Waspadai Ulama Yang Menghendaki Negara Yang Tidak Berhukum Dengan Hukum Allah

Apabila mereka mengetahui kefasikan secara jelas dan kefanatikan yang sangat dari para fuqahanya, maka barang siapa di antara mereka tetap mentaklidi fuqaha seperti itu, berarti mereka seperti awam-awam Yahudi yang telah Allah Swt kecam karena mentaklidi kefasikan para fuqahanya.

Mukaddimah

Tema pembahasan kita sehubungan dengan tafsir tematik yang ketiga ini adalah tentang seorang ulama atau seorang alim yang membelot dari jalan haq. Tadinya si alim tersebut berada di jalan yang benar dan lurus sehingga melalui jalan itu ia sampai kepada posisi yang sangat terhormat dan tinggi di sisi Allah Swt. Tetapi sedikit demi sedikit ia terperosok dan tergelincir ke dalam perangkap setan. Di dalam ayat yang akan kita kupas nanti, Allah Swt mengumpamakan orang alim ini seperti anjing penjilat yang sangat terhina. Semoga kiranya kita dan segenap kaum muslimin dapat mengambil pelajaran yang berharga dari tafsir tematik di bawah ini.

Tema ini sengaja saya angkat, mengingat banyaknya ulama –sejak dahulu hingga sekarang- yang menjilat penguasa dan raja hanya untuk memperoleh dan mempertahankan kedudukan,  materi dan kenikmatan duniawi yang hanya sekejap saja. Sebagai contoh pada masa kita sekarang ini dan beritanya masih hangat misalnya, Mufti Saudi Arabia yang merupakan ulama mazhab Wahabi atau Salafi yang baru-baru ini teleh mengeluarkan fatwanya yang betul-betul menguntungkan musuh-musuh Islam dan muslimin. Fatwa provokasi seorang alim Wahabi/Salafi itu segera dijawab oleh seorang alim mazhab Ahlulbait As (Syiah Imamiyah) yang bernama Ayatullah Syekh Makarim Syirazi dengan penuh sopan dan bijak. Fatwa yang bersifat mengadu domba dan memecah belah barisan kaum muslimin yang hanya menguntungkan musuh-musuh Islam seperti ini yang dikelurkan oleh Mufti Wahabi, memang bukan yang pertama kali dikeluarkan. Para ulama Ahlulbait As, sejak dulu hingga sekarang, senantiasa mengajak mereka untuk berdialog secara terbuka dan mengajak mereka agar bersatu demi mempertahankan ajaran Islam yang murni dari berbagai serangan musuh-musuh Islam, tetapi ajakan yang disampaikan secara sopan itu tidak pernah mereka jawab[1].

 

 

Baiklah, sehubungan dengan tema di atas, yaitu ”Ulama Suu’ atau Ulama yang Menyimpang”, mari kita baca ayat Al-Qur’an al-Karim yang terdapat pada surat Al-A’raf, ayat: 175 – 177).

 

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.   بسم الله الرحمن الرحيم.

Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim” (al-A`raf: 175, 176 & 177).

 

Sebab Turun Ayat

Terdapat pembahasan dan perdebatan di antara para mufassir tentang siapa orang alim yang dibicarakan dalam ayat tersebut. Mayoritas mereka meyakini bahwa ia adalah Bal`am bin Ba’ura; salah seorang ulama Bani Israil. Melalui ibadah-ibadahnya ia telah mencapai posisi tinggi hingga mencapai standar predikat nama Allah yang agung dan doanya pun pasti dikabulkan. Ketika Musa as diutus sebagai nabi, ia terjangkiti rasa sombong. Diutusnya nabi Musa membuat Bal`am hasud kepadanya. Rasa hasudnya semakin bertambah dari hari ke hari sehingga memakan kebaikan-kebaikannya sedikit demi sedikit. Rasa hasudnya dari satu sisi dan kecintaannya pada dunia telah membuatnya mencari perlindungan kepada Fir`aun, penguasa pada masa itu, dan mendatangi istananya untuk menjadi pendukungnya. Maka hilanglah seluruh kebanggaan-kebanggaannya karena efek keburukannya. Al-Qur’an mengungkap kembali orang alim ini agar kita dan kaum muslimin dapat mengambil pelajaran darinya.

Sebagian mufassir lain meyakini bahwa yang dimaksud dengannya ialah Umayyah bin ash-Shalat, seorang penyair terkenal pada masa jahiliyah. Pada awalnya ia masuk Islam, namun kemudian ia berbalik dan menyimpang karena hasud kepada posisi kenabian Rasulullah Saw.

Sejumlah mufassir yang lain lagi meyakini bahwa yang dimaksud dengannya ialah Abu Amir an-Nashrânî, seorang pendeta Nasrani yang telah masuk Islam dan bergabung dengan orang-orang munafik. Kemudian ia pergi ke Roma untuk beraliansi dengan penguasanya, lalu kembali ke Madinah untuk memprovokasi orang-orang munafik dan membangun masjid ”Dhirar” yang terkenal itu.

Di antara ketiga pendapat ini, yang pertama adalah yang paling akurat, sementara dua lainnya terlalu jauh dari redaksi ayatnya: ”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami…, yang menunjukkan hubungan dengan kisah-kisah umat terdahulu[2]

 

Tafsir Ayat

Allah Swt berfirman: ”Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab)”. Allah Swt meminta kepada Rasulullah Saw agar menceritakan kisah orang alim tersebut kepada para sahabatnya.

Maksud dari ayat-ayat tersebut ialah wejangan dan hukum-hukum Taurat. Sesungguhnya orang alim tersebut mengerti hukum-hukum Taurat dan wejangannya, dan juga mengamalkannya. Sebagian mufassir meyakini bahwa maksud ayat tersebut merujuk kepada nama agung. Untuk itu, Bal`am bin Ba’ura dikabukan doa-doanya, dan ia seseorang yang memiliki posisi terhormat dan agung di masyarakat.

 

Allah Swt berfirman: ”kemudian dia melepaskan diri (insalakha) dari pada ayat-ayat itu, lalu syaitan menjadikan dia mengikutinya (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat”. 

Kata ”salakh” berarti melepas kulit binatang. Karena itu ia dipakai untuk seseorang yang sedang menguliti kulit domba. Namun kata ”lalu dia diikuti” di sini mengandung dua makna;

Pertama, tabi`a dan lahiqa (mengikuti dan membuntuti). Yakni syetan menjadikan orang alim tersebut sebagai pengikutnya.

Kedua, kata kerja tersebut dipakai dalam makna biasanya, sekalipun ia berbentuk kata sulatsi mujarrad (kata kerja yang terdiri dari tiga huruf) sehingga maknanya menjadi bahwa setan mengikuti orang alim tersebut. Dengan kata lain, bahwa ia lebih dahulu tersesat sebelum disesatkan oleh setan. Perumpamaannya seperi seseorang yang melakukan perbuatan yang sangat buruk dengan cara terbaru dan ia selalu melaknat setan atas perbuatannya ini, lalu muncullah setan kepadanya dan berkata; laknat itu atasmu, bukan atasku, karena menyesatkan memang sudah keahlianku. Saya tidak tahu sebelumnya tipe maksiatmu ini, bahkan engkaulah yang mengajariku cara seperti ini.

Atas dasar ini, ayat tersebut berarti bahwa Bal`am bin Ba’ura lepas dari ayat-ayat Allah, maka ayat-ayat tersebut kemudian melepaskannya. Sekalipun ia menguasai seluruhnya, namun ia melepaskannya dan mengikuti setan atau setan mengikutinya. Itulah akibat kesesatan dan keburukan sehingga ia termasuk orang-orang yang sesat dan malang.

 

Allah Swt berfirman: ”Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu”. Yakni seandainya Kami berkehendak menjadikan ia tetap berada pada jalan yang benar, maka tentu Kami bisa untuk itu, namun Kami tidak melakukannya agar ia berbuat sesuai dengan pilihan dan kehendaknya sendiri, karena dalam Islam yang berlaku adalah ikhtiyar (pilihan) dan bukan jabr. Allah swt berfirman: ”Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir[3].

Allah Maha Kuasa untuk menjadikan seluruh amal ibadah seperti haji, puasa, dan shalat sebagai bagian dari tabiat-tabiat seseorang sebagaimana ia menjadikan makan dan minum. Namun Ia tidak mau melakukannya, bahkan menciptakan manusia bebas dan punya pilihan sehingga di sana terjadi proses hidayah, penyempurnaan, berkembang, ujian, pahala, siksa dan lain-lain sehingga ajaran-ajaran ini tidak kehilangan maknanya.

            Adapun di penghujungnya, ayat tersebut berarti; Kami tinggalkan Bal`am bin Ba’ura pada dirinya sendiri, namun orang alim yang menyimpang ini -yang lebih dahulu dan menjadi penyampai kuat bagi Musa as- mengikuti hawa nafsu dan keinginan yang tak pernah henti karena cinta dunia, hasud kepada Musa as, dan kepincut dengan janji-janji Fira`aun. Itu semua adalah efek dari terusir dari hamparan rabbani. Atas dasar ini, dua hal yang menjadi sebab kejatuhan Bal`am bin Ba’ura, yaitu; Pertama, kecintaan kepada dunia dan kecendrungan kepada Fira`un. Kedua, mengikuti hawa nafsu dan setan.

 

Allah Swt berfirman; ”maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)”.

Anjing biasanya terkenal memiliki peran besar dimana manusia mendapatkan manfaat darinya. Karena itu, dalam fiqh Islam memeliharanya diperkenankan. Hanya saja di samping kebaikannya itu, anjing terkadang gila dan selalu lahap. Inilah penyakit anjing-anjing. Penyakit yang menjadikannya selalu menjulurkan lidah dan bersuara memekik, mengeluarkan racun bakteri yang apabila mengenai manusia, ia akan mati, atau ia terkena penyakit anjing gila. Dalam kondisi seperti ini anjing sudah tidak lagi memiliki guna, dan karena itu tidak diperkenankan lagi memeliharanya karena dapat membahayangan jiwa orang lain.

Tanda-tanda penyakit ini pada anjing ialah ia selalu menjulurkan mulut dan menggerak-gerakkan lidahnya. Demikain itu agar berkurang rasa panas yang ia rasakan di dalam badannya. Gerakan lidahnya serupa dengan kipas angin yang berfungsi memasukkan udara ke dalam tubuh sehingga menjadi dingin. Di antara tanda lainnya ialah selalu kehausan. Alhasil, anjing seperti ini sangat berbahaya.

Al-Qur’an dengan perumpamaan yang cukup indah menyerupakan orang alim yang menyimpang ini (ulama suu’) dengan anjing yang tidak lagi memiliki nilai guna dan bahkan sangat berbahaya. Kecintaan kepada dunia, mengikuti hawa nafsu dan perasaan tidak pernah puas telah menggelincirkan orang alim tersebut hingga kehilangan pandangan dan penglihatan batinnya sehingga tidak lagi dapat membedakan antara kawan dan musuhnya.

 

Allah Swt berfirman: ”Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir[4]

Yakni ini benar-benar seperti sebuah komunitas masyarakat yang mendustakan ayat-ayat Allah Swt, maka ceritakanlah wahai Nabi kepada orang-orang, khususnya Yahudi dan Nashrani kisah-kisah ini agar mereka dapat mengambil pelajaran darinya, juga agar mereka mengetahui apabila berani mendustakan ayat-ayat Allah, maka nasib akhir mereka akan sama seperti nasib akhir Bal`am bin Ba’ura.

 

Pesan-pesan Ayat

Bahaya Ulama yang Menyimpang

Bal`am bin Ba’ura telah jatuh dari posisi mulia karena kecintaannya kepada dunia dan keikutsertaannya kepada setan. Kejatuhannya diumpamakan oleh Al-Qur’an dengan anjing liar yang tidak peduli kepada siapapun hingga ia nampak seperti gila. Kecintaan kepada dunia dan keikutsertaan kepada setan telah menjadikan seorang alim yang telah mendapatkan nama terhormat menjadi gila. Kegilaannya nampak dalam bentuk selalu haus dunia dan tidak pernah terpuaskan selamanya. Orang alim seperti ini membawa bahaya besar, dan di antaranya adalah sebagai berikut;

  1. Orang alim seperti ini benar-benar akan menjadi pembantu kezaliman, sebagaimana penjilat-penjilat para penguasa yang berkhidmat kepada para pelaku kezaliman di antara raja-raja dan penguasa. Yang jelas bahaya orang alim seperti ini tidak lebih sedikit dari bahaya kezaliman itu sendiri.

Para penguasa masa lalu berkeinginan menerapkan aturan khusus, maka ia meminta kepada para ulama negerinya untuk mengharmonikan kehendak Pembuat Syari`at (Allah Swt) dan syari`at versi kepentingannya. Maka seorang alim menjawabnya; sesungguhnya kehendak Sang Pembuat Syari`at adalah luas, dan urusannya bergantung kepada keputusan penguasa. Artinya ia dapat memberi jalan keluar atau justifikasi terhadap setiap keinginan penguasa. Memang benar ulama seperti ini memungkinkan untuk menjustifikasi kezaliman para penguasa.

Mereka adalah orang-orang yang menancapkan tonggak kezaliman. Mereka akan menepis setiap orang yang berusaha tidak setuju dengan kezaliman. Ulama-ulama seperti mereka leluasa pada masa pemerintahan Bani Umayyah memalsukan hadis-hadis Rasulullah Saw dan para imam As. Mereka pun menjilat beberapa penguasa zalim dari keturunan al-Ababs dan Bani Umayyah.

  1. Ulama-ulama seperti ini benar-benar dapat menghancurkan pondasi-pondasi akidah manusia. Sesungguhnya orang-orang awam apabila menyaksikan seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya, maka keyakinan keagamaannya akan goncang. Bahkan mereka dapat saja menjadi ragu terhadap surga dan neraka, hari kiamat dan hisab. Mereka akan berkata kepada dirinya masing-masing; andaikan memang benar di sana ada hari kiamat, maka orang-orang alim itu tentu beramal untuk bekal hari itu. Atas dasar itu, apabila para penguasa menzalimi orang-orang atas dunia mereka, maka para ulama yang menyimpang itu menzalimi orang-orang atas akhiratnya.
  2. Seorang alim yang menyimpang akan menjerumuskan orang-orang melakukan dosa. Negara-negara yang bersebrangan dengan Islam telah mendirikan pada abad-abad terakhir -untuk merongrong Islam- sekelompok penyesat. Untuk memperkuat  kelompok boneka ini, mereka mendidik seorang alim gadungan yang dapat mengarang buku atau mengeluarkan fatwa yang berisikan propokasi perpecahan[5]. Ia pun menggunakan sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an untuk tujuan perpecahan ini. Buku dan fatwa tersebut adalah buku dan fatwa menyesatkan karena dipersiapkan untuk memperbanyak perpecahan sebagai pengabdian kepada negara-negara pendirinya.

 

Dari sini, para pengajar ajaran-ajaran agama hendaknya memberitahu bahwa sebab penyimpangan ini adalah karena tidakadanya keikhlasan. Sejumlah pelajar tidak belajar hanya untuk Allah, melainkan untuk tujuan-tujuan duniawi, seperti hawa nafsu dan kecintaan pada dunia. Dengan tujuan-tujuan inilah akhiratnya dihancurkan dan dirubah menjadi neraka Jahim.

Sekalipun seseorang telah mencapai sebuah posisi tinggi, maka hendaknya dia jangan terlebih dahulu merasa aman dari bisikan setan. Perasaan cukup aman ini adalah awal dari keterjerumusan dan penyimpangan. Ia hendaknya selalu berada antara harap dan takut. Takut dari hawa nafsu, merasakan tidak puas dan bisikan-bisikan setan, di samping berharap terhadap rahmat dan kelembutan Allah Swt. Dia Yang Paling Kasih di antara para pengasih.             

 

Ulama di Mata Imam Hasan al-Askari

Sang faqih besar, Syeh Anshari dalam bukunya Farâidul Ushûl, mengutip sebuah hadis indah sebagai tafsir agung dari Imam al-`Askari as atas ayat, “Di antara mereka adalah orang-orang buta aksara yang tidak mengerti al-Kitab…”.

Seseorang bertanya kepada as-Shadiq as: “Apabila mereka itu dari Yahudi dan Nashrani yang tidak mengenal al-Kitab kecuali dari apa yang mereka dengar saja, dan para pemuka agama mereka tidak memiliki jalan selainnya. Lalu bagaimana ketaklidan mereka kepada para ulamanya dikecam. Apakah orang-orang awam Yahudi sama seperti orang-orang awam kita yang mentaklidi ulama-ulama mereka? Apabila taklid kepada para ulamanya tidak diperkenankan kepada orang-orang awam mereka, maka demikian juga tidak diperkenankan kepada awam-awam kita.”

Beliau as berkata: “Di antara orang-orang alim dan ulama kami dan di antara orang-orang awam Yahudi dan Nashrani dengan ulamanya terdapat perbedaan dari satu sisi dan kesamaan di sisi lain. Sisi kesamaannya ialah bahwa Allah Swt mencela orang-orang awam kita bertaklid kepada ulama-ulama mereka, sebagaimana juga Ia mencela awam-awam Yahudi dan Nashrani mentaklidi ulama-ulama mereka. Adapun dari sisi perpecahan mereka tidaklah sama.”

            Ia bertanya: ”Jelaskan kepadaku, wahai putra Rasulullah!”

            Beliau berkata: ”Sesungguhnya awam-awam Yahudi telah mengetahui kebohongan ulama-ulamanya dengan jelas, mereka memakan harta haram, berbuat zalim, merubah hukum, dan lain-lain. Karena itu, Allah mengecam mereka atas ketaklidannya kepada orang yang mereka ketahui tidak layak untuk ditaklidi pandangan-pandangannya, tidak boleh membenarkannya dan tidak boleh beramal dengan ajaran yang sampai kepada mereka dari orang-orang yang tidak mereka saksikan. Mereka pun harus mengoreksi diri mereka tentang Rasulullah Saw.”

Demikian pula awam-awam umat kami. Apabila mereka mengetahui kefasikan secara jelas dan kefanatikan yang sangat dari para fuqahanya, maka barang siapa di antara mereka tetap mentaklidi fuqaha seperti itu, berarti mereka seperti awam-awam Yahudi yang telah Allah Swt kecam karena mentaklidi kefasikan para fuqahanya. Maka barang siapa mendapatkan di antara para fuqaha orang yang paling menjaga dirinya, menjaga agamanya, menentang hawa nafsunya, dan taat terhadap perintah Tuhannya, maka hendaklah bagi orang-orang awam mentaklidinya. Demikian itu berarti hanya kepada sebagian fuqaha Syi`ah saja, bukan semuanya.

Adapun mereka yang melakukan perbuatan buruk dan terbiasa bohong kepada kita, maka mereka sesat atau menyesatkan, dan mereka jauh lebih berbahaya kepada kelompok awam syi`ah kami dari tentara Yazid yang telah memerangi al-Husein bin Ali as[6].

Pertanyaan: Kenapa para ulama yang menyimpang jauh lebih buruk dari tentara-tentara Yazid? 

Jawab: Tentara Yazid menyatakan secara terang-terangan permusuhannya, sementara para ulama busuk (suu’) seperti serigala berbulu domba yang menghancurkan agama atas nama agama. Dan jelas bahaya mereka jauh lebih besar dari bahaya orang yang jelas-jelas menyatakan permusuhannya.

Adapun yang dibanggakan oleh orang-orang Syi`ah ialah mereka pada masa silam telah menjadi pengikut para ulama dan marja’ yang padanya terkumpul sayarat-syarat kemuliaan seperti dicirikan para Imam As. Mereka pun selalu ada di bawah bimbingan dan kelembutan kasih mereka.    

            Tentu tidak diragukan lagi bahwa bertaklid kepada seorang ulama zuhud dan bijak tidak hanya tidak tercela, bahkan itu wajib sebagaimana diperkuat oleh ayat-ayat Al-Qur’an dan riwayat Ahlulbait As[7].[]  

 


[1] . Doakan saya, semoga dalam waktu yang tidak lama, dapat menerjemahkan surat ajakan dialog tersebut yang ditulis oleh guru kami; Ayatullah Syekh Ja’far Subhani hf, insya Allah. Saya pikir, demi mencari dan membuktikan kebenaran, kiranya kaum muslimin dan khususnya para mahasiswa muslim, wajib mengkaji sejarah ajaran Wahabi yang kini telah terbongkar kedoknya, yaitu hubungan eratnya dengan Zionis Israel dan Amerika. Dan agar para pemuda muslim tidak tertipu dengan tampilan lahiriah mereka. Wallahu a’lam.

[2] Tidak diragukan lagi bahwa ayat tersebut dimaksudkan untuk siapa saja yang memiliki kriteria-kriteria yang disebutkan di dalamnya. Untuk lebih jelasnya silahkan merujuk ke kitab tafsir Al-Amtsal, jil. 5, pembahasan akhir ayat 175.

[3] QS. Al-Insan: 3.

[4] Bentuk teks ayat tersebut menunjukkan pada kisah-kisah masa silam, bukan masa Nabi Saw. Karena itu ayat tersebut ditujukkan untuk kisah Bal`am bin Ba’ura dan bukan untul selainnya.

[5] .Kini nampak semakin jelas bagi umat Islam, bahwa musuh-musuh Islam, seperti Zionis dan Amerika, tidak akan mampu menghancurkan Islam dan melepaskan akidah Islam dari kaum muslimin.Karena itu mereka mendidik dan membayar ulama suu’  untuk membuat perpecahan dan menyebarkan akidah rusak di kalangan kaum muslimin. Kerjasama dalam kezaliman ini nampak disambut baik oleh para ulama Wahabi atau Salafi. Dan kebanyakan para pemuda, ikhwan dan akhwat yang mengikuti gerakan Wahabi ini, lantaran mereka tidak memahami ajaran Wahabi yang sebenarnya dan karena informasi yang sampai kepada mereka seringkali diputarbalikkan. Sementara itu, mereka diharamkan untuk menelaah buku-buku yang melemahkan akidah Wahabi. Sekiranya para ikhwan dan akhwat itu mengetahui kejahatan Wahabi sesungguhnya, pasti mereka akan meninggalkannya. Dan sekiranya ajaran Wahabi atau Salafi itu haq dan mempunyai argumen yang kuat, pasti mereka terbuka untuk berdiskusi dan berdialog dengan ajaran-ajaran lain, bukan malah lari dan menghindar dari dialog terbuka. Ustadz Allamah Sayyid Kamal Haidari hf, setiap malam Jum’at di TV al-Kautsar, membedah habis kedangkalan akidah Wahabi dan selalu mengajak ulama mereka untuk berdialog secara terbuka di hadapan masyarakat muslim dunia. Tetapi hingga kini tidak seorang ulama pun dari mereka yang berani mauju ke depan. Jika Anda mempunyai Parabola, Anda pun bisa mengiktuinya. Salah satu tanda bahwa ajaran itu haq, ketika ajaran itu sangat terbuka dan para ulamanya senantiasa siap berdialog dan adu argumen.

[6] Farâidul Ushûl, jil. 58 dalam edisi satu jilid.

[7] .Fiqih Ahlulbait As membahas secara luas masalah taklid dan mewajibkan pengikutnya agar bertaklid kepada para mujtahid atau marja’ yang telah memenuhi syarat. Hal ini berbeda dengan pandangan Ahlusunnah.

WILAYAH FAKIH DAN KEPEMIMPINAN UMAT ! Perbedaan Pandangan antara Wali Fakih dengan Marja’ Taklid

Risalah Amaliah Rahbar:
WILAYAH FAKIH DAN KEPEMIMPINAN UMAT

Wilayah Fakih dalam kepemimpinan masyarakat Islam dan pengaturan berbagai urusan Negara Islam dalam setiap masa, merupakan salah satu pondasi dan rukun mazhab haq Syi’ah Imamiyah yang berujung pangkal kepada masalah imamah.

 

 

- Makna Wilayah Fakih

- Pentingnya Wilayah Fakih

- Batasan-batasan Wilayah Fakih

- Perbedaan Pandangan antara Wali Fakih dengan Marja’ Taklid

1. Makna Wilayah Fakih

Wilayah Fakih ialah Pemerintahan yang dikendalikan oleh seorang Fakih yang adil dan pandai  dalam masalah agama.

Penjelasan:

  • Wilayah Fakih dalam kepemimpinan masyarakat Islam dan pengaturan berbagai urusan Negara Islam dalam setiap masa, merupakan salah satu pondasi dan rukun mazhab haq Syi’ah Imamiyah yang  berujung pangkal kepada masalah imamah.
  • Seseorang yang tidak meyakini Wilayah Fakih, baik berdasarkan hasil ijtihad ataupun taklid pada masa gaib Imam Zaman ajf seperti sekarang ini, tidak menyebabkan ia murtad dan keluar dari agama Islam. Karena itu, barangsiapa yang berpandangan bahwa tidak perlu meyakini Wilayah Fakih berdasarkan dalil dan argumen, maka ia dimaaf. Tetapi ia tidak boleh menyebarkan ikhtilaf dan perpecahan di kalangan umat Islam.

2. Pentingnya Wilayah Fakih

Agama Islam merupakan agama samawi terakhir hingga hari kiamat dan agama yang mengatur seluruh urusan masyarakat. Oleh karena itu seluruh lapisan masyarakat muslim dituntut untuk mempunyai seorang pemimpin dan Wali Fakih yang mampu menjaga umat Islam dari kejahatan musuh-musuh mereka, mampu mempertahankan undang-undang Islam, menegakkan keadilan sosial, menepis kezaliman, menjauhkan orang-orang yang kuat agar tidak menguasai kaum yang lemah dan  dapat menjamin terwujudnya sarana teknologi, budaya, politik dan sosial.

Penjelasan:

Wilayah Fakih merupakan hukum syar’i ta’abbudi yang ditopang oleh hukum akal. Dan dalam menentukan mishdaknya (contoh) menggunakan metode uqala’i (orang-orang yang berakal) sebagaimana dijelaskan di dalam undang-undang dasar Negara Islam Iran.

3. Batasan-batasan Wilayah Fakih

     1. Perintah Wila’iyah Wali Fakih

Seluruh kaum muslimin diwajibkan tunduk dan mentaati perintah-perintah wila’iyah dan larangan Wali Fakih. Hukum ini mencakup para ulama dan fakih terutama para mukallid beliau.

Penjelasan:

Tidak dibenarkan bagi seseorang untuk menentang orang yang telah menduduki  Wilayah Fakih dengan alasan bahwa dia lebih layak darinya.  Hal itu apabila kursi Wilayah Fakih tersebut diperolehnya dengan cara yang resmi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

2. Hukum-hukum Wila’iyah  Wali Fakih

Hukum-hukum wila’iyah dan berbagai ketentuan yang keluar dari Wali Fakih jika ketika dikeluarkan tidak bersifat sementara, maka hal itu tetap berlaku untuk semua umat Islam. Kecuali apabila Wali Fakih yang baru melihat adanya maslahat untuk menghapus ketentuan tersebut.

3. Menerapkan Hudud (sanksi)

Sanksi atas pelaku pencurian , zina dan lain-lain pada masa gaib, harus diterapkan. Dan wewenang tersebut khusus berada pada kekuasaan Wali Fakih.

  1. 1.      Mendahulukan Kepentingan Wali Fakih atas Kepentingan

Masyarakat Umum

Apabila terjadi kontradiksi antara kehendak dan kepentingan Wali Fakih -dalam hal-hal yang berkaitan dengan maslahat Islam dan kaum muslimin- dengan keinginan dan kepentingan masyarakat umum, maka kehendak dan kepentingan Wali Fakih harus didahulukan dan diutamakan.

5. Pengaturan  Media Informasi

Pengaturan media informasi harus dibawah kekuasaan  dan pengawasan Wali Fakih. Dan media tersebut harus digunakan untuk kepentingan dakwah Islam dan kaum muslimin dan menyebarkan ajaran Ilahi yang bernilai tinggi. Di samping itu harus pula digunakan untuk memajukan pemikiran masyarakat Islam, mengatasi berbagai problema umum dan menyatukan barisan mereka serta menebarkan ukhuwwah Islamiyah di antara kaum muslimin.

Tiga Poin yang Berkaitan dengan Batasan-batasan Wilayah Fakih

*. Mentaati Ketetapan Wakil Wali Fakih.

Seseorang tidak dibenarkan menentang ketetapan wakil Wali Fakih apabila ketetapan yang dikeluarkannya itu masih berada dalam batas-batas maslahat dan kebijakan yang dilimpahkan oleh Wali Fakih.

*. Wilayah Administratif

Di dalam konsep-konsep Islam tidak ada yang namanya wilayah administratif, artinya tidak ada kewajiban mentaati perintah penguasa tertinggi tanpa menentangnya sama sekali. Tetapi menentang perintah administratif  yang ditetapkan berdasarkan peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan administratif  tidak boleh ditentang dan dilanggar.

*. Wilayah Takwiniyah  

Wali Fakih tidak memiliki wilayah takwiniyah. Dan masalah ini khusus dimiliki oleh para Imam Maksum yang suci as.

4. Perbedaan Pandangan antara Wali Fakih dengan Marja’ Taklid

Apabila terdapat perbedaan pandangan antara Wali Fakih dengan marja’ taklid dalam hal-hal yang berkaitan dengan urusan negara dan urusan masyarakat Islam secara umum, seperti mempertahankan Islam dan kaum muslimin atas serangan orang-orang kafir dan para tiran yang zalim, maka dalam hal ini, pandangan Wali Fakih harus didahulukan dan ditaati.  Adapun dalam masalah-masalah yang hanya berkaitan dengan individu belaka, maka setiap mukallaf harus mengikuti fatwa marja’ taklidnya masing-masing. []

Tauhid dan Syirik dalam Pandangan Syi’ah Imamiyah

Oleh : Ustad  Husain Ardilla

————————————-

Tulisan ini saya buat dengan resiko harus siap siap kehilangan nyawa, demi  Allah – Rasul  dan  Itrah Ahlulbait setapak pun aku tak ragu !! Allahu Akbar !!

Perlawanan Kaum Tertindas

Kupersembahkan bait2 Syai’r ini buat kaum syi’ah  yang masih istiqomah dijalan

Dakwah dan Jihad ini, kutuliskan kata2 penyemangat ini dengan tinta darah, agar kalian tetap sabar dan Istiqomah dalam mengemban Dakwah dan Jihad ini dengan penuh berani, tanpa takut kepada siapapaun kecuali kepada Allah Jalla Jalaluh…

Allahu Akbar, bismillah…

Aku

Apa gerangan yang dilakukan musuh pada diriku
Aku, sungguh surgaku ada di hatiku
Dan taman-taman yang indah ada di dadaku

Ia selalu terus ada tetap bersamaku
Dan selalu ikut kemana saja kepergianku
Tak seorangpun bisa merampasnya dariku

Aku, andai mereka sampai membunuhku
Maka itulah waktu khalwat bersama Tuhanku

Dan jika mereka berani membunuhku
Sungguh, itulah bentuk kesyahidan bagiku
Dan merekapun akan segera menyusul kepergianku

Dan jikalau mereka dari negeri ini mengugusurku
Maka ku anggap itulah bentuk wisataku

Aku adalah aku yang mengerti benar jalan hidupku
Aku takkan pernah peduli dengan orang yang mencelaku
Selagi Allah tetap ridha dan mencintaiku

Orang yang sesat adalah seseorang Islam yang mempunyai dua system.

Orang Islam tidak perlu sistem lain,tapi bukan berarti memerangi system lain,

karena Al-Quran harus digunakan secara keseluruhan adalah wajib bagi Islam.

Tauhid akan kujunjung di atas kepalaku
Dan itrah ahlulbait dihatiku

Hukum ilahiy ku angkat tinggi dengan tanganku
Dan undang-undang non islam kan ku tebas dengan pedangku

Enyahlah hai hamba thaghut, kalian adalah musuh abadiku
Dan aku adalah musuhmu sepanjang hidupku

Bila kalian ragu dengan ajaran tauhidku
Dan merasa benar dengan ajaran musuh Tuhanku

Hasbunallah wa ni’mal wakil…

Alfaqir ilal Allah..

Hakikat Pancasila

Firman Allah : ‘Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’ (Annisaa:65)….

Pancasila itu tidak berbentuk benda seperti patung atau berhala. Pancasila hanyalah lima dasar dari didirikannya negara Indonesia. Yaitu ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan. Lima dasar ini bukan hukum dan juga bukan syariah. Kelimanya hanya prinsip-prinsip yang disepakati oleh bangsa ini dalam kesepakatan mereka untuk mendirikan negara.

Sehingga wujud asli Pancasila itu hanya segitu saja, tidak kurang dan tidak lebih.

Yang salah adalah ketika penguasa pada kurun waktu tertentu menafsirkan lima dasar ini sesuai dengan keinginannya saja (baca: kepentingan politiknya). Bahkan menyatakan bahwa tafsiran versinya itu harus dijadikan satu-satunya asas dari semua ormas dan orsospol di negeri ini. Bahkan setiap tahun diperingati hari kesaktiannya.

Di situlah titik masalahnya, yaitu pada tafsiran satu versi yang kemudian dipaksakan demi kepentingan politis. Dan masalah ini sebenarnya lebih dekat dengan perbedaan paham politik atau bahkan masalah pasang surut suatu rezim.

Adapun berkaitan dengan Pancasila ada beberapa point yang  bisa menjerumuskan anda kedalam syirik dan kufur  :

1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menyandarkan Ketuhanan kepada agama mana saja  asal jumlah Tuhannya itu ESA.. Sedangkan syi’ah imamiyah menjadikan Allah SWT sebagai satu satunya ilah, dalil kami :  qs. al ikhlas ayat 1, qs. an nahl ayat 36, dan qs. az zumar ayat 17

Sebagai umat Islam, kenapa kita harus mempertahankan/kembali membicarakan Pancasila? Dari sejarahnya, Pancasila dibuat oleh tokoh-tokoh theosofi dengan tujuan untuk membunuh Islam. “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Sila pertama ini artinya, mengakui beragam (tidak hanya satu) Tuhan Yang Maha Esa. Mengakui banyak Tuhan adalah syirik.  Yang ada adalah ruh bangsa, lebih meninggikan/lebih mengutamakan kebangsaan daripada Islam. Sungguh aneh umat Islam Indonesia ini. Pancasial hanyalah slogan pepesan kosong…negara berdasarkan ketuhanan tapi menolak hukum tuhan untuk di berlakukan..

Pancasila  menyamakan antara orang muslim dengan orang kafir,  . Padahal Allah subhanahu wata’ala telah membedakan antara orang kafir dengan orang muslim dalam ayat-ayat yang sangat banyak
Allah subhanahu wata’ala berfirman : “Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga”.(QS. Al Hasyr : 20).

Allah subhanahu wata’ala berfirman seraya mengingkari kepada orang yang menyamakan antara dua kelompok dan membaurkan hukum-hukum mereka :“Maka apakah Kami menjadikan orang-orang islam (sama) seperti orang-orang kafir, mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”.(QS. Al Qalam : 35-36).

Dia subhanahu wata’ala berfirman “Maka apakah orang mukmin (sama) seperti orang yang fasik?(tentu) tidaklah sama”.(QS. As Sajdah :18).

Allah subhanahu wata’ala menginginkan adanya garis pemisah yang syar’i antara para wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya dalam hukum dunia dan akhirat. Namun orang-orang yang mengikuti syahwat dari kalangan budak Undang-Undang negeri ini ingin menyamakan antara mereka.

Sistem Pancasila ini memadukan antara haq dan bathil, jahiliyah dan Islam, serta antara ilmu dan kebodohan.

Demokrasi Pancasila mencabik-cabik jati diri umat Islam dan menjatuhkan kewibawaan mereka melalui penghujatan atas syari’at dan tuduhan bahwa syari’at tersebut sudah tidak relevan lagi dengan kondisi zaman, juga melalui pengebirian sejarah dan hukum Islam dan mengilustrasikan bahwa Islam itu diktator tidak seperti demokrasi.

Di samping itu demokrasi berarti meleburkan umat Islam secara membabi buta ke dalam satu wadah bersama orang-orang barat dari golongan Yahudi dan Nasrani yang memendam dendam kesumat kepada umat Islam.

Pancasila memberikan jaminan kemerdekaan penduduk untuk meyakini ajaran apa saja, sehingga pintu-pintu kekafiran, kemusyrikan, dan kemurtadan terbuka lebar dengan jaminan UUD. Orang murtad masuk ke agama lain adalah hak kemerdekaannya dan tidak ada sanksi hukum atasnya. Padahal dalam ajaran Allah subhanahu wata’ala, orang murtad punya dua pilihan, kembali ke Islam atau di hukum mati, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :“Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”.(HR. Bukhari dan Muslim).

KETUHANAN YANG  MAHA  ESA versi  Pancasila bukan Tauhidullah, namun Tauhid (Penyatuan) kaum musyrikin atau Tauhiduth Thawaaghit.

