui sejarah sebagai sumber epistemologi. Hal ini dapat dilihat betapa al-Quran memerintahkan kepada manusia agar menjadikan sejarah sebagai bahan kajian. Muthahhari mengutip Q.S. al-An’am: 11 sebagai penyokong atas pandangannya tersebut “Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, Kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” Bagi tokoh ini, ayat ini secara jelas menyeru agar manusia memperhatikan berbagai peninggalan sejarah. Manusia harus memperhatikan perubahan sejarah yang terdapat dalam kehidupan dan sosial manusia.[73] Dengan memperhatikan sejarah, maka manusia akan menemukan berbagai perubahan sejarah yang terjadi pada berbagai masyarakat. Setelah itu, manusia akan menemukan bahwa sejarah itu sesungguhnya berisikan berbagai informasi dan pengetahuan sejak awal dunia hingga masa akhirnya.[74]

  1. 5. Alat Epistemologi

Pembahasan sumber epistemologi tidak lengkap tanpa mengkaji masalah alat epistemologi. Menurut Muthahhari bahwa agar keempat sumber epistemologi di atas, alam, rasio, hati, dan sejarah benar-benar menjadi sumber pengetahuan, maka seorang manusia harus memfungsikan alat-alat epistemologinya. Beliau menyatakan bahwa setidaknya ada empat macam sarana (alat) untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Keempat macam sarana ini dimiliki oleh setiap manusia dan diciptakan sebagai sarana memperoleh ilmu pengetahuan. Keempat alat epistemologi dimaksud adalah indra (tajribah), argumentasi logika (burhan), penyucian hati (tazkiyatun nafs), [75] dan menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain[76]

Muthahhari mengungkapkan bahwa keempat alat epistemologi ini pun mendapatkan legitimasi dari al-Quran al-Karim. Beliau misalnya mengutip Q.S. An-Nahl: 78 untuk mendukung pendapatnya ini. “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. Ayat ini baginya secara gamblang mengungkapkan bahwa indra, dan argumentasi logika sebagai alat epistemologi. Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika manusia masih berada di dalam kandungan, setiap manusia sama sekali tidak memiliki alat epistemologi. Barulah ketika manusia lahir di alam dunia, Allah menganugrahkan telinga dan mata, dua dari lima indera manusia. Tiga indra lainnya memang tidak disebutkan di dalam ayat ini, karena bagi Muthahhari indra telinga dan mata ini memiliki pengaruh lebih besar dalam epistemologi bila dibandingkan dengan ketiga indera lainnya. Teliga dan mata diketahui memiliki kemampuan lebih besar untuk menghasilkan pengetahuan. Sementara meskipun indra peraba, perasa, dan penciuman memiliki pula kemampuan menghasilkan pengetahuan, namun hanya pada wilayah yang sempit. [77]

Selanjutnya Muthahhari memaparkan bahwa al-Quran memang merasa indra tidak cukup menjadikan indra sebagai satu-satunya alat memperoleh ilmu pengetahuan, sehingga al-Quran menyebutkan pula sesuatu yang disebut lub dan hijr, yakni pusat fikiran (rasio) sebagai alat memperoleh pengetahuan selain dari indra. Dalam Q.S. An-Nahl: 78 di atas, rasio disebut sebagai al-Afidah, yang dimaknai pula sebagai hati, dan/atau suatu kekuatan memilah (tajziyah) dan menyusun (tarkib), mengeneralkan (ta’mim), melepas (tajrid), [78] dan silogisme (burhan). [79] Kekuatan ini disebut kekuatan rasio, di mana ia sangat berperan bagi proses kelahiran ilmu pengetahuan.  Beliau menegaskan bahwa bukan rasio ini disebut sebagai alat epistemologi, sebab rasio ini, sebagaimana diungkap di atas, disebut sebagai salah satu sumber epistemologi, namun kekuatan rasio inilah yang diakui sebagai sarana (alat) untuk memperoleh pengetahuan.

Dalam Q.S. An-Nahl: 78 di atas disebutkan pula agar manusia mensyukuri atas segala anugerah dari Allah SWT tersebut. Mensyukuri anugrah Allah SWT dalam konteks ini dipahami sebagai usaha untuk menggunakan berbagai kenikmatan dari-Nya kepada sesuatu yang merupakan tujuan-Nya dalam menciptakan kenikmatan tersebut. Sebagaimana diungkap dalam ayat ini, indra, argumentasi logika, dan penyucian jiwa dinyatakan sebagai salah satu nikmat dari Allah SWT, karena itu, manusia harus mensyukurinya dengan menggunakan ketiganya sesuai jalur masing-masing. Manusia mensyukuri nikmat mata dengan cara memperhatikan dan mengkaji alam, mensyukuri telinga dengan mendengarkan kebaikan, dan mensyukuri nikmat rasio dengan cara berfikir, merenung, memilah, menyusun, mengeneralkan, dan melepas. [80]

Selain indra dan argumentasi logika, Muthahhari pun berupaya membuktikan secara naqliyah bahwa penyucian jiwa diakui al-Quran sebagai alat pengetahuan. Ia meyakini bahwa ketaqwaan dan penyucian jiwa sebagai salah satu sarana guna meraih ilmu pengetahuan selain indra dan argumentasi logika. Guna mendukung pendapatnya ini, Muthahhari banyak mengutip sejumlah ayat al-Quran, misalnya Q.S. Asy-Syams: 7-9,[81]Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Baginya ayat ini telah cukup jelas membuktikan penyucian sebagai salah satu alat memperoleh ilmu pengetahuan.

Muthahhari tidak memungkuri para filsuf memiliki perbedaan pandangan dalam hal pengakuan legalitas alat-alat epistemologi di atas. Sebagian filsuf hanya mengakui indra sebagai alat epistemologi sembari menolak alat-alat epistemologi lainnya. Sebaliknya sebagian lainnya hanya menerima argumentasi logika dan/atau sebagai satu-satunya alat epistemologi sembari menolak kedudukan alat epistemologi lainnya. Akan tetapi Muthahhari sendiri menegaskan bahwa dirinya dan banyak filsuf Islam lainnya meyakini bahwa indra, argumentasi logika, dan penyucian jiwa sebagai alat epistemologi. Al-Quran al-Karim sendiri, sebagaimana disebut di atas, mendukung konsep ini. [82]

Muthahhari pun menempatkan ‘menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain sebagai sarana (alat) keempat guna meraih ilmu pengetahuan. Muthahhari menulis bahwa “sarana untuk mendapatkan ilmu pengetahuan adalah…telaah atas karya-karya ilmiah orang lain. [83] Sarana ini pun diakui oleh al-Quran al-Karim sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-Alaq: 1-5, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahapemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Kendati alat-alat epistemologi di atas diakui keabsahannya, namun kesemua alat epistemologi tersebut memiliki wilayah (objek) kajian yang berbeda-beda. Manusia tidak boleh mencampuradukkannya satu sama lain.[84] Misalnya, wilayah kajian indra, sebagai salah satu alat epistemologi, hanyalah alam fisik semata. Sementara argumentasi logika sebagai alat epistemologi wilayah kajiannya adalah alam non materi (rasional), dan penyucian jiwa sebagai salah satu dari alat epistemologi hanya menjadikan hati sebagai objek kajiannya. [85]

  1. 6. Pendalaman Kajian

Bardasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ada empat sumber pengetahuan yakni alam, rasio, hati, dan sejarah. Sementara sarana (alat) untuk meraih ilmu pengetahuan ada empat pula yakni indra, silogisme, penyucian jiwa, dan menelaah karya-karya ilmiah orang lain.

Muthahhari menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara sumber pengetahuan dengan sarana meraih pengetahuan tersebut. Alam sebagai sumber pengetahuan sementara alat bagi sumber ini adalah indra. Rasio sebagai sumber pengetahuan, sementara alat bagi sumber ini adalah silogisme. Sementara hati sebagai sumber pengetahuan, sedangkan penyucian jiwa sebagai alat bagi sumber ini. [86] Sedangkan menelaah atas karya-karya ilmiah orang lain tersebut menjadi alat epistemologi bagi sejarah, sebagai salah satu sumber epistemologi. [87] Baginya, fungsionalisasi alat epistemologi tersebut terhadap sumber epistemologi akan menghasilkan pengetahuan.

Secara lebih jelas, Muthahhari menjelaskan bahwa manusia bisa memperoleh pengetahuan dengan memfungsikan indranya. Indra manusia itu seperti penglihatan, pendengaran, peraba, pencium, dan perasa. Sebagai salah satu alat guna memperoleh pengetahuan, manusia harus menjaga indranya itu sebaik-baiknya. Sebab jika manusia tersebut kehilangan salah satu indra itu, maka itu akan membuat manusia itu akan kehilangan satu pengetahuan. Jika manusia kehilangan seluruh indranya tersebut, maka manusia akan kehilangan banyak pengetahuan tentang dunia fisik. [88]

Selanjutnya manusia akan memperoleh pengetahuan, jika ia mengaktualisasikan rasionya. Rasio manusia ini memiliki sejumlah kemampuan seperti mengeneralkan (ta’mim), memilah dan mengurai (tajziyah dan tahlil), menyusun (tarkib), melepas (tajrid), berargumentasi (burhan), dan mencabut (intiza’). [89] Seluruh kemampuan ini adalah kemampuan rasio manusia, dan rasio manusia sering mempraktikkan kemampuannya tersebut. [90] Karena rasio manusia memiliki pelbagai kemampuan tersebut, maka rasio manusia memiliki kemampuan berfikir dan mengetahui. Seandainya rasio tidak memiliki pelbagai kemampuan tersebut, maka rasio manusia tidak akan mungkin memiliki kemampuan berfikir, apalagi mengetahui sesuatu. [91]

Selain menggunakan indra dan rasio, Muthahhari menyatakan pula bahwa manusia akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan jika manusia tersebut melakukan penyucian jiwa/hatinya. Dengan praktik ini, manusia akan memperoleh pengetahuan berupa ilham. Bahkan para nabi, karena hati mereka telah disucikan, memperoleh pengetahuan wahyu, sebagai bentuk ilham tertinggi. [92] Melalui metode ini pula, Muthahhari meyakini bahwa manusia akan mampu memperoleh ilmu tentang hakikat dirinya. Allah SWT bahkan akan memberikan cahaya-Nya kepada hati manusia yang telah suci tersebut. Dia akan selalu memberikan bimbingan melalui jalan gaib, dan pada akhirnya manusia itu akan diberikan oleh-Nya pengetahuan tentang berbagai hakikat kehidupan. Allah SWT pun senantiasa akan membuka tirai kegelapan di mata dan pikiran manusia yang telah mensucikan jiwanya tersebut. [93]

Sebagai penutup, manusia pun akan dapat memperoleh ilmu pengetahuan ketika manusia itu mengkaji sejarah. Ini dapat dilakukan dengan menelaah pelbagai karya ilmiah orang lain dan berbagai catatan dari umat terdahulu. Apabila manusia senantiasa mempelajari dan membaca kitab-kitab sejarah, maka manusia itu akan memperoleh pengetahuan.[94] Dengan menelaah sejarah melalui kajian secara mendalam atas kitab-kitab umat terdahulu, maka manusia akan dapat menemukan betapa sejarah menjelaskan perubahan hukum-hukum yang berlaku pada suatu masyarakat. [95] Dengan metode ini, manusia pun akan memperoleh pengetahuan tentang segala peristiwa pelbagai kehidupan, baik peristiwa awal penciptaan alam, bahkan peristiwa akhir penciptaan. [96] Setelah manusia memperoleh ilmu pengetahuan itu maka pada akhirnya manusia akan memperoleh pelajaran berharga dari umat terdahulu. Hal ini karena sejarah memang mengandung banyak pelajaran. [97]

  1. 7. Karakteristik Pengetahuan Indrawi dan Rasional

Uraian di atas menyimpulkan bahwa ketika seorang manusia mengaktualisasikan indranya, dan digunakan sebagai alat menelaah alam fisik, maka manusia tersebut akan memperoleh pengetahuan. Pengetahuan ini disebut sebagai epistemologi (pengetahuan) indrawi. Muthahhari menyebut jenis epistemologi (pengetahuan) ini sebagai epistemologi lahiriah, epistemologi dangkal, dan epistemologi tidak mendalam. [98]

Muthahhari menjelaskan bahwa pengetahuan indrawi ini dimiliki oleh manusia dan binatang. Misalnya manusia dan binatang ini memiliki kemampuan melihat angkasa, mendengar suara, mencium batu, dan sebagainya. Kendati begitu, kadang-kadang pengetahuan indrawi dan manusia memiliki kelemahan dan kelebihan. Misalnya manusia memiliki kemampuan melihat dan membedakan warna, sedangkan binatang tidak memiliki kemampuan tersebut. Dalam sudut pandang lain, malah terkadang binatang memiliki kemampuan melihat, mendengar, dan mencium sesuatu yang tidak mampu dilihat, didengar, dan dicium oleh manusia. Terkadang indra manusia lebih peka dari pada indra binatang. Sebaliknya, terkadang indra binatang lebih peka dari pada indra manusia. Namun demikian, manusia dan binatang sama sama memiliki kemampuan memperoleh pengetahuan indrawi meski tingkat kemampuan masing-masing terbatas dan relatif. Tingkat ilmu pengetahuan indrawi mereka berbeda-beda. [99]

Secara umum, Muthahhari menyebutkan empat karakteristik pengetahuan indrawi ini, yakni sebagai berikut:

  1. Epistemologi indrawi ini bersifat partikular (juz’i), dalam arti pengetahuan ini berbentuk satu-satu dan individu. Misalnya seorang manusia hanya mampu melihat dengan matanya berbagai individu seperti ayat, ibu, kakak, adik, dan lainnya. Namun pengetahuan ini hanya tergambar dan terbayang di benak manusia dalam bentuk partikular. Mata manusia tidak memiliki suatu pemahaman universal tentang sesuatu yang dilihatnya. Dengan kata lain, sifat epistemologi indrawi ini adalah perorangan, satu persatu, dan berhubungan dengan tiap-tiap sesuatu. [100]
  2. Pengetahuan indrawi ini bersifat lahiriah sehingga pengetahuan ini hanya menyaksikan segala sesuatu yang sifatnya lahiriah. Pengetahuannya pun tidak mendalam sehingga tidak mengetahui esensi segala benda. Pengetahuan jenis ini tidak memahami pula hubungan sebab-akibat, apalagi mengetahui keharusan antara sebab dengan akibat, yakni ketika sebab telah sempurna, maka pasti akan muncul akibat. Pendeknya, bahwa pengetahuan indrawi bersifat lahiriah sehingga pengetahuan ini tidak mengetahui hubungan batiniah, esensi dan substansi berbagai benda yang ada. [101]
  3. Pengetahuan indrawi ini bersifat masa sekarang. Ini karena indra tidak mampu melihat, mendengar, dan merasakan masa lalu dan masa depan. Jadi, pengetahuan indrawi ini hanya berhubungan dengan masa sekarang, dan tidak mampu berhubungan dengan masa lalu dan masa sekarang. [102]
  4. Pengetahuan indrawi hanya berhubungan dengan tempat tertentu. Pengetahuan ini hanya terbatas pada kawasan tertentu. Ini karena indra manusia tidak bisa melihat, mendengar, dan merasakan suatu tempat yang lain selain tempat manusia itu sendiri berada. Jika manusia itu berada pada suatu tempat, maka manusia itu hanya bisa melihat, mendengar, dan merasakan tempat itu saja, sedangkan pada saat yang sama, manusia itu tidak akan pernah mampu mengetahui tempat lainnya. [103]

Di pihak lain, Muthahhari mengemukakan bahwa tatkala manusia mendayagunakan kemampuan dan kekuatan rasionya dengan melakukan silogisme, maka manusia itu pun akan bisa memperoleh ilmu pengetahuan. Pengetahuan rasio ini disebut sebagai epistemologi mendalam (umqi). Pengetahuan ini memiliki karakteristik khas, yakni sebagai berikut:

  1. Pengetahuan rasional bersifat universal.
  2. Pengetahuan rasional ini bersifat tidak lahiriah sehingga mampu melihat hubungan sebab dan akibat serta mampu memahami esensi dan substansi sesuatu.
  3. Pengetahuan rasional ini tidak terikat ruang dan waktu, sehingga manusia dapat mengetahui segala peristiwa, baik di masa lalu, masa sekarang, dan masa lalu, maupun di peristiwa di berbaga tempat. [104]

Penutup

Muthahhari dapat dikatakan sebagai salah satu tokoh yang banyak mengulas masalah epistemologi ini. Hal ini dapat dilihat secara jelas di berbagai karyanya. Kendati begitu, semua konsep epistemologi Murtadha Muthahhari tidak dibahas oleh tulisan sederhana ini. Karena bersifat pengantar, maka tulisan ini tidak mengelaborasi pandangan tokoh ini tentang hal tersebut. Walhasil, barangkali para peneliti lain diharapkan dapat mengkaji pemikiran filsuf asal negeri Mullah ini tentang epistemologi Islam. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Daftar Kepustakaan

Algar, Hamid,Hidup dan Karya Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2002.

Bagir, Haidar,Suatu Pengantar Kepada Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, Bandung: Mizan, 2002.

_____, Murtadha Muthahhari; Sang Mujahid, Sang Mujtahid, Bandung: Yayasan Muthahhari, 1988.

Bagus, Loren, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Gramedia, 1996.

Beik, Abdullah, “Murtadha Muthahhari; Muslim dalam Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq”, dalam majalah Al-Isyraq No.4/Th.I, Jumadhil Akhir-Rajab, 1417 H

Harahap, Syahrin, Metodologi Studi Tokoh Pemikiran Islam, Jakarta: Istiqamah Mulya Press, 2006.

Hartoko, Dick, Kamus Populer Filsafat, Jakarta: Rajawali, 1986.

Hartono, Rudhy,Ilmu dan Epistemologi”, dalam Jurnal Al-Huda, Vol. III. No. 9, 2003,

Ja’far, Muhammad, “Pandangan Muthahhari Tentang Agama, Sejarah, Al Quran dan Muhammad”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.11. 2005.

Kartanegara, Mulyadhi, Nalar Religius; Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia, Jakarta: Erlangga, 2007.

Labib, Muhsin, Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, Jakarta: Lentera, 2005.

____,Hawzah Ilmiyah Qom; Ladang Peternakan Filosof Muslim Benua Lain”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.9. 2003,

Muthahhari, Murtadha, Mutiara Wahyu, Terj. Syekh Ali al-Hamid, Bogor: Cahaya, 2004.

_____, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam Tentang Jagat Raya, terj. Ilyas Hasan, Jakarta: Lentera, 2002.

_____, Mengenal Epistemologi: Sebuah Pembuktian Terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, terj. M.J. Bafaqih, Jakarta: Lentera, 2001.

_____, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Pertama, Terj. Ahmad Subandi, Jakarta: Lentera, 1999.

_____, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Kedua, Terj.  Ahmad Subandi, Jakarta: Lentera, 2000

_____, Kenabian Terakhir, Terj. Muhammad Jawad Bafaqih, Jakarta: Lentera, 2001.

_____, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein Al-Habsy, dkk, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.

Nasution, Harun, Filsafat Agama, Jakarta: Bulan Bintang, 1973.

Nasr, Seyyed Hossein, “Pengantar”, dalam Muhammad Husein Thabathaba’i, Hikmah Islam, Terj. Husein Anis Al-Habsy, Bandung: Mizan, 1993.

Rakhmat, Jalaluddin, “Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama”, dalam Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir, Bandung: Mizan, 1995.

Rastan, Sastan,Syahid Murtadha Muthahhari; Pembangkit Kebangunan Intelektual Islam”, dalam majalah Yaum Al-Quds, No. 9, Ramadhan 1403 H,

Pustaka Zahra, “Biografi Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein al Habsyi, dkk, Jakarta: Pustaka Zahra, 2003.

Penerbit Marja,Tentang Penulis”, dalam Murtadha Muthahhari, ‘Ali Bin Abi Thalib; Kekuatan dan Kesempurnaannya, Terj. Zulfikar Ali, Bandung: Penerbit Marja, 2005.

Runes, Bagobert D, Dictionary of Philosophy, Tottawa New Jersey: Adam’s & Co, 1971.


[1] Para penulis biografi Muthahhari tampak berbeda pendapat dalam menentukan tahun-tahun kelahirannya. Sebagian pendapat menyatakan Muthahhari lahir tahun 1920, sedangkan sebagian lainnya menyatakan beliau lahir tahun 1919. Hanya saja mereka sepakat tokoh ini lahir pada tanggal 2 Februari. Beberapa penulis seperti Muhsin Labib, Haidar Bagir, Hamid Algar dan Mulyadhi Kartanegara terlihat sepakat dengan pendapat pertama. Sedangkan Jalaluddin Rakhmat, dan Sastan Rastan tampak sepakat dengan pendapat kedua. Dalam kelender Hijriah, Abdullah Beik menyatakan  beliau lahir pada tanggal 13 Jumadil Ula 1338 H. Lihat; Muhsin Labib, Filosof Sebelum dan Sesudah Mulla Shadra, (Jakarta: Lentera, 2005) hlm. 278; Lihat juga Haidar Bagir,Suatu Pengantar Kepada Filsafat Islam Pasca Ibn Rusyd”, dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2002), hlm 9; Hamid  Algar,Hidup dan Karya Murtadha Muthahhari” dalam Murtadha Muthahhari, Filsafat Hikmah, Terj. Tim Penerjemah Mizan, (Bandung: Mizan, 2002), hlm 23; Jalaluddin Rakhmat,Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama” dalam Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1995), hlm 7; Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari; Pembangkit Kebangunan Intelektual Islam”, dalam majalah Yaum Al-Quds, No. 9, Ramadhan 1403 H, hlm. 7; Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari; Muslim dalam Aqidah, Syari’ah dan Akhlaq”, dalam majalah Al-Isyraq No.4/Th.I, Jumadhil Akhir-Rajab, 1417 H; dan, Mulyadhi Kartanegara, Nalar Religius; Memahami Hakikat Tuhan, Alam, dan Manusia, (Jakarta: Erlangga, 2007), hlm. 90.

[2] Pustaka Zahra, “Biografi Murtadha Muthahhari”, dalam Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein al Habsyi, dkk (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003).

[3] Penerbit Marja,Tentang Penulis”, dalam Murtadha Muthahhari, ‘Ali Bin Abi Thalib; Kekuatan dan Kesempurnaannya, Terj. Zulfikar Ali, (Bandung: Penerbit Marja, 2005), hlm. 5.

[4] Hawzah di negeri Iran adalah sebuah lembaga pendidikan Islam Syi’ah yang berfungsi sebagai lembaga pengkaderan ‘ulama Syi’ah masa depan. Di dalamnya diajarkan berbagai disiplin ilmu Islam seperti fiqih, ushul fiqh, tafsir, hadits, filsafat, dan lainnya. Institusi Hawzah telah berhasil dalam melahirkan banyak Mujtahid Syi’ah sepanjang masa, tidak hanya dalam bidang hukum Islam, tetapi juga dalam bidang filsafat dan ‘irfan. Di negeri Indonesia, lembaga ini dapat diumpamakan semacam pondok pesantren.

[5] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 29.

[6] Labib, Filosof, hlm. 278.

[7] Labib, Filosof, hlm. 278-279.

[8] Labib, Filosof, hlm. 279.

[9] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm 91.

[10] Seyyed Hossein Nasr, “Pengantar”, dalam Muhammad Husein Thabathaba’i, Hikmah Islam, Terj. Husein Anis Al-Habsy, (Bandung: Mizan, 1993) hlm. 7.

[11] Murtadha Muthahhari, Mutiara Wahyu, Terj. Syekh Ali al-Hamid, (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 156.

[12] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm. 91-92.

[13] Labib, Filosof, hlm. 279.

[14] Gelar ini adalah gelar keagamaan dalam tradisi Islam Syi’ah yang menandakan bahwa seorang Thalabeh (pelajar) di sebuah Hawzah telah mencapai predikat Mujtahid Muthlaq sehingga berhak untuk berijtihad secara individual.

[15] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 29.

[16] Muthahhari, Mutiara Wahyu, hlm. 156.

[17] Muthahhari, Mutiara Wahyu, hlm. 155-156.

[18] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 28

[19] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31.

[20] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 30.

[21] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31.

[22] Penerbit Zahra, “Biografi Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. xxi.

[23] Abdullah Beik, “Murtadha Muthahhari”, hlm. 30.

[24] Mulyadhi, Nalar Religius, hlm. 92; Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 31-32.

[25] Algar,Hidup dan Karya”, hlm. 30.

[26] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[27] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[28] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[29] Algar, “Hidup dan Karya”, hlm. 32.

[30] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[31] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[32] Sastan Rastan,Syahid Murtadha Muthahhari”, hlm. 9.

[33] Algar,Hidup dan Karya”, h 41.

[34] Jalaluddin Rakhmat,Murtadha Muthahhari; Sebuah Model Buat ‘Ulama”, dalam, Murtadha Muthahhari, Manusia dan Agama, Terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1995), h 7.

[35] Murtadha Muthahhari, Mutiara Wahyu, Terj. Ali Ahmad, (Bogor: Cahaya, 2004), hlm. 160.

[36] Rakhmat,Murtadha Muthahhari”, hlm. 8.

[37] Lihat, Haidar Bagir, Murtadha Muthahhari; Sang Mujahid, Sang Mujtahid, (Bandung: Yayasan Muthahhari, 1988), hlm 83-86.

[38] Syahrin Harahap, Metodologi Studi Tokoh Pemikiran Islam, (Jakarta: Istiqamah Mulya Press, 2006), hlm. 38.

[39] Beberapa akademi itu antara lain; Pertama, Rasionalisme-Tekstualisme. Ini merupakan salah satu aliran dalam mazhab Qom yang menjadikan rasio sebagai landasan lalu mengaitkannya dengan teks-teks agama sebagai pembenarnya. Kedua, Tekstualisme-Rasionalisme. Ini adalah aliran yang menjadikan teks-teks agama sebagai postulat dan menjadikan rasio sebagai alat pembenarnya. Ketiga Tekstualisme-Rasionalisme-Teosofisme. Ini merupakan sebuah aliran yang menggabungkan rasio, teks-teks agama dan ‘irfan. Keempat, Teosofisme. Ini adalah aliran yang mengutamakan ‘irfan atau emosi dalam memahami realitas. Kelima, Rasionalisme-Modernisme. Ini adalah aliran yang menggunakan rasional dan pengetahuan modern. Keenam, Neo-Parapatetisme. Ini adalah aliran yang tidak sepenuhnya mendukung pandangan Ibn Sina, namun secara metodologis hampir mirip dengan pandangan Ibn Sina, karena banyak mengandalkan deduksi dalam telaahannya.

Secara umum, akibat dinamika pemikiran filsafat terus berlangsung, Mazhab Qom berkembang dan terbagi dalam beberapa sub-mazhab dan kelompok. Pertama, sekelompok filosof yang berperan sebagai advokat atau mediator murni filsafat Mulla Shadra tanpa melakukan penambahan apapun di dalamnya apalagi kritik, seperti Hasan Zadeh Amuli. Kedua, sekelompok filosof, seperti Jawadi Amoli, yang hanya mengkritisi sebagian argumen Mulla Shadra atau sistematika bukunya menyangkut pola pembagian dan pengurutan sub-tema. Ketiga, para filsosof yang melakukan kritik dan berusaha mengubah sebagian struktur bangungan filsafat dengan menawarkan sistematika baru dalam penyajian dan pengajaran filsafat, seperti Muhammad Taqi Mizbah Yazdi. Meskipun demikian, ketiga kelompok ini menyepakati tema-tema yang merupakan prinsip Mazhab Qum. Lihat, Muhsin Labib,Hawzah Ilmiyah Qom; Ladang Peternakan Filosof Muslim Benua Lain”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.9. 2003, hlm. 162-163.

[40] Labib, “Hawzah Ilmiyah Qom”, hlm. 162.

[41] Muhammad Ja’far, “Pandangan Muthahhari Tentang Agama, Sejarah, Al Quran dan Muhammad”, dalam Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Islam Al-Huda, Vol. III. No.11. 2005. hlm. 96.

[42] Bagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy, (Tottawa New Jersey: Adam’s & Co, 1971), hlm. 94; Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 10; Loren Bagus, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1996), hlm. 212; dan Dick Hartoko, Kamus Populer Filsafat, (Jakarta: Rajawali, 1986), hlm. 22.

[43] Murtadha Muthahhari, Mengenal Epistemologi: Sebuah Pembuktian Terhadap Rapuhnya Pemikiran Asing dan Kokohnya Pemikiran Islam, terj. M.J. Bafaqih, (Jakarta: Lentera, 2001), hlm. 11-15.

[44] Ibid, hlm. 16-17.

[45] Ibid, hlm. 17.

[46] Ibid, hlm. 49.

[47] Ibid, hlm. 39.

[48] Ibid, hlm. 21.

[49] Ibid, hlm. 30.

[50] Ibid, hlm. 31.

[51] Ibid, hlm. 42.

[52] Ibid, hlm. 41-42.

[53] Ibid, hlm. 34-39.

[54] Ibid, hlm. 39-40.

[55] Murtadha Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta: Konsepsi Islam Tentang Jagat Raya, terj. Ilyas Hasan, (Jakarta: Lentera, 2002), hlm. 183.

[56] Murtadha Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Kedua, terjemahan Ahmad Subandi, (Jakarta: Lentera, 2000), hlm. 273, 269.

[57] Murtadha Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar Persoalan Penting Agama dan Kehidupan, Buku Pertama, terjemahan Ahmad Subandi, (Jakarta: Lentera, 1999), hlm. 177.

[58] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 267.

[59] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 268.

[60] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 271.

[61] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 271-272.

[62] Murtadha Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, Terj. Ibrahim Husein Al-Habsy, dkk, (Jakarta: Pustaka Zahra, 2003), hlm. 4.

[63] Muthahhari, Pengantar Ilmu-Ilmu Islam, hlm. 1-2.

[64] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, hlm. 273-274.

[65] Muthahhari, Ceramah-Ceramah Seputar, (buku kedua), hlm. 273-274.

[66] Rudhy Hartono, Ilmu dan Epistemologi, dalam Jurnal Al-Huda, Vol. III. No. 9, 2003, hlm. 1.

[67] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183.

[68] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 86.

[69] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 81-82.

[70] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183.

[71] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 86-87.

[72] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 184.

[73] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 103-104.

[74] Ibid, hlm. 106.

[75] Ibid, hlm. 87.

[76] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 184.

[77] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 58-60.

[78] Ibid, hlm. 61

[79] Ibid, hlm. 87.

[80] Ibid, hlm. 64.

[81] Muthahhari, Manusia dan  Alam Semesta, hlm. 186.

[82] Ibid, hlm. 71.

[83] Ibid, hlm. 184.

[84] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 87.

[85] Ibid, hlm. 87.

[86] Ibid, hlm. 87.

[87] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 183-186.

[88] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 51.

[89] Ibid, hlm. 53-55. Lihat pula foot note no. 10.

[90] Ibid, hlm. 87.

[91] Ibid, hlm. 56.

[92] Ibid, hlm. 86.

[93] Ibid, hlm. 73.

[94] Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta, hlm. 73.

[95] Muthahhari, Mengenal Epistemologi, hlm. 73.

[96] Ibid, hlm. 106.

[97] Ibid, hlm. 108.

[98] Ibid, hlm. 131.

[99] Ibid, hlm. 130-131.

[100] Ibid, hlm. 131-132.

[101] Ibid, hlm. 132.

[102] Ibid, hlm. 133.

[103] Ibid, hlm. 133.

[104] Ibid, hlm. 133-143.

Kemajuan Sains dan Teknologi Iran Di Tengah berbagai Kecaman AS

Saya termasuk salah satu orang yang senang sekali mengetahui perkembangan sosial,budaya, politik, dan kecanggihan sains dan teknologi dari negara tetangga. Salah satunya perkembangan negara Iran. Iran merupakan salah satu negara di Timur Tengah yang saat ini sedang mendapat kecaman dari AS atas produksi nuklirnya yang di klaim membahayakan umat manusia. Padahal Iran sudah berkali-kali mengatakan bahwa Iran memproduksi Nuklir untuk tujuan damai dan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, bukan untuk digunakan memproduksi senjata pemusnah massal. Namun AS sepertinya tidak ingin disaingi oleh negara Iran yang perkembangan teknologinya yang semakin canggih. Iran menurut saya cukup cerdik dia membangun basis pengembangan nuklirnya di bawah tanah yaitu sekitar 75 kaki dari permukaan tanah dan tentu saja sulit di hancurkan oleh AS karena keberadaannya berada di pusat padat penduduk. Pabrik utama nuklir ini terletak dekat Natanz, 350 km dari selatan Teheran. Pabrik ini mengerjakan pembuatan mesin-mesin sentrifugal (putaran) dan menampung 50.000 mesin sentrifugal, disamping laboratorium. Iran memang benar-benar mempersiapkan ini semua. Iran meminta Rusia dalam merancang fasilitas sejenis yang digunakan sebagai bunker/tempat persembunyian bagi prajurit dan militer untuk menyelamatkan diri. Bunker ini mirip dengan bunker di Virginia dan Pensylvania yang didesain untuk melindungi para pemimpin AS (p.256-257)
.
Iran yang keras dalam mempertahankan keinginannya untuk memproduksi Nuklir ini harus mendapatkan konsekuensi yang menurut saya sangat berat. Akibat yang harus diterima oleh Iran adalah Iran harus menanggung embargo ekonomi dari banyak negara. Iran sudah kenyang dengan berbagai sanksi, sudah 28 tahun Iran mengalami sanksi itu, misalnya saja pada tahun 1995 Persiden AS Bill Clinton melakukan embargo total pada Iran, lalu mengeluarkan UU D’Amato yang melarang perusahaan-perusahaan asing untuk menanamkan modalnya di sektor perminyakan Iran lebih dari US$40 juta per tahun, tapi Iran mampu melewati kesulitan itu dan tetap dapat survive, karena ternyata tidak ada negara yang benar-benar mematuhi peraturan untuk tidak bekerja sama dengan Iran, karena mereka butuh pada Miyak Iran, seperti Inggris dan Prancis yang merupakan sekutu AS. Negara ini tetap menanamkan modalnya yang besar pada bidang energi Iran. Sanksi lainnya yaitu dilakukan oleh Dewan Keamanan (DK) PBB. DK PBB melarang pejabat dan pengusaha individu melakukan kunjungan ke Iran, jika melanggar maka akan dibekukan asetnya karena akan dianggap terlibat dalam program nuklir Iran. Selain itu sanksi lainnya adalah pembatasan negara dan lembaga keuangan internasional yang akan membuat komitmen untuk melakukan hibah, bantuan keuangan. Hal itu akan menghambat laju perekonomian Iran (p.323-325)
.
Seperti yang kita tahu bila orang dihadapkan berbagai kesulitan, maka biasanya orang akan cenderung kreatif untuk mencari peluang-peluang atau mencari solusi-solusi yang memungkinkan untuk terlepas dari problem yang membelit negara ini. Iran menjadi negara yang mandiri. Dulu Iran mengimpor gandum, sekarang menjadi negara pengekspor gandum, kemudian di bidang kemiliteran Iran mengembangkan senjata baru yang hebat, misalnya mampu mengembangkan rudal Shihab-1 yang mempunyai daya jelajah antara 300-500 km yaitu Shihab 1. Shihab 1 ini merupakan teknologi yang ditiru atau dicangkok Iran dari Rudal Scud-B Rusia yang berdaya jelajah 300 km dan Shihab 2 yang merupakan hasil dari meniru teknologi rudal rusia yaitu Scud-C. Negara ini mampu mencangkok atau meniru serta mengembangkannya lebih lanjut dari senjata rudal milik rusia yang sebelumnya digunakan oleh Iran. Selain itu juga Iran juga mengembangkan kemampuan militer yang mampu menangkis dan menghantam target AS di kawasan Teluk dan Irak yaitu Shihab 3 yang dapat membawa 3 hulu ledak perang sekaligus. Kemudian dibidang telekomunikasi Iran berhasil meluncurkan satelit ke luar angkasa. selain itu bidang lainnya Iran mampu mengkloning dan membuat mesin mobil sendiri. Iran termasuk negara yang berhasil membangun nuklir sampai berkembang dengan cukup berhasil (p.323-325)
.

Hal ini terjadi karena Presiden Iran saat ini yaitu Ahmadinejad bertekad bahwa dalam memajukan ekonomi iran, maka harus dilakukan peningkatan kemampuan penguasaan sains dan teknologi atau ilmu pengetahuan untuk menggerakkan ekonomi Iran. Seperti yang kita tahu bahwa Iran ratusan tahun lalu merupakan pusat ilmu pengetahuan, kebudayaan, filsafat, kedokteran, dan ilmu astronomi, disaat negara eropa berada di dalam kegelapan. Menurut sumber lain, jumlah ilmuwan dan teknokrat yang bergerak dibidang penelitian dan pengembangan pada tahun 1987-1997 perbandingannya adalah 560 orang untuk tiap 1 juta Penduduk Iran. Jumlah ini tentunya sangat memadai untuk pengembangan teknologi di bidang militer. Kita juga dapat belajar dari Iran bahwa saat ini dibutuhkan kebijakan pemerintah yang berpihak pada kepentingan ilmu pengetahuan dan sains dan teknologi. Selama ini anggaran untuk riset dan teknologi selalu dipangkas untuk kepentingan lainnya.

Ekonomi Muqawama: Pertumbuhan Sains dan Teknologi Iran

Sabtu, 2012 Desember 29 13:43

Gelombang deras tekanan sanksi Barat terhadap Republik Islam selama lebih dari tiga dekade gagal melumpuhkan Iran. Bahkan kian hari Iran justru menampilkan berbagai prestasi, termasuk di bidang sains dan teknologi. Betapa tidak, pada 2010, untuk pertama kalinya Iran menguasai hampir satu persen perkembangan sains dunia. Tentu saja merupakan angka yang tidak kecil di kalangan negara-negara sedang berkembang. Data statistik dari berbagai pusat keilmuan dunia menunjukkan bahwa produksi ilmu pengetahuan di Iran pada tahun 2005 sebesar 0,3 persen dari perkembangan ilmu dunia. Kemudian melonjak menjadi 0,8 persen pada tahun 2010. Meski demikian, Iran akan terus meningkatkannya hingga menembus angka 2 persen hingga akhir tahun 2015 berdasarkan proyeksi pembangunan sains dan teknologi 20 tahun.

Produksi ilmu pengetahuan di Iran sejak tahun 1990 hingga 2000 rata-rata berkisar 23 persen. Pada tahun 2000 hingga 2010 naik menjadi 32 persen. Berdasarkan proyeksi 20 tahun, rata-rata pertumbuhan ilmu pengetahuan di Iran sebesar 26 persen. Kini, berdasarkan laporan terbaru lembaga internasional, pertumbuhan produksi ilmu pengetahuan di Iran setara dengan 13 persen pertumbuhan dunia. Berdasarkan laporan Information Sciences Institute (ISI), peneliti Iran memproduksi karya ilmiah sebesar 20.228 pada tahun 2009. Posisi Iran di bidang ini naik dua tingkat dari tahun 2008. Iran berada di urutan 22 dari 55 negara yang berada di garda depan produksi ilmu pengetahuan. Pertumbuhan pesat ini disertai perbaikan kualitas di tahun 2010. Fenomena ini menunjukkan konsistensi pertumbuhan ilmu pengetahuan di Iran.

Keberhasilan akademisi Iran dalam satu dekade terakhir menunjukkan mekarnya potensi ilmiah di negara ini. Para pengamat menilai berlanjutnya perkembangan ini bisa menyebabkan Iran menempati urutan pertama produksi ilmu pengetahuan di Timur Tengah. Terkait kemajuan ini, bidang medis dan farmasi Iran menyumbangkan kontribusi terbesar. Sebab rata-rata dalam setahun terakhir diproduksi sekitar 50 produk baru farmasi Iran yang dibuat putra bangsa. Salah satunya adalah obat antibiotik dan berbagai obat tertentu yang menjadi monopoli negara-negara maju selama bertahun-tahun lalu.

Dewasa ini, Iran juga berhasil memproduksi obat bioteknologi seperti Gamma interferon untuk mengobati penyakit infeksi yang berbahaya akibat terjadinya kerusakan sistem kekebalan tubuh. Produksi jenis obat seperti ini memerlukan keahlian dan fasilitas yang canggih. Menteri Kesehatan Republik Islam Iran, Marzieh Vahid Dastjer menyatakan, industri farmasi Iran bertekad untuk swasembada di bidang ini. Saat ini, 96 persen kebutuhan obat dalam negeri berhasil diproduksi anak bangsa. Sisanya, mengisi sekitar empat persen obat-obatan impor dilakukan dengan dukungan industri farmasi dalam negeri dengan  dukungan kementerian kesehatan dan pengobatan Iran.

