Al Qur’anul Kariim : “(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71) “Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Apakah Imamah itu sebuah Warisan?

Menurut Ahlul Bait, Imamah dipilih oleh Allah. Ini bukan masalah warisan, karena jika demikian maka ImamHusain (sa.) tidak boleh menjadi imam, setelah kesyahidan Imam Hasan (sa.).Imam Hasan (sa.) memiliki banyak anak dan keturunan, tak satu pun dari mereka menjadi imam. Sebaliknya, saudaranya Imam Husain (sa.), seorang imam setelahnya. Ada juga sejumlah anak dan cucu-cucu yang menyimpang dari para imam, tidak ada orang yang menerima posisi Imamah.

Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah warisan. Tentu saja, gen penting untuk imam suci, namun imam membutuhkan banyak persyaratan lainnya. Allah SWT tahu yang memiliki semua kualifikasi seperti itu. Apakah kehendak Allah SWT yang menempatkan semua imam dari jalur keturunan Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya).

Bahkan, jika sebuah studi sejarah Nabi Allah, ia akan menemukan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Allah yang memiliki kekuasaan dan keagungan berfirman :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”[88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qur’an Al-Baqarah, 2: 124).

Dalam ayat di atas, Allah tidak menolak kepemimpinan keturunan Abraham., Tetapi Dia membatasi posisi ini hanya pada keturunan Abraham memenuhi syarat. Allah SWT mengatakan, kepemimpinan yang ditunjuk Allah tidak datang untuk orang-orang yang berbuat salah, bahkan jika orang itu adalah keturunan Abraham.

Dengan demikian, keturunan Abraham. tidak semuanya menjadi imam karena harus ada persyaratan lain selainnya. Orang-orang di antara mereka yang bukan pelaku ketidakadilan (bebas dari dosa) yang memenuhi syarat, karena mereka tidak hanya memiliki gen yang suci, tetapi mereka memiliki kualifikasi lainnya yang diperoleh melalui penderitaan. Sebagai Tuhan Yang Maha Esa memiliki pengetahuan sebelumnya dan keterangan kesabaran kualifikasi mereka, dia yang dipercayakan kepada mereka dalam posisi ini dan menempatkan mereka di atas semua makhluk-Nya yang lain.

“Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran ‘di atas semua orang (pada saat masing-masing)” (Al Qur’an Ali Imran, 3: 33).

Garis nasab Muhammad SAWW. kembali kepada Nabi Ismail bin Ibrahim. Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Isa keduanya berasal dari yang lain Ishaq anak Abraham. Sesungguhnya, semua nabi setelah Ibrahim. berasal dari keturunan. Namun, kita tidak bisa menyatakan kenabian itu adalah masalah warisan. Dia adalah Allah Maha Kuasa yang memilih satu per satu.

Dalam konteks lain, kita tidak bisa mengatakan bahwa anak Nabi selalu haruslah nabi. Banyak kondisi lain selainnya. Jika tidak, Kan’an bin Nuh, niscaya masih hidup. Nuh memiliki tiga putra lain, Aam, Sam, dan Yafas yang beriman dan yang dengan istri mereka dan akhirnya naik tabut itu selamat. Mereka datang dari seorang ibu yang berbeda dari Kan’an. Oleh karena itu, putra seorang nabi atau imam tidak harus membuatnya menjadi nabi atau imam atau bahkan orang yang saleh.

Singkatnya, gen untuk Nabi dan imam suci adalah penting tetapi tidak cukup.
Imam atau Ulil Amri ditunjuk oleh Allah dengan Nabi-Nya. Lihat Al-Qur’an dimana Allah berulang kali menyatakan bahwa dia adalah zat yang diresmikan imam. (Lihat Al-Baqarah Al-Qur’an, 2: 124, al-Anbiya, 21: 73; as-Sajdah, 32: 24).

“Dan (ingatlah) ketika Abraham diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) dan Abraham dipenuhi Tuhan mengatakan” Lihatlah, Aku akan membuat Imam untuk semua umat manusia “Dia (Abraham) berkata,” (Dan aku mohon., juga) dari keturunanku “Allah berfirman,”. Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang melakukan “salah. (QS. Al-Baqarah, 2: 124)

“Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada, mereka berbuat baik, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. (QS. al-Anbiya ‘, 21:73)

“Dan Kami jadikan di antara mereka adalah pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka percaya kepada ayat-ayat Kami”.. (QS. As-Sajdah, 32: 24)

Ada dua belas imam diangkat oleh Allah sebagai Penerus Nabi Muhammad SAWW. Ada sebuah tradisi panjang dalam dokumen-dokumen yang Sunni menyatakan bahwa jumlah imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen Sunni lain di mana Nabi Muhammad SAWW. bahkan menyebutkan nama setiap dua belas imam tersebut.

Allah menunjuk dua belas imam, tidak hanya orang-orang di dalam rumah tangga Nabi Muhammad SAWW, tetapi karena mereka, pada zaman mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling alim, yang terbaik dalam kebajikan pribadi, dan yang paling mulia di kehadiran Allah dan pengetahuan mereka berasal dari nenek moyang mereka (Nabi) melalui ayah nenek moyang mereka, dan juga melalui pendidikan langsung dari Allah melalui ilham (inspirasi). Penerus Nabi (selain penerus Nabi Muhammad) adalah Nabi juga, dan dengan demikian mereka semua ditunjuk oleh Allah. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa beberapa Nabi, atas perintah Allah, menunjuk para imam (yang bukan Nabi).

Mari kita berikan beberapa ayat suci Al-Qur’an!

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemimpin Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim”. (QS al -Baqarah, 2: 246).

Setiap orang yang secara khusus ditunjuk oleh Allah sebagai raja adalah seorang imam. Seorang nabi bisa juga (sebagian) dari imam atau raja, tetapi tidak semua nabi adalah imam. Jika seseorang menjadi raja atau imam yang ditunjuk oleh Allah, itu tidak berarti bahwa dengan sendirinya hanya karena fisik yang kuat. Di atas ayat Al-Qur’an berbicara tentang Thalut. Berikut ayat-ayat Al Qur’an lain yang memberikan rincian lebih lanjut.

“Nabi Mereka (1) kata kepada mereka,” Allah telah mengangkat Thalut (Saul) sebagai raja (2) Anda. “Mereka berkata,” Bagaimana Thalut mengatur kita saat kita lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia tidak diberi kekayaan yang cukup? (3) “Ia (Nabi mereka) berkata,” Allah telah memilihnya di atas Anda (4) menjadi raja dan diberikan pengetahuan yang luas dan tubuh yang kuat. “(5) Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki (6.) Dan Allah adalah karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 247).

Bagian pertama dari nomor ayat di atas (1) membuktikan bahwa orang-orang memiliki nabi dan Thalut berada di tengah-tengah masyarakat ini, sehingga mereka Nabi adalah Nabi Thalut juga. Jadi, Thalut bukan nabi.

Bagian ditandai dengan nomor (2) menunjukkan bahwa Allah menunjuk Thalut sebagai imam atau pemimpin atau raja.

Angka (3) menunjukkan bahwa apa yang ditunjuk Allah tidak dipilih berdasarkan kekayaan. Kerajaan pada dasarnya adalah karakter spiritual, dan tentu saja, Thalut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk memerintah dengan baik secara fisik, tetapi yang terakhir tergantung pada pengakuan orang untuk posisi sebelumnya saat akan dipertahankan sebagai imam (kepemimpinan rohani).

Imam atau pemilihan raja bukan tugas manusia, dan sebagaimana dianjurkan, Allah memilih seorang raja atau imam karena Allah tahu siapa orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi tinggi seperti itu. Berikut adalah salah satu raja yang memiliki otoritas oleh Allah SWT.

Ini dibuktikan dengan nomor (6) ayat di atas. Orang-orang yang memiliki otoritas dengan pengetahuan dan kebijaksanaan sebagai nomor (5) dari titik.

Dalam ayat berikutnya, kita membaca,

“Dan Nabi (lebih lanjut) berkata kepada mereka,” Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, adalah untuk kembali ke tabut, di mana terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari warisan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat-malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian ada tanda bagimu, jika kamu beriman “(Al-Qur’an. Al-Baqarah, 2: 248).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

” ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (Al-Qur’an suatu-Nisa, 4: 54).

Sekali lagi, kerajaan ini adalah Imamah, bahwa beberapa keluarga Ibrahim yang memerintah secara fisik.

Bagaimana Model Terbaik Pemilihan dalam Kepemimpinan Islam

Salah satu topik yang telah terus-menerus didiskusikan di kalangan umat Islam sejak bangkitnya Islam adalah pertanyaan tentang memilih Imam atau Pemimpin; itu sebenarnya pertanyaan yang membawa pembagian umat terpecah menjadi ke Shi’ahdan Sunni.Shi’ah memiliki komitmen terhadap prinsip bahwa hak untuk menunjuk Imam milik eksklusif (hak prerogatif) Allah, dan bahwa orang (manusia) tidak memiliki peran sama sekali dalam hal ini. Sang Maha Pencipta itu sendirilah yang memilih Imam dan mengidentifikasikannya kepada masyarakat sebagaimana pemilihan para Nabi.

Sebagai tambahan dari Shi’ah atas pemahaman tentang Imamah ini, dan perhatiannya yang telah dicurahkan pada keyakinan bahwa Allah dan Nabi sendiri yang memilih Imam yang berfungsi sebagai bukti (hujjah) Allah dalam setiap masa, era, dekade, dari rasa hormat yang mendalam untuk hak dan martabat manusia itu sendiri.

Dalam cara yang sama bahwa kenabian menyiratkan serangkaian atribut dan kondisi, demikian juga Imam, yang datang setelah Nabi, juga harus disertai dengan kualitas sosok pribadi tertentu. Kebutuhan ini timbul dari kenyataan bahwa Shi’ah menolak untuk menerima sebagai pemimpin komunitas orang yang kurang dalam kualitas kunci keadilan, ketidakmungkinsalahan (maksum), dan kepintaran/ ke-pakar-an. Perintah yang tepat dari ilmu pengetahuan agama, kemampuan untuk memberitakan Hukum Allah dan ketetapan-Nya dan untuk menerapkannya dalam masyarakat dengan cara yang tepat, dan, secara umum, untuk menjaga dan melindungi agama Allah, tidak ada seorang pun dimungkinkan karena tidak adanya sifat-sifat ini.

Tuhan sangat memperhatikan kapasitas spiritual, tingkat ilmu keagamaan, dan kesalehan dari Imam, dan Dia juga tahu, kepada siapa perwalian pengetahuan agama harus dipercayakan: siapa yang bisa membawa beban ini dan tidak mengabaikan untuk satu menit tugas memanggil orang kepada Allah dan melaksanakan keadilan ilahi. Tetapi terlepas dari aspek masalah ini, pemahaman Syi’ah tentang Imamah juga mencerminkan cita-cita luhur manusia.

Jika dikatakan, bahwa orang (manusia) tidak berhak untuk ikut campur dalam hal memilih Imam itu, karena mereka (yang memilih) itu sendiri tidak cukup memadai dalam kemurnian kesucian batin dan kesalehan individu, dari derajat dalam mematuhi nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an; Di atas itu semua, mereka tidak dapat merasakan kehadiran illahi atau tidak adanya prinsip ilahi atas ketidakmungkin-salah-an (maksum/’ismah).

Oleh karena itu hak prerogatif Allah melalui Nabi-Nya untuk menunjuk penerus penggantinya; dan Imam di setiap zaman memilih dan mengangkat Pemimpin penerus penggantinya.

Jika seorang Imam mampu menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang gaib dan menampilkan ketidakmungkinsalahan (maksum) dalam ke-Imamah-an, yang terbungkus dalam busana yang menyerupai mirip dengan kekuatan ajaib para nabi, maka itu sah dan dapat diterima.

Ada metode yang diusulkan oleh Shi’ah dalam pengenalan dan perolehan akses ke-Imamah-an, mereka membentuk satu set kriteria kepemimpinan yang sebenarnya dari umat Islam pada zamanya masing-masing hingga hari akhir kelak.

Pendekatan lain untuk ke-Imamah-an ini sangat kontras dengan yang diusulkan Shi’ah. Karena ada kekaburan dan ambiguitas sekitar prinsip konsultatif dalam aplikasi pertanyaan kepemimpinan sejak awal, komunitas Sunni menempuh berbagai metode untuk memilih dan menunjuk Khalifah, sehingga dalam praktiknya elemen-elemen berikut muncul memainkan peran yang penting.

1: Konsensus (ijma ‘). Kaum Sunni mengatakan bahwa pemilihan khalifah pertama dan terutama terletak pada pemilihan oleh masyarakat, sehingga jika umat Islam memilih individu tertentu sebagai pemimpin, ia harus diterima seperti itu dan perintahnya harus ditaati.

Sebagai bukti ini, mereka mengutip metode yang diikuti oleh sahabat Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan ahli keluarganya) setelah wafatnya. Berkumpul di Saqifah untuk memilih seorang khalifah, mayoritas diputuskan Abu Bakar dan bersumpah setia kepada dia; sehingga dengan demikian ia diakui oleh konsensus sebagai pengganti penerus Nabi, tanpa keberatan yang diajukan. Ini merupakan salah satu metode untuk menunjuk seorang khalifah.

2: Metode kedua terdiri dari Konsultasi dan pertukaran pandangan di antara anggota terkemuka dari komunitas Muslim. Setelah mereka sepakat antara mereka sendiri pada pilihan pemimpin bagi masyarakat, kekhalifahan-nya menjadi sah dan itu adalah kewajiban setiap orang untuk mematuhinya.

Ini adalah metode yang diadopsi oleh khalifah kedua. Ketika ‘Umar akan mati, ia memilih enam orang sebagai calon khalifah dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu nomor mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri, untuk tidak lebih dari enam hari. Jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan akhirnya diberikan kepada ‘Utsman. Ini juga dikatakan merupakan sarana sah untuk memilih khalifah.

3: Metode ketiga terdiri dari pencalonan khalifah pengganti sendiri. Hal ini terjadi dalam kasus ‘Umar, yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar tanpa keberatan yang diajukan oleh kaum Muslim.

Demikianlah, pada dasarnya, pandangan Sunni mengenai hal ini.

Marilah kita sekarang meninjau keberatan-keberatan yang masing-masing proses pembahasan adalah sebagaimana berikut:

Kebutuhan akan ketidakmungkinsalahan (maksum/ ‘ismah’) dari Imam, memiliki pemahaman yang jelas tegas dan merupakan perintah yang komprehensif dari semua permasalahan agama, baik dalam prinsip dan detail, yang berakar dari sumber Al-Quran dan Sunnah, serta yang dibuktikan oleh pengalaman sejarah.

Semua penindasan, kesalahan, korupsi dan penyimpangan yang kita lihat dalam sejarah Islam muncul dari kenyataan bahwa para pemimpin tidak memiliki kualitas yang seharusnya dibutuhkan oleh seorang Imam. Bahkan jika semua anggota umat Islam memilih seorang individu yang diberikan tugas kepadanya sebagai Imam dan penerus Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), ia tidak bisa lemah dan dari dirinya sendiri harus dapat memberikan legitimasi dan validitas atas ke-khalifahan-Nya.

Sedangkan Khalifah Abu Bakar, semua kaum muslimin, dalam hal apapun, tidak semuanya bersumpah setia (baiat) kepadanya, sehingga tidak perlu ada pertanyaan atas apakah konsensus benar-benar terbentuk?.

Juga merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa tidak ada dalam pemilihan sesuai kenyataan yang terjadi, dalam arti semua ummmat muslim yang tersebar di berbagai penjuru tempat pelosok negeri berkumpul di Madinah pada waktu itu untuk mengambil bagian dalam proses pemilihan suara atas pemilihan kekhalifahan itu ataupun proses pemilihan suara secara perwakilan diantara seluruh kabilah-kabilah yang ada.

Berdasarkan fakta sejarah, tidak semua penduduk Madinah berpartisipasi dalam pertemuan itu, di mana keputusan itu dibuat, bahkan beberapa Ahl Al Bayt Nabi dan Sahabat yang terkemuka, serta bahkan beberapa dari mereka yang hadir di Saqifah, menolak untuk menyatakan kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar. Seperti misalnya, Ali b. Abi Thalib sa, al-Miqdad, Salman, al-Zubair, ‘Ammar b. Yasir, ‘Abdullah b. Mas’ud, Sa’d b. ‘Ubadah, Abbas b. Abd al-Muthalib, Usamah b. Zaid, Ibnu Abi Ka’b, ‘Utsman b. Hunayf, serta sejumlah sahabat terkemuka lainnya, yang menyampaikan keberatan atas pemilihan khalifah Abu Bakar dan ini berarti opini mereka tidak menyembunyikan sikap oposisi mereka. Tetapi sikap oposisi mereka, tidak dimaksudkan terorganisir menjadi oposan untuk menggulingkan Khalifah Abu Bakar. Bagaimana mungkin kemudian dapat dikatakan bahwa ke-Khalifah-an Abu Bakar dianggap telah berdasar pada ijma’ (konsensus) umat Islam?

Ini bisa dikatakan bahwa partisipasi dari setiap orang, dalam pemilihan pengganti penerus Nabi tidak perlu! Dan bahwa jika sejumlah orang-orang terkemuka mencapai keputusan tertentu sudah cukup dan hak khalifah sudah dapat diterima dan harus ditaati!.

Namun, mengapa keputusan mereka harus mengikat orang lain? Mengapa orang lain yang terkemuka dan tokoh yang dikenal cemerlang dalam sejarah peradaban ummat Islam, yang memiliki komitmen dan pengabdian yang tinggi dan sudah tidak perlu diragukan lagi, telah dikecualikan dalam membuat keputusan yang begitu penting bagi ummat, yang memiliki konsekuensi luas menyangkut urusan nasib umat Islam? Mengapa mereka mengajukan tanpa syarat atas keputusan yang dicapai dengan memaksa dan mengintimidasi kepada orang lain? Apa bukti yang ada bagi legitimasi prosedur tersebut? Mengapa ini merupakan preseden yang sah dan bersifat mengikat kebebasan umat yang lain?

Secara prosedural tipe ini dapat dianggap sebagai sah, hanya jika secara eksplisit ditunjuk sebagaimana tersebut dalam ayat Al-Qur’an atau Sunnah Nabi, dalam arti ayat di mana Allah menyatakan:

“Ambil dan terimalah apa yang Rasul berikan kepadamu, dan tinggalkan apa yang dilarang. ” (QS, 59:7)

Adapun para sahabat, tidak ada bukti bahwa mereka harus bertindak dengan benar, selain dari yang sebagian dari mereka tidak setuju dengan orang lain, dan tidak ada alasan dalam prinsip untuk lebih memilih pandangan dari satu kelompok para sahabat atas orang lain.

Memang benar bahwa mayoritas penduduk Madinah memberi kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar dan dengan demikian diratifikasi seleksi sebagai khalifah, tetapi mereka yang menolak untuk melakukannya tidak melakukan dosa apapun, untuk kebebasan dalam memilih, karena kebebasan dalam memilih adalah hak alami dari setiap Muslim, dan kaum minoritas tidak berkewajiban untuk mengikuti pandangan sebagian besar kaum mayoritas. Tidak ada yang bisa dipaksa untuk bersumpah setia (baiat) kepada seseorang yang dia tidak ingini di pucuk pimpinan urusan muslim atau bergabung dengan kompak menolak dia. Ketika kaum mayoritas memaksa kaum minoritas untuk menyesuaikan diri dengan pandangan kaum mayoritas itu sendiri, berarti ia telah melanggar hak-hak kaum minoritas.

Sekarang sahabat yang berkumpul di sekitar Ali sa. yang terpaksa berubah mengikuti mayoritas yang telah memberikan kesetiaan kepada Abu Bakar, itu tidaklah dapat ditasbihkan apapun kepada Tuhan atau Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), karena itu jelas pelanggaran hak-hak mereka dan kebebasan invidual mereka.

Lebih buruk lagi dari ini, adalah fakta bahwa Ali b. Abi Thalib sa. dipaksa untuk berpartisipasi dalam sumpah kesetiaan (baiat) dan mengubah posisinya, meskipun ia adalah seseorang yang diberi otoritas oleh Rasulullah Muhammad SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan. Tak seorang pun dengan rasa keadilan dapat menyetujui pengebirian hak kebebasan individu dalam memilih itu sendiri.

Hal ini juga harus dikatakan bahwa umat Islam dari generasi kemudian yang mengadopsi sebuah sikap negatif terhadap suatu pemberian kesetiaan (baiat) yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, tidak dapat dihukum karena ini atau dianggap sebagai seorang pendosa (sesat/ kafir-murtad).

Selama zaman kekhalifahan Ali sa., orang-orang seperti Saad b. Abi Waqqas dan ‘Abdullah b. ‘Umar menolak baiat kepada Ali sa., tetapi dengan kemurahan hatinya, Imam Ali sa. mempersilahkan mereka bebas untuk melakukannya dan tidak memaksa mereka untuk harus membaiat kepadanya.

Selain semua ini, jika khalifah tidak ditunjuk oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), tak seorang pun dapat dipaksa untuk mengikuti modus perilaku yang ditentukan oleh khalifah yang hanya mengklaim legitimasi dalam pemilihan suara. Pemilihan tersebut tidak memberikan kepadanya imunitas dari kesalahan dan dosa (‘ismah), juga tidak meningkatkan pengetahuan agama dan kesadaran. Orang mukmin biasa berhak mengikuti orang lain selain khalifah, yang tingkat pemahamannya terhadap ilmu agamanya lebih tinggi dari pada khalifah itu sendiri.

Namun, bila baiat itu adalah merupakan sumpah ketaatan pada perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkat-atasnya dan keluarganya), ini memang dianggap sebagai sumpah kesetiaan kepada Rasulullah SAWW. sendiri, lalu tidak mungkin jika tidak taat, dan ketaatan orang kepada siapa kesetiaan diberikan adalah kewajiban tidak hanya pada umat Islam waktu itu, tapi pada orang-orang dari semua generasi-generasi berikutnya.

Selain itu, Al-Qur’an menganggap kesetiaan yang diberikan kepada Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sebagai setara dengan kesetiaan diberikan kepada Allah. Jadi Al-Qur’an mengatakan:

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al Qur’an, 48:10)

Hal ini jelas bahwa pengganti penerus itu dipilih oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), yang akan menjadi adalah laki-laki yang paling tajam dan paling paham tentang peraturan Al-Qur’an dan agama Allah, bahkan ia mungkin akan memiliki semua sifat-sifat Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dengan perkecualian menerima wahyu Allah, dan dia memberi perintah apa pun akan didasarkan pada keadilan dan penerapan hukum-hukum agama Allah.

Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), berkaitan dengan hal itu bersabda:

“Komunitas saya tidak akan pernah setuju atas kesalahan.”

Namun, tradisi ini tidak dapat dikemukakan berkaitan dengan pertanyaan suksesi kepemimpinan dalam Islam, untuk itu kemudian akan bertentangan dengan perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dan secara efektif menyebabkan orang akan mengabaikan kata-katanya; itu akan memungkinkan mereka untuk lebih suka atas pandangan mereka sendiri dari pada kata-kata beliau SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya). Apa pun penerapan itu lebih dibatasi pada kasus-kasus di mana tidak ada hukum yang jelas atau otoritatif dari Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAWW.

Apa yang dimaksudkan oleh Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), adalah bahwa masyarakat tidak akan setuju atas kesalahan dalam kasus di mana ummat diijinkan oleh Allah untuk memecahkan masalah dengan musyawarah, tempat konsultasi tersebut dilakukan di suasana yang bebas dari intimidasi, dan di mana pilihan tindakan tertentu dengan suara bulat disetujui. Namun, jika sekelompok masyarakat tertentu cenderung dalam arah tertentu dan kemudian mencoba untuk memaksakan pandangan mereka pada orang lain dan memaksa pembaiatan mereka, tidak ada alasan untuk menganggap hasil itu sebagai mewakili sebuah konsensus yang valid.

Adapun sumpah kesetiaan (baiat) yang terjadi di Saqifah, bahkan jika Allah dan Rasul SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sudah memberikan izin untuk masalah yang akan memutuskan berdasarkan konsultasi, tidak ada konsultasi yang benar-benar terjadi. Sebuah kelompok tertentu secara individu mengatur agenda di muka dan kemudian dikeluarkan usaha-usaha besar untuk mencapai hasil yang mereka sendiri inginkan (red. penuh hawa nafsu dunia/ ambisi). Ini adalah kenyataan yang terjadi, seperti yang bahkan khalifah kedua (Umar b. Khattab) sendiri datang untuk mengakui:

“Pemilihan Abu Bakar sebagai pemimpin muncul secara kebetulan, itu tidak terjadi melalui konsultasi dan pertukaran pandangan. Jika seseorang mengundang Anda untuk mengikuti prosedur yang sama lagi, bunuhlah dia!” [1]

Dalam perjalanan ia menyampaikan khotbah pada awal khalifah-Nya, khalifah pertama meminta maaf kepada orang-orang dalam kata-kata:

“Para sumpah kesetiaan (baiat) kepada saya adalah sebuah kesalahan, Semoga Allah melindungi kita dari konsekuensi buruk yang aku sendiri takut membahayakan dapat menimbulkan.” [2]

Selama hidupnya, Nabi Islam SAWW. (salam kedamaian dan berkat atasnya dan keluarganya), menunjukkan perhatian besar bagi kesejahteraan kaum muslimin dan menaruh perhatian besar terhadap kelestarian agama Islam dan persatuan dan keamanan masyarakat Muslim. Ia sangat khawatir munculnya perpecahan-perpecahan, dan dimanapun beliau pergi, hal pertama yang ia lakukan adalah untuk menunjuk seorang gubernur atau komandan untuk daerah. Demikian pula, komandan selalu diangkat di muka setiap kali pertempuran sedang direncanakan dan bahkan wakil komandan ditunjuk untuk mengambil alih kepemimpinan tentara jika perlu. Setiap kali beliau memulai perjalanan, ia menunjuk seseorang sebagai gubernur untuk mengelola urusan Madinah.

Mengingat semua ini, bagaimana mungkin bahwa dia tidak pernah memikirkan nasib masyarakat ummat Islam setelah wafatnya, yang membutuhkan panduan dan pimimpinan, kebutuhan di mana nasib masyarakat ummat Islam di dunia ini dan selanjutnya tergantung?

Apakah mungkin bahwa Tuhan harus mengirimkan utusan untuk membimbing manusia dan untuk mendirikan agama; sedang sang utusan harus menanggung segala macam kesulitan-kesulitan dalam menyampaikan perintah Tuhan untuk ummat manusia, kemudian harus berhenti begitu saja di dunia ini tanpa ada kelanjutannya? Apakah ini suatu yang penuh hikmah dan kebijaksanaan dari Allah Yang Maha Bijaksana atau logis dari suatu rangkaian aksi?

Apakah setiap pemimpin akan begitu saja merasa puas dan percaya atas jerih payah usaha dan perjuangannya selama ini, untuk kesempatan masa depan yang tidak pasti?

Ke-Rasul-an adalah kepercayaan ilahi yang diberikan kepada Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), dan ia memiliki kepribadian yang terlalu agung mengabaikan kepercayaan dengan cara apapun, terutama dengan meninggalkan kelanggengan agama Islam. Membuat penunjukan penerus penggantinya tergantung pada pemilu akan tepat sama dengan hasil pemilu itu sendiri, selalu timbul permasalahan-permasalahan.

Jika tujuan dari agama adalah untuk mendidik manusia dalam kemanusiaan mereka dan jika hukum agama untuk mempromosikan pembangunan dan perbaikan umat manusia, seorang pemimpin harus selalu ada bersama-sama dengan agama dalam rangka untuk mengamankan kebutuhan material dan spiritual individu dan masyarakat dan pemimpin yang memberikan panduan dalam penyelesaian segala sengketa ke atas mereka.

Tidak ada keraguan bahwa kekuasaan pemerintah diperlukan untuk dapatnya melaksanakan hukum-hukum Tuhan dan menjaga perintah-Nya, dan kebutuhan akan ini berarti pada gilirannya merupakan kebutuhan terhadap pemimpin dan pemandu yang akan membantu dalam perjuangan mereka dalam mengatasi kekurangan kesadaran mereka yang rentan terhadap saran-saran setan.

Dengan tidak adanya seorang pemimpin, agama akan menjadi keruh dan terdistorsi oleh takhayul (syubhat) dan pendapat sewenang-wenang, baik secara individual ataupun kelompok, dan kepercayaan kepada illahi sesuai aturan agama dan wahyu akan dikhianati (menyimpang).

Selain itu, jika Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), telah meninggalkan untuk kaum muslimin memilih khalifah, ia akan melakukannya dengan kejelasan dan sepenuhnya dengan cara yang paling kategoris mungkin, juga menetapkan prosedur-prosedur mereka mengikuti dalam aturan pemilihan dan pengangkatannya.

Apakah urusan umat Islam setelah wafatnya Nabi bukan urusan Allah dan Rasul-Nya? Apakah orang-orang lebih berpandangan jauh dari Allah dan Rasul-Nya, atau lebih mampu membedakan mana pemimpin yang seharusnya?

Jika Nabi tidak menunjuk seorang pengganti (khalifah) untuk dirinya sendiri, kenapa Abu Bakar melakukannya? Dan jika Nabi melakukannya, mengapa yang beliau pilih disisihkan?

Masalah lain yang timbul sehubungan dengan pilihan khalifah atas dasar musyawarah adalah bahwa Imam harus menjadi penuntun umat dalam segala hal pengetahuan agama. Tidak ada yang meragukan bahwa dia harus memiliki komitmen dan pengetahuan komprehensif tentang hukum-hukum Allah, karena dalam menghadapi banyak masalah kompleks yang muncul umat Islam memerlukan kewenangan seorang pemimpin yang cocok untuk memberikan bimbingan keimanan yang dapat diandalkan. Pengganti Nabi karena itu harus menjadi pewaris sumber pengetahuan, yang membuat identifikasi dan pengakuan penerus, merupakan masalah penting.

Kita telah menjelaskan peran fundamental ketidakmungkinsalahan (‘ismah) di kedua hal, Nabi dan pemimpin (imam) yang ditunjuk oleh Nabi. Sekarang, bagaimana para sahabat, yang mereka sendiri tidak ketidakmungkinsalahan (‘ismah), membawa pada diri mereka sendiri untuk mengenali orang yang mungkin-salah?

Selain itu, jika itu adalah hak kaum muslimin bahwa mereka harus memilih pengganti Nabi, bagaimana hak ini dibatasi oleh ‘Umar b. Khattab hanya kepada untuk enam orang saja? Semua enam orang dari antara Muhajirin, dan bahkan tidak satu pun dari Anshar ditugaskan untuk menasehati mereka.

Ayat Al Qur’an yang berbunyi:

“Kaum muslimin adalah untuk mengatur urusan mereka atas dasar musyawarah” (Al Qur’an, 42:38)

Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa salah satu ciri dari orang percaya adalah untuk berkonsultasi satu sama lain dalam usaha mereka; itu tidak tidak menunjukkan dengan cara apapun bahwa kepemimpinan umat Islam harus berdasarkan suara mayoritas, juga tidak membuat kewajiban ketaatan kepada keputusan yang diambil oleh khalifah begitu terpilih. Ayat ini bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang cara konsultasi yang akan diselenggarakan dan apakah atau tidak kehadiran semua umat Islam diperlukan.

Bahkan jika konsultatif (syura) prinsip yang dapat diterapkan dalam masalah kepemimpinan Islam, keputusan harus dibuat melalui pertukaran pandangan umum, bukan terbatas hanya pada enam orang, dalam pemilihan yang “Umar b. Khattab tidak mau dirinya untuk berkonsultasi dengan salah satu sahabat.

Dia bahkan memberikan hak veto untuk Abd al-Rahman b. ‘Auf yang dikenal karena kekayaannya, sesuatu yang tidak dapat dibenarkan dengan mengacu pada prinsip-prinsip Islam.

Pertimbangan keenam itu, apalagi, dibayangi oleh ancaman dan intimidasi, telah diberikan perintah bagi mereka yang tidak setuju dengan mayoritas harus dihukum mati! Dibunuh!

Ketika menunjuk ‘Umar menjadi khalifah, Abu Bakar tidak berkonsultasi dengan siapa pun, tidak cukup jelas dia meninggalkan pertanyaan penggantinya kepada orang-orang bagi mereka untuk memutuskan, melainkan sepenuhnya merupakan keputusan pribadi.

Dalam hal apapun, prinsip konsultatif menjadi operasi hanya jika pemimpin itu sendiri mengadakan pertemuan konsultasi untuk pertukaran pandangan mengenai berbagai pertanyaan, terutama saat menyentuh topik tentang hubungan sosial dan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh pemimpin dalam menanggapi kebutuhan sosial. Konsultasi dengan spesialis yang relevan terjadi, tapi setelah opini mereka telah didengar, itu adalah pemimpin sendiri yang mengambil keputusan akhir.

Untuk pengetahuan agamanya adalah lebih tinggi dari orang lain, dan itu adalah pernyataan bahwa dukungan publik menikmati layak diberlakukan. Kesatuan arah dan kepemimpinan harus selalu dijaga, karena perbedaan pendapat, tanpa adanya seorang pemimpin membuat keputusan akhir, akan melumpuhkan pemerintah.

Juga harus diingat bahwa Al-Qur’an Surah Al-Syura terungkap di Makkah, pada saat sistem pemerintahan Islam belum mengambil bentuk, dan bahwa pada waktu tidak ada pemerintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah di atasnya dan keluarganya), berdasarkan konsultasi.

Ayat tentang konsultasi, kemudian, mendorong orang-orang percaya untuk berkonsultasi satu sama lain, dan itu tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah pemerintahan dan kepemimpinan. Hal ini terkait dengan keprihatinan praktis kaum muslimin, dengan berbagai masalah yang dihadapi umat Islam. Sama sekali tidak ada pembenaran untuk menafsirkan ayat ini sebagai sanksi penunjukan khalifah melalui musyawarah, karena selama usia pemerintah wahyu secara eksklusif ada di tangan Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya).

Selanjutnya, bagian dari ayat yang merekomendasi konsultasi diperlakukan dari keinginan untuk belanja properti seseorang dalam jalan Allah, juga sesuatu yang diinginkan tetapi tidak wajib.

Namun pertimbangan lain adalah bahwa ayat tersebut terjadi dalam konteks berhubungan dengan perang Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya). Beberapa ayat-ayat yang ditujukan kepada umat Islam pada umumnya dan para prajurit di antara mereka pada khususnya, dan lainnya untuk Nabi secara individual. Hal ini jelas bahwa dalam konteks ini dorongan untuk berkonsultasi terinspirasi oleh belas kasih bagi orang yang beriman, dengan kepedulian moral mereka, itu adalah bahwa Nabi tidak diwajibkan untuk bertindak sesuai dengan pendapat dari orang-orang yang dimintai konsultasi.

Untuk Alquran dengan jelas menyatakan:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian Setiap kali Anda mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah dan bertindak sesuai dengan opini sendiri dan niat (tekad). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Qur’an, 3:159)

Konteks ini juga menunjukkan konsultasi yang berlaku untuk hal-hal militer, terutama ke kekhawatiran yang muncul selama Pertempuran Badar, bagi Nabi SAWW (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), sahabat berkonsultasi tentang kelayakan menyerang kafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan kembali dari Suriah. Pertama Abu Bakar menyatakan pendapat, yang ditolak oleh Nabi, kemudian ‘Umar menyatakan-Nya, yang juga ditolak, dan akhirnya al-Miqdad memberikan pendapatnya, dan Nabi menerimanya. [3]

Jika Nabi berkonsultasi dengan orang lain, itu bukan berarti untuk belajar dari mereka yang lebih unggul (pakar) dari pendapat beliau sendiri. Tujuannya adalah bukan untuk melatih mereka dalam konsultasi metode dan penemuan pandangan yang benar. Berbeda dengan penguasa yang menolak duniawi pernah berkonsultasi dengan orang biasa, karena kesombongan dan keangkuhan, Nabi diperintahkan oleh Allah untuk menunjukkan perhatian orang yang beriman dan belas kasihan kepada mereka dengan konsultasi dengan mereka, pada saat yang sama meningkatkan harga diri mereka dan belajar apa yang mereka pikirkan.

Namun, keputusan akhir selalu, dan dalam kasus Pertempuran Badar, Allah memberitahukan terlebih dahulu tentang apa yang akan dihasilkannya, dan ia pada gilirannya ini disampaikan kepada para sahabat setelah berkonsultasi dengan mereka.

Perintah untuk berkonsultasi dan untuk bertukar pandangan juga demi menemukan cara terbaik untuk memenuhi tugas yang diberikan, bukan untuk mengidentifikasi apa yang tugas dan apa yang tidak, ini merupakan perbedaan penting.

Setelah resep yang jelas dan otoritatif ada dalam Al-Quran atau Sunnah, tidak ada tanah untuk konsultasi mengambil tempat. Masyarakat tidak memiliki hak untuk mendiskusikan perintah yang didasarkan pada wahyu, karena pada prinsipnya diskusi tersebut mungkin berakibat pada pembatalan hukum Tuhan.

Dalam cara yang sama, konsultasi tidak berarti dalam setiap masyarakat manusia, sekali tugas hukum anggotanya telah ditentukan.

Sang penerus pengganti Ali b. Abi Thalib sa, jelas diangkat Nabi sesuai dengan perintah illahi di Ghadir Khum. Dan lagi di awal misi Nabi, ketika ia berada di ranjang kematiannya. Karena itu, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan oleh konsultasi.

Al-Quran tidak mengizinkan individu untuk menghibur pandangan mereka sendiri tentang topik apa pun ada di mana undang-undang illahi, untuk itu berkata:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al Qur’an, 33:36)

Atau lagi:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” (Al Qur’an, 28:67)

Karena pilihan dan seleksi pemimpin adalah hak prerogatif Allah semata, dan karena pada kenyataannya dia seorang pemimpin yang ditunjuk, tidak ada artinya untuk mencari orang lain sebagai pemimpin.

Tugas Imam adalah membimbing manusia dan menunjukkan kepada mereka jalan yang akan menuntun mereka ke kebahagiaan. Itulah yang terjadi, metode yang tepat untuk memilih seorang Imam adalah sama dengan yang Al Qur’an merinci untuk para nabi:

“Memang kewajiban pada Kami untuk membimbing manusia, untuk kerajaan dunia dan akhirat adalah Milik kami”. (Al Qur’an, 92:11-12)

Ini adalah tanggung jawab maka Allah sendiri memberikan pedoman bagi umat manusia dan untuk membuat tersedia apa saja yang dibutuhkan pada berbagai tahapan eksistensi. Bagian dari apa yang dibutuhkan yang pasti bimbingan, dan hanya satu yang telah ditunjuk Allah dapat menampilkan dirinya sebagai panutan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an bersaksi bahwa Allah berikan status panduan pada Nabi.

Penunjukan seorang Imam sebagai pengganti Nabi Allah terjadi untuk tujuan yang sama persis dengan misi Nabi (salam kedamaian dan berkah saw dan keluarganya), yang melayani umat manusia sebagai panutan dan tokoh suri tauladan kepada siapa ketaatan disampaikan.

Dengan hal tersebut, tak seorang pun berhak mengklaim fungsi ini atau untuk menuntut ketaatan tanpa bukti yang telah diangkat oleh Allah. Jika seseorang tetap saja tidak melakukannya, ia akan merampas tangan kanan Allah.

Teori Sunni yang melihat dalam penunjukan Abu Bakar penggantinya, pembenaran untuk prosedur tersebut. Jika penunjukan tersebut dibuat oleh seorang Imam yang mungkin-salah (tdiak ‘ismah’) itu adalah sah dan otoritatif, tetapi yang lain mengenali untuk satu pemilik ketidakmungkinsalahan (‘ismah) dan aman mempercayakan urusan umat kepadanya. Jika hal ini tidak menjadi kasus, kurang satu kualitas ketidakmungkinsalahan, tidak memiliki hak untuk menunjuk seorang menjadi khalifah, yang orang wajib mematuhi. Jika dikatakan bahwa ini adalah Abu Bakar yang lakukan dan tidak ada yang keberatan, itu harus dijawab bahwa keberatan memang sudah diajukan, tetapi tidak ada perhatian yang dibayarkan kepada mereka.

Tersebut pandangan para ulama Sunni tentang legitimasi dari tiga metode yang berbeda untuk memilih khalifah, dan keberatan-keberatan yang perlu dibuat untuk dilihat mereka.

Referensi:
[1] Ibnu Hisyam, Sirah, Vol. IV, hal 308; al-Tabari, Tarikh, Ibn al-Atsir, al-Kamil, Ibnu Katsir, al-Bidayah.
[2] Ibn Abi ‘l-Hadid, Syarah, Vol. I, p.132.
[3] Muslim, al-Sahih, “Sayr Kitab wa al-Jihad” Bab: Badar Ghuzwah, Vol. III, p.1403.

Lebih Lanjut mengenai Ijma’

Sunni menyatakan bahwa masalah penerus Nabi diselesaikan melalui konsep “syura (musyawarah), karena Allah SWT berfirman dalam Qur’an bahwa masalah mereka dipecahkan melalui syura’. Klaim bahwa masalah kepemimpinan adalah tidak diselesaikan melalui agreement supported adalah kesalahpahaman pengertian syura yang dimaksud dalam ayat Al-Qur’an dengan demokrasi pemilihan kepemimpinan Islam berdasarkan kesepakatan persetujuan ummat. Dewan syura’ ini berbeda dengan voting atau pemilihan, dan karena alasan itu, ia tidak dapat diterapkan pada masalah Imamah atau Khilafah. Mari kita menjelaskan mengapa?!Ketika seorang pemimpin untuk memutuskan suatu masalah, menurut aturan Islam, dia bisa mencoba untuk bernegosiasi dengan sekelompok pakar untuk mendapatkan pendapat dari mereka tentang isu-isu tertentu. Tapi akhirnya dia sendiri-lah yang harus memutuskan. Dia tidak melakukan pemungutan suara (voting). Untuk membuktikan spot kami, mari kita lihat ayat berikut ini.”… Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam masalah ini. Kemudian ketika Anda (para Nabi) ditentukan, maka bertawakallah kepada Allah” (Surah Ali Imran: 159).

Ayat di atas Nabi berkonsultasi bertanya, tapi Allah SWT. menyatakan “idza azamta fa …” Berarti bahwa hanya Nabi yang mengambil keputusan akhir. Dan kemudiam semua ummat Islam “sami’na wa atha’na”

Di sini tidak ada pemilihan suara (voting) sama sekali. Ini hanya soal untuk mendapatkan opini. Keputusan akhir ditangan Nabi. Yang mungkin berbeda dari mayoritas orang yang berkonsultasi (demi keuntungan) yang diakui oleh para pemimpin dan karena itu ia dianggap sebagai seorang pemimpin karena lebih unggul dalam keilmuan, pintar, dan sebagainya.

Beberapa pihak berpendapat disini bahwa, karena pengetahuan yang tinggi, Nabi Muhammad SAWW. bahkan tidak perlu untuk meminta pendapat rakyatnya. Namun, Nabi melakukannya dalam beberapa keadaan, hanya untuk mengajar orang pentingnya arti musyawarah.

Dalam hal musyawarah, keberadaan seorang pemimpin yang diasumsikan sebagai pengambil keputusan akhir (top decision maker). Hal ini jelas membuktikan bahwa, dalam hal suksesi kepemimpinan, konsensus (dukungan persetujuan/ agreement supported) dari ummat tidak diperlukan (kecuali hal itu dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, sebelum kematiannya).

Setelah kematian sang pemimpin, sang pemimpin tidak dapat melakukan musyawarah, kecuali sang pemimpin akhir memiliki wakil (red. atau panggilan wakil presiden) yang dapat melakukan fungsi ini.

Biasanya wakil yang ditunjuk adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi pemimpin, dan bahkan orang lain pun memutuskannya ia layak untuk menjadi pemimpin. Pemimpin ditunjuk oleh wakil tetap (pemimpin) yang sebelumnya telah ditunjuk, dan bukan oleh manusia!

Pemilihan suara (Voting) adalah masalah yang sama sekali berbeda. Dalam masyarakat demokratis, semua orang memiliki kesempatan untuk memilih kandidat mereka. Prosedur-prosedur ini tidak memiliki dukungan apapun dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, untuk masalah-masalah dalam kepemimpinan Islam (Islamic Leadership).

Keseluruhan. Alasannya, Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan oleh manusia, dari manusia dan untuk manusia). Sebagaimana pengertian Demokrasi dalam Trias Politika dari filusuf Yunani (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat), yang kemudian terbentuk legilatif, yudikatif dan eksekutif.

Memang, Quran mengutuk pendapat kebanyakan orang (lihat kembali ayat Al-An-am, 6: 116; QS Al-. Maidah: 49, QS Yunus:. 92; QS Al-. Rum: 8) karena pandangan kebanyakan pria biasanya lemah karena kecenderungan mereka.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”[500]. (Qur’an al-An ‘am, 6:16)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (Qur’an al-Maidah, 5 :49)

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”. (Qur’an Yunus, 10 : 92)

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (Qur’an ar-Ruum, 30: 8)

Selain itu, pemilihan tersebut tidak terjadi untuk tiga khalifah pertama yang naik tahta kepemimpinan setelah Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya) wafat, bahkan tidak diantara penduduk Madinah.

Juga, bagaimana jika ada orang yang tidak memilih individu yang memenuhi syarat kualifikasi sebagai seorang pemimpin, misalnya orang munafik? Bagaimana bisa, seperti misalnya orang yang korup menjadi Ulil Amri dan ketaatan menjadi wajib?

Tentu saja, Allah SWT. dan Rasulullah Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya). Lebih mengetahui mana yang lebih baik, yang lebih pantas, memenuhi syarat sebagai pemimpin (imam) penerusnya.

Referensi :

[500]. Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

[704]. Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

berarti kesepakatan dari seluruh ummat Islam. Tapi anehnya dalam pemilihan khalifah, fakta sejarah ternyata menunjukkan ada indikasi yang tidak jelas dalam pemilihan khalifah pertama. Adakah ia pemilihan khalifah pertama, itu atas ijma’ dari seluruh ummat Islam, tanpa terkecuali terutama dari Ahl Al-Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW dan BaniHasyim ?Fakta sejarah mencatat, pemilihan khalifah pertama hanya diikuti dan dihadiri beberapa gelintir orang sahabat nabi di Madinah (red. bahkan konon sudah ditentukan sebelumnya, lihat dan silahkan telaah secara kritis fakta sejarah peristiwa “saqifah”).

Sedangkan ummat muslim yang berada di wilayah Islam lainnya, selain yang ada di kota Madinah (red. setelah fathu Mekkah ummat Islam berkembang pesat), tidak terlibat ikut berperan secara aktif dalam pemilihan suara secara ijma’ itu, sehingga tidak dapat diketahui secara persis dan pasti bagaimanakah suara dan idea-idea mereka, seperti layaknya dalam suatu proses pemilihan secara ijma’ . Lebih tepatnya, dapat dikatakan, bukan kesepakatan seluruh ummat Islam, tetapi kesepakatan sebagian ummat Islam.

Bukti sejarah, Ahl Al-Bayt Nabi (Keluarga Nabi) seperti Imam Ali bin Abi Thalib sa., Fatimah sa, Hasan sa. dan Husyain sa. serta seluruh keluarga Bani Hashim lainnya tidak tampak ikut hadir dan mengikuti pemilihan suara dengan sistem Ijma itu. Karena Ahl Al-Bayt Nabi hanya berkhidmat pada jenazah Rasulullah di rumah duka, sementara hanya beberapa gelintir orang sahabat saja yang heboh membicarakan pengganti Nabi Suci Muhammad SAWW.

Oleh karena itu sistem ijma’ seperti in patut dipertanyakan, apakah hal ini layak bisa diterima oleh seluruh ummat Islam tanpa terkecuali? Karena, definisi pengertian ijma’ jelas sekali merupakan kesepakatan seluruh ummat Islam tanpa terkecuali. Dengan demikian definisi pengertian ijma’ itu sendiri telah diciderai!

Kemudian, yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah jika sistem ijma ‘ ini memang dinyatakan sebagai sistem yang benar dan harus wajib diikuti dan harus diterima, maka mengapa sesudah pemilihan khalifah pertama (Abu Bakar) yang masih patut dipertanyakan itu, dalam pemilihan khalifah kedua (Umar ibn Khattab), khalifah pertama Abu Bakar melanggar sistem ijma’ ini?

Betapa tidak, fakta sejarah menunjukkan pemilihan khalifah kedua Umar bin al-Khattab dibaiat sumpah setia oleh khalifah Abu Bakar sebagai penggantinya tanpa ijma’ . Tetapi secara atas tunjuk, membaiat dan mewariskan secara langsung dengan otoritas yang dimilikinya.

Jika Abu Bakar bisa membai’at dan menunjuk Umar bin Al-Khattab dalam sebagai khalifah penggantinya sesuai otoritas yang dimiliki, lalu pertanyaannya mengapa, apa yang tidak tepat jika Nabi Suci Muhammad SAWW. melakukan cara yang sama, sesuai dengan instruksi
wahyu yang diterima beliau sesuai otoritasnya sebagai Nabi dan Rasul, dengan menunjuk pemimpin pengganti beliau Ali bin Abi Thalib sa. sebagai Imam pengganti penerusnya?

Di sini, Nabi Suci adalah lebih patut ketika ia melantik Imam Ali bin Abi Thalib sa. sebagai seorang Imam atau khalifah penggantinya saat ia wafat nantinya, di sebuah tempat Ghadir Khum, setelah melakukan Haji Wada. Nabi Suci melakukan ini semua, bukan sesuai dengan keinginannya (“penuh hawa nafsu rendah duniawi”), tapi menurut Al-Qur’an apa yang ada dalam diri Nabi Suci Muhammad SAWW. tidak lain adalah “illa yuha wahyuha”. (melainkan wahyu yang telah Allah wahyukan). Dan kita semua ummat muslimin sepatutnya, harusnya mengucapkan “‘Sami’na wa atho’na” (Kami dengar dan Kami taat!).

Dan sekali lagi, perlu dipertanyakan kembali, jika ijma ‘adalah sistem yang benar dan harus diikuti, lalu mengapa pula sistem ijma’ ini masih tetap dilanggar kembali, dalam pemilihan untuk khalifah yang ketiga Ustman bin Affan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab?

Lagi fakta sejarah mencatat, khalifah kedua Umar bin Khattab pun juga telah melanggar sistem ijma’ ini, dimana ijma’ dibatasinya dengan memilih 6 (enam) orang sebagai calon khalifah tanpa musyawarah dengan para sahabat sebelumnya, dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu dari mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri untuk tidak lebih dari enam hari, jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, maka lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan diberikan kepada ‘Utsman.

Adakah ini adalah ijma’ atau merupakan hasil ijtihad terbaik khalifah Umar ibn Khattab atas pengertian definisi ijma’ itu sendiri?

Kalau itu memang iya, merupakan hasil ijtihad terbaik dari khalifah Umar Ibn Al-Khattab, tidakkah dia menyadari bahwa hal itu akan menciderai dan merusak pengertian ijma’ itu sendiri?

Mungkin perlu direnungkan, untuk telaah kritis atas fakta sejarah yang ada secara obyektif. Dan hendaklah dibuang jauh-jauh prasangka buruk. Di sini bukan hanya untuk sekedar mengkritisi polah tingkah laku dan pemikiran sahabat Nabi terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Ustman bin Affan. Nauzu billaahi min dzalik.

Terlepas dari semua itu, mereka semua sahabat Nabi yang terkemuka. Bahkan bagaimanapun juga Abu Bakar adalah ayah mertua Nabi Muhammad SAWW. Dimana beliaupun juga tetap sangat menghormatinya. Demikian pula Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan mereka semua telah memberi warna dalam pergerakan jihad Nabi Suci Muhammad SAWW. dan memberikan
sumbangsih yang tidak sedikit.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu muncul dalam hati dan pikiran semua umat Islam terutama generasi muda Islam. Mengapa sistem ijma’ dibuat dan diagung-agungkan sebagai dalil pembenaran untuk melegitimasi pemilihan dalam Kepemimpinan Islam (Islamic Leadership), tapi malah justru fakta sejarah menunjukkan bahwa dari pemilihan kepemimpinan Islam mulai khalifah pertama sampai khalifah ketiga, semuanya terbukti telah melanggar dan menciderai definisi pengetian ijma’ itu sendiri? Kalau sudah begini, lalu generasi Islam harus bagaimana?

Ternyata memang telaah kritis atas fakta-fakta sejarah adalah sangat penting sekali bagi generasi muda Islam untuk menemukan esensi kebenaran agama Islam yang hakiki dari sumber yang hakiki pula.

Imamah dalam pandangan Syi’ah adalah bentuk pemerintahan ilahi, yang berkantor tergantung pada Allah seperti ke-nabi-an, sesuatu dimana Allahtelah melimpahkan dan menganugerahkan pada hamba-hamba pilihan-Nya yang ditinggikan pada kurun waktu masanya masing-masing.

Perbedaannya adalah bahwa Nabi pendiri agama dan sekolah madarasah pemikiran hasil dari pada itu, sedangkan Imam memiliki fungsi menjaga dan melindungi agama Allah yang telah dirisalahkan kepada Nabi-Nya, dalam arti bahwa masing-masing memiliki tugas dalam semua dimensi nilai-nilai hidup spiritual mereka dan cara pelaksanaan agama Allah.

Setelah wafat Rasulullah SAWW, umat Islam berada pada kondisi yang membutuhkan tokoh yang layak yang akan diberkati dengan pengetahuan komprehensif yang berasal dari wahyu (red. hikmah), dibebaskan dari dosa kesalahan dan kenajisan kotoran hawa nafsu rendah duniawi, dan mampu menjaga dan melestarikan syari’at agama Allah secara murni dan konsekuen sesuai Qur’an dan Sunnah Nabi.

Hanya tokoh seperti itu lah yang layak akan dapat, tidak hanya untuk mengawasi perkembangan dari waktu dan untuk melindungi masyarakat dari unsur menyimpang, tetapi juga untuk memberikan pengetahuan agama yang luas kepada ummat yang muncul dari sumber utama berupa wahyu (red. hikmah) dimana prinsip-prinsip umum syari’at Nabi berasal. Hukum yang berasal dari wahyu inilah yang merupakan obor kebenaran dan keadilan yang tertinggi.

Imamah dan kekhalifahan tidak bisa dipisahkan. Sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW. Tuhan Allah tidak bisa dipisahkan dari kantor ke-nabi-anNya. Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan-kesatuan tunggal.

Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual. Dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya. Sehingga terjadi dikotomi perbedaan pengertian imam dan khalifah (red. keimamahan dan kekhalifahan).

Jika masyarakat Islam tidak dipimpin oleh seseorang yang layak saja, yang takut akan Tuhan, yang tak ternoda oleh kenajisan moral dan tata nilai ahlak mulia, yang perbuatan dan kata-kata menjadi model panutan bagi orang-orang yang mengikutinya, atau sebaliknya, jika imam atau penguasa masyarakat itu sendiri melanggar hukum dan prinsip keadilan, tidak akan ada lingkungan yang mampu menerima keadilan, dan tidak akan mungkin lagi kebajikan dan kesalehan tumbuh berkembang, dan atau untuk tujuan pemerintahan Islam menciptakan lingkungan yang sehat bagi penyebaran nilai-nilai spiritual dan penerapan hukum-hukum Allah yang didasarkan pada wahyu (red. hikmah) ilahi.

Pelaksanaan moral penguasa dan peran pemerintah memiliki pengaruh yang kuat dan begitu mendalam terhadap masyarakat pendukungnya. ‘Ali ibn Abi Tahlib-Amirul Mukminin, yang dianggap sebagai lebih berpengaruh daripada peran edukatif dari seorang bapak dalam rumah tangga . Dia berkata demikian:

“With respect to their morals, people resemble their rulers more than they resemble their fathers.” (“Respek atas moral mereka, orang-orang akan menyayangi penguasanya lebih dari diri mereka menyanyangi bapak-bapak mereka sendiri”) [1]

Karena ada hubungan tertentu dan afinitas antara tujuan sebuah pemerintahan yang diberikan dan atribut dan karakteristik dari pemimpinnya, pencapaian cita-cita pemerintahan Islam sangat tergantung pada keberadaan seorang pemimpinnya, di antaranya adalah kualitas istimewa yang mengkristal kepada diri seorang manusia pemimpin yang disempurnakan.

Selain itu, kebutuhan masyarakat untuk kepemimpinan dan pemerintahan itu sendiri, merupakan kebutuhan alami yang bergerak maju menuju kesempurnaannya. Dan dengan cara yang sama Islam telah memenuhi kebutuhan individual dan kolektif manusia, material dan moral, oleh penyusunan sebuah sistem hukum yang koheren, disamping itu juga harus memperhatikan kebutuhan alami untuk kepemimpinan dengan cara yang sesuai dengan sifat esensial manusia.

Allah telah memberikan semua alat dan instrumen yang dibutuhkan setiap ada keterbatasan, kelemahan dan kekurangan untuk mengatasi dan maju menuju kesempurnaan itu sendiri. Apakah itu mungkin bahwa orang yang juga terpelihara dalam pelukan rahmat ilahi entah bagaimana akan dikecualikan dari aturan ini, pengoperasian diganggu gugat dan dicabut dari sarana pendakian spiritual?

Pada saat kematian Rasul Allah, negara Islam tidak mencapai tingkat budaya atau intelektual yang memungkinkan hal itu akan terus berkembang menuju kesempurnaan tanpa perwalian dan pengawasan. Islam telah didirikan untuk pengembangan dan elevasi manusia akan tetapi tidak akan lengkap tanpa jiwa dan prinsip keiImamahan yang berada untuk itu; Islam tidak akan bisa memainkan peran penting yang berharga dan sangat strategis dalam pembebasan manusia dan mekarnya potensi esensi manusia.

Teks-teks Islam Fundamental menyatakan bahwa jika prinsip Imamah dikurangkan dari Islam, semangat hukum Islam dan masyarakat berdasarkan progresif monoteistik akan hilang, tak akan pernah ada lagi, tetapi hanya ada bentuk Islam yang tak bernyawa, yang tak memiliki ruh ke-ilahi-an lagi.

Nabi Islam SAWW, bersabda: “Barangsiapa mati tanpa mengenal Imam pada masanya, mati dalam keadaaan Jahiliyyah.” [2]
Alasan untuk ini adalah bahwa selama era Jahiliyyah pra-Islam ketidaktahuan orang-orang musyrik; mereka tidak tahu baik monoteisme atau ke-nabi-an. Deklarasi ini dikategorikan oleh Nabi, kedamaian dan berkah Allah atasnya dan keluarganya, menunjukkan pentingnya ke-imamah-an dalam agama Islam.
Referensi:

[1] Al-Majlisi, Biharal-Anwar, Vol, XVII, hal 129.

[2] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, hal 96.

Al Qur’anul Kariim

“(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71)”Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Hadist Bukhari & Muslim

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda :
”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”.
[Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam].

Nabi SAWW. Bersabda :
“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

NABi   SAW   MENYEBUT  NAMA  12  KHALiFAH  UMAT

penutupan kenabian dilengkapi oleh penunjukkan imam Dan kesempurnaan Islam yang universal dan abadi sampai akhir masa bergantung pada pengangkatan para imam.. Konsep imamah demikian ini mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi acuan utama adalah ayat ke-3 Al-Ma’idah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada hari ini [yaitu pada hari setelah pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah Rasul saw] telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku lengkapi atas kalian nikmat-Ku, dan juga Aku telah ridha bahwa Islam sebagai agama kalian.”

Dari penelaahan terhadap ayat ini berikut tafsir dan sebab turunnya di dalam berbagai kitab tafsir, akan kita dapati bagaimana para ahli tafsir telah bersepakat, bahwa ayat tersebut turun pada haji Wada’, yaitu haji perpisahan (terakhir) Rasul saw yang terjadi beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Masih dalam rangkaian ayat tersebut, setelah menyinggung ihwal orang-orang kafir yang telah berputus asa untuk mengadakan penyimpangan terhadap Islam, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian.”

Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu agama Islam dan nikmat wilayah telah Dia lengkapi dan sempurnakan.

Apabila kita cermati dengan baik riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab turun ayat tersebut, akan tampak jelas lagi bahwa ikmal dan itmam (penyempurnaan dan pelengkapan), yang disusul oleh keputusasaan orang-orang kafir untuk melakukan penyimpangan terhadap Islam, terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah Nabi dari sisi Allah SWT. Karena musuh-musuh Islam menduga, bahwa sepeninggal Rasul saw agama Islam dan para pemeluknya tidak punya pemimpin lagi. Terlebih Rasul sendiri tidak punya seorang putra pun. Dengan demikian, agama Islam akan menjadi lemah dan akan mengalami kehancuran.

Dugaan mereka itu sungguh keliru, karena Islam telah mencapai kesempurnaannya dengan diangkatnya seorang pengganti Rasul yang akan melanjutkan risalah dan perjuangan beliau. Maka, menjadi lengkaplah nikmat Ilahi, sementara segala angan-angan, harapan dan ambisi orang-orang kafir menjadi sirna.

Pengangkatan khalifah Nabi saw itu terjadi tatkala beliau dan rombongan jemaah haji dalam perjalanan pulang mereka dari haji Wada’. Ketika itu, beliau mengumpulkan semua jemaah haji di satu tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum”. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan khutbahnya yang panjang. Kepada kaum muslimin beliau bertanya:

“Bukankah aku ini lebih utama daripada diri kalian sendiri?”

Serempak mereka menjawab:

“Benar, ya Rasulullah ….”

Kemudian Nabi saw memegang tangan Ali bin Abi Thalib as dan mengangkatnya di hadapan mereka semua, lalu berkata, “Barang siapa yang menjadikan aku ini sebagai pemimpinnya, maka sungguh Ali adalah pemimpinnya.”

Dengan demikian, Nabi saw telah menetapkan wilayah Ilahiyah itu atas Imam Ali as. Segera setelah itu, seluruh kaum muslimin yang hadir di tempat itu bangkit membaiatnya. Di antara mereka, tidak ketinggalan pula khalifah kedua, Umar bin Khattab. Kepadanya Umar mengucapkan selamat dan berkata, “Engkau beruntung sekali wahai Ali. Kini engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh masyarakat yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.”

Pada hari yang agung tersebut, turunlah ayat yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku lengkapi pula nikmat-Ku atas kalian, dan Aku pun rela Islam sebagai agama kalian.

Dengan turunnya ayat ini, Rasul saw mengucapkan takbir lalu berkata, “Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah itu terletak pada wilayah Ali sepeninggalku.”

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.”[1]

Kalau kita mengkaji secara seksama beberapa riwayat yang berhubungan dengan pengangkatan Ali as sebagai imam, wali dan washi Rasul saw, kita dapat memahami bahwa Rasul saw sebelum itu telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya.

Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi itu yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.

Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari “Ghadir” ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.