Rasulullah صلى الله عليه وسلمtelah mengabarkan bahwa :“Ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena اللّه dan benci karena اللّه
Namun kalau kamu iman kepada Pancasila, maka cintailah orang karena dasar ini dan bencilah dia karenanya. Kalau demikian berarti adalah orang beriman, tapi bukan kepada اللّه, namun beriman kepada Thaghut Pancasila. Inilah yang dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang Esa itu bukanlah اللّه dalam agama Pancasila ini, tapi itulah garuda Pancasila.
kalau anda menolak yang saya bicarakan mengenai qul huwallahu ahad,saya mau tanya mengapa anda mengatakan saya hanya mengatakan dari pikiran saya pribadi??saya bersumber dari quran, jadi jika anda ingin membantah tolong katakan ayat yang mengatakan bahwa boleh mengatkan ketuhanan yang maha esa???!!!

ketuhanan yang maha esa ??  kita yang mengaku orang islam, sila pertama kita bukan ketuhanan yang maha esa tapi qul huwallahu ahad, jika kita mengakui ketuhanan yang maha esa itu sama saja dengan kita mengakui adanya illah lain selain Allah SWT  asal  ESA

Dalam Pancasila termuat ketuhanan yang maha esa, namun pada prakteknya terdapat lebih dari satu agama yaitu mereka yang dalam keyakinannya menyekutukan Allah ta’ala. Hal ini jelas bertentangan dengan tauhid ahlulbait Nabi SAW

Orang yang berada di dalam sistem Pancasila ini dipaksa untuk bergabung dalam satu barisan bersama partai-partai murtad dan zindiq dalam mempertahankan prinsip-prinsip jahiliyah seperti deklarasi-deklarasi internasional, kebebasan pers, kebebasan berpikir, kebebasan etnis Arab,

Sekarang Mari berlogika lagi,bagaimana mungkin agama  Budha bisa dimasukan agama resmi jika pengertian Tuhan Yang Maha Esa adalah Tuhan Yang sangat Satu ??? hehe.

berikut ulasannya :

Lebih jauh, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Buddha kita dapatkan dari sabda-sabda Sang Buddha, seperti yang dituliskan dalam Kitab Udana : “Atthi bhikkhave ajatam abhutam akatam asankhatam,no ce tam bhikkhave abhavisam ajatam abhutam akatam asankhatam, nayidha jatassa bhutassa katassa sankhatassa nissaranam pannayatha. Yasma ca kho bhikkhave atthi ajatam abhutam akatam asankhatam, tasma jatassa bhutassa katassa sankhatassa nissaranam pannaya’ti”

yang artinya:

“Para bhikkhu, ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Para bhikkhu, bila tak ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka tak ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Menjelma, Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”. (Udana,VIII: 3)

Untuk memahami ‘yang mutlak’ ini, seseorang harus mengembangkan pengertiannya, dari pengertian duniawi (lokiya) sampai memperoleh pengertian yang mengatasi duniawi (lokuttara), yang hanya dapat dicapai oleh insan yang sadar, yang telah membebaskan diri dari cengkeraman kamma dan kelahiran kembali. Pengertian ini tidak dapat dimiliki oleh manusia yang batinnya masih dicengkeram oleh keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan batin (moha).

Dengan demikian, jelaslah bahwa agama Buddha benar-benar mengajarkan keyakinan terhadap tuhan yang maha esa, yang mutlak. Hal ini penting sebagai penegasan kepada mereka yang mengira bahwa Sang Buddha tidak mengajarkan keyakinan terhadap tuhan yang maha esa dan dengan sendirinya agama Buddha dianggap tidak berlandaskan pada

ketuhanan yang maha esa.

SO,,MASIHKAH BERANGGAPAN BAHWA KETUHANAN YANG MAHA ESA ITU ADALAH TUHAN YANG MAHA SATU???

apabila orang Islam meletakkan agamanya setaraf agama lain di bawah satu ideologi.. sama seperti merendah2kan Islam itu sendiri.. justeru merendah2kan Allah di bawah ideologi pancasila..

Pancasila mengakui semua agama-agama yang ada, semua direstui dan diridhai oleh “tuhan” Pancasila (burung garuda), sedangkan Tuhan Yang Maha Tinggi Allah hanya merestui dan meridhai satu saja, yaitu Al Islam.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…”(QS. Al Maidah [5]: 19)

Kita heran, bukankah orang-orang Nashrani memiliki tuhan, orang-orang Budha juga memiliki banyak tuhan, orang-orang Hindu juga memiliki banyak Tuhan, sedang kaum muslim Tuhan mereka adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan agama serta kepercayaan lainnya yang memiliki banyak tuhan. Apakah satu Tuhan yang diibadati para pemeluk agama-agama dan kepercayaan di Indonesia ini atau banyak tuhan yang berbeda-beda ? maka jawabannya adalah banyak tuhan, akan tetapi kenapa sila kesatu dalam Pancasila dikatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, bagaimana hubungannya? mudah sekali jawabannya, semua agama diakui oleh Pancasila serta Tuhan-tuhan yang banyak itu dilindungi dan disatukan oleh “Tuhan Yang Maha Esa”(dalam Pancasila) yaitu Burung Garuda…!!!

Dalam Pancasila  tidak ada perbedaan diantara mereka dalam status itu semua dengan sebab dien (agama), sedangkan Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“katakanlah : tidak sama orang buruk dengan orang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menakjubkan kamu”(QS. Al Maidah : 100).

Dia Ta’ala juga berfirman :

“maka apakah orang yang mukmin (sama) seperti orang yang fasik?(tentu) tidaklah sama”.(QS. As Sajdah : 18).

Sedangkan kaum   loyalis pancasila mengatakan :“mereka sama”.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“maka apakah Kami menjadikan orang-orang islam (sama) seperti orang-orang kafir. Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan? Atau adakah kamu memiliki sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya, bahwa didalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu”.(QS. Al Qalam : 35-38)

Sedangkan loyalis  pancasila, mereka menyamakan antara orang-orang islam dengan orang-orang kafir. Dan saat ditanya, apakah kalian mempunyai buku yang kalian pelajari tentang itu?, mereka menjawab : ya, kami punya, yaitu PMP/PPKn dan buku lainnya

Pancasila memberikan kebebasan orang untuk memilih jalan hidupnya, dan tidak ada hukum yang melarangnya. Seandainya orang muslim murtad dan masuk nasrani, hindu, atau budha, maka itu adalah kebebasannya dan tidak akan ada hukuman baginya. Sehingga ini membuka pintu lebar-lebar bagi kemurtadan, sedangkan dalam ajaran Tauhid Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda :

“Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Pancasila mengajarkan pemeluknya untuk mencintai orang-orang Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu, para Demokrat, para Quburiyyun, para Thaghut dan orang-orang kafir lainnya. Sedangkan Allah subhanahu wata’ala mengatakan :“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih saying dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak, atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka”.(QS. Al Mujadilah : 22)

Kata pancasila :“harus saling mencintai meskipun dengan orang-orang non muslim”. Namun kata Allah, orang yang saling mencintai dengan mereka bukanlah orang islam.

Allah subhanahu wata’ala juga berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian jadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai teman setia yang kalian menjalin kasih sayang dengan mereka”.(QS. Al Mumtahanah :1)

Dia subhanahu wata’ala berfirman tentang siapa musuh kita itu :

“Sesungguhnya orang-orang kafir adalah musuh yang nyata bagi kalian”.(QS. An Nisa : 101)

Allah subhanahu wata’ala berfirman tentang ajaran Tauhid yang diserukan para Rasul :

“Serta tampak antara kami dengan kalian permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja”.(QS. Al Mumtahanah : 4).

Tapi dalam Thaghut Pancasila :“tidak ada permusuhan dan kebencian, tapi harus toleran dan tenggang rasa”.

Apakah ini Tauhid atau Syirik..???, ya, tauhid.., tapi bukan Tauhidullah, namun Tauhid (penyatuan) kaum musyrikin dan Tauhiduth Thawaaghit.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa :“ikatan iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah”. Namun kalau kamu iman kepada pancasila, maka cintailah orang karena dasar ini dan bencilah dia karenanya. Kalau demikian berarti adalah orang beriman, tapi bukan kepada Allah, namun beriman kepada Thaghut Pancasila. Inilah yang dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Yang esa itu bukanlah Allah dalam agama pancasila ini

2. Pancasila meletakkan Islam setara atau sama kedudukannya dengan agama lain lalu BERSAMA SAMA MEREKA berhukum dengan hukum jahiliyah.. Menurut  Syi’ah imamiyah bahwa Islam merupakan agama tertinggi sehingga agama lain harus patuh dan tunduk pada hukum Islam meskipun mereka tidak dipaksa masuk Islam. Orang Islam yang masuk kristen wajib dibunuh jika Negara Islam berdiri.. Dalil kami : q. al qalam ayat 35-41, qs. al hasyr ayat 20, qs al mujadilah ayat 20 – 22, qs ali imran ayat 71, qs an nisa ayat 100-101, qs al maidah ayat 100, Qs. As-Sajadah ayat  18

(Diberlakukannya sistem demokrasiPancasila) berarti menafikan peran ulama dan menghilangkan kedudukan mereka di mata masyarakat padahal merekalah yang memiliki ilmu dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, karena mereka sudah tidak lagi ditaati dan dijadikan sebagai pemimpin lantaran kebijaksanaan hukum berada di tangan mayoritas.

Kita tanyakan kepada para aktivis dakwah yang tertipu dengan sistem ini: Jika kalian sudah sampai pada tampuk kekuasaan apakah kalian akan menghapuskan demokrasi dan melarang eksisnya partai-partai sekuler? Padahal kalian telah sepakat dengan partai-partai lain sesuai dengan undang-undang kepartaian bahwa pemerintahan akan dilaksanakan secara demokrasi dengan memberi kesempatan kepada seluruh partai untuk berpartisipasi aktif. Jika kalian mengatakan bahwa sistem demokrasi ini akan dihapus dan partai-partai sekuler dilarang untuk eksis berarti kalian berkhianat dan mengingkari perjanjian kalian merkipun perjanjian tersebut (pada hakekatnya) adalah bathil.

Menurut sebagian aktivis dakwah, tujuan mereka masuk ke dalam sistem ini adalah untuk menegakkan hukum Allah. Padahal mereka tidak akan mewujudkannya kecuali dengan mengakui bahwa rakyat adalah sebagai penentu dan pembuat hukum, ini berarti ia telah menghancurkan tujuan (yang ingin dicapainya) dengan sarana yang dipergunakannya.

Dan yang sangat membahayakan, sistem demokrasi Pancasila dan pemilu dapat mengestablishkan (mengukuhkan posisi) orang-orang kafir dan munafiq untuk memegang kendali kekuasaan atas kaum muslimin –dengan cara yang syar’i– menurut perkiraan sebagian orang-orang yang jahil.

Sistem Pancasila ini akan mengarah pada tegaknya konfederasi semu dengan partai-partai sekuler, sebagai telah terjadi pada hari ini, apalagi biasanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul banyak menyelisihi mayoritas manusia yang menganut aqidah yang sesat dan menyimpang dan memiliki tradisi-tradisi jahiliyah.

Di bawah naungan sistem demokrasi Pancasila permasalahan wala’ dan bara’ menjadi tidak jelas dan samar, oleh karenanya ada sebagian orang yang berkecimpung dan menggeluti sistem ini menegaskan bahwa perselisihan mereka dengan partai sosialis, partai baath dan partai-partai sekuler lainnya hanya sebatas perselisihan di bidang program saja bukan perselisihan di bidang manhaj dan tak lain seperti perselisihan yang terjadi antara empat madzhab

Pancasila tidak membedakan antara orang yang alim dengan orang yang jahil, antara orang yang mukmin dengan orang kafir, dan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka semuanya memiliki hak suara yang sama, tanpa dilihat kelebihannya dari sisi syar’i.

Pancasila dan pemilu bertumpu kepada suara mayoritas tanpa tolak ukur yang syar’i.

Terjun ke dalam kancah demokrasi Pancasila akan dihadapkan pada perkara-perkara kufur dan menghujat syariat Allah, mengolok-oloknya dan mencemooh orang-orang yang berusaha untuk menegakkannya, karena setiap kali dijelaskan kepada mereka bahwa hukum yang mereka buat bertentangan dengan ajaran Islam, mereka akan mencemooh syariat Islam yang bertentangan dengan undang-undang mereka dan mencemooh orang-orang yang berusaha untuk memperjuangkannya. Maka menutup erat-erat pintu yang menuju ke sana dalam hal ini sangat diperlukan.

Demokrasi Pancasila akan membuat harakah Islamiyah dikendalikan oleh orang-orang yang tidak kufu’(yang tidak memiliki pengetahunan dan pemahaman tentang Dien yang cukup), karena yang menjadi pemimpin harus sesuai dengan hasil partai dalam sistem kerja maupun pelaksanaan programnya harus sesuai dengan asas pemilu.

Pancasila ini membuat kita lengah akan tabiat pergolakan antara jahiliyah dan Islam, antara haq dan batil, karena keberadaan salah satu di antara keduanya mengharuskan lenyapnya yang lain, selamanya tidak mungkin keduanya akan bersatu. Barangsiapa mengira bahwa dengan melalui pemilihan umum fraksi-fraksi jahiliyah akan menyerahkan semua institusi-institusi mereka kepada Islam, ini jelas bertentangan dengan rasio, nash dan sunah (keputusan Allah) yang telah berlaku atas umat-umat terdahulu.

Pancasila ini akan menyebabkan terkikisnya nilai-nilai aqidah yang benar yang diyakini dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan itrah ahlulbait  yang mulia, akan menyebabkan tersebarnya bid’ah, tidak dipelajari dan disebarkannya aqidah yang benar ini kepada manusia, karena ajaran-ajarannya menyebabkan terjadi perpecahan di kalangan anggota partai, bahkan dapat menyebabkan seseorang keluar dari partai tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah perolehan suara dan pemilihnya.

Orang-orang murtad dan munafiq dalam naungan sistem demokrasi Pancasila dikategorikan ke dalam warga negara yang potensial, baik dan mukhlis, padahal dalam tinjauan syar’i mereka tidak seperti itu.

Pancasila memvakumkan hukum-hukum syar’i seperti jihad, hisbah, amar ma’ruf nahi munkar, hukum terhadap orang yang murtad, pembayaran jizyah, perbudakan dan hukum-hukum lainnya.

Pancasila memisahkan antara dien dan kehidupan, yakni dengan mengesampingkan syari’at Allah dari berbagai lini kehidupan dan menyandarkan hukum kepada rakyat agar mereka dapat menyalurkan hak demokrasi mereka –seperti yang mereka katakan– melalui kotak-kotak pemilu atau melalui wakil-wakil mereka yang duduk di Majelis Perwakilan.

Pancasila membuka lebar-lebar pintu kemurtadan dan zindiq, karena di bawah naungan sistem thaghut ini memungkinkan bagi setiap pemeluk agama, madzhab atau aliran tertentu untuk membentuk sebuah partai dan menerbitkan mass media untuk menyebarkan ajaran mereka yang menyimpang dari dienullah dengan dalih toleransi dalam mengeluarkan pendapat.

Pancasila membuka pintu perpecahan dan perselisihan, mendukung program-program kolonialisme yang bertujuan memecah-belah dunia Islam ke dalam sukuisme, nasionalisme, negara-negara kecil, fanatisme golongan dan kepartaian.

Pancasila membuka pintu syahwat dan sikap permissivisme (menghalalkan segala cara) seperti minum arak, mabuk-mabukan, bermain musik, berbuat kefasikan, berzina, menjamurnya gedung bioskop dan hal-hal lainnya yang melanggar aturan Allah di bawah semboyan demokrasi yang populer,”Biarkan dia berbuat semaunya, biarkan dia lewat dari mana saja ia mau,” juga di bawah semboyan “menjaga kebebasan individu.”

Pancasila mengakui bahwa semua agama itu adalah setara kedudukannya! Inilah suatu kejahatan dan suatu kebiadaban yang amat tidak disadari oleh ummat Islam Indonesia. Padahal seorang muslim akan batal keislamannya jika ia tidak meyakini Islam sebagai  satu satunya agama yang benar..
firman Allah :  “Sesungguhnya dien (agama) di sisi Allah hanyalah Islam”  ( Ali-Imran : 19).

Firman Allah yang lainnya menyebutkan :
“Barangsiapa mencari dien (agama ) selain Islam, maka itu selamanya tidak akan diterima oleh Allah. Dan di akhirat nanti kelak ia akan menjadi orang-orang yang merugi ” ( Ali Imran : 85).

kepentingan Nasional harus lebih di dahulukan diatas kepentingan golongan (baca : agama). ApabilaTauhid atau ajaran Islam bertentangan dengan kepentingan syirik atau kufur negara, maka Tauhid harus mengalah.

Pancasila mengajarkan pemeluknya untuk mencintai orang-orang Nasrani, Hindu, Budha, Konghucu, para Demokrat, para Quburriyyun, para Thaghutdan orang-orang kafir lainnya.

Pancasila memberikan kebebasan orang untuk memilih jalan hidupnya, dan tidak ada hukum yang melarangnya. Seandainya orang muslim masuk Nasrani, Hindu, atau Budha, maka itu adalah kebebasannya dan tidak akan ada hukuman baginya. Sehingga ini membuka pintu lebar-lebar bagi kemurtadan, sedangkan dalam ajaran Tauhid Rasulullah bersabda : ”Siapa yang mengganti agamanya, maka bunuhlah dia”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Padahal اللّه subhanahu wata’ala telah membedakan antara orang kafir dengan orang muslim dalam ayat-ayat yang sangat banyak.
اللّه Ta’ala berfirman :
Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga”.(Qs. Al-Hasyr : 20)
اللّه subhanahu wata’ala berfirman seraya mengingkari kepada orang yang menyamakan antara dua kelompok dan membaurkan hukum-hukum mereka :
Maka apakah Kami menjadikan orang-orang islam (sama) seperti orang-orang kafir. Mengapa kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”.(Qs. Al-Qalam : 35 – 36)
Dia subhanahu wata’ala berfirman  ”Maka apakah orang yang mukmin (sama) seperti orang yang fasik? (tentu) tidaklah sama”.(Qs. As-Sajadah : 18)
اللّه subanahu wata’ala menginginkan adanya garis pemisah yang syar’i antara para wali-Nya dengan musuh-musuh-Nya dalam hukum-hukum dunia dan akhirat. Namun orang-orang yang mengikuti syahwat dari kalangan budak Undang-Undang negeri ini ingin menyamakan antara mereka.

apabila orang Islam meletakkan agamanya setaraf agama lain di bawah satu ideologi maka  sama seperti merendah2kan Islam itu sendiri.. justeru merendah rendahkan kan Allah di bawah ideologi pancasila.. Masalah yang nyata adalah Muslim indonesia sendiri ada yang menentang syariat Islam.. bukankah ajaran Islam itu merangkupi semuanya termasuk PERUNDANGAN ISLAM ?

3. Presiden, DPR dan MPR  tidak berwenang membuat hukum karena pembuatan hukum adalah hak Allah SWT. Allah SWT merupakan penguasa yang mengatur kehidupan  dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya dll jadi tidak bisa disekutukan dengan Undang Undang Thaghut ! dalil kami : qs. Al An’am ayat 14, Qs. An Naas ayat 1-3, Qs. An nisa ayat 65  dan Qs. Al Ahzab ayat 36, qs al kahfi ayat 26, qs an nisa ayat 59 + 115 -116, qs al hujurat ayat 1-2, qs. al maidah ayat 44-50

Bahkan bila ada perselisihan kewenangan antar lembaga pemerintahan, maka putusan final dikembalikan kepada   “Mahkamah Konstitusi”,  Padahal dalam ajaran Tauhid, semuanya itu harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya :“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian”.(QS. An Nisa’:59).

kepentingan Nasional harus lebih didahulukan di atas kepentingan golongan (baca : agama). Apabila Tauhid atau ajaran islam bertentangan dengan kepentingan syirik atau kufur Negara, maka Tauhid harus mengalah. Sedangkan Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rasul-Nya”.(QS. Al Hujurat : 1).

“Menetapkan hukum itu adalah hak Allah.”(Surat Al-An’am: 57) Sedangkan demokrasi tidak seperti itu karena penentu hukum dan kebijaksanaan berada pada selain Allah (yakni di tangan suara mayoritas).

melalui dewan-dewan perwakilan dapat diketahui bahwa sesungguhnya sistem demokrasi berdiri di atas asas tidak mengakui adanya Al-Hakimiyah Lillah (hak pemilikian hukum bagi Allah), maka terjun ke dalam sistem demokrasi kalau bertujuan untuk menegakkan argumen-argumen dari Al-Quran dan itrah ahlulbait  maka hal ini tidak mungkin diterima oleh anggota dewan karena yang dijadikan hujjah oleh mereka adalah suara mayoritas dan andapun mau tidak mau harus mengakui suara mayoritas tersebut, maka bagaimana anda akan menegakkan hujjah dengan Al-Quran dan itrah ahlulbait  sedangkan mereka tidak mengakui keduanya. Meskipun anda menguatkan (argumen anda) dengan berbagai dalil-dalil syar’i maka dalam pandangan mereka hal itu tidak lebih dari sekedar pendapat anda saja, bagi mereka dalil-dalil tersebut tidak memiliki nilai sakral sedikitpun karena mereka menginginkan –seperti yang mereka katakan– untuk membebaskan diri dari hukum ghaib yang tidak bersumber dari suara mayoritas dan pertama kali yang mereka tentang adalah hukum Allah dan Rasul-Nya. Maka pengakuan anda terhadap prinsip thaghut ini –yakni kebijakan hukum di tangan suara mayoritas dan pengakuan anda akan hal itu demi memenuhi tuntutan massamu– berarti meruntuhkan prinsip “hak pemilikan dan penentuan hukum mutlaq bagi Allah semata.” Dan manakala anda menyepakati bahwa suara mayoritas merupakan hujjah yang dapat menyelesaikan perselisihan maka tidak ada gunanya lagi anda membaca Al-Quran dan hadits karena keduanya bukan hujjah yang disepakati di antara kalian

Sudah kita ketahui bahwa hak menentukan hukum / aturan / undang-undang adalah hak khusus اللّه subhanahu wata’ala. Dan bila itu dipalingkan kepada selain اللّه maka itu adalah syirik akbar. اللّه subhanahu wata’alaberfirman :

Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu bagi-Nya dalam menetapkan hukum”.(Qs. Al-Kahfi : 26)

اللّه subhanahu wata’ala berfirman :

Hak hukum (putusan) hanyalah milik اللّه. (Qs. Yusuf : 40)

dalam ajaran Tauhid, semua harus dikembalikan kepada اللّه dan Rasul-Nya, sebagaimana firman-Nya :

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada اللّه (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar benar beriman kepada اللّه dan hari kemudian”.(Qs. An Nisa’ : 59)

Tasyri’ (pembuatan hukum) adalah hak khusus اللّه subhanahu wata’ala, ini artinya MPR adalah arbab (Tuhan-Tuhan) selain اللّه, dan orang-orang yang duduk sebagai anggota MPR adalah orang-orang yang mengaku sebagai Rabb (Tuhan), sedangkan orang-orang yang memilihnya adalah orang-orang yang mengangkat ilah yang mereka ibadahi. Sehingga ucapan setiap anggota MPR : ”Saya adalah anggota MPR”, artinya adalah ”Saya adalah Tuhan selain اللّه.

4. Syi’ah imamiyah menganggap AL QURAN sebagai petunjuk pedoman hidup, bukan Pancasila ! dalil kami : qs. Al Baqarah ayat 2, qs. al an’am ayat 153, qs yusuf ayat 111

Pancasila mengajarkan bahwa kepentingan nasional harus didahulukan atas semua kepentingan termasuk agama, oleh sebab itu semua hukum yang berkaitan dengan agama tidak dipakai karena mengganggu “Kestabilan nasional”, hukum pidana Islam, jihad terhadap orang kafir, jizyah atas ahli kitab dan yang lainnya ditiadakan karena merusak hubungan Nasional. Nasionalisme adalah segalanya… padahal Allah mengatakan :
“Jika bapak-bapak, anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya…”(QS. At Taubah [9]: 24)

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

“itulah Al-Kitab (Al-Qur’an), tidak ada keraguan didalamnya, sebagai petunjuk (pedoman) bagi orang-orang yang bertaqwa”.(QS. Al-Baqarah : 2)

Tapi mereka mengatakan :“ini Pancasila adalah pedoman hidup bagi bangsa dan pemerintah Indonesia”.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“dan sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia.”(QS. Al-An-am :153).

Tapi mereka menyatakan :“inilah pancasila yang sakti, hiasilah hidupmu dengan moral pancasila”.

Oleh karena itu, dalam rangka menjadikan generasi penerus bangsa ini sebagai orang yang pancasilais dengan  menjadikan PMP/PPKn sebagai pelajaran wajib di semua lembaga pendidikan mereka.

————————————————————————————————-

Bagaimana STATUS  SEORANG  MUSLiM  dibidang  TAHKiM  ???

Syi’ah  bukan jama’ah  takfir dan bukan khawarij yang memvonis kafir semaunya  !!!

Maka dengan demikian seorang yang telah bersyahadat, menyatakan dirinya Muslim, haram mengikuti dan mendukung Pancasila. Karena Pancasila jelas bertentangan dengan Islam. Muslim Indonesia wajib mengatakan Pancasila adalah sistem yang harus diganti dengan sistem Islam. Sistem yang jauh lebih baik dan sempurna dari sistem manapun didunia ini, dari dulu hingga sekarang dan sampai hari qiamat. Hanya Islam-lah yang akan menghantarkan bangsa Indonesia menuju bangsa yang adil, makmur dan penuh kedamaian. Dan mereka yang bukan Islam, hanya Islamlah yang dapat menjaga kehormatan dan keamanan mereka. Karena Islam adalah rahmat untuk seluruh alam.

Pancasila adalah landasan ideologi, pandangan hidup dan kepribadian bangsa. Ini semua jelas arti lain dari aqidah dan way of life (syariah). Para du’at harus menerangkan bahwa aqidah dan syariah umat Islam adalah Al Qur’an dan itrah ahlulbait yang maksum, sehingga jelas pancasila sama sekali tidak bisa diterima sebagai landasan ideologi, pandangan hidup dan kepribadian bangsa.

Di masa nabi, ada pembedaan antara kafir musyrik dengan kafir bukan musyrik. Kafir musyrik itu misalnya orang-orang kafir quraisy yang menyembah berhala, atau orang Persia yang menyembah api. Sedangkan bangsa Romawi yang nasrani tidak disebut sebagai kafir musyrik, melainkan kafir ahli kitab. Padahal mereka terkenal dengan pembangkangannya atas kitab suci yang diturunkan Allah, bahkan tidak mau berhukum dengan hukum Allah. Namun nabi tidak menyebut mereka sebagai musyrik. Mereka hanya dikatakan sebagai kafir, fasik dan zdhalim, sebagaimana firman Allah SWT:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al-Maidah: 44)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzhalim. (QS. Al-Maidah: 45)

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasiq. (QS. Al-Maidah: 47)

Bahkan di dalam Al-Quran secara tegas disebutkan bahwa para ahli kitab bila tidak mau berhukum sesuai dengan apa yang diturunkan Allah dan menjadikan nabi Muhammad SAW sebagai hakim yang memutuskan perkara di antara mereka, maka mereka adalah bukan orang-orang yang beriman.

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
(QS. An-Nisa': 65)

STATUS  SEORANG  MUSLiM  dibidang  TAHKiM :

1. Kafir Besar / Murtad Besar 

2. Kafir Kecil / Murtad  Kecil

3. Fasik 

4. Zalim

5. Jahil

ADAPUN  PERiNCiANNYA  ADALAH  SEBAGAi  BERiKUT iNi :

============================================

1. Kafir Besar / Murtad Besar 

Seorang muslim yang tidak memutuskan perkara menurut hukum Allah SWT disertai :

a. Bila seseorang membuat hukum dari dirinya sendiri kemudian dia meyakini bahwa hukumnya tersebut adalah hukum Allah atau lebih baik dari hukum Allah SWT

b. Menghalalkan perbuatan dosa besar (istihlal)

c. Menolak Al Quran dan mengingkarinya

d. Tidak memakai hukum Allah SWT  dengan meyakini bahwa perbuatan tersebut  adalah sesuatu yang halal

Contoh :

a. Seorang muslim meyakini ada wujud Tuhan selain Allah SWT

b. Meyakini semua agama sama saja  (pluralisme)

c. Meyakini semua agama sederajat / setara lalu bersama sama bnerhukum dengan hukum jahiliyah

Dalil kami  : qs. An Nisa 116 dan qs. Al Maidah ayat 44, qs. An Nisa ayat 150 – 151 dan Qs. Al Baqarah ayat 85

Pelaku perbuatan tersebut terkena hukum riddah yang mengeluarkannya dari Islam karena telah MUSYRiK yaitu  mengadakan sekutu terhadap Allah SWT… Dasar nya apa ???

Syirik dalam Islam diartikan sebagai bentuk pemujaan kepada makhluk/ciptaan Allah SWT sehingga menduakan (menyekutukan) Allah YME dalam menyembah dan menyerahkan diri yg harusnya hanya kepada satu zat Tuhan.

Syirik  atau politeisme juga artinya percaya bahwa ada kekuatan lain selain Allah SWT  yang memiliki  peran dalam mengatur urusan dunia…

Hukum pengaturan masyarakat dan kehidupan jagad raya ini berada dibawah otoritas Nya..

Hukum TAGHUT dipandang  sebagai sekutu Allah SWT padahal Allah SWT tidak memiliki  sekutu…

Lawan dari syirik  adalah tauhid atau monoteisme yang berarti meyakini  bahwa tidak ada kekuatan lain selain Allah SWT yang memiliki peran dalam mengatur urusan dunia…

Menghalalkan Pancasila sama saja dengan mengingkari sebagian ayat ayat Al Quran yang diturunkan Allah.. Ini sudah termasuk wilayah aqidah yang menyebabkan keluar dari keimanan.. Orang yang meyakini tidak layaknya apa yang Allah turunkan secara penuh keyakinan (I’tiqadi) maka dia kafir !!

Kafir besar : Orang islam yang mengingkari perkara agama yang telah jelas, bukan pengingkaran terhadap  perkara ijtihadi, missal : mengingkari wajibnya shalat dengan didasari  i’tiqad..

Asbabun nuzul Qs. Almaidah ayat 44 : Sekelompok Yahudi yang coba mengingkari bahwa hokum pezina adalah dirajam !!

Kufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’, kufur adalah tidak beriman kepada Allah Subhanahu waTa’ala dan RasulNya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

Jenis Kufur

Kufur ada dua jenis: Kufur Besar dan Kufur Kecil

KUFUR BESAR

Kufur besar bisa mengeluarkan seorang dari agama Islam. Kufur besar ada lima macam:

1. Kufur karena mendustakan, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:”Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah atau mendustakan kebenaran tatkala yang haq itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahanam itu ada tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir?” (Al-Ankabut: 68).

2. Kufur karena enggan dan sombong, padahal membenarkan, dalilnya firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Tunduklah kamu kepada Adam.’ Lalu mereka tunduk kecuali Iblis; ia enggan dan congkak dan adalah ia termasuk orang-orang kafir.” (Al-Baqarah: 34).

3. Kufur karena ragu, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala,

Artinya:”Dan ia memasuki kebunnya, sedang ia aniaya terhadap dirinya sendiri; ia berkata, ‘Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira Hari Kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, niscaya akan kudapati tempat kembali yang lebih baik daripada kebun-kebun itu.’ Temannya (yang mukmin) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya, ‘Apakah engkau kafir kepada (Rabb) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tapi aku (percaya bahwa) Dialah Allah Rabbku dan aku tidak menyekutukanNya dengan sesuatu pun’.” (Al-Kahfi: 35-38).

4. Kufur karena berpaling, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:”Dan orang-orang kafir itu berpaling dari peringatan yang disampaikan kepada mereka.” (Al-Ahqaf: 3).

5. Kufur karena nifaq, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu waTa’ala ,

Artinya:”Yang demikian itu adalah karena mereka beriman (secara lahirnya, lalu kafir (secara batinnya), kemudian hati mereka dikunci mati, karena itu mereka tidak dapat mengerti.” (Al-Munafiqun: 3).

Realita hari ini banyak orang yang beribadah kepada selain ALLOH akan tetapi mereka tidak menyadari bahwa yang ia lakukan itu adalah bentuk ibadah yang harus dikhususkan kepada ALLOH saja atau menjadi hak khusus ALLOH,salah satu contoh adalah taat terhadap hukum,yang apabila ketaatan itu di berikan kepada ALLOH,yaitu dengan berhukum dengan hukum yang telah ALLOH turunkan,maka itulah yang disebut beribadah kepada ALLOH,akan tetapi apabila ketaatan itu di berikan kepada selain ALLOH (makhluk),maka itulah yang disebut beribadah kepada selain ALLOH,dalam hal ini disebut beribadah kepada manusia yang telah melanggar hak khusus ALLOH sebagai pembuat hukum,yaitu manusia telah lancang dengan membuat hukum yang menyelisihi hukum ALLOH dan menggantinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.Maka manusia yang seperti ini disebut ARBAB (tuhan-tuhan selain ALLOH),sedangkan orang-orang yang mengikuti hukumnya atau berhukum dengan hukum buatannya mereka pada hakekatnya telah melakukan SYIRIK AKBAR

Dijadikannya Pancasila sebagai Azas Tunggal, hal ini sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip dalam Aqidah Islam, dalam Islam semua aktifitas seorang Muslim adalah semata-mata berdasarkan Allah (keridhoan-Nya, Dia telah mengatur, memberikan Syari’ah, peraturan-peraturan dalam kehidupan ini). Allah berfirman:

“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.”(Al An’am: 162)“Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.(Al An’am: 163)

Kalau ada orang Muslim, mengerjakan sesuatu bukan karena Allah semata, maka ia telah syirik, menyekutukan Allah. Karena ketika ia shalat selalu mengucapkan seluruh aspek kehidupannya hanya untuk Allah, namun dilain waktu, ia berbuat bukan semata-mata karena Allah. Demikian juga halnya, jika seorang Muslim melakukan suatu pekerjaan semata-mata berdasarkan Pancasila bukan karena Allah, maka ia dikatagorikan telah musyrik kepada Allah.

Pancasila adalah kecil dan tak ada artinya jika dibandingkan dengan Islam sebagai Dien, karena Islam telah mengatur segala aspek kehidupan manusia, sedangkan Pancasila tidak !!! Cendikiawan terkemuka didunia ini tidak pernah mengatakan Pancasila adalah falsafah apalagi pandangan hidup (way of live), karena ketidakjelasan ajaran yang dibawakannya, bermakna kosong, mereka hanya mengakui Islam, marxisme, Materialisme, Komunisme, liberalisme beserta aliran-alirannya. Sebagai ideologi, falsafah, maupun pandangan hidup.

Seorang Muslim di Indonesia, sudah seharusnyalah tidak mengakui Pancasila yang kerdil dan bermakna kosong itu sebagai falsafah, ideologi maupun pandangan hidup baginya, tapi harus meyakini, Islamlah satu-satunya yang benar. Islam telah membuktikan hal ini, hampir 15 abad diturunkan namun ia tetap sesuai dengan zaman dan tempat maupun didunia ini, tidak pernah mengalami perubahan sejak diturunkannya hingga kini, tidak seperti lainnya, selalu mengalami perubahan-perubahan. Itulah ketinggian Islam yang fitri.

Pengikut dan pendukung Pancasila, apalagi menerimanya sebagai ideologi, falsafah, way of life, maka ia telah ingkar dengan ajaran Islam.

sesungguhnya kalian tidak berstatus muslim apabila tidak kufur terhadap thaghut, yaitu meninggalkan ibadah terhadap thaghut, sedangkan thaghut terbesar di negeri ini adalah dustur (Undang Undang Dasar) dan qawanin (undang-undang). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”.(QS. An Nisa [4]: 60)

Thaghut di sini adalah undang-undang buatan (UUD dan UU), orang yang membuatnya dan memutuskan dengannya. Sedangkan beribadah kepada UUD atau UU adalah dengan cara mengikutinya, berhakim kepadanya, menerima dan pasrah pada aturan-aturannya serta ridha dengannya.

KENAPA?
Pancasila dihadirkan sebagai TUHAN oleh manusia yang  telah khianat dari amanah.
Ia lahir sebagai ‘SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM’
yang berlaku di Indonesia�. Kini memang terjadilah bencana itu.

banyak manusia Indonesia yang tidak memahami bahwa Pancasila adalah sebuah KESYIRIKAN (SYIRIK).

Perlu sedikit uraian bagi mereka yang sama sekali tidak  menyadari bahwa PANCASILA itu adalah SYIRIK.

Yang pertama, bahwa Pancasila diperlakukan sebagai SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM di Indonesia. Statement ini jelas bertentangan dengan ayat Allah : ” (Ketahuilah) bahwasanya tidaklah HUKUM itu melainkan milik Allah “

Tidak dinamakan Muslim jika seseorang tidak yakin bahwa agama yang benar dan / atau baik itu hanyalah Islam, sedangkan selain itu adalah batil belaka.

Meyakini bahwa Islam itu benar dan Pancasila juga benar apalagi dengan meyakini bahwa Pancasila adalah merupakan INTISARI ISLAM adalah suatu keyakinan yang bathil. Inilah yang disebut KESYIRIKAN.

Bagaimana tidak? Islam dibuat dan dijadikan WAY OF LIFE bagi Ummat manusia. Sementara Pancasila dihadirkan oleh manusia kerdil yang coba menyaingi HUKUM-HUKUM ALLAH demi menjadi SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM yang berlaku di Indonesia.

Kesyirikan seperti ini mesti segera disadari. Bukankah Allah berfrirman : “…Jika menyekutukan Allah (syirik) pastilah semua amalan kamu akan digugurkan oleh Allah dan pastilah kamu akan menjadi orang yang merugi ” ( Az-Zumar : 35)

Seorang muslim sejati tidak akan pernah menjadi Pancasilais dan seorang Pancasilaisis sejati tidak mungkin menjadi seorang MUSLIM selama-lamanya. Maka bertaubatlah wahai Insan Muslim (khususnya Indonesia) yang meyakini bahwa PANCASILA adalah sebagai SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM.

Berhentilah dari kemusyrikan berhentilah beramal karena Pancasila , dan yakinilah bahwa tiada ajaran, way of life, idelogi dan sebagainya yang lebih tinggi dari Islam. Lupakanlah Pancasila, sesali dan tangisilah kehadirannya di bumi Indonesia.

Allah subhanahu wata’ala berfirman :
“Dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu bagi-Nya dalam menetapkan hukum”(QS.Al Kahfi : 26).

