Siapa Pembela Ahlul Bait Yang Sejati ?

Senin, 09 Mei 2011 14:36 Redaksi

Dari pemaparan beberapa masalah yang berkaitan tentang sikap mazhab Syi’ah yang sebenarnya terhadap ahlul bait, muncul satu pertanyaan:

Bila demikian adanya perilaku dan tanggapan mazhab Syi’ah terhadap ahlul bait dan juga sikap ahlul bait terhadap mazhab Syi’ah, lalu siapakah pembela ahlul bait yang sebenarnya?

Siapakah yang benar-benar telah menjalankan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala beliau berkhutbah di sungai Khum (Ghadir Khum):

أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِىَ رَسُولُ رَبِّى فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ ». فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ « وَأَهْلُ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى (رواه مسلم).

“Ketahuilah, wahai umat manusia, sesungguhnya aku adalah manusia biasa, tidak lama lagi utusan Tuhanku akan menghampiriku, lalu akupun memenuhinya (meninggal dunia). Dan aku menitipkan kepada kalian dua hal besar: Pertama : Kitabullah, padanya terdapat petunjuk, dan cahaya, hendaknya kalian mengamalkan Kitabullah dan berpegang teguh dengannya.” Perawi mengisahkan: selanjutnya beliau menganjurkan  dan memotifasi agar kami mengamalkan Kitabullah, selanjutnya beliau melanjutkan pesannya dengan bersabda:  “Dan kedua: adalah keluargaku, aku mengingatkan kalian agar senantiasa takut kepada Allah dalam memperlakukan keluargaku, aku mengingatkan kalian agar senantiasa takut kepada Allah dalam memperlakukan keluargaku, idan aku mengingatkan kalian agar senantiasa takut kepada Allah dalam memperlakukan keluargaku.” (HR. Muslim).

Pada pembahasan-pembahasan di atas, anda dapatkan  bahwa idiologi dan sikap mazhab Syi’ah tentang ahlul bait saling selaras.

Bila demikian adanya, maka siapakah sebenarnya yang benar-benar telah menjalankan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas?

لاَ تُطرُونِي كما أَطرَت النَّصَارَى ابن مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أنا عَبْدُهُ، فَقُولُوا: عبد اللَّهِ وَرَسُولُهُ ( رواه البخاري).

“Janganlah engkau berlebih-lebihan ketika memujiku, sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum Nasrani yang telah berlebih-lebihan ketika memuji (Isa) bin Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah (bahwa aku adalah: hamba dan utusan-Nya.” (HR. Al-Bukhary).

Ada hadis sunni yang kontradiktif  dengan kemaksuman Nabi SAW,   yaitu dapat ditimpa lupa. Beliau bersabda:

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِى (متفق عليه)

“Sesungguhnya aku adalah manusia biasa seperti kalian, aku bisa lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa, karenanya bila aku lupa hendaknya kalian mengingatkanku.” (Muttafaqun ‘alaih versi sunni).

Dalil-dalil di atas dengan nyata melarang anda dari sikap melampaui batas dalam memposisikan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan sebaliknya anda diperintahkan untuk meyakininya sebagai manusia maksum

Yang membedakan anda dari beliau hanyalah statusnya sebagai seorang Rasul dan Nabi:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (سورة الكهف: 110)

Katakanlah:”Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:”Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya“ (QS. Al Kahfi: 110).

Bila demikian ini pengagungan dan penghormatan yang sejati kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka akankah anda melebihkan sahabat yang mengkhianati peristiwa Ghadir Kum dibanding beliau?

Simaklah saudaraku, bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menekankah perintah agar kita bersikap yang sewajarnya kepada keluarga dan anak keturunannya :

وَايْمُ اللَّهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا (متفق عليه).

“Sungguh demi Allah, andai Fatimah bintu Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Nah, sekarang menurut anda, siapakah yang sebenarnya pembela dan pengikut ahlul bait yang sebenarnya? Apakah agama salafi wahabi  yang telah menzalimi 12 imam ahlul bait ??? Ataukah syi’ah  yang senantiasa bersikap proporsional dan sewajarnya, tetap menghormati dan tidak bersikap ekstrim?

Termasuk perkara di Hari Kiamat yang wajib diimani dan dipercayai oleh setiap muslim adalah haudh. Haudh yang berarti telaga adalah salah bentuk penghargaan dan penghormatan dari Allah kepada hamba dan rasulNya yang mulia Muhammad saw. Sifat haudh ini sebagaimana yang tercantum di dalam hadits-hadits shahih dari beliau, luasnya sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, aromanya lebih harum daripada minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, airnya bersumber dari sungai Kautsar yang Allah berikan kepada Nabi saw di surga, siapa yang minum darinya seteguk, tidak akan haus selamanya.

Para ulama berbeda pendapat tentang tempatnya, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia di arashat Kiamat sebelum manusia melewati shirath, sebagian yang lain berpendapat bahwa ia setelah manusia melewati shirath.

Hadits-hadits tentang haudh

Hadits-hadits tentang haudh mencapai derajat mutawatir, para ulama hadits menyatakannya demikian, yang meriwayatkan dari Rasulullah saw dalam perkara ini lebih dari lima puluh orang sahabat, Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya di dalam Fath al-Bari 11/468.

Dalam Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah 1/277-278 ditulis, “Hadits-hadits yang tercantum dalam perkara haudh mencapai batasan mutawatir, sahabat yang meriwayatkan mencapai tiga puluh lebih, syaikh kami Syaikh Imaduddin Ibnu Katsir, semoga Allah merahmatinya, telah menyebutkan jalan-jalan periwayatannya secara terperinci di akhir tarikhnya yang besar yang bernama al-Bidayah wa an-Nihayah.”

Sebagian dari hadits-hadits tersebut

1- Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda, “Haudhku seluas perjalanan satu bulan, sudut-sudutnya sama –yakni panjang dan lebarnya sama-airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, barangsiapa minum darinya maka dia tidak haus selamanya.” (Muttafaq alaihi).

2- Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya telagaku lebih jauh daripada jarak antara Ailah dengan Adn, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang di langit, sesungguhnya aku menghalangi manusia darinya seperti seorang laki-laki menghalangi unta orang-orang dari telaganya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, engkau mengetahui kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh umat mana pun, kalian datang kepadaku dengan tangan dan wajah berkilau bekas wudhu.”(HR. Muslim).

Orang-orang yang terhalang dari haudh

Terdapat banyak hadits di dalamnya Rasulullah saw menjelaskan tentang orang-orang yang datang ke haudh tetapi mereka ditolak dan tidak dizinkan, hal itu karena semasa di dunia mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka terhalangi untuk mencapai haudh.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut,

1- Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda, “Aku mendahului kalian ke haudh, ada beberapa orang dari kalian diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan tangan kepada mereka untuk memberi mereka minum, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya Rabbi, sahabat-sahabatku,’ maka dikatakan, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2- Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang menyertaiku akan datang ke haudh, ketika aku melihat mereka dan mereka diangkat kepadaku, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya rabbi, ushaihabi, ushaihabi’ maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits-hadits senada berjumlah banyak, al-Qurthubi di dalam at-Tadzkirah hal. 306 berkata setelah memaparkan hadits-hadits tentang terhalanginya sebagian orang dari haudh Nabi saw, “Para ulama kita -semoga Allah merahmati mereka semua- berkata, siapa pun yang murtad dari agama Allah atau membuat sesuatu di dalamnya yang tidak Allah ridhai dan tidak izinkan maka dia termasuk orang-orang yang terusir dari haudh beliau, yang dijauhkan darinya, dan yang paling keras diusir adalah orang-orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan menyimpang dari jalan mereka seperti Khawarij dengan berbagai macam alirannya, Rawafidh dengan beragam kesesatannya dan Mu’tazilah dengan beragam hawa nafsunya, mereka semua adalah orang-orang yang mengganti. Begitu pula orang-orang zhalim yang berlebih-lebihan di dalam kezhaliman, menghapus kebenaran, membunuh pengikutnya dan menghinakan mereka, yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi, jamaah pengikut kesesatan, hawa nafsu dan bid’ah, (mereka semua akan terusir dari haudh).”

Sahabat Nabi Yang Tidak Akan Melihat Nabi Setelah Nabi Wafat

Silakan perhatikan hadis berikut yang memuat sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan kata “SahabatKu”. Kemudian pikirkan dan analisis dengan baik-baik apakah hadis itu tentang kaum munafik atau tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو معاوية قال ثنا الأعمش عن شقيق عن أم سلمة قالت دخل عليها عبد الرحمن بن عوف قال فقال يا أمه قد خفت ان يهلكنى كثرة مالي أنا أكثر قريشا مالا قالت يا بني فأنفق فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ان من أصحابي من لا يرانى بعد أن أفارقه فخرج فلقي عمر فأخبره فجاء عمر فدخل عليها فقال لها بالله منهم أنا فقالت لا ولن أبلي أحدا بعدك

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami A’masy dari Syaqiq dari Ummu Salamah yang berkata ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk menemuinya dan berkata “wahai Ibu sungguh aku khawatir kalau hartaku yang banyak ini membinasakanku dan aku adalah seorang quraisy yang paling banyak hartanya. [Ummu Salamah] berkata wahai anakku berinfaklah karena aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda ”Sesungguhnya dari para Sahabatku akan ada orang yang tidak melihatKu setelah kewafatanKu”. Maka ia [Abdurrahman] keluar dan bertemu Umar kemudian ia mengabarkan kepadanya. Kemudian Umarpun datang menemui Ummu Salamah dan berkata kepadanya “demi Allah, apakah aku termasuk salah seorang dari mereka”. [Ummu Salamah] berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahukan siapapun setelahmu”. [Musnad Ahmad 6/290 no 26532 dimana Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih perawinya tsiqat perawi Bukhari Muslim”]

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أسود بن عامر ثنا شريك عن عاصم عن أبى وائل عن مسروق عن أم سلمة قالت قال النبي صلى الله عليه و سلم من أصحابي من لا أراه ولا يرانى بعد أن أموت أبدا قال فبلغ ذلك عمر قال فأتاها يشتد أو يسرع شك شاذان قال فقال لها أنشدك بالله أنا منهم قالت لا ولن أبرئ أحدا بعدك أبدا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syariik dari ‘Aashim dari Abi Wail dari Masyruq dari Ummu Salamah yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “dari para SahabatKu akan ada orang yang Aku tidak akan melihatnya dan ia tidak akan melihatKu setelah aku wafat untuk selama-lamanya”. Hal itu sampai kepada Umar sehingga ia bergegas mendatangi dan menanyakan hal itu. Umar berkata kepada Ummu Salamah “bersumpahlah demi Allah apakah aku adalah salah satu dari mereka?”. Ummu Salamah berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahu siapapun setelahmu untuk selama-lamanya” [Musnad Ahmad 6/298 no 26591 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Kalau selama ini masyhur dikenal Huzaifah sebagai sahabat pemegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dengan riwayat di atas maka Ummu Salamah ra mungkin juga layak untuk dikatakan memegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada beberapa faedah yang dapat diambil dari hadis di atas yaitu dari kalangan sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan ada orang-orang yang mendapat predikat tidak akan melihat Nabi dan dilihat oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk selamanya. Maksud perkataan “tidak MelihatKu” bukan maksudnya ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dan para sahabat masih hidup karena sudah jelas semua sahabat Nabi yang masih hidup setelah wafatnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] lagi. Yang dimaksud itu adalah di akhirat nanti ia tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tentu saja kedudukan seperti ini adalah kedudukan yang buruk bagi sahabat Nabi yang dimaksud.

.

.

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS An Nisaa : 69]

Mereka yang mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya akan mendapat balasan dari Allah SWT yaitu berkumpul bersama para Nabi termasuk Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] jadi mereka yang dikatakan sebagai sahabat Nabi yang tidak melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah para sahabat yang tidak mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya selepas kewafatan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Sehingga dapat dipahami kalau Ummu Salamah menasehati ‘Abdurrahman dengan hadis ini agar ia tidak dibinasakan oleh harta yang ia miliki. Dan dapat dipahami pula bahwa Umar walaupun ia dikenal sebagai sahabat Nabi menjadi takut atau khawatir kalau-kalau dirinya termasuk ke dalam salah seorang sahabat yang dimaksud sehingga ia bertanya kepada Ummu Salamah apakah ia termasuk salah satu dari mereka?. Jawaban Ummu Salamah terhadap Umar menunjukkan kalau Ummu Salamah mengetahui siapakah para sahabat Nabi yang dimaksud dan tentu saja tidak lain ini pasti berasal dari keterangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

.


Apa yang dapat disimpulkan dari hadis Ummu Salamah di atas?. Kesimpulannya para sahabat Nabi itu memiliki kedudukan yang bermacam-macam, ada diantara mereka yang memiliki keutamaan dan ada pula diantara mereka yang ternyata mendapat predikat tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di akhirat kelak.

Qs. Ali ‘Imran  144 : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”

Rasulullah  bersabda : “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.[ Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.]

Belum habis penderitaan yang satu ini ia mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang bermain politik dan rakus akan kedudukan. Setelah mereka merampas tanah “Fadak” dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam masalah kekhalîfahan (kepemimpinan).

Fâtimah Al-Zahra As berupaya untuk mengambil dan mempertahankan haknya dengan penuh keberanian yang tinggi. Imam ‘Ali As melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah Fâtimah As secara terus menerus bisa menyebabkan negara terjerumus ke dalam fitnah dan bahaya. Hingga dengan demikian seluruh perjuangan Rasul Saw akan sirna dan manusia akan kembali ke dalam masa jahiliyah.

Maka ‘Ali As memohon kepada istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci ini.. Akhirnya Sayyidah Fâtimah as pun berdiam diri, tetapi dengan penuh kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin bahwa “kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah Saw dan kemarahan Rasulullah Saw adalah kemarahan Allâh Swt.”

Sayyidah Fâtimah As diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau  berwasiat agar supaya dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Fatimah Az-Zahra As : Sayyidah Fâtimah As saat meninggalkan dunia. Beliau  tinggalkan Al-Hasan As yang masih 7 tahun, Al-Husain As 6 tahun, Zaînab As yang masih 5 tahun dan Ummi Kultsûm dalam usianya yang memasuki umur 3 tahun.

Dan yang paling berat dalam perpisahan ini adalah ia harus meninggalkan ‘Ali As, suami sekaligus pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayyidah Fâtimah As memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiat pada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil agar hendaknya ia dikuburkan secara rahasia.

Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dari yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terbentang  dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhadap keduanya itu”, diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan Ahmad.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

Camkanlah baik-baik saudaraku…

Sayyidah Fathimah Az-Zahra as Teladan Wanita Seluruh Alam

Sayyidah Fathimah Az-Zahra as Teladan Wanita Seluruh Alam*

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang-
Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya.

Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantim, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam.

Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku
Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah
Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash

Fatimah dicambuk.
Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk
Talkhis Syafi jilid 3 hal 156

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang.
Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah
Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312


fatimah azzahrafatimah azzahra

Hari Lahir Sayyidah Fathimah as

Sayyidah Fathimah lahir pada tanggal 20 Jumadil Tsani tahun ke lima hijriah. Pada masa itu usia ayahnya; Nabi Muhammad saw 45 tahun dan usia ibunya; Khadijah binti Khuwailid 60 tahun.

Nama-nama beliau antara lain: Fathimah, Shiddiqah, Zahra, Mubarakah, Radhiyah, Mardhiyah, Thohirah, Zakiyah, Muhaddatsah.

Julukan beliau lebih dari tiga puluh sebagaimana yang ada dalam ziarah-ziarah atau sifat-sifat yang telah disebutkan oleh Rasulullah sendiri untuk beliau seperti, Ummul Aimmah, Ummu abiha, Ummul hasan, Ummul husein, Ummul muhsin, Batul, Haniyah, Al-Hurrah, Hashon, Haura insiyah, sayyidah An-Nisa Al-Alamin, shobirah, muthohharah, syahidah, dan sebaginya.

Beliau dinamakan Fathimah yang artinya putus, pisah yakni beliau dan para pengikutnya terpisah dan terputus dari api neraka.

Masa Kecil Sayyidah Fathimah as

Beliau hidup pada zaman yang penuh tantangan karena pada masa itu adalah masa dakwah ayahnya dalam mengajak masyarakat untuk beriman kepada Allah swt. di mana orang-orang Quraisy pada saat itu karena kesombongannya dengan harta kekayaan dan nasabnya mereka merasa bangga dan tidak mau beriman kepada Allah swt. Faktor lain yang membuat mereka tidak beriman adalah mengikuti agama dan keyakinan nenek moyang mereka sebagai penyembah berhala. Pada kondisi seperti ini hanya sedikit orang-orang yang beriman kepada Allah swt dan kenabian Muhammad saw. mereka yang beriman khususnya para mustadh’afin dan orang-orang yang teraniaya.

Selain Nabi Muhammad sekeluarga ada beberapa keluarga yang beriman antara lain keluarga Yasir bin Amir dan anak istrinya yang bernama Sumayyah dan Ammar bin Yasir. Sumayyah adalah wanita syahid pertama dalam islam. Ia terbunuh karena  membela islam dan Rasulullah saw sehingga rela dibantai oleh kaum Quraisy. Orang yang mendukung Rasulullah dalam rumah adalah Khadijah binti Khuwailid dan pendukung di luar rumah adalah paman Rasulullah saw yang bernama Abu Thalib. Akan tetapi setelah meninggalnya Khadijah dan Abu Thalib, Fathimah lah  yang menjadi pendukung ayahnya di rumah karena sepeninggal Khadijah dan Abu thalib orang-orang kafir semakin merajalela dalam memusuhi Rasulullah saw.

Pada tahun kelima hijriah ibu Sayyidah Fathimah a.s. meninggal dunia. Beliau hidup bersama ayahnya sehingga saat orang-orang kafir menganiaya ayahnya. Beliau adalah satu-satunya orang yang selalu menjadi pendingin dan penenang hati ayahnya oleh karenanya beliau dijuluki sebagai Ummu abiha, yakni ibu ayahnya. Beliau selain sebagai putri juga sebagai ibu dari ayahnya dalam mengemban risalah islam.

Fathimah adalah Bagian dari Diri Nabi saw

Para perawi baik dari Syi’ah maupun Ahli Sunah telah meriwayatkan hadis yang berbunyi: “Fathimah adalah bagian dariku barang siapa yang menyakitinya maka ia telah menyakitiku”.

Karena Fathimah adalah bagian dari Nabi saw. maka saat beliau gembira hati Nabi juga ikut gembira dan di saat beliau sedih hati Nabi juga ikut sedih. Ucapan Nabi yang demikian ini bukan hanya karena ucapan kasih sayang atau lebih bersifat emosional tapi sebuah hakikat. Hakikat yang akan menjelaskan  rahasia dari salah satu perilaku Nabi saw. di mana setiap Nabi mau bepergian beliau selalu mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu dengan putrinya Fathimah. Fathimah adalah orang yang terakhir yang ditemui Nabi ketika mau pergi dan ketika datang dari bepergian yang pertama kali beliau temui adalah putrinya Fathimah.

Fathimah dalam Ucapan Nabi Muhammad saw

Dia adalah jantungku.

Dia adalah cahaya mataku.

Dia adalah buah hatiku.

Dia adalah bagian dari diriku.

Dia adalah pemimpin seluruh wanita alam. Di hari kiamat juga dia sebagai pemimpin seluruh wanita.

Sesungguhnya Allah akan marah jika dia marah dan Allah akan senang jika dia merasa senang.

Bau surga tercium darinya.

Cahaya Fathimah diciptakan sebelum diciptakannya seluruh cahaya langit dan bumi.

Orang yang pertama menyusul nabi Muhammad saw. setelah wafat ayahnya.

Orang yang pertama kali masuk surga.

Dia bisa memberikan syafaat di hari kiamat.

Seandainya dalam Al-Quran tidak ada ayat yang diturunkan sekaitan dengannya dan tidak ada ayat yang tafsirannya berkaitan dengannya dalam masalah sebab-sebab turunnya ayat maka hanya dengan ayat yang berbunyi ‘Dan dia tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu akan tetapi pembicaraanya adalah hanya wahyu yang di wahyukan kepadanya, tidak ada keraguan sama sekali tentang keutamaan yang disebutkan Nabi Muhammad saw. sekaitan dengan putrinya dan ini bukan hanya sekedar karena sebagai putrinya sehingga beliau menyebutkan keutamaan ini, akan tetapi beliau menyebutkannya karena untuk umatnya supaya mereka tahu dan satu-satunya teladan dalam Islam adalah putri rasul; Fathimah, yang berada di bawah naungan dan pendidikan  wahyu ilahi.  Ayah, suami dan anak-anaknya adalah utusan Allah swt.

Fathimah sebagai Sosok Teladan Bagi Wanita Seluruh Alam

Sebelum membahas masalah meneladani Sayyidah Fathimah a.s. kita lihat bagaimana Allah swt. mendidik makhluknya yang bernama manusia dengan perantaran para utusan-Nya. Allah dalam mendidik hambanya dengan menggunakan berbagai macam cara seperti memberikan kabar gembira berupa nikmat-nikmat yang abadi, menakut-nakuti dengan azab yang pedih, menceritakan kisah kaum terdahulu, menceritakan kisah para nabi, menggunakan contoh atau sumpah dan sebaginya.

Salah satu cara yang paling mujarab yang digunakan berkali-kali dalam Al-Quran adalah menyodorkan teladan yang layak dan baik dengan cara langsung atau tidak langsung. Begitu juga menentukan teladan yang baik dan menekankan untuk mengikutinya serta tidak menganggap baik mengikuti teladan yang buruk dan menghancurkan pemikiran dan budaya yang tidak baik.

Al-Quran mengenalkan Rasulullah saw. sebagai teladan yang baik bagi kaum beriman: “Dalam diri Rasulullah saw. ada teladan untuk kalian orang-orang yang  berharap kepada Allah dan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah”. Artinya, mengikuti Rasul sebagai teladan adalah sebuah taufik dan sifat yang  terpuji yang tidak bisa didapatkan oleh setiap orang, akan tetapi hanya bisa didapatkan oleh orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kiamat serta orang-orang yang betul-betul mencintai Allah dan banyak mengingat-Nya saja. Yang pada akhirnya mengingat dan perhatian yang terus menerus inilah yang akan menyebabkan seseorang untuk meneladani Rasulullah secara sempurna. Sebaliknya, jika keimanan seseorang kepada Allah swt. dan hari kiamat semakin lemah maka semangat dan taufik untuk meneladani Rasulullah saw. juga akan semakin kecil dan lemah.

Sebuah misal, Al-Quran menganjurkan kepada Rasulullah saw untuk meneladani para nabi ulul Azmi dalam menyampaikan risalahnya artinya hendaknya seperti mereka sabar dan istiqomah dan hindarilah tergesa-gesa “(Dalam bertablig dan menahan godaan umat). Bersabarlah sebagaimana para nabi ulul azmi bersabar dan jangan tergesa-gesa (dalam mengazab mereka)”.

Al-Quran dalam mendidik umat menggunakan contoh dalam bentuk cerita, seperti dalam ayat yang menceritakan kisah Asiyah; istri Firaun dan Maryam; putri Nabi Imran as mereka adalah teladan bagi para mukminin alam, baik laki-laki maupun perempuan. “Allah mencontohkan Asiyah istri Firaun untuk orang-orang yang beriman ketika dia berkata Ya Allah bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisimu di surga dan selamatkanlah aku dari keburukan Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim. Dan Maryam; putrinya Imran yang menjaga kesuciannya”….

Dalam ayat ini Allah mengenalkan masalah teladan yang baik. Kalau mau meneladani maka teladanilah dua wanita ini, dari sisi panjangnya jangkauan dan semangat tingginya Asiyah; istri Firaun  di mana ia saat itu berada dalam istana dengan fasilitas yang memadai, tetapi ia tidak menghiraukan masalah dunia dan memandangnya sebagai sesuatu yang hina bahkan meminta kepada Allah untuk dibangunkan sebuah rumah yang abadi di akhirat dan hendaknya diselamatkan dari tangan Firaun yang zalim dan kaumnya. Begitu juga teladanilah Maryam, dari sisi kesuciannya dan iman serta penghambaannya yang murni kepada Allah swt.

Sekaitan dengan contoh teladan Maryam, dia adalah teladan untuk zamannya. Sementara Sayyidah Fathimah adalah teladan seluruh wanita sepanjang sejarah. Rasulullah saw. bersabda bahwa Maryam adalah teladan bagi para wanita di zamannya sementara Fathimah adalah teladan wanita seluruh alam dari awal sampai akhir. Rasulullah bersabda bahwa malaikat telah turun kepadaku dan memberikan kabar gembira bahwa Fathimah adalah teladan seluruh wanita penghuni surga dan teladan seluruh wanita umatku.

Dari sini jelas, bahwa kedudukan Sayyidah Fathimah lebih tinggi dari kedudukan Maryam dan Asiyah. Kedudukan Fathimah tidak hanya lebih tinggi dari kedudukan Maryam dan Asiyah. Bahkan puncak kedudukan keduanya adalah di saat mereka mendapatkan taufiq untuk membantu ibu Sayyidah Fathimah ketika melahirkan beliau as Kisah lahirnya Sayyidah Fathimah ini diriwayatkan dari ucapan Imam Shadiq as bahwa ketika Khadijah  binti Khuwailid kawin dengan Muhammad saw tidak ada seorang wanita Quraisy pun yang mau menjenguk Khadijah, terutama ketika melahirkan putrinya yang bernama Fathimah a.s. maka dengan izin Allah datanglah empat wanita surga dan salah satunya mengenalkan diri seraya berkata saya adalah Sarah istri Ibrahim as dan ini adalah Asiyah putri muzahim (istri Firaun) dan dia adalah  temanmu di surga dan ini adalah Maryam putri Imran as dan ini adalah Shafura  putri Syuaib as kami adalah utusan Allah swt untuk menolongmu di mana setiap wanita menolong wanita-wanita lain yang membutuhkan. Maka lahirlah Sayyidah Fathimah yang suci dan sinarnya menyinari rumah-rumah daerah sekelilingnya. Pada saat itu sepuluh peri dari surga masuk ke rumah Khadijah yang masing-masing dari mereka membawa dua bejana air telaga Kautsar. Wanita yang berada di depan Khadijah adalah Maryam. Ia mengangkat Sayyidah Fathimah dan memandikannya dengan air telaga Kautsar kemudian membungkusnya dengan kain putih yang putihnya lebih putih dari susu dan lebih harum dari misyk (minyak wangi). Dan mengerudunginya dan pada saat itu berbicara dengan Fathimah. Dan Fathimah berkata:

اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَ اَنَّ اَبِى رَسُوْلُ اللهِ سَيِّدُ الْاَنْبِيَاءِ وَ اَنَّ بَعْلِى سَيِّدُِ الْاَوْصِيَاءِ وَ وُلْدِى سَادَةُ الْاَسْبَاطِ

“Aku  bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya ayahku adalah pemimpin para nabi dan suamiku adalah pemimpin para imam maksum dan anakku adalah pemimpin para pemuda”.

Kemudian Sayyidah Fathimah memanggil nama masing-masing wanita surga itu dan mengucapkan salam kepada masing-masing mereka. Para peri surga tertawa bahagia. Para penduduk langit dengan lahirnya Sayyidah Fathimah as saling memberikan kabar gembira. Pada saat itu langit bersinar dengan sinarnya  yang tidak ada bandingannya di mana setelah itu tidak terlihat lagi sinarnya. Kemudian keempat wanita surga ini menyerahkan Sayyidah Fathimah ke pangkuan Khadijah seraya berkata ambillah putri ini di mana dia adalah penyuci (thahir) dan sudah disucikan (muthahhar) dan penuh barakah (mubarakah) Allah memberkatinya dan memberkati keturunannya.

Setelah mengkaji masalah meneladani dan caranya dalam Al-Quran sekarang bagaimana kita meneladani Sayyidah Fathimah as di mana faktor pembentuk kepribadian seorang teladan merupakan masalah yang betul-betul menjadi bahan kajian. Kalau hanya berbicara faktor pembentuk seperti genetik, lingkungan, lingkungan geografi dan lingkungan masyarakat maka meneladani tidak memiliki makna karena faktor tersebut adalah keterpaksaan. Oleh karena itu, selain kita mengakui faktor tersebut maka kita juga harus mengakui faktor yang terpenting lainnya yaitu kebebasan dan kemauan seorang sosok teladan. Lantas bagaimana dengan faktor pembentuk kepribadian Sayyidah Fathimah as dan bagaimana caranya kita meneladani beliau.

Kalau kita lihat dari sisi genetik, lingkungan, baik lingkungan sebelum lahir maupun lingkungan setelah lahir, lingkungan sosial, lingkungan geografi Sayyidah Fathimah tidak diragukan bahwa beliau adalah sosok teladan yang patut untuk diteladani dan diikuti karena ayah beliau adalah Muhammad saw makhluk yang paling mulia dan ibunya  Khadijah binti khuwailid wanita yang paling suci dan mulia di zamannya sementara kakek neneknya adalah orang-orang yang saleh dan paling suci di bumi pada masa itu. Nutfah Sayyidah Fathimah telah dibuahi di saat ayahnya telah mencapai kesucian ruh karena ibadahnya kepada Allah swt. selama empat puluh hari dan bahan nutfahnya adalah makanan surgawi yang paling suci dan bagus. Oleh karena itu beliau dinamakan  Haura’ Al-Insiyah, peri yang berupa manusia dan Rasulullah selalu merindukan bau surga dalam wujud beliau.

Fathimah dipelihara dalam keluarga yang penuh kasih sayang, ceria dan  suci di mana setelah wafat ibunya beliau dididik oleh pendidik yang paling bagus akhlaknya yaitu ayahnya sendiri dan berada di sisi suami yang selalu berada di bawah naungan Rasulullah saw. dan faktor lain yaitu faktor secara gaib yaitu selalu mendapatkan ilham dari Allah swt. melalui malaikat yang turun kepadanya.

Dari sisi faktor-faktor ini kita bisa meneladaninya dalam kehidupan ini seperti ketika ada niat untuk kawin maka harus teliti dalam memilih pasangan hidup, pentingnya kedua orang tua untuk membangun dan membersihkan diri dan kejiwaan sebelum terjadinya pembuahan dan setelah itu keharusan kedua orang tua dalam mengonsumsi makanan halal dalam masa kehamilan sampai menyusui.

Kita sebagai manusia biasa dalam meneladani orang suci seperti Sayyidah Fathimah sekalipun tidak akan sampai walau hanya pada tanah bekas kakinya akan tetapi pandangan seperti ini jangan sampai menjadikan kita putus asa dan menjadi penghalang dalam meneladaninya. Kedudukan beliau yang sangat tinggi hendaknya menjadikan spirit bagi kita yang mau meneladaninya karena faktor yang paling pokok dalam pembentukan kepribadian beliau adalah ikhtiar dan pilihan bebas beliau.

Betul, Sayyidah Fathimah adalah manusia maksum dan suci dari dosa, tetapi beliau adalah manusia juga, sehingga dalam meneladani kita lihat sisi kesamaannya dengan kita sebagai manusia, di mana kita bisa meneladani beliau dari sisi dia juga memiliki kecondongan dan syahwat, hawa nafsu, fitrah, akal , penghambaan dan ibadah dan hubungan sosial sehingga bagaimana beliau menggunakan semua ini kita bisa mencontohnya dan meneladaninya.

Meneladani seorang teladan seperti Sayyidah Fathimah Az-Zahra as yang maksum bisa dengan dua model:

1. Meneladani secara langsung artinya apa yang beliau lakukan kita juga melakukannya sebagaimana setiap habis mengerjakan salat wajib beliau membaca zikir khusus yaitu Allah akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Subhanallah 33 kali. Zikir ini adalah hadiah yang beliau dapatkan dari ayahnya.

2. Meneladani secara tidak langsung artinya hakikat perkataan dan perilaku para sosok teladan ini harus kita pahami. Dengan menganalisa dan menyimpulkan karakter keilmuan dan perilaku  para maksum maka kita akan memahami apa tugas kita dalam kehidupan pribadi, sosial, budaya, politik dan ekonomi.

Meneladani para maksum dengan cara tidak langsung artinya walaupun mereka hidup di zaman yang cukup jauh perbedaannya dengan zaman kita, kita tetap bisa meneladaninya karena dalam hal ini kita tidak harus mengikuti gaya hidup mereka di zaman itu dan memang tidak mungkin bisa kita praktekkan di zaman kita ini. Berarti kita harus memahami maksud dan kandungan dari perilaku mereka dan kita praktekkan dengan gaya baru yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan tempat kita. Sebagi contoh dari riwayat yang sampai ke tangan kita bahwa Sayyidah Fathimah hidup bersama Imam Ali as dalam rumah kecil yang terbuat dari tanah, mereka memakai alas dari kulit kambing dan kalau siang alas kulit itu digunakan untuk tempat rumput makanan  untanya. Sayyidah  Fathimah menggunakan jilbab dari tenunan kulit pohon kurma. Bentuk kehidupan seperti ini sama sekali tidak bisa diteladani pada zaman sekarang, akan tetapi kandungan dari kehidupan seperti ini bisa kita teladani artinya secara tidak langsung kita meneladani kehidupan mereka dari sisi kesederhanaannya dan tidak tertipu dengan tipuan gemerlapan dunia dan menjauhi kemewahan.

Kalau Sayyidah Fathimah menggiling gandum untuk menyiapkan roti keluarganya sehingga tangan  beliau luka artinya bahwa betapa tingginya nilai sebagai ibu rumah tangga, usaha untuk menghasilkan produksi sendiri dan merasa cukup dengan apa yang ada, membantu suami dalam masalah rumah tangga.

Sayyidah Fathimah as Sebagai Istri

Mendekatkan diri kepada Allah swt hanya bisa dicapai dengan menjalankan tugas. Setiap orang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat akan tetapi ia harus berpikir apa sebenarnya yang diinginkan oleh Allah swt atas dirinya. Tugas-tugas ilahi bisa dibagi menjadi tiga kelompok:

1. Tugas yang sama antara wanita dan pria artinya masing-masing wanita dan pria memiliki tugas secara terpisah yang harus dilakukannya sehingga bisa mencapai kesempurnaan seperti salat, puasa, zakat, membayar khumus, haji, infak dan sedekah dan lain-lainnya.

2. Tugas yang khusus untuk wanita yakni tugas-tugas yang dibebankan kepada wanita karena potensi dan kemampuannya yang dimilikinya. Susunan badan dan jiwanya yang lembut menjadikan pekerjaan yang memerlukan kelembutan dan ketelitian dan kerelaan dibebankan kepada wanita seperti menjadi istri, hamil, menyusui dan  mengasuh serta mendidik anak.

3. Tugas khusus untuk laki-laki yang sesuai dengan susunan bentuk tubuh dan kekuatannya, sehingga pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan adanya kekuatan, kepastian dan sebaginya dibebankan pada laki-laki seperti aktivitas  ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, aktivitas sosial dan politik, jihad dan perang dan sebaginya.

Dengan mengenal tugas masing-masing maka seseorang akan dengan mudah dan tanpa ragu-ragu ia akan menjalankan tugasnya sesuai dengan kemampuannya.