Sebagai contoh, pada masa-masa awal bi’tsah (kenabian) Muhammmad saw sebuah ayat turun kepada beliau, “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS.As-Syu’ara: 214)

Lantas beliau berseru kepada keluarganya, “Siapakah di antara kalian yang siap menjadi penolongku dalam urusan agamaku ini, aku akan jadikan ia sebagai saudaraku, washi-ku dan khalifahku atas kalian.”

Ahlusunnah dan Syi’ah sepakat, bahwa ketika itu tidak seorang pun dari keluarga Nabi saw yang memberikan jawaban kecuali Imam Ali bin Abi Thalib as.[2]

Demikian juga ketika turun ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.[3]

Sebagaimana yang baru saja kita simak, Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau yang bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshari, bahwa dia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as Dan sejarah mencatat bahwa Allah mengaruniai Jabir umur panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as Ketika berjumpa, ia begitu senang sampaikan salam Rasul saw kepada Imam as.

Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aba Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as tentang firman Allah SWT, ‘Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum.’

Beliau menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein.”

Kembali aku bertanya, “Akan tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan Ahlulbaitnya di dalam Al-Qur’an?”

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menjawab, “Katakanlah kepada mereka, ‘Bahwa ayat-ayat tentang shalat yang turun kepada Nabi sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi Nabilah yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, beliaulah yang menjelaskan bahwa Ulil Amri itu adalah Ali bin Abi Thalib as, dan para imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan Ahlubaitnya, yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa. Nabi saw menambahkan, ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian, dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan.’”

Kalau kita amati dengan baik sabda-sabda Nabi saw yang berhubungan dengan masalah wasiat, akan kita dapati betapa seringnya Nabi saw mengulang-ulang wasiatnya itu. Bahkan di akhir hayat, Nabi saw masih saja mengulang wasiatnya tersebut, “Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian, yaitu Kitabullah dan Ahlilbaitku. Keduanya itu tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di telaga Surga kelak.”

Perlu diketahui bahwa hadis mengenai wasiat tersebut merupakan hadis yang mutawatir, baik dari Syi’ah Imamiyah maupun dari jalur Ahlusunah wal Jamaah.

Di antara tokoh-tokoh Ahlusunah yang meriwayatkan hadis tersebut adalah At-Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dll. Ulama yang belakangan ini pun meriwayatkan sebuah hadis lainnya, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nuh as, siapa yang turut naik bersamanya, ia akan selamat. Dan siapa yang menolaknya, maka ia akan karam.”[4]

Termasuk hadis yang sering diulang-ulang oleh Nabi saw ialah “Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti.”[5]

CATATAN  KAKi :

[1] Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.

[2] Bisa dirujuk ke ‘Abaqat Al-Anwar dan Al-Ghadir.

[3] Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494.

[4] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/151.

[5] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad Ibnu Hanbal, jilid 1/331 dan jilid 4/438.

 

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra’, (semoga

Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya64. 64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

TANYA  JAWAB :

Apakah Imam  Ali  Hilang  Keberaniannya  Setelah  wafat  Rasulullah  ??? Apakah Imam Hasan hilang  keberanian  memerangi  Mu’awiyah  setelah  wafat nya Imam Ali ???
Jawab :  

Tahukah Anda bahkan seorang Nabi melakukan perjanjian Hudaibiyah ? pada saat itu pendukung Imam Hasan hanya beberapa orang, jika tidak diambil jalan berdamai tentu Islam yang tersisa di segelintir orang itu akan dibantai habis dan hari ini tidak ada lagi Islam yang sebenarnya. Allah menjaga risalah Nabi ini dengan perantaraan perdamaian tersebut…Apa keberanian di mata Anda? asal tabrak gitu? keberanian di mata Ali adalah menghadapi semua cobaan demi ummat Muhammad SAW.. di banyak tempat beliau menegaskan akan hak kekhalifahan beliau.

Ketika Abubakar dan Umar memaksakan Imam Ali untuk berbai’at kepadanya,

Fatimah berkata kepada Abu Bakar dan Umar seperti ini: “Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.’ ‘Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.’ Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, ‘Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya’. (Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Bukti penentangan Abubakar kepada Fatimah Az Zahara yang juga merupakan penentangan kepada Rasulullah sendiri dapat dilihat ketika beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat.” Kemudian Abu Bakar menangis dan berkatat: “Aku tidak perlu pada bai’at kalian; lepaskan aku dari bai’at kalian.”  (Tarikh al-Khulafa’ Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20)

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah saww bersabda:”Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah.” Dalam Bab Ghazwah Khaibar, “dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat.” (Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39)

Dalam kesempatan ini juga perlu kiranya kita kemukakan hadist Nabi berkenaan Imam Ali walaupun tidak diterima oleh orang-orang yang sesat: “Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.”?  (Shahih Muslim jil. 1 hal. 48)  Bahkan sebagian sahabat berkata, “Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Imam Ali.”

 

Ketika Ali  Menjadi  Khalifah, Ali  Tidak  Menyelisih  para  Sahabat..!!!
Jawab : Siapa yang bilang? Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi Khalifah pun Imam Ali sudah menegaskan akan mengembalikan hukum ke zaman Nabi, silahkan baca ketika terjadi perundingan selepas wafat Utsman.

Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???
Jawab :  Silahkan baca tragedi Hari Kamis dalam Bukhari, Rasul sudah hendak menulis wasiat kemudian dicegah oleh Umar hingga terjadi keributan dan Rasul pun marah.

 

Peristiwa Ghadir Khum
Jawab : Siapa bilang tidak ada yang mengingatkan? Tahukah Anda alasan orang Yaman menolak menyerahkan zakat pada Abu Bakar? karena mereka tahu Abu Bakar tidak berhak atas jabatannya. Silahkan juga lihat sikap Bani Hasyim yang tidak memberi bai’at sampai Fatimah wafat

 

Yazid berbuat kerusakan nyata dengan pembunuhan di Madinah dan perkosaan yang diizinkan oleh Yazid terhadap gadis2 Madinah, sikap seperti ini tidak bisa didiamkan. Islam yang tersebar adalah Islam yang dipahami oleh mereka. sementara Ahlul bait Nabi ditinggal.. Ahlus Sunnah bermazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiiyah, atau Hambaliyyah.. LALU  KENAPA  BUKAN  MAZHAB  AHLUL  BAiT  yang di pedomani ??

Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. ”

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

2.….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)

3.….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)

4.Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)

5.….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)

6.….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)

7.(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)

8.….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

saudaraku……………..

Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menanyakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya nescaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’ Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang dijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? Kerana tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad , ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Allah SWT karena petunjuk-Nya.”




RUJUKAN SUNNI: Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan menurut kedua-duanya hadis di atas jika mengikut ukuran Bukhari dan Muslim dikira Sahih. Mengapa ia tidak dimasukkan dalam Sahih mereka jika begitu. Hanya bukhari dan Muslim sahajalah yang berhak menjawabnya di hadapan Nabi nanti di akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang ingin melihat kepada Adam tentang ilmunya, kepada Nuh tentang azamnya, kepada Ibrahim tentang lembutnya, kepada Musa tentang kehebatannya, kepada Isa tentang kezuhudannya maka hendaklah ia melihat kepada Ali b. Abi Talib (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, Bab Kelebihan Ali, Fakhuruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Surah Mubahilah, Yanabi al-Mawaddah, Bab 40).

“Imam-imam telah wujud sebelum wujudnya alam ini sebagai cahaya-cahaya, dan Allah jadikan mereka berpusing di sekeliling Arasy.”

Pendapat seperti ini adalah sandarannya dalam beberapa hadith Nabi dalam kitab Ahli Sunnah sendiri. Antaranya ialah hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit(Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berpusing di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sabda Nabi SAW: “Wasi-wasi engkau tertulis di tepi ArasyKu, lalu aku melihat dan mendapati 12 cahaya (Ibid)”. Kejadian Nabi Muhammad dan wasi-wasinya (Ibid.hlm. 485).

Allah SWT berfirman dalam Quran; Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai berai ! (QS. Ali Imran : 103)

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

اِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ الله،ِ وَ عِتْرَتِي اَهْلَ بَيْتِي، مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا اَبَدًا، وَانَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتیّ يرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.” (H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahmad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533 )

Terkait dengan sikap kita kepada Ahlul Bait, di antaranya Nabi saw. bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Aku meninggalkan di tengah tengah kalian apa yang jika kalian ambil kalian tidak akan tersesat, Kitabullah dan ’itrah  Ahlul Baitku. (HR. Tirmidzi)

Ada dua belas imam yang dilantik oleh Allah SWT sebagai pelanjut Nabi Muhammad SAW. Ada sebuah hadis panjang dalam dokumendokumen Sunni yang menyatakan bahwa jumlah para imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen-dokumen Sunni lainnya yang di dalamnya Nabi SAW bahkan menyebutkan nama masing-masing dua belas imam tersebut.


Allah SWT menunjuk dua belas imam, bukan semata-mata mereka dari rumah tangga Nabi SAW, namun karena mereka, di masa-masa mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling saleh, paling baik dalam kebajikan personal, dan paling mulia di hadapan Allah; dan pengetahuan mereka diturunkan dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayahayah mereka……itu tidak berarti dengan sendirinya   12   imam  harus  berkuasa secara fisik

Allah SWT berfirman ; Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhamrnad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah mernberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa : 54).

a. Dalam Shahih Bukhari, tercantum hadis berikut:

Diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, “Aku mendengar Nabi SAW berkata, Akan ada dua belas pemimpin (amir).’ Kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat yang tidak kudengar. Ayahku berkata, ‘Nabi SAW menambahkan, ‘Mereka semua berasal dari Quraisy.”66. Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, hal. 106.

b. Dalam Musnad Ahmad, tercantum hadis berikut, “Nabi SAW berkata, ‘Kelak ada dua belas orang khalifah untuk masyarakat ini. Semuanya dari Quraisy”‘77. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1452, hadis 5; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1009, hadis 4.477.

c. Dalam Shahih Muslim, ada hadis berikut:


Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, “Nabi SAW berkata, ‘Masalah (kehidupan) tidak akan berakhir, sampai berlalunya dua belas khalifah.’ Kemudian beliau membisikkan sebuah kalimat. Aku bertanya kepada ayahku apa yang Nabi katakan. Ia menjawab, ‘Nabi berkata, “Semuanya berasal dari Quraisy.”88. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imaran, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1453, hadis 6; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1010, hadis 4.478.

d. Juga dari Shahih Muslim:
Nabi SAW berkata, “Urusan-urusan manusia akan terus dibimbing (dengan baik) selama mereka diatur oleh dua belas orang.”99. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980 edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 7; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, ha1.1.010, hadis 4.480.

e. Juga, Nabi SAW bersabda, “Islam akan terus berjaya sampai adanya dua belas khalifah.”1010. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, Edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 10; Shahih Muslim, versi Inggris, bab DCCL1V(berjudul:Orang-orang yang tunduk kepada Qurais dan kekhalifahan adalah Hak ( Quraisy) jilid 3 hal 1010 hadis 4.483 Rujukan Sunni lain dalam hadis serupa: Shahih at-Turmuzzi, jilid 4, ha1.507; Sunan Abu Daud, jilid 2, hal. 421 (tiga hadis); dan yang lainnya seperti Tialasi, Ibnu Atsir, dan lain-lain.

f. Juga, Nabi SAW bersabda, ‘Agama Islam akan terus berlangsung sampai hari kiamat, dengan dua belas khalifah untuk kalian, mereka semua berasal dari Quraisy”‘1111. Rujukan Sunni: al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.149; Musnad ahmad ibn Hanbal; Shahih, Nasa’i, dari Anas bin Malik; Sunan, Baihaqi; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, karya Ibnu Hajar Haitsami, bab 17, pasal 2, hal. 287.

g. Nabi SAW berkata, “Para imam berasal dari Quraisy.”‘1212. Shahih Bukhari, hadis 9.422

Pertanyaan :

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi

kami ingin bertanya,berdasarkan prespektif Sunni siapakah dua belas khalifah setelah Nabi Muhammad saw? Silakan dukung penegasan anda dengan merujuk pada Quran dan atau enam buku kumpulan hadis Sunni, dan juga membenarkan perbuatan mereka dalam lintasan sejarah. Ingatlah, perintah-perintah dua khalifah Nabi ini haruslah ditaati. Karenanya, jika anda tidak mengenal dua belas pemimpin anda, bagaimana anda ingin menaati mereka?

Kami ingin mengingatkan anda bahwa ‘khalifah’ artinya penerus/ wakil… Syarat  imam adalah : mereka harus  sesuai dengan ayat Quran : “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku” (QS. asy-Syura : 23).

Tak syak lagi khalifah seharusnya diketahui oleh para pengikutnya, jika sebaliknya seorang khalifah imajiner tidak bisa diikuti, sementara Nabi SAW telah meminta kita untuk mengikuti mereka? Jika anda tidak mengetahui para imam anda, bagaimanakah anda bisa menaati mereka?

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi as, imam di zaman kita sekarang. Mereka adalah para khalifah karena Allah SWT menjadikan mereka khalifahkhalifah (mereka semua adalah wakil-wakil Allah SWT di muka humi).
Bersama lintasan waktu dan melalui kejadian – kejadian sejarah, kita ketahui hahwa melalui hadis-hadis di atas Nabi SAW memaksudkan dua belas khalifah tadi adalah dua belas imam dari Ahlulbaitnya yang merupakan keturunan Nabi SAW karena kita tidak punya kandidat lain dalam sejarah Islam yang semua kesalehannya disepakati oleh seluruh Muslimin.


Adalah menarik untuk diketahui bahwa bahkan musuh-musuh Syi’ah tidak mampu menemukan setiap kekurangan dalam keutamaankeutamaan dua belas imam Syi’ah. Lagi pula, dua belas imam ini muncul satu demi satu tanpa ada kesenjangan.


Sekarang, jelaslah bahwa satu-satunya cara untuk menafsirkan hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad bin Hanbal adalah dengan menerima dan mengakui bahwa itu merujuk pada dua belas imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW, karena mereka adalah -di zaman mereka masing-masing- yang paling berilmu, masyhur, paling takwa, paling saleh, terbaik dalam keutamaan-keutamaan pribadi, dan yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Pengetahuan mereka bersumber dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayah-ayah mereka. Inilah Ahlulbait yang kemaksumannya, ketidak bernodaannya, dan kesuciannya dibenarkan oleh Quran mulia (kalimat terakhir Surah al-Ahzab : 33).

Tentang  hadis : “Kekhalifahan akan berlangsung 30 tahun setelahku, maka akan ada banyak raja” …Adalah sangat mungkin bahwa raja-raja   yang sama memalsukan hadis’  30 Tahun’ untuk mencegah orang-orang dari isu dua belas imam dan membenarkan perampasan mereka akan kekuasaan.

Allah SWT telah memberi manusia kebebasan kehendak untuk menerima atau menolak kepemimpinan yang Dia angkat  baik , baik orang-orang mengikutinya ataupun tidak.. Jika (katakanlah mayoritas) orang-orang mengikutinya, dengan sendirinya ia akan memegang tampuk kekuasaan. Dan sekiranya orang-orang; mendurhakainya, ia akan tetap memiliki kepemimpinan spiritualnya bagi sejumlah kecil pengikut setianya (orang-orang yang bertakwa). Setiap orang di zaman itu diharapkan untuk menaati

para Nabi  punya agenda politikNabi Muhammad yang berkampanye menentang kaum musyrik di Jazirah Arab dan menegakkan pemerintahan Islam yang pertama. Memang benar bahwa semua Nabi diutus untuk menggembleng manusia dan menjadikan mereka ingat akan Allah SWT. Namun ini tidak dapat sepenuhnya diterima tanpa kekuasaan politik apapun. Juga kami tidak pernah sebutkan bahwa memerintah negara sebagai tujuan pertama dari seorang pemimpin yang ditunjuk Tuhan. Alih-alih kami katakan bahwa pemimpin tersebut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk posisi mulia itu. Manusia seyogianya menyadari fakta ini dan tunduk pada perintahnya. Bila mereka berbuat demikian dengan sendirinya ia akan menjadi pemimpin masyarakat itu tanpa membutuhkan’agenda’.

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bBani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka dua belas orang pemimpin diantara mereka (QS. Al-Maidah : 12 ) Sesungguhnya orang – orang yang tidak mengikuti dua belas pempimpin tersebut tidaklah menganiaya melainkan diri mereka sendiri.

“Orang yang mengingkari kepemimpinan mereka akan tersesat..”

HADiS   SYi’AH

Secara jelas, hadis-hadis di atas tidak selaras dengan empat khalifah pertama semuanya karena jumlah mereka kurang dari dua belas orang. Hadis-hadis tersebut tidak bisa pula diterapkan kepada kekhalifahan Bani Umayah karena;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka semua adalah kaum tiran dan zalim (selain Umar bin Abdul Aziz),
(c) mereka bukan berasal dari Bani Hasyim dan untuk hal itu, Nabi SAW telah bersabda dalam hadis lain bahwa ‘mereka semua berasal dari Bani Hasyim.’

Hadis-hadis itu tidak bisa diberlakukan untuk kekhalifahan Bani Abbasiah lantaran;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka menindas keturunan Nabi di mana-mana yang artinyo mereka tidak sesuai dengan ayat Quran, Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku (QS. asy-Syura : 23).

Tentang penafsiran ayat 59 Surah an-Nisa dimana Allah SWT  memerintahkan kita untuk menaati Ulil Amri, Khazzaz dalam Kifayat al-Atsar-Nya, mencantumkan sebuah hadis berdasarkan otoritas sahabat Nabi SAW yang tersohor, Jabir bin Abdillah Anshari. Ketika ayat tersebut (an-Nisa : 59) diturunkan, Jabir bertanya kepada Nabi SAW, “Kami tahu Allah dan Nabi, namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya nlah digabungkan dengan ketaatan kepada Allah dan dirimu sendiri?”

Nabi SAW berkata, “Mereka para khalifahku dan imam bagi kaum Muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali, kemudian Hasan hin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat (Perjanjian Iama). Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya, Jafar Shadiq, kemudian Musa bin Jafar, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan berada sama dengan julukanku. Dialah Bukti Allah (hujjatullah) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Allah (Baqiyatullah) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukkan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hati orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Allah.”


Jabir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi SAW menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan keNabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya, dan mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya wlama kegaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya selama kagaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari di balik awan. Wahai Jabir, inilali rahasia Allah yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Allah. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya!”


Lebih menarik lagi, ada juga riwayat-riwayat Sunni yang di dalamnya mengandung perkataan bahwa Rasulullah menyebutkan nama-nama dari dua belas anggota Ahlulbaitnya ini satu demi satu yang bermula dengan Imam Ali as dan berakhir dengan Imam Mahdi as (lihat YaNabi al-Mawaddah, karya Qanduzi Hanafi).

Sekarang kita mafhum siapakah’orang-orang yang diberi otoritas’. Ia merupakan bukti bahwa persoalan menaati para penguasa yang tiran dan zalim tidak muncul sama sekali. Dengan ayat di atas kaum Muslim tidak perlu menaati para penguasa yang zalim, tiranik, jahil, egois, dan tenggelam dalam hawa nafsu.

Sesungguhnya, mereka (kaum Muslim) diperintahkan untuk menaati dua belas imam yang ditentukan, yang mereka semua itu maksum dan bebas dari pemikiran dan perbuatan buruk. Menaati mereka tidak punya resiko apapun. Bahkan, ketaatan kepada mereka menjaga dari semua resiko; karena mereka tidak akan pernah memberikan sebuah perintah yang berlawanan dengan titah Allah SWT dan akan memperlakukan semua manusia dengan cinta, keadilan, dan persamaan.

Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan manusia atas manusia). Sesungguhnya, Quran mengecam pendapat kebanyakan manusia (lihat al-An -am: 116; al-Maidah: 49; Yunus: 92; al-Rum : 8) karena pandangan kebanyakan manusia biasanya lemah lantaran kecenderungan mereka.


.
Imam atau Imamah (bahasa Arab: امامة) berarti “kepemimpinan” dan merupakan bagian dari teologi Islam Syi’ah.Ini adalah gelar yang diberikan kepada orang yang menjadi pemimpin dalam suatu komunitas dalam sebuah gerakan sosial tertentu atau ideologi politik atau ilmiah atau bentuk pemikiran keagamaan. Tentu saja, karena hubungan dengan-Nya dan orang-orang yang dipimpinnya, tindakannya harus sesuai dengan kemampuan mereka dalam hal-hal penting-primer dan sekunder.

Imam ini, sehubungan dengan menyusun massa ummah, pemimpin dan contoh suri tauladan dari kekuasaan yang memiliki wawasan intelektual dan wawasan perjalanan mereka menuju manfaat Tuhan (ma’rifatullah).

Kepemimpinan seperti ini, dilakukan dalam bentuk yang benar dan tepat, tidak lain daripada realisasi tujuan Islam dan pelaksanaan ajarannya, ajaran yang didirikan oleh Rasulullah Muhammad SAWW (sholawat atasnya dan keluarganya); itu melimpahkan eksistensi objektif mengenai cita-cita membentuk masyarakat dan kodifikasi undang-undang untuk tata laksana.

Imamah dan kepemimpinan yang kadang-kadang dipahami dalam arti terbatas untuk merujuk kepada orang yang dipercayakan dengan kepemimpinan secara eksklusif sosial atau politik.

Imamah dan khalifah tidak bisa dipisahkan, hanya dalam cara yang sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW (sholawat atasnya dan keluarganya) tidak dapat dipisahkan dari kantor kenabiannya.

Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan kesatuan tunggal. Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual, dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya.

Agama suci Islam mempertimbangkan dan memberikan pengarahan tentang semua aspek kehidupan semua orang. Ini menyelidiki kehidupan manusia dari sudut pandang spiritual dan manusia sesuai panduan, dan intervensi pada bidang eksistensi formal dan material dari sudut pandang kehidupan masing-masing. Dengan cara yang sama, itu campur tangan di bidang kehidupan sosial dan peraturan (yaitu pada bidang pemerintahan).

Imamah memiliki arti luas dan komprehensif yang mencakup otoritas intelektual dan kepemimpinan politik. Setelah kematian Nabi, Imam dipercayakan dengan perwalian dari prestasi dan kelanjutan kepemimpinannya, untuk mengajarkan manusia akan kebenaran Al-Qur’an dan agama dan tata cara tentang masyarakat; di singkat, ia untuk membimbing mereka dalam semua dimensi keberadaan kehidupan mereka.

Jadi imamah dan kepemimpinan agama dalam Islam dapat dipelajari dari tiga perspektif yang berbeda: dari perspektif pemerintahan Islam, ilmu Islam dan perintah (hukum), serta kepemimpinan dan bimbingan yang inovatif dalam kehidupan rohani.

Syiah berpendapat bahwa karena masyarakat Islam sangat membutuhkan bimbingan di masing-masing tiga aspek itu, orang yang menduduki fungsi yang memberikan bimbingan dan panutan adalah pemimpin masyarakat dalam bidang yang menjadi perhatian agama harus diangkat oleh Allah dan Nabi.

Namun, dimensi spiritual manusia terhubung erat dengan misi agama, dan benar mam adalah orang ditinggikan yang menggabungkan dalam dirinya otoritas intelektual dan kepemimpinan politik; yang berdiri di garis terdepan dari pemuka masyarakat Islam, yang memungkinkan dengan demikian kedua hal, menyampaikan kepada orang-orang hukum ilahi yang ada di setiap wilayah dan untuk melaksanakannya, dan yang mempertahankan identitas kolektif dan martabat manusia kaum muslimin dari penurunan dan korupsi.

Selain itu, Imam adalah salah satu yang kepribadian di dunia ini, sudah terbukti memiliki aspek ilahiah; berurusan dengan Allah dan manusia, implementasinya dari semua devosi, ajaran etis dan sosial dari agama Allah, memberikan suatu pola yang lengkap dan model untuk imitasi.

Imam ini adalah panduan yang pergerakan manusia menuju kesempurnaan. Oleh karena itu kewajiban bagi semua orang percaya untuk mengikutinya dalam segala hal, karena ia adalah contoh hidup untuk pembangunan diri dan masyarakat Islam, dan cara hidupnya adalah contoh terbaik dari kebajikan bagi masyarakat Islam.

Imam adalah petunjuk dan pemimpin orang-orang dalam tindakan eksternal mereka, sehingga dia memiliki fungsi kepemimpinan batiniah dan esoterik serta bimbingan dan contoh suri tauladan bagi ummat. Ia adalah panduan dari kafilah kemanusiaan yang bergerak dalam hati dan esoterik terhadap AllahSWT. (ma’rifatullah).Untuk menjelaskan kebenaran ini kita perlu berpaling pada dua komentar berikut sebagai pengantar.

Pertama-tama, tanpa diragukan lagi, menurut Islam serta agama-agama Ilahi (samawi) lainnya, satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan sejati atau kesengsaraan, kebahagiaan atau kemalangan, adalah dengan cara tindakan (beramal) yang baik atau orang yang jahat datang untuk mengenali melalui instruksi agama ilahi, maupun melalui primordial sendiri dan yang diberikan Allah, alam dan intelijen.

Kedua, melalui sarana wahyu dan nubuat. Allah telah memuji atau mengutuk tindakan manusia, sesuai dengan bahasa manusia dan masyarakatnya, di mana mereka tinggal. Dia telah menjanjikan kepada orang yang berbuat baik dan mematuhi dan menerima ajaran-ajaran wahyu dengan kehidupan kekal yang bahagia dalam memenuhi semua keinginan yang sesuai dengan kesempurnaan manusia.

Dan orang yang berbuat dosa dan bengis, dia telah diberi peringatan tentang kehidupan abadi yang pahit, yang dialami setiap bentuk kesengsaraan dan kekecewaan.

Tanpa ragu Allah, yang berdiri di setiap cara dan di atas segala hal dari yang kita dapat bayangkan, tidak seperti yang kita lakukan, memiliki “pikir” dibentuk oleh struktur sosial tertentu. Hubungan antara Tuan dan hamba, penguasa dan memerintah, perintah dan larangan, pahala dan hukuman, tidak ada, di luar kehidupan sosial kita.

Orde Ilahi adalah sistem penciptaan itu sendiri, di mana keberadaan dan penampilan dari segala sesuatu berhubungan hanya untuk penciptaan oleh Allah, menurut hubungan nyata dan untuk itu saja.

Selanjutnya, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-quran dan hadist Nabi, agama mengandung kebenaran dan veritas atas pemahaman umum manusia, yang telah dinyatakan kepada kita oleh Allah, dalam bahasa yang dapat kita pahami pada tingkat pemahaman kita.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa ada hubungan yang nyata antara tindakan yang baik dan yang jahat, dan jenis kehidupan yang disediakan bagi manusia dalam keabadian atau kekekalan, hubungan yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan hidup masa depan, sesuai dengan Kehendak Tuhan.

Atau dalam kata-kata sederhana dapat dikatakan, bahwa setiap tindakan baik atau jahat, membawa efek nyata dalam jiwa manusia yang menentukan karakter kehidupan masa depannya.

Apakah ia mengerti atau tidak, manusia adalah seperti seorang anak yang sedang dilatih. Dari instruksi guru, si anak mendengar apa-apa selain harus dan tidak boleh dilakukan, meskipun tidak memahami arti ia melakukan tindakan itu.

Namun, bila ia sudah akil balik (dewasa), sebagai akibat dari kebiasaan mental dan spiritual, kesalehan dicapai dalam hati selama periode pelatihan, dia mampu memiliki kehidupan sosial yang bahagia.

Namun, jika ia menolak untuk tunduk kepada petunjuk guru dia tidak akan mengalami apa-apa, selain kesengsaraan dan ketidakbahagiaan saja.

Atau dia seperti orang sakit, yang ketika dalam perawatan dokter, mengambil obat, makanan dan latihan khusus menurut petunjuk dokter, dan ia tidak memiliki tugas lain selain untuk mematuhi petunjuk dari dokternya.

Hasil ketundukan ini pada perintah-Nya, adalah penciptaan harmoni dalam konstitusi itu yang menjadi sumber kesehatan, serta setiap bentuk kenikmatan fisik dan kesenangan.

Sebagai rangkuman, kita dapat mengatakan, bahwa dalam diri manusia itu, memiliki kehidupan luar (jasmani) dan kehidupan batin (rohani), kehidupan spiritual, yang berhubungan dengan perbuatan dan tindakan, dan berkembang dalam kaitannya dengan mereka, dan bahwa kebahagiaan atau kesengsaraan itu di akhirat benar-benar bergantung pada kehidupan ini.

Al Qur’an juga menegaskan penjelasan ini. Di banyak ayat, menegaskan keberadaan kehidupan, semangat untuk berbudi luhur dan setia, hidup yang lebih tinggi dari semangat hidup saat ini, dan lebih menerangi dari jiwa manusia, seperti sekarang ini.

Hal ini menyatakan, bahwa tindakan manusia memiliki efek dalam jiwanya, yang akan tetap selalu bersamanya.

Dalam ucapan kenabian ada juga banyak referensi untuk saat ini. Misalnya, dalam hadis-i Mi’raj (hadits kenaikan malam), dimana petunjuk Nabi Allah dalam sabdanya:

“Ia yang ingin bertindak sesuai dengan kepuasan saya, harus memiliki tiga sifat: Dia harus menunjukkan rasa syukur, yang tidak dicampur dengan kebodohan. Sebuah peringatan atas mana debu kelupaan, tidak akan menyelesaikan. Dan cinta, di mana dia tidak lebih memilih cinta daripada makhluk, atas cinta kepada saya. Jika ia mengasihi Aku, Aku mencintainya, Aku akan membuka mata hatinya, dengan melihat keagungan-Ku dan tidak akan terhijab darinya. Aku akan mencurahkan kepada dirinya, dalam kegelapan malam dan cahaya hari sampai percakapan dan hubungan berakhir. Aku akan menjadikan dia mendengar Firman-Ku. Aku akan tunjukkan kepadanya, rahasia yang Aku telah terselubung dari makhluk-Ku. Aku akan pakaikan dia, dengan jubah kerendahan hati, sampai makhluk merasa malu. Dia akan berjalan di atas bumi dengan telah diampuni. Aku akan membuat hatinya memiliki kesadaran dan visi. Dan Aku tidak akan menyembunyikan, dari apa-apa di surga atau di neraka.. “

Abu ‘Abdallah ra. – mungkin Rasilullah SAWW (semoga damai dan berkah atasnya) – telah menceritakan bahwa Nabi menerima Haritsah bin Malik bin al-Nu’man dan bertanya :

“Bagaimana Engkau, ya Haritsah?”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah, aku hidup sebagai mukmin sejati.”
Nabi Allah berkata kepadanya, “Setiap sesuatu memiliki kebenaran sendiri Apakah kebenaran janji-Mu itu?.”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah! Jiwa saya telah berbalik dari dunia. Malam-malamku dihabiskan dalam keadaan senantiasa terjaga, dan hari-hari ku dalam keadaan kehausan. Tampaknya seolah-olah aku menatap arsy (tahta) Tuhanku, dan kewajiban telah diselesaikan, dan seolah-olah aku menatap surga dimana orang saling mengunjungi di surga, dan seolah-olah aku mendengar teriakan orang-orang dari api neraka. “
Kemudian Nabi Allah berkata, “Ini adalah hamba Allah yang hatinya telah diterangi.”

Hal ini juga harus diingat, bahwa sering salah satu dari kita mengikuti panduan lain dalam hitungan, yang baik atau yang buruk, tanpa dirinya melaksanakan kata-katanya sendiri.

Tetapi, dalam kasus para nabi dan imam, yang bimbingan dan kepemimpinan adalah melalui perintah Ilahi, situasi seperti ini tidak pernah terjadi. Mereka sendiri mempraktikkan agama Illahi dalam kepemimpinannya. Kehidupan rohani terhadap umat manusia yang mereka jadikan pedoman adalah kehidupan rohani mereka sendiri, karena Allah tidak akan menempatkan bimbingan orang lain seorang pun , kecuali Dia telah menuntunnya sendiri. Khusus bimbingan Ilahi, tidak pernah bisa melanggar atau dilanggar.

Kesimpulan berikut dapat dicapai dari pembicaraan ini:
(1) Dalam setiap komunitas agama, para nabi dan imam adalah yang terdepan dalam kesempurnaan dan realisasi spiritual dan kehidupan keagamaan, mereka memberitahukan, karena mereka harus, dan mengamalkan ajaran Allah dan berpartisipasi dalam kehidupan rohani yang mereka yakini.
(2) Karena mereka adalah yang pertama diantara manusia dan para pemimpin dan panduan masyarakat, mereka adalah yang paling berbudi luhur atau berahlaq mulia sebagai manusia sempurna

(3) Orang yang atas bahunya terletak tanggung jawab untuk membimbing masyarakat melalui perintah Ilahi, dengan cara yang sama bahwa dia adalah buku kehidupan eksternal manusia dan contoh suri tauladan ibadah amaliah, juga merupakan pedoman bagi kehidupan rohani, dan dimensi batin kehidupan manusia dan praktik agama tergantung pada petunjuknya.


Hadist Bukhari & Muslim Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda : ”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”. [Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam]… Nabi SAWW. Bersabda : “Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

Imam adalah petunjuk dan pemimpin orang-orang dalam tindakan eksternal mereka, sehingga dia memiliki fungsi kepemimpinan batiniah dan esoterik serta bimbingan dan contoh suri tauladan bagi ummat. Ia adalah panduan dari kafilah kemanusiaan yang bergerak dalam hati dan esoterik terhadap Allah SWT. (ma’rifatullah).

Untuk menjelaskan kebenaran ini kita perlu berpaling pada dua komentar berikut sebagai pengantar.

Pertama-tama, tanpa diragukan lagi, menurut Islam serta agama-agama Ilahi (samawi) lainnya, satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan sejati atau kesengsaraan, kebahagiaan atau kemalangan, adalah dengan cara tindakan (beramal) yang baik atau orang yang jahat datang untuk mengenali melalui instruksi agama ilahi, maupun melalui primordial sendiri dan yang diberikan Allah, alam dan intelijen.

Kedua, melalui sarana wahyu dan nubuat. Allah telah memuji atau mengutuk tindakan manusia, sesuai dengan bahasa manusia dan masyarakatnya, di mana mereka tinggal. Dia telah menjanjikan kepada orang yang berbuat baik dan mematuhi dan menerima ajaran-ajaran wahyu dengan kehidupan kekal yang bahagia dalam memenuhi semua keinginan yang sesuai dengan kesempurnaan manusia.

Dan orang yang berbuat dosa dan bengis, dia telah diberi peringatan tentang kehidupan abadi yang pahit, yang dialami setiap bentuk kesengsaraan dan kekecewaan.

Tanpa ragu Allah, yang berdiri di setiap cara dan di atas segala hal dari yang kita dapat bayangkan, tidak seperti yang kita lakukan, memiliki “pikir” dibentuk oleh struktur sosial tertentu. Hubungan antara Tuan dan hamba, penguasa dan memerintah, perintah dan larangan, pahala dan hukuman, tidak ada, di luar kehidupan sosial kita.

Orde Ilahi adalah sistem penciptaan itu sendiri, di mana keberadaan dan penampilan dari segala sesuatu berhubungan hanya untuk penciptaan oleh Allah, menurut hubungan nyata dan untuk itu saja.

Selanjutnya, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-quran dan hadist Nabi, agama mengandung kebenaran dan veritas atas pemahaman umum manusia, yang telah dinyatakan kepada kita oleh Allah, dalam bahasa yang dapat kita pahami pada tingkat pemahaman kita.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa ada hubungan yang nyata antara tindakan yang baik dan yang jahat, dan jenis kehidupan yang disediakan bagi manusia dalam keabadian atau kekekalan, hubungan yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan hidup masa depan, sesuai dengan Kehendak Tuhan.

Atau dalam kata-kata sederhana dapat dikatakan, bahwa setiap tindakan baik atau jahat, membawa efek nyata dalam jiwa manusia yang menentukan karakter kehidupan masa depannya.

Apakah ia mengerti atau tidak, manusia adalah seperti seorang anak yang sedang dilatih. Dari instruksi guru, si anak mendengar apa-apa selain harus dan tidak boleh dilakukan, meskipun tidak memahami arti ia melakukan tindakan itu.

Namun, bila ia sudah akil balik (dewasa), sebagai akibat dari kebiasaan mental dan spiritual, kesalehan dicapai dalam hati selama periode pelatihan, dia mampu memiliki kehidupan sosial yang bahagia.

Namun, jika ia menolak untuk tunduk kepada petunjuk guru dia tidak akan mengalami apa-apa, selain kesengsaraan dan ketidakbahagiaan saja.

Atau dia seperti orang sakit, yang ketika dalam perawatan dokter, mengambil obat, makanan dan latihan khusus menurut petunjuk dokter, dan ia tidak memiliki tugas lain selain untuk mematuhi petunjuk dari dokternya.

Hasil ketundukan ini pada perintah-Nya, adalah penciptaan harmoni dalam konstitusi itu yang menjadi sumber kesehatan, serta setiap bentuk kenikmatan fisik dan kesenangan.

Sebagai rangkuman, kita dapat mengatakan, bahwa dalam diri manusia itu, memiliki kehidupan luar (jasmani) dan kehidupan batin (rohani), kehidupan spiritual, yang berhubungan dengan perbuatan dan tindakan, dan berkembang dalam kaitannya dengan mereka, dan bahwa kebahagiaan atau kesengsaraan itu di akhirat benar-benar bergantung pada kehidupan ini.

Al Qur’an juga menegaskan penjelasan ini. Di banyak ayat, menegaskan keberadaan kehidupan, semangat untuk berbudi luhur dan setia, hidup yang lebih tinggi dari semangat hidup saat ini, dan lebih menerangi dari jiwa manusia, seperti sekarang ini.

Hal ini menyatakan, bahwa tindakan manusia memiliki efek dalam jiwanya, yang akan tetap selalu bersamanya.

Dalam ucapan kenabian ada juga banyak referensi untuk saat ini. Misalnya, dalam hadis-i Mi’raj (hadits kenaikan malam), dimana petunjuk Nabi Allah dalam sabdanya:

“Ia yang ingin bertindak sesuai dengan kepuasan saya, harus memiliki tiga sifat: Dia harus menunjukkan rasa syukur, yang tidak dicampur dengan kebodohan. Sebuah peringatan atas mana debu kelupaan, tidak akan menyelesaikan. Dan cinta, di mana dia tidak lebih memilih cinta daripada makhluk, atas cinta kepada saya. Jika ia mengasihi Aku, Aku mencintainya, Aku akan membuka mata hatinya, dengan melihat keagungan-Ku dan tidak akan terhijab darinya. Aku akan mencurahkan kepada dirinya, dalam kegelapan malam dan cahaya hari sampai percakapan dan hubungan berakhir. Aku akan menjadikan dia mendengar Firman-Ku. Aku akan tunjukkan kepadanya, rahasia yang Aku telah terselubung dari makhluk-Ku. Aku akan pakaikan dia, dengan jubah kerendahan hati, sampai makhluk merasa malu. Dia akan berjalan di atas bumi dengan telah diampuni. Aku akan membuat hatinya memiliki kesadaran dan visi. Dan Aku tidak akan menyembunyikan, dari apa-apa di surga atau di neraka.. “

Abu ‘Abdallah ra. – mungkin Rasilullah SAWW (semoga damai dan berkah atasnya) – telah menceritakan bahwa Nabi menerima Haritsah bin Malik bin al-Nu’man dan bertanya :

“Bagaimana Engkau, ya Haritsah?”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah, aku hidup sebagai mukmin sejati.”
Nabi Allah berkata kepadanya, “Setiap sesuatu memiliki kebenaran sendiri Apakah kebenaran janji-Mu itu?.”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah! Jiwa saya telah berbalik dari dunia. Malam-malamku dihabiskan dalam keadaan senantiasa terjaga, dan hari-hari ku dalam keadaan kehausan. Tampaknya seolah-olah aku menatap arsy (tahta) Tuhanku, dan kewajiban telah diselesaikan, dan seolah-olah aku menatap surga dimana orang saling mengunjungi di surga, dan seolah-olah aku mendengar teriakan orang-orang dari api neraka. “
Kemudian Nabi Allah berkata, “Ini adalah hamba Allah yang hatinya telah diterangi.”

Hal ini juga harus diingat, bahwa sering salah satu dari kita mengikuti panduan lain dalam hitungan, yang baik atau yang buruk, tanpa dirinya melaksanakan kata-katanya sendiri.

Tetapi, dalam kasus para nabi dan imam, yang bimbingan dan kepemimpinan adalah melalui perintah Ilahi, situasi seperti ini tidak pernah terjadi. Mereka sendiri mempraktikkan agama Illahi dalam kepemimpinannya. Kehidupan rohani terhadap umat manusia yang mereka jadikan pedoman adalah kehidupan rohani mereka sendiri, karena Allah tidak akan menempatkan bimbingan orang lain seorang pun , kecuali Dia telah menuntunnya sendiri. Khusus bimbingan Ilahi, tidak pernah bisa melanggar atau dilanggar.

Kesimpulan berikut dapat dicapai dari pembicaraan ini:
(1) Dalam setiap komunitas agama, para nabi dan imam adalah yang terdepan dalam kesempurnaan dan realisasi spiritual dan kehidupan keagamaan, mereka memberitahukan, karena mereka harus, dan mengamalkan ajaran Allah dan berpartisipasi dalam kehidupan rohani yang mereka yakini.
(2) Karena mereka adalah yang pertama diantara manusia dan para pemimpin dan panduan masyarakat, mereka adalah yang paling berbudi luhur atau berahlaq mulia sebagai manusia sempurna

.
(3) Orang yang atas bahunya terletak tanggung jawab untuk membimbing masyarakat melalui perintah Ilahi, dengan cara yang sama bahwa dia adalah buku kehidupan eksternal manusia dan contoh suri tauladan ibadah amaliah, juga merupakan pedoman bagi kehidupan rohani, dan dimensi batin kehidupan manusia dan praktik agama tergantung pada petunjuknya.

Al Qur’anul Kariim

“(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71)”Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Hadist Bukhari & Muslim

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda :
”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”.
[Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam].

Nabi SAWW. Bersabda :
“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

Muslim percaya bahwa Allah telah mengangkat sebagian manusia tertentu untuk menjadi pemimpin bagi orang-orang yang percaya pada Allah dan menegakkan agama Allah. Ketika Nabi Allah telah mengajarkan orang-orang agama, ia kemudian akan menunjuk seorang pemimpin, sesuai dengan perintah Allah, untuk membimbing orang-orang yang percaya menuju kesempurnaan hidup menuju jalan Allah.
Nabi Muhammad menurut riwayat telah menyampaikan bahwa suksesi kepemimpinan dalam Islam adalah dari orang Qureish (yaitu suku-nya) dan bahwa ada 12 “Imam” yang akan menggantikannya setelah beliau wafat.
Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi (sawa) berkata: “Kelak akan ada Dua Belas Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, “Semuanya berasal dari suku Quraisy.” [1]
Nabi (sawa) bersabda: “Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya Saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan Dua Belas Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [2]
Ada persamaan dan perbedaan pemahaman di kalangan Sunni dan Syiah . Hal ini penting untuk disebutkan bahwa Nabi Muhammad menyatakan, dan pernyataan ini telah sama-sama diterima dan disahkan oleh Sunni dan Syiah , yakni bahwa : “Barangsiapa tidak mengetahui Imam -nya dalam masa kehidupannya, ia mati dalam keadaan jahiliyah “. [3]
Dan lagi-lagi, pernyataan ini memiliki interpretasi berbeda dan konsekuensi yang berbeda, diantara Ulama Sunni dan Syi’ah .
Hal ini diyakini dalam Islam Syi’ah , kebijaksanaan ilahi, adalah sumber dari jiwa para nabi dan para imam memberi mereka pengetahuan esoteris, yang disebut Hikmah, dan bahwa perjuangan dan penderitaan mereka adalah sarana rahmat ilahi untuk ummat mereka.
Meskipun Imam bukan penerima wahyu ilahi, namun Imam memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah. Allah yang menuntun para imam, dan para imam pada gilirannya membimbing manusia.
Imamah, atau Kepemimpinan dalam Islam adalah merupakan keyakinan dalam panduan ilahi, sebuah keyakinan yang mendasar dalam Islam Syi’ah dan Ahl al-Bayt pada konsep bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan manusia tanpa akses ke bimbingan ilahi.
Imam ini, berkaitan dengan membangun intelektual dan keimanan ummat, sebagai pemimpin dan contoh panutan dari kekuasaan (secara intelektual dan wawasan perjalanan spiritual mereka menuju ridla Tuhan), dimana ummat meniru amal perbuatan mereka, dan memperhatikan perintah-perintah yang mereka sampaikan, untuk menjaga kemurnian risalah Rasulullah Muhammad SAWW.
Imamah juga memiliki arti yang sangat luas dan komprehensif, yang mencakup otoritas intelektual dan kepemimpinan politik.
Setelah kematian Nabi, Imam dipercayakan dengan perwalian dari prestasi dan kelanjutan kepemimpinannya, untuk mengajarkan manusia kebenaran Al-Qur’an dan agama Islam secara murni dan konsekuen dan tata cara tentang kehidupan sosial kemasyarakatan; atau singkatnya, ia dipilih Allah untuk membimbing ummat dalam semua dimensi aspek kehidupan.
Kepemimpinan seperti ini, dilakukan dalam bentuk yang benar dan tepat, tidak lain daripada realisasi tujuan Islam dan pelaksanaan ajarannya, ajaran didirikan oleh Rasulullah SAWW; itu melimpahkan eksistensi objektif mengenai cita-cita membentuk masyarakat dan kodifikasi undang-undang untuk tata laksana.
Imamah dan kepemimpinan yang kadang-kadang dipahami dalam arti terbatas untuk merujuk kepada orang yang dipercayakan dengan kepemimpinan secara eksklusif sosial atau politik.
Namun, dimensi spiritual manusia yang terhubung erat dengan visi dan misi agama Allah, dan benar-benar Imam adalah orang ditinggikan (Aulia Allah) yang menggabungkan dalam dirinya otoritas intelektual dan kepemimpinan politik; yang berdiri sebagai pemimpin dalam masyarakat Islam, yang memungkinkan dengan demikian menyampaikan kepada orang-orang hukum ilahi yang ada di setiap wilayah dan untuk melaksanakannya, dan yang mempertahankan identitas kolektif dan martabat manusia kaum muslimin dari penurunan dan korupsi.
Selain itu, Imam adalah salah satu pribadi, yang memiliki sifat-sifat ke-ilahi-an di dunia ini; berurusan vertical dengan Allah dan horizontal dengan manusia, implementasinya dari semua devosi, ajaran etis dan sosial dari agama Allah, memberikan suatu pola yang lengkap dan model untuk imitasi.
Ini adalah panduan yang Imam sampaikan dalam membangun ummat manusia menuju kesempurnaan hidup dunia dan akhirat. Oleh karena itu kewajiban pada semua orang percaya untuk mengikutinya dalam segala hal, karena ia adalah contoh hidup untuk pengembangan diri dan masyarakat, dan cara hidupnya adalah contoh terbaik dari kebajikan bagi masyarakat Islam.

Referensi :

[1] Sahih al-Bukhari (Bahasa Inggris, Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam); Sahih al-Bukhari, (Bhs Arab, 4:165, Kitabul Ahkam)
[2] Sahih Muslim, (English, Chapter DCCLIV, v3, p1010, Hadis no. 4483); Sahih Muslim (Bhs Arab, Kitab al-Imaara, 1980 Edisi Saudi Arabia, v3, p1453, Hadis no.10)
[3] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, hal 96.

Al Qur’anul Kariim

“(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71)”Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Hadist Bukhari & Muslim

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda :
”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”.
[Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam].

Nabi SAWW. Bersabda :
“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

NABi   SAW   MENYEBUT  NAMA  12  KHALiFAH  UMAT

penutupan kenabian dilengkapi oleh penunjukkan imam Dan kesempurnaan Islam yang universal dan abadi sampai akhir masa bergantung pada pengangkatan para imam.. Konsep imamah demikian ini mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi acuan utama adalah ayat ke-3 Al-Ma’idah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada hari ini [yaitu pada hari setelah pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah Rasul saw] telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku lengkapi atas kalian nikmat-Ku, dan juga Aku telah ridha bahwa Islam sebagai agama kalian.”

Dari penelaahan terhadap ayat ini berikut tafsir dan sebab turunnya di dalam berbagai kitab tafsir, akan kita dapati bagaimana para ahli tafsir telah bersepakat, bahwa ayat tersebut turun pada haji Wada’, yaitu haji perpisahan (terakhir) Rasul saw yang terjadi beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Masih dalam rangkaian ayat tersebut, setelah menyinggung ihwal orang-orang kafir yang telah berputus asa untuk mengadakan penyimpangan terhadap Islam, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian.”

Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu agama Islam dan nikmat wilayah telah Dia lengkapi dan sempurnakan.

Apabila kita cermati dengan baik riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab turun ayat tersebut, akan tampak jelas lagi bahwa ikmal dan itmam (penyempurnaan dan pelengkapan), yang disusul oleh keputusasaan orang-orang kafir untuk melakukan penyimpangan terhadap Islam, terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah Nabi dari sisi Allah SWT. Karena musuh-musuh Islam menduga, bahwa sepeninggal Rasul saw agama Islam dan para pemeluknya tidak punya pemimpin lagi. Terlebih Rasul sendiri tidak punya seorang putra pun. Dengan demikian, agama Islam akan menjadi lemah dan akan mengalami kehancuran.

Dugaan mereka itu sungguh keliru, karena Islam telah mencapai kesempurnaannya dengan diangkatnya seorang pengganti Rasul yang akan melanjutkan risalah dan perjuangan beliau. Maka, menjadi lengkaplah nikmat Ilahi, sementara segala angan-angan, harapan dan ambisi orang-orang kafir menjadi sirna.

Pengangkatan khalifah Nabi saw itu terjadi tatkala beliau dan rombongan jemaah haji dalam perjalanan pulang mereka dari haji Wada’. Ketika itu, beliau mengumpulkan semua jemaah haji di satu tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum”. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan khutbahnya yang panjang. Kepada kaum muslimin beliau bertanya:

“Bukankah aku ini lebih utama daripada diri kalian sendiri?”

Serempak mereka menjawab:

“Benar, ya Rasulullah ….”

Kemudian Nabi saw memegang tangan Ali bin Abi Thalib as dan mengangkatnya di hadapan mereka semua, lalu berkata, “Barang siapa yang menjadikan aku ini sebagai pemimpinnya, maka sungguh Ali adalah pemimpinnya.”

Dengan demikian, Nabi saw telah menetapkan wilayah Ilahiyah itu atas Imam Ali as. Segera setelah itu, seluruh kaum muslimin yang hadir di tempat itu bangkit membaiatnya. Di antara mereka, tidak ketinggalan pula khalifah kedua, Umar bin Khattab. Kepadanya Umar mengucapkan selamat dan berkata, “Engkau beruntung sekali wahai Ali. Kini engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh masyarakat yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.”

Pada hari yang agung tersebut, turunlah ayat yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku lengkapi pula nikmat-Ku atas kalian, dan Aku pun rela Islam sebagai agama kalian.

Dengan turunnya ayat ini, Rasul saw mengucapkan takbir lalu berkata, “Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah itu terletak pada wilayah Ali sepeninggalku.”

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.”[1]

Kalau kita mengkaji secara seksama beberapa riwayat yang berhubungan dengan pengangkatan Ali as sebagai imam, wali dan washi Rasul saw, kita dapat memahami bahwa Rasul saw sebelum itu telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya.

Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi itu yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.

Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari “Ghadir” ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.

Sebagai contoh, pada masa-masa awal bi’tsah (kenabian) Muhammmad saw sebuah ayat turun kepada beliau, “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS.As-Syu’ara: 214)

Lantas beliau berseru kepada keluarganya, “Siapakah di antara kalian yang siap menjadi penolongku dalam urusan agamaku ini, aku akan jadikan ia sebagai saudaraku, washi-ku dan khalifahku atas kalian.”

Ahlusunnah dan Syi’ah sepakat, bahwa ketika itu tidak seorang pun dari keluarga Nabi saw yang memberikan jawaban kecuali Imam Ali bin Abi Thalib as.[2]

Demikian juga ketika turun ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.[3]

Sebagaimana yang baru saja kita simak, Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau yang bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshari, bahwa dia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as Dan sejarah mencatat bahwa Allah mengaruniai Jabir umur panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as Ketika berjumpa, ia begitu senang sampaikan salam Rasul saw kepada Imam as.

Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aba Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as tentang firman Allah SWT, ‘Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum.’

Beliau menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein.”

Kembali aku bertanya, “Akan tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan Ahlulbaitnya di dalam Al-Qur’an?”

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menjawab, “Katakanlah kepada mereka, ‘Bahwa ayat-ayat tentang shalat yang turun kepada Nabi sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi Nabilah yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, beliaulah yang menjelaskan bahwa Ulil Amri itu adalah Ali bin Abi Thalib as, dan para imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan Ahlubaitnya, yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa. Nabi saw menambahkan, ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian, dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan.’”

Kalau kita amati dengan baik sabda-sabda Nabi saw yang berhubungan dengan masalah wasiat, akan kita dapati betapa seringnya Nabi saw mengulang-ulang wasiatnya itu. Bahkan di akhir hayat, Nabi saw masih saja mengulang wasiatnya tersebut, “Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian, yaitu Kitabullah dan Ahlilbaitku. Keduanya itu tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di telaga Surga kelak.”

Perlu diketahui bahwa hadis mengenai wasiat tersebut merupakan hadis yang mutawatir, baik dari Syi’ah Imamiyah maupun dari jalur Ahlusunah wal Jamaah.

Di antara tokoh-tokoh Ahlusunah yang meriwayatkan hadis tersebut adalah At-Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dll. Ulama yang belakangan ini pun meriwayatkan sebuah hadis lainnya, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nuh as, siapa yang turut naik bersamanya, ia akan selamat. Dan siapa yang menolaknya, maka ia akan karam.”[4]

Termasuk hadis yang sering diulang-ulang oleh Nabi saw ialah “Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti.”[5]

CATATAN  KAKi :

[1] Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.

[2] Bisa dirujuk ke ‘Abaqat Al-Anwar dan Al-Ghadir.

[3] Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494.

[4] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/151.

[5] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad Ibnu Hanbal, jilid 1/331 dan jilid 4/438.

 

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra’, (semoga

Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya64. 64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

TANYA  JAWAB :

Apakah Imam  Ali  Hilang  Keberaniannya  Setelah  wafat  Rasulullah  ??? Apakah Imam Hasan hilang  keberanian  memerangi  Mu’awiyah  setelah  wafat nya Imam Ali ???
Jawab :  

Tahukah Anda bahkan seorang Nabi melakukan perjanjian Hudaibiyah ? pada saat itu pendukung Imam Hasan hanya beberapa orang, jika tidak diambil jalan berdamai tentu Islam yang tersisa di segelintir orang itu akan dibantai habis dan hari ini tidak ada lagi Islam yang sebenarnya. Allah menjaga risalah Nabi ini dengan perantaraan perdamaian tersebut…Apa keberanian di mata Anda? asal tabrak gitu? keberanian di mata Ali adalah menghadapi semua cobaan demi ummat Muhammad SAW.. di banyak tempat beliau menegaskan akan hak kekhalifahan beliau.

Ketika Abubakar dan Umar memaksakan Imam Ali untuk berbai’at kepadanya,

Fatimah berkata kepada Abu Bakar dan Umar seperti ini: “Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.’ ‘Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.’ Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, ‘Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya’. (Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Bukti penentangan Abubakar kepada Fatimah Az Zahara yang juga merupakan penentangan kepada Rasulullah sendiri dapat dilihat ketika beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat.” Kemudian Abu Bakar menangis dan berkatat: “Aku tidak perlu pada bai’at kalian; lepaskan aku dari bai’at kalian.”  (Tarikh al-Khulafa’ Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20)

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah saww bersabda:”Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah.” Dalam Bab Ghazwah Khaibar, “dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat.” (Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39)

Dalam kesempatan ini juga perlu kiranya kita kemukakan hadist Nabi berkenaan Imam Ali walaupun tidak diterima oleh orang-orang yang sesat: “Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.”?  (Shahih Muslim jil. 1 hal. 48)  Bahkan sebagian sahabat berkata, “Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Imam Ali.”

 

Ketika Ali  Menjadi  Khalifah, Ali  Tidak  Menyelisih  para  Sahabat..!!!
Jawab : Siapa yang bilang? Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi Khalifah pun Imam Ali sudah menegaskan akan mengembalikan hukum ke zaman Nabi, silahkan baca ketika terjadi perundingan selepas wafat Utsman.

Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???
Jawab :  Silahkan baca tragedi Hari Kamis dalam Bukhari, Rasul sudah hendak menulis wasiat kemudian dicegah oleh Umar hingga terjadi keributan dan Rasul pun marah.

 

Peristiwa Ghadir Khum
Jawab : Siapa bilang tidak ada yang mengingatkan? Tahukah Anda alasan orang Yaman menolak menyerahkan zakat pada Abu Bakar? karena mereka tahu Abu Bakar tidak berhak atas jabatannya. Silahkan juga lihat sikap Bani Hasyim yang tidak memberi bai’at sampai Fatimah wafat

 

Yazid berbuat kerusakan nyata dengan pembunuhan di Madinah dan perkosaan yang diizinkan oleh Yazid terhadap gadis2 Madinah, sikap seperti ini tidak bisa didiamkan. Islam yang tersebar adalah Islam yang dipahami oleh mereka. sementara Ahlul bait Nabi ditinggal.. Ahlus Sunnah bermazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiiyah, atau Hambaliyyah.. LALU  KENAPA  BUKAN  MAZHAB  AHLUL  BAiT  yang di pedomani ??

Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. ”

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

2.….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)

3.….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)

4.Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)

5.….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)

6.….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)

7.(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)

8.….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

saudaraku……………..

Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menanyakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya nescaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’ Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang dijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? Kerana tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad , ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Allah SWT karena petunjuk-Nya.”




RUJUKAN SUNNI: Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan menurut kedua-duanya hadis di atas jika mengikut ukuran Bukhari dan Muslim dikira Sahih. Mengapa ia tidak dimasukkan dalam Sahih mereka jika begitu. Hanya bukhari dan Muslim sahajalah yang berhak menjawabnya di hadapan Nabi nanti di akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang ingin melihat kepada Adam tentang ilmunya, kepada Nuh tentang azamnya, kepada Ibrahim tentang lembutnya, kepada Musa tentang kehebatannya, kepada Isa tentang kezuhudannya maka hendaklah ia melihat kepada Ali b. Abi Talib (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, Bab Kelebihan Ali, Fakhuruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Surah Mubahilah, Yanabi al-Mawaddah, Bab 40).

“Imam-imam telah wujud sebelum wujudnya alam ini sebagai cahaya-cahaya, dan Allah jadikan mereka berpusing di sekeliling Arasy.”

Pendapat seperti ini adalah sandarannya dalam beberapa hadith Nabi dalam kitab Ahli Sunnah sendiri. Antaranya ialah hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit(Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berpusing di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sabda Nabi SAW: “Wasi-wasi engkau tertulis di tepi ArasyKu, lalu aku melihat dan mendapati 12 cahaya (Ibid)”. Kejadian Nabi Muhammad dan wasi-wasinya (Ibid.hlm. 485).

Allah SWT berfirman dalam Quran; Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai berai ! (QS. Ali Imran : 103)

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

اِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ الله،ِ وَ عِتْرَتِي اَهْلَ بَيْتِي، مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا اَبَدًا، وَانَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتیّ يرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.” (H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahmad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533 )

Terkait dengan sikap kita kepada Ahlul Bait, di antaranya Nabi saw. bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Aku meninggalkan di tengah tengah kalian apa yang jika kalian ambil kalian tidak akan tersesat, Kitabullah dan ’itrah  Ahlul Baitku. (HR. Tirmidzi)

Ada dua belas imam yang dilantik oleh Allah SWT sebagai pelanjut Nabi Muhammad SAW. Ada sebuah hadis panjang dalam dokumendokumen Sunni yang menyatakan bahwa jumlah para imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen-dokumen Sunni lainnya yang di dalamnya Nabi SAW bahkan menyebutkan nama masing-masing dua belas imam tersebut.


Allah SWT menunjuk dua belas imam, bukan semata-mata mereka dari rumah tangga Nabi SAW, namun karena mereka, di masa-masa mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling saleh, paling baik dalam kebajikan personal, dan paling mulia di hadapan Allah; dan pengetahuan mereka diturunkan dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayahayah mereka……itu tidak berarti dengan sendirinya   12   imam  harus  berkuasa secara fisik

Allah SWT berfirman ; Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhamrnad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah mernberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa : 54).

a. Dalam Shahih Bukhari, tercantum hadis berikut:

Diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, “Aku mendengar Nabi SAW berkata, Akan ada dua belas pemimpin (amir).’ Kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat yang tidak kudengar. Ayahku berkata, ‘Nabi SAW menambahkan, ‘Mereka semua berasal dari Quraisy.”66. Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, hal. 106.

b. Dalam Musnad Ahmad, tercantum hadis berikut, “Nabi SAW berkata, ‘Kelak ada dua belas orang khalifah untuk masyarakat ini. Semuanya dari Quraisy”‘77. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1452, hadis 5; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1009, hadis 4.477.

c. Dalam Shahih Muslim, ada hadis berikut:


Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, “Nabi SAW berkata, ‘Masalah (kehidupan) tidak akan berakhir, sampai berlalunya dua belas khalifah.’ Kemudian beliau membisikkan sebuah kalimat. Aku bertanya kepada ayahku apa yang Nabi katakan. Ia menjawab, ‘Nabi berkata, “Semuanya berasal dari Quraisy.”88. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imaran, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1453, hadis 6; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1010, hadis 4.478.

d. Juga dari Shahih Muslim:
Nabi SAW berkata, “Urusan-urusan manusia akan terus dibimbing (dengan baik) selama mereka diatur oleh dua belas orang.”99. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980 edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 7; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, ha1.1.010, hadis 4.480.

e. Juga, Nabi SAW bersabda, “Islam akan terus berjaya sampai adanya dua belas khalifah.”1010. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, Edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 10; Shahih Muslim, versi Inggris, bab DCCL1V(berjudul:Orang-orang yang tunduk kepada Qurais dan kekhalifahan adalah Hak ( Quraisy) jilid 3 hal 1010 hadis 4.483 Rujukan Sunni lain dalam hadis serupa: Shahih at-Turmuzzi, jilid 4, ha1.507; Sunan Abu Daud, jilid 2, hal. 421 (tiga hadis); dan yang lainnya seperti Tialasi, Ibnu Atsir, dan lain-lain.

f. Juga, Nabi SAW bersabda, ‘Agama Islam akan terus berlangsung sampai hari kiamat, dengan dua belas khalifah untuk kalian, mereka semua berasal dari Quraisy”‘1111. Rujukan Sunni: al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.149; Musnad ahmad ibn Hanbal; Shahih, Nasa’i, dari Anas bin Malik; Sunan, Baihaqi; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, karya Ibnu Hajar Haitsami, bab 17, pasal 2, hal. 287.

g. Nabi SAW berkata, “Para imam berasal dari Quraisy.”‘1212. Shahih Bukhari, hadis 9.422

Pertanyaan :

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi

kami ingin bertanya,berdasarkan prespektif Sunni siapakah dua belas khalifah setelah Nabi Muhammad saw? Silakan dukung penegasan anda dengan merujuk pada Quran dan atau enam buku kumpulan hadis Sunni, dan juga membenarkan perbuatan mereka dalam lintasan sejarah. Ingatlah, perintah-perintah dua khalifah Nabi ini haruslah ditaati. Karenanya, jika anda tidak mengenal dua belas pemimpin anda, bagaimana anda ingin menaati mereka?