Allah subhanahu wata’ala berfirman :

“Hak hukum (putusan) hanyalah milik Allah”.(QS. Yusuf :40).

Tasyri’(pembuatan hukum) adalah hak khusus Allah subhanahu wata’ala, ini artinya MPR adalah arbab (tuhan-tuhan) selain Allah, dan orang-orang yang duduk sebagai anggota MPR adalah orang-orang yang mengaku sebagai Rabb (Tuhan), sedangkan orang-orang yang memilihnya adalah orang-orang yang mengangkat ilah (tuhan) yang mereka ibadahi, sehingga ucapan setiap anggota MPR :“saya adalah anggota MPR”, artinya adalah:“saya adalah Tuhan selain Allah”.

Permasalahan syirik bukanlah perkara yang remeh, sebab kelurusan seseorang dalam bertauhid dan beraqidah menjadi jaminan bagi keselamatannya di dunia dan akhirat. Apabila tauhid seseorang melenceng dari standar Al-Qur’an dan As-sunnah, maka pasti dia terjerumus pada kesyirikan.

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Rabbmu”. Merekamenjawab, “Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian ituagardi hari Kiamat kamu tidak mengatakan,”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yanglengah terhadap hal ini (keesaan Rabb)”. Atau agar kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah menyekutukan Ilah sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunanyang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang yang sesat dahulu”. (QS. 7:172-173)

Ayat di atas menjelaskan bahwa kebanyakan orang yang terjerumus ke dalam kesyirikan disebabkanoleh dua hal dan secara otomatis dia telah melanggar perjanjian, ikrar dan persaksiannya sendiri terhadap keesaan Allah, dua hal tersebut adalah:

  • Jahil dan lalai terhadap tauhid dan syirik
  • Taqlid buta pada adat istiadat dan kebiasaan nenek moyang.

Permasalahan syirik bukanlah perkara yang remeh, sebab kelurusan seseorang dalam bertauhid dan beraqidah menjadi jaminan bagi keselamatannya di dunia dan akhirat. Apabila tauhid seseorang melenceng dari standar Al-Qur’an dan As-sunnah, maka pasti dia terjerumus pada kesyirikan.

Karena itu kita harus mengerti dan paham apa sebenarnya syirik itu, agar kita bisa terhindar dari bahaya dan malapetakanya di dunia dan di akhirat. Para ulama mengatakan, “Aku mengenali kejelekanbukan untuk melakukannya, tetapi agar terhindar darinya. Barangsiapa yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dengan kejelekan pasti terjerumus pada kejelekan itu.” Untuk itu, marilah kitamengenali apa syirik itu sebenarnya.

Syirik adalah menyejajarkan/menyamakan makhluk dengan Al-Khaliq (Allah swtdalam perkara-perkara yang merupakan hak khusus (istimewa) Allah swt.
Hak istimewa Allah Subhannahu wa Ta’ala banyak sekali, seperti: Disembah, mencipta, mengatur, memberikan manfaat dan mendatangkan madharat, menentukan baik dan buruk, membuat hukum dan undang-undang (syari’at) dan lain-lainnya.

Syirik akbar;

  • Syirik akbar menghancurleburkan seluruh amal ibadah pelakunya.
  • Apabila dia meninggal dunia dalam keadaan berbuat syirik akbar maka tidak mendapat ampunan Allah Subhannahu wa Ta’ala.
  • Pelakunya tergolong murtad dari Islam.
  • Di akhirat kelak pelakunya akan kekal dalam neraka selama-lamanya.

Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.

Tema yang kami pilih  tauhid dan syirik. Tema ini termasuk masalah penting yang banyak disinggung dan dibicarakan oleh ayat-ayat al-Qur’an di dalam berbagai suratnya. Diantara ayat yang menjelaskan tema tersebut adalah ayat 31 dalam surat al-Haj. Ayat yang mulia itu berbunyi: “Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.

Tema perumpaman di atas, yaitu tauhid dan syirik merupakan persoalan yang mendapat perhatian semua agama. Keduanya itu diserupakan dengan langit dan jatuh darinya. Perhatikanlah penjelasan yang akan kami sajikan berikut ini.

Penjelasan

Allah Swt berfirman: “Barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka ia seolah-olah jatuh dari langit”. Di dalam ayat ini tauhid diserupakan dengan langit dan syirik diserupakan dengan jatuh dari langit yang memiliki matahari, bulan dan bintang yang merupakan sumber cahaya, sinar dan keberkahan. Di samping itu bahwa langit itu sendiri memiliki keindahan dan keagungan tertentu.

Tauhid merupakan sumber cahaya dan keagungan Tuhan dan mendatangkan keberkahan dan sinar penerang bagi monoteisme. Adappun syirik sebagaimana jatuh dari langit tauhid.

Dengan memperhatikan mukaddimah ini, ayat di atas berkata: “Mereka yang menolak untuk bertauhid kepada Allah Swt dan menjadikan syarik (teman) bagi-Nya dan keluar dari barisan monoteisme, sama dengan orang yang jatuh dari langit”. Sudah pasti orang yang jatuh dari langit ke bumi itu tidak mungkin hidup lagi.

Allah Swt berfirman : “Lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.Seorang musyrik yang jatuh dari langit ke bumi tidak akan selamat, karena -ketika tergantung di udara- hanya ada satu di antara dua jalan yang pada akhirnya mati atau hancur. Dua jalan tersebut ialah:

Pertama: Dia menjadi mangsa burung-burung buas pemakan daging dan bangkai yang terbang di udara. Masing-masing burung itu akan memakan sebagian daging yang ada di tubuhnya, sehingga ia tidak sampai ke bumi kecuali tinggal tulangnya saja.

Kedua: Dia akan ditiup angin kencang yang akan melemparkannya ke tempat yang jauh yang tidak ada manusia untuk menyelamatkannya.

Kesimpulannya bahwa seorang musyrik itu di dalam ayat ini diserupakan dengan seseorang yang jatuh dari langit ke bumi dan di tengah perjalanannya itu ia disergap burung-burung pemangsa daging dan bangkai atau ia akan ditiup oleh angin kencang ke tempat yang jauh yang tidak mungkin dijangkau oleh mansuia.

Pesan-pesan ayat

1. Apakah yang dimaksud dengan burung-burung ?

Tidak menutup kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan burung-burung itu adalah hawa nafsu.[1]

Seseorang yang musyrik itu menjadi mangsa hawa nafsunya. Sebagian dari hawa nafsu itu mempermalukan seseorang, sebagian lainnya menghilangkan kemanusiaannya, dan sebagian lagi menghilangkan keberanian, kehormatannya dan lain sebagainya. Pada akhirnya tidak ada lagi yang tersisa dari seorang musyrik. Karena burung-burung hawa nafsu telah melahap apa yang terdapat pada dirinya, baik kepribadiannya maupun kemanusiaannya.

2. Apakah yang dimaksud dengan angin?

Bisa jadi yang dimaksudkan dengan angin yang disinggung di dalam ayat tersebut dan yang melemparkan seorang musyrik ke tempat yang jauh yang sulit dijangkau oleh manusia adalah setan-setan pengkhianat.[2] Maka seorang musyrik itu, apabila ia dapat lolos dari burung-burung hawa nafsu, dia akan ditawan oleh angin setan pendurhaka. Dia akan dibawa ke suatu tempat yang tidak ada lagi penolong baginya sehingga ia akan hidup dalam kesesatan dan akhirnya celaka.

3. Orang-orang musyrik tidak pernah mendapatkan ketentraman

 Sesungguhnya grafitasi bumi itu merupakan nikmat Allah Swt. Karena dengan grafitasi itu menjadikan segala sesuatu menjadi seimbang. Tanpa grafitasi maka segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tidak akan eksis dan seimbang. Kita lihat bahwa rumah-rumah, Sawah-Sawah, pabrik-pabrik, sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit menjadi eksis pada tempatnya masing-masing berkat adanya grafitasi yang membuatnya seimbang. Grafitrasi ini berpusat di bumi, dan semakin kita jauh dari bumi, maka grafitasi semakin berkurang. Segala sesuatu itu akan kehilangan keseimbangannya apabila berada di luar grafitasi bumi. Oleh karena itu para astronot mengikuti training dan latihan di tempat-tempat yang hampa udara dan tidak terdapat grafitasi sebelum mereka berangkat ke laur angkasa untuk beberapa waktu lamanya.

Eksperimen yang dilakukan untuk hampa dari grafitasi adalah jatuh secara bebas dari tempat-tempat yang memiliki ketinggian tertentu. Ketika itu seseorang dapat merasakan suatu kehidupan yang belum pernah ia alamai sebelumnya. Karena itu, para dokter berpendapat bahwa kebanyakan dari ortang-orang yang jatuh dari tempat yang tinggi, akan mengalami terhentinya detak jantung sebelum sampai ke permukaan bumi.

Seorang musyrik -ketika jatuh dari langit- merasakan kehilangan keseimbangan. Pada saat itu kegoncangan jiwa menyelimuti seluruh wujud dirinya. Demikianlah, seseorang yang jatuh dari tauhid dan menuju kepada kemusyrikan, tidak akan merasakan ketenangan dan ketentraman dalam dirinya. Dia akan merasakan adanya goncangan dan kegelisahan. Ketenangan dan ketentraman hanya di peroleh di bawah naungan tauhid, jauh dari kemusyrikan dan penyembahan berhala. Allah Swt berfirman : “Ketahuilah, bahwa dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tentram”.[3]

4. Orang musyrik tidak memiliki kehendak

Seseorang -sebelum jatuh- memiliki kehendak. Tetapi ketika telah jatuh dan tergantung di udara, kehendaknya itu sirna dan tidak dapat lagi mengambil suatu keputusan. Dan demikian pula, seseorang yang musyrik ketika jatuh dari langit tauhid, ia akan kehilangan kehendak dan kemampuan untuk mengambil keputusan.

Pentingnya tuhid

Tauhid merupakan pembahasan yang paling penting di dalam al-Qur’an al-Karim dan seluruh kitab-kitab samawi. Para nabi dan para washi telah mengajak umat manusia kepada ketauhidan dan memberi peringatan kepada mereka dari bahaya syirik dan menyembah berhala.

Di dalam ajaran agama, tidak ada persoalan yang lebih penting selain tauhid. Buktinya adalah terdapat sebuah ayat al-Qur’an yang diulang-ulang pada dua tempat, yaitu pada surat an-Nisa ayat 48 dan 116. Ayat itu berbunyi: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang musyrik kepada-Nya, tetapi mengampuni dosa-dosa selainnya bagi orang yang dikehendaki-Nya”.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa maksud dari ampunan adalah ampunan yang tanpa bertaubat. Adapun dengan bertaubat, maka Allah pun akan mengampuninya. Kebanyakan sahabat -kecuali sebagian kecil saja seperti Imam Ali As- sebelumnya adalah sebagai orang-orang musyrik. Dan ketika mereka masuk Islam dan bertaubat, maka Allah mengampuni dosa-dosa syirik mereka.

Apabila seorang pendurhaka mati sebelum bertaubat, maka dosa-dosanya tidak akan diampuni Allah apabila ia seorang musyrik. Bahkan tidak ada harapan untuk dapat diampuni. Tetapi apabila maksiat dan dosa-dosanya itu selain kemusyrikan, maka ada kemungkinan akan diampuni oleh Allah Swt dan para wali-Nya pun akan memberikan syafaat kepadanya. Adapun orang musyrik tidak akan diampuni dosanya dan juga tidak akan mendapatkan syafaat. Dengan demikian bahwa syirik itu tidak akan mendapatkan tempat ampunan dan syafaat. Dari sini dapat diketahui betapa penting, berharga dan agungnya masalah tauhid di dalam kehidupan dunia dan akhirat. Sesungguhnya tauhid merupakan sumber kebahagiaan. Sedangkan syirik sumber kesengsraan dan menghancurkan seluruh kebaikan.

Pertanyaan yang terkadang tersirat di hati kita adalah: Apa sebab masalah tauhid dianggap begitu penting? Dan apa sebab syirik itu mendapat kecaman sedemikian rupa?

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah: Filsafat mengenai pentingnya masalah tauhid dan dikecamnya kemusyrikan adalah beberapa perkara. Kami akan jelaskan berikut ini sebagian darinya:

Pertama: Manfaat dan keberkahan yang paling utama dari tauhid adalah bersatunya masyarakat dan umat manusia. Sesungguhnya umat manusia berbeda-beda satu sama lainnya dalam bahasa, adat istiadat, akidah, pemikiran, budaya, dan lain sebagainya. Misalnya di satu negara seperti Indonesia yang merupakan bagian kecil dari dunia, terdapat berbagai macam bahasa, budaya dan suku. Bandingkanlah dengan negara-negara lainnya diseluruh belahan dunia. Terdapat ribuan bahasa, suku, dan budaya. Tetapi gerangan apakah mata rantai penghubung di antara masyarakat dunia itu? Apakah titik-titik persamaan di anatara mereka? Apabila berbagai bangsa dan pemerintahan itu diputuskan hidup di bawah sebuah pemerintahan yang bersifat mendunia, apakah titik persamaan di anatara mereka?

Tidak diragukan lagi bahwa tauhid yang mengakar di dalam keyakinan mereka merupakan faktor terpenting yang menjadikan mereka bersatu. Tauhid merupakan poros yang paling baik untuk mempersatukan mereka dan sebagai tambang yang sangat kokoh sehingga mereka semua dapat berpegang dengannya.

Allah Swt telah menjelaskan masalah ini di dalam ayat 64 pada surat al-Imran: “Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”.

Persatuan tersebut nampak sekali ketika musim haji di dataran Hijaz. Kita saksikan jutaan muslimin dari berbagai negara dengan warna kulit, bahasa, budaya, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Mereka seluruhnya serempak menyembah Allah Swt dengan menghadap Ka’bah. Mereka bagaikan berbagai sungai yang jernih yang sedang mengalir menuju satu lautan yang tak bertepi yang bersumber dari bukit-bukit kemanusiaan yang luhur dan berkumpul di sekitar Ka’bah. Di sana mereka mengumandangkan kekhudu’an dan kepasrahan mereka kepada Al-Haq Swt.

Dalam acara shalat jum’at yang dilakukan di Makkah al-Mukarramah -sebelum pergi ke Arafah, biasanya- dihadiri lebih dari satu juta muslimin. Shalat tersebut merupakan shalat jum’at terbesar bagi kaum muslimin dalam setahun. Mereka berdiri tegap di dalam satu barisan penghambaan dan mengangkat kedua tangan mereka secara serempak di dalam takbir sambil berdoa dan mengagungkan-Nya. Mereka melakukan ruku’ dan sujud secara serempak bersama-sama. Sungguh betapa hal itu melambangkan keindahan persatuan dan persaudaraan sesama muslim.[4]

Betapa indah dan menariknya apabila persatuan umat Islam dunia yang berbagai macam budaya ini, berpegang teguh kepada “tali Allah”.

Dengan demikian, persatuan merupakan efek dan manfaat yang sangat penting bagi tauhid. Sebaliknya dengan syirik yang mengakibatkan kepada perpecahan dan ikhtilaf. Orang-orang Arab jahiliyah mempunyai patung sebanyak 360 buah. Hal ini berarti ikhtilaf dan perpecahan mereka mencapai 360 kelompok kecil dan masyarakat mereka terbagi kepada 360 bagian walaupun mereka masyarakat kecil. Sudah tentu bahwa mayarakat semacam itu tidak lepas dari pertikaian, pertentangan, pembunuhan, kemungkaran dan tidak memperoleh ketenangan dan kebahagiaan. Tetapi masyarakat yang bernaung di bawah bendera tauhid dan petunjuk Islam dan Rasulullah, pasti lebih unggul di bandingkan masyarakat mana pun.

Kedua: Efek dan manfaat tauhid yang lainnya adalah memberikan semangat dan kekuatan kepada orang-orang yang bertauhid. Sementara kemusyrikan itu akan mencabut semangat dan kekuatan orang-orang musyrik.

Ketika kaum muslimin berada di kota Makkah dan jumlah mereka masih sangat sedikit, kaum musyrikin melakukan makar dan kezaliman terhadap Rasulullah Saw dan kaum muslimin. Setiap hari kaum musyrikin berusha menciptakan kezaliman yang baru untuk memadamkan cahaya Islam dan mengikis akar-akarnya.

Pada suatu hari para pemuka Quraisy datang menjumpai Abu Thalib untuk melakukan perdamaian kepada Rasulullah Saw. Setelah perdebatan yang agak alot di antara dua pihak, Rasulullah Saw berkata kepada Abu Jahal: “Ajaklah mereka untuk menerima satu kalimat yang akan membuat mereka kuat dan menguasai orang-orang Arab dan orang-orang Ajam pun akan mengikuti ajaran mereka”. Abu Jahal berkata: “Satu kalimat saja mudah, aku siap menerimamu dengan sepuluh kalimat”. Rasulullah Saw bersabda: “Ucapkanlah ‘La Ilaaha Illallah’, (tiada Tuhan kecuali Allah) dan tinggalkanlah ssekutu yang selain Allah”.[5]

Ungkapan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw hingga kini masih merupakan solusi bagi umat manusia yang telah jenuh dengan berbagai peperangan, ikhtilaf dan pertikaian. Hal itu karena bernaung di bawah pohon tauhid yang baik adalah merupakan solusi satu-satunya untuk memecahkan problema ini sekaligus memperoleh kekuasaan dan kemuliaan dengan keamanan, ketenangan, ketentraman dan keadilan yang sejati.

Marilah coba kita pikirkan, bagaimana Islam telah merubah Arab jahiliyah di kota Makkah dan Madinah, dimana mereka tenggelam dalam ikhtilaf dan pertikaian berdarah, menjadi bangsa yang kuat dan mulia dan mampu -di bawah bendera ukhuwwah dan persatuan- membuka belahan barat dan timur dunia kurang dari setengah abad? Bukankah kemuliaan itu merupakan buah dari tauhid dan berpegang kepada tali Allah?

Ketiga: Tauhid menyebabkan ketenangan dan ketentraman masyarakat. Sebab utama terjadinya berbagai kejahatan dan maksiat di dunia ini adalah kemusyrikan dan penyembahan terhadap berhala. Dan syirik itu tidak terbatas hanya pada menyembah kayu dan batu saja. Bahkan syirik itu mencakupi setiap ibadah dan ketundukan kepada selain Allah baik yang berupa kedudukan, hawa nafsu dan lain sebagainya. Ini semua merupakan bagian dari kemusyrikan. Seseorang ketika menyembah hal-hal tersebut, ia lalai dari mengingat Allah sehingga ia berani melakukan berbagai perbuatan dosa, maksiat dan berbagai kejahatan.

Sebagaimana telah dijelaskan dalam riwayat bahwa setan mengecup uang dirham dan dinar yang dicetak pertama kali di dunia. Kemudian ia memandangnya dan meletakkannya di hadapan kedua matanya, lalu menempelkannya ke bagian dadanya dan berkata: “Engkau adalah permata dan buah hatiku. Aku tidak peduli lagi kepada anak Adam apabila mereka tidak lagi menyembah patung karena telah mencintaimu. Cukuplah bagiku bahwa mereka itu betul-betul mencintaimu”.[6]

Kemusyrikan masih saja terdapat di mana-mana pada zaman kita sekarang ini, sekalipun logika dan pemikiran telah menggeser kebodohan. Berapa banyak tindak kejahatan yang dilakukan akibat menumpuk uang dan harta kekayaan?! Tidak lagi ada keamanan dan ketentraman pada masyarakat zaman sekarang ini. Bahkan pertikaian dan kegelisahan telah menguasai mereka. Sekiranya manusia itu bertauhid, pasti mereka akan memperoleh keamanan, ketenangan, dan ketentraman.

catatan kaki :

[1] . Lihat Al-Amtsal 10 : 306.

[2] . Lihat tafsir al-Amtsal 10 : 306 – 307..

[3] . Surat Ar-Ra’d : 28

[4] . Sangat disayangkan bahwa shalat dan pertemuan besar ini, tidak digunakan untuk menyelesaikan berbagai problem umat Islam pada saat sekarang ini. Tetapi yang terjadi hanyalah imam jum’at mengulang-ulang masalah yang terjadi atas kaum muslimin sejak ratusan tahun.

[5] . Lihat Furughu Abadiyat 1: 222, Al-Muntazhim 2: 369 dan Majma’ul Bayan 8: 343.

[6] . Mizanul Hikmah, bab3750, hadits ke 19026.

==========================================

2. Kafir Kecil / Murtad  Kecil

Seorang muslim yang melakukan dosa besar selama dia tidak menghalalkannya maka dia tetap dihukumi sebagai orang islam..

Seorang muslim yang berbuat dosa atau tidak memakai hukum Allah SWT dengan tetap meyakini bahwa hal tersebut suatu dosa besar yang HARAM dikerjakan maka dia cuma dianggap muslim fasik..

misal : kufur nikmat, malas shalat, membunuh dan memerangi orang islam tanpa dasar syar’i

Banyak hadis hadis yang berkaitan dengan kufur kecil ini….

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…

Jadi syi’ah bukan mengkafirkan sahabat dalam arti sahabat keluar dari Islam…

Kafir / murtad versi syi’ah adalah banyak sahabat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat Nabi SAW !

Allah berfirman, “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat,” (Al-Hujarat: 9-10).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, ia berkata,  Rasulullah saw. bersabda, “Mencela seorang muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah perbuatan kufur,” (HR Bukhori [48] dan Muslim [64]).
Diriwayatkan dari Jarir r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Janganlah kalian kembali menjadi kafir setelahku nanti sehingga kalian saling bunuh membunuh’,” (HR Bukhori [121] dan Muslim [65]).Diriwayatkan dari Abu Bakrah r.a, bahwasanya Nabi saw. pernah bersabda, “Apabila dua kelompok kaum muslimin saling berhadapan dan saing mengacungkan pedang maka pembunuh dan yang dibunuh tempatnya di Neraka.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah kalau si pembunuh tempatnya di neraka, tetapi mengap orang yang dibunuh juga?” Beliau menjawab, “Karena ia juga berusaha membunuh lawannya,” (HR Bukhori [31] dan Muslim [2888]).Kandungan Bab:
  1. Haram memerangi kaum muslimin karena ia merupakan tindakan orang-orang kafir.
  2. Seorang yang telah melakukan dosa ini bukan berarti ia telah melakukan perbuatan kafir yang mengeluarkan darinya dari Islam, tetapi dengan perincian yang tercantum dalam muqaddimah yang aku tulis dalam kitab Tahdziru Ahli Imaan halaman 19-21.
  3. Memerangi kaum muslimin dapat mengakibatkan kaum muslimin itu lemah dan hina serta merupakan penyebab Allah marah kepada mereka.
  4. Berperang adalah perkara  yang dilarang jika untuk mendapatkan materi duniawi baik karena jahil, berbuat aniaya, dan zhalim atau karena mengikuti  hawa nafsu. Jadi tidak termasuk berperang untuk membela kebenaran, atau memerangi kelompok pembangkang hingga mereka kembali ke jalan Allah.
  5. Masuk neraka tidak mesti kekal di dalamnya. Oleh karena itu hadits ini bukanlah dalil yang menguatkan keyakinan orang-orang Khawarij, Mu’tazilah, dan generasi penerusnya.

Dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman; Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (Al Furqaan : 63)

Sejarah Islam mencatat bahwa suku-suku yang berada di Jazirah Arab di masa Jahiliyah adalah dalam keadaan bercerai berai, mereka suka berkelahi, saling berperang setiap tahunnya, saling bermusuhan antara satu kabilah (suku) dengan kabilah lainnya. Namun keadaan ini berubah sesudah Risalah Islam turun dan disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah untuk semua umat manusia di akhir zaman.

Berperang yang merupakan tradisi orang kafir di zaman Jahiliyah yang merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan masalah waktu itu, yang merupakan kebanggaan para lelaki masa itu, maka dengan turunnya wahyu (Al Qur’an) menjadi dilarang terutama bila yang berperang itu adalah sesama orang Muslim.

Ajaran Islam menyatakan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara dan haram menumpahkan darahnya, merampas hartanya dan menodai kehormatannya. Jadi kalau ada orang Muslim yang membunuh orang Muslim lainnya, maka sama artinya orang yang membunuh itu kembali menjadi kafir, sesuai sabda Nabi SAW : “Janganlah kalian kembali – sesudah kutinggalkan — menjadi orang-orang kafir, dimana sebagian kalian membunuh sebagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jangankan membunuh, yang lebih ringan dari itupun bahkan dilarang di dalam Islam, sesuai sabda Nabi SAW : “Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya dengan tidak menzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya dan tidak merendahkannya. Letak taqwa ada di sini (Nabi SAW menunjuk ke dada beliau sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan saudaranya yang Muslim. Seorang Muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan Muslim lainnya.” (HR. Muslim)

Nabi SAW mengkafirkan orang yang

meninggalkan shalat !

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…

Jadi syi’ah bukan mengkafirkan sahabat dalam arti sahabat keluar dari Islam…

Kafir / murtad versi syi’ah adalah banyak sahabat Nabi SAW tidak patuh pada wasiat Nabi SAW !

Dari buraidah r.a, “Rasulullah saw bersabda, – Perbedaan paling mendasar antara kami dan mereka adalah SHALAT. Oleh sebab itu, barang siapa meninggalkannya, berarti ia telah kafir -.” (HR. Ahmad dan Ash-habus Sunan)

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

Perjanjian di antara kita dan meraka adalah shalat, barangsiapa meninggalkan shalat berarti ia telah kafir.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi (no. 2623) kitab Al-Iman, An-Nasa’i (no. 463) kitab Ash-Shalah, Ahmad dalam Al-Musnad 5/546, Hakim dalam Al-Mustadrak 1/7, dia berkata, “Sanadnya shahih” dan disetujui oleh Adz-Dzahabi, At-Tirmidzi berkata, “Hasan shahih gharib.“)

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Pemisah antara seseorang dan antara kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim (no. 134) kitab Al-Iman)

Allah Ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui al ghoyya, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam: 59-60)

Ibnu Mas’ud r.a mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. (Ash Sholah, hal. 31)

Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu sungai di Jahannam- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.

Berbagai kasus orang yang meninggalkan shalat

[Kasus Pertama] Kasus ini adalah meninggalkan shalat dengan mengingkari kewajibannya sebagaimana mungkin perkataan sebagian orang, “Sholat oleh, ora sholat oleh.” [Kalau mau shalat boleh-boleh saja, tidak shalat juga tidak apa-apa]. Jika hal ini dilakukan dalam rangka mengingkari hukum wajibnya shalat, orang semacam ini dihukumi kafir tanpa ada perselisihan di antara para ulama.

[Kasus Kedua] Kasus kali ini adalah meninggalkan shalat dengan menganggap gampang dan tidak pernah melaksanakannya. Bahkan ketika diajak untuk melaksanakannya, malah enggan. Maka orang semacam ini berlaku hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Inilah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, mayoritas ulama salaf dari shahabat dan tabi’in.

[Kasus Ketiga] Kasus ini yang sering dilakukan kaum muslimin yaitu tidak rutin dalam melaksanakan shalat yaitu kadang shalat dan kadang tidak. Maka dia masih dihukumi muslim secara zhohir (yang nampak pada dirinya) dan tidak kafir. Inilah pendapat Ishaq bin Rohuwyah yaitu hendaklah bersikap lemah lembut terhadap orang semacam ini hingga dia kembali ke jalan yang benar. Wal ‘ibroh bilkhotimah [Hukuman baginya dilihat dari keadaan akhir hidupnya].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika seorang hamba melakukan sebagian perintah dan meninggalkan sebagian, maka baginya keimanan sesuai dengan perintah yang dilakukannya. Iman itu bertambah dan berkurang. Dan bisa jadi pada seorang hamba ada iman dan nifak sekaligus. …Sesungguhnya sebagian besar manusia bahkan mayoritasnya di banyak negeri, tidaklah selalu menjaga shalat lima waktu. Dan mereka tidak meninggalkan secara total. Mereka terkadang shalat dan terkadang meninggalkannya. Orang-orang semacam ini ada pada diri mereka iman dan nifak sekaligus. Berlaku bagi mereka hukum Islam secara zhohir seperti pada masalah warisan dan semacamnya. Hukum ini (warisan) bisa berlaku bagi orang munafik tulen. Maka lebih pantas lagi berlaku bagi orang yang kadang shalat dan kadang tidak.” (Majmu’ Al Fatawa, 7/617)

[Kasus Keempat] Kasus ini adalah bagi orang yang meninggalkan shalat dan tidak mengetahui bahwa meninggalkan shalat membuat orang kafir. Maka hukum bagi orang semacam ini adalah sebagaimana orang jahil (bodoh). Orang ini tidaklah dikafirkan disebabkan adanya kejahilan pada dirinya yang dinilai sebagai faktor penghalang untuk mendapatkan hukuman.

[Kasus Kelima] Kasus ini adalah untuk orang yang mengerjakan shalat hingga keluar waktunya. Dia selalu rutin dalam melaksanakannya, namun sering mengerjakan di luar waktunya. Maka orang semacam ini tidaklah kafir, namun dia berdosa dan perbuatan ini sangat tercela sebagaimana Allah berfirman,

وَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Maa’un [107]: 4-5) (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh Nashiruddin Al Albani, 189-190)

Apakah Orang yang Meninggalkan Shalat Itu Kafir alias Bukan Muslim?

Seri kedua dari tiga tulisan: Mengaku Islam di KTP Namun Meninggalkan Shalat 5 Waktu

Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa tidak ada beda pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Namun apabila meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369).

Maka dari perkataan Asy Syaukani di atas kita dapat simpulkan bahwa hukum meninggalkan shalat ada dua macam :
1) Meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya. Kasus pertama ini tidak ada perselisihan pendapat di kalangan para ulama, artinya mereka sepakat tentang kafirnya.
2) Meninggalkan shalat karena malas dan tetap meyakini shalat lima waktu itu wajib. Untuk kasus kedua ini, ada perselisihan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama mengatakan kafir dan sebagian lagi mengatakan tidak kafir.

Mayoritas ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan), di antaranya Imam Malik dan Imam Syafi’i, berpendapat bahwa meninggalkan shalat dengan malas-malasan tidaklah kafir, namun fasik. Jika tidak bertaubat, dia akan dibunuh sebagaimana hukuman had pada pezina (bukan hukuman murtad, pen), namun hadnya adalah tebasan pedang.

Sekelompok ulama salaf (terdahulu) berpendapat bahwa dia kafir. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib, juga terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal. Pendapat ini juga dikatakan oleh Abdullah bin Al Mubarok, Ishaq bin Rohuwyah, dan juga merupakan pendapat sebagian Syafi’iyyah.

Sedangkan Abu Hanifah, sekelompok ulama Kufah, dan Al Muzaniy (sahabat Imam Syafi’i) berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan tidak kafir dan tidak dibunuh, namun diperingatkan dan dipenjarakan hingga dia mau shalat. (Nailul Author, 2/257)

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa mayoritas pakar fiqih berpendapat tidak kafirnya orang yang meninggalkan shalat karena malas-malasan. Sedangkan Imam Ahmad berpendapat kafirnya orang seperti ini.

Sekarang marilah kita melihat pembicaraan orang yang meninggalkan shalat dalam Al Qur’an, hadits, perkataan sahabat dan perkataan ulama tabi’in. Mayoritas pembahasan yang ada kami ambil dari kitab Ibnul Qoyyim ‘Ash Sholah wa Hukmu Taarikiha’.

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Al Qur’an

Dalil pertama,

Firman Allah Ta’ala,

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35)
“Maka apakah patut Kami menjadikan orng-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir) ?” (Q.S. Al Qalam [68] : 35)

hingga ayat,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)
“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud, maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (Q.S. Al Qalam [68] : 43)

Dari ayat di atas, Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia tidak menjadikan orang muslim seperti orang mujrim (orang yang berbuat dosa). Tidaklah pantas menyamakan orang muslim dan orang mujrim dilihat dari hikmah Allah dan hukum-Nya.

Kemudian Allah menyebutkan keadaan orang-orang mujrim yang merupakan lawan dari orang muslim. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ”Pada hari betis disingkapkan”. Yaitu mereka (orang-orang mujrim) diajak untuk bersujud kepada Rabb mereka, namun antara mereka dan Allah terdapat penghalang. Mereka tidak mampu bersujud sebagaimana orang-orang muslim sebagai hukuman karena mereka tidak mau bersujud kepada-Nya bersama orang-orang yang shalat di dunia.
Maka hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang meninggalkan shalat akan bersama dengan orang kafir dan munafik. Seandainya mereka adalah muslim, tentu mereka akan diizinkan untuk sujud sebagaimana kaum muslimin diizinkan untuk sujud.

Dalil kedua,

Firman Allah Ta’ala,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. An Nur [24] : 56)

Pada ayat di atas, Allah Ta’ala mengaitkan adanya rahmat bagi mereka dengan mengerjakan perkara-perkara pada ayat tersebut. Seandainya orang yang meninggalkan shalat tidak dikatakan kafir dan tidak kekal dalam neraka, tentu mereka akan mendapatkan rahmat tanpa mengerjakan shalat. Namun, dalam ayat ini Allah menjadikan mereka bisa mendapatkan rahmat jika mereka mengerjakan shalat.

Dalil ketiga,

Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا (59) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا
“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” (QS. Maryam : 59)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma mengatakan bahwa ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam.

Dalam ayat ini, Allah menjadikan tempat ini –yaitu bagian neraka yang paling dasar- sebagai tempat bagi orang yang menyiakan shalat dan mengikuti syahwat (hawa nafsu). Seandainya orang yang meninggalkan shalat adalah orang yang hanya bermaksiat biasa, tentu dia akan berada di neraka paling atas, sebagaimana tempat orang muslim yang berdosa. Tempat ini (ghoyya) yang merupakan bagian neraka paling bawah, bukanlah tempat orang muslim, namun tempat orang-orang kafir.
Pada ayat selanjutnya juga, Allah telah mengatakan, ”kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh”. Maka seandainya orang yang menyiakan shalat adalah mu’min, tentu dia tidak dimintai taubat untuk beriman.
Dan masih banyak dalil lainnya yang membicarakan hukum orang yang meninggalkan shalat.

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Hadits

Hadits Pertama,

Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Hadits Kedua,

Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu -bekas budak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ
“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan adalah shalat. Apabila dia meninggalkannya, maka dia melakukan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targib wa At Tarhib no. 566)

Hadits Ketiga,

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ
”Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)

Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.

Hadits Keempat,

Dalam dua kitab shohih, berbagai kitab sunan dan musnad, dari Abdullah bin ’Umar radhiyallahu ’anhuma. Beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ
”Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.” (Lafadz ini adalah lafadz Muslim no. 122)

Cara pendalilan dari hadits ini adalah :
1) Dikatakan dalam hadits ini bahwa islam adalah seperti kemah yang dibangun atas lima tiang. Apabila tiang kemah yang terbesar tersebut masih ada, maka tegaklah kemah Islam.
2) Dalam hadits ini juga disebutkan bahwa rukun-rukun Islam dijadikan sebagai tiang-tiang suatu kemah. Dua kalimat syahadat adalah tiang, shalat juga tiang, zakat juga tiang. Lalu bagaimana mungkin kemah Islam tetap berdiri jika salah satu dari tiang kemah sudah tidak ada, walaupun rukun yang lain masih ada?!

Hadits Kelima,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى صَلاَتَنَا ، وَاسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا ، وَأَكَلَ ذَبِيحَتَنَا ، فَهُوَ المُسْلِمُ لَهُ مَا لَنَا وَعَلَيْهِ مَا عَلَيْنَا
“Barangsiapa mengerjakan shalat kami, menghadap kiblat kami, dan memakan sembelihan kami; maka dia adalah muslim. Dia memiliki hak sebagaimana hak umumnya kaum muslimin. Demikian juga memiliki kewajiban sebagaimana kewajiban kaum muslimin.” (Lihat Syarhul ‘Aqidah Ath Thohawiyyah Al Albani, 351. Beliau mengatakan bahwa hadits ini shohih)

Cara pendalilan dari hadits ini adalah :
1) Seseorang dikatakan muslim jika memenuhi tiga syarat seperti yang disebutkan dalam hadits di atas. Maka tidak disebut muslim jika tidak memenuhi syarat tersebut.
2) Jika seseorang shalat menghadap ke arah timur, tidak disebut muslim hingga dia shalat dengan menghadap kiblat muslimin. Maka bagaimana jika seseorang yang tidak pernah menghadap kiblat karena meninggalkan shalat secara total?!

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Perkataan Sahabat

Ibnu Zanjawaih mengatakan, ” ’Amr bin Ar Robi’ telah menceritakan pada kami, (dia berkata) Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) dari Yusuf, (dia berkata) dari Ibnu Syihab, beliau berkata,” ’Ubaid bin Abdillah bin ‘Utbah (berkata) bahwa Abdullah bin Abbas mengabarkannya,”Dia mendatangi Umar bin Al Khoththob ketika beliau ditikam (dibunuh) di masjid. Lalu Ibnu Abbas berkata,”Aku dan beberapa orang di masjid membawanya (Umar) ke rumahnya.”
Lalu Ibnu Abbas berkata, ”Lalu Abdurrahman bin ‘Auf diperintahkan untuk mengimami orang-orang.”
Kemudian beliau berkata lagi, ”Tatkala kami menemui Umar di rumahnya, maut hampir menghapirinya. Beliau tetap dalam keadaan tidak sadar hingga semakin parah. Lalu (tiba-tiba) beliau sadar dan mengatakan,”Apakah orang-orang sudah melaksanakan shalat?”
Ibnu Abbas berkata, ”Kami mengatakan,’Ya’.
Lalu Umar mengatakan,

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ
”Tidaklah disebut Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.”

Dari jalan yang lain, Umar berkata,

ولاَحَظَّ فِي الاِسْلاَمِ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” Lalu Umar meminta air wudhu, kemudian beliau berwudhu dan shalat.