Pada zaman Rasulullah ada yang bertanya kenapa kita sebagai perempuan tidak mendapatkan andil untuk berjihad? Rasulullah menjawab jihadul mar’ati husnuttaba’ul (jihadnya perempuan adalah menjadi istri yang baik).

Kalau kaum laki-laki ada tugas jihad dan pahalanya sangat besar sekali, dari sisi lain kaum perempuan juga tidak ketinggalan dalam mendapatkan pahala yang sangat besar juga yaitu menjadi istri yang baik. Berdasarkan kemauan Allah swt, secara fitrah kehidupan laki-laki dan perempuan saling bergantung satu sama lainnya. Keluarga adalah satu kesatuan yang bisa menjadi jembatan untuk mewujudkan adanya saling ketergantungan ini dengan bentuk yang paling baik sehingga baik laki-laki maupun perempuan bisa mencapai kesempurnaan yang diinginkan ilahi. Kesuksesan masing-masing mereka tergantung pada keharmonisan keluarga dan hubungan mereka sendiri, seorang istri bisa menjalankan tugasnya dengan baik di saat dia mendapatkan dukungan jiwa, perasaan dan ekonomi dari suaminya. Begitu juga sebaliknya suami dengan jiwanya yang tenang karena dukungan kerelaan istrinya ia bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Akan tetapi jika suasana rumah tangga dikuasai oleh rasa egois, kekerasan dan tidak adanya kehormatan satu sama lainnya maka kejiwaan istri dan suami akan terganggu sehingga mereka tidak akan bisa mencapai kesuksesan baik dari sisi materi maupun maknawi, tidak hanya istri tidak bisa menjalankan tugas rumah tangganya dan mendidik anaknya dengan baik akan tetapi suami pun tidak akan sukses dalam menjalankan tugas sosialnya, oleh karena itu keselamatan dan ketenangan sebuah masyarakat akan dimulai dari setiap kesatuan rumah tangga.

Secara global kejujuran dan kasih sayang serta keakraban hubungan suami istrilah yang menjadi punggung kesuksesan laki-laki maupun perempuan dan dalam menerapkan keharmonisan rumah tangga peran istri yang lebih berpengaruh dan kelihatan.

Kunci ketenangan dan keakraban dalam rumah tangga ada di tangan wanita, oleh karena itu, ketenangan jiwa dan perasaan laki dalam aktivitas sosialnya tergantung pada perilaku dan watak perempuan dalam rumah tangga. Kaidah ini berlaku pada semua bidang kehidupan laki-laki baik dari sisi kehidupan pribadi maupun masyarakat.

Laki-laki yang sukses baik dari segi materi maupun maknawi adalah karena dukungan istrinya sehingga jika ia sukses dan mendapatkan pahala istrinya juga sama seperti dia mendapatkan pahalanya juga.

Menjadi istri adalah sebuah seni seperti seni lainnya yang memerlukan adanya ketelitian, keuletan dan pemikiran. Wanita yang ingin sukses dalam menjalani seni ini ia memerlukan adanya teladan yang universal sehingga dengan meneladani teladan yang sempurna  ia bisa menjalankan tugasnya dengan gaya yang paling baik. Dan yang menjadi teladan dalam seni ini tidak ada teladan yang lebih sempurna dan universal kecuali wujudnya Sayyidah Fathimah as

Sayyidah Fathimah sejak beliau menginjakkan kakinya di rmuah suaminya; Imam Ali as, beliau selalu menerima dan beradaptasi dengan apa yang ada baik dari sisi materi maupun maknawi. Sayyidah Fathimah begitu lembut dan ceria serta menjadi pendamping setia suaminya sehingga bisa menghilangkan rasa lelah jiwa dan badan suaminya. Imam Ali as dalam hal ini mengatakan bahwa setiap saat aku melihat wajahnya maka hilanglah semua kesedihanku.

Sayyidah Fathimah selalu berusaha untuk mendapatkan ridha kesenangan suaminya, sehingga Imam Ali a.s. sekaitan dengan beliau berkata: “Demi Tuhannya Zahra’, sampai ia meninggal dunia tidak pernah menyakiti aku dan tidak melakukan sesuatu yang membuatku tidak suka”. Kalau mau kita paparkan bentuk kehidupan Sayyidah Fathimah, maka memerlukan pembahasan yang lebar akan tetapi bisa kita sebutkan antara lain bahwa beliau sangat beradab dan selalu membarengi suaminya dalam keadaan senang maupun susah, adanya perhatian penuh kepada kejiwaan suaminya dan tanggung jawab yang dipikul suaminya, berperilaku baik dan berbicara sopan serta pemaaf dihadapkan suaminya, memberikan ketenangan jiwa suami dalam menjalankan tugas dan mendidik anak-anaknya, sabar dan menerima adanya kekurangan materi, membantu kehidupan rumah tangga untuk cukup dan tidak adanya ketergantungan ekonomi keluarga pada orang lain serta mendidik anak-anaknya dengan baik.

Dengan membaca dan mempelajari kehidupan putri Rasulullah saw. di mana beliau adalah makhluk yang paling sempurna dan suci dari dosa dan dengan menelaah  sabda-sabda beliau, maka kita sebagai penganutnya akan bisa menjadikan keluarga dan karakter kepribadian mereka sebagai sebuah teladan dalam hidup sehari-hari. Oleh karena itu, sebagai muslim yang cerdas tentu akan menjadikan putri Rasululullah saw sebagai teladan untuk bisa mencapai kesempurnaan. Karena sudah menjadi tabiat manusia bahwa dalam hidup manusia selalu ada yang ingin diikuti dan ditiru. Dan satu-satunya teladan yang dikenalkan oleh Rasulullah Adalah Sayyidah Fathimah Az-Zahra as

Kesimpulannya bahwa kita dalam meneladani perkataan dan perilaku para sosok teladan adalah bukan dari bentuk perkataannya atau model perilakunya itu sendiri, akan tetapi maksud dan kandungannya yang  harus kita pahami dan kita teladani dan harus kita sesuaikan dengan zaman kita sekarang ini, oleh karena itu, sebagai seorang mukmin kita harus selalu mencari sejarah dan mempelajarinya sehingga dari sejarah itu dengan menganalisa dan memahami kandungannya, kita teladani dan kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan kebutuhan dan zaman yang kita alami. Kita sebagai umat Muhammad sudah disiapkan oleh Allah para sosok teladan yang harus kita teladani sehingga tidak perlu harus meneladani orang-orang yang tidak layak untuk diteladani.

———————————————————————————–

Oleh: Emi Nur Hayati HPI.

ref:

Syeikh Thusy, Biharul Anwar, jilid 43, hal 18. Nasai dan Hafidh Abu Al-Qasim Dimasyqi dan lain-lainnya telah menukil hadis ini. As-Sawaiq Al-Muharraqah, hal 160.

As-Sawaiq Al-Muharraqah, hal 114. Faidh Al-Qadir, jilid 4 hal 421.

Mustadrak sahihain, jilid 3, hal 156. Isti’ab, jilid 2 hal 750.

Nur Al-Abshar, Syablanji, hal 52.

Ahl Al-Bait, Taufiq Abu Ilm, hal 124.

. Idem.

As-Sawaiq Al-Muharraqah, hal 114.

‘Awalim, julid 11, hal 49.

Al-Masyru’ Ar-Ariwa, hal 86.

Ahqaq Al-Haq, jilid 1 hal 185 dan 186.

Biharul Anwar, jilid 43, hal 4.

Ahl Al-Bait,hal 124.

. Musnad Fathimah, Suyuthi, hal 45 dan 46.

Biharul Anwar, jilid 43, hal 24.

Al-Quran, surat Najm, ayat 3 dan 4. “ Wama Yantiqu Anil Hawa In Huwa Illa WahyunYuha”.

Al-Quran, Al-Ahzab: 21.

Tafsir Al-Mizan, jilid 16, hal 305, dinukil dari kitab Jami az zelale kautsar, hal 75.

Akhlak dar Quran , Ayatullah Misbah Yazdi, jilid 1 hal 156.

Al-Quran, Al-Ahqaf: 35.

. Al-Quran, AT-Tahrim: 11 dan 12.

Biharul Anwar, jilid 43, hal 22, hadis ke 20.

. Idem, jilid 21, hal 279.

Amaliye  syeikh shaduq, hal 457. Ghayah Al-Haram, hal 177. Dalail Al-Imamah, hal 8, Biharul Anwar, jilid 43, hal 2.

Biharul Anwar, jilid 16, hal 78. ‘Awalim, jilid 16, hal 15.

. Imam Ali as berkata: “Ketika pekerjaan dalam rumah banyak sekali badan Sayyidah Fathimah menjadi lelah dan saya berkata kepadanya seandainya kamu pergi ke ayahmu meminta seorang pembantu supaya dapat membantumu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dan badanmu tidak lelah seperti ini. Sayyidah Fathimah pergi ke ayahnya dan merasa malu untuk mengutarakan maksudnya dan kembali ke rumahnya sendiri. Esok harinya Rasulullah saw. datang ke rumah kami dan berkata; wahai Fathimah kebutuhanmu sama ayah kemarin apa? Saya berkata kepada Rasulullah saw. keberatan pekerjaan rumah mempengaruhi badan Sayyidah Fathimah dan melelahkannya. Saya minta kepadanya untuk datang kepada anda, Rasulullah saw bersabda apakah saya belum mengajarkan kepada kalian yang lebih baik dari pembantu? Kemudian Rasulullah mengajarkan tasbih-tasbih  ini, pada saat itu Fathimah berkata tiga kali: “Aku ridha sama Allah swt dan Rasul-Nya”. Biharul Anwar, jilid 43, hal 82, hadis ke 5, di nukil dari Jami az zelale kautsar, hal 92.

.ucapan  Imam Khomeini di hadapan pegawai isolasi dan panti asuhan, 23/4/58,Sahifehe Nur, jilid 8 hal 18. dinukil dari Jami az zelale kautsar, hal 216.

. Tuhaf Al-uqul, hal 60. Makrim Al-Akhlak, hal 215.

Kasyf Al-Ghummah, jilid 1, hal 492.

. Idem.

Termasuk perkara di Hari Kiamat yang wajib diimani dan dipercayai oleh setiap muslim adalah haudh. Haudh yang berarti telaga adalah salah bentuk penghargaan dan penghormatan dari Allah kepada hamba dan rasulNya yang mulia Muhammad saw. Sifat haudh ini sebagaimana yang tercantum di dalam hadits-hadits shahih dari beliau, luasnya sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, aromanya lebih harum daripada minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, airnya bersumber dari sungai Kautsar yang Allah berikan kepada Nabi saw di surga, siapa yang minum darinya seteguk, tidak akan haus selamanya.

Para ulama berbeda pendapat tentang tempatnya, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia di arashat Kiamat sebelum manusia melewati shirath, sebagian yang lain berpendapat bahwa ia setelah manusia melewati shirath.

Hadits-hadits tentang haudh

Hadits-hadits tentang haudh mencapai derajat mutawatir, para ulama hadits menyatakannya demikian, yang meriwayatkan dari Rasulullah saw dalam perkara ini lebih dari lima puluh orang sahabat, Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya di dalam Fath al-Bari 11/468.

Dalam Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah 1/277-278 ditulis, “Hadits-hadits yang tercantum dalam perkara haudh mencapai batasan mutawatir, sahabat yang meriwayatkan mencapai tiga puluh lebih, syaikh kami Syaikh Imaduddin Ibnu Katsir, semoga Allah merahmatinya, telah menyebutkan jalan-jalan periwayatannya secara terperinci di akhir tarikhnya yang besar yang bernama al-Bidayah wa an-Nihayah.”

Sebagian dari hadits-hadits tersebut

1- Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda, “Haudhku seluas perjalanan satu bulan, sudut-sudutnya sama –yakni panjang dan lebarnya sama-airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, barangsiapa minum darinya maka dia tidak haus selamanya.” (Muttafaq alaihi).

2- Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya telagaku lebih jauh daripada jarak antara Ailah dengan Adn, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang di langit, sesungguhnya aku menghalangi manusia darinya seperti seorang laki-laki menghalangi unta orang-orang dari telaganya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, engkau mengetahui kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh umat mana pun, kalian datang kepadaku dengan tangan dan wajah berkilau bekas wudhu.”(HR. Muslim).

Orang-orang yang terhalang dari haudh

Terdapat banyak hadits di dalamnya Rasulullah saw menjelaskan tentang orang-orang yang datang ke haudh tetapi mereka ditolak dan tidak dizinkan, hal itu karena semasa di dunia mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka terhalangi untuk mencapai haudh.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut,

1- Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda, “Aku mendahului kalian ke haudh, ada beberapa orang dari kalian diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan tangan kepada mereka untuk memberi mereka minum, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya Rabbi, sahabat-sahabatku,’ maka dikatakan, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2- Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang menyertaiku akan datang ke haudh, ketika aku melihat mereka dan mereka diangkat kepadaku, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya rabbi, ushaihabi, ushaihabi’ maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits-hadits senada berjumlah banyak, al-Qurthubi di dalam at-Tadzkirah hal. 306 berkata setelah memaparkan hadits-hadits tentang terhalanginya sebagian orang dari haudh Nabi saw, “Para ulama kita -semoga Allah merahmati mereka semua- berkata, siapa pun yang murtad dari agama Allah atau membuat sesuatu di dalamnya yang tidak Allah ridhai dan tidak izinkan maka dia termasuk orang-orang yang terusir dari haudh beliau, yang dijauhkan darinya, dan yang paling keras diusir adalah orang-orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan menyimpang dari jalan mereka seperti Khawarij dengan berbagai macam alirannya, Rawafidh dengan beragam kesesatannya dan Mu’tazilah dengan beragam hawa nafsunya, mereka semua adalah orang-orang yang mengganti. Begitu pula orang-orang zhalim yang berlebih-lebihan di dalam kezhaliman, menghapus kebenaran, membunuh pengikutnya dan menghinakan mereka, yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi, jamaah pengikut kesesatan, hawa nafsu dan bid’ah, (mereka semua akan terusir dari haudh).”

Sahabat Nabi Yang Tidak Akan Melihat Nabi Setelah Nabi Wafat

Silakan perhatikan hadis berikut yang memuat sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan kata “SahabatKu”. Kemudian pikirkan dan analisis dengan baik-baik apakah hadis itu tentang kaum munafik atau tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو معاوية قال ثنا الأعمش عن شقيق عن أم سلمة قالت دخل عليها عبد الرحمن بن عوف قال فقال يا أمه قد خفت ان يهلكنى كثرة مالي أنا أكثر قريشا مالا قالت يا بني فأنفق فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ان من أصحابي من لا يرانى بعد أن أفارقه فخرج فلقي عمر فأخبره فجاء عمر فدخل عليها فقال لها بالله منهم أنا فقالت لا ولن أبلي أحدا بعدك

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami A’masy dari Syaqiq dari Ummu Salamah yang berkata ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk menemuinya dan berkata “wahai Ibu sungguh aku khawatir kalau hartaku yang banyak ini membinasakanku dan aku adalah seorang quraisy yang paling banyak hartanya. [Ummu Salamah] berkata wahai anakku berinfaklah karena aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda ”Sesungguhnya dari para Sahabatku akan ada orang yang tidak melihatKu setelah kewafatanKu”. Maka ia [Abdurrahman] keluar dan bertemu Umar kemudian ia mengabarkan kepadanya. Kemudian Umarpun datang menemui Ummu Salamah dan berkata kepadanya “demi Allah, apakah aku termasuk salah seorang dari mereka”. [Ummu Salamah] berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahukan siapapun setelahmu”. [Musnad Ahmad 6/290 no 26532 dimana Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih perawinya tsiqat perawi Bukhari Muslim”]

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أسود بن عامر ثنا شريك عن عاصم عن أبى وائل عن مسروق عن أم سلمة قالت قال النبي صلى الله عليه و سلم من أصحابي من لا أراه ولا يرانى بعد أن أموت أبدا قال فبلغ ذلك عمر قال فأتاها يشتد أو يسرع شك شاذان قال فقال لها أنشدك بالله أنا منهم قالت لا ولن أبرئ أحدا بعدك أبدا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syariik dari ‘Aashim dari Abi Wail dari Masyruq dari Ummu Salamah yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “dari para SahabatKu akan ada orang yang Aku tidak akan melihatnya dan ia tidak akan melihatKu setelah aku wafat untuk selama-lamanya”. Hal itu sampai kepada Umar sehingga ia bergegas mendatangi dan menanyakan hal itu. Umar berkata kepada Ummu Salamah “bersumpahlah demi Allah apakah aku adalah salah satu dari mereka?”. Ummu Salamah berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahu siapapun setelahmu untuk selama-lamanya” [Musnad Ahmad 6/298 no 26591 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Kalau selama ini masyhur dikenal Huzaifah sebagai sahabat pemegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dengan riwayat di atas maka Ummu Salamah ra mungkin juga layak untuk dikatakan memegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada beberapa faedah yang dapat diambil dari hadis di atas yaitu dari kalangan sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan ada orang-orang yang mendapat predikat tidak akan melihat Nabi dan dilihat oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk selamanya. Maksud perkataan “tidak MelihatKu” bukan maksudnya ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dan para sahabat masih hidup karena sudah jelas semua sahabat Nabi yang masih hidup setelah wafatnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] lagi. Yang dimaksud itu adalah di akhirat nanti ia tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tentu saja kedudukan seperti ini adalah kedudukan yang buruk bagi sahabat Nabi yang dimaksud.

.

.

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS An Nisaa : 69]

Mereka yang mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya akan mendapat balasan dari Allah SWT yaitu berkumpul bersama para Nabi termasuk Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] jadi mereka yang dikatakan sebagai sahabat Nabi yang tidak melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah para sahabat yang tidak mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya selepas kewafatan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Sehingga dapat dipahami kalau Ummu Salamah menasehati ‘Abdurrahman dengan hadis ini agar ia tidak dibinasakan oleh harta yang ia miliki. Dan dapat dipahami pula bahwa Umar walaupun ia dikenal sebagai sahabat Nabi menjadi takut atau khawatir kalau-kalau dirinya termasuk ke dalam salah seorang sahabat yang dimaksud sehingga ia bertanya kepada Ummu Salamah apakah ia termasuk salah satu dari mereka?. Jawaban Ummu Salamah terhadap Umar menunjukkan kalau Ummu Salamah mengetahui siapakah para sahabat Nabi yang dimaksud dan tentu saja tidak lain ini pasti berasal dari keterangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

.


Apa yang dapat disimpulkan dari hadis Ummu Salamah di atas?. Kesimpulannya para sahabat Nabi itu memiliki kedudukan yang bermacam-macam, ada diantara mereka yang memiliki keutamaan dan ada pula diantara mereka yang ternyata mendapat predikat tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di akhirat kelak.

Qs. Ali ‘Imran  144 : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”

Rasulullah  bersabda : “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.[ Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.]

Belum habis penderitaan yang satu ini ia mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang bermain politik dan rakus akan kedudukan. Setelah mereka merampas tanah “Fadak” dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam masalah kekhalîfahan (kepemimpinan).

Fâtimah Al-Zahra As berupaya untuk mengambil dan mempertahankan haknya dengan penuh keberanian yang tinggi. Imam ‘Ali As melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah Fâtimah As secara terus menerus bisa menyebabkan negara terjerumus ke dalam fitnah dan bahaya. Hingga dengan demikian seluruh perjuangan Rasul Saw akan sirna dan manusia akan kembali ke dalam masa jahiliyah.

Maka ‘Ali As memohon kepada istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci ini.. Akhirnya Sayyidah Fâtimah as pun berdiam diri, tetapi dengan penuh kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin bahwa “kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah Saw dan kemarahan Rasulullah Saw adalah kemarahan Allâh Swt.”

Sayyidah Fâtimah As diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau  berwasiat agar supaya dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Fatimah Az-Zahra As : Sayyidah Fâtimah As saat meninggalkan dunia. Beliau  tinggalkan Al-Hasan As yang masih 7 tahun, Al-Husain As 6 tahun, Zaînab As yang masih 5 tahun dan Ummi Kultsûm dalam usianya yang memasuki umur 3 tahun.

Dan yang paling berat dalam perpisahan ini adalah ia harus meninggalkan ‘Ali As, suami sekaligus pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayyidah Fâtimah As memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiat pada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil agar hendaknya ia dikuburkan secara rahasia.

Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dari yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terbentang  dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhadap keduanya itu”, diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan Ahmad.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

Hadis Thayr Bukti Superioritas Imam Ali

Hadis Thayr Bukti Superioritas Imam Ali

imam sayyidina ali bin abi thalibTelah diriwayatkan dengan sanad yang banyak dan tsabit bahwa Rasulullah SAW pernah memakan daging burung panggang dan berdoa kepada Allah SWT agar didatangkan orang yang paling Allah cintai untuk makan bersama Beliau SAW. Doa Rasulullah SAW dikabulkan dan orang tersebut adalah Imam Ali AS.

Hadis tersebut diantaranya diriwayatkan Al Hakim dalam Mustadrak  As Shahihain 3/142 hadis no 4650

حدثني أبو علي الحافظ أنبأ أبو عبد الله محمد بن أحمد بن أيوب الصفار وحميد بن يونس بن يعقوب الزيات قالا ثنا محمد بن أحمد بن عياض بن أبي طيبة ثنا أبي ثنا يحيى بن حسان عن سليمان بن بلال عن يحيى بن سعيد عن أنس بن مالك رضى الله تعالى عنه قال كنت أخدم رسول الله صلى الله عليه وسلم فقدم لرسول الله صلى الله عليه وسلم فرخ مشوي فقال اللهم ائتني بأحب خلقك إليك يأكل معي من هذا الطير قال فقلت اللهم اجعله رجلا من الأنصار فجاء علي رضى الله تعالى عنه فقلت إن رسول الله صلى الله عليه وسلم على حاجة ثم جاء فقلت إن رسول الله صلى الله عليه وسلم على حاجة ثم جاء فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم افتح فدخل فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما حبسك علي فقال إن هذه آخر ثلاث كرات يردني أنس يزعم إنك على حاجة فقال ما حملك على ما صنعت فقلت يا رسول الله سمعت دعاءك فأحببت أن يكون رجلا من قومي فقال رسول الله إن الرجل قد يحب قومه

Telah menceritakan kepadaku Abu Ali Al Hafiz yang berkata telah memberitakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Ayub Ash Shaffar dan Hamid bin Yunus bin Yaqub Al Zayyat yang berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Iyadh bin Abi Thaybah yang berkata telah menceritakan kepada kami ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hasan dari Sulaiman bin Bilal dari Yahya bin Said dari Anas bin Malik RA yang berkata:

“Dahulu aku melayani Rasulullah SAW, suatu ketika ada yang mengirim burung panggang kepada Beliau SAW. Kemudian Beliau berdoa “Ya Allah datangkanlah kepadaku orang yang paling Engkau cintai”.

Anas berdoa “Ya Allah mudah-mudahan Engkau jadikan orang tersebut salah seorang dari golongan Anshar”. Tiba-tiba Ali bin Abu Thalib mendatangi Rasulullah SAW.

Saya (Anas) berkata “sesungguhnya Rasulullah SAW sedang sibuk”. Ketika Ali datang lagi Rasulullah SAW berkata (pada Anas) “bukakan pintu” dan kemudian Ali masuk. Rasulullah SAW berkata kepada Ali “Apa yang menghalangimu datang kepadaKu”.  Ali menjawab ”Sesungguhnya Aku sudah tiga kali datang kepadaMu tetapi Anas menghalangiku untuk menghadapMu karena Engkau dikatakan sedang sibuk”. Rasulullah SAW berkata kepada Anas “Apa yang membuatmu berbuat demikian?”. Aku (Anas) berkata “DoaMu wahai Rasulullah SAW, sesungguhnya aku ingin orang tersebut berasal dari kaumku”. Kemudian Rasulullah SAW berkata “Sesungguhnya orang terkadang mencintai kaumnya”.

Hadis ini Hasan Shahih. 
Al Hakim berkata bahwa hadis ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim dan telah diriwayatkan dari Anas dan sahabat lainnya

حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه وقد رواه عن أنس جماعة من أصحابه زيادة على ثلاثين نفسا ثم صحت الرواية عن علي وأبي سعيد الخدري وسفينة وفي حديث ثابت البناني عن أنس زيادة ألفاظ

Hadis Shahih dengan syarat Bukhari Muslim tetapi mereka tidak meriwayatkannya. Telah diriwayatkan dari Anas oleh sejumlah sahabatnya lebih dari 30 orang dan diriwayatkan dengan shahih dari Ali, Abu Sa’id Al Khudri, Safinah dan hadis Tsabit Banani dari Anas dengan lafaz tambahan.

Adz Dzahabi meragukan hadis ini dalam Talkhis Al Mustadrak 4/226 hadis no 4650, ia berkata

ابن عياض لا أعرفه

Ibnu Iyadh tidak dikenal

Hal ini merupakan sesuatu yang musykil dari Adz Dzahabi. Ibnu Iyadh yang dimaksud mungkin adalah Ahmad bin Iyadh ayah dari Muhammad bin Ahmad bin Iyadh. Dalam Biografi Muhammad bin Ahmad bin Iyadh yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Lisan Al Mizan juz 5 no 193 terdapat pernyataan yang mengindikasikan tsiqat kepada Ahmad bin Iyadh

محمد بن أحمد بن عياض روى عن أبيه أبي غسان أحمد بن عياض بن أبي طيب المصري عن يحيى بن حسان فذكر حديث الطير وقال الحاكم هذا على شرط البخاري ومسلم قلت الكل ثقات الا هذا وانما اتهمه به ثم ظهر لي انه صدوق

Muhammad bin Ahmad bin Iyadh meriwayatkan dari ayahnya Abi Ghasan Ahmad bin Iyadh bin Abi Thayb Al Mishri dari Yahya bin Hasan hadis Thayr dan Al Hakim berkata “sesuai syarat Bukhari Muslim”. Hadis ini semua perawinya tsiqat kecuali dia dan ia dituduh karena hadis ini. Menurut saya, ia seorang yang shaduq (jujur).

Selain Ibnu Hajar, ternyata Adz Dzahabi sendiri dalam Mizan Al Itidal juz 3 no 7180 juga mengatakan hal yang sama, bahwa semua perawi hadis tersebut selain Muhammad bin Ahmad bin Iyadh adalah tsiqat sedangkan Muhammad bin Ahmad bin Iyadh sendiri seorang yang shaduq .

Dengan kata lain Adz Dzahabi telah menentang dirinya sendiri, suatu ketika ia berkataIbnu Iyadh tidak dikenal dan di tempat lain ia berkata “tsiqat”. Selain itu biografiAhmad bin Iyadh telah disebutkan oleh Adz Dzahabi dalam Tarikh Al Islam 20/267 dan ia berkata bahwa Ahmad bin Iyadh seorang Syaikh di Mesir, Adz Dzahabi tidak sedikitpun menyatakan ia cacat atau tidak dikenal.

Hal inilah yang saya katakan kemusykilan dari Adz Dzahabi. Sikapnya ini muncul karena penolakannya terhadap hadis Thayr sehingga tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencacat hadis ini kecuali membuat keraguan pada salah satu perawinyapadahal di lain waktu ia berkata orang tersebut adalah orang yang tsiqat. Oleh karena itu hadis riwayat Al Hakim di atas telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat dan shaduq (jujur) sehingga Hadis ini berkedudukan Hadis Hasan dan menjadi shahih dengan banyaknya syawahid dari sanad lain.

(Hadis Thayr Bukti Superioritas Imam Ali di dalam al-Mustadrok – source)

Termasuk perkara di Hari Kiamat yang wajib diimani dan dipercayai oleh setiap muslim adalah haudh. Haudh yang berarti telaga adalah salah bentuk penghargaan dan penghormatan dari Allah kepada hamba dan rasulNya yang mulia Muhammad saw. Sifat haudh ini sebagaimana yang tercantum di dalam hadits-hadits shahih dari beliau, luasnya sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, aromanya lebih harum daripada minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, airnya bersumber dari sungai Kautsar yang Allah berikan kepada Nabi saw di surga, siapa yang minum darinya seteguk, tidak akan haus selamanya.

Para ulama berbeda pendapat tentang tempatnya, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia di arashat Kiamat sebelum manusia melewati shirath, sebagian yang lain berpendapat bahwa ia setelah manusia melewati shirath.

Hadits-hadits tentang haudh

Hadits-hadits tentang haudh mencapai derajat mutawatir, para ulama hadits menyatakannya demikian, yang meriwayatkan dari Rasulullah saw dalam perkara ini lebih dari lima puluh orang sahabat, Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya di dalam Fath al-Bari 11/468.

Dalam Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah 1/277-278 ditulis, “Hadits-hadits yang tercantum dalam perkara haudh mencapai batasan mutawatir, sahabat yang meriwayatkan mencapai tiga puluh lebih, syaikh kami Syaikh Imaduddin Ibnu Katsir, semoga Allah merahmatinya, telah menyebutkan jalan-jalan periwayatannya secara terperinci di akhir tarikhnya yang besar yang bernama al-Bidayah wa an-Nihayah.”

Sebagian dari hadits-hadits tersebut

1- Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda, “Haudhku seluas perjalanan satu bulan, sudut-sudutnya sama –yakni panjang dan lebarnya sama-airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, barangsiapa minum darinya maka dia tidak haus selamanya.” (Muttafaq alaihi).

2- Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya telagaku lebih jauh daripada jarak antara Ailah dengan Adn, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang di langit, sesungguhnya aku menghalangi manusia darinya seperti seorang laki-laki menghalangi unta orang-orang dari telaganya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, engkau mengetahui kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh umat mana pun, kalian datang kepadaku dengan tangan dan wajah berkilau bekas wudhu.”(HR. Muslim).

Orang-orang yang terhalang dari haudh

Terdapat banyak hadits di dalamnya Rasulullah saw menjelaskan tentang orang-orang yang datang ke haudh tetapi mereka ditolak dan tidak dizinkan, hal itu karena semasa di dunia mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka terhalangi untuk mencapai haudh.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut,

1- Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda, “Aku mendahului kalian ke haudh, ada beberapa orang dari kalian diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan tangan kepada mereka untuk memberi mereka minum, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya Rabbi, sahabat-sahabatku,’ maka dikatakan, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2- Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang menyertaiku akan datang ke haudh, ketika aku melihat mereka dan mereka diangkat kepadaku, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya rabbi, ushaihabi, ushaihabi’ maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits-hadits senada berjumlah banyak, al-Qurthubi di dalam at-Tadzkirah hal. 306 berkata setelah memaparkan hadits-hadits tentang terhalanginya sebagian orang dari haudh Nabi saw, “Para ulama kita -semoga Allah merahmati mereka semua- berkata, siapa pun yang murtad dari agama Allah atau membuat sesuatu di dalamnya yang tidak Allah ridhai dan tidak izinkan maka dia termasuk orang-orang yang terusir dari haudh beliau, yang dijauhkan darinya, dan yang paling keras diusir adalah orang-orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan menyimpang dari jalan mereka seperti Khawarij dengan berbagai macam alirannya, Rawafidh dengan beragam kesesatannya dan Mu’tazilah dengan beragam hawa nafsunya, mereka semua adalah orang-orang yang mengganti. Begitu pula orang-orang zhalim yang berlebih-lebihan di dalam kezhaliman, menghapus kebenaran, membunuh pengikutnya dan menghinakan mereka, yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi, jamaah pengikut kesesatan, hawa nafsu dan bid’ah, (mereka semua akan terusir dari haudh).”

Sahabat Nabi Yang Tidak Akan Melihat Nabi Setelah Nabi Wafat

Silakan perhatikan hadis berikut yang memuat sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan kata “SahabatKu”. Kemudian pikirkan dan analisis dengan baik-baik apakah hadis itu tentang kaum munafik atau tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو معاوية قال ثنا الأعمش عن شقيق عن أم سلمة قالت دخل عليها عبد الرحمن بن عوف قال فقال يا أمه قد خفت ان يهلكنى كثرة مالي أنا أكثر قريشا مالا قالت يا بني فأنفق فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ان من أصحابي من لا يرانى بعد أن أفارقه فخرج فلقي عمر فأخبره فجاء عمر فدخل عليها فقال لها بالله منهم أنا فقالت لا ولن أبلي أحدا بعدك

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami A’masy dari Syaqiq dari Ummu Salamah yang berkata ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk menemuinya dan berkata “wahai Ibu sungguh aku khawatir kalau hartaku yang banyak ini membinasakanku dan aku adalah seorang quraisy yang paling banyak hartanya. [Ummu Salamah] berkata wahai anakku berinfaklah karena aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda ”Sesungguhnya dari para Sahabatku akan ada orang yang tidak melihatKu setelah kewafatanKu”. Maka ia [Abdurrahman] keluar dan bertemu Umar kemudian ia mengabarkan kepadanya. Kemudian Umarpun datang menemui Ummu Salamah dan berkata kepadanya “demi Allah, apakah aku termasuk salah seorang dari mereka”. [Ummu Salamah] berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahukan siapapun setelahmu”. [Musnad Ahmad 6/290 no 26532 dimana Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih perawinya tsiqat perawi Bukhari Muslim”]

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أسود بن عامر ثنا شريك عن عاصم عن أبى وائل عن مسروق عن أم سلمة قالت قال النبي صلى الله عليه و سلم من أصحابي من لا أراه ولا يرانى بعد أن أموت أبدا قال فبلغ ذلك عمر قال فأتاها يشتد أو يسرع شك شاذان قال فقال لها أنشدك بالله أنا منهم قالت لا ولن أبرئ أحدا بعدك أبدا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syariik dari ‘Aashim dari Abi Wail dari Masyruq dari Ummu Salamah yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “dari para SahabatKu akan ada orang yang Aku tidak akan melihatnya dan ia tidak akan melihatKu setelah aku wafat untuk selama-lamanya”. Hal itu sampai kepada Umar sehingga ia bergegas mendatangi dan menanyakan hal itu. Umar berkata kepada Ummu Salamah “bersumpahlah demi Allah apakah aku adalah salah satu dari mereka?”. Ummu Salamah berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahu siapapun setelahmu untuk selama-lamanya” [Musnad Ahmad 6/298 no 26591 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Kalau selama ini masyhur dikenal Huzaifah sebagai sahabat pemegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dengan riwayat di atas maka Ummu Salamah ra mungkin juga layak untuk dikatakan memegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada beberapa faedah yang dapat diambil dari hadis di atas yaitu dari kalangan sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan ada orang-orang yang mendapat predikat tidak akan melihat Nabi dan dilihat oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk selamanya. Maksud perkataan “tidak MelihatKu” bukan maksudnya ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dan para sahabat masih hidup karena sudah jelas semua sahabat Nabi yang masih hidup setelah wafatnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] lagi. Yang dimaksud itu adalah di akhirat nanti ia tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tentu saja kedudukan seperti ini adalah kedudukan yang buruk bagi sahabat Nabi yang dimaksud.

.

.