Saat ini Iran memiliki pabrik farmasi dan memproduksi berbagai obat yang dibutuhkan dengan memanfaatkan potensi putra bangsa. Untuk itu, Iran memegang posisi penting di kawasan. Saat ini Iran bekerjasama dengan Turki, Kuba dan sejumlah perusahaan farmasi terkemuka dunia untuk memproduksi obat-obatan. Peresmian pabrik kapsul gelatin soft dengan menggunakan teknologi terbaru di dunia termasuk keberhasil Iran tahun lalu di tengah gencarnya sanksi internasional anti Iran yang tidak adil.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan riset sains dan teknologi nuklir, Iran dalam dua tahun terakhir meraih keberhasilan luar biasa di bidang produksi radio obat dan saat ini tengah merencanakan untuk memproduksi 20 jenis radio obat. Sekitar 120 pusat medis nuklir tengah aktif dan melakukan berbagai inovasi di bidang ini.
Iran berhasil memproduksi obat formula baru dengan menggunakan teknologi nuklir yang dimulai sejak akhir dekade 1990. Negara ini juga sedang memproduksi tujuh jenis obat sensitif. Di bidang produksi obat lain, Iran juga melakukan terobosan besar dalam beberapa tahun terakhir, dan menjadi produsen kedua di dunia yang memproduksi obat deferasirox dengan label merk Osveral. Obat ini digunakan untuk mengobati penyakit thalassemia. Selain itu, Iran juga berhasil memproduksi obat triptorelin yang masih diimpor negara ini selama bertahun-tahun. Kini, obat tersebut diproduksi dan dipasarkan secara massal di dalam negeri atas izin kementerian kesehatan Iran.

Tahun lalu, Iran juga berhasil menguasai bioteknologi farmasi dan membumikannya dengan memproduksi berbagai obat yang mampu bersaing dengan produk-produk dari Eropa. Keberhasilan tersebut merupakan terobosan besar Iran di bidang farmasi di Iran, sekaligus menunjukkan keberhasilan Tehran mematahkan monopoli yang dilakukan AS dan sejumlah negara Eropa dan Jepang di bidang produk bioteknologi.

Republik Islam Iran kembali menunjukkan kemampuannya di bidang medis dan farmasi dengan memproduksi secara massal paclitaxel, obat anti kanker. Paclitaxel adalah sejenis obat suntik untuk mengobati berbagai jenis kanker termasuk kanker payudara, rahim, paru-paru dan kulit. Saat ini jenis obat ini termasuk dalam list obat impor di Departemen Kesehatan Iran. Mengingat harganya yang mahal karena impor maka para pasien dan keluarganya kerap kesulitan untuk membelinya. Obat ini untuk pertama kalinya di produksi di Timur Tengah dan ditangani oleh Perusahaan Farmasi Sobhanoncology  milik Komite Eksekutif Instruktur Imam Khomeini. Perusahaan ini juga termasuk anak perusahaan al-Borz.

Selain itu, Iran berhasil memproduksi lebih dari 60 jenis bioteknologi di bidang vaksin di Institut Razi. Lembaga ini memiliki pengalaman lebih dari 80 tahun di bidang produksi vaksin dan obat yang merupakan lembaga riset terkemuka di Iran dan Timur Tengah.

Setiap tahunnya lebih dari 3,5 miliar unit medis olahan termasuk vaksin utama anti difteri, polio dan pertusis. Proyek lainnya adalah produksi vaksin influenza yang telah berhasil diujicoba di laboratorium. Diprediksi pada tahun baru yang tinggal satu setengah bulan lagi, Iran berhasil menguasai teknologi produksi vaksin influenza.

Kini Iran terus bergerak maju di bidang perkembangan sains dan teknologi. Di bidang farmasi dan medis, Iran bertekad menjadi produsen sains dan teknologi sekaligus menjadi poros keilmuan di kawasan Timur Tengah. Contoh riil dari berbagai kemajuan Iran adalah sains dan teknologi nuklir, nano teknologi, dan produksi sel punca serta kloning.

Irandalam beberapa tahun terakhir bertengger di urutan kelima dunia di bidang kloning domba setelah Amerika Serikat, Kanada, Inggris dan Cina. Iran berhasil memproduksi sapi hasil kloning yang pertama kali di Timur Tengah dan termasuk segelintir negara yang menguasai teknologi kloning di dunia.

Globalisasi adalah suatu proses di mana antar individu, antar kelompok, dan antar negara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Dari pengertian ini kita dapat menjabarkan bahwa dengan adanya globalisasi ini maka antar satu negara dengan negara yang lain menimbulkan kerja sama, interaksi melalui perdagangan, investasi, perjalanan ekonomi, budaya populer, dan lain-lain, yang akan mempengaruhi satu sama lain, dampak negatifnya situasi ini akan mengurangi rasa nasionalisme, peran negara dan batas-batas negara.

Namun tidak sesempit itu, banyak pandangan tentang globalisasi salah satunya, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diangkat oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Karena negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama.

Contoh-contoh pengaruh globalisasi pada berbagai bidang,

  1. Bidang ekonomi, aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa. pengaruh globalisasi pada aspek ini bisa terlihat dengan jelas, dimana hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti American Warteg, Coca Cola, Pizza Hut, Unilever, dll.) membanjir di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
  2. Bidang sosial, globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa. Namun dampak negatif pada bidang ini, mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

Dan masih banyak lagi, dengan demikian kita dapat mengambil pelajaran bahwa sebagai penerus bangsa sudah seharusnya kita meningkatkan jiwa nasionalisme kita, dan belajar lebih giat untuk memajukan negara kita.

Saya menulis tulisan ini terinspirasi oleh sebuah film yaitu “THE SECRET”, disini saya akan mengungkapkan rahasia-rahasia kesuksesan yang di ungkap dalam film tersebut.

Tindakan – tindakan yang harus dilakukan:

  • Selalu berfikiran positif. Jika kita selalu berfikiran positif maka kita akan selalu mendapatkan hal-hal positif yang kita pikirkan.
  • Harus menjauhi fikiran-fikiran negatif. ketika kita tidak menyukai sesuatu dan menduga-duga hal tersebut akan menimpa kita, maka hal tersebut akan menimpa kita. Begitu juga ketika kita ingin meraih sesuatu lalu kita putus asa dan beranggapan kita tidak akan meraihnya, maka itu akan terjadi.
  • Lebih memerhatikan hal-hal yang kita inginkan, dan menjauhkan hal-hal yang tidak kita inginkan.
  • Catat semua keinginan, dan memberikan respon yang baik kepada keinginan tersebut. Jangan menduga-duga bahwa keinginan tersebut tidak akan tercapai, karena itu akan membuat keinginan tersebut tidak tercapai.
  • Gambarkanlah dan bayangkanlah hal-hal yang kamu inginkan agar menjadi kenyataan.
  • Mulailah menghargai hal-hal yang anda syukuri, jangan memikirkan kebencian kepada hal-hal yang tidak kamu miliki, dan jangan memikirkan masalah demi masalah karena itu akan memperbesar masalah.

Teori – teori tercapainya cita – cita tersebut:

- Dua perasaan :

  • Perasaan buruk. pada awalnya semua dari fikiran buruk, perasaan bersalah, marah, sedih, kemudian frustasi, semua terasa buruk. Dan semua perasaan tersebut menyatakan bahwa perasaan kita tidak sesuai dengan keinginan kita, itu yang disebut dengan frekwensi fikiran buruk.
  • Perasaan baik. Perasaan yang penuh harapan, kebahagiaan dan cinta. semua perasaan tersebut menyatakan bahwa perasaan kita sesuai dengan keinginan kita, itu yang disebut dengan frekwensi fikiran baik.

- The Point :

  • Ask. Meminta apa yang kita inginkan,fikirkan, kalau perlu kita catat semua.
  • Answer. Setelah meminta maka keinginan akan tercapai.
  • Receive. Menerima, kita hanya perlu membuat respon baik untuk menerimanya, bergairah, senang akan mendapatkannya. Hindari dugaan –dugaan buruk atau keputus asaan.

Kata – kata bijak:

  • Imajinasi adalah segalanya, imajinasi adalah gambaran pendahuluan dari peristiwa hidup yang akan menjadi kenyataan. -Albert Einstein-
  • Ambil langkah pertama dengan penuh keyakinan, anda tidak harus melihat anak tangga, cukup ambil langkah dianak tangga pertama. –Dr. Martin Luther King Ir-

Cerita – cerita kesuksesan orang – orang yang menerapkan rahasia ini:

  • David Schirmer, ketika setiap dia ingin memarkirkan mobilny dia selalu berfikir dan menbayangkan bahwa dia akan mendapatkan tempat yang ia inginkan, dan ternyata hal itu benar, dia selalu mendapatkan tempat parker yang ia inginkan.
  • Lee brower, sesuatu terjadi pada keluarganya, dia menemukan sebuah batu dan menyimpannya disakunya. Dan dia berkata “setiap saya menyentuh batu ini saya akan memikirkan hal yang saya syukuri” dan setiap setiap hari ia membawa batu tersebut dan mulai mensyukuri semua hal yang ia miliki. Suatu hari temannya melihat batu tersebut jatuh dari sakunya, dan dia bertanya “apa itu?” lalu ia menjawab “itu adalah batu penghargaan”, suatu ketika anak teman david tersebut jatuh sakit, dan dengan penuh harapan ia meminta david untuk mengiriminya 3 batu penghargaan untuknya, kemudian david mengambil batu tersebut dari pinggir sungai dan memberikan kepada temannya tersebut, dan ternyata beberapa bulan kemudian anak teman david sembuh dari sakitnya.
  • John assaraf, pada tahun 1995 ia membuat papan visi, dan menempatkan semua foto yang ia inginkan kedalam papan visi tersebut. Dan setiap hari dalam kantornya ia selalu menatap papan visi itu, dan selalu menatap dan membayangkan itu semua kenyataan, lalu ia sering pindah rumah semua perabotan dimasukkan kedalam kardus dan disimpan dalam gudang, setelah itu ia selalu pindah rumah dan terakhir membeli rumah di kalifornia dan merenovarsinya selama setahun. Suatu pagi anak laki – lakinya masuk ke ruang kantornya, dan kerdus berisi papan visi tersebut disamping pintu dan diduduki oleh anaknya, dan anaknya bertanya apa isinya lalu dibuka, dan seketika john menangis melihat isinya karena ternyata isi papan visi tersebut benar – benar menjadi kenyataan, bahkan rumah yang ia tempati sama seperti yang berada didalam gambar.

Mudah bukan?? Lebih jelasnya silahkan tonton film “the secret” karena masih banyak pengalaman-pengalan yang dialami orang sukses setelah menjalani rahasia ini. Selamat mencoba!!

Brig Jen Ahmad Vahidi, Menhan Iran

Menteri Pertahanan Iran Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi mengatakan Tentara Republik Islam dilengkapi dengan persenjataan dan peralatan yang paling canggih.
“Hal yang penting ini telah dicapai melalui upaya Personil Angkatan Darat Republik Islam,” kata Vahidi pada hari Minggu di Provinsi Kurdistan.

Vahidi menambahkan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah mencapai kemajuan dan keberhasilan berkat arahan Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

“Hari ini Tentara Republik Islam Iran selalu siap untuk melawan setiap serangan musuh,”kata menteri pertahanan pada ISNA .

Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah membuat terobosan penting di sektor pertahanan dan mencapai swasembada peralatan dan sistem militer.

Sebelumnya pada bulan April, Iran berhasil menguji-tembak sistim rudah anti-pesawat terbaru negara bernama Sayyad-2 (Pemburu 2).

Sistem ini adalah versi upgrade dari Sayyad-1, yang terdiri dari rudal dua tahap yang dapat menargetkan semua jenis pesawat, termasuk pembom, di ketinggian menengah dan tinggi.

Sitem rudal anti-pesawat Sayyad dapat digunakan dalam peperangan elektronik, dan terhadap sistem radar penampang rendah (RCS).

Rudal Shahin (Hawk) dan Shalamcheh yang diproduksi oleh Departemen Pertahanan juga berhasil diuji dan dikirim ke unit tentara yang berbeda pada bulan April.

Pada bulan Januari, Iran berhasil menguji-menembak rudal mid-range Hawk, permukaan-ke-udara dan Kementerian Pertahanan Iran mengirimkan sistem rudal jelajah baru itu ke Angkatan Laut.

Sistem yang dirancang dan diproduksi oleh pakar Iran, mampu mendeteksi dan menghancurkan target yang berbeda di laut.

Semoga sukses^_^

Al Qur’anul Kariim : “(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71) “Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Apakah Imamah itu sebuah Warisan?

Menurut Ahlul Bait, Imamah dipilih oleh Allah. Ini bukan masalah warisan, karena jika demikian maka ImamHusain (sa.) tidak boleh menjadi imam, setelah kesyahidan Imam Hasan (sa.).Imam Hasan (sa.) memiliki banyak anak dan keturunan, tak satu pun dari mereka menjadi imam. Sebaliknya, saudaranya Imam Husain (sa.), seorang imam setelahnya. Ada juga sejumlah anak dan cucu-cucu yang menyimpang dari para imam, tidak ada orang yang menerima posisi Imamah.

Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah warisan. Tentu saja, gen penting untuk imam suci, namun imam membutuhkan banyak persyaratan lainnya. Allah SWT tahu yang memiliki semua kualifikasi seperti itu. Apakah kehendak Allah SWT yang menempatkan semua imam dari jalur keturunan Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya).

Bahkan, jika sebuah studi sejarah Nabi Allah, ia akan menemukan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Allah yang memiliki kekuasaan dan keagungan berfirman :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”[88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qur’an Al-Baqarah, 2: 124).

Dalam ayat di atas, Allah tidak menolak kepemimpinan keturunan Abraham., Tetapi Dia membatasi posisi ini hanya pada keturunan Abraham memenuhi syarat. Allah SWT mengatakan, kepemimpinan yang ditunjuk Allah tidak datang untuk orang-orang yang berbuat salah, bahkan jika orang itu adalah keturunan Abraham.

Dengan demikian, keturunan Abraham. tidak semuanya menjadi imam karena harus ada persyaratan lain selainnya. Orang-orang di antara mereka yang bukan pelaku ketidakadilan (bebas dari dosa) yang memenuhi syarat, karena mereka tidak hanya memiliki gen yang suci, tetapi mereka memiliki kualifikasi lainnya yang diperoleh melalui penderitaan. Sebagai Tuhan Yang Maha Esa memiliki pengetahuan sebelumnya dan keterangan kesabaran kualifikasi mereka, dia yang dipercayakan kepada mereka dalam posisi ini dan menempatkan mereka di atas semua makhluk-Nya yang lain.

“Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran ‘di atas semua orang (pada saat masing-masing)” (Al Qur’an Ali Imran, 3: 33).

Garis nasab Muhammad SAWW. kembali kepada Nabi Ismail bin Ibrahim. Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Isa keduanya berasal dari yang lain Ishaq anak Abraham. Sesungguhnya, semua nabi setelah Ibrahim. berasal dari keturunan. Namun, kita tidak bisa menyatakan kenabian itu adalah masalah warisan. Dia adalah Allah Maha Kuasa yang memilih satu per satu.

Dalam konteks lain, kita tidak bisa mengatakan bahwa anak Nabi selalu haruslah nabi. Banyak kondisi lain selainnya. Jika tidak, Kan’an bin Nuh, niscaya masih hidup. Nuh memiliki tiga putra lain, Aam, Sam, dan Yafas yang beriman dan yang dengan istri mereka dan akhirnya naik tabut itu selamat. Mereka datang dari seorang ibu yang berbeda dari Kan’an. Oleh karena itu, putra seorang nabi atau imam tidak harus membuatnya menjadi nabi atau imam atau bahkan orang yang saleh.

Singkatnya, gen untuk Nabi dan imam suci adalah penting tetapi tidak cukup.
Imam atau Ulil Amri ditunjuk oleh Allah dengan Nabi-Nya. Lihat Al-Qur’an dimana Allah berulang kali menyatakan bahwa dia adalah zat yang diresmikan imam. (Lihat Al-Baqarah Al-Qur’an, 2: 124, al-Anbiya, 21: 73; as-Sajdah, 32: 24).

“Dan (ingatlah) ketika Abraham diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) dan Abraham dipenuhi Tuhan mengatakan” Lihatlah, Aku akan membuat Imam untuk semua umat manusia “Dia (Abraham) berkata,” (Dan aku mohon., juga) dari keturunanku “Allah berfirman,”. Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang melakukan “salah. (QS. Al-Baqarah, 2: 124)

“Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada, mereka berbuat baik, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. (QS. al-Anbiya ‘, 21:73)

“Dan Kami jadikan di antara mereka adalah pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka percaya kepada ayat-ayat Kami”.. (QS. As-Sajdah, 32: 24)

Ada dua belas imam diangkat oleh Allah sebagai Penerus Nabi Muhammad SAWW. Ada sebuah tradisi panjang dalam dokumen-dokumen yang Sunni menyatakan bahwa jumlah imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen Sunni lain di mana Nabi Muhammad SAWW. bahkan menyebutkan nama setiap dua belas imam tersebut.

Allah menunjuk dua belas imam, tidak hanya orang-orang di dalam rumah tangga Nabi Muhammad SAWW, tetapi karena mereka, pada zaman mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling alim, yang terbaik dalam kebajikan pribadi, dan yang paling mulia di kehadiran Allah dan pengetahuan mereka berasal dari nenek moyang mereka (Nabi) melalui ayah nenek moyang mereka, dan juga melalui pendidikan langsung dari Allah melalui ilham (inspirasi). Penerus Nabi (selain penerus Nabi Muhammad) adalah Nabi juga, dan dengan demikian mereka semua ditunjuk oleh Allah. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa beberapa Nabi, atas perintah Allah, menunjuk para imam (yang bukan Nabi).

Mari kita berikan beberapa ayat suci Al-Qur’an!

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemimpin Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim”. (QS al -Baqarah, 2: 246).

Setiap orang yang secara khusus ditunjuk oleh Allah sebagai raja adalah seorang imam. Seorang nabi bisa juga (sebagian) dari imam atau raja, tetapi tidak semua nabi adalah imam. Jika seseorang menjadi raja atau imam yang ditunjuk oleh Allah, itu tidak berarti bahwa dengan sendirinya hanya karena fisik yang kuat. Di atas ayat Al-Qur’an berbicara tentang Thalut. Berikut ayat-ayat Al Qur’an lain yang memberikan rincian lebih lanjut.

“Nabi Mereka (1) kata kepada mereka,” Allah telah mengangkat Thalut (Saul) sebagai raja (2) Anda. “Mereka berkata,” Bagaimana Thalut mengatur kita saat kita lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia tidak diberi kekayaan yang cukup? (3) “Ia (Nabi mereka) berkata,” Allah telah memilihnya di atas Anda (4) menjadi raja dan diberikan pengetahuan yang luas dan tubuh yang kuat. “(5) Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki (6.) Dan Allah adalah karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 247).

Bagian pertama dari nomor ayat di atas (1) membuktikan bahwa orang-orang memiliki nabi dan Thalut berada di tengah-tengah masyarakat ini, sehingga mereka Nabi adalah Nabi Thalut juga. Jadi, Thalut bukan nabi.

Bagian ditandai dengan nomor (2) menunjukkan bahwa Allah menunjuk Thalut sebagai imam atau pemimpin atau raja.

Angka (3) menunjukkan bahwa apa yang ditunjuk Allah tidak dipilih berdasarkan kekayaan. Kerajaan pada dasarnya adalah karakter spiritual, dan tentu saja, Thalut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk memerintah dengan baik secara fisik, tetapi yang terakhir tergantung pada pengakuan orang untuk posisi sebelumnya saat akan dipertahankan sebagai imam (kepemimpinan rohani).

Imam atau pemilihan raja bukan tugas manusia, dan sebagaimana dianjurkan, Allah memilih seorang raja atau imam karena Allah tahu siapa orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi tinggi seperti itu. Berikut adalah salah satu raja yang memiliki otoritas oleh Allah SWT.

Ini dibuktikan dengan nomor (6) ayat di atas. Orang-orang yang memiliki otoritas dengan pengetahuan dan kebijaksanaan sebagai nomor (5) dari titik.

Dalam ayat berikutnya, kita membaca,

“Dan Nabi (lebih lanjut) berkata kepada mereka,” Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, adalah untuk kembali ke tabut, di mana terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari warisan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat-malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian ada tanda bagimu, jika kamu beriman “(Al-Qur’an. Al-Baqarah, 2: 248).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

” ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (Al-Qur’an suatu-Nisa, 4: 54).

Sekali lagi, kerajaan ini adalah Imamah, bahwa beberapa keluarga Ibrahim yang memerintah secara fisik.

Bagaimana Model Terbaik Pemilihan dalam Kepemimpinan Islam

Salah satu topik yang telah terus-menerus didiskusikan di kalangan umat Islam sejak bangkitnya Islam adalah pertanyaan tentang memilih Imam atau Pemimpin; itu sebenarnya pertanyaan yang membawa pembagian umat terpecah menjadi ke Shi’ahdan Sunni.Shi’ah memiliki komitmen terhadap prinsip bahwa hak untuk menunjuk Imam milik eksklusif (hak prerogatif) Allah, dan bahwa orang (manusia) tidak memiliki peran sama sekali dalam hal ini. Sang Maha Pencipta itu sendirilah yang memilih Imam dan mengidentifikasikannya kepada masyarakat sebagaimana pemilihan para Nabi.

Sebagai tambahan dari Shi’ah atas pemahaman tentang Imamah ini, dan perhatiannya yang telah dicurahkan pada keyakinan bahwa Allah dan Nabi sendiri yang memilih Imam yang berfungsi sebagai bukti (hujjah) Allah dalam setiap masa, era, dekade, dari rasa hormat yang mendalam untuk hak dan martabat manusia itu sendiri.

Dalam cara yang sama bahwa kenabian menyiratkan serangkaian atribut dan kondisi, demikian juga Imam, yang datang setelah Nabi, juga harus disertai dengan kualitas sosok pribadi tertentu. Kebutuhan ini timbul dari kenyataan bahwa Shi’ah menolak untuk menerima sebagai pemimpin komunitas orang yang kurang dalam kualitas kunci keadilan, ketidakmungkinsalahan (maksum), dan kepintaran/ ke-pakar-an. Perintah yang tepat dari ilmu pengetahuan agama, kemampuan untuk memberitakan Hukum Allah dan ketetapan-Nya dan untuk menerapkannya dalam masyarakat dengan cara yang tepat, dan, secara umum, untuk menjaga dan melindungi agama Allah, tidak ada seorang pun dimungkinkan karena tidak adanya sifat-sifat ini.

Tuhan sangat memperhatikan kapasitas spiritual, tingkat ilmu keagamaan, dan kesalehan dari Imam, dan Dia juga tahu, kepada siapa perwalian pengetahuan agama harus dipercayakan: siapa yang bisa membawa beban ini dan tidak mengabaikan untuk satu menit tugas memanggil orang kepada Allah dan melaksanakan keadilan ilahi. Tetapi terlepas dari aspek masalah ini, pemahaman Syi’ah tentang Imamah juga mencerminkan cita-cita luhur manusia.

Jika dikatakan, bahwa orang (manusia) tidak berhak untuk ikut campur dalam hal memilih Imam itu, karena mereka (yang memilih) itu sendiri tidak cukup memadai dalam kemurnian kesucian batin dan kesalehan individu, dari derajat dalam mematuhi nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an; Di atas itu semua, mereka tidak dapat merasakan kehadiran illahi atau tidak adanya prinsip ilahi atas ketidakmungkin-salah-an (maksum/’ismah).

Oleh karena itu hak prerogatif Allah melalui Nabi-Nya untuk menunjuk penerus penggantinya; dan Imam di setiap zaman memilih dan mengangkat Pemimpin penerus penggantinya.

Jika seorang Imam mampu menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang gaib dan menampilkan ketidakmungkinsalahan (maksum) dalam ke-Imamah-an, yang terbungkus dalam busana yang menyerupai mirip dengan kekuatan ajaib para nabi, maka itu sah dan dapat diterima.

Ada metode yang diusulkan oleh Shi’ah dalam pengenalan dan perolehan akses ke-Imamah-an, mereka membentuk satu set kriteria kepemimpinan yang sebenarnya dari umat Islam pada zamanya masing-masing hingga hari akhir kelak.

Pendekatan lain untuk ke-Imamah-an ini sangat kontras dengan yang diusulkan Shi’ah. Karena ada kekaburan dan ambiguitas sekitar prinsip konsultatif dalam aplikasi pertanyaan kepemimpinan sejak awal, komunitas Sunni menempuh berbagai metode untuk memilih dan menunjuk Khalifah, sehingga dalam praktiknya elemen-elemen berikut muncul memainkan peran yang penting.

1: Konsensus (ijma ‘). Kaum Sunni mengatakan bahwa pemilihan khalifah pertama dan terutama terletak pada pemilihan oleh masyarakat, sehingga jika umat Islam memilih individu tertentu sebagai pemimpin, ia harus diterima seperti itu dan perintahnya harus ditaati.

Sebagai bukti ini, mereka mengutip metode yang diikuti oleh sahabat Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan ahli keluarganya) setelah wafatnya. Berkumpul di Saqifah untuk memilih seorang khalifah, mayoritas diputuskan Abu Bakar dan bersumpah setia kepada dia; sehingga dengan demikian ia diakui oleh konsensus sebagai pengganti penerus Nabi, tanpa keberatan yang diajukan. Ini merupakan salah satu metode untuk menunjuk seorang khalifah.

2: Metode kedua terdiri dari Konsultasi dan pertukaran pandangan di antara anggota terkemuka dari komunitas Muslim. Setelah mereka sepakat antara mereka sendiri pada pilihan pemimpin bagi masyarakat, kekhalifahan-nya menjadi sah dan itu adalah kewajiban setiap orang untuk mematuhinya.

Ini adalah metode yang diadopsi oleh khalifah kedua. Ketika ‘Umar akan mati, ia memilih enam orang sebagai calon khalifah dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu nomor mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri, untuk tidak lebih dari enam hari. Jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan akhirnya diberikan kepada ‘Utsman. Ini juga dikatakan merupakan sarana sah untuk memilih khalifah.

3: Metode ketiga terdiri dari pencalonan khalifah pengganti sendiri. Hal ini terjadi dalam kasus ‘Umar, yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar tanpa keberatan yang diajukan oleh kaum Muslim.

Demikianlah, pada dasarnya, pandangan Sunni mengenai hal ini.

Marilah kita sekarang meninjau keberatan-keberatan yang masing-masing proses pembahasan adalah sebagaimana berikut:

Kebutuhan akan ketidakmungkinsalahan (maksum/ ‘ismah’) dari Imam, memiliki pemahaman yang jelas tegas dan merupakan perintah yang komprehensif dari semua permasalahan agama, baik dalam prinsip dan detail, yang berakar dari sumber Al-Quran dan Sunnah, serta yang dibuktikan oleh pengalaman sejarah.

Semua penindasan, kesalahan, korupsi dan penyimpangan yang kita lihat dalam sejarah Islam muncul dari kenyataan bahwa para pemimpin tidak memiliki kualitas yang seharusnya dibutuhkan oleh seorang Imam. Bahkan jika semua anggota umat Islam memilih seorang individu yang diberikan tugas kepadanya sebagai Imam dan penerus Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), ia tidak bisa lemah dan dari dirinya sendiri harus dapat memberikan legitimasi dan validitas atas ke-khalifahan-Nya.

Sedangkan Khalifah Abu Bakar, semua kaum muslimin, dalam hal apapun, tidak semuanya bersumpah setia (baiat) kepadanya, sehingga tidak perlu ada pertanyaan atas apakah konsensus benar-benar terbentuk?.

Juga merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa tidak ada dalam pemilihan sesuai kenyataan yang terjadi, dalam arti semua ummmat muslim yang tersebar di berbagai penjuru tempat pelosok negeri berkumpul di Madinah pada waktu itu untuk mengambil bagian dalam proses pemilihan suara atas pemilihan kekhalifahan itu ataupun proses pemilihan suara secara perwakilan diantara seluruh kabilah-kabilah yang ada.

Berdasarkan fakta sejarah, tidak semua penduduk Madinah berpartisipasi dalam pertemuan itu, di mana keputusan itu dibuat, bahkan beberapa Ahl Al Bayt Nabi dan Sahabat yang terkemuka, serta bahkan beberapa dari mereka yang hadir di Saqifah, menolak untuk menyatakan kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar. Seperti misalnya, Ali b. Abi Thalib sa, al-Miqdad, Salman, al-Zubair, ‘Ammar b. Yasir, ‘Abdullah b. Mas’ud, Sa’d b. ‘Ubadah, Abbas b. Abd al-Muthalib, Usamah b. Zaid, Ibnu Abi Ka’b, ‘Utsman b. Hunayf, serta sejumlah sahabat terkemuka lainnya, yang menyampaikan keberatan atas pemilihan khalifah Abu Bakar dan ini berarti opini mereka tidak menyembunyikan sikap oposisi mereka. Tetapi sikap oposisi mereka, tidak dimaksudkan terorganisir menjadi oposan untuk menggulingkan Khalifah Abu Bakar. Bagaimana mungkin kemudian dapat dikatakan bahwa ke-Khalifah-an Abu Bakar dianggap telah berdasar pada ijma’ (konsensus) umat Islam?

Ini bisa dikatakan bahwa partisipasi dari setiap orang, dalam pemilihan pengganti penerus Nabi tidak perlu! Dan bahwa jika sejumlah orang-orang terkemuka mencapai keputusan tertentu sudah cukup dan hak khalifah sudah dapat diterima dan harus ditaati!.

Namun, mengapa keputusan mereka harus mengikat orang lain? Mengapa orang lain yang terkemuka dan tokoh yang dikenal cemerlang dalam sejarah peradaban ummat Islam, yang memiliki komitmen dan pengabdian yang tinggi dan sudah tidak perlu diragukan lagi, telah dikecualikan dalam membuat keputusan yang begitu penting bagi ummat, yang memiliki konsekuensi luas menyangkut urusan nasib umat Islam? Mengapa mereka mengajukan tanpa syarat atas keputusan yang dicapai dengan memaksa dan mengintimidasi kepada orang lain? Apa bukti yang ada bagi legitimasi prosedur tersebut? Mengapa ini merupakan preseden yang sah dan bersifat mengikat kebebasan umat yang lain?

Secara prosedural tipe ini dapat dianggap sebagai sah, hanya jika secara eksplisit ditunjuk sebagaimana tersebut dalam ayat Al-Qur’an atau Sunnah Nabi, dalam arti ayat di mana Allah menyatakan:

“Ambil dan terimalah apa yang Rasul berikan kepadamu, dan tinggalkan apa yang dilarang. ” (QS, 59:7)

Adapun para sahabat, tidak ada bukti bahwa mereka harus bertindak dengan benar, selain dari yang sebagian dari mereka tidak setuju dengan orang lain, dan tidak ada alasan dalam prinsip untuk lebih memilih pandangan dari satu kelompok para sahabat atas orang lain.

Memang benar bahwa mayoritas penduduk Madinah memberi kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar dan dengan demikian diratifikasi seleksi sebagai khalifah, tetapi mereka yang menolak untuk melakukannya tidak melakukan dosa apapun, untuk kebebasan dalam memilih, karena kebebasan dalam memilih adalah hak alami dari setiap Muslim, dan kaum minoritas tidak berkewajiban untuk mengikuti pandangan sebagian besar kaum mayoritas. Tidak ada yang bisa dipaksa untuk bersumpah setia (baiat) kepada seseorang yang dia tidak ingini di pucuk pimpinan urusan muslim atau bergabung dengan kompak menolak dia. Ketika kaum mayoritas memaksa kaum minoritas untuk menyesuaikan diri dengan pandangan kaum mayoritas itu sendiri, berarti ia telah melanggar hak-hak kaum minoritas.

Sekarang sahabat yang berkumpul di sekitar Ali sa. yang terpaksa berubah mengikuti mayoritas yang telah memberikan kesetiaan kepada Abu Bakar, itu tidaklah dapat ditasbihkan apapun kepada Tuhan atau Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), karena itu jelas pelanggaran hak-hak mereka dan kebebasan invidual mereka.

Lebih buruk lagi dari ini, adalah fakta bahwa Ali b. Abi Thalib sa. dipaksa untuk berpartisipasi dalam sumpah kesetiaan (baiat) dan mengubah posisinya, meskipun ia adalah seseorang yang diberi otoritas oleh Rasulullah Muhammad SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan. Tak seorang pun dengan rasa keadilan dapat menyetujui pengebirian hak kebebasan individu dalam memilih itu sendiri.

Hal ini juga harus dikatakan bahwa umat Islam dari generasi kemudian yang mengadopsi sebuah sikap negatif terhadap suatu pemberian kesetiaan (baiat) yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, tidak dapat dihukum karena ini atau dianggap sebagai seorang pendosa (sesat/ kafir-murtad).

Selama zaman kekhalifahan Ali sa., orang-orang seperti Saad b. Abi Waqqas dan ‘Abdullah b. ‘Umar menolak baiat kepada Ali sa., tetapi dengan kemurahan hatinya, Imam Ali sa. mempersilahkan mereka bebas untuk melakukannya dan tidak memaksa mereka untuk harus membaiat kepadanya.

Selain semua ini, jika khalifah tidak ditunjuk oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), tak seorang pun dapat dipaksa untuk mengikuti modus perilaku yang ditentukan oleh khalifah yang hanya mengklaim legitimasi dalam pemilihan suara. Pemilihan tersebut tidak memberikan kepadanya imunitas dari kesalahan dan dosa (‘ismah), juga tidak meningkatkan pengetahuan agama dan kesadaran. Orang mukmin biasa berhak mengikuti orang lain selain khalifah, yang tingkat pemahamannya terhadap ilmu agamanya lebih tinggi dari pada khalifah itu sendiri.

Namun, bila baiat itu adalah merupakan sumpah ketaatan pada perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkat-atasnya dan keluarganya), ini memang dianggap sebagai sumpah kesetiaan kepada Rasulullah SAWW. sendiri, lalu tidak mungkin jika tidak taat, dan ketaatan orang kepada siapa kesetiaan diberikan adalah kewajiban tidak hanya pada umat Islam waktu itu, tapi pada orang-orang dari semua generasi-generasi berikutnya.

Selain itu, Al-Qur’an menganggap kesetiaan yang diberikan kepada Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sebagai setara dengan kesetiaan diberikan kepada Allah. Jadi Al-Qur’an mengatakan:

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al Qur’an, 48:10)

Hal ini jelas bahwa pengganti penerus itu dipilih oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), yang akan menjadi adalah laki-laki yang paling tajam dan paling paham tentang peraturan Al-Qur’an dan agama Allah, bahkan ia mungkin akan memiliki semua sifat-sifat Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dengan perkecualian menerima wahyu Allah, dan dia memberi perintah apa pun akan didasarkan pada keadilan dan penerapan hukum-hukum agama Allah.

Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), berkaitan dengan hal itu bersabda:

“Komunitas saya tidak akan pernah setuju atas kesalahan.”

Namun, tradisi ini tidak dapat dikemukakan berkaitan dengan pertanyaan suksesi kepemimpinan dalam Islam, untuk itu kemudian akan bertentangan dengan perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dan secara efektif menyebabkan orang akan mengabaikan kata-katanya; itu akan memungkinkan mereka untuk lebih suka atas pandangan mereka sendiri dari pada kata-kata beliau SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya). Apa pun penerapan itu lebih dibatasi pada kasus-kasus di mana tidak ada hukum yang jelas atau otoritatif dari Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAWW.

Apa yang dimaksudkan oleh Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), adalah bahwa masyarakat tidak akan setuju atas kesalahan dalam kasus di mana ummat diijinkan oleh Allah untuk memecahkan masalah dengan musyawarah, tempat konsultasi tersebut dilakukan di suasana yang bebas dari intimidasi, dan di mana pilihan tindakan tertentu dengan suara bulat disetujui. Namun, jika sekelompok masyarakat tertentu cenderung dalam arah tertentu dan kemudian mencoba untuk memaksakan pandangan mereka pada orang lain dan memaksa pembaiatan mereka, tidak ada alasan untuk menganggap hasil itu sebagai mewakili sebuah konsensus yang valid.

Adapun sumpah kesetiaan (baiat) yang terjadi di Saqifah, bahkan jika Allah dan Rasul SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sudah memberikan izin untuk masalah yang akan memutuskan berdasarkan konsultasi, tidak ada konsultasi yang benar-benar terjadi. Sebuah kelompok tertentu secara individu mengatur agenda di muka dan kemudian dikeluarkan usaha-usaha besar untuk mencapai hasil yang mereka sendiri inginkan (red. penuh hawa nafsu dunia/ ambisi). Ini adalah kenyataan yang terjadi, seperti yang bahkan khalifah kedua (Umar b. Khattab) sendiri datang untuk mengakui:

“Pemilihan Abu Bakar sebagai pemimpin muncul secara kebetulan, itu tidak terjadi melalui konsultasi dan pertukaran pandangan. Jika seseorang mengundang Anda untuk mengikuti prosedur yang sama lagi, bunuhlah dia!” [1]

Dalam perjalanan ia menyampaikan khotbah pada awal khalifah-Nya, khalifah pertama meminta maaf kepada orang-orang dalam kata-kata:

“Para sumpah kesetiaan (baiat) kepada saya adalah sebuah kesalahan, Semoga Allah melindungi kita dari konsekuensi buruk yang aku sendiri takut membahayakan dapat menimbulkan.” [2]

Selama hidupnya, Nabi Islam SAWW. (salam kedamaian dan berkat atasnya dan keluarganya), menunjukkan perhatian besar bagi kesejahteraan kaum muslimin dan menaruh perhatian besar terhadap kelestarian agama Islam dan persatuan dan keamanan masyarakat Muslim. Ia sangat khawatir munculnya perpecahan-perpecahan, dan dimanapun beliau pergi, hal pertama yang ia lakukan adalah untuk menunjuk seorang gubernur atau komandan untuk daerah. Demikian pula, komandan selalu diangkat di muka setiap kali pertempuran sedang direncanakan dan bahkan wakil komandan ditunjuk untuk mengambil alih kepemimpinan tentara jika perlu. Setiap kali beliau memulai perjalanan, ia menunjuk seseorang sebagai gubernur untuk mengelola urusan Madinah.

Mengingat semua ini, bagaimana mungkin bahwa dia tidak pernah memikirkan nasib masyarakat ummat Islam setelah wafatnya, yang membutuhkan panduan dan pimimpinan, kebutuhan di mana nasib masyarakat ummat Islam di dunia ini dan selanjutnya tergantung?

Apakah mungkin bahwa Tuhan harus mengirimkan utusan untuk membimbing manusia dan untuk mendirikan agama; sedang sang utusan harus menanggung segala macam kesulitan-kesulitan dalam menyampaikan perintah Tuhan untuk ummat manusia, kemudian harus berhenti begitu saja di dunia ini tanpa ada kelanjutannya? Apakah ini suatu yang penuh hikmah dan kebijaksanaan dari Allah Yang Maha Bijaksana atau logis dari suatu rangkaian aksi?

Apakah setiap pemimpin akan begitu saja merasa puas dan percaya atas jerih payah usaha dan perjuangannya selama ini, untuk kesempatan masa depan yang tidak pasti?

Ke-Rasul-an adalah kepercayaan ilahi yang diberikan kepada Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), dan ia memiliki kepribadian yang terlalu agung mengabaikan kepercayaan dengan cara apapun, terutama dengan meninggalkan kelanggengan agama Islam. Membuat penunjukan penerus penggantinya tergantung pada pemilu akan tepat sama dengan hasil pemilu itu sendiri, selalu timbul permasalahan-permasalahan.

Jika tujuan dari agama adalah untuk mendidik manusia dalam kemanusiaan mereka dan jika hukum agama untuk mempromosikan pembangunan dan perbaikan umat manusia, seorang pemimpin harus selalu ada bersama-sama dengan agama dalam rangka untuk mengamankan kebutuhan material dan spiritual individu dan masyarakat dan pemimpin yang memberikan panduan dalam penyelesaian segala sengketa ke atas mereka.

Tidak ada keraguan bahwa kekuasaan pemerintah diperlukan untuk dapatnya melaksanakan hukum-hukum Tuhan dan menjaga perintah-Nya, dan kebutuhan akan ini berarti pada gilirannya merupakan kebutuhan terhadap pemimpin dan pemandu yang akan membantu dalam perjuangan mereka dalam mengatasi kekurangan kesadaran mereka yang rentan terhadap saran-saran setan.

Dengan tidak adanya seorang pemimpin, agama akan menjadi keruh dan terdistorsi oleh takhayul (syubhat) dan pendapat sewenang-wenang, baik secara individual ataupun kelompok, dan kepercayaan kepada illahi sesuai aturan agama dan wahyu akan dikhianati (menyimpang).

Selain itu, jika Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), telah meninggalkan untuk kaum muslimin memilih khalifah, ia akan melakukannya dengan kejelasan dan sepenuhnya dengan cara yang paling kategoris mungkin, juga menetapkan prosedur-prosedur mereka mengikuti dalam aturan pemilihan dan pengangkatannya.

Apakah urusan umat Islam setelah wafatnya Nabi bukan urusan Allah dan Rasul-Nya? Apakah orang-orang lebih berpandangan jauh dari Allah dan Rasul-Nya, atau lebih mampu membedakan mana pemimpin yang seharusnya?

Jika Nabi tidak menunjuk seorang pengganti (khalifah) untuk dirinya sendiri, kenapa Abu Bakar melakukannya? Dan jika Nabi melakukannya, mengapa yang beliau pilih disisihkan?