(Dikeluarkan oleh Malik. Begitu juga diriwayatkan oleh Sa’ad di Ath Thobaqot, Ibnu Abi Syaibah dalam Al Iman. Diriwayatkan pula oleh Ad Daruquthniy dalam sunannya, juga Ibnu ’Asakir. Hadits ini shohih, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 209)

Juga dikatakan yang demikian itu oleh semua sahabat yang hadir. Mereka semua tidak mengingkari apa yang dikatakan oleh Umar.

Perkataan semacam ini juga dapat dilihat dari perkataan Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan tidak diketahui sahabat yang menyelisihinya.

Al Hafidz Abdul Haq Al Isybiliy rahimahullah dalam kitabnya mengenai shalat, beliau mengatakan,

”Sejumlah sahabat dan orang-orang setelahnya berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja itu kafir karena sebab meninggalkan shalat tersebut hingga keluar waktunya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Umar bin Al Khaththab, Mu’adz bin Jabbal, Abdullah bin Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Abud Darda’, begitu juga diriwayatkan dari Ali dan beberapa sahabat.”

Mayoritas sahabat Nabi menganggap bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir sebagaimana dikatakan oleh seorang tabi’in, Abdullah bin Syaqiq,

كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ
“Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.”
Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Aqliy seorang tabi’in dan Hakim mengatakan bahwa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. (Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52)

Pembicaraan Orang yang Meninggalkan Shalat dalam Perkataan Tabi’in dan Ulama Sesudahnya

Mereka yang berpendapat demikian adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rohuwyah, Abdullah bin Al Mubarok, Ibrohim An Nakho’iy, Al Hakam bin ‘Utaibah, Ayyub As Sikhtiyaniy, Abu Daud Ath Thoyalisiy, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Abu Khoitsamah Zuhair bin Harb. Berikut adalah sebagian perkataan mereka yang masih kami nukil dari kitab yang sama.

Muhammad bin Nashr berkata bahwa Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, (dia berkata) bahwa Abu Nu’man telah menceritakan kepada kami, (dia berkata bahwa) Hammad bin Zaid (berkata) dari Ayyub As Sikhtiyaniy berkata, ”Meninggalkan shalat adalah suatu kekafiran dan hal ini tidaklah dipersilisihkan.”

Muhammad menceritakan dari Ibnul Mubarok, dia berkata, ”Barangsiapa mengakhirkan shalat hingga luput waktunya dengan sengaja tanpa ada udzur (alasan), maka dia telah kafir.”

Yahya bin Ma’in mengatakan, ”Dikatakan kepada Abdullah bin Al Mubarok,’Orang-orang mengatakan : Barangsiapa tidak berpuasa (Ramadhan, pen) dan tidak menunaikan shalat setelah mengakui (kewajibannya, pen), maka dia adalah mu’min yang sempurna imannya.’ Lalu Abdullah bin Al Mubarok mengatakan,’Kami tidaklah mengatakan seperti yang mereka katakan. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja tanpa alasan sampai dia memasukkan satu waktu ke waktu lainnya, maka dia kafir’.

Abu Abdillah Muhammad bin Nashr mengatakan,”Aku mendengar Ishaq bin Rohuwyah berkata, ’Telah shohih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa meninggalkan shalat adalah kafir.”

.

KUFUR KECIL

Kufur kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, dan ia adalah kufur ‘amali. Kufur ‘amali ialah dosa-dosa yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai dosa-dosa kufur, tetapi tidak mencapai derajat kufur besar. Seperti kufur nikmat, sebagaimana yang disebutkan dalam firmanNya,

Artinya:”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.”(An-Nahl: 83).

Termasuk juga membunuh orang muslim, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam,

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِِتَالُهُ كُفْرٌ.

Artinya:”Mencaci orang Islam adalah suatu kefasikan dan membunuhnya adalah suatu kekufuran.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam,

لاَ تَرْجِعُوْا بَعْدِيْ كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُم رِقَابَ بَعْضٍ.ٍ

Artinya: “Janganlah kalian sepeninggalku kembali lagi menjadi orang-orang kafir, sebagian kalian memenggal leher sebagian yang lain.”(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Termasuk juga bersumpah dengan nama selain Allah Subhanahu waTa’ala . Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللّٰهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

Artinya:”Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.” (At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).
Yang demikian itu karena Allah Subhanahu waTa’ala tetap menjadikan para pelaku dosa sebagai orang-orang mukmin. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.” (Al-Baqarah: 178).
Allah Subhanahu waTa’ala tidak mengeluarkan orang yang membunuh dari golongan orang-orang beriman, bahkan menjadikannya sebagai saudara bagi wali yang (berhak melakukan) qishash(1).
AllahSubhanahu waTa’ala berfirman,

Artinya:”Maka barangsiapa mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula).” (Al-Baqarah: 178).
Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat di atas -tanpa diragukan lagi- adalah saudara seagama, berdasarkan firman AllahSubhanahu waTa’ala,

Artinya:”Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat: 9-10).(1)

 Hadis riwayat Abu Zar ra.:

Bahwa Ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Setiap orang yang mengaku keturunan dari selain ayahnya sendiri, padahal ia mengetahuinya, pastilah ia kafir (artinya mengingkari nikmat dan kebaikan, tidak memenuhi hak Allah dan hak ayahnya). Barang siapa yang mengakui sesuatu bukan miliknya, maka ia tidak termasuk golongan kami dan hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau mengatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya [HR Muslim]

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…  Rasulullah  mengkafirkan orang yang mencela keturunan dan meratapi orang mati, Rasulullah  mengkafirkan orang yang  budak yang lari  dari  tuan, Rasulullah  mengkafirkan orang yang  membenci bapaknya, Rasulullah  mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain nama Allah, Rasulullah  mengkafirkan orang yangmengingkari nasab

Kafir versi syi’ah mengikuti kafir versi Nabi…  Rasulullah  bersabda : “Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau mengatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya”

“Rasulullah saw. bersabda, ‘Ada dua perkara apabila manusia melakukannya mereka menjadi kufur; mencela keturunan dan meratapi orang mati’.”(HR Muslim [67]). Diriwayatkan dari asy-Sya’bi, dari Jarir, bahwa ia mendengar Jarir berkata, “Budak mana saja yang melarikan diri dari tuannya, maka ia telah kufur sehingga kembali kepada tuannya.” (HR Muslim [68]).

Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu membenci bapakmu sendiri, barang siapa membenci bapaknya maka ia telah kufur.” (HR Bukhari [6868] dan Muslim [62]).

“Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik.” (At-Tirmidzi dan dihasankannya, serta dishahihkan oleh al-Hakim).

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An-Nahl: 83).

Hadis riwayat Abu Zar ra.:
Bahwa Ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Setiap orang yang mengaku keturunan dari selain ayahnya sendiri, padahal ia mengetahuinya, pastilah ia kafir (artinya mengingkari nikmat dan kebaikan, tidak memenuhi hak Allah dan hak ayahnya). Barang siapa yang mengakui sesuatu bukan miliknya, maka ia tidak termasuk golongan kami dan hendaknya ia mempersiapkan tempatnya di neraka. Barang siapa yang memanggil seseorang dengan kata kafir atau mengatakan musuh Allah, padahal sebenarnya tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya [HR Muslim]

Jadi, dari pembahasan terakhir ini terlihat bahwasanya Al Qur’an, hadits dan perkataan sahabat bahkan ini adalah ijma’’ (kesepakatan) mereka serta perkataan beberapa ulama tabi’in dan sesudahnya menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir (keluar dari Islam).
Ibnul Qayyim dalam Ash Sholah, hal. 56, mengatakan,

”Tidakkah seseorang itu malu dengan mengingkari pendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat adalah kafir, padahal hal ini telah dipersaksikan oleh Al Kitab (Al Qur’an), As Sunnah dan kesepakatan sahabat. Wallahul Muwaffiq (Hanya Allah-lah yang dapat memberi taufik).”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, yang artinya, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Tidaklah seorang pezina itu berzina sedang ia dalam keadaan Mukmin. Tidaklah seorang peminum khamr itu meminum khamr sedang ia dalam keadaan Mukmin. Tidaklah seorang pencuri itu mencuri sedang ia dalam keadaan Mukmin. Dan tidaklah seorang perampok itu merampok dengan disaksikan oleh manusia sedang ia dalam keadaan Mukmin’.” (HR Bukhari [2475] dan Muslim [57]). Dalam riwayat lain ditambahkan, “Tinggalkanlah perbuatan itu, tinggalkanlah perbuatan itu!” (HR Muslim [57] dan [103]). Dalam riwayat lain disebutkan, “Pintu taubat masih terbuka untuknya setelah itu!” (HR Muslim [57] dan [104]) Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Memaki orang Muslim adalah perbuatan fasik dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR Bukhari [48] dan Muslim [64]).

Diriwayatkan dari Jarir r.a., ia berkata, “Tatkala mengerjakan haji wada’, Rasulullah saw. berkata kepadaku, ‘Suruhlah orang-orang diam!’ Kemudian beliau berkata, ‘Janganlah kalian kembali kepada kekufuran sepeninggalku dan saling menumpahkan darah di antara kalian’.” (HR Bukhari [121] dan Muslim [65]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Ada dua perkara apabila manusia melakukannya mereka menjadi kufur; mencela keturunan dan meratapi orang mati’.” (HR Muslim [67]). Diriwayatkan dari asy-Sya’bi, dari Jarir, bahwa ia mendengar Jarir berkata, “Budak mana saja yang melarikan diri dari tuannya, maka ia telah kufur sehingga kembali kepada tuannya.” (HR Muslim [68]).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kamu membenci bapakmu sendiri, barang siapa membenci bapaknya maka ia telah kufur.” (HR Bukhari [6868] dan Muslim [62]).

Syirik Asghar (kecil);

  • Dosa syirik kecil tidak merusak seluruh amal ibadah.
  • Pelakunya diampuni apabila Allah Subhannahu wa Ta’ala menghendakinya.
  • Pelakunya tidak tergolong murtad dari Islam.
  • Di akhirat kelak pelakunya tidak akan kekal dalam neraka selama-lamanya.


======================================================

3.FASiK

Fasik adalah seorang muslim yang melanggar ketentuan ketentuan agama dengan melakukan perbuatan yang diharamkan berupa  salah satu dari kabair adz dzunub (dosa dosa besar) seperti zina, minum khamar, berjudi, makan riba dan sejenisnya.

Fasik dapat juga diartikan seorang muslim yang meninggalkan kewajiban kewajibannya  dan tidak taat pada Allah SWT

Motif perbuatannya itu karena dorongan hawa nafsu dan syahwat tanpa menghalalkan  perbuatan yang diharamkan Allah SWT atau tanpa menghalalkan ketidaktaatannya tersebut…

Dampak  Fasik : Iman anda berkurang !

Dalil kami : qs. Al Baqarah ayat 27 dan Qs. Al Maidah ayat 47

Orang yang mengakui hukum Allah namun tidak berhukum dengan nya karena malas, maka dia Cuma zalim atau fasik

Zalim dan fasik melanggar syari’at, tetapi bukan atas dasar keyakinan (i’tiqad)…

========================================

4. ZALiM

Zalim adalah seorang muslim yang menuruti hawa nafsu dan merugikan orang lain, misal :

- Merampok

- Memperkosa

- Tidak memberlakukan hukum qishash  pada pembunuh berupa nyawa dibalas nyawa padahal ahli waris korban tidak memaafkan si pelaku

- Pengikut dan pendukung Pancasila, Kalau secara sadar, ia mengetahui itu bertentangan dengan ajaran Islam namun mengikuti dan mendukungnya (Pancasila) maka ia adalah DZOLIM,

dalil kami : qs. Al Maidah ayat 45

Orang yang mengakui hukum Allah namun tidak berhukum dengan nya karena malas, maka dia Cuma zalim atau fasik

Zalim artinya pelanggaran terhadap hak hak manusia, tetapi bukan atas dasar keyakinan (I’tiqad)..

Zalim dan fasik melanggar syari’at, tetapi bukan atas dasar keyakinan (i’tiqad)…

==========================================

5.  JAHiL

Pengikut dan pendukung Pancasila, kalau secara tidak sadar, karena ketidak tahuannya, ia adalah JAHIL

“Pancasila Bertentangan dengan Tauhid” menurut KH. Abdul Malik Ahmad: Ulama Muhammadiyyah

 

Orangnya tegas, jujur, dan pemberani. Tidak kenal kompromi untuk persoalan akidah menjadi kalimat pas yang melekat dalam pribadinya. Berbeda dengan orang-orang yang mengemis jabatan agar dekat dengan pemerintah, ia justru sebaliknya. Kursi empuk dalam struktur tertinggi Muhammadiyyah pernah ditolaknya semata-mata tidak mau menjadi penjilat untuk Soeharto

.
“… karena saya pribadi hubungannya kurang harmonis dengan pemerintah (Soeharto), maka sebaiknya saya jangan ditempatkan jadi orang nomor satu,” ungkapnya mengagetkan koleganya
.
Ia adalah KH. Abdul Malik Ahmad atau akrab disapa Buya Malik. Tokoh Ideologis Muhammadiyyah yang sempat heboh di ketika menolak asas tunggal Pancasila di tubuh organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu periode 1980-an. Bagi Buya Malik, posisi Tauhid tidak boleh bergeser setapal pun meski itu demi alasan pragmatis. Iya kata yang justru menjadi kunci ormas-ormas muslim saat ini agar bisa “memuluskan” jalan dakwahnya.
Kisah ini bermula ketika Soeharto memaksakan tiap Ormas untuk menerima Asas Tunggal Pancasila lewat RUU Organisasi Kemasyarakatan. Muhammadiyyah pun terbelah. Tak mudah memang, sebab melalui lobi yang panjang. Bahkan, Muhammadiyah sampai menunda muktamar ke-41, yang mestinya diselenggarakan Februari 1984, dan akhirnya baru dilaksanakan 7-11 Desember 1985
.
Tanda-tanda menerima asas tunggal Pancasila, secara terbuka, mulai tampak pada hari kedua muktamar, pada tanggal 8 Desember. Di pendopo Mangkunegaran, Solo, Haji A.R. Fakhruddin, Ketua PP Muhammadiyah, menyebutkan bahwa asas Pancasila itu diterima, “dengan ikhtiar”
.
Dengan ikhtiar, kata Fakhruddin, “Supaya yang dimaksudkan pemerintah itu berhasil, tapi tidak melanggar agama. Kami, para pimpinan, tetap bertekad menegakkan kalimah Allah di Indonesia ini. Tidak merusakkan peraturan-peraturan di Indonesia, tapi tidak menjual iman, tidak menjual agama.”
Presiden Soeharto akhirnya membuka muktamar ke-41 ini. Menyebut diri sebagai orang yang pernah mengecap pendidikan Muhammadiyah, dalam pidatonya Presiden kembali menegaskan bahwa: Pancasila bukanlah tandingan agama. Pancasila bukan pengganti agama. Penegasan ini pernah diusulkan oleh PP Muhammadiyah, supaya dicantumkan dalam batang tubuh UU Organisasi Kemasyarakatan itu
.
Namun ternyata pandangan petinggi Muhammadiyyah dan lebih-lebih Soeharto, bertolak belakang dengan pemahaman Buya Malik. Beliau yang kala itu menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah, mempersolakan Pancasila yang dijadikan lebih tinggi dari tauhid. “Itu yang saya tolak,” katanya. Maka itu konsekuensi menerima asas tunggal bagi Buya Malik adalah kemusyrikan. Sebuah kata yang dapat menjerumuskan kepada kekafiran
.
Kalau kita telaah, alasan Buya Malik memang sangat masuk akal. Logika sederhananya, kalau Orde Baru mengatakan Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi sebuah ideologi, hal itu sama saja mengakui bahwa Pancasila lebih tinggi dari kitab suci. Dan tokoh Orde Baru lebih tinggi daripada Nabi. Padahal Rasululullah SAW diutus untuk mengapus Syariat-syariat Nabi sebelumnya. Maka bagaimana mungkin Soeharto menghapus Syariat Nabi Muhammad SAW. padahal dia sendiri bukan Nabi
.
Ironisnya lagi, Asas Tunggal, seperti kata KH. Firdaus AN, adalah hasil bikinan tiga tokoh militer yang diragukan komitmennya kepada agama. Mereka adalah Soeharto, Amir Machmud, dan Soedomo
.
Rupanya, kekuatan Tauhid Buya Malik memang bukan isapan jempol semata. Ketua Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia, Ahmad Soemargono sempat memiliki pengalaman tersendiri saat berguru kepada Buya Malik.
“Dari sekian guru yang paling berkesan itu adalah Buya Malik Ahmad. Kalau mendengarkan ceramahnya saya tersentuh.” Ungkapnya saat diwawancara Republika
.
Gogon- sapaan akrab Ahmad Soemargono- juga terkesan dengan karya tafsir Buya Malik yang bernama Tafsir Sinar. Menurutnya, kajian-kajian yang terkandung dalam tulisan beliau memiliki nilai Tauhid yang mendalam
.
Segala ujian dan cobaan dalam menegakkan akidah menurut Buya Malik adalah keniscayaan bagi orang beriman. Ini adalah konsekuensi logis tentanga arti menyuarakan kebenaran dan menyingkirkan kebathilan. Dalam tulisannya yang berjudul “Orientalisme” di tahun 1978, Buya menulis,
“Orang-orang beriman dalam menegakkan aqidah dan ajaran Ilahi menuju keredhaan Allah; selalu mendapat rintangan, halangan dan kesulitan; baik yang nyata maupun tersembunyi; yang halus maupun yang kasar; menghadapi rayuan atau tekanan/paksaan yang datang dari orang-orang yang pandai membohong, menipu dan membingungkan; dengan menggunakan bermacam kekuatan, fasilitas dan mass media, yang berakibat langsung ataupun tidak langsung terhadap ummat Islam; sehingga banyak di antara ummat Islam yang terlalai, terlupa dan terpengaruh. Akibatnya kaum Muslimin tidak menyadari bahaya yang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukai Islam; bahkan sebagian kita merasakan seolah-olah faham dan sikap yang demikian sebagai ajaran Islam yang murni.”
.
Kini Buya sudah tiada. Ulama Kharismatik itu menyimpan torehan manis tentang arti perjuangan menegakkan pemurnian tauhid kepada Allahuta’ala. Dengan menolak pencampuran ideologi Pancasila yang jelas-jelas bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah. Kapankah kembali muncul generasi Muhammadiyyah seperti Buya?
.
Seberapa besar pengaruh pola pemikiran Zionis atau Freemasonry terhadap penerapan Pancasila di Indonesia, buku ini akan memaparkannya secara jelas dan lengkap. Namun sebelum itu, akan sangat bermanfaat apabila dalam pengantar ini, kita ilustrasikan
bagaimana penerapan ideologi Pancasila selama dua periode pemerintahan di Indonesia. Di zaman Orla, atas nama Pancasila, Ir. Soekarno diangkat menjadi presiden seumur hidup.

Kekuasaan negara diselenggarakan dengan menganut sistem Demokrasi Terpimpin, yang kemudian ternyata melahirkan prinsip-prinsip yang mereduksi Islam, dan pada saat yang sama mendukung komunisme. Dari sinilah lahirnya Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) sebagai aplikasi idiologi Pancasila
.
Selama 20 tahun rezim Soekarno berkuasa, Indonesia menjadi lahan yang subur bagi golongan-golongan anti Islam; seperti Zionisme, Freemasonry, Salibisme, Komunisme, paganisme, sekularisme serta kelompok “Yes Man”
.
Sebaliknya, bagi orang-orang yang bersikap kritis, taat beragama, dan bercita-cita membangun masyarakat berdasarkan agama, Indonesia ketika itu bagaikan neraka. Mereka yang dipandang tidak loyal pada pemerintah, dituduh kontra revolusi dan menjadi
mangsa penjara. Sebagai akibatnya, kezaliman politik, keruntuhan akhlak, kebencian antar warga masyarakat, serta kebiadaban kelompok yang kuat dalam menindas yang lemah menjadi trade merk pemerintah Orde Lama
.
Dan akibat selanjutnya, sepanjang kurun waktu orde lama, tidak pernah sepi dari perlawanan rakyat kepada pemerintah, dan pemberontakan daerah terhadap penguasa pusat . Penerapan ideologi Pancasila dari masa ke masa, dan pada setiap periode pemerintahan yang berbeda-beda, selalu menimbulkan korban yang tidak kecil. Pembunuhan demokrasi, pemerkosaan hak asasi manusia, adalah di antara ekses-ekses negatif penerapan Pancasila oleh penguasa
.
Di negara Pancasila, seseorang bisa dipenjara bertahun-tahun lamanya tanpa proses pengadilan dengan tuduhan menentang Pancasila atau merongrong wibawa pemerintah yang sah. Dan bila penguasa menghendaki, atas nama Pancasila, seseorang bisa dijebloskan ke dalam penjara, tanpa dasar yang jelas
.
Perbenturan ideologi, pertikaian para penganut agama dan kaum anti agama menjelang Gestapo (G 30 S PKI), dan hiruk pikuk Lekra/PKI dan kawan-kawannya. Kemudian keberpihakan penguasa kepada kaum penyembah Lenin itu, serta kezalimannya terhadap kaum muslimin.
Semua ini dapat dibaca dalam buku: “Prahara Budaya”, Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk. Tulisan D.S. Moeljanto dan Taufiq Ismail, diterbitkan oleh penerbit MIZAN Bandung, Maret 1995. 4 Baca buku: Dosa-Dosa Yang Tak Boleh Berulang Lagi, kumpulan tulisan K.H. Firdaus A.N., CV. Pedoman Inti Jaya, 1993.
.
Kehilangan hak-hak sipil maupun politiknya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Dalam hal ini, termasuk dosa politik rezim Soekarno terhadap rakyat Indonesia adalah dicoret-nya tujuh kata dalam Piagam Jakarta (Jakarta Charter), yaitu Kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya, lalu menggantinya dengan Ketuhanan Yang Maha Esa
.
Tujuh kalimat yang dicoret secara sepihak itu, pada mulanya dinilai sebagai perjanjian moral antara umat Islam dan non-Islam. Selain pencoretan itu, pengkhianatan pemimpin-pemimpin republik terhadap janjinya, telah menyulut api pemberontakan dan menyebabkan kepercayaan rakyat mulai luntur terhadap kredibilitas pemimpin pusat
.
Di antara bentuk pengkhianatan rezim Orla terhadap janji yang diucapkan atas nama pemerintah Pancasila, dan hingga kini membawa akibat buruk bagi bangsa Indonesia, adalah kasus pemberontakan Darul Islam pimpinan Tengku Muhammad Daud Beureueh, tokoh ulama seluruh Aceh (PUSA) berserta para pengikutnya
.
Pengkhianatan pemerintah Orde Lama itu, dengan jelas terlihat dalam dialog antara Tengku Daud Beureueh dan Presiden Soekarno.
Bagian terakhir dari dialog tersebut, selengkapnya adalah sebagai berikut
:
Presiden“Saya minta bantuan kakak, agar rakyat Aceh turut mengambil bagian dalam perjuangan bersenjata yang sekarang sedang berkobar antara Indonesia dan Belanda untuk mempertahankan”
.
Daud Beureueh :” Saudara Presiden! Kami rakyat Aceh dengan segala senang hati dapat memenuhi permintaan presiden, asal saja perang yang akan kami kobarkan itu berupa perang sabil atau perang fisabilillah, perang untuk menegakkan agama Allah, sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu maka berarti mati syahid” .
Presiden”Kakak! Memang yang saya maksud-kan adalah perang yang seperti telah dikobarkan oleh pahlawan-pahlawan Aceh yang terkenal seperti Tengku Tjhik di Tiro dan lain-lain yaitu perang yang tidak kenal mundur, perang yang ber-semboyan “merdeka atau syahid” .
Daud Beureueh : ”Kalau begitu kedua pendapat kita telah bertemu Saudara Presiden. Dengan demikian bolehlah saya mohon kepada Saudara Presiden, bahwa apabila perang telah usai nanti, kepada rakyat Aceh diberikan kebebasan untuk menjalankan syari’at Islam di dalam daerahnya”
.
Presiden: ”Mengenai hal itu kakak tak usah khawatir. Sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam” .
Daud Beureueh: ”Maafkan saya Sudara Presiden, kalau saya terpaksa mengatakan, bahwa hal itu tidak menjadi jaminan bagi kami. Kami meng-inginkan suatu kata ketentuan dari Saudara Presiden”
Presiden : ”Kalau demikian baiklah, saya setujui permintaan kakak itu”
.
Daud Beureueh : ”Alhamdulillah, atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan terimakasih banyak atas kebaikan hati Saudara Presiden. Kami mohon, (sambil menyodorkan secarik kertas kepada Soekarno) sudi kiranya Sdr. Presiden menulis sedikit di atas kertas ini”.
Mendengar ucapan Tengku Muhammad Daud Beureueh itu langsung Presiden Soekarno menangis terisak-isak. Air matanya yang mengalir di pipinya telah membasahi bajunya. Dalam keadaan terisak-isak Presiden Soekarno berkata: ”Kakak! Kalau begitu tidak ada gunanya aku menjadi Presiden. Apa gunanya menjadi Presiden kalau tidak dipercaya”
.
Langsung saja Tengku Daud Beureueh menjawab:”Bukan kami tidak percaya, Saudara Presiden. Akan tetapi hanya sekedar menjadi tanda yang akan kami perlihatkan pada rakyat Aceh yang akan kami ajak untuk berperang”
 .
Lantas Presiden Soekarno, sambil menyeka air matanya, berkata:”Wallahi, Billahi, kepada daerah Aceh nanti akan diberi hak untuk menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syari’at Islam. Dan Wallah, saya akan pergunakan pengaruh saya agar rakyat Aceh benar-benar nanti dapat melaksanakan syari’at Islam di dalam daerahnya. Nah, apakah kakak masih ragu-ragu juga?”
Dijawab oleh Tengku Muhammad Daud Beureueh:”Saya tidak ragu lagi Saudara Presiden. Sekali lagi atas nama rakyat Aceh saya mengucapkan banyak terimakasih atas kebaikan hati Saudara Presiden” .
Menurut keterangan Tengku Muhammad Daud Beureueh, oleh karena iba hatinya melihat Presiden menangis terisak-isak, beliau tidak sampai hati lagi meminta jaminan hitam di atas putih atas janji-janji Presiden Soekarno itu
.
Karakteristik orang-orang munafik suka berjanji tapi kemudian mengingkarinya, dan menjadikan sumpah sebagai helah. Allah berfirman: Mereka menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. Sungguh amat buruklah apa yang mereka lakukan
.
Allah berfirman :
“Yang demikian itu karena mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (kembali), lalu hati mereka dikunci (tertutup dari menerima kebenaran). Maka mereka tidak memahami. Dan apabila engkau melihat mereka, engkau akan kagum karena tubuh-tubuh mereka (yang tegap dan tampan). Dan apabila mereka berbicara, engkau akan terpaku mendengarkannya. Mereka bagaikan kayu yang tersandar (tidak mempunyai fikiran). Mereka menduka setiap suara keras (panggilan) ditujukan kepada mereka. Merekalah musuh (sejati), maka jauhilah mereka, (waspadalah terhadap mereka). Semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dibutakan mata hatinya dari kebenaran)?. (Q.S. Al Munafiqun: 2-4)
.
Dari dialog di atas, kita bisa maklum bahwa, secara historis, dari sejak awal masyarakat Aceh ketika bergabung dengan Indonesia, menginginkan otonomi dengan penerapan hukum Islam. Orang Aceh siap membantu pemerintah Indonesia me-lawan Belanda, dengan suatu syarat, supaya syari’at Islam berlaku sepenuhnya di Aceh. Atau dengan kata lain, masyarakat ingin di Aceh berlaku syari’at Islam dalam bingkai negara Kesatuan RI.
Akan tetapi, meski Soekarno telah berjanji dengan berurai air mata, ternyata ia ingkar dan tidak konsekuen terhadap ucapannya sendiri. Melihat kenyataan ini, suatu hari, dengan suara masygul, Daud Beureueh pernah berkata:”Sudah ratusan tahun syari’at Islam berlaku di Aceh. Tetapi hanya beberapa tahun bergabung dengan RI, sirna hukum Islam di Aceh. Oleh karena itu, saya akan pertaruhkan segalanya demi tegaknya syari’at Islam di Aceh. Maka sejak itu lahirlah gerakan Darul Islam di Aceh
.
Soekarno termasuk pengagum Kemal Attaturk, presiden Turki keturunan Yahudi, yang paling lantang menolak keterlibatan agama dalam urusan politik dan pemerintahan. Demikian ekstrim pendiriannya dalam urusan ini, sehingga ia menghapus sistem kekhalifahan Islam di Turki, mengganti lafadz adzan yang berbahasa Arab menjadi bahasa nasional Turki. Dia berkata: ”Agama hanyalah hubungan pribadi dengan Tuhan, sedang negara adalah milik
bersama”.
.
Sekarang angin beracun ini masih berhembus kencang. Maka sebagaimana Kemal Attaturk, dalam suatu pidatonya di Amuntai Kalimantan Selatan pada tahun 1954, Soekarno juga pernah menyatakan tidak menyukai lahirnya Negara Islam dari Republik
Indonesia
.
Mengapa Soekarno ingkar janji terhadap rakyat Aceh, dan menolak berlakunya syari’at Islam? Menurut pengakuannya sendiri, Soekarno pernah dikader oleh seorang Belanda keturunan Yahudi, bernama A. Baars. ”Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada saya, jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia” , katanya
.
Pengakuan ini diungkapkan di hadapan sidang BPUPKI. Selanjutnya, dalam pidatonya itu, Soekarno juga menyatakan: ”Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, yaitu Dr. Sun Yat Sen. Di dalam tulisannya San Min Chu I atau The Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmo-politisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Di dalam hati saya, sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh buku tersebut”
.
Berdasarkan tela’ah dari berbagai karya tulis, pidato serta riwayat hidup Bung Karno, kita menjadi paham, bahwa prinsip ideologi yang dikem-bangkannya merupakan kombinasi dari paham kebangsaan dan mulhid, yaitu Nasionalisme dan Komunisme. Kombinasi dari keduanya, kemudian melahirkan ajaran Bungkarno, yang terkenal dengan Marhaenisme, akronim dari Marxisme, Hegel dan Nasionalisme. Semua ini sangat berpengaruh
terhadap aplikasi ideologi Pancasila selama masa kekuasaannya.Setelah berkuasa lebih dari 20 tahun lamanya, kekuasaan Soekarno akhirnya runtuh, dan riwayat hidupnya berakhir nista, terpuruk dari singgasana, dan mati dalam status dipenjara oleh rezim baru Soeharto
.
Pancasila yang selama ini dipandang begitu sakral justru terkadang digunakan oleh sekelompok orang untuk menghantam pihak yang nyata-nyata ingin mewujudkan perubahan. Ideologi Islam-lah yang selama ini menjadi bulan-bulanan oleh pihak yang anti terhadap Ideologi Islam.
Padahal sebagai sebuah filosofi, rumusan pancasila memang seperti karet yang bisa diulur kesana kemari
.
Gagasan demokrasi terpimpin yang dipandegani oleh pemerintahan orde lama tentu bukan pilihan yang Indah. Ideologi Sosialisme yang banyak di jadikan rujukan pada masa ini hanya mampu menghantarkan Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan, alias belumlah masuk ke dalam kemerdekaan. Artinya Indonesia masih dijajah dalam bentuk penjajahan non fisik
.
.

Tahrif Kitab Cara Licik Salafi Manhaj Salaf palsu

Berikut ini adalah link-link yang menunjukkan bukti adanya tahrif, perubahan, distorsi, revisi, tahqiq oknum yang sesuai dengan madzhab mereka pada kitab-kitab klasik maupun kitab-kitab saat ini.

Bahasa Indonesia

http://ummatiummati.wordpress.com/2010/02/25/tentang-kedustaan-albani-bukan-omong-kosong/

http://pesantren.or.id.42303.masterweb.net/ppssnh.malang/cgi-bin/content.cgi/artikel/distorsi_kitab_dari_wahabi.single

http://unggaspagi.blogspot.com/2010/06/tahrif-dalam-kitab-tarikh-al-khulafa.html

http://ejajufri.wordpress.com/2009/05/20/penyimpangan-terjemahan-hadis-bukhari-tentang-turunnya-yesus-dan-imam/

http://ejajufri.wordpress.com/2010/02/18/perubahan-komentar-alquran-abdullah-yusuf-mengapa-keluarga-nabi-terkesan-dimusuhi/

http://ejajufri.wordpress.com/2010/02/17/kitab-ibnu-qutaibah-dan-kutukan-imam-ali-kepada-anas-bin-malik/

http://salafytobat.wordpress.com/2008/07/06/awas-pustaka-imam-syafii-pis-penerbit-buku-sesat-wahabi/

http://salafytobat.wordpress.com/2008/11/04/salafywahaby-palsukan-kitab-al-ibanah-imam-al-asyari/; http://salafytobat.wordpress.com/2008/06/19/bukti-wahabi-selewengkan-fakta-kitab-al-ibanah-2/ Lawan http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/06/al-imam-abul-hasan-al-asyariy-asyaairah.html

http://salafytobat.wordpress.com/2008/06/20/wahhabi-palsukan-ubah-kitab-tafsir-ulama/

http://blog-dari.blogspot.com/2010/09/kitab-futuhat-makkiyah-sudah-diubah.html

http://abna.ir/data.asp?lang=12&id=198212

http://www.hidayatullah.com/kajian-a-ibrah/hukum/11677-pemalsuan-fatwa-ibnu-taimiyah-tentang-jihad

http://salafytobat.wordpress.com/2009/05/11/pemalsuan-pendapat-salaf-oleh-wahhaby-dengan-kedok-takhrij-dan-mukhtarat-meringkas/ Lawan http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/pemalsuan-kitab-al-adzkaar.html

http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/05/ibnu-taimiyyah-dan-maulid-nabi.html

Kasyful Asrar karya al-Khomeini didistorsi

http://reyhane-masoumah.blogspot.com/2009/03/penyelewengan-dalam-sahih-bukhari.html

http://syiahnews.wordpress.com/2010/12/25/pelurusan-sarjana-sunni-atas-pemalsuan-kitab-kasyful-asrar-karya-imam-khomaini-oleh-wahabbi-dr-ibrahim-ad-dasuki-syata-membongkar-kejahatan-wahabbi/

http://syiahnews.wordpress.com/2010/12/25/membongkar-pemalsuan-kitab-hukumat-i-islam-karya-imam-khomaini/

Bahasa Arab
Perubahan pada kitab hadits, sejarah, syair2, doa2 dalam Ahlussunnah (Syaikh Ja’far Subhani)

Bahasa Inggris

http://www.facebook.com/note.php?note_id=193265911033&comments

Nahjul Balaghah didistorsi

http://www.al-islam.org/tahrif/yusufali/index.htm

http://www.al-islam.org/tahrif/yourimam/index.htm

Kutukan Imam Ali as Pada Anas bin Malik

Hadis Ana Madinah al-Ilm wa Ali Babuha dalam Sunan Tirmidzi

Dan masih banyak lagi. Entar kucarikan lagi.

Unduh
http://www.ziddu.com/download/9693650/NukilanPalsudariKitabIanahThalibin.pdf.html

http://www.ariza.web.id/Kasyful%20Asrar%20Khoemaini%20Antara%20Bahasa%20Arab%20dan%20Parsi.pdf

  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Pandangan resmi ulama-ulama panutan Syi’ah Itsna asy’ariyah perihal para Sahabat dan Istri-Istri Nabi saw

Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ terkemuka menyatakan : “Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam.. Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as)..Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka.. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil””

Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ terkemuka menyatakan, “Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka.. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil.” -Qom-

Ayatullah Jaafar Subhani dalam kuliah tafsir surah al-Hasyr di Madrasah ‘Ali Fiqh mendedahkan, “Hanya orang yang tidak berpelajaran sahaja yang menganggap sahabat nabi bersikap adil dari awal sampai akhir hayat mereka, atau mengatakan riwayat daripada mereka itu muktabar. Meskipun Syiah memberi penghormatan kepada mereka, ini bukanlah alasan untuk menutup mata dan memuktabarkan riwayat daripada sahabat.” Beliau menambah, tidak seperti fitnah yang tersebar luas, Syiah juga mengasihi mereka namun sebahagian pembohongan menuduh syiah mengkafirkan sahabat.”

“Kekafiran dan keadilan adalah dua masalah entiti yang berbeza dan tidak boleh kedua-duanya dicampur adukkan. Pada pandangan Syiah dikalangan sahabat dari mereka itu ada yang bertaqwa dan berlaku adil, namun sebilangan daripada mereka ada juga bersikap tidak adil. Tidak adil dan kafir sangat jauh bezanya.”

“Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as). Oleh itu hendaklah mereka yang membuat tuduhan itu takut kepada Allah dan tidak berdusta lagi.” tambah beliau.

Berkenaan riwayat-riwayat Ahlusunnah seperti di dalam Sahih Bukhari beliau mengatakan, “Dalam kitab Sahih Bukhari sebahagian riwayat menunjukkan kemurtadan para sahabat. Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam. Oleh itu barangsiapa yang membuat tuduhan liar terhadap Syiah, mereka itu dikira tidak berpelajaran.”

Merujuk kepada beberapa peristiwa bersejarah tentang ketidak adilan sebahagian para sahabat, ulama tafsir ini menjelaskan, “Sejarah menunjukkan bahawa sahabat Nabi beberapa kali mengingkari baginda dan banyak ayat telah turun untuk memberi hidayat dan menghalang mereka dari kesesatan dan kefasikan yang mana teladan itu dapat disaksikan dalam surah al-Hasyr.”