Kami ingin mengingatkan anda bahwa ‘khalifah’ artinya penerus/ wakil… Syarat  imam adalah : mereka harus  sesuai dengan ayat Quran : “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku” (QS. asy-Syura : 23).

Tak syak lagi khalifah seharusnya diketahui oleh para pengikutnya, jika sebaliknya seorang khalifah imajiner tidak bisa diikuti, sementara Nabi SAW telah meminta kita untuk mengikuti mereka? Jika anda tidak mengetahui para imam anda, bagaimanakah anda bisa menaati mereka?

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi as, imam di zaman kita sekarang. Mereka adalah para khalifah karena Allah SWT menjadikan mereka khalifahkhalifah (mereka semua adalah wakil-wakil Allah SWT di muka humi).
Bersama lintasan waktu dan melalui kejadian – kejadian sejarah, kita ketahui hahwa melalui hadis-hadis di atas Nabi SAW memaksudkan dua belas khalifah tadi adalah dua belas imam dari Ahlulbaitnya yang merupakan keturunan Nabi SAW karena kita tidak punya kandidat lain dalam sejarah Islam yang semua kesalehannya disepakati oleh seluruh Muslimin.


Adalah menarik untuk diketahui bahwa bahkan musuh-musuh Syi’ah tidak mampu menemukan setiap kekurangan dalam keutamaankeutamaan dua belas imam Syi’ah. Lagi pula, dua belas imam ini muncul satu demi satu tanpa ada kesenjangan.


Sekarang, jelaslah bahwa satu-satunya cara untuk menafsirkan hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad bin Hanbal adalah dengan menerima dan mengakui bahwa itu merujuk pada dua belas imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW, karena mereka adalah -di zaman mereka masing-masing- yang paling berilmu, masyhur, paling takwa, paling saleh, terbaik dalam keutamaan-keutamaan pribadi, dan yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Pengetahuan mereka bersumber dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayah-ayah mereka. Inilah Ahlulbait yang kemaksumannya, ketidak bernodaannya, dan kesuciannya dibenarkan oleh Quran mulia (kalimat terakhir Surah al-Ahzab : 33).

Tentang  hadis : “Kekhalifahan akan berlangsung 30 tahun setelahku, maka akan ada banyak raja” …Adalah sangat mungkin bahwa raja-raja   yang sama memalsukan hadis’  30 Tahun’ untuk mencegah orang-orang dari isu dua belas imam dan membenarkan perampasan mereka akan kekuasaan.

Allah SWT telah memberi manusia kebebasan kehendak untuk menerima atau menolak kepemimpinan yang Dia angkat  baik , baik orang-orang mengikutinya ataupun tidak.. Jika (katakanlah mayoritas) orang-orang mengikutinya, dengan sendirinya ia akan memegang tampuk kekuasaan. Dan sekiranya orang-orang; mendurhakainya, ia akan tetap memiliki kepemimpinan spiritualnya bagi sejumlah kecil pengikut setianya (orang-orang yang bertakwa). Setiap orang di zaman itu diharapkan untuk menaati

para Nabi  punya agenda politikNabi Muhammad yang berkampanye menentang kaum musyrik di Jazirah Arab dan menegakkan pemerintahan Islam yang pertama. Memang benar bahwa semua Nabi diutus untuk menggembleng manusia dan menjadikan mereka ingat akan Allah SWT. Namun ini tidak dapat sepenuhnya diterima tanpa kekuasaan politik apapun. Juga kami tidak pernah sebutkan bahwa memerintah negara sebagai tujuan pertama dari seorang pemimpin yang ditunjuk Tuhan. Alih-alih kami katakan bahwa pemimpin tersebut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk posisi mulia itu. Manusia seyogianya menyadari fakta ini dan tunduk pada perintahnya. Bila mereka berbuat demikian dengan sendirinya ia akan menjadi pemimpin masyarakat itu tanpa membutuhkan’agenda’.

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bBani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka dua belas orang pemimpin diantara mereka (QS. Al-Maidah : 12 ) Sesungguhnya orang – orang yang tidak mengikuti dua belas pempimpin tersebut tidaklah menganiaya melainkan diri mereka sendiri.

“Orang yang mengingkari kepemimpinan mereka akan tersesat..”

HADiS   SYi’AH

Secara jelas, hadis-hadis di atas tidak selaras dengan empat khalifah pertama semuanya karena jumlah mereka kurang dari dua belas orang. Hadis-hadis tersebut tidak bisa pula diterapkan kepada kekhalifahan Bani Umayah karena;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka semua adalah kaum tiran dan zalim (selain Umar bin Abdul Aziz),
(c) mereka bukan berasal dari Bani Hasyim dan untuk hal itu, Nabi SAW telah bersabda dalam hadis lain bahwa ‘mereka semua berasal dari Bani Hasyim.’

Hadis-hadis itu tidak bisa diberlakukan untuk kekhalifahan Bani Abbasiah lantaran;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka menindas keturunan Nabi di mana-mana yang artinyo mereka tidak sesuai dengan ayat Quran, Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku (QS. asy-Syura : 23).

Tentang penafsiran ayat 59 Surah an-Nisa dimana Allah SWT  memerintahkan kita untuk menaati Ulil Amri, Khazzaz dalam Kifayat al-Atsar-Nya, mencantumkan sebuah hadis berdasarkan otoritas sahabat Nabi SAW yang tersohor, Jabir bin Abdillah Anshari. Ketika ayat tersebut (an-Nisa : 59) diturunkan, Jabir bertanya kepada Nabi SAW, “Kami tahu Allah dan Nabi, namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya nlah digabungkan dengan ketaatan kepada Allah dan dirimu sendiri?”

Nabi SAW berkata, “Mereka para khalifahku dan imam bagi kaum Muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali, kemudian Hasan hin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat (Perjanjian Iama). Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya, Jafar Shadiq, kemudian Musa bin Jafar, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan berada sama dengan julukanku. Dialah Bukti Allah (hujjatullah) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Allah (Baqiyatullah) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukkan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hati orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Allah.”


Jabir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi SAW menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan keNabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya, dan mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya wlama kegaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya selama kagaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari di balik awan. Wahai Jabir, inilali rahasia Allah yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Allah. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya!”


Lebih menarik lagi, ada juga riwayat-riwayat Sunni yang di dalamnya mengandung perkataan bahwa Rasulullah menyebutkan nama-nama dari dua belas anggota Ahlulbaitnya ini satu demi satu yang bermula dengan Imam Ali as dan berakhir dengan Imam Mahdi as (lihat YaNabi al-Mawaddah, karya Qanduzi Hanafi).

Sekarang kita mafhum siapakah’orang-orang yang diberi otoritas’. Ia merupakan bukti bahwa persoalan menaati para penguasa yang tiran dan zalim tidak muncul sama sekali. Dengan ayat di atas kaum Muslim tidak perlu menaati para penguasa yang zalim, tiranik, jahil, egois, dan tenggelam dalam hawa nafsu.

Sesungguhnya, mereka (kaum Muslim) diperintahkan untuk menaati dua belas imam yang ditentukan, yang mereka semua itu maksum dan bebas dari pemikiran dan perbuatan buruk. Menaati mereka tidak punya resiko apapun. Bahkan, ketaatan kepada mereka menjaga dari semua resiko; karena mereka tidak akan pernah memberikan sebuah perintah yang berlawanan dengan titah Allah SWT dan akan memperlakukan semua manusia dengan cinta, keadilan, dan persamaan.

Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan manusia atas manusia). Sesungguhnya, Quran mengecam pendapat kebanyakan manusia (lihat al-An -am: 116; al-Maidah: 49; Yunus: 92; al-Rum : 8) karena pandangan kebanyakan manusia biasanya lemah lantaran kecenderungan mereka.


Apakah Imamah itu sebuah Warisan?

Menurut Ahlul BaitImamah dipilih oleh Allah. Ini bukan masalah warisan, karena jika demikian maka Imam Husain (sa.) tidak boleh menjadi imam, setelah kesyahidan Imam Hasan (sa.).Imam Hasan (sa.) memiliki banyak anak dan keturunan, tak satu pun dari mereka menjadi imam. Sebaliknya, saudaranya Imam Husain (sa.), seorang imam setelahnya. Ada juga sejumlah anak dan cucu-cucu yang menyimpang dari para imam, tidak ada orang yang menerima posisi Imamah.Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah warisan. Tentu saja, gen penting untuk imam suci, namun imam membutuhkan banyak persyaratan lainnya. Allah SWT tahu yang memiliki semua kualifikasi seperti itu. Apakah kehendak Allah SWT yang menempatkan semua imam dari jalur keturunan Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya).

Bahkan, jika sebuah studi sejarah Nabi Allah, ia akan menemukan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Allah yang memiliki kekuasaan dan keagungan berfirman :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”[88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qur’an Al-Baqarah, 2: 124).

Dalam ayat di atas, Allah tidak menolak kepemimpinan keturunan Abraham., Tetapi Dia membatasi posisi ini hanya pada keturunan Abraham memenuhi syarat. Allah SWT mengatakan, kepemimpinan yang ditunjuk Allah tidak datang untuk orang-orang yang berbuat salah, bahkan jika orang itu adalah keturunan Abraham.

Dengan demikian, keturunan Abraham. tidak semuanya menjadi imam karena harus ada persyaratan lain selainnya. Orang-orang di antara mereka yang bukan pelaku ketidakadilan (bebas dari dosa) yang memenuhi syarat, karena mereka tidak hanya memiliki gen yang suci, tetapi mereka memiliki kualifikasi lainnya yang diperoleh melalui penderitaan. Sebagai Tuhan Yang Maha Esa memiliki pengetahuan sebelumnya dan keterangan kesabaran kualifikasi mereka, dia yang dipercayakan kepada mereka dalam posisi ini dan menempatkan mereka di atas semua makhluk-Nya yang lain.

“Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran ‘di atas semua orang (pada saat masing-masing)” (Al Qur’an Ali Imran, 3: 33).

Garis nasab Muhammad SAWW. kembali kepada Nabi Ismail bin Ibrahim. Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Isa keduanya berasal dari yang lain Ishaq anak Abraham. Sesungguhnya, semua nabi setelah Ibrahim. berasal dari keturunan. Namun, kita tidak bisa menyatakan kenabian itu adalah masalah warisan. Dia adalah Allah Maha Kuasa yang memilih satu per satu.

Dalam konteks lain, kita tidak bisa mengatakan bahwa anak Nabi selalu haruslah nabi. Banyak kondisi lain selainnya. Jika tidak, Kan’an bin Nuh, niscaya masih hidup. Nuh memiliki tiga putra lain, Aam, Sam, dan Yafas yang beriman dan yang dengan istri mereka dan akhirnya naik tabut itu selamat. Mereka datang dari seorang ibu yang berbeda dari Kan’an. Oleh karena itu, putra seorang nabi atau imam tidak harus membuatnya menjadi nabi atau imam atau bahkan orang yang saleh.

Singkatnya, gen untuk Nabi dan imam suci adalah penting tetapi tidak cukup.
Imam atau Ulil Amri ditunjuk oleh Allah dengan Nabi-Nya. Lihat Al-Qur’an dimana Allah berulang kali menyatakan bahwa dia adalah zat yang diresmikan imam. (Lihat Al-Baqarah Al-Qur’an, 2: 124, al-Anbiya, 21: 73; as-Sajdah, 32: 24).

“Dan (ingatlah) ketika Abraham diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) dan Abraham dipenuhi Tuhan mengatakan” Lihatlah, Aku akan membuat Imam untuk semua umat manusia “Dia (Abraham) berkata,” (Dan aku mohon., juga) dari keturunanku “Allah berfirman,”. Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang melakukan “salah. (QS. Al-Baqarah, 2: 124)

“Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada, mereka berbuat baik, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. (QS. al-Anbiya ‘, 21:73)

“Dan Kami jadikan di antara mereka adalah pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka percaya kepada ayat-ayat Kami”.. (QS. As-Sajdah, 32: 24)

Ada dua belas imam diangkat oleh Allah sebagai Penerus Nabi Muhammad SAWW. Ada sebuah tradisi panjang dalam dokumen-dokumen yang Sunnimenyatakan bahwa jumlah imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen Sunni lain di mana Nabi Muhammad SAWW. bahkan menyebutkan nama setiap dua belas imam tersebut.

Allah menunjuk dua belas imam, tidak hanya orang-orang di dalam rumah tangga Nabi Muhammad SAWW, tetapi karena mereka, pada zaman mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling alim, yang terbaik dalam kebajikan pribadi, dan yang paling mulia di kehadiran Allah dan pengetahuan mereka berasal dari nenek moyang mereka (Nabi) melalui ayah nenek moyang mereka, dan juga melalui pendidikan langsung dari Allah melalui ilham (inspirasi). Penerus Nabi (selain penerus Nabi Muhammad) adalah Nabi juga, dan dengan demikian mereka semua ditunjuk oleh Allah. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa beberapa Nabi, atas perintah Allah, menunjuk para imam (yang bukan Nabi).

Mari kita berikan beberapa ayat suci Al-Qur’an!

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemimpin Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim”. (QS al -Baqarah, 2: 246).

Setiap orang yang secara khusus ditunjuk oleh Allah sebagai raja adalah seorang imam. Seorang nabi bisa juga (sebagian) dari imam atau raja, tetapi tidak semua nabi adalah imam. Jika seseorang menjadi raja atau imam yang ditunjuk oleh Allah, itu tidak berarti bahwa dengan sendirinya hanya karena fisik yang kuat. Di atas ayat Al-Qur’an berbicara tentang Thalut. Berikut ayat-ayat Al Qur’an lain yang memberikan rincian lebih lanjut.

“Nabi Mereka (1) kata kepada mereka,” Allah telah mengangkat Thalut (Saul) sebagai raja (2) Anda. “Mereka berkata,” Bagaimana Thalut mengatur kita saat kita lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia tidak diberi kekayaan yang cukup? (3) “Ia (Nabi mereka) berkata,” Allah telah memilihnya di atas Anda (4) menjadi raja dan diberikan pengetahuan yang luas dan tubuh yang kuat. “(5) Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki (6.) Dan Allah adalah karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 247).

Bagian pertama dari nomor ayat di atas (1) membuktikan bahwa orang-orang memiliki nabi dan Thalut berada di tengah-tengah masyarakat ini, sehingga mereka Nabi adalah Nabi Thalut juga. Jadi, Thalut bukan nabi.

Bagian ditandai dengan nomor (2) menunjukkan bahwa Allah menunjuk Thalut sebagai imam atau pemimpin atau raja.

Angka (3) menunjukkan bahwa apa yang ditunjuk Allah tidak dipilih berdasarkan kekayaan. Kerajaan pada dasarnya adalah karakter spiritual, dan tentu saja, Thalut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk memerintah dengan baik secara fisik, tetapi yang terakhir tergantung pada pengakuan orang untuk posisi sebelumnya saat akan dipertahankan sebagai imam (kepemimpinan rohani).

Imam atau pemilihan raja bukan tugas manusia, dan sebagaimana dianjurkan, Allah memilih seorang raja atau imam karena Allah tahu siapa orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi tinggi seperti itu. Berikut adalah salah satu raja yang memiliki otoritas oleh Allah SWT.

Ini dibuktikan dengan nomor (6) ayat di atas. Orang-orang yang memiliki otoritas dengan pengetahuan dan kebijaksanaan sebagai nomor (5) dari titik.

Dalam ayat berikutnya, kita membaca,

“Dan Nabi (lebih lanjut) berkata kepada mereka,” Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, adalah untuk kembali ke tabut, di mana terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari warisan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat-malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian ada tanda bagimu, jika kamu beriman “(Al-Qur’an. Al-Baqarah, 2: 248).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

” ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (Al-Qur’an suatu-Nisa, 4: 54).

Sekali lagi, kerajaan ini adalah Imamah, bahwa beberapa keluarga Ibrahim yang memerintah secara fisik.

Bagaimana Model Terbaik Pemilihan dalam Kepemimpinan Islam

Salah satu topik yang telah terus-menerus didiskusikan di kalangan umat Islam sejak bangkitnya Islam adalah pertanyaan tentang memilih Imam atauPemimpin; itu sebenarnya pertanyaan yang membawa pembagian umat terpecah menjadi ke Shi’ah dan Sunni.Shi’ah memiliki komitmen terhadap prinsip bahwa hak untuk menunjuk Imam milik eksklusif (hak prerogatif) Allah, dan bahwa orang (manusia) tidak memiliki peran sama sekali dalam hal ini. Sang Maha Pencipta itu sendirilah yang memilih Imam dan mengidentifikasikannya kepada masyarakat sebagaimana pemilihan para Nabi.Sebagai tambahan dari Shi’ah atas pemahaman tentang Imamah ini, dan perhatiannya yang telah dicurahkan pada keyakinan bahwa Allah dan Nabisendiri yang memilih Imam yang berfungsi sebagai bukti (hujjah) Allah dalam setiap masa, era, dekade, dari rasa hormat yang mendalam untuk hak dan martabat manusia itu sendiri.

Dalam cara yang sama bahwa kenabian menyiratkan serangkaian atribut dan kondisi, demikian juga Imam, yang datang setelah Nabi, juga harus disertai dengan kualitas sosok pribadi tertentu. Kebutuhan ini timbul dari kenyataan bahwa Shi’ah menolak untuk menerima sebagai pemimpin komunitas orang yang kurang dalam kualitas kunci keadilan, ketidakmungkinsalahan (maksum), dan kepintaran/ ke-pakar-an. Perintah yang tepat dari ilmu pengetahuan agama, kemampuan untuk memberitakan Hukum Allah dan ketetapan-Nya dan untuk menerapkannya dalam masyarakat dengan cara yang tepat, dan, secara umum, untuk menjaga dan melindungi agama Allah, tidak ada seorang pun dimungkinkan karena tidak adanya sifat-sifat ini.

Tuhan sangat memperhatikan kapasitas spiritual, tingkat ilmu keagamaan, dan kesalehan dari Imam, dan Dia juga tahu, kepada siapa perwalian pengetahuan agama harus dipercayakan: siapa yang bisa membawa beban ini dan tidak mengabaikan untuk satu menit tugas memanggil orang kepadaAllah dan melaksanakan keadilan ilahi. Tetapi terlepas dari aspek masalah ini, pemahaman Syi’ah tentang Imamah juga mencerminkan cita-cita luhur manusia.

Jika dikatakan, bahwa orang (manusia) tidak berhak untuk ikut campur dalam hal memilih Imam itu, karena mereka (yang memilih) itu sendiri tidak cukup memadai dalam kemurnian kesucian batin dan kesalehan individu, dari derajat dalam mematuhi nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an; Di atas itu semua, mereka tidak dapat merasakan kehadiran illahi atau tidak adanya prinsip ilahi atas ketidakmungkin-salah-an (maksum/’ismah).

Oleh karena itu hak prerogatif Allah melalui Nabi-Nya untuk menunjuk penerus penggantinya; dan Imam di setiap zaman memilih dan mengangkat Pemimpin penerus penggantinya.

Jika seorang Imam mampu menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang gaib dan menampilkan ketidakmungkinsalahan (maksum) dalam ke-Imamah-an, yang terbungkus dalam busana yang menyerupai mirip dengan kekuatan ajaib para nabi, maka itu sah dan dapat diterima.

Ada metode yang diusulkan oleh Shi’ah dalam pengenalan dan perolehan akses ke-Imamah-an, mereka membentuk satu set kriteria kepemimpinan yang sebenarnya dari umat Islam pada zamanya masing-masing hingga hari akhir kelak.

Pendekatan lain untuk ke-Imamah-an ini sangat kontras dengan yang diusulkan Shi’ah. Karena ada kekaburan dan ambiguitas sekitar prinsip konsultatif dalam aplikasi pertanyaan kepemimpinan sejak awal, komunitas Sunni menempuh berbagai metode untuk memilih dan menunjuk Khalifah, sehingga dalam praktiknya elemen-elemen berikut muncul memainkan peran yang penting.

1: Konsensus (ijma ‘). Kaum Sunni mengatakan bahwa pemilihan khalifah pertama dan terutama terletak pada pemilihan oleh masyarakat, sehingga jikaumat Islam memilih individu tertentu sebagai pemimpin, ia harus diterima seperti itu dan perintahnya harus ditaati.

Sebagai bukti ini, mereka mengutip metode yang diikuti oleh sahabat Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan ahli keluarganya) setelah wafatnya. Berkumpul di Saqifah untuk memilih seorang khalifah, mayoritas diputuskan Abu Bakar dan bersumpah setia kepada dia; sehingga dengan demikian ia diakui oleh konsensus sebagai pengganti penerus Nabi, tanpa keberatan yang diajukan. Ini merupakan salah satu metode untuk menunjuk seorang khalifah.

2: Metode kedua terdiri dari Konsultasi dan pertukaran pandangan di antara anggota terkemuka dari komunitas Muslim. Setelah mereka sepakat antara mereka sendiri pada pilihan pemimpin bagi masyarakat, kekhalifahan-nya menjadi sah dan itu adalah kewajiban setiap orang untuk mematuhinya.

Ini adalah metode yang diadopsi oleh khalifah kedua. Ketika ‘Umar akan mati, ia memilih enam orang sebagai calon khalifah dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu nomor mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri, untuk tidak lebih dari enam hari. Jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan akhirnya diberikan kepada ‘Utsman. Ini juga dikatakan merupakan sarana sah untuk memilih khalifah.

3: Metode ketiga terdiri dari pencalonan khalifah pengganti sendiri. Hal ini terjadi dalam kasus ‘Umar, yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar tanpa keberatan yang diajukan oleh kaum Muslim.

Demikianlah, pada dasarnya, pandangan Sunni mengenai hal ini.

Marilah kita sekarang meninjau keberatan-keberatan yang masing-masing proses pembahasan adalah sebagaimana berikut:

Kebutuhan akan ketidakmungkinsalahan (maksum/ ‘ismah’) dari Imam, memiliki pemahaman yang jelas tegas dan merupakan perintah yang komprehensif dari semua permasalahan agama, baik dalam prinsip dan detail, yang berakar dari sumber Al-Quran dan Sunnah, serta yang dibuktikan oleh pengalaman sejarah.

Semua penindasan, kesalahan, korupsi dan penyimpangan yang kita lihat dalam sejarah Islam muncul dari kenyataan bahwa para pemimpin tidak memiliki kualitas yang seharusnya dibutuhkan oleh seorang Imam. Bahkan jika semua anggota umat Islam memilih seorang individu yang diberikan tugas kepadanya sebagai Imam dan penerus Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), ia tidak bisa lemah dan dari dirinya sendiri harus dapat memberikan legitimasi dan validitas atas ke-khalifahan-Nya.

Sedangkan Khalifah Abu Bakar, semua kaum muslimin, dalam hal apapun, tidak semuanya bersumpah setia (baiat) kepadanya, sehingga tidak perlu ada pertanyaan atas apakah konsensus benar-benar terbentuk?.

Juga merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa tidak ada dalam pemilihan sesuai kenyataan yang terjadi, dalam arti semua ummmat muslim yang tersebar di berbagai penjuru tempat pelosok negeri berkumpul di Madinah pada waktu itu untuk mengambil bagian dalam proses pemilihan suara atas pemilihan kekhalifahan itu ataupun proses pemilihan suara secara perwakilan diantara seluruh kabilah-kabilah yang ada.

Berdasarkan fakta sejarah, tidak semua penduduk Madinah berpartisipasi dalam pertemuan itu, di mana keputusan itu dibuat, bahkan beberapa Ahl Al Bayt Nabi dan Sahabat yang terkemuka, serta bahkan beberapa dari mereka yang hadir di Saqifah, menolak untuk menyatakan kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar. Seperti misalnya, Ali b. Abi Thalib sa, al-Miqdad, Salman, al-Zubair, ‘Ammar b. Yasir, ‘Abdullah b. Mas’ud, Sa’d b. ‘Ubadah, Abbas b. Abd al-Muthalib, Usamah b. Zaid, Ibnu Abi Ka’b, ‘Utsman b. Hunayf, serta sejumlah sahabat terkemuka lainnya, yang menyampaikan keberatan atas pemilihan khalifah Abu Bakar dan ini berarti opini mereka tidak menyembunyikan sikap oposisi mereka. Tetapi sikap oposisi mereka, tidak dimaksudkan terorganisir menjadi oposan untuk menggulingkan Khalifah Abu Bakar. Bagaimana mungkin kemudian dapat dikatakan bahwa ke-Khalifah-an Abu Bakar dianggap telah berdasar pada ijma’ (konsensus) umat Islam?

Ini bisa dikatakan bahwa partisipasi dari setiap orang, dalam pemilihan pengganti penerus Nabi tidak perlu! Dan bahwa jika sejumlah orang-orang terkemuka mencapai keputusan tertentu sudah cukup dan hak khalifah sudah dapat diterima dan harus ditaati!.

Namun, mengapa keputusan mereka harus mengikat orang lain? Mengapa orang lain yang terkemuka dan tokoh yang dikenal cemerlang dalam sejarah peradaban ummat Islam, yang memiliki komitmen dan pengabdian yang tinggi dan sudah tidak perlu diragukan lagi, telah dikecualikan dalam membuat keputusan yang begitu penting bagi ummat, yang memiliki konsekuensi luas menyangkut urusan nasib umat Islam? Mengapa mereka mengajukan tanpa syarat atas keputusan yang dicapai dengan memaksa dan mengintimidasi kepada orang lain? Apa bukti yang ada bagi legitimasi prosedur tersebut? Mengapa ini merupakan preseden yang sah dan bersifat mengikat kebebasan umat yang lain?

Secara prosedural tipe ini dapat dianggap sebagai sah, hanya jika secara eksplisit ditunjuk sebagaimana tersebut dalam ayat Al-Qur’an atau SunnahNabi, dalam arti ayat di mana Allah menyatakan:

“Ambil dan terimalah apa yang Rasul berikan kepadamu, dan tinggalkan apa yang dilarang. ” (QS, 59:7)

Adapun para sahabat, tidak ada bukti bahwa mereka harus bertindak dengan benar, selain dari yang sebagian dari mereka tidak setuju dengan orang lain, dan tidak ada alasan dalam prinsip untuk lebih memilih pandangan dari satu kelompok para sahabat atas orang lain.

Memang benar bahwa mayoritas penduduk Madinah memberi kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar dan dengan demikian diratifikasi seleksi sebagai khalifah, tetapi mereka yang menolak untuk melakukannya tidak melakukan dosa apapun, untuk kebebasan dalam memilih, karena kebebasan dalam memilih adalah hak alami dari setiap Muslim, dan kaum minoritas tidak berkewajiban untuk mengikuti pandangan sebagian besar kaum mayoritas. Tidak ada yang bisa dipaksa untuk bersumpah setia (baiat) kepada seseorang yang dia tidak ingini di pucuk pimpinan urusan muslim atau bergabung dengan kompak menolak dia. Ketika kaum mayoritas memaksa kaum minoritas untuk menyesuaikan diri dengan pandangan kaum mayoritas itu sendiri, berarti ia telah melanggar hak-hak kaum minoritas.

Sekarang sahabat yang berkumpul di sekitar Ali sa. yang terpaksa berubah mengikuti mayoritas yang telah memberikan kesetiaan kepada Abu Bakar, itu tidaklah dapat ditasbihkan apapun kepada Tuhan atau Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), karena itu jelas pelanggaran hak-hak mereka dan kebebasan invidual mereka.

Lebih buruk lagi dari ini, adalah fakta bahwa Ali b. Abi Thalib sa. dipaksa untuk berpartisipasi dalam sumpah kesetiaan (baiat) dan mengubah posisinya, meskipun ia adalah seseorang yang diberi otoritas oleh Rasulullah Muhammad SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan. Tak seorang pun dengan rasa keadilan dapat menyetujui pengebirian hak kebebasan individu dalam memilih itu sendiri.

Hal ini juga harus dikatakan bahwa umat Islam dari generasi kemudian yang mengadopsi sebuah sikap negatif terhadap suatu pemberian kesetiaan (baiat) yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, tidak dapat dihukum karena ini atau dianggap sebagai seorang pendosa (sesat/ kafir-murtad).

Selama zaman kekhalifahan Ali sa., orang-orang seperti Saad b. Abi Waqqas dan ‘Abdullah b. ‘Umar menolak baiat kepada Ali sa., tetapi dengan kemurahan hatinya, Imam Ali sa. mempersilahkan mereka bebas untuk melakukannya dan tidak memaksa mereka untuk harus membaiat kepadanya.

Selain semua ini, jika khalifah tidak ditunjuk oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), tak seorang pun dapat dipaksa untuk mengikuti modus perilaku yang ditentukan oleh khalifah yang hanya mengklaim legitimasi dalam pemilihan suara. Pemilihan tersebut tidak memberikan kepadanya imunitas dari kesalahan dan dosa (‘ismah), juga tidak meningkatkan pengetahuan agama dan kesadaran. Orang mukmin biasa berhak mengikuti orang lain selain khalifah, yang tingkat pemahamannya terhadap ilmu agamanya lebih tinggi dari pada khalifah itu sendiri.

Namun, bila baiat itu adalah merupakan sumpah ketaatan pada perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkat-atasnya dan keluarganya), ini memang dianggap sebagai sumpah kesetiaan kepada Rasulullah SAWW. sendiri, lalu tidak mungkin jika tidak taat, dan ketaatan orang kepada siapa kesetiaan diberikan adalah kewajiban tidak hanya pada umat Islam waktu itu, tapi pada orang-orang dari semua generasi-generasi berikutnya.

Selain itu, Al-Qur’an menganggap kesetiaan yang diberikan kepada Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sebagai setara dengan kesetiaan diberikan kepada Allah. Jadi Al-Qur’an mengatakan:

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al Qur’an, 48:10)

Hal ini jelas bahwa pengganti penerus itu dipilih oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), yang akan menjadi adalah laki-laki yang paling tajam dan paling paham tentang peraturan Al-Qur’an dan agama Allah, bahkan ia mungkin akan memiliki semua sifat-sifat Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dengan perkecualian menerima wahyu Allah, dan dia memberi perintah apa pun akan didasarkan pada keadilan dan penerapan hukum-hukum agama Allah.

Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), berkaitan dengan hal itu bersabda:

“Komunitas saya tidak akan pernah setuju atas kesalahan.”

Namun, tradisi ini tidak dapat dikemukakan berkaitan dengan pertanyaan suksesi kepemimpinan dalam Islam, untuk itu kemudian akan bertentangan dengan perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dan secara efektif menyebabkan orang akan mengabaikan kata-katanya; itu akan memungkinkan mereka untuk lebih suka atas pandangan mereka sendiri dari pada kata-kata beliau SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya). Apa pun penerapan itu lebih dibatasi pada kasus-kasus di mana tidak ada hukum yang jelas atau otoritatif dari Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAWW.

Apa yang dimaksudkan oleh Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), adalah bahwa masyarakat tidak akan setuju atas kesalahan dalam kasus di mana ummat diijinkan oleh Allah untuk memecahkan masalah dengan musyawarah, tempat konsultasi tersebut dilakukan di suasana yang bebas dari intimidasi, dan di mana pilihan tindakan tertentu dengan suara bulat disetujui. Namun, jika sekelompok masyarakat tertentu cenderung dalam arah tertentu dan kemudian mencoba untuk memaksakan pandangan mereka pada orang lain dan memaksa pembaiatan mereka, tidak ada alasan untuk menganggap hasil itu sebagai mewakili sebuah konsensus yang valid.

Adapun sumpah kesetiaan (baiat) yang terjadi di Saqifah, bahkan jika Allah dan Rasul SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sudah memberikan izin untuk masalah yang akan memutuskan berdasarkan konsultasi, tidak ada konsultasi yang benar-benar terjadi. Sebuah kelompok tertentu secara individu mengatur agenda di muka dan kemudian dikeluarkan usaha-usaha besar untuk mencapai hasil yang mereka sendiri inginkan (red. penuh hawa nafsu dunia/ ambisi). Ini adalah kenyataan yang terjadi, seperti yang bahkan khalifah kedua (Umar b. Khattab) sendiri datang untuk mengakui:

“Pemilihan Abu Bakar sebagai pemimpin muncul secara kebetulan, itu tidak terjadi melalui konsultasi dan pertukaran pandangan. Jika seseorang mengundang Anda untuk mengikuti prosedur yang sama lagi, bunuhlah dia!” [1]

Dalam perjalanan ia menyampaikan khotbah pada awal khalifah-Nya, khalifah pertama meminta maaf kepada orang-orang dalam kata-kata:

“Para sumpah kesetiaan (baiat) kepada saya adalah sebuah kesalahan, Semoga Allah melindungi kita dari konsekuensi buruk yang aku sendiri takut membahayakan dapat menimbulkan.” [2]

Selama hidupnya, Nabi Islam SAWW. (salam kedamaian dan berkat atasnya dan keluarganya), menunjukkan perhatian besar bagi kesejahteraan kaum muslimin dan menaruh perhatian besar terhadap kelestarian agama Islam dan persatuan dan keamanan masyarakat Muslim. Ia sangat khawatir munculnya perpecahan-perpecahan, dan dimanapun beliau pergi, hal pertama yang ia lakukan adalah untuk menunjuk seorang gubernur atau komandan untuk daerah. Demikian pula, komandan selalu diangkat di muka setiap kali pertempuran sedang direncanakan dan bahkan wakil komandan ditunjuk untuk mengambil alih kepemimpinan tentara jika perlu. Setiap kali beliau memulai perjalanan, ia menunjuk seseorang sebagai gubernur untuk mengelola urusan Madinah.

Mengingat semua ini, bagaimana mungkin bahwa dia tidak pernah memikirkan nasib masyarakat ummat Islam setelah wafatnya, yang membutuhkan panduan dan pimimpinan, kebutuhan di mana nasib masyarakat ummat Islam di dunia ini dan selanjutnya tergantung?

Apakah mungkin bahwa Tuhan harus mengirimkan utusan untuk membimbing manusia dan untuk mendirikan agama; sedang sang utusan harus menanggung segala macam kesulitan-kesulitan dalam menyampaikan perintah Tuhan untuk ummat manusia, kemudian harus berhenti begitu saja di dunia ini tanpa ada kelanjutannya? Apakah ini suatu yang penuh hikmah dan kebijaksanaan dari Allah Yang Maha Bijaksana atau logis dari suatu rangkaian aksi?

Apakah setiap pemimpin akan begitu saja merasa puas dan percaya atas jerih payah usaha dan perjuangannya selama ini, untuk kesempatan masa depan yang tidak pasti?

Ke-Rasul-an adalah kepercayaan ilahi yang diberikan kepada Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), dan ia memiliki kepribadian yang terlalu agung mengabaikan kepercayaan dengan cara apapun, terutama dengan meninggalkan kelanggengan agama Islam. Membuat penunjukan penerus penggantinya tergantung pada pemilu akan tepat sama dengan hasil pemilu itu sendiri, selalu timbul permasalahan-permasalahan.

Jika tujuan dari agama adalah untuk mendidik manusia dalam kemanusiaan mereka dan jika hukum agama untuk mempromosikan pembangunan dan perbaikan umat manusia, seorang pemimpin harus selalu ada bersama-sama dengan agama dalam rangka untuk mengamankan kebutuhan material dan spiritual individu dan masyarakat dan pemimpin yang memberikan panduan dalam penyelesaian segala sengketa ke atas mereka.

Tidak ada keraguan bahwa kekuasaan pemerintah diperlukan untuk dapatnya melaksanakan hukum-hukum Tuhan dan menjaga perintah-Nya, dan kebutuhan akan ini berarti pada gilirannya merupakan kebutuhan terhadap pemimpin dan pemandu yang akan membantu dalam perjuangan mereka dalam mengatasi kekurangan kesadaran mereka yang rentan terhadap saran-saran setan.

Dengan tidak adanya seorang pemimpin, agama akan menjadi keruh dan terdistorsi oleh takhayul (syubhat) dan pendapat sewenang-wenang, baik secara individual ataupun kelompok, dan kepercayaan kepada illahi sesuai aturan agama dan wahyu akan dikhianati (menyimpang).

Selain itu, jika Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), telah meninggalkan untuk kaum muslimin memilih khalifah, ia akan melakukannya dengan kejelasan dan sepenuhnya dengan cara yang paling kategoris mungkin, juga menetapkan prosedur-prosedur mereka mengikuti dalam aturan pemilihan dan pengangkatannya.

Apakah urusan umat Islam setelah wafatnya Nabi bukan urusan Allah dan Rasul-Nya? Apakah orang-orang lebih berpandangan jauh dari Allah dan Rasul-Nya, atau lebih mampu membedakan mana pemimpin yang seharusnya?

Jika Nabi tidak menunjuk seorang pengganti (khalifah) untuk dirinya sendiri, kenapa Abu Bakar melakukannya? Dan jika Nabi melakukannya, mengapa yang beliau pilih disisihkan?

Masalah lain yang timbul sehubungan dengan pilihan khalifah atas dasar musyawarah adalah bahwa Imam harus menjadi penuntun umat dalam segala hal pengetahuan agama. Tidak ada yang meragukan bahwa dia harus memiliki komitmen dan pengetahuan komprehensif tentang hukum-hukum Allah, karena dalam menghadapi banyak masalah kompleks yang muncul umat Islam memerlukan kewenangan seorang pemimpin yang cocok untuk memberikan bimbingan keimanan yang dapat diandalkan. Pengganti Nabi karena itu harus menjadi pewaris sumber pengetahuan, yang membuat identifikasi dan pengakuan penerus, merupakan masalah penting.

Kita telah menjelaskan peran fundamental ketidakmungkinsalahan (‘ismah) di kedua hal, Nabi dan pemimpin (imam) yang ditunjuk oleh Nabi. Sekarang, bagaimana para sahabat, yang mereka sendiri tidak ketidakmungkinsalahan (‘ismah), membawa pada diri mereka sendiri untuk mengenali orang yang mungkin-salah?

Selain itu, jika itu adalah hak kaum muslimin bahwa mereka harus memilih pengganti Nabi, bagaimana hak ini dibatasi oleh ‘Umar b. Khattab hanya kepada untuk enam orang saja? Semua enam orang dari antara Muhajirin, dan bahkan tidak satu pun dari Anshar ditugaskan untuk menasehati mereka.

Ayat Al Qur’an yang berbunyi:

“Kaum muslimin adalah untuk mengatur urusan mereka atas dasar musyawarah” (Al Qur’an, 42:38)

Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa salah satu ciri dari orang percaya adalah untuk berkonsultasi satu sama lain dalam usaha mereka; itu tidak tidak menunjukkan dengan cara apapun bahwa kepemimpinan umat Islam harus berdasarkan suara mayoritas, juga tidak membuat kewajiban ketaatan kepada keputusan yang diambil oleh khalifah begitu terpilih. Ayat ini bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang cara konsultasi yang akan diselenggarakan dan apakah atau tidak kehadiran semua umat Islam diperlukan.

Bahkan jika konsultatif (syura) prinsip yang dapat diterapkan dalam masalah kepemimpinan Islam, keputusan harus dibuat melalui pertukaran pandangan umum, bukan terbatas hanya pada enam orang, dalam pemilihan yang “Umar b. Khattab tidak mau dirinya untuk berkonsultasi dengan salah satu sahabat.

Dia bahkan memberikan hak veto untuk Abd al-Rahman b. ‘Auf yang dikenal karena kekayaannya, sesuatu yang tidak dapat dibenarkan dengan mengacu pada prinsip-prinsip Islam.

Pertimbangan keenam itu, apalagi, dibayangi oleh ancaman dan intimidasi, telah diberikan perintah bagi mereka yang tidak setuju dengan mayoritas harus dihukum mati! Dibunuh!

Ketika menunjuk ‘Umar menjadi khalifah, Abu Bakar tidak berkonsultasi dengan siapa pun, tidak cukup jelas dia meninggalkan pertanyaan penggantinya kepada orang-orang bagi mereka untuk memutuskan, melainkan sepenuhnya merupakan keputusan pribadi.

Dalam hal apapun, prinsip konsultatif menjadi operasi hanya jika pemimpin itu sendiri mengadakan pertemuan konsultasi untuk pertukaran pandangan mengenai berbagai pertanyaan, terutama saat menyentuh topik tentang hubungan sosial dan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh pemimpin dalam menanggapi kebutuhan sosial. Konsultasi dengan spesialis yang relevan terjadi, tapi setelah opini mereka telah didengar, itu adalah pemimpin sendiri yang mengambil keputusan akhir.

Untuk pengetahuan agamanya adalah lebih tinggi dari orang lain, dan itu adalah pernyataan bahwa dukungan publik menikmati layak diberlakukan. Kesatuan arah dan kepemimpinan harus selalu dijaga, karena perbedaan pendapat, tanpa adanya seorang pemimpin membuat keputusan akhir, akan melumpuhkan pemerintah.

Juga harus diingat bahwa Al-Qur’an Surah Al-Syura terungkap di Makkah, pada saat sistem pemerintahan Islam belum mengambil bentuk, dan bahwa pada waktu tidak ada pemerintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah di atasnya dan keluarganya), berdasarkan konsultasi.

Ayat tentang konsultasi, kemudian, mendorong orang-orang percaya untuk berkonsultasi satu sama lain, dan itu tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah pemerintahan dan kepemimpinan. Hal ini terkait dengan keprihatinan praktis kaum muslimin, dengan berbagai masalah yang dihadapi umat Islam. Sama sekali tidak ada pembenaran untuk menafsirkan ayat ini sebagai sanksi penunjukan khalifah melalui musyawarah, karena selama usia pemerintah wahyu secara eksklusif ada di tangan Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya).

Selanjutnya, bagian dari ayat yang merekomendasi konsultasi diperlakukan dari keinginan untuk belanja properti seseorang dalam jalan Allah, juga sesuatu yang diinginkan tetapi tidak wajib.

Namun pertimbangan lain adalah bahwa ayat tersebut terjadi dalam konteks berhubungan dengan perang Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya). Beberapa ayat-ayat yang ditujukan kepada umat Islam pada umumnya dan para prajurit di antara mereka pada khususnya, dan lainnya untuk Nabi secara individual. Hal ini jelas bahwa dalam konteks ini dorongan untuk berkonsultasi terinspirasi oleh belas kasih bagi orang yang beriman, dengan kepedulian moral mereka, itu adalah bahwa Nabi tidak diwajibkan untuk bertindak sesuai dengan pendapat dari orang-orang yang dimintai konsultasi.

Untuk Alquran dengan jelas menyatakan:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian Setiap kali Anda mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah dan bertindak sesuai dengan opini sendiri dan niat (tekad). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Qur’an, 3:159)

Konteks ini juga menunjukkan konsultasi yang berlaku untuk hal-hal militer, terutama ke kekhawatiran yang muncul selama Pertempuran Badar, bagiNabi SAWW (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), sahabat berkonsultasi tentang kelayakan menyerang kafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan kembali dari Suriah. Pertama Abu Bakar menyatakan pendapat, yang ditolak oleh Nabi, kemudian ‘Umar menyatakan-Nya, yang juga ditolak, dan akhirnya al-Miqdad memberikan pendapatnya, dan Nabi menerimanya. [3]

Jika Nabi berkonsultasi dengan orang lain, itu bukan berarti untuk belajar dari mereka yang lebih unggul (pakar) dari pendapat beliau sendiri. Tujuannya adalah bukan untuk melatih mereka dalam konsultasi metode dan penemuan pandangan yang benar. Berbeda dengan penguasa yang menolak duniawi pernah berkonsultasi dengan orang biasa, karena kesombongan dan keangkuhan, Nabi diperintahkan oleh Allah untuk menunjukkan perhatian orang yang beriman dan belas kasihan kepada mereka dengan konsultasi dengan mereka, pada saat yang sama meningkatkan harga diri mereka dan belajar apa yang mereka pikirkan.

Namun, keputusan akhir selalu, dan dalam kasus Pertempuran Badar, Allah memberitahukan terlebih dahulu tentang apa yang akan dihasilkannya, dan ia pada gilirannya ini disampaikan kepada para sahabat setelah berkonsultasi dengan mereka.

Perintah untuk berkonsultasi dan untuk bertukar pandangan juga demi menemukan cara terbaik untuk memenuhi tugas yang diberikan, bukan untuk mengidentifikasi apa yang tugas dan apa yang tidak, ini merupakan perbedaan penting.

Setelah resep yang jelas dan otoritatif ada dalam Al-Quran atau Sunnah, tidak ada tanah untuk konsultasi mengambil tempat. Masyarakat tidak memiliki hak untuk mendiskusikan perintah yang didasarkan pada wahyu, karena pada prinsipnya diskusi tersebut mungkin berakibat pada pembatalan hukum Tuhan.

Dalam cara yang sama, konsultasi tidak berarti dalam setiap masyarakat manusia, sekali tugas hukum anggotanya telah ditentukan.

Sang penerus pengganti Ali b. Abi Thalib sa, jelas diangkat Nabi sesuai dengan perintah illahi di Ghadir Khum. Dan lagi di awal misi Nabi, ketika ia berada di ranjang kematiannya. Karena itu, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan oleh konsultasi.

Al-Quran tidak mengizinkan individu untuk menghibur pandangan mereka sendiri tentang topik apa pun ada di mana undang-undang illahi, untuk itu berkata:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al Qur’an, 33:36)

Atau lagi:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” (Al Qur’an, 28:67)

Karena pilihan dan seleksi pemimpin adalah hak prerogatif Allah semata, dan karena pada kenyataannya dia seorang pemimpin yang ditunjuk, tidak ada artinya untuk mencari orang lain sebagai pemimpin.

Tugas Imam adalah membimbing manusia dan menunjukkan kepada mereka jalan yang akan menuntun mereka ke kebahagiaan. Itulah yang terjadi, metode yang tepat untuk memilih seorang Imam adalah sama dengan yang Al Qur’an merinci untuk para nabi:

“Memang kewajiban pada Kami untuk membimbing manusia, untuk kerajaan dunia dan akhirat adalah Milik kami”. (Al Qur’an, 92:11-12)

Ini adalah tanggung jawab maka Allah sendiri memberikan pedoman bagi umat manusia dan untuk membuat tersedia apa saja yang dibutuhkan pada berbagai tahapan eksistensi. Bagian dari apa yang dibutuhkan yang pasti bimbingan, dan hanya satu yang telah ditunjuk Allah dapat menampilkan dirinya sebagai panutan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an bersaksi bahwa Allah berikan status panduan pada Nabi.

Penunjukan seorang Imam sebagai pengganti Nabi Allah terjadi untuk tujuan yang sama persis dengan misi Nabi (salam kedamaian dan berkah saw dan keluarganya), yang melayani umat manusia sebagai panutan dan tokoh suri tauladan kepada siapa ketaatan disampaikan.

Dengan hal tersebut, tak seorang pun berhak mengklaim fungsi ini atau untuk menuntut ketaatan tanpa bukti yang telah diangkat oleh Allah. Jika seseorang tetap saja tidak melakukannya, ia akan merampas tangan kanan Allah.

Teori Sunni yang melihat dalam penunjukan Abu Bakar penggantinya, pembenaran untuk prosedur tersebut. Jika penunjukan tersebut dibuat oleh seorang Imam yang mungkin-salah (tdiak ‘ismah’) itu adalah sah dan otoritatif, tetapi yang lain mengenali untuk satu pemilik ketidakmungkinsalahan (‘ismah) dan aman mempercayakan urusan umat kepadanya. Jika hal ini tidak menjadi kasus, kurang satu kualitas ketidakmungkinsalahan, tidak memiliki hak untuk menunjuk seorang menjadi khalifah, yang orang wajib mematuhi. Jika dikatakan bahwa ini adalah Abu Bakar yang lakukan dan tidak ada yang keberatan, itu harus dijawab bahwa keberatan memang sudah diajukan, tetapi tidak ada perhatian yang dibayarkan kepada mereka.

Tersebut pandangan para ulama Sunni tentang legitimasi dari tiga metode yang berbeda untuk memilih khalifah, dan keberatan-keberatan yang perlu dibuat untuk dilihat mereka.

Referensi:
[1] Ibnu Hisyam, Sirah, Vol. IV, hal 308; al-Tabari, Tarikh, Ibn al-Atsir, al-Kamil, Ibnu Katsir, al-Bidayah.
[2] Ibn Abi ‘l-Hadid, Syarah, Vol. I, p.132.
[3] Muslim, al-Sahih, “Sayr Kitab wa al-Jihad” Bab: Badar Ghuzwah, Vol. III, p.1403.

Lebih Lanjut mengenai Ijma’

Sunni menyatakan bahwa masalah penerus Nabi diselesaikan melalui konsep “syura (musyawarah), karena Allah SWT berfirman dalam Qur’an bahwa masalah mereka dipecahkan melalui syura’. Klaim bahwa masalah kepemimpinan adalah tidak diselesaikan melalui agreement supported adalah kesalahpahaman pengertian syura yang dimaksud dalam ayat Al-Qur’an dengan demokrasi pemilihan kepemimpinan Islam berdasarkan kesepakatan persetujuan ummat. Dewan syura’ ini berbeda dengan voting atau pemilihan, dan karena alasan itu, ia tidak dapat diterapkan pada masalah Imamahatau Khilafah. Mari kita menjelaskan mengapa?!Ketika seorang pemimpin untuk memutuskan suatu masalah, menurut aturan Islam, dia bisa mencoba untuk bernegosiasi dengan sekelompok pakar untuk mendapatkan pendapat dari mereka tentang isu-isu tertentu. Tapi akhirnya dia sendiri-lah yang harus memutuskan. Dia tidak melakukan pemungutan suara (voting). Untuk membuktikan spot kami, mari kita lihat ayat berikut ini.”… Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam masalah ini. Kemudian ketika Anda (para Nabi) ditentukan, maka bertawakallah kepada Allah” (Surah Ali Imran: 159).Ayat di atas Nabi berkonsultasi bertanya, tapi Allah SWT. menyatakan “idza azamta fa …” Berarti bahwa hanya Nabi yang mengambil keputusan akhir. Dan kemudiam semua ummat Islam “sami’na wa atha’na”

Di sini tidak ada pemilihan suara (voting) sama sekali. Ini hanya soal untuk mendapatkan opini. Keputusan akhir ditangan Nabi. Yang mungkin berbeda dari mayoritas orang yang berkonsultasi (demi keuntungan) yang diakui oleh para pemimpin dan karena itu ia dianggap sebagai seorang pemimpin karena lebih unggul dalam keilmuan, pintar, dan sebagainya.

Beberapa pihak berpendapat disini bahwa, karena pengetahuan yang tinggi, Nabi Muhammad SAWW. bahkan tidak perlu untuk meminta pendapat rakyatnya. Namun, Nabi melakukannya dalam beberapa keadaan, hanya untuk mengajar orang pentingnya arti musyawarah.

Dalam hal musyawarah, keberadaan seorang pemimpin yang diasumsikan sebagai pengambil keputusan akhir (top decision maker). Hal ini jelas membuktikan bahwa, dalam hal suksesi kepemimpinan, konsensus (dukungan persetujuan/ agreement supported) dari ummat tidak diperlukan (kecuali hal itu dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, sebelum kematiannya).

Setelah kematian sang pemimpin, sang pemimpin tidak dapat melakukan musyawarah, kecuali sang pemimpin akhir memiliki wakil (red. atau panggilan wakil presiden) yang dapat melakukan fungsi ini.

Biasanya wakil yang ditunjuk adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi pemimpin, dan bahkan orang lain pun memutuskannya ia layak untuk menjadi pemimpin. Pemimpin ditunjuk oleh wakil tetap (pemimpin) yang sebelumnya telah ditunjuk, dan bukan oleh manusia!

Pemilihan suara (Voting) adalah masalah yang sama sekali berbeda. Dalam masyarakat demokratis, semua orang memiliki kesempatan untuk memilih kandidat mereka. Prosedur-prosedur ini tidak memiliki dukungan apapun dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, untuk masalah-masalah dalamkepemimpinan Islam (Islamic Leadership).

Keseluruhan. Alasannya, Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan oleh manusia, dari manusia dan untuk manusia). Sebagaimana pengertian Demokrasi dalam Trias Politika dari filusuf Yunani (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat), yang kemudian terbentuk legilatif, yudikatif dan eksekutif.

Memang, Quran mengutuk pendapat kebanyakan orang (lihat kembali ayat Al-An-am, 6: 116; QS Al-. Maidah: 49, QS Yunus:. 92; QS Al-. Rum: 8) karena pandangan kebanyakan pria biasanya lemah karena kecenderungan mereka.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”[500]. (Qur’an al-An ‘am, 6:16)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (Qur’an al-Maidah, 5 :49)

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”. (Qur’an Yunus, 10 : 92)

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (Qur’an ar-Ruum, 30: 8)

Selain itu, pemilihan tersebut tidak terjadi untuk tiga khalifah pertama yang naik tahta kepemimpinan setelah Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya) wafat, bahkan tidak diantara penduduk Madinah.

Juga, bagaimana jika ada orang yang tidak memilih individu yang memenuhi syarat kualifikasi sebagai seorang pemimpin, misalnya orang munafik? Bagaimana bisa, seperti misalnya orang yang korup menjadi Ulil Amri dan ketaatan menjadi wajib?

Tentu saja, Allah SWT. dan Rasulullah Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya). Lebih mengetahui mana yang lebih baik, yang lebih pantas, memenuhi syarat sebagai pemimpin (imam) penerusnya.

Referensi :

[500]. Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

[704]. Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

berarti kesepakatan dari seluruh ummat Islam. Tapi anehnya dalam pemilihan khalifah, fakta sejarah ternyata menunjukkan ada indikasi yang tidak jelas dalam pemilihan khalifah pertama. Adakah ia pemilihan khalifah pertama, itu atas ijma’ dari seluruh ummat Islam, tanpa terkecuali terutama dariAhl Al-Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW dan Bani Hasyim ?Fakta sejarah mencatat, pemilihan khalifah pertama hanya diikuti dan dihadiri beberapa gelintir orang sahabat nabi di Madinah (red. bahkan konon sudah ditentukan sebelumnya, lihat dan silahkan telaah secara kritis fakta sejarah peristiwa “saqifah”).Sedangkan ummat muslim yang berada di wilayah Islam lainnya, selain yang ada di kota Madinah (red. setelah fathu Mekkah ummat Islam berkembang pesat), tidak terlibat ikut berperan secara aktif dalam pemilihan suara secara ijma’ itu, sehingga tidak dapat diketahui secara persis dan pasti bagaimanakah suara dan idea-idea mereka, seperti layaknya dalam suatu proses pemilihan secara ijma’ . Lebih tepatnya, dapat dikatakan, bukan kesepakatan seluruh ummat Islam, tetapi kesepakatan sebagian ummat Islam.

Bukti sejarah, Ahl Al-Bayt Nabi (Keluarga Nabi) seperti Imam Ali bin Abi Thalib sa., Fatimah sa, Hasan sa. dan Husyain sa. serta seluruh keluarga BaniHashim lainnya tidak tampak ikut hadir dan mengikuti pemilihan suara dengan sistem Ijma  itu. Karena Ahl Al-Bayt Nabi hanya berkhidmat pada jenazah Rasulullah di rumah duka, sementara hanya beberapa gelintir orang sahabat saja yang heboh membicarakan pengganti Nabi Suci MuhammadSAWW.

Oleh karena itu sistem ijma’ seperti in patut dipertanyakan, apakah hal ini layak bisa diterima oleh seluruh ummat Islam tanpa terkecuali? Karena, definisi pengertian ijma’ jelas sekali merupakan kesepakatan seluruh ummat Islam tanpa terkecuali. Dengan demikian definisi pengertian ijma’ itu sendiri telah diciderai!

Kemudian, yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah jika sistem ijma ‘ ini memang dinyatakan sebagai sistem yang benar dan harus wajib diikuti dan harus diterima, maka mengapa sesudah pemilihan khalifah pertama (Abu Bakar) yang masih patut dipertanyakan itu, dalam pemilihan khalifah kedua (Umar ibn Khattab), khalifah pertama Abu Bakar melanggar sistem ijma’ ini?

Betapa tidak, fakta sejarah menunjukkan pemilihan khalifah kedua Umar bin al-Khattab dibaiat sumpah setia oleh khalifah Abu Bakar sebagai penggantinya tanpa ijma’ . Tetapi secara atas tunjuk, membaiat dan mewariskan secara langsung dengan otoritas yang dimilikinya.

Jika Abu Bakar bisa membai’at dan menunjuk Umar bin Al-Khattab dalam sebagai khalifah penggantinya sesuai otoritas yang dimiliki, lalu pertanyaannya mengapa, apa yang tidak tepat jika Nabi Suci Muhammad SAWW. melakukan cara yang sama, sesuai dengan instruksi
wahyu yang diterima beliau sesuai otoritasnya sebagai Nabi dan Rasul, dengan menunjuk pemimpin pengganti beliau Ali bin Abi Thalib sa. sebagaiImam pengganti penerusnya?

Di sini, Nabi Suci adalah lebih patut ketika ia melantik Imam Ali bin Abi Thalib sa. sebagai seorang Imam atau khalifah penggantinya saat ia wafat nantinya, di sebuah tempat Ghadir Khum, setelah melakukan Haji Wada. Nabi Suci melakukan ini semua, bukan sesuai dengan keinginannya (“penuh hawa nafsu rendah duniawi”), tapi menurut Al-Qur’an apa yang ada dalam diri Nabi Suci Muhammad SAWW. tidak lain adalah “illa yuha wahyuha”. (melainkan wahyu yang telah Allah wahyukan). Dan kita semua ummat muslimin sepatutnya, harusnya mengucapkan “‘Sami’na wa atho’na” (Kami dengar dan Kami taat!).

Dan sekali lagi, perlu dipertanyakan kembali, jika ijma ‘adalah sistem yang benar dan harus diikuti, lalu mengapa pula sistem ijma’ ini masih tetap dilanggar kembali, dalam pemilihan untuk khalifah yang ketiga Ustman bin Affan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab?

Lagi fakta sejarah mencatat, khalifah kedua Umar bin Khattab pun juga telah melanggar sistem ijma’ ini, dimana ijma’ dibatasinya dengan memilih 6 (enam) orang sebagai calon khalifah tanpa musyawarah dengan para sahabat sebelumnya, dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu dari mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri untuk tidak lebih dari enam hari, jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, maka lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan diberikan kepada ‘Utsman.

Adakah ini adalah ijma’ atau merupakan hasil ijtihad terbaik khalifah Umar ibn Khattab atas pengertian definisi ijma’ itu sendiri?

Kalau itu memang iya, merupakan hasil ijtihad terbaik dari khalifah Umar Ibn Al-Khattab, tidakkah dia menyadari bahwa hal itu akan menciderai dan merusak pengertian ijma’ itu sendiri?

Mungkin perlu direnungkan, untuk telaah kritis atas fakta sejarah yang ada secara obyektif. Dan hendaklah dibuang jauh-jauh prasangka buruk. Di sini bukan hanya untuk sekedar mengkritisi polah tingkah laku dan pemikiran sahabat Nabi terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Ustman bin Affan. Nauzu billaahi min dzalik.

Terlepas dari semua itu, mereka semua sahabat Nabi yang terkemuka. Bahkan bagaimanapun juga Abu Bakar adalah ayah mertua Nabi MuhammadSAWW. Dimana beliaupun juga tetap sangat menghormatinya. Demikian pula Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan mereka semua telah memberi warna dalam pergerakan jihad Nabi Suci Muhammad SAWW. dan memberikan
sumbangsih yang tidak sedikit.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu muncul dalam hati dan pikiran semua umat Islam terutama generasi muda Islam. Mengapa sistem ijma’dibuat dan diagung-agungkan sebagai dalil pembenaran untuk melegitimasi pemilihan dalam Kepemimpinan Islam (Islamic Leadership), tapi malah justru fakta sejarah menunjukkan bahwa dari pemilihan kepemimpinan Islam mulai khalifah pertama sampai khalifah ketiga, semuanya terbukti telah melanggar dan menciderai definisi pengetian ijma’ itu sendiri? Kalau sudah begini, lalu generasi Islam harus bagaimana?

Ternyata memang telaah kritis atas fakta-fakta sejarah adalah sangat penting sekali bagi generasi muda Islam untuk menemukan esensi kebenaran agama Islam yang hakiki dari sumber yang hakiki pula.

Imamah dalam pandangan Syi’ah adalah bentuk pemerintahan ilahi, yang berkantor tergantung pada Allah seperti ke-nabi-an, sesuatu dimanaAllahtelah melimpahkan dan menganugerahkan pada hamba-hamba pilihan-Nya yang ditinggikan pada kurun waktu masanya masing-masing.

Perbedaannya adalah bahwa Nabi pendiri agama dan sekolah madarasah pemikiran hasil dari pada itu, sedangkan Imam memiliki fungsi menjaga dan melindungi agama Allah yang telah dirisalahkan kepada Nabi-Nya, dalam arti bahwa masing-masing memiliki tugas dalam semua dimensi nilai-nilai hidup spiritual mereka dan cara pelaksanaan agama Allah.

Setelah wafat Rasulullah SAWW, umat Islam berada pada kondisi yang membutuhkan tokoh yang layak yang akan diberkati dengan pengetahuan komprehensif yang berasal dari wahyu (red. hikmah), dibebaskan dari dosa kesalahan dan kenajisan kotoran hawa nafsu rendah duniawi, dan mampu menjaga dan melestarikan syari’at agama Allah secara murni dan konsekuen sesuai Qur’an dan Sunnah Nabi.

Hanya tokoh seperti itu lah yang layak akan dapat, tidak hanya untuk mengawasi perkembangan dari waktu dan untuk melindungi masyarakat dari unsur menyimpang, tetapi juga untuk memberikan pengetahuan agama yang luas kepada ummat yang muncul dari sumber utama berupa wahyu (red. hikmah) dimana prinsip-prinsip umum syari’at Nabi berasal. Hukum yang berasal dari wahyu inilah yang merupakan obor kebenaran dan keadilan yang tertinggi.

Imamah dan kekhalifahan tidak bisa dipisahkan. Sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW. Tuhan Allah tidak bisa dipisahkan dari kantor ke-nabi-anNya. Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan-kesatuan tunggal.

Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual. Dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya. Sehingga terjadi dikotomi perbedaan pengertian imam dan khalifah (red. keimamahan dan kekhalifahan).