Masalah lain yang timbul sehubungan dengan pilihan khalifah atas dasar musyawarah adalah bahwa Imam harus menjadi penuntun umat dalam segala hal pengetahuan agama. Tidak ada yang meragukan bahwa dia harus memiliki komitmen dan pengetahuan komprehensif tentang hukum-hukum Allah, karena dalam menghadapi banyak masalah kompleks yang muncul umat Islam memerlukan kewenangan seorang pemimpin yang cocok untuk memberikan bimbingan keimanan yang dapat diandalkan. Pengganti Nabi karena itu harus menjadi pewaris sumber pengetahuan, yang membuat identifikasi dan pengakuan penerus, merupakan masalah penting.

Kita telah menjelaskan peran fundamental ketidakmungkinsalahan (‘ismah) di kedua hal, Nabi dan pemimpin (imam) yang ditunjuk oleh Nabi. Sekarang, bagaimana para sahabat, yang mereka sendiri tidak ketidakmungkinsalahan (‘ismah), membawa pada diri mereka sendiri untuk mengenali orang yang mungkin-salah?

Selain itu, jika itu adalah hak kaum muslimin bahwa mereka harus memilih pengganti Nabi, bagaimana hak ini dibatasi oleh ‘Umar b. Khattab hanya kepada untuk enam orang saja? Semua enam orang dari antara Muhajirin, dan bahkan tidak satu pun dari Anshar ditugaskan untuk menasehati mereka.

Ayat Al Qur’an yang berbunyi:

“Kaum muslimin adalah untuk mengatur urusan mereka atas dasar musyawarah” (Al Qur’an, 42:38)

Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa salah satu ciri dari orang percaya adalah untuk berkonsultasi satu sama lain dalam usaha mereka; itu tidak tidak menunjukkan dengan cara apapun bahwa kepemimpinan umat Islam harus berdasarkan suara mayoritas, juga tidak membuat kewajiban ketaatan kepada keputusan yang diambil oleh khalifah begitu terpilih. Ayat ini bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang cara konsultasi yang akan diselenggarakan dan apakah atau tidak kehadiran semua umat Islam diperlukan.

Bahkan jika konsultatif (syura) prinsip yang dapat diterapkan dalam masalah kepemimpinan Islam, keputusan harus dibuat melalui pertukaran pandangan umum, bukan terbatas hanya pada enam orang, dalam pemilihan yang “Umar b. Khattab tidak mau dirinya untuk berkonsultasi dengan salah satu sahabat.

Dia bahkan memberikan hak veto untuk Abd al-Rahman b. ‘Auf yang dikenal karena kekayaannya, sesuatu yang tidak dapat dibenarkan dengan mengacu pada prinsip-prinsip Islam.

Pertimbangan keenam itu, apalagi, dibayangi oleh ancaman dan intimidasi, telah diberikan perintah bagi mereka yang tidak setuju dengan mayoritas harus dihukum mati! Dibunuh!

Ketika menunjuk ‘Umar menjadi khalifah, Abu Bakar tidak berkonsultasi dengan siapa pun, tidak cukup jelas dia meninggalkan pertanyaan penggantinya kepada orang-orang bagi mereka untuk memutuskan, melainkan sepenuhnya merupakan keputusan pribadi.

Dalam hal apapun, prinsip konsultatif menjadi operasi hanya jika pemimpin itu sendiri mengadakan pertemuan konsultasi untuk pertukaran pandangan mengenai berbagai pertanyaan, terutama saat menyentuh topik tentang hubungan sosial dan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh pemimpin dalam menanggapi kebutuhan sosial. Konsultasi dengan spesialis yang relevan terjadi, tapi setelah opini mereka telah didengar, itu adalah pemimpin sendiri yang mengambil keputusan akhir.

Untuk pengetahuan agamanya adalah lebih tinggi dari orang lain, dan itu adalah pernyataan bahwa dukungan publik menikmati layak diberlakukan. Kesatuan arah dan kepemimpinan harus selalu dijaga, karena perbedaan pendapat, tanpa adanya seorang pemimpin membuat keputusan akhir, akan melumpuhkan pemerintah.

Juga harus diingat bahwa Al-Qur’an Surah Al-Syura terungkap di Makkah, pada saat sistem pemerintahan Islam belum mengambil bentuk, dan bahwa pada waktu tidak ada pemerintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah di atasnya dan keluarganya), berdasarkan konsultasi.

Ayat tentang konsultasi, kemudian, mendorong orang-orang percaya untuk berkonsultasi satu sama lain, dan itu tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah pemerintahan dan kepemimpinan. Hal ini terkait dengan keprihatinan praktis kaum muslimin, dengan berbagai masalah yang dihadapi umat Islam. Sama sekali tidak ada pembenaran untuk menafsirkan ayat ini sebagai sanksi penunjukan khalifah melalui musyawarah, karena selama usia pemerintah wahyu secara eksklusif ada di tangan Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya).

Selanjutnya, bagian dari ayat yang merekomendasi konsultasi diperlakukan dari keinginan untuk belanja properti seseorang dalam jalan Allah, juga sesuatu yang diinginkan tetapi tidak wajib.

Namun pertimbangan lain adalah bahwa ayat tersebut terjadi dalam konteks berhubungan dengan perang Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya). Beberapa ayat-ayat yang ditujukan kepada umat Islam pada umumnya dan para prajurit di antara mereka pada khususnya, dan lainnya untuk Nabi secara individual. Hal ini jelas bahwa dalam konteks ini dorongan untuk berkonsultasi terinspirasi oleh belas kasih bagi orang yang beriman, dengan kepedulian moral mereka, itu adalah bahwa Nabi tidak diwajibkan untuk bertindak sesuai dengan pendapat dari orang-orang yang dimintai konsultasi.

Untuk Alquran dengan jelas menyatakan:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian Setiap kali Anda mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah dan bertindak sesuai dengan opini sendiri dan niat (tekad). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Qur’an, 3:159)

Konteks ini juga menunjukkan konsultasi yang berlaku untuk hal-hal militer, terutama ke kekhawatiran yang muncul selama Pertempuran Badar, bagi Nabi SAWW (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), sahabat berkonsultasi tentang kelayakan menyerang kafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan kembali dari Suriah. Pertama Abu Bakar menyatakan pendapat, yang ditolak oleh Nabi, kemudian ‘Umar menyatakan-Nya, yang juga ditolak, dan akhirnya al-Miqdad memberikan pendapatnya, dan Nabi menerimanya. [3]

Jika Nabi berkonsultasi dengan orang lain, itu bukan berarti untuk belajar dari mereka yang lebih unggul (pakar) dari pendapat beliau sendiri. Tujuannya adalah bukan untuk melatih mereka dalam konsultasi metode dan penemuan pandangan yang benar. Berbeda dengan penguasa yang menolak duniawi pernah berkonsultasi dengan orang biasa, karena kesombongan dan keangkuhan, Nabi diperintahkan oleh Allah untuk menunjukkan perhatian orang yang beriman dan belas kasihan kepada mereka dengan konsultasi dengan mereka, pada saat yang sama meningkatkan harga diri mereka dan belajar apa yang mereka pikirkan.

Namun, keputusan akhir selalu, dan dalam kasus Pertempuran Badar, Allah memberitahukan terlebih dahulu tentang apa yang akan dihasilkannya, dan ia pada gilirannya ini disampaikan kepada para sahabat setelah berkonsultasi dengan mereka.

Perintah untuk berkonsultasi dan untuk bertukar pandangan juga demi menemukan cara terbaik untuk memenuhi tugas yang diberikan, bukan untuk mengidentifikasi apa yang tugas dan apa yang tidak, ini merupakan perbedaan penting.

Setelah resep yang jelas dan otoritatif ada dalam Al-Quran atau Sunnah, tidak ada tanah untuk konsultasi mengambil tempat. Masyarakat tidak memiliki hak untuk mendiskusikan perintah yang didasarkan pada wahyu, karena pada prinsipnya diskusi tersebut mungkin berakibat pada pembatalan hukum Tuhan.

Dalam cara yang sama, konsultasi tidak berarti dalam setiap masyarakat manusia, sekali tugas hukum anggotanya telah ditentukan.

Sang penerus pengganti Ali b. Abi Thalib sa, jelas diangkat Nabi sesuai dengan perintah illahi di Ghadir Khum. Dan lagi di awal misi Nabi, ketika ia berada di ranjang kematiannya. Karena itu, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan oleh konsultasi.

Al-Quran tidak mengizinkan individu untuk menghibur pandangan mereka sendiri tentang topik apa pun ada di mana undang-undang illahi, untuk itu berkata:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al Qur’an, 33:36)

Atau lagi:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” (Al Qur’an, 28:67)

Karena pilihan dan seleksi pemimpin adalah hak prerogatif Allah semata, dan karena pada kenyataannya dia seorang pemimpin yang ditunjuk, tidak ada artinya untuk mencari orang lain sebagai pemimpin.

Tugas Imam adalah membimbing manusia dan menunjukkan kepada mereka jalan yang akan menuntun mereka ke kebahagiaan. Itulah yang terjadi, metode yang tepat untuk memilih seorang Imam adalah sama dengan yang Al Qur’an merinci untuk para nabi:

“Memang kewajiban pada Kami untuk membimbing manusia, untuk kerajaan dunia dan akhirat adalah Milik kami”. (Al Qur’an, 92:11-12)

Ini adalah tanggung jawab maka Allah sendiri memberikan pedoman bagi umat manusia dan untuk membuat tersedia apa saja yang dibutuhkan pada berbagai tahapan eksistensi. Bagian dari apa yang dibutuhkan yang pasti bimbingan, dan hanya satu yang telah ditunjuk Allah dapat menampilkan dirinya sebagai panutan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an bersaksi bahwa Allah berikan status panduan pada Nabi.

Penunjukan seorang Imam sebagai pengganti Nabi Allah terjadi untuk tujuan yang sama persis dengan misi Nabi (salam kedamaian dan berkah saw dan keluarganya), yang melayani umat manusia sebagai panutan dan tokoh suri tauladan kepada siapa ketaatan disampaikan.

Dengan hal tersebut, tak seorang pun berhak mengklaim fungsi ini atau untuk menuntut ketaatan tanpa bukti yang telah diangkat oleh Allah. Jika seseorang tetap saja tidak melakukannya, ia akan merampas tangan kanan Allah.

Teori Sunni yang melihat dalam penunjukan Abu Bakar penggantinya, pembenaran untuk prosedur tersebut. Jika penunjukan tersebut dibuat oleh seorang Imam yang mungkin-salah (tdiak ‘ismah’) itu adalah sah dan otoritatif, tetapi yang lain mengenali untuk satu pemilik ketidakmungkinsalahan (‘ismah) dan aman mempercayakan urusan umat kepadanya. Jika hal ini tidak menjadi kasus, kurang satu kualitas ketidakmungkinsalahan, tidak memiliki hak untuk menunjuk seorang menjadi khalifah, yang orang wajib mematuhi. Jika dikatakan bahwa ini adalah Abu Bakar yang lakukan dan tidak ada yang keberatan, itu harus dijawab bahwa keberatan memang sudah diajukan, tetapi tidak ada perhatian yang dibayarkan kepada mereka.

Tersebut pandangan para ulama Sunni tentang legitimasi dari tiga metode yang berbeda untuk memilih khalifah, dan keberatan-keberatan yang perlu dibuat untuk dilihat mereka.

Referensi:
[1] Ibnu Hisyam, Sirah, Vol. IV, hal 308; al-Tabari, Tarikh, Ibn al-Atsir, al-Kamil, Ibnu Katsir, al-Bidayah.
[2] Ibn Abi ‘l-Hadid, Syarah, Vol. I, p.132.
[3] Muslim, al-Sahih, “Sayr Kitab wa al-Jihad” Bab: Badar Ghuzwah, Vol. III, p.1403.

Lebih Lanjut mengenai Ijma’

Sunni menyatakan bahwa masalah penerus Nabi diselesaikan melalui konsep “syura (musyawarah), karena Allah SWT berfirman dalam Qur’an bahwa masalah mereka dipecahkan melalui syura’. Klaim bahwa masalah kepemimpinan adalah tidak diselesaikan melalui agreement supported adalah kesalahpahaman pengertian syura yang dimaksud dalam ayat Al-Qur’an dengan demokrasi pemilihan kepemimpinan Islam berdasarkan kesepakatan persetujuan ummat. Dewan syura’ ini berbeda dengan voting atau pemilihan, dan karena alasan itu, ia tidak dapat diterapkan pada masalah Imamah atau Khilafah. Mari kita menjelaskan mengapa?!Ketika seorang pemimpin untuk memutuskan suatu masalah, menurut aturan Islam, dia bisa mencoba untuk bernegosiasi dengan sekelompok pakar untuk mendapatkan pendapat dari mereka tentang isu-isu tertentu. Tapi akhirnya dia sendiri-lah yang harus memutuskan. Dia tidak melakukan pemungutan suara (voting). Untuk membuktikan spot kami, mari kita lihat ayat berikut ini.”… Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam masalah ini. Kemudian ketika Anda (para Nabi) ditentukan, maka bertawakallah kepada Allah” (Surah Ali Imran: 159).

Ayat di atas Nabi berkonsultasi bertanya, tapi Allah SWT. menyatakan “idza azamta fa …” Berarti bahwa hanya Nabi yang mengambil keputusan akhir. Dan kemudiam semua ummat Islam “sami’na wa atha’na”

Di sini tidak ada pemilihan suara (voting) sama sekali. Ini hanya soal untuk mendapatkan opini. Keputusan akhir ditangan Nabi. Yang mungkin berbeda dari mayoritas orang yang berkonsultasi (demi keuntungan) yang diakui oleh para pemimpin dan karena itu ia dianggap sebagai seorang pemimpin karena lebih unggul dalam keilmuan, pintar, dan sebagainya.

Beberapa pihak berpendapat disini bahwa, karena pengetahuan yang tinggi, Nabi Muhammad SAWW. bahkan tidak perlu untuk meminta pendapat rakyatnya. Namun, Nabi melakukannya dalam beberapa keadaan, hanya untuk mengajar orang pentingnya arti musyawarah.

Dalam hal musyawarah, keberadaan seorang pemimpin yang diasumsikan sebagai pengambil keputusan akhir (top decision maker). Hal ini jelas membuktikan bahwa, dalam hal suksesi kepemimpinan, konsensus (dukungan persetujuan/ agreement supported) dari ummat tidak diperlukan (kecuali hal itu dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, sebelum kematiannya).

Setelah kematian sang pemimpin, sang pemimpin tidak dapat melakukan musyawarah, kecuali sang pemimpin akhir memiliki wakil (red. atau panggilan wakil presiden) yang dapat melakukan fungsi ini.

Biasanya wakil yang ditunjuk adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi pemimpin, dan bahkan orang lain pun memutuskannya ia layak untuk menjadi pemimpin. Pemimpin ditunjuk oleh wakil tetap (pemimpin) yang sebelumnya telah ditunjuk, dan bukan oleh manusia!

Pemilihan suara (Voting) adalah masalah yang sama sekali berbeda. Dalam masyarakat demokratis, semua orang memiliki kesempatan untuk memilih kandidat mereka. Prosedur-prosedur ini tidak memiliki dukungan apapun dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, untuk masalah-masalah dalam kepemimpinan Islam (Islamic Leadership).

Keseluruhan. Alasannya, Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan oleh manusia, dari manusia dan untuk manusia). Sebagaimana pengertian Demokrasi dalam Trias Politika dari filusuf Yunani (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat), yang kemudian terbentuk legilatif, yudikatif dan eksekutif.

Memang, Quran mengutuk pendapat kebanyakan orang (lihat kembali ayat Al-An-am, 6: 116; QS Al-. Maidah: 49, QS Yunus:. 92; QS Al-. Rum: 8) karena pandangan kebanyakan pria biasanya lemah karena kecenderungan mereka.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”[500]. (Qur’an al-An ‘am, 6:16)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (Qur’an al-Maidah, 5 :49)

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”. (Qur’an Yunus, 10 : 92)

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (Qur’an ar-Ruum, 30: 8)

Selain itu, pemilihan tersebut tidak terjadi untuk tiga khalifah pertama yang naik tahta kepemimpinan setelah Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya) wafat, bahkan tidak diantara penduduk Madinah.

Juga, bagaimana jika ada orang yang tidak memilih individu yang memenuhi syarat kualifikasi sebagai seorang pemimpin, misalnya orang munafik? Bagaimana bisa, seperti misalnya orang yang korup menjadi Ulil Amri dan ketaatan menjadi wajib?

Tentu saja, Allah SWT. dan Rasulullah Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya). Lebih mengetahui mana yang lebih baik, yang lebih pantas, memenuhi syarat sebagai pemimpin (imam) penerusnya.

Referensi :

[500]. Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

[704]. Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

berarti kesepakatan dari seluruh ummat Islam. Tapi anehnya dalam pemilihan khalifah, fakta sejarah ternyata menunjukkan ada indikasi yang tidak jelas dalam pemilihan khalifah pertama. Adakah ia pemilihan khalifah pertama, itu atas ijma’ dari seluruh ummat Islam, tanpa terkecuali terutama dari Ahl Al-Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW dan BaniHasyim ?Fakta sejarah mencatat, pemilihan khalifah pertama hanya diikuti dan dihadiri beberapa gelintir orang sahabat nabi di Madinah (red. bahkan konon sudah ditentukan sebelumnya, lihat dan silahkan telaah secara kritis fakta sejarah peristiwa “saqifah”).

Sedangkan ummat muslim yang berada di wilayah Islam lainnya, selain yang ada di kota Madinah (red. setelah fathu Mekkah ummat Islam berkembang pesat), tidak terlibat ikut berperan secara aktif dalam pemilihan suara secara ijma’ itu, sehingga tidak dapat diketahui secara persis dan pasti bagaimanakah suara dan idea-idea mereka, seperti layaknya dalam suatu proses pemilihan secara ijma’ . Lebih tepatnya, dapat dikatakan, bukan kesepakatan seluruh ummat Islam, tetapi kesepakatan sebagian ummat Islam.

Bukti sejarah, Ahl Al-Bayt Nabi (Keluarga Nabi) seperti Imam Ali bin Abi Thalib sa., Fatimah sa, Hasan sa. dan Husyain sa. serta seluruh keluarga Bani Hashim lainnya tidak tampak ikut hadir dan mengikuti pemilihan suara dengan sistem Ijma itu. Karena Ahl Al-Bayt Nabi hanya berkhidmat pada jenazah Rasulullah di rumah duka, sementara hanya beberapa gelintir orang sahabat saja yang heboh membicarakan pengganti Nabi Suci Muhammad SAWW.

Oleh karena itu sistem ijma’ seperti in patut dipertanyakan, apakah hal ini layak bisa diterima oleh seluruh ummat Islam tanpa terkecuali? Karena, definisi pengertian ijma’ jelas sekali merupakan kesepakatan seluruh ummat Islam tanpa terkecuali. Dengan demikian definisi pengertian ijma’ itu sendiri telah diciderai!

Kemudian, yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah jika sistem ijma ‘ ini memang dinyatakan sebagai sistem yang benar dan harus wajib diikuti dan harus diterima, maka mengapa sesudah pemilihan khalifah pertama (Abu Bakar) yang masih patut dipertanyakan itu, dalam pemilihan khalifah kedua (Umar ibn Khattab), khalifah pertama Abu Bakar melanggar sistem ijma’ ini?

Betapa tidak, fakta sejarah menunjukkan pemilihan khalifah kedua Umar bin al-Khattab dibaiat sumpah setia oleh khalifah Abu Bakar sebagai penggantinya tanpa ijma’ . Tetapi secara atas tunjuk, membaiat dan mewariskan secara langsung dengan otoritas yang dimilikinya.

Jika Abu Bakar bisa membai’at dan menunjuk Umar bin Al-Khattab dalam sebagai khalifah penggantinya sesuai otoritas yang dimiliki, lalu pertanyaannya mengapa, apa yang tidak tepat jika Nabi Suci Muhammad SAWW. melakukan cara yang sama, sesuai dengan instruksi
wahyu yang diterima beliau sesuai otoritasnya sebagai Nabi dan Rasul, dengan menunjuk pemimpin pengganti beliau Ali bin Abi Thalib sa. sebagai Imam pengganti penerusnya?

Di sini, Nabi Suci adalah lebih patut ketika ia melantik Imam Ali bin Abi Thalib sa. sebagai seorang Imam atau khalifah penggantinya saat ia wafat nantinya, di sebuah tempat Ghadir Khum, setelah melakukan Haji Wada. Nabi Suci melakukan ini semua, bukan sesuai dengan keinginannya (“penuh hawa nafsu rendah duniawi”), tapi menurut Al-Qur’an apa yang ada dalam diri Nabi Suci Muhammad SAWW. tidak lain adalah “illa yuha wahyuha”. (melainkan wahyu yang telah Allah wahyukan). Dan kita semua ummat muslimin sepatutnya, harusnya mengucapkan “‘Sami’na wa atho’na” (Kami dengar dan Kami taat!).

Dan sekali lagi, perlu dipertanyakan kembali, jika ijma ‘adalah sistem yang benar dan harus diikuti, lalu mengapa pula sistem ijma’ ini masih tetap dilanggar kembali, dalam pemilihan untuk khalifah yang ketiga Ustman bin Affan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab?

Lagi fakta sejarah mencatat, khalifah kedua Umar bin Khattab pun juga telah melanggar sistem ijma’ ini, dimana ijma’ dibatasinya dengan memilih 6 (enam) orang sebagai calon khalifah tanpa musyawarah dengan para sahabat sebelumnya, dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu dari mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri untuk tidak lebih dari enam hari, jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, maka lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan diberikan kepada ‘Utsman.

Adakah ini adalah ijma’ atau merupakan hasil ijtihad terbaik khalifah Umar ibn Khattab atas pengertian definisi ijma’ itu sendiri?

Kalau itu memang iya, merupakan hasil ijtihad terbaik dari khalifah Umar Ibn Al-Khattab, tidakkah dia menyadari bahwa hal itu akan menciderai dan merusak pengertian ijma’ itu sendiri?

Mungkin perlu direnungkan, untuk telaah kritis atas fakta sejarah yang ada secara obyektif. Dan hendaklah dibuang jauh-jauh prasangka buruk. Di sini bukan hanya untuk sekedar mengkritisi polah tingkah laku dan pemikiran sahabat Nabi terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Ustman bin Affan. Nauzu billaahi min dzalik.

Terlepas dari semua itu, mereka semua sahabat Nabi yang terkemuka. Bahkan bagaimanapun juga Abu Bakar adalah ayah mertua Nabi Muhammad SAWW. Dimana beliaupun juga tetap sangat menghormatinya. Demikian pula Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan mereka semua telah memberi warna dalam pergerakan jihad Nabi Suci Muhammad SAWW. dan memberikan
sumbangsih yang tidak sedikit.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu muncul dalam hati dan pikiran semua umat Islam terutama generasi muda Islam. Mengapa sistem ijma’ dibuat dan diagung-agungkan sebagai dalil pembenaran untuk melegitimasi pemilihan dalam Kepemimpinan Islam (Islamic Leadership), tapi malah justru fakta sejarah menunjukkan bahwa dari pemilihan kepemimpinan Islam mulai khalifah pertama sampai khalifah ketiga, semuanya terbukti telah melanggar dan menciderai definisi pengetian ijma’ itu sendiri? Kalau sudah begini, lalu generasi Islam harus bagaimana?

Ternyata memang telaah kritis atas fakta-fakta sejarah adalah sangat penting sekali bagi generasi muda Islam untuk menemukan esensi kebenaran agama Islam yang hakiki dari sumber yang hakiki pula.

Imamah dalam pandangan Syi’ah adalah bentuk pemerintahan ilahi, yang berkantor tergantung pada Allah seperti ke-nabi-an, sesuatu dimana Allahtelah melimpahkan dan menganugerahkan pada hamba-hamba pilihan-Nya yang ditinggikan pada kurun waktu masanya masing-masing.

Perbedaannya adalah bahwa Nabi pendiri agama dan sekolah madarasah pemikiran hasil dari pada itu, sedangkan Imam memiliki fungsi menjaga dan melindungi agama Allah yang telah dirisalahkan kepada Nabi-Nya, dalam arti bahwa masing-masing memiliki tugas dalam semua dimensi nilai-nilai hidup spiritual mereka dan cara pelaksanaan agama Allah.

Setelah wafat Rasulullah SAWW, umat Islam berada pada kondisi yang membutuhkan tokoh yang layak yang akan diberkati dengan pengetahuan komprehensif yang berasal dari wahyu (red. hikmah), dibebaskan dari dosa kesalahan dan kenajisan kotoran hawa nafsu rendah duniawi, dan mampu menjaga dan melestarikan syari’at agama Allah secara murni dan konsekuen sesuai Qur’an dan Sunnah Nabi.

Hanya tokoh seperti itu lah yang layak akan dapat, tidak hanya untuk mengawasi perkembangan dari waktu dan untuk melindungi masyarakat dari unsur menyimpang, tetapi juga untuk memberikan pengetahuan agama yang luas kepada ummat yang muncul dari sumber utama berupa wahyu (red. hikmah) dimana prinsip-prinsip umum syari’at Nabi berasal. Hukum yang berasal dari wahyu inilah yang merupakan obor kebenaran dan keadilan yang tertinggi.

Imamah dan kekhalifahan tidak bisa dipisahkan. Sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW. Tuhan Allah tidak bisa dipisahkan dari kantor ke-nabi-anNya. Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan-kesatuan tunggal.

Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual. Dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya. Sehingga terjadi dikotomi perbedaan pengertian imam dan khalifah (red. keimamahan dan kekhalifahan).

Jika masyarakat Islam tidak dipimpin oleh seseorang yang layak saja, yang takut akan Tuhan, yang tak ternoda oleh kenajisan moral dan tata nilai ahlak mulia, yang perbuatan dan kata-kata menjadi model panutan bagi orang-orang yang mengikutinya, atau sebaliknya, jika imam atau penguasa masyarakat itu sendiri melanggar hukum dan prinsip keadilan, tidak akan ada lingkungan yang mampu menerima keadilan, dan tidak akan mungkin lagi kebajikan dan kesalehan tumbuh berkembang, dan atau untuk tujuan pemerintahan Islam menciptakan lingkungan yang sehat bagi penyebaran nilai-nilai spiritual dan penerapan hukum-hukum Allah yang didasarkan pada wahyu (red. hikmah) ilahi.

Pelaksanaan moral penguasa dan peran pemerintah memiliki pengaruh yang kuat dan begitu mendalam terhadap masyarakat pendukungnya. ‘Ali ibn Abi Tahlib-Amirul Mukminin, yang dianggap sebagai lebih berpengaruh daripada peran edukatif dari seorang bapak dalam rumah tangga . Dia berkata demikian:

“With respect to their morals, people resemble their rulers more than they resemble their fathers.” (“Respek atas moral mereka, orang-orang akan menyayangi penguasanya lebih dari diri mereka menyanyangi bapak-bapak mereka sendiri”) [1]

Karena ada hubungan tertentu dan afinitas antara tujuan sebuah pemerintahan yang diberikan dan atribut dan karakteristik dari pemimpinnya, pencapaian cita-cita pemerintahan Islam sangat tergantung pada keberadaan seorang pemimpinnya, di antaranya adalah kualitas istimewa yang mengkristal kepada diri seorang manusia pemimpin yang disempurnakan.

Selain itu, kebutuhan masyarakat untuk kepemimpinan dan pemerintahan itu sendiri, merupakan kebutuhan alami yang bergerak maju menuju kesempurnaannya. Dan dengan cara yang sama Islam telah memenuhi kebutuhan individual dan kolektif manusia, material dan moral, oleh penyusunan sebuah sistem hukum yang koheren, disamping itu juga harus memperhatikan kebutuhan alami untuk kepemimpinan dengan cara yang sesuai dengan sifat esensial manusia.

Allah telah memberikan semua alat dan instrumen yang dibutuhkan setiap ada keterbatasan, kelemahan dan kekurangan untuk mengatasi dan maju menuju kesempurnaan itu sendiri. Apakah itu mungkin bahwa orang yang juga terpelihara dalam pelukan rahmat ilahi entah bagaimana akan dikecualikan dari aturan ini, pengoperasian diganggu gugat dan dicabut dari sarana pendakian spiritual?

Pada saat kematian Rasul Allah, negara Islam tidak mencapai tingkat budaya atau intelektual yang memungkinkan hal itu akan terus berkembang menuju kesempurnaan tanpa perwalian dan pengawasan. Islam telah didirikan untuk pengembangan dan elevasi manusia akan tetapi tidak akan lengkap tanpa jiwa dan prinsip keiImamahan yang berada untuk itu; Islam tidak akan bisa memainkan peran penting yang berharga dan sangat strategis dalam pembebasan manusia dan mekarnya potensi esensi manusia.

Teks-teks Islam Fundamental menyatakan bahwa jika prinsip Imamah dikurangkan dari Islam, semangat hukum Islam dan masyarakat berdasarkan progresif monoteistik akan hilang, tak akan pernah ada lagi, tetapi hanya ada bentuk Islam yang tak bernyawa, yang tak memiliki ruh ke-ilahi-an lagi.

Nabi Islam SAWW, bersabda: “Barangsiapa mati tanpa mengenal Imam pada masanya, mati dalam keadaaan Jahiliyyah.” [2]
Alasan untuk ini adalah bahwa selama era Jahiliyyah pra-Islam ketidaktahuan orang-orang musyrik; mereka tidak tahu baik monoteisme atau ke-nabi-an. Deklarasi ini dikategorikan oleh Nabi, kedamaian dan berkah Allah atasnya dan keluarganya, menunjukkan pentingnya ke-imamah-an dalam agama Islam.
Referensi:

[1] Al-Majlisi, Biharal-Anwar, Vol, XVII, hal 129.

[2] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, hal 96.

Al Qur’anul Kariim

“(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71)”Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Hadist Bukhari & Muslim

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda :
”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”.
[Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam].

Nabi SAWW. Bersabda :
“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

NABi   SAW   MENYEBUT  NAMA  12  KHALiFAH  UMAT

penutupan kenabian dilengkapi oleh penunjukkan imam Dan kesempurnaan Islam yang universal dan abadi sampai akhir masa bergantung pada pengangkatan para imam.. Konsep imamah demikian ini mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi acuan utama adalah ayat ke-3 Al-Ma’idah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada hari ini [yaitu pada hari setelah pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah Rasul saw] telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku lengkapi atas kalian nikmat-Ku, dan juga Aku telah ridha bahwa Islam sebagai agama kalian.”

Dari penelaahan terhadap ayat ini berikut tafsir dan sebab turunnya di dalam berbagai kitab tafsir, akan kita dapati bagaimana para ahli tafsir telah bersepakat, bahwa ayat tersebut turun pada haji Wada’, yaitu haji perpisahan (terakhir) Rasul saw yang terjadi beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Masih dalam rangkaian ayat tersebut, setelah menyinggung ihwal orang-orang kafir yang telah berputus asa untuk mengadakan penyimpangan terhadap Islam, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian.”

Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu agama Islam dan nikmat wilayah telah Dia lengkapi dan sempurnakan.

Apabila kita cermati dengan baik riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab turun ayat tersebut, akan tampak jelas lagi bahwa ikmal dan itmam (penyempurnaan dan pelengkapan), yang disusul oleh keputusasaan orang-orang kafir untuk melakukan penyimpangan terhadap Islam, terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah Nabi dari sisi Allah SWT. Karena musuh-musuh Islam menduga, bahwa sepeninggal Rasul saw agama Islam dan para pemeluknya tidak punya pemimpin lagi. Terlebih Rasul sendiri tidak punya seorang putra pun. Dengan demikian, agama Islam akan menjadi lemah dan akan mengalami kehancuran.

Dugaan mereka itu sungguh keliru, karena Islam telah mencapai kesempurnaannya dengan diangkatnya seorang pengganti Rasul yang akan melanjutkan risalah dan perjuangan beliau. Maka, menjadi lengkaplah nikmat Ilahi, sementara segala angan-angan, harapan dan ambisi orang-orang kafir menjadi sirna.

Pengangkatan khalifah Nabi saw itu terjadi tatkala beliau dan rombongan jemaah haji dalam perjalanan pulang mereka dari haji Wada’. Ketika itu, beliau mengumpulkan semua jemaah haji di satu tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum”. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan khutbahnya yang panjang. Kepada kaum muslimin beliau bertanya:

“Bukankah aku ini lebih utama daripada diri kalian sendiri?”

Serempak mereka menjawab:

“Benar, ya Rasulullah ….”

Kemudian Nabi saw memegang tangan Ali bin Abi Thalib as dan mengangkatnya di hadapan mereka semua, lalu berkata, “Barang siapa yang menjadikan aku ini sebagai pemimpinnya, maka sungguh Ali adalah pemimpinnya.”

Dengan demikian, Nabi saw telah menetapkan wilayah Ilahiyah itu atas Imam Ali as. Segera setelah itu, seluruh kaum muslimin yang hadir di tempat itu bangkit membaiatnya. Di antara mereka, tidak ketinggalan pula khalifah kedua, Umar bin Khattab. Kepadanya Umar mengucapkan selamat dan berkata, “Engkau beruntung sekali wahai Ali. Kini engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh masyarakat yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.”

Pada hari yang agung tersebut, turunlah ayat yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku lengkapi pula nikmat-Ku atas kalian, dan Aku pun rela Islam sebagai agama kalian.

Dengan turunnya ayat ini, Rasul saw mengucapkan takbir lalu berkata, “Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah itu terletak pada wilayah Ali sepeninggalku.”

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.”[1]

Kalau kita mengkaji secara seksama beberapa riwayat yang berhubungan dengan pengangkatan Ali as sebagai imam, wali dan washi Rasul saw, kita dapat memahami bahwa Rasul saw sebelum itu telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya.

Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi itu yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.

Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari “Ghadir” ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.

Sebagai contoh, pada masa-masa awal bi’tsah (kenabian) Muhammmad saw sebuah ayat turun kepada beliau, “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS.As-Syu’ara: 214)

Lantas beliau berseru kepada keluarganya, “Siapakah di antara kalian yang siap menjadi penolongku dalam urusan agamaku ini, aku akan jadikan ia sebagai saudaraku, washi-ku dan khalifahku atas kalian.”

Ahlusunnah dan Syi’ah sepakat, bahwa ketika itu tidak seorang pun dari keluarga Nabi saw yang memberikan jawaban kecuali Imam Ali bin Abi Thalib as.[2]

Demikian juga ketika turun ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.[3]

Sebagaimana yang baru saja kita simak, Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau yang bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshari, bahwa dia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as Dan sejarah mencatat bahwa Allah mengaruniai Jabir umur panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as Ketika berjumpa, ia begitu senang sampaikan salam Rasul saw kepada Imam as.

Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aba Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as tentang firman Allah SWT, ‘Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum.’

Beliau menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein.”

Kembali aku bertanya, “Akan tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan Ahlulbaitnya di dalam Al-Qur’an?”

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menjawab, “Katakanlah kepada mereka, ‘Bahwa ayat-ayat tentang shalat yang turun kepada Nabi sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi Nabilah yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, beliaulah yang menjelaskan bahwa Ulil Amri itu adalah Ali bin Abi Thalib as, dan para imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan Ahlubaitnya, yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa. Nabi saw menambahkan, ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian, dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan.’”

Kalau kita amati dengan baik sabda-sabda Nabi saw yang berhubungan dengan masalah wasiat, akan kita dapati betapa seringnya Nabi saw mengulang-ulang wasiatnya itu. Bahkan di akhir hayat, Nabi saw masih saja mengulang wasiatnya tersebut, “Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian, yaitu Kitabullah dan Ahlilbaitku. Keduanya itu tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di telaga Surga kelak.”

Perlu diketahui bahwa hadis mengenai wasiat tersebut merupakan hadis yang mutawatir, baik dari Syi’ah Imamiyah maupun dari jalur Ahlusunah wal Jamaah.

Di antara tokoh-tokoh Ahlusunah yang meriwayatkan hadis tersebut adalah At-Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dll. Ulama yang belakangan ini pun meriwayatkan sebuah hadis lainnya, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nuh as, siapa yang turut naik bersamanya, ia akan selamat. Dan siapa yang menolaknya, maka ia akan karam.”[4]

Termasuk hadis yang sering diulang-ulang oleh Nabi saw ialah “Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti.”[5]

CATATAN  KAKi :

[1] Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.

[2] Bisa dirujuk ke ‘Abaqat Al-Anwar dan Al-Ghadir.

[3] Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494.

[4] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/151.

[5] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad Ibnu Hanbal, jilid 1/331 dan jilid 4/438.

 

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra’, (semoga

Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya64. 64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

TANYA  JAWAB :

Apakah Imam  Ali  Hilang  Keberaniannya  Setelah  wafat  Rasulullah  ??? Apakah Imam Hasan hilang  keberanian  memerangi  Mu’awiyah  setelah  wafat nya Imam Ali ???
Jawab :  

Tahukah Anda bahkan seorang Nabi melakukan perjanjian Hudaibiyah ? pada saat itu pendukung Imam Hasan hanya beberapa orang, jika tidak diambil jalan berdamai tentu Islam yang tersisa di segelintir orang itu akan dibantai habis dan hari ini tidak ada lagi Islam yang sebenarnya. Allah menjaga risalah Nabi ini dengan perantaraan perdamaian tersebut…Apa keberanian di mata Anda? asal tabrak gitu? keberanian di mata Ali adalah menghadapi semua cobaan demi ummat Muhammad SAW.. di banyak tempat beliau menegaskan akan hak kekhalifahan beliau.

Ketika Abubakar dan Umar memaksakan Imam Ali untuk berbai’at kepadanya,

Fatimah berkata kepada Abu Bakar dan Umar seperti ini: “Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.’ ‘Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.’ Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, ‘Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya’. (Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Bukti penentangan Abubakar kepada Fatimah Az Zahara yang juga merupakan penentangan kepada Rasulullah sendiri dapat dilihat ketika beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat.” Kemudian Abu Bakar menangis dan berkatat: “Aku tidak perlu pada bai’at kalian; lepaskan aku dari bai’at kalian.”  (Tarikh al-Khulafa’ Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20)

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah saww bersabda:”Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah.” Dalam Bab Ghazwah Khaibar, “dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat.” (Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39)

Dalam kesempatan ini juga perlu kiranya kita kemukakan hadist Nabi berkenaan Imam Ali walaupun tidak diterima oleh orang-orang yang sesat: “Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.”?  (Shahih Muslim jil. 1 hal. 48)  Bahkan sebagian sahabat berkata, “Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Imam Ali.”

 

Ketika Ali  Menjadi  Khalifah, Ali  Tidak  Menyelisih  para  Sahabat..!!!
Jawab : Siapa yang bilang? Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi Khalifah pun Imam Ali sudah menegaskan akan mengembalikan hukum ke zaman Nabi, silahkan baca ketika terjadi perundingan selepas wafat Utsman.

Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???
Jawab :  Silahkan baca tragedi Hari Kamis dalam Bukhari, Rasul sudah hendak menulis wasiat kemudian dicegah oleh Umar hingga terjadi keributan dan Rasul pun marah.

 

Peristiwa Ghadir Khum
Jawab : Siapa bilang tidak ada yang mengingatkan? Tahukah Anda alasan orang Yaman menolak menyerahkan zakat pada Abu Bakar? karena mereka tahu Abu Bakar tidak berhak atas jabatannya. Silahkan juga lihat sikap Bani Hasyim yang tidak memberi bai’at sampai Fatimah wafat

 

Yazid berbuat kerusakan nyata dengan pembunuhan di Madinah dan perkosaan yang diizinkan oleh Yazid terhadap gadis2 Madinah, sikap seperti ini tidak bisa didiamkan. Islam yang tersebar adalah Islam yang dipahami oleh mereka. sementara Ahlul bait Nabi ditinggal.. Ahlus Sunnah bermazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiiyah, atau Hambaliyyah.. LALU  KENAPA  BUKAN  MAZHAB  AHLUL  BAiT  yang di pedomani ??

Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. ”

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

2.….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)

3.….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)

4.Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)

5.….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)

6.….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)

7.(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)

8.….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

saudaraku……………..

Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menanyakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya nescaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’ Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang dijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? Kerana tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad , ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Allah SWT karena petunjuk-Nya.”




RUJUKAN SUNNI: Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan menurut kedua-duanya hadis di atas jika mengikut ukuran Bukhari dan Muslim dikira Sahih. Mengapa ia tidak dimasukkan dalam Sahih mereka jika begitu. Hanya bukhari dan Muslim sahajalah yang berhak menjawabnya di hadapan Nabi nanti di akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang ingin melihat kepada Adam tentang ilmunya, kepada Nuh tentang azamnya, kepada Ibrahim tentang lembutnya, kepada Musa tentang kehebatannya, kepada Isa tentang kezuhudannya maka hendaklah ia melihat kepada Ali b. Abi Talib (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, Bab Kelebihan Ali, Fakhuruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Surah Mubahilah, Yanabi al-Mawaddah, Bab 40).

“Imam-imam telah wujud sebelum wujudnya alam ini sebagai cahaya-cahaya, dan Allah jadikan mereka berpusing di sekeliling Arasy.”