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS An Nisaa : 69]

Mereka yang mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya akan mendapat balasan dari Allah SWT yaitu berkumpul bersama para Nabi termasuk Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] jadi mereka yang dikatakan sebagai sahabat Nabi yang tidak melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah para sahabat yang tidak mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya selepas kewafatan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Sehingga dapat dipahami kalau Ummu Salamah menasehati ‘Abdurrahman dengan hadis ini agar ia tidak dibinasakan oleh harta yang ia miliki. Dan dapat dipahami pula bahwa Umar walaupun ia dikenal sebagai sahabat Nabi menjadi takut atau khawatir kalau-kalau dirinya termasuk ke dalam salah seorang sahabat yang dimaksud sehingga ia bertanya kepada Ummu Salamah apakah ia termasuk salah satu dari mereka?. Jawaban Ummu Salamah terhadap Umar menunjukkan kalau Ummu Salamah mengetahui siapakah para sahabat Nabi yang dimaksud dan tentu saja tidak lain ini pasti berasal dari keterangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

.


Apa yang dapat disimpulkan dari hadis Ummu Salamah di atas?. Kesimpulannya para sahabat Nabi itu memiliki kedudukan yang bermacam-macam, ada diantara mereka yang memiliki keutamaan dan ada pula diantara mereka yang ternyata mendapat predikat tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di akhirat kelak.

Qs. Ali ‘Imran  144 : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”

Rasulullah  bersabda : “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.[ Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.]

Belum habis penderitaan yang satu ini ia mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang bermain politik dan rakus akan kedudukan. Setelah mereka merampas tanah “Fadak” dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam masalah kekhalîfahan (kepemimpinan).

Fâtimah Al-Zahra As berupaya untuk mengambil dan mempertahankan haknya dengan penuh keberanian yang tinggi. Imam ‘Ali As melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah Fâtimah As secara terus menerus bisa menyebabkan negara terjerumus ke dalam fitnah dan bahaya. Hingga dengan demikian seluruh perjuangan Rasul Saw akan sirna dan manusia akan kembali ke dalam masa jahiliyah.

Maka ‘Ali As memohon kepada istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci ini.. Akhirnya Sayyidah Fâtimah as pun berdiam diri, tetapi dengan penuh kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin bahwa “kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah Saw dan kemarahan Rasulullah Saw adalah kemarahan Allâh Swt.”

Sayyidah Fâtimah As diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau  berwasiat agar supaya dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Fatimah Az-Zahra As : Sayyidah Fâtimah As saat meninggalkan dunia. Beliau  tinggalkan Al-Hasan As yang masih 7 tahun, Al-Husain As 6 tahun, Zaînab As yang masih 5 tahun dan Ummi Kultsûm dalam usianya yang memasuki umur 3 tahun.

Dan yang paling berat dalam perpisahan ini adalah ia harus meninggalkan ‘Ali As, suami sekaligus pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayyidah Fâtimah As memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiat pada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil agar hendaknya ia dikuburkan secara rahasia.

Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dari yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terbentang  dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhadap keduanya itu”, diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan Ahmad.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

Menggapai Hikmah Nahjul Balaghah: Membangun Jati Diri

Termasuk perkara di Hari Kiamat yang wajib diimani dan dipercayai oleh setiap muslim adalah haudh. Haudh yang berarti telaga adalah salah bentuk penghargaan dan penghormatan dari Allah kepada hamba dan rasulNya yang mulia Muhammad saw. Sifat haudh ini sebagaimana yang tercantum di dalam hadits-hadits shahih dari beliau, luasnya sejauh perjalanan satu bulan, airnya lebih putih dari susu, lebih manis dari madu, aromanya lebih harum daripada minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, airnya bersumber dari sungai Kautsar yang Allah berikan kepada Nabi saw di surga, siapa yang minum darinya seteguk, tidak akan haus selamanya.

Para ulama berbeda pendapat tentang tempatnya, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ia di arashat Kiamat sebelum manusia melewati shirath, sebagian yang lain berpendapat bahwa ia setelah manusia melewati shirath.

Hadits-hadits tentang haudh

Hadits-hadits tentang haudh mencapai derajat mutawatir, para ulama hadits menyatakannya demikian, yang meriwayatkan dari Rasulullah saw dalam perkara ini lebih dari lima puluh orang sahabat, Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan nama-nama sahabat yang meriwayatkannya di dalam Fath al-Bari 11/468.

Dalam Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah 1/277-278 ditulis, “Hadits-hadits yang tercantum dalam perkara haudh mencapai batasan mutawatir, sahabat yang meriwayatkan mencapai tiga puluh lebih, syaikh kami Syaikh Imaduddin Ibnu Katsir, semoga Allah merahmatinya, telah menyebutkan jalan-jalan periwayatannya secara terperinci di akhir tarikhnya yang besar yang bernama al-Bidayah wa an-Nihayah.”

Sebagian dari hadits-hadits tersebut

1- Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah saw bersabda, “Haudhku seluas perjalanan satu bulan, sudut-sudutnya sama –yakni panjang dan lebarnya sama-airnya lebih putih dari susu, aromanya lebih harum dari minyak wangi miski, cerek-cereknya sebanyak bintang-bintang di langit, barangsiapa minum darinya maka dia tidak haus selamanya.” (Muttafaq alaihi).

2- Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya telagaku lebih jauh daripada jarak antara Ailah dengan Adn, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, bejana-bejananya lebih banyak dari jumlah bintang di langit, sesungguhnya aku menghalangi manusia darinya seperti seorang laki-laki menghalangi unta orang-orang dari telaganya.” Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, engkau mengetahui kami pada saat itu?” Beliau menjawab, “Ya, kalian mempunyai tanda yang tidak dimiliki oleh umat mana pun, kalian datang kepadaku dengan tangan dan wajah berkilau bekas wudhu.”(HR. Muslim).

Orang-orang yang terhalang dari haudh

Terdapat banyak hadits di dalamnya Rasulullah saw menjelaskan tentang orang-orang yang datang ke haudh tetapi mereka ditolak dan tidak dizinkan, hal itu karena semasa di dunia mereka melakukan sesuatu yang membuat mereka terhalangi untuk mencapai haudh.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut,

1- Dari Ibnu Mas’ud berkata, Rasulullah saw bersabda, “Aku mendahului kalian ke haudh, ada beberapa orang dari kalian diangkat kepadaku, sehingga ketika aku mengulurkan tangan kepada mereka untuk memberi mereka minum, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya Rabbi, sahabat-sahabatku,’ maka dikatakan, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu?” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

2- Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang-orang yang menyertaiku akan datang ke haudh, ketika aku melihat mereka dan mereka diangkat kepadaku, mereka terhalang dariku, maka aku berkata, ‘Ya rabbi, ushaihabi, ushaihabi’ maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setelahmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Hadits-hadits senada berjumlah banyak, al-Qurthubi di dalam at-Tadzkirah hal. 306 berkata setelah memaparkan hadits-hadits tentang terhalanginya sebagian orang dari haudh Nabi saw, “Para ulama kita -semoga Allah merahmati mereka semua- berkata, siapa pun yang murtad dari agama Allah atau membuat sesuatu di dalamnya yang tidak Allah ridhai dan tidak izinkan maka dia termasuk orang-orang yang terusir dari haudh beliau, yang dijauhkan darinya, dan yang paling keras diusir adalah orang-orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan menyimpang dari jalan mereka seperti Khawarij dengan berbagai macam alirannya, Rawafidh dengan beragam kesesatannya dan Mu’tazilah dengan beragam hawa nafsunya, mereka semua adalah orang-orang yang mengganti. Begitu pula orang-orang zhalim yang berlebih-lebihan di dalam kezhaliman, menghapus kebenaran, membunuh pengikutnya dan menghinakan mereka, yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan dan kemaksiatan secara sembunyi-sembunyi, jamaah pengikut kesesatan, hawa nafsu dan bid’ah, (mereka semua akan terusir dari haudh).”

Sahabat Nabi Yang Tidak Akan Melihat Nabi Setelah Nabi Wafat

Silakan perhatikan hadis berikut yang memuat sabda Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan kata “SahabatKu”. Kemudian pikirkan dan analisis dengan baik-baik apakah hadis itu tentang kaum munafik atau tentang para sahabat Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أبو معاوية قال ثنا الأعمش عن شقيق عن أم سلمة قالت دخل عليها عبد الرحمن بن عوف قال فقال يا أمه قد خفت ان يهلكنى كثرة مالي أنا أكثر قريشا مالا قالت يا بني فأنفق فإني سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ان من أصحابي من لا يرانى بعد أن أفارقه فخرج فلقي عمر فأخبره فجاء عمر فدخل عليها فقال لها بالله منهم أنا فقالت لا ولن أبلي أحدا بعدك

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah yang berkata telah menceritakan kepada kami A’masy dari Syaqiq dari Ummu Salamah yang berkata ‘Abdurrahman bin ‘Auf masuk menemuinya dan berkata “wahai Ibu sungguh aku khawatir kalau hartaku yang banyak ini membinasakanku dan aku adalah seorang quraisy yang paling banyak hartanya. [Ummu Salamah] berkata wahai anakku berinfaklah karena aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda ”Sesungguhnya dari para Sahabatku akan ada orang yang tidak melihatKu setelah kewafatanKu”. Maka ia [Abdurrahman] keluar dan bertemu Umar kemudian ia mengabarkan kepadanya. Kemudian Umarpun datang menemui Ummu Salamah dan berkata kepadanya “demi Allah, apakah aku termasuk salah seorang dari mereka”. [Ummu Salamah] berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahukan siapapun setelahmu”. [Musnad Ahmad 6/290 no 26532 dimana Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih perawinya tsiqat perawi Bukhari Muslim”]

حدثنا عبد الله حدثني أبى ثنا أسود بن عامر ثنا شريك عن عاصم عن أبى وائل عن مسروق عن أم سلمة قالت قال النبي صلى الله عليه و سلم من أصحابي من لا أراه ولا يرانى بعد أن أموت أبدا قال فبلغ ذلك عمر قال فأتاها يشتد أو يسرع شك شاذان قال فقال لها أنشدك بالله أنا منهم قالت لا ولن أبرئ أحدا بعدك أبدا

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Aswad bin ‘Aamir yang berkata telah menceritakan kepada kami Syariik dari ‘Aashim dari Abi Wail dari Masyruq dari Ummu Salamah yang berkata Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “dari para SahabatKu akan ada orang yang Aku tidak akan melihatnya dan ia tidak akan melihatKu setelah aku wafat untuk selama-lamanya”. Hal itu sampai kepada Umar sehingga ia bergegas mendatangi dan menanyakan hal itu. Umar berkata kepada Ummu Salamah “bersumpahlah demi Allah apakah aku adalah salah satu dari mereka?”. Ummu Salamah berkata “tidak dan aku tidak akan memberitahu siapapun setelahmu untuk selama-lamanya” [Musnad Ahmad 6/298 no 26591 dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth]

Kalau selama ini masyhur dikenal Huzaifah sebagai sahabat pemegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka dengan riwayat di atas maka Ummu Salamah ra mungkin juga layak untuk dikatakan memegang rahasia Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ada beberapa faedah yang dapat diambil dari hadis di atas yaitu dari kalangan sahabat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] akan ada orang-orang yang mendapat predikat tidak akan melihat Nabi dan dilihat oleh Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] untuk selamanya. Maksud perkataan “tidak MelihatKu” bukan maksudnya ketika Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] wafat dan para sahabat masih hidup karena sudah jelas semua sahabat Nabi yang masih hidup setelah wafatnya Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak pernah melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] lagi. Yang dimaksud itu adalah di akhirat nanti ia tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Tentu saja kedudukan seperti ini adalah kedudukan yang buruk bagi sahabat Nabi yang dimaksud.

.

.

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah yaitu Nabi-nabi, para Shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [QS An Nisaa : 69]

Mereka yang mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya akan mendapat balasan dari Allah SWT yaitu berkumpul bersama para Nabi termasuk Nabi Muhammad [shallallahu ‘alaihi wasallam] jadi mereka yang dikatakan sebagai sahabat Nabi yang tidak melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] adalah para sahabat yang tidak mentaati Allah SWT dan Rasul-Nya selepas kewafatan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Sehingga dapat dipahami kalau Ummu Salamah menasehati ‘Abdurrahman dengan hadis ini agar ia tidak dibinasakan oleh harta yang ia miliki. Dan dapat dipahami pula bahwa Umar walaupun ia dikenal sebagai sahabat Nabi menjadi takut atau khawatir kalau-kalau dirinya termasuk ke dalam salah seorang sahabat yang dimaksud sehingga ia bertanya kepada Ummu Salamah apakah ia termasuk salah satu dari mereka?. Jawaban Ummu Salamah terhadap Umar menunjukkan kalau Ummu Salamah mengetahui siapakah para sahabat Nabi yang dimaksud dan tentu saja tidak lain ini pasti berasal dari keterangan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam].

.

.


Apa yang dapat disimpulkan dari hadis Ummu Salamah di atas?. Kesimpulannya para sahabat Nabi itu memiliki kedudukan yang bermacam-macam, ada diantara mereka yang memiliki keutamaan dan ada pula diantara mereka yang ternyata mendapat predikat tidak akan melihat Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] di akhirat kelak.

Qs. Ali ‘Imran  144 : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”

Rasulullah  bersabda : “Ketika aku sedang berdiri, terlihat olehku sekelompok orang. Setelah aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan mengajak kawan-kawannya, ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? ia menjawab, ‘ke neraka,’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa nasib mereka sampai demikian? Kemudian dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sejak kau tinggalkan dan berbalik ke belakang (kepada kekafiran). Kemudian terlihat sekelompok lain lagi. Ketika aku kenali mereka, ada seorang di antara mereka keluar dan menyeru kawan-kawannya: ‘Ayo, mari’ Aku bertanya, ke mana? Ia menjawab: ‘Ke neraka’ Lalu aku bertanya lagi, mengapa mereka? dijawab: ‘Sesungguhnya mereka telah murtad sepeninggalmu dan kembali ke belakang. Kulihat tidak ada yang selamat dan lolos kecuali beberapa orang saja yang jumlahnya cukup sedikit, seperti jumlah onta yang tersesat dari rombongannya.[ Shahih Bukhari,8/150. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Musyaiyib dari banyak sahabat Nabi.]

Belum habis penderitaan yang satu ini ia mendapat pukulan yang lebih berat lagi dari para sahabat yang bermain politik dan rakus akan kedudukan. Setelah mereka merampas tanah “Fadak” dan berpura-pura bodoh terhadap hak suaminya dalam masalah kekhalîfahan (kepemimpinan).

Fâtimah Al-Zahra As berupaya untuk mengambil dan mempertahankan haknya dengan penuh keberanian yang tinggi. Imam ‘Ali As melihat bahwa perlawanan terhadap khalifah yang dilakukan Sayyidah Fâtimah As secara terus menerus bisa menyebabkan negara terjerumus ke dalam fitnah dan bahaya. Hingga dengan demikian seluruh perjuangan Rasul Saw akan sirna dan manusia akan kembali ke dalam masa jahiliyah.

Maka ‘Ali As memohon kepada istrinya yang mulia untuk menahan diri dan bersabar demi menjaga risalah Islam yang suci ini.. Akhirnya Sayyidah Fâtimah as pun berdiam diri, tetapi dengan penuh kemarahan dan mengingatkan kaum muslimin bahwa “kemarahannya adalah kemarahan Rasulullah Saw dan kemarahan Rasulullah Saw adalah kemarahan Allâh Swt.”

Sayyidah Fâtimah As diam dan bersabar diri hingga beliau wafat. Bahkan beliau  berwasiat agar supaya dikuburkan di tengah malam secara rahasia.

Kepergian Fatimah Az-Zahra As : Sayyidah Fâtimah As saat meninggalkan dunia. Beliau  tinggalkan Al-Hasan As yang masih 7 tahun, Al-Husain As 6 tahun, Zaînab As yang masih 5 tahun dan Ummi Kultsûm dalam usianya yang memasuki umur 3 tahun.

Dan yang paling berat dalam perpisahan ini adalah ia harus meninggalkan ‘Ali As, suami sekaligus pelindung ayahnya dalam jihad dan teman hidupnya di segala medan.

Sayyidah Fâtimah As memejamkan mata untuk selamanya setelah berwasiat pada suaminya akan anak-anaknya yang masih kecil agar hendaknya ia dikuburkan secara rahasia.

Dari Zaid Bin Arqam r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya aku meninggalkan di tengah-tengah kamu dua perkara yang berat, selagi kamu berpegang padanya kamu tidak akan sesat sepeninggalan aku, yang satu lebih besar dari yang lain; Kitab Allah yang merupakan tali yang terbentang  dari langit ke bumi dan itrahku (keturunan) dari Ahli Baitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga datang padaku di Telaga Haudh, maka perhatikanlah bagaimana sikap kamu terhadap keduanya itu”, diriwayatkan oleh Muslim, Tirmizi dan Ahmad.

Dari Zaid bin Tsabit RA yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian dua Khalifah yaitu Kitab Allah yang merupakan Tali yang terbentang antara bumi dan langit, serta KeturunanKu Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah sampai menemuiKu di Telaga Surga Al Haudh. (Hadis Ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Musnad Ahmad jilid 5 hal 182, Syaikh Syuaib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Ahmad menyatakan bahwa hadis ini shahih. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Mu’jam Al Kabir jilid 5 hal 154, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid jilid 1 hal 170 berkata “para perawi hadis ini tsiqah”. Hadis ini juga disebutkan oleh As Suyuthi dalam Jami’ Ash Shaghir hadis no 2631 dan beliau menyatakan hadis tersebut Shahih.)

Hadis di atas adalah Hadis Tsaqalain dengan matan yang khusus menggunakan kata Khalifah. Hadis ini adalah hadis yang Shahih sanadnya dan dengan jelas menyatakan bahwa Al Ithrah Ahlul Bait Nabi SAW adalah Khalifah bagi Umat islam. Oleh karena itu Premis bahwa Sang Khalifah setelah Rasulullah SAW itu ditunjuk dan diangkat oleh Rasulullah SAW adalah sangat beralasan

Menggapai Hikmah Nahjul Balaghah: Membangun Jati Diri

HIKMAH-NAHJUL-BALAGHAHNAHJUL BALAGHAH

Sebagian kalangan beranggapan bahwa kedua modal yang dimilikinya  itu sudah cukup sehingga ia tidak perlu berhubungan dengan orang lain dan menimba ilmu dari orang lain. Sebagian lagi  selalu ingin membandingkan dan membenturkan pandangannya  dengan  pandangan orang lain.

Sudah pasti, kelompok kedualah yang akan menemukan kebenaran. Bukankah Imam Ali as pernah  bersabda: “Benturkan sebagian pandangan yang kalian miliki dengan pandangan yang lain; maka akan muncul kebenaran”.

Maksud dari hadis ini adalah bahwa perkembangan sebuah ilmu dapat diperoleh melalui tanya-jawab, kritik, sanggahan dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, orang yang memperoleh ilmu melalui penelitian dan menganalisa sebuah pandangan akan memiliki nilai tambah dari sisi keilmuannya.

Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa manusia ibarat  tambang emas dan perak. Di dalam hadis  lain, Rasulullah saww  mensifati ilmu sebagai mata air yang jika seorang penuntut ilmu bersandar kepada Allah maka kebaikan dan berkah Allah akan mengalir baginya. Dari dua hadis ini dapat disimpulkan bahwa sebagai mahluk, manusia tidak diciptakan tanpa modal  dan background apapun. Ilmu yang didapatkan manusia dari lembaga pendidikan formal atau non formal, hauzah maupun universitas merupakan modal dan simpanan bagi diri manusia. Di dalam diri manusia tersimpan rahasia yang dapat diungkapkan. Dalam surat an-Nahl/78, Allah swt berfirman: “Allah telah mengeluarkan kalian dari perut ibu sedangkan kalian tidak mengetahui apa-apa”.

Pengertian ilmu yang disinggung dalam ayat ini adalah ilmu hushuli yang didapatkan dari buku atau  guru. Ketika segala sesuatu (termasuk ilmu) disandarkan kepada Allah maka ia tidak akan pernah kosong dalam diri manusia. Hal ini disinggung dalam ayat 29 Surah Hijr, ketika Allah berfirman: “Dan Aku tiupkan ruh-Ku kepadanya”. Ayat ini  tidak berbicara tentang nabi Adam saja sebagai makluk pertama Allah yang  diciptakan di muka bumi,  akan tetapi ayat ini  berbicara tentang seluruh  umat manusia sepanjang masa. Kata ruh dalam ayat tersebut kembali kepada Allah swt, ketika Dia meniupkan ruh-Nya kepada manusia maka manusia dengan ruh yang ditiupkan tersebut akan mampu menyandang kesempurnaan yang dimiliki-Nya. Dan salah satu bentuk kesempurnaan yang dimiliki-Nya adalah ilmu dan pengetahuan. Hadis di atas ingin menjelaskan bahwa sejak awal penciptaannya, manusia sudah disiapkan dan dibekali sesuai dengan kapasitasnya; bagaikan wadah yang siap menampung air. Ketika manusia selalu mencari nilai-nilai kesempurnaan (ilmu) maka peluang wadah untuk mendapatkan anugrah Ilahi akan semakin besar; anugrah yang dapat dinikmati dan dimanfaatkan  bagi dirinya dan orang lain. Namun, jika modal pemberian Allah tersebut hilang disebabkan  kebodohan teoritis atau kebodohan praktisnya maka wadah tersebut lambat laun akan   mengecil dan bahkan akan sirna.

Dalam salah satu ucapan penuh makna, Imam Ali as bersabda: “Sesungguhnya hati adalah wadah dan sebaik-baik  wadah adalah yang diisi dan dipenuhinya”. Sebaik-baiknya hati adalah hati yang selalu ditanami nilai-nilai kesempurnaan dan salah satu bentuk dari kesempurnaan  tersebut adalah ilmu. Oleh karena itu, pada hakikatnya manusia telah diciptakan dengan dua modal: hati  yang selalu aktif dan potensi yang jika keduanya dikembangkan untuk mencari nilai-nilai ilmu, maka manusia akan menjadi  mishdak dari hadis di atas. Sedangkan seseorang yang tidak menggunakan dan mengembangkan keduanya,  lalu apa yang bisa diharapkan darinya?

Sebagian kalangan beranggapan bahwa kedua modal yang dimilikinya  itu sudah cukup sehingga ia tidak perlu berhubungan dengan orang lain dan menimba ilmu dari orang lain. Sebagian lagi  selalu ingin membandingkan dan membenturkan pandangannya  dengan  pandangan orang lain. Sudah pasti, kelompok kedualah yang akan menemukan kebenaran. Bukankah Imam Ali as pernah  bersabda: “Benturkan sebagian pandangan yang kalian miliki dengan pandangan yang lain; maka akan muncul kebenaran”. Maksud dari hadis ini adalah bahwa perkembangan sebuah ilmu dapat diperoleh melalui tanya-jawab, kritik, sanggahan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, orang yang memperoleh ilmu melalui penelitian dan menganalisa sebuah pandangan akan memiliki nilai tambah dari sisi keilmuannya.

Lebih jauh lagi, jika sebuah masyarakat mampu bersama-sama  melakukan tugas yang ditetapkan oleh para nabi maka masyarakat tersebut akan  menciptakan sebuah revolusi budaya spektakuler. Bukankah salah satu misi para nabi sebagai utusan Allah adalah menciptakan revolusi budaya umat manusia. Dan revolusi ini akan terwujud ketika hati manusia bangkit dan tergerak, kembali dan  kepada fitrah penciptaannya. Imam Ali as  bersabda: “Dan peranan mereka—para nabi—adalah  mengerakkan hati-hati manusia”. Revolusi budaya yang  merupakan salah satu tujuan diutusnya para nabi akan selalu menjadi tugas besar bagi umat manusia yang ingin menuju pada kesempurnaan.

Lalu bagaimana proses menuju pada kesempurnaan tersebut? Al-Quran memrintahkan; lakukanlah sesuatu yang bisa kamu lakukan! Janganlah  berbuat makar/tipu daya. Dalam surat Anfal/29, Allah berfirman: “Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqaan” (petunjuk yang dapat membedakan antara yang baik dan buruk). Jika saja manusia menjadi ahli taqwa dan furqaan maka Allah akan memberikan kepadanya kemampuan dan kekuataan. Tapi  mengapa begitu banyak manusia yang larut dalam kebinggungan serta sulit untuk membedakan antara yang hak dan yang batil? Mengapa dari sekian aliran yang beragam manusia tidak mampu mengenali  kebenaran?

Untuk mengatasi masalah di atas, ada dua jalan yang dapat ditempuh yaitu makrifatullsh atau jalan fitrah yang tertanam dalam hati manusia. Ketika seseorang telah mengetahui mana jalan yang benar lalu ia mengikuti jalan tersebut dan itulah hasil akhir dari penelitiannya, maka Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan perbuatannya: “Dan barang siapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberikan petunjuk kepada hatinya.” (At-Thaghabun/11)

Batas antara kebenaran dan kebatilan adalah hal pertama yang harus dikenali dan diketahui. Manusia sering kali terjebak dan terperosok dalam menentukan kebenaran dan kebatilan dan menganggap bahwa kebenaran dan kebatilan harus selalu dilihat dari figur seseorang, kuantitas dan lain sebagainya. Sebagai contoh, dalam perang Jamal dikisahkan bahwa Haris bin Haut bertanya kepada Amirul mukminin Ali as:“Apakah mereka yang memerangi kita berada dalam kebatilan sedang kita berada dalam kebenaran?”.  Imam menjawab: “Sungguh kamu hanya melihat kecbawah dan tidak melihat ke atas sehingga kamu kebinggungan!” Imam ingin mengajarkan kepada sahabatnya bahwa dengan melihat standar dan tolak ukur  kebenaran dan kebatilan baru kita dapat mengetahui siapa yang berada dalam garis kebenaran dan siapa yang berada dalam garis kebatilan.

Tugas penting kita adalah memahami sebuah kebenaran dan lebih baik lagi jika kita selalu seiring dan sejalan dengan kebenaran dan dapat menjadi ahli daohir dan ahli batin. Itulah sebabnya mengapa dalam Surat Ruum/7, al-Quran menyinggung: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka lalai akan (kehidupan) akherat.” Ayat ini memberikan indikasi bahwa akherat adalah batinnya dunia dalam artian bahwa dzahir dunia yang kita lihat dan kita rasakan ternyata memiliki batin, namun kita melalaikannya sehingga kita tidak dapat merasakan keberadaannya.

Untuk mencapai kesempurnaan tersebut, di perlukan sarana, salah satunya adalah dengan menuntut ilmu yang dibarengi dengan keikhlasan dalam ucapan maupun amal. Bukankah ilmu ibarat cahaya dalam kegelapan yang menerangi jiwa?. Dengan demikian apakah cahaya yang kita dapati itu dengan mudah kita buang dan jual dengan harga yang rendag?. Dengan menuntut ilmu akan kita dapati hal-hal yang kita tidak dimiliki sebelumnya dan dengan itu maka dan kedzoliman akan sirna bagaikan buih yang terhempas ombak air. Allah swt berfirman: “Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia maka ia tetap di bumi. [Ar-Raad/17]

Mudah-mudahan kita mampu mengoptimalkan segala potensi yang kita miliki dengan mencari kesempurnaan ilmu dan mengamalkannya sehingga kita sampai kepuncak kebenaran dan dapat mewujudkan misi yang dibawa oleh para nabi dan menjadi pelanjut mereka di muka bumi.[ Menggapai Hikmah Nahjul Balaghah: Membangun Jati Diri ]

Wallahu a’lam

Ammâr bin Yasir Bersumpah Bahwa Mu’awiyah Adalah Kaum Kafir ! “Demi Allah, mereka tidak masuk Islam akan tetapi mereka menyerah. Mereka merahasiakan kekafiran sehingga setelah mendapatkan para pembela, mereka menampakkannya!’”

Siapa yang tidak kenal Yazid bin Muawiyah?. Uraian prestasinya [baca : aib] bisa terukir dalam berpuluh-puluh lembar. Yazid orang yang merusak ketentraman Madinah, Yazid biang keladi pembantaian Ahlul Bait di karbala, Yazid peminum khamar, Yazid seorang nashibi dan Yazid yang dikatakan oleh sebagian ulama dengan predikat laknatullah. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, begitulah kata pepatah, begitu anaknya begitu pula ayahnya Muawiyah bin Abi Sufyan.

Semua kezaliman pemerintahan Yazid berawal dari Muawiyah. Muawiyah adalah orang yang menjadikan manusia semacam Yazid sebagai khalifah bagi umat islam saat itu. Muawiyah menghalalkan segala cara agar Yazid bisa menjadi khalifah dan dibaiat oleh kaum muslim, bahkan dengan cara paksaan dan ancaman bunuh.

وحدثنا وهب قال حدثني أبي عن أيوب عن نافع قال خطب معاوية فذكر ابن عمر فقال والله ليبايعن أو لأقتلنه فخرج عبد الله بن عبد الله بن عمر إلى أبيه فأخبره، وسار إلى مكة ثلاثا، فلما أخبره بكى ابن عمر، فبلغ الخبر عبد الله بن صفوان فد خل على ابن عمر فقال أخطب هذا بكذا ؟ قال نعم. فقال: ما تريد ؟ أ تريد قتاله ؟ فقال: يا بن صفوان الصبر خير من ذلك. فقال ابن صفوان: والله لئن أراد ذلك لأقاتلنه. فقدم معاوية مكة، فنزل ذا طوى، فخرج إليه عبد الله بن صفوان فقال أنت الذي تزعم أنك تقتل ابن عمر إن لم يبايع لابنك ؟ فقال: أنا أقتل ابن عمر ؟ ! إني والله لا أقتله

Dan telah menceritakan kepada kami Wahab yang berkata telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Ayub dari Nafi’ yang berkata Muawiyah berkhutbah, menyebutkan Ibnu Umar dan berkata “Demi Allah, dia harus membaiat atau aku akan membunuhnya”. Maka ‘Abdullah bin ‘Abdullah bin Umar keluar menemui Ayahnya untuk mengabarkan hal itu, ia berangkat ke Makkah selama tiga hari kemudian ketika ia mengabarkan hal itu, Ibnu Umar menangis. Sampailah kabar tersebut kepada ‘Abdullah bin Shafwan, kemudian ia menemui Ibnu Umar dan berkata “apakah orang itu berkhutbah begini begitu?. Ibnu Umar berkata “benar”. Ibnu Shafwan berkata “apa yang engkau inginkan? Memeranginya?. Ibnu Umar berkata “wahai Ibnu Shafwan bersabar lebih baik dari hal itu”. Ibnu Shafwan berkata “demi Allah, jika beliau menginginkan itu maka aku akan memeranginya”. Muawiyah datang ke Makkah dan singgah di Dzi Thuwa. Abdullah bin Shafwan keluar menemuinya dan berkata “engkau orangnya yang mengatakan akan membunuh Ibnu Umar jika dia tidak membaiat putramu?”. Muawiyah berkata “aku membunuh Ibnu Umar! Demi Allah aku tidak membunuhnya” [Tarikh Khaliifah bin Khayyaat hal 162/163]

Tidaklah mudah menawarkan hidayah Allah kepada para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, sebab sumber hidayah ilahi utama; al Qur’an al Karîm sudah mereka nomer-sekiankan, setelah riwayat (tidak terlalu penting kualitas shahih tidaknya) dan ucapan para pembesar kaum Salaf Shaleh (itupun mereka pilih yang kira-kira dapat mendukung atau paling tidak yang tidak merugikan dokma mereka!!)…

Ini adalah kenyataan betapa pun pahit dirasa dan berat diterima!

Secara terori, mereka mengklaim mengikuti Al Qur’an dan Sunnah dengan berdasarkan pemahaman Salaf! Namun kenyataannya, kasihan sekali Salaf Shaleh, mereka hanya diperalat… dikala dibutuhkan, mereka dipuja dan dirujuk… ketika tidak sejalan dengan akidah bentukan Sekte Salafi Wahhâbi apalagi bertentangan, pasti mereka segera dibuang… kalau perlu dikecam terang-terangan!

Dalam hal akidah posturisasi Allah, Salaf diperalat… mereka mengatakan bahwa mazhab Salaf adalah meyakini tajsîm dan tasybîh (walaupun para pengikut sekte Salafi Wahhâbi keberatan disebut sebagai kaum Mujassimah dan Musyabbbihah)…

Dalam hal pembelaan terhadap kaum munafik dan fasik durjana … sekali lagi Salaf dirujuk… tentunya yang sikapnya sejalan dengan doktrin Sekte sempalan Salafi Wahhâbi kata mereka, Salaf adalah menghormati dan menjunjung tinggi harkat para munafikun seperti Mu’awiyah putra pasangan Pak Abu Sufyan (gembong kaum kafir Quraisy yang berubah setrategi dengan menjadi munafik tulen) Tante Hindun (yang terkenal doyan pria kekar, masalah warna kulit tidak menjadi masalah, seperti Wahsyi) si pengunyah jantung Sayyiduna Hamzah paman Nabi saw.! atau Amr bin al Âsh, al Walîd dkk.

Karenanya, di sini saya tidak akan membawakan ayat-ayat suci al Qur’an atau hadis-hadis Nabi saw. tentang kemunafikan kaum munafik yang dibanggakan para pengikut sekte Salafi Wahhâbi sebagai Amirul Mukmin, sahabat mulia dan pengemban amanat kerasulan yang disucikan sesuci-suciya… Dia adalah Mu’awiyah!

Kaum Salafi Wahhâbi meyakini Mu’awiyah tidak sekedar sahabat Nabi saw. yang mulia, tetapi selain itu ia adalah paman kaum Mukminin, penulis wahyu suci… pembela Islam nomer wahid setelah Abu Bakar, Umar dan Utsman!

Tidak sedikit –kata kaum Salafi Wahhâbi- hadis-hadis pujian disabdakan Nabi saw. untuk Mu’awiyah… mereka telan mentah-mentah (sampai-sampai mereka keracunan akidah sesat memuji mengidolakan gembong-gembong kaum munafik)…

Tetapi benarkan Mu’awiyah adalah hamba Mukmin kepercayaan Allah dan rasul-Nya?

Atau benarkan Mu’awiyah itu Islam dengan sebenar arti kata? Tidak munafik dan memendam dendam kusumat kepada Allah dan nabi-Nya?

Siapakah yang lebih mengenal Mu’awiyah dan kaum munafik sejawatnya? Kita yang telah dipisah oleh waktu dan ruang dengannya atau para sahabat dan tabi’in yang hidup sezaman dengannya. Mengenalnya dari dekat menyaksikan langsung sepak-terjangnya?

Allah telah menyebutkan kemunafikan Mu’awiyah! Nabi Muhammad saw. juga menegaskan hal itu dalam banyak hadisnya!

Tetapi semua itu tidak ada nilainya di mata pengikut sekte Salafi Wahhâbi! Yang laku hanya ucapan para Salaf Shaleh!

Itu pun masih harus dipilih dan disleksi! Salaf yang boleh dirujuk untuk memberikan penilaian akan kemunafikan Mu’awiyah haruslah salaf yang juga paling tidak “agak-agak munafik” juga!! Agar tidak menyalahi pengagungan doktrin sekte Salafi Wahhâbi terhadap Tuan mereka; Sayyiduna Mu’awiyah!

Salaf shaleh yang Mumkin apalagi pelopor dalam keimanan maka harus disingkirka jauh-jauh!