Jika masyarakat Islam tidak dipimpin oleh seseorang yang layak saja, yang takut akan Tuhan, yang tak ternoda oleh kenajisan moral dan tata nilai ahlak mulia, yang perbuatan dan kata-kata menjadi model panutan bagi orang-orang yang mengikutinya, atau sebaliknya, jika imam atau penguasa masyarakat itu sendiri melanggar hukum dan prinsip keadilan, tidak akan ada lingkungan yang mampu menerima keadilan, dan tidak akan mungkin lagi kebajikan dan kesalehan tumbuh berkembang, dan atau untuk tujuan pemerintahan Islam menciptakan lingkungan yang sehat bagi penyebaran nilai-nilai spiritual dan penerapan hukum-hukum Allah yang didasarkan pada wahyu (red. hikmah) ilahi.

Pelaksanaan moral penguasa dan peran pemerintah memiliki pengaruh yang kuat dan begitu mendalam terhadap masyarakat pendukungnya. ‘Ali ibn Abi Tahlib-Amirul Mukminin, yang dianggap sebagai lebih berpengaruh daripada peran edukatif dari seorang bapak dalam rumah tangga . Dia berkata demikian:

“With respect to their morals, people resemble their rulers more than they resemble their fathers.” (“Respek atas moral mereka, orang-orang akan menyayangi penguasanya lebih dari diri mereka menyanyangi bapak-bapak mereka sendiri”) [1]

Karena ada hubungan tertentu dan afinitas antara tujuan sebuah pemerintahan yang diberikan dan atribut dan karakteristik dari pemimpinnya, pencapaian cita-cita pemerintahan Islam sangat tergantung pada keberadaan seorang pemimpinnya, di antaranya adalah kualitas istimewa yang mengkristal kepada diri seorang manusia pemimpin yang disempurnakan.

Selain itu, kebutuhan masyarakat untuk kepemimpinan dan pemerintahan itu sendiri, merupakan kebutuhan alami yang bergerak maju menuju kesempurnaannya. Dan dengan cara yang sama Islam telah memenuhi kebutuhan individual dan kolektif manusia, material dan moral, oleh penyusunan sebuah sistem hukum yang koheren, disamping itu juga harus memperhatikan kebutuhan alami untuk kepemimpinan dengan cara yang sesuai dengan sifat esensial manusia.

Allah telah memberikan semua alat dan instrumen yang dibutuhkan setiap ada keterbatasan, kelemahan dan kekurangan untuk mengatasi dan maju menuju kesempurnaan itu sendiri. Apakah itu mungkin bahwa orang yang juga terpelihara dalam pelukan rahmat ilahi entah bagaimana akan dikecualikan dari aturan ini, pengoperasian diganggu gugat dan dicabut dari sarana pendakian spiritual?

Pada saat kematian Rasul Allah, negara Islam tidak mencapai tingkat budaya atau intelektual yang memungkinkan hal itu akan terus berkembang menuju kesempurnaan tanpa perwalian dan pengawasan. Islam telah didirikan untuk pengembangan dan elevasi manusia akan tetapi tidak akan lengkap tanpa jiwa dan prinsip keiImamahan yang berada untuk itu; Islam tidak akan bisa memainkan peran penting yang berharga dan sangat strategis dalam pembebasan manusia dan mekarnya potensi esensi manusia.

Teks-teks Islam Fundamental menyatakan bahwa jika prinsip Imamah dikurangkan dari Islam, semangat hukum Islam dan masyarakat berdasarkan progresif monoteistik akan hilang, tak akan pernah ada lagi, tetapi hanya ada bentuk Islam yang tak bernyawa, yang tak memiliki ruh ke-ilahi-an lagi.

Nabi Islam SAWW, bersabda: “Barangsiapa mati tanpa mengenal Imam pada masanya, mati dalam keadaaan Jahiliyyah.” [2]
Alasan untuk ini adalah bahwa selama era Jahiliyyah pra-Islam ketidaktahuan orang-orang musyrik; mereka tidak tahu baik monoteisme atau ke-nabi-an. Deklarasi ini dikategorikan oleh Nabi, kedamaian dan berkah Allah atasnya dan keluarganya, menunjukkan pentingnya ke-imamah-an dalam agamaIslam.
Referensi:

[1] Al-Majlisi, Biharal-Anwar, Vol, XVII, hal 129.

[2] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, hal 96.


Bagaimana Sunni BERPEGANG PADA 12 KHALiFAH YANG MEREKA TiDAK TAU SiAPA ORANGNYA ???

Al Qur’anul Kariim

“(Ingatlah) pada suatu hari yang kelak Kami akan memanggil setiap insan dengan Imam-nya” (Qur’an 17:71)”Dan Kami jadikan di antara mereka Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka, meyakini ayat-ayat Kami.” (Qur’an 32:24)

Hadist Bukhari & Muslim

Jabir bin Samura meriwayatkan: Saya mendengar Nabi SAWW. bersabda :
”Kelak akan ada 12 (dua belas) Pemimpin.” Ia lalu melanjutkan kalimatnya yang saya tidak mendengarnya secara jelas. Ayah saya mengatakan, bahwa Nabi menambahkan, ”Semuanya berasal dari suku Quraisy”.
[Sahih al-Bukhari (English), Hadith: 9.329, Kitabul Ahkam]; [Sahih al-Bukhari, (Arabic), 4:165, Kitabul Ahkam].

Nabi SAWW. Bersabda :
“Agama (Islam) akan berlanjut sampai datangnya saat (Hari Kebangkitan), berkat peranan 12 (dua belas) Khalifah bagi kalian, semuanya berasal dari suku Quraisy.” [Sahih Muslim, (English), Chapter DCCLIV, v3, p1010, Tradition #4483]; [Sahih Muslim (Arabic), Kitab al-Imaara, 1980 Saudi Arabian Edition, v3, p1453, Tradition #10]

NABi   SAW   MENYEBUT  NAMA  12  KHALiFAH  UMAT

penutupan kenabian dilengkapi oleh penunjukkan imam Dan kesempurnaan Islam yang universal dan abadi sampai akhir masa bergantung pada pengangkatan para imam.. Konsep imamah demikian ini mengacu pada ayat-ayat Al-Qur’an. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi acuan utama adalah ayat ke-3 Al-Ma’idah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya pada hari ini [yaitu pada hari setelah pengangkatan Imam Ali sebagai khalifah Rasul saw] telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku lengkapi atas kalian nikmat-Ku, dan juga Aku telah ridha bahwa Islam sebagai agama kalian.”

Dari penelaahan terhadap ayat ini berikut tafsir dan sebab turunnya di dalam berbagai kitab tafsir, akan kita dapati bagaimana para ahli tafsir telah bersepakat, bahwa ayat tersebut turun pada haji Wada’, yaitu haji perpisahan (terakhir) Rasul saw yang terjadi beberapa bulan sebelum beliau wafat.

Masih dalam rangkaian ayat tersebut, setelah menyinggung ihwal orang-orang kafir yang telah berputus asa untuk mengadakan penyimpangan terhadap Islam, Allah SWT berfirman, “Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa dari agama kalian.”

Allah SWT menegaskan bahwa pada hari itu agama Islam dan nikmat wilayah telah Dia lengkapi dan sempurnakan.

Apabila kita cermati dengan baik riwayat-riwayat yang menjelaskan sebab turun ayat tersebut, akan tampak jelas lagi bahwa ikmal dan itmam (penyempurnaan dan pelengkapan), yang disusul oleh keputusasaan orang-orang kafir untuk melakukan penyimpangan terhadap Islam, terwujud dengan diangkatnya seorang khalifah Nabi dari sisi Allah SWT. Karena musuh-musuh Islam menduga, bahwa sepeninggal Rasul saw agama Islam dan para pemeluknya tidak punya pemimpin lagi. Terlebih Rasul sendiri tidak punya seorang putra pun. Dengan demikian, agama Islam akan menjadi lemah dan akan mengalami kehancuran.

Dugaan mereka itu sungguh keliru, karena Islam telah mencapai kesempurnaannya dengan diangkatnya seorang pengganti Rasul yang akan melanjutkan risalah dan perjuangan beliau. Maka, menjadi lengkaplah nikmat Ilahi, sementara segala angan-angan, harapan dan ambisi orang-orang kafir menjadi sirna.

Pengangkatan khalifah Nabi saw itu terjadi tatkala beliau dan rombongan jemaah haji dalam perjalanan pulang mereka dari haji Wada’. Ketika itu, beliau mengumpulkan semua jemaah haji di satu tempat yang dikenal dengan nama “Ghadir Khum”. Pada kesempatan itu, beliau menyampaikan khutbahnya yang panjang. Kepada kaum muslimin beliau bertanya:

“Bukankah aku ini lebih utama daripada diri kalian sendiri?”

Serempak mereka menjawab:

“Benar, ya Rasulullah ….”

Kemudian Nabi saw memegang tangan Ali bin Abi Thalib as dan mengangkatnya di hadapan mereka semua, lalu berkata, “Barang siapa yang menjadikan aku ini sebagai pemimpinnya, maka sungguh Ali adalah pemimpinnya.”

Dengan demikian, Nabi saw telah menetapkan wilayah Ilahiyah itu atas Imam Ali as. Segera setelah itu, seluruh kaum muslimin yang hadir di tempat itu bangkit membaiatnya. Di antara mereka, tidak ketinggalan pula khalifah kedua, Umar bin Khattab. Kepadanya Umar mengucapkan selamat dan berkata, “Engkau beruntung sekali wahai Ali. Kini engkau telah menjadi pemimpinku dan pemimpin seluruh masyarakat yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan.”

Pada hari yang agung tersebut, turunlah ayat yang berbunyi, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian, dan telah Aku lengkapi pula nikmat-Ku atas kalian, dan Aku pun rela Islam sebagai agama kalian.

Dengan turunnya ayat ini, Rasul saw mengucapkan takbir lalu berkata, “Kesempurnaan kenabianku dan kesempurnaan agama Allah itu terletak pada wilayah Ali sepeninggalku.”

Seorang ulama Ahlusunah terkemuka bernama Al-Juwaini menukil sebuah riwayat, “Ketika ayat tersebut turun, Abu Bakar dan Umar berkata, ‘Ya Rasul Allah, apakah kepemimpinan ini dikhususkan untuk Ali?’

Rasul menjawab, ‘Ya, wilayah (kepemimipinan) ini diturunkan untuknya dan untuk para washi-ku sampai Hari Kiamat.’

Lalu kedua orang itu berkata lagi, ‘Ya Rasul Allah, jelaskanlah kepada kami siapa sajakah mereka itu?’

Beliau menjawab, ‘Mereka itu adalah Ali, ia adalah saudaraku, wazirku, pewarisku, washiku dan khalifahku bagi umatku, dan dialah wali (pemimpin) setiap mukmin sepeninggalku, kemudian setelahnya adalah cucuku Al-Hasan, kemudian cucuku Al-Husein dan kemudian sembilan orang dari putra-putra keturunan Al-Husein secara berurutan. Al-Qur’an senantiasa bersama mereka, sebagaimana mereka selalu bersama Al-Qur’an, keduanya itu tidak akan pernah berpisah hingga mereka menjumpaiku di telaga Surga.”[1]

Kalau kita mengkaji secara seksama beberapa riwayat yang berhubungan dengan pengangkatan Ali as sebagai imam, wali dan washi Rasul saw, kita dapat memahami bahwa Rasul saw sebelum itu telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya.

Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)

Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi itu yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.

Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari “Ghadir” ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.

Sebagai contoh, pada masa-masa awal bi’tsah (kenabian) Muhammmad saw sebuah ayat turun kepada beliau, “Berikanlah peringatan kepada keluargamu yang terdekat” (QS.As-Syu’ara: 214)

Lantas beliau berseru kepada keluarganya, “Siapakah di antara kalian yang siap menjadi penolongku dalam urusan agamaku ini, aku akan jadikan ia sebagai saudaraku, washi-ku dan khalifahku atas kalian.”

Ahlusunnah dan Syi’ah sepakat, bahwa ketika itu tidak seorang pun dari keluarga Nabi saw yang memberikan jawaban kecuali Imam Ali bin Abi Thalib as.[2]

Demikian juga ketika turun ayat, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan taati pula Ulil Amri (para Imam) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)

Secara tegas Allah SWT mewajibkan semua orang-orang yang beriman untuk mentaati “Ulil Amri” secara mutlak. Dan, menaati mereka sama dengan mentaati Rasulullah

Sekaitan dengan ayat di atas, Jabir bin Abdillah bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang wajib ditaati seperti yang diisyaratkan dalam ayat ini?”

Rasulullah saw menjawab, “Yang wajib ditaati adalah para khalifahku wahai Jabir, yaitu para imam kaum muslimin sepeninggalku nanti. Imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan, kemudian Husein, kemudian Ali bin Husein, kemudian Muhammad bin Ali yang telah dikenal di dalam kitab Taurat dengan nama “Al-Baqir” dan engkau akan berjumpa dengannya wahai Jabir. Apabila engkau nanti berjumpa dengannya, maka sampaikanlah salamku kepadanya. Kemudian setelah itu As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian yang terakhir ialah Al-Mahdi bin Hasan bin Ali sebagai Hujjatullah di muka bumi ini dan Khalifatullah yang terakhir.[3]

Sebagaimana yang baru saja kita simak, Nabi saw telah mengabarkan kepada sahabat beliau yang bernama Jabir bin Abdillah Al-Anshari, bahwa dia kelak akan dapat berjumpa dengan Imam Muhammad Al-Baqir as Dan sejarah mencatat bahwa Allah mengaruniai Jabir umur panjang, ia hidup sampai pada masa Imam Baqir as Ketika berjumpa, ia begitu senang sampaikan salam Rasul saw kepada Imam as.

Abu Bashir dalam sebuah hadis yang diriwayatkannya berkata, “Aku pernah bertanya kepada Aba Abdillah Ja’far Ash-Shadiq as tentang firman Allah SWT, ‘Athi’ullaha Wa Athi’urrasula Wa Ulil Amri minkum.’

Beliau menjawab, “Sesungguhnya ayat tersebut diturunkan sehubungan dengan khilafah Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein.”

Kembali aku bertanya, “Akan tetapi mengapa Allah tidak menyebutkan nama Ali dan Ahlulbaitnya di dalam Al-Qur’an?”

Imam Ja’far Ash-Shadiq as menjawab, “Katakanlah kepada mereka, ‘Bahwa ayat-ayat tentang shalat yang turun kepada Nabi sama sekali tidak menjelaskan tentang jumlah rakaatnya; tiga atau pun empat, akan tetapi Nabilah yang menjelaskan ayat-ayat tersebut kepada mereka. Begitu pula ketika turun ayat ini, beliaulah yang menjelaskan bahwa Ulil Amri itu adalah Ali bin Abi Thalib as, dan para imam dari keturunannya. Bahkan ketika Rasulullah saw berwasiat kepada mereka agar tetap berpegang teguh kepada “Kitabullah” dan Ahlubaitnya, yang keduanya itu tidak akan berpisah sampai akhir masa. Nabi saw menambahkan, ‘Janganlah kalian menggurui mereka, karena mereka itu lebih alim dari kalian, dan mereka tidak akan mengeluarkan kalian dari pintu petunjuk dan tidak akan menjerumuskan kalian ke dalam lembah kesesatan.’”

Kalau kita amati dengan baik sabda-sabda Nabi saw yang berhubungan dengan masalah wasiat, akan kita dapati betapa seringnya Nabi saw mengulang-ulang wasiatnya itu. Bahkan di akhir hayat, Nabi saw masih saja mengulang wasiatnya tersebut, “Sesungguhnya aku meninggalkan dua pusaka berharga untuk kalian, yaitu Kitabullah dan Ahlilbaitku. Keduanya itu tidak akan berpisah sehingga menjumpaiku di telaga Surga kelak.”

Perlu diketahui bahwa hadis mengenai wasiat tersebut merupakan hadis yang mutawatir, baik dari Syi’ah Imamiyah maupun dari jalur Ahlusunah wal Jamaah.

Di antara tokoh-tokoh Ahlusunah yang meriwayatkan hadis tersebut adalah At-Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim, dll. Ulama yang belakangan ini pun meriwayatkan sebuah hadis lainnya, bahwa Nabi saw. telah bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlulbaitku bagaikan bahtera Nuh as, siapa yang turut naik bersamanya, ia akan selamat. Dan siapa yang menolaknya, maka ia akan karam.”[4]

Termasuk hadis yang sering diulang-ulang oleh Nabi saw ialah “Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti.”[5]

CATATAN  KAKi :

[1] Ghayatul Maram, bab 58, hadis ke-4.

[2] Bisa dirujuk ke ‘Abaqat Al-Anwar dan Al-Ghadir.

[3] Rujuk ke Ghayah al-Maram, jilid 10, hal. 267, Itsbat al-Hudat, jilid 3/123 dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 494.

[4] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/151.

[5] Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad Ibnu Hanbal, jilid 1/331 dan jilid 4/438.

 

Mereka yang menelaah sejarah ini dan mengetahui seluk-beluknya secara rinci akan tahu pasti bahwa Abu Bakar pernah mengganggu Siti Fatimah az-Zahra’ dan mendustakannya secara sengaja, agar Fatimah tidak mempunyai alasan untuk berhujjah dengan nash-nash al-Ghadir dan lainnya akan keabsahan hak khilafah suaminya dan putra-pamannya, yakni Ali bin Abi Thalib. Kami telah temukan bukti-bukti yang cukup kuat dalam hal ini. Diantaranya adalah, seperti dikatakan oleh ahli sejarah bahwa Fatimah az-Zahra’, (semoga

Allah melimpahkan padanya kesejahteraan) pernah keluar mendatangi tempat-tempat pertemuan kaum Anshar dan minta mereka membantu dan membai’at Ali.

Seandainya Abu Bakar memang berniat baik dan keliru maka kata-kata Fatimah telah cukup untuk menyadarkannya. Tetapi Fatimah masih tetap marah padanya dan tidak berbicara dengannya sampai beliau wafat. Karena Abu Bakar telah menolak setiap tuntutan Fatimah dan tidak menerima kesaksiannya, bahkan kesaksian suaminya sekalipun, akhirnya Fatimah murka pada Abu Bakar sampai beliau tidak mengizinkannya hadir dalam pemakaman jenazahnya, seperti yang dia wasiatkan pada suaminya Ali. Fatimah juga berwasiat agar jasadnya dikuburkan secara rahasia di malam hari tanpa boleh diketahui oleh mereka yang menentangnya64. 64 Shahih Bukhori jil.3 hal.36; Shahih Muslim jil. 2 hal. 72.

TANYA  JAWAB :

Apakah Imam  Ali  Hilang  Keberaniannya  Setelah  wafat  Rasulullah  ??? Apakah Imam Hasan hilang  keberanian  memerangi  Mu’awiyah  setelah  wafat nya Imam Ali ???
Jawab :  

Tahukah Anda bahkan seorang Nabi melakukan perjanjian Hudaibiyah ? pada saat itu pendukung Imam Hasan hanya beberapa orang, jika tidak diambil jalan berdamai tentu Islam yang tersisa di segelintir orang itu akan dibantai habis dan hari ini tidak ada lagi Islam yang sebenarnya. Allah menjaga risalah Nabi ini dengan perantaraan perdamaian tersebut…Apa keberanian di mata Anda? asal tabrak gitu? keberanian di mata Ali adalah menghadapi semua cobaan demi ummat Muhammad SAW.. di banyak tempat beliau menegaskan akan hak kekhalifahan beliau.

Ketika Abubakar dan Umar memaksakan Imam Ali untuk berbai’at kepadanya,

Fatimah berkata kepada Abu Bakar dan Umar seperti ini: “Aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah bersabda, ‘Keredhaan Fatimah adalah keredhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai puteriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka dia telah membuatku rela, siapa yang membuat Fatimah marah maka dia telah membuatku marah.’ ‘Ya, kami telah mendengarnya dari Rasulullah.’ Jawab mereka berdua. Lalu Fatimah berkata lagi, ‘Sungguh, aku minta persaksian Allah dan para malaikat-Nya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah maka pasti akan kusampaikan keluhanku ini kepadanya’. (Al-Imamah was Siyasah jil.l hal. 20; Fadak Oleh Muhammad Baqir Sadr hal. 92.)

Bukti penentangan Abubakar kepada Fatimah Az Zahara yang juga merupakan penentangan kepada Rasulullah sendiri dapat dilihat ketika beliau berkata: “Demi Allah, aku akan mohonkan keburukanmu di dalam setiap doa yang kupanjatkan seusai shalat.” Kemudian Abu Bakar menangis dan berkatat: “Aku tidak perlu pada bai’at kalian; lepaskan aku dari bai’at kalian.”  (Tarikh al-Khulafa’ Oleh Ibnu Qutaibah jil. 1 hal. 20)

Bukhari meriwayatkan dalam Bab Manaqib Qarabah Rasulillah (Keistimewaan Kerabat Nabi) bahwa Rasulullah saww bersabda:”Fatimah adalah belahan nyawaku, siapa yang membuatnya marah maka dia telah membuatku marah.” Dalam Bab Ghazwah Khaibar, “dari Aisyah (yang berkata) bahwa Fatimah putri Nabi, suatu hari mengutus seseorang menghadap Abu Bakar untuk meminta hak pusakanya yang diwarisinya dari ayahandanya. Abu Bakar enggan memberikannya kepada Fatimah walau sedikit pun. Fatimah sangat marah kepada Abu Bakar, lalu ditinggalkannya dan tidak diajaknya berbicara sampai beliau wafat.” (Shahih Bukhori jil. 3 hal. 39)

Dalam kesempatan ini juga perlu kiranya kita kemukakan hadist Nabi berkenaan Imam Ali walaupun tidak diterima oleh orang-orang yang sesat: “Cinta kepada Ali adalah (tanda) iman dan benci kepadanya adalah (tanda) nifak.”?  (Shahih Muslim jil. 1 hal. 48)  Bahkan sebagian sahabat berkata, “Kami kenal orang-orang munafik karena sikap benci mereka pada Imam Ali.”

 

Ketika Ali  Menjadi  Khalifah, Ali  Tidak  Menyelisih  para  Sahabat..!!!
Jawab : Siapa yang bilang? Tahukah Anda bahwa sebelum menjadi Khalifah pun Imam Ali sudah menegaskan akan mengembalikan hukum ke zaman Nabi, silahkan baca ketika terjadi perundingan selepas wafat Utsman.

Mengapa Ali tidak Berbicara Kepada Rasulullah untuk Dituliskan wasiat???
Jawab :  Silahkan baca tragedi Hari Kamis dalam Bukhari, Rasul sudah hendak menulis wasiat kemudian dicegah oleh Umar hingga terjadi keributan dan Rasul pun marah.

 

Peristiwa Ghadir Khum
Jawab : Siapa bilang tidak ada yang mengingatkan? Tahukah Anda alasan orang Yaman menolak menyerahkan zakat pada Abu Bakar? karena mereka tahu Abu Bakar tidak berhak atas jabatannya. Silahkan juga lihat sikap Bani Hasyim yang tidak memberi bai’at sampai Fatimah wafat

 

Yazid berbuat kerusakan nyata dengan pembunuhan di Madinah dan perkosaan yang diizinkan oleh Yazid terhadap gadis2 Madinah, sikap seperti ini tidak bisa didiamkan. Islam yang tersebar adalah Islam yang dipahami oleh mereka. sementara Ahlul bait Nabi ditinggal.. Ahlus Sunnah bermazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafiiiyah, atau Hambaliyyah.. LALU  KENAPA  BUKAN  MAZHAB  AHLUL  BAiT  yang di pedomani ??

Jumlah Khalifah Setelah Rasulullah saw.

Kaum Muslimin, di dalam kitab shahih mereka, telah sepakat (ijma’) bahwa Rasulullah saw. telah menyebutkan bahwa jumlah khalifah sesudahnya sebanyak 12 orang, sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Bukhari di dalam shahihnya, pada awal Kitab Al-Ahkam, bab Al-Umara min Quraisy (Para Pemimpin dari Quraisy), juz IV, halaman 144; dan di akhir Kitab Al-Ahkam, halaman 153, sedangkan dalam Shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Ad-Imarah, juz II, halaman 79. Hal itu juga disepakati oleh Ashhab Al-Shahhah dan Ashhab Al-Sunan, bahwasanya diriwayatkan dari Rasulullah saw:

Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 orang khalifah, semuanya dari Quraisy.
Diriwayatkan dasi jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Setelahku akan datang 12 Amir.’ Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak pernah aku dengar. Beliau bersabda: ‘Ayahku semuanya dari Quraisy’. ”

Ringkasnya, seluruh umat Islam sepakat bahwa Rasulullah saw. membatasi jumlah para Imam setelah beliau sebanyak 12 Imam; jumlah mereka sama dengan jumlah Nuqaba bani lsrail; jumlah mereka juga sama dengan jumlah Hawari Isa a.s.
Dalam Al-Quran ada jumlah yang mendukung jumlah 12 di atas. Kata Imam dan berbagai bentuk turunannya disebutkan sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah Imam kaum Muslimin yang dibatasi Rasulullah saw. Kata tersebut terdapat pada ayat-ayat berikut:

1.Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai Imam bagi seluruh manusia.”Ibrahim berkata: “Dan saya memohon juga dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak bagi mereka yang zalim.” (Al-Baqarah: 124)

2.….. Dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum AI-Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman (imama ) dan rahmat ….. (Hud: 17)

3.….. Dan jadikanlah kami Imam bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Furqan: 74)

4.Dan sebelum Al-Quran itu telah ada Kitab Musa sebagai pedoman (imam) dan rahmat …..Al-Ahqaf: 12)

5.….. Maka Kami binasakan mereka. Dan sesungguhnya kedua
kota itu benar-benar terletak di jalan umum (bi imam) yang terang. (Al-Hijr: 79)

6.….. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk (Imam) yang nyata. (Yasin: 12)

7.(Ingatlah) suatu hari yang (di hari itu) Kami panggil setiap umat dengan pemimpinnya (imamihim). (AI-Isra: 17)

8.….. Maka perangilah pemimpin-pemimpin (aimmah) kaum kafir, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya, agar mereka berhenti. (At-Taubah: 12).
9.Kami telah menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami …… (AI-Anbia: 73)
10.…… Dan Kami hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin­pemimpin (aimmah) dan menjadikan mereka sebagai para pewaris (bumi). (Al-Qashash: 5)
11.Dan Kami jadikan mereka pemimpln-pemimpin (aimmah) yang menyeru (manusia) ke neraka, dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong. (Al-Qashash: 41).
12.Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin (aimmah) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ….. (Al-Sajdah: 24)

saudaraku……………..

Shahibu Yanabi’ al-Mawaddah telah meriwayatkan dalam kitabnya, dia berkata, “Seorang Yahudi disebut al-A’tal datang kepada Nabi Muhammad saww, dan ia berkata, “Hai Muhammad, saya menanyakan kepadamu perkara-perkara yang telah terdetak dalam dadaku semenjak beberapa waktu, jika engkau dapat menjawabnya nescaya saya akan menyatakan masuk Islam di tanganmu.’ Beliau menjawab, ‘Tanyalah! hai Aba Ammarah, maka ia menanyakan beberapa perkara yang dijawab oleh Nabi saww dan ia membenarkan, kemudian ia menanyakan, ‘Beritahukanlah padaku tentang penerimaan wasiatmu, siapakah ia itu? Kerana tidak seorang Nabi pun kecuali ia mempunyai seorang penerima wasiat, dan sesungguhnya Nabi kami Musa bin Imran telah berwasiat kepada Yusa’ bin Nun.’ Maka beliau bersabda, ‘Sesungguhnya penerima wasiatku adalah ‘Ali bin Abi Thalib dan setelahnya adalah kedua cucuku al-Hasan dan al-Husein kemudian beliau menyebutkan sembilan Imam dari tulang sulbi al-Husein. ‘Lalu ia berkata, ‘Ya Muhammad, sebutkanlah nama-nama mereka kepadaku!’ Beliau bersabda, “Bila al-Husein telah berlalu maka diganti oleh anaknya “Ali, bila ‘Ali telah berlalu maka diganti anaknya Muhammad, bila Muhammad berlalu maka diganti anaknya Ja’far, Musa, ‘Ali, Muhammad , ‘Ali, Hasan, al Hujjah Muhammad al-Mahdi as, maka itu semuanya adalah dua belas orang Imam.’ Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam dan ia memuji Allah SWT karena petunjuk-Nya.”




RUJUKAN SUNNI: Imam Ahmad dalam Musnad-nya, V, hal. 189, dan al-Hakim dalam Mustadark, III, hal. 148 dan menurut kedua-duanya hadis di atas jika mengikut ukuran Bukhari dan Muslim dikira Sahih. Mengapa ia tidak dimasukkan dalam Sahih mereka jika begitu. Hanya bukhari dan Muslim sahajalah yang berhak menjawabnya di hadapan Nabi nanti di akhirat kelak.
Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang ingin melihat kepada Adam tentang ilmunya, kepada Nuh tentang azamnya, kepada Ibrahim tentang lembutnya, kepada Musa tentang kehebatannya, kepada Isa tentang kezuhudannya maka hendaklah ia melihat kepada Ali b. Abi Talib (Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad, Bab Kelebihan Ali, Fakhuruddin al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Surah Mubahilah, Yanabi al-Mawaddah, Bab 40).

“Imam-imam telah wujud sebelum wujudnya alam ini sebagai cahaya-cahaya, dan Allah jadikan mereka berpusing di sekeliling Arasy.”

Pendapat seperti ini adalah sandarannya dalam beberapa hadith Nabi dalam kitab Ahli Sunnah sendiri. Antaranya ialah hadith yang dikeluarkan oleh Abu al-Mu’ayyid Ibn Ahmad al-Khawarizmi dengan sanadnya dari Abu Sulaiman yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW dan Ahli Baitnya berkata: Di malam aku dinaikkan ke langit(Mi’raj) Allah SWT berkata kepadaku…lihatlah di kanan Arasy, lalu aku memaling ke arahnya, maka aku dapati Ali, Fatimah, Hasan, Husayn, Ali b. Husayn, Muhammad b. Ali, Ja’far b. Muhammad, Musa b. Ja’far, Ali b. Musa, Muhammad b. Ali, Ali b. Muhammad, Hasan b. Ali, dan Muhammad al-Mahdi b. Hasan; ia seperti cakerawala yang berpusing di kalangan mereka. Dan dia berfirman: “Wahai Muhammad, mereka itulah hujah-hujahKu ke atas hamba-hambaKu, merekalah wasi-wasiKu (khalifah-khalifahku).”(Yanabi al-Mawaddah, hlm. 487)

Sabda Nabi SAW: “Wasi-wasi engkau tertulis di tepi ArasyKu, lalu aku melihat dan mendapati 12 cahaya (Ibid)”. Kejadian Nabi Muhammad dan wasi-wasinya (Ibid.hlm. 485).

Allah SWT berfirman dalam Quran; Berpegang teguhlah kalian semuanya pada tali Allah, dan janganlah bercerai berai ! (QS. Ali Imran : 103)

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

اِنِّي تَارِكٌ فِيكُمُ الثَّقَلَيْنِ: كِتَابَ الله،ِ وَ عِتْرَتِي اَهْلَ بَيْتِي، مَا اِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا لَنْ تَضِلُّوا اَبَدًا، وَانَّهُمَا لَنْ يَفْتَرِقَا حَتیّ يرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ.

Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan buat kalian dua hal yang berharga; Kitab Allah dan Itrah; Ahlul Baitku. Selama berpegang pada keduanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dan keduanya juga tidak akan berpisah hingga menjumpaiku di telaga Kautsar kelak di Hari Kiamat.” (H.R. Sahih Muslim : jilid 7, hal 122. Sunan Ad-Darimi, jilid 2, hal 432. Musnad Ahmad, jilid 3, hal 14, 17, 26 dan jilid 4, hal 371 serta jilid 5, hal 182 dan 189. Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal 109, 147 dan 533 )

Terkait dengan sikap kita kepada Ahlul Bait, di antaranya Nabi saw. bersabda:

إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوْا كِتَابَ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلَ بَيْتِي

Aku meninggalkan di tengah tengah kalian apa yang jika kalian ambil kalian tidak akan tersesat, Kitabullah dan ’itrah  Ahlul Baitku. (HR. Tirmidzi)

Ada dua belas imam yang dilantik oleh Allah SWT sebagai pelanjut Nabi Muhammad SAW. Ada sebuah hadis panjang dalam dokumendokumen Sunni yang menyatakan bahwa jumlah para imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen-dokumen Sunni lainnya yang di dalamnya Nabi SAW bahkan menyebutkan nama masing-masing dua belas imam tersebut.


Allah SWT menunjuk dua belas imam, bukan semata-mata mereka dari rumah tangga Nabi SAW, namun karena mereka, di masa-masa mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling saleh, paling baik dalam kebajikan personal, dan paling mulia di hadapan Allah; dan pengetahuan mereka diturunkan dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayahayah mereka……itu tidak berarti dengan sendirinya   12   imam  harus  berkuasa secara fisik

Allah SWT berfirman ; Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhamrnad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah mernberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa : 54).

a. Dalam Shahih Bukhari, tercantum hadis berikut:

Diriwayatkan oleh Jabir bin Samurah, “Aku mendengar Nabi SAW berkata, Akan ada dua belas pemimpin (amir).’ Kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat yang tidak kudengar. Ayahku berkata, ‘Nabi SAW menambahkan, ‘Mereka semua berasal dari Quraisy.”66. Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 5, hal. 106.

b. Dalam Musnad Ahmad, tercantum hadis berikut, “Nabi SAW berkata, ‘Kelak ada dua belas orang khalifah untuk masyarakat ini. Semuanya dari Quraisy”‘77. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1452, hadis 5; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1009, hadis 4.477.

c. Dalam Shahih Muslim, ada hadis berikut:


Diriwayatkan dari Jabir bin Samurah, “Nabi SAW berkata, ‘Masalah (kehidupan) tidak akan berakhir, sampai berlalunya dua belas khalifah.’ Kemudian beliau membisikkan sebuah kalimat. Aku bertanya kepada ayahku apa yang Nabi katakan. Ia menjawab, ‘Nabi berkata, “Semuanya berasal dari Quraisy.”88. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imaran, 1980, edisi Arab Saudi, jilid 3, hal. 1453, hadis 6; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, hal. 1010, hadis 4.478.

d. Juga dari Shahih Muslim:
Nabi SAW berkata, “Urusan-urusan manusia akan terus dibimbing (dengan baik) selama mereka diatur oleh dua belas orang.”99. Referensi Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980 edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 7; Shahih Muslim, Inggris, bab DCCLIV (Orang-orang tunduk kepada Quraisy dan Kekhalifahan adalah Hak Quraisy), jilid 3, ha1.1.010, hadis 4.480.

e. Juga, Nabi SAW bersabda, “Islam akan terus berjaya sampai adanya dua belas khalifah.”1010. Rujukan Sunni: Shahih Muslim, Arab, Kitab al-Imarah, 1980, Edisi Arab Saudi, jilid 3, ha1.1453, hadis 10; Shahih Muslim, versi Inggris, bab DCCL1V(berjudul:Orang-orang yang tunduk kepada Qurais dan kekhalifahan adalah Hak ( Quraisy) jilid 3 hal 1010 hadis 4.483 Rujukan Sunni lain dalam hadis serupa: Shahih at-Turmuzzi, jilid 4, ha1.507; Sunan Abu Daud, jilid 2, hal. 421 (tiga hadis); dan yang lainnya seperti Tialasi, Ibnu Atsir, dan lain-lain.

f. Juga, Nabi SAW bersabda, ‘Agama Islam akan terus berlangsung sampai hari kiamat, dengan dua belas khalifah untuk kalian, mereka semua berasal dari Quraisy”‘1111. Rujukan Sunni: al-Mustadrak, Hakim, jilid 3, ha1.149; Musnad ahmad ibn Hanbal; Shahih, Nasa’i, dari Anas bin Malik; Sunan, Baihaqi; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, karya Ibnu Hajar Haitsami, bab 17, pasal 2, hal. 287.

g. Nabi SAW berkata, “Para imam berasal dari Quraisy.”‘1212. Shahih Bukhari, hadis 9.422

Pertanyaan :

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi

kami ingin bertanya,berdasarkan prespektif Sunni siapakah dua belas khalifah setelah Nabi Muhammad saw? Silakan dukung penegasan anda dengan merujuk pada Quran dan atau enam buku kumpulan hadis Sunni, dan juga membenarkan perbuatan mereka dalam lintasan sejarah. Ingatlah, perintah-perintah dua khalifah Nabi ini haruslah ditaati. Karenanya, jika anda tidak mengenal dua belas pemimpin anda, bagaimana anda ingin menaati mereka?

Kami ingin mengingatkan anda bahwa ‘khalifah’ artinya penerus/ wakil… Syarat  imam adalah : mereka harus  sesuai dengan ayat Quran : “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku” (QS. asy-Syura : 23).

Tak syak lagi khalifah seharusnya diketahui oleh para pengikutnya, jika sebaliknya seorang khalifah imajiner tidak bisa diikuti, sementara Nabi SAW telah meminta kita untuk mengikuti mereka? Jika anda tidak mengetahui para imam anda, bagaimanakah anda bisa menaati mereka?

para pengikut Ahlulbait Nabi SAW merujuk pada dua belas khalifah tersebut sebagaimana halnya dua belas imam mereka yang bermula dari Imam Ali bin Abi Thalib dan berakhir dengan Imam Mahdi as, imam di zaman kita sekarang. Mereka adalah para khalifah karena Allah SWT menjadikan mereka khalifahkhalifah (mereka semua adalah wakil-wakil Allah SWT di muka humi).
Bersama lintasan waktu dan melalui kejadian – kejadian sejarah, kita ketahui hahwa melalui hadis-hadis di atas Nabi SAW memaksudkan dua belas khalifah tadi adalah dua belas imam dari Ahlulbaitnya yang merupakan keturunan Nabi SAW karena kita tidak punya kandidat lain dalam sejarah Islam yang semua kesalehannya disepakati oleh seluruh Muslimin.


Adalah menarik untuk diketahui bahwa bahkan musuh-musuh Syi’ah tidak mampu menemukan setiap kekurangan dalam keutamaankeutamaan dua belas imam Syi’ah. Lagi pula, dua belas imam ini muncul satu demi satu tanpa ada kesenjangan.


Sekarang, jelaslah bahwa satu-satunya cara untuk menafsirkan hadis-hadis yang disebutkan sebelumnya yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi, Hakim, dan Ahmad bin Hanbal adalah dengan menerima dan mengakui bahwa itu merujuk pada dua belas imam dari kalangan Ahlulbait Nabi SAW, karena mereka adalah -di zaman mereka masing-masing- yang paling berilmu, masyhur, paling takwa, paling saleh, terbaik dalam keutamaan-keutamaan pribadi, dan yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Pengetahuan mereka bersumber dari leluhur mereka (Nabi) melalui ayah-ayah mereka. Inilah Ahlulbait yang kemaksumannya, ketidak bernodaannya, dan kesuciannya dibenarkan oleh Quran mulia (kalimat terakhir Surah al-Ahzab : 33).

Tentang  hadis : “Kekhalifahan akan berlangsung 30 tahun setelahku, maka akan ada banyak raja” …Adalah sangat mungkin bahwa raja-raja   yang sama memalsukan hadis’  30 Tahun’ untuk mencegah orang-orang dari isu dua belas imam dan membenarkan perampasan mereka akan kekuasaan.

Allah SWT telah memberi manusia kebebasan kehendak untuk menerima atau menolak kepemimpinan yang Dia angkat  baik , baik orang-orang mengikutinya ataupun tidak.. Jika (katakanlah mayoritas) orang-orang mengikutinya, dengan sendirinya ia akan memegang tampuk kekuasaan. Dan sekiranya orang-orang; mendurhakainya, ia akan tetap memiliki kepemimpinan spiritualnya bagi sejumlah kecil pengikut setianya (orang-orang yang bertakwa). Setiap orang di zaman itu diharapkan untuk menaati

para Nabi  punya agenda politikNabi Muhammad yang berkampanye menentang kaum musyrik di Jazirah Arab dan menegakkan pemerintahan Islam yang pertama. Memang benar bahwa semua Nabi diutus untuk menggembleng manusia dan menjadikan mereka ingat akan Allah SWT. Namun ini tidak dapat sepenuhnya diterima tanpa kekuasaan politik apapun. Juga kami tidak pernah sebutkan bahwa memerintah negara sebagai tujuan pertama dari seorang pemimpin yang ditunjuk Tuhan. Alih-alih kami katakan bahwa pemimpin tersebut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk posisi mulia itu. Manusia seyogianya menyadari fakta ini dan tunduk pada perintahnya. Bila mereka berbuat demikian dengan sendirinya ia akan menjadi pemimpin masyarakat itu tanpa membutuhkan’agenda’.

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bBani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka dua belas orang pemimpin diantara mereka (QS. Al-Maidah : 12 ) Sesungguhnya orang – orang yang tidak mengikuti dua belas pempimpin tersebut tidaklah menganiaya melainkan diri mereka sendiri.

“Orang yang mengingkari kepemimpinan mereka akan tersesat..”

HADiS   SYi’AH

Secara jelas, hadis-hadis di atas tidak selaras dengan empat khalifah pertama semuanya karena jumlah mereka kurang dari dua belas orang. Hadis-hadis tersebut tidak bisa pula diterapkan kepada kekhalifahan Bani Umayah karena;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka semua adalah kaum tiran dan zalim (selain Umar bin Abdul Aziz),
(c) mereka bukan berasal dari Bani Hasyim dan untuk hal itu, Nabi SAW telah bersabda dalam hadis lain bahwa ‘mereka semua berasal dari Bani Hasyim.’

Hadis-hadis itu tidak bisa diberlakukan untuk kekhalifahan Bani Abbasiah lantaran;
(a) mereka berjumlah lebih dari dua belas orang,
(b) mereka menindas keturunan Nabi di mana-mana yang artinyo mereka tidak sesuai dengan ayat Quran, Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku keeuali kecintaan terhadap keluargaku (QS. asy-Syura : 23).

Tentang penafsiran ayat 59 Surah an-Nisa dimana Allah SWT  memerintahkan kita untuk menaati Ulil Amri, Khazzaz dalam Kifayat al-Atsar-Nya, mencantumkan sebuah hadis berdasarkan otoritas sahabat Nabi SAW yang tersohor, Jabir bin Abdillah Anshari. Ketika ayat tersebut (an-Nisa : 59) diturunkan, Jabir bertanya kepada Nabi SAW, “Kami tahu Allah dan Nabi, namun siapakah mereka yang diberi otoritas yang ketaatannya nlah digabungkan dengan ketaatan kepada Allah dan dirimu sendiri?”

Nabi SAW berkata, “Mereka para khalifahku dan imam bagi kaum Muslim sepeninggalku. Yang pertama dari mereka adalah Ali, kemudian Hasan hin Ali, kemudian Husain bin Ali, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali yang telah disebut al-Baqir dalam Taurat (Perjanjian Iama). Wahai Jabir! Engkau akan menemuinya. Apabila engkau menemuinya, sampaikanlah salamku kepadanya! Ia akan digantikan (kedudukannya) oleh putranya, Jafar Shadiq, kemudian Musa bin Jafar, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, kemudian Ali bin Muhammad, Hasan bin Ali. Ia akan disusul oleh putranya, yang nama dan julukannya akan berada sama dengan julukanku. Dialah Bukti Allah (hujjatullah) di muka bumi dan orang yang dibakakan oleh Allah (Baqiyatullah) untuk memelihara akar keimanan di antara manusia. Dia akan menaklukkan seluruh dunia dari timur hingga barat. Sedemikian lama ia akan menghilang dari pandangan para pengikut dan sahabatnya sehingga keyakinan akan kepemimpinannya hanya akan bersemayam di hati-hati orang-orang yang telah diuji keimanannya oleh Allah.”


Jabir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah para pengikutnya akan mendapatkan faedah dari kegaibannya?” Nabi SAW menjawab, “Benar! Demi Dia yang mengutusku dengan keNabian! Mereka akan diberi petunjuk dengan cahayanya, dan mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya wlama kegaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari kepemimpinannya selama kagaibannya, sebagaimana manusia mendapatkan manfaat dari di balik awan. Wahai Jabir, inilali rahasia Allah yang tersembunyi dan khazanah pengetahuan Allah. Maka jagalah ia kecuali dari orang-orang yang berhak untuk menerimanya!”


Lebih menarik lagi, ada juga riwayat-riwayat Sunni yang di dalamnya mengandung perkataan bahwa Rasulullah menyebutkan nama-nama dari dua belas anggota Ahlulbaitnya ini satu demi satu yang bermula dengan Imam Ali as dan berakhir dengan Imam Mahdi as (lihat YaNabi al-Mawaddah, karya Qanduzi Hanafi).

Sekarang kita mafhum siapakah’orang-orang yang diberi otoritas’. Ia merupakan bukti bahwa persoalan menaati para penguasa yang tiran dan zalim tidak muncul sama sekali. Dengan ayat di atas kaum Muslim tidak perlu menaati para penguasa yang zalim, tiranik, jahil, egois, dan tenggelam dalam hawa nafsu.

Sesungguhnya, mereka (kaum Muslim) diperintahkan untuk menaati dua belas imam yang ditentukan, yang mereka semua itu maksum dan bebas dari pemikiran dan perbuatan buruk. Menaati mereka tidak punya resiko apapun. Bahkan, ketaatan kepada mereka menjaga dari semua resiko; karena mereka tidak akan pernah memberikan sebuah perintah yang berlawanan dengan titah Allah SWT dan akan memperlakukan semua manusia dengan cinta, keadilan, dan persamaan.

Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan manusia atas manusia). Sesungguhnya, Quran mengecam pendapat kebanyakan manusia (lihat al-An -am: 116; al-Maidah: 49; Yunus: 92; al-Rum : 8) karena pandangan kebanyakan manusia biasanya lemah lantaran kecenderungan mereka.


Apakah Imamah itu sebuah Warisan?

Menurut Ahlul BaitImamah dipilih oleh Allah. Ini bukan masalah warisan, karena jika demikian maka Imam Husain (sa.) tidak boleh menjadi imam, setelah kesyahidan Imam Hasan (sa.).Imam Hasan (sa.) memiliki banyak anak dan keturunan, tak satu pun dari mereka menjadi imam. Sebaliknya, saudaranya Imam Husain (sa.), seorang imam setelahnya. Ada juga sejumlah anak dan cucu-cucu yang menyimpang dari para imam, tidak ada orang yang menerima posisi Imamah.Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukanlah masalah warisan. Tentu saja, gen penting untuk imam suci, namun imam membutuhkan banyak persyaratan lainnya. Allah SWT tahu yang memiliki semua kualifikasi seperti itu. Apakah kehendak Allah SWT yang menempatkan semua imam dari jalur keturunan Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya).

Bahkan, jika sebuah studi sejarah Nabi Allah, ia akan menemukan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. Allah yang memiliki kekuasaan dan keagungan berfirman :

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”[88]. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim”. (Qur’an Al-Baqarah, 2: 124).

Dalam ayat di atas, Allah tidak menolak kepemimpinan keturunan Abraham., Tetapi Dia membatasi posisi ini hanya pada keturunan Abraham memenuhi syarat. Allah SWT mengatakan, kepemimpinan yang ditunjuk Allah tidak datang untuk orang-orang yang berbuat salah, bahkan jika orang itu adalah keturunan Abraham.

Dengan demikian, keturunan Abraham. tidak semuanya menjadi imam karena harus ada persyaratan lain selainnya. Orang-orang di antara mereka yang bukan pelaku ketidakadilan (bebas dari dosa) yang memenuhi syarat, karena mereka tidak hanya memiliki gen yang suci, tetapi mereka memiliki kualifikasi lainnya yang diperoleh melalui penderitaan. Sebagai Tuhan Yang Maha Esa memiliki pengetahuan sebelumnya dan keterangan kesabaran kualifikasi mereka, dia yang dipercayakan kepada mereka dalam posisi ini dan menempatkan mereka di atas semua makhluk-Nya yang lain.

“Allah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran ‘di atas semua orang (pada saat masing-masing)” (Al Qur’an Ali Imran, 3: 33).

Garis nasab Muhammad SAWW. kembali kepada Nabi Ismail bin Ibrahim. Demikian pula, Nabi Musa dan Nabi Isa keduanya berasal dari yang lain Ishaq anak Abraham. Sesungguhnya, semua nabi setelah Ibrahim. berasal dari keturunan. Namun, kita tidak bisa menyatakan kenabian itu adalah masalah warisan. Dia adalah Allah Maha Kuasa yang memilih satu per satu.

Dalam konteks lain, kita tidak bisa mengatakan bahwa anak Nabi selalu haruslah nabi. Banyak kondisi lain selainnya. Jika tidak, Kan’an bin Nuh, niscaya masih hidup. Nuh memiliki tiga putra lain, Aam, Sam, dan Yafas yang beriman dan yang dengan istri mereka dan akhirnya naik tabut itu selamat. Mereka datang dari seorang ibu yang berbeda dari Kan’an. Oleh karena itu, putra seorang nabi atau imam tidak harus membuatnya menjadi nabi atau imam atau bahkan orang yang saleh.

Singkatnya, gen untuk Nabi dan imam suci adalah penting tetapi tidak cukup.
Imam atau Ulil Amri ditunjuk oleh Allah dengan Nabi-Nya. Lihat Al-Qur’an dimana Allah berulang kali menyatakan bahwa dia adalah zat yang diresmikan imam. (Lihat Al-Baqarah Al-Qur’an, 2: 124, al-Anbiya, 21: 73; as-Sajdah, 32: 24).

“Dan (ingatlah) ketika Abraham diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) dan Abraham dipenuhi Tuhan mengatakan” Lihatlah, Aku akan membuat Imam untuk semua umat manusia “Dia (Abraham) berkata,” (Dan aku mohon., juga) dari keturunanku “Allah berfirman,”. Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang melakukan “salah. (QS. Al-Baqarah, 2: 124)

“Kami jadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada, mereka berbuat baik, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah”. (QS. al-Anbiya ‘, 21:73)

“Dan Kami jadikan di antara mereka adalah pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka percaya kepada ayat-ayat Kami”.. (QS. As-Sajdah, 32: 24)

Ada dua belas imam diangkat oleh Allah sebagai Penerus Nabi Muhammad SAWW. Ada sebuah tradisi panjang dalam dokumen-dokumen yang Sunnimenyatakan bahwa jumlah imam setelah Nabi adalah dua belas orang. Ada dokumen Sunni lain di mana Nabi Muhammad SAWW. bahkan menyebutkan nama setiap dua belas imam tersebut.

Allah menunjuk dua belas imam, tidak hanya orang-orang di dalam rumah tangga Nabi Muhammad SAWW, tetapi karena mereka, pada zaman mereka, yang paling berilmu, paling terkenal, paling takwa, paling alim, yang terbaik dalam kebajikan pribadi, dan yang paling mulia di kehadiran Allah dan pengetahuan mereka berasal dari nenek moyang mereka (Nabi) melalui ayah nenek moyang mereka, dan juga melalui pendidikan langsung dari Allah melalui ilham (inspirasi). Penerus Nabi (selain penerus Nabi Muhammad) adalah Nabi juga, dan dengan demikian mereka semua ditunjuk oleh Allah. Al-Qur’an juga mengatakan bahwa beberapa Nabi, atas perintah Allah, menunjuk para imam (yang bukan Nabi).

Mari kita berikan beberapa ayat suci Al-Qur’an!

“Apakah kamu tidak memperhatikan pemimpin Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim”. (QS al -Baqarah, 2: 246).

Setiap orang yang secara khusus ditunjuk oleh Allah sebagai raja adalah seorang imam. Seorang nabi bisa juga (sebagian) dari imam atau raja, tetapi tidak semua nabi adalah imam. Jika seseorang menjadi raja atau imam yang ditunjuk oleh Allah, itu tidak berarti bahwa dengan sendirinya hanya karena fisik yang kuat. Di atas ayat Al-Qur’an berbicara tentang Thalut. Berikut ayat-ayat Al Qur’an lain yang memberikan rincian lebih lanjut.

“Nabi Mereka (1) kata kepada mereka,” Allah telah mengangkat Thalut (Saul) sebagai raja (2) Anda. “Mereka berkata,” Bagaimana Thalut mengatur kita saat kita lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia tidak diberi kekayaan yang cukup? (3) “Ia (Nabi mereka) berkata,” Allah telah memilihnya di atas Anda (4) menjadi raja dan diberikan pengetahuan yang luas dan tubuh yang kuat. “(5) Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang Dia kehendaki (6.) Dan Allah adalah karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah, 2: 247).

Bagian pertama dari nomor ayat di atas (1) membuktikan bahwa orang-orang memiliki nabi dan Thalut berada di tengah-tengah masyarakat ini, sehingga mereka Nabi adalah Nabi Thalut juga. Jadi, Thalut bukan nabi.

Bagian ditandai dengan nomor (2) menunjukkan bahwa Allah menunjuk Thalut sebagai imam atau pemimpin atau raja.

Angka (3) menunjukkan bahwa apa yang ditunjuk Allah tidak dipilih berdasarkan kekayaan. Kerajaan pada dasarnya adalah karakter spiritual, dan tentu saja, Thalut adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk memerintah dengan baik secara fisik, tetapi yang terakhir tergantung pada pengakuan orang untuk posisi sebelumnya saat akan dipertahankan sebagai imam (kepemimpinan rohani).

Imam atau pemilihan raja bukan tugas manusia, dan sebagaimana dianjurkan, Allah memilih seorang raja atau imam karena Allah tahu siapa orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi tinggi seperti itu. Berikut adalah salah satu raja yang memiliki otoritas oleh Allah SWT.

Ini dibuktikan dengan nomor (6) ayat di atas. Orang-orang yang memiliki otoritas dengan pengetahuan dan kebijaksanaan sebagai nomor (5) dari titik.

Dalam ayat berikutnya, kita membaca,

“Dan Nabi (lebih lanjut) berkata kepada mereka,” Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, adalah untuk kembali ke tabut, di mana terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari warisan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat-malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian ada tanda bagimu, jika kamu beriman “(Al-Qur’an. Al-Baqarah, 2: 248).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

” ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (Al-Qur’an suatu-Nisa, 4: 54).

Sekali lagi, kerajaan ini adalah Imamah, bahwa beberapa keluarga Ibrahim yang memerintah secara fisik.

Bagaimana Model Terbaik Pemilihan dalam Kepemimpinan Islam

Salah satu topik yang telah terus-menerus didiskusikan di kalangan umat Islam sejak bangkitnya Islam adalah pertanyaan tentang memilih Imam atauPemimpin; itu sebenarnya pertanyaan yang membawa pembagian umat terpecah menjadi ke Shi’ah dan Sunni.Shi’ah memiliki komitmen terhadap prinsip bahwa hak untuk menunjuk Imam milik eksklusif (hak prerogatif) Allah, dan bahwa orang (manusia) tidak memiliki peran sama sekali dalam hal ini. Sang Maha Pencipta itu sendirilah yang memilih Imam dan mengidentifikasikannya kepada masyarakat sebagaimana pemilihan para Nabi.Sebagai tambahan dari Shi’ah atas pemahaman tentang Imamah ini, dan perhatiannya yang telah dicurahkan pada keyakinan bahwa Allah dan Nabisendiri yang memilih Imam yang berfungsi sebagai bukti (hujjah) Allah dalam setiap masa, era, dekade, dari rasa hormat yang mendalam untuk hak dan martabat manusia itu sendiri.

Dalam cara yang sama bahwa kenabian menyiratkan serangkaian atribut dan kondisi, demikian juga Imam, yang datang setelah Nabi, juga harus disertai dengan kualitas sosok pribadi tertentu. Kebutuhan ini timbul dari kenyataan bahwa Shi’ah menolak untuk menerima sebagai pemimpin komunitas orang yang kurang dalam kualitas kunci keadilan, ketidakmungkinsalahan (maksum), dan kepintaran/ ke-pakar-an. Perintah yang tepat dari ilmu pengetahuan agama, kemampuan untuk memberitakan Hukum Allah dan ketetapan-Nya dan untuk menerapkannya dalam masyarakat dengan cara yang tepat, dan, secara umum, untuk menjaga dan melindungi agama Allah, tidak ada seorang pun dimungkinkan karena tidak adanya sifat-sifat ini.

Tuhan sangat memperhatikan kapasitas spiritual, tingkat ilmu keagamaan, dan kesalehan dari Imam, dan Dia juga tahu, kepada siapa perwalian pengetahuan agama harus dipercayakan: siapa yang bisa membawa beban ini dan tidak mengabaikan untuk satu menit tugas memanggil orang kepadaAllah dan melaksanakan keadilan ilahi. Tetapi terlepas dari aspek masalah ini, pemahaman Syi’ah tentang Imamah juga mencerminkan cita-cita luhur manusia.

Jika dikatakan, bahwa orang (manusia) tidak berhak untuk ikut campur dalam hal memilih Imam itu, karena mereka (yang memilih) itu sendiri tidak cukup memadai dalam kemurnian kesucian batin dan kesalehan individu, dari derajat dalam mematuhi nilai-nilai Islam dan Al-Qur’an; Di atas itu semua, mereka tidak dapat merasakan kehadiran illahi atau tidak adanya prinsip ilahi atas ketidakmungkin-salah-an (maksum/’ismah).

Oleh karena itu hak prerogatif Allah melalui Nabi-Nya untuk menunjuk penerus penggantinya; dan Imam di setiap zaman memilih dan mengangkat Pemimpin penerus penggantinya.

Jika seorang Imam mampu menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi dengan yang gaib dan menampilkan ketidakmungkinsalahan (maksum) dalam ke-Imamah-an, yang terbungkus dalam busana yang menyerupai mirip dengan kekuatan ajaib para nabi, maka itu sah dan dapat diterima.

Ada metode yang diusulkan oleh Shi’ah dalam pengenalan dan perolehan akses ke-Imamah-an, mereka membentuk satu set kriteria kepemimpinan yang sebenarnya dari umat Islam pada zamanya masing-masing hingga hari akhir kelak.

Pendekatan lain untuk ke-Imamah-an ini sangat kontras dengan yang diusulkan Shi’ah. Karena ada kekaburan dan ambiguitas sekitar prinsip konsultatif dalam aplikasi pertanyaan kepemimpinan sejak awal, komunitas Sunni menempuh berbagai metode untuk memilih dan menunjuk Khalifah, sehingga dalam praktiknya elemen-elemen berikut muncul memainkan peran yang penting.

1: Konsensus (ijma ‘). Kaum Sunni mengatakan bahwa pemilihan khalifah pertama dan terutama terletak pada pemilihan oleh masyarakat, sehingga jikaumat Islam memilih individu tertentu sebagai pemimpin, ia harus diterima seperti itu dan perintahnya harus ditaati.

Sebagai bukti ini, mereka mengutip metode yang diikuti oleh sahabat Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan ahli keluarganya) setelah wafatnya. Berkumpul di Saqifah untuk memilih seorang khalifah, mayoritas diputuskan Abu Bakar dan bersumpah setia kepada dia; sehingga dengan demikian ia diakui oleh konsensus sebagai pengganti penerus Nabi, tanpa keberatan yang diajukan. Ini merupakan salah satu metode untuk menunjuk seorang khalifah.

2: Metode kedua terdiri dari Konsultasi dan pertukaran pandangan di antara anggota terkemuka dari komunitas Muslim. Setelah mereka sepakat antara mereka sendiri pada pilihan pemimpin bagi masyarakat, kekhalifahan-nya menjadi sah dan itu adalah kewajiban setiap orang untuk mematuhinya.

Ini adalah metode yang diadopsi oleh khalifah kedua. Ketika ‘Umar akan mati, ia memilih enam orang sebagai calon khalifah dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu nomor mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri, untuk tidak lebih dari enam hari. Jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan akhirnya diberikan kepada ‘Utsman. Ini juga dikatakan merupakan sarana sah untuk memilih khalifah.

3: Metode ketiga terdiri dari pencalonan khalifah pengganti sendiri. Hal ini terjadi dalam kasus ‘Umar, yang ditunjuk oleh khalifah Abu Bakar tanpa keberatan yang diajukan oleh kaum Muslim.

Demikianlah, pada dasarnya, pandangan Sunni mengenai hal ini.

Marilah kita sekarang meninjau keberatan-keberatan yang masing-masing proses pembahasan adalah sebagaimana berikut:

Kebutuhan akan ketidakmungkinsalahan (maksum/ ‘ismah’) dari Imam, memiliki pemahaman yang jelas tegas dan merupakan perintah yang komprehensif dari semua permasalahan agama, baik dalam prinsip dan detail, yang berakar dari sumber Al-Quran dan Sunnah, serta yang dibuktikan oleh pengalaman sejarah.

Semua penindasan, kesalahan, korupsi dan penyimpangan yang kita lihat dalam sejarah Islam muncul dari kenyataan bahwa para pemimpin tidak memiliki kualitas yang seharusnya dibutuhkan oleh seorang Imam. Bahkan jika semua anggota umat Islam memilih seorang individu yang diberikan tugas kepadanya sebagai Imam dan penerus Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), ia tidak bisa lemah dan dari dirinya sendiri harus dapat memberikan legitimasi dan validitas atas ke-khalifahan-Nya.

Sedangkan Khalifah Abu Bakar, semua kaum muslimin, dalam hal apapun, tidak semuanya bersumpah setia (baiat) kepadanya, sehingga tidak perlu ada pertanyaan atas apakah konsensus benar-benar terbentuk?.

Juga merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa tidak ada dalam pemilihan sesuai kenyataan yang terjadi, dalam arti semua ummmat muslim yang tersebar di berbagai penjuru tempat pelosok negeri berkumpul di Madinah pada waktu itu untuk mengambil bagian dalam proses pemilihan suara atas pemilihan kekhalifahan itu ataupun proses pemilihan suara secara perwakilan diantara seluruh kabilah-kabilah yang ada.

Berdasarkan fakta sejarah, tidak semua penduduk Madinah berpartisipasi dalam pertemuan itu, di mana keputusan itu dibuat, bahkan beberapa Ahl Al Bayt Nabi dan Sahabat yang terkemuka, serta bahkan beberapa dari mereka yang hadir di Saqifah, menolak untuk menyatakan kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar. Seperti misalnya, Ali b. Abi Thalib sa, al-Miqdad, Salman, al-Zubair, ‘Ammar b. Yasir, ‘Abdullah b. Mas’ud, Sa’d b. ‘Ubadah, Abbas b. Abd al-Muthalib, Usamah b. Zaid, Ibnu Abi Ka’b, ‘Utsman b. Hunayf, serta sejumlah sahabat terkemuka lainnya, yang menyampaikan keberatan atas pemilihan khalifah Abu Bakar dan ini berarti opini mereka tidak menyembunyikan sikap oposisi mereka. Tetapi sikap oposisi mereka, tidak dimaksudkan terorganisir menjadi oposan untuk menggulingkan Khalifah Abu Bakar. Bagaimana mungkin kemudian dapat dikatakan bahwa ke-Khalifah-an Abu Bakar dianggap telah berdasar pada ijma’ (konsensus) umat Islam?