Pendapat seperti ini adalah sandarannya dalam beberapa hadith Nabi dalam kitab Ahli Sunnah sendiri. Antaranya ialah hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit(Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berpusing di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sabda Nabi SAW: “Wasi-wasi engkau tertulis di tepi ArasyKu, lalu aku melihat dan mendapati 12 cahaya (Ibid)”. Kejadian Nabi Muhammad dan wasi-wasinya (Ibid.hlm. 485).

Allah SWT berfirman dalam Quran; Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai berai ! (QS. Ali Imran : 103)

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

اِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ الله،ِ وَ عِتْرَتِي اَهْلَ بَيْتِي، مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا اَبَدًا، وَانَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتیّ يرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.” (H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahmad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533 )

Terkait dengan sikap kita kepada Ahlul Bait, di antaranya Nabi saw. bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Aku meninggalkan di tengah tengah kalian apa yang jika kalian ambil kalian tidak akan tersesat, Kitabullah dan ’itrah  Ahlul Baitku. (HR. Tirmidzi)

Ada dua belas imam yang dilantik oleh Allah SWT sebagai pelanjut Nabi Muhammad SAW. Ada sebuah hadis panjang dalam dokumendokumen Sunni yang menyatakan bahwa jumlah para imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen-dokumen Sunni lainnya yang di dalamnya Nabi SAW bahkan menyebutkan nama masing-masing dua belas imam tersebut.


Allah SWT menunjuk dua belas imam, bukan semata-mata mereka dari rumah tangga Nabi SAW, namun karena mereka, di masa-masa mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling saleh, paling baik dalam kebajikan personal, dan paling mulia di hadapan Allah; dan pengetahuan mereka diturunkan dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayahayah mereka……itu tidak berarti dengan sendirinya   12   imam  harus  berkuasa secara fisik

Allah SWT berfirman ; Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhamrnad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah mernberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa : 54).

a. Dalam Shahih Bukhari, tercantum hadis berikut:

Diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, “Aku mendengar Nabi SAW berkata, Akan ada dua belas pemimpin (amir).’ Kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat yang tidak kudengar. Ayahku berkata, ‘Nabi SAW menambahkan, ‘Mereka semua berasal dari Quraisy.”66. Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, hal. 106.

b. Dalam Musnad Ahmad, tercantum hadis berikut, “Nabi SAW berkata, ‘Kelak ada dua belas orang khalifah untuk masyarakat ini. Semuanya dari Quraisy”‘77. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1452, hadis 5; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1009, hadis 4.477.

c. Dalam Shahih Muslim, ada hadis berikut:


Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, “Nabi SAW berkata, ‘Masalah (kehidupan) tidak akan berakhir, sampai berlalunya dua belas khalifah.’ Kemudian beliau membisikkan sebuah kalimat. Aku bertanya kepada ayahku apa yang Nabi katakan. Ia menjawab, ‘Nabi berkata, “Semuanya berasal dari Quraisy.”88. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imaran, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1453, hadis 6; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1010, hadis 4.478.

d. Juga dari Shahih Muslim:
Nabi SAW berkata, “Urusan-urusan manusia akan terus dibimbing (dengan baik) selama mereka diatur oleh dua belas orang.”99. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980 edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 7; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, ha1.1.010, hadis 4.480.

e. Juga, Nabi SAW bersabda, “Islam akan terus berjaya sampai adanya dua belas khalifah.”1010. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, Edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 10; Shahih Muslim, versi Inggris, bab DCCL1V(berjudul:Orang-orang yang tunduk kepada Qurais dan kekhalifahan adalah Hak ( Quraisy) jilid 3 hal 1010 hadis 4.483 Rujukan Sunni lain dalam hadis serupa: Shahih at-Turmuzzi, jilid 4, ha1.507; Sunan Abu Daud, jilid 2, hal. 421 (tiga hadis); dan yang lainnya seperti Tialasi, Ibnu Atsir, dan lain-lain.

f. Juga, Nabi SAW bersabda, ‘Agama Islam akan terus berlangsung sampai hari kiamat, dengan dua belas khalifah untuk kalian, mereka semua berasal dari Quraisy”‘1111. Rujukan Sunni: al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.149; Musnad ahmad ibn Hanbal; Shahih, Nasa’i, dari Anas bin Malik; Sunan, Baihaqi; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, karya Ibnu Hajar Haitsami, bab 17, pasal 2, hal. 287.

g. Nabi SAW berkata, “Para imam berasal dari Quraisy.”‘1212. Shahih Bukhari, hadis 9.422

Pertanyaan :

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi

kami ingin bertanya,berdasarkan prespektif Sunni siapakah dua belas khalifah setelah Nabi Muhammad saw? Silakan dukung penegasan anda dengan merujuk pada Quran dan atau enam buku kumpulan hadis Sunni, dan juga membenarkan perbuatan mereka dalam lintasan sejarah. Ingatlah, perintah-perintah dua khalifah Nabi ini haruslah ditaati. Karenanya, jika anda tidak mengenal dua belas pemimpin anda, bagaimana anda ingin menaati mereka?

Kami ingin mengingatkan anda bahwa ‘khalifah’ artinya penerus/ wakil… Syarat  imam adalah : mereka harus  sesuai dengan ayat Quran : “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku” (QS. asy-Syura : 23).

Tak syak lagi khalifah seharusnya diketahui oleh para pengikutnya, jika sebaliknya seorang khalifah imajiner tidak bisa diikuti, sementara Nabi SAW telah meminta kita untuk mengikuti mereka? Jika anda tidak mengetahui para imam anda, bagaimanakah anda bisa menaati mereka?

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi as, imam di zaman kita sekarang. Mereka adalah para khalifah karena Allah SWT menjadikan mereka khalifahkhalifah (mereka semua adalah wakil-wakil Allah SWT di muka humi).
Bersama lintasan waktu dan melalui kejadian – kejadian sejarah, kita ketahui hahwa melalui hadis-hadis di atas Nabi SAW memaksudkan dua belas khalifah tadi adalah dua belas imam dari Ahlulbaitnya yang merupakan keturunan Nabi SAW karena kita tidak punya kandidat lain dalam sejarah Islam yang semua kesalehannya disepakati oleh seluruh Muslimin.


Adalah menarik untuk diketahui bahwa bahkan musuh-musuh Syi’ah tidak mampu menemukan setiap kekurangan dalam keutamaankeutamaan dua belas imam Syi’ah. Lagi pula, dua belas imam ini muncul satu demi satu tanpa ada kesenjangan.


Sekarang, jelaslah bahwa satu-satunya cara untuk menafsirkan hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad bin Hanbal adalah dengan menerima dan mengakui bahwa itu merujuk pada dua belas imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW, karena mereka adalah -di zaman mereka masing-masing- yang paling berilmu, masyhur, paling takwa, paling saleh, terbaik dalam keutamaan-keutamaan pribadi, dan yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Pengetahuan mereka bersumber dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayah-ayah mereka. Inilah Ahlulbait yang kemaksumannya, ketidak bernodaannya, dan kesuciannya dibenarkan oleh Quran mulia (kalimat terakhir Surah al-Ahzab : 33).

Tentang  hadis : “Kekhalifahan akan berlangsung 30 tahun setelahku, maka akan ada banyak raja” …Adalah sangat mungkin bahwa raja-raja   yang sama memalsukan hadis’  30 Tahun’ untuk mencegah orang-orang dari isu dua belas imam dan membenarkan perampasan mereka akan kekuasaan.

Allah SWT telah memberi manusia kebebasan kehendak untuk menerima atau menolak kepemimpinan yang Dia angkat  baik , baik orang-orang mengikutinya ataupun tidak.. Jika (katakanlah mayoritas) orang-orang mengikutinya, dengan sendirinya ia akan memegang tampuk kekuasaan. Dan sekiranya orang-orang; mendurhakainya, ia akan tetap memiliki kepemimpinan spiritualnya bagi sejumlah kecil pengikut setianya (orang-orang yang bertakwa). Setiap orang di zaman itu diharapkan untuk menaati

para Nabi  punya agenda politikNabi Muhammad yang berkampanye menentang kaum musyrik di Jazirah Arab dan menegakkan pemerintahan Islam yang pertama. Memang benar bahwa semua Nabi diutus untuk menggembleng manusia dan menjadikan mereka ingat akan Allah SWT. Namun ini tidak dapat sepenuhnya diterima tanpa kekuasaan politik apapun. Juga kami tidak pernah sebutkan bahwa memerintah negara sebagai tujuan pertama dari seorang pemimpin yang ditunjuk Tuhan. Alih-alih kami katakan bahwa pemimpin tersebut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk posisi mulia itu. Manusia seyogianya menyadari fakta ini dan tunduk pada perintahnya. Bila mereka berbuat demikian dengan sendirinya ia akan menjadi pemimpin masyarakat itu tanpa membutuhkan’agenda’.

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bBani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka dua belas orang pemimpin diantara mereka (QS. Al-Maidah : 12 ) Sesungguhnya orang – orang yang tidak mengikuti dua belas pempimpin tersebut tidaklah menganiaya melainkan diri mereka sendiri.

“Orang yang mengingkari kepemimpinan mereka akan tersesat..”

HADiS   SYi’AH

Secara jelas, hadis-hadis di atas tidak selaras dengan empat khalifah pertama semuanya karena jumlah mereka kurang dari dua belas orang. Hadis-hadis tersebut tidak bisa pula diterapkan kepada kekhalifahan Bani Umayah karena;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka semua adalah kaum tiran dan zalim (selain Umar bin Abdul Aziz),
(c) mereka bukan berasal dari Bani Hasyim dan untuk hal itu, Nabi SAW telah bersabda dalam hadis lain bahwa ‘mereka semua berasal dari Bani Hasyim.’

Hadis-hadis itu tidak bisa diberlakukan untuk kekhalifahan Bani Abbasiah lantaran;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka menindas keturunan Nabi di mana-mana yang artinyo mereka tidak sesuai dengan ayat Quran, Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku (QS. asy-Syura : 23).

Tentang penafsiran ayat 59 Surah an-Nisa dimana Allah SWT  memerintahkan kita untuk menaati Ulil Amri, Khazzaz dalam Kifayat al-Atsar-Nya, mencantumkan sebuah hadis berdasarkan otoritas sahabat Nabi SAW yang tersohor, Jabir bin Abdillah Anshari. Ketika ayat tersebut (an-Nisa : 59) diturunkan, Jabir bertanya kepada Nabi SAW, “Kami tahu Allah dan Nabi, namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya nlah digabungkan dengan ketaatan kepada Allah dan dirimu sendiri?”

Nabi SAW berkata, “Mereka para khalifahku dan imam bagi kaum Muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali, kemudian Hasan hin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat (Perjanjian Iama). Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya, Jafar Shadiq, kemudian Musa bin Jafar, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan berada sama dengan julukanku. Dialah Bukti Allah (hujjatullah) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Allah (Baqiyatullah) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukkan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hati orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Allah.”


Jabir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi SAW menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan keNabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya, dan mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya wlama kegaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya selama kagaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari di balik awan. Wahai Jabir, inilali rahasia Allah yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Allah. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya!”


Lebih menarik lagi, ada juga riwayat-riwayat Sunni yang di dalamnya mengandung perkataan bahwa Rasulullah menyebutkan nama-nama dari dua belas anggota Ahlulbaitnya ini satu demi satu yang bermula dengan Imam Ali as dan berakhir dengan Imam Mahdi as (lihat YaNabi al-Mawaddah, karya Qanduzi Hanafi).

Sekarang kita mafhum siapakah’orang-orang yang diberi otoritas’. Ia merupakan bukti bahwa persoalan menaati para penguasa yang tiran dan zalim tidak muncul sama sekali. Dengan ayat di atas kaum Muslim tidak perlu menaati para penguasa yang zalim, tiranik, jahil, egois, dan tenggelam dalam hawa nafsu.

Sesungguhnya, mereka (kaum Muslim) diperintahkan untuk menaati dua belas imam yang ditentukan, yang mereka semua itu maksum dan bebas dari pemikiran dan perbuatan buruk. Menaati mereka tidak punya resiko apapun. Bahkan, ketaatan kepada mereka menjaga dari semua resiko; karena mereka tidak akan pernah memberikan sebuah perintah yang berlawanan dengan titah Allah SWT dan akan memperlakukan semua manusia dengan cinta, keadilan, dan persamaan.

Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan manusia atas manusia). Sesungguhnya, Quran mengecam pendapat kebanyakan manusia (lihat al-An -am: 116; al-Maidah: 49; Yunus: 92; al-Rum : 8) karena pandangan kebanyakan manusia biasanya lemah lantaran kecenderungan mereka.


.
Imam atau Imamah (bahasa Arab: امامة) berarti “kepemimpinan” dan merupakan bagian dari teologi Islam Syi’ah.Ini adalah gelar yang diberikan kepada orang yang menjadi pemimpin dalam suatu komunitas dalam sebuah gerakan sosial tertentu atau ideologi politik atau ilmiah atau bentuk pemikiran keagamaan. Tentu saja, karena hubungan dengan-Nya dan orang-orang yang dipimpinnya, tindakannya harus sesuai dengan kemampuan mereka dalam hal-hal penting-primer dan sekunder.

Imam ini, sehubungan dengan menyusun massa ummah, pemimpin dan contoh suri tauladan dari kekuasaan yang memiliki wawasan intelektual dan wawasan perjalanan mereka menuju manfaat Tuhan (ma’rifatullah).

Kepemimpinan seperti ini, dilakukan dalam bentuk yang benar dan tepat, tidak lain daripada realisasi tujuan Islam dan pelaksanaan ajarannya, ajaran yang didirikan oleh Rasulullah Muhammad SAWW (sholawat atasnya dan keluarganya); itu melimpahkan eksistensi objektif mengenai cita-cita membentuk masyarakat dan kodifikasi undang-undang untuk tata laksana.

Imamah dan kepemimpinan yang kadang-kadang dipahami dalam arti terbatas untuk merujuk kepada orang yang dipercayakan dengan kepemimpinan secara eksklusif sosial atau politik.

Imamah dan khalifah tidak bisa dipisahkan, hanya dalam cara yang sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW (sholawat atasnya dan keluarganya) tidak dapat dipisahkan dari kantor kenabiannya.

Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan kesatuan tunggal. Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual, dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya.

Agama suci Islam mempertimbangkan dan memberikan pengarahan tentang semua aspek kehidupan semua orang. Ini menyelidiki kehidupan manusia dari sudut pandang spiritual dan manusia sesuai panduan, dan intervensi pada bidang eksistensi formal dan material dari sudut pandang kehidupan masing-masing. Dengan cara yang sama, itu campur tangan di bidang kehidupan sosial dan peraturan (yaitu pada bidang pemerintahan).

Imamah memiliki arti luas dan komprehensif yang mencakup otoritas intelektual dan kepemimpinan politik. Setelah kematian Nabi, Imam dipercayakan dengan perwalian dari prestasi dan kelanjutan kepemimpinannya, untuk mengajarkan manusia akan kebenaran Al-Qur’an dan agama dan tata cara tentang masyarakat; di singkat, ia untuk membimbing mereka dalam semua dimensi keberadaan kehidupan mereka.

Jadi imamah dan kepemimpinan agama dalam Islam dapat dipelajari dari tiga perspektif yang berbeda: dari perspektif pemerintahan Islam, ilmu Islam dan perintah (hukum), serta kepemimpinan dan bimbingan yang inovatif dalam kehidupan rohani.

Syiah berpendapat bahwa karena masyarakat Islam sangat membutuhkan bimbingan di masing-masing tiga aspek itu, orang yang menduduki fungsi yang memberikan bimbingan dan panutan adalah pemimpin masyarakat dalam bidang yang menjadi perhatian agama harus diangkat oleh Allah dan Nabi.

Namun, dimensi spiritual manusia terhubung erat dengan misi agama, dan benar mam adalah orang ditinggikan yang menggabungkan dalam dirinya otoritas intelektual dan kepemimpinan politik; yang berdiri di garis terdepan dari pemuka masyarakat Islam, yang memungkinkan dengan demikian kedua hal, menyampaikan kepada orang-orang hukum ilahi yang ada di setiap wilayah dan untuk melaksanakannya, dan yang mempertahankan identitas kolektif dan martabat manusia kaum muslimin dari penurunan dan korupsi.

Selain itu, Imam adalah salah satu yang kepribadian di dunia ini, sudah terbukti memiliki aspek ilahiah; berurusan dengan Allah dan manusia, implementasinya dari semua devosi, ajaran etis dan sosial dari agama Allah, memberikan suatu pola yang lengkap dan model untuk imitasi.

Imam ini adalah panduan yang pergerakan manusia menuju kesempurnaan. Oleh karena itu kewajiban bagi semua orang percaya untuk mengikutinya dalam segala hal, karena ia adalah contoh hidup untuk pembangunan diri dan masyarakat Islam, dan cara hidupnya adalah contoh terbaik dari kebajikan bagi masyarakat Islam.

Imam adalah petunjuk dan pemimpin orang-orang dalam tindakan eksternal mereka, sehingga dia memiliki fungsi kepemimpinan batiniah dan esoterik serta bimbingan dan contoh suri tauladan bagi ummat. Ia adalah panduan dari kafilah kemanusiaan yang bergerak dalam hati dan esoterik terhadap AllahSWT. (ma’rifatullah).Untuk menjelaskan kebenaran ini kita perlu berpaling pada dua komentar berikut sebagai pengantar.

Pertama-tama, tanpa diragukan lagi, menurut Islam serta agama-agama Ilahi (samawi) lainnya, satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan sejati atau kesengsaraan, kebahagiaan atau kemalangan, adalah dengan cara tindakan (beramal) yang baik atau orang yang jahat datang untuk mengenali melalui instruksi agama ilahi, maupun melalui primordial sendiri dan yang diberikan Allah, alam dan intelijen.

Kedua, melalui sarana wahyu dan nubuat. Allah telah memuji atau mengutuk tindakan manusia, sesuai dengan bahasa manusia dan masyarakatnya, di mana mereka tinggal. Dia telah menjanjikan kepada orang yang berbuat baik dan mematuhi dan menerima ajaran-ajaran wahyu dengan kehidupan kekal yang bahagia dalam memenuhi semua keinginan yang sesuai dengan kesempurnaan manusia.

Dan orang yang berbuat dosa dan bengis, dia telah diberi peringatan tentang kehidupan abadi yang pahit, yang dialami setiap bentuk kesengsaraan dan kekecewaan.

Tanpa ragu Allah, yang berdiri di setiap cara dan di atas segala hal dari yang kita dapat bayangkan, tidak seperti yang kita lakukan, memiliki “pikir” dibentuk oleh struktur sosial tertentu. Hubungan antara Tuan dan hamba, penguasa dan memerintah, perintah dan larangan, pahala dan hukuman, tidak ada, di luar kehidupan sosial kita.

Orde Ilahi adalah sistem penciptaan itu sendiri, di mana keberadaan dan penampilan dari segala sesuatu berhubungan hanya untuk penciptaan oleh Allah, menurut hubungan nyata dan untuk itu saja.

Selanjutnya, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-quran dan hadist Nabi, agama mengandung kebenaran dan veritas atas pemahaman umum manusia, yang telah dinyatakan kepada kita oleh Allah, dalam bahasa yang dapat kita pahami pada tingkat pemahaman kita.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa ada hubungan yang nyata antara tindakan yang baik dan yang jahat, dan jenis kehidupan yang disediakan bagi manusia dalam keabadian atau kekekalan, hubungan yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan hidup masa depan, sesuai dengan Kehendak Tuhan.

Atau dalam kata-kata sederhana dapat dikatakan, bahwa setiap tindakan baik atau jahat, membawa efek nyata dalam jiwa manusia yang menentukan karakter kehidupan masa depannya.

Apakah ia mengerti atau tidak, manusia adalah seperti seorang anak yang sedang dilatih. Dari instruksi guru, si anak mendengar apa-apa selain harus dan tidak boleh dilakukan, meskipun tidak memahami arti ia melakukan tindakan itu.

Namun, bila ia sudah akil balik (dewasa), sebagai akibat dari kebiasaan mental dan spiritual, kesalehan dicapai dalam hati selama periode pelatihan, dia mampu memiliki kehidupan sosial yang bahagia.

Namun, jika ia menolak untuk tunduk kepada petunjuk guru dia tidak akan mengalami apa-apa, selain kesengsaraan dan ketidakbahagiaan saja.

Atau dia seperti orang sakit, yang ketika dalam perawatan dokter, mengambil obat, makanan dan latihan khusus menurut petunjuk dokter, dan ia tidak memiliki tugas lain selain untuk mematuhi petunjuk dari dokternya.

Hasil ketundukan ini pada perintah-Nya, adalah penciptaan harmoni dalam konstitusi itu yang menjadi sumber kesehatan, serta setiap bentuk kenikmatan fisik dan kesenangan.

Sebagai rangkuman, kita dapat mengatakan, bahwa dalam diri manusia itu, memiliki kehidupan luar (jasmani) dan kehidupan batin (rohani), kehidupan spiritual, yang berhubungan dengan perbuatan dan tindakan, dan berkembang dalam kaitannya dengan mereka, dan bahwa kebahagiaan atau kesengsaraan itu di akhirat benar-benar bergantung pada kehidupan ini.

Al Qur’an juga menegaskan penjelasan ini. Di banyak ayat, menegaskan keberadaan kehidupan, semangat untuk berbudi luhur dan setia, hidup yang lebih tinggi dari semangat hidup saat ini, dan lebih menerangi dari jiwa manusia, seperti sekarang ini.

Hal ini menyatakan, bahwa tindakan manusia memiliki efek dalam jiwanya, yang akan tetap selalu bersamanya.

Dalam ucapan kenabian ada juga banyak referensi untuk saat ini. Misalnya, dalam hadis-i Mi’raj (hadits kenaikan malam), dimana petunjuk Nabi Allah dalam sabdanya:

“Ia yang ingin bertindak sesuai dengan kepuasan saya, harus memiliki tiga sifat: Dia harus menunjukkan rasa syukur, yang tidak dicampur dengan kebodohan. Sebuah peringatan atas mana debu kelupaan, tidak akan menyelesaikan. Dan cinta, di mana dia tidak lebih memilih cinta daripada makhluk, atas cinta kepada saya. Jika ia mengasihi Aku, Aku mencintainya, Aku akan membuka mata hatinya, dengan melihat keagungan-Ku dan tidak akan terhijab darinya. Aku akan mencurahkan kepada dirinya, dalam kegelapan malam dan cahaya hari sampai percakapan dan hubungan berakhir. Aku akan menjadikan dia mendengar Firman-Ku. Aku akan tunjukkan kepadanya, rahasia yang Aku telah terselubung dari makhluk-Ku. Aku akan pakaikan dia, dengan jubah kerendahan hati, sampai makhluk merasa malu. Dia akan berjalan di atas bumi dengan telah diampuni. Aku akan membuat hatinya memiliki kesadaran dan visi. Dan Aku tidak akan menyembunyikan, dari apa-apa di surga atau di neraka.. “

Abu ‘Abdallah ra. – mungkin Rasilullah SAWW (semoga damai dan berkah atasnya) – telah menceritakan bahwa Nabi menerima Haritsah bin Malik bin al-Nu’man dan bertanya :

“Bagaimana Engkau, ya Haritsah?”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah, aku hidup sebagai mukmin sejati.”
Nabi Allah berkata kepadanya, “Setiap sesuatu memiliki kebenaran sendiri Apakah kebenaran janji-Mu itu?.”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah! Jiwa saya telah berbalik dari dunia. Malam-malamku dihabiskan dalam keadaan senantiasa terjaga, dan hari-hari ku dalam keadaan kehausan. Tampaknya seolah-olah aku menatap arsy (tahta) Tuhanku, dan kewajiban telah diselesaikan, dan seolah-olah aku menatap surga dimana orang saling mengunjungi di surga, dan seolah-olah aku mendengar teriakan orang-orang dari api neraka. “
Kemudian Nabi Allah berkata, “Ini adalah hamba Allah yang hatinya telah diterangi.”

Hal ini juga harus diingat, bahwa sering salah satu dari kita mengikuti panduan lain dalam hitungan, yang baik atau yang buruk, tanpa dirinya melaksanakan kata-katanya sendiri.

Tetapi, dalam kasus para nabi dan imam, yang bimbingan dan kepemimpinan adalah melalui perintah Ilahi, situasi seperti ini tidak pernah terjadi. Mereka sendiri mempraktikkan agama Illahi dalam kepemimpinannya. Kehidupan rohani terhadap umat manusia yang mereka jadikan pedoman adalah kehidupan rohani mereka sendiri, karena Allah tidak akan menempatkan bimbingan orang lain seorang pun , kecuali Dia telah menuntunnya sendiri. Khusus bimbingan Ilahi, tidak pernah bisa melanggar atau dilanggar.

Kesimpulan berikut dapat dicapai dari pembicaraan ini:
(1) Dalam setiap komunitas agama, para nabi dan imam adalah yang terdepan dalam kesempurnaan dan realisasi spiritual dan kehidupan keagamaan, mereka memberitahukan, karena mereka harus, dan mengamalkan ajaran Allah dan berpartisipasi dalam kehidupan rohani yang mereka yakini.
(2) Karena mereka adalah yang pertama diantara manusia dan para pemimpin dan panduan masyarakat, mereka adalah yang paling berbudi luhur atau berahlaq mulia sebagai manusia sempurna

(3) Orang yang atas bahunya terletak tanggung jawab untuk membimbing masyarakat melalui perintah Ilahi, dengan cara yang sama bahwa dia adalah buku kehidupan eksternal manusia dan contoh suri tauladan ibadah amaliah, juga merupakan pedoman bagi kehidupan rohani, dan dimensi batin kehidupan manusia dan praktik agama tergantung pada petunjuknya.


Hadist Bukhari & Muslim Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda : ”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”. [Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam]… Nabi SAWW. Bersabda : “Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

Imam adalah petunjuk dan pemimpin orang-orang dalam tindakan eksternal mereka, sehingga dia memiliki fungsi kepemimpinan batiniah dan esoterik serta bimbingan dan contoh suri tauladan bagi ummat. Ia adalah panduan dari kafilah kemanusiaan yang bergerak dalam hati dan esoterik terhadap Allah SWT. (ma’rifatullah).

Untuk menjelaskan kebenaran ini kita perlu berpaling pada dua komentar berikut sebagai pengantar.

Pertama-tama, tanpa diragukan lagi, menurut Islam serta agama-agama Ilahi (samawi) lainnya, satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan sejati atau kesengsaraan, kebahagiaan atau kemalangan, adalah dengan cara tindakan (beramal) yang baik atau orang yang jahat datang untuk mengenali melalui instruksi agama ilahi, maupun melalui primordial sendiri dan yang diberikan Allah, alam dan intelijen.

Kedua, melalui sarana wahyu dan nubuat. Allah telah memuji atau mengutuk tindakan manusia, sesuai dengan bahasa manusia dan masyarakatnya, di mana mereka tinggal. Dia telah menjanjikan kepada orang yang berbuat baik dan mematuhi dan menerima ajaran-ajaran wahyu dengan kehidupan kekal yang bahagia dalam memenuhi semua keinginan yang sesuai dengan kesempurnaan manusia.

Dan orang yang berbuat dosa dan bengis, dia telah diberi peringatan tentang kehidupan abadi yang pahit, yang dialami setiap bentuk kesengsaraan dan kekecewaan.

Tanpa ragu Allah, yang berdiri di setiap cara dan di atas segala hal dari yang kita dapat bayangkan, tidak seperti yang kita lakukan, memiliki “pikir” dibentuk oleh struktur sosial tertentu. Hubungan antara Tuan dan hamba, penguasa dan memerintah, perintah dan larangan, pahala dan hukuman, tidak ada, di luar kehidupan sosial kita.

Orde Ilahi adalah sistem penciptaan itu sendiri, di mana keberadaan dan penampilan dari segala sesuatu berhubungan hanya untuk penciptaan oleh Allah, menurut hubungan nyata dan untuk itu saja.

Selanjutnya, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-quran dan hadist Nabi, agama mengandung kebenaran dan veritas atas pemahaman umum manusia, yang telah dinyatakan kepada kita oleh Allah, dalam bahasa yang dapat kita pahami pada tingkat pemahaman kita.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa ada hubungan yang nyata antara tindakan yang baik dan yang jahat, dan jenis kehidupan yang disediakan bagi manusia dalam keabadian atau kekekalan, hubungan yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan hidup masa depan, sesuai dengan Kehendak Tuhan.

Atau dalam kata-kata sederhana dapat dikatakan, bahwa setiap tindakan baik atau jahat, membawa efek nyata dalam jiwa manusia yang menentukan karakter kehidupan masa depannya.

Apakah ia mengerti atau tidak, manusia adalah seperti seorang anak yang sedang dilatih. Dari instruksi guru, si anak mendengar apa-apa selain harus dan tidak boleh dilakukan, meskipun tidak memahami arti ia melakukan tindakan itu.

Namun, bila ia sudah akil balik (dewasa), sebagai akibat dari kebiasaan mental dan spiritual, kesalehan dicapai dalam hati selama periode pelatihan, dia mampu memiliki kehidupan sosial yang bahagia.

Namun, jika ia menolak untuk tunduk kepada petunjuk guru dia tidak akan mengalami apa-apa, selain kesengsaraan dan ketidakbahagiaan saja.

Atau dia seperti orang sakit, yang ketika dalam perawatan dokter, mengambil obat, makanan dan latihan khusus menurut petunjuk dokter, dan ia tidak memiliki tugas lain selain untuk mematuhi petunjuk dari dokternya.

Hasil ketundukan ini pada perintah-Nya, adalah penciptaan harmoni dalam konstitusi itu yang menjadi sumber kesehatan, serta setiap bentuk kenikmatan fisik dan kesenangan.

Sebagai rangkuman, kita dapat mengatakan, bahwa dalam diri manusia itu, memiliki kehidupan luar (jasmani) dan kehidupan batin (rohani), kehidupan spiritual, yang berhubungan dengan perbuatan dan tindakan, dan berkembang dalam kaitannya dengan mereka, dan bahwa kebahagiaan atau kesengsaraan itu di akhirat benar-benar bergantung pada kehidupan ini.

Al Qur’an juga menegaskan penjelasan ini. Di banyak ayat, menegaskan keberadaan kehidupan, semangat untuk berbudi luhur dan setia, hidup yang lebih tinggi dari semangat hidup saat ini, dan lebih menerangi dari jiwa manusia, seperti sekarang ini.

Hal ini menyatakan, bahwa tindakan manusia memiliki efek dalam jiwanya, yang akan tetap selalu bersamanya.

Dalam ucapan kenabian ada juga banyak referensi untuk saat ini. Misalnya, dalam hadis-i Mi’raj (hadits kenaikan malam), dimana petunjuk Nabi Allah dalam sabdanya:

“Ia yang ingin bertindak sesuai dengan kepuasan saya, harus memiliki tiga sifat: Dia harus menunjukkan rasa syukur, yang tidak dicampur dengan kebodohan. Sebuah peringatan atas mana debu kelupaan, tidak akan menyelesaikan. Dan cinta, di mana dia tidak lebih memilih cinta daripada makhluk, atas cinta kepada saya. Jika ia mengasihi Aku, Aku mencintainya, Aku akan membuka mata hatinya, dengan melihat keagungan-Ku dan tidak akan terhijab darinya. Aku akan mencurahkan kepada dirinya, dalam kegelapan malam dan cahaya hari sampai percakapan dan hubungan berakhir. Aku akan menjadikan dia mendengar Firman-Ku. Aku akan tunjukkan kepadanya, rahasia yang Aku telah terselubung dari makhluk-Ku. Aku akan pakaikan dia, dengan jubah kerendahan hati, sampai makhluk merasa malu. Dia akan berjalan di atas bumi dengan telah diampuni. Aku akan membuat hatinya memiliki kesadaran dan visi. Dan Aku tidak akan menyembunyikan, dari apa-apa di surga atau di neraka.. “

Abu ‘Abdallah ra. – mungkin Rasilullah SAWW (semoga damai dan berkah atasnya) – telah menceritakan bahwa Nabi menerima Haritsah bin Malik bin al-Nu’man dan bertanya :

“Bagaimana Engkau, ya Haritsah?”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah, aku hidup sebagai mukmin sejati.”
Nabi Allah berkata kepadanya, “Setiap sesuatu memiliki kebenaran sendiri Apakah kebenaran janji-Mu itu?.”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah! Jiwa saya telah berbalik dari dunia. Malam-malamku dihabiskan dalam keadaan senantiasa terjaga, dan hari-hari ku dalam keadaan kehausan. Tampaknya seolah-olah aku menatap arsy (tahta) Tuhanku, dan kewajiban telah diselesaikan, dan seolah-olah aku menatap surga dimana orang saling mengunjungi di surga, dan seolah-olah aku mendengar teriakan orang-orang dari api neraka. “
Kemudian Nabi Allah berkata, “Ini adalah hamba Allah yang hatinya telah diterangi.”

Hal ini juga harus diingat, bahwa sering salah satu dari kita mengikuti panduan lain dalam hitungan, yang baik atau yang buruk, tanpa dirinya melaksanakan kata-katanya sendiri.

Tetapi, dalam kasus para nabi dan imam, yang bimbingan dan kepemimpinan adalah melalui perintah Ilahi, situasi seperti ini tidak pernah terjadi. Mereka sendiri mempraktikkan agama Illahi dalam kepemimpinannya. Kehidupan rohani terhadap umat manusia yang mereka jadikan pedoman adalah kehidupan rohani mereka sendiri, karena Allah tidak akan menempatkan bimbingan orang lain seorang pun , kecuali Dia telah menuntunnya sendiri. Khusus bimbingan Ilahi, tidak pernah bisa melanggar atau dilanggar.

Kesimpulan berikut dapat dicapai dari pembicaraan ini:
(1) Dalam setiap komunitas agama, para nabi dan imam adalah yang terdepan dalam kesempurnaan dan realisasi spiritual dan kehidupan keagamaan, mereka memberitahukan, karena mereka harus, dan mengamalkan ajaran Allah dan berpartisipasi dalam kehidupan rohani yang mereka yakini.
(2) Karena mereka adalah yang pertama diantara manusia dan para pemimpin dan panduan masyarakat, mereka adalah yang paling berbudi luhur atau berahlaq mulia sebagai manusia sempurna

.
(3) Orang yang atas bahunya terletak tanggung jawab untuk membimbing masyarakat melalui perintah Ilahi, dengan cara yang sama bahwa dia adalah buku kehidupan eksternal manusia dan contoh suri tauladan ibadah amaliah, juga merupakan pedoman bagi kehidupan rohani, dan dimensi batin kehidupan manusia dan praktik agama tergantung pada petunjuknya.

Al Qur’anul Kariim

“(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71)”Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Hadist Bukhari & Muslim

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda :
”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”.
[Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam].

Nabi SAWW. Bersabda :
“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

Muslim percaya bahwa Allah telah mengangkat sebagian manusia tertentu untuk menjadi pemimpin bagi orang-orang yang percaya pada Allah dan menegakkan agama Allah. Ketika Nabi Allah telah mengajarkan orang-orang agama, ia kemudian akan menunjuk seorang pemimpin, sesuai dengan perintah Allah, untuk membimbing orang-orang yang percaya menuju kesempurnaan hidup menuju jalan Allah.
Nabi Muhammad menurut riwayat telah menyampaikan bahwa suksesi kepemimpinan dalam Islam adalah dari orang Qureish (yaitu suku-nya) dan bahwa ada 12 “Imam” yang akan menggantikannya setelah beliau wafat.
Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi (sawa) berkata: “Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, “Semuanya berasal dari suku Quraisy.” [1]
Nabi (sawa) bersabda: “Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [2]
Ada persamaan dan perbedaan pemahaman di kalangan Sunni dan Syiah . Hal ini penting untuk disebutkan bahwa Nabi Muhammad menyatakan, dan pernyataan ini telah sama-sama diterima dan disahkan oleh Sunni dan Syiah , yakni bahwa : “Barangsiapa tidak mengetahui Imam -nya dalam masa kehidupannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah “. [3]
Dan lagi-lagi, pernyataan ini memiliki interpretasi berbeda dan konsekuensi yang berbeda, diantara Ulama Sunni dan Syi’ah .
Hal ini diyakini dalam Islam Syi’ah , kebijaksanaan ilahi, adalah sumber dari jiwa para nabi dan para imam memberi mereka pengetahuan esoteris, yang disebut Hikmah, dan bahwa perjuangan dan penderitaan mereka adalah sarana rahmat ilahi untuk ummat mereka.
Meskipun Imam bukan penerima wahyu ilahi, namun Imam memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Allah yang menuntun para imam, dan para imam pada gilirannya membimbing manusia.
Imamah, atau Kepemimpinan dalam Islam adalah merupakan keyakinan dalam panduan ilahi, sebuah keyakinan yang mendasar dalam Islam Syi’ah dan Ahl al-Bayt pada konsep bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan manusia tanpa akses ke bimbingan ilahi.
Imam ini, berkaitan dengan membangun intelektual dan keimanan ummat, sebagai pemimpin dan contoh panutan dari kekuasaan (secara intelektual dan wawasan perjalanan spiritual mereka menuju ridla Tuhan), dimana ummat meniru amal perbuatan mereka, dan memperhatikan perintah-perintah yang mereka sampaikan, untuk menjaga kemurnian risalah Rasulullah Muhammad SAWW.
Imamah juga memiliki arti yang sangat luas dan komprehensif, yang mencakup otoritas intelektual dan kepemimpinan politik.
Setelah kematian Nabi, Imam dipercayakan dengan perwalian dari prestasi dan kelanjutan kepemimpinannya, untuk mengajarkan manusia kebenaran Al-Qur’an dan agama Islam secara murni dan konsekuen dan tata cara tentang kehidupan sosial kemasyarakatan; atau singkatnya, ia dipilih Allah untuk membimbing ummat dalam semua dimensi aspek kehidupan.
Kepemimpinan seperti ini, dilakukan dalam bentuk yang benar dan tepat, tidak lain daripada realisasi tujuan Islam dan pelaksanaan ajarannya, ajaran didirikan oleh Rasulullah SAWW; itu melimpahkan eksistensi objektif mengenai cita-cita membentuk masyarakat dan kodifikasi undang-undang untuk tata laksana.
Imamah dan kepemimpinan yang kadang-kadang dipahami dalam arti terbatas untuk merujuk kepada orang yang dipercayakan dengan kepemimpinan secara eksklusif sosial atau politik.
Namun, dimensi spiritual manusia yang terhubung erat dengan visi dan misi agama Allah, dan benar-benar Imam adalah orang ditinggikan (Aulia Allah) yang menggabungkan dalam dirinya otoritas intelektual dan kepemimpinan politik; yang berdiri sebagai pemimpin dalam masyarakat Islam, yang memungkinkan dengan demikian menyampaikan kepada orang-orang hukum ilahi yang ada di setiap wilayah dan untuk melaksanakannya, dan yang mempertahankan identitas kolektif dan martabat manusia kaum muslimin dari penurunan dan korupsi.
Selain itu, Imam adalah salah satu pribadi, yang memiliki sifat-sifat ke-ilahi-an di dunia ini; berurusan vertical dengan Allah dan horizontal dengan manusia, implementasinya dari semua devosi, ajaran etis dan sosial dari agama Allah, memberikan suatu pola yang lengkap dan model untuk imitasi.
Ini adalah panduan yang Imam sampaikan dalam membangun ummat manusia menuju kesempurnaan hidup dunia dan akhirat. Oleh karena itu kewajiban pada semua orang percaya untuk mengikutinya dalam segala hal, karena ia adalah contoh hidup untuk pengembangan diri dan masyarakat, dan cara hidupnya adalah contoh terbaik dari kebajikan bagi masyarakat Islam.

Referensi :

[1] Sahih al-Bukhari (Bahasa Inggris, Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam); Sahih al-Bukhari, (Bhs Arab, 4:165, Kitabul Ahkam)
[2] Sahih Muslim, (English, Chapter DCCLIV, v3, p1010, Hadis no. 4483); Sahih Muslim (Bhs Arab, Kitab al-Imaara, 1980 Edisi Saudi Arabia, v3, p1453, Hadis no.10)
[3] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, hal 96.

Al Qur’anul Kariim

“(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71)”Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Hadist Bukhari & Muslim

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda :
”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”.
[Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam].

Nabi SAWW. Bersabda :
“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

NABi   SAW   MENYEBUT  NAMA  12  KHALiFAH  UMAT

penutupan kenabian dilengkapi oleh penunjukkan imam Dan kesempurnaan Islam yang universal dan abadi sampai akhir masa bergantung pada pengangkatan para imam.. Konsep imamah demikian ini mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi acuan utama adalah ayat ke-3 Al-Ma’idah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada hari ini [yaitu pada hari setelah pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah Rasul saw] telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku lengkapi atas kalian nikmat-Ku, dan juga Aku telah ridha bahwa Islam sebagai agama kalian.”

Dari penelaahan terhadap ayat ini berikut tafsir dan sebab turunnya di dalam berbagai kitab tafsir, akan kita dapati bagaimana para ahli tafsir telah bersepakat, bahwa ayat tersebut turun pada haji Wada’, yaitu haji perpisahan (terakhir) Rasul saw yang terjadi beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Masih dalam rangkaian ayat tersebut, setelah menyinggung ihwal orang-orang kafir yang telah berputus asa untuk mengadakan penyimpangan terhadap Islam, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian.”

Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu agama Islam dan nikmat wilayah telah Dia lengkapi dan sempurnakan.

Apabila kita cermati dengan baik riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab turun ayat tersebut, akan tampak jelas lagi bahwa ikmal dan itmam (penyempurnaan dan pelengkapan), yang disusul oleh keputusasaan orang-orang kafir untuk melakukan penyimpangan terhadap Islam, terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah Nabi dari sisi Allah SWT. Karena musuh-musuh Islam menduga, bahwa sepeninggal Rasul saw agama Islam dan para pemeluknya tidak punya pemimpin lagi. Terlebih Rasul sendiri tidak punya seorang putra pun. Dengan demikian, agama Islam akan menjadi lemah dan akan mengalami kehancuran.

Dugaan mereka itu sungguh keliru, karena Islam telah mencapai kesempurnaannya dengan diangkatnya seorang pengganti Rasul yang akan melanjutkan risalah dan perjuangan beliau. Maka, menjadi lengkaplah nikmat Ilahi, sementara segala angan-angan, harapan dan ambisi orang-orang kafir menjadi sirna.

Pengangkatan khalifah Nabi saw itu terjadi tatkala beliau dan rombongan jemaah haji dalam perjalanan pulang mereka dari haji Wada’. Ketika itu, beliau mengumpulkan semua jemaah haji di satu tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum”. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan khutbahnya yang panjang. Kepada kaum muslimin beliau bertanya:

“Bukankah aku ini lebih utama daripada diri kalian sendiri?”

Serempak mereka menjawab:

“Benar, ya Rasulullah ….”

Kemudian Nabi saw memegang tangan Ali bin Abi Thalib as dan mengangkatnya di hadapan mereka semua, lalu berkata, “Barang siapa yang menjadikan aku ini sebagai pemimpinnya, maka sungguh Ali adalah pemimpinnya.”

Dengan demikian, Nabi saw telah menetapkan wilayah Ilahiyah itu atas Imam Ali as. Segera setelah itu, seluruh kaum muslimin yang hadir di tempat itu bangkit membaiatnya. Di antara mereka, tidak ketinggalan pula khalifah kedua, Umar bin Khattab. Kepadanya Umar mengucapkan selamat dan berkata, “Engkau beruntung sekali wahai Ali. Kini engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh masyarakat yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.”

Pada hari yang agung tersebut, turunlah ayat yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku lengkapi pula nikmat-Ku atas kalian, dan Aku pun rela Islam sebagai agama kalian.

Dengan turunnya ayat ini, Rasul saw mengucapkan takbir lalu berkata, “Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah itu terletak pada wilayah Ali sepeninggalku.”

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.”[1]

Kalau kita mengkaji secara seksama beberapa riwayat yang berhubungan dengan pengangkatan Ali as sebagai imam, wali dan washi Rasul saw, kita dapat memahami bahwa Rasul saw sebelum itu telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya.

Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi itu yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.

Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari “Ghadir” ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.

Sebagai contoh, pada masa-masa awal bi’tsah (kenabian) Muhammmad saw sebuah ayat turun kepada beliau, “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS.As-Syu’ara: 214)

Lantas beliau berseru kepada keluarganya, “Siapakah di antara kalian yang siap menjadi penolongku dalam urusan agamaku ini, aku akan jadikan ia sebagai saudaraku, washi-ku dan khalifahku atas kalian.”

Ahlusunnah dan Syi’ah sepakat, bahwa ketika itu tidak seorang pun dari keluarga Nabi saw yang memberikan jawaban kecuali Imam Ali bin Abi Thalib as.[2]

Demikian juga ketika turun ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.[3]

Sebagaimana yang baru saja kita simak, Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau yang bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshari, bahwa dia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as Dan sejarah mencatat bahwa Allah mengaruniai Jabir umur panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as Ketika berjumpa, ia begitu senang sampaikan salam Rasul saw kepada Imam as.

Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aba Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as tentang firman Allah SWT, ‘Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum.’

Beliau menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein.”

Kembali aku bertanya, “Akan tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan Ahlulbaitnya di dalam Al-Qur’an?”

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menjawab, “Katakanlah kepada mereka, ‘Bahwa ayat-ayat tentang shalat yang turun kepada Nabi sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi Nabilah yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, beliaulah yang menjelaskan bahwa Ulil Amri itu adalah Ali bin Abi Thalib as, dan para imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan Ahlubaitnya, yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa. Nabi saw menambahkan, ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian, dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan.’”

Kalau kita amati dengan baik sabda-sabda Nabi saw yang berhubungan dengan masalah wasiat, akan kita dapati betapa seringnya Nabi saw mengulang-ulang wasiatnya itu. Bahkan di akhir hayat, Nabi saw masih saja mengulang wasiatnya tersebut, “Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian, yaitu Kitabullah dan Ahlilbaitku. Keduanya itu tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di telaga Surga kelak.”

Perlu diketahui bahwa hadis mengenai wasiat tersebut merupakan hadis yang mutawatir, baik dari Syi’ah Imamiyah maupun dari jalur Ahlusunah wal Jamaah.

Di antara tokoh-tokoh Ahlusunah yang meriwayatkan hadis tersebut adalah At-Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dll. Ulama yang belakangan ini pun meriwayatkan sebuah hadis lainnya, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nuh as, siapa yang turut naik bersamanya, ia akan selamat. Dan siapa yang menolaknya, maka ia akan karam.”[4]

Termasuk hadis yang sering diulang-ulang oleh Nabi saw ialah “Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti.”[5]

CATATAN  KAKi :

[1] Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.

[2] Bisa dirujuk ke ‘Abaqat Al-Anwar dan Al-Ghadir.

[3] Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494.

[4] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/151.

[5] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad Ibnu Hanbal, jilid 1/331 dan jilid 4/438.

 

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra’, (semoga

Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya64. 64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

TANYA  JAWAB :

Apakah Imam  Ali  Hilang  Keberaniannya  Setelah  wafat  Rasulullah  ??? Apakah Imam Hasan hilang  keberanian  memerangi  Mu’awiyah  setelah  wafat nya Imam Ali ???
Jawab :  

Tahukah Anda bahkan seorang Nabi melakukan perjanjian Hudaibiyah ? pada saat itu pendukung Imam Hasan hanya beberapa orang, jika tidak diambil jalan berdamai tentu Islam yang tersisa di segelintir orang itu akan dibantai habis dan hari ini tidak ada lagi Islam yang sebenarnya. Allah menjaga risalah Nabi ini dengan perantaraan perdamaian tersebut…Apa keberanian di mata Anda? asal tabrak gitu? keberanian di mata Ali adalah menghadapi semua cobaan demi ummat Muhammad SAW.. di banyak tempat beliau menegaskan akan hak kekhalifahan beliau.

Ketika Abubakar dan Umar memaksakan Imam Ali untuk berbai’at kepadanya,

Fatimah berkata kepada Abu Bakar dan Umar seperti ini: “Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.’ ‘Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.’ Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, ‘Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya’. (Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Bukti penentangan Abubakar kepada Fatimah Az Zahara yang juga merupakan penentangan kepada Rasulullah sendiri dapat dilihat ketika beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat.” Kemudian Abu Bakar menangis dan berkatat: “Aku tidak perlu pada bai’at kalian; lepaskan aku dari bai’at kalian.”  (Tarikh al-Khulafa’ Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20)

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah saww bersabda:”Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah.” Dalam Bab Ghazwah Khaibar, “dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat.” (Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39)

Dalam kesempatan ini juga perlu kiranya kita kemukakan hadist Nabi berkenaan Imam Ali walaupun tidak diterima oleh orang-orang yang sesat: “Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.”?  (Shahih Muslim jil. 1 hal. 48)  Bahkan sebagian sahabat berkata, “Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Imam Ali.”

 

Ketika Ali  Menjadi  Khalifah, Ali  Tidak  Menyelisih  para  Sahabat..!!!
Jawab : Siapa yang bilang? Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi Khalifah pun Imam Ali sudah menegaskan akan mengembalikan hukum ke zaman Nabi, silahkan baca ketika terjadi perundingan selepas wafat Utsman.

Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???
Jawab :  Silahkan baca tragedi Hari Kamis dalam Bukhari, Rasul sudah hendak menulis wasiat kemudian dicegah oleh Umar hingga terjadi keributan dan Rasul pun marah.

 

Peristiwa Ghadir Khum
Jawab : Siapa bilang tidak ada yang mengingatkan? Tahukah Anda alasan orang Yaman menolak menyerahkan zakat pada Abu Bakar? karena mereka tahu Abu Bakar tidak berhak atas jabatannya. Silahkan juga lihat sikap Bani Hasyim yang tidak memberi bai’at sampai Fatimah wafat

 

Yazid berbuat kerusakan nyata dengan pembunuhan di Madinah dan perkosaan yang diizinkan oleh Yazid terhadap gadis2 Madinah, sikap seperti ini tidak bisa didiamkan. Islam yang tersebar adalah Islam yang dipahami oleh mereka. sementara Ahlul bait Nabi ditinggal.. Ahlus Sunnah bermazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiiyah, atau Hambaliyyah.. LALU  KENAPA  BUKAN  MAZHAB  AHLUL  BAiT  yang di pedomani ??

Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. ”

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

2.….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)

3.….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)

4.Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)

5.….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)

6.….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)

7.(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)

8.….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

saudaraku……………..

Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menanyakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya nescaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’ Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang dijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? Kerana tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad , ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Allah SWT karena petunjuk-Nya.”




RUJUKAN SUNNI: Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan menurut kedua-duanya hadis di atas jika mengikut ukuran Bukhari dan Muslim dikira Sahih. Mengapa ia tidak dimasukkan dalam Sahih mereka jika begitu. Hanya bukhari dan Muslim sahajalah yang berhak menjawabnya di hadapan Nabi nanti di akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang ingin melihat kepada Adam tentang ilmunya, kepada Nuh tentang azamnya, kepada Ibrahim tentang lembutnya, kepada Musa tentang kehebatannya, kepada Isa tentang kezuhudannya maka hendaklah ia melihat kepada Ali b. Abi Talib (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, Bab Kelebihan Ali, Fakhuruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Surah Mubahilah, Yanabi al-Mawaddah, Bab 40).

“Imam-imam telah wujud sebelum wujudnya alam ini sebagai cahaya-cahaya, dan Allah jadikan mereka berpusing di sekeliling Arasy.”

Pendapat seperti ini adalah sandarannya dalam beberapa hadith Nabi dalam kitab Ahli Sunnah sendiri. Antaranya ialah hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit(Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berpusing di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sabda Nabi SAW: “Wasi-wasi engkau tertulis di tepi ArasyKu, lalu aku melihat dan mendapati 12 cahaya (Ibid)”. Kejadian Nabi Muhammad dan wasi-wasinya (Ibid.hlm. 485).

Allah SWT berfirman dalam Quran; Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai berai ! (QS. Ali Imran : 103)

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

اِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ الله،ِ وَ عِتْرَتِي اَهْلَ بَيْتِي، مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا اَبَدًا، وَانَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتیّ يرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.” (H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahmad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533 )

Terkait dengan sikap kita kepada Ahlul Bait, di antaranya Nabi saw. bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Aku meninggalkan di tengah tengah kalian apa yang jika kalian ambil kalian tidak akan tersesat, Kitabullah dan ’itrah  Ahlul Baitku. (HR. Tirmidzi)

Ada dua belas imam yang dilantik oleh Allah SWT sebagai pelanjut Nabi Muhammad SAW. Ada sebuah hadis panjang dalam dokumendokumen Sunni yang menyatakan bahwa jumlah para imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen-dokumen Sunni lainnya yang di dalamnya Nabi SAW bahkan menyebutkan nama masing-masing dua belas imam tersebut.


Allah SWT menunjuk dua belas imam, bukan semata-mata mereka dari rumah tangga Nabi SAW, namun karena mereka, di masa-masa mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling saleh, paling baik dalam kebajikan personal, dan paling mulia di hadapan Allah; dan pengetahuan mereka diturunkan dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayahayah mereka……itu tidak berarti dengan sendirinya   12   imam  harus  berkuasa secara fisik

Allah SWT berfirman ; Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhamrnad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah mernberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa : 54).

a. Dalam Shahih Bukhari, tercantum hadis berikut:

Diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, “Aku mendengar Nabi SAW berkata, Akan ada dua belas pemimpin (amir).’ Kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat yang tidak kudengar. Ayahku berkata, ‘Nabi SAW menambahkan, ‘Mereka semua berasal dari Quraisy.”66. Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, hal. 106.

b. Dalam Musnad Ahmad, tercantum hadis berikut, “Nabi SAW berkata, ‘Kelak ada dua belas orang khalifah untuk masyarakat ini. Semuanya dari Quraisy”‘77. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1452, hadis 5; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1009, hadis 4.477.

c. Dalam Shahih Muslim, ada hadis berikut:


Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, “Nabi SAW berkata, ‘Masalah (kehidupan) tidak akan berakhir, sampai berlalunya dua belas khalifah.’ Kemudian beliau membisikkan sebuah kalimat. Aku bertanya kepada ayahku apa yang Nabi katakan. Ia menjawab, ‘Nabi berkata, “Semuanya berasal dari Quraisy.”88. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imaran, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1453, hadis 6; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1010, hadis 4.478.

d. Juga dari Shahih Muslim:
Nabi SAW berkata, “Urusan-urusan manusia akan terus dibimbing (dengan baik) selama mereka diatur oleh dua belas orang.”99. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980 edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 7; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, ha1.1.010, hadis 4.480.

e. Juga, Nabi SAW bersabda, “Islam akan terus berjaya sampai adanya dua belas khalifah.”1010. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, Edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 10; Shahih Muslim, versi Inggris, bab DCCL1V(berjudul:Orang-orang yang tunduk kepada Qurais dan kekhalifahan adalah Hak ( Quraisy) jilid 3 hal 1010 hadis 4.483 Rujukan Sunni lain dalam hadis serupa: Shahih at-Turmuzzi, jilid 4, ha1.507; Sunan Abu Daud, jilid 2, hal. 421 (tiga hadis); dan yang lainnya seperti Tialasi, Ibnu Atsir, dan lain-lain.

f. Juga, Nabi SAW bersabda, ‘Agama Islam akan terus berlangsung sampai hari kiamat, dengan dua belas khalifah untuk kalian, mereka semua berasal dari Quraisy”‘1111. Rujukan Sunni: al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.149; Musnad ahmad ibn Hanbal; Shahih, Nasa’i, dari Anas bin Malik; Sunan, Baihaqi; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, karya Ibnu Hajar Haitsami, bab 17, pasal 2, hal. 287.

g. Nabi SAW berkata, “Para imam berasal dari Quraisy.”‘1212. Shahih Bukhari, hadis 9.422

Pertanyaan :

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi

kami ingin bertanya,berdasarkan prespektif Sunni siapakah dua belas khalifah setelah Nabi Muhammad saw? Silakan dukung penegasan anda dengan merujuk pada Quran dan atau enam buku kumpulan hadis Sunni, dan juga membenarkan perbuatan mereka dalam lintasan sejarah. Ingatlah, perintah-perintah dua khalifah Nabi ini haruslah ditaati. Karenanya, jika anda tidak mengenal dua belas pemimpin anda, bagaimana anda ingin menaati mereka?

Kami ingin mengingatkan anda bahwa ‘khalifah’ artinya penerus/ wakil… Syarat  imam adalah : mereka harus  sesuai dengan ayat Quran : “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku” (QS. asy-Syura : 23).

Tak syak lagi khalifah seharusnya diketahui oleh para pengikutnya, jika sebaliknya seorang khalifah imajiner tidak bisa diikuti, sementara Nabi SAW telah meminta kita untuk mengikuti mereka? Jika anda tidak mengetahui para imam anda, bagaimanakah anda bisa menaati mereka?

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi as, imam di zaman kita sekarang. Mereka adalah para khalifah karena Allah SWT menjadikan mereka khalifahkhalifah (mereka semua adalah wakil-wakil Allah SWT di muka humi).
Bersama lintasan waktu dan melalui kejadian – kejadian sejarah, kita ketahui hahwa melalui hadis-hadis di atas Nabi SAW memaksudkan dua belas khalifah tadi adalah dua belas imam dari Ahlulbaitnya yang merupakan keturunan Nabi SAW karena kita tidak punya kandidat lain dalam sejarah Islam yang semua kesalehannya disepakati oleh seluruh Muslimin.


Adalah menarik untuk diketahui bahwa bahkan musuh-musuh Syi’ah tidak mampu menemukan setiap kekurangan dalam keutamaankeutamaan dua belas imam Syi’ah. Lagi pula, dua belas imam ini muncul satu demi satu tanpa ada kesenjangan.


Sekarang, jelaslah bahwa satu-satunya cara untuk menafsirkan hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad bin Hanbal adalah dengan menerima dan mengakui bahwa itu merujuk pada dua belas imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW, karena mereka adalah -di zaman mereka masing-masing- yang paling berilmu, masyhur, paling takwa, paling saleh, terbaik dalam keutamaan-keutamaan pribadi, dan yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Pengetahuan mereka bersumber dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayah-ayah mereka. Inilah Ahlulbait yang kemaksumannya, ketidak bernodaannya, dan kesuciannya dibenarkan oleh Quran mulia (kalimat terakhir Surah al-Ahzab : 33).

Tentang  hadis : “Kekhalifahan akan berlangsung 30 tahun setelahku, maka akan ada banyak raja” …Adalah sangat mungkin bahwa raja-raja   yang sama memalsukan hadis’  30 Tahun’ untuk mencegah orang-orang dari isu dua belas imam dan membenarkan perampasan mereka akan kekuasaan.

Allah SWT telah memberi manusia kebebasan kehendak untuk menerima atau menolak kepemimpinan yang Dia angkat  baik , baik orang-orang mengikutinya ataupun tidak.. Jika (katakanlah mayoritas) orang-orang mengikutinya, dengan sendirinya ia akan memegang tampuk kekuasaan. Dan sekiranya orang-orang; mendurhakainya, ia akan tetap memiliki kepemimpinan spiritualnya bagi sejumlah kecil pengikut setianya (orang-orang yang bertakwa). Setiap orang di zaman itu diharapkan untuk menaati

para Nabi  punya agenda politikNabi Muhammad yang berkampanye menentang kaum musyrik di Jazirah Arab dan menegakkan pemerintahan Islam yang pertama. Memang benar bahwa semua Nabi diutus untuk menggembleng manusia dan menjadikan mereka ingat akan Allah SWT. Namun ini tidak dapat sepenuhnya diterima tanpa kekuasaan politik apapun. Juga kami tidak pernah sebutkan bahwa memerintah negara sebagai tujuan pertama dari seorang pemimpin yang ditunjuk Tuhan. Alih-alih kami katakan bahwa pemimpin tersebut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk posisi mulia itu. Manusia seyogianya menyadari fakta ini dan tunduk pada perintahnya. Bila mereka berbuat demikian dengan sendirinya ia akan menjadi pemimpin masyarakat itu tanpa membutuhkan’agenda’.

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bBani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka dua belas orang pemimpin diantara mereka (QS. Al-Maidah : 12 ) Sesungguhnya orang – orang yang tidak mengikuti dua belas pempimpin tersebut tidaklah menganiaya melainkan diri mereka sendiri.

“Orang yang mengingkari kepemimpinan mereka akan tersesat..”

HADiS   SYi’AH

Secara jelas, hadis-hadis di atas tidak selaras dengan empat khalifah pertama semuanya karena jumlah mereka kurang dari dua belas orang. Hadis-hadis tersebut tidak bisa pula diterapkan kepada kekhalifahan Bani Umayah karena;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka semua adalah kaum tiran dan zalim (selain Umar bin Abdul Aziz),
(c) mereka bukan berasal dari Bani Hasyim dan untuk hal itu, Nabi SAW telah bersabda dalam hadis lain bahwa ‘mereka semua berasal dari Bani Hasyim.’

Hadis-hadis itu tidak bisa diberlakukan untuk kekhalifahan Bani Abbasiah lantaran;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka menindas keturunan Nabi di mana-mana yang artinyo mereka tidak sesuai dengan ayat Quran, Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku (QS. asy-Syura : 23).

Tentang penafsiran ayat 59 Surah an-Nisa dimana Allah SWT  memerintahkan kita untuk menaati Ulil Amri, Khazzaz dalam Kifayat al-Atsar-Nya, mencantumkan sebuah hadis berdasarkan otoritas sahabat Nabi SAW yang tersohor, Jabir bin Abdillah Anshari. Ketika ayat tersebut (an-Nisa : 59) diturunkan, Jabir bertanya kepada Nabi SAW, “Kami tahu Allah dan Nabi, namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya nlah digabungkan dengan ketaatan kepada Allah dan dirimu sendiri?”

Nabi SAW berkata, “Mereka para khalifahku dan imam bagi kaum Muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali, kemudian Hasan hin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat (Perjanjian Iama). Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya, Jafar Shadiq, kemudian Musa bin Jafar, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan berada sama dengan julukanku. Dialah Bukti Allah (hujjatullah) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Allah (Baqiyatullah) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukkan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hati orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Allah.”


Jabir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi SAW menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan keNabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya, dan mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya wlama kegaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya selama kagaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari di balik awan. Wahai Jabir, inilali rahasia Allah yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Allah. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya!”


Lebih menarik lagi, ada juga riwayat-riwayat Sunni yang di dalamnya mengandung perkataan bahwa Rasulullah menyebutkan nama-nama dari dua belas anggota Ahlulbaitnya ini satu demi satu yang bermula dengan Imam Ali as dan berakhir dengan Imam Mahdi as (lihat YaNabi al-Mawaddah, karya Qanduzi Hanafi).

Sekarang kita mafhum siapakah’orang-orang yang diberi otoritas’. Ia merupakan bukti bahwa persoalan menaati para penguasa yang tiran dan zalim tidak muncul sama sekali. Dengan ayat di atas kaum Muslim tidak perlu menaati para penguasa yang zalim, tiranik, jahil, egois, dan tenggelam dalam hawa nafsu.

Sesungguhnya, mereka (kaum Muslim) diperintahkan untuk menaati dua belas imam yang ditentukan, yang mereka semua itu maksum dan bebas dari pemikiran dan perbuatan buruk. Menaati mereka tidak punya resiko apapun. Bahkan, ketaatan kepada mereka menjaga dari semua resiko; karena mereka tidak akan pernah memberikan sebuah perintah yang berlawanan dengan titah Allah SWT dan akan memperlakukan semua manusia dengan cinta, keadilan, dan persamaan.

Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan manusia atas manusia). Sesungguhnya, Quran mengecam pendapat kebanyakan manusia (lihat al-An -am: 116; al-Maidah: 49; Yunus: 92; al-Rum : 8) karena pandangan kebanyakan manusia biasanya lemah lantaran kecenderungan mereka.


Apakah Imamah itu sebuah Warisan?

Menurut Ahlul BaitImamah dipilih oleh Allah. Ini bukan masalah warisan, karena jika demikian maka Imam Husain (sa.) tidak boleh menjadi imam, setelah kesyahidan Imam Hasan (sa.).Imam Hasan (sa.) memiliki banyak anak dan keturunan, tak satu pun dari mereka menjadi imam. Sebaliknya, saudaranya Imam Husain (sa.), seorang imam setelahnya. Ada juga sejumlah anak dan cucu-cucu yang menyimpang dari para imam, tidak ada orang yang menerima posisi Imamah.Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah warisan. Tentu saja, gen penting untuk imam suci, namun imam membutuhkan banyak persyaratan lainnya. Allah SWT tahu yang memiliki semua kualifikasi seperti itu. Apakah kehendak Allah SWT yang menempatkan semua imam dari jalur keturunan Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya).

Bahkan, jika sebuah studi sejarah Nabi Allah, ia akan menemukan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Allah yang memiliki kekuasaan dan keagungan berfirman :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”[88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qur’an Al-Baqarah, 2: 124).

Dalam ayat di atas, Allah tidak menolak kepemimpinan keturunan Abraham., Tetapi Dia membatasi posisi ini hanya pada keturunan Abraham memenuhi syarat. Allah SWT mengatakan, kepemimpinan yang ditunjuk Allah tidak datang untuk orang-orang yang berbuat salah, bahkan jika orang itu adalah keturunan Abraham.

Dengan demikian, keturunan Abraham. tidak semuanya menjadi imam karena harus ada persyaratan lain selainnya. Orang-orang di antara mereka yang bukan pelaku ketidakadilan (bebas dari dosa) yang memenuhi syarat, karena mereka tidak hanya memiliki gen yang suci, tetapi mereka memiliki kualifikasi lainnya yang diperoleh melalui penderitaan. Sebagai Tuhan Yang Maha Esa memiliki pengetahuan sebelumnya dan keterangan kesabaran kualifikasi mereka, dia yang dipercayakan kepada mereka dalam posisi ini dan menempatkan mereka di atas semua makhluk-Nya yang lain.

“Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran ‘di atas semua orang (pada saat masing-masing)” (Al Qur’an Ali Imran, 3: 33).

Garis nasab Muhammad SAWW. kembali kepada Nabi Ismail bin Ibrahim. Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Isa keduanya berasal dari yang lain Ishaq anak Abraham. Sesungguhnya, semua nabi setelah Ibrahim. berasal dari keturunan. Namun, kita tidak bisa menyatakan kenabian itu adalah masalah warisan. Dia adalah Allah Maha Kuasa yang memilih satu per satu.

Dalam konteks lain, kita tidak bisa mengatakan bahwa anak Nabi selalu haruslah nabi. Banyak kondisi lain selainnya. Jika tidak, Kan’an bin Nuh, niscaya masih hidup. Nuh memiliki tiga putra lain, Aam, Sam, dan Yafas yang beriman dan yang dengan istri mereka dan akhirnya naik tabut itu selamat. Mereka datang dari seorang ibu yang berbeda dari Kan’an. Oleh karena itu, putra seorang nabi atau imam tidak harus membuatnya menjadi nabi atau imam atau bahkan orang yang saleh.

Singkatnya, gen untuk Nabi dan imam suci adalah penting tetapi tidak cukup.
Imam atau Ulil Amri ditunjuk oleh Allah dengan Nabi-Nya. Lihat Al-Qur’an dimana Allah berulang kali menyatakan bahwa dia adalah zat yang diresmikan imam. (Lihat Al-Baqarah Al-Qur’an, 2: 124, al-Anbiya, 21: 73; as-Sajdah, 32: 24).

“Dan (ingatlah) ketika Abraham diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) dan Abraham dipenuhi Tuhan mengatakan” Lihatlah, Aku akan membuat Imam untuk semua umat manusia “Dia (Abraham) berkata,” (Dan aku mohon., juga) dari keturunanku “Allah berfirman,”. Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang melakukan “salah. (QS. Al-Baqarah, 2: 124)

“Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada, mereka berbuat baik, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. (QS. al-Anbiya ‘, 21:73)

“Dan Kami jadikan di antara mereka adalah pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka percaya kepada ayat-ayat Kami”.. (QS. As-Sajdah, 32: 24)

Ada dua belas imam diangkat oleh Allah sebagai Penerus Nabi Muhammad SAWW. Ada sebuah tradisi panjang dalam dokumen-dokumen yang Sunnimenyatakan bahwa jumlah imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen Sunni lain di mana Nabi Muhammad SAWW. bahkan menyebutkan nama setiap dua belas imam tersebut.

Allah menunjuk dua belas imam, tidak hanya orang-orang di dalam rumah tangga Nabi Muhammad SAWW, tetapi karena mereka, pada zaman mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling alim, yang terbaik dalam kebajikan pribadi, dan yang paling mulia di kehadiran Allah dan pengetahuan mereka berasal dari nenek moyang mereka (Nabi) melalui ayah nenek moyang mereka, dan juga melalui pendidikan langsung dari Allah melalui ilham (inspirasi). Penerus Nabi (selain penerus Nabi Muhammad) adalah Nabi juga, dan dengan demikian mereka semua ditunjuk oleh Allah. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa beberapa Nabi, atas perintah Allah, menunjuk para imam (yang bukan Nabi).

Mari kita berikan beberapa ayat suci Al-Qur’an!

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemimpin Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim”. (QS al -Baqarah, 2: 246).

Setiap orang yang secara khusus ditunjuk oleh Allah sebagai raja adalah seorang imam. Seorang nabi bisa juga (sebagian) dari imam atau raja, tetapi tidak semua nabi adalah imam. Jika seseorang menjadi raja atau imam yang ditunjuk oleh Allah, itu tidak berarti bahwa dengan sendirinya hanya karena fisik yang kuat. Di atas ayat Al-Qur’an berbicara tentang Thalut. Berikut ayat-ayat Al Qur’an lain yang memberikan rincian lebih lanjut.

“Nabi Mereka (1) kata kepada mereka,” Allah telah mengangkat Thalut (Saul) sebagai raja (2) Anda. “Mereka berkata,” Bagaimana Thalut mengatur kita saat kita lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia tidak diberi kekayaan yang cukup? (3) “Ia (Nabi mereka) berkata,” Allah telah memilihnya di atas Anda (4) menjadi raja dan diberikan pengetahuan yang luas dan tubuh yang kuat. “(5) Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki (6.) Dan Allah adalah karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 247).

Bagian pertama dari nomor ayat di atas (1) membuktikan bahwa orang-orang memiliki nabi dan Thalut berada di tengah-tengah masyarakat ini, sehingga mereka Nabi adalah Nabi Thalut juga. Jadi, Thalut bukan nabi.

Bagian ditandai dengan nomor (2) menunjukkan bahwa Allah menunjuk Thalut sebagai imam atau pemimpin atau raja.

Angka (3) menunjukkan bahwa apa yang ditunjuk Allah tidak dipilih berdasarkan kekayaan. Kerajaan pada dasarnya adalah karakter spiritual, dan tentu saja, Thalut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk memerintah dengan baik secara fisik, tetapi yang terakhir tergantung pada pengakuan orang untuk posisi sebelumnya saat akan dipertahankan sebagai imam (kepemimpinan rohani).

Imam atau pemilihan raja bukan tugas manusia, dan sebagaimana dianjurkan, Allah memilih seorang raja atau imam karena Allah tahu siapa orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi tinggi seperti itu. Berikut adalah salah satu raja yang memiliki otoritas oleh Allah SWT.

Ini dibuktikan dengan nomor (6) ayat di atas. Orang-orang yang memiliki otoritas dengan pengetahuan dan kebijaksanaan sebagai nomor (5) dari titik.

Dalam ayat berikutnya, kita membaca,

“Dan Nabi (lebih lanjut) berkata kepada mereka,” Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, adalah untuk kembali ke tabut, di mana terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari warisan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat-malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian ada tanda bagimu, jika kamu beriman “(Al-Qur’an. Al-Baqarah, 2: 248).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

” ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (Al-Qur’an suatu-Nisa, 4: 54).

Sekali lagi, kerajaan ini adalah Imamah, bahwa beberapa keluarga Ibrahim yang memerintah secara fisik.

Bagaimana Model Terbaik Pemilihan dalam Kepemimpinan Islam

Salah satu topik yang telah terus-menerus didiskusikan di kalangan umat Islam sejak bangkitnya Islam adalah pertanyaan tentang memilih Imam atauPemimpin; itu sebenarnya pertanyaan yang membawa pembagian umat terpecah menjadi ke Shi’ah dan Sunni.Shi’ah memiliki komitmen terhadap prinsip bahwa hak untuk menunjuk Imam milik eksklusif (hak prerogatif) Allah, dan bahwa orang (manusia) tidak memiliki peran sama sekali dalam hal ini. Sang Maha Pencipta itu sendirilah yang memilih Imam dan mengidentifikasikannya kepada masyarakat sebagaimana pemilihan para Nabi.Sebagai tambahan dari Shi’ah atas pemahaman tentang Imamah ini, dan perhatiannya yang telah dicurahkan pada keyakinan bahwa Allah dan Nabisendiri yang memilih Imam yang berfungsi sebagai bukti (hujjah) Allah dalam setiap masa, era, dekade, dari rasa hormat yang mendalam untuk hak dan martabat manusia itu sendiri.

Dalam cara yang sama bahwa kenabian menyiratkan serangkaian atribut dan kondisi, demikian juga Imam, yang datang setelah Nabi, juga harus disertai dengan kualitas sosok pribadi tertentu. Kebutuhan ini timbul dari kenyataan bahwa Shi’ah menolak untuk menerima sebagai pemimpin komunitas orang yang kurang dalam kualitas kunci keadilan, ketidakmungkinsalahan (maksum), dan kepintaran/ ke-pakar-an. Perintah yang tepat dari ilmu pengetahuan agama, kemampuan untuk memberitakan Hukum Allah dan ketetapan-Nya dan untuk menerapkannya dalam masyarakat dengan cara yang tepat, dan, secara umum, untuk menjaga dan melindungi agama Allah, tidak ada seorang pun dimungkinkan karena tidak adanya sifat-sifat ini.

Tuhan sangat memperhatikan kapasitas spiritual, tingkat ilmu keagamaan, dan kesalehan dari Imam, dan Dia juga tahu, kepada siapa perwalian pengetahuan agama harus dipercayakan: siapa yang bisa membawa beban ini dan tidak mengabaikan untuk satu menit tugas memanggil orang kepadaAllah dan melaksanakan keadilan ilahi. Tetapi terlepas dari aspek masalah ini, pemahaman Syi’ah tentang Imamah juga mencerminkan cita-cita luhur manusia.

Jika dikatakan, bahwa orang (manusia) tidak berhak untuk ikut campur dalam hal memilih Imam itu, karena mereka (yang memilih) itu sendiri tidak cukup memadai dalam kemurnian kesucian batin dan kesalehan individu, dari derajat dalam mematuhi nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an; Di atas itu semua, mereka tidak dapat merasakan kehadiran illahi atau tidak adanya prinsip ilahi atas ketidakmungkin-salah-an (maksum/’ismah).

Oleh karena itu hak prerogatif Allah melalui Nabi-Nya untuk menunjuk penerus penggantinya; dan Imam di setiap zaman memilih dan mengangkat Pemimpin penerus penggantinya.

Jika seorang Imam mampu menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang gaib dan menampilkan ketidakmungkinsalahan (maksum) dalam ke-Imamah-an, yang terbungkus dalam busana yang menyerupai mirip dengan kekuatan ajaib para nabi, maka itu sah dan dapat diterima.

Ada metode yang diusulkan oleh Shi’ah dalam pengenalan dan perolehan akses ke-Imamah-an, mereka membentuk satu set kriteria kepemimpinan yang sebenarnya dari umat Islam pada zamanya masing-masing hingga hari akhir kelak.

Pendekatan lain untuk ke-Imamah-an ini sangat kontras dengan yang diusulkan Shi’ah. Karena ada kekaburan dan ambiguitas sekitar prinsip konsultatif dalam aplikasi pertanyaan kepemimpinan sejak awal, komunitas Sunni menempuh berbagai metode untuk memilih dan menunjuk Khalifah, sehingga dalam praktiknya elemen-elemen berikut muncul memainkan peran yang penting.

1: Konsensus (ijma ‘). Kaum Sunni mengatakan bahwa pemilihan khalifah pertama dan terutama terletak pada pemilihan oleh masyarakat, sehingga jikaumat Islam memilih individu tertentu sebagai pemimpin, ia harus diterima seperti itu dan perintahnya harus ditaati.

Sebagai bukti ini, mereka mengutip metode yang diikuti oleh sahabat Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan ahli keluarganya) setelah wafatnya. Berkumpul di Saqifah untuk memilih seorang khalifah, mayoritas diputuskan Abu Bakar dan bersumpah setia kepada dia; sehingga dengan demikian ia diakui oleh konsensus sebagai pengganti penerus Nabi, tanpa keberatan yang diajukan. Ini merupakan salah satu metode untuk menunjuk seorang khalifah.

2: Metode kedua terdiri dari Konsultasi dan pertukaran pandangan di antara anggota terkemuka dari komunitas Muslim. Setelah mereka sepakat antara mereka sendiri pada pilihan pemimpin bagi masyarakat, kekhalifahan-nya menjadi sah dan itu adalah kewajiban setiap orang untuk mematuhinya.

Ini adalah metode yang diadopsi oleh khalifah kedua. Ketika ‘Umar akan mati, ia memilih enam orang sebagai calon khalifah dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu nomor mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri, untuk tidak lebih dari enam hari. Jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan akhirnya diberikan kepada ‘Utsman. Ini juga dikatakan merupakan sarana sah untuk memilih khalifah.

3: Metode ketiga terdiri dari pencalonan khalifah pengganti sendiri. Hal ini terjadi dalam kasus ‘Umar, yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar tanpa keberatan yang diajukan oleh kaum Muslim.

Demikianlah, pada dasarnya, pandangan Sunni mengenai hal ini.

Marilah kita sekarang meninjau keberatan-keberatan yang masing-masing proses pembahasan adalah sebagaimana berikut:

Kebutuhan akan ketidakmungkinsalahan (maksum/ ‘ismah’) dari Imam, memiliki pemahaman yang jelas tegas dan merupakan perintah yang komprehensif dari semua permasalahan agama, baik dalam prinsip dan detail, yang berakar dari sumber Al-Quran dan Sunnah, serta yang dibuktikan oleh pengalaman sejarah.

Semua penindasan, kesalahan, korupsi dan penyimpangan yang kita lihat dalam sejarah Islam muncul dari kenyataan bahwa para pemimpin tidak memiliki kualitas yang seharusnya dibutuhkan oleh seorang Imam. Bahkan jika semua anggota umat Islam memilih seorang individu yang diberikan tugas kepadanya sebagai Imam dan penerus Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), ia tidak bisa lemah dan dari dirinya sendiri harus dapat memberikan legitimasi dan validitas atas ke-khalifahan-Nya.

Sedangkan Khalifah Abu Bakar, semua kaum muslimin, dalam hal apapun, tidak semuanya bersumpah setia (baiat) kepadanya, sehingga tidak perlu ada pertanyaan atas apakah konsensus benar-benar terbentuk?.

Juga merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa tidak ada dalam pemilihan sesuai kenyataan yang terjadi, dalam arti semua ummmat muslim yang tersebar di berbagai penjuru tempat pelosok negeri berkumpul di Madinah pada waktu itu untuk mengambil bagian dalam proses pemilihan suara atas pemilihan kekhalifahan itu ataupun proses pemilihan suara secara perwakilan diantara seluruh kabilah-kabilah yang ada.

Berdasarkan fakta sejarah, tidak semua penduduk Madinah berpartisipasi dalam pertemuan itu, di mana keputusan itu dibuat, bahkan beberapa Ahl Al Bayt Nabi dan Sahabat yang terkemuka, serta bahkan beberapa dari mereka yang hadir di Saqifah, menolak untuk menyatakan kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar. Seperti misalnya, Ali b. Abi Thalib sa, al-Miqdad, Salman, al-Zubair, ‘Ammar b. Yasir, ‘Abdullah b. Mas’ud, Sa’d b. ‘Ubadah, Abbas b. Abd al-Muthalib, Usamah b. Zaid, Ibnu Abi Ka’b, ‘Utsman b. Hunayf, serta sejumlah sahabat terkemuka lainnya, yang menyampaikan keberatan atas pemilihan khalifah Abu Bakar dan ini berarti opini mereka tidak menyembunyikan sikap oposisi mereka. Tetapi sikap oposisi mereka, tidak dimaksudkan terorganisir menjadi oposan untuk menggulingkan Khalifah Abu Bakar. Bagaimana mungkin kemudian dapat dikatakan bahwa ke-Khalifah-an Abu Bakar dianggap telah berdasar pada ijma’ (konsensus) umat Islam?

Ini bisa dikatakan bahwa partisipasi dari setiap orang, dalam pemilihan pengganti penerus Nabi tidak perlu! Dan bahwa jika sejumlah orang-orang terkemuka mencapai keputusan tertentu sudah cukup dan hak khalifah sudah dapat diterima dan harus ditaati!.

Namun, mengapa keputusan mereka harus mengikat orang lain? Mengapa orang lain yang terkemuka dan tokoh yang dikenal cemerlang dalam sejarah peradaban ummat Islam, yang memiliki komitmen dan pengabdian yang tinggi dan sudah tidak perlu diragukan lagi, telah dikecualikan dalam membuat keputusan yang begitu penting bagi ummat, yang memiliki konsekuensi luas menyangkut urusan nasib umat Islam? Mengapa mereka mengajukan tanpa syarat atas keputusan yang dicapai dengan memaksa dan mengintimidasi kepada orang lain? Apa bukti yang ada bagi legitimasi prosedur tersebut? Mengapa ini merupakan preseden yang sah dan bersifat mengikat kebebasan umat yang lain?

Secara prosedural tipe ini dapat dianggap sebagai sah, hanya jika secara eksplisit ditunjuk sebagaimana tersebut dalam ayat Al-Qur’an atau SunnahNabi, dalam arti ayat di mana Allah menyatakan:

“Ambil dan terimalah apa yang Rasul berikan kepadamu, dan tinggalkan apa yang dilarang. ” (QS, 59:7)

Adapun para sahabat, tidak ada bukti bahwa mereka harus bertindak dengan benar, selain dari yang sebagian dari mereka tidak setuju dengan orang lain, dan tidak ada alasan dalam prinsip untuk lebih memilih pandangan dari satu kelompok para sahabat atas orang lain.