Ayatullah Subhani menegaskan, “Sebahagian khutbah Nabi dan peperangan setelah wafat baginda seperti perang Jamal, Nahrawan dan….. perkara ini membuktikan sebahagian para sahabat terjebak seperti apa yang dirisaukan baginda dan gugurlah keadilan dari mereka itu.”

Menurut beliau lagi, “Allah (swt) mendifinisikan sifat dan ciri-ciri para sahabat di dalam berbagai ayat, namun jelas sekali definisi itu tidaklah meliputi semua sahabat namun kebanyakan daripada mereka termasuk di dalamnya.”

“Maksud ayat-ayat seperti ini ialah sahabat hakiki yang memiliki sifat dan personaliti seperti ini sahaja, bukan bermaksud pakaian keadilan dan kesucian dibusanakan ke tubuh semua sahabat.” menurut beliau lagi.

Imam Sayyed Ali Khamenei Pemimpin Agung Iran menerbitkan sebuah fatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul Mu’minin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah

Hal itu tertera dalam jawaban atas istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan oleh sejumlah ulama dan cendeiawan Ahsa menyusul penghinaan-penghinaan yang akhir-akhir ini dilontarkan seorang pribadi tak terpuji mengaku bernama Yasir al-Habib yang berdomisili di London terhadap istri Nabi, Aisyah.

Para pemohon fatwa menghimbau kepada Sayyid Khamenei menyampaikan pandangannya terhadap “penghujatan jelas dan penghinaan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mun’min Aisyah.”

Menjawab hal itu, Khamenei mengatakan, “ diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

Fatwa Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangakain reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh “ Yasir al-Habib” terhadap Siti Aisyah.

Sebelumnya puluhan pemuka agama di kalangan Syiah di Arab Saudi, negara-negara Teluk dan Iran telah mengecam dengan keras pernyataan-pernyataan dan setiap keterangan yang menghina Siti Aisyah atau salah satu istri Nabi termulia saw.

Berikut teks bahasa Arab fatwa tersebut:

نص الاستفتاء:

بسم الله الرحمن الرحيم

سماحة آية الله العظمى السيد علي الخامنئي الحسيني دام ظله الوارف
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ،،

تمر الامة الاسلامية بأزمة منهج يؤدي الى اثارت الفتن بين ابناء المذاهب الاسلامية ، وعدم رعا ية الأولويات لوحدة صف المسلمين ، مما يكون منشا لفتن داخلية وتشتيت الجهد الاسلامي في المسائل الحساسة والمصيرية ، ويؤدي الى صرف النظر عن الانجازات التي تحققت على يد ابناء الامة الاسلامية في فلسطين ولبنان والعراق وتركيا وايران والدول الاسلامية ، ومن افرازات هذا المنهج المتطرف طرح ما يوجب الاساءة الى رموز ومقدسات اتباع الطائفة السنية الكريمة بصورة متعمدة ومكررة .

فما هو رأي سماحتكم في ما يطرح في بعض وسائل الاعلام من فضائيات وانترنت من قبل بعض المنتسبين الى العلم من اهانة صريحة وتحقير بكلمات بذيئة ومسيئة لزوج الرسول صلى الله عليه واله ام المؤمنين السيدة عائشة واتهامها بما يخل بالشرف والكرامة لأزواج النبي امهات المؤمنين رضوان الله تعالى عليهن.

لذا نرجو من سماحتكم التكرم ببيان الموقف الشرعي بوضوح لما سببته الاثارات المسيئة من اضطراب وسط المجتمع الاسلامي وخلق حالة من التوتر النفسي بين المسلمين من اتباع مدرسة أهل البيت عليهم السلام وسائر المسلمين من المذاهب الاسلامية ، علما ان هذه الاساءات استغلت وبصورة منهجية من بعض المغرضين ومثيري الفتن في بعض الفضائيات والانترنت لتشويش وارباك الساحة الاسلامية واثارة الفتنة بين المسلمين .

ختاما دمتم عزا وذخرا للاسلام والمسلمين .

التوقيع

جمع من علماء ومثقفي الاحساء4 / شوال / 1431هـــــ

جواب الإمام الخامنئي:

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

يحرم النيل من رموز إخواننا السنة فضلاً عن اتهام زوج النبي (صلى الله عليه وآله) بما يخل بشرفها بل هذا الأمر ممتنع على نساء الأنبياء وخصوصاً سيدهم الرسول الأعظم (صلّى الله عليه وآله).

موفقين لكل خير

website  http://www.albayyinat.net/jwb5tb.html    menulis  propaganda sebagai berikut ;

7.      Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8.      Ahlussunnah         :  Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah                     : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

======================================================

jawaban pihak kami :


Salam wa rahmatollah. Bismillah wa bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad.

Semasa saya masih menganut mazhab Ahlul Sunnah, saya mengingati zaman itu dengan kepercayaan bahawa para sahabat ialah orang-orang yang terbaik selepas Rasulullah(sawa). Mereka adil, sentiasa berniat baik dan Jarah wa Ta’dil tidak boleh digunakan ke atas mereka. Dengan kedudukan yang hampir mencapai taraf maksum ini, maka sudah tentu, apabila kita mendengar perkara yang tidak elok tentang mereka, maka lantas kita terus menuduh orang yang mengucapkannya sebagai penipu, pembohong, kafir dan lain-lain. Ajaran dan pegangan yang disuapkan oleh Sunni menyebabkan kita tidak boleh menerima kenyataan sejarah bahawa para sahabat memang tidak seperti yang kita fantasikan.

Sejarah telah menjadi saksi akan banyak hal yang tidak elok oleh sesetengah para sahabat. Mahu tidak mahu, kalian haris menerimanya. Mari kita baca komen Ayatollah al Uzma Syeikh Makarem Shirazi akan hal ini, tentang isu panas yang baru ditimbulkan sejak akhir-akhir ini. Solawat.

Ayatollah Nasser Makarem Shirazi

Ayatullah al-Uzma Makarim Syirazi  dalam pengajian luar Fiqh yang dihadiri ramai pelajar dan ulama di Masjid A’zam Qom telah menyatakan pandangannya tentang protes beberapa ulama Sunni terhadap rancangan televisyen Sida-ya-Sima Iran. Beliau mengatakan: Sekumpulan ulama Mesir dan saudara Ahlu Sunnah selatan negara ini telah menganggap beberapa filem sejarah yang ditayangkan oleh Sida-ye-Sima telah menghina sahabat Nabi”.

“Mereka ini hendaklah menyedari, penghinaan adalah satu masalah manakala pengkisahan sejarah merupakan satu masalah lain dan keduanya mempunyai perbezaan asas”.

“Adakah sesiapa yang masih ragu bahawa perang Jamal pernah terjadi atau tidak?, ada sesiapa yang meragui Talhah dan Zubair telah mengingkari bai’ah dengan imam mereka?, adakah sesiapa yang masih ragu bahawa terlalu banyak darah umat Islam tumpah dalam perang Jamal? Ini semua adalah sejarah dan orang ramai menjadi penilainya”, kata beliau dalam ceramah pengajian.

Ayatullah Makarim Syirazi menambah, “Adakah sesiapa yang meragui pernah terjadi perang Siffin dalam sejarah Islam? Ada sesiapa yang masih syak bahawa sebahagian sahabat tidak memberi bai’ah kepada Imam Zamannya malah bangkit menentangnya dan sejumlah besar daripada mereka terbunuh?, Adakah anda ingin mengatakan, anda tidak mahu menukilkan sejarah”.

Beliau selaku ustaz besar dalam bidang Fiqh di Hawzah Ilmiyah Qom menegaskan, “Kita tidak seharusnya menutup mata terhadap sejarah, penghinaan dan penilitian kedua-duanya adalah entiti yang berasingan, tidak boleh kedua-duanya dicampur aduk”.

Tambahnya lagi, “Saudara-saudara kita ini hendaklah benar-benar memahami bahawa masalah sejarah tidak boleh dilupakan, seluruh kitab sejarah Islam penuh dengan kisah ini sehinggakan kitab-kitab sejarah Ahlusunnah turut ada menceritakan masalah Talhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair”.

“Jikalau kita benar-benar meneliti sejarah tersebut, pasti perkara sebenar akan jelas”.

“Sepanjang sejarah Islam masih terdapat beberapa orang sahabat nabi yang beristiqomah dalam jejak langkah nabi, perkara ini jelas jikalau kita tidak bersikap fanatik dengan peristiwa sejarah. Masalah ini benar-benar jelas dan tidak ada unsur-unsur penghinaan”.

Ayatullah Makarim Syirazi menceritakan pula beberapa riwayat yang dianggap mencerca tokoh-tokoh umat Islam dan berkata, “Jikalau seorang mukmin membuat penghinaan kecil terhadap sahabat nabi dan mengkafirkan mereka tanpa sebab, maka ia pun terkeluar dari Islam”.

Sambil menegaskan Nabi (s.a.w) melarang pengkafiran terhadap orang Islam yang lain beliau menambah, “Tidak boleh menuduh seseorang itu jahat tanpa bukti jelas”.

Penjelasan Ayatullah Makarim ini berdasarkan protes beberapa orang ulama Sunni terhadap filem bersiri Mukhtarnameh yang dianggap menghina Abdullah bin Zubair.

Syi’ah Tidak Mengkafirkan Para Sahabat Nabi SAW !!! Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan

Posted on Maret 30, 2011 by syiahali | Sunting

(Terjemahan artikel dalam buku Azmah al-Wa’y ad-Dini karya Fahmi Huwaidi, Dar ash-Shan’a al-Yamaniyah, cet. 1, 1988 M, dapat dibaca dalam buku Haruskah Menderita Karena Agama?, terbitan Sahara Publishers, cetakan pertama: Rajab 1426 H/September 2005 M, h. 234-246)

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuannya, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

Fahmi Huwaidi

Saya bermaksud mengejutkan teman saya dengan mengatakan bahwa sebagian kaum Muslim di Timur (?) menyangka bahwa orang Syiah memiliki ekor seperti binatang, roh mereka akan bereinkarnasi menjadi binatang, dan mereka tidak pernah makan seperti layaknya makhluk lain! Ternyata teman saya tidak terkejut, karena di negerinya, Irak, dia telah mendengar orang yang menyebarkan dongeng dan cerita serupa tentang orang Syiah yang menggambarkan mereka dalam bentuk binatang yang aneh dan sifat, kebiasaan, dan nasibnya setelah kematian berbeda dengan makhluk lain.

Cerita aneh tersebut ada di awal buku Ashl asy-Syiah wa Ushuluha (Asal Muasal Syiah dan Prinsip-Prinsipnya) karya Allamah al-Husain Kasyif al-Ghitha. Meski cerita ini telah berumur lebih dari setengah abad, tapi pengaruhnya masih ada di tengah-tengah kita hingga sekarang. Maksud saya, yang masih ada adalah sampai sekarang bukanlah detail cerita itu, melainkan sika curiga yang membuka gerbang untuk pelbagai kemungkinan perusakan dan penghancuran citra, serta perpisahan dan perceraian sebaagi konsekuensinya. Pada akhirnya, sikap ini berarti penistaan terhadap akidah 100 juta kaum Muslim, usaha mengeluarkan mereka dari agama Islam, dan penghapusan mereka dari peta kaum Muslim. Ya, logika ini memang sederhana!

Belum lama ini, di Mesir, seorang penulis kenamaan mencampuradukkan Syiah dengan komunisme, menganggap keduanya sama, lalu berdasarkan hal ini menyerang keduanya sekaligus. Kebetulan salah seorang guru saya—yang menceritakan kisah ini—membaca artikel tersebut sebelum dipublikasikan. Jika tidak, ini akan menjadi skandal terbesar dalam jurnalistik Mesir!!

Saya tidak bermaksud merunut berbagai cerita seputar masalah ini. Sebab, orang yang mampu berkeliling ke negeri-negeri Arab pasti dapat melihat sendiri pengaruh sikap curiga tersebut dari kubu Ahlussunnah terhadap Syiah. Bahkan, saya mendengar ada seorang ulama “Salafiyah” di salah satu negeri Arab menyusun buku yang menggambarkan akidah Syiah bukan sekadar bertentangan dengan Islam, tapi lebih buruk daripada Ahlul Kitab, Shabiah, Majusi, dan penyembah berhala! Saya ingat pengalaman saya di salah satu negara Teluk, saat saya mencari masjid untuk shalat Jumat, lalu saya bertanya kepada seorang anak, anak itu menunjuk ke dua arah sambil berkata, ini masjid kaum Muslim, dan itu masjid orang Syiah!

Tidak jauh-jauh, di tangan saya masih ada artikel-artikel seminggu ini yang mengomentari peristiwa berdarah di Masjidil Haram Mekkah. Tanpa alasan jelas, artikel-artikel ini membuka kembali file Sunnah-Syiah dalam konteks menggugat, menjelek-jelekkan, merusak, dan menuduh akidah Syiah dalam bentuk yang pasti menggelisahkan dan mencengangkan hati seorang muslim. Anehnya, artikel-artikel ini mengarahkan tuduhan kepada Pemerintah Iran, dan bukannya kepada mazhab Syiah Imamiyah. Dan, yang lebih aneh lagi, artikel-artikel ini dipublikasikan di Mesir, negara pelopor dalam upaya harmonisasi antar mazhab, yang tidak memiliki sensitivitas apa pun terhadap Syiah, dan rakyatnya sering disebut para sejarawan sebagai “para pencinta Ahlul Bait.”

Jadi, masalah ini telah melewati batasan sikap yang gegabah dan tidak bertanggung jawab, sehingga banyak penulis menjadi korban pengetahuan yang rancu. Setiap peneliti yang jujur—apa pun keyakinannya—pasti dapat melihat kesalahan dan kerancuan di dalam artikel-artikel tersebut dalam tiga level: pengetahuan umum, akidah Syiah, dan sejarah pertikaian Syiah-Sunni.

Saya tidak tahu, bagaimana penulis yang terbatas pengetahuannya seperti saya dapat mengkaji masalah ini tanpa terjerumus ke dalam tuduhan atau bisik-bisik negatif dari pembaca, atau pembelaannya terhadap Syiah tidak dianggap sebagai pembelaan terhadap Pemerintah Iran. Hal serupa ini tidak pernah terlintas di pikiran saya, sebab yang penting bagi saya aspek-aspek ilmiah dan historis serta kesatuan umat Islam dan bukannya perselisihan atau pertimbangan politis.

Saya tidak tahu bagaimana kita dapat mengendalikan emosi sehingga kita dapat membedakan aksi Pemerintah Iran dengan ajaran mazhab Syiah; menyadari bahwa komunitas Syiah lebih luas daripada wilayah negara Iran yang hanya menyumbang setengah pemeluk Syiah saja, sehingga kemarahan terhadap aksi yang terjadi di Mekkah tidak berubah menjadi api yang membakar hubungan Sunnah-Syiah dan membakar kepala pengikut Syiah di mana saja mereka berada, yang beberapa juta di antaranya adalah orang Arab yang hidup di sekitar kita, dan sebagian lagi tersebar di India, Pakistan, Afganistan, Turki, dan Azerbaijan.

Saya tidak tahu bagaimana kita dapat berbeda paham secara bijaksana, tidak saling melanggar kehormatan sesama, dan tetap menghormati wilayah sakral yang tidak boleh diserang atau diperangi, yaitu wilayah akidah, khususnya jika pemeluk akidah itu adalah kaum Muslim seperti kita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebutlah ini cara beradab dalam bertikai, tapi saya lebih suka menyebutnya cara dan etika Islam. Nabi saw dalam salah satu sabdanya melarang tiga hal dan pelanggaran atasnya akan menyebabkan murka Allah sehingga pelakunya tidak Dia lindungi pada hari tiada perlindungan selain dari-Nya, salah satunya adalah, “Keji dalam bertikai.”

Saya tidak tahu kapankah tiba waktunya kita dapat memenuhi syarat berdialog dalam masalah apa saja, sehingga kita dapat menentukan tujuan, kelayakan, peserta, kepantasan tempat berdialog, juga metode dan etikanya. Sebab, beberapa tulisan tampaknya hanya bertujuan membuat para penganut Syiah menanggalkan akidah mereka, sementara para penulisnya sendiri nampaknya tidak cukup mengetahui masalah yang diperbincangkan, sehingga mereka terjerumus ke dalam pelbagai kesalahan dan kerancuan. Di samping itu, koran-koran ikut mem-blow up masalah yang seharusnya didiskusikan di forum ilmiah, seperti akar pertikaian antara Sunnah dengan Syiah, konsep taqiyah, ruj’ah, wilayah, dan lainnya.

Saya tidak tahu kapan kita sadar bahwa tata cara dialog kita sangat berbahaya dan dapat menjerumuskan kita ke dalam pertikaian yang lebih dalam. Dalam kasus ini, dialog bermuara ke arah perpecahan umat Islam, peningkatan pertikaian sesama kita, dan penyegaran kembali rasa kebencian lama. Sungguh aneh, beberapa penulis menyatakan dalam pendahuluan bukunya bahwa dia menginginkan persatuan umat Islam dan tidak memusuhi mazhab dan akidah Syiah, tapi beberapa baris kemudian dia kembali lagi ke sikap lama itu, menembakkan peluru dari senjata berat dan senjata kimia ke arah pengikut mazhab Syiah secara keseluruhan.

Akhirnya, saya tidak tahu apakah kampanye negatif terhadap Syiah ini merugikan rezim yang berkuasa di Iran atau tidak. Saya kira hal ini menguntungkan mereka dan menyatukan kaum Syiah di sekitar mereka. Sebab, kritik dan hujatan seperti yang dilakukan para penulis artikel tersebut memberikan kesan bahwa pertikaian ini diarahkan pada mazhab Syiah, dan bukan para rezim di Teheran, dan bertujuan membasmi akidah Syiah sebagai sebuah episode baru dari aksi yang disebut sebagai “kezaliman historis” sehingga para penganut Syiah yang “terkena peluru nyasar dan tidak bertanggung jawab” ini akan mendapati dirinya terpaksa berlindung di bawah rezim Iran. Saya pikir, hal ini sangat menyenangkan para penguasa di Teheran!

Jika kita bermaksud memeriksa kesalahan dan kerancuan yang dilakukan terhadap mazhab Syiah, maka akan kita dapati poin-poin utamanya sebagai berikut:

Pertama: Kesalahan yang berkaitan dengan pengetahuan umum

Beberapa penulis nampaknya lupa bahwa Syiah terdiri dari banyak sekte. Ada yang moderat dan ada yang ekstrem. Ada yang berakidah sahih dan ada yang berakidah salah. Sekte Syiah yang moderat dan berakidah sahih utamanya adalah az-Zaidiyah (dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, terkonsentrasi di Yaman, dan sangat mirip dengan Ahlussunnah) dan al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah, sekte Syiah yang terbesar dan terpopuler yang akhir-akhir ini menjadi sasaran kritik. Mereka disebut al-Imamiyah karena menganggap imamah (kepemimpinan) sebagai prinsip akidah, sedangkan sebutan al-Itsna ‘Asyariyah dinisbahkan kepada dua belas imam mereka yang berasal dari keturunan Rasulullah saw. Terkadang mereka disebut al-Jafariyah, nisbah kepada Imam Jafar ash-Shadiq, pendiri fiqih Syiah.

Jika dalam bahasa sehari-hari julukan Syiah ditujukan kepada sekte al-Imamiyah al-Itsna Asyariah atau al-Jafariyah saja, maka dari sudut pandang ilmiah hal ini mengandung simplifikasi, karena sekte al-Itsna Asyariyah bukanlah keseluruhan Syiah.

Dalam artikel-artikel yang kami baca, nampak kerancuan yang memalukan akibat pencampuran antara sekte al-Imamiyah dengan sekte Syiah lainnya yang terkenal ekstrem dan berakidah menyimpang. Misalnya, sekte yang beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan (sekte as-Sabaiyah, dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba, seorang Yahudi). Juga sekte yang beranggapan bahwa posisi Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada Rasulullah saw, Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu, sehingga menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw dan bukannya kepada Imam Ali. Mereka mendasarkan anggapan tersebut pada kemiripn keduanya, “seperti miripnya gagak dengan gagak yang lain.” Karena itu mereka disebut sekte al-Ghurabiyah. Lalu, dalam suasana kemarahan yang mengiringi perusakan terhadap Masjidil Haram di Mekkah, kaum Syiah dituduh telah menodai kesucian masjid yang disakralkan kaum Muslim dan menyembunyikan Hajar Aswad. Ini adalah pencampuran antara mazhab Syiah dengan mazhab al-Qaramithah yang pada abad keempat Hijrah pernah menguasai Makkah dan memindahkan Hajar Aswad.

Banyak referensi ilmiah yang terpercaya membedakan sekte al-Itsna Asyariah dengan sekte ekstrem dan menyimpang lainnya, dan membebaskan sekte ini dari tuduhan menuhankan Imam Ali atau menempatkan beliau pada posisi yang lebih tinggi daripada Nabi Muhammad saw. Tuduhan tersebut memang seharusnya dinafikan dari kedua belas imam sekte ini. Masalah ini telah dianggap selesai pada permulaan tahun 1960-an, ketika Syekh Mahmud Syaltut, Syaikh al-Azhar, mengeluarkan fatwanya yang sangat terkenal, yang menyatakan bahwa mazhab al-Itsna Asyariah adalah sekte agama yang boleh dianut oleh setiap kaum Muslim.

Dari sisi lain, beberapa penulis biasa menyebut orang Syiah sebagai orang Persia. Ini salah. Saya telah katakan bahwa penganut Syiah di Iran hanya setengah dari penganut sekte al-Jafariyah. Setengahnya lagi hidup di luar Iran. Yang penting, orang yang hendak berbicara dalam masalah ini harus mengetahui bahwa di negara-negara Arab ada sekitar delapan juta penganut Syiah. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Arab. Jadi, menggeneralisasi corak Persia kepada Syiah bukan sekadar kesalahan ilmiah, tapi juga kesalahan politis, karena hal ini melukai perasaan delapan juta orang tersebut, yang sebagian besar tinggal di Irak, sedangkan sisanya tersebar di berbagai negara Teluk, Saudi Arabia, dan Libanon.

Sekadar informasi, tidak semua penganut Syiah di Iran orang Persia. Orang Turki tidak sedikit di sana. Selain itu, di wilayah Khuzastan di Persia, ada banyak penganut mazhab Sunni. Orang Turkilah yang men-Syiah-kan Iran pada awal abad 16 Masehi di bawah pimpinan Shah Ismail ash-Shafawi, dan orang-orang Arablah yang menyebarkan ajaran-ajaran mazhab Syiah di sana, ketika Dinasti ash-Shafawiyin mengundang mereka dari Jabal Amil di Libanon dan dari Bahrain.

Dari sisi lain, sungguh mengherankan seorang ulama menamakan perang di Libanon sebagai perang Syiah-Sunni, dengan dalil sikap Organisasi Amal—yang dicitrakan oleh banyak media massa sebagai organisasi para pemeluk Syiah—terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina. Ini adalah perkataan yang benar yang disampaikan untuk tujuan yang salah. Pertama, Organisasi Amal tidak memerangi warga Palestina di pengungsian dikarenakan mereka penganut mazhab Sunni, tapi karena Organisasi Amal berpusat di Suriah yang memiliki sikap tersendiri terhadap warga Palestina, khususnya para pengikut Yasser Arafat. Kedua, kelompok Syiah yang lebih dominan di Libanon, yaitu Hizbullah, menentang sikap Organisasi Amal dan menjalin kerja sama dengan orang-orang Palestina di Tripoli dalam melawan Israel. Sikap ini dipelopori oleh kelompok Syekh Said Syaban.

Terakhir, pernyataan paling aneh adalah orang Syiah mengkafirkan orang Sunni dan perang Irak-Iran adalah salah satu buah sikap tersebut. Saya tidak mendapatkan bukti bagi pernyataan tersebut di dalam fiqih maupun sejarah Syiah. Warga Irak pun tidak berkata seperti itu. Mereka sangat mengetahui bahwa perang tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah Syiah-Sunni, apalagi banyak di antara tentara Irak yang berperang melawan Iran adalah penganut Syiah.

Kedua: Kesalahan yang berkaitan dengan akidah Syiah al-Imamiyah

Pernyataan paling buruk dan berbahaya yang ditujukan kepada Syiah al-Imamiyah adalah pernyataan seputar akidah mereka yang tidak berlandaskan pada dasar ilmiah yang benar. Peryataan tersebut termuat dalam resendi yang dipublikasikan koran-koran Mesir terhadap dua buku tentang Syiah yang terbit di India dan Pakistan, yang memuat informasi yang beredar di dunia Arab sekitar 30 tahun lalu (buku Fahmi Huwaidi ini terbit pada tahun 1988—Fadhil). Salah satunya berjudul al-Khuthuth al-’Aridhah li al-Asas al-Lati Qama ‘Alaiha Din asy-Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah (Garis-garis Besar Prinsip Agama Syiah Imamiyah Itsna Asyariah) karya Muhibbuddin al-Khathib. Judul buku ini telah menyatakan secara implisit bahwa Imamiyah adalah agama lain selain Islam. Lalu, isi buku ini menuturkan informasi bahwa orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri, menganggap al-Quran yang ada sekarang telah kehilangan tiga per empat dari aslinya, menyatakan imam sama dengan Tuhan, mendahulukan wilayah dan imamah daripada syahadat, serta menyimpang dari ajaran Islam dengan konsep al-imam al-ghaib dan taqiyah yang mereka yakini.

Ringkasnya, tuduhan-tuduhan ini mengeluarkan penganut Syiah Imamiyah dari Islam. Meskipun tidak mengatakan secara tegas mereka adalah orang kafir, namun informasi yang dimuat buku ini menyatakan hal tersebut dengan tegas.

Tindakan ii membangkitkan kembali kebencian lama, yang seharusnya sudah hilang sejak seperempat abad lalu, ketika al-Azhar membebaskan Syiah Imamiyah dari tuduhan seperti itu. Al-Azhar telah membuka gerbang dialog Ahlussunnah dengan Imamiyah dan Zaidiyah, serta memasukkan pembahasan tentang Imamiyah ke dalam kurikulum Universitas al-Azhar. Majma al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo pun telah menjadikan mazhab Imamiyah sebagai salah satu sumber fiqih Islam yang diakui, dan Kementerian Wakaf Mesir mencetak buku al-Mukhtashar an-Nafi fi Fiqh al-Imamiyah (Ringkasan Fiqih Mazhab Imamiyah) dan membagikannya secara Cuma-Cuma kepada kaum Muslim.

Ketika langkah-langkah tersebut dilakukan, artinya tuduhan terhadap akidah Imamiyah yang mengeluarkan mereka dari agama Islam telah gugur. Karena itu, mengapa kita sekarang kembali ke titik nol dan mundur 40 tahun ke belakang untuk berdebat apakah Imamiyah memiliki mushaf yang berbeda dengan kita atau tidak, dan apakah imam sama dengan Tuhan?!

Jika Syiah menganggap imamah sebagai prinsip akidah, sedangkan Ahlussunnah menganggapnya sebagai furu, maka hal ini memang memiliki konsekuensi fiqih yang sangat rumit. Namun hal ini tidak mempengaruhi kelurusan akidah dan kesahihan Islam mereka.

Lalu, masalah al-imam al-ghaib dan taqiyah. Saya tidak mengetahui apa alasan ilmiah yang cukup kuat untuk membuka kembali dua poin ini dan menganggapnya sebagai titik lemah akidah Syiah. Sebab, konsep al-imam al-ghaib secara objektif tidak berbeda dengan konsep “al-Mahdi” yang diimani oleh sekte Ahlussunnah berdasarkan beberapa hadits ahad.

Sekte Imamiyah memang menyatakan keagungan 12 orang imam dan menganggap perkataan atau “hadits-hadits” yang mereka riwayatkan sebagai sunnah. Ini adalah salah satu perbedaan penting antara fiqih Imamiyah dengan fiqih Ahlussunnah. Tapi, masalah yang rumit ini harus diserahkan kepada para ulama dari kedua belah pihak. Selain itu, “hadits-hadits” kedua belas imam itu hanya berkisar pada wilayah realitas kaum Muslim yang sangat sempit, karena mreka pada hakikatnya hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, bukan pemimpin politis.

Jika kita menganggap upaya mempersempit perbedaan antara kaum Muslim sebagai tujuan kita, maka kita mungkin boleh mengatakan bahwa penyematan sifat ‘ushmah kepada beberapa cucu Rasulullah saw, yang jalur keturunannya sudah terputus sejak 12 abad lalu, adalah tindakan yang tidak berbahaya, selama sifat tersebut tidak disematkan kepada pengganti atau wakil mereka. Bahkan, saya pikir, konsep al-imam al-ghaib pun tidak berbahaya selama tidak menghambat pengaturan persoalan manusia pada zaman sekarang. Pada konteks ini saya kutipkan perkataan Syekh Hasan al-Banna, ketika ditanya tentang beberapa poin sekitar perselisihan Sunnah-Syiah sebagai berikut, “Pada saat al-imam al-ghaib itu muncul, saya akan menjadi orang pertama yang membaiatnya.”

Konsep taqiyah, dalam pengertian berbedanya interaksi zahir dengan kandungan batin bukanlah ciptaan orang Syiah seperti disangka banyak orang. Ini adalah perilaku yang ada dasarnya di dalam Islam. Istilah taqiyah pun diderivasi dari ungkapan al-Quran, “Kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka.” (QS. Ali Imran: 28) Artinya, dibolehkan jika tindakan itu terpaksa dilakukan untuk menjaga diri dari bahaya yang tidak dapat ditanggung. Inilah yang dilakukan oleh sahabat Ammar bin Yasir ketika disiksa dengan kejam agar mengingkari Nabi Muhammad saw. Beliau pun melakukan hal tersebut secara terpaksa. Berkaitan dengan hal ini, Allah menurunkan ayat, “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106) Para sahabat yang lain pun mengakui prinsip taqiyah ini, sebagaimana dijelaskan oleh perkataan Abdullah bin Abbas yang dikutip oleh Ibnu Katsir, “Taqiyah itu bukan dengan tindakan, tapi dengan perkataan.”

Para ulama telah menjelaskan aturan dan syarat taqiyah yang tidak dapat saya jelaskan sekarang. Poin yang perlu kita perhatikan sekarang adalah prinsip ini diakui oleh ajaran Islam, bukan hanya oleh mazhab Syiah saja. Jika suasana penindasan dan pengejaran terhadap para penganut Syiah sepanjang sejarah telah membuat mereka lebih sering bertaqiyah dan mengubahnya dari sekadar sarana menjadi prinsip keyakinan, atau dari taktik menjadi strategi, maka ini persoalan lain. Perubahan situasi sejarah boleh jadi mengembalikan posisi tersebut kepada keseimbangannya semula.

Selanjutnya, poin yang berkaitan dengan wilayah al-faqih (kekuasaan di tangan ahli agama) yang dianggap oleh banyak orang sebagai prinsip mazhab Syiah dan membuat mazhab ini mendapat serangan yang sengit. Konsep wilayat faqih dalam pengertiannya saat ini hanya mewakili sikap salah satu aliran pemikiran dalam Syiah yang tidak disepakati oleh para ulama Syiah sendiri. Konsep ini bukanlah ciptaan Imam Khomeini seperti yang disangka banyak orang, melainkan konsep yang dilontarkan sejak lama di kalangan ulama fiqih Syiah yang menyerukan kekuasaan absolut bagi ahli fiqih. Konsep ini diformulasi pada awal abad 19 oleh Allamah Ahmad an-Niraqi dalam sebuah buku yang tidak mendapat perhatian luas berjudul Awaid al-Ayyam yang memuat bab khusus tentang wilayat faqih.

Aliran ini ditentang oleh mayoritas ahli fiqih Syiah yang menyerukan keksuasaan yang relatif, bukan yang absolut, dan terbatas pada masalah sosial. Ulama kontemporer yang paling menentang konsep ini adalah Ayatullah as-Sayyid al-Khui, tokoh besar di Irak yang menulis penolakannya dalam risalah berjudul Asas al-Hukumah al-Islamiyah, dan Dr. Muhammad Jawwad Mughniyah, salah seorang ahli fiqih Imamiyah yang paling terkenal di Libanon, penulis buku al-Khumaini wa ad-Daulah al-Islamiyah. Tokoh lainnya adalah Ayatullah Syariatmadari dan Ayatullah Marasyi Najafi, dua orang tokoh Syiah terbesar saat ini.

Yang penting bagi kita dalam masalah ini, konsep wilayat faqih tidak dapat dijadikan gerbang untuk menyerang mazhab Syiah secara keseluruhan, karena mazhab ini memuat aliran lain yang menolak konsep tersebut.

Ketiga: Kesalahan yang berkaitan dengan sejarah

Orang yang mencermati akidah seharusnya mencermati juga sejarah, terutama seputar pertikaian dalam masalah kepemimpinan kaum Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Para pengikut Syiah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi pemimpin, lalu hak ini dirampas oleh Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Mereka menuduh kedua sahabat ini telah merampas hak kepemimpinan dari Ahlul Bait, sehingga buku-buku Syiah klasik berisi banyak celaan terhadap keduanya, bahkan menyifati keduanya sebagai “berhala kaum Quraisy.”

Tindakan menghidupkan kebencian lama ini tidak ada gunanya, begitu juga pembahasan tentang siapa sebenarnya yang paling berhak menjadi khalifah, apakah Abu Bakar atau Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, saya pikir, beberapa hal perlu diungkap kembali:

  1. Syiah Imamiyah bukan pihak yang memulai mencaci para sahabat. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Umawiyah-lah yang memulai mencaci Ali dari atas mimbar Jumat. Tradisi tercela ini hanya ditinggalkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Artinya, Ali terus menerus dicela dari atas mimbar-mimbar hampir selama setengah abad.
  2. Celaan terhadap Abu Bakar dan Umar, jika pernah terjadi sebagai reaksi terhadap tindakan orang-orang dari Dinasti Umawiyah, adalah unsur eksternal yang merasuki pemikiran Syiah, yang diakibatkan oleh masa penuh fitnah dan dekadensi, serta merusak hubungan Sunni-Syiah. Itulah masa ketika salah seorang ahli fiqih bermazhab Syafiiiyah mengeluarkan fatwa bahwa makanan yang bercampur dengan arak harus dilemparkan kepada anjing atau kepada penganut mazhab Hanafiyah, lalu salah seorang ahli fiqih bermazhab Hanafiyah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan laki-laki bermazhab Hanafiyah menikahi perempuan bermazhab Syafiiyah karena keimanannya diragukan, sementara ahli fiqih bermazhab Hanafiyah lainnya membolehkan hal ini dengan menqiyaskan perempuan tersebut dengan perempuan Ahlul Kitab.
  3. Fiqih Syiah yang otentik menyebut para sahabat, termasuk Abu Bakar, dengan ungkapan-ungkapan yang penuh penghormatan. Di dalam ash-Shahifah as-Sajjadiyah, yaitu doa-doa yang dibaca oleh Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, dan didawamkan pembacaannya oleh para penganut Syiah sampai sekarang, terdapat nash yang menyatakan, “Semoga Allah menurunkan rahmat dan ridha bagi para sahabat Muhammad yang telah menderita dalam membantunya, melindunginya, berlomba menjalankan ajarannya, dan memenuhi ajakannya ketika beliau menjelaskan argumentasi risalahnya.”
  4. Sekarang ini buku-buku Syiah telah dibersihkan dari celaan terhadap para sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar. Untuk meneliti masalah ini, saya telah mengumpulkan 11 buku peradaban Islam yang sekarang diajarkan kepada murid-murid tingkat SD, SMP, dan SMU di Iran, dan membaca semua kandungan pelajaran tentang Ahlussunnah, Khulafa ar-Rasyidin, dan para sahabat. Saya dapati semua buku tersebut menyebut para sahabat dengan penuh penghormatan.

Saya tidak menafikan adanya perselisihan antara Sunni-Syiah, adanya beberapa wacana yang masih harus didialogkan oleh para ulama dari kedua belah pihak, dan adanya beberapa ranjau yang harus dibersihkan dari jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak. Tapi, saya perlu mengingatkan satu hal, kita tidak boleh memicu pertentangan antar-mazhab, baik antara Sunnah dengan Syiah, Salafiyah dengan Ibadhiyah, Zaidiyah dengan Mutashawwifah, atau antara kaum Muslim secara umum dengan non Muslim.

Menyalakan api pertikaian ini bukan hanya membakar salah satu pihak, tapi membakar seluruh umat Islam.

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuan, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena mereka telah menetapkan untuk mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwa Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan;“Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau” (Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi). (Sahih Bukhari 3/1335)

Benarkah pahaman itu sementara  al-Qur’an juga berbicara tentang ‘Sahabat’ Rasulullah :

1.    “Kawan (Shohib) kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (QS an-Najm: 2)

2.    “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman (shohib) mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila…” (QS al-A’raf: 184)

3. Sementara Syi’ah membagi Sahabat menjadi 3 golongan sesuai dengan firman-Nya dalam al-Fathir : 32 , Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka  ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka  ada yang pertengahan dan diantara mereka  ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah . yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”

Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan , yaitu  :

1.    Ada sahabat yang “menganiaya (baca: zalim) diri mereka sendiri” adalah orang fasik yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.

2.    Ada yang pertengahan (tidak termasuk nomer 1 dan 3).

3. Ada yang yang mendapat Karunia yang besar , karena selalu berbuat kebaikan.

Dan apa kata Rasulullah SAWW tentang Sahabatnya :

1.    Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

2.    Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda : Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan berkata : wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya engkau  tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Shahih Bukhori Hadis no.578.)