Ini bisa dikatakan bahwa partisipasi dari setiap orang, dalam pemilihan pengganti penerus Nabi tidak perlu! Dan bahwa jika sejumlah orang-orang terkemuka mencapai keputusan tertentu sudah cukup dan hak khalifah sudah dapat diterima dan harus ditaati!.

Namun, mengapa keputusan mereka harus mengikat orang lain? Mengapa orang lain yang terkemuka dan tokoh yang dikenal cemerlang dalam sejarah peradaban ummat Islam, yang memiliki komitmen dan pengabdian yang tinggi dan sudah tidak perlu diragukan lagi, telah dikecualikan dalam membuat keputusan yang begitu penting bagi ummat, yang memiliki konsekuensi luas menyangkut urusan nasib umat Islam? Mengapa mereka mengajukan tanpa syarat atas keputusan yang dicapai dengan memaksa dan mengintimidasi kepada orang lain? Apa bukti yang ada bagi legitimasi prosedur tersebut? Mengapa ini merupakan preseden yang sah dan bersifat mengikat kebebasan umat yang lain?

Secara prosedural tipe ini dapat dianggap sebagai sah, hanya jika secara eksplisit ditunjuk sebagaimana tersebut dalam ayat Al-Qur’an atau SunnahNabi, dalam arti ayat di mana Allah menyatakan:

“Ambil dan terimalah apa yang Rasul berikan kepadamu, dan tinggalkan apa yang dilarang. ” (QS, 59:7)

Adapun para sahabat, tidak ada bukti bahwa mereka harus bertindak dengan benar, selain dari yang sebagian dari mereka tidak setuju dengan orang lain, dan tidak ada alasan dalam prinsip untuk lebih memilih pandangan dari satu kelompok para sahabat atas orang lain.

Memang benar bahwa mayoritas penduduk Madinah memberi kesetiaan mereka (baiat) kepada Abu Bakar dan dengan demikian diratifikasi seleksi sebagai khalifah, tetapi mereka yang menolak untuk melakukannya tidak melakukan dosa apapun, untuk kebebasan dalam memilih, karena kebebasan dalam memilih adalah hak alami dari setiap Muslim, dan kaum minoritas tidak berkewajiban untuk mengikuti pandangan sebagian besar kaum mayoritas. Tidak ada yang bisa dipaksa untuk bersumpah setia (baiat) kepada seseorang yang dia tidak ingini di pucuk pimpinan urusan muslim atau bergabung dengan kompak menolak dia. Ketika kaum mayoritas memaksa kaum minoritas untuk menyesuaikan diri dengan pandangan kaum mayoritas itu sendiri, berarti ia telah melanggar hak-hak kaum minoritas.

Sekarang sahabat yang berkumpul di sekitar Ali sa. yang terpaksa berubah mengikuti mayoritas yang telah memberikan kesetiaan kepada Abu Bakar, itu tidaklah dapat ditasbihkan apapun kepada Tuhan atau Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), karena itu jelas pelanggaran hak-hak mereka dan kebebasan invidual mereka.

Lebih buruk lagi dari ini, adalah fakta bahwa Ali b. Abi Thalib sa. dipaksa untuk berpartisipasi dalam sumpah kesetiaan (baiat) dan mengubah posisinya, meskipun ia adalah seseorang yang diberi otoritas oleh Rasulullah Muhammad SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) bagi setiap mukmin laki-laki dan perempuan. Tak seorang pun dengan rasa keadilan dapat menyetujui pengebirian hak kebebasan individu dalam memilih itu sendiri.

Hal ini juga harus dikatakan bahwa umat Islam dari generasi kemudian yang mengadopsi sebuah sikap negatif terhadap suatu pemberian kesetiaan (baiat) yang dilakukan oleh nenek moyang mereka, tidak dapat dihukum karena ini atau dianggap sebagai seorang pendosa (sesat/ kafir-murtad).

Selama zaman kekhalifahan Ali sa., orang-orang seperti Saad b. Abi Waqqas dan ‘Abdullah b. ‘Umar menolak baiat kepada Ali sa., tetapi dengan kemurahan hatinya, Imam Ali sa. mempersilahkan mereka bebas untuk melakukannya dan tidak memaksa mereka untuk harus membaiat kepadanya.

Selain semua ini, jika khalifah tidak ditunjuk oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), tak seorang pun dapat dipaksa untuk mengikuti modus perilaku yang ditentukan oleh khalifah yang hanya mengklaim legitimasi dalam pemilihan suara. Pemilihan tersebut tidak memberikan kepadanya imunitas dari kesalahan dan dosa (‘ismah), juga tidak meningkatkan pengetahuan agama dan kesadaran. Orang mukmin biasa berhak mengikuti orang lain selain khalifah, yang tingkat pemahamannya terhadap ilmu agamanya lebih tinggi dari pada khalifah itu sendiri.

Namun, bila baiat itu adalah merupakan sumpah ketaatan pada perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkat-atasnya dan keluarganya), ini memang dianggap sebagai sumpah kesetiaan kepada Rasulullah SAWW. sendiri, lalu tidak mungkin jika tidak taat, dan ketaatan orang kepada siapa kesetiaan diberikan adalah kewajiban tidak hanya pada umat Islam waktu itu, tapi pada orang-orang dari semua generasi-generasi berikutnya.

Selain itu, Al-Qur’an menganggap kesetiaan yang diberikan kepada Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sebagai setara dengan kesetiaan diberikan kepada Allah. Jadi Al-Qur’an mengatakan:

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar”. (Al Qur’an, 48:10)

Hal ini jelas bahwa pengganti penerus itu dipilih oleh Nabi SAWW (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya), yang akan menjadi adalah laki-laki yang paling tajam dan paling paham tentang peraturan Al-Qur’an dan agama Allah, bahkan ia mungkin akan memiliki semua sifat-sifat Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dengan perkecualian menerima wahyu Allah, dan dia memberi perintah apa pun akan didasarkan pada keadilan dan penerapan hukum-hukum agama Allah.

Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), berkaitan dengan hal itu bersabda:

“Komunitas saya tidak akan pernah setuju atas kesalahan.”

Namun, tradisi ini tidak dapat dikemukakan berkaitan dengan pertanyaan suksesi kepemimpinan dalam Islam, untuk itu kemudian akan bertentangan dengan perintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) dan secara efektif menyebabkan orang akan mengabaikan kata-katanya; itu akan memungkinkan mereka untuk lebih suka atas pandangan mereka sendiri dari pada kata-kata beliau SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya). Apa pun penerapan itu lebih dibatasi pada kasus-kasus di mana tidak ada hukum yang jelas atau otoritatif dari Al-Qur’an atau Sunnah Nabi SAWW.

Apa yang dimaksudkan oleh Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), adalah bahwa masyarakat tidak akan setuju atas kesalahan dalam kasus di mana ummat diijinkan oleh Allah untuk memecahkan masalah dengan musyawarah, tempat konsultasi tersebut dilakukan di suasana yang bebas dari intimidasi, dan di mana pilihan tindakan tertentu dengan suara bulat disetujui. Namun, jika sekelompok masyarakat tertentu cenderung dalam arah tertentu dan kemudian mencoba untuk memaksakan pandangan mereka pada orang lain dan memaksa pembaiatan mereka, tidak ada alasan untuk menganggap hasil itu sebagai mewakili sebuah konsensus yang valid.

Adapun sumpah kesetiaan (baiat) yang terjadi di Saqifah, bahkan jika Allah dan Rasul SAWW. (kedamaian dan berkah besertanya dan keluarganya) sudah memberikan izin untuk masalah yang akan memutuskan berdasarkan konsultasi, tidak ada konsultasi yang benar-benar terjadi. Sebuah kelompok tertentu secara individu mengatur agenda di muka dan kemudian dikeluarkan usaha-usaha besar untuk mencapai hasil yang mereka sendiri inginkan (red. penuh hawa nafsu dunia/ ambisi). Ini adalah kenyataan yang terjadi, seperti yang bahkan khalifah kedua (Umar b. Khattab) sendiri datang untuk mengakui:

“Pemilihan Abu Bakar sebagai pemimpin muncul secara kebetulan, itu tidak terjadi melalui konsultasi dan pertukaran pandangan. Jika seseorang mengundang Anda untuk mengikuti prosedur yang sama lagi, bunuhlah dia!” [1]

Dalam perjalanan ia menyampaikan khotbah pada awal khalifah-Nya, khalifah pertama meminta maaf kepada orang-orang dalam kata-kata:

“Para sumpah kesetiaan (baiat) kepada saya adalah sebuah kesalahan, Semoga Allah melindungi kita dari konsekuensi buruk yang aku sendiri takut membahayakan dapat menimbulkan.” [2]

Selama hidupnya, Nabi Islam SAWW. (salam kedamaian dan berkat atasnya dan keluarganya), menunjukkan perhatian besar bagi kesejahteraan kaum muslimin dan menaruh perhatian besar terhadap kelestarian agama Islam dan persatuan dan keamanan masyarakat Muslim. Ia sangat khawatir munculnya perpecahan-perpecahan, dan dimanapun beliau pergi, hal pertama yang ia lakukan adalah untuk menunjuk seorang gubernur atau komandan untuk daerah. Demikian pula, komandan selalu diangkat di muka setiap kali pertempuran sedang direncanakan dan bahkan wakil komandan ditunjuk untuk mengambil alih kepemimpinan tentara jika perlu. Setiap kali beliau memulai perjalanan, ia menunjuk seseorang sebagai gubernur untuk mengelola urusan Madinah.

Mengingat semua ini, bagaimana mungkin bahwa dia tidak pernah memikirkan nasib masyarakat ummat Islam setelah wafatnya, yang membutuhkan panduan dan pimimpinan, kebutuhan di mana nasib masyarakat ummat Islam di dunia ini dan selanjutnya tergantung?

Apakah mungkin bahwa Tuhan harus mengirimkan utusan untuk membimbing manusia dan untuk mendirikan agama; sedang sang utusan harus menanggung segala macam kesulitan-kesulitan dalam menyampaikan perintah Tuhan untuk ummat manusia, kemudian harus berhenti begitu saja di dunia ini tanpa ada kelanjutannya? Apakah ini suatu yang penuh hikmah dan kebijaksanaan dari Allah Yang Maha Bijaksana atau logis dari suatu rangkaian aksi?

Apakah setiap pemimpin akan begitu saja merasa puas dan percaya atas jerih payah usaha dan perjuangannya selama ini, untuk kesempatan masa depan yang tidak pasti?

Ke-Rasul-an adalah kepercayaan ilahi yang diberikan kepada Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), dan ia memiliki kepribadian yang terlalu agung mengabaikan kepercayaan dengan cara apapun, terutama dengan meninggalkan kelanggengan agama Islam. Membuat penunjukan penerus penggantinya tergantung pada pemilu akan tepat sama dengan hasil pemilu itu sendiri, selalu timbul permasalahan-permasalahan.

Jika tujuan dari agama adalah untuk mendidik manusia dalam kemanusiaan mereka dan jika hukum agama untuk mempromosikan pembangunan dan perbaikan umat manusia, seorang pemimpin harus selalu ada bersama-sama dengan agama dalam rangka untuk mengamankan kebutuhan material dan spiritual individu dan masyarakat dan pemimpin yang memberikan panduan dalam penyelesaian segala sengketa ke atas mereka.

Tidak ada keraguan bahwa kekuasaan pemerintah diperlukan untuk dapatnya melaksanakan hukum-hukum Tuhan dan menjaga perintah-Nya, dan kebutuhan akan ini berarti pada gilirannya merupakan kebutuhan terhadap pemimpin dan pemandu yang akan membantu dalam perjuangan mereka dalam mengatasi kekurangan kesadaran mereka yang rentan terhadap saran-saran setan.

Dengan tidak adanya seorang pemimpin, agama akan menjadi keruh dan terdistorsi oleh takhayul (syubhat) dan pendapat sewenang-wenang, baik secara individual ataupun kelompok, dan kepercayaan kepada illahi sesuai aturan agama dan wahyu akan dikhianati (menyimpang).

Selain itu, jika Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), telah meninggalkan untuk kaum muslimin memilih khalifah, ia akan melakukannya dengan kejelasan dan sepenuhnya dengan cara yang paling kategoris mungkin, juga menetapkan prosedur-prosedur mereka mengikuti dalam aturan pemilihan dan pengangkatannya.

Apakah urusan umat Islam setelah wafatnya Nabi bukan urusan Allah dan Rasul-Nya? Apakah orang-orang lebih berpandangan jauh dari Allah dan Rasul-Nya, atau lebih mampu membedakan mana pemimpin yang seharusnya?

Jika Nabi tidak menunjuk seorang pengganti (khalifah) untuk dirinya sendiri, kenapa Abu Bakar melakukannya? Dan jika Nabi melakukannya, mengapa yang beliau pilih disisihkan?

Masalah lain yang timbul sehubungan dengan pilihan khalifah atas dasar musyawarah adalah bahwa Imam harus menjadi penuntun umat dalam segala hal pengetahuan agama. Tidak ada yang meragukan bahwa dia harus memiliki komitmen dan pengetahuan komprehensif tentang hukum-hukum Allah, karena dalam menghadapi banyak masalah kompleks yang muncul umat Islam memerlukan kewenangan seorang pemimpin yang cocok untuk memberikan bimbingan keimanan yang dapat diandalkan. Pengganti Nabi karena itu harus menjadi pewaris sumber pengetahuan, yang membuat identifikasi dan pengakuan penerus, merupakan masalah penting.

Kita telah menjelaskan peran fundamental ketidakmungkinsalahan (‘ismah) di kedua hal, Nabi dan pemimpin (imam) yang ditunjuk oleh Nabi. Sekarang, bagaimana para sahabat, yang mereka sendiri tidak ketidakmungkinsalahan (‘ismah), membawa pada diri mereka sendiri untuk mengenali orang yang mungkin-salah?

Selain itu, jika itu adalah hak kaum muslimin bahwa mereka harus memilih pengganti Nabi, bagaimana hak ini dibatasi oleh ‘Umar b. Khattab hanya kepada untuk enam orang saja? Semua enam orang dari antara Muhajirin, dan bahkan tidak satu pun dari Anshar ditugaskan untuk menasehati mereka.

Ayat Al Qur’an yang berbunyi:

“Kaum muslimin adalah untuk mengatur urusan mereka atas dasar musyawarah” (Al Qur’an, 42:38)

Hal ini hanya untuk menunjukkan bahwa salah satu ciri dari orang percaya adalah untuk berkonsultasi satu sama lain dalam usaha mereka; itu tidak tidak menunjukkan dengan cara apapun bahwa kepemimpinan umat Islam harus berdasarkan suara mayoritas, juga tidak membuat kewajiban ketaatan kepada keputusan yang diambil oleh khalifah begitu terpilih. Ayat ini bahkan tidak mengatakan apa-apa tentang cara konsultasi yang akan diselenggarakan dan apakah atau tidak kehadiran semua umat Islam diperlukan.

Bahkan jika konsultatif (syura) prinsip yang dapat diterapkan dalam masalah kepemimpinan Islam, keputusan harus dibuat melalui pertukaran pandangan umum, bukan terbatas hanya pada enam orang, dalam pemilihan yang “Umar b. Khattab tidak mau dirinya untuk berkonsultasi dengan salah satu sahabat.

Dia bahkan memberikan hak veto untuk Abd al-Rahman b. ‘Auf yang dikenal karena kekayaannya, sesuatu yang tidak dapat dibenarkan dengan mengacu pada prinsip-prinsip Islam.

Pertimbangan keenam itu, apalagi, dibayangi oleh ancaman dan intimidasi, telah diberikan perintah bagi mereka yang tidak setuju dengan mayoritas harus dihukum mati! Dibunuh!

Ketika menunjuk ‘Umar menjadi khalifah, Abu Bakar tidak berkonsultasi dengan siapa pun, tidak cukup jelas dia meninggalkan pertanyaan penggantinya kepada orang-orang bagi mereka untuk memutuskan, melainkan sepenuhnya merupakan keputusan pribadi.

Dalam hal apapun, prinsip konsultatif menjadi operasi hanya jika pemimpin itu sendiri mengadakan pertemuan konsultasi untuk pertukaran pandangan mengenai berbagai pertanyaan, terutama saat menyentuh topik tentang hubungan sosial dan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh pemimpin dalam menanggapi kebutuhan sosial. Konsultasi dengan spesialis yang relevan terjadi, tapi setelah opini mereka telah didengar, itu adalah pemimpin sendiri yang mengambil keputusan akhir.

Untuk pengetahuan agamanya adalah lebih tinggi dari orang lain, dan itu adalah pernyataan bahwa dukungan publik menikmati layak diberlakukan. Kesatuan arah dan kepemimpinan harus selalu dijaga, karena perbedaan pendapat, tanpa adanya seorang pemimpin membuat keputusan akhir, akan melumpuhkan pemerintah.

Juga harus diingat bahwa Al-Qur’an Surah Al-Syura terungkap di Makkah, pada saat sistem pemerintahan Islam belum mengambil bentuk, dan bahwa pada waktu tidak ada pemerintah Nabi SAWW. (kedamaian dan berkah di atasnya dan keluarganya), berdasarkan konsultasi.

Ayat tentang konsultasi, kemudian, mendorong orang-orang percaya untuk berkonsultasi satu sama lain, dan itu tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah pemerintahan dan kepemimpinan. Hal ini terkait dengan keprihatinan praktis kaum muslimin, dengan berbagai masalah yang dihadapi umat Islam. Sama sekali tidak ada pembenaran untuk menafsirkan ayat ini sebagai sanksi penunjukan khalifah melalui musyawarah, karena selama usia pemerintah wahyu secara eksklusif ada di tangan Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya).

Selanjutnya, bagian dari ayat yang merekomendasi konsultasi diperlakukan dari keinginan untuk belanja properti seseorang dalam jalan Allah, juga sesuatu yang diinginkan tetapi tidak wajib.

Namun pertimbangan lain adalah bahwa ayat tersebut terjadi dalam konteks berhubungan dengan perang Nabi SAWW. (salam kedamaian dan berkah selalu menyertainya dan keluarganya). Beberapa ayat-ayat yang ditujukan kepada umat Islam pada umumnya dan para prajurit di antara mereka pada khususnya, dan lainnya untuk Nabi secara individual. Hal ini jelas bahwa dalam konteks ini dorongan untuk berkonsultasi terinspirasi oleh belas kasih bagi orang yang beriman, dengan kepedulian moral mereka, itu adalah bahwa Nabi tidak diwajibkan untuk bertindak sesuai dengan pendapat dari orang-orang yang dimintai konsultasi.

Untuk Alquran dengan jelas menyatakan:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian Setiap kali Anda mengambil keputusan, bertawakkallah kepada Allah dan bertindak sesuai dengan opini sendiri dan niat (tekad). Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”. (Qur’an, 3:159)

Konteks ini juga menunjukkan konsultasi yang berlaku untuk hal-hal militer, terutama ke kekhawatiran yang muncul selama Pertempuran Badar, bagiNabi SAWW (salam kedamaian dan berkah atasnya dan keluarganya), sahabat berkonsultasi tentang kelayakan menyerang kafilah perdagangan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan kembali dari Suriah. Pertama Abu Bakar menyatakan pendapat, yang ditolak oleh Nabi, kemudian ‘Umar menyatakan-Nya, yang juga ditolak, dan akhirnya al-Miqdad memberikan pendapatnya, dan Nabi menerimanya. [3]

Jika Nabi berkonsultasi dengan orang lain, itu bukan berarti untuk belajar dari mereka yang lebih unggul (pakar) dari pendapat beliau sendiri. Tujuannya adalah bukan untuk melatih mereka dalam konsultasi metode dan penemuan pandangan yang benar. Berbeda dengan penguasa yang menolak duniawi pernah berkonsultasi dengan orang biasa, karena kesombongan dan keangkuhan, Nabi diperintahkan oleh Allah untuk menunjukkan perhatian orang yang beriman dan belas kasihan kepada mereka dengan konsultasi dengan mereka, pada saat yang sama meningkatkan harga diri mereka dan belajar apa yang mereka pikirkan.

Namun, keputusan akhir selalu, dan dalam kasus Pertempuran Badar, Allah memberitahukan terlebih dahulu tentang apa yang akan dihasilkannya, dan ia pada gilirannya ini disampaikan kepada para sahabat setelah berkonsultasi dengan mereka.

Perintah untuk berkonsultasi dan untuk bertukar pandangan juga demi menemukan cara terbaik untuk memenuhi tugas yang diberikan, bukan untuk mengidentifikasi apa yang tugas dan apa yang tidak, ini merupakan perbedaan penting.

Setelah resep yang jelas dan otoritatif ada dalam Al-Quran atau Sunnah, tidak ada tanah untuk konsultasi mengambil tempat. Masyarakat tidak memiliki hak untuk mendiskusikan perintah yang didasarkan pada wahyu, karena pada prinsipnya diskusi tersebut mungkin berakibat pada pembatalan hukum Tuhan.

Dalam cara yang sama, konsultasi tidak berarti dalam setiap masyarakat manusia, sekali tugas hukum anggotanya telah ditentukan.

Sang penerus pengganti Ali b. Abi Thalib sa, jelas diangkat Nabi sesuai dengan perintah illahi di Ghadir Khum. Dan lagi di awal misi Nabi, ketika ia berada di ranjang kematiannya. Karena itu, tidak ada masalah yang perlu diselesaikan oleh konsultasi.

Al-Quran tidak mengizinkan individu untuk menghibur pandangan mereka sendiri tentang topik apa pun ada di mana undang-undang illahi, untuk itu berkata:

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” (Al Qur’an, 33:36)

Atau lagi:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)” (Al Qur’an, 28:67)

Karena pilihan dan seleksi pemimpin adalah hak prerogatif Allah semata, dan karena pada kenyataannya dia seorang pemimpin yang ditunjuk, tidak ada artinya untuk mencari orang lain sebagai pemimpin.

Tugas Imam adalah membimbing manusia dan menunjukkan kepada mereka jalan yang akan menuntun mereka ke kebahagiaan. Itulah yang terjadi, metode yang tepat untuk memilih seorang Imam adalah sama dengan yang Al Qur’an merinci untuk para nabi:

“Memang kewajiban pada Kami untuk membimbing manusia, untuk kerajaan dunia dan akhirat adalah Milik kami”. (Al Qur’an, 92:11-12)

Ini adalah tanggung jawab maka Allah sendiri memberikan pedoman bagi umat manusia dan untuk membuat tersedia apa saja yang dibutuhkan pada berbagai tahapan eksistensi. Bagian dari apa yang dibutuhkan yang pasti bimbingan, dan hanya satu yang telah ditunjuk Allah dapat menampilkan dirinya sebagai panutan. Banyak ayat-ayat Al Qur’an bersaksi bahwa Allah berikan status panduan pada Nabi.

Penunjukan seorang Imam sebagai pengganti Nabi Allah terjadi untuk tujuan yang sama persis dengan misi Nabi (salam kedamaian dan berkah saw dan keluarganya), yang melayani umat manusia sebagai panutan dan tokoh suri tauladan kepada siapa ketaatan disampaikan.

Dengan hal tersebut, tak seorang pun berhak mengklaim fungsi ini atau untuk menuntut ketaatan tanpa bukti yang telah diangkat oleh Allah. Jika seseorang tetap saja tidak melakukannya, ia akan merampas tangan kanan Allah.

Teori Sunni yang melihat dalam penunjukan Abu Bakar penggantinya, pembenaran untuk prosedur tersebut. Jika penunjukan tersebut dibuat oleh seorang Imam yang mungkin-salah (tdiak ‘ismah’) itu adalah sah dan otoritatif, tetapi yang lain mengenali untuk satu pemilik ketidakmungkinsalahan (‘ismah) dan aman mempercayakan urusan umat kepadanya. Jika hal ini tidak menjadi kasus, kurang satu kualitas ketidakmungkinsalahan, tidak memiliki hak untuk menunjuk seorang menjadi khalifah, yang orang wajib mematuhi. Jika dikatakan bahwa ini adalah Abu Bakar yang lakukan dan tidak ada yang keberatan, itu harus dijawab bahwa keberatan memang sudah diajukan, tetapi tidak ada perhatian yang dibayarkan kepada mereka.

Tersebut pandangan para ulama Sunni tentang legitimasi dari tiga metode yang berbeda untuk memilih khalifah, dan keberatan-keberatan yang perlu dibuat untuk dilihat mereka.

Referensi:
[1] Ibnu Hisyam, Sirah, Vol. IV, hal 308; al-Tabari, Tarikh, Ibn al-Atsir, al-Kamil, Ibnu Katsir, al-Bidayah.
[2] Ibn Abi ‘l-Hadid, Syarah, Vol. I, p.132.
[3] Muslim, al-Sahih, “Sayr Kitab wa al-Jihad” Bab: Badar Ghuzwah, Vol. III, p.1403.

Lebih Lanjut mengenai Ijma’

Sunni menyatakan bahwa masalah penerus Nabi diselesaikan melalui konsep “syura (musyawarah), karena Allah SWT berfirman dalam Qur’an bahwa masalah mereka dipecahkan melalui syura’. Klaim bahwa masalah kepemimpinan adalah tidak diselesaikan melalui agreement supported adalah kesalahpahaman pengertian syura yang dimaksud dalam ayat Al-Qur’an dengan demokrasi pemilihan kepemimpinan Islam berdasarkan kesepakatan persetujuan ummat. Dewan syura’ ini berbeda dengan voting atau pemilihan, dan karena alasan itu, ia tidak dapat diterapkan pada masalah Imamahatau Khilafah. Mari kita menjelaskan mengapa?!Ketika seorang pemimpin untuk memutuskan suatu masalah, menurut aturan Islam, dia bisa mencoba untuk bernegosiasi dengan sekelompok pakar untuk mendapatkan pendapat dari mereka tentang isu-isu tertentu. Tapi akhirnya dia sendiri-lah yang harus memutuskan. Dia tidak melakukan pemungutan suara (voting). Untuk membuktikan spot kami, mari kita lihat ayat berikut ini.”… Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam masalah ini. Kemudian ketika Anda (para Nabi) ditentukan, maka bertawakallah kepada Allah” (Surah Ali Imran: 159).Ayat di atas Nabi berkonsultasi bertanya, tapi Allah SWT. menyatakan “idza azamta fa …” Berarti bahwa hanya Nabi yang mengambil keputusan akhir. Dan kemudiam semua ummat Islam “sami’na wa atha’na”

Di sini tidak ada pemilihan suara (voting) sama sekali. Ini hanya soal untuk mendapatkan opini. Keputusan akhir ditangan Nabi. Yang mungkin berbeda dari mayoritas orang yang berkonsultasi (demi keuntungan) yang diakui oleh para pemimpin dan karena itu ia dianggap sebagai seorang pemimpin karena lebih unggul dalam keilmuan, pintar, dan sebagainya.

Beberapa pihak berpendapat disini bahwa, karena pengetahuan yang tinggi, Nabi Muhammad SAWW. bahkan tidak perlu untuk meminta pendapat rakyatnya. Namun, Nabi melakukannya dalam beberapa keadaan, hanya untuk mengajar orang pentingnya arti musyawarah.

Dalam hal musyawarah, keberadaan seorang pemimpin yang diasumsikan sebagai pengambil keputusan akhir (top decision maker). Hal ini jelas membuktikan bahwa, dalam hal suksesi kepemimpinan, konsensus (dukungan persetujuan/ agreement supported) dari ummat tidak diperlukan (kecuali hal itu dilakukan oleh pemimpin sebelumnya, sebelum kematiannya).

Setelah kematian sang pemimpin, sang pemimpin tidak dapat melakukan musyawarah, kecuali sang pemimpin akhir memiliki wakil (red. atau panggilan wakil presiden) yang dapat melakukan fungsi ini.

Biasanya wakil yang ditunjuk adalah orang yang paling memenuhi syarat untuk menempati posisi pemimpin, dan bahkan orang lain pun memutuskannya ia layak untuk menjadi pemimpin. Pemimpin ditunjuk oleh wakil tetap (pemimpin) yang sebelumnya telah ditunjuk, dan bukan oleh manusia!

Pemilihan suara (Voting) adalah masalah yang sama sekali berbeda. Dalam masyarakat demokratis, semua orang memiliki kesempatan untuk memilih kandidat mereka. Prosedur-prosedur ini tidak memiliki dukungan apapun dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah, untuk masalah-masalah dalamkepemimpinan Islam (Islamic Leadership).

Keseluruhan. Alasannya, Islam didasarkan pada teokrasi (kerajaan Allah) dan bukan pada demokrasi (pemerintahan oleh manusia, dari manusia dan untuk manusia). Sebagaimana pengertian Demokrasi dalam Trias Politika dari filusuf Yunani (pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat), yang kemudian terbentuk legilatif, yudikatif dan eksekutif.

Memang, Quran mengutuk pendapat kebanyakan orang (lihat kembali ayat Al-An-am, 6: 116; QS Al-. Maidah: 49, QS Yunus:. 92; QS Al-. Rum: 8) karena pandangan kebanyakan pria biasanya lemah karena kecenderungan mereka.

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”[500]. (Qur’an al-An ‘am, 6:16)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (Qur’an al-Maidah, 5 :49)

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”. (Qur’an Yunus, 10 : 92)

“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya”. (Qur’an ar-Ruum, 30: 8)

Selain itu, pemilihan tersebut tidak terjadi untuk tiga khalifah pertama yang naik tahta kepemimpinan setelah Nabi Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya) wafat, bahkan tidak diantara penduduk Madinah.

Juga, bagaimana jika ada orang yang tidak memilih individu yang memenuhi syarat kualifikasi sebagai seorang pemimpin, misalnya orang munafik? Bagaimana bisa, seperti misalnya orang yang korup menjadi Ulil Amri dan ketaatan menjadi wajib?

Tentu saja, Allah SWT. dan Rasulullah Muhammad SAWW. (sholawat atasnya dan keluarganya). Lebih mengetahui mana yang lebih baik, yang lebih pantas, memenuhi syarat sebagai pemimpin (imam) penerusnya.

Referensi :

[500]. Seperti menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

[704]. Yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir’aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir.

berarti kesepakatan dari seluruh ummat Islam. Tapi anehnya dalam pemilihan khalifah, fakta sejarah ternyata menunjukkan ada indikasi yang tidak jelas dalam pemilihan khalifah pertama. Adakah ia pemilihan khalifah pertama, itu atas ijma’ dari seluruh ummat Islam, tanpa terkecuali terutama dariAhl Al-Bayt Nabi Suci Muhammad SAWW dan Bani Hasyim ?Fakta sejarah mencatat, pemilihan khalifah pertama hanya diikuti dan dihadiri beberapa gelintir orang sahabat nabi di Madinah (red. bahkan konon sudah ditentukan sebelumnya, lihat dan silahkan telaah secara kritis fakta sejarah peristiwa “saqifah”).Sedangkan ummat muslim yang berada di wilayah Islam lainnya, selain yang ada di kota Madinah (red. setelah fathu Mekkah ummat Islam berkembang pesat), tidak terlibat ikut berperan secara aktif dalam pemilihan suara secara ijma’ itu, sehingga tidak dapat diketahui secara persis dan pasti bagaimanakah suara dan idea-idea mereka, seperti layaknya dalam suatu proses pemilihan secara ijma’ . Lebih tepatnya, dapat dikatakan, bukan kesepakatan seluruh ummat Islam, tetapi kesepakatan sebagian ummat Islam.

Bukti sejarah, Ahl Al-Bayt Nabi (Keluarga Nabi) seperti Imam Ali bin Abi Thalib sa., Fatimah sa, Hasan sa. dan Husyain sa. serta seluruh keluarga BaniHashim lainnya tidak tampak ikut hadir dan mengikuti pemilihan suara dengan sistem Ijma  itu. Karena Ahl Al-Bayt Nabi hanya berkhidmat pada jenazah Rasulullah di rumah duka, sementara hanya beberapa gelintir orang sahabat saja yang heboh membicarakan pengganti Nabi Suci MuhammadSAWW.

Oleh karena itu sistem ijma’ seperti in patut dipertanyakan, apakah hal ini layak bisa diterima oleh seluruh ummat Islam tanpa terkecuali? Karena, definisi pengertian ijma’ jelas sekali merupakan kesepakatan seluruh ummat Islam tanpa terkecuali. Dengan demikian definisi pengertian ijma’ itu sendiri telah diciderai!

Kemudian, yang perlu dipertanyakan lebih lanjut adalah jika sistem ijma ‘ ini memang dinyatakan sebagai sistem yang benar dan harus wajib diikuti dan harus diterima, maka mengapa sesudah pemilihan khalifah pertama (Abu Bakar) yang masih patut dipertanyakan itu, dalam pemilihan khalifah kedua (Umar ibn Khattab), khalifah pertama Abu Bakar melanggar sistem ijma’ ini?

Betapa tidak, fakta sejarah menunjukkan pemilihan khalifah kedua Umar bin al-Khattab dibaiat sumpah setia oleh khalifah Abu Bakar sebagai penggantinya tanpa ijma’ . Tetapi secara atas tunjuk, membaiat dan mewariskan secara langsung dengan otoritas yang dimilikinya.

Jika Abu Bakar bisa membai’at dan menunjuk Umar bin Al-Khattab dalam sebagai khalifah penggantinya sesuai otoritas yang dimiliki, lalu pertanyaannya mengapa, apa yang tidak tepat jika Nabi Suci Muhammad SAWW. melakukan cara yang sama, sesuai dengan instruksi
wahyu yang diterima beliau sesuai otoritasnya sebagai Nabi dan Rasul, dengan menunjuk pemimpin pengganti beliau Ali bin Abi Thalib sa. sebagaiImam pengganti penerusnya?

Di sini, Nabi Suci adalah lebih patut ketika ia melantik Imam Ali bin Abi Thalib sa. sebagai seorang Imam atau khalifah penggantinya saat ia wafat nantinya, di sebuah tempat Ghadir Khum, setelah melakukan Haji Wada. Nabi Suci melakukan ini semua, bukan sesuai dengan keinginannya (“penuh hawa nafsu rendah duniawi”), tapi menurut Al-Qur’an apa yang ada dalam diri Nabi Suci Muhammad SAWW. tidak lain adalah “illa yuha wahyuha”. (melainkan wahyu yang telah Allah wahyukan). Dan kita semua ummat muslimin sepatutnya, harusnya mengucapkan “‘Sami’na wa atho’na” (Kami dengar dan Kami taat!).

Dan sekali lagi, perlu dipertanyakan kembali, jika ijma ‘adalah sistem yang benar dan harus diikuti, lalu mengapa pula sistem ijma’ ini masih tetap dilanggar kembali, dalam pemilihan untuk khalifah yang ketiga Ustman bin Affan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab?

Lagi fakta sejarah mencatat, khalifah kedua Umar bin Khattab pun juga telah melanggar sistem ijma’ ini, dimana ijma’ dibatasinya dengan memilih 6 (enam) orang sebagai calon khalifah tanpa musyawarah dengan para sahabat sebelumnya, dan mengatakan kepada mereka untuk memilih salah satu dari mereka sendiri sebagai pemimpin masyarakat Muslim dengan membahas masalah ini di antara mereka sendiri untuk tidak lebih dari enam hari, jika empat atau lima orang mampu mencapai kesepakatan, maka lawan itu harus diabaikan. Sebuah perakitan enam orang itu sesuai rapat, dan setelah pertimbangan-pertimbangan yang diperlukan kekhalifahan diberikan kepada ‘Utsman.

Adakah ini adalah ijma’ atau merupakan hasil ijtihad terbaik khalifah Umar ibn Khattab atas pengertian definisi ijma’ itu sendiri?

Kalau itu memang iya, merupakan hasil ijtihad terbaik dari khalifah Umar Ibn Al-Khattab, tidakkah dia menyadari bahwa hal itu akan menciderai dan merusak pengertian ijma’ itu sendiri?

Mungkin perlu direnungkan, untuk telaah kritis atas fakta sejarah yang ada secara obyektif. Dan hendaklah dibuang jauh-jauh prasangka buruk. Di sini bukan hanya untuk sekedar mengkritisi polah tingkah laku dan pemikiran sahabat Nabi terkemuka, seperti Abu Bakar, Umar bin Al Khattab dan Ustman bin Affan. Nauzu billaahi min dzalik.

Terlepas dari semua itu, mereka semua sahabat Nabi yang terkemuka. Bahkan bagaimanapun juga Abu Bakar adalah ayah mertua Nabi MuhammadSAWW. Dimana beliaupun juga tetap sangat menghormatinya. Demikian pula Umar bin Khattab dan Ustman bin Affan mereka semua telah memberi warna dalam pergerakan jihad Nabi Suci Muhammad SAWW. dan memberikan
sumbangsih yang tidak sedikit.

Tetapi pertanyaan-pertanyaan ini akan selalu muncul dalam hati dan pikiran semua umat Islam terutama generasi muda Islam. Mengapa sistem ijma’dibuat dan diagung-agungkan sebagai dalil pembenaran untuk melegitimasi pemilihan dalam Kepemimpinan Islam (Islamic Leadership), tapi malah justru fakta sejarah menunjukkan bahwa dari pemilihan kepemimpinan Islam mulai khalifah pertama sampai khalifah ketiga, semuanya terbukti telah melanggar dan menciderai definisi pengetian ijma’ itu sendiri? Kalau sudah begini, lalu generasi Islam harus bagaimana?

Ternyata memang telaah kritis atas fakta-fakta sejarah adalah sangat penting sekali bagi generasi muda Islam untuk menemukan esensi kebenaran agama Islam yang hakiki dari sumber yang hakiki pula.

Imamah dalam pandangan Syi’ah adalah bentuk pemerintahan ilahi, yang berkantor tergantung pada Allah seperti ke-nabi-an, sesuatu dimanaAllahtelah melimpahkan dan menganugerahkan pada hamba-hamba pilihan-Nya yang ditinggikan pada kurun waktu masanya masing-masing.

Perbedaannya adalah bahwa Nabi pendiri agama dan sekolah madarasah pemikiran hasil dari pada itu, sedangkan Imam memiliki fungsi menjaga dan melindungi agama Allah yang telah dirisalahkan kepada Nabi-Nya, dalam arti bahwa masing-masing memiliki tugas dalam semua dimensi nilai-nilai hidup spiritual mereka dan cara pelaksanaan agama Allah.

Setelah wafat Rasulullah SAWW, umat Islam berada pada kondisi yang membutuhkan tokoh yang layak yang akan diberkati dengan pengetahuan komprehensif yang berasal dari wahyu (red. hikmah), dibebaskan dari dosa kesalahan dan kenajisan kotoran hawa nafsu rendah duniawi, dan mampu menjaga dan melestarikan syari’at agama Allah secara murni dan konsekuen sesuai Qur’an dan Sunnah Nabi.

Hanya tokoh seperti itu lah yang layak akan dapat, tidak hanya untuk mengawasi perkembangan dari waktu dan untuk melindungi masyarakat dari unsur menyimpang, tetapi juga untuk memberikan pengetahuan agama yang luas kepada ummat yang muncul dari sumber utama berupa wahyu (red. hikmah) dimana prinsip-prinsip umum syari’at Nabi berasal. Hukum yang berasal dari wahyu inilah yang merupakan obor kebenaran dan keadilan yang tertinggi.

Imamah dan kekhalifahan tidak bisa dipisahkan. Sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW. Tuhan Allah tidak bisa dipisahkan dari kantor ke-nabi-anNya. Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan-kesatuan tunggal.

Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual. Dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya. Sehingga terjadi dikotomi perbedaan pengertian imam dan khalifah (red. keimamahan dan kekhalifahan).

Jika masyarakat Islam tidak dipimpin oleh seseorang yang layak saja, yang takut akan Tuhan, yang tak ternoda oleh kenajisan moral dan tata nilai ahlak mulia, yang perbuatan dan kata-kata menjadi model panutan bagi orang-orang yang mengikutinya, atau sebaliknya, jika imam atau penguasa masyarakat itu sendiri melanggar hukum dan prinsip keadilan, tidak akan ada lingkungan yang mampu menerima keadilan, dan tidak akan mungkin lagi kebajikan dan kesalehan tumbuh berkembang, dan atau untuk tujuan pemerintahan Islam menciptakan lingkungan yang sehat bagi penyebaran nilai-nilai spiritual dan penerapan hukum-hukum Allah yang didasarkan pada wahyu (red. hikmah) ilahi.

Pelaksanaan moral penguasa dan peran pemerintah memiliki pengaruh yang kuat dan begitu mendalam terhadap masyarakat pendukungnya. ‘Ali ibn Abi Tahlib-Amirul Mukminin, yang dianggap sebagai lebih berpengaruh daripada peran edukatif dari seorang bapak dalam rumah tangga . Dia berkata demikian:

“With respect to their morals, people resemble their rulers more than they resemble their fathers.” (“Respek atas moral mereka, orang-orang akan menyayangi penguasanya lebih dari diri mereka menyanyangi bapak-bapak mereka sendiri”) [1]

Karena ada hubungan tertentu dan afinitas antara tujuan sebuah pemerintahan yang diberikan dan atribut dan karakteristik dari pemimpinnya, pencapaian cita-cita pemerintahan Islam sangat tergantung pada keberadaan seorang pemimpinnya, di antaranya adalah kualitas istimewa yang mengkristal kepada diri seorang manusia pemimpin yang disempurnakan.

Selain itu, kebutuhan masyarakat untuk kepemimpinan dan pemerintahan itu sendiri, merupakan kebutuhan alami yang bergerak maju menuju kesempurnaannya. Dan dengan cara yang sama Islam telah memenuhi kebutuhan individual dan kolektif manusia, material dan moral, oleh penyusunan sebuah sistem hukum yang koheren, disamping itu juga harus memperhatikan kebutuhan alami untuk kepemimpinan dengan cara yang sesuai dengan sifat esensial manusia.

Allah telah memberikan semua alat dan instrumen yang dibutuhkan setiap ada keterbatasan, kelemahan dan kekurangan untuk mengatasi dan maju menuju kesempurnaan itu sendiri. Apakah itu mungkin bahwa orang yang juga terpelihara dalam pelukan rahmat ilahi entah bagaimana akan dikecualikan dari aturan ini, pengoperasian diganggu gugat dan dicabut dari sarana pendakian spiritual?

Pada saat kematian Rasul Allah, negara Islam tidak mencapai tingkat budaya atau intelektual yang memungkinkan hal itu akan terus berkembang menuju kesempurnaan tanpa perwalian dan pengawasan. Islam telah didirikan untuk pengembangan dan elevasi manusia akan tetapi tidak akan lengkap tanpa jiwa dan prinsip keiImamahan yang berada untuk itu; Islam tidak akan bisa memainkan peran penting yang berharga dan sangat strategis dalam pembebasan manusia dan mekarnya potensi esensi manusia.

Teks-teks Islam Fundamental menyatakan bahwa jika prinsip Imamah dikurangkan dari Islam, semangat hukum Islam dan masyarakat berdasarkan progresif monoteistik akan hilang, tak akan pernah ada lagi, tetapi hanya ada bentuk Islam yang tak bernyawa, yang tak memiliki ruh ke-ilahi-an lagi.

Nabi Islam SAWW, bersabda: “Barangsiapa mati tanpa mengenal Imam pada masanya, mati dalam keadaaan Jahiliyyah.” [2]
Alasan untuk ini adalah bahwa selama era Jahiliyyah pra-Islam ketidaktahuan orang-orang musyrik; mereka tidak tahu baik monoteisme atau ke-nabi-an. Deklarasi ini dikategorikan oleh Nabi, kedamaian dan berkah Allah atasnya dan keluarganya, menunjukkan pentingnya ke-imamah-an dalam agamaIslam.
Referensi:

[1] Al-Majlisi, Biharal-Anwar, Vol, XVII, hal 129.

[2] Ahmad b. Hanbal, al-Musnad, hal 96.

Realiti Kebebasan Beragama Di Malaysia..Nasrani, Hindu dan Budha lebih di hormati di Malaysia daripada mazhab ahlul bait atau syi’ah imamiyah ??? (alamak, nak termuntah)

Realiti Kebebasan Beragama Di Malaysia

Nasrani, Hindu dan Budha lebih di hormati di Malaysia daripada  mazhab  ahlul bait  atau syi’ah imamiyah ??? (alamak, nak termuntah)
Seorang sarjana agama di Malaysia mengkritik penangkapan lebih dari 200 Muslim Syiah, termasuk dari Iran pada peringatan duka Hari Asyura. “Malaysia sedang mencoba untuk menjadi negara ala Taliban yang hanya memungkinkan satu aliran pemikiran,” ujar cendekiawan muslim terkemuka Asri Zainul Abidin.”Meskipun saya pribadi tidak setuju dengan ajaran Syiah dan bahkan sering mengkritik dan berdebat dengan mereka, saya tidak dapat menerima pendekatan pemerintah Malaysia yang diduga demokratis dalam menyangkal hak rakyat untuk mempraktekkan keyakinan mereka,” tambahnya.Humas Departemen Agama Selangor, Nurhamizah Othman mengatakan, para tahanan telah dibebaskan dengan jaminan, kecuali dua warga Iran.

Di antara para tahanan adalah dosen dan mahasiswa pendidikan tinggi serta pengacara dan pegawai pemerintah yang diyakini telah beroperasi di daerah itu selama hampir dua tahun, kata Othman.

Okay, ini adalah kebebasan beragama, saya sebagai Syiah Muslim, sememangnya menghormati hak-hak agama lain. Saya sokong kerajaan dalam bab ini, good work Najib!(dan PM2 yang sebelumnya)

Bercambah
Bercambah
Bercambah
Bercambah

Okay, yang ni saya ada problem sikit, sebagai sebuah negara yang mengaku sebagai pioneer Islamic country la kan. Tapi tak pe la kan, nak buat macam mana, dah memang kepala-kepala negara ni pun suka benda-benda macam ni(yang merosakkan Islam, saya tak sebut siapa la).

bercambah jugak tapi majoriti sembunyi-sembunyi

Wow, saya bangga dengan Malaysia, yang membenarkan saya beribadat dan mempercayai apa yang saya percaya secara “bebas”. Semua benda boleh bukak, tapi yang ini, memang ada masalah dengan kerajaan yang hanya ikut pendapat para agamawan Malaysia. Sedangkan negara lain tak de masalah pun. Sebagai Syiah, duduk negara kafir lebih senang.

Apa cerita ni beb, kata membenarkan Syiah beramal, so kena ada la markaz-markaz ni untuk kami bermasyarakat. Nak buat kat masjid, korang tak bagi, tak sealiran dengan Ahlul Sunnah la(???) apa la. Payah la kalau negara ni dikuasai oleh:

  • orang yang jahil agama
  • orang yang dengar cakap bini
  • orang yang hanya nak keuntungan
  • orang yang Islam hanya pada nama
  • orang yang wahabi totok
geram, sedih, kecewa dan hampa.
Imam atau Imamah (bahasa Arab: امامة) berarti “kepemimpinan” dan merupakan bagian dari teologi Islam Syi’ah.

Ini adalah gelar yang diberikan kepada orang yang menjadi pemimpin dalam suatu komunitas dalam sebuah gerakan sosial tertentu atau ideologi politik atau ilmiah atau bentuk pemikiran keagamaan. Tentu saja, karena hubungan dengan-Nya dan orang-orang yang dipimpinnya, tindakannya harus sesuai dengan kemampuan mereka dalam hal-hal penting-primer dan sekunder.

Imam ini, sehubungan dengan menyusun massa ummah, pemimpin dan contoh suri tauladan dari kekuasaan yang memiliki wawasan intelektual dan wawasan perjalanan mereka menuju manfaat Tuhan (ma’rifatullah).

Kepemimpinan seperti ini, dilakukan dalam bentuk yang benar dan tepat, tidak lain daripada realisasi tujuan Islam dan pelaksanaan ajarannya, ajaran yang didirikan oleh Rasulullah Muhammad SAWW (sholawat atasnya dan keluarganya); itu melimpahkan eksistensi objektif mengenai cita-cita membentuk masyarakat dan kodifikasi undang-undang untuk tata laksana.

Imamah dan kepemimpinan yang kadang-kadang dipahami dalam arti terbatas untuk merujuk kepada orang yang dipercayakan dengan kepemimpinan secara eksklusif sosial atau politik.

Imamah dan khalifah tidak bisa dipisahkan, hanya dalam cara yang sama dengan fungsi pemerintahan dari Rasulullah SAWW (sholawat atasnya dan keluarganya) tidak dapat dipisahkan dari kantor kenabiannya.

Spiritual Islam dan Islam politik merupakan dua bagian dari suatu keseluruhan kesatuan tunggal. Namun, dalam perjalanan sejarah Islam, kekuasaan politik memang menjadi terpisah dari Imamah spiritual, dimensi politik dan agama dipisahkan dari dimensi spiritualnya.

Agama suci Islam mempertimbangkan dan memberikan pengarahan tentang semua aspek kehidupan semua orang. Ini menyelidiki kehidupan manusia dari sudut pandang spiritual dan manusia sesuai panduan, dan intervensi pada bidang eksistensi formal dan material dari sudut pandang kehidupan masing-masing. Dengan cara yang sama, itu campur tangan di bidang kehidupan sosial dan peraturan (yaitu pada bidang pemerintahan).

Imamah memiliki arti luas dan komprehensif yang mencakup otoritas intelektual dan kepemimpinan politik. Setelah kematian Nabi, Imam dipercayakan dengan perwalian dari prestasi dan kelanjutan kepemimpinannya, untuk mengajarkan manusia akan kebenaran Al-Qur’an dan agama dan tata cara tentang masyarakat; di singkat, ia untuk membimbing mereka dalam semua dimensi keberadaan kehidupan mereka.

Jadi imamah dan kepemimpinan agama dalam Islam dapat dipelajari dari tiga perspektif yang berbeda: dari perspektif pemerintahan Islam, ilmu Islam dan perintah (hukum), serta kepemimpinan dan bimbingan yang inovatif dalam kehidupan rohani.

Syiah berpendapat bahwa karena masyarakat Islam sangat membutuhkan bimbingan di masing-masing tiga aspek itu, orang yang menduduki fungsi yang memberikan bimbingan dan panutan adalah pemimpin masyarakat dalam bidang yang menjadi perhatian agama harus diangkat oleh Allah dan Nabi.

Namun, dimensi spiritual manusia terhubung erat dengan misi agama, dan benar mam adalah orang ditinggikan yang menggabungkan dalam dirinya otoritas intelektual dan kepemimpinan politik; yang berdiri di garis terdepan dari pemuka masyarakat Islam, yang memungkinkan dengan demikian kedua hal, menyampaikan kepada orang-orang hukum ilahi yang ada di setiap wilayah dan untuk melaksanakannya, dan yang mempertahankan identitas kolektif dan martabat manusia kaum muslimin dari penurunan dan korupsi.

Selain itu, Imam adalah salah satu yang kepribadian di dunia ini, sudah terbukti memiliki aspek ilahiah; berurusan dengan Allah dan manusia, implementasinya dari semua devosi, ajaran etis dan sosial dari agama Allah, memberikan suatu pola yang lengkap dan model untuk imitasi.

Imam ini adalah panduan yang pergerakan manusia menuju kesempurnaan. Oleh karena itu kewajiban bagi semua orang percaya untuk mengikutinya dalam segala hal, karena ia adalah contoh hidup untuk pembangunan diri dan masyarakat Islam, dan cara hidupnya adalah contoh terbaik dari kebajikan bagi masyarakat Islam.

Imam adalah petunjuk dan pemimpin orang-orang dalam tindakan eksternal mereka, sehingga dia memiliki fungsi kepemimpinan batiniah dan esoterik serta bimbingan dan contoh suri tauladan bagi ummat. Ia adalah panduan dari kafilah kemanusiaan yang bergerak dalam hati dan esoterik terhadap Allah SWT. (ma’rifatullah).

Untuk menjelaskan kebenaran ini kita perlu berpaling pada dua komentar berikut sebagai pengantar.

Pertama-tama, tanpa diragukan lagi, menurut Islam serta agama-agama Ilahi (samawi) lainnya, satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan sejati atau kesengsaraan, kebahagiaan atau kemalangan, adalah dengan cara tindakan (beramal) yang baik atau orang yang jahat datang untuk mengenali melalui instruksi agama ilahi, maupun melalui primordial sendiri dan yang diberikan Allah, alam dan intelijen.

Kedua, melalui sarana wahyu dan nubuat. Allah telah memuji atau mengutuk tindakan manusia, sesuai dengan bahasa manusia dan masyarakatnya, di mana mereka tinggal. Dia telah menjanjikan kepada orang yang berbuat baik dan mematuhi dan menerima ajaran-ajaran wahyu dengan kehidupan kekal yang bahagia dalam memenuhi semua keinginan yang sesuai dengan kesempurnaan manusia.

Dan orang yang berbuat dosa dan bengis, dia telah diberi peringatan tentang kehidupan abadi yang pahit, yang dialami setiap bentuk kesengsaraan dan kekecewaan.

Tanpa ragu Allah, yang berdiri di setiap cara dan di atas segala hal dari yang kita dapat bayangkan, tidak seperti yang kita lakukan, memiliki “pikir” dibentuk oleh struktur sosial tertentu. Hubungan antara Tuan dan hamba, penguasa dan memerintah, perintah dan larangan, pahala dan hukuman, tidak ada, di luar kehidupan sosial kita.

Orde Ilahi adalah sistem penciptaan itu sendiri, di mana keberadaan dan penampilan dari segala sesuatu berhubungan hanya untuk penciptaan oleh Allah, menurut hubungan nyata dan untuk itu saja.

Selanjutnya, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-quran dan hadist Nabi, agama mengandung kebenaran dan veritas atas pemahaman umum manusia, yang telah dinyatakan kepada kita oleh Allah, dalam bahasa yang dapat kita pahami pada tingkat pemahaman kita.

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa ada hubungan yang nyata antara tindakan yang baik dan yang jahat, dan jenis kehidupan yang disediakan bagi manusia dalam keabadian atau kekekalan, hubungan yang menentukan kebahagiaan atau kesengsaraan hidup masa depan, sesuai dengan Kehendak Tuhan.

Atau dalam kata-kata sederhana dapat dikatakan, bahwa setiap tindakan baik atau jahat, membawa efek nyata dalam jiwa manusia yang menentukan karakter kehidupan masa depannya.

Apakah ia mengerti atau tidak, manusia adalah seperti seorang anak yang sedang dilatih. Dari instruksi guru, si anak mendengar apa-apa selain harus dan tidak boleh dilakukan, meskipun tidak memahami arti ia melakukan tindakan itu.

Namun, bila ia sudah akil balik (dewasa), sebagai akibat dari kebiasaan mental dan spiritual, kesalehan dicapai dalam hati selama periode pelatihan, dia mampu memiliki kehidupan sosial yang bahagia.

Namun, jika ia menolak untuk tunduk kepada petunjuk guru dia tidak akan mengalami apa-apa, selain kesengsaraan dan ketidakbahagiaan saja.

Atau dia seperti orang sakit, yang ketika dalam perawatan dokter, mengambil obat, makanan dan latihan khusus menurut petunjuk dokter, dan ia tidak memiliki tugas lain selain untuk mematuhi petunjuk dari dokternya.

Hasil ketundukan ini pada perintah-Nya, adalah penciptaan harmoni dalam konstitusi itu yang menjadi sumber kesehatan, serta setiap bentuk kenikmatan fisik dan kesenangan.

Sebagai rangkuman, kita dapat mengatakan, bahwa dalam diri manusia itu, memiliki kehidupan luar (jasmani) dan kehidupan batin (rohani), kehidupan spiritual, yang berhubungan dengan perbuatan dan tindakan, dan berkembang dalam kaitannya dengan mereka, dan bahwa kebahagiaan atau kesengsaraan itu di akhirat benar-benar bergantung pada kehidupan ini.

Al Qur’an juga menegaskan penjelasan ini. Di banyak ayat, menegaskan keberadaan kehidupan, semangat untuk berbudi luhur dan setia, hidup yang lebih tinggi dari semangat hidup saat ini, dan lebih menerangi dari jiwa manusia, seperti sekarang ini.

Hal ini menyatakan, bahwa tindakan manusia memiliki efek dalam jiwanya, yang akan tetap selalu bersamanya.

Dalam ucapan kenabian ada juga banyak referensi untuk saat ini. Misalnya, dalam hadis-i Mi’raj (hadits kenaikan malam), dimana petunjuk Nabi Allah dalam sabdanya:

“Ia yang ingin bertindak sesuai dengan kepuasan saya, harus memiliki tiga sifat: Dia harus menunjukkan rasa syukur, yang tidak dicampur dengan kebodohan. Sebuah peringatan atas mana debu kelupaan, tidak akan menyelesaikan. Dan cinta, di mana dia tidak lebih memilih cinta daripada makhluk, atas cinta kepada saya. Jika ia mengasihi Aku, Aku mencintainya, Aku akan membuka mata hatinya, dengan melihat keagungan-Ku dan tidak akan terhijab darinya. Aku akan mencurahkan kepada dirinya, dalam kegelapan malam dan cahaya hari sampai percakapan dan hubungan berakhir. Aku akan menjadikan dia mendengar Firman-Ku. Aku akan tunjukkan kepadanya, rahasia yang Aku telah terselubung dari makhluk-Ku. Aku akan pakaikan dia, dengan jubah kerendahan hati, sampai makhluk merasa malu. Dia akan berjalan di atas bumi dengan telah diampuni. Aku akan membuat hatinya memiliki kesadaran dan visi. Dan Aku tidak akan menyembunyikan, dari apa-apa di surga atau di neraka.. “

Abu ‘Abdallah ra. – mungkin Rasilullah SAWW (semoga damai dan berkah atasnya) – telah menceritakan bahwa Nabi menerima Haritsah bin Malik bin al-Nu’man dan bertanya :

“Bagaimana Engkau, ya Haritsah?”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah, aku hidup sebagai mukmin sejati.”
Nabi Allah berkata kepadanya, “Setiap sesuatu memiliki kebenaran sendiri Apakah kebenaran janji-Mu itu?.”
Dia berkata, “Oh Nabi Allah! Jiwa saya telah berbalik dari dunia. Malam-malamku dihabiskan dalam keadaan senantiasa terjaga, dan hari-hari ku dalam keadaan kehausan. Tampaknya seolah-olah aku menatap arsy (tahta) Tuhanku, dan kewajiban telah diselesaikan, dan seolah-olah aku menatap surga dimana orang saling mengunjungi di surga, dan seolah-olah aku mendengar teriakan orang-orang dari api neraka. “
Kemudian Nabi Allah berkata, “Ini adalah hamba Allah yang hatinya telah diterangi.”

Hal ini juga harus diingat, bahwa sering salah satu dari kita mengikuti panduan lain dalam hitungan, yang baik atau yang buruk, tanpa dirinya melaksanakan kata-katanya sendiri.

Tetapi, dalam kasus para nabi dan imam, yang bimbingan dan kepemimpinan adalah melalui perintah Ilahi, situasi seperti ini tidak pernah terjadi. Mereka sendiri mempraktikkan agama Illahi dalam kepemimpinannya. Kehidupan rohani terhadap umat manusia yang mereka jadikan pedoman adalah kehidupan rohani mereka sendiri, karena Allah tidak akan menempatkan bimbingan orang lain seorang pun , kecuali Dia telah menuntunnya sendiri. Khusus bimbingan Ilahi, tidak pernah bisa melanggar atau dilanggar.

Kesimpulan berikut dapat dicapai dari pembicaraan ini:
(1) Dalam setiap komunitas agama, para nabi dan imam adalah yang terdepan dalam kesempurnaan dan realisasi spiritual dan kehidupan keagamaan, mereka memberitahukan, karena mereka harus, dan mengamalkan ajaran Allah dan berpartisipasi dalam kehidupan rohani yang mereka yakini.
(2) Karena mereka adalah yang pertama diantara manusia dan para pemimpin dan panduan masyarakat, mereka adalah yang paling berbudi luhur atau berahlaq mulia sebagai manusia sempurna

(3) Orang yang atas bahunya terletak tanggung jawab untuk membimbing masyarakat melalui perintah Ilahi, dengan cara yang sama bahwa dia adalah buku kehidupan eksternal manusia dan contoh suri tauladan ibadah amaliah, juga merupakan pedoman bagi kehidupan rohani, dan dimensi batin kehidupan manusia dan praktik agama tergantung pada petunjuknya.

Ayatul Tathir hanya diturunkan kepada Ahlulbait(as) yang tidak termasuk isteri-isteri Nabi. Tentu sahaja, untuk membuktikan kebenaran ini, saya akan bawakan dalil dan hujah sahih dari sumber Sunni, untuk membuktikan kejahilan mereka.

Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33

Hadis Yang Menjelaskan Siapa Ahlul Bait Yang Disucikan Dalam Al Ahzab 33

Di dalam Al Quran, terdapat sebuah ayat yang cukup fenomenal dan menjadi kontroversi di antara pengikut Wahabi dan Pengikut Syiah. Syiah meyakini bahawa Ayatul Tahthir, surah Al Ahzab, ayat 33, yang diturunkan kepada Ahlulbait(as) bukannya turun untuk ister-isteri Nabi, manakala para Wahabi pula memegang pendapat bahawa ayat ini adalah untuk isteri-ister Nabi.

Mengikut perkembangan zaman, kerana mereka tidak dapat mempertahankan hujah mereka, kini mereka datang membawa penafsiran baru, iaitu, Ayatul Tathir sebenarnya diturunkan untuk isteri Nabi, tetapi Rasulullah(sawa) memperluaskan maksudnya Ahlulbait(as) agar ia meliputi Imam Ali, Fatimah, Imam Hassan dan Imam Hussain(Solawat ke atas mereka semua)

Di dalam perbahasan ini, saya akan membuktikan bahawa hujah dan penafsiran mereka ini adalah keliru, dan kebenarannya adalah Ayatul Tathir hanya diturunkan kepada Ahlulbait(as) yang tidak termasuk isteri-isteri Nabi. Tentu sahaja, untuk membuktikan kebenaran ini, saya akan bawakan dalil dan hujah sahih dari sumber Sunni, untuk membuktikan kejahilan mereka.

عن عمر بن أبي سلمة ربيب النبي صلى الله عليه و سلم قال لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه و سلم { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } في بيت أم سلمة فدعا فاطمة و حسنا و حسينا فجللهم بكساء و علي خلف ظهره فجللهم بكساء ثم قال اللهم هؤلاء أهل بيتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة وأنا معهم يا نبي الله ؟ قال أنت على مكانك وأنت على خير

Dari Umar bin Abi Salamah, anak tiri Nabi SAW yang berkata “Ayat ini turun kepada Nabi SAW [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] di rumah Ummu Salamah, kemudian Nabi SAW memanggil Fatimah, Hasan dan Husain dan menutup Mereka dengan kain dan Ali berada di belakang Nabi SAW, Beliau juga menutupinya dengan kain. Kemudian Beliau SAW berkata “ Ya Allah Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata “Apakah aku bersama mereka, Ya Nabi Allah?”. Beliau berkata “Kamu tetap pada kedudukanmu sendiri dan kamu dalam kebaikan”. [Shahih Sunan Tirmidzi no 3205].