Kalau terlanjur diriwayatkan ia memberikan penilaian buruk atas Mu’awiyah bin Abu Sufyan, maka harus segera dicacat riwayatnya… berapa pun ongkosnya!

Ammâr Bersumpah Bahwa Mu’awiyah Cs. Adalah Kaum Kafir!

Tidak ada sahabat Nabi saw. yang paling menyebalkan buat kaum Salafi Wahhâbi melebihi Ammâr bin Yâsir (sahabat agung dan mulai yang surga rindu kepadanya)… pasalnya karena Ammâr ra. membela Sayyidin Ali as. Dan sangat membenci Mu’awiyah dan bersumpaj mengatakan bahwa Mu’awiyah Cs. Adalah kaum kafir yang hanya berpura-pura menerima Islam sambil menanti pembela yang membelanya untuk memerangi dan menghancurkan Islam!

Banyak sekali bukti yang memuat sumpah Ammâr bin Yâsir ra. tersebut! Ia telah direkam oleh belasan kaum tabi’in terpercaya dan diabadikan dalam banyak leteratur utama dan terpercaya dengan sanad yang shahih!

Dalam kesempatan ini saya hanya akan menyajikan satu saja di antara riwayat shahih sumpah Ammâr bin Yâsir ra., sambil menanti reaksi dari Barisan Pembela Kaum Munafik (BPKM) dari sekte Salafi Wahhâbi, yang pasti akan berontak dan segera menuduh kami Syi’ah Rafidhah … pembenci para sahabat dan tuduhan-tuduhan murahan lainnya!

Ya, pasti mereka akan mencarikan seribu satu alasan untuk menolak riwayat shahih yang akan saya sajikan di bawah ini! Mereka malu (jika masih punya rasa malu) kalau terbongkar bahwa mereka telah mengkhianati para Salaf Shaleh yang tegas-tegas bersumpah mengatakan bahwa Mu’awiyah –Tuan kebanggaan kaum Salafi Wahhâbi- dan antek-anteknya adalah kafif!

Ibnu Abi Khaitsamah meriwayatkan dalam Târîkh-nya yang dikenal dengan namaTârîkh Ibn Abi Khaitsamah,2/991, ia berkata:

حَدَّثَنَا أبي (زهير بن حرب ثقة) ، قال : حَدَّثَنا جَرِير ( هو ابن عبد الحميد ثقة)، عَنِ الأَعْمَش ( ثقة) ، عن مُنْذِرٍ الثَّوْرِيّ ( ثقة) ، عن سَعْد بن حُذَيْفَة ( ثقة) ، قال : قال عَمَّار (بن ياسر) – أي يوم صفين- : ( والله ما أَسْلَموا ولَكِنَّهُم اسْتَسْلَمُوا وأسرُّوا الْكُفْر حَتَّى وجدوا عليه أَعْوَانًا فأَظْهَروه ) اهـ.

“Ayahku (Zuhair bin Harb) berkata, ‘Jarîr (bin Abdul Hamîd) telah menyampaikan hadis kepadaku dari A’masy dari Mundzir ats Tsuari dari Sa’ad bin Hudzaifah ia berkata: “Ammâr (bin Yâsir) berkata (pada hari peperangan Shiffîn), ‘Demi Allah, mereka tidak masuk Islam akan tetapi mereka menyerah. Mereka merahasiakan kekafiran sehingga setelah mendapatkan para pembela, mereka menampakkannya!’”

Ustad Husain Ardilla Berkata:

Saya berharap para pengikut sekte Salafi Wahhâbi, khususnya para ustadz (sebab kaum awam mereka hanyalah korban pembodohan, walaupun tidak sedikit ustadz-ustadz yang awam; sama-sama korban pembodohan) mau melihat ucapan Sayyiduna Ammâr ra. dan menjadikannya sebagai pedoman dalam menilai siapa yang laik dipuji… disanjung… diidolakan dan dicintai serta kecintaan kepadanya dijadikan sebagai bagian dari akidah penentu surga neraka!

Apakah kurang jelas penegasan Sayyiduna Ammâr ra. Yang ia kuatkan dengan sumpah itu?!

Apakah Sayyiduna Ammâr bin Yâsir bukan Salaf Shaleh! Dan yang Salaf Shaleh hanya gembong-gembong kaum munafik dari keturunan pohon terkutuk; bani Umayyah?!

Saya hanya meminta kejujuran kalian dalam beragama! Pikirkan, sampai kapan kalian terus membela aimmatul kufri,para pemimpin kaum kafir/munafik seperti Abu Sufyan, Mu’awiyah, Yazid, Hajjâj bin Yusuf, Marwan bin Hakam, Abdul Malik bin Marwan dkk. dengan mengatas-namakan Ahlusunnah wal Jama’ah?! Dengan mengatas-namakan Salaf Shaleh?!

Ahlusunnah adalah pembela kaum shalihin…. bukan pembela kaum dzalimin!!

Sekali lagi, saya hanya menyajikan satu dari ucapan Sayyiduna Ammâr ra. Sebagaimana saya sengaja tidak menghadirkan ayat-ayat al Qur’an dan sabda-sabda Nabi saw. tentangnya… sebab makanan doyanan para pengikut sekte Salafi Wahhâbi adalah yang diramu tangan-tangan Salaf Shaleh!

Salam sejahtera bagi yang mau tunduk kepada petunjuk Allah.

Histeris Rakyat Iran Memperingati “kesyahidan” Fatimah Az Zahra Yang Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!! Ya Nabi SAW Puterimu Di Zalimi !!!!!!!!!! Allahu Akbar

Histeris Rakyat  Iran Memperingati “kesyahidan” Fatimah Az Zahra Yang Wafat karena Di Pukul Perutnya Hingga Keguguran Lalu Sakit Parah Hingga Wafat !!!

Umar menendang pintu dan pintu, Fatimah jatuh tertimpa pintu, -tanpa patah tulang-
Fatimah mendorong pintu agar menghalangi mereka masuk, Umar menendang pintu hingga terlepas dan mengenai perut Fatimah hingga Muhsin gugur dari perut ibunya.

Multaqal Bahrain hal 81, Al Jannah Al Ashimah hal 251

Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah,  Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantim, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam.

Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538

Fatimah didorong di pintu, tanpa ditendang, tanpa pedang, cambuk atau paku
Al Mas’udi, seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar, mereka mendorong Fatimah di pintu hingga janinnya gugur, mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

Umar memukul Fatimah di jalan, bukan di rumah
Fatimah berhasil meminta surat dari Abubakar yang berisi pengembalian tanah Fadak pada Fatimah, ketika di jalan Fatimah bertemu Umar dan kemudian Umar bertanya: wahai putri Muhammad, surat apa yang ada di tanganmu? Fatimah menjawab: surat dari Abubakar tentang pengembalian tanah Fadak, Umar berkata lagi : bawa sini surat itu, Fatimah menolak menyerahkan surat itu, lalu Umar menendang Fatimah
Amali Mufid hal 38, juga kitab Al Ikhtishash

Fatimah dicambuk.
Yang disesalkan adalah mereka memukul Fatimah Alaihassalam, telah diriwayatkan bahwa mereka memukulnya dengan cambuk
Talkhis Syafi jilid 3 hal 156

Punggungnya dicambuk dan dipukul dengan pedang.
Lalu Miqdad berdiri dan mengatakan : putri Nabi hampir  meninggal dunia, sedang darah mengalir di punggung dan rusuknya karena kalian mencambuknya dan memukulnya dengan pedang, sedangkan di mata kalian aku lebih hina dibanding Ali dan Fatimah
Ahwal Saqifah/ Kamil Al Baha’I, Hasan bin Ali bin Muhamamd bin Ali bin Hasan At Thabari yang dikenal dengan nama Imadudin At Thabari, jilid 1 hal 312

Jamadil Awal, bulan yang berkah ini mengandungi hari kesedihan buat pencinta Ahlulbait(as), bunda kepada Hassanain, Qurrata ainar Rasul, dan penyambung antara Nubuwwah dan Imamah
.
Seperti biasa, di mana-mana sahaja ada pengikut Ahlulbait(as), maka akan di adakanlah majlis peringatan hari kesedihan ini. Di bawa ini ialah majlis yang dihadiri oleh Ayatollah Khamenei dan pemuka-pemuka politik di Iran.

Ini pula di Qom, yang dihadiri oleh para Marja’, antaranya, Ayatollah Saafi Gulpaigani, Wahid Khurasani dan Ali al Milani. Perhatikan bagaimana orang Syiah berinteraksi dengan ulama mereka, menunjukkan peranan penting ulama dalam sistem sosial masyarakat Syiah, dan perhatikan juga cara mereka dalam mengenang tragedi kepada Ahlulbait(as).

Ya Nabi SAW Puterimu  Di Zalimi  !!!!!!!!!!  Allahu  Akbar

Wow, tidak syak lagi, mereka memang mencintai Ahlulbait(as) samada dari percakapan atau perbuatan. Kat Malaysia ramai orang mengaku cinta Ahlulbait(as) jugak, tapi hampeh, tiada sebarang majlis diadakan di masjid-masjid, of course, kecuali penduduk Syiah di Malaysia la.

Hujjatul Islam Moawenian dalam ceramahnya menceritakan kisah berikut. Ulama besar Syiah, Allamah Amini, menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana di hadapan para ulama ahlusunah: Siapakah imamnya Fatimah binti Muhammad?

Ada sebuah kisah nyata tentang Allamah Amini (penulis kitab al-Ghadir). Allamah Amini diundang oleh para ulama suni dalam sebuah acara makan malam ketika beliau ada di Mekah atau Madinah. Pertama kalinya beliau menolak, tapi mereka memaksa. Namun kemudian, beliau menerima dengan satu syarat bahwa dia hanya datang untuk makan malam, bukan diskusi, karena pandangan beliau sudah dikenal. Mereka menerima persyaratannya. Mereka mengatakan kalau beliau datang, barulah akan dipikirkan apa yang akan dilakukan.

Dalam pertemuan tersebut terdapat sekitar 70-80 ulama besar suni yang menghafal antara 10-100 ribu hadis yang ada. Setelah mereka makan, mereka ingin mengajaknya terlibat dalam diskusi dan dengan cara ini mereka dapat membuatnya terdiam. Tapi Allamah Amini mengingatkan mereka tentang peraturan bahwa dia datang hanya untuk makan malam.

Salah satu di antara mereka kemudian mengatakan bahwa akan lebih baik jika masing-masing di antara yang hadir dapat mengutipkan sebuah hadis. Dengan cara ini, allamah juga akan terlibat menyampaikan hadis dan hadis tersebut dapat membantu mereka untuk memulai diskusi. Semuanya menyampaikan sebuah hadis sampai akhirnya giliran Allamah Amini. Mereka memintanya untuk menyampaikan sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw.

Allamah mengatakan tidak masalah, tapi dia akan menyampaikan sebuah hadis dengan satu syarat: setelah hadis disampaikan, masing-masing dari kalian harus menyampaikan pandangan tentang sanad dan kebenaran hadis tersebut. Mereka menerimanya.

Kemudian, beliau menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Siapa yang tidak mengenal imam zamannya kemudian meninggal, maka meninggalnya sama seperti pada masa jahiliah.”

من مات و لم يعرف إمام زمانه مات ميتة جاهلية

Kemudian ia bertanya kepada masing-masing dari mereka tentang kebenaran hadis tersebut. Mereka semua menyatakan bahwa hadis tersebut benar dan tidak ada keraguan tentangnya dalam semua kitab rujukan suni. Kemudian allamah mengatakan bahwa kalian semua sepakat tentang kebenaran hadis ini. “Baiklah, saya mempunyai satu pertanyaan. Katakan kepada saya apakah Fatimah mengenali imamnya? Lalu siapakah imamnya? Siapakah imamnya Fatimah?”

Tidak ada yang menjawabnya. Mereka semua terdiam dan setelah beberapa lama satu per satu meninggalkan tempat. “Allah mengetahui bahwa saya melakukan diskusi ini dengan ulama suni di Masjidilharam dan dia adalah orang yang sangat ahli dan berpengetahuan. Dia hanya tertawa. Aku tanyakan kepadanya jawaban pertanyaan saya, tapi dia hanya tertawa.”

Saya mulai marah dan mengatakan padanya, “Apa yang Anda tertawakan?” Dia menjawab, “Saya menertawakan diri saya sendiri.” Saya tanya, “Benarkah?” Dia menjawab, “Ya.” Saya tanya lagi, “Mengapa?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Anda. Jika saya katakan Fatimah tidak mengenal imam pada zamannya, itu berarti dia wafat sebagai orang kafir. Tapi tidak mungkin pemimpin para wanita di dunia ini tidak mengenal imamnya. Tidak pernah mungkin!”

“Jika Fatimah mengenal imamnya, bagaimana saya bisa mengatakannya? Misal Abu Bakar adalah imamnya, tetapi Bukhari dalam kitabnya menuliskan fakta bahwa Fatimah wafat dalam keadaan marah… Tidak mungkin bagi Fatimah untuk marah kepada imamnya!”

Fatimah adalah alasan terkuat kami. Karena Fatimah, tidak ada tempat untuk menyembunyikan kebenaran. Karenanya, menghidupkan nama Fatimah dan menangis untuk kesyahidahannya adalah seruan kepada tauhid. Menangis untuk Fatimah, pintu dan rumahnya yang terbakar adalah menangis untuk Alquran yang juga terbakar!

Sikap Ali bin Abi Talib (a.s.) terhadap jawatan khalifah.

Sahnya kekhalifahan Ali bin Abi Talib atau batilnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Uthman setelah kewafatan Rasulullah telah disabitkan dengan banyak dalil yang bersumber dari kitab-kitab Ahlusunnah. Namun begitu puak pelampau fanatic Wahabi masih tidak berhenti-henti mencari bahan untuk mencetuskan keraguan orang awam dari terhadap perkara ini.

Artikel saya kali ini meneliti protes dan pengingkaran Ali bin Abi Talib selama hayatnya terhadap kekhalifahan yang tidak sah tersebut dalam lembaran sejarah sekaligus menghancurkan hikayat dongeng: Diamnya Ali menunjukkan sahnya kekhalifan Abu Bakar. Jikalau rampasan kuasa berlaku sudah tentu pedang Zulfiqar telah terhunus sampai haknya kembali kepada pemiliknya.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah adalah satu kesilapan.

Abu Bakar mengakui: “Pembai’atan kepadaku adalah kesilapan dan Allah memelihara keburukannya…. ” إنّ بيعتي كانت فلتة وقى اللّه شرّها… Ansab al-Asyraf lil Bilazari jil 1 halaman 590, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 6 halaman 47

Umar al-Khattab telah berterus terang menyatakan: إنّ بيعة أبي بكر كانت فلتة وقى اللّه شرّها فمن عاد إلى مثلها فاقتلوه… Pembai’atan kepada Abu Bakar adalah kesilapan, Allah memelihara keburukannya, maka barangsiapa yang kembali kepada Bai’at seperti ini maka bunuhlah ia. – Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 2 halaman 26, Musnad Ahmad jil 1 halaman 55,

Sahih Bukhari jil 8 halaman 26:

فَوَاللَّهِ مَا كَانَتْ بَيْعَةُ أَبِى بَكْرٍ إِلاَّ فَلْتَةً

صحيح البجاری – المحاربين – باب رَجْمِ الْحُبْلَى مِنَ الزِّنَا إِذَا أَحْصَنَتْ

“Demi Allah, tidak lah bai’at kepada Abu Bakar melainkan kesilapan” – Sahih Bukhari

Menurut Ali bin Abi Talib, khalifah itu hak khusus untuk Ahlul Bait (as)

Ali bin Abi Talib menganggap khalifah adalah hak khusus untuk Ahlul Bait. Khalifah menurut pemilihan adalah bertentangan dengan Kitab dan Sunnah. Perkara ini beberapa kali ditemui dalam Nahjul Balaghah:

ولهم خصائصُ حقِّ الولاية، وفيهم الوصيّةُ والوِراثةُ.

نهج البلاغة عبده ج 1 ص 30، نهج البلاغة ( صبحي الصالح ) خطبة 2 ص 47، شرح نهج البلاغة ابن أبي الحديد ج 1 ص 139، ينابيع المودة قندوزي حنفي ج 3 ص 449 .

“Kepimpinan adalah hak Khusus bagi mereka (Ahlul Bait) dan mereka Washi dan waris (Rasulullah)” – Nahjul Balaghah Abduh jil 1 halaman 30 khutbah 2 halaman 47, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 1 halaman 139, Yanabi’ul Mawaddah jil 3 halaman 449

Surat Ali bin Abi Talib kepada warga Mesir:

فو اللّه ماكان يُلْقَى في رُوعِي ولا يَخْطُرُ بِبالي أنّ العَرَب تُزْعِجُ هذا الأمْرَ من بعده صلى اللّه عليه وآله عن أهل بيته ، ولا أنّهم مُنَحُّوهُ عَنّي من بعده.

نهج البلاغة، الكتاب الرقم 62، كتابه إلى أهل مصر مع مالك الأشتر لمّا ولاه إمارتها، شرح نهج البلاغه ابن أبي الحديد: 95/6، و151/17، الإمامة والسياسة: 133/1 بتحقيق الدكتور طه الزيني ط. مؤسسة الحلبي القاهرة .

“Maka demi Allah, tidak ia ditemukan dalam jiwaku, tidak terbayang di jiwaku bahawa bangsa Arab merebut urusan ini setelah nabi (saw) daripada Ahlul Baitnya, dan mereka mengalihkan ia daripadaku sepeninggalan baginda.”– Nahjul Balaghah surat 62, surat Imam Ali kepada warga Mesir

Dalam khutbah Ali ke-74, beliau berkata:

لَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا مِنْ غَيْرِي وَ وَ اللَّهِ لَأُسْلِمَنَّ مَا سَلِمَتْ أُمُورُ الْمُسْلِمِينَ وَ لَمْ يَكُنْ فِيهَا جَوْرٌ إِلَّا عَلَيَّ خَاصَّةً الْتِمَاساً لِأَجْرِ ذَلِكَ وَ فَضْلِهِ وَ زُهْداً فِيمَا تَنَافَسْتُمُوهُ مِنْ زُخْرُفِهِ وَ زِبْرِجِهِ.

“sesungguhnya kalian telah tahu bahawa saya manusia paling berhak dengannya (khalifah) daripada selainku. Demi Allah selama urusan kaum muslimin tinggal utuh, dan tidak ada penindasan di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang anda cita-citakan”– Nahjul Balaghah khutbah 74, Khutbah Ali bin Abi Talib tatkala orang ramai hendak memberi Bai’at kepada Uthman.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap pemerintahan Abu Bakar sebagai diktator

Ali bin Abi Talib menganggap kekhalifahan Abu Bakar bukan berasaskan demokrasi, namun beliau terus saja mengatakan kekhalifahan Abu Bakar adalah diktator

وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالأَمْرِ ، وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَصِيبًا . حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِى بَكْرٍ

صحيح البخارى: 82/5، كتاب المغازي، با غزوة خيبر، مسلم، ج 5، ص 154، (چاپ جديد: ص 729 ح 1758)، كتاب الجهاد، باب قول النبي (ص) لانورَث ما تركناه صدقة .

Ali bin Abi Talib mengatakan, “Akan tetapi dikau telah bertindak sewenang-wenangnya atas kami dengan urusan, dan kami melihat kekerabatan kami dengan Rasulullah. Maka air mata Abu Bakar menitis”.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap Umar tidak layak menjadi khalifah

Tatkala telah diketahui bahawasanya Abu Bakar memutuskan ingin melantik Umar sebagai khalifah, dalam Tabaqat Ibnu Sa’ad, Ali telah menentang keras dan berkata dengan terus terang sebagai berikut:

عن عائشة قالت لما حضرت أبا بكر الوفاة استخلف عمر فدخل عليه علي وطلحة فقالا من استخلفت قال عمر قالا فماذا أنت قائل لربك قال بالله تعرفاني لأنا أعلم بالله وبعمر منكما أقول استخلفت عليهم خير أهلك.

الطبقات: 196/3، تاريخ مدينة دمشق: 251/44، عمر بن الخطاب للاستاذ عبد الكريم الخطيب ص 75 .

‘Aisyah mengatakan tatkala hadirnya kematian di sisi Abu Bakar, maka masuklah Ali dan Talhah, maka bertanyalah mereka, siapakah yang menjadi khalifah? Dia menjawab, Umar. Mereka berkata, Apa yang anda akan katakan kepada Allah? Dia menjawab, Apakah kau perkenalkan Allah kepadaku? saya lebih mengenali Allah dan Umar daripada kalian, saya akan berkata kepada Allah, saya melantik sebaik-baik hambaMu sebagai khalifah. – Tabaqat, jil 3 halaman 196

Imam Ali bin Abi Talib memprotes keras pemilihan Uthman sebagai khalifah

Ali memaklumkan bantahannya sehingga menyebabkan ‘Abdul Rahman bin ‘Auf memberi ancaman bunuh (al-Imamah wal Siyasah, jil 1 halaman 45):

قال عبد الرحمن بن عوف : فلا تجعل يا علي سبيلاً إلى نفسك ، فإنّه السيف لا غير .

الامامة والسياسة ، تحقيق الشيري ج 1 ص 45، تحقيق الزيني ج 1 ص‏31 .

Telah berkata ‘Abdul Rahman bin ‘Auf, “Janganlah engkau jadikan jalan kepada dirimu wahai Ali, sesungguhnya ia adalah pedang tiada yang lain lagi” – Al-Imamah wal Siyasah, jilid 1 halaman 45

فَيَا لَلَّهِ وَ لِلشُّورَى مَتَى اعْتَرَضَ الرَّيْبُ فِيَّ مَعَ الْأَوَّلِ مِنْهُمْ حَتَّى صِرْتُ أُقْرَنُ إِلَى هَذِهِ النَّظَائِرِ لَكِنِّي أَسْفَفْتُ إِذْ أَسَفُّوا وَ طِرْتُ إِذْ طَارُوا فَصَغَا رَجُلٌ مِنْهُمْ لِضِغْنِهِ وَ مَالَ الآخَرُ لِصِهْرِهِ مَعَ هَنٍ وَ هَنٍ إِلَى أَنْ قَامَ ثَالِثُ الْقَوْمِ نَافِجاً حِضْنَيْهِ بَيْنَ نَثِيلِهِ وَ مُعْتَلَفِهِ وَ قَامَ مَعَهُ بَنُو أَبِيهِ يَخْضَمُونَ مَالَ اللَّهِ خِضْمَةَ الْإِبِلِ نِبْتَةَ الرَّبِيعِ إِلَى أَنِ انْتَكَثَ عَلَيْهِ فَتْلُهُ وَ أَجْهَزَ عَلَيْهِ عَمَلُهُ وَ كَبَتْ بِهِ بِطْنَتُهُ.

Aku berlindung dengan Allah dari Syura ini! pada zaman bilakah saya disetarakan dengan para anggota Syura di mana saya seperti yang mereka khayalkan, dan mereka telah letakkan saya dalam barisan itu. Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya pun bangkit sambil menelan harta Allah seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.

Imam Ali mengatakan Abu Bakar dan Umar adalah pengkhianat

Abu Bakar dan Umar adalah pembohong, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat menurut Ai bin Abi Talib. Seperti mana di dalam kitab Sahih Muslim iaitu kitab yang paling sahih setelah al-Quran, Umar mengatakan kepada Abbas dan Ali:

فلمّا توفّي رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، قال أبو بكر: أنا ولي رسول اللّه… فرأيتماه كاذباً آثماً غادراً خائناً… ثمّ توفّي أبو بكر فقلت : أنا وليّ رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، ولي أبي بكر، فرأيتماني كاذباً آثماً غادراً خائناً ! واللّه يعلم أنّي لصادق، بارّ، تابع للحقّ! .

صحيح مسلم ج 5 ص 152، (ص 728 ح 1757) كتاب الجهاد باب 15 حكم الفئ حديث 49، فتح الباري ج 6 ص 144 .

Setelah wafatnya Rasulullah (saw) Abu Bakar berkata: Aku pemimpin setelah Rasulullah… dan kalian berdua menganggap saya pendusta, pendosa, curang dan pengkhianat. Kemudian setelah wafatnya Abu Bakar, saya telah berkata: Sayalah pemimpin setelah Rasulullah (saw), pemimpin setelah Abu Bakar, maka kalian berdua melihat saya sebagai pendusta, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat!…. Sahih Muslim Kitab alJihad Bab 15

Imam Ali (as) menganggap khalifah yang lalu sebelumnya adalah perampas

Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini, Ali tetap saja menganggap khalifah sebelum daripadanya tidak Syar’i dan perampas. Beliau menulis dalam surat kepada ‘Aqil seperti berikut:

فَجَزَتْ قُرَيْشاً عَنِّي الْجَوَازِي فَقَدْ قَطَعُوا رَحِمِي وَ سَلَبُونِي سُلْطَانَ ابْنِ أُمِّي.

نهج البلاغة، كتاب رقم 36 .

Saya berhasrat kiranya orang Qurasy mendapat pembalasan atas perlakuan mereka terhadap saya. Kerana mereka mengabaikan kekerabatan dan merebut kekuasaan yang menjadi hak saya dari putera ibu saya (Nabi saw). – Nahjul Balaghah kitab nombor 36.

Dan Ibnu Abil Hadid di dalam kitabnya:

وغصبوني حقي ، وأجمعوا على منازعتي أمرا كنت أولى به.

شرح نهج البلاغة لابن أبي الحديد، ج 4، ص‏104، ج 9، ص 306 .

Mereka telah merampas hak saya, dan mereka berkumpul di atas perselisihan urusan kepimpinan yang mana saya lebih berhak atasnya. – Syarah Ibnu Abil Hadid jil 4 halaman 102, jil 9 halaman 306

دعوكم خليفة رسول الله (ص) لسريع ما كذبتم على رسول الله (ص) ثمّ قال أبو بكر : عد إليه فقل : أمير المؤمنين يدعوكم ، فرفع علي صوته فقال : سبحان الله لقد ادعى ما ليس له .

الإمامة والسياسة بتحقيق الزينى، ص 19 وبتحقيق الشيري، ص 30 .

Ibnu Qutaibah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar mengutus Qanfiz kepada Ali, beliau mengatakan, “Khalifah Rasulullah memanggil kalian” Ali menjawab, “Betapa cepatnya kalian mendustakan Rasulullah (saw). Abu Bakar kali kedua mengutus Qanfiz dan berkata, “Katakan padanya Amirulmukminin memanggil kalian” Ali meninggikan suara, “Subhanallah, sesungguhnya anda mendakwa apa yang bukan pada tempatnya!” – al-Imamah wal Siyasah halaman 19

Dengan ini punahlah kepercayaan yang mengatakan bahawa Ali (as) menganggap khalifah sebelumnya adalah sah menurut hukum syarak.

Apakah Ijma’ para sahabat merupakan dalil keridhaan Allah?

فَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى رَجُلٍ وَ سَمَّوْهُ إِمَاماً كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا .

Kata-katanya, “Maka sesungguhnya jikalau mereka (Muhajirin dan Ansar) berijmak atas seseorang dan menamakannya sebagai Imam, maka keridhaan Allah untuk itu”

Adapun kata-kata beliau, “Jikalau Muhajirin dan Ansar datang mengangkat seseorang itu sebagai Imam, Maka keridhaan tuhan di dalamnya”.

Saudara kita Ahlusunnah tidak boleh menggunakan kata-kata Ali ini sebagai dalil sahnya kekhalifahan sebelum beliau kerana:

Pertamanya: dalam beberapa naskah Nahjul Balaghah ayat «كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا» tertulis dengan «كَانَ ذَلِكَ رِضًا» tanpa penambahan kalimah «لِلَّهِ». (silakan rujuk Nahjul Balaghah cetakan Misr, Qahirah, al-Istiqamah di mana kalimah «لِلَّهِ» telah termasuk di dalamnya).

Oleh itu jikalau Muhajirin dan Ansar mengangkat seseorang itu sebagai khalifah merupakan dalil keridhaan mereka ke atas pemilihan ini. Pembai‘atan ini juga bukanlah kesan dari pemaksaan atau ancaman pedang.

Kedua: Jikalau kita tanggapi bahawa kalimah «للّه» wujud dalam teks Nahjul Balaghah itu, maka maksudnya sudah tentu semua Muhajirin dan Ansar termasuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang bersepakatan atas keimaman seseorang. Pastilah ini menunjukkan keridhaan Allah (swt).

Adakah Fathimah Zahra membai’at Abu Bakar?

Tidakkah keridhaan Fathimah merupakan keridhaan Nabi (saw). Hakim Nisyaburi menyatakan:

إنّ اللّه يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك.

“Sesungguhnya Allah murka kepada siapa yang menyebabkan engkau marah dan meridhai barangsiapa yang membuatkan engkau ridha”.

Hadis ini dikatakannya:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

مستدرك: 153/3، مجمع الزوائد: 203/9، الآحاد والمثاني للضحاك: 363/5، الإصابة: 266265/8، تهذيب التهذيب: 392/21، سبل الهدى والرشاد للصالحي الشامي: 11/ 44 .

“ Sahih persanadannya namun Bukhari dan Muslim tidak menyebutnya”. – Mustadrak jilid 3 halaman 153

Bukhari menyatakan Rasulullah bersabda:

فاطمة بَضْعَة منّى فمن أغضبها أغضبني .

صحيح البخارى 210/4، (ص 710، ح 3714)، كتاب فضائل الصحابة، ب 12 – باب مَنَاقِبُ قَرَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه‏وسلم . و 219/4 ، (ص 717، ح 3767) كتاب فضائل الصحابة ، ب 29 – باب مَنَاقِبُ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, barangsiapa membuatkan dia marah maka ia telah membuatkan aku marah” – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 210

Muslim Nisyaburi menukilkan baginda bersabda:

إِنَّمَا فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يُؤْذِينِي مَا آذَاهَا.

صحيح مسلم 141/7 ح 6202 كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم، ب 15 -باب فَضَائِلِ فَاطِمَةَ بِنْتِ النَّبِيِّ عَلَيْهَا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, akan membuatkan aku sakit barangsiapa menyakiti beliau”. – Sahih Muslim jilid 7 halaman 141.

Tidak ada syak lagi Sayida Zahra bukan sahaja tidak member Bai’at kepada Abu Bakar, malahan murka kepada Abu Bakar sampai beliau meninggal dunia sebagai mana dinukilkan oleh Bukhari:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ.

صحيح البخارى: 42/4، ح 3093، كتاب فرض الخمس، ب 1 – باب فَرْضِ الْخُمُسِ .

“Marahlah Fathimah binti Rasulullah (saw) kepada Abu Bakar, maka tidak hilang kemurkaannya sehingga beliau wafat”. – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 42

Dengan ini beliau telah memberi wasiat kepada Ali supaya jenazahnya dikebumikan pada waktu malam tanpa memaklumkan shalat jenazah beliau kepada Abu Bakar yang mengakui dirinya sebagai khalifah setelah Nabi (saw).

فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ، دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلاً، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا .

صحيح بخارى، ج 5، ص 82، ح 4240، كتاب المغازى، ب 38، باب غَزْوَةُ خَيْبَرَ، صحيح مسلم، ج 5، ص 154، ح 4470، كتاب الجهاد والسير (المغازى )، ب 16 – باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم «لاَ نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ» .

“Maka tatkala beliau wafat, suaminya Ali menyemadikannya di waktu malam, dan beliau tidak pernah mengizinkan Abu Bakar menyolati jenazahnya”. – Sahih Bukhari jilid 5 halaman 154.

Imam Ali (as) tidak berada di kalangan Muhajirin dan Ansar dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Ali (as) tidak membai’at Abu Bakar sampai 6 bulan.

وعاشت بعد النبي صلى الله عليه وسلم، ستة أشهر… ولم يكن يبايع تلك الأشهر .

صحيح البخاري، ج 5، ص 82، صحيح مسلم، ج 5، ص 154.

Fathimah az-Zahra hidup setelah 6 bulan wafatnya Rasulullah….. beliau tidak memberi Bai’at selama itu- Sahih Bukhari – Sahih Bukhari jil 5 halaman 82

Tidakkah Bai’at Ali (as) merupakan dalil sahnya kekhalifahan Abu Bakar? Tidakkah Bani Hashim menahan diri dari membai’at? Abdul Razak menerangkan:

فقال رجل للزهري : فلم يبايعه عليّ ستة أشهر ؟ قال : لا ، ولا أحد من بني هاشم .

المصنف لعبد الرزاق الصنعاني، ج 5، ص 472 – 473.

Seorang lelaki bertanya kepada Zuhri, “Apakah benar Ali (as) selama 6 bulan tidak memberi Bai’at?” beliau menjawab, “Ali dan Bani Hashim tidak memberi Bai’at” – Al-Mushannaf Abdul Razak jil 5 halaman 472-473

Komentar ini telah dinukilkan dalam Sunan Baihaqi, Tarikh Tabari dan Ibnu Athir dalam kedua kitab Rijal dan Tarikhnya. Rujukannya sebagai berikut:

اسد الغابة: 222/3 و الكامل في التاريخ ، ج 2 ، ص 325 و السنن الكبرى، ج 6، ص 300 و تاريخ الطبري، ج 2، ص 448 .

Asad al-Ghabah jilid 3 halaman 222, Kamil Fi Tarikh jilid 2 halaman 325, Sunan al-Kubra jilid 6 halaman 300 dan tarikh al-Tabari jilid 2 halaman 448

Tidakkah Ibnu Hazm salah seorang ulama besar Ahlusunnah mengatakan:

ولعنة اللّه على كلّ إجماع يخرج عنه على بن أبى طالب ومن بحضرته من الصحابة .

المحلى: ج 9، ص 345، بتحقيق أحمد محمد شاكر، ط. بيروت – دارالفكر .

“Laknat Allah ke atas seluruh Ijma’ yang mana Ali bin Abi Talib dan para sahabatnya tidak termasuk di dalamnya” – Al-Mahalli jil 9 halaman 325

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan: Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Ugamamu selamat. – al-Mu’jam al-Kabir Tabrani, jilid 11 halaman 60

Kebakhilan, menyebabkan Ali tidak mencapai kekhalifahan

Kekeliruan ini bukanlah perkara baru namun pertanyaan tentangnya terus berlegar dalam sejarah termasuk di zaman Ali sendiri. Seorang dari bani Asad bertanya kepada Ali:

كيف دفعكم قومكم عن هذا المقام وأنتم أحق به ؟

يَا أَخَا بَنِي أَسَدٍ إِنَّكَ لَقَلِقُ الْوَضِينِ تُرْسِلُ فِي غَيْرِ سَدَدٍ وَ لَكَ بَعْدُ ذِمَامَةُ الصِّهْرِ وَ حَقُّ الْمَسْأَلَةِ وَ قَدِ اسْتَعْلَمْتَ فَاعْلَمْ أَمَّا الِاسْتِبْدَادُ عَلَيْنَا بِهَذَا الْمَقَامِ وَ نَحْنُ الاَعْلَوْنَ نَسَباً وَ الأَشَدُّونَ بِالرَّسُولِ ص نَوْطاً فَإِنَّهَا كَانَتْ أَثَرَةً شَحَّتْ عَلَيْهَا نُفُوسُ قَوْمٍ وَ سَخَتْ عَنْهَا نُفُوسُ آخَرِينَ وَ الْحَكَمُ اللَّهُ وَ الْمَعْوَدُ إِلَيْهِ الْقِيَامَةُ

وَ دَعْ عَنْكَ نَهْباً صِيحَ فِي حَجَرَاتِهِ‏

وَ لَكِنْ حَدِيثاً مَا حَدِيثُ الرَّوَاحِلِ‏

نهج البلاغة ، خطبة 162، نهج البلاغه محمد عبده ، ج2 ،‌ ص64 و شرح ابن أبي الحديد ، ج9 ، ص 241 و علل الشرايع ، ج1 ،‌ ص146 .