Memang benar bahwa mayoritas penduduk Madinah memberi kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar dan dengan demikian diratifikasi seleksi sebagai khalifah, tetapi mereka yang menolak untuk melakukannya tidak melakukan dosa apapun, untuk kebebasan dalam memilih, karena kebebasan dalam memilih adalah hak alami dari setiap Muslim, dan kaum minoritas tidak berkewajiban untuk mengikuti pandangan sebagian besar kaum mayoritas. Tidak ada yang bisa dipaksa untuk bersumpah setia (baiat) kepada seseorang yang dia tidak ingini di pucuk pimpinan urusan muslim atau bergabung dengan kompak menolak dia. Ketika kaum mayoritas memaksa kaum minoritas untuk menyesuaikan diri dengan pandangan kaum mayoritas itu sendiri, berarti ia telah melanggar hak-hak kaum minoritas.

Sekarang sahabat yang berkumpul di sekitar Ali sa. yang terpaksa berubah mengikuti mayoritas yang telah memberikan kesetiaan kepada Abu Bakar, itu tidaklah dapat ditasbihkan apapun kepada Tuhan atau Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), karena itu jelas pelanggaran hak-hak mereka dan kebebasan invidual mereka.

Lebih buruk lagi dari ini, adalah fakta bahwa Ali b. Abi Thalib sa. dipaksa untuk berpartisipasi dalam sumpah kesetiaan (baiat) dan mengubah posisinya, meskipun ia adalah seseorang yang diberi otoritas oleh Rasulullah Muhammad SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan. Tak seorang pun dengan rasa keadilan dapat menyetujui pengebirian hak kebebasan individu dalam memilih itu sendiri.

Hal ini juga harus dikatakan bahwa umat Islam dari generasi kemudian yang mengadopsi sebuah sikap negatif terhadap suatu pemberian kesetiaan (baiat) yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, tidak dapat dihukum karena ini atau dianggap sebagai seorang pendosa (sesat/ kafir-murtad).

Selama zaman kekhalifahan Ali sa., orang-orang seperti Saad b. Abi Waqqas dan ‘Abdullah b. ‘Umar menolak baiat kepada Ali sa., tetapi dengan kemurahan hatinya, Imam Ali sa. mempersilahkan mereka bebas untuk melakukannya dan tidak memaksa mereka untuk harus membaiat kepadanya.

Selain semua ini, jika khalifah tidak ditunjuk oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), tak seorang pun dapat dipaksa untuk mengikuti modus perilaku yang ditentukan oleh khalifah yang hanya mengklaim legitimasi dalam pemilihan suara. Pemilihan tersebut tidak memberikan kepadanya imunitas dari kesalahan dan dosa (‘ismah), juga tidak meningkatkan pengetahuan agama dan kesadaran. Orang mukmin biasa berhak mengikuti orang lain selain khalifah, yang tingkat pemahamannya terhadap ilmu agamanya lebih tinggi dari pada khalifah itu sendiri.

Namun, bila baiat itu adalah merupakan sumpah ketaatan pada perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkat-atasnya dan keluarganya), ini memang dianggap sebagai sumpah kesetiaan kepada Rasulullah SAWW. sendiri, lalu tidak mungkin jika tidak taat, dan ketaatan orang kepada siapa kesetiaan diberikan adalah kewajiban tidak hanya pada umat Islam waktu itu, tapi pada orang-orang dari semua generasi-generasi berikutnya.

Selain itu, Al-Qur’an menganggap kesetiaan yang diberikan kepada Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sebagai setara dengan kesetiaan diberikan kepada Allah. Jadi Al-Qur’an mengatakan:

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al Qur’an, 48:10)

Hal ini jelas bahwa pengganti penerus itu dipilih oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), yang akan menjadi adalah laki-laki yang paling tajam dan paling paham tentang peraturan Al-Qur’an dan agama Allah, bahkan ia mungkin akan memiliki semua sifat-sifat Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dengan perkecualian menerima wahyu Allah, dan dia memberi perintah apa pun akan didasarkan pada keadilan dan penerapan hukum-hukum agama Allah.

Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), berkaitan dengan hal itu bersabda:

“Komunitas saya tidak akan pernah setuju atas kesalahan.”

Namun, tradisi ini tidak dapat dikemukakan berkaitan dengan pertanyaan suksesi kepemimpinan dalam Islam, untuk itu kemudian akan bertentangan dengan perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dan secara efektif menyebabkan orang akan mengabaikan kata-katanya; itu akan memungkinkan mereka untuk lebih suka atas pandangan mereka sendiri dari pada kata-kata beliau SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya). Apa pun penerapan itu lebih dibatasi pada kasus-kasus di mana tidak ada hukum yang jelas atau otoritatif dari Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAWW.

Apa yang dimaksudkan oleh Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), adalah bahwa masyarakat tidak akan setuju atas kesalahan dalam kasus di mana ummat diijinkan oleh Allah untuk memecahkan masalah dengan musyawarah, tempat konsultasi tersebut dilakukan di suasana yang bebas dari intimidasi, dan di mana pilihan tindakan tertentu dengan suara bulat disetujui. Namun, jika sekelompok masyarakat tertentu cenderung dalam arah tertentu dan kemudian mencoba untuk memaksakan pandangan mereka pada orang lain dan memaksa pembaiatan mereka, tidak ada alasan untuk menganggap hasil itu sebagai mewakili sebuah konsensus yang valid.

Adapun sumpah kesetiaan (baiat) yang terjadi di Saqifah, bahkan jika Allah dan Rasul SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sudah memberikan izin untuk masalah yang akan memutuskan berdasarkan konsultasi, tidak ada konsultasi yang benar-benar terjadi. Sebuah kelompok tertentu secara individu mengatur agenda di muka dan kemudian dikeluarkan usaha-usaha besar untuk mencapai hasil yang mereka sendiri inginkan (red. penuh hawa nafsu dunia/ ambisi). Ini adalah kenyataan yang terjadi, seperti yang bahkan khalifah kedua (Umar b. Khattab) sendiri datang untuk mengakui:

“Pemilihan Abu Bakar sebagai pemimpin muncul secara kebetulan, itu tidak terjadi melalui konsultasi dan pertukaran pandangan. Jika seseorang mengundang Anda untuk mengikuti prosedur yang sama lagi, bunuhlah dia!” [1]

Dalam perjalanan ia menyampaikan khotbah pada awal khalifah-Nya, khalifah pertama meminta maaf kepada orang-orang dalam kata-kata:

“Para sumpah kesetiaan (baiat) kepada saya adalah sebuah kesalahan, Semoga Allah melindungi kita dari konsekuensi buruk yang aku sendiri takut membahayakan dapat menimbulkan.” [2]

Selama hidupnya, Nabi Islam SAWW. (salam kedamaian dan berkat atasnya dan keluarganya), menunjukkan perhatian besar bagi kesejahteraan kaum muslimin dan menaruh perhatian besar terhadap kelestarian agama Islam dan persatuan dan keamanan masyarakat Muslim. Ia sangat khawatir munculnya perpecahan-perpecahan, dan dimanapun beliau pergi, hal pertama yang ia lakukan adalah untuk menunjuk seorang gubernur atau komandan untuk daerah. Demikian pula, komandan selalu diangkat di muka setiap kali pertempuran sedang direncanakan dan bahkan wakil komandan ditunjuk untuk mengambil alih kepemimpinan tentara jika perlu. Setiap kali beliau memulai perjalanan, ia menunjuk seseorang sebagai gubernur untuk mengelola urusan Madinah.

Mengingat semua ini, bagaimana mungkin bahwa dia tidak pernah memikirkan nasib masyarakat ummat Islam setelah wafatnya, yang membutuhkan panduan dan pimimpinan, kebutuhan di mana nasib masyarakat ummat Islam di dunia ini dan selanjutnya tergantung?

Apakah mungkin bahwa Tuhan harus mengirimkan utusan untuk membimbing manusia dan untuk mendirikan agama; sedang sang utusan harus menanggung segala macam kesulitan-kesulitan dalam menyampaikan perintah Tuhan untuk ummat manusia, kemudian harus berhenti begitu saja di dunia ini tanpa ada kelanjutannya? Apakah ini suatu yang penuh hikmah dan kebijaksanaan dari Allah Yang Maha Bijaksana atau logis dari suatu rangkaian aksi?

Apakah setiap pemimpin akan begitu saja merasa puas dan percaya atas jerih payah usaha dan perjuangannya selama ini, untuk kesempatan masa depan yang tidak pasti?

Ke-Rasul-an adalah kepercayaan ilahi yang diberikan kepada Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), dan ia memiliki kepribadian yang terlalu agung mengabaikan kepercayaan dengan cara apapun, terutama dengan meninggalkan kelanggengan agama Islam. Membuat penunjukan penerus penggantinya tergantung pada pemilu akan tepat sama dengan hasil pemilu itu sendiri, selalu timbul permasalahan-permasalahan.

Jika tujuan dari agama adalah untuk mendidik manusia dalam kemanusiaan mereka dan jika hukum agama untuk mempromosikan pembangunan dan perbaikan umat manusia, seorang pemimpin harus selalu ada bersama-sama dengan agama dalam rangka untuk mengamankan kebutuhan material dan spiritual individu dan masyarakat dan pemimpin yang memberikan panduan dalam penyelesaian segala sengketa ke atas mereka.

Tidak ada keraguan bahwa kekuasaan pemerintah diperlukan untuk dapatnya melaksanakan hukum-hukum Tuhan dan menjaga perintah-Nya, dan kebutuhan akan ini berarti pada gilirannya merupakan kebutuhan terhadap pemimpin dan pemandu yang akan membantu dalam perjuangan mereka dalam mengatasi kekurangan kesadaran mereka yang rentan terhadap saran-saran setan.

Dengan tidak adanya seorang pemimpin, agama akan menjadi keruh dan terdistorsi oleh takhayul (syubhat) dan pendapat sewenang-wenang, baik secara individual ataupun kelompok, dan kepercayaan kepada illahi sesuai aturan agama dan wahyu akan dikhianati (menyimpang).

Selain itu, jika Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), telah meninggalkan untuk kaum muslimin memilih khalifah, ia akan melakukannya dengan kejelasan dan sepenuhnya dengan cara yang paling kategoris mungkin, juga menetapkan prosedur-prosedur mereka mengikuti dalam aturan pemilihan dan pengangkatannya.

Apakah urusan umat Islam setelah wafatnya Nabi bukan urusan Allah dan Rasul-Nya? Apakah orang-orang lebih berpandangan jauh dari Allah dan Rasul-Nya, atau lebih mampu membedakan mana pemimpin yang seharusnya?

Jika Nabi tidak menunjuk seorang pengganti (khalifah) untuk dirinya sendiri, kenapa Abu Bakar melakukannya? Dan jika Nabi melakukannya, mengapa yang beliau pilih disisihkan?

Masalah lain yang timbul sehubungan dengan pilihan khalifah atas dasar musyawarah adalah bahwa Imam harus menjadi penuntun umat dalam segala hal pengetahuan agama. Tidak ada yang meragukan bahwa dia harus memiliki komitmen dan pengetahuan komprehensif tentang hukum-hukum Allah, karena dalam menghadapi banyak masalah kompleks yang muncul umat Islam memerlukan kewenangan seorang pemimpin yang cocok untuk memberikan bimbingan keimanan yang dapat diandalkan. Pengganti Nabi karena itu harus menjadi pewaris sumber pengetahuan, yang membuat identifikasi dan pengakuan penerus, merupakan masalah penting.

Kita telah menjelaskan peran fundamental ketidakmungkinsalahan (‘ismah) di kedua hal, Nabi dan pemimpin (imam) yang ditunjuk oleh Nabi. Sekarang, bagaimana para sahabat, yang mereka sendiri tidak ketidakmungkinsalahan (‘ismah), membawa pada diri mereka sendiri untuk mengenali orang yang mungkin-salah?

Selain itu, jika itu adalah hak kaum muslimin bahwa mereka harus memilih pengganti Nabi, bagaimana hak ini dibatasi oleh ‘Umar b. Khattab hanya kepada untuk enam orang saja? Semua enam orang dari antara Muhajirin, dan bahkan tidak satu pun dari Anshar ditugaskan untuk menasehati mereka.

Ayat Al Qur’an yang berbunyi:

“Kaum muslimin adalah untuk mengatur urusan mereka atas dasar musyawarah” (Al Qur’an, 42:38)

Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa salah satu ciri dari orang percaya adalah untuk berkonsultasi satu sama lain dalam usaha mereka; itu tidak tidak menunjukkan dengan cara apapun bahwa kepemimpinan umat Islam harus berdasarkan suara mayoritas, juga tidak membuat kewajiban ketaatan kepada keputusan yang diambil oleh khalifah begitu terpilih. Ayat ini bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang cara konsultasi yang akan diselenggarakan dan apakah atau tidak kehadiran semua umat Islam diperlukan.

Bahkan jika konsultatif (syura) prinsip yang dapat diterapkan dalam masalah kepemimpinan Islam, keputusan harus dibuat melalui pertukaran pandangan umum, bukan terbatas hanya pada enam orang, dalam pemilihan yang “Umar b. Khattab tidak mau dirinya untuk berkonsultasi dengan salah satu sahabat.

Dia bahkan memberikan hak veto untuk Abd al-Rahman b. ‘Auf yang dikenal karena kekayaannya, sesuatu yang tidak dapat dibenarkan dengan mengacu pada prinsip-prinsip Islam.

Pertimbangan keenam itu, apalagi, dibayangi oleh ancaman dan intimidasi, telah diberikan perintah bagi mereka yang tidak setuju dengan mayoritas harus dihukum mati! Dibunuh!

Ketika menunjuk ‘Umar menjadi khalifah, Abu Bakar tidak berkonsultasi dengan siapa pun, tidak cukup jelas dia meninggalkan pertanyaan penggantinya kepada orang-orang bagi mereka untuk memutuskan, melainkan sepenuhnya merupakan keputusan pribadi.

Dalam hal apapun, prinsip konsultatif menjadi operasi hanya jika pemimpin itu sendiri mengadakan pertemuan konsultasi untuk pertukaran pandangan mengenai berbagai pertanyaan, terutama saat menyentuh topik tentang hubungan sosial dan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh pemimpin dalam menanggapi kebutuhan sosial. Konsultasi dengan spesialis yang relevan terjadi, tapi setelah opini mereka telah didengar, itu adalah pemimpin sendiri yang mengambil keputusan akhir.

Untuk pengetahuan agamanya adalah lebih tinggi dari orang lain, dan itu adalah pernyataan bahwa dukungan publik menikmati layak diberlakukan. Kesatuan arah dan kepemimpinan harus selalu dijaga, karena perbedaan pendapat, tanpa adanya seorang pemimpin membuat keputusan akhir, akan melumpuhkan pemerintah.

Juga harus diingat bahwa Al-Qur’an Surah Al-Syura terungkap di Makkah, pada saat sistem pemerintahan Islam belum mengambil bentuk, dan bahwa pada waktu tidak ada pemerintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah di atasnya dan keluarganya), berdasarkan konsultasi.

Ayat tentang konsultasi, kemudian, mendorong orang-orang percaya untuk berkonsultasi satu sama lain, dan itu tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah pemerintahan dan kepemimpinan. Hal ini terkait dengan keprihatinan praktis kaum muslimin, dengan berbagai masalah yang dihadapi umat Islam. Sama sekali tidak ada pembenaran untuk menafsirkan ayat ini sebagai sanksi penunjukan khalifah melalui musyawarah, karena selama usia pemerintah wahyu secara eksklusif ada di tangan Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya).

Selanjutnya, bagian dari ayat yang merekomendasi konsultasi diperlakukan dari keinginan untuk belanja properti seseorang dalam jalan Allah, juga sesuatu yang diinginkan tetapi tidak wajib.

Namun pertimbangan lain adalah bahwa ayat tersebut terjadi dalam konteks berhubungan dengan perang Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya). Beberapa ayat-ayat yang ditujukan kepada umat Islam pada umumnya dan para prajurit di antara mereka pada khususnya, dan lainnya untuk Nabi secara individual. Hal ini jelas bahwa dalam konteks ini dorongan untuk berkonsultasi terinspirasi oleh belas kasih bagi orang yang beriman, dengan kepedulian moral mereka, itu adalah bahwa Nabi tidak diwajibkan untuk bertindak sesuai dengan pendapat dari orang-orang yang dimintai konsultasi.

Untuk Alquran dengan jelas menyatakan:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian Setiap kali Anda mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah dan bertindak sesuai dengan opini sendiri dan niat (tekad). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Qur’an, 3:159)

Konteks ini juga menunjukkan konsultasi yang berlaku untuk hal-hal militer, terutama ke kekhawatiran yang muncul selama Pertempuran Badar, bagiNabi SAWW (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), sahabat berkonsultasi tentang kelayakan menyerang kafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan kembali dari Suriah. Pertama Abu Bakar menyatakan pendapat, yang ditolak oleh Nabi, kemudian ‘Umar menyatakan-Nya, yang juga ditolak, dan akhirnya al-Miqdad memberikan pendapatnya, dan Nabi menerimanya. [3]

Jika Nabi berkonsultasi dengan orang lain, itu bukan berarti untuk belajar dari mereka yang lebih unggul (pakar) dari pendapat beliau sendiri. Tujuannya adalah bukan untuk melatih mereka dalam konsultasi metode dan penemuan pandangan yang benar. Berbeda dengan penguasa yang menolak duniawi pernah berkonsultasi dengan orang biasa, karena kesombongan dan keangkuhan, Nabi diperintahkan oleh Allah untuk menunjukkan perhatian orang yang beriman dan belas kasihan kepada mereka dengan konsultasi dengan mereka, pada saat yang sama meningkatkan harga diri mereka dan belajar apa yang mereka pikirkan.

Namun, keputusan akhir selalu, dan dalam kasus Pertempuran Badar, Allah memberitahukan terlebih dahulu tentang apa yang akan dihasilkannya, dan ia pada gilirannya ini disampaikan kepada para sahabat setelah berkonsultasi dengan mereka.

Perintah untuk berkonsultasi dan untuk bertukar pandangan juga demi menemukan cara terbaik untuk memenuhi tugas yang diberikan, bukan untuk mengidentifikasi apa yang tugas dan apa yang tidak, ini merupakan perbedaan penting.

Setelah resep yang jelas dan otoritatif ada dalam Al-Quran atau Sunnah, tidak ada tanah untuk konsultasi mengambil tempat. Masyarakat tidak memiliki hak untuk mendiskusikan perintah yang didasarkan pada wahyu, karena pada prinsipnya diskusi tersebut mungkin berakibat pada pembatalan hukum Tuhan.

Dalam cara yang sama, konsultasi tidak berarti dalam setiap masyarakat manusia, sekali tugas hukum anggotanya telah ditentukan.

Sang penerus pengganti Ali b. Abi Thalib sa, jelas diangkat Nabi sesuai dengan perintah illahi di Ghadir Khum. Dan lagi di awal misi Nabi, ketika ia berada di ranjang kematiannya. Karena itu, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan oleh konsultasi.

Al-Quran tidak mengizinkan individu untuk menghibur pandangan mereka sendiri tentang topik apa pun ada di mana undang-undang illahi, untuk itu berkata:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al Qur’an, 33:36)

Atau lagi:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” (Al Qur’an, 28:67)

Karena pilihan dan seleksi pemimpin adalah hak prerogatif Allah semata, dan karena pada kenyataannya dia seorang pemimpin yang ditunjuk, tidak ada artinya untuk mencari orang lain sebagai pemimpin.

Tugas Imam adalah membimbing manusia dan menunjukkan kepada mereka jalan yang akan menuntun mereka ke kebahagiaan. Itulah yang terjadi, metode yang tepat untuk memilih seorang Imam adalah sama dengan yang Al Qur’an merinci untuk para nabi:

“Memang kewajiban pada Kami untuk membimbing manusia, untuk kerajaan dunia dan akhirat adalah Milik kami”. (Al Qur’an, 92:11-12)

Ini adalah tanggung jawab maka Allah sendiri memberikan pedoman bagi umat manusia dan untuk membuat tersedia apa saja yang dibutuhkan pada berbagai tahapan eksistensi. Bagian dari apa yang dibutuhkan yang pasti bimbingan, dan hanya satu yang telah ditunjuk Allah dapat menampilkan dirinya sebagai panutan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an bersaksi bahwa Allah berikan status panduan pada Nabi.

Penunjukan seorang Imam sebagai pengganti Nabi Allah terjadi untuk tujuan yang sama persis dengan misi Nabi (salam kedamaian dan berkah saw dan keluarganya), yang melayani umat manusia sebagai panutan dan tokoh suri tauladan kepada siapa ketaatan disampaikan.

Dengan hal tersebut, tak seorang pun berhak mengklaim fungsi ini atau untuk menuntut ketaatan tanpa bukti yang telah diangkat oleh Allah. Jika seseorang tetap saja tidak melakukannya, ia akan merampas tangan kanan Allah.

Teori Sunni yang melihat dalam penunjukan Abu Bakar penggantinya, pembenaran untuk prosedur tersebut. Jika penunjukan tersebut dibuat oleh seorang Imam yang mungkin-salah (tdiak ‘ismah’) itu adalah sah dan otoritatif, tetapi yang lain mengenali untuk satu pemilik ketidakmungkinsalahan (‘ismah) dan aman mempercayakan urusan umat kepadanya. Jika hal ini tidak menjadi kasus, kurang satu kualitas ketidakmungkinsalahan, tidak memiliki hak untuk menunjuk seorang menjadi khalifah, yang orang wajib mematuhi. Jika dikatakan bahwa ini adalah Abu Bakar yang lakukan dan tidak ada yang keberatan, itu harus dijawab bahwa keberatan memang sudah diajukan, tetapi tidak ada perhatian yang dibayarkan kepada mereka.

Tersebut pandangan para ulama Sunni tentang legitimasi dari tiga metode yang berbeda untuk memilih khalifah, dan keberatan-keberatan yang perlu dibuat untuk dilihat mereka.

Referensi:
[1] Ibnu Hisyam, Sirah, Vol. IV, hal 308; al-Tabari, Tarikh, Ibn al-Atsir, al-Kamil, Ibnu Katsir, al-Bidayah.
[2] Ibn Abi ‘l-Hadid, Syarah, Vol. I, p.132.
[3] Muslim, al-Sahih, “Sayr Kitab wa al-Jihad” Bab: Badar Ghuzwah, Vol. III, p.1403.

Lebih Lanjut mengenai Ijma’

Sunni menyatakan bahwa masalah penerus Nabi diselesaikan melalui konsep “syura (musyawarah), karena Allah SWT berfirman dalam Qur’an bahwa masalah mereka dipecahkan melalui syura’. Klaim bahwa masalah kepemimpinan adalah tidak diselesaikan melalui agreement supported adalah kesalahpahaman pengertian syura yang dimaksud dalam ayat Al-Qur’an dengan demokrasi pemilihan kepemimpinan Islam berdasarkan kesepakatan persetujuan ummat. Dewan syura’ ini berbeda dengan voting atau pemilihan, dan karena alasan itu, ia tidak dapat diterapkan pada masalah Imamahatau Khilafah. Mari kita menjelaskan mengapa?!Ketika seorang pemimpin untuk memutuskan suatu masalah, menurut aturan Islam, dia bisa mencoba untuk bernegosiasi dengan sekelompok pakar untuk mendapatkan pendapat dari mereka tentang isu-isu tertentu. Tapi akhirnya dia sendiri-lah yang harus memutuskan. Dia tidak melakukan pemungutan suara (voting). Untuk membuktikan spot kami, mari kita lihat ayat berikut ini.”… Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam masalah ini. Kemudian ketika Anda (para Nabi) ditentukan, maka bertawakallah kepada Allah” (Surah Ali Imran: 159).Ayat di atas Nabi berkonsultasi bertanya, tapi Allah SWT. menyatakan “idza azamta fa …” Berarti bahwa hanya Nabi yang mengambil keputusan akhir. Dan kemudiam semua ummat Islam “sami’na wa atha’na”

Di sini tidak ada pemilihan suara (voting) sama sekali. Ini hanya soal untuk mendapatkan opini. Keputusan akhir ditangan Nabi. Yang mungkin berbeda dari mayoritas orang yang berkonsultasi (demi keuntungan) yang diakui oleh para pemimpin dan karena itu ia dianggap sebagai seorang pemimpin karena lebih unggul dalam keilmuan, pintar, dan sebagainya.

Beberapa pihak berpendapat disini bahwa, karena pengetahuan yang tinggi, Nabi Muhammad SAWW. bahkan tidak perlu untuk meminta pendapat rakyatnya. Namun, Nabi melakukannya dalam beberapa keadaan, hanya untuk mengajar orang pentingnya arti musyawarah.

Dalam hal musyawarah, keberadaan seorang pemimpin yang diasumsikan sebagai pengambil keputusan akhir (top decision maker). Hal ini jelas membuktikan bahwa, dalam hal suksesi kepemimpinan, konsensus (dukungan persetujuan/ agreement supported) dari ummat tidak diperlukan (kecuali hal itu dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, sebelum kematiannya).

Setelah kematian sang pemimpin, sang pemimpin tidak dapat melakukan musyawarah, kecuali sang pemimpin akhir memiliki wakil (red. atau panggilan wakil presiden) yang dapat melakukan fungsi ini.

Biasanya wakil yang ditunjuk adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi pemimpin, dan bahkan orang lain pun memutuskannya ia layak untuk menjadi pemimpin. Pemimpin ditunjuk oleh wakil tetap (pemimpin) yang sebelumnya telah ditunjuk, dan bukan oleh manusia!

Pemilihan suara (Voting) adalah masalah yang sama sekali berbeda. Dalam masyarakat demokratis, semua orang memiliki kesempatan untuk memilih kandidat mereka. Prosedur-prosedur ini tidak memiliki dukungan apapun dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, untuk masalah-masalah dalamkepemimpinan Islam (Islamic Leadership).

Keseluruhan. Alasannya, Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan oleh manusia, dari manusia dan untuk manusia). Sebagaimana pengertian Demokrasi dalam Trias Politika dari filusuf Yunani (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat), yang kemudian terbentuk legilatif, yudikatif dan eksekutif.

Memang, Quran mengutuk pendapat kebanyakan orang (lihat kembali ayat Al-An-am, 6: 116; QS Al-. Maidah: 49, QS Yunus:. 92; QS Al-. Rum: 8) karena pandangan kebanyakan pria biasanya lemah karena kecenderungan mereka.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”[500]. (Qur’an al-An ‘am, 6:16)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (Qur’an al-Maidah, 5 :49)

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”. (Qur’an Yunus, 10 : 92)

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (Qur’an ar-Ruum, 30: 8)

Selain itu, pemilihan tersebut tidak terjadi untuk tiga khalifah pertama yang naik tahta kepemimpinan setelah Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya) wafat, bahkan tidak diantara penduduk Madinah.

Juga, bagaimana jika ada orang yang tidak memilih individu yang memenuhi syarat kualifikasi sebagai seorang pemimpin, misalnya orang munafik? Bagaimana bisa, seperti misalnya orang yang korup menjadi Ulil Amri dan ketaatan menjadi wajib?

Tentu saja, Allah SWT. dan Rasulullah Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya). Lebih mengetahui mana yang lebih baik, yang lebih pantas, memenuhi syarat sebagai pemimpin (imam) penerusnya.

Referensi :

[500]. Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

[704]. Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

berarti kesepakatan dari seluruh ummat Islam. Tapi anehnya dalam pemilihan khalifah, fakta sejarah ternyata menunjukkan ada indikasi yang tidak jelas dalam pemilihan khalifah pertama. Adakah ia pemilihan khalifah pertama, itu atas ijma’ dari seluruh ummat Islam, tanpa terkecuali terutama dariAhl Al-Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW dan Bani Hasyim ?Fakta sejarah mencatat, pemilihan khalifah pertama hanya diikuti dan dihadiri beberapa gelintir orang sahabat nabi di Madinah (red. bahkan konon sudah ditentukan sebelumnya, lihat dan silahkan telaah secara kritis fakta sejarah peristiwa “saqifah”).Sedangkan ummat muslim yang berada di wilayah Islam lainnya, selain yang ada di kota Madinah (red. setelah fathu Mekkah ummat Islam berkembang pesat), tidak terlibat ikut berperan secara aktif dalam pemilihan suara secara ijma’ itu, sehingga tidak dapat diketahui secara persis dan pasti bagaimanakah suara dan idea-idea mereka, seperti layaknya dalam suatu proses pemilihan secara ijma’ . Lebih tepatnya, dapat dikatakan, bukan kesepakatan seluruh ummat Islam, tetapi kesepakatan sebagian ummat Islam.

Bukti sejarah, Ahl Al-Bayt Nabi (Keluarga Nabi) seperti Imam Ali bin Abi Thalib sa., Fatimah sa, Hasan sa. dan Husyain sa. serta seluruh keluarga BaniHashim lainnya tidak tampak ikut hadir dan mengikuti pemilihan suara dengan sistem Ijma  itu. Karena Ahl Al-Bayt Nabi hanya berkhidmat pada jenazah Rasulullah di rumah duka, sementara hanya beberapa gelintir orang sahabat saja yang heboh membicarakan pengganti Nabi Suci MuhammadSAWW.

Oleh karena itu sistem ijma’ seperti in patut dipertanyakan, apakah hal ini layak bisa diterima oleh seluruh ummat Islam tanpa terkecuali? Karena, definisi pengertian ijma’ jelas sekali merupakan kesepakatan seluruh ummat Islam tanpa terkecuali. Dengan demikian definisi pengertian ijma’ itu sendiri telah diciderai!

Kemudian, yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah jika sistem ijma ‘ ini memang dinyatakan sebagai sistem yang benar dan harus wajib diikuti dan harus diterima, maka mengapa sesudah pemilihan khalifah pertama (Abu Bakar) yang masih patut dipertanyakan itu, dalam pemilihan khalifah kedua (Umar ibn Khattab), khalifah pertama Abu Bakar melanggar sistem ijma’ ini?

Betapa tidak, fakta sejarah menunjukkan pemilihan khalifah kedua Umar bin al-Khattab dibaiat sumpah setia oleh khalifah Abu Bakar sebagai penggantinya tanpa ijma’ . Tetapi secara atas tunjuk, membaiat dan mewariskan secara langsung dengan otoritas yang dimilikinya.

Jika Abu Bakar bisa membai’at dan menunjuk Umar bin Al-Khattab dalam sebagai khalifah penggantinya sesuai otoritas yang dimiliki, lalu pertanyaannya mengapa, apa yang tidak tepat jika Nabi Suci Muhammad SAWW. melakukan cara yang sama, sesuai dengan instruksi
wahyu yang diterima beliau sesuai otoritasnya sebagai Nabi dan Rasul, dengan menunjuk pemimpin pengganti beliau Ali bin Abi Thalib sa. sebagaiImam pengganti penerusnya?

Di sini, Nabi Suci adalah lebih patut ketika ia melantik Imam Ali bin Abi Thalib sa. sebagai seorang Imam atau khalifah penggantinya saat ia wafat nantinya, di sebuah tempat Ghadir Khum, setelah melakukan Haji Wada. Nabi Suci melakukan ini semua, bukan sesuai dengan keinginannya (“penuh hawa nafsu rendah duniawi”), tapi menurut Al-Qur’an apa yang ada dalam diri Nabi Suci Muhammad SAWW. tidak lain adalah “illa yuha wahyuha”. (melainkan wahyu yang telah Allah wahyukan). Dan kita semua ummat muslimin sepatutnya, harusnya mengucapkan “‘Sami’na wa atho’na” (Kami dengar dan Kami taat!).

Dan sekali lagi, perlu dipertanyakan kembali, jika ijma ‘adalah sistem yang benar dan harus diikuti, lalu mengapa pula sistem ijma’ ini masih tetap dilanggar kembali, dalam pemilihan untuk khalifah yang ketiga Ustman bin Affan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab?

Lagi fakta sejarah mencatat, khalifah kedua Umar bin Khattab pun juga telah melanggar sistem ijma’ ini, dimana ijma’ dibatasinya dengan memilih 6 (enam) orang sebagai calon khalifah tanpa musyawarah dengan para sahabat sebelumnya, dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu dari mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri untuk tidak lebih dari enam hari, jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, maka lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan diberikan kepada ‘Utsman.

Adakah ini adalah ijma’ atau merupakan hasil ijtihad terbaik khalifah Umar ibn Khattab atas pengertian definisi ijma’ itu sendiri?

Kalau itu memang iya, merupakan hasil ijtihad terbaik dari khalifah Umar Ibn Al-Khattab, tidakkah dia menyadari bahwa hal itu akan menciderai dan merusak pengertian ijma’ itu sendiri?

Mungkin perlu direnungkan, untuk telaah kritis atas fakta sejarah yang ada secara obyektif. Dan hendaklah dibuang jauh-jauh prasangka buruk. Di sini bukan hanya untuk sekedar mengkritisi polah tingkah laku dan pemikiran sahabat Nabi terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Ustman bin Affan. Nauzu billaahi min dzalik.

Terlepas dari semua itu, mereka semua sahabat Nabi yang terkemuka. Bahkan bagaimanapun juga Abu Bakar adalah ayah mertua Nabi MuhammadSAWW. Dimana beliaupun juga tetap sangat menghormatinya. Demikian pula Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan mereka semua telah memberi warna dalam pergerakan jihad Nabi Suci Muhammad SAWW. dan memberikan
sumbangsih yang tidak sedikit.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu muncul dalam hati dan pikiran semua umat Islam terutama generasi muda Islam. Mengapa sistem ijma’dibuat dan diagung-agungkan sebagai dalil pembenaran untuk melegitimasi pemilihan dalam Kepemimpinan Islam (Islamic Leadership), tapi malah justru fakta sejarah menunjukkan bahwa dari pemilihan kepemimpinan Islam mulai khalifah pertama sampai khalifah ketiga, semuanya terbukti telah melanggar dan menciderai definisi pengetian ijma’ itu sendiri? Kalau sudah begini, lalu generasi Islam harus bagaimana?

Ternyata memang telaah kritis atas fakta-fakta sejarah adalah sangat penting sekali bagi generasi muda Islam untuk menemukan esensi kebenaran agama Islam yang hakiki dari sumber yang hakiki pula.

Imamah dalam pandangan Syi’ah adalah bentuk pemerintahan ilahi, yang berkantor tergantung pada Allah seperti ke-nabi-an, sesuatu dimanaAllahtelah melimpahkan dan menganugerahkan pada hamba-hamba pilihan-Nya yang ditinggikan pada kurun waktu masanya masing-masing.

Perbedaannya adalah bahwa Nabi pendiri agama dan sekolah madarasah pemikiran hasil dari pada itu, sedangkan Imam memiliki fungsi menjaga dan melindungi agama Allah yang telah dirisalahkan kepada Nabi-Nya, dalam arti bahwa masing-masing memiliki tugas dalam semua dimensi nilai-nilai hidup spiritual mereka dan cara pelaksanaan agama Allah.

Setelah wafat Rasulullah SAWW, umat Islam berada pada kondisi yang membutuhkan tokoh yang layak yang akan diberkati dengan pengetahuan komprehensif yang berasal dari wahyu (red. hikmah), dibebaskan dari dosa kesalahan dan kenajisan kotoran hawa nafsu rendah duniawi, dan mampu menjaga dan melestarikan syari’at agama Allah secara murni dan konsekuen sesuai Qur’an dan Sunnah Nabi.

Hanya tokoh seperti itu lah yang layak akan dapat, tidak hanya untuk mengawasi perkembangan dari waktu dan untuk melindungi masyarakat dari unsur menyimpang, tetapi juga untuk memberikan pengetahuan agama yang luas kepada ummat yang muncul dari sumber utama berupa wahyu (red. hikmah) dimana prinsip-prinsip umum syari’at Nabi berasal. Hukum yang berasal dari wahyu inilah yang merupakan obor kebenaran dan keadilan yang tertinggi.

Imamah dan kekhalifahan tidak bisa dipisahkan. Sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW. Tuhan Allah tidak bisa dipisahkan dari kantor ke-nabi-anNya. Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan-kesatuan tunggal.

Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual. Dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya. Sehingga terjadi dikotomi perbedaan pengertian imam dan khalifah (red. keimamahan dan kekhalifahan).

Jika masyarakat Islam tidak dipimpin oleh seseorang yang layak saja, yang takut akan Tuhan, yang tak ternoda oleh kenajisan moral dan tata nilai ahlak mulia, yang perbuatan dan kata-kata menjadi model panutan bagi orang-orang yang mengikutinya, atau sebaliknya, jika imam atau penguasa masyarakat itu sendiri melanggar hukum dan prinsip keadilan, tidak akan ada lingkungan yang mampu menerima keadilan, dan tidak akan mungkin lagi kebajikan dan kesalehan tumbuh berkembang, dan atau untuk tujuan pemerintahan Islam menciptakan lingkungan yang sehat bagi penyebaran nilai-nilai spiritual dan penerapan hukum-hukum Allah yang didasarkan pada wahyu (red. hikmah) ilahi.

Pelaksanaan moral penguasa dan peran pemerintah memiliki pengaruh yang kuat dan begitu mendalam terhadap masyarakat pendukungnya. ‘Ali ibn Abi Tahlib-Amirul Mukminin, yang dianggap sebagai lebih berpengaruh daripada peran edukatif dari seorang bapak dalam rumah tangga . Dia berkata demikian:

“With respect to their morals, people resemble their rulers more than they resemble their fathers.” (“Respek atas moral mereka, orang-orang akan menyayangi penguasanya lebih dari diri mereka menyanyangi bapak-bapak mereka sendiri”) [1]

Karena ada hubungan tertentu dan afinitas antara tujuan sebuah pemerintahan yang diberikan dan atribut dan karakteristik dari pemimpinnya, pencapaian cita-cita pemerintahan Islam sangat tergantung pada keberadaan seorang pemimpinnya, di antaranya adalah kualitas istimewa yang mengkristal kepada diri seorang manusia pemimpin yang disempurnakan.

Selain itu, kebutuhan masyarakat untuk kepemimpinan dan pemerintahan itu sendiri, merupakan kebutuhan alami yang bergerak maju menuju kesempurnaannya. Dan dengan cara yang sama Islam telah memenuhi kebutuhan individual dan kolektif manusia, material dan moral, oleh penyusunan sebuah sistem hukum yang koheren, disamping itu juga harus memperhatikan kebutuhan alami untuk kepemimpinan dengan cara yang sesuai dengan sifat esensial manusia.

Allah telah memberikan semua alat dan instrumen yang dibutuhkan setiap ada keterbatasan, kelemahan dan kekurangan untuk mengatasi dan maju menuju kesempurnaan itu sendiri. Apakah itu mungkin bahwa orang yang juga terpelihara dalam pelukan rahmat ilahi entah bagaimana akan dikecualikan dari aturan ini, pengoperasian diganggu gugat dan dicabut dari sarana pendakian spiritual?

Pada saat kematian Rasul Allah, negara Islam tidak mencapai tingkat budaya atau intelektual yang memungkinkan hal itu akan terus berkembang menuju kesempurnaan tanpa perwalian dan pengawasan. Islam telah didirikan untuk pengembangan dan elevasi manusia akan tetapi tidak akan lengkap tanpa jiwa dan prinsip keiImamahan yang berada untuk itu; Islam tidak akan bisa memainkan peran penting yang berharga dan sangat strategis dalam pembebasan manusia dan mekarnya potensi esensi manusia.

Teks-teks Islam Fundamental menyatakan bahwa jika prinsip Imamah dikurangkan dari Islam, semangat hukum Islam dan masyarakat berdasarkan progresif monoteistik akan hilang, tak akan pernah ada lagi, tetapi hanya ada bentuk Islam yang tak bernyawa, yang tak memiliki ruh ke-ilahi-an lagi.

Nabi Islam SAWW, bersabda: “Barangsiapa mati tanpa mengenal Imam pada masanya, mati dalam keadaaan Jahiliyyah.” [2]
Alasan untuk ini adalah bahwa selama era Jahiliyyah pra-Islam ketidaktahuan orang-orang musyrik; mereka tidak tahu baik monoteisme atau ke-nabi-an. Deklarasi ini dikategorikan oleh Nabi, kedamaian dan berkah Allah atasnya dan keluarganya, menunjukkan pentingnya ke-imamah-an dalam agamaIslam.
Referensi:

[1] Al-Majlisi, Biharal-Anwar, Vol, XVII, hal 129.

[2] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, hal 96.


Bagaimana Sunni BERPEGANG PADA 12 KHALiFAH YANG MEREKA TiDAK TAU SiAPA ORANGNYA ???

Al Qur’anul Kariim

“(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71)”Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Hadist Bukhari & Muslim

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda :
”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”.
[Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam].

Nabi SAWW. Bersabda :
“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

NABi   SAW   MENYEBUT  NAMA  12  KHALiFAH  UMAT

penutupan kenabian dilengkapi oleh penunjukkan imam Dan kesempurnaan Islam yang universal dan abadi sampai akhir masa bergantung pada pengangkatan para imam.. Konsep imamah demikian ini mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi acuan utama adalah ayat ke-3 Al-Ma’idah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada hari ini [yaitu pada hari setelah pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah Rasul saw] telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku lengkapi atas kalian nikmat-Ku, dan juga Aku telah ridha bahwa Islam sebagai agama kalian.”