Hujjah mereka ini batal dengan alasan berikut Para Wahabi Nasibi berdalil bahawa hadis di atas adalah menunjukkan ayat itu tidak turun kepada Ahlul Kisa semata-mata, tetapi diturunkan khas untuk para isteri Nabi. Namun atas dasar kecintaannya kepada ahli keluarganya, maka Rasulullah memasukkan Ahlul Kisa ke dalam Ahlulbait(as). Sayangnya, berikut adalah kenyataan yang membatalkan dalil mereka:

  • Hadis dari At Tarmizi di atas menunjukkan bahawa, ketika ayat ini turun, Rasulullah lantas memanggil Ahlul Kisa, dan bukanlah isteri-isteri baginda yang seterusnya. Jika benar ayat ini untuk ister-isteri Nabi, maka sudah tentu baginda akan memanggil isteri baginda yang selebihnya.
  • Ummu Salamah sendiri tidak merasakan bahawa diri beliau adalah termasuk dengan Ahlulbait, ini terbukti dengan pertanyaan beliau: [“Apakah Aku bersama Mereka, Ya Nabi Allah?”] bahkan dalam riwayat lain Ummu Salamah bertanya [“Apakah Aku termasuk Ahlul Bait?”].
  • Secara logiknya, jika ayat Quran itu diturunkan oleh Allah swt kepada para isteri Nabi, iaitu Ahlulbait(as) itu hanya khusus untuk isteri Nabi pada asalnya, maka apakah hak Rasulullah(sawa), atas dasar kecintaan peribadi beliau, dengan sengaja meluaskan Ahlulbait kepada ahlul Kisa, sedangkan sudah jelas, Ahlulbait di dalam surah itu untuk isteri Nabi?

Nasibi kemudiannya terpaksa membela diri mereka dengan hujah bahawa, Ummu Salamah ketika itu masih belum mengetahui bahawa ayat itu diturunkan kepada beliau, oleh kerana itu barulah beliau bertanya kepada Rasulullah(sawa) dan mengetahui bahawa yat itu turun untuk beliau. Hujah ini terbatal di atas sebab-sebab berikut:

  • Di awal tadi, hujah Nasibi mengatakan bahawa ayat ini diturunkan untuk isteri Nabi, dan kemudiannya, Rasulullah meluaskan Ahlulbait(as) kepada Ahlul Kisa. Jika benar apa yang mereka ucapkan, maka sepatutnya Rasulullah(sawa) apabila turun sahaja ayat itu, perkara pertama yang dibuat baginda adalah semestinya memberitahukan hal itu kepada Ummu Salamah(tambahan pula ayat ini turun di rumah beliau, logik la sikit) dan seterusnya memanggil isteri-isteri baginda yang lain untuk menerangkan bahawa ayat itu turun kepada mereka. Dan seterusnya, oleh kerana baginda mahu memasukkan Ahlul Kisa ke dalam Ahlulbait(as), barulah baginda memanggil keseluruhan Ahlul Kisa ke rumahnya Ummu Salamah. Mustahil untuk Seorang Rasul, mendahulukan kemahuannya dari kemahuan Allah, iaitu menyatakan ayat tersebut kepada orang yang di tuju
  • Jika sekiranya benar seperti apa yang dikatakan oleh Wahabi, iaitu  Ummu Salamah bertanya di dalam keadaan tidak mengetahui akan maksudnya Ahlulbait, lalu selepas beliau bertanya, Rasulullah memberi jawabannya. Maka apabila beliau meriwayatkan kepada tabi’in akan hadis ini, sudah pasti beliau sudah menjelaskan kepada tabi’in akan salah faham beliau berkaitan hal ini, iaitu tentang soalan yang beliau tanyakan, dan penjelasan Rasulullah(sawa).  Atau, mungkin beliau akan terus menerangkan Ahlulbait(as) itu adalah para isteri Rasulullah(sawa). Tetapi malangnya, kita dapati tidak wujud riwayat tentang penjelasan Rasulullah atau dari Ummu Salamah berkaitan hal ini, membuktikan hujah Wahabi itu kosong dan dipaksakan.

Ayatul Tahhir sememangnya diturunkan untuk Ahlulbait(as) iaitu di zaman Rasulullah(sawa) hanya Imam Ali, Fatimah Zahra, Imam Hassan dan Imam Hussain(sa), dan bukanlah seperti yang dihujahkan oleh Wahabi, iaitu konteks ayat ini adalah untuk isteri Nabi, dan kemasukan Ahlul Kisa hanyalah atas dasar kecintaan peribadi Nabi. Perhatikan riwayat Ummu Salamah berikut

عن حكيم بن سعد قال ذكرنا علي بن أبي طالب رضي الله عنه عند أم سلمة قالت فيه نزلت (إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا) قالت أم سلمة جاء النبي صلى الله عليه وسلم إلى بيتي, فقال: “لا تأذني لأحد”, فجاءت فاطمة, فلم أستطع أن أحجبها عن أبيها, ثم جاء الحسن, فلم أستطع أن أمنعه أن يدخل على جده وأمه, وجاء الحسين, فلم أستطع أن أحجبه, فاجتمعوا حول النبي صلى الله عليه وسلم على بساط, فجللهم نبي الله بكساء كان عليه, ثم قال: “وهؤلاء أهل بيتي, فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا, فنزلت هذه الآية حين اجتمعوا على البساط; قالت: فقلت: يا رسول الله: وأنا, قالت: فوالله ما أنعم وقال: “إنك إلى خير”

Dari Hakim bin Sa’ad yang berkata “kami menyebut-nyebut Ali bin Abi Thalib RA di hadapan Ummu Salamah. Kemudian ia [Ummu Salamah] berkata “Untuknyalah ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun . Ummu Salamah berkata “Nabi SAW datang ke rumahku dan berkata “jangan izinkan seorangpun masuk”. Lalu datanglah Fathimah maka aku tidak dapat menghalanginya menemui ayahnya, kemudian datanglah Hasan dan aku tidak dapat melarangnya menemui datuknya dan Ibunya”. Kemudian datanglah Husain dan aku tidak dapat mencegahnya. Maka berkumpullah mereka di sekeliling Nabi SAW di atas hamparan kain. Lalu Nabi SAW menyelimuti mereka dengan kain tersebut kemudian bersabda “Merekalah Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Lalu turunlah ayat tersebut ketika mereka berkumpul di atas kain. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah SAW dan aku?”. Demi Allah, beliau tidak mengiyakan. Beliau hanya berkata “sesungguhnya engkau dalam kebaikan”. [Tafsir At Thabari 22/12 no 21739]

Riwayat Hakim bin Sa’ad di atas dikuatkan oleh riwayat dengan matan yang lebih singkat dari Ummu Salamah iaitu

حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata : Ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun ditujukan untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/227]

Riwayat Hakim bin Sa’ad ini sanadnya shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat

  • Fahd, Beliau adalah Fahd bin Sulaiman bin Yahya dengan kuniyah Abu Muhammad Al Kufi. Beliau adalah seorang yang terpercaya (tsiqah) dan kuat (tsabit) sebagaimana dinyatakan oleh Adz Dzahabi  dan Ibnu Asakir [Tarikh Al Islam 20/416 dan Tarikh Ibnu Asakir 48/459 no 5635]
  • Usman bin Abi Syaibah adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Main berkata ”ia tsiqat”, Abu Hatim berkata ”ia shaduq(jujur)” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7  no 299]
  • Jarir bin Abdul Hamid, beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Main, Al Ajli, Imam Nasa’i, Al Khalili dan Abu Ahmad Al Hakim. Ibnu Kharrasy menyatakannya Shaduq dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 2 no 116]
  • Al ’Amasy adalah Sulaiman bin Mihran Al Kufi. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Main, An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]
  • Ja’far bin Abdurrahman disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Ta’jil Al Manfaah 1/ 387].  Imam Bukhari menyebutkan biografinya seraya mengutip bahawa dia seorang Syaikh Wasith tanpa menyebutkan cacatnya [Tarikh Al Kabir juz 2 no 2174]. Disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat bahwa ia meriwayatkan hadis dari Hakim bin Saad dan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Al ’Amasy. [Ats Tsiqat juz 6 no 7050]
  • Hakim bin Sa’ad, sebagaimana disebutkan bahwa beliau adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, dan perawi Imam Nasa’i. Ibnu Main dan Abu Hatim berkata bahwa ia tempat kejujuran dan ditulis hadisnya. Dalam kesempatan lain Ibnu Main berkata laisa bihi ba’sun(yang berarti tsiqah). Al Ajli menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 787]

Riwayat Ummu Salamah ini dikuatkan oleh riwayat Abu Sa’id Al Khudri sebagai berikut

حدثنا الحسن بن أحمد بن حبيب الكرماني بطرسوس حدثنا أبو الربيع الزهراني حدثنا عمار بن محمد عن سفيان الثوري عن أبي الجحاف داود بن أبي عوف عن عطية العوفي عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه في قوله عز و جل إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قال نزلت في خمسة في رسول الله صلى الله عليه و سلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم

Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Rabi’ Az Zahrani yang berkata telah menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad dari Sufyan Ats Tsawri dari Abi Jahhaf Daud bin Abi ‘Auf dari Athiyyah Al ‘Aufiy dari Abu Said Al Khudri RA bahwa firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] turun untuk lima orang iaitu Rasulullah SAW ,Ali, Fathimah ,Hasan dan Husain radiallahuanhum [Mu’jam As Shaghir Thabrani 1/231 no 375]

Riwayat Abu Sa’id ini sanadnya hasan karena Athiyyah Al Aufy seorang yang hadisnya hasan dan Hasan Al Kirmani adalah seorang yang shaduq la ba’sa bihi.

  • Hasan bin Ahmad bin Habib Al Kirmani dia seorang yang shaduq seperti yang disebutkan Adz Dzahabi [Al Kasyf no 1008]. Ibnu Hajar menyatakan ia la ba’sa bihi [tidak ada masalah] kecuali hadisnya dari Musaddad [At Taqrib 1/199]
  • Abu Rabi’ Az Zahrani yaitu Sulaiman bin Daud seorang Al Hafizh [Al Kasyf no 2088] dan Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/385]
  • Umar bin Muhammad Ats Tsawri seorang yang tsiqah, ia telah dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, Ali bin Hujr, Abu Ma’mar Al Qathi’I, Ibnu Saad dan Ibnu Syahin. Disebutkan dalam Tahrir At Taqrib kalau ia seorang yang tsiqat [Tahrir Taqrib At Tahdzib no 4832].
  • Sufyan Ats Tsawri seorang Imam Al Hafizh yang dikenal tsiqah. Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Imam [Al Kasyf no 1996] dan Ibnu Hajar menyatakan ia Al hafizh tsiqah faqih ahli ibadah dan hujjah [At Taqrib 1/371]
  • Daud bin Abi Auf Abu Jahhaf, ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in dan Ahmad bin Hanbal. Abu Hatim berkata “hadisnya baik” dan An Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”. [At Tahdzib juz 3 no 375] dan Ibnu Syahin telah memasukkan Abul Jahhaf sebagai perawi tsiqah [Tarikh Asma’ Ats Tsiqat no 347].

Athiyyah Al Aufy adalah seorang yang hadisnya hasan

Ummu Salamah sendiri tidak memahami kejadian itu seperti yang di fahami oleh Wahabi. Malah Ummu Salamah mengakui bahawa beliau bukanlah dari Ahlulbait(as), dan turut menguatkan kenyataan ini adalah sabda Nabi(sawa) kepada beliau: “kamu dalam kebaikan”.

عن أم سلمة رضي الله عنها أنها قالت : في بيتي نزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قالت : فأرسل رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى علي و فاطمة و الحسن و الحسين رضوان الله عليهم أجمعين فقال : اللهم هؤلاء أهل بيتي قالت أم سلمة : يا رسول الله ما أنا من أهل البيت ؟ قال : إنك أهلي خير و هؤلاء أهل بيتي اللهم أهلي أحق

Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Turun dirumahku ayat [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait] kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali Fathimah Hasan dan Husain radiallahuanhu ajma’in dan berkata “Ya Allah merekalah Ahlul BaitKu”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk Ahlul Bait?”. Rasul SAW menjawab “kamu keluargaku yang baik dan merekalah Ahlul BaitKu Ya Allah keluargaku yang haq”. [Al Mustadrak 2/451 no 3558 dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi].

حدثنا الحسين بن الحكم الحبري الكوفي ، حدثنا مخول بن مخول بن راشد الحناط ، حدثنا عبد الجبار بن عباس الشبامي ، عن عمار الدهني ، عن عمرة بنت أفعى ، عن أم سلمة قالت : نزلت هذه الآية في بيتي : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ، يعني في سبعة جبريل ، وميكائيل ، ورسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن ، والحسين عليهم السلام وأنا على باب البيت فقلت : يا رسول الله ألست من أهل البيت ؟ قال إنك من أزواج النبي عليه السلام  وما قال : إنك من أهل البيت

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi yang berkata telah menceritakan kepada kami Mukhawwal bin Mukhawwal bin Rasyd Al Hanath yang berkata telah menceritakan kepada kami Abdul Jabar bin ‘Abbas Asy Syabami dari Ammar Ad Duhni dari Umarah binti Af’a dari Ummu Salamah yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] dan ketika itu ada tujuh penghuni rumah yaitu Jibril Mikail, Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Aku berada di dekat pintu lalu aku berkata “Ya Rasulullah, apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?” Rasulullah SAW berkata “kamu termasuk istri Nabi Alaihis Salam”. Beliau tidak mengatakan “sesungguhnya kamu termasuk Ahlul Bait”. [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/228]

Riwayat Ummu Salamah ini memiliki sanad yang shahih diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat

  • Husain bin Hakam Al Hibari Al Kufi adalah seorang yang tsiqat [Su’alat Al Hakim no 90] telah meriwayatkan darinya para perawi tsiqat dan hafiz seperti Ali bin Abdurrahman bin Isa, Abu Ja’far Ath Thahawi dan Khaitsamah bin Sulaiman.
  • Mukhawwal adalah Mukhawwal bin Ibrahim bin Mukhawwal bin Rasyd disebutkan Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 9 no 19021]. Abu Hatim termasuk yang meriwayatkan darinya dan Abu Hatim menyatakan ia shaduq [Al Jarh Wat Ta’dil 8/399 no 1831].
  • Abdul Jabbar bin Abbas disebutkan oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Dawud dan Al Ajli bahwa tidak ada masalah padanya. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat [At Tahdzib juz 6 no 209]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Taqrib 1/552]. Adz Dzahabi menyatakan ia seorang syiah yang shaduq [Al Kasyf no 3085]
  • Ammar Ad Duhni yaitu Ammar bin Muawiyah Ad Duhni dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, An Nasa’i, Abu Hatim dan Ibnu Hibban [At Tahdzib juz 7 no 662]. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 1/708] tetapi ternyata pernyataan ini keliru dan telah dibetulkan dalam Tahrir At Taqrib bahawa Ammar Ad Duhni adalah seorang yang tsiqat [ Tahrir At Taqrib no 4833]
  • Umarah binti Af’a termasuk dalam thabaqat tabiin wanita penduduk kufah. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat juz 5 no 4880]. Hanya saja Ibnu Hibban salah menuliskan nasabnya. Umarah juga dikenali dengan sebutan Umarah Al Hamdaniyah [seperti yang diriwayatkan oleh Ath Thahawi dalam Musykil Al Atsar]. Al Ajli menyatakan ia tsiqat [Ma’rifat Ats Tsiqah no 2345].

عن أم سلمه رضي الله عنها قالت نزلت هذه الاية في بيتي إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قلت يارسول الله ألست من أهل البيت قال إنك إلى خير إنك من أزواج رسول الله صلى الله عليه وسلم قالت وأهل البيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين رضي الله عنهم أجمعين

Dari Ummu Salamah RA yang berkata “Ayat ini turun di rumahku [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Aku berkata “wahai Rasulullah apakah aku tidak termasuk Ahlul Bait?. Beliau SAW menjawab “kamu dalam kebaikan kamu termasuk istri Rasulullah SAW”. Aku berkata “Ahlul Bait adalah Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain radiallahuanhum ajma’in”.[Al Arba’in Fi Manaqib Ummahatul Mukminin Ibnu Asakir hal 106]

Ibnu Asakir setelah meriwayatkan hadis ini, telah menyatakan bahawa hadis ini shahih. Hadis ini juga menjadi bukti bahawa Ummu Salamah sendiri mengakui bahwa Ahlul Bait yang dimaksudkan dalam Al Ahzab 33 firman Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya] adalah Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.

Seperti yang kita ketahui, kenyataan Wahabi telah terbukti bathil dengan dalil-dalil sokongan yang telah diberikan. Tambahan pula, saya akan sertakan hadis, bahawa Ahlul Kisa sendiri mengakui bahawa merekalah Ahlulbait yang mana kepada mereka ayatul Tathir.

ياأهل العراق اتقوا الله فينا, فإِنا أمراؤكم وضيفانكم, ونحن أهل البيت الذي قال الله تعالى: {إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيراً} قال فما زال يقولها حتى ما بقي أحد في المسجد إِلا وهو يحن بكاءً

Wahai penduduk Iraq bertakwalah kepada Allah tentang kami, karena kami adalah pemimpin kalian dan tamu kalian dan kami adalah Ahlul Bait yang difirmankan oleh Allah SWT [Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya]. Beliau terus mengingatkan mereka sehingga tidak ada satu orangpun di dalam masjid yang tidak menangis [Tafsir Ibnu Katsir 3/495]

Riwayat Imam Hasan ini memiliki sanad yang shahih. Ibnu Katsir membawakan sanad berikut

قال ابن أبي حاتم: حدثنا أبي, حدثنا أبو الوليد, حدثنا أبو عوانة عن حصين بن عبد الرحمن عن أبي جميلة قال: إِن الحسن بن علي

Ibnu Abi Hatim berkata telah menceritakan kepada kami Ayahku yang berkata telah menceritakan  kepada kami Abu Walid yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Awanah dari Hushain bin Abdurrahman dari Abi Jamilah bahwa Hasan bin Ali berkata [Tafsir Ibnu Katsir 3/495]

Ibnu Abi Hatim dan Abu Hatim telah terkenal sebagai ulama yang terpercaya dan hujjahm manakla perawi lainnya adalah perawi tsiqah

  • Abu Walid adalah Hisyam bin Abdul Malik seorang Hafizh Imam Hujjah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [2/267]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat [Al Kasyf no 5970]
  • Abu Awanah adalah Wadhdhah bin Abdullah Al Yaskuri. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat tsabit [At Taqrib 2/283]. Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqah [Al Kasyf no 6049].
  • Hushain bin Abdurrahman adalah seorang yang tsiqah. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqah [At Taqrib 1/222] dan Adz Dzahabi menyatakan ia tsiqat hujjah [Al Kasyf no 1124]
  • Abu Jamilah adalah Maisarah bin Yaqub seorang tabiin yang melihat Ali dan meriwayatkan dari Ali dan Hasan bin Ali. Ibnu Hibban menyebutkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 693]. Ibnu Hajar menyatakan ia maqbul [At Taqrib 2/233]. Pernyataan Ibnu Hajar keliru karena Abu Jamilah adalah seorang tabiin dan telah meriwayatkan darinya sekumpulan perawi tsiqah bahkan Ibnu Hibban menyebutnya dalam Ats Tsiqat maka dia adalah seorang yang shaduq hasanul hadis seperti yang dibetulkan dalam Tahrir At Taqrib [Tahrir At Taqrib no 7039].

Cukuplah setakat ini penulisan ini, kerana bagi mereka yang benar-benar menyayangi Ahlulbait(as) dan bersetuju dengan konsep Imamah, maka tidak ada masalah untuk menerima hujah ini. Yang bermasalah ialah mereka yang buta dalam kecintaan tanpa sebab kepada para sahabat, mereka yang fanatik terhadap pegangan nenek moyang.. Entah mengapa mereka sangat keberatan jika Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain mendapatkan keistimewaan dan keutamaan yang khusus, tetapi dalam masa yang sama, meletakkan sifat kemaksuman kepada buah hati mereka, Muawiyah dan Yazid. Apapun cara mereka, kebathilan akan selalu terungkap dan dikalahkan oleh kebenaran.

Pengakuan Ummu Salamah : Ahlul Bait Dalam Al Ahzab 33 Adalah Ahlul Kisa’

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya soal Al Ahzab 33 atau ayat tathiir. Jika sebelumnya Ummu Salamah mengakui kalau dirinya sebagai istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan sebagai ahlul bait yang dimaksud maka kali ini Ummu Salamah mengakui kalau ahlul bait dalam Al Ahzab 33 ditujukan untuk Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alihi wasallam], Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain.

وأنبأنا أبو محمد عبد الله بن صالح البخاري قال حدثنا الحسن بن علي الحلواني قال حدثنا يزيد بن هارون قال حدثنا عبد الملك بن أبي سليمان عن عطاء عن أم سلمة وعن داود بن أبي عوف عن شهر بن حوشب عن أم سلمة  وعن أبي ليلى الكندي عن أم سلمة رحمها الله بينما النبي صلى الله عليه وسلم في بيتي على منامة له عليها كساء خيبري إذ جاءته فاطمة رضي الله عنها ببرمة فيها خزيرة فقال لها النبي صلى الله عليه وسلم ادعي زوجك وابنيك  قالت : فدعتهم فاجتمعوا على تلك البرمة يأكلون منها ، فنزلت الآية : إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا  فأخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم فضل الكساء فغشاهم مهيمه إياه ، ثم أخرج يده فقال بها نحو السماء ، فقال اللهم هؤلاء أهل بيتي وحامتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا  قالت : فأدخلت رأسي في الثوب ، فقلت : رسول الله أنا معكم ؟ قال إنك إلى خير إنك إلى خير قالت : وهم خمسة : رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وعلي ، وفاطمة ، والحسن والحسين رضي الله عنهم

Telah memberitakan kepada kami Abu Muhammad ‘Abdullah bin Shalih Al Bukhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Hasan bin ‘Ali Al Hulwaaniy yang berkata telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Malik bin Abi Sulaiman dari Atha’ dari Ummu Salamah dan dari Dawud bin Abi ‘Auf dari Syahr bin Hawsyaab dari Ummu Salamah dan dari Abu Laila Al Kindiy dari Ummu Salamah “sesungguhnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berada di rumahku di atas tempat tidur yang beralaskan kain buatan Khaibar. Kemudian datanglah Fathimah dengan membawa bubur, maka Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “panggillah suamimu dan kedua putramu”. [Ummu Salamah] berkata “kemudian ia memanggil mereka dan ketika mereka berkumpul makan bubur tersebut turunlah ayat Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengambil sisa kain tersebut dan menutupi mereka dengannya, kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengulurkan tangannya dan berkata sembari menghadap langit “ya Allah mereka adalah ahlul baitku dan kekhususanku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah sesuci-sucinya. [Ummu Salamah] berkata “aku memasukkan kepalaku kedalam kain dan berkata “Rasulullah, apakah aku bersama kalian?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “kamu menuju kebaikan kamu menuju kebaikan. [Ummu Salamah] berkata “mereka adalah lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Ali, Fathimah, Hasan dan Husein raidallahu ‘anhum” [Asy Syari’ah Al Ajjuri 4/383 no 1650]

Hadis ini sanadnya shahih. Diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Syahr bin Hausab, ia perawi yang hadisnya hasan dengan penguat dari yang lain. Disini ia telah dikuatkan oleh riwayat Atha’ dari Ummu Salamah dan riwayat Abu Laila Al Kindiy dari Ummu Salamah.

  • Abu Muhammad ‘Abdullah bin Shalih Al Bukhari adalah ulama Baghdad yang tsiqat. Abu Ali Al Hafizh berkata “tsiqat ma’mun”. Abu Bakar Al Ismailiy berkata “tsiqat tsabit” [Tarikh Baghdad 11/159 no 5064]. Adz Dzahabi berkata “Imam shaduq” [As Siyar 14/243 no 145]
  • Hasan bin Ali Al Hulwaaniy adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah yang tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat tsabit”. Nasa’i berkata “tsiqat”. Al Khatib berkata “tsiqat hafizh”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 2 no 530]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat hafizh” [At Taqrib 1/207]
  • Yazid bin Harun bin Waadiy adalah perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Ibnu Madini berkata “ia termasuk orang yang tsiqat” dan terkadang berkata “aku tidak pernah melihat orang lebih hafizh darinya”. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Al Ijli berkata “tsiqat tsabit dalam hadis”. Abu Bakar bin Abi Syaibah berkata “aku belum pernah bertemu orang yang klebih hafizh dan mutqin dari Yazid”. Abu Hatim menyatakan ia tsiqat imam shaduq. Ibnu Sa’ad berkata “tsiqat banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Yaqub bin Syaibah menyatakan tsiqat. Ibnu Qani’ berkata “tsiqat ma’mun” [At Tahdzib juz 11 no 612]
  • Abdul Malik bin Abi Sulaiman adalah perawi Bukhari dalam Ta’liq Shahih Bukhari, Muslim dan Ashabus Sunan. Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnu Ammar, Yaqub bin Sufyan, Nasa’i, Ibnu Sa’ad, Tirmidzi menyatakan ia tsiqat. Al Ijli berkata ”tsabit dalam hadis”. Abu Zur’ah berkata ”tidak ada masalah padanya” [At Tahdzib juz 6 no 751]. Ibnu Hajar berkata ”shaduq lahu awham” [At Taqrib 1/616] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib kalau Abdul Malik bin Abi Sulaiman seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4184]
  • Atha’ bin Abi Rabah adalah perawi kutubus sittah tabiin yang dikenal tsiqat. Ibnu Sa’ad berkata “dia seorang yang tsiqat faqih alim dan banyak meriwayatkan hadis”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 7 no 385]. Ibnu Hajar berkata “tsiqat memiliki keutamaan dan banyak melakukan irsal” [At Taqrib 1/674]. Riwayat Atha’ dari Ummu Salamah dikatakan mursal tetapi hal ini tidak memudharatakan hadisnya karena ia dikuatkan oleh riwayat Syahr dan Abu laila Al Kindiy. Selain itu dalam riwayat lain disebutkan kalau Atha’ meriwayatkan hadis kisa’ dari Umar bin Abu Salamah.
  • Dawud bin Abi ‘Auf adalah perawi Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah. Sufyan menyatakan ia tsiqat. Ahmad dan Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Abu Hatim berkata “shalih al hadits”. Nasa’i berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Adiy berkata ia berlebihan dalam tasyayyu’ kebanyakan hadisnya tentang ahlul bait di sisiku ia tidak kuat dan tidak bisa dijadikan hujjah [At Tahdzib juz 3 no 375] Ibnu Hajar berkata “shaduq syiah pernah salah” [At Taqrib 1/281]
  • Syahr bin Hausab perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Muslim dan Ashabus Sunan. Ia seorang yang diperbincangkan sebagian melemahkannya dan sebagian menguatkannya. Musa bin Harun berkata “dhaif”. Nasa’i berkata “tidak kuat”. Ahmad berkata “tidak ada masalah padanya”. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Al Ijli menyatakan tsiqat. Yaqub bin Syaibah berkata “tsiqat sebagian mencelanya”. As Saji berkata “dhaif tidak hafizh”.Abu Zur’ah berkata “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim berkata “tidak bisa dijadikan hujjah”. Ibnu Adiy berkata “tidak kuat dalam hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah”. Ibnu Hibban berkata “ia sering meriwayatkan dari perawi tsiqat hadis-hadis mu’dhal dan sering meriwayatkan dari perawi tsabit hadis yang terbolak-balik. Al Baihaqi berkata “dhaif” [At Tahdzib juz 4 no 635]. Ibnu Hajar berkata “shaduq banyak melakukan irsal dan wahm” [At Taqrib 1/423]. Adz Dzahabi memasukkannya dalam Man Tukullima Fiihi Wa Huwa Muwatstsaq no 162.
  • Abu Laila Al Kindiy adalah perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Ma’in menyatakan tsiqat. Al Ijli berkata tabiin kufah yang tsiqat [At Tahdzib juz 12 no 995]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 2/460]. Terdapat dua nukilan dari Ibnu Ma’in yaitu riwayat Ahmad bin Sa’d bin Abi Maryam dari Ibnu Ma’in bahwa ia tsiqat dan riwayat dari Muhammad bin Utsman bin Abi Syaibah dari Ibnu Ma’in bahwa ia dhaif, yang rajih adalah riwayat Ibnu Abi Maryam karena ia seorang yang tsiqat sedangkan Ibnu Abi Syaibah diperbincangkan ia telah dilemahkan oleh sebagian ulama.

Hadis di atas dengan jelas menyebutkan bahwa Ahlul Bait yang dimaksudkan dalam Al Ahzab 33 adalah lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husein. Hal ini dikuatkan oleh riwayat Syahr bin Hausab berikut

أَخْبَرَنَا أَبُو سَعْدٍ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَفْصٍ الْمَالِينِيُّ ، أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَسَنُ بْنُ رَشِيقٍ بِمِصْرَ ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ سَعِيدِ بْنِ بَشِيرٍ الرَّازِيُّ ، حَدَّثَنِي أَبُو أُمَيَّةَ عَمْرُو بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الأُمَوِيُّ ، حَدَّثَنَا عَمِّي عُبَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ ، عَنِ الثَّوْرِيِّ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ ، عَنْ زُبَيْدٍ ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، : أَنَّ رسول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” دَعَا عَلِيًّا ، وَفَاطِمَةَ ، وَحَسَنًا ، وَحُسَيْنًا ، فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ ، ثُمَّ تَلا : إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا  قَالَ وَفِيهِمْ أُنْزِلَتْ

Telah mengabarkan kepada kami Abu Sa’d Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Hafsh Al Maaliiniy yang berkata telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad Hasan bin Rasyiiq di Mesir yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Sa’id bin Basyiir Ar Raaziy yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu Umayyah ‘Amru bin Yahya bin Sa’id Al Umawiy yang berkata telah menceritakan kepada kami pamanku ‘Ubaid bin Sa’id dari Ats Tsawriy dari ‘Amru bin Qais dari Zubaid dari Syahr bin Hausab dari Ummu Salamah radiallahu ‘anha bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husein kemudian menyelimutinya dengan kain kemudian membaca “Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya” dan berkata “untuk merekalah turunnya ayat” [Muudhih Awham Jami’ Wal Tafriq Al Khatib Baghdad 2/281]

Riwayat ini sanadnya shahih hingga Syahr bin Hausab. Diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya.

  • Abu Sa’d Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdullah bin Hafsh Al Maaliniy adalah seorang yang tsiqat. Al Khatib berkata “tsiqat shaduq mutqin baik dan shalih” [Tarikh Baghdad 6/24 no 2511]
  • Abu Muhammad Hasan bin Rasyiiq adalah Imam Muhadis shaduq musnad Mesir sebagaimana yang disebutkan oleh Adz Dzahabi [As Siyar 16/280 no 197]
  • Ali bin Sa’id bin Basyiir Ar Raziiy adalah seorang yang tsiqat pernah melakukan kesalahan dan dibicarakan dalam sirahnya [Irshad Al Qadiy no 679]
  • ‘Amru bin Yahya bin Sa’id Al Umawiy dengan kuniyah Abu Umayah adalah seorang yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/749]
  • Ubaid bin Sa’id Al Umawiy adalah seorang yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat” [At Taqrib 1/644]
  • Sufyan Ats Tsawriy adalah seorang yang disepakati tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat hafizh, faqih, ahli ibadah imam dan hujjah” [At Taqrib 1/371]
  • ‘Amru bin Qais Al Mala’iy seorang yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat mutqin ahli ibadah” [At Taqrib 1/744]
  • Zubaid bin Harits Al Yaamiy adalah seorang yang tsiqat. Ibnu Hajar berkata “tsiqat tsabit ahli ibadah” [At Taqrib 1/308]

Riwayat Syahr bin Hausab di atas menyebutkan kalau ayat tathiir tersebut memang turun untuk Ahlul Kisa’ yang dipanggil oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hal ini senada dengan riwayat berikut

أخبرنا أبو القاسم علي بن إبراهيم أنا أبو الحسين محمد بن عبد الرحمن بن أبي نصر أنا يوسف بن القاسم نا علي بن الحسن بن سالم نا أحمد بن يحيى الصوفي نا يوسف بن يعقوب الصفار نا عبيد بن سعيد القرشي عن عمرو بن قيس عن زبيد عن شهر عن أم سلمة عن النبي (صلى الله عليه وسلم) في قول الله عز وجل ” إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ” قال الحسن والحسين وفاطمة وعلي عليهم السلام فقالت أم سلمة يا رسول الله وأنا قال أنت إلى خير

Telah mengabarkan kepada kami Abu Qasim ‘Ali bin Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Husain Muhammad bin ‘Abdurrahman bin Abi Nashr yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Qaasim yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Hasan bin Saalim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yahya Ash Shufiy  yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ya’qub Ash Shaffaar yang berkata telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Sa’id Al Qurasiy dari ‘Amru bin Qais dari Zubaid dari Syahr bin Hausab dari Ummu Salamah dari Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang firman Allah ‘azza wa jalla “Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya” Beliau berkata “Hasan, Husain, Fathimah dan Ali [‘alaihimus salam]”. Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah, dan aku?” Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau menuju kebaikan” [Tarikh Ibnu Asakir 14/139]

Abul Qasim ‘Ali bin Ibrahim adalah Syaikh Al Imam muhaddis yang tsiqat dan terhormat. Ibnu Asakir berkata “tsiqat” [As Siyar 19/359 no 212]. Abu Husain Muhammad bin Abi Nashr An Nursiy adalah Syaikh Al Alim Al Muqri dimana Al Khatib berkata “tsiqat” [As Siyar 18/84 no 37]. Yusuf bin Qasim Al Qadhiy adalah Al Imam Al Hafizh Al Muhaddis, Abdul Aziz bin Ahmad Al Kattaniy menyatakan ia tsiqat [As Siyar 16/361 no 258]. ‘Ali bin Hasan bin Salim disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat [Ats Tsiqat Ibnu Hibban juz 3 no 14514]. Ahmad bin Yahya bin Zakaria Al Audiy Ash Shufiy adalah ahli ibadah yang tsiqat [At Taqrib 1/48]. Yusuf bin Ya’qub Ash Shaffar seorang yang tsiqat [At Taqrib 2/348]. Ubaid bin Sa’di dan ‘Amru bin Qais telah disebutkan bahwa mereka tsiqat. Riwayat ini menjadi penguat bagi riwayat sebelumnya dan sangat jelas menyatakan kalau Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat tathiir adalah Imam Ali, Sayyidah Fathimah, Imam Hasan dan Imam Husain.

حدثني إسحاق بن الحسن بن ميمون الحربي ، ثنا أبو غسان ، ثنا فضيل ، عن عطية ، عن أبي سعيد الخدري عن أم سلمة ، قالت : نزلت هذه الآية في بيتي إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا قلت : يا رسول الله ألست من أهل البيت ؟ قال : إنك إلى خير ، إنك من أزواج رسول الله قالت : وأهل البيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وعلي وفاطمة والحسن والحسين عليهم السلام

Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Hasan bin Maimun Al Harbiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Ghasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Fudhail dari Athiyah dari Abu Sa’id Al Khudri dari Ummu Salamah yang berkata ayat ini turun di rumahku ““Sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. [Ummu Salamah] berkata “wahai Rasulullah bukankah aku adalah ahlul baitmu?”. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “kamu menuju kebaikan kamu termasuk istri Rasulullah” [Ummu Salamah] berkata “dan ahlul bait adalah Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain” [Al Ghailaniyat Abu Bakar Asy Syafi’i no 237]

Abu Bakar Asy Syafi’i adalah Muhammad bin ‘Abdullah bin Ibrahim seorang Imam muhaddis mutqin hujjah faqih musnad Irak. Al Khatib berkata “tsiqat tsabit banyak meriwayatkan hadis”. Daruquthni berkata “tsiqat ma’mun” [As Siyar 16/40-42 no 27]. Ishaq bin Hasan bin Maimun Al Harbi seorang yang tsiqat. Ibrahim Al Harbi menyatakan “tsiqat”. Abdullah bin Ahmad berkata “tsiqat”. Daruquthni juga menyatakan tsiqat [Tarikh Baghdad 7/413 no 3369]. Malik bin Ismail Abu Ghassan adalah perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Al Ijli, Abu Hatim dan Yaqub bin Syaibah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Sa’ad menyatakan ia shaduq. Ibnu Hibban dan Ibnu Syahin memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Tahdzib juz 10 no 2]. Fudhail bin Marzuq termasuk perawi Bukhari [dalam Juz Raf’ul Yadain], Muslim dan Ashabus Sunan. Ats Tsawriy menyatakan ia tsiqat. Ibnu Uyainah menyatakan ia tsiqat. Ibnu Ma’in berkata “tsiqat”. Abu Hatim menyatakan ia shalih shaduq banyak melakukan kesalahan dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nasa’i berkata “dhaif”. Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. Al Ijli menyatakan ia shaduq tasyayyu’ [At Tahdzib juz 8 no 546]. Pendapat yang rajih Fudhail seorang yang hadisnya hasan pembicaraan terhadapnya tidak menurunkan derajatnya dari derajat hasan. Ibnu Ady berkata “Fudhail hadisnya hasan kukira tidak ada masalah padanya” [Al Kamil Ibnu Adiy 6/19].

Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah Al Aufiy adalah tabiin yang hadisnya hasan. Ibnu Sa’ad berkata ”seorang yang tsiqat, insya Allah memiliki hadis-hadis yang baik dan sebagian orang tidak menjadikannya sebagai hujjah” [Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/304]. Al Ijli berkata ”tsiqat dan tidak kuat” [Ma’rifat Ats Tsiqat no 1255]. Ibnu Syahin memasukkannya sebagai perawi tsiqat dan mengutip Yahya bin Ma’in yang berkata ”tidak ada masalah padanya” [Tarikh Asma Ats Tsiqat no 1023]. At Tirmidzi telah menghasankan banyak hadis Athiyyah Al Aufiy dalam kitab Sunan-nya. Sebagian ulama mendhaifkannya seperti Sufyan, Ahmad dan Ibnu Hibban serta yang lainnya dengan alasan tadlis syuyukh. Telah kami buktikan kalau tuduhan ini tidaklah tsabit sehingga yang rajih adalah penta’dilan terhadap Athiyyah. Satu-satunya kelemahan pada Athiyah bukan terletak pada ‘adalah-nya tetapi pada dhabit-nya. Abu Zur’ah berkata “layyin”. Abu Hatim berkata “dhaif ditulis hadisnya dan Abu Nadhrah lebih aku sukai daripadanya” [At Tahdzib juz 7 no 414].

حدثنا فهد ثنا عثمان بن أبي شيبة ثنا حرير بن عبد الحميد عن الأعمش عن جعفر بن عبد الرحمن البجلي عن حكيم بن سعيد عن أم سلمة قالت نزلت هذه الآية في رسول الله وعلي وفاطمة وحسن وحسين  إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

Telah menceritakan kepada kami Fahd yang berkata telah menceritakan kepada kami Usman bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir bin Abdul Hamid dari ’Amasy dari Ja’far bin Abdurrahman Al Bajali dari Hakim bin Saad dari Ummu Salamah yang berkata Ayat ini turun untuk Rasulullah, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain yaitu Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya [Musykil Al Atsar Ath Thahawi 1/227]

Riwayat Hakim bin Sa’ad ini diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat kecuali Ja’far bin ‘Abdurrahman Al Bajaliy, ia dimasukkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat.

  •  Fahd bin Sulaiman bin Yahya dengan kuniyah Abu Muhammad Al Kufi. Beliau adalah seorang yang tsiqat dan tsabit sebagaimana dinyatakan oleh Adz Dzahabi  dan Ibnu Asakir [Tarikh Al Islam 20/416 dan Tarikh Ibnu Asakir 48/459 no 5635]
  • Usman bin Abi Syaibah adalah perawi Bukhari, Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah. Ibnu Main berkata ”ia tsiqat”, Abu Hatim berkata ”ia shaduq” dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [Tahdzib At Tahdzib juz 7  no 299]
  • Jarir bin Abdul Hamid, beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Main, Al Ajli, Imam Nasa’i, Al Khalili dan Abu Ahmad Al Hakim. Ibnu Kharrasy menyatakannya Shaduq dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 2 no 116]
  • Al ’Amasy adalah Sulaiman bin Mihran Al Kufi. Beliau telah dinyatakan tsiqat oleh Al Ajli, Ibnu Main, An Nasa’i dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib juz 4 no 386]
  • Ja’far bin Abdurrahman disebutkan oleh Ibnu Hajar bahwa Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat [At Ta’jil Al Manfaah 1/ 387]. Imam Bukhari menyebutkan biografinya seraya mengutip Al A’masy yang berkata “telah menceritakan kepada kami Ja’far bin ‘Abdurrahman Abu Abdurrahman Al Anshari Syaikh yang aku temui di Wasith” [Tarikh Al Kabir juz 2 no 2174]. Disebutkan Ibnu Hibban dalam Ats Tsiqat bahwa ia meriwayatkan hadis dari Hakim bin Saad dan diantara yang meriwayatkan darinya adalah Al ’Amasy. Ibnu Hibban berkata “Syaikh” [Ats Tsiqat juz 6 no 7050]. Lafaz “Syaikh” dalam ilmu hadis adalah salah satu lafaz ta’dil walaupun merupakan lafaz ta’dil yang ringan.
  • Hakim bin Sa’ad adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, dan perawi Imam Nasa’i. Ibnu Main dan Abu Hatim berkata bahwa ia tempat kejujuran dan ditulis hadisnya. Dalam kesempatan lain Ibnu Main berkata laisa bihi ba’sun [yang berarti tsiqah]. Al Ajli menyatakan ia tsiqat dan Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat. [At Tahdzib Ibnu Hajar juz 2 no 787]

Semua riwayat di atas dengan jelas menyatakan kalau Ummu Salamah mengakui bahwa ayat tathiir al ahzab 33 turun khusus untuk Ahlul Kisa’ atau lima orang yaitu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam], Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Hadis ini juga menunjukkan kalau lafaz “kamu menuju kebaikan” atau lafaz “kamu termasuk istri Rasulullah” adalah lafaz penolakan yang halus dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa Ummu Salamah adalah istri Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang menuju kepada kebaikan tetapi bukan Ahlul Bait yang dimaksud dalam Al Ahzab 33 karena mereka adalah lima orang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan yang diselimuti oleh Beliau : Sayyidah Fathimah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Hal ini senada dengan lafaz perkataan Rasulullah [shallallahu 'alaihi wasallam] “ya Allah mereka adalah ahlul baitku dan kekhususanku” yang menunjukkan kalau itu adalah keutamaan khusus bagi mereka

Yang meriwayatkan dari Ummu Salamah adalah Abu Laila Al Kindiy, Syahr bin Hausab, Atha’ bin Abi Rabah, Hakim bin Sa’ad dan riwayat Athiyah dari Abu Sa’id dari Ummu Salamah. Walaupun terdapat kelemahan dalam sebagian riwayat tetapi kedudukan riwayat-riwayat tersebut saling menguatkan sehingga tidak diragukan lagi kalau riwayat Ummu Salamah tersebut shahih

Konsisten Dalam Inkonsisten [Menjawab Hujjah Salafy]

Berikut hadis-hadis yang dijadikan hujjah salafy untuk mendistorsi makna ayat tathiir, dengan hadis itu mereka menginginkan untuk menurunkan keutamaan Ahlul Bait tetapi Alhamdulillah justru dengan hadis-hadis tersebut Allah SWT menunjukkan kelemahan pikiran mereka

.

.
Hadis Pertama Riwayat Syahr bin Hausab

حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ يَعْنِي ابْنَ بَهْرَامَ، قَالَ: حَدَّثَنِي شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أُمَّ سَلَمَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ جَاءَ نَعْيُ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، لَعَنَتْ أَهْلَ الْعِرَاقِ، فَقَالَتْ: قَتَلُوهُ، قَتَلَهُمْ اللَّهُ، غَرُّوهُ وَذَلُّوهُ، لعنهم اللَّهُ، فَإِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَتْهُ فَاطِمَةُ غَدِيَّةً بِبُرْمَةٍ، قَدْ صَنَعَتْ لَهُ فِيهَا عَصِيدَةً تَحْمِلُهُ فِي طَبَقٍ لَهَا، حَتَّى وَضَعَتْهَا بَيْنَ يَدَيْهِ، فَقَالَ لَهَا: ” أَيْنَ ابْنُ عَمِّكِ؟ ” قَالَتْ: هُوَ فِي الْبَيْتِ، قَالَ: ” فَاذْهَبِي، فَادْعِيهِ، وَائْتِنِي بِابْنَيْهِ “، قَالَتْ: فَجَاءَتْ تَقُودُ ابْنَيْهَا، كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَدٍ، وَعَلِيٌّ يَمْشِي فِي إِثْرِهِمَا، حَتَّى دَخَلُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَجْلَسَهُمَا فِي حِجْرِهِ، وَجَلَسَ عَلِيٌّ عَنْ يَمِينِهِ، وَجَلَسَتْ فَاطِمَةُ عَنْ يَسَارِهِ، قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ فَاجْتَبَذَ مِنْ تَحْتِي كِسَاءً خَيْبَرِيًّا، كَانَ بِسَاطًا لَنَا عَلَى الْمَنَامَةِ فِي الْمَدِينَةِ، فَلَفَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ جَمِيعًا، فَأَخَذَ بِشِمَالِهِ طَرَفَيْ الْكِسَاءِ، وَأَلْوَى بِيَدِهِ الْيُمْنَى إِلَى رَبِّهِ تَعَالى قَالَ: ” اللَّهُمَّ أَهْلِي، أَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ، وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا، اللَّهُمَّ أَهْلُ بَيْتِي، أَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ، وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا، اللَّهُمَّ أَهْلُ بَيْتِي أَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا “، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَسْتُ مِنْ أَهْلِكَ ؟ قَالَ: ” بَلَى، فَادْخُلِي فِي الْكِسَاءِ “، قَالَتْ: فَدَخَلْتُ فِي الْكِسَاءِ بَعْدَمَا قَضَى دُعَاءَهُ لِابْنِ عَمِّهِ عَلِيٍّ وَابْنَيْهِ وَابْنَتِهِ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadlr Haasyim bin Al-Qaasim : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Hamiid yaitu Ibnul Bahraam ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Syahr bin Hausyab, ia berkata : Aku mendengar Ummu Salamah istri Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam ketika datang berita kematian Al-Husain bin ‘Aliy, ia mengutuk penduduk ‘Iraaq. Ummu Salamah berkata : “Mereka telah membunuhnya semoga Allah membinasakan mereka. Mereka menipu dan menghinakannya, semoga Allah melaknat mereka. Karena sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam didatangi oleh Faathimah pada suatu pagi dengan membawa bubur yang ia bawa di sebuah talam. Lalu ia menghidangkannya di hadapan Nabi. Kemudian beliau berkata kepadanya : “Dimanakah anak pamanmu [Ali]?”. Faathimah menjawab : “Ia ada di rumah”. Nabi berkata : “Pergi dan panggillah ia dan bawa kedua putranya”. Maka Faathimah datang sambil menuntun kedua putranya dan ‘Aliy berjalan di belakang mereka. Lalu masuklah mereka ke ruang Rasulullah dan beliau pun mendudukkan keduanya Al-Hasan dan Al-Husain di pangkuan beliau. Sedagkan ‘Aliy duduk di samping kanan beliau dan Faathimah di samping kiri. Kemudian Nabi menarik dariku kain buatan desa Khaibar yang menjadi hamparan tempat tidur kami di kota Madinah, lalu menutupkan ke atas mereka semua. Tangan kiri beliau memegang kedua ujung kain tersebut sedang yang kanan menunjuk kearah atas sambil berkata : ‘Ya Allah mereka adalah keluargaku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya.  Ya Allah mereka adalah Ahlul-Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya. Ya Allah mereka adalah Ahlul Baitku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya’. Aku berkata : “Wahai Rasulullah bukankah aku juga keluargamu?”. Beliau menjawab “Ya benar. Masuklah ke balik kain ini”. Maka akupun masuk ke balik kain itu setelah selesainya doa beliau untuk anak pamannya dan kedua putranya, serta Fatimah putri beliau radliyallaahu ‘anhum” [Musnad Ahmad 6/298]

Dengan hadis ini salafy menyatakan kalau Ummu Salamah selaku istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga ikut termasuk dalam Ayat tathiir [Al Ahzab 33]. Letak hujjah mereka adalah pada perkataan

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَسْتُ مِنْ أَهْلِكَ ؟ قَالَ: ” بَلَى، فَادْخُلِي فِي الْكِسَاءِ

[Ummu Salamah] berkata “wahai Rasulullah bukankah aku termasuk keluarga [ahli] mu?. [Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “tentu masuklah ke balik kain”.

Hadis ini tidak menjadi hujjah buat salafy. Jika dengan hadis ini salafy menginginkan kalau ayat tathiir [Al ahzab 33] turun untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], maka mereka benar-benar keliru. Alasannya

  • Pertama : dalam hadis Syahr bin Hausab di atas tidak ada satupun lafaz yang menyebutkan kalau ada ayat tathiir [Al Ahzab 33] yang sedang turun. Jadi dimana letak hujjah mereka?.
  • Kedua : lafaz ayat tathiir [Al Ahzab 33] tidak menggunakan lafaz “ahli” tetapi menggunakan lafaz “ahlulbaiti” sedangkan jawaban “tentu” yang diucapkan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah jawaban terhadap pertanyaan Ummu Salamah “alastu min ahlika”

Jadi apa maksud sebenarnya hadis di atas. Hadis di atas hanya menyatakan kalau Ummu Salamah termasuk ahlu Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tidak ada keterangan yang menyebutkan kalau Ummu Salamah adalah ahlul bait yang dimaksud dalam ayat tathiir [al ahzab 33]. Pertanyaan Ummu Salamah tertuju pada perkataan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

اللَّهُمَّ أَهْلِي، أَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ، وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا، اللَّهُمَّ أَهْلُ بَيْتِي، أَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ، وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا اللَّهُمَّ أَهْلُ بَيْتِي أَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا

Ya Allah, mereka adalah ahli [keluarga]ku hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ya Allah, mereka adalah ahlul baitku hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ya Allah, mereka adalah ahlul baitku hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya

Pada lafaz pertama doa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menggunakan lafaz “ahli” dan inilah sebenarnya yang ditanyakan Ummu Salamah. Ummu Salamah berharap bahwa dirinya yang juga ahlu Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ikut masuk dalam doa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut. Apakah Ummu Salamah mendapatkannya?. Jawabannya terletak pada lafaz yang akhir

قَالَتْ: فَدَخَلْتُ فِي الْكِسَاءِ بَعْدَمَا قَضَى دُعَاءَهُ لِابْنِ عَمِّهِ عَلِيٍّ وَابْنَيْهِ وَابْنَتِهِ فَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ

[Ummu Salamah] berkata “maka aku masuk ke balik kain setelah selesainya doa beliau untuk anak pamannya dan kedua putranya, serta Fatimah putri beliau radliyallaahu ‘anhum.

Jadi dengan hanya mengandalkan hadis Syahr bin Hausab di atas maka satu-satunya kesimpulan yang valid berkenaan dengan Ummu Salamah adalah beliau termasuk ahlu [keluarga] Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ummu Salamah tidak termasuk dalam doa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tersebut. Lalu apa sebenarnya kedudukan Ummu Salamah yang dimaksudkan oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Itu dijelaskan dalam hadis Syahr bin Hausab berikut

حدثنا علي بن عبد العزيز و أبو مسلم الكشي قالا ثنا حجاج بن المنهال ( ح )
وحدثنا أبو خليفة الفضل بن الحباب الجمحي ثنا أبو الوليد الطيالسي قالا ثنا عبد الحميد بن بهرام الفزاري ثنا شهر بن حوشب قال سمعت أم سلمة تقول : جاءت فاطمة عدية بثريد لها تحملها في طبق لها حتى وضعتها بين يديه فقال لها : وأين ابن عمك ؟ قالت : هو في البيت قال : اذهبي فادعيه وائتيني بابني فجاءت تقود ابنيها كل واحد منهم في يد و علي يمشي في أثرهما حتى دخلوا على رسول الله صلى الله عليه و سلم فأجلسهما في حجره وجلس علي عن يمينه وجلست فاطمة رضي الله عنها في يساره قالت أم سلمة : فأخذت من تحتي كساء كان بساطنا على المنامة في البيت ببرمة فيها خزيرة فقال لها النبي : ادعي لي بعلك وابنيك الحسن و الحسين فدعتهم فجلسوا جميعا يأكلون من تلك البرمة قالت : وأنا أصلي في تلك الحجرة فنزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } فأخذ فضل الكساء فغشاهم ثم أخرج يده اليمنى من الكساء وألوي بها إلى السماء ثم قال : اللهم هؤلاء أهل بيتي وحامتي فأذهب عنهم الرجس وطهرهم تطهيرا قالت أم سلمة : فأدخلت رأسي البيت فقلت : يا رسول الله وأنا معكم ؟ قال : أنت على خير مرتين

Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Abdul ‘Aziz dan Abu Muslim Al Kasyi [keduanya] berkata telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Khalifah Al Fadhl bin Hubab Al Jimahiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Walid Ath Thayalisi [keduanya Hajjaj dan Abu Walid] berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Hamid bin Bahrm Al Fazaariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Syahr bin Hausab yang berkata aku mendengar Ummu Salamah mengatakan Fathimah datang suatu pagi sambil membawa bubur yang dibawanya dengan sebuah talam kemudian ia menghidangkannya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “dimanakah anak pamanmu”. [Fathimah berkata ] “ia di rumah”. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “pergi panggillah ia dan bawalah kedua putranya”. Maka Fathimah datang sambil menuntun kedua putranya dan Ali berada di belakang mereka. Kemudian mereka masuk menemui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau mendudukan mereka [Hasan dan Husain] di pangkuannya dan Ali di samping kanannya dan Fathimah di samping kirinya. [Ummu Salamah] berkata “kemudian Beliau mengambil dariku kain yang menjadi hamparan tempat tidur kami di rumah. Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata”panggillah suamimu dan kedua putramu hasan dan Husein”. Maka ia memanggil mereka dan duduklah mereka semuanya memakan bubur dan aku shalat di dalam kamar maka turunlah ayat “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. Beliau mengambil sisa kain dan menutupi mereka dan mengeluarkan tangan kanan dari kain kearah langit dan berkata “Ya Allah, mereka adalah ahlul baitku dan kekhususanku maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya”. Ummu Salamah berkata “aku memasukkan kepalaku dan berkata wahai Rasulullah apakah aku bersama mereka”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “engkau di atas kebaikan” Beliau mengucapkannya dua kali [Mu’jam Ath Thabrani 3/53 no 2666]

Hadis Syahr bin Hausab riwayat Thabrani di atas menyebutkan asbabun nuzul al ahzab 33. Dalam hadis ini disebutkan kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain terlebih dahulu baru kemudian turunlah ayat tathiir [al ahzab 33]. Dalam hadis ini Ummu Salamah bertanya apakah ia bersama mereka? dan jawaban Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “engkau di atas kebaikan” adalah penolakan yang halus dari Beliau bahwa Ummu Salamah tidak termasuk dalam ahlul bait bersama mereka tetapi ia tetap dalam kebaikan.

.

.

Hadis Kedua Riwayat Atha’ bin Yasar

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ غَيْرَ مَرَّةٍ، وَأَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ السُّلَمِيُّ، مِنْ أَصْلِهِ، وَأَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ الْقَاضِي، قَالُوا: ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ مُكْرَمٍ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنْ شَرِيكِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: فِي بَيْتِي أُنْزِلَتْف إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًاق، قَالَتْ: فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى فَاطِمَةَ، وَعَلِيٍّ، وَالْحَسَنِ، وَالْحُسَيْنِ، فَقَالَ: ” هَؤُلاءِ أَهْلُ بَيْتِي ” وَفِي حَدِيثِ الْقَاضِي، وَالسُّلَمِيِّ: هَؤُلاءِ أَهْلِي قَالَتْ: فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا أَنَا مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ؟ قَالَ: بَلَى إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى “، قَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ سَنَدُهُ ثِقَاتٌ رُوَاتُهُ

Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh lebih dari sekali, Abu ‘Abdirrahmaan Muhammad bin Al-Husain As Sulamiy dari ashl-nya, dan Abu Bakr Ahmad bin Al-Hasan Al Qaadliy, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Mukram : Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmaan bin ‘Umar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin ‘Abdillah bin Diinaar, dari Syariik bin Abi Namir, dari ‘Athaa’ bin Yasaar, dari Ummu Salamah, ia berkata : “Di rumahku turun ayat : ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya’ [QS. Al-Ahzaab : 33]”. Ia [Ummu Salamah] berkata : “Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus [seseorang] kepada Faathimah, ‘Aliy, Al-Hasan, dan Al-Husain. Beliau bersabda : ‘Mereka itu adalah ahlul-baitku”. [Al-Baihaqiy berkata] Dalam hadits Al-Qaadliy dan As-Sulamiy : “Mereka adalah keluargaku [ahlii]”. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk ahlul-bait?”. Beliau bersabda “tentu jika Allah SWT menghendaki” [Sunan Baihaqi 2/149]

Hadis ini dijadikan hujjah salafy untuk menyatakan bahwa istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ahlul bait dalam al ahzab 33. Letak hujjah mereka adalah pada lafaz

فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَا أَنَا مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ؟ قَالَ بَلَى إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk ahlul bait?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “tentu jika Allah SWT menghendaki”.

Perhatikan baik-baik lafaz jawaban Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah “tentu jika Allah SWT menghendaki”. Jawaban Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menunjukkan bahwa apakah Ummu Salamah adalah ahlul bait atau bukan itu kembali kepada kehendak Allah SWT, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak memastikan tetapi mengucapkan dengan lafal “insya Allah” yang artinya Jika Allah SWT menghendaki. Lafaz ini diucapkan untuk sesuatu yang belum terjadi bukan untuk menyatakan sesuatu yang telah terjadi.

وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَداً إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَداً

Dan janganlah kamu sekali-sekali berkata tentang sesuatu ”sesungguhnya aku mengerjakan ini besok pagi” kecuali dengan menyebutkan “insya Allah”. Dan ingatlah Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah “mudah-mudahan Tuhanku akan memberikan petunjuk yang lebih dekat kebenarannya daripada ini” [QS Al Kahfi : 23-24]

Lafaz “insya Allah” selalu digunakan untuk menyatakan sesuatu yang akan [belum] terjadi atau belum diketahui ketetapan Allah atasnya karena semua yang akan terjadi adalah atas kehendak Allah SWT. Jika Allah SWT menghendaki maka sesuatu itu akan terjadi dan sebaliknya jika Allah SWT menghendaki maka sesuatu itu bisa saja tidak terjadi. Adalah hal yang aneh jika lafaz “insya Allah” dinyatakan untuk sesuatu yang telah terjadi atau sesuatu yang telah diketahui ketetapan Allah SWT atasnya.

قال له موسى هل أتبعك على أن تعلمن مما علمت رشدا قال إنك لن تستطيع معي صبرا  وكيف تصبر على ما لم تحط به خبرا  قال ستجدني إن شاء الله صابرا ولا أعصي لك أمرا

Musa berkata kepadanya [Khidir] “izinkanlah aku mengikutimu supaya kamu dapat mengajarkan kepadaku ilmu diantara ilmu-ilmu yang dijarkan kepadamu”. [Khidir] berkata “sesungguhnya kamu sekali sekali tidak akan sanggup sabar bersamaku dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang itu. Musa berkata “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun” [QS Al Kahfi : 66-69]

Dalam kisah di atas Nabi Musa AS mengatakan bahwa insya Allah dia akan sabar dalam mengikuti Nabi Khidir AS dan kisah tersebut selanjutnya menyebutkan kalau Nabi Musa AS ternyata tidak bisa sabar ketika beliau mengikuti Nabi Khidir. Hal ini menunjukkan kalau lafaz “insya Allah” adalah lafaz yang diucapkan untuk menyatakan sesuatu yang belum dipastikan atau belum diketahui ketetapan Allah SWT atasnya.

Kembali ke hadis riwayat Atha’ bin Yasar di atas, lafaz Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] “tentu jika Allah SWT menghendaki” yang diucapkan setelah turunnya ayat tathiir [al ahzab 33] justru menunjukkan bahwa pada hakikatnya ayat tersebut tidak turun untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Ayat tathiir telah turun kepada Rasulullah dan telah diketahui oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] soal ketetapan Allah SWT untuk siapa ayat tersebut tersebut ditujukan atau untuk siapa ahlul bait yang tertuju dalam ayat tersebut. Seandainya Allah SWT menetapkan ayat tersebut turun untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka sudah pasti Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak akan mengucapkan lafaz “insya Allah”. Logika sederhana saja jika anda menyaksikan suatu peristiwa dan itu baru saja terjadi sangat tidak mungkin ketika ditanya apakah peristiwa itu terjadi? anda mengucapkan “sudah insya Allah”. Mungkin salafy itu tidak bisa membedakan lafaz “tentu” dan “tentu insya Allah”. Baginya  mungkin“insya Allah” itu tidak ada artinya hanya sekedar kata yang kebetulan ada di sana

حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب حدثنا العباس بن محمد الدوري حدثنا عثمان بن عمر حدثنا عبد الرحمن بن عبد الله بن دينار حدثنا شريك بن أبي نمر عن عطاء بن يسار عن أم سلمة رضى الله تعالى عنها أنها قالت في بيتي نزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قالت فأرسل رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى علي وفاطمة والحسن والحسين رضوان الله عليهم أجمعين فقال اللهم هؤلاء أهل بيتي قالت أم سلمة يا رسول الله ما أنا من أهل البيت قال إنك أهلي خير وهؤلاء أهل بيتي اللهم أهلي أحق

Telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abbas bin Muhammad Ad Duuriy yang berkata telah menceritakan kepada kami Utsman bin ‘Amru yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin ‘Abdullah bin Dinar yang berkata telah menceritakan kepada kami Syarik bin ‘Abi Namr dari Atha’ bin yasar dari Ummu Salamah ra yang berkata “di rumahku lah turun ayat “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. [Ummu Salamah] berkata “maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengutus [seseorang] kepada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan berkata “ya Allah mereka adalah ahlul baitku” Ummu Salamah berkata “wahai Rasulullah apakah aku termasuk ahlul bait?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “sesungguhnya engkau keluarga [ahli] ku yang baik dan mereka itu adalah ahlul baitku, ya Allah keluargaku yang berhak” [Mustadrak Ash Shahihain juz 2 no 3558]

Hadis riwayat Atha’ bin Yasar dari Ummu Salamah justru menunjukkan kedudukan yang sebenarnya Ummu Salamah adalah ahli [keluarga] Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang baik sedangkan yang termasuk ahlul bait dalam al ahzab 33 adalah mereka yang diselimuti oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husain.

.

.