Seorang dari Bani Asad bertanya pada Imam Ali: Mengapakah engkau yang lebih layak menjadi khalifah namun mengenepikannya? Ali menjawab: Wahai saudara Bani Asad engkau seorang yang menyedihkan dan bertanya bukan pada tempatnya, walau bagaimanapun sebagai penghormatan atas persaudaraan, hak pertanyaan dihormati. Sekarang engkau mau tahu, maka ketahuilah kezaliman dan mementing diri dengan kekhalifahan itu membebani kami, dalam keadaan kami lebih kukuh pertalian nasab dengan rasul, bukanlah egois dan serakah memonopoli namun: sekumpulan orang yang bakhil melekat dengan singgahsana kekhalifahan, dan sekumpulan orang dengan bebas merampasnya, dan hakim adalah Allah dan kita semua kembali kepadaNya di hari kiamat….. kembalilah, kenangkan sejarah kisah para perampas, kisah yang menyingkap perompakan para penunggang unta- Nahjul Balaghah Muhammad Abduh, jil 2 hal 64

Perseteruan terhadap Imam Ali yang terpendam di dalam dada

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan:

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Agamamu selamat

Perkara ini sangat jelas terkandung dalam teks Nahjul Balaghah seperti berikut:

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ بَعَثَ مُحَمَّداً(صلى الله عليه وآله) نَذِيراً لِلْعَالَمِينَ وَ مُهَيْمِناً عَلَى الْمُرْسَلِينَ فَلَمَّا مَضَى ع تَنَازَعَ الْمُسْلِمُونَ الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ

فَوَاللَّهِ مَا كَانَ يُلْقَى فِي رُوعِي وَ لَا يَخْطُرُ بِبَالِي أَنَّ الْعَرَبَ تُزْعِجُ هَذَا الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ ص عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَ لاَ أَنَّهُمْ مُنَحُّوهُ عَنِّي مِنْ بَعْدِهِ فَمَا رَاعَنِي إِلَّا انْثِيَالُ النَّاسِ عَلَى فُلَان يُبَايِعُونَهُ

فَأَمْسَكْتُ يَدِي حَتَّى رَأَيْتُ رَاجِعَةَ النَّاسِ قَدْ رَجَعَتْ عَنِ الإِْسْلاَمِ يَدْعُونَ إِلَى مَحْقِ دَيْنِ مُحَمَّد ص فَخَشِيتُ إِنْ لَمْ أَنْصُرِ الاِْسْلاَمَ وَ أَهْلَهُ أَنْ أَرَى فِيهِ ثَلْماً أَوْ هَدْماً تَكُونُ الْمُصِيبَةُ بِهِ عَلَيَّ أَعْظَمَ مِنْ فَوْتِ وِلاَيَتِكُمُ الَّتِي إِنَّمَا هِيَ مَتَاعُ أَيَّام قَلَائِلَ يَزُولُ مِنْهَا مَا كَانَ كَمَا يَزُولُ السَّرَابُ أَوْ كَمَا يَتَقَشَّعُ السَّحَابُ فَنَهَضْتُ فِي تِلْكَ الاَْحْدَاثِ حَتَّى زَاحَ الْبَاطِلُ وَ زَهَقَ وَ اطْمَأَنَّ الدِّينُ وَ تَنَهْنَهَ

Amma ba’du, Allah Yang Mahasuci mengutus Muhammad (saw) sebagai pemberi peringatan bagi seluruh dunia dan saksi bagi semua nabi. Ketika Nabi wafat, kaum Muslim bertengkar tentang kekuasaan sepeninggal baginda.

Demi Allah, tak pernah terlintas difikiran saya, dan saya tak pernah membayangkan, bahawa setelah Nabi orang Arab akan meragut kekhalifahan ini daripada Ahlul Bait setelah baginda, mereka akan mengalihnya daripada saya setelah baginda, tidak saya bimbang melainkan manusia secara mendadak dari mana hala membaiat lelaki itu.

Oleh kerana itu, saya menahan tangan saya hingga saya melihat bahawa ramai orang sedang menghindar dari Islam dan berusaha untuk membinasakan agama Muhammad (saw). Maka saya khuatir bahwa apabila saya tidak melindungi Islam dan umatnya lalu terjadi di dalamnya suatu perpecahan atau kehancuran, hal itu akan merupakan suatu pukulan yang lebih besar kepada saya daripada hilangnya kekuasaan atas anda, yang bagaimanapun (hanyalah) akan berlangsung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlalu sebagaimana berlalunya bayangan, atau sebagai hilangnya awan melayang. Oleh karena itu, dalam peristiwa-peristiwa ini saya bangkit hingga kebatilan dihancurkan dan lenyap, dan agama mendapatkan kedamaian dan keselamatan. – Nahjul Balaghah surat 62

Mengapa Ali tidak bertindak mengambil kembali haknya?

Para Washi Anbiya punyai satu kaedah yang menuruti perintah Allah. Tanggung jawab yang mereka sandang telah dikhususkan untuk diamalkan dan Imam Ali juga sebagai Washi Rasulullah juga tidak terkecuali dalam perkara ini. Oleh itu beliau tidak boleh bangun dengan menghunuskan pedang dan mengambil kembali kekhalifahan dengan cara kekerasan. Dengan merujuk kepada sejarah para nabi dapatlah kita memahami bahawa Ali tidak punyai cara lain dari mendiamkan diri.

al-Quran menceritakan nabi Allah Nuh (as) mengatakan:

فَدَعا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِر

54. 10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”

Baginda berdoa kepada Allah bahawa saya dikalahkan, maka bantulah aku. Begitujuga dalam surah Maryam bahawasanya Nabi Allah Ibrahim (as) berkata:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَما تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ وَأَدْعُوا رَبِّي

19. 48. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Telah tercatat dalam sejarah bahawa Nabi Ibrahim berangkat dari babylon ke pergunungan tanah Parsi dan tinggal disekitarnya selama 7 tahun. Setelah itu baginda kembali lagi ke Babylon dan menghancurkan berhala-berhala serta mendakwa dirinya sebagai nabi

Begitu juga kisah ketakutan yang menimpa nabi Allah Musa (as):

فَخَرَجَ مِنْها خائِفاً يَتَرَقَّبُ قالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظّالِمِينَ

28. 21. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Begitu juga dalam surah al-’Araf, peristiwa kaum bani Israel menyembah sapi akibat termakan tipu daya Samiri tatkala pemergian nabi Musa. Nabi Allah Harun (as) juga berdiam diri dan Allah swt berfirman:

وأخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

7. 150. Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”

Harun adalah khalifah Nabi Musa sepeninggalan baginda pergi bermunajat kepada Allah. Namun Nabi Allah Harun tidak bangun dengan pedang menentang kesesatan kaumnya yang terpedaya dengan Samiri.

Rasulullah pernah menisbahkan Ali dengan diri baginda umpama Harun di sisi Musa melainkan tiada lagi Nabi setelah baginda. Oleh itu tindakan Ali tidak memprotes perampasan hak kekhalifahannya dengan pedang adalah menepati sirah para washi sebelumnya dengan penuh hikmah. Tatkala Ali dipaksa memberi Bai’ah, beliau telah pergi ke makam Rasulullah dan mengulangi kalimah Nabi Allah Harun (as):

إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

Mughazali, ahli Fiqh Syafie dan Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib dan ‘Allamah al-Faqih ibnu al-Maghazali menukilkan bahawasanya Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Talib:

عن أبي عثمان النهدي عن علي كرم الله وجهه قال : كنت أمشي مع رسول الله (ص) فأتينا على حديقة فاعتنقني ثم أجهش باكيا فقلت يا رسول الله ما يبكيك ؟ فقال (ص) : أبكي لضغائن في صدر قوم لا يبدونها لك إلا بعدي قلت : في سلامة من ديني ؟ قال في سلامة من دينك.

Diriwayatkan oleh al-‘Allamah al-Kanji al-Syafi’ie di dalam kitab Kifayah al-Thalib, bab 16 dengan sanad kepada Ibnu ‘Asakir yang bersanad kepada Anas bin Malik dan riwayat-riwayat yang lain seperti mana di dalam al-Manaqib dan Yanabi’. kemudian ‘Allamah al-Kanji berkata setelah menukilkan riwayat ini mengatakan Hadis ini Hasan:

Ummat ini punyai perseteruan di dalam dada mereka yang akan mereka lahirkan sepeninggalanku nanti. Aku berpesan padamu supaya bersabar. Semoga Allah mengurniakan kebaikan buatmu.

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

بحار الانوار، ج 32، ص111 ; الكافئه، ص19

Demi Allah, mata-mata menangis, hati-hati teraniaya dan dada-dada kami sudah penuh dari kemarahan, perseteruan dan permusuhan. Jikalau tidak takut akan perpecahan kaum muslimin yang membawa kepada kekufuran mereka, demi Allah akan setiap saat akan saya ubah kekhalifahan, namun saya mendiamkan diri… Biharul Anwar, jil 32 halaman 111

ya-fatimah.gif

fatimah-az-zahra-1.jpg

ya-fatimah-2.jpg

Fatimah Az Zahra, penghulu wanita di syurga
.
fatimah Az Zahra As berpesan pada Imam ‘Ali AS agar memakamkan jenazahnya pada malam hari karena tidak mau dishalatkan oleh “kedua sahabat” Nabi yang menzolimi beliau perihal tanah fadak dan ke-pemimpinan Imam ‘Ali AS selepas wafatnya Nabi Muhammad SAW.Rasa sakit hati beliau semakin memuncak ketika sahabat Umar ibn Khattab RA menyerbu rumah beliau dan menyeret Imam ‘Ali AS selayaknya seekor anjing yang hina. Sayidah Fatimah yang ketika itu sedang hamil tua berusaha menolong suaminya, namun atas perintah Umar untuk mencegahnya. Pencegahan tersebut menggunakan kekerasan dengan memukul perut (sebagian riwayat rusuk) sayidah Fatimah AS sehingga beliau terjatuh dan keguguran.Abu Bakr RA yang mengetahui hal ini segera meminta maaf di hari-hari terakhir Sayidah AS Fatimah karena takut akan kutukan tersebut. Namun sampai di akhir hayatnya, Sayidah Fatimah tetap bersikeras pada prinsipnya. Dan penyesalan Abu Bakr RA dan Umar ibn Khttab RA adalah karena tidak beroleh maaf dari Sayidah Fatimah.Coba baca kembali sengketa tanah Fadak mas, semuanya terbuka.Tidak ada yang aneh  dengan  bai’at  Imam Ali  pada Abubakar… Apakah aneh seorang Nabi Harun as terpaksa membiarkan kaum Musa as menyembah berhala sapi emas buatan Samiri, sehingga sepulangnya Musa as dari bukit Tursina, Musa as menarik janggutnya lantas “Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah mendurhakai perintahku?” Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata : “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku”. (QS Thaha ayat 92-94 ; Baca lebih seksama teks al-Quran ini dan renungkan kaitannya dengan kasus yg anda anggap aneh!)Sayyidah Fatimah Az-Zahra (as) wafat 6 bulan setelah ayahnya, Rasulullah Saw wafat. Sedangkan Abu Bakar wafat 2 1/2 tahun setelahnya dan Umar wafat pada 24 Hijriyah. Meskipun Abu Bakar dan Umar wafat jauh setelah wafatnya Sayyidah Fatimah (as) tetapi mengapa jasad Sayyidah Fatimah tidak dikuburkan di sebelah makam ayahnya yang sangat dicintainya, namun mengapa kedua sahabat ini justru bisa dimakamkan di samping Rasulullah Saw? Apakah mungkin Sayyidah Fatimah sendiri yang meminta agar dia dimakamkan jauh dari ayah yang sangat dicintainya itu? Jika benar begitu, mengapa? Banyak sejarah yang telah dimanipulasi untuk mengangkat derjat dan keutamaan beberapa “sahabat” Nabi. Sedangkan keluarga Nabi direndahkan. Seperti ucapan Ibnu Taymiah yang menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS bukan saudara Nabi Muhammad SaaW, sedangkan fakta menyatakan bahwa Imam ‘Ali AS memang saudara Nabi Muhammad AS.

Sejarah telah diatur dan kita hanya memiliki rekaan sebuah cerita ‘sejarah’ kononnya…aku dari dulu mengkaji perihal sahabat² yang di’angkat’kononnya penuh keistimewaan disisi nabi.aku tahu siapa abu bakar,umar,usman dan aisyah.kalau mereka hidup,mereka pasti malu kerana aku tahu siapa mereka…apa tujuan abu bakar berdamping dengan Nabi,apa keistimewaan umar dalam islam…?gagah?sebutkan nama² orang yang mati ditangan umar?!10 orang pun cukup…tak ada kan…usman dan femili muawiyah…

dan apa wasiat Nabi pada aisyah sebelum wafat.jgn sekali-kali keluar dari rumah…tapi macammana pula dengan wataknya sebagai ketua peperangan antara beliau dan ali.Nabi sudah berkata bahawa baginda gedung ilmu dan ali pintunya….kenapa kita berpaksikan hadis sibapak kucing yang nyaris dihukum mati oleh umar.banyak lagi yang kita tenggelam oleh cerita rekaan antara zaman kita sehingga zaman nabi.contoh seperti politik sekarang.media sentiasa menggambarkan pemimpin arus perdana sebagai wira dan tiada ruang untuk kita lihat apa keburukannya.cukuplah berpegang pada al-quran dan sunah.sayangi ahlul bait….aku bukan sunnah mahupun syiah…aku pencari kebenaran

bila kita kaji perihal diatas kita akan dapat sedikit sebanyak fakta pada persoalan dimana dan mengapa makamnya fatimah dirahsiakan.apakah kerana bimbang ancaman musuh dalam selimut.lihat sahaja pada cara kematian ahlul bait yg lain selain fatimah.ali,hasan dan husin.tragis bukan.benar kita terleka pada sejarah peperangan aisyah dan ali.kenapa orang yang paling hampir dengan nabi saling berperang.

bukan lah perselisihan kecil anak beranak jika sudah segerombolan angkatan perang tersedia.allah sahaja yang maha mengetahui.allahumasalli ala muhammad,awala ali muhammad.itu sahaja tanda kasihnya aku pada Nabi dan keluarga nabi

bahwa tidak ada 1 orang pun yg boleh mengetahui makamnya selain para pengubur…Ali bahkan membuat 7 kubur untuk mengecoh Abu n Umar…ketika Abu n Umar ingin mbongkar semua makam tuk dapat memandikan dan mensholati lagi jenazah Fatimah, Ali menjaga Baqi dengan membawa Zulfikar dan menyatakan akan terjadi pertumpahan darah bila tetap dlakukan pbongkaran. Abu n Umar pada akirnya mengalah agar tidak terjadi pertumpahan darah walau mereka terus bersedih dan menangis atas penolakan Fatimah…bahkan Abu meminta semua membatalkan baiat atas dirinya…namun semua itu sudah tidak berlaku…fatimah telah murka…smua wasiat dilakukan karna rasa marah yg luar biasa terhadap abu n umar

dan alasan kenapa fatimah, dan juga al-Hasan yang sungguh ingin dmakamkan di samping makam rosul tidak dapat terwujud karena penolakan dari Aisyah bahkan sampai jenazah al-Hasan yang merupakan ahlul bait..cucu kebanggaan Rosul…dihujani dengan panah dan tombak…(Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar pada kita)

sungguh di luar apa yg telah saya ketahui apa yg terdapat dalam buku tersebut…jika selama ini dalam buku2 plajaran kbanyakan mengagungkan Abu Bakar n Umar…mbaca buku ini benar2 mbuat saya dalam keadaan bingung n berusaha mcari jawab…sbgian besar teman bdiskusi menyatakan itu buku dari kelompok yg tlalu mengagungkan Ali….n ingin memecah belah Islam..tapi smakin saya mcari jawaban…hampir semua buku dengan judul berbeda memiliki alur cerita yang sama hanya beda cara penyampaian…

tapi…patutkah juga keluarga Rosul dperlakukan sperti tu??sedang Rosul mengatakan pada mereka bahwa Fatimah adalah penghulu wanita di surga??ali adalah suami penghuni surga…hasan dan husein adalah cucu yang dikasihinya…malah kaum muslim juga yang membunuh husein dengan sangat biadab..pbunuhan terkeji pertama yg ada di muka bumi..hingga seluruh binatang dan malaikat mengutuk perbuatan tersebut..bahkan jika boleh memilih mereka tidak ingin lagi berada di dunia..Maha Besar Allah…semoga apa yg kita ketahui bukanlah suatu kesesatan…

benar benar bingung….segala yg awalnya stau qt baik..kok jadi buruk???

tdk ada satupun yg mngetahui dimana kbradaan makam sayyidah fatimah,krna beliau mmng tidak inggin kuburanx diketahui oleh orng2 munafiq,beliau wafat dlm keadaan sakit hati yg tramat dlm,rosul jauh lbh mncintai putrix dibnding sapapun,”fatimah bit atu minni’fatimah adlh sbgian dr aq,mk jgn sekali2 mnyakiti sydh fatimah krna rosul akan trsakiti,dan apabila rosul sdh trsakiti mk allah akan murka kpdax,krna rosul mrpakan kekasih allah,dan allah tdk akan mnciptakan dunia dan seisix klo bkn krna rosulullah

Inilah umat Islam sepeninggal Rasulullah SAW…selalu mencakar dirinya sendiri dari dalam. ada teman mengatakan bahwa terkadang sejarah adalah milik siapa yang berkuasa saat itu…,mungkin ada benarnya juga tapi kita lupa satu hal bahwa Allah menjadikan sejarah agar umat yang “belakangan” bisa belajar “positif dan negatif-nya”sejarah tersebut. Dienul Islam adalah agama pembawa kedamaian,kesejahteraan dan kemajuan,yang mendukung manusia selaku khalifah Allah dimuka bumi. Ia bukanlah agama yang membawa kebencian menjadi sesuatu yang absolut karena Sang Pencipta adalah Maha Pemaaf,jika “produk”nya bertaubat. Marilah kita jalankan Dien ini sesuai dengan aslinya tanpa melibatkan oknum yang lain,biarlah mereka dan diri kita akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan dikehidupan dunia ini. Dien ini dilaksanakan dengan “manual” yang telah diberikan “Pencipta”nya dan akal pikiran kita serta hati nurani sebagai nilai pembandingnya.. Ada kisah yang menceritakan seorang shahabat bertanya pada Baginda Rasul tentang konsep dan hakikat dosa serta pahala lalu Rasul berkata “Tanyalah hati nuranimu jika kamu melakukan sesuatu,jika hatimu gundah gulana dan rasa bersalah setelah melakukan sesuatu maka itulah perbuatan dosa..begitupun sebaliknya..WaLlaahu a’lam..Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad.

Teka-teki yang hendak kita cari jawabannya. Sebenarnya jika kita kritis pula maka kita harus bertanya pula, kenapa Sy. Fathimah Zahra as mewasiatkan untuk dimakamkan pada malam hari?

As Shaduq meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu Alaihi wasallam bersabda : seakan saya melihat rumahnya dimasuki kehinaan, kehormatannya dilecehkan, diserobot haknya, dihalangi untuk menerima warisannya, tulang rusuknya dipatahkan, dan janinnya digugurkan.
Amali Shaduq hal 100


Kenapa sampai sekarang makam beliau masih teka-teki, artinya tidak diketahui secara jelas makamnya?


Kenapa, dan kenapa?


Ada apa dibalik semua ini?

Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58
Umar menggunakan pedang dan cambuk tanpa menyentuh pintu
Fatimah berteriak Wahai Ayahku, Wahai Rasulullah, lalu Umar mengangkat pedang yang masih di sarungnya dan memukul perut Fatimah, lalu Fatimah berteriak lagi, wahai ayahku, lalu Umar mencambuk tangan Fatimah, Fatimah memanggil Wahai Rasulullah, betapa buruk penggantimu, Abubakar dan Umar, Ali melompat dan mencengkeram baju Umar dan membantingnya, dan memukul hidung serta lehernya. Ali berniat membunuh Umar tetapi dia teringat wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam. (Kitab Sulaim bin Qais , jilid 3 hal 538)

Sakit berkepanjangan mengakibatkan janin Muhsin pun gugur..tulang rusuknya patah dan janin yang dikandungnya gugur..Muhsin gugur dari perut ibunya…..Fatimah terbaring di tempat tidur hingga wafat sebagai syahid… Orang itu  fatmah binti Rasulullah hingga berdarah dan gugur janinnya

.

seorang ahli sejarah mengatakan : Amirul Mu’minin Ali tinggal di rumahnya beserta beberapa pengikutnya, seperti yang dipesankan oleh Rasulullah, lalu mereka menuju rumah Ali dan menyerbunya, membakar pintu rumah dan memaksa orang yang di dalamnya untuk keluar…. mereka memaksa Ali untuk berbaiat dan Ali menolak, dan mengatakan : aku tidak mau, mereka mengatakan : kalau begitu kami akan membunuhmu, Ali mengatakan: jika kalian membunuhku maka aku adalah Hamba Allah dan saudara RasulNya. ( Lihat Itsbatul Washiyyah hal 123.)
……gugurnya  janin Muhsin, dan membuat Fatimah sakit parah, dia melarang orang yang menyakitinya dari menjenguknya, ( Lihat Dala’ilul Imamah, At Thabari, hal 45)
Umar menyerbu rumah Ali bersama tiga ratus orang.
Diriwayatkan mengenai penyebab wafatnya Fatimah : Umar bin Khattab menyerang rumah Ali dan Fatimah bersama tiga ratus orang. Lihat dalam kitab Al Awalim jilid 2 hal 58

.

Fatimah az Zahra, anak perempuan Rasulullah, seorang wanita yang keagungannya di angkat sendiri oleh Allah swt ke satu tahap tertinggi, yang tidak tercapai oleh mana-mana wanita. kedudukan beliau tidak boleh di ragukan lagi kerana terlampau banyak hadis yang meriwayatkan keagungan makam Fatimah az Zahra. Mari kita ambil pengajaran dengan melihat sedikit dari kata-kata Rasulullah(sawa) tentang anak kesayangan baginda.
  1. Ahli keluargaku yang paling di sayangi ialah Fatimah.
  2. Ayatul Tatheer(33:33) diturunkan untuk 5 orang, diriku, Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain
  3. Penghulu wanita di syurga ialah Fatimah
  4. Aku tidak gembira melainkan Fatimah gembira
  5. Mahdi akan datang dari Ahlul Baitku dari keturunan Fatimah.
  6. Fatimah ialah sebahagian dari ku, barangsiapa membuatkan beliau marah, membuatku marah, menyakiti beliau bermakna menyakiti ku.
  7. Ya Fatimah, sesungguhnya Tuhan berasa marah apabila kamu marah.

Begitulah kedudukan beliau di sisi Rasulullah, yang juga menunjukkan kedudukan beliau di sisi Allah swt. Satu kedudukan yang tidak akan di capai lagi oleh mana-mana wanita.

“Apa yang mereka telah lakukan padamu Y Fatimah sepeninggalan bapamu!!”

Tanggal 13 Jamadil Awal atau 3 Jamadil Akhir, ialah hari kesedihan bagi pencinta Ahlul Bait kerana ia adalah hari pemergian Qurrata Ainul Rasul, kegembiraan Rasulullah. Lebih menyedihkan pemergian beliau adalah dalam keadaan di sakiti.

Amirul Mukminin Imam Ali sendiri mengetuai mandi jenazah beliau. Turut dilaporkan membantu dalam urusan itu ialah Asma binti Umays. Asma meriwayatkan: “Fatimah telah menyatakan di dalam wasiat beliau yang tiada orang lain di benarkan menguruskan jenazahnya kecuali Imam Ali dan diriku(Asma). Olwh itu kami memandikan beliau bersama, dan Amirul Mukminin bersolat untuk Fatimah bersama Hassan, Hussain, Ammar, Miqdad,’Aqil, Az Zubair, Abu Dzar, Salman, Burydah dan beberapa orang dari Bani Hasyim. Mereka bersolat di waktu malam ,dan demi menuruti  wasiat Fatimah, Imam Ali, mengebumikan beliau dalam rahsia.”

Terdapat banyak perselisihan di antara ahli Hadis tentang kedudukan sebenar kubur beliau. Ahli Hadis kita sendiri menyatakan beliau di kuburkan di Baqi’. Sementara yang lain menyatakan beliau dikuburkan di dalam bilik beliau sendiri dan apabila Ummayad membesarkan masjid Nabi, kubur beliau berada di dalam kawasan itu. Sementara yang lain masih menyatakan bahawa ia terdapat di antara kubur dan mimbar Nabi. Ini berdasarkan sabda baginda: Terdapat di antara kuburku dan minbarku, taman di antara taman di syurga”. Pendapat pertama adalah tidak mungkin, jadi pendapat kedua dan ketiga adalah lebih dekat kepada kebenaran. Oleh itu sebagai ihtiyat, maka jika kita melakukan ziarah, ia perlu di lakukan di ketiga-tiga tempat.

Pengebumian Yang Sunyi

Di dalam kegelapan malam, apabila mata-mata sedang tertutup terlena dan suasana yang sunyi, upaca pengebumian jenazah meninggalak rumah Imam Ali, membawa anak perempuan Rasulullah(sawa) ke tempat persemadian terakhir beliau. Ini berlaku pada malam 3 Jamadil Akhir 11AH.

Upacara yang menyentuh hati ini menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui, diikuti oleh beberapa hamba Allah yang setia. Mereka ialah Ali(A.S.), Hasan(A.S.), Hussain(A.S.), Zainab(A.S.) and Umm Kulthum(A.S.)… Abu Dhar, Ammar, Miqdad, dan Salman

Di mana lagi ribuan yang tinggal di Madinah?  Seseorang mungkin bertanya, dan jawapan yang datang berbunyi begini:  Fatimah telah meminta agar tiada orang lain hadir di majlis pengebumian beliau! Ahli keluarga terdekat dan sahabat bergegas untuk mengebumikan Fatimah dan pulang ke rumah agar tiada orang lain mengetahui kedudukan sebenar kubur beliau.

Imam Ali, suami beliau berasa sangat sedih atas pemergian ini, namau siapa yang tidak apabila dipisahkan dengan wanita terbaik alam ini? Dalam keadaan menangis, Imam Ali berbicara dengan Rasulullah(sawa);

“Ya Rasulullah, salam keatas kamu dari ku dan dari anak perempuan mu yang telah pergi menemui mu. Ya Rasulullah(sawa)! Kesabaran ku semakin menipis dan ketahanan ku semakin lemah(atas kejadian ini), kecuali aku mempunyai asas yang cukup kuat untuk bertahan dalam kejadian yang sangat menghancurkan hati ku iaitu dengan pemergian mu. Aku membaringkan kamu di dalam kubur mu, apabila kamu tidak lagi bernyawa, dan kepalamu di antara leherku dan dada ku. “Sesungguhnya dari Allah kita datang dan kepadaNya kita kembali”(2″56)

Sekarang amanah telah dikembalikan dan apa yang telah diberi kini telah di ambil semula. Kesedihanku tidak mempunya sempadan dan malam-malamku tidak akan lena tidurnya sehingga Allah swt memilihkan untukku sebuah rumah yang di dalamnya ada kamu. Semestinya anak kamu pasti mengadukan kepada mu akan Ummah yang menindas beliau. Kamu bertnya keadaan sebenar kapadanya dan mendapat berita akan situasi sebenar, Perkara ini terjadi sewaktu masa belum lama berlalu dan memori mu masih belum menghilang. Salam ku ke atas kamu berdua, salam seorang yang bersedih dan berduka dan bukan dari seorang yang membenci dan mecemuh, jika aku pergi sekarang, ia bukanlah kerana aku sudah letih akan kalian dan jika aku tinggal, ia bukanlah kerana kurangnya kepercayaan ku atas janji Allah kepada orng-orang yang sabar.”

Percubaan yang Gagal

Pada waktu subuh, orang ramai berkumpul untuk menyertai pengebumian Fatimah, akan tetapi mereka telah di beritahu bahawa puteri Rasulullah telah di kebumikan secara rahsia di waktu malam. Sementara itu Imam Ali telah membuat 4 kuburan baru di Baqi’ untuk memalsukan kedudukan sebenar Fatimah.

Apabila orang ramai memasuki tanah perkuburan itu, mereka berasa keliru akan kedudukan sebenar kubur beliau, mereka memandang antara satu sama lain, dan dengan nada menyesal, mereka berkata: “Nabi kita hanya meninggalkan seorang anak perempuan, namun beliau meninggal dalam keadaan tanpa penyertaan kita dalam pengebumiannya. Malah kita langsung tidak mengetahui lokasi nya!”

Menyedari pemberontakan yang mungkin terjadi dari suasana beremosi ini, pihak pemerintah mengumumkan: “Pilihlah sekumpulan wanita Muslim, dan minta mereka menggali tanah-tanah ini, agar kita dapat menemui Fatimah dan menyolatkan beliau.

Ya! Mereka mencuba untuk menjalankan rancangan itu, melanggar wasiat Fatimah, dan menyebabkan percubaan Imam Ali untuk merahsiakan lokasi sebenar Fatimah gagal. Apakah mereka telah lupa akan ketajaman pedang Imam Ali dan keberanian beliau yang terkenal itu? Adakah mereka menyangkakan Imam Ali akan duduk senyap dalam menghadapi rancangan mereka yang tidak masuk akal itu?

Imam Ali tidak membalas balik selepas kewafatan Rasulullah kerana beliau mementingkan kesatuan Muslim sebagai sesuatu yang lebih utama. Bagaimanapun ini tidak bermakna beliau akan membiarkan jenayah mereka ke atas Fatimah Az Zahra walaupun selepas pemergian beliau.

Dalam kata lain, Rasulullah meminta Imam Ali untuk bersabar, tetapi hanyalah sehingga peringkat tertentu. Apabila Imam Ali mendengar rancangan mereka, beliau bergegas memakai pakaian perang dan menuju ke Baqi’.

Imam Ali mengeluarkan pedang dan berkata:

“JIka kamu -berani mengubah walau satu sahaja batu dari kubur-kubur ini, akan ku serang walaupun sehingga mereka ialah pengikut terakhir ketidakadilan.”

Orang ramai menyedari keseriusan kata-kata Imam Ali, dan mengambil amaran beliau dengan penuh kepercayan yang beliau akan melakukan sebagaimana yang diucapkan. Namun seseorang dari pihak pemerintah berkata kepada Imam Ali dengan kata-kata ini:

“Apa masalahnya Abul Hassan? Demi Allah, kami akan menggali semula kubur Fatimah dan menyolatkan beliau.” Imam Ali kemudiannya memegang pakaian orang itu dan membaling orang itu ke tanah dan berkata:

“Ibnu Sawada! Aku telah meninggalkan hak ku untuk mengelakkan orang ramai dari meninggalkan kepercayaan mereka, tetapi dalam kes Fatimah, demi Dia yang nyawa ku berada di dalam tangannya, jika kamu dan pengikut kamu berani mencuba sesuatu, aku akan mengalirkan tanah dengan darah kamu.”

Pada ketika ini Abu Bakr berkata:

“Abu al Hassan, aku meminta kepadamu demi hak Rasulullah dan demi Dia yang berada di atas arash, lepaskan dia dan kami tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kau sukai.” Seterusnya sehingga ke hari ini, kedudukan sebenar kubur Fatimah masih belum di ketahui.

Kelmarin, 17 Mei 2010, beersamaan 3 Jamadil Akhir adalah hari kesedihan bagi Ummah Muhammad,bagi mereka yang mencintai apa yang Rasulullah cintai, dan membenci apa yang Rasulullah benci.” Marilah kita perbanyakkan solawat keatas baginda dan keluarga baginda yang suci, menegenangkan jasa mereka kepada Islam dan diri kita sendiri.  Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad.

Masa berlanjut…

Inilah penerus perjuangan Fatimah :

Ayatollah Khameinei di hadapan rumahnya di Qom

1 gambar menceritakan 1000 maksud. Inilah pemimpin tertinngi Iran. Disebabkan satu gambar menceritakan 1000 maksud, maka x payah la cerita panjang-panjang.

Dengan ini dapat kita rumuskan, diamnya Ali bin Abi Talib dan beliau membiarkan Abu Bakar memerintah bukanlah dalil keridhaannya, hakikatnya beliau ingin menjaga agama Islam dari musnah

Fathimah Zahra tidak sudi membai’at Abu Bakar tetapi Mengapa Imam Ali tidak bertindak mengambil kembali haknya ?? Imam Ali (as) tidak berada di kalangan Muhajirin dan Ansar dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar

Hujjatul Islam Moawenian dalam ceramahnya menceritakan kisah berikut. Ulama besar Syiah, Allamah Amini, menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana di hadapan para ulama ahlusunah: Siapakah imamnya Fatimah binti Muhammad?

Ada sebuah kisah nyata tentang Allamah Amini (penulis kitab al-Ghadir). Allamah Amini diundang oleh para ulama suni dalam sebuah acara makan malam ketika beliau ada di Mekah atau Madinah. Pertama kalinya beliau menolak, tapi mereka memaksa. Namun kemudian, beliau menerima dengan satu syarat bahwa dia hanya datang untuk makan malam, bukan diskusi, karena pandangan beliau sudah dikenal. Mereka menerima persyaratannya. Mereka mengatakan kalau beliau datang, barulah akan dipikirkan apa yang akan dilakukan.

Dalam pertemuan tersebut terdapat sekitar 70-80 ulama besar suni yang menghafal antara 10-100 ribu hadis yang ada. Setelah mereka makan, mereka ingin mengajaknya terlibat dalam diskusi dan dengan cara ini mereka dapat membuatnya terdiam. Tapi Allamah Amini mengingatkan mereka tentang peraturan bahwa dia datang hanya untuk makan malam.

Salah satu di antara mereka kemudian mengatakan bahwa akan lebih baik jika masing-masing di antara yang hadir dapat mengutipkan sebuah hadis. Dengan cara ini, allamah juga akan terlibat menyampaikan hadis dan hadis tersebut dapat membantu mereka untuk memulai diskusi. Semuanya menyampaikan sebuah hadis sampai akhirnya giliran Allamah Amini. Mereka memintanya untuk menyampaikan sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw.

Allamah mengatakan tidak masalah, tapi dia akan menyampaikan sebuah hadis dengan satu syarat: setelah hadis disampaikan, masing-masing dari kalian harus menyampaikan pandangan tentang sanad dan kebenaran hadis tersebut. Mereka menerimanya.

Kemudian, beliau menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Siapa yang tidak mengenal imam zamannya kemudian meninggal, maka meninggalnya sama seperti pada masa jahiliah.”