3.    Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab: Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). (Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh  kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWW telahmenentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka  telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlah bukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ? ,

Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Sulaim berkata : “Abu Dhar, Salman dan al-Miqdad telah memberitahuku hadis, kemudian aku telah mendengarnya pula dari Ali bin Abu Thalib as Mereka berkata : ‘Sesungguhnya seorang lelaki merasa kagum dengan Ali bin Abu Thalib as ,  Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali as :

Saudaraku (Ali) adalah : kemegahan Arab. Engkau adalah sepupuku yang paling mulia, bapa yang paling dihormati, saudara laki-laki yang paling mulia, jiwa yang paling mulia, keturunan yang paling mulia, istri yang paling mulia, mempunyai anak lelaki yang paling mulia, paman di sebelah tua yang paling dihormati, paling sempurna tingkah-lakunya, paling banyak ilmunya, paling fasih membaca al-Qur’an, paling mengetahui sunnah-sunnah Allah, paling berani hatinya, paling pemurah, paling zuhud di dunia, paling menggembeling energi, paling baik budi pekertinya, paling benar lidahnya serta paling mencintai Allah dan aku (Rasul). [1]

Anda akan hidup sesudahku selama tiga puluh tahun. Anda akan melihat kezaliman Quraisy. Kemudian Anda akan berjihad di jalan Allah jika Anda mendapatkan pembantu-pembantu. Anda akan berjihad karena takwil al-Qur’an sebagaimana telah berjihad karena Tanzilnya, Anda akan menentang al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin dari umat ini. Anda akan mati sebagai seorang syahid di mana jenggot akan berlumuran dengan darah dari kepala Anda. Pembunuh Anda menyamai pembunuh al-Naqah (unta betina), dalam kemurkaan Allah dan berjauhan dari-Nya.Pembunuh Anda menyamai pembunuh Yahya bin Zakaria dan menyamai Fir’aun yang memiliki Pancang (al-Autad).

……………………

1.  Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu‘aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya‘, i, hlm. 63. al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 332.

Syi’ah Tidak Mengkafirkan Para Sahabat Nabi…. Murtad artinya berbalik kebelakang tidak mematuhi wasiat imamah Ali, jadi bukan keluar dari Islam….

Posted on September 1, 2010 by syiahali | Sunting

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an  seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda  dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat  dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari, Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. )  meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik  setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu (   lihat  Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari, Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar  akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

—————————————————————–

Tentang  Ummu’l  mu’minin  ‘A’isyah

Rasul juga bersabda tentang ummu’l mu’minin ‘A’isyah:

“Diriwayatkan oleh Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’, dari ‘Abdullah yang berkata: “Nabi saw sedang berkhotbah dan beliau menunjuk ke arah kediaman ‘A’isyah sambil berkata: ‘Disinilah akan muncul tiga fitnah sekaligus, dan dari situlah akan muncul tanduk setan’. ( Bukhari, Shahih dalam bab “Ma ja’a fi buyuti’l AzwajinNabi’. )

‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah saw keluar dari rumah ‘Aisyah dan bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk setan’. ( Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 23. )

Rasul Allah saw keluar dari rumah ‘A’isyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini akan muncul tanduk setan.” ( Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 26.)

‘Kutukan’  terhadapnya dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagai Ahlus Sunnah.

 

Hadis Pegang Teguhlah Ahlul Bait hampir tidak pernah disinggung dan “dihilangkan” dalam pendidikan dan pengajaran umat Islam !!! Lalu dituduhlah Syi’ah Mengkafirkan Para Sahabat Nabi !!

Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ terkemuka menyatakan : “Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam.. Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as)..Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka.. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil””

Ayatullah Jaafar Subhani salah seorang Marji’ terkemuka menyatakan, “Syiah tidak pernah mengkafirkan para sahabat, bahkan mencintai dan menghormati mereka.. Namun kami tidak menganggap mereka semua adil.” -Qom-

Ayatullah Jaafar Subhani dalam kuliah tafsir surah al-Hasyr di Madrasah ‘Ali Fiqh mendedahkan, “Hanya orang yang tidak berpelajaran sahaja yang menganggap sahabat nabi bersikap adil dari awal sampai akhir hayat mereka, atau mengatakan riwayat daripada mereka itu muktabar. Meskipun Syiah memberi penghormatan kepada mereka, ini bukanlah alasan untuk menutup mata dan memuktabarkan riwayat daripada sahabat.” Beliau menambah, tidak seperti fitnah yang tersebar luas, Syiah juga mengasihi mereka namun sebahagian pembohongan menuduh syiah mengkafirkan sahabat.”

“Kekafiran dan keadilan adalah dua masalah entiti yang berbeza dan tidak boleh kedua-duanya dicampur adukkan. Pada pandangan Syiah dikalangan sahabat dari mereka itu ada yang bertaqwa dan berlaku adil, namun sebilangan daripada mereka ada juga bersikap tidak adil. Tidak adil dan kafir sangat jauh bezanya.”

“Bagaimana mungkin Syiah mengkafirkan semua sahabat sedangkan lebih 150 orang daripada kalangan mereka itu adalah pengikut Ali (as). Oleh itu hendaklah mereka yang membuat tuduhan itu takut kepada Allah dan tidak berdusta lagi.” tambah beliau.

Berkenaan riwayat-riwayat Ahlusunnah seperti di dalam Sahih Bukhari beliau mengatakan, “Dalam kitab Sahih Bukhari sebahagian riwayat menunjukkan kemurtadan para sahabat. Syiah menganggap kemurtadan ini adalah berpaling dari kepimpinan, bukannya keluar dari Islam. Oleh itu barangsiapa yang membuat tuduhan liar terhadap Syiah, mereka itu dikira tidak berpelajaran.”

Merujuk kepada beberapa peristiwa bersejarah tentang ketidak adilan sebahagian para sahabat, ulama tafsir ini menjelaskan, “Sejarah menunjukkan bahawa sahabat Nabi beberapa kali mengingkari baginda dan banyak ayat telah turun untuk memberi hidayat dan menghalang mereka dari kesesatan dan kefasikan yang mana teladan itu dapat disaksikan dalam surah al-Hasyr.”

Ayatullah Subhani menegaskan, “Sebahagian khutbah Nabi dan peperangan setelah wafat baginda seperti perang Jamal, Nahrawan dan….. perkara ini membuktikan sebahagian para sahabat terjebak seperti apa yang dirisaukan baginda dan gugurlah keadilan dari mereka itu.”

Menurut beliau lagi, “Allah (swt) mendifinisikan sifat dan ciri-ciri para sahabat di dalam berbagai ayat, namun jelas sekali definisi itu tidaklah meliputi semua sahabat namun kebanyakan daripada mereka termasuk di dalamnya.”

“Maksud ayat-ayat seperti ini ialah sahabat hakiki yang memiliki sifat dan personaliti seperti ini sahaja, bukan bermaksud pakaian keadilan dan kesucian dibusanakan ke tubuh semua sahabat.” menurut beliau lagi.

Imam Sayyed Ali Khamenei Pemimpin Agung Iran menerbitkan sebuah fatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummul Mu’minin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah

Hal itu tertera dalam jawaban atas istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan oleh sejumlah ulama dan cendeiawan Ahsa menyusul penghinaan-penghinaan yang akhir-akhir ini dilontarkan seorang pribadi tak terpuji mengaku bernama Yasir al-Habib yang berdomisili di London terhadap istri Nabi, Aisyah.

Para pemohon fatwa menghimbau kepada Sayyid Khamenei menyampaikan pandangannya terhadap “penghujatan jelas dan penghinaan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mun’min Aisyah.”

Menjawab hal itu, Khamenei mengatakan, “ diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

Fatwa Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangakain reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh “ Yasir al-Habib” terhadap Siti Aisyah.

Sebelumnya puluhan pemuka agama di kalangan Syiah di Arab Saudi, negara-negara Teluk dan Iran telah mengecam dengan keras pernyataan-pernyataan dan setiap keterangan yang menghina Siti Aisyah atau salah satu istri Nabi termulia saw.

Berikut teks bahasa Arab fatwa tersebut:

نص الاستفتاء:

بسم الله الرحمن الرحيم

سماحة آية الله العظمى السيد علي الخامنئي الحسيني دام ظله الوارف
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ،،

تمر الامة الاسلامية بأزمة منهج يؤدي الى اثارت الفتن بين ابناء المذاهب الاسلامية ، وعدم رعا ية الأولويات لوحدة صف المسلمين ، مما يكون منشا لفتن داخلية وتشتيت الجهد الاسلامي في المسائل الحساسة والمصيرية ، ويؤدي الى صرف النظر عن الانجازات التي تحققت على يد ابناء الامة الاسلامية في فلسطين ولبنان والعراق وتركيا وايران والدول الاسلامية ، ومن افرازات هذا المنهج المتطرف طرح ما يوجب الاساءة الى رموز ومقدسات اتباع الطائفة السنية الكريمة بصورة متعمدة ومكررة .

فما هو رأي سماحتكم في ما يطرح في بعض وسائل الاعلام من فضائيات وانترنت من قبل بعض المنتسبين الى العلم من اهانة صريحة وتحقير بكلمات بذيئة ومسيئة لزوج الرسول صلى الله عليه واله ام المؤمنين السيدة عائشة واتهامها بما يخل بالشرف والكرامة لأزواج النبي امهات المؤمنين رضوان الله تعالى عليهن.

لذا نرجو من سماحتكم التكرم ببيان الموقف الشرعي بوضوح لما سببته الاثارات المسيئة من اضطراب وسط المجتمع الاسلامي وخلق حالة من التوتر النفسي بين المسلمين من اتباع مدرسة أهل البيت عليهم السلام وسائر المسلمين من المذاهب الاسلامية ، علما ان هذه الاساءات استغلت وبصورة منهجية من بعض المغرضين ومثيري الفتن في بعض الفضائيات والانترنت لتشويش وارباك الساحة الاسلامية واثارة الفتنة بين المسلمين .

ختاما دمتم عزا وذخرا للاسلام والمسلمين .

التوقيع

جمع من علماء ومثقفي الاحساء4 / شوال / 1431هـــــ

جواب الإمام الخامنئي:

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

يحرم النيل من رموز إخواننا السنة فضلاً عن اتهام زوج النبي (صلى الله عليه وآله) بما يخل بشرفها بل هذا الأمر ممتنع على نساء الأنبياء وخصوصاً سيدهم الرسول الأعظم (صلّى الله عليه وآله).

موفقين لكل خير

website  http://www.albayyinat.net/jwb5tb.html    menulis  propaganda sebagai berikut ;

7.      Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at  Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

8.      Ahlussunnah         :  Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

Syiah                     : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

======================================================

jawaban pihak kami :


Salam wa rahmatollah. Bismillah wa bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad.

Semasa saya masih menganut mazhab Ahlul Sunnah, saya mengingati zaman itu dengan kepercayaan bahawa para sahabat ialah orang-orang yang terbaik selepas Rasulullah(sawa). Mereka adil, sentiasa berniat baik dan Jarah wa Ta’dil tidak boleh digunakan ke atas mereka. Dengan kedudukan yang hampir mencapai taraf maksum ini, maka sudah tentu, apabila kita mendengar perkara yang tidak elok tentang mereka, maka lantas kita terus menuduh orang yang mengucapkannya sebagai penipu, pembohong, kafir dan lain-lain. Ajaran dan pegangan yang disuapkan oleh Sunni menyebabkan kita tidak boleh menerima kenyataan sejarah bahawa para sahabat memang tidak seperti yang kita fantasikan.

Sejarah telah menjadi saksi akan banyak hal yang tidak elok oleh sesetengah para sahabat. Mahu tidak mahu, kalian haris menerimanya. Mari kita baca komen Ayatollah al Uzma Syeikh Makarem Shirazi akan hal ini, tentang isu panas yang baru ditimbulkan sejak akhir-akhir ini. Solawat.

Ayatollah Nasser Makarem Shirazi

Ayatullah al-Uzma Makarim Syirazi  dalam pengajian luar Fiqh yang dihadiri ramai pelajar dan ulama di Masjid A’zam Qom telah menyatakan pandangannya tentang protes beberapa ulama Sunni terhadap rancangan televisyen Sida-ya-Sima Iran. Beliau mengatakan: Sekumpulan ulama Mesir dan saudara Ahlu Sunnah selatan negara ini telah menganggap beberapa filem sejarah yang ditayangkan oleh Sida-ye-Sima telah menghina sahabat Nabi”.

“Mereka ini hendaklah menyedari, penghinaan adalah satu masalah manakala pengkisahan sejarah merupakan satu masalah lain dan keduanya mempunyai perbezaan asas”.

“Adakah sesiapa yang masih ragu bahawa perang Jamal pernah terjadi atau tidak?, ada sesiapa yang meragui Talhah dan Zubair telah mengingkari bai’ah dengan imam mereka?, adakah sesiapa yang masih ragu bahawa terlalu banyak darah umat Islam tumpah dalam perang Jamal? Ini semua adalah sejarah dan orang ramai menjadi penilainya”, kata beliau dalam ceramah pengajian.

Ayatullah Makarim Syirazi menambah, “Adakah sesiapa yang meragui pernah terjadi perang Siffin dalam sejarah Islam? Ada sesiapa yang masih syak bahawa sebahagian sahabat tidak memberi bai’ah kepada Imam Zamannya malah bangkit menentangnya dan sejumlah besar daripada mereka terbunuh?, Adakah anda ingin mengatakan, anda tidak mahu menukilkan sejarah”.

Beliau selaku ustaz besar dalam bidang Fiqh di Hawzah Ilmiyah Qom menegaskan, “Kita tidak seharusnya menutup mata terhadap sejarah, penghinaan dan penilitian kedua-duanya adalah entiti yang berasingan, tidak boleh kedua-duanya dicampur aduk”.

Tambahnya lagi, “Saudara-saudara kita ini hendaklah benar-benar memahami bahawa masalah sejarah tidak boleh dilupakan, seluruh kitab sejarah Islam penuh dengan kisah ini sehinggakan kitab-kitab sejarah Ahlusunnah turut ada menceritakan masalah Talhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair”.

“Jikalau kita benar-benar meneliti sejarah tersebut, pasti perkara sebenar akan jelas”.

“Sepanjang sejarah Islam masih terdapat beberapa orang sahabat nabi yang beristiqomah dalam jejak langkah nabi, perkara ini jelas jikalau kita tidak bersikap fanatik dengan peristiwa sejarah. Masalah ini benar-benar jelas dan tidak ada unsur-unsur penghinaan”.

Ayatullah Makarim Syirazi menceritakan pula beberapa riwayat yang dianggap mencerca tokoh-tokoh umat Islam dan berkata, “Jikalau seorang mukmin membuat penghinaan kecil terhadap sahabat nabi dan mengkafirkan mereka tanpa sebab, maka ia pun terkeluar dari Islam”.

Sambil menegaskan Nabi (s.a.w) melarang pengkafiran terhadap orang Islam yang lain beliau menambah, “Tidak boleh menuduh seseorang itu jahat tanpa bukti jelas”.

Penjelasan Ayatullah Makarim ini berdasarkan protes beberapa orang ulama Sunni terhadap filem bersiri Mukhtarnameh yang dianggap menghina Abdullah bin Zubair.

Syi’ah Tidak Mengkafirkan Para Sahabat Nabi SAW !!! Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan

Posted on Maret 30, 2011 by syiahali | Sunting

(Terjemahan artikel dalam buku Azmah al-Wa’y ad-Dini karya Fahmi Huwaidi, Dar ash-Shan’a al-Yamaniyah, cet. 1, 1988 M, dapat dibaca dalam buku Haruskah Menderita Karena Agama?, terbitan Sahara Publishers, cetakan pertama: Rajab 1426 H/September 2005 M, h. 234-246)

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuannya, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

Fahmi Huwaidi

Saya bermaksud mengejutkan teman saya dengan mengatakan bahwa sebagian kaum Muslim di Timur (?) menyangka bahwa orang Syiah memiliki ekor seperti binatang, roh mereka akan bereinkarnasi menjadi binatang, dan mereka tidak pernah makan seperti layaknya makhluk lain! Ternyata teman saya tidak terkejut, karena di negerinya, Irak, dia telah mendengar orang yang menyebarkan dongeng dan cerita serupa tentang orang Syiah yang menggambarkan mereka dalam bentuk binatang yang aneh dan sifat, kebiasaan, dan nasibnya setelah kematian berbeda dengan makhluk lain.

Cerita aneh tersebut ada di awal buku Ashl asy-Syiah wa Ushuluha (Asal Muasal Syiah dan Prinsip-Prinsipnya) karya Allamah al-Husain Kasyif al-Ghitha. Meski cerita ini telah berumur lebih dari setengah abad, tapi pengaruhnya masih ada di tengah-tengah kita hingga sekarang. Maksud saya, yang masih ada adalah sampai sekarang bukanlah detail cerita itu, melainkan sika curiga yang membuka gerbang untuk pelbagai kemungkinan perusakan dan penghancuran citra, serta perpisahan dan perceraian sebaagi konsekuensinya. Pada akhirnya, sikap ini berarti penistaan terhadap akidah 100 juta kaum Muslim, usaha mengeluarkan mereka dari agama Islam, dan penghapusan mereka dari peta kaum Muslim. Ya, logika ini memang sederhana!

Belum lama ini, di Mesir, seorang penulis kenamaan mencampuradukkan Syiah dengan komunisme, menganggap keduanya sama, lalu berdasarkan hal ini menyerang keduanya sekaligus. Kebetulan salah seorang guru saya—yang menceritakan kisah ini—membaca artikel tersebut sebelum dipublikasikan. Jika tidak, ini akan menjadi skandal terbesar dalam jurnalistik Mesir!!

Saya tidak bermaksud merunut berbagai cerita seputar masalah ini. Sebab, orang yang mampu berkeliling ke negeri-negeri Arab pasti dapat melihat sendiri pengaruh sikap curiga tersebut dari kubu Ahlussunnah terhadap Syiah. Bahkan, saya mendengar ada seorang ulama “Salafiyah” di salah satu negeri Arab menyusun buku yang menggambarkan akidah Syiah bukan sekadar bertentangan dengan Islam, tapi lebih buruk daripada Ahlul Kitab, Shabiah, Majusi, dan penyembah berhala! Saya ingat pengalaman saya di salah satu negara Teluk, saat saya mencari masjid untuk shalat Jumat, lalu saya bertanya kepada seorang anak, anak itu menunjuk ke dua arah sambil berkata, ini masjid kaum Muslim, dan itu masjid orang Syiah!

Tidak jauh-jauh, di tangan saya masih ada artikel-artikel seminggu ini yang mengomentari peristiwa berdarah di Masjidil Haram Mekkah. Tanpa alasan jelas, artikel-artikel ini membuka kembali file Sunnah-Syiah dalam konteks menggugat, menjelek-jelekkan, merusak, dan menuduh akidah Syiah dalam bentuk yang pasti menggelisahkan dan mencengangkan hati seorang muslim. Anehnya, artikel-artikel ini mengarahkan tuduhan kepada Pemerintah Iran, dan bukannya kepada mazhab Syiah Imamiyah. Dan, yang lebih aneh lagi, artikel-artikel ini dipublikasikan di Mesir, negara pelopor dalam upaya harmonisasi antar mazhab, yang tidak memiliki sensitivitas apa pun terhadap Syiah, dan rakyatnya sering disebut para sejarawan sebagai “para pencinta Ahlul Bait.”

Jadi, masalah ini telah melewati batasan sikap yang gegabah dan tidak bertanggung jawab, sehingga banyak penulis menjadi korban pengetahuan yang rancu. Setiap peneliti yang jujur—apa pun keyakinannya—pasti dapat melihat kesalahan dan kerancuan di dalam artikel-artikel tersebut dalam tiga level: pengetahuan umum, akidah Syiah, dan sejarah pertikaian Syiah-Sunni.

Saya tidak tahu, bagaimana penulis yang terbatas pengetahuannya seperti saya dapat mengkaji masalah ini tanpa terjerumus ke dalam tuduhan atau bisik-bisik negatif dari pembaca, atau pembelaannya terhadap Syiah tidak dianggap sebagai pembelaan terhadap Pemerintah Iran. Hal serupa ini tidak pernah terlintas di pikiran saya, sebab yang penting bagi saya aspek-aspek ilmiah dan historis serta kesatuan umat Islam dan bukannya perselisihan atau pertimbangan politis.

Saya tidak tahu bagaimana kita dapat mengendalikan emosi sehingga kita dapat membedakan aksi Pemerintah Iran dengan ajaran mazhab Syiah; menyadari bahwa komunitas Syiah lebih luas daripada wilayah negara Iran yang hanya menyumbang setengah pemeluk Syiah saja, sehingga kemarahan terhadap aksi yang terjadi di Mekkah tidak berubah menjadi api yang membakar hubungan Sunnah-Syiah dan membakar kepala pengikut Syiah di mana saja mereka berada, yang beberapa juta di antaranya adalah orang Arab yang hidup di sekitar kita, dan sebagian lagi tersebar di India, Pakistan, Afganistan, Turki, dan Azerbaijan.

Saya tidak tahu bagaimana kita dapat berbeda paham secara bijaksana, tidak saling melanggar kehormatan sesama, dan tetap menghormati wilayah sakral yang tidak boleh diserang atau diperangi, yaitu wilayah akidah, khususnya jika pemeluk akidah itu adalah kaum Muslim seperti kita yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebutlah ini cara beradab dalam bertikai, tapi saya lebih suka menyebutnya cara dan etika Islam. Nabi saw dalam salah satu sabdanya melarang tiga hal dan pelanggaran atasnya akan menyebabkan murka Allah sehingga pelakunya tidak Dia lindungi pada hari tiada perlindungan selain dari-Nya, salah satunya adalah, “Keji dalam bertikai.”

Saya tidak tahu kapankah tiba waktunya kita dapat memenuhi syarat berdialog dalam masalah apa saja, sehingga kita dapat menentukan tujuan, kelayakan, peserta, kepantasan tempat berdialog, juga metode dan etikanya. Sebab, beberapa tulisan tampaknya hanya bertujuan membuat para penganut Syiah menanggalkan akidah mereka, sementara para penulisnya sendiri nampaknya tidak cukup mengetahui masalah yang diperbincangkan, sehingga mereka terjerumus ke dalam pelbagai kesalahan dan kerancuan. Di samping itu, koran-koran ikut mem-blow up masalah yang seharusnya didiskusikan di forum ilmiah, seperti akar pertikaian antara Sunnah dengan Syiah, konsep taqiyah, ruj’ah, wilayah, dan lainnya.

Saya tidak tahu kapan kita sadar bahwa tata cara dialog kita sangat berbahaya dan dapat menjerumuskan kita ke dalam pertikaian yang lebih dalam. Dalam kasus ini, dialog bermuara ke arah perpecahan umat Islam, peningkatan pertikaian sesama kita, dan penyegaran kembali rasa kebencian lama. Sungguh aneh, beberapa penulis menyatakan dalam pendahuluan bukunya bahwa dia menginginkan persatuan umat Islam dan tidak memusuhi mazhab dan akidah Syiah, tapi beberapa baris kemudian dia kembali lagi ke sikap lama itu, menembakkan peluru dari senjata berat dan senjata kimia ke arah pengikut mazhab Syiah secara keseluruhan.

Akhirnya, saya tidak tahu apakah kampanye negatif terhadap Syiah ini merugikan rezim yang berkuasa di Iran atau tidak. Saya kira hal ini menguntungkan mereka dan menyatukan kaum Syiah di sekitar mereka. Sebab, kritik dan hujatan seperti yang dilakukan para penulis artikel tersebut memberikan kesan bahwa pertikaian ini diarahkan pada mazhab Syiah, dan bukan para rezim di Teheran, dan bertujuan membasmi akidah Syiah sebagai sebuah episode baru dari aksi yang disebut sebagai “kezaliman historis” sehingga para penganut Syiah yang “terkena peluru nyasar dan tidak bertanggung jawab” ini akan mendapati dirinya terpaksa berlindung di bawah rezim Iran. Saya pikir, hal ini sangat menyenangkan para penguasa di Teheran!

Jika kita bermaksud memeriksa kesalahan dan kerancuan yang dilakukan terhadap mazhab Syiah, maka akan kita dapati poin-poin utamanya sebagai berikut:

Pertama: Kesalahan yang berkaitan dengan pengetahuan umum

Beberapa penulis nampaknya lupa bahwa Syiah terdiri dari banyak sekte. Ada yang moderat dan ada yang ekstrem. Ada yang berakidah sahih dan ada yang berakidah salah. Sekte Syiah yang moderat dan berakidah sahih utamanya adalah az-Zaidiyah (dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin, terkonsentrasi di Yaman, dan sangat mirip dengan Ahlussunnah) dan al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah, sekte Syiah yang terbesar dan terpopuler yang akhir-akhir ini menjadi sasaran kritik. Mereka disebut al-Imamiyah karena menganggap imamah (kepemimpinan) sebagai prinsip akidah, sedangkan sebutan al-Itsna ‘Asyariyah dinisbahkan kepada dua belas imam mereka yang berasal dari keturunan Rasulullah saw. Terkadang mereka disebut al-Jafariyah, nisbah kepada Imam Jafar ash-Shadiq, pendiri fiqih Syiah.

Jika dalam bahasa sehari-hari julukan Syiah ditujukan kepada sekte al-Imamiyah al-Itsna Asyariah atau al-Jafariyah saja, maka dari sudut pandang ilmiah hal ini mengandung simplifikasi, karena sekte al-Itsna Asyariyah bukanlah keseluruhan Syiah.

Dalam artikel-artikel yang kami baca, nampak kerancuan yang memalukan akibat pencampuran antara sekte al-Imamiyah dengan sekte Syiah lainnya yang terkenal ekstrem dan berakidah menyimpang. Misalnya, sekte yang beranggapan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah Tuhan (sekte as-Sabaiyah, dinisbahkan kepada Abdullah bin Saba, seorang Yahudi). Juga sekte yang beranggapan bahwa posisi Ali bin Abi Thalib lebih tinggi daripada Rasulullah saw, Jibril salah alamat dalam menyampaikan wahyu, sehingga menurunkannya kepada Nabi Muhammad saw dan bukannya kepada Imam Ali. Mereka mendasarkan anggapan tersebut pada kemiripn keduanya, “seperti miripnya gagak dengan gagak yang lain.” Karena itu mereka disebut sekte al-Ghurabiyah. Lalu, dalam suasana kemarahan yang mengiringi perusakan terhadap Masjidil Haram di Mekkah, kaum Syiah dituduh telah menodai kesucian masjid yang disakralkan kaum Muslim dan menyembunyikan Hajar Aswad. Ini adalah pencampuran antara mazhab Syiah dengan mazhab al-Qaramithah yang pada abad keempat Hijrah pernah menguasai Makkah dan memindahkan Hajar Aswad.

Banyak referensi ilmiah yang terpercaya membedakan sekte al-Itsna Asyariah dengan sekte ekstrem dan menyimpang lainnya, dan membebaskan sekte ini dari tuduhan menuhankan Imam Ali atau menempatkan beliau pada posisi yang lebih tinggi daripada Nabi Muhammad saw. Tuduhan tersebut memang seharusnya dinafikan dari kedua belas imam sekte ini. Masalah ini telah dianggap selesai pada permulaan tahun 1960-an, ketika Syekh Mahmud Syaltut, Syaikh al-Azhar, mengeluarkan fatwanya yang sangat terkenal, yang menyatakan bahwa mazhab al-Itsna Asyariah adalah sekte agama yang boleh dianut oleh setiap kaum Muslim.

Dari sisi lain, beberapa penulis biasa menyebut orang Syiah sebagai orang Persia. Ini salah. Saya telah katakan bahwa penganut Syiah di Iran hanya setengah dari penganut sekte al-Jafariyah. Setengahnya lagi hidup di luar Iran. Yang penting, orang yang hendak berbicara dalam masalah ini harus mengetahui bahwa di negara-negara Arab ada sekitar delapan juta penganut Syiah. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari bangsa Arab. Jadi, menggeneralisasi corak Persia kepada Syiah bukan sekadar kesalahan ilmiah, tapi juga kesalahan politis, karena hal ini melukai perasaan delapan juta orang tersebut, yang sebagian besar tinggal di Irak, sedangkan sisanya tersebar di berbagai negara Teluk, Saudi Arabia, dan Libanon.

Sekadar informasi, tidak semua penganut Syiah di Iran orang Persia. Orang Turki tidak sedikit di sana. Selain itu, di wilayah Khuzastan di Persia, ada banyak penganut mazhab Sunni. Orang Turkilah yang men-Syiah-kan Iran pada awal abad 16 Masehi di bawah pimpinan Shah Ismail ash-Shafawi, dan orang-orang Arablah yang menyebarkan ajaran-ajaran mazhab Syiah di sana, ketika Dinasti ash-Shafawiyin mengundang mereka dari Jabal Amil di Libanon dan dari Bahrain.

Dari sisi lain, sungguh mengherankan seorang ulama menamakan perang di Libanon sebagai perang Syiah-Sunni, dengan dalil sikap Organisasi Amal—yang dicitrakan oleh banyak media massa sebagai organisasi para pemeluk Syiah—terhadap kamp-kamp pengungsi Palestina. Ini adalah perkataan yang benar yang disampaikan untuk tujuan yang salah. Pertama, Organisasi Amal tidak memerangi warga Palestina di pengungsian dikarenakan mereka penganut mazhab Sunni, tapi karena Organisasi Amal berpusat di Suriah yang memiliki sikap tersendiri terhadap warga Palestina, khususnya para pengikut Yasser Arafat. Kedua, kelompok Syiah yang lebih dominan di Libanon, yaitu Hizbullah, menentang sikap Organisasi Amal dan menjalin kerja sama dengan orang-orang Palestina di Tripoli dalam melawan Israel. Sikap ini dipelopori oleh kelompok Syekh Said Syaban.

Terakhir, pernyataan paling aneh adalah orang Syiah mengkafirkan orang Sunni dan perang Irak-Iran adalah salah satu buah sikap tersebut. Saya tidak mendapatkan bukti bagi pernyataan tersebut di dalam fiqih maupun sejarah Syiah. Warga Irak pun tidak berkata seperti itu. Mereka sangat mengetahui bahwa perang tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah Syiah-Sunni, apalagi banyak di antara tentara Irak yang berperang melawan Iran adalah penganut Syiah.

Kedua: Kesalahan yang berkaitan dengan akidah Syiah al-Imamiyah

Pernyataan paling buruk dan berbahaya yang ditujukan kepada Syiah al-Imamiyah adalah pernyataan seputar akidah mereka yang tidak berlandaskan pada dasar ilmiah yang benar. Peryataan tersebut termuat dalam resendi yang dipublikasikan koran-koran Mesir terhadap dua buku tentang Syiah yang terbit di India dan Pakistan, yang memuat informasi yang beredar di dunia Arab sekitar 30 tahun lalu (buku Fahmi Huwaidi ini terbit pada tahun 1988—Fadhil). Salah satunya berjudul al-Khuthuth al-’Aridhah li al-Asas al-Lati Qama ‘Alaiha Din asy-Syiah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah (Garis-garis Besar Prinsip Agama Syiah Imamiyah Itsna Asyariah) karya Muhibbuddin al-Khathib. Judul buku ini telah menyatakan secara implisit bahwa Imamiyah adalah agama lain selain Islam. Lalu, isi buku ini menuturkan informasi bahwa orang Syiah memiliki al-Quran tersendiri, menganggap al-Quran yang ada sekarang telah kehilangan tiga per empat dari aslinya, menyatakan imam sama dengan Tuhan, mendahulukan wilayah dan imamah daripada syahadat, serta menyimpang dari ajaran Islam dengan konsep al-imam al-ghaib dan taqiyah yang mereka yakini.

Ringkasnya, tuduhan-tuduhan ini mengeluarkan penganut Syiah Imamiyah dari Islam. Meskipun tidak mengatakan secara tegas mereka adalah orang kafir, namun informasi yang dimuat buku ini menyatakan hal tersebut dengan tegas.

Tindakan ii membangkitkan kembali kebencian lama, yang seharusnya sudah hilang sejak seperempat abad lalu, ketika al-Azhar membebaskan Syiah Imamiyah dari tuduhan seperti itu. Al-Azhar telah membuka gerbang dialog Ahlussunnah dengan Imamiyah dan Zaidiyah, serta memasukkan pembahasan tentang Imamiyah ke dalam kurikulum Universitas al-Azhar. Majma al-Buhuts al-Islamiyah di Kairo pun telah menjadikan mazhab Imamiyah sebagai salah satu sumber fiqih Islam yang diakui, dan Kementerian Wakaf Mesir mencetak buku al-Mukhtashar an-Nafi fi Fiqh al-Imamiyah (Ringkasan Fiqih Mazhab Imamiyah) dan membagikannya secara Cuma-Cuma kepada kaum Muslim.

Ketika langkah-langkah tersebut dilakukan, artinya tuduhan terhadap akidah Imamiyah yang mengeluarkan mereka dari agama Islam telah gugur. Karena itu, mengapa kita sekarang kembali ke titik nol dan mundur 40 tahun ke belakang untuk berdebat apakah Imamiyah memiliki mushaf yang berbeda dengan kita atau tidak, dan apakah imam sama dengan Tuhan?!

Jika Syiah menganggap imamah sebagai prinsip akidah, sedangkan Ahlussunnah menganggapnya sebagai furu, maka hal ini memang memiliki konsekuensi fiqih yang sangat rumit. Namun hal ini tidak mempengaruhi kelurusan akidah dan kesahihan Islam mereka.

Lalu, masalah al-imam al-ghaib dan taqiyah. Saya tidak mengetahui apa alasan ilmiah yang cukup kuat untuk membuka kembali dua poin ini dan menganggapnya sebagai titik lemah akidah Syiah. Sebab, konsep al-imam al-ghaib secara objektif tidak berbeda dengan konsep “al-Mahdi” yang diimani oleh sekte Ahlussunnah berdasarkan beberapa hadits ahad.

Sekte Imamiyah memang menyatakan keagungan 12 orang imam dan menganggap perkataan atau “hadits-hadits” yang mereka riwayatkan sebagai sunnah. Ini adalah salah satu perbedaan penting antara fiqih Imamiyah dengan fiqih Ahlussunnah. Tapi, masalah yang rumit ini harus diserahkan kepada para ulama dari kedua belah pihak. Selain itu, “hadits-hadits” kedua belas imam itu hanya berkisar pada wilayah realitas kaum Muslim yang sangat sempit, karena mreka pada hakikatnya hanya berfungsi sebagai pemimpin spiritual, bukan pemimpin politis.

Jika kita menganggap upaya mempersempit perbedaan antara kaum Muslim sebagai tujuan kita, maka kita mungkin boleh mengatakan bahwa penyematan sifat ‘ushmah kepada beberapa cucu Rasulullah saw, yang jalur keturunannya sudah terputus sejak 12 abad lalu, adalah tindakan yang tidak berbahaya, selama sifat tersebut tidak disematkan kepada pengganti atau wakil mereka. Bahkan, saya pikir, konsep al-imam al-ghaib pun tidak berbahaya selama tidak menghambat pengaturan persoalan manusia pada zaman sekarang. Pada konteks ini saya kutipkan perkataan Syekh Hasan al-Banna, ketika ditanya tentang beberapa poin sekitar perselisihan Sunnah-Syiah sebagai berikut, “Pada saat al-imam al-ghaib itu muncul, saya akan menjadi orang pertama yang membaiatnya.”

Konsep taqiyah, dalam pengertian berbedanya interaksi zahir dengan kandungan batin bukanlah ciptaan orang Syiah seperti disangka banyak orang. Ini adalah perilaku yang ada dasarnya di dalam Islam. Istilah taqiyah pun diderivasi dari ungkapan al-Quran, “Kecuali karena siasat memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti mereka.” (QS. Ali Imran: 28) Artinya, dibolehkan jika tindakan itu terpaksa dilakukan untuk menjaga diri dari bahaya yang tidak dapat ditanggung. Inilah yang dilakukan oleh sahabat Ammar bin Yasir ketika disiksa dengan kejam agar mengingkari Nabi Muhammad saw. Beliau pun melakukan hal tersebut secara terpaksa. Berkaitan dengan hal ini, Allah menurunkan ayat, “Barangsiapa kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka dia tidak berdosa).” (QS. An-Nahl: 106) Para sahabat yang lain pun mengakui prinsip taqiyah ini, sebagaimana dijelaskan oleh perkataan Abdullah bin Abbas yang dikutip oleh Ibnu Katsir, “Taqiyah itu bukan dengan tindakan, tapi dengan perkataan.”

Para ulama telah menjelaskan aturan dan syarat taqiyah yang tidak dapat saya jelaskan sekarang. Poin yang perlu kita perhatikan sekarang adalah prinsip ini diakui oleh ajaran Islam, bukan hanya oleh mazhab Syiah saja. Jika suasana penindasan dan pengejaran terhadap para penganut Syiah sepanjang sejarah telah membuat mereka lebih sering bertaqiyah dan mengubahnya dari sekadar sarana menjadi prinsip keyakinan, atau dari taktik menjadi strategi, maka ini persoalan lain. Perubahan situasi sejarah boleh jadi mengembalikan posisi tersebut kepada keseimbangannya semula.

Selanjutnya, poin yang berkaitan dengan wilayah al-faqih (kekuasaan di tangan ahli agama) yang dianggap oleh banyak orang sebagai prinsip mazhab Syiah dan membuat mazhab ini mendapat serangan yang sengit. Konsep wilayat faqih dalam pengertiannya saat ini hanya mewakili sikap salah satu aliran pemikiran dalam Syiah yang tidak disepakati oleh para ulama Syiah sendiri. Konsep ini bukanlah ciptaan Imam Khomeini seperti yang disangka banyak orang, melainkan konsep yang dilontarkan sejak lama di kalangan ulama fiqih Syiah yang menyerukan kekuasaan absolut bagi ahli fiqih. Konsep ini diformulasi pada awal abad 19 oleh Allamah Ahmad an-Niraqi dalam sebuah buku yang tidak mendapat perhatian luas berjudul Awaid al-Ayyam yang memuat bab khusus tentang wilayat faqih.