Hadis Ketiga Riwayat Abdullah bin Wahb

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، قَالَ: ثنا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، قَالَ: ثنا مُوسَى بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ: ثني هَاشِمُ بْنُ هَاشِمِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبِ بْنِ زَمْعَةَ، قَالَ: أَخْبَرَتْنِي أُمُّ سَلَمَةَ: “أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ عَلِيًّا وَالْحَسَنَيْنِ، ثُمَّ أَدْخَلَهُمْ تَحْتَ ثَوْبِهِ، ثُمَّ جَأَرَ إِلَى اللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: ” هَؤُلاءِ أَهْلُ بَيْتِي “، قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَدْخِلْنِي مَعَهُمْ، قَالَ: ” إِنَّكِ مِنْ أَهْلِي”

Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib yang berkata telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ya’quub yang berkata telah menceritakan kepada kami Haasyim bin Haasyim bin ‘Utbah bin Abi Waqqaash dari ‘Abdullah bin Wahb bin Zam’ah yang berkata telah mengabarkan kepadaku Ummu Salamah  Bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan ‘Aliy, Al-Hasan, Al-Husain, lalu memasukkan mereka di bawah pakaian beliau, dan berdoa kepada Allah ta’ala “Wahai Rabb-ku, mereka adalah Ahlul Baitku”. Ummu Salamah berkata “Wahai Rasulullah, masukkan aku bersama mereka?”. Beliau bersabda “Engkau termasuk keluarga [ahli] ku” [Tafsiir Ath Thabari 20/266].

Hadis ketiga adalah hadis ‘Abdullah bin Wahb bin Zam’ah di atas. Agak aneh juga kalau hadis ini dijadikan dasar untuk menyatakan ahlul bait dalam al ahzab 33 adalah istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Pertama, sederhana saja tidak ada satupun keterangan turunnya ayat tathir al ahzab 33 dalam hadis di atas. Kedua, sebagaimana kami katakan sebelumnya lafaz ayat tathiir adalah “ahlul bait” bukannya “ahli”. Ketiga, pernyataan “engkau termasuk keluarga [ahli] ku” tidak berarti bahwa Ummu Salamah selaku istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah ahlul bait dalam al ahzab 33. Silakan lihat contoh riwayat Atha’ bin Yasar dengan lafaz “sesungguhnya kamu adalah ahli [keluargaku] yang baik dan mereka itu adalah ahlul baitKu”, lafaz ini menunjukkan bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika menyebutkan lafaz “ahli” bukan berarti sama dengan “ahlul bait”.

حدثنا ابن المثنى قال حدثنا أبو بكر الحنفي قال ثنا بكير بن مسمار قال سمعت عامر بن سعد قال قال سعد قال رسول الله حين نزل عليه الوحي فأخذ عليا وابنيه وفاطمة وأدخلهم تحت ثوبه ثم قال رب هؤلاء أهلي وأهل بيتي

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al hanafiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Bukair bin Mismaar yang berkata aku mendengar ‘Aamir bin Sa’ad yang berkata Sa’ad berkata Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ketika turun kepadanya wahyu maka ia memegang Ali, kedua putranya, Fathimah dan memasukkan mereka di bawah kain dan berkata “Rabb, mereka adalah ahliku dan ahlul baitku” [Tafsir Ath Thabari 22/10]

Kata “ahli” dan “ahlul bait” dalam hadis kisa’ ternyata tidak persis sama. Secara umum “ahli” dan “ahlul bait” bermakna keluarga tetapi kata “ahlul bait” lebih bermakna khusus dibanding kata “ahli”. Lafaz dalam ayat tathiir [al ahzab 33] adalah “ahlul bait” bukannya “ahli”. Jadi sangat tidak tepat menggunakan lafaz “ahli” sebagai hujjah masuknya istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagai ahlul bait dalam al ahzab 33. Ada hadis lain dengan lafaz “ahli” yang sering disalahgunakan oleh salafiyun

أخبرنا عبد الله بن محمد بن سلم حدثنا عبد الرحمن بن إبراهيم حدثنا الوليد بن مسلم و عمر بن عبد الواحد قالا : حدثنا الأوزاعي عن شداد أبي عمار عن واثلة بن الأسقع قال : سألت عن علي في منزله فقيل لي : ذهب يأتي برسول الله صلى الله عليه و سلم إذ جاء فدخل رسول الله صلى الله عليه و سلم ودخلت فجلس رسول الله صلى الله عليه و سلم على الفراش وأجلس فاطمة عن يمينه و عليا عن يساره و حسنا وحسينا بين يديه وقال : ( { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا } [ الأحزاب : 33 ] اللهم هؤلاء أهلي ) قال واثلة : فقلت من ناحية البيت : وأنا يارسول الله من أهلك ؟ قال : ( وأنت من أهلي ) قال واثلة : إنها لمن أرجى ما أرتجي

Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin Salm  yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin Ibrahim yang berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim dan Umar bin ‘Abdul Waahid [keduanya] berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Awza’I dari Syaddad Abi ‘Ammar dari Watsilah bin Al Asqa’ yang berkata “aku menanyakan tentang Ali di kediamannya. Dikatakan kepadaku bahwa ia [Ali] pergi menemui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian tiba-tiba masuk Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka akupun masuk, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] duduk di atas tempat tidur dan Fathimah duduk di sebelah kanannya, Ali di sebelah kirinya, Hasan dan Husain berada di hadapan Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan berkata “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya” Ya Allah mereka adalah keluarga [ahli] ku. Watsilah berkata “maka aku berkata dari sudut rumah : wahai Rasulullah apakah aku termasuk ahli-mu?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk ahli-ku”. Watsilah berkata “sesungguhnya itu termasuk harapan yang paling kuharapkan” [Shahih Ibnu Hibban 15/432 no 6976]

وقال محمد بن يزيد نا الوليد بن مسلم قال نا أبو عمرو هو الأوزاعي قال حدثني أبو عمار سمع واثلة بن الأسقع يقول نزلت إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت قال قلت وأنا من أهلك قال وأنت من أهلي قال فهذا من أرجى ما أرتجي

Muhammad bin Yazid berkata telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amr dia Al ‘Awza’i yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu ‘Ammar yang berkata telah mendengar Watsilah bin Al Asqa’ berkata turun ayat “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya” [Watsilah] berkata dan apakah aku termasuk ahli-mu?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “engkau termasuk ahli-ku”. [Watsilah] berkata “inilah harapan yang kuharapkan” [Tarikh Al Kabir Bukhari juz 8 no 2646]

حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا الربيع بن سليمان المرادي وبحر بن نصر الخولاني قالا ثنا بشر بن بكر وثنا الأوزاعي حدثني أبو عمار حدثني واثلة بن الأسقع قال أتيت عليا فلم أجده فقالت لي فاطمة انطلق إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعوه فجاء مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فدخلا ودخلت معهما فدعا رسول الله صلى الله عليه وسلم الحسن والحسين فأقعد كل واحد منهما على فخذيه وأدنى فاطمة من حجره وزوجها ثم لف عليهم ثوبا وقال إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا ثم قال هؤلاء أهل بيتي اللهم أهل بيتي أحق

Telah menceritakan kepada kami Abul ‘Abbas Muhammad bin Ya’qub yang berkata telah menceritakan kepada kami Rabi’ bin Sulaiman Al Muraadiy dan Bahr bin Nashr Al Khawlaniy [keduanya] berkata telah menceritakan kepada kami Basyr bin Bakru yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Awza’i yang berkata telah menceritakan kepadaku Abu ‘Ammar yang berkata telah menceritakan kepadaku Watsilah bin Asqa’ yang berkata “aku mendatangi Ali namun aku tidak menemuinya. Fathimah berkata kepadaku “ia pergi memanggil Rasulullah”. Kemudian ia datang bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan masuklah mereka berdua dan aku ikut masuk bersama mereka. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil Hasan dan Husain. Kemudian keduanya dipangku di kedua paha Beliau, Fathimah didekatkan di samping Beliau begitu pula suaminya. Kemudian Beliau menutupkan kain kepada mereka dan berkata “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya” kemudian Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “mereka adalah ahlul baitku, ya Allah ahlul baitku yang berhak” [Mustadrak Ash Shahihain juz 3 no 4706]

Ada Salafy yang picik pikirannya menyatakan kalau Watsilah bin Asqa’ juga termasuk Ahlul bait dalam ayat tathiir [al ahzab 33] bahkan dengan tidak tahu malu ia mengatakan kalau ayat tersebut berlaku umum untuk siapa saja yang mengikuti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Menurut mereka Watsilah bin Asqa’ yang bukan keluarga atau kerabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bisa masuk ke dalam ayat tersebut maka itu menjadi dalil bahwa ayat tersebut berlaku umum untuk semua umat islam asalkan menjadi pengikut Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Silakan para pembaca lihat, hasil akhirnya adalah hadis yang dari awalnya adalah keutamaan Ahlul Bait yang sangat besar dan dikhususkan untuk mereka akhirnya disulap menjadi keutamaan bagi siapa saja yang mengikuti Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Kesalahan salafy picik itu jelas terletak pada ketidakpahamannya terhadap lafaz “ahli” dan lafaz “ahlul baiti”. Lafaz “anta min ahli” tidak menunjukkan kalau Watsilah termasuk ke dalam ayat tathiir [al ahzab 33] karena lafaz dalam ayat tathiir adalah “ahlul bait” bukan “ahli”. Lafaz “ahli” lebih bersifat umum bahkan Watsilah bin Asqa’ yang bukan Ahlul Bait Nabi bukan kerabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan pula keturunan Beliau, tidak pula memiliki ikatan baik dari segi nasab maupun pernikahan kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetap bisa masuk kedalam lingkup “ahli” Nabi. Watsilah bin Asqa’ hanyalah salah seorang sahabat ahlu shuffah yang ketika itu kebetulan berada di rumah Imam Ali.

Riwayat Watsilah bin Asqa’ ini menjadi bukti kalau ayat tersebut turun berulang-ulang. Selain turun di rumah Ummu Salamah, ayat tersebut ternyata turun juga di rumah Imam Ali seperti yang disebutkan di atas dimana Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] menutupi ahlul kisa’ dengan kain kemudian membaca ayat tathiir yang turun saat itu. Riwayat Bukhari dengan jelas menyebutkan lafaz perkataan Watsilah bin Asqa’ ada ayat yang turun, dan riwayat Bukhari adalah riwayat yang menyebutkan peristiwa yang sama [hanya lebih ringkas dari riwayat Ibnu Hibban] yaitu ketika Watsilah bin Asqa’ mengunjungi Imam Ali di rumahnya. Fakta ini membuktikan kalau ayat tersebut sebenarnya turun untuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain sehingga ketika ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah [pada riwayat Ummu Salamah], Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] langsung memanggil mereka untuk diselimuti dengan kain kemudian menyebutkan ayat yang turun kepada mereka.

  • Kalau ayat tathiir memang turun untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka hal pertama yang dilakukan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah memanggil istri-istri Beliau bukannya memanggil keluarga Ali. Ini logika sederhana yang tidak bisa dipahami oleh salafy.
  • Kalau ayat tathiir memang turun untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Ummu Salamah pasti akan langsung mengetahui lafaz “hai istri-istri Nabi” dan ia tidak perlu bertanya kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] apakah dirinya termasuk dalam ayat tersebut atau tidak. Pertanyaan Ummu Salamah justru menunjukkan kalau ia tidak mengetahui adanya lafaz “hai istri-istri Nabi” ketika turunnya ayat tathiir dan ini membuktikan kalau ayat tathiir turun terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya.

Riwayat Ibnu Hibban menyebutkan dengan lafaz “merekalah keluarga [ahli]ku” sedangkan dalam riwayat Al Hakim menyebutkan dengan lafaz “merekalah ahlul baitku, ahlul baitku yang berhak”. Kedua lafaz ini benar dan bisa dijamak sesuai dengan lafaz riwayat Sa’ad yaitu “mereka ahliku dan ahlul baitku” tetapi lafaz yang menunjukkan ayat al ahzab 33 adalah “ahlul bait” bukan “ahli”.
.

.

Hadis Keempat Riwayat Ummu Habibah binti Kisaan

حدثنا الحسين بن إسحاق ثنا عمرو بن هشام الحراني ثنا عثمان عن القاسم بن مسلم الهاشمي عن أم حبيبة بنت كيسان عن أم سلمة قالت أنزلت هذه الآية { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } وأنا في بيتي فدعا رسول الله صلى الله عليه و سلم الحسن و الحسين فأجلس أحدهما على فخذه اليمنى والآخر على فخذه اليسرى وألقت عليهم فاطمة كساء فلما أنزلت { إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت } قلت : وأنا معكم يا رسول الله ؟ قال : ( وأنت معنا )

Telah menceritakan kepada kami Husain bin Ishaq yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Hisyaam Al Harraniy yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Utsman dari Qaasim bin Muslim Al Haasyimiy dari Ummu Habibah binti Kiisaan dari Ummu Salamah yang berkata ayat ini “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya” turun dan aku di dalam rumah, Rasululah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil Hasan, Husein dan mendudukkan salah satu dari keduanya di sebelah kanannya dan yang lain di sebelah kirinya kemudian menutupi mereka dengan kain saat itu turunlah ayat “sesungguhnya Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya”. [Ummu Salamah] berkata “apakah aku bersama mereka, wahai Rasulullah?”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjawab “engkau bersama kami” [Mu’jam Al Kabir Ath Thabraniy 23/357 no 839]

Salafy berhujjah dengan hadis ini yaitu pada lafaz “engkau bersama kami”. Jawaban kami : hadis ini dhaif, di dalam sanadnya terdapat dua orang perawi majhul [tidak dikenal] yaitu Qaasim bin Muslim Al Haasyimiy dan Ummu Habibah binti Kiisan. Selain itu matan hadis ini juga bertentangan dengan keyakinan salafy, salafy berkeyakinan bahwa ayat al ahzab 33 tidak turun untuk ahlul kisa’ [Ali, Fathimah, Hasan dan Husain] tetapi untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mereka hanyalah perluasan ayat seperti yang diinginkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Hadis Ummu Habibah di atas justru menunjukkan bahwa ayat al ahzab 33 memang turun untuk ahlul kisa’, Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] memanggil mereka kemudian setelah menutupi dengan kain baru turunlah ayat tersebut. Salafy tersebut hanya mengutip lafaz hadis bagian akhir karena ia mengetahui kalau lafaz sebelumnya bertentangan dengan keyakinannya. Ia berhujjah dengan sebagian tetapi menolak sebagian yang lain karena sebagian yang lain tersebut menentang dirinya. Sungguh cara berhujjah yang aneh

Kemudian ada yang lucu dengan pernyataannya soal lafaz riwayat Ummu Salamah yang lain yaitu “engkau tetap di tempatmu dan engkau menuju kebaikan”. Lafaz ini menurutnya tidak bertentangan dengan lafaz “masuklah ke balik kain” karena perintah agar Ummu Salamah tidak masuk ke balik kain karena di situ ada mahram-nya yaitu Ali bin Abi Thalib setelah Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] selesai berdoa dan Ali keluar barulah ia masuk ke balik kain. Pernyataan ini mengada-ada karena di dalam riwayat lain justru disebutkan bagaimana Ummu Salamah langsung saja memasukkan kepalanya kebalik kain dan bertanya “apakah aku bersama mereka” padahal saat itu Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sedang menyelimuti mereka.

Jika memang Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menginginkan untuk menyelimuti Ummu Salamah, Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam tetap bisa mengatur posisi dimana Ali berada di sisi yang lain dan Ummu Salamah berada di sisi yang tidak berdekatan dengan Ali misalnya lebih mendekat kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Alasan “mahram” ini hanyalah alasan yang diada-adakan saja. Lafaz yang tsabit dari Ummu Salamah [sebagaimana diriwayatkan oleh jama’ah] adalah lafaz “engkau menuju kebaikan” sedangkan lafaz “masuklah ke balik kain” hanya diriwayatkan dalam salah satu riwayat Syahr bin Hausab dan ternyata Ummu Salamah masuk ke balik kain setelah selesainya doa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang menunjukkan bahwa ia bukanlah ahlul bait yang dimaksud.

.

.

Inkonsistensi Salafy

Berikutnya kami akan menunjukkan siapa sebenarnya yang tidak konsisten dalam pembahasan al ahzab 33 ini. Salafy berkeyakinan kalau ayat tersebut turun khusus untuk istri-istri Nabi sedangkan Ali, Fathimah, Hasan dan Husain hanyalah perluasan ayat sebagaimana yang dikehendaki oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Silakan perhatikan al ahzab dari ayat 32 sampai 34

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” [QS. Al-Ahzaab : 32].

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan menyucikan kamu sesuci-sucinya” [QS Al Ahzaab : 33]

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui” [QS. Al-Ahzaab : 34].

Jika ayat penyucian tidak turun terpisah dari bagian sebelum dan sesudahnya maka ia akan turun dengan lafaz seperti di atas dimana dalam ayat-ayat tersebut terdapat lafaz “hai istri-istri Nabi”. Ketika ayat ini turun di rumah Ummu Salamah mengapa Ummu Salamah tidak mengetahui ayat tersebut turun untuknya padahal ia menyaksikan ayat tersebut turun dan terdapat lafaz ‘hai istri-istri Nabi”. Apakah setelah mendengar lafaz ini Ummu Salamah perlu mengajukan pertanyaan atau keinginan agar dirinya ikut bersama ahlul kisa’?. Ini jelas absurd sekali.

Kemudian jika memang ayat tersebut turun dengan lafaz “hai istri-istri Nabi” maka mengapa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak memanggil istri-istri Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang lain, mengapa hal pertama yang dilakukan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang bukan orang yang dituju oleh ayat tersebut?. Apa mungkin Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] lebih mementingkan kehendaknya untuk memperluas ayat daripada kewajiban menyampaikan ayat tersebut kepada orang yang seharusnya ditujukan oleh ayat tersebut. Inilah pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan benar oleh salafy.

Perhatikan kata-kata sebelum lafaz “innama” semuanya mengandung kata kerja dengan kata ganti khusus perempuan misalnnya pada kata “tetaplah di rumahmu” yang menggunakan kata “buyuutikunna”. Digunakan kata ganti khusus perempuan karena yang dituju disini adalah khusus istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya”

Ayat ini adalah bagian awal al ahzab 33 dan perhatikanlah semua perintahnya menggunakan kata ganti khusus untuk perempuan kemudian selanjutnya bagian ini disambung dengan lafaz

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرً

Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan menyucikan kamu sesuci-sucinya

Pada bagian ayat penyucian ini semua lafaz ayat kepada orang yang dituju [bahkan sebelum munculnya kata ahlul bait] menggunakan kata ganti “kum” dimana kata ganti ini tertuju bahwa orang yang dimaksud adalah semuanya laki-laki atau gabungan laki-laki dan perempuan. Jika ayat ini merupakan satu kesatuan dengan bagian awal al ahzab 33 maka kita patut bertanya pada salafy kata “kum” pada lafaz liyudzhiba ‘ankum itu kembali kepada siapa?. Siapa laki-laki pada kata “kum” tersebut.

Kita dapat menebak jawaban salafy yaitu ia akan berkata penggunaan kata “kum” karena Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagai Sayyidul bait juga ikut masuk dalam ayat tersebut. Pernyataan ini jelas inkonsisten, awalnya ia bilang ayat tersebut turun khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sekarang ia berkata ayat tersebut juga turun untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِير وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا

Jika ayat-ayat tersebut turun dengan satu kesatuan seperti ini maka jawaban salafy kalau “kum” juga merujuk kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah jawaban yang absurd. Karena pada dasarnya “kum” disitu adalah orang yang sama dengan yang tertuju pada kata “kunna” yaitu dijelaskan pada lafaz awal “ya nisaa’a Nabi” [hai istri-istri Nabi]. Jadi kalau mau berpegang pada urutan ayat tersebut tidak bisa tidak, ahlul bait dalam ayat tersebut hanyalah istri-istri Nabi. Tidak mungkin memasukkan Nabi dalam kata “kum” karena semua perintah tersebut ditujukan untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bukan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Tetapi jika memang yang diajak bicara khusus untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengapa menggunakan kata “kum” bukannya “kunna”. Siapakah laki-laki yang ikut masuk dalam ayat tersebut? Darimana datangnya laki-laki tersebut?.

Salafy yang lain berapologi kalau “kum” itu ditujukan untuk Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] karena penyucian terhadap istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah penyucian terhadap Nabi juga. Intinya ia mau mengatakan kalau “kum” disana tetap merujuk pada istri-istri Nabi tetapi karena penyucian itu untuk istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka otomatis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga tersucikan, Nabi adalah sayyidul bait maka apa yang terjadi pada ahlul bait-nya juga berpengaruh pada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Kami jawab : ini hujjah basa-basi seolah kelihatan bagus tetapi gak nyambung. Yang dipermasalahkan adalah penggunaan kata “kum” seandainya digunakan kata “kunna” masih bisa klop dengan perkataannya kalau penyucian terhadap istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga berarti penyucian terhadap Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Dalam bahasa arab kata “kum” ditujukan untuk orang yang diajak bicara jika yang diajak bicara itu laki-laki atau gabungan laki-laki dan perempuan bukannya khusus untuk perempuan. Kata “kum” tertuju kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah SWT untuk dibersihkan dosanya

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ

Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai ahlul bait

Salafy berkeyakinan kalau yang dimaksud Allah SWT berkehendak menghilangkan dosa dari ahlul bait adalah dengan adanya perintah-perintah di kalimat sebelumnya yaitu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya maka Allah SWT menginginkan ahlul bait terhindar dari dosa. Apakah “kum” disana tertuju kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan istri-istri Beliau?. Apakah Nabi juga dikehendaki Allah SWT dihilangkan dosanya dengan memerintahkan Beliau agar tetap di rumah atau agar mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya?. Aneh sekali.

Dan hujjah “untuk istri Nabi otomatis untuk Nabi” juga tertolak oleh lafaz ini. Apakah maksud lafaz “menghilangkan dosa dari kamu” itu berarti ketika dosa istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dihilangkan maka itu berarti dosa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga hilang?. Apakah ketika istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berdosa melanggar perintah Allah SWT dan Rasul-nya maka Nabi juga ikut berdosa?.

Pertanyaan yang sama bisa kita tujukan kepada salafy yaitu berkenaan dengan masuknya Ali, Hasan dan Husain yang dikatakannya atas inisiatif Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] atau perluasan ayat. Mengapa Ali, Hasan dan Husain diinginkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] ikut dalam al ahzab 33 padahal ayatnya berbunyi

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan menyucikan kamu sesuci-sucinya” [QS Al Ahzaab : 33]

Kami ulangi jika ayat ini dipandang sebagai satu kesatuan maka kehendak Allah SWT menghilangkan dosa dari ahlul bait itu terikat dengan perintah yang Allah SWT kenakan kepada mereka yaitu “tetaplah di rumahmu dan janganlah berhias”. Apakah masuk akal mengatakan kalau Ali, Hasan dan Husain diharuskan melaksanakan perintah ini juga agar mendapatkan penyucian oleh Allah SWT?. Dimana logikanya?

Semua kemusykilan yang tidak bisa dijawab salafy itu dengan benar akan terjawab dengan menyatakan kalau lafaz “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan menyucikan kamu sesuci-sucinya” turun terpisah dari bagian sebelum dan sesudahnya dan ayat ini khusus tertuju untuk ahlul kisa’ [Ali, Fathimah, Hasan dan Husain]. Penyucian yang dimaksud tidak terikat syariat tetapi berupa ketetapan yang Allah SWT berikan kepada mereka sehingga ketika anugerah penyucian ini diberikan kepada mereka, Ummu Salamah selaku istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] juga mengharapkannya.

  • Pertanyaan Ummu Salamah terjelaskan dengan baik, karena memang ayat tersebut bukan turun untuknya sehingga ia perlu sekali bertanya apakah dirinya bisa ikut masuk
  • Istri-istri Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yang lain wajar tidak ikut dipanggil karena ayat tersebut memang bukan tertuju pada mereka
  • Sesuai dengan riwayat Watsilah bin Asqa’ kalau ayat tersebut juga turun di rumah Imam Ali [tidak hanya di rumah Ummu Salamah]
  • Kata “kum” pada lafaz ayat tertuju pada gabungan laki-laki dan perempuan yaitu Ali, Fathimah, Hasan dan Husain
  • Ali, Hasan dan Husain tidak perlu melaksanakan syariat khusus wanita agar mendapatkan penyucian dari Allah SWT. Penyucian itu adalah keutamaan yang Allah SWT limpahkan kepada mereka bukan syari’at yang harus mereka jalankan.
  • Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] ikut masuk dalam ayat tersebut dan tidak ada kerancuan yang terjadi soal perintah “taat kepada Allah dan Rasul-Nya” ataupun penggunaan kata ganti.

Syubhat lain dari salafy yang muncul dari pengikut mereka yang jahil adalah pernyataan bahwa ahlul kisa’ bukannya orang yang dituju dalam ayat tersebut karena jika memang ayat tersebut turun untuk mereka berarti Allah SWT telah menyucikan mereka dan tidak perlu lagi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] berdoa.

Tentu saja ini hujjah yang jahil. Apakah ia tidak mengetahui bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah Nabi yang maksum dijaga dan dipelihara oleh Allah SWT?. Apakah ia tidak mengetahui bahwa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] telah dijamin oleh Allah SWT akan kedudukannya di surga?. Kemudian mari kita tanyakan padanya, apakah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah berdoa memohon ampun kepada Allah SWT?. Jika ia menjawab Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tetap berdoa kepada Allah SWT apakah itu menunjukkan kalau Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebelumnya tidak dijamin oleh Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikatnya bershalawat untuk Nabi, wahai orang-orang beriman bershalawatlah kepada Nabi dan ucapkan salam penghormatan kepadanya [QS Al Ahzab : 56]

Allah SWT telah bershalawat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Allah SWT juga memerintahkan agar orang-orang beriman bershalawat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan bagaimanakan shalawat yang diperintahkan itu.

حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمَّا السَّلَامُ عَلَيْكَ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ، فَكَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ؟ قَالَ: “قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ”

Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Yahya bin Sa’id yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Mis’ar dari Al Hakam dari Ibnu Abi laila dari Ka’ab bin ‘Ujrah radiallahu ‘anhu yang berkata “wahai Rasulullah adapun salam terhadapmu maka kami mengetahuinya maka bagaimana shalawat kepadamu?. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata katakanlah “Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau bershalawat kepada Ibrahim, sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkatilah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkati Ibrahim sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. [Shahih Bukhari no 4797]

Silakan perhatikan lafaz “Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad” itulah yang diajarkan padahal Allah SWT telah menurunkan ayat bahwa “Allah SWT telah bershalawat kepada Nabi”. Apakah adanya doa tersebut menunjukkan Allah SWT belum bershalawat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]?. Maka dapat kita katakan, ayat al ahzab 33 telah turun untuk ahlul bait [Ali, Fathimah, Hasan dan Husain] dan doa yang diucapkan Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah penegasan kalau ayat tersebut memang untuk mereka dan merupakan keutamaan bagi mereka. Salam Damai

Logiskah Para Sahabat Menolak Wasiat Ghadir Kum ?? Sangat logis, buktinya : Abu Bakar dan Umar termasuk dalam kumpulan yang ikut dalam Sariyyah Usamah, Kepemimpinan Usamah ini dikecam oleh sebahagian sahabat Nabi

Menjelang akhir hayat Rasulullah(sawa), baginda telah mengangkat Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukan tentera menuju ke tanah Balqa di Syam, tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah RA, Ja’far RA dan Ibnu Rawahah RA. Telah disebutkan oleh banyak ulama bahwa Abu Bakar dan Umar termasuk dalam kumpulan mereka yang ikut dalam Sariyyah Usamah. Saat itu usia Usamah bin Zaid masih muda, anehnya kepemimpinan Usamah ini dikecam oleh sebahagian sahabat Nabi dan khabar kecaman ini sampai ke telinga Rasulullah(sawa)

عن بن عمر ان النبي صلى الله عليه و سلم بعث بعثا وأمر عليهم أسامة بن زيد فطعن بعض الناس في أمرته فقام رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال ان تطعنوا في أمرته فقد تطعنون في إمرة أبيه من قبل وأيم الله ان كان لخليقا للأمارة وان كان لمن أحب الناس إلى وان هذا لمن أحب الناس إلى بعده

Dari Ibnu Umar bahwa Nabi(sawa) telah mengutuskan pasukan tentera dengan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima. Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela kepemimpinannya tersebut. Lalu Rasulullah(sawa) berdiri dan berkata “Jika kalian mencela kepemimpinannya maka kalian mencela kepemimpinan Ayahnya sebelumnya. Demi Allah, dia (Zaid) memang layak memimpin pasukan dan dia termasuk orang yang paling aku cintai, dan anaknya ini termasuk orang yang paling aku cintai setelahnya. [Shahih Muslim 4/1884 no 2426, Shahih Bukhari 5/23 no 3730, Musnad Ahmad 2/20 no 4701 dan 2/110 no 5888 dan dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Sukar dibayangkan bagaimana para sahabat berani mengecam apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW tetapi memang begitulah kenyataannya. Diriwayatkan Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat 4/66 yang berkata

أخبرنا عبد الوهاب بن عطاء قال أخبرنا العمري عن نافع عن بن عمر أن النبي صلى الله عليه وسلم بعث سرية فيهم أبو بكر وعمر فاستعمل عليهم أسامة بن زيد

Telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahab bin Atha’ yang berkata telah mengabarkan kepada kami Al Umari dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Nabi(sawa) mengutus pasukan yang didalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar dan mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima mereka…

Riwayat ini sanadnya hasan, telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat kecuali Al Umari, dia seorang yang hadisnya hasan. Abdul Wahab bin Atha’ adalah seorang perawi yang tsiqat. Dalam At Tahdzib juz 6 no 838 disebutkan bahwa beliau adalah perawi yang dijadikan hujjah oleh Muslim dan telah dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, Yahya Al Qattan, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin, Daruquthni dan Hasan bin Sufyan. Ibnu Ady dan Nasa’i berkata “tidak ada masalah dengannya”Nafi’ maula Ibnu Umar adalah seorang yang tsiqat tsabit sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/239.

Al Umari adalah Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab Al Umari, ia adalah perawi Muslim dan Ashabus Sunan yang diperselisihkan dan pendapat terkuat adalah ia seorang yang hadisnya hasan. Disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 564 bahawa ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Yaqub bin Syaibah, Ahmad bin Yunus dan Al Khalili. Ahmad bin Hanbal menghasankan hadisnya, terkadang berkata “ tidak ada masalah dengannya”, terkadang pula berkata“dia termasuk perawi yang shalih”. Ibnu Ady mengatakan tidak ada masalah dengannya dan shaduq. Al Ajli memasukkannya ke dalam perawi tsiqat dalam Ma’rifat Ats Tsiqat no 937 dan berkata

عبد الله بن عمر بن حفص بن عاصم بن عمر بن الخطاب أخو عبيد الله لا بأس به مديني

Abdullah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab saudara Ubaidillah ‘tidak ada masalah dengannya’, orang Madinah.

Memang terdapat sebahagian ulama yang mencacatnya dan mereka ini dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok berikut

  • Ulama yang mencacat Al Umari tanpa menyebutkan alasannya. Disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 564 diantaranya Yahya bin Sa’id, Ali bin Madini, Bukhari dimana ia hanya mengikuti pencacatan Yahya bin Sa’id
  • Ulama yang mencacat Al Umari bukan dengan jarh yang keras seperti Salih Al Jazarah yang berkata “layyin”(lemah), An Nasa’i dan Al Hakim yang berkata“laisa bi qawiy” (tidak kuat). Dimana pencacatan dengan predikat “laisa bi qawy” boleh bererti seorang yang hadisnya hasan apalagi jika telah dinyatakan tsiqah oleh ulama-ulama lain.
  • Ulama yang mencacat Al Umari tetapi juga memberikan predikat ta’dil padanya diantaranya At Tirmidzi, pencacatan Tirmidzi hanyalah mengikuti gurunya Bukhari yang mengikuti Yahya bin Sa’id. Dalam kitab Sunan-nya Tirmidzi telah membawakan hadis-hadis Al Umari, terkadang ia menyatakan“laisa bi qawy” dan terkadang ia mengatakan shaduq (Sunan Tirmidzi 1/321 hadis no 172).

Pencacatan terhadap Al Umari tanpa menyebutkan alasannya tidak dapat dijadikan hujjah sebagaimana yang ma’ruf dalam Ulumul hadis jika seorang perawi telah dinyatakan tsiqat oleh ulama-ulama lain maka pencacatan terhadapnya hendaknya bersifat mufassar atau dijelaskan. Satu-satunya alasan pencacatan Al Umari mungkin karena hafalannya seperti yang diisyaratkan Adz Dzahabi dalam Mizan Al ‘Itidal no 4472 dimana Dzahabi juga menyatakan ia shaduq (jujur) dan Adz Dzahabi juga memasukkan Al Umari dalam kitabnya Asma Man Tukullima Fihi Wa huwa Muwatstsaq 1/112 no 190.

Riwayat Al Umari ini juga dikuatkan oleh riwayat lain yang juga menyatakan Abu Bakar dan Umar ikut dalam Sariyyah Usamah. Riwayat tersebut terdapat dalam Al Mushannaf 6/392 no 32305

حدثنا عبد الرحيم بن سليمان عن هشام بن عروة عن ابيه أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان قطع بعثا قبل مؤتة وأمر عليهم اسامة بن زيد وفي ذلك البعث أبو بكر وعمر

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahim bin Sulaiman dari Hisyam bin Urwah dari Ayahnya bahawa Rasulullah(sawa) sebelum wafatnya mengutus pasukan dan mengangkat pemimpin diantara mereka Usamah bin Zaid, didalamnya juga terdapat Abu Bakar dan Umar…

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi tsiqat tetapi mursal. Abdurrahim bin Sulaiman dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/598, Hisyam bin Urwah juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/267 dan ayahnya Urwah bin Zubair adalah seorang tabiin yang tsiqat dalam At Taqrib 1/671. Riwayat Urwah dan Riwayat Ibnu Umar saling menguatkan sehingga dapat dijadikan hujjah.

Kemudian diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir 8/60

أخبرنا أبو بكر وجيه بن طاهر أنا أبو حامد الأزهري أنا أبو محمد المخلدي أنا المؤمل بن الحسن نا أحمد بن منصور نا أبو النضر هاشم بن القاسم نا عاصم بن محمد عن عبيد الله بن عمر عن نافع عن ابن عمر أن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) استعمل أسامة بن زيد على جيش فيهم أبو بكر وعمر فطعن الناس في عمله فخطب النبي (صلى الله عليه وسلم) الناس ثم قال قد بلغني أنكم قد طعنتم في عمل أسامة وفي عمل أبيه قبله وإن أباه لخليق للإمارة وإنه لخليق للأمرة يعني أسامة وإنه لمن أحب الناس إلي فأوصيكم به

Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakar Wajih bin Thahir yang berkata menceritakan kepada kami Abu Hamid Al Azhari yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Al Makhlad yang berkata telah menceritakan kepada kami Muammal bin Hasan yang berkata telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Nadhr Hasyim bin Qasim yang berkata telah menceritakan kepada kami Ashim bin Muhammad dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW mengangkat Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar.Kemudian orang-orang [para sahabat] mencela pengangkatannya. Nabi SAW kemudian berkhutbah kepada orang-orang “telah sampai kepadaKu bahwa kalian mencela pengangkatan Usamah dan begitu pula pengangkatan Ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya Ayahnya memang layak memimpin dan ia yakni Usamah juga layak untuk memimpin dan sesungguhnya ia termasuk orang yang paling aku cintai maka kuwasiatkan kalian untuk taat kepadanya”.

Atsar ini diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya sehingga sanadnya jayyid (baik). Berikut keterangan mengenai para perawinya.

  • Abu Bakar Wajih bin Thahir, Adz Dzahabi dalam Siyar ‘Alam An Nubala20/109 menyebutnya sebagai seorang Syaikh Alim Adil Musnid Khurasan. Ibnu Jauzi dalam Al Muntazam Fi Tarikh 18/54 menyebutkan bahwa ia seorang Syaikh yang shalih shaduq (jujur).
  • Abu Hamid Al Azhari, Adz Dzahabi dalam As Siyar 18/254 menyebutnya sebagai seorang syaikh yang adil dan shaduq. Disebutkan pula biografinya dalam Syadzrat Adz Dzahab Ibnu ‘Imad Al Hanbali 3/311 bahwa ia seorang yang tsiqah.
  • Abu Muhammad Al Makhlad, Adz Dzahabi dalam As Siyar 16/539 menyebutnya sebagai seorang Syaikh, Adil, Imam dan shaduq (jujur). Ibnu ‘Imad Al Hanbali dalam Syadzrat Adz Dzahab 3/131 juga menyebutnyaseorang Syaikh Muhaddis yang Adil.
  • Muammal bin Hasan, Adz Dzahabi dalam Siyar ‘Alam An Nubala 15/21-22 menyebutnya sebagai seorang Imam Muhaddis Mutqin. Dalam Tarikh Al Islam23/592 Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Syaikh Naisabur termasuk dari kalangan syaik-syaikh yang mulia.
  • Ahmad bin Manshur Ar Ramadi. Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam At Tahdzib juz 1 no 143 bahwa ia telah dinyatakan tsiqat oleh Daruquthni, Abu Hatim, Maslamah bin Qasim, Al Khalili dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib 1/47 ia dinyatakan tsiqat.
  • Abu Nadhr Hasyim bin Qasim, Ibnu Hajar memuat keterangan tentangnya dalam At Tahdzib juz 11 no 39 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Ali bin Madini, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim dan Ibnu Qani’. Dalam At Taqrib 2/261 ia dinyatakan tsiqat tsabit.
  • Ashim bin Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar bin Khattab, Ibnu Hajar menyebutkannya dalam At Tahdzib juz 5 no 92 dan ia dinyatakan tsiqat oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Daud, Abu Hatim dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib1/459 ia dinyatakan tsiqat.
  • Ubaidillah bin Umar bin Hafsh bin Ashim bin Umar bin Khattab, Ibnu Hajar memuat biografinya dalam At Tahdzib juz 7 no 71, ia adalah perawi Bukhari Muslim yang telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama diantaranya An Nasa’i, Abu Hatim, Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Ahmad bin Shalih dan Ibnu Sa’ad. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/637 menyatakan ia tsiqat.
  • Nafi’ maula Ibnu Umar, Ibnu Hajar menyebutkan keterangannya dalam At Tahdzib juz 10 no 743, ia seorang perawi Bukhari dan Muslim yang dikenal tsiqat. Ibnu Sa’ad, Al Ajli, Ibnu Kharrasy, An Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Syahin dan yang lainnya menyatakan bahwa ia tsiqat. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 2/239 menyatakan Nafi’ tsiqat tsabit.

Semua Atsar di atas menunjukkan dengan jelas bahwa Abu Bakar dan Umar ikut dalam pasukan Usamah bin Zaid di bawah pimpinan Usamah RA. Hal ini juga telah ditegaskan oleh banyak ulama di antaranya

  • Ibnu Sa’ad dalam kitabnya At Thabaqat 2/190
  • Al Baladzuri dalam kitabnya Ansab Al Asyraf 2/115
  • Ibnu Atsir dalam Al Kamil Fi Tarikh 2/317
  • Ibnu Hajar dalam Tahdzib At Tahdzib juz 1 no 391 biografi Usamah bin Zaid dan dalam Fath Al Bari 8/190
  • Al Hafiz Ibnu Zaky Al Mizzi dalam Tahdzib Al Kamal 2/340 biografi Usamah bin Zaid no 316
  • As Suyuthi dalam Is’af Al Mubatta 1/5 biografi Usamah bin Zaid
  • Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al Muntazam 2/405
  • Muhammad bin Yusuf Shalih Asy Syami dalam kitabnya Subul Al Huda Wa Rasyad 11/341
  • Al Qasthalani dalam Irsyad As Sari Syarh Shahih Bukhari 9/423
  • Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq 8/46 biografi Usamah bin Zaid
  • Ibnu Manzur dalam Mukhtasar Tarikh Dimasyq 4/248
  • Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya ‘Uyun Al Atsar 2/352

Apa kata Rasulullah terhadap orang yang tidak mengikuti Sariyyah Usamah? Rasulullah bersabda: “”Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentera Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa'd, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi].

Keterangan bahwa Abu Bakar dan Umar di bawah pimpinan Usamah telah diriwayatkan melalui kabar yang shahih dan hal ini juga ditegaskan oleh banyak ulama. Oleh karena itu pengingkaran terhadap hal ini hanyalah usaha yang lemah dan tidak berdasar.

Sebenarnya tentang Imamah Ali as telah banyak dituliskan dalam buku-buku ulama syi’ah, yang merujuk dari sumber-sumber ahlusunnah maupun syi’ah. Dan berdasarkan tulisan tentang asal-usul syi’ah di atas, maka jelas sekali bahwa imamah Imam Ali as telah ditetapkan oleh Rasul saww sejak awal permulaan Islam, yaitu pada peristiwa “Yaum Ad-Daar”. Bahkan pada kesempatan-kesempatan lain, Rasul saww telah menetapkan imamah Ali as, sebagaimana yang termaktub secara mutawattir pada referensi-referensi ahlusunnah sendiri, salah satunya adalah seperti berikut :

saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro' 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul saww berkata :

Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku“. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib.

Lalu Rasul saww berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Hadits tersebut juga banyak diriwayatkan dalam kitab ahlusunnah,

seperti :

1. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319.

2. Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62.

3. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15.

4. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”.

dan lain-lain.

—————————————-

Ibn Abbas meriwayatkan bahwa Rasul saww bersabda kepada Imam Ali as :

Engkau adalah pemimpin kaum mukmin sepeninggalku”.

Ref. Ahlusunnah :

  1. Ibn Abdul Birr, dalam “Al-Isti’ab”, jilid 3, hal. 168.
  2. Al-Hamid Al-Husaini, “Imamul Muhtadin”, hal. 181-182.

———————————————–

Allah berfirman dalam [Q.S. Ar-Ra'd 7].

Sesungguhnya engkau (hai Muhammad) hanyalah pemberi peringatan, dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk“.

Setelah menerima wahyu tersebut, kemudian Rasul saww berkata :

Aku adalah pemberi peringatan……”. Beliau kemudian menunjukkan ke arah pundak Ali bin Abi Tholib sambil berkata : “Dan engkau, wahai Ali, adalah pemberi petunjuk. Orang-orang yang memperoleh hidayah akan mengikuti petunjukmu kelak sepeninggalku“.

Ref. Ahlusunnah :

-    Suyuthi, dalam tafsir “Durr Al-Mantsur”, jilid 4, (Q.S. Ar-Ra’d 7). [Lihat Catatan kaki no. 6]

-    Al-Hamid Al-Husaini, “Imamul Muhtadin”, hal. 206.

———————————————-

Dan puncaknya adalah pernyataan resmi Rasul saww atas wilayah dan imamah Ali as di Ghodir Khum, yang dilandasi juga dengan perintah khusus dari Allah pada [Q.S. Al-Maidah 67] : “Wahai Rasul, sampaikan  apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika kamu tidak menyampaikannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan risalah-risalah-Nya“.

Ref. Ahlusunnah :

- Suyuthi, dalam tafsir “Durr Al-Mantsur”. [Lihat Catatan Kaki no. 7]

- Ar-Razi, dalam “Tafsir Ar-Razi”.

- dan lain-lain.

Sanad : Zaid bin Arqam, Abu Sa’id Al-Khudri, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, dll.

———————————————–

Berdasarkan ayat itulah Rasul saww bersabda :

Siapa yang menganggap aku sebagai maula (pemimpin) nya, maka inilah Ali maula-nya”.

Ref. Ahlusunnah :

  1. Ibn Abdul Birr, dalam “Al-Isti’ab”, jilid 3, hal. 203.
  2. Musnad Ahmad, jilid 4, hal. 281. [Lihat Catatan Kaki no. 8]
  3. Syaikh Manshur, dalam “At-Taj”, jilid 3, hal. 296.
  4. Ibn Katsir, dalam “Al-Bidayah Wan Nihayah”, juz 5, hal. 184-188.
  5. Sunan Tirmidzi, hadits no. 3713.
  6. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 13, hadits no. 36340. [Lihat Catatan Kaki no. 9]

dan lain-lain.

——————————————

Syaikh Manshur juga mengutip perkataan Syafi’i tentang Hadits Al-Ghodir :

Rasul menginginkan kepemimpinan Islam dengan pengangkatan Ali tersebut, sebagaimana firman Allah : ‘Dan Allah adalah pemimpin kaum mu’min, sementara kaum kafir tidak ada pemimpin bagi mereka’ [Q.S. Muhammad 11]”.

Ref. Ahlusunnah :

Syaikh Manshur, dalam “At-Taj”, jilid 3, hal. 296.

Sanad dari hadits Al-Ghodir ini adalah 110 sahabat, seperti Zaid bin Arqam, Anas bin Malik, Jabir Al-Anshori, Hudhaifah bin Usaid Al-Ghifari, Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Ibnu Mas’ud, dan lain-lain. Selengkapnya lihat kitab “Al-Ghodir” (jilid 1, hal. 214-229) oleh Al-Amini, seorang ulama syi’ah yang telah mengumpulkan riwayat-riwayat seputar imamah Ali as di ghodir khum berdasarkan riwayat-riwayat ahlusunnah.

——————————————

Bahkan Abubakar dan Umar termasuk yang memberikan selamat kepada Ali as pada peristiwa Ghodir Khum tersebut. Umar berkata :

Selamat untukmu wahai putera Abi Tholib. Kini engkau adalah pemimpinku dan pemimpin kaum mukmin dan mukminat”.

Ref. Ahlusunnah :

- Ar-Rozi, dalam tafsir “Ar-Rozi”, pada [Q.S. Al-Maidah 67].

- Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 13, hadits no. 36420. [Lihat Catatan Kaki no. 10]

- Musnad Ahmad, jilid 4, hal. 281. [Lihat Catatan Kaki no. 8]

- Ibn Katsir, dalam “Al-Bidayah Wan Nihayah”, jilid 3,  juz 5, hal. 185.

- Ibn Taimiyyah, dalam “Fadhlu Ahlil Bait Wa Huququhum”, hal. 88, 90-91.

dan lain-lain.

————————————————————

Imam Ali as justru pernah beberapa kali meminta kesaksian sahabat tentang peristiwa Ghodir Khum, salah satunya sebagai berikut :

Pada suatu hari Imam Ali as berada di sebuah lapangan terbuka dan bertanya untuk meminta kesaksian para sahabat yang ada di situ tentang ketetapan Rasul saww atas imamah beliau as. Lalu dua belas orang sahabat menyatakan kesaksiannya.

Ref. Ahlusunnah :

  1. Ibn Katsir, dalam “Bidayah Wa Nihayah”, jilid 3, juz 5, hal. 185.
  2. Al-Hamid Al-Husaini, dalam “Imamul Muhtadin”, hal. 149-150.
  3. Musnad Ahmad, Jilid 1, bab “Musnad Ali bin Abi Tholib”. [Lihat Catatan Kaki no. 11] dan lain-lain.

——————————————————

KHUTBAH SYIQSYIQIYYAH

 

Berikut adalah khutbah Imam Ali as dalam Nahjul Balaghah, yang mengecam perampasan hak imamah dari beliau as :

“Demi Allah, putra Abu Quhafah (Abubakar) membusanai dirinya dengan (kekhalifahan) itu, padahal ia pasti tahu bahwa kedudukan saya sehubungan dengan itu adalah sama dengan kedudukan poros pada kincir. Air bah mengalir menjauh dari saya dan burung tak dapat terbang sampai kepada saya. Saya memasang tabir terhadap kekhalifahan dan melepaskan diri darinya. Kemudian saya mulai berpikir, apakah saya harus menyerang ataukah menanggung dengan tenang kegelapan membutakan dan azab, dimana orang dewasa menjadi lemah dan orang muda menjadi tua, dan orang mukmin yang sesungguhnya hidup di bawah tekanan sampai ia menemui Allah. Saya dapati bahwa kesabaran atasnya lebih bijaksana. Maka saya mengambil kesabaran, walaupun ia menusuk di mata dan mencekik kerongkongan. Saya melihat PERAMPOKAN warisan saya sampai ORANG PERTAMA menemui ajalnya, tetapi mengalihkan kekhalifahan kepada Ibn Khattab sesudah dirinya.

Aneh bahwa selagi hidup ia ingin melepaskan diri dari kekhalifahan, tetapi ia mengukuhkannya untuk yang lainnya setelah matinya. Tiada ragu bahwa KEDUA ORANG INI sama bersaham pada puting-puting susunya semata-mata di antara mereka saja. Yang satu ini menempatkan kekhalifahan dalam suatu lingkungan sempit yang alot dimana ucapannya sombong dan sentuhannya kasar. Kesalahannya banyak, dan banyak pula dalihnya kemudian. Orang yang berhubungan dengannya adalah seperti penunggang unta binal. Akibatnya demi Allah manusia terjerumus ke dalam kesemberonoan, kejahatan, kegoyahan dan penyelewengan. Namun demikian saya tetap sabar walaupun panjangnya masa dan tegarnya cobaan, sampai ketika ia pergi pada jalannya (mati), ia menempatkan urusan kekhalifahan pada suatu kelompok dan menganggap saya salah satu dari mereka. Tetapi Ya Allah, apa hubungan saya dengan musyawarah ini.

Sehingga ORANG KETIGA dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya bangkit menelan harta Allah seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.

Pada waktu itu tak ada yang mengagetkan saya selain kerumunan orang yang maju kepada saya seperti bulu tengkuk rubah, sehingga Hasan dan Husein terinjak dan kedua ujung baju bahu saya robek. Mereka berkumpul di sekitar saya seperti kawanan kambing. Ketika saya mengambil kendali pemerintahan, suatu kelompok memisahkan diri dan satu kelompok lain mendurhaka, sedang sisanya mulai menyeleweng seakan-akan mereka tidak mendengar kalimat Allah yang mengatakan : ‘Negeri Akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa’ [Q.S. 28:83].

Ya, demi Allah, mereka telah mendengarnya dan memahaminya, tetapi dunia nampak berkilau di mata mereka dan hiasannya menggoda mereka. Lihatlah, demi Dia yang memilah gabah dan mencipta makhluk hidup, apabila orang-orang tidak datang kepada saya dan para pendukung tidak mengajukan hujjah, dan apabila tidak ada perjanjian Allah dengan ulama bahwa mereka tak boleh berdiam diri dalam keserakahan si penindas dan laparnya orang tertindas, maka saya akan sudah melemparkan kekhalifahan dari bahu saya, dan memberikan orang yang terakhir perlakuan yang sama seperti orang yang pertama. Maka anda akan melihat bahwa dalam pandangan saya dunia anda ini tidak lebih baik dari bersin seekor kambing”.

Ref. Syi’ah : Nahjul Balaghah, khutbah “Syiqsyiqiyyah” (khutbah no. 3). [Lihat Catatan Kaki no.  40]

RASULULLAH  SAW  MERASAKAN  iNDiKASi  KUDETA
 Hal inilah justru yang dipertanyakan Allah swt. 
Allah SWT berfirman ; Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) 
lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? 
Sesungguhnya Kami telah mernberikan kitab dan hikmah kepada 
keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepada mereka 
kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa : 54).

 

Orang-orang yang dihasuti dan yang diberi karunia dalam ayat tersebut adalah Keturunan/Ahlul Bait Rasulallah saw. silahkan rujuk: 

Syawahidut Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, hal.143 hadits  ke 195, 196,197,198; Manaqib Al-Imam Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili Asy-Safi’I, hal.467 hadits ke 314 ; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal.142, 328  dan 357 cet, Al-Haidariyah hal.121, 274 dan 298, cet.Istanbul ; Ash-Shawa’iqul Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal.150 cet.Al- Muhammadiyah, hal. 91 cet. Al-Maimaniyah, Mesir ;  Nurul Abshar oleh Asy-Syablanji hal.101, cet.Al-’Utsmaniyah, hal.102 cet.As- Sa’idiyah ; Al-Ittihaf Bihubbil Asyraf, oleh Asy-Syibrawi Asy-Syafi’i, hal. 76 ; Rasyafah Ash-Shadi, oleh Abu Bakar Al-Hadrami, hal. 37 ; Al-Ghadir, oleh Al-Amini jilid 3, hal. 61 dan masih banyak lagi lainnya.

 
 

Rasul saw telah diperintahkan oleh Allah SWT untuk mengumumkan secara resmi kepada masyarakat umum tentang Imamah dan wilayah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as. Akan tetapi, beliau merasa kuatir terhadap protes dan penentangan mereka dalam melakukan perintah Ilahi itu. Beliau kuatir akan anggapan mereka bahwa hal itu adalah ambisi pribadi beliau semata, karenanya ada kemungkinan mereka akan menolaknya. Rasulullah  SAW  sudah  merasakan  ada  indikasi  kudeta…

 

Untuk itu, Rasul saw menunggu kesempatan yang tepat untuk menyampaikan pesan penting tersebut hingga turunlah ayat ini, “Wahai Rasul, sampaikanlah pesan dan wahyu yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu. Dan jika kamu tidak melaksanakannya, maka berarti kamu tidak menyampaikan seluruh risalah-Nya. Dan janganlah kamu takut, karena Allah akan menjagamu dari kejahatan manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)

 

MENGiNGKARi  iMAMAH  ALi  SAMA  SAJA  DENGAN  MENGiNGKARi  RiSALAH

 

Sejauh yang dapat kita cermati, tampak sebegitu besarnya penekanan Allah SWT atas pentingnya menyampaikan perintah Ilahi di Ghadir Kum yang tidak kurang pentingnya daripada perintah-perintah Ilahi lainnya. Bahkan jika perintah tersebut tidak disampaikan, ini sama artinya dengan tidak pernah menyampaikan semua risalah Allah. Lebih dari itu, di dalam ayat di atas terdapat kabar gembira, bahwa Allah senantiasa akan menjaga dan melindungi Nabi saw dari berbagai kejahatan dan perlakuan buruk yang mungkin direncanakan oleh musuh-musuh Allah tatkala mereka mendengar perintah tersebut.

 

Berbarengan dengan turunnya ayat tersebut, Rasul saw memperoleh kesempatan yang sangat tepat untuk menyampaikan perintah Ilahi yang amat penting itu. Ketika melihat bahwa tidaklah bijak menunda perintah itu, beliau pun segera mengumpulkan kaum muslimin di padang Ghadir Khum untuk menerima pesan-pesan dan wasiat beliau.

 

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa keistimewaan hari “Ghadir” ini terletak pada diumumkannya secara resmi pengangkatan Imam Ali bin Abi Thalib as di hadapan khalayak umat, sekaligus pengambilan baiat dari mereka. Karena sebelum itu, Rasul saw seringkali memberikan isyarat tentang khilafah Ali as dengan berbagai ungkapan dan dalam berbagai kesempatan sepanjang masa kenabian beliau.

 

Termasuk hadis yang disampaikan oleh Nabi saw menjelang  wafatnya ialah… Rasululullah  SAW  bersabda : “Wahai Ali, engkau adalah pemimpin bagi setiap mukmin setelah wafatku nanti.” (Rujuk ke Mustadrak al-Hakim, jilid 3/111, 134, Ash-Shawa’iq Al-Muhriqah, hal. 103, dan Musnad  Imam  Ahmad  bin  Hambal, jilid 1/331 dan jilid 4/438. )

Saudaraku………………

Dalam aqidah Syiah martabat Ali (as) lebih tinggi dari seluruh sahabat  dan  wali  Allah  yang lain..

Sila buktikan perkara ini dengan ayat al-Quran.

Jawaban:

Surah Ali ‘Imran, ayat 61 ; Syiah dan Sunni mahupun Wahabi beraqidah tentang ‘diri kami dan diri kamu’ dalam ayat Mubahalah adalah Ali bin Abi Talib (as).

Mereka berkata: Dalam ayat ini diri dan jiwa Nabi (s) diletakkan pada Ali bin Abi Talib (as), maka perkataan ‘diri’ di sini bukanlah bermaksud diri yang sebenar, namun bermakna beliau mempunyai seluruh kelebihan dan martabat Nabi hanya saja beliau bukanlah seorang Nabi.

Dalam Hadis Manzil juga nabi bersabda: “Kedudukanmu di sisiku seperti Harun di sisi Musa, cuma tiada Nabi setelahku” Sahih Muslim: 8/120; Sunan Ibnu Majah 1/45″

Di samping itu ada berbagai riwayat ketika surah Baraah telah diturunkan. Nabi (s) memberikan surah itu kepada Abu Bakar untuk dibacakan di hadapan Musyrikin Makkah. Namun saat beliau dalam perjalanan dengan arahan Nabi, Ali bin Abi Talib (s) datang dan mengambil surah itu. Abu Bakar berduka cita lantas berkata kepada Nabi (s): Apakah telah turun sesuatu supaya surah dari saya diambil? Nabi bersabda: Tidak, Tuhan dengan perantara Jibrail menyampaikan pada saya, hendaklah ayat tersebut saya sendiri yang menyampaikannya atau ’siapa yang berkedudukan seperti saya’.

Dengan ini ayat Mubahalah dan beberapa riwayat yang lain mengatakan diri Ali setara martabatnya dengan diri Rasulullah (s) kecuali kenabian. Oleh kerana Nabi lebih Afdhal dari semua Nabi, maka Ali (as) juga lebih Afdhal dari seluruh Anbiya.

Sebagai tambahan, dalam kitab-kitab Syiah juga ada banyak riwayat tentang kelebihan para Imam (as) atau kelebihan Amirul Mukminin.. Ali, Hasan, Hussain dan Fatimah adalah daripada golongan ayat Tathir yang telah Allah sucikan sesucinya daripada segenap kenistaan

Aswaja  ingin menutup-nutupi kesalahan Umar, dia berdaya upaya untuk membelokkan fakta agar sesuai dengan keinginannya.  Andaikata dia dapat meneliti dengan benar tentu dia dapat menangkap realita bahwa memang Umar senantiasa syak terhadap rasulullah sendiri. Hal ini dapat dibuktikan ketika dia bertanya apakah engkau Rasulullah?  Bagi orang-orang yang benar-benar beriman tentu sangat fatal melemparkan pertanyaan seperti itu terhadap Rasulullah, kecuali memang dia itu menyangsikan Kerasulannya.  Apalagi setelah mendapatkan jawaban dari Rasulullah, dia masih mengulang lagi pertanyaan yang sama kepada Abubakar. Hal ini membuktikan bahwa dia itu tidak percaya apa yang dikatakan Rasulullah.

Dalam shahih Bukhari halaman 111 dan shahih Muslim halaman 12, 14 dikatakan bahwa Umar berkata : Aku tidak mengesyaki kenabian Muhammad saw seperti syakku pada hari Hudaibiyah.  Kata-kata Umar tersebut menunjukkan bahwa dia senantiasa mengesyaki kenabian Nabi Muhammad saw tetapi syaknya pada hari Hudaibiyah adalah lebih banyaklagi daripada syak-syak sebelumnya.  Wahai Ustaz Ahmad Sudirman, adakah orang yang mengesyaki Rasulullah seperti itu masih dikira orang mukmin?  Wahai  salafi adakah hak Umar untuk menghambat Rasulullah daripada menbulis wasiatnya?  Bukankah setiap muslim dianjurkan untuk berwasiat manakala dirasakan sudah dekat ajalnya? Lantas Nabi yang mengajarkan kita agama mulia itu, apakah tidak opantas untuk berwasiat?

Disaat yang lain, Umar juga menentang Rasulullah ketika hendak menulis wasiat (baca Shahih Bukhari jil.2 dan 5 Hal. 75; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 1 hal. 355; jil. 5 hal. 116; Tarikh Thabari jil. 3 hal. 193; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 320.).

Umar dan Abubakar meneruskan penentangannya terhadap Rasulullah ketika beliau mengangkat Usamah sebagai Komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah pasukan Usamah ini. Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata, “Bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami?”  Wahai Ustaz Ahmad Sudirman apakah Umar cs lebih tau daripada Rasulullah sendiri? Dapatkan pertanyaan seperti itu dibenarkan?  Apakah disini juga anda hendak mengatakan bahwa itu sekedar pertanyaan saja sebagaimana anda membelanya dalam kejadian Hudaibiyah?

Allah berfirman: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36).

Sebelum itu mereka juga pernah mencela pengangkatan ayahnya oleh Nabi. Sedemikian rupa mereka memprotes Nabi saww sampai beliau marah sekali. Dengan kepalanya yang terikat karena deman panas yang dideritanya, Nabi keluar dipapah oleh dua orang dalam keadaan dua kakinya yang terseret-seret menyentuh bumi. Nabi naik ke atas mimbar, memuji Allah dan bertahmid padaNya. Sabdanya: “Wahai muslimin, apa gerangan kata-kata sebagian di antara kalian yang telah sampai ke telingaku berkenaan dengan pengangkatanku Usamah sebagai pemimpin. Demi Allah, jika kamu kini mengecam pengangkatannya; sungguh hal itu sama seperti dahulu kamu telah mengecam pengangkatanku terhadap ayahnya sebagai pemimpin. Demi Allah, sesungguhnya ia amat layak memegang jabatan kepemimpinan itu. Begitu juga puteranya ”setelah ia” sungguh amat layak untuk itu.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad jil.2 hal.l90; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 317; Sirah al-Halabiyah jil. 3 hal. 207;Tarikh Thabari jil. 3 hal 226.). Wahai Ustaz Ahmad Sudirman apakah hendak anda belajuga Umar dan Abubakar itu kendatipun seringkali memperlihatkan penentangannya?

Rasulullah SAW Tidak Mau Bersaksi Untuk Abu Bakar RA

وحدثني عن مالك عن أبي النضر مولى عمر بن عبيد الله أنه بلغه ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال لشهداء أحد هؤلاء اشهد عليهم فقال أبو بكر الصديق ألسنا يا رسول الله بإخوانهم أسلمنا كما أسلموا وجاهدنا كما جاهدوا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم بلى ولكن لا أدري ما تحدثون بعدي فبكى أبو بكر ثم بكى ثم قال أإنا لكائنون بعدك

Yahya menyampaikan kepadaku (hadis) dari Malik dari Abu’n Nadr mawla Umar bin Ubaidillah bahwa Rasulullah SAW berkata mengenai para Syuhada Uhud “Aku bersaksi untuk mereka”. Abu Bakar As Shiddiq berkata “Wahai Rasulullah, Apakah kami bukan saudara-saudara mereka? Kami masuk Islam sebagaimana mereka masuk islam dan kami berjihad sebagaimana mereka berjihad”. Rasulullah SAW berkata “Ya, tapi Aku tidak tahu Apa yang akan kamu lakukan sepeninggalKu”. Abu Bakar menangis sejadi-jadinya dan berkata ”Apakah kami akan benar-benar hidup lebih lama daripada Engkau!”. (Hadis Dalam Al Muwatta Imam Malik Kitab Jihad Bab Para Syuhada di Jalan Allah hadis no 987)

Penjelasan Hadis
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitabnya Al Muwatta. Dari hadis di atas diketahui bahwa

  • Para Syuhada Uhud lebih utama dari Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Rasulullah SAW telah memberikan kesaksian kepada Mereka
  • Rasulullah SAW tidak memberikan kesaksian kepada Abu Bakar dan sahabat lainnya karena Rasulullah SAW tidak mengetahui apa yang akan mereka perbuat sepeninggal Beliau SAW.