من مات و لم يعرف إمام زمانه مات ميتة جاهلية

Kemudian ia bertanya kepada masing-masing dari mereka tentang kebenaran hadis tersebut. Mereka semua menyatakan bahwa hadis tersebut benar dan tidak ada keraguan tentangnya dalam semua kitab rujukan suni. Kemudian allamah mengatakan bahwa kalian semua sepakat tentang kebenaran hadis ini. “Baiklah, saya mempunyai satu pertanyaan. Katakan kepada saya apakah Fatimah mengenali imamnya? Lalu siapakah imamnya? Siapakah imamnya Fatimah?”

Tidak ada yang menjawabnya. Mereka semua terdiam dan setelah beberapa lama satu per satu meninggalkan tempat. “Allah mengetahui bahwa saya melakukan diskusi ini dengan ulama suni di Masjidilharam dan dia adalah orang yang sangat ahli dan berpengetahuan. Dia hanya tertawa. Aku tanyakan kepadanya jawaban pertanyaan saya, tapi dia hanya tertawa.”

Saya mulai marah dan mengatakan padanya, “Apa yang Anda tertawakan?” Dia menjawab, “Saya menertawakan diri saya sendiri.” Saya tanya, “Benarkah?” Dia menjawab, “Ya.” Saya tanya lagi, “Mengapa?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Anda. Jika saya katakan Fatimah tidak mengenal imam pada zamannya, itu berarti dia wafat sebagai orang kafir. Tapi tidak mungkin pemimpin para wanita di dunia ini tidak mengenal imamnya. Tidak pernah mungkin!”

“Jika Fatimah mengenal imamnya, bagaimana saya bisa mengatakannya? Misal Abu Bakar adalah imamnya, tetapi Bukhari dalam kitabnya menuliskan fakta bahwa Fatimah wafat dalam keadaan marah… Tidak mungkin bagi Fatimah untuk marah kepada imamnya!”

Fatimah adalah alasan terkuat kami. Karena Fatimah, tidak ada tempat untuk menyembunyikan kebenaran. Karenanya, menghidupkan nama Fatimah dan menangis untuk kesyahidahannya adalah seruan kepada tauhid. Menangis untuk Fatimah, pintu dan rumahnya yang terbakar adalah menangis untuk Alquran yang juga terbakar!

Sikap Ali bin Abi Talib (a.s.) terhadap jawatan khalifah.

Sahnya kekhalifahan Ali bin Abi Talib atau batilnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Uthman setelah kewafatan Rasulullah telah disabitkan dengan banyak dalil yang bersumber dari kitab-kitab Ahlusunnah. Namun begitu puak pelampau fanatic Wahabi masih tidak berhenti-henti mencari bahan untuk mencetuskan keraguan orang awam dari terhadap perkara ini.

Artikel saya kali ini meneliti protes dan pengingkaran Ali bin Abi Talib selama hayatnya terhadap kekhalifahan yang tidak sah tersebut dalam lembaran sejarah sekaligus menghancurkan hikayat dongeng: Diamnya Ali menunjukkan sahnya kekhalifan Abu Bakar. Jikalau rampasan kuasa berlaku sudah tentu pedang Zulfiqar telah terhunus sampai haknya kembali kepada pemiliknya.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah adalah satu kesilapan.

Abu Bakar mengakui: “Pembai’atan kepadaku adalah kesilapan dan Allah memelihara keburukannya…. ” إنّ بيعتي كانت فلتة وقى اللّه شرّها… Ansab al-Asyraf lil Bilazari jil 1 halaman 590, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 6 halaman 47

Umar al-Khattab telah berterus terang menyatakan: إنّ بيعة أبي بكر كانت فلتة وقى اللّه شرّها فمن عاد إلى مثلها فاقتلوه… Pembai’atan kepada Abu Bakar adalah kesilapan, Allah memelihara keburukannya, maka barangsiapa yang kembali kepada Bai’at seperti ini maka bunuhlah ia. – Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 2 halaman 26, Musnad Ahmad jil 1 halaman 55,

Sahih Bukhari jil 8 halaman 26:

فَوَاللَّهِ مَا كَانَتْ بَيْعَةُ أَبِى بَكْرٍ إِلاَّ فَلْتَةً

صحيح البجاری – المحاربين – باب رَجْمِ الْحُبْلَى مِنَ الزِّنَا إِذَا أَحْصَنَتْ

“Demi Allah, tidak lah bai’at kepada Abu Bakar melainkan kesilapan” – Sahih Bukhari

Menurut Ali bin Abi Talib, khalifah itu hak khusus untuk Ahlul Bait (as)

Ali bin Abi Talib menganggap khalifah adalah hak khusus untuk Ahlul Bait. Khalifah menurut pemilihan adalah bertentangan dengan Kitab dan Sunnah. Perkara ini beberapa kali ditemui dalam Nahjul Balaghah:

ولهم خصائصُ حقِّ الولاية، وفيهم الوصيّةُ والوِراثةُ.

نهج البلاغة عبده ج 1 ص 30، نهج البلاغة ( صبحي الصالح ) خطبة 2 ص 47، شرح نهج البلاغة ابن أبي الحديد ج 1 ص 139، ينابيع المودة قندوزي حنفي ج 3 ص 449 .

“Kepimpinan adalah hak Khusus bagi mereka (Ahlul Bait) dan mereka Washi dan waris (Rasulullah)” – Nahjul Balaghah Abduh jil 1 halaman 30 khutbah 2 halaman 47, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 1 halaman 139, Yanabi’ul Mawaddah jil 3 halaman 449

Surat Ali bin Abi Talib kepada warga Mesir:

فو اللّه ماكان يُلْقَى في رُوعِي ولا يَخْطُرُ بِبالي أنّ العَرَب تُزْعِجُ هذا الأمْرَ من بعده صلى اللّه عليه وآله عن أهل بيته ، ولا أنّهم مُنَحُّوهُ عَنّي من بعده.

نهج البلاغة، الكتاب الرقم 62، كتابه إلى أهل مصر مع مالك الأشتر لمّا ولاه إمارتها، شرح نهج البلاغه ابن أبي الحديد: 95/6، و151/17، الإمامة والسياسة: 133/1 بتحقيق الدكتور طه الزيني ط. مؤسسة الحلبي القاهرة .

“Maka demi Allah, tidak ia ditemukan dalam jiwaku, tidak terbayang di jiwaku bahawa bangsa Arab merebut urusan ini setelah nabi (saw) daripada Ahlul Baitnya, dan mereka mengalihkan ia daripadaku sepeninggalan baginda.”– Nahjul Balaghah surat 62, surat Imam Ali kepada warga Mesir

Dalam khutbah Ali ke-74, beliau berkata:

لَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا مِنْ غَيْرِي وَ وَ اللَّهِ لَأُسْلِمَنَّ مَا سَلِمَتْ أُمُورُ الْمُسْلِمِينَ وَ لَمْ يَكُنْ فِيهَا جَوْرٌ إِلَّا عَلَيَّ خَاصَّةً الْتِمَاساً لِأَجْرِ ذَلِكَ وَ فَضْلِهِ وَ زُهْداً فِيمَا تَنَافَسْتُمُوهُ مِنْ زُخْرُفِهِ وَ زِبْرِجِهِ.

“sesungguhnya kalian telah tahu bahawa saya manusia paling berhak dengannya (khalifah) daripada selainku. Demi Allah selama urusan kaum muslimin tinggal utuh, dan tidak ada penindasan di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang anda cita-citakan”– Nahjul Balaghah khutbah 74, Khutbah Ali bin Abi Talib tatkala orang ramai hendak memberi Bai’at kepada Uthman.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap pemerintahan Abu Bakar sebagai diktator

Ali bin Abi Talib menganggap kekhalifahan Abu Bakar bukan berasaskan demokrasi, namun beliau terus saja mengatakan kekhalifahan Abu Bakar adalah diktator

وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالأَمْرِ ، وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَصِيبًا . حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِى بَكْرٍ

صحيح البخارى: 82/5، كتاب المغازي، با غزوة خيبر، مسلم، ج 5، ص 154، (چاپ جديد: ص 729 ح 1758)، كتاب الجهاد، باب قول النبي (ص) لانورَث ما تركناه صدقة .

Ali bin Abi Talib mengatakan, “Akan tetapi dikau telah bertindak sewenang-wenangnya atas kami dengan urusan, dan kami melihat kekerabatan kami dengan Rasulullah. Maka air mata Abu Bakar menitis”.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap Umar tidak layak menjadi khalifah

Tatkala telah diketahui bahawasanya Abu Bakar memutuskan ingin melantik Umar sebagai khalifah, dalam Tabaqat Ibnu Sa’ad, Ali telah menentang keras dan berkata dengan terus terang sebagai berikut:

عن عائشة قالت لما حضرت أبا بكر الوفاة استخلف عمر فدخل عليه علي وطلحة فقالا من استخلفت قال عمر قالا فماذا أنت قائل لربك قال بالله تعرفاني لأنا أعلم بالله وبعمر منكما أقول استخلفت عليهم خير أهلك.

الطبقات: 196/3، تاريخ مدينة دمشق: 251/44، عمر بن الخطاب للاستاذ عبد الكريم الخطيب ص 75 .

‘Aisyah mengatakan tatkala hadirnya kematian di sisi Abu Bakar, maka masuklah Ali dan Talhah, maka bertanyalah mereka, siapakah yang menjadi khalifah? Dia menjawab, Umar. Mereka berkata, Apa yang anda akan katakan kepada Allah? Dia menjawab, Apakah kau perkenalkan Allah kepadaku? saya lebih mengenali Allah dan Umar daripada kalian, saya akan berkata kepada Allah, saya melantik sebaik-baik hambaMu sebagai khalifah. – Tabaqat, jil 3 halaman 196

Imam Ali bin Abi Talib memprotes keras pemilihan Uthman sebagai khalifah

Ali memaklumkan bantahannya sehingga menyebabkan ‘Abdul Rahman bin ‘Auf memberi ancaman bunuh (al-Imamah wal Siyasah, jil 1 halaman 45):

قال عبد الرحمن بن عوف : فلا تجعل يا علي سبيلاً إلى نفسك ، فإنّه السيف لا غير .

الامامة والسياسة ، تحقيق الشيري ج 1 ص 45، تحقيق الزيني ج 1 ص‏31 .

Telah berkata ‘Abdul Rahman bin ‘Auf, “Janganlah engkau jadikan jalan kepada dirimu wahai Ali, sesungguhnya ia adalah pedang tiada yang lain lagi” – Al-Imamah wal Siyasah, jilid 1 halaman 45

فَيَا لَلَّهِ وَ لِلشُّورَى مَتَى اعْتَرَضَ الرَّيْبُ فِيَّ مَعَ الْأَوَّلِ مِنْهُمْ حَتَّى صِرْتُ أُقْرَنُ إِلَى هَذِهِ النَّظَائِرِ لَكِنِّي أَسْفَفْتُ إِذْ أَسَفُّوا وَ طِرْتُ إِذْ طَارُوا فَصَغَا رَجُلٌ مِنْهُمْ لِضِغْنِهِ وَ مَالَ الآخَرُ لِصِهْرِهِ مَعَ هَنٍ وَ هَنٍ إِلَى أَنْ قَامَ ثَالِثُ الْقَوْمِ نَافِجاً حِضْنَيْهِ بَيْنَ نَثِيلِهِ وَ مُعْتَلَفِهِ وَ قَامَ مَعَهُ بَنُو أَبِيهِ يَخْضَمُونَ مَالَ اللَّهِ خِضْمَةَ الْإِبِلِ نِبْتَةَ الرَّبِيعِ إِلَى أَنِ انْتَكَثَ عَلَيْهِ فَتْلُهُ وَ أَجْهَزَ عَلَيْهِ عَمَلُهُ وَ كَبَتْ بِهِ بِطْنَتُهُ.

Aku berlindung dengan Allah dari Syura ini! pada zaman bilakah saya disetarakan dengan para anggota Syura di mana saya seperti yang mereka khayalkan, dan mereka telah letakkan saya dalam barisan itu. Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya pun bangkit sambil menelan harta Allah seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.

Imam Ali mengatakan Abu Bakar dan Umar adalah pengkhianat

Abu Bakar dan Umar adalah pembohong, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat menurut Ai bin Abi Talib. Seperti mana di dalam kitab Sahih Muslim iaitu kitab yang paling sahih setelah al-Quran, Umar mengatakan kepada Abbas dan Ali:

فلمّا توفّي رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، قال أبو بكر: أنا ولي رسول اللّه… فرأيتماه كاذباً آثماً غادراً خائناً… ثمّ توفّي أبو بكر فقلت : أنا وليّ رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، ولي أبي بكر، فرأيتماني كاذباً آثماً غادراً خائناً ! واللّه يعلم أنّي لصادق، بارّ، تابع للحقّ! .

صحيح مسلم ج 5 ص 152، (ص 728 ح 1757) كتاب الجهاد باب 15 حكم الفئ حديث 49، فتح الباري ج 6 ص 144 .

Setelah wafatnya Rasulullah (saw) Abu Bakar berkata: Aku pemimpin setelah Rasulullah… dan kalian berdua menganggap saya pendusta, pendosa, curang dan pengkhianat. Kemudian setelah wafatnya Abu Bakar, saya telah berkata: Sayalah pemimpin setelah Rasulullah (saw), pemimpin setelah Abu Bakar, maka kalian berdua melihat saya sebagai pendusta, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat!…. Sahih Muslim Kitab alJihad Bab 15

Imam Ali (as) menganggap khalifah yang lalu sebelumnya adalah perampas

Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini, Ali tetap saja menganggap khalifah sebelum daripadanya tidak Syar’i dan perampas. Beliau menulis dalam surat kepada ‘Aqil seperti berikut:

فَجَزَتْ قُرَيْشاً عَنِّي الْجَوَازِي فَقَدْ قَطَعُوا رَحِمِي وَ سَلَبُونِي سُلْطَانَ ابْنِ أُمِّي.

نهج البلاغة، كتاب رقم 36 .

Saya berhasrat kiranya orang Qurasy mendapat pembalasan atas perlakuan mereka terhadap saya. Kerana mereka mengabaikan kekerabatan dan merebut kekuasaan yang menjadi hak saya dari putera ibu saya (Nabi saw). – Nahjul Balaghah kitab nombor 36.

Dan Ibnu Abil Hadid di dalam kitabnya:

وغصبوني حقي ، وأجمعوا على منازعتي أمرا كنت أولى به.

شرح نهج البلاغة لابن أبي الحديد، ج 4، ص‏104، ج 9، ص 306 .

Mereka telah merampas hak saya, dan mereka berkumpul di atas perselisihan urusan kepimpinan yang mana saya lebih berhak atasnya. – Syarah Ibnu Abil Hadid jil 4 halaman 102, jil 9 halaman 306

دعوكم خليفة رسول الله (ص) لسريع ما كذبتم على رسول الله (ص) ثمّ قال أبو بكر : عد إليه فقل : أمير المؤمنين يدعوكم ، فرفع علي صوته فقال : سبحان الله لقد ادعى ما ليس له .

الإمامة والسياسة بتحقيق الزينى، ص 19 وبتحقيق الشيري، ص 30 .

Ibnu Qutaibah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar mengutus Qanfiz kepada Ali, beliau mengatakan, “Khalifah Rasulullah memanggil kalian” Ali menjawab, “Betapa cepatnya kalian mendustakan Rasulullah (saw). Abu Bakar kali kedua mengutus Qanfiz dan berkata, “Katakan padanya Amirulmukminin memanggil kalian” Ali meninggikan suara, “Subhanallah, sesungguhnya anda mendakwa apa yang bukan pada tempatnya!” – al-Imamah wal Siyasah halaman 19

Dengan ini punahlah kepercayaan yang mengatakan bahawa Ali (as) menganggap khalifah sebelumnya adalah sah menurut hukum syarak.

Apakah Ijma’ para sahabat merupakan dalil keridhaan Allah?

فَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى رَجُلٍ وَ سَمَّوْهُ إِمَاماً كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا .

Kata-katanya, “Maka sesungguhnya jikalau mereka (Muhajirin dan Ansar) berijmak atas seseorang dan menamakannya sebagai Imam, maka keridhaan Allah untuk itu”

Adapun kata-kata beliau, “Jikalau Muhajirin dan Ansar datang mengangkat seseorang itu sebagai Imam, Maka keridhaan tuhan di dalamnya”.

Saudara kita Ahlusunnah tidak boleh menggunakan kata-kata Ali ini sebagai dalil sahnya kekhalifahan sebelum beliau kerana:

Pertamanya: dalam beberapa naskah Nahjul Balaghah ayat «كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا» tertulis dengan «كَانَ ذَلِكَ رِضًا» tanpa penambahan kalimah «لِلَّهِ». (silakan rujuk Nahjul Balaghah cetakan Misr, Qahirah, al-Istiqamah di mana kalimah «لِلَّهِ» telah termasuk di dalamnya).

Oleh itu jikalau Muhajirin dan Ansar mengangkat seseorang itu sebagai khalifah merupakan dalil keridhaan mereka ke atas pemilihan ini. Pembai‘atan ini juga bukanlah kesan dari pemaksaan atau ancaman pedang.

Kedua: Jikalau kita tanggapi bahawa kalimah «للّه» wujud dalam teks Nahjul Balaghah itu, maka maksudnya sudah tentu semua Muhajirin dan Ansar termasuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang bersepakatan atas keimaman seseorang. Pastilah ini menunjukkan keridhaan Allah (swt).

Adakah Fathimah Zahra membai’at Abu Bakar?

Tidakkah keridhaan Fathimah merupakan keridhaan Nabi (saw). Hakim Nisyaburi menyatakan:

إنّ اللّه يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك.

“Sesungguhnya Allah murka kepada siapa yang menyebabkan engkau marah dan meridhai barangsiapa yang membuatkan engkau ridha”.

Hadis ini dikatakannya:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

مستدرك: 153/3، مجمع الزوائد: 203/9، الآحاد والمثاني للضحاك: 363/5، الإصابة: 266265/8، تهذيب التهذيب: 392/21، سبل الهدى والرشاد للصالحي الشامي: 11/ 44 .

“ Sahih persanadannya namun Bukhari dan Muslim tidak menyebutnya”. – Mustadrak jilid 3 halaman 153

Bukhari menyatakan Rasulullah bersabda:

فاطمة بَضْعَة منّى فمن أغضبها أغضبني .

صحيح البخارى 210/4، (ص 710، ح 3714)، كتاب فضائل الصحابة، ب 12 – باب مَنَاقِبُ قَرَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه‏وسلم . و 219/4 ، (ص 717، ح 3767) كتاب فضائل الصحابة ، ب 29 – باب مَنَاقِبُ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, barangsiapa membuatkan dia marah maka ia telah membuatkan aku marah” – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 210

Muslim Nisyaburi menukilkan baginda bersabda:

إِنَّمَا فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يُؤْذِينِي مَا آذَاهَا.

صحيح مسلم 141/7 ح 6202 كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم، ب 15 -باب فَضَائِلِ فَاطِمَةَ بِنْتِ النَّبِيِّ عَلَيْهَا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, akan membuatkan aku sakit barangsiapa menyakiti beliau”. – Sahih Muslim jilid 7 halaman 141.

Tidak ada syak lagi Sayida Zahra bukan sahaja tidak member Bai’at kepada Abu Bakar, malahan murka kepada Abu Bakar sampai beliau meninggal dunia sebagai mana dinukilkan oleh Bukhari:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ.

صحيح البخارى: 42/4، ح 3093، كتاب فرض الخمس، ب 1 – باب فَرْضِ الْخُمُسِ .

“Marahlah Fathimah binti Rasulullah (saw) kepada Abu Bakar, maka tidak hilang kemurkaannya sehingga beliau wafat”. – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 42

Dengan ini beliau telah memberi wasiat kepada Ali supaya jenazahnya dikebumikan pada waktu malam tanpa memaklumkan shalat jenazah beliau kepada Abu Bakar yang mengakui dirinya sebagai khalifah setelah Nabi (saw).

فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ، دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلاً، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا .

صحيح بخارى، ج 5، ص 82، ح 4240، كتاب المغازى، ب 38، باب غَزْوَةُ خَيْبَرَ، صحيح مسلم، ج 5، ص 154، ح 4470، كتاب الجهاد والسير (المغازى )، ب 16 – باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم «لاَ نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ» .

“Maka tatkala beliau wafat, suaminya Ali menyemadikannya di waktu malam, dan beliau tidak pernah mengizinkan Abu Bakar menyolati jenazahnya”. – Sahih Bukhari jilid 5 halaman 154.

Imam Ali (as) tidak berada di kalangan Muhajirin dan Ansar dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Ali (as) tidak membai’at Abu Bakar sampai 6 bulan.

وعاشت بعد النبي صلى الله عليه وسلم، ستة أشهر… ولم يكن يبايع تلك الأشهر .

صحيح البخاري، ج 5، ص 82، صحيح مسلم، ج 5، ص 154.

Fathimah az-Zahra hidup setelah 6 bulan wafatnya Rasulullah….. beliau tidak memberi Bai’at selama itu- Sahih Bukhari – Sahih Bukhari jil 5 halaman 82

Tidakkah Bai’at Ali (as) merupakan dalil sahnya kekhalifahan Abu Bakar? Tidakkah Bani Hashim menahan diri dari membai’at? Abdul Razak menerangkan:

فقال رجل للزهري : فلم يبايعه عليّ ستة أشهر ؟ قال : لا ، ولا أحد من بني هاشم .

المصنف لعبد الرزاق الصنعاني، ج 5، ص 472 – 473.

Seorang lelaki bertanya kepada Zuhri, “Apakah benar Ali (as) selama 6 bulan tidak memberi Bai’at?” beliau menjawab, “Ali dan Bani Hashim tidak memberi Bai’at” – Al-Mushannaf Abdul Razak jil 5 halaman 472-473

Komentar ini telah dinukilkan dalam Sunan Baihaqi, Tarikh Tabari dan Ibnu Athir dalam kedua kitab Rijal dan Tarikhnya. Rujukannya sebagai berikut:

اسد الغابة: 222/3 و الكامل في التاريخ ، ج 2 ، ص 325 و السنن الكبرى، ج 6، ص 300 و تاريخ الطبري، ج 2، ص 448 .

Asad al-Ghabah jilid 3 halaman 222, Kamil Fi Tarikh jilid 2 halaman 325, Sunan al-Kubra jilid 6 halaman 300 dan tarikh al-Tabari jilid 2 halaman 448

Tidakkah Ibnu Hazm salah seorang ulama besar Ahlusunnah mengatakan:

ولعنة اللّه على كلّ إجماع يخرج عنه على بن أبى طالب ومن بحضرته من الصحابة .

المحلى: ج 9، ص 345، بتحقيق أحمد محمد شاكر، ط. بيروت – دارالفكر .

“Laknat Allah ke atas seluruh Ijma’ yang mana Ali bin Abi Talib dan para sahabatnya tidak termasuk di dalamnya” – Al-Mahalli jil 9 halaman 325

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan: Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Ugamamu selamat. – al-Mu’jam al-Kabir Tabrani, jilid 11 halaman 60

Kebakhilan, menyebabkan Ali tidak mencapai kekhalifahan

Kekeliruan ini bukanlah perkara baru namun pertanyaan tentangnya terus berlegar dalam sejarah termasuk di zaman Ali sendiri. Seorang dari bani Asad bertanya kepada Ali:

كيف دفعكم قومكم عن هذا المقام وأنتم أحق به ؟

يَا أَخَا بَنِي أَسَدٍ إِنَّكَ لَقَلِقُ الْوَضِينِ تُرْسِلُ فِي غَيْرِ سَدَدٍ وَ لَكَ بَعْدُ ذِمَامَةُ الصِّهْرِ وَ حَقُّ الْمَسْأَلَةِ وَ قَدِ اسْتَعْلَمْتَ فَاعْلَمْ أَمَّا الِاسْتِبْدَادُ عَلَيْنَا بِهَذَا الْمَقَامِ وَ نَحْنُ الاَعْلَوْنَ نَسَباً وَ الأَشَدُّونَ بِالرَّسُولِ ص نَوْطاً فَإِنَّهَا كَانَتْ أَثَرَةً شَحَّتْ عَلَيْهَا نُفُوسُ قَوْمٍ وَ سَخَتْ عَنْهَا نُفُوسُ آخَرِينَ وَ الْحَكَمُ اللَّهُ وَ الْمَعْوَدُ إِلَيْهِ الْقِيَامَةُ

وَ دَعْ عَنْكَ نَهْباً صِيحَ فِي حَجَرَاتِهِ‏

وَ لَكِنْ حَدِيثاً مَا حَدِيثُ الرَّوَاحِلِ‏

نهج البلاغة ، خطبة 162، نهج البلاغه محمد عبده ، ج2 ،‌ ص64 و شرح ابن أبي الحديد ، ج9 ، ص 241 و علل الشرايع ، ج1 ،‌ ص146 .

Seorang dari Bani Asad bertanya pada Imam Ali: Mengapakah engkau yang lebih layak menjadi khalifah namun mengenepikannya? Ali menjawab: Wahai saudara Bani Asad engkau seorang yang menyedihkan dan bertanya bukan pada tempatnya, walau bagaimanapun sebagai penghormatan atas persaudaraan, hak pertanyaan dihormati. Sekarang engkau mau tahu, maka ketahuilah kezaliman dan mementing diri dengan kekhalifahan itu membebani kami, dalam keadaan kami lebih kukuh pertalian nasab dengan rasul, bukanlah egois dan serakah memonopoli namun: sekumpulan orang yang bakhil melekat dengan singgahsana kekhalifahan, dan sekumpulan orang dengan bebas merampasnya, dan hakim adalah Allah dan kita semua kembali kepadaNya di hari kiamat….. kembalilah, kenangkan sejarah kisah para perampas, kisah yang menyingkap perompakan para penunggang unta- Nahjul Balaghah Muhammad Abduh, jil 2 hal 64

Perseteruan terhadap Imam Ali yang terpendam di dalam dada

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan:

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Agamamu selamat

Perkara ini sangat jelas terkandung dalam teks Nahjul Balaghah seperti berikut:

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ بَعَثَ مُحَمَّداً(صلى الله عليه وآله) نَذِيراً لِلْعَالَمِينَ وَ مُهَيْمِناً عَلَى الْمُرْسَلِينَ فَلَمَّا مَضَى ع تَنَازَعَ الْمُسْلِمُونَ الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ

فَوَاللَّهِ مَا كَانَ يُلْقَى فِي رُوعِي وَ لَا يَخْطُرُ بِبَالِي أَنَّ الْعَرَبَ تُزْعِجُ هَذَا الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ ص عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَ لاَ أَنَّهُمْ مُنَحُّوهُ عَنِّي مِنْ بَعْدِهِ فَمَا رَاعَنِي إِلَّا انْثِيَالُ النَّاسِ عَلَى فُلَان يُبَايِعُونَهُ

فَأَمْسَكْتُ يَدِي حَتَّى رَأَيْتُ رَاجِعَةَ النَّاسِ قَدْ رَجَعَتْ عَنِ الإِْسْلاَمِ يَدْعُونَ إِلَى مَحْقِ دَيْنِ مُحَمَّد ص فَخَشِيتُ إِنْ لَمْ أَنْصُرِ الاِْسْلاَمَ وَ أَهْلَهُ أَنْ أَرَى فِيهِ ثَلْماً أَوْ هَدْماً تَكُونُ الْمُصِيبَةُ بِهِ عَلَيَّ أَعْظَمَ مِنْ فَوْتِ وِلاَيَتِكُمُ الَّتِي إِنَّمَا هِيَ مَتَاعُ أَيَّام قَلَائِلَ يَزُولُ مِنْهَا مَا كَانَ كَمَا يَزُولُ السَّرَابُ أَوْ كَمَا يَتَقَشَّعُ السَّحَابُ فَنَهَضْتُ فِي تِلْكَ الاَْحْدَاثِ حَتَّى زَاحَ الْبَاطِلُ وَ زَهَقَ وَ اطْمَأَنَّ الدِّينُ وَ تَنَهْنَهَ

Amma ba’du, Allah Yang Mahasuci mengutus Muhammad (saw) sebagai pemberi peringatan bagi seluruh dunia dan saksi bagi semua nabi. Ketika Nabi wafat, kaum Muslim bertengkar tentang kekuasaan sepeninggal baginda.

Demi Allah, tak pernah terlintas difikiran saya, dan saya tak pernah membayangkan, bahawa setelah Nabi orang Arab akan meragut kekhalifahan ini daripada Ahlul Bait setelah baginda, mereka akan mengalihnya daripada saya setelah baginda, tidak saya bimbang melainkan manusia secara mendadak dari mana hala membaiat lelaki itu.

Oleh kerana itu, saya menahan tangan saya hingga saya melihat bahawa ramai orang sedang menghindar dari Islam dan berusaha untuk membinasakan agama Muhammad (saw). Maka saya khuatir bahwa apabila saya tidak melindungi Islam dan umatnya lalu terjadi di dalamnya suatu perpecahan atau kehancuran, hal itu akan merupakan suatu pukulan yang lebih besar kepada saya daripada hilangnya kekuasaan atas anda, yang bagaimanapun (hanyalah) akan berlangsung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlalu sebagaimana berlalunya bayangan, atau sebagai hilangnya awan melayang. Oleh karena itu, dalam peristiwa-peristiwa ini saya bangkit hingga kebatilan dihancurkan dan lenyap, dan agama mendapatkan kedamaian dan keselamatan. – Nahjul Balaghah surat 62

Mengapa Ali tidak bertindak mengambil kembali haknya?

Para Washi Anbiya punyai satu kaedah yang menuruti perintah Allah. Tanggung jawab yang mereka sandang telah dikhususkan untuk diamalkan dan Imam Ali juga sebagai Washi Rasulullah juga tidak terkecuali dalam perkara ini. Oleh itu beliau tidak boleh bangun dengan menghunuskan pedang dan mengambil kembali kekhalifahan dengan cara kekerasan. Dengan merujuk kepada sejarah para nabi dapatlah kita memahami bahawa Ali tidak punyai cara lain dari mendiamkan diri.

al-Quran menceritakan nabi Allah Nuh (as) mengatakan:

فَدَعا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِر

54. 10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”

Baginda berdoa kepada Allah bahawa saya dikalahkan, maka bantulah aku. Begitujuga dalam surah Maryam bahawasanya Nabi Allah Ibrahim (as) berkata:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَما تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ وَأَدْعُوا رَبِّي

19. 48. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Telah tercatat dalam sejarah bahawa Nabi Ibrahim berangkat dari babylon ke pergunungan tanah Parsi dan tinggal disekitarnya selama 7 tahun. Setelah itu baginda kembali lagi ke Babylon dan menghancurkan berhala-berhala serta mendakwa dirinya sebagai nabi

Begitu juga kisah ketakutan yang menimpa nabi Allah Musa (as):

فَخَرَجَ مِنْها خائِفاً يَتَرَقَّبُ قالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظّالِمِينَ

28. 21. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Begitu juga dalam surah al-’Araf, peristiwa kaum bani Israel menyembah sapi akibat termakan tipu daya Samiri tatkala pemergian nabi Musa. Nabi Allah Harun (as) juga berdiam diri dan Allah swt berfirman:

وأخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

7. 150. Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”

Harun adalah khalifah Nabi Musa sepeninggalan baginda pergi bermunajat kepada Allah. Namun Nabi Allah Harun tidak bangun dengan pedang menentang kesesatan kaumnya yang terpedaya dengan Samiri.

Rasulullah pernah menisbahkan Ali dengan diri baginda umpama Harun di sisi Musa melainkan tiada lagi Nabi setelah baginda. Oleh itu tindakan Ali tidak memprotes perampasan hak kekhalifahannya dengan pedang adalah menepati sirah para washi sebelumnya dengan penuh hikmah. Tatkala Ali dipaksa memberi Bai’ah, beliau telah pergi ke makam Rasulullah dan mengulangi kalimah Nabi Allah Harun (as):

إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

Mughazali, ahli Fiqh Syafie dan Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib dan ‘Allamah al-Faqih ibnu al-Maghazali menukilkan bahawasanya Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Talib:

عن أبي عثمان النهدي عن علي كرم الله وجهه قال : كنت أمشي مع رسول الله (ص) فأتينا على حديقة فاعتنقني ثم أجهش باكيا فقلت يا رسول الله ما يبكيك ؟ فقال (ص) : أبكي لضغائن في صدر قوم لا يبدونها لك إلا بعدي قلت : في سلامة من ديني ؟ قال في سلامة من دينك.

Diriwayatkan oleh al-‘Allamah al-Kanji al-Syafi’ie di dalam kitab Kifayah al-Thalib, bab 16 dengan sanad kepada Ibnu ‘Asakir yang bersanad kepada Anas bin Malik dan riwayat-riwayat yang lain seperti mana di dalam al-Manaqib dan Yanabi’. kemudian ‘Allamah al-Kanji berkata setelah menukilkan riwayat ini mengatakan Hadis ini Hasan:

Ummat ini punyai perseteruan di dalam dada mereka yang akan mereka lahirkan sepeninggalanku nanti. Aku berpesan padamu supaya bersabar. Semoga Allah mengurniakan kebaikan buatmu.

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

بحار الانوار، ج 32، ص111 ; الكافئه، ص19

Demi Allah, mata-mata menangis, hati-hati teraniaya dan dada-dada kami sudah penuh dari kemarahan, perseteruan dan permusuhan. Jikalau tidak takut akan perpecahan kaum muslimin yang membawa kepada kekufuran mereka, demi Allah akan setiap saat akan saya ubah kekhalifahan, namun saya mendiamkan diri… Biharul Anwar, jil 32 halaman 111

Kesimpulan

Dengan ini dapat kita rumuskan, diamnya Ali bin Abi Talib dan beliau membiarkan Abu Bakar memerintah bukanlah dalil keridhaannya, hakikatnya beliau ingin menjaga agama Islam dari musnah

Imam Ali bin Abi Talib menganggap pemerintahan Abu Bakar sebagai diktator dan menganggap Umar tidak layak menjadi khalifah karena Abu Bakar dan Umar adalah pengkhianat, memprotes keras pemilihan Usman sebagai khalifah serta menganggap khalifah yang lalu sebelumnya adalah perampas

Sikap Ali bin Abi Talib (a.s.) terhadap jawatan khalifah.

Sahnya kekhalifahan Ali bin Abi Talib atau batilnya kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Uthman setelah kewafatan Rasulullah telah disabitkan dengan banyak dalil yang bersumber dari kitab-kitab Ahlusunnah. Namun begitu puak pelampau fanatic Wahabi masih tidak berhenti-henti mencari bahan untuk mencetuskan keraguan orang awam dari terhadap perkara ini.

Artikel saya kali ini meneliti protes dan pengingkaran Ali bin Abi Talib selama hayatnya terhadap kekhalifahan yang tidak sah tersebut dalam lembaran sejarah sekaligus menghancurkan hikayat dongeng: Diamnya Ali menunjukkan sahnya kekhalifan Abu Bakar. Jikalau rampasan kuasa berlaku sudah tentu pedang Zulfiqar telah terhunus sampai haknya kembali kepada pemiliknya.