Aliran ini ditentang oleh mayoritas ahli fiqih Syiah yang menyerukan keksuasaan yang relatif, bukan yang absolut, dan terbatas pada masalah sosial. Ulama kontemporer yang paling menentang konsep ini adalah Ayatullah as-Sayyid al-Khui, tokoh besar di Irak yang menulis penolakannya dalam risalah berjudul Asas al-Hukumah al-Islamiyah, dan Dr. Muhammad Jawwad Mughniyah, salah seorang ahli fiqih Imamiyah yang paling terkenal di Libanon, penulis buku al-Khumaini wa ad-Daulah al-Islamiyah. Tokoh lainnya adalah Ayatullah Syariatmadari dan Ayatullah Marasyi Najafi, dua orang tokoh Syiah terbesar saat ini.

Yang penting bagi kita dalam masalah ini, konsep wilayat faqih tidak dapat dijadikan gerbang untuk menyerang mazhab Syiah secara keseluruhan, karena mazhab ini memuat aliran lain yang menolak konsep tersebut.

Ketiga: Kesalahan yang berkaitan dengan sejarah

Orang yang mencermati akidah seharusnya mencermati juga sejarah, terutama seputar pertikaian dalam masalah kepemimpinan kaum Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Para pengikut Syiah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling berhak menjadi pemimpin, lalu hak ini dirampas oleh Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Mereka menuduh kedua sahabat ini telah merampas hak kepemimpinan dari Ahlul Bait, sehingga buku-buku Syiah klasik berisi banyak celaan terhadap keduanya, bahkan menyifati keduanya sebagai “berhala kaum Quraisy.”

Tindakan menghidupkan kebencian lama ini tidak ada gunanya, begitu juga pembahasan tentang siapa sebenarnya yang paling berhak menjadi khalifah, apakah Abu Bakar atau Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, saya pikir, beberapa hal perlu diungkap kembali:

  1. Syiah Imamiyah bukan pihak yang memulai mencaci para sahabat. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Umawiyah-lah yang memulai mencaci Ali dari atas mimbar Jumat. Tradisi tercela ini hanya ditinggalkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Artinya, Ali terus menerus dicela dari atas mimbar-mimbar hampir selama setengah abad.
  2. Celaan terhadap Abu Bakar dan Umar, jika pernah terjadi sebagai reaksi terhadap tindakan orang-orang dari Dinasti Umawiyah, adalah unsur eksternal yang merasuki pemikiran Syiah, yang diakibatkan oleh masa penuh fitnah dan dekadensi, serta merusak hubungan Sunni-Syiah. Itulah masa ketika salah seorang ahli fiqih bermazhab Syafiiiyah mengeluarkan fatwa bahwa makanan yang bercampur dengan arak harus dilemparkan kepada anjing atau kepada penganut mazhab Hanafiyah, lalu salah seorang ahli fiqih bermazhab Hanafiyah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan laki-laki bermazhab Hanafiyah menikahi perempuan bermazhab Syafiiyah karena keimanannya diragukan, sementara ahli fiqih bermazhab Hanafiyah lainnya membolehkan hal ini dengan menqiyaskan perempuan tersebut dengan perempuan Ahlul Kitab.
  3. Fiqih Syiah yang otentik menyebut para sahabat, termasuk Abu Bakar, dengan ungkapan-ungkapan yang penuh penghormatan. Di dalam ash-Shahifah as-Sajjadiyah, yaitu doa-doa yang dibaca oleh Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, dan didawamkan pembacaannya oleh para penganut Syiah sampai sekarang, terdapat nash yang menyatakan, “Semoga Allah menurunkan rahmat dan ridha bagi para sahabat Muhammad yang telah menderita dalam membantunya, melindunginya, berlomba menjalankan ajarannya, dan memenuhi ajakannya ketika beliau menjelaskan argumentasi risalahnya.”
  4. Sekarang ini buku-buku Syiah telah dibersihkan dari celaan terhadap para sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar. Untuk meneliti masalah ini, saya telah mengumpulkan 11 buku peradaban Islam yang sekarang diajarkan kepada murid-murid tingkat SD, SMP, dan SMU di Iran, dan membaca semua kandungan pelajaran tentang Ahlussunnah, Khulafa ar-Rasyidin, dan para sahabat. Saya dapati semua buku tersebut menyebut para sahabat dengan penuh penghormatan.

Saya tidak menafikan adanya perselisihan antara Sunni-Syiah, adanya beberapa wacana yang masih harus didialogkan oleh para ulama dari kedua belah pihak, dan adanya beberapa ranjau yang harus dibersihkan dari jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak. Tapi, saya perlu mengingatkan satu hal, kita tidak boleh memicu pertentangan antar-mazhab, baik antara Sunnah dengan Syiah, Salafiyah dengan Ibadhiyah, Zaidiyah dengan Mutashawwifah, atau antara kaum Muslim secara umum dengan non Muslim.

Menyalakan api pertikaian ini bukan hanya membakar salah satu pihak, tapi membakar seluruh umat Islam.

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuan, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena mereka telah menetapkan untuk mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwa Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan;“Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau” (Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi). (Sahih Bukhari 3/1335)

Benarkah pahaman itu sementara  al-Qur’an juga berbicara tentang ‘Sahabat’ Rasulullah :

1.    “Kawan (Shohib) kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (QS an-Najm: 2)

2.    “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman (shohib) mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila…” (QS al-A’raf: 184)

3. Sementara Syi’ah membagi Sahabat menjadi 3 golongan sesuai dengan firman-Nya dalam al-Fathir : 32 , Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka  ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka  ada yang pertengahan dan diantara mereka  ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah . yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”

Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan , yaitu  :

1.    Ada sahabat yang “menganiaya (baca: zalim) diri mereka sendiri” adalah orang fasik yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.

2.    Ada yang pertengahan (tidak termasuk nomer 1 dan 3).

3. Ada yang yang mendapat Karunia yang besar , karena selalu berbuat kebaikan.

Dan apa kata Rasulullah SAWW tentang Sahabatnya :

1.    Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

2.    Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda : Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan berkata : wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya engkau  tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Shahih Bukhori Hadis no.578.)

3.    Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku. Dijawab: Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). (Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh  kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWW telahmenentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka  telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlah bukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ? ,

Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Sulaim berkata : “Abu Dhar, Salman dan al-Miqdad telah memberitahuku hadis, kemudian aku telah mendengarnya pula dari Ali bin Abu Thalib as Mereka berkata : ‘Sesungguhnya seorang lelaki merasa kagum dengan Ali bin Abu Thalib as ,  Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali as :

Saudaraku (Ali) adalah : kemegahan Arab. Engkau adalah sepupuku yang paling mulia, bapa yang paling dihormati, saudara laki-laki yang paling mulia, jiwa yang paling mulia, keturunan yang paling mulia, istri yang paling mulia, mempunyai anak lelaki yang paling mulia, paman di sebelah tua yang paling dihormati, paling sempurna tingkah-lakunya, paling banyak ilmunya, paling fasih membaca al-Qur’an, paling mengetahui sunnah-sunnah Allah, paling berani hatinya, paling pemurah, paling zuhud di dunia, paling menggembeling energi, paling baik budi pekertinya, paling benar lidahnya serta paling mencintai Allah dan aku (Rasul). [1]

Anda akan hidup sesudahku selama tiga puluh tahun. Anda akan melihat kezaliman Quraisy. Kemudian Anda akan berjihad di jalan Allah jika Anda mendapatkan pembantu-pembantu. Anda akan berjihad karena takwil al-Qur’an sebagaimana telah berjihad karena Tanzilnya, Anda akan menentang al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin dari umat ini. Anda akan mati sebagai seorang syahid di mana jenggot akan berlumuran dengan darah dari kepala Anda. Pembunuh Anda menyamai pembunuh al-Naqah (unta betina), dalam kemurkaan Allah dan berjauhan dari-Nya.Pembunuh Anda menyamai pembunuh Yahya bin Zakaria dan menyamai Fir’aun yang memiliki Pancang (al-Autad).

……………………

1.  Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu‘aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya‘, i, hlm. 63. al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 332.

Syi’ah Tidak Mengkafirkan Para Sahabat Nabi…. Murtad artinya berbalik kebelakang tidak mematuhi wasiat imamah Ali, jadi bukan keluar dari Islam….

Posted on September 1, 2010 by syiahali | Sunting

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an  seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda  dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat  dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari, Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. )  meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik  setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu (   lihat  Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari, Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar  akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

—————————————————————–

Tentang  Ummu’l  mu’minin  ‘A’isyah

Rasul juga bersabda tentang ummu’l mu’minin ‘A’isyah:

“Diriwayatkan oleh Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’, dari ‘Abdullah yang berkata: “Nabi saw sedang berkhotbah dan beliau menunjuk ke arah kediaman ‘A’isyah sambil berkata: ‘Disinilah akan muncul tiga fitnah sekaligus, dan dari situlah akan muncul tanduk setan’. ( Bukhari, Shahih dalam bab “Ma ja’a fi buyuti’l AzwajinNabi’. )

‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah saw keluar dari rumah ‘Aisyah dan bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk setan’. ( Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 23. )

Rasul Allah saw keluar dari rumah ‘A’isyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini akan muncul tanduk setan.” ( Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 26.)

‘Kutukan’  terhadapnya dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagai Ahlus Sunnah.

“Aku tinggalkan untuk kalian dua amanat, selama kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya. Salah satunya lebih agung dari yang lain. Yakni Kitab Allah (al-Qur’an), tali rahmat-Nya yang terbentang dari langit hingga bumi. Yang kedua adaah ‘itraty (kerabatku), yakni ahli baitku (keluargaku). Keduanya tidak akan berpisah di sisiku hingga masuk di haudh (telaga surga). Perhatikanlah bagaimana kalian akan bersikap dengan kedua amanat itu?” Demikian terjemahan redaksi hadits Nabi Muhammad saw dalam Sunan Turmidzi dari sekian banyak redaksi-redaksi hadits yang mempunyai makna hampir sama dan dapat dipastikan kesahihannya.

Namun dalam kenyataannya wasiat tersebut hampir tidak pernah disinggung dan “dihilangkan” dalam pendidikan dan pengajaran umat Islam. Hadits wasiat tersebut biasa dikenal dengan sebutan hadits al-Tsaqalain, dua perkara berat yang diamanahkan Rasulullah sw kepada umatnya. Hadits di atas bagi mayoritas kaum muslim mungkin terdengar baru bahkan mungkin dianggap hadits lemah karena galibnya mereka didengarkan, diajarkan, dan didoktrin dengan riwayat yang lain, yaitu “Wahai manusia, sesungguhnya aku meninggalkan dua hal untuk kalian. Apabila kalian berpegang teguh pada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya. Keduanya adalah Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya”. Padahal jika anda mempelajari dan mengetahui ilmu hadits, anda akan temukan bahwa kedua hadits yang kontradiksi tersebut memiliki perbedaan kualitas yang menonjol. Hadits yang pertama memiliki kualitas yang dapat diandalkan sedangkan hadits terakhir dapat dipastikan memiliki kualitas jauh lebih rendah dan lemah dari hadits pertama. Tidak percaya? Coba cari penelitian, takhrij kedua hadis tsaqalain di internet. Anda akan menjumpai banyak penelitan dan takhrij atas hadist tersebut yang dapat memahamkan kita semua meski anda bukan orang yang mumpuni masalah hadits. Anda dapat juga mengkrosceknya dengan puluhan kitab riwayat, rijal hadits yang tersebar gratis di dunia maya untuk menghilangkan rasa ketidakpercayan anda.

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan dan kenapa wasiat Nabi Muhammad saw tersebut tidak menyebar luas sebagaimana riwayat lemah kedua yang sering kita dengar sewaktu sekolah, kuliah bahkan ketika khatib-khatib Jum’at mulai memerintahkan kita semua untuk bertakwa kepada Allah swt. Namun jika merunut sejarah peradaban Islam, ada masa-masa di mana ahli bait, keluarga Nabi Muhammad saw beserta para pengikutnya ditindas, dikejar-kejar bahkan dibunuh oleh pihak pemegang kekuasaan. Suatu masa dimana menyebut nama mereka merupakan sebuah tindakan kriminal yang dapat membunuh si pengucapnya. Yunus bin Ubaid berkata: “Aku bertanya kepada Hasan al-Basri: ‘Wahai Abu Sa’id, mengapa engkau katakan bahwa Rasululah saw bersabda demikian… demikian, sedangkan engkau sendiri tidak mengetahui asal-usulnya?’. Kemudian Hasan al-Basri menjawab: ‘Wahai kemenakanku, engkau bertanya kepadaku tentang sesuatu yang orang lain belum pernah menanyakannya padaku, bukankah engkau mengerti bagaimana keadaan zaman yang kita hadapi sekarang ini, … ketahuilah … setiap engkau mendengar aku berkata “Rasulullah saw bersabda”, maka hadits itu adalah dari riwayat Ali bin Abi Thalib ra hanya saja sekarang ini kita berada dalam zaman di mana tidak boleh menyebut nama Ali bin Abi Thalib”. Di masa-masa itulah kemungkinan besar wasiat Nabi Muhammad saw mulai terpinggirkan dan tidak diajarkan pada umat Islam.

Apakah wasiat Nabi Muhammad saw yang merupakan bentuk pengutamaan beliau atas keluarganya seperti halnya tindakan nepotisme sahabat Utsman yang didorong oleh rasa kemanusiaannya, yang akhirnya kebijakan tersebut membunuh dirinya sendiri?
“Itulah (karunia) yang Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu upah untuk itu kecuali kasih sayang kepada keluarga”. dan barangsiapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan pula baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Berterimakasih.” (al-Syura: 23).
“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33).
Ayat di atas dan banyak hadits-hadits lain menunjukkan bahwa perintah Nabi Muhammad saw kepada semua umat Islam agar mencintai, mengutamakan, mengikuti, bahkan memasukkan ahli bait Nabi Muhammad saw dalam bacaan shalawat merupakan bagian dari perintah Allah Maha Bijaksana yang disampaikan melalui nabi-Nya.

Untuk keperluan perintah tersebut, Allah dengan cara-Nya yang misterius menyiapkan semua yang diperlukan. Allah menciptakan pribadi-pribadi suci berkualitas dari keturunan langsung Nabi Muhammad saw untuk menjaga umat Islam sampai akhir zaman. Merekalah yang disebut ahli bait Muhammad saw (setidaknya yang menjadi kesepakatan seluruh umat Islam adalah Nabi Muhammad saw, Sayyidah Fatimah, Ali, dan kedua putranya Hasan dan Husain). Kedudukan tinggi mereka di sisi Allah dan Nabi-Nya diketahui dengan pasti tidak hanya oleh kalangan ulama biasa melalui banyaknya riwayat Nabi Muhammad tentang mereka. Kalangan ulama khash, sebagai pemegang rahasia Tuhan, pun mengetahui kedudukan mereka dengan jelas. Sebut saja Ibnu Arabi, ia memandang bahwa generasi Fatimah al-Zahra sebagai generasi suci secara dzati. “Sedekat-dekat manusia kepada Rasulullah saw adalah Ali bin Abi Thalib, imam semesta dan pemegang rahasia para nabi seluruhnya”; “Akar dan pokok pohon Tuba berada di kediaman Ali bin Abi Thalib”, adalah beberapa pengakuan beliau akan keutamaan dan keunggulan Ahli bait Nabi Muhammad saw.
Contoh lainnya adalah Jalal al-Din al-Rumi. Ia menjuluki Ali bin Abi Thalib dengan lebih dari 50 gelar dalam Matsnawinya. Ali sebagai kebanggaan setiap Nabi; sebagai kebanggaan setiap wali; singa Tuhan; cahaya di atas cahaya; yang tenggelam dalam cahaya Allah, dan lain sebagainya. Bahkan ketika mengomentari peristiwa pembunuhan Husain as, satu kejadian selain pembunuhan Yahya bin Zakariya as yang menyebabkan langit menangis darah, ia mengatakan: “Tidakkah engkau tahu bahwa hari Asyura adalah hari duka cita bagi satu jiwa yang lebih utama ketimbang seluruh abad? Bagaimana bisa tragedi ini dianggap ringan oleh seorang mukmin hakiki? Kecintaan kepada anting (Husain) sama dengan kecintaan kepada telinga (Nabi Muhammad saw). Dalam pandangan mukmin sejati, duka cita kepada ruh murni lebih agung ketimbang ratusan banjir pada (zaman) Nuh”.

Akhirnya, Tuhan memberikan dua pilihan pada kita semua. Mengecewakan Nabi Muhammad saw atau mencintai ahli baitnya di zaman manusia mendapat kebebasan berpikir, bersuara dan berkeyakinan seperti sekarang ini.

“Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”

Di antara perkara yang menjadi sasaran tudingan Syiah semenjak dahulu hingga kini (sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Syiah) adalah bahwa Syiah memendam dendam dan kusumat kepada sahabat. Tatkala kita mengkaji tudingan secara realistis dan jauh dari segala sikap puritan maka kita akan jumpai tudingan ini sama sekali jauh dari kenyataan yang ada. Lantaran Syiah sangat menghormati Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Bagaimana mungkin Syiah memendam kusumat kepada sahabat sementara mereka memandang sahabat sebagai penyebar syariat dan cahaya Tuhan untuk kemanusiaan? Mereka adalah sandaran dan pembela Rasulullah Saw. Orang-orang yang berjihad di jalan Allah! Bagaimana mungkin Syiah membenci mereka sementara Allah Swt memuji mereka dan berfirman tentang mereka, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al-Fath [48]:29)

Mereka adalah orang-orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya. Menghidupkan agama-Nya dan membangun dasar pemerintahan Islam serta mengeliminir jahiliyyah.[i]
Imam dan pemimpin kaum Syiah, Baginda Ali bersabda ihwal para sahabat Rasulullah Saw: “Aku telah melihat para sahabat Muhammad Saw, tetapi aku tak menemukan seseorang yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah (dalam kesukaran hidup) serta melewatkan malam dalam sujud dan berdiri dalam salat. Kadang-kadang mereka letakkan (sujudkan) dahi mereka, dan terkadang pipi mereka. Dengan ingatan akan kebangkitan, mereka nampak seakan berdiri di atas bara menyala. Nampak seakan di antara mata mereka ada tanda-tanda seperti lutut kambing, akibat sujud yang lama. Bilamana nama Allah disebutkan, air mata mereka mengalir deras hingga kerah baju mereka basah. Mereka gemetar karena takut akan hukuman dan harapan akan pahala, seperti pohon gemetar pada hari angin topan.”[ii]

Demikian juga, Baginda Ali As menandaskan, “Saudara-saudaraku yang mengambil jalan (yang benar) dan melangkah dalam kebenaran? Di manakah ‘Ammar? Di manakah Ibn at-Tayyihan? Di mana Dzusy-Syahadatain? Dan di manakah yang lain-lain seperti mereka di antara para sahabat tnereka yang telah membaiat sampai mati dan yang kepalanya (yang tertebas) dibawa kepada musuh yang keji? Kemudian Amirul Mukminin menggosokkan tangannya ke janggutnya yang mulia lalu menangis dalam waktu lama, kemudian ia melanjutkan: Wahai! saudara-saudaraku yang membaca Al-Qur’an dan mengeluarkan hukum berdasarkan al-Qur’an, memikirkan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Tuhan kepada mereka dan menunaikannya, menghidupkan sunah dan menghancurkan bidah. Ketika mereka dipanggil untuk berjihad, mereka menyambut dan mempercayai pemimpin mereka lalu mengikutinya.”[iii]

Imam Sajjad As juga dalam Shahifah Sajjadiyah mendoakan para sahabat Rasulullah Saw, “Ya Allah! di antara penghuni bumi para pengikut rasul dan yang membenarkan mereka secara gaib ketika para pembangkang melawan mereka dengan pembohongan mereka merindukan para rasul dengan hakikat keimanan (tatkala orang-orang mendustakan dan menentangnya). Pada setiap zaman dan masa ketika Engkau mengutus seorang rasul memberikan petunjuk dan jalan kepada manusia sejak Adam sampai Muhammad Saw para imam pembawa petunjuk pemimpin ahli takwa sampaikan shalawat kepada mereka semua. Kenanglah mereka dengan ampunan dan keridhaan! Ya Allah! Khususnya para sahabat Muhammad yang menyertai Nabi dengan persahabatan sejati yang menanggung bala yang baik dalam membelanya menjawab seruannya ketika ia memperdengarkan hujjah risalahnya. Meninggalkan istri dan anak-anak untuk menegakkan kalimahnya. Memerangi bapak-bapak dan anak-anak untuk meneguhkan nubuwahnya dan memperoleh kemenangan karenanya. Mereka yang dipenuhi kecintaan kepadanya mengharapkan perdagangan yang tidak pernah merugi dalam mencintainya. Mereka yang ditinggalkan keluarga karena berpegang kepada talinya. Mereka yang diusir oleh kerabatnya ketika berlindung dalam naungan kekeluargaannya. Ya Allah! Jangan lupakan mereka apa yang telah mereka tinggalkan karena-Mu dan di jalan-Mu. Ridhoilah mereka dengan ridho-Mu. Karena telah mendorong manusia menuju kepada-Mu dan bersama rasul-Mu mereka menjadi para dai yang menyeru kepada-Mu. Balaslah dengan kebaikan pelarian mereka dan kepergian mereka dari kaumnya menuju-Mu. Meninggalkan kesenangan menuju kesempitan. Balaslah dengan kebaikan kepada mereka yang teraniaya karena menegakkan agama-Mu. Ya Allah! Sampaikan pahala terbaik kepada para pengikut mereka dalam kebaikan yang berkata, “Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman.” [iv]

Demikian juga para juris Syiah meyakini kedudukan dan derajat para sahabat. Syahid Shadr berkata, “Sahabat adalah manifestasi iman dan penerang, terbaik dan model orang shaleh terbaik bagi kemajuan umat Islam. Sejarah umat manusia tidak akan mengenang sebuah generasi dengan keyakinan lebih unggul, lebih utama, lebih jenius, lebih suci daripada para penolong yang dididik oleh nabi.”[v]

Benar kita memiliki perbedaan dengan Ahlusunnah. Hal itu dikarenakan kami membagi sahabat Rasulullah Saw dan orang-orang yang hidup dengannya dengan mengambil inspirasi dari ayat-ayat al-Qur’an menjadi beberapa bagian:

01Kelompok orang-orang terdahulu: “Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Qs. Al-Taubah [9]:100)

02Kelompok yang memberikan baiat di bawah pohon: “Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon. Allah mengetahui keimanan dan kejujuran yang ada dalam hati mereka. Oleh karena itu, Dia menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Qs. Al-Fath [48]:18)

03Kelompok yang berinfak dan berjihad sebelum kemenangan: “Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sebelum tercapai kemenangan (dengan orang yang menginfakkannya setelah kemenangan tercapai). Mereka memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Tapi Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid [57]:10)

Sebagai kebalikan model-model utama dan pribadi-pribadi atraktif, al-Qur’an menyebutkan kelompok-kelompok lainnya yang sangat berseberangan secara diametral dengan model-model di atas:

1. Orang-orang munafik.[vi]
2. Orang-orang munafik yang tersembunyi dan Rasulullah Saw tidak mengenal mereka.[vii]
3. Orang-orang yang lemah iman dan sakit hatinya.[viii]
4. Orang-orang (lemah) yang mendengarkan dengan seksama ucapan-ucapan orang yang suka membuat fitnah.[ix]
5. Orang-orang yang di samping mengerjakan kebaikan pada saat yang sama juga mengerjakan keburukan.[x]
6. Orang-orang yang cenderung murtad.[xi]
7. Orang-orang fasik yang berbeda antara ucapan dan perbuatannya.[xii]
8. Orang-orang yang iman belum lagi masuk ke dalam hati-hati mereka.[xiii] Dan sifat-sifat tercela lainnya yang disebutkan sebagian dari mereka.

Di samping itu, di antara para sahabat terdapat orang-orang yang bermaksud membunuh Rasulullah Saw pada sebuah malam yang dilakukan oleh Uqbah.
Karena itu kita dapat menyimpulkan pandangan Syiah terkait dengan sahabat: Dalam mazhab Ahlulbait As sahabat seperti orang lain artinya di antara mereka terdapat orang yang adil dan tidak adil. Dalam pandangan Syiah tidak semua sahabat itu adil. Sepanjang perilaku dan perbuatan Rasulullah Saw tidak menjelma dalam kehidupan mereka maka status mereka sebagai sahabat tidak memiliki peran dalam keadilannya.

Dengan demikian, kriteria dan pakemnya adalah perilaku dan perbuatan praktis. Barang siapa yang perbuatan dan perilakunya sejalan dengan kriteria dan pakem agama Islam maka ia adalah seorang yang adil. Selainnya tidak adil. Sebagaimana yang telah kami katakan bahwa pandangan ini selaras dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”[xiv]

Apakah ada orang yang berakal akan berbuat demikian? Dengan asumsi kita melaukan hal seperti ini apakah masih ada yang tersisa dari Islam tatkala kita senantiasa berupaya menjustifikasi perbuatan-perbuatan para pejuangnnya dan orang-orang tiran hanya karena mereka sahabat?

Pada hakikatnya Islam lebih mulia dan agung dari tindakan ingin mencampur aduk dengan kejahatan orang-orang jahat dan menyimpang pada setiap ruang dan waktu!! Inilah keyakinan kami. Kami tidak berbasa-basi dengan siapa pun. Lantaran kebenaran lebih layak untuk dijelaskan dan diikuti.Kami ingin bertanya kepada saudara-saudara Sunni apakah kalian memandang sama antara Khalifah Ketiga Utsman dan orang yang membunuhnya?Apabila keduanya adalah sama lalu mengapa serangan banyak dilancarkan kepada Ali As dan dengan dalih menuntut darah Utsman api peperangan Jamal dan Shiffin bisa meletus? Dan apabila dua kelompok ini tidak sama, orang-orang yang menentang dan orang-orang yang mendukung dalam pembunuhanya – apatah lagi orang-orang yang membunuhnya – mereka diperkenalkan sebagai orang-orang yang keluar aturan dan syariat maka hal itu adalah tiadanya keadilan pada sahabat! Lantas mengapa ada serangan kepada Syiah sementara pandangan mereka sama dengan pandangan yang lain?

Karena itu, dalam pandangan Syiah kriterianya adalah keadilan, berpegang teguh kepada sirah Rasulullah Saw dan menjalankan sunnah beliau semasa hidupnya dan pasca wafatnya. Barang siapa yang berada di jalan ini maka, dalam pandangan Syiah, ia harus dihormati dan jalannya diikuti serta didoakan semoga rahmat Tuhan baginya melimpah dan memohon supaya ditinggikan derajatnya. Namun orang-orang yang tidak berada di jalan ini kami tidak memandangnya sebagai orang adil. Sebagai contoh dua orang sahabat mengusung lasykar disertai dengan salah seorang istri Rasulullah Saw lalu berhadap-hadapan dengan khalifah legal Rasulullah Saw Ali bin Abi Thalib As menghunus pedang di hadapannya di perang Jamal. Mereka memulai perang yang menelan ribuan korban jiwa kaum Muslimin. Izinkan kami bertanya apakah angkat senjata dan menumpahkan darah orang-orang tak berdosa ini dapat dibenarkan? Atau orang lain yang disebut sebagai sahabat Rasulullah Saw dan menghunus pedang pada sebuah peperangan yang disebut sebagai Shiffin. Kami berkata perbuatan ini bertentangan dengan syariat dan memberontak kepada imam dan khalifah legal. Perbuatan-perbuatan ini tidak dapat diterima dengan membuat justifikasi bahwa mereka adalah sahabat. Demikianlah poin asasi perbedaan pandangan antara Syiah dan yang lainnya. Jelas bahwa di sini yang mengemuka bukan pembahasan mencela dan melaknat sahabat.
[Pernah dimuat di site Islam Quest]

[i]. ‘Adâlah Shahâbi, hal. 14, Majma’ Jahani Ahlulbait As.
[ii]. Nahj al-Balâghah, hal. 144, Khutbah 97.
[iii]. Nahj al-Balâghah, hal. 164, Khutbah 97, riset oleh Subhi Shaleh.
[iv]. Shahifah Sajjadiyah, hal. 42, Doa Imam untuk Para Pengikut Para Nabi.
[v]. Majmu’e Kâmilah, No. 11, Pembahasan ihwal Wilayah, hal. 48.
[vi]. “Dan infakkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, “Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku barang sekejap sehingga aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh?” (Qs. Al-Munafiqun [63]:10)
[vii]. “Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (Qs. Al-Taubah [9]:101)
[viii] . “(Ingatlah) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawah (kota)mu (sehingga mereka mengepung kota Madinah), dan ketika penglihatan(mu) terbelalak (lantaran takut) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan mereka diguncangkan dengan guncangan yang sangat.” (Qs. Al-Ahzab [32]:10-11)
[ix]. “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu. Karena itu, mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan mereka. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.” Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah bagimu selain kerusakan dan keraguan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk menyulut fitnah (dan kekacauan) di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang (lemah iman) yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Taubah [9]:45-47)
[x]. “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Taubah [9]:102)
[xi]. “Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan darimu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri (dan tidak mengantuk); mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Apakah kita memiliki suatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya berada di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata, “Sekiranya kita memiliki suatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah, “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Qs. Ali Imran [3]:154
[xii]. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan, lalu kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Al-Hujurat [49]:6); “Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik? Mereka tidak sama.” (Qs. Al-Sajdah [32]:18)

.
[xiii]. Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hujurat [49]:14)
[xiv]. Silahkah lihat, Fushul al-Muhimmah, Abdulhusain Syarafuddin, hal. 189.

Sunnah Siapakah Sujud diatas Sajadah?

Muslimin dan ‘ulama mereka telah bersepakat tentang bolehnya melakukan sujud di atas sesuatu yang tumbuh di atas tanah. Hanya saja, yang mereka ikhtilafkan adalah tentang bolehnya sujud di atas segala sesuatu yang bisa dimakan dan bisa dipakai. Sebagian dari mereka membolehkan hal tersebut sesuai dengan ijtihaddan istinbât mereka. Akan tetapi sebagian yang lainnya tidak membolehkan hal tersebut karena mengikuti Imâm Ma’sum mereka.’Ala kulli hal, tanpa diragukan lagi bahwa muslimin dari pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak pernah menyangkal keabsahan sujudnya seorang muslim Syi’ah Imâmiyah di atas segala sesuatu yang ditumbuhkan oleh bumi yang tidak dimakan dan tidak dipakai. Dan yang masyhur menurut madzhab Syi’ah Imâmiyah adalah tidak boleh melaksanakan sujud dalam keadaan ikhtiar,yakni tidak dalam keadaan terpaksa kecuali di atas tanah atau di atas sesuatu yang ditumbuhkan oleh bumi dengan syarat tidak dimakan dan tidak dipakai.

Pernah terjadi perbincangan antara penulis dengan sebagian muslimin tentang sujudnya orang Syi’ah Imâmiyah di atas tanah atau turbah. Pertama kali penulis tanyakan kepada mereka adalah apakah anda menganggap sah sujudnya orang-orang Syi’ah di atas tanah atau turbah itu sesuai dengan madzhab anda atau tidak. Mereka menjawab, ”Ya, sujud semacam itu hukumnya sah, hatta menurut madzhab kami”. Kemudian kami katakan kepada mereka, ”Apabila sujud mereka (orang-orang Syi’ah) sujudu di atas tanah itu sah dan benar menurut madzhab anda, lalu mengapa anda memprotes perbuatan mereka itu. Sesungguhnya orang-orang Syi’ah tidak pernah memprotes dan menyangkal apa yang anda lakukan ketika kalian salât, tetapi kenapa kalian menyangkal orang-orang Syi’ah”? Yang kedua, yang perlu anda ketahui adalah bahwa sesungguhnya orang-orang Syi’ah sama sekali tidak mengamalkan dan mempraktikkan kecuali apa yang telah diamalkan dan dipraktikkan oleh para Imâm Ma’sum, dan mereka sama sekali tidak mengambil urusan yang berhubungan dengan ibadah kecuali dari para Ma’sum as tersebut. Juga mereka tidak mengikuti dan mentaati kecuali kepada orang-orang yang telah mendapatkan restu, izin serta ridâ dari Allâh Swt, dan Allâh Swt sendiri telah memerintahkan mereka dan begitu pun Rasulullâh Saw untuk melakukan hal itu., maka bagi anda laksanakanlah ‘amal ibadah anda dan biarkan mereka melaksanakan ‘amal ibadah mereka. Hindarilah memprotes mereka tanpa dasar dan argumen, karena sesungguhnya apa yang dilakukan oleh orang Syi’ah itu bersandar pada sanad dan dalil yang kuat dan dapat ditemukan dalam kitab-kitab utama anda. Wahai saudara-saudara muslimku yang berpegang teguh pada Madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, ketahuilah bahwa sesungguhnya apabila anda malaksanakan sujud di dalam salât-salât anda di atas turbah atau tanah sesuai dengan apa yang telah biasa dilakukan oleh orang-orang Syi’ah di dalam salât-salât mereka, maka sesungguhnya para ‘ulama dan para imâm anda menganggap dan menilai perbuatan tersebut sah dan diterima tanpa adanya keraguan dan isykal (masalah) sedikit pun. Dan sesungguhnya Rasulullâh Saw serta keluarganya yang mulai dan suci beliau serta seluruh sahabat beliau akan menerima dan meridâi hal tersebut tanpa adanya keraguan sedikitpun. Akan tetapi, apabila anda melakukansujud di dalam salât-salât kalian di atas sesuatu yang tidak dipakai oleh orang-orang Syi’ah misalnya di atas sajadah atau di atas karpet, maka bisa jadi ‘ulama anda akan menerima dan menganggapnya sah. Akan tetapi sudah pasti bahwa para Imâm Ma’sum dan para ‘Ulama Syi’ah tidak dapat menerima hal itu dan mereka tidak akan pernah mengangapnya sah. Dan apabila sujud dalam salât tersebut tidak dianggap sah, maka salâtnya pun dianggap batal atau tidak sah. Dan tentunya apabila anda melakukan hal itu,yaitu melakukan sujud diatas selain apa-apa yang dipakai oleh orang-orang Syi’ah dan Ma’sumîn mereka, padahal anda telah membaca hadits-hadits dan riwayat-riwayat Rasulullâh Saw ini, maka andapun boleh jadi ragu terhadap apa yang telah anda lakukan itu. Orang yang berakal sehat tidak akan memilih suatu perbuatan yang hanya diterima dan direstui oleh sebagian ‘ulama saja tanpa diakui oleh ‘ulama yang lainnya, apalagi Ma’sumîn as. Orang yang berakal pasti akan memilih suatu perbuatan yang ia yakini berdasarkan argumen- argumen kuat yang diterima oleh seluruh ‘ulama, para Imâm Ma’sûm serta Rasulullâh Saw. Silahkan anda menyimak riwayat-riwayat dan hadits-hadits berikut ini tentang sujudnya Rasulullâh Saw. Setelah itu renungkan dan pikirkanlah, semoga anda mendapat petunjuk dari Allâh Swt. Atau kalau tidak, lakukanlah apa yang anda kehendaki, tapi ingatlah sesungguhnya anda kelak akan dimintai tanggung jawab atas segala perbuatan anda pada hari pembalasan nanti.Dalam surat At-Taubah disebutkan, ”Berbuatlah kalian, sesungguhnya Allâh Swt danRasulnya serta orang- orang yang beriman, (yaitu para Imâm Ma’sûm) akan melihat amal perbuatan kalian dan kalian akan dikembalikan kepada Yang MahaMengetahui segala yang ghâîb dan yang terang dan kalian akan diberitahukan tentang apa-apa yang kalian lakukan”.(Qs. At-Taubah : 105 ).Adapun riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang sujudnya Rasulullâh Saw adalah sebagai berikut:

1. Abî Sa’îd al-Khudrî berkata, ”Aku masuk menjumpai Rasulullâh Saw. Ketika itu beliau sujud di atas hasîr,yaitu tikar yang terbuat dari daun”. [38]
2. Anas bin Mâlik dan Ibnu ‘Abbâs dan sebagian istri-istri Rasulullâh Saw seperti ‘Âisyah, Ummu Salamah dan Maîmunah meriwayatkan suatu hadits, yaitu Rasulullâh Saw biasa melakukan salât di atas humrah, yaitusejenis tikar yang ditenun dari daun kurma”.[39]
3. Abî Sa’îd al-Khudrî meriwayatkan,”Aku melihat Rasulullâh Saw salât di atas tikar dan beliau sujud di atas tikar tersebut”.[40]
4. ‘Âisya berkata, ”Bahwa Rasulullâh Saw mempunyai tikar dan beliau biasa menggelar dan salât di atasnya”.[41]
5. Anas bin Mâlik meriwayatkan dan ia berkata,”Rasulullâh Saw salât di atas humrah dan sujud di atas humrah tersebut”.[42]
6. Anas juga meriwayatkan dan berkata, ”Rasulullâh Saw adalah insan yang mempunyai akhlak yang paripurna. Pernah suatu ketika datang waktu salat beliau berada di rumah kami. Ketika itu di rumah kami ada sebuah tikar kemudian beliau menyapu dan membersihkan tikar itu dan mengimami salât, lalu kami pun salâtdi belakang beliau dan tikar yang dipakai itu terbuat dari pelepah kurma”.[43]
7. Bukhârî, Muslim dan Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Anas. Mereka berkata, ”Maka kemudian aku berdiri menuju ke tikar yang sudah menghitam karena sudah lamanya dipakai.Kemudian kami bersihkan tikar itu dengan air. Kemudian Rasulullâh Saw berdiri dan melakukan salât berjamaah bersama kami”.[44]
8. Abî Sa’îd al-Khudrî bahwa diapernah masuk menjumpai Rasulullâh Saw dan menemukan Rasulullâlh Saw sedang salât
[55] Dalam hal ini pula An-Nawawi berkata bahwa Abu Hânifâh memberikan hukum seperti ini yaitu melandaskan dengan baju yang dipakai ketika sujud. Demikianlah pendapat jumhur atau umumnya fuqaha dalam madzhab Ahli Sunnah wal Jama’ah. Bahkan Al-Bukhârî dalam Sahih-nya memberikan judul sebagai berikut: Sujud di atas baju ketika udara dan batu-batu sangat panas menyengat. Hadits-hadits di atas menegaskan tentang tidak bolehnya sujud di atas batu kecuali benar-benar berhalangan. [56]Bukan tempatnya di sini untuk menyebutkan seluruh hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang ada berkenaan dengan perintah RasulullâhSaw untuk sujud di atas tanah. Beberapa hadits dan riwayat yang telah kami sebutkan di atas sudah memadai untuk menegaskan kepada kita bahwa Rasulullâh Saw senantiasa memerintahkan para sahabatnya untuk sujud dalam salâtnya dengan meletakkan dahi secara langsung di atas tanah. Dan bahkan ada beberapa riwayatdan hadits-hadits yang mengkisahkan pelarangan Rasulullâh Saw kepada sahabatnya untuk melandasi dahinya yang akan menghalangi antara dahinya dan tanah. Diantara hadits-hadits larangan Rasulullâh Saw itu, yang bisa juga dikatakan sebagai dalil bahwa sujudnya beliau dan para sahabat beliau dalam keadaan darurat adalah:
1.Saleh As-Sabaî berkata bahwa pernah Rasulullâh Saw melihat seseorang melakukan sujud dan disampingnya terdapat surbannya yang menghalangi. Lalu Rasulullâh Saw menyingkap surbannya itu dari dahinya.[57]
2.Ayat bin Abdullah berkata, Pernah Rasulullâh Saw melihat seseorang melakukan sujud di atas surbannya. Lalu beliau memberi isyarat kepada orang tersebut dengan tangan beliau supaya orang itu mengankat surbannya dan beliau memberikan isyarat kepada dahi beliau, yang maksudnya supaya orang tersebut menyentuhkan dahinya di atas tanah. [58]

Masih banyak lagi hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullâh Saw senantiasa memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk melakukan sujud ketika salât agar meletakkan dahi di atas tanah secara langsung. Mengingat terbatasnya tempat dan waktu, tidak mungkin untuk menuangkan semua hadits-hadits yang berkenaan dengan hal tersebut – dalam risalah ini. Apabila kita telaah dan kaji riwayat-riwayat di atas, dengan hati yang tulus dan ikhlas, tidaklah sulit bagi kita untuk memahami bahkan untuk mengikuti segala apa yang telah dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullâh Saw .