==========================================================

Saudaraku……….
Simaklah :
Bukhari :: Book 5 :: Volume 59 :: Hadith 728

Narrated ‘Abdullah bin Abbas:

Ali bin Abu Talib came out of the house of Allah’s Apostle during his fatal illness. The people asked, “O Abu Hasan (i.e. Ali)! How is the health of Allah’s Apostle this morning?” ‘Ali replied, “He has recovered with the Grace of Allah.” ‘Abbas bin ‘Abdul Muttalib held him by the hand and said to him, “In three days you, by Allah, will be ruled  by ‘abdun  al ‘aashaa*, And by Allah, I feel that Allah’s Apostle will die from this ailment of his, for I know how the faces of the offspring of ‘Abdul Muttalib look at the time of their death. So let us go to Allah’s Apostle and ask him who will take over the Caliphate. If it is given to us we will know as to it, and if it is given to somebody else, we will inform him so that he may tell the new ruler to take care of us.” ‘Ali said, “By Allah, if we asked Allah’s Apostle for it (i.e. the Caliphate) and he denied it us, the people will never give it to us after that. And by Allah, I will not ask Allah’s Apostle for it.”

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwasanya Ali bin Abi Thalib keluar dari rumah Rasulullah ketika beliau sakit menjelang wafatnya. Maka manusia berkata: “Wahai Abal Hasan, bagaimana keadaan Rasulullah ?” Beliau menjawab: “Alhamdulillah telah  sembuh  dengan  izin Allah”.. Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulullah) memegang tangan Ali bin Abi Thalib, kemudian berkata kepadanya: “Demi  Allah, dalam  tiga hari kedepan anda  akan  dipimpin  oleh hamba yang bermaksiat/durhaka/otoriter* .. Demi  Allah, aku  merasa  bahwa Rasulullah akan wafat dalam sakitnya kali ini, karena aku mengenali bagaimana  wajah-wajah anak cucu Abdul Muthalib ketika akan wafatnya. Marilah kita menemui Rasulullah untuk menanyakan kepada nya  siapa yang  akan mengambil alih  kekhalifahan.. Kalau diserahkan kepada kita, maka kita mengetahuinya. Dan kalau pun diserahkan untuk selain kita, maka kitapun mengetahuinya. Kita  akan melaporkan kepadanya  maka  mungkin  Nabi akan memberitahukan penguasa baru  yang akan memerintah.. Ali bin Abi Thalib berkata : “Demi Allah, sungguh kalau kita menanyakan kepada Rasulullah (tentang kekhalifahan), lalu beliau tidak memberikannya kepada kita, maka orang orang tidak akan pernah memberikannnya kepada kita selama-lamanya. Dan sesungguhnya aku demi Allah tidak akan menanyakan nya  kepada Rasulullah (HR. Bukhari, kitabul Maghazi, bab Maradlun Nabiyyi wa wafatihi; fathlul bari 8/142, no. 4447)

* Teks   arabnya  : faqaala  anta  wallahi   ba’da   tsalaasin  tahta  ‘abdun  al ‘aashaa, kata abdun ‘aashaa bermakna hamba yang  bermaksiat/ durhaka/ otoriter

 

Tapi tidak lama setelah peristiwa ini, pada hari kamis  Nabi  mencoba mewasiat kan 3  hal  secara tertulis  tapi  di gagal kan oleh  Umar

 

Ibnu Abbas berkata: “Hari Kamis, oh hari Kamis. Waktu Rasul merintih kesakitan, beliau berkata, mari kutuliskan untuk kalian suatu pesan agar kalian kelak tidak akan tersesat. Umar berkata bahwa Nabi sudah terlalu sakit sementara AlQuran ada di sisi kalian. Cukuplah bagi kita Kitab Allah. Orang yang berada dalam rumah berselisih dan bertengkar. Ada yang mengatakan berikan kepada Nabi kertas agar dituliskannya suatu pesan di mana kalian tidak akan tersesat setelahnya. Ada sebagian lain berpendapat seperti pendapatnya Umar. Ketika pertengkaran di sisi Nabi semakin hangat dan riuh Rasul pun lalu berkata, ‘Pergilah kalian dari sisiku!’ Ibnu Abbas berkata: ‘Tragedi yang paling menyayat hati Nabi adalah larangan serta pertengkaran mereka di hadapan Rasul yang ingin menuliskan suatu pesan untuk mereka.’   ( Shahih Bukhori jil.2 dan 5 Hal. 75; Musnad Ahmad Bin Hanbal jil. 1 hal. 355; jil. 5 hal. 116; Tarikh Thabari jil. 3 hal. 193; Tarikh Ibnu Atsir Jil. 2 hal. 320.)

 

 

.. Namun  kemudian  setelah  mereka  diusir  Nabi  mewasiatkan  3  hal  secara  lisan.. Wasiat  ketiga disembunyikan  Aswaja  sehingga  Aswaja  bisa  tegak

===================================================

Dengan melihat keistimewaan dan kedudukan yang dimiliki oleh Imam Ali a.s., para pengikutnya meyakini bahwa ia adalah satu-satunya sahabat yang berhak untuk menggantikan kedudukan Rasulullah SAWW setelah ia wafat. Keyakinan ini menjadi semakin mantap setelah peristiwa “kertas dan pena” yang terjadi beberapa hari sebelum ia meninggal dunia. Akan tetapi, kenyataan bericara lain. Ketika Ahlul Bayt a.s. dan para pengikut setia mereka sedang sibuk mengurusi jenazah Rasulullah SAWW untuk dikebumikan, mayoritas sahabat yang didalangi oleh sekelompok sahabat yang memiliki kepentingan-kepentingan pribadi dengan Islam, berkumpul di sebuah balai pertemuan yang bernama Saqifah Bani Sa’idah guna menentukan khalifah pengganti Rasulullah SAWW. Dan dengan cara dan metode keji, para dalang “permainan” ini menentukan Abu Bakar sebagai khalifah pertama muslimin.

Setelah para pengikut Imam Ali a.s. yang hanya segelintir selesai mengebumikan jenazah Rasulullah SAWW, mereka mendapat berita bahwa khalifah muslimin telah dipilih. Banyak pengikut Imam Ali a.s. seperti Abbas, Zubair, Salman, Abu Dzar, Ammar Yasir dan lain-lain yang protes atas pemilihan tersebut dan menganggapnya tidak absah. Yang mereka dengar hanyalah alasan yang biasa dilontarkan oleh orang ingin membela diri. Mereka hanya berkata: “Kemaslahatan muslimin menuntut demikian”.

Protes minoritas inilah yang menyebabkan mereka memisahkan diri dari mayoritas masyarakat yang mendominasi arena politik kala itu. Dengan demikian, terwujudlah dua golongan di dalam tubuh masyarakat muslim yang baru ditinggal oleh pemimpinnya. Akan tetapi, pihak mayoritas yang tidak ingin realita itu diketahui oleh para musuh luar Islam, mereka mengeksposkan sebuah berita kepada masyarakat bahwa pihak minoritas itu adalah penentang pemerintahan yang resmi. Akibatnya, mereka dianggap sebagai musuh Islam.

Meskipun adanya tekanan-tekanan dari kelompok mayoritas, kelompok minoritas ini masih tetap teguh memegang keyakinannya bahwa kepemimpinan adalah hak Imam Ali a.s. setelah Rasulullah SAWW meninggal dunia. Bukan hanya itu, dalam menghadapi segala problema kehidupan, mereka hanya merujuk kepada Imam Ali a.s. untuk memecahkannya, bukan kepada pemerintah. Meskipun demikian, berkenaan dengan problema-problema yang menyangkut kepentingan umum, mereka tetap bersedia untuk ikut andil memecahkannya. Banyak problema telah terjadi yang tidak dapat dipecahkan oleh para khalifah, dan Imam Ali a.s. tampil aktif dalam memecahkannya.

 

Mayoritas Quraisy tidak suka dengan Ali, karena beliau adalah yang paling muda, yang pernah menghancurkan pembesar-pembesar mereka dan membunuh pahlawan pahlawannya.

 

Dua hari menjelang wafatnya Rasulullah, beliau telah siapkan sebuah pasukan untuk memerangi Roma. Usamah bin Zaid yang saat itu berusia delapan belas tahun diangkat sebagai komandan pasukan perang. Tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan sahabat-sahabat besar lainnya diperintahkan untuk berada di bawah pasukan Usamah ini. Sebagian mereka mencela pengangkatan Usamah. Mereka berkata, “Bagaimana Nabi bisa menunjuk seorang anak muda yang belum tumbuh janggut sebagai komandan pasukan kami?”

 

Sikap seperti ini mendorongku untuk bertanya, alangkah beraninya mereka terhadap Allah dan RasulNya?

======================================================
Bukhari :: Book 4 :: Volume 51 :: Hadith 4

Narrated Al-Aswad:

In the presence of ‘Aisha some people mentioned that the Prophet had appointed ‘Ali by will as his successor. ‘Aisha said, “When did he appoint him by will? Verily when he died he was resting against my chest (or said: in my lap) and he asked for a wash-basin and then collapsed while in that state, and I could not even perceive that he had died, so when did he appoint him by will?”

Ketika  Aisyah  datang, beberapa  orang   menyebutkan  bahwa  Rasulullah  SAW  telah  mengangkat  Ali   dengan  wasiat  nya  sebagai   penggantinya.. Aisyah  berkata : “Kapan  dia telah  mengangkatnya  dengan  wasiat  ??? Sesungguhnya “Beliau (Rasulullah) menyuruh agar bejana tempat cuci  tangan  dibawakan, kemudian ia bersandar dan akulah yang menjadi tempat sandarannya, tak lama kepala beliau terkulai jatuh dan ternyata beliau telah wafat tanpa aku ketahui. Jadi bagaimana mungkin orang-orang itu mengatakan bahwa Rasulullah saw memberikan wasiat kepada Ali ?” [Shahih al-Bukhari, kitab al-Wasaya 5/356 dari Fathul Baari,

===============================================================

Muslim :: Book 13 : Hadith 4013

Aswad b. Yazid reported: It was mentioned before A'isha that will had been made (by the Holy Prophet) in favour of 'Ali (as the Prophet's first caliph), whereupon she said: When did he make will in his favour? I had been providing support to him (to the Holy Prophet) with my chest (or with my lap). He asked for a tray, when he fell in my lap (relaxing his body), and I did not realise that he had breathed his last. When did he make any will in his ('Ali's) favour?

Aswad  bin  Yazid  menyatakan  :  Ketika  diceritakan  kepada  Aisyah  sebelumnya bahwa  wasiat  telah  dibuat  (oleh  Nabi)  untuk  menyokong  Ali  (sebagai  khalifah  pertama  Nabi),   kemudian  dia  ( Aisyah ) berkata : “Kapan  Nabi  membuat  wasiat  yang  menyokongnya ?? Saya  telah  menjadi  sandaran  Nabi  diantara  dada (atau  dengan pangkuanku), Nabi  telah  meminta  talam/nampan  ketika  dia  rebah  dalam  pangkuan ku  ( menyandarkan tubuhnya), dan aku tidak menyadari  bahwa  Nabi telah  menghembuskan  nafas terakhirnya..Jadi kapan Nabi  membuat  wasiat  yang  menyokong  Ali  ???  (  hr. Muslim, kitab al-Wasiyah hadits no.1637].

============================================================

Muslim :: Book 13 : Hadith 4014

Sa’id b. Jubair reported that Ibn ‘Abbas said: Thursday, (and then said): What is this Thursday? He then wept so much that his tears moistened the pebbles. I said: Ibn ‘Abbas, what is (significant) about Thursday? He (Ibn ‘Abbas) said: The illness of Allah’s Messenger (may peace be upon him) took a serious turn (on this day), and he said: Come to me, so that I should write for you a document that you may not go astray after me. They (the Companions around him) disputed, and it is not meet to dispute in the presence of the Apostle. They said: How is lie (Allah’s Apostle)? Has he lost his consciousness? Try to learn from him (this point). He (the Holy Prophet) said: Leave me. I am better in the state (than the one in which you are engaged). I make a will about three things: Turn out the polytheists from the territory of Arabia; show hospitality to the (foreign) delegations as I used to show them hospitality. He (the narrator) said: He (Ibn Abbas) kept silent on the third point, or he (the narrator) said: But I forgot that.

Ibnu  Abbas  tidak  menyembunyikan  wasiat  itu, hadis  sengaja  di kondisikan  demikian  oleh  para  perawi   karena  tekanan rezim  Bani  Umayyah…Dibuat  seolah  olah  Ibnu  Abbas lupa

Nah, beberapa  orang  itu  siapa  saja  ????

Dan  mana  lebih  kuat  dengan  kesaksian  Aisyah  sendiri ???

Beberapa   orang   yang  menyatakan  Nabi  telah  memberi  wasiat  pada  Ali   termasuk  Ali, Abbas, Ibnu  Abbas, Fadhil, Salman,  Abu  Zarr   padahal  Aisyah  tidak  berada  di kamar  Nabi  jadi  bagaimana bisa  Aisyah  tau  wasiat  Nabi  dan  mengklaim  Nabi  SAW  wafat  di pangkuannya ???…

 



Ditemukan Bukti Arkeologis Bahwa Nabi Musa Pernah Membelah Lautan


Masih ingatkah dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya? Jika salah satu diantara anda yang menganggap kisah tersebut hanya merupakan dongeng belaka, sekarang mari kita simak tulisan yang saya uraikan dibawah ini…

Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt pada ahir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah. Menurutnya, mungkin ini merupakan bangkai kereta tempur Pharaoh yang tenggelam dilautan tsb saat digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya.

Menurut pengakuannya, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para krunya juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda ditempat yang sama.

Temuan ini tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa sisa2 tulang belulang itu merupakan bagian dari kerangka para bala tentara Pharaoh yang tenggelam di laut Merah. Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan,memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam, dimana menurut sejarah,kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama.


Selain itu, ada suatu benda menarik yang juga berhasil ditemukan, yaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang, sehingga untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas. Mungkin Allah sengaja melindungi benda ini untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa mukjizat yang diturunkan kepada Nabi2-Nya merupakan suatu hal yang nyata dan bukan merupakan cerita karangan belaka. Diantara beberapa bangkai kereta tadi, ditemukan pula sebuah roda dengan 4 buah jeruji yang terbuat dari emas. Sepertinya, inilah sisa dari roda kereta kuda yang ditunggangi oleh Pharaoh sang raja.


Sekarang mari kita perhatikan gambar diatas, Pada bagian peta yang dilingkari (lingkaran merah), menurut para ahli kira-kira disitulah lokasi dimana Nabi Musa bersama para kaumnya menyebrangi laut Merah. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba. Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter. Kemiringan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat

Diperkirakan jarak antara Nuweiba ke Arab sekitar 1800 meter.Lebar lintasan Laut Merah yang terbelah diperkirakan 900 meter. Dapatkah kita membayangkan berapa gaya yang diperlukan untuk dapat membelah air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yang rata2 mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km, dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam).

Menurut sebuah perhitungan, diperkirakan diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekanan yang kita terima Jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter. Jika kita kaitkan dengan kecepatan angin,menurut beberapa perhitungan, setidaknya diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam untuk dapat membelah dan mempertahankan belahan air laut tersebut dalam jangka waktu 4 jam!!! sungguh luar biasa, Allah Maha Besar.

Masih ingat dengan kisah mukjizat Nabi Musa yang membelah laut merah dengan tongkatnya? Jika salah satu diantara anda menganggap kisah tersebut hanya merupakan dongeng belaka, sekarang mari kita simak tulisan dibawah ini.Seorang Arkeolog bernama Ron Wyatt (lihat di http://www.wyattmus eum.com/ron- wyatt.htm ) pada ahir tahun 1988 silam mengklaim bahwa dirinya telah menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur kuno didasar laut merah. Menurutnya, mungkin ini merupakan bangkai kereta tempur Firaun yang tenggelam dilautan tsb saat digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya.

Menurut pengakuannya, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para krunya juga menemukan beberapa tulang manusia dan tulang kuda ditempat yang sama.

Temuan ini tentunya semakin memperkuat dugaan bahwa sisa-sisa tulang belulang itu merupakan bagian dari kerangka para bala tentara Fir’aun yang tenggelam di laut Merah.

Apalagi dari hasil pengujian yang dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang yang berhasil ditemukan,memang benar adanya bahwa struktur dan kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun silam,dimana menurut sejarah, kejadian pengejaran itu juga terjadi dalam kurun waktu yang sama.



Selain itu,ada suatu benda menarik yang juga berhasil ditemukan,yaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yang kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang,sehingga untuk saat ini bentuk aslinya sangat sulit untuk dilihat secara jelas.

Mungkin Allah sengaja melindungi benda ini untuk menunjukkan kepada kita semua bahwa mukjizat yang diturunkan kepada Nabi-nabiNya merupakan suatu hal yang nyata dan bukan merupakan cerita karangan belaka.

Diantara beberapa bangkai kereta tadi,ditemukan pula sebuah roda dengan 4 buah jeruji yang terbuat dari emas.Sepertinya, inilah sisa dari roda kereta kuda yang ditunggangi oleh Firaun sang raja.

Sekarang mari kita perhatikan gambar diatas,
Pada bagian peta yang dilingkari (lingkaran merah),menurut para ahli kira-kira disitulah lokasi dimana Nabi Musa bersama para kaumnya menyebrangi laut Merah. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba.
Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi penyeberangan adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir dan 900 meter di sisi ke arah Arab.
Sementara itu di sisi utara dan selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter.
Kemiringan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat.
Diperkirakan jarak antara Nuweiba ke Arab sekitar 1800 meter.Lebar lintasan Laut Merah yang terbelah diperkirakan 900 meter.

Dapatkah kita membayangkan berapa gaya yang diperlukan untuk dapat membelah air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dengan jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yang rata2 mencapai ratusan meter untuk waktu yang cukup lama, mengingat pengikut Nabi Musa yang menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7 km, dengan jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang dan waktu yang ditempuh untuk menyeberang sekitar 4 jam).

Menurut sebuah perhitungan, diperkirakan diperlukan tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dengan tekanan yang kita terima jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter.
Jika kita kaitkan dengan kecepatan angin,menurut beberapa perhitungan, setidaknya diperlukan hembusan angin dengan kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang malam untuk dapat membelah dan mempertahankan belahan air laut tersebut dalam jangka waktu 4 jam!!!sungguh luar biasa,Allah Maha Besar.

Catatan : Mengenai penemuan Wyatt ini, bisa dilihat dalam situs : http://www.wyattmus eum.com/red- sea-crossing- 04.htm

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei saat bertemu dengan ribuan rakyat provinsi Fars menegaskan, “Dalam transformasi terbaru kawasan Timur Tengah, rakyat Bahrain yang paling terzalimi.”

Monday, 25 April 2011 16:49 PDF Print E-mail
Mengapa Rakyat Bahrain Paling Tertindas?
Mencermati transformasi terbaru Timur Tengah dan politik kontradiktif sejumalh negara-negara Barat dan Arab dalam menyikapinya, dapat diukur tingkat ketertindasan dan kemazluman rakyat Bahrain. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei saat bertemu dengan ribuan rakyat provinsi Fars menegaskan, “Dalam transformasi terbaru kawasan Timur Tengah, rakyat Bahrain yang paling terzalimi.””Protes rakyat Bahrain sah dan tepat. Bila seseorang yang memiliki cara pandang benar mengenai kondisi rakyat Bahrain, bentuk pemerintahan dan cara para penguasa memanfaatkan kekuasaan, pasti ia mengutuk perilaku pemerintah Bahrain menumpas rakyatnya,” ungkap Rahbar.

“Langkah yang ditempuh pemerintah Bahrain dalam menyikapi rakyatnya jelas-jelas salah,” kata Rahbar “Karena tindakan semacam ini hanya akan menambah kemarahan rakyat. Bila kemarahan menggumpal dan tumpah, pada waktu itu pemerintah sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi.”

Masih terkait Bahrain, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, “Selain pemerintah Bahrain, pihak asing yang mengirimkan pasukannya ke Bahrain juga salah melangkah.”

Melihat transformasi terbaru Timur Tengah, pernyataan Rahbar mengenai ketertindasan bangsa Bahrain semakin nampak jelas.

Ketika Tarek el-Tayeb Mohamed Ben Bouazizi, pemuda Tunisia yang membakar dirinya di depan gedung walikota Tunisia-menjadi pemicu revolusi di Timur Tengah-negara-negara Barat mendukung para diktator Arab dan membantu larinya diktator Tunisia dari negaranya.

Selanjutnya, ketika tiba giliran lengsernya diktator Hosni Mubarak, sekalipun pada awalnya Amerika mendukung sekutu lamanya dan secara transparan menuntut agar ia tetap berada pada kekuasaannya. Namun setelah melihat gelombang kemarahan rakyat Mesir tidak kunjung surut, Amerika memilih untuk meninggalkan sekutu lamanya itu seorang diri.

Revolusi akhirnya sampai di pintu gerbang Libya. Kali ini, bukan hanya teman dekat Barat Kolonel Muammar Gaddafi, diktator Libya yang membelakanginya, tapi ternyata malah bangkit mengangkat senjata dan melawan. Mereka baru teringat untuk melindungi rakyat tertindas Libya dari tangan besi Gaddafi. Benar, negara-negara Barat berperang di Libya untuk kebebasan. Tapi bukan untuk membebaskan rakyat Libya, tapi untuk membebaskan minyak milik rakyat. Ketika Berlusconi, Sarkozy, Obama dan Merkel menyaksikan Libya akan terlepas dari kendali mereka, para penguasa Barat itu pun langsung mengambil tindakan agar jangan sampai sumur-sumur minyak Libya dinasionalisasi.

Bahrain; Tragedi Kemanusiaan

Negara kecil Bahrain hari-hari ini menyaksikan kejahatan paling keji dari para penguasa Arab. Puncak kejahatan yang dilakukan bukan hanya membantai umat Islam negara ini, tapi telah terjadi penistaan simbol-simbol kesucian agama oleh pasukan Arab Saudi dan Bahrain.

Pembantaian massal yang terjadi di Bahrain perlahan-lahan menjadi pemandangan biasa. Sementara pada awalnya, kebangkitan rakyat hanya bertujuan terjadinya reformasi di negara ini, namun reaksi pemerintah benar-benar sadis. Menyusul kebangkitan rakyat Bahrain, pasukan asing juga memasuki negara ini. Tapi kehadiran mereka bukan untuk membela rakyat, tapi justru untuk menumpas aksi-aksi rakyat dan melindungi kepentingan penguasa dinasti al Khalifa.

Kejahatan yang terjadi di Bahrain tidak berhenti pada pembantaian massal. Pasukan keamanan Bahrain dan Arab Saudi di pekan-pekan terakhir justru menyerang dan menghancurkan masjid, husainiyah dan membakar al-Quran. Menurut data yang ada, sekitar 50 masjid dan 50 husainiyah dirusak serta 14 al-Quran yang dibakar.

Penangkapan warga revolusioner makin ditingkatkan. Tidak tanggung-tanggung, tentara menembaki para demonstran dengan peluru tajam. Para tentara bayaran Arab Saudi melakukan tindakan tidak manusiawi dengan memperkosa sebagian tahanan politik. Rumah-rumah sakit tidak luput dari kejahatan mereka. Para tentara bayaran ini melarang pihak medis untuk membawa mereka yang terluka ke pusat-pusat pengobatan. Ini semua hanya sebagian dari bukti kejahatan yang dilakukan terhadap rakyat Bahrain.

Lembaga HAM dan Barat Hanya Menjadi Penonton

Kesadisan dinasti al-Saud dan al-Khalifa di Bahrain hanya satu sisi dari tragedi kemanusiaan yang menimpa negara ini. Namun apa yang paling memalukan adalah bungkamnya lembaga-lembaga hak asasi manusia dan negara-negara Barat yang mengklaim sebagai pelindung HAM. Sikap diam ini telah berubah menjadi dukungan bagi para diktator Arab untuk menumpas kebangkitan rakyat Bahrain.

Berbeda dengan apa yang terjadi di Libya. Senator John McCain melawat Libya menuntut diakuinya kelompok revolusioner Libya. Sementara Robert Gates, Menteri Pertahanan AS dan Jeffrey Feltman, Deputi Menteri Luar Negeri AS urusan Timur Dekat saat mengunjungi Bahrain justru mengeluarkan perintah agar pemerintah lebih keras menumpas aksi demonstrasi rakyat.

Berbarengan dengan lawatan itu, Menteri Luar Negeri Amerika, Hillary Clinton secara implisit menyatakan dukungannya terhadap pembantaian rakyat Bahrain sekaligus menegaskan bahwa Amerika komitmen menjamin keamanan negara-negara Arab Teluk Persia.

Lembaga-lembaga HAM lebih memilih diam di hadapan peristiwa pembantaian massal yang terjadi di Bahrain. Bila terpaksa angkat suara, mereka hanya merasa cukup dengan merilis statemen. Sungguh ironis, lembaga-lembaga HAM yang begitu getol bersuara dan menggunakan segala cara untuk menyelamatkan seorang perempuan yang melakukan pembunuhan, ternyata diam menyaksikan pembantaian rakyat Bahrain yang bangkit menuntut hak-haknya sebagai warga negara. Mulai dari PBB, OKI, Liga Arab, Uni Eropa, Komisi HAM PBB dan lembaga-lembaga HAM lainnya lebih memilih bungkam selama bangsa Bahrain ditumpas dengan keji.

Ketertindasan rakyat Bahrain tidak berhenti pada sikap bungkam para pengaku pelindung hak asasi manusia. Media-media regional dan bahkan internasional yang mengklaim dirinya sebagai media independen ternyata juga memilih untuk memboikit fenomena pembantaian massal. Televisi Arab Saudi al-Arabiya misalnya, lebih tertarik membenarkan intervensi militer Arab Saudi di Bahrain, bahkan secara transparan mendukung intervensi itu.

Anehnya, terkait pemberitaan kebangkitan rakyat Bahrain, media-media internasional kebanyakan mengambil sikap yang sama. Bertentangan dengan kode etik jurnalistik, media-media ini berusaha menyelewengkan kebangkitan rakyat Bahrain dan menyebut gerakan revolusioner mereka sebagai konflik Syiah dan Sunni. Televisi BBC malah menyebut para demonstran Bahrain sebagai pelaku kerusuhan dan terang-terangan memihak rezim al-Khalifa. Padahal mayoritas Syiah dan minoritas Sunni di Bahrain bahu-membahu untuk membebaskan negaranya dari cengkeraman rezim al-Saud dan al-Khalilfa.

Cara pandang berbeda sebagian negara dan organisasi-organisasi regional dan internasional terhadap Bahrain dan transformasi yang terjadi di sana membuat ketertindasan yang dialami oleh rakyat Barat semakin besar. Rakyat yang menuntut haknya mendapat tekanan paling biadab, tapi semua diam seribu bahasa menyaksikan pembantaian itu, bahkan sebagian negara malah mendukung tindakan represif rezim al-Khalifa. Tampaknya ketakutan akan meluasnya revolusi rakyat Bahrain ke negara-negara Arab lainnya membuat mereka terpaksa mengambil sikap demikian.

Bagaimana menurut Anda?

Wednesday, 11 May 2011 03:35 PDF Print E-mail
Swiss Kritik Hukuman Mati Empat Demonstran Bahrain
Kementerian Luar Negeri Swiss merilis statemen mengecam tewasnya empat warga Bahrain pada 28 April lalu di tiang gantung.Kantor berita IRNA melaporkan, dalam statemen itu disebutkan bahwa keempat warga Bahrain itu divonis mati karena berpartisipasi dalam gerakan protes anti-rezim al-Khalifah.

Kementerian Luar Negeri Swiss mengimbau para pejabat Bahrain untuk memberikan keringanan hukuman bagi para terdakwa. Keempat warga sipil itu diadili di pengadilan militer. Sidang berlangsung tertutup

Swiss juga berharap pemerintah Bahrain menangguhkan setiap vonis mati dan pada tahap berikutnya menghapus hukuman tersebut. Seraya menyatakan bahwa Swiss menentang hukuman mati, pemerintah Swiss juga akan berusaha menggalakkan penghapusan hukuman mati di seluruh dunia.

Di bagian lain pernyataan tersebut, pemerintah Swiss mengimbau pemerintah Bahrain untuk melanjutkan upaya dialog dalam menyelesaikan krisis

Sebelum Diteror, Benazir Bhutto Umumkan Osama Sudah Mati

Friday, 06 May 2011 15:04 PDF Print E-mail
Sebelum Diteror, Benazir Bhutto Umumkan Osama Sudah Mati

Benazir Bhutto, mantan Perdana Menteri Pakistan sebelum diteror sempat mengeluarkan pernyataan bahwa Osama bin Laden telah tewas dibunuh oleh seorang bernama Khalid Sheikh Mohammed.Menurut laporan televisi al-Alam Kamis (05/5), Benazir Bhutto sebelum tewas akibat diteror sempat mengeluarkan pernyataan dan menegaskan bahwa Osama bin Laden telah dibunuh oleh seorang bernama Khalid Sheikh Mohammed yang saat ini ditahan di penjara Amerika.

Sebagian pengamat politik menyebut pernyataan Benazir Bhutto ini merupakan salah satu alasan mengapa ia harus dibungkam dengan aksi teror.

Barack Obama, Presiden Amerika dalam pidato televisinya (01/5) mengumumkan bahwa gembong jaringan teroris Al Qaeda, Osama bin Laden telah mati setelah ditemukan bersembunyi di sebuah kompleks di Pakistan.

Prof. David Griffin: Osama Sudah Mati 8 Tahun Lalu

Aksi2 terorisme, pemboman, demonstrasi kekerasan, intimidasi dan serangan2 kelompok2 Islam atas nama Islam. TIDAK termasuk honor killing, atau pembunuhan secara individu

Profesor teologi David Griffin menyatakan musuh nomor satu Amerika Serikat itu meninggal sejak delapan tahun silam. Amerika terus “menghidupkan”-nya sebagai legalisasi program “war on terror”.Delapan tahun setelah tragedi 11 September 2001, sebuah penjelasan baru yang sangat mengejutkan muncul dari Profesor David Ray Griffin, bahwa kemungkinan besar Osama bin Laden wafat pada 13 Desember 2001 akibat penyakit gagal ginjal.Teori ini diungkapkan Griffin, profesor agama dan teologi di Claremont School of Theology, California, dalam buku terbarunya, Osama bin Laden, Dead or Alive?, yang menganalisis banyak bahan berupa teks, file suara, tayangan video, dan pernyataan-pernyataan pemerintah Amerika Serikat yang sudah disiarkan kepada publik. Sebelum ini, teori-teori yang berasal dari para akademisi yang skeptis atas penjelasan pemerintah Amerika Serikat tentang Osama biasanya menyangkut ketidakpercayaan mereka tentang sosok yang berada dalam video “pengakuan”, yang memiliki ciri fisik berbeda dengan video Usamah saat pertama kali muncul sehari setelah kejadian.

Dalam empat pengakuan awal keempat pada 28 September 2001 yang dilakukan Osama kepada negara-negara Arab, dia selalu konsisten menyatakan tidak terlibat dalam aksi itu. “Dan sebagai muslim, saya mencoba untuk tidak berbohong. Saya tidak meyakini, apalagi sampai mempertimbangkan, bahwa membunuh para perempuan tak berdosa, anak-anak, atau bentuk kehidupan lain sebagai tindakan terpuji.”Menurut Griffin, Osama meninggal di kawasan Pegunungan Tora Bora, yang berada di daerah perbatasan Waziristan. “Pemakamannya berlangsung dalam 24 jam sesuai dengan tradisi muslim, dan dengan nisan tak bernama seperti kebiasaan Wahabi yang dianut Usamah,” tulis Griffin.Griffin menunjukkan bukti pertama, 19 Januari 2002, ketika mantan Presiden Pakistan Pervez Musharraf yang diwawancarai CNN menyatakan bahwa, “Menurut saya, terus terang saja, dia sudah meninggal sekarang karena penyakit ginjal. Gambar-gambar Usamah sebelum ini menunjukkan kondisi fisiknya yang sangat lemah.

“Bukti kedua, menurut Griffin, Osama menderita penyakit saluran kencing yang berkaitan dengan ginjal jauh sebelum peristiwa 11 September terjadi. “Bahkan dia menjadi pasien rumah sakit Amerika Serikat di Dubai pada Juli 2001,” ujar Griffin. Pada saat itu Osama sudah memesan mesin dialisis (cuci darah) yang mobile untuk dibawa pulang ke Afganistan.”Bagaimana mungkin seorang buron kakap di pegunungan bersalju yang berat, berpindah-pindah dengan mesin dialisis yang membantu keberlangsungan hidupnya?” ujar Griffin mengutip seorang dokter yang menyatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi.

Bukti ketiga adalah artikel kecil di koran Mesir, Al-Wafid, pada 26 Desember 2001 yang mengutip pernyataan seorang pejabat Taliban senior bahwa Osama bin Laden telah meninggal dan dikuburkan pada 13 Desember 2001. “Pemakamannya dihadiri sekitar 30 anggota Al-Qaeda,” tulis Al-Wafid. Yang juga menunjang tiga kondisi di atas adalah karena sebulan setelah pengeboman, pada Oktober 2001 pemerintah Amerika dan Inggris secara intensif membombardir Pegunungan Tora Bora, yang dianggap tempat persembunyian Osama bin Laden. Menurut Griffin, alasan selama ini pemerintah Amerika terus “menghidupkan” Osama bin Laden adalah sebagai legitimasi terhadap program “war on terror” yang dihela pemerintahan Bush.

David Ray Griffin adalah salah satu dari sederet panjang akademisi yang ragu Osama bin Laden masih hidup, atau bukti-bukti video yang disodorkan pemerintah Amerika Serikat selama ini benar-benar wajah Osama bin Laden. Keraguan paling nyata muncul awal tahun ini di majalah American Spectator ketika mantan intelijen luar negeri dan editor senior Angelo M. Codevilla, yang juga profesor hubungan internasional di Universitas Boston, menyatakan secara tegas, “Kalau masalahnya adalah bukti (video), segala bukti yang ada saat ini menunjukkan Elvis Presley lebih hidup dibandingkan dengan Osama bin Laden.” Pernyataannya tersebut sekaligus menyindir kehebatan teknologi audio-visual, yang terus membuat raja rock ‘n’ roll itu terlihat melahirkan album “baru”, meski sebenarnya Elvis meninggal pada 1977.

Menurut Codevilla, “Video dan rekaman suara yang dinyatakan sebagai Osama bin Laden itu tak pernah meyakinkan para ahli independen. Lelaki itu sama sekali tak mirip Osama. Beberapa video menunjukkan bentuk hidung Usamah yang khas Semitik, mancung dan ramping, sedangkan video-video lain menunjukkan hidungnya yang lebih panjang dan lebar.

Itu belum termasuk bentuk dan warna janggut lebatnya yang memiliki perbedaan.”Akademisi yang skeptis lainnya adalah Profesor Bruce Lawrence, Dekan Jurusan Telaah Agama pada Universitas Duke, Inggris. “Makin banyaknya ekspresi sekuler dalam ucapan-ucapan pada video dan rekaman suara (yang dinyatakan pemerintah Amerika Serikat sebagai suara Osama) sama sekali tidak konsisten dengan ketaatan Bin Laden pada mazhab Wahabi.”Menurut Lawrence, bahasa dalam video-video awal Usamah “sangat santun dan dipenuhi kata-kata yang selalu menyebut nama Allah dan Nabi Muhammad”. Sedangkan dalam video-video selanjutnya, ekspresi keagamaan itu menurun jauh.Bahkan, di salah satu video, Lawrence melihat Osama memakai cincin emas di jari manis tangan kanannya. “Itu hal yang tak mungkin dilakukan oleh seorang Wahabi seperti Osama,” ujar Lawrence.

Lalu mayat siapa dong yg dibuang kelaut sama ASu kapir??? :-s

Image
Monday, 09 May 2011 03:39 PDF Print E-mail
Iran: Osama Sudah Lama Meninggal, AS Bohong
Heidar Moslehi

Menteri Intelijen Iran, Heidar Moslehi menyatakan, Iran memiliki sumber informasi yang dapat dipercaya bahwa pemimpin jaringan teroris AlQaeda, Osama bin Laden, telah lama meninggal karena penyakit yang dideritanya.Menurut laporan Press TV, hal itu dikemukakannya kemarin (8/5) di sela-sela sidang kabinet. Moslehi menyoal klaim Washington bahwa bin Laden tewas dalam serangan pasukan Amerika ke kompleks persembunyian bin Laden di Pakistan pada tanggal 1 Mei lalu.

Ditambahkannya, “Jika militer AS dan aparat intelijen benar-benar telah menangkap atau membunuh bin Laden, mengapa mereka tidak menunjukkan jenazahnya dan mengapa mereka membuangnya ke laut?”.

“Ketika kami menangkap [mantan pemimpin kelompok teroris Jundallah Abdul Malik] Rigi, kami menunjukkannya dan juga menayangkan wawancarany,” ungkap Moslehi.

Dengan merilis berita palsu seperti itu, Moslehi berpendapat bahwa Gedung Putih berusaha mempengaruhi gelombang kebangkitan rakyat di kawasan.

Moslehi mengatakan para pejabat AS sengaja menebar kampanye pemberitaan bombastis bohong tersebut untuk mengalihkan perhatian rakyat AS dari masalah dalam negeri serta kerapuhan kondisi ekonomi negara mereka.

Presiden AS Barack Obama, menyatakan bahwa Osama bin Laden tewas dalam serangan pasukan AS ke kompleks persembunyiannya di Pakistan pada 1 Mei.

Seorang pejabat AS kemudian menyatakan bahwa jenazah bin Laden dikubur mendadak di laut. Diklaimnya bahwa cara penguburan seperti itu sesuai dengan ajaran Islam yang juga mensyaratkan penguburan harus dilakukan dalam 24 jam setelah kematian.

Namun, cara pemakaman di laut tidak ada dalam Islam dan bahkan tidak ditentunkan tenggat waktu untuk penguburan jenazah.

Para pejabat AS juga mengklaim bahwa keputusan untuk mengubur jenazah bin Laden di laut adalah karena tidak ada negara yang akan bersedia menerima jenazah bin Laden. Namun Washington tidak memberikan keterangan soal negara mana yang telah dihubungi sekaitan masalah ini

Menteri Intelijen Iran: Osama Sudah Lama Meninggal

Iran –

Menteri Intelijen Iran, Heidar Moslehi menyatakan, Iran memiliki sumber informasi yang dapat dipercaya bahwa pemimpin jaringan teroris AlQaeda, Osama bin Laden, telah lama meninggal karena penyakit yang dideritanya.
Menurut laporan Press TV, hal itu dikemukakannya kemarin (8/5) di sela-sela sidang kabinet. Moslehi menyoal klaim Washington bahwa bin Laden tewas dalam serangan pasukan Amerika ke kompleks persembunyian bin Laden di Pakistan pada tanggal 1 Mei lalu.

Ditambahkannya, “Jika militer AS dan aparat intelijen benar-benar telah menangkap atau membunuh bin Laden, mengapa mereka tidak menunjukkan jenazahnya dan mengapa mereka membuangnya ke laut?”.

“Ketika kami menangkap [mantan pemimpin kelompok teroris Jundallah Abdul Malik] Rigi, kami menunjukkannya dan juga menayangkan wawancarany,” ungkap Moslehi.

Dengan merilis berita palsu seperti itu, Moslehi berpendapat bahwa Gedung Putih berusaha mempengaruhi gelombang kebangkitan rakyat di kawasan.

Moslehi mengatakan para pejabat AS sengaja menebar kampanye pemberitaan bombastis bohong tersebut untuk mengalihkan perhatian rakyat AS dari masalah dalam negeri serta kerapuhan kondisi ekonomi negara mereka.

Presiden AS Barack Obama, menyatakan bahwa Osama bin Laden tewas dalam serangan pasukan AS ke kompleks persembunyiannya di Pakistan pada 1 Mei. Seorang pejabat AS kemudian menyatakan bahwa jenazah bin Laden dikubur mendadak di laut. Diklaimnya bahwa cara penguburan seperti itu sesuai dengan ajaran Islam yang juga mensyaratkan penguburan harus dilakukan dalam 24 jam setelah kematian.

Namun, cara pemakaman di laut tidak ada dalam Islam dan bahkan tidak ditentunkan tenggat waktu untuk penguburan jenazah.

Para pejabat AS juga mengklaim bahwa keputusan untuk mengubur jenazah bin Laden di laut adalah karena tidak ada negara yang akan bersedia menerima jenazah bin Laden. Namun Washington tidak memberikan keterangan soal negara mana yang telah dihubungi terkait masalah ini. (IRIB/MZ)

Beberapa Teori Konspirasi Kematian Osama

Berbagai spekulasi hingga teori kosnpirasi bermunculan setelah pemerintah Aemrika Serikat secara resmi memutuskan untuk tidak merilis bukti kamtian pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden kehadapan publik. Nah Berikut beberapa teori konspirasi yang mungkin manrik untuk anda, boleh percaya atau tidak.

Harian The Guardian di Inggris merangkum sejumlah pendapat yang menguatkan teori konspirasi seputar “kematian” Osama itu. Misalnya Javad Jahangirzadeh, anggota Komite Keamanan dan Kebijakan Luar Negeri Iran, yang menyebut bahwa Osama dibunuh untuk mencegah agar publik tak lebih banyak tahu tentangnya.

“Barat senang dengan operasi Osama dalam beberapa tahun terakhir,” ucap Javad. “Sekarang, Barat terpaksa membunuhnya untuk mencegah kemungkinan bocornya informasi yang dimilikinya (Osama). Informasi lebih berharga daripada emas,” sambungnya.

Ada juga teori bahwa Osama sebenarnya telah mati beberapa tahun silam. Dalam sebuah talkshow radio di AS yang dipandu Alex Jones, diungkapkan bahwa mayat Osama telah disimpan oleh pemerintah AS untuk dijadikan alat propaganda yang potensial.

Alex Jones mengaku mendapat cerita dari sumber di Gedung Putih pada 2002, yang menyebut mayat Osama sudah benar-benar dibekukan. “Dan akan dimunculkan pada satu hari di masa mendatang,” ucap pemandu acara radio yang mengupas soal peperangan itu.

Sumber teori konspirasi lain juga dimunculkan harian berbahasa Urdu, Ausaf. Berdasar sumber Ausaf, AS justru berniat menyerang Pakistan. Sedangkan memburu Osama hanya alasan saja.

“Osama telah dibunuh di satu tempat lain,” ujar sumber dari mantan militer yang dikutip Ausaf. “Tapi sejak AS berniat memperluas serangan dari Afghanistan ke Pakistan, dan menuduh Pakistan (menyembunyikan Osama), serta mengantongi izin agar militer (AS) bisa masuk Pakistan, di situlah skenario (pembunuhan Osama) dirancang.”

Ada pula teori konspirasi yang menyebut orang kedua di Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri, membiarkan AS mendeteksi Osama. Tujuannya, agar Osama tumbang dan kontrol atas Al Qaeda berpindah ke kelompok Mesir.

“Kelompok Mesir sudah ingin bisa mengontrol Al Qaeda sejak awal,” kata sumber yang dikutip harian Saudi Arabia, al-Watan. Namun kesempatan terbaik mereka adalah setelah Osama sakit pada pertengahan 2004. “Saat itu pula Zawahiri dan pimpinan Al Qaeda lainnya, bisa meyakinkan Osama agar mau berpindah ke Abbottabad,” tulis al-Wattan.

Sedangkan teori konspirasi lain menyebut Al Qaeda sudah memiliki bom nuklir. Osama sudah tahu perihal lokasi penyimpanan itu. Dan untuk menghindari kebocoran lokasi penyimpanan bom nuklir yang jadi rahasia Al Qaeda, maka dibunuhlah Osama. “Dan Barack Obama ingin menjaga soal ini dari pengetahuan publik,” tulis kolumnis sayap kanan, Glenn Beck.

Masih dari Glen Beck, disodorkan pula teori bahwa Osama masih hidup dan ditahan di lokasi yang dirahasiakan. Sedangkan otoritas AS terus mencecar Osama tentang lokasi penyimpanan senjata nuklir Al Qaeda.

Teori konspirasi menarik juga disodorkan Professor Anthony Glees dari University of Buckingham. Menurutnya, Inggris sudah tahu rencana penyergapan atas Osama. Karenanya, pasangan Pangeran William-Kate Middleton pun terpaksa menunda bulan madunya. “Jelas itu,” ulasnya.

Whatreallyhappened.com menyodorkan teori konspirasi bahwa Osama sudah meninggal pada 2001. Pria kelahiran Jeddah itu meninggal akibat komplikasi paru-paru yang memburuk, hepatitis c, diabetes, tekanan darah rendah dan terluka di kakinya.

Sedangkan Fox News menyodorkan teori bahwa kematian Osama tak lebih dari sekedar upaya mendongkrak popularitas Obama yang meredup di dalam negeri. “Obama menemukan kematian Osama untuk menggenjot kampanye pencalonannya lagi pada pemilihan tahun depan,” kata presenter Andrew Napolitano dari Fox News melalui Media Matters for America.

Sementara Live Science menyebut timing pengumuman Osama itu sebagai tangkisan atas pertanyaan lancang Donald Trump yang meragukan akta kelahiran Obama.

Yang tak kalah menarik adalah tori konspirasi yang disodorkan Mystery of the Iniquity. Osama, punya kesamaan dengan Adolf Hitler yakni pengumuman kematiannya dilakukan pada 1 Mei. Karenanya, Osama diyakini sengaja dikorbankan oleh perkumpulan rahasia, Illuminati. “Ini menunjukkan mereka dikorbankan oleh Illuminati untuk menandai perintah rahasia tentang hari libur tersuci kedua.

Menteri Iran: Osama Meninggal sebelum Serangan AS

Internasional / Selasa, 10 Mei 2011 15:21 WIB

Metrotvnews.com, Moskwa:

Menteri Intelijen Iran Heidar Moslehi membuat pernyataan mengejutkan. Menurut Moslehi, Teheran memiliki bukti pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden meninggal akibat penyakit lama sebelum Amerika Serikat melakukan serangan terhadap teroris yang diduga dalang serangan 11 September 2001.

Osama bin Laden tewas pada 2 Mei lalu di Kota Abbottabad Pakistan, utara Ibu Kota Islamabad, dalam serangan oleh misi Angkatan Laut AS Navy SEALs. “Kami memiliki informasi yang akurat Osama bin Laden meninggal karena sakit beberapa waktu lalu,” kata Moslehi di Moskwa, Rusia, Senin (9/5).

Menurut berita-berita sebelumnya, jenazah Osama bin Laden dimakamkan di laut kurang dari 24 jam setelah operasi. “Jika militer AS dan aparat intelijen benar-benar menangkap atau membunuh Osama bin Laden, mengapa mereka tidak menunjukkan jenazahnya, mengapa mereka melemparkan mayatnya ke laut?” kata Moslehi.

Sebuah tes DNA membuktikan mayat orang yang tewas ditembak itu adalah milik Osama bin Laden, yang menduduki daftar FBI paling dicari dalam dekade terakhir. Tetapi juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, mengatakan bahwa Washington tidak akan mengeluarkan foto postmortem Osama bin Laden. Itu dilakukan untuk menghindari propaganda menghasut dan kemungkinan kekerasan.

Kantor berita resmi Iran, FARS, Selasa (10/5), menulis pernyataan Menteri Intelijen Iran, Heidar Moslehi, bahwa Osama tidaklah tewas di tangan Pasukan Seals Amerika. Menurut Moslehi, Teheran memiliki bukti bahwa Osama bin Laden telah meninggal lama sebelum AS menyerang kompleks tempat tinggalnya di Abbottabad, Pakistan 2 Mei silam.

“Kami punya informasi akurat bahwa Osama bin Laden meninggal dunia karena sakit beberapa waktu lalu,” katanya.

Gedung Putih menyatakan pasukannya itu berhasil menewaskan gembong teroris nomor satu bagi negaranya, kemudian membuang jasad Osama ke Laut Arab kurang dari 24 jam setelah tewas.

Moslehi mempertanyakan, “Jika militer AS dan aparat intelijen telah benar-benar menangkap atau membunuh Osama bin Laden, mengapa mereka tidak menunjukkan mayatnya, mengapa mereka melemparkan mayatnya ke laut?”

Amerika, yang telah membuktikan dengan tes DNA bahwa jasad itu benar Osama, menolak untuk  mengeluarkan foto postmortem Osama bin Laden demi menghindari propaganda yang menghasut dan kemungkinan kekerasan.

Sementara itu di Kota Peshawar, Pakistan, Senin (9/5), ratusan pendukung Taliban berpawai di sebuah kota suku Pakistan untuk mengutuk pembunuhan Osama. Mereka bahkan berjanji akan membalas kematian pemimpin Al Qaeda itu dalam aksi demonstrasi pertama pro Osama di kawasan ini.

Pemrotes sebagian besar adalah pendukung atau anggota kelompok panglima Taliban Pakistan, Maulvi Nazir, yang mendukung Taliban Afganistan. “Osama bin Laden adalah pemimpin kami, Kami pengikutnya dan kami akan melanjutkan gerakannya,” kata ulama pro-Taliban, Maulvi Ibrahim, saat pawai itu.

Menteri Intelijen Iran: “Osama Sudah Lama Meninggal”

Monday, 09 May 2011 03:39 PDF Print E-mail
Iran: Osama Sudah Lama Meninggal, AS Bohong
Heidar Moslehi

Menteri Intelijen Iran, Heidar Moslehi menyatakan, Iran memiliki sumber informasi yang dapat dipercaya bahwa pemimpin jaringan teroris AlQaeda, Osama bin Laden, telah lama meninggal karena penyakit yang dideritanya.Menurut laporan Press TV, hal itu dikemukakannya kemarin (8/5) di sela-sela sidang kabinet. Moslehi menyoal klaim Washington bahwa bin Laden tewas dalam serangan pasukan Amerika ke kompleks persembunyian bin Laden di Pakistan pada tanggal 1 Mei lalu.

Ditambahkannya, “Jika militer AS dan aparat intelijen benar-benar telah menangkap atau membunuh bin Laden, mengapa mereka tidak menunjukkan jenazahnya dan mengapa mereka membuangnya ke laut?”.

“Ketika kami menangkap [mantan pemimpin kelompok teroris Jundallah Abdul Malik] Rigi, kami menunjukkannya dan juga menayangkan wawancarany,” ungkap Moslehi.

Dengan merilis berita palsu seperti itu, Moslehi berpendapat bahwa Gedung Putih berusaha mempengaruhi gelombang kebangkitan rakyat di kawasan.

Moslehi mengatakan para pejabat AS sengaja menebar kampanye pemberitaan bombastis bohong tersebut untuk mengalihkan perhatian rakyat AS dari masalah dalam negeri serta kerapuhan kondisi ekonomi negara mereka.

Presiden AS Barack Obama, menyatakan bahwa Osama bin Laden tewas dalam serangan pasukan AS ke kompleks persembunyiannya di Pakistan pada 1 Mei.

Seorang pejabat AS kemudian menyatakan bahwa jenazah bin Laden dikubur mendadak di laut. Diklaimnya bahwa cara penguburan seperti itu sesuai dengan ajaran Islam yang juga mensyaratkan penguburan harus dilakukan dalam 24 jam setelah kematian.

Namun, cara pemakaman di laut tidak ada dalam Islam dan bahkan tidak ditentunkan tenggat waktu untuk penguburan jenazah.

Para pejabat AS juga mengklaim bahwa keputusan untuk mengubur jenazah bin Laden di laut adalah karena tidak ada negara yang akan bersedia menerima jenazah bin Laden. Namun Washington tidak memberikan keterangan soal negara mana yang telah dihubungi sekaitan masalah ini

Menteri Intelijen Iran: Osama Sudah Lama Meninggal

Iran –

Menteri Intelijen Iran, Heidar Moslehi menyatakan, Iran memiliki sumber informasi yang dapat dipercaya bahwa pemimpin jaringan teroris AlQaeda, Osama bin Laden, telah lama meninggal karena penyakit yang dideritanya.
Menurut laporan Press TV, hal itu dikemukakannya kemarin (8/5) di sela-sela sidang kabinet. Moslehi menyoal klaim Washington bahwa bin Laden tewas dalam serangan pasukan Amerika ke kompleks persembunyian bin Laden di Pakistan pada tanggal 1 Mei lalu.

Ditambahkannya, “Jika militer AS dan aparat intelijen benar-benar telah menangkap atau membunuh bin Laden, mengapa mereka tidak menunjukkan jenazahnya dan mengapa mereka membuangnya ke laut?”.

“Ketika kami menangkap [mantan pemimpin kelompok teroris Jundallah Abdul Malik] Rigi, kami menunjukkannya dan juga menayangkan wawancarany,” ungkap Moslehi.

Dengan merilis berita palsu seperti itu, Moslehi berpendapat bahwa Gedung Putih berusaha mempengaruhi gelombang kebangkitan rakyat di kawasan.

Moslehi mengatakan para pejabat AS sengaja menebar kampanye pemberitaan bombastis bohong tersebut untuk mengalihkan perhatian rakyat AS dari masalah dalam negeri serta kerapuhan kondisi ekonomi negara mereka.

Presiden AS Barack Obama, menyatakan bahwa Osama bin Laden tewas dalam serangan pasukan AS ke kompleks persembunyiannya di Pakistan pada 1 Mei. Seorang pejabat AS kemudian menyatakan bahwa jenazah bin Laden dikubur mendadak di laut. Diklaimnya bahwa cara penguburan seperti itu sesuai dengan ajaran Islam yang juga mensyaratkan penguburan harus dilakukan dalam 24 jam setelah kematian.

Namun, cara pemakaman di laut tidak ada dalam Islam dan bahkan tidak ditentunkan tenggat waktu untuk penguburan jenazah.

Para pejabat AS juga mengklaim bahwa keputusan untuk mengubur jenazah bin Laden di laut adalah karena tidak ada negara yang akan bersedia menerima jenazah bin Laden. Namun Washington tidak memberikan keterangan soal negara mana yang telah dihubungi terkait masalah ini. (IRIB/MZ)

Beberapa Teori Konspirasi Kematian Osama

Berbagai spekulasi hingga teori kosnpirasi bermunculan setelah pemerintah Aemrika Serikat secara resmi memutuskan untuk tidak merilis bukti kamtian pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden kehadapan publik. Nah Berikut beberapa teori konspirasi yang mungkin manrik untuk anda, boleh percaya atau tidak.

Harian The Guardian di Inggris merangkum sejumlah pendapat yang menguatkan teori konspirasi seputar “kematian” Osama itu. Misalnya Javad Jahangirzadeh, anggota Komite Keamanan dan Kebijakan Luar Negeri Iran, yang menyebut bahwa Osama dibunuh untuk mencegah agar publik tak lebih banyak tahu tentangnya.

“Barat senang dengan operasi Osama dalam beberapa tahun terakhir,” ucap Javad. “Sekarang, Barat terpaksa membunuhnya untuk mencegah kemungkinan bocornya informasi yang dimilikinya (Osama). Informasi lebih berharga daripada emas,” sambungnya.

Ada juga teori bahwa Osama sebenarnya telah mati beberapa tahun silam. Dalam sebuah talkshow radio di AS yang dipandu Alex Jones, diungkapkan bahwa mayat Osama telah disimpan oleh pemerintah AS untuk dijadikan alat propaganda yang potensial.

Alex Jones mengaku mendapat cerita dari sumber di Gedung Putih pada 2002, yang menyebut mayat Osama sudah benar-benar dibekukan. “Dan akan dimunculkan pada satu hari di masa mendatang,” ucap pemandu acara radio yang mengupas soal peperangan itu.

Sumber teori konspirasi lain juga dimunculkan harian berbahasa Urdu, Ausaf. Berdasar sumber Ausaf, AS justru berniat menyerang Pakistan. Sedangkan memburu Osama hanya alasan saja.

“Osama telah dibunuh di satu tempat lain,” ujar sumber dari mantan militer yang dikutip Ausaf. “Tapi sejak AS berniat memperluas serangan dari Afghanistan ke Pakistan, dan menuduh Pakistan (menyembunyikan Osama), serta mengantongi izin agar militer (AS) bisa masuk Pakistan, di situlah skenario (pembunuhan Osama) dirancang.”

Ada pula teori konspirasi yang menyebut orang kedua di Al Qaeda, Ayman al-Zawahiri, membiarkan AS mendeteksi Osama. Tujuannya, agar Osama tumbang dan kontrol atas Al Qaeda berpindah ke kelompok Mesir.

“Kelompok Mesir sudah ingin bisa mengontrol Al Qaeda sejak awal,” kata sumber yang dikutip harian Saudi Arabia, al-Watan. Namun kesempatan terbaik mereka adalah setelah Osama sakit pada pertengahan 2004. “Saat itu pula Zawahiri dan pimpinan Al Qaeda lainnya, bisa meyakinkan Osama agar mau berpindah ke Abbottabad,” tulis al-Wattan.

Sedangkan teori konspirasi lain menyebut Al Qaeda sudah memiliki bom nuklir. Osama sudah tahu perihal lokasi penyimpanan itu. Dan untuk menghindari kebocoran lokasi penyimpanan bom nuklir yang jadi rahasia Al Qaeda, maka dibunuhlah Osama. “Dan Barack Obama ingin menjaga soal ini dari pengetahuan publik,” tulis kolumnis sayap kanan, Glenn Beck.

Masih dari Glen Beck, disodorkan pula teori bahwa Osama masih hidup dan ditahan di lokasi yang dirahasiakan. Sedangkan otoritas AS terus mencecar Osama tentang lokasi penyimpanan senjata nuklir Al Qaeda.

Teori konspirasi menarik juga disodorkan Professor Anthony Glees dari University of Buckingham. Menurutnya, Inggris sudah tahu rencana penyergapan atas Osama. Karenanya, pasangan Pangeran William-Kate Middleton pun terpaksa menunda bulan madunya. “Jelas itu,” ulasnya.

Whatreallyhappened.com menyodorkan teori konspirasi bahwa Osama sudah meninggal pada 2001. Pria kelahiran Jeddah itu meninggal akibat komplikasi paru-paru yang memburuk, hepatitis c, diabetes, tekanan darah rendah dan terluka di kakinya.

Sedangkan Fox News menyodorkan teori bahwa kematian Osama tak lebih dari sekedar upaya mendongkrak popularitas Obama yang meredup di dalam negeri. “Obama menemukan kematian Osama untuk menggenjot kampanye pencalonannya lagi pada pemilihan tahun depan,” kata presenter Andrew Napolitano dari Fox News melalui Media Matters for America.

Sementara Live Science menyebut timing pengumuman Osama itu sebagai tangkisan atas pertanyaan lancang Donald Trump yang meragukan akta kelahiran Obama.

Yang tak kalah menarik adalah tori konspirasi yang disodorkan Mystery of the Iniquity. Osama, punya kesamaan dengan Adolf Hitler yakni pengumuman kematiannya dilakukan pada 1 Mei. Karenanya, Osama diyakini sengaja dikorbankan oleh perkumpulan rahasia, Illuminati. “Ini menunjukkan mereka dikorbankan oleh Illuminati untuk menandai perintah rahasia tentang hari libur tersuci kedua.

Menteri Iran: Osama Meninggal sebelum Serangan AS

Internasional / Selasa, 10 Mei 2011 15:21 WIB

Metrotvnews.com, Moskwa:

Menteri Intelijen Iran Heidar Moslehi membuat pernyataan mengejutkan. Menurut Moslehi, Teheran memiliki bukti pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden meninggal akibat penyakit lama sebelum Amerika Serikat melakukan serangan terhadap teroris yang diduga dalang serangan 11 September 2001.

Osama bin Laden tewas pada 2 Mei lalu di Kota Abbottabad Pakistan, utara Ibu Kota Islamabad, dalam serangan oleh misi Angkatan Laut AS Navy SEALs. “Kami memiliki informasi yang akurat Osama bin Laden meninggal karena sakit beberapa waktu lalu,” kata Moslehi di Moskwa, Rusia, Senin (9/5).

Menurut berita-berita sebelumnya, jenazah Osama bin Laden dimakamkan di laut kurang dari 24 jam setelah operasi. “Jika militer AS dan aparat intelijen benar-benar menangkap atau membunuh Osama bin Laden, mengapa mereka tidak menunjukkan jenazahnya, mengapa mereka melemparkan mayatnya ke laut?” kata Moslehi.

Sebuah tes DNA membuktikan mayat orang yang tewas ditembak itu adalah milik Osama bin Laden, yang menduduki daftar FBI paling dicari dalam dekade terakhir. Tetapi juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, mengatakan bahwa Washington tidak akan mengeluarkan foto postmortem Osama bin Laden. Itu dilakukan untuk menghindari propaganda menghasut dan kemungkinan kekerasan.

Kantor berita resmi Iran, FARS, Selasa (10/5), menulis pernyataan Menteri Intelijen Iran, Heidar Moslehi, bahwa Osama tidaklah tewas di tangan Pasukan Seals Amerika. Menurut Moslehi, Teheran memiliki bukti bahwa Osama bin Laden telah meninggal lama sebelum AS menyerang kompleks tempat tinggalnya di Abbottabad, Pakistan 2 Mei silam.

“Kami punya informasi akurat bahwa Osama bin Laden meninggal dunia karena sakit beberapa waktu lalu,” katanya.

Gedung Putih menyatakan pasukannya itu berhasil menewaskan gembong teroris nomor satu bagi negaranya, kemudian membuang jasad Osama ke Laut Arab kurang dari 24 jam setelah tewas.

Moslehi mempertanyakan, “Jika militer AS dan aparat intelijen telah benar-benar menangkap atau membunuh Osama bin Laden, mengapa mereka tidak menunjukkan mayatnya, mengapa mereka melemparkan mayatnya ke laut?”

Amerika, yang telah membuktikan dengan tes DNA bahwa jasad itu benar Osama, menolak untuk  mengeluarkan foto postmortem Osama bin Laden demi menghindari propaganda yang menghasut dan kemungkinan kekerasan.

Sementara itu di Kota Peshawar, Pakistan, Senin (9/5), ratusan pendukung Taliban berpawai di sebuah kota suku Pakistan untuk mengutuk pembunuhan Osama. Mereka bahkan berjanji akan membalas kematian pemimpin Al Qaeda itu dalam aksi demonstrasi pertama pro Osama di kawasan ini.

Pemrotes sebagian besar adalah pendukung atau anggota kelompok panglima Taliban Pakistan, Maulvi Nazir, yang mendukung Taliban Afganistan. “Osama bin Laden adalah pemimpin kami, Kami pengikutnya dan kami akan melanjutkan gerakannya,” kata ulama pro-Taliban, Maulvi Ibrahim, saat pawai itu.