Dari penelaahan terhadap ayat ini berikut tafsir dan sebab turunnya di dalam berbagai kitab tafsir, akan kita dapati bagaimana para ahli tafsir telah bersepakat, bahwa ayat tersebut turun pada haji Wada’, yaitu haji perpisahan (terakhir) Rasul saw yang terjadi beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Masih dalam rangkaian ayat tersebut, setelah menyinggung ihwal orang-orang kafir yang telah berputus asa untuk mengadakan penyimpangan terhadap Islam, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian.”

Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu agama Islam dan nikmat wilayah telah Dia lengkapi dan sempurnakan.

Apabila kita cermati dengan baik riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab turun ayat tersebut, akan tampak jelas lagi bahwa ikmal dan itmam (penyempurnaan dan pelengkapan), yang disusul oleh keputusasaan orang-orang kafir untuk melakukan penyimpangan terhadap Islam, terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah Nabi dari sisi Allah SWT. Karena musuh-musuh Islam menduga, bahwa sepeninggal Rasul saw agama Islam dan para pemeluknya tidak punya pemimpin lagi. Terlebih Rasul sendiri tidak punya seorang putra pun. Dengan demikian, agama Islam akan menjadi lemah dan akan mengalami kehancuran.

Dugaan mereka itu sungguh keliru, karena Islam telah mencapai kesempurnaannya dengan diangkatnya seorang pengganti Rasul yang akan melanjutkan risalah dan perjuangan beliau. Maka, menjadi lengkaplah nikmat Ilahi, sementara segala angan-angan, harapan dan ambisi orang-orang kafir menjadi sirna.

Pengangkatan khalifah Nabi saw itu terjadi tatkala beliau dan rombongan jemaah haji dalam perjalanan pulang mereka dari haji Wada’. Ketika itu, beliau mengumpulkan semua jemaah haji di satu tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum”. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan khutbahnya yang panjang. Kepada kaum muslimin beliau bertanya:

“Bukankah aku ini lebih utama daripada diri kalian sendiri?”

Serempak mereka menjawab:

“Benar, ya Rasulullah ….”

Kemudian Nabi saw memegang tangan Ali bin Abi Thalib as dan mengangkatnya di hadapan mereka semua, lalu berkata, “Barang siapa yang menjadikan aku ini sebagai pemimpinnya, maka sungguh Ali adalah pemimpinnya.”

Dengan demikian, Nabi saw telah menetapkan wilayah Ilahiyah itu atas Imam Ali as. Segera setelah itu, seluruh kaum muslimin yang hadir di tempat itu bangkit membaiatnya. Di antara mereka, tidak ketinggalan pula khalifah kedua, Umar bin Khattab. Kepadanya Umar mengucapkan selamat dan berkata, “Engkau beruntung sekali wahai Ali. Kini engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh masyarakat yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.”

Pada hari yang agung tersebut, turunlah ayat yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku lengkapi pula nikmat-Ku atas kalian, dan Aku pun rela Islam sebagai agama kalian.

Dengan turunnya ayat ini, Rasul saw mengucapkan takbir lalu berkata, “Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah itu terletak pada wilayah Ali sepeninggalku.”

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.”[1]

Kalau kita mengkaji secara seksama beberapa riwayat yang berhubungan dengan pengangkatan Ali as sebagai imam, wali dan washi Rasul saw, kita dapat memahami bahwa Rasul saw sebelum itu telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya.

Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi itu yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.

Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari “Ghadir” ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.

Sebagai contoh, pada masa-masa awal bi’tsah (kenabian) Muhammmad saw sebuah ayat turun kepada beliau, “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS.As-Syu’ara: 214)

Lantas beliau berseru kepada keluarganya, “Siapakah di antara kalian yang siap menjadi penolongku dalam urusan agamaku ini, aku akan jadikan ia sebagai saudaraku, washi-ku dan khalifahku atas kalian.”

Ahlusunnah dan Syi’ah sepakat, bahwa ketika itu tidak seorang pun dari keluarga Nabi saw yang memberikan jawaban kecuali Imam Ali bin Abi Thalib as.[2]

Demikian juga ketika turun ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.[3]

Sebagaimana yang baru saja kita simak, Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau yang bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshari, bahwa dia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as Dan sejarah mencatat bahwa Allah mengaruniai Jabir umur panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as Ketika berjumpa, ia begitu senang sampaikan salam Rasul saw kepada Imam as.

Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aba Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as tentang firman Allah SWT, ‘Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum.’

Beliau menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein.”

Kembali aku bertanya, “Akan tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan Ahlulbaitnya di dalam Al-Qur’an?”

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menjawab, “Katakanlah kepada mereka, ‘Bahwa ayat-ayat tentang shalat yang turun kepada Nabi sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi Nabilah yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, beliaulah yang menjelaskan bahwa Ulil Amri itu adalah Ali bin Abi Thalib as, dan para imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan Ahlubaitnya, yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa. Nabi saw menambahkan, ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian, dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan.’”

Kalau kita amati dengan baik sabda-sabda Nabi saw yang berhubungan dengan masalah wasiat, akan kita dapati betapa seringnya Nabi saw mengulang-ulang wasiatnya itu. Bahkan di akhir hayat, Nabi saw masih saja mengulang wasiatnya tersebut, “Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian, yaitu Kitabullah dan Ahlilbaitku. Keduanya itu tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di telaga Surga kelak.”

Perlu diketahui bahwa hadis mengenai wasiat tersebut merupakan hadis yang mutawatir, baik dari Syi’ah Imamiyah maupun dari jalur Ahlusunah wal Jamaah.

Di antara tokoh-tokoh Ahlusunah yang meriwayatkan hadis tersebut adalah At-Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dll. Ulama yang belakangan ini pun meriwayatkan sebuah hadis lainnya, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nuh as, siapa yang turut naik bersamanya, ia akan selamat. Dan siapa yang menolaknya, maka ia akan karam.”[4]

Termasuk hadis yang sering diulang-ulang oleh Nabi saw ialah “Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti.”[5]

CATATAN  KAKi :

[1] Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.

[2] Bisa dirujuk ke ‘Abaqat Al-Anwar dan Al-Ghadir.

[3] Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494.

[4] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/151.

[5] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad Ibnu Hanbal, jilid 1/331 dan jilid 4/438.

 

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra’, (semoga

Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya64. 64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

TANYA  JAWAB :

Apakah Imam  Ali  Hilang  Keberaniannya  Setelah  wafat  Rasulullah  ??? Apakah Imam Hasan hilang  keberanian  memerangi  Mu’awiyah  setelah  wafat nya Imam Ali ???
Jawab :  

Tahukah Anda bahkan seorang Nabi melakukan perjanjian Hudaibiyah ? pada saat itu pendukung Imam Hasan hanya beberapa orang, jika tidak diambil jalan berdamai tentu Islam yang tersisa di segelintir orang itu akan dibantai habis dan hari ini tidak ada lagi Islam yang sebenarnya. Allah menjaga risalah Nabi ini dengan perantaraan perdamaian tersebut…Apa keberanian di mata Anda? asal tabrak gitu? keberanian di mata Ali adalah menghadapi semua cobaan demi ummat Muhammad SAW.. di banyak tempat beliau menegaskan akan hak kekhalifahan beliau.

Ketika Abubakar dan Umar memaksakan Imam Ali untuk berbai’at kepadanya,

Fatimah berkata kepada Abu Bakar dan Umar seperti ini: “Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.’ ‘Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.’ Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, ‘Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya’. (Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Bukti penentangan Abubakar kepada Fatimah Az Zahara yang juga merupakan penentangan kepada Rasulullah sendiri dapat dilihat ketika beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat.” Kemudian Abu Bakar menangis dan berkatat: “Aku tidak perlu pada bai’at kalian; lepaskan aku dari bai’at kalian.”  (Tarikh al-Khulafa’ Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20)

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah saww bersabda:”Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah.” Dalam Bab Ghazwah Khaibar, “dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat.” (Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39)

Dalam kesempatan ini juga perlu kiranya kita kemukakan hadist Nabi berkenaan Imam Ali walaupun tidak diterima oleh orang-orang yang sesat: “Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.”?  (Shahih Muslim jil. 1 hal. 48)  Bahkan sebagian sahabat berkata, “Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Imam Ali.”

 

Ketika Ali  Menjadi  Khalifah, Ali  Tidak  Menyelisih  para  Sahabat..!!!
Jawab : Siapa yang bilang? Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi Khalifah pun Imam Ali sudah menegaskan akan mengembalikan hukum ke zaman Nabi, silahkan baca ketika terjadi perundingan selepas wafat Utsman.

Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???
Jawab :  Silahkan baca tragedi Hari Kamis dalam Bukhari, Rasul sudah hendak menulis wasiat kemudian dicegah oleh Umar hingga terjadi keributan dan Rasul pun marah.

 

Peristiwa Ghadir Khum
Jawab : Siapa bilang tidak ada yang mengingatkan? Tahukah Anda alasan orang Yaman menolak menyerahkan zakat pada Abu Bakar? karena mereka tahu Abu Bakar tidak berhak atas jabatannya. Silahkan juga lihat sikap Bani Hasyim yang tidak memberi bai’at sampai Fatimah wafat

 

Yazid berbuat kerusakan nyata dengan pembunuhan di Madinah dan perkosaan yang diizinkan oleh Yazid terhadap gadis2 Madinah, sikap seperti ini tidak bisa didiamkan. Islam yang tersebar adalah Islam yang dipahami oleh mereka. sementara Ahlul bait Nabi ditinggal.. Ahlus Sunnah bermazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiiyah, atau Hambaliyyah.. LALU  KENAPA  BUKAN  MAZHAB  AHLUL  BAiT  yang di pedomani ??

Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. ”

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

2.….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)

3.….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)

4.Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)

5.….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)

6.….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)

7.(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)

8.….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

saudaraku……………..

Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menanyakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya nescaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’ Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang dijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? Kerana tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad , ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Allah SWT karena petunjuk-Nya.”




RUJUKAN SUNNI: Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan menurut kedua-duanya hadis di atas jika mengikut ukuran Bukhari dan Muslim dikira Sahih. Mengapa ia tidak dimasukkan dalam Sahih mereka jika begitu. Hanya bukhari dan Muslim sahajalah yang berhak menjawabnya di hadapan Nabi nanti di akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang ingin melihat kepada Adam tentang ilmunya, kepada Nuh tentang azamnya, kepada Ibrahim tentang lembutnya, kepada Musa tentang kehebatannya, kepada Isa tentang kezuhudannya maka hendaklah ia melihat kepada Ali b. Abi Talib (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, Bab Kelebihan Ali, Fakhuruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Surah Mubahilah, Yanabi al-Mawaddah, Bab 40).

“Imam-imam telah wujud sebelum wujudnya alam ini sebagai cahaya-cahaya, dan Allah jadikan mereka berpusing di sekeliling Arasy.”

Pendapat seperti ini adalah sandarannya dalam beberapa hadith Nabi dalam kitab Ahli Sunnah sendiri. Antaranya ialah hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit(Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berpusing di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sabda Nabi SAW: “Wasi-wasi engkau tertulis di tepi ArasyKu, lalu aku melihat dan mendapati 12 cahaya (Ibid)”. Kejadian Nabi Muhammad dan wasi-wasinya (Ibid.hlm. 485).

Allah SWT berfirman dalam Quran; Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai berai ! (QS. Ali Imran : 103)

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

اِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ الله،ِ وَ عِتْرَتِي اَهْلَ بَيْتِي، مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا اَبَدًا، وَانَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتیّ يرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.” (H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahmad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533 )

Terkait dengan sikap kita kepada Ahlul Bait, di antaranya Nabi saw. bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Aku meninggalkan di tengah tengah kalian apa yang jika kalian ambil kalian tidak akan tersesat, Kitabullah dan ’itrah  Ahlul Baitku. (HR. Tirmidzi)

Ada dua belas imam yang dilantik oleh Allah SWT sebagai pelanjut Nabi Muhammad SAW. Ada sebuah hadis panjang dalam dokumendokumen Sunni yang menyatakan bahwa jumlah para imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen-dokumen Sunni lainnya yang di dalamnya Nabi SAW bahkan menyebutkan nama masing-masing dua belas imam tersebut.


Allah SWT menunjuk dua belas imam, bukan semata-mata mereka dari rumah tangga Nabi SAW, namun karena mereka, di masa-masa mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling saleh, paling baik dalam kebajikan personal, dan paling mulia di hadapan Allah; dan pengetahuan mereka diturunkan dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayahayah mereka……itu tidak berarti dengan sendirinya   12   imam  harus  berkuasa secara fisik

Allah SWT berfirman ; Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhamrnad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah mernberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa : 54).

a. Dalam Shahih Bukhari, tercantum hadis berikut:

Diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, “Aku mendengar Nabi SAW berkata, Akan ada dua belas pemimpin (amir).’ Kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat yang tidak kudengar. Ayahku berkata, ‘Nabi SAW menambahkan, ‘Mereka semua berasal dari Quraisy.”66. Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, hal. 106.

b. Dalam Musnad Ahmad, tercantum hadis berikut, “Nabi SAW berkata, ‘Kelak ada dua belas orang khalifah untuk masyarakat ini. Semuanya dari Quraisy”‘77. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1452, hadis 5; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1009, hadis 4.477.

c. Dalam Shahih Muslim, ada hadis berikut:


Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, “Nabi SAW berkata, ‘Masalah (kehidupan) tidak akan berakhir, sampai berlalunya dua belas khalifah.’ Kemudian beliau membisikkan sebuah kalimat. Aku bertanya kepada ayahku apa yang Nabi katakan. Ia menjawab, ‘Nabi berkata, “Semuanya berasal dari Quraisy.”88. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imaran, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1453, hadis 6; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1010, hadis 4.478.

d. Juga dari Shahih Muslim:
Nabi SAW berkata, “Urusan-urusan manusia akan terus dibimbing (dengan baik) selama mereka diatur oleh dua belas orang.”99. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980 edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 7; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, ha1.1.010, hadis 4.480.

e. Juga, Nabi SAW bersabda, “Islam akan terus berjaya sampai adanya dua belas khalifah.”1010. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, Edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 10; Shahih Muslim, versi Inggris, bab DCCL1V(berjudul:Orang-orang yang tunduk kepada Qurais dan kekhalifahan adalah Hak ( Quraisy) jilid 3 hal 1010 hadis 4.483 Rujukan Sunni lain dalam hadis serupa: Shahih at-Turmuzzi, jilid 4, ha1.507; Sunan Abu Daud, jilid 2, hal. 421 (tiga hadis); dan yang lainnya seperti Tialasi, Ibnu Atsir, dan lain-lain.

f. Juga, Nabi SAW bersabda, ‘Agama Islam akan terus berlangsung sampai hari kiamat, dengan dua belas khalifah untuk kalian, mereka semua berasal dari Quraisy”‘1111. Rujukan Sunni: al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.149; Musnad ahmad ibn Hanbal; Shahih, Nasa’i, dari Anas bin Malik; Sunan, Baihaqi; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, karya Ibnu Hajar Haitsami, bab 17, pasal 2, hal. 287.

g. Nabi SAW berkata, “Para imam berasal dari Quraisy.”‘1212. Shahih Bukhari, hadis 9.422

Pertanyaan :

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi

kami ingin bertanya,berdasarkan prespektif Sunni siapakah dua belas khalifah setelah Nabi Muhammad saw? Silakan dukung penegasan anda dengan merujuk pada Quran dan atau enam buku kumpulan hadis Sunni, dan juga membenarkan perbuatan mereka dalam lintasan sejarah. Ingatlah, perintah-perintah dua khalifah Nabi ini haruslah ditaati. Karenanya, jika anda tidak mengenal dua belas pemimpin anda, bagaimana anda ingin menaati mereka?

Kami ingin mengingatkan anda bahwa ‘khalifah’ artinya penerus/ wakil… Syarat  imam adalah : mereka harus  sesuai dengan ayat Quran : “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku” (QS. asy-Syura : 23).

Tak syak lagi khalifah seharusnya diketahui oleh para pengikutnya, jika sebaliknya seorang khalifah imajiner tidak bisa diikuti, sementara Nabi SAW telah meminta kita untuk mengikuti mereka? Jika anda tidak mengetahui para imam anda, bagaimanakah anda bisa menaati mereka?

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi as, imam di zaman kita sekarang. Mereka adalah para khalifah karena Allah SWT menjadikan mereka khalifahkhalifah (mereka semua adalah wakil-wakil Allah SWT di muka humi).
Bersama lintasan waktu dan melalui kejadian – kejadian sejarah, kita ketahui hahwa melalui hadis-hadis di atas Nabi SAW memaksudkan dua belas khalifah tadi adalah dua belas imam dari Ahlulbaitnya yang merupakan keturunan Nabi SAW karena kita tidak punya kandidat lain dalam sejarah Islam yang semua kesalehannya disepakati oleh seluruh Muslimin.


Adalah menarik untuk diketahui bahwa bahkan musuh-musuh Syi’ah tidak mampu menemukan setiap kekurangan dalam keutamaankeutamaan dua belas imam Syi’ah. Lagi pula, dua belas imam ini muncul satu demi satu tanpa ada kesenjangan.


Sekarang, jelaslah bahwa satu-satunya cara untuk menafsirkan hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad bin Hanbal adalah dengan menerima dan mengakui bahwa itu merujuk pada dua belas imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW, karena mereka adalah -di zaman mereka masing-masing- yang paling berilmu, masyhur, paling takwa, paling saleh, terbaik dalam keutamaan-keutamaan pribadi, dan yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Pengetahuan mereka bersumber dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayah-ayah mereka. Inilah Ahlulbait yang kemaksumannya, ketidak bernodaannya, dan kesuciannya dibenarkan oleh Quran mulia (kalimat terakhir Surah al-Ahzab : 33).

Tentang  hadis : “Kekhalifahan akan berlangsung 30 tahun setelahku, maka akan ada banyak raja” …Adalah sangat mungkin bahwa raja-raja   yang sama memalsukan hadis’  30 Tahun’ untuk mencegah orang-orang dari isu dua belas imam dan membenarkan perampasan mereka akan kekuasaan.

Allah SWT telah memberi manusia kebebasan kehendak untuk menerima atau menolak kepemimpinan yang Dia angkat  baik , baik orang-orang mengikutinya ataupun tidak.. Jika (katakanlah mayoritas) orang-orang mengikutinya, dengan sendirinya ia akan memegang tampuk kekuasaan. Dan sekiranya orang-orang; mendurhakainya, ia akan tetap memiliki kepemimpinan spiritualnya bagi sejumlah kecil pengikut setianya (orang-orang yang bertakwa). Setiap orang di zaman itu diharapkan untuk menaati

para Nabi  punya agenda politikNabi Muhammad yang berkampanye menentang kaum musyrik di Jazirah Arab dan menegakkan pemerintahan Islam yang pertama. Memang benar bahwa semua Nabi diutus untuk menggembleng manusia dan menjadikan mereka ingat akan Allah SWT. Namun ini tidak dapat sepenuhnya diterima tanpa kekuasaan politik apapun. Juga kami tidak pernah sebutkan bahwa memerintah negara sebagai tujuan pertama dari seorang pemimpin yang ditunjuk Tuhan. Alih-alih kami katakan bahwa pemimpin tersebut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk posisi mulia itu. Manusia seyogianya menyadari fakta ini dan tunduk pada perintahnya. Bila mereka berbuat demikian dengan sendirinya ia akan menjadi pemimpin masyarakat itu tanpa membutuhkan’agenda’.

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bBani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka dua belas orang pemimpin diantara mereka (QS. Al-Maidah : 12 ) Sesungguhnya orang – orang yang tidak mengikuti dua belas pempimpin tersebut tidaklah menganiaya melainkan diri mereka sendiri.

“Orang yang mengingkari kepemimpinan mereka akan tersesat..”

HADiS   SYi’AH

Secara jelas, hadis-hadis di atas tidak selaras dengan empat khalifah pertama semuanya karena jumlah mereka kurang dari dua belas orang. Hadis-hadis tersebut tidak bisa pula diterapkan kepada kekhalifahan Bani Umayah karena;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka semua adalah kaum tiran dan zalim (selain Umar bin Abdul Aziz),
(c) mereka bukan berasal dari Bani Hasyim dan untuk hal itu, Nabi SAW telah bersabda dalam hadis lain bahwa ‘mereka semua berasal dari Bani Hasyim.’

Hadis-hadis itu tidak bisa diberlakukan untuk kekhalifahan Bani Abbasiah lantaran;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka menindas keturunan Nabi di mana-mana yang artinyo mereka tidak sesuai dengan ayat Quran, Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku (QS. asy-Syura : 23).

Tentang penafsiran ayat 59 Surah an-Nisa dimana Allah SWT  memerintahkan kita untuk menaati Ulil Amri, Khazzaz dalam Kifayat al-Atsar-Nya, mencantumkan sebuah hadis berdasarkan otoritas sahabat Nabi SAW yang tersohor, Jabir bin Abdillah Anshari. Ketika ayat tersebut (an-Nisa : 59) diturunkan, Jabir bertanya kepada Nabi SAW, “Kami tahu Allah dan Nabi, namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya nlah digabungkan dengan ketaatan kepada Allah dan dirimu sendiri?”

Nabi SAW berkata, “Mereka para khalifahku dan imam bagi kaum Muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali, kemudian Hasan hin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat (Perjanjian Iama). Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya, Jafar Shadiq, kemudian Musa bin Jafar, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan berada sama dengan julukanku. Dialah Bukti Allah (hujjatullah) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Allah (Baqiyatullah) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukkan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hati orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Allah.”


Jabir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi SAW menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan keNabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya, dan mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya wlama kegaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya selama kagaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari di balik awan. Wahai Jabir, inilali rahasia Allah yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Allah. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya!”


Lebih menarik lagi, ada juga riwayat-riwayat Sunni yang di dalamnya mengandung perkataan bahwa Rasulullah menyebutkan nama-nama dari dua belas anggota Ahlulbaitnya ini satu demi satu yang bermula dengan Imam Ali as dan berakhir dengan Imam Mahdi as (lihat YaNabi al-Mawaddah, karya Qanduzi Hanafi).

Sekarang kita mafhum siapakah’orang-orang yang diberi otoritas’. Ia merupakan bukti bahwa persoalan menaati para penguasa yang tiran dan zalim tidak muncul sama sekali. Dengan ayat di atas kaum Muslim tidak perlu menaati para penguasa yang zalim, tiranik, jahil, egois, dan tenggelam dalam hawa nafsu.

Sesungguhnya, mereka (kaum Muslim) diperintahkan untuk menaati dua belas imam yang ditentukan, yang mereka semua itu maksum dan bebas dari pemikiran dan perbuatan buruk. Menaati mereka tidak punya resiko apapun. Bahkan, ketaatan kepada mereka menjaga dari semua resiko; karena mereka tidak akan pernah memberikan sebuah perintah yang berlawanan dengan titah Allah SWT dan akan memperlakukan semua manusia dengan cinta, keadilan, dan persamaan.

Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan manusia atas manusia). Sesungguhnya, Quran mengecam pendapat kebanyakan manusia (lihat al-An -am: 116; al-Maidah: 49; Yunus: 92; al-Rum : 8) karena pandangan kebanyakan manusia biasanya lemah lantaran kecenderungan mereka.


Apakah Imamah itu sebuah Warisan?

Menurut Ahlul BaitImamah dipilih oleh Allah. Ini bukan masalah warisan, karena jika demikian maka Imam Husain (sa.) tidak boleh menjadi imam, setelah kesyahidan Imam Hasan (sa.).Imam Hasan (sa.) memiliki banyak anak dan keturunan, tak satu pun dari mereka menjadi imam. Sebaliknya, saudaranya Imam Husain (sa.), seorang imam setelahnya. Ada juga sejumlah anak dan cucu-cucu yang menyimpang dari para imam, tidak ada orang yang menerima posisi Imamah.Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah warisan. Tentu saja, gen penting untuk imam suci, namun imam membutuhkan banyak persyaratan lainnya. Allah SWT tahu yang memiliki semua kualifikasi seperti itu. Apakah kehendak Allah SWT yang menempatkan semua imam dari jalur keturunan Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya).

Bahkan, jika sebuah studi sejarah Nabi Allah, ia akan menemukan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Allah yang memiliki kekuasaan dan keagungan berfirman :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”[88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qur’an Al-Baqarah, 2: 124).

Dalam ayat di atas, Allah tidak menolak kepemimpinan keturunan Abraham., Tetapi Dia membatasi posisi ini hanya pada keturunan Abraham memenuhi syarat. Allah SWT mengatakan, kepemimpinan yang ditunjuk Allah tidak datang untuk orang-orang yang berbuat salah, bahkan jika orang itu adalah keturunan Abraham.

Dengan demikian, keturunan Abraham. tidak semuanya menjadi imam karena harus ada persyaratan lain selainnya. Orang-orang di antara mereka yang bukan pelaku ketidakadilan (bebas dari dosa) yang memenuhi syarat, karena mereka tidak hanya memiliki gen yang suci, tetapi mereka memiliki kualifikasi lainnya yang diperoleh melalui penderitaan. Sebagai Tuhan Yang Maha Esa memiliki pengetahuan sebelumnya dan keterangan kesabaran kualifikasi mereka, dia yang dipercayakan kepada mereka dalam posisi ini dan menempatkan mereka di atas semua makhluk-Nya yang lain.

“Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran ‘di atas semua orang (pada saat masing-masing)” (Al Qur’an Ali Imran, 3: 33).

Garis nasab Muhammad SAWW. kembali kepada Nabi Ismail bin Ibrahim. Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Isa keduanya berasal dari yang lain Ishaq anak Abraham. Sesungguhnya, semua nabi setelah Ibrahim. berasal dari keturunan. Namun, kita tidak bisa menyatakan kenabian itu adalah masalah warisan. Dia adalah Allah Maha Kuasa yang memilih satu per satu.

Dalam konteks lain, kita tidak bisa mengatakan bahwa anak Nabi selalu haruslah nabi. Banyak kondisi lain selainnya. Jika tidak, Kan’an bin Nuh, niscaya masih hidup. Nuh memiliki tiga putra lain, Aam, Sam, dan Yafas yang beriman dan yang dengan istri mereka dan akhirnya naik tabut itu selamat. Mereka datang dari seorang ibu yang berbeda dari Kan’an. Oleh karena itu, putra seorang nabi atau imam tidak harus membuatnya menjadi nabi atau imam atau bahkan orang yang saleh.

Singkatnya, gen untuk Nabi dan imam suci adalah penting tetapi tidak cukup.
Imam atau Ulil Amri ditunjuk oleh Allah dengan Nabi-Nya. Lihat Al-Qur’an dimana Allah berulang kali menyatakan bahwa dia adalah zat yang diresmikan imam. (Lihat Al-Baqarah Al-Qur’an, 2: 124, al-Anbiya, 21: 73; as-Sajdah, 32: 24).

“Dan (ingatlah) ketika Abraham diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) dan Abraham dipenuhi Tuhan mengatakan” Lihatlah, Aku akan membuat Imam untuk semua umat manusia “Dia (Abraham) berkata,” (Dan aku mohon., juga) dari keturunanku “Allah berfirman,”. Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang melakukan “salah. (QS. Al-Baqarah, 2: 124)

“Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada, mereka berbuat baik, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. (QS. al-Anbiya ‘, 21:73)

“Dan Kami jadikan di antara mereka adalah pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka percaya kepada ayat-ayat Kami”.. (QS. As-Sajdah, 32: 24)

Ada dua belas imam diangkat oleh Allah sebagai Penerus Nabi Muhammad SAWW. Ada sebuah tradisi panjang dalam dokumen-dokumen yang Sunnimenyatakan bahwa jumlah imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen Sunni lain di mana Nabi Muhammad SAWW. bahkan menyebutkan nama setiap dua belas imam tersebut.

Allah menunjuk dua belas imam, tidak hanya orang-orang di dalam rumah tangga Nabi Muhammad SAWW, tetapi karena mereka, pada zaman mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling alim, yang terbaik dalam kebajikan pribadi, dan yang paling mulia di kehadiran Allah dan pengetahuan mereka berasal dari nenek moyang mereka (Nabi) melalui ayah nenek moyang mereka, dan juga melalui pendidikan langsung dari Allah melalui ilham (inspirasi). Penerus Nabi (selain penerus Nabi Muhammad) adalah Nabi juga, dan dengan demikian mereka semua ditunjuk oleh Allah. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa beberapa Nabi, atas perintah Allah, menunjuk para imam (yang bukan Nabi).

Mari kita berikan beberapa ayat suci Al-Qur’an!

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemimpin Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim”. (QS al -Baqarah, 2: 246).

Setiap orang yang secara khusus ditunjuk oleh Allah sebagai raja adalah seorang imam. Seorang nabi bisa juga (sebagian) dari imam atau raja, tetapi tidak semua nabi adalah imam. Jika seseorang menjadi raja atau imam yang ditunjuk oleh Allah, itu tidak berarti bahwa dengan sendirinya hanya karena fisik yang kuat. Di atas ayat Al-Qur’an berbicara tentang Thalut. Berikut ayat-ayat Al Qur’an lain yang memberikan rincian lebih lanjut.

“Nabi Mereka (1) kata kepada mereka,” Allah telah mengangkat Thalut (Saul) sebagai raja (2) Anda. “Mereka berkata,” Bagaimana Thalut mengatur kita saat kita lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia tidak diberi kekayaan yang cukup? (3) “Ia (Nabi mereka) berkata,” Allah telah memilihnya di atas Anda (4) menjadi raja dan diberikan pengetahuan yang luas dan tubuh yang kuat. “(5) Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki (6.) Dan Allah adalah karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 247).

Bagian pertama dari nomor ayat di atas (1) membuktikan bahwa orang-orang memiliki nabi dan Thalut berada di tengah-tengah masyarakat ini, sehingga mereka Nabi adalah Nabi Thalut juga. Jadi, Thalut bukan nabi.

Bagian ditandai dengan nomor (2) menunjukkan bahwa Allah menunjuk Thalut sebagai imam atau pemimpin atau raja.

Angka (3) menunjukkan bahwa apa yang ditunjuk Allah tidak dipilih berdasarkan kekayaan. Kerajaan pada dasarnya adalah karakter spiritual, dan tentu saja, Thalut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk memerintah dengan baik secara fisik, tetapi yang terakhir tergantung pada pengakuan orang untuk posisi sebelumnya saat akan dipertahankan sebagai imam (kepemimpinan rohani).

Imam atau pemilihan raja bukan tugas manusia, dan sebagaimana dianjurkan, Allah memilih seorang raja atau imam karena Allah tahu siapa orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi tinggi seperti itu. Berikut adalah salah satu raja yang memiliki otoritas oleh Allah SWT.

Ini dibuktikan dengan nomor (6) ayat di atas. Orang-orang yang memiliki otoritas dengan pengetahuan dan kebijaksanaan sebagai nomor (5) dari titik.

Dalam ayat berikutnya, kita membaca,

“Dan Nabi (lebih lanjut) berkata kepada mereka,” Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, adalah untuk kembali ke tabut, di mana terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari warisan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat-malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian ada tanda bagimu, jika kamu beriman “(Al-Qur’an. Al-Baqarah, 2: 248).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

” ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (Al-Qur’an suatu-Nisa, 4: 54).

Sekali lagi, kerajaan ini adalah Imamah, bahwa beberapa keluarga Ibrahim yang memerintah secara fisik.

Bagaimana Model Terbaik Pemilihan dalam Kepemimpinan Islam

Salah satu topik yang telah terus-menerus didiskusikan di kalangan umat Islam sejak bangkitnya Islam adalah pertanyaan tentang memilih Imam atauPemimpin; itu sebenarnya pertanyaan yang membawa pembagian umat terpecah menjadi ke Shi’ah dan Sunni.Shi’ah memiliki komitmen terhadap prinsip bahwa hak untuk menunjuk Imam milik eksklusif (hak prerogatif) Allah, dan bahwa orang (manusia) tidak memiliki peran sama sekali dalam hal ini. Sang Maha Pencipta itu sendirilah yang memilih Imam dan mengidentifikasikannya kepada masyarakat sebagaimana pemilihan para Nabi.Sebagai tambahan dari Shi’ah atas pemahaman tentang Imamah ini, dan perhatiannya yang telah dicurahkan pada keyakinan bahwa Allah dan Nabisendiri yang memilih Imam yang berfungsi sebagai bukti (hujjah) Allah dalam setiap masa, era, dekade, dari rasa hormat yang mendalam untuk hak dan martabat manusia itu sendiri.

Dalam cara yang sama bahwa kenabian menyiratkan serangkaian atribut dan kondisi, demikian juga Imam, yang datang setelah Nabi, juga harus disertai dengan kualitas sosok pribadi tertentu. Kebutuhan ini timbul dari kenyataan bahwa Shi’ah menolak untuk menerima sebagai pemimpin komunitas orang yang kurang dalam kualitas kunci keadilan, ketidakmungkinsalahan (maksum), dan kepintaran/ ke-pakar-an. Perintah yang tepat dari ilmu pengetahuan agama, kemampuan untuk memberitakan Hukum Allah dan ketetapan-Nya dan untuk menerapkannya dalam masyarakat dengan cara yang tepat, dan, secara umum, untuk menjaga dan melindungi agama Allah, tidak ada seorang pun dimungkinkan karena tidak adanya sifat-sifat ini.

Tuhan sangat memperhatikan kapasitas spiritual, tingkat ilmu keagamaan, dan kesalehan dari Imam, dan Dia juga tahu, kepada siapa perwalian pengetahuan agama harus dipercayakan: siapa yang bisa membawa beban ini dan tidak mengabaikan untuk satu menit tugas memanggil orang kepadaAllah dan melaksanakan keadilan ilahi. Tetapi terlepas dari aspek masalah ini, pemahaman Syi’ah tentang Imamah juga mencerminkan cita-cita luhur manusia.

Jika dikatakan, bahwa orang (manusia) tidak berhak untuk ikut campur dalam hal memilih Imam itu, karena mereka (yang memilih) itu sendiri tidak cukup memadai dalam kemurnian kesucian batin dan kesalehan individu, dari derajat dalam mematuhi nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an; Di atas itu semua, mereka tidak dapat merasakan kehadiran illahi atau tidak adanya prinsip ilahi atas ketidakmungkin-salah-an (maksum/’ismah).

Oleh karena itu hak prerogatif Allah melalui Nabi-Nya untuk menunjuk penerus penggantinya; dan Imam di setiap zaman memilih dan mengangkat Pemimpin penerus penggantinya.

Jika seorang Imam mampu menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang gaib dan menampilkan ketidakmungkinsalahan (maksum) dalam ke-Imamah-an, yang terbungkus dalam busana yang menyerupai mirip dengan kekuatan ajaib para nabi, maka itu sah dan dapat diterima.

Ada metode yang diusulkan oleh Shi’ah dalam pengenalan dan perolehan akses ke-Imamah-an, mereka membentuk satu set kriteria kepemimpinan yang sebenarnya dari umat Islam pada zamanya masing-masing hingga hari akhir kelak.

Pendekatan lain untuk ke-Imamah-an ini sangat kontras dengan yang diusulkan Shi’ah. Karena ada kekaburan dan ambiguitas sekitar prinsip konsultatif dalam aplikasi pertanyaan kepemimpinan sejak awal, komunitas Sunni menempuh berbagai metode untuk memilih dan menunjuk Khalifah, sehingga dalam praktiknya elemen-elemen berikut muncul memainkan peran yang penting.

1: Konsensus (ijma ‘). Kaum Sunni mengatakan bahwa pemilihan khalifah pertama dan terutama terletak pada pemilihan oleh masyarakat, sehingga jikaumat Islam memilih individu tertentu sebagai pemimpin, ia harus diterima seperti itu dan perintahnya harus ditaati.

Sebagai bukti ini, mereka mengutip metode yang diikuti oleh sahabat Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan ahli keluarganya) setelah wafatnya. Berkumpul di Saqifah untuk memilih seorang khalifah, mayoritas diputuskan Abu Bakar dan bersumpah setia kepada dia; sehingga dengan demikian ia diakui oleh konsensus sebagai pengganti penerus Nabi, tanpa keberatan yang diajukan. Ini merupakan salah satu metode untuk menunjuk seorang khalifah.

2: Metode kedua terdiri dari Konsultasi dan pertukaran pandangan di antara anggota terkemuka dari komunitas Muslim. Setelah mereka sepakat antara mereka sendiri pada pilihan pemimpin bagi masyarakat, kekhalifahan-nya menjadi sah dan itu adalah kewajiban setiap orang untuk mematuhinya.

Ini adalah metode yang diadopsi oleh khalifah kedua. Ketika ‘Umar akan mati, ia memilih enam orang sebagai calon khalifah dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu nomor mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri, untuk tidak lebih dari enam hari. Jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan akhirnya diberikan kepada ‘Utsman. Ini juga dikatakan merupakan sarana sah untuk memilih khalifah.

3: Metode ketiga terdiri dari pencalonan khalifah pengganti sendiri. Hal ini terjadi dalam kasus ‘Umar, yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar tanpa keberatan yang diajukan oleh kaum Muslim.

Demikianlah, pada dasarnya, pandangan Sunni mengenai hal ini.

Marilah kita sekarang meninjau keberatan-keberatan yang masing-masing proses pembahasan adalah sebagaimana berikut:

Kebutuhan akan ketidakmungkinsalahan (maksum/ ‘ismah’) dari Imam, memiliki pemahaman yang jelas tegas dan merupakan perintah yang komprehensif dari semua permasalahan agama, baik dalam prinsip dan detail, yang berakar dari sumber Al-Quran dan Sunnah, serta yang dibuktikan oleh pengalaman sejarah.

Semua penindasan, kesalahan, korupsi dan penyimpangan yang kita lihat dalam sejarah Islam muncul dari kenyataan bahwa para pemimpin tidak memiliki kualitas yang seharusnya dibutuhkan oleh seorang Imam. Bahkan jika semua anggota umat Islam memilih seorang individu yang diberikan tugas kepadanya sebagai Imam dan penerus Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), ia tidak bisa lemah dan dari dirinya sendiri harus dapat memberikan legitimasi dan validitas atas ke-khalifahan-Nya.

Sedangkan Khalifah Abu Bakar, semua kaum muslimin, dalam hal apapun, tidak semuanya bersumpah setia (baiat) kepadanya, sehingga tidak perlu ada pertanyaan atas apakah konsensus benar-benar terbentuk?.

Juga merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa tidak ada dalam pemilihan sesuai kenyataan yang terjadi, dalam arti semua ummmat muslim yang tersebar di berbagai penjuru tempat pelosok negeri berkumpul di Madinah pada waktu itu untuk mengambil bagian dalam proses pemilihan suara atas pemilihan kekhalifahan itu ataupun proses pemilihan suara secara perwakilan diantara seluruh kabilah-kabilah yang ada.

Berdasarkan fakta sejarah, tidak semua penduduk Madinah berpartisipasi dalam pertemuan itu, di mana keputusan itu dibuat, bahkan beberapa Ahl Al Bayt Nabi dan Sahabat yang terkemuka, serta bahkan beberapa dari mereka yang hadir di Saqifah, menolak untuk menyatakan kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar. Seperti misalnya, Ali b. Abi Thalib sa, al-Miqdad, Salman, al-Zubair, ‘Ammar b. Yasir, ‘Abdullah b. Mas’ud, Sa’d b. ‘Ubadah, Abbas b. Abd al-Muthalib, Usamah b. Zaid, Ibnu Abi Ka’b, ‘Utsman b. Hunayf, serta sejumlah sahabat terkemuka lainnya, yang menyampaikan keberatan atas pemilihan khalifah Abu Bakar dan ini berarti opini mereka tidak menyembunyikan sikap oposisi mereka. Tetapi sikap oposisi mereka, tidak dimaksudkan terorganisir menjadi oposan untuk menggulingkan Khalifah Abu Bakar. Bagaimana mungkin kemudian dapat dikatakan bahwa ke-Khalifah-an Abu Bakar dianggap telah berdasar pada ijma’ (konsensus) umat Islam?

Ini bisa dikatakan bahwa partisipasi dari setiap orang, dalam pemilihan pengganti penerus Nabi tidak perlu! Dan bahwa jika sejumlah orang-orang terkemuka mencapai keputusan tertentu sudah cukup dan hak khalifah sudah dapat diterima dan harus ditaati!.

Namun, mengapa keputusan mereka harus mengikat orang lain? Mengapa orang lain yang terkemuka dan tokoh yang dikenal cemerlang dalam sejarah peradaban ummat Islam, yang memiliki komitmen dan pengabdian yang tinggi dan sudah tidak perlu diragukan lagi, telah dikecualikan dalam membuat keputusan yang begitu penting bagi ummat, yang memiliki konsekuensi luas menyangkut urusan nasib umat Islam? Mengapa mereka mengajukan tanpa syarat atas keputusan yang dicapai dengan memaksa dan mengintimidasi kepada orang lain? Apa bukti yang ada bagi legitimasi prosedur tersebut? Mengapa ini merupakan preseden yang sah dan bersifat mengikat kebebasan umat yang lain?