Sunnah Siapakah Sujud diatas Sajadah?

1. Al-Ghazâlî dalam kitabnya Ihyâ ‘Ulumûddîn berkata: “Sesungguhnya ketika itu perbuatan menghampari masjid Nabawi dengan bawari atau tikar dianggap sebagai perbuatan bid’ah dan ada yang mengatakan bahwa hal itu dilakukan oleh Hajjâj bin Yusuf. Sebelum itu orang-orang tidak menempatkan sesuatu penghalang antara dahi-dahi mereka dengan tanah ketika mereka sujud”.[1]

2. Qatâdah berkata bahwa ia melakukan sujud kemudian kedua matanya tertusuk oleh bagian tikar itu hingga ia menjadi buta, ia berkata: “Semoga Allâh melaknat Hajjâj. Ia telah membuat bid’ah dengan menghampari masjid ini dengan Bawari (sejenis tikar)”. [2]

3. ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azîz pernah menulis surat kepada ‘Udaî bin Artâh. Ia berkata: “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah mengerjakan sunnahnya Hajjâj. Aku nasihatkan janganlah engkau mengerjakan sunnah tersebut karena sesungguhnya ia salât tidak pada waktunya. Ia pun mengambil zakât bukan dari orang yang berhaq diambil zakâtnya dan ketika ia melakukan hal itu, ia telah membuat kerusakan”.[3]

Masalah sajadah dapat kita ketahui secara jelas dengan merujuk pada ensiklopedia Islâm di dalam kitab itu disebutkan bahwa: “Istilah sajadah tidak ditemukan di dalam kitab suci Al-Qur’ân dan hadits-hadits yang sahih. Kata sajadah ini dapat dijumpai satu abad setelah penulisan hadits-hadits tersebut”.[4]

Ibnu Batutah mengatakan di dalam kitabnya Rihlah Ibnu Batutah berkata: “Orang-orang pinggiran kota Kairo Mesir telah terbiasa keluar rumah mereka untuk pergi melakukan shalât Jum’at. Para pembantu mereka biasanya membawakan sajadah dan menghamparinya untuk keperluan salât mereka. Sajadah mereka itu terbuat dari pelepah-pelepah daun korma”. Dia menambahkan: “Penduduk kota Mekkah pada masa ini (pada masanya Ibnu Batutah, red-) melakukan shalat di Masjid Jâmi’ dengan menggunakan sajadah.
Kaum muslimin yang pulang haji banyak membawa sajadah buatan Eropa yang bergambar (ada yang bergambar salib) dan mereka tidak memperhatikan gambar tersebut. Sajadah masuk ke Mesir dengan jalan impor dari Asia untuk dipakai salat oleh orang-orang kaya, di dalam sajadah itu terdapat gambar mihrab yang mengarah ke kiblat. [5]

Syaikh Murtadâ Az-Zubaîdî di dalam kitabnya Ittihaful Muttaqin berkata: “Musallî hendaknya tidak melakukan shalat di atas sajadah atau permadani yang bergambar dan dihiasi dengan beragam gambar yang menarik. Karena hal itu membuat si musâlli tidak khusyu’ di dalam shalatnya, karena perhatiannya akan tertuju pada warna-warni sajadah itu. Kita telah tertimpa bencana dengan permadani-permadani Romawi itu yang kini digelar di masjid-masjid dan rumah-rumah yang dipakai untuk shalât, sehingga kebiasaan bid’ah itu telah membuat orang yang melakukan salat di tempat lainnya dianggap tidak sah dan kurang sopan”. Lâ Hawla wa lâ Quwwata îllâ Billâh. Aku menduga kuat bahwa semua ini adalah akibat ulah dan perbuatan orang-orang Barat – semoga Allah mengutuk mereka – yang telah memasukkan sesuatu ke dalam kalangan kaum muslimin sedang mereka lalai dan lengah dari tipu daya musuh-musuh tersebut. Lebih aneh lagi, aku pernah melihat di sebuah masjid yang berhamparkan permadani, namun permadani itu memiliki gambar salib. Hal inilah yang membuatku semakin terkejut. Aku yakin bahwa semua ini adalah perbuatan dan tipu-daya orang-orang Nasrani”.[6]

——————————-

[1] Lihat Ihyâ ‘Ulumûddîn, jilid 1, hal. 80.
[2] Lihat Ittihâful Muttaqîn, jilid 1, hal.727.
[3] Lihat Sîrah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz oleh Ibnul Jawzî, hal. 88-89. * Lihat At-Tuhfatul Latifah, jilid 1, hal 376.
[4] Dairatul Ma’ârîf Al-Islamiyah, jilid 11, hal 275.
[5] Lihat Rihlah Ibnu Batutah, jilid 1, hal 72-73.
[6] Lihat Ittihaful Muttaqin bisyarhi Ihya ‘Ulumûddîn, jilid 3, hal. 201,

Surah ash-Shaffat ayat 130 makna harfiahnya “salam atas il yasin”. Lantas siapakah “il yasin” pada ayat ini?

Surah ash-Shaffat ayat 130 makna harfiahnya “salam atas il yasin”. Lantas siapakah “il yasin” pada ayat ini?

Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkannya.

Sebagian dari mereka mengatakan bahwa maksudnya itu adalah Nabi Ilyas dan itu dalam dialek Bani Asad, namun mereka yang berpendapat seperti ini tidak menjelaskan apa hikmah dibalik perubahan ke dialek Bani Asad dalam ayat ini meskipun mereka mengetahui betul bahwa al-Quran turun atas dialek Quraisy.

Sebagian dari ahli tafsir mengatakan bahwa itu merupakan jamak dari Ilyas, maksudnya termasuk para sahabat Ilyas. Dan ada beberapa pendapat lainnya.

Namun dari beragam pendapat itu, ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan “il yasin” itu adalah [seharusnya dibaca] aali yasin, dan aali yasin itu maksudnya adalah aali Muhammad, karena nama lain Nabi Muhammad dalam al-Quran adalah Yasin. Dan mereka yang berpendapat seperti ini antara lain, lihat:

1. Ath-Thabari dalam tafsirnya “Jami’ al-Bayan”, jilid 23 halaman 61.

2. Ath-Thabrasi dalam tafsirnya “Majma’ al-Bayan”, jilid 23 halaman 82.

3. Asy-Syaukani dalam tafsirnya “Fathul Gadier”, jilid 4 halaman 409.

4. Ar-Razi dalam tafsirnya, jilid 26 halaman 162, cetakan Mesir.

5. Al-Qurthubi dalam tafsirnya “Al-Jami’ li Ahkamil Quran”, jilid 15 halaman 119, cetakan Kairo.

6. Abu Hayyan dalam tafsirnya “Albahrul Muhith”, jilid 7 halaman 373, cetakan as-Sa’adah, Mesir.

7. Ibnu Katsier dalam tafsirnya, jilid 4 halaman 20, cetakan Mesir.

8. As-Suyuthi dalam tafsirnya “Ad-Durr Al-Mantsurr”, jilid 5 halaman 286, cetakan Mesir.

9. Al-Alusi dalam tafsirnya “Ruhul Ma’ani”, jilid 23 halaman 129.

10. Al-‘Asqalani dalam kitabnya “Lisanul Mizan”, jilid 6 halaman 125, cetakan Haidar Aabadi.

11. Al-Haitsami dalam kitabnya “Majma’ al-Zawaid”, jilid 6 halaman 174, cetakan al-Qudsi, Kairo.

12. Al-Qanduzi dalam kitabnya “Yanabi’ul Mawaddah”, halaman 354, cetakan al-Haidariyah.

13. Habib Abubakar bin Syihab dalam kitabnya “Rasyfah ash-Shadi”, halaman 24, cetakan Mesir.

Foto Foto Ulama Syi’ah Indonesia dan Dunia !! Dokumen Rahasia Syi’ah Imamiyah


Feb 22

Maktabah Alawiyyin Syiah Imamiyah 12 Indonesia, tahun 1379 H
Dari kiri Ali Baqir al-Musawi, Doktor Muhammad Sa’id Thayyib, Sayyid Hasyim as-Salmân, almarhûm Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, Doktor Sâmi dan Amin al-Aththâs.
Habib Ali Al Habsyi Kwitang, habib Ali Al Atthas Bungur, dan Syeikh Mudzaffar Ulama Syiah berdo’a bersama
Habib Ali Al Habsyi Kwitang, habib Ali Al Atthas Bungur, Ulama Syiah Syeikh Mudzaffar, Habib Salim Bin Jindan
Ulama Syiah Syeikh Mudzaffar bersama Habib Salim Bin Jindan
JANGAN ADA LAGI INSIDEN SEPERTI ANTARA PONDOK YAPI DAN KELOMPOK ASWAJA. MESKI HABIB SALIM BIN JINDAN DAN SAYYID MUHAMMAD ALAWI AL-MALIKI ADALAH SUNNI, BELIAU TETAP MAU DUDUK DAN FOTO BERSAMA DENGAN ULAMA SYIAH. TIRULAH BELIAU-BELIAU. JANGAN ADA LAGI KEKERASAN ANTARA SUNNI DAN SYIAH. APALAGI KEKERASAN YANG DIKOBARKAN OLEH SEBAGIAN MURID ULAMA YANG ADA DI ATAS.

Syekh Ahmad Deedat, kristolog masyhur yang juga seorang ulama suni mengatakan:
“Saya katakan kenapa Anda tidak bisa menerima ikhwan Syiah sebagai mazhab kelima? Hal yang mengherankan adalah mereka mengatakan kepada Anda ingin bersatu. Mereka tidak mengatakan tentang menjadi Syiah. Mereka berteriak “Tidak ada suni atau Syiah, hanya ada satu, Islam.” Tapi kita mengatakan kepada mereka “Tidak, Anda berbeda. Anda Syiah”. Sikap seperti ini adalah penyakit dari setan yang ingin memecah belah. Bisakah Anda membayangkan, kita suni adalah 90% dari muslim dunia dan 10%-nya adalah Syiah yang ingin menjadi saudara seiman, tapi yang 90% ketakutan. Saya tidak mengerti mengapa Anda yang 90% menjadi ketakutan. Mereka (Syiah) yang seharusnya ketakutan.”

Nikah Mut’ah Tak Terbantah !!! Dusta Salafi Terbongkar !!

 Nikah Mut’ah tidak dapat dilakukan di Indonesia – Malaysia dan Brunei karena ““Nikah Mut’ah harus didukung oleh OTORiTAS PENUH NEGARA dibawah kondisi yang dikendalikan secara ketat, Mereka yang menyalahgunakannya harus dihukum, Nikah Mut’ah memiliki tujuan orisinal untuk memelihara perintah TUHAN dengan tepat agar tidak diputar balikkan oleh orang orang JAHAT demi kepentingan zina dan pelacuran mereka””

Nikah  Mut’ah  tidak  dapat dilakukan di Indonesia – Malaysia dan Brunei  karena  ““Nikah Mut’ah harus didukung  oleh  OTORiTAS PENUH NEGARA  dibawah kondisi yang dikendalikan secara ketat, Mereka yang menyalahgunakannya harus dihukum, Nikah Mut’ah memiliki  tujuan orisinal untuk memelihara perintah TUHAN dengan tepat agar tidak diputar balikkan oleh orang orang JAHAT demi kepentingan zina dan pelacuran mereka””

Indonesia – Malaysia dan Brunei  bukan negara Islam bermazhab syi’ah…

Jika anda menemukan pemerkosa di tiga negara tersebut, dapatkah anda menggantung nya hidup hidup tanpa didasari HUKUM NEGARA ?

Jika anda melakukan, maka bisa bisa anda masuk penjara…

 

Nikah Mut’ah merupakan sebuah perdebatan yang cukup rumit. Sebagian kaum muslim mengharamkan dan sebagian membolehkan. Tampaknya pendapat yang membolehkan nikah mut’ah ini adalah pendapat yang hampir mayoritas umat Islam pada masa awal. Di dalam Al-Qu’an terdapat dalam Surat An-Nisa’: 24. Ayat ini diturunkan untuk menetapkan syariat nikah mut’ah. Keterangan lebih rinci silahkan merujuk pada kitab-kitab berikut

:
Kitab Tafsir Perihal Mut’ah:
1. Tafsir Al-Qurthubi, jilid 5, halaman 130.
2. Tafsir Ibnu Katsir, jilid 1, halaman 474.
3. Tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 200 dan 201, cetakan Al-Amirah, Mesir.
4. Tafsir Ath-Thabari, jilid 5, halaman 9, cetakan lama.
5. Tafsir Abi Sa`udah, catatan pinggir tafsir Ar-Razi, jilid 3, halaman 251.
6. Tafsir An-Naisaburi, catatan pinggir Ath-Thabari, jilid V, halaman 18.
7. Tafsir Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari, jilid 1, halaman 498, cet Bairut.
8. Tafsir Al-Khazi, jilid 1, halaman 357.
9. Tafsir Al-Alusi, jilid V, halaman 5.
10. Tafsir Al-Baidhawi, jilid 1, halaman 259.
11. Tafsir Ibnu Hiyan, jilid 3, halaman 218.
12. Tafsir Ad-Durrul Mantsur, jilid 2, halaman 140.
13. Tafsir Nailul Awthar, jilid VI, halaman 270 dan 275.
14. Tafsir Al-Baidhawi, catatan pinggir Tafsir Al-Khazin jilid 1, halaman 423.
15. Syarah Shahih Muslim, oleh An-Nawawi, bab Nikah Muth’ah, jilid 9, halaman 140.
16. Sunan Al-Baihaqi, jilid VII, halaman 205.
17. Mustadrak Al-Hakim, jilid 2, halaman 305.
18. Musnad Ahmad, jilid 4, halaman 346, cetakan lama.
19. Bidayatul Mujtahid, jilid 2, halaman 178.
20. Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 497 dan 498.
21. Al-Idhah oleh Ibnu Syadzan, halaman 440.
22. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash, jilid 2, halaman 178.
23. Az-Zuwaj Al-Muwaqqat fil Islam, halaman 32 dan 33.
24. Al-Bayan, oleh Al-Khu’i, halaman 313.
25. Ath-Tharaif, Ibnu Thawus, halaman 459.
26. At-Tashil, jilid 1, halaman137.
27. Al-Jawahir, jilid 30, halaman 148, cetakan Najef.
28. Kanzul Irfan, jilid 2, halaman 2, halaman151.
29. Al-Mut’ah, Al-Fukaiki.
30. Dalailul Shidqi, Al-Mudhaffar, jilid 3.
31. Al-Fushulul Muhimmah wal Masailul Fiqhiyyah, Syarafuddin Al-Musawi.
32. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 229-235.
33. Ahkamul Qur’an, Abu Bakar Al-Andalusi Al-Qadhi, jilid 1, halaman 162.

Sahabat dan Tabi’in yang menghalalkan Mut’ah:

1. Imran bin Hushain, silahkan buka:
1. Shahih Muslim, kitab haji,jilid 1,halaman 474.
2. Shahih Bukhari, kitab tafsir Surat Al-Baqarah, jilid 7,halaman 24,cet tahun
1277H.
3. Tafsir Al-Quthubi,jilid 2,halaman 265;jilid 5,halaman 33.
4. Tafsir Ar-Razi,jilid 3,halaman 200 dan 202, cet. Pertama.
5. Tafsir An-Naisaburi,catatan pinggir tafsir Ar-Razi 3/200.
6. Tafsir Ibnu Hiyan, jilid , halaman 218.
7. Sunan Al-Kubra,Al-Baihaqi,jilid 5,halaman 20.
8. Sunan An-Nasa’i,jilid 5, halaman 155.
9. Musnad Ahmad,jilid 4, halaman 436,cet.pertama, dengan sanad yang shahih.
10. Fathul Bari,jilid 3,halaman 338.
11. Al-Ghadir,jilid 6, halaman 198-201.
12. Al-Mihbar,Ibnu Habib,halaman 289.
13. Al-Mut’ah,Al-Fukaiki,halaman 64.

14. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 124.
2. Jabir bin Abdullah Al-Anshari silahkan buka:
1. Umdatul Qari,Al-’aini’,jilid 8,halaman 310.
2. Bidayatul Mujatahid,Ibnu Rusyd,jilid 2,halaman 58.
3. Shahih Muslim,kitab nikah,bab nikah mut’ah,jilid 1,halaman 39.
4. Musnad Ahmad,jilid 3,halaman 380.
5. Tibyanul Haqaiq,syara Kanzud Daqaiq.
6. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 206.
7. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 205,206,208,dan209-211.
8. Jami’ul Ushul,Ibnu Atsir.
9. Taysirul Wushul,Ibnu Daiba,jilid4,halaman 262.
10. Za’dul Ma’ad,Ibnu Qayyum,jilid1,halaman 144.
11. Fathul Bari,Ibnu hajar,jilid 9,halaman 141dan 150;jilid 9,halaman
172 dan174, cet. Darul Ma’rifah.
12. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 294,cet.pertama.
13. Catatan pinggir Al-Muntaqa,Al-Faqi,jilid 2, halaman 520.
14. Al-Muhalla,Ibnu hazm,jilid 9,halaman 519.
15. Nailul Awthar,jilid 6,halaman 270.
16. As-Sarair,halaman 311.
17. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
18. Mustadrakul Wasail,jilid 2,halaman 595.
19. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 124.
20. Al-Mut’ah,Al-Fukaiki,halaman 44.
21. Al-Mushannaf,abdurrazzaq,jilid 7,halaman 497.
22, Ajwibah Masail Musa Jarullah,Syarafuddin Al-Musawi,halaman 111.

3. Abdullah bin Mas’ud, silahkan buka:
1. Shahih Bukhari, kitab nikah mut’ah; Shahih Muslim,jilid 4,halaman 130.
2. Ahkamul Qur’an,Al-Jashshash,jilid 2,halaman 184.
3. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 200.
4. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5, halaman 130.
5. Tafsir Ibnu Karsir, jilid 2, halaman 87.
6. Ad-Durul Mantsur,jilid 2, halaman 207, menukil darai 9 Huffazh.
7. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 220.
8. Al-Muhalla, Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
9. Al-Bayan,Al-Khu’i,halaman 320.
10. Za’dul Ma’ad,jilid 4, halaman 6; jilid 2,halaman 184.
11. Syarhul Muwaththa’, Az-Zarqani, catatan pinggir Al-Munraqa, jilid 2,halaman 520.
12. Syarhul Lum’ah,jilid 5,halaman 282.
13. Fathul Bari,jilid 9,halaman 102 dan 150; jilid 9, halaman 174,cet. Darul Ma’rifah
14. Syarhun Nahji, Al-Mu’tazili, jilid 12,halaman 254.
15. As-Sarair, halaman 311.
16. Al-Jawahir, jilid 30, halaman 150.
17. Mustadrakul Wasail ,jilid 2,halaman 595.

4. Abdullah bin Umar.

At-Tirmidzi meriwatyatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu Umar,ia ditanya oleh seorang laki – laki dari penduduk Syam tentang Nikah mut’ah maka ia menjawab: “Nikah mut’ah itu halal.”Kemudian laki-laki itu berkata,:”Tetapi ayahmu telah melarangnya.” Maka ia berkata :”Bila kamu telah mengetahui,ayahku melarangnya, sedangkan Rasulullah SAW membolehkannya, apakah kamu akan menunggalkan sunnah Rasul lalu mengekitu ayahku.”

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh :
1. Ath-Tharaif,Ibnu Thawus,halaman 460,cet.Qum.
2. Syarhul Lum’ah,Asy-Syahid Tsani,jilid 5,halaman 283.
3. Jawahirul Kalam,An-Najafi,jilid 30,halaman 145.
4. Dalailush Shidqi,jilid 3,halaman 97.

5. Muawiyah bin Abi sofyan, silahkan rujuk:
1. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
2. Umdatul Qari, al-’Aini,jilid 8, halaman 310.
3.Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2, halaman 520.
4. Al-Bayan, Al-Khu’i,halaman 314.
5. Ath-Tharaif,Ibnu Thawus,halaman 458.
6. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
7. Jawahirul Kalam, jilid 30,halaman 150.
8. Syarhul Muwaththa’,Az-Zarqani.
9. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 496 – 499.
10. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174,cet.Darul ma’rifah.

6. Abu Said Al-Khudri,silahkan rujuk:
1. Al-Muhalla, jilid 9, halaman 519.
2. Umdatul Qari,jilid 8, halaman 310.
3. Catatan pinggir Al-Munraqa,jilid 2,halaman 520.
4. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Abl Hadid,jilid 12/254.
5. Fathul Bari,jilid 9, halaman 174.
6. As-Sarair, Ibnu Idris,halaman 311.
7. Al-Bayan,Al-Khu’i, halaman 514.
8. Al-Ghadir, jilid 6, halaman208 dan 221.
9. Jawahirul Kalam,jilid 30, halaman 150.
10. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam, halaman 125.
11. Musnad Ahmad, jilid 3, halaman 22.
12. Majma’uz Zawaid, jilid 4, halaman 264.
13. Mushannaf Abdurrazzaq, jilid 7, halaman 571.
14. Al-Mughni, Ibnu Qudamah,jilid 7, halaman 571.

7. Salamah bin Umayah bin Khalf, silahkan rujuk:
1. Al-Muhalla, jilid 9,halaman 519.
2. Syarhul Muwaththa’, Az-Zarqani.
3. Al-Ishabah, jilid 2,halaman 63.
4. Catatan pinggir, Al-Muntaqa, jilid 2, halaman 520.
5. Al-Bayan, halaman 314.
6. Al-Ghadir, jilid 6, halaman 221.
7. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
8. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 314

8. Ma’bad bin Muawiyah, silahkan buka:
1. Al-Muhalla,jilid 9,halaman 519.
2. Syarhul Muwatha’, Az-Zarqani.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
5. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
6. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 137.
7. Al-Mushannaf, Abdurrazzaq,jilid 7,halaman 499.Dan dalam diterangkan bahwa
Ma’bad dilahirkan dari nikah mut’ah.
8. Fathul Bari, jilid 9,halaman 174.

9. Zubair bin Awwam,ia melakukan nikah mut’ah dengan Asma’ puteri Abu Bakar,dan melahirkan anak bernama Abdullah. Silahkan rujuk:
1. Al-Muhadharat,Al-Raghib Al-Isfahani,jilid 2,hal.94.
2. Al-Iqdu Al-Farid,jilid 2,halaman 139.
3. Musnad Abi Dawud Ath-Thayalisi.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 208 dan 209.
5. Murujudz Dzahabi,jilid 3, halaman 81.
6. Az-Zuwaj Al-Muaqqat fil Islam,halaman 101 dan 127.
7. Syarah Najul Balaghah,Ibnu Abil Hadid,jilid 20/130.

10. Khalid bin Muhajir bin Khalid Al-Makhzumi,rujuk:
1. Shahih Muslim, kitab nikah, bab nikah mut’ah ,jilid 4,halaman 133,cet. Al-Amirah.
2. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 205.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
4. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 205.

11. Amer bin Huraits, silahkan rujuk:
1. Fathu Bari,jilid 9,halaman 141; jilid 11/76.
2. Kanzul Ummal,jilid 8,halaman 293.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
4. Al-Bayan,halaman 314.
5. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
6. Shahih Muslim,kitab nikah,bab nikah mut’ah,jilid 4,halaman 131.
7. Al-Mushanaf,jilid 7,halaman 500.Dan dalam kitap ini tertulis Amer bin Hausyab, penyimpan dari Aner bin Hiraits.

12. Ubay bin Ka’b,silahakan rujuk:
1. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5,halaman 9, tentang bacaan Ubay ”Ila ajalinMusamma”(dalam ayat mut’ah).
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
3. Al-Jawahir,jilid 30,halaman150.
4. Ahkamul Qur’an,,Al-Jshshash, jilid 2, halaman 147.

13. Rabi’ah bin Umayah,silahkam rujuk:
1. Al-Muwaththa’, Al-Maliki,jilid 2,halaman 30.
2. As-Sunan Al-Kubra, Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 206.
3. Al-Umm,Asy-Syafi’i,jilid 7,halaman 219.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
5. Musnad Asy-Syafi’i, halaman 132.
6. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 503.
7. Al-Jawahir,jilid 30,halaman 150.
8. Al-Ishaba,jilid 1,halaman 514.
9. Tafsir As-Suyuthi,jilid 2,halaman 141.
10. Ajwiba Masail Musa Jarullah, Syarafuddin Al-Musawi, halaman 116.

14. Sumair,dan bisa jadi Sammarah bin Jundab, silahkan rujuk:
1. Al-Ishabah,Ibnu Hajar, jilid 2,halaman 519.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.

15. Said bin Jubair,silahkan rujuk:
1. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
2. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5,halaman 9.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 221.
4. Tafsir Ibnu Katsir.
5. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 496.
6. Syarah Nahjul Balaghah, Ibnu Habil Hadid,jilid 12/254.

16. Thawus Al-Yamani, silahkan rujuk:
1.Al-Muhalla, jilid 9,halaman 915.
2. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.
3. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
4. Al-Mughni,Ibnu Qudamah,jilid 7,halaman 571.

17. ‘Atha’ Abu Muhammad Al-Madani,silahkan rujuk:
1. Al-Mushannaf,jilid 7,halaman 497.
2. Bidayatul Mujtahid,Ibnu Rusyd,jilid 2,halaman 63.
3. Al-Muhalla,jilid 9, halaman 519.
4. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
5. Ad-Durul Mantsur,jilid 2,halaman 140.
6. Mukhtashar Jami’Bayan Al-Ilmi,halaman 196, sebagaimana dikutip di dalam Ajwibah masail Musa Jarullah,halaman 105. Silahkan rujuk: Dirasat wal Buhuts fit Tarikh wal Islam jilid 1/14,tetapi Sa’udi membuang riwayat ini dari kitab Jami’ Bayan Al-Ilmi wa Fadhlihi ketika dicetak pada tahun 1388.H.

18. As-Sudi, Silahkan rujuk:
1. Tafsir As-Sudi.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.
3. Tafsir Ibnu Katsir.

19. Mujahid,silahkan rujuk:
1. Tafsir Ath-Thabari,jild 5,halaman 9.
2. Al-Ghadir, jilid 6,halaman 222.
3. Tafsir Ibnu Katsir.
4. Syarah Nahjul Bajaghah, Ibnu Hadid, jilid 12/254.

20. Zufar bin Aus Al-Madani,silahkan rujuk:
1. Bahrur Raiq,Ibnu Najim,jilid 3, halaman 115.
2. Al-Ghadir,jilid 6,halaman 222.

21. Abdullah bin Abbas,silahkan rujuk:
1. Tafsir Ath-Thabari,jilid 5, halaman 9.
2. Ahkamul Qur’an, Al-Jashshash,jilid 2,halaman 147.
3. Sunan Al-Baihaqi,jilid 7,halaman 205.
4. Al-Kasysyaf, Az-Zamakhsyari,jilid 1,halaman 519.
5. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5,halaman 130 dan 133.
6. Al-Muhalla,Ibnu Hazm,jilid 9,halaman 519.
7. Al-Mughni,Ibnu Qudamah,jilid 9,halaman 571.
8. Fathul Bari,jilid 9,halaman 172, cet. Darul Ma’rifah.

22. Asma’ puteri Abu Bakar,silahkan rujuk:
1. Musnad Ath-Thayalisi, hadis 1637.
2. Al-Muhalla,Ibnu Hazm, jilid 9,halaman 519.
3. Syarah Nahjul Balaghah,Ibnu Abil Hadid,jilid 20/130.

Ibnu Hazm, dalam kitabnya Al-Muhalla 9/519, setelah manetapakan jumlah sahabat yang membolehkan nikah mut’ah, ia berkata: Ini diriwayatkan dari Jabir dan seluruh sahabat sejak masa Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan sampai pertengahan masa kekhalifahan Umar. Kemudian ia berkata: Dari tabi’in adalah Thawus, Said bin Jubair dan seluruh fuqaha Mekkah. Abu Umar, penulis kitab I-Isti’ab berkata, bahwa sahabat – sahabat Ibnu Abbas dari penduduk Mekkah dan Yaman, semuanya memandang nikah mut’ah adlah halal menurut mazhab Ibnu Abbas, sementara semua manusia mengharamkan. Silahkan rujuk:

1. Tafsir Al-Qurthubi,jilid 5,halaman 133.
2. Fathul Bari,jilid 9,halaman 142,cet. Darul Ma’rifah.
3. Catatan pinggir Al-Muntaqa,jilid 2,halaman 520.

Al-Qurthubi dalam tafsirnya 5/132 berkata : penduduk Mekah banyak mempraktekan nikah mut’ah. Ar-Razi dalam tafsirnya 3/200, tentang ayat mut’ah berkata: mereka berbeda pendapat dalam hal apakah ayat itu dimanskh atau tidak ? Para tokoh Ummat mayoritas mengatakan dimansukh dan sebagian mereka mengatakan tidak dimansukh, hukumnya tetap berlaku sebagaimana adanya. Iman Malik bin Annas adalah salah seorang Fuqaha Ahlus sunnah yang membolehkan nikah mut’ah . Silahkan rujuk kitab – kitab berikut: Al-Mabsuth,As-sarkhasi; Syarah Kanzud Daqaiq; Fatawa Al-Faraghi;Khizatur Riwayat, Al-Ghadi,Al-Kafi fil furu’ Al-Hanafiyah;’Inayah Syarhul Hidayah; Syarah Al-Muwaththa’, Az-Zarqani; Al-Ghadir 6/222-223;dan tafsir Al-Qurthubi, jilid 5, halaman 130.

Ada beberapa pendapat:
Pendapat Pertama: HARAM. Mut`ah sebagai perbuatan zina dan keji. Berarti Nabi saw pernah membolehkan sahabatnya melakukan perbuatan zina dan keji.

Pendapat kedua: MUBAH, sebagai bantahan pada pendapat pertama. Kapan dimansukh oleh Nabi saw? Ayat apa yang memansukhnya?
Dalam kelompok ini ada beberapa pendapat.
1. Dimansukh oleh Surat Al-Mu’minun: 5-7
2. Dimansukh oleh ayat tentang iddah yaitu Surat Ath-Thalaq: 1
3. Dimansukh oleh ayat tentang waris yaitu Surat An-Nisa’: 12
4. Dimnsukh oleh ayat tentang muhrim (orang-orang yang haram dinikahi) yaitu Surat An-Nisa’: 23
5. Dimansukh oleh ayat tentang batasan jumlah istri yaitu Surat An-Nisa’: 3
6. Dimansukh oleh hadis Nabi saw.

Terhadap pendapat yang pertama: Tidak sesuai dengan hukum nasikh-mansukh, karena Surat An-Nisa’: 24 (tentang nikah mut`ah) ayat Madaniyah sedangkan Surat Al-Mu’minun: 5-7 ayat Makkiyah. Tidak ayat Makkiyah menasikh ayat Madaniyah.

Terhadap pendapat ke 2, 3, 4, dan ke 5: Hubungan Surat An-Nisa’: 24 dengan ayat-ayat tersebut bukan hubungan Nasikh-Mansukh, tetapi hubungan umum dan khusus, muthlaq dan muqayyad (mutlak dan terbatas). Memang sebagian ulama Ushul figh mengatakan bahwa jika yang khusus diikuti oleh yang umum dan berlawanan dalam penetapan dan penafian, maka yang umum menasikh yang khusus. Tetapi menggunakan kaidah dalam masalah ini sangat lemah dan tidak sesuai dengan pokoh persoalannya.

Misalnya ayat tentang Iddah sifat umum dan terdapat di dalam Surat Al-Baqarah sebagai awal surat Madaniyah, diturunkan sebelum surat An-Nisa’ yang di dalam terdapat ayat tentang nikah mu`ah. Demikian juga ayat tentang batasan jumlah istri, dan muhrim terdapat di dalam Surat An-Nisa’ sebagai pengantar ayat tentang nikah mut`ah saling berkaitan satu sama lain. Semua ayat itu bersifat umum, dan ayat tentang nikah mut`ah sebagai ayat yang bersifat khusus diakhir dari yang umum. Bagaimana mungkin pengantar menasikh penutup pembicaraan.

Wabil khusus, pendapat yang mengatakan ayat tentang Iddah menasikh ayat nikah mut`ah sama sekali tidak berdasar, karena hukum iddah itu berlaku juga dalam nikah mut’ah selain di dalam nikah permanen. Demikian juga pendapat yang mengatakan ayat tentang muhrim menasikh ayat nikah mu`ah, semuan perempuan yang haram dinikahi saling berkaitan dan tak terpisahkan dengan segala bentuk pernikahan baik permanen maupun mut`ah. Bagaimana mungkin pengantar pembicaraan menasikh penutupnya. Lagi pula ayat tersebut tidak menunjukkan larangan hanya terhadap nikah permanen.

Pendapat yang keenam: Ayat nikah mut’ah dimasukh oleh hadis Nabi saw. Pendapat ini sama sekali tidak berdalil, karena secara mendasar ia bertentangan dengan riwayat-riwayat mutawatir yang menjelaskan Al-Qur’an, dan riwayat-riwayat yang merujuk kepada Al-Qur`an.

Siapakah yang menghapus Nikah Mut’ah?

Dalam Shahih Muslim, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Kami melakukan nikah mut`ah dengan mahar segenggam kurma dan gandum, beberapa hari pada zaman Rasulullah saw dan khalifah Abu Bakar, sehingga Umar melarangnya karena kasus Amer bin Huraits.Dalam Ad-Durrul Mantsur, Malik dan Abdurrahman meriwayatkan dari Urwah bin Zubair bahwa pada suatu hari Khawlah binti Hakim datang dan melapor kepada Umar bin Khattab: Sesungguhnya Rabi`ah bin Umayyah melakukan mut`ah dengan seorang perempuan hingga ia hamil. Kemudian Umar keluar dari rumahnya sambil menarik-narik bajunya dan berkata: Inilah akibat mut`ah, kalau sekiranya aku sudah membuat keputusan tentangnya sebelumnya, niscaya aku rajam ia. Dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad meriwayatkan dari `Atha`, ia berkata: Setelah Jabir bin Abdullah selesai melakukan umrah, kami berkunjung ke rumahnya, ketika itu ada sekelompok orang bertanya kepadanya tentang sesuatu, kemudian mereka menyebutkan mut`ah. Jabir berkata: Kami melakukan mut`ah pada masa Rasulullah saw, masa Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Menurut riwayat dari Ahmad, sehingga akhir masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Dalam Sunan Al-Baihaqi, dari Nafi`, dari Abdullah bin Umar, ketika ia ditanya tentang nikah mut`ah, ia berkata: Nikah mut`ah itu haram menurut Umar, dan sekiranya ada orang yang melakukannya, ia pasti merajamnya dengan batu.

Dalam Sunan Al-Baihaqi: Jabir berkata, Umar berdiri kemudian berkata: sesungguhnya Allah menghalalkan kepada Rasul-Nya apa yang diinginkan dengan apa yang diinginkan, maka hendaknya kamu menyempurnakan haji dan umrah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah, dan hentikan melakukan nikah ini, tidak ada seorang pun laki-laki yang menikahi perempuan dengan waktu yang ditentukan kecuali aku rajam dia. Dalam Tafsir Al-Qurthubi, dari Umar bin Khattab, dalam khutbahnya ia berkata: Dua mut`ah ada pada zaman Rasulullah saw, akulah yang melarang keduanya dan memberikan sangsi atas keduanya: mut`ah haji dan nikah mut`ah. Wallahu a’lam bi showaab