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah adalah satu kesilapan.

Abu Bakar mengakui: “Pembai’atan kepadaku adalah kesilapan dan Allah memelihara keburukannya…. ” إنّ بيعتي كانت فلتة وقى اللّه شرّها… Ansab al-Asyraf lil Bilazari jil 1 halaman 590, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 6 halaman 47

Umar al-Khattab telah berterus terang menyatakan: إنّ بيعة أبي بكر كانت فلتة وقى اللّه شرّها فمن عاد إلى مثلها فاقتلوه… Pembai’atan kepada Abu Bakar adalah kesilapan, Allah memelihara keburukannya, maka barangsiapa yang kembali kepada Bai’at seperti ini maka bunuhlah ia. – Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 2 halaman 26, Musnad Ahmad jil 1 halaman 55,

Sahih Bukhari jil 8 halaman 26:

فَوَاللَّهِ مَا كَانَتْ بَيْعَةُ أَبِى بَكْرٍ إِلاَّ فَلْتَةً

صحيح البجاری – المحاربين – باب رَجْمِ الْحُبْلَى مِنَ الزِّنَا إِذَا أَحْصَنَتْ

“Demi Allah, tidak lah bai’at kepada Abu Bakar melainkan kesilapan” – Sahih Bukhari

Menurut Ali bin Abi Talib, khalifah itu hak khusus untuk Ahlul Bait (as)

Ali bin Abi Talib menganggap khalifah adalah hak khusus untuk Ahlul Bait. Khalifah menurut pemilihan adalah bertentangan dengan Kitab dan Sunnah. Perkara ini beberapa kali ditemui dalam Nahjul Balaghah:

ولهم خصائصُ حقِّ الولاية، وفيهم الوصيّةُ والوِراثةُ.

نهج البلاغة عبده ج 1 ص 30، نهج البلاغة ( صبحي الصالح ) خطبة 2 ص 47، شرح نهج البلاغة ابن أبي الحديد ج 1 ص 139، ينابيع المودة قندوزي حنفي ج 3 ص 449 .

“Kepimpinan adalah hak Khusus bagi mereka (Ahlul Bait) dan mereka Washi dan waris (Rasulullah)” – Nahjul Balaghah Abduh jil 1 halaman 30 khutbah 2 halaman 47, Syarah Nahjul Balaghah Ibnu Abil Hadid jil 1 halaman 139, Yanabi’ul Mawaddah jil 3 halaman 449

Surat Ali bin Abi Talib kepada warga Mesir:

فو اللّه ماكان يُلْقَى في رُوعِي ولا يَخْطُرُ بِبالي أنّ العَرَب تُزْعِجُ هذا الأمْرَ من بعده صلى اللّه عليه وآله عن أهل بيته ، ولا أنّهم مُنَحُّوهُ عَنّي من بعده.

نهج البلاغة، الكتاب الرقم 62، كتابه إلى أهل مصر مع مالك الأشتر لمّا ولاه إمارتها، شرح نهج البلاغه ابن أبي الحديد: 95/6، و151/17، الإمامة والسياسة: 133/1 بتحقيق الدكتور طه الزيني ط. مؤسسة الحلبي القاهرة .

“Maka demi Allah, tidak ia ditemukan dalam jiwaku, tidak terbayang di jiwaku bahawa bangsa Arab merebut urusan ini setelah nabi (saw) daripada Ahlul Baitnya, dan mereka mengalihkan ia daripadaku sepeninggalan baginda.”– Nahjul Balaghah surat 62, surat Imam Ali kepada warga Mesir

Dalam khutbah Ali ke-74, beliau berkata:

لَقَدْ عَلِمْتُمْ أَنِّي أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا مِنْ غَيْرِي وَ وَ اللَّهِ لَأُسْلِمَنَّ مَا سَلِمَتْ أُمُورُ الْمُسْلِمِينَ وَ لَمْ يَكُنْ فِيهَا جَوْرٌ إِلَّا عَلَيَّ خَاصَّةً الْتِمَاساً لِأَجْرِ ذَلِكَ وَ فَضْلِهِ وَ زُهْداً فِيمَا تَنَافَسْتُمُوهُ مِنْ زُخْرُفِهِ وَ زِبْرِجِهِ.

“sesungguhnya kalian telah tahu bahawa saya manusia paling berhak dengannya (khalifah) daripada selainku. Demi Allah selama urusan kaum muslimin tinggal utuh, dan tidak ada penindasan di dalamnya kecuali atas diri saya, saya akan berdiam diri sambil mencari ganjaran untuk itu dan sambil menjauh dari tarikan-tarikan dan godaan-godaan yang anda cita-citakan”– Nahjul Balaghah khutbah 74, Khutbah Ali bin Abi Talib tatkala orang ramai hendak memberi Bai’at kepada Uthman.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap pemerintahan Abu Bakar sebagai diktator

Ali bin Abi Talib menganggap kekhalifahan Abu Bakar bukan berasaskan demokrasi, namun beliau terus saja mengatakan kekhalifahan Abu Bakar adalah diktator

وَلَكِنَّكَ اسْتَبْدَدْتَ عَلَيْنَا بِالأَمْرِ ، وَكُنَّا نَرَى لِقَرَابَتِنَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَصِيبًا . حَتَّى فَاضَتْ عَيْنَا أَبِى بَكْرٍ

صحيح البخارى: 82/5، كتاب المغازي، با غزوة خيبر، مسلم، ج 5، ص 154، (چاپ جديد: ص 729 ح 1758)، كتاب الجهاد، باب قول النبي (ص) لانورَث ما تركناه صدقة .

Ali bin Abi Talib mengatakan, “Akan tetapi dikau telah bertindak sewenang-wenangnya atas kami dengan urusan, dan kami melihat kekerabatan kami dengan Rasulullah. Maka air mata Abu Bakar menitis”.

Imam Ali bin Abi Talib menganggap Umar tidak layak menjadi khalifah

Tatkala telah diketahui bahawasanya Abu Bakar memutuskan ingin melantik Umar sebagai khalifah, dalam Tabaqat Ibnu Sa’ad, Ali telah menentang keras dan berkata dengan terus terang sebagai berikut:

عن عائشة قالت لما حضرت أبا بكر الوفاة استخلف عمر فدخل عليه علي وطلحة فقالا من استخلفت قال عمر قالا فماذا أنت قائل لربك قال بالله تعرفاني لأنا أعلم بالله وبعمر منكما أقول استخلفت عليهم خير أهلك.

الطبقات: 196/3، تاريخ مدينة دمشق: 251/44، عمر بن الخطاب للاستاذ عبد الكريم الخطيب ص 75 .

‘Aisyah mengatakan tatkala hadirnya kematian di sisi Abu Bakar, maka masuklah Ali dan Talhah, maka bertanyalah mereka, siapakah yang menjadi khalifah? Dia menjawab, Umar. Mereka berkata, Apa yang anda akan katakan kepada Allah? Dia menjawab, Apakah kau perkenalkan Allah kepadaku? saya lebih mengenali Allah dan Umar daripada kalian, saya akan berkata kepada Allah, saya melantik sebaik-baik hambaMu sebagai khalifah. – Tabaqat, jil 3 halaman 196

Imam Ali bin Abi Talib memprotes keras pemilihan Uthman sebagai khalifah

Ali memaklumkan bantahannya sehingga menyebabkan ‘Abdul Rahman bin ‘Auf memberi ancaman bunuh (al-Imamah wal Siyasah, jil 1 halaman 45):

قال عبد الرحمن بن عوف : فلا تجعل يا علي سبيلاً إلى نفسك ، فإنّه السيف لا غير .

الامامة والسياسة ، تحقيق الشيري ج 1 ص 45، تحقيق الزيني ج 1 ص‏31 .

Telah berkata ‘Abdul Rahman bin ‘Auf, “Janganlah engkau jadikan jalan kepada dirimu wahai Ali, sesungguhnya ia adalah pedang tiada yang lain lagi” – Al-Imamah wal Siyasah, jilid 1 halaman 45

فَيَا لَلَّهِ وَ لِلشُّورَى مَتَى اعْتَرَضَ الرَّيْبُ فِيَّ مَعَ الْأَوَّلِ مِنْهُمْ حَتَّى صِرْتُ أُقْرَنُ إِلَى هَذِهِ النَّظَائِرِ لَكِنِّي أَسْفَفْتُ إِذْ أَسَفُّوا وَ طِرْتُ إِذْ طَارُوا فَصَغَا رَجُلٌ مِنْهُمْ لِضِغْنِهِ وَ مَالَ الآخَرُ لِصِهْرِهِ مَعَ هَنٍ وَ هَنٍ إِلَى أَنْ قَامَ ثَالِثُ الْقَوْمِ نَافِجاً حِضْنَيْهِ بَيْنَ نَثِيلِهِ وَ مُعْتَلَفِهِ وَ قَامَ مَعَهُ بَنُو أَبِيهِ يَخْضَمُونَ مَالَ اللَّهِ خِضْمَةَ الْإِبِلِ نِبْتَةَ الرَّبِيعِ إِلَى أَنِ انْتَكَثَ عَلَيْهِ فَتْلُهُ وَ أَجْهَزَ عَلَيْهِ عَمَلُهُ وَ كَبَتْ بِهِ بِطْنَتُهُ.

Aku berlindung dengan Allah dari Syura ini! pada zaman bilakah saya disetarakan dengan para anggota Syura di mana saya seperti yang mereka khayalkan, dan mereka telah letakkan saya dalam barisan itu. Tetapi saya tetap merendah ketika mereka merendah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi. Seorang dari mereka menentang saya karena kebenciannya, dan yang lainnya cenderung ke jalan lain karena hubungan perkawinan dan karena ini dan itu, sehingga orang ketiga dari orang-orang ini berdiri dengan dada membusung antara kotoran dan makanannya. Bersamanya sepupunya pun bangkit sambil menelan harta Allah seperti seekor unta menelan rumput musim semi, sampai talinya putus, tindakan-tindakannya mengakhiri dirinya dan keserakahannya membawanya jatuh tertelungkup.

Imam Ali mengatakan Abu Bakar dan Umar adalah pengkhianat

Abu Bakar dan Umar adalah pembohong, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat menurut Ai bin Abi Talib. Seperti mana di dalam kitab Sahih Muslim iaitu kitab yang paling sahih setelah al-Quran, Umar mengatakan kepada Abbas dan Ali:

فلمّا توفّي رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، قال أبو بكر: أنا ولي رسول اللّه… فرأيتماه كاذباً آثماً غادراً خائناً… ثمّ توفّي أبو بكر فقلت : أنا وليّ رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله، ولي أبي بكر، فرأيتماني كاذباً آثماً غادراً خائناً ! واللّه يعلم أنّي لصادق، بارّ، تابع للحقّ! .

صحيح مسلم ج 5 ص 152، (ص 728 ح 1757) كتاب الجهاد باب 15 حكم الفئ حديث 49، فتح الباري ج 6 ص 144 .

Setelah wafatnya Rasulullah (saw) Abu Bakar berkata: Aku pemimpin setelah Rasulullah… dan kalian berdua menganggap saya pendusta, pendosa, curang dan pengkhianat. Kemudian setelah wafatnya Abu Bakar, saya telah berkata: Sayalah pemimpin setelah Rasulullah (saw), pemimpin setelah Abu Bakar, maka kalian berdua melihat saya sebagai pendusta, pendosa, pemutar belit dan pengkhianat!…. Sahih Muslim Kitab alJihad Bab 15

Imam Ali (as) menganggap khalifah yang lalu sebelumnya adalah perampas

Sebagaimana yang telah dinyatakan sebelum ini, Ali tetap saja menganggap khalifah sebelum daripadanya tidak Syar’i dan perampas. Beliau menulis dalam surat kepada ‘Aqil seperti berikut:

فَجَزَتْ قُرَيْشاً عَنِّي الْجَوَازِي فَقَدْ قَطَعُوا رَحِمِي وَ سَلَبُونِي سُلْطَانَ ابْنِ أُمِّي.

نهج البلاغة، كتاب رقم 36 .

Saya berhasrat kiranya orang Qurasy mendapat pembalasan atas perlakuan mereka terhadap saya. Kerana mereka mengabaikan kekerabatan dan merebut kekuasaan yang menjadi hak saya dari putera ibu saya (Nabi saw). – Nahjul Balaghah kitab nombor 36.

Dan Ibnu Abil Hadid di dalam kitabnya:

وغصبوني حقي ، وأجمعوا على منازعتي أمرا كنت أولى به.

شرح نهج البلاغة لابن أبي الحديد، ج 4، ص‏104، ج 9، ص 306 .

Mereka telah merampas hak saya, dan mereka berkumpul di atas perselisihan urusan kepimpinan yang mana saya lebih berhak atasnya. – Syarah Ibnu Abil Hadid jil 4 halaman 102, jil 9 halaman 306

دعوكم خليفة رسول الله (ص) لسريع ما كذبتم على رسول الله (ص) ثمّ قال أبو بكر : عد إليه فقل : أمير المؤمنين يدعوكم ، فرفع علي صوته فقال : سبحان الله لقد ادعى ما ليس له .

الإمامة والسياسة بتحقيق الزينى، ص 19 وبتحقيق الشيري، ص 30 .

Ibnu Qutaibah telah mencatatkan bahawa Abu Bakar mengutus Qanfiz kepada Ali, beliau mengatakan, “Khalifah Rasulullah memanggil kalian” Ali menjawab, “Betapa cepatnya kalian mendustakan Rasulullah (saw). Abu Bakar kali kedua mengutus Qanfiz dan berkata, “Katakan padanya Amirulmukminin memanggil kalian” Ali meninggikan suara, “Subhanallah, sesungguhnya anda mendakwa apa yang bukan pada tempatnya!” – al-Imamah wal Siyasah halaman 19

Dengan ini punahlah kepercayaan yang mengatakan bahawa Ali (as) menganggap khalifah sebelumnya adalah sah menurut hukum syarak.

Apakah Ijma’ para sahabat merupakan dalil keridhaan Allah?

فَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى رَجُلٍ وَ سَمَّوْهُ إِمَاماً كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا .

Kata-katanya, “Maka sesungguhnya jikalau mereka (Muhajirin dan Ansar) berijmak atas seseorang dan menamakannya sebagai Imam, maka keridhaan Allah untuk itu”

Adapun kata-kata beliau, “Jikalau Muhajirin dan Ansar datang mengangkat seseorang itu sebagai Imam, Maka keridhaan tuhan di dalamnya”.

Saudara kita Ahlusunnah tidak boleh menggunakan kata-kata Ali ini sebagai dalil sahnya kekhalifahan sebelum beliau kerana:

Pertamanya: dalam beberapa naskah Nahjul Balaghah ayat «كَانَ ذَلِكَ لِلَّهِ رِضًا» tertulis dengan «كَانَ ذَلِكَ رِضًا» tanpa penambahan kalimah «لِلَّهِ». (silakan rujuk Nahjul Balaghah cetakan Misr, Qahirah, al-Istiqamah di mana kalimah «لِلَّهِ» telah termasuk di dalamnya).

Oleh itu jikalau Muhajirin dan Ansar mengangkat seseorang itu sebagai khalifah merupakan dalil keridhaan mereka ke atas pemilihan ini. Pembai‘atan ini juga bukanlah kesan dari pemaksaan atau ancaman pedang.

Kedua: Jikalau kita tanggapi bahawa kalimah «للّه» wujud dalam teks Nahjul Balaghah itu, maka maksudnya sudah tentu semua Muhajirin dan Ansar termasuk Ali, Fathimah, Hasan dan Husain yang bersepakatan atas keimaman seseorang. Pastilah ini menunjukkan keridhaan Allah (swt).

Adakah Fathimah Zahra membai’at Abu Bakar?

Tidakkah keridhaan Fathimah merupakan keridhaan Nabi (saw). Hakim Nisyaburi menyatakan:

إنّ اللّه يغضب لغضبك، ويرضى لرضاك.

“Sesungguhnya Allah murka kepada siapa yang menyebabkan engkau marah dan meridhai barangsiapa yang membuatkan engkau ridha”.

Hadis ini dikatakannya:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.

مستدرك: 153/3، مجمع الزوائد: 203/9، الآحاد والمثاني للضحاك: 363/5، الإصابة: 266265/8، تهذيب التهذيب: 392/21، سبل الهدى والرشاد للصالحي الشامي: 11/ 44 .

“ Sahih persanadannya namun Bukhari dan Muslim tidak menyebutnya”. – Mustadrak jilid 3 halaman 153

Bukhari menyatakan Rasulullah bersabda:

فاطمة بَضْعَة منّى فمن أغضبها أغضبني .

صحيح البخارى 210/4، (ص 710، ح 3714)، كتاب فضائل الصحابة، ب 12 – باب مَنَاقِبُ قَرَابَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه‏وسلم . و 219/4 ، (ص 717، ح 3767) كتاب فضائل الصحابة ، ب 29 – باب مَنَاقِبُ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, barangsiapa membuatkan dia marah maka ia telah membuatkan aku marah” – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 210

Muslim Nisyaburi menukilkan baginda bersabda:

إِنَّمَا فَاطِمَةُ بَضْعَةٌ مِنِّي يُؤْذِينِي مَا آذَاهَا.

صحيح مسلم 141/7 ح 6202 كتاب فضائل الصحابة رضى الله تعالى عنهم، ب 15 -باب فَضَائِلِ فَاطِمَةَ بِنْتِ النَّبِيِّ عَلَيْهَا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ .

“Fathimah sebagian daripadaku, akan membuatkan aku sakit barangsiapa menyakiti beliau”. – Sahih Muslim jilid 7 halaman 141.

Tidak ada syak lagi Sayida Zahra bukan sahaja tidak member Bai’at kepada Abu Bakar, malahan murka kepada Abu Bakar sampai beliau meninggal dunia sebagai mana dinukilkan oleh Bukhari:

فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ، فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ.

صحيح البخارى: 42/4، ح 3093، كتاب فرض الخمس، ب 1 – باب فَرْضِ الْخُمُسِ .

“Marahlah Fathimah binti Rasulullah (saw) kepada Abu Bakar, maka tidak hilang kemurkaannya sehingga beliau wafat”. – Sahih Bukhari jilid 4 halaman 42

Dengan ini beliau telah memberi wasiat kepada Ali supaya jenazahnya dikebumikan pada waktu malam tanpa memaklumkan shalat jenazah beliau kepada Abu Bakar yang mengakui dirinya sebagai khalifah setelah Nabi (saw).

فَلَمَّا تُوُفِّيَتْ، دَفَنَهَا زَوْجُهَا عَلِيٌّ لَيْلاً، وَلَمْ يُؤْذِنْ بِهَا أَبَا بَكْرٍ وَصَلَّى عَلَيْهَا .

صحيح بخارى، ج 5، ص 82، ح 4240، كتاب المغازى، ب 38، باب غَزْوَةُ خَيْبَرَ، صحيح مسلم، ج 5، ص 154، ح 4470، كتاب الجهاد والسير (المغازى )، ب 16 – باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم «لاَ نُورَثُ مَا تَرَكْنَا فَهُوَ صَدَقَةٌ» .

“Maka tatkala beliau wafat, suaminya Ali menyemadikannya di waktu malam, dan beliau tidak pernah mengizinkan Abu Bakar menyolati jenazahnya”. – Sahih Bukhari jilid 5 halaman 154.

Imam Ali (as) tidak berada di kalangan Muhajirin dan Ansar dalam peristiwa pembaiatan Abu Bakar

Menurut riwayat Bukhari dan Muslim, Ali (as) tidak membai’at Abu Bakar sampai 6 bulan.

وعاشت بعد النبي صلى الله عليه وسلم، ستة أشهر… ولم يكن يبايع تلك الأشهر .

صحيح البخاري، ج 5، ص 82، صحيح مسلم، ج 5، ص 154.

Fathimah az-Zahra hidup setelah 6 bulan wafatnya Rasulullah….. beliau tidak memberi Bai’at selama itu- Sahih Bukhari – Sahih Bukhari jil 5 halaman 82

Tidakkah Bai’at Ali (as) merupakan dalil sahnya kekhalifahan Abu Bakar? Tidakkah Bani Hashim menahan diri dari membai’at? Abdul Razak menerangkan:

فقال رجل للزهري : فلم يبايعه عليّ ستة أشهر ؟ قال : لا ، ولا أحد من بني هاشم .

المصنف لعبد الرزاق الصنعاني، ج 5، ص 472 – 473.

Seorang lelaki bertanya kepada Zuhri, “Apakah benar Ali (as) selama 6 bulan tidak memberi Bai’at?” beliau menjawab, “Ali dan Bani Hashim tidak memberi Bai’at” – Al-Mushannaf Abdul Razak jil 5 halaman 472-473

Komentar ini telah dinukilkan dalam Sunan Baihaqi, Tarikh Tabari dan Ibnu Athir dalam kedua kitab Rijal dan Tarikhnya. Rujukannya sebagai berikut:

اسد الغابة: 222/3 و الكامل في التاريخ ، ج 2 ، ص 325 و السنن الكبرى، ج 6، ص 300 و تاريخ الطبري، ج 2، ص 448 .

Asad al-Ghabah jilid 3 halaman 222, Kamil Fi Tarikh jilid 2 halaman 325, Sunan al-Kubra jilid 6 halaman 300 dan tarikh al-Tabari jilid 2 halaman 448

Tidakkah Ibnu Hazm salah seorang ulama besar Ahlusunnah mengatakan:

ولعنة اللّه على كلّ إجماع يخرج عنه على بن أبى طالب ومن بحضرته من الصحابة .

المحلى: ج 9، ص 345، بتحقيق أحمد محمد شاكر، ط. بيروت – دارالفكر .

“Laknat Allah ke atas seluruh Ijma’ yang mana Ali bin Abi Talib dan para sahabatnya tidak termasuk di dalamnya” – Al-Mahalli jil 9 halaman 325

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan: Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Ugamamu selamat. – al-Mu’jam al-Kabir Tabrani, jilid 11 halaman 60

Kebakhilan, menyebabkan Ali tidak mencapai kekhalifahan

Kekeliruan ini bukanlah perkara baru namun pertanyaan tentangnya terus berlegar dalam sejarah termasuk di zaman Ali sendiri. Seorang dari bani Asad bertanya kepada Ali:

كيف دفعكم قومكم عن هذا المقام وأنتم أحق به ؟

يَا أَخَا بَنِي أَسَدٍ إِنَّكَ لَقَلِقُ الْوَضِينِ تُرْسِلُ فِي غَيْرِ سَدَدٍ وَ لَكَ بَعْدُ ذِمَامَةُ الصِّهْرِ وَ حَقُّ الْمَسْأَلَةِ وَ قَدِ اسْتَعْلَمْتَ فَاعْلَمْ أَمَّا الِاسْتِبْدَادُ عَلَيْنَا بِهَذَا الْمَقَامِ وَ نَحْنُ الاَعْلَوْنَ نَسَباً وَ الأَشَدُّونَ بِالرَّسُولِ ص نَوْطاً فَإِنَّهَا كَانَتْ أَثَرَةً شَحَّتْ عَلَيْهَا نُفُوسُ قَوْمٍ وَ سَخَتْ عَنْهَا نُفُوسُ آخَرِينَ وَ الْحَكَمُ اللَّهُ وَ الْمَعْوَدُ إِلَيْهِ الْقِيَامَةُ

وَ دَعْ عَنْكَ نَهْباً صِيحَ فِي حَجَرَاتِهِ‏

وَ لَكِنْ حَدِيثاً مَا حَدِيثُ الرَّوَاحِلِ‏

نهج البلاغة ، خطبة 162، نهج البلاغه محمد عبده ، ج2 ،‌ ص64 و شرح ابن أبي الحديد ، ج9 ، ص 241 و علل الشرايع ، ج1 ،‌ ص146 .

Seorang dari Bani Asad bertanya pada Imam Ali: Mengapakah engkau yang lebih layak menjadi khalifah namun mengenepikannya? Ali menjawab: Wahai saudara Bani Asad engkau seorang yang menyedihkan dan bertanya bukan pada tempatnya, walau bagaimanapun sebagai penghormatan atas persaudaraan, hak pertanyaan dihormati. Sekarang engkau mau tahu, maka ketahuilah kezaliman dan mementing diri dengan kekhalifahan itu membebani kami, dalam keadaan kami lebih kukuh pertalian nasab dengan rasul, bukanlah egois dan serakah memonopoli namun: sekumpulan orang yang bakhil melekat dengan singgahsana kekhalifahan, dan sekumpulan orang dengan bebas merampasnya, dan hakim adalah Allah dan kita semua kembali kepadaNya di hari kiamat….. kembalilah, kenangkan sejarah kisah para perampas, kisah yang menyingkap perompakan para penunggang unta- Nahjul Balaghah Muhammad Abduh, jil 2 hal 64

Perseteruan terhadap Imam Ali yang terpendam di dalam dada

Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir mengatakan:

قلت يا رسول الله ما يبكيك قال ضغائن في صدور أقوام لا يبدونها لك الا من بعدي قال قلت يا رسول الله في سلامة من ديني قال في سلامة من دينك .

المعجم الكبير ، طبراني ،‌ ج11 ،‌ ص60 و تاريخ بغداد ، ج12 ، ص394 و تاريخ مدينة دمشق ، ج42 ،‌ ص322 و فضائل الصحابة ، ابن حنبل ، ج2 ،‌ ص651 ، ح 1109.

Imam Ali telah bertanya: Wahai Rasulullah, mengapakah dikau menangis? Baginda bersabda: Perseteruan dalam dada-dada terkurung, setelah kepergianku ia akan terbuka. Saya bertanya: Apakah ugamaku selamat? Baginda bersabda: Agamamu selamat

Perkara ini sangat jelas terkandung dalam teks Nahjul Balaghah seperti berikut:

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

فَإِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ بَعَثَ مُحَمَّداً(صلى الله عليه وآله) نَذِيراً لِلْعَالَمِينَ وَ مُهَيْمِناً عَلَى الْمُرْسَلِينَ فَلَمَّا مَضَى ع تَنَازَعَ الْمُسْلِمُونَ الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ

فَوَاللَّهِ مَا كَانَ يُلْقَى فِي رُوعِي وَ لَا يَخْطُرُ بِبَالِي أَنَّ الْعَرَبَ تُزْعِجُ هَذَا الاَْمْرَ مِنْ بَعْدِهِ ص عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَ لاَ أَنَّهُمْ مُنَحُّوهُ عَنِّي مِنْ بَعْدِهِ فَمَا رَاعَنِي إِلَّا انْثِيَالُ النَّاسِ عَلَى فُلَان يُبَايِعُونَهُ

فَأَمْسَكْتُ يَدِي حَتَّى رَأَيْتُ رَاجِعَةَ النَّاسِ قَدْ رَجَعَتْ عَنِ الإِْسْلاَمِ يَدْعُونَ إِلَى مَحْقِ دَيْنِ مُحَمَّد ص فَخَشِيتُ إِنْ لَمْ أَنْصُرِ الاِْسْلاَمَ وَ أَهْلَهُ أَنْ أَرَى فِيهِ ثَلْماً أَوْ هَدْماً تَكُونُ الْمُصِيبَةُ بِهِ عَلَيَّ أَعْظَمَ مِنْ فَوْتِ وِلاَيَتِكُمُ الَّتِي إِنَّمَا هِيَ مَتَاعُ أَيَّام قَلَائِلَ يَزُولُ مِنْهَا مَا كَانَ كَمَا يَزُولُ السَّرَابُ أَوْ كَمَا يَتَقَشَّعُ السَّحَابُ فَنَهَضْتُ فِي تِلْكَ الاَْحْدَاثِ حَتَّى زَاحَ الْبَاطِلُ وَ زَهَقَ وَ اطْمَأَنَّ الدِّينُ وَ تَنَهْنَهَ

Amma ba’du, Allah Yang Mahasuci mengutus Muhammad (saw) sebagai pemberi peringatan bagi seluruh dunia dan saksi bagi semua nabi. Ketika Nabi wafat, kaum Muslim bertengkar tentang kekuasaan sepeninggal baginda.

Demi Allah, tak pernah terlintas difikiran saya, dan saya tak pernah membayangkan, bahawa setelah Nabi orang Arab akan meragut kekhalifahan ini daripada Ahlul Bait setelah baginda, mereka akan mengalihnya daripada saya setelah baginda, tidak saya bimbang melainkan manusia secara mendadak dari mana hala membaiat lelaki itu.

Oleh kerana itu, saya menahan tangan saya hingga saya melihat bahawa ramai orang sedang menghindar dari Islam dan berusaha untuk membinasakan agama Muhammad (saw). Maka saya khuatir bahwa apabila saya tidak melindungi Islam dan umatnya lalu terjadi di dalamnya suatu perpecahan atau kehancuran, hal itu akan merupakan suatu pukulan yang lebih besar kepada saya daripada hilangnya kekuasaan atas anda, yang bagaimanapun (hanyalah) akan berlangsung beberapa hari yang darinya segala sesuatu akan berlalu sebagaimana berlalunya bayangan, atau sebagai hilangnya awan melayang. Oleh karena itu, dalam peristiwa-peristiwa ini saya bangkit hingga kebatilan dihancurkan dan lenyap, dan agama mendapatkan kedamaian dan keselamatan. – Nahjul Balaghah surat 62

Mengapa Ali tidak bertindak mengambil kembali haknya?

Para Washi Anbiya punyai satu kaedah yang menuruti perintah Allah. Tanggung jawab yang mereka sandang telah dikhususkan untuk diamalkan dan Imam Ali juga sebagai Washi Rasulullah juga tidak terkecuali dalam perkara ini. Oleh itu beliau tidak boleh bangun dengan menghunuskan pedang dan mengambil kembali kekhalifahan dengan cara kekerasan. Dengan merujuk kepada sejarah para nabi dapatlah kita memahami bahawa Ali tidak punyai cara lain dari mendiamkan diri.

al-Quran menceritakan nabi Allah Nuh (as) mengatakan:

فَدَعا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِر

54. 10. Maka dia mengadu kepada Tuhannya: “Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku).”

Baginda berdoa kepada Allah bahawa saya dikalahkan, maka bantulah aku. Begitujuga dalam surah Maryam bahawasanya Nabi Allah Ibrahim (as) berkata:

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَما تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ وَأَدْعُوا رَبِّي

19. 48. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Telah tercatat dalam sejarah bahawa Nabi Ibrahim berangkat dari babylon ke pergunungan tanah Parsi dan tinggal disekitarnya selama 7 tahun. Setelah itu baginda kembali lagi ke Babylon dan menghancurkan berhala-berhala serta mendakwa dirinya sebagai nabi

Begitu juga kisah ketakutan yang menimpa nabi Allah Musa (as):

فَخَرَجَ مِنْها خائِفاً يَتَرَقَّبُ قالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظّالِمِينَ

28. 21. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdo’a: “Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu”.

Begitu juga dalam surah al-’Araf, peristiwa kaum bani Israel menyembah sapi akibat termakan tipu daya Samiri tatkala pemergian nabi Musa. Nabi Allah Harun (as) juga berdiam diri dan Allah swt berfirman:

وأخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

7. 150. Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia: “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musapun melemparkan luh-luh (Taurat) itu dan memegang (rambut) kepala saudaranya (Harun) sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata: “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”

Harun adalah khalifah Nabi Musa sepeninggalan baginda pergi bermunajat kepada Allah. Namun Nabi Allah Harun tidak bangun dengan pedang menentang kesesatan kaumnya yang terpedaya dengan Samiri.

Rasulullah pernah menisbahkan Ali dengan diri baginda umpama Harun di sisi Musa melainkan tiada lagi Nabi setelah baginda. Oleh itu tindakan Ali tidak memprotes perampasan hak kekhalifahannya dengan pedang adalah menepati sirah para washi sebelumnya dengan penuh hikmah. Tatkala Ali dipaksa memberi Bai’ah, beliau telah pergi ke makam Rasulullah dan mengulangi kalimah Nabi Allah Harun (as):

إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكادُوا يَقْتُلُونَنِي

Mughazali, ahli Fiqh Syafie dan Khatib Khawarizmi di dalam Manaqib dan ‘Allamah al-Faqih ibnu al-Maghazali menukilkan bahawasanya Rasulullah bersabda kepada Ali bin Abi Talib:

عن أبي عثمان النهدي عن علي كرم الله وجهه قال : كنت أمشي مع رسول الله (ص) فأتينا على حديقة فاعتنقني ثم أجهش باكيا فقلت يا رسول الله ما يبكيك ؟ فقال (ص) : أبكي لضغائن في صدر قوم لا يبدونها لك إلا بعدي قلت : في سلامة من ديني ؟ قال في سلامة من دينك.

Diriwayatkan oleh al-‘Allamah al-Kanji al-Syafi’ie di dalam kitab Kifayah al-Thalib, bab 16 dengan sanad kepada Ibnu ‘Asakir yang bersanad kepada Anas bin Malik dan riwayat-riwayat yang lain seperti mana di dalam al-Manaqib dan Yanabi’. kemudian ‘Allamah al-Kanji berkata setelah menukilkan riwayat ini mengatakan Hadis ini Hasan:

Ummat ini punyai perseteruan di dalam dada mereka yang akan mereka lahirkan sepeninggalanku nanti. Aku berpesan padamu supaya bersabar. Semoga Allah mengurniakan kebaikan buatmu.

و خشنت و اللّه الصدور، و ايم اللّه لو لا مخافة الفرقة من المسلمين أن يعودوا إلى الكفر، و يعود الدين، لكنّا قد غيّرنا ذلك ما استطعنا، و قد ولي ذلك ولاة و مضوا لسبيلهم و ردّ اللّه الأمر إليّ، و قد بايعاني و قد نهضا إلى البصرة ليفرّقا جماعتكم، و يلقيا بأسكم بينكم

بحار الانوار، ج 32، ص111 ; الكافئه، ص19

Demi Allah, mata-mata menangis, hati-hati teraniaya dan dada-dada kami sudah penuh dari kemarahan, perseteruan dan permusuhan. Jikalau tidak takut akan perpecahan kaum muslimin yang membawa kepada kekufuran mereka, demi Allah akan setiap saat akan saya ubah kekhalifahan, namun saya mendiamkan diri… Biharul Anwar, jil 32 halaman 111

Hujjatul Islam Moawenian dalam ceramahnya menceritakan kisah berikut. Ulama besar Syiah, Allamah Amini, menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana di hadapan para ulama ahlusunah: Siapakah imamnya Fatimah binti Muhammad?

Ada sebuah kisah nyata tentang Allamah Amini (penulis kitab al-Ghadir). Allamah Amini diundang oleh para ulama suni dalam sebuah acara makan malam ketika beliau ada di Mekah atau Madinah. Pertama kalinya beliau menolak, tapi mereka memaksa. Namun kemudian, beliau menerima dengan satu syarat bahwa dia hanya datang untuk makan malam, bukan diskusi, karena pandangan beliau sudah dikenal. Mereka menerima persyaratannya. Mereka mengatakan kalau beliau datang, barulah akan dipikirkan apa yang akan dilakukan.

Dalam pertemuan tersebut terdapat sekitar 70-80 ulama besar suni yang menghafal antara 10-100 ribu hadis yang ada. Setelah mereka makan, mereka ingin mengajaknya terlibat dalam diskusi dan dengan cara ini mereka dapat membuatnya terdiam. Tapi Allamah Amini mengingatkan mereka tentang peraturan bahwa dia datang hanya untuk makan malam.

Salah satu di antara mereka kemudian mengatakan bahwa akan lebih baik jika masing-masing di antara yang hadir dapat mengutipkan sebuah hadis. Dengan cara ini, allamah juga akan terlibat menyampaikan hadis dan hadis tersebut dapat membantu mereka untuk memulai diskusi. Semuanya menyampaikan sebuah hadis sampai akhirnya giliran Allamah Amini. Mereka memintanya untuk menyampaikan sebuah hadis dari Nabi Muhammad saw.

Allamah mengatakan tidak masalah, tapi dia akan menyampaikan sebuah hadis dengan satu syarat: setelah hadis disampaikan, masing-masing dari kalian harus menyampaikan pandangan tentang sanad dan kebenaran hadis tersebut. Mereka menerimanya.

Kemudian, beliau menyampaikan bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda: “Siapa yang tidak mengenal imam zamannya kemudian meninggal, maka meninggalnya sama seperti pada masa jahiliah.”

من مات و لم يعرف إمام زمانه مات ميتة جاهلية

Kemudian ia bertanya kepada masing-masing dari mereka tentang kebenaran hadis tersebut. Mereka semua menyatakan bahwa hadis tersebut benar dan tidak ada keraguan tentangnya dalam semua kitab rujukan suni. Kemudian allamah mengatakan bahwa kalian semua sepakat tentang kebenaran hadis ini. “Baiklah, saya mempunyai satu pertanyaan. Katakan kepada saya apakah Fatimah mengenali imamnya? Lalu siapakah imamnya? Siapakah imamnya Fatimah?”

Tidak ada yang menjawabnya. Mereka semua terdiam dan setelah beberapa lama satu per satu meninggalkan tempat. “Allah mengetahui bahwa saya melakukan diskusi ini dengan ulama suni di Masjidilharam dan dia adalah orang yang sangat ahli dan berpengetahuan. Dia hanya tertawa. Aku tanyakan kepadanya jawaban pertanyaan saya, tapi dia hanya tertawa.”

Saya mulai marah dan mengatakan padanya, “Apa yang Anda tertawakan?” Dia menjawab, “Saya menertawakan diri saya sendiri.” Saya tanya, “Benarkah?” Dia menjawab, “Ya.” Saya tanya lagi, “Mengapa?”

“Karena saya tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan Anda. Jika saya katakan Fatimah tidak mengenal imam pada zamannya, itu berarti dia wafat sebagai orang kafir. Tapi tidak mungkin pemimpin para wanita di dunia ini tidak mengenal imamnya. Tidak pernah mungkin!”

“Jika Fatimah mengenal imamnya, bagaimana saya bisa mengatakannya? Misal Abu Bakar adalah imamnya, tetapi Bukhari dalam kitabnya menuliskan fakta bahwa Fatimah wafat dalam keadaan marah… Tidak mungkin bagi Fatimah untuk marah kepada imamnya!”

Fatimah adalah alasan terkuat kami. Karena Fatimah, tidak ada tempat untuk menyembunyikan kebenaran. Karenanya, menghidupkan nama Fatimah dan menangis untuk kesyahidahannya adalah seruan kepada tauhid. Menangis untuk Fatimah, pintu dan rumahnya yang terbakar adalah menangis untuk Alquran yang juga terbakar!

Dengan ini dapat kita rumuskan, diamnya Ali bin Abi Talib dan beliau membiarkan Abu Bakar memerintah bukanlah dalil keridhaannya, hakikatnya beliau ingin menjaga agama Islam dari musnah

Perawi Syiah Dalam Hadis Sunni !!!Cukup lah sekadar saya memuatkan 5 nama contoh, dari ratusan perawi Syiah lain yang diterima oleh ulama Muhaddithin Sunni, jika hadis mereka di tolak, maka sebahagian besar hadis Sunni akan hilang dari kitab-kitab mereka

Perawi Syiah Dalam Hadis Sunni

Antara hujah Wahabi dalam percubaan mereka untuk mengdiskreditkan hujah-hujah yang dibawa oleh Syiah, adalah dengan mendhaifkan hadis yang di bawa Syiah, dengan alasan perawi sesebuah hadis itu adalah Syiah dan wajib ditolak

.

Pendapat ini jelas batil kerana, mengikut kajian kami bersandarkan kepada fakta yang kuat, para Imam Hadis Sunni, ramai dari mereka yang mengambil hadis dari perawi Syiah, malah, menyatakan mereka sebagai tsiqah, yakni boleh dipercayai. Jika mereka sendiri boleh mempercayai perawi Syiah, maka mengapa tidak kalian? Ternyata ini hanyalah ketololan Wahabi.

Berikut adalah antara Syiah Rafidi yang dijadikan sebagai perawi oleh Imam-Imam besar, muhaddithin Sunni.

1. Ubayd Allah b. Musa al-’Absi

Beliau merupakan perawi bagi kitab-kitab tersebut:

  • Sahih Bukhari [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab al-salat]
  • Sunan al-Nasa’i [kitab al-sahw]
  • Sunan Abu Dawud [kitab al-taharah]
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-muqaddamah]

Pendapat tentang beliau:

  • “Abu Daud berkata:  Beliau ialah seorang Syi’i yang kuat, hadis beliau adalah dibenarkan….Ibn Mandah berkata: Ahmad ibn Hanbal selalu menunjukkan ‘Ubaydullah kepada masyarakat, dan beliau terkenal sebagai Rafid (Syiah Ali yang ekstrim),dan beliau tidak akan membenarkan orang yang bernama Muawiyah memasuki rumahnya.’[Mazhab Imam Hadis, Bukhari dan para perawinya(Percetakan Salafi, UK, 1997), ms. 89 ;Al-Dhahabi, Siyar A'lam al-Nubala, jilid. 9, ms .553-557]
  • Seorang yang soleh, salah seorang sarjana Syiah yang penting … dianggap tsiqah oleh Yahya b. Ma’in, Abu Hatim beliau seorang yang tsiqah dan boleh dipercayai … al-’Ijli berkata: Beliau merupakan seorang pakar Quran…”[Al-Dhahabi, Tadhkirat al-Huffaz di bawah tajuk "'Ubayd Allah b. Musa al-'Absi"]

2. Abbad b. Ya’qub al-Rawajini

Beliau merupakan perawi bagi kitab berikut:

  • Sahih Bukhari  [kitab al-tawhid]
  • Sahih al-Tirmidhi  [kitab al-manaqib]
  • Sunan Ibn Majah  [kitab ma ja' fi al-jana'iz]

Pendapat tentang beliau:

  • Beliau seorang Rafidi yang boleh dipercayai dan hadisnya ada di dalam (Sahih) al-Bukhari.[Ibn Hajar al-'Asqalani, Taqrib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abbad b. Ya'qub al-Rawajani"]
  • Abu Hatim berkata: Beliau ialah seorang Syeikh yang terpercaya.  Ibn ‘Adi berkata: Beliau kerap menolak para Salaf. Beliau ialah seorang Syiah ekstrim.  Salih b. Muhammad berkata: Beliau pernah mengkritik Usman, Ibn Hibban berkata: beliau ialah seorang Rafidi yang mengajak (orang lain ke aqidahnya).  beliau meriwayatkan hadis ini …, “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbar ku, maka bunuhlah dia!”[Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abbad b. Ya'qub al-Rawajani"]

3. ‘Abd al-Malik b. A’yan al-Kufi

  • Sahih al-Bukhari [kitab al-tawhid]
  • Sahih Muslim [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab tafsir al-Qur'an]
  • Sunan al-Nasa’i [kitab al-'iman wa al-nudhur]
  • Sunan Abu Dawud [kitab al-buyu']
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-zakah]

Pendapat tentang beliau:

  • Beliau ialah seorang Syiah Rafidi seorang yang bijak berpendapat.[Abu Ja'far al-'Uqayli, Du'afa al-'Uqayli, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]
  • Beliau seorang Rafidi, dipercayai (saduq).[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]
  • Al-’Ijli berkata: Beliau berasal dari Kufah, seorang Tabi’i , dipercayai.Sufyan berkata: ‘Abd al-Malik b. ‘A’yan yang Shi’i meriwayatkan, beliau ialah seorang Rafidi pada kami, seorang yang bijak berpendapat. Hamid berkata: ketiga-tiga beradik itu, ‘Abd al-Malik, Zurarah, and Hamran semua mereka ialah Rawafid. Abu Hatim berkata:  Beliau adalah antara Syiah yang awal, beliau seorang yang benar, mempunyai hadis yang bagus dan hadis beliau tertulis.[Ibn Hajar al-'Asqalani, Tahdhib al-Tahdhib, di bawah tajuk "'Abd al-Malik b. A'yan"]

4. Abd al-Razzaq al-San’ani

  • Sahih Bukhari  [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim  [kitab al-'iman]
  • Sahih al-Tirmidhi  [kitab al-taharah]
  • Sunan Nasa’i  [kitab al-taharah]
  • Sunan Abi Dawud  [kitab al-taharah]
  • Sunan Ibn Majah  [kitab al-muqaddamah fi al-'iman]

Pendapat tentang beliau:

  • Ibn ‘Adi berkata:  mereka (para ulama) tidak nampak sebarang masalah pada hadis beliau kecuali beliau dikenali sebagai Syiah… seorang yang bermaruah … merawikan hadis kemuliaan Ahlulbait dan keburukan yang lain. Mukhlid al-Shu’ayri berkata:Aku bersama ‘Abd al-Razzaq apabila seseorang menyebut Mu’awiyah.  ‘Abd al-Razzaq berkata: ‘Jangan mencemarkan perhimpuanan ini dengan menyebut keturunan Abu Sufyan!’.[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, "'Abd al-Razzaq al-San'ani"]
  • Ibn ‘Adi merawikan dari ‘Abd al-Razzaq…, “Jika kamu melihat Muawiyah di mimbar ku, maka bunuhlah dia!”.[Al-Dhahabi, Mizan al-'I'tidal, "'Abd al-Razzaq al-San'ani"]

5. Awf b. Abi Jamilah al-’A’rabi

  • Sahih Bukhari  [kitab al-'iman]
  • Sahih Muslim [kitab al-masajid wa mawadi' al-salat]
  • Sahih al-Tirmidhi [kitab al-salat]
  • Sunan Nasa’i [kitab al-taharah]
  • Sunan Abi Dawud [kitab al-salat]
  • Sunan Ibn Majah [kitab al-salat]
  • Beliau seorang Rafidi tetapi dipercayai… Dianggap tsiqah oleh ramai ulama, dan beliau seorang Syiah

[Al-Dhahabi, Siyar A'lam al-Nubala, "'Awf b. Abi Jamilah"]

  • ‘Awf ialah seorang Qadari, Syi’i, dan Shaytan!

[Abu Ja'far al-'Uqayli, Du'afa al-'Uqayli, "'Awf b. Abi Jamilah"]

  • Al-Nasa’i berkata: Sangat dipercayai.

[Al-Mizzi, Tahdhib al-Kamal, "'Awf b. Abi Jamilah"]

Cukup lah sekadar saya memuatkan 5 nama contoh, dari ratusan perawi Syiah lain yang diterima oleh ulama Muhaddithin Sunni, dan mereka bersaksi atas kebenaran mereka, kerana jika tidak, masakan mereka akan dijadikan sumber perawi? Ternyata kesimpulannya di sini, jika hadis mereka di tolak, maka sebahagian besar hadis Sunni akan hilang dari kitab-kitab mereka

.

Wallahualam

Sistem Pendidikan Republik Islam Iran MENGGUNCANG DUNiA !!!!!

Sejak masa-masa awal kemenangan Revolusi Islam, masalah kemandirian di bidang ekonomi senantiasa menjadi perhatian utama. Pasalnya, pada era pra-revolusi, akibat kesalahan fatal politik Rezim Pahlevi, menyebabkan Iran amat bergantung dengan Barat, khususnya AS. Sebaliknya, pasca kemenangan Revolusi Islam, negara-negara Barat berupaya menekan dan mengancam Republik Islam Iran dengan pelbagai cara, termasuk dengan menerapkan embargo ekonomi.

Karena itu, Iran pun berusaha mencapai kemandirian di bidang pertanian dan industri. Upaya ini bahkan terus dilanjutkan, meski di saat Iran menjalani masa-masa sulit perang yang dipaksakan oleh Rezim Ba’ats, Irak selama delapan tahun. Upaya tiada kenal lelah inipun, akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Iran berhasil mencapai swasembada gandum, sebuah komoditas strategis pertanian. Sejak tahun lalu, Iran bahkan sanggup mengekspor hasil produksi gandumnya ke sejumlah negara. Begitu pula di berbagai komoditas pertanian lainnya. Iran juga berhasil meraih kemajuan dengan menerapkan program mekanisasi pertanian.

Salah satu dampak buruk yang diwariskan sistem perekonomian Rezim Pahlevi dan masih berpengaruh hingga kini adalah ketergantungan Iran terhadap pendapatan minyak bumi. Masalah ini membuat struktur ekonomi menjadi rapuh, namun dengan usaha keras pemerintah Republik Islam Iran, ketergantungan terhadap pendapatan minyak pun perlahan-lahan mulai dibatasi. Sebagai misal, pada tahun 2007-2008 ini, komposisi pendapatan minyak dalam anggaran negara Iran kurang dari 50 persen. Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir pendapatan dari sektor non-minyak makin naik secara signifikan. Berdasarkan sejumlah data, pendapatan Iran di sektor non-minyak pada tahun 2006 mengalami peningkatan 47 persen atau sekitar 16 miliar USD. Peningkatan ini membuat situasi ekonomi Iran relatif bisa bertahan meski harga minyak dunia mengalami fluktuatif.

Di sisi lain, untuk memanfaatkan secara optimal cadangan minyak, Iran berupaya meningkatkan produksi komoditas petrokimia dan olahan minyak lainnya agar lebih bermanfaat dan bernilai. Sehingga pada periode 2007-2008, produksi petrokimia Iran meningkat lebih dari 30 juta ton. Rencananya tiga tahun lagi, produksi di sektor ini akan ditingkatkan menjadi 58 juta ton.

Salah satu produksi industri Iran yang berhasil diekspor sejak beberapa tahun terakhir adalah produk otomotif. Iran mengekspor kendaraan penumpang dan barangnya ke berbagai negara seperti Syria, Turkmenistan, Afghanistan, Azerbaijan, dan Venezuela. Iran juga menjalin kerjasama pembangunan pabrik mobil dengan sejumlah negara. Pada tahun 2006, Iran mengeskpor lebih dari 30 ribu kendaraan senilai 350 juta USD. Pembangunan di bidang infrastruktur, seperti pembangunan jalan, rel kereta api, jembatan, jalan tol dalam kota, dan kereta api bawah tanah (subway) merupakan langkah pembangunan paling kentara pasca revolusi.

Kemajuan lain ekonomi Iran pasca Revolusi Islam adalah meningkatnya investasi asing, padahal Iran saat ini masih berada di bawah tekanan sanksi ekonomi AS. Tahun lalu, investasi asing di sektor perminyakan, yang merupakan salah satu bidang yang paling dikhawatirkan oleh AS, mengalami peningkatan sekitar 9 persen. Begitu juga di bidang gas, tingkat eksplorasi, produksi, dan ekspor di bidang ini mengalami peningkatan signifikan. Pada bulan Februari ini, menteri perminyakan Iran melaporkan adanya penemuan ladang gas baru dengan cadangan gas sebesar 11 triliun kaki kubik. Iran adalah negara pemilik cadangan gas terbesar kedua di dunia, setelah Rusia. Selain itu, Teheran juga telah menjalin beragam kontrak kerjasama di bidang gas dengan negara-negara lain. Sebagai contoh, baru-baru ini Iran dan Austria menandatangani kontrak ekspor gas senilai 50 miliar USD dan kerjasama produksi gas dengan Malaysia senilai 16 miliar USD.

Salah satu slogan utama Revolusi Islam Iran adalah meningkatkan taraf hidup rakyat, khususnya kalangan menengah ke bawah dan mewujudkan keadilan sosial. Karena itu, pemerintah Republik Islam Iran berusaha keras meningkatkan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Terlebih khusus di era kepemimpinan Presiden Ahmadinejad, yang lebih fokus untuk merealisasikan visi keadilan yang yang disuarakan oleh Revolusi Islam. Program kunjungan ke daerah Presiden Ahmadinejad beserta kabinetnya merupakan upaya serius pemerintah untuk menyentuh secara langsung persoalan rakyat di berbagai daerah sehingga bisa diupayakan tindakan yang lebih cepat untuk mengatasi persoalan daerah. Selama dua tahun pertama masa kepemimpinannya, Presiden Ahmadinejad berhasil mengunjungi 30 propinsi. Kini, di paruh kedua masa kepemiminannya, dia pun melaksanakan kembali rangkaian safari ke berbagai daerah untuk menganalisa dan menindaklanjuti kebijakan sebelumnya.

Masih di bidang pembangunan keadilan sosial, Pemerintahan Ahmadinejad juga mengeluarkan program pembagian ‘saham keadilan’. Lewat program ini, saham perusahaan-perusahaan negara dibagikan kepada kalangan masyarakat berpendapatan rendah, sementara hasil keuntungannya akan dikembalikan lagi kepada mereka.

Kendati Iran pasca revolusi, menghadapi beragam tekanan dan embargo, namun para ilmuan dan teknisi militer Iran tidak pernah menyerah untuk memajukan kekuatan pertahanan negaranya. Tak heran bila kini Iran berhasil meraih keberhasilan yang tidak pernah diduga sebelumnya di bidang persenjataan modern. Angkatan bersenjata RII, saat ini berhasil membuat dan mengembangkan berbagai bentuk roket, seperti roket darat ke darat, darat ke laut, dan darat ke udara. Begitu pula di bidang pembuatan helikopter dan pesawat tempur, para ilmuan Iran berhasil mencapai kemajuan yang menarik di bidang ini. Sejumlah pesawat tempur berteknologi tinggi baik berjenis tanpa awak maupun standar, berhasil dibuat oleh Iran.

Angkatan darat militer Iran juga berhasil membuat peralatan perang modern lainnya seperti, tank, panser, meriam, dan beragam bentuk senjata personal. Begitu pula di matra laut, kekuatan pertahanan laut Iran juga berhasil menorehkan prestasi gemilang. Seperti pembuatan beragam jenis kapal perang dan perahu cepat militer serta beragam persenjataan penting lainnya. Di bidang perangkat militer elektronik, Iran juga berhasil membuat gebrakan baru di bidang ini. Tak heran jika kini Iran menyatakan siap mengadapi ancaman perang elektronik.

Kemajuan mengagumkan Iran di bidang industri militer membuat sejumlah negara kian tertarik menjalin kerjasama dengan Iran. Saat ini, Iran telah mengekspor hasil-hasil industri militernya ke 57 negara.

Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.

Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini,  Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran. Mari belajar dari Iran.

Revolusi Islam Iran telah memberikan karunia, berkah dan keberhasilan yang begitu berharga bagi rakyat Iran. Revolusi ini telah menghadiahkan nilai-nilai luhur seperti tuntutan kemerdekaan, kebangkitan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kemandirian. Nilai-nilai inilah yang mendorong rakyat Iran untuk terus berjuang memutus ketergantungan di bidang ekonomi, politik, dan budaya asing serta mewujudkan keadilan ekonomi dan kemajuan iptek.

Islam senantiasa menekankan perlunya menuntut ilmu. Ada banyak ayat Al-Quran dan hadis Nabi yang mengajak kaum muslimin untuk menuntut ilmu di manapun dan kapanpun. Ajakan ini disikapi secara serius oleh pemerintah dan rakyat Iran. Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membukan peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.

Sejak awal Revolusi Islam, pemerintah Iran telah mencanangkan program perang melawan buta huruf. Terkait hal ini, Bapak Pendiri Revolusi Islam, Imam Khomeini menugaskan dibentuknya Lembaga Kebangkitan Melek Huruf. Upaya kontinyu dan tak kenal lelah lembaga ini berhasil menurunkan secara drastis angka buta huruf. Sebelum Revolusi Islam, angka buta huruf di Iran mencapai 50 persen, namun pasca Revolusi angka ini berhasil ditekan menjadi 10 persen. Prestasi cemerlang Lembaga Kebangkitan Melek Huruf ini bahkan berkali-kali mendapat pujian dan penghargaan dari lembaga-lembaga internasional, termasuk Unesco.

Di sisi lain, dalam beberapa tahun terakhir, dunia pendidikan di Iran terus mengalami kemajuan dan pertumbuhan yang pesat baik secara kualitas maupun kuantitas. Setiap tahun, terdapat banyak sekolah yang dibangun di berbagai kawasan di Iran. Pemerintah dan para prakstisi pendidikan juga terus berusaha menyesuaikan kurikulum dan metode pendidikannya dengan pelbagai hasil temuan baru di bidang ilmu pengetahuan.

Dunia perguruan tinggi Iran juga mengalami perkembangan dan kemajuan yang pesat pasca Revolusi Islam. Meski angka para peminat pendidikan tinggi di Iran terus meningkat tajam, namun begitu, kini kapasitas kursi pendidikan di perguruan tinggi telah mencapai lebih dari satu juta 200 ribu kursi. Fenomena lain yang menarik di dunia kampus Iran adalah lebih dari 60 persen mahasiswa Iran adalah kaum hawa. Kenyataan ini merupakan salah satu efek dari upaya pemerintah memajukan peran kaum perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah makalah ilmiah para ilmuan Iran yang berhasil diterbitkan oleh berbagai majalah dan media ilmiah ternama dunia kian meningkat. Keberhasilan di bidang ini merupakan salah satu indikator kemajuan sains di setiap negara. Ironisnya, meski media-media ilmiah Barat mengklaim dirinya bersikap secara obyektif namun sebagian masih menolak untuk merilis makalah ilmiah para ilmuan Iran.

Pasca Revolusi Islam, para pakar sains dan teknologi di Iran berhasil mencapai kemajuan yang pesat, bahkan tergolong sebagai lompatan ilmiah. Teknologi nano sebagai salah satu dari empat teknologi paling bergengsi dan rumit di dunia, telah bertahun-tahun menjadi fokus perhatian dan penelitian para ilmuan Iran. Teknologi ini bahkan bisa memperbaiki molekul dan sel-sel badan yang rusak. Teknologi nano biasa dimanfaatkan untuk keperluan kedokteran, pertanian, industri, dsb. Hingga kini, Iran tergolong sebagai negara maju di bidang teknologi nano dan berhasil memproduksi sejumlah komoditas dengan bantuan teknologi nano.

Salah satu keberhasilan lainnya Iran di bidang iptek adalah prestasi cemerlang di bidang stem cell atau sel punca. Selama bertahun-tahun, para ilmuan Iran telah mengembangkan teknologi sel punca untuk pengobatan dan keperluan kedokteran lainnya. Sel punca ini mampu memproduksi beragam jenis sel tubuh manusia, karena itu, sel ini memiliki peran yang amat vital. Para ilmuan Iran juga berhasil memanfaatkan teknologi sel punca untuk menyembuhkan beragam penyakit akut yang selama ini sulit diobati. Seperti penyembuhan penyakit buta dan beragam kasus lainnya. Namun prestasi paling berkesan di bidang ini adalah keberhasilan para ilmuan Iran mengkloning seekor kambing dengan memanfaatkan sel punca. Prestasi ini merupakan bukti kemajuan Iran di bidang kedokteran, khususnya dalam reproduksi sel punca.

Pusat Riset Ruyan merupakan lembaga penelitian yang berhasil mengembangkan teknologi stem cell atau sel punca di Iran. Televisi CNN dalam laporannya mengenai kemajuan Iran di bidang teknologi ini menuturkan, “Pusat Riset Ruyan adalah salah satu sentra penelitian sel punca janin di Iran. Di lembaga ini, sains berkembang pesat”. CNN dalam laporannya ini juga menambahkan, salah satu penyebab kemajuan Iran di bidang iptek adalah karena para pemimpin negara ini menghendaki ilmu pengetahuan.

Salah satu keberhasilan Iran lainnya di bidang kedokteran adalah pembuatan obat IMOD. Obat ini berfungsi untuk meningkatkan fungsi ketahanan tubuh di hadapan virus AIDS. Keampuhan obat ini bahkan telah diakui oleh otoritas kedokteran dunia. Pada tanggal 3 Februari yang lalu, para pakar farmasi Iran juga berhasil mengeluarkan obat baru Angi Pars, obat ini berfungsi untuk menyembuhkan luka penyakit diabetes atau kencing manis, sehingga bisa mencegah terjadinya amputasi. Begitu juga di bidang kedokteran lainnya, para ilmuan kedokteran Iran berhasil membuat terobosan baru dalam metode operasi, seperti operasi otak dan saraf, jantung, dan mata. Saat ini, di kawasan Timur Tengah, Republik Islam Iran terbilang sebagai negara paling maju di bidang kedokteran.

Isu nuklir Iran adalah topik yang begitu akrab. Namun, dibalik polemik yang sengaja dihembuskan Barat untuk menentang kemajuan Iran di bidang ini, ternyata Iran menyimpan prestasi yang mengagumkan di bidang nuklir. Meski Iran berada di bawah tekanan dan embargo, namun negara ini tetap berhasil mencapai prestasi cemerlang dalam teknologi nuklir. Selama ini, negara-negara Barat, khususnya AS memanfaatkan nuklir untuk membuat bom pemusnah massal, karena itu mereka juga berpikir bahwa Iran memanfaatkan teknologi nuklir untuk kepentingan militer. Padahal, teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang positif, seperti sebagai sumber energi listrik. Atas dasar inilah, Iran mengembangkan teknologi nuklir. Langkah ini dilakukan untuk menjadikan nuklir sebagai sumber energi alternatif. Selain dimanfaatkan untuk pembangkit tenaga listrik, teknologi nuklir juga bisa digunakan untuk keperluan kedokteran, dan rekayasa genetika di bidang pertanian dan peternakan.

Untuk menghilangkan adanya kecurigaan Barat terhadap program nuklir sipil Iran, para pejabat tinggi Tehran telah berkali-kali menggelar dialog dengan negara-negara Barat dan menjalin kerjasama yang transparan dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Tahun lalu, Presiden Ahmadinejad mengumumkan, bahwa Republik Islam Iran secara resmi telah memasuki fase industrialisasi produksi bahan bakar nuklir. Upaya ini merupakan salah satu bentuk tekad nyata Iran untuk mencapai kemandirian di bidang nuklir.

Baru-baru ini, tanggal 4 Februari lalu, Iran juga berhasil menorehkan prestasi baru di bidang teknologi antariksa. Pembangunan stasiun peluncuran antariksa dan peluncuran roket pembawa satelit Safir merupakan kesuksesan terbaru Iran di bidang ini. Seluruh keberhasilan tersebut merupakan berkah kemenangan Revolusi Islam dan buah prestasi iman, ikhtiar, persatuan rakyat Iran serta kepemimpinan bijaksana Pemimpin Revolusi Islam Iran.

Wilayah Negara Iran masuk dalam kategori Negara-negara timur tengah yang memiliki luas wilayah 1.648.195 kilometer persegi dengan jumlah penduduk pada tahun 2006 sebesar 7.270.198 jiwa. Tingkat ekonomi pada tahun 2006 di Negara ini tergolong menengah kebawah pada tahun 2004 sebesar   US$ 2439.  Negara ini menmpati peringkat HDI ke 96 dari 177 negara. Dan  EDI ke 86 dari 125 negara.

Menurut dokumen yang disetujui oleh supreme council of education pada 1998, perkembangan nasional adalah tujuan utama bagi pendidikan yaitu untuk meningkatkan produktivitas, mencapai integrasi social dan nasional, mengelaola nilai-nilai social, moral dan spiritual denagan penekanan pada penguatan dan dorongan keyakinan terhadap Islam. Tujuan-tujuan yang disetujui council juga menekankan peran pendidikan pada pengembangan sumberdaya manusia untuk level ekonomi yang berbeda-beda dan oleh karena itu pendidikan dipandang sebagai investasi untuk masa depan

Anggaran Pendidikan

Anggaran kementrian pendidikan pada tahun 1996 adalah 6.130 miliyar riyal (RI), merupakan 3,8% dari anggaran belanja Negara. Anggaran yang disetujui adalah RI 5.455,6 miliyar riyal, tetapi untuk menyediakan dana talangan bagi kementrian pendidikan, bebrapa tambahan tambahan dana telah di alokasikan dan anggaran pendidikan bertambah menjadi RI 6.130 miliyar riyal. Selain itu, untuk meningkatkan anggaran, beberapa kesepakatan telah disetujui selama dua tahun terakhir untuk memberikan sumber dana baru bagi kementrian pendidikan.

Pada tahun 2003, total pembiayaan pendidikan (termasuk pendidikan dasar hingga prauniversitas) sejumlah RI 39, 880 miliyar riyal atau 12% dari total anggaran belanja Negara pada tahun 2001.

Peran Pemerintah

Sistem sekolah berada di bawah yurisdiksi Kementerian Pendidikan dan Pelatihan. Selain sekolah, Kementerian ini juga memiliki tanggung jawab untuk beberapa pelatihan guru dan beberapa lembaga teknis. Departemen Pendidikan mempekerjakan jumlah tertinggi pegawai negeri sipil 42%  dari total dan menerima 21%  dari anggaran nasional. Sebanyak 15.018.903 siswa telah bersekolah di sekolah dengan 87.024 kelas 485.186 di seluruh negeri pada tahun akademik 1990-1991. Dengan rincian sebagai berikut: 509 sekolah untuk anak-anak cacat, 3.586 TK, 59.280 Sekolah Dasar, 15.580 Sekolah Menengah Pertama, 4.515 Sekolah Menengah Atas, 380 Sekolah Teknik, 405 Studi Bisnis dan sekolah-sekolah kejuruan, 64 Sekolah Pertanian, 238 kota dan 182 guru sekolah dasar pedesaan ‘akademi pelatihan, tujuh kejuruan dan profesional latihan guru dan 19 lembaga perguruan tinggi teknologi. Ada juga 2.259 sekolah-sekolah pendidikan orang dewasa.

Pendidikan Pra- Sekolah

Pendidikan sebelum sekolah dasar ditempuh 1 tahun dan melayani anak usia 5 tahun. Pendidikan sebelum sekolah dasar tidak wajib. Tidak ada ujian pada akhir sekolah  ini dan anak-anak secara otomatis melanjutkan ke pendidikan berikutnya.

Pendidikan dasar

Sekolah dasar adalah pendidikan formal tahap pertama dan hukumnya adalah wajib. Dan ditempuh selama 5 tahun dan usia masuk sekolah dasar adalah 6 tahun. Para siswa mengikuti ujian akhir pada tingkat ke lima, dan apabila lulus mereka mendapatkan ijazah tamat sekolah dasar

Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah terdiri dari dua tahapan, sekolah menengah rendah dan sekolah menengah tinggi. Sekolah menengah rendah ditempuh selama 3 tahun (kelompok usia 11- 13 tahun). Pendidikan delapan tahun yang terdiri dari sekolah dasar dan sekolah menengah rendah di kategorikan sebagai pendidikan dasar.

Program 3 tahun sekolah menengah tinggi adalah untuk para siswa yang telah lulus dari sekolah menengah rendah. Mata pelajaran yang ditawarkan pada sekolah menengah tinggi dapat di klasifikasikan menjadi tiga bidang : akademik, teknik, dan kejuruan, serta Kar-Danesh (ilmu pengetehuan ketrampilan, sebuah cabangdari kejuruan yang fleksibel).

Program satu tahun prauniversitas tersedia bagi mereka yang berhasil lulus dari sekolah menengah atas jurusan akademik. Bagi yang mengambil jurusan teknik dan kejuruan, para siswa yang telah lulus sekolah menengah atas dapat mendaftar pada program dua tahun yang dapat mengantarkan di dalamnya termasuk universitas, collage dan pusat-pusat pendidikan tinggi. Yang dapat masuk perguruan tinggi adalah mereka yang telah lulus sekolah menengah atas dan berhasil lulus pada ujian masuk perguruan tinggi. Universitas di bagi menjadi universitas umum dan khusus, universitas teknologi komperhensif, universitas terbuka, universitas Islam azad, dan universitas kedokteran

————————————

Kurikulum Pendidikan

Pendidikan pra sekolah

Pada jenjang pra sekolah murid diajarkan mengenai belajar bahsa, pengantar matematika, dan konsep sains, lebih-lebih pada nilai-nilai agama dan kepercayaan. Selain itu juga meliputi tentang kegiatan ketrampilan seperti kerajinan tangan, menggunting, mancetak, menggambar, bercerita, bermain, dan berolahraga.

Pendidikan dasar

Fokus kurikulum pendidikan dasar adalah pada pengembangan ketrampilan dasar baca dan berhitung, studi lingkungan dalam tema fisik dan fenomena social, dan pembelajaran agama. Semua mata pelajaran dan buku pelajaran untuk sekolah dasar diputuskan dan disiapkan pada level pusat.

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah rendah

Kelompok agama minoritas melakukan pembelajaran khusus mereka dan terdapat daftar bacaan khusus untuk kelompok sunni. Diwajibkan untuk lulus semua mata pelajaran pada jurusan yang berbeda. Pembelajaran digunakan dengan bahasa Persia pada semua level. Untuk daerah bilingual, maka diadakan kursus satu bulan untuk mengajarkan kunci-kunci konsep bahasa sebelum tahun ajaran baru di mulai. Ujian dilakukan pada akhir kelas III yang diadakan oleh level kabupaten dan propinsi.

Pendidikan menengah atas

Sekolah menengah atas diperuntukkan bagi siswa yang telah lulus sekolah menengah dasar. Mata pelajaran yang ditawarkan dikelompokkan dalam jurusan sebagai berikut:

Jurusan akademik: tujuan jurusan ini adalah mempromosikan pengetahuan umum dan budaya. Tedapat ujian akhir yang dikelola oleh tingkat nasional dan bagi siwa yang lulus mendapat ijazah diploma.

Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan: Jurusan ini terdiri dari tiga bidang: teknik pertanian dan kejuruan. Sekarang terdapat 30 bidang pada pendidikan teknik dan kejuruan (TVE). Siwa yang memenuhi kualifikasi pendidikan TVE dapat juga masuk  pada lembaga yang menawarkan program teknik atau preuniversity dan mendapat sertifikat terampil pertama.

Jurusan kar-danesh (knowledge skill):  Tiap kar-danesh mempunyai silabi yang dikembangkan di bawah secretariat pendidikan menengah proses pendidikan ini mencakup 400 ketrampilan, berbeda dengan jurusan yang lain. Pendidikan ini bersifat berbasis kompetensi. Siswa yang beehasil dianugrahi ijazah terampil tingkat II, dan diploma.


Pendidikan di Iran mempunyai jenjang pendidikan pra sekolah 1 tahun, pendidikan dasar 5 tahun, pendidikan menengah dasar 3 tahun, pendidikan menengah atas 3 tahun. Pendidikan menengah atas terbagi atas: jurusan akademik, Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan, Jurusan kar-danesh.pendidikan Pendidikan di Iran di pegang oleh Kementerian Pendidikan dan Pelatihan.