Secara prosedural tipe ini dapat dianggap sebagai sah, hanya jika secara eksplisit ditunjuk sebagaimana tersebut dalam ayat Al-Qur’an atau SunnahNabi, dalam arti ayat di mana Allah menyatakan:

“Ambil dan terimalah apa yang Rasul berikan kepadamu, dan tinggalkan apa yang dilarang. ” (QS, 59:7)

Adapun para sahabat, tidak ada bukti bahwa mereka harus bertindak dengan benar, selain dari yang sebagian dari mereka tidak setuju dengan orang lain, dan tidak ada alasan dalam prinsip untuk lebih memilih pandangan dari satu kelompok para sahabat atas orang lain.

Memang benar bahwa mayoritas penduduk Madinah memberi kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar dan dengan demikian diratifikasi seleksi sebagai khalifah, tetapi mereka yang menolak untuk melakukannya tidak melakukan dosa apapun, untuk kebebasan dalam memilih, karena kebebasan dalam memilih adalah hak alami dari setiap Muslim, dan kaum minoritas tidak berkewajiban untuk mengikuti pandangan sebagian besar kaum mayoritas. Tidak ada yang bisa dipaksa untuk bersumpah setia (baiat) kepada seseorang yang dia tidak ingini di pucuk pimpinan urusan muslim atau bergabung dengan kompak menolak dia. Ketika kaum mayoritas memaksa kaum minoritas untuk menyesuaikan diri dengan pandangan kaum mayoritas itu sendiri, berarti ia telah melanggar hak-hak kaum minoritas.

Sekarang sahabat yang berkumpul di sekitar Ali sa. yang terpaksa berubah mengikuti mayoritas yang telah memberikan kesetiaan kepada Abu Bakar, itu tidaklah dapat ditasbihkan apapun kepada Tuhan atau Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), karena itu jelas pelanggaran hak-hak mereka dan kebebasan invidual mereka.

Lebih buruk lagi dari ini, adalah fakta bahwa Ali b. Abi Thalib sa. dipaksa untuk berpartisipasi dalam sumpah kesetiaan (baiat) dan mengubah posisinya, meskipun ia adalah seseorang yang diberi otoritas oleh Rasulullah Muhammad SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan. Tak seorang pun dengan rasa keadilan dapat menyetujui pengebirian hak kebebasan individu dalam memilih itu sendiri.

Hal ini juga harus dikatakan bahwa umat Islam dari generasi kemudian yang mengadopsi sebuah sikap negatif terhadap suatu pemberian kesetiaan (baiat) yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, tidak dapat dihukum karena ini atau dianggap sebagai seorang pendosa (sesat/ kafir-murtad).

Selama zaman kekhalifahan Ali sa., orang-orang seperti Saad b. Abi Waqqas dan ‘Abdullah b. ‘Umar menolak baiat kepada Ali sa., tetapi dengan kemurahan hatinya, Imam Ali sa. mempersilahkan mereka bebas untuk melakukannya dan tidak memaksa mereka untuk harus membaiat kepadanya.

Selain semua ini, jika khalifah tidak ditunjuk oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), tak seorang pun dapat dipaksa untuk mengikuti modus perilaku yang ditentukan oleh khalifah yang hanya mengklaim legitimasi dalam pemilihan suara. Pemilihan tersebut tidak memberikan kepadanya imunitas dari kesalahan dan dosa (‘ismah), juga tidak meningkatkan pengetahuan agama dan kesadaran. Orang mukmin biasa berhak mengikuti orang lain selain khalifah, yang tingkat pemahamannya terhadap ilmu agamanya lebih tinggi dari pada khalifah itu sendiri.

Namun, bila baiat itu adalah merupakan sumpah ketaatan pada perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkat-atasnya dan keluarganya), ini memang dianggap sebagai sumpah kesetiaan kepada Rasulullah SAWW. sendiri, lalu tidak mungkin jika tidak taat, dan ketaatan orang kepada siapa kesetiaan diberikan adalah kewajiban tidak hanya pada umat Islam waktu itu, tapi pada orang-orang dari semua generasi-generasi berikutnya.

Selain itu, Al-Qur’an menganggap kesetiaan yang diberikan kepada Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sebagai setara dengan kesetiaan diberikan kepada Allah. Jadi Al-Qur’an mengatakan:

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al Qur’an, 48:10)

Hal ini jelas bahwa pengganti penerus itu dipilih oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), yang akan menjadi adalah laki-laki yang paling tajam dan paling paham tentang peraturan Al-Qur’an dan agama Allah, bahkan ia mungkin akan memiliki semua sifat-sifat Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dengan perkecualian menerima wahyu Allah, dan dia memberi perintah apa pun akan didasarkan pada keadilan dan penerapan hukum-hukum agama Allah.

Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), berkaitan dengan hal itu bersabda:

“Komunitas saya tidak akan pernah setuju atas kesalahan.”

Namun, tradisi ini tidak dapat dikemukakan berkaitan dengan pertanyaan suksesi kepemimpinan dalam Islam, untuk itu kemudian akan bertentangan dengan perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dan secara efektif menyebabkan orang akan mengabaikan kata-katanya; itu akan memungkinkan mereka untuk lebih suka atas pandangan mereka sendiri dari pada kata-kata beliau SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya). Apa pun penerapan itu lebih dibatasi pada kasus-kasus di mana tidak ada hukum yang jelas atau otoritatif dari Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAWW.

Apa yang dimaksudkan oleh Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), adalah bahwa masyarakat tidak akan setuju atas kesalahan dalam kasus di mana ummat diijinkan oleh Allah untuk memecahkan masalah dengan musyawarah, tempat konsultasi tersebut dilakukan di suasana yang bebas dari intimidasi, dan di mana pilihan tindakan tertentu dengan suara bulat disetujui. Namun, jika sekelompok masyarakat tertentu cenderung dalam arah tertentu dan kemudian mencoba untuk memaksakan pandangan mereka pada orang lain dan memaksa pembaiatan mereka, tidak ada alasan untuk menganggap hasil itu sebagai mewakili sebuah konsensus yang valid.

Adapun sumpah kesetiaan (baiat) yang terjadi di Saqifah, bahkan jika Allah dan Rasul SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sudah memberikan izin untuk masalah yang akan memutuskan berdasarkan konsultasi, tidak ada konsultasi yang benar-benar terjadi. Sebuah kelompok tertentu secara individu mengatur agenda di muka dan kemudian dikeluarkan usaha-usaha besar untuk mencapai hasil yang mereka sendiri inginkan (red. penuh hawa nafsu dunia/ ambisi). Ini adalah kenyataan yang terjadi, seperti yang bahkan khalifah kedua (Umar b. Khattab) sendiri datang untuk mengakui:

“Pemilihan Abu Bakar sebagai pemimpin muncul secara kebetulan, itu tidak terjadi melalui konsultasi dan pertukaran pandangan. Jika seseorang mengundang Anda untuk mengikuti prosedur yang sama lagi, bunuhlah dia!” [1]

Dalam perjalanan ia menyampaikan khotbah pada awal khalifah-Nya, khalifah pertama meminta maaf kepada orang-orang dalam kata-kata:

“Para sumpah kesetiaan (baiat) kepada saya adalah sebuah kesalahan, Semoga Allah melindungi kita dari konsekuensi buruk yang aku sendiri takut membahayakan dapat menimbulkan.” [2]

Selama hidupnya, Nabi Islam SAWW. (salam kedamaian dan berkat atasnya dan keluarganya), menunjukkan perhatian besar bagi kesejahteraan kaum muslimin dan menaruh perhatian besar terhadap kelestarian agama Islam dan persatuan dan keamanan masyarakat Muslim. Ia sangat khawatir munculnya perpecahan-perpecahan, dan dimanapun beliau pergi, hal pertama yang ia lakukan adalah untuk menunjuk seorang gubernur atau komandan untuk daerah. Demikian pula, komandan selalu diangkat di muka setiap kali pertempuran sedang direncanakan dan bahkan wakil komandan ditunjuk untuk mengambil alih kepemimpinan tentara jika perlu. Setiap kali beliau memulai perjalanan, ia menunjuk seseorang sebagai gubernur untuk mengelola urusan Madinah.

Mengingat semua ini, bagaimana mungkin bahwa dia tidak pernah memikirkan nasib masyarakat ummat Islam setelah wafatnya, yang membutuhkan panduan dan pimimpinan, kebutuhan di mana nasib masyarakat ummat Islam di dunia ini dan selanjutnya tergantung?

Apakah mungkin bahwa Tuhan harus mengirimkan utusan untuk membimbing manusia dan untuk mendirikan agama; sedang sang utusan harus menanggung segala macam kesulitan-kesulitan dalam menyampaikan perintah Tuhan untuk ummat manusia, kemudian harus berhenti begitu saja di dunia ini tanpa ada kelanjutannya? Apakah ini suatu yang penuh hikmah dan kebijaksanaan dari Allah Yang Maha Bijaksana atau logis dari suatu rangkaian aksi?

Apakah setiap pemimpin akan begitu saja merasa puas dan percaya atas jerih payah usaha dan perjuangannya selama ini, untuk kesempatan masa depan yang tidak pasti?

Ke-Rasul-an adalah kepercayaan ilahi yang diberikan kepada Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), dan ia memiliki kepribadian yang terlalu agung mengabaikan kepercayaan dengan cara apapun, terutama dengan meninggalkan kelanggengan agama Islam. Membuat penunjukan penerus penggantinya tergantung pada pemilu akan tepat sama dengan hasil pemilu itu sendiri, selalu timbul permasalahan-permasalahan.

Jika tujuan dari agama adalah untuk mendidik manusia dalam kemanusiaan mereka dan jika hukum agama untuk mempromosikan pembangunan dan perbaikan umat manusia, seorang pemimpin harus selalu ada bersama-sama dengan agama dalam rangka untuk mengamankan kebutuhan material dan spiritual individu dan masyarakat dan pemimpin yang memberikan panduan dalam penyelesaian segala sengketa ke atas mereka.

Tidak ada keraguan bahwa kekuasaan pemerintah diperlukan untuk dapatnya melaksanakan hukum-hukum Tuhan dan menjaga perintah-Nya, dan kebutuhan akan ini berarti pada gilirannya merupakan kebutuhan terhadap pemimpin dan pemandu yang akan membantu dalam perjuangan mereka dalam mengatasi kekurangan kesadaran mereka yang rentan terhadap saran-saran setan.

Dengan tidak adanya seorang pemimpin, agama akan menjadi keruh dan terdistorsi oleh takhayul (syubhat) dan pendapat sewenang-wenang, baik secara individual ataupun kelompok, dan kepercayaan kepada illahi sesuai aturan agama dan wahyu akan dikhianati (menyimpang).

Selain itu, jika Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), telah meninggalkan untuk kaum muslimin memilih khalifah, ia akan melakukannya dengan kejelasan dan sepenuhnya dengan cara yang paling kategoris mungkin, juga menetapkan prosedur-prosedur mereka mengikuti dalam aturan pemilihan dan pengangkatannya.

Apakah urusan umat Islam setelah wafatnya Nabi bukan urusan Allah dan Rasul-Nya? Apakah orang-orang lebih berpandangan jauh dari Allah dan Rasul-Nya, atau lebih mampu membedakan mana pemimpin yang seharusnya?

Jika Nabi tidak menunjuk seorang pengganti (khalifah) untuk dirinya sendiri, kenapa Abu Bakar melakukannya? Dan jika Nabi melakukannya, mengapa yang beliau pilih disisihkan?

Masalah lain yang timbul sehubungan dengan pilihan khalifah atas dasar musyawarah adalah bahwa Imam harus menjadi penuntun umat dalam segala hal pengetahuan agama. Tidak ada yang meragukan bahwa dia harus memiliki komitmen dan pengetahuan komprehensif tentang hukum-hukum Allah, karena dalam menghadapi banyak masalah kompleks yang muncul umat Islam memerlukan kewenangan seorang pemimpin yang cocok untuk memberikan bimbingan keimanan yang dapat diandalkan. Pengganti Nabi karena itu harus menjadi pewaris sumber pengetahuan, yang membuat identifikasi dan pengakuan penerus, merupakan masalah penting.

Kita telah menjelaskan peran fundamental ketidakmungkinsalahan (‘ismah) di kedua hal, Nabi dan pemimpin (imam) yang ditunjuk oleh Nabi. Sekarang, bagaimana para sahabat, yang mereka sendiri tidak ketidakmungkinsalahan (‘ismah), membawa pada diri mereka sendiri untuk mengenali orang yang mungkin-salah?

Selain itu, jika itu adalah hak kaum muslimin bahwa mereka harus memilih pengganti Nabi, bagaimana hak ini dibatasi oleh ‘Umar b. Khattab hanya kepada untuk enam orang saja? Semua enam orang dari antara Muhajirin, dan bahkan tidak satu pun dari Anshar ditugaskan untuk menasehati mereka.

Ayat Al Qur’an yang berbunyi:

“Kaum muslimin adalah untuk mengatur urusan mereka atas dasar musyawarah” (Al Qur’an, 42:38)

Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa salah satu ciri dari orang percaya adalah untuk berkonsultasi satu sama lain dalam usaha mereka; itu tidak tidak menunjukkan dengan cara apapun bahwa kepemimpinan umat Islam harus berdasarkan suara mayoritas, juga tidak membuat kewajiban ketaatan kepada keputusan yang diambil oleh khalifah begitu terpilih. Ayat ini bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang cara konsultasi yang akan diselenggarakan dan apakah atau tidak kehadiran semua umat Islam diperlukan.

Bahkan jika konsultatif (syura) prinsip yang dapat diterapkan dalam masalah kepemimpinan Islam, keputusan harus dibuat melalui pertukaran pandangan umum, bukan terbatas hanya pada enam orang, dalam pemilihan yang “Umar b. Khattab tidak mau dirinya untuk berkonsultasi dengan salah satu sahabat.

Dia bahkan memberikan hak veto untuk Abd al-Rahman b. ‘Auf yang dikenal karena kekayaannya, sesuatu yang tidak dapat dibenarkan dengan mengacu pada prinsip-prinsip Islam.

Pertimbangan keenam itu, apalagi, dibayangi oleh ancaman dan intimidasi, telah diberikan perintah bagi mereka yang tidak setuju dengan mayoritas harus dihukum mati! Dibunuh!

Ketika menunjuk ‘Umar menjadi khalifah, Abu Bakar tidak berkonsultasi dengan siapa pun, tidak cukup jelas dia meninggalkan pertanyaan penggantinya kepada orang-orang bagi mereka untuk memutuskan, melainkan sepenuhnya merupakan keputusan pribadi.

Dalam hal apapun, prinsip konsultatif menjadi operasi hanya jika pemimpin itu sendiri mengadakan pertemuan konsultasi untuk pertukaran pandangan mengenai berbagai pertanyaan, terutama saat menyentuh topik tentang hubungan sosial dan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh pemimpin dalam menanggapi kebutuhan sosial. Konsultasi dengan spesialis yang relevan terjadi, tapi setelah opini mereka telah didengar, itu adalah pemimpin sendiri yang mengambil keputusan akhir.

Untuk pengetahuan agamanya adalah lebih tinggi dari orang lain, dan itu adalah pernyataan bahwa dukungan publik menikmati layak diberlakukan. Kesatuan arah dan kepemimpinan harus selalu dijaga, karena perbedaan pendapat, tanpa adanya seorang pemimpin membuat keputusan akhir, akan melumpuhkan pemerintah.

Juga harus diingat bahwa Al-Qur’an Surah Al-Syura terungkap di Makkah, pada saat sistem pemerintahan Islam belum mengambil bentuk, dan bahwa pada waktu tidak ada pemerintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah di atasnya dan keluarganya), berdasarkan konsultasi.

Ayat tentang konsultasi, kemudian, mendorong orang-orang percaya untuk berkonsultasi satu sama lain, dan itu tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah pemerintahan dan kepemimpinan. Hal ini terkait dengan keprihatinan praktis kaum muslimin, dengan berbagai masalah yang dihadapi umat Islam. Sama sekali tidak ada pembenaran untuk menafsirkan ayat ini sebagai sanksi penunjukan khalifah melalui musyawarah, karena selama usia pemerintah wahyu secara eksklusif ada di tangan Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya).

Selanjutnya, bagian dari ayat yang merekomendasi konsultasi diperlakukan dari keinginan untuk belanja properti seseorang dalam jalan Allah, juga sesuatu yang diinginkan tetapi tidak wajib.

Namun pertimbangan lain adalah bahwa ayat tersebut terjadi dalam konteks berhubungan dengan perang Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya). Beberapa ayat-ayat yang ditujukan kepada umat Islam pada umumnya dan para prajurit di antara mereka pada khususnya, dan lainnya untuk Nabi secara individual. Hal ini jelas bahwa dalam konteks ini dorongan untuk berkonsultasi terinspirasi oleh belas kasih bagi orang yang beriman, dengan kepedulian moral mereka, itu adalah bahwa Nabi tidak diwajibkan untuk bertindak sesuai dengan pendapat dari orang-orang yang dimintai konsultasi.

Untuk Alquran dengan jelas menyatakan:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian Setiap kali Anda mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah dan bertindak sesuai dengan opini sendiri dan niat (tekad). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Qur’an, 3:159)

Konteks ini juga menunjukkan konsultasi yang berlaku untuk hal-hal militer, terutama ke kekhawatiran yang muncul selama Pertempuran Badar, bagiNabi SAWW (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), sahabat berkonsultasi tentang kelayakan menyerang kafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan kembali dari Suriah. Pertama Abu Bakar menyatakan pendapat, yang ditolak oleh Nabi, kemudian ‘Umar menyatakan-Nya, yang juga ditolak, dan akhirnya al-Miqdad memberikan pendapatnya, dan Nabi menerimanya. [3]

Jika Nabi berkonsultasi dengan orang lain, itu bukan berarti untuk belajar dari mereka yang lebih unggul (pakar) dari pendapat beliau sendiri. Tujuannya adalah bukan untuk melatih mereka dalam konsultasi metode dan penemuan pandangan yang benar. Berbeda dengan penguasa yang menolak duniawi pernah berkonsultasi dengan orang biasa, karena kesombongan dan keangkuhan, Nabi diperintahkan oleh Allah untuk menunjukkan perhatian orang yang beriman dan belas kasihan kepada mereka dengan konsultasi dengan mereka, pada saat yang sama meningkatkan harga diri mereka dan belajar apa yang mereka pikirkan.

Namun, keputusan akhir selalu, dan dalam kasus Pertempuran Badar, Allah memberitahukan terlebih dahulu tentang apa yang akan dihasilkannya, dan ia pada gilirannya ini disampaikan kepada para sahabat setelah berkonsultasi dengan mereka.

Perintah untuk berkonsultasi dan untuk bertukar pandangan juga demi menemukan cara terbaik untuk memenuhi tugas yang diberikan, bukan untuk mengidentifikasi apa yang tugas dan apa yang tidak, ini merupakan perbedaan penting.

Setelah resep yang jelas dan otoritatif ada dalam Al-Quran atau Sunnah, tidak ada tanah untuk konsultasi mengambil tempat. Masyarakat tidak memiliki hak untuk mendiskusikan perintah yang didasarkan pada wahyu, karena pada prinsipnya diskusi tersebut mungkin berakibat pada pembatalan hukum Tuhan.

Dalam cara yang sama, konsultasi tidak berarti dalam setiap masyarakat manusia, sekali tugas hukum anggotanya telah ditentukan.

Sang penerus pengganti Ali b. Abi Thalib sa, jelas diangkat Nabi sesuai dengan perintah illahi di Ghadir Khum. Dan lagi di awal misi Nabi, ketika ia berada di ranjang kematiannya. Karena itu, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan oleh konsultasi.

Al-Quran tidak mengizinkan individu untuk menghibur pandangan mereka sendiri tentang topik apa pun ada di mana undang-undang illahi, untuk itu berkata:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al Qur’an, 33:36)

Atau lagi:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” (Al Qur’an, 28:67)

Karena pilihan dan seleksi pemimpin adalah hak prerogatif Allah semata, dan karena pada kenyataannya dia seorang pemimpin yang ditunjuk, tidak ada artinya untuk mencari orang lain sebagai pemimpin.

Tugas Imam adalah membimbing manusia dan menunjukkan kepada mereka jalan yang akan menuntun mereka ke kebahagiaan. Itulah yang terjadi, metode yang tepat untuk memilih seorang Imam adalah sama dengan yang Al Qur’an merinci untuk para nabi:

“Memang kewajiban pada Kami untuk membimbing manusia, untuk kerajaan dunia dan akhirat adalah Milik kami”. (Al Qur’an, 92:11-12)

Ini adalah tanggung jawab maka Allah sendiri memberikan pedoman bagi umat manusia dan untuk membuat tersedia apa saja yang dibutuhkan pada berbagai tahapan eksistensi. Bagian dari apa yang dibutuhkan yang pasti bimbingan, dan hanya satu yang telah ditunjuk Allah dapat menampilkan dirinya sebagai panutan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an bersaksi bahwa Allah berikan status panduan pada Nabi.

Penunjukan seorang Imam sebagai pengganti Nabi Allah terjadi untuk tujuan yang sama persis dengan misi Nabi (salam kedamaian dan berkah saw dan keluarganya), yang melayani umat manusia sebagai panutan dan tokoh suri tauladan kepada siapa ketaatan disampaikan.

Dengan hal tersebut, tak seorang pun berhak mengklaim fungsi ini atau untuk menuntut ketaatan tanpa bukti yang telah diangkat oleh Allah. Jika seseorang tetap saja tidak melakukannya, ia akan merampas tangan kanan Allah.

Teori Sunni yang melihat dalam penunjukan Abu Bakar penggantinya, pembenaran untuk prosedur tersebut. Jika penunjukan tersebut dibuat oleh seorang Imam yang mungkin-salah (tdiak ‘ismah’) itu adalah sah dan otoritatif, tetapi yang lain mengenali untuk satu pemilik ketidakmungkinsalahan (‘ismah) dan aman mempercayakan urusan umat kepadanya. Jika hal ini tidak menjadi kasus, kurang satu kualitas ketidakmungkinsalahan, tidak memiliki hak untuk menunjuk seorang menjadi khalifah, yang orang wajib mematuhi. Jika dikatakan bahwa ini adalah Abu Bakar yang lakukan dan tidak ada yang keberatan, itu harus dijawab bahwa keberatan memang sudah diajukan, tetapi tidak ada perhatian yang dibayarkan kepada mereka.

Tersebut pandangan para ulama Sunni tentang legitimasi dari tiga metode yang berbeda untuk memilih khalifah, dan keberatan-keberatan yang perlu dibuat untuk dilihat mereka.

Referensi:
[1] Ibnu Hisyam, Sirah, Vol. IV, hal 308; al-Tabari, Tarikh, Ibn al-Atsir, al-Kamil, Ibnu Katsir, al-Bidayah.
[2] Ibn Abi ‘l-Hadid, Syarah, Vol. I, p.132.
[3] Muslim, al-Sahih, “Sayr Kitab wa al-Jihad” Bab: Badar Ghuzwah, Vol. III, p.1403.

Lebih Lanjut mengenai Ijma’

Sunni menyatakan bahwa masalah penerus Nabi diselesaikan melalui konsep “syura (musyawarah), karena Allah SWT berfirman dalam Qur’an bahwa masalah mereka dipecahkan melalui syura’. Klaim bahwa masalah kepemimpinan adalah tidak diselesaikan melalui agreement supported adalah kesalahpahaman pengertian syura yang dimaksud dalam ayat Al-Qur’an dengan demokrasi pemilihan kepemimpinan Islam berdasarkan kesepakatan persetujuan ummat. Dewan syura’ ini berbeda dengan voting atau pemilihan, dan karena alasan itu, ia tidak dapat diterapkan pada masalah Imamahatau Khilafah. Mari kita menjelaskan mengapa?!Ketika seorang pemimpin untuk memutuskan suatu masalah, menurut aturan Islam, dia bisa mencoba untuk bernegosiasi dengan sekelompok pakar untuk mendapatkan pendapat dari mereka tentang isu-isu tertentu. Tapi akhirnya dia sendiri-lah yang harus memutuskan. Dia tidak melakukan pemungutan suara (voting). Untuk membuktikan spot kami, mari kita lihat ayat berikut ini.”… Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam masalah ini. Kemudian ketika Anda (para Nabi) ditentukan, maka bertawakallah kepada Allah” (Surah Ali Imran: 159).Ayat di atas Nabi berkonsultasi bertanya, tapi Allah SWT. menyatakan “idza azamta fa …” Berarti bahwa hanya Nabi yang mengambil keputusan akhir. Dan kemudiam semua ummat Islam “sami’na wa atha’na”

Di sini tidak ada pemilihan suara (voting) sama sekali. Ini hanya soal untuk mendapatkan opini. Keputusan akhir ditangan Nabi. Yang mungkin berbeda dari mayoritas orang yang berkonsultasi (demi keuntungan) yang diakui oleh para pemimpin dan karena itu ia dianggap sebagai seorang pemimpin karena lebih unggul dalam keilmuan, pintar, dan sebagainya.

Beberapa pihak berpendapat disini bahwa, karena pengetahuan yang tinggi, Nabi Muhammad SAWW. bahkan tidak perlu untuk meminta pendapat rakyatnya. Namun, Nabi melakukannya dalam beberapa keadaan, hanya untuk mengajar orang pentingnya arti musyawarah.

Dalam hal musyawarah, keberadaan seorang pemimpin yang diasumsikan sebagai pengambil keputusan akhir (top decision maker). Hal ini jelas membuktikan bahwa, dalam hal suksesi kepemimpinan, konsensus (dukungan persetujuan/ agreement supported) dari ummat tidak diperlukan (kecuali hal itu dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, sebelum kematiannya).

Setelah kematian sang pemimpin, sang pemimpin tidak dapat melakukan musyawarah, kecuali sang pemimpin akhir memiliki wakil (red. atau panggilan wakil presiden) yang dapat melakukan fungsi ini.

Biasanya wakil yang ditunjuk adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi pemimpin, dan bahkan orang lain pun memutuskannya ia layak untuk menjadi pemimpin. Pemimpin ditunjuk oleh wakil tetap (pemimpin) yang sebelumnya telah ditunjuk, dan bukan oleh manusia!

Pemilihan suara (Voting) adalah masalah yang sama sekali berbeda. Dalam masyarakat demokratis, semua orang memiliki kesempatan untuk memilih kandidat mereka. Prosedur-prosedur ini tidak memiliki dukungan apapun dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, untuk masalah-masalah dalamkepemimpinan Islam (Islamic Leadership).

Keseluruhan. Alasannya, Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan oleh manusia, dari manusia dan untuk manusia). Sebagaimana pengertian Demokrasi dalam Trias Politika dari filusuf Yunani (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat), yang kemudian terbentuk legilatif, yudikatif dan eksekutif.

Memang, Quran mengutuk pendapat kebanyakan orang (lihat kembali ayat Al-An-am, 6: 116; QS Al-. Maidah: 49, QS Yunus:. 92; QS Al-. Rum: 8) karena pandangan kebanyakan pria biasanya lemah karena kecenderungan mereka.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”[500]. (Qur’an al-An ‘am, 6:16)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (Qur’an al-Maidah, 5 :49)

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”. (Qur’an Yunus, 10 : 92)

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (Qur’an ar-Ruum, 30: 8)

Selain itu, pemilihan tersebut tidak terjadi untuk tiga khalifah pertama yang naik tahta kepemimpinan setelah Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya) wafat, bahkan tidak diantara penduduk Madinah.

Juga, bagaimana jika ada orang yang tidak memilih individu yang memenuhi syarat kualifikasi sebagai seorang pemimpin, misalnya orang munafik? Bagaimana bisa, seperti misalnya orang yang korup menjadi Ulil Amri dan ketaatan menjadi wajib?

Tentu saja, Allah SWT. dan Rasulullah Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya). Lebih mengetahui mana yang lebih baik, yang lebih pantas, memenuhi syarat sebagai pemimpin (imam) penerusnya.

Referensi :

[500]. Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

[704]. Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

berarti kesepakatan dari seluruh ummat Islam. Tapi anehnya dalam pemilihan khalifah, fakta sejarah ternyata menunjukkan ada indikasi yang tidak jelas dalam pemilihan khalifah pertama. Adakah ia pemilihan khalifah pertama, itu atas ijma’ dari seluruh ummat Islam, tanpa terkecuali terutama dariAhl Al-Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW dan Bani Hasyim ?Fakta sejarah mencatat, pemilihan khalifah pertama hanya diikuti dan dihadiri beberapa gelintir orang sahabat nabi di Madinah (red. bahkan konon sudah ditentukan sebelumnya, lihat dan silahkan telaah secara kritis fakta sejarah peristiwa “saqifah”).Sedangkan ummat muslim yang berada di wilayah Islam lainnya, selain yang ada di kota Madinah (red. setelah fathu Mekkah ummat Islam berkembang pesat), tidak terlibat ikut berperan secara aktif dalam pemilihan suara secara ijma’ itu, sehingga tidak dapat diketahui secara persis dan pasti bagaimanakah suara dan idea-idea mereka, seperti layaknya dalam suatu proses pemilihan secara ijma’ . Lebih tepatnya, dapat dikatakan, bukan kesepakatan seluruh ummat Islam, tetapi kesepakatan sebagian ummat Islam.

Bukti sejarah, Ahl Al-Bayt Nabi (Keluarga Nabi) seperti Imam Ali bin Abi Thalib sa., Fatimah sa, Hasan sa. dan Husyain sa. serta seluruh keluarga BaniHashim lainnya tidak tampak ikut hadir dan mengikuti pemilihan suara dengan sistem Ijma  itu. Karena Ahl Al-Bayt Nabi hanya berkhidmat pada jenazah Rasulullah di rumah duka, sementara hanya beberapa gelintir orang sahabat saja yang heboh membicarakan pengganti Nabi Suci MuhammadSAWW.

Oleh karena itu sistem ijma’ seperti in patut dipertanyakan, apakah hal ini layak bisa diterima oleh seluruh ummat Islam tanpa terkecuali? Karena, definisi pengertian ijma’ jelas sekali merupakan kesepakatan seluruh ummat Islam tanpa terkecuali. Dengan demikian definisi pengertian ijma’ itu sendiri telah diciderai!

Kemudian, yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah jika sistem ijma ‘ ini memang dinyatakan sebagai sistem yang benar dan harus wajib diikuti dan harus diterima, maka mengapa sesudah pemilihan khalifah pertama (Abu Bakar) yang masih patut dipertanyakan itu, dalam pemilihan khalifah kedua (Umar ibn Khattab), khalifah pertama Abu Bakar melanggar sistem ijma’ ini?

Betapa tidak, fakta sejarah menunjukkan pemilihan khalifah kedua Umar bin al-Khattab dibaiat sumpah setia oleh khalifah Abu Bakar sebagai penggantinya tanpa ijma’ . Tetapi secara atas tunjuk, membaiat dan mewariskan secara langsung dengan otoritas yang dimilikinya.

Jika Abu Bakar bisa membai’at dan menunjuk Umar bin Al-Khattab dalam sebagai khalifah penggantinya sesuai otoritas yang dimiliki, lalu pertanyaannya mengapa, apa yang tidak tepat jika Nabi Suci Muhammad SAWW. melakukan cara yang sama, sesuai dengan instruksi
wahyu yang diterima beliau sesuai otoritasnya sebagai Nabi dan Rasul, dengan menunjuk pemimpin pengganti beliau Ali bin Abi Thalib sa. sebagaiImam pengganti penerusnya?

Di sini, Nabi Suci adalah lebih patut ketika ia melantik Imam Ali bin Abi Thalib sa. sebagai seorang Imam atau khalifah penggantinya saat ia wafat nantinya, di sebuah tempat Ghadir Khum, setelah melakukan Haji Wada. Nabi Suci melakukan ini semua, bukan sesuai dengan keinginannya (“penuh hawa nafsu rendah duniawi”), tapi menurut Al-Qur’an apa yang ada dalam diri Nabi Suci Muhammad SAWW. tidak lain adalah “illa yuha wahyuha”. (melainkan wahyu yang telah Allah wahyukan). Dan kita semua ummat muslimin sepatutnya, harusnya mengucapkan “‘Sami’na wa atho’na” (Kami dengar dan Kami taat!).

Dan sekali lagi, perlu dipertanyakan kembali, jika ijma ‘adalah sistem yang benar dan harus diikuti, lalu mengapa pula sistem ijma’ ini masih tetap dilanggar kembali, dalam pemilihan untuk khalifah yang ketiga Ustman bin Affan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab?

Lagi fakta sejarah mencatat, khalifah kedua Umar bin Khattab pun juga telah melanggar sistem ijma’ ini, dimana ijma’ dibatasinya dengan memilih 6 (enam) orang sebagai calon khalifah tanpa musyawarah dengan para sahabat sebelumnya, dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu dari mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri untuk tidak lebih dari enam hari, jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, maka lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan diberikan kepada ‘Utsman.

Adakah ini adalah ijma’ atau merupakan hasil ijtihad terbaik khalifah Umar ibn Khattab atas pengertian definisi ijma’ itu sendiri?

Kalau itu memang iya, merupakan hasil ijtihad terbaik dari khalifah Umar Ibn Al-Khattab, tidakkah dia menyadari bahwa hal itu akan menciderai dan merusak pengertian ijma’ itu sendiri?

Mungkin perlu direnungkan, untuk telaah kritis atas fakta sejarah yang ada secara obyektif. Dan hendaklah dibuang jauh-jauh prasangka buruk. Di sini bukan hanya untuk sekedar mengkritisi polah tingkah laku dan pemikiran sahabat Nabi terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Ustman bin Affan. Nauzu billaahi min dzalik.

Terlepas dari semua itu, mereka semua sahabat Nabi yang terkemuka. Bahkan bagaimanapun juga Abu Bakar adalah ayah mertua Nabi MuhammadSAWW. Dimana beliaupun juga tetap sangat menghormatinya. Demikian pula Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan mereka semua telah memberi warna dalam pergerakan jihad Nabi Suci Muhammad SAWW. dan memberikan
sumbangsih yang tidak sedikit.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu muncul dalam hati dan pikiran semua umat Islam terutama generasi muda Islam. Mengapa sistem ijma’dibuat dan diagung-agungkan sebagai dalil pembenaran untuk melegitimasi pemilihan dalam Kepemimpinan Islam (Islamic Leadership), tapi malah justru fakta sejarah menunjukkan bahwa dari pemilihan kepemimpinan Islam mulai khalifah pertama sampai khalifah ketiga, semuanya terbukti telah melanggar dan menciderai definisi pengetian ijma’ itu sendiri? Kalau sudah begini, lalu generasi Islam harus bagaimana?

Ternyata memang telaah kritis atas fakta-fakta sejarah adalah sangat penting sekali bagi generasi muda Islam untuk menemukan esensi kebenaran agama Islam yang hakiki dari sumber yang hakiki pula.

Imamah dalam pandangan Syi’ah adalah bentuk pemerintahan ilahi, yang berkantor tergantung pada Allah seperti ke-nabi-an, sesuatu dimanaAllahtelah melimpahkan dan menganugerahkan pada hamba-hamba pilihan-Nya yang ditinggikan pada kurun waktu masanya masing-masing.

Perbedaannya adalah bahwa Nabi pendiri agama dan sekolah madarasah pemikiran hasil dari pada itu, sedangkan Imam memiliki fungsi menjaga dan melindungi agama Allah yang telah dirisalahkan kepada Nabi-Nya, dalam arti bahwa masing-masing memiliki tugas dalam semua dimensi nilai-nilai hidup spiritual mereka dan cara pelaksanaan agama Allah.

Setelah wafat Rasulullah SAWW, umat Islam berada pada kondisi yang membutuhkan tokoh yang layak yang akan diberkati dengan pengetahuan komprehensif yang berasal dari wahyu (red. hikmah), dibebaskan dari dosa kesalahan dan kenajisan kotoran hawa nafsu rendah duniawi, dan mampu menjaga dan melestarikan syari’at agama Allah secara murni dan konsekuen sesuai Qur’an dan Sunnah Nabi.

Hanya tokoh seperti itu lah yang layak akan dapat, tidak hanya untuk mengawasi perkembangan dari waktu dan untuk melindungi masyarakat dari unsur menyimpang, tetapi juga untuk memberikan pengetahuan agama yang luas kepada ummat yang muncul dari sumber utama berupa wahyu (red. hikmah) dimana prinsip-prinsip umum syari’at Nabi berasal. Hukum yang berasal dari wahyu inilah yang merupakan obor kebenaran dan keadilan yang tertinggi.

Imamah dan kekhalifahan tidak bisa dipisahkan. Sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW. Tuhan Allah tidak bisa dipisahkan dari kantor ke-nabi-anNya. Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan-kesatuan tunggal.

Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual. Dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya. Sehingga terjadi dikotomi perbedaan pengertian imam dan khalifah (red. keimamahan dan kekhalifahan).

Jika masyarakat Islam tidak dipimpin oleh seseorang yang layak saja, yang takut akan Tuhan, yang tak ternoda oleh kenajisan moral dan tata nilai ahlak mulia, yang perbuatan dan kata-kata menjadi model panutan bagi orang-orang yang mengikutinya, atau sebaliknya, jika imam atau penguasa masyarakat itu sendiri melanggar hukum dan prinsip keadilan, tidak akan ada lingkungan yang mampu menerima keadilan, dan tidak akan mungkin lagi kebajikan dan kesalehan tumbuh berkembang, dan atau untuk tujuan pemerintahan Islam menciptakan lingkungan yang sehat bagi penyebaran nilai-nilai spiritual dan penerapan hukum-hukum Allah yang didasarkan pada wahyu (red. hikmah) ilahi.

Pelaksanaan moral penguasa dan peran pemerintah memiliki pengaruh yang kuat dan begitu mendalam terhadap masyarakat pendukungnya. ‘Ali ibn Abi Tahlib-Amirul Mukminin, yang dianggap sebagai lebih berpengaruh daripada peran edukatif dari seorang bapak dalam rumah tangga . Dia berkata demikian:

“With respect to their morals, people resemble their rulers more than they resemble their fathers.” (“Respek atas moral mereka, orang-orang akan menyayangi penguasanya lebih dari diri mereka menyanyangi bapak-bapak mereka sendiri”) [1]

Karena ada hubungan tertentu dan afinitas antara tujuan sebuah pemerintahan yang diberikan dan atribut dan karakteristik dari pemimpinnya, pencapaian cita-cita pemerintahan Islam sangat tergantung pada keberadaan seorang pemimpinnya, di antaranya adalah kualitas istimewa yang mengkristal kepada diri seorang manusia pemimpin yang disempurnakan.

Selain itu, kebutuhan masyarakat untuk kepemimpinan dan pemerintahan itu sendiri, merupakan kebutuhan alami yang bergerak maju menuju kesempurnaannya. Dan dengan cara yang sama Islam telah memenuhi kebutuhan individual dan kolektif manusia, material dan moral, oleh penyusunan sebuah sistem hukum yang koheren, disamping itu juga harus memperhatikan kebutuhan alami untuk kepemimpinan dengan cara yang sesuai dengan sifat esensial manusia.

Allah telah memberikan semua alat dan instrumen yang dibutuhkan setiap ada keterbatasan, kelemahan dan kekurangan untuk mengatasi dan maju menuju kesempurnaan itu sendiri. Apakah itu mungkin bahwa orang yang juga terpelihara dalam pelukan rahmat ilahi entah bagaimana akan dikecualikan dari aturan ini, pengoperasian diganggu gugat dan dicabut dari sarana pendakian spiritual?

Pada saat kematian Rasul Allah, negara Islam tidak mencapai tingkat budaya atau intelektual yang memungkinkan hal itu akan terus berkembang menuju kesempurnaan tanpa perwalian dan pengawasan. Islam telah didirikan untuk pengembangan dan elevasi manusia akan tetapi tidak akan lengkap tanpa jiwa dan prinsip keiImamahan yang berada untuk itu; Islam tidak akan bisa memainkan peran penting yang berharga dan sangat strategis dalam pembebasan manusia dan mekarnya potensi esensi manusia.

Teks-teks Islam Fundamental menyatakan bahwa jika prinsip Imamah dikurangkan dari Islam, semangat hukum Islam dan masyarakat berdasarkan progresif monoteistik akan hilang, tak akan pernah ada lagi, tetapi hanya ada bentuk Islam yang tak bernyawa, yang tak memiliki ruh ke-ilahi-an lagi.

Nabi Islam SAWW, bersabda: “Barangsiapa mati tanpa mengenal Imam pada masanya, mati dalam keadaaan Jahiliyyah.” [2]
Alasan untuk ini adalah bahwa selama era Jahiliyyah pra-Islam ketidaktahuan orang-orang musyrik; mereka tidak tahu baik monoteisme atau ke-nabi-an. Deklarasi ini dikategorikan oleh Nabi, kedamaian dan berkah Allah atasnya dan keluarganya, menunjukkan pentingnya ke-imamah-an dalam agamaIslam.
Referensi:

[1] Al-Majlisi, Biharal-Anwar, Vol, XVII, hal 129.

[2] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, hal